Baca EPUB: Jacques Yves Cousteau, Jacques Chirac, Ciputat

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
A. RAHARTATI BAMBANG HARYO
Jacques Yves Cousteau, Jacques Chirac, Ciputat
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Wanita kelahiran Solo pada tanggal 9 Desember 1942 ini terutama dikenal sebagai penerjemah bahasa Prancis. Setelah lulus sarjana jurusan bahasa Prancis IKIP Semarang, dia mendapat beasiswa pada tahun 1968 dari Pemerintah Prancis untuk belajar di IPFE di Universitas Sorbonne.

Setelah beberapa waktu bekerja sebagai sekretaris, dia kemudian mengajar pada CCF dan LPK Tarakanita sambil melanjutkan kuliah di UI. Dia baru terjun sebagai penerjemah pada tahun 1984 dan dengan cepat menjadi “suara Indonesia” dari cerita-cerita bergambar yang “ngetrend” seperti Asterix (19 judul), Iznogoud dan lain-lain. Dia juga aktif menulis artikel, novelet dan buku kanak-kanak, bahkan pernah menjadi pemenang lomba cerber yang diselenggarakan majalah Femina.

Pada tahun 1997, Rahartati Bambang Haryo kembali mendapat beasiswa dari pemerintah Prancis di Collège International des Traducteurs Littéraires.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Notre Dame bukan tempat ideal untuk mengikuti misa, terutama pada hari biasa. Terlalu gaduh, penuh wisatawan. Mereka datang untuk mengagumi keindahan katedral. Bukan untuk merenung atau berdoa.

Senin, 30 Juni 1997. Dengan niat mengucapkan syukur atas terkabulnya suatu permohonan—Tuhan bermurah hati menambah jumlah anggota keluarga saya dengan lahirnya cucu kedua perempuan—, hari itu saya berkeinginan mengikuti misa di Katedral Notre Dame, bukan sekadar di gereja dekat hotel yang hanya lima menit jalan kaki. Dan jadwal misanya sudah ketahuan: tengah hari.

Waktu baru menunjuk pukul 08.45 ketika saya menunggu bus nomor 24 di halte Terroirs de France, di depan Expo Bercy. Berdiri sebentar sampai Gare de Lyon, dan sejenak berangan-angan saat bus melewati Maubert Mutualité yang selama beberapa bulan, beberapa puluh tahun silam pernah saya akrabi.

Turun di Notre Dame – Quai de Montebello, samping kiri katedral. Ternyata dijaga ketat oleh polisi. Dengan tangannya salah seorang dari mereka menyuruh kami—bersama saya ada beberapa penumpang yang turun—berjalan memutar lewat halaman depan katedral. Semua orang menggerutu, mengumpat sikap polisi yang dirasa kurang simpatik.

Ternyata sudah banyak kerumunan yang akan masuk ke katedral. Seperti yang terlihat di jalan masuk samping kiri katedral, di Clovis—halaman depan katedral—pun polisi siap berjaga dalam jumlah lebih banyak lagi. Jalan masuk bahkan dipagar ketat. Percuma datang jauh-jauh dari Bercy, batin saya dalam hati.

Tiba-tiba polisi begitu saja membuka pagar yang letaknya tak jauh dari tempat saya berdiri. Kerumunan mulai mendesak masuk, sekalipun harus terlebih dahulu menunjukkan identitas dan memperlihatkan isi tas. Anehnya mereka membiarkan saya masuk begitu saja tanpa pemeriksaan. Baru beberapa saat setelah kaki menginjak ambang di balik gerbang utama katedral, pintu kembali ditutup. Lega!

Di suatu sudut orang-orang sibuk mengisi buku tamu. Karena merasa tidak berkepentingan, saya terus melangkah ke dalam, meski sejenak menyempatkan diri mendekati seorang ibu yang kebetulan berdiri di dekat tiang besar. “Pukul berapa misa dimulai?”—“Sepuluh; masih 45 menit lagi.”—“Boleh ikut misa?”—“Silakan. Ambil saja kursi di belakang cordon rouge.” Jalan lagi ke jalur kursi di sebelah kiri, beberapa baris di belakang tali pembatas.

Sekalipun misa belum dimulai, koor telah memperdengarkan suaranya, yang dengan seketika menjanjikan keheningan dan kekhusukan suasana misa.

