Publisher Note
This edition does not include a publisher’s note. For this digital restoration, this page is repurposed to acknowledge those whose efforts made its preservation possible.
The entirety of this book was taken from the site of Sébastien Lallement. We humbly made some modification to the chapter’s title and date to ease the reading process.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Lama sekali buatku berpikir, harus memutuskan apakah jadi memenuhi ajakan Mas Oyik buat ke Jawa Tengah. Mas Oyik walaupun baru kukenal tahun lalu, dan tahun ini baru berkenalan secara ketemu muka dan sudah pula aku berkunjung ke rumahnya, tapi untuk pergi bersama dalam satu minggu tentulah harus pikir-pikir panjang. Yang kukenal Mas Oyik adalah orang baik, namanya saja Orang Yang Idenya Kerakyatan. Dan secara nama, Mas Oyik sudah lama kukenal, walaupun ketika itu baru melalui karangan serta hasil sastranya. Ada yang kutandai pada Mas Oyik ini. Dia adalah penulis yang luarbiasa anti-korupsinya. Dapat disimpulkan, dialah seorang penulis dan sastrawan mengambil spesialis anti-korupsi. Hampir setiap tulisan cerpennya selalu bernafaskan anti-korupsi. Dia dengan dahsat membongkar dunia korupsi, menelanjangi sepakterjang dan tingkahlaku para koruptor. Bagaimana aku tidak sangat bersimpati kepadanya! Dan simpatiku ini ternyata memang beralasan, dia tetap teguh, menulis anti-korupsi. Orang boleh tidak suka kepadanya, tapi dia menulis dengan kejujuran, karena itu soal suka tidak suka, adalah soal selera. Tapi dia berjuang dengan caranya sendiri, teguh menulis tentang anti-korupsi.
Kepada Ajoeb sudah kukatakan, aku mau ke Jateng dengan Mas Oyik.
– "Hanya berdua saja?", kata Ajoeb.
– "Ya, hanya berdua saja".
– "Luarbiasa kau beraninya!"
– "Mungkin bukan berani, tetapi bodoh atau nekad", kataku menambahkan.
– "Coba kau pikir lagi baik-baik, dengan tenang, dengan jangkauan jauh", kata Ajoeb lagi.
Dan besoknya aku kembali ke Ajoeb, lalu kukatakan :
– "Mas Oyik sudah mengatakan padaku, soal keamanan selagi dengan aku, kujamin semampuku, begitu kata Mas Oyik".
– "Okey, pergilah dan selalu harus hati-hati, lalu ingat pesan si Aty itu", katanya lagi.
Aku ingat pesan Aty, ponakanku itu, yang profesinya paranormal. Aty pesan, kalau mau selamat berlakulah sebagai turis. Dan aku tak mengerti apa maksudnya, sebagai turis itu. Lalu dijelaskannya. Ada tidak turis yang ikut demonstrasi. Ada tidak turis yang mengadakan ceramah, atau ketemu orang-orang yang sekiranya dicurigai. Ada tidak turis yang ikut-ikut rapat. Lalu barulah aku mengerti, kalau memang sebagai turis biasa ya berlakulah sebagai turis. Dan selalu menilpun begitu tiba di suatu tempat. Okeylah, pesan itu mungkin bisa sebagai perbekalan keamanan.
Dan kami berangkat berdua dengan Mas Oyik dengan bis yang pakai AC dan ada karaokenya, dan dilengkapi dengan makanan dalam besek. Hal ini dulu 30 tahun yang lalu samasekali belum ada. Dan aku menikmati perjalanan ini dengan sedikit waswas dan selalu hati-hati.
Kami menuju Magelang dan akan menginap di kaki Borobudur, di rumah seorang teman Mas Oyik, mas Tomy yang punya sanggar-tarian. Begitu tiba sudah menjelang pagi. Dan aku terheran-heran, mengetok pintu pada jam 03.00, tuanrumah membukakan pintu dengan wajah sangat ramah. Keherananku ini mungkin karena aku terlalu lama hidup di luarnegeri, terlalu lama terpisah dengan masarakat bangsa dan tanahairku sendiri. Sekeluaga itu bangun dan menyambut kami dengan ramah dan hangat. Begitu pagi kami sudah disuguhi makanan, dan minta ampun-, kami disuguhi duren, puluhan tahun tak pernah merasakan duren tanahair.
Rumah ini masih bagian dari perkantoran Candi Borobudur. Karena itu selama kami di sana, setiap pagi aku naik ke atas puncak Borobudur itu, tanpa melewati penjagaan resmi yang harus bayar karcis-masuk. Pertama kali aku mengunjungi Borobudur pada tahun 1953 dan kini tahun 1994, sudah lebih 40 tahun. Dulu ketika pertama kali , terasa bukan main besar dan tingginya candi itu. Tapi sekarang ini terasa biasa-biasa saja, tidak sangat besar dan tidak sangat tinggi. Biasa saja sampai ke puncak. Mungkin karena sudah sering dan banyak melihat dan mengalami naik candi dan bangunan lain yang besar-besar dan tinggi-tinggi selama pengembaraan puluhan tahun ini.
Di kaki Borobudur itu pada jam 06.00-pun sudah banyak orang berjualan, berdagang, dan para turis sudah mulai naik ke atas dengan berbagai jenis kameranya.
Terasa sangat enak dan indah menikmati sekeliling Borobudur ini. Aku dilepas sendirian oleh Mas Oyik dengan selalu berpesan agar hati-hati. Mas Oyik sedang asik dengan Mas Tom berbincang-bincang karena mereka-pun sudah lama tidak bertemu.
Sehari sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Yogya dan Solo buat bertemu dengan Mas Khayam dan Mas Joko Pekik, Mas Oyik sambil memperlihatkan sebuah kartupos bergambar bertanya kepadaku :
– "Masih ingat Mas Mul?"
Lama aku berpikir dan menggali dalam-dalam kenangan yang sudah 45 tahun.
– "Lupa saya", kataku.
– "Dia tidak lupa sama sampeyan. Pasti kalau saya ingatkan, sampeyan akan sedikit teringat".
– "Dia dari Solo juga?"
– "Lha ya, dulu ketika mula-mula Mas Mul datang ke Jakarta, sampeyan yang jemput dan membawanya ke mana-mana, tahun awal 50-an, masih ingat? Dia selalu ingat itu", katanya.
Lama juga saya mengingat kejadian itu dan lama-lama barulah terungkap. Nah, barulah sedikit terungkap setelah berusaha keras memeras ingatan. Mas Mul memang benar saya kenal baik, dia dari Solo. Pada tahun 1949. Pada tahun awal 1949 saya menyaksikan parade militer melalui Jalan Purwosari yang kini berubah menjadi Jalan Slamet Riyadi. Parade itu dipimpin oleh Kolonel Gatot Subroto dengan naik kuda. Gagah sekali, dengan jenggot brewoknya. Dan aku banyak punya teman "anak-anak Solo" seperti Mas Mul, Mas Willy, Trisno Sumardjo alm, Harto Andangjaya dll. Lalu Mas Oyik memperlihatkan isi surat itu, yang mengatakan agar Mas Oyik lebih berhati-hati, apalagi dalam perjalanan ini disertai oleh SA. Dan melihat aku tertegun keheranan itu, Mas Oyik membuka tabir sedikit :
– "Ketika sampeyan di Bali itu memang diikuti. Pada tanggal sekian hari itu sampeyan sekeluarga kan ada di Karangasem di hotel anu kan?"
– "Ya" jawabku.
– "Lalu ketika di Denpasar di hotelnya kepunyaan Gramedianya Mas Yakob itu kan?"
– "Ya", jawabku lagi.
– "Satu minggulah sampeyan di Bali, lalu langsung ke Paris, ya kan?"
– "Ya" jawabku.
– "Sampeyan selamat-selamat saja, karena sebagai turis biasa sih, ngapain ngembututin orang mandi di kolamrenang, di pantai, makan-makan di resto. Yang ngikutin keenakan dong, negara harus bayar!" kata Mas Oyik lagi.
Dan lagi aku terhenyak bingung. Bagaimana tali-temali dan lingkaran setannya itu. Mas Mul bersama TI menerbitkan Taufan Sastra mengganyang kami kaum kiri. Habis-habisan dalam buku itu kami diganyangnya. Padahal pada yang namanya TI aku aku tak pernah kenal, tapi dia terus-terusan menulis tentang kami dan aku pribadi, menghantam keras.
Lalu tali-temalinya dengan Mas Oyik? Tak seujung rambutpun aku bisa punya persangkaan bahwa Mas Oyik maupun Mas Mul juga terlibat dalam urusan lapor-melapor begini. Dan sampai kini aku percaya penuh kepada dua temanku ini. Dan tak pernah terpikir padaku sampai saat ini bahwa mereka berdua akan menjerumuskan diriku. Tetap sampai kini kuanggap mereka berdua adalah teman-teman yang baik.
Dan begitu sampai di Yogya ketemu Mas Joko Pekik, tertawa berderailah dia, katanya
– "Bagaimana, tentunya ada yang ngikutin dong ya. Ya, harus perlu diikuti dong, siapa tahu berbahaya"kata Mas Joko sambil tampak agak meledek. Dan kami beramahtamahan. Untuk selanjutnya akan ke Solo ketemu Mas Dayat pelukis yang sangat apik, resik, tua tapi energik itu. Dengan Mas Khayam tak dapat ketemu, entah dia di mana. Tapi aku memang belum pernah ketemu Mas Khayam.
Dan begitu kembali ke Jakarta, kuceritakan kepada Ajoeb semua yang terjadi dan juga rasa kebingunganku.
– "Nah, kau bisa belajar banyak dari pengalaman itu. Kalau mereka itu bersatu, maka habislah kita ini, tapi kalau kita bisa bersatu maka buncailah kerja mereka. Dalam mereka ada kita, dalam kita terselip mereka, gumul bergumul masing-masing mencari dan menentukan kekuatan. Dan pertarungan belum selesai. Dan kau harus belajar memilih dan memilah mana yang bernas mana yang hampa, mana yang berguna dan mana yang berbahaya, demikian kata Ajoeb. Setahun sesudah itu Ajoeb meninggal, dan aku sangat kehilangan.
18 Februari 1999
Ada perbedaan yang sebenarnya cukup menyedihkan bagiku, kalau aku datang dan jalan-jalan di Cina dan di Indonesia. Kalau di Cina, di mana saja, di kota mana saja, misalnya di Beijing, di Shanghai, di Kanton dan kota besar dan kecil lainnya seperti di Wu-xi, Suchow, - aku merasa sangat bebas. Samasekali tak ada rasa takut dan waswas serta kuatir. Tak ada rasa takut akan kecopetan, rampok atau diikuti yang oleh banyak orang asing cukup dikuatirkan. Dan memang selama ini sejak tahun 1963 sampai berulang-ulang sampai kedatanganku di Cina tahun-tahun belakangan ini, alhamdulillah tak ada apa-apa, aman-aman saja. Semoga nantinya teruslah begitu, lancar, aman dan menyenangkan.
Lain lagi kalau aku di Jakarta saja misalnya. Kenapa rasa takut, kuatir, dan waswas, selalu saja menghantuiku. Ini sangat menyedihkan. Mungkin terlalu banyak mendengar dan membaca koran atau mendengarkan berita radio-televisi yang selalu memberitakan kejahatan, perampokan, jambret dsb. Lalu pada kenyataannya memang ada bayangan yang selalu mengikutiku. Sejarah gelap bagi para keluarga dan orang-orang seperti kami, memang sangat menyedihkan. Tidak semua orang dan tidak semua keluarga, serta teman yang dulu dekat, mau dan bersedia menerima kami. Sangat menyedihkan, setelah hampir 33 tahun aku berpisah dengan kampunghalamanku di Belitung, di mana di pulau kecil itu aku dilahirkan, dan sampai tamat SD barulah ke luar Belitung, rasanya sangat jauh dengan masarakatnya setelah aku datang pada tahun 1996 dulu itu.
Dapatkah Anda bayangkan, aku yang "anak Belitung" yang dulu kami berkawan-kawan meramaikan setiap tahun kota Tanjungpandan itu dengan segala pertunjukan drama-sandiwara, malam-gembira, setiappulang berliburan. Kami anak-anak pelajar dari berbagai penjuru seperti Jawa, Jakarta-Bogor-Bandung dan Yogyakarta, Sumatra, Palembang dll, setiap menjelang lebaran selalu pulang bersama-sama dan meramaikan kota kecil kami itu. Ini terjadi setiap tahun sejak tahun 1952 berturut-turut sampai kami "menurunkan" kepada adik-adik kami di kelas selanjutnya. Dan tahun 1996 itu aku pertama pulang berliburan sejak terpisah dengan Belitung sejak tahun 1961. Dan apa yang kulihat dan kurasakan? Tak seorangpun keluarga maupun teman yang menawari kami menginap di rumahnya. Belitung kampunghalaman dan kelahiranku itu, begitu kurindukan, begitu kubanggakan, tetapi begitu aku datang berdua dengan cucuku yang baru berumur 10 tahun, tak seorangpun yang mengajak dan menawari menginap di rumahnya.
Keadaan ini memang sudah dapat kubayangkan sebelumnya. Dan pada akhirnya akupun harus mengerti dan memahaminya. Keluarga dan teman serta sahabat bukanlah benci atau tidak suka, tetapi ada rasa kuatir, ada rasa tidak tenang, tidak merasa aman kalau mereka menerima kami di rumahnya. Karena itu kami mencari hotel dan menginap di sana selama seminggu itu. Dan ternyata keluarga dan teman berani datang dan menemui kami di hotel. Sebab hotel bukankah tempat-umum? Terbuka dan resmi serta sah?
Tapi ya itu tadi, datang ke kampunghalaman dan tempat kelahiran sendiri, dan menginapnya di hotel tidak di tempat keluarga dan teman?! Ya, sudahlah, kami memahami keadaan ini semua. Resikonya memang ada pada mereka, kami begitu selesai kunjungan dan berziarah serta nyekar lalu pulang ke kampung lain, ke Paris. Mereka pastilah akan ditanya, diinterogasi, siapa itu, darimana mereka, bagaimana hubungan kekeluargaan dengan kamu, apakah mereka sering dan surat-menyurat dengan kamu, dan sebagainya. Sedangkan kami begitu kembali ke Eropa, selesailah sudah. Jadi semua itu bisa dipahami dan kami mengerti semua keadaan ini. Terlalu berat resikonya bagi mereka. Bisa kehilangan pekerjaan, pemecatan, bisa tak berasap lagi dapur, bisa kehilangan pendaringan beras kata kami orang Belitung.
Dan karena selalu takut, kuatir, waswas tadi itu, aku merasa tak enak kalau sendirian ke rumah Mas Pram tanggal 15 Agustus itu. Hari itu di rumahnya akan ada peluncuran buku terakhirnya, sebuah epos besar ARUS BALIK, yang tebalnya hampir 1000 halaman. Dan aku mengajak Ajoeb, dan dia kebetulan memang mau bersamaku ke rumah Mas Pram. Ke Ajoeb ini hampir setiap hari kulakukan, dinasnya mulai jam 06.00 sambil jalan-kaki olahraga satu jam, jam 07.00 sampai ke rumah Ajoeb, dan kami biasanya ngobrol. Tanya ini tanya itu, dan dia akan menjelaskan tentang apa saja yang aku mau tahu. Diam-diam tentangnya pernah kutulis, Ajoeb itu bagaikan sebuah gunung, timbunan awan, bagaikan sebuah teluk, timbunan kapal. Tempat orang bertanya. Karena itu aku ngobrol, berdebat, bertengkar dengannya hanya sampai jam 11.00. Sudah itu sudah mulai mengalir tamunya dari berbagai tempat, baik dari penjuru tanahair, maupun dari benua asing, seperti Amerika Serikat, Australia, Jepang, Eropa dll. Bagaimana dia takkan penuh dan antri para intel mengikutinya. Dia pernah mengatakan padaku, bahwa semua gerakan yang ada di sini selalu ada intelnya. Tetapi "untungnya" di dalam intel selalu ada intel lagi! Nah, pernah aku dongkol mengatakan RI itu bukanlah Republik Indonesia, tetapi Republik Intel.
