Baca EPUB: honoris-causa-ilmu-hukum-presiden-h-chi-minh-universitas-padjadjaran

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
HÔ-CHI-MINH, MUHAMMAD YAMIN
Honoris Causa Ilmu Hukum Presiden Hô-Chi-Minh Universitas Padjadjaran
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Dalam naskah asli yang diterbitkan oleh Universitas Padjadjaran, memuat empat bab. Pertama, memuat pidato M. Yamin, selaku promotor, yang mengemukakan alasan penganugerahan doktor gelar honoris causa di bidang ilmu hukum kepada Hô-Chi-Minh. Kedua, piagam penganugerahan gelar doktor honoris causa dari Universitas Padjadjaran kepada Hô-Chi-Minh. Ketiga, lampiran-lampiran yang berisi pernyataan kemerdekaan Vietnam, konstitutisi Vietnam, dan lagu kebangsaan Vietnam. Dan terakhir, berisi kepustakaan tentang Vietnam. Dalam terbitan ini, kami tidak memuat bab ketiga dan keempat.

Sayangnya, tidak dimuat pidato atau respons Hô-Chi-Minh sewaktu ia digelari doktor honoris causa tersebut. Agar lebih utuh, kami menambahkan pidato tersebut dalam naskah ini. Pidato Hô-Chi-Minh ini kami dapatkan dari buku yang memuat kumpulan karya-karya Hô-Chi-Minh, yaitu Ho Chi Minh Toan - Tap 12 (Karya Lengkap Hô-Chi-Minh – Volume 12) yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan Nasional (Chinh tri quoc gia - Su that). Adapun, judul pidato yang tercantum di dalamnya, yaitu “Dap tu trong buoi le nhan bang tien si danh du O Truong Dai hoc Patgiagiaran, Bangdung (Indonesia)” atau “Djawaban dalam Upatjara Penerimaan Gelar Doctor Honoris Causa di Universitas Padjadjaran, Bandung (Indonesia)”. Mulanya, naskah tersebut terbit di surat kabar Nhân Dhân no. 1817 tanggal 6 Maret 1959. Oleh karena berbahasa Vietnam, penerjemahan ini menggunakan Google Translate dan dengan beberapa penyesuaian konteks.

Piagam doktor honoris causa Hô-Chi-Minh ditandangani oleh Prof. Mr. R. Iwa Kusuma Sumantri (Rektor dan Ketua Senat Universitas Padjadjaran), Prof. M. Sadarjoen Siswomartojo (Sekretaris Senat Universitas Padjadjaran) dan anggota-anggota senat Universitas Padjadjaran yang terdiri dari Prof. Mr. H. Muhammad Yamin, Prof. Dr. R. Djuhana Wiradikarta, Prof. Dr. Mr. R. Prajudi Atmosudirdjo, Prof. Dr. Njoo Hong Hwie.

Kami mendapatkan naskah pidato dan foto-foto dokumentasi di bagian akhir halaman dari koleksi JIKN ANRI yang diunggah oleh Anita Trikusumawti.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

PRESIDEN HÔ-CHI-MINH

Uraian mendjelaskan alasan-alasan menganugerahkan gelar doctor honoris causa dalam ilmu hukum oleh Universitas Padjadjaran pada tanggal 2 Maret 1959 dikota Bandung kepada P.J.M Hô-Chi-Minh, Presiden Republik Demokratis Vietnam dengan dihadiri P.J.M. Presiden Republik Indonesia Soekarno dan para guru besar Universitas diseluruh Indonesia.

diutjapkan oleh:

PROF. MR. H. MUHAMMAD YAMIN

guru besar dalam ilmu hukum konstitusi dan ilmu sedjarah Asia Tenggara pada Universitas Padjadjaran, selaku promotor penganugerahan gelar doctor.


HÔ CHI MINH

Presiden Republik Demokratis Vietnam


PIDATO P.J.M. PRESIDEN HÔ-CHI-MINH

DJAWABAN DALAM UPATJARA PENERIMAAN GELAR DOCTOR HONORIS CAUSA DI UNIVERSITAS PADJADJARAN, BANDUNG (INDONESIA).

Jang Mulia Presiden Sukarno,

Jang Mulia Rektor Universitas Padjadjaran,

Para professor jang terhormat,

Saudara-saudari mahasiswa jang saja tjintai,

Saja mengutjapkan terima kasih jang sebesar-besarnja kepada Universitas Padjadjaran jang telah menganugerahkan kepada saja gelar Doktor Honoris Causa dalam Ilmu Hukum, dan saja sangat terharu atas kata-kata penuh persahabatan jang disampaikan oleh Jang Mulia Rektor.

Kehormatan ini bukan hanja untuk saja pribadi, melainkan djuga untuk seluruh kaum intelektual Vietnam dan seluruh Rakjat Vietnam. Kehormatan ini mentjerminkan perasaan persahabatan jang erat dari kaum intelektual dan Rakjat Indonesia terhadap Rakjat Vietnam kami.

Rakjat Vietnam sedjak lama mengagumi kebudajaan dan kesenian tradisional Indonesia jang indah. Bangunan-bangunan bersedjarah, tarian, musik rakjat, serta karja sastra jang diwariskan sedjak berabad-abad lalu membuat setiap orang jang datang ke Indonesia semakin mentjintai kebudayaan Indonesia.

Kaum pendjadjah berusaha menindas kebudajaan tersebut, tetapi Rakjat dan kaum intelektual Indonesia dengan berani berdjoang untuk mempertahankan kebudajaan nasionalnja. Sedjak Indonesia memperoleh kemerdekaan, kaum intelektual Indonesia—jang para professor sekalian merupakan wakil-wakilnja—telah berupaja keras memadjukan kebudajaan Indonesia.

Di bawah kepemimpinan jang bijaksana dan perhatian jang besar dari Presiden Sukarno, Pemerintah Republik Indonesia sangat memperhatikan peningkatan kehidupan kebudajaan Rakjat. Para professor telah mengabdikan diri dengan sepenuh hati untuk mendidik tenaga-tenaga jang diperlukan dalam pembangunan negara.

Kota Bandung ini merupakan salah satu pusat kebudajaan terkemuka Republik Indonesia. Dahulu Presiden Sukarno, pemimpin jang ditjintai Rakjat Indonesia dan tokoh jang sangat dikagumi pemuda Indonesia, menempa masa mudanja dan melakukan kegiatan perdjuangan revolusioner di kota ini. Teladan keberanian beliau diikuti oleh kaum intelektual dan mahasiswa Bandung, terutama pada masa perdjuangan kemerdekaan.

Kini kaum intelektual dan pemuda Bandung, bersama seluruh kaum intelektual, pemuda, dan Rakjat Indonesia sedang giat membangun negara, berdjoang untuk merebut kembali Irian Barat, menjempurnakan persatuan wilajah nasional, dan menghapus sisa-sisa kolonialisme. Kaum intelektual Vietnam dan seluruh Rakjat Vietnam mengikuti perdjuangan Saudara-saudara dengan penuh perhatian dan dengan hangat mendoakan agar Saudara-saudara meraih banjak kemenangan gemilang.

