Baca PDF (OCR): Perang di Jalan Allah

290 halaman · 290 halaman diproses dengan OCR· 439258 ms

Daftar isi
  1. Perang di Jalan Allah
  2. Ibrahim Alfian
  3. ENSN
  4. 0036 5872
  5. 056641699
  6. Ibrahim Alfian
  7. Perang di Jalan Allah
  8. Perang di Jalan Allah12
  9. dellA m6lst ib g06199
  10. 2194 Ibrahim Alfian
  11. Perang di Jalan Allah
  12. Perang Aceh 1873-1912
  13. deHA m6lsl ib gas1
  14. L-8 A 1S
  15. Jasa buku ini terutama terletak pada pertanyaan yang paling po-
  16. dari hal-hal ini, kita akan lebih dimungkinkan untuk mengerti di-
  17. Jakarta, Ramadhan, 1406.
  18. Taufik Abdullah
  19. lak a p di Pa
  20. Daftar Isi
  21. VII. Aceh Tengah dan Tenggara, ± 1903-1912 ....
  22. perang partisan dan perang rakyat.10
  23. sejenis inti, yang baik aktif maupun pasif didukung oleh rakyat.13
  24. rang kecil tidaklah sama dengan perang rakyat.22
  25. rismatik dari para ulama.28 Rakyat Aceh yang sebahagian terbesar
  26. Aceh masih harus ditulis.30 Dalam Seminar Sejarah Nasional yang
  27. Snouck Hurgronje,43 yang kemudian dituangkannya dalam karya
  28. standarnya tentang Atjeh, De Atjehers.44 Penelitiannya dilakukan
  29. gronje, ternyata hal itu tidak benar.47 Selain daripada itu pendapat
  30. hasianya49 kepada Gubernur Jenderal meminta supaya hal itu ti-
  31. gangan, kerajinan tangan dan pertanian.52
  32. pengetahuan sosial ilmiah.55
  33. siatkan agar ia dikebumikan di Tanah Aceh.61
  34. kumpulan kitabnya yang sangat banyak.63
  35. di dalamnya musnah dimakan api.64
  36. pemahamannya mengenai situasi itu.68
  37. janjikan sejumlah kecil hadiah uang untuk memperoleh surat-surat
  38. kepada kita tentang apa yang terjadi di belakang layar.74 H. Colijn,
  39. 46. Snouck Hurgronje, De Atjehers, I (1893), hlm. 190. moseulimin atau
  40. 47. Mau'izat al-Ikhwan (1886), Cod. Or. 8037 A, Tadhkiratal-Rakidin (1889),
  41. Cod. Or. 8037 B, dan versi yang lebih panjang dari kitab kedua ini, Cod.
  42. Or. 8038 (1890). Mengenai hal ini, lihat selanjutnya Bab V.
  43. 48. Snouck Hurgronje, The Achehnese, I (1906), hlm. xvii-xviii
  44. 49. Missive, no. 131/sangat rahasia, Kutaraja, 16 Juli 1907, MR 1218, dalam
  45. V 29-11-1907 X23, Ministerie van Binnenlandse Zaken, Den Haag. Da-
  46. lamnya disebutkan, bahwa pengajuannya ke pengadilan di Padang atas
  47. 50. Gobée dan Adriaanse, op. cit., hlm. 95-6.
  48. Sultan, yang sangat dihormati rakyat, disebut dengan istilah
  49. Gayo dan Alas yang terletak jauh di pedalaman (lihat peta)6. Dae-
  50. runan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) dari istri yang bukan
  51. tusan yang mereka ambil itu. 6
  52. dari keadaan masing-masing negeri itu.19
  53. letus.23 Pada pertengahan abad XIX terjadi pula peperangan di
  54. gieng dan istri serta anak-anaknya pun ditangkap.25 Di samping
  55. kan oleh uleebalang Mukim V Reubee pada 1870.26°
  56. Tetapi Aceh bukanlah saja negeri sultan dan uleebalang, Aceh
  57. kapan "Ulakan serambi Aceh, Aceh serambi Mekah". 27
  58. tarkan pendapatan itu kapada uleebalang.39
  59. pengaturan perlawanan terhadap Belanda.42
  60. manya.50 Jika peugawe, seperti rantai babi yang disebut di muka
  61. pada bagian tengahnya lalu dijadikan suatu lingkaran yang diletak-
  62. han-bahannya kebanyakan diambil dari kitab suci al-Qur'aan.s4
  63. mat dianggap memiliki kekuatan-kekuatan ajaib.58
  64. beberapa di antaranya disajikan berikut ini.59 Di dekat Kuala Doe,
  65. kepada hukuman Tuhan yang tidak dapat dielakkan.4 Kepercaya-
  66. 55. Nama-nama Allah disebut Asma'u 7-Husna, yaitu nama-nama yang agung
  67. III. Dalam Kancah Peperangan, 1873-1896
  68. dap kerajaan Aceh.1 Tetapi, dalam perjalanan sejarah serentetan
  69. lah benteng Belanda di Pulau Poncang di Teluk Tapanuli diserang
  70. tangkap dan sebagian lagi dibunuh.3
  71. an Aceh. DAlam pertempuran ini Aceh dapat dikalahkan.5 Akibat
  72. anggap bersahabat dengannya.11 Apalagi Aceh pada tengah kedua
  73. tanya kepada Republik Belanda,12
  74. tidak lagi merupakan kekuasaan yang kuat.
  75. kepada pihak Aceh.15
  76. betul Aces barat.
  77. da.16 Selain daripada itu pada September 1872 pihak Belanda me-
  78. rapa hal yang menyangkut kepentingan kedua belah pihak.8 Pada
  79. ancaman Belanda.20 Setelah mengetahui kejadian ini Konsul Be-
  80. Aceh.21 Akibatnya pada 18 Februari 1873 Pemerintah Belanda di
  81. nama Gubernemen Hindia Belanda.23 Belanda menghendaki agar
  82. terhambat untuk melakukan intervensi.24
  83. peti senapan dari Pulau Pinang.25 Malangnya, pada 31 Maret 1873,
  84. dan pelabuhan mana pun di lingkungan koloni Inggris ke Aceh.26
  85. ret 1873, kepada kerajaan Aceh.28
  86. Bata.32 Pada 14 April 1873 Belanda berusaha menguasai kembali
  87. terkena peluru pihak Aceh.33 Belanda tidak dapat menguasai da-
  88. timbul juga pemberontakan melawan Belanda.36 Anggota-anggota
  89. laut dan sejumlah besar tongkang-tongkang. Kali ini angkatan
  90. nyusun pertahanan dalam.40
  91. di tepi pantai, dan datangnya bala penyakit kolera.48
  92. Aceh.49 Pada 29 Januari Sultan Mahmud Syah mangkat di Pagar
  93. milik pemerintah Hindia Belanda.50 Belanda mengusahakan agar
  94. serta 52 opsir dan 1.181 bawahan diungsikan.52
  95. 500 orang rakyatnya meninggalkan pertempuran di Aceh Besar.54
  96. pada Nabi Muhammad guna memerangi Belanda.
  97. Blokade Belanda tidak seluruhnya dapat mencapai sasaran.2
  98. negaraan dengan negara-negara asing.2 Di antara uleebalang-ulee-
  99. memperluas garis pertahanan yang telah ada.67
  100. nya di Aceh Besar.84 Van der Heijden membersihkan daerah-dae-
  101. Imum Lam Reng.9 Dari tempat ini mereka berusaha untuk me-
  102. ma yang sangat berpengaruh, diserahi mengurus masjid ini.90
  103. serta Peusangan di Aceh Utara.91
  104. untuk memperkenalkan pemerintahan sipil.92
  105. sejarah kolonial Belanda.93
  106. surat izin, harus ditangkap.94 Namun untuk mengambil hati rakyat
  107. pat membawa sekedar obat-obatan seperti kinine dan lain-lain.95
  108. tapi itu pun dengan memakai surat izin.96
  109. der Heijden digantikan oleh pemerintahan sipil pada April 1881,100
  110. lain.0l Tambahan lagi dengan dipindahkannya van der Heijden,
  111. kan tentara Hindia Belanda mengalami desorganisasi total.103
  112. dua buah kapal.106
  113. hadap Belanda, namun perlawanan secara umum tidak ada lagi.107
  114. mengenai hal yang sangat menguntungkan Belanda 108
  115. an-barisan rakyat untuk menyerang Belanda.109 Tgk. Chik di Tiro
  116. landa "Nisero-quaestie" 113 Pada bulan November 1883 sebuah ka-
  117. ga menginginkan supaya keadaan perang di Aceh Berakhir.116 Hal
  118. blokade terhadap pelabuhan Teunom oleh pihak Belanda.117
  119. yang turut menghadiri peristiwa itu, sebagai kadi.121
  120. ras.124 Dari negeri-negeri yang terletak di-tepi pantai yang menda-
  121. sebagian dana untuk perang sabil.125
  122. akhirnya tidak jadi dilaksanakan.136
  123. 25.000 ringgit kepada T. Umar.137
  124. Aceh Besar sedapat mungkin dihindari.139
  125. 17 luka-luka.140 Adanya serangan seperti ini membuat van Teijn
  126. ,141 dimaksud penangkapan ikan
  127. berikan premi f. 25,- per satu kepala orang Aceh.148
  128. pasukan khusus yang direkrut dari pasukan infanteri.149
  129. untuk menghadapi serangan Belanda di Mukim XXII.154
  130. durkan diri dan digantikan oleh Kolonel C. Deijkerhoff.156
  131. sebelum mereka menyerah.157
  132. menyatakan kesetiaan pada Pemerintah Hindia Belanda.18 Ia
  133. 54. "Mededeelingen betreffende de Atjehsche Onderhoorigheden", BKI
  134. 73. W. Cool en G.B. Hooyer, Eene Schoone Bladzijde uit Atjeh's Geschie-
  135. 79. Snouck Hurgronje, The Achehnese, I, hlm. XVI. Lihat juga missive Gu-
  136. bernur Deijkerhoff kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda (GJHB),
  137. 80. Nota, E. van Assen, tentang pasifikasi Aceh, kepada L.W.C. Keuchenius,
  138. 49. Juga, Kielstra, Beschrijving, III, hlm. 219-47.
  139. 86. Hooyer, op. cit., hlm. 46. Reid, "Habib Abdurrachman", op. cit., hlm.
  140. 87. Hooyer, op. cit., hlm. 261. Brooshooft, op. cit., hlm. 177. Kielstra,
  141. 90. J. Kreemer, "De Groote Moskee te Koeta-Raja", Nederlandsch Indie
  142. Oud en Nieuw, 1920-1921, hlm. 72, Hooyer, op. cit., hlm. 280.
  143. 94. Missive GBA pada GJBH, Kutaraja, 14 Jani 1880, dalam politieke
  144. G.C.E. van Daalen (1863 -1930), dalam tahun 1904 berhasil menakluk-
  145. kan Tanah Gayo, Tanah Alas dan Tanah Batak. Dari tahun 1905 - 1908
  146. ia menjadi Gubernur Aceh.
  147. IV. Ideologi Perang Sabil
  148. tugis, menyebut tentang perang sabil sebagai berikut13 :
  149. Mengapa takut perang Yahudi
  150. dalam bahasa Aceh.23 Sayangnya, nama pengarangnya tidak ter-
  151. bil.24 Tidak ada keterangan lain yang diperoleh mengenai kitab
  152. mereka akan dimasukkan ke dalam surga.28 Dengarlah apa yang di-
  153. Dalam HPS tertua yang ditemukan (1710) terdapat rangkap syair,
  154. Wajeb tapubuet jeuep kutika
  155. keu soe nyeung na tem jak muprang.32
  156. Hukum fardhu ain di pundak kita
  157. Kemudian ikuti pula kutipan dari HPS ini:
  158. Peureulee in ateueh geutanyoe.33
  159. waktu itu juga ingin tobat nasuha,42 yaitu dengan segera pergi ke
  160. adalah sutat al-Taubah ayat 111 dan al-Baqarah ayat 195.48 Ter-
  161. Tidak mengherankan jika Tgk. Alue Keutapang menuliskan doa-
  162. Ala 'l-kuffari 'l-hulanda maghlubin.52
  163. ini dapat digagalkan. Oleh karena itu HPS ini dianggap sangat ber-
  164. politik di Aceh selama setengah tahun pertama 1926, yang menye-
  165. seperti itu disita dan dimusnahkan.66 HPS ada juga nilai tukarnya,
  166. namakan Atjeh-moord, yang sebenarnya lebih tepat disebut pem-
  167. penindasan pihak uleebalang. Dari 18 peristiwa itu, tiga di anta-
  168. Dengan nama Allah Pengasih lagi Penyayang
  169. Catatan
  170. 50. HPS., Cod. Or. 8134, hlm. 21.
  171. 80. F.H. van Loon, "Het Krankzinnigenvraagstuk in Atjeh", Mededeelingen
  172. van den Burgerlijken Geneeskundigen Dienst in Nederlandsch-Indie, deel
  173. 17. Suatu keadaan yang bertahun-tahun merupakan gambaran khas bagi ne-
  174. geri Aceh, yakni beberapa orang tuan dan nyonya Belanda yang akan ber-
  175. kunjung ke kenalan mereka yang berada di pos yang lain, mereka selalu
  176. Tiro, Shaikh Abbas ibn Muhammad alias Tgk. Chik Kutakarang
  177. Sistem pertahanan konsentrasi yang lebih mementingkan konsoli-
  178. kepada para pengikutnya.12
  179. Tgk. Chik di Tiro.14
  180. khairi wa ya'muruna bi 'l-ma'rufi wa yanhauna 'ani 'l-munkar"15
  181. in dan peuhina agama Islam dalam negeri tuan ...17 Pada akhir
  182. ragu, bukanlah ia saudara kaum muslimin.19
  183. akibat-akibat yang menimpa mereka.25
  184. bas ibn Muhammad alias Tgk. Chik Kutakarang.44 Menurut
  185. senapan-senapan serta peluru-pelurunya dan segera menghilang.51
  186. ngar, pos-pos itu berkewajiban membunuh mereka.52
  187. nya, (c) rusaknya agama.57
  188. benteng-benteng yang kosong.? Pada pertengahan 1900 Tgk.
  189. Zakat, yang sebagiannya diperuntukkan bagi hak sabilillah76
  190. tu mereka, tetapi juga oleh pemimpin-pemimpin adat."
  191. nya diserahkan kepada salah seorang pemimpin agama.
  192. pasukan Teungku di Tiro.1 Salah seorang yang diutus oleh Tgk.
  193. oleh 300 ringgit di Tapaktuan.82 Dalam bulan September 1887,
  194. ringgit dari Sultan Langkat di Sumatra Timur,84 sedangkan T.
  195. 24. Tengku Oemar berasal dari keturunan Hulubalang di pantai barat Aceh.
  196. reka beren atau beruang-beruang.
  197. Gambar bawh : Narapidana kerja paksa sedang memikul tandu mem-
  198. 34. Pasukan Belanda beristirahat ketika berpatroli di Gunung Seulawah. Pa-
  199. 37. Gajah-gajah dipergunakan oleh pasukan Belanda untuk keperluan trans-
  200. 38. Tjoet Nja Din, Pahlawan Wanita Perang Aceh. Isteri Tengku Oemar (alm.)
  201. VI. Dilanda Kekalahan
  202. Vetter untuk mengambil tindakan setempat yang diperlukan.6 Di
  203. Sultan bersama para pengikut berada di Mukim XXII. Akibat
  204. dapat mengusir pasukan-pasukan Panglima Polem, menduduki Jan-
  205. thoe dan menyapu benteng-benteng Aceh.15
  206. Hasyim berpulang ke rahmatullah, pada 16 Januari 1897.16
  207. bagian bivak-bivaknya dengan garis-garis pertahanan konsentrasi.17
  208. ranya ada delapan luka-luka yang kemudian meninggal dunia.18
  209. 110 orang dan 120 pucuk senapan ditinggalkan.19
  210. teguh. Dengan begini, perang melawan Belanda, tidaklah bisa di-
  211. 1898. Dengan hampir semua kekuatannya ia datang dari Daya un-
  212. lima Polem ia memperkuat pertahanan.21
  213. pemimpin adat yang mengundurkan diri dari Aceh Besar, yaitu T.
  214. yang lain memperkuat diri di Garot dan Aree, sultan di Langga dan
  215. Panglima Polem dengan pengikut-pengikutnya bertahan di Padang
  216. Tiji.23
  217. Besar, harus dihantam dengan kekuatan senjata.24
  218. Umar.25 Pasukan Belanda terbagi atas dua bagian, colonne Pidie
  219. sir, 2.100 orang bawahan Eropa dan Ambon serta 1.200 orang
  220. Garot, Pidie, tanpa perlawanan.28 Pada 3 Juni 1898 Gronggrong,
  221. dilarang membawa senjata.29
  222. pegunungan di selatan Lembah Pidie.42
  223. ini dipertahankan Aceh sampai orang yang penghabisan.45
  224. segala bantuan kepada sultan.47
  225. dak dapat diperoleh berita mengenai tempat bertahannya sultan.48
  226. Hana geuingat uroe akhirat, ne'mat le that Tuhan neubri57
  227. Tgk. di Matang Ubi.68 Kemenangan negeri Asia ini terhadap ne-
  228. Pemerintah Hindia Belanda.76 Belanda mengetahui bahwa Ghouse,
  229. seorang yang menamakan dirinya Wekker.79 Ia mengecam guber-
  230. juga memperbesar kekuatan dan kekuasaan.93
  231. 1905 di daerah ini ada sekitar 2.000 orang.94
  232. Belanda.97 Kejadian ini bukan tidak berbalas. Pada awal Septem-
  233. 1905.100
  234. Bugis dari Beunga juga disebabkan istrinya telah disandera105
  235. Krueng Baro, pada 29 Maret 1906.108
  236. Pidie pada 15 April 1908.109
  237. nung Meureuseue. Menyusul pula kemudian Tgk. Chik Mayet yang
  238. ACEH TENGAH DAN TENGGARA, ± 1903-1912
  239. tiap jengkal tanah pusaka mereka.113
  240. juh orang bumiputera. 117
  241. Tengah.119
  242. nakan senjata tajam.121
  243. pengikutnya. Tgk. Padang Si Ali menyerah pada Januari 1911.126
  244. ungku-teungku dari Tiro. Di daerah Peusangan besar pengaruh ula-
  245. yahnya di Paya Bakong banyak menarik murid-murid dari seluruh
  246. Pada awal September 1906, dibawah pimpinan orang-orang Peu-
  247. Peudada.130 Pada tahun itu juga, uleebalang negeri Nisam, T. Ri
  248. hingga mendapat luka berat.133
  249. ulama itu beserta istrinya sebagai syuhada.138 Begitulah kata Zent-
  250. dalam buku sejarahnya?139
  251. 6. Vetter memberhentikan dengan hormat Mayor Jenderal Deijkerhoff se-
  252. bagai gubernur. Untuk mengurus pemerintahan sipil diangkatlah Residen
  253. 9. A. Struyvenberg, Het Korps Marechaussee 1890-1930,1930, hlm. 35.
  254. 10. A. Doup, Gedenkboek van het Korps Marechaussee van Atjeh en Onder-
  255. hoorigheden, ca. 1940, hlm. 93. H.T. Damste, "De Drie Atjeh-mannen:
  256. Snouck Hurgronje-Van Heutsz-Van Daalen", KT (1937), hlm. 147.
  257. 11. Kemudian, pada 8 November 1896, Mayor Jenderal Stemfoort menye-
  258. rahkan jabatannya kepada Kolonel C.P.J. van Vliet yang segera dinaikkan
  259. 39. Salah satu keluarga opsir Belanda saat minum teh dalam salah sebuah
  260. VII. Penutup
  261. dukkan dan mengalahkan pihak Aceh.3 Dalam tempo 25 tahun, se-
  262. tidak kurang dari 14 orang pejabat Belanda yang diserahi meng-
  263. 3. Tentang berubah-ubahnya kebijaksanaan yang ditempuh pihak Belanda,
  264. 1865
  265. ACEHBESAR&PIDIE KUA ACEHSKALA 1:5000 000
  266. Malaka
  267. AMALLNGA
  268. PEUGAN
  269. HMEUUDU
  270. XIII MUKIM TUNGKOP
  271. XIII MUKIM ULÉÊ KARÉNG
  272. IX MUKIM
  273. IV MUKIM
  274. VII MUKIM
  275. (BA'ET)
  276. GAMBAR JARINGAN POS-POS
  277. BELANDA
  278. (1873 - 1896)
  279. Kr Gloempang
  280. Posiai Yan Swieten,Apri 1874
  281. Bentang sementara dari apa yang
  282. Sumbec:G.D.E.J.Hotz.Beknopt Geschiedkundig Overzicht van de Atjeh-Oorlog.1924
  283. 1900.
  284. A. Hasymy, Hikayat Prang Sabil menjiwai Perang Melawan
  285. Gobée, E. dan C. Adriaanse (eds). Ambtelijke Adviezen van
  286. C. Snouck Hurgronje, 1889-1936. Jilid I. 's-Gravenhage:
  287. H.M. van Dorp, 1876.
  288. E.H. Bahruddin. Perang Partisan. Bandung: Jajasan Pustaka
  289. Damsté, H.T. "Atjeh-historie," KT, no. 1 (Maart, April, Mei,
  290. "Geschiedvervalsching in Zake Atjeh," TNI,
  291. Acher, R.L. "Muhammedan Mysticism in Sumatra," JMB-
  292. Lampiran B
  293. 91901
  294. sbaqsal jale BiSURA
  295. Ops Baaban Optr Baaan s Baaan
  296. —22111—8171
  297. 11121111
  298. Bavaban Teas Teuka
  299. Tertaap SenapanKokang Senaan Rever
  300. Mod95 latak ???
  301. 44423
  302. Surat Terjemahannya
  303. Naskah yang mem-
  304. bicarakan Perang Surat Terjemahannya Sabil
  305. Cod. Or. 8163b; Al-saff Hai orang-orang yang beriman, su-
  306. ayat 10,kakah kamu aku tunjukkan suatu
  307. 11,12perniagaan yang dapat menyela-
  308. matkan kamu dari azab yang pe-
  309. Lampiran E
  310. Sumber: Doup (ed.), Gedenkboek van het Korps Marechaussee, 1944, hlm.
  311. Tgk. Syaikh Saman
  312. 21 Mei 1910 21 Mei 1910 Tgk. U m a,
  313. Tgk. Syaikh Saman Tgk. Syaikh Ma'at ditawan di Tangsé 22 Mei 1910
  314. umur ± enam tahun,2) Tiro : gampōng di Pidie
  315. bulan ditawan di Tangséanak laki-laki umur lima
  316. Lampiran G
  317. de Vlag van de Atchinezen, bij Baros veroverd, 1840
  318. Huiic
  319. ENNLNどこんらと
  320. Sumber: A.W.T. Juynboll, "Een Atjineesche Vlag met Arabische Opschrif-
  321. Lampiran H
  322. Beberapa Pendapat
  323. Mengenai Perang
  324. Kolonial Belanda di Aceh
  325. Dari : PERANG KOLONIAL BELANDA DI ACEH (The Dutch
  326. Colonial War in Aceh). Penerbit: Pusat Dokumentasi dan
  327. Lampiran I
  328. y° 26a 1873
  329. COURANT
  330. JAVASCHE
  331. Dipetik dari: Perang Kolonial Belanda di Aceh, Banda Aceh; 1977,
  332. Dipetik dari: Perang Kolonial Belanda di Aceh, Banda Aceh; 1977,
  333. 10651983
  334. Kebangzaan dari tahuk 149o4974
  335. SK Pa=dem RI No. 12/8 tabon
  336. 10651987
  337. 'saingan politik-ekonomi yang menimbulkan perang ini serta kele-
  338. ini. Apakah yang disebut dengan "perang sabil" itu dalam kesadar-
  339. Dr. Taufik Abdullah

2194 N

Perang di Jalan Allah

Ibrahim Alfian

ENSN

sh

BIBLIOTHEEK KITLV

0036 5872

056641699

Ibrahim Alfian

Perang di Jalan Allah

Perang di Jalan Allah12

dellA m6lst ib g06199

2194 Ibrahim Alfian

Perang di Jalan Allah

Perang Aceh 1873-1912

10651987

PUSTAKA SINAR HARAPAN Jakarta, 1987 sh

asnA midsrdI

deHA m6lsl ib gas1

L-8 A 1S

Perang di Jalan Allah Perang Aceh 1873-1912 Oleh Ibrahim Alfian 87/SP/05

Desain sampul: Natasa T Foto-foto diambil dari buku-buku:

  1. The Contest for North Sumatra by Anthony Reid
  2. J.B. van Heutsz leven en legende door J.C. Witte
  3. Klamboes Klewangs Klapperbomen, Indie gewonnen en verloren door Pierre Heijboer Hak Cipta dilindungi Undang-undang Pustaka Sinar Harapan, Anggota Ikapi Jakarta Cetakan Pertama 1987H RA AXATU Dicetak oleh: PT New Aqua Pressser selt

Pengantar

Barangkali para sejarawan tidaklah salah kalau mereka cenderung untuk saling setuju dalam menilai pertengahan kedua abad 19 se- bagai "masa menaik dari kolonialisme", dan bermulanya periode imperialisme modern. Berbagai kasus sejarah tentu bisa mereka ajukan-mulai dari proses dibelah-belahnya Afrika oleh kekuatan-kekuatan Barat sampai dengan dimulainya sistem eksploitasi ekonomi baru. Periode ini adalah saat ekspansi geografis dan persaingan kolonial sedang terjadi dengan cepat dan ketika sistem kapitalis- me modern, di bawah naungan imperialisme, mulai menguasai du- nia. Kalau sekiranya contoh-contoh sejarah dibatasi pada tanah air kita saja, maka periode ini adalah saat makin terwujudnya pax-Neerlandica, khususnya Hindia Belanda yang telah semakin terin- tegrasi dalam kesatuan administratif, dan ketika apa yang disebut politik ekonomi liberal mulai ditanamkan. Dalam proses perluasan pax-Neerlandica ini, maka kasus yang terjadi dengan Aceh dengan jelas memperlihatkan bahwa gerak maju kolonialisme Belanda bu- kanlah kasus yang berdiri sendiri, tetapi terkait pula dengan gerak maju kekuatan kolonial lain, yaitu Inggris. Dalam Traktat London, Inggris dan Belanda berjanji antara lain akan sama-sama menghor- mati kedaulatan Aceh. Tentu saja hal ini bisa dimengerti karena keduanya sedang sibuk dengan konsolidasi kekuasaan di koloni masing-masing apalagi pada waktu itu di Eropa, perang Napoleon baru saja berakhir. Tetapi dalam waktu kurang dari lima puluh tahun, perjanjian lain, yang disebut Traktat Sumatra (1871) diada- kan lagi antara kedua kekuatan kolonial itu. Dalam perjanjian ini Inggris memberi kebebasan kepada Belanda untuk memperluas wi- layah kekuasaan di pulau Sumatra. Setelah berbagai insiden dan persaingan diplomatik, maka di tahun 1873, agresipun dilancarkan Batavia kepada Aceh, sebuah negara yang berdaulat di bagian utara pulau Sumatra. Tetapi, dengan mengumandangkan seruan "tiada Tuhan selain Allah", negara Aceh berhasil mempertahankan diri terhadap agresi pertama ini.

Namun dalam agresi yang kedua, di bulan Januari 1874, pasukan Belanda di bawah pimpinan jenderal Van Swieten, berhasil mere- but dalam (kraton) dan menghancurkan mesjid Kotaraja. Sultan Mahmud Syah meninggal dunia dalam pengungsiannya. Maka, ten- tu tak terlalu mengherankan jika pada tanggal 31 Januari Van Swieten dengan bangga memproklamirkan bahwa kerajaan Aceh telah ditaklukkan dan pemerintah Hindia Belanda telah mengganti- kan kedudukan Sultan. Namun Van Swieten telah memberikan apa yang bisa disebut sebagai "overstatement of the century", per- nyataannya diucapkan ketika Perang Aceh baru saja pada tahap yang paling awal. Setelah itu perang, yang bermula sebagai konflik antara dua negara yang berdaulat ini-yang satu "negara kolonial" dan yang lain "negara tradisional"— memasuki situasi konflik ber- senjata yang hampir tanpa henti. Bahkan setelah tahun 1903 ketika Sultan T. Muhammad Daud dan Panglima Polem telah dipaksa menyerah, sebagian besar uluebalang telah diharuskan puas sebagai penguasa kecil di bawah naungan Belanda dan ulama-ulama besar, yang sanggup menggerakkan rakyat dalam jumlah besar, telah ti- was atau meninggal dunia, pertempuran kecil masih terus berlan- jut. Bahkan pada tahun 1907 Kotaraja, kota yang dianggap paling aman, diserang oleh para gerilyawan Aceh. Perang Aceh, atau lebih tepat Perang Belanda di Aceh, yang ber- langsung puluhan tahun ini, memperkuat tradisi penentangan yang keras terhadap kolonialisme Barat, yang dengan mudah dirumus- kan sebagai "kaphé" alias kafir. Tradisi penentangan terhadap se- gala hal yang dianggap sebagai "kaphé" bukan saja telah menye- babkan berkembangnya suatu sikap politik tertentu dari masya- rakat Aceh tetapi juga mempengaruhi corak serta tempo perkembangan sosial di Aceh. Keberanian dan pengabdian pada nilai-ideal yang ditempa dalam perang memang tak selamanya sejalan dengan keterlibatan dalam gerak modernisasi, yang bertolak dari paradig- ma yang sama sekali berbeda dari landasan nilai-ideal itu. Kalau telah begini, maka berbagai situasi kritis dalam proses integrasi bangsa bisa pula terjadi. Tetapi hal ini barulah dirasakan nanti, ketika keutuhan dari po- lity lama serta otonomi kultural yang relatif dari masing-masing kelompok ethnis telah dirobek-robek oleh perkembangan kesadar- an politik serta dinamika sosial-ekonomi. Namun Perang Aceh sebagai peristiwa sejarah memberikan beberapa hal yang dapat memper- dalam pengetahuan tentang sejarah perjalanan kita sebagai bangsa.

Ketika kesejajaran yang logis gagal menampakkan dirinya maka situasi ironis dirasakan. Betapa seringnya kita menemukan ironi sejarah, di saat berbagai peristiwa muncul dalam kesenjangan lo- gika. Tetapi bukankah ironi itu hanyalah suatu "pemaksaan" lo- gika yang gagal terhadap realitas? Jadi, barangkali tak perlu kenya- taan historis sederhana harus dianggap sebagai ironi. Ketika dasawarsa pertama dari abad ini dimasuki, maka suasana optimisme dari kolonialisme pun kelihatan jelas. Berbagai perang pelebaran pax-Neerlandica telah disebut saja sebagai sekedar kelanjutan "pa- sifikasi" dan "ekspedisi polisional" belaka. Bahkan, kemerosotan kemakmuran rakyat di Jawa telah dirasakan sebagai "hutang ke- hormatan", maka apa yang disebut sebagai "politik ethis" pun di- permaklumkan oleh Sri Ratu dalam pidatonya. Dengan politik ethik ini, di samping kemakmuran rakyat, dengan program irigasi kolonisasi atau migrasi, usaha ke arah terwujudnya masyarakat kolonial yang maju, melalui edukasi, dapat diwujudkan. Dalam suasana penuh optimisme kolonial ini cita-cita Kartini didukung pula oleh para ethici, dengan menyebarkan surat-suratnya dan membantu kelanjutan sekolah yang telah dirintisnya. Dalam situasi ini pula Budi Utomo, didirikan oleh para murid Stovia di bulan Mei, tanggal 20, 1908. Dan, masuk akal pula kalau cita-cita yang telah dirintis ini kemudian diambil oleh para priyayi, dengan per- setujuan sang Gubernur Jenderal. Masa baru seakan-akan telah menampakkan dirinya. Tetapi, dalam periode ini Aceh, kehilangan Sultan (dibuang ke Ambon) dan para pemimpin besar. Teuku Umar tiwas (1899) dan Cut Nyak Dien ditawan dan dibuang (1908). Dalam dasawarsa ini pula Aceh kehilangan hampir empat per sen dari jumlah penduduknya dalam pertempuran. Inilah dasawarsa yang disebut oleh seorang sejarawan Belanda, sebagai "se- puluh tahun yang berdarah". Periode ini memang merupakan ge- rak maju yang keras serta konsolidasi politik kolonial. Jadi, ketika kesadaran sejarah nasional ini menyanyikan kebangkitan nasional, Aceh dan beberapa daerah lain mengalami tragedi yang cukup mendalam. Mestikah hal ini disebut sebagai ironi? Tetapi, ini bukanlah masalah sejarah sebagai ilmu, melainkan soal perumusan sikap nasional terhadap sejarah. Sebagai peristiwa, sejarah perang Aceh memberikan hal lain bagi pengenalan kita terhadap sejarah nasional. Van Heutsz, sang panglima yang dianggap sebagai penakluk Aceh, bisa saja mendapat promosi hingga diang- kat menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda, dan mempercepat

konsolidasi politik Hindia Belanda, tetapi adalah seorang ilmuwan yang meninggalkan bekas yang lebih mendalam. Dalam Perang Aceh inilah Snouck Hurgronje berhasil menulis karya agungnya, De Atjehers, tetapi lebih penting lagi dari pengalaman di Aceh ini pula ia merumuskan apa yang kemudian dikenal sebagai "politik Islam". Di samping menjadikan kedudukan uluebalang dan ulama sebagai dua kelompok elit Aceh yang berada dalam situasi konflik, Snouck juga membagi Islam atas tiga bagian, "ibadah", "muama- lah" dan "politik". Betapapun mungkin kedua pembagian ini dari sudut ilmiah dapat dianggap bertentangan dengan realitas sesung- guhnya-sebagaimana telah ditunjukkan oleh berbagai ahli na- mun masalah Snouck Hurgronje ialah rekayasa sosial, bukan kete- tapan analisis. Kalau telah begini, maka betapapun salahnya suatu kebijaksanaan bila dilaksanakan dengan konsisten akan dapat me- lahirkan realitasnya sendiri. Dan realitas baru itu memang muncul. Situasi baru diciptakan di Aceh dan "politik Islam" diterapkan di seluruh Hindia Belanda. Kalau terhadap ibadah harus toleran, maka terhadap segala hal yang berbau politik haruslah dihadapi dengan tangan besi. Keunggulan politik Islam", yang dirumuskan Snouck Hurgronje bertolak dari hasil yang dicapai, bukan teruta- ma dari suatu ketepatan akademis dalam menyalin realitas. Aceh adalah laboratorium dalam pengujian keunggulan politik itu. Hing- ga betapapun memekiknya, kemudian, seorang ahli kolonial Pran- cis, akan kesia-siaan politik Islam itu, politik itu tetap dijalankan. Hanya saja menjelang tahun 1920-an, situasi yang tak terbayang- kan oleh Snouck menampakkan dirinya Islam, yang dianggapnya telah "tidur" sebagai suatu agama, kini telah menampilkan sema- ngat reformis yang keras. Suatu dilemma baru dalam "politik Islam terjadi". Tetapi ini masalah lain. Berakhirnya perang besar di Aceh dan dimulainya proses konsolidasi keamanan di daerah itu membawa akibat yang cukup penting dalam perkembangan politik-ekonomi Hindia Belanda. Dengan dihentikannya kampanye militer dengan biaya besar peme- rintah Hindia Belanda dalam berhemat. Hal ini memberi kemung- kinan bagi Hindia Belanda untuk mendapatkan otonomi dalam masalah keuangan dari negeri induk, Belanda. Akibat lanjutan dari otonomi Hindia Belanda ini ialah dimulainya gerakan ke arah de- sentralisasi serta otonomi daerah dalam berhadapan dengan Bata- via/Bogor. Dengan kata lain, proses ke arah terjadinya reformasi politik di Hindia Belanda bermula. Inilah proses yang antara lain

menghasilkan berbagai dewan-dewan daerah dan apa yang disebut Dewan Rakyat atau Volksraad. Perang Aceh membawa berbagai perobahan penting dalam sejarah perkembangan Hindia Belanda dan, dengan begini, juga membawa pengaruh terhadap pertumbuhan kita sebagai bangsa. Dalam sejarah nasional kita, perang yang terlama dan termahal ini telah memberikan kepada kita pahlawan-pahlawan yang gagah berani dan syuhada yang tanpa takut. Siapakah yang tak terharu mem- baca ketegaran hati Cut Nyak Din, yang dapat mempengaruhi suaminya, Teuku Umar, agar kembali berpihak kepada barisan kaum Muslimin dalam berhadap dengan tentara kaphé. Ketika suaminya tiwas dalam peperangan ia meneruskan perjuangan sampai akhir- nya ia sakit dan buta. Dan, betapa luluh hatinya, ketika para peng- ikutnya yang demi cinta pada Cut Nyak Dien harus mengkhianati- nya dengan menyerahkan kepada Belanda, agar dapat perawatan. Sampai meninggal di tempat pembuangan ia tak pernah menerima kenyataan bahwa perang telah berakhir. Atau kisah Teungku Cik di Tiro, yang tiga keturunan terus berjuang untuk mengembalikan Aceh sebagai "Serambi Mekkah" yang merdeka. Semua ini telah menjadi bagian dari epos kepahlawanan nasional kita. Tetapi bagai- manakah corak dinamika Perang Aceh itu? Kalau kita perhatikan, Perang Aceh dapat dibagi atas beberapa fase yang saling bersentuhan. Waktu fase kedua bermula, fase pertama masih berlanjut. Ketika agresi dilancarkan oleh Batavia, maka yang terjadi ialah perang dari dua negara. Inilah fase pertama, di saat perang berada di bawah komando Sultan atau yang mewakili- nya. Tetapi, kemudian setelah dalam diduduki dan sultan mang- kat, sedangkan sultan yang baru dinobatkan masih di bawah umur, maka Perang Aceh makin merupakan perang-perang dari daerah-daerah, di bawah para uluebalang, melawan gerak maju tentara Hindia Belanda. Struktur kenegaraan yang relatif lemah dan saling keterikatan Sultan dengan uluebalang -sarakata (surat pengakuan dari Sultan atas keabsyahan uluebalang) dan bantuan ekonomis dari uluebalang kepada Sultan-menjadikan hubungan antara dalam dan wilayah ke-uluebalang-an mudah terganggu oleh faktor-faktor luar. Begitulah ketika faktor luar telah berhasil melumpuh- kan dalam, maka uluebalang-uluebalang lebih banyak bertindak sendiri daripada menunggu perintah dari Sultan. Inilah fase kedua, ketika para uluebalang tampil sebagai pemimpin dan Sultan atau wakilnya lebih merupakan unsur pemersatu, daripada komando.

Namun fase ketiga adalah yang merupakan sejarah yang terpanjang dan paling berdarah dari Perang Aceh. Tak berapa lama uluebalang-uluebalang terkemuka di sepanjang pantai Timur telah dapat ditaklukkan, ada yang tiwas dan ada pula yang bersedia menerima pengaturan kekuasaan baru dengan mengakui kedaulatan Hindia Belanda. Ketika inilah perang rakyat berkecamuk dan pada fase ketika inilah para ulama tampil pada tampuk pimpinan. Tak sela- manya pimpinan tersebut bersifat langsung, tak jarang terjadi kepemimpinan ulama tersebut lebih bersifat moral, ketika wewenang dan wibawa spiritual lebih berbicara lantang dari kekuasaan poli- tik. Di bawah pimpinan ulama, perang bukanlah sekedar menyabung nyawa dalam membela negeri, tetapi juga sebagai tindakan yang se- cara spiritual bermakna. Maka perangpun di-sakral-kan, dipersuci. Kalau telah begini, mati tidaklah berarti berakhirnya kehidupan tetapi bermulanya kehidupan yang semurninya dan seabadinya yang menjanjikan kebahagiaan yang tanpa henti. Sebab mati dalam perang melawan kafir adalah syahid "di jalan Allah". Di bawah pimpinan para ulama ideologisasi perang dilakukan. Dalam proses ideologisasi perang, yang dirintis di saat yang keras dan ketika ke- pastian hidup dunia merupakan suatu ilusi, tradisi baru dari mak- na ke-Aceh-an dibina pula. Karena itulah dalam perang ini, ketika barisan Muslimin makin dilanda kekalahan, akibat kekurangan ma- terial dan senjata telah semakin menghebat, unsur nativistik me- nunjukkan dirinya pula. Inilah umpamanya yang terjadi dengan Teungku Tapa, yang dianggap sebagai penjelmaan tokoh folklorik, Malem Dewa. Dalam waktu yang tak terlalu lama Teungku Tapa dapat mengumpulkan ribuan pengikut. Tetapi sebagai galibnya dengan gerakan yang bercorak nativistik, gerakan ini cepat pula ber- akhir dan Teungku Tapa akhirnya tiwas dalam pertempuran. Fase-fase dari Perang Aceh ini lebih merupakan perbedaan dari corak kepemimpinan. Sebab itu betapapun para uluebalang telah harus berperang sendiri-sendiri dan para ulama kemudian lebih ba- nyak tampil dalam mengumpulkan dan menggerakkan massa, namun wibawa Sultan, sebagai pewaris syah dari dalam Serambi Mek- kah, tetap diakui. Karena itu tidaklah pula mengherankan kalau sultan, juga berusaha terus mencari jalan ke arah kembalinya ke- utuhan kerajaannya. Maka, salah satu episode yang menarik dari sejarah perang ini ialah ketika Sultan Muhammad Daud yang telah ditahan di Kutaraja, berusaha mencari kontak dengan Jepang di

tahun 1907. Bukankah Jepang adalah negeri Timur yang telah me- ngalahkan negara Barat, Russia, di tahun 1905? Dalam perang-perang itu rupanya Aceh masih cukup waspada terhadap kemungkinan-kemungkinan yang ditimbulkan oleh peristiwa di luar negeri. Sejarah perang dan pertempuran serta kebijaksanaan militer dan politik di Aceh telah cukup banyak ditulis. Bahkan latar belakang persaingan politik-ekonomi yang menimbulkan perang itu serta kelemahan struktur kesultanan Aceh dalam menghadapi ujian ke- ras dari luar, bukanlah hal-hal yang terlalu asing bagi mereka yang mempelajari sejarah. Tetapi pertanyaan yang selalu mendesak ialah di manakah sumber kekuatan Aceh sehingga bisa bertahan demikian lama, bahkan hampir tanpa henti? Inilah masalah pokok yang menjadi pertanyaan dari T. Ibrahim Alfian dalam menulis buku ini. Apakah yang disebut dengan "perang sabil" itu dalam kesadaran Aceh? Bagaimanakah para ulama membina semangat perang sabil dan menjadikannya sebagai bagian dari kesadaran Aceh? Berbagai contoh dari karya sastra keagamaan yang diciptakan selama perang serta tulisan-tulisan para ulama dibicarakan dengan menarik dalam buku ini. Buku ini, tidak terlalu banyak memperlihatkan aspek-aspek eko- nomis dan diplomatik dari perang yang lama ini dan barangkali pula dirasakan kurang menonjolkan kegetiran dan kepahitan perang dari rakyat Aceh menghadapi gerak maju Hindia Belanda. Te- rasa pula barangkali betapa peralihan "pejuang-pengkhianat-dan- pahlawan" dari Teuku Umar tak begitu kelihatan dan sebagainya. Tetapi akhirnya timbul juga pertanyaan, apakah arti peristiwa, jika suatu suasana kesadaran yang melatar-belakangi semua itu tak di- ketahui dengan jelas? Mestikah kita melihat sejarah hanyalah sebagai rentetan tindakan yang dapat dilihat dan dicatat? Salah satu asumsi teoretis dari buku ini ialah bahwa tindakan bertolak dari interpretasi aktor sejarah terhadap lingkungan. Dari interpretasi, yang telah menggabung hasrat normatif dan pertimbangan rasio- nal, maka suatu pola prilaku dan bentuk tindakan diwujudkan. Sebab itulah perhatian pokok dari buku ini bukanlah rentetan tindakan dan prilaku dan tidak pula terlalu memperdalam masalah lingkungan politik dan ekonomi, tetapi, terutama landasan dari interpretasi yang akan menilai lingkungan dan mewujudkan prilaku itu. Perang Aceh sebagai rentetan dari tindakan-tindakan bukanlah hal yang terlalu asing, demikian pula halnya dengan lingkungan ekonomi dan politik itu. Berbagai studi telah memperlihatkan hal-

hal ini. Tetapi jasa buku ini, tidaklah sekedar mengisi kekosongan itu. Tetapi jasa buku ini, tidaklah sekedar mengisi kekosongan itu.

Jasa buku ini terutama terletak pada pertanyaan yang paling po-

kok. Apakah arti Perang Aceh bagi rakyat Aceh? Apakah dampak sosial dan kultural dari perang ini terhadap Aceh? Dengan menya-

dari hal-hal ini, kita akan lebih dimungkinkan untuk mengerti di-

namika Aceh dan proses pembentukan kesadaran serta kecenderungan kultural Aceh. Tak kurang pentingnya ialah bahwa studi ini akhirnya juga memperlihatkan terjadinya peralihan dalam sis- tem kepemimpinan Aceh. Barangkali tidaklah terlalu berlebih-lebihan untuk mengatakan bahwa di samping proses Islamisasi, yang entah bermula di Peure. lak di abad ke delapan (kata para ulama Aceh), entah di Pasai di abad ke 13 (menurut penemuan benda sejarah dan laporan per- jalanan orang asing), ada tiga peristiwa historis lain yang sangat berpengaruh dalam kesadaran Aceh. Ketiganya ialah, "zaman ke- emasan" Sultan Iskandar Muda di abad ke 17, Perang Aceh, dan revolusi nasional 1945. Arti dari zaman Iskandar Muda terutama terletak pada tafsiran sejarah bahwa di zaman yang sangat diwarnai oleh penaklukan negeri-negeri sekitar Aceh-Darussalam dan tulisan-tulisan agung dari para pemikir dan sufi Islam ini landasan struktural dan kultural dari ideologi Aceh sebagai "Serambi Mekkah" diletakkan. Sedangkan Perang Aceh bukan saja memperlihatkan betapa konsep dari Serambi Mekkah harus diuji dengan keras, tetapi juga cita dari fi sabillillah diperkuat dengan segala akibat yang ditimbulkan- nya. Sedangkan periode revolusi kemerdekaan nasional dirasakan sebagai bukti dari keterlibatan Aceh dalam "masyarakat bangsa", yang telah mengatasi ke-Aceh-an, dan lebih penting lagi, menun- jukkan bagaimana dengan ke-Aceh-an cita-cita nasional Indonesia dapat dibina. Adalah suatu kebanggaan, untuk mengingat kenyata- an betapa Aceh merupakan satu-satunya wilayah di tanah air kita yang terbebas dari injakan tentara Belanda, dan bagaimana Aceh, demi kesadaran nasional dan lillahi ta'ala, memberikan apa saja yang diperlukan bagi perjuangan nasional merebut kemerdekaan. Mengenal arti ketiga peristiwa ini adalah jalan terhampir untuk mengetahui kecenderungan politik dan kultural Aceh. Buku ini membicarakan hal yang paling strategis dari semuanya. Dengan begini pula, maka T. Ibrahim Alfian bukan saja telah memperkaya pengetahuan kita tentang sejarah tanah air, tetapi juga telah mem-

perdalam pengenalan dan pemahaman kita tentang Aceh, suku bangsa yang tak pernah ingin terlepas dari "tali Allah".

Jakarta, Ramadhan, 1406.

Taufik Abdullah

nq. Tde cg Jasa buku ai tarutama terletak puda pertanyuan yang paling po- kok, Apakah ari Perang Acsh bagi zaltyat Aceh? Apakak dampak soiel dn kulual dri pengi terhadp Ach Deng menya dai haa ni, a akan eb iungkan u mengerti d abemiaß peantebenbentukan hesadaran serta kecende rngen k Ace Ta ng pea iala bawa su tem kdellbdeauaTen Baraagkeli tidakiah terlalu berleblebihan unbuk mengatakan balwa di amphg proses hlrisnsi, yoag ertak bemmula di Peue

lak a p di Pa

abed e 1 meu pmuan ben sea dn laoa per jalanan orang astog). eda tia peristiwa histore Jain yang sangat bepengarh datm keda eea Ketignya ialan. "zaman ke emaan" Sultan skandar Muda di abad ke 17, Pummg Aceh, dan revolui nadonal 1945. Art dari zaman Lskadar Muda terutama terletak pada tasima sejarah bahwa di zaman yang sangat diwarnai oleh penaklukan negerinegeri sekitar Acoh.Darussla da tuisan-tulisn aqug dan para pemkr dan su llam nilanddan strakual dan kuu ral dar deologi Aceh sebegat "Serambi Meldah" diletakkan. Se dangkan Peng Aceh bukn maja memperlihatkan betapa konsep dan Serembi Mekkah haus duji deng kes, tapi juga cita dari f bla diperkuat dengan segala akibt yang ditmbulkan- aya. Sedangkan periode revoluai kemerdeian nasonal diresakan ebagei bukt da keterlibusan Aceh daan masyarakat banga", yang telah mengatasi ke-Aoeh-an, dan lebih penting lagi, menun- jukkan begaimana dengan ke-Aceb-an cita-c ponal ndonesta depat dbina. Adalah suatu kebanggean, untuk lnengpngat kenyata. an betap Aceh merupakan satu-stunya wlaya di tanah air kita yang tarbeba dari injaka tentara Belanda, dan bagaimane Aceh, dení kesadaran nesional dan ällhi ta'als, memberikan apa saja yang dipeslukan bagi perjuangan pasional merebut kemerdekian Mengenal arti ketga peristiwa ini adalah jalan terhampir üntuk menpetabui kecenderungn poutk dan kultrl Aceh. Buku lni membicaakan hal yang paling stategsdars semunya Dengan begini pula, makn T. Ibrahim Alfian bukua saja telah memperksya pengetahuan ka tentarg sejurah tnah ar, tetapi juga telah mem

Daftar Isi

Pengantar oleh Taufik Abdullah ... 5

I. Pendahuluan... 17
II. Masyarakat Aceh di Akhir Abad XIX .... 38
III. Dalam Kancah Peperangan, 1873-1896 61
IV. Ideologi Perang Sabil .....
V. Ulama Memobilisasi Kekuatan ......
VI. Dilanda Kekalahan. 189
230
240
Kepustakaan ... 294
Lampiran-lampiran .. 266

. 105 151

VII. Aceh Tengah dan Tenggara, ± 1903-1912 ....

Peta-peta .....

ieI nalte(I

d.
daubdA maT dalo valmagoey Tr aaiuriabae1 88XIX badA sidlA ib deoA taalmsvaaM I 188081-8V81 .088m019q99 da5ma2 melsC .11 801 ada8 gmmie9 lgoloabI .V1 t81 maooaA iasalldomebd amaU .V 881 madalülaA abmal IV 080 8101-8001 ± .8168809T mab dagn9T de0A .IIV 04S a19q.8295 pes.m88aLstai9.2 88s neziqmal-aaiqal

ar

I. Pendahuluan
Dengan didahului sebuah ultimatum, pada tahun 1873 Pemerintah Hindia Belanda mengumumkan pernyataan perang terhadap Kerajaan Aceh. Perang yang dilancarkan Belanda terhadap Kerajaan Aceh dianggap oleh pihak Aceh sebagai bahaya yang merusak tata kehidupan masyarakat dan nilai keagamaan. Terlebih lagi ancaman itu datangnya dari orang-orang yang mereka anggap kafir (kaphé).1 Agresi Belanda ini dihadapi Aceh dengan manifestasi kolektif me- lalui bentuk perlawanan bersenjata yang merupakan perang yang terlama dalam sejarah kolonial Belanda di Indonesia. Berhadapan dengan fenomena sejarah ini dalam kajian ini dicoba untuk melihat faktor-faktor apakah yang terjalin dalam proses perlawanan Aceh menghadapi Belanda sehingga memakan waktu yang relatif lama.2 Dalam menjelaskan fenomena sejarah ini, kajian ini tidak akan dititikberatkan pada satu faktor saja dan tidak pula akan disusun suatu daftar faktor-faktor yang menyebabkannya, akan tetapi se- mua faktor yang dianggap saling jalin-menjalin secara dinamis akan ditinjau.³ Di samping kondisi sosio-kultural masyarakat Aceh, dan ketegangan yang timbul akibat agresi Belanda serta timbul dan terse- barnya doktrin perang yang tampil dalam hikayat-hikayat perang sabil, maka faktor mobilisasi pelaku-pelaku yang terutama dilaku- kan oleh pemimpin-pemimpin agama untuk melawan musuh juga memainkan peranan penting. Kecuali itu faktor yang ikut menen- tukan ialah efektif atau tidaknya tekanan angkatan perang Belanda itu sendiri. Dalam masyarakat yang nilai agamanya sangat menonjol seperti pada masyarakat Aceh, perang yang dilancarkan oleh kekuatan asing menimbulkan ketegangan dalam masyarakat, dan ditafsirkan sebagai bahaya yang merusak nilai-nilai masyarakat, dan sebagai akibatnya lahirlah interpretasi situasional berdasarkan nilai agama.4 Bagaimana keadaan sosio-kultural masyarakat Aceh yang melahirkan interpretasi seperti tersebut di atas tercermin dalam pe-

ribahasanya yang berbunyi "Hukom ngon adat han jeuet cre, la- gee dat ngon sifeuet",5 artinya, hukum agama tidak dapat dipisah kan dari adat, seperti tidak dapat dipisahkannya antara zat Tuhan dengan sifat-Nya. Dimensi keagamaan dapat terlihat pula pada bendera kerajaan Aceh (bahasa Aceh: alam Aceh) dengan gambar dua bilah pedang yang dinamakan zu'lfaqar, berwarna putih di atas dasar merah.6 Perang yang dilancarkan oleh Belanda menimbulkan ketegang- an sosial dan dijawab dengan perang pula oleh rakyat Aceh. Pada agresi pertama bulan April 1873 dan agresi kedua pada Desember tahun itu juga pasukan-pasukan Aceh berusaha sedapat mungkin bersusun dekat bersama-sama dalam menghadapi serangan Belanda. Pertempuran berlangsung di lapangan terbuka di daerah pantai atau sekitar kampung-kampung. Dalam pertempuran itu tentara Belanda mempunyai organisasi dan tentara yang terlatih baik. Kedua pihak melakukan apa yang disebut perang besar. Menurut pengertian yang umum perang besar ialah usaha untuk mematahkan daya serang pihak musuh dengan jalan menghancurkan atau melumpuhkan kekuatan pasukannya, baik di darat mau pun di air: di darat dengan mengadakan pertempuran dan perla- wanan, sehingga kedua belah pihak seringkali bertempur menghadapi lawan dengan segigih-gigihnya.8 Adapun yang dinamakan perang kecil dilakukan untuk mencapai maksud perang besar dan perang kecil itu dijalankan dengan mengancam komunikasi dan mempersukar serta menghalang-halangi gerakan pasukan lawan mencapai kemajuan. Termasuklah dalam perang kecil ini meng- hempang dan merusakkan jalan-jalan kereta api, jalan-jalan biasa serta jalan-jalan penghubung yang lain; memutuskan hubungan telegrap dan telepon, memperdaya pos-pos lapangan, kurir, pos pos penghubung, dan sebagainya; menyerang termasuk menyesat- kan pasukan-pasukan keamanan dan pasukan-pasukan pengintai yang lemah, seperti pengawal lapangan, patroli, dan sebagainya menguasai atau menghancurkan kompoi, transpor serta gudang- gudang perbekalan; mencegah pihak lawan memperoleh dan me lakukan pengumpulan makanan, dan sebagainya.9 Kecuali kedua nomenklatur yang dikemukakan di atas, yakni perang besar dan perang kecil, patut pula disajikan di sini, dua yang lain lagi yaitu

perang partisan dan perang rakyat.10

Perang kecil seperti yang tersebut di atas, tidaklah sama dengan apa yang dinamakan perang partisan, meskipun cara-cara perang

kecil dipakai pula dalam perang partisan. Perang partisan sering dilakukan tanpa turut sertanya rakyat dalam peperangan, namun mereka tak dapat melepaskan diri dari bantuan rakyat, misalnya rakyat menyetujui tempat kedudukan dan pertahanan mereka, rakyat memberitahukan kedudukan pihak musuh kepada mereka, dan sebagainya.11 Para pemimpin kesatuan partisan adalah pemimpin-pemimpin pasukan yang mandiri yang bertindak dan melakukan perang kecil seluruhnya dengan kekuatan sendiri. Biasanya mereka terorganisasi lebih baik, berdisiplin dibandingkan dengan orang-orang di luar mereka yang ikut perang rakyat. Anggota-ang- gotanya terdiri dari pemburu binatang, pengawas-pengawas hutan, penyelundup-penyelundup, penyamun-penyamun, bekas tentara, pendek kata dari rakyat yang sudah terbiasa menghadapi kesulit- an dan kemelaratan hidup serta tidak asing akan bahaya. Mereka biasanya memilih suatu wilayah untuk tempat mereka berope- rasi.12" Dalam perang rakyat kesatuan-kesatuan partisan itu, baik yang terdiri dari pasukan-pasukan yang teratur, maupun rakyat yang sesuai untuk maksud itu, melakukan perlawanan di samping kelompok-kelompok rakyat yang bersenjata. Mereka merupakan

sejenis inti, yang baik aktif maupun pasif didukung oleh rakyat.13

Di Aceh, yang termasuk pemimpin-pemimpin partisan adalah an- tara lain, T. Nyak Hasan, T. Umar, T. Husin, T. Ali Pagar Ayer,

T. Nyak Makam, dan T. Nyak Mamat Peureulak. Pada 1876 inisiatif dalam menjalankan pertempuran tidak lagi berada di tangan Belanda, padahal Aceh belum lagi dapat tertun- dukkan.14 Sampai Desember 1875 Belanda melakukan taktik de- fensif menurut rencana Jenderal Pel dan sejalan dengan politik menunggu. Belanda bersikap agresif di Aceh Besar,15 tetapi tidak hendak memerintah langsung daerah yang telah dikuasai. Pada ta- hun 1876 ada juga penyerangan pihak Belanda di bawah Jenderal van der Heijden, namun hanya berlangsung beberapa bulan saja. Ketika van der Heijden meninggalkan Aceh, musuh Belanda yang belum terpatahkan itu muncul kembali dengan perang cara gerilya. Pasukan-pasukan Aceh melakukan serangan balasan terhadap Belanda tanpa mempergunakan tentara yang terorganisir.16 Taktik yang dijalankan oleh pihak Aceh adalah perang gerilya dan orang-orang Aceh sangat terlatih untuk perang seperti itu.17 Letnan Jenderal T. van Zijll de Jong, Panglima Angkatan Darat dan Kepala Departemen Peperangan Hindia Belanda, mengemukakan bahwa menurut ilmu perang, jika seluruh penduduk dari suatu negara,

setiap lelaki, bahkan setiap wanita dan anak-anak, meski tidak ak- tif, tetapi mengambil bagian secara pasif melawan musuh yang me- nyerangnya, maka peperangan seperti itu dinamakan perang rakyat.18 Jadi, perang rakyat merupakan pernyataan kebencian yang paling meluap-luap dan di Aceh pernyataan kebencian itu tumbuh karena keyakinan agama mereka yang mendalam serta perasaan benci kepada kafir.19 Orang-orang Aceh mendapatkan sekutu-sekutu yang baik dalam medan yang mereka kuasai. Letak kampung dan rumah, mereka kenal dengan baik, sedangkan tidak adanya jalan-jalan raya menyulitkan Belanda untuk dapat menggerakkan pasukannya dengan cepat. Bangsa yang menjalankan perang rakyat tanpa bantuan pasukan tempur yang terorganisasi, dan tanpa pim- pinan militer yang mapan, tidak mempunyai tempat-tempat logis- tik. Karena tidak ada pusat yang dapat dihancurkan, maka tidak ada pulalah yang dapat membahayakan kedudukan mereka. Meskipun satuan-satuan gerilya tidak tahan bertempur lama melawan pasukan-pasukan yang teratur, mereka dapat juga merugikan musuh-musuhnya. Gerilya dan pada umumnya rakyat yang bersenjata menghindari pertempuran tanpa kesukaran. Mereka menyerang dengan tiba-tiba dan segera mengundurkan diri bila mereka menghen- daki, tanpa terikat pada tempat-tempat tertentu untuk berkumpul. Mereka mengundurkan diri ke pegunungan dan menyediakan ba- han makanan sendiri dengan menanamnya di dekat tempat per- sembunyian mereka.20 Mereka menuruti inisiatifnya sendiri dengan memulai pertempuran bila mereka anggap ada kesempatan baik. Mereka akan membahayakan pasukan-pasukan musuh yang tidak jarang terpaksa berbaris pulang dalam bentuk defile di medan yang sukar.21 Dalam perang rakyat, cara-cara perang kecil seperti telah disebutkan terdahulu dipergunakan juga, meskipun pe-

rang kecil tidaklah sama dengan perang rakyat.22

Situasi gawat yang terjadi akibat perang yang dilancarkan Belanda dibuat bermakna kepada pelaku-pelaku yang potensial melalui Hikayat-hikayat Perang Sabil dengan menyebutkan sumber-sumber ketegangan dan mencari jalan keluar guna mengatasinya. Tidak he- ran jika rakyat Aceh menamakan perlawanan mereka terhadap Belanda, Prang Sabi (Perang Sabil). Selain daripada itu nama yang la- zim dipergunakan juga adalah Prang Beulanda (Perang Belanda). Prang Gompeuni (Perang Kompeni) dan Prang Kaphe (Perang Kafir).23 Perang sabil atau perang sabilillah artinya perang di jalan Allah

termasuk dalam bilangan jihād fi sabili'l-lāh. Jihad dapat dibagi atas tiga bahagian, yaitu: (1) Jihad senjata melawan senjata atau jihad kecil, (2) Jihad melawan hawa nafsu dalam diri sendiri atau jihad besar, (3) Jihad damai tanpa senjata atau jihad dakwah, dengan tujuan agar orang berbuat baik dan meninggalkan pekerjaan yang tercela.24 Keadaan perang yang sudah berkobar melahirkan kegiatan berpikir mengenai hukum Islam yang berkaitan dengan pokok hubungan antara kaum muslimin dengan yang bukan muslimin. Dinyatakan oleh Syaikh Abbas ibnu Muhammad, seorang ulama di Aceh Besar, bahwa tanah Aceh yang belum diduduki Belanda adalah dar al-islām, sedangkan daratan Aceh yang digenggam oleh kafir Belanda menjadi dar al-harb, dan dār al-harb adalah yang harus ditaklukkan oleh orang Islam.25 Bila musuh telah menyerang negeri orang-orang Islam, maka orang Islam wajib mempertahan- kan negerinya dari serangan musuh dan jadilah pekerjaan mengusir musuh itu fardu ain, yaitu suatu kewajiban yang harus ditunaikan oleh tiap-tiap orang Islam yang akil baliq, termasuk wanita dan anak-anak, dan berdosalah kepada Tuhan orang-orang Islam yang tiada menjalankannya.26 Meskipun perjuangan menentang Belanda dilihat dalam kerang- ka agama, namun pada tahun-tahun pertama peperangan melawan Belanda tiada terdapat bukti-bukti bahwa kegiatan pemimpin-pemimpin agama atau para ulama tampak menonjol dalam upaya melawan musuh. Hal ini dapat difahami, sebab segala sesuatu mengenai urusan pemerintahan dibebankan pada pundak para pemimpin adat. Setelah pemimpin-pemimpin pemerintahan adat, yaitu raja- raja kecil yang disebut uleebalang makin banyak yang mengakui kedaulatan Belanda,27 pemimpin-pemimpin agama tidak mengikuti langkah para pemimpin adat itu. Sebagian besar daripada pemimpin agama menempuh jalan meneruskan perlawanan bersen- jata bahu-membahu bersama-sama dengan para uleebalang dan ke- luarga mereka yang anti Belanda untuk mengeluarkan Belanda dari tanah Aceh. Sejalan dengan ini muncullah tipe kepemimpinan kha-

rismatik dari para ulama.28 Rakyat Aceh yang sebahagian terbesar

adalah petani dan tidak semua sanggup mengikuti pendidikan agama untuk mampu mendalami kitab-kitab agama, menumpukkan harapan mereka kepada para ulama dan teunku-teunku lainnya tidak saja sebagai orang yang dapat memberi petunjuk dan bimbing-

an tentang bagaimana seharusnya bersikap dan bertindak dalam menghadapi agresi Belanda, tetapi juga sebagai orang yang mampu

menimba dari kitab suci al-Qur'an dan sunnah Nabi dalam meng- hadapi krisis.29 Para ulama tampil sebagai pemberi arahan dengan antara lain menggubah hikayat perang sabil untuk mengerahkan rakyat dan mengumpulkan dana guna melawan musuh. Efektifnya tekanan militer Belanda membawa perubahan pada diri pemimpin-pemimpin Aceh yang tidak memilih syahid. Perla- wanan menjadi berangsur lemah dan makin tidak berarti. Ketika pada 1896 T. Umar, yang waktu itu bersahabat dengan pihak Belanda, membelot dan kembali ke pangkuan Aceh, inisiatif kembali berada di tangan pasukan-pasukan Belanda. Sejak itu Aceh dise- rang habis-habisan. Aceh berada dalam keadaan kedudukan ter- jepit, dan ada anggota-anggota barisannya yang mengundurkan diri dan akhirnya dapat dikalahkan. Tinjauan Bibliografi Pada 1893 C. Snouck Hurgronje mengemukakan bahwa sejarah

Aceh masih harus ditulis.30 Dalam Seminar Sejarah Nasional yang

pertama kali diadakan di tanah air kita dengan mengambil tempat di Universitas Gadjah Mada bulan Desember 1957, Soedjatmoko mengemukakan bahwa dalam periode mana pun juga sejarah ma- syarakat Indonesia belum dijelajah secara berarti.31 Kecuali ka- rangan Hoesein Djajadiningrat mengenai Sultan-sultan Aceh, tidak ada penulisan sejarah Aceh yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia sendiri sebelum Perang Dunia II.32 Sebuah monografi yang pernah ditulis mengenai Perang Belanda-Aceh oleh orang Indonesia, adalah Teungku Chik di Tiro: Hidup dan Perjuangannya, ka- rangan Teungku Ismail Yakub. Kecuali mengatakan bahwa ia mempergunakan beberapa puluh penerbitan Belanda sebagai sumber, ia juga melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh yang sem- pat mengalami perang itu. Di samping itu katanya, ia mengguna- kan manuskrip-manuskrip Aceh tetapi ia tidak menyebutkan dari manuskrip mana kutipan dalam karangannya itu diambil. Pendek- nya, buku ini tanpa kritik sumber yang jelas. Ia tidak menyebut siapa-siapa yang telah diwawancarai, dan tidak pula menyatakan dari sumber mana ia mendapat data untuk pernyataan yang telah dikemukakannya. Hal ini tentu saja menyukarkan bagi mereka yang ingin mengusut lebih jauh sumber pernyataan yang dianggap penting. Buku yang banyak memuat fakta perang Belanda dalam bahasa Indonesia ditulis oleh H. Muhammad Said dalam bukunya Atjeh Sepandjang Abad pada tahun 1962. Buku ini dapat dijadi-

kan buku pegangan untuk dapat mengenal Sejarah Aceh dalam ga- ris besarnya. Penulis-penulis Belanda terutama menitikberatkan pada sejarah pertempuran dengan menonjolkan peranan pihak Belanda, misal- nya Kielstra, Hooyer dan de Klerck.33 Senada dengan ini, terlihat pula sikap Neerlandosentris dalam buku J. Kreemer, yang mem- bagi periode "Perang Aceh" ini dalam tujuh masa, yaitu: (1) Ekspedisi pertama di bawah. Jenderal J.H.R. Köhler (5-29 April

1873), (2) Ekspedisi kedua di bawah Jenderal J. van Swieten, sam- pai dengan pendudukan Keraton (9 Desember 1873 — 24 Januari
1874), (3) Masa konsolidasi pendudukan Aceh (April 1874 - Juli
1878), (4) Masa aksi kekerasan dan penaklukan seluruh Aceh Be- sar (Juni 1878 September 1879 [1881]), (5) Masa pemerintahan sipil (18811884), (6) Masa kemunduran yang konstan (1884
- 1896), (7) Masa aksi kekerasan dan berakhirnya Perang Aceh (1896 - 1910).34 Seorang pengarang Belanda yang lain, sesudah Perang Dunia II, Paul van 't Veer, dalam bukunya De Atjeh Oorlog, menganggap bahwa "Perang Aceh" berakhir pada 1942, tahun ma- suknya Jepang. Susunannya: Perang Aceh Pertama pada 1873; Perang Kedua, 1874-1880: Ketiga, pada 1884-1896 dan Perang Aceh Keempat, 1898-1942.35 Sayangnya ia tidak menyebut alasan-alasan yang dipakainya untuk membuat periodisasinya itu. Meskipun demikian, isi bukunya itu memang sangat komprehensif.36 Sebenarnya, sejak pertengahan dekat kedua di abad ini, Aceh mu- lai relatif aman, meskipun di sana-sini masih ada serangan-serangan kecil, baik oleh orang-orang perseorangan maupun oleh kelompok- kelompok kecil. Sejak 1918 telah dirasa cukup aman oleh Pemerintah Hindia Belanda, hingga pemerintahan militer dan sipil, telah dapat digantikan oleh pemerintahan sipil saja. Setelah kedudukan Pemerintah Hindia Belanda mapan, maka perlawanan yang terjadi tidak lagi dianggap perang, tetapi disebut pemberontakan atau op- stand, yaitu perlawanan bersenjata sebahagian penduduk terhadap tekanan asing, yang telah diakuinya sebelumnya.37 Dengan demikian, maka periodisasinya yang keempat itu patutlah dipermasa- lahkan. Selain daripada itu pengarang mengemukakan bahwa ada naskah hikayat perang yang menggugah semangat orang Aceh untuk turut serta dalam peperangan melawan Belanda serta pernyataan-pernyataan pendapat yang praktis mengenai cara-cara bertem- pur, yang kadangkala mengarah-arah pada ajaran-ajaran gerilya Mao Tse Tung.38 Pernyataan ini mengundang pertanyaan, oleh

karena pengarang buku tersebut di atas tidak menunjukkan dari naskah mana dan dari pengarang mana sumber itu diambilnya. Mengenai tahun berakhirnya Perang Belanda di Aceh ini, pendapat van 't Veer yang memandang selesainya perang ini pada 1942 serta J.S. Furnivall yang menganggap perang ini berakhir pada 1904,39 tidaklah dianut dalam studi ini. Kajian ini lebih me- mihak kepada pendapat J. Jongejans, yang pernah menjadi residen Aceh, yang mengemukakan bahwa dengan gugurnya ulama-ulama Tiro dapatlah dianggap perang Belanda di Aceh telah berakhir (1910-1913).40 Bulan September 1912 bengkel senjata Tgk. di Tiro dirampas Belanda dekat Beunga, Pidie. Di tempat ini mereka menyita 110 pucuk senapan, laras bedil, besi-besi, timah, alat-alat pertukangan, dan lain-lain. Selain daripada itu ulama Tgk. di Barat, yang muncul secara menonjol dalam arena peperangan sejak 1903, dan lebih kurang sembilan tahun lamanya tidak berhasil ditangkap oleh pihak Belanda, dapat ditewaskan bersama istrinya dalam sua- tu pertempuran pada 1912.41 Kedua peristiwa inilah yang dianggap oleh penulis sebagai simbol patahnya perlawanan fisik pihak Aceh dalam peperangan yang telah memakan waktu sekitar 40 tahun itu. Anthony Reid dalam The Contest for North Sumatra, 1858-'98, menguraikan konflik antara Belanda dengan Aceh serta turut cam- purnya Inggris yang mempertahankan kepentingan perdagangan- nya dengan Sumatra Utara, hanya sampai dengan 1898. Penelitiannya menyangkut percaturan politik internasional di Sumatra Utara dan kaya akan sumber-sumber arsip.42 Yang terpenting dibicarakan di sini adalah hasil penelitian C.

Snouck Hurgronje,43 yang kemudian dituangkannya dalam karya

standarnya tentang Atjeh, De Atjehers.44 Penelitiannya dilakukan

atas permintaan Pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan politik Belanda, khususnya untuk memperoleh gambaran yang te- pat dan lengkap tentang kehidupan Islam di Aceh serta pengaruh- nya terhadap politik dan hubungan kemasyarakatan di sana.45 Ia melaksanakan penelitian di tengah-tengah kecamuk perang mela- wan Aceh, dari pertengahan Juli 1891 sampai pertengahan Februa- ri 1892. Itulah sebabnya tidak mungkin baginya untuk melaksanakan penyelidikan ke seluruh Aceh, tetapi hanya terbatas di daerah Aceh Besar saja. Bahwa dalam waktu relatif singkat ia dapat me- ngumpulkan informasi yang sedemikian banyaknya tentang ber- bagai aspek masyarakat Aceh patutlah dikagumi. Kelemahannya,

karena waktu yang relatif singkat, ia banyak bergantung pada para informannya yang tentunya tidak selamanya akurat. Salah sebuah contoh dapat dikemukakan bahwa menurut Snouck Hurgronje, Syaikh Abbas ibnu Muhammad atau Teungku Kutakarang berpendapat, bahwa orang-orang Aceh digalakkan oleh ulama itu untuk berada di daerah yang telah diduduki Belanda agar dapat mem- bantu perjuangan moseulimin atau muslimin.46 Setelah mempela- jari karya Tgk. Kutakarang, yang ada dalam koleksi Snouck Hur-

gronje, ternyata hal itu tidak benar.47 Selain daripada itu pendapat

Snouck yang menyatakan bahwa peranan Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1904) tidak mempunyai arti politik,48 ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Pada 1907 terjadi serangan atas Kutaraja, kota yang telah lama dianggap sangat aman bagi Belanda. Setelah berbulan-bulan mengadakan penyelidikan, Belanda berkesimpulan bahwa Sultan Daud bersama beberapa orang lain yang menjadi perencana serangan ter- sebut. Seharusnya Belanda mengajukan Sultan ke pengadilan, akan tetapi Gubernur militer dan sipil Van Daalen dalam surat sangat ra-

hasianya49 kepada Gubernur Jenderal meminta supaya hal itu ti-

dak dilaksanakan, oleh karena posisi Sultan Daud dalam masyara- kat Aceh masih tetap tinggi, dan dihadapkannya Sultan ke pengadilan akan mengguncangkan rakyat Aceh. Dalam surat itu dikemukakan pula ketakutan bahwa saksi-saksi tidak berani mengemuka- kan kesaksiannya atau mungkin juga keterangan-keterangan yang telah diberikan oleh mereka akan dipungkirinya, karena takut akan pembalasan dendam dari Sultan dan keluarga baginda serta pengikut-pengikut baginda. Selain daripada itu, G.C.E. van Daalen menyatakan pula, bahwa bila Sultan Daud diajukan ke depan pengadilan di Padang, ada kemungkinan hakim memutuskan pengusiran Sultan hanya untuk waktu sementara saja dari Aceh, padahal meng- ingat kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan oleh Sultan Daud serta posisinya, van Daalen berpendapat bahwa Sultan Daud perlu dienyahkan dari Aceh untuk selama-lamanya. Usul van Daalen ini diterima dan dilaksanakan oleh pemerintah Hindia Belanda. Snouck Hurgronje berpendapat bahwa ulama-ulama memainkan peranan penting dalam menggerakkan rakyat berperang sabil me- lawan Belanda. Tidak boleh ada keragu-raguan dalam menghadapi pihak Aceh yang tidak mau menyerah; untuk itu hanya ada satu garis kebijaksanaan, yaitu menguasai mereka dengan kekuatan sen- jata dan pihak Belanda tidak boleh mengadakan kontak dengan

mereka sebelum mereka menyerah.50 Pendapat seperti ini telah dikemukakan oleh Assistent Resident Goossens, tiga tahun sebelum Snouck Hurgronje tiba di Aceh. Dalam sebuah notanya tanggal 1 Desember 1888 ia telah menyarankan agar Pemerintah Hindia Belanda mengisolir ulama-ulama yang anti-Belanda seperti Tgk. Chick di Tiro cs. dan menyokong ulama-ulama yang moderat dengan membantu memperluas pengaruh dan kekuasaan mereka.51 Selan- jutnya, Snouck Hurgronje mengemukakan agar orang-orang Aceh yang telah mengakui kedaulatan Belanda percaya kepada pemerintah kolonial, Pemerintah Hindia Belanda harus memajukan perda-

gangan, kerajinan tangan dan pertanian.52

Tanpa penyelidikan Snouck Hurgronje dan pengumpulan sumber-sumber yang dilakukannya pengetahuan kita tentang Aceh akan kerdil kiranya. Bagi pemerintah kolonial Belanda hasil penye- lidikannya telah membuka tabir kegelapan dalam menghadapi pe- mecahan masalah Aceh. Usul-usul Snouck Hurgronje dituang dalam perintah Gubernur Jenderal W. Rooseboom pada tahun 1898 kepada J.B. Van Heutsz, tokoh yang dianggap dapat menjalankan tangan besi.53 Van Heutsz dengan didampingi oleh Snouck Hurgronje sebagai penasihat berhasil mencari upaya untuk melumpuh- kan perlawanan pihak Aceh.54 Politik kekerasan ini terus dijalan- kan sampai ke akhir perang besar ini. Hasil penyelidikan sarjana ini seperti telah dikemukakan di atas berguna sekali bagi pemerintah kolonial Belanda. Ia adalah seorang policy engineer yang telah mengemukakan suatu "policy science" dengan mencari jawaban yang secara teknis tepat terhadap masalah-masalah politik berdasarkan

pengetahuan sosial ilmiah.55

Adalah wajar berlainan tempat tegak berlainan pula benda yang tampak. Baik di dalam dokumen-dokumen maupun di dalam buku- buku Belanda, Muhammad Daud Syah yang telah dinobatkan sebagai Sultan sesuai dengan adat Aceh untuk menggantikan Sultan Mahmud Syah yang mangkat pada 1874 tidak diakui oleh Belanda sebagai Sultan.56 Sikap Belanda seperti ini dapat dipahami. Bukan- kah tidak perlu kita berpanjang kalam mengenai penilaian terhadap pelaku-pelaku sejarah, yang dianggap berjasa di pihak sini ti- daklah demikian oleh pihak sana? Adalah hak setiap bangsa untuk memuji putra-putranya yang menurut pendapatnya telah berjasa untuk negerinya.57 Ada penulis-penulis Belanda, meski dalam karya-karya mereka yang populer, berusaha untuk melihat kejadian-kejadian di Aceh

sedapat mungkin secara tidak berat sebelah. H.C. Zentgraaff, pe- mimpin redaksi surat kabar De Java Bode, pada 1938 mengemuka- kan bahwa orang-orang Aceh laki-laki dan perempuan berlawan dengan gemilang untuk kepentingan "cita-cita nasional" [sic!] atau 58 agamanya. Juga Jongejans dalam bukunya yang telah tersebut di muka mencoba sedapat mungkin meninggalkan prasangka kolonial- nya. Kalau Tanah Deli diberi gelar "Het Dollarland", negeri dollar, Aceh mendapat nama julukan "Balkan van Sumatra".59 Bila pegawai-pegawai Belanda tiba-tiba diberitahu bahwa mereka akan di- pindahkan ke Aceh timbullah rasa kecut dalam hatinya. Meskipun Aceh mendapat nama yang demikian buruk, namun Jongejans me- nyatakan bahwa orang-orang Aceh sama juga dengan orang-orang Eropa, di samping memiliki sifat-sifat yang kurang baik, ada pula sifat-sifat mereka yang baik.60 Malah Gubernur Belanda yang ter- akhir Van Aken, yang telah diangkat sebagai anggota Dewan Hin- dia sebelum meninggal di Betawi pada 1 April 1936, telah mewa-

siatkan agar ia dikebumikan di Tanah Aceh.61

Sumber-Sumber Data Di samping sumber-sumber primer Belanda yang terdapat dalam arsip-arsip yang sampai sekarang masih merupakan tambang intan yang menanti penggalian dalam penelitian sejarah penting pula di- perhatikan sumber anak-anak negeri. Sayang, peperangan telah me- nyebabkan banyak sekali sumber-sumber Aceh hilang atau musnah. Dengan dibakarnya rumah T. Kali Malikul Adil, salah seorang menteri kerajaan Aceh, oleh pihak Belanda pada tanggal 19 Desember 1873, maka musnahlah arsip kerajaan Aceh yang bernilai sejarah yang terdapat di dalamnya.62 Peperangan pula yang me- nyebabkan banyak tempat pengajian agama atau dayah (deah) yang digunakan sebagai pusat kegiatan perlawanan menjadi abu, seperti umpamanya dayah di Lembada yang terbakar bersama

kumpulan kitabnya yang sangat banyak.63

Demikian pula halnya ketika agresi Belanda yang kedua pada Desember 1873. Salah sebuah rumah Panglima Polem, yang turut aktif mempertahankan kraton yang terletak di Peunayong dan arsip Sultan serta dokumen-dokumen sejarah yang lain yang terdapat

di dalamnya musnah dimakan api.64

Sumber-sumber Aceh yang lain, seperti Hikayat Perang Sabil (HPS), yang telah dapat menggerakkan rakyat berperang melawan kafir dipandang sangat berbahaya oleh pihak Belanda (lihat Bab

IV). Oleh karena itu jika hikayat-hikayat ini ditemukan oleh pihak Belanda, disita oleh mereka dan dijadikan makanan api.65 H.T. Damste, seorang pegawai Departemen Dalam Negeri Hindia Belanda berpendapat bahwa HPS ini amat penting artinya untuk dipela- jari agar dengan demikian dapat diketahui sikap dan perilaku orang Aceh. Ia juga mengatakan bahwa Hikayat-hikayat Perang Sabil yang telah diperoleh jangan sampai hilang dan usaha untuk men- 66 cari dan mengumpulkannya harus diperbesar dan disempurnakan. Naskah-naskah yang serba sedikit dapat diselamatkan oleh Damste, van de Velde dan yang sempat disuruh salin oleh Snouck Hurgronje kini terdapat di perpustakaan Universitas Negeri Leiden. Di sam- ping itu kita beruntung pula, karena di perpustakaan ini masih di- jumpai beberapa surat-surat asli, antara lain dari Teungku (Tgk.) Chik di Tiro Muhammad Amin dan Tgk. Chik di Tiro Muhammad Saman, koleksi Snouck Hurgronje. Kecuali itu terdapat pula karangan-karangan ulama Tgk. Chik Kutakarang yang mengemuka- kan pandangannya tentang politik dan agama.67 Sumber-sumber anak negeri seperti ini penting sekali, oleh karena memungkinkan kita untuk memahami dengan lebih baik bagaimana mereka me- nanggapi situasi dan memberi interpretasi terhadapnya serta bagaimana sikap dan tindakan-tindakan yang mereka ambil berdasarkan

pemahamannya mengenai situasi itu.68

Sumber-sumber yang terdapat di dalam arsip kerajaan Belanda, termasuk yang berada di Kementerian Dalam Negerinya, dari segi metode penelitian sejarah tidaklah disangsikan keotentikannya. Pejabat-pejabat sipil dan militer Belanda mengirim laporan kepada Gubernur Belanda di Kutaraja. Biasanya Gubernur menyampaikan ataupun menyusun pula laporan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda atau kepada Kepala Angkatan Darat di Betawi. Oleh karena masalah perang yang dihadapi Belanda di Aceh pada waktu itu adalah soal besar, Pemerintah Hindia Belanda senantiasa melaporkan kepada Menteri Jajahan Belanda di 's-Gravenhage tentang semua hal yang menyangkut perang ini.69 Sampai akhir abad XIX, Menteri Jajahan Belanda melaporkan hal peperangan di Aceh kepada Raja Belanda.70 Inilah sebabnya mengapa sumber-sumber mengenai perang ini cukup memadai di Negeri Belanda. Kadang- kala arsip ini disertai salinan surat-surat dari pihak Aceh yang di- pandang penting oleh Belanda, meskipun ada kalanya dalam trans- kripsinya terdapat beberapa kesalahan.71 Mengenai isi laporan ha- rian perang mereka dapatlah pada umumnya dijadikan pegangan,

apalagi laporan-laporan rahasia serta usul-usul dari pejabat-pejabat bagi menentukan kebijaksanaan politik dan militer asal kita senan- tiasa dapat menilainya secara kritis, terutama opini mereka. Berita- berita yang deskriptif pun harus juga dinilai secara kritis, terlebih- lebih pada dekade pertama dan kedua dari peperangan ini. Setelah lebih dari sepuluh tahun berperang, yakni dalam usahanya untuk memperoleh informasi mengenai pihak Aceh, Belanda telah men-

janjikan sejumlah kecil hadiah uang untuk memperoleh surat-surat

berharga yang berkenaan dengan keadaan pihak Aceh.72 Meskipun demikian, dari sejumlah surat-surat yang diperoleh Belanda melalui cara ini, hanya satu dua saja surat penting yang dapat ditemukan- 73 nya. Di samping itu surat-surat pribadi banyak memberikan bahan

kepada kita tentang apa yang terjadi di belakang layar.74 H. Colijn,

yang kemudian menjadi perdana menteri Belanda, ketika bertugas sebagai letnan tentara Belanda di Aceh Barat menulis kepada istri- nya di Magelang dengan menceritakan bahwa ada laporan-laporan yang dibuat oleh pejabat-pejabat sipil Belanda tidak berdasarkan kenyataan waktu itu. Dalam surat itu dinyatakan bahwa kepala- kepala adat yang telah 15 tahun meninggal dianggap masih hidup oleh pejabat sipil Belanda di Aceh Barat.75 Dari sekedar keterang- an ini dapatlah kita lihat bahwa ada hal-hal yang dilaporkan tidak sesuai dengan kenyataannya, oleh karena pihak Belanda tidak me- ngetahui dengan tepat keadaan yang berlaku. Itulah sebabnya kri- tisisme historis sungguh diperlukan.

