Baca EPUB: Si Sapar: Sebuah Novelette Tentang Kehidupan Penarik Becak di Jakarta

5 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. SI SAPAR
  2. UTUY TATANG SONTANI
  3. KOLOFON
  4. DAFTAR ISI
  5. SI SAPAR
  6. Sebuah Novelette Tentang Penarik Becak di Jakarta
  7. CC BY-SA 4.0

SI SAPAR

Sebuah Novelette Tentang Kehidupan Penarik Becak di Jakarta

UTUY TATANG SONTANI


KOLOFON

SI SAPAR:

Sebuah Novelette Tentang Kehidupan Penarik Becak Di Jakarta



oleh

UTUY TATANG SONTANI





Jajasan Kebudajaan Sadar, 1964



Transcriber & Editor:

F. Indah

2026 MasasilaM • CC BY-SA 4.0

Berdasarkan arsip dari: Bebaskan Buku!

Ilustrasi sampul: Si Sapar 1964, karya Wen Peor

MasasilaM mengandalkan partisipasi kawan-kawan pembaca untuk melaporkan kesalahan ketik, koreksi, dan perbaikan lainnya. Kontribusi dapat dikirimkan melalui [email protected].

MasasilaM

masasilam. com



SI SAPAR

Sebuah Novelette Tentang Penarik Becak di Jakarta

Tatkala si Sapar yang baru berumur delapan belas tahun itu dibawa oleh seorang tukang becak menghadap haji yang mempunyai banyak becaknya, adalah yang mula-mula dijadikan sasaran mata haji itu kedua belah kakinya yang hitam membelimbing, kemudian badannya yang pendek persegi kemudian kedua belah tangannya yang belang penuh kurap, baru akhirnya mukanya yang bundar dengan matanya yang sipit dan hidungnya yang pesek.

“Tenaganya boleh juga,” pikir haji itu.

Terus bertanya dengan nada tahan harga:

“Lu mau narik becak gua? Apa lu bisa menjaganya?”

Dan dengan suara norostos1 seperti petasan haji itu terus menerangkan bahwa becak itu bukan sesuatu yang hina dan murah, sebab meskipun kendaraan itu tidak menggunakan motor seperti mobil sedan buatan luar negeri, tapi bapak-bapak pembesar pun sangat suka menungganginya, karenanya si penarik becak tidak boleh jorok, mesti mencucinya tiap hari, jangan gegabah mengendarakannya, jangan serampangan menarik muatan, apalagi memuatkan arang atau daging, itu sama sekali tidak boleh.

“Rumah lu dimana?” pertanyaan itu tiba-tiba dilontarkan disertai tatapan mata ingin tahu.

Buru-buru si tukang becak yang membawa itu menerangkan:

“Begini, wak haji. Anak ini baru datang dari udik, baru dua hari dia di Jakarta.”

“Jadi dia anak gelandangan?” wak haji memotong dengan mata seperti hendak melompat. “Bagai mana aku bisa percaya?”

Tapi setelah mengusap mukanya sendiri, setelah ditatapnya muka Si Sapar sejurus lamanya dan setelah dilihatnya muka yang ditatapnya itu ditundukkan, ia pun menarik nafas seperti seseorang yang baru mencapai puncak bukit. Kemudian berkata dengan suara lesu:

“Ya, ya, aku tahu. Aku tahu, setiap yang datang di sini mau menyewa becakku adalah orang yang baru datang dari udik, orang yang tidak punya tempat tinggal, tidak punya apa-apa untuk dijadikan pegangan. Inilah yang membikin aku jadi sedih. Sungguh sedih! Karena setiap aku hendak menyerahkan becakku selalu aku dihadapkan kepada ujian dari Tuhan, atau aku mesti percaya kepadaNya atau tidak.”

Si Sapar melongo saja. Tidak mengerti ia apa makna yang terkandung di dalam kata-kata haji itu, apa sebab pula suara haji itu naik-turun seolah-olah dihadapannya itu ada hantu yang sebentar muncul sebentar menghilang. Tapi tanpa bersusah payah untuk mengerti itu semua, akhir-akhirnya ia pun berhasil mencapai maksud kedatangannya ke sana. Sebuah becak yang sudah setengah tua, yang penuh debu dan hampir tidak kelihatan lagi catnya, dikeluarkan dari gudang. Dan sebuah perjanjian pun lalu diikrarkan. Suatu perjanjian yang berat sebenarnya, sebab sebagai penyewa selain ia harus membayar sewaan sebanyak dua puluh rupiah untuk setiap sehari semalam dengan syarat tidak boleh menunggak lebih dari dua hari, ia pun diwajibkan mesti bertanggung jawab atas segala kerusakan. Tapi apalah yang berat kalau sesuatu yang menguntungkan terbayang di depan mata! Bukankah dengan becak itu selain ia mempunyai alat kerja untuk mencari rejeki sehari-hari, ia pun sama halnya dengan mempunyai tempat penginapan yang berjalan, dimana ia dapat meringkukkan badannya dengan tak usah mengeluarkan lagi biaya, padahal dengan kendaraan itu pun ia akan meluncur menjelajahi seluruh kota Jakarta dengan hari-harinya yang cerah dan malam-malamnya yang bermandikan cahaya lampu-lampu yang gemerlapan?

“Ah, akan banyak yang bisa kuceritakan kalau aku pulang nanti,” pikirnya.

Dan sambil tersenyum kegirangan, disapu-sapunya debu yang melekat pada becak itu, digosoknya dengan lap supaya kelihatan lagi catnya, dilempangkannya mana yang bengkok dan dicucurkannya minyak pada roda-rodanya supaya tidak kedengaran bercuit-bercuit. Sesudahnya lalu ia membawanya ke jalan raya.

“Becak, bu. Becak, pak,” katanya dengan nada menawarkan.

Pada hari pertama itu ternyata tak ada hal-hal yang aneh yang dialaminya. Hanya di waktu minum sirup di warung minuman ia pernah nyengir di hadapan yang empunya warung:

“Heh, bukan main panasnya kota Jakarta, ya ?”

Keesokannya... ya, baru pada keesokannya, ia menyadari bahwa selain mesti nyengir melawan panas ada kalanya pula tukang becak di kota Jakarta itu mesti mencibirkan bibir. Ini terjadi sewaktu baru saja ia menurunkan seorang penumpang yang berpakaian perlente.

“Hh,” ucapan hati yang menyertai cibiran bibirnya, manusia itu hanya pakaiannya saja yang bagus! Jauh-jauh ditarik, bayarnya cuma tiga rupiah.”

Tapi sampai di situ sebetulnya masih belum apa-apa. Di kota Jakarta yang berpenduduk empat juta orang lebih itu, selain tukang becak pun ada banyak yang suka mencibirkan bibir, meskipun alasannya tentu bukan karena kecewa lantaran menerima bayaran yang tidak layak.

Menjelang hari keempatnya pengalamannya pun bertambah lagi. Ketika itu matahari sedang amat panasnya. Dan di dalam ia kepanasan, tergeong-geong ia mencari bengkel, mendorongkan becaknya yang kempes. Setibanya disebuah bengkel, tanpa ditanya lagi terus saja ia menerangkan dengan suara menggerutu:

“Terlalu polisi itu! Karena salah sedikit saja, karena memasuki jalan yang diuntukkan buat mobil, dirampasnya pentil banku ketiga-tiganya. Dan mentang-mentang ia berkuasa, seenaknya saja ia memaki-maki dengan perkataan ‘goblok’, ’sundal’, dan segala macam. Seperti dianggapnya aku ini keranjang sampah!”

Tapi—sekali lagi saya katakan tapi—sampai di situpun masih jamak saja. Sebab di kota Jakarta yang penduduknya terdiri atas berbagai lapisan dan golongan, selain tukang becak pun ada banyak yang suka menggerutu, meskipun alasannya tentu bukan karena sakit hati lantaran dimaki-maki polisi.

Suatu peristiwa yang betul-betul luar biasa barulah terjadi pada hari ke limanya, terjadi di malam hari.

