Publisher Note
Ini merupakan pidato Pramoedya Ananta Toer di depan Symposion Fakultet Sastera (sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya) Universitas Indonesia pada 5 Desember 1954.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Pokok karangan ini diberikan oleh panitia symposion senat Mahasiswa Fakultet Sastera Universitas Indonesia.
Bukan dari saja sendiri! Karenanja buat saja sendiri pun amat meragukan. Kata2 sasterawan dan modern jang tertjantum didalam pokok karangan tersebut terasa gojah. Saja sendiri tidak mengetahui tjarakerdja dan hidup sasterawan/letterkundige, orang jang menjiasati hasilsastera, dan bukan orang jang membuat hasilsastera/pengarang/author. Dan kata modern lebih-lebih lagi meragukan! Apa jang barangkali dianggap modern oleh seseorang mungkin buat golongan lain hanjalah suatu kemuskilan. Padahal soalnja hanja terletak pada selera! Baiklah, untuk melandjutkan pembitjaraan ini, kata2 sasterawan dan modern jang tersebut dipokok dikesampingkan.
Lahirnja seorang pengarang tidak lain daripada lahirnja suatu pengakuan, suatu pernjataan. Buah karangan adalah buah pengakuan—pengakuan adanja suatu kesaksian, suatu kehadiran jang biasanja tidak mendapat tempat dalam masjarakatnja sendiri, tidak mempunjai kesaksian dalam perasaan dan kebiasaan bersama atau konvensional. Maka dia memberontak, memproklamasikan kehadiran dan kesaksian dirinja. Dan selandjutnja: kesusasteraan adalah revolusi seorang diri. Balatentaranja baru kemudian datang, dan itupun tidak bersifat abadi. Balatentara ini ialah parapeminat atau parapendukung tjita sipengarang.
Demikianlah prototype seorang pengarang, sedang hubungan gonta-ganti antara sipengarang dan parapendukung atau peminatnja ditentukan oleh kemampuan pengarang dan kemampuan parapendukung atau peminat.
Barangkali tuan akan membantah, bahwa ada banjak pengarang jang tidak memberontak, bahkan malah sebaliknja: dia menjanji, menembang dari eligi ke eligi, memudja! Barangkali tuan akan menjatakan sekaligus, bahwa uraian diatas sekali pukul telah terbantah samasekali. Sebenarnja tidak demikian halnja. Menjanji, menembang ataupun memudja adalah bentuk lain dari pemberontakan jang langsung, jakni berontak terhadap masjarakat jang tidak menghargai sesuatu, dan karenanja sipengarang itu memudja, mengembalikan nilai jang semestinja dimiliki dan dikenali oleh masjarakatnja. Djuga ini suatu pemberontakan sekalipun sifatnja tidak langsung. Sekiranja tidak demikian, dapat didjawab djuga, bahwa dalam segala hal dan disegala lapangan selalu terdapat keluarbiasaan, suatu variasi jang pada hakikatnja makin memperdjelas sifat sesuatu lapangan.
Njatalah, bahwa lahirnja seorang pengarang adalah pernjataan suatu pemberontakan, dan pemberontakan itu ternjata mendapat kemenangan, mendapat dukungan dari masjarakat. Banjak tjita jang tadinja hanja tersembunji dalam sanubari sipengarang mendapat bumi subur untuk hidup langsung. Dapat pula dikatakan, lahirnja seorang pengarang tidak lain daripada terdjadinja perebutan kekuasaan dalam masjarakat untuk membangunkan moral baru jang lebih sesuai dengan djaman, dengan kehadiran manusia diatas buminja sendiri. Adanja pemberontakan ini dengan sendirinja disebabkan karena adanja pandangan lain terhadap dunia keliling, terhadap hidup, terhadap nilai2 jang telah ada dan nilai2 jang tidak dihargai. Apabila seorang pengarang berperangai lain daripada warga-masjarakat lain2nja, maka ini hanjalah suatu konsekwensi daripada pandangannja jang berlainan tadi. Sekiranja perangai jang berlainan ini tuan dapati pada beberapa golongan pengarang atau perseorangan, dan perangai itu nampak di-buat2, biasanja ini bukan disebabkan karena adanja pandangan lain, tetapi hanjalah suatu mode kosong. Didalam banjak kelezatan selalu terdapat buih ataupun busa jang tidak termakna, tidak bisa dinikmati, atau se-tidak2nja harus ditelan tanpa meninggalkan kesan kenikmatan, sekiranja tidak ditolak mentah2.