Catatan

  1. "Nota naar Aanleiding van de Ministerieele Depeche, 27 Augustus 1888", Lt. Kab/no. 56, Kab. Lr. L3. 9 Februari 1889. Algemeen Rijksarchief Schaarsbergen (selanjutnya disingkat ARAS). Menurut ajaran Nuruddin Ar-Raniri, yang datang ke Aceh pada 1673 dan mendapat tugas menulis kitab Bustanu's-Salatin dari Sultan Aceh Iskandar Thani pada 1638, orang-orang Yahudi dan Kristen dimasukkan dalam golongan orang-orang kafir, P. Voorhoeve, Twee Meleise Geschriften van Nuru'ddin ar-Raniri, 1955,hlm. 8.
  2. Dalam penelitian sejarah proses penyelidikan biasanya tidaklah dimulai dengan menguji hipotesa-hipotesa yang disadap dari teori yang umum, tetapi dengan masalah interpretasi yang disajikan oleh sekumpulan bahan-bahan empiris tertentu. Dihadapkan kepada problim yang demikian, peneliti mengetengahkan sejumlah hipotesa kerja yang tentatif, berasal dari pengetahuan umum mengenai fenomena jenis itu dan pengenalannya mengenai perkembangan teoretis yang ada hubungannya, dan kemudian menguji hipotesanya dalam observasi. Lihat The Social Sciences in Historical Study: A Report of the Committee on Historiography, Social Science Research Council, 1954, hlm. 28-9. Untuk kepentingan praktis yang timbul dari keperluan memecahkan masalah, sebab dari suatu peristiwa dapat dianggap sebagai aspek atau faktor dari fenomena yang sedang diselidiki. Lihat Charies A. Beard and Sidney Hook, "Problems of Terminology in Historical Writing", dalam Social Science Research Council, Theory and Practice in Historical Study: A Report of the Committee on Historiography. Social Science Research Council, 1946, hlm. 113.
  3. Cf. Eugene J. Meehan, The Theory and Method of Political Analysis, 1967, hlm. 132, 146-7; Juga, Sartono Kartodirdjo, Protest Movement in Rural Java, 1973, hlm. 3. Lihat juga, Allan Nevins, The Cateway to History, 1962, him. 331. Juga, Neil J. Smelser, Theory of Collective Beha- vior, 1962, hlm. 13-20; Juga, Robert F. Berkhofer, Jr. A Behavioral Ap- proach to Historical Analysis, 1971, hlm. 295. Kajian ini juga memetik manfaat daripada karya Smelser tersebut di atas, terutama masalah yang menyangkut eksplanasi yang bersifat eklektik. Lihat Smelser, op. cit., hlm. 14-17.
  4. Cf. Sartono Kartodirdjo, The Peasants' Hevolt of Banten in 1888, 1966, hlm. 322. Juga Neil J. Smelser, op. cit., hlm. 321. Cf. Rudolph Peters, Islam and Colonialism: The Doctrine of Jihad in Modern History, 1979, hlm. 131. Mengenai konsep interpretasi situasional, lihat Berkhofer, op. cit., hlm. 33, 39-43, 47, 118.
  5. Hoesein Djajadiningrat, Atjehsch-Nederlandsch Woordenboek (1934), jilid I, him. 9. Bandingkan dengan di Eropa pada Zaman Tengah, yang

masyarakatnya juga memiliki dua aspek, yang satu dunia, yang lain akhirat. Raja-raja sekuler di satu pihak dan pendeta di pihak lain adalah pejabat-pejabat dalam policy yang sama. Lihat A.S. Turberville, Mediae- val Heresy and the Inquisition (1920), hlm. 1-2. Sebagai sekedar illustrasi dikemukakan di sini, bahwa dalam kehidupan masyarakat Aceh hukom atau peraturan agama ini tidak dapat dipisahkan sama sekali dari adat seperti dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari di gampong atau kam- pung. Segala sesuatu mengenai kepentingan umum dalam sebuah gampong senantiasa diatur oleh geuchik, seorang pejabat yang mewakili adat, bersama teungku meunasah, seorang yang diserahi mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan upacara keagamaan dan hal-hal lain yang bersangkutan dengan agama (hukom).

  1. J. Kreemer, Atjeh, I (1923), hlm. 181, Lihat juga, P. Brooshooft, Ges- chiedenis van den Atjeh-Oorlog 1873-1886, hlm. 38. Juga, Veth, Atchin en Zijne Betrekkingen tot Nederland, 1873, hlm. 93.
  2. Ada beberapa karakter atau sifat peperangan yang dibicarakan di sini, yaitu perang besar (grote oorlog), perang kecil (kleing oorlog), perang rakyat (volksoorlog) dan perang partisan (partijgangersoorlog) sesuai dengan yang dikemukakan oleh K. van der Maaten. Lihat K. van der Maaten, De Indische Oorlogen: een Boek ten Dienste van den Jongen Officier en het Militair Onderwijs, 1896. Jilid II, hlm. 1-13.
  3. Ibid., hlm. 9. Cf. A.J.A. Cerlach, De Tweede Expeditie tegen Atjih, 1875, hlm. 538-9.
  4. Ibid. Cf. W.D. Franklin, "Clausewitz on Limited War", dalam Revolu- tionary Guerilla Warfare, Sam C. Sarkesian (ed.), 1975, hlm. 182.
  5. K. van der Maaten menyamakan konsep perang gerilya dengan perang rakyat. Van der Maaten, De Indische Oorlogen, Jilid II, hlm. 9. Cf. Arjan Daas Malik, dalam An Indian Guerilla War: The Sikh Peoples War 1699- 1 768, 1975, hlm. 3, mempunyai pendapat yang sama dengan van der Maaten. Encyclopaedia Brittanica dengan jelas menyebutkan bahwa perang gerilya adalah sama dengan perang partisan, sedangkan Encyclopaedia of the Social Sciences tidak memberikan perincian yang jelas. Lihat Encyclopaedia Brittanica, Vol. X, 1961, hlm. 950, dan Encyclopaedia of the Social Sciences, 1959, Vol. VII-VIII, 197-9. A.H. Nasution dalam menjelaskan pengertian perang gerilya membaurkan konsep perang rakyat dengan konsep perang partisan yang dikemukakan oleh van der Maaten. A.H. Nasution, Pokok-Pokok Gerilya, 1980, hlm. 1-64. Oleh penerbit buku Nasution cetakan keempat tersebut disajikan dalam kata pengantarnya kutipan seorang penulis militer Jerman, H. Golz, dalam majalah Wehrkunde, tahun X, Munchen 1961, yang menulis bahwa Nasution adalah seorang yang berpengalaman dalam "Kleinkrieg"(perang gerilya). Bagi T.B. Simatupang, perang Kemerdekaan adalah perang rakyat. Laporan dari Banaran, 1980. him. 2.
  6. Van der Maaten, op. cit., hlm. 11.
  7. Ibid., Cf. M.H. du Croo, Marechaussee in Atjeh, 1943, hlm. 48.

  8. Van der Maaten, loc, cit.

  9. Cf. E.B. Kielstra, "Atjeh onder het Bestuur van den Gouverneur Proys van der Hooven", IMT, jil. I (1886), hlm. 213.
  10. Aceh Besar, termasuk Kutaraja atau Banda Aceh sekarang ini, oleh orang-orang Aceh di luar Aceh Besar, sering disebut dengan istilah "Aceh" saja.
  11. Konsiderasi dan advis Panglima Tentara dan Kepala Departemen Pepe- rangan Hindia Belanda, Letnan Jenderal T. van Zijll de Jong, Betawi, 26 Oktober 1889, Kabinet La N., sangat rahasia, kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda (selanjutnya disingkat, GJHB), dalam Kabinet Geheim 7 Febr. 1890, LI, Algemeen Rijksarhief Schaarsbergen, (ARAS).
  12. Missive, Gubernur Belanda di Aceh (selanjutnya disingkat GBA), Van Teijn, no. 403/5, rahasia, 25 Juli 1887, pada Panglima Tentara Hindia Belanda, dalam Kab. Geheim, 3 Desember 1887, K 15, ARAS.
  13. Konsiderasi dan advis Panglima Tentara, op. cit., Cf. van der Maaten, op. cit., hlm. 9.
  14. Van der Maaten, ibid., hlm. 9, 10. Betapa pentingnya keyakinan atau faham atau ideologi bagi tentara rakyat, lihat Tan Malaka, Gerpolek: Gerilya, Politik, Ekonomi, tanpa tahun, hlm. 21. Karangan ini ditulis oleh Tan Malaka dalam penjara Madiun tahun 1948. Lihat juga, Malik, loc. cit., Cf. Franklin, Clausewitz on Limited War", op. cit., hlm. 180. Lihat juga A.H. Nasution, op. cit., hlm. 20-24.
  15. H. Colijn, "Nota", Lhokseumawe, 8 Agustus 1903, Archief Dr. H. Colijn, Dr. Abraham Kuyper Stichting, Den Haag, belum dikatalogkan.
  16. Salah satu contohnya adalah pertempuran di Geudong (Pasai, Aceh Uta- ra) pada bulan Juni 1878. Lihat, "De tocht naar Gedoeng: cen Episode uit den Atjeh Oorlog", TNI, II (1879), hlm. 100-101. Lihat juga A. Doup, Gedenkboek van het Korps Marechaussee, 1940, hlm. 85, dan C.J. B.H. Terbeest, Atjeh — herinneringen, 1933, hlm. 9.
  17. Korps Mareschausse di Aceh, kecuali menjalankan tugas-tugas kepolisian, juga untuk menjalankan perang kecil. A. Doup, loc. cit.
  18. Nama-nama ini terdapat dalam naskah-naskah Hikayat Perang Sabil yang terkumpul di Universiteitsbibliotheek Leiden. Misalnya, Cod. Or, 8706, hlm. 7 et passim menyebutnya "Prang Beulanda", Cod. Or. 8134, hlm. 31, juga "Prang Beulanda", dan pada hlm. 12 et passim disebut "Prang Kaphe", Cod. Or. 8926, hlm. 1 dan Cod. Or. 8146, hlm. 8 menyebutnya juga "Prang Kaphé"; dalam Cod. Or. 8926, hlm. 1 disebut "Prang Sabil" dan dalam Cod. Or. 8702, hlm. 61, "Prang Hulanda". Jika Belanda menamakan perangnya melawan Aceh, De Atjeh Oorlog, kita dapat menyebutnya Perang Belanda sesuai dengan nama yang diberikan oleh orang-orang Aceh sendiri. Banyak perang-perang melawan Belanda yang dilakukan oleh rakyat Indonesia, misalnya di Jawa, Suma- tra Barat, Bali, Lombok dan sebagainya. Dilihat dari kacamata kebangsa- an menamakan perang-perang tersebut dengan Perang Belanda di daerah atau pulau tertentu, seperti penamaan "Perang Belanda di Aceh" rasanya

layak diketengahkan. Hal ini hendaknya dilihat sejajar dengan usaha penulisan sejarah yang Indonesia-sentris. Oleh Sartono Kartodirdjo, yang dimaksud dengan penulisan sebagai yang disinggung di atas, ialah rekon- struksi sejarah yang menempatkan bangsa Indonesia sebagai dramatis personae dengan peranannya dalam kerangka Indonesia. Lihat'Pergerak- an Sosial dalam Sejarah Indonesia", Pidato Dies Sartono Kartodirdjo, 19 Desember 1967, Universitas Gadjah Mada (UGM), 1967, Cf. John Smail, "An Autonomous History of Southeast Asia", Journal of Southeast Asian History, Vol. 2 no. 2 (July, 1961), hlm. 72-102.

  1. Abduh, Jihad, 1968, hlm. 7. Kata jihad berasal dari bahasa Arab, teram- bil dari kata pokok jahada. Menurut ilmu bahasa artinya bersungguh-sungguh, yakni bersungguh-sungguh mencurahkan segenap pikiran, kekuatan dan kemampuan untuk mencapai sesuatu tujuan. Selain dari arti bersungguh-sungguh, kata jihad juga mempunyai makna yang lain, di antaranya perang, kekuatan, dan lain-lain. Menurut istilah syar'iyyah pe- ngertian jihad, ialah 'bersungguh-sungguh mencurahkan segenap pikiran dan kekuatan melawan hawa nafsu, setan, kebatilan dan menghancurkan orang-orang yang kafir". M. Yunan Nasution, Djihad, 1970, hlm. 6. Cf.
    H. Th. Obbink, De Heilige Oorlog volgens den Koran, 1901, hlm. 24-5. Juga Rudolph Peters, op. cit., hlm. 118. Ada juga yang membagi jihad itu atas tiga macam: (1) Jihad terhadap diri sendiri, (2) Jihad terhadap syai- tan, dan (3) Jihad terhadap musuh yang nyata. M. Yunan Nasution, op. cit., hlm. 18-26, Cf. Rudolph Peters, loc. cit. Gagasan yang lain mengenai jihad adalah bertalian dengan perjuangan untuk berbuat kebaikan dalam masyarakat Islam dan melawan kemungkaran atau al-amr bi 'l-ma ruf wa 'l-nahi an al-munkar. Sehubungan dengan ini terdapatlah berbagai jihad, antara lain jihad al-lisan atau jihad al-qalam, jihad dengan lidah atau jihad dengan pena, atau jihad al-tarbiyah, jihad pendidikan, yaitu menyebarkan nilai-nilai Islam dalam masyarakat Islam. Rudolf Peters, op. cit., hlm. 118-9. Seperti disinggung di atas jihad bukanlah semata-mata bermakna perang. Khusus untuk istilah perang, dalam al-Qur'an dipakai kata qital. Hal ini terdapat dalam surat al-Haj: 39, surat al-Baqarah: 190, 191 dan
  2. Tentang ayat-ayat jihad dalam arti bersungguh-sungguh, lihat antara lain, surat al-Ankabut: 6, 69 dan al-Haj: 78.
  3. Tadhkirat al-Rakidin, Cod. Or. 8037 b (ringkasan), hlm. 30. Al-Ustaz Muhammad Abu Zahrah, seorang ulama Mesir dan ahli hukum Islam ter- kemuka di dunia Arab, mengemukakan bahwa dar al-Islam (darul Islam) adalah suatu negara yang memerintah dengan kekuasaan kaum muslimin. Adalah kewajiban kaum muslimin mempertahankan negara itu. Mengenai dar al-harb (darul harbi) guru besar ini mengemukakan bahwa darul harbi ialah suatu negara (dar) yang kekuasaan dan pertahanannya di tangan penguasa bukan muslimin, dan tidak mempunyai perjanjian apa pun dengan kaum muslimin, yang akan mengatur hubungan-hubungan antara mereka. Selanjutnya ulama itu mengemukakan, bahwa selama suatu negara berada di luar pertahanan dan kekuasaan kaum muslimin dan tidak mempunyai perjanjian-perjanjian apa pun dengan mereka, kemungkinan serangan itu selalu ada. Allah s.w.t. memerintahkan kepada kaum mus-

limin supaya selalu waspada dan bersiap-siap untuk menghadapi kemung- kinan serangan dari pihak negara itu. Definisi demikian disokong oleh kbanyakan ahli hukum Islam. Lihat, Muhammad Abu Zahrah, Al Alagatu al-Dauliyatu fi 'l-Islam (Hubungan-hubungan Internasional dalam Islam), terjemahan Muhammad Zein Hassan Lc. Lt., 1973, hlm. 61-2. Di samping kedua macam negara tersebut di atas, ada macam yang ketiga, yaitu dar al-'ahd atau negara perjanjian. Apabila pemerintahan (suatu wilayah) di tangan golongan bukan Islam yang ingin damai, dengan keunggulan mereka atas golongan yang lain, jadilah wilayah yang mereka perintah itu dar al-'ahd. Negara seperti ini memilih perjanjian damai dengan penguasa Muslim, menurut syarat-syarat yang ditentukan oleh kedua belah pihak. Ibid., hlm. 65, 67. Cf. Rudolph Peters, op. cit., hlm. 11.

  1. HPS, Cod. Or. 8163 b, hlm. 7. Juga, Muhammad Abu Zahrah, op. cit., hlm. 61-2. Ia mengatakan bahwa perang (jihad) dalam mempertahankan darul Islam adalah fardu kifayah, bila musuh belum memasuki negara itu. Bila musuh telah memasukinya, perang waktu itu menjadi fardu ain bagi setiap orang Islam. Fardu kifayah, adalah kewajiban yang tidak berdosa kita tinggalkan, jikalau telah ada orang muslim yang lain mengerjakan- nya.
  2. Meskipun para uleebalang ini mengakui kedaulatan Belanda, banyak di antara mereka yang terus membantu perang melawan Belanda, Lihat Bab III, hlm.
  3. Mengenai konsep pemimpin-pemimpin kharismatik, lihat S.N. Eisenstadt (ed.) Max Weber on Charisma and Institution Building, 1968, hlm. 48-65.
  4. Sumber hukum setelah al-Qur'an adalah sunnah Nabi. Meskipun di dalam HPS terdapat juga hadith Nabi, akan tetapi dalam kajian ini hanya dlititik- beratkan pada sumber hukum tertinggi, yaitu al-Qur'an saja.
  5. Snouck Hurgronje, De Atjehers, I (1893), hlm. 2.
  6. Soedjatmoko, 'Merintis Hari Depan", Prasaran dalam acara "Konperensi Filsafat Sejarah Nasional", Seminar Sejarah, Seri 2 (1958), hlm. 46. Hal ini dapat difahami oleh karena ilmu sejarah, berlainan dari beberapa ilmu yang lain, belum berakar kuat di Indonesia.
  7. Hoesein Djajadiningrat, "Critisch Overzicht van de in Maleische Werken vervatte Gegevens over de Geshiedenis van het Soeltanaat van Atjeh", BKI (1911), hlm. 135-265.
  8. E.B. Kielstra, Beschrijving van den Atjeh-Oorlog, 3 jil., 1885-9; G.B. Hoo- yer, De Krijgsgescniedenis van Nederlandsch-Indie van 1811 tot 1894, jil. III, 1897; E.S. de Klerck, De Atjeh Oorlog; Het Ontstaan van den Oorlog, 1912.
  9. J. Kreemer, Atjeh, Jil. I, 1922, hlm. 14-45.
  10. Paul van 't Veer, De Atjeh Oorlog, 1969. Pada halaman 1 ia berkata: Atjeh was het laatst veroverd en het eerst vrij".
  11. Tidak mengherankan, buku ini atas prakarsa Gubernur Provinsi Daerah

Istimewa Aceh, A. Muzakkir Walad, diterjemahkan dalam bahasa Indone- sia dalam tahun 1978. Buku ini sedang dalam percetakan, dan diterjemahkan oleh Aboe Bakar, anggota staf Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, Banda Aceh.

  1. Lihat konsep opstand dalam konsiderasi dan advis Panglima Tentara, loc. cit.
  2. Paul van 't Veer, op. cit., hlm. 120-1.
  3. J.S. Furnivall, Netherlands India: A Study of Plural Economy, (reprinted
    1976), hlm. 236.
  4. J. Jongejans, Land en Volk van Atjeh: Vroeger en Nu (ca. 1939), hlm.
    346.
  5. Jurnal perang, hlm. 51, Kernpapieren, H 797/153, KITLV, Leiden. H.J. Zentgraaff, Atjeh, 1938, hlm. 100.
  6. Anthony Reid, The Contest for North Sumatra; Acheh, the Netherlands and Britain, 1858-1898, 1969.
  7. Lihat laporannya kepada Gubernur Jenderal C. Pijnacker Hordijk, 23 Mei 1892, sangat rahasia, dalam Mail Rapport (MR) R 8, 4 Juli 1893, ARAS. Sebagian dari laporan ini telah diterbitkan dalam E. Gobée dan C. Adriaanse (eds.), Ambtelijke Adviezen van C. Snouck Hurgronje, (1957), jilid I, hlm. 49-144.
  8. C. Snouck Hurgronje, De Atjehers, Dua jilid (1893-4). Edisi Inggris diterjemahkan oleh A.W.S. O' Sullivan, The Achehnese. Dua jilid, 1906.
  9. GJHB dalam suratnya Kabinet Geheim no. 87/I, tanggal Buitenzorg, 25 Agustus 1892 menulis kepada Menteri Jajahan Belanda, bahwa laporan Snouck Hurgronje ini kadangkala terlalu banyak memihak kepada pen- dirian orang-orang Aceh dan sebagai akibatnya memberikan gambaran yang gelap terhadap keadaan umumnya, terutama dalam hubungan de- ngan blokade yang menurut Snouck sama sekali tidak ada gunanya. Lihat MR R 8, 4 Juli 1893, op. cit.

    46. Snouck Hurgronje, De Atjehers, I (1893), hlm. 190. moseulimin atau

muslimin artinya orang-orang yang berjuang dalam perang sabil. Hoesein Djajadiningrat, Atjehsch Nederlandsch Woordenboek, II, hlm. 120. Lihat juga proklamasi Tgk. Chik di Tiro, 16 Rabiul-akhir 1302 H (1885), "Een

Atjehsche Proclamatie", IG no. 1 (1885), hlm. 666.

47. Mau'izat al-Ikhwan (1886), Cod. Or. 8037 A, Tadhkiratal-Rakidin (1889),

Cod. Or. 8037 B, dan versi yang lebih panjang dari kitab kedua ini, Cod.

Or. 8038 (1890). Mengenai hal ini, lihat selanjutnya Bab V.

48. Snouck Hurgronje, The Achehnese, I (1906), hlm. xvii-xviii

49. Missive, no. 131/sangat rahasia, Kutaraja, 16 Juli 1907, MR 1218, dalam

V 29-11-1907 X23, Ministerie van Binnenlandse Zaken, Den Haag. Da-

lamnya disebutkan, bahwa pengajuannya ke pengadilan di Padang atas

dasar artikel 3 Staatsblad 1867, no. 10 juncto Staatsblad 1869.

50. Gobée dan Adriaanse, op. cit., hlm. 95-6.

  1. "Nota", dalam Exh. 9 Februari 1889, Kab. Lr. L3, ARAS.
  2. Gobée dan Adriaanse, loc. cit.
  3. Surat GJHB kepada Gubernur Belanda di Aceh (selanjutnya disingkat GBA) no. 1/Rahasia, 9 September 1899, Kab. 5 Maart 1900, P3, ARAS.
  4. Snouck Hurgronje ikut dalam apa yang dinamakan ekspedisi Sigli, pada
    1898.
  5. Konsep "policy science" dan "policy engineer" dipopulerkan oleh Brian Fay dalam bukunya Social Theory and Political Practice, 1975, hlm. 14. Yang dimaksudkannya dengan "policy science" adalab seperangkat pro- sedur yang memungkinkan seseorang untuk menentukan secara teknis arah aksi terbaik yang patut diambil untuk melaksanakan suatu keputus- an atau untuk mencapai suatu tujuan. Cf. Charles Easton Rothwell, pra- kata untuk buku Daniel Lerner dan Harold D. Lasswell (eds.) The Policy Sciences, 1968, hlm. vii-xi; Harold D. Lasswell, "The Policy Orienta- tion", ibid., hlm. 3-4; Lihat juga, Ernest R. Hilgard and Daniel Lerner, "The Person: Subject and Object of Science and Policy" ibid., hlm. 42-3.
  6. Belanda menyebutnya pretendent-sultan, artinya calon pengganti Sultan, padahal pihak Aceh menganggap Muhammad Daud Syah adalah Sultan mereka yang sah.
  7. Ada pula kalangan Belanda yang mengemukakan pendapat bahwa buku-buku tentang pahlawan Belanda dalam peperangan di Aceh masih sangat sedikit. Buku-buku seperti ini merupakan hal yang tidak boleh tidak ha- rus ada bagi generasi Belanda yang sedang tumbuh. Juga dikemukakan bahwa kepahlawanan putra-putra Belanda yang berperang di Aceh tidak kurang tingginya daripada kepahlawanan dalam penangkapan ikan paus di Nova Zembla. Lihat sambutan P.J. Gerke, ketua umum pengurus besar perkumpulan "Oost en West", dalam du Croo, op. cit., hlm. 12.
  8. Zentgraaff, op. cit., hlm. 1. Wanita mendapat kedudukan yang layak dalam masyarakat Aceh. Setelah Sultan terbesar dalam sejarah Aceh, Iskan- dar Muda, (1603-1637), Aceh diperintah oleh empat orang ratu selama hampir 60 tahun. Keempat ratu itu adalah: (1) Tajul Alam Safiatuddin Syah (1641-1675); (2) Nurul Alam Naqiatuddin Syah (1675-1678); (3) Inayat Syah Zakiatuddin Syah (1678-1688); (4) Kemalat Syah (1688-
    1699); Lihat Djajadiningrat, "Het Soeltanaat van Atjeh", op. cit., hlm. 187-191. Besar rasa hormat orang-orang Aceh terhadap wanita, lihat Adatrechtbundels, XXVII: Sumatra (1928), hlm. 14. Wanita Aceh ada juga yang menjadi uleebalang atau raja kecil dan berpengaruh dalam per- caturan politik lokal seperti Pocut Bharin di Tungkob, Aceh Barat dan Pocut Meuligoe di Samalanga, Cut Nyak Asiah di Keureutoe, Aceh Utara.
  9. Jongejans, op. cit., hlm. 347.
  10. Ibid., hlm. 1, 3 dan 347.
  11. Kini jasadnya terbujur di pekuburan Peucut di tengah-tengah opsir-opsir sebangsanya. M.H. du Croo, Marechaussee in Atjeh. Herinneringen en Ervaringen van den Eersten Luitenant en Kapitein van het Korps Mare-

chaussee van Atjeh en Onderhoorigheden, H.J. Schmidt, van 1902 Maas- tricht, 1943.

  1. J. van Swieten, De Waarheid over Onze Vestiging in Atjeh, 1897, hlm.
    21.
  2. Snouck Hurgronje, Verslag, R 8, hlm. 120.
  3. W.B. Oort, "Panglima Polem", IG (1941), hlm. 411-2.
  4. H.T. Damste, "Atjehsche Oorlogspapieren", IG (1912), hlm. 788, dan Damste, "Hikayat Prang Sabi", BKI, Jil. 84 (1928), hlm. 545. Lihat juga surat controleur Seulimeum, Dr. J.J. van de Velde pada Prof. Snouck Hurgronje, 5 Agustus 1932, UB Leiden, Cod. Or. 8134. Hikayat Perang Sabil, selanjutnya disingkat, HPS.
  5. Damste, "Atjehsche Oorlogspapieren", op. cit., hlm. 689.
  6. Di antara tiga manuskrip karyanya, dua di antaranya mempunyai nama yang sama, yaitu Tadhkirat al-Rakidin, Cod. Or. 80370b, isinya lebih singkat daripada Cod. Or. 8038 yang mempunyai versi lebih panjang.
  7. Cf. Berkhofer, op. cit., hlm. 32-47.
  8. Di dalamnya termasuk nama-nama serdadu bangsa Indonesia yang tewas disertai nomor induknya.
  9. Lihat misalnya laporan mengenai kejadian-kejadian penting dalam pepe- rangan dari 11 September 1898 sampai 14 Desember 1898, yang dikirim oleh Menteri Jajahan Belanda kepada Ratu Belanda, Kab. Geheim 4 Maart 1899, C 4, ARA Schaarsbergen.
  10. Sebagai contoh lihat misalnya salinan surat Tgk. Chik di Tiro kepada pi- hak Belanda yang terdapat dalam VB. 1888 H 12, ARA Schaarsbergen, tertulis alahir bahgra, seharusnya ala'il fikri (artinya tinggi fikiran).
  11. Laporan Assistent-Resident Aceh Barat kepada Gubernur Aceh no. 15, 11 Januari 1884, Kab. 27 Maart 1874, B 6, ARA Schaarsbergen.
  12. Salah satu di antara surat-surat itu berisi pemberitahuan dari Sultan Muhammad Daud Syah di Keumala, bahwa ia mulai bertugas sebagai Sultan dan meminta kepada Uleebalang Padang Keling (Aceh Barat) untuk mengirimkan zakat dan uang bagi meneruskan perang sabil. Ibid.
  13. Lihat misalnya surat-surat Syaikh Ibrahim bin Syaikh Marhaban kepada Snouck Hurgronje dalam koleksi Snouck Hurgronje di Oostersch Insti- tuut, Leiden. Juga surat-surat van Langen pada Snouck Hurgronje, juga dalam koleksi yang sama.
  14. Surat H. Colijn kepada istrinya, Tapaktuan, 8 Augustus 1899. Archief Dr. H. Colijn, 1899, Dr. Abraham de Kuyperstichting, Den Haag, belum dikatalogkan.

II. Masyarakat Aceh di Akhir Abad XIX

Shaikh Abbas Ibnu Muhammad alias Teungku Chik Kutakarang menulis dalam kitabnya Tadhkirat al-Rākidin (1889), antara lain sebagai berikut: "Adat ban adat hukom ban hukom, adat ngon hukōm sama kembar; tatkala mufakat adat ngon hukōm, nanggroe seunang hana goga"l; Maknanya. "Adat menurut adat, hukum syari'at menurut hukum syari'at, adat dengan hukum Syari'at sama kembar; tatkala mufakat adat dengan hukum itu, negeri senang tiada huru hara". Beliau menambahkan: Bahwasanya agama Allah dan raja-raja itu bersaudara keduanya... yakni hana [arti- nya: tiada] hasil senang raja-raja yang jauh daripada agama Allah dan Hana hasil senang agama Allah yang jauh daripada raja-raja. Dalam Tadhkirat al-Rakidin dinyatakan pula bahwa dalam dunia ini ada tiga jenis raja, yaitu: (1) raja yang memegang jabatan lahir saja, yakni yang memerintah rakyat menurut hukum adat kebi- asaan dunia; (2) raja yang memegang hukum batin yang memerintah, menurut jalan agama yaitu ahl al-syari'ah dan (3) rasul dan nabi-nabi. Apa yang diperintahkan oleh raja jenis pertama tadi ha- ruslah ditaati, jika perintah itu bersatu dengan ajaran agama. Kalau ajarannya tidak bersesuaian dengan syari'at atau syarat' janganlah perintah itu dituruti. Untuk membela patokan dasar ini, maka ulama ini mengutip hadith nabi yang dapat diartikan bahwa kita di- larang menurutkan perbuatan maksiat, meskipun leher menjadi ta- ruhan. Adapun terhadap raja jenis kedua, yakni para ulama, apa yang disuruhnya mestilah dipatuhi, sebab mereka yang tidak me- matuhi akan ditimpa malapetaka.³ Uraian Syaikh Abbas atau Teungku Chik Kutakarang ini mem- bayangkan pandangan dunia, Weltanschauung, Aceh yang secara populer juga dikenal dengan ungkapan Serambi Mekah, Aceh sebagai masyarakat yang mempunyai aturan-aturan, yang dilandasi atas dan ditopang oleh ajaran Islam. Di pihak lain, uraian ini dapat pula dilihat sebagai usaha untuk mengadakan "ideologisasi" dari struktur kepemimpinan Aceh.

Ada dua jenis pemimpin, yakni pemimpin adat dan pemimpin agama. Pemimpin-pemimpin adat terdiri dari sultan dan kerabat-kerabat yang membantunya, para uleebalang atau raja-raja kecil serta kerabat-kerabat yang membantu mereka. Ke dalam golongan pemimpin adat ini dapat pula dimasukkan geuchik-geuchik atau peutua-peutúa yang menjadi kepala kampung sebagai penghubung antara rakyat dengan raja-raja kecil atau para uleebalang itu. Para pemimpin agama ialah para ulama, yaitu guru-guru agama yang mendapatkan penghargaan atas keahlian yang berbeda-beda, dan para pejabat agama yang mengurus hal-hal yang berkaitan dengan kelembagaan agama.

Sultan, yang sangat dihormati rakyat, disebut dengan istilah

poteu, artinya tuan kita, atau poteu raja. Orang Gayo menyebut- nya Mpu n tē. Jika berbicara berhadapan maka baginda dipanggil marab mulia atau hara mlia atau deelat, Permaisuri sultan disebut putroe. Keturunan lelakinya mendapat gelar tuanku dan yang perempuan dipanggil tengku, sedangkan keturunan lelaki dari anak- nya yang perempuan mendapat gelar pocut dan keturunan perempuan daripadanya dipanggil meurah. Menjelang meletusnya perang, kerajaan Aceh terdiri atas (1) Aceh Besar yaitu daerah sepanjang sungai Aceh, yang terbagi atas tiga wilayah, disebut sagi, masing-masing sagi diberi nama menurut jumlah mukim yang dipunyainya, yakni Mukim XXII, Mukim XXV dan Mukim XXVI, dan bagian-bagian yang terletak di selatan Mukim XXV, yaitu Lho'Nga, Leupueng dan Lhong;4 (2) Daerah-daerah di luar Aceh Besar, yang merupakan taklukan Aceh, terletak di pantai barat, pantai utara dan pantai timur dari ujung utara pu- lau Sumatra, yang terdiri atas negeri-negeri atau kerajaan kecil yang otonom ataupun yang merupakan federasi;5 (3) Daerah-daerah

Gayo dan Alas yang terletak jauh di pedalaman (lihat peta)6. Dae-

rah yang berada langsung di bawah kekuasaan Sultan adalah ka- wasan dalam (kraton), Pekan Aceh, Kampung Merduati, Kampung Jawa, Kampung Pande dan Kampung Kedah. Dalam menjalankan pemerintahan sehari-hari Sultan, yang keti- ka itu ialah Sultan Alaiddin Mahmud Syah, 1870-1874 dibantu oleh empat orang-orang besar yang disebut Menteri Hari-Hari. Mereka ini adalah T. Kali Malikul Adil, T. Nek Raja Muda Setia, T. Nanta Setia dan Panglima Mesjid Raya. Di samping itu Sultan dibantu pula oleh seorang syahbandar untuk mengurus soal-soal pelabuhan, bernama Panglima Tibang Muhammad.

Sultan mempunyai hak mengeluarkan mata uang, baginda juga berhak menjatuhkan hukuman yang berat-berat kepada rakyat, meskipun hal ini hampir tidak pernah dilakukannya. Sultan mengeluarkan surat pengukuhan atau piagam dinamakan sarakata dengan dibubuhi segel yang disebut "cap sembilan", yang berisi pengakuan bahwa seorang raja kecil atau uleebalang yang di- sebutkan dalam surat itu mempunyai kuasa memerintah wilaya- nya sesuai dengan adat. Uleebalang membayar upeti pada Sultan. Aceh di akhir abad XIX bukanlah suatu pemerintahan sentral yang kuat. Aceh Besar dan daerah takluknya terdiri dari lebih se- ratus wilayah, disebut negeri atau naggroe yang jumlah penduduk dan luas daerahnya tidak sama. Setiap negeri diperintah secara otokratis oleh seorang raja kecil yang disebut uleebalang atau keuj- ruen yang ditetapkan oleh adat berdasarkan warisan turun-temu- run patriarkal.8 Mereka memimpin pemerintahan dalam daerahnya masing-masing dengan bantuan pembantu-pembantunya yang dinamakan banta atau bangta terdiri dari adik laki-laki atau saudaranya. Mereka bertindak sebagai hakim dalam daerahnya masing-masing dengan dibantu oleh seorang yang dipandang mengerti mengenai hukum, yang disebut kadhi (kali). Mereka juga menjadi pemimpin militer dengan dibantu oleh panglima-panglimanya, yang disebut rakan9 yang dapat diperintahnya untuk bertindak dengan tangan besi. Yang terbaik diantara mereka dalam berperang diberi gelar panglima prang, sedangkan kepala-kepala pasukan kecil yang tidak 10 begitu cemerlang dalam pertempuran diberi gelar pang. Di Aceh Besar dan di Pidie wilayah para uleebalang terdiri dari beberapa mukim. Mereka dibantu oleh imum mukim yang meng- koordinasi beberapa buah kampung (gampōng) di dalam suatu mukim dan imum Mukim ini merupakan penghubung antara kampung-kampung dengan uleebalang.1 1 Berbeda dengan di tempat-tempat lain, di Aceh Besar negeri-negeri ini membentuk federasi yang dinamakan sagi seperti yang telah disinggung di muka.12 Yang mempunyai pengaruh terbesar di antara uleebalang itulah yang diangkat sebagai ketua federasi dengan gelar panglima sagi dengan kekuasa- an menjalankan segala sesuatu yang menyangkut kepentingan ber- sama saja, sedangkan uleebalang-uleebalang yang lain tetap memerintah negerinya masing-masing sebagaimana biasa tanpa intervensi dari mana pun juga. Setiap sagi mempunyai hakim tinggi atau kadi besar dengan masjid besarnya pula.13 Yang sangat berpengaruh di antara pemimpin-pemimpin sagi itu ialah Panglima Polem ketu-

runan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) dari istri yang bukan

permaisuri yang berasal dari Abesinia.14 Pada tengah kedua abad XIX ketiga pemimpin sagi yang masing-masing bergelar Sri Sultan Ulama, Sri Muda Setia dan Sri Muda Perkasa termasuk dalam orang-orang besar yang berwewenang memilih Sultan dari keluarga Sultan terdahulu yang berhak atas tahta. Setiap pemimpin sagi, menurut Syaikh Abbas memegang hukum adat di sagi masing-masing. Ia membawahi dua orang hulu- balang yang memperkuat hukum adat. Selanjutnya di masing-masing sagi ada seorang ulama besar yang memegang hukum syara' yang dibantu pula oleh dua orang ulama untuk memperkuat hukum syara' itu. Jadi jumlah pemimpin adat dan agama dalam ketiga sugi itu delapan belas orang. Merekalah yang dinamai ahlu'l- halli wa 'l-'aqdi. Demikianlah keterangan yang diberikan oleh ulama Syaikh Abbas ibn Muhammad.15 Merekalah yang mengada- kan bai'at atau mengangkat seseorang untuk disumpah sebagai sultan, sedangkan sekalian orang diluar Aceh Besar menerima saja pu-

tusan yang mereka ambil itu. 6

Adapun uleebalang, menurut Syaikh Abbas, bertugas menjaga ketertiban umum yang diatur oleh adat. Ada tujuh macam kerja yang dibebankan di atas bahu raja-raja atau uleebalang yakni: (1) memelihara agama Islam dengan menolak orang yang hendak me- masukkan bid'ah dan menyuruh isi negeri mengamalkan ajaran agama Islam, (2) mengawal agama Islam dan isi negeri agar tidak dibinasakan oleh musuh dan melindungi isi negeri daripada huru- hara, pencuri dan penyamun-penyamun, (3) membangun negeri, seperti membuat jalan, (4) menjaga agar pemindahan hak atas sega- la harta kaum muslimin semata-mata atas dasar hukum syara', (5) menentang kelaliman dan memerintah dengan adil, (6) menegak- kan hukum adat dan syara' masing-masing menurut perlunya, dan

(7) memilih pegawai-pegawai termasuk panglima-panglimanya dan sahabat-sahabatnya yang berguna dan yang jujur. Pendapatan uleebalang, pada umumnya terdiri dari antara lain:
(1) denda-denda yang diperolehnya dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh rakyatnya; (2) 1% daripada tanah sawah yang di- jual; (3) 10% dari warisan-warisan yang dibagikan kepada yang berhak, sebagian kecil dari jumlah yang membuat perhitungan;
(4) hasil sungai yaitu satu ringgit setiap perahu memasuki sungai, 5% bagi barang-barang dagangan yang dibawa oleh orang-orang asing dan 2½% daripada barang-barang yang dibawa oleh anak ne-

geri sendiri melalui jasa-jasa baiknya; (5) iuran terhadap pengunjung-pengunjung pasar; (6) sawah-sawah dan kebun-kebun yang sudah tidak dikerjakan lagi, karena pemiliknya sudah lama mening- galkannya dan tidak memberi kabar apapun lagi tentangnya;

(7) warisan dari orang-orang asing yang tidak mempunyai keluarga di Aceh; (8) pemberian wajib kepala-kepala yang di bawah uleebalang itu untuk biaya perayaan penting bagi keluarga uleebalang tersebut; (9) tenaga kerja dari orang-orang hukuman yang tidak membayar denda; (10) kerja bakti untuk sawah-sawahnya,
18 benteng dan rumah-rumahnya. Sudah barang tentu dalam hal pendapatan uleebalang ini ada perbedaan antara satu negeri dengan negeri yang lain tergantung

dari keadaan masing-masing negeri itu.19

Unit territorial terkecil dalam sebuah negeri atau nanggroe yang dikepalai oleh uleebalang adalah gampong atau kampung. Gampōng ini diketuai oleh geuchik atau keuchik20 dengan diban- tu oleh seorang yang mengerti hal agama, yang disebut teungku meunasah. Kedua jabatan ini sudah menjadi warisan turun-temu- run. Geuchik adalah "ayah" atau embah pada suatu gampōng, sedangkan teungku meunasah adalah "ibu" atau ma kepada gampong itu. Di samping itu terdapat pula dua unsur lainnya dalam se- suatu gampōng yaitu orang-orang tua kampung, ureueng tuha, dan ureueng le, orang banyak, yang merupakan "anak-anak" dari "ayah kampung" dan "ibu kampung" itu. Orang-orang tua kampung ter- diri dari mereka yang disegani karena pengalamannya dan budi ba- hasanya dan kefahamannya akan adat-istiadat. Biasanya jumlah mereka empat orang, karena itu dinamakan tuha peuet21 atau de- lapan orang, maka disebut tuha lapan. Di Nisam, Pasai, Aceh Utara, 22 mereka ini berjumlah 16 orang. Secara tradisional kekuasaan uleebalang dikukuhkan sultan dengan memberinya piagam yang disebut sarakata, dan dibubuhi se- gel yang dinamakan "cap sembilan". Dengan didapatkannya sarakata ini, maka syahlah kekuasaan uleebalang dan wajiblah ia membayar upeti kepada sultan. Selama kekuasaan sultan cukup kuat, kedudukan uleebalang yang telah mendapat pengakuan tersebut tentu saja bisa terjamin. Akan tetapi ketika kekuasaan sultan mulai merosot, uleebalang terpaksa harus menjaga dirinya terhadap kemungkinan perluasan daerah dari tetangganya. Maka da- patlah dikatakan, bahwa kemerosotan kekuasaan dan wibawa sultan terutama ditandai oleh tidak stabilnya hubungan antara para

uleebalang. Apa yang disebut prang pageue, yaitu perang memperebutkan wilayah, pun bisa terjadi. Pertengahan abad 19, Aceh memang di- tandai oleh masa ketidakstabilan ini. Pada pertengahan abad 19 perang kecil antara Geudong lawan Blang Me di Aceh Utara untuk memperebutkan muara sungai, me-

letus.23 Pada pertengahan abad XIX terjadi pula peperangan di

Lhok Rigaih, Aceh Barat, karena tidak sesuainya pembagian ke- untungan berkebun lada di antara para uleebalang, sehingga cam- pur tangan Sultan Aceh tidak dapat dihindari.24 Pada 1855 Mukim III Gigieng ditaklukkan oleh Pidie. Uleebalang Mukim III Gi-

gieng dan istri serta anak-anaknya pun ditangkap.25 Di samping

itu terdapat pula usaha suatu mukim untuk melepaskan diri dari uleebalang hingga ada uleebalang menghantam imum mukim-nya yang tidak mau mengakui lagi kekuasaannya, seperti yang dilaku-

kan oleh uleebalang Mukim V Reubee pada 1870.26°

Sejauh mana uleebalang ini dapat menggantungkan dirinya kepada kepala-kepala yang di bawahnya serta rakyatnya dalam meng- hadapi serbuan ke daerahnya atau serangan saudara-saudaranya sangat tergantung pada energinya, dan pada besar kecilnya penga- ruh hubungan keluarga. Dalam hubungan ini maka dapat terjadi bahwa kedudukan uleebalang itu akan lebih diperkuat dengan ada- nya pertalian perkawinan. Untuk mempertahankan kepentingan bersama, diadakan juga kerja sama dalam bentuk aliansi seperti di Pidie. Uleebalang harus pandai mengambil hati kerabatnya, misalnya para banta. Rakan-rakannya akan meninggalkannya bila naf- kah mereka tidak memadai. Jika imum mukim dan geuchik-geuchik tidak mencintai atau tidak takut kepada uleebalang, tentulah mereka akan diam saja, tidak akan membantu, malah jika ada serangan boleh jadi akan memihak kepada musuh uleebalang terse- but. Besarnya jumlah rakyat merupakan kekuatan dan kekayaan bagi uleebalang itu. Di antara rakyat dan uleebalang terdapat hal saling memberi dan menerima, misalnya antara lain, uleebalang memberi perlindungan kepada rakyat dan rakyat mengerahkan tenaga kerja untuk uleebalang. Jika menurut pendapat rakyat uleebalang su- dah terlalu jauh menyimpang dari peranannya, mereka akan pergi meninggalkan negerinya atau memihak kepada lawan dari uleebalang yang tidak disenangi itu.

Tetapi Aceh bukanlah saja negeri sultan dan uleebalang, Aceh

adalah pula negeri para ulama. Dalam kaitan inilah muncul ung-

kapan "Ulakan serambi Aceh, Aceh serambi Mekah". 27

Di abad XVII, Aceh merupakan tempat studi agama Islam, terkenal sampai ke tempat-tempat jauh di luar kepulauan Indonesia. Pada zaman keemasan Aceh ini, di bawah sultan-sultannya yang perkasa, banyak guru-guru berdatangan untuk menetap dan mem- berikan pelajaran di Aceh. Bustān al-Salatin menceritakan bahwa pada masa pemerintahan Sultan Ali Ri'ayat Syah (1568-1575) datanglah ulama dari Mekah Muhammad Azhari yang bergelar Syaikh Nuruddin bermazhab Syafi'i dan mengajarkan ilmu mu'qulat. Pada waktu Sultan Alauddin Mansur Syah Perak ibn Sultan Ahmad (1579-1586) memerintah, datanglah dari Mekah pada 1582 Syaikh Abd al-Khair bin Syaikh ibnu Hajar, ahli dalam bidang ilmu fekah, disusul oleh Syaikh Muhammad Yamani, dan kemudian oleh Syaikh Muhammad Jailani ibn Hasan ibn Muhammad Hamid al-Raniri dari Gujarat yang mengajar ilmu mantik dan ilmu bayan badi.28 Syaikh Shamsuddin ibn Abdullah as-Samatrani dari Pasai telah mu- lai dengan kegiatan-kegiatan menulis semasa pemerintahan Sultan Alauddin Ri'ayat Syah (ca 1588-1604) dan sampai Shamsuddin berpulang pada 1630, Sultan Iskandar Muda menjadi patronnya. Pada masa Sultan Iskandar Thani memerintah (1636-1641) datang pula Nur al'Din ibn 'Ali ibn Hasan ibn Muhammad Hamid al-Raniri. Atas permintaan sultan ia menulis kitab Bustanussalatin. Permaisu- ri Iskandar Thani, Sultana Tajul Alam Safiatuddin Syah (1641-

1675) tidak hanya menjadi pelindung dari Ar-Raniri, tetapi juga dari Syaikh Abdurrauf dari Singkil, yang terkenal dengan nama Teungku Syiah Kuala. Atas perintah Sultana Safiatuddin, Abdurrauf menulis sebuah kitab mengenai syara dengan judul Mir'atu 'l-Tullāb fi Tahsli Ma'rifat Ahkāmi 'l-syar-iyyah li'l-malik al-wah- hāb, yaitu Cermin bagi Mereka yang Menuntut Ilmu Fiqh pada Memudahkan Mengenal Segala Hukum Syara' Allah, pada ± 1663
M.29Aceh menjadi pusat pengajian Islam dan dari sini banyak muncul tulisan-tulisan mengenai ajaran agama.30 Sebuah kitab yang lain yang penting pula artinya adalah kitab Safinatu'l-Hukkām fi Takhlisi'l Khassam, artinya Bahtera Segala Hukum pada Menye- lesaikan Segala Orang yang Berkhasumat, karangan Jalal al-Din bin Syaikh Muhammad Kamal al-Din bin Kadhi Khatib Tursani, ditulis pada 1740, dalam masa kerajaan Sultan Alauddin Johan Syah ibn Sultan Ahmad Syah (1735-1760).31 Sejalan dengan mundurnya kerajaan Aceh dalam dua abad beri-

kutnya (abad 18 dan 19) istana tidak lagi menjadi pusat kebudaya- an dan pusat studi agama Islam. Namun di daerah utara Sumatra ini sebagai tempat pertama Islam bertapak dan mengkosolidasi diri di Nusantara, ajaran Islam berpengaruh besar terhadap rakyatnya. Keadaan ini tentu saja tidak bisa dilepaskan dari peranan dan kedudukan ulama serta pemimpin agama lainnya dalam masyarakat Aceh. Seperti telah disebut di muka para pemimpin agama mengurus segala sesuatu yang bersangkutan dengan masalah keagamaan, yang di Aceh disebut hukōm (hukum agama). Golongan ini terdiri dari para guru agama, guru-guru tarekat, kali, sayyid, para haji, teungku meunasah, imam mesjid dan para ulama.32 Orang-orang yang mempelajari kitab-kitab agama sekedar cukup untuk memangku jabatan sebagai teungku menunasah atau kadi33 disebut ieube atau malem³4, tetapi tidak disebut ulama, sebab untuk yang terakhir ini diperlukan syarat-syarat yang lebih berat lagi. Derajat ulama kira-kira sama dengan doktor dalam ilmu agama.35 Untuk menjadi seorang teungku meunasah seseorang haruslah muslim yang ta'at beribadah dan faham akan isi kitab-kitab. Pen- dek kata seorang yang malem. Namun dalam kenyataannya jabat- at teungku meunasah dapat diduduki secara turun-temurun. Tetapi sering juga terjadi, bila seorang calon tidak memenuhi persya- ratan, maka dicarikan penggantinya dari keturunan laki-laki terde- kat dianggap memenuhi syarat keahlian. Bahkan mungkin juga terjadi, pengganti yang baru itu tidak berasal dari keluarga teungku meunasah yang terdahulu. Dapat pula terjadi, apabila teungku ini tidak mempunyai anak yang cukup untuk memangku jabatan itu, uleebalang atau imum mukim mencabut hak turun-temurunnya itu. Tetapi jika hak itu tidak dicabut, maka anak atau keturunan teungku yang tidak cakap tadi dapat minta bantuan kawah sekam- pungnya untuk melaksanakan tugas jabatan itu, sedangkan nama sebagai teungku meunasah tetap ia yang memakai. Keuntungan- keuntungan yang diperoleh dari jabatan itu ia pula yang mengam- bil, meskipun sebagian diberikannya kepada leube yang melaksanakan tugas itu atas namanya.36 Sebagai contoh dari yang terakhir ini dapat disebutkan bahwa pada permulaan perang dengan Belan- da yang menjadi kadi besar di Sagi Mukim XXVI adalah Tgk. Lam Gut. Beliau yang menggantikan kedudukan ayahnya, tidak begitu tinggi ilmunya. Putranya dikawinkan dengan Tgk. Syaikh Mar-

haban. Tgk. Lam Gut dalam menjalankan tugas-tugasnya sangat tergantung kepada keahlian menantunya itu. Jadi tampak kepada kita, seperti kata Snouck Hurgronje, orang-orang yang bertugas, tetapi tanpa gelar berdampingan dengan orang-orang yang bergelar, tetapi tanpa tugas. Jika teungku meunasah ini seorang malem ia dapat memberikan pelajaran agama dikampungnya. Dari murid-muridnya ia memperoleh berbàgai macam pemberian. Ia menerima pula sebagian dari pitrah.37 Selain dari itu ia memperoleh bagian dari zakat, yang di- sebut jekeuet. Hanya saja hasil zakat ini tidak teratur diterima- nya.38 Biasanya yang dibayar orang adalah jakeuet pade atau zakat padi yang berjumlah sepersepuluh dari hasil panen dalam setahun. Zakan ternak jarang dibayar orang, sedangkan untuk emas, perak dan barang dagangan, ada yang memberikan, ada pula yang tidak. Ada juga di antara rakyat desa yang berada memberikan kebun ke- cil sebagai wakaf, yang hasilnya harus digunakan untuk tujuan- tujuan keagamaan. Sebagian dari hasil ini diberikan oleh teungku kepada orang-orang miskin dan mu'allaf yang datang kepadanya untuk memintanya. Di samping itu ia juga memperoleh hadiah uang dari jasa yang diberikannya dalam upacara pernikahan. Bila ada orang meninggal dunia teungku ini juga memperoleh sedekah karena dia membaca doa dan talqin pada waktu penguburan. Selain daripada itu, jika ada kelebihan dari berbagai pendapatan yang diperoleh geuchik dari uleebalang, maka sebagian diberikan pula kepada teungku meunasah karena ia menemani geuchik mengan-

tarkan pendapatan itu kapada uleebalang.39

Bagi rakyat tidak saja dalam upacara kematian dan segala ken- duri atau selamatan teungku ini diperlukan, tetapi ia dapat juga di- minta menyuarakan azan di telinga seorang bayi yang baru saja di- lahirkan. Ia pun membacakan doa-doa pada segelas air untuk dimi- num oleh orang yang sedang sakit atau membaca doa-doa pada air bersih untuk disemburkan pada tempat yang sakit. Pendek kata dalam kehidupan rakyat ini mereka mempunyai fungsi yang stra- tegis.40 Ketika memasuki usia enam atau tujuh tahun anak laki-laki dan perempuan dibawa orang tuanya keapada teungku untuk be- lajar mengaji. Orang tua anak-anak itu akan berkata lebih kurang demikian: "Kedatangan saya menghadap teungku untuk menye- rahkan anak saya, menurut hukum Allah dan Nabi serta hukum

teungku untuk diberi pengajian agama, kalau perlu pukullah ia, asal tidak jadi cacat atau buta.41 Mereka yang telah selesai mengaji dikampunya ada yang melan- jutkan pelajarannya ke dayah atau deah, yakni tempat-tempat pengajian agama, yang biasanya terletak jauh dari kampung halaman- nya. Bila mereka selesai dengan memperoleh ilmu yang dalam, maka martabat mereka menjadi tinggi dimata masyarakat dan biasanya orang-orang yang berada ingin mengambil mereka sebagai menantu. Tempat-tempat pengajian ini mempunyai kedudukan hukum tersendiri yang disebut bibeueh, yaitu rakyatnya bebas dari segala kewajiban terhadap negeri. Adapun pusat-pusat pendi- dikan tinggi agama terdapat antara lain di desa Lambada, Bitay, Tanoh Abee, Krueng Kale di daerah Aceh Besar, Gampōng Tiro, Liweuk, Keumala, Simpang, Ie Leubeu di daerah Pidie serta Awe Geutah di Aceh Utara. Sebagian besar daripada tempat-tempat pengajian ini kemudian akan menjadi tempat bagi penyiapan dan

pengaturan perlawanan terhadap Belanda.42

Adapun mata pencaharian yang terpenting bagi orang Aceh adalah pertanian. Peribahasa Aceh berbunyi, "Seumayang pangulee ibadat, meugoe pangulee hareukat". Artinya, sembahyang adalah bagian terpenting dari ibadat, usaha bertani adalah sumber utama mata pencaharian.43 Satu lagi, "kaya meuh hana meusampe, kaya pade meusampurna," artinya, kaya emas tiadalah cukup, kaya padi yang sempurna.44 Jika ada tanah yang dapat ditanami di sekitar kampung-kampung nelayan dan bila keadaan iklim tidak memung- kinkan turun ke laut, waktu luang itu dipergunakan para nelayan untuk usaha tani. Sejak masa sebelum perang Belanda sampai dewasa ini, rakyat banyak percaya kepada praktek-praktek magis. Di samping kepercayaan terhadap roh-roh, yang dalam banyak hal bertentangan dengan ajaran Islam yang murni, kepercayaan pada azimat dan mantera-mantera masih besar sekali di kalangan awam. Hal ini pernah menarik perhatian J. Kreemer.45 Ia melaporkan bahwa azimat biasanya diikat di badan jika maksudnya untuk melindungi seseorang. Untuk melindungi hewan azimat itu diletakkan di kandangnya, untuk rumah digantung di ambang pintu; dan untuk melindungi tanaman ditempatkan di ladang atau di kebun, sedangkan untuk menyihir lapangan mengadu hewan, diseret di tanah. Agar peluru tepat mengenai sasarannya, maka azimat itu ditembakkan ber- sama-sama peluru. Azimat-azimat dipergunakan untuk menyem-

buhkan penyakit dan mencegah agar tidak timbul berbagai hal yang dianggap membahayakan seperti, kerusakan panen, peperangan, sihir, roh-roh jahat, binatang-binatang liar, dan sebagainya. Di samping itu dipakai pula untuk menambah kekuatan sendiri misalnya dalam hal kesehatan, kesuburan, kebahagiaan, kesejahte- raan, dan sebagainya, dan untuk mengharapkan terkabulnya hajat, misalnya mendapatkan ikan yang banyak, memperoleh binatang buruan, beruntung dalam perdagangan, menang dalam peperangan, berhasil dalam percintaan dan banyak lainnya lagi. Azimat-azimat itu terdiri dari bermacam-macam bendayaitu batu-batu aneh, logam, senjata, bahagian dari tubuh manusia, kuku dan gigi binatang, tanaman dan sebagainya. Azimat-azimat itu ada pula yang ditulis ataupun digambar. Di antara berbagai jenis itu, batu dan logam mengambil tempat yang khas, karena ukurannya kecil, tahan dan mudah untuk diikatkan ke pakaian atau ke badan diba- wa ke mana-mana. Salah satu diantaranya adalah benda yang dianggap telah menjadi batu yang disebut peugawe atau ajeumat ka jeu- et. Ada yang membuat peugawe dengan menuliskan doa pada seca- rik kertas lalu digulung kemudian dibalut dengan embalau (ekma- lo). Orang percaya lambat laun isinya akan berobah menjadi besi. Peugawe seperti ini disebut baronabeuet, dari bahasa Arab bahral- nubuwwah, artinya lautan kenabian. Azimat ini dipercayai dapat membuat seseorang menjadi kebal dan dipakai di pinggang dengan seutas tali. Di antara peugawe yang dianggap paling kuat adalah "rantai babi" atau rante bui. Babi hutan yang selalu dijumpai tidak berka- wan dengan kelompoknya disebut bui tunggal. Pada babi hutan ini tumbuh sejenis kaitan besi di hidungnya yang membuat binatang itu kebal. Kaitan itu sebenarnya terjadi dari cacing tanah, glang ta- noh, yang tertelah oleh binatang itu ketika ia makan lalu bersarang di hidungnya dan berubah menjadi suatu benda yang mendatangkan keuntungan. Jika bui tunggal itu makan, maka ia melepaskan kaitan itu dan beruntunglah orang yang dapat memanfaatkan kesem- patan itu untuk mengambil rante tersebut.46 Senjata-senjata besi dianggap mengandung kekuatan magis yang sangat besar. Orang Aceh membedakan antara senjata yang berani, beuhe, dengan penakut, geusuen. Jika seseorang memiliki senjata yang berani, maka tak perlu ia merasa takut. Bukan dia yang membawa klewang, tetapi klewanglah yang menuntunnya di dalam suatu pertarungan dan membawa kemenangan atau sebaliknya.47 Ada

pelbagai tanda rahasia untuk menentukan apakah sebuah senjata itu mengandung kadar kekuatan magis atau tidak.48 Orang Aceh menganggap emas sebagai benda yang mempunyai pengaruh melindungi.4 Itulah sebabnya orang Aceh selalu berusaha memberi perhiasan emas pada anak kecil dengan maksud agar semangat si anak, yang selalu bergerak-gerak itu, tidak akan terbang. Jika seorang Aceh hendak menyampaikan pengaduannya kepada uleebalang-nya atau akan menyampaikan sesuatu hal kepada seseorang yang berpengaruh, maka ia berusaha membawa sepotong emas untuk mengatasi perasaan takut dan malunya. Pertumbuhan tanaman yang tidak terjadi secara wajar dianggap mengandung kekuatan-kekuatan khusus, umpamanya, tempurung kelapa yang berlobang kecambah satu, u saboh mata, dan sepotong rotan yang bukunya bertemu berhadap-hadapan, awe sungsang na-

manya.50 Jika peugawe, seperti rantai babi yang disebut di muka

dapat mengebalkan tubuh (keubai), maka u saboh mata dan awe sungsang disebut peungeulieh, yaitu benda yang pemakainya tidak dapat dikenakan sesuatu. Peungeulieh hanya boleh dipakai jika orang hendak berperang, sedangkan di luar itu pemakainya hanya akan mendapatkan kecelakaan atau kerugian saja. Limau purut, boh kruet, (Citrus Hystrix De), dianggap mengandung kekuatan untuk menjauhkan roh-roh jahat. Bau yang me- rangsang yang keluar dari tanaman-tanaman juga dapat menakut- kan roh-roh jahat.51 Pada orang Aceh dikenal lingkungan magis atau garis sihir yang disebut ureh lakseumana.52 Lingkungan ini diperbuat dengan doa tertentu dan dengan menggaris tanah atau merentangkan tali atau- pun dengan meletakkan batang sesuatu tanaman atau batu-batu kecil, bibit padi atau air. Dengan cara ini dapatlah sebuah kam- pung dilindungi dari wabah suatu penyakit atau dari musuh yang akan datang menyerang. Dapat pula dipakai sebagai tangkal terhadap hama yang mengganggu sawah atau pembibitan, terhadap pe- nyihiran rumah atau terhadap pencuri atau roh-roh jahat yang akan mengganggu wanita-wanita yang baru melahirkan. Binatang- binatang dalam kandang dapat dilindungi dari gangguan harimau dengan cara ini. Bahkan cara ini pula dipakai untuk menolak sihir yang ditanam oleh seseorang yang bermaksud jahat dalam ge- langgang, dan lain sebagainya. Pada orang-orang Gayo terdapat sejenis lingkungan sihir yang di- namakan tangkal Sidang Bela, yakni daun pandan yang dibelah

pada bagian tengahnya lalu dijadikan suatu lingkaran yang diletak-

kan di bawah tikar tempat si sakit berbaring. Di bagian tengahnya, ditambahkan lagi sebuah gambar silang dengan kapur. Dalam menolak bala, tulak bale, orang-orang Alas mengundang roh-roh ja- hat untuk memasuki lingkungan magis dan kemudian mengurung di dalamnya dan dengan demikian orang akan terlepas dari ganggu- annya.53 Untuk menolak bahaya dipakai juga azimat-azimat yang ditulisi atau dilukisi empat persegi atau gambar-gambar lain yang di dalam atau sekelilingnya terdapat huruf-huruf, angka-angka Arab, nama-nama Allah, malaikat dan nabi-nabi, doa-doa dan lain-lain yang ba-

han-bahannya kebanyakan diambil dari kitab suci al-Qur'aan.s4

Nama atau nama-nama Allah55 ditulis di kertas-kertas kecil yang dijahit dalam kantong kecil dan dijadikan azimat. Untuk tempat menyimpan azimat-azimat itu kadang-kadang dipergunakan juga kotak-kotak kecil yang terbuat dari emas, perak atau suasa yang berbentuk silinder empat persegi dan persegi panjang yang dibu- buhi rantai kecil atau tali dan kemudian digantungkan di leher, pinggang atau lengan.56 Gambar, yang didapat dari pusara orang-orang keramat dianggap mendatangkan keberkatan, beurekat. Panji-panji putih yang dipasang pada kuburan orang-orang keramat ke- tika melepaskan nazar, kadang-kadang dijadikan azimat dan diikat di leher atau di lengan anak-anak. Tanah pusara orang-orang kera-

mat dianggap memiliki kekuatan-kekuatan ajaib.58

Hampir di setiap wilayah ada makam keramat yang didatangi rakyat. Makam-makam ini dibicarakan oleh Snock Hurgronje dan

beberapa di antaranya disajikan berikut ini.59 Di dekat Kuala Doe,

pantai Ulee Lheue, Aceh Besar terdapat makam Teungku Pante' Ceureumen. Jarang orang berkaul atau bernazar di makamnya. Orang mengadakan kenduri-kenduri besar di tempat itu terutama jika timbul penyakit menular. Kenduri seperti ini disebut kenduri tulak bala, kenduri untuk menolak bala. Yang disembelih dalam upacara ini adalah kerbau putih. Makam Teungku Meuntroe di Lueng Bata, Aceh Besar, diguna- kan orang sebagai tempat bersumpah guna menunjukkan bahwa orang yang sedang bersumpah itu tidak bersalah sebagaimana yang dituduhkan kepadanya. Bila ia mengucapkan,sumpah palsu di makam itu, maka ia akan terkena kutuk. Teungku Chik Lampisang yang dimakamkan di kampung Lam Pisang, Aceh Besar, merupakan pelindung bagi mereka yang ingin

kebal. Diceritakan orang bahwa rambut aulia60 ini keras seperti kawat dan bila dicabut sehelai dan diserahkan kepada seorang mu- rid yang sedang mempelajari ilmu kebal, eleumeu keubal, sebagai azimat, maka rambut itu akan berubah menjadi besi dalam sehari dua. Dengan demikian yang memiliki azimat itu akan menjadi kebal. Berbagai nazar dilakukan orang di makam aulia ini agar ter- capai apa yang menjadi kehendak mereka atau agar terhindar dari berbagai malapetaka. Makam Tuan di lungkeueng di Blang Bintang, Mukim XXVI, Aceh Besar, selalu didatangi oleh para petani. Kata orang, selama hidupnya ia selalu memberi air kepada ternak-ternak yang sedang digembala pada tengah hari. Petani-petani membawa ternaknya yang sakit pada makam teungku ini dan kepala binatang itu diper- ciki air. Jika jarak tempat binatang yang sakit itu terlalu jauh dari makam, maka diambillah sedikit tanah dari pusara teungku ini, kemudian dicampur dengan air dan diminumkan pada ternak yang sakit itu. Di Samudera Pasai (kabupaten Aceh Utara sekarang) ada petani yang sebelum membajak sawahnya mengambil sedikit tanah dari pusara Sultan Malikussaleh, mencampurnya dengan air dan meminumkan pada lembu atau kerbaunya, agar binatang-binatang itu sehat dan kuat dalam membajak tanah sawahnya. Makam Teungku Diboh atau Tuan Salah Nama terletak di kaki bukit Lam Pisang, Aceh Besar. Orang percaya yang dimakamkan di situ adalah alat kelaminnya, sedangkan badannya dikuburkan di puncak bukit tersebut. Ia adalah aulia yang dijadikan pelindung suami isteri yang menginginkan anak. Pasangan yang bersangkutan berkaul dan meminum air yang bercampur tanah pusara teungku ini. Orang-orang yang berada di laut mengharapkan pertolongan para wali agar tidak tertimpa bahaya. Di pantai, di pulau-pulau dan dekat karang-karang yang terjal yang dilayari mereka ada makam-makam keramat, kubu keuramat. Orang berkaul pada waktu menghadapi bahaya di laut untuk melepaskan nazarnya pada makam-makam itu jika terhindar daripada bencana. Yang banyak terjadi ialah, bila para pelaut meliwati tempat-tempat keramat itu, karena takut atau karena rasa hormat, menjadi adat kebiasaan pada mereka untuk membakar kemenyan, menghentikan senda gurau atau pembicaraan yang tidak menentu serta acapkali mengucapkan doa-doa. Aulia yang masuk dalam kumpulan ini, antara lain, ialah Tuan di Payet, Tuan di Kala, Teungku di Keureusek di Pulau Be-

ras, Teungku di Buket, di bukit dekat pantai Pulau Deudab tidak jauh dari Pulau Beras, Teungku di Ujong Eumpee, juga di Pulau Deudab, Tuan di Pulo Bunta, di Pulau Bunta dekat pantai Ulee Lheue, Teungku di Ujong, di Kuala Pancu, Mukim VI, Aceh Besar dan Teungku Lhok Tapak Tuan di pantai Tapak Tuan Aceh Barat. Yang banyak menarik pengunjung dari berbagai penjuru Aceh untuk bernazar adalah makam seorang wali, Teungku Syiah Kuala atau Syaikh 'Abd al-Rauf al-Singkily, yang terletak dekat kuala Sungai Aceh. Di samping itu makam Sayyid Abu Bakar bin Husain Bilfaqih atau Tgk. Anjong yang terletak di Kampung Jawa, Banda Aceh, dan makam Tgk. Lam Keuneueun di Mukim IX Aceh Besar banyak sekali dikunjungi orang. Tanaman lada dianggap oleh orang Aceh berasal dari jerih payah teungku ini, dan setiap tahun di pantai timur dan barat Aceh, ketika lada sedang berbunga diadakan kenduri, kanduri bungong lada namanya, untuk aulia ini. Orang tidak hanya melepaskan nazar di makam ini setelah sembuh dari suatu penyakit, tetapi juga mengadakan kenduri tamat mengaji al-Qur'aan. Tidak hanya rakyat saja yang berziarah ke makam-makam yang dianggap mereka keramat dengan mengadakan kenduri, tetapi ulama pun tiada ketinggalan. Dalam masa peperangan Tgk. Chik di Tiro Muhammad Saman berkehendak berziarah ke makam Tgk. di Anjōng di Kampung Jawa, Baba Daud Peunayong, dan Tgk. Chik di Lambhuek, yang terletak di Kutaraja dan sekitarnya, untuk nazar potong lembu dan kambing dan mengundang orang-orang muslimin untuk kenduri di makam-makam tersebut. Sebe- lumnya Tgk. Chik di Tiro ini pernah juga pergi berziarah ke makam-makam Tgk. Syiah Kuala dan Tgk. Pakeh Abdulwahab, tetapi telah diserang oleh pihak Belanda sehingga menyebabkan beberapa puluh orang pasukan muslimin mati syahid.61 Orang-orang yang dianggap keramat, tidak hanya makam mereka yang di- puja setelah mereka meninggal dunia untuk memohon berkah ke- pada Tuhan, tetapi juga sangat dihormati semasa mereka masih hidup, karena dapat menyembuhkan penyakit dan dapat membe- rikan kebahagiaan dengan doa-doa mereka serta dapat mencelaka- kan orang dengan kutuk mereka.62 Para sayyid63 memperoleh tempat yang tinggi di mata rakyat Aceh. Keturunan mereka kawin dengan anak bumiputera dan dalam adat-istiadatnya sudah tidak berbeda lagi dengan bumiputera. Mereka pun sudah tidak lagi dapat berbahasa Arab. Meskipun mar- tabat mereka tetap tinggi di mata rakyat, akan tetapi dalam soal

kewibawaan mereka kalah dengan para sayyid yang langsung datang dari tanah Arab. Rakyat pada umumnya memang begitu memulia- kan keturunan junjungannya, Nabi Muhammad s.a.w. Para sayyid ini tidak perlu bekerja mencari nafkah. Mereka akan memperoleh kebutuhan hidup dari istri atau istri-istrinya dan di samping itu ada saja orang yang memberikan belanja kepadanya. Rakyat tidak mungkin berbuat jahat terhadap sayyid oleh karena mereka takut benar akan kutuk yang dijatuhkan Tuhan kepada mereka. Dalam hubungan ini Snouck Hurgronje mengemukakan bahwa pada umumnya dapat dikatakan tidak ada seorang Aceh berani menga- cungkan telunjuknya kepada seorang sayyid, hanya karena takut

kepada hukuman Tuhan yang tidak dapat dielakkan.4 Kepercaya-

an seperti ini, merupakan kepercayaan yang sungguh-sungguh hidup di kalangan masyarakat itu. Pendiri-pendiri tarekat juga mendapat penghormatan yang tinggi. Dekrit-dekrit Sultan Aceh memperlihatkan penghormatan yang tinggi ini. Di samping memohon izin Allah s.w.t., sultan-sultan juga memohon syafaat dari Nabi-nabi, pendiri tarekat dan sultan-sultan yang terdahulu. Syaikh Abdulkadir Jailani adalah pendiri aliran ta- sauf yang selalu disebut.65 Di samping itu terdapat juga alat bunyi- bunyian yang disebut rapa'i yang diambil dari nama pendiri tarekat, Syaikh Ahmad Rifa'i (1106/1118-1183).66 Pengikut para pendiri tarekat ini dan juga guru-guru tarekat sendiri sangat dihor- mati, tetapi jumlahnya tidak banyak. Inilah keadaan masyarakat Aceh ketika memasuki perang dengan kerajaan Belanda, yang ternyata merupakan perang kolonial yang terlama dan termahal dalam sejarah tanah air kita.

Catatan

  1. Ms., Cos. Or., 8038, Universiteitsbibliotheek Leiden, UBL., hlm. 68.
    2.Ibid., hlm. 68, 71.
    3.Ibid., hlm. 60-62.
  2. Resminya Belanda menamakan daerah ini afdeling Groot-Atjeh dan sete- lah Republik Indonesia berdiri diberi nama Kabupaten Aceh Besar. Kadang-kadang Belanda memakai juga istilah "Atjeh proper", J.M. Somer, De Korte Verklaring, disertasi, Breda, (1934), him. 191. Kabupaten Aceh Besar merupakan daerah Aceh "inti" atau Aceh sejati, sedangkan wilayah-wilayah seperti Pidie, Daya, Pasai, Peureulak, Ta- miang, dan lain-lain merupakan jajahan takluk Aceh Besar. Dalam zaman Belanda wilayah-wilayah ini mula-mula termasuk dalam Gouvernement Atjeh en Onderhoorigheden, kemudian Residentie Atjeh en Onderhoorigheden dan kini dinamakan Provinsi Daerah Istimewa Aceh.
  3. Du Croo, Marechaussee in Atjeh, (1943), hlm. 19.
  4. Daerah Mesjid Raya yang terletak di ibu kota tidaklah termasuk ke dalam wilayah sagi yang telah tersebut di muka. Yang terletak di sebelah kiri sungai Aceh diperintah oleh Panglima Mesjid Raya, sedangkan yang di seberangnya oleh T. Kali Malikul Adil, seorang Hakim Tinggi Sultan yang memegang jabatan itu secara turun-temurun. E.B. Kielstra, Beschrijuing van den Atjeh-Oorlog, 1883. Jilid I, hlm. 7. Juga, A. Mukti Ali, An Intro- uction to the Government of Acheh's Sultanate, 1970, hlm. 19-20.
  5. Di Aceh Besar dan Aceh Barat uleebalang dan anak laki-lakinya mendapat gelar teuku, sedangkan istrinya dipanggil cut nyak dan anak perem- puannya mendapat gelar cut. Di Aceh utara dan timur dipakai gelar teng- ku untuk uleebalang dan anak laki-lakinya, akan tetapi karena pengaruh Aceh Besar dan administrasi Belanda lazim pula dipakai gelar teuku. Cf. Kreemer, Atjeh, II, 1923, hlm. 263. Lihat juga J.A. Kruyt, Atjeh en de Atjehers: Twee Jaaren Blokkade, 1877, hlm. 61. Di Aceh Utara dan Aceh Timur makin banyak pula dipakai gelar ampon dalam panggilan sehari- hari.
  6. Cf. di Semenanjung Tanah Melayu, J.M. Gullick, Indiegenous Political Systems of Western Malaysia, (1965), hlm. 97.
  7. Mereka ini dapat digolongkan dalam retainer class seperti yang dikemu- kakan oleh Gerhard Lenski dalam Power and Privelege: A Theory of Social Stratification, (1966), hlm. 243-48.
  8. Mukim pada asalnya adalah suatu tempat yang penduduknya berjumlah sekurang-kurangnya 40 orang laki-laki yang wajib atas mereka melakukan sembahyang Jum'at.

  9. Pembahagian Aceh dalam tiga sagi, yaitu Sagi XXII, XXV, dan XXVI. Mukim terjadi dalam masa pemerintahan Sultanah Nurul Alam Naqiatud- din Syah, 1675-78. Lihat, Raden Hoesein Djajadiningrat, "Critisch Overzicht van de in Maleische Werken vervatte Gegevens over de Geschie- denis van het Sultanaat van Atjeh", BKI, (1911), hlm. 189, 214. Lihat juga, K.F.H. van Langen, "De Inrichting van het Atjehsche Staatsbestuur onder het Sultanaat", BKI, (1888), hlm. 392.

  10. Mesjid Mukim XXII terletak di Indrapuri, Mesjid Mukim XXV di Indrapurwa dan kepunyaan Mukim XXVI di Indraputra (Ladong).
  11. Van Langen, op. cit., hlm. 393.
  12. Syaikh Abbas ibn Muhammad, Tadhkirat al-Rakidin, Cod. Or. 8037b, UBL, hlm. 33. Menurut K.F.H. van Langen, yang berhak memilih Sultan di antara anggota keluarga Sultan yang berhak atas tahta, adalah uleebalang yang jumlahnya dua belas orang, masing-masing empat di tiap sagi. Di samping ditabalkan di atas Batu Tabal di dalam atau kraton, Sultan dapat juga ditabalkan di salah satu di antara tiga masjid, yaitu Masjid Raya, Masjid Indrapuri dan Masjid Indrapurwa. K.F.H. van Langen, "De Inrichting van het Atjehsche Staatsbertuur onder het Sultanaat", BKI, 1888, hlm. 404. Ahlu 'l-halli wa l-aqdi artinya orang-orang yang mempu- nyai hak kekuasaan untuk membuka atau mengikat, yang tiap-tiap kata keputusannya dapat mengikat seluruh negara dan wajib ditaati oleh seluruh umat. Z.A. Ahmad, Membentuk Negara Islam, 1956, hlm. 71, 65.
  13. Syaikh Abbas ibn Muhammad, Tadhkirat al-Rakidin, Cod. Or. 8037b, UB Leiden, hlm. 32-33. Tentang bai'at Kepala Negara, lihat misalnya, Henry Siegman, "The State and the Individual in Sunni Islam", The Mus- lim World, Vol. LIV, no. 1 (January 1964), hlm. 17.
  14. Syaikh Abbas ibnu Muhammad, Tadhkirat al-Rakidin, 1889, Cod. Or. 8038,hlm. 91-93.
  15. K.F.H. van Langen, Beknopt Alfabetisch Informatieboekje betreffende Groot Atjehsche Personen en Aangelegenheden, 1897, hl. 143-5. Cf. "Mededeelingen betreffende de Atjehsche Onderhoorigheden", BKI, (1910), hlm. 384, 392 dan 397. Lihat juga A. Mukti Ali, op. cit., hlm. 17-18.
  16. Sebagai sekedar contoh dapat dilihat berikut ini. Di Lageuen, Aceh Barat, dari seratus ikat rotan yang didapat seorang pencari rotan, 15 ikat halus diserahkan pada uleebalang, yang sebagian daripadanya dibagikan pada bawahannya yaitu masing-masing lima ikat untuk keuchik dan lima ikat untuk kepala krueng. Kepala krueng adalah seorang yang diserahi mengu- rus lalu lintas di sungai, dengan tugas antara lain membersihkan sungai dari kayu-kayu yang tersangkut hingga dapat orang berperahu atau me- makai rakit tanpa halangan. Dari setiap pikul damar dan kemenyan, uleebalang mendapat wase uteuen atau pajak hutan, sebesar empat ringgit, masing-masing tiga ringgit untuk keuchik dan kepala krueng. Dari seratus bilah papan diberikan sepuluh untuk kepala krueng dan tiga untuk keuchik. Pemburu gajah harus memberikan apa yang dinamakan tampok si-

waih, yaitu gagang sejenis keris (siwaih), sebanyak setengah dari jumlah gading yang diperolehnya. Uleebalang juga mendapat satu ringgit dari setiap tail (satu tail sama dengan kurang lebih 6,6 gram) sula badak (rhino- ceros) yang diperoleh seorang pemburu. Sebuah paha dan kaki rusa sebelah belakang juga diserahkan kepada uleebalang bila seseorang memper- oleh seekor rusa hasil berburu. "Mededeelingen betreffende eenige Atjehsche Onderhoorigheden, BKI, (1908), hlm. 663. Di Tungkob, Aceh Barat, setiap sepuluh ikat rotan, atau sepuluh potong damar, atau sepuluh bilah papan, satu untuk uleebalang. Untuk setiap pikul getah perca (tanaman yang termasuk dalam keluarga Sapotacheen) uleebalang mendapat lima ringgit per pikul. Ibid., hlm. 384.

  1. Di Aceh Timur dan di pelbagai tempat di Aceh Utara kepala kampung ini disebut peutua atau peutuha. Di Aceh Utara gampong. Di Aceh Utara gampong disebut meunasah. Kreemer, Atjeh, I, hlm. 380.
  2. Mengenai tuha peuet, lihat misalnya, "De positie van den Toeha Peuet in het Atjehsche Staatsbestel", J.J. Vleer, KS, (1955), hlm. 454-461.
  3. Salah seorang daripada orang-orang tua ini diangkat sebagai wakil kepala kampung (disebut waki) yang mewakili dan membantu ia dalam pekerja- an sehari-hari. Di beberapa tempat di Aceh Besar, misalnya di Mukim At- teuek dan mukim III Lam rabo kepala kampung disebut Waki, sedangkan wakilnya disebut geuchik. Di kedua tempat ini pula waki merupakan kepala daripada kompleks kampung-kampung (kepala kampung disebut geuchik) dan setiap mukim mempunyai empat orang wakil. Kreemer, op. cit., II, hlm. 199. 217.
  4. "Mededeelingen betreffende de Atjehsche Onderhoorigheden", BKI, (1903), hlm. 364-5. Kreemer, Atjeh, II, hlm. 314.
  5. "Mededeelingen", op. cit., (1904), hlm. 399.
  6. Ibid., (1903), hlm. 72.
  7. Ibid.,(1903), hlm. 54.
  8. Richard O. Winstedt, The Advent of Muhammadanism in the Malay Peninsula and Archipelago", JSBRAS, No. 77, (Desember 1917), hlm.
  9. Ulakan terletak di Sumatra Barat, kira-kira enam Km. di sebelah selatan Pariaman.
  10. Nuru'd-din ar-Raniri, Bustanu's-Salatin, ed. T. Iskandar, 1966, hlm. 32-
  11. Menurut Nuruddin, Muhammad Azhari berasal dari Mesir. Lihat, ibid., hlm. 32, lihat juga, Djajadiningrat, op. cit., hlm. 212-3. Juga B/ Schrieke, Indonesian Sociological Studies, Part Two, 1959, hlm. 243. Menurut Luwis Ma luf al-Yasu i, al-Munjid, 1956, ilmu Ma'qulat adalah ilmu yang membahas atau mempelajari secara khusus pengetahuan akal mengenai apa yang dapat ditangkap oleh pancaindera. Ilmu mantik adalah logika dan ilmu bayan badi adalah ilmu keindahan bahasa Arab.
  12. Naskah ini telah diterbitkan oleh Universitas Syiah Kuala pada tahun 1971 dalam bentuk reproduksi. Terjemahannya menurut harfiah adalah

Cermin bagi Para Penuntut Ilmu untuk Memperoleh Pengertian tentang Hukum-hukum Syari'at Allah Yang Merajai dan Maha Pemberi.

