Publisher Note
Pidato ini disampaikan oleh Siswojo—ketua direksi Jajasan „Universitas-Rakjat”—dalam acara malam perkenalan dan peresmian berdirinya Jajasan „Universitas-Rakjat” pada tanggal 25 September 1958. Pidato ini disampaikan di gedung S.B.K.A. Manggarai, Jakarta.
Selain Siswojo, ada dua pidato lain yang masing-masing disampaikan oleh Prof. Dr. Prijono—Menteri Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan—dan D. N. Aidit selaku Sekdjen CC Partai Komunis Indonesia. Kumpulan pidato tersebut diterbitkan oleh Jajasan „Universitas-Rakjat” tahun 1959.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Saudara² hadirin Jth.
Sebelum kami memulai pidato pembukaan kami, maka terlebih dulu kami menjampaikan terimakasih dan kami utjapkan selamat datang atas kehadiran para Saudara, pada malam perkenalan dan peresmian Jajasan Universitas-Rakjat „Djakarta” pada malam ini.
Oleh beberapa Saudara, diantaranja terdiri dari beberapa anggota DPR, telah dirasakan tentang perlunja untuk mendirikan suatu badan untuk mendjalankan kegiatan dalam menjebarkan ilmu-pengetahuan dikalangan Rakjat. Pendapat itu achirnja diudjudkan dengan mendirikan Jajasan Universitas-Rakjat „Djakarta” dengan mengadakan malam perkenalan pada malam ini.
Sekarang perlu kami sampaikan tentang apa sebabnja Jajasan tsb. kami dirikan. Apa pendorongnja hingga kami mendirikan Jajasan tsb. Apa tudjuan Jajasan Universitas-Rakjat „Djakarta” tsb. Tjiri² chusus apa jang dimiliki Jajasan tsb? Usaha² apa jang dapat segera kami kerdjakan dan jang mendjadi tudjuan djauh kami? Inilah beberapa pertanjaan² jang mungkin timbul setelah mendengar tentang berdirinja Jajasan tsb. Dan kami menganggap memang wadjar adanja pertanjaan tsb. Oleh karenanja dalam kesempatan malam pembukaan dan peresmian ini perlu kami djawab dan kami djelaskan mengenai pertanjaan² tsb.
17 Agustus 1945. Bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannja. Gelombang revolusioner mengamuk dan menghantam tiang² imperialis Belanda. Seluruh lapisan Rakjat ikut bergerak dalam perdjoangan revolusioner ini. Setelah revolusi berdjalan beberapa minggu, beberapa bulan, beberapa tahun, maka makin terasa akan adanja kekurangan² hingga mengalami kesurutan². Kekurangan jang berupa belum dirumuskannja setjara djelas dan tegas tentang masalah² pokok revolusi. Kekurangan jang berupa belum digalangnja dengan kuat semua kekuatan revolusioner dengan tulang punggungnja jang membadja. Kekurangan jang berupa belum meratanja perdjoangan revolusioner diadakan disemua front, jalah front perdjoangan bersendjata, front perdjoangan ekonomi, front perdjoangan politik, front ideologi, front kebudajaan, front ilmu, dsb.
Saudara² hadirin sekalian Jth.
Sebagaimana kami kemukakan dimuka maka menurut pendapat kami masalah pokok revolusi Indonesia dapat dirumuskan sbb.
Pertama-tama mengenai masalah pokok ini jalah mengenai sasaran revolusi Indonesia. Karena imperialism, chususnja imperialisme Belanda, dan sisa feodalisme adalah penindas, penghisap dan penghalang kemadjuan Rakjat Indonesia jang terpokok maka mereka adalah sasaran revolusi Indonesia. Oleh karenanja tugas² revolusi Indonesia jalah membasmi musuh² pokok ini sampai keakar²nja. Dan mereka, jaitu imperialisme dan feodalisme, harus dibasmi sekaligus karena mereka meskipun dua, sebetulnja adalah merupakan satu kekuatan anti-revolusioner. Mereka saling membutuhkan dan saling menghidupi. Berdasarkan ini maka watak revolusi Indonesia bukannja revolusi sosialis tetapi adalah revolusi nasional jang demokratis. Dan untuk menjelesaikan tugas sutji revolusi ini maka perlu digalang dengan kuat semua tenaga revolusioner jang terdiri dari klas buruh dan kaum tani, terutama kaum tani pekerdja, berbagai matjam burdjuis ketjil dan kaum burdjuis nasional, dengan persektuan kaum buruh dan tani sebagai tulang punggungnja dan klas buruh sebagai pimpinannja. Itulah Saudara² sekalian mengenai apa jang kami maskud mengenai masalah² pokok revolusi Indonesia. Dalam kesempatan lain jang lebih luas ada dikandung maksud untuk mendjelaskan masalah jang sangat penting ini setjara teoritis dan mendalam dalam rangka kegiatan mengembangkan ilmu pengetahuan dari Jajasan Universitas-Rakjat „Djakarta” ini.