Banjak orang bilang dan mengakui, bahwa tak ada barang baru dibawah kolong langit ini. Dan tjita sipengarang, adakah dia barang usang djuga? Ah, tuan, saja sendiri mengakui, bahwa dikolong langit ini tak ada barang baru. Tetapi, djangan pula dilupakan, bahwa kebaharuan sesuatu terdjadi dari ramuan dan harmoni jang lain, bukan jang sudah umum, sehingga dengan demikian timbul paduan jang lain daripada jang lain2, dan biasa dinamai baru. Dan nilai apakah jang baru bagi manusia ini! Tiap penderitaan dan kesukaan pernah dialami oleh tiap orang, djuga oleh tuan sendiri, hanja matjam dan bangun, isi dan makna dari penderitaan atau kesukaan itu mempunjai tempat jang ber-lain2an. Karena itu salahlah pendapat umum jang mengiakan, bahwa seorang pengarang lahir karena penderitaan! Kesadaran akan tempat penderitaan serta kesukaan, kemampuannja memberikan dan mempergunakan nilai keduanja, kesanggupannja merasakan nikmat dan hikmat ke-dua2nja, semua inilah jang memungkinkan kelahiran seorang pengarang. Seorang jang bukan pengarang, tidak mempunjai perabaan seni pada umumnja, hidup dialam jang polos, tanpa warna, tetapi pengarang hidup dialam jang penuh dengan kontras serta perbandingan. Dari kontras dan perbandingan ini ia menimba kekajaan tida habis2nja—sesuatu jang dapat dikatakan tidak mungkin bagi mereka jang tidak mempunjai sangkutpaut dengan hidup seorang pengarang atau seniman pada umumnja. Kemampuannja merasakan nikmat dan hikmat penderitaan serta kesukaan, pandangannja jang lain daripada pandangan umum, kedjidjikannja terhadap hal2 tertentu dan pemudjaannja pada hal2 tertentu pula, adalah merupakan kegiatan2 kedjiwaan jang dahsjat, jang menentukan warna dan arah perdjuangan seorang pengarang.
Dan dengan demikian tuan telah ikuti kelahiran seorang pengarang. Apabila seseorang lahir karena perbuatan orang lain, maka seorang pengarang lahir sendiri, dilahirkan oleh dirinja sendiri. Dan apabila seseorang mati, kematiannja adalah akibat habisnja dajatahan dari djiwa atau raganja terhadap serangan dari luar, tetapi seorang pengarang mati sebagai pengarang karena kebangkrutan tjita. Bagaimanapun djuga mundur hasil2 tulisan seorang pengarang setelah terbit tulisan2nja jang terbaik, ia belum berhak dinamai mati, ia belum mati, selama masih terdapat pertjikat tjita, karena pertjikan2 ini mungkin kilat2 berliat tjita jang belum sempat dikembangkan setjara mendalam.
