Publisher Note
Saja menjambut baik penerbitan risalah ini, jang memuat pidato saja sewaktu saja menerima gelar doctor honoris causa dalam ilmu-sedjarah dari Universitsa Padjadjaran, serta pidato promotor Prof. Dr. H. Roeslan Abdulgani atas nama Senat Mahaguru Universitas Padjadjaran Bandung.
Saja telah menginstruksikan kepada Menko Dr. H. Roeslan Abdulgani selaku Ketua Panitya Pembina Djiwa Revolusi, dan kepada Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan, Brigadir Djendral Dr. Sjarif Tajib, untuk mendjadikan isi risalah ini sebagai PEDOMAN-DASAR pendidikan dan peladjaran dalam ilmu-sedjarah diseluruh Universitas dan Perguruan Tinggi kita, bersumber kepada Pantja Sila dan Manipol/Usdek sebagai DASAR dan ISI-MORAL Pendidikan Nasional kita.
Saja mengharapkan djuga hendaknja risalah ini dipeladjari dan dibatja oleh kalangan luas, tidak hanja oleh dunia mahasiswa kita, tetapi djuga oleh para guru sedjarah kita, agar supaja ditumbuhkan terus penulisan kembali dan penulisan baru daripada sedjarah Nasional kita sesuai dengan djalannja sedjarah ummat manusia seluruh dunia menudju kearah Dunia Baru, penuh dengan kemerdekaan, keadilan dan kemakmuran; dan bersih dari Imperialisme, Kolonialisme dan Neo-kolonialisme.
Djakarta, 7 Djanuari 1965.
Presiden/Panglima Tertinggi/
Pemimpin Besar Revolusi,
SUKARNO.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
P.J.M. Presiden Republik Indonesia Dr. Ir. Hadji Sukarno bertegak doctor dan doctor honoris causa dalam ilmu sedjarah
BUNG KARNO
BERTEGAK GELAR DOCTOR DALAM ILMU SEDJARAH DAN BERTEGAK GELAR DOCTOR HONORIS CAUSA DALAM ILMU SEDJARAH
Uraian mendjelaskan alasan-alasan menganugerahkan gelar doctor dan doctor honoris causa dalam ilmu sedjarah oleh Universitas Negeri Padjadjaran pada tanggal 23 Desember 1964 dikota Bandung kepada Paduka Jang Mulia Dr. Ir. Hadji Sukarno, Presiden Republik Indonesia/Panglima Tertinggi Angkatan Bersendjata/Pemimpin Besar Revolusi dengan dihadiri para guru-besar dan para undangan.
diutjapkan oleh:
PROF. Dr. HADJI ROESLAN ABDULGANI
Guru Besar dalam ilmu sedjarah pergolakan Asia-Afrika pada Universitas Padjadjaran, Universitas Indonesia, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung selaku promotor penganugerahan gelar doctor.
PIDATO PROMOVENDUS
P.J.M. PRESIDEN BUNG KARNO
P.J.M. Presiden Sukarno, Panglima Tertinggi Angkatan Bersendjata/Panglima Besar Revolusi, dihantar oleh Rektor Sanusi Hardjadinata, ketika tiba diruangan upatjara disambut oleh para gurubesar jang hadir pada upatjara penggelaran doctor dan doctor honoris causa dalam ilmu sedjarah.
Saudara Rektor,
Saudara Promotor,
Saudara-saudara sekalian,
Lebih dahulu satu koreksi ketjil kepada Rektor; ditulis dalam piagam jang tadi dibatjakan, bahwa saja dilahirkan bertanggal 6 Djuni 1901 di Blitar. Itu salah. Saja dilahirkan di Surabaja, djadi saja arek Surobojo. (Ketawa dan tepuk tangan dari hadirin).
Saudara-saudara sekalian,
Ini adalah penggelaran Doctor Honoris Causa, jang ke-25. Saja tanja kepada hadirin dan hadirat, perlu apa tidak saja batjakan lagi Universitas-universitas 24 jang terdahulu jang telah menggelari saja Doctor Honoris Causa itu? Kalau perlu lantas saja batjakan, kalau tidak perlu saja tidak batjakan.
(Hadirin: Perlu dibatjakan!)
Jah, sabar. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tudjuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, duabelas, tigabelas, empatbelas, limabelas, enambelas, tudjuhbelas, delapanbelas, sembilanbelas, duapuluh, duapuluh satu, duapuluh dua, duapuluh tiga, duapuluh empat.
Jaitu pertama: Gadjah Mada; Djokjakarta
Kedua: University of the East, Manila,
Ketiga: Columbia University, America, New York. Semuanja Doctor of Law, Doctor of Law, Doctor of Law!
Keempat: Michigan University, Michigan, Doctor of Law.
Kelima: Mac Gill University, Montreal, Canada, Doctor of Law.
Keenam: Beograd University, Yugoslavia, Doctor of Law.
Ketudjuh: Karl University, Praha Tjekoslovakia, Doctor of Law.
Kedelapan: Lomonosov University, Moskow, Doctor of Law, dan Honorary Professor.
Kesembilan: Istambul University, Doctor of Law.
Kesepuluh: Brazil University, Rio de Janeiro Brazil, Doctor of Law.
Kesebelas: Warsawa University, Polandia, Doctor of Law.
Keduabelas: Doctor of technical Science Berlin University, Berlin.
Ketigabelas: Bukarest University, Rumania, Doctor of Law.
Keempatbelas: Sofia University, Sofia, Bulgaria, Doctor of Law.
Kelimabelas: Budapest University, Hongaria, Doctor of Technical Science.
Keenambelas: AL Azhar University, Cairo, Doctor of Philosophy.
Ketudjuhbelas: La Paz University, Bolivia, Doctor of Social and Political Sciences.
Kedelapanbelas: I.T.B. Bandung, Doctor of Technical Science.
Kesembilanbelas: Universitas Indonesia Djakarta, Doctor of Social Science.
Keduapuluh: Universitas Hasanuddin Makasar, Doctor of Law and Political Science and International Relations.
Keduapuluh satu: Manila University of the Philippines, Doctor of Law.
Keduapuluh dua: Royal Phnom Penh University, Phnom Penh-Kambodja, Doctor of Law.
Keduapuluh tiga: Institute of Academy Pyongyang, Korea Utara, saja didjadikan Academician jaitu Doctor of Sciences.
Keduapuluh empat: I.A.I.N. Djakarta, Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Usuluddin bidang Da’wah.
Dan keduapuluh lima: Universitas Padjadjaran, Doctor Honoris causa dalam Ilmu Sedjarah.
Saudara-saudara, saja terima dengan utjapan banjak terima kasih atas penggelaran ini. Dan saja amat terharu, bahwa promosi ini dipromotori oleh murid saja sendiri.
Tapi dasar murid saja itu, murid ja, bukan main pintarnja, Saudara-saudara, sampai saja sekarang „kuwalahan” untuk memberi sambutan. Terus terang sadja, saja tadi telah berkata, duapuluh empat kali digelari dengan gelar Doctor Honoris Causa oleh matjam-matjam Universitas dan selalu pada saat penggelaran itu dikemukakan oleh seseorang Promotor atau oleh Rector magnificus alasan-alasan penggelaran.
Di Universitas-universitas Amerika misalnja singkat; singkat dikatakan: Tuan Sukarno itu, Tuan Sukarno ini berdjasa ini ini ini ini; singkat, maka berdasar itu kami menggelari beliau Doctor Honoris Causa.
Di Universitas-universitas lain negeri pandjang lebar promotor-promotor mengemukakan alasan-alasan, misalnja di Karl University di Praha pandjang lebar sekali. Demikian pula di Universitas Al Azhar di Cairo pandjang sekali. Di Universitas-universitas di Tanah Air kitapun pandjang sekali; duapuluh empat kali saja digelari, gelar Doctor Honoris Causa dengan dikemukakan alasan-alasan pandjang atau singkat-singkatan dan tiap-tiap kali diminta saja memberi sambutan.
Nah, sekarang saja berkata kepada Saudara-saudara belum pernah saja dalam kesulitan duapuluh empat kali itu seperti sekarang ini. Sekarang ini Promotor mengemukakan alasan-alasan jang waduh bukan main sudah menghabiskan apa jang akan saja kemukakan; jaitu karena saja tadi berkata saking pintarnja murid saja jang bernama Tjak Roeslan Abdulgani, Professor Dr. H. Roeslan Abdulgani itu.
Nah apa jang harus saja katakan Saudara-saudara, segala hal sudah dikatakan oleh Prof. Dr. Roeslan Abdulgani, promotor saja. Sajapun sudah mengatakan, saja terima penggelaran ini dengan rasa terima kasih dan terharu dan apa jang hendak saja katakan; apalagi tadi Rektor berkata saja diminta memberi amanat bukan sadja kepada hadirin hadirat tetapi beliau berkata djuga untuk seluruh rakjat Indonesia. Apa jang hendak saja katakan.
Nah, Saudara-saudara saja mengakui apa jang dikatakan oleh promotor tadi, bahwa pisau analysa jang selalu saja pakai dalam mengupas sedjarah dan mengambil pengadjaran daripada sedjarah ialah ialah pisau analysanja Marxisme. Itu tanpa tèdèng aling-aling. Jah, Marxisme adalah pisau jang saja pergunakan untuk mengupas sedjarah dan memang benar apa jang dikatakan oleh promotor bahwa kita harus bukan sadja mengupas sedjarah tetapi harus mengambil pengadjaran dari sedjarah. Promotor tadi kan mensitir apa jang saja pun sering sitir jaitu utjapan daripada Sir John Seeley dalam kitabnja jang termasjhur jang berdjudul “The expansion of England”.
Dalam bukunja: “The expansion of England”, Sir John Seeley berkata bahwa kita harus mempeladjari sedjarah, agar supaja kita bidjaksana lebih dahulu, agar supaja kita tahu kemana kita harus berdjalan. Sir John Seeley berkata, bahwa orang jang tidak mempeladjari atau mengambil pengadjaran dari sedjarah sebetulnja orang jang tidak bidjaksana. Orang jang tidak mengetahui sedjarah, orang demikian itu tidak mengetahui tudjuan; maka oleh karena itu sedjak muda saja sudah gemar dan mempeladjari sedjarah mengambil pengadjaran dari sedjarah.
Dan sjukur Alhamdulillah dari pengadjaran dan peladjaran sedjarah itu saja mendjadi apa jang dikatakan oleh promotor berwatak historis-visioner dan historis-optimis.