Ketika itu bulan sedang amat terangnya dan bintang-bintang bertaburan di langit yang biru jernih. Dengan muka berengut ia datang membawa becaknya yang kosong ke hadapan rekan-rekannya yang berkerumun di depan gedung bioskop.

“Kurang ajar penumpang yang barusan kutarik itu,” katanya dengan suara seperti baru saja ia mereguk patrawali. “Masa seenaknya saja mereka berpelukan dan saling cium di depan mata? Seperti dianggapnya aku yang duduk di belakangnya itu tidak ada!”

Seorang rekannya hanya membalas dengan mendelik, yang lainnya lagi melengos. Hanya seorang yang badannya tipis matanya cureng dan bibirnya jeding yang memberikan jawab:

“Lantas? Memangnya lu mengira lu ini apa? Tukang becak itu kuda, tidak lebih dari kuda, tahu?”

Semenjak itu mulailah ia menyimpan segala yang dirasakannya. Mulai ia jadi pendiam, asal rajin menawarkan jadi sering menolak muatan tanpa alasan. Dan dengan begitu, tanpa disadarinya mulailah perangainya mengarah-arah kepada judes; suatu perangai yang—di antara penduduk kota Jakarta yang padat itu— jelas menjadi ciri yang hanya dimiliki oleh golongan tukang becak.

Tapi tentunya bukanlah maksud pengarang untuk menceritakan kedatangan Si Sapar ke kota Jakarta itu hanya sampai di sana, hanya sampai menemukan kenyataan-kenyataan yang pahit belaka; seolah-olah kehidupan tukang becak di kota Jakarta itu sudah kering sama sekali.

Bahwa di balik yang pahit masih ada yang manis dan di balik yang nyata masih ada hal-hal yang ajaib, ternyatalah dengan peristiwa yang dialaminya pada suatu malam.

Ketika itu jam di atas gereja sudah menunjukkan pukul dua belas lebih. Langit lenglang tidak berawan. Dan di sana, dipinggir jalan yang sepi, di tepi kali Ciliwung, ia duduk sendirian di atas jok becak dengan tenda terbuka. Entah apa yang dipikirkannya, entah apa pula yang dingatkannya

Tiba-tiba... ya, keajaiban itu biasanya datangnya dengan tiba-tiba, ia mendengar bunyi langkah kaki yang cepat menuju kepadanya. Kemudian, setelah bunyi langkah kaki itu berhenti dihadapannya, ia melihat sosok tubuh yang dibungkus kain kebaya dengan pinggangnya yang ramping dan dadanya yang membusung. Dan apabila ia sudah awas kepada muka yang memiliki tubuh itu, ia pun mau tak mau jadi melongo, terpaku oleh sepasang mata yang jernih dengan bulunya yang jentik, oleh sebuah hidung yang bangir dan bibir yang merah melengkung...

“Den ayu dari manakah gerangan yang kesasar ini...?” pikirnya.

Dan di dalam ia keheran-heranan mengapa ada perempuan begituan berjalan sendirian dijauh malam, perempuan itu pun berkata kepadanya; suaranya gemetar ketakutan:

“Bang! Lekaslah saya bawa dari sini. Jangan polisi itu dapat menangkap saya.”

“Polisi?” Si Sapar terkejut. Baru ia menyadari bahwa di kejauhan ada terdengar deru jip polisi. Dan baru ia menyadari bahwa perempuan itu ada di dalam keadaan bahaya.

Pada saat itu—boleh pembaca percaya atau tidak, tapi begitulah kenyataannya—pada saat itu mendadak ia jadi teringat kepada sebuah dongeng yang pernah didengarnya semasa kanak-kanak dulu; sebuah dongeng yang menceritakan tentang adanya seorang putri yang meminta pertolongan kepada seorang pangeran disebabkan putri itu dikejar-kejar raksasa. Dan begitu ia teringat kepada dongeng itu terus saja ia melompat ke atas sela, buru-buru menyilakan perempuan itu naik ke atas jok, dan dengan kekuatan yang entah didapatnya dari pangeran di dalam dongeng itu entah dari mana, digenjotnya becaknya cepat-cepat, biar meluncur dan terus meluncur entah ke mana, asalkan buru-buru menghilang dari sana.

Di suatu tempat yang masih ramai oleh orang jualan, baru ia berhenti.

“Terima kasih, bang,” kata perempuan itu.

Tapi anehnya, perempuan itu bukan terus turun, melainkan terus menengok ke belakang, melirik kepada yang duduk di atas sela.

“Oh,” katanya lagi sambil tersenyum gembira, “kukira tadi kau ini sudah tua. Maafkan saja ya, bung. Tadi saya sudah memanggil abang.”

Dan Si Sapar, yang dilirik, entah karena memang merasa lebih muda, entah karena apa, di dalam menghadapi lirikan itu tak bisa berbuat lain selain hahah-heheh, ketawa ditahan-tahan.

“Sekarang kemana?" ia bertanya dengan nekat.

Anehnya lagi, perempuan itu pun bukan buru-buru menyahut. Ditundukkannya dulu kepalanya, digigit-gigitnya dulu bibirnya kemudian baru berkata:

“Begini, bung. Terus terang saya katakan, uang saya sekarang tidak banyak, tidak cukup untuk ongkos becak sampai di rumah. Biasanya saya ada langganan tukang becak yang sudah biasa dihutang.

Tapi tukang becak langganan saya itu sudah seminggu pulang ke udik. Sekarang janganlah bung kepalang menolong. Antarkanlah saya sampai di rumah. Nanti akan saya bayar dengan uang seadanya. Sekurangnya—kalau bung percaya—akan saya bayar besok."

Dan Si Sapar yang mendengarkan, entah karena pengaruh suasana malam yang sudah larut, entah karena apa, terus saja menjawab dengan mengangguk:

“Baiklah. Biarlah saya antarkan.”

Dan setelah perempuan itu menyebutkan nama sebuah gang yang mesti dituju, ia pun terus mengenjot sekali ini tidak lagi cepat seperti tadi, seenaknya saja, sekuat kakinya dapat mengayuh.

Pada saat itu siapalah yang berani mengatakan bahwa tukang becak itu sama dengan kuda! Malam sudah larut, langit lenglang dan jalan yang mesti ditempuh sudah sepi. Dan di dalam hidung sepuas-puasnya mencium bau minyak wangi yang mengelewir dari baju si penumpang, matapun dengan sekenyang-kenyangnya menatap pundak yang putih bersih dari jarak yang sedekat-dekatnya, sedang telinga tak berhenti-hentinya pula mendengar kata-kata yang empuk, yang tidak terbatas kepada perbedaan antara si penumpang yang membelakangi dan si penarik yang menghadapi.

Ah, suatu peristiwa yang tak mungkin bisa dilupakan! Sebab yang dikemukakan perempuan itu ialah pertanyaan-pertanyaan siapa nama, dari mana asal dan sudah berapa lama jadi tukang becak di Jakarta. Dan apabila pertanyaan itu sudah dijawab seperlunya, dikemukakannya pula keterangan tentang siapa perempuan itu, bahwa sebenarnya ia pun hanya seorang pendatang yang mesti banting tulang mencari rejeki, karenanya hampir tiap malam mesti keluar rumah mengendarai becak.

“Tapi sekarang,” ia mengakhiri keterangannya, “tukang becak langganan saya itu tidak ada."

Dan Si Sapar yang mendengarkan, entah karena pengaruh kebahagiaan yang dirasakannya, entah karena apa, sehabis mendengarkan itu semua, terus saja menjawab dengan menyanggupi:

“Biarlah mulai besok malam saya yang menarik!"

Sampai di tempat yang dituju perempuau itu pun turun. Selembar uang kertas yang lima rupiah dikeluarkan dari dalam tasnya dan lalu disodorkan kepada Si Sapar.

Tapi Si Sapar yang disodori, entah karena merasa sudah bukan lagi tukang becak, entah karena apa, buru-buru saja menunjukkan gerak tangan menolak ,“Tidak,” katanya, “tidak usah. Biar lain kali saja saya dibayar. Bukankah besok juga saya datang lagi di sini?”