Ajoeb menyarankan pada Mas Pram agar kalau akan "kondangan" di rumahnya jangan lupa "mengundang" yang kusebutkan tadi itu. Tapi katanya, kedua belah pihak agar diundang, agar saling mengawasi. Kalau hanya dari satu pihak, dikuatirkan bisa main. Tapi dua-duanya diundang, baik dari militer maunpun polisinya.
Ketika kami mau memasuki ujung gang menuju rumah Mas Pram, rupanya Ajoeb agak lupa dari mana harus masuknya. Mungkin juga pura-pura lupa. Lalu menanyakan kepada seseorang yang sedang duduk ngobrol dekat warung-makanan.
– "Maaf ya Pak, yang mana ya rumah Pak Pram itu".
– "O yang itu dekat pojokan yang dekat lampu menyala itu", kata orang yang ditanya.
– "Mau kondangan ya Pak? Ada apa sih, ngawinin atau nyunat cucu"; katanya lagi mau tahu banyak.
– "Nah itulah saya juga hanya mau datang atas undangan saja, tapi belum tahu hajat apanya".
– "Akh Bapak, masaksih mau datang kondangan nggak tahu hajatnya?"
– "Lha wong dalam surat undangannya nggak ditulis kok", kata Ajoeb.
– "Oo gitu"katanya lagi agak kecewa.
Beberapa langkah jauhnya, kutanyakan pada Ajoeb siapa orang itu. Ajoeb cerita, itulah intel dari bagian kepolisian. Yang di ujung sana bercokol intel dari bagian militer. Semuanya "berjaga-jaga" atas rumah Pram yang sedang "kondangan" itu. Dan bahkan sudah tentu ada alat-alat atau hubungannya dengan siapa tahu yang hadir sendiri di rumah Mas Pram. Semakin bingung aku memikirkannya. Lha kok mereka tampak baik-baik, kataku pada Ajoeb. Nah, itulah kau harus banyak belajar, belajar mengenal, belajar meneliti dan memeriksa, kata Ajoeb. Tentu saja mereka itu harus baik-baik, ramah-ramah dan penuh senyum dan sangat komunikatif. Kalau tidak, kalau merengut dan kasar, mahal senyum, brangasan, lebih baik jangan jadi intel. Bagaimana mau mengorek rahasia seseorang kalau penampilan saja sangat tidak menarik. Untuk orang beginian ada jajaran pekerjaannya, misalnya hanya jadi tukanggebuk saja, atau sekalian tukangjagalnya!
Dan tambah dapat pengertian aku dibuatnya. Di rumah Mas Pram sudah banyak tamu, kaum intelektuil, aktivis, pakar-pakar asing dan CNN televisi dari AS, dan pelajar serta teman-teman dan sahabat-sahabat yang sangat bersimpati kepada kehidupan dan perjuangan Mas Pram. Dan para wartawan-tulis serta wartawan-foto dan ceramah oleh Mas Pram tentang budaya-sastra. Ini dalam rangka menyambut 50 Tahun RI, sekalian meluncurkan buku ARUS BALIK itu. Dengan event begitu baik, sudah pasti tidak akan dibiarkan oleh para intel itu untuk berlalu begitu saja tanpa ada laporan pekerjaannya sehari-hari untuk diteruskan ke pusat jawatannya sebagai pekerjaan, sebagai matapencahariannya dengan profesi ke-intel-annya.
19 Februari 1999
Kalau kuusut sampai ke akar-akarnya, mengapa aku begitu getol mau pulang dan pulang itu yang paling pokok mau ke Belitung, kampunghalaman dan tempatkelahiranku. Yang paling pokok dan utama memang aku mau ziarah, nyekar ke makam orangtuaku. Kami telah terpisah sejak tahun 1961. Tahun 1993 kami untuk pertama kali pulang ke Indonesia, tapi hanya di Jawa saja, tidak ke Belitung, padahal yang paling pokok sebenarnya ingin ziarah dan nyekar itu. Waktu itu kami dinasehati oleh keluarga dan teman-teman di Jakarta agar sementara ini janganlah ke Belitung dulu. Tentu saja pada mula pertama terasa sangat dongkol dan marah. Tetapi lama-lama terasa bahwa pendapat keluarga dan teman-teman itu adalah sepantasnya dipertimbangkan baik-baik dan dengan seksama, perhitungkan segala akibatnya.
Kata abangku yang di Depok, "kau sih tidak apa-apa, habis ziarah terus pulang ke Paris, dan lagi kau kan orang asing. Tetapi keluarga dan teman-teman itu bagaimana. Pastilah mereka akan didatangi dan ditanya segala rupa. Bisa-bisa mereka dipecat dari pekerjaannya, atau di PHK-kan secara halus. Nah, kalau harus ngelapor ke koramil setiap minggu atau setiap bulan atau siapa tahu diperas dengan cara lain, atau langsung saja masuk penjara?! Padahal hanya gara-gara ketemu biasa saja, antara keluarga dan teman. Bisa menyangkut tuduhan tidakbersih-lingkungan, tidakbersih-diri. Tahu kan kau kasus Paman Johari?!", katanya.
Dan aku baru ingat Paman Johari dulu dengan bangganya bercerita bahwa dia itu satu kelas di HIS dengan abangku Amat. Dia mengatakan dan cerita ke mana-mana bahwa si Amat itu satu kelas dan teman baiknya ketika tahun 1935 - 1936 di HIS. Ketika peristiwa itu terjadi tahun 1965, Paman Johari tinggal diciduk saja. Dan gara-gara hanya cerita begitu saja, Paman Johari sempat ngendon di dalam tahanan militer selama 8 tahun. Salahnya tak ada, hanya cerita begitu saja. Dan apakah aliran politiknya? Juga tak ada, orang biasa saja, walaupun pangkat-pekerjaannya wakil-camat di kampung Membalong, jauh terpuruk di sudut Pulau Belitung itu. Tidak pernah ikut politik, tidak menganut aliran partai manapun. Tapi tokh kena 8 tahun hanya kenal dan berkawan dengan si Amat, yang pada menjelang peristiwa sempat jadi menteri walaupun menteri pupuk-bawang.
Nah, kami menuruti semua nasehat keluarga dan teman-teman itu. Mereka pastilah lebih banyak tahu daripada kami, sedangkan kami boleh dikatakan tak tahu apa-apa mengenai tanahair dan kampunghalaman.
Tahun 1996 barulah tercapai keinginanku untuk ziarah ke makam orangtua, Ibu dan Ayahku. Aku berangkat ke Tanjungpandan Belitung hanya berdua dengan cucuku Lulu yang baru berumur 10 tahun. Lulu berbahasa Indonesia cukup baik. Sudah sejak lama Lulu mulai belajar bahasa Indonesia, dan kalau dia ngomong bahasa Indonesia, samasekali tak kentara bahwa dia orang asing yang lidahnya tak ada ubahnya dengan lidah anak-anak Perancis. Padahal kelahiran dan pendidikannya sepenuhnya di Paris. Tapi permintaan dan harapanku sangat diperhatikannya. "Lulu, kalau mau jadi cucu kakek yang baik dan pintar, harus pandai bahasa Indonesia ya, dan bisa ikut kakek ke Jakarta dan mana-mana". Rupanya pesanku itu tertanam benar di hatinya. Dan karena itu pula Lulu jauh lebih banyak perjalanannya daripada ibunya sendiri. Sebab dia selalu dengan kakeknya. Lulu pernah ke Bali, ke Lombok dan ke Belitung ini, tapi ibunya hanya sampai Bali saja.
Kami berdua mendarat di pelabuhan-udara Buluhtumbang. Seperti yang sudah kuceritakan pada INTEL 2, tak seorangpun di antara keluarga dan teman-teman kami yang menawari bermalam di rumahnya. Mereka menyambut kami dengan waswas dan ada terbayang rasa takutnya yang bergayut-nyata di setiap wajah mereka. Tetapi segera aku menetralisir suasana agar mereka bebas dan berusaha menghilangkan atau mengurangi rasa takutnya. Agar mereka juga tenang dan tak bertanya-tanya dalam hati, kukatakan kami akan menginap di hotel Melati, dan memang sudah kami pesan ketika mau berangkat dari Jakarta. Sudah itu barulah tampak-nyata bahwa mereka merasa senang dan bebas, dan suasana menghangat lagi. Mereka ramai-ramai mengantarkan kami ke hotel itu. Ternyata kalau di hotel, suatu tempat yang resmi dan sah, mereka berani berkunjung dan bertamu. Dan kami tetap bisa akrab dan saling beramah-tamahan. Malah ada di antaranya mau dan sedia mengikuti kami sampai ke makam orangtua, dan membawakan perlengkapan buat ke pemakaman, seperti air dalam ceret, rangkaian-bunga dll-nya.
Di hotel Melati itu ternyata sudah ada penghuninya. Kami di nomor 1, sebelahnya nomor 3 dan sudah ada penghuninya. Penghuninya ini seorang yang sudah berumur antara 30-an. Hotel itru sebenarnya samasekali bukan hotel, tetapi bekas perumahan biasa. Aku masih ingat benar, ketika kami kecil dan pada masa kanak-kanaknya, sering bermain di sekitar pantai situ. Pantai Tanjungpendam dekat Airsaga. Perumahan pegawai GMB, orang-orang Belanda. Rumahnya besar-besar, bagus-bagus dan bersih-bersih. Termasuk rumah yang kini menjadi hotel ini. Tetapi begitu berubah menjadi kepunyaan "si melayu" ini lalu menjadi kotor, dekil dan tak terpelihara. Kapan terjadi semua ini? Ketika Perusahaan Pertambangan Timah Belitung(PPTB)menghadapi kebangkrutan, maka perumahan yang tadinya dihuni pegawai stafnya, lalu dijadikan hotel. Dan sejak itulah perumahan yang dulu begitu apik-resik lalu menjadi kotor dan tidak terawat.
Hotel itu hanya punya 6 kamar buat disewakan bagi pengunjung, turis. Tapi kamarnya itu sangat besar. Tetangga kamar kami yang nomor 3 itu ternyata katanya adalah satpam. Dan pernah suatu kali ketika kami mendadak datang, dia sedang duduk menonton tele di ruangan umum sendirian. Cepat-cepat dia mengenakan baju yang tadinya hanya kaos-oblong. Dan sekilas masih sempat aku melihat gagang revolvernya di pinggang. Dia menegur kami dengan sangat ramahtamah. Orangnya suka bergaul dan bercerita dan juga suka banyak bertanya.
Aku sering berdua dengannya sambil ngobrol nonton tele. Dia ngobrol;bahwa dia kedudukannya di Palembang, datang ke Belitung ada sedikit urusan bisnis dengan keluarganya. Mungkin dia tidak begitu senang kalau aku tak begitu banyak menjawab pertanyaannya, hanya sekedarnya saja. Tapi agak sedikit mencurigakan karena kalau dia sendirian dan ada Lulu yang juga sama-sama duduk di ruangan itu, lalu sedikit demi sedikit dia juga mengajak Lulu berbahasa Perancis. Dan bahasa Perancisnya bisa dimengerti, artinya bukan asal-asalan saja.
Suatu kali ketika Lulu duduk di ruangan-umum kebetulan hanya berdua dengan sang Oom itu, aku sedang dalam kamar. Tetapi jelas juga terdengar padaku pembicaraan mereka. Terkadang bahasa Perancis terkadang bahasa Indonesia.
– "Dari mana tadi Lulu" katanya.
– "Dengan keluarga diajak ke rumahnya sambil naik motor".
– "Lulu berdua saja dengan kakek datang ke mari?".
– "Ya"
– "Kenapa Mama Lulu sama Papanya tidak ikut?"
– "Sebab adik saya masih terlalu kecil, baru tiga bulan umurnya".
– "Apa kerja Papa di sana"?
– "Sebagai guide buat turis dan tamu-tamu".
– "Tamu-tamu dari mana saja?"
– "Ya macam-macam. Dari Malaysia, Jepang, juga dari Indonesia, tergantung tamunya".
Lalu hening, dan agak lama pada berdiaman. Lalu mulai lagi.
– "Siapa nama Papa Lulu dan juga nama kakek aslinya?"
Lulu diam saja dan lama tidak menjawab. Rupanya diulang oleh Sang Oom Satpam itu. Tampak Lulu tidak begitu senang.
– "Oom kok banyak tanya ini tanya itu ya. Nama Papa saya tidak akan saya bilang sama Oom. Nama kakek saya pasti Oom juga sudah tahu, tiap hari ngobrol dengan dia sambil nonton, kenapa tidak tanya langsung kepada dia", kata Lulu dengan tidak lagi ramah. Dan Lulu segera meninggalkan tempat itu menuju kamar. Aku yang sedari tadi turut nguping percakapan mereka, di sebelah pintu melihat Lulu masuk dan mengacungkan tanganku dengan jempol kepada Lulu. Memang Lulu sudah mulai banyak mengerti, segera kutangkap dia kuciumi dengan sangat sayangnya. Lulu tenggelam dalam pelukanku dan berbisik dekat telingaku : "Saya tidak suka sama Oom itu, terlalu banyak tanya yang nggak perlu". "Justru karena dia merasa sangat perlu, Lulu. Tahu kan kamu maksud kakek yang sering kakek ceritakan padamu di Paris ketika kita akan berangkat dulu itu?!", kataku.
Dan Lulu menganggukkan kepalanya. Ternyata dia makin lama makin mengerti siapa ibu-bapanya dan kakeknya serta keluarga lainnya.
Pada hari ketiga aku ketemu direktur hotel itu. Minta ampun, ternyata dia adalah temanku adik kelas di bawahku, Sentot. Dan ternyata Sentot sudah tahu akan kedatanganku, dari paspor yang tertera pada daftar penghuni. Sejak aku masih di Jakarta dia sudah tahu akan kedatanganku. Tapi berhubung dia banyak urusan, maklumlah menyangkut bisnis pariwisata. Tetapi sudah tentu Sentot yang pebisnis ini tidak pakai pistol seperti Oom yang katanya satpam tadi itu.
Aku sangat senang ketemu Sentot yang dulu sama-sama di SD tahun 1947. Kami lama ngobrol ngalor-ngidul dan diselingi gosip-gosipan serta sedikit cabul. Dan ketika kutanyakan siapa penghuni nomor 3 itu sebenarnya. Sentot lama memandangi diriku. Dalam sekali pandangannya. Dan hanya berkata, "sudahlah kalau sudah tahu dan ada perasaan yang kau rasakan itu, hati-hati saja. Aku bisa melindungimu hanya sekedarnya saja, tapi dirimu sendiri dituntut keras agar berhati-hati. Tapi sukurlah kalau sudah tahu, sehingga tak perlu lagi kuberitahukan secara resmi", kata Sentot. Dan aku menjabat tangannya dengan keras dan lama. Ternyata dan selalu kita akan mendapati orang-orang baik di antara banyak orang-orang jelek dan yang mau jahat pada kita. Dan lagi-lagi ketika di Jakarta kuulangi lagi ceritaku ini pada teman akrabku Joebaar. Lagi-lagi dia berkata "nah makin lama kau akan makin pandai, membawa diri dan membawakan gaya serta perilakumu. Kau tahu, hidup kita ini menuntut diri kita harus selalu meneliti, hati-hati dan waspada. Ini memang tidak normal, zaman normal itu kan zamannya Belanda dulu itu, gitu kan kata orang banyak", kata Ajoeb meledekku.
20 Februari 1999
Hari itu kalau tak salah hari Sabtu pagi. Pagi-pagi buta mungkin pada jam 02.00 Lulu mengerang sakit perut. Lalu muntah. Dan muntahnya itu banyak sekali. Kentara sekali dalam muntahannya terdapat sisa-sisa daun singkong. Tadi malam dia dengan lahap makan gulai daun singkong. Mungkin belum terbiasa, atau mungkin juga karena terlalu banyak. Kamipun turut menyantap gulai daun singkong itu, tetapi tak ada di antara kami yang sakit perut.