Di tengah lorong di depan pembatas, terdapat tulisan réservé, officiers, généraux dan hauts dignitaires. Dalam hati saya berpikir, yang meninggal pasti ‘seseorang’ penting. Tetapi siapa?

Para tamu mulai berdatangan. Sebagian di antaranya mengenakan pakaian kebesaran dengan jas dan manset dihias bordiran bermotif daun-daunan warna hijau, keemasan dan putih, putiknya berwarna putih.

Siapa sebenarnya yang meninggal? Kembali saya bertanya dalam hati.

Seorang anak muda—nantinya saya tahu ia bernama Benoît Farinas dan berasal dari Sorbets, Nogaro—datang dan mengambil tempat di sebelah kanan saya yang kebetulan masih kosong.

Tamu dan undangan terus berdatangan, sementara koor yang mengambil tempat di belakang altar terus mengalunkan suara, membelai telinga yang selama berhari-hari ‘diganggu’ reportase CNN tentang mundurnya Inggris dari Hongkong, dan skandal ‘penggigitan telinga’ di ring tinju akbar Atlanta. Wajah si penggigit, Mike Tyson, dan korbannya, Evander Hollyfield, seakan-akan tak mau beranjak dari benak. Begitu pula raut Chris Paen—gubernur Hongkong terakhir—dan wajah Pangeran Charles yang terlihat sayu saat bendera Inggris diturunkan dengan iringan lagu God Save the Queen.

Benak kembali mereka-reka. Kalau almarhum atau almarhumah bukan dari kalangan terhormat, mana mungkin persiapan upacaranya se‘meriah’ itu. Di atas balkon di kiri kanan saya, dua operator siap membidikkan kamera televisinya. Satu lagi di balkon belakang, di dekat orgel pipa. Karangan bunga indah berukuran besar tak henti dibawa masuk.

Sungguh nikmat jadi orang besar, batin saya dalam hati. Jadi ingat tulisan di atas sebuah bak truk pasir yang sempat menarik perhatian saya: Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Barangkali almarhum atau almarhumah ‘beruntung’ menikmati dua penggal pertama semboyan di atas, namun tentang yang ketiga, siapa berani memberikan kepastian? Ketidakpastian itu pulalah yang kiranya menyebabkan Notre Dame pagi itu dipadati sejawat dan kerabat. Setidaknya sebagian dari mereka akan memanjatkan doa, agar kenikmatan yang telah dinikmati almarhum atau almarhumah sepanjang hayatnya terus berlanjut hingga ke akhirat.

Dari layar televisi saya dapat melihat para tamu yang datang memeluk anggota keluarga yang telah duduk menunggu. Ungkapan duka cita, wajah murung, isak tertahan…..

Menyaksikan sikap yang ditunjukkan para hadirin, hati kembali terusik oleh sebuah pertanyaan: apakah almarhum atau almarhumah sempat mempersiapkan kematiannya? Bila yang disebut persiapan berupa penyakit, alangkah malang nasibnya. Atau justru beruntung? Setidaknya ia berkesempatan membuat perenungan tentang prestasi yang pernah dicapai, serta keberhasilan dan ketenaran yang sempat tergapai. Seandainya kehidupannya lebih banyak diwarnai kenikmatan daripada kesusahan, barangkali ia akan mencoba mengajukan tawaran kepada Al Khalik, agar berkenan memperpanjang tenggang waktunya di dunia. Tentu saja dengan sejumlah janji, akan menjalani sisa hidup dengan lebih lempang, bila sebelumnya sering melakukan penyimpangan. Bisa saja ia akan berpasrah diri, bila meyakini adanya kehidupan setelah kematian; seperti yang dikatakan oleh Anton van de Walle dalam bukunya From Darkness to the Dawn: ‘After death, human beings begin to live as human beings in another way’.

Mudah-mudahan almarhum atau almarhumah telah puas mengenyam usia. Setidaknya ia sudah mulai menduga atau membayangkan kematian, yang setiap saat bisa merenggutnya. Setidaknya ia telah cukup matang untuk memahami bahwa hukum kematian tidak bisa ditawar-tawar. Bahwa yang terjadi pada orang lain suatu saat akan dapat menimpa dirinya.

Karena tidak mampu lagi menyimpan ketidaktahuan—untuk siapa sebenarnya misa arwah akan dipersembahkan hari itu—, dengan berbisik saya gamit si Benoît. “Siapa yang meninggal?”