Sebagai seorang “doktor baru”, idjinkan saja menjampaikan beberapa kata setjara akrab kepada para mahasiswa.

Saudara-saudari mahasiswa jang saja tjintai,

Saudara-saudara beladjar disini untuk mempersiapkan diri mendjadi tenaga-tenaga ahli jang akan melandjutkan pembangunan tanah air Saudara-saudara. Setelah melepaskan diri dari belenggu kolonialisme, Republik Indonesia telah berkembang dengan pesat dan pasti akan berkembang lebih kuat lagi disegala bidang.

Masa depan Saudara-saudara terkait erat dengan masa depan gemilang Republik Indonesia. Saudara-saudara akan mengerahkan seluruh kemampuan untuk mengabdi kepada Rakjat, kepada Tanah Air, dan kepada perdamaian. Tugas mulia itu tentu akan mendjadi sumber kebahagiaan besar bagi setiap pemuda intelektual.

Dunia dewasa ini sedang melangkah madju dengan pesat dalam bidang ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan alam maupun ilmu pengetahuan sosial terus membuka tjakrawala-tjakrawala baru. Manusia semakin mampu menguasai alam, menguasai kehidupan sosial, dan menentukan masa depannja sendiri.

Generasi muda bagaikan musim semi, bagaikan bintang-bintang jang baru terbit. Kami menaruh harapan jang besar kepada Saudara-saudara. Saja berharap Saudara-saudara beladjar dengan baik, memperoleh banjak hasil dan terus madju tanpa henti.

Kota Bandung, Saudara-saudara, telah terkenal sebagai pusat kebudajaan dan djuga sebagai lambang persatuan bangsa-bangsa Asia-Afrika dalam perdjoangan demi kemerdekaan, perdamaian, dan persahabatan. Semangat Bandung telah menjebar keberbagai benua dan membawa banjak hasil jang baik.

Saja berharap Saudara-saudara, putra-putri Indonesia jang mendjadi harapan masa depan bangsa, akan selalu meneladani semangat perdjoangan Presiden Sukarno dan para pendahulu, serta terus memelihara semangat luhur Bandung.

Sekali lagi, saja dengan tulus mengutjapkan terima kasih kepada Presiden Sukarno, Rektor, para professor, dan para mahasiswa Universitas Padjadjaran.

Semoga Universitas Padjadjaran semakin madju!

Semoga persahabatan-persaudaraan antara Vietnam dan Indonesia tetap abadi!

Semoga Semangat Bandung tetap abadi!

Semoga perdamaian di Asia dan di seluruh dunia tetap abadi!

Disampaikan pada sore hari, 2 Maret 1959. Sumber: Harian Nhân Dhân no. 1817, 6 Maret 1959.

__________________________

PIDATO PROMOTOR PROF. MR. H. MUHAMMAD YAMIN

P.J.M. PRESIDEN REPUBLIK DEMOKRATIS VIETNAM

HÔ CHI MINH

BERTEGAK GEAR DOCTOR HONORIS CAUSA DALAM ILMU HUKUM PADA UNIVERSITAS PADJADJARAN DIKOTA BANDUNG.

Pada hari dan dalam sidang ini kami sebagai promotor hendak melakukan kewadjiban jang dipikulkan Senat Universitas Padjadjaran agar supaja menguraikan pendjelasan tentang alasan-alasan jang dipergunakan Senat dalam mengambil keputusan menganugerahkan gelar doctor honoris causa dalam ilmu hukum kepada Paduka Jang Mulia Hô Chi Minh, Presiden Republik Demokratis Vietnam. Kewadjiban itu adalah suatu kehormatan bagi kami dan akan kami djalankan dengan sepenuh hati.

Adapun alasan-alasan jang telah dipeladjari untuk memperteguh keputusan jang diambil Senat Universitas itu adalah pada pokoknja berkisar diatas lapangan djasa Paduka Tuan dalam perdjuangan kemerdekaan Vietnam jang mempunjai nilai-hukum dalam memberi bentuk ketatanegaraan jang merdeka-berdaulat bagi tanah-air Vietnam dengan pengetahuan-hukum dan perdjuangan hak-azasi, jang telah dipeladjari oleh Senat Universitas sedalam-dalamnja.

Tjita-tjita ketatanegaraan Vietnam jang merdeka, bersatu dan berdaulat, Paduka Tuan telah perdjuangkan dengan mendirikan organisasi-kemerdekaan. Paduka Tuan telah berdjasa dalam mendirikan, mendjiwai atau memimpin hampir segala organisasi-organisasi kemerdekaan Vietnam. Paduka Jang Mulia telah menanam rasa kebangsaan revolusioner, bahwa kemerdekaan djuga harus ditjapai dengan mempergunakan sendjata-sutji, sehingga pendirian itu dianut diseluruh Vietnam dari utara sampai keselatan, jaitu: oleh Partai Nasional Vietnam (Viet-nam Quoc Dan Dang) didirikan pada tahun 1926 di utara jang melaksanakan pemberontakan melawan pendjadjahan pada tahun 1930 di Yen-Bay; oleh Perhimpunan Vietnam Baru (Tan Viet) didaerah Annam-Tengah dan Perhimpunan Pemuda Harapan Besar (Thanh Nien Cao Vong) di Kotjin-Tjina disebelah Selatan, Paduka jang Mulia telah menggerakkan sajap kiri nasional-revolusioner, jang paling dekat kepada Buruh dan Tani, jaitu jang ditardjamahkan oleh Serikat Pemuda Revolusioner Vietnam (Viet-nam Thanh-Nien Cach-Mang Dong Chi Hoi) dan jang Paduka Tuan mula-mula dirikan diluar-negeri pada tahun 1925. Dan Paduka Tuan pulalah jang memberi dorongan untuk mendirikan Partai Komunis Indo-tjina dibawah pimpinan Paduka Tuan pada tahun 1930.

Segala organisasi Vietnam terbuka dan tertutup Paduka Tuan pergunakan sehemat-hematnja sebagai alat demokrasi untuk membentuk negara Vietnam Merdeka dan masjarakat-rakjat jang berbahagia dengan menempuh djalan perdjuangan dan pertempuran, jang Paduka Tuan pimpin atau djiwai dengan semangat jang tak ada taranja dalam sedjarah-dunia.

Djasa Paduka Tuan bagi pembentukan ketatanegaraan jang merdeka dan berdaulat, sebagai pendjelmaan dan pelaksanaan ilmu-hukum dalam masjarakat dan negara sesudah perang dunia II dianak-benua Indo-Tjina dapat kami selidiki dalam perdjuangan kemerdekaan Viet Nam dalam abad XX dan dalam beberapa karangan serta naskah sekeliling pembentukan Republik Demokratis Viet Nam. Sedjarah perdjuangan-kemerdekaan Viet Nam itu telah mengisi ruangan-waktu lebih dari setengah-abad lamanja, dan jang berhubungan dengan pimpinan Hô-Chi-Minh dapat dibagi dalam empat babak perdjuangan.