Kelihatan dia sangat sakit dan menderita. Berkali-kali muntah. Dan aku mulai sangat kuatir. Tetapi tak berani membangunkan tuanrumah di mana kami menginap. Seperti biasa kalau cucuku ini sakit, selalu akulah yang paling duluan sakitsaraf, tegang, takut-kuatir. Sedangkan ibunya sendiri jauh lebih tenang. Kuuruti punggungnya sambil dia memegang perutnya. Ketika dia agak berlari mau muntah, aku segera mengejarnya agar dia mendekati tempatcuci piring di dapur. Tetapi badannya hampir jatuh ketika kutangkap, dan lalu aku sendiri yang ibujari kakiku terpelintir. Sakitnya bukan main, kukunya hampir lepas. Dan darah mengaliri lantai ke mana-mana. Segera kuhapus dan kupel, agar jangan sampai ketahuan tuanrumah. Dan juga membersihkan muntahan Lulu. Ibujari kaki kubalut sekedarnya, tapi tetap saja masih berdarah. Keesokannya hari Minggu, tak ada dokter. Baiklah hari Senin saja. Senin aku ke dokter, dan dokter mengatakan, dia mencoba berusaha agar jangan sampai infeksi. Sebab besar kemungkinannya kalau sampai infeksi, kukunya itu harus dicabut. Nah, ngerinya bukan main. Dalam tiga hari itu aku mendapat suntikan anti-biotik. Ada hasilnya, tidak sampai infeksi.
Mengapa hari itu aku ingat benar? Beberapa hari itu masarakat Jakarta sibuk membicarakan soal kudatuli, kerusuhan duapuluh tujuh Juli di Jalan Diponegoro di kantor PDI. Dan sudah mulai adanya penangkapan dan pencarian orang. Yang paling dituduh adalah PRD, Partai Rakyat Demokratik. Segala tuduhan ditimpakan pada PRD. Katanya PRD itu berbaju dan berisi paham komunis. Anak-anak muda yang militan dan para darah-segar yang dengan gigih memperjuangkan demokrasi dan keadilan, dituduh mau makar, mau brontak, mengganggu kestabilan-nasional. Dan ini sangat mengganggu pemerintah, menggoyangkan stabilitas nasional. Karena itu pengurus PRD dicari-cari, mau ditangkap, dipenjara.
Rupanya kejadian Lulu sakit perut dan aku kena insiden kecil kaki berdarah itu, adalah pada hari yang sama dengan kudatuli. Dan beberapa hari kemudian, ada tilpun dari abangku yang di Depok.
– "Sudah lihat dan sudah baca Koran Merdeka tanggal 31 Juli? Ada namamu di sana, kau juga turut menjadi anggota pengurus PRD bagian luarnegeri", katanya.
Belum sempat menjawab, karena keduluan kuatir dan ngeri.
– "Agar kau berhati-hati saja. Sekarang ini justru penguasa sedang mengejar pimpinan PRD. Dan ada yang sudah ditangkap".
Aku betul-betul terpukul. Sementara tak bisa berpikir secara jernih. Perkara ini bukan perkara sepele. Ini perkara jiwa, bisa hilang tak berbekas, sirna. Dan lagi bagaimana bisa terjadi dengan tuduhan yang begitu kosong dan nihil. Aku sendiri tak tahu tak kenal apa itu PRD yang sesungguhnya. Aku hanya tahu di koran dan mendengar beritanya dari radio dan tele. Bahwa perjuangan PRD dengan anak-anak muda yang militan, begitu bersemangat memperjuangkan keadilan demokrasi, seharusnya disokong. Tetapi malah ditangkapi, dicari-cari. Dan yang lebih sintingnya lagi, yang dicari-cari itu termasuk diriku yang tak tahu apa-apa, tak pernah bergaul dan kenal dengan orang-orang PRD.
Aku berusaha mencari koran MERDEKA yang tanggal 31 Juli. Tetapi koran tersebut tak pernah kutemukan, karena korannya sudah lewat tanggal. Aku mencarinya tanggal yang sudah bulan Agustus. Tetapi pada malamnya ketika penguasa memperingati hari-besar Islam di Istana Negara, aku mengikuti dengan seksama. Pidato demi pidato lebih 60% hanya mengutuk PKI dan marxisme. Dan tak lupa pidato Feisal Tanjung yang menyatakan bahwa gerakan PRD itu terang-terangan gerakan PKI bergaya baru. Mereka, ABRI, akan dengan tegas bertindak menangkap orang-orang PRD. Katanya lagi sudah disebar-luaskan jaringan-jaringan PRD itu, antaranya sudah dimuat di berbagai koran dan majalah.
Mendengar keterangan Feisal Tanjung yang ketika itu sudah menjadi orang nomor dua di RI walaupun ada Habibi sebagai wapres, aku segera mencari koran dan majalah yang dimaksud. Di sebuah kios, lama aku membalik-balik;mana yang ditunjukkan si kumis Feisal. Dan agak terbelalak, terhenyak tetapi juga agak gemetar dan mungkin ketika itu aku pucat, terbaca susunan pengurus PRD lengkap dengan jaringan serta sel-sel organisasinya. Namaku memang ada walaupun salah tulis, yang mestinya o ditulis a, lalu dikatakan bahwa aku adalah ponakan bang Amat, padahal bukan ponakannya. Kubaca lagi tentang tulisan komentarnya, dan kulihat lagi susunan skema organisasinya, ya tetap saja memang ada namaku, pengurus PRD seksi luarnegeri. Ini betul-betul keterangan gila, intel sinting, informasi murahan, cepengan. Aku yang tak tahu menahu tentang PRD, tak kenal orang PRD, tak pernah bergaul dengan PRD, walapun dalam hati banyak bersimpati pada mereka, samasekali tak benar kalau aku ditulis sebagai pengurus PRD luarnegeri.
Dan kubeli majalah SINAR tanggal 3 Agustus 1996 yang memuat semua keterangan tersebut. Jadi memang benar apa yang dibaca abangku di Depok. Hanya dia membacanya di Merdeka koran, sedangkan aku di Sinar majalah.
Beberapa hari kemudian kubeli lagi majalah Sinar yang tanggal 10 Agustus 1996, dan tetap saja masih terdapat berita, keterangan tentang PRD, dan namaku tetap saja terpampang sebagai pengurus PRD luarnegeri. Nah, lengkaplah di satu koran dan dua majalah memuat tentang PRD dan jaringan organisasinya dan namaku tetap ada. Ini artinya pengejaran buat pengurus PRD terus dilanjutkan. Dan sudah tentu pengejaran buatku. Tambah takutlah dan ngerilah setiap hari. Yang paling kukuatirkan yalah, bagaimana sekiranya aku ditangkap dan diteror, dibunuh di tengah jalan, teror gelap, dan aku hilang dari peredaran kehidupan, lalu bagaimana cucuku Lulu. Siapa yang mengurus dia?Dan seandainya diapun turut menderita karena aku, karena kakeknya, karena keluarganya kebanyakan memang diburu oleh pemerintah sekarang ini, sangat menyedihkan. Anak bocah yang baru 10 tahun ini melihat aku, kakeknya yang gelisah setiap hari, tetapi aku tak pernah ngomong apa-apa dengannya tentang hal yang kutakutkan itu.
Dia memang pernah bertanya ada apa. Tetapi kujelaskan "nanti kakek cerita kalau sudah di pesawat pulang ke Paris", kataku. Dalam pada itu aku sudah berterusterang kepada tuanrumah akan kejadian ini. Dan kuserahkan dua majalah yang berisi laporan lengkap tentang PRD. Tuanrumahku, Aty menghela nafas panjang ketika membacanya dan merenung lama.
– "Yang ingin Aty tanyakan dan Oom harus jujur, apakah memang benar yang ditulis majalah ini, bahwa Oom termasuk jajaran pengurus PRD", kata Aty serius.
– "Tidak betul Ty, tak pernah aku kenal orang PRD itu, tak pernah tahu", kataku meyakinkan.
– "Dari segi pengetahuan dan rasa-rokhanimu cobalah lihat, selidiki aku. Sesungguhnya laporan penulisnya samasekali tak berdasar. Mereka asal tulis saja, tanpa penyelidikan. Mereka harus membuat laporan demi pekerjaannya", kataku dengan harapan Aty mau mengerti keteranganku.
Dan Aty memang kulihat berkonsentrasi pada profesi pekerjaannya sebagai paranormal yang menjadi anutannya.
Ketika itu menurut tiket pesawat kami harus kembali ke Paris pada tanggal sekian dua hari lagi. Padahal mauku sekarang ini. Jangan sampai keduluan keciduk. Kalau keciduk, atau tertangkap dengan jelas dan ada proses hukumnya, memang dapat diusut dan diurus. Tetapi ini negara RI yang kacaubalau, tak ada hukum, tak ada pengadilan yang jujur dan benar. Sewaktu-waktu seseorang bisa diteror, dan hilang raib begitu saja. Walaupun orang asing dan sudah melapor kepada kedutaannya masing-masing, takkan mungkin kedutaan asing itu dapat melindungi warganegaranya. Di sini pembunuhan gelap, terorisme sudah tak terkontrol. Ini sudah dibiasakan oleh penguasa-pemerintah-Abri selama puluhan tahun ini. Dan perkara inilah yang sebenarnya sangat kukuatirkan.
– "Dalam beberapa hari sebelum Oom pulang ini, agar jangan banyak bepergian terutama kalau sendirian", kata Aty. Dan aku sudah menyatakan banyak kemungkinan terburuk sekalipun, agar nantinya Aty tolong menguruskan Lulu dan mengembalikannya kepada orangtuanya di Paris. Sebenarnya soal ini bukanlah hal sangat jauh, karena ibu Lulu, anakku itu adalah sepupu Aty. Dan Aty sangat mengerti semua apa yang kukuatirkan. Ayah Aty meninggal di penjara , dan ketika sakitnyapun borgol di kakinya itu tak lepas-lepas, walaupun tidak mungkin melarikan diri, karena memang sudah tak punya tenaga lagi. Tetapi itulah buat melengkapi cerita tentang kekejaman zaman penguasa Cendana ini. Kami dengan Aty dan sekeluarganya adalah satu ikatan penderitaan yang sangat lama serta bergenerasi disiksa dan terus menerima aniaya penguasa Cendana ini.
– "Saya akan antarkan Oom dan Lulu sampai naik tangga pesawat", kata Aty mantap.
– "Berhati-hatilah dan berdoalah dengan cara Oom, dan semoga kita lancar-lancar saja adanya", kata Aty juga sambil meyakinkan dirinya.
Dua hari sebelum berangkat pulang itu bukan main gelisah dan kuatir serta ngerinya aku. Yang paling kuingat yalah Lulu. Nasib bocah cucu kesayanganku ini ke mana saja aku ke Indonesia selalu kami berdua dengannya. Dan kini ada musibah ini. Betapa akan malangnya dia seandainya aku terbunuh karena teror gelap, dan dia pulang ke Paris tanpa kakeknya.
Di dalam pesawat semua kuceritakan pada Lulu. Dan Lulu merenung lama sekali. Terdengar tarikan nafasnya.
– "Tres dangereux!"
– "Bien-sur tres dangereux", kataku menimpalinya. Dan Lulu mendekatkan dirinya lalu malah dialah yang duluan memelukku dengan sayangnya.
Betul-betul laporan sinting entah dari intel mana yang nyaris saja menghilangkan diriku dari peredaran kehidupan ini.
23 Februari 1999
Masarakat Indonesia di Paris tidak banyak. Apalagi ketika awal tahun 80-an. Sebenarnya bukan hanya di Paris saja, bahkan seluruh Perancis. Kalau dihitung perjiwa, semua orang Indonesia di seluruh Perancis, dengan bayi dan orang-orang tua sekaligus, paling banyak 1000-an orang. Pernah kami berpendapat bahwa orang Indonesia di seluruh Perancis lebih sedikt dari orang Indonesia di kota kecil di Holland, misalnya saja dibandingkan dengan di Woerden, atau Utrecht.
Kalau dibandingkan dengan Holland, orang Indonesia di Holland itu sudah bagaikan "kampung Melayu". Di mana-mana kita akan menemui orang Indonesia. Maksudnya orang yang bisa berbahasa Indonesia, atau asalnya Indonesia, atau keturunan Indonesia. Soal warganegaranya sudah tentu banyak yang sudah menjadi warganegara Belanda. Di jalanan, pertokoan, pasar, stasiun kereta, atau di mana saja kita mudah menemukan orang Indonesia. Bahkan terkadang tidak hanya kita dengar mereka berbahasa Indonesia, malah berbahasa Jawa yang berat dan medok, dan terkadang kita lupa bahwa hal ini terjadi di bagian benua Eropa yang bernama Holland.
Tidak demikian halnya di Paris atau Perancis. Orang Indonesianya sangat sedikit dan kita akan sangat jarang bertemu dengan orang Indonesia. Sering kami bercerita bahwa selama Retoran kami berdiri sejak tanggal 14 Desember 1982 di Paris, sampai detik ini tanggal 24 Februari 1999, tamu kami orang Indonesia sangat jarang. Bahkan terkadang dalam satu minggu tak seorangpun orang Indonesianya. Tamu kami, yang menjadi client atau pelanggan kami memang pada umumnya orang bule, orang Eropa atau Amerika, Kanada dan yang lainnya.
Karena itu bisa dipahami kalau kami merasa "sangat haus" bergaul dan bertemu dengan orang Indonesia. Biar bagaimanapun ada pengaruh sejarah lama, sejarah-gelap bangsa. Tidak usah kami sembunyikan, bahwa pada suatu waktu pernah Kedutaan di kota kami mengedarkan surat seruan, atau himbauan, mungkin juga instruksi, agar janganlah mengunjungi atau makan di restoran kami, Restoran Indonesia. Karena apa, apa pula pasalnya? Karena resto kami dianggap resto orang kiri, resto berbau komunis, musuh negara, resto, "kaum pelarian" politik, demikian kata mereka. Kalau tak salah, "seruan", "himbauan atau instruksi" itu ketika zamannya Menlunya masih Mochtar Kusumaatmadja.
Tetapi ya tentu saja seruan dan himbauan itu bagaimana mengontrolnya. Soal resto, soal makan, kan soal perut dan selera, bukan soal politik atau musuh negara. Diam-diam tak sedikit yang "melanggar" seruan dan himbauan itu. Baik dari pegawai atau yang ada sangkut pautnya dengan Ambassad maupun para warganegara biasa atau misalnya para mahasiswa. Dan mereka tetap saja ada yang datang sekali-sekali walaupun sangat jarang. Maka berlakulah tahu sama tahu. Mereka tahu kami dan kami tahu mereka. Kami ngomong, berkelakar biasa, dan kamipun bersenda-gurau. Bahkan bukan hanya itu, kamipun tahu juga bahwa yang datang makan dan yang bersama mereka itu ada juga yang "merangkap pengawas dan pengamat atau pelapor". Bahasa profesinya yalah intel. Tapi kan siapa tahu dan bisa menentukan bahwa seseorang itu pasti adalah intel. Seperti halnya buah duren, siapa tahu isinya di dalam, tebal atau tipis, kuning-tembaga atau putih-susu. Kata orang, sebelum jadi intel kan magang dulu. Mungkin mula-mula menjadi pelapor amatiran, lalu jadi informan, lalu meningkat lagi jadi intel. Dan mungkin lebih tinggi lagi lalu jadi mata-mata, bahasa profesinya : spion. Spionage istilah bagusnya.
Kami sebagai pihak pengelola resto sesuai dengan fungsinya dan lagi berfilsafatkan secara universalnya, pembeli dan pelanggan itu adalah raja, maka kami harus meladeni mereka dengan baik, dengan ramah, dengan seharusnya menyenangkan pembeli dan pelanggan. Tidak boleh si A harus diladeni lebih dari si B, karena si A pro kita, sedangkan si B anti kita. Kami pada umumnya "dipersenjatai" filsafat semacam itu. Secara sarkastisnya, kami pegawai dan pengelola resto sebenarnya hidupnya tergantung pada isi kantong pelanggan!! Karena itu harus bekerja dengan baik, ramah dan murah senyum, meladeni pelanggan dengan hangat. Semua perilaku sedapat mungkin menyenangkan pelanggan dan pembeli, baik yang lama maupun yang baru.