Visioner itu orang jang seperti tahu hal-hal jang akan terdjadi seperti visioen dan historis-optimis orang jang melihat hari kemudian itu terang, djelas, terang-benderang, terang membawa optimisme.
Nah, saja tadi berkata, bahwa dalam hal mempeladjari dan mengambil pengadjaran daripada sedjarah, saja mempergunakan pisau Marxisme atau lebih tegas lagi saja mempergunakan pisaunja historis-materialisme.
Nah, pada perkataan historis itu, historis-materialisme, pernah oleh promotor didjelaskan didalam salah satu tulisannja dan didalam kuliah-kuliahnja, dan sering djuga saja djelaskan, bahwa ada perbedaan besar antara historis-materialisme dengan filosofis-materialisme atau wijsgeerig-materialisme.
Orang jang tidak tahu Marxisme itu mendengar perkataan materialisme sudah ndjingkat, Saudara-saudara.
Ndjingkat artinja seperti disengat oleh unggas atau disengat oleh lebah jang sakit, terus berteriak: Ho, materialis! Marxis! Materialis! Marxis! dus tidak kenal barang-barang jang ghaib.
Itu saja terangkan berapa kali; pisau jang saja pakai itu adalah historis-materialisme. Materialisme-sedjarah itu lain daripada filosofis-materialisme, lain daripada wijsgeerig-materialisme. Saja melihat Menteri Frans Seda mantuk-mantuk, manggut-manggut, beliaupun mengetahui beda antara wijsgeerig-materialisme dengan historis-materialisme.
Materialisme-historis adalah satu pisau untuk mengupas sedjarah. Satu methode berfikir, satu denk-methode untuk mengupas sedjarah, untuk mengerti sedjarah untuk mengetahui djalannja sedjarah.
Sedjarah itu adalah satu hal kompleks, satu kompleksiteit, Saudara-saudara. Mahasiswa-mahasiswa djangan kira sedjarah itu adalah,—seperti tempo hari sudah pernah saja katakan entah disini entah di I.T.B.,—jaartallen-kennis, djadi mengetahui kedjadian-kedjadian, tahun ini kedjadian itu, tahun ini kedjadian itu, tahun ini kedjadian itu, tahun ini kedjadian itu, tahun ini kedjadian itu. Kalau engkau sudah hafal kedjadian-kedjadian serta tahun-tahunnja, lantas kau berkata, bahwa engkau telah mengetahui sedjarah. Tidak! Tidak! Kedjadian-kedjadian itu sekedar satu bagian, bagian, bagian, bagian, bagian dari sedjarah.
Kedjadian itu sendiri, kedjadian ketjil. Kedjadian itu, ambillah misalnja: tahun 1825 Diponegoro telah mulai peperangannja melawan Belanda; djangan kira kedjadian tahun 1825 itu, itulah sedjarah! Tidak, itu sekedar satu bagian dari sedjarah.
Ambil tjontoh buat mahasiswa-mahasiswa, ini gedung, inilah jang dinamakan gedung, tapi djubin ini, ini bukan gedung, djubin ini adalah sekedar bagian gedung. Gedung ini terdiri dari djubin itu, itu, itu, dari djendela itu, dari plafond itu. Djubin ini adalah bagian daripada gedung, tapi djubin ini bukan gedung; pintu itu adalah bagian daripada gedung, tapi pintu itu bukan gedung; djendela itu adalah bagian daripada gedung, tapi djendela itu bukan gedung; atap diatas kita ini adalah bagian daripada gedung, tapi atap ini bukan gedung.
Djadi djikalau engkau he, mahasiswa-mahasiswi ingin mengetahui sedjarah, ketahuilah lebih dahulu bahwa sedjarah itu adalah satu kompleksiteit, satu rangkaian daripada kedjadian-kedjadian dan sebagai kukatakan di Universitas Gadjah Mada tiga hari jang lalu, kedjadian-kedjadian ini mempunjai causaliteit satu sama lain, sebab dan musababnja.
Ini adalah sebabnja jang melahirkan kedjadian ini. Ini mendjadi sebab pula daripada kedjadian ini. Ini mendjadi sebab pula daripada kedjadian ini. Ini adalah pula suatu daripada kedjadian ini. Ini mendjadi sebab daripada kedjadian ini. Ini adalah kedjadian, kedjadian, kedjadian, kedjadian, kedjadian, kedjadian, tetapi ini sendiri bukan sedjarah, ini sendiri bukan sedjarah, ini sendiri bukan sedjarah, ini sendiri bukan sedjarah, ini sendiri bukan sedjarah, ini sendiri bukan sedjarah. Sedjarah adalah ini rangkaian kedjadian-kedjadian jang bercausaliteit satu sama lain itu. Causaliteit jaitu, sebab-musabab, sebab-musabab, sebab musabab.
Nah, untuk mengerti rangkaian daripada sebab-musabab ini, aku selalu mempergunakan pisau jang amat tadjam jaitu pisaunja historis-materialisme untuk mengupas sedjarah. Djadi arti „historis” disini sudah djelas. Tapi apa itu: arti „materialisme” dalam „historis-materialisme”? Materialisme disini harus dibedakan dari wijsgeerig atau filosofis-materialisme. Apa itu wijsgeerig-materialisme? Wijsgeerig-materialisme adalah satu isem jang boleh dikatakan dengan gampang tidak mengakui adanja barang-barang ghaib. Semua itu adalah barang wadah, barang benda, tidak ada barang ghaib, semua itu adalah benda, materi-wadah. Itu adalah wijsgeerig-materialisme, atau philosofis-materialisme.
Misalnja kita mempunjai anggapan ghaib tentang pikiran; pikiran adalah satu hal jang ghaib, memang siapa bisa merasa pikiran, siapa jang bisa melihat pikiran. Pikiran adalah satu hal jang ghaib, ghaib artinja tidak bisa dilihat, tidak bisa diraba, tidak bisa kita onderkennen, dengan kita punja pantja-indera. Itu ghaib. Tidak bisa kita lihat, tidak bisa kita rasakan, tidak bisa kita raba, tidak bisa kita dengar, tidak bisa kita tjium-baunja. Apabila pantja-indera kita, atau five-senses kita, pentjiuman, pendengaran, penglihatan, perasaan, dan satu lagi jaitu peraba-an kita, ini pantja-indera kita, five-senses kita tidak bisa onderkennen barang sesuatu, maka itulah dinamakan barang ghaib.
Wijsgeerig-materialisme atau philosophical-materialisme tidak mengakui akan adanja alam jang tidak bisa diraba, di onderkennen dengan pantja-indera, misalnja aku tadi katakan fikiran. Kalau menurut wijsgeerig-materialisme, fikiran itu sekedar satu syncretie daripada otak. Otak, hm, hm, hm, itu adalah materi didalam kau punja tengkorak. Itu namanja otak, nah itu bisa dilihat, bisa diraba, itu ah berproses mendjadi fikiran. Kalau otaknja itu sudah tidak ada, tidak akan ada fikiran. Itulah wijsgeering-materialisme.
Tapi historis-materialisme adalah lain, ia adalah tjara pengupasan sedjarah; saja bitjara tentang sedjarah oleh karena saja didokteri ilmu sedjarah. Saja bitjara tentang tjara pengupasan sedjarah menurut analysa materialistis dalam arti lain dari wijsgeerig-materialisme.
Saudara-saudara, begini, supaja Saudara-saudara lebih mengerti, Marxisme itu pada dasarnja adalah satu filosofi jang dialektis, mahasiswa-mahasiswi tahu dialektis itu apa, dialektis itu apa; dialektis ialah rangkaian daripada these dan anti-these, selalu sesuatu hal membangunkan ia punja anti, sesuatu hal musti membangunkan ia punja anti-these. These dan anti-these ini, mendjadi satu; mendjadi synthese tapi synthese ini mendjadi these lagi, jang melahirkan satu anti-these baru.
These dan anti-these mendjadi synthese, synthese mendjadi these dan anti-these baru. Ah terus berangkai. Itu adalah dialektika dalam filosofi. Dialektical-filosofi. Ini Marx beladjarnja atau mengambilnja daripada filosofinja Hegel. Hegel adalah gembong ahli filsafah Djerman. Dialektise filosofie daripada Hegel jaitu, bahwa segala sesuatu itu these anti-these mendjadi synthese, synthese mendjadi these lagi dari anti-these baru ini, mendjadi synthese, synthese mendjadi these begitu terus tidak ada berhenti-berhentinja ini diambil over oleh Marx. Tapi Marx balikkan dalam mengambil over falsafah dialektik ini; untuk sedjarah itu filsafat Hegel diputerkan oleh Marx: kepalanja ditanah, kakinja ditaruh diatas.
Kemarin dulu di Universitas Gadjah Mada saja berkata: didjungkir-balikkan filsafat dialektik Hegel. Hegel berkata begini—jaitu jang nanti didjungkir-balikkan oleh marx—, bahwa ini tadi jang dinamakan alam fikiran dan lain-lain itu, itulah sumber dan dasar daripada segala materi didunia ini. Alam fikiran manusia, perasaan manusia itu adalah dasar, kata Hegel jang melahirkan segala hal jang materiil.
Marx berkata: salah! Salah! Salah! Bukan bewustzijn dalam alam fikiran, bukan perasaan, jang melahirkan barang-barang materiil; tapi sebaliknja barang-barang materiillah jang melahirkan bewustzijn manusia. Jang dibalik itu utjapan Hegel tadi itu jang berkata: alam fikiran, perasaan melahirkan barang materiil, tjara hidup materiil, itu adalah hasil dan akibat daripada akal, fikiran, perasaan.
Marx berkata: no Sir, tidak! Harus dibalik! Ia berkata: „Es ist nicht das Bewusztsein des Menschen das sein Gesellschaft-lebensein, aber sein Gesellschaft-lebensein das sein Bewusztsein bestimmt”. Dalam bahasa Belandanja” „Het is niet het bewustzjin van de menschen, dat hun materieel zijn bepaalt; maar omgekeerd hun materieel zijn, dat hun bewustzjin bepaalt”. Itu jang diputar-balikkan.