Hidup seorang pengarang didalam masjarakatnja mempunjai dua muka, muka pentjipta dan muka pengusaha. Ia mentjiptakan hasil kesusasteraan, dan sekaligus mengusahakan agar hasil itu beredar didalam masjarakatnja, atau kasarnja dapat dikatakan: ia berusaha merebut pasaran pembatja sebagai menampung tjitanja. Pendeknja ia membutuhkan nama, membutuhkan merk. Ada banjak terdapat pengarang terutama pengarang2 baru jang menjatakan diri tak membutuhkan pernbatja. Betapapun djuga ditjari alasan pernjataan demikian tidak bisa masuk diakal. Seorang pengarang jang tidak membutuhkan pembatja tidak perlu mengarang. Barangkali bagi orang2 digelanggang kegiatan lain, terutama kegiatan bawahtanah, nama ini tidak penting, tetapi didalam dunia kesusasteraan iapun pernjataan suatu kehadiran, pendjilmaan dari adanja tanggungdjawab—dilihat dari djurusan sipengarang itu. Nama ini adalah manifestasi keseluruhan dirinja: Inilah aku! Keseluruhanku, kehadiranku, kesaksianku. Sehingga dengan demikian „Aku ini binatang. Tetapi bagi pengarang jang punja dajatjipta besar, dengan alam hidupnja penuh kontras dan perbandingan, sebagai akibat dari perasaannja jang tadjam, ia dilahirkan tiap detik, dan memulai sedjarahnja ditiap detik pula untuk kemudian kembali muntjul dengan tjiptaan baru: dengan perhitungan dan penjelesaian sedjarahnja.
Mengetahui ini, ialah memaklumi betapa perasaan sipengarang dan tjita jang hendak didukungnja pada masjarakat. Dan mengetahui ini, maklumlah tuan bagaimana perasaan seorang pengarang jang mana tjita jang hendak didukungkannja pada masjarakat itu ditolak. Terutama sekali sekiranja ternjata, bahwa penolakan itu hanjalah beralaskan hal2 ketjil misalnja pelukisan2 jang ternjata kurang teliti, sehingga ada kesan adanja tokoh2 mati, adanja rekonstruksi kedjadian jang agak anachronis, kurangnja kesabaran sipengarang itu sehingga akibatnja maksud2 jang dikandungnja terlukis agak kabur, atau memberikan kesan kesebalikan daripada jang sebenarnja. Tiap pengarang sebelum menurunkan kandungan djiwanja keatas kertas mula2 sekali telah mendapat kejakinan, bahwa karjanja mendatang bermaksud mengisi masjarakatnja dengan segala jang mungkin jang dianggapnja paling baik buat keuntungan bersama. Dapat dibandingkan ini dengan seorang pria jang dengan maksud2 baik mentjintai seorang wanita, dan ternjata tjinta dan maksud2 baiknja tertolak. Dan tjobalah tuan ikuti ini perasaan pria itu waktu diketahuinja, bahwa siwanita itu lebih suka memilih pria lain jang tiada mempunjai maksud2 baik dan pula tidak mentjintainja. Dapat djuga ini dibandingkan dengan seorang suami jang mengasihi dan mentjintai isterinja, seorang jang sedia mengerdjakan apa sadja untuk membahagiakannja, tetapi ternjata isteri ini tidak dapat mempergunakan dan menghargai serta menikmati usaha dan djerihpajahnja! Kemanakah sisuami ini harus menempatkan diri didalam rumahtangganja! Tiap podjok baginja mendjadi tempat siksaan! Sedangkan orang tahu, bahwa rumahtangga adalah tempat mula bagi perkembangan kebahagiaan. Perbandingan2 diatas amatlah tepatnja bagi kedudukan kemasjarakatan seorang pengarang.
Dan kalau tuan tahu, bahwa penolakan itu kadang2 tidak sampai disitu sadja akibatnja. Biasanja ia menimbulkan akibat2 lain, banjak, dan ber-sangkut2an. Sebagaimana tuan ketahui, bilama sisuami tidak mendapat tempat didalam rumahtangga ia sendiri, biasanja ia berkembang mendjadi seorang jang liar atau ia mendapat tempat jang amat menjedihkan. Dan seorang pengarang, apabila ia tidak mempunjai kepribadian jang kuat, tak djarang ia malah mendjadi benih perusak. Sisuami tidak pertjaja pada hidup kerumahtanggaan lagi, dan direguknja segala jang dianggapnja dapat mengisi kekosongan dalam djiwanja. Tak djauh bedanja dengan seorang pengarang. Ia dapat berkembang mendjadi anarkis, tidak mempertjajai manfaat hidup kemasjarakatan, sebaliknja daripada membangun ia menghantjurkan dengan tiada bermaksud memberi bangunan baru pada segala jang telah dihantjurkannja.