Tapi sekali menyodorkan uang perempuan itu pun tak mau menariknya lagi. “Nih, terimalah seadanya, jangan memalukan saya,” katanya. Dan sambil menjejalkan uang itu ke tangan yang mesti menerimanya terus pula ia pergi meninggalkan.

Tapi sebelum melangkah jauh, tiba-tiba ia menoleh lagi; katanya sambil tersenyum melirik:

“Jangan salah, ya? Besok malam jam tujuh di tunggu datang di tempat ini.”

Apalah lagi yang dapat dilakukan Si Sapar selain mengangguk dan terus melongo memandang! Tapi setelah dilihatnya perempuan itu menghilang ke sebuah rumah petak, ia pun terus mengusap mukanya sendiri dan terus pula pergi dari sana.

Sampai di depan stasiun, jam di sana sudah menunjukkan pukul dua lebih. Becak-becak yang berkerumun di sana sudah pada ditutupkan tendanya dan para pengemudinya sudah pada meringkukkan badan di atas jok.

“Heh, sepi... pikirnya. Tapi tanpa disadari nafasnya perlahan-lahan ditarik, bibirnya pelahan-lahan menyungging senyum dan dengan mata ditatapkan ke langit yang biru membentang menggeloralah dari dalam dadanya sebuah lagu—sebuah nyanyian dengan nada sedih bercampur bangga...

Keesokannya, setelah menarik beberapa orang penumpang, ia pergi ke tukang cukur di bawah pohon di tepi jalan.

“Biar dipendekkan, bang,” katanya, “biar seperti rambut mahasiswa!”

Selesai dicukur, ia mendatangi rumah tukang becak yang dulu membawa dia menghadap kepada wak haji. Sebuah kaos putih yang dititipkan di sana disuruhnya supaya disetrika dan dijanjikannya akan diambil nanti sore. Tidak hanya sampai di situ! Sebuah sabun wangi diusahakannya pula dibeli. Dan setelah datang waktunya untuk mandi ditumbuknya pecahan genting untuk menggosok gigi.

Dengan begitu, maka apabila siang sudah bertukar dengan malam, ia pun muncullah di atas sela dengan rambut tiada lagi gondrong, gigi tiada lagi kotor, badan tiada lagi bau keringat dan baju tiada lagi kumal.

“Sekarang tak usahlah lagi aku merasa hina dihadapan dia,” pikirnya.

Tapi apabila waktu jam tujuh malam itu sudah tiba, apabila ia sudah datang menjemput ke tempat yang kemarin malam dan perempuan yang kemarin malam itu pun sudah kelihatan turun dari rumahnya, mau tak mau mesti mengakulah ia bahwa segala persiapannya itu ternyata masih jauh di luar perhitungan. Baju perempuan itu ternyata lebih bagus lagi dari yang dipakainya kemarin malam, sarungnya pun ditukarnya pula dengan yang lebih manis lagi dari yang kemarin malam. Masih jauh, sudah kelihatan pula mukanya segar berseri-seri, lebih segar dan lebih berseri-seri dari waktu bertemu kemarin malam.

“Kurang ajar!” Si Sapar menggerutui dirinya sendiri.

Tapi setelah perempuan itu sudah ada di hadapannya, terpaksa juga ia membelengehkan bibir. Dan setelah perempuan itu sudah duduk di atas jok, dipaksakannya juga mulutnya melahirkan perkataan:

"Kemana kita?”

“Ke tempat yang kemarin malam,” jawabnya. “Ke dekat kali Ciliwung.”

Baiklah diterangkan, bahwa saat-saat di sekitar puku tujuh malam itu jalan-jalan di kota Jakarta ada di dalam keadaan seramai-ramainya. Orang banyak pada berseliweran entah hanya iseng saja, entah memangnya ada keperluan belanja di toko, entah hendak menuju tempat tontonan.

Biasanya keramaian itu tak pernah menjadi perhatian Si Sapar; tak pernah ia pikirkan buat apa sebenarnya di sekitar jam tujuh malam itu jalan-jalan di kota Jakarta mesti penuh dengan manusia?

Tapi sekarang—boleh pembaca percaya atau tidak, tapi begitulah kenyataannya—sekarang ia merasa bahwa keramaian itu adalah memang diuntukkan kepadanya, diuntukkan buat menimbulkan rasa bangga dalam hatinya. Betapa ia tidak merasakan demikian! Sebab kebanyakan dari laki-laki yang meramaikan jalan itu jelas kelihatan mengarahkan mata kepadanya, kepada orang yang duduk di atas jok becaknya; seorang dua kelihatan melongo memandang, tidak kurang malah yang mencoba mengajak tersenyum, padahal orang yang duduk di atas jok itu tidak ambil pusing terhadap itu semua, tidak membalas memandang, tidak membalas tersenyum, tenang membusungkan dada menegakkan kepala memandang jauh ke muka.

“Memang,” katanya di dalam hatinya sambil mengenjot dengan tegapnya dan membunyikan bel dengan kerasnya, “yang kutarik sekarang adalah makhluk yang cantik, paling cantik di seluruh kota Jakarta!”

Sampai di tepi kali Ciliwung, tidak jauh dari tempat mereka bertemu kemarin malam, mereka pun berhenti. Di sana—seperti juga kemarin malam—tidak banyak orang berjalan, tidak banyak pula kendaraan yang lewat; keadaan disekitarnya diliputi kesunyian dan keremang-remangan.

“Tahu kau apa yang harus kaulakukan setelah kita ada di sini?” kata perempuan itu. “Nanti, kalau setelah lewat jam sebelas kita masih di sini juga, kau harus mulai memasang mata dan telinga kalau-kalau ada polisi datang di sini. Kalau sudah jelas ada polisi datang, jangan ragu-ragu lagi, lakukanlah seperti apa yang kau lakukan kemarin malam.”

“Baik,” Si Sapar mengangguk.

Ah, kalau hanya itu saja, kalau hanya mesti berjaga-jaga terhadap kedatangan polisi sejak mulai pukul sebelas nanti, apalah beratnya tugas yang mesti dipikul selama di sana! Jam sebelas itu masih lama; waktu untuk bertenang-tenang berdua di sana masih sangat panjang.

Tapi itu mobil-mobil sedan yang sebentar-sebentar muncul ke sana, buat apa menyorotkan lampu kepadanya dan terus pula menggeluyur perlahan-lahan kehadapannya? Dia hitung: sudah ada tiga mobil sedan yang berbuat demikian. Kemudian ternyata ditambah lagi jadi empat. Dan kemudian ditambah lagi jadi lima. Yang keenamnya, dengan tidak disangka-sangka, setelah pelahan-lahan lewat kehadapannya terus pula berhenti dan yang punyanya—seorang laki-laki berperut gendut berumur empat puluhan—terus turun mendapatkan.

“Rumahnya di mana ?” katanya setelah langsung berhadapan dengan yang duduk di atas jok.

Setelah pertanyaan itu dijawab dengan menyebutkan nama sebuah gang, menyusul pula pertanyaannya yang kedua:

“Boleh saya ikut pulang?”

Dan setelah dijawabnya pula dengan keterangan bahwa dirumah itu ada abang dan banyak kanak-kanak, disusulkannya pula pertanyaan yang ketiganya:

“Kalau begitu, kemana kita mesti pergi?”

“Mari, ikutlah dengan saya, naik becak!”

Tidak mengemukakan lagi pertanyaan laki-laki itu terus mendapatkan supir, bercakap-cakap dengan supir itu sebentar kemudian setelah supir itu melarikan mobilnya, ia datang lagi mendapatkan dan tanpa minta permisi dulu kepada Si Sapar terus saja duduk berending di atas jok.

Tapi Si Sapar yang tidak dimintai permisi, dengan tidak mengatakan lagi sesuatu, terus pula menaiki sela dan dengan tidak menunggu diperintah lagi terus saja memulai mengenjot.

“Aku juga yang salah,” katanya di dalam hatinya mengapa mau jadi orang yang tak pernah dianggap ada..."