Bila datang orang Indonesia ke tempat kami atau bertemu-muka, ngobrol, cerita-cerita, bukan main kami senangnya. Tadi sudah dikatakan, kami haus akan pergaulan dan pertemuan dengan orang Indonesia itu. Kalau ada yang mau menginap di rumah kami dan mau menumpang barangkan beberapa malam, wah, senangnya hati ini. Rasanya suatu penghargaan yang sangat mahal dan sangat jarang kami dapatkan. Sering teman-teman kami menginap di tempat kami atau di beberapa tempat teman-teman yang lain. Baik dari Indonesia maupun yang berdatangan dari Eropa lainnya. Bahkan pernah dari
– "ujung dunia" Selandia Baru dan Australia.
Akan lebih dan tambah meriah pembicaran dan kehangatan kalau yang datang itu lebih spesifik. Maksud spesifik di sini yalah yang bukan biasa. Misalnya tamu kami yang dari Timor Timur, atau Irian Barat atau dari "ujung dunia" itu tadi.
Ada beberapa tamu kami dari daerah ini. Seorang yang bernama Lukas, dari keterangannya, dia berasal dari Timor Timur. Orangnya sangat ramah, kocak dan pandai cerita. Lebih menarik lagi orang ini pandai menyanyi dan main gitar. Suaranya bagus. Tapi kulitnya tidak sehitam tamu-tamu kami dari Timtim lainnya. Bukankah sudah sewajarnya kami dengan hangat menyambut tamu kami yang berjuang menentang penindasan dan penyiksaan dari rezim militer Suharto? Lukas banyak bercerita tentang pekerjaan sehari-hari dan mondar-mandir antara Timtim, Australia, dan ke Eropa ini. Dia juga berhubungan dengan teman-teman yang disebutkannya, yang juga kami kenal, dan pernah ke tempat kami. Betapa Lukas ini selalu hangat, gembira, dan pandai bergurau dan menyenangkan. Rasanya sangat berat ketika berpisah. Dia akan ke Kanada dan lalu ke Australia untuk masuk ke Timtim lagi. Dia berpos-tetap di Darwin. Sebuah kota yang sangat dekat dengan Timor dan kantor berita pemantau di Australia yang khusus mengikuti perkembangan perjuangan rakyat Timtim di bawah Fretilin.
Sehari dua, sangat terkesan selama Lukas dengan kami. Dan beberapa hari sesudah itu ada tilpun dari Jerman, dari teman dekat kami.
– "Jadi benar bahwa si Suparto di tempat kalian?"
– "Siapa Suparto?", tanya kami.
– "Akh, kalian, betul-betul kebobolan! Dia yang ngaku namanya Lukas kan!"
– "Ya, lalu apanya yang kebobolan?".
– "Jadi kalian belum ngerti bahwa dia dari Bakin?!"
– "Ha. . . . . . apa?!"
– "Ya, orang itu si Suparto, dari Bakin. Orang kiriman Jakarta!
Waduh, waduh, celaka kita", kata suara di sana menyesali kami. Dan kami terhenyak, kaget, heran, bercampur gemas. Menyesali diri dengan keramahan dan kehangatan yang mungkin terlalu percaya lalu terbenam-tenggelam dalam kebodohan.
Kami saling berpandangan, yang satu melihat yang lain, dan beberpa menit terdiam, terpaku di kursi.
Apakah ini suatu penipuan permaafan di antara kami? Bahwa sebenarnya kalau diperiksa dengan teliti, bagaimanapun kami sudah melakukan kesalahan. Kesalahan itu yalah, kurang periksa, kurang teliti, menggampangkan persoalan, terlalu naif, terlalu percaya. Lalu kalau diperiksa lagi, apa saja yang kami "bocorkan" kepada Lukas yang si Suparto itu? Sebenarnya tidaklah sangat berarti, sebab semua yang kami katakan atas pertanyaannya adalah bersifat umum, di mana semua orang pada pokoknya sudah tahu, dan ada di media-cetak dan media-elektronik.
Kalau sesudah itu ada teman yang menyatakan "Paris kebobolan", mungkin terlalu dilebihkan. Apanya yang bobol, memangnya tempat kami ini markas-besar?Memangnya tempat kami ini penuh rahasia-gelap-perjuangan, garis-garis politik tertentu? Tidak, tidak begitu. Tak ada yang bisa didapatkan si Lukas buat laporan penting ke pusat pekerjaannya. Dan lagi apa sih gerakan kami ini? Paling-paling yang paling kami utamakan yalah buat bertahan-hidup, buat menancapkan kaki dan pantat dulu, agar bisa berkedudukan-tempat yang tetap. Ini penting agar bisa bertahan lama dalam kehidupan.
Setelah kami cek lagi dengan banyak teman lain, di Holland dan tempat lainnya, memang benar Lukas yang si Suparto itu adalah kiriman Bakin. Bagaimanapun kami harus berhati-hati dan teliti;waspada, dan ternyata dalam pergaulan hidup ini tidak cukup hanya dengan ramah-tamah, hangat dan terbuka saja. Hidup ini terus berkelanjutan dengan selukbeluk yang selalu harus sealiran dan seikutan dengan irama alir-mengalirnya jalur kehidupan yang mengglobal, mendunia, apalagi zaman informasi dan ferormasi ini.
24 Februari 1999
Aku punya teman akrab, namanya Mahmud. Sepanjang kehidupanku, bergaul dengan teman yang dirasakan paling akrab, memang hanyalah dengan Mahmud ini. Dari sejak kecil, sejak di SD kami sudah selalu bersama-sama. Dan ketika melanjutkan sekolah ke Jakarta dari kampung kami Belitung, juga kami berdua. Hanya berdua yang pada pokoknya belum pernah ke mana-mana, masih sangat kampungan. Waktu itu tahun 1948.
Sesampainya di Jakarta kami hidup di sebuah kamar yang tidak besar. Tetapi penghuninya kalau lengkap berdatangan, bisa sampai 6 sampai 7 orang. Abangku, Mahmud ini, lalu Chairil, terkadang Pai, atau Rivai Apin dan beberapa teman yang kebetulan menginap tak tetap.
Dari sejak SD aku sudah suka membaca buku atau majalah yang ada sangkut pautnya dengan sastra dan budaya. Dan pertama kali mengarang ketika di SD kelas 5, waktu umur menjelang 13. Kelas 5-nya "sudah tua", sebab terhenti waktu Jepang beberapa tahun tak sekolah. Rasanya bukan main melambung tingginya ketika karangan kita pertama kali dimuat. Padahal aku masih ingat betul ketika itu, aku mengirimkan karangan itu ditulis dengan pena kuno. Dan ya kok mau-maunya redaktur majalah WAKTU yang di Medan itu memuatnya. Padahal tulisan tanganku bukan main jeleknya. Ketika itu mana pula ada mesintik, dan kalaupun ada, manapula bisa!
Teman sekamar kami yang bernama Chairil ini memang agak aneh orangnya. Badannya kurus, matanya merah, pembawaannya kasar, kalau ketawa ngakak keras sekali. Rambutnya tak pernah disisir rapi, berpakaian sangat sederhana. Tetapi daya bacanya luar biasa. Dia teman abangku. Diam-diam Chairil ini sering juga memperhatikan dan mengawasiku. Dan kami jadi berkenalan lebih akrab, walaupun ketika itu aku baru kelas satu SMP. Dia tahu bahwa aku suka bikin puisi atau cerita. Dan makin tertariklah dia setelah membaca beberapa sajakku. Dan ada yang bahkan diambilnya untuk ditunjukkan pada temannya yang katanya bernama Jassin, yang pada akhirnya tahu juga aku, bahwa ternyata Chairil inilah yang dikatakan orang Chairil Anwar pelopor Angkatan 45 itu. Dan Jassin yang gemuk-padat dan pendek itulah yang digelari Gayus Siagian, seorang Paus Sastra itu, HB Jassin. Akhirnya aku banyak mengenal orang-orang ini yang selalu ke rumah kami. Temanku yang akrab Mahmud tetap bersama kami.
Suatu kali pernah datang seorang serdadu Belanda membawa sten, senjata lengkapnya. Ngeri juga kami dibuatnya. Tapi dia ini termasuk temannya Chairil dan abangku. Ketika itu belum populer sebutan intel, tapi lebih menarik sebutan informan, dan nefis(Netherlands Expeditionary Forces Intelligence Service), badan mata-mata Belanda. Tapi semua teman-temannya pada ramah dan serdadu itupun ramah dan kelihatannya tak ada wajah ketakutan atau merasa asing. Mereka seperti berteman sudah lama. Belakangan barulah kami tahu bahwa serdadu itu adalah "serdadu baik", yang sampai kinipun masih ada dan terkenal dengan perjuangan hak-hak azasi manusianya-, dialah JC Princen. - Kami kenal dan datang ke tempat kami, yang ketika itu kami masih belum meninggalkan dunia kanak-kanaknya. Semua kejadian dan peristiwa ini kami berdua Mahmud mengalaminya sama-sama. Semua peristiwa ini terjadi pada tahun 1948 dan 1949, sebelum meninggalnya Chairil tahun itu juga.
Oleh sebab banyak hal dan peristiwa selanjutnya, maka kami berpisah dengan Mahmud. Rupanya perpisahan ini sangat membekas pada kami berdua dan terutama padaku. Sangat terasa aku punya andil dosa sangat besar pada Mahmud ini. Aku pernah juga merasakan dosaku terhadap Mahmud ini bukan main pada akhirnya membuat Mahmud sangat menderita. Dari pergaulan kami yang bertahun-tahun, sudah barangtentu ada saling keterpengaruhan, saling kedekatan. Mahmud condong ke gerakan revolusioner, dan karena dia sudah sarjana dan bergerak dalam bidang kesarjanaan, maka dia menjadi anggota HSI(Himpunan Sarjana Indonesia), - sudah tentu aku sangat gembira mendengar kabar ini. Ini hanya kabar, mengapa kukatakan kabar, karena aku sudah pindah ke Beijing pada tahun 1963. Itulah yang kusebutkan perpisahan tadi. Mengapa aku merasa berdosa kepada Mahmud?
Ada terasa padaku bahwa Mahmud yang pada akhirnya "terbawa-bawa" ke gerakan kiri ini, bukankah karena saling pengaruh dan kedekatan antara kami selama itu? Banyak diskusi, berdebat, bahkan bertengkar, tukar pengalaman, informasi dan saling belajar memecahkan persoalan secara dialektika, dialektis-materialis. Dan bukankah Mahmud pada akhirnya masuk gerakan kiri? Yang kukatakan ada "terasa dosa" itu yalah, baru saja Mahmud mau berkecimpung dalam gerakan, tahu-tahu terjadilah peristiwa-sejarah-nasional itu. Dan Mahmud tinggal diciduk. Dia kena duabelas tahun ngendon di beberapa penjara dan rumahtahanan di Jakarta. Ketika kami ketemu tahun 1993, kami pada cerita dan Mahmud sempat cerita padaku, sebenarnya betapa dia inginnya ke Pulau Buru itu bersama begitu banyak temannya. Tetapi sudah tentu soal pindah-memindah tapol bukan urusan mau atau tidak mau, suka atau tidak suka.
Pada bagian lain sudah kuceritakan tentang Paman Johari. Inilah abang Mahmud. Kena 8 tahun karena ke mana-mana bercerita dengan senang dan bangganya bahwa dia juga adalah temannya Bang Amat, satu sekolah bahkan satu kelas. Ketika peristiwa itu, Paman Johari kena 8 tahun hanya karena dan semata-mata cerita itu saja, bukan ikut politik, bukan punya partai dan ikut partai tertentu. Mendengar cerita Mahmud dan Paman Johari ini, rasanya hati ini bagaikan diiris-iris. Luar biasa siksaan dan penderitaan yang mereka alami.
Begitu dekatnya dan akrabnya aku dengan Mahmud, nama itu kuabadikan, kucantumkan sebagai nama samaranku dalam karangan. Untung aku punya catatan tentang nama samaran. Aku pernah dan punya nama samaran sebanyak 25 buah. Di antaranya yang paling sering kupakai yalah nama Mahmud ini. Pada suatu majalalah Belanda Feiten en Meningen, sebuah puisiku yang bergandengan dengan Mas Willy, Rendra, kami berdua mengisi ruangan sastranya. Belasan tahun, sesudah itu, aku ketemu Mas Wil, dan kuceritakan tentang ini. Mas Wil, berkata : "lho kenapa kau pakai nama samaran, ngapain nama samaran!", katanya.
– "Kalau pakai nama betul lalu siapa yang mau dan berani memuat. Kau tokh tahu aku ini siapa, dianggap kayak penjahat atau punya penyakit menular yang sangat berbahaya saja". Lalu dia diam dan agak lama barulah mengerti.
Punya nama samaran yang begitu banyak, kalau tak dicatat maka akan mudah lupa, atau bahkan mungkin tidak akan ingat nama-nama itu. Memang yang paling banyak kugunakan selama di perantauan itu adalah nama Mahmud(sorry, inipun juga masih disamarkan!!).
Setiap aku pulang mudik ke tanahair, katakanlah ke Jakarta, aku selalu menemui teman akrabku Mahmud. Dan kami kalau masing-masing sempat, selalu berdua, dan mangkalnya di rumah Joebaar. Ngobrol, diskusi, tanya-jawab dan saling cerita. Bisa dipahami, betapa aku merasa sangat kehilangan setelah Ajoeb meninggal, sangat terpukul, menyedihkan.
Ada keherananku yang lama sekali kupendam. Dalam pada itu mengapa teman akrabku Mahmud ini tak pernah mengajakku ke rumahnya. Padahal kami sangat dekat dan akrab. Sangat aneh kalau orang lain tahu bahwa antara aku dan Mahmud yang begitu dekat dan akrab tetapi Mahmud tak pernah mengajakku bertandang ke rumahnya. Kalau kami bertemu selalu di rumah penumpanganku, di rumah ponakanku yang sebenarnya tak jauh dari rumah Mahmud, masih sama-sama Jakarta Timur.
Karena keterpaksaan ketika aku menjemput Mahmud di rumahnya ketika bermobil dengan ponakanku, tahu juga aku rumahnya yang dekat komplek IKIP. Tapi ketika itu Mahmud tak menwarkan agar singgah, mampir dulu. Kelihatannya dia sengaja agak menghindar buat mengajakku mampir di rumahnya. Setelah dia menceritakan tentang semua ini, karena kutanyakan terusterang, mengapa dia tidak pernah mengajakku ke rumahnya. Bukan main luas dan besarnya penderitaan Mahmud ini. Belum lama ini dia dipecat dari tempat pekerjaannya yang dulunya sebagai dosen di universitas Untag. Karena tidak bersih lingkungan, karena dia pernah jadi tapol selama belasan tahun. Istrinya juga dosen di IKIP, tetapi sudah tentu tidak tenang juga, karena bukankah dia adalah istri seorang bekas tapol? Tetapi juga ada kemungkinan karena "bantuan dan pertolongan atau berkat" dua adiknya, yaitu ipar Mahmud. Lalu ada apa hubungannya?
Suatu ketika Mahmud pernah cerita.
– "Jadi tahulah kau sekarang kalau aku tidak menawarimu datang berkunjung ke rumahku kan? Dua iparku itu bekerja di bagian intel, yang kerjanya kan kau tahu sendiri. Memang sampai kini tidak atau belum membahayakan, tapi kan siapa tahu selanjutnya akan lain. Atau karena terdesak bisa saja menjual secara ketengen informasi asal-asalan, atau laporan palsu".
– "Tapi kalaupun dia mau mengintelimu, lalu apanya lagi sih. Kau kan bekas tapol belasan tahun di penjara, lalu istrimu itu adalah kakaknya sendiri kan!".