Babak pertama berlangsung dengan kegiatan persediaan, sedjak tahun 1890 sampai kepada achir perang dunia I. Babak kedua jalah menjusun pergerakan-kemerdekaan sedjak tahun 1919, waktu Konperensi Perdamaian berlangsung di Versailes sebagai tarich penutup perang dunia I sampai ke tarich penjerbuan tentara fascis Djepang ke Viet Nam pada tahun 1942. Babak ketiga jalah perdjuangan gerilja dibawah pimpinan Hô-Chi-Minh melawan kekuasaan dan pendudukan tentara Djepang. Dan achirnja babak keempat berisi pemeliharaan negara Republik Rakjat Viet Nam dibawah pimpinan presiden Hô-Chi-Minh sedjak hari Proklamasi tanggal 25 Agustus 1945 sampai kini waktu sekarang, jang berkembang dalam kantjah Revolusi kemerdekaan Viet Nam jang belum selesai.

Pengandjur Hô-Chi-Minh dilahirkan dalam suasana pendjadjahan Perantjis di Indo-Tjina pada tanggal 16 Mei 1890 didesa Kim-Lien didaerah provinsi Nghé-An di Vietnam-Tengah. Waktu mudanja beliau bekerdja sebagai buruh-darat dan buruh-laut, sehingga dalam perang dunia I beliau berkundjung dan djuga bertempat tinggal sedjak tahun 1913-1919 berturut-turut ditanah Inggeris, Perantjis dan Amerika. Waktu itu belumlah beliau madju kedepan; baru pada penghabisan perang dunia, pada tahun 1919 beliau memperkenalkan diri dengan memperkenalkan tjita-tjita kemerdekaan Rakjat Vietnam.

Sedjarah perdjuangan beliau adalah babak kelima dalam rangka-waktu sedjarah Vietnam jang pandjang dan gemilang itu.

Sedjarah ketatanegaraan Vietnam dapat disusun dengan mempergunakan hasil-hasil penjelidikan naskah-riwajat jang berasal dari dalam dan luar negeri. Penjelidikan babad, kitab tambo, penggalian dan pembatjaan beberapa pertulisan memberi hasil jang djelas dan menjenangkan. Sedjarah ketatanegaraan Vietnam melalui lima babak sedjarah nasional, jaitu:

I. Prasedjarah Vietnam sampai permulaan tarich Masehi.

II. Penebaran peradaban Tionghoa ketanah Vietnam antara abad I sampai abad X.

III. Zaman kemerdekaan nasional antara abad X dan XIX.

IV. Zaman penindasan Perantjis dan Djepang.

V. Abad Proklamasi.

Dalam zaman prasedjarah turunlah bangsa purba-Vietnam dan purba-Indonesia dari tanah pegunungan Tiongkok menudju Yunnan; dan dari Yunnan meneruskan pengembaraannja ketanah Vietnam sekarang. Jang sebagian lagi maka bangsa purba-Indonesia menjeberang kekepulauan Nusantara dengan meninggalkan pantai tenggara Vietnam dipinggir Lautan Tiongkok Selatan. Dalam abad ke-2 Bangsa Vietnam telah menduduki dataran sekeliling Tongkin; kebudajaannja adalah djuga memuat unsur peradaban Thai dan Indonesia. Semendjak bertebarnja pengaruh peradaban dari Utara, maka sedjak abad I sampai abad X berdjalanlah administrasi Tiongkok, jang bermula dengan lindungan djenderal Tionghoa bernama Ma Yüan, sedjak 42 T.M. sampai 939. Kekuasaan administrasi Tionghoa ini menimbulkan akibat orang Vietnam mendjadi bertambah bersatu dalam satu ikatan bangsa dengan mempunjai peradaban jang tinggi disebelah peradaban bangsa Tjam dan Kemir.

Kelemahan kekuasaan Tiongkok pada penghabisan radjakula T’ang dipakai oleh Ngo Quyen pada tahun 939 membentuk radjakula Dinh jang memperteguh kemerdekaan Vietnam; pekerdjaannja dilandjutkan oleh Le Hoan. Semendjak itu terbentuklah negara-negara nasional didaerah Vietnam, jang kadang dalam keadaan perpetjahan dan kadang-kadang dalam satu atau dua ikatan ketatanegaraan Vietnam.

Pada penghabisan abad XIX maka kemerdekaan jang mendjadi dasar bagi negara-negara di Indo-tjina diruntuhkan oleh pendjadjahan Perantjis. Pemberontakan mengibarkan bendera perlawanan dimana-mana. Sesudah perang dunia II ditjoba mengikat segala negara itu dalam suatu ikatan Uni Perantjis. Republik Demokratis Vietnam melawan kepada tindakan kolonial jang hendak membatasi kedaulatan keluar dan kedalam dari Rakjat Vietnam jang senantiasa menuntut kemerdekaan penuh 100%. Pada permulaan perang II kolonialis Perantjis bersekutu dengan fasis Djepang.

Pada bulan Mei 1941 berdirilah atas inisiatif Hô-Chi-Minh Liga Kemerdekaan Vietnam atau Viet Nam Doc Lap Dong-Minh, jang biasanja diringkaskan mendjadi Front Viet-Minh. Tenaga pendorong Liga Kemerdekaan Vietnam itu jalah Partai Komunis Indo-Tjina. Sementara itu penindasan fasis Djepang dan pendjadjah Perantjis makin mendjadi-djadi. Dalam bahaja kelaparan dari achir 1944 sampai 1945 sadja disekeliling Tongkin adalah sedjumlah dua djuta djiwa jang tiwas.

Disamudera Pasifik tentara Djepang bertubi-tubi mengalami kekalahan dan dalam bulan Maret 1945 tentara fasis Djepang telah mendekati kemusnahannja. Berkat pimpinan Front Viet-Minh, maka pada itu meningkatlah kegiatan revolusioner dan gerilja mengamuk didaerah Viet-Bac. Dimana kekuasaan fascisme Djepang menemui adjal, disana kekuatan revolusi tersusun dengan semangat berapi-api. Pemberontakan bersendjata mendjadi kejakinan satu-satunja djalan untuk menegakkan kemerdekaan. Dalam bulan Mei 1945 kekuasaan Hitler bertekuk lutut ditanah Djerman, dan bulan Agustus tentara Djepang berkapitulasi, setelah Sovjet Rusia bersatu dengan Sekutu mendjatuhkan fasis internasional. Hanja berbeda beberapa hari dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, maka pada tanggal 25 Agustus telah dinjatakan berdirinja Republik Demokratis Vietnam dengan Hô-Chi-Minh sebagai kepala negaranja. Dan dua minggu sesudah itu, pada tanggal 2 September, maka atas nama Rakjat dimaklumkanlah Pernjataan Kemerdekaan Vietnam di Hanoi.