Sambil maju, ada terdengar mereka yang duduk di atas jok itu bercakap-cakap. Ada terdengar keterangan dari mulut yang perempuan bahwa dia punya nama adalah Onih, bahwa sebenarnya baru sebulan dia bercerai dengan suaminya dan baru seminggu ada di Jakarta. Ada terdengar pula keterangan dari mulut yang laki-laki bahwa di rumahnya ia merasa kesepian karena istrinya sudah tidak bisa lagi memberikan kepuasan, karenanya ia pun jadi sering keluar rumah mencari hiburan.

Kemudian ada terdengar perempuan yang mengaku bernama Onih itu mengemukakan pertanyaan di mana gerang si laki-laki itu bekerja, mengapa kelihatannya begitu makmur, berbadan gemuk dan mempunyai mobil sedan. Ada terdengar pula jawabannya dari mulut yang laki-laki bahwa dia punya jabatan adalah sebuah jabatan yang paling menguntungkan di dunia sekarang, sebab tanpa modal satu sen pun ia telah diangkat pemerintah untuk mengurus sebuah Perusahaan dagang.

“Oh, kalau begitu, sama saja dengan menerima warisan!” perempuan yang mengaku bernama Onih itu berseru.

Dan laki-laki itu menjawab:

“Iya, betul, tapi warisan itu bukan untuk diriku saja, melainkan untuk menyenangkan kau juga, bukan?"

Dan bersamaan dengan terdengarnya jawaban itu, ada kelihatan perempuan yang mengaku bernama Onih itu dipeluk; kemudian ada kelihatan yang dipeluk itu mukanya jadi berseri-seri dan ada kelihatan muka yang berseri-seri ita akhirnya diciumi.

Tapi Si Sapar yang melihat itu semua, tanpa mengatakan sesuatu, terus saja mengenjot dan terus saja mengenjot.

“Yang salah itu si pembikin becak,” katanya di dalam hatinya, “mengapa si penarik mesti duduk dibelakang...”

Akhirnya, setelah memasuki sebuah gang yang kegelap-gelapan sampailah mereka ke halaman sebuah rumah yang tidak bisa dikatakan jelek dan tidak bisa pula dikatakan sudah tua, tapi lampunya tidak cukup terang. Onih dan laki-laki yang duduk di sampingnya itu turun dari atas jok, terus berjalan berpegangan tangan memasuki halaman rumah itu, menghilang ke halaman belakang. Dan Si Sapar yang duduk di atas sela, setelah mendengar perintah harus menunggu, terus pula turun, menyusuti keringat.

“Mengapa gelap amat?” bunyi pertanyaan selama keringat masih membasahi badannya.

Tapi setelah keringat di badannya itu sudah kering setelah ia duduk sendirian di atas jok, mulailah pertanyaannya itu bukan asal ditanyakan, mulai ia bertanya: apa gerangan yang dilakukan orang di dalam rumah yang kegelap-gelapan itu, apa gerangan yang dilakukan Onih dan laki-laki itu setelah mereka di sana dalam keadaan berdua?

“Tentu melebihi dari apa yang sudah mereka lakukan di atas becak tadi,” pikirnya.

Dan setelah ia sudah bisa berhasil membayangkan dengan sejelas-jelasnya sebuah gambaran tentang sesuatu laku yang melebihi dari yang sudah dilakukan di atas becak itu—sebuah gambaran tentang apa yang sedang mereka lakukan sekarang di dalam keadaan sudah berdua di balik dinding rumah yang kegelap-gelapan itu—dengan tidak disadarinya tangannya mendadak jadi gemetar, nafasnya mendadak jadi sesak.

“Fuh!” bunyi kata yang menyertai tiupan nafasnya. Dan tangannya yang gemetar terus pula direnggutkan kepada rambutnya.

Di saat itu terasa betapa sialnya ia tidak ada melihat orang lain di sana untuk diajak bercakap, betapa sialnya mesti terpaku kepada keharusan menunggu sendirian di tempat yang gelap dan sunyi. Baru sekarang bintang kecil di kejauhan yang biasanya tak pernah diperhatikan itu terasa mengajak lama dipandang. Dan baru sekarang suara jangkrik sayup-sayup sedih yang biasanya tak pernah dipedulikan itu terasa mengajak lama didengar.

Setelah ada kira-kira tiga perempat jam lamanya ia duduk sendirian itu, baru ia melihat yang ditunggu-tunggunya itu pun pada muncul; kedua-duanya pada gembira, kedua-duanya tertawa-tawa.

“Ya, ya,” terdengar yang laki membual, “mulai sekarang akan kuceritakan kepada semua orang bahwa umurku kembali menjadi tiga puluh.”

“Lebih muda lagi," terdengar Onih menggendangi, “Saya kira samalah dengan seorang pemuda yang baru berumur dua puluh tahun.”

Apa yang dimaksud dengan bualan laki-laki itu dan apa pula artinya, bagi Si Sapar tidaklah begitu jelas. Tapi jelas atau tidak, mengerti atau tidak, satu hal yang sangat aneh baginya, mengapa bualan laki-laki itu menimbulkan rasa sebal didengar? Mengapa setelah laki-laki itu ada dihadapannya, muka laki-laki itu pun jadi sangat tak sedap dimata? Dan yang paling celaka, mengapa setelah laki-laki itu menjatuhkan badannya di atas jok becak dan setelah becak itu maju digenjot, ada timbul pikiran tidak lebih baik laki-laki itu didorongkan ke dalam kali, biar ia terjerumus basah kuyup?

Ah, suatu pikiran yang liar, yang tak akan mampu dilahirkan dalam perbuatan, yang hanya memenuhi angan-angan belaka!

Untung pikiran itu tidak terus-terusan mengganggu kepalanya, sebab setelah sampai di tempat yang agak ramai, laki-laki itu pun turun, pindah tempat kebecak lain.

“Mari kita pulang”, kata Onih setelah tinggal berdua.

“Pulang?” tanya Si Sapar.

“Ya, pulang saja,” jawabnya. “Untuk malam ini sudah cukup, tak usah mencari lagi.”

Apa boleh buat, meskipun malam belum selarut seperti kemarin malam dan karenanya tidak ada terbayang kesukaan seperti waktu pulang kemarin malam, namun tanpa membantah lagi Si Sapar pun terus membelokkan becaknya, mengambil arah menuju pulang.

Di dalam tempo yang tidak lama seperti kemarin malam, mereka pun sampailah ke tempat yang dituju.

“Cape, Par?” tanya Onih setelah mereka turun dari tempat duduknya masing-masing.

“Ya,” jawabnya pendek.

“Nih, lumayan!” kata Onih lagi seraya menyodorkan selembar uang kertas yang lima puluh.

Wajah Si Sapar yang menimbulkan dugaan menderita kecapean itu mendadak mengkilatkan cahaya. Dan sesungguhnya, tak pernah ia menyangka akan menerima bayaran sebanyak itu, suatu jumlah yang belum pernah diterimanya sekalipun ia menarik muatan sejauh kakinya dapat mengenjot.

Pernyataan terima kasih ada terasa perlu diucapkan. Tapi di saat ia hendak mengatakannya, yang memberikan uang itu, entah karena memangnya sengaja tak mau mendengar entah karena apa, buru-buru melangkah meninggalkan.

Tapi—seperti juga kemarin malam—sebelum jauh berjalan, tiba-tiba ia menoleh lagi. Dan katanya sambil tersenyum melirik:

“Jangan salah, ya ? Besok malam jam tujuh kau ditunggu lagi datang.”

Kalau di saat itu Si Sapar hanya bisa mengangguk dan terus melongo memandang, tahulah kita bahwa lakunya itu sama dengan apa yang dilakukannya di saat berpisah kemarin malam. Tapi tentu saja jangan terus diartikan bahwa selanjutnya pun ia akan mengisi malam itu dengan perbuatan-perbuatan yang sama seperti kemarin malam. Apa yang dialaminya tadi dengan segala suka dan dukanya telah membuat dia di malam itu jadi tidak bisa memejamkan mata. Dan menurut pengakuannya, itulah malam pertama kalinya semenjak ia di Jakarta, yang dirasakannya sebagai malam yang amat panjang!