Nah, inilah pisau historis-materialisme jang saja selalu pergunakan untuk mengupas sedjarah, tadi dikatakan oleh promotor. Oleh karena itu Bung Karno selalu membalikkan segala sesuatu kedjadian-kedjadian didunia ini ksitu, kesitu, kesitu sampai-sampai persoalan imperialisme Bung Karno berkata: No, imperialisme itu bukan sebagai dikatakan oleh Gustaf Klemm, dan Gustaf Klemm berkata bangsa kulit putih ngereh, mendjadjah dunia Timur itu untuk membawa “mission-sacree”, untuk membawa civilization; atau Prof. Moon berkata bahwa imperialisme itu datang untuk menundjukkan kemegahan daripada „whiteman”; tidak! tidak!
Aku mendjawab pada waktu itu tahun ’26: tidak! Mereka datang disini untuk materieele-verhouding, untuk keperluan materiil, untuk keperluan ekonomi. Untuk keperluan ini untuk keperluan itu. Nah, ini pisau jang saja pakai.
Saudara-saudara misalnja, ambillah satu misal, tadi Tjak Roeslan mentjeriterakan hal “La grande revolution Francaise”, Revolusi Perantjis jang besar. Saudara-saudara tahu bahwa revolusi Perantjis jang besar itu adalah membawa akibat, jaitu demokrasi parlementer. Tudjuan demikian dikatakan, daripada revolusi Perantjis jang mendatangkan demokrasi parlementair; Revolusi Perantjis itu bersembojan; Egalité, Fraternité dan Liberté! Egalité itu sama rasa dan sama rata. Fraternité persaudaraan, Liberté kemerdekaan. Terdjadilah revolusi Perantjis diatas, karena, karena sembojannja. Sembojan jang dikemukakan oleh ahli-ahli filsafah sebentar sebelum revolusi Perantjis itu meledak; oleh Montesquieu, Voltaire, Rousseau dan sebagainja.
Ini salah! Revolusi Perantjis bukan karena tjiptaan tjita-tjita Egalité, Fraternité dan Liberté, jaitu tjiptaan daripada satu idee, lantas mendjadi revolusi Perantjis, tidak! Revolusi Perantjis adalah disebabkan oleh hal-hal materiil, politik-materiil. Sebagai jang saja kupaskan, hasil daripada pengupasan saja adalah: revolusi Perantjis itu hasil daripada penindasan ekonomi-politik daripada kaum feodalisme dan kaum Geredja, kepada apa jang dinamakan stand ketiga, derd stand dulu itu.
Ada golongan feodal, Radja dengan ia punja Hertog-hertog dengan dia punja Count-countnja dan lain-lain, satu golongan jang pada waktu itu bertjakrawati, berkuasa tinggi; ada lagi satu kekuasaan di Perantjis pada waktu itu, kekuasaannja kaum geredja. Dalam semua hal kaum geredja jang berkuasa. Kemudian ada satu golongan jang besar sekali, rakjat djelata dengan didalam ada satu klas jang memandang dirinja klas ketiga.
Klas kesatu feodal, klas kedua geredja, klas ketiga ialah satu golongan dari rakjat djelata ini.
Pada waktu itu Saudara-saudara—ini lagi pengupasan lain—di Perantjis hendak tumbuh, hendak timbul apa jang dinamakan kapitalistische produksi wijze, tjara memprodusir barang-barang setjara kapitalisme dengan timbulnja fabrik-fabrik dan kaum buruh, fabrik dengan kaum buruh, fabrik dengan kaum buruh, fabrik dengan kaum buruh. Itulah tjara productie kapitalistis. Timbul kaum buruh jang dinamakan proletar oleh Marx; dan alat-alat produksi terlepas dari miliknja kaum buruh. Alat-alat produksi ini dimiliki oleh kelas ketiga jang belakang ini dinamakan kelas bordjuis. Dan kelas bordjuis ini merasa nggak enak, kok segala kekuasaan politik didalam tangannja kaum feodal dan geredja. Kelas bordjuis jang sedang timbul ini,—the rising bordjuis—, merasa tidak punja kekuasaan untuk merobah materiile verhoudingen didalam masjarakat agar supaja dia kelas bordjuis ini bisa berkembang. Oleh karena itulah kelas bordjuis atau bordjuasi jang sekarang sedang tumbuh ini—derde stand; kelas jang ketiga—memberontak terhadap feodalisme, memberontak terhadap kepada geredja. Dan oleh karena memberontak terhadap feodalisme dan geredja itu setjara sendirian tidak bisa,—mereka masih ketjil kelas bordjuasi itu—mereka mempergunakan rakjat djelata, mengelabui matanja rakjat djelata, memperkudakan rakjat djelata. Rakjat djelata dikerahkan untuk ikut-ikut dengan mereka memberontak terhadap feodalisme dan geredja.
Nah, ini inti sari dan arti daripada revolusi Perantjis. Mereka menghendaki djangan hanja kaum feodal sadja, djuga djangan kaum geredja sadja, tetapi djuga kami, kami, kami harus mempunjai hak pula untuk menentukkan hukum-hukum negara, hukum-hukum ekonomi, hukum pemerintahan. Djalannja ialah apa jang kemudian dinamakan parlementer-demokrasi, demokrasi-parlementer. Tiap-tiap orang boleh mendjadi anggota parlemen, tiap-tiap orang boleh dipilih mendjadi anggota parlemen dan tiap-tiap orang boleh memilih anggota parlemen.
Belakangan saudara-saudara kita, kita, kita, kita jang bertatwamasi, kita melihat—wah lah ini,—ini parlementer demokrasi, demokrasi-parlementer seperti jang dikehendaki oleh kaum bordjuasi itu sebetulnja hanja menguntungkan kaum bordjuasi sadja. Jah, sebab demokrasi-parlementer itu sekedar hanjalah demokrasi-politik. Tiap-tiap orang boleh memilih dan tiap-tiap orang boleh dipilih, mendjadi anggota parlemen. Didalam parlemen itulah jang anggota-anggotanja adalah hasil daripada zoogenaamde pemilihan umum duduklah disitu wakil-wakil dari bordjuasi, wakil dari Rakjat djelata. Wakil dari feodal, wakil dari geredja.
Tetapi bordjuasi selalu mempunjai kemampuan untuk mengadakan pemilihan umum demikian rupa sehingga wakil merekalah jang terbanjak didalam parlemen itu, dengan mereka punja wang, mereka punja buku-buku, mereka punja surat kabar, mereka punja sekolah-sekolah, mereka punja universitas-universitas etc, etc. Mereka mempunjai tjukup alat-alat untuk toch didalam parlemen itu mentjapai satu majority.
Karena itu maka Jean Jaures, jang tadi djuga disitir oleh Tjak Roeslan, pagi-pagi telah berkata: ini political democracy, ini adalah hanja political-democracy sadja jang dikehendaki oleh revolusi Perantjis. Ini hanjalah memintakan atau mengadakan atau merebut hak sama untuk semua orang dilapangan politik, tidak dilapangan ekonomi. Dilapangan ekonomi tidak ada kekuasaan dari kaum buruh, dilapangan ekonomi tidak ada kekuasaan daripada rakjat djelata. Oleh karena itu maka pihak sosialis mengatakan tidak puas dengan parlementaire-demokrasi daripada La Grande Revolution de France, tapi menuntut atau berdjuang untuk diadakan sosiale demokrasi, sosiale demokrasi, demokrasi-sosial; bukan sosial-demokrasi, social-democracy, satu aliran daripada sosialisme.
Bukan itu, tetapi jang dituntut ialah demokrasi-sosial, jaitu politik-ekonomise-demokrasi, demokrasi politik dan demokrasi ekonomi, sama-rasa-sama-rata dilapangan politik, dilapangan sosial dilapangan ekonomi untuk semua orang. Nah, inilah pengupasan daripada sedjarah historis-materialistis daripada revolusi Perantjis.
Pengupasan ini saja djalankan dengan pisau historis-materialisme itu. Demikian pula tatkala dalam tahun antara ’30-40 kita melihat satu fenomeen besar di Djerman jang dinamakan National-sozialismus, atau dinamakan fasisme, Hitler-isme. Saja mentjoba pisau analisa ini, apa ini Hitler-isme itu kok lain daripada gerakan-gerakan jang dulu. Dulu rakjat di Eropa berrevolusi untuk mengadakan demokrasi-parlementer, kemudian rakjat Eropa berdjuang untuk mendatangkan sosialisme jaitu pergerakan kaum buruh.
Sekarang ada lagi pergerakan hebat: national-sosialisme, fasisme jang dipimpin oleh Hitler dan Mussolini.
Apa ini? Saja kupas!
Saja kupas dengan pisaunja historis-materialisme dan saja sampai kepada satu konklusi: ooh ini adanja fasisme ini, adanja national-sosialisme adalah satu ke-notwendig-an historis.
Sebagai dikatakan oleh Tjak Roeslan itu tadi, ini sudah historis gedetermineerd, sudah lebih dahulu tertulis didalam kalbunja sedjarah, bahwa nanti satu ketika boleh tidak boleh pasti di Eropa itu datang fasisme, ada Hitler atau tidak ada Hitler. Dengan pengupasan saja ini, saja Saudara-saudara sampai kepada kejakinan, ini bukan Hitler jang menggerakkan.
Hitler itu sekedar sebagai satu tool, sebagai satu alat, satu penjelenggara sadja, jah sebagaimana misalnja Tengku Abdul Rachman adalah sekedar satu alat, alat daripada imperialisme, alat dari Neo-kolonialisme jang sekarang ini mempertahankan diri di Asia Tenggara. Malaysia, Saudara-saudara—saja ini njimpang sebentar—pasti ada; meskipun ada atau meskipun tidak ada Tengku Abdul Rachman Putra, tetapipun kita berkejakinan Malaysia itu pasti akan hantjur, ada Sukarno atau tidak ada Sukarno.
Nah, kenapa saja datang kepada kejakinan kok fasisme itu adalah historis-gedetermineerd?
Saja memakai kupasan historis-materialisme, saja melihat kedjadian-kedjadian daripada kapitalisme itu disatu pihak ditentang oleh satu gerakan hebat, gerakan kaum buruh jang menghendaki hilangnja exploitation de I’homme par I’homme.
Kemarin dihadapan para wanita saja berkata bahwa itu utjapan, perkataan exploitation de I’homme par I’homme saja ambil over dari Jean Juares; Jean Juares pemimpin kaum buruh Perantjis. Kapitalisme ini ditentang oleh kaum buruh disatu pihak, dilain pihak kapitalisme itu menderita penjakit dalam tubuhnja sendiri. Penjakit-penjakit jang inhaerent, inhaerentic daripada sistim kapitalisme sendiri.