  1. Snouck Hurgronje, The Achehnese, II, 1906, hlm. 21.
  2. Kitab ini dimiliki oleh keluarga alm. Jamaluliail di Kampung Kedah, Ban- da Aceh. Judul dan terjemahannya adalah sesuai dengan tulisan penulis kitab itu sendiri. Lihat Safinatu 'l-Hukkam, hlm. 5.
  3. Kata ulama adalah bentuk jamak daripada 'alim, artinya orang yang ber- ilmu. Dalam bahasa Aceh artinya berubah menjadi orang-orang yang ahli dalam ilmu agama. Meskipun kata ini untuk jamak, namun sudah menjadi kebiasaan dipakai untuk bentuk tunggal.
  4. Lihat uraian berikut.
  5. Berasal dari kata Arab mu'allim, artinya guru, kepala. Dalam bahasa Aceh berarti orang yang paham dan taat beragama atau saleh (Jawa: santri).
  6. Snouck Hurgronje, De Atjehers. Jilid II, hlm. 5.
  7. Snouck Hurgronje, De Atjehers, I, hlm. 78.
  8. Pitrah (Arab: fitrah) adalah suatu pemberian yang diwajibkan dalam agama Islam atas orang-orang yang mampu, berwujud dua bambu beras (± 3,3 kg) atau uang seharga beras tadi, yang dibayarkan pada akhir bu- lan Ramadhan sebelum sembahyang Hari Raya Idulfitri.
  9. Pemberian zakat ini didasarkan pada al-Qur'an: surat al-Taubah, ayat 60, yang terjemahannya sebagai berikut: "Sesungguhnya zakat-zakat itu, ha- nyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat-zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana"
  10. Snouck Hurgronje, The Achehnese, II, hlm. 74. Mu'allaf artinyaorang yang baru masuk agama Islam.
  11. Tentang fungsi yang strategis lihat Suzanne Keller, Beyond the Ruling Class: Strategic Elites in Modern Society, 1963, hlm. 32.
  12. G.B. Hooyer, "De Geestelijkeid in Atjeh" Eigen Haard, (1896), hlm.324. Peristiwa seperti ini masih berlaku sampai sekarang ini.
  13. Toelichting, op het Voorstel tot het Toekennen van Traktementen aan Verschillende Hoofden van Groot Atjeh, 15 Nov. 1887, hlm. 28, dalam Kab. Geheim, 13 April 1888, Q 5, ARAS.
  14. J.J.H. van Waardenburg, De Invloed van den Landbouw op de Zeden, de Taal- en Letterkunde der Atjehers, Leiden, 1936, hlm. 3.
  15. Kreemer, Atjeh, I, hlm. 440.
  16. Ibid., II, hlm. 576-592.
  17. Snouck Hurgronje, The Achehnese, II, hlm. 37.

  18. J. Jacobs, Familie- en Kampongleven op Groot-Atjeh, II, hlm. 153.

  19. Kreemer, Atjeh I, hlm. 307-8.
  20. Pada waktu mendirikan rumah baru, sebelum pahatan pertama dilakukan oleh tukang kayu pada lubang tiang utama terlebih dahulu diletakan se- potong emas yang sudah berada di atas kain putih pada tempat yang hendak dipahat itu. Cukilan kayu hasil pahatan pertama itu disimpan ber- sama emas tadi untuk dipergunakan pada upacara tepung tawar dalam keluarga guna menolak pengaruh-pengaruh jahat. Kreemer, Atjeh I, hlm. 364-5. Bila di sebuah rumah banyak orang yang sakit. maka adakalanya orang mengganti salah sebuah tiang rumah dan di ujung tiang itu, puteng, kadangkala diletakkan sebuah mata uang emas Aceh, deureuham, untuk menolak pengaruh-pengaruh yang tak dikehendaki itu. Ibid., hlm. 363.
  21. Tempurung seperti ini dalam bahasa Gayo disebut krambil sara mata, dan rotan aneh itu disebut ue sungsang, dalam bahasa Alas, ketang sungsang. Di Jawa dikenal juga batok klapa mripat satunggil. Lihat, J. Knebel, "Amulettes Javanaises", TBG, (1898), hlm. 503.
  22. Berbagai rempah yang termasuk dalam bilangan ini antara lain, ialah: kunyit (Curcuma domestica), jahe atau halia (Zingiber officiane), leng- kuas (Alpinia galanga), cekur atau kencur (Kaempferia galanga), bunglai (Zingiber cassumunar) dan jerangan (Acorus calamus), lihat Kreemer, Atjeh, II, hlm. 585.
  23. Menurut catatan H. Kreemer, ureh (bhs. Gayo: uris, bhs. Alas: garis) berarti "garis". Umpamanya orang berkata uroe ka mureh (bhs. Gayo, lo nge muris), yaitu hari sudah memperlihatkan garis-garis putih di ufuk ti- mur. Kata itu dapat berarti juga "garis penangkal sihir" seperti tersebut dalam doa untuk mengenyahkan burong atau puntianak. Lihat, Snouck Hurgronje, De Atjehers, I, hlm. 500. Yang dimaksud dengan ureh Lakseu- mana adalah garis yang menurut syair kepahlawanan Sangsekerta; yakni Ramayana, diperkuat oleh Laksmana di sekeliling Sita sebelum Laksmana meninggalkannya, untuk melindungi Sita terhadap Rawana (bandingkan
    R.J. Wilkinson, Malay Dictionary, pada Laksmana). Ketika Sunan Kalijaga berkunjung ke Mataram untuk melihat rumah Senapati, Sunan Kalijaga berkata bahwa rumah Senapati belum berpagar dan hal itu terjadi, menurut Sunan Kalijaga, karena Senapati sombong dan membanggakan kesaktiannya. Sunan Kalijaga menasihatkan agar Senapati sebaiknya le- kas memberi pagar rumahnya dengan batu merah. Lalu Sunan Kalijaga mengambil tempurung yang berisi air, disiramkan ke sekeliling rumah sambil berzikir. Lalu katanya: "kalau engkau hendak membuat pagar, ikutilah garis ini. Senapati menyatakan kesanggupannya dan pulanglah Sunan Kalijaga. Babad Tanah Jawa, terjemahan M. Ramlan, 1975, hlm.
  24. Uris atau garis tan bunuh artinya secara harfiah, garis supaya terlin- dung daripada pembunuhan. Kreemer, op. cit., I, hlm. 588.
  25. Setelah bagian luar dan dalam rumah-rumah di suatu kampung disapu atau dipukul-pukul dengan penggerbas, yaitu bungkusan yang berisi berbagai dedaunan, maka dukun atau guru yang menghalau roh-roh jahat

berbicara dengan roh-roh itu dan mengundangnya supaya roh-roh jahat itu mau mengikutinya. Di bawah pimpinan guru itu, seluruh penduduk kampung pergi ke sebuah tempat di luar kampung itu untuk melepaskan roh-roh itu, naruken hantu, seraya membawa bermacam-macam makanan dan patung pengganti, gegane atau tukar ganti. Di tempat tersebut diperbuat sebuah pagar bambu biasa beserta pintunya yang bertujuan sebagai lingkungan sihir yang dinamakan mentre. Setelah mereka semua berkumpul di tempat ter but, maka diadakanlah kenduri. Pada kesem- patan itu sang guru men ritahukan kepada roh-roh yang tak dapat dilihat itu, bahwa mereka ni telah memiliki semua keinginan mereka dan dengan demikian mere/ atidak perlu mengganggu penduduk kampung. Setelah itu ia berdiri di pintu keluar dan setiap orang yang hendak pulang diperciki air "pendingin" dengan penggerbas. Setelah itu ditutup- lah pintu mentre, Kreemer, op. cit., II, hlm. 587.

  1. Gambar azimat yang berisi doa yang ditemukan pada tubuh seorang Aceh yang mati syahid dapat terlihat dalam buku J. Jacobs, Het Familie- en Kampongleven op Groot Atjeh, II, gambar XII.

    55. Nama-nama Allah disebut Asma'u 7-Husna, yaitu nama-nama yang agung

yang sesuai dengan sifat-sifat Allah. Dalam surah surah al-Isra', ayat 110, disebutkan sebagai berikut: "Katakanlah:" Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru. Dia mempunyai al
asmaul husna (nama-nama yang terbaik), ...." Dalam surah al-'A'raf,
ayat 180, Tuhan berfirman: "Allah mempunyai asmaa-ul husna maka 39 bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu ... Nama-nama Allah ini diambil dari al-Qur'an dan hadith Nabi. Sepuluh buah Asma'u l-Husna ini terdapat pada bendera perang pasukan Aceh yang akan dibicarakan pada Bab IV. Cf. Richard Winstedt, The Malay Magician, 1951, hlm. 92.

  1. Lihat gambar tempat penyimpanan azimat-azimat dalam Jacobs, op. cit., II gambar 1 No. 4 dan 5.
  2. Kreemer, Atjeh, II, hlm. 581-2.
  3. Snouck Hurgronje, The Achehnese, II, hlm. 295-303.
  4. Wali, di Aceh disebut eelia yang berasal dari kata Arab aulia, bentuk ja- mak dari Wali. Meskipun yang dimaksud hanya satu orang, biasanya di Aceh dipakai eelia juga, sama halnya dengan kata ulama.
  5. Surat Tgk. Chik di Tiro Muhammad Saman pada pejabat Belanda, 3 Safar 1305 H (20 Oktober 1887). Kab. Geheim, 13 April 1888, Q 5, ARA, Schaarsbergen. Dalam surat ini diminta agar Belanda tidak keluar dari benteng-bentengnya barang dua atau tiga hari agar memungkinkan Tgk. Chik di Tiro melakukan ziarah di daerah yang telah diduduki Belanda, tetapi Belanda tidak menyetujuinya.
  6. Keramat artinya pekerjaan yang ganjil-ganjil yang di luar kebiasaan, yang dikerjakan oleh wali-wali Allah, ulama-ulama, orang-orang saleh, seumpa- manya makanan datang sendiri kepada Sitti Maryam, ahli gua tidur sela-

ma 309 tahun tanpa rusak dagingnya. K.H. Siradjuddin Abbas, I'tiqad Ahlussunnah wal-Jama'ah, 1980, hlm. 89.

  1. Biasanya titel sayyid diberikan kepada keturunannya dari cucu Nabi Muhammad yang bernama Husin, sedangkan titel syarif bagi keturunan cucu Nabi yang bernama Hasan. Dahulu di Aceh sayyid ini dipanggil teungku sayyid, tetapi kemudian oleh Sayyid Abdurrahman Zahir diganti dengan sebutan Habib. Di Pidie dalam panggilan sehari-hari dipakai pe- ngulee, artinya kepala atau tuan.
  2. Snouck Hurgronje, Verslag R. 8, hlm. 106.
  3. Lihat misalnya Qanun Syara' kerajaan Aceh Sultan Alaudin, salinan Teungku di Mulik pada 1270 H (1853 M), MS di Perpustakaan Universiti Kebangsaan Malaysia (belum dikatalogkan), hlm. 1, baris 17. Lihat juga, The Achehnese, I, hlm. 191-2, yang memuat isi surat pengukuhan se- bagai uleebalang yang dianugerahkan oleh Sultan Muhammad Daud kepada Datuk Haji di Salang, 14 Syawal 1270 H (1854 M). Mededeelingen Encyclopaedisch Bureau, afl. XX, hlm. 70. Lihat juga Adatrechtbundels XXVII: "Sumatra'', (1928), hlm. 10.
  4. Tentang tahun lahirnya diperselisihkan orang. Lihat H. Abubakar Atjeh, Pengantar Ilmu Tarekat, 1964, hlm. 343.

III. Dalam Kancah Peperangan, 1873-1896

Pada 1824 persetujuan antara kerajaan Belanda dengan kerajaan Inggris yang dikenal sebagai Traktat London ditandatangani. Dalam Nota yang dilampirkan pada Traktat itu dinyatakan bahwa kedua kerajaan tidak akan melakukan tindakan permusuhan terha-

dap kerajaan Aceh.1 Tetapi, dalam perjalanan sejarah serentetan

konflik antara kerajaan Belanda dengan kerajaan Aceh terjadi juga. Pada 1829 Belanda menyerang Barus yang dikuasai oleh Aceh. Serangan Belanda ini dipatahkan oleh pasukan-pasukan Aceh, ma-

lah benteng Belanda di Pulau Poncang di Teluk Tapanuli diserang

Aceh dan bangunan-bangunan Belanda di tempat itu dibakar.2 Pada 1834 dan 1835 beberapa perahu Aceh disekitar Pulau Pon- V cang ditahan Belanda, meskipun perahu-perahu itu memiliki pas atau surat keterangan berlayar. Sebahagian awak perahunya di-

tangkap dan sebagian lagi dibunuh.3

Setahun kemudian, pada 1836, awak kapal sebuah kapal Belanda, Dolphijn, berontak dan membunuh nakhoda. Mereka memper- sembahkan kapal tersebut pada Sultan Aceh. Dengan memakai kapal perang, Belanda meminta kembali kapal Dolphijn tersebut, tetapi Sultan Aceh berkeberatan mengembalikannya. Surat kuasa dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk mengambil kapal itu tidak ada. Namun ketika surat tersebut dibawa oleh sebuah komisi Belanda kepada sultan, kapal Dolphijn sudah dibakar.4 Setelah pihak Aceh mendirikan tiga buah benteng di sungai Ma- co dekat Barus dan memperkuat kedudukannya di Singkel, Aceh Selatan, Belanda pada 1840 mengirimkan pasukannya, di bawah pimpinan kolonel A.V. Mischiels, untuk mengusir pasukan-pasuk-

an Aceh. DAlam pertempuran ini Aceh dapat dikalahkan.5 Akibat

tindakan Belanda ini kapal-kapal dagang orang Eropa tidaklah mendapat sambutan yang semestinya sehingga tidaklah aman bagi kapal-kapal dagang itu untuk memasuki pelabuhan-pelabuhan Aceh. Khawatir akan adanya usaha negara lain mencari pengaruh di Aceh, pemerintah Hindia Belanda berusaha mengadakan hu- bungan dengan Sultan Aceh.6

Akhirnya pada 1857 Mayor Jenderal van Swieten berhasil me- nandatangani perjanjian persahabatan dan perdamaian dengan Sultan Aceh. Isi pokok perjanjian itu, antara lain, (1) membolehkan kawula kedua pihak, dengan mengindahkan undang-undang yang berlaku, untuk melawat, bertempat tinggal dan menjalankan perdagangan dan pelayaran di daerah kedua belah pihak; (2) kedua pihak melepaskan tuntutan masing-masing mengenai segala pertikai- an yang timbul sebelum perjanjian ini; (3) semufakat untuk men- cegah dengan sekuat-kuatnya perompakan dan penangkapan ma- nusia untuk dijual dan pembajakan di pantai di daerah masing-masing; (4) Sultan Aceh mengakui bahwa Gubernur Jenderal Hindia Belanda diwakili oleh Gubernur Belanda di Sumatra Barat dalam hal urusan dengan Sultan Aceh, dan (5) segala salah faham yang mungkin timbul akan diselesaikan dengan cara damai.? Kurang dari setahun kemudian, yakni pada 1858, sebuah perjanjian ditandatangani antara pemerintah Belanda dengan Sultan Siak. Isinya yang terpenting, ialah bahwa Siak dan jajahan takluk- nya merupakan bahagian wilayah Hindia Belanda dan berada di bawah kedaulatan kerajaan Belanda. Jajahan takluk Siak ini, antara lain, terdiri dari wilayah-wilayah di pantai Sumatra Timur dari batas Siak ke utara sampai Sungai Tamiang.8 Pada tahun 1865 kerajaan Aceh yang menganggap Tamiang, Langkat, Deli dan Batu Bara di Sumatra Timur sebagai daerah pengaruhnya dan yang mengharuskan raja-raja negeri itu membayar upeti kepada Sultan Aceh, melakukan campur tangan di Deli dan Langkat dan menye- rang Batu Bara. Hal ini dilakukan, karena wilayah-wilayah ini telah mengangkat bendera Belanda.9 Sebaliknya Asahan dan Serdang (di Sumatra Timur) makin lama makin bermusuhan pula dengan Belanda. Karena itu pada 1863 Belanda mengirimkan pasukan-pasukan tentaranya kesana dan berhasil menaklukkan kedua negeri itu. Pada tahun itu juga Belanda mengirimkan pasukan tentaranya ke Pulau Nias untuk menghalangi Aceh melakukan perdagangan budak. Pada mulanya Belanda tidak dapat berbuat apa-apa terhadap Aceh, sebab Traktat London (1824) menyebutkan bahwa Belanda harus menghormati kedaulatan kerajaan Aceh. Namun beberapa puluh tahun kemudian Belanda berhasil membawa Inggeris ke meja perundingan hingga akhirnya tercapailah perjanjian 1871 yang terkenal dengan nama Traktat Sumatra. Di dalam Traktat

baru ini antara lain dinyatakan, bahwa Belanda bebas untuk memperluas kekuasaannya di seluruh Pulau Sumatra sehingga dengan demikian tiada kewajiban lagi bagi Belanda untuk menghor- mati kedaulatan kerajaan Aceh sesuai dengan isi Traktat Lon- don. 10 Kerajaan Aceh sudah jelas merasa terancam karena Traktat Sumatra ini. Sebagai kekuasaan yang berdaulat, Aceh dalam situasi demikian, berusaha mencari bantuan dari negara-negara yang di-

anggap bersahabat dengannya.11 Apalagi Aceh pada tengah kedua

abad XIX ini tidak lagi sekuat beberapa abad sebelumnya. Jika dalam politik luar negeri Aceh pernah tangguh, berperang mengha- dapi Portugis pada abad XVI dan XVII serta merupakan kerajaan pertama dari benua Asia yang dalam tahun 1601 mengirimkan du- maka dalam tahun 1870 Aceh

tanya kepada Republik Belanda,12

tidak lagi merupakan kekuasaan yang kuat.

Dalam bulan September 1871 pihak Belanda menempuh suatu kebijaksanaan baru, yakni politik tidak campur tangan yang di- anut, diganti dengan suatu politik tanpa agresi yang ditujukan untuk melindungi siapa yang perlu dilindungi dan untuk memper- kukuh kedudukan Belanda yang dianggap menjadi haknya di Sumatra.13 Pada 1871 itu juga Belanda mengirimkan kapal Jambi ke perairan Aceh untuk menyelidiki ujung-ujung pantai dengan maksud agar di tempat itu dapat didirikan menara api pantai dan meneliti dangkal dalamnya perairan di pantai. Tujuan yang lainnya ialah untuk mengetahui keadaan politik di daerah ini. Sebuah kapal juga dikirimkan ke selat Malaka untuk memberantas bajak laut dan me- mamerkan kekuatan di beberapa tempat di pantai Aceh Utara. Hal-hal tersebut di atas jelas tidak menyenangkan kerajaan Aceh dan dapat dipahami mengapa utusan Belanda yang berkunjung ke Aceh tidak diterima dengan "manis" oleh para pembesar. Dalam pertemuannya di geladak kapal Jambi pada 27 September 1871, Habib Abdurrachman yang memangku jabatan perdana menteri, menyatakan bahwa bilamana Belanda ingin bersahabat dengan Aceh hendaklah dimulainya dengan mengembalikan wilayah-wilayah yang dahulunya termasuk dalam kerajaan Aceh, yaitu Sibolga, Barus, Singkel, Pulau Nias dan kerajaan-kerajaan di Sumatra Timur

kepada pihak Aceh.15

Pada 1872 raja Trumon di Aceh(Barat dan raja idi di Aceh Timur menyatakan keinginannya untuk mengakui kedaulatan Belan-Selata

betul Aces barat.

da.16 Selain daripada itu pada September 1872 pihak Belanda me-

nahan sebuah kapal Aceh, Gipsy namanya,17yang dituduh mela- kukan perampokan. Ketegangan semakin mencekam antara Belanda dengan Aceh. Akibatnya utusan Belanda, yang pada Mei 1872 datang lagi, gagal untuk menghadap sultan dan pembesar-pembesar Aceh. Pada Oktober 1872 pemerintah Hindia Belanda menyatakan keinginannya kepada Sultan Aceh untuk mengirimkan sebuah ko- misi yang diketuai oleh Residen Riau guna menyelesaikan bebe-

rapa hal yang menyangkut kepentingan kedua belah pihak.8 Pada

Desember 1872 sultan menjawab kepada Residen Riau melalui sebuah perutusan yang diketuai oleh Panglima Tibang Muhammad, agar perutusan Belanda menunda kedatangannya beberapa bulan, sebab kerajaan Aceh sedang menanti hasil kunjungan utusannya yang menghadap Sultan Turki.19 Dalam perjalanan kembali dari Riau pada 25 Januari 1873 utusan Aceh singgah di Singapura dan di kota ini mereka mengadakan hubungan dengan konsulat Amerika dan Italia. Konsul Amerika bersama para utusan Aceh itu mempersiapkan sebuah konsep ker- jasama sederajat antara Amerika dengan Aceh untuk menghadapi

ancaman Belanda.20 Setelah mengetahui kejadian ini Konsul Be-

landa di Singapura mengawatkan kepada Pemerintah Hindia Belanda, bahwa konsul-konsul Amerika dan Italia berusaha agar pemerintah mereka masing-masing menyokong dan membantu

Aceh.21 Akibatnya pada 18 Februari 1873 Pemerintah Belanda di

Nederland memerintahkan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, James Loudon, agar mengirimkan angkatan laut ke Aceh, kalau perlu disertai pasukan yang kuat. Adanya kekuatan lain yang hendak memainkan peranan di Sumatra, mengkhawatirkan pihak Belanda.22 Takut akan kelanjutan hasil perundingan di Singapura antara Aceh dengan Amerika Serikat itu yang dapat merugikannya, Belanda segera mengambil tindakan. Setelah diperoleh berita bahwa sebuah squadron angkatan laut Amerika di bawah Admiral Jenkins akan berangkat pada 1 Maret 1873 dari Hongkong ke Aceh, F.N. Nieuwenhuyzen, Wakil Presiden Dewan Hindia, diangkat sebagai komisaris pemerintah dan ditugaskan berangkat ke Aceh. Ia ditugaskan untuk menuntut penjelasan mengenai keselingkuhan utusan Aceh selama berada di Singapura serta untuk mengusahakan agar Sultan Aceh mengakui kedaulatan Belanda. Jika Sultan Aceh me-

nolak, Nieuwenhuyzen hendaklah mengumumkan perang atas

nama Gubernemen Hindia Belanda.23 Belanda menghendaki agar

Aceh takluk kepadanya sehingga kekuatan-kekuatan ketiga akan

terhambat untuk melakukan intervensi.24

Pihak Aceh melakukan persiapan untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan agresi dari luar. Sejak bulan Agustus 1872 sampai Maret 1873 Aceh memasukkan 5000 peti mesiu dan 1349

peti senapan dari Pulau Pinang.25 Malangnya, pada 31 Maret 1873,

pemerintah Kolonial Inggris di Singapura mengeluarkan proklama- si yang berisi larangan mengekspor senjata dan mesiu dari tempat

dan pelabuhan mana pun di lingkungan koloni Inggris ke Aceh.26

Dana-dana mulai dihimpun untuk menghadapi kemungkinan pe- cahnya peperangan. Pada 10 Maret 1873 sekalian anak cucu ke- luarga Sultan Alaudin Jamalul Alam Badrul Munir Al-Jamalullail 27 menyumbangkan 12 kilogram emas untuk belanja peperangan. Pada 7 Maret 1873 dengan kapal perang, Citadel van Antwerpen dan diiringi oleh kapal Siak Nieuwenhuyzen berangkat dari Betawi melalui Singapura dan Pulau Pinang dan pada 19 Maret bertolak dari Pulau Pinang dengan tambahan dua buah kapal perang lagi, Marnix dan Coehoorn, menuju Aceh. Ia sampai di perairan kerajaan ini pada 22 Maret 1873 dan pada hari itu juga ia menyampaikan kehendak Pemerintah Hindia Belanda kepada Sultan Aceh agar memberikan penjelasan tertulis kepada pihak Belanda mengenai perbuatan utusan Pemerintah Aceh yang mengadakan hubungan dengan wakil negeri asing di Singapura untuk meminta bantuan melawan Belanda. Hal ini dianggap oleh pihak Belanda sebagai pe- langgaran terhadap bunyi perjanjian perdamaian, persahabatan dan perniagaan 1857, antara kerajaan Aceh dengan Belanda.27 Oleh karena jawaban-jawaban sultan tidak memuaskan pihak Belanda, Nieuwenhuyzen memberi ultimatum akan mengambil tindakan yang tepat dan meminta agar kerajaan Aceh mengakui saja kedau- latan Belanda. Jawaban Sultan Aceh tidak berisi pengakuan yang dikehendaki oleh Belanda, oleh karena itu Nieuwenhuyzen menyampaikan pernyataan atau manifesto perang, bartanggal 26 Ma-

ret 1873, kepada kerajaan Aceh.28

Pada 5 April Belanda siap di perairan Aceh dengan enam buah kapal uap, dua buah kapal angkatan laut, lima buah kapal barkas, delapan buah kapal peronda, sebuah kapal komando, enam buah kapal pengangkut dan lima buah kapal layar. Pada 8 April pasuk- annya mendarat di pantai Kuta Pantai Ceureumen, sebelah timur

Ulee Lheue, dengan kekuatan 168 orang perwira dengan 3.198 ba- wahan, di bawah pimpinan Mayor Jenderal J.H.R. Kohler.30 Perang yang terlama dalam sejarah Nusantara mulai membuka riwa- yatnya. Masa Bertahan, 1873-1875 Setelah beberapa hari peperangan berlangsung, Belanda dapat menguasai Masjid Raya di Kutaraja, tetapi kemudian karena tekanan-tekanan pasukan Aceh terpaksa mereka tinggalkan.30 Dalam pertempuran-pertempuran ini pasukan-pasukan Aceh senantia- sa mengumandangkan kalimah lā ilāha illā'llāh, tiada Tuhan se- lain Allah.³1 Pasukan-pasukan Aceh ada yang bertempur dalam kumpulan kecil yang terpisah-pisah dan ada juga yang bergabung dalam pasukan-pasukan besar yang dipimpin oleh para uleebalang. Salah seorang pemimpin pasukan Aceh adalah T. Imum Lueng

Bata.32 Pada 14 April 1873 Belanda berusaha menguasai kembali

masjid ini. Panglima balatentera Belanda, Jenderal Kohler, tewas

terkena peluru pihak Aceh.33 Belanda tidak dapat menguasai da-

lam atau kraton. Mereka dipukul mundur dengan menderita keka- lahan berat, 45 orang mati, termasuk delapan orang opsirnya, serta 405 orang luka-luka, di antaranya 23 orang opsir.35 Tiga hari setelah Kohler gugur, Belanda mengundurkan diri ke pantai dan setelah memperoleh izin dari Pemerintah Hindia Belanda pada 23 April, mereka lalu membongkar sauh meninggalkan pantai Aceh pada 29 April 1873. Agresi yang pertama gagal. Pemerintah Hindia Belanda ingin segera mengirimkan angkatan laut dan daratnya dalam penyerangan kedua guna menebus keka- lahannya. Selama mengadakan persiapan untuk keperluan ini Belanda mengadakan blokade terhadap pantai Aceh dengan menggu- nakan angkatan lautnya untuk menghalangi kerajaan Aceh berhu- bungan dengan negara luar. Menghadapi situasi seperti ini Aceh pun tidak tinggal diam. Di Penang sebuah dewan terdiri dari delapan orang untuk mewakili kepentingan-kepentingan Aceh ke luar dibentuk. Dewan ini mengusahakan perbekalan perang dengan mencari daya upaya menembus blokade Belanda serta berusaha mengadakan hubungan agar di tempat-tempat lain di Nusantara

timbul juga pemberontakan melawan Belanda.36 Anggota-anggota

Dewan ini terdiri dari empat orang bangsawan, yaitu Tungku- tungku (baca Teuku) Ibrahim, Nyak Rayek, Haji Panglima Perang Yusuf, Nyak Abu, kemudian dua orang Arab kelahiran Penang,

Syaikh Ahmad dan Syaikh Kasim, serta dua orang Keling kelahiran Penang, Umar dan Ollah Meidin.37 Tetapi sementara itu pemerin- tah Hindia Belanda mulai mempersiapkan agresi kedua. Hal ini terjadi di bulan November tahun itu juga. Belanda mem- berangkatkan dari Jawa angkatan laut dan daratnya yang berke- kuatan dua kali lipat daripada waktu agresi yang pertama. Angkatan ini terdiri dari 18 buah kapal perang uap, tujuh buah kapal uap angkatan laut, 12 buah barkas, dua buah kapal peronda yang di- persenjatai, 22 buah kapal pengangkut dengan alat-alat pendarat yang terdiri dari enam buah barkas uap, dua buah rakit besi, dua buah rakit kayu, ± 80 buah sekoci, beberapa buah sekoci angkatan

laut dan sejumlah besar tongkang-tongkang. Kali ini angkatan

perangnya dipimpin oleh Letnan Jenderal J.van Swieten, pensiun- an panglima pasukan Hindia Belanda, yang terpaksa diaktifkan kembali. Ia berangkat dari Den Haag pada 16 Juli 1873 dan sampai di Betawi pada 24 Agustus 1873, khusus untuk memimpin pepe- rangan ini.38 Ia dibantu oleh Mayor Jenderal G.M. Verspijck. Dengan mendaratkan pasukannya di kampung Leu'u, dekat Kuala Gi- gieng, Aceh Besar, pada 9 Desember 1873, dimulailah oleh Belanda agresi kedua terhadap kerajaan Aceh. Kesetiaan raja-raja dan rakyat kepada Sultan tetap besar. Pasukan-pasukan Aceh dipimpin oleh Tuanku Hasyim, salah seorang anggota kelaurga sultan yang ketika agresi Belanda pertama ber- langsung, masih berada di Sumatra Timur. Ia dibantu oleh T. Imum Lueng Bata dan T. Nanta Setia. Setelah delapan hari mempertahankan pantai mereka kemudian terpaksa mengundurkan di- ri. Tuanku Hasyim mengatur pertahanan masjid raya, memper- kukuh kubu pertahanan di Peukan Aceh dan Lambhuek serta me-

nyusun pertahanan dalam.40

Menurut laporan spion Belanda, setelah masjid dapat diduduki Belanda pada 6 Januari 1874, masih terdapat lagi 3.000 orang Aceh yang berasal dari Mukim XXII untuk mempertahankan garis perang yang dibuat oleh Panglima Polem dengan mengambil kedudukan di Lampu'uk.41 Dalam dijaga oleh lebih kurang 900 orang bersenjata.42 Raja Pidie datang ke Aceh Besar bersama kira-kira 500 orang rakyatnya dan membuat kubu pertahanan di Lueng Ba-Pada pertengahan Januari 1874 telah datang pula kurang le- ta.42 bih 1000 orang rakyat Peusangan dengan mengambil kedudukan di Kuala Cangkul.43 T. Imum Muda, raja Teunom, juga turut mengambil bagian dalam menghadapi Belanda. Ia mengerahkan se-

kitar 800 orang rakyatnya ke Kutaraja, dengan sejumlah besar obat bedil.44 Ketika dalam terus-menerus dihujani peluru Belanda penyakit kolera sedang berjangkit pula. Banyak juga korban jatuh karena penyakit ini. Sultan Mahmud Syah dan Panglima Polem meng- undurkan diri ke Lueng Bata pada 13 Januari 1874. Dalam masih terus dipertahankan, sedangkan di Lueng Bata terdapat pertahanan dengan kekuatan 1000 orang. Dua orang kerabat Sultan memper- tahankan diri di Keutapang. Dua dengan dibantu oleh kurang lebih 500 orang rakyat dari Negeri Meureudu.46 Hanya saja dalam pertempuran-pertempuran ini tidak terdapat koordinasi dan kerja sa- ma yang baik di antara pasukan-pasukan Aceh.47 Akhirnya dalam dapat direbut Belanda. Namun pihak Aceh berpendapat bahwa ja- tuhnya dalam disebabkan oleh pengkhianatan penduduk Meuraksa

di tepi pantai, dan datangnya bala penyakit kolera.48

Setelah dalam dapat direbut oleh Belanda pada 24 Januari 1874, Belanda menghentikan dahulu agresinya dengan harapan dapat tercapai persetujuan semacam Traktat Siak dengan Sultan

Aceh.49 Pada 29 Januari Sultan Mahmud Syah mangkat di Pagar

Ayer karena penyakit kolera dan dimakamkan di Cot Bada. Namun pemimpin-pemimpin Aceh tetap meneruskan perlawanan ter- hadap Belanda. Meskipun yang dikuasai Belanda barulah dalam, pada 31 Januari 1874, van Swieten memproklamirkan, bahwa kerajaan Aceh sudah ditaklukkan dan pemerintah Hindia Belanda telah menggantikan kedudukan Sultan dan menempatkan daerah Aceh Besar menjadi

milik pemerintah Hindia Belanda.50 Belanda mengusahakan agar

daerah-daerah di luar Aceh Besar mengakui kedaulatannya. Jika hal ini tidak dapat dengan jalan damai, maka akan ditempuh jalan Van Swieten kembali ke Betawi pada 16 April 1874 kekerasan.51 dengan meninggalkan korban 28 opsir dan 1.024 bawahan tewas

serta 52 opsir dan 1.181 bawahan diungsikan.52

Belanda menyangka bahwa dengan menduduki dalam dan seba- gian kecil daerah Aceh Besar serta dengan secarik kertas proklama- si sudah cukup untuk membuat negeri Aceh yang selebihnya ber- tekuk lutut. Yang terjadi ialah perlawanan Aceh bertambah me- ningkat.53 Raja Teunom kembali ketempatnya di Aceh Barat, karena banyak rakyatnya yang mati syahid dan mendapat luka-luka. Raja Pantai raja dari Pidie kembali ke daerahnya bersama kurang lebih

500 orang rakyatnya meninggalkan pertempuran di Aceh Besar.54

Tetapi pejuang-pejuang Aceh sama sekali tidak merasa kalah, bah- kan kebencian pada Belanda, yang "kafir", bertambah menggelo- ra. Pada tanggal 18 April 1874 Bangta Muda Tuanku Hasyim bin Tuanku Kadir, Panglima Polem Sri Muda Perkasa, Sri Imam Muda Teuku Panglima Duapuluh Enam, Sri Setia Ulama, menulis surat kepada raja Geudong di Pasai. Mereka mengatakan bahwa ulama-ulama, haji-haji dan sekalian muslinin di Aceh Besar telah semufa- kat untuk melawan Belanda dengan sekuat tenaga. Antara lain di- tegaskan, ".. Insya Allah Ta'ala tiadalah ubah kepada Allah dan Rasul melawan dengan sekuat-kuat melawan siang dan malam, Hatta tinggal negeri Aceh sebesar-besar nyira pun melawan ju-Panglima Polem juga menyerukan kepada uleebalang-ulee- ga."55 balang dan anak negerinya di Sagi Mukim XXII untuk mengerah- kan segala daya dan tenaga selama masih ada iman pada Allah dan

pada Nabi Muhammad guna memerangi Belanda.

Setelah melihat bahwa dalam akan terus diduduki Belanda, T. Imum Lueng Bata dan T. Chik Lamnga berusaha menaklukkan Meuraksa. Dengan pasukan yang memakai pakaian serba putih mereka membakar kurang lebih 250 buah rumah di Meuraksa. Tetapi mereka dapat dipukul mundur oleh Belanda.57 Kekalahan ini tidak menyebabkan mereka berputus asa. Dalam bulan Juni dan Agustus 1874 mereka mendirikan benteng-benteng di sekitar kawasan yang diduduki Belanda. Dengan bantuan tiga atau empat ribu orang yang datang dari Meureudu dan Peusangan (di Kabupaten Aceh Utara sekarang) mereka kembali mencoba menaklukkan Meruaksa. Tetapi keberanian dan kegigihan tidaklah memadai. Kurangnya perbekalan dan peralatan serta tidak adanya kerja sama dalam me- lakukan serangan-serangan menyebabkan usaha pihak Aceh tidak berhasil.58 Sementara itu struktur kasultanan Aceh tradisional juga tidaklah membaur, apalagi setelah wafatnya sultan dan jatuhnya dalam. Simbol dari pusat kekuasaan telah hilang. Hal ini menyebabkan antara lain terdapatnya keragaman sikap dan perbuatan dari negeri-negeri, yang dipimpin uleebalang, dalam menghadapi krisis yang ditimbulkan agresi. Maka di samping negeri-negeri yang turut melawan Belanda terdapat juga yang mengangkat bendera Belanda de ngan maksud supaya dapat menjalankan ekspor-impor tanpa gang- guan. Namun ada pula di antara negeri-negeri yang belakangan ini menggunakan setiap kesempatan untuk membantu perbekalan pi-

hak muslimin secara diam-diam.59 Dalam pada itu Pemerintah Hindia Belanda menyetujui usul J.L.

J.H. Pel, yang menggantikan van Swieten, untuk menduduki daerah Krueng Raba di pantai utara Sagi Mukim XXV guna mendiri- kan sebuah garis pos melalui Aceh Besar dengan harapan dapat me- mutuskan hubungan Aceh dengan Laut. Dengan demikian diharap- kan arti politik Aceh terhadap dunia luar akan lenyap, sedangkan dalam bidang perniagaan akan tergantung kepada Belanda. Jende- ral Pel berusaha untuk mendapatkan lokasi yang baik sebagai tempat transito bagi perdagangan antara Sumatra Utara dengan Seme- nanjung Tanah Melayu, dan sebagai tempat penimbunan hasil bumi dan barang-barang keperluan daerah sekitarnya60 dalam ja- lur dagang dengan Eropa. Setelah menerima bantuan dari Jawa, maka dalam bulan Desem- ber 1875 sampai dengan Januari 1876 Belanda melancarkan se- rangan terhadap Aceh. Barisan muslimin tidak dapat memperta- hankan Sagi Mukim XXII dan daratan sebelah timur Sungai Aceh tetapi mereka menimbulkan kerugian besar pada pihak Belanda.61

Blokade Belanda tidak seluruhnya dapat mencapai sasaran.2

Dalam periode ini tidak diperoleh data mengenai kerugian yang diderita oleh pihak Aceh. Dalam tahun-tahun 1873 dan 1874 Belanda mengeluarkan biaya peperangan sebesar 16,5 juta florin le- bih sedikit. Dalam 1875 melebihi kedua-dua tahun tersebut di atas, yakni 21 juta florin, sedangkan dalam 1876 terkuras 26,5 juta florin.63 Masa Perang Rakyat, 1876-1896 Antara tahun-tahun 1874-1876 ada 31 ulēebalang yang menan- datangani perjanjian dengan Belanda. Isi perjanjian yang berjumlah enam pasal itu berbunyi: (1) mengakui raja Belanda, sebagai yang dipertuan yang sah dan sebagai tandanya, tidak akan mengangkat bendera lain, baik di darat maupun di laut, selain dari bendera Belanda; (2) memerintah dengan adil, menjaga ketertiban dan kea- manan dalam negeri-negerinya bersama tetangga-tetangganya, me- majukan kemakmuran rakyat dan melindungi perdagangan, kera- jinan tangan, pertanian dan pelayaran; (3) dengan segala kekuatan menentang perdagangan budak dan mengawasi perampokan dan penculikan manusia; (4) memberi bantuan kepada orang-orang yang mengalami kerusakan kapal dan menyimpan barang-barang yang sampai ke pantai, dan tidak akan membiarkan, jika rakyat

tidak mentaatinya; (5) tidak akan memberi tempat persembunyi- an kepada kawula pemerintah Hindia Belanda yang bersalah melakukan pelanggaran; (6) tidak akan mengadakan hubungan ketata-

negaraan dengan negara-negara asing.2 Di antara uleebalang-ulee-

balang itu menurut Belanda, ada yang cuma pura-pura menyerah dan di antara mereka ada yang terus membantu sultan dan barisan muslimin.65 Meskipun ada perjanjian takluk ini barisan-barisan Aceh terus giat melakukan serangan-serangan terhadap Belanda. Kadangkala pihak Aceh dapat menembusi garis pertahanan Belanda, sedangkan Belanda tidak mampu menjaga keamanan di belakang garis perta-Oleh karena itu G.B.T. Wiggers van Kerchem yang hannya.66 menggantikan Jenderal Pel pada 10 Maret 1876, memperbaiki dan

memperluas garis pertahanan yang telah ada.67

Sementara itu Habib Abdurrachman az-Zahir, yang telah me- ninggalkan Aceh pada tahun 1873, mendarat di pantai Idi, pada bulan Maret 1876. Perjalanan diplomatiknya ke Konstantinopel untuk mencari bantuan, tak begitu berhasil.68 tetapi kembalinya menambah kegairahan baru di kalangan pejuang Aceh. Habib berhasil mengumpulkan dana beribu-ribu ringgit pemberi- an sebagian uleebalang di pantai utara dan timur. Ia berhasil pula mengumpulkan beribu-ribu rakyat dalam pasukannya.69 Ia menda- pat pula bantuan dari T. Bentara Keumangan, raja Gigieng (Pidie). Dengan bantuan pasukan-pasukan yang datang dari Samalanga, pasukan-pasukannya menyerang pos-pos Belanda di sebelah tenggara garis pertahanan Belanda, pada akhir 1876. Sampai awal 1877 sudah 60 juta florin terkuras dari perbenda- haraan Belanda untuk perang ini.70 Belanda menempuh jalan lain untuk dapat menyelesaikan peperangan. Gubernur Jenderal Hindia Belanda, J.W. van Lansberge, menuju Aceh dalam bulan Maret 1877 untuk mengetahui dengan mata kepala sendiri jalannya kea- daan di Aceh.71 Ia berpendapat bahwa sikap menunggu yakni tidak perlu lagi perluasan daerah seperti yang diambil tiga tahun yang lalu layak dilaksanakan di Aceh Besar. Pihak Aceh mempergunakan terus kesempatan untuk menerus- kan perlawanan. Perbekalan dan alat-alat perang pejuang-pejuang Aceh dari Pidie melalui jalan pantai ke Mukim XXII, Aceh Besar. Sebab itulah pada awal Maret 1877 Belanda menyelesaikan garis pos pertahannya untuk membendung jalan perbekalan pihak Aceh. Terpaksalah orang-orang Aceh mengangkut perbekalan mereka me-

lalui jalan-jalan gunung yang sukar.?3 Negeri-negeri pantai di luar Aceh Besar, seperti Samalanga dan Meureudu di pantai utara, Meulaboh, Lhong dan lain-lain di Aceh Barat serta Langsa dan Manyakpahit di Aceh Timur terus bersikap melawan Belanda. Untuk menghadapi negeri-negeri ini Belanda mengirimkan kekuatan militernya dalam bulan-bulan Agustus sampai dengan Oktober 1877. Dalam pertempuran di Batee Iliek, Samalanga, bulan Agustus 1877 komandan pasukan Belanda, kolonel van der Heijden terkena peluru di mata kiri.74 Hasil operasi ini sangat tidak memuaskan pihak Belanda. Apalagi karena Habib Abdurrachman bersama pasukannya pada akhir 1877 dan awal tahun berikutnya bertambah giat dan dapat menembus garis pertahanan Belanda, bahkan masuk sampai di Pantai Perak dalam kota Kuta- raja.75 Van der Heijden yang pada Januari 1878 diangkat menjadi gu- bernur sipil dan militer menggantikan Jenderal Diemont berusaha menaklukkan seluruh lembah sungai Aceh di Aceh Besar. Sebagai pengganti pos-pos yang disusun pel, van der Heijden membuat su- sunan pos-pos untuk menduduki tempat-tempat yang strategis serta untuk melindungi penduduk yang tidak bermusuhan dengan Belanda.76 Dalam bulan Maret 1878 Habib Abdurrachman menyerang Lam Krak. Dua bulan kemudian diadakan musyawarah di antara pemimpin-pemimpin Aceh bertempat di Cot Bada untuk membuat rencana menyerang pertahanan Belanda.77 Pada pertengahan Juni 1878 Habib Abdurrachaman bersama lebih kurang 2000 orang me- nyusup melalui jalan gunung dan menduduki Leupueng serta lembah Gle Tarōn dan bersama T. Nanta menguasai Lhōng dan menyerang pos-pos Belanda di Krueng Raba, Bukit Sebōn dan Peukan Bada. Tetapi ia dan pasukannya dipukul mundur. Ia kemudian mengadakan hubungan dengan Tgk. di Tiro, yang menyerang Belanda di Sigli, sedangkan ia sendiri mengambil posisi di Montasik untuk mempersiapkan penyerangan baru ke Mukim IV, Aceh Besar.78 Sementara itu untuk menunjukkan kepada dunia luar, bahwa kerajaan Aceh masih mempunyai pemerintahan, maka sesuai dengan hukum adat, pembesar-pembesar Aceh menobatkan Tuanku Muhammad Daud Syah sebagai Sultan bertempat di masjid Indra- puri pada 1878.79 Selama Tuanku itu masih belum dewasa pemerintahan dijalankan oleh Tuanku Hasyim, seorang yang sangat taat

kepada agama, sebagai mangkubumi.80 Tekanan pejuang Aceh yang terus terjadi menyebabkan Belanda mengirimkan pasukannya ke bagian selatan Aceh Besar dan Aceh Barat (Februari-Maret 1878). Serangan yang terus-menerus dari Tgk. di Tiro ke Gigieng Pidie, memaksa Belanda pada bulan April dan Mei tahun itu juga mengirimkan pasukan tambahan di bawah mayor W.W. Goblijn.81 Laskar Aceh di sekitar Geudong (Aceh Utara) dan Idi (Aceh Ti- mur) tidak ketinggalan pula memberi tekanan-tekanan kepada pasukan-pasukan Belanda, sehingga Belanda mengerahkan pula pasukan-pasukannya ke tempat-tempat tersebut di bawah pimpinan langsung van der Heijden. Begitu van der Heijden bersama pasukannya berangkat ke Geudong, Habib Abdurrachman bersama kurang lebih 2.000 orang pengikutnya, yang datang dari Mukim XXII, menyerang Mukim VI, Aceh Besar.82 Pada 16 Juli 1878 pasukannya di bawah pimpinan Nyak Abu memasuki mukim itu, te- tapi serangan ini dapat dihalau oleh Belanda.83 Peristiwa ini menyebabkan Belanda mengadakan kembali agresi-

nya di Aceh Besar.84 Van der Heijden membersihkan daerah-dae-

rah yang telah dikuasai olah Habib Abdurrachman dan Tgk. di Tiro. Operasi van der Heijden ini dimulai pada 23 Juli 1878. Pada 25 Juli 1878 ditaklukannya Seuneulob dengan korban di pihak Belanda, enam mati dan 42 luka-luka.85 Kekalahan di bentengnya yang terkuat ini Seuneulōb, menyebabkan Habib yakin bahwa perang me- 1870 lawan Belanda tak akan dapat dimenangkan. Hal ini menyebabkan ia mengadakan hubungan dengan Belanda.86 Pada 13 Oktober Habib Abdurrachan menyerah dan ia pun berangkat ke Jedah pada 23 November tahun itu juga dengan mendapatkan tunjangan

12.000 ringgit, setahun. Beberapa bulan kemudian, yakni pada 9 Maret 1879, di samping beberapa pemimpin adat lainnya, menyerah pula T. Muda Baid, yang setelah dikukuhkan oleh Belanda sebagai uleebalang Mukim VII Sagi XXII, karena membantu pejuang Aceh, dibuang oleh Belanda ke Pulau Banda pada 1 Juli 1879.87 Di samping itu menyerah pula bekas syahbandar Panglima Tibang dan Tgk. di Gle Jal, Kadi Panglima Polem.88 Yang tidak menyerah ada yang meninggalkan Aceh Besar. Tuanku Hasyim dan Tuanku Muhammad Daud menuju ke Keumala, daerah Pidie, pada akhir 1879. Panglima Polem, kepala Sagi XXII terus melanjutkan peperangan. Imum lueng Bata bersama Raja Kuala, putra tertua Panglima Polem, mempertahankan masjid In-

drapuri dengan mengambil tempat di Jreue. Mukim XXVI diperta- hankan oleh T. Paya, Imum Lueng Bata, T. Muda Reyeuk dan T.

Imum Lam Reng.9 Dari tempat ini mereka berusaha untuk me-

nyerang pasukan-pasukan Belanda. Untuk mengambil hati rakyat Aceh masjid raya yang telah rusak akibat peperangan dibangun kembali oleh pihak Belanda. Pele- takan batu pertama dilakukan oleh Tgk. Kali Malikul Adil pada 9 Oktober 1879 dengan disaksikan antara lain oleh Jenderal van der Heijden, diiringi tembakan meriam 13 kali. Masjid ini diserahkan pada 27 Desember 1881 dan Tgk. Syaikh Marhaban, seorang ula-

ma yang sangat berpengaruh, diserahi mengurus masjid ini.90

Dalam Mei, Juni dan Juli 1879 Belanda mengirim angkatan laut- nya untuk menghantam kubu-kubu pihak Aceh di Kuala Jangka dan Peukan Baro di Pidie, Ladong dan Krueng Raya di Aceh Besar

serta Peusangan di Aceh Utara.91

Tekanan yang keras yang dilancarkan Belanda disertai patroli-patroli yang terus-menerus, menyebabkan mulainya keadaan yang agak tertib dan aman di Aceh Besar. Penduduk mulai kembali ke kampung-kampung. Hal ini menimbulkan optimisme yang besar

untuk memperkenalkan pemerintahan sipil.92

Sampai awal 1880 kerugian yang diderita Belanda lebih 115 juta florin. Biaya yang sedemikian besar dikeluarkan dalam tujuh tahun hanya untuk menguasai atau menduduki daerah sebesar 74 km, persegi lebih sedikit memang merupakan hal yang istimewa dalam

sejarah kolonial Belanda.93

Pada 1880 Kutaraja kelihatannya aman. Tetapi patroli terus di- adakan dan komandan-komandan pos ditugaskan untuk memerik- sa orang-orang Aceh. Mereka yang membawa senjata tajam tanpa

surat izin, harus ditangkap.94 Namun untuk mengambil hati rakyat

diusahakan agar pegawai Belanda yang mengunjungi berbagai tem-

pat membawa sekedar obat-obatan seperti kinine dan lain-lain.95

Di luar Aceh Besar Belanda belum sanggup menguasai keadaan. Negeri-negeri di tepi pantai ini selalu membantu pasukan-pasukan muslimin, baik dengan tenaga, perlengkapan perang maupun bahan makanan. Oleh karena itulah van der Heijden merasa perlu meng- adakan kontrole yang keras untuk daerah-daerah tepi pantai ini. Ia menutup pelabuhan di pantai Aceh, kecuali ulee Lheue dan Idi. Hanya kedua tempat itulah yang terbuka untuk ekspor-ekspor, te-

tapi itu pun dengan memakai surat izin.96

Serangan Aceh terhadap patroli Belanda pada Juni 1880 di Sa-

malanga dibalas oleh Belanda dengan mengirimkan lagi pasukan militernya ke sana. Dalam bulan itu juga terjadi kontak senjata an- tara Belanda melawan kira-kira dua atau tiga ratus orang muslimin. Belanda mempergunakan kapal api Sambas yang memuntahkan pe- luru dari laut untuk membantu pasukan-pasukannya. Pasukan Aceh dipimpin oleh Nyak Mandarsyah Batee Iliek, Haji Syekh Mesjid Baro, Habib Berahim Alue Keutapang, Haji Cut Jalunga dan Haji Bineh Blang.97 Pada tahun itu juga Belanda mempersiapkan dua buah kapal apinya, Pontianak dan Padang untuk sewaktu-wak- tu dikirimkan ke Sigli sebagai reaksi atas berita yang mengatakan bahwa kurang lebih 1.000 orang pasukan Aceh, termasuk di da- lamnya Tgk. di Tiro bersama anak buahnya, berkumpul di Garut untuk menyerang benteng Belanda di Sigli.98 Belanda mengakui bahwa pihak muslimin bertambah sadar akan kekuatannya dan keadaan ini diperkuat oleh ramalan-ramalan dari pihak ulama bahwa99 dalam 1881 pendudukan kafir akan lenyap. Setelah pemerintahan militer yang keras di bawah Jenderal van

der Heijden digantikan oleh pemerintahan sipil pada April 1881,100

pejuang-pejuang Aceh mendapat kesempatan bergabung lagi untuk melakukan penyerangan-penyerangan kembali di bawah T. Nyak Hasan, T. Umar, Panglima Nyak Bintang, Pang Saman, Pang Ja- rang, T. Cut, T. Husin, T. Ali Pagar Ayer, Sayyid Ali, dan lain-

lain.0l Tambahan lagi dengan dipindahkannya van der Heijden,

pasukan-pasukan Aceh mulai dapat bernapas lagi dan peristiwa itu dianggap oleh pihak Aceh sebagai "pembuangan jenderal mata sa- 102 tu". Kegiatan patroli militer, yang oleh van der Heijden dianjurkan terus-menerus, dihentikan oleh Pruys van der Hoeven. Sebagai gan- tinya dibentuk polisi bersenjata yang berjumlah beberapa ratus orang untuk menjaga keamanan. Menghadapi keadaan demikian para gerilyawan Aceh mendapat peluang untuk menyusup dan me- nembusi garis pertahanan Belanda. Akibatnya timbul keadaan pa- nik di kalanga tentara Belanda. Gubernur Jenderal van Lansberge pada 1881 mengakui bahwa peperangan melawan Aceh menyebab- 104

kan tentara Hindia Belanda mengalami desorganisasi total.103

Pada 1881 kira-kira 3000 orang menyerang Lhokseumawe. Mulai awal 1882 pasukan-pasukan Aceh di bawah pimpinan para ulama memasuki Aceh Besar untuk menyerang benteng Belanda dan menembaki transpor militernya. Pruys van der Hoeven belum berhasil menjalankan pemerintah-

an kolonialnya dengan langsung ke daerah-daerah di luar Aceh Be- sar. Melalui pantai Aceh Utara para pejuang Aceh masih saja dapat memasukkan apa yang mereka perlukan. Oleh karena itu, atas nasi- hat G.A. Scherer, pada Agustus 1881 diambillah tindakan untuk menutup seluruh pantai Ulee Lheue sampai ujung Jambu Aye, di perbatasan Aceh Utara dengan Aceh Timur, untuk impor-ekspor dan penangkapan ikan. Pelabuhan-pelabuhan Ulee Lheue, Sigli, Sa- malanga dan Lhok Seumawe dibuka untuk perdagangan serta ar- mada Belanda yang dianggap lemah diperkuat dengan tambahan

dua buah kapal.106

Dengan menggunakan berbagai cara dapatlah beberapa di antara uleebalang ditundukkan Belanda. Pruys van der Hoeven sangat op- timis. Dalam pidato penyerahan pemerintahannya pada 16 Maret 1883 kepada P.F. Laging Tobias yang menggantikannya ia mengata- kan, bahwa meskipun di sana-sini masih terdapat permusuhan ter-

hadap Belanda, namun perlawanan secara umum tidak ada lagi.107

Meskipun di tahun ini Aceh kehilangan seorang panglimanya, T. Nyak Hasan -- suatu peristiwa yang dianggap Jenderal Deijkerhoff perlawan-

mengenai hal yang sangat menguntungkan Belanda 108

an makin menjadi-jadi. Kehilangan panglima yang berani dan ahli perang gerilya ini bahkan makin menggiatkan Belanda. Lebih-lebih lagi ketika ulama Tgk. Chik di Tiro Syaikh Saman, bersama pemimpin-pemimpin agama lainnya, memperbesar usaha pengumpul- an dana yang disebut hak sabil dan berhasil mempersatukan baris-

an-barisan rakyat untuk menyerang Belanda.109 Tgk. Chik di Tiro

mengumpulkan murid-murid dayah yang digalakkan oleh guru- guru mereka untuk mati syahid serta pemuda-pemuda kampung yang didorong oleh keluarga mereka untuk berkorban melawan ka- fir. Belanda menaksir Tgk. di Tiro mengumpulkan 6.000 orang dalam barisannya.110 Pihak Aceh melakukan taktik gerilya terus-me- nerus. Bila dapat diusir di suatu daerah, mereka menghilang dan muncul di tempat lain untuk menyerang pertahanan Belanda. Karena itulah Tobias tak dapat mengikuti penilaian pejabat yang digantikannya. Korban pertama dalam penilaian ini ialah korps polisi. Bukan saja korps ini tidak lagi mendapat tempat yang layak, semua orang Aceh dalam korps ini pun diberhentikan pula.11 Pada 1 Juni 1883 Laging Tobias melaksanakan peraturan pela- yanan untuk seluruh Aceh, sebagai berikut: (1) pembukaan beberapa tempat yang layak untuk perdagangan umum, yaitu Lhok

Seumawe, Idi, Samalanga, Ulee Lheue, Meulaboh dan Tapak Tuan,

(2) segala impor-ekspor harus melalui tempat-tempat di atas dan di bawah pengawasan yang keras, (3) bea masuk dan keluar dibagi menurut adat, tetapi yang sedianya untuk sultan dimasukkan da- lam kas Hindia Belanda dan yang selebihnya buat raja-raja yang
112 bersangkutan. Di zaman laging Tobias ini terjadilah cara yang dinamakan Be-

landa "Nisero-quaestie" 113 Pada bulan November 1883 sebuah ka-

pal Inggris, Nisero, tersangkut di pantai Aceh Barat, di negeri Teunom. Raja Teunom, T. Imam Muda, menyita isi kapal dan me- nangkap awak kapalnya. Belanda menuntut dibebaskannya awak kapal itu, tetapi Raja Teunom meminta uang tebusan yang tinggi, yang enggan dibayar oleh Belanda. Kemudian, kapal perang Inggris, Pegasus, muncul di perairan Aceh dengan tugas dari Pemerintah Inggris menuju Teunom untuk langsung mengadakan hubungan dengan Raja Teunom guna membebaskan para sandera itu. Gubernur Belanda terpaksa membiarkan tindakan Inggris itu. Tetapi usaha ini tidak berhasil. Maka pada 4 Januari 1884 Belanda mengi- rimkan sepasukan tentara ke Teunom, tatapi usaha untuk membebaskan sandera-sandera itu gagal. Sebab mereka telah dibawa masuk lebih jauh ke pedalaman. Kedatangan W.E. George Maxwell, anggota Dewan Jajahan Inggris dari Singapura, juga mengalami ke- gagalan. Tuntutan uang tebusan dari Raja Teunom terlalu ting-Setelah itu Gubernur Laging Tobias meminta pertolongan kepada T. Umar, yang sementara itu sudah berbaik-baik dengan Belanda, untuk mengusahakan agar para tawanan tersebut dapat dibebaskan. Pada 3 Juli 1884 Umar dengan 32 orang anak buah- nya dikirim ke Teunom melalui jalan laut. Sebelum sampai ke tempat tujuan, ia menewaskan pendayung-pendayung sampan dan menguasai senjata-senjata dan amunisi Belanda serta melarikan diri. 15 Ketidakberdayaan Belanda mengatasi persoalan ini menyebab- kan pemerintah Inggris ingin campur tangan lebih jauh. Bahkan ju-

ga menginginkan supaya keadaan perang di Aceh Berakhir.116 Hal

ini ditolak oleh Belanda. Belanda setuju mengadakan hubungan dengan Raja Teunom bersama-sama. Untuk itu ditugaskan Laging Tobias dan Maxwell. Akhirnya Raja Teunom setuju untuk menu- kar para tawanan dengan tebusan 100.000 ringgit dan pencabutan

blokade terhadap pelabuhan Teunom oleh pihak Belanda.117

Insiden ini memperlihatkan betapa terbatasnya kemampuan Be-

landa untuk memperlihatkan kekerasannya, bahkan juga dalam hal yang mempunyai arti internasional yang peka. Sementara itu perang gerilya terus berjalan. Pasukan-pasukan Aceh menyerang dari belakang garis pertahanan dengan menimbul- kan kerugian-kerugian. Sebagai contoh dapat dikemukakan bahwa sejak 1 Maret 1883 sampai akhir September 1883 ada 119.840 me- ter kawat telepon yang telah diambil oleh pasukan Aceh, 101 tiang telepon dan 277 isolator yang dilarikan atau dihancurkan oleh me- reka.118 Pada akhir 1883 Tuanku Muhammad Daud Syah dianggap su- dah dewasa untuk menjalankan tugasnya sebagai Sultan.119 Sultan yang masih muda itu diakui oleh setiap orangAceh 120 Baginda dibantu oleh Tuanku Hasyim sebagai raja muda dan Tgk. di Tiro,

yang turut menghadiri peristiwa itu, sebagai kadi.121

Di samping itu diangkat pula T. Umar sebagai amirulbahri atau panglima laut untuk wilayah Aceh Barat dan Tuanku Mahmud Bangta Kecil, adik Tuanku Hasyim Bangta Muda, sebagai wakil sultan.122 Pada kesempatan itu sultan berseru kepada para uleeba- lang agar meneruskan dan menggiatkan pengumpulan harta benda untuk keperluan perang sabil.123 Pasukan-pasukan Tgk. di Tiro yang bersenjata baik, merupakan pasukan bersenjata yang dapat bergerak cepat. Dengan dibantu oleh pemimpin-pemimpin adat, pasukan Tiro tiba-tiba muncul di Mukim XXII, lalu tampak pula di Mukim XXV. Dalam Agustus 1883 datanglah bantuan kurang lebih 500 orang dari pantai utara dan pada Juli 1884 pasukannya yang di Mukim XXVI diperkuat lagi oleh 250 orang dari berbagai daerah. Penyerangan-penyerangan dilanjutkan sehingga Belanda terpaksa mengundurkan diri dari Mukim XXII dan sebagian dari Mukim XXVI serta terpaksa berta- han di belakang lini pos-posnya yang kuat. Panglima Perang T. Nyak Makam, yang giat bergerilya di Aceh Timur, Langkat dan Deli, datang ke Aceh Besar dan turut berperan dalam serangan- serangan terhadap Belanda, antara lain menyusup ke Pulau Be-

ras.124 Dari negeri-negeri yang terletak di-tepi pantai yang menda-

pat keuntungan karena berdagang dengan bebas keluar, diperoleh

sebagian dana untuk perang sabil.125

Akibat dari semua ini, maka sidang-sidang rahasia Staten Gene- raal (16 dan 17 Juni 1884) memutuskan untuk kembali pada pos- tenlinie atau garis pos-pos yang mengelilingi pusat pendudukan Belanda dan melakukan blokade terhadap negeri-negeri di tepi

pantai.126Koloniaal Verslag 1885 mengakui bahwa perlawanan terhadap Belanda bertambah dan keadaan perbendaharaan Belanda semakin parah.127 Sampai akhir 1884 Belanda mengeluarkan 150 juta florin untuk keperluan peperangan di Aceh.128 Tidaklah mengherankan, jika demikian, mengapa Pemerintah di Negeri Belanda melaksanakan sistem pertahanan "konsentrasi", yaitu menarik diri ke daerah yang menurut Belanda sudah sungguh-sungguh berada di bawah kekuasaan militernya.129 Pada 19 Agustus 1884 diangkatlah Kolonel Demmeni menjadi gubernur militer dan sipil untuk melaksanakan sistem tersebut di atas. Kegiatan di luar Aceh Besar sedapat mungkin dibatasi Belanda. Pos-pos yang terdapat di Samalanga dan di Lhok Seumawe diha- puskan pada 1884. Dengan mengurangkan pos-pos ini Belanda dapat mengurangi tentaranya dengan tiga batalyon infanteri. Di dalam daerah seluas kurang lebih 55 km. persegi ditempatkan kira- kira 5.000 orang serdadu dalam keadaan kondisi yang kurang baik. Dalam 1885, 35% daripadanya menderita penyakit biri-biri.130 Dalam 1886 ada 6.008 orang pasukan Belanda terserang penyakit biri-biri.131Rumah sakit yang terbesar dan termodern di seluruh Hindia Belanda pada waktu itu yang didirikan di Kutaraja pada132 1880, tidak mampu menampung para penderita penyakit itu.1 Agar para uleebalang mau bekerja sama dengan Belanda, maka mereka diberi sejumlah uang sumbangan. Untuk maksud ini Men- teri Jajahan Belanda memberi kuasa Gubernur Jenderal di Betawi agar mengusahakannya sesuai dengan keadaan anggaran belanja Pemerintah Hindia Belanda.133 Gubernur Demmeni pada Oktober 1884 memuat lagi semacam peraturan pelayaran. Yang dibuka ha- nya pelabuhan-pelabuhan Ulee Lheue, Idi dan Sigli, tetapi kemu- dian pada Desember 1885 peraturan pelayaran itu dicabut kemba- li. Di daerah luar Aceh Besar dilaksanakan politik non-intervensi terhadap masalah-masalah intern negeri-negeri tepi pantai, sedang- 134 kan kegiatan perdagangan sama sekali tidak terlarang. Memang pahit dan berat Belanda menghadapi rakyat Aceh. Ada pejabat-pejabat tinggi Belanda yang turut memikirkan bagaimana dapat memecahkan masalah untuk dapat dengan segera menun- dukkan Aceh, meskipun ia tidak bertugas di Aceh ataupun di Betawi. Menarik rasanya dikemukakan di sini isi sepucuk surat rahasia Residen Ternate kepada Panglima Angkatan Darat dan Kepala De- partemen Peperangan Hindia Belanda yang menyatakan kepriha- tinannya tentang situasi di Aceh seraya mengusulkan, agar dipakai

pasukan-pasukan penolong dari Alfuru yang terdiri dari pemenggal-pemenggal kepala yang handal untuk bertempur di Aceh.135 Gubernur sipil dan militer di Aceh tidak menyetujui usul ini dan

akhirnya tidak jadi dilaksanakan.136

Pada Juni 1886 T. Umar menyerang kapal api Hok Canton yang sedang berlabuh di pantai Rigaih, Aceh Barat. Pasukan Belanda yang dikirim ke sana di bawah pimpinan Letnan Kolonel van Teijn tidak berhasil membebaskan awak kapal yang ditawan T. Umar. Akhirnya sandera itu ditebus oleh Belanda dengan membayar

25.000 ringgit kepada T. Umar.137

Demmeni meninggal dalam bulan Desember 1886 dan diganti- kan oleh Kolonel H.K.F. van Teijn. Ia diharapkan menjalankan politik menunggu dalam garis pertahanan konsentrasi dan berusaha untuk memulihkan kedudukan sultan di Aceh Besar, (tentunya dalam kerangka pemerintah Hindia Belanda). Ia juga berusaha mencari hubungan dengan pemimpin-pemimpin perlawanan, dengan se- jauh mungkin menghilangkan kesan bahwa yang, mencari atau mengingini kontak tersebut adalah pihak Belanda.138 Selain dari pada itu, selama Sultan Aceh di Keumala tidak menyerah, maka semua campur tangan langsung dalam masalah-masalah di luar

Aceh Besar sedapat mungkin dihindari.139

Pada awal Oktober 1887 pasukan Tgk. di Tiro dengan kekuatan 400 orang memasuki garis pertahanan Belanda, antara Meusapi dengan Rajabedil. Dalam pertempuran itu 41 orang tewas di pihak Aceh, sedangkan di pihak Belanda terdapat empat orang mati dan

17 luka-luka.140 Adanya serangan seperti ini membuat van Teijn

mulai sedikit demi sedikit meninggalkan politik menunggu. Baik di sekitar garis pertahanan konsentrasi maupun di luar Aceh Besar ia menjalankan politik yang lebih aktif. Untuk membendung dan me- lawan pengaruh T. Umar dan Tuanku Mahmud, yang bertindak sebagai wakil sultan di Aceh Barat serta pengaruh Tgk. Yusuf, utus- an Tgk. di Tiro di daerah tersebut, bagian-bagian tertentu dari pantai Aceh ditutup untuk impor dan ekspor. Sepanjang kekuatan ar- mada Belanda mengizinkannya,

,141 dimaksud penangkapan ikan

dilarang. Hal ini, sebagai hukuman terhadap orang-orang Aceh yang membantu tokoh-tokoh tersebut di atas. Pada 1889, yakni 16 tahun sesudah perang Belanda berlangsung, di samping Panglima Polem, pemimpin-pemimpin adat yang setia kepada sultan antara lain adalah: (1) T. Cut, kepala Sagi Mukim XXVI, (2) T. Sri Setia Ulama, kepala Sagi Mukim XXV, yang ting-

gal di Patek, Aceh Barat, (3) T. Umar, (4) T. Cut Muda Latif Syamsulbahri, panglima perang untuk pantai Aceh Utara, (5) T. Mansur, Meulaboh, (6) Laksamana Enjung, (7) T. Bintara Cum- bok, kepala Mukim III, Pidie, yang bersama T. Bin Titeue menjadi 142 penasihat-penasihat yang terpercaya dari sultan. Di Mukim XXVI, yang menjadi pemimpin barisan-barisan Aceh

T. Nyak Makam, Pang Analan, Pocut Mat Tahir, dan Teungku Mat Amin, sedangkan di Mukim XXII dan Lam Sayon, Teungku Pante Kulu dan T. Ali Lam Krak. Di Mukim IX, Sagi XXV bergerak pula Tgk. Chik Kutakarang, Tgk. Mat Saleh dan Habib Samalanga, serta
Di samping itu beberapa pemim- di Mukim VI, Tgk. di Caleue.143 pin perang lainnya yang aktip adalah Tgk. Beb Tiro, Tgk. Rayek, Pada Juli 1889, Tgk. di Habib Lhong dan T. Husin Lueng Bata.144 Tiro menghantam kedudukan Belanda didekat kota Pohama, ha- nya beberapa km. dari Kutaraja, dengan korban 22 orang mati dan Belanda mengadakan se- 94 orang luka-luka di pihak Belanda.145 rangan balasan terhadap benteng Aceh di tempat ini dan akibatnya di pihak Aceh ada yang menyerah serta beberapa puluh orang mati syahid.146 Untuk keperluan usaha pengamanan dalam menghadapi serangan-serangan Aceh, pada 1889 pihak Belanda memberikan uang premi sebesar f. 50,-- untuk setiap ranjau granat yang ditemui se- panjang rel kereta api.147 Oleh karena pasukan-pasukan Aceh me- nyerang juga pada malam hari dan disebabkan kekurangan tenaga pasukan, Belanda menggunakan narapidana kerja paksa dengan di- beri senjata klewang dan senapan tua. Jika narapidana ini dapat menangkap atau membunuh gerilyawan Aceh, kepadanya akan di-Guna menja-

berikan premi f. 25,- per satu kepala orang Aceh.148

ga keamanan dan ketertiban dalam garis pertahanan konsentrasi, pada April 1890 Belanda mendirikan korps merechaussee, suatu

pasukan khusus yang direkrut dari pasukan infanteri.149

Serangan-serangan pasukan Aceh yang berada di sebelah kiri su- ngai Idi, Aceh Timur, menyebabkan Belanda mengirimkan kekuat- terjadilah pertem- an militernya. Maka antara Mei dan Juli 1890150 puran-pertempuran di Idi. Memasuki 1891, perobahan-perobahan penting terjadi dalam ke- pemimpinan Aceh. Pada Januari 1891 Tgk. Chik di Tiro Muhammad Saman berpulang ke rahmatullah.15 Tak lama kemudian di- susul pula oleh T. Panglima Polem Muda Kuala.152 Shaikh Muhammad Saman digantikan oleh anaknya bernama Tgk. Muhammad

Amin sebagai Tgk. Chik di Tiro dan diakui oleh Sultan Muhammad Daud.153 T. Muda Kuala digantikan oleh puteranya T. Raja Daud. Ia dibantu oleh dua orang panglimanya, abang iparnya T. Ali Ba- syah dari Geudong dan T. Ibrahim Montasik. Raja Daud bekerja sama dengan ulama-ulama, yaitu Tgk. Mayet Tiro, Tgk. Klieuet, Habib Lhong dan Tgk. Pante Glima mendirikan benteng-benteng

untuk menghadapi serangan Belanda di Mukim XXII.154

Setelah hampir 1/5 abad berperang (1891) Belanda kehilangan 200 juta florin, 1.280 orang tewas, dan 5.287 luka-luka 155 Meli- hat keadaan ini Kolonel F. Pompe van Meerdervoort yang meng- gantikan Jenderal van Teijn pada Mei 1891 mempunyai pandangan yang lain pula terhadap perang ini. Ia mendukung politik lunak dan tidak campur tangan dalam persoalan-persoalan yang timbul di antara para uleebalang. Tetapi pemerintah tidak setuju dengan kebijaksanaan ini, oleh sebab itu Pompe van Meedervoort mengun-

durkan diri dan digantikan oleh Kolonel C. Deijkerhoff.156

Mulai Juli 1891 sampai Februari 1892 Snouck Hurgronje meng- adakan penyelidikan mengenai agama dan politik di Aceh, untuk mengetahui bagaimana sikap para ulama setelah berpulangnya Tgk. Chik di Tiro Muhammad Saman dan bagaimana pengaruh mereka serta jalan manakah yang ditempuh oleh Sultan Aceh dalam me- menuhi kehendak para ulama. Snouck Hurgronje berpendapat, bahwa pada umumnya yang dihadapi Belanda adalah sebuah gerak- an rakyat yang fanatik yang dipimpin oleh para ulama dan mereka ini hanya dapat ditaklukkan bilamana Belanda mempergunakan kekuatan senjata dan kontak dengan mereka tidak boleh diadakan

sebelum mereka menyerah.157

Pada 1893 stelsel konsentrasi sudah sembilan tahun lamanya di- jalankan, namun harus diakui tujuannya tidak tercapai. Kampung-kampung yang berada di dekat garis pertahanan konsentrasi terus- menerus mendapat gangguan pihak muslimin. Belanda menempat- kan pos-pos sementara di luar garis pertahanan konsentrasi dengan alasan untuk menjaga keamanan dan melindungi kampung-kampung yang bersahabat dengan Belanda. Pada September 1893 T. Umar bersama 15 orang panglimanya

menyatakan kesetiaan pada Pemerintah Hindia Belanda.18 Ia

mendapat gelar Teuku Johan Pahlawan dan Panglima Besar serta kepadanya diberi hak untuk memiliki tentara sebanyak 250 orang. Di samping itu diberikan pula kepadanya uang sebanyak 66.360 florin setahun untuk diteruskan sebagian kepada para pengikut-

nya. Sebuah rumah dibuatkan pula untuknya di Lam Pisang, Aceh Besar. Dengan keputusan pemerintah Belanda tanggal 19 Januari 1896 ia diangkat sebagai uleebalang Leupueng, di sebelah selatan 159 Aceh Besar. Sultan Muhammad Daud tidak setuju terhadap tindakan T. Umar tersebut di atas.160 Berdirinya T. Umar di pihak Belanda ter- nyata tidak menggoyahkan tekad para pemimpin Aceh yang lain- nya untuk meneruskan perlawanan bersenjata terhadap Belanda.

Catatan

  1. Lihat E.B. Kielstra, Beschrijving van den Atjeh Oorlog: met Gebruik- making der Officieele Bronnen, door het Departement van Kolonien daartoe Afgestaan, Jil. I, 1883, Lampiran I, hlm. 390.
  2. Ibid., hlm. 19. Barus mulanya dikuasai Aceh. Pada 1668 direbut Kom- peni Belanda, tetapi pada 1778 ditinggalkan dan sejak itu kembali di- duduki Aceh. Ibid., hlm. 15-16.
  3. G.B. Hooyer, De Krijsgeschiedenis van Nederlandsch Indie van 1811 tot 1894, Jil. III, 1897, hlm. 25.
  4. Kielstra, op. cit., hlm. 21. Hooyer, op. cit., hlm. 25-6. Dalam kapal Dolphijn terdapat uang 30.000 florin. Nakhoda kapal Dolphijn terbunuh. Anak nakoda tersebut yang ditawan oleh awak kapal dan turut dibawa bersama Dolphijn ke pelabuhan Ulee Lheue, bersedia diserahkan kembali oleh Sultan kepada pihak Belanda, asalkan pihak Belanda bersedia meng- ganti kerugian tiga perahu pihak Aceh yang ditahan oleh kapal perang Belanda pada 1825, oleh karena berisi orang-orang yang hendak diperda- gangkan sebagai budak. Kielstra, loc. cit. Mengenai perdagangan budak ini patut dicatat di sini apa yang dikemukakan oleh De Klerck. Ia me- nyatakan bahwa kapal-kapal Aceh yang yang membawa manusia dari dicegat oleh Belanda, tetapi Gubernemen sendiri sejak 1825, membawa sendiri budak belian dari pulau Nias itu juga ke Sumatra Barat. Mula- mula hanya ratusan saja yang dibeli, jumlahnya bertambah hingga di tahun 1833 menjadi 3000 orang. E.S. de Klerck, De Atjeh Oorlog, 1912, I, hlm. 159.
    5.Officieele Bescheiden betreffende het Ontstaan van den Oorlog tegen Atjeh, 1881, hlm. 13.
    6.Kielstra, op. cit., hlm. 24-5.
  5. Officieele Bescheiden, hlm. 19-20.
  6. L.J.P.J. Jeekel, Het Sumatra-Tractaat, Proefschrift, 1881, hlm. 27-8, Lihat teks Traktat ini dalam Kielstra, op. cit., Lampiran III, hlm. 398—
  7. Pada 1840 Sultan Siak menerangkan bahwa kerajaan Siak terdiri dari: (1) Kubu, (2) Tanah Putih, (3) Bangka, (4) Bila, (5) Panai, (6) Kwalu, (7) Asahan, (8) Batu Bara, (9) Bedagai, (10) Padang, (11) Ser- dang, (12) Percut, (13) Pebangungan, (14) Deli, (15) Langkat dan (16) Tamiang. Daerah-daerah ini mempunyai pemerintahan sendiri-sendiri terkecuali no. 1 sampai dengan no. 3 yang termasuk dalam Siak-Inti (Siak-proper). Bila dan Panai sikapnya ragu-ragu dalam mengikuti ke- daulatan Siak, sedangkan Langkat dan Tamiang mengikat hubungan dengan Aceh. De Klerck, op. cit., hlm. 245.

  8. Kielstra, op. cit., hlm. 31–33.

  9. Lihat artikel I Traktat ini dalam Jeekel, op. cit., hlm. 69. Lihat juga de Klerck, op. cit., hlm. 458.
  10. J.J. de Rochemont, Wat Hebben Partijschappen van Onzen Atsjin-Oorlog Gemaakt?, 1876, hlm. 7. Lihat juga, Atjeh 1896, hlm. 16; Kielstra, op. cit., hlm. 44.
  11. Wap, Het Gezantschap van den Sultan van Atchin Ao. 1602 aan Prins Maurits van Nassau en de Oud-Nederlandsche Republiek, 1862. Nama duta-duta tersebut adalah Abdu'l-Hamid Sri Muhammad dan Mir Hasan. Abdu'l-Hamid meninggal tidak lama setelah ia sampai dan dimakamkan di Sint-Pieters-Kerk, Middelburg, Zeeland. Wap, hlm. 16-19.
  12. Kielstra, op. cit., hlm. 38.
  13. Ibid.
  14. Officieele Bescheiden, hlm. 33.
  15. A.J.A. Gerlach, Atjih en de Atjinezen, 1875, hlm. 90.
  16. Kapal ini milik raja Simpang Ulim, Ibid., hlm. 36—7. Lihat juga L.W.A. Kessler, "Geschiedvervalsching in Zake Atjih. TNI (1899), hlm. 217, yang menulis bahwa kapal raja Simpang Ulim ini ditahan oleh Belanda di Labuan-Deli, Sumatra Timur. Lihat Officieele Bescheiden, hlm. 36; juga de Klerck, op. cit., hlm. 370. Menurut de Klerck kapal milik Teuku Paya ini mempunyai tujuh buah meriam.
  17. Kielstra, op. cit., hlm. 42.
  18. Ibid., hlm. 42—3. Empat hulubalang lainnya yang mengiringi Panglima Tibang adalah T. Kali Malikul Adil, T. Nanta Setia, T. Akub yang mewa- kili T. Nek Raja Setia dan T. Nyak Agam sebagai wakil dari Panglima Mesjid Raya. Kielstra, Ibid., hlm. 42. Lihat juga Een belangstellende, "T. Panglima Tibang", IMT (1892), hlm. 726.
  19. G.H. van Soest, "De Officieele Bescheiden betreffende het Onstaan van den Oorlog tegen Atjeh in 1873, TNI. Klerck, op. cit., hlm. 391–2.
  20. Telegram Konsul Jenderal Read, 16. Februari 1873, Officieele Bescheiden, hlm. 43.
  21. De Klerck, op. cit., hlm. 392–3. Officieele Bescheiden, hlm. 27, 44.
  22. Lihatinstruksi Pemerintah Hindia Belanda dalam Officieele Bescheiden, hlm. 81-2.
  23. Ibid., hlm. 46—7. Akan halnya kapal perang Amerika Serikat memang diperintahkan oleh Admiral Jenkins untuk mengunjungi Betawi, Singapura dan Aceh, setelah mengunjungi Filipina, guna melindungi kepentingan Amerika Serikat di kepulauan ini. Ketika kapal perang Amerika U.S.S. Yantic tiba di Singapura, pengganti Jenkins, pada 2 Februari 1874 me- merintahkan kapal Amerika itu menuju Aceh, tetapi karena ada epidemi cholera yang dahsyat, ia membatalkan instruksinya itu, dankapal Yantic diperintahkan kembali ke Hongkong dari Singapura. James W. Gould,

Americans in Sumatra, 1961, hlm. 9.

  1. Kielstra, op. cit., hlm. 58.
  2. Straits Settlements Gouvernment Gazette, Extraordinary, Monday, 31st March 1873, dalam Perang Kolonial Belanda di Aceh, penerbitan Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, 1977, hlm. 62.
  3. Ms Aceh di Perpustakaan Universiti Kebangsaan Malaysia, lembaran le- pas, belum dikatalogkan.
  4. Surat Komisaris Pemerintah Hindia Belanda kepada Sultan Aceh, 22 Ma- ret 1873, dalam Officieelee Bescheiden, hlm. 115-6. Surat-menyurat antara Komisaris Pemerintah Hindia Belanda dengan Sultan Aceh men- jelang dimulainya perang antara kerajaan Belanda dengan kerajaan Aceh, dapat dilihat dalam ibid., hlm. 115-25.
  5. Pernyataan perang atau oorlogsmanifest ini termuat dalam ibid., hlm. 120-1. Lihat juga Perang Kolonial Belanda di Aceh, 1977, hlm. 64. Kielstra, Beschrijving, I, Lampiran VII, hlm. 420-1. Juga Mohammad Said, Atjeh Sepanjang Abad, 1961, hlm. 399-400.
  6. Kolonel E.C. van Daalen bertindak sebagai wakil panglima pasukan Belanda dan juga sebagai komandan barisan infantri. Pasukan infantri terdiri dari empat batalyon, yaitu batalyon ke-3, batalyon ke-9, batalyon ke-12 dan satu batalyon dari Madura. Ketiga batalyon yang tersebut pertama, masing-masing terdiri dari 26 orang opsir (termasuk seorang komandan dan seorang ajudan) dan 607 bawahan yang terbagi atas 239 orang Eropa dan 368 orang Bumiputera. Batalyon ke-9 dan ke-12, masing-masing terdiri dari dua kompani orang Eropa dan empat orang kompani Bumiputera di luar suku Ambon, sedangkan batalyon ke-3 memi- liki dua kompani orang Eropa dan empat kompani orang Ambon. Dalam setiap kompani ada seorang kapten dan tiga orang letnan. Batalyon barisan Madura, terdiri dari setengah batalyon Bangkalan di bawah pimpinan Mayor Raden Mayang Koro dan setengah batalyon Sumenep-Pa- mekasan, di bawah pimpinan Mayor Raden Aryo Suryaning Prang. Jumlah Bumiputera yang ikut dalam pasukan Belanda sebagai serdadu ada 28 perwira dan 2.100 bawahan. Di samping itu dalam menjalankan agresi pertama ini diikutsertakan pula seribu orang narapidana kerja paksa, 50 mandor, kurang lebih 220 orang perempuan (delapan orang untuk setiap kompani) dan 300 orang laki-laki Bumiputera lain selaku pelayan para opsir. Kielstra, Beschrijving, I, hlm. 66-7, 70, 76-7.
  7. J.F.D. Bruinsma, De Verovering van Atjeh's Groote Missigit, 1889, hlm. 45-6.
  8. Ibid., hlm. 23, 25, 33, 34, 46, 92. Juga P. Brooshooft, Geschiedenis van den Atjeh-Oorlog 1873-1886, 1886, hlm. 39. Lihat juga, Sjair Perang Atjeh, terjemahan E. Blok, TBG, 1885, hlm. 581.
  9. T. Imum Lueng Bata adalah salah seorang lawan Belanda yang tangguh. Pekerdja-an Perang di Negeri Atjeh, 1889, hlm. 10.
  10. Bruinsma, op. cit., hlm. 69-70. Kielstra, Beschrijving, I, hlm. 131.