Semendjak itu maka antithese kemerdekaan nasional dan imperialisme bertambah terang dan tadjam. Imperialisme Perantjis masih memimpikan pembendungan Indo-tjina; tentara Inggeris melutjuti tentara Djepang disebelah Selatan parallel 16; tentara Anglo-Amerika membantu imperialis Perantjis. Tentara Chiang Kai Sjek memasuki Vietnam Utara dengan seizin imperialisme Amerika. Dan partai nasional Viet Nam Quoc Dan Dang mendjadi kaki-tangan imperialis dengan menjabot revolusi.

Dalam rangka pertentangan hebat itu, kelihatanlah dengan tjemerlangnja perdjuangan pengandjur revolusi Hô-Chi-Minh.

Antara tahun 1913 sampai 1916 beliau bekerdja kadang-kadang sebagai pelaut, atau buruh kapal dagang Inggeris dan Perantjis. Dalam tahun 1916 sampai 1919 beliau tinggal di Inggeris, di Amerika dan di Perantjis. Ketika berlangsungnja Konperensi Perdamaian di Versailles (1919), beliau mengirimkan sebuah memorandum kepada konperensi itu jang mendesak supaja nasion-nasion Indo-tjina mendapat kemerdekaan. Sedjak itu nama beliau mendjadi terkenal diseluruh Vietnam.

Beliau menerbitkan sebuah surat kabar dengan nama „Pariah” untuk menentang politik kolonial Perantjis. Dalam tahun 1924-1925 beliau mendirikan di Kwang Tung (Tiongkok) organisasi revolusioner jang pertama di Vietnam jang beraliran Marxisme. Organisasi ini dinamakan Partai Pemuda Revolusioner Vietnam. Dalam tahun 1927-1929 beliau tinggal di Eropah dan Asia dengan tetap mempertahankan hubungan jang rapat dengan organisasi-organisasi revolusioner Indo-tjina. Dalam tahun 1929 Ho Chi Minh dihukum mati „in absentia” oleh pemerintahan kolonial Perantjis.


KABINET KARYA

dipimpin Perdana Menteri Ir. H. Djuanda Kartawidjaja dengan para-anggota Dewan Menteri jang menerima perkundjungan rombongan Presiden Hô Chi Minh.


Dalam bulan Djanuari 1930, atas inisiatip beliau, tiga organisasi komunis pada waktu itu, dapat dipersatukan mendjadi satu: Partai Komunis Indo-tjina. Dalam tahun 1931, Hô Chi Minh ditangkap polisi Inggeris di Hongkong dan didjatuhi hukuman pendjara selama dua tahun.

Dalam tahun 1935, beliau mengikuti Kongres jang ke-7 dari Internasional. Dalam tahun 1939 beliau kembali ke Vietnam. Dalam tahun 1941, dibawah pimpinan beliau, Partai Komunis Indo-tjina dapat menghimpun partai-partai politik serta organisasi-organisasi patriotik kedalam satu front untuk memperdjoangkan Kemerdekaan Vietnam. Front ini dinamakan „Vietnam Doc lap Dong ming” jang disingkat „Viet Minh”. Hô Chi Minh telah dipilih mendjadi ketua dari front Viet Minh. Sedjalan dengan perdjoangan melawan agressor Djepang dan Perantjis, barisan bersendjata jang disebut „Tentara Pembebasan” dibangunkan pada tahun 1944, dan pada tahun 1945 ditimbulkan daerah kebebasan di Viet-Bac (daerah pegunungan di Vietnam Utara).

Dalam Revolusi Agustus jang djaja maka pada tanggal 25 Agustus 1945 didirikan sebuah Pemerintahan Sementara dibawah pimpinan Hô Chi Minh.

Sidang pertama dari Dewan Nasional jang diadakan dalam bulan Maret 1946, memilih Hô Chi Minh sebagai Presiden dan Perdana Menteri. Dalam tahun itu djuga (1946), Delegasi Pemerintah jang diketuai oleh Presiden Hô Chi Minh mengadakan pembitjaraan dengan Pemerintah Perantjis jang menghasilkan ditanda tanganinja dua buah persetudjuan: Persetudjuan 6 Maret, dan Modus Vivendi 14 Septe mber. Menurut persetudjuan dan Modus Vivendi itu Perantjis telah mengakui kemerdekaan Republik Demokrasi Vietnam. Akan tetapi dalam bulan Desember 1946 kolonialis mulai mengobarkan perang agresi. Seluruh rakjat Vietnam dari daerah Utara sampai ke Selatan, dibawah Pemerintahan Republik Demokrasi Vietnam jang dipimpin oleh Presiden Hô Chi Minh, serentak melakukan terhadap kaum agressor dalam satu perdjoangan jang pandjang. Dalam bulan Februari 1951 didirikan Partai Lao-Dong Vietnam jang melandjutkan pekerdjaan Partai Komunis Indo-tjina. Hô Chi Minh dipilih sebagai Ketua dari partai tersebut.

Dibawah pimpinan Partai Lao-dong Vietnam, dalam bulan Maret 1951, dua organisasi massa „Viet-Minh” dan „Lien-Viet” dilebur mendjadi satu organisasi: Front Persatuan Nasional Vietnam jang dinamakan Lien-Viet. Hô Chi Minh dipilih mendjadi Ketua Kehormatan dari Front Lien-Viet ini.

Dalam tahun 1954 perang patriotik itu berachir dengan kemenangan rakjat Vietnam sesudah mengalami perdjoangan kepahlawanan selama 9 tahun.

Kemenangan tentara Vietnam memusnahkan tentara Perantjis dimedan peperangan Dien-Bien-Phu memaksa Pemerintah Perantjis mengakui kedaulatan R.D.V. dalam perdamaian Djenewa. Naskah Djenewa ini membuka pintu untuk mempersatukan ketiga bagian Vietnam mendjadi satu Negara dan Bangsa.

Dalam musim panas tahun 1955 Presiden Hô Chi Minh memimpin Delegasi Pemerintah Republik Demokratis Vietnam dalam satu kundjungan resmi ke Republik Rakjat Tiongkok, Soviet Uni dan Republik Rakjat Mongolia.

Dalam bulan September 1955, Presiden Hô Chi Minh terpilih sebagai Ketua Kehormatan dari „Front Tanah-Air Vietnam” sebuah front nasional jang luas sekali.

Dalam bulan Djuli dan Agustus 1957, Presiden Hô Chi Minh mengundjungi 9 negara: Republik Demokrasi Rakjat Korea, Republik Czechoslovakia, Republik Rakjat Polandia, Republik Demokrasi Djerman, Republik Rakjat Federasi Yugoslavia, Republik Rakjat Albania, Republik Bulgaria, Republik Rakjat Rumania dan Republik Rakjat Hongaria.

Dalam musim semi 1958, Presiden Hô Chi Minh mengadakan kundjungan resmi ke Republik India dan Uni Burma.