– "Ya itu dari segi lain. Justru yang kukuatirkan adalah kau, bukan aku.
Aku jelas golongannya, memang nyata bekas tapol, dan istriku adalah kakak kandungnya. Tetapi sebenarnya dalam hal-hal tertentu kalau sudah terdesak dan terpaksa, mana ada kandungan kata keluarga, sedarah dan sekandung segala macam. Kan kau tahu RI ini, sudah tak tentu arah, selalu mungkin, selalu bisa terjadi", kata Mahmud. Dan sekali ini ada keanehan. Aku yang dulu takut-takut saja pada intel ini, merasa ciut di depan intel, malah kini rasanya mau sekali bertemu dan ngobrol dengannya. Dulu malah intel yang lebih lihay dan cukup bahaya ketika kami dikatakan "kebobolan" itu. (lihat INTEL 5).
Tetapi aku tidak mendesak Mahmud bahwa aku mau datang dan berkunjung ke rumahnya hanya mau bertemu dan ngobrol dengan dua intel yang iparnya sendiri itu. Sudahlah jangan pula diperpanjang penderitaan Mahmud yang memang sudah sangat panjang dan lama ini. Sudah cukuplah kau membikin menderita Mahmud, kataku sendiri menasehati diri. Dosamu kan sudah cukup besar, mengapa pula mau bikin dosa baru!, kataku lagi. Berharap dan berdoalah agar Mahmud selalu tenang, aman dan hidup sejahtera.
25 Februari 1999
Ada-ada saja yang kami hadapi ketika mula-pertama mendirikan resto dulu. Baru saja bisa mengatasi kesulitan yang satu, kesulitan yang lain muncul didepan. Lalu baru saja diselesaikan , segera datang yang lain. Benar juga kata peribahasa modern, hidup ini hanyalah menyelesaikan satu kontradiksi dengan kontradiksi yang lain, begitu terus. Ketika giliranku bertugas di depan, artinya di sal, datang tiga orang yang berbadan tegap, berkulit agak gelap. Dengan mata tampak agak liar, menyapu kesekeliling ruangan sampai jauh ke dapur. Mereka minta bertemu dengan pimpinan resto. Kukatakan dia sedang tak ada di tempat. Lalu mereka minta alamat rumahnya dan tilpunnya sekaligus. Aku sendiri tidak pernah tahu di mana rumah dan tilpun Pascal, pimpinan resto kami. Ketika itu baru saja kami buka resto, masih dalam bulan Desember. Sedangkan peresmian pembukaannya pada tanggal 14 Desember 1982.
Kukatakan pada tiga pria kekar itu, agar datang saja lagi besok atau lusa, mungkin Pascal akan datang ke resto lagi. Pascal baru saja pergi ketika mereka datang. Dalam buku pesan-tempat, memang ada catatan nomor tilpun Pascal, inipun setelah kucari. Semua kejadian kulaporkan pada Pascal. Dan Pascal menyanggupi untuk datang menemui mereka bertiga itu.
Aku sudah merasakan, kira-kira mereka memang mau memeras kami. Sebab mereka tadi memang mengatakan mau mengajak "kerjasama".
Keesokannya datang lagi, tapi bukannya bertiga, malah ada lagi teman-temannya yang kelihatannya menunggu di mobil. Dan "tugasku berjaga" terasa agak ringan dari kemaren, karena kebetulan ada Pascal, direktur kami. Pascal memang menemui mereka dan diajaknya duduk, bicara baik-baik. Aku memperhatikan wajah mereka yang agak sangar, tetapi Pascal tampak menguasai diri. Pascal yang berbadan kecil kerempeng itu, kalau dia tak pakai brewokan, jenggot dan kumis melintang, akan lebih tampak sangat tak seimbang menghadapi pria gagah secara fisik itu.
Pascal minta agar aku menyajikan minuman buat mereka. Kuhidangkan bir heineken. Dan aku berdiri tidak jauh dari mereka, mengawasi dan mendengarkan percakapan. Rasanya berada dekat Pascal yang kerempeng itu lebih terasa aman dan terjamin, sungguh aneh perasaan ini. Dari mana Pascal dapat secara magis kekuatan dan keberanian itu.
Tamu yang sebenarnya tak diharapkan itu, mengajukan usul kepada Pascal agar mau "kerjasama", agar keamanan resto kami bisa terjamin, tidak akan ada apa-apa yang mengganggu. Tidak akan ada ancaman dan pemerasan dari pihak manapun, asal mau menandatangani perjanjian "kerjasama" itu, tentunya sesudah ada pasal-pasal harus bayar berapa setiap minggunya atau bulannya. Dan ternyata memang ada jenis resto, pertokoan, bar, cafe yang "minta perlindungan" kepada berbagai geng di Paris ini.
Kudengar dalam perundingan tersebut, Pascal menolak "kerjasama" cara demikian. Dan, kata Pascal, kami sudah mengadakan kerjasama dengan kepolisian, apalagi resto ini pada pokoknya sandaran hidup buat seluruh para pekerjanya. Dan kebanyakan para pekerja dan pegawainya itu adalah refugie-politik, orang-orang yang dapat asile, perlindungan politik dari pemerintah Perancis. Artinya secara resmi kaum pelarian itu mendapatkan hak-perlindungan dan jaminan-keamanan kehidupannya. Tampaknya perundingan menghadapi jalan-buntu. Mereka tetap mengusulkan adanya "kerjasama" itu. Dan Pascal tampaknya juga berkeras menolak kerja-sama cara begitu. Mengapa orang-orang seperti mereka yang terlempar dan terdampar dari negaranya, pemerintahnya, lalu mau berusaha sendiri agar tak tergantung pada pemerintah Perancis, tahu-tahu sekarang akan jatug ke mulut atau sarang. . . . . yang beginian.
Pascal dengan keras menolak cara kerjasama demikian. Kalau mau kerjasama yang benar-benar baik dan saling menguntungkan, justru agar tidak mengadakan kerjasama cara demikian. Dan perundingan terasa akan memasuki tahap ancaman. Tampak Pascal tetap menguasai diri dan berani bicara di depan para yang kalau di kampung kita, adalah para jawara.
– "Pokoknya beginilah", kata Pascal dengan nada memutuskan perundingan itu.
– "Mereka ini adalah pelarian politik, mau berusaha hidup mandiri, tidak tergantung pada bantuan pemerintah. Mereka yang di negaranya sendiri dikejar-kejar, diancam, keluarganya dibunuhi, disiksa, digorok lehernya, sampai kini dalam penjara, kini mereka mendapat perlindungan politik dari pemerintah. Dan pemerintah benar-benar harus secara konsekwen melindungi mereka, begitu dalam perjanjian yang mereka tandatangani dengan pihak penguasa negeri ini. Karena itu badan dan alat-alat negara secara khusus harus memperhatikan keamanan kehidupan mereka, karena mereka memang mendapatkan hak-perlindungan tersebut", kata Pascal menegaskan.
Tampak tamu yang tak diundang itu sedikit bernada minor.
– "Tapi kalau terjadi apa-apa, yang semua kita tidak menghendakinya, agar pihak Anda sudah mengetahuinya. Bahwa kami sudah datang baik-baik menawarkan kerjasama kepada pihak Anda", katanya.
– "Antara kita punya perbedaan pandangan yang sangat besar", kata Pascal.
– "Yang Anda tawarkan bagi kami samasekali bukan ajakan kerjasama, tetapi santage, ancaman. Mereka para pelarian politik ini di negaranya yang namanya santage itu sudah amat biasa, bahkan seperti yang saya sebutkan tadi, pembunuhan sekalipun, penculikan, potong kepala", kata Pascal sambil melintangkan tangannya di tengah lehernya. Aku yang duduk dekat situ menjadi tambah semangat, karena "pidato" Pascal yang isinya semua membela kami.
Tampaknya "perundingan" itu tetap menghadapi jalan buntu. Mereka tetap tidak melonggarkan ancamannya, sedangkan Pascal dengan teguh dan kukuh tetap menolak kerja-sama demikian. Kata Pascal sambil mengeluarkan kartu nama dan "markas-pusatnya" di mana dia berkantor-tetap sehari-hari.
– "Ini alamat saya yang jelas. Anda dapat menghubungi saya setiap waktu dan kapanpun. Malampun selalu ada orang yang bertugas di tempat saya. Anda bisa kapanpun kalau mau bertemu dan mencari saya", kata Pascal dengan suara tegas dan terasa kemarahannya yang dalam tetapi tersembunyikan sangat. Sedangkan orang-orang itu tak ada sedikitpun bersedia memberikan alamat tetapnya, hanya alamat sementara katanya.
Pascal sejak resto kami berdiri, sudah kami angkat menjadi gerant, patronnya, chef resto. Dia bekerja benar-benar mengabdi secara sukarela. Sejak resto berdiri sampai detik ini, dia tidak bergaji. Tidak pernah satu senpun dia mendapat gaji dari resto kami. Karena itu sebagai imbalan terimakasih kami, setiap akhir tahun dia sekeluarga, hanya kami hadiahi kado berbentuk barang-asli dari negeri kita. Seperti kain-batik, patung, topeng, perhiasan-kerajinan-tangan. Dan dia kami bebaskan untuk makan di resto, termasuk sekeluarganya dan kalau dia mau membawa teman-temannya dan keluarga lainnya. Tetapi kalaupun dia membawa teman dan keluarganya, belum pernah dia makan secara gratis. Dia akan selalu membayar yang dia perhitungkan sendiri harga maupun nilai-jualnya. Semua kami serahkan padanya. Yang padahal resto ini sebenarnya juga termasuk restonya sendiri.
Ketenangan dan keberanian Pascal menghadapi semua ancaman apapun, bukan hanya sekali itu saja. Kelihatannya "sudah jadi airmandinya" kata orang kampung kami. Dan kalau orang-orang yang tak diundang tadi itu tahu, apa sebenarnya pekerjaan Pascal, mungkin juga akan sedikit berpikir bahwa mengancam orang kurus-kerempeng seperti Pascal itu harus dipertimbangkan baik-baik. Pascal adalah direktur Asrama Migrant dan Pelarian Politik dari Afrika. Ratusan bahkan ribuan anak-buahnya orang-orang dari benua hitam itu. Dan kamipun berteman baik dengan orang-orang Afrika, baik migrant maupun asile politiknya.
Ketika kami mula-pertama mendirikan resto di Paris, tak seorangpun di antara kami yang sudah berwarganegara Perancis. Dan ini tidak boleh menurut undang-undang, seorang direktur resto apalagi resto specialite(masakan khusus Indonesia)harus warganegara Perancis. Untuk itulah Pascal sejak mula bersedia kami angkat jadi direktur-utama resto. Dan setelah belasan tahun sesudah itu, di mana kami semua sudah mendapat kewarnegaraan tuan-rumah, pernah Pascal mengajukan keinginan untuk mengundurkan diri. Tetapi tak seorangpun di antara kami yang menyetujuinya. Dan Pascal tak jadi mengundurkan diri, tetapi tak pula mau mengubah statusnya, yaitu menjadi patron-tanpa-gaji alias patron-volentee, sukarela, dari sejak resto berdiri entah sampai kapan. Tapi dia tahu bahwa kami menyukai, mencintainya, menghargainya. Sesudah 16 tahun jalan, sudah banyak di antara kami yang pensiun bahkan ada yang sudah meninggal, Pascal dengan senyum, "jadi saya sendiri ini kapan ya bisa pensiun?", katanya.
– "Ya, seperti semua teman pensiun itu, sudah berumur lebih dari 60. Anda kan dilahirkan pada tahun 1951, masih jauhlah", kata kami. Dan Pascal pastilah merasakan, kesayangan kami padanya benar-benar bersih. -
27 Februari 1999
Ketika resto kami baru saja berdiri, akhir tahun 1982 dan pada awal 1983, banyak sekali peristiwa yang bagiku sangat menegangkan dan menakutkan. Hidup selalu berkutat dengan kengerian. Tidak ada ketenangan. Sudah capek dan lelah bekerja, katakanlah berjuang buat hidup, buat cari makan, masih juga dikelilingi segala macam ancaman dan intrig.
Ketika kami masih sibuk mengecat dan memperbaiki kerusakan kecil resto kami bagian dalamnya, tahu-tahu datang serombongan polisi. Masuk langsung dan menanyakan mana responsable resto, penanggungjawab resto. Waktu itu organisasai kami betul-betul belum begitu rapi. Jadi Pak Markam yang kami anggap sesepuh kami, dan yang memang tertua di antara kami, dan juga dapat dikatakan orang pertama punya gagasan dalam mendirikan resto, kami tunjuk saja sebagai penanggungjawab. Polisi menanyakan apakah kami mengadakan "rapat-gelap" dan mau mengadakan "kekacauan-politik". Pertanyaan dan "pemeriksaan" polisi itu menjadikan kami malah bertanya-tanya kembali.
Apanya yang rapat-gelap dan apanya yang mau mengadakan kekacauan-politik. Kami tunjukkan pekerjaan kami, yang ketika itu sedang kami lakukan. Ada teman-teman yang sedang mengecat, ada yang sedang membersihkan perabot resto seperti kuali yang beratnya saja lebih 20 kg, ada yang sedang membersihkan piring-mangkuk. Ada yang sedang membongkar dinding yang sudah tua, rusak, buat diganti dengan yang agak baru.
Lalu rombongan polisi itu memeriksa ke seluruh bagian ruangan dan kantor kami yang di atas, di lantai satu. Kami persilahkan mereka melakukan kewajibannya atas nama negara dan tugasnya. Melihat kami dengan terbuka dan seadanya, dan menjawab pertanyaan apa saja yang diminta kejelasan, mereka malah semua berwajah simpatik. Malah suasana menjadi ramai tertawa dan sedikit gurau. Bahkan pada akhir pemeriksaan, kami diminta agar melaporkan kepada bagian kepolisian di daerah kami, arrondisement 6 kota Paris, di mana resto kami tercatat sebagai resto koperasi, bukan resto biasa. Resto berbentuk koperasi ketika itu paling banyak hanya 3 atau 4 di seluruh kota Paris di antara ratusan resto yang ada. Kami sangat heran dengan kedatangan polisi begitu mendadak. Dan lebih heran lagi setelah mereka memeriksa seluruh bagian ruangan dan perorangan kami, malah susana jadi ramah dan hangat. Bahkan masih sempat berpesan agar kalau ada apa-apa harap melaporkan dengan segera. Artinya kalau dari segi ahasa hukum, yang tadinya bisa dianggap tersangka atau yang dicurigai, lalu menjadi dapat perlindungan. Dan ini sangat jarang terjadi. Ada apa? Dan mengapa?
Belakangan setelah kami juga "kasak-kusuk dan cari-cari keterangan" maka tahulah kami. Dulu itu mereka mendapat laporan dari ambassade, KBRI, bahwa di resto kami ada gerakan politik, ada gerakan "rapat-gelap". Dan mengadakan "rapat-gelap" dan mau mengadakan "kekacauan-politik". Maka semua kami dengan menarik nafas panjang. . . . . . . . Oooo itu tokh asal-muasalnya. Itu sih biasa dan akan banyak lagi kami alami, agar setiap teman, terutama yang "resmi dan ditonjolkan" siap menghadapi segala kemungkinan.
Tidak semua teman yang bekerja dan pegawai kami yang bisa kami ajukan "ke depan". Ini demi melindungi teman-teman. Sedangkan yang "resmi dan ditonjolkan" memang hanya dua orang. Dan dua orang ini karena sudah terlalu banyak diketahui dan "masuk pelbagai media", jadi kepalang tanggung sudah basah, berbasah-basahlah. Dan dua orang itu, selain Pak Markam, lalu aku sendiri.