Banjak kali seorang kritikus tidaklah mendjadi djembatan jang baik dan aman antara maksud2 sipengarang dengan pembatjanja. Dimanapun djuga selalu terdapat kritikus2 baru-muntjul jang tidak taktis, djelasnja parakritikus jang tugasnja malah merupakan kebalikan daripada jang sebenarnja, jaitu mempermudah sampainja tjita sipengarang kedalam hati masjarakatnja. Terutama di-waktu2 parakritikus jang sebenarnja kurang memperlihatkan kegiatannja, atau mereka ini oleh sesuatu keadaan jang tidak menguntungkan harus terpaksa berdiam diri, maka dengan mendadak akan lahir kritikus2 jang tidak taktis, karena demi pengalamannja jang sedikit, dan disentakkan oleh pengetahuannja jang sedikit tentang kesalahan kritikus2 sebelumnja ataupun tentang keruntuhan mereka, melompat tampil kegelanggang. Mereka ini lebih banjak akan merupakan biangkeladi kesalahfahaman tentang pengarang dan hasiltulisannja daripada meletakkan nilai-nilai pada tempatnja jang wadjar. Adanja kenjataan2 ini bukanlah dimaksudkan sebagai andjuran pada kaum kritikus dan mereka jang mentjoba djadi kritikus untuk selalu mengiakan tulisan sipengarang atau memperlunak ketjamannja; djuga bukanlah dimaksudkan sebagai pembelaan dari golongan pengarang! Se-tidak2nja amatlah menguntungkan bagi semua jang berkepentingan pabia mereka semua ini menjadari dan tahu batas2 daerah kewadjibannja masing2 serta mengerdjakannja sebaik mungkin. Perlunakan dengan sengadja dalam usaha mengritik tidak akan membawa kebaikan bagi semua jang berkepentingan. Seorang pengarang jang tampil kedepan, sudah berarti, bahwa ia telah bersiapsedia menghadapi segala konsekwensi dan kemestian2 sebagai pengarang. Iapun sudah terlebih dahulu bersedia menghadapi tantangan dan ketjaman, memperkuat diri terhadap pudjian dan sandjungan, agar diri dan pribadinja tidak hantjur-lebur oleh semua itu, dan sedapat mungkin mendjadikannja lebih kuat dengan bahan2 jang ada dan jang datang padanja.
Keterangan2 diatas itu tidak lain daripada djeritan pandjang golongan pengarang. Djuga sudah mendjadi hak sipengarang untuk berteriak pandjang sematjam itu. Kalau tuan maklum, betapa seorang pengarang tidak bisa bekerdja tanggung2, betapa ia bekerdja dengan seluruh hati dan pikirannja. Tiap pengarang mentjoba dengan sedjudjur hatinja untuk mentjiptakan tulisan jang sebaik mungkin, dengan seluruh kemampuannja, sekalipun karena sesuatu keadaan jang tidak menguntungkan kadang2 tulisannja tidak berhagra samasekali. Tidak ada seorang pengarangpun jang bisa menulis serba tanggung2. Memang ada seseorang jang mengarang tanpa mengerahkan seluruh kemampuan hati dan pikirannja, tetapi mereka ini adalah golongan copy-writer. Atau djuga karena pengarang itu karena hal2 tertentu alat2 kerdjanja terganggu.
