KAMI TAHU KEMANA SENI LUKIS INDONESIA AKAN KAMI BAWA
S. SUDJOJONO
KOLOFON
KAMI TAHU KEMANA SENI LUKIS INDONESIA AKAN KAMI BAWA
oleh
S. SUDJOJONO
Indonesia Sekarang, 1984
Transcriber
F. Indah
Editor
F. Indah
2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0
Berdasarkan arsip dari: catatannusantara
Ilustrasi sampul: The Roaring Lion 1811, karya Raden Saleh
MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].
MasasilaM
masasilam. com
KONTEKS
Tulisan S. Sujoyono ini telah dimuat dalam majalah “Revolusioner” No. 4 dan No. 5 tahun II bulan Februari 1947 sebagai jawaban atas tulisan J. Hopman dalam majalah “Uitzicht” bulan Januari 1947 tentang “Toekomst van de Beeldende kunst in lndonesie”1.
KAMI TAHU KEMANA SENI LUKIS INDONESIA AKAN DIBAWA
Kita bangsa Indonesia mengakui, bahwa sekarang corak seni di sini bercorak Barat sekarang. Tetapi untuk dikatakan, bahwa ini bukan seni lukis Indonesia ini, tidak benar. Nomor satu sebab kita, sebelum Raden Saleh, sudah lama punya seni lukis meskipun coraknya tidak sebagai kita sekarang melukis. Dan ini mempunyai sebab-sebab yang bergandengan erat dengan pandangan hidup kita pada waktu itu. Nomor dua, sebab kalau kita sekarang meninggalkan cara lama kita sebentar bukanlah ini suatu fase dimana kita mengekor atau meng-copy saja, akan tetapi suatu belevenis2 dengan kebenaran yang ada pada teori-teori da Vinci, Durer, Cezanne dll.
Realisme bukanlah kepunyaan Barat saja. Realisme adalah kepunyaan kita Bersama, kepunyaan tiap-tiap manusia. Kalau da Vinci, Durer, Cezanne kebetulan orang-orang Barat ini bukan soal. Tiap-tiap anak Tuhan meskipun dia di Betlehem (Christus), meskipun di Mekka (Mohammad), meskipun di Tiongkok (Lao Tze, Confucius, Li Tai Po), meskipun di India (Buddha), meskipun di Mesir (Ichnaton), di Amerika (Louis Armstrong, seorang negro) atau di Eropa (Socrates, Berlage, Cezanne) tidak berhak mengepak dan memonopoli teori-teori mereka kalau memang teori-teori tadi suatu kebenaran yang nyata dan baik untuk dunia.
Orang Belanda mengatakan dalam majalah “Utzicht”-nya: “Zonder Kokoschka, Klee, Munch, Chagal, Utrillo cs. zou op Java nooit zijn geschilderd als beide tentoonstellingen te zien geven."
Mereka masih menyangka, bahwa orang Indonesia tidak akan bisa memjelmakan seni lukis yang impresionistis, expressionistis realistis, cubistis atau surrealistis kalau orang-orang sebagai Kokoschka, Klee, Munch, Chagall, Utrillo, cs. tidak lahir. Kalau kita bisa membuat Borobudur, yang kalau dibandingkan dengan Hunnebedden3 dan “de Amsterdamse Beurs” Belanda sebenarnya perbandingan antara seorang nabi, dan seorang heiden, maka kita tidak omong kosong kalau kita berkata: “Kalau Eropa plus Belanda dan bangsa-bangsanya tumpas, kita yang akan meneruskan peradaban dan seni lukis dunia.” Orang Asia tidak boleh sombong sebab Mohammad, Christus, Buddha, Einstein, Marx orang-orang Timur. Begitu juga sebaliknya orang Barat tidak boleh sombong kalau teori-teori seni lukisnya sekarang bisa kita ambil. Orang Eropa jangan lupa sebab kalau ditilik dan diperiksa dengan teliti orang Eropa tidak pernah punya seni lukis dahulu, sebab seni lukis yang tertua terdapat tidak di Eropa, tetapi di Mesir. Begitu juga jangan orang Eropa sombong kalau Eropa punya seorang wiskundige4 sebagai Pythagoras, yang sebenarnya dahulu sebelumnya menjadi maha guru dan membuka perguruannya mula-mula berguru pada guru-guru bangsa Mesir. Begitu juga orang Belanda janganlah congkak dan mengatakan bahwa perkumpulan Theosofi idee nyonya Blavatsky dus idee seorang Barat sebab Leadbeater sendiri tahu bahwa idee ini sebenarnya diinspirasikan oleh seorang resi dari Timur. Kesenian Yunani sendiri, yang menjadi agul-agulnya kesenian Barat sama sekali tidak zonder5 pengaruh dari Timur. Dan baru dalam tempo kl. 100 tahun Yunani bisa melepaskan diri dari pengaruh niet Grieks6.