Keesokannya, setelah menceburkan diri kedalam kesibukan kerja di siang hari, ada timbul pikiran lebih baik nanti malam ia tidak datang lagi menjemput. Sebab bagaimana pun juga, buat apa ia menerima bayaran mahal, kalau toh pekerjaan yang dibebankan kepadanya itu berhubungan langsung dengan suatu kekotoran; suatu pekerjaan yang tidak patut pula dikerjakan oleh manusia yang masih mempunyai akal sehat?

Ah, sekiranya pikiran yang timbul di saat kesibukan kerja itu bisa dipertahankan, alangkah aman hidup di dunia! Dan alangkah tinggi budi yang dimiliki seorang tukang becak!

Tapi kesibukan kerja ada redanya. Dan disaat ia mengaso, disaat ia sudah menghenyakkan badannya di atas jok, mulai pulalah ia bertanya-tanya: apa relakah ia melihat Onih ditarik oleh orang lain, apa relakah ia melihat Onih duduk di atas jok becak kepunyaan orang lain dengan dadanya dibusungkan kepalanya ditegakkan matanya memandang jauh ke muka, sementara ia akan melongo memandang sebagai penonton seperti itu orang banyak di tepi jalan?

“Ah,” pikirnya, “mesti sebodoh itukah aku melepaskan kesempatan...?”

Kejadiannya—boleh pembaca setuju atau tidak, tapi begitulah kejadiannya—setelah waktu jam tujuh malam itu sudah tiba, ia pun datang lagi menjemput. Dan kalau sudah terjadi demikian, kalau yang dijemputnya itu sudah duduk pula di atas jok, sesungguhnya tiadalah lagi kewajiban pengarang untuk menceritakannya dengan panjang lebar. Sebab apa yang terjadi selanjutnya hanyalah pengulangan-ulangan dari apa yang dialaminya kemarin malam.

Ada sebuah teori yang menyebutkan—lupalah lagi pengarang, dalam buku apa mengenai bab apa dan di halaman ke berapa teori itu dimuat, tapi yang sudah pasti orang-orang yang tidak bergelar disebabkan tidak banyak membaca pun sudah banyak yang mengetahuinyabahwa dengan sering diulangi, maka segala sesuatu yang diulangi itu lama-kelamaan menjadi hal yang biasa saja. Dan kebenaran dari teori itu—seperti sudah dibuktikan dengan pengalaman-pengalaman praktek dari orang-orang yang tidak bergelar disebabkan tidak banyak membaca itu—adalah berlaku bagi semua orang tanpa membeda-bedakan tingkat dan kedudukan; jadi dengan sendirinya bisa berlaku juga bagi seorang tukang becak.

Dari sebab itu, bagi para pembaca tidak usahlah lagi merasa heran, kalau setelah pengulangan-pengulangan yang dilakukan Si Sapar di malam itu dilakukannya lagi di malam keesokannya dan terus dilakukannya pula di malam-malam selanjutnya, maka lama-kelamaan segala yang diulanginya itu tiadalah lagi baginya merupakan sesuatu yang ada di luar kebiasaan. Menunggu di tempat yang gelap dan sunyi menjadilah hal yang biasa. Anggapan sepi dari setiap laki-laki pengendara mobil sedan dianggapnya tak mengapa. Berapa banyaknya uang yang diterima Onih dari laki itu tidak pula menjadi rahasia. Dan kalau akhir-akhirnya kepadanya diserahkan sebuah potret yang berarti bahwa kepadanya diserahkan kepercayaan untuk sewaktu-waktu memperlihatkan potret itu kepada laki-laki yang membutuhkan, maka hal itu dianggapnya sebagai sesuatu yang lumrah saja.

Ya, itu semua tiadalah lagi baginya merupakan keadaan yang mesti diapa-mengapakan!

Tapi... inilah tapinya. Dan tapinya itu jadi berkepanjangan. Sebab mengapa ia jadi jarang ketawa? Mengapa ia jadi suka menghabiskan waktunya di siang hari dengan main domino; kalau tidak main domino, suka merenung menyendiri?

Di mata rekan-rekannya memang apalah anehnya tukang becak yang kian lama di Jakarta kian kehilangan tawa. Apakah pula anehnya tukang becak yang suka main domino? Yang begitu itu sudah diketahuinya bukan hanya Si Sapar seorang.

Tapi tukang becak yang suka merenung menyendiri, tidakkah tukang becak itu menyembunyikan sesuatu? Apakah gerangan yang disembunyikannya?

Bukan karena pengarang yang mau melebih-lebihkan—bukanlah karena pengarang yang suka berkhayal dan suka mengada-adakan—tapi begitulah kenyataannya, begitulah yang terjadi rekannya yang berhasil menemukan jawab atas pertanyaan itu adalah seorang tukang becak yang suka menunjukkan lidahnya di hadapan orang lain, yang suka meniru-niru tingkah laku orang lain dan suka nongkrong di hadapan tukang obat. Dengan sengaja pula pada suatu hari ia mencari-cari Si Sapar kemudian setelah diketemukannya ada di suatu tempat di dalam keadaan menghadapi kartu domino bersama beberapa orang rekannya, tanpa uluksalam dulu dan tanpa minta permisi lagi terus saja ia di sana berlagak seperti seorang tukang obat menawarkan jualannya:

“Hei, saudara-saudara! Apakah saudara-saudara sudah tahu apa sebab tuan Sapar jadi suka menyendiri berlagak seperti orang berpangkat? Apa sebab dia jadi suka merenung berlagak seperti orang yang punya gedung di puncak gunung? Dia tergila-gila sama seorang lonte, saudara-saudara! Seorang lonte yang sungguh manis dan yang selalu ditariknya pada hampir tiap malam. Tapi ditarik untuk apa? Ditarik untuk diserahkan kepada laki-laki lain, sedang dia sendiri gigit jari terus!”

Entah karena menganggap lucu kepada caranya pengumuman itu dikemukakan, entah karena merasa lucu disebabkan melihat muka Si Sapar yang mendadak jadi merah padam, kawan-kawan Si Sapar yang lagi main domino itu jadi pada ketawa.

Tapi Si Sapar yang merah padam tentu saja bukan jadi ikut ketawa. Dengan tangan terkepal ia malah bangkit berdiri; katanya menggeram:

“Apa? Gua tergila-gila sama lonte? Memangnya lo mengira gua ini apa? Memangnya gua ini anak kecil mesti tergila-gila sama lonte?”

Tapi hanya itu saja dan tidak lebih dari itu yang meluap dari mulutnya. Dan setelah itu, setelah dilihatnya pula tukang becak yang berdiri di hadapannya itu menunjukkan lidahnya, tangannya yang dikepalkan jadi menggapai, mukanya yang merah padam jadi ditundukkan. Dan dengan langkah nyempoyong akhirnya ia mendorongkan becaknya, menghilang dari sana.

Begitulah dengan tidak disangka-sangkanya sesuatu yang tak dapat dielakkannya sudah terjadi, sesuatu yang menusuk ke dalam hatinya sudah ditusukkan. Dan kalau tusukan itu datangnya dari rekan-rekan sendiri, kepada siapakah ia mesti datang mengadu?

Akibatnya jadi sukarlah pengarang mengatakan apakah di malam harinya ia datang menjemput Onih ke rumahnya dengan disertai pemusatan segenap pikirannya atau tidak. Ketika mereka bertemu pandang tak ada nampak senyum tersungging di bibirnya. Setelah mereka berangkat melalui jalan yang ramai tak ada pula nampak kebanggaan memancar pada matanya. Muram saja ia kelihatan, seolah langit di atas kepalanya itu sudah menghitam seperti tinta cina. Baru setelah mereka akan berpisah, yaitu disaat Onih sudah turun dari atas jok dan mau menyerahkan uang kepadanya, baru disaat itu ia ada kemampuan menunjukkan kehadiran dari segenap jiwanya. Tapi suatu kehadiran yang akan mengherankan barang siapa yang melihat. Sebab badannya menggigil seperti diserang penyakit demam panas, matanya bernyala-nyala seperti kerasukan oleh sesuatu yang hendak meluap-luap.