  11. Dalam jumlah ini sudah termasuk kerugian dari angkatan laut, yaitu dua orang opsir dan dua bawahan tewas, sedangkan yang luka-luka ada 20 orang bawahan. Kielstra, ibid., hlm. 156. Tidak ada pengumuman pihak resmi Belanda mengenai jumlah kerugian yang dideritanya serta keka- lahan yang dialaminya dalam peperangannya di Aceh itu. Mengenai kerugian kedua pihak, lihat perkiraan Dr. Anthony Reid yang diambilnya dari berbagai sumber, dalam Lampiran A, hlm. 335. Lihat juga pada Lampiran B, hlm. 337, perkiraan yang dibuat oleh H.T. Damste, yang tidak ditelaah oleh Reid.

  12. G.D.E.J. Hotz, Beknopt Geschiedkundig Overzicht van den Atjeh-Oorlog, 1924, hlm. 8.
  13. J. Woltring (ed.), Bescheiden betreffende de Buitenlandse Politiek van Nederland, 1848-1919, 1962, jilid I, hlm. 571. Lihat juga, Anthony Reid, The Contest for North Sumatra, Atjeh, the Netherlands and Bri- tain 1858-1898, 1969,hlm. 129-133.
  14. Kielstra, Beschrijving, I, hlm. 223-4. Hotz, op. cit., hlm. 9. Angkatan perang Belanda dalam agresi kedua ini berjumlah 8277 orang, yang terdiri dari 289 opsir dan 7888 bawahan. Di samping ikut pula untuk mem- bantu terlaksananya perang ini, 16 orang sipil, 3565 narapidana kerja paksa, kuli beserta mandornya dan 243 orang perempuan, sehingga jumlah seluruhnya yang terlibat adalah 12.101 jiwa. Gerlach, De Tweede Expeditie, hlm. 28. Infantri saja, terdiri dari 208 opsir Eropa dan 25 orang opsir bumiputera, 6.354 bawahan dengan perincian 3.125 orang Eropa (termasuk 298 marinir), 230 orang Afrika, 460 orang Ambon dan
    2.539 Bumiputera luar suku Ambon. Kielstra, Beschrijving, I, hlm. 194. Dalam jumlah tersebut di atas, telah termasuk legiun Mangku Negoro, yang terdiri dari seorang opsir Eropa yang bertindak sebagai instruktur, lima orang opsir Bumiputera, enam orang bawahan Eropa dan 120 orang bawahan Bumiputera, serta legiun Paku Alam yang terdiri dari empat orang opsir, termasuk seorang instruktur Eropa, empat orang bawahan Eropa dan 75 orang bawahan Bumiputera. Ibid., hlm. 193. Di markas besar angkatan perang yang menyerang ini, diperbantukan Kapten Legiun Mangku Negoro yaitu Pangeran Ario Gondo Sisworo dan Letnan Legiun Paku Alam, Raden Mas Panji Pakuning Prang. Gerlach, De Tweede Expeditie, hlm. 21.
  15. Brooshooft, op. cit., hlm. 75.
  16. Surat Tuanku Hasyim Bangta Muda kepada Teuku Imum Chik Lotan, 18 April 1874, dalam W. Frijling, "De Voornaamste Gebeurtenissen in het Begin van de 2de Expeditie door Atjehers Beschreven", TBB (1912), hlm. 23-6.
  17. G.B. Hooyer, De Krijgsgeschiedenis van Nederlandsch Indie van 1811 tot 1894, Jilid III, 1897, hlm. 43.
  18. Ibid.
  19. Akibat sikap Negeri Pidie ini Belanda menembaki negeri ini dari laut

dengan menggunakan kapal-kapal Zeeland, Metalen Kruis, Citadel van Antwerpen, Borneo dan Banda pada 29 Desember 1873. T.J. Veltman, "Nota over de Geschiedenis van het Landschap Pidie", TBG (1917), hlm. 114-7. Lihat juga, A.J.A. Gerlach, De Tweede Expeditie tegen Atjih, hlm. 440. Juga, Anthony Reid, The Contest, hlm. 109.

  1. Hooyer, De Krijgsgeschiedenis, hlm. 43.
  2. K.F.H. van Langen, "De Niserokwestie, Een en Ander naar Aanleiding van het Rapport van den Heer W.E. Maxwell", IG (1884), 11, hlm. 456. "Mededeelingen betreffende de Atjehsche Onderhoorigheden", BKI (1910), hlm. 153.
  3. Hooyer, De Krijgsgeschiedenis, III, hlm. 43, Reid, Loc. cit.
  4. Ibid.
  5. Surat Tuanku Hasyim Bangta Muda, loc. cit.
  6. Surat J. van Swieten kepada L.W.A. Kessler, Den Haag, 23 September 1886, dalam L.W.A. Kessler, "Het Atjehsch Sultanaat", TNI (1894), ii, hlm. 824. Gerlach, De Tweede Expeditie, hlm. 103, 433.
  7. Gerlach, De Tweede Expeditie, hlm. 533. Lihat juga, Hooyer, De Krijgsgeschiedenis, hlm. 111. Lihat proklamasi van Swieten dalam Kielstra, Beschrijving, I, Lampiran XXVII, hlm. 477. Lihat juga proklamasi van Swieten, 12 Februari 1874, dalam Ibid., Lampiran XXXII, hlm. 484.
  8. Belanda senantiasa membeda-bedakan kebijaksanaannya antara Aceh Besar dengan daerah-daerah di luarnya. Adapun langkah-langkah yang diambil van Swieten di Aceh Besar, membuat pertahanan yang perma- nen di dalam dan mempertahankannya secara aktif, menguasai beberapa pos sebagai jaminan hubungan yang aman dengan laut, mengambil sikap menunggu, dan mencari hubungan dengan pemimpin-pemimpin Aceh supaya menyerah dengan cara damai secepat mungkin. Untuk luar Aceh Besar, van Swieten bersikap mencari hubungan dengan pemimpin-pemimpin adat serta menjalankan kebijaksanaan politik melalui pegawai-pegawai sipilnya dari atas geladak kapal, mengusahakan supaya kedaulatan Belanda diakui dengan cara damai, dan bila tidak, perlu dipaksa melalui blokade. Hotz, op. cit., hlm. 12-3.
  9. Kielstra, Beschrijving, I, hlm. 377–8.
  10. Gerlach, De Tweede Expeditie, hlm. 65-70, dan 442.

    54. "Mededeelingen betreffende de Atjehsche Onderhoorigheden", BKI

(1910), hlm. 153.

  1. Surat Bangta Muda Tuanku Hasyim, loc. cit.
  2. Gerlach, De Tweede Expeditie, hlm. 37–8.
  3. Hooyer, De Krijgsgeschiedenis, hlm. 44.
  4. Ibid.
  5. Hotz, op. cit., hlm. 13.

  6. Lihat instruksi dalam Kielstra, Beschrijving, II, Lamp. VI. J. Kreemer, Atjeh I, 1921, hlm. 18.

  7. Menurut J. Kreemer, pada akhir 1874 setelah pasukan inti Belanda berangkat ke Jawa, terdapat 902 tewas dan 1.917 diungsikan; dalam 1875 tewas 975 dan diungsikan 5151, sedangkan dalam 1876, tewas 1737, (yaitu hampir 20% dari pukulrata kekuatan) dan diungsikan
    7.623. J. Kreemer, Atjeh, II, 1922, hlm. 18, catatan halaman no. 4.
  8. J. van Swieten, De Waarheid over Onze Vestiging in Atjeh, 1879, hlm.
    58.
  9. De Agressieve Politiek in Atjeh, 1878, hlm. 25-26. 64, Lampiran Handelingen der Staten General, sidang 1885-1886, no. 110, Tractaten van Sumatra, 1800–1900, ARA Den Haag.
  10. "Mededeelingen", BKI (1903), hlm. 58. Lihat juga, J.P. Schoemaker, Schetsen uit den Atjeh-Oorlog, 1889, hlm. 115. Juga, Surat van Langen pada Snouck Hurgronje, 7-6-1893, koleksi OI, Leiden, Juga missive, GBA, C. Deyckerhoff, pada GJHB, no. 559/K, sangat rahasia, Kab. Geheim, 23 Sept. 1893, B 17, ARAS.
  11. Hooyer, op. cit., hlm. 45.
  12. Hotz, op. cit., hlm. 16.
  13. Ia sampai di ibu kota Turki pada 27 April 1873, sebelumnya ia singgah di Mekkah untuk bertemu dengan Syarif Mekkah. Misi diplomatiknya di Turki gagal. Reid, The Contest, hlm. 119-29.
  14. Alexander, "Korte Levensschets van den Arabier Habib Abdoe'r Rahman alzahir naar Zijne Eigene Opgaven Saamgesteid", IG (1880), no. 2, hlm.
  15. Raja T. Muda Nyak Malem, Simpang Ulim, memberi uang 5.000 ringgit dan mesiu 5.000 tong pada Habib, para uleebalang di Keureutoe, Aceh Utara, menyumbang 5.000 ringgit. Di Peusangan ia mendapat
    1.000 ringgit, di Pidie 5.000 ringgit, dari T. Bentara Keumangan, Gigieng,
    5.000 ringgit. Anthony Reid, "Habib Abdur Rahman az-Zahir (1833—
    1896), Indonesia, no. 13 (April) 1972, hlm. 57. Reid, The Contest, hlm. 182-3.
  16. Dalam 1876 dan 1877, kurang lebih 1½ juta florin setiap bulannya keluar dari perbendahraan Belanda. Kielstra, Beschrijving, III, hlm. 2. Van Swieten menulis, bahwa pada 1876 saja kerugian Belanda ada 26,5 juta florin. Van Swieten, op. cit., hlm. 60. Tidak ada angka resmi tentang berapa jumlah uang yang dikeluarkan oleh pihak Belanda untuk perangnya di Aceh ini. Demikian juga tentang jumlah jiwa yang mela- yang dan luka-luka. Anthony Reid dalam bukunya, The Contest for North Sumatra, 1969, Lampiran 4, mencoba menyusun statistik pasukan Belanda yang mati terbunuh dalam pertempuran dan mati sakit, serta yang luka-luka yang diambilnya dari Kielstra, Kreemer, van der Maaten, dll. Di dalam statistik itu terdapat juga perkiraan mengenai jumlah orang- orang Aceh yang tewas dan biaya yang dikeluarkan oleh pihak Belanda untuk perang ini. Lihat Lampiran A, hlm. 334-5.

  17. Kielstra, Beschrijving, II, hlm. 2.

  18. Hotz, op. cit., hlm. 18.

    73. W. Cool en G.B. Hooyer, Eene Schoone Bladzijde uit Atjeh's Geschie-

denis, 1889, hlm. 77.

  1. Kielstra, Beschrijving, III, hlm. 177.
  2. Hooyer, op. cit., hlm. 45.
  3. Mengenai sistem pertahanan baru ini lihat surat GJHB, 7 November 1878 pada GBA, Kielstra, Beschrijuing, III, lamp. VI.
  4. Hooyer, op. cit., hlm. 45.
  5. Ibid., hlm. 45-6.

    79. Snouck Hurgronje, The Achehnese, I, hlm. XVI. Lihat juga missive Gu-

bernur Deijkerhoff kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda (GJHB),

17 Juli 1893, no. 559/K Rahasia, Kab. Geheim, 23 September 1893 B 1 7, ARAS, hlm. 25. Hotz, op. cit., hlm. 20.

80. Nota, E. van Assen, tentang pasifikasi Aceh, kepada L.W.C. Keuchenius,

25 Dec. 1889, dalam koleksi L. W.C. Keuchenius, no. KB 68/F 3.

  1. Hotz, op. cit., hlm. 20.
  2. Ibid., hlm. 20-1.
  3. Hooyer, op. cit., hlm. 46.
  4. Hotz, op. cit., hlm. 21. Anthony Reid, "Habib Abdurrachman Az-Zahir (1833-1896)", Indonesia, (April 1972), hlm. 58, catatan halaman no.

    49. Juga, Kielstra, Beschrijving, III, hlm. 219-47.

  5. Ibid., hlm. 267.

    86. Hooyer, op. cit., hlm. 46. Reid, "Habib Abdurrachman", op. cit., hlm.

  6. Alexander, "Korte Levensschets van den Arabier Habib Abdoe'r Rahman Alzahir, naar Zijne Opgaven Saamgesteld", IG (1880), no. 2, hlm. 1018.

    87. Hooyer, op. cit., hlm. 261. Brooshooft, op. cit., hlm. 177. Kielstra,

Beschrijving, III, hlm. 392.

  1. Hooyer, op. cit., hlm. 46.
  2. Ibid.

    90. J. Kreemer, "De Groote Moskee te Koeta-Raja", Nederlandsch Indie

Oud en Nieuw, 1920-1921, hlm. 72, Hooyer, op. cit., hlm. 280.

  1. Hotz, op. cit., hlm. 24.
  2. Ibid., hlm. 24—5.
  3. Kreemer, Atjeh, I, hlm. 21.

    94. Missive GBA pada GJBH, Kutaraja, 14 Jani 1880, dalam politieke

Rapporten van der Heijden, dossier, no. 9186, ARAS.

  1. Laporan perjalanan controleur de Jonger Janger ke Lhong dan Kluang dari 20 Juni sampai 3 Juli 1880, 10 Juli 1880, Ibid.
  2. Hotz, op. cit., hlm. 23.
  3. Missive, AR Aceh Utara pada GBA, Samalanga, 1 Juli 1880, no. 122, dalam Politieke Rapporten van der Heijden.
  4. Missive GBA pada GJHB, 18 Juli 1880, dalam ibid.
  5. Kielstra, "Atjeh onder Pruys van der Hoeven", IMT (1886), hlm. 305.
  6. Dalam Staatsblad 1881 no. 79, diputuskan untuk menempatkan Aceh Besar langsung di bawah pemerintahan sipil di Kutaraja, sedangkan negeri-negeri yang dikepalai oleh uleebalang (landschap) di luar Aceh Besar dibenarkan berpemerintahan sendiri (swapraja). Sebagai gubernur sipil diangkat Pruys van der Hoeven, yang membagi wilayah pemerintahan atas tiga afdeling, yaitu: Aceh Besar dengan Kutaraja sebagai tempat kedudukan kepala daerahnya (assistent resident), Aceh Utara dan Timur di Lhok Seumawe dan Aceh Barat di Meulaboh. Ia dibantu oleh sepuluh orang controleur, pembantu kepala daerah di kewenanan. Pada 6 April 1881 A. Pruys van der Hoeven diangkat sebagai gubernur sipil yang pertama dan kolonel J.F. Haus sebagai komandan militer. H.T. Damste, "Atjeh-historie", dalam KT, 1916, hlm. 339. Hotz, op. cit., hlm. 25.
  7. Hooyer, op. cit., hlm. 46.
  8. Damste, loc. cit.
  9. Surat Gubernur Jenderal van Lansberge, 11 Maret 1881, no. 466a/33, dikutip dalam Advies Raad van Nederlandsch-Indie, sangat rahasia, 28 Maret 1884, dalam Kab. Geheim 18 Juni 1884, ARAS.
  10. J.H.B. Jaspers, Beknopte Beschrijving van de Onder-afdeling Lhok Seumawe, ms., Lhok Seumawe, 6 Nov. 1943, hlm. 48.
  11. Pruys van der Hoeven, Mijne Ervaring op Atjeh, 1886, hlm. 71.
  12. Hotz, op. cit., hlm. 26.
  13. Kielstra, Beschrijving, III, hlm. 539.
  14. Missive Gubernur Deijkerhoff, no. 559/K rahasia, op. cit. Ia menulis sebagai berikut: "In Groot Atjeh trad als aanvoerder op de jeugdige
    T. Nyak Hasan, een hoeloebalang, wiens daden hem tot een der helden van de Atjehers stempelden. Geluking voor ons kwam hij in 1883 in den strijd om".
  15. J.A. Kruyt, De Atjeh Oorlog, 1896, hlm. 41–2.
  16. M.H. du Croo, Marechaussee in Atjeh, 1943, hlm. 21.
  17. Kielstra, "Atjeh onder het Bestuur van den Gouverneur Laging Tobias", IMT (1887), hlm. 521.
  18. Hotz, op. cit., hlm. 27. Kielstra, "Atjeh onder het Bestuur van Couver- neur Laging Tobias', hlm. 524.

  19. Lihat W. Bradley, The Wreck of the Nisero and Our Captives in Sumatra,

  20. H.C. van der Wijck, De Niserozaak, 1884. W. Ph. Coolhaas, De Nisero-kwestie, Professor Harting en Gladstone, 1964.
  21. Kielstra, "Atjeh onder het Bestuur van den Gouverneur Laging Tobias", op. cit., hlm. 541.
  22. Ibid., hlm. 521.
  23. Ibid., hlm. 545.
  24. Kreemer, op. cit., hlm. 24. Cf. KV, 1884, Kielstra, "Atjeh onder het Bestuur van den Gouverneur Laging Tobias", op. cit., hlm. 545.
  25. Konsiderasi dan advies Panglima Tentara Hindia Belanda pada GJHB. Kabinet La N/Zeer, 26 October 1889, dalam Kab. Geheim, 7 Februari 1890, L 1, ARAS.
  26. Missive Assistent Resident (AR) Atjeh Barat, Van Langen pada GBA, 11 Januari 1884, dalam Kab. 27 Maret 1884, B 6, ARAS.
  27. Missive, GBA pada GJHB, 4 Februari 1884, dalam Kab. 18 Juni 1884, ARAS. Cf. J.A. Kruyt, De Atjeh Oorlog: Kort Overzicht van Oorsprong, Verloop en Gevolg, 1896, hlm. 50; juga, Laging Tobias, "Het Herstel van het Sultanaat in Atjeh", IG (1886), hlm. 1732, 1739, 1757-8. Lihat juga, Laging Tobias, "Onze Tegenwoordige Politiek en Hare Gevol- gen", De Cids, (1886), hlm. 292–3.
  28. Nota, AR Aceh Besar, Goosens, 1 Desember 1888, dalam Exn. 9 Febr. 1889, Lr. L3, ARAS. Lihat juga, G.B. Hooyer, "Onze Buurman naast Groot-Atjeh", IG (1896), hlm. 1816.
  29. Sejak 1886 Tuanku Mahmud berada di Kluang, Daya dan Lambesi, di Aceh Barat, dan mempunyai pengaruh yang besar di wilayah ini. Dalam korespondensinya dengan pegawai-pegawai Belanda Tuanku Mahmud menerangkan, bahwa ia dikirim Sultan untuk menyelesaikan masalah- masalah pemerintahan di Aceh Barat, sedangkan menurut sumber-sumber yang layak dipercayai oleh Belanda, kedatangannya untuk mengum- pulkan dana perang sabil. Dalam September 1887 ia mengirimkan 4.000 ringgit uang sabil ke Keumala. Nota omtrent den Algemeenen Toestand ter Westkust van Atjeh, Kutaraja, 20 Nov. 1887, Kab. Geheim, 6 April 1888, D 5, ARAS.
  30. Ke pihak Belanda jatuh sepucuk surat yang ditujukan oleh Sultan di Keumala kepada Raja Padang Keling, Aceh Barat, yang berisi berita, bahwa Tuanku Muhammad Daud Syah diangkat sebagai sultan disertai titah baginda agar dikumpulkan dana untuk perang sabil. Lihat missive, AR Aceh Barat, Van Langen, 11 Januari 1884, dalam Kab. 27 Maret 1884, B 6, ARAS.
  31. Missive GBA pada GJHB, no. 444/K., Kutaraja, 25/5-1893, Kab. Geheim 23/9-1893, B. 12.
  32. Missive GBA pada GJHB, no. 624, Geheim, 10 April 1884, dalam Kab. Geheim 18 Juni 1884, R 11, ARAS.

  33. Kapal-kapal yang diarahkan untuk melakukan blokade di perairan Aceh, adalah kapal-kapal: Koningin Emma der Nederlanden, Leeuwarden, Bromo, Bangka, Borneo, Pontianak, Bandjarmasin, Bengkoelen, Madura, Palembang, Sambas, Batavia, Banda, Bali, Riouw, Arend, Havik, Valk, Zeeweeuw, Zwaluw, Tegal, Kediri, Kerawang dan Soerabaja, ditambah dengan sepuluh kapal uap yang kecil-kecil. E.B. Kielstra, "Atjeh onder het Bestuur van den Gouverneur Demmeni", IMT (1883), hlm. 502-3.

  34. Untuk melihat sendiri keadaan, Gubernur Jenderal F. 's Jacob datang ke Aceh pada Agustus 1883, begitu juga penggantinya O. van Rees, dalam Maret 1884, E.B. Kelstra, "Atjeh onder het Bestuur van den Gouverneur Laging Tobias", IMT (1887), hlm. 523-4.
  35. Kreemer, Atjeh, I, hlm. 25.
  36. Yang dijalankan Belanda ialah memperketat pos-pos sekitar Ulee Lheue dan Kutaraja, kira-kira 50 km. persegi. Lini yang terkonsentrasi ini ter- diri dari 16 pos-pos, yang masing-masing dikelilingi oleh sebuah dataran yang kosong tanpa pepohonan dan kampung, seluas 1.000 meter. Pos-pos ini terletak dalam suatu garis dari Kuta Po Amat (Pohama) melalui Peukan Krueng Cut, Lam Nyong, Rumpet, Lam Peureume, Lam Baro, Keutapang Dua dan dari sini menjurus ke arah barat laut. Masing-masing pos ini dihubungkan dengan sebuah jaringan telepon yang berpusat di Kutaraja. Lihat, De Geconcentreerde Stelling in Groot-Atjeh, 1885.
  37. Kreemer, Atjeh, I, hlm. 27.
  38. Hooyer, De Krijgsgeschiedenis, III, hlm. 348.
  39. Professor C.A. Pekelharing dan Dr. C.W. Winkler didatangkan dari Negeri Belanda untuk mengadakan penelitian mengenai penyakit ini dan dalam laporannya pada 1888 ia berpendapat, bahwa wabah ini disebabkan karena infeksi. Barulah dalam 1896 seorang asistennya, Dr.
    C. Eijkman, yang kemudian menjadi gurubesar dan mendapat hadiah Nobel menemukan, bahwa penyakit itu disebabkan oleh ketiadaan vita- mine B-1 yang terdapat dalam kulit beras. Paul van 't Veer, De Atjeh Oorlog, 1969, hlm. 161-3. Juga, Brooshooft, op. cit., hlm. 278.
  40. Surat Menteri Jajahan pada GJHB, 's-Gravenhage, 13 April 1888 no. Kab/Litt, 5/n 27 dalam Kab. 13 April 1888, Q 5, ARAS. Sebagai se- kedar illustrasi dapat dilihat pada jumlah yang tertera dalam rekapitu- lasi Gub. van Teijn, 23 Nov. 1887, yaitu sebesar f. 152.700,— setahun untuk Mukim XXVI dan f. 44.400,— untuk Mukim XXII. Yang telah disetujui sejak 1887, berjumlah f. 36.000,—. Lihat Lamp. V, dalam Kab. Geheim tersebut di atas.
  41. Hotz, op. cit., hlm. 76-8.
  42. Missive Residen Ternate, 12 Mei 1887, no. 3/Geheim, dalam Kab. Geheim, 3 Des. 1887, K 15, ARAS. Panglima Tentara Hindia Belanda,
    T. van Zijll de Jong, menulis pada GJHB, bahwa sejak tiga bulan ia di- pindahkan menjadi panglima, hampir tidak sehari pun yang ia lewatkan tanpa pikirannya tertuju guna memecahkan masalah Aceh yang sulit

itu. Konsiderasi dan advies, loc. cit.

  1. Missive, GBA no. 403/5, Geheim, dalam 3 Juli 1887, dalam Kab. Geheim, 3 Des. 1887, K 15, ARAS.
  2. Hotz, op. cit., hlm. 32. E.B. Kielstra, "Atjeh onder het Bestuur van den Gouverneur Demmeni", IMT (1888), hlm. 14-20. Dalam operasi menghadapi T. Umar, turut serta tiga buah kapal perang, yaitu Merapi, Palembang dan Sambas dan kapal Zeemeeuw. Ibid., hlm. 16.
  3. Keputusan GJHB, 20 Desember 1886, Geheim/Cabinet no. 1 dalam Geheim Oost-Indische Besluiten (OIB) 1886, ARAS.
  4. GJHB pada GBA, 30 September 1888 Kab. Letter C. no. 2, dalam Kab. Geheim 13 April 1888, Q 5, ARAS.
  5. Telegram, GBA pada GJHB, 7/10-1887, dalam Kab. Geheim, 3 Desember 1887, K 15, ARAS.
  6. GJHB pada GBA, 30 Sept. 1888, loc. cit.
  7. Van Assen, Nota, op. cit.
    143.J.B. van Heutsz, De Onderwerping van Atjeh, 1893, hlm. 97, Cf. Surat van Langen pada Snouck Hurgronje, Kutaraja, 25 Oktober 1893, koleksi surat-surat pribadi van Langen, Oostersch Instituut Leiden.
  8. Surat van Langen, ibid. Lihat juga, Hooyer, op. cit., hlm. 47.
  9. Hotz, op. cit., hlm. 33. Hooyer, De Krijgsgeschiedenis, hlm. 345.
  10. Hotz, op. cit., hlm. 59.
  11. Missive, GBA pada GJHB, 13 Agustus 1889, no. 176/K, dalam Kab. Geheim, 7 Februari 1890, L 1, ARAS.
  12. Ibid.
  13. A. Struyvenberg, Het Korps Marechaussee 1890—1930, Kutaraja, 1930, hlm. 11.
  14. Kekuatan Belanda terdiri dari kira-kira dua batalyon infanteri, satu kom- pani angkatan laut, dua peleton pasukan berkuda dan tiga seksi artileri, di bawah pimpinan van Teijn dan dibantu oleh kepala stafnya, Kapten van Heutsz, Jumlah pasukan Belanda kurang lebih 1200 orang disertai 100 ekor kuda dan enam pucuk meriam.
  15. Telegram GBA pada GJHB, 25 Januari 1891, dalam Kab. 2 Mei 1891, C 6, ARAS.
  16. Hooyer, De Krijgsgeschiedenis, hlm. 348. Ketika pada 9 Januari 1896 Raja Daud berkunjung di Pante Karang, Mukim V Montasik, ia dihor- mati dengan tembakan meriam tujuh das dan benteng-benteng di tempat itu menaikkan bendera Aceh. Missive, GBA, Kutaraja, 28/1-1896 no. 27/K, dalam Kab. Geheim 23 April 1896, Z 5, ARAS.
  17. Surat van Langen kepada Snouck Hurgronje, Kutaraja, 25 Oktober 1893, Koleksi Snouck Hurgronje Oostersch Instituut, Leiden.

  18. Missive GBH pada GJHB, Kutaraja, 18/1-1896, ibid.

  19. K. van der Maaten, Snouck Hurgronje en de Atjeh Oorlog, jilid I, 1948, hlm. 5. Menurut J.C.A. Bannink, yang pernah bertugas sebagai opsir di Aceh, sampai dengan 1897 terdapat 3.434 opsir dan 5.979 mati dalam pertempuran atau terluka serta sepuluh opsir dan 7.218 bawahan mati karena sakit. Sampai 1.897 lebih kurang 400 juta florin dikeluarkan dari perbendaharaan untuk berperang melawan Aceh ini, J.C.A. Bannink, 'De Verovering en Pacificatie van Atjeh, Vergeleken met de Geschie- denis van Britisch Birma", IG, (1913), I, hlm. 307.
  20. Hotz, op. cit., hlm. 35.
  21. E. Gobee dan C. Adriaanse (eds.). Ambtelijke Adviezen van G. Snouck Hurgronje, 1957, 1, hlm. 95-6.
  22. Mengenai kesediaan Pemerintah Hindia Belanda menerima penyerahan
    T. Umar, lihat C. Snouck Hurgronje, dalam kata pendahuluan, The Achehnese, I.
  23. Kreemer, Atjeh, I, hlm. 33.
  24. Lihat salinan surat Sultan Muhammad Daud dan salinan surat Bangta Muda Tuanku Hasyim dan Bangta Kecil Tuanku Mahmud pada T. Umar, dilampirkan bersama surat dari van Langen pada Snouck Hurgronje, Kutaraja 3 Sept. 1893, Koleksi surat-surat pribadi van Langen, Ooster- sch Instituut. Leiden.

  25. Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje (1857 - 1936), yang terutama dengan na- sihat-nasihatnya mengenai Aceh mempunyai pengaruh yang menentukan pada kebijaksanaan pemerintah Belanda terhadap Aceh.

2.J.B. van Heutsz sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1904-1909). Ini merupakan lukisan resmi hasil karya De Hanuke dan dimaksudkan un- tuk ruangan upacara istana di Weltefreden.

  1. Letnan Jenderal Jan van Swieten sebagai Letnan Muda telah ikut bertem- pur dalam Perang Jawa dan menjadi populer pada Perang Bali. Ia juga me- mimpin salah satu ekspedisi ke Bone.

  2. Mayor Jenderal J.A. Vetter, Komandan tentara ekspedisi ke Lombok. Pada mulanya ia berhasil menyelesaikan pertikaian dengan Raja Cakra- negara tanpa pertumpuahan darah.

N

G.C.E. van Daalen (1863 -1930), dalam tahun 1904 berhasil menakluk-

kan Tanah Gayo, Tanah Alas dan Tanah Batak. Dari tahun 1905 - 1908

ia menjadi Gubernur Aceh.

  1. H. Colijn (1896 - 1944). Ia cukup terkenal dalam tahun 1894 pada eks- pedisi ke Lombok. Pada tahun 1895 ia dipindahkan ke Aceh. Sebagai ta- ngan kanan van Heutsz ia memiliki saham sangat besar dalam penaklukan Aceh secara total.

  2. Gubernur Dijkerhoff

  3. Jenderal Kohler, panglima pasukan yang dikirim ke Aceh tidak tahu ba- nyak, bahkan tidak tahu apa-apa mengenai musuh yang dihadapinya.

  4. Kolonel van der Hijden adalah anak hasil "perkawinan" dari perwira dan ksatria terkenal H. Stuers dengan seorang wanita bangsawan Bugis. Pada tahun 1877 ia menjadi Panglima di Aceh. Ia selalu menggerakkan pasu- kannya dan menyerang pertahanan Aceh satu demi satu.

IV. Ideologi Perang Sabil

Pada 1840 terjadi pertempuran antara pasukan kerajaan Aceh dengan pasukan kerajaan Belanda di Barus. Belanda berhasil merebut bendera perang pasukan Aceh.1 Warna dasar bendera itu merah dan di atasnya terdapat gambar sebilah pedang dan sebuah bulatan seperti bulan purnama, yang berwarna putih.2 Dalam bulatan pada sudut kanan atas bagian luar bendera ada tulisan yang berbunyi: "Bismi 'l-Lāhi majrihā wa mursāhā; inna rabbi laghafurun rahim. Nasrun mina 'l-lahi wa fathun qarib; wa basysyri 'l-mu minin". Artinya, dengan nama Allah diwaktu berlayar dan berlabuh, se- sungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun dan Maha Penyayang, Pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya) dan sampaikanlah berita kepada orang-orang yang ber- iman.4 Pada gambar sebelah dalam bendera terdapat tulisan sebagai berikut:

  1. Bi-'smi 'l-lahi al-rahmani al-rahim
  2. Asadu 'l-lahi al-ghalib
  3. Ali ibnu Abī Talib
  4. Karrama'l-Lahu wajhah
  5. Nadi Aliyyan muzhira 'l-'aja'ib
  6. Tajib awnan laka fi 'l-nawa'ib
  7. Bikulli hammin wa ghammin sayajil
  8. Binubuwwatika ya Muhammad wa biwilayatika yā Ali
  9. Lā fata illa Ali, la sayfa illa za'lfaqar
  10. Khairu khalqi al-rahmani, kabiru al-muminin
  11. Yā huwa kabiran azim
  12. Yā man huwa
  13. Ya man la illaha illa huwa
    artinya:

  14. Dengan nama Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

  15. Singa Allah Ta ala yang perkasa

  16. Ali bin Abi Talib
  17. Semoga Allah memuliakan wajahnya
  18. Panggilah Ali orang yang dapat melahirkan berbagai ke- ajaiban
  19. Anda akan mendapatkan pertolongan dalam kesusahan
  20. Bagi tiap-tiap kegelisahan dan dukacita akan lenyap
  21. Dengan berkat kenabianmu ya Muhammad dan dengan pim- pinanmu ya Ali
  22. Tiada pemuda [yang paling perkasa] selain Ali tidak ada pedang [yang paling tajam] selain pedang zulfakar
  23. Makhluk yang paling baik dari Tuhan yang Maha Pemurah! Orang-orang yang paling besar di antara orang-orang muk- min
  24. Wahai Dia, yang Maha Besar lagi Maha Agung
  25. Wahai Dia
  26. Wahai Dia, tiada ada Tuhan melainkan Dia.⁵ Pada bendera sebelah luar di bahagian gagang pedang terdapat
    tulisan: Hādha 'l-murabba u kāna mauwdhu an ala liwā'i 'l-Iskandar, yang artinya: segi empat ini terletak pada bendera Iskandar. Pada ujung pedang terdapat kalimah Lā illaha illā Allah; tiada Tuhan melainkan Allah. Dalam segi empat terdapat 10 x 10 buah segi empat kecil yang memuat nama Tuhan sebanyak sepuluh nama, yaitu: (1) Qa'im [menjaga], (2) Qayyum [berdiri Sendiri],

(3) Quddus [Maha Suci], (4) Qadir [Maha Menentukan], (5) Qawi [Maha Kuat], (6) Qahir [Maha Menguasai], (7) Qadim [tak Berawal], (8) Qabid [Menyempitkan rezki], (9) Qarib [Maha De- kat], (10) Qabilu 'l-tawab [Maha Menerima taubat].6 Pada keliling segi empat tadi tertulis: "Wa yā qādiran ahlik aduwwi wolandā bi-kaidihi, Aw muqtadiran arrazi 'l-kadzūba 'l-muqawilla wolandū Wa yā qādiran ahlik aduwwi wolanda bi-kaidihi wa muqtadiran arrazi .l-kadquba 'l-muqaw- wila wolanda, yang terjemahannya, berbunyi demikian: "Dan wahai Tuhan yang Maha Kuasa hancurkanlah musuhku Belanda dengan tipu dayanya, atau Zat yang menguasai orang yang dihinakan, bagi pembohong dan banyak omong, yaitu orang-orang Belanda, dan wahai Tuhan yang Maha Kuasa hancurkanlah musuhku Belanda dengan tipu dayanya, dan Zat yang Menguasai orang yang dihinakan; bagi pembohong dan banyak omong, yaitu

orang-orang Belanda. Pemakluman perang serta serangan-serangan yang dilancarkan oleh pihak Belanda mengakibatkan dalam atau kraton jatuh. Ja- tuhnya korban-korban, baik sebagai akibat serangan Belanda mau- pun karena penyakit kolera, telah menimbulkan ketegangan dalam masyarakat Aceh. Situasi yang diakibatkan oleh terjadinya ketegangan strukturil itu dijelaskan oleh Tuanku Hasyim dan para pemimpin sagi di Aceh Besar, kepada pemimpin-pemimpin Aceh yang lain. Dalam suratnya tertanggal 18 April 1874 kepada T. Imum Chik Lotan, raja Geudong, Pasai, Aceh Utara, Tuanku Hasyim bersama Sri Muda Perkasa Panglima Polem, Sri Muda Setia dan Sri Setia Ulama menulis, mengatakan antara lain sebagai ber- ikut: ...kami taarifkan kepada wajah saudara kami maka adalah seperti peperangan dalam Aceh mula-mula diperang kepada la- pan belas hari bulan Syawal kepada hari Selasa di Pasir Lambaga hingga sampai Kuala Aceh dapatnya .. Demikianlah halnya, maka negeri yang sudah kebinasaan empat Mukim, pertama Lheu dan Masijid Raya, Masijid Lueng- bata dan Gigieng dengan Lhok Gulong dan takluk setengah Mukim orang Meuraksa, maka lain daripada itu Insya Allah Taala tiada ubah kepada Allah dan Rasul melainkan melawan dengan sekuat-kuat melawan siang dan malam, hatta tinggal negeri Aceh sebesar-besar nyirupun melawan juga, demikianlah pakatan orang tiga sagi dan ulama-ulama dan haji-haji dan sekalian mus- limin, maka sekarangpun jikalau ada yakin saudara kami akan Allah dan Rasul dan akan agama Islam mendirikan syari'at Muhammad dan bersaudara dengan kami semuanya dalam Aceh maka hendaklah saudara kami melawan dengan sekuat-kuat melawan mudah-mudahan terpelihara syari'at Muhammad agama Islam dan nama agama bangsa Aceh adanya.7

Surat senada juga ditulis oleh pemimpin lain. pada bulan Desem- ber 1877 Tgk. Muhammad Amin Dayah Cut Tiro menyerukan agar barang siapa yang yakin akan Allah dan Rasul-Nya hendaklah ber- perang sabil ke Aceh Besar. Rakyat dianjurkannya untuk berpuasa tiga hari, membaca Qur'an dan mengadakan kenduri, memberi sedekah untuk menolak bala serta bertobat jika telah melanggar syari'at Islam.8

Dari kedua surat ini tampaklah adanya usaha untuk memper- siapkan orang Aceh agar melakukan aksi kolektif berdasarkan ke- yakinan agama dan ditopang dengan dasar moral yang tinggi. Usaha yang sejajar diperankan pula oleh sekelompok cendekia- wan yang mahir dalam sastra. Sebahagian dari mereka adalah pem- bawa pantun dan hikayat yang mempunyai fungsi menghibur masyarakat tanpa membaca teks. Salah seorang yang termasuk dalam kelompok ini adalah Dokarim berasal dari Keutapang Dua, Mukim VI, Sagi Mukim XXV. Hasil karya penyair ini Hikayat Prang Compeuni, berisikan tindakan-tindakan kepahlawanan Aceh dalam perlawanan terhadap Belanda.9 Selama bertahun-tahun ia menyampaikan hikayat gubahannya itu, ia mendapatkan upah yang menarik. Bahan-bahan yang sudah terpateri dalam ingatan- nya tidak pernah sama benar diucapkannya dengan yang pernah dibawakannya sebelumnya. Di sana-sini ada yang dikuranginya, ada pula yang ditambahkannya dengan bahan-bahan lain dari waktu ke waktu sesuai dengan bahan yang diperolehnya dari saksi- saksi mata. Para pendengar tidak mudah dapat mengetahui kesalahan-kesalahan yang terdapat di dalamnya, berlainan halnya dengan para pembaca yang mudah mengikuti kesalahan-kesalahan yang ada, jika hikayat seperti itu telah dituliskan. Snouck Hur- gronje menyuruh salin Hikayat Prang Compeuni ini dari ucapan Dokarim sendiri secara lengkap. Sebelumnya tidak pernah ada hikayat ini yang tertulis, kecuali hanya ada sebuah fragmen yang di- suruh salin oleh seorang uleebalang. 10 Selain daripada itu dari kalangan pemimpin agama, terdapat misalnya Tgk. Nyak Ahmad alias Uthi dari Gampong Cot Paleue, Pidie, yang menghasilkan karya sastra yang digolongkan dalam Hikayat Prang Sabil (HPS). Apakah yang dimaksud dengan Perang Sabil ini? Tgk. Nyak Ahmad menjelaskan sebagai berikut ini: Soe prang kaphe lam prang sabi Niet peutinggi hak agama Kalimah Allah agama Islam Kaphe jahannam asoe nuraka Sabilullah geupeunan prang Tuhan pulang page syeuruga Ikot suroh sampoe janji Pahala page that sampurna.11

Terjemahannya:

Yang memerangi kafir di medan sabil meninggikan Niat meninggalkan hak agama Kalimah Allah agama Islam Kafir jahannam isi neraka Sabilillah dinami perang Tuhan berikan akhirnya surga Mengikuti suruhan sampai ajal Pahala nanti sangat sempurna.

Ideologi perang sabil sudah lama tertanam dalam masyarakat Aceh. Syaikh Ibrahim Lam Bhuek bin Syaikh Marhaban, yang menjadi pejabat uleebalang Mesjid Raya, menyatakan, bahwa pi- kiran berperang sabil melawan kafir ini sudah ada sejak Portugis menyerang Aceh.12 Hikayat Malem Dagang, yang ditulis pada abad XVII M. yang mengisahkan masa perlawanan Aceh terhadap Por-

tugis, menyebut tentang perang sabil sebagai berikut13 :

Peue katakot prang Yahudi Nibak Nabi asay mula Peue katakot prang sabi Teuntee (tuan Teu) Ali neuboh panglima Bak si'uroe raja muprang Malem Dagang neuboh panglima.

artinya:

Mengapa takut perang Yahudi

Daripada Nabi asal mula Mengapa takut perang sabil Tuan kita Ali dijadikan panglima Pada hari ini raja (Iskandar Muda) berperang Malem Dagang dijadikan panglima

Kisah melawan kafir seperti tercermin di dalam Hikayat Malem Dagang ini rupanya terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Tgk. Chik Kutakarang dalam tulisannya pada tahun 1889 menun- juk pada kisah Malem Dagang ini,14 sebagai peristiwa perang melawan kafir di masa lalu dan menasihatkan supaya orang Aceh me-

narik pelajaran dari padanya.15 Pada masa perang Belanda Hikayat Prang Sabil dibaca di dayah- dayah, di meunasah-meunasah atau di rumah-rumah ataupun di tempat lainnya sebelum orang pergi berperang.16 Di Aceh di dae- rah yang diduduki Belanda orang membaca hikayat perang secara sembunyi-sembunyi. Untuk menyebarkan isinya tidak hanya di- sampaikan dengan membaca, tetapi naskah HPS disalin berkali- kali dan diusahakan tersebar ke pelbagai pelosok Tanah Aceh. Ka- dangkala berbagai kisah disalin dalam satu naskah, seperti dalam HPS, Cod. Or. 8690, (tidak berangka tahun), yang berisikan kisah Abdul Wahid dan kisah Sa'id Salmi, sedangkan HPS, Cod. Or. 8706, tahun 1330 H (1912) cuma berisi kisah Abdul Wahid. Satu- satunya karangan yang berisi anjuran berperang sabil yang berbentuk prosa adalah Kitab Tadhkirat al-Rakidin (Cod. Or. 8037b)17, karangan Syaikh Abbas Ibnu Muhammad alias Tgk. Chik Kutaka- rang. Ada juga versi yang lebih panjang dengan judul yang sama (Cod. Or. 8037), tetapi sebagian dari padanya berbentuk hikayat.18 Bagaimanakah struktur keyakinan yang menyangkut jihat senjata lawan senjata seperti tercermin dalam Hikayat Prang Sabil yang dalam jumlah banyak telah muncul dalam perang Belanda di Aceh? Sebelum kita membicarakan isi HPS yang telah memainkan peranan dalam menunjukkan jalan keluar dengan tindakan-tindakan (aktifisme) untuk mengatasi ketegangan yang ada, perlu dising- gung terlebih dahulu hikayat sebagai jenis sastra dalam masyarakat Aceh.

A. PERANG SABIL DAN HIKAYAT Hikayat adalah sastra Aceh yang berbentuk puisi di luar jenis panton, nasib dan kisah. Bagi orang Aceh hikayat tidak berarti hanya cerita fiksi belaka, tetapi juga berisi hal-hal yang berkenaan dengan pengajaran moral dan kitab-kitab pelajaran sederhana, asal- kan ditulis dalam bentuk sanjak.19 Bagi orang Aceh mendengarkan atau membaca hikayat merupakan hiburan yang utama, terutama sebagai bentuk hiburan yang bersifat mendidik.20 Dalam sastra Melayu, yang disebut hikayat adalah karya sastra yang berbentuk prosa.2í Di Aceh, uraian perang sabil disajikan dalam bentuk hikayat. Meskipun demikian, beberapa di antaranya ada yang disajikan dalam bentuk prosa.22 Dari segi isi HPS dapat dibagi atas hikayat, (1) yang berisi anjuran berperang sabil secara umum dengan menunjukkan pahala atau

keuntungan dan kebahagiaan yang diraih, dan (2) yang berisi beri- ta mengenai tokoh atau keadaan peperangan di suatu tempat yang patut disampaikan kepada masyarakat untuk mendorong semangat orang berjihad. Ada juga naskah-naskah yang mencakup kedua isi ini. Naskah mengenai perang sabil yang tertua yang kita jumpai adalah di Perpustakaan Universitas Negeri di Leiden, Negeri Belanda, ditulis pada 11 Sya'ban 1122 H. atau 5 Oktober 1710 M., tertulis

dalam bahasa Aceh.23 Sayangnya, nama pengarangnya tidak ter-

tera di dalamnya. Hanya penggubah hikayat ini menyebutkan, bahwa sumber gubahannya itu adalah kitab Mukhtasar Muthiri'l- gharām yang berarti Kitab Ringkas yang Menggerakkan Cinta yang Menyiksa Hati. Pada halaman terakhir ia menyebutkan, bahwa ia mengambil bahannya untuk menulis dari Syaikh Ahmad Ibn Musa, yang besar kemungkinannya adalah penulis Mukhtasar itu. Dengan tiada menyebut juga siapa pengarangnya, Tgk. Chik Kutakarang mengutip sedikit dari kitab Mukhtasar itu yaitu mengenai sekelom- pok perampok yang kemudian insaf akan perbuatannya yang dur- jana lalu menempuh jalan tobat dengan cara pergi berperang sa-

bil.24 Tidak ada keterangan lain yang diperoleh mengenai kitab

Mukhtasar itu. Sebuah HPS yang lain, juga dalam bahasa Aceh, yang ditulis pada 1834, jadi beberapa puluh tahun sebelum perang dimulai juga tidak menyebutkan siapa penulisnya. Di dalamnya cuma dikemu- kakan, bahwa hikayat itu digubah berdasarkan karangan Syaikh Abdussamad dari Palembang, seorang murid Syaikh Saman di Ta- nah Arab25 (meninggal 1775 M.), berjudul Nasihatu 'l-muslimin-26 Kedua naskah yang tersebut di atas termasuk dalam kumpulan hikayat yang berisi anjuran berperang sabil secara umum yang di dalamnya diuraikan faerah-faedah bagi mereka yang syahid. Ada tujuh faedah akan diterima orang yang mati dalam perang sabil:

(1) diampunkan semua dosanya oleh Allah Ta'ala, (2) mendapat tempat dalam surga dengan pelbagai kenikmatan, (3) kuburnya menjadi luas dan ia akan sentosa di dalamnya, (4) luput daripada bahaya kiamat, (5) di dalam surga mendapat pakaian yang indah disertai permata-permata, (6) memperoleh istri bidadari satu mah- ligai berjumlah 72 orang, dan (7) diampunkan oleh Tuhan dosa 70 kerabat dari orang yang mati syahid itu.27 Di samping itu bagi mereka yang mengeluarkan belanja untuk kepentingan perang sabil akan dibalas oleh Tuhan dengan imbalan berlipat ganda dan

mereka akan dimasukkan ke dalam surga.28 Dengarlah apa yang di-

senandungkan oleh HPS Tgk. Nyak Ahmad: Ureueng nyang na bri beulanja Sit meuganda pahala datang Beucit tabri saboh saja Meuganda Tuhan neupulang Sideureuham jinoe taboh Tujoh reutoh 'oh neupulang Balaih saboh tujoh reutoh Tuhan neuboh lam Qur'an.29

artinya:

Orang yang berada memberi sumbangan Memang berganda pahala datang Biarpun kita memberi satu saja Berganda Tuhan mengembalikan Satu dirham sekarang kita berikan Tujuh ratus ketika dikembalikan Pembalasan satu adalah tujuh ratus Tuhan sebut dalam Qur’an.

Dalam surat al-Baqarah ayat 261 dinyatakan bahwa ".. orang-orang yang menafkahkan hartanya pada jalan kebajikan (sabilillah) seperti buah biji yang tumbuh menjadi tujuh tangkai, pada tiap- tiap tangkai itu berbuah seratus biji, Allah mempunyai kurunia luas lagi mengetahui.30 Di dalam HPS disebutkan bahwa perang sabil ini hukumnya adalah fardhu ain, yakni diwajibkan kepada semua orang mukmin, laki-laki dan perempuan, tua dan muda termasuk anak-anak.31

Dalam HPS tertua yang ditemukan (1710) terdapat rangkap syair,

sebagai berikut: Wates jitueng naggroe le kaphe dum ta sare wajeb tamuprang Han jeued ta'lem peuseungue droe duek lam naggroe tameuseunang Bak wates nyan fardhu ain beu tayakin sang seumahyang

Wajeb tapubuet jeuep kutika

meunghan deesya teu hai abang Han sampurna seumahyang puasa meunghan tapeukeue tajak muprang Fakir meuseukin dum cut raya tuha muda agam inong Yang na dapat lawan kaphe meski bahle lamiet urang Pardhu ain cit u ateueh beu that be'teulheueh bak habeh utang Arta wajeb tamubeulanja

keu soe nyeung na tem jak muprang.32

artinya:

Waktu kafir menduduki negeri Semua kita wajib berperang Jangan diam bersunyi diri Di dalam negeri bersenang-senang Di waktu itu hukum fardhu ain Harus yakin seperti sembahyang Wajib kerjakan setiap waktu Kalau tak begitu dosa hal abang Tak sempurna sembahyang puasa Jika tak mara ke medan perang Fakir miskin, kecil dan besar Tua, muda, pria dan wanita Yang sanggup melawan kafir Walaupun dia budaknya orang

Hukum fardhu ain di pundak kita

Meski tak sempat lunaskan hutang Wajib harta disumbangkan Kepada siapa yang mau berperang

Kemudian ikuti pula kutipan dari HPS ini:

Got ureueng binoe got ureueng lakoe Dum sinaroe tuha muda Aqil baligh, kanak-kanak Dum ijmak wajeb seureuta Saleh, pasek, alem, jahe Wajeb sare tekeureuja Raja, rakyat, uleebalang Wajeb muprang dum beurata Kaphe nyang prang nanggroe geutanyoe Wajeb sinoe lawan rata Hareuem taplueng wajeb lawan

Peureulee in ateueh geutanyoe.33

Artinya:

Baik wanita atau pria Semuanya, tua dan muda Akil balig, kanak-kanak Menurut ijmak ikut serta Saleh, fasik, alim, jahil, Wajib semua mengambil bagian Raja, rakyat, uleebalang Wajib berperang sama rata Kafir yang menyerang negeri kita Wajib di sini lawan segera Haram lari, wajib melawan Fardhu ain kepada kita.

Di dalam berbagai HPS ada dikemukakan, bahwa ibadat yang utama adalah perang sabil. Sampai-sampai di waktu peperangan melawan kafir perang sabil lebih diutamakan daripada ibadat haji.34 HPS tahun 1894, yang digubah oleh Tgk. Nyak Ahmad tersebut di atas, juga menyebutkan kitab Nasihatu 'l-Muslimin karangan Syaikh Abdussamad sebagai sumber gubahannya.35 Ada persama- an isi dengan HPS tahun 1834 yang telah tersebut lebih dahulu. Salah satu kisah dalam HPS yang menceritakan tentang tokoh

yang telah menjatuhkan pilihannya untuk berperang sabil adalah cerita seorang pemuda berumur 15 tahun, murid seorang ulama bernama Abdul Wahid.36 Muda belia ini mendengar orang mem- baca ayat Qur'an "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka, bahwa untuk mereka surga" Belum sampai ayat ini selesai seluruhnya dibaca hati pemuda itu sudah terbakar. Baru demikian saja yang didengarnya ia dengan serta merta bangkit lalu menyatakan hendak menyerahkan nyawa- nya kepada Tuhan dengan memerangi kafir. Dihabiskannya harta- nya untuk membeli pakaian perang dan alat-alat senjata. Tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk teman-temannya. Ia pun berangkat lebih dahulu daripada rakyat dan gurunya menuju tempat pertempuran memerangi kafir. Setelah sehari dalam perjalanan, sampailah ia pada suatu tempat perhentian. Ia pun tertidur dengan lelapnya, karena sangat lelahnya dalam perjalanan, dan dia pun bermimpi. Ketika ia bangun teringatlah ia akan keindahan surga dan kecantikan bidadari Ainul Mardhiah vang bertemu dengannya dalam mimpi. Waktu itulah datang gurunya Abdul Wahid bersama rakyat yang turut dalam pasukannya ke tempat itu. Dengan air mata yang berlinang-linang diceritakanlah perihal mimpinya itu kepada gurunya. Kepada gurunya ia berkata: "Wa asyuqu ila 'l- aini 'l-mardiyyah,37 artinya; dan aku rindu pada Ainul Mardhiah. Lebih dari dua puluh halaman kertas dihabiskan oleh pengarang HPS ini untuk melukiskan keindahan surga termasuk bidadari-bidadari dan dayang-dayang yang cantik rupawan. Kemudian gurunya menasihatkan, agar ia segera mengeringkan air matanya dan masuk ke dalam barisan peperangan karena sudah sampai waktunya kawin dengan si jantung hati. Segera ia melom- pat ke atas kudanya dan dengan semangat yang tinggi ia bertempur melawan kafir. Di medan perang banyak sekali musuh yang dibunuhnya. Akhirnya, robohlah ia. Penggubah syair menyebutkan, bahwa bidadari-bidadari dan dayang-dayang segera menyambutnya yang baru syahid itu ke dalam pangkuan. Abdul Wahid melanjutkan pertempuran dan banyak pula musuh Nabi yang dibunuhnya. Yang lari, dikejar pula oleh Abdul Wahid bersama rakyat yang turut dengannya. Untuk mengambil berkat, jasad pemuda itu tidak dikuburkan sampai tiga hari, ke mana saja pasukan itu mengejar musuh jenazahnya dibawa bersama mereka, hingga kafir celaka semua takut dan melarikan diri. Berkat perto- longan Allah rakyat dengan selamat kembali ke kampungnya.

Hasrat muda belia itu disampaikan Allah. Ia menikmati kelezatan surga, siang malam bersuka-sukaan dengan bidadari-bidadari. Sebe- lum menutup gubahannya pengarang mengemukakan, bahwa kisah muda belia itu adalah kalam Abdul Wahid yang pasih dalam bahasa Arab.38 Terakhir pengarangnya menyerukan supaya orang mengambil ibarat dari kisah ini. Jika sudah demikian besarnya imbalan yang diberikan oleh Tuhan, maka mengapakah kita masih berdiam diri tiada mempedulikan perang sabil itu? Dalam sebuah HPS yang lain terdapat pula kisah Sa'id Salmi yang oleh pengarang dikatakan terjadi pada zaman Nabi Muhammad s.a.w.39 Maksud pengarangnya adalah agar perbuatan memilih perang sabil itu dijadikan suri teladan oleh orang-orang muslimin yang lain. Sa'id Salmi, seorang yang sangat hitam warna kulitnya dan berwajah buruk, menghadap Nabi Muhammad dan menanya- kan jalan manakah yang senang untuk kembali kepada Allah. Nabi menjawab, bahwa perang sabil adalah jalan yang terbaik dan tidak ada jalan lain yang melebihinya. Sa'id Salmi bertanya demikian karena mukanya yang buruk itu tak seorang pun perempuan yang mau dengannya. Nabi sangat sayang melihat Sa'ad, lalu menyuruh- nya pergi kepada Umar bin Khattab untuk membawa pesan Nabi, agar Umar mengambil Sa'id sebagai menantunya. Sa'id pergi ke rumah Umar untuk menjalankan perintah Nabi. Ketika Umar membuka pintu dan melihat orang yang sangat hitam, ia undur ke belakang, takut dan jijik melihat wajah orang yang di depannya. Setelah Sa'id Salmi menyampaikan maksud kedatangannya, Umar menolaknya, karena menganggap sebagai fitnah belaka. Sa'id pergi sambil mencucurkan air mata. Putri Umar yang cantik, saleh, dan taqwa memprotes ayahnya yang tidak mau menerima jodoh pem- berian Rasulullah. Ia minta supaya seketika itu juga ayahnya pergi menghadap Nabi untuk minta ampun, sambil menyampaikan per- mintaan putrinya itu yang bersedia dinikahkan dengan Sa'id Salmi. Dalam musyawarah itu diputuskan bahwa dua hari lagi mereka akan dinikahkan. Nabi memanggil Sa'id Salmi dan menyuruh Sa'id meminta uang sebanyak 1000 derham kepada Ali, Usman, dan Abu Bakar, untuk mahar dan pembeli pakaian pengantin. Sahabat- sahabat Nabi dengan rela memberikan 2000 derham masing-masing. Tiba-tiba dengan takdir Tuhan, datanglah kafir Yahudi me- nyerang ummat Islam. Nabi menyerukan agar kafir Yahudi yang datang itu dilawan. Pada waktu itu Sa'id Salmi sedang berbelanja. Mendengar seruan berperang sabil itu, ia pun dengan sukarela ingin

turut serta, mengikuti jejak Nabi berperang sabil. Ia sudah tidak berhajat lagi akan istri yang hendak dinikahinya itu. Ia lalu mem- beli pakaian, bedil dan obat bedil, pedang yang tajam dan seekor kuda. Ia sangat berbahagia. Kepada masalah dunia ia tidak lagi ber- nafsu, ia rindu ke akhirat. Sahabat-sahabat Nabi sedang berperang. Ali dengan gagah berani menyerang musuh, dan banyaklah kafir yang mati. Dengan pedang terhunus di atas kuda, Sa'id Salmiturut mengambil bagian dalam pertempuran. Ia kelihatan sangat gagah sampai sahabat-sahabat Nabi tidak dapat mengenalnya lagi. Ba- nyak kafir yang mati dicencangnya. Kemudian, Sa'id tewas kena senjata kafir. Akhirnya kafir kalah dan lari. Mayat Sa'id Salmi di- temukan oleh Ali dan Rasulullah. Nabi menangis, tetapi kemudian sambil melihat ke kanan dan ke kiri Nabi tersenyum. Ketika dita- nya oleh sahabat-sahabat, mengapa Nabi berbuat demikian. Beliau menjawab, bahwa hati beliau sedih, karena hajat Sa'id Salmi dalam dunia ini tidak kesampaian. Beliau tersenyum, karena tampak kepada beliau bidadari-bidadari yang cantik jelita berebut-rebut hendak mempersuntingkan Sa'id Salmi. Tuhan memberikan kepada Sa'id Salmi tujuh puluh bidadari dalam surga, siang malam ber- suka-suka dengan segala hidangan yang lezat-lezat. Jasad Sa'id di- makamkan dan hartanya disuruh antarkan kepada Umar. Putri Umar menangis tersedu-sedu seraya berkata, bahwa Sa'id Salmi adalah tetap jodohnya yang sah. Akhir kisah pengarangnya me- nutup demikian: Habeh kisah ureueng bahagia He syeedara tueng ibarat Jak he teungku bak prang sabi Bek le lanti wahe sahbat.40 Artinya: Habislah kisah orang bahagia Hai saudara ambillah ibarat Pergilah hal teungku berperang sabil Jangan tunggu lagi wahai sahabat. Di depan telah disinggung sedikit mengenai Mukhtasar Muthiri 'l-gharām. Sebagian isinya yang dikutip oleh Syaikh Abbas ibn Muhammad menceritakan41 bahwa ada seorang berladang dalam

rimba menanam pelbagai jenis tanaman bersama anak dan istrinya. Pada suatu hari datanglah beberapa penyamun ke ladangnya dan disapa oleh peladang tadi bertanyakan ke mana mereka hendak pergi dengan membawa alat-alat senjata. Sahut penyamun berdus- ta, mereka hendak pergi berperang sabil, memerangi semua kafir. Mendengar akan hal itu si peladang segera mempersilakan tetamu- nya naik ke rumahnya dan menjamu mereka sesuai dengan adat yang berlaku. Kepada penyamun-penyamun itu disajikan sekedar apa yang ada pada peladang itu, yaitu nasi dengan lauk ayam dan itik serta buah-buahan yang terdapat di ladangnya. Penyamun-penyamun berbisik-bisik sesama mereka bahwa kebaikan hati si peladang taklah elok dibalas dengan kejahatan. Peladang itu mem- punyai seorang anak yang sedang sakit lumpuh dan tidur tiada jauh dari tempat tamu-tamunya bersantap. Keesokan harinya, se- telah makan pagi, penyamun-penyamunpun berangkat meninggal- kan peladang itu. Air dalam kobokan bekas cuci tangan penyamun-penyamun itu diambil oleh si peladang dan diusapkan oleh- nya bersama istrinya pada badan anaknya yang sakit itu, dan sebagian airnya diberinya kepada anaknya untuk diminum. Dengan takdir Allah anak itu segera sembuh dari sakitnya dan langsung da- pat berjalan. Demikianlah, kata kedua orang tua itu, khasiat dari mereka yang mengabdikan dirinya kepada perang sabil. Ketika penyamun-penyamun kembali ke ladang orang itu, amatlah terke- jut mereka melihat bahwa anak yang sakit itu telah sehat wal'afiat. Mereka lalu bertanya dari mana datangnya obat yang telah me- nyembuhkan anak yang sakit itu. Si peladang menjawab tidak ada obat apa-apa, hanya air bekas cuci tangan tamu-tamu itulah yang diberikannya, sebagian disapukan pada badan anak itu dan sebagian lagi diberinya untuk diminum. Mendengar ucapan ini penyamun-penyamun itu amat terperanjat dan segera sadar akan kejahatan mereka selama ini. Seraya menyebut nama Allah, mereka

waktu itu juga ingin tobat nasuha,42 yaitu dengan segera pergi ke

medan perang sabil. Adapun yang termasuk dalam kategori berita peperangan setem- pat adalah misalnya HPS yang mengisahkan hebatnya penyerangan pasukan Aceh ke Sigli.43 Di dalam naskah yang ditulis pada tahun 1878 ini diceritakan, bahwa yang mula-mula menggerakkan peperangan itu adalah Tgk. di Tiro dan yang menjadi panglima adalah Tgk. Dōsalam dan Tgk. di Pante Raja. Kemenangan ada di pihak Aceh dan tak seorang pun terluka dalam peperangan itu. Menurut

sumber Aceh itu pula untuk menebus kekalahannya, Belanda ke- mudian mengirimkan tiga buah kapal perang dengan tugas menem- bakkan peluru-peluru meriamnya terhadap pertahanan pihak Aceh. Bagaimana pula keterangan pihak Belanda? Rupanya sumber Belanda tidak ketinggalan pula menyebutkan, bahwa kedudukan Belanda di Sigli mendapat hantaman dari Tgk. Chik di Tiro pada bulan April dan Mei 1878. Akibat serangan Aceh 3 Mei 1878 itu rumah Asisten-residen terbakar. Lima orang pasukan Belanda luka- luka, di antaranya seorang opsir, satu orang serdadu tewas, sedang- kan di pihak Aceh, menurut Belanda, 50 a 60 orang menjadi ma- yat. Serangan balasan dari pihak Belanda dipimpin oleh Kolonel van der Heyden dengan menggunakan kapal-kapal Watergeus, Soerabaja dan Metalen Kruis.44 Adapun di Pasai, Aceh Utara, terdapat pula sebuah hikayat yang dinamakan Hikayat Prang Geudong.45 Hikayat ini memuji T. Raja Hitam, raja Geudong, yang menjual hartanya untuk membeli senapan dan senjata tajam guna memerangi kafir. Pada suatu ma- lam ia bermimpi melihat surga dengan segala keindahannya. Di sana dilihatnya bidadari yang cantik jelita 'Ainul Mardhiah bersama bidadari-bidadari lainnya yang menyebut dirinya pengantin wanita dalam peperangan. Mereka sedang menanti orang-orang syahid, karena sudah rindu hendak tidur bersama dengan yang mati syahid itu. Raja Hitam ingin mengenyam kenikmatan surgawi, tetapi tidak akan tercapai sebelum ia berusaha mempertinggi agama Tuhan. Raja Hitam terbangun dari mimpi yang indah itu, tetapi dalam mimpinya ia tidak dapat mengenyam kenikmatan meniduri bidadari di surga. Sambil menangis ia menceritakan mimpinya itu kepada ulama. Nasihat ulama tiada lain adalah supaya ia segera bersiap untuk memerangi kafir. T. Bahron adalah orang tua yang bertindak sebagai panglima membantu Raja Hitam. Dalam pertem- puran menghadapi Belanda T. Raja Hitam tewas kena peluru. Mu- suh ada yang mati, tetapi tidak diketahui berapa jumlahnya. Tau- ladan yang telah diberikan T. Raja Hitam seyogyanya diikuti oleh saudara-saudara yang lain. Di dalam hikayat ini Belanda disebut sebagai kafir bangsat, kafir anjing dan kafir Yahudi. Di bagian lain hikayat ini diceritakan kisah seorang menteri bernama Palkis pada zaman Nabi Muhammad. Palkis bertanya kepada Nabi, manakah jalan yang senang untuk kembali kepada Tuhan. Nabi menjawab bahwa tak ada lain kecuali perang sabil dan tidak pula ada yang se-

indah itu. Sayang bagian akhir dari Hikayat Prang Geudong ini hilang, nama pengarangnya pun tidak disebut serta pula tidak ada berangka tahun. Pengarang Hikayat Prang Geudong ini mungkin mendapat inspirasi dari kisah Abdul Wahid dari tanah Arab seperti yang telah dibicarakan di muka, meskipun naskah Abdul Wahid yang sampai ke tangan penulis adalah lebih muda daripada Hikayat Prang Geudong. Meskipun Hikayat Prang Geudong tidak menyebutkan bila pe- perangan itu berlangsung dapat juga kita mengetahuinya serba se- dikit, berhubung terdapatnya ihwal tersebut dalam sumber Belanda. Koloniaal Verslag 1899 melaporkan, bahwa pemimpin-pemimpin dan rakyat Geudong mengambil sikap bermusuhan terhadap Belanda.46 T. Raja Hitam beserta kepala-kepala adat dibawahnya dipanggil oleh Belanda untuk menghadap Gubernur Sipil dan Mili- ter mereka di Lhok Seumawe pada 6 Oktober 1898. T. Raja Hitam tidak mempedulikan permintaan Belanda itu. Oleh karena itu pada tanggal 15 Oktober 1898 Belanda menyerang Geudong dan dalam pertempuran itu menewaskan T. Raja Hitam dan abang ipar- nya T. Bahron, seorang ulama. Di pihak Aceh terdapat 15 orang mati, sedangkan Belanda menderita delapan orang luka-luka dan seorang tewas;47 Memadailah kiranya tema dalam HPS yang dipilih, yang dapat dianggap sudah mewakili seluruh HPS, sedangkan satu dua lainnya ada yang tidak dimasukkan dalam perbincangan ini. Bagaimanakah cara teungku-teungku penggubah meyakinkan para pembaca atau pendengarnya, agar sudi menuruti seruan dalam HPS? Sebagaimana kita ketahui, Firman Tuhan dalam Al-Qur'an adalah sumber hukum yang tertinggi bagi umat Islam. Maka dican- tumkanlah oleh penggubah HPS ayat-ayat Qur'an yang berkaitan dengan perang di jalan Allah, agar penganut-penganut agama Islam dengan penuh taqwa mengikuti kehendak Allah. Ayat-ayat Qur'an yang kerap ditemukan dalam berbagai HPS

adalah sutat al-Taubah ayat 111 dan al-Baqarah ayat 195.48 Ter-

jemahannya berbunyi demikian: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur'an. Siapakah yang lebih menetapi

janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (al-Taubah ayat 111). Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan jangan kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (al-Baqarah ayat 195).

Selain daripada itu dalam HPS selalu terdapat amkiram agar orang berdoa kepada Tuhan supaya kafir dapat dikalahkan. Dalam sebuah HPS dikemukakan sebagai berikut

Beule takheun dō a hauqalah,49 neubri le Allah bahaya hilang Lom talakee ubak Po droe, gaunab uroe dō a beusabe Beuha takheun jeueb-jeueb peurintah, neubri le Allah bahya han le Talakee lom wahe abang, keu ureueng muprang tulōng Tuhan bri Talakee tulōng wahe sampee, beugadoh sitree dum lam nanggri Tabeuet do a deusunggoh hate, peutang pagi bek na khali Sunat takheun jeueb-jeueb seumahyang, do a beureujang keu ureueng prang sabi Allahumma unsuril mujahidina wal murabitina fi sabilika, nyan tabaca tieb-tieb (watee) wahe akhi Talakee do a keu ureueng muprang, bek na reunggang tieb-tieb hari.50 Terjemahannya adalah demikian:

Banyaklah membaca doa haukalah, diberi Allah bahaya hilang Lagi mintalah kepada Tuhan, setiap hari doa selalu Hendaknya diamalkan tiap-tiap perintah, dijauhkan Allah daripada bahaya Mintalah lagi wahai abang, supaya Tuhan menolong orang yang berperang

Mintalah lagi wahai saudara, sehingga hilang semua musuh di dalam negeri Bacalah doa dengan sungguh hati, petang pagi jangan berhenti Sunat dibaca tiap-tiap sembahyang, doa segera kepada orang yang berperang sabil Ya Tuhanku tolonglah pejuang-pejuang kami dan yang berjuang pada JalanMu Itulah doa untuk orang yang berperang, janganlah renggang tiap-tiap hari. Tgk. Ahmad bin Mahmud Cot Paleue menyerukan supaya orang berdoa bagi mereka yang pergi berperang sabil dengan mengucap- kan ayat Kursi (surah al-Baqarah ayat 255) setiap hari tujuh kali dan surah al-Isra' ayat 81, tiga kali sehabis tiap-tiap sembahyang. Kecuali itu Tgk. Ahmad menganjurkan pula agar orang membaca doa qunut setiap sembahyang untuk orang yang berperang sabil.51 Beginilah doanya: Allāhumma lā tumkinu 'l-a'dā'u finā wa lā salatahun (tusallitu) alaina bidhunubinā allahumma munzilu al-kitabi sarī u al-nisabi wa fajru 'l-sahabi wa hazimu 'l-aghrabi ahzimhum wa unsurnā alaihim allāhumma 'j al kaidahum fi nuhurihim wa akfinā syururahum hasbiya 'l-Lāhu wa ni ma al-wakil wa salla 'lLahu ala sayyidinā Muhammadin wa ala alihī wa ashabihī ajma ina artinya: Ya Tuhan janganlah musuh itu sampai mendapat kemungkinan merugikan kami dan janganlah mereka dapat menguasai kami lantaran dosa-dosa kami, ya Allah, Zat yang menurunkan Kitab (Qur'an) dan Zat yang Maha me- nyegerakan perhitungan

dan Zat yang menyingkap awan, serta Zat yang menghancurkan orang-orang asing (musuh). Oleh sebab itu hancurkanlah mereka itu dan tolonglah kami mengalahkan mereka. Ya Allah, jadikanlah rencana jahat mereka itu tetap hanya di dalam hati mereka saja dan tutuplah kami dari kejahatan-kejahatan mereka, Cukuplah Allah bagiku, dan sebaik-baik Zat Pelindung (bagiku) dan salawat semoga tetap pada junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w., beserta seluruh keluarga dan sahabat- sahabatnya.

Tidak mengherankan jika Tgk. Alue Keutapang menuliskan doa-

nya, agar agama Islam terpelihara dari bencana kafir, orang-orang muslimin terhindar dari kafir, dan supaya kafir Belanda dikalahkan Tuhan. Sebagian daripada doa Tgk. Alue Keutapang itu adalah oa sebagai berikut:

Bismi 'l-Lahi al-Rahmani al Rahim Ya Rabbi irhamna lailatan wa yauman Ihzifi 'l-kafira li an la-yuhawwidana Nas'aluka allahumma an tansuranā Ala 'l-kuffari 'l-hulanda aduwwina Fanasta inu 'l-Laha an yu'tiyanā Quwwata 'l-jihadl li'l-kafirina a duwwina Ya Rabbi i ti 'l-muslimina 'l-ghālibinā

Ala 'l-kuffari 'l-hulanda maghlubin.52

Artinya:

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Ya Tuhanku, kasihanilah kami siang dan malam Usirlah orang kafir itu supaya dia tidak meyahudikan kami Kami mohon kepadaMu, ya Allah, supaya Engkau menolong kami Atas orang-orang kafir Belanda musuh kami Kemudian kami mohon pertolongan kepada Allah Untuk memberikan pada kami kekuatan untuk memerangi orang-orang kafir musuh-musuh kami

Ya Tuhanku, berilah kemenangan kepada orang-orang Islam atas orang-orang kafir Hulanda semua. Doa Tgk. Alue Keutapang yang dituang dalam gaya bahasa sastra, dianggap oleh Damste bukan sebagai karangan seorang pejuang ak- tif di jalan Allah, tetapi milik seorang penakut.53 Damste tidak dapat memahami rupanya, bahwa doa atau usaha mengingat selalu kepada Tuhan merupakan bagian yang penting dalam setiap tin- dakan orang Islam. Sebelum sampai kepada doanya Tgk. Alue Keutapang menge- mukakan bahwa doa yang ditulisnya adalah sebagian dari doa orang-orang yang menyingkir ke gunung dan hutan untuk meng- hindarkan diri dari kafir.54 Doa ini sebaiknya dibaca pagi dan pe- tang, sendiri-sendiri atau bersama-sama, sesudah sembahyang far- dhu, di kala larut malam dan istimewa pula ketika khaluet atau mengasingkan diri. Ia yakin bahwa doanya itu akan mustajab ber- dasarkan firman Allah yang dikutipnya dari surah al-Mu'min ayat 60, yang berbunyi antara lain sebagai berikut 'Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu".55 Selain daripada yang telah dikemukakan di atas itu, para cende- kiawan atau sastrawan penggubah HPS tidak melenyapkan kesem- patan menggunakan penanya untuk apa yang mereka anggap sesuai guna memperkuat taktik perang melawan Belanda. Di dalam salah satu HPS dinyatakan, bahwa kalau orang yang syahid di laut akan mendapat sepuluh kali ganda balasan daripada syahid di da- rat. Barangkali pengarang mendapat ilham dari kenyataan, bahwa kekuatan Aceh di laut selama perang dengan Belanda amat lemah dan karena itu diperlukan usaha-usaha di perairan untuk mengha- dapi serangan-serangan dan blokade Belanda.56 Hal ini sesuai pula dengan apa yang telah dikemukakan oleh Syaikh Abbas ibn Muhammad bahwa orang-orang muslimin harus mencari jalan agar dapat memerangi Belanda di laut.57

B. Penyebaran Keyakinan Agama Dalam Perjuangan Sastrawan lisan secara spontan menyampaikan kepada pendengarnya ciptaannya, baik yang bersifat hiburan maupun yang ber- isi pesan-pesan berupa nasihat-nasihat untuk mempertinggi keyakinan agama Islam para pendengarnya, sedangkan mereka yang tidak dapat mencipta secara demikian, dengan suara yang lemak merdu membacakan hikayat dari naskah-naskah yang sudah disalin

berulang kali. Melalui khotbah Jum'at para pemimpin agama menyampaikan kepada ummat pesan agar berperang melawan kafir Belanda. Pada masa awal peperangan melawan Belanda, pada umumnya khotbah-khotbah diberikan dalam bahasa Arab. Itulah sebabnya Tgk. Chik Kutakarang menganjurkan agar diadakan perubahan, dengan me- nyatakan bahwa tidak sah khotbah dalam bahasa yang tidak dipa- hami oleh jema'ah. Kata Tgk. Chik Kutakarang dalam tulisannya, Tadhkirat al-Rakidin, sebagai berikut: ... bahwasanya membaca khotbah Jum'at pada negeri Ajam seperti Aceh itu dengan bahasa Aceh jangan lain, dan jika dibaca khotbah Jum'at dengan bahasa Arab pada kaum Aceh niscaya tiada sah khotbah atau qaul yang mu'tamad karena maksud daripada khotbah itu mau izah yakni pengajaran nasihat-nasihat maka tiada hasil mau izah atas orang yang tiada tahu makna
khotbah ....58
Ada juga cara yang ditempuh melalui surat menyurat untuk me- nyebarkan keyakinan agama dalam berperang melawan Belanda. Perhatikan isi surat Sultan Daudsyah dan Tuanku Hasyim kepada

T. Umar yang pada waktu itu memihak kepada Belanda, sebagai berikut: ..., maka kami memberikan maklum akan tuan maka adapun seperti kami ada mendengar kahabar yang saheh akan hal tuan telah duduk berpaling tekuk bergisa akan agama Allah dan syari'at Muhammad s.a.w. dan akan kami yang ulil amri kedhahiran telah melawan syaikhuna Tgk. di Tiro dan sekalian muslimin dan mukminin dan mujahidin dan murbatin bersamaan tuan dengan Belanda maka pada pikir kami terlampaulah sangat ke- rugian di atas tuan oleh karena terlampau lama sudah tuan men- dirikan agama dan syari'at mengerjakan perang sabillilah meng- ikuti syaikhuna Tgk. di Tiro [Tgk. Syaikh Saman] yang telah kerahmahtullah'alaihi hatta sampai kepada anaknya tiba-tiba dengan sedikit berselisihan sudah kebalikan hati tuan melepas- kan agama dan syari'at dan adat pusaka turun-temurun sekalian kita Islam menjadi sangat terajiblah hati kami tuan punya perusahaan maka sekarangpun hendaklah tuan ingat akan kuasa Allah dengan Rasul lazimlah Tuan kembali i'tikad kepada jalan yang sebenarnya...599

Perhatikan pula isi sepucuk surat yang lainnya, yang ditulis pada tahun 1880 oleh Tgk. Chik Muda Dhain kepada seorang yang bernama Habib Muhammad di Lhok Seumawe, yang antara lain, isinya ... hamba permaklumkan kepada tuan seperti surat hamba ini, yang tersebut di dalam kitab-kitab orang Islam seperti kita bersahabat dengan orang Belanda tiada baik sekali-sekali melainkan kita mupakat sekalian muslim kita lawan perang sabilillah dengan orang Belanda ... Jangan sekali-kali kita meninggal kita punya raja Sultan Aceh seperti kita perang dengan Belanda seperti perang sabilillah, maka kita muslimin semuanya dapat pa- hala besar dari dunia sampai ke akherat, melainkan kita semuanya orang Islam mupakat kita lawan juga janganlah bersahabat dengan orang kafir karena kita lain agama orang Belanda lain agama, janganlah tuanpun ikut seperti orang-orang lain yang su- dah terkena tipu oleh orang Belanda. Mengenai ihwal Belanda dalam hal tipu menipu ini, berkata Shaikh Abbas ibn Muhammad bahwa apabila negeri tidak dapat ditaklukkan oleh Belanda bersama segala angkatan perangnya, maka orang Islam akan ditipu halus-halus dengan memberi uang dan belanja-belanja dan lain-lain tipu daya pada orang besar-besar dalam negeri Islam supaya berdiam diri dan tidak berusaha meme- nangkan perang. Hanya orang yang ada menelaah kitab sejarah- sejarah yang ada berperang sabil dan patuh pada isi kitab itulah yang terhindar daripada tipu daya kafir.60 Kafir Belanda mengua- sai Negeri Jawa dengan cara penipuan yang halus. Setelah cukup uang, tentara dan alat-alat perlengkapan perangnya, maka digeng- gamnya negeri itu kuat-kuat, sehingga orang-orang dalam negeri itu seperti buruh di dalam sangkar, keluar tiada dapat dan mela- wan pun tidak kuasa.61 Di Aceh Barat terjadi suatu peristiwa yang dapat memperlihat- kan pada kita betapa kecurigaannya orang Aceh terhadap orang yang mereka anggap kafir dan bagaimana sikap yang mereka ambil dalam peristiwa itu. Pada 11 Maret 1880, dua orang Prancis, L. Wallon dan Cuillaume sampai di Tuwi Priya, hulu sungai Teunom, Aceh Barat, dengan tujuan mencari emas.62 Mereka memperguna- kan sampan, yang didayung oleh T. Din serta ditemani oleh bebe- rapa orang Aceh. Sebelum diserang oleh Panglima Lam Ara bersama pengikut-pengikutnya panglima ini berteriak kepada penda-

yung sampan mengapa ia membawa kafir. Mereka menjawab bahwa kedua orang yang dibawa mereka bukan orang Belanda, tetapi orang Prancis yang hendak mencari emas. Tambahan lagi, mereka diminta oleh raja Teunom untuk membawa kedua orang ini ke hulu sungai. Panglima Lam Ara menjawab bahwa ia tidak peduli akan perintah raja itu, oleh karena orang-orang yang berdiam di- tepi pantai semuanya telah menjadi orang-orang kafir. Panglima Lam Ara segera mendekati perahu itu dan dengan cepat meman- cung kedua orang Prancis itu dengan pedangnya dan mencampak- kan badan mereka ke dalam sungai. Orang-orang Aceh itu ingin juga menghabiskan nyawa kelima orang pribumi yang berada dalam perahu itu, tetapi semuanya sempat melompat dalam air dan berusaha melarikan diri. Salah seorang daripadanya, Aripan nama- nya, berasal dari Bogor, sempat tertangkap.63 Ia minta-minta am- pun supaya jangan dipancung, karena ia bukan orang kafir, tetapi Islam. Mereka tidak begitu saja mempercayainya sebelum mem- buktikan sendiri. Lalu mereka membuka celana Aripan untuk me- lihat kemaluan Aripan, dan setelah tampak ia telah khitan, mereka pun melepaskannya. Kwalitas daripada ide perang sabil sangat menarik hati mereka yang mengalami kepahitan hidup, frustrasi, dan jalan pintas bagi mereka adalah memilih mati syahid dalam perang kafir. Mereka tidak akan memilih bunuh diri, oleh karena hal itu merupakan sua- tu perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Mereka yang tergerak setelah membaca atau mendengar HPS dengan se- mangat yang bernyala-nyala terjun dalam peperngan dengan harap- an akan mati syahid untuk dapat memperoleh hadiah kenikmatan di surga dari Tuhan. Agar lebih jelas dapat dipahami makna HPS pada orang-orang Aceh, maka sumber yang berasal dari pihak Belanda patut menjadi perhatian. Meskipun pendapat pejabat-pejabat Belanda itu berasal dari masa perang Belanda telah dianggap selesai, namun karena masih menghadapi sisa-sisa pengaruh HPS beserta akibat-akibat yang ditinggalkannya, patutlah rasanya dimasukkan dalam uraian ini sebagai catatan tambahan dengan maksud apa yang disajikan di muka dapat lebih jelas terungkap. Catatan Tentang Sisa-sisa Pengaruh HPS Pada 1924, di bulan April, sebagian penduduk Daya di Aceh Barat bermaksud hendak menyerang bivak Belanda di Lam No,

dengan didahului oleh pembacaan HPS guna membangkitkan semangat jihad di kalangan anggota-anggotanya.64 Pemberontakan

ini dapat digagalkan. Oleh karena itu HPS ini dianggap sangat ber-

bahaya, sebab dapat membangkitkan semangat perlawanan terhadap Belanda, sehingga hikayat ini, seperti telah pernah disinggung di muka, disita oleh Belanda dari pemiliknya dan sebagian besar daripada hikayat ini dimusnahkan. Dalam sepucuk surat rahasia kepada Gubernur Aceh, Gubernur Jenderal Hindia Belanda me- nyatakan, bahwa ia dengan senang hati membaca laporan keadaan

politik di Aceh selama setengah tahun pertama 1926, yang menye-

butkan bahwa sudah tiga buah lagi hikayat perang sabil dapat disita Belanda.65 Selanjutnya dinyatakan pula dalam surat itu bahwa ia percaya bahwa daya upaya untuk mengusut HPS itu akan terus dijalankan secara teratur, berhubung sungguh tidak sedikit penga- ruh yang merusak dapat ditimbulkan oleh bacaan itu. Enam tahun kemudian, Gubernur Aceh, A.H. Philips dalam memori serah teri- ma jabatannya mengatakan pula bahwa selalu ternyata bahwa membaca hikayat Perang Aceh itu, yang dilakukan di hadapan umum, dapat merangsang pembaca atau pendengarnya sedemikian rupa, sehingga dapat menghilangkan keseimbangan jiwa, yang kemudian disalurkan dalam tindakan membunuh kaphe. Sebab itu, sambung Gubernur tersebut, adalah penting sekali hikayat-hikayat

seperti itu disita dan dimusnahkan.66 HPS ada juga nilai tukarnya,

hingga dalam keadaan putus uang, kitab seperti ini dapat diperga- daikan. Sebuah HPS yang disita oleh Mantri Polisi Idi, Aceh Timur, pada 26 November 1924, dari Habib Ali al-atas alias Habib Kramat, di Pucuk Alue Dua, Simpang Ulim, Aceh Timur.67 HPS ini asalnya kepunyaan Aja Halouyah, tinggal di Beutung, Gampong Keumala, Pidie, yang digadaikannya kepada Aja Ti, ibu Habib Husin, seharga empat ringgit, yang digadaikan lagi pada seorang yang bernama Haji Umar dengan nilai yang sama. Akhirnya hikayat itu kembali kepada Habib Husin, setelah disalin oleh Abdul Wahab, yang tinggal di Madat, Simpang Ulim, Aceh Timur. Dari keterangan mantri polisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa, hikayat ini tersebar sampai ke Aceh Timur. Setelah decennium pertama abad XIX Belanda melihat timbul- nya gejala pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap kafir oleh orang-orang Aceh. Pembunuhan seperti ini, oleh Belanda di-

namakan Atjeh-moord, yang sebenarnya lebih tepat disebut pem-

bunuhan kafir atau dalam bahasa Aceh, poh kaphe. Pembunuhan

ini dilakukan secara perorangan, dengan tidak disangka-sangka, di kota atau di tempat-tempat yang telah dikuasai Belanda dan yang dapat dianggap sudah aman. Untuk meninjau keadaan dari depan dan menyusun laporan kepada pemerintah Hindia Belanda di Betawi mengenai gejala ini, dikirimlah penasihat urusan bumi- putera Hindia Belanda, R.A.Kern, ke Aceh pada tahun 1921. Kern telah mengutip laporan-laporan sejak tahun 1910 yang dibuat oleh pegawai-pegawai administrasi Belanda, sedangkan untuk tahun-tahun sebelum itu, meskipun ada, tidaklah diambilnya, karena di- anggapnya serangan sebelum tahun 1910 masih terkait dengan per- buatan perang menentang Belanda.68 Menurut catatan pihak Belanda, korban yang jatuh di pihak mereka antara tahun-tahun 1910—1921 ialah sebanyak 99 orang (12 mati, 87 cedera) dari jumlah 79 peristiwa penyerangan.69 Latar belakangnya, menurut Kern, adalah ide perang sabil dan perasaan benci kafir (kafir- haat).70 Tidak semua sebab-sebab penyerangan itu dapat diselidiki, oleh karena penyerang-penyerangnya telah mati ditembak oleh tentara Belanda, sedangkan kaum keluarga mereka tidak pula dapat memberikan keterangan apa pun. Petikan laporan Kern di ba- wah ini akan lebih menjelaskan masalahnya. Delapan dari peristiwa-peristiwa tersebut para penyerangnya adalah penderita penyakit kusta yang nampaknya telah jemu hidup. Empat daripadanya tidak diketahui sebab-sebabnya yang langsung, sedangkan yang empat lagi disebabkan oleh (1) tidak mau dimasukkan ke dalam perkampungan kusta; (2) tak mau di- kembalikan ke perkampungan kusta, setelah melarikan diri dari tempat tersebut; (3) kelaparan di perkampungan kusta; (4) baru mengidap penyakit kusta dan disuruh pindah oleh penduduk- penduduk sekampungnya ke perkampungan kusta. Dari delapan kejadian ini, lima tertuju kepada tentara, dua kepada pegawai kereta api dan satu serangan ditujukan kepada seorang dokter Belanda. Ada 18 peristiwa yang disebabkan oleh soal harga diri, yakni satu peristiwa karena berjudi; satu karena kepenatan jasmani dan rohani; dua peristiwa karena keinginan untuk kawin tetapi men- dapat tantangan keluarga; lima peristiwa karena menghadapi kesulitan-kesulitan dalam keluarga; dua peristiwa karena dibuat malu orang di kampungnya; satu peristiwa karena sama sekali tidak di- pedulikan oleh keluarga; dan lima peristiwa karena mengalami

penindasan pihak uleebalang. Dari 18 peristiwa itu, tiga di anta-

ranya menyerang pegawai kereta api, 12 serangan terhadap tentara Belanda, dua serangan terhadap orang Belanda pegawai Departemen Dalam Negeri, dan satu serangan terhadap seorang Eropah. Di samping apa yang telah dikemukakan di atas terdapat pula sepuluh peristiwa membalas dendam karena dihina oleh pegawai-pegawai Belanda dan empat peristiwa lainnya terjadi disebabkan oleh hasutan orang untuk membunuh Belanda. Dari peristiwa ini, enam serangan ditujukan terhadap tentara Belanda, satu terhadap Cina, tiga kepada pegawai kereta api, satu terhadap polisi dan tiga terhadap pegawai Departemen Dalam Negeri Hindia Belanda. Ada satu peristiwa yang patut dibincangkan sedikit panjang di sini, yaitu penyerangan terhadap dua orang Belanda di Langsa, Aceh Timur, pada 27 September 1917, yang dilakukan oleh Sabi bin Pang Samad, umur kira-kira 25 tahun, dilahirkan di Mukim Jreue (Indrapuri), Aceh Besar, pekerjaan menanam lada dan ber- tempat tinggal di Langsa. 71 Ketika dihadapkan ke pengadilan pada 31 Oktober tahun itu juga, ia mengaku telah berusaha membunuh kedua orang putih itu, sebab katanya ia mendapat perintah dari Tuhan. Sabi tidak dapat menjelaskan kepada pengadilan ba- gaimana caranya perintah Tuhan itu sampai kepadanya dan ia juga tidak dapat menjelaskan apakah dengan serangan itu ia diang- gap mati syahid karena membunuh orang-orang kafir. Ia menyata- kan, bahwa ia tidak dipengaruhi oleh siapa pun dan tidak dibantu oleh siapa juga untuk membunuh kedua orang Belanda itu. Ia juga tidak sakit hati terhadap pembayaran pajak rodi, tidak ada rasa dendam terhadap kerajaan Belanda, tidak ada anggota keluarga- nya yang telah terbunuh dalam peperangan melawan Belanda, tidak sakit hati terhadap uleebalang dan kepada gampong-nya, dan tidak pula terlibat dalam hal-hal perempuan. Pada hari penyerangan itu juga, polisi menggeledah rumah Sabi dan di dalam sebuah peti kayu di rumahnya polisi menemukan sebuah Hikayat Prang Sabi dan secarik kertas,72 yang isinya adalah sebagai ber- ikut:

Bismillahirrahmanirrahim

i. Isim phon nama Allah Rahman Rahim Tuhan karim that mulia ii. Alhamdulillah rabbi 'l- alamin Kabul mukmin lakee do a

iii. Nyan keu pujoe beu tayakin Ureueng mukmin na peucaya iv.Sampoe habeh deungo o teungku lōn ba ayat Pangulee ibadat cit prang sabi

v. Innallaha'sytara mina 'l-mu minin,
3 anfusahum wa amwalahum.