“Uitzicht” berkata pula: "Typisch Oosters is immers tot dusver geweest, dat de kunstenaar aan ziyn techniek de grootste zorg besteedde"
Penulis karangan ini barangkali bisa melihat, tapi terbukti sayang tidak bisa mengerti benar apa kesenian dan juga sama sekali tidak mengerti pula tentang seni lukis sebenarnya. Teori bisa dibaca, tetapi mengerti seni lukis memang susah dan betul-betul membutuhkan pengetehuan tentang penseel-voering7. Dan mengerti penseel-voering membutuhkan pula latihan yang berpengalaman lama. Tetapi latihan ini masih kurang juga, kalau di samping itu tidak ada rasa asli yang halus, yang bisa pada tiap-tiap waktu bekerja aktif. Kalau saya lihat kalimat penulis diatas tadi hanya bisa membuktikan saya bahwa penulis hanya punya se-ijkte8 rasa yang didapatnya dari ajaran saja.
Kalau kita memakai perspektif atau anatomi, cara impresionis, cara cubist, atau surrealist tidak ada seorang seniman yang jujur bisa mengatakan bahwa teknik yang “tidak” Timur ini akan menghambat isi Timur yang hendak keluar Ke-Timuran dalam seni Lukis tidak terletak pada teknik saja tetapi terletak no. 1 pada isi dan jiwa kesenian itu.
“Uitzicht” berkata pula: “De verwaarlozing der uitbeeldende middelen, welke in Europa met het lmpressionisme begon, beschouw ik als betreurens waardig, zelf aals bedenkelijk...”
Kasihan! Orang Barat ini tidak mengerti sama sekali apa sebab Impressionisme lahir. Penulis ini kok hanya mengerti Angelo, David, Zuloaga, de Laszilo dan Sargent saja sajaknya.
Impressionisme lahir tidak oleh karena Consteble, Jongkind, Manet, dll. impressionisten tidak capabel, tidak bisa atau hendak verwaarlozen dan mengabaikan cara membentuk mereka, akan tetapi suatu konsekuensi dari lahirnya suatu ideologi baru, yang harus lahir dan dari itu mesti menghantam cara berpikir dan hidup di Eropa yang sudah lapuk dan tidak benar. Kalau konco-konco kami di Eropa, yang tuvallig lahir lebih dulu dan toevallig9 lahir lebih dulu dan toevallig hidup di benua sebelah Barat Bosphorus pada permulaan abad ke-l9 mendengungkan semboyan: “weg mef de schoonheid en...deformatie!” ini bukanlah tidak sebab mereka tidak mengerti schoonheid10 atau tidak mengerti teknik, akan tetapi terdorong oleh suatu afrekening11 suatu pemberantasan pada waktu itu yang berupa lahir dan batin untuk membelokkan dan melupakan cara hidup yang egoistis dan materialistis ke hidup yang beres, sederhana, dan mengingat ke sesama manusia di masyarakat kita di dunia ini. Orang tidak boleh cinta lagi pada orang sebagai David maupun dalam arti watak dan keseniannya, sebab David cs. sebagai pelukis adalah suatu simbol dari masyarakat yang berwatak egoistis dan materialistis.
Penulis ini tidak usah mengeluh bahwa lukis merosot sebab adanya Jon senigkind, Manet. Cezanne dan Picasso cs. Malah dia harus girang, bahwa dengan datangnya seni lukis baru ini berarti suatu start dan permulaan jalan yang akan pergi sehat ke kesenian yang benar.
Saya bertanya kepada penulis di “Uitzicht” ini:
1. Bisakah expressionisme lahir zonder impressionisme?
2 Dan bisakah Paul Klee, Kandinsky dan Picasso dengan sadar (bewust) mendapat filsafat mereka dalam seni lukis kalau tidak impressionisme dahulu dengan sadar pula menjadi suatu keyakinan dan suatu belijdenis12?