Apa penjakit-penjakit inhaerent daripada sistim kapitalisme itu sendiri? Oleh Marx dikatakan Kapitalisme tidak boleh tidak membawa innerlijke conflicten, kapitalisme tidak boleh tidak membawa penjakit-penjakit sendiri, bukan penjakit dari luar, tidak; tetapi dari dalam tubuhnja sendiri, jang karena sistim kapitalisme sendiri, antara lain jaitu penjakit krisis. Kapitalisme tentu mengalami krisis, krisis, krisis, krisis, krisis, krisis, oleh karena produksi, over-produksi, over-produksi, krisis, produksi, over-produksi, over-produski, over-produksi jang berdasarkan meerwaarde.
Meerwarde itu ah, Asmara Hadi apa bahasa Indonesianja, (Asmara Hadi: „nilai lebih”) eeh, nilai lebih, oleh nilai lebih ini, produksi over-produksi telah banjak tidak bisa didjual; krisis, over-produksi, produksi-produksi, produksi, jang berdasarkan nilai lebih. Achirnja over-produksi, krisis. Dan aku melihat bahwa krisis itu datangnja makin lama makin sering, dulu sekian tahunlah baru ada krisis, kemudian aku melihat ini-ini djangka waktu ini makin lama makin menjempit, penjakit jang inhaerent daripada sistim kapitalisme. Dan aku melihat bahwa pada satu soal kapitalisme itu seperti orang tua jah, jang selalu kena penjakit—katakan sadja entah penjakit malaria, bagaimana dokter, reumatik, betul,—sekali kena penjakit malaria, sembuh, sekali kumat malarianja, sembuh, sekali kumat malarianja, sembuh, dan antara apa itu sakit dan sakit itu makin lama makin sempit dan aku melihat makin lama makin ia punja badan seperti tidak ada tenaga untuk menentang malaria itu tadi. Tadinja dia kalau berpenjakit malaria hanja dalam tempo 4 hari minum pil sehat lagi; kemudian sudah satu minggu minum pil belum sehat, kemudian dua minggu minum pil belum sehat lagi.
Makin lama, makin lama, makin lama, badannja itu seperti tidak ada tenaga untuk mengatasi penjakit malaria itu. Aku melihat didalam sistim didalam masjarakat kapitalisme, krisis makin lama makin dekat, tetapi aku melihat pula bahwa tubuh kapitalisme ini makin lama makin tidak mampu.
Nah dilain pihak gerakan kaum buruh makin mendesak, makin mendesak makin mengadakan pukulan-pukulan terhadap kapitalisme ini. Dari luar dihantam oleh gerakan kaum buruh, dari dalam menderita penjakit-penjakit jang inhaerent itu tadi. Maka aku datang pada satu konklusi, sebagaimana konklusiku mengenai perang Lautan Teduh tadi itu, nanti tidak boleh tidak, tidak boleh tidak pasti petjah perang Lautan Teduh dan aku berkata nanti tidak boleh tidak didalam peperangan Lautan Teduh itu kita akan mendjadi merdeka oleh karena aku lihat lebih dari dulu, terdahulu djuga bahwa rantai daripada imperialisme itu jang paling lemah, de schakel is het zwakst di Vietnam dan Indonesia. Kalau nanti ada perang Lautan Teduh tidak boleh tidak, ini rantai petjah di Vietnam dan Indonesia. Zonder aku menjebutkan tanggal dan harinja, kata Tjak Roeslan. Itu memang benar, aku tjuma mengadakan analisa daripada kedjadian-kedjadian.
Demikian pula aku mempunjai analisa terhadap pada kapitalisme di Eropa ini, jang makin dekat krisis, krisis, krisis, krisis dan aku melihat bahwa tubuh kapitalisme makin lama makin tidak mampu untuk krisis ini, nanti akan datang satu saat jang kapitalisme itu akan mengadakan satu—apa jang saja katakan di Magelang atau di Jogja beberapa hari jang lalu—de laaste reddingspoging van het kapitalisme, ichtiar penjelamatan jang terachir daripada kapitalisme. Kapitalisme sudah megap-megap akan mati. Pada saat demikian itu tidak boleh tidak kapitalisme tentu mengadakan suatu usaha terachir untuk menjelamatkan dirinja.
Dan itu adalah fasisme, sendjata terachir dari kapitalisme; dulu sendjata kapitalisme sebagai kukatakan tadi waktu menggambarkan La Grande Revolution Francaise ialah parlementair-demokrasi; demokrasi parlementair. Itu memang baik untuk bordjuasi diwaktu periode kapitalisme sedang bertumbuh, jaitu periode jang aku katakan dengan meniru perkataan Fritz Stenberg „Kapitalisme im aufstieg”.
Kalau kapitalisme sedang im aufstieg, sedang menaik huh menaik, makin besar, makin besar, makin kuat, makin kuat, teralhir Kartel, makin terlahir trust, trust, trust, cartel, cartel, cartel; makin kuat, makin kuat, makin kuat: “the political system is parlementarian democracy”. Politik sistim daripada „kapitalisme im aufstieg”, kapitalisme jang sedang menaik adalah parlementarian democracy, demokrasi-parlementair.
Tetapi kapitalisme jang turun, dan ini saja namakan kapitalisme jang turun sebab dia sudah djemu seperti orang tua, tidak bisa menahan lagi krisis, selalu krisis, selalu krisis, semakin lama makin zwak, semakin lama semakin zwak, makin zwak untuk mempertahankan dirinja, diperlukan satu system politik jang lain lagi. Tidak ada lagi bisa digunakan oleh kapitalisme apa jang dinamakan demokrasi parlementer. Tetapi satu sistim jang bernama fasisme, satu sistim kekerasan. Dulu kapitalisme tidak bisa berbuat apa terhadap gerakan kaum buruh, buruh makin lama makin berkuasa, makin lama makin bersuara, makin lama makin mendesak. Tetapi dengan parlementaire demokrasi kapitalisme tidak bisa, tidak boleh menahan pemimpin kaum buruh, he kesana kau, kependjara, engkau pemimpin kaum buruh, aku masukkan kedalam pendjara, kaum buruh jang berdemokrasi aku masukkan dalam pendjara, tidak bisa sebab demokrasi parlementair.
Ini tidak bisa dipergunakan lagi, tidak bisa dipakai lagi untuk mempertahankan dirinja oleh kapitalisme didalam keadaan menurun, jang aku namakan dengan memindjam perkataan Fritz Sternberg „Kapitalismus im Niedergang”. „Kapitalismus im Niedergang”, kapitalisme setelah turun, tidak bisa lagi memakai sistim parlementaire demokrasi. Dia lantas ganti dengan sistim tangan besi. Pukul, gerakan kaum-buruh dipukul habis, salah atau tidak salah, demonstrasi atau tidak demonstrasi, berpidato jang menghasut atau berpidato jang tidak menghasut: hantam, masukkan kaum buruh itu, atau pemimpin kaum buruh kedalam konsentrasi kamp. Sèrèt mereka kemuka, “firing squad, drél mereka, masukkan dia paling sedikit didalam konsentrasi kamp untuk berpuluh-puluh tahun hendaknja.
Tidak ada demokrasi, aku Führer jang memerintah, aku Hitler jang menjatakan segala aturan, aku selamanja benar, „Hitler hat immer Recht”. Dan tempo hari saja katakan bahwa Mussolini berbuat demikian. „Mussolini semper a razione”! Mussolini selalu benar, aku menentukan segala hal, dan siapa tidak mengikuti aku: drél, aku masukkan pendjara atau aku masukkan dalam konsentrasi kamp.
Ini adalah satu fenomeen jang tidak boleh tidak musti terdjadi dalam alam kapitalisme. Dan saja sampai kepada konklusi ini, sesudah mengatakan analisa, dengan pisau tadjam jang saja namakan, jang dinamakan historis-materialisme itu tadi.
Demikian pula maka sekarang inipun, sekarang, sekarang, sekarang aku tadi telah berkata bahwa aku tidak heran diadakan Malaysia, tidak! Ini bukan kedjahatan, kedjahatan an sich daripada Tengku Abdul Rachman, tidak! Tengku sekedar suatu perkakas. Malaysia diadakan oleh karena sekarang ini imperialisme mengadakan dia punja laatste reddingspoging. Ada Abdul Rachman, Abdul Rachman jang dipakai, ada Abdullah, Abdullah jang dipakai; ada Sarimin, Sarimin jang dipakai.
Tetapi tidak boleh tidak imperialisme jang sekarang ini, jang sedang megap-megap dan hendak mengadakan laatste reddings poging, tidak boleh tidak musti mengadakan offensif jang berupa „Malaysia”; laatste reddingspoging van het imperialisme.
Sebagaimana ditempat-tempat lain kukatakan—djuga di Magelang baru-baru ini—, laatste reddingspoging daripada imperialisme itu berdjalan.
Maka oleh karena itu, Saudara-saudara, saja sebagai Marxis, sebagai dialektikus, kalau boleh saja namakan demikian, saja selalu mendjawab djuga historis tidak boleh tidak setjara dialektik kita bangsa Indonesia akan makin kuat oleh karena gempuran-gempuran dari luar. Ini jang saja namakan dialektika Revolusi Indonesia. Sudah kukatakan di Magelang, kukatakan di Gadjah Mada terhadap kolega-kolegamu di Jogjakarta makin kita digempur makin kita kuat, makin kita dihantam, makin hantaman itu sebagai tempaan, tempaan terhadap kepada kita punja tubuh jang membuat tubuh kita itu makin berotot kawat balung wesi.
Dialektika, hai, anak-anakku dan dialektika inipun sebenarnja adalah Historis-Notwendig. Perlawanan kita, pertentangan kita terhadap imperialisme historis-notwendig, pertentangan jang didjalankan oleh Diponegoro, oleh Sultan Agung-Tirtajasa, oleh Sultan Agung Hanjokro Kusumo, oleh Sultan Hasanuddin, oleh pemimpin kita jang lain-lain, pertentangan jang diadakan oleh rakjat Indonesia dalam periode “Physical Revolution”, sebenarnja adalah „historis-tevoren-gedetermineerd”, lebih dahulu sudah tertulis didalam sedjarah.