Terjemahannya:

Dengan nama Allah Pengasih lagi Penyayang

i. Tersebut pertama nama Allah Pengasih Penyayang ii. Segala puji bagi Tuhan seru sekalian alam Makbullah permintaan doa orang mukmin iii.Begitulah puji-pujian mesti kita yakin, percaya adalah tanda orang mukmin iv.Dengarlah Tuhan, sampai habis kubaca ayat Pemimpin ibadat hanyalah perang sabil
v.Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka.
Menurut pengakuan Sabi isi yang terkandung dalam secarik kertas itu disalinnya dari sebuah buku semata-mata untuk dapat belajar menulis, sedangkan isinya, katanya, tidak difahaminya. Akhirnya, Sabi dinyatakan bersalah karena membunuh dan dikenakan hu- kuman kerja paksa dengan dirantai selama 20 tahun. Ada peristiwa lain yang terjadi pada bulan Februari 1918 di Idi, Aceh Timur.74 Yang menjadi terdakwa dua orang, seorang laki-laki bernama Nya' Gam, berumur lebih kurang 30 tahun, pe- kerjaan bertani, tinggal di Seunebo' Punti, Idi, dan seorang perempuan bernama Cut Fatimah, berumur kurang lebih 50 tahun. Mereka didakwa mengajarkan sesuatu kepada seorang perempuan bernama Alimah. Ajaran ini menyebabkan timbul keinginan yang besar pada Alimah untuk mati. Keinginan ini membawanya kepada hasrat membunuh kafir. Hal ini dilakukannya di stasiun kereta api Idi pada 22 Februari 1918. Ia berharap agar dengan perbuatan- nya itu ia sendiri pun akan dapat mati syahid. Alimah mengaku di hadapan mahkamah bahwa kakaknya yaitu

Fatimah telah mengajarkannya mantera yang berbunyi," Allahu- nya, Muhammad dahulu guru di belakang, di belakang(nya) guru saya tuan Fatimah, Muhammad ibu saya, Allah bapanya, dari itu sebab saya mati, saya kembali pada ibu "Muhammad bapanya (Allah)". Di samping membaca beberapa mantera lain, Fatimah menyata- kan pula bahwa kalau seseorang telah melihat warna-warna merah, hijau dan kuning dihadapan matanya, artinya ia sudah mendekati kematiannya. Selanjutnya Alimah menerangkan bahwa dengan mengamalkan mantera yang diajarkan oleh kakaknya, ia tidak merasa tenteram lagi. Sepanjang malam ia berpikir, dan lambat-laun timbullah ke- inginannya yang tidak dapat ditahan lagi untuk mati. Mungkin karena beberapa malam ia tidak tidur membuat ia menjadi gugup. Lalu sepuluh hari sebelum ia membunuh kafir, terhampar dihadapan matanya warna-warna merah, hijau dan kuning. Ketika ia me- rasakan datangnya tanda-tanda seperti itu, maka ia pun sampai kepada keputusan untuk mencari kematian dengan membunuh kafir. Fatimah, pihak yang tertuduh, mengaku telah mengajarkan ilmu itu kepada Alimah setelah dipelajarinya dari si Bramat di Lhok Panjoe. Teungku Ubit mengaku ia telah mengajarkan ilmunya kepada Alimah, dan ilmu ini diperolehnya dari Cut Nyak Baday, nenek uleebalang negeri Samalanga. Akhirnya, setelah mendengar nasihat dua orang ulama, Tgk. Haji Muhammad Amin dan Tgk. Syaikh Ma'ali, mahkamah me- mutuskan bahwa Tgk. Ubit alias Nya' Gam dan Fatimah dinyata- kan bersalah karena mengajarkan ilmu yang bertentangan dengan agama Islam dan berbahaya bagi keamanan umum. Mereka masing-masing dihukum denda fl. 150,— dan jika mereka tidak dapat membayarnya dalam tempo sebulan, mereka akan dikenakan pen- jara masing-masing selama satu tahun. Direktur Rumah Sakit Jiwa Sabang, J.E. Latumeten, mengisah- kan pula sebuah kasus lain sebagai berikut ini. M. berumur kurang lebih 35 tahun, lahir di kampung Tangan-tangan, Susoh, Aceh Barat, dikirim ke rumah sakit jiwa Sabang untuk diobservasi, ber- dasarkan keputusan Ketua Pengadilan Negeri Langsa, Aceh Timur. Ia tiba di rumah sakit jiwa tersebut, lebih kurang delapan bulan setelah ia melakukan percobaan pembunuhan dengan jalan meni- kam tuan de B. di punggungnya.qaba

Enam tahun sebelum melakukan pembunuhan tersebut, M. per- gi dari kampungnya dengan meninggalkan istri dan anak untuk memperdalam pengetahuannya mengenai al-Qur'an dan kitab-kitab agama di Kutaraja. Apa yang telah terjadi berbeda dengan harapan- nya semula. Ia mencari kerja dan memperolehnya sebagai kuli pembuatan jalan pada Dinas Pekerjaan Umum. Setelah berjalan empat bulan lamanya, ia kembali pada maksud semula; ia berdiam di kampung Dayah dan selama satu tahun mendapatkan pelajaran- pelajaran agama. Setelah itu ia menjadi petani, mula-mula di Teu- nom, kemudian di Meulaboh, Aceh Barat. Kemudian ia pindah ke Krueng Ila, Aceh Barat, untuk berjualan kain. Nasibnya tidak baik. Sesudah itu ia menuju Takengon, Aceh Tengah, dan tinggal di Lampahan sebagai petani. Setelah tujuh bulan ia pun melepaskan usahanya itu; ia menjual kebunnya dan berangkat ke Samalanga dengan maksud hendak be- lajar agama kembali. Kehabisan uang menyebabkan ia terpaksa kembali lagi ke Takengon. Di sini ia tidak berhasil memperoleh pekerjaan. Seorang kenalannya mengajukan usul agar ia kawin dengan seorang gadis Gayo, berasal dari Kebayakan. Akan tetapi sebelum perkawinan itu dilangsungkan, ia telah mendengar orang-orang kampung memaki-makinya. Orang menyebut "pendek", gemuk dan miskin". Ia merasa malu, dan mengurungkan maksudnya hendak nikah, lalu berangkat menuju Blang Kejren,masih dalam kabu- paten Aceh Tengah. Akan tetapi, karena tidak memiliki surat keterangan jalan atau pas, sebelum ia sampai ke tempat yang di- tuju ia dikembalikan lagi ke Kebayakan. Setibanya di kampung ini, ia membiarkan dirinya dibujuk lagi untuk kawin. Selagi diada- kan upacara perkawinan pada tanggal 11 April 1929 malam, ia mendengar lagi orang memaki-makinya: Orang menyebutnya "pengecut". Suara-suara itu seolah-olah datang dari iparnya sendiri dan dari banyak orang kampung yang dikenalnya. Pada malam pe- ngantin yang pertama itu ia tidak dapat tidur. Pagi-pagi sekali pada 12 April, hari Jum'at, setelah melakukan salat subuh, sebelum makan pagi, ia telah meninggalkan rumah dan kampungnya itu untuk menghindarkan diri dari penghinaan orang-orang kampung itu serta melupakan penghinaan mereka. Pada jam delapan pagi ia menghadap mantri polisi dan mengadu- kan halnya. Akan tetapi sang mantri tampaknya tidak dapat mem- berikan nasihat apa-apa kepadanya. M. segera berlalu dari situ.

Mula-mula ia memasuki sebuah kedai kopi, lalu kedai nasi dan akhir sekali kedai seorang Cina. Di kedai terakhir ia membeli se- botol limun dan meminumnya habis. Ketika ia meninggalkan kedai itu ia melihat seorang Belanda yang tak pernah dilihat atau dikenalinya lewat dihadapannya. Pada saat itu timbullah dalam pi- kirannya untuk lebih baik mati saja daripada menanggung penderi- taan. Sesaat kemudian ia mengeluarkan pisaunya lalu menikam be- lakang tuan de B., yang tidak mengira sama sekali akan mengalami- nya. Berlawanan dengan maksud semula untuk lebih baik mati saja, ia melarikan diri. Sebagai pasien Rumah Sakit Jiwa Sabang, M. mula-mula me- mungkiri keterangan-keterangan yang telah diberikannya di tempat-tempat lain. Ia menjadi bingung dan karenanya ia tidak dapat mengingat-ingatnya lagi. Akan tetapi akhirnya ia mengakuinya juga. Diagnose mengalami kesukaran, sehingga terjadi serangan af- fect-psychose atau depresi yang mengakhiri segala ketidakpastian- nya. Sewaktu terjadi serangan depresi dan ketika dilakukan peme- riksaan badan, pada pasien tersebut telah ditemukan sebuah pisau kecil yang amat tajam yang dipergunakannya untuk memotong kuku.Selama ia dirawat, depresi dan perasaan takut timbul silih berganti pada dirinya, baik lama maupun singkat waktunya. Pasien dinyatakan sebagai orang yang benar-benar gila.75 Dari uraian di atas dapat diketahui berbagai sebab langsung pembunuhan kaphe, tetapi pengelompokan itu tidak mutlak, oleh karena motifnya mungkin bercampur-baur dan saling bertaut, se- dangkan sasaran yang mereka pilih untuk dijadikan korban ialah Belanda atau orang-orang yang mereka anggap kafir. Pada bulan Juli 1933 Kapten Ch. E. Schmid, Komandan Divisi V Marsose ditikam oleh seorang Aceh bernama Amat Leupon di Lhok Sukon, Aceh Utara. Laporan mengenai pembunuhan itu disampaikan oleh pejabat Asisten-Residen Aceh Utara, J.Jongejans kepada dr. J.A. Latumeten, Direktur Rumah Sakit Jiwa di Sabang, dengan harapan agar hal tersebut dan gejala Atjeh moord atau pembunuhan kafir itu, dapat pada umumnya disorot dari segi keji- waan.76 Pada akhir catatannya terhadap laporan asistenresiden tersebut di atas, Latumeten menyimpulkan bahwa wujud pembunuhan yang dilakukan terhadap orang kafir harus ditinjau dari dua sudut:

(1) Atjeh-moord yang dilakukan oleh orang-orang yang hilang keseimbangan jiwanya. Di sini terdapat apa yang dinamakan

"regresi", yaitu faktor kehilangan ingatan.

(2) Atjeh-moord yang klasik, yang dilakukan oleh orang-orang normal dengan pertimbangan yang matang dan dipikirkan secara tenang-tenang. Pembunuhan seperti ini dapat diang- gap sebagai sejenis "rituele extase".77
Latumeten menganggap bahwa setiap orang Aceh pasti mampu melakukan Atjeh-moord yang klasik seperti tersebut di atas itu; perbuatan itu hanya tergantung pada kekuatan ad maximum dari rangsangan berdasarkan kepada interpretasinya sendiri.78 Ia juga menyatakan bahwa penyakit gila, penyakit-penyakit yang tidak dapat disembuhkan, perasaan malu yang tak tertahan, perasaan dendam, extase agama, konflik seksual, konflik-konflik kejiwaan yang lain, baik sendiri-sendiri maupun bergabung satu dengan lain- nya, dapat menjadi penyebab untuk melakukan pembunuhan itu. Hampir selalu diketahui, bahwa pelaku yang bosan hidup itu dido- rong oleh keinginan menjadi syahid dan dengan demikian ingin memperoleh nikmat-nikmat sorga di akhirat kelak. Latumeten mengemukakan bahwa di kalangan suku Aceh tersebut luas "Kom- pleks-kaphe", yaitu perasaan tidak senang yang dinyatakan terha- dap kafir, baik sadar atau tidak, yang dapat tumbuh ke arah tim- bulnya dorongan secara agresif untuk merenggut nyawa seorang kafir.79 Tiga belas tahun sebelum itu, yaitu pada tahun 1920, Van Loon, seorang dokter jiwa, yang pernah mendapat tugas untuk me- ninjau orang-orang terkena penyakit gila di Aceh mengatakan, bahwa justru di Aceh, tempat gagasan perang sabil dan pembunuhan kafir boleh dikatakan tetap merajalela, tempat kafir-kafir Belanda sangat dibenci dan dihina oleh sebagian orang-orang tua, terutama wanita-wanitanya, maka tidaklah banyak diperlukan usaha untuk memasukkan ide membunuh itu ke dalam otak si sakit.80 Kesimpulan akhir dr. Latumeten yang menyatakan bahwa setiap orang Aceh dapat melakukan pembunuhan kafir klasik, mendapat tanggapan dari Gubernur Aceh van Aken. Ia menulis kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, bahwa hal seperti itu, hanya berlaku bagi rakyat yang belum berpendidikan dan bagi mereka yang belum mendapat pengaruh dari ulama-ulama. Para ulama pada waktu itu, tidak lagi menggolongkan pembunuh kaphe sebagai orang syahid yang akan memperoleh ganjaran sorga di akhirat kelak.81 Menarik untuk dikemukakan di sini, pendapat seorang pemuka

Aceh, yaitu Tgk. Syaikh Ibrahim Lambhuek, pejabat uleebalang Masjid Raya Kanan, dalam perkara seorang Aceh, yang dituduh membunuh seorang Belanda. Di sidang pengadilan tanggal 1 April 1919 beliau berkata bahwa di masa lalu bilamana seorang Aceh menghadapi kesusahan atau oleh karena sesuatu sebab tidak lagi menyukai hidup ini, ia bersiap untuk mati dengan berperang sabil memerangi kafir. Hal ini merupakan kepercayaan yang sudah ber- abad-abad diwariskan turun-temurun. Meskipun pada waktu itu perang sabil itu sudah berakhir, namun pengertian seperti dikemuka- kan di atas masih tetap dianut rakyat sampai-sampai ke daerah Gayo di Aceh Tengah. Apakah ia langsung terbunuh mati setelah membunuh kafir atau lama setelah itu, seorang Aceh yang seder- hana masih menganggap bahwa dengan membunuh kafir ia akan memperoleh imbalan atas perbuatannya itu. Pada mulanya orang menganggap seseorang itu syahid, bila ia membunuh kafir dalam peperangan. Kemudian, bagi orang Aceh pengertian ini masih terus berlaku bagi orang yang membunuh kafir di luar peperangan.82 Melalui hikayat-hikayat perang para pemimpin agama menyata- kan bahwa berperang sabil dalam menghadapi orang kafir yang menduduki negeri Islam merupakan suatu kewajiban yang perlu dilaksanakan oleh setiap orang Islam, dan berdosalah ia kepada Tuhannya, bilamana setiap orang Islam tiada melakukannya. Dengan mengenal doktrin yang terkandung dalam hikayat prang sabi akan menjadi lebih ariflah kita untuk memahami pihak Aceh me- lakukan peperangan yang mereka anggap sebagai perang di Jalan Allah.

Catatan

  1. Bendera ini direbut oleh Letnan Bisschoff dari benteng yang didirikan oleh pasukan-pasukan Aceh dekat Barus pada awal April 1840. Ada tiga buah benteng yang didirikan pihak Aceh dengan pasukan 500 atau 600 orang. A.W. T. Juynboll, "Een Atjineesche Vlag met Arabische Opschrif- ten", TNI (1873), hlm. 325-27. Lihat juga, A.J.A. Cerlach, Atjih en de Atjinezen, 1875, hlm. 65-66.
  2. Juynboll, op. cit., hlm. 325-39. Bendera ini panjangnya 2,70 m dan le- barnya 1,30 m, sedang gambar pedang yang terdapat pada bendera itu panjangnya 1,90 m. Mengenai bendera Aceh, lihat juga P. Brooshooft, Ceschiedenis van den Atjeh-Oorlog 1873-1886, 1886, hlm. 38. Juga, Veth, Atchin en Zijne Betrekkingen tot Nederland, 1873, hlm. 93, me- ngatakan bahwa bendera Aceh mempunyai dasar merah dengan gambar pedang berwarna putih di atasnya. Lihat lampiran G., hlm. 348.
  3. Qur'an, surat Hud: 41. Semua terjemahan ayat-ayat al-Qur'an dalam ka- rangan ini diambil dari al-Qur'an dan Terjemahannya, 1970.
  4. Ibid., surat Al-saff: 13.
  5. Dari tulisan pada bendera ini dapat terlihat adanya pengaruh Syiah yang menganggap bahwa kekuatan Ali melebihi kekuatan manusia biasa. Tentang pengaruh Syiah di Indonesia, lihat Baroroh Baried, "Shi'a Elements in Malay Literature", dalam Sartono Kartodirdjo (ed.), Profiles of Malay Culture: Historiography, Religion and Politics, 1976, hlm. 60, 62. Mencintai Sayyidina Ali adalah itiqad dan faham kaum Ahlussunnah wal Jamaah (kaum yang menganut itiqad sebagai itiqad yang dianut oleh Nabi Muhammad s.a.w. dan sahabat-sahabat beliau atau disebut juga kaum Sunni) juga K.H. Siradjuddin Abbas. Itiqad Ahlussunnah wal-Jamaah, 1980, hlm. 16. 95. Kata Imam Syafii, antara lain: Dari semua keindahan yang ada, Yang dapat membuat mataku terkedip, Tak ada yang indah daripada Mencintai Ali bin Abi Thalib (Terjemahan H. Abubakar Atjeh). H. Abubakar Atjeh, Sjiah: Rasionalis- me dalam Islam, 1972 [hlm. v] Dalam bulatan pada sudut kiri atas bagian dalam bendera, terdapat antara lain, tulisan Allah, Muhammad, Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali.
  6. Tentang nama-nama Tuhan, lihat Shems Friedlander dan al-Hajj Shaikh Muzafereddin, Ninety-Nine Names of Allah, 1980 dan H.S.S. Djam'an, Al Asmaa-ul-Husnaa, 1970; juga, M. Ali Chasan Umar, Khasiat dan Fa- dhilah Asmaul Husna, 1979. Serba sedikit tentang hal ini telah dising- gung dalam Bab II, hlm. 63, catatan halaman no. 53. Orang Aceh memi- lih nama-nama Tuhan yang berawal dengan huruf qaf pada bendera pe-

rangnya, mungkin dengan keyakinan bahwa berkat nama-nama Tuhan yang berawalan qaf itu keperkasaan dan kekuatan mereka akan bertam- bah dalam menghadapi musuh. Al-Imam Abi al-Abbas Ahmad bin Ali al-Buni, dalam kitabnya Manba u Usul al-Hikmah, 1951, hlm. 136, menge- mukakan bahwa barangsiapa menulis dalam 10 X 10 empat persegi, nama-nama Tuhan, Qayyum, Qa'im, Qadir, Qadir, Qahhir, Qawi, Qadim, Quddus dan Qarib, dan menulis di sekeliling empat persegi itu seratus buah huruf qaf, jika ia menghadap raja, hakim, kadi, ataupun para pe- nguasa setempat dengan memakai azimat ini, maka segala permintaan- nya akan terkabul dan akan mendapat perhatian khusus dari mereka. Apabila ia bertemu dengan seekor singa maka singa itu akan takut ke- padanya dan menghindar daripadanya. Jika ia masuk ke medan perang maka ia akan dapat mengalahkan musuhnya dan musuh pun tidak akan berhasil mendekatinya.

  1. W. Frijling, "De Voornaamste Cebeurtenissen in het Begin van de 2de Expeditie, door Atjehers Beschreven", TBB (1912), hlm. 23-6.
  2. Surat Muhammad Amin Dayah Cut Tiro pada Teungku di Dalam, 3 Zul- kaedah 1294 [9 Desember 1877], Cod. Or. 7321.
  3. Snouck Hurgronje, The Achehnese, II, hlm. 100. Snouck Hurgronje membuat sedikit kesilapan. Dokarim bukan berasal dari Glumpang Dua, tetapi dari Keutapang Dua. Lihat Hikayat Prang Sabil, Cod. Or., 8146, 12 Rabiulawal 1311H [1893].
  4. Ibid.
  5. HPS., Cod. Or. 8035, 1894, hlm. 111.
  6. A.G. van Sluijs, "Nota: Atjeh en Orderhoeringheden, Sep. 1918 - Oct. 1920", Kernpapieren, KITLV 797/156, hlm. 5. Pertempuran antara Portugis dengan Kerajaan Aceh terjadi pada 1521. George Kepper, De Oor- log tegen Nederland en Atchin, 1874, hlm. 5. Pada 1524 Aceh mengusir Portugis dari Pasai. Raden Hoesein Djajadiningrat, "Critisen Overzicht van de in Maleische Werken Vervatte Gegevens over de Geschiedenis van het Sultanaat van Atjeh", BKI (1911), hlm. 147.
  7. H.I.J. Cowan, De Hikayat Malem Dagang, 1937, hlm. 38. Meskipun di- kisahkan perlawanan terhadap Portugis, tetapi dalam hikayat itu ada ter- sebut mengenai peperangan melawan Belanda.
  8. Syaikh Abbas Ibnu Muhammad, Tadhkirat al-Rakidin, Cod. Or. 8038, UBL.
  9. Ibid., Cod. Or. 8037 b (ringkasan), hlm. 17-18.
  10. Cf. Surat Gubernur Hens pada GJHB, no. 192/PZ. Kutaraja, 10 Agustus 1924, dalam Kernpapieren no.: H 797/161. Tradisi membaca hikayat perang sudah lama terdapat dalam kebudayaan Melayu. Lihat Sejarah Melayu, ed. W.C. Shellabear, 1961, hlm. 272-4.
  11. Snouck Hurgronje memperoleh satu salinan dengan perantaraan T. Nyak Banta, Panglima Mukim XXVI, pada tahun 1891, kini disimpan di UBL.

Cod. Or. 8037 B.

  1. Yang berbentuk hikayat dimulai dari hlm. 98-280.
  2. Snouck Hurgronje, The Achehnese, II, hlm. 77. Haba ialah "prosa tidak tertulis" yang diceritakan untuk menidurkan sang anak, jika senandung- senandung pengantar tidur sudah tidak sesuai lagi untuk umurnya, untuk menghabiskan waktu malam bagi orang dewasa, dan menghilangkan rasa bosan dalam pertempuran-pertempuran. Ibid., hlm. 68. Lihat juga, Memahami Hikayat dalam Sastra Indonesia. Laporan Penelitian oleh Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM., 1978, hlm. 8-9. Tentang istilah dan pengertian hikayat dan asal-usul hikayat, lihat Sulastin Sutrisno, Hikayat Hang Tuah: Analisis Struktur dan Fungsi, disertasi UGM., hlm. 83-90.
  3. Snouck Hurgronje, The Achehnese, II, hlm. 268.
  4. Memahami Hikayat dalam Sastra Indonesia 1978, hlm. 8. Definisi umum hikayat, menurut Sulastin Sutrisno, adalah: (1) hikayat termasuk sastra tulis dalam huruf jawi, (2) sebagai sastra tulis hikayat sudah berkembang secara luas bersamaan dengan sastra Melayu ialah sekitar tahun 1500,
    (3) hikayat adalah karya sastra Melayu klasik, (4) sebagai karya sastra klasik hikayat anonim, (5) hikayat ditulis dalam bentuk prosa, (6) hikayat adalah fiksi, dalam arti dibaca oleh pembaca Melayu dan modern sebagai dunia dalam kata-kata, tanpa hubungan langsung dengan dunia luar, dengan kenyataan, (7) akibat berulangkali disalin dengan berbagai macam tujuan dan karena tradisi teks yang kurang diikat ... maka teks mengalami bermacam-macam perubahan yang terutama diadakan oleh (pers) penyalin, yang merasa bebas untuk membuat teks sesempurna mungkin menurut kehendaknya. Sulastin Sutrisno, op. cit., hlm. 90-91.
  5. Contohnya adalah Mau'izat al-Ikhwan dan Tadhkirat al-Rakidin, karya Syaikh Abbas Ibn Muhammad, Cod. Or. 8037A, 8037b dan 8038, UBL.
  6. MS. Cod. Or. 8163 b, UBL.
  7. Cod. Or. 8038, hlm. 186.
  8. HPS, Cod. Or. 8667, hlm. 42. Sangat menarik untuk dinyatakan di sini bahwa upaya berperang sabil melawan Belanda di Palembang pada 1819 dengan baiknya dilukiskan dalam Syair Perang Menteng, yang ditulis tidak lama setelah Perang itu usai. Liat M.D. Woelders, Het Sultanaat Palembang 1811-1825, 1975, hlm. 57-58; dan teks Syair Perang Menteng dalam ibid. hlm. 194-222. Syair bernapaskan perang sabil ini besar sekali kemungkinan akibat pengaruh ulama besar Syaikh Abdussamad dari Palembang tersebut di atas.
  9. Nama kitab Nasihatu 'l-muslimin ini disebut juga dalam karangan Mu- hrammad 'Uthman El-Muhammady, "The Islamic Concept of Education according to Syaikh 'Abdu's-Samad of Palembang and the its Signifi- cance in Relation to Issue of Personality Integration", dalam Akademika No. 1 (Juli 1972), hlm. 62. Lihat juga Snouck Hurgronje, The Achehnese, I, hlm. 119. Judul lengkap kitab ini adalah Nasihat al-muslimin wa-

tadhkirat al-mu'minin fi fada'il al-jihad fi sabil Allah wa-karamat al- mujahidin fi sabil Allah. Lihat, G.W.J. Drewes, Directions for Travellers on the Mystic Path, 1977, hlm. 223.

  1. HPS, Cod. Or. 8667, hlm. 37-38.
  2. Ibid., hlm. 5, hlm. 19.
  3. HPS, Cod. Or. 8035, hlm. 21.
  4. Cf. Surat Tgk. di Tiro kepada Asisten-residen di Kutaraja, 16 Zulhijjah 1302 H [6 Oktober 1885], Cod. Or. 7321. UBL.
  5. HPS, Cod. Or. 8667, hlm. 7-8. Cf. Snouck Hurgronje, "Eene Onbezon- nen Vraag, 1899" dalam Verspreide Geschriften van C. Snouck Hurgronje, 1924, jilid IV, hlm. 379.
  6. Cod. Or. 8163 B, hlm.7, baris 123-30.
  7. HPS, Cod. Or. 8667, hlm. 121. Tgk. di Aceh Muhammad Rasyad, seorang ulama di Pasai, Aceh Utara, menulis surat pada semua penduduk Negeri Blang Me, sebagai berikut: "Syahdan bahwa perhamba beri maklum kepada tuan-tuan akan hal ihwal kafir, harap binasa kafir Ulanda telah maklum pada tuan-tuan: bahwasanya mereka itu musuh Tuhan Rabbu 'l-ala- min, musuh Nabi Sayyida 'l-mursalin, musuh Raja Aceh, musuh orang Islam sekalian; maka apabila dia naik dalam negeri kita, wajib kita bunuh akan mereka itu, karena fardhu ain atas kita orang Islam melawan akan kafir". Cod. Or. 8663 C., UBL.
  8. Ibid., hlm. 14. Lihat juga HPS. Cod. Or. 8134, hlm. 47.
  9. Tgk. Nyak Ahmad, HPS. Cod. Or. 8035 [1894], hlm. 110.
  10. HPS. Cod. Or. 8706 [1912], hlm. 9-38.
  11. HPS., Cod. Or. 8690, hlm. 10.
  12. Ibid., hlm. 38.
  13. HPS., Cod. Or. 8690, hlm. 26-34.
  14. HPS. Cod. Or. 8690, hlm. 33.
  15. Shaick Abbas ibn Muhammad, Tadhkirat al-Rakidin, Cod. Or. 8038, UBL., hlm. 182-6.
  16. Tobat yang sungguh-sungguh atau tobat yang murni.
  17. Cod. Or., 8926 [1878 M.], UBL.
  18. E.B. Kielstra, Beschrijving van den Atjeh Oorlog, III, hlm. 137, 176-187.
  19. HPS., Cod. Or. 8683 B.
  20. KV, 1899, hlm. 17. Lihat juga, Snouck Hurgronje, "De Excursie ter Noord-en Oostkust van Atjeh en Hare Gevolgen, 1899", dalam Verspreide Geschriften van C, Snouck Hurgronje, 1924, hlm. 404. Juga L.F.A. Winckel, De Milltaire Loopbaan van Luitenant Generaal Karel v.d. Hei- den, 1896, hlm. 98-101.

  21. KV, loc. cit.

  22. Ayat-ayat yang sering terdapat dalam berbagai naskah HPS, lihat pada Lampiran C, hlm. 343.
  23. Yang dimaksud dengan doa hauqalah ini adalah: "La hawla wa la quwwa- ta illa bi 'l-lahi al-aliyyi al-azim", artinya: Tidak ada daya upaya dan tidak ada kekuatan melainkan dengan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung.

    50. HPS., Cod. Or. 8134, hlm. 21.

  24. Ahmad bin Mahmud, Hikayat Prang Sabi, 1894, Cod. Or. 8035, hlm. 116-8. Ia juga meminta orang berdoa dengan kedua tangan terbuka meng- hadap kiblat dengan membaca doa sebagaimana terdapat dalam Lampiran D, hlm. 345-6. Ibid., hlm. 118-9. Doa qunut adalah doa yang diucapkan pada waktu sembahyang pada raka'at terakhir sambil berdiri, setelah i'tidal, sebelum sujud.

  25. Ms. Doa Tgk. Alue Keutapang, milik Tgk. Abdulwahab Tiro, Banda Aceh.
  26. H.T. Damste, "Atjehsche Oorlogspapieren", IG (1912), hlm. 619.
  27. Ms. Doa Tgk. Alue Keutapang, op. cit.
  28. Ibid.
  29. HPS., Cod. Or. 8035, hlm. 90. dm
  30. Tadhkirat al-Rakidin, Cod. Or. 8037B., hlm. 28-9; Cod. Or. 8038, hlm. 223-6.
  31. Syaikh Abbas Ibnu Muhammad (Tgk. Chik Kutakarang) Tadhkirat al-Rakidin. Cod. Or. 8037 B., UBL., hlm. 5-6. Qaul artinya pembicaraan atau perkataan, tetapi yang dimaksudkan di sini ialah pendapat. Mu ta- mad maknanya kukuh dan dapat dijadikan pegangan, sedangkan mau izah berarti nasihat.
  32. Salinan surat Sultan Daud sebagai lampiran surat Van Langen, Kutaraja 3/9/1893, pada Snouck Hurgronje, koleksi surat-surat pribadi Van Langen, Oostersch Instituut Leiden.
  33. Tadhkirat al-Rakidin, Cod. Or. 8037 B, hlm. 23.
  34. Ibid., hlm. 25.
  35. Mengenai rekonstruksi peristiwa 11 Maret 1880 ini, lihat surat T. Imam Muda, 3 April 1880, laporan Asisten-residen Van Langen, 6 April 1880; pengakuan Aripan, 7 April 1880, dalam laporan politik Van der Heyden, 5 Januari- 30 Oktober 1880, dossier no. 9186, ARA. Schaarsbergen.
  36. Aripan, 23 tahun, pernah bekerja di Deli. Setelah tuannya bernama Rou- seline pindah ke Saigon, ia berjumpa dengan Wallon, Guillaume dan Courret. Akhirnya Aripan bekerja pada mereka. Dengan kedua orang yang tersebut belakangan ini, ia pergi ke Betawi dan kemudiannya me- nuju Padang dan ke Aceh Barat. Lihat pengakuan Aripan, 7 April 1880, Ibid.dae n

  37. Surat Gubernur Hens kepada GJHB, no. 192/82, Kutaraja, 10 Agustus 1924 dalam Kernpapleren no. H 797/161.

  38. Mailrapport No. 899 x 26.
  39. A.H. Philips, Memorie van Overgave, Mailrapport No. 1624 x 32.
  40. Laporan Mantri Polisi, Idi, tanggal 24 November 1924, sebagai lampiran surat J.J. van den Velde, Kontrolir Seulimeum, 5/8/1932, kepada C. Snouck Hurgronje, Leiden, adalah karangan Abdul Samad, orang Palem- bang, murid Syaikh Saman.
  41. R.A. Kern, "Onderzoek Atjeh-moorden", laporan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, 16 Desember 1921, Kerpapleren no. H 797/159, 18 KITLV, Leiden.
  42. Ibid.
  43. Ibid.
  44. Salinan Register mengenai perkara-perkara pidana yang telah diselesaikan oleh musapat (pengadilan bumiputera' di Aceh) di Langsa pada bulan Ok- tober 1917, Kernpapleren, H 797/154.
  45. Sabi menerangkan di depan pengadilan bahwa hikayat ini kepunyaan Pa- wang Husin yang diambilnya dari rumah pemiliknya tanpa izin dengan maksud untuk belajar membaca. Ia mengatakan bahwa ia tahu membaca Qur'an, tetapi tidak dapat membaca hikayat, Ibid.
  46. Lihat surah at-Taubah, ayat 111, hlm. 160.
  47. Salinan Register mengenai perkara-perkara pidana yang selesai diadili oleh musapat (mahkamah) di Idi selama April 1918, Kernpapleren H 797/155.
  48. J.A. Latumeten, "Kantteekeningen op het Rapport van den wd. Assis- tent-Resident der Noordkust van Atjeh betreffende den Moord op Kap. Schmid', Mr no. 240/geh. '34.
  49. Missive GBA pada GJHB, no. 30/Z.G.E., 28/1/1934, Mr. no. 240/geh/'34. Lihat juga Nota J. Jongejans, Mr. no. 873/geh/'33.
  50. J.A. Latumeten, "Rantteekeningen op het Rapport van den wd. Assis- tent-Resident der Noordkust van Atjeh betreffende den Moord op Kap. Schmid', Mr no. 240/geh. '34.
  51. Ibid.

    80. F.H. van Loon, "Het Krankzinnigenvraagstuk in Atjeh", Mededeelingen

van den Burgerlijken Geneeskundigen Dienst in Nederlandsch-Indie, deel

X (1920).

  1. Missive Gubernur Aceh kepada Gubernur Jenderal, 28/1/1934, no. 30/
    Z.G.E., Mr no. 240/geh. '34.
  2. A.G. van Sluijs, "Nota, Atjeh en Onderhooringheden, September 1918 — October 1920", Kernpapieren, no. 797/156. Menurut van Sluijs dalam Nota ini, Tgk. Syaikh Ibrahim dalam sidang pengadilan tersebut di atas

juga menerangkan, bahwa makin tinggi pangkat kafir itu atau makin ba- nyak kafir yang dibunuhnya, makin tinggi pula pahala dan ganjaran yang diterimanya. Terjadinya serangan-serangan terhadap orang-orang Eropah dalam gerbong kereta api kelas I, karena di dalamnya terdapat orang-orang Eropah yang berpangkat tinggi. Dalam Nota ini disebutkan pula, bahwa jika Tgk. Syaikh Ibrahim sebagai imam menyaiakan kepada rakyat bahwa mereka tidak akan memperoleh imbalan jika membunuh kafir, mereka tidak percaya, oleh karena keyakinan mereka yang telah berurat- berakar.

  1. Penggantian pasukan salah satu benteng Belanda dalam lini kosentrasi.

  2. Para anggota patroli marechaussee berpose di depan jurupotret sesudah serangan yang berhasil atas pertahanan Aceh di Sigli. Di latar depan ada- lah orang-orang Aceh yang gugur.

  3. Pada bulan Juni 1886 tentara Aceh untuk pertama kaliņya melakukan aksi besar-besaran melawan Tengku Oemar, yang di kampung Rigas pan- tai barat memimpin sebuah pasukan tempur yang kuat. Dengan tiga kom- pi yang didatangkan melalui laut, Mayor H. van Teijn dengan suatu ko- lone yang melebar (gambar) maju menuju kampung tersebut. Tetapi se- tibanya di kampung itu, ternyata Tengku Oemar telah menghilang.

  4. Suatu model pertahanan dengan senjata mortir yang ditanamkan ke da- lam tanah selama Perang Aceh. siub
    .ale19mn

  5. Pada tahun 1876 di Aceh dibangun sebuah jalan kereta api demi kepen- tingan pasukan Belanda yang bergerak dari pelabuhan Olehleh menuju Kotaraja (Banda Aceh).
    030

  6. Belanda tidak akan dapat melakukan perang di Aceh tanpa apa yang di- sebut kettingberen (beruang dirantai), yaitu orang-orang Indonesia yang dihukum kerjapaksa yang bersama tentara dikirim ke Aceh untuk bertu- gas sebagai kuli dan tukang pikul. Sering mereka dirantai pada saat se- dang bekerja, hal mana menunjukkan nama julukan yang diberi kepada mereka.

  7. Para tahanan yang dirantai (kettingberen) sedang menyeberangi sungai bersama pasukan-pasukan patroli Belanda.

    17. Suatu keadaan yang bertahun-tahun merupakan gambaran khas bagi ne-

geri Aceh, yakni beberapa orang tuan dan nyonya Belanda yang akan ber-

kunjung ke kenalan mereka yang berada di pos yang lain, mereka selalu

dikawal ketat oleh pasukan tentara Belanda.

  1. Lelaki, wanita dan anak-anak yang dibabat habis .... itulah gambaran yang ditinggalkan oleh marechaussee van Daalen di kampung negeri Alas dan Gayo. Gambar ini diambil setelah kampung Lihat direbut.

  2. Van Daalen, Gubernur Aceh sejak tahun 1905 sampai 1908, mengadakan perpisahan dengan Aceh setelah pemecatannya oleh van Heutsz. Karika- tur ini dibuat oleh Albert Hahn, 17 Mei 1908.

  3. Benteng Kuto Rech, daerah Gayo (Aceh Tengah), seusai diduduki van Daalen pada 14 Juni 1904. Gugur 561 orang. Tampak di tengah seorang anak kecil yang masih hidup. Berdiri di kiri atas, van Daalen.

  4. Van Heutz pada pertempuran di Batoe Illiq (Samalanga) pada tahun
    1901.

  5. Samalangan, suatu pusat keagamaan di pantai Timur Aceh sampai dua kali digempur dengan sia-sia oleh van der Hijden. Pada pengepungan per- tama, di tahun 1877 (gambar) sebelah matanya tertembak. Sesudah peng- obatannya ia kembali ke medan laga. Sejak itu orang Aceh menamakan dia si "Jenderal Bermata Satu".

V. Ulama Memobilisasi Kekuatan
Melalui penyebaran ideologi perang sabil, para ulama berusaha menggugah rakyat menjadi lebih dinamis dalam menghadapi musuh. Strategi yang dijalankan adalah menumbuhkan kemauan keras untuk berperang yang berlandaskan pada firman Allah dan sunnah Nabi.1 Hal ini didukung oleh sekutu ulama yaitu para uleebalang, yang masih setia kepada perjuangan mengusir kaphe, Dengan begi- ni ideologi perang sabil dapat tersemai sebagai motor penggerak dalam peperangan. Maka timbullah keberanian yang memungkin- kan orang bersedia menempuh penderitaan guna mempertahankan prinsip-prinsip hidup.Di samping itu timbul pula kebencian yang tiada tara kepada musuh dan kecintaan yang mendalam kepada agama dan bangsa. Para ulama mempergunakan pusat-pusat pengajian atau dayah sebagai tempat untuk menggodok pengikut-pengikut dan untuk menghimpun kekuatan menghadapi Belanda. kecuali peri penting- nya mengangkat senjata, Tgk. Chik di Tiro menginsafkan orang dengan lisan maupun tulisan untuk berperang. Bahkan kepada pihak Belanda disampaikannya ideologi perjuangan yang bernapaskan Islam. Bilamana Belanda mau memeluk agama Islam maka tidak ada masalah mereka memerintah Tanah Aceh. Tgk. Chik Kutaka- rang mengambil langkah yang sama dengan Tgk. Chik di Tiro, hanya bedanya ia tidak mengadakan kontak surat-menyurat dengan pihak Belanda. Kecuali itu ada sedikit perbedaan pandangan di antara kedua ulama ini mengenai bagaimana orang-orang Islam yang berada di daerah pendudukan Belanda seharusnya berbuat bagi kepentingan perjuangan. Ada pula di antara para pemimpin agama yang tidak meninggalkan karya tulis, Tgk. Tapa dan Tgk. di Matale, umpamanya hanya mengandalkan pemakaian mata pedang dalam menghadapi Belanda. Pengaruh Tarikat, sejauh bahan-bahan yang dapat ditemukan, tidaklah besar dalam peperangan ini.2 Untuk memperjelas uraian tentang Strategi ulama menghadapi Belanda, di sini akan dipilih sikap tiga ulama, yaitu Tgk. Chik di

Tiro, Shaikh Abbas ibn Muhammad alias Tgk. Chik Kutakarang

dan Tgk. Tapa. TGK. CHIK DI TIRO Ketika Belanda memaklumkan perang kepada kerajaan Aceh pada 1873 Tgk. Chik di Tiro Muhammad Amin Dayah Cut adalah ulama yang memimpin dayah Tiro. Dayah ini terletak di Gampōng Tiro, di kiri dan kanan sungai Pidie, kira-kira lima atau enam jam jalan kaki dari Sigli. Seperti telah disinggung pada Bab IV, ulama ini berseru agar orang-orang di Pidie pergi berperang sabil ke Aceh Besar. Ilmunya yang tinggi dalam bidang agama menyebabkan ia mempunyai pengaruh yang besar³. Tgk. Chik di Tiro Muhammad Amin mengangkat salah seorang anggota keluarganya, yaitu Syaikh Muhammad Saman Tiro, sebagai tangan kanannya untuk mem- bantu usaha mengerahkan rakyat berperang sabil melawan Belanda. Setelah Tgk. Chik di Tiro Muhammad Amin meninggal dunia pada 1886 yang menjadi penggantinya sebagai Teungku Chik di Tiro adalah Syaikh Saman tersebut tadi. Bersama T. Umar ia di- pandang oleh pihak Belanda sebagai faktor penting dalam kehidup- an politik Aceh pada waktu itu.4 Khotbah-khotbah yang berisikan semangat perang sabil, yang telah dimulai dengan gencar dilaksanakan oleh para ulama, ternyata tidak saja menambah kepekatan hati pejuang Aceh melawan kaphe, tetapi juga tambah memperkuat pengaruh ulama.5 Hal ini sangat jelas kelihatan pada karir Tgk. Chik di Tiro Muhammad Saman. Meskipun pengaruhnya menaik di tahun 1884, sebagaimana sebuah laporan mengatakan6, tetapi sebenarnya sudah sejak 1882 kemungkinan yang merugikan bagi Belanda dari peningkatan pengaruh ini telah diketahui oleh pemerintah Hindia Belanda. Dalam salah satu instruksi sangat rahasia di bulan Maret 1882, Gubernur Jenderal memerintahkan Gubernur Aceh untuk memberi hadiah orang-orang Aceh yang sanggup menyerahkan pemimpin-pemimpin pemuka Aceh, seperti Tgk. Chik di Tiro [sic] dan lain-lain, hidup atau mati, sebanyak 1000 dollar.7 Kekhawatiran Belanda terhadap pengaruh Tgk. Chik di Tiro tampak pula dari surat Gubernur Aceh kepada T. Umar. Ia meminta kepada T. Umar agar berusaha membunuh Tgk. di Tiro.8 Akan tetapi, bukanlah sekadar pengaruh nominal Tgk. di Tiro yang mengkhawatirkan Belanda, tetapi sistem pertahanan Belanda yang telah dimulai sejak 1884, ternyata telah pula dapat ditembus.

Sistem pertahanan konsentrasi yang lebih mementingkan konsoli-

dasi kekuatan di daerah-daerah yang telah diduduki, ternyata di- pergunakan oleh para pejuang Aceh secara efektif. Mereka dengan lebih berani menyerang pertahanan-pertahanan yang bersifat tidak mobil itu. Lebih penting lagi ialah sistem pertahanan yang statis itu dipakai pihak Aceh untuk memasukkan senjata dan mesiu sebanyak mungkin dari Pulau Pinang. Hal ini menyebabkan pemerintah Hindia Belanda meminta pada pemerintah Inggris (Novem- ber 1883 dan April 1885) agar ekspor senjata dari daerah kekuasa- an mereka itu ke Aceh dihentikan. Sementara itu usaha pelebaran pengaruh dan penguatan tekad dalam perjuangan tetap dilakukan oleh para ulama. Dalam hal ini cara yang ditempuh Syaikh Saman Tiro cukup unik juga. Ia meng- adakan kenduri-kenduri. Pada kesempatan itu ia menyebarluaskan ajarannya mengenai perang sabil serta menyadarkan orang untuk memerangi kafir.10 Kenduri adalah pula kesempatan bagi Syaikh Saman untuk memperoleh pelbagai informasi dari mereka yang ha- dir.11 Pada kesempatan itu ia membagi-bagikan pula azimat-azimat

kepada para pengikutnya.12

Untuk menginsafkan para uleebalang dan keuchik, yang telah mengakui kedaulatan Belanda dan telah memihak kepada Belanda, supaya kembali ke jalan perang sabil, Syaikh Saman menyurati mereka.13 Tugas menyampaikan surat-surat tersebut dilaksanakan oleh Habib Lamayong dan Habib Samalanga dengan dibantu oleh pemimpin-pemimpin agama seperti Tgk. Polem di Njong, Tgk, Awe Geutah di Peusangan, Tgk. di Blang Bagoh dan lain-lain pengikut

Tgk. Chik di Tiro.14

Syaikh Saman melayangkan surat kepada semua uleebalang, Imum, wakil, Keuchik, khususnya kepada T. Baid, uleebalang Tujuh Mukim. Dalam suratnya Syaikh Saman menegaskan bahwa ia dengan tulus ekhlas dan karena Allah semata mengikuti firman Allah yang berbunyi: "Waltakun minkum ummatun yad'üna ila 'l-

khairi wa ya'muruna bi 'l-ma'rufi wa yanhauna 'ani 'l-munkar"15

artinya, "dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada makruf dan mencegah dari yang mungkar". Seterusnya dalam suratnya itu di- kemukakannya sebagai berikut: ... Hai Teuku Baid yang hulubalang Tujuh Mukim itu tiada ayak kami bahwasanya tuan-tuan itu setengah daripada hulubalang Raja Aceh dan imam kami Muslimin, pada hal hanya di-

pertanggung oleh Allah Ta'āla pada Negeri Tujuh Mukim seperti timbangan Syar'i yang betul dan dipenyata akan tuan da-
lil yang nyata Qur'an dan Hadith dan Kitab ....
.... Jika tuan berbuat adil pada hukum maka beroleh pahala
akan diri tuan dan akan kami yang ikut tuan dan jika fasiq tuan dan zalim tiada tuan ikut seperti syari'at, maka yang di kami Insya Allah beroleh pahala dan yang melarat itu atas tuan sahaja, maka takut olehmu hai Teuku Baid bahwa dipeuleumah [diperlihatkan] oleh Allah Ta'āla pada hari kiamat di hadapan raja-raja orang Islam jadi engkau sehina-hina manusia dan serugi- 16 rugi manusia... Syaikh Saman selanjutnya menulis:"Hai tuan yang raja yang se- habis-habis jahat atas tuan dunia dan akhirat itu tuan pumeunang kafir dan mengambil rasuwat dari pada kafir dan peuhina Muslim-

in dan peuhina agama Islam dalam negeri tuan ...17 Pada akhir

suratnya ia menganjurkan bahwa jika T. Baid betul-betul mengikut Allah dan Rasul dan mengikut muslimin hendaklah ia menyuruh membuat benteng-benteng untuk menghadapi Belanda. Dalam suatu pernyataan lain yang ditujukan kepada mereka yang masih berada dalam wilayah yang telah dikuasai oleh Belanda, Tgk Chik di Tiro menyatakan pula, antara lain, sebagai beri- kut ini: (1) Telah diwahyukan tanda-tanda kemenangan dengan mundurnya orang-orang kafir. Banyak kubu pertahanan yang kuat- kuat telah dimenangkan oleh kaum muslimin dan banyak senjata- senjata yang telah mereka rebut, Ketahanan mereka menjadi ber- tambah-tambah. Keberanian orang-orang muslimin telah menam- bah ketakutan, kekecutan dan susah hati orang-orang kafir serta pengikut-pengikut mereka. (2) Mereka yang berada di daerah pen- dudukan yang seagama hendaklah meninggikani agama Islam, berbuat baik, mencegah hal-hal yang mungkar dan memerangi orang-orang kafir, (3) Imam Mahdi,18 telah lahir di Sudan dan ia sedang memerangi musuh-musuhnya. Banyak orang kafir dan pengikut mereka serta orang-orang yang membelot telah dibunuh oleh perajurit-perajurit Mahdi, (4) Orang-orang yang telah membelot dengan tanda dan bukti yang jelas, hendaknya diperangi, sementara mereka yang berada di daerah yang diduduki Belanda supaya benar-benar menjadi saudara kaum muslimin dan hendaklah bermusyawarah dan bermufakat dalam hal menguatkan agama dengan jalan membunuh orang-orang kafir, merampok dan men- jarah harta mereka, menipu dan mendustakan serta memperdaya-

kan mereka itu sekuat tenaga yang ada, (5) Dengan izin Allah orang-orang kafir itu akan dikalahkan dan diusir seperti telah di- janjikan Allah. Janganlah ragu-ragu dan barang siapa yang ragu-

ragu, bukanlah ia saudara kaum muslimin.19

Menarik juga untuk dicatat bahwa di dalamnya terdapat per- ingatan, agar surat yang dianggapnya penting itu disimpan pada tempat yang baik dan jangan dibiarkan hilang. Barangsiapa yang menghilangkannya, Insya Allah, akan terkena bencana. Bagaimana Tgk. Chik di Tiro mendasarkan dirinya pada al-Quran dapat terlihat pada seruan yang ditujukan kepada para imam negeri, teungku-teungku, keuchik-keuchik, para panglima dan sekalian muslimin, khusus kepada Sri Paduka T. Nek Neurak- sa, T. Panglima Mesjid Raya dan T. Kali Malikul-'adil.20 Syaikh Saman menyerukan kepada mereka supaya melawan kafir dan jika mereka tidak sanggup, harta mereka harus diserahkan dan rakyat mereka harus dikerahkan. Dalam surat itu dikatakan pula bahwa jika mereka tidak sanggup berbuat demikian, "wajib lagi lazim tuan-tuan hijrah berpindahan bersama-sama muslimin yang saudara [sic] karena jihad fi sabilillah'. Jika ketiga pemimpin-pemimpin adat tersebut di atas bersedia mengikuti nasihat Syaikh Saman, yaitu berperang sabil dan kalau tidak sanggup lalu meninggalkan daerah yang diduduki Belanda bersama rakyat mereka yang la- zimnya mengikuti mereka, maka mereka dan rakyat mereka akan beroleh berlipat ganda pahala dari Allah, selamat dunia dan akhirat. Jikalau tidak mau mengikuti nasihat itu, Syaikh Saman takut akan datangnya azab Allah Ta'ala ganda-berganda dengan kehina- an dan kerugian di dunia dan azab neraka jahanam di akhirat, menimpa pemimpin-pemimpin adat ini serta rakyatnya. Yang di jadikan dasar oleh Tgk. Chik di Tiro adalah al-Quran surah al-An- fal ayat 72, yang sebagian terjemahannya, berbunyi: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lin- dung melindungi. Dan terhadap orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah maka tidak ada kewajiban sedikit pun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian an-

tara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. Akan tetapi tak terdapat bukti-bukti bahwa nasihat-nasihat dalam surat-surat Syaikh Saman terdahulu,21 dan yang terdapat dalam surat yang kemudian ini mendapat perhatian dari pemimpin-pemimpin adat tersebut. Dua orang pemimpin lainnya, Habib Lhōng dan Tgk. Pante Glima mengirim pula surat-surat pada T. Cut Mahmud Lamngoh dari Mukim VII Baid dan T. Muhammad dari Mukim IX. T. Cut Mahmud didesak agar menggabungkan diri pada pihak muslimin, sedangkan pada T. Muhammad diusulkan agar mengadakan perte- muan dengan Habib Lhong dan Tgk. Pante Glima guna membica- rakan cara-cara untuk melepaskannya dari cengkeraman orang-orang kafir.22 Agar pengikutnya semakin besar jumlahnya dan supaya orang-orang Aceh tidak takut akan kehebatan pasukan Belanda, Tgk. Chik di Tiro berusaha meyakinkan para pemimpin adat dengan mengatakan sebagai berikut:... jangan terpedaya tuan-tuan dengan kuasa kafir ini dan banyak artanya dan simban (mapan, kuat) perkakasnya dan banyak serdadunya bi'l-nisbah (dibandingkan) dengan kuasa kami dan arta kami dan perkakas kami dan rakyat muslimin karena tiada kuasa dan tiada yang kaya dan tiada yang banyak tentera- nya melainkan Allah Ta'ala yang maha besar dan tiada memi- lik munafaat dan mudharat melainkan Allah subhanahu wa Ta'āla dan tiada yang beri tauladan menang melainkan Allah subhanahu wa Ta'ala yang memiliki sekalian alam.23 Kira-kira dua tahun setelah pernyataan tersebut di atas, Guber- nur Belanda Van Teijn dalam laporannya mengemukakan,24 bahwa pada 1887 sebagian besar rakyat di Aceh Besar telah meletak- kan senjata. Mereka telah kembali bertani dan berternak sebagai usaha untuk memulihkan kekalahan-kekalahan berat yang telah diderita dalam perang yang dahsyat dalam masa yang lalu. Laporan Van Teijn tersebut di atas selanjutnya menambahkan bahwa per- lawanan yang sebenarnya di Aceh Besar dilakukan hanya oleh beberapa pemimpin yang mempunyai pengikut-pengikut bersenjata kira-kira tidak lebih dari 150 orang. Mereka mematuhi semua perintah-perintah yang diberikan oleh Tgk. Chik di Tiro Muhammad Saman dan anaknya Tgk. Muhammad Amin. Mereka terbagi dalam beberapa pasukan kecil, muncul di depan lini konsentrasi, me-

nembaki benteng-benteng dan transpor Belanda, menyerang pa- troli, beberapa kali menyusup ke dalam lini konsentrasi untuk menjarah, memotong kawat telepon, menghancurkan jembatan- jembatan, pendek kata mengganggu ketenteraman penduduk yang telah memihak kepada Belanda, juga mempersulit kedudukan Belanda sendiri. Para anggota pasukan Aceh membebankan keper- luan hidup mereka sehari-hari kepada penduduk setempat yang mereka kunjungi. Penduduk kampung ini ingin agar mereka segera meninggalkan kampung, karena penduduk menganggap pasukan bersenjata ini sebagai tamu yang merepotkan. Pasukan Aceh diang- gap mengganggu ketenteraman kampung mereka oleh karena mereka mengkhawatirkan kampungnya nantinya menjadi sasaran operasi pihak kompeni yang akan membuat penderitaan saja bagi mereka. Kalaupun mereka terpaksa memberi bantuan, bukanlah karena rasa simpati, melainkan karena takut dan khawatir akan

akibat-akibat yang menimpa mereka.25

Pengikut Tgk. Chik di Tiro di Aceh Besar menurut Gubernur Van Teijn makin berkurang. Yang menggabungkan diri kepadanya adalah para perampok, orang-orang berbahaya, orang yang tidak disukai di kampung mereka, dan orang yang dapat memadukan nafsu merampok dengan perang melawan kafir, bukan karena ke- yakinan mereka hendak mengusir Belanda dari tanah air mereka, sedangkan pengikut Tgk. Chik di Tiro datang dari Pidie, Gigieng, Tanah Gayo, boleh dikata tidak memiliki harta benda apa-apa dan tidak akan kehilangan apa-apa.26 Memang tak mungkin dapat dituntut dari Van Teijn untuk dapat memahami peperangan ini dari kacamata orang Aceh. Orang-orang Aceh ini mengikuti pe- tunjuk ulama mereka yang menyatakan bahwa orang-orang yang pergi berperang dapat memperoleh rampasan atau ghaniman dan pahala.27 Hati siapa yang tidak tergugah untuk mendapatkan nik- mat dan rahmat dunia dan akhirat? Sebagai telah disinggung di muka ada rakyat yang mengikuti jejak pemimpin-pemimpin adat pulang ke kampung halaman mereka untuk kembali kepada kehidupan biasa, tetapi ada juga yang tidak berbuat demikian. Bagi rakyat di kampung yang tidak ada kontak dengan dunia luar selain dari dunia yang mereka miliki, mereka itu terus terpengaruh oleh seruan dan fatwa-fatwa para pimpinan agama, terutama Tgk. Chik di Tiro.28 Dalam khotbah- khotbah perang sabilnya ulama ini atas nama sultan mengajak rakyat melawan Belanda dan kalau para uleebalang yang bekerja sama

dengan Belanda melarang rakyatnya ikut berperang sabil, larangan ini tidak diindahkan oleh sebagian mereka, oleh karena mereka merasa berkewajiban mematuhi Tgk. Chik di Tiro yang berbicara atas nama Sultan.29 Syaikh Saman Tiro tidak hanya menulis surat-surat kepada para pemimpin adat supaya tetap ingat pada jalan Allah, tetapi juga mengadakan surat-menyurat dengan pihak Belanda, bukan untuk berkompromi, tetapi untuk menarik garis pemisah antara Belanda, yang kafir, dan yang hendak menjajah dengan orang Islam, yang ingin merdeka. Masalah terpenting yang dikemukakannya adalah permintaan agar Belanda bersedia memeluk agama Islam. Pada 1885 Tgk. Chik di Tiro Muhammad Saman menulis surat kepada asisten-residen Belanda di Kutaraja dan menyatakan bahwa pada tahun sebelumnya ia pernah mengadakan surat-menyurat mengenai masalah perdamaian. Ulama ini mengemukakan bahwa perdamaian baru tercapai setelah Gubernur Belanda mau memeluk agama Islam, akan tetapi pihak Belanda tidak memberi jawaban atas usulnya ini.30 Dalam surat tahun 1885 itu, Tgk. Chik di Tiro menyatakan lagi, antara lain sebagai berikut: ... jika boleh tuan-tuan masuk agama Islam dan menurut Sya- riat Nabi itulah yang terlebih baik atau tuan-tuan sejahtera du- nia dengan tiada aib keji lari pontang-panting tiap-tiap sawah dan serokan dan hutan dan jalan... dan yang terlebih jahat lagi itu siksa akhirat, dalam neraka jahanam dengan hukum Tuhan yang amat kuasa maka jika tuan-tuan masuk Islam sama- sama orang Aceh maka kami harap kepada Tuhan seru sekalian alam terpelihara daripada nyawong (nyawa) dan darah dan arta dan megah dan terpelihara daripada aib keji tangkap dibawa ke mana-mana atau terbunuh dengan kehinaan barangkali jika tuan-tuan dengar dan turut seperti nasehat kami ini dapat un- tung baik dapat kemegahan jadi tuan akan kepala kami dan da-
pat arta ....31
Tiga tahun lamanya, rupanya, surat Tgk. di Tiro ini ibarat batu jatuh ke lubuk, senyap, tiada mendapat tanggapan dari pihak Belanda. Kemudian pada bulan Mei 1888 Tgk. di Tiro mengirimkan lagi sepucuk surat dari benteng Aneuk Galong kepada pihak Belanda di Kutaraja. Ia menyatakan bahwa sudah sekitar enam belas tahun Kompeni memerangi Negeri Aceh, meski yang disebut Tgk. di Tiro "sangat kecil lagi dhaif raja dan hina rakyat"nya. Selama

masa itu sudah berapa serdadu mati, uang kompeni yang habis, pedagang menjadi untuk dan berapa banyaknya rakyat Aceh yang syahid, dan kampung-kampung yang binasa. Ia kemudian bertanya, mengapa Gubernur Belanda tiada berfikir dengan matahati tentang mana yang bermanfaat dan mana pula yang tidak, yang laba dan yang rugi, dan jalan hidup dan mati, sebab bukan- kah tiap-tiap anak Adam itu mempunyai matahati yang terang? Pihak Aceh dan pihak Belanda berasal dari anak cucu Adam, Anak Nuh 'alaini wasallam, hanya pada siapa yang menjadi ikatan me- reka; Aceh mengikuti Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam pesuruh Allah Ta'ala, sedangkan Belanda Nabi Allah Isa yang roh Allah dan pesuruh-Nya.32 Kemudian sambungnya Kompeni perang Negeri Aceh dan negeri lain-lain syari'at siapa Kompeni ikut dan adat mana Kompeni turut dan patut siapa Kompeni perbuat hingga berapa ribu meliun [sic!] orang Aceh dan orang lain-lain Kompeni aniaya dengan tiada salah suatu jua... hendaklah Tuan Besar harus pikir dan habis sa- wab (pertimbangan) jika Allah subhanahu wa Ta'ala tunjuk akan Tuan Besar jalan yang betul. .. Tuan Besar masuk agama Islam mengucap dua kalimah syahadat Insya Allah sampailah Tuan dunia akhirat, sempurna dunia dapat kerajaan (memerin- tah) dengan senang, boleh Tuan Besar perintah atas Negeri Aceh ini, dengan suka kami sekalian dan sempurna akhirat masuk surga baik banyak takhta dan bertambah-tambah rahmat 33
selama-lamanya....
Van Teijn dalam surat jawabannya sependapat dengan Tgk. Chik di Tiro bahwa yang sebaiknya adalah supaya perang dapat segera berakhir, karena telah cukup banyak orang yang mati, kampung yang rusak dan hancur dan telah cukup banyak pula uang keluar untuk itu dengan tiada guna dan karena itu diperlukan perdamaian sebagai penggantinya. Van Teijn mengharapkan pen- dapat Tgk. di Tiro untuk membina kesejahteraan rakyat Aceh. Tanpa kesejahteraan agama terlanggar dan adat Aceh rusak. Maka ia pun mengusulkan untuk dapat bertemu dengan Tgk. di Tiro. Ia mempersilakan ulama ini memilih tempat di Kutaraja atau tempat lain yang disukai. Kalau hal ini disetujui Tgk. di Tiro maka Belanda akan membangun sebuah rumah untuknya supaya ia dapat bekerja dengan tenteram, asal saja tidak untuk menjatuhkan kewibawaan Van Teijn dan memerangi pemerintah Hindia Belanda. Mengenai pandangan Tgk. Chik di Tiro agar pihak Belanda

masuk agama Islam untuk memulihkan ketenteraman di Aceh tidak dapat disepakati oleh Van Teijn, sebab Pemerintah Hindia Belanda tidak melakukan perang agama.34 Tentu saja Tgk. Chik di Tiro tidak dapat menerima jawaban Van Teijn itu. Dengan tegas ia mengemukakan dalam surat balasannya bahwa tidak mungkin ada perdamaian dengan kompeni, selagi kafir masih di negeri Aceh.35 Menteri Jajahan Belanda Keuchenius turut memberi reaksi atas ajakan masuk Islam dari Tgk. di Tiro. Ia menulis kepada Gubernur Jenderalnya di Betawi supaya menginstruksikan kepada Gubernur Van Teijn untuk menjawab surat Tgk. Chik di Tiro dengan mengemukakan bahwa tuntutan ulama ini agar pihak Belanda masuk Islam adalah tidak adil dan Tgk. di Tiro harus memperhatikan Su- rah al-Baqarah ayat 257 yang antara lain berbunyi bahwa tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam. Seterusnya Menteri Jajahan itu menulis agar diusahakan meyakinkan orang Aceh bahwa Pemerintah Belanda tidak bermaksud menjalankan paksaan dalam agama, tetapi dengan sungguh-sungguh menginginkan terciptanya kedamaian, kesejahteraan dan keadilan di kalangan orang Aceh.36 Terhadap pernyataan Belanda ini, Tgk. Chik di Tiro mengemukakan pendiriannya sebagai berikut: ... dari hal tuan suruh usaha yang memberi selamat negeri dan makmur serta tuan sebut tiada sekali-sekali tuan maksud huru- hara negeri, maka yang demikian itu sangat mustahil pada akal dan pada hakikat oleh karena dalam negeri ini sekarang dalam berlawanan hari dengan malam, matahari dan bulan, perempuan dengan jantan, kelam kabut dengan terang, air dengan api, mu- nafik dengan mukmin, kafir dengan Islam, raja kafir dengan raja Islam, dunia dan akhirat, surga dan neraka, nikmat dengan azab, sakit dengan mangat,.... selama kekal dalam berlawanan, sekali-kali tiada boleh mupakat ijma' maka jika tiada mupakat ijma' huru-haralah selama-lama. Insya Allah Taāla yang harap kami kepada Allah Ta'ala itu binasalah yang satu dalam kedua- nya yakni yang zallamah dan yang batal.37 Usaha Tgk. Chik di Tiro untuk menghentikan peperangan dengan taktik membawa Belanda kepada agama Islam tiada berhasil. Demikian pula Belanda tiada berhasil membawa Tgk. di Tiro ber- diam di Kutaraja dan berdamai dengan Belanda.38 Setelah Tgk. di Tiro meninggal dunia pada 25 Januari 1891, ulama ini digantikan oleh anaknya Tgk. Mat Amin sebagai teungku

chik, yang lebih ahli dalam hal berperang daripada hukum agama. Setelah Tgk. Mat Amin syahid dalam mempertahankan benteng Aneuk Galōng pada 1896, ia digantikan oleh adiknya Tgk. di Tungkēb alias Tgk. Beb. Pengaruh Tgk. Chik di Tiro Muhammad Saman, walaupun telah meninggal, masih tetap besar.39 Gema perjuangannya sampai ke Lhok Sukon, Aceh Utara. Dalam sebuah salinan HPS yang dibuat oleh controleur Lhōk Sukōn, 24 Oktober 1924, dinyatakan bahwa Tgk. di Tiro-lah yang mewakili jejak langkah Nabi dalam menerus- kan perang sabil, sedangkan ulama-ulama lain ada yang berdiam diri.40 Ketika pasukan marsose di bawah komando H.J. Schmidt pada 1908 mencari keturunan Tgk. Chik di Tiro yang masih hi- dup, rakyat tidak bersedia memberitahukan tempat mereka ber- ada.41 Banyak ulama yang menyusul jejak langkah ulama Tiro beserta keturunannya. Mereka terus mengangkat senjata berperang sabil. Salah seorang daripadanya adalah Tgk. Cot Plieng, yang pernah disinggung dalam bab terdahulu dan mempunyai hubungan keluar- ga dengan Tgk. di Tiro. Kepada pengikut-pengikutnya Tgk. Cot Plieng membagi azimat-azimat yang dibubuhi capnya. Azimat-azimat ini ditemukan pada para pengikutnya yang tewas. Tgk. Cot Plieng syahid pada 1905. Di beberapa wilayah ia bahkan dianggap lebih berpengaruh daripada Tgk. di Tiro.42 Salah seorang pengikut Tgk. Chik di Tiro yang setia, Tgk. Cot Cicem, mampu memobilisir lebih kurang 400 orang dalam pasuk- annya dengan latihan yang baik serta memakai pakaian yang sera- gam pula.43 Ia syahid pada 1906. TGK. CHIK KUTAKARANG Karena pengetahuan Tgk. Mat Amin, yang menggantikan ayahnya, Mohammad Saman, sebagai Tgk. Chik di Tiro, tidak dapat menyamai ayahnya, maka semakin besarlah pengaruh Syaikh Ab-

bas ibn Muhammad alias Tgk. Chik Kutakarang.44 Menurut

Snouck Hurgronje, Tgk. Kutakarang adalah seorang yang giat, pandai, tetapi aneh, sebab ada ajarannya yang berbeda dari yang diajarkan sebahagian besar ulama.45 Salah satu daripadanya ialah bahwa dalam bertempur menghadapi kafir pasukan yang sedang berjihad harus memakai pakaian sutera dan senjata bertatah emas dan perak supaya orang kafir segan melihat kekayaan orang Islam,46. Tgk. Chik di Tiro sebaliknya melarang memakai emas

atau sutera, juga bagi mereka yang sedang berjihad di medan sabil.47 Tgk. Chik Kutakarang mengajar di Mesjid Ulee Susu kira-kira tujuh kilometer, sebelah selatan Kutaraja. Ia menjaga makam Tgk. Lam Keuneu'eun yang dianggap keramat. Letak makam itu tidak jauh dari tempat ia memberi pelajaran. Setiap kali orang-orang berkumpul untuk mengadakan kenduri di makam keramat terse- but, Tgk. Kutakarang memakai kesempatan itu untuk menyampai- kan ajaran-ajarannya mengenai agama dan perang sabil.48 Tgk. Chik Kutakarang mengajarkan bahwa barangsiapa yang me- merangi kafir, maka hendaklah ia berperang dengan memperguna- kan alat-alat seperti yang dipakai musuh.49 Ajaran ini tampak-tam- paknya juga ditempa oleh pengalaman Aceh menghadapi Belanda, sebab dalam menghadapi kekurangan alat-alat senjata, orang-orang Aceh dalam pelbagai kesempatan memang berusaha merampas senjata-senjata Belanda dan melarikannya. Demikianlah, umpamanya, pada 24 April malam, 1877, serdadu Belanda yang menjaga Benteng yang sedang didirikan di Meulaboh, diserang orang Aceh, pengikut T. Kujruan Muda, putra ter- tua raja Meulabōh. Pada pukul enam sore, waktu bintara yang menjadi komandan jaga digantikan oleh yang lain, ia telah meme- san agar orang Aceh jangan dipercayai. Segera setelah aplus datang- lah tujuh orang Aceh menggabungkan diri kepada penjaga-penjaga pos dan menyatakan bahwa mereka diutus oleh raja Meulaboh, untuk membantu meronda. Segera orang-orang Aceh itu mengadakan patrole, dan pada pukul delapan malam mereka kembali dengan melaporkan bahwa tidak ada berita apa-apa. Pada pukul 10 malam mereka patroli lagi dan kembali satu setengah jam kemu- diannya, dengan berita yang sama. Ketujuh orang Aceh itu duduk kembali bersama-sama serdadu-serdadu itu, yang sama sekali tidak merasa curiga. Tiba-tiba mereka dihantam oleh "kawan-kawan" yang tujuh orang itu. Di pihak Belanda tujuh orang tewas, sedang- kan komandan dan tiga orang lainnya, luka berat. Orang-orang Aceh itu melarikan 11 buah senapan beserta 250 buah patron- nya.50 Pada bulan Maret 1878 didirikan pos Belanda di Lhōng Leu- moh, Aceh Besar, untuk menjaga jalan sementara dari Aneuk Ga- lōng menuju Gle Kambing, yang dikepalai oleh seorang kopral bersama lima serdadu. Pada 17 Juni 1880 pos ini menjadi sasaran serangan orang Aceh. Mereka duduk di dekat atau di dalam pon-

dok bambu tanpa senjata di sisi mereka. Sejumlah 12 orang Aceh, di bawah pimpinan Pang Saman, seolah-olah tanpa senjata, dengan membawa barang-barang, menuju ke pos tersebut. Ketika telah menghampiri pos itu, mereka dengan tiba-tiba membuang barang-barang yang sedang diusungnya dan dengan pedang menghabiskan serdadu-serdadu itu. Tiga tewas, sedangkan kopralnya dengan se- orang serdadu luka berat. Penyerang-penyerang berhasil menguasai

senapan-senapan serta peluru-pelurunya dan segera menghilang.51

Melihat banyaknya terjadi serangan tiba-tiba terhadap pos-pos Belanda serta dibawa larinya senjata-senjata Belanda, Mayor-Jen- deral K. van der Heijden menetapkan bahwa orang-orang Aceh tidak dibenarkan mendekati bivak, benteng atau stablissemen ten- tara Hindia Belanda, dengan membawa senapan, tombak, klewang atau arit, sampai sepuluh langkah dari pos penjagaan. Jika dide-

ngar, pos-pos itu berkewajiban membunuh mereka.52

Mengenai masalah logistik Teungku Kutakarang mendasarkan diri pada bantuan rakyat. Dahaga dan lapar dapat ditolong rakyat, karena mereka mempunyai makanan dan minuman yang mema- dai.53 Meskipun demikian pasukan muslimin melakukan juga pe- nanaman bahan makanan di berbagai tempat yang letaknya jauh di daerah pedalaman.54 Menurut Tgk. Chik Kutakarang serangan Belanda ke negeri Aceh telah ditakdirkan Tuhan, oleh karena rakyat Aceh telah mengubah janji. Mereka tidak melaksanakan suruhan Tuhan. Ma- suk kafir ke Aceh pada Hijrah 1289, oleh karena orang-orang Aceh tiada bersyukur akan nikmat Allah dan memasukkan bid'ah dalam agama Islam, hingga agama Islam tidak sejalan dengan syara'.55Satu-satunya cara untuk menolak malapetaka serangan Belanda itu ialah dengan tobat yang besar yaitu dengan jalan pergi berjihad fi sabilillah, oleh karena jihad ini terlebih dari segala iba- dat, setelah dua kalimah syahadat.56 Yang tiada bangkit jihad fi sabilillah dan yang tiada menolong orang yang berjihad niscaya ja- tuh atasnya: (a) malapetaka yang besar, (b) bangkit musuh atas-

nya, (c) rusaknya agama.57

Menurut ulama ini orang yang pergi ke medah jihad fi sabilillah akan memperoleh satu dari antara tiga hal di bawah ini:

(a) mendapat pahala karena berjihad, tetapi tidak mendapat gha- nimah, (b) beroleh syahid, dan (c) beroleh pahala serta ghani- mah.58 Orang harus bekerja sungguh-sungguh menurut jalan syara' dan perbuatan jangan menyimpang dari undang-undang

pengurus perang. Harus ada ijma' mufakat semua pihak, jangan sebagian cenderung mengambil uang pemberian kafir, jangan sebagian menghendaki kekayaan, jangan sebagian menghendaki negeri-negeri dan jabatan-jabatan. Jika demikian, maka jadi lemah dan pa- yah dalam peperangan.59 Kata Tgk. Kutakarang, negeri-negeri dalam batas jalan yang di- buat kafir menjadi dār al-harb, daerah yang ditaklukkan, dengan ijma' ulama.60 Tanah Aceh yang telah dikuasai oleh kafir Belanda, menjadi dār al-harb dan semua harta benda yang ada dalam geng- nggaman kafir ahl al-harb semuanya menjadi barang rampasan orang-orang Islam.61 Jika Negeri Aceh jatuh ke tangan kafir, menurut ulama ini, maka akibatnya adalah: (a) yang loba tamak akan kehilangan aga- ma Islam dan di akhirat kena kutuk Allah dan harta-hartanya habis dikuasai oleh kafir, (b) sekalian rakyat dijadikan budak, pemuda- pemuda dijadikan pelayan, perempuan-perempuan muda yang can- tik dijadikan gundik, dan sebagian dijadikan penghibur kafir atau biduan. Ketika baru-baru menduduki negeri, kafir memenuhi janji dengan memberi uang dan jabatan, kemudian mencari alasan-alasan untuk mengubah janji. Di samping menuntut hak tanah, kafir menuntut satu rial bagi orang-orang yang melahirkan, demikian juga satu rial bila orang nikah atau mati. Begitulah yang telah ter- jadi di Betawi, di Semarang dan di Madura.62 Menurut Tgk. Kutakarang orang-orang besar dalam negeri Aceh tiada kuasa melarang orang muslimin berperang sabilillah dengan taufik Allah semata-mata. Terhadap orang-orang besar yang meru- sak-rusak usaha peperangan melawan kafir akan jatuh malapetaka atas diri mereka.63 Apabila seseorang mengerjakan perbuatan yang memberi manfaat pada kafir, bersahabat dengan kafir dan meno- long kafir, seperti memotong rumput pada jalan kafir, supaya enak kafir berjalan-jalan, menerima uang dari kafir, maka orang yang demikian itu dengan ijma' empat mazhab menjadi kafir. Apabila orang mengerjakan sesuatu yang disuruh kafir dengan anggota, berikrar dengan lidah yaitu berkawan dengan kafir, maka orang yang berbuat demikian, jadi kafir, meskipun dalam batinnya ia ber- maksud menipu kafir.64 Sehubungan dengan faham Tgk. Chik Kutakarang ini layak juga untuk diperhatikan sepucuk surat dari se- orang ulama Tgk. di Aceh Muhammad Rasyad, di Pasai Aceh Uta- ra, yang ditujukan kepada sekalian isi Negeri Blang Me (Pasai), ter- utama kepada T. Bintara Ibrahim, T. Muda Gantoe, T. Bintara

Muda, T. Ujung Rimba, T. Syah serta sekalian banta-banta, ulama-ulama dan orang-orang tuha dan peutua-peutua.65 Tgk. di Aceh menyatakan bahwa ia menulis surat itu dengan mufakat enam uleebalang di Pasai, yaitu T. Bintara Blang Mangat, T. Imum Bale Bluek, T. Bintara Seuleumak, T. Keujruen Muda Matangkuli,

T. Chik Arabungkok dan T. Panglima Prang Samakurok dan sekalian uleebalang yang mengelola syari'at Nabi Muhammad dan sekalian ulama dan sekalian tentara Muslimin. Tulis Tgk. Di Aceh: .. apabila dia (kafir Ulanda) perang akan negeri kita orang Islam, maka tuan-tuan sekalian tiada mau tuan-tuan lawan kafir Ulanda, pada masa dia naik dalam negeri tuan-tuan; dia perang Negeri Geudong melainkan tuan-tuan tolong akan fafir yang mal'un, padahal yang wajib tuan-tuan minta kepada negeri orang Islam yang sunyi daripada kafir, begitulah yang patut tuan-tuan kerja, seperti kerja orang Islam; maka orang yang tulung akan kafir, dengan dirinya atau dengan artanya atau dengan bicaranya, atau dengan usahanya, maka orang itu kafir juga seperti kafir Ulanda .. Adapun apa yang seyogyanya dilakukan dalam berperang, me- nurut Teungku Chik Kutakarang, antara lain, adalah bermusyawa- rah mendirikan benteng-benteng dekat medan jihad, mencukup- kan alat perlengkapan perang seperti obat bedil, dan lain-lain, mengusahakan logistik bagi mereka yang berperang sabil. Di sam- ping itu, Aqa'id iman harus diperkuat, kitab sejarah jihad sabahat- sahabat rasulullah dan raja-raja yang ada berperang sabil harus dite- la'ah dan apa yang terdapat dalam Qur'an dan hadith wajib dipela- jari.66 Dan kalau mau berhasil apa pun yang dikerjakan, harus ada persatuan antara pemimpin-pemimpin agama dan adat, jika tidak, maka kekacauan akan terjadi sepanjang masa.67 Setelah Tgk. Chik Kutakarang berpulang ke rahmatullah pada 1895, muncul Tgk. Tapa yang dapat menghimpun ribuan pengikut yang membahayakan kedudukan Belanda di Aceh Utara dan Aceh Timur pada 1898. TEUNGKU TAPA Tentang kegiatan Tgk. Tapa, yang disebut sumber Belanda Tgk. Tapa-beweging, Koloniaal Verslag (1899) melaporkan,68 sebagai berikut ini. Di Aceh Timur T. Husin, peutua Ulee Gajah, Bagok, dengan bekerja sama dengan Tgk. Bintara Peukan, raja Julok Be- sar, melancarkan gangguan-gangguan terhadap T. Bintara Muda,

raja Bagok. Gangguan-gangguan ini terhenti, oleh karena raja Ne- geri Bagok ini mendapat bantuan dari raja Idi, yang dapat meng- usir T. Husin bersama pengikut-pengikutnya. Kenegerian Bagok tetap diduduki oleh pasukan-pasukan bantuan dari Idi dan semen- tara tidak ada lagi serangan-serangan T. Husin, bala bantuan itu ditarik, dan hanya tinggal satu benteng saja di Ulee Gajah yang di- jaga oleh pengikut-pengikut T. Bintara Muda.