Saudara² hadirin sekalian.
Tadi djuga telah kami kemukakan bahwa salah satu pengalaman penting dari revolusi kita jalah belum meratanja perdjoangan revolusioner disemua front djuga diantaranja dalam front ideologi, front kebudajaan dan ilmu. Ini tak berarti bahwa dalam front² ini tidak ada kegiatan sama sekali. Ada, hanja sadja belum seimbang dengan kegiatan dalam front² lain, terutama dengan front politik. Djuga kegiatan itu belum terpimpin dan belum dengan suatu propgram jang sempurna. Kekurangan ini djuga masih terasa sampai sekarang. Kami berkejakinan bahwa dengan makin sempurnanja pekerdjaan dalam front ideologi, front kebudajaan dan ilmu maka akan meningkat pula kesadaran politik dan organisasi dari Rakjat, akan meningkat pula ketjerdasan dan ketangkasan Rakjat serta daja-tjipta mereka, akan lebih tadjam kewaspadaannja dan kesiap-sedianja dalam menghadapi serangan musuh² revolusi dalam berbagai front dan dengan berbagai tjara. Hal ini adalah sangat penting untuk menjelesaikan tugas² revolusi Agustus sampai ke-akar²nja. Berpangkal kepada dasar ini maka Jajasan Universitas-Rakjat „Djakarta” menempatkan diri sebagai pedjoang dalam front ideologi, ilmu dan kebudajaan bersama-sama dengan golongan lain, sebagai bagian dari perdjoangan Rakjat Indonesia untuk menjelesaikan revolusi Agustus sampai ke-akar²nja. Djadi Jajasan Universitas-Rakjat „Djakarta” adalah alat perdjoangan, alat perdjoangan dalam front ideologi, front kebudajaan dan ilmu. Oleh karena itu kami menolak pendirian sementara orang jang bersembojan ilmu untuk ilmu, beladjar untuk beladjar. Pelaksanaan pendirian ini mengakibatkan orang mengisolasi diri dari kehidupan masjarakat, dari kehidupan Rakjat. Dan disengadja atau tidak pendirian ini achirnja akan didjadikan saluran musuh² Rakjat untuk melawan Rakjat dan sebetulnja malahan merupakan pentjerminan pendirian musuh² Rakjat dalam front ilmu, kebudajaan dan ideologi. Dengan dilawannja musuh² dengan segala peninggalan² konservatifnja, maka Rakjat djuga akan dipertinggi tingkat kebudajaan dan ilmunja, tingkat ideologinja.
Seterusnja akan kami sampaikan tentang tjiri² chusus apakah jang terdapat didalam kegiatan Jajasan Universitas-Rakjat „Djakarta”. Mungkin tjiri² ini tidak semua terdapat didalam badan² pendirikan dan badan² kegiatan ilmu lainnja, tetapi kiranja tidak perlu mendjadi penghalang bagi adanja kerdjasama antara Jajasan Universitas-Rakjat dengan badan² tsb.
Tjiri² pertama dari Jajasan ini jalah sifatnja jang umum tetapi memihak. Kami katakan bersifat umum karena Jajasan ini terbuka bagi siapa sadja dan golongan apa sadja, akan menjebarkan berbagai ilmu pengetahuan dari manapun datangnja baik dari dalam maupun dari luar negeri. Kami katakan memihak, karena segala tudjuan dan usaha dari Jajasan ini bukannja asal menjebarkan ilmu dan kebudajaan, tetapi dengan tudjuan jang terang dan tegas, jalah untuk perdjoangan dalam front ideologi, front ilmu dan kebudajaan sebagai salah satu bagian dari perdjoangan Rakjat Indonesia dalam menjelesaikan revolusi Agustus. Memang tentu akan ada orang jang membantah, bahwa ilmu pengetahuan bersifat universil, hukumnja berlaku diseluruh dunia, dalam hal ini terutama segala tjabang ilmu pengetahuan jang tergolong dalam golongan ilmu pasti—alam dan biologi, meskipun sebetulnja teoritis keumuman dan keabadian hukum²nja adalah tidak mutlak dan akan mengalami perobahan djuga. Berdasarkan ini orang tentunja akan membantah pendirian kami mengenai pemihakan kami dalam masalah ilmu, apalagi dalam masalah kebudajaan dan ideologi. Sesuatu tjabang ilmu pengetahuan baru ada dan baru dinamakan ilmu djustru karena ditemukan oleh manusia. Baik berbagai ilmu jang sudah ada maupun penemuan² ilmu jang akan datang sangat tergantung dari manusia. Tanpa manusia tidak mungkin ada ilmu pengetahuan. Dan manusia dapat menemukan berbagai ilmu pengetahuan adalah karena pengalaman