Bukanlah saja bisa melihat bintang-bintang itu; tidak! tidak! Tetapi saja hanja menggunakan analisa sedjarah. Tidak boleh tidak nanti tentu bangun Pergerakan Nasional Indonesia, bahwa tentu bangun perlawanan dialektika; these, anti-these, anti-these, anti-these daripada imperialisme itu. Tidak boleh tidak dan achirnja kita pasti menang, jang oleh Tjak Roeslan dikatakan: inilah aku selalu historis-optimis. Djikalau aku ini historis-optimis bukan oleh karena memang djiwaku ini djiwa optimis tidak, saja melihat garis jang demikian, saja melihat bahwa garisnja itu ketempat jang tjemerlang. Historis tjemerlang! Maka oleh karena itu Saudara-saudara selalu aku menggemblengkan didalam dadanja rakjat Indonesia, supaja jakin, ainul jakin, apalagi ilmul jakin, haqul jakin.
Kita harus jakin bahwa tidak boleh tidak pasti datang, suatu hari pasti datang, pasti datang, historis pasti datang bahwa Indonesia akan menang, bahwa kita akan menang, bahwa kita akan bisa memenuhi Amanat Penderitaan Rakjat, oleh karena Amanat Penderitaan Rakjat ini adalah tertulis didalam garis sedjarah daripada bangsa. Sebagai kukatakan didalam kitab Sarinah, tidak boleh tidak matahari nanti, matahari itu, matahari itu, matahari itu, pasti datang.
Saja ulangi apa jang saja tuliskan didalam pendjara, jaitu pendjara Bantjeuj, Bantjeuj—mana Bantjeuj itu? dekat alun-alun!—disana saja dikeram, disekam oleh Belanda dan disitulah didalam sel ketjil itu Bantjeuj itu aku menulis: ajam djantan berkokok, matahari akan terbit, matahari akan terbit bukan oleh karena ajam djantan berkokok, tetapi ajam djantan berkokok karena melihat matahari akan terbit.
Nah kitapun Saudara-saudara, kita adalah ajam djantan dari Timur ini „de jonge Haan van het Oosten”, ajam djantan dari dunia Timur. Dan djuga ajam-djantan-sedjarah Dunia Baru! Tetapi sekarangpun berkokok! Hajo! Kita berkokok oleh karena kita melihat matahari pasti akan terbit, matahari tidak boleh tidak akan terbit. Matahari kita, matahari daripada seluruh rakjat Indonesia!
Saudara Promotor, Saudara Rektor, demikianlah utjapan terima-kasihku kepada Saudara-saudara, kepada Saudara Promotor dan Saudara Rektor. Demikianlah utjapan terima-kasihku kepada Saudara-saudara sekalian dan kepada mahasiswa dan rakjat Indonesia.
Terima-kasih.
__________________________
PIDATO PROMOTOR PROF. DJENDRAL DR H. ROESLAN ABDULGANI
Promotor Prof. Djendral Dr. H. Roeslan Abdulgani tengah mengutjapkan pidato penggelaran doctor dan doctor honoris causa dalam ilmu sedjarah kepada Paduka Jang Mulia Presiden Dr. Ir. Hadji Sukarno oleh Universitas Negeri Padjadjaran.
Sidang Terbuka Senat Gurubesar Universitas Padjadjaran.
Promovendus Bung Karno Jang Kami Muliakan,
Senat Gurubesar Universitas Padjadjaran telah memutuskan untuk menjampaikan gelar doctor honoris causa dalam bidang ilmu-sedjarah kepada Bung Karno, Presiden seumur-hidup/Panglima Tertinggi Angkatan Bersendjata/Pemimpin Besar Revolusi Indonesia. Kepada saja sebagai guru-besar dalam ilmu-sedjarah pergolakan kebangsaan Asia-Afrika telah ditugaskan untuk bertindak selaku promotor, supaja mendjelaskan alasan-alasan pemberian gelar tersebut.
Dasar bagi pemberian gelar ini adalah bersumber kepada tiga pokok pertimbangan.
Pertama dengan meneliti dan menilai karya-karya jang ditulis dan disiarkan oleh promovendus sedjak mudanja hingga sekarang, chususnja ditindjau dari sudut ilmijah kesedjarahannja.
Kedua dengan mengikuti pentrapan serta pengalaman ilmu-sedjarah oleh promovendus, chususnja ditindjau dari sudut pembaktian serta pengalaman didalam perdjoangannja, jang melahirkan konsepsi-konsepsi baru bagi penulisan ilmu-sedjarah dan bagi kelandjutan perdjoangan Bangsa.
Dan ketiga dengan mentjatat, bahwa promovendus dengan pentrapan dan pengalaman ilmu-sedjarah itu dalam medan-djoang „dedication of life”-nja telah memberikan inspirasi menjala-njala bagi bangsa dan rakjat Indonesia chususnja, dan bagi bangsa-bangsa lain pada umumnja, terutama jang sedang memperdjoangkan dan menegakkan Kemerdekaan, Sosialisme dan Dunia Baru.
Ukuran jang kami gunakan untuk meneliti dan menilai kesemuanja itu adalah ilmu-sedjarah; suatu tjabang ilmu jang sekalipun sering digolongkan kedalam golongan humaniora, tetapi dalam kenjataannja tidak dapat dilepaskan dari golongan realia; sehingga dalam ukuran ini kami gunakan ilmu-sedjarah dalam interkoneksi dan perpaduannja humaniora dan realia; djadi ukuran ilmu-sedjarah dalam hal ini, bukan semata-mata dalam arti-kata memusatkan penjelidikannja kepada diri-manusia, baik setjara perseorangan maupun setjara kelompok-kelompok, suku-suku dan bangsa-bangsa (humaniora); tetapi djuga dalam arti-kata memusatkan penjelidikannja kepada “man’s environment” and “men’s influence and his achievement on his environment”, jaitu pengaruh dan penaklukan manusia atas alam dan lingkungan sekitarnja, baik lingkungan masjarakat ketjilnja, maupun masjarakat luasnja, baik micro-cosmosnja maupun macro-cosmosnja (realia).
Ukuran lain jang kami gunakan jalah bahwa ilmu-sedjarah adalah bukan hanja menjangkut masa lampau sadja; melainkan ilmu-sedjarah adalah ibarat penglihatan tiga-dimensi sekaligus, jaitu penglihatan kemasa silam, masa sekarang dan masa depan. Dalam menjelidiki masa silam, ilmu-sedjarah tidak dapat melepaskan diri dari realitasnja masa-sekarang dan dari perspektipnja masa-depan. Tanpa berpidjak kepada realitasnja hari-sekarang, dan tanpa menantjapkan kepada perspektipnja hari-depan, maka ilmu-sedjarah sebagai hanja tengokan kemasa-silam sadja adalah steril; ibarat gudang tertutup tanpa angin jang menjegarkan, ibarat museum penuh dengan barang mati.
Apabila berpedoman dengan dua ukuran ilmu-sedjarah tersebut kami teliti karya-karya promovendus dengan membaginja dalam beberapa periode, jaitu:
- 1.
- periode sebelum promovendus dipendjarakan di Sukamiskin, (sebelum tahun 1930);
- 2.
- periode sekeluarnja dari Sukamiskin sampai waktu pembuangannja ke Flores (tahun 1932-1934);
- 3.
- periode Flores (tahun 1934-1936);
- 4.
- periode Bengkulu sampai datangnja Djepang, (tahun 1937-1942);
- 5.
- periode Djepang. (1942-1945);
- 6.
- periode Proklamasi Kemerdekaan hingga sekarang,
maka sebagai djalur benang-mera terlihat dalam karyanja promovendus djalinan penguraian sedjarah, baik sedjarah dunia maupun sedjarah nasional, setjara ilmijah dan setjara revolusioner.
Penguraian sedjarah setjara ilmijah dalam arti-kata bahwa promovendus menguasai banjak sekali fakta-fakta dalam panggung-sedjarah dunia dan sedjarah nasional; serta dapat menjila-njilakan, mana fakta fakta sedjarah jang penting dan pokok, dan mana jang tidak penting dan tidak pokok: dan achirnja dapat merangkaikannja dalam kontradiksinja, interkonneksinja dan interaksinja untuk menemukan hukum serta tendensi dalam sedjarah perkembangan masjarakat dan perikemanusiaan umumnja, rakjat Indonesia chususnja.
Penguraian sedjarah setjara revolusioner dalam arti-kata bahwa promovendus berpidjak pada tafsir serta filsafat sedjarah jang diametal bertentangan dengan penafsiran serta filsafat sedjarah kolonial. Apabila mata-peladjaran sedjarah kolonial adalah alat bagi si-pendjadjah untuk menaburkan perasaan inferioritas dikalangan rakjat kita, sambil dengan teori “mission sacree” dan “white man’s burden” mengagung-agungkan bangsa pendjadjahan kulit-putih sebagai „adhi-adhining” bangsa, maka promovendus sedjak usia-mudanja, dan terutama sedjak tahun 1926 merintis penulisan sedjarah baru jang setjara sadar ditudjukan untuk membangunkan kembali rasa-pertjaja kepada diri sendiri menudju kearah berdiri diatas kaki sendiri; bertjita-tjita, ber-„kraftgefühl”, dan ber-„wirkliche Kraft”; berazas “non-cooperation”, ta’ sudi bekerdjasama dengan pihak kolonialisme dan imperialisme; dan menumbuhkan “self-reliance” dan “self-help” atas dasar mutlaknja persatuan antara seluruh suku-suku bangsa Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke, dan persatuan antara Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme.
Dari seluruh karya-karyanja dalam periode kolonial dulu itu, pagi-pagi sudah ditjerminkan oleh promovendus kesadaran untuk melawan serta membongkar penulisan sedjarah setjara kolonial jang immoril itu, dan merintis penulisan serta penafsiran sedjarah jang benar-benar sesuai dengan kodrat-Alam dan martabat Manusia.
Ilmu sedjarah bagi promovendus bukanlah sekedar hafalan tentang rentetan tahun-tahun dengan kedjadian-kedjadian, tanpa hubungan kausal setjara timbal-balik; melainkan ilmu-sedjarah adalah sesuatu jang hidup, suatu “source of inspiration, illuminating and fascinating”, suatu “guide to action”.