T. Husin belum melepaskan rencananya untuk mengadakan
pembalasan; pertama, ia ingin menghantam T. Bintara Muda dan kedua, melawan kaphe dengan menyerang raja Idi Besar, yang me- nurut pendapatnya, akan merugikan Belanda. Rencananya yang pertama dilaksanakannya pada 15 Februari 1898, ketika dengan sejumlah pengikutnya ia dengan tiba-tiba menyerang benteng T. Bintara Muda di Ulee Gajah, menguasainya dan membakarnya. Tempat kediaman Bintara Muda tidak dapat dimusnahkannya, oleh karena ada tenaga bantuan dari Idi. T. Husin kemudian menuju ke hulu Sungai Jambu Aye. Di sinilah ia bermusyawarah dengan T. Hasan Titeue, Tgk. Awe Geutah, Tgk. Bahrun, Tgk. Aron untuk melaksanakan rencananya yang kedua. Sebagai hasil dari perundingan ini, berangkatlah T. Hasan Titeue dengan pengikut-pengikutnya ke Bulue Blang, di pedalaman Keu- dreutoe (Kerti). Dari sini ia datang dengan Tgk. Tapa menuju Piada di tepi laut, dekat muara sungai Jambu Aye. Dalam perja- lanan tersebut akhir Mei 1898, ia mengumumkan bahwa Malem Diwa, pahlawan dalam Hikayat Malem Diwa, telah bangkit. Ia adalah Tgk. Tapa. Berdasarkan keterangan yang diperoleh di Aceh Utara dan Aceh Timur oleh Koloniaal Verslag disebutkan bahwa nama Teungku Tapa yang sebenarnya adalah Abdullah Pakeh.69 Ia adalah seorang Minangkabau, berasal dari kampung Tilatang, Bukittinggi. Pada 1885 karena mengambil bagian dalam kerusuhan di Padang Atas, ia dihukum 20 tahun kerja paksa. Ia ditempatkan di daerah Aceh. Dalam menjalankan hukumannya itu ia melarikan diri. Ia tidak pandai membaca al-Qur'an. Mungkin karena mempunyai kepan- daiannya dalam bidang pengobatan penyakit, ia diterima oleh Sultan Muhammad Daud Syah. Ia mendapat tugas dari Sultan untuk mengumpulkan dana untuk perang sabil. Dalam fungsinya sebagai pengutip uang sabil ini ia sekali atau beberapa kali dalam 1888 atau 1889 ke Perlak, Aceh Timur. Kemudian ia pergi ke Tanah Gayo, menetap dan kawin di sana. Pada suatu hari dalam perjalan-

an, ia bertemu dengan saudara istrinya, dan melaluinya dititipkan- nya beberapa hadiah untuk istrinya. Amanah Abdullah Pakeh tidak disampaikan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu timbullah percekcokan antara keduanya, sehingga Abdullah Pakeh membu- nuh saudara istrinya itu. Kemudian ia melarikan diri ke Bulue Blang, bertapa di sana hingga ia dipanggil orang Teungku Tapa.T. Hasan Titeue memberi gelar Malem Diwa kepada Tgk. Tapa dan seorang perempuan yang berasal dari Perlak dianggap sebagai Putri Meureundam Diwi.70 Berita yang disebarkan oleh T. Hasan Titeue bahwa Malem Diwa telah bangkit, menyebabkan banyak orang datang untuk melihatnya. Untuk dapat menarik lebih banyak rakyat, muncul Tgk. Bahrun di tengah-tengah orang banyak dan menuduh bahwa Tgk. Malem Diwa itu seorang penipu. Setelah itu Tgk. Tapa melakukan suatu gerakan tangan yang mengakibatkan Tgk. Bahrun rubuh di atas tanah. kemudian dengan gerakan tangan berikutnya yang dilakukan oleh Tgk. Tapa, Tgk. Bahrun dapat hidup kembali. Tgk. Bahrun lalu menyatakan bahwa ia sungguh- sungguh percaya akan Malem Diwa, dan bersama pengikut-peng- ikutnya bergabung dengan Tgk. Tapa. Berita-berita mengenai ke- ajaiban itu menarik banyak orang untuk menggabungkan diri ke Piada, Pasai, Aceh Utara. Pada suatu malam bersama pembantu-pembantunya yang uta- ma, Tgk. Tapa duduk di bawah sebatang pohon besar yang berlo- bang di bagian dalamnya. Seorang yang dipercaya dapat dengan tidak diketahui orang memanjat pohon itu. Ketika di tengah-tengah ribuan orang dengan suara yang lantang Tgk. Tapa mohon restu dari orang-orang keramat yang dimuliakan di Pasai, seperti Tgk. di Rumbia, Tgk. Merbau, Tgk. Di Buket, Blang Ni dan lain- lain, datanglah suara "dari atas" menyetujuinya. Pekerjaan suci yang harus dilaksanakan ialah perang sabil di Idi. Setelah itu me- naklukkan wilayah-wilayah yang terletak antara Sungai Jambu Aye sampai ke Asahan, di Sumatra Timur. Dari berbagai penjuru datang para pejuang, uang, bahan makanan, dan sebagainya. Raja-raja di Aceh Timur berdiam diri saja terhadap meluasnya gerakan ini. Barulah pada 16 Juni 1898 atas permintaan controleur Idi, Aceh Timur untuk memberikan keterangan raja Simpang Ulim memberi tahu bahwa Melem Diwa telah dapat mengumpulkan se- jumlah besar pengikut-pengikut. Pada 19 Juni Tgk. Tapa menuju Simpang Ulim. Ia disambut dengan kehormatan oleh Panglima Prang Nyak Hakim, raja Julok

kecil. Raja ini terkenal sebagai orang yang berpihak pada Pemerin- tah Hindia Belanda. Sikapnya ini membawa pengaruh besar, hingga mengalirlah muslimin dari Simpang Ulim, Julok Kecil, Julok Besar, Idi Cut dan Idi Besar, bergabung dengan Tgk. Tapa. Sebagian besar pengikut-pengikut Tgk. Tapa adalah orang-orang Pasai yang fanatik [sic!], kebanyakan hanya membawa senjata tajam. Jumlah pengikutnya yang berkumpul di Simpang Ulim kira-kira

10.000 orang, sekitar 500 orang diantaranya adalah wanita Pasai, yang tertarik oleh kehadiran "Putri Meureundam Diwi". Pada 27 Juni Tgk. Tapa berangkat ke mesjid Julōk Kecil, sedang sebagian besar pengikutnya menuju Idi Cut. Akan tetapi T. Raja Nago dan T. Raja Bukit menutup pintu bagi mereka. Pemimpin-pemimpin terkemuka dari kelompok Tgk. Tapa adalah ulama- ulama Pasai, seperti Tgk. Bahrun dari Geudong, Tgk. Arun dari Matang Ubi, Tgk. Muda Tiro dan Tgk. Awe Getah, sedangkan T. Husin dengan pasukannya berada tidak jauh dari tempat pengikut-pengikut Tgk. Tapa berkumpul. Bagi sebagian besar orang banyak,
yang menjadi daya tarik gerakan itu adalah cerita-cerita yang me- nakjubkan yang disebarluaskan oleh pemimpin-pemimpin barisan muslimin itu. Controleur dan komandan militer Belanda di Idi mengadakan persiapan-persiapan yang perlu sambil menanti bala bantuan yang diminta dari Kutaraja guna menghadapi gerakan Tgk. Tapa ini. Sebagian pengikut Tgk. Tapa yang masuk sampai ke Pasar Aceh di Idi dapat disapu oleh pasukan Belanda. Penduduk dari bagian timur yaitu dari negeri-negeri Perlak. Sungai Raya dan Simpang Anas datang ke wilayah Idi membantu gerakan Tgk. Tapa. Setelah bala bantuan Belanda datang, pada 4 Juni pasukan Belanda menuju Teupin Batee tempat pertahanan Tgk. Tapa. Terjadi- lah pertempuran-pertempuran hebat. Barisan Aceh menderita ke- kalahan, tetapi belum dapat dikalahkan. Belanda mengundurkan diri kembali ke Idi setelah dua opsir dan 15 anggota pasukan ba- wahannya luka-luka. Kubu Belanda yang telah ditinggalkan didu- duki kembali oleh pihak Aceh sehingga Belanda merasa terdesak untuk menambah lagi pasukannya. Pada hari-hari berikutnya dengan kekuatan yang besar barisan Aceh ada di bukit-bukit dekat Idi, di sebelah selatan kubu pertahanan Belanda. Pada 6 Juli ke- pada T. Chik Perlak yang beberapa hari sebelumnya datang ke Idi, diminta oleh Belanda untuk kembali ke negerinya guna memang- gil kembali rakyatnya yang telah pergi ke Idi. Ia memenuhi per-

mintaan Belanda, tetapi pada 10 Juli banyak peutua-peutua dari Perlak beserta pengikut-pengikutnya yang kembali lagi ke Idi. Gubernur sipil dan militer Van Heutsz datang ke Idi bersama se- jumlah pasukan bantuan pada tanggal 7 Juli dan pada hari-hari ber- ikutnya datang lagi pasukan Belanda ke Idi. Pada 9 Juli kedudukan Belanda mendapat serangan dari jarak dekat, tetapi dapat dihenti- kan. Dua hari kemudian Belanda dapat mengusir pasukan Aceh yang berada dalam kubu-kubu sekitar Idi. Pertarungan sengit ter- jadi dekat kediaman Keuchik Saat, peutua di Seuneubok Aceh, tempat Tgk. Tapa berada. Dalam pertempuran ini pihak Aceh meninggalkan 80 mayat, sedangkan di pihak Belanda, 3 mati dan 21 luka-luka. Dalam pada itu T. Muda Yusuf dari Simpang Ulim bersama 200 orang pengikutnya yang bersenjata muncul di pedalaman Idi. Me- reka terus ke Perlak. Menurut berita yang diperoleh Belanda di Perlak ia bermusyawarah dengan T. Chik Perlak dan T. Bintara Pekan dari Julok untuk secara terbuka menyokong peperangan yang akan dilangsungkan dan untuk membantu Tgk. Tapa, tetapi usul ini ditolak T. Chik Perlak. Bagi T. Muda Yusuf tak ada jalan lain kecuali mengundurkan diri, ketika pada 11 Juli 1898 pasukan Belanda tiba di kedai Perlak. Melalui daerah pedalaman T. Muda Yusuf kembali ke negerinya. Dalam perjalanan ke Perlak pasukan Belanda diserang barisan Aceh hingga menderita delapan orang luka-luka. Di pihak Aceh sembilan orang yang mati syahid. Nyak Daud, yang memimpin pasukan Aceh, meskipun terluka, dapat melarikan diri. Sehari setelah itu pasukan Belanda mengadakan patroli di tebing kiri sungai Perlak, menuju Seuneubuk Aceh dan untuk mengawasi Tgk. Tapa, kalau-kalau ia menyingkir ke timur melalui jalan itu. Setelah mendapat berita bahwa Tgk. Tapa kembali ke Teupin Batee bersama beberapa ribu pengikutnya untuk membuat pertahanan di Kuta Nawas, maka kembalilah pasukan Belanda dari Bandar Khalifah menuju Idi. Tanggal 16 Juli pasukan Belanda mengadakan kontak senjata dengan pihak Aceh. Ketika terdengar berita bahwa pasukan Belanda telah menduduki Bagok, maka Tgk. Tapa dengan seluruh kekuatannya mengundurkan diri, dan akhirnya ia kembali ke daerah Gayo. Ledakan antusiasme yang muncul dari gerakan Tgk. Tapa ini segera padam. Jikalau Koloniaal Verslag 1899, melaporkan bahwa Tgk. Tapa

kecil. Raja ini terkenal sebagai orang yang berpihak pada Pemerin- tah Hindia Belanda. Sikapnya ini membawa pengaruh besar, hingga mengalirlah muslimin dari Simpang Ulim, Julok Kecil, Julok Besar, Idi Cut dan Idi Besar, bergabung dengan Tgk. Tapa. Sebagian besar pengikut-pengikut Tgk. Tapa adalah orang-orang Pasai yang fanatik [sic!], kebanyakan hanya membawa senjata tajam. Jumlah pengikutnya yang berkumpul di Simpang Ulim kira-kira

10.000 orang, sekitar 500 orang diantaranya adalah wanita Pasai, yang tertarik oleh kehadiran "Putri Meureundam Diwi". Pada 27 Juni Tgk. Tapa berangkat ke mesjid Julōk Kecil, sedang sebagian besar pengikutnya menuju Idi Cut. Akan tetapi T. Raja Nago dan T. Raja Bukit menutup pintu bagi mereka. Pemimpin-pemimpin terkemuka dari kelompok Tgk. Tapa adalah ulama- ulama Pasai, seperti Tgk. Bahrun dari Geudong, Tgk. Arun dari Matang Ubi, Tgk. Muda Tiro dan Tgk. Awe Getah, sedangkan T. Husin dengan pasukannya berada tidak jauh dari tempat pengikut-pengikut Tgk. Tapa berkumpul. Bagi sebagian besar orang banyak, yang menjadi daya tarik gerakan itu adalah cerita-cerita yang me-
nakjubkan yang disebarluaskan oleh pemimpin-pemimpin barisan muslimin itu. Controleur dan komandan militer Belanda di Idi mengadakan persiapan-persiapan yang perlu sambil menanti bala bantuan yang diminta dari Kutaraja guna menghadapi gerakan Tgk. Tapa ini. Sebagian pengikut Tgk. Tapa yang masuk sampai ke Pasar Aceh di Idi dapat disapu oleh pasukan Belanda. Penduduk dari bagian timur yaitu dari negeri-negeri Perlak. Sungai Raya dan Simpang Anas datang ke wilayah Idi membantu gerakan Tgk. Tapa. Setelah bala bantuan Belanda datang, pada 4 Juni pasukan Belanda menuju Teupin Batee tempat pertahanan Tgk. Tapa. Terjadi- lah pertempuran-pertempuran hebat. Barisan Aceh menderita ke- kalahan, tetapi belum dapat dikalahkan. Belanda mengundurkan diri kembali ke Idi setelah dua opsir dan 15 anggota pasukan ba- wahannya luka-luka. Kubu Belanda yang telah ditinggalkan didu- duki kembali oleh pihak Aceh sehingga Belanda merasa terdesak untuk menambah lagi pasukannya. Pada hari-hari berikutnya dengan kekuatan yang besar barisan Aceh ada di bukit-bukit dekat Idi, di sebelah selatan kubu pertahanan Belanda. Pada 6 Juli ke- pada T. Chik Perlak yang beberapa hari sebelumnya datang ke Idi, diminta oleh Belanda untuk kembali ke negerinya guna memang- gil kembali rakyatnya yang telah pergi ke Idi. Ia memenuhi per-

mintaan Belanda, tetapi pada 10 Juli banyak peutua-peutua dari Perlak beserta pengikut-pengikutnya yang kembali lagi ke Idi. Gubernur sipil dan militer Van Heutsz datang ke Idi bersama se- jumlah pasukan bantuan pada tanggal 7 Juli dan pada hari-hari ber- ikutnya datang lagi pasukan Belanda ke Idi. Pada 9 Juli kedudukan Belanda mendapat serangan dari jarak dekat, tetapi dapat dihenti- kan. Dua hari kemudian Belanda dapat mengusir pasukan Aceh yang berada dalam kubu-kubu sekitar Idi. Pertarungan sengit ter- jadi dekat kediaman Keuchik Saat, peutua di Seuneubok Aceh, tempat Tgk. Tapa berada. Dalam pertempuran ini pihak Aceh meninggalkan 80 mayat, sedangkan di pihak Belanda, 3 mati dan 21 luka-luka. Dalam pada itu T. Muda Yusuf dari Simpang Ulim bersama 200 orang pengikutnya yang bersenjata muncul di pedalaman Idi. Me- reka terus ke Perlak. Menurut berita yang diperoleh Belanda di Perlak ia bermusyawarah dengan T. Chik Perlak dan T. Bintara Pekan dari Julok untuk secara terbuka menyokong peperangan yang akan dilangsungkan dan untuk membantu Tgk. Tapa, tetapi usul ini ditolak T. Chik Perlak. Bagi T. Muda Yusuf tak ada jalan lain kecuali mengundurkan diri, ketika pada 11 Juli 1898 pasukan Belanda tiba di kedai Perlak. Melalui daerah pedalaman T. Muda Yusuf kembali ke negerinya. Dalam perjalanan ke Perlak pasukan Belanda diserang barisan Aceh hingga menderita delapan orang luka-luka. Di pihak Aceh sembilan orang yang mati syahid. Nyak Daud, yang memimpin pasukan Aceh, meskipun terluka, dapat melarikan diri. Sehari setelah itu pasukan Belanda mengadakan patroli di tebing kiri sungai Perlak, menuju Seuneubuk Aceh dan untuk mengawasi Tgk. Tapa, kalau-kalau ia menyingkir ke timur melalui jalan itu. Setelah mendapat berita bahwa Tgk. Tapa kembali ke Teupin Batee bersama beberapa ribu pengikutnya untuk membuat pertahanan di Kuta Nawas, maka kembalilah pasukan Belanda dari Bandar Khalifah menuju Idi. Tanggal 16 Juli pasukan Belanda mengadakan kontak senjata dengan pihak Aceh. Ketika terdengar berita bahwa pasukan Belanda telah menduduki Bagok, maka Tgk. Tapa dengan seluruh kekuatannya mengundurkan diri, dan akhirnya ia kembali ke daerah Gayo. Ledakan antusiasme yang muncul dari gerakan Tgk. Tapa ini segera padam. Jikalau Koloniaal Verslag 1899, melaporkan bahwa Tgk. Tapa

tidak pernah memimpin pertempuran dan berusaha sebelum tem- bakan pertama datang dari musuh, ia telah berada di tempat yang aman,7 maka setahun kemudian, dikemukakan oleh Koloniaal Verslag bahwa pada bulan Mei 1899, Tgk. Tapa bersama beberapa ratus orang Gayo menjalankan perang sabil melawan kafir, dengan terlebih dahulu mengadakan kenduri di Paya Teurbang, di tebing kanan Sungai Pasai, dan kemudian di tempat keramat di Kuala Piada. Bekerja sama dengan pemimpin-pemimpin adat yang memu- suhi Belanda, ia mendirikan benteng-benteng di Matangkuli, Ara Bungkok, Matang Ubi, di Paya Bakong dan di Geudong. Akibat- nya tentara Belanda menyerang Paya Bakong dan Tgk. Tapa beser- ta pasukan-pasukannya segera mengundurkan diri dan tinggallah

benteng-benteng yang kosong.? Pada pertengahan 1900 Tgk.

Tapa dengan diiringi oleh duapuluhan orang Gayo kembali lagi ke Piada untuk ketiga kalinya guna melancarkan perang sabil, tetapi ia tidak memperoleh pengikut-pengikut seperti sebelumnya. Kemudian dalam kontak senjata dengan tentara Belanda Tgk. Tapa bersama hampir semua pengiring-pengiringnya dapat ditewaskan oleh Belanda dekat Piada, Pasai, Aceh Utara.73 DANA PERANG SABIL Para Ulama sadar sepenuhnya bahwa masalah sumber dana me- mainkan peranan penting di samping tenaga manusia. Firman-firman Allah dalam al-Qur'an adalah basis yang permanen bagi sumber keuangan dalam berjihad untuk kebesaran nama Tuhan. Ada sanksi yang telah ditetapkan Tuhan bagi mereka yang tidak mau menafkahkan harta mereka. Di dalam beberapa HPS,74 diku- tip firman Tuhan yang terjemahannya berbunyi: Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas-perak itu dalam neraka jahanam, lalu di- bakar dengannya dahi mereka, lambung dan pinggang mereka (seraya dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, sebab itu rasakanlah seka- rang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu. Para ulama sangat giat berusaha baik melalui khotbah dan tulisan agar umat membayar zakat yang merupakan salah satu rukun Is- lam. Dasar hukumnya adalah Firman Tuhan:

Dan tegakkanlah shalat dan bayarkanlah zakat dan rukuklah bersama-sama dengan orang-orang yang rukuk (al-baqarah 45). Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka; (al-Taubah 103). Salah seorang pemimpin agama Haji Ahmad Tanoh Mirah dalam suratnya bertarikh 5 Jumadi'l-awwal 1311 H, berseru agar uang belanja sabil dapat terhimpun. Suratnya berbunyi: Bismi'llahi 'r-rahmāni'r-rahīm Wa ta āwanu 'ala 'l-birri wa 'l- taqwā dan hendaklah bertulung-tulung olehmu atas buat keba- jikan dan taqwa akan Allah subhanahu wa Ta 'ala. Hai sekalian muslimin yang beriman akan Allah Ta 'ala dan akan Rasul Allah sallallahu alaihi wa sallam dan akan perang sabilillah hendaklah tuan ingat-ingat akan belanja perang fi sabilillah tuan bicara sehabis-habis bicara di mana mudah tuan ambil dengan sekuat- kuat. Hendaklah boleh tuan-tuan kasih dalam tangan orang yang bawa surat ini yang bernama Teungku Mahmud Cot Rumoh Tu- tong wakil hamba mutlak. Itulah harapan fakir ila'llahi Ta 'ala Haji Ahmad Tanoh Mirah kepada sekalian orang yang percaya akan Allah Taala tuha dan muda besar dan kecil itulah ada- 75 nya.

Zakat, yang sebagiannya diperuntukkan bagi hak sabilillah76

dikumpulkan tidak saja oleh para ulama serta pembantu-pemban-

tu mereka, tetapi juga oleh pemimpin-pemimpin adat."

Pada akhir 1883, setelah Tuanku Muhammad Daud Syah dinya- takan sebagai sultan dengan dibantu oleh Tuanku Hasyim sebagai raja Muda, baginda menulis surat kepada Uleebalang-uleebalang agar menyerahkan zakat bagi keperluan perang sabil. 8 Ada pula pemimpin adat, seperti Raja Lingga Gayo misalnya, yang meng- umumkan kepada pemimpin-pemimpin adat yang berada di ba- wahnya, agar penyerahan uang sabil dan lain-lain zakat di daerah-

nya diserahkan kepada salah seorang pemimpin agama.

Sepucuk surat dari T. Ali Baid ditemukan pada mayat Keuchik Ali Mampree, yang berisi permintaan agar orang-orang di Mukim Lutu, Aceh Besar, memberikan uang sabil. Surat lain dari T. Ali Baid ditemukan pula pada mayat seorang Aceh yang gugur dalam pertempuran di Kubang Raya, Aceh Besar, yang berisi keluhan me- ngenai sedikitnya uang sabil yang masuk, dan ditugaskan kepada pengutip uang sabil yang bersangkutan mengambil tindakan-tin-

dakan yang keras, dengan membunuh imum Ateuek dan Lamkrak. Teungku Mat Amin Lam Birah, pengutip sabil yang terkemuka dari T. Ali Baid, yang bergerak di Mukim VII Baid, dapat ditangkap oleh Belanda pada Juli 1899 dan pada bulan Januari 1900 di inter- nir di Purwareja, Bagelen.80 Berapa jumlah dana yang diperoleh dari hak sabil serta sedekah lainnya untuk keperluan dana perang sabil, tidaklah diketahui, oleh karena langkanya data. Sampai setelah tahun berahirnya perang melawan Belanda dalam kajian ini, yaitu 1912, anggota-anggota pasukan muslimin masih ada saja yang terus melakukan pe- ngutipan uang sabil itu. Tgk. Chik di Tiro Muhammad Saman, tidak hanya memperoleh hak sabil di daerah-daerah yang belum dimasuki Belanda, tetapi juga dari para pemimpin adat yang telah takluk. Alasan mereka memberikan zakat itu ialah supaya tidak diganggu oleh pasukan-

pasukan Teungku di Tiro.1 Salah seorang yang diutus oleh Tgk.

Syaikh Saman di Tiro ke Aceh Barat, Tgk. Yusuf pernah memper-

oleh 300 ringgit di Tapaktuan.82 Dalam bulan September 1887,

Tuanku Mahmud Bangta Kecil, yang bertindak sebagai wakil sultan di Aceh Barat, telah mengirimkan pula 4.000 ringgit untuk dana perang sabil kepada Sultan di Keumala.83 T. Nyak Makam yang menjadi panglima perang Aceh di Aceh Timur memperoleh 3.000

ringgit dari Sultan Langkat di Sumatra Timur,84 sedangkan T.

Panglima Polem di Mukim XXII Aceh Besar dapat mengumpulkan

35.000 ringgit bagi keperluan perang sabil.85 Tgk. Tapa, selama empat hari berada di Teupin Batee, Aceh Utara, pada Juli 1898, menerima uang sabil lebih dari 10.000 ringgit. Di antara pengikut Tgk. Tapa ada juga yang memperoleh sebagian daripada uang itu, dengan alasan untuk membeli alat-alat perang di Perlak, Aceh Timur.6 Pocut Hassan, yang berasal dari Lambeusoe, Aceh Besar, beraksi di perairan Pulau-pulau Banyak dan Pulau Simeulu. Menurut Koloniaal Verslag ia mengadakan perampokan di sana. Dalam bulan November 1886 dengan disertai 20 orang pengikutnya yang bersenjata, ia datang ke Pulau Simeulu. Menurut keterang- annya, ia bertindak atas nama Tgk. Chik di Tiro untuk mengumpulkan uang sabil dan untuk mengerahkan orang guna berperang ke Aceh Besar. Ketika permintaannya tidak mendapat sambutan, ia mulai melakukan pembajakan terhadap beberapa perahu. Ia juga membuat pulau-pulau tersebut dan pantai Aceh Barat tidak
aman.87

Demikianlah usaha para ulama mengerahkan dana bagi keperlu- an perang. Para ulama juga meyakinkan rakyat mengenai kekuatan yang menjadi sifat mereka dan kelemahan-kelemahan musuh dengan sistem yang mereka miliki. Merasa diri mereka secara ideo- logis lebih kuat, maka para ulama menjalankan perang propaganda dan psikologis, yang bertujuan menggalakkan perjuangan bersen- jata. Tujuan politik dan ideologi hanya dapat dicapai melalui la- ras bedil, jika jalan lain tidak mungkin lagi ditempuh. Terhadap siapa yang menentang pasukan muslimin, para ulama serta pengi- kutnya menyebarkan ancaman untuk menghancurkan citra yang stabil daripada wilayah yang telah tunduk kepada musuh, serta menunjukkan kepada mereka agar menempuh jalan Allah, jalan yang benar. Dengan usaha memobilisasi kekuatan rakyat para ulama mem- beri bentuk yang lebih konkret kepada cita-cita perjuangan meng- usir Kaphe.

Catatan

  1. Karl von Clausewitz (1780-1831) memandang berat terhadap kemauan keras musuh untuk melawan. Karena itulah ia menganggap suatu hal yang penting di samping untuk mematahkan kemauan fisik pihak lawan adalah untuk menundukkan kemauan keras musuh untuk berperang. Lihat W.D. Franklin, "Clausewitz on Limited War", dalam Revolutionary Guerilla Warfare. Sam C. Sarkesian (ed.), 1975, hlm. 182. Dengan maksud hendak menaikkan semangat bertempur pasukan-pasukan Hindia Belanda, pen- deta Iz. Thenu menciptakan lagu berjudul "Samalanga", yang liriknya di- tulis dalam bahasa Melayu. Teks lengkapnya, lihat lampiran E.A. Doup (ed.), Gedenkboek van het Korps Marechaussee, 1940. hlm. 105-6.
  2. Hanya ketika Belanda menyerang Seunagan di Aceh Barat, antara 1900- 1910, para pemimpin agama yang menganut eleumee salek, yaitu suatu aliran mistik yang bersifat panteistis, yang terdiri dari anak cucu Habib Seunagan (meninggal sekitar 1888), yaitu Tgk. Padang Salek dan Tgk. Puteh, memimpin perlawanan terhadap Belanda. Perlawanan ini padam pada 1910 ketika pemimpin-pemimpin tersebut di atas menyerah kepada Belanda. J. Kreemer, Atjeh, II 1923, hlm. 500. Menurut van Eybergen, Habib Seunagan adalah seorang Jawa yang berasal dari Demak, kemudian ke Mekkah dan akhirnya menetap di Seunagan, Aceh Barat. Van Eybergen, Atjeh 'up to date'," TBB, hlm. 18-19.
  3. "Nota", E. van Assen pada Menteri Jajahan Belanda, L.W.C. Keuchenius, 25 Desember 1889, Koleksi L.W.C. Keuchenius No. Kb. 68/F3, Konin- klijk Bibliotheek, Den Haag.
  4. C. Snouck Hurgronje, De Atjehers, jilid I, hlm. 135. Juga, "Atjeh 1896", dalam Verspreide Geschriften van C. Snouck Hurgronje, 1924, hlm. 322.
  5. J.A. Kruyt, De Atjeh Oorlog, 1896, hlm. 41.
  6. Goossens, "Nota naar Aanleiding van de Ministerieele Depeche, 27 Agus- tus 1888 Lt. K 13/no. 36", Exh. 9 Februari 1889, Kab. Lr. L3, ARAS.
  7. Surat Sekretaris Pemerintah, Frank, kepada GBA, Batavia, 16 Maret 1882, no. 58, sangat rahasia, Kab. Geheim 3 Mei 1882 K5, ARAS. Dalam surat ini dinyatakannya pula oleh Gubernur Jenderal itu bahwa ia sangat prihatin terhadap anggota pasukan Belanda yang melakukan desersi, oleh karena itu ia memberi kuasa kepada Gubernur Belanda di Aceh untuk memberi hadiah setinggi-tingginya 1.000 dollar kepada mereka yang da- pat menyerahkan pasukan yang melarikan diri itu.
  8. Missive GBA pada GJHB, Kutaraja, 14 Maret 1884, no. 467/Rahasia, Kab. Geheim 18 Juni 1884 R 11, ARAS.
  9. Geheime Oost-Indische Besluiten, no. 1/Geheim, 17 April 1885, dossier no. 9294, ARAS.

  10. Surat Snouck Hurgronje pada GJHB, Muntilan, 19 Februari 1891, raha- sia, dlm. Vb. 2 Mei 1891 C6, ARAS. Sebagaimana diketahui orang-orang Islam, khususnya di Indonesia, selalu mengadakan kenduri-kenduri atau selamatan untuk maksud-maksud tertentu.

  11. Snouck Hurgronje, "Het Atjehsch Verslag", op. cit., hlm. 128-9.
  12. Ibid.
  13. "Een Atjehsche Proclamatie", IG (1885), I, hlm. 665-7.
  14. E. van Assen, "nota", 25 Desember 1889, KB 68/F3, Koninklijk Biblio- theek, Den Haag.
  15. Surat Tgk. Chik di Tiro, Cod. Or. 7321, UBL. Bahagian ayat yang diku- tipnya ini adalah surat Ali 'Imran ayat 104. Ma'ruf artinya segala perbuatan yang mendekatkan kita pada Allah, sedangkan munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita daripada-Nya. Lihat al-Qur'an dan Terjemahannya, 1970, hlm. 93, catatan 217.
  16. Ibid.
  17. Ibid. Makna rasuwat adalah uang sogok. Pumeunang artinya membuat menang dan peuhina artinya membuat hina.
  18. Mahdi artinya orang yang diberi petunjuk oleh Allah. Mengenai Imam Mahdi ini, lihat M. Arsjad Thalib Lubis, Imam Mahdi, 1961. Juga, Rudolph Peters, Islam and Colonialism: The Doctrine of Jihad in Modern History, 1979, hlm. 63-74. Lihat juga, Tgk. Haji Abdullah Ujong Rimba, Ilmu Tharikat dan Hakikat, 1975, hlm. 15-19. Juga, Charles Issawi, Fil- safat Islam tentang Sejarah: Pilihan dari Muqaddimah karangan Ibn Khal- dun dari Tunis (1332-1406), terjemahan A. Mukti Ali, 1976, hlm. 182. Pada 1881, seorang Sudan bernama Muhammad Ahmad bin 'Abd Allah menyatakan dirinya sebagai Mahdi dan berhasil memimpin rakyat Sudan melawan Mesir yang menguasai Sudan sejak 1821. Ia berhasil memerde- kakan Sudan dan mengancam Mesir. Patut dicatat bahwa bai'at terhadap- nya berbunyi demikian: "Saya berbaiat kepada Allah dan Rasul-Nya dan berbaiat kepada tuan akan mengesakan Allah, tidak akan menyekutukan Dia dengan sesuatu, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan berbuat dusta, tidak akan mendurhakai tuan selama dalam kebaikan. Saya berbaiat kepada tuan tidak akan mencintai dunia, rela menerima apa yang ada pada sisi Tuhan dan apa yang disediakan-Nya di akhirat ke- lak. Dan saya berjanji tidak akan lari daripada berjihad. Lihat, M. Arsjad Thalib Lubis, op. cit., hlm. 80 dan Rudolph Peters, op. cit., hlm. 65-66. Muhammad Ahmad meninggal pada Jum'at pagi 6 Ramadhan 1302 H. bertepatan dengan 28 Juni 1885, karena serangan penyakit typhus. Se- belum meninggal ia sempat mengangkat 'Abd Allah ibn Muhammad al-Ta'ayishi sebagai penggantinya dengan gelar Khalifah Mahdi. Tentara Mesir dan Inggris bérhasil menyerang Sudan dan pada 1898 pergerakan ini dapat ditumpas dan Sudan dapat dikuasai.
  19. "Een Atjehsche Proclamatie", op. cit., Di dalam artikel ini dikemukakan isi surat yang ditujukan kepada T. Lam Reueng, Panglima Sagi Mukim

XXVI dan beberapa pemimpin adat yang lain. Surat itu bertanggal 16 u时Rabiulakhir 1302 (8 Februari 1885), dan memuat pernyataan tersebut di atas.

  1. Surat Tgk. Chik di Tiro M. Saman, 10 Zulhijjah 1302 H (30 September 1885 M), Cod. Or. 7321, UB Leiden.
  2. Ibid.
  3. Missive GBA pada GJHB, Kutaraja, 4 Januari 1896, no. 2/K Kab. Geheim 23 April 1896, Z-5, ARAS.
  4. Surat Tgk. Chik di Tiro M. Saman, 10 Zulhijjah 1302 [30 September 1885], Cod. Or. 7321, UBL.
  5. Missive GBA pada GJHB, No. 403/5 Geheim, 25 Februari 1877, Kab. Geheim, 3 Desember 1887, K 15, ARAS.
  6. Missive GBA no. 403/5 Rahasia, op. cit.
  7. Ibid.
  8. Lihat misalnya, Tadhkirat al-Rakidin, God. Or. 8037B, hlm. 11. Ghani- mah artinya barang rampasan dari musuh.
  9. Goossens, op. cit.
  10. Ibid. Cf. P.F. Laging Tobias;"Beschouwingen naar Aanleiding van Eenige Atjeh-adviezen", Verslagen der Algemene Vergaderingen van 1888, In- disch Genootschap, hlm, 44.
  11. Surat Tgk. Chik di Tiro pada Asisten-Residen di Kutaraja, 16 Zulhijjah 1302 H [6 Oktober 1885], Cod. Or. 7321, UBL. Dalam surat ini Guber- nur Belanda disebut dengan istilah Tuan Besar.
  12. Verb. 1888 H, 12, ARAS.
  13. Ibid.
  14. Ibid.
  15. Missive GBA, 28 Mei 1888 (17 Ramadhan 1305), dalam Verb. 1888, H 12. ARAS.
  16. Surat Tgk. di Tiro, 29 Ramadhan 1305 H (7 Juni 1888), Kab. Geheim 7 Februari 1890. L 1. ARAS.
  17. Surat Menteri Keuchenius, Kab. H 12/no. 50, 15 Agustus 1888, Verb. 1888, H 12, ARAS. Keuchenius tidak secara lengkap mengutip seluruh- nya ayat itu. Ia hanya menulis sebagai berikut: "Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan pu-
    tus....".

  18. Surat Tgk. di Tiro, 23 Sya'ban 1306 H (24 April 1889), Lamp. C dari surat GBA, 26 September 1889, no. 209/K, dalam Kab. Geheim 7 Februari 90 L 1. ARAS. Zallamah artinya yang dianggap zalim.

  19. Telegram Gub. Van Teijn pada GJHB, Kab. 2 Mei 1891, C 6, ARAS.

  20. J. Jongejans, Land en Volk van Atjeh, Vroeger en Nu, 1939, hlm. 313. Du Croo, De Marechaussee in Atjeh, 1943, hlm. 135.
  21. HPS, Cod. Or. 8925, UBL.
  22. Tentang genealoginya, lihat lampiran F.
  23. Jongejans, Land en Volk, hlm. 131.
  24. Ibid., hlm. 314.
  25. Snouck Hurgronje, "Een Onbezonnen Vraag", TNI (1900), no. 2, hlm. 271-2. Snouck Hurgronje, The Achehnese, jilid I, hlm. 184. Van Heutsz, De Onderwerping, hlm. 98.
  26. Snouck Hurgronje, The Achehnese, Jilid I, hlm. 183.
  27. Ibid., hlm. 184. Tadhkirat al-Rakidin, Cod. Or. 8037B, hlm. 11. Pada pertempuran seru, 17 Maret 1904, di Bukit Gemuyang, dekat Akol, Gayo, Aceh Tengah, semua laki-laki, perempuan dan anak-anak memakai pakaian yang bagus-bagus seperti pakaian pesta. Benteng ini dipertahan- kan dengan berani sampai orang yang penghabisan. Lihat, A. Doup, Ge- denkboek van het Korps Marechaussee, 1940, hlm. 162. Lihat juga,
    J.G.J. Kempees, De Tocht van Overste van Daalen door de Gayo, Alas en Bataklanden, 1904, hlm. 40-1.
  28. Snouck Hurgronje, The Achehnese, Jilid I, hlm. 183.
  29. Ph. S van Ronkel, "Brieven uit Atjeh", TBB (1914), jilid 47, hlm. 40. Di dalam makalah ini terdapat terjemahan sepucuk surat dari seorang yang bernama Teuku (tetapi lazim dipanggil Teungku) Haji Abdu'r-Rahman Lam Tungoh dari mukim Baid, Aceh Besar, yang menyebut bahwa Tgk Chik Kutakarang memberi pelajaran di tempat ini.
  30. Menurut ulama ini Sayyidina Abu Bakar mewasiatkan kepada Khalid bin Walid ketika ia diserahi tugas memerangi kaum Yamamah, yaitu bila musuh memakaí pedang kita harus memakai pedang, kalau mereka memakai lembing, kita juga harus memakai lembing, dan seterusnya. Tadhkirat al-Rakidin, Cod. Or. 8037, hlm. 29-30 Cf. al-Qur'an, al-Baqarah:
    194.
  31. K. van der Maaten, De Indische Oorlogen, I, 1896, hlm. 117-8. Raja Meulaboh menyerah pada pemerintah Hindia Belanda pada 3 Maret 1877.
  32. Ibid., hlm. 118. Di Meulaboh, Aceh Barat, terjadi juga serangan-serangan klewang untuk merebut senjata pada 1905. Lihat, G.J.H.B. Terbeest, Atjeh Herinneringen, 1933, hlm. 21, 28.
  33. Ibid.
  34. Syaikh 'Abbas ibnu Muhammad, Tadhkirat al-Rakidin, Cod. Or. 8037, hlm. 9.
  35. Du Croo, Marechaussee in Atjeh, 1943, hlm. 25. Missive, GBA pada GJHB, Kutaraja, 4/1-1896, no. 2/k, dalam Kab. Geheim 23 April 1896

1 Z5, ARAS. Lihat juga, Nota, H. Golijn, Lhok Seumawe, 8/8-1903, Ar- chief Dr. H. Colijn, 1903.

  1. Syaikh Abbas ibnu Muhammad, Tadhkirat al-Rakidin, Cod. Or. 8037, hlm.17.
  2. Ibid., hlm. 29.
  3. Ibid., hlm. 21-2.
  4. Ibid., hlm. 11.
  5. Ibid., hlm. 12.
  6. Ibid., hlm. 21.
  7. Ibid., hlm. 30.
  8. Ibid., hlm. 22, 24-25.
  9. Ibid., hlm. 20.
  10. Ibid., hlm. 28-29.
  11. Surat ini bertanggal 28 Jumadilawal, tanpa tahun, Cod. Or. 8683 C, UBL. Kita tidak dapat memastikan tahunnya dengan tepat, hanya dapat diten- tukan terminus post quem, 1878, yaitu tahun Geudong diserang oleh Be- landa. Terminus ante quemnya adalah 1887. Pada tahun ini T. Bintara Blang Mangat, yang capnya tertera pada surat tersebut, meninggal dunia. "Mededeelingen", BKI, 1904, hlm. 599. Jadi, surat tersebut ditulis an- tara 1878-1887.
  12. Ibid., hlm, 28-29.
  13. Ibid., hlm. 37.
  14. KV, 1899, hlm. 17-20. Snouck Hurgronje juga menamakannya Tapa- beweging. Lihat, "De Excursie ter Noord on Oostkust van Atjeh en Hare Gevolgen, 1899", Verspreide Geschriften van C. Snouck Hurgronje, 1924,hlm.401.
  15. Menurut Damsté, dalam "Atjeh historie", KT., 1916 hlm. 461. Tgk. Tapa adalah seorang Gayo berasal dari Talong. Snouck Hurgronje juga berpendapat, bahwa Tgk. Tapa berasal dari Gayo. Snouck Hurgronje, The Achehnese, II, hlm. 128.
  16. Yang disebut Meureundam Diwi di sini adalah istri Tgk. Tapa. Namanya diambil dari nama seorang putri yang menjadi salah seorang istri Malém Diwa. Malém Diwa adalah seorang tokoh utama dalam Hikayat Malém Diwa dan dianggap tidak mati serta berada di hutan sekitar Aceh Utara dan Timur. Namanya waktu kecil, Malim Diman atau Malim Budiman. Lihat C. Snouck Hurgronje, The Achehnese, II, hlm. 125, 128. Tradisi yang hampir bersamaan dengan Malém Diwa terdapat juga di Minangka- bau dengan nama Malim Diman. Pengalaman Malim Diman dengan Putri Bungsu dalam garis besarnya hampir sama dengan yang terdapat dalam Hikayat Malém Diwa, kecuali mengenai detailnya yang agak berbeda. Dalam Hikayat Malim Diman tidak disebutkan mengenai putri Dalikha

atau dua peristiwa percintaan Malém Diwa yang lain. Kehidupan Malim Budiman pada masa kanak-kanak berbeda dalam kedua hikayat itu. Di Tanah Batak ada juga hikayat Malim Diman yang memiliki persamaan dengan kedua hikayat tersebut di atas. Ibid., hlm. 128.

  1. KV., 1899, hlm. 18.
  2. KV., 1900, hlm. 16-17. Cf. Snouck Hurgronje, "De Excursie ter Noord- en Oostkust van Atjeh en Hare Gevolgen, 1899," Verspreide Geschriften van C. Snouck Hurgronje, 1924, hlm. 402.
  3. KV., 1901, hlm. 12. Snouck Hurgronje, The Achehnese, II, hlm. 128.
  4. HPS, Cod. Or. 8701; 8163 B; 8690, UBL.
  5. Surat ini didapat oleh Tgk. Syaikh Ibrahim bin Syaikh Marhaban dan pada 2 Rajab 1311 (1894) dikirim pada Dr. C. Snouck Hurgronje, Kolek- si Surat-surat pribadi Tgk. Syaikh Ibrahim pada C. Snouck Hurgronje, Oostersch Instituut Leiden.
  6. Tentang hak sabil sebagai bagian dari zakat, lihat Bab II.
  7. Cf. J.B. van Heutsz, De Onderwerping van Atjeh, 1896, hlm. 53.
  8. Salah satu suratnya jatuh ke tangan Belanda, yang ditujukan kepada ulée- balang Padang Keling, Aceh Barat. Lihat surat Assistent Resident Aceh Barat, Van Langen, pada GBA, 11 Januari 1884, dalam Kab. 27 Maret 1884, B 6, ARAS.
  9. Surat Raja Lingga, Negeri Gayo, 10 Safar 1313, (1895), Cod. Or. 8913, UBL.
  10. KV, 1900, hlm. 6.
  11. Kielstra, "Atjeh onder Pruys van der Hoeven", IMT (1886), hlm. 306.
  12. Missive GBA pada GJHB, 12 September 1887, no. 257/K, dalam Kab. Geheim 3 Desember 1887, K 15, ARAS.
  13. Missive GBA pada GJHB, no. 559/K, sangat rahasia, Kab. Geheim, 23 September 1893, B 17, ARAS.
  14. Missive GBA pada GJHB, K. Raja, 4 Juli 1893, No. 536/K, Kab. Geheim 23 September 1893, B 12, ARAS.
  15. Missive GBA pada GJHB, K. Raja, 18 Januari 1896, No. 27/K, Kab. Geheim 23 April 1896, Z 5, ARAS.
  16. Antaranya, Tgk. Aron mendapat lebih dari 100 ringgit, Raja Hitam dari Julok 250 ringgit dan Habib Isa dari Simpang Ulim, 600 ringgit. KV, 1899, hlm. 18.
  17. KV. 1887, hlm. 6.
    qeanaib 8 nudet subad ieibaqade avalize .8 aasdiD adiket imi otol msisa .deo me y aaeq ad aaliib taaoH (s asa eb a de sbae avadsu aze

  18. Berhasilnya ekspedisi kedua tahun 1847 dianggap sebagai akhir perang Aceh. Dalam foto ini terlihat Gerbang Kehormatan di Surabaya, yang di- dirikan bagi pasukan yang kembali dari ekspedisi. (Tulisannya: 'Hormat warga Surabaya kepada Angkatan Darat dan Angkatan Laut').

24. Tengku Oemar berasal dari keturunan Hulubalang di pantai barat Aceh.

Namun demikian, kelahirannya tidak memberinya hak atas jabatan ting- gi yang dipegangnya. Untuk memperolehnya, dengan cerdas ia meman- faatkan keadaan kacau yang diakibatkan perang.

  1. Benteng Belanda di Cot Mantjang pada masa lini konsentrasi.
  2. Van Heutsz dan staf dalam perkemahan di kampung Kuta Meuntroe (Pidie) pada permulaan ekspedisi Pidie 1 Juni 1898. C. Snouck Hurgronje duduk di ujung kiri, van Heutsz kelima dari kanan.

  3. Sebagian tentara Belanda dari ekspedisi kedua sedang berpose di depan pintu masuk kraton. Sebagian meriam yang ditanam adalah buatan Ing- gris, 1617.

  4. Sebuah episode Perang Aceh: perebutan Kraton Sultan Aceh. Duduk di sebelah kiri adalah Jenderal J. van Swieten, panglima tertinggi, 24 Januari
    1874.

  5. Penguburan pejuang-pejuang Aceh di Kuta Reh (Aceh Tengah).

  6. Suasana di Kampung Likat, daerah Gayo, segera setelah diduduki oleh pasukan van Daalen. Yang tewas sebanyak 432 orang, termasuk 212 wa- nita dan anak-anak.

  7. Bintara dan bawahan marsose di bawah pimpinan Kapten Notten, Ko- mandan Marsose pertama, dipersenjatai pula dengan rencong Aceh. Inzet: Kapten Marsose: Notten.

  8. Kerugian pihak Belanda akibat sabotase pasukan-pasukan Aceh.

  9. Gambar atas : Narapidana kerja paksa yang dipergunakan oleh Be-
    landa dalam perang di Aceh. Belanda menamakan me-

reka beren atau beruang-beruang.

Gambar bawh : Narapidana kerja paksa sedang memikul tandu mem-

bantu pasukan-pasukan Belanda.

34. Pasukan Belanda beristirahat ketika berpatroli di Gunung Seulawah. Pa-

ling kiri, dalam ayunan, adalah Jenderal van Daalen.

  1. Jimat kebal yang ditemukan pada jenazah Tengku di Cot Plieng, seorang ulama, yang dianggap keramat. Kini tersimpan di Koloniaal Museum di Amsterdam. Jimat ini disebut oleh orang Aceh Rante Bui (rantai babi). Tampak sebuah peluru dan ulat yang membatu pada rantai babi itu.

  2. Rel kereta api yang dirusak oleh para pejuang Aceh.

37. Gajah-gajah dipergunakan oleh pasukan Belanda untuk keperluan trans-

portasi antara Lam Meulo, Tangse dan Geumpang.

38. Tjoet Nja Din, Pahlawan Wanita Perang Aceh. Isteri Tengku Oemar (alm.)

yang ditangkap oleh L.van Vuuren.

VI. Dilanda Kekalahan

29 Maret 1896. Tanggal ini dapat dianggap sebagai titik balik da-- lam sejarah perang Belanda di Aceh. T. UMar dengan sejumlah pemimpin-pemimpin Aceh meninggalkan Belanda. Bagi pihak Belanda kejadian ini merupakan peristiwa yang sangat menggemparkan. Umar memiliki uang, mesiu dan alat-alat senjata yang diperolehnya dari pihak Belanda. Sedangkan pasukannya banyak pula mempela- jari cara-cara bertempur dari mereka. Berbagai dugaan timbul dika- langan Belanda mengenai sebab musabab T. Umar meninggalkan mereka. Meskipun sebab-sebab yang sebenarnya tidak dapat dike- tahui dengan jelas, namun sikap istrinya Cut Nyak Dhien yang sangat membenci serta dengan penuh semangat memerangi Belanda tampaknya mempunyai pengaruh yang besar terhadap tindakan T. Umar meninggalkan Belanda itu.1 Menurut pengumuman resmi pihak Belanda, hal ini terjadi karena T. UMar menolak untuk turut bersama pasukan Belanda itu menyerang Lam Krak yang sedianya hendak dilakukan pada 30 Maret 1896.2 Ia khawatir akan menda- pat perlawanan yang hebat dan gigih dari pihak ulama. Menurut sumber lain, ada ramalan, bahwa kalau ia menyerbu Lam Krak ia akan menuemui ajalnya di sana.3 Dalam suratnya tanggal 30 Maret 1896 T. Umar mengemukakan kepada Gubernur Belanda bahwa sebabnya ia meninggalkan pihak Belanda, karena ia diberi malu oleh kontrolir Ulee Lheue dan Jak- sa Kepala.4 Di dalam surat-suratnya tanggal 12 dan 13 April ia menyatakan kekecewaannya terhadap bintang jasa yang dijanjikan, tetapi tidak diberi, padahal ia sudah bersedia untuk mengamankan Aceh, asal memperoleh 15.000 florin setiap bulan untuk memeli- hara pasukannya.5 Pada hari T. Umar meninggalkan Belanda untuk selama-lama- nya, Gubernur Deijkerhoff mengirimkan kawat kepada pemerin- tah Hindia Belanda di Betawi untuk meminta tambahan tenaga tempur. Bersamaan dengan datangnya bala bantuan, datang pula Panglima Angkatan Darat Hindia Belanda, Letnan Jenderal J.A.

Vetter untuk mengambil tindakan setempat yang diperlukan.6 Di

Bawah pimpinan Vetter, dengan mendapat tambahan pasukan dari Jawa dan bantuan angkatan lautnya, mulailah mereka menembaki benteng-benteng Aceh, termasuk kawasan-kawasan di luar lini konsentrasi. Setelah Belanda tidak berhasil meminta kembali senjata- senjatanya kepada T. Umar, maka pada 26 April ia dipecat dari semua jabatan dan sejak 27 April 1896 Belanda mulai melakukan serangan terhadapnya. Dari semua sagi berdatangan orang-orang menggabungkan diri dengan pasukan T. Umar di Mukim VI. Dalam pertempuran memperebutkan benteng-benteng yang dikuasai pasukan T. Umar, di pihak Belanda jatuh korban 230 orang luka dan mati, antaranya delapan orang opsir. Pada bulan Mei 1896 Belanda dapat member- sihkan Mukim VI dari barisan muslimin." Dalam pertempuran seru yang memperebutkan benteng Aneuk Galōng, Aceh Besar, pada 28 Juni 1896, gugur 110 orang di pihak muslimin, yang kebanyakan berasal dari Pidie, sedangkan di pihak Belanda hanya mati enam orang dan 33 luka-luka, antaranya em- pat orang opsir.8 Serangan tiba-tiba terhadap Aneuk Galāng ini di- anggap oleh Belanda sebagai salah satu lembaran yang terindah dalam sejarah korps marsose.9 Di antara para pejuang Aceh yang gugur terdapat Tgk. M. Amin, putra Tgk. Chik di Tiro M. Saman, dan uleebalang Aree, T. Cut.i0 pertempuran ini sangat merugikan Aceh. Setelah lebih dari dua bulan menggarap soal Aceh, Vetter kembali ke Betawi dan sebagai gubernur sipil dan militer diangkat J.J. de Moulin. Cuma dua hari saja ia sempat menduduki jabatan itu, lalu meninggal dan digantikan oleh J.W. Stemfoort.11 Belanda me- ninggalkan sistem pertahanan konsentrasi yang dianutnya sejak 1884 dan memasuki politik agresi. Pada 21 Juli 1896 Belanda dapat menyergap Panglima T. Nyak Makam di rumahnya di Lam Nga, Aceh Besar, dan menemukan panglima ini tergeletak di pembaringan dalam keadaan sakit be- rat.2 Opsir-opsir Belanda yang selama ini merasa geram karena malu tidak dapat menghancurkan Nyak Makam yang licin bagai belut itu dalam melakukan perang partisan, mendapatkan kepuas- an tertinggi. Mereka merasa bangga atas sukses menemukan panglima yang sakit ini. Sebagai puncak balas dendam mereka menyu- ruh penggal leher Nyak Makam dan mengarak kepalanya, sebagai bukti kemenangan.13

Sultan bersama para pengikut berada di Mukim XXII. Akibat

serangan Belanda atas Mukim ini pada 29 Juli 1896 sultan terpaksa mengundurkan diri. Pada bulan September 1897 dengan kekuatan

satu setengah batalyon infantri Belanda menuju Seulimeum, Aceh Besar, untuk mengejar sultan dan menduduki Seulimeum pada 25 Oktober 1897.14 Baginda terpaksa mengundurkan diri lagi ke Pidie, sedangkan Panglima Polem ke daerah pegunungan Mukim XXII. Pada akhir Oktober dan awal November 1897 Belanda dengan kekuatan dua batalyon menuju pegunungan Mukim XXII dan

dapat mengusir pasukan-pasukan Panglima Polem, menduduki Jan-

thoe dan menyapu benteng-benteng Aceh.15

Keadaan iklim yang tidak baik dari November 1896 sampai me- dio Januari 1897 menyebabkan patroli Belanda sukar menjalankan tugasnya dan keadaan ini menguntungkan para pemimpin Aceh. Mereka dapat mempersatukan kembali pasukan-pasukannya yang terpukul dan cerai-berai serta memulai penyerangan-penyerangan baru. Panglima Polem mendirikan benteng-benteng antara lain di Gle Yeueng. Dalam pada itu suatu musibah menimpa Aceh. Di Pa- dang Tiji, di perbatasan antara Aceh Besar dan Pidie, Tuanku

Hasyim berpulang ke rahmatullah, pada 16 Januari 1897.16

Mulai 1897 inisiatif lebih banyak berada di pihak Belanda. Pada tahun itu pemerintah kolonial di Betawi menghendaki penguasaan aktif Aceh Besar disertai dengan pengawasan pelayaran sepanjang pantai. Dengan mendirikan jalur kereta api di Mukim XXII Belanda mengharap dapat mengadakan komunikasi yang baik antara se-

bagian bivak-bivaknya dengan garis-garis pertahanan konsentrasi.17

Belanda menghendaki penambahan kekuatan pasukan-pasukannya. Pemerintah Hindia Belanda, sambil menanti persetujuan Pemerintah Pusat di Negeri Belanda, dengan keputusannya pada 13 Januari 1897 no. 1 menambah korps marsose hingga menjadi lima opsir dan 365 bintara. Ditetapkan pula bahwa korps ini di samping untuk dinas kepolisian diberi tugas pula melakukan perang kecil. Letnan Kolonel J.B. van Heutsz dengan aktifnya mengejar pasukan Aceh ke mana-mana, sehingga T. Umar pun terpaksa mengundurkan diri ke Daya Hulu, Aceh Barat. Serangan-serangan pasukan Aceh makin berkurang, meskipun di daerah pegunungan masih ada lawan Belanda yang tangguh, yaitu Panglima Polem. Pada pertem- puran 16 Mei 1897 di Gle Yeueng, Belanda dengan empat kompi infantrinya dapat menguasai tiga buah benteng yang didirikan oleh Panglima Polem, dengan korban 19 mati, 55 luka-luka dan di anta-

ranya ada delapan luka-luka yang kemudian meninggal dunia.18

Dengan tujuan membersihkan Peukan Barō dan Peukan Cot di dekat Sigli, Pidie diserang van Heutsz pada bulan Agustus 1897. Kedua tempat ini adalah pusat gangguan keamanan bagi pihak Belanda. Dalam pertempuran ini di pihak Aceh mati syahid sejumlah

110 orang dan 120 pucuk senapan ditinggalkan.19

Di saat kekalahan datang beruntun ini, maka koordinasi dalam perjuangan dirasakan makin mendesak. Dalam keadaan ini pula kedudukan pusat sultan sebagai pemimpin ulama Aceh perlu diper-

teguh. Dengan begini, perang melawan Belanda, tidaklah bisa di-

lihat hanya sebagai perlawanan rakyat, yang didasarkan atas ajaran agama melawan kafir, tetapi juga perang sebuah negara yang se- dang diserang. Maka pada November 1897 di Garot, Pidie, Sultan menerima pemimpin-pemimpin Aceh, yakni T. Panglima Polem, T. Ali Baid dan

T. Geudong dari Mukim IX Garōt. Di tempat ini telah berada T. Bintara Cumbok, T. Ben Sama Indra, T. Lampoih U, Habib Husin, Tgk. Cot Plieng. Masalah yang paling mendesak ialah mengorgani- sir pertahanan di Pidie. Untuk keperluan itu, musyawarah para pe-
20 mimpin ini memutuskan untuk mengundang T. Umar bergabung.

T. Umar memenuhi panggilan sultan ke Pidie pada awal Januari

1898. Dengan hampir semua kekuatannya ia datang dari Daya un-

tuk menggabungkan diri dengan sultan dan Panglima Polem. Pada Februari 1898 sampailah ia di Mukim VII Pidie dan bersama Pang-

lima Polem ia memperkuat pertahanan.21

T. Umar, T. Johan Lampaseh, T. Cut Tungkob dan uleebalang-
uleebalang terkemuka dari Mukim VI dan III pada 1 April 1898 mengangkat sumpah setia kepada Sultan Muhammad Daud untuk bersama-sama meneruskan perang sabil.22 Pada masa ini pemimpin-pemimpin perlawanan Aceh adalah sebagai berikut. Di Mukim VII berada Panglima Polem bersama Tuanku Muhammad Kuala Batee, sedangkan di daerah Pidie, sultan berada bersama-sama pengikut-pengikutnya, uleebalang-uleebalang Sama Indra, Cumbok, Keumala dan Aree, Tungkob dan Garot, T. Bentara Peukan Meureudu, dan ulama-ulama Tgk. di Gayo, Tgk. Di Cot Plieng, Habib Husin, dan lain-lain. Termasuk pula dalam kelompok ini para

pemimpin adat yang mengundurkan diri dari Aceh Besar, yaitu T.

Ibrahim Montasik, T. Johan Lampaseh, T. Ali Baid dan T. Cut Tungkob. Pada Mei 1898 T. Umar bersama kepala-kepala adat

yang lain memperkuat diri di Garot dan Aree, sultan di Langga dan

Panglima Polem dengan pengikut-pengikutnya bertahan di Padang

Tiji.23

Sejak semula perang berlangsung Pidie menjadi pusat kegiatan muslimin, tidak saja karena penduduknya yang relatif lebih ba- nyak dari daerah lain, tetapi juga Pidie merupakan lumbung beras serta tempat pengunduran diri pemimpin-pemimpin Aceh dari Aceh Besar. Van Heutsz, yang dinaikkan pangkatnya menjadi ko lonel, pada Maret 1898 menggantikan Jenderal Mayor van Vliet sebagai gubernur sipil dan militer. Ia berpendapat bahwa perlawanan musuh Belanda di Aceh Besar perlu diakhiri dan untuk itu Pidie yang merupakan basis muslimin dan senantiasa membantu Aceh

Besar, harus dihantam dengan kekuatan senjata.24

Dari 1 Juni 1898 sampai pertengahan September 1898 Belanda melakukan serangan besar-besaran ke Pidie untuk menaklukkan negeri-negeri sepanjang pantai utara dan timur serta dengan gigih- nya Belanda mengejar pemimpin-pemimpin perlawanan yang ter- kemuka, seperti Sultan Muhammad Daud, Panglima Polem dan T.

Umar.25 Pasukan Belanda terbagi atas dua bagian, colonne Pidie

dan Seulimeum, di bawah komando van Heutsz dengan dibantu oleh Snouck Hurgronje sebagai penasihat urusan bumiputera. Be- sarnya colonne Pidie kurang lebih 6.000 orang, terdiri dari 125 op-

sir, 2.100 orang bawahan Eropa dan Ambon serta 1.200 orang

bumiputera lain, 200 orang pembantu dan 2.400 orang narapidana kerja paksa, sedangkan colonne Seulimeum sebesar lebih kurang

1.950 orang, terdiri dari 35 opsir, 450 orang bawahan Eropa dan Ambon, 500 orang bawahan bumiputera lain, 50 orang pembantu, 400 orang narapidana kerja paksa serta 500 orang Cina sebagai tu- kang angkat.26 Dengan kekuatan yang menarik ini dan di bawah komando yang demikian dinamis, serta sukses-sukses yang telah dicapai dalam berbagai pertemuan, kepercayaan dari pihak Belanda bertambah besar. Dalam suasana seperti inilah komandan Belanda di Sigli be- rani mengajukan ultimatum kepada para uleebalang. Demikianlah pada pertemuan yang diadakan di Sigli pada 26 Maret 1898. Belanda mempermaklumkan kepada para uleebalang bahwa mereka harus menemui pasukan-pasukan Belanda di tapal batas masing-masing negeri mereka, dengan membawa bendera putih. Mereka masing-masing boleh dikawal oleh tidak lebih dari 25 orang yang membawa bedil, yang lebih dari jumlah itu akan dianggap sebagai musuh.27

Akan tetapi ultimatum ini tidak mendapat tanggapan yang me- muaskan dari para uleebalang. Pada 1 Juni Belanda melakukan serangan. Hari itu Belanda dapat menguasai benteng Kuta Meuntroe

Garot, Pidie, tanpa perlawanan.28 Pada 3 Juni 1898 Gronggrong,

dekat Sigli, diduduki. Di tempat ini disita pula senjata dan amunisi pihak Aceh T. Umar dan sultan mengundurkan diri ke Cot Murong, kurang lebih 20 km dari Sigli. Belanda menguasai Mukim VII Pidie Van Heutsz menguasai Padang Tiji dan menghuni kediaman Panglima Polem. Penduduk dianjurkan kembali ke kampung tetapi

dilarang membawa senjata.29

Serangan balasan bukan tak dilancarkan Aceh. Mereka menyerang pasukan yang mengawal angkutan Belanda antara Sigli dan Kuta Meuntroe diserang. Tetapi mereka dapat dipukul mundur oleh Belanda dengan kerugian 16 orang gugur.30 Pulo Cicem dan Kuta Putoih dipertahankan oleh para ulama, di bawah pimpinan antara lain Tgk. Di Gayo dan Tgk. Cot Plieng. Dalam pertempuran di tempat ini pasukan Belanda lima tewas dan 10 luka-luka, se- dangkan di pihak Aceh 78 orang dapat ditewaskan oleh pihak Belanda.31 Setelah peristiwa ini, maka usaha konsolidasi baru dalam barisan Aceh pun dilakukan pula. Maka dalam musyawarah yang berlang- sung pada 23 Juli 1898 di Keude Meulu, Pidie, yang dihadiri oleh pemimpin-pemimpin adat dan agama diputuskan untuk mengang- kat T. Umar sebagai pemimpin peperangan. Difatwakan pula bah- wa bagi mereka yang tidak ikut serta dalam pertempuran diwajib- kan membayar hak sabil yaitu sumbangan biaya untuk keperluan peperangan.32 Barisan-barisan Aceh terus saja mendapat pukulan dari pihak Belanda. Keumala Dalam, yang letaknya lebih kurang 28 km dari Sigli, setelah dikosongkan oleh Sultan, dapat diduduki Belanda pada 22 Agustus 1898.33 T. Umar yang bertahan di Lembah Beu- niet, Tangse, pada 24 Agustus 1898 terpaksa mengundurkan diri ke Aceh Barat dengan mengambil tempat di sekitar Woyla dan Teunom. T. Umar akhirnya dapat ditewaskan pada 10 Februari 1899 di Ujung Kala, dekat Meulaboh, dalam perjalanannya hendak menyerang kota ini.34 Di saat barisan Aceh dalam keadaan terdesak ini, aspek baru dari perang ini memperlihatkan wajahnya. Seorang ulama kharis- matis, Tgk. Tapa, memulai gerakannya. Tanpa terikat pada "ko- mando" resmi, ulama ini berhasil menarik rakyat ke dalam ge-

rak.nnya. Pada pertengahan 1898 Tgk. Tapa bergerak di Idi, Aceh Timur. Ancaman yang diperlihatkannya yang membuat van Heutsz ter- paksa datang sendiri memimpin pasukan ke medan pertempuran. Akhirnya mengundurkan diri ke Aceh Tengah dengan kerugian 80 rang gugur, sedangkan di pihak Belanda tiga orang mati dan 20 orang luka-luka.35 Keadaan di Idi dapat dipulihkan dengan keha- rusan membayar denda sebanyak 150.000 ringgit kepada negeri- negeri di pantai Timur itu.36 Namun, setahun kemudian, pada Mei 1899 Tgk. Tapa muncul kembali dalam arena peperangan di Aceh Utara. Dengan beratus-ratus pengikut yang terdiri dari orang-orang Gayo ia mulai menyerang kedudukan Belanda. Van Heutsz, yang kini telah berpangkat mayor jenderal, kembali memimpin pertempuran melawan gerakan Tgk. Tapa. Gerakan ini akhirnya bisa di- hancurkan. Setelah Cot Murong dan seluruh wilayah Tiro pada 3 Agustus 1898 dapat dibersihkan dari pejuang-pejuang Aceh, Belanda men- duduki Lhok Igeueh di pedalaman Pidie.37 Sementara itu Belanda pun dapat berpuas hati pula. Pasukan marsosenya berhasil menge- pung pemimpin-pemimpin Aceh di Beureunuen pada awal September 1898. T. Bintara Glumpang Payōng, T. Bintara Keumangan dan seorang pemimpin wanita yang berpengaruh Pocut di Ram- bōng, janda uleebalang Keumangan berhasil ditangkap dan dibawa ke Kutaraja.38 Jika kemenangan militer ini belum memadai, maka "politik sandra' pun dipakai pula untuk melumpuhkan pejuang-pejuang Aceh. Maka atas prakarsa Snouck Hurgronje pasukan Belanda di Garot menculik istri dan anak-anak T. Meuntroe Garot, salah seorang panglima T. UMar yang tangkas, sebagai sandra. Untuk dapat membebas- kan isteri dan anak-anaknya terpaksalah Meuntroe Garot menyerah pada 18 September 1896.39 Kembalinya secara sukarela T. Cut Ali Basyah, salah seorang ang- gota keluarga Panglima Polem ke tempat tinggalnya di daerah yang diduduki Belanda dan menyerahnya T. Cut Tungkōb (8 Desember

1898) membawa pengaruh yang menguntungkan Belanda di Aceh Besar.40 Kuta Sawang, Aceh Utara, dijadikan markas oleh sultan dan Panglima Polem dan dari tempat inilah kembali dilancarkan perang sabil. Pengaruh mereka bertambah besar di Aceh Utara. Oleh ka- rena itulah Kuta Sawang diserang oleh Belanda dan dikuasai pada

14 Mei 1899 dengan korban empat tewas dan 16 luka-luka di pihak Belanda.41 Pada November 1899 Sultan Daud bersama Panglima Polem ter- paksa mengundurkan diri dari Pidie dan menuju ke timur, ke Peusangan. Dalam pertempuran di Bukit Cot Pi, pihak Aceh menderita kerugian 34 orang gugur, sedangkan di pihak Belanda tiga mati dan delapan luka-luka. Panglima Polem dan sultan mengundurkan diri lagi ke bukit-bukit di hulu Peusangan. Setelah pihak Belanda dapat menguasai bukit-bukit ini pada 21 November 1899, yang dengan mati-matian dipertahankan oleh T. di Blang Dalam dengan korban 35 orang syahid, terpaksalah pemimpin-pemimpin Aceh berpencar- pencar. Sultan mengundurkan diri ke Bukit Keureutoe, T. Chik Peusangan ke Bukit Peutoe, sedangkan Panglima Polem menuju ke

pegunungan di selatan Lembah Pidie.42

Pada awal 1900 kecuali sultan, pemimpin-pemimpin Aceh yang masih sangat berpengaruh antara lain adalah para pemimpin adat,

T. Panglima Polem, T. Ben Peukan Meureudu, Aceh Utara, T. Ben Blang Pidie, Aceh Barat. Sedang di antara para ulama ialah Tgk. di Mata Ie dan Tgk. Di Barat di Pasai, Aceh Utara, Tgk. Cot Plieng, Tgk. di Alue Keutapang, Tgk. di Reubee, Tgk. di Lam Cut Pidie, Tgk. di Beureu'eh, teungku-teungku dari Tiro, Tgk. Chik Mayet dan Tgk. di Buket, di Pidie, serta Tgk. di Krueng Cot Seunagan dan Habib Meulaboh di Aceh Barat.43 Tetapi perlawanan Aceh telah makin terdesak. Pada 1900 dari 100 lebih uleebalang, 82 daripadanya telah me- nandatangani korte verklaring atau perjanjian pendek dengan pihak belanda. Isi perjanjian ini secara singkat adalah: (1) bahwa ne- geri yang dikepalai oleh uleebalang itu merupakan bagian dari Hindia Belanda dan berada di bawah kekuasaan Nederland; uleebalang tetap setia pada Ratu Belanda dan pada wakilnya Gubernur Jen- deral Hindia Belanda, (2) tidak mengadakan hubungan dengan negara-negara asing; (3) tunduk pada perintah Gubernur Atjeh.44 Van Heutsz, yang dinaikkan pangkatnya menjadi letnan jende- ral, terus menghantam pertahanan pihak Aceh. Ia membersihkan benteng-benteng Aceh yang masih terdapat di daerah Samalanga dan Meureudu, di Aceh utara. Dibantu oleh angkatan laut dengan mempergunakan kapal-kapal De Tromp, Edi dan Asahan, van Heutsz menyerang benteng Aceh yang tangguh di Batee Iliek, Samalanga, tepat pada hari ulang tahunnya yang ke lima puluh, yaitu pada 3 Februari 1901. Dengan 71 mayat bergelimpangan benteng

ini dipertahankan Aceh sampai orang yang penghabisan.45

Setelah dikejar-kejar Belanda di daerah Samalanga, Peudada dan Peusangan, Panglima Polem menuju hulu Keureutoe dan Geudong di Aceh Utara, sedangkan sultan mengundurkan diri ke daerah Gayo pada bulan September 1901.46 Daerah ini dijadikan pusat per- tahanan pihak Aceh dan tempat persiapan untuk menyerang kembali musuh. Pihak Belanda ingin menguasai daerah ini, apalagi mengingat bahwa rakyat Gayo mengambil bahagian aktif dalam peperangan melawan Belanda serta menyokong usaha perang sabil dengan perbekalan beras. Di samping itu keujruen-keujruen atau raja-raja di daerah Danau Laut Tawar dan Deret itu memberikan

segala bantuan kepada sultan.47

Dari berbagai-bagai jurusan Belanda kembali mengejar sultan dan Panglima Polem yang mengundurkan diri ke Gayo, daerah pe- dalaman yang belum pernah dimasuki oleh Belanda. Meskipun Belanda dapat mengalahkan lawannya di sana-sini, namun setelah mengitari Danau Laut Tawar dan daerah sekitarnya, usaha Belanda untuk menghabiskan sultan dan Panglima Polem tidaklah tercapai. Sultan tidak berhasil ditemukan di tanah Gayo. Selama dua bulan Belanda terus-menerus menjelajah seluruh wilayah Danau Laut Tawar tetapi karena sikap permusuhan rakyat Gayo, maka hampir ti-

dak dapat diperoleh berita mengenai tempat bertahannya sultan.48

Lantas apa yang dilakukan pihak Belanda? Pasukan marsose di bawah pimpinan H. Christoffel menyerbu dan menangkap istri sultan, Teungku Putroe, di Glumpang Payōng pada 26 November 1902 dan sebulan kemudian, yakni pada hari Natal, berhasil pula

K. van der Maaten menahan istri sultan yang seorang lagi, Pocut Murong serta Tuanku Ibrahim, putra sultan, di Lam Meulo, Pi- die.49 Dengan keberhasilan ini maka gubernur sipil dan militer van Heutsz mengancam sultan, jika baginda tidak menyerah dalam tempo satu bulan, kedua istrinya akan dibuang.50 Akhirnya, setelah memberikan perlawanan, menyeberangi sungai dan lembah, naik turun bukit dan gunung, masuk keluar hutan belantara, ter- sarung jualah pedang perang. Tuanku Muhammad Daud Syah ter- paksa menyerah pada 10 Januari 1903.51 Atas permintaan Belanda, yang disampaikan dengan surat ter- tanggal 8 Januari 1903, maka Sultan Muhammad Daud Syah, pada 14 Januari 1903, mengirim surat kepada gubernur sipil dan militer Belanda, van Heutsz. Antara lain sultan menyatakan.

... saya datang di bandar Kuta Raja hendak menghadap dan menyerahkan badan diri ke bawah duli Sri Paduka tuan besar. Maka oleh sebab itu dengan sungguh-sungguhnya mengakulah saya bahwa daerah tanah Aceh serta takluk jajahannya jadi suatu bagian daripada Hindia Nederland, maka takluklah Negeri Aceh kepada Kerajaan Belanda maka wajiblah atas badan saya selama-lamanya bersetia kepada Baginda Dri Maharaja Belanda dan kepada wakil Baginda, yaitu Sri Paduka yang dipertuan besar Gubernur Jenderal Hindia Nederland, dari segala aturan dan keputusan yang dijatuhkan atas badan diri saya oleh Sri Paduka yang dipertuan besar saya terima dan junjung di atas ke- pala saya.52 Pada 20 Januari 1903 van Heutsz menerima Tuanku Muhammad Daud menghadap. Di depan para pembesar Belanda dan para pemimpin adat Aceh, Baginda mengikrarkan isi surat tersebut di atas.53 Dengan menyerahnya sultan, kekuatan pasukan Belanda dapat sepenuhnya dipakai untuk mengejar T. Panglima Polem. Pada 24 Januari 1903 Christoffel berhasil menemukan tempat persembu- nyian Panglima Polem dan dapat menangkap istrinya, tetapi pemimpin itu lolos. Beberapa bulan kemudian (20 Mei malam) Ma- yor van der Maaten menyergap ibu dari Panglima Polem, salah se- orang istrinya, dan beberapa anggota keluarganya di Tangse, Pi- die. Setelah berkali-kali patroli di bawah Colijn atau Christoffel memberikan pukulan berat, Panglima Polem disertai Tuanku Raja Keumala, menyerah bersama lebih kurang 150 orang pengikutnya. Ia diterima Colijn di Lhok Seumawe pada 6 September 1903.54 Pada 18 September 1903, T. Panglima Polem dan Tuanku Raja Keumala mengirim sepucuk surat kepada gubernur sipil dan militer Belanda, van Heutsz, yang hampir sama bunyinya dengan yang di- tulis oleh Sultan Muhammad Daud.55 Dengan tekanan ujung bayonet dan ancaman sandera sultan bisa menyerah tetapi gemerincing senjata tajam dan letusan mesiu belum dapat terhenti dengan segera. Mengangkat senjata tanpa kenal menyerah dengan memilih mati syahid adalah jalan yang dilalui tidak saja oleh sebagian besar para pemimpin agama, tetapi juga oleh sebagian pemimpin-pemimpin adat. Akibat tekanan senjata marsose ada pula di antara mereka yang memilih mel atau membiarkan diri tertangkap.