Gemetar bunyi suaranya yang dipaksakan:

“Tidak, saya tidak usah dibayar.”

Tentu saja Onih menyatakan keheranannya:

“Mengapa?”

“Apa salahnya saya tidak dibayar dengan uang?” jawabnya. “Apa salahnya kepada saya diberikan sesuatu yang sudah biasa diberikan kepada laki-laki lain? Apa bedanya saya dengan laki-laki lain?”

Onih yang keheranan jadi menahan nafas dahinya dikerutkan. Tak salah lagi, tak bisa mengerti ia mengapa kata-kata semacam itu akan keluar dari mulut Si Sapar. Tak pernah terpikirkan hal serupa itu akan terjadi. Dan sesungguhnya, bagaimana akan terpikir sampai ke sana; tidakkah sehari-harinya pun Si Sapar itu lebih banyak dibelakanginya daripada ditilik kehadirannya?

Dengan mata dipuncerengkan ia pun menjawab:

“Apa? Bedanya? Mereka membayar, sedangkan kau dibayar. Itulah bedanya!"

Dan dengan muka merah padam dilemparkannya uang yang ada ditangannya. Dan dibantingkannya kakinya cepat-cepat.

Tapi anehnya, melihat itu semua Si Sapar bukannya seperti melihat sesuatu yang baru dialaminya; bukan ia jadi terpaku memandang. Ia malah jadi ketawa. Ketawa membahak, sampai badannya bergoncangan dan matanya berbinar-binar.

“Oh!” katanya. “Mengapa jadi marah? Saya hanya main-main saja. Sungguh mati, saya hanya main-main saja!”

Dan tambahnya sambil memunguti uang: “Sudah! Tak usah marah. Besok malam saya datang lagi mejemput. Betul, saya datang lagi menjemput!”

Entah di manalah ia pernah mempelajari kemampuan bermain sandiwara itu, suatu kemampuan yang sungguh bisa disamakan dengan kemampuannya seorang aktor yang ulung! Sebab setelah itu, setelah dilihatnya Onih menoleh lagi kepadanya dan setelah dilihatnya pula ada senyum bermain pada bibirnya, ia pun berhentilah dengan menghambur-hamburkan kata, berhenti pulalah dengan ketawa. Badannya yang berguncangan kembali menjadi lemah. Matanya yang berbinar-binar kembali menjadi muram. Dan apabila sudah didorongkannya becaknya akan menghilang dari sana, jelaslah kelihatan langkahnya terhuyung, lemas-lesu tak tahu kemana mesti menuju...

Besok paginya tak pernah ia kelihatan muncul membawa becaknya ke jalan raya. Di mana dia berada tak seorang pun yang tahu.

Baru siangnya, setelah dicari-cari orang, yaitu setelah dicari-cari oleh itu tukang becak yang dulu membawa dia menghadap kepada wak haji, ia pun diketemukan ada disuatu tempat di luar kota. Dengan maka berengut ia di sana duduk memeluk dengkul. Di hadapannya bertebaran uang kertas yang disobek-sobek. Dan disampingnya, tidak jauh dari becaknya yang nungging, menggeletak jok becak yang rusak karena tusukan pisau.

“Sapar!” tukang becak itu melototkan mata. “Apa lu sinting, menyobek-nyobek uang? Apa lu gila, merusak becak orang? Datangku di sini disuruh wak haji, tahu? Katanya sudah tiga hari lu tidak bayar sewaan, sebab lu punya uang selalu lu habiskan kepada domino. Tapi sekarang becaknya pun lu bikin rusak! Memangnya lu mau bikin gua malu? Setelah lu gua tolong? Setelah lu gua kasih jalan supaya bisa hidup di Jakarta?”

Tapi apalah faedahnya kata-kata itu semua, apalah pula guna menambahkannya lagi dengan segala macam umpatan. Sekali berengut Si Sapar tetap berengut. Dan sekali memeluk dengkul ia terus memeluk dengkul.

Kehabisan sabar, tukang becak itu akhirnya tidak berkata lagi, terus saja mendapatkan becak yang nungging, menaruh joknya di sana dan kemudian mendorongkannya, akan terus membawanya pulang. Pada pikirnya, itulah satu-satunya penyelesaian yang paling gampang.

Tapi sesuatu kesalahan hitung sudah terjadi. Si Sapar yang memeluk dengkul itu bangkit berdiri. “Jangan,” katanya, “jangan dibawa. Becak itu masih saya yang sewa.” Dan dengan gerak yang tangkas dinaikinya becak itu dan digenjotnya cepat biar buru-buru menyingkir dari sana.

Sepuluh menit kemudian ia pun berhasillah meloloskan diri sebagai pihak yang menang, sebagai tukang becak yang masih bisa menguasai becak sewaannya. Dan beberapa jam kemudian, yaitu di saat matahari hendak terbenam, muncullah ia dengan becaknya itu kehadapan Onih. Joknya yang rusak, entah bagai mana sebabnya, sudah ditukarnya dengan yang masih utuh.

“Ada orang kaya yang mau ketemu,” katanya, suaranya meyakinkan. “Rumahnya di sana, di luar kota.”

“Apakah yang dulu pernah memanggil itu?" Onih bertanya dengan gembira.

“Bukan, bukan itu,” jawabnya cepat. “Ini lain lagi. Kalau mau pergi, marilah kita berangkat sekarang juga.”

Seolah-olah peristiwa tadi malam itu hanya sebuah impian di waktu siang, atau seolah-olah peristiwa itu tak pernah terjadi sama sekali entah karena hal itu pada wajah Si Sapar sudah tak ada kelihatan lagi bekas-bekasnya, entah karena bagi Onih pun sudah tak teringatkannya lagi. Entahlah pula karena perkataan ‘orang kaya’ yang diperdengarkan Si Sapar itu bagi Onih merupakan sesuatu yang sangat merdu di telinga. Yang nyata, setelah kepada Onih diberikan waktu untuk mandi dan berdandan, mereka berdua pun berangkatlah bersama-sama, yang seorang duduk di depan yang seorang lagi di belakangnya.

Jalan yang mereka tempuh adalah mulanya jalan yang beraspal, jalan yang licin dan diterang lampu-lampu listrik. Tapi lama-kelamaan di sepanjang jalan itu hanya banyak batu-batu saja dan akhirnya, setelah di kiri-kanan tidak ada melihat cahaya listrik, batu di sepanjang jalan itu pun jadi tidak ada. Dan orang pun jadi jarang kelihatan.

Tapi sampai disitu masih belum apa-apa; Onih yang duduk di atas jok masih belum merasakan adanya sesuatu untuk ditanyakan. Setelah mereka membelok ke sebuah jalan kecil di sepanjang jalan kereta api dan di tepi jalan itu tidak begitu banyak rumah yang kelihatan, mulailah ia jadi cerewet:

“Apa betul, Par, mesti ke jalan ini?”

“Betul,” Si Sapar menjawab.

Sampai di ujung sebuah jembatan, tidak jauh dari sebuah gubuk kecil, tiba-tiba mereka berhenti. Dari sana kemana saja mata memandang, selain jalan kereta api yang lurus membentang hanya pohon-pohonan saja yang kelihatan. Pohon-pohonan yang hitam mengerikan.

“Sapar!” Onih mulai menyatakan kecurigaannya, “Mengapa mesti berhenti di sini?”

Kalau disaat itu Si Sapar yang ditanya bukannya menjawab tapi malah dengan tiba-tiba ada berdiri di hadapan—berdiri memandang tanpa mengatakan sesuatu—di dalam sekejap tahulah Onih bahwa sesuatu yang dicurigakannya itu telah menjelma menjadi suatu kenyataan yang menantang.

Dalam sekilat terbayanglah di dalam ingatannya peristiwa tadi malam. Terbayang pula di dalam khayalannya suasana di dalam gubuk kecil yang ada di depan mata itu sangat kotor dan menjijikkan!