Matanya menatap saya seperti memandang orang yang sangat tolol (memang demikian kenyataannya!), buta berita, buta aksara, dan entah apa lagi.

“Jacques Yves Cousteau. Commandant Jacques Yves Cousteau! Anda tahu siapa dia?” Pertanyaan yang membuat saya merasa sangat terhina; tetapi apa boleh buat…..

Beruntung dalam menanggapi penjelasannya saya masih bisa menahan diri untuk tidak menutup mulut keheranan seperti gaya pelawak dan pemain sinetron televisi kita. Dengan tenang saya menjawab, “Oh! Alangkah tololnya saya….. Saya tahu Cousteau baru saja meninggal……”

“Dua atau tiga hari yang lalu.”

“Akan dimakamkan hari ini?”

“Hari ini akan dipersembahkan misa arwah untuk almarhum.”

Percakapan kami terhenti, karena semua orang mendadak berdiri dan serempak menengok ke belakang. Tetapi hanya selama beberapa saat, karena sesudahnya semua orang duduk kembali.

Pasti ada yang ditunggu, demikian saya menyimpulkan dalam hati, untuk tidak terlalu lama hanyut dalam perasaan tolol, bahkan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri kesn yang mempermalukan diri sendiri ini. “Siapa sebenarnya yang mereka tunggu?”

Kembali matanya melotot. “Presiden Jacques Chirac!”

Kali ini saya benar-benar tak dapat menahan diri untuk tidak meniru gaya pelawak dan aktor aktris sinetron: menutup mulu.

“Betul?”

“Ya! Saya mendengarnya dari radio pagi ini.”

Kembali saya sesali reportase tentang Hongkong dan tinju yang sedemikian menyita perhatian, sehingga saya tidak berkeinginan memindahkan saluran lain atau mendengarkan radio.

“Jam berapa presiden diharapkan datang?”

“Sepuluh.”

Saya melirik arloji; pukul 14.55 WIB, dikurangi lima jam—demikian menghitung dalam hati—berarti 09.55. (Dengan sengaja saya tidak mengubah jarum arloji sejak kedatangan saya di perantauan, agar dapat tetap merasakan siang malamnya Jakarta. Setidaknya dengan cara seperti ini saya tidak keliru membangunkan orang rumah setelah tengah malam).

Tepat lima menit kemudian, semua orang kembali berdiri dan membalikkan tubuh ke arah gerbang utama.

Yang ditunggu kini benar-benar muncul di depan pintu, mengenakan setelan warna gelap, hitam. Ia berjalan melintas perlahan di sepejangkauan tangan saya, dan langsung diantar mendekati altar, untuk memberikan salam duka cita kepada istri dan anak-anak almarhum.

Meskipun telah berusaha mengangkat tumit tinggi-tinggi, ukuran tubuh yang dikaruniakan Tuhan bagi saya, tak mampu menandingi sosok tinggi besar orang-orang di depan saya. Bahkan layar pesawat televisi pun tak lagi terlihat.

Beberapa saat kemudian peti jenazah dibawa masuk, didahului anak-anak muda berpakaian kelasi mengenakan bonnet—salah satu ciri utama JYC—, dan membawa bantal biru yang digunakan untuk menaruh medali dan bintang penghargaan milik Cousteau. Peti jenazah ditutup bendera tiga warna: biru, putih, merah.

Sementara mata ‘memanjakan diri’ memandang dan merekam keadan di sekitar, hati berontak menyesali kealpaan lain. Ada kamera di dalam tas, tetapi dalam keadaan kosong, tanpa film. Dan tape recorder kecil yang biasanya setia menemani, pagi itu saya tinggalkan di kamar.

Dengan perasaan gundah saya terpaksa membiarkan semua kejadian berlalu begitu saja, dan hanya mengandalkan indera karunia Tuhan, terutama penglihatan dan pendengaran, yang untungnya masih berfungsi cukup baik.

Setelah orang-orang kembali duduk, layar televisi di samping kanan saya kembali terlihat dengan jelas. Presiden Chirac duduk sendirian di atas kursi bersandaran tangan dan berbantal empuk, berbeda dengan kursi-kursi rotan yang memenuhi katedral. Di depannya terdapat bangku untuk berlutut.

Kini kamera dibidikkan ke belakang altar, ke arah anggota paduan suara yang mengenakan ‘toga’ berwarna biru. Sementara mereka melagukan Requiem, uskup dan delapan pastor mulai memasuki altar.