Dalam salah satu tulisannja, promovendus dengan tandas membantah pendapat, bahwa:
“history is bunk”. Mempeladjari sedjarah adalah bukan omong kosong. Sedjarah adalah berguna sekali. Dari mempeladjari sedjarah orang bisa menemukan hukum-hukum jang menguasai kehidupan manusia. Salah satu hukum itu jalah, bahwa tidak ada bangsa bisa mendjadi besar dan makmur zonder kerdja. Terbukti dalam sedjarah segala zaman, bahwa kebesaran bangsa dan kemakmuran selalu „kristalisasi” keringat. Ini adalah hukum jang kita temukan dari mempeladjari sedjarah. Bangsa Indonesia, tariklah moral dari hukum ini!”
Demikianlah seruan promovendus untuk menggerakkan Rakjat beladjar tentang sedjarah, dan beladjar dari sedjarah.
Kutipan beliau dari bukunja John Seeley: “The expansion of England”, bahwa “we study history that we may be wise before the event”, bahwa ilmu-sedjarah membuat kita bidjaksana lebih dahulu untuk menghadapi tiap masa-depan, mentjerminkan pentingnja pentrapan ilmu-sedjarah untuk masa-sekarang dan untuk masa-depan.
Ia adalah senada dan sedjiwa dengan kutipan beliau dalam pidato Resopim dari gerbang-penutup museum sedjarah Perdjoangan Nasional Mexico: “we leave the museum behind, but not history”; senada dan sedjiwa pula dengan pandangan Dr. E. F. E. Douwes Dekker, seorang historicus dan seorang pedjoang,—Bapak politik-nasionalisme Indonesia” kata promovendus—, jang didalam bukunja: „Indie, handboek voor den Indischen Nationalist” pada tahun 1921 menulis:
„Kennis van geschiedkundige feiten is evenwel geen kennis van de geschiedenis, dat de motieven achter de feiten ons de historie eerst doen kennen; dat wij moeten trachten die motieven na te speuren, zoover nog mogelijk.
De lijnen in het verleden te vinden, te midden van den chaotischen baaierd van feiten en feitjes, en hebben we de lijnen, te trachten deze in de toekomst zoover mogelijk door te trekken,—ziedaar onze taak”.
Dan dalam hampir seluruh karya sedjak mudanja dulu itu, di-ilhami oleh Pak Tjokroaminoto, Sneevliet, Douwes Dekker, Tjiptomangunkusumo dan lain-lain dikemukakan oleh promovendus setjara djelas motif ekonomi atau motif kerezekian dari tiap fenomena sedjarah.
Dalam mendjawab bukunja Prof. Treub „Het gist in Indie”, pemimpin kaum modal, promovendus dalam artikelnja „Djerit-kegemparan” tahun 1928, setajra tadjam sekali mengupas dasar fenomena kolonialisme itu. Promovendus menolak teori-teori seakan-akan kolonialisme adalah soal „ingin melihat negeri asing”, soal „menjebar kesopanan” dan sebagainja, seperti jang disebarkan oleh ahli-ahli sedjarah Prof. Gustaf Klemm, Prof. Thomas Moon dan sebagainja, melainkan dengan tadjam promovendus menandaskan bahwa kolonialisme adalah soal „mentjari hidup, soal bussiness, soal rezeki, soal jang berdasar ekonomi”.
Dan didalam karya-karya berikutnja selalu ditandaskan bahwa masjarakat kolonialisme adalah penuh dengan pertentangan dan antagonisme, berdasarkan pertentangan kebutuhan dan kepentingan materiil, antara jang mendjadjah dan didjadjah, jang ta’ dapat dikompromiskan.
Dan atas garis-pemisahnja „kaum pendjadjah” dan „kaum jang didjadjah” itu, antara „kaum sana” dan „kaum sini” maka promovendus menarik terus garis djalan dinamikanja sedjarah kedepan.
Hal ini ditegas-tadjamkan dalam tulisannja „Djadi guru dimasa kebangunan”, bahwa:
„mempeladjari sedjarah-kuno dan mengagumi sedjarah-kuno itu hanjalah ada buahnja jang berfaedah bagi masjarakat kita sekarang, djikalau kita menarik terus garisnja dynamika jang ada didalam sedjarah itu. Dari tingkatnja kita punja „grootsch verleden” melalui tingkatnja kita punja „donker heden”, mendaki kepada tingkatnja kita punja „lichtende, wenkende toekomst”.
Ini menandakan, bahwa bagi promovendus ilmu-sedjarah bukan suatu „labyrinth”, bukan suatu „doolhof” bukan suatu „gang gelap berliku-liku tanpa tudjuan”, seperti lazim pada waktu itu diadjarkan dibangku sekolah kolonial, melainkan ilmu-sedjarah memberikan kepada kita suatu „telescope”, suatu alat-peneropong bagi masa depan. Promovendus sedjak mudanja berdjiwa „historis-telescopis”, „historis-visionair” dan karena itu „historis-optimistis”. Optimistis, tidak hanja dalam suasana tegang, tapi tetap revolusioner optimistis djuga didalam suasana gelap.
Historis-optimisme itu tertjermin didalam kalimatnja jang terachir dari pidato pembelaannja „Indonesia Menggugat” pada tahun 1930, jang berbunji:
„Dan sekarang didalam bersatu hati dengan rakjat Indonesia itu, didalam bakti dan bersudjud kepada Ibu Indonesia jang kami tjintai itu, didalam kepertjajaan bahwa rakjat Indonesia dan Ibu Indonesia akan terus nanti mendjadi mulia, nasib jang bagaimanapun djuga mengenai kami, maka kami siap sedia mendengarkan putusan Tuan-tuan Hakim”.
Historis-optimisme-nja promovendus adalah bukan optimisme tanpa alasan dan landasan. Historis-optimismenja Bung Karno adalah berlandaskan kejakinan, bahwa tiap perdjoangan kemerdekaan Rakjat untuk sesuai dan se-irama dengan kereta Djagarnathnja Sedjarah—istilah promovendus dalam pidato Proklamasi 1958 „Tahun Tantangan”—harus bersumber kepada kekuatan massa, dan kekuatan Rakjat, dimana Pemimpin adalah sekedar djuru-bitjaranja, penjambung-lidahnja, penegas-rumusan tjita-tjitanja.
Berulang-kali adagium bahwa rakjat banjak adalah tenaga-penggerak jang menentukan dalam sedjarah perkembangan masjarakat, dinjatakan oleh promovendus, dalam kata-kata jang sederhana: „Tanpa rakjat saja ini bukan apa-apa”.
Dan dipertegas lagi oleh promovendus berulang-kali baik dulu didalam negeri, maupun diwaktu jang achir-achir ini diluar negeri, bahwa sedjarah perdjoangan kemerdekaan rakjat adalah ibarat Matahari jang „historis-Notwendig” akan terbit. Para pemimpin jang beragitasi dan berprogandan untuk kemerdekaan Rakjatnja adalah sekedar ajam-ajam djantan jang berkokok, menandakan akan datangnja Sang Matahari; dan bukan jang menjebabkan Sang Mataahri akan terbit; suatu rumusan jang sederhana tetapi mentjerminkan suatu inti-hakekatnja daripada ilmu sedjarah, sehingga ahli sedjarah berkenamaan Prof. Jan Romein dalam bukunja jang terachir bernama “The Asian Century” membenarkan dan mengoper pendapat promovendus, bahwa:
“The ferment all over Asia and also in Africa and South America was not a little fire lit by a few modernists but a conflagration started by the backward, oppressed majority of the world’s peoples. What was now to be seen was the revolution of our times. As Sukarno put it: the sun does not rise because the cock crows; the cock crows because the sun is rising”.
Pandangan jang kokoh berpihak atas paham „historis-Notwendigkeit” inilah jang mendjadikan promovendus djuga historis-visionair, hal mana tertjermin dalam konsepsi Nasakom, jang ditjetuskan pada tahun 1926, 38 tahun berselang; konsepsi jang berani, mendjangkau djauh kemuka, berlandasan atas realitasnja faktor-faktor objektip bumi Indonesia untuk menggalang persatuan nasional-revolusioner progresip.
Sebagai pantjaran djiwa historis-visionairnja promovendus itu, maka kami menemukan dua tjontoh lagi.
Pertama: konsepsi sosio-internasionalisme-nja promovendus, jang beliau namakan dalam tahun 1928 sebagai “Indonesianisme dan Pan-Asiatisme”, dan jang menandaskan perlu mutlaknja rasa-setiakawan serta persatuan antar Asia-Afrika, dengan didengungkannja kalimat jang “fascinating and inspiring” jaitu:
„Kalau Barong Liong Sai dari Tiongkok kerdja sama dengan Lembu Nandi dari India, dengan Sphinx dari Mesir, dengan Burung Merak dari Birma, dengan Gadjah-Putih dari Siam, dengan Ular Hidra dari Viet-Nam, dengan Harimau dari Philipina dan dengan Banteng dari Indonesia, maka pasti hantjur lebur imperialisme dan kolonialisme internasional”.
Visi kerdja-sama itu berlandaskan adagium-perdjoangan, bahwa antar nasionalisme A-A harus ada konsultasi, untuk setjara dialektis kita konfrontasikan melawan internasionalisme nja kaum imperialis dan kolonialis. Visie itu kemudian mendjadi suatu realitas sewaktu konperensi A-A di Bandung disini; jang kemudian oleh promovendus diteruskan garis-menaiknja sesuai dengan konsepsi sosio-demokrasinja mendjadi solidaritas Asia-Afrika dengan Latin Amerika, dan dengan negara-negara sosialis, serta gerakan-gerakan progressip dinegara-negara kapitalis/imperialis/kolonialis dalam satu barisan New Emerging Forces; konsepsi penggalangan semua kekuatan internasional progressip-revolusioner, berporoskan Nasakom ditingkat internasional.
Tjontoh jang kedua dari djiwa historis-visionernja promovendus adalah petjahnja Perang Pacific dalam hubungannja dengan datangnja Indonesia Merdeka. Baik dalam artikel-artikelnja pada tahun 1928, maupun sewaktu beliau diperiksa oleh landraad Hindia-Belanda di Bandung sini, dan djuga didalam pidato pembelaannja, beliau menandaskan tanpa tedeng-aling-aling, bahwa innerlijke conflicten daripada kaum imperialis internasional akan mengakibatkan perang antar kaum imperialis disekitar Lautan Teduh.
Pada waktu itu, tahun 1928 beliau menulis: Djanganlah hendaknja kita terperandjat, kalau nanti perang Pacific ini mengobarkan Lautan Teduh”.