Adapun perubahan tjepat dalam menjusun ketatanegaraan Vietnam Merdeka dalam gelombang revolusi pada tahun 1945-1946 dapat dilukiskan dengan istilah trilogi, jaitu: Proklamasi Agustus, Deklarasi September dan Konstitusi Nopember. Ketiga tingkatan Proklamasi-Deklarasi-Konstitusi berlangsung semuanja dengan pimpinan Hô Chi Minh sendiri dan mempunjai nilai juridis jang akan ditindjau dibawah ini dengan saksama.

Adapun naskah Pernjataan Kemerdekaan Vietnam itu disusun dalam suatu bentuk juridis jang telah pernah dibiasakan oleh beberapa revolusi kemerdekaan sebelum 2 September 1945, jaitu misalnja oleh revolusi Kemerdekaan Amerka Serikat, revolusi Perantjis, dan revolusi Kemerdekaan Indonesia. Bentuk pernjataan jang dinamai dengan pelbagai nama seperti proklamasi dan deklarasi, sudah dibiasakan dan diakui hukum-internasional dalam 183 tahun kebelakangan ini dalam sedjarah dunia.

Lebih hebat dari pada bentuk juridis jang dipergunakan untuk menjatakan bahwa Rakjat telah menduduki hak-azasnja kembali, maka pentinglah isi Pernjataan Kemerdekaan Vietnam 1945 itu. Didalamnja didjelaskan dasar-hukum pernjataan kemerdekaan, sehingga sampai kepada kesimpulan harus memulai revolusi.

Pernjataan Deklarasi, jang diutjapkan oleh Paduka Jang Mulia sendiri hanja beberapa hari sesudah Pernjataan Proklamasi, adalah sebagai berikut bunji salinannja:

PERNJATAAN KEMERDEKAAN REPUBLIK DEMOKRASI VIETNAM

„Semua manusia dilahirkan sama. Mereka oleh Tuhan diperlengkapi hak-hak jang tidak dapat diganggu gugat, diantaranja adalah Hidup, Kemerdekaan dan Kebahagiaan”.

Kata-kata abadi ini termaktub dalam Pernjataan Kemerdekaan Amerika Serikat pada tahun 1776.

Dalam arti jang lebih luas, dapat djuga diartikan: „Semua Bangsa didunia ini dilahirkan sama, semua bangsa mempunjai hak untuk Hidup, Merdeka dan Berbahagia”.

Deklarasi Revolusi Perantjis jang dinjatakan pada tahun 1791 mengenai hak-hak manusia dan warga negara djuga mengatakan: „Semua manusia dilahirkan dalam keadaan merdeka, dan harus tetap merdeka dan tetap mempunjai hak-hak jang sama”.

Ini semua adalah kebenaran-kebenaran jang tak dapat disangkal. Meskipun demikian, untuk selama lebih dari 80 tahun kaum imperialis Perantjis dengan menjalah-gunakan pandji: „Kebebasan, Persamaan dan Persaudaraan”, telah melanggar Tanah Air kita dan menindas sesama warga negara kita.

Tindakan-tindakan mereka itu bertentangan dengan tjita-tjita peri kemanusiaan dan keadilan.

Dilapangan politik, mereka telah merampas dari kita setiap kebebasan Demokrasi.

Mereka telah memaksakan hukum-hukum jang bertentangan dengan kemanusiaan: mereka mendirikan tiga rezim-rezim politik jang berlainan di utara, tengah dan selatan Vietnam dengan maksud untuk melumpuhkan persatuan nasional kita jang bersedjarah.

Mereka telah mendirikan lebih banjak pendjara-pendjara dari pada sekolah-sekolah.

Mereka dengan kedjam memperlakukan patriot-patriot kita; mereka menumpas revolusi-revolusi kita dengan bandjir darah. Mereka membelenggu pendapat umum dan membiarkan kita buta-huruf. Untuk melemahkan bangsa kita maka mereka memaksa kita menggunakan tjandu dan alkohol.

Dilapangan ekonomi, mereka menghisap kita habis-habisan membikin melarat Rakjat kita dan merusak negeri kita.

Mereka telah merampok sawah-sawah kita, tambang-tambang kita, hutan-hutan kita, bahan-bahan mentah kita. Mereka memonopoli pengeluarannja uang kertas dan perdagangan ekspor.

Mereka telah mengarang sedjumlah banjak padjak jang tidak adil, serta memerosotkan rakjat kita, terutama kaum tani kita hingga ketaraf kemelaratan jang luar biasa.

Mereka menghambat perkembangan modal kita dan dengan tidak kenal belaskasihan menghisap kaum-buruh kita.

Dalam musim gugur tahun 1940, ketika kaum fasis Djepang melanggar wilajah Indo-tjina untuk mendirikan pangkalan-pangkalan baru dalam perdjuangan mereka melawan Kaum Sekutu, maka kaum imperialis Perantjis bertekuk lutut dan menjerahkan negeri kita kepada mereka.

Semendjak itu maka dengan ditindas oleh baik orang-orang Perantjis maupun Djepang, penderitaan dan kesedihan rakjat kita meningkat. Akibatnja adalah suatu malapetaka. Pada permulaan tahun ini, mulai dari propinsi Quang Tri hingga kesebelah Utara Vietnam, sedjumlah lebih dari dua djuta sesama warga kita telah mati kelaparan. Pada tanggal 9 Maret 1945 pasukan-pasukan Perantjis dilutjuti sendjatanja oleh Djepang.

Sekali lagi kaum kolonialis Perantjis lari atau menjerah; dengan demikian membutkikan bahwa bukan sadja mereka tidak dapat „melindungi” kita, tetapi malahan telah mendjual dua kali negeri kita kepada Djepang.

Pada beberapa kesempatan sebelum tanggal 9 Maret, Liga Viet-Minh telah mendesak orang-orang Perantjis untuk bersekutu dengan mereka melawan Djepang. Bukannja mendjawab usul ini, sebaliknja kaum kolonialis Perantjis memperhebat lagi kegiatan-kegiatan terror mereka terhadap anggota-anggota Viet-Minh setjara demikian rupa sehingga sebelum melarikan diri, mereka telah membunuh sedjumlah banjak tahanan-tahanan di Yén-Bai dan Cao-Bang.

Meskipun kesemuanja ini, namun sesama warga kita selalu telah memperlihatkan satu sikap jang berperi-kemanusiaan dan toleran terhadap orang-orang Perantjis. Bahkan sesudahnja kedjadian-kedjadian pada tanggal 9 Maret 1945, Liga Viet-Minh telah membantu sedjumlah banjak orang-orang Perantjis untuk melintasi perbatasan, membebaskan beberapa diantara mereka dari pendjara-pendjara Djepang serta melindungi djiwanja orang-orang Perantjis dan harta-bendanja.

Semendjak musim gugur tahun 1940 sesungguhnja negeri kita sudah berhenti mendjadi satu koloni Perantjis dan telah mendjadi djadjahan Djepang.

Sesudah Djepang menjerah kepada Kaum Sekutu, maka seluruh Rakjat kita telah bangkit untuk merebut kembali kedaulatan nasionalnja dan untuk mendirikan Republik Demokratis Vietnam.