Saya tahu penulis ini akan tidak bisa menjawab, sebab kalau dia toh mau menjawab maka sama dia membela suatu barang yang mustahil sebagai : orang bisa terus jadi perawan meskipun dia melahirkan anak.
Sekarang penjelasan lain.
Maukah orang menyalahkan jejak Pinoccio sebab dia, ketika sesudah bisa jalan dan berkata meninggalkan kamar orang yg membuat dia, mengembara kemana-mana sampai dia tersesat ke tangan “Neraka”? Tidakkah orang mengakui, bahwa oleh jejak inilah maka dia bisa menjelma dari mainan kayu menjadi makhluk berbicara? Langkah “keluar” inilah yang kelihatannya di mata orang langkah yang sesat, tetapi orang, tidak tahu bahwa langkah yang sesat inilah membawa dia mula-mula ke neraka tetapi kemudian ke surga yang abadi dan pulang dari materi yang “mati” ke makhluk yang sadar, ber-Tuhan, dan berpikir.
Penulis ini tidak cocok kalau Vincent dijadikan suatu cultuur heilige13. Kami juga tidak cocok kalau dia kita puja-puja zonder pikir seakan-akan, dia menjadi suatu dewa dari perjalanan kultur. Kami juga tidak orang biadab dan bodoh untuk mengatakan semua lukisan-lukisannya bagus, meskipun dia Vincent. Begitu juga tidak kami akan mencontoh mau sakit sifilis atau sakit owah sebab dia penemu expressionisme. Tetapi lebih baik kami berteman dengan Vincent, yang zeker14 berani mengorbankan jiwa raganya untuk suatu cita-cita yang bagus dari pada orang sebagal penulis “Uitzicht” ini yang bodoh sebab dia berkata: “Dub een zo brandend hart (als. Vincent) ia zeldzaam". Beranikah penulis tadi mengatakan bahwa Christus tidak punya een brandend15? Beranikah dia berkata pula bahwa juga Buddha tidak punya een brandend hart16? Mohammad tidak, Ramakrishna tidak, Lao Tze tidak, Li Tai Po tidak, Gandhi tidak, dan orang-orang sebagai Wali Songo tidak? Dan tidak ada anak-anak manusia ini yang satu orang pun orang Barat. Wali Songo juga tidak orang Belanda!
Beberapa garis kemudian dia berkata: “wat het Westen van meet af aan in Oosterse beschavingen opviel was de tot in fineises uitgewerkte vormelijkheid die deze culturen tot geutende gave bloemen maakte" Pernahkah penulis ini melihat lukisan-lukisan Tionghoa kuno?
[Catatan editor: Di sini terdapat satu paragraf berbahasa Belanda yang tidak di-OCR karena adanya kekhawatiran mengenai keakuratan hasilnya & editor yang tidak memiliki kompetensi yang memadai dalam bahasa Belanda. Oleh karena itu, silakan merujuk pada sumber aslinya]
Satu: Ke-kesenian yang dipimpin oleh aristokrasi.
Dua: Ke-kesenian gemeenskhap (Communistisch).
Tetapi terbukti dalam penutup ini dia lebih singit, dan condong ke kesenian yang dipimpin oleh aristokrasi. Dia berkata kalau orang-orang aristokrat ini tidak memegang rol, maka “de waar chilge bescha ving zal langzaam sterveh, de kunat verdorren tot nieuwe zakelijkheid of andere daarmee verwante richtingen.” Risalah orang Belanda ini menyangkal bahwa teori Marxitis wetenskhapoelijk tidak benar? Dan Lenin sebagai komunis dan Marxist No. 1 pernah berkata kepada teman-temannya kaum komunis: “Ini bukanlah tujuan kita. Apa yang kita capai di Rusia sekarang hanyalah suatu fase yang harus kita jalani.” Maksud Lenin ialah bahwa orang tidak hanya bisa menulis membaca dan naik tank atau mobil saja, tetapi bahwa juga dalam idee komunisme juga tercantum suatu arti yang menuju ke keberesan moral, ke keberesan batin dan ke keberesan kesenian. Komunisme tidak tinggal pada materi saja. Komunisme menuju ke tujuan yang lebih plastis dari plastik tiga dimensional.