praktek hidupnja dan karena kebutuhannja untuk mempertinggi sjarat hidupnja baik materiil maupun spirituil. Memang sebelum ada didunia ini hukum² alam sudah ada dan karena hukum pertentangan jang djuga terdapat didalam alam, maka hukumnja djuga mengalami perobahan². Adanja manusia dan ditemukannja berbagai hukum alam dan didjadikan suatu penemuan oleh manusia, maka perobahan, perkembangan dan kegunaan ilmu sangat terpengaruh oleh manusia. Djadi jang terutama kita persoalkan adalah soal manusianja dan bukan hukum alamnja. Apalagi kalau dalam hal ini kita berbitjara tentang berbagai tjabang ilmu pengetahuan dari golongan ilmu² sosial jang sepenuhnja sangat tergantung dari manusia. Djadi kita berbitjara soal ilmu tidak mungkin terlepas dari manusia. Dan kita semua tahu bahwa sebagian terbesar dari manusia terdiri dari Rakjat, disamping ada sebagian ketjil jang terdiri dari musuh² Rakjat. Ada Rakjat disebagian dunia ini jang sekarang jang sudah bebas, hingga ilmu disitu digunakan sepenuhnja untuk kemanusiaan, untuk pembangunan, untuk mempertinggi sjarat² hidup materiil dan spirituilnja. Disebagian dunia lainnja dimana Rakjat belum membebaskan dirinja atau tanah airnja, maka ilmu pengetahuan perlu bagi Rakjat untuk membebaskan dirinja atau tanah airnja.
Oleh karena itu dalam kegiatan kebudajaan dan ilmiah kami, dalam kegiatan ideologi kami, kami memihak, jalah memihak Rakjat karena Rakjat adalah sebagian besar dari manusia dan pentjipta hari depan umat manusia; kami memihak tanah air Indonesia karena kami adalah putera² Indonsia jang sedang berdjoang untuk pembebasan tanahair dari penghisapan imperialisme dan feodalisme, karena tanahair Indonesia dengan kekajaan dan keindahan alamnja adalah pemberi hidup bagi kami putera² Indonesia; kami memihak kemanusiaan karena ini adalah pendirian Rakjat dan kaum intelegensia jang djudjur dan karena ilmu dan kebudajaan bagi kami mesti mengabdi manusia untuk mempertinggi sjarat² hidupnja, materiil maupun spirituil.
Saudara² sekalian.
Kechususan tjiri kami jang kedua jalah bahwa kami menentang penghalang kemadjuan, menentang konservatisme dalam ideologi, ilmu dan kebudajaan. Hal ini kami kemukakan karena dalam kenjataan masih ada kaum tjerdik pandai jang berfikiran dan berpendirian konservatif. Mereka masih sadja dengan ngotot mempertahankan warisan² pendidik² mereka djaman Belanda dulu baik mengenai metode, materi maupun azasnja. Mereka tetap tidak mau mengerti bahwa dunia telah berobah dan bahwa ilmupun djuga berobah, bahwa barat bukan lagi diatas segala²nja. Mereka tidak mau mengerti bahwa didunia sekarang sudah ada kubu Sosialis jang 900 djuta penduduknja jang dalam berbagai tjabang ilmu dan kebudajaannja sudah melebihi barat. Mereka tidak mau mengerti bahwa sekarang sudah ada daerah AA jang makin luas dan kuat. Mereka ini dalam prakteknja adalah penghalang² kemadjuan, penghalang² tertjiptanja barisan intelegensia patriotik di Indonesia. Mereka adalah makanan jang empuk bagi serangan musuh² nasional kita dalam front ilmu, kebudajaan dan ideologi.
Berbeda dengan kaum konservatif ini kami berpendapat bahwa kami harus setjara kritis menerima dan mengembangkan segala tjabang ilmu pengetahuan dan kebudajaan dari manapun datangnja baik jang berasal dari kubu Sosialis maupun dari negeri² kapitalis, baik jang berasal dari luar negeri maupun dari dalam negeri, baik jang berasal dari djaman sekarang maupun dari djaman kuno. Kami tidak berat sebelah dalam mendapatkan sumber ilmu dan kebudajaan, kalau tidak maka kami akan tenggelam dalam lautan subjektivisme dalam soal ilmu dan kebudajaan dan kalau sampai begitu maka segala kegiatan kami akan merosot nilai ilmiahnja. Tetapi kami tidak berhenti sampai disini sadja, jalah dalam hal penerimaan setjara kritis sadja. Kami harus menggunakannja dalam pengabdian dan pemihakan kami seperti jang tadi kami katakan.
Saudara² sekalian.