Tapi sebelum terbayang apa yang harus dilakukan, Si Sapar yang berdiri itu dengan tiba-tiba pula merumpuyuk jongkok, kedua betah tangannya lemah menggapai.

“Apakah saya mesti membayar juga?” terdengar suaranya meratap.

Ada terasa ratapannya itu mengandung permohonan minta dikasihani. Dan ada kelihatan matanya membayangkan harap-harap cemas.

Tapi bagi Onih apalah artinya itu semua! Tidakkah baginya tiada lagi yang lebih jelas dan lebih nyata selain dari adanya kenyataan bahwa ia sudah dibohonginya, bahwa ia sudah dibawanya ke sana bukan karena ada orang kaya yang memanggil?

“Jadi untuk inikah kau membawa aku kesini?” katanya dengan muka merah padam, matanya dipun cerengkan. “Untuk membohongi, menipu aku?” Dan dengan gemas ia pun terus mengangkatkan kaki, siap akan turun.

Di saat itu masih sempat terkilat di matanya Si Sapar yang jongkok di hadapan itu mengacukan kedua belah tangannya. Dan masih sempat pula terdengar pertanyaannya yang mengandung permohonan: “Mau ke mana?”

Tapi apalah pula artinya itu semua! Tidakkah baginya tiada lagi yang lebih jelas dan lebih nyata selain dari adanya kenyataan bahwa orang yang jongkok di hadapan itu tiada lain dari seorang tukang becak yang sudah dan masih akan berbuat kurang ajar?

Sekeras apa ia menyepakkan kakinya yang sudah diangkatkan, tidaklah lagi diingatkannya. Bagaimana Si Sapar jatuh tertelentang, itu pun tidak diketahuinya. la baru tertegun kaget, setelah dilihatnya Si Sapar yang tertelentang itu bangkit berdiri dan terus bertolak pinggang; matanya melotot, mukanya membara.

“Jadi saya mesti membayar juga, ya?” terdengar suaranya menggeram seperti suara harimau lapar “Mesti membayar juga?”

Pada saat itu barulah ia menyadari bahwa ia bukan berhadapan dengan seorang anak kecil, bahwa suatu perkosaan sedang mengancam di depan mata, “Sapar!” ia pun berteriak.

Tapi Si Sapar yang dinyahkan malah jadi menghampiri; jelas kelihatan badannya menggigil, gerahamnya gemeretuk.

Di detik itu apalah lagi yang terpikirkan selain mesti buru-buru minta tolong! Dan ia pun terus menjerit sekuat tenaga. Tapi apa lacur! Setelah itu, setelah jerit yang sekali itu, mulutnya jadi terus tak bisa lagi mengeluarkan suara, tertutup lap kotor yang disumbatkan dengan segala kekerasan.

Menyadari ada tangan kotor menjamah badan dan ada bau keringat tercium di depan hidung, ia pun menolak memberontak. Kakinya disepakkan, tangan nya dipukul-pukulkan, mukanya dibuang-dipalingkan, “Lu bau!” kutuknya ketika didapatnya kesempatan untuk berbunyi.

Tapi kutuk itu hanya sekali itu saja sempat terlompat, sebab setelah itu, setelah kutuk yang sekali itu, sesuatu yang tajam terasa dengan tiba-tiba menusuk ke dalam perut. Darah pun keluar dari lobang bekas tusukan, penglihatan jadi kabur, tenaga jadi lemah. Dan akhirnya, dengan tidak kuasa apa-apa ia pun menggeletak di atas jok, menyerah kepada apa yang hendak diperbuat orang atas dirinya.

Tapi anehnya, setelah melihat itu semua Si Sapar bukan menjadi tambah beringas. Tangannya yang menggenggam pisau jadi gemetar, sampai pisau yang digenggamnya itu terlepas jatuh ke tanah. Bibirnya digigit dengan amat kerasnya, sampai bibirnya itu mengeluarkan darah. Lututnya terasa lesu, begitu lesu, sampai akhir-akhirnya ia tidak kuasa berdiri, jatuh merumpuyuk, kepalanya tersungkur, disungkurkan ke pangkuan Onih.

“Kau juga…,” ratapnya, “kau juga dan laki-laki lain yang mengajarkan aku mesti melakukan ini semua…”

Hanya itu yang terucapkan. Selanjutnya terengah-engah dadanya. Dikepal-remaskannya tangannya dan digigitnya lagi bibirnya. Entah berapa lama. Sampai akhirnya ia cengkat karena mendengar suara kereta api datang dari jauh.

“Nah, dia datang!” terlompat kata dari mulutnya.

Dan secepat ia bangkit berdiri, secepat itu pula ia mendorongkan becak bersama Onihnya ke tengah-tengah jalan kereta api. Sesudahnya ia pun naik ke atas becak itu, memeluki badan Onih yang sudah setengah menjadi mayat dengan seerat-eratnya dan menciumi mukanya yang pucat dengan semesra-mesranya.

Suara kereta api yang datang dari jauh kian lama kian keras kedengarannya, sorot lampunya kian lama kian terang menyilaukan. Tapi itu semua seolah-olah tak pernah dipedulikannya...

Keesokannya penduduk di sekitar tempat itu geger karena menemukan sepasang mayat dan sebuah becak yang ringsek, diduga akibat lindasan kereta api semalam. Beberapa orang pejabat yang berkepentingan pada datang pula ke sana untuk mengadakan pemeriksaan dan mengadakan pengusutan bagaimana duduknya perkara.

Tak dapatlah diherankan, orang banyak yang datang di sana itu lebih suka mencurahkan perhatiannya kepada mayat yang perempuan dan hanya sedikit sekali yang berkerumun di sekitar mayat yang laki-laki. Maklumlah yang perempuan itu, selain jasadnya cantik, pakaiannya pun serba bagus, belum lagi barang-barang perhiasannya yang serba mahal. Sedang yang laki, ya jasadnya jelek, ya pakaiannya juga asal saja melekat di badan.

Seorang pejabat yang mengadakan pemeriksaan akhir-akhirnya berkata pula:

“Tukang becak, sih! Pantas saja dia buas.”

Begitulah akhirnya; seolah-olah memang sudah di kehendaki Tuhan, kehadiran Si Sapar di Jakarta, di ibukota dari bumi Indonesia yang suci ini, sampai kepada jadi mayat pun tidak boleh luput dari kepahitan, tidak boleh lepas dari penghinaan dan tuduhan.

Tapi siapa akan menduga cerita ini tidak berakhir sampai di sini; siapa akan mengira kematian Si Sapar itu bukan berarti penyelesaian? Ya, siapa akan menyangka, bahwa pada malam harinya, yaitu setelah kira-kira dua belas jam Si Sapar dikuburkan dan tidak ada lagi di muka bumi, seorang tukang becak akan ribut bercerita kepada rekan-rekannya bahwa ia ada melihat Si Sapar mengendarakan, becak lengkap dengan seorang perempuan cantik di dalamnya!

Dikatakannya bahwa ia pernah mendekati, tapi yang didekati pergi menjauh. Dikatakannya pula bahwa ia pernah menyusul, tapi yang disusul terus menghilang entah kemana. Dan yang menyeramkannya—katanya—bersamaan dengan menghilangnya itu ada tercium bau bangkai dan ada terasa bulu kuduk meringkik.

Bukan itu saja juga di tempat lain, di sebuah jalan yang sepi di tepi kali Ciliwung, seorang pengendara mobil sedan hampir saja mengalami kecelakaan disebabkan di sana ia ada melihat seorang perempuan cantik duduk di atas jok becak lengkap dengan tukang becaknya yang siap siaga. Yang menyebabkan dia hampir celaka ialah, ketika ia membelokkan mobilnya ke sana dengan maksud menghampiri tiba-tiba yang dihampirinya itu pada menghilang entah kemana dan bersamaan dengan menghilangnya itu tercium bau bangkai dan terasa bulu kuduk meringkik. Saking paniknya, hampir saja mobil yang dikendarainya nyemplung ke kali.