Jang benar ialah bahwa kita telah merebut kemerdekaan kita dari Djepang dan tidak dari Perantjis.

Orang-orang Perantjis telah melarikan diri, orang-orang Djepang telah menjerah, Kaisar Bao-Dai telah turun tachta.

Rakjat kita mematahkan rantai jang selama hampir satu abad lamanja membelenggu kita dan telah memerdekakan lagi Tanah Air kita. Pada saat jang bersamaan maka Rakjat kita menumbangkan kekuasaan keradjaan jang telah berkuasa selama puluhan abad. Sebagai gantinja didirikan Republik Demokratis jang sekarang ini.

Berdasarkan alasan-alasan itu maka kami, anggota-anggota Pemerintah Sementara, jang mewakili seluruh Rakjat Vietnam, menjatakan bahwa mulai dari saat ini kami memutuskan segala hubungan-hubungan jang bersifat kolonial dengan Perantjis, kami membatalkan segala kewadjiban internasional jang hingga kini telah ditanggung oleh Perantjis atas nama Vietnam dan kami menghapuskan semua hak-hak istimewa jang telah diperdapat oleh orang-orang Perantjis setjara tidak sjah di Tanah Air kami.

Seluruh Rakjat Vietnam dengan satu tekad, mempunjai keteguhan untuk berdjuang hingga saat jang terachir terhadap setiap usaha oleh kaum kolonialis Perantjis untuk mendjadjah kembali negeri kami.

Kami mempunjai kejakinan bahwa bangsa-bangsa Sekutu jang di Teheran dan San Francisco telah mengakui azas-azas persamaan bagi bangsa-bangsa, tidak akan menolak untuk mengakui kemerdekaan Vietnam.

Rakjat jang dengan gagah berani telah menentang kekuasaan Perantjis selama lebih dari 80 tahun, Rakjat jang telah berdjuang bahu-membahu dengan fihak Sekutu melawan kaum fasis selama tahun-tahun jang achir ini, Rakjat jang demikian itu seharusnjalah merdeka dan bebas.

Berdasarkan alasan-alasan ini maka kami, anggota Pemerintahan Sementara Republik Demokrasi Vietnam dengan chidmad menjatakan kepada dunia bahwa Vietnam mempunjai hak untuk mendjadi negara jang merdeka dan bebas—dan dalam kenjataannja memang sudah demikian keadaannja. Seluruh Rakjat Vietnam mempunjai keteguhan untuk mengerahkan seluruh kekuatan djasmani dan rochani, untuk mengorbankan djiwa guna menjelamatkan hak-hak kemerdekaan dan kebebasan mereka.

Hanoi, 2 September 1945.

HÔ CHI MINH, Presiden.

TRAN HUY LIEU,

NGUYEN VAN XUAN,

VO NGUYEN GIAP,

PHAM NGOH THACH,

CHU VAN TAN,

VU TRONG KHANH,

DUONG DUC HIEN,

PHAM VAN DONG,

NGUYEN VAN TO,

DAO TRONG KIM,

NGUYEN MANH HA,

YU DIN HOE,

CU HUY CAN,

LE VAN HIEN.

Adapun dasar-dasar hukum Pernjataan Hanoi itu terdapat seperti dituliskan dalam deklarasi itu sendiri, dalam dua piagam jaitu Piagam Philadelphia 4 Djuli 1776 dan Piagam Paris 1791, jang oleh penjusun Piagam Vietnam dilebarkan maksud dan tudjuan kedua Piagam itu, sehingga berlaku bagi seluruh ummat manusia dan segala Bangsa sedunia, jakni tindjauan azasi, tentang persamaan manusia dan persamaan hak bangsa menikmati kemerdekaan dan kebahagiaan hidup.

Hak-azasi inilah jang dituliskan dalam Piagam Philadelphia tjetusan Thomas Jefferson dengan kalimat: All men are created equal; they are endowed with certain unalianable rights, atau menurut Piagam Indonesia jang usianja hanja 16 hari lebih tua dari pada Piagam Vietnam, seperti tertulis dalam kalimat pertama dan ketiga dalam kata pembuka Undang-undang Dasar Republik Indonesia 1945, berbunji: „Bahwa kemerdekaan itu jalah hak segala Bangsa”.

Dengan tegas pula hak-azasi persamaan manusia serta hak-azasi memiliki kemerdekaan dan kebahagiaan hidup dinjatakan dalam piagam Vietnam, bahwa telah diperkosa oleh Pemerintah Perantjis dengan segala kelaliman atau kesewenang-sewenangan delapan puluh tahun lamanja berturut-turut.

Deklarasi jang diutjapkan pada 2 September 1945, adalah suatu Piagam Hanoi jang ditindjau setjara juridis memuat tiga bagian penting, jaitu: pokok azasi, uraian revolusi dan kesimpulan. Piagam itu mempunjai nilai-hukum jang tinggi; karena tersusun dalam bahasa hukum jang teratur dan bersemangat dan berisi hasrat jang luhur dari pada Rakjat Vietnam jang berdjuang untuk mentjapai bahagia dalam masjarakat dan negara.

Dengan berpangkalan kepada adanja hak-azasi kemerdekaan dan kebahagiaan rakjat bagi segala bangsa, maka dalam bahagian kedua Piagam Hanoi itu memberi alasan bagi berlangsungnja revolusi bersendjata untuk mentjapai kedua hak-azasi bangsa-bangsa tersebut. Bagian ini sama kuatnja dengan piagam Amerika Serikat “Declaration of the causes and necessity of taking up arms” tanggal 6 Djuli 1775; dengan “Proclamation of rebelion” tanggal 23 Agustus 1775 dan dengan bagian tengah dari Declaration of Independence bertanggal 4 Djuli 1776. Menurut Piagam Hô Chi Minh 1945 itu, maka jang mendjadi sebab-musabab atau causa-causa dari pada revolusi Vietnam itu, jalah:

I. Penderitaan Rakjat.

II. Penindasan imperialis Perantjis.

III. Persekutuan facis kuning dan kolonialis putih.

Jang sjarat mutlak bagi menghilangkan penderitaan dan penindasan itu jalah melaksanakan kemerdekaan nasional, sebagai dasar bagi penjusunan masjarakat dan negara Vietnam Merdeka.

Setelah menguraikan sebab-musabab revolusi Vietnam sebagai kalimat pertanggungan djawab kepada masjarakat dunia dan perdjalanan sedjarah, maka bagian ketiga menutup Piagam Hanoi dengan kalimat jang menggetarkan djiwa Rakjat Vietnam dan Sanubari Dunia beradab: Le Viêt-Nam a le droit d’être libre et indépendant et, en fait, est un pays libre et indépendant.

