Publisher Note
Artikel ini pertama kali dimuat pada 26 April 1953 dalam majalah Siasat, No. 308, Th, VII. Salinan artikel ini berasal dari lampiran skripsi yang ditulis Fransiska Domas Ngantini di Universitas Sanata Dharma tahun 1999.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
SAJA hanjalah seorang tukang agenda, tetapi oleh pekerdjaan saja itu saja tahu djuga sedikit tentang keadaan didalam lingkungan P.P. dan K. Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan. Mana pendidikan, mana pengadjaran dan mana kebudajaan sebenarnja sulit djuga dipisah-pisahkan. Tetapi menurut perumusan nama itu jang dibelakang se-akan2 tidak berapa penting. Maka tiada salah, kalau ada orang jang menjangka bahwa kebudajaan itu ialah kesenian sadja, karena djawatan kebudajaan itu nampaknja radjin benar mengurus makam2 dan peninggalan2 purba, ditambah pula dengan urusan tari2. Dalam urusan tari2 ini saudara djangan lupa bahwa tari muda-mudi termasuk djuga dalam perhatiannja. Mungkin berkat perhatian ini sebentar lagi akan muntjul pula tari tua-tui, selandjutnja tari tua-mudipun mungkin pula sudah ada dalam impi2an.
Tetapi bagi saja, karena saja hanja seorang tukang agenda sadja, saja hanja mempunjai schema atau bagan dari kementerian itu, lengkap dengan personalianja jang kebanjakan nama achirnja berbunji vokal O, antara lain Sudarsono, sebagai kepala bagian djawatan Kebudajaan—dalam almanak Gapura 1953 ditulis Mr. Kuntjoro—satu2nja djawatan jang setia dikota Jogjakarta, jang tidak mau pindah ke Djakarta, karena Djakarta masih ibu-kota sementara.
Sdr. barangkali bertanja-tanja, mengapa saja hanja membitjarakan kebudajaan sadja dan tidak me-njinggung2 tjabang lain2nja seperti Pendidikan Masjarakat jang radjin memberantas butahuruf. Pendidikan Djasmani jang setiap tahun siap sedia mengadakan P.O.N., P.O.R.A.P., P.O.S.L.A, dsb. Saja tidak bitjarakan bagian2 ini karena pokok atjara surat saja hanja mengenai kesusasteraan.
Begini sdr.! Kira2 setahun dua jang lampau, melajang sebuah surat dari UNESCO ke Djakarta, ibukota R.I. sementara. Seperti sdr. ketahui UNESCO adalah badan kebudajaan dari U.N.O. dan sudah semestinja surat tersebut dialamatkan pada kementerian P.P. dan K. Demikianlah saja sebagai tukang agenda harus mengagendanja. Bagi saja biasanja isi2= surat tak seberapa saja perhatikan. Tetapi sekali ini sepandang lalu saja batja djuga, lebih2 karena datangnja dari luar negeri. Maksud surat itu ialah untuk saling tukar menukar kebudajaan seluruh bangsa didunia, maka diharap supaja Indonesia djuga ikut mengirimkan hasil2 kesusteraan lama//baru jang mula2 bersifat representatip, unipersil, dsb., guna diterdjemahkan kedalam bahasa2 lainnja atas andjuran dan usaha UNESCO sendiri.
Sebagai sdr. ketahui semua surat2 teruntuk sesuatu kementerian harus terlebih dahulu singgah pada Sekdjen dari kementerian itu, begitupun surat ini. Lalu surat ini disampaikan pada Biro UNESCO, satu badan dari kementerian P.P. dan K. Badan itu jang tentu sebagai penghubung sadja, terpaksa pusing kepala memikirkan kemana surat itu harus disampaikan. Sebenarnja bagi orang jang kurang tahu sekalipun seluk-beluk kementerian P.P. dan K. itu, kalau disebut kesusasteraan sudah termasuk bagian K-nja. Dan memang dibagian K ini ada satu badan Bagian Bahasa (kabarnja bagian sosial Kulturil), jang sebelum kabinet Wilopo berdiri masih bernama Balai Bahasa. Konon kabarnja dulu sudah hendak digabungkan dengan I.T.C.O., suatu instelling universitet Indonesia fakultet Kesusasteraan Djakarta, karena boleh dikatakan hampir bersamaan tugasnja. Tetapi apa jang sdr. lihat kenjatannja, ialah Balai Bahasa mendjelma djadi Bagian Bahasa dan I.T.C.O. mendjadi Lembaga dan Budaja.
Selain dari ada lagi dibagian PI-nja bagian jang mengurus kesusasteraan, jaitu jang masuk bagian Pendidikan Masjarakat. Di P2-nja djuga ada, jaitu urusan naskah dan madjalah. Lain daripada itu pula jang bebas berdiri sendiri, Balai Pustaka, tetapi ini sudah terang hanja sebagai perlengkapan sadja, karena urusan kesusasteraannja sudah ditjopot dan sudah dimasukkan kedalam Pendidikan Masjarakat. Sungguh bingung pimpinan Biro itu kemana harus disampaikannja. Tetapi kesudahannja untung biro tsb. tahu djuga sedikit soal2 kebudajan. Lantas membulatkan hati: „dikirim sadja pada Djawatan Kebudajaan, karena sudah semestinja djawatan itu jang mengurus kesusasteraan”, pikirnja serta memberikan surat itu pada tukang ekspedisi.
Surat terpaksa melajang ke Jogja, karena disanalah kantor pusat Djawatan Kebudajaan. Ada djuga tjabangnja di Djakarta, tetapi menurut lapuran tjabang ini urusannja hanja sekedar terima tamu2 kebudajaan.
Pendek kata surat dari Djakarta sampai di Jogja.
Kira2 tiga bulan kemudian, pendeknja setelah motor2 dinas pakai tanda segitiga merah dalam lingkaran, surat jang akan diagenda bertimbun-timbun diatas medja saja. Sebuah surat tiba gilirannja. Sipengirim Tjabang bagian Bahasa Jogjakarta (tjuma bagian itu jang selalu saja tjatet dalam buku agenda). Seketika itu djuga teringat saja paa surat dari UNESCO dulu. Saja periksa sebentar: „Membalas surat Tuan nomor…” saja balik2 buku agenda: Tjotjok! tidak salah lagi. Surat itu memang membalas surat jang tersebut dahulu.
Aduh! „ada jang untung nanti sasterawan2 Indonesia, tentu dibajar UNESCO”, pikirku dalam hati sambil mengingat nama Sasterawan2, Chairil Anwar, Ananta Toer, Idurs, Suman H.S, Takdir, Armijn Pane dll. Lalu kubatja sepintas lalu nama2 buku2 jang ditjatat dalam surat itu, entah siapa jang beruntung nanti.
Tjuma empat buah sdr. Sajang Ananta Toer tidak kebagian. Djuga Armijn Pane atau Suman H.S. buat kali ini belum beruntung rupanja. Tetapi kemudian saja terkedjut: pengarangnja tidak ada.
Akan saja sebut keempat buku2 itu satu persatu? Baik. Dan saja harap sdr. Achdiat dengan Atheisnja djangan mengomel karena tidak dimasukkan. Tetapi pula kesudahannja, apa gunaja saja sebut nama buku2 itu, karena keempat2nja hanjalah mengenai wajang dan pedalangan.