Pendeknya, sukarlah dimungkiri bahwa dengan kematian Si Sapar itu di tengah-tengah kesibukan kota Jakarta itu jadi muncul sesuatu yang mengganggu para tukang becak dan para pengendara mobil sedan. Sesuatu yang nampak dimata, tapi tak pernah bisa didekati apalagi dipegangi. Sesuatu yang sukar diperoleh buktinya untak diajukan ke muka umum.

Pernah terjadi memang, seorang pengendara mobil sedan yang melihatnya menceritakan penglihatannya itu kepada seorang wartawan. Tapi wartawan itu geleng kepala dan ketawa. Pada pikirnya, apalah faedahnya mengumumkan sesuatu yang tidak berbukti, apalah gunanya memberitakan kehadiran hantu di tengah-tengah kesibukan kota Jakarta!

Dan celakanya, apa yang disebut hantu itu pun seolah-olah ada pikiran pula, apalah ruginya tidak diacuhkan wartawan, apalah celakanya tidak menarik perhatian surat kabar! Sebab dengan tidak diumumkan di dalam surat kabar juga, toh orang yang melihat kehadirannya itu kian hari bukan jadi kian berkurang, bahkan akhirnya... ya, akhirnya salah seorang di antara penduduk kota Jakarta yang padat itu beruntunglah bukan hanya bisa melihatnya saja!

Tentu saja hal ini terjadi bukan karena suatu kebetulan, bukan karena orang yang beruntung itu tidak mempunyai alasan. Orang itu, yaitu seorang laki-laki berperut gendut berumur empat puluhan, sebagaimana telah kita kenal, adalah mempunyai kesukaan ngeluyur di malam hari. Bukan karena apa, tapi sebagaimana kita ketahui, hanyalah atas dorongan hati yang sering merasakan kekosongan. Ya, suatu kekosongan yang sebenarnya bukan tidak ada dirasakan oleh setiap laki-laki berumur empat puluhan; cuma bedanya, kalau bagi laki-laki lain perasaan kekosongan itu terpaksa ditekannya atau dilemparkannya jauh-jauh karena tiada alat dan kesempatan untuk menyalurkannya, maka bagi laki-laki berperut gendut itu, disebabkan ia mempunyai banyak uang yang diperolehnya dengan sangat gampang, perasaan kekosongan itu lalu dibesar-besarkannya untuk disalurkannya bersama pengeluaran uangnya di waktu malam. Itulah sebabnya, pada setiap ia ngeluyur di malam hari itu, meskipun badannya dihenyakkan di dalam mobil, tapi matanya selalu dilayang-layangkan keluar.

Dan itulah pula sebabnya, tatkala pada suatu malam menjelang pukul sebelas ia melihat di tepi kali Ciliwung ada seorang perempuan cantik duduk di atas jok becak, ia pun segera memerintahkan kepada supirnya yang setia supaya mobil dibelokkan ke sana, kemudian setelah sampai di sana, dengan tidak banyak pertimbangan lagi ia pun terus turun mendapatkan.

Alangkah ia gembira setelah ternyata perempuan cantik itu seorang yang sudah pernah dikenalnya. Dengan tidak banyak bertanya-tanya lagi ia pun terus duduk di sampingnya.

“Hampir saja aku pangling”, katanya setelah becak maju berjalan, “sebab malam ini kau kelihatan luar biasa cantiknya.”

Dan perempuan cantik disampingnya itu menjawab:

“O, ya? Itulah spesial untukmu, untuk seorang laki-laki yang paling royal mengeluarkan uang!”

Dan mendengar jawaban itu, laki-laki itu jadi kian melonjak gembira tangannya jadi menggerayang, tak mau diam. Seolah-olah sudah terlupa ia bahwa ada orang lain di belakang, atau seolah-olah dianggapnya orang lain di belakang mereka itu tak pernah ada.

Sampai di halaman sebuah rumah yang kegelap-gelapan, sebelum becak berhenti ia pun sudah tak sabar mengajak:

“Hayu, turun!”

Tapi apa yang terjadi?

Kalau perempuan cantik di sampingnya itu mendadak jadi tak ada kedengaran suaranya, ia pun mulailah merasa heran. Kemudian, setelah dilihatnya muka perempuan itu jadi pucat, karena muka itu tidak lain dari muka seorang mayat mulailah badannya jadi panas-dingin. Dan itu belum semuanya. Sebab akhir-akhirnya mau tak mau ia mencium bau bangkai dan mau tak mau bulu kuduknya meringkik.

“Celaka aku!” pikirnya sambil terus bersiapakan lari.

Tapi mau lari kemana? Baru saja ia turun dari atas jok, sebuah tangan yang membelimbing tiba-tiba datang menyemba leher baju. Mau tak mau ia pun menoleh ke arah yang punya tangan, ke arah tukang becak yang duduk di atas sela. Dan mau tak mau terbenturlah matanya kepada muka seorang laki-laki yang selama ia hidup baru sekarang ia melihatnya, sebuah muka yang begitu mengerikan dengan mata yang melotot dan gigi yang menyeringai.

“Lu mau apa?” terdengar muka yang mengerikan itu membentak sambil mengacukan tinjunya. “Perempuan ini gua punya, tahu?”

Apalah lagi yang dapat dilakukannya selain berdiri terpaku dengan mata terbelalak dan mulut menganga! Demam disekujur badannya sudah tak terasakannya lagi. Celananya yang basah kuyup sudah tak disadarinya lagi. Apakah ia pernah bergerak dan apakah ia pernah memekikkan sesuatu, itu pun sudah tak diingatkannya lagi.

Tatkala ia sadar akan dirinya, tahulah ia bahwa ia sudah ada di rumahnya sendiri, menggeletak di atas tempat tidur dengan badan panas-dingin, di kiri-kanannya berjejer istrinya, kedua orang anaknya dan seorang dokter. Ada kelihatan istrinya dan anak-anaknya menunjukkan senyum yang manis dan ada kedengaran mereka melahirkan kata-kata. Tapi dari pihaknya, apakah yang mesti disenyumkan dan apakah yang mesti dikatakan? Mestikah ia tersenyum, padahal di depan matanya selalu terbayang itu muka tukang becak yang mengerikan? Kata-kata apa pulakah yang mesti diucapkannya untuk menjelaskan sesuatu yang hanya nampak di matanya? Yang nyata, mengigaulah ia dan terus mengigau!

Sampai kapan ia mesti menggeletak di sana, tentunya hanya Tuhanlah yang tahu. Cuma yang sudah jelas bagi kita, pada hari keesokannya muncullah potret si sakit itu di dalam salah satu surat kabar yang terbit di Jakarta, lengkap dengan sebuah beritanya bahwa seorang pemimpin dari sebuah Perusahaan Dagang Negara jatuh sakit dengan mendadak akibat kerja keras.

Dan pemberitaan itu ternyata bukan tidak ada faedahnya. Sebab setelah itu—boleh pembaca percaya atau tidak, tapi begitulah kenyataannya—setelah potret si sakit itu dimuat di dalam surat kabar, maka apa yang disebut hantu tukang becak itu pun jadi tak ada lagi kabar beritanya.

Ada dugaan ia akan menghilang untuk selama-lamanya. Sebab yang terakhir dilihat orang, ia meluncurkan becaknya yang berisikan kekasihnya itu ke arah luar kota sambil membunyikan bel dengan amat kerasnya.

1961 - 1963


CC BY-SA 4.0

Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Halaman hak cipta biasanya memberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, pernyataan CC BY-SA 4.0 ini hadir untuk membuka kemungkinan.

E-book ini merupakan hasil digitalisasi dan penyuntingan, tanpa klaim kepemilikan atas materi aslinya.

Seluruh kontribusi dalam edisi ini—termasuk digitalisasi, penyuntingan, atau penataan tipografi—dilepaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Pemegang hak cipta atas materi dalam e-book ini yang keberatan atas penggunaannya dipersilakan menghubungi [email protected] untuk peninjauan lebih lanjut.

Upaya ini dilakukan semata-mata demi memperkaya khazanah literasi, mendukung pelestarian, dan membuka akses seluas-luasnya agar isi dalam e-book ini dapat dibaca, dinikmati, sekaligus dipelajari.