Dalam memperdjuangkan Vietnam Merdeka berdasarkan Proklamasi-Deklarasi dan Konstitusi dalam Revolusi jang belum selesai, karena masih berdiri dibelakang tembok garis demarkasi parallel No. 16, maka pengandjur Hô Chi Minh dalam segala kesederhanaannja mempergunakan tindjauan-hidup jang berakar dalam adjaran historis materialisme jang tidak waterdowned; ketiga bidang marxisme, jaitu dialektik, logika dan strategi dikuasai dengan sempurna, dengan memberi sumbangan jang bermanfaat bagi perdjuangan jang dipimpinnja untuk menetapkan bentuk juridis kepada neagra dan masjarakat Viet Nam. Sebagian besar tudjuan perdjuangan telah tertjapai disebelah Utara parallel No. 16 dan kini adalah dalam taraf hendak mendjangkau rakjat Vietnam disebelah Selatan parallel No. 16. Pastilah bahwa suatu ketika Vietnam Utara dan Vietnam Selatan akan bersatu kembali dalam reunifikasi Republik Rakjat Vietnam jang bebas dan merdeka. Dua Korea, dua Vietnam, dua Tiongkok dan dua Indonesia adalah akibat permainan imperialisme jang ditantang kemerdekaan.

Penganugerahaan gelar doctor honoris causa kepada Paduka Jang Muli Hô Chi Minh adalah berarti pengakuan djasa-besar seorang Presiden negara-sahabat. Persahabatan antara Indonesia dengan Vietnam mengandung nilai sedjarah beribu tahun dilapang ketatanegaraan, kebudajaan dan dibidang tudjuan membentuk masjarakat-baru jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian dan kebahagiaan.

Tiadalah sadja pantai-tenggara daerah Vietnam mendjadi pangkalan tempat kami bertolak dizaman purbakala meninggalkan benua Asia menudju ketanah air kami jang ditundjukkan oleh Sang Alam dikepulauan Nusantara, tetapi djuga dalam abad ke-14 adalah Vietnam itu mendjadi satu dari pada negara-sahabat (mitreka sataka) dalam lingkaran-ketatanegaraan Désjantara disemenandjung Indo-tjina, dengan menamai daerah Vietnam daerah yawana atau ywan dalam bahasa Tjampa, seperti tersebut dengan djelasnja dalam kitab sedjarah nasional kami Wilwatikta-nagarakertagama karangan pudjangga kami Prapantja jang diselesaikan pada tahun 1365. Dalam suasana persahabatan 27 negara Asia-Afrika para wakil Vietnam Utara telah bertemu muka dalam suasana sahabat-pamitran dengan para wakil Indonesia, jang memimpin konperensi A-A dikota Bandung dipegunungan Parahiangan, tempat Paduka Jang Mulia kini berada.

Mengingat djasa kepada perdjuangan Paduka Jang Mulia bagi menegakkan Negara baru setelah perang dunia ke-II dan menghargakan nilai-hukum dari segala piagam-tertulis dan karangan-karangan buah-tangan Paduka Jang Mulia, maka kami para-anggota Senat Universitas Padjadjaran berasa berpendirian teguh untuk bertindak seperti disebutkan pada permulaan uraian.

Seperti ternjata dalam karangan jang ditulis dan tindakan jang dilaksanakan, memberi keinsjafan kepada Senat Universitas Padjadjaran dikota Bandung untuk mengambil keputusan, bahwa Paduka Tuan adalah seorang pengandjur-besar jang telah berdjasa bagi perdjuangan Rakjat Vietnam, bagi naiknja bangsa-bangsa Asia-Afrika dan bagi pembaruan masjarakat sedjagat, segera setelah peperangan dunia kedua selesai. Paduka Tuan telah berfikir, menderita, menulis, bertindak dan memimpin, dalam menjumbangkan segala bakat jang ada pada Paduka Tuan dengan memindahkan Rakjat Vietnam dari belenggu pendjadjahan Perantjis dan Djepang kedalam alam-merdeka dalam suasana Republik Rakjat Demokratis Vietnam sedjak dari daerah Quang Tri sampai kealiran Sungai Merah di Vietnam utara. Djasa Paduka Tuan dalam menjusun struktur hukum jang baru bagi tanah air dan bangsa Vietnam Merdeka, jang memberi bahan bagi perkembangan ilmu-hukum di Indo-tjina dan Asia Tenggara, dapat Senat Universitas Padjadjaran batja dalam karang-karangan jang Paduka Tuan tulis dengan darah-penderitaan dan djuga dapat dibatja dalam kitab sedjarah perdjuangan Vietnam Merdeka jang belum dipertjajakan kepada kertas-tulisan. Karangan Paduka Tuan adalah inti-sari dari perdjuangan kemerdekaan Tanah-air dan Bangsa Vietnam dalam abad XX ini, dan kedua bagian itu adalah dalam satu-keseluruhan hukum jang tak dapat dipisah-pisahkan. Demikianlah alasan-alasan jang menetapkan keputusan Senat Universitas Padjadjaran, jang telah diutjapkan pada permulaan pendjelasan.

Penganugerahaan gelar doctor honoris causa dalam ilmu hukum kepada Paduka jang Mulia Hô Chi Minh, Presiden Republik Rakjat Demokratis Vietnam dan Pengandjur Bangsa Vietnam dihargakan oleh Senat Universitas Padjadjaran sedalam-dalamnja, dan penjelidikan dalam hal itu mendjadi dasar bagi tindakan penganugerahaan gelar doctor honoris causa dalam ilmu hukum kepada Paduka Tuan. Penganugerahaan itu dilaksanakan dalam suasana persahabatan antara Bangsa Indonesia jang 84 djuta banjaknja dikepulauan Selatan dan Bangsa Vietnam jang 25 djuta tjatjahnja dipihak Utara; dan dalam rapat-upatjara, jang dihadiri oleh sekalian anggota Senat Universitas Padjadjaran, oleh para-guru besar dan para-decent diebeberapa universitas di Indonesia, dibawah pemandangan jang mulia Perdana Menteri Ir. Djuanda Kartawidjaja, jang mulia Menteri Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan dan para-anggota Kabinet Karya.

Rapat ini diberkati pula dengan hadirnja Paduka Jang Mulia Bung Karno, Presiden Republik Indonesia jang kami djundjung tinggi sebagai kepala-negara dan sebagai pemimpin Revolusi Kemerdekaan Indonesia.

Sekianlah pendjelasan kami sebagai promotor, jang kami susun dengan sepenuh hati dan sepandjang ilmu pengetahuan, seperti Paduka Tuan adjarkan dan amalkan dalam Perdjuangan Kemerdekaan jang mahadashjat itu.

__________________________

PIAGAM DOCTOR HONORIS CAUSA DALAM ILMU HUKUM

PIAGAM

UNIVERSITAS-NEGERI PADJADJARAN

BANDUNG

__________________________

KAMI ANGGAUTA SENAT UNIVERSITAS-NEGERI PADJADJARAN, SETELAH MENGADAKAN PENINDJAUAN DENGAN SAKSAMA, BERPENDAPAT, BAHWA:

Paduka Jang Mulia Hô Chi Minh

Presiden Republik Demokratis Vietnam,

DILAHIRKAN PADA TANGGAL SEMBILANBELAS MAI TAHUN SERIBU DELAPANRATUS SEMBILANPULUH, MEMILIKI PENGARTIAN, PERASAAN DAN KEAHLIAN, JANG TERNJATA DALAM PERDJUANGAN KEMERDEKAAN BAGI RAKJAT DAN NEGARA KEBANGSAAN VIETNAM DAN KARANGAN-KARANGANNJA JANG SUNGGUH-SUNGGUH TINGGI NILAINJA SEBAGAI SUMBANGAN BERHARGA BAGI BIDANG ILMU HUKUM.