Barangkali tuan akan bertanja apa sebenarnja alat2 seorang pengarang. Berbeda dengan pekerdja2 lain, maka alat2 pengarang adalah satu, tunggal, jakni pikiran dan perasaannja, suatu kesatuan jang berwadjah dua. Pada suatu waktu mungkin benar alat ini dipergunakan untuk pekerdjaan lain jang tidak produktif, misalnja diganggu oleh keadaan perut, keadaan kantong ataupun keadaan rumahtangga jang berantakan. Dengan sendirinja alat jang hanja satu ini tidak bisa dipergunakan untuk pekerdjaan lain, dan dalam hal ini untuk mentjiptakan hasilsastera. Paksaan jang dilakukan dengan sendirinja mendangkalkan hasiltulisan jang dilahirkannja. Memang tidak begitu salah pendapat umum, bahwa seorang pengarang lebih menjukai tempat jang sunji terutama dimana keindahan alam terhampar dengan damainja. Pada hakikatnja pendapat umum ini tidaklah menjinggung kebenarannja jang chas. Bukan kesunjian dan keindahan alam itulah jang ditjitakan oleh seorang pengarang, tetapi kedamaian hati. Kadang2 sadja seorang pengarang dapat menghargai kesunjian dan keindahan alam, apabila hal2 itu bisa menjebabkan datangnja kedamaian bagi hatinja. Dan pada dasarnja seorang pengarang hidup melalui rangkaian konflik dan kemualan, disamping pesonaan dan pemudjaan. Apabila segala itu tidak menguasai dirinja lagi, tetapi sebaliknja telah dikuasainja, jakni karena pengarang itu telah mampu memiliki kedamaian djiwa, sehingga semuanja itu telah berada diluar dirinja, tidaklah akan sulit baginja untuk melahirkan tulisan jang baik. Dan djustru disini sebenarnja letak kedjenisan seorang jang pada lahirnja hidup dalam kepapaan namun telah kuasa mentjiptakan tulisan gilang-gemilang jang memperkaja kesusasteraan dunia. Tuan dapat deretkan nama2 parapengarang sematjam itu sedjak Junani Antik hingga kini. Djelasnja tekanan sosial atau keuangan bukanlah alasan2 mutlak bagi turunnja nilai karangan seorang pengarang. Alasan2 lahir itu hanja variasi, hanja warna2 tertentu. Jang pokok ialah kedamaian djiwa jang terganggu, ia masih dikuasai ,oleh tenaga2 jang ada didalam dan diluar dirinja, dan bukan jang sebaliknja daripada itu, jakni: sipengaranglah jang menguasainja.
Sekarang djelaslah bagi tuan, bahwa alat seorang pengarang adalah tunggal. Ia dapat menghasilkan karangan jang baik, apabila alat itu tidak diambilkan untuk pekerdjaan jang lain. Berbeda halnja dengan seorang tukangkaju jang dapat memartil dengan tangan kanan, memegangi paku dengan tangan kiri, menekan kaju dengan kaki kanan, mendjaga kesetimbangan badan dengan kaki kiri, pikirannja meng-hitung2 hutang jang ditanggungnja dan perasaannja merasakan salah sebuah diantara djarinja jang habis kena gergadji—maka pekerdjaan djasmani dan rohani sekian banjak dan dikerdjakan dengan sekaligus pula, tidak bisa diperbuat oleh seorang pengarang. Seorang pengarang hanja beralat satu, sedang jang dikerdjakan hanja satu pula: menggali segala kekajaan djiwanja jang menguntungkan bagi semua orang, dibentuknja dalam susunan bahasa jang sesuai dengan pilihannja.
Teranglah, bahwa tiap hasiltulisan seorang pengarang tidak lain daripada suatu hasilkerdja habis2an. Karangan seorang pengarang adalah pernjataan seluruh kekajaan dan kemampuannja sendiri. Dan teranglah pula pada tuan betapa sakit dan ketjewa hati seorang pengarang, bila tulisannja ini ditolak, tidak mendapat dukungan, tertjela karena keretakan jang tiada berarti, bahkan mungkin dikutuki demi tiadanja toleransi tjita. Mungkin semua itu terdjadi karena kesalahan sipengarang itu sendiri. Tapi sekalipun demikian, satu jang selalu orang lupakan, jakni: tiap pengarang paling mula digerakkan oleh maksud2 jang baik.