Akibat semua ini, ada akibat lain yang menimpa kami berdua, timbulnya berbagai intrig dan ancaman. Dan kami siap dan harus siap menghadapi semua itu. Tentu saja disamping kesiapan dengan segala selukbeluknya, ada rasa takut, rasa ngeri. Kalau dipikir-pikir, orang mau hidup cari makan saja kok susahnya. Keluarga sudah 60 persen dibunuhi, dipenjara, disiksa, dihina, dipermalukan, dan kini tedampar di negeri asing;masih saja tetap ada yang menguntit.
Baru saja pulang dari resto ketika berdinas malam, dan sampai di rumah sudah lewat jam 24.00. Tahu-tahu ada tilpun, baru mau diangkat lalu diputus oleh pihak sana. Baru mulai terlelap tidur, jam 02.00, ada lagi tilpun. Bunyi tilpun malam larut begini, pastilah bukan hal baik.
– "Hallo, dengar baik-baik ya. Allahhu Akbar, Allahhu Akbar. Kami dari Komando Jihad. Kamu akan kami ambil, siap pisah dengan kamu punya keluarga dan restoran itu!".
Lalu tilpun dimatikan mendadak. Nah, kini mulailah pergulatan intrig dan ancaman itu. Hari dan pagi itu aku tak bisa tidur. Pikiran tidak tenang. Tentu saja takut dan ngeri. Nama Komando Jihad saja sudah bisa membuat bulu roma berdiri. Komando Jihad, semua juga tahu, sejenis gerakan pembunuhan, gerakan terorisme. Kalau di Timur Tengah gerakan ini berkeliaran, dan pekerjaannya memang "menyelesaikan orang per orang" untuk dikirim ke balikpapan atau sukabumi. Dan mengapa ada rasa takut begini? Karena gerakan ini bukan dengan terang-terangan dan jelas, tapi gelap dan sembunyi-sembunyi, tahu-tahu dorr, atau ples dengan tusukan, atau tubrukan kendaraan atau ada orang yang menolakkan ke tengah rel jalan kereta ketika kereta persis mau lewat. Kita tidak tahu di mana musuh berada, kapan, ketika sedang apa dan mengapa. Semua serba gelap. Inilah yang membuat rasa takut dan ngeri.
Dua tiga hari sesudah itu ada lagi tilpun begituan. Mau dimatikan, jangan-jangan nanti ada yang memang mau menilpun secara baik, atau ada tilpun dari Jakarta, atau tempat lain, dari Belanda, Jerman dan lainnya. Dan hal ini pernah terjadi juga, jadi kuputuskan biarkan tilpun tidak usah dimatikan. Hanya sudah tentu sangat terganggu. Isi tilpunnya masih tetap sama. Ancaman.
– "Hallo, hallo. . . . . . kami dari Komando Jihad. Allahu Akbar, Allahhu Akbar. Besok lusa kamu harus kami ki- rim ke neraka. Kami sudah tahu arah perjalanan kamu. Kami sudah tahu gerak-gerik kamu", - dan plok tilpun diletakkan tiba-tiba.
Kulaporkan semua kejadian ini kepada Pascal, direktur resto kami. Dan Pascal meyakinkanku agar jangan terlalu takut. Kalau kita takut, dia akan lebih berani dan kurangajar. Kalau kita takut artinya dia sudah setengah sukses dan berhasil menjalankan intrignya. Kupikir benar juga kata Pascal itu. Dan teringat aku ketika bagaimana Pascal "mencairkan" ancaman beberapa jagoan yang datang ke resto kami mengajak "kerja-sama" dulu itu(di INTEL 7).
Namun bagaimanapun tetap saja ada rasa takut dan ngeri itu. Tadinya ada maksudku membawa golok, lalu kampak, lalu pisau saja, lalu gas-airmata berbentuk tabung. Semua ini dalam rangka membela diri. Tetapi lama kupikir, dan akhirnya tak satupun yang kubawa. Yang kubawa hanyalah keyakinan diri dan doa, minta kepada Tuhan, agar aku dilindungi. Aku dengan jujur cari makan, cari kehidupan, keberadaanku di tanah asing ini justru melarikan diri dari tangkapan dan penyiksaan. Aku seorang pelarian politik, mengapa pula harus diintrig diancam dan mau dibunuh.
Kalau ke luar rumah, selalu saja sebentar-sebentar melihat ke belakang. Ada seseorang yang agak melihat lama kepada kita, lalu dicurigai, jangan-jangan dialah Komando Jihad. Begitu turun dari metro atau naik metro, bis, kereta, selalu waspada, curiga. Seakan-akan selalu ada orang mengikuti diri kita. Dan kita samasekali tidak tenang. Yang kukuatirkan kalau terus takut begini lama-lama akan menyerang saraf, lalu senewen dan gila. Padahal belum tentu apa yang menamakan dirinya itu Komando Jihad itu benar-benar ada dan mau melaksanakan apa yang dikatakannya. Tetapi cara berpikir begini biasanya belum mendominasi, yang mengental yalah rasa takut dan ngeri. Pascal sudah memberikan senjata berpikir, dan juga Pascal pastilah ada juga kekuatiran kalau benar-benar anak-buahnya dimusnahkan secara teror.
Suatu malam ada lagi tilpun itu.
– "Hei si kafir, si komunis, dengar ini. Kami dari Komando Jihad. Kamu akan kami ambil pada hari Sabtu besok. Akan kami bungkus dalam karung, diikat lalu dihanyutkan ke laut. Dengar?!"
– "Hallo, hallo, saya dengar kamu, selalu dengar kamu. Tapi kini saya mau bicara. Kamu jangan jadi pengecut ya!"
– "Kurangajar, tahi-babi si komunis kamu ini. Berani bilang pengecut!".
– "Kalau tidak mau dibilang pengecut, dengar saya bicara. Kamu hanya mau bicara tapi tidak mau dengar orang lain bicara, ini kan pengecut!". Lama terdiam tapi tilpun tetap online. Aku berusaha benar agar dalam setiap kataku harus diucapkan mantap dan harus tenang dan berani. Okh, inilah pengalamanku, bila seseorang rasa-takutnya mungkin sudah melewati batas, lalu berubah menjadi beraninyaluarbiasa, mungkin juga nekad dan mau habis-habisan.
– "Saya tahu benar siapa kamu. Kamu juga harus tahu, jangan dikira orang yang mau kamu jadikan korban selalu dalam keadaan lemah dan tak berdaya. Orang yang dalam keadaan siap perang, siap tempur, selalu punya banyak jalan. Jadi ketahuilah, siapa tahu sebelum kamu membunuh saya, kamu dulu yang saya dahului. Mungkin tidak melalui tangan saya. Tapi yang sudah pasti saya sangat banyak teman, dari berbagai bangsa. Okey, teruskanlah kamu mengancam. Tapi ketahuilah, kamu punya seruan Allahu Akbar berkali-kali itu tidak akan direstui Allah! Allah itu selalu akan melindungi orang yang benar dan jujur. Dan sebelum kamu menetakkan senjata kamu kepada saya, berpikirlah panjang. Karena kamu sudah mulai, maka pertempuran ini harus selesai! Mata kamu mungkin tidak sebanyak mata saya, teman-teman saya. Kini kamu saya hadapi secara jantan. Karena kamu sudah mulai, saya bikin harus sampai!
Mengerti kamu?!".
Sekarang saya siap mendengarkan lagi ocehan ancamannya. Saya diamkan dia mau bilang apa. Tetapi heran dan heran, lalu tilpun di pihak sana diletakkan. Dan aku tidak lagi mendengarkan ancamannya itu. Aku yang terakhir meletakkan tilpun. Sekarang aku bingung. Darimana aku dapat kekuatan itu?Darimana aku dapat keberanian mengucapkan kata-kata tersebut? Dan aku mulai ada rasa harga-diri, sebagai orang yang diancam terus-terusan sudah waktunya menegakkan kepala. Segala resikonya memang harus ditanggung, bukankah keberanian itu juga memerlukan pengorbanan. Puluhan keluargaku dipancung, dipenjara, disiksa, dihina, dipermalukan. Ratusan dan ribuan teman-temanku mengalami ini semua. Lalu aku? Takut? Hilang takut timbul berani. Daripada mati ketakutan akan jauh lebih baik mati karena berlawan, jangan lagi mau dihina dan dipermalukan. Hanya inilah keberanianku mengucapkan kata-kata itu. Dan sejak hari terakhir "kami berdialog" di pagi-buta itu, menjelang subuh, tilpun sejenis demikian sudah tidak terdengar lagi. -
28 Februari 1999
Pada pertengahan tahun 80-an, baru beberapa tahun saja resto kami berdiri, dan ketika aku bertugas service di sal, kulihat seseorang sudah duduk di meja A 1, di pojok sendirian. Sedikit heran, jam-buka masih agak lama, tetapi pelanggan yang satu ini sudah duduk sambil merokok. Aku tidak tahu kapan dia masuk dan lalu duduk mengambil tempat, sedangkan dia tahu bahwa resto belum buka. Resto kami buka pada jam 19, 30, dia datang mungkin jam 19.00.
Bisa saja terjadi, ketika dia datang tadi aku sedang di lantai 1, di kantor membenahi kertas-taplak dan tissue. Memang selalu ada teman bertugas di bar ketika jam-jam menjelang buka. Begitu aku masuk seorang teman di bar mengatakan :
– "Mon, itu ada teman mau ketemu kau", katanya sambil menunjuk ke meja A 1. Dan ketika itulah aku melihatnya dan dia sambil tersenyum. Aku mendatanginya dan duduk berhadapan. Orang ini kelihatannya ramah dan senyum sambil mengulurkan tangannya dan kami bersalaman. Dia pegang tanganku erat. Aku memperhatikannya agak lama. Dia tetap senyum dan seperti mau bertanya.
– "Belum ingat benar, kan. Coba terka siapa saya. Lama sekali ya kita tidak bertemu", sambil menjentikkan api rokoknya ke dalam asbak.
Agak dalam dan jauh aku mengingat. Lama-lama barulah aku ingat samar-samar. Dan dia ngomong buat memancing ingatanku.
– "Ya, baru aku tahu, dan rasanya tak salah duga", kataku.
Lalu dia mencoretkan dua huruf di atas kertas taplak-meja itu. Tertulis MD.
– "Ya, benar dan tepat", kataku sambil sekali lagi menyalaminya dan kami berpelukan hangat, karena sudah hampir seperempat abad tidak bertemu. Dialah Mohamad Djamal, temanku di Jakarta pada tahun awal 60-an. Dan juga pernah satu kelas dengan isteriku alm, ketika masih sama-sama kursus belajar tentang seni-budaya. Lalu kenangan demi kenangan melintas dan terkumpul.
Yang lama maupun yang baru. Yang lama rasanya cukup indah. Tetapi yang baru? Yang baru beberapa tahun ini saja kuketahui? Sambil berpikir dalam hati kami tetap ngobrol, ngalor-ngidul. Pertanyaan demi pertanyaan. Tapi rasanya dari dia lebih banyak diajukan daripada aku mengajukan terhadapnya.
Kutinggalkan dia sebentar. Dan aku pergi mendapatkan teman lain, sebab tampaknya teman lain belum ada yang kenal padanya. Kubisikkan pada teman-teman yang bertugas hari itu-, itulah dianya si Djamal itu. Semua teman sudah tahu tentangnya, tetapi belum tahu siapa orangnya. Dan kini orang itu ada dalam sarangnya orang-orang resto. Aku berpesan-dalam dan sangat agar hati-hati dan tenang, menguasai diri dan tidak terprovokasi. Sebenarnya pesan ini paling tepat harus ditujukan pada diriku sendiri. Jam-service sudah tak lama lagi. Kami berusaha ramah dan sebagaimana menyambut tamu, selalu harus senyum dan hangat.
Beberapa teman mendatanginya dan turut ngobrol. Aku harus siap-siap service. Bagi teman yang tidak bertugas hari itu, bisa ngobrol panjang-lebar dengannya. Dalam obrolan kami berdua tadi, dia banyak menanyakan tentang keluargaku. Meninggalnya isteriku pada tahun 1980 di Beijing dia tahu semua, lalu tentang anakku yang pernah belajar balet-opera dan pernah mementaskan opera petikan Aida di sebuah gereja, juga dia tahu. Maka tambah beratlah persangkaanku bahwa dia memang benar petugas buat yang satu itu. Dan tambah bingung aku dibuatnya, secara tiba-tiba malam itu juga dia mau menginap di rumahku. Kukatakan jangan malam ini, tapi malam besok boleh, karena aku harus punya persiapan, jangan mendadak begitu. Kelihatannya dia tidak begitu senang.
Karena aku harus segera menghadapi kedatangan pelanggan lain, tamu-tamu kami yang setia selalu makan di "warung" kami ini, maka aku tak dapat ngobrol terus-menerus dengannya. Tetapi di selang-seling sana-sini, aku turut nyambung atau tanya yang perlu saja. Dia menanyakan mengapa kami tak ada yang mau pulang ke Indonesia. Kami katakan sekarang ini belum mungkin. Dia katakan lagi, kenapa tidak mungkin, dia siap menjadi penghubung buat mencari sponsor penanggungjawab kepulangan kami, bahkan dia sendiri siap menguruskannya. Pada pokoknya semua teman menguasai masalah pulang ini. Dapat kami pastikan sebenarnya kami lebih tahu dari dia kalau soal pulang. Sebab masalah ini adalah masalah jiwa, hidup-matinya kami dan keluarga kami.
– "Ya, saya siap buat itu. Menghubungi pejabat atau instansi tertentu. Saya sendiri siap membantu, asal teman-teman benar-benar mau pulang", katanya menekankan dirinya-sendiri.
– "Begini, Mal", kataku nyeletuk.
– "Soal pulang bukanlah soal gampang. Tidak ada satupun orang atau pejabat yang bisa menjamin keamanan kami buat pulang tanpa persoalan. Bahkan wakil-presiden Adam Malik-pun tidak bisa dan tidak mampu menjamin seseorang di antara kami buat pulang. Dan ini pengalaman yang pernah dialami seseorang. Dan kami sudah melihat buktinya", kataku.
– "Jadi siapa menurutmu"?
– "Soal pulang adalah persoalan militer! Semua persoalan tidak mungkin beres dan bisa berjalan lancar kalau tidak melalui Bakin atau Kopkamtib. Pihak militerlah yang paling berkuasa dan paling menentukan semua persoalan di Indonesia, termasuk kepulangan pelarian politik, dan apalagi bagi pelarian politik. Kurang apa seorang wakil-presiden seperti Adam-Malik dan tokh dia samasekali tidak berkuasa apa-apa. Jelas sekarang ini tidak mungkin kami pulang dengan aman dan lancar. Samasekali tidak ada jaminan", kataku menjelaskan.
Kelihatan Djamal agak terdiam. Mungkin dia tidak mengira bahwa kami sebenarnya cukup paham me- ngenai masalah pulang dan masalah kami sendiri. Dalam pada itu teman lain menambahkan bagaimana besar dan kuatnya serta mencengkamnya kekuasaan militer di Indonesia. Suasana jadi berbalik. Tadinya dia yang merasakan kira-kira bisa memberikan penerangan dan penjelasan serta harapan buat pulang. Tetapi pada akhirnya dialah yang mendapatkan penjelasan lebih terperinci mengenai masalah pulang.
Tampak sekali bahwa Djamal mendapatkan pengetahuan tentang kami sangat minim. Dan tahu-tahu pada bincang-berbincang tadi itu, seakan dia mendapatkan "kursus gratis" dari beberapa teman. Belum lagi dia tahu banyak bahwa kami sudah lama tahu siapa dia, apa kerjanya selama ini. Bahkan dari keterangan beberapa teman yang dulu " di dalam", Djamal disamping tukangtunjuk, juga langsung menjadi tukanggebuk. Dan ini banyak dialami teman-teman sendiri. Banyak teman-teman heran, mengapa Djamal masih tetap selamat sampai kini.