Keadaan yang dihadapi tercermin pula dalam bait-bait sanjak HPS. Dalam salah sebuah hikayat dapat dibaca sebagai berikut: Wahe Teungku adek abang, bek le lantang bak prang sabi Bek ta pike keu uleebalang, ka jipasang le jen peri Hai Teungku cut donya akhe, agama tan le sigala negri Dum ulama narit tan le, keu prang kaphe han paduli Lidah ulama dum abeh klo, tan le hiro buet prang sabi Meulainkan nyang na ngon ijin Po, Teungku di Tiro baday nabi Ulama laen dum jeued nanggroe, peuseungap droe tan padoli.56 Wahai teungku adik abang, berperang sabil jangan hindari Jangan fikirkan para uleebalang, sudah diperalat oleh jin peri Hai saudara dunia sudah akhir, agama telah tiada di berbagai negeri Banyak ulama tiada lagi bergiat, untuk perang kafir tiada perduli Lidah ulama semua telah kelu, untuk perang sabil tiada berfikir lagi Melainkan yang ada dengan izin Tuhan, Teungku di Tiro me- wakili Nabi Ulama lain di berbagai negeri, berdiam diri tiada perduli Sindiran terhadap para Uleebalang dapat terlihat dalam HPS berikut ini: Jeuep-jeuep teumpat nyang ka geuprang, ulesbalang sajan ji- meulise Nyankeu sabab jeued sibok prang, uleebalang sajan kaphe Galak geu that keu le areuta, keu agama hana pike Bukon keu le uleebalang, hana jeusayang agama nabi Sabab galak raja peugagah, Tuhan amarah hana pike

Hana geuingat uroe akhirat, ne'mat le that Tuhan neubri57

Tiap-tiap tempat yang diperang, uleebalang menghindar selalu Itulah sebabnya sibuk berperang, karena uleebalang bersama kafir Suka sekali mereka mengumpulkan harta, untuk agama tiada mau berfikir Demikian banyak para uleebalang, tiada lagi sayang pada agama Nabi Mereka suka benar emas dan perak, siksaan kemudian tiada perduli Sebab raja senang gagab, amarah Tuhan tiada ditakuti

Tiada mereka ingat akan hari akhirat, nikmat berlimpah Tuhan beri ACEH BESAR, ± 1903-1912 Setelah J.B. van Heutsz pada September 1904 diangkat menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda Jhr. J.C. van der Wijck diangkat sebagai gubernur. Akan tetapi tak lama kemudian ia diangkat sebagai panglima Angkatan Darat Hindia Belanda mulai (Mei 1905), maka Letnan Kolonel van Daalen ditetapkan sebagai gubernur sipil dan militer di Aceh.58 Sultan Muhammad Daud Syah mendapat rumah yang lengkap dengan tunjangan yang cukup, sebesar 1.200 florin setiap bulan, sedangkan anaknya disekolahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Namun usaha-usaha pembesar Belanda untuk mendekatinya agar dapat membantu kepentingan Belanda tampaknya sia-sia. Sejak menyerah sultan diperbolehkan bergerak bebas di Aceh Besar, tetapi keluar dari wilayah ini harus dengan seizin Pemerintah Belanda. Pada tahun-tahun pertama setelah penyerahannya berulangkali Sultan diizinkan pergi ke Pidie dan Lhok Seumawe dan di tempat-tempat itu kadang-kadang baginda tinggal sampai tiga bulan lamanya. Dari hasil penyelidikan pihak Belanda dapat diketahui bahwa sultan tetap mengadakan hubungan dengan pe- mimpin pasukan gerilya yang menjadi panglima bawahannya atau dengan pejuang-pejuang yang menjadi kerabatnya karena perka- winan. Sultan membantu mereka dengan uang dan bantuan lain- nya untuk meneruskan perlawanan terhadap pihak Belanda. Yang dijadikannya sebagai orang-orang perantara adalah Panglima Nyak Asan dan Nyak Abaih.59 Juga kepada Teungku di Pidie yang dita- han di penjara Sigli tidak lupa dikirimkannya bantuan uang seke- darnya.60 Ketika tempat kediaman sultan digeledah pada bulan Agustus 1907 ditemukan sejumlah surat-surat. Dalam kumpulan surat-surat itu terdapat pula dua pucuk surat yang diterimanya dari orang-orang yang akan dihukum mati, yang mengharapkan kepada sultan agar mengadakan selamatan atau kenduri dengan membaca al-Qur'an tiga hari tiga malam serta permohonan untuk menyampai- kan berita kematiannya kepada istrinya. Surat yang satu lagi men- ceritakan tentang saksi-saksi yang memberatkan tertuduh sampai ia dihukum gantung dan meminta kepada Sultan untuk menyam-

paikan kepada keluarganya bahwa ia akan tewas di tiang gantung an.61 Pada 6 Maret 1907 malam, terjadi serangan atas Kutaraja, kota yang dianggap sangat aman bagi Belanda. Pada 7 Juni bivak Seudu, di Aceh Besar, diserang oleh penduduk Leupueng dan pada 16 Juni tahun itu juga Peukan Bada, Mukim VI, Aceh Besar, diserang oleh sepasukan muslimin yang bergabung dengan penduduk kam- pung.62 Tahun 1907 oleh para ulama dianggap sebagai tahun yang membawa angin baik bagi pihak muslimin untuk mengusir kom- peuni, asalkan semua penganut agama Islam di Aceh dapat bersatu padu.63 Setelah berbulan-bulan mengadakan penyelidikan, Belanda berkesimpulan bahwa serangan ini dipimpin oleh Keuchik Seu- man dan Pang Usuih, yang mendapat bantuan berupa uang, perbe- kalan, tempat persembunyian dan penunjukan jalan dari Keuchik Syekh dan Panglima Nyak Asan dan Nyak Abaih. Kesemua hal itu rupanya juga direncanakan oleh Sultan Daud, T. Johan dan Panglima Nyak Asan serta Nyak Abaih.64 Belanda menuduh bahwa penembakan di Kutaraja dan penyerangan terhadap Seudu dan Peukan Bada di Aceh Besar diatur oleh Sultan Daud.65 Karena khawatir akan mengguncangkan masyarakat Aceh, jika diajukan ke depan meja hijau, maka Van Daalen mengusulkan kepada Guber- nur Jenderal Hindia Belanda agar Sultan Daud diasingkan. Demi- kianlah dengan ketetapan 24 Desember 1907, Pemerintah Hindia Belanda membuang sultan ke Ambon. Bersama sultan turut pula dibuang, Tuanku Husin bersama empat orang putranya. T. Johan Lampaseh, pejabat Panglima Sagi Mukim XXVI, Keuchik Syekh dan Nyak Abas.66 Di antara surat-surat yang disita Belanda, ketika menggeledah tempat kediaman Sultan Daud, terdapat surat-surat yang dapat menimbulkan kesan, bahwa sultan mengadakan hubungan dengan Jepang untuk minta bantuan guna melawan Belanda.67 Tampak- nya memang ada terkandung secercah harapan di pihak Aceh untuk memperoleh bantuan alat-alat senjata dari Jepang. Hal ini ter- cermin dalam surat dua orang ulama di Pasai, Tgk. di Nata Ie dan

Tgk. di Matang Ubi.68 Kemenangan negeri Asia ini terhadap ne-

gara besar, Rusia, pada 1905, memberi harapan juga kepada para pejuang Aceh. Di antara surat-surat yang disita itu terdapat sepu- cuk surat rahasia yang dikirimkan oleh T. Husin Ulee Gajah. Ia menyampaikan kepada sultan bahwa .T. Kali Malikul Adil, atas pengusutan Snouck Hurgronje, menceritakan pada pihak Belanda

bahwa Sultan Muhammad Daud Syah, Tuanku Mahmud, T. Pang- lima Polem dan Kerani Yusuf bersepakat meminta kepada Tuanku Raja Keumala agar mengadakan hubungan dengan Jepang.69 Namun belumlah dapat diketahui dengan pasti apakah keterangan Kali Malikul Adil itu benar ataukah hanya fitnah belaka. Ada juga terdapat surat dari dua orang India bernama Mana Pa- kir dan Ghulam Ghouse yang meminta uang belanja kepada Sultan Muhammad Daud. Kedua orang India itu membicarakan pula soal mencari bantuan dari Jepang.70 Benarkan Sultan Aceh terlibat dalam hal ini? Kisah Ghulam Ghouse ini belum berakhir dengan surat yang ditemukan itu. Konsui Jenderal Belanda di Singapura membuat foto dari surat-surat yang digadaikannya kepada seorang Eropa di sana, yang di- anggap berasal dari Sultan Muhammad Daud Syah. Salah satu di antara surat-surat tersebut ditujukan kepada Kaisar Jepang Mitsu- hito ditulis di Sigli dan Kutaraja pada 10 Rajab 1323 (20 Septem- ber 1905) terdiri dari 12 pasal, yang terpenting di antaranya ada- lah:

(1) The Sultan of Acheh has given full power and authority
to his Plenipotentiary Mr. Ghouse to transact on his behalf, to the extent of entering into any treaty, borrowing moneys, or even to submit the whole of the territories of Acheh to another power, (2) The Sultan has not failed to prosecute the war against the Dutch and any concessions made to them or agree- ments entered into have been merely to relieve the distress of his subjects who are crying out under the opression of the Dutsch rule. (3) The Sultan rejoices at the successes by land and sea of the Japanese arms, and prays that the Japanese Emperor will have pity upon the people of Acheh and will come to the assistance of the Sultan and free the country of Acheh from the Dutch rule, to which it has never submitted after over forty years of war.71' Di samping itu terdapat pula sebuah surat gadai (indenture of statory mortgage) dari Sultan Aceh tanggal 2 Januari 1898 yang menggadaikan tanah Aceh seharga $500.000,00 kepada Ghulam Ghouse di Penang selama 10 tahun dengan bunga 24%; jika sultan tidak dapat membayarnya setelah jangka waktu 10 tahun, bunga- nya akan menjadi 36% setahun.72 Ghouse dalam suratnya, kepada The Secretary of States Colo- nial Offices di London, meminta perlindungan kepada Pemerintah

Inggris agar jumlah pokok tersebut serta bunganya dapat diterima- nya kembali dari yang bersangkutan.73 Dalam suratnya itu dite- rangkannya bahwa ia pada 1897 menyerahkan kepada Sultan Aceh sejumlah barang-barang, ternak dan lain-lain, seharga $500.000,00. Bila diteliti cap sultan, cap sikereung, yang terdapat dalam dokumen yang digadekan Ghouse itu, ternyata palsu, tidak sesuai dengan yang asli.74 Di sekeliling bundaran besar yang di tengah, terdapat delapan lingkaran kecil, yang kalau kita baca dari atas menu- rut arah perputaran jarum jam, terdapat di dalamnya nama sultan-sultan sebagai berikut: (1) Ahmad Syah, (2) Johan Syah, (3) Mah- mud Syah, (4) Jauhar Alam Syah, (5) Mansur Syah, (6) Saidi Al mukammal, (7) Meukuta Alam, (8) Tajul Alam. Dalam kedua dokumen Ghouse itu, tidak pula sama dengan tanda tangan sultan yang terdapat dalam surat-suratnya yang disita di rumah Tuanku Husin pada 21 Agustus 1907. Dalam surat permohonan kepada Kaisar Jepang, tulisan tangannya pendek dan bundar, sedangkan dalam surat sultan kepada Tuanku Husin tulisan tangannya lancip- 75 lancip dan panjang-panjang. Ghouse rupanya pernah menghadap pejabat Konsul Belanda di Singapura, Borger, (1905). Ia menceritrakan kepada pejabat itu bahwa ia bermaksud menyerahkan semua dokumen Sultan Muhammad Daud Syah yang ada padanya, asalkan ia dapat memper- oleh ganti kerugian. Ghouse menyatakan selanjutnya bahwa ia meminjamkan uang kepada Sulatan Daud sebanyak $12.000,00 tetapi Sultan Daud tidak dapat membayarnya. Sebab itu ia hendak menyerahkan dokumen-dukumen sultan yang ada padanya kepada

Pemerintah Hindia Belanda.76 Belanda mengetahui bahwa Ghouse,

yang katanya meminjamkan uang setengah juta dollar kepada Sultan Aceh itu, mengalami kesulitan uang. Bahkan untuk ongkos mengirim sebuah telegram ia harus meminjam.77 Maka kesimpulan sederhana tentu bisa ditarik bahwa isi mortgage itu tidaklah benar. Meskipun Ghouse memakai advokat Allen and Gledhill di Singapura ia tidak berhasil menuntut kepada Pemerintah Belanda uang sejumlah $2.787.200,0078, yaitu modal, yang dikatakannya, di- pinjamkannya kepada Sultan Muhammad Daud Syah beserta bunganya sampai dengan 2 Januari 1908. Episode lucu Ghouse ini

tidaklah terlalu aneh. Di saat-saat pemerintah kolonial sedang mengadakan konsolidasi kekuasaan dan ketika penguasa pribumi telah tak dimungkinkan lagi untuk berbuat apa-apa, adalah pula si-

tuasi yang memungkinkan para pengikut bertentangan untuk ber-

buat sesuatu. Sementara itu, kemenangan tidaklah pula mengakhiri persaingan politik di negeri induk. Persaingan politik yang menuntut kor- ban inilah yang harus pula dialami oleh Vaan Daalen. Surat kabar Avondpost di Den Haag memuat tulisan-tulisan yang dikarang oleh

seorang yang menamakan dirinya Wekker.79 Ia mengecam guber-

nur sipil dan militer Vaan Daalen, karena menjalankan pemerintah- an dengan kejam di Aceh. Dengan tuduhan ini maka Gubernur Jenderal van Heutsz bersama dengan panglima angkatan darat yang juga menjadi kepala Departemen Peperangan Hindia Belanda, Rost van Tonningen mengadakan penyelidikan di Aceh pada 1908. Aki- batnya, Van Daalen yang waktu itu berpangkat mayor jenderal meminta berhenti.80 Sejak 10 Juni 1908, Letnan Kolonel H.N.A. Swart, yang sebe- lumnya menjadi gubernur militer dan sipil di Sulawesi, diangkat menjadi gubernur militer dan sipil di Aceh. Segera setelah me- mangku jabatan ini ia pun menjalankan politik trasifikasi yang luas. Para ulama dan para uleebalang serta pengikut-pengikut me reka yang tidak mau tunduk kepada Belanda dikejar terus-mene- rus.81 Sementara itu usaha yang dirintis oleh van Daalen untuk men- dirikan sekolah-sekolah desa pada 1907,82 diteruskan. Usaha di bidang pengajaran ini sebagai salah satu aspek dari apa yang dise- but "politik etis", yang pada waktu itu sedang digalakkan,83 pada mulanya diterima oleh sebagian pemimpin-pemimpin adat, tetapi umumnya belum dapat diterima oleh para pemimpin agama dan rakyat. Sejak 1901 anak-anak para pemimpin adat disekolahkan di Kutaraja dan sejak 1904 ada yang dikirimkan ke Bukittinggi untuk memasuki sekolah semi-profesional, yang dikenal dengan nama Sekolah Raja. Rakyat masih enggan mengirimkan anak-anaknya ke sekolah, oleh karena terpengaruh oleh propaganda pemimpin-pemimpin agama yang mengatakan bahwa siapa yang dapat menu- lis aksara Latin akan dipotong tangannya di akhirat kelak atau menjadi kafir.84 Sekolah desa diejek dengan sebutan sikula deesya, artinya sekolah dosa.85 Menjelang akhir dasawarsa pertama abad ini, suatu pandangan baru muncul di kalangan para pemimpin Aceh. Melihat teguhnya sikap Belanda untuk menghancurkan perlawanan pihak Aceh serta akibat-akibat daripadanya, maka pada bulan Agustus 1909 tiga orang pemimpin Aceh, yakni Tuanku Mahmud, Tuanku Raja Keu-

mala dan T. Panglima Polem berseru kepada para pemimpin agama yang masih meneruskan perjuangan melawan kafir, yaitu Habib Wan dan teungku-teungku keturunan Teungku Chik di Tiro Mu- hammad Saman agar taslim atau menyerah kepada Belanda. Tuanku Mahmud, Tuanku Raja Keumala dan T. Panglima Polem menyatakan bahwa mereka melakukan ijtihad86 serta memandang dengan mata kepala sendiri akan keadaan yang sulit yang dihadapi kerajaan-kerajaan Islam dan keadaan dunia bukanlah lagi seperti dahulu ketika orang-orang Aceh semuanya berperang dengan Kompeni Belanda.87 Mereka menyatakan pula bahwa jikalau ikhtiar sudah habis dalam kemampuan untuk melawan telah tiada, maka tak ada salahnya untuk taslīm. Apalagi Belanda tidak mengubah dan tidak melarang agama Islam. Selain daripada itu tasli m bukanlah suatu kebiasaan yang dimulai oleh Aceh, akan tetapi telah ber- laku di negeri-negeri atas angin,88 seperti misalnya di India yang semuanya taslīm di bawah perintah Kompeni Inggris. Orang-orang Islam taslīm ketika merasa lemah, sebab takut rusak agama dan negerinya, dan setelah mereka itu taslim memeliharakan agama- nya sekuasanya agar tiada hilang semuanya.89 Akan tetapi seruan hanyalah seruan, tiada gema sambutan dari para pemimpin agama.90 PIDIE,± 1902--1913 Pidie mempunyai penduduk yang lebih padat dibandingkan dengan daerah Aceh lainnya, dengan kampung-kampungnya yang be- sar dan tanah sawah yang terhampar luas dengan dataran-dataran yang terbuka. Dalam medan seperti inilah barisan-barisan muslimin menyerang pasukan Belanda. Di samping memiliki senjata api dan mesiu yang lumayan, mereka juga mempunyai bengkel-bengkel senjata. Berkali-kali bivak-bivak Belanda diserang dan rel-rel kereta api dirusakkan, malah ada yang ditarik oleh kerbau-kerbau bebe- rapa kilometer jauhnya. Menembaki kereta api, mengusahakan agar kereta api keluar dari relnya, merusakkan jaringan telepon dan menghancurkan jembatan adalah pekerjaan yang amat digemari oleh pasukan-pasukan Aceh. Para pemimpin adat yang berbaik dengan Belanda, spion-spion dan penunjuk-penunjuk jalan, termasuk juga anggota keluarga mereka, ada yang dibunuh. Demikian juga rumah-rumah mereka ada yang dibakar. Bahkan juga anggota-anggota barisan muslimin yang menyerah kepada Belanda berkali-kali dihabiskan oleh bekas teman seperjuangan mereka, oleh karena kha-

watir akan adanya pengkhianatan.91 Dayah atau tempat pengajian agama yang terkenal dan ulama-ulama yang berpengaruh, seperti antara lain Tgk. Chik di Tiro ba- nyak terdapat di Pidie. Para pemimpin agama ini di mata rakyat sering dianggap sebagai pemilik kekuatan gaib, antara lain ilmu ke- bal. Seruan para ulama untuk berperang di jalan Allah umumnya mendapat sambutan rakyat. Para ulama membagi-bagi azimat, me- nerima sumbangan wajib untuk dana perang sabil. Dengan dem- kian perbendaharaan untuk keperluan peperangan tetap dijaga. Sebab itu sangat besar kepentingan-kepentingan Belanda untuk menghancurkan para ulama ini. Ulama Tgk. Cut Cicem yang mengepalai pasukan-pasukan Tgk. Chik di Tiro adalah contoh yang menarik. Meskipun berkali-kali mengalami pukulan-pukulan berat dari pasukan marsose Belanda, namun jumlah anggota pasukannya tidaklah berkurang. Ia selalu dapat mengumpulkan para pemuda untuk menggabungkan diri da- lam barisannya.92 Jadi tidaklah sukar bagi pihak muslimin untuk menambah barisan. Sebab setiap karaben yang dapat mereka ram- pas berarti bertambah martabat di mata rakyat. Kecuali memper- tinggi martabatnya penguasaan senjata bagi pasukan muslimin,

juga memperbesar kekuatan dan kekuasaan.93

Pada permulaan 1902, menurut taksiran Struyvenberg, terdapat kira-kira dua atau tiga ribu pejuang Aceh yang berada di Pidie. Meskipun antara 1902-1905 ada kira-kira 4.000 orang Aceh yang dapat ditewaskan, jumlah barisan muslimin pada pertengahan

1905 di daerah ini ada sekitar 2.000 orang.94

Meskipun Sultan Aceh menyerah pada 1903, ulama Tgk. Cot Plieng terus menyerukan agar orang-orang Aceh tetap gigih berji- had melawan kafir.95 Para ulama yang terkemuka yang masih me- neruskan perjuangan antara lain, adalah Tgk. di Lam Cut, Di Ta- noh Mirah, Habib Teupin Wan, ketiganya berasal dari Mukim XXVI, Aceh Besar, Tgk Lam U dari Mukim XXII, Aceh Besar, Tgk. di Barat dan Tgk. di Mata Ie, di Aceh Utara.96 Di samping itu para putra Tgk. Chik di Tiro Muhammad Saman masih terus me- ngibarkan panji-panji perjuangan bersenjata. Salah seorang pemimpin partisan yang juga berpengaruh adalah

T. Ben Peukan, putra uleebalang Mereudu, yang memimpin pejuang-pejuang dari Meureudu dan Samalanga beroperasi di Aceh Pidie. Pada April 1903 Nyak Muda, seorang panglima yang terkenal dengan usaha pengrusakan hubungan telepon, jalan kereta api,

pembakaran pasar, pembunuhan spion-spion Belanda, dan sebagai- nya, bersama dengan anak buahnya menggabungkan diri pada T. Ben Peukan, Beberapa bulan kemudian (Juli 1903), pasukan Nyak Muda dihantam pasukan marsose Belanda dengan meninggalkan korban 17 orang tewas dan sejumlah besar senjata jatuh ke tangan

Belanda.97 Kejadian ini bukan tidak berbalas. Pada awal Septem-

ber 1903, T. Ben Peukan bersama Nyak Muda, T. Ma' Udin Meureudu, T. Ubit Samalanga dan Pang Saneh berhasil menyerang pa- troli Belanda di hulu Meureudu dengan mengakibatkan empat orang pasukan Belanda mati, di antaranya komandan patrolinya, Kapten A.H. van der Hoeve, serta 22 orang luka-luka dan kehilang- 98 an pula enam pucuk senjata api. Di pihak Aceh gugur 12 orang. Tindakan balasan berhasil pula diambil oleh pihak Belanda. Dalam bulan November dan Desember 1903 Belanda berhasil pula meng- habiskan 18 orang pengikut T. Ben Peukan dan menyita 23 pucuk senapan. Di antara yang gugur, terdapat panglima pasukan T. Ben Peukan yang ditakuti, yaitu Panglima Prang Meureudu Pakeh. Kekalahan ini besar juga pengaruhnya. Lebih kurang 200 orang 99 menyerah, termasuk beberapa orang pemimpin adat terkemuka.

T. Ben Peukan sendiri, akhirnya menyerah bersama tujuh orang panglimanya serta 45 orang pengikutnya berikut sejumlah alat senjata, pada 1 Februari 1904. Nyak Muda meneruskan usahanya merugikan pihak Belanda dengan penyerangan terhadap kereta api, pembakaran rumah, penghancuran hubungan telepon, dan se- bagainya. Ia akhirnya tewas bersama Pang Saneh pada 30 April

1905.100

Di antara para pemimpin adat yang menyerah adalah T. Muda Lhōn, kemenakan Panglima Polem, yang pada 6 Maret 1904 bersama 20 orang pengikutnya mel pada Belanda di Pidie.101 Pada 8 Juni 1904 T. Rayek, uleebalang Teungoe, Pidie, yang memihak muslimin, ditembak mati Belanda.102 Demikian juga Pang Andah, tangan kanan T. Ali Baid, gugur bersama Nyak Muda Daud pada 3 Juli 1904.103 Oleh karena istri dan putranya disandera, T. Putih Meureudu menyerah pada bulan Oktober 1904. Demikian pula halnya dengan Habib Cut dari Ie Leubeue menyerah pada waktu yang sama setelah lebih dahulu istri dan putranya ditangkap.104 Kemudian, pada November 1904 menyusul pula penyerahan diri T. Keujruen

Bugis dari Beunga juga disebabkan istrinya telah disandera105

Pada 2 Juli 1905 Tgk. Cot Plieng, yang terus-menerus dikejar Be-

landa, dapat ditembak pasukan Letnan Terwogt di hulu Krueng Tiro. Sebulan kemudian (14 Agustus 1905), Tgk. Di Alue Keuta- pang, seorang ulama di Samalanga yang terkenal dengan doanya dalam perang sabil, syahid terkena peluru Letnan Velsing di hulu Krueng Meureudu.106 Tgk. Cot Cicem masih meneruskan perlawanan. Dengan lebih dari 400 anggota pasukan yang ber-uniform hitam ia dapat menga- caukan pasukan-pasukan Belanda. Pasukan Cot Cicem ini adalah contoh dalam usaha meniru teknologi kemiliteran Belanda. Ber- baris dengan tatacara yang rapi, memakai aba-aba terompet, dan sebagainya, pasukan ini hampir-hampir tak berbeda dengan gaya pasukan marsose Belanda. Kesemuanya adalah hasil latihan yang diberikan oleh tentara Belanda yang membelot kepada pihak Aceh. Setelah mengalami kekalahan berat dari Letnan Dersjant, Tgk. Cot Cicem mengubah taktik perlawanannya dengan membagi anggota-anggotanya dalam pasukan kecil-kecil untuk melakukan penembakan dalam jarak jauh, penghancuran jalan kereta api, ja- ringan telepon, dan sebagainya.107 Ulama ini bersama 11 orang pengikutnya gugur dalam suatu pertempuran di hulu sungai

Krueng Baro, pada 29 Maret 1906.108

Pengganti Tgk. Cot Cicem adalah Tgk. Leman. Pada 20 Juni 1907 ia menyerang bivak Belanda di Keumala, dengan menjatuh- kan korban Belanda dua mati dan delapan luka-luka, sedangkan di pihak Aceh gugur 19 orang. Kesudahannya Tgk. Leman bersama 33 orang pengikutnya dapat dihabiskan di Gle Krueng Reubah,

Pidie pada 15 April 1908.109

Selama 1908 pihak Aceh mendapat pukulan yang berat di Pidie. Belanda dapat menewaskan 269 orang Aceh, antaranya 17 orang pang, 7 orang teungku. Di antara teungku-teungku yang syahid ialah Tgk. Hasan Titeue alias Tgk Pante Kulu, tangan kanan ulama-ulama Tiro.110 Akan tetapi pengejaran terhadap anasir-anasir perlawanan makin digiatkan. Letnan H.J. Schmidt bahkan khusus ditugaskan untuk mengejar ulama-ulama Tiro, yang tetap mengangkat senjata. Tgk. di bukit alias Tgk. Beb, putra Tgk. Chik di Tiro Muhammad Sa- man, gugur dalam suatu pertempuran pada 29 Mei 1910 di Gu-

nung Meureuseue. Menyusul pula kemudian Tgk. Chik Mayet yang

syahid dalam kontak senjata pada 5 September 1910 di hulu Alue Simie. Pada 2 Desember 1911 gugur pula Tgk. Chik Maat dalam pertempuran dekat Tangse. Sebulan sebelumnya gugur Habib

Teupin Wan, yang jadi lawan Belanda sejak 1873, dalam suatu per- tempuran di Pidie pada 29 September 1911.11í Bengkel senjata Tgk. Chik di Tiro yang terdapat di Beunga dapat pula dirampas oleh Belanda pada September 1912.112 Dengan demikian perlawanan terbuka di Pidie berakhir, tetapi Pidie akan tetap merupakan daerah yang paling rawan bagi peme- rintah. Tradisi perlawanan dengan ulama-ulama yang berpengaruh besar menjadikan Pidie, daerah yang kaya beras dan lada dan dengan laki-laki yang merantau, memainkan peranan yang khusus dalam sejarah modern Aceh.

ACEH TENGAH DAN TENGGARA, ± 1903-1912

Daerah Gayo adalah basis pertahanan Aceh. Berdamainya sultan tidak membuat daerah Gayo tunduk kepada Belanda. Oleh karena daerah Gayo-Alas (Aceh Tengah), belum lagi dapat dikuasai Belanda, maka Van Daalen yang waktu itu sudah menjadi letnan kolo- nel, ditugaskan mengadakan hubungan politik dengan raja-raja di sana. Pada S Februari 1904 ia memulai perjalanan 163 hari dengan 10 brigade marsose dari Lhok Seumawe ke Sibolga (Tapanuli), me- nembusi Gayo-Alas dan sebagian tanah Batak. Akan tetapi di Gayo Van Daalen mendapat perlawanan keras. Barulah setelah beberapa bulan, ia berhasil mematahkan perlawan rakyat. Selama itu rakyat Gayo, lelaki dan perempuan, bahkan anak-anak dari desa-desa Kuto Reh, Likat dan Kuto Lengat dengan gigih mempertahankan se-Betapa besarnya korban, da-

tiap jengkal tanah pusaka mereka.113

114 pat terlihat dari nukilan berikut ini Berbeda dengan di Pidie, keadaan medan di Aceh Tengah bergu- nung-gunung. Penembakan terhadap bivak-bivak dan patroli musuh dilakukan oleh orang Gayo dari jarak jauh. Sergapan tiba-tiba dari jarak dekat terhadap bivak-bivak dan pertarungan pedang lawan klewang ada juga meskipun jarang terjadi. Cara khas menghan- tam Belanda adalah dengan menggulingkan batu-batu besar dari lereng-lereng bukit yang curam. Tempat persembunyian barisan muslimin biasanya dalam gua-gua. Wanita dan anak-anak diperguna- kan oleh para pejuang Gayo untuk memperhatikan gerak gerik dan arah tujuan musuh, di samping juga untuk menjaga sawah ladang

Pemimpin-pemimpin barisan muslimin dari Aceh seperti Tgk. di Paya Bakong dan Tgk. di Barat, jika diserang selalu mengundurkan

Kerugian Aceh Kerugian Belanda Hari Nama tem-Laki-Per./ Laki-Per./ bulan pat per-Anak-laki laki Anak-GugurLuka-luka tempuran anak anak

21-4-04 4-4-04 Badak 143 93 29 41 7 26 42
11-5-04 18-5-04 Tampeng Penosan 191 125 51 33
14-6-04 Kuto Reh 20-6-04 Likat 220 313 248 31 17 18
24-6-04 Kuto 338 316 48 3 23

Réket Goip

95 16 29
3 2 5
2
49 1 1

Lengat Baru

Jumlah 1.423 8296100 188 24

diri ke Aceh Tengah dan membuat tanah Gayo sebagai basis mereka.116 Patroli-patroli marsose di bawah pimpinan Letnan J.H.C. Vaste- nou terus-menerus mengejar para pejuang yang masih belum mau meletakkan senjata. Barisan muslimin pun tiada pula berpangku tangan. Pada akhir Agustus 1905 sepasukan muslimin di bawah pimpinan ulama Tgk. Muda Pendeng menyerang bivak Ampak Ko- laq dan dapat menewaskan seorang sersan Eropa dan melukai tu-

juh orang bumiputera. 117

Yang menyerah ada juga T. Ali Mukim Baid yang berasal dari Aceh Besar bersama dua orang putra T. Umar menyerah di Take- 1f8 ngon pada 11 November 1905. Setahun kemudian, dalam suatu pertempuran melawan pasukan Belanda, pemimpin salah satu pasukan Rojo Putih, Panglima Prang Pren gugur. Dalam suatu pertempuran dengan pasukan marsose te- was pula Tgk. Peureula (September 1909) disusul oleh Ali Rojo pada tahun itu juga. Meninggalnya Tgk. Muda Pendeng dan Rojo Chik Pasir dalam persembunyian mereka akibat tanah longsor di bulan Desember 1910, merugikan pertahanan muslimin di Aceh

Tengah.119

Pihak Aceh bertambah kurang kekuatannya di Aceh Tengah dengan menyerahnya Pang Muda yang mengepalai barisan muslimin di Rerobo pada bulan Februari 1911, disusul oleh Rojo Cut Pasir pada 24 April 1911 dan diikuti pula kemudian oleh dua orang pemimpin agama, Leube Grondong pada 28 Juni 1912 dan Tgk. Muda Kuto Sre pada 13 Agustus 1912.120 Barulah setelah ini tanah Gayo mulai terbuka. Secara bertahap perubahan sosial mulai terjadi dengan dibukanya jalan yang dari Takengon berjalan pantai yang menghubungkan Aceh dengan Me- dan, Sumatra Utara, dan diperkenalkannya sekolah desa, serta di- mulainya perkebunan kopi. ACEH BARAT ± 1903-1912 Tanah sepanjang pantai Aceh Barat, datar dan banyak rawa-rawa. Dalam musim hujan daerah ini sukar dilalui oleh pasukan-pasukan Belanda. Daerah yang berawa-rawa ini merupakan tempat persembunyian yang baik bagi barisan muslimin. Selepas rawa-rawa menuju pedalaman ditemukan lereng-lereng penuh ditumbuhi oleh padang alang-alang dan semak belukar, yang memberi kesem- patan bagi para pejuang Aceh untuk menghadang atau menyergap dengan tiba-tiba pasukan Belanda. Pada awal peperangan banyak juga orang Aceh di pantai Barat ini yang memiliki senjata api. Mereka biasanya menembak dari jarak jauh. Namun yang diakui pihak Belanda ialah kemahiran orang Aceh Barat dalam mempergu-

nakan senjata tajam.121

Seperti di tempat-tempat lainnya di Aceh, di Aceh Barat pun orang juga berani mati dalam berperang di jalan Allah. Cara meng- hadapi musuh pun bergonta-ganti, melihat keadaan. Ada kalanya mereka melakukan serangan dengan menggunakan tombak, kemudian kembali mempergunakan senjata api dan acapkali pula menyerang dari depan dan dari belakang pada waktu yang bersa- maan untuk lebih mengacaukan pihak lawan. Ada kalanya mereka menyerang waktu pasukan Belanda pergi berpatroli. Bila kemudian, karena luka-luka, patroli itu harus kembali ke bivak, mereka disergap lagi. Pasukan Aceh dibagi dalam kelompok-kelompok kecil di bawah pimpinan pang atau panglima masing-masing dan mengadakan serangan-serangan secara mandiri terpisah dari pemimpin-pemimpin perlawanan yang lebih tinggi. Itulah sebabnya para pemimpin perlawanan ada yang tidak sampai terkena peluru Belanda dan berta-

hun-tahun lamanya masih dapat terus memimpin perlawanan. Rak- yat pun membantu para pejuang, hingga kadang-kadang pihak Belanda amat sulit memperoleh berita tentang gerakan pasukan-pasukan Aceh.122 Salah seorang pemimpin adat yang aktif melakukan perlawanan adalah T. Keumangan dari Seunagan. Di samping itu Cut Nyak Dhien, janda T. Umar turut melakukan perlawanan terhadap Belanda. Pada awal 1904, dalam usaha untuk mengejar Cut Nyak Dhien, pasukan Belanda di bawah komando Kapten Campioni, dalam perjalanan kembali diserang oleh lebih dari 300 orang Aceh, hingga Campioni menderita luka berat dan kemudian meninggal.

T. Keumangan akhirnya menyerah pada awal Januari 1905, se- dangkan Cut Nyak Dhien dapat ditangkap oleh Letnan Van Vu- uren pada 4 Nevember 1905. Penangkapan ini terjadi karena pe- tunjuk Panglima La'ot Ali, Ia sudah tidak tahan melihat Cut Nyak Dhien menderita. Selama delapan hari tidak makan nasi dan hidup hanya dari pisang bakar dengan sayur hati batang pisang. Sedang- kan ia terserang pula penyakit buta. Ketika tahu bahwa ia dike- pung kaphe dalam persembunyiannya Cut Nyak Dhien sangat ma- rah dan mencabut rencongnya hendak menikarn panglimanya yang dianggap telah mengkhianatinya itu. Akan tetapi tidak berhasil .123 Oleh karena Cut Nyak Dhien dianggap dapat mengganggu keaman- an dan ketertiban, maka dengan ketetapan Pemerintah Hindia Belanda, 11 Desember 1906 No. 32, ia bersama kemenakannya T. Nana dibuang ke Sumedang, Jawa Barat. Ia meninggal di sana pada 6 November 1908.124 Ada juga di antara para pemimpin adat yang setelah menyerah kepada Belanda, kembali berpihak ke barisan muslimin. T. Glum- pang Pisang menyerah bersama delapan panglimanya dan sejumlah besar pengikut-pengikutnya pada Maret 1904. Akan tetapi pada Mei 1906 berbalik ke barisan muslimin, untuk kemudian kembali mel pada Belanda di bulan Desember tahun itu juga. Demikian pula halnya dengan T. Seuneurueng dari Woyla. Ia menyerah pada 1903 akan tetapi dalam tahun itu pula kembali memusuhi Belanda. Kemudian pada November 1904 bersama 40 orang pengikutnya menyerah lagi kepada pihak Belanda.125 Setelah T. Keumangan takluk, pengaruh Tgk. Pidie, seorang ula- ma di hulu Woyla, bertambah besar. Sebagian anggota pasukan T. Keumangan dapat ditarik ke pihaknya. Tgk. Pidie ini pun akhirnya menyerah pada September 1910 bersama 70 orang pengikutnya

dan diikuti sebulan kemudian oleh Tgk. Putih bersama 40 orang

pengikutnya. Tgk. Padang Si Ali menyerah pada Januari 1911.126

Pada 1908 seorang pemimpin perlawanan wanita yang lain, Pocut Bharin, istri Keujruen Gume, dalam suatu pertempuran tertem- bak kakinya oleh anggota patroli pimpinan Letnan W. Hoogers. Ia menyerah kepada Belanda dan kemudian atas usaha pihak Belanda kakinya diganti dengan kaki kayu. Terkenallah Pocut Bharin dengan julukan devrouwelijke oeleebalang met het houten been, ule- ebalang dengan kaki kayu. Ia menandatangani Korte Verklaring 127 atau Perjanjian Pendek pada tahun itu juga. Pada 23 September 1910 seorang pemimpin perlawanan yang penting, Tgk. Imum Si Adeue bersama para panglimanya yang uta- ma dapat ditewaskan oleh pihak Belanda. Di sana-sini masih ada pertempuran-pertempuran kecil, akan tetapi menurut Struyvenberg, tahun 1913 dapatlah dianggap bahwa peperangan di Aceh 128 Barat pada umumnya sudahlah berakhir. ACEH UTARA ± 1903-1912 Di Aceh Utara, daerah-daerah yang sejak Perang Belanda dianggap sangat mengganggu pihak Belanda adalah Lhokseumawe, Samalanga, Peusangan, Geudong (Pasai) dan Lhoksukon. Berkali-kali pihak Belanda mengirimkan angkatan tentaranya seperti apa yang dinamakan ekspedisi ke Peusangan, Pasai dan Samalanga pada masa 1898-1901 dibawah Van Heutsz. Akan tetapi tidak mem- bawa hasil yang diharapkan. Menurut taksiran Struyvenberg masih ada kira-kira 15 atau 16.000 orang pejuang Aceh di daerah ini. Apa yang dilakukan oleh barisan muslimin di Aceh Utara sama saja dengan yang dijalankan di Pidie, yaitu menghancurkan jalanan ke- reta api, jembatan dan hubungan telepon, membakar rumah jaga dan kedai-kedai, membunuh spion-spion atau penunjuk jalan dan kepala-kepala adat yang memihak kepada Belanda, dan sebagainya. Berbeda dengan di Pidie, serangan-serangan dengan menggunakan pedang dan senjata tajam lainnya banyak sekali terjadi di Aceh Utara, terutama di Samalanga dan Lhokseumawe. Rawa-rawa yang luas dan hutan-hutan bakau menguntungkan para pejuang Aceh. Seperti di Pidie, para ulama besar sekali pengaruhnya dalam perlawanan terhadap Belanda. Di daerah Samalanga terasa pengaruh te-

ungku-teungku dari Tiro. Di daerah Peusangan besar pengaruh ula-

ma-ulama dari dayah Awe Geutah. Sedangkan di daerah Pasai Tgk. di Mata Ie alias Tgk. di Paya Bakong dan Tgk. di Barat dengan da-

yahnya di Paya Bakong banyak menarik murid-murid dari seluruh

Aceh.129

Pada awal September 1906, dibawah pimpinan orang-orang Peu-

sangan, T. Hakim Reuseb, Imum Rayat Akob dan Pang Baday, negeri Peudada diserang. Mereka berhasil membakar kedai-kedai di

Peudada.130 Pada tahun itu juga, uleebalang negeri Nisam, T. Ri

Mahmud dibunuh oleh barisan muslimin dari Peusangan di bawah pimpinan Panglima Prang Sabi. Untuk menggantikannya Belanda 131 mengangkat T. Raja Mat Ali sebagai pejabat uleebalang. Di daerah Keureutoe, Lhoksukon, dua kali dalam 1906, pasukan Tgk. di Paya Bakong dan menantunya, Tgk. di Barat menyerang pasukan Belanda dengan senjata tajam. Pertama, pada 29 Juli di Kenegerian Hakim Krueng, yang dapat menewaskan tiga orang pasukan Belanda dan melukai empat daripadanya serta membawa lari tiga pucuk senapan. Kemudian, pada 24 November, dekat Lapang, lebih kurang 30 orang Aceh bersenjatakan parang dan rencong, mematikan doa orang dan melukai tujuh orang patroli Belanda, merampas satu senapan, sedangkan di pihak Aceh 17 orang diting- gal mati dalam pertarungan itu.132 Orang-orang Aceh sendiri, juga ada yang menjadi sasaran barisan muslimin. Ada yang dibunuh, ada yang ternaknya dirampas dan ada yang rumahnya dibakar. Pada Februari 1906, tempat kediam- an uleebalang Blang Glumpang dan sebagian kedai Lagabatang dibakar. Pada bulan Mei 1906, keujruen Mbang, yang memberi tahu tempat persembunyian keluarga Rojo Redelong Gayo, diserang

hingga mendapat luka berat.133

Pada awal 1908 di daerah Bireuen, antara Peusangan dan Glumpang Dua, kira-kira 3000 meter kawat telepon dihancurkan oleh pihak Aceh dan hubungan telepon mereka rusakkan lagi pada Ok- tober satu kali, November dan Desember 1908, masing-masing dua kali,134 Pada permulaan 1908 di sekitar Lhoksukon terjadi kekacauan besar. Menurut laporan Kapten W.B.J.A. Scheepens dari Lhokseumawe, beberapa raja dan kepala-kepala kampung ada yang mening- galkan negeri mereka mengungsi ke Lhokseumawe atau ke tempat-tempat yang dekat dengan bivak pasukan-pasukan Belanda. Pe- juang Aceh di bawah pimpinan Tgk. di Paya Bakong dan Tgk. di Barat memperhebat perlawanan mereka. Di antara korban-korban, menurut laporan pihak Belanda, terdapat wanita dan anak-anak, dan banyak lembu yang dirampas oleh muslimin.135

Sebagaimana disinggung di muka, dalam bulan Juni 1908, Ma- yor Jenderal van Daalen digantikan oleh Letnan Kolonel Swart. Gubernur sipil dan militer yang baru ini segera menugaskan dua orang opsir marsose, Kapten Christoffel dan Kapten Scheepens, seorang yang dikenal banyak memahami tentang seluk beluk Aceh, ke daerah Lhoksukon untuk menghabiskan barisan-barisan mus- limin. Begitulah, pada tengah kedua 1908 sebanyak 137 orang Aceh yang dapat ditewaskan pasukan marsose, 22 ditawan. Se- dangkan 322 orang kembali ke kampung halaman masing-masing. 136 Dalam tahun-tahun 1909 dan 1910 ruang gerak Tgk. di Paya Bakong dan Tgk. di Barat, makin dapat dipersempit oleh pasukan marsose. Pada 1910, kemenakan dan abang Tgk. di Paya Bakong tewas. Kemudian salah seorang pemimpin pasukannya bersama de- lapan orang pengikutnya menyerah. Imum Beuna dengan dua orang pengikutnya, dan ipar Tgk. di Barat tertawan. Di samping itu gugur pula Tgk. Mat Saleh, putra Tgk. Seupot Mata, Cut Meutia, dan lain-lain. Cut Meutia meneruskan perjuangan suaminya, Tgk. Chik Tunong, yang menjalani hukuman mati pada Maret 1905 di pantai Lhokseumawe. Ia kawin untuk kedua kalinya dengan Panglima Prang Nanggroe, yang gugur dalam tahun 1910 itu juga. Pada akhir bulan oktober 1910 Cut Meutia dengan pedang terhunus di tangannya menyerang pasukan Belanda. Wanita bang- sawan ini gugur terkena peluru pasukan Sersan W.J. Mosselman.137 Pada 1912 sampailah batasnya bagi Tgk. di Barat. Ulama ini muncul secara lebih menonjol dalam arena peperangan. Beberapa opsir Belanda pernah berikhtiar, akan tetapi belum berhasil meng- habiskannya. Kemudian dengan usaha pasukan Letnan Behrens tempat ulama ini dapat dikepung dan dalam kontak senjata yang terjadi terkenalah lengan kanannya oleh peluru Belanda. Ia segera mencabut rencongnya dan dengan menggunakan tangan kiri me- nyerahkan karaben kepada istrinya, yang segera melindungi sang suami dengan berdiri di hadapannya. Tak lama kemudian berden- tuman peluru Gompouni menembus jasad keduanya dan gugurlah

ulama itu beserta istrinya sebagai syuhada.138 Begitulah kata Zent-

graaff, hidup Tgk. di Barat dan ulama-ulama terkemuka di Pasai berakhir. Mereka memilih syahid daripada mel. Seterusnya ia ber- tanya, adakah bangsa di bumi ini yang tidak akan menulis gugur- nya tokoh-tokoh heroik ini dengan rasa penghormatan yang tinggi

dalam buku sejarahnya?139

Catatan

  1. M.H. du Croo, Marechaussee in Atjeh. Herinneringen en Ervaringen van den Eersten Luitenant en Kapitein van het Korps Marechaussee van Atjeh en Onderhoorigheden, H.J. Schmidt, van 1902 tot 1918. Maastricht, 1943, hlm. 22. Lihat juga, P.H.R. Beuming, Schetsen uit den Strijd op Groot-Atjeh, 1911, hlm. 15.
  2. IG, no. 2 (1896), hlm. 1922.
  3. A. Kruisheer, Atjeh 1896, jilid I, hlm. 20-25.
  4. Ibid., lamp. II. Kontrolir ini bernama K.W. Gisolf.
  5. Ibid.

    6. Vetter memberhentikan dengan hormat Mayor Jenderal Deijkerhoff se-

bagai gubernur. Untuk mengurus pemerintahan sipil diangkatlah Residen

K.F.H. van Langen dan sebagai komandan militer, Kolonel J.W. Stemfoort, kedua-duanya di bawah pimpinan Jenderal Vetter. Du Croo, op. cit., hlm. 23.
7. Ibid., hlm. 23.
8. Ibid.

9. A. Struyvenberg, Het Korps Marechaussee 1890-1930,1930, hlm. 35.

10. A. Doup, Gedenkboek van het Korps Marechaussee van Atjeh en Onder-

hoorigheden, ca. 1940, hlm. 93. H.T. Damste, "De Drie Atjeh-mannen:

Snouck Hurgronje-Van Heutsz-Van Daalen", KT (1937), hlm. 147.

11. Kemudian, pada 8 November 1896, Mayor Jenderal Stemfoort menye-

rahkan jabatannya kepada Kolonel C.P.J. van Vliet yang segera dinaikkan

pangkatnya menjadi mayor jenderal.

  1. A. Kruisheer, Atjeh 1896, jilid II, hlm. 42-3. T. Nyak Makam pernah menjadi panglima perang di Aceh Timur dan melakukan operasi sampai ke Sumatra Timur.
  2. A. Struyvenberg, op. cit., hlm. 36. J.J.B. Fanoy, Het Atjeh-uraagstuk en Hoe Dan Thans Nog Kan Worden Opgelost, 1908, hlm. 23. Paul van 't Veer, De Atjeh Oorlog, 1969, hlm. 232.
  3. J.C. Pabst, Overzicht van de Krijgsverrichtingen in de Pidie-Streek in 1897 en 1898, 1914, hlm. 3.
  4. G.D.E.J. Hotz, Beknopt Geschiedkundig Overzicht van den Atjeh-Oorlog, 1924, hlm. 43-4.
  5. Telegram GBA pada GJHB, 23 Januari 1897, no. 64, dalam Kab. Ge- heim, 13 April 1897, ARAS.
  6. Hotz,op. cit., hlm. 45.

  7. Ibid., hlm. 44, 46. Struyvenberg, op. cit., hlm. 37.

  8. Pabst, op. cit., hlm. 2. T.J. Veltman, "Nota over de Geschiedenis van het Landschap Pidie", TBG (1917), hlm. 146.
  9. Hotz, op. cit., hlm. 47. Veltman, op. cit., hlm. 148.
  10. Hotz, loc. cit.
  11. Pabst, op. cit., hlm. 11. Hotz, op. cit., hlm. 48-9. Juga, W.B. Oort, "Pang- lima Polem", IG. (1941), hlm. 409. KV, 1899, hlm. 11.
  12. Hotz, op. cit., hlm. 52. Pabst, op. cit., hlm. 16.
  13. J.B. van Heutzs, De Onderwerping van Atjeh, 1893. Juga, Pabst, op. cit., hlm. 1, 3. Cf. G.B. Hooyer, "Onze Buurman naast Groot-Atjeh", IG (1886), no. 2, hlm. 1880 - 1. Lihat juga, KV, 1899, hlm. 11.
  14. Doup, op. cit., hlm. 95. Damste, "Atjeh-historie", hlm. 460-1.
  15. Pabst, op. cit., hlm. 5-6.
  16. Ibid., hlm. 15-16.
  17. Ibid., hlm. 17, Hotz, op. cit., hlm. 53. Di pihak Belanda, tiga tewas dan 15 luka-luka. Ibid.
  18. Pabst, op. cit., hlm. 19.
  19. Ibid., hlm. 18.
  20. Hotz, op. cit., hlm. 53.
  21. Ibid., hlm. 54.
  22. Pabst, op. cit., hlm. 40.
  23. Hotz, op. cit., hlm. 55, 57.
  24. Ibid., hlm. 53-4.
  25. Ibid., hlm. 54.
  26. Pabst, op. cit., hlm. 36.
  27. Ibid., hlm. 48.
  28. Ketika Snouck Hurgronje turut dalam serangkaian penyerangan yang di- lakukan van Heutsz di Pidie sebagai penasihatnya, ia berada di rumah kontrolir Palmer van'den Broek dan tidak turut dalam serbuan ke Tangse bersama van Heutsz. Seorang mata-mata pihak Belanda datang untuk menjumpai kontrolir Palmer van den Broek, tetapi karena ia pergi ke Tangse, Snouck Hurgronje menemui orang itu dan berhasil mengorek rahasia, bahwa istri dan anak-anak T. Meuntroe Garot berada di Gam- pong Pante. Snouck Hurgronje kemudian mendesak komandan bivak Garot untuk menangkap mereka. Ketika ia menolak, oleh karena tidak ada perintah atasan, Snouck Hurgronje mengancam akan melaporkan hal itu kepada van Heutsz, apabila ia tidak hendak melaksanakannya. Akhirnya, sang komandan memenuhi permintaan Snouck Hurgronje untuk menyer- gap keluarga T. Meuntroe Garot. Van Heutsz tidak mempersalahkan ba- wahannya atas penangkapan itu. H.T. Damste, "Drie Atjehmannen:

Snouck Hurgronje-van Heutsz-van Daalen", KT, 1937, hlm. 643. Mohammad Said menulis bahwa dengan tindakan menjadikan sandra ke- luarga T. Meuntroe Garot, Snouck Hurgronje dapat dianggap merupakan auctor intellectualis metode sandra dan "penjahat perang kolonial", ka- lau istilah ini dapat dipergunakan. Mohammad Said, Atjeh Sepanjang Abad, 1961, hlm. 616.

  1. Hotz, op. cit., hlm. 56. T. Cut Tungkob turut bersumpah setia pada Sul- tan pada 1 April 1899 di Pidie untuk meneruskan perang sabil. Ibid., hlm.48.
  2. Doup, op. cit., hlm. 151.
  3. Hotz, op. cit., hlm. 57-8.
  4. Ibid., hlm. 58.
  5. Lihat putusan Majelis Rendah Belanda tahun sidang 1900-1, 169 no. 26, 27 dan no. 47, dalam Tractaten van Sumatra, ARA Den Haag.
  6. Pasukan van Heutsz berhasil memberi hadiah ulang tahun yang mahal pada jenderalnya, yakni menaklukkan benteng Batee Iliek itu dengan korban 5 tewas dan 27 luka-luka. J.C. Lamster, J.B. van Heutsz, 1942, hlm. 131-2. Hotz, loc. cit., Struyvenberg, op. cit., hlm. 47. Seperti per- nah disinggung di muka di benteng inilah van der Heyden cedera di mata- nya kena peluru pihak Aceh.
  7. Ibid.
  8. Hotz, op. cit., hlm. 59.
  9. Struyvenberg, op. cit., hlm. 47-8.
  10. Ibid., hlm. 50-51. Struyvenberg menamakan cara-cara penangkapan para istri dan anak-anak pejuang Aceh untuk dijadikan sandra, "metode Christoffel". Struyvenberg, op. cit., him. 104-5. Sebagaimana telah disinggung di muka Snouck Hurgronje-lah yang dapat dianggap sebagai auctor intellectualis apa yang dinamakan "metode Christoffel" tersebut di atas. Lihat hlm. 250-1.
  11. Hotz, op. cit., hlm. 60. Damste, "Atjeh-historie", hlm. 610.
  12. KV, 1903, kolom 10.
  13. Salinan surat Tuanku Muhammad Daud Syah dapat dibaca dalam missive gubernur sipil dan militer Aceh, 7 Februari 1903, no. 5/Zeer Geheim, dalam Kab. 16 Februari 1904, C4. Menarik untuk dicatat bahwa menurut
    H.T. Damste, surat kepada Gubernur Belanda itu, yang isinya senada dengan Korte Verklaring, didikte oleh asisten residen di Kutaraja. "Atjeh-historie", KT, 1916, hlm. 612.
  14. KV, 1903, kolom 11.
  15. Struyvenberg, op. cit., hlm. 51. W.B. Oort, "Panglima Polem", IG 1941), hlm. 418. T. Chik Geudong dan putranya T. Raja Meukuta dari Geudong, yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan T. Panglima Polem, turut mel dalam bulan itu juga di Lhok Seumawe. Ibid.,

  16. Surat T. Panglima Polem dan Tuanku Raja Keumala, 25 Jumadilakhir 1321 H., fotokopi koleksi F.W. Stammeshaus dalam koleksi Museum Ne- geri Aceh, Banda Aceh.

  17. HPS, Cod. Or. 8689, UBL, 1320 H. [1902], hlm. 2. HPS ini berasal dari Teungku Putroe, permaisuri Sultan Muhammad Daud Syah.
  18. HPS, Cod. Or. 8134, UBL, hlm. 22.
  19. KV, 1905,hlm.11;1906,hlm.23;1907,hlm.12.
  20. Uang ini dimintanya pada uleebalang-uleebalang. E. Gobee dan C. Adria- anse (eds.). Ambtelijke Adviezen van C. Snouck Hurgronje, 1889-1936. I, 1957, hlm. 369. Dalam surat-surat yang disita oleh Belanda di tempat ke- diaman sultan terdapat sepucuk surat dari sultan yang memberi kuasa kepada Syekh Muhammad Khalifah untuk mencari dana. MR no. 455-08, dalam V 12 Oktober 1908, T. 19.
  21. Surat Sultan Muhammad Daud kepada Teungku di Pidie, ibid.
  22. Ibid.
  23. KV, 1908, kolom 9.
  24. Ibid., kolom 10.
  25. Missive, GBA van Daalen pada GJHB, No. 131/Zeer Geheim, Kutaraja, 16 Juli 1907, MR 1218-'07. Ministerie van Binneniandse Zaken, Den Haag.
  26. Ibid.
  27. KV, 1908, kolom 10.
  28. J. Kreemer, Atjeh, I, 1922, hlm. 42.
  29. H.T. Damste, "Atjehsche Oorlogspapieren", IG, 1912, hlm. 787-8. Juga, Damste, "Atjeh-historie", KT, 1916, hlm. 617.
  30. MR, 455-08,op. cit.
  31. Ibid.
  32. Foto surat tersebut dalam Vb, 12 Okto ber 1908, T. 19.
  33. Ibid.
  34. Surat Ghouse, Kuala Lumpur, 8 Mei 1907, ibid.
  35. Gambar cap Kerajaan Aceh yang dipergunakan oleh sultan lihat dalam
    C. Snouck Hurgronje, The Achehnese, I, hlm. 129.
  36. Missive GBA kepada GJHB, 16 Juni 1908, no. 87/Geheim, V. 12 Oktober 1908- T 19.
  37. Surat Borger, 17 Juli 1905, No..347/U, rahasia, dikutip dalam missive GBA kepada GJHB, No. 87., 16 Juni 1908, ibid.
  38. Surat Ghouse pada Sultan Daud, MR 1266-08, ibid.
  39. Surat Ghouse pada GJHB, 15 Mei 1908, ibid.

  40. Wekker (pseudonym), Hoe Beschaafd Nederland in de Twintigste Eeuw Vrede en Orde Schept op Atjeh, 1907.

  41. KV, 1908, kolom 9. Ia diberhentikan dengan hormat.
  42. Hotz, op. cit., hlm. 67-8. Du Croo, op. cit., hlm. 27. Struyvenberg, op. cit., hlm. 103.
  43. Encyclopaedie van Nederlandsch Oost-Indie, jilid I, 1917, hlm. 72.
  44. Tentang berbagai aspek "politik etis" ini lihat antara lain Robert van Niel. The Emergend of Modern Indonesian Elite, Bandung/The Hague;
    W. van Hoeve, 1956.
  45. J. (pseudonym) "Sekolah Desa", Surat Kabar Sinar Atjeh, Kutaraja, 13 Februari 1908, hlm. 1.
  46. J. Kreemer, Atjeh, jilid I, hlm. 229.
  47. Kata ijtihad bermakna mempergunakan segala kesanggupan untuk me- ngeluarkan hukum syara' dari Kitabullah dan hadith Rasul. Muhd. Hasby Ash Shiddieqy, Kelengkapan Dasar-dasar Fiqih Islam, 1953, hlm. 18. Kata ijtihad bermakna bersungguh-sungguh mencari hukum ketetapan bagi suatu perkara yang belum jelas hukumnya darial-Qur'an dan hadith yang sahih.
  48. Surat tiga orang pemimpin terkemuka Aceh kepada Habib Teupih Wan dan Teungku-teungku di Tiro, 18 Rajab 1327 [5 Agustus 1909], dalam
    M.H. du Croo, De Marechaussee in Atjeh, 1943, hlm. 134. Tuanku Raja Keumala pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji pada 1906 dan kembali ke tanah air pada Maret 1909. K V, 1910, kolom 18.
  49. Yang dimaksud dengan negeri-negeri atas angin adalah negeri-negeri yang dipandang sebagai asal angin, yaitu India, Iran dan Arab; kemudian ber- arti juga benua Eropa. Lihat Kamus Umum Bahasa Indonesia, susunan
    W.J.S. Poerwadarminta, 1976, hlm. 44.
  50. Surat tiga orang pemimpin Aceh, loc. cit.
  51. Du Croo, op. cit., hlm. 134, 136.
  52. Struyvenberg, op. cit., hlm. 86-7. Sebagai sekedar contoh dikemukakan serba sedikit berikut ini. Pada 20 Desember 1903, di Kampung Baro dan Rawah, Mukim XII, Pidie, Tgk. Haji Baday, Tgk. Adam dan Tgk. Him, diculik oleh pasukan muslimin, tetapi dapat melepaskan diri ketika pasukan ini diserang oleh patroli Belanda. Uleebalang Mukim III Iboih,
    T. Bentara Blang Ranawangsa, memberitahukan pada pihak Belanda tem- pat persembunyian Pang Brahim Bungie, sehingga akhirnya Pang ini dapat dihabiskan Belanda. Pada 19 Oktober 1902, uleebalang ini beserta dua orang pengiringnya dibunuh oleh sepasukan muslimin di bawah pim- pinan Habib Basya. Pejabat imum Mukim Deah Cot, Mukim II Troeseb,
    T. Teumieng, yang menjadi penunjuk jalan pasukan Belanda ketika men- jelajahi tanah Gayo ditembak mati di rumahnya pada 16 Desember 1902 malam oleh pihak Aceh. Pada 25 Juni 1902, malam, rumah T. Bentara

Pineung di Sumboe dibakar oleh pihak muslimin. KV, 1903, hlm. 27-30. Du Croo, op. cit., hlm. 81.

  1. KV, 1904, kolom 8.
  2. Struyvenberg, op. cit., hlm. 60.
  3. Ibid., hlm. 88. Di antara pemimpin adat terkemuka yang ditewaskan Be- landa dalam pertempuran, adalah T. Lampoih U, yaitu pada pertengahan Juni 1902. Doup, op. cit., hlm. 183.
  4. KV, 1904, kolom 7.
  5. Ibid., kolom 8.
  6. Struyvenberg, op. cit., hlm. 90.
  7. KV, 1904, kolom 27.
  8. Pada 8 Desember 1903 menyerah T. Ubit Samalanga, dan empat hari kemudian menyusul pula salah seorang uleebalang di Samalanga, bernama
    T. Imum Bale. Pada 15 Desember 1903 T. Ma' Udin Meureudu bersama dua orang pengiringnya dan T. Lhon Beuracan bersama dua pengikutnya, disusul tiga hari kemudian oleh T. Itam Glumpang Tutong Beuracan dengan 20 orang pengiringnya. Pada 19 Desember dibawa pula oleh T. Ma' Udin Meureudu putera T. Ben Peukan yang masih kecil dan bersamaan dengan itu mel pula Panglima Usen dari Trienggading dan Pang Garot, keduanya panglima bawahan T. Ben Peuken, dengan enam orang pengikutnya. Struyvenberg, op. cit., hlm. 91. KV, 1904, kolom 27-9.
  9. Doup, op. cit., hlm. 179. Struyvenberg, op. cit., hlm. 91-2.
  10. Doup, op. cit., hlm. 177.
    102.KV, 1904,hlm. 35.
  11. Doup, op. cit., hlm. 177.
  12. KV, 1904, kolom 27.
  13. Ibid., kolom 28. Bersamaan dengan T. Keujruen Bugis mel pual T. Keujruen Ubit dari Blang Jeurat, Tangse serta 38 pengikutnya, Pang Usin Lancok dengan lima kawannya dan abang T. Haji Brahim Lhok Kaju bersama 23 orang pengikutnya. Ibid.
  14. Doup, op. cit., hlm. 179.
  15. Struyvenberg, op. cit., hlm. 93-4. Pasukan Tgk. Cot Cicem ini, yang sete- lah Tgk. Cot Cicem gugur, dipimpin oleh Tgk. Leman dan mendapat ju- lukan "marsose Aceh". Du Croo, op. cit., him. 135.
  16. Doup, op. cit., hlm. 177. Struyvenberg, op. cit., hlm. 94. KV, 1907, kolom 25.
  17. Penggantinya bernama Tgk, Muhammad Harun, lebih terkenal dengan nama Tgk. Aron, dapat pula ditewaskan oleh pasukan marsose dalam suatu pertempuran di Cot Mamplan pada 31 Oktober 1911. Doup, op. cit., hlm. 181. Du Croo, op. cit., hlm. 81.

  18. KV, 1909, hlm. 31.

  19. Ibid., hlm. 183. Du Croo, op. cit., hlm. 143-72. Mengenai silsilah Tgk. Chik di Tiro, lihat lampiran F.
  20. Jurnal Perang, hlm. 51. Kernpapleren, H 797/153, KITLV, Leiden.
  21. Hotz., op. cit., hlm. 63-64. Sir Frank Swettenham dalam bukunya British Malaya mengatakan sebagai berikut: "The last that has been heard of Dutch military operation in Achin was the slaughter of many hundreds of women and children, and the explanation given was that they were thrust to the front by the men, who sheltered themselves behind them, and, in any case that the women were desperate fighters as the men. If the last statement be true, it is a very significant testimony to the state of feeling of the Achinese, that their women should join to ranks and die, with their children, in hundreds, under the bullets of an enemy. It would probably be difficult to find a parallel in all Malay history", British Malaya, 1907, hlm. 109. Juga, Struyvenberg, op. cit., hlm. 54.
  22. Hotz, op. cit., hlm. 63.
  23. Struyvenberg, op. cit., hlm, 120–1.
  24. KV, 1910, kolom 23. Yang bertindak sebagai penghubung Tgk. di Barat di Gayo ini, antara lain adalah Guru Sekindol dan Pang Jongok. Ibid.
  25. KV, 1906, kolom 27.
  26. Ibid., kolom 26.
  27. Doup, op. cit., hlm. 195.
    120.Ibid., hlm. 195, 197, 201.
  28. Struyvenberg, op. cit., him. 65. Juga, Beberapa Riwayat Perang, 1934, hlm. 26. Jika di Seunagan, Aceh Barat, pertempuran dengan pedang ha- nya untuk membunuh pasukan Belanda, di Peusangan, Keureutoe, Pasai dan Gayo sambil membunuh militer Belanda, tujuannya untuk merampas senapan. Ibid.
  29. Ibid., hlm. 66-7
  30. Doup, op. cit., hlm. 203. Struyvenberg, op. cit., hlm. 73-4.
  31. KV, 1907, kolom 12. Perang Kolonial Belanda di Aceh, 1977, hlm. 149.
  32. Doup, op. cit., hlm. 199, 203.
  33. Ibid., hlm. 201, 204.
  34. KV, 1910, kolom 25. Doup, op. cit., hlm. 204, 211, Perang Kolonial Ee- landa di Aceh, him. 150.
  35. Struyvenberg, op. cit., hlm. 77, KV, 1911, hlm. 23.
  36. Struyvenberg, op. cit., hlm. 101-2, 112.
  37. KV, 1907, kolom 26-7.
  38. Ibid.

  39. Ibid., kolom 27.

  40. Ibid.
  41. Ibid., 1909, kolom 26, 28.
  42. Kreemer, Atjeh, I, hlm. 43-44.
  43. Struyvenberg, op. cit., hlm. 115. Struyvenberg melaporkan bahwa antara 1902-1913, di Aceh Utara dapat ditewaskan 3391 muslimin dan 1570 pucuk senjata api dapat disita oleh pihak Belanda. Ibid., hlm. 110. Angka ini tidak sesuai dengan jumlah yang dikumpulkan oleh Damste. Menurut residen pensiun ini, dalam tahun 1904 saja, disita oleh Belanda, 44 kara- bin, model '95, 494 senapan kokang (achterlanders), 1905 senapan lan- tak dan 71 pucuk revolver. Lihat Lampiran B. Dilihat dari segi histoire de bataille, eloklah dilakukan penghitungan kembali mengenai kerugian masing-masing pihak. Anthony Reid mencobanya dengan menggabungkan pelbagai sumber. Lihat Lampiran A.
  44. KV, 1911, hlm. 18; Doup, op. cit., hlm. 191. Perang Kolonial Belanda di Atjeh, 1938, hlm. 112-37; H.T. Damste, "de executie van Teuku Tjhi' Toenong te Lho' Seumawe in 1905", KT, 1938, hlm. 490-2.
  45. J. Jongejans, Land en Volk van Atjeh: Vreeger en Nu (ca 1939), hlm.
    346.
    139."Comme ils tombent bien"..., en is er een volk op deze aarde, dat de ondergang dezer heroieke figuren niet met diepe vereering zou schrijven in het boek zijner historie?" H.J. Zentgraaff, Atjeh, 1938, hlm. 100.

39. Salah satu keluarga opsir Belanda saat minum teh dalam salah sebuah

benteng.

  1. Pendeta Thenu, berkuda, dalam perjalanan tugasnya dikawal oleh pasu- kan marsose.

  2. Kampung Tampeng yang diduduki pasukan van Daalen pada tanggal 18 Mei 1904 dalam rangka Long March selama 163 hari ke daerah Gayo dan Tanah Alas. Korban yang jatuh di pihak orang Aceh sebanyak 166 orang di antaranya 51 orang wanita dan anak-anak.

  3. Sersan Mosselm.an, komandan brigade marsose yang menyerang pasukan Cut Meutia, hingga pejuang Aceh ini dengan pedang terhunus, gugur seba- gai kusuma bangsa pada tanggal 25 Oktober 1910.

  4. Para perwira Aceh (staf batalyon) berpose di depan jurupotret sesudah mendapat penghormatan sehubungan dengan ekspedisi Aceh kedua di bawah pimpinan Jenderal J. van Swieten (1807 - 1888).

  5. Tengku Mohammad Daud (didampingi dua orang pengawal) adalah pute- ra keluarga kerajaan. Di tahun 1874 ia dipilih sebagai pengganti sultan yang wafat. Ketika itu ia baru berusia tiga tahun.b

  6. Mesjid tua Indrapuri didirikan oleh Iskandar Muda (1607 - 1636)

  7. Kelompok perwira pada penyerahan Panglima Polim di Kutaraja (Banda Aceh) pada bulan September 1903. Sultan Daud duduk di tengah, Di sebelah kirinya: van Heutsz, Panglima Polim dan Tengku Raja Keumala. Van Daalen berada ketiga dari kiri.

  8. Mesjid Raya Kutaraja didirikan pemerintah Hindia Belanda dalam tahun 1879 sebagai lambang kedamaian. Pada 1936 diperluas dengan tambahan dua buah sayap.

VII. Penutup

Peluru yang dimuntahkan mulut meriam Belanda pada 1873 ke- tika mendaratkan pasukannya di pantai ujung barat Nusantara adalah pencetus timbulnya perlawanan rakyat Aceh. Perang melawan Belanda itu bersifat defensif, yaitu jihad untuk mempertahankan diri. Islam membenarkan umatnya berperang, apabila mereka diperangi. Dalam al-Qur'aan, surat al-Haj, ayat 39, disebutkan bahwa "diizinkan berperang kepada orang-orang yang diperangi sebab mereka dianiaya". Demikian pula dalam al-Qur'an, surat al-Baqarah, ayat 190. antara lain Tuhan berfirman: "dan peranglah pada jalan Allah terhadap orang-orang yang memerangi kamu, dan janganlah melanggar batas; sesungguhnya Tuhan tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu dapati, dan usirlah mereka dari tempat mana kamu diusirnya". Akan tetapi agresi itu menimbulkan pula ketegangan dalam masyarakat. Hal ini tercermin dalam surat-menyurat para pemimpin Aceh, seperti antara lain terlihat dalam surat Bangta Muda Tuanku Hasyim, yang menangani urusan kenegaraan, setelah Sultan Mah- mud Syah wafat pada 1874. Setelah menyerukan agar tanah Aceh dipertahankan mati-matian, Tuanku Hasyim menganjurkan agar nyawa orang Aceh yang memihak Belanda, dihabiskan saja jika bertemu.1 Situasi konflik yang mulai dirasakan ini disampaikan kepada masyarakat melalui pelbagai jalur komunikasi yang ada dalam masyarakat Aceh. Cara untuk mengatasi situasi internal itu pun ditujukan pula. Jalan yang harus ditempuh ialah bertempur melawan musuh yang telah merusak sendi-sendi agama Islam. Me- mang Aceh, adalah masyarakat yang telah menjadikan agama dan politik tak obahnya sebagai dua sisi dari sekeping mata uang lo- gam. Unsur perang sabil dipergunakan sebagai basis ideologi dan dija- dikan sebagai salah satu faktor yang menentukan dalam perlawanan terhadap Belanda. Ideologi perang sabil yang muncul sejak abad XVII dihidupkan kembali melalui Hikayat-hikayat Perang Sabil

pada pertengahan ke dua abad XIX, ketika negeri dilanda serangan "kafir". Peperangan tentu saja dapat dijalankan dengan apa pun, namun bagi para pemimpin agama, faktor manusia adalah yang ter- penting. Karena itulah mereka berusaha mendidik umat dengan berbagai cara agar memiliki motivasi yang padu dalam mengusir Belanda.2 Maka mereka pun menimba dari kitab suci al-Qur'an ni- lai dan norma yang akan dapat menimbulkan kewajiban untuk berperang di jalan Allah. Agresi Belanda, keadaan sosial masyarakat serta ketegangan yang timbul sebagai akibat agresi itu belumlah merupakan kondisi yang memadai untuk dapat mewujudkan perlawanan bersenjata itu. Kedalamnya harus ditambahkan pula faktor kemampuan me- mobilisasi rakyat untuk berperang dan menghimpun dana keperlu- an perang. Usaha mengerahkan rakyat untuk menghadapi musuh itu pada awalnya dijalankan oleh para pemimpin adat dan diterus- kan dengan lebih intensif oleh para pemimpin agama. Merekalah yang umumnya lebih faham akan isi al-Qur'ān dan hadith Nabi. Melalui khotbah dan Hikayat-hikayat Perang Sabil para pemimpin agama dapat menunjukkan dengan lebih mantap bahwa jihad adalah perbuatan mulia dan adil. Mereka, dan pemimpin agama lebih dapat mengimbau naluri akan kehidupan di dunia dan kemerdekaan serta kehidupan yang paling hakiki, yakni syorga. Tempat abadi ini sangat dekat dan dapat diperoleh dengan perjuangan, penderitaan dan pengorbanan. Para ulama berusaha agar ummat dapat dikerah- kan untuk menjàdi anggota barisan muslimin yang tinggi dedikasi- nya, hingga dalam berperang mereka kebal dari segala macam rasa takut. Para ulama sadar bahwa tanpa dukungan rakyat tidak mung- kin tujuan akan tercapai. Jika adilnya tujuan perjuangan dapat ter- pantul dalam keyakinan rakyat serta tepat pula cara-cara yang mereka tempuh untuk bertindak, maka barulah hasil dapat diharap- kan bisa terpetik. Tercapailah maksud para ulama untuk mengga- lang rakyat dalam menggunakan kekerasan berlandaskan alasan pembenaran legal dari al-Qur'an. Dalam situasi ideologis inilah para uleebalang dan pemimpin adat lainnya dimungkinkan untuk terus memimpin rakyat. Di samping adanya akumulasi berbagai kondisi yang disebutkan di atas, satu lagi perlu ditambahkan, yaitu jawaban yang diberikan oleh pemerintah dan angkatan bersenjata Belanda. Selama angkatan bersenjata Belanda tidak efektif dan efisien, maka perlawanan pihak Aceh tampak tidak semakin surut. Ke dalam faktor ini dapat

dimasukkan misalnya, kurangnya pengetahuan pihak Belanda ten- tang medan di Aceh. Setiap kelemahan yang diperlihatkan Belanda melalui kebijaksanaan yang tidak konsisten tidak dapat menun-

dukkan dan mengalahkan pihak Aceh.3 Dalam tempo 25 tahun, se-

jak Jenderal van Swieten, sebagai Komisaris Pemerintah Sipil dan Panglima Besar Militer, meninggalkan Aceh pada April 1874 sam- pai Van Heutsz menjadi gubernur sipil dan militer di Aceh (1898),

tidak kurang dari 14 orang pejabat Belanda yang diserahi meng-

urus pemerintahan di Aceh.4 Bulan Mei 1898 J.B. van Heutsz, yang kemudian mendapat ju- lukan penakluk Aceh, menjadi gubernur sipil dan militer. Ia me- mangku jabatan ini selama enam tahun. Ia cukup gigih untuk men- jalankan politik menguasai Aceh dengan kekerasan. Politik penaklukan seluruh Aceh dengan tangan besi yang dipegang teguh oleh Van Heutsz diteruskan oleh pengganti-penggantinya, yaitu Jhr. J.

C. van der Wijck, Juni 1904 — Mei 1905, G.C.E. van Daalen, Mei 1905 - Juni 1908, dan H.N.A. Swart, Juni 1908 - September
1908. Patroli-patroli marsose di bawah pimpinan Van Daalen, Go- lijn, Schmidt, Van der Maaten, Christoffel, untuk menyebutkan beberapa, dengan gigih mengejar musuh mereka ke mana saja, se- olah-olah tak ada gunung yang terasa tinggi, tidak ada hutan yang terasa lebat, dan rawa yang terasa dalam bagi mereka.5 Tekanan yang diberikan oleh pasukan-pasukan Belanda menyebabkan sul- tan menyerah dan disusul kemudian oleh Panglima Polem. Setelah Tgk. Chik di Tiro Muhammad Saman berpulang ke rahmatullah, putranya, Tgk. Muhammad Amin, yang menggantikannya tak dapat mengimbangi pengaruhnya. Setelah Tgk. M. Amin Syahid pada 1896 di Aneuk Galong, adik-adiknya yang menggantikannya, tidak pula dapat menyamai pengaruh Tgk. Chik di Tiro Muhammad Saman, atau pengaruh Syaikh Abbas ibnu Muhammad alias Tgk. Chik Kutakarang ataupun Tgk. Tapa. Namun ke semua putra Tgk. Chik di Tiro Muhammad Saman yang lima orang itu, memilih- sya- hid daripada bertekuk lutut kepada Belanda. Dengan menyerahnya sebagian besar uleebalang dan sebagian para ulama, tidak ada lagi kemampuan para pemimpin agama yang tinggal untuk memobilisa- si kekautan rakyat seperti sebelumnya. Maka pecahlah solidaritas rakyat Aceh. Setelah 1896, ketika pihak Belanda secara konsisten melakukan penaklukan dengan kekerasan senjata, tidak terombang-ambing lagi oleh pelbagai kebijaksanaan atau memperlihatkan berbagai segi

kelemahan yang tidak bersifat represif, maka Aceh akhirnya dapat dikalahkan. Apalagi pada waktu itu tidak ada satu pun kekuatan asing yang bermaksud campur tangan untuk menengahi konflik an- tara pihak Belanda dengan pihak Aceh.6 Agresi Belanda adalah faktor utama dari situasi konflik dan la- hirnya kepemimpinan para ulama dalam memobilisasi rakyat. Agresi ini juga menjadi pendorong, keadaan Aceh yang memung- kinkan munculnya kembali ideologi perang sabil. Ideologi perang sabil inilah mendorong kepemimpinan ulama dalam memobilisasi kekuatan rakyat. Efektif atau tidaknya angkatan bersenjata Belanda tidak saja berpengaruh pada ketegangan dalam masyarakat, tetapi juga pada serangan-serangan pihak Belanda serta pada kepemimpinan para ulama. Dari penjelasan di atas tampak bahwa bukanlah satu faktor saja yang merupakan kondisi yang perlu. Berbagai faktor saling jalin- menjalin, sehingga secara kumulatif membentuk kondisi yang me- ngimbau terjadinya perlawanan yang memakan waktu yang relatif lama itu. Beberapa patah kata patut rasanya ditambahkan mengenai pendapat pihak Belanda yang menganggap bahwa bukan menyerahnya sultan, melainkan Panglima Polem, yang sangat menentukan dalam apa yang dlisebut "pasifikasi Aceh" itu. Pendapat Belanda itu perlu ditinjau lagi. Pengaruh sultan adalah faktor penentu utama yang menyebabkan banyak orang Aceh tu- rut menyerah. Hal ini didasarkan pada pernyataan yang disampai- kan oleh T. Nanta, uleebalang Mukim VI kepada Laging Tobias, gu- bernur sipil Belanda di Aceh. Uleebalang ini menyatakan bahwa ia telah tua dan akan segera meninggal dunia. Ia ingin mati di Mukim VI, tempat ia lahir dan hidup. Ia ingin menyerah, tetapi ia tidak melakukannya, oleh karenaia telah bersumpah untuk tidak menyerah. Katanya, semua telah mengambil sumpah yang sama. Mereka yang menyerah, bukanlah karena kemauan mereka. Kalaupun ada yang benar-benar menginginkannya, apakah yang bisa diharapkan dari mereka yang telah mengingkari sumpah terhadap sultan? T. Nanta mengatakan bahwa ia akan berusaha membawa sultan kepada Laging Tobias dan jika sultan menyerah, barulah T. Nanta akan mengikuti langkah sultan itu.8 Selain daripada itu patut pula diperhatikan bahwa Sultan Mu- hammad Daud Syah dibuang bukan dengan tuduhan mengadakan hubungan dengan Kerajaan Jepang, tetapi karena menjadi otak

pemberontakan 1907. Dengan sikap dan tindakan Van Daalen yang tidak berani menyerahkan sultan ke sidang pengadilan, karena kha- watir akan timbulnya gejolak dalam masyarakat Aceh, maka pen- dapat C. Snouck Hurgronje yang mengatakan bahwa "Tuanku Muhammad Dawōt [sic] who had been made Sultan as a child,... was a nonentity in a political sense and was in a position neither to do the Dutch much harm... "9, dengan sendirinya dapat ditolak. Setelah kekuatan senjata Belanda dapat memporak-porandakan perlawanan timbullah perubahan pandangan tentang jihad yang di- laksanakan. Di antara para pemimpin Aceh timbul pikiran untuk mengadakan penyesuaian dengan keadaan yang berubah. Dalam hal ini dapat dilihat persamaannya dengan apa yang dikemukakan oleh Majid Khadduri, bahwa acapkali negara Islam berdamai dengan musuh dan selalu tidak menurut syarat-syarat yang dikehen- daki oleh negara Islam itu.1º Sebagai sekedar contoh dapat dilihat pada interpretasi baru yang diberikan oleh orang-orang Islam di India setelah dapat dipadamkannya pemberontakan 185711. Orang-orang Islam di India menderita karena adanya diskriminasi dalam jabatan pemerintahan dan militer terhadap mereka setelah pemberontakan itu dapat dipadamkan. Setelah mereka melihat kenyata- an bahwa kekuasaan Inggris sudah sangat menghunjam di bumi India, maka hanya kerja sama dengan Inggrislah yang merupakan satu-satunya cara untuk mengakhiri diskriminasi itu. Mereka ber- pendapat bahwa berlanjutnya kekuasaan Inggris di India akan me- lindungi mereka dari dominasi Hindu. Mereka ingin mengambil hati Inggris dengan menunjukkan bahwa mereka dapat menjadi kawula yang setia mahkota Inggris. Sayyid Ahmad Khan, tokoh intelektual terkemuka Islam, mengetengahkan interpretasi baru dengan membatasi lingkup kewajiban berjihad pada peperangan dengan alasan-alasan keagamaan. Jihad diartikan sebagai perjuangan bersenjata untuk mempertahankan ummat Islam dari penindasan agama. Ia tidak memasukkan ke dalam pengertian jihad itu perang- perang uutuk menaklukkan daerah serta perjuangan bersenjata melawan penindasan hak-hak sipil. Pemerintah Inggris tidak menindas agama Islam dan tidak menghalangi ummat Islam menjalankan kewajiban agamanya, oleh karena itu jihad melawan Inggris, menurut Sayyid Ahmad Khan, adalah tidak sah.12 Sri Paduka Tuanku Mahmud, Tuanku Raja Keumala bin Tuanku Hasyim Bangta Muda dan T. Panglima Polem Muda Perkasa me- nempuh cara yang sejalan dengan yang dianut oleh pemuka India

tersebut di atas. Seperti telah disinggung dalam Bab VI, dalam se- ruan kepada Habib Abdurrahman, Teupin Wan dan kepada teungku-teungku di Tiro, dan ulama-ulama lain yang masih terus meng- angkat senjata, ketiga pemimpin Aceh tersebut di atas menyatakan bahwa mereka melakukan ijtihād¹3. Mereka telah memandang dengan mata kepala sendiri keadaan sulit yang dihadapi negara-negara Islam. Keadaan dunia bukanlah lagi seperti dahulu ketika orang-orang Aceh berperang dengan Kompeni Belanda¹4. Mereka menyatakan pula bahwa jikalau sudah habis ikhtiar tiada kuasa lagi melawan Belanda patutlah orang Aceh taslim atau menyerah kepada Belanda, yang tidak akan mengubah dan melarang agama Islam. Taslim kepada musuh jika tak kuasa melawan, telah terjadi di negeri-negeri atas angin15, seperti misalnya di India. Orang Islam taslim ketika merasa lemah, sebab takút rusak agama dan negerinya. Setelah taslim, mereka memelihara agama sekuasanya agar tidak hilang semuanya.16 Di dalam al-Qur'ān "surah al-Anfāl" ayat 65, antara lain, Tuhan berfirman: Hai Nabi! Kobarkanlah semangat orang-orang yang beriman itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir,... Pasukan perang Islam memang tidak selamanya memiliki kekuat- an yang luar biasa. Kadang-kadang mereka dalam keadaan lemah. Dalam "surah al-Anfāl" ayat 66 sebagai lanjutan daripada ayat yang baru disebut di atas, Tuhan berfirman: Sekarang Allah memberikan keringanan kepada kamu dan Dia telah mengetahui, bahwa padamu ada kelemahan, maka jika antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang, dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu dengan izin Allah. Dan Allah itu beserta orang-orang yang sabar. Dari ayat-ayat yang baru dikutip ini para ahli ilmu hukum Islam mengambil kesimpulan, bahwa kaum Islam tidak perlu bertempur jika kurang separuh banyaknya daripada musuh.17 Menurut Majid Khadduri, sebagian ahli ilmu hukum Islam berpendapat, bahwa kata "kuat" tidak semata-mata menunjukkan banyaknya musuh,

tetapi tenaga perlawanan dan perlengkapannya. Jadi, seandainya seseorang Islam menghadapi seorang musuh yang lebih senjatanya, maka ia dibolehkan mundur.18 Dengan demikian, surat ketiga orang pemimpin Aceh itu penting dalam beberapa hal. Pertama, surat-surat tersebut memperlihatkan adanya perlawanan dalam me- nilai situasi yang sedang dihadapi Aceh di kalangan para pemimpin Aceh. Kedua, memperlihatkan anggapan tentang betapa penting- nya peranan Islam, sebagai dasar ideologis perjuangan, sehingga setiap langkah yang akan diambil haruslah secara keagamaan bisa dipertanggungjawabkan. Dan ketiga, tentu saja surat tersebut memperlihatkan pula, salah satu problim fikh dalam berhadapan dengan "kafir"atau kekuatan yang menjadi musuh. Setelah empat puluh tahun berperang, para pemimpin agama yang masih tinggal, pada umumnya sudah tidak mempunyai cukup potensi lagi untuk menghadapi persenjataan Belanda. Pemimpin-pemimpin agama ada yang duduk sebagai kali atau hakim agama dalam pemerintahan uleebalang yang mengakui kedaulatan Belanda mereka termasuk dalam struktur birokrasi pemerintah kolonial Belanda. Ke dalam golongan ini dapat dimasukkan para pemimpin agama tingkatan rendah yang bertugas mengurus hal-hal yang ber- kaitan dengan keagamaan di kampung-kampung sebagai teungku meunasah dalam struktur pemerintahan adat tadi. Di samping itu, ada di antara pemimpin agama yang menarik diri dari gerakan perlawanan terhadap Belanda, tetapi tidak turut dalam struktur pemerintahan adat yang mengakui kedaulatan Belanda. Di antara mereka ini ada yang semata-mata memberikan pelajaran agama dalam dayah-dayah. Ada pula yang masih terus melakukan perlawanan. Ke dalam kelompok kecil ini termasuk teungku-teungku yang terus menerus membakar semangat rakyat yang dapat dipengaruhi- nya dan yang masih mau mendengar mereka untuk terus mengada- kan perlawanan. Akhirnya mereka ini pun dapat disapu Belanda. Kalahlah pihak Aceh, akan tetapi semangat merdeka tetap di- miliki rakyatnya, meskipun perwujudannya melalui cara yang ber- beda. Perlawanan yang bernapaskan perang sabil terjadi juga di daerah- daerah lainnya, seperti di Jawa misalnya? Sebab itu sebuah kajian perbandingan patutlah dijalankan hingga akan dapat diperoleh gam- baran mengenai sifat perlawanan menentang kekuasaan asing di tanah air kita, tetapi sebelum studi seperti itu dapat dilakukan ten- tulah harus diselidiki dahulu satu demi satu perlawanan yang ter-

jadi. Jika saja studi ini dapat menyumbang bagi studi komparatif ter- sebut, maka sebagian dari tugasnya telah tercapai.