Buktinya: Rusia sekarang membuktikan, bahwa mereka dengan film-film mereka memegang juga pimpinan dalam seni film dunia. Begitu juga dalam kesusastraan, Rusia: dengan pujangga-pujangga muda mereka sekarang tidak pernah merosot sedangkal Da Costa.
Pada hari peringatan Shakespears yang ke-350 kali di Rusia diadakan pertunjukan tonil-tonil Shakespears di 800 gedung komidi lamanya 1 minggu. Radio, majalan, dan koran-koran tidak ketinggalan menghormati dan bisa mengerti orang besar ini. Di London sebaliknya pada hari itu hanya ada suatu aankondiging17 biasa. Kecuali ini orang-orang Moskow sekarang dalam hal seni lukis bisa menghormati dan mengerti lukisan-lukisan Renoir.
Dan dalam kamus komunisme tidak ada pembelaan terhadap aristokrasi, meskipun dari arti politik, ekonomi maupun social dan kesenian. Toh dalam slot tadi orang Belanda ini di samping mundi-mundi aristokrat, rada-rada juga “aaien” ngelus-ngelus komunisme.
Apa sebabnya?
Pas op saudara-saudara Komunis Party Holland!
Satu dari sebab-sebab apa sebab dia juga ngelus-elus komunisme ialah sebab orang ini: pengecut.
Dia tidak berani sekarang juga memilih suatu party, suatu pihak untuk lusa atau besok kalau party komunis menang, kalimat-kalimat ini dipakai sebagai suatu bukti sambil berkata: “Zie ye, dat zei ik toen ook!18”
Dan kita di sini yang mengenal beberapa corak pemerintahan di masa belakangan ini dalam waktu yang singkat tahu type dan potongan apa orang semacam ini.
Dan sekarang mari kita balik ke pokok pembicaraan kita pula. Maaf saya menceng sebentar.
Kita mengakui, bahwa pergerakan baru di perjalanan seni lukis dunia ini memang banyak kemungkinan orang membuat ekses yang tidak dimaksudkan. Akan tetapi isme manakah yang tidak berekses? Agama manakah yang tidak berekses pula? Tiap-tiap agama punya ekses-eksesnya, begitu juga tiap-tiap isme lusa atau besok akan datang eksesnya.
Pergerakan ini tidak bersalah.
Tetapi di manakah letak salah dari seni lukis di Eropa sampai bolak-balik dia mengalami pergantian, tetapi toh bolak-balik pula kesenian ini mengalami kejatuhan? Dan sekarang memuncak pula, ondaks de goede bedoelingen van Cezanne cs19., malah sekarang menjadi suatu lustoord20 dari orang-orang yang hanya bekerja tidak karena panggilan hidup, tetapi sebab di sini dia mereka bisa memuaskan egonya dan terlepas dari kontrole “mata Tuhan”.
Letak kesalahan di Eropa ini terletak pertama kali pada kekurangannya pendidikan moreel. dari bangsa Eropa sendiri maupun pendidikan di arti yang umum atau pendidikan di kalangan kesenian sendiri. Huizinga sendiri (penulis buku In de schaduwen vani morgen). Mengakui kali ini. Dari itu kami tidak heran, kalau usaha orang-orang besar di Eropa yang bisa kita katakan memang genieen dari manusia toh bolak-balik kandas. Kemerdekaan yang mereka dengungkan di zaman demokrasi, lapuk menjadi kemerdekaan seorang egoist. Dan kemerdekaan dan cinta kebenaran yang diserukan oleh Cezanne cs. menjadi suatu kemerdekaan yang negatif, sampai menjelma menjadi “ik wil anders zijn dan de anderen”, sampai kemerdekaan individu oleh kurang penerangan menjadi lepas dari masyarakatnya:
Kesalahan di Eropa ini tidak suatu Eropees probleem saja, akan tetapi suatu problem dari susunan masyarakat kita semua. Masalah ini ialah suatu internationael probleem dari masyarakat.
Dan tentang bagaimana seni lukis di Indonesia jadi, kita bangsa Indoneeia cukup cakap untuk mengaturnya sendiri.