Baru sekali ini saya merasakan khusuknya suasana misa di katedral Notre Dame. Jatuhnya sebatang jarum kecil pun pasti akan mengganggu telinga yang telah digunakan puluhan tahun. Terlebih setelah uskup menyelesaikan khotbahnya. Selama beberapa saat suasana benar-benar terasa hening.

Seperti telah dapat diduga, tak ada kolekte, yang selalu mengusik perasaan saya.

Gaji terendah orang Prancis kabarnya sekitar 5.500 franc, sekitar 2,3 juta rupiah. Yang mengherankan, setiap kali kotak dana mulai diedarkan, jarang sekali saya melihat umat memasukkan uang kertas ke dalamnya. Setahu saya uang kertas terkecil bernilai 20 franc, atau sekitar 8,5 ribu rupiah. Dan kalaupun memberikan uang logam, ‘denting’nya ringan, bisa ditebak bukan koin 20 ataupun 10 franc yang tentunya terdengar lebih ‘berat’. Barangkali hanya 5 franc, bahkan lebih kecil, 2 atau 1 franc. Padahal di Indonesia—bahkan misalnya di Yogya—umat dengan penghasilan sekadarnya pun, dengan mudah memasukkan lembaran kertas ribuan (sekitar 20 franc). Jangan dikata di gereja-gereja elit Jakarta, seperti Stephanus, Theresia, Blok B, Katedral… lembaran Pak Harto (sekitar 117 franc), bukan pemandangan yang mengejutkan.

Menjelang persembahan, keheningan suasana semakin terasa menyentuh hati. Solis—anak laki-laki berumur belasan tahun—memperdengarkan suara malaikatnya. Layar televisi menampilkan wajahnya yang tampan. Kendati harus menyanyikan nada-nada tinggi, tak terlihat otot ketegangan di lehernya.

Di atas altar, misa dilanjutkan. Saat komuni dibagikan, umat Katolik bukan undangan diperkenankan menerimanya, meskipun di luar tali pembatas.

Tiba saatnya pemberkatan jenazah, yang dilangsungkan seusai ungkapan dukacita untuk terkahir kalinya. Presiden Chirac kemudian beranjak keluar, diikuti peti jenazah yang kini tidak lagi diselubungi bendera Prancis. Melangkah di belakangnya seluruh anggota keluarga, kerabat dan sahabat.

Sementara benak mencoba menghadirkan tayangan penelitian JYC di televisi tentang ikan salem yang harus berenang melawan arus untuk meletakkan telurnya, mata mengamati para pelayat—bukan undangan—yang berebut mendekati peti untuk melemparkan tangkai-tangkai bunga dukacita, lukisan, atau surat ke atas peti jenazah.

Betapa sederhananya. Tak ada perlambang-perlambang seperti yang biasa terlihat dalam upacara penguburan jenazah di Jawa. Seusai acara brobosan—seluruh anggota keluarga menyelusup di bawah peti sebanyak tiga kali—, sebelum peti atau keranda diusung ke pemakaman, seorang anggota keluarga yang ditunjuk akan memecahkan piring, agar almarhum atau almarhumah tidak ‘mengajak’ yang lain, terutama bila ia meninggal pada hari Selasa atau Sabtu. Sementara itu di depan keranda/peti jenazah, anggota keluarga lainnya akan menyapu jalan untuk melapangkan jalan almarhum atau almarhumah ke alam baka…..

Katedral hampir kosong. Tetapi di belakang masih terlihat sejumlah pelayat membubuhkan nama dalam buku duka.

“Boleh?” tanya saya kepada anggota pompe funèbre, wanita muda berpakaian hitam.

“Silakan.”

Dengan bolpen merah yang ia berikan, dalam sekejap nama pemberian orang tua dan suami tercantum di atas buku. Nama yang jauh dari bau roti dan keju, seperti nama-nama ‘pelayat’ lainnya. Dan tentu saja, sebelum membubuhkan ‘Indonesia’, terlebih dahulu saya tuliskan kode pos Ciputat: 15414.

Selamat jalan, Commandant. Beristirahatlah dengan damai di kedalaman laut surgawi yang tentunya jauh lebih indah dari yang selama ini Anda selami! Terimakasih, Presiden Chirac. Tanpa sepengetahuan Anda, saya beruntung menghadiri misa arwah JYC bersama Anda.

Studio 308, Bercy, 30 Juni 1997.