288.6 7|322
2291|m905b9718ba|a89b2 kb76vbiz98094 m 0oaa0920ade2 o1emas0

.8
sttaav radul μadabnie jaslugiasmam avmmalab ib daisuaamoT üdo² gnay9 10va iagaded malab Jaiver kogoa zea

8041 1ma b4k0m a5ma0 M487 9842|6|4581μ2950 -02 92. 86 726 9 89 k me ka bibmam aaimox pur hgdeqmdadabdas ka.007d.0066m008409a09916.92|4918792097≤424819 a5806. 2bba 56abummamabaa. ialab 1 20 W00 no6. m9baebiaand9009 ponss to0070001221-.89d,8626.cba88.118ae C881.88T

.6881 1ma6 81 .mo490 .602 aisada 1mgaaa|78.0m aaidoT s0|ga1 .avbaM .8
,1 bi .vb80 .8.W. aaama|1 ,mdak. ,9om buon8 .0

.0kvz-livz .mdd,8091 .1
...89 m.8801 mala 1 w03 91 m 09 bm 0W hubba42 bia .01
m79bo bor6b10 9abmo00 s4T .maipimol03 bao molal .mal91 dgfabu8 .11 1-01 .md.001,o .bid S1 -9m lm eq9y0 aa9 aasaaqm9 s0lamed ba aa. 81 vdaa bda Joa diba oab dekudat ch ssye mulad nalua

2.81 .m ,8801 mo p a2,vobb2 ed aaq mudan daedoesd asaod bedi n g0u7 imé nah an w-lo imb ayaminlod ealamuisd 0et emakoq a0e
didas maW aiqaeT dds ab6q92 do0A m8uma6t aiqmimaq gmavo aaù 2mu8 b1 maleb 01 aum ) 21 dae8 81 o ib y-u ab

Catatan

  1. Surat Tuanku Hasyim, 18 April 1874, dalam W. Frijling, "De Voor- naamste Gubeurtenissen in het Begin van de 2de Expeditie door Atjehers Beschreven", TBB (1912), hlm. 23-6.
  2. Termasuklah di dalamnya memanipulasi keindahan tubuh wanita atau sex seperti terlihat dalam berbagai Hikayat Perang Sabil.

    3. Tentang berubah-ubahnya kebijaksanaan yang ditempuh pihak Belanda,

lihat Bab III Juga, G.D.E.J. Hotz, Beknopt Geschiedkundig Overzicht van den Atjeh-Oorlog, 1924, hlm. 70-81.

  1. Mereka terdiri dari empat orang panglima militer dan sipil, dua orang gubernur sipil, enam orang gubernur sipil dan militer, seorang komisaris pemerintah dan seorang pejabat gubernur.
  2. A. Struyvenberg, Het Korps Marechaussee, 1890-1930, hlm. 59.
  3. Kerajaan Inggris yang mempunyai tanah jajahan dekat dengan Hindia Belanda mematuhi isi Traktat Sumatra, yaitu tidak saling campur tangan dalam jajahan pihak lainnya. Lihat mengenai Traktat Sumatra, dalam
    L.J.P.J. Jeekel, Het Sumatra-Tractaat, 1881, hlm. 27-8. Demikian juga negara-negara besar lainnya tidak hendak campur tangan. J.A. Hobson, Imperialism: A Study, 1948, hlm. 126.
    7.
    C. Snouck Hurgronje, "Atjeh Verslag, dalam Lampiran A. MR R 8-1892, ARAS. Juga, G.B. Hooyer, De Krijgsgeschiedenis van Nederlandsch-Indie, III, 1897, hlm. 41. M.H. du Croo, Marechaussee in Atjeh, 1943, hlm. 19.
  4. Missive, Laging Tobias no.67/sangat rahasia, Kab. Geheim, 18 Juni 1884, R 11, ARAS.
  5. C. Snouck Hurgronje, Te Achehnese, terjemahan A.W.S. O'Sullivan, Jilid I, 1906, hlm. xvii-xvii.
  6. Majid Khadduri, War and Peace in the Law of Islam, 1955, hlm. 65.
  7. Rudolph Peters, Islam and Colonialism: The Doctrine of Jihad in Modern History, 1979, hlm. 160-1.
  8. Ibid.
  9. Kata ijtihad bermakna mempergunakan segala kesanggupan untuk me- ngeluarkan hukum syara' dari Kitabulah dan hadith Rasul. Muhd. Hasby Ash Shiddieqy, Kelengkapan Dasar-dasar Fiqih Islam, 1953, him. 18. Kata Ijtihad bermakna bersungguh-sungguh mencari hukum ketetapan bagi suatu perkara yang belum jelas hukumnya dari al-Qur'an dan hadith yang sahih.
  10. Surat tiga orang pemimpin terkemuka Aceh kepada Habib Teupin Wan dan Teungku-teungku di Tiro, 18 Rajab 1327 (5 Agustus 1909), dalam

M.H. du Croo, De Marechaussee in Atjeh, 1943, hlm. 134, Teungku Raja Keumala pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah kembali ke tanah air pada Maret 1909. KV, 1910, kolom 18.
15 Yang dimaksud dengan negeri-negeri atas angin adalah negeri-negeri yang dipandang sebagai asal angin, yaitu India, Iran dan Arab; kemudian ber- arti juga benua Eropa. Lihat Kamus Umum Bahasa Indonesia, susunan

W.J.S. Poerwadarminta, 1976, hlm. 44.
16Surat tiga orang pemimpin Aceh, loc. cit. 17Khadduri, op. cit., hlm. 135. 18 Ibid. Khadduri selanjutnya menyebutkan, bahwa Abu Hanifa mengata- kan, bahwa kaum Islam hanya boleh mundur, jika dalam pertempuran sudah diketahuinya tenaga musuh dan yakin tidak mungkin menang. Para ahli ilmu hukum aliran Maliki mengizinkan kaum Islam mundur, jika akan tewas dalam pertempuran itu; tetapi jika mereka merasa bahwa dengan mundur dari pertempuran jiwanya tidak akan tertolong jua, maka mereka harus bertempur hingga pertempuran itu berakhir. Ibn Hambali berpendapat, bahwa kaum Islam boleh mundur, jika musuh dua kali lebih kuat daripada tentara Islam. Menurut Ibn Hudhail kaum Islam diboleh- kan mundur, jika mengalami kesukaran-kesukaran besar, seperti sangat haus dan lapar, sehingga tiada dapat bertempur lebih lama lagi. Khadduri, ibid., hlm. 135-6. Cf. Rudolph Peters, op. cit., hlm. 25. 19 Lihat Sartono Kartodirdjo, "Responses to Dutch Intrusions in Java: Myths and Realities", paper dalam Simposium on Southeast Asian Responses to European Intrusions, 27-29 January, 1981, hlm. 12-14. Me- ngenai studi perbandingan berbagai perlawanan yang berideologi perang sabil yang terjadi di Jawa dalam abad XIX, lihat Sartono Kartodirdjo, Protest Movements in Rural Java, 1973.

INDONESIA DALAM ABAD KE-XIX SAMPAI 1910 (III)

Wahwieh 3

Peu Daja 1900 1898-903

1899-1901Gajo Deureut 1903-04 merlasot Gojo Lueus Langk 1904-07

1865

1862/Serdang 1862-65

1.1865
AAA 0

8 Sumber : Muhammad YaminAngkola SIAK Atlas Sedjarah 1857 Jakarta : Djambatan, 1956, him. 22.

ACEHBESAR&PIDIE KUA ACEHSKALA 1:5000 000

D selat

Ujong Pidie

Malaka

a SIGL1 n Kusla NJoNG 1

aTeupin Raya

U

AMALLNGA

PEUGAN

HMEUUDU

n a Sumber:

J.C.Pabst, OverzichtvanaeKriigsverrichtingeninde Pidie=streekin1897en_1898. Breda,1924, Lampiran VII.

PETA ACEH BESAR (TANPA DAERAH HULU XXII MUKIM)

D

XIII MUKIM TUNGKOP

XIII MUKIM ULÉÊ KARÉNG

VIMUKIM

IX MUKIM
IV MUKIM

VII MUKIM

VM XXV1 MukienINDRA

(BA'ET)

Xili Mukim Tangköp PURI op(L)

M.

GAMBAR JARINGAN POS-POS

BELANDA

(1873 - 1896)

D

Kr Gloempang

KETERANGAN

Posiai Yan Swieten,Apri 1874

Posisi Pel, April 1875 Stelsel pos.April 1876 Lini pembendung Pel yang taloh diselesoian.Apri Posisi van der Heijden. awal 1880 Lini konsentrasi, Januari 1888 Posisi Deykerhoff Benteng dalam lini konsentrasi

Bentang sementara dari apa yang

dinamakan " Lini luar

Sumbec:G.D.E.J.Hotz.Beknopt Geschiedkundig Overzicht van de Atjeh-Oorlog.1924

209-Kepustakaan

(E)
A.Sumber-sumber Manuskrip
1. Algemeen Rijksarchief, 's-Gravenhage: Tractaten van Sumatra, 1800-1900.
2. Hulp-depot van het Algemeen Rijksarchief, Schaarsbergen, Amhem: Geheim-/kabinetsverbalen, 1872-1900. Mail Rapporten (MR), 1872-1900. Oost-Indische Besluiten (OIB), 1872-1900. Politieke Verslagen en Journalen over Atjeh (PV). Surat-surat masuk pada Ministerie van Kolonieen (Exh.) 1872-

1900.

  1. Ministerie van Binnenlandse Zaken, 's-Gravenhage Mail Rapportén (MR), 1901-1939. Verbalen, Ministerie van Kolonieen, 1901-1913.
  2. Kumpulan surat, tulisan dan laporan Colijn, H. Kumpulan surat-surat, tulisan-tulisan dan laporan dalam koleksi Dr. Abraham Kuyper Stichting 's-Gravenhage. Ibrahim bin Teungku (Tgk.) Syaikh Marhaban, Teungku. Surat-surat pribadi kepada Dr. C. Snouck Hurgronje dalam koleksi Oostersch-Instituut Leiden. Jaspers, J.H.B. Beknopte Beschrijving van de Onderafdeeling "Lho' Seumawe", Arsip Teuki Chik Abdullatif, uleeba- lang Geudong, Samudra-Pasai, Aceh Utara. Kern, H. MS H 797, di Koninklijk Instituut voor Taal-, Land en Volkenkunde, Leiden. Keuchenius, L.W. Ch. MS K 68/F 3 di Koninklijk Bibliotheek, 's-Gravenhage.

Langen, K.F.H. van. Surat-surat pribadi kepada Dr. C.Snouck Hurgronje dalam koleksi Oostersch-Instituut, Leiden. Tiro, Tgk. Chik Muhammad Amin di, et. al., Surat-surat dalam koleksi Dr. C. Snouck Hurgronje di Oostersch-Instituut, Leiden. Tiro, Tgk. Chik Muhammad Saman di. Surat-surat kepada hulubalang-hulubalang dan pejabat Belanda, Universiteits bibliotheek, Leiden, Cod. Or. 7321.

  1. Kitab-kitab dan Hikayat-hikayat mengenai Perang Sabil. Abdulkarim, Hikayat Prang Gompeuni. Atjeh: tanpa tahun. Universiteitsbibliotheek Leiden (UBL), Cod. Or. 8728 a.
    . Hikayat Prang Sabil. Atjeh: 1893. UBL, Cod. Or.

8146.
Hikayat Prang Geudong. Atjeh: tanpa tahun. UBL, Cod. Or. 8683 b. Hikayat Prang Sabil. Atjeh: tanpa tahun. Delapan belas MSS. UBL, Cod. Or. 6746; 8134; 8122; 8145; 8150; 8667; 8682 a; 8682 b; 8682 f; 8688;8689;8693; 8696; 8702; 8706; 8707 a; 8925. Ibn Mahmud, Ahmad. Hikayat Prang Sabil. Cot Paleue, Aceh:

  1. UBL, Cod. Or. 8035.. Hikayat Prang di Sigli. Cot Paleue, Aceh: 1878. UBL, Cod. Or. 8926.
    Ibn Muhammad, 'Abas [Teungku Chik Kutakarang]. Maw'- idhat al-Ikhwan. Atjeh: 1304 H [1886 M]. UBL, Cod. Or. 8037 A. Tadhkirat ar-Rākidin. Atjeh: 1307 H [1889 M/. Cod. Or. 8037 b; dan Cod. Or. 8038 [versi lebih pan- jang], 1308 H [1890 M].

B. Sumber Resmi Belanda yang Telah Diterbitkan: Koloniale Verslagen, 1873-1913. Officieele Bescheiden betreffende het Ontstaan van den Oorlog tegen Atjeh in 1873. Algemeene Landsdrukkerij: 1881.

Oorlog met Atjeh. Verslag van het Verhandelingen der Tweede Kamer in Comite-Generaal van 16, 17, 18 en 19 April

  1. Algemeene Landsdrukkerij: [1881].
    C. Buku-buku
  2. Khusus tentang Aceh

    A. Hasymy, Hikayat Prang Sabil menjiwai Perang Melawan

Belanda. Banda Aceh: Pustaka al-Farabi, 1977. Amien (pseudon.). De Deserteur. Hardewijk: I. Wedding,

1887.
A. Mukti Ali. An Introduction to the Government of Acheh's Sultanate. Yogyakarta: Yayasan Nida, 1970. Anderson, J. Acheen, and the Ports on the North and East Coasts of Sumatra. London: 1840. Anon, Beschrijving van den Kraton van Groot-Atjeh, Batavia: Landsdrukkerij, 1874. Banck, J.E. Atchin's Verheffing en Val. Rotterdam: Nijgh & van Ditmar, 1873.08 Brau de Saint-Pol Lias, X. Onder de Atjehers. Haarlem: De Erven F. Bohn, 1885. Bradley, W. The Wreck of the Nisero and Our Captives in Sumatra. London: Sampson Low, Marston, Searle & Rivingston, 1884. Brooshooft, P. Geschiedenis van ,den Atjeh-Oorlog, 1873-
1886. Utrecht: P.B. van Ditmar, 1886. Brouwer, W. Karel van der Heijden. Amsterdam: L.J. Veen, 8881900. Bruinsma, J.F.D. De Verovering van Atjeh's Groote Missigit. Sneek: H. Pyttersen Tz. 1889. Carmejole, P.J. Atjeh. Groningèn: J.B. Wolters, 1931. Cool, W. en G.B. Hooyer. Eene Schoone Bladzijde uit Atjeh's Geschiedenis. 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1889. Coolhaas, W. Ph. De Nisero-kwestie, Professor Harting en Gladstone. (Bijdragen en Mededelingen van het Histo- risch Genootschap). Groningen: J.B. Wolters, 1964.

Croo, M.H. du. Marechaussee in Atjeh. Hereinneringen en Er- varingen van den Eersten Luitenant en Kapitein van het Korps Marechaussee van Atjeh en Onderhoorigheden

H.J. Schmidt, van 1902 tot 1918. Maastricht: Leiter Ny- pels, 1943.
Doup, A. Gedenkboek van het Korps Maréchaussee van Atjeh en Onderhoorigheden. Medan: tanpa nama penerbit, ca.

1942.
Drewes. G.W.J. dan P. Voorhoeve (eds.). Adat Atjeh. 's-Gravenhage: Koninklijk Instituut voor Taal-Land en Vol- kenkunde, 1958. Fransen van de Putte, I.D. Atjeh: Parlementaire Redevoering- en. Schiedam: H.A.M. Roelants, 1886. De Geconcentreerde Stelling in Groot Atjeh. 's-Gravenhage: De Gebroeders van Cleef, 1885. Gerlach, A.J.A. Atjin en de Atjinezen. Overdruk uit "de Tijd-Teede spiegel". Arnhem: D.A. Thieme, 1873. Eigen Haard (directie en redactie). Atjeh 1896). Amsterdam: Eigen Haard, 1896. Fanoy, J.J.B. Het Atjeh-vraagstuk en Hoe Dan Thans Nog Kan Worden Opgelost. Semarang: Masman & Stroink,

1908.

Gobée, E. dan C. Adriaanse (eds). Ambtelijke Adviezen van

C. Snouck Hurgronje, 1889-1936. Jilid I. 's-Gravenhage:

Rijksgeschiedkundige Publicatieen v/d Departement van Onderwijs, Kunsten en Wetenschappen, 1957. Serie: 35. Heutsz, J.B. van. De Onderwerping van Atjeh. 's-Gravenhage: De Gebroeders van Cleef, 1893. Heijden, K. van der. Memorie van den Luitenant-Generaal K. van der Heijden van het Voorgevallene op 18 November 1881 in de Tweede Kamer der Staten Generaal. 's-Gravenhage: Henri J. Stemberg, 1882. Hooyer, G.B. De Krijgsgeschiedenis van Nederlandsch Indie van 1811 tot 1894. Jilid III. Den Haag: De Gebroeders van Cleef, 1897.

Hotz, G.D.E.J. Beknopt Geschiedkundig Overzicht van den Atjeh-Oorlog. Breda: De Koninklijke Militaire Acade- mie, 1924. Iskandar, Teuku. De Hikayat Atjeh. 's-Gravenhage: Konin- klijk Instituut voor Taal-, Land en Volkenkunde, 1958. Jacobs, J. Het Familie- en Kampongleven op Groot-Atjeh. Dua jilid. Leiden: E.J. Brill, 1894. Jakub, Ismail. Teungku Tjhik di Tiro (Muhammad Saman) Pahlawan Besar dalam Perang Atjeh (1881-1891). Dja- karta: Bulan Bintang, 1960. Tjetakan III. Jongejans, J. Land en Volk van Atjeh: Vroeger en Nu. Baarn: Hollandia Drukkerij, 1939. Kielstra, E.B. Beschrijving van den Atjeh-Oorlog. Tiga jilid. 's-Gravenhage: De Gebroeders van Cleef, 1885. Klerck, E.S. de. De Atjeh-oorlog. Het Ontstaan van den Oorlog. Jilid I. 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1912. Kreemer, J. Atjeh. Dua jilid. Leiden: E.J. Brill, 1922-3. Kruijt, J.A. Atjeh en de Atjehers. Leiden: Gualth Kolff, 1877. De Atjeh Oorlog: Kort Overzicht van Oorsprong, Verloop en Gevolg. 's-Gravenhage: Loman & Funke,

1896.
Kruisheer, A. Atjeh 1896. Dua jilid. Weltevreden: N.V. Boek- handel Visser, 1913. Laging Tobias, P.F. Phrasen en Feiten. Amsterdam: J.H. de Bussy, 1886. Lamster, J.C. J.B. van Heutsz. Amsterdam: P.N. van Kampen & Zoon, 1942. Langen, K.F.H. van. Beknopt Alphabetisch Informatieboekje betreffende Groot-Atjehsche Personen en Aangelegenhe- den. Koetaradja: tanpa nama penerbit, 1897. Langhout, J. Vijftig Jaren Economische Staatkunde in Atjeh, Geschreven naar Aanleiding van de Herinneringsdata 26 Maart 1873 - 26 Maart 1923. Den Haag, 1924. Maaten, K. van der. Snouck Hurgronje en de Atjeh Oorlog. Dua jilid. Leiden: Oostersch Instituut, 1948.

De Indische Oorlogen. Dua jilid. Haarlem: De Er- ebvenloosjes, 1896. Memorie van der Luitenant-Generaal K. van der Heyden van het Voorgevallene, op 18 November 1881 in de Tweede Kamer der Staten-Generaal. 's-Gravenhage: Henri J. Stembey, 1882. Menthon Bake, R.W.J.C. de. Brieven aan den Minister van Buitenlandsche Zaken the 's-Gravenhage over Djeddah en Atchin. Gronin Menthon Bake, R.W.J.C. de. Brieven aan den Minister van Buitenlandsche Zaken the 's-Gravenhage over Djeddah en Atchin. Groningen: tanpa nama penerbit, 1873. Mohammad Said, Atjeh Sepandjang Abad. Medan: terbitan sendiri, 1961. Naarding, J.W. Het Conflict Snouck Hurgronje — Van Heutsz Van Daalen.: Een onderzoek naar de Verantwoorde- lijkheid. Utrecht: A. Oosthoek's Uitgevers-Maatschappij,

1938.
Pabst, J.C. Overzicht van de Krijgsverrichtingen in de Pidië- streek in 1897 en 1898. Breda: De Koninklijke Militaire Academie, 1924. Overzicht van de Krijgsverrichtingen in Groot-Atjeh van 1873 tot 1899. Bewerkt door A.A.A.G. Feuil- leton de Bruijn. Breda: De Koninklijke Militaire Academie, 1924. Pante Kulu, Tengku. Hikajat Perang Sabil di Atjeh. Terdje- mahan dari bahasa Atjeh oleh Dada Meuraxa dan Nurdin Jahja. Djakarta: Balai Pustaka, 1958. Philips, W.J. Penjoeratan Pekerdjaan Perang di Negeri Atjeh. Semarang: tanpa nama penerbit, 1889. Piekaar, A.J. Atjeh en de Oorlog met Japan. 's-Gravenhage-Bandung: W. van Hoeve, 1949. Pruys van der Hoeven, A. Mijne Ervaring op Atjeh. 's-Gravenhage: Gebr. Belifante, 1886. Piepers, M.C. Beschouwingen over de Atjeh-ziekte en Hare Genezing. Amsterdam: S.L. van Looy, 1896.

Het Rapport Rost van Tonningen: Verslag betreffende het Onderzoek naar het Militair Beleid in Atjeh en Onder- hoorigheden. Cetakan dari Bataviaasch Nieuwsblad 7 - 20 Augustus 1908. Reid, Anthony. The Contest for North Sumatra: Acheh, the Netherlands and Britain 1858-1898. Kuala Lumpur/Si- ngapore: Oxford University Press, 1969. Rochemont, J.J. de. Loudon en Atsjin. Batavia: Ernst & Co.,

  1. Onze Vestiging in het Rijk van Atsjin. Haarlem:

    H.M. van Dorp, 1876.

Een Valsche Brutus. Batavia: Ernst & Co., 1875. Wat Hebben Partijschappen van Onzen Atsjin-Oorlog Gemaakt? Haarlem: H.M. van Dorp, 1876.

Schoemaker, J.P. Schetsen uit den Atjeh-oorlog. 's-Graven- hage: W.P. van Stockum & Zoon, 1888. Siegel, James. Shadow and Sound: The Historical Thought of a Sumatran People. Chicago & London: The University of Chicago Press, 1979. The Rope of God. Berkeley and Los Angeles: University of California Press, 1969. Snouck Hurgronje, C. The Achehnese. Dua jilid. Terjemahan

A.W.S. O'Sullivan. Leiden: E.J. Brill, 1906.. De Atjehers. Dua jilid. Batavia: Landsdrukkerij, 1893-4.
Somer, J.M. De Korte Verklaring. Breda: Corona, 1934. Struyvenberg, A. Het Korps Maréchaussée, 1890-1930. Kuta- radja: tanpa nama penerbit, 1930. Swieten, J. van. Open Brief van Generaal J. van Swieten aan Generaal P.G. Boom. Rotterdam: Nijgh & van Ditmar,

1879.. De Waarheid over Onze Vestiging in Atjeh. Zalt-Bommel: Joh. Noman & Zoon, 1879.
Szekely-Lulofs, M.H. Tjoet Nja' Din: De Geschiedenis van

een Atjehsche Vorstin. Amsterdam: Mossault's Uitgeve- rij, 1948. Terbeest, G.J.B.H. Atjeh-Herinneringen. Pleidooi voor Oud- strijders van het Nederlandsch-Indische Leger van voor

  1. Den Haag: W.P. van Stockum & Zoon, 1933.
    Veth, P.J. Atchin en Zijne Betrekkingen tot Nederland. To- pografisch-historische Beschrijving. Leiden: Gualth Kolff, 1873. Wap, Het Gezantschap van den Sultan van Achin Ao. 1602 aan Prins Maurits van Nassau en de Oud-Nederlandsche Republiek. Rotterdam: H. Nijgh, 1862. Wekker (pseudon.). Hoe Beschaafd Nederland in de Twin- tigste Eeuw Vrede en Orde Schept op Atjeh. 's-Gravenhage: Avondpostdrukkerij, 1907. Wijck, H.C. van der. De Nisero-zaak. 's-Gravenhage: J. & H. van Langenhuysen, 1884. Woltring, J. (ed.). Bescheiden betreffende de Buitenlandsche Politiek van Nederland, 1884-1919, jilid I, 's-Gravenhage, 1962. Zentgraaff, H.C. Atjeh. Batavia: tanpa nama penerbit, 1938.

  2. Bersifat Umum Abduh. Djihad. Bandung: Penerbit Pelajar, 1968. Abu Abdullah Muhammad bin Yazid al-Qazmaini Ibnu Majah. Sunan Ibnu Majah. Anotasi, Muhammad Fuad 'Abd al-Baqi. Jilid II. Mesir: Maktabah Isa al-Babi al-Halabi, tanpa tahun. Abu Ali Muhammad Abd al-Rahman bin Abd al-Rahim. Tuhfat al-Ahwadhi. Jilid IX. Madinah al-Munawwarah: al-'Iktimad, tanpa tahun terbit. Abu Isa Muhammad bin Isa al-Tarmizi. Al-Jāmi' Sahih. Jilid
    V. Madinah al-Munawwarah: al-Iktimad, tanpa tahun terbit.
    Benda, Harry J. The Crescent and the Rising Sun: Indonesian Islam under the Japanese Occupation, 1942-1945. Den Haag-Bandung: W. van Hoeve, 1957.

Berkhofer, Jr., Robert F. A Behavioral Approach to Historical Analysis. New York: The Free Press, 1969. bBreton de Nijs, E. [R. Nieuwenhuys]. Tempo Doeloe: Foto- grafische Documenten uit het Oude Indië 1870-1914. Amsterdam: E.M. Quirido, 1961. Brothers, Joan (ed.). Readings in the Sociology of Religion. dieud Oxford & London: Pergamon Press, 1967. Danto, Arthur C. Analytical Philosophy of History. London: The Syndics of the Cambridge University Press, 1965. Dovring, Folke. History as a Social Science: An Essay on the Nature and Purpose of Historical Studies. The Hague: Martinus Nijhoff, 1960. Drewes, G.W.J. 'Indonesia: Mysticism and Activism" dalam

G.E. von Grunebaum (ed.), Unity and Variety in Muslim Civilization. Chicago: University of Chicago Press, 1955. Directions for Travellers on the Mystic Path. The Hague: Martinus Nijhoff, 1977.

E.H. Bahruddin. Perang Partisan. Bandung: Jajasan Pustaka

Militer, 1954. Eisenstadt, S.N. The Political Systems of Empires. London: The Free Press of Glencoe, 1963. Finberg, H.P.R. and V.H.T. Skipp. Local History: Objective and Pursuit. Newton Abbot: David & Charles, 1973. Friedlander, Shems abd Shaikh Muzaffereddin. Ninetynine Names of Allah. Singapore: Graham Brash, 1980. Gent, L.F. van. Nederland-Menado (1896-1921). Batavia: Balai Poestaka. 1923. Gottschalk, Louis. (ed.). Generalization in the Writing of History. Chicago & London: The University of Chicago Press, 1963. et al. The Use of Personal Document in History, Anthropology and Sociology. New York: Social Science Research Council, 1945. Gould, James W. Americans in Sumatra. The Hague: Martinus Nijhoff, 1961.

NDU Grunebaum, Gustave E. von. Islam: Essays in the Nature and Growth of a Cultural Tradition. London: Routledge & Kegan Paul, 1961. Medieval Islam: A Study in Cultural Orientation. Chicago, Ill.: The University of Chicago Press, 1953.

H. Abubakar Atjeh. Sji'ah: Rasionalisme dalam Islam. Sema- rang: C.V. Ramadhani, 1972. Heberle, Rudolf. Social Movements: An Introduction to Poli- tical Sociology. New York: Appleton-Century-Crofts,
1951.
Hobsbawm, E.J. Primitive Rebels: Studies in Archaic Forms of Social Movement in the 19th and 20th Centuries. Manchester University Press, 1959. Hobson, J.A. Imperialism: A Study. London: George Allen & Unwin, 1948. Hockett, Homer Carey. The Critical Method in Historical Re- searchand Writing. New York: The Macmillan Company,

1963.
Hossein Khalid Bahreisj. 101 Mutiara Doa dan Dzikir. Jakarta dan Surabaya: Bina Ilmu, 1978. Jansen, G.H. Militant Islam. London and Sydney: Pan Books,

1980.
Ipnol Jordan, Philip D. The Nature and Practice of State and Local History. Washington, D.C.: Service Conter for Teachers of History, 1958. Juynboll, Th. W. Handleiding tot de Kennis van de Muham- medaansche Wet. Leiden: E.J. Brill, 1925. Keller, Suzanne. Beyond the Ruling Class: Strategic Elites in du Modern Society. New York: Random House, 1963. Kent, Sherman. Writing History. New York: Appleton-Century Crofts, 1967. Khadduri, Majid. War and Peace in the Law of Islam. Balti- more: The Johns Hopkins Press, 1960.

K.H. Siradjuddin Abbas. I'tiqad Ahlussunnah wal-Jama'ah. Jakarta: Pustaka Tarbiyah, 1980.

Kol, H. van. Nederlandsch-Indië in de Staten-Generaal van 1897 tot 1909. 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1911. Kolb, Eugene J. A Framework for Political Ana'ysis. Engle- wood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall, 1978. Lanternari, Vittorio. The Religions of the Opressed: A Study of Modern Messianic Cults. Trans. by Lisa Sergio. New York: The New American Library, 1965. Malik, Arjan Dass. An Indian Guerilla War. New Delhi: Wiley Eastern Ltd., 1975.

M. Arsyad Thalib Lubis. Imam Mahdi. Medan: Firma Islamyah,1961. Maulana Muhammad 'Ali. The Religion of Islām. Dicetak di Mesir, tanpa nama Kota, nama Penerbit dan tahun terbit. Meehan, Eugene J. The Theory and Method of Political Ana- lysis. Homewood, Ill.: The Dorsey Press, 1967. Mehden, Fred. R. von der. Religion and Nationalism in South- east Asia: Burma, Indonesia, The Philippines. Madison, Milwaukee and London: The University of Wisconsin Press, 1968. Memahami Hikayat dalam Sastra Indonesia, Laporan Pene- litian oleh Fakultas Sastera dan Kebudayaan, UGM,
1978.
Muhammad Abu Zahrah. Hubungan-hubungan Internasional dalam Islam. Terjemahan Muhammad Zein Hassan. Ja- karta: Bulan Bintang, 1973. Muhd. Hasbi Ash-Shiddieqy. Kelengkapan Dasar-dasar Fiqih Islam. Medan: Islamyah, 1953.

M. Yunan Nasution. Djihad. Djakarta: Publicita, 1970. Nevins, Allan. The Gateway to History. New York: Double- day & Company, 1962. Niel, Robert Van. The Emergence of the Modern Indonesian Elite. The Hague-Bandung: W. Van Hoeve, 1960. Nieuwenhuijze, C.A.O. Samsu 'l-din van Pasai: Bijdrage tot de Kennis der Sumatraansche Mystiek. Leiden: Acad, Proefschrift, 1945.

Aspect of Islam in Post-colonial Indonesia. The Hague-Bandung: W. van Hoeve, 1958. Obbink, H. Th. De Heilige Oorlog volgens de Koran. Leiden:

E.J. Brill, 1901.
Pederson, Johannes. The Scientific Work of Snouck Hurgron- je. Leiden: E.J. Brill, 1957. Peters, Rudolph. Islam and Colonialism: The Doctrine of Ji- had in Modern History. Den Haag: Mouton, 1979. Pollard, A.F. Factors in Modern History. London: Constable & Company, 1953. Pot, J.H.J. van der. De Periodisering der Geschiedenis. 's-Gravenhage: W.P. van Stockum, 1951. Redfield, R. Peasant Society and Culture. Chicago: University of Chicago Press, 1956. Rinkes, D.A. Abdoerraoef van Singkel. Bijdrage tot de Kennis van de Mystiek op Java en Sumatra. Heerenveen: Acad. Proofschrift, 1909. Sarkesian, Sam C. (ed.). Revolutionary Guerilla Warfare. Chicago: Precedings Publishing Inc., 1975. Sartono Kartodirdjo. Beberapa Masalah Teori dan Metodologi Sedjarah Indonesia. Lembaran Sedjarah no. 6, Desember

  1. Yogyakarta: Seksi Penelitian Djurusan Sedjarah Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada. The Peasants' Revolt of Banten in 1888: its Con- ditions, Course and Sequel. A Case Study of Social Movements in Indonesia. 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff,
  2. Pergerakan Sosial dalam Sejarah Indonesia. Pida- to Dies Natalis ke 18 Universitas Gadjah Mada, 19 Desember 1967. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada,
  3. Protest Movements in Rural Java. Singapore/Kua- la Lumpur/Jakarta: Oxford University Press/P.T. Indira,
    1973.

Tjatatan tentang Segi-segi Messianistis dalam Se- djarah Indonesia. Jogjakarta: Universitas Gadjah Mada,

1959.
Smelser, Neil J. Theory of Collective Behavior. London: Routledge & Kegan Paul, 1962. Smith, Wilfred C. Modern Islam in India: A Social Analysis. Lahore: Sh. Muhammad Ashraf, 1963. Snouck Hurgronje, C. Mekka in the Latter Part of the 19th Century: Daily Life, Customs and Learning. The Mos- lems of the East-Indian Archipelago. Leiden-London:

E.J. Brill, 1931.
Social Science Research Council. The Social Science in Historical Study: A Report of the Committee on Historiography. New York: 1954. Bulletin no. 64. Theory and Practice in Historical Study: A Report of the Committee on Historiography. Bulletin no.

  1. New York: 1946.
    Soedjatmoko and Muhammad Ali (eds.). An Introduction to Indonesian Historiography. Ithaca, N.Y.: Cornell University Press, 1965. Soedjito Sosrodihardjo. Nilai-nilai Sosial dan Perubahan Struktur Masjarakat. Yogyakarta: Fakultas Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada, 1971. Sulastin Sutrisno. Hikayat Hang Tuah; Analisa Struktur dan Fungsi. Disertasi, UGM, 1979. Tan Malaka. Gerpolek: Gerilja, Politik, Ekonomi. Surabaja, tanpa tahun. Taufik Abdullah. (ed.). Sejarah Lokal di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1979. Tuberville, A.S. Medieval Heresy and the Inquisition. London: Crossby Lockwood & Son, 1920. Turner, Bryan S. Weber and Islam; A Critical Study. London and Boston: Routledge & Kegan Paul, 1974. Voorhoeve, P. Twee Maleise Geschriften van Nuru'ddin ar-Raniri. Leiden: E.J. Brill, 1955.

Wach, Joachim. Sociology of Religion. Chicago: The University of Chicago Press, 1962. Weber, Max. The Sociology of Religion. Translated by Eph- raim Fischoff. Boston: Beacon Press, 1956. The Theory of Social and Economic Organiza- tion. Edited with an Introduction by Talcott Parson. New York: The Free Press, 1947. Wertheim, W.F. East-West Parallels; Sociological Approach to Modern Asia. The Hague: W Van Hoeve, 1964. Wilkinson, Paul. Social Movement. London and Basingstoke: Macmillan, 1971. Woelders, M.O. Het Sultanaat Palembang 1811-1825. 's-Gra- venhage: Martinus Nijhoff, 1975. Yinger, J. Milton. The Scientific Study of Religion. London: Macmillan, 1971. Religion in the Struggle for Power. Durham North Carolina: Duke University Press, 1946. (ed.). Religion, Society and the Individual. New York: Macmillan, 1957.. (ed). Sociology Looks at Religion. New York: Macmillan, 1963.

D. Artikel-artikel
1. Tentang Aceh Alexander, "Korte Levensschets van den Arabier Habib Ab- doe'r Rahman Alzahir, naar Zijne Eigene Opgaven Saam- gesteld," IG no. 2 (1880), hlm. 1008-1020. Anon., "Naar Aanleiding van de Benoeming van Generaal Rooseboom tot Gouverneur Generaal," TNI, no. 1 (1899), hlm. 401-406. Anon., "Het Afloopen der Raja Kongsie Atjeh," TNI, no. 2 (1893), hlm. 220-223. Anon., "Atjeh", TNI, no. 2 (1893), hlm. 224-227.

Anon., "Atjeh en het Stelsel van Van Heutsz," IG, no. 2 (1896), hlm. 1481-1537.9 Anon., "De Atjeh-paragraaf in de Troonrede," TNI, no. 2 (1899), hlm. 627-639. Anon., "De Guerilla in Atjeh," TNI, no. (1893), hlm. 279-

313.
Anon., "De Handel in Atjeh," TNI, no. (1875), hlm. 405- of sonoia412. Anon., "Licht over Atjeh," TNI, no. 2 (1877), hlm. 46-70. Anon., "Martelaren-dood in Atjeh," IG, no. 1 (1935), hlm. 281-283. Anon., "Mededelingen betreffende het Optreden van Nya Ma- kam in het Noordoostelijk Gedeelte der Residentie Oost- kust van Sumatra," TNI, no. 2 (1893), hlm. 91-110. Anon., "Minister Pierson over den Toestand in Atjeh," TNI, o(1899), hlm. 640-646. si Anon., "Scheepvaartregeling Atjeh," TNI, no. 2 (1893), hlm. 81-90. Anon., "De tocht naar Gedoeng: een Episode uit den Atjeh-Oorlog," TNI, no. 2 (1879), hlm. 95-110. Anon., "Uit Atjeh," TNI, no. 1 (1875), hlm. 325-336. Anon., "Varia," TNI, no. 2 (1893), hlm. 391-3. Assen, E. van, "Atjehsche Veroordeeling," IG, no. 2 (1908), hlm. 1355-58. "Een Bijdrage tot de Oplossing van het Atjeh- vraagstuk," IG, no. 2 (1908), hlm. 1165-1170. Banninck, J.C.A. "De Verovering en Pacificatie van Atjeh, Vergeleken met de Geschiedenis van Britsch Birma," IG, no. 1 (1913), hlm., 145-75; 285-322. Beamer, Charles R. "The Achehnese-Dutch War and Its Ef- fect on the Achehnese People: Their Land, Customs and Institutions," Indonesian Conference on Modern His- tory, July 18-19, 1975. Madison: Center for Southeast Asian Studies, Univ. of Wisconsin, 1975.

Berg, L.W.C. van den. "Een Bevelschrift van den Sultan van Atjeh," TBG, (1876), hlm. 113-125. Blok, E., "Sjair Prang Atjeh, naar een te Singapoera(?) Geli- thographeerden Maleischen Tekst, in het Hollandsch Vertaald," TBG, (1885), hlm. 568-95. Brandhof, J.L.M. van den. "Klewangaanvallen op Atjeh's Westkust in 1902," IG, no. 2 (1939), hlm. 867-897; 972-91. Brin, de. "Atjeh en Tunis," IMT, no. 2 (1883), hlm. 127-135; 227-36;318-26.

Damsté, H.T. "Atjeh-historie," KT, no. 1 (Maart, April, Mei,

1916), hlm. 318-39; 449-68; 609-27. Drie Atjeh-mannen: Snouck Hurgronje -- Van Heutsz -Van Daalen," KT, (1936), hlm. 563-83; (1937), hlm. 21-36, 142-66, 295-307, 356-75, 517-28, 623-48; (1938), hlm. 7-24.. Atjehsche Oorlogspapieren," IG, (1912), hlm. 617-792.
Damsté, H.T. "De Executie van Teuku Tjhi' Toenong te Lho' Seumawe in 1905," KT, (1938), hlm. 490-92. "Hikayat Prang Sabi," BKI, (1928), hlm. 545-

  1. "In Memoriam Dr. Snouck Hurgronje," KT, (1936), hlm. 449-55.
    Dedem, W.K. Baron van. "Scheepvaartregeling Atjeh. Memo- rie van Antwoord," TNI, no. 2 (1893), hlm. 81-90. Doorman, R.G. "De Gevangenneming van den ex-Pretendent-Sultan van Atjeh, Toeangkoe Mohammad Dawot, na 32 Jaar Ballingschap den 7-en Februari 1939 Overleden te Mr. Cornelis," IG, no. 1 (1939), hlm. 308-12. Drewes, G.W.J. "Snouck Hurgronje and the Study of Islam," BKI, (1957), hlm. 1-15. Eijbergen, G.J. van. "Atjeh up to Date," TBB, (1914), hlm. 1-53.

Frijling, W., "De Pacificatie van Atjeh," IG, (1903), hlm. 1765-6. "De Voornaamste Gebeurtenissen in het Begin van de 2nd Expeditie door Atjehers Beschreven," TBB, (1912), hlm. 21-9. Goossens, M.A.F. "Reis naar de Zuidelijke Nederzettingen van Groot-Atjeh," TBG, (1884), hlm. 465-508. Gouverneur van Atjeh en Onderhoorigheden, "Iets momtrent den Oorsprong van het Atjehsch Volk en den Toestand onder het Voormalig Sultanaat in Atjeh," TBG, (1889), hlm. 89-97. Heldring (luitenant). "Het Atjeh-vraagstuk (de Atjeh-politiek gedurende 1875-83," TNI, no. 2 (1883), hlm. 109-34. Hoesein Djajadiningrat. "Critisch Overzicht van de in Maleis- che Werken vervatte Gegevens over de Geschiedenis van het Soeltanaat van Atjeh," BKI, (1911), hlm. 135-265. Hooyer, G.B. "Atjeh's Kwaal," Eigen Haard (1896), hlm. 300-3. "Onze Buurman naast Groot-Atjeh," IG, no. 2 hlm. 1799-1822. Juynboll, A.W.T. "Een Atjineesche Vlag met Arabische Ops- chriften," TNI, no. 2 (1873), hlm. 325-40. Kessler, L.W.A. "Atjeh," TNI, (1899), hlm. 461-73. "Het Atjehsch Sultanaat," TNI, (1899), hlm. 821-8. "Dr. Snouck Hurgronje en de Macht der Atjehs- che Oelama's," TNI, (1900), hlm. 245-55.

"Geschiedvervalsching in Zake Atjeh," TNI,

(1899), hlm. 215-20. "Een Helder Licht over den tegenwoordigen Toestand in Atjeh," TNI, (1900), hlm. 497-503. "Herstel van het Soeltanaat in Atjeh," TNI, (1900), hlm. 160-4. "Onze Tegenwoordige Atjeh-politiek," TNI, (1900), hlm. 160-4.

"De Oude Atjeh-legende," TNI, (1899), hlm. 407-

  1. "Het Z.g. Verraad van Toekoe Djohan Pahlawan alias Toekoe Oemar. Critische Beschouwing van den Oorlog in 1896," TNI, (1901), hlm. 247.
    Koesteren, C.E. van. "De Nisero-quaestie en de Gouverneur-Generaal Loudon," IG, no. 2 (1884), hlm. 115-127; 237-305; 422-453. Kielstra, E.B. "Atjeh onder het Bestuur van den Gouverneur Demmenie," IMT (1888), hlm. 499-525; 612-35; no. 2 (1888), hlm. 1-23. "Atjeh onder het Bestuur van Gouverneur Laging Tobias," IMT, (1887), hlm. 413-60; 517-48. Kielstra, E.B. "Atjeh onder het Bestuur van den Gouverneur Pruys van der Hoeven," IMT, no. 1 (1886), hlm. 209- 231; 305-350. Kreemer, J. "De Groote Moskee te Koeta-Radja," Neder- landsch-Indië, Oud en Nieuw, 1920-1921.

Laging-Tobias, P.F. "Beschouwingen naar Aanleiding van Ee- niege Atjeh-adviezen," VIG (1888), hlm. 1-44. "Het herstel van het Sultanaat in Atjeh,"IG, 1722-66. Langen, K.F.H. van. "De Inrichting van het Atjehsch Staat- bestuur oner het Sultanaat," BKI, (1888), hlm. 381-

  1. "De Nisero-kwestie," IG, no. 2 (1884), hlm. 454-
    69.
    Liefrinck, F.A. "Eenige Mededeelingen omtrent den Tegen- woordigen Toestand van Atjeh-proper," TAG (1881), hlm. 47-56. Lulofs, C. "De politieke Toestand in Atjeh (Vergelijkend Overzicht van den Toestand van 1908-1912)," TBB, (1912), hlm. 451-5. "Mededeelingen betreffende de Atjehsche Onderhoorighe- den," BKI, (1903), hlm. 53-249; 363-401, (1904), hlm.

587-602, (1908), hlm. 589-667, (1910), hlm. 13871, (1911), hlm. 369-440, (1912), 405-40, (1914), hlm. 419-51. Oort, W.B. "Panglima Polem," IG, (1941), hlm. 408-19. Pol. C. van der. "Tjoet Nja' Dien," De Gids, (1918), hlm. 334-53. Redactie Indisch Militair Tijdschrift, "De Pedir en Edi Expe- dities," IMT, no. 2 (1899), hlm. 818-41. Reid, Anthony. "Habib Abdur-Rahman az-Zahir (1833-

1896)," Indonesia, no. 13 (1972), hlm. 37-59. "Indonesian Diplomacy: A Documentary Study of Atjehnese Foreign Policy in the Reign of Sultan Mah- mud, 1870-4," JMBRAS, vol. 42 (1969), no. 2, hlm. 74-
114.
Ronkel, Ph. S. van. "Brieven uit Atjeh (Inlandsche Geschrif- ten uit de Atjeh-oorlog Periode)," TBB, (1914), hlm. 36-48. Scherer, G.A. "Hoe moet Atjeh Gepacificeerd Worden? (Met Aanbeveling der Wederinvoering van de Scheepvaart- regeling van 1883)," VIG, (1891), hlm. 1-56. Schmidt, H.J. "Op Bezoek bij een Atjehsche Salomo," IG, (1937), hlm. 580-604. Soest, G.H. van. "Het Atjehsch Vraagstuk," TNI, no. 1 (1883), hlm. 81-96. "De Officieele Bescheiden betreffende het Ont- staan van den oorlog tegen Atjeh in 1873," TNI, no. 1 (1882), hlm. 46-69. "Het Staatkundig Beleid tegenover Atjeh in de Twee Laatste Jaren," TNI, no. 1 (1877), hlm. 189-214. Snoek, J.A. "De Onderwerping van Gighen en het Hijschen van de Nederlandsche Vlag Aldaar in April 1874. IG, no. 2 (1893), hlm. 1160-78. "De Onderwerping van Tamiang aan het Neder- landsch Gezag in 1874," IG, no. 2 (1893), 1748-76. Teuku Ibrahim Alfian. "Emas, Kafir dan Maut," Nusantara,

no. 2 (1972), hlm. 269-275. "Gejala Bunuh Kafir di Acheh 1910-1921," Aka- demika, no. 1 (1972), hlm. 95-103. Tiechelman, G.L. "Een Atjehsche Sarakata," TBG, (1933), hlm. 368-73. "Samalangasche Sarakata," TBG (1938), hlm. 351-8. Veltman, T.J. "Nota over de Geschiedenis van het Landschap Pidie," TBG, (1917), hlm. 15-157. Verheul, A. "De Meunasah in Pase," TBG, (1917), hlm. 383-

436.
Verheul, A. "Vierhoofden in Atjeh," Mededeelingen van de Vereeniging van Gezaghebbers B.B. in Nederlandsch-Indië (Dec., 1937), hlm. 34-40. Vink, J.A. "Biografis van den Toekoe Panglima Maharadja Ti- bang Mohamad," IMT, no. 2 (1892), hlm. 629-33. "Desertiën van Militairen der Nederlandsch-In- dische Krijgsmacht naar de Atjehers in de Laatste 10 Jaren," IMT, no. 1 (1892), hlm. 470-9. Vleer, A.J. "De Positie van den Toeha Peuet in het Atjehsche Staatsbestel," KT, (1935), hlm. 454-461.

  1. Yang Bersifat Umum Alatas, Syed Hussein. "Theoretical Aspect of Southeast Asian History," Asian Studies, Vol. II, no. 2 (1964), hlm. 247-
    60.

    Acher, R.L. "Muhammedan Mysticism in Sumatra," JMB-

RAS, (1937), hlm. 1-126. Baroroh Baried, "Shi'a Elements in Malay Literature," dalam Sartono Kartodirdjo (ed.), Profiles of Malay Culture, Ja- karta: Ministry of Education and Culture, Directorate General of Culture, 1976, hlm. 59-65. Beard, Charles A. and Sydney Hook. "Problems of Termino- logy in Historical Writing," dalam Theory and Practice

in Historical Study: A Report of the Committee on His-

toriography. New York: Social Science Research Coun- cil, 1946. Benda, Harry J. "Christiaan Snouck Hurgronje and the Foun- dations of Dutch Islamic Policy in Indonesia," Journal of Modern History, (Dec. 1958), hlm. 338-47. Cohnman, Werner J. and Alvin Boskoff, "Sociology and History: Reunion and Rapprochement," dalam Werner J. Cahnman and Alvin Boskoff (eds.) Sociology and History: Theory and Research. New York: The Free Press,

1964.
Donk, Maria van den. "De Rol van "Djihad" in de Strijd te- gen Westerse Overheersing," Overzicht, no. 6 (Februari

1980), hlm. 9-12.
Knebel, J. "Amulettes Javanaises", TBG, 1898, hlm. 497-

507.
Marshall, John. "Local and Regional History", dalam Harold Perkin (ed.) History: An Introduction for Intending Stu- dent. London: Routledge & Kegan Paul, 1970. Sartono Kartodirdjo. "Metode Pendekatan Sejarah dalam Penelitian," Metodologi Penelitian Ilmu Ekonomi dan Ilmu-ilmu Kemasyarakatan, jilid I (Yogyakarta: Sekreta- riat Pendidikan Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi Uni- versitas Gadjah Mada, 1977), hlm. 85-146. "Politik Kolonial Belanda Abad XIX," Lembaran Sedjarah no. 1 (Desember 1967), hlm. 3-32. "Responses to Dutch Intrusions in Java; Myths and Realities", Paper dalam Symposium on Southeast Asian Responses to European Intrusions 27-29 January, 1981, British Institute in Southeast Asia, Singapore. Siegman, Henry. "The State and the Individual in Sunni Islam," The Muslim World (January 1964), hlm. 14-26. Smail, John R.W. "On the Possibility of an Autonomous History of Modern Southeast Asia", JSAH (July 1961), hlm. 72-102. Spat, C. "Wereldlijk en Geestelijk Gezag in den Islam," KT (1923), hlm. 132.

Vredenbregt, J. "The Hadj," Some of its Features and Func- tions in Indonesia," BKI (1962), hlm. 91-154. Winstedt, Richard O. "The Advent of Muhammedanism in the Malay Peninsula and Archipelago," JSBRAS, (De- sember 1917).

E. Surat-Surat Kabar Java Bode, 23 November 1899. Nieuwe Arnhemsche Courant, 12 August 1904. Nieuwe Rotterdamsche Courant, 24 Februari 1930. Sinar Atjeh, Kutaradja, 13 Februari 1908.
F. Karya Leksikografi dan Lain-lain Babad Tanah Jawa. Diterjemahkan oleh M. Ramlan. Kuala-Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1975. Djajadiningrat, R.A. Hoesein. Atjehsch-Nederlandsch Woor- denboek. Dua jilid. Batavia: Landsdrukke. Encyclopaedia van Nederlandsch-Indie Encyclopaedia van Nederlandsch-Indië. S. de Graaff en D.G. Stibbe, eds. Delapan jilid. 's-Gravenhage: 1918-1938. Fathu al-Rahmān: litālibi āyāti al-Qur'ān. Beirut: Al-Mat- ba'ah al-Ahliyah, 1323 H. Shorter Encyclopaedia of Islam. H.A.R. Gibb and J.H. Kre- mers, eds. Leiden: 1953. The Encyclopaedia of Islam. M.Th. Houtsma, A.J. Wensinck,
H.A.R. Gibb, and E. Lévi-Provençal. Empat jilid. Leiden, London: 1927-1934.
The Encyclopaedia of Islam. New Edition. H.A.R. Gibb, J.H. Kramers, E. Lévi-Provençal, J. Schacht, eds. Vol. I. Leiden: E.J. Brill; London: Lusac & Co., 1960.

W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia. Di- olah kembali oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen P. dan K. Jakarta: P.N. Balai Pustaka, 1976.

Lampiran A
Kekuatan rata- Tewas atau mati Mati kena pe- Luka-luka Perkiraan Perkiraan
Waktu rata Militer Belanda karena terluka nyakit atau ka- rena kelelahan kerugian orang Aceh yang tewas
April 1873 3.360 75 7 371 900
8.500 115 1.274
4.000 43 859 355 f 45 Juta
1874
1875 5.220 61 1.316 366
1876 8.950 226 1.398 672 f 18 Juta
1877 9.420 107 944 Tak ada keterangan f 18 Juta
1878 10.455 126 778 f 18 Juta
1879 10.500 89 Tak ada keterangan f 18 Juta
1880-1884 6.500 217 1.400 790 f 7 Juta Per tahun
1885-1892 6.000 258 3.169 916 f 7 Juta Per tahun
1893-1895 5.800 15 Tak ada keterangan 188 Tak ada keterangan
1896-1897 825 253 1.286
1898-1903 7.300 334 1.926 一”_ 9.300
1904-1907 6.500 259 Tak ada keterangan 1.093 Tak ada 11.187 keterangan
1908-1914 6.000 89 836 3.320

Kerugian Pihak Belanda dan Aceh dalam Perang 1873-1914 Menurut Taksiran Anthony Reid

Sampai 20 April 1874 20 April — Desember

Menurut Dr. Anthony Reid, angka-angka di atas diambilnya dari Kielstra, Kreemer, van der Maaten, Kruisheer, ENI, dan laporan- laporan dari Kementerian Jajahan Belanda kepada Staten Generaal. Angka-angka yang tewas dalam periode 1875-1896 diambil dari daftar kehormatan yang terdapat di makam Pahlawan Belanda, Peucut, Banda Aceh, yang memberikan jumlah yang lebih besar daripada yang resmi dikeluarkan di Negeri Belanda. Lihat, Anthony Reid, The Constest for North Sumatra, 1969, hlm. 296.

Lampiran B

Kekuatan Militer Belanda serta Kerugian Pihak Aceh dan Belanda 1893-1914 Kekuatan Tewas Mati Kerugian Senjata api yang dirampas Tahun karena Terluka Belanda Bertempur pihak Aceh Belanda dan yang diserah-

91901

luka-luka kan orang Aceh

sbaqsal jale BiSURA

Ops Baaban Optr Baaan s Baaan

1B2228 1893 5.543 10 1894 226 5.396 16 224 5.811 3 189511 1896 323 73 72

7.876
1897 286 8.020 11—6457 31 ed9aib svaalhad 1898 19 17 290 7.737 1899 235 6.916 21 32 1900 236 6.964 23 23 1901 240 6.960 39 20 1902 6.684 224 66 17 1903 224 7.105 30 14 1904 229 6.835 55 33 1905 191 5.566 69 13

—22111—8171

1906 208 6.409 37 10

11121111

1907 6.239 18 12 20411 1908 185 6.097 17 2 一 1909 15 191 6.269 1910 189 6.252 11 1911 186 6.008 1 1912 178 882

5.775 99383
158 5.144 二11 1 166 4.612

Ops 12 12 3 43 19 17 27 11 8 26 14 35 12 9 9 10

Bavaban Teas Teuka

90 134 37 863 361????? ? 251 ?????? 299 612? 256 921 323 1.815 423 2.582 ??? 271 2.853? 399 4.726 236??

2.293
188 56

2.151
205 1.917? 280 855 29 210 1.143 41 144 35 678 91 22 407 33 142 13 13 48

Tertaap SenapanKokang Senaan Rever

Mod95 latak ???

????? ? ?????? ????????? 253 24 176 449 517 637 191 292 206 2.671 24 ????????? 391 10 445 76 201 357 45 46 463 1.673 502 44 494 1.905 71 213 52 538 718 56 788 76 22 139 688 649 110 352 26 50 184 28 104 93 35 333 16 45 18 155 329 30 111 29 65 189 20 113 45 49 21 34 20 37 ???? ?????

44423

Sumber:

H.T. Damste, "Atjeh-historie", dalam KT, 1916, hlm. 627. Karangan ini dibuatnya untuk Encyclopaedie van Ned. Indie, tetapi dimuat dalam Koloniaal Tijdschrift di atas.

Lampiran C Ayat-ayat yang Seringkali Terdapat Dalam Hikayat-hikayat Perang Sabil

Naskah yang mem- bicarakan Perang Sabil Cod. Or. 8163b; 8701A; 8707A; 8037A; 8134; 8038; 8696;

Cod. Or. 8163b; 8134; 8667; 8689; 8706; 8707; 8690;

Surat Terjemahannya

al-Baqarah Dan belanjakanlah (harta benda- ayat 195 mu) di jalan Allah, dan jangan kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

al-Taubah Sesungguhnya Allah telah mem- beli dari orang-orang mukmin, di- ayat 111 ri dan harta mereka dengan mem- berikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau ter- bunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Sia- pakah yang lebih menepati janji- nya selain daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

Ali Imran Janganlah kamu mengira bahwa ayat 169-orang-orang yang gugur di jalan

  1. Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang di- berikannya kepada mereka, dan
    Cod. Or. 8035; 8134; 8667; 8689; 8706

Naskah yang mem-

bicarakan Perang Surat Terjemahannya Sabil

mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka; bahwa tidak ada kekha- watiran terhadap mereka berse- dih hati.

Cod. Or. 8163b; Al-saff Hai orang-orang yang beriman, su-

ayat 10,kakah kamu aku tunjukkan suatu

11,12perniagaan yang dapat menyela-

matkan kamu dari azab yang pe-

dih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasulnya dan berjihad di ja- lan Allah dengan harta dan jiwa- mu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. Jika kamu berbuat demikian Allah akan mengampuni dosa-dosa- mu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di ba- wahnya sungai-sungai memasukkan kamu ke tempat tinggal yang baik di dalam syurga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar.

Y bil Ud jeyilli "ykeilSi nte aicbiclli t ailsi! bll Liiligbet j l!e inliai L Lampiran D. Doa dalam Perang Atau Doa yang Dibaca Setelah Sembahyang

i b Lib b

illion

GnT Sumber: Tgk. Ahmad bin Mahmud, Hikayat Prang Sabi, 1894, Cod. Or. 8035, hlm. 116-8.

TERJEMAHAN1 DOA DALAM PERANG

Ya Allah! Semoga Engkau limpahkan salawat kepada penghulu kita Muhammad nabi yang ummi, pembuka rahmat. Penutup yang diutus, sebagai rahmat untuk alam seluruhnya, dan kepada keluarga beliau serta kepada para sahabat beliau seluruhnya. Ya Allah! kepadamulah segala puji kembali. Ya Allah! tiada sesuatu yang dapat mencegah apa yang telah Kau berikan dan tiada yang dapat memberi bila Engkau mencegahnya, dan tiada yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang telah Kau sesatkan, dan tiada yang dapat menyesatkan kepada orang yang telah Kau beri petunjuk. Dan tiada yang dapat memberikan sesuatu yang telah Engkau ta- han, dan tiada yang dapat menahan sesuatu yang telah Engkau berikan. Dan tiada yang akan dapat mendekatkan sesuatu yang telah Kau jauhkan. Dan tiada yang akan dapat menjauhkan sesuatu yang telah Kau de- katkan. Ya Allah! Anugerahkan kepada kami sebagian berkat dan rahmat-Mu, kurnia dan rezeki-Mu. Ya Allah! hamba mohon kepada-Mu nikmat di hari kiamat dan perlindungan di hari yang penuh ketakutan. Ya Allah! Sesungguhnya hamba berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang Kau berikan kepada hamba dan kejahatan yang Kau ce- gah dari hamba. Ya Allah! cintakanlah pada diri kami keimanan, dan hiaskanlah

  1. Terima kasih yang tiada terhingga diucapkan pada Drs. Abdul Ilah Najih yang telah sudi menterjemahkan doa ini ke dalam Bahasa Indonesia.

keimanan itu ke dalam lubuk hati kami. Kemudian tanamkanlah kepada kami kebencian terhadap kekufuran, kefasikan, dan ke- maksiatan. Dan jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang menda- pat petunjuk. Ya Allah! matikanlah kami sebagai orang-orang Islam, dan hidup- kanlah kami sebagai orang-orang Islam dan susulkanlah kami ke dalam golongan orang-orang saleh tanpa cara yang berliku-liku dan tanpa adanya fitnah. Ya Allah! hancurkanlah orang-orang kafir yang mendustakan utusan-utusan-Mu dan merintangi jalan-Mu. Kemudian timpakanlah kepada mereka kehinaan dan siksa-Mu. Wahai Tuhanku, Tuhan Kebe- naran. Ya Allah! menangkanlah orang yang membela agama dan hinakan- lah orang yang menghinakan agama dan hancurkanlah orang-orang kafir dan para ahli bid'ah. Ya Allah! belalah Sultan kami dan segenap Sultan-sultan orang-orang Islam dan menangkanlah perajurit-perajurit Islam. Dan jayakanlah orang-orang yang bertauhid baik di darat ataupun di laut, seluruhnya. # Ya Allah! tutuplah cela dan aib kami, dan amankanlah ketakutan kami. Ya Allah! berikanlah kebaikan kepada pemimpin dan rakyat serta penguasa kami. Kabulkanlah doa hamba, dengan berkat nabi-Mu yang pilihan Mu- hammad Nabi penutup. Maha suci Tuhan-Mu Tuhan segala kejayaan dari segala sesuatu yang mereka sifatkan. Semoga salam sejahtera buat para rasul, dan segala puji bagi Allah semesta alam. Amin.

Lampiran E

SAMALANGA oleh: Iz. Thenu

  1. Mari sobat, mari soedara! Pergi prang di Samalanga, Mari koempoel dan bersoeara, Laloe menjanji bersama-sama.
  2. Satoe njanjian jang amat merdoe Menghiboer hati jang amat doeka, Hari ini kita Merdoe, Esok loesa djalan kamoeka.
  3. Dari Merdoe djalan di sawa Itoe djalan jang amat soesah, Tempo-tempolah liwat rawa, Asal bisa dapat kamoeka.
  4. Kaloe djalan haroes berdiam Karna moesoeh berdjaga-djaga, Kaloe dengar boenji meriam Itoe tandalah moesoeh ada.
  5. Soenggoeh moesoeh banjak sekali, Ada berdiri di dalam benteng Haroes kami berlari-lari, Waktoe komandolah: "Ataqueeren".
  6. Djangan tinggal berdiri lama, Kalau komandolah: "Atequeeren", Lari lekas datang kesana, Masoek pertama kedalam benteng.
  7. Siapa masoek nommer satoe Itoelah tanda amat berani, Nanti dapatlah bintang satoe Tanda setia lagi berani.

  8. Maski dengarlah hoedjan pelor, Dari moesoehmoe orang Atjeh, Djangan sekali bersoesah keloeh, Tetapi peranglah hidup mati.

  9. Mari kamoe he orang Ambon! Lagi Manado lagi Ternate! Lawan moesoeh bertamboen-tamboen, Sampe gagahnja djadi berhenti.
  10. Anak Ambon gagah berani, Ta takoet mati atau loeka, Toeroet hati orang serani, Anak Ambon berani di muka.
  11. Kamoe lagi he sobat Djawa! Angkat kerdjalah rame-rame, Agar kami bisa ketawa, Kalau moesoeh soedah berdame.
  12. Kalaoe moesoeh soedah berdame, Kami boleh doedoek senang Boleh berdansa boleh berrame, Kalaoe soedah habis prang.
  13. Beberapa hari, berapa boelan Kami harus tinggal di sini? Habis peranglah boleh poelang, Bertemoe anaklah dengan bini.
  14. Mari kami koentji menjanji Laloe poelang tidoer lelap, Djangan loepa itoe pesani, Hanja mengikoet peri tetap.

    Sumber: Doup (ed.), Gedenkboek van het Korps Marechaussee, 1944, hlm.

105-6.

Lampiran F. SILSILAH TENGKU-TENGKU DI TIRO 276 Tgk. Haji Klibeuet1)

Tgk. Syaikh Saman

Tgk. di Tungkōb³) Tgk. di Buké4) Tgk. Mahiddin Tgk. Mat Amin Tgk. Lambada alias Tgk. Beb (Tgk. Muhammad Ali alias Chik Mayét gugur di Aneuk Galönggugur di Alue Keune, 1896 gugur di Lhok Panaih Zainulabidin) gugur di Tangsé Geumpang, 1904 (Pidie), 1899 gugur di Tangsé 5 September 1910 21 Mei 1910

Keterangan :Catatan:

21 Mei 1910 21 Mei 1910 Tgk. U m a,

gugur di Tangsé 3 Desember 1911gugur di Tangsé 1) Klibeuet : gampōng di Pidie Menurut Tgk. Ismail Jakub, Tgk. Chik di

Tgk. Syaikh Saman Tgk. Syaikh Ma'at ditawan di Tangsé 22 Mei 1910

umur ± enam tahun,2) Tiro : gampōng di Pidie

Tiro, Muhammad Saman, adalah putra Tgk.

3) Tungköb : Mukim di Aceh Besar Syaikh Abdullah, anak Tgk. Syaikh Ubaidil-

bulan ditawan di Tangséanak laki-laki umur lima

4) Buket : singkatan dari Bukét lah Kampung Garōt negeri Samaindra, Sigli, Seubōn, gampong di ibunya Siti Aisyah kakak Tgk. Chik Muham-Aceh Besar, tempat iamad Amin Dayah Cut, putri Tgk. Syaikh dilahirkan. Abdussalam Muda Tiro anak Leube Polém
5) Lambada: gampōng di Aceh Besar Cot Rheum. Lihat Ismail Jakub, Tengku
Tjhik di Tiro (Muhammad Saman), 1960, Sumber: M.H. du Croo, Maréchaussee in Atjeh, 1943, hlm. 128. hlm. 51.

Lampiran G

de Vlag van de Atchinezen, bij Baros veroverd, 1840

Binnenzijde der werkelijke grootte) 13

Huiic

Buitenzijde

ENNLNどこんらと

LeV:

Sumber: A.W.T. Juynboll, "Een Atjineesche Vlag met Arabische Opschrif-

ten", TNI (1873).

Lampiran H

Beberapa Pendapat

Mengenai Perang

Kolonial Belanda di Aceh

  1. Daarom zal de Atjeh-oorlog steeds een leerschool blijven voor ons leger, en achtte ik het nuttig het derde en laatste deel dezer krijgsgeschiedenis in zijn geheel aan de behandeling daarvan te wijden. (Oleh karenanya perang Belanda di Aceh selalu akan menjadi sumber pelajaran bagi tentara kita dan oleh sebab itu pulalah saya menganggap tepat sekali, jilid ketiga dan ter- akhir mengenai sejarah peperangan (di Hindia Belanda) itu seluruhnya saya peruntukkan buat menjelaskan peperangan dí Aceh).
    G.B. Hooyer, De Krijgsgeschiedenis van Nederlandsh-Indie
    van 1811 tot 1894. III, p. 5. (1897).

  2. De waarheid is: dat de Atjehers, mannen en vrouwen, in het algemeen schitterend hebben gevochten voor wat zij zagen als hun nationaal of religieus ideaal. Er is onder die strijders een zeer groot aantal mannen en vrouwen die de trots van elk volk zouden uitmaken; zij doen voor de schitterendste van onze oorlogsfiguren niet onder. (Yang sebenarnya ialah bahwa orang-orang Aceh, baik pria maupun wanita, pada umum- nya telah berjuang dengan gigih sekali untuk sesuatu yang mereka pandang sebagai ke- pentingan nasional atau agama mereka. Di antara pejuang-pejuang itu terdapat banyak sekali pria dan wanita yang menjadi kebanggaan setiap bangsa; mereka itu tidak kalah gagahnya daripada tokoh-tokoh perang terkenal kita).
    H.C. Zentgraaff, Atjeh, p. 1.

  3. Toch zal men van al onze aanvoerders in de oorlogen, gevoerd in alle hoeken en gaten van dezen Archipel, hooren dat er geen krijgshaftiger en fanatieker volk is dan het Atjeh- sche, en dat de vrouwen van dit volk alle andere overtreffen in moed en doodsverachting. (Namun dari semua pemimpin peperangan kita yang pernah bertempur di setiap pelosok kepulauan kita ini kita mendengar bahwa tidak ada satu bangsa yang begitu gagah berani dan fanatik dalam peperangan kecuali bangsa Aceh; wanita-wanitanya pun mempunyai keberanian dan kerelaan berkorban yang jauh melebihi wanita-wanita lain).
    H.C. Zentgraaff, Atjeh, p 63.
  4. Dit was het einde van Teungkoe di Barat, en van de andere voorname oelama's in die streek, die "sjahid"verkozen boven "mèl"... en is er één volk op deze aarde, dat de ondergang dezer heroieke figuren niet met diepe verering zou schrijven in het boek zijner historie? (Demikianlah berakhir kehidupan Teungku di Barat dan ulama-ulama .ermasyhur lain- nya di daerah itu yang lebih menyukai "mati syahid" daripada "melaporkan diri"(menye- rah-kalah kepada lawan)... dan adakah satu bangsa di permukaan bumi ini yang tidak akan menulis di dalam buku-buku sejarahnya mengenai gugurnya tokoh-tokoh heroik dengan penghargaan yang setinggi-tingginya?).
    H.C. Zentgraaff, Atjeh, p. 100

  5. De heldhaftigheid van den Atjeher, welke hij gedurende den Atjeh-oorlog aan den dag legde bij den strijd om zijn vrijheid en om zijn land te verdedigen, heeft de eerbied der Marechaussee's afgedwongen en tevens hun bewondering voor zijn moed, doodsverachting, zelfopoffering en uithoudingsvermogen. Onuitputtelijk was de Atjeher in het bedenken en toepassen van origineele krijgslisten en scherp was zijn opmerkingsvermogen. De brigades werden nauwkeurig door hem gadegeslagen; hij wist precies welke brigadecommandant slordig patrouilleerde en welke brigade steeds paraat en opgesloten marcheerde. (Kepahlawanan orang Aceh dalam mempertahankan kemerdekaan dan bumi persadanya, seperti yang diperagakannya selama perang Belanda di Aceh menimbulkan rasa hormat pada pihak marsosé serta hekagumannya akan keberanian, kereluan gugur di medan juang, pengorbanannya dan daya tahannya yang tinggi. Orang Aceh tidak habis-habis akal- nya dalam menciptakan dan melaksanakan siasat perang yang murni asli, sementara daya pengamatannya sangat tajam. Ia mengamat-amati dengan cermat setiap gerak-gerik pemimpin brigade, dan ia tahu benar pemimpin-pemimpin brigade mana yang melakukan patroli dengan ceroboh serta mana pula yang selalu siap siaga dan berbaris secara teratur).
    A. Doup, Gedenkboek van het Korps Marechaussee 1890-1940. p. 248.

  6. De Atjeh-oorlog was in 1913 of 1914 niet geeindigd. Van 1914 loopt een rode draad naar 1942, een spoor van moord en doodslag, van ondergronds en bovengronds verzet, dat van 1925 tot 1927 en weer in 1933 tot lokale opstanden van flinke omvang leidde. De tiental- len Atjeh-moorden in de tussenliggende jaren waren in heel Nederl Indie bekend. Het lijkt achteraf voor de hand te liggen deze draad van 1914 naar 1942 door te trekken en zou de geschiedenis van 1873 tot 1942-het jaar waarin de Nederlanders definitiefuitAtjeh ver- dwenen-te beschouwen als één grote Atjeh-oorlog, of liever als één opeenvolging van vier of vijf Atjeh-oorlogen van verschillend karakter. (Perang Belanda di Aceh tidak berakhir pada tahun 1913 atau 1914. Dari tahun 1914 terentang seutas benang merah ke tahun 1942, sebuah jejak pembunuhan dan pemukulan sampai mati, dari perlawanan di bawah sampai ke atas tanah yang menyebar luas sedemi- kian rupa dari tahun-tahun 1925 sampai tahun 1927 dan kemudian lagi dalam tahun 1933 sehingga kemudian terjelmalah pemberontakan-pemberontakan setempat. Puluhan "pembunuhan Aceh" yang terjadli di antara tahun-tahun itu cukup diketahui di seluruh Hindia Belanda. Pada masa-masa belakangan ini disadari bahwa benang merah itu menjurus dari tahun 1914 ke tahun 1942 sehingga sejarahnya sejak tahun 1873 sampai dengan tahun 1942, yakni saat orang-orang Belanda meninggalkan daerah Aceh untuk selama-lamartya, harus dianggap sebagai sebuah perang Belanda yang besar di Aceh atau boleh juga disebut sebagai sebuah deret, terdiri dari empat atau lima buah peperangan Belanda di Aceh yang berbagai-bagai sifatnya).
    Paul van 't Veer, De Atjeh-oorlog, p. 293 (1969)

  7. Atjeh was het laatst onder Nederlands bestuur gebracht. Het was er het eerst onder vandaan. De terugtocht van 1942 was het einde. Nederland had 69 jaar haast onafgebroken in Atjeh gevochten en het was genoeg geweest. (Aceh adalah daerah terakhir yang ditaklukkan oleh Belanda dan merupakan daerah per- tama yang terlepas dari kekuasaannya. Kepergian Belanda dari sana pada tahun 1942 adalah saat terakhir ia berada di bumi Aceh. Selama 69 tahun, Belanda tak henti-hentinya ber- tempur di Aceh dan ini sudah lebih daripada cukup.).
    Paul van 't Veer, De Atjeh-oorlog, p. 301 (1969)

  8. For centuries the Atjehnese had proved their ability in commerce and agriculture, as well as in war. And during the first years of its struggle with Holland Atjeh showed itself worthy of the considerable sympathy it obtained from Europeans as well as Muslims inmany parts of the world. It also contributed, despite itself, to the growth of wider loyalties in Indonesia. (Selama berabad-abad, orang-orang Aceh telah membuktikan kesanggupan mereka baik dalam bidang perdagangan dan pertanian maupun dalam bidang peperangan. Selama tahun- tahun pertama perjuangan mereka melawan Belanda di Aceh, mereka telah membuktikan bahwa mereka layak memperoleh perhatian yang besar dari orang-orang Eropah dan kaum muslimin di dunia. Dalam hubungan ini, orang-orang Acèh juga telah memberikan sum- bangan kepada perkembangan kesetiaan yang lebih besar di daerah-daerah lain kepada Indonesia.)
    A. Reid, The Contest for North Sumatra, p. 288-9 (1969)

  9. De Atjehers bleken niet alleen fanatieke vechters te zijn, maar ook uitstekende vesting- bouwers. (Orang-orang Aceh ternyata bukan saja pejuang-pejuang yang fanatik, akan tetapi mereka juga tergolong pembangun kubu-kubu pertahanan yang ulung sehali).
    Pierre Heijboer, Klamboes, Klewangs, Klapperbomen, p. 137 (1977)

Dari : PERANG KOLONIAL BELANDA DI ACEH (The Dutch

Colonial War in Aceh). Penerbit: Pusat Dokumentasi dan

Informasi Aceh, Banda Aceh, 1977, hlm. 252-254. Percetak- an: P.T. Harapan Offset Bandung.

Lampiran I

y° 26a 1873

BUITENGEWOON NUMMER DER

COURANT

JAVASCHE

MMNTIENDRM

OFFICIEEL NIEUWSBLAD n haif janr DONDERDAG 3 APRIL

dat de Sultan van dlied, dewege nadrekkelijk opbeldoriag ge NEDERLANDSCH-INDIE.vragd, eerat by het wchriven vaa komiria va daa Räatan d. en daarna by dat van s daaranvoigende, niet alleen guhel in ge Batatia. - Van den Gouveracmenta Kommisris roor Ajed, den h d ve d brage prieren wiet hee werapesken en dearenbov ev t in ov Voce-President van den Mand van Nederleudacd-ladie. P. N. Nicewe Span, kch so in het oughop ugelik ta wre e te r. daa, i, via Prue, per telegaa het berigt ontragen, da hij dat daaraan gren andere beteckeuin kaa worden tgekend, dan dad den sten Maart ji voor ded i angekomen ra a emal djed hus Cvesnemeut, vn Neclead-ladie villig h toe an den Sultan, onder rourboding der tegen hem bede grieven. hon, en sich p het dardoe ingvomea vijandig sany w otnt wij verrderik gedrag e vergea ophelderiag le bobben g le handhavem: vgd, den 2en Ma, b be mavoigend mai, bem de oiog verklaard heeft. dat de buunre va dat righ ric d b dig g aan schensis van bot tacen betsaive n het Nadiad led Gouverncurat op en Sen Mrt 1557 go buk v b, vede rn vriradachap. en bet mitadien wvertuigod in pobaben, d De Kominria vn het Gouverseat vaa Nedeisadcà-Iadie gren staat kan woden geakt ap de goede trouw va dia bdera vooe dsjok: dat h der Regeing ran Nadtad-Fadie der d dig Overvegende: heden art lange mogelk, mder krchddige midde, dat op bet Gouvernemeat vaa Nedindd-Zadie de verpligtingwel d het algemera handelablang sle de richen va here iga ra, om de sigemeene belangen vaa handel en scheepvat in den viligheid in moelik Sawae gedenlen sa vn mken te C-dnn ai tegea belmeringe te beveiligen:Wnarhorgen: dat die beagea dr de onderiage ghillen vdelgkae der het k va oderborige sjes, waa kelen bij Verklaart wit krvcht van de mugt rn bevwrgdheil, san ben do d hethaling de bescherming van bet Noderiada-ladiac Gouvere H-gering van Nederledeced-ladi vericend, in n ven die Regving. ment heben ingeropen, by voortduring ija gchaad: den sorlog n den Nultan van lied, va h d dat de heraide vervogea van de nde van dat Gouvernemat, an fet mededecling dot n elk. wirn walks wogt wnga, w mn sdanigen loesand o cide te mken, en ore good bevedigde veandhoiag a ed t bie in bet leven e roepe, seiegeik ndahtig ak n alle gelike da voj sija sfgestuit op den ovil en de voliagen enverschiligheid va devgen ra an de verpligtingen. aeein srgd e id burget vau den Staat rusten. bestuundere va geeid rk, en ep haae magieioobeid, om ia de underbowigheden v dlied de ro en ode s cinch ta handhavan O n d va Ze Maja achp G dat die pogogen oalangs slia zijn besivoord met verguande Aarpea, ligrade vo ldjd, up heden. Wendag dn troveloed o een lijdi, dat hes Nediadak-ai (uverne-güeten Maart 1978. meat met de meea welvillesde bedoclingen zich in dere verbinding NIEUWENHUIJZEN. met Atjed heeft gowteld:

BATAVIA. TER LANDN-DRUKKERI.

Dipetik dari: Perang Kolonial Belanda di Aceh, Banda Aceh; 1977,

hlm. 63.

Petikan Pernyataan perang yang dikutip dari Javasche courant nomor pener bitan istimewa tanggal 3 April 1873 KOMISARIS PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK ACEH Menimbang: dsb. dsb.: Berdasarkan kekuasaan dan wewenang yang diberikan kepadanya oleh Pemerintah Hindia Belanda, maka dengan ini, atas nama Pemerintah tersebut: MENYATAKAN PERANG Kepada Sultan Aceh dan pernyataan ini lebih lanjut memberitahukan pula kepada setiap orang yang bersangkutan serta memperingatkan kepada setiap orang akan segala akibat yang mungkin ditimbulkan olehnya serta kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada setiap warga negara di dalam masa peperangan. Termaktub di kapal uap Sri Baginda Raja "Citadel van Antwerpen" yang berlabuh di perairan Aceh Besar, pada hari ini, Rabu, tanggal 26 Maret 1873. ttd. NIEUWENHUYZEN Extract from declaration of war published in special issue of Javasche courant April 3, 1873. The declaration of war against the Sultanate of Aceh by Nieuwenhuyzen, Commissioner of the Dutch East Indies for Aceh, as published in the special issue of Javasche Courant of April 3, 1873. The declaration states that Commissioner, on the basis of the power and authority conferred upon him, the Dutch East Indies Government. It states further that the declaration announced to every individual concerned and called to their attention the consequences which it might entail and to the obligations which everycitizen should fulfil and a state of war; The declaration was enacted on board of the MSS Citadel van Antwerpen of the waters of Great Aceh on Wednesday, March 26,1873.

Dipetik dari: Perang Kolonial Belanda di Aceh, Banda Aceh; 1977,

hlm. 64.88mid

10651983

talon 19st tmpeh Univeeky of Kansa bodayaa pade Unjg ta háhun 1904. Selar Doktor dalam Bu Sejarb dar Universitas Gajah Mada dengaa erjw PERANG DI JALAN.ALLAH, A0 Pemah berkutjuog ke luar peges beisjar selama dge tahue 3969 melakukan peneditian der layata untuk membantu

Kebangzaan dari tahuk 149o4974

mah Jabetan yang perah dipegans pade Fakultea Sastma Universiine tshim Direkctur Puat Latihun Penęlitia 1976-1978. Dheksur Pusat Dok.seb ta- b0m 1927.1978. Jabatas yana dekaráng dipee ua Uaeverskas Gajah Mada. Pa

SK Pa=dem RI No. 12/8 tabon

10651987

IBRAHIM ALFIAN. Mengikuti pendidikan pada Sekolah Teknik Minyak Pangkalan Brandan. Pada tahun 1961 memperoleh gelar Master of Arts pada University of Kansas, U.S.A. Gelar Sarjana Jurusan Sejarah diperolehnya dari Fakultas Sastra dan Ke- budayaan pada Universitas Gajah Mada, Yogyakar- ta tahun 1964. Gelar Doktor dalam Ilmu Sejarah diperolehnya pada tahun 1981 dari Universitas Gajah Mada dengan menyajikan disertasi berjudul: PERANG DI JALAN ALLAH, Aceh 1873-1912. Pernah berkunjung ke luar negeri yakni Amerika Serikat untuk belajar selama tiga tahun (1959-1961) kemudian ke Belanda untuk melakukan penelitian darł tahun 1966-1968 dan terakhir ke Malaysia untuk membantu Pemerintah Malaysia membina Universiti Kebangsaan dari tahun 1970-1974. Jabatan yang pernah dipegangnya adalah Ketua Jurusan Sejarah pada Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada, tahun 1962-1966, Direktur Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Aceh, tahun 1976-1978, Direktur Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh tahun 1977-1978. Jabatan yang sekaráng dipegangnya adalah Dekan Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada. Pada tanggal 1 April 1984 berdasarkan SK Presiden RI No. 12/K tahun 1984 diangkat sebagai professor.

Sejarah perang dan pertempuran serta kebijakan militer dan politik di Aceh telah cukup banyak ditulis. Bahkan latar belakang per-

'saingan politik-ekonomi yang menimbulkan perang ini serta kele-

mahan struktur kesultanan Aceh dalam menghadapi ujian keras dari luar, bukanlah hal-hal yang terlalu asing bagi mereka yang mempelajari sejarah. Tetapi pertanyaan yang selalu mendesak ialah dimanakah sumber kekuatan Aceh sehingga bisa bertahan demi- kian lama, bahkan hampir tanpa henti? Inilah masalah pokok yang menjadi pertanyaan Teuku Ibrahim Alfian dalam menulis buku

ini. Apakah yang disebut dengan "perang sabil" itu dalam kesadar-

an Aceh? Bagaimanakah para ulama membina semangat perang sabil dan menjadikannya sebagai bagian dari kesadaran Aceh? Ber- bagai contoh dari karya sastra keagamaan yang diciptakan selama perang serta tulisan-tulisan para ulama dibicarakan dengan menarik dalam buku ini.

Dr. Taufik Abdullah

PUSTAKA SINAR HARAPAN Jalan Dewi Sartika 136-D Cawang, Jakarta 13630