Dari zaman penjajahan Belanda dahulu (di zaman “persagi” Persatuan Ahli Gambar Indonesia) kami sudah tahu bagaimana dan ke mana kami akan bawa seni lukis kami. Dan kalau, sekarang bangsa Belanda di “Uitzicht” mau utik-utik tentang hal ini, kita tidak butuh campur tangan mereka. Mereka tidak pernah dalam tempo kl.350 tahun membuktikan, bahwa mereka cakap juga di dalam soal ini.
Dan kesalahan-kesalahan teman kami di Eropa tidak akan kami maki-maki dan kami undat-undat tetapi akan kami hormati, sebab mereka sudah bekerja sebisa-bisa mereka dengan tulus ikhlas dan korban jiwa untuk cita-cita yang bagus dan pekerjaan mereka tetap akan kami pakai penunjuk sebagai kapal karam di lautan perjuangan masyarakat kita di dunia dan di revolusi kami di Indonesia ini untuk membuat tidak saja di seniman menjadi artistik, tetapi juga seluruh masyarakat menjadi artistik bewust (sadar) sebagai di lndonesia sedia kala.
Kami akan menyelesaikan revolusi kami tidak verstandelijk (secara akal/rasional) saja akan tetapi juga artistik.
HARI KEMUDIAN SENI BENTUK DI INDONESIA
Terjemahan D. Suraji dari karangan J. Hopman “Toekomst van de Beeldende Kunst in Indonesie di majalah “Uitzicht” /bulan Januari 1947
Ramalan-ramalan pada umumnya kurang dapat dipercaya, pada dewasa ini, jika hanya berdasarkan bahan-bahan keterangan yang sedikit. Tetapi dengan tiba-tiba kita berhadapan dengan seni lukis Indonesia, seperti ternyata dari dua seteleng yang diadakan di Jakarta, yang tentunya hanya sebagian saja dari seni lukis Indonesia. Kejadian ini dengan sendirinya menimbulkan pertanyaan: Apakah yang akan tumbuh dari padanya? Meskipun kita insyaf bahwa jawaban tentang hal itu tak dapat kita memberinya, kita akan meneruskan renungan kita tentang hal tersebut.
Jika saya mengatakan, bahwa kita dengan tiba-tiba berhadapan dengan seni lukis Indonesia, sebetulnya perkataan saya itu salah. Seni lukis itu belum ada dan untuk sementara waktu dia juga tidak akan ada. Kita melihat kenyataan--lebih-lebih kenyataan di masa sebelum perang--bangsa Indonesia bekerja di lapangan seni lukis, dan pasti cara mereka bekerja selayaknya mendapat perhatian dari orang-orang yang menaruh minat dengan sesungguhnya kepadanya. Belum dapat kita katakan, bahwa seni lukis lndonesia sudah ada.
Seteleng-seteleng yang dipertunjukkan di Jakarta sifatnya mengikuti seni Barat, dan hal ini dapat juga dikagumi. Tetapi ini hanya ouverture dari tingkatan pertama.
Pengaruh Barat
Pendidikan seni Barat akan dapat menolongnya? Pada tingkatan pertama sudah pasti. Suatu kejadian yang menarik perhatian dalam lapangan sejarah kebudayaan, ialah nasionalisme di Asia pada umumnya mengikuti bentuk-bentuk kebudayaan Barat. Seringkali nasionalis Asia pertama-tama melepaskan pakaian Nasionalnya. Jepang yang menganggap dirinya memimpin perkembangan kesadaran Asia, juga dalam kesenian mengikuti Barat. Di Indonesia tak mungkin akan lain. Orang akan berkata bahwa hal ini adalah synthese antara Barat dan Timur, tetapi sebab ada lebih dari satu alasan, maka unsur Barat barangkali sementara waktu akan kuat pengaruhnya.
Berdasarkan seteleng-seteleng yang diadakan pada pertengahan kedua tahun 1946 di bekas gedung Kunstkring kita dapat kesan, bahwa pelukis-pelukis lndonesia juga menghendaki hal ini. Lukisan-lukisan yang disetelengkan itu isinya Timur, tapi cara melukisnya semata-mata mengikuti seni Barat modern. Lukisan-lukisan itu bahkan tidak bersifat Timur, sehingga kita tercengang. Jika tidak ada Kokoschka, Klee, Munch, Chagall. Utrilio, dll. tentu tak ada orang lndonesia di Jawa yang melukis, seperti ternyata dari kedua seteleng tersebut. Sifat Timur asli hingga sekarang ialah sifat seniman Timur yang mengerjakan teknik dengan teliti sekali.