Sekarang jang ketiga dari tjiri kechususan kami jalah bahwa teori mesti mengabdi kepada praktek dan bahwa praktek mesti memperkuat teori, memberi udara dan makanan jang segar kepada teori, kepada perkembangan teori. Teori dan praktek tak boleh dipisah²kan dan mempunjai kekuatan timbal balik. Kebenaran dan kegunaan suatu teori mesti dikadji dalam praktek, terutama praktek dalam produksi dan praktek dalam kehidupan Rakjat pekerdja. Oleh karena itu kami menolak teori jang tidak berhubungan dengan praktek, jang mengisolasi diri dalam praktek.
Saudara² sekalian.
Perkenankanlah kami sekarang mendjelaskan tjiri chusus usaha kami jang keempat dan jang terachir. Berdasarkan keterangan kami dimuka jang menegaskan bahwa usaha kami mempunjai tudjuan tertentu, mempunjai pengabdian tertentu dan mempunjai pemihakan tertentu jalah untuk Rakjat, Tanah Air Indonesia dan Kemanusiaan. Oleh karena itu usaha kami disamping bersifat umum, tetapi terutama kami usahakan untuk dapat diikuti dan dimasuki oleh aktivis² buruh serta aktivitas tani, oleh pemuda² dan peladjar² serta mahasiswa jg patriotik, oleh kaum wanita jg madju dan siapa sadja jg berkemauan baik. Oleh karena itu dalam usaha kami akan kami utamakan dan dahulukan usaha² jang tidak sulit diikuti oleh massa jang luas, jang bersifat massal. Tentunja akan timbul pertanjaan mengapa begitu? Djawabnja jalah karena kami menginginkan supaja selekas mungkin front ideologi, ilmu dan kebudajaan dalam perdjoangan revolusioner dapat seimbang dengan tjepatnja kemadjuan dalam front politik, dan tidak hanja itu, tetapi djuga untuk memperkuat dan mempertangkas front politik. Djawabnja lagi jalah karena Rakjat terutama kaum buruh dan tani adalah tulang punggung perdjoangan nasional dan karena Rakjat pekerdja adalah pemilik dan pedjoang untuk kemanusiaan jang sedjati. Djadi titik berat usaha pendidikan dan pengembangan ilmu dan kebudajaan kami adalah massal dan meluas, tetapi dengan tidak melupakan untuk mempertinggi mutunja. Dengan begitu besar harapan kami dapat memberikan sumbang-bakti kami dalam membangun barisan intelegensia Indonesia jang patriotik.
Saudara² sekalian.
Demikianlah setjara singkat keteranagn kami tentang tjiri² chusus dari usaha kami. Kami kemukakan disini dalam perkenalan dan peresmian Jajasan Universitas-Rakjat „Djakarta” ini jalah untuk sekedar dikenal dan direnungkan dan bukannja untuk memaksa saudara² sekalian untuk mengikuti pokok² pendirian kami. Kurang lengkap kiranja kalau dalam kesempatan pidato pembukaan ini kami tidak mendjelaskan usaha² kami. Mengingat kemampuan kami jg masih terbatas terutama pada hari² permulaan, baik mengenai personil, finansiil maupun materiil, djuga dalam hal pengamatan² penjelenggaraan, maka usaha kami jang dapat kami kerdjakan jalah baru mengenai tjeramah-umum ilmiah, kuliah mengenai berbagai djurusan, pemutaran film ilmiah, penerbitan brosur dan diktat. Adapun mengenai pendidikan kesardjanaan dalam waktu dekat belum dapat kami kerdjakan. Tentunja akan timbul pertanjaan diantara Saudara² sekalian, mengapa usaha kami ini memakai nama universitas. Djawabnja sbb: Nama Universitas-Rakjat adalah pendjelmaan dari terdjemahan semata² dari suatu badan pendidikan djaman Belanda dulu jang bernama Volksuniversiteit. Oleh karena itu kata universitas dari nama Jajasan kami ini tidak berdiri sendiri tetapi sebagai anak-kata dari suatu nama Universitas-Rakjat, djadi bukan sebagai penamaan kepada suatu usaha pendidikan kesardjanaan.
Saudara² sekalian.
Sebelum kami achiri pidato pembukaan dan pendjelasan kami ini perlu kami njatakan bahwa Jajasan Universitas-Rakjat „Djakarta” sangat mengharap bantuan dan kerdjasama dengan golongan² lain terutama badan² pendidikan dan lembaga² penjelidikan ilmu dan kebudajaan.. Dan dengan ini kami menjatakan berdirinja Jajasan Universitas-Rakjat „Djakarta” dengan resmi.
Dan sekali lagi kami utjapkan terima kasih kepada para tamu sekalian terutama kepada Saudara² penjambut.
Sekian.