ATAS ALASAN-ALASAN TERSEBUT DIATAS DAN BERDASARKAN HAK JANG DITETAPKAN BAGI KAMI DALAM PASAL 27 PERATURAN PERGURUAN TINGGI TAHUN 1946, JANG DIUBAH DENGAN KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN, PENGADJARAN DAN KEBUDAJAAN TANGGAL 31 DJANUARI 1953 No. 3036/KAB, DAN UNDANG-UNDANG DARURAT No. 7 TAHUN 1950 DAN KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN, PENGADJARAN DAN KEBUDAJAAN TANGGAL 8 MARET TAHUN 1958 No. 23047/C III, MAKA KAMI, KETUA DAN ANGGAUTA-ANGGAUTA SENAT UNIVERSITAS-NEGERI PADJADJARAN, MEMUTUSKAN UNTUK MENGANUGERAHAKAN KEPADA:

Paduka Jang Mulia Hô Chi Minh

Presiden Republik Demokratis Vietnam,

gelar

Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Hukum,

SERTA MEMBERIKAN KEPADANJA SEGALA HAK DAN KEHORMATAN JANG DIMILIKI GELAR ITU MENURUT UNDANG-UNDANG, PERATURAN-PERATURAN LAIN, ADAT ISTIADAT DAN KEBIASAAN UNIVERSITAS.

SEBAGAI TANDA DARI PADA PENGANUGERAHAAN GELAR TERSEBUT, MAKA DISAMPAIKAN KEPADANJA PIAGAM INI, JANG DITANDA-TANGANI OLEH KETUA DAN ANGGAUTA-ANGGAUTA SENAT UNIVERSITAS-NEGERI PADJADJARAN DAN DIBUBUHI METERAI BESAR UNIVERSITAS NEGERI PADJADJARAN.

BANDUNG, 2 MARET 1959.

PRESIDEN UNIVERSITAS-NEGERI PADJADJARAN/

KETUA SENAT UNIVERSITAS-NEGERI PADJADJARAN:

PROF. Mr R. IWA KUSUMA SUMANTRI.

SEKRETARIS SENAT UNIVERSITAS-NEGERI PADJADJARAN:

PROF. M. SADARJOEN SISWOMARTOJO.

ANGGAUTA-ANGGAUTA SENAT UNIVERSITAS-NEGERI

PADJADJARAN:

PROF. Mr H. MUHAMMAD YAMIN.

PROF. Dr R. DJUHANA WIRADIKARTA.

PROF. Dr Mr. R. PRAJUDI ATMOSUDIRDJO.

PROF. Dr NJOO HONG HWIE.

OFFICIAL TRANSLATION.

DIPLOMA

STATE UNIVERSITY OF PADJADJARAN

BANDUNG, INDONESIA

__________________________

WE, THE MEMBERS OF THE SENATE OF THE STATE UNIVERSITY OF PADJADJARAN AFTER SERIOUS AND EXHAUSTIVE STUDY HAVE DETERMINED THAT:

His Excellency Hô Chi Minh

President of the Democratic Republic of Vietnam,

BORN ON THE NINETEENTH DAY OF MAY IN THE YEAR ONE THOUSAND EIGHT HUNDRED AND NINETY, POSSESSES THE REQUISITES IN KNOWLEDGE, UNDERSTANDING AND PROFFESIONAL ATTAINMENTS IN THE FIELD OF LAW. THESE HAVE BEEN REVELAED THROUGH HIS SUCCESFUL FIGHT FOR THE FREEDOM OF THE PEOPLE AND THE NATIONAL STATE OF VIETNAM AND IN THE ESSAYS OF HIGHEST TRUTH ON THE SCIENCE OF LAW.

FOR THESE REASONS AND BASED UPON THE RIGHT GRANTED US BY ARTICLE 27 OF THE DECREE ON HIGHER EDUCATION 1946, AS REVISIED BY THE DECISION OF THE MINISTER OF EDUCATION, INSTRUCTION AND CULTURE DATED JANUARY 31th. 1953, NUMBER 3036/CABINET, BY EMERGENCY ACT NUMBER 7, 1950, AND BY THE DECISION OF THE MINISTER OF EDUCATION, INSTRUCTION AND CULTURE DATED MARCH 8, 1958 NUMBER 23047/C III, STATE UNIVERSITY OF PADJADJARAN DO HEREBY CONFER UPON:

His Excellency Hô Chi Minh

President of the Democratic Republic of Vietnam,

THE HONORARY DEGREE OF DOCTOR OF LAWS, AND DO HEREBY BESTOW UPON HIM ALL THE RIGHTS AND PRIVILEGES WHICH IN ACCORDANCE WITH LAW, CUSOM AND UNIVERSITY TRADITIONS DO PROPERLY APPERTAIN TO THIS DEGREE. IN WITNESS THEREFORE IS AWARDED THIS DIPLOMA GIVEN UNDER THE HAND OF THE HEAD AND MEMBERS OF THE SENATE OF THE STATE UNIVERSITY OF PADJADJARAN, TO WHICH IS AFFIXED THE GREAT SEAL OF THE STATE UNIVERSITY OF PADJADJARAN.

BANDUNG, 2 MARCH 1959.

STATE UNIVERSITY OF PADJADJARAN

PRESIDENT/HEAD OF THE STATE:

PROF. Mr R. IWA KUSUMA SUMANTRI.

SECRETARY OF THE SENATE:

PROF. M. SADARJOEN SISWOMARTOJO.

MEMBERS OF THE SENATE:

PROF. Mr H. MUHAMMAD YAMIN.

PROF. Dr R. DJUHANA WIRADIKARTA.

PROF. Dr Mr. R. PRAJUDI ATMOSUDIRDJO.

PROF. Dr NJOO HONG HWIE.


Diperdengarkan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan Tien Quan Ca pada Acara Penganugrahan Doctor Honoris Causa kepada Presiden Hô Chi Minh.

2 Maret 1959.



Ketua Tim Promotor oleh Prof. Mr. H. Muhammad Yamin membacakan pertanggungjawaban akademik dan alasan-alasan penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa kepada Presiden Hô Chi Minh.



Presiden Sukarno memberi selamat & menyerahkan surat keputusan Rektor/Ketua Senat Unpad/Piagam Doktor HC kepada Presiden Hô Chi Minh.



Presiden Hô Chi Minh berpidato di depan sivitas akademika di Universitas Padjadjaran.



Presiden Hô Chi Minh bersama Presiden Sukarno meninggalkan ruangan upacara penganugrahan doctor honoris causa.