Dan sewaktu hakim kolonial Mr. R. Siegenbeek van Heukelom pada tahun 1930 memantjing Bung Karno agar masuk kedalam djaring-djaringnja hukum kolonial dengan menuduh atas dasar laporan-laporan para tjetjunguk bahwa Bung Karno berkata: „Kemerdekaan akan datang didalam tahun 1930, jaitu apabila kita mempergunakan perang Pacific untuk melawan dan mengusir pemerintah jang sekarang ini”, maka tanpa ragu-ragu dan penuh kejakinan atas historis-visionernja, mendjawablah beliau:
„Saja tidak pernah berkata demikian. Peperangan tersebut sudah tentu akan terdjadi. Alasan-alasan jang saja dapat jalah keterangan-keterangan dari Ernest Reinhard, dengan bukunja: „Die imperialistische Politik im fernen Osten”, dari Prof. Karl Haushofer: „Die Geopolitik des Pazifischen Ozeans”, dan dari karyanja Henry Bywater: “The great Pacific-War”. Perang Pacific akan datang, dan Indonesia, barangkali setjara aktif, tetapi pasti setjara pasip, akan terlibat didalamnja. Akan tetapi saja tidak pernah menjebut hari tanggalnja”.
Dan memang, promovendus disekitar tahun 1929 dulu selalu menegaskan akan adanja hubungan erat antara Perang Pacific jang akan datang dengan kemerdekaan Indonesia, tanpa menjebut hari dan tanggalnja. Berkatalah beliau pada waktu itu:
„Kaum imperialisme, awaslah! Awas! Djikalau nanti geledek Perang Pacific menjambar-njambar dan membelah angkasa, djikalau nanti air Samudera Teduh mendjadi merah, dan bumi disekelilingnja menggempa karena ledakan bom dan dinamit, disitu rakjat Indonesia akan melepaskan belenggu-belenggunja, disitu rakjat Indonesia akan merdeka!“.
Memang persoalan kapan terdjadinja sesuatu jang “Historis-Notwendig” pasti akan datang, adalah tergantung dari faktor lain.
Sebab hukum historis „historische Notwendigkeiten” itu tidak berlaku setjara automatis, atau setjara pasip fatalistis.
Bagi promovendus selalu harus ada dua anasir untuk merealisir „historische Notwendigkeiten” itu. Pertama anasir-objektip, dan kedua anasir-subjektip. Dalam masalah Perang Pacific dan hubungannja dengan Proklamasi Kemerdekaan kita, ditegaskanlah oleh promovendus bahwa kedua-dua anasir itu harus menumbuhkan suatu situasi revolusioner; jang satu ditimbulkan karena situasi diluar ichtiar kita, dan jang satunja karena “conscious effort and daily struggle” kita.
Dan kata promovendus didalam bukunja „Sarinah”, apabila dua situasi revolusioner itu sudah matang dan:
„bertemu satu sama lain laksana tjetusan antara poolnja lading elektris jang bertriljun-triljun volt; pada saat itu gugurlah dengan suara gemuruh jang terdengar dari udjung-dunia jang satu sampai keudjung-dunia jang lain, keradjaan Belanda didunia Timur”.
Demikian promovendus, jang kemudian menambahkan bahwa karena mata-rantai imperialisme internasional pada tahun 1945 itu adalah paling lemah di Vietnam dan Indonesia, maka adalah historis-logis bahwa djustru didua negara inilah bertemu matjam-matjam faktor diatas jang mematahkan rantai imperialisme internasional itu.
Demikian Bung Karno dengan historis-logikanja dan historis-visionairnja. Dan dengan historis-logikanja itu, maka pada tahun 1963 kita telah menjaksikan realisasi dengungkan sembojannja bertahun-tahun sebelumnja, bahwa satu hari pasti akan datang: kolonialisme Belanda akan tersepak dari Irian-Barat. Demikian pula, karena perdjoangan kita melawan Nekolim adalah berada ditengah-tengah arus-pokoknja sedjarah-dunia ditengah “mainstream of history”, maka historis-logis satu hari pasti akan datang British Malaysia akan gulung tikar.
Memang seorang ahli sedjarah ulung harus pandai menggunakan ilmu sedjarah sebagai telescope untuk meneropong masa-depan; tetapi ia bukan ahli nudjum sematjam seorang astroloog jang memiliki: „ilmu gaib jang begini begitu weruh sadurunging winarah”—istilah promovendus dalam Tavip hal. 18—melainkan ahli-sedjarah harus memperpadukan didalam dirinja ketadjaman sorotannja tentang kedjadian-kedjadian jang sudah lalu, dengan ketadjaman sorotan tentang gedjala-gedjala masa-sekarang dan perspektip masa-depan.
Seorang ahli-sedjarah harus mengenal banjak fakta-fakra sedjarah. Tetapi ia mesti mengenal pula metode tertentu untuk menganalisanja, metode tertentu untuk melihat hubungan kausalnja, agar supaja djangan keliru dalam menafsirkannja.
Dan dalam hal ini promovendus sedjak mudanja menggunakan ilmu Marxisme sebagai werk-metode dan denk-metodenja. Bagi promovendus, Marxisme dengan historis-materialisme-nja adalah bukan satu dogma jang schablonmäszig, tetapi adalah „satu-satunja teori jang competent buat memetjahkan soal-soal sedjarah” (karyanja di Bengkulu, Dibawah Bendera Revolusi hal. 510). Dan kata beliau selandjutnja didalam pidato Tavip.
„Manakala aku meramalkan hal ini atau hal itu ramalanku ini aku dasarkan pada pemahamanku atas hukum-hukum objektif sedjarah masjarakat. Kalaupun ada „ilmu gaib” jang kumiliki—itu adalah karena aku kenal Amanat Penderitaan Rakjat, karena aku kenal situasi, dan karena aku kenal ilmu jang kompeten jaitu Marxime”.
Dengan ketadjamannja pisau-analisa ilmu Marxisme, dan tangan tegas, dengan emosi jang menjala-njala dan dengan ratio jang bernjawa, maka ditulislah kembali oleh promovendus sedjarah kebesaran nenek-mojang kita, dengan menggunakan sebagai sumber antara lain prasasti-prasasti kuno, dan Kitab Negara Kertagamanja Prapantja serta Kitab Pararaton, sambil mempopulerkan tjandra-sengkala-tjandra-sengkala seperti: Pendawa Lima ngemban bumi untuk tahun pendiriannja Padjadjaran, jaitu tahun 1255 Çaka; tjandrasangkala Rasa tan wina untuk meninggalnja Gadjah Mada, jaitu tahun 1286 Çaka; tjandrasangkala Sirna Hilang kertaning Bumi untuk zaman redup-redupnja Madjapahit dan meninggalnja Prabu Kertabumi, jaitu tahun 1400 Çaka; sedjarah datangnja Islam di Indonesia, sedjarah datangnja imperialisme dan kolonialisme di Indonesia dengan penghisapan dan kedholimannja; ditulislah kembali sedjarah pergerakan kemerdekaan kita dengan perspektip-perspektipnja jang gilang-gemilang dimasa depan.
Ditulislah djuga sedjarah kebesaran, kemunduran dan keruntuhan umat Islam, serta obat-obat-sedjarahnja untuk membangunkannja kembali, dengan seruan beliau untuk me-„muda”-kan pengertian Islam, rejunevation dan regeneration.
Ditulislah djuga sedjarah Revolusi Amerika, sedjarah Revolusi Perantjis, sedjarah Revolusi Soviet, sedjarah Revolusi Tiongkok, sedjarah Revolusi Mesir, sedjarah Revolusi India, sedjarah Revolusi Turki; dan à la ahli Sedjarah Hans Kohn mata-mata-rantai lainnja dari „Geschichte der Nationalen Bewegung im Orient”.
Ditulislah djuga sedjarah Djengis Khan, sedjarah Restorasi Meji-Tenno di Djepang dengan latar belakang-ekonominja, dan dengan reaksinja Ronin dan Saigo Takamori.
Ditulislah djuga sedjarah pergerakan kaum Buruh Eropa, dengan Internationale jang ke-1, ke-2, ke-2½ dan seterusnja; sambil ditundjukkan setjara historis-objektip persamaan-watak, persamaan-dasar, dan persamaan-tudjuan antara gerakan revolusionair kaum buruh di Eropa dengan gerakan revolusionair kaum nasionalis di Asia-Afrika.
Ditulislah pula “comparative history” jang sangat ilmijah-mendalam tentang genetics, atau asal-usulnja setiap kolonialisme, sebagai anak-imperialisme dan tjutjunja kapitalisme, dengan menondjolkan perbedaan-perbedaan pokoknja antara watak-royalnja kapitalisme Amerika jang melahirkan imperialisme bertabiat liberal; watak-setengah-royalnja kapitalisme Inggeris jang melahirkan imperialisme setengah-liberal; watak kikirnja kapitalisme Belanda jang melahirkan imperialisme orthodox; dan watak lebih kikir lagi dari kapitalisme Spanjol, jang melahirkan imperialisme sangat kikir dan kedjam.
Dan atas dasar “comparative historical scientific analysis” inilah terutama dalam membanding hubungan perdjoangan bangsa India melawan Inggeris dan perdjoangan bangsa Indonesia melawan Belanda, maka datanglah promovendus pada tahun 1927 kepada konsepsi Marhaenisme; hasil pentrapan Marxisme dalam situasi dan kondisi Indonesia, suatu adjaran-ilmijah, suatu dasar dan azas-perdjoangan jang ilmijah, suatu ilmu-perdjoangan penuh dengan historisch inzicht dan uitzicht, dan jang berbeda dengan swadeshinja kaum bordjuis India.
Apabila atas dasar karya-karyanja ini sadja, sudah beralasanlah untuk menjatakan Bung Karno sebagai ahli-sedjarah jang berhak digelari Dr. dalam ilmu-sedjarah, maka masih meluas bidang jang disorotnja oleh promovendus dengan ilmu-sedjarah sebagai telescopenja.