Hubungan antara pembatja dan pengarang kadang2 tiadalah begitu mesra. Bagi seorang pembatja, terutama jang tidak tahu ataupun tidak mau tahu tentang djerihpajah sipengarang dan hanja mau melihat apa jang dihasilkan pengarang, terlampau gampang untuk berlantjang mulut mengatakan: Ah, mengapa tiada hasiltulisan baru dari parapengarang kita. Tapi sementara itu seorang pengarang bekerdja mati2an—relatif sebagai pengarang, mungkin hanja mampu menjelesaikan dua alinea dalam sehari, mungkin hanja sebaris dengan amat susahpajah. Dan disamping itu mungkin orang jang ber-teriak2 mengeluhkan kurangnja hasilkarangan baru, tidak pernah membatja kesusasteraan Indonesia samasekali. Biasanja orangpun menolak hanja didorong oleh kesombonganhati belaka. Dan tuanpun tahu bagairnana sulitnja bagi seorang pengarang melihat sumbangan2nja ditolak, kesulitan keuangan dan mungkin djuga kesulitan kedjiwaan. Tidaklah terlampau berlebihan bila dikatikan, bahwa hubungan antara masjarakat dan batjaan ini banjak melahirkan ketegangan2 kedjiwaan bagi seorang pengarang. Bila tidak, ternjata bahwa ketjintaan sipengarang ini pada pekerdjaannja tidaklah mendalam. Bagi parapengarang dari golongan terachir ini kesulitan kedjiwaan seperti kegelisahan, keterbanan kepertjajaan pada tenaga sendiri diwaktu terachir, rasa penasaran atas diri sendiri, tidak banjak dialaminja. Lagipula kalau diingat, bahwa akibat-akibat kesulitan kedjiwaan tersebut biasanja tiada dimaklumi oleh sipengarang sebelum sendiri mentjebrurkan diri digelanggang kesusasteraan. Terutama bagi pengarang jang mana kehidupan dan penghidupannja tergantung pada hasiltulisannja, tolakan masjarakat atas hasiltulisannja dapat dikatakan dengan sendirinja membangkitkan krisis emosi. Tambah besar seorang pengarang menaruhkan seluruh kepertjajaannja pada hasil2 tulisannja, bertambah hebat krisis jang mengantjamnja. Banjak kali krisis ini diikuti oleh perbuatan fatal2, misalnja utjapan selamattinggal pada kesusasteraan, baik setjara terang2an ataupun setjara diam2, menerbitkan karangan jang lebih banjak bersifat mengamuk dan menghantjurkan, atau mengambil lapangan lain jang tidak mempunjai sangkutpaut samasekali dengan kesusasteraan. Ada jang mengatakan, bahwa tindakan2 fatal ini tidak lain daripada pernjataan sipengarang telah melarikan diri dari medanperdjuangan jang dipilihnja sendiri, untuk menjelamatkan diri daripada krisis emosi, atau hendak menjelamatkan nama agar tak lebih dalam terdjatuh. Djuga dilapangan kesusasteraan ada terdapat pribadi2 jang kuat serta jang lemah. Dan bagi tuan sendiri, apabila merasa letih untuk berdjuang digelanggang ini, lebih baik pagi2 buta telah menarik diri. Gelanggang kesusasteraan adalah medanperang jang dahsat, dimana tiap tembakan jang dilepaskan tak pernah luput, mengenai atau dikenai.
Barangkali lukisan tersebut tidak terasa dahsatnja, kurang mejakinkan. Hanja golongan pengarang sendiri jang mengetahui lebih baik. Tidaklah amat mengherankan apabila dihampir tiap negeri, selain dinegeri2 komunis, dimana kesusasteraan diakui sebagai salahsatu kekuatan disamping politik dan ekonomi, dalam pemungutan padjak parapengarang digarap sebagai domba perahan. Honoraria jang diterima oleh seorang pengarang bisa dianggap mereka sebagai redjeki-tanpa-susahpajah jang bisa dengan langsung dipetik dari pohon, atau djatuh dari langit.