Dengan timbulnya Impressionisme di Eropa, maka orang mengabaikan alat-alat melukis. Hal ini saya sesali, bahkan sebagai hal yang mengkhawatirkan, meskipun orang kan menganggap saya sebagai seorang academicus yang kolot dan geborneerd21. Tentu orang akan dapat mengemukakan alasan-alasan, bahkan pembelaan-pembelaan, tetapi hal itu tak meyakinkan saya. Pekerjaan yang dilakukan dengan cepat-cepat dan tidak teliti patut dibuang sedangkan kesabaran penuh kasih tidak menghilangkan spontanitet.
Fauvisme
Selain dari itu menurut saya spontanitet tergolong dalam kekecualian Pemujaan pada “hidup setandas-tandasnya” (zich uitleven) menurut pendapat saya adalah kekeliruan yang berbahaya dan sama sekali bertentangan dengan keadaban. “Hidup setandas-tandasnya” ini dalam seni Barat dengan munculnya Romantiek menjadilah suatu mode rohani yang saya anggap tergolong dalam kejadian-kejadian dekadensi kebudayaan Eropa. Orang jangan salah paham. Saya akui bahwa Vincent van Gogh tidak akan dapat hidup lain seperti dia hidup dengan tidak membohong. Tetapi hati yang menyala seperti dia jarang sekali. Hidup seperti itu tentu tidak dikehendaki baik oleh orang seorang (individu), maupun oleh pergaulan Hidup. Menganggap Vincent sebagai resi ibudaya (cultuur heilige), seperti dikerjakan oleh Fauvisme dan membumbui sikap hidupnya dengan pendapat-pendapat Stirner dan Nietzsche dan mengkhotbahkan vitalisme yang tak dikekang, di mata saya, adalah suatu kekeliruan yang memualkan. Vincent tak dapat hidup lain, tetapi siapa dapat bertindak lain, ia bijaksana jika tidak mengikuti dia yaitu guna menyingkiri kebohongan “kelebih-lebihan”. Karena itu saya sesali, sebagian besar dari seteleng-seteleng tersebut menunjukkan, bahwa Fauvisme banyak mendapat pengikut di kalangan Indonesia sekarang. Saya dapat memahaminya. Hal itu selaras dengan pergolakan besar yang sekarang terjadi di Indonesia.
Sebaliknya hal itu tidak selaras—tidak selaras sekali—bagi bangsa Indonesia, karena keadabannya justru terjadi oleh pekerjaan yang teliti elok (ciselering) yang merupakah kebulatan keindahan (schoon gehel) yang cantik dan menarik hati. Keadaban-keadaban Timur pada permulaan hingga sekarang yang menarik Barat ialah sifat-sifatnya yang sempurna dalam mengerjakan hingga ke hal-hal yang kecil-kecil, yang menyebabkan kebudayaan-kebudayaan ini menjadi bunga yang sempurna dan mewangi. Hal yang menarik perhatian orang Barat, ialah sifat orang Asia yang tidak menunjukkan perasaannya, kecuali dengan suatu tindakan yang telah dipertimbangkan masak-masak dan dikerjakan jangan sampai diketahui orang.
Kita akan dapat mengharap dua hal. Pertama, boleh jadi kebangunan kebudayaan Indonesia didorong oleh perasaan demokratis demikian rupa, sehingga dengan sengaja melenyapkan sifat aristokratis peradabannya. Kedua, boleh jadi sesudah itu tidak ada ketentuan kebudayaan menginsyafi hakikatnya sendiri dan melanjutkan naluri (tradisi). Hal itu semuanya tergantung dari [...] yang kemudian hari akan dimainkan oleh aristokrasi sebelum perang. Jika pemikul-pemikul kebudayaan ini di kemudian hari tidak akan memainkan rolnya, Indonesia akan mengalami hal yang seperti yang telah dialami oleh Prancis, Rusia, dan Jerman sesudah revolusi. Keadaban sejati dengan lambat laut akan mati, kesenian akan layu menjadi zakelijkheid baru atau lalnnya, yaitu aliran-aliran yang sekeluarga dengan itu. Sebaliknya jika kita hendak nenolong keadaban yang naluri (tradisional) di kemudian hari dalam susunan kebudayaan, jadi tidak membentuk masyarakat dan dalam masyarakat itu bukanlah kwantitet, tapi kwalitet sejati yang menentukan segala sesuatu, dapatlah saya mengharap akan timbulnya seni bentuk yang mempunyai nilai besar bahkan besar sekali.