Sambil bekerja, aku terus berpikir, aneh sangat aneh Djamal ini. Baru pada hari pertama pertemuan yang belum lagi satu jam, sudah mengharapkan agar diajak menginap di rumah. Mana mungkin. Ini kan serangan mendadak. Dan kerja kaum yang begituan memang selalu mendadak, agar kita tak punya persiapan, agar dia bisa menangkap-basah kita. Ada apa di rumah kita, ada apa dengan diri kita, apa dan di mana saja hubungan dan "jaringan serta sel" kita. Semua mereka mau tahu. Ini sangat penting bagi mereka. Sebab dari hasil laporan itulah usaha pekerjaan mencari-makan, mencari sesuap-nasi bagi mereka. Mereka bisa makan, tapi kita di tahan dan dapat gebukan, lalu di penjara untuk tidak kembali dan tidak pernah di ajukan ke pengadilan.
Ketika aku sedang sibuk karena pelanggan sudah mulai berdatangan, dan beberapa teman juga terpaksa harus turuntangan, maka beberapa menit Djamal ditinggalkan dengan pesan, tunggu sebentar nanti obrolan dilanjutkan, tokh ada teman-teman lain yang sebenarnya sedang libur. Tapi betapa kami terkejut dan terheran-heran, kami lihat di kursi-meja A 1 sudah tak ada lagi Djamal. Kami tidak tahu kapan persisnya dia keluar dan samasekali tak pula pamitan dan minta-diri atau permisi. Kami tunggu barangkan beberapa menit atau satu dua jam malah! Namun Djamal tak datang, tak muncul. Sampai keesokan harinya juga tak muncul dan tak ada beritanya. Dia menghilang begitu saja. Dia datang dengan tiba-tiba tanpa memberitahukan sebelumnya, dan dia menghilang tanpa permisi dan pamitan. Kami semua berpikir dengan berbagai macam persangkaan. Tapi ada satu hal yang kami sama-sama berpendapat satu, bahwa Djamal samasekali tidak mengira bahwa kami sebenarnya sudah lama tahu tentang dirinya. Dan Djamal samasekali tidak mengira bahwa "pengetahuan" kami tentang "selukbeluk" pulang cukup memadai dan menguasai. Dan "misi" Djamal kelihatannya gagal dan ketahuan arah gerak-jurusnya kalau diibaratkan jurus-silat.
Dan sejak kejadian itulah yang banyak diketahui teman-teman di Eropa, mengapa membiarkan Djamal lolos. Dan aku yang paling banyak mendapat pertanyaan, bagaimana cerita yang sesungguhnya, bagaimana hubungan kait-mengaitnya dengan Djamal, apa tali-temalinya. Semua ini kupahami, karena begitulah benci-geramnya teman-teman mendengar dan mengetahui Djamal yang jadi tukangtunjuk dan tukanggebuk itu. Dan aku juga harus menjelaskan bahwa tak ada masalah mengapa Djamal dibiarkan lolos. Lalu harus diapakan, memangnya kita ini tukangtangkap dan tukangtahan seperti pekerjaan Djamal itu? Jangan sampai beralih pekerjaan. Djamal itu hanyalah sebutir pasir yang mungkin sangat halusnya di antara batu-batu kerikil dan batu gunung yang harus kita lapangkan buat membangun persawahan dan perkebunan kita nantinya.
1 Maret 1999
Perkara Djamal yang datang ke resto kami tanpa terlebih dulu menampakkan batang-hidung, dan pergi begitu saja tanpa menampakkan punggung, pada sekitar hari-hari itu memang banyak makan-waktu dipersoalkan teman-teman. Ada yang mengatakan kenapa dibiarkan, kenapa bisa lolos. Untuk menjawab pertanyaan ini tidak begitu mudah. Harus meyakinkan bahwa tempat ini adalah sebuah restoran. Restoran itu adalah tempat-kerja, tempat mencari-makan, mencari-kehidupan, mencari sesuap nasi. Lagipula restoran adalah tempat umum, terbuka, siapa saja bisa masuk dan duduk dan makan-minum. Tidak terkecuali apakah seseorang itu mata-mata, mengkhianat, penjahat, pendeta, pastor, polisi. Siapa saja yang mau makan, harus kami ladeni sebagaimana mestinya sebuah resto. Dan bukan tugas resto buat menangkap, memerangkap, menahan dan melakukan kejahatan. Kalau di sebuah resto dirancang sebuah kejahatan dan akan segera dilaksanakan pada hari-hari tertentu, bisa saja terjadi. Dan banyak kejadian demikian. Tetapi bukanlah petugas, pegawai dan pekerja resto, tetapi orang-orang yang datang makan. Semua itu dilakukan orang luar resto yang orang resto tidak mungkin mananyakan identitasnya dulu sebelum makan, apakah dia seorang mata-mata, pengkhianat, atau pastor, pendeta dll. Dan lagi seluruh pegawai, pekerja, petugas resto harus sama-sama mengawasi dan berkewajiban memelihara restonya sebagaimana rumahnya sendiri. Ini kami tekankan karena resto kami adalah sebuah koperasi, sebuah badan kerja-sama para anggotanya, bukan resto biasa. Jadi berusaha agar resto selalu dalam keadaan aman, tenteram dan menyenangkan buat orang-orang makan.
Maka beberapa teman itu menjadi mengerti. Sekali-kali harus dicegah adanya kekacauan, perkelahian, pemukulan, perbuatan kekerasan lainnya. Dan selama belasan tahun resto kami berdiri, memang belum pernah terjadi hal-hal demikian. Ada pertengkaran antara pelanggan, mungkin suami-istri, atau yang sedang pacaran, saling-janji, tapi mereka pada umumnya mengerti. Kalau sudah naik amper-puncaknya biasanya salah seorang atau kedua-duanya ke luar dan tak jadi makan, sambil minta maaf kepada kami. Hal begini pernah terjadi, tetapi sangat jarang.
Tentang perkara Djamal, kami sudah lama tahu dan banyak mendengar tentang hal itu. Tetapi bagaimanapun keadaan sebenarnya pastilah teman-teman di Jakarta jauh lebih tahu dari kami. Karena itu bertambah heranlah aku setelah mengetahui bahwa temanku Ajoeb juga berteman baik dengan Djamal. Bahkan sangat baik, sering bepergian dengan Djamal. Ke luar kota lagi, ke Jabar, Jateng, Jatim. Dan bahkan apabila Ajoeb ke luarkota selalu bersama Djamal dan mengajak Djamal bersama dua temannya lagi. Dan kami pernah saling bercerita, penangkapan, penahanan, pemenjaraan, justru paling banyak karena hasil laporan dan hasil tunjuk-hidung dari teman sendiri, dari kalangan-dalam. Seorang pemimpin baik yang di Jakarta maupun di luar Jakarta;seperti di Kalimantan dulu itu, semuanya karena hasil laporan teman sendiri, atau intel yang adalah bekas teman sendiri!! Mula-mula diikuti dulu, didekati, ditemani, dan dipelajari apa kesukaannya. Kapan dia keluar dan bepergian, dan dengan siapa. Maka si pemimpin yang kesukaannya itu makan coklat, harus menyuruh pengawalnya ke kota buat beli coklat. Dan pengawal itu sudah lama dicium oleh intel, didekati, ditemani dan bahkan turut sama-sama beli coklat ke kota yang jauh dari pedalaman Kalimantan. Tentara Abri tinggal ciduk dengan gampangnya. Habislah riwayat pemimpin yang tadinya sudah mulai dipuja-puji. Ini semua kata laporan tertulis. Sampai di mana kebenarannya kita tidak tahu.
Nah, bukankah aku punya alasan untuk tidak suka dan tidak senang kalau temanku yang begitu aku percayai dan hargai seperti Ajoeb itu kok bertemannya sama si Djamal!! Hal ini tidak pernah selesai dalam kepalaku. Ketika kutanyakan pada teman lainnya di Jakarta dulu itu, tidak menjawab sebagaimana yang kuharapkan. Kebanyakan sulit dipercaya dan dimasukkan dalam penalaran yang jernih. Bahkan ada juga beberapa teman yang punya sikap seperti diriku, walaupun mereka sama-sama hi-
dup di Jakarta. Yaitu merasa aneh, mengapa Ajoeb selalu berteman dengan Djamal yang semua teman juga sudah tahu siapa dia dulunya. Dari tukangtunjuk sampai menjadi langsung tukanggebuk, dan yang digebuk itu adalah temannya sendiri, bahkan dulunya cukup akrab!!
Dalam sebuah percakapan pernah Ajoeb mengatakan padaku. Setiap badan, setiap organisasi bahkan LSM manapun, selalu disusupi intel. Atau paling tidak intel akan masuk dengan berbagai jalan dan usaha.
– "Ketahuilah, Mon", kata Ajoeb suatu kali.
– "Kita ini, kami ini selalu bekerja di tengah intel, dikerubuti intel. Karena itu bagaimana jadinya? Harus kita balik suasana itu, ajak dia, ajak mereka. Sehingga mereka turut serta dalam usaha kita walaupun mungkin hanya di pinggir-pinggirnya saja. Dan harus pandai bekerja berseni-halus dan tinggi. Kalau tidak memang pasti kebobolan. Kita tokh tahu mereka membutuhkan kita, untuk agar langgeng pekerjaan mereka, agar mereka tetap bisa hidup dengan gaji yang hanya berapa rupiah sih, perlu melaporkan pekerjaan kita kepada atasannya. Ini kan dalam usaha mereka cari makan. Nah, kita kan juga perlu mereka. Kalau perlu mereka kita jadikan pengawal kita, agar kita sendiri aman dan mereka dapat jaminan bahwa mereka memang dipercayai si anu, si anu. Dan atasan mereka tidak ada alasan untuk memecat mereka. Jadi sekali pukul ada dua tujuan dan hasil. Dia atau mereka bisa dengan aman cari makan, pekerjaan terjamin, tidak mudah dipecat, sedangkan kita mendapat pengawalan dari mereka. Kau tahu, Mon, kita ini saling membutuhkan. Hanya batas-batasnya itu harus jelas dan sama-sama tahulah".
Sedikit aku mengerti, tetapi belum jelas benar. Masih tetap mengganjel dalam pikiranku. Dalam pada itu Ajoeb juga banyak menceritakan padaku, bagaimana seorang teman yang dijadikan tukanggebuk dalam penahanan dan penjara, bisik-bisik pada teman yang bakal digebuknya itu, agar merasa pura-pura sangat sakit ketika digebuknya. Dan teman yang menggebuk itu berusaha agar kelihatannya bukan main kerasnya dalam menggebuk tahanan tersebut. Sandiwara begini harus dengan teliti dilakukan, kalau tidak dua-duanya akan menjadi korban, atau bahkan lebih banyak lagi karena ketahuan selama ini sandiwara itu sudah lama dimainkan.
Lalu aku mengerti lebih banyak, tapi tetap masih ada ganjelan, mengapa harus terjadi semua ini.
– "Kalau begitu yang ke rumah sampeyan itu, ada dong intelnya, atau paling tidak kakitangan intel yang akan meneruskan laporannya", kataku bertanya kedungu-dunguan.
– "Lah ya, harus punya persiapan itu. Betul kau. Pasti ada susupan intel yang pernah datang ke rumah ini, bahkan mungkin ada yang turut diskusi", katanya. Maka semakin rumitlah yang menjadi tumpekan pikiran dalam kepalaku.
– "Mereka memerlukan kita. Tapi harus dibuat juga, karena kita juga suatu waktu perlu mereka, maka kerjasama yang tak pernah tertulis dan tercatat itu, perlu mereka ketahui. Jadinya kita masing-masing ada tugas dan keperluan serta kepentingannya. Sekarang bagaimana kita mencegahnya, sedangkan pekerjaan kita begini banyak dan begini luasnya, dan mereka begitu banyak jumlahnya. Sudah tak tahu lagi kita yang mana intel yang baik dan yang jahat. Harus diingat tidak semua intel itu jahat. Ada yang memang benar-benar cari makan mau hidup, tetapi tak ada jalan lain kecuali menjadi informan atau intel. Soalnya yang ada dan harus ada pada kita, seni bekerja di tengah banyaknya kaum intel itu", kata Ajoeb meyakinkan diriku.
Dan dalam pada itu kulihat dan kutanyakan, bahkan sudah pula bertemu dengan beberapa teman yang santer pernah dikatakan "mengkhianat" sebagai "tukangtunjuk dan tukanggebuk" tapi masih tetap saja bertegur-sapa dan bisa saling ngobrol sesama teman lainnya. Dalam hatiku, kok bisa ya, kok tidak ada dan tidak terjadi misalnya pembalasan dendam. Bukankah tadinya selama ini ada di antara mereka yang sudah begitu banyak dirugikan dan menjadi korban laporan intel itu, tapi begitu sama-sama dibebaskan lalu malah bisa berlaku seperti tak pernah terjadi apa-apa.
Cobalah bayangkan, Ajoeb itu malah kalau mau pergi ke luar-kota mesti mengajak Djamal dan teman lainnya, yang semua teman juga tahu, siapa si Djamal itu. Dan kata Ajoeb, justru kalau bepergian dengan Djamal malah aman, lancar-lancar saja. Disamping itu Ajoebpun menekankan, bagaimanapun yang namanya intel itu tetaplah barang yang harus diwaspadai, harus berhati-hati. Tidak semua orang bisa bekerja dengan berseni, pandai mebawakan langgamnya yang tersendiri dan khusus. Mungkin kekhususan ini dipunyai Ajoeb tetapi tidak dipunyai teman lain, apalagi aku ini, taklah!
1 Maret 1999
Ada pengetahuan yang universal, tetapi sebenarnya banyak juga orang belum tahu. Bahwa ditinjau dan diamat-amati, setiap Kedutaan Besar, Ambassade, dari mana saja, siapa saja, negara mana saja, sebenarnya adalah pusat-mata-mata, spionage secara resmi tetapi disamarkan begitu rupa. Setiap Ambassade berwewenang dan berkewajiban meletakkan kerangka demikian demi untuk pertahanan negaranya. Persoalannya terletak, bila seseorang tertangkap, tertangkap basah, ketahuan tiba-tiba, maka akan jadi urusan besar. Bisa di personna-gratakan, diusir oleh negara yang menangkap, dan hubungan antar negara bisa rusak, bisa putus hubungan sementara, putus hubungan diplomatik. Dan hal begini cukup banyak terjadi. Ketika dunia masih dan sedang berada dalam puncak-puncaknya perang-dingin, peristiwa begini sering terjadi. Dan masing-masing negara, baik negara yang mengusir dan negara yang terusir anggota Amabssade-nya, selalu berkelit, bertahan, dan perang-argumentasi. Ketika zaman perang-dingin dulu itu hampir setiap tahun terjadi hal-hal demikian, entah itu di AS, Eropa, Afrika, Timur-Tengah, ataupun di bagian Asia dan negara di mana saja.
Ambassade dari negara-negara tersebut tidak hanya ada yang "kasak-kusuk" giat mencari "masukan" dari bangsa dan negera lain, negara tuan-rumahnya sendiri, tetapi juga antar Ambassade yang ada di negara itu. Dan tidak cuma itu, Ambassade si A akan juga "kasak-kusuk" giat mencari "masukan" dari warganegaranya sendiri, warganegara si A yang ada di negara itu.
Misalnya saja, Ambassade Uni Sovyet(dulu) di sesuatu negara juga mencari masukan dari warganegaranya sendiri yang ada di negara itu, atau bahkan negara lain yang bertemu di negara itu. Mudahnya menggambarkan, secara begini, dan ini kongkrit. Setiap Ambassade RI atau KBRI di negara mana saja, akan mencari masukan dari warganegaranya sendiri yang ada di negara itu. Apalagi ketika terjadi peristiwa-nasional tahun 1965 itu. Bukankah banyak warganegara Indonesia yang tidak bisa pulang, tidak berani pulang, atau karena paspornya dicabut? Karena hubungan politik, karena dianggap dan tersangkut dan dituduh terlibat pada peristiwa-nasional , maka warganegara Indonesia banyak sekali yang nyangkut, terdampar di berbagai negara, umumnya di negara-negara yang dulunya dinamai negara-sosialis. Dan warganegara yang pada akhirnya menjadi pelarian-politik inilah yang menjadi sasaran empuk setiap Ambassade di setiap negara di luarnegeri.