Dan, tuan, bagi seorang beroepsschrijver Indonesia dimasa ini, mempertjajakan penghidupannja dari hasil tulisannja adalah menjerahkan diri pada kebinasaan. Sangkutpaut tentang hal ini sudah amat sering dikemukakan dalam karangan2 jang tersebar, namun pedjabat2 resmi tidak pernah mengertinja, barangkali pun tidak sempat membatja, atau djuga memang karena terlampau bodoh untuk mengerti. Bukan sadja tinggi padjak tetapi djuga karena dapat dikatakan sebagian besar dari penerbit jang ada di Indonesia ini tidak lain daripada avonturier. Buktinja ialah waktu anggaran belandja kementerian PPK disunat, kehidupan penerbitan mendjadi murung seperti lalat kehilangan sebelah sajap dan belalainja. Dilihatnja penerbitan buku2 sekolah melulu jang madju, dengan serempak buku sekolah jang djadi sasaran, dan tidak sedikit kaum guru jang meramaikan perang buku sekolah ini, dengan sendirinja para murid sedikit atau banjak merupakan kekuatan2 jang tak boleh dilupakan. Buku2 kesusasteraan terdorong djauh kebelakang, karena tidak merupakan benda2 jang mesti dibeli. Buat perlengkapan perpustakaan rakjat dari djawatan pendidikan masjarakat, pemerintah hanja mengambil paling banjak 675 exemplar tiap matjam dari buku kesusasteraan jang baik, bahkan kadang2 ditolak samasekali. Puisi Dunia jang lahir atas djasa Taslim Ali dan Anas Ma’ruf pun ditolak, sekalipun barangkali sekarangan telah diambil oleh pemerintah, dan masih banjak lagi jang banjak bisa disebut, sekalipun tak perlu disebut karena mungkin mengakibatkan buntut jang tidak sedap. Gambaran pengambilan pemerintah jang tidak begitu elok ini tjukup mendjelaskan bagaimana posisi keuangan seorang pekerdja kesusasteraan. Dapat dikatakan masjarakat sendiri tidak beli buku kesusasteraan. Ia lebih membutuhkan makan, pakaian dan hiburan setjara langsung dan sekaligus dapat menjeka kegelisahan posisi sosialnja walaupun untuk waktu jang sangat sementara. Mungkin semua ini hanja bersifat sementara, jakni sementara masjarakat Indonesia kehilangan salahsatu dasarperhubungan jang vital, kehilangan kepertjajaannja pada nilai uang, pada pembagian martabat dan kelas jang selama ber-abad2 lamanja menolong mempertahankan tatatertib, pada pendemokrasian kehidupan jang dilakukan dengan liar. Sementara itu golongan pengarang dalam kematjetan penghasilannja terus mentjoba melahirkan tulisan baru: pikiran dan perasaannja ikut mendukung kesengsaraan seluruh umat manusia. Omongan besar! Suara besar! Tetapi hatiketjil tuan mungkin dengan diam2 mengakuinja, bahwa sesungguhnja golongan pengaranglah jang mendukung kesengsaraan tuan sendiri. Mengapa? Karena keinsafan seorang pengarang akan tugasnja selamanja disentakkan oleh kesengsaraan batin jang dideritanja. Dan kesengsaraan seseorang tidak lain daripada kesengsaraan seluruh umat manusia—dengan isi jang sama, berkulitkan bentuk jang ber-lain2an. Barangsiapa dapat merasakan nikmat dan hikmat kesengsaraan, dia kenal akan intinja, dia kenal akan arahnja, dan tanpa ini takkan mungkin orang dapat merasai nikmat dan hikmat kebahagiaan, dia hidup dialam polos tanpa warna, tanpa isi.