Dalam kedua hal itu Fauvisme tak masuk hitungan. Jika masyarakat Indonesia akan berkembang menuju komunisme, maka di kemudian hari akan timbul seni rakyat (gemeenaschapskunst). Jika tidak demikian dapatlah kita mengharap akan timbul seni yang bersifat aristokratis subjektif. Kesenian itu—mengingat watak keadaban lndonesia—akan dapat menghindari bahaya persamaan (intimiteit) yang terlalu besar. Surrealisme menurut pendapat saya di sini akan mendapat pengikut sedikit sekali meskipun kehidupan mimpi menarik perhatian orang Indonesia. Seperti dikatakan oleh suatu lelucon yang terkenal, surrealisme membuka rohani terlalu dilebih-lebihkan (geestelijke naaktlooperij).
Saya menduga, bagaimanapun juga perkembangan negeri ini, ketelitian Timur dalam teknik akan kembali lagi. Hal hanya suatu syarat kecil yang tak ada artinya. Dapatkah hari kemudian ditetapkan lebih jelas lagi?
Pengaruh-pengaruh Timur
Untuk itu barang kali pertimbangan di bawah ini penting.
Menurut pendapat saya perhubungan-perhubungan antara Indonesia dan Tiongkok akan bertambah kuat, meskipun seandainya lndonesia tak akan menghendakinya.
Meskipun mengalami penderitaan yang tak terhingga kita harus mengatakan, bahwa tahun-tahun sesudah Perang Dunia II, membaikkan Tiongkok. Walaupun harga pahala ini menyesakkan nafas, tetapi kesadaran Tiongkok tumbuh dan melihat gelagatnya “Negeri Tengah” itu menghadapi hari kemudian yang selaras dengan nalurinya. Jika demikian, maka lndonesia pasti akan mengalami pengaruhnya. Juga dalam kesenian. Seni bentuk Tongkok. sudah sejak berabad-abad ada dalam tingkatan tinggi dan mempuyai daya penarik besar yang luar biasa bagi orang-orang asing.
Saya dapat kiranya mengatakan, bahwa ada perbedaan dalam cara bekerja antara kesenian Tiongkok dan kesenian lndonesia. Kesenian India dan kesenian-kesenian lainnya yang dipengaruhinya senang membuat hal-hal yang kecil-kecil (details) dengan tak terbatas. Mereka tak membuat perbedaan yang nyata antara yang pokok dan yang tidak pokok. Daun-daun kecil pohon di tempat yang jauh dilukis sama telitinya dengan bulu-bulu angsa yang ada di depan. Meskipun dalam seni Asia Timur membuat hal-hal yang kecil-kecil (details) menurut pendapat Barat terlalu dipentingkan, tapi dalam seni Asia Timur dilakukan juga prinsip menghilangkan hal yang kecil-kecil itu.
Dalam beberapa masa dan bagian-bagian kesenian hal ini, bahkan menjadi dasar untuk menyelesaikan buah seni.
Indonesia ada di sudut tempat bertemunya Asia Selatan dan Asia Timur, tetapi Indonesia adalah bagian dari dunia lndia. Hal ini terlihat juga dalam keseniannya. Terlihat dalam cara menggambar pada kain-kainnya, pada wayang-wayangnya, bahwa hal-hal yang kecil-kecil (details) mengambil tempat yang tak terbatas. Jika pengaruh Tiongkok akan menjadi lebih besar, hal itu akan menimbulkan penyusunan (ordening) nevenschikking yang diganti oleh onderschikking, dan pengaruh Eropa-Amerika akan mempercepat proses ini.
Masih ada pertanyaan-pertanyaan yang lebih penting dari pada hal-hal yang kini sudah disinggung-singgung. Pertayaan-pertanyaan tersebut sama sekali tak dapat dijawab. Saya hanya menyebutnya dengan sepatah dua patah.