Nah, beginilah kami, termasuk kategori ini. Pada INTEL nomor sekian, sudah kuceritakan, ada seruan, himbauan dari Ambassade di ibukota negara di mana kami bertempattinggal, agar orang Indonesia jangan atau tidak boleh datang makan ke Restoran Indonesia yang baru kami dirikan. Kalau tak salah himbauan dan edaran ini dimulai ketika zamannya Menteri Luarnegeri Mochtar Kusumaatmadja.
Apa saja yang dilakukan oleh pihak Ambassade kepada kami, tentu saja dapat dibenarkan dari segi kepentingan mereka. Tetapi dari segi kepentingan kami, juga demikian, harus terus bertahan, berhati-hati, waspada, jangan sampai terpancing masuk perangkap. Jadi dua pihak ini masing-masing berhadapan secara diametral bertentangan, siap menyerang dan bertahan dalam pengertian "kasak-kusuk" dan mencari "masukan" tadi itu.
Mereka juga akan memata-matai kami di manapun kami berada, dalam setiap posisi apapun, bahkan secara diam-diam datang dan makan di resto kami, menyusup, menyelinap. Mereka mengira kami tidak tahu, dan siapa tahu ada juga di antara kami yang memang tidak tahu, tetapi mata kami kan harus banyak!! Kata filsahat Sun-tze, akhli perang strategi Cina, "musuh berperang cara musuh, kita berperang cara kita, dan kenalilah musuh, kenalilah diri kita, seratus kali berperang seratus kali menang". Sudah tentu filsafat ini hanyalah ajaran filsafat kongkrit dalam peperangan. Kami samasekali tidak pernah menganggap Ambassade itu adalah suatu sasaran-perang, mungkin merekalah yang menganggap kami demikian. Kami hanya pada tahap, agar berhati-hati, agar selalu waspada, tidak terpancing, tidak terprovakasi, tidak masuk perangkap. Karena apa? Karena pihak mereka memang mau memancing, mau memerangkap, mau dapat masukan, mau memata-matai kami. Hal begini sudah banyak ditulis orang luar. Antaranya ditulis oleh DR. Arief Budiman, yang kami anggap dengan maksud baik semata-mata. Ada lagi tulisan yang kata orang seorang wartawan-senior, Rosihan Anwar. Semua kami sudah tentu membaca dan mempelajarinya secara seksama. Normal kan, setiap ada usaha dan aksi akan selalu ada reaksi, ada pro dan kontra. Jangankan hal begitu agak rumit, teman-teman kami sendiri ada yang sampai kini tidak berani datang ke resto kami. Kuatir atau katanya harus hati-hatilah, bisa-bisa nanti dia dipecat dari pekerjaannya atau tak dapat subsidi atau tidak diperhatikan pemerintahnya, dengan tidak mengangkatnya lagi jadi anu, jadi anu. Sikap kami kepada semua hal-hal begini, harus secara bernas memerincinya. Tidak semua membenci kami, juga harus berhati-hati kepada yang kelihatannya sangat ramah-tamah, semua itu ada seninya, seni melihat dan meneliti, memilah dan memilih. Pekerjaan begini sudah tentu bukannya mudah dan gampang melakukannya. Kami sendiri juga sering kebobolan-, lihat INTEL sebelumnya. Tapi satu hal yang ada pada diri kami. Kami tidak pernah menganggap pihak Ambassade yang memusuhi kami itu juga kami perlakukan sebagi musuh. Yang kami lakukan agar berhati-hati, waspada, jangan sampai terpancing masuk perangkap, karena pihak sana memang ada usaha ke arah itu. Jadi ada dua pihak, yang satu mau ofensif yang lainnya harus defensif, itu saja dari dulu. Dan pernah kami pikir, hal begini pada zaman reformasi ini, apakah masih tetap terus dilakukan, di mana kita masing-masing pada siap. Yang lain mau ofensif, yang satunya selalu siap defensif, lalu kapan berakhirnya? Sedangkan zaman sudah mulai berubah. Namun kami harus tahu langkah, tahu gerak, tahu keadaan dan situasi kongkrit. Tidak boleh bergerak yang bersifat asal-saja. Semua harus diperhitungkan!
Dari dulu kami tidak pernah melakukan hal-hal politik kongkrit di resto kami. Kalau mau melakukan politik kongkrit, harap tidak di resto, harap di luar resto, harap tidak membawa nama resto!Semua harus dilakukan atas nama pribadi masing-masing. Gerakan atau aktivitas kebudayaan memang kami lakukan, seperti mengadakan tari-Bali, bahkan kami bertemu dengan tokoh penyair Indonesia seperti WS. Rendra yang semua teman di resto hapal puisinya yang tiga baris yang sangat menyentuh hati itu. Katanya : "Aku datang Aku makan Dan aku senang", - Itu saja baris-barisnya, dan bagus kan? Dengan penulis dan penggagas filem yangs sangat anti-PKI-pun pernah datang, Ariefin dengan mbak Yayang itu, dan kami bisa saja saling ngobrol. Yang sangat lucu, aku pernah ngobrol dengan penulis yang menuliskan bahwa aku sudah lama meninggal tahun 1980, dan dia minta maaf padaku. Kukatakan tak apa-apa, malah itu baik, dan kami beramah-tamah.
Sebenarnya yang kami musuhi itu kan sistim bukan orang per orang, walaupun pada akhirnya sistim itu kan ya orang juga yang melaksanakannya. Tapi bukankah setiap sesuatu itu tidak pasti terus langgeng, suatu waktu akan berubah juga, akan ada perubahan, yang tidak mungkin berubah itu yalah perubahan itu sendiri. Siapa sih yang bisa menyangka Suharto akan jatuh begitu cepat, yang tadinya dianggap begitu kuat, begitu hebat?!
Kami juga ada kepercayaan, orang-orang yang dulu suka "kasak-kusuk" mencari "masukan" yang ditujukan kepada kami, masaksih tak akan berubah, masaksih masih terus berkepala-batu, sedangkan zaman sudah berubah?! Siapa tahu malah ada di antara mereka yang kena-PHK dan ditarik dari Ambassade, berhubung sekarang ini RI-ABRI-ORBA sangat kurang dana. Berapa banyak sudah pegawai, staf lokal ditarik harus pulang ke Indonesia?! Apakah kami bertepuk-gembira dan bergendang-paha??
Tidak, mereka kan mencari penghidupan seperti kami juga. Ingat yang kami musuhi dan benci itu adalah sistim, bukan per orang per pegawai, dan per pribadinya. Lalu jadinya bagaimana? Apa selanjutnya ini?
2 Maret 1999
Aku punya pendapat terhadap sikap dan perilaku hidup mengenai kehidupan kami berhadapan dengan pihak Ambassade KBRI ini. Jangan takut, jangan terlalu dihindari. Kita harus meluaskan sayap, mengembangkan sayap, terbang tinggi bebas. Bergaul dan bermasarakat luas, termasuk dengan orang-orang Ambassade. Tetapi semua itu atas dasar tetap harus berhati-hati, waspada, tidak terprovakasi dan tidak masuk-perangkap. Pihak Ambassade KBRI itu bukan musuh kita, musuh kita adalah sistim rezim militer fasis Suharto, dengan segala aparatnya. Sedangkan Ambassade KBRI adalah pelaksana, juga termasuk aparat dari penguasa. Mereka kepanjangan-tangan penguasa, tetapi bukanlah suatu sistim yang terfokus yang memusat pada kekuasaan satu tangan : Suharto, yang kini Habibi-Wiranto.
Jadi kembali seperti yang kutuliskan di belakang tadi, harus pandai memilah dan memilih. Bergaulpun ada seninya tersendiri, tidak asal bergaul dan bermasarakat saja. Lihat situasi kenali keadaan kongkrit. Sulit?Memang sulit. Jadi manusia sejenis kami ini memang sulit. Sudah dua generasi kami mengalami penindasan, kekejaman dan penghinaan seperti ini. Kamipun harus punya seni-hidup, seni-bergaul, seni-bekerja. Dan ini diajarkan oleh pengalaman selama lebih 30 tahun ini. Dengan senjata dan pandangan hidup cara demikianlah kami hidup. Dan tidak usahlah kuruntut darimana anakku dan keluarga anakku kenal dengan keluarga Mas Ripto ini. Tetapi pergaulan mereka kuikuti secara familiair, terkadang akupun turut mendengarkan dan sekali-sekali nyambung dan nimbrung, tapi semuanya bersifat ringan dan gurauan. Keluarga Ripto ini pekerja di Ambassade. Ramah dan mau berkomunikasi. Kukira sedikit-sedikit mereka tahu tentang kami. Paling tidak mereka kan tahu, aku si bapaknya Ina, anakku itu, kan kerjanyanya di resto. Dan apa serta siapa itu resto pastilah mereka tahu. Apakah lalu mereka akan "kasak-kusuk" dan "mencari masukan" dari kami, dari anakku dan sekeluarganya? Sampai sebegitu jauh tidak ada dan belum ada gejala demikian. Tetapi Ina sudah lama tahu, bagaimana seharusnya bergaul dengan orang-orang Ambassade itu, tinggal seni-bergaulnya saja bagaimana membawakannya. Sudah kutuliskan pada entah INTEL keberapa, cucuku Lulu itupun tidak hanya sekali dua berhadapan dengan intel yang sesungguhnya ketika dia berumur 10 tahun. Dan alhamdulillah, tidak apa-apa, semoga saja bisa tahan dan ingat pesan kakeknya.
Kalau keluarga Mas Ripto ke rumah dengan anaknya yang masih balita itu, bukan main ramainya. Pada ngobrol, ketawa ngakak, bergurau. Yang namanya perempuan, istri Mas Ripto dan Ina sama-sama kaum ibu rumahtangga, sama saja ramai dan ributnya. Dari yang bergurau biasa sampai sedikit nyerempet gosip. Gosip memang asik kalau dibicarakan dan ditambah berbagai bumbu. Dan mereka akan lebih asik lagi kalau hanya mereka berdua tanpa suami masing-masing atau tanpa diriku. Selama ini memang sangat jarang Mas Ripto hadir bersama istrinya dan Ina ngobrol. Mas Ripto lebih banyak di kantornya, urusan dinasnya. Mas Ripto salah seorang petugas yang di athan(atase pertahanan). Terkadangpun sekeluarga anakku datang ke rumah Mas Ripto. Ini sesudah mereka janji via tilpun agar datang ke rumahnya. Dan Ina dengan dua cucuku datang ke rumah Mas Ripto. Tentu saja ini urusan ibu-ibu, kaum perempuan, tanpa suami masing-masing.
Sesampainya di rumah, Ina tertawa lucu, dan senyum-senyum kepada suami dan kepadaku. Mantuku itu lalu melirik kepadaku. Aku tahu maksudnya, seolah-olah siapa dulu yang coba menanyakan ada apa sih?
– "Apa sih lucunya. Tidak lucu kalau hanya ketawa sendirian, tanpa kami tahu ada apa sih", kataku memancing.
– "Bu Ripto mbak Ningsih itu cerita, bahwa suaminya, dulu, jauh sebelum sekarang ini, pernah mendapat tugas mengikuti sekeluarga dari Eropa ini. Sampai ke Bali segala. Dia ikuti sekeluarga itu. Biasa mengintip dan memata-matai apa saja gerak-gerik turis yang dari Eropa itu, apa saja dan ke mana saja hubungan selanjutnya. " katanya. Dan aku seakan tak sabaran mendengarnya.
– "Kau tanya tidak dari Eropa mananya?"
– "Aku memang sengaja tidak dan belum menanyakannya. Aku bersifat mendengarkan saja dulu", kata Ina. Dan aku kembali tersadar, ternyata terkadang Ina jauh lebih sabar dan diplomatis daripadaku sendiri.
– "Dia terus cerita. Keluarga yang diikutinya itu adalah seorang Ibu muda lalu seorang agak tua, entah itu suaminya dan entah itu bapaknya, lalu seorang anak kecil. Mas Ripto terus saja mengikuti keluarga itu katanya sampai ke Kuta dari Karangasem. Lucu kan? Jadi papa tak usah lagi tanya ini itu. Kan sudah jelas semuanya".
Aku mulai mengerti mengapa Ina tertawa lucu dan terheran-heran. Sekarang akulah yang jadi penasaran mau tanya banyak kepada Ina.
– "Tidak kau tanya, kapan itu?".
– "Semua dia yang cerita, ketika itu tiga tahun yang lalu".
– "Tiga tahun yang lalu kan tahun 1993. Itu artinya ketika kita di Bali.
Dan ya kalau begitu cocok dan memang kita", kataku sambil senyum-senyum geli juga. Kok bisa ketemu begitu. Kata orang, hah, terkadang dunia ini sempit dan kecil, ada-ada saja kalau mau bertemu hal-hal aneh.
Pergaulan terus saja antara kaum ibu itu. Saling berkunjung, ngobrol dan tak ada hal-hal yang mencurigakan atau pertanyaan yang bersifat "masukan" dan "kasak-kusuk" tadi. Suatu kali terdengar juga bahwa orang-orang dan pegawai Ambassade RI di seluruh dunia ada bahkan banyak yang akan ditarik pulang. Ini semua dalam rangka menghemat dana, tak ada uang buat membayar gaji dan ongkos perbelanjaan KBRI. Ada beberapa KBRI sudah mulai memulangkan pegawainya. Ada pegawai yang masih bertahan walapun sudah resmi ditarik. Ada juga yang mengambil cara berbagi-sama gaji yang dijumlahkan bersama lalu berbagi adil. Ini cara baru dan ada unsur solidaritas. Artinya biarlah gaji kecil, tapi janganlah ditarik pulang, janganlah ada pemecatan.
Katanya sementara memang bisa bertahan, tetapi kalau sudah beberapa bulan, tidak mungkin bisa diteruskan.
Ketika keluarga Mas Ripto berkunjung ke rumah, kebetulan Mas Ripto sendiri turut, dan kami semua ada di rumah. Dalam saat-saat begitu, mereka yang kuanggap anak-anak muda, keluarga muda, biarlah mereka ngobrol sesamanya, dan aku hanya sebentar menghadirinya, lalu undur ke kamar. Melihat keluarga lengkap begini, bahkan kini sudah tambah satu jiwa, si kecil, si liliput Berry yang sangat sulit untuk besar, Mas Ripto memperhatikan secara mendalam dan teliti. Satu persatu, sehingga istrinya terheran, dan menarik nafas panjang.
– "Sudah besar sekali gadis kecil dulu itu", katanya dengan pandangan-dalam melihat cucuku Lulu. Istrinya terheran-heran, lalu segera nyeletuk.
– "Memangnya kenal kapan?"
– "Lho katanya sampeyan sudah cerita tentang yang dulu itu", kata Mas Ripto kepada istrinya. Tambah heranlah Mbak Ningsih. Segera saja Ina, anakku mengerti semua perkara ini.
– "Sudahlah mbak Ning, Mas Ripto sudah kenal sejak 1993 di Bali itu, yang kau ceritakan itu. Hanya kami yang belum kenal seperti Mas Ripto mengenal kami.
Kan yang kau ceritakan itu kami semua, hanya belum ada Berry, sebab memang belum lahir, Berry kan baru tahun 1996", kata Ina. Mendengar semua ini, aku keluar menemui mereka.
– "Nah, ini yang kaukatakan yang agak tua itu, bukan suamiku tapi papaku", kata Ina.
– "Ya Allah mbak Ina, kok sampeyan waktu itu nggak ngomong apa-apa padaku. Hanya diam saja membisu dan mesem-mesem saja", kata Ningsih sambil memeluk dan merangkul anakku Ina. Dan aku datang mendekati Mas Ripto dan menjabat tangannya erat. Dia tersenjum dan dengan erat menjabat tanganku.
Ternyata mereka juga sekalian mau mengabarkan tentang kepulangan mereka berhubung juga terkena penarikan pegawai. Jadi sekalian berpamitan. Ternyata harus bertemu dulu sebelum berpisah. Ada-ada saja kejadian di dunia ini.
2 Maret 1999