Dengan tetap menggenggam pisau-analisanja ilmu-Marxisme, maka diuraikan djuga oleh promovendus dalam berbagai karya-tertulisnja, kuliah-kuliah umumnja dan pidato-pidatonja; sedjarah perkembangan tjita-tjita manusia, baik dibidang demokrasi dibidang keadilan sosial, dibidang kenegaraan, maupun dibidang ke-wanita-an, kekeluargaan dan perkawinan; malahan djuga sedjarah perkembangan kebudajaan, dari perwajangan, dengan mitologinja, dengan Ramayana, Mahabarata dan lakon-lakon tjiptaan rakjat Indonesia sendiri; sedjarah perkembangan adjaran Budha dengan aliran Hinajana dan Mahajana; sedjarah tarian-tarian, dengan arti simbolis dari gerak-gerik serta warna-warninja, kesemuanja tidak luput dari sorotan “historical sense”-nja promovendus; dan kesemuanja itu beliau uraikan setjara historis-materialistis sebagai tjerminan sedjarah perkembangan masjarakat; tidak lepas dari keadaan sosial-ekonomisnja, dan tidak lepas pula dari kelas jang sedang menggenggam kekuasaan politik.
Atas dasar jang ilmijah-kokoh inilah maka promovendus djuga menantjapkan pisau-analisanja Marxisme kedalam sedjarah perkembangan „Gods-idee”, jang beliau rumuskan sebagai sedjarah perkembangan „alam persembahan Manusia mentjari Tuhan”. Apabila karya promovendus mengenai masalah ini saja banding dengan karyanja Heinrich Cunow, berdjudul: „Ursprung der Religion und des Gottesglaubens”, dengan karyanja Dr. Douwes Dekker, jang berdasarkan teorinja Petrus Ward Kalengkongan, menulis: „Religieuse beschaving” dan Gods-geboorte”, atau dengan karyanja Tan Malaka bab „evolusi kepertjajaan Hindustan” didalam „Madilog”, maka uraian dan konklusi promovendus adalah menundjukkan suatu ketadjaman „Marxistis denken”-nja jang djauh melebihi karya-karya penulis jang saja sebut tadi. Dan sehubungan dengan ini promovendus jang saja sebut tadi. Dan sehubungan dengan ini promovendus tetap menundjukkan pula sublimasi daya-tjipta-nja jang sintesis, jaitu Konsepsi dan idee Nasakom jang untuk dasar-perdjoangan dalam kehidupan nasional beliau namakan kerdja-sama dan solidaritas Nasakom, dan jang dalam diri pribadinja beliau rumuskan sebagai sintese dan perasan Nasakom.
Memang ini adalah sintese jang berani, jang orisinil dan realistis, objektip-ilmijah dan subjektip-revolusioner mempelopori, jang kongruensinja adalah Pantja-Sila, jang Ketuhanan Jang Maha Esa bagi promovendus sebagai pedjoang adalah sumber keimanan jang tegelijk Pan-theistis dan Mono-theistis jang Tuhan adalah bagi promovendus: „Rabbul Alamin”, dimana-mana ada, seperti dinjanjikan setjara indah-merdu dalam Baghawad Gita jang promovendus gemari, tetapi dialektis-sintetis toch satu: seperti dinjatakan dalam surat Al-Ichlaash:
„Qul huwa’llaahu ahad.
Allahu ’shamad.
Lamjalid wa lam juulad.
Wa lam jakun lahuu kufuan ahad”.
Sintese Nasakomnja Bung Karno adalah historis lebih sublim daripada sintese-sedjarahnja Jean Juares, jang dengan bukunja: ,“I’histoire socialiste de la Grande Revolution Française” memperpadukan dalam dirinja historis-materialisme-nja Karl Marx, dengan mistiknja ahli sedjarah Perantjis Michelet, dan “heroworship”-nja ahli sedjarah Romawi Plutarchus.
Sintese Nasakomnja Bung Karno adalah historis lebih sublim daripada sintese-sedjarahnja Jean Juares, jang dengan merupakan kelandjutan dan kelengkapan (“legitimate successor”) tiga aliran ideologi terbaik dalam abad ke-19, jaitu adjaran filsafat Djermania-klasik, adjaran political-economy Britania klasik, dan adjaran sosialisme Perantjis.
Dan ahli-sedjarah Arnold J. Toynbee sendiri, jang menganggap sedjarah adalah “God’s vision on the move”, didalam bukunja “East to West” ditulis pada tahun 1958, sekembali beliau berkundjung dari Indonesia, mengatakan bahwa Indonesia dengan kemerdekaannja telah dapat meneruskan the “Works of Man”, hasil karya-karyanja Manusia, baik kalau ia melihat dari udara idjo-rojo-rojonja persawahan rakjat kita, maupun kalau ia melihat djiwa-toleransinja Rakjat Indonesia jang dapat mensintesekan setjara dialektis apa jang tampaknja bertentangan. Dan chusus mengenai toleransi dibidang keagamaan, diakuilah oleh Arnold J. Toynbee, bahwa Indonesia dapat membebaskan diri dari:
“one of Mankind’s worst evil. And in this vital matter of religious tolerance, Indonesia has set an example that the rest of us would do well to follow”.
Apakah hubungan utjapan Arnold J. Toynbee ini dengan karyanja promovendus?
Tidak lain dan tidak bukan, bahwa apa jang dilihat oleh Arnold J. Toynbee itu adalah sebenarnja salah-satu sumbangan sedjarahnja promovendus untuk umat manusia, karena promovenduslah jang selalu menjuburkan dan menghidupkan djiwa toleransi ini, jang beliau gali dari bumi sedjarahnja Indonesia.
Dan apakah sebenarnja arti menggali dari bumi sedjarah bagi promovendus?
Menggali sedjarah berarti berdialoog; berdialog antara Egonja promovendus dengan alter-Egonja masa lampau, alter-Egonja masa-sekarang, alter-Egonja masa-depan, alter-Egonja Rakjat banjak, alter-Egonja Revolusi Indonesia, alter-Egonja bangsa-bangsa lain, alter-Egonja pemimpin-pemimpin dunia baik dari masa-silam maupun dari masa-sekarang; selalu berdialoog dan selalu dengan alter-Egonja, jang promovendus anggap berada dimana-mana, dan setjara timbal-balik alter-Ego itupun ada djuga dalam Egonja, ber-“Tat Twam Asi”.
Hasil dialoognja adalah digunakan untuk merobah keadaan, untuk mendorong madjunja keadaan, untuk berdjoang, untuk beramal sebagai mendjalankan Ibadah.
Dan kesederhanaan filsafatnja ini membuat promovendus seorang jang sedjarah-minded, seorang penggemar-sedjarah seorang ahli-sedjarah ulung, seorang guru dan mahaguru-sedjarah, jang melebihi ahli-ahli Sedjarah zaman sekarang, seperti Pannikar dari India, René Sedillot dari Perantjis, Jan Romein dari negeri Belanda, Karl Jasper dari Djerman, Carl Becker dan Reinhold Niebuhr dari Amerika, dan djuga A.J. Toynbee dari Inggris. Promovendus adalah djuga seorang pembuat-sedjarah; seorang “history-maker” bersama-sama dengan Rakjat Indonesia, seorang “revolutionary history-maker”, tapi djuga seorang “made by history”, dan karena itu sering terlihat didalamnja „historis-geduld” dan „historis-ongeduld”-nja, „revolutionair-geduld” dan „revolutionair ongeduld”-nja; seorang „mest en zaad”, pupuk dan benih daripada sedjarah; kaju-bakar dan apinja sedjarah! Tidak hanja bagi sedjarah Rakjat Indonesia, tetapi djuga bagi sedjarah bangsa-bangsa lain dan bagi sedjarah umat manusia.
Apabila saja selaku promotor pada hari ini mengemukakan segala alasan dan pertimbangan dari Senat Gurubesar Universitas Padjadjaran, untuk memberikan gelar kehormatan dalam ilmu-sedjarah kepada Bung Karno, maka promotor tidak dapat melepaskan diri dari kenjataan, bahwa promovendus adalah gurunja, ja mahagurunja promotor, tidak hanja dibidang ilmu-politik, tetapi djuga dan terutama dibidang ilmu-sedjarah.
Dan andaikata promotor selaku seorang Gurubesar dalam ilmu-sedjarah pergolakan bangsa-bangsa Asia-Afrika harus menilai, atas dasar kadjian dan udjian segala tesis jang ditebarkan dalam matjam-matjam skripsi sedjarah oleh promovendus, seperti lazimnja seorang gurubesar harus mengerdjakannja terhadap seorang promovendus biasa, maka dengan penuh tanggung djawab kepada dunia ilmu-pengetahuan, ia menerangkan disini, bahwa promovendus Bung Karno jang luar biasa ini lulus dalam udjian itu dengan luar biasa pula, artinja cum laude, jang berarti bahwa Bung Karno adalah ahli-sedjarah jang bertegak gelar Doctor dalam ilmu sedjarah.
Adapun predicaat “honoris causa” dengan demikian adalah bukan „esti babaran Tindjomojo”, bukan sekedar penambahan “tedja” atau „aureool”, melainkan Bung Karno dengan alasan-alasan jang saja uraikan diatas adalah pula bertegak gelar Doctor honoris causa dalam ilmu-sedjarah.
„Honoris”-nja atau kehormatannja lebih banjak kami jang memikulnja dan merasakannja, jaitu seluruh Senat Gurubesar Universitas Padjadjaran, termasuk Rectornja dan diri-kami sendiri. Lebih-lebih karena kami dapat memberikan gelar ini untuk pertama-kalinja kepada Bung Karno atas karya-karya sedjarahnja, baik jang berupa tulisan maupun setjara lisan dan diguratkan dengan amal-perdjoangannja, dan jang memberikan inspirasi jang menjala-njala bagi bangsa Indonesia chususnja, bangsa-bangsa lain umumnja, jang setjara mati-matian sedang meluruskan djalannja sedjarah kearah Kemerdekaan penuh, Sosialisme dan Dunia Baru.
Semoga Tuhan Jang Maha Kuasa memberkati Bung Karno Presiden seumur-hidup/Penglima Tertinggi Angkatan Bersendjata/Pemimpin Besar Revolusi kita dengan umur pandjang dan kesehatan, kesedjahteraan dan kebahagiaan.
Sekian, dan terimakasih.
__________________________
Promovendus menerima piagam gelar doctor dan doctor honoris causa dalam ilmu sedjarah dari Rektor Sanusi Hardjadinata
Promovendus dan promotor, „mahaguru” dan „murid” sedang berdjabatan tangan tanda utjapan selamat setelah upatjara penggelaran selesai.
………. dan doctor Sukarno, ahli sedjarah, meninggalkan ruangan upatjara penggelaran ……….