Kesenian Indonesia hingga sekarang terbatas, yang paling banyak, ialah seni-seni terikat, teristimewa seni menghias (sierkunst). Dapatkah ia dalam tempo yang singkat akan tumbuh menjadi seni bentuk (beeldende kunst) seperti di Eropa dengan tak usah menerjemahkan seni bentuk benua itu? Rol apakah yang akan dimainkan naturalisme yang mati di Eropa dalam seni Indonesia? Akan timbulkah seni bangunan (bouwkunst) Indonesia yang memenuhi syarat-syarat modern kefaedahan, tetapi juga merupakan penjelmaan perasaan sendiri? Bagaimanakah posisi sosial seniman Indonesia di kemudian hari dalam pergaulan hidup? Mengenal pertanyaan-pertanyaan ini kita dapat merenungkannya, tapi kesimpulan-kesimpulan kita tak dapat.
Ada dua hal pasti: di Indonesia sekarang ada minat pada seni bentuk dan kecakapan.
Menurut pendapat saya adalah kewajiban Pemerintah—tak peduli bagaimana pun susunan Pemerintah kelak—untuk mendirikan lembaga (instituut), yang memberi kesempatan mengembangkan hasrat itu, memimpin kecakapan itu. Dalam lembaga itu hendaknya dicari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti tersebut di atas dengan cinta, kesabaran, dan vakkenis22. Sekolah Seni Bentuk seperti itu hendaknya berhati-hati sekali melakukan tugasnya.
Sekolah itu hendaknya memulai dengan mengajarkan teknik seni bentuk. Studen dalam sekolah itu mesti mempelajari material-material dan perkakas-perkakas apa yang ada dalam seni gambar, seni lukis, seni grafik, seni sungging (beeldhouwkunst), seni tukang (kunstambacht) dan seni kerajinan (kunstnijverheid). Studen itu harus mempelajari anatomi plastik, pengetahuan seni (kunswetenschao) yang telah diketahui orang, dan semua hal tentang ilmu pasti, ilmu potret, ilmu reklame, yang penting bagi penggambar-penggambar dan pelukis-pelukis.
Kesabaran
Dan lambat laun akan ternyata bagian-bagian mana dari hal-hal tersebut yang sesungguhnya berharga bagi seniman Indonesia. Berkat perhubungan antara dosen dan studen-studen dalam tempo bertahun-tahun lamanya akan timbullah pengertian, bahwa mereka mesti mendapat pengetahuan dan kecakapan. Hal ini membutuhkan waktu, banyak waktu. Hal ini memerlukan kesabaran yang lebih banyak, yang biasanya dimiliki oleh rata-rata manusia modern. “Tukang-tukang obat” (beunh zen) dan orang-orang yang lebih mementingkan keuntungannya sendiri akan mempergunakan ketidaksabaran orang dan berniat akan mencapai tujuannya lebih cepat. Hendaknya Pemerintah jangan lupa, bahwa segala sesuatu yang sungguh-sungguh berharga tumbuh dengan lambat. Karena cinta yang tahu menunggu dan hanya tersenyum melihat sifat yang tergesa-gesa, yang memikat tindakan-tindakan yang hanya bersifat sejenak.
Kita hendaknya ingat, bahwa sekarang belum ada seni lukis Indonesia, meskipun di kepulauan ini ada kenyataan, bahwa sejumlah pelukis menghasilkan pekerjaan yang hanya berbeda dalam onderweroen dengan hasil pelukis-pelukis Barat. Jika kita sudah sampai pada tingkatan tersebut maka selesailah fase pertama. Kemudian akan menyusul usaha mencari hakikat pribadi (eigen wezen), mencari sesuatu yang nasional, regional, yang pribadi (persoonlijk) tapi meskipun demikian berharga bagi setiap manusia, karena dalam yang khas (bijzondere), kita menjumpai cahaya yang umum (algemeene), dalam yang-kebetulan kita menjumpai yang hakikat, dalam yang sekarang, kita menjumpai yang kekal.
Jika kesenian indonesia sudah sampai pada tingkatan itu, maka nilainya akan lebih besar daripada sesuatu yang hanya layak dilihat dan seni Indonesia akan dapat mencapai tingkatan itu, jika kita mempunyai kesabaran yang termasuk dalam kebijaksanaan dan terutama cinta sejati, sebab tidak dengan syarat-syarat itu tak akan timbul kesenian, bahkan tak akan tumbuh keadaban sejati.
CC BY-SA 4.0
Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.
E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.
Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).
Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.
Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.