Tambah lama pembitjaraan pokok ini, terasa usaha2 mendapatkan kesan dari tuan, bahwa disini sebenarnja tampil kemuka seorang pengarang sebagai pembela dan penterdjemah dari golongannja. Sebenarnja bukanlah demikian, sekalipun mungkin bawahsadar saja mendjuruskan pembitjaraan ini kearah situ. Jang njata: amat sedikit dan kurang effektif tjara menanamkan kesusasteraan di-sekolah2. Padahal dikurun masa jang katjaubalau ini murid2lah jang merupakan teras dari rasa susastera. Kesusasteraan diadjarkan terlampau djauh terlepas dari hubungan dan persoalan jang menjeluruh. Ia hanja matapeladjaran tersendiri jang dibatasi oleh interpretai2 ketjil dari sang guru masing2. Akibatnja ialah, bahwa kesusasteraan tetap mendjadi anaktiri dari kekuatan2 jang ada didalam masjarakat. Padahal pentingnja kesusasteraan baru nampak apabila ia ditempatkan dalam hubungan dengan keseluruhan segala. Salahsatu kekurangan dilapangan pengadjaran ini pun mendjadi sebab mengapa masjarakat atau orang sedikit sekali mengerti tentang persoalan pengarang, dan hanja kesusasteraannja djua jang djadi buah pertjakapan, bahkan itupun sering luput dari persoalan sewadjarnja. Terutama dimasa ini, dimasa kritikus-kritikus jang sesungguhnja banjak berdiam diri, nampak djelasnja gedjala2 tak sehat betapa kesusasteraan hanja dipandang dan dikritik dari djurusan bentuk, dari djurusan selera perseorangan dari djurusan tetekbengek, dengan melupakan fungsinja, jakni sebagai bapa dinamik bangsa: apa jang bisa dikerdjakan oleh kesusasteraan buat menjelamatkan bangsa manusia dewasa ini, serta bangsa dalam batas2 geografis atau antropologis ataupun politis pada chususnja. Dan tahukan tuan, bahwa penerimaan2 salah dari masjarakat ini pada segolongan pengarang jang lebih menjebabkan golongan ini mendjadi putusasa, mereguk keketjewaan demi keketjewaan. Apa jang dapat disumbangkan oleh golongan ketjewa ini buat masjarakatnja tuan pastilah mengetahuinja benar2. Sangkutpaut jang ruwet, pandjang, dan tidak sehat ini tidak akan menguntungkan pihak manapun djuga. Dengan ini bukan dimaksudkan agar masjarakat mengumpani golongan pengarang sekenjang mungkin, tetapi hendaknja dikembalikan moral kemasjarakatan pada tempatnja jang benar: biarlah banjak jang diterima oleh mereka jang banjak bekerdja, biarlah bernilai jang diterima oleh mereka jang menghasilkan kerdja bernilai pula. Moral kemasjarakat masih selalu dinjanjikan oleh golongan pengarang, sekalipun kenjataan menundjukkan jang sebaliknja, jakni: bagi mereka jang litjin dan litjik sadja bagian jang bernilai dan banjak disediakan. Untuk meretas kesulitan2 ini, jang sebenarnja tidak berfaedah apapun djuga dibutuhkan kerdjasama jang erat antara golongan pengarang, golongan kritisi, golongan penjelenggara, sekalipun disaat ini rasa2nja belum mungkin, dan disamping itu terasa perlunja diadakan kampanje besar2an untuk menamakan pengertian kesusasteraan jang lebih didalam dunia pengertian masjarakat. Kritikus2 musiman, jang didiorong oleh motif gua hadjar lu, atau jang didorong oleh motif gua djangan dilupain jang didalam kritik2nja hanja bitjara tentang dirinja sendiri dan bukan tentang objek jang harus digarapnja, semua ini harus segera menginsafi kewadjibannja sebagai kritikus, atau kalau tidak mempunjai kemampuan harap segera meninggalkan pekerdjaannja jang tidak