Publisher Note
Tulisan ini diterbitkan di Kompas edisi No. 293 Th. 10 pada 17 Juni 1975.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Sebuah Kenanganku Beruniversitas
HARI itu Rabu 7 Mei 1975. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta melantik sarjana-sarjana baru. 311 Sarjana bertoga diarak. Semuanya hitam seragam. Seiring dengan aba-aba pengacara semuanya serentak berdiri menghormati Rektor Universitas berikut para professor serta para dekan dari masing-masing Fakultas yang memasuki ruangan. Toga bersuntingkan emblem serta kalung-kalung emas para dekan menyemaraki suasana grandeur yang menyentuh ruangan. Terbayang seorang Biskop dengan kemegahan abad menengah memimpin kebaktian. Secuil rasa haru, bercampur kebangaan menyelinap masuk. Sebuah panorama magnetik bagi juru kamera dengan blitz berkedipan. Seusai upacara seorang rekan dari Fakultas Hukum berpose bersama keluarga yang jauh-jauh datang untuk menyaksikan seorang sarjana baru (yang anaknya, adiknya dan seterusnya…) dinobatkan Universitasnya. „Hai… tampangmu mengagumkan! Tapi… sampai ketemu di lapangan Banteng Jakarta”, sapa seorang rekan lain dari Fakultasnya. Sapaan yang membuatnya terhenyak bangkit dari ekstase kebanggaannya. Baru disadarinya bahwa puncak pendidikannya di Universitas bukan dalam upacara pelantikan dan lebih-lebih bukan dalam kemegahan toga sarjana, tetapi menghadapi hidup dalam realita.
Lapangan Banteng simbol keletihan dan ketakberdayaan mereka yang bakal dan pernah menjadi kenek-sarjana. Jakarta magnet lainnya yang menarik para lulusan Universitas. (Tetapi mengapa harus Jakarta…? Sebuah pertanyaan lain yang membutuhkan jawaban lain pula).
3 kali wisuda sarjana direncanakan Universitas Gadjah Mada dala tempo setahun. Dengan kecenderungan yang sama UGM dalam setahun akan melantik kurang lebih 1000 sarjana baru dari pelbagai jenis disiplin ilmu. Itu berarti 1000 sarjana baru „produksi” sebuah Universitas Negeri terbesar di Negara ini akan memasuki pasaran kerja, belum lagi terhitung ribuan sarjana dari Universitas serta Perguruan Tinggi lainnya yang negeri dan swasta, yang lokal dan disamakan.
Membicarakan Universitas yang berpuluh-puluh itu serta hubungannya dengan lapangan kerja menuntut perubahan dari banyak segi. Universitas hanyalah sebuah fenomen sosial sebagai resultante dari fenomen-fenomen lainnya, yang juga adalah resulatante dari fenomen-fenomen x, y, z… yang tidak dikenal ataupun yang dikenal, sehingga berjubel dalam suatu kerangka berpikir yang bermuara pada “regressus in infinitum”. Untuk mengkonstatir serta menangani persoalan yang menyangkut Universitas “regressus in infinitum” harus diputuskan dan sejumlah tawaran pemecahan diajukan. Untuk itupun ada jejalan alternatip-alternatip yang disodorkan. Salah satu dari sekian tawaran adalah perubahan kurikulum. Memang bukannya tidak pernah dilakukan perubahan. Malah mungkin terlalu sering. Tetapi apakah yang berada dibalik semua perubahan itu yang kini berpuncak dengan sistim kredit yang mewarnai semua (?) Universitas Negeri di Indonesia? Apapun jenisnya perubahan kurikulum ia akan berkisar pada satu hal inti ini yaitu pengetahuan, knowledge atau “Wissensdienst” dari tiap lembaga Perguruan Tinggi.
Antara Tahu dan Tahupun Berbeda
Jakarta adalah ibu kota Republik Indonesia. Siapa yang tak tahu. (Selain mungkin para tourist asing dimana Bali adalah Indonesia dan Indonesia adalah Bali). Tetapi apa artinya kalau dikatakan bahwa Jakarta adalah ibu kota Indonesia? Di bangku Universitaspun sistim pengoperan pengetahuan semacam ini bukan suatu yang jarang dijumpai. „Effisiensi dan Effektivitas adalah unsur essentiil dalam Administrasi”. Akan tetapi apakah administrasi Universitas effisien tidak dipersoalkan, minimal tabu untuk dipersoalkan seorang mahasiswa. Atau ia harus cukup siap untuk menerima segala bentuk sanksi yang nyata atau terselubung.
Apakah maksud mengemukakan hal tersebut diatas? Pengetahuan bahwa Jakarta ibukota Indonesia adalah pengetahuan yang „intellektualistis”, pengetahuan bahwa essensi administrasi adalah effisiensi demikian pula halnya. Sedangkan menggali apakah artinya Jakarta bagi saya, bagi generasi saya, bagi orang pedesaan, bagi mahasiswa, sarjana adalah pengetahuan yang “existential”; demikianpun pencarian apakah administrasi Universitas benar effisien dan kalau benar apakah akibatnya dan kalau benar apakah akibatnya dan kalau tidak benar apa akibatnya untuk saya, untuk semua mahasiswa serta untuk orang tuanya adalah pengetahuan existential. Pengetahuan intellektualitas bukannya tidak berguna akan tetapi ia sendiri tidak cukup. Gunanya ialah dengan dengan itu seseorang akan dikaruniai selembar ijazah dan selembar toga (yang hanya boleh dipinjam maximal 3 hari. Oleh seorang rekan pernah dipakainya untuk selimut malam); namun untuk memperolehnya pernah punah seluruh harta benda keluarganya, pernah ia lewati hari-hari tanpa makan dan malam tanpa secuil mimpi.
Untuk mengatasi hal yang paling azasi dalam persoalan ini hal-hal berikut ini senantiasa dianjurkan baik dari suatu policy resmi maupun dalam seminar-seminar tentang perguruan tinggi. Pemecahannya terletak dalam sistim kurikulum yang mengarah kepada „problem solving”.
Dengan berlarutnya waktu kata-wakat inipun tinggal menjadi slogan manis ataupun gincu merah jambu. Pada pihak lain dalam hemat saya pemecahan semacam ini adalah juga sebuah loncatan (Sprung) dalam kerangka berpikir. Apakah mungkin memecahkan persoalan yang saya sendiripun tidak tahu dimana ujung, dimana pangkalnya? Apakah mungkin memecahkan persoalan dimana seseorang tidak mengenal dimana sebab dan dimana akibatnya? Iapun tetap merupakan sebuah loncatan berpikir. Karena yang lebih dulu harus disadari dalam pembenahan sistim kurikuler bukannya „problem solving” akan tetapi haruslah diciptakan sebuah kurikulum yang mengarah kepada „problem posing” (mengajukan persoalan) dari pihak dosen dan dari pihak mahasiswa serta masyarakat umumnya dan dengan demikian ia akan terus bergulat kearah apa yang dinamakan “constant problematization of reality”, dari waktu ke waktu senantiasa mempersoalkan, mempertanyakan setiap realitas dari dimensi apa saja. Realitas bisa saja diteropong dari dimensi sosial, ekonomis tekhnologi dan seterusnya. Baru setelah memiliki kemampuan semacam itu seseorang sanggup menawarkan cara serta ikhtiar „problem solving”. Kemampuan untuk mempersoalkan sesuatu juga menuntut suatu pengetahuan lainnya yang semestinya senantiasa dipupuk dan dibiasakan dalam setiap policy pendidikan dalam Universitas yaitu sistim pengetahuan yang integral serta komprehensip. Walaupun tentu saja bukan sesuatu yang mudah untuk memperoleh kemampuan semacam itu.
Kultur Penampung Serapah dan Kultur Pengobat Segala
Pengetahuan adalah sesuatu yang unik. Kekayaan pengetahuan berbeda dengan kekayaan kebendaan. Didalam dunia ketiga dimana produktivitas serta effisiensi berada dalam kadar terendah di sana berlaku apa yang dinamakan “Zero-sum” dari suatu kwantitas kekayaan. Ini berarti semakin kaya seseorang dalam lingkungan kebudayaan tertentu (yang sedang berkembang) bisa diduga bahwa senantiasa ada seseorang lain yang senantiasa menjadi miskin. Semuanya berakibat dari kwantitas kekayaan yang tidak terlalu gesit berkembang atau berkembang dalam tingkat terlalu rendah. Keunikan pengetahuan terletak dalam hal ini. Semakin suatu pengetahuan ditutup (hanya menjadi milik seseorang saja) semakin ia mengkerut, dan akhirny atinggal menanti saat saja dimana ia akan usai dalam perkembangan. Akan tetapi semakin ia dibuka, diberikan kepada orang lain, dikomunikasikan kepada orang lain semakin ia menimbun berlipat ganda.
Secara didaktis ini berarti dibutuhkan secara mendasar bahwa metode penyampaian pengetahuan tersebut menuntut suatu komunikasi timbal balik. Penyampaian pengetahuan yang sepihak menutup jawaban dan tanggapan. Terbiasa menyampaikan pengetahuan semacam ini akan menimbulkan kultur tertutup dan tidak jarang ia terungkap dalam mentalitas paternalistik dimana yang diatas bersemboyan: „Tangismu dan ketawamu seirama menurut irama cambukku” dan yang dibawah menantikkan pengetahuan sebagai menanti sedekah taart yang bakal dimamah dan setelah itu dibuang dalam kelupaan.
Melihat kwantitas pengetahuan yang bergudang dalam Universitas tinggal dibutuhkan suau perubahan sikap psikho-kulturil dalam setiap komponen dalam Perguruan Tinggi (dosen, mahasiswa serta tata usaha). Keterbukaan adalah suatu faktor yang menentukan. Dengan keterbukaan pengetahuan tidak diberikan dengan anggapan bahwa berkuliah adalah pengoperan pengetahuan yang selesai tetapi disampaikan pengetahuan yang senantiasa berproses secara existential. Jenis pengetahuan semacam ini lebih berguna dalam menghadapi realitas sosial. Meninggalkan jenis pengetahuan semacam ini atau tertutup bagi suatu perubahan psikho-kulturil bagi pengetahuan semacam ini hanya mengarah kesatu muara yaitu bahwa ijazah adalah tuntutan puncak, toga adalah suatu kemegahan, tamatan Universitas adalah justru suatu simbol status yang baru. Tetapi akan tiba saatnya dimana ia akan tersentak karena bagi realitas sosial ia tidak berguna. Dengan demikian kita akan termakan sindiran sarkastis Nietzsche yang mengatakan: “Betapa tak berguna kita! Betapa bangga kita menjadi orang yang tidak berguna. Sebenarnya pertengkaran kita tinggal mengungkapkan siapakah diantara kita yang paling tidak bermanfaat. Kita tidak mengejar apapun, kita tidak menginginkan apapun selain terlena dalam ketiadamanfaatan kita” (Wie unnütz waren wir! Un wie stolz waren wir darrauf, so unnutz zu sein! Wir hatten miteinander uns um den Ruhm streiten können, wer von beiden der Unnützzere sei. Wir wollten nichts bezwecken, wir wollten ohne Zukunft sein, nichts als bequem auf der Schwelle der Gegenwart hingestreckte Nichtsnutze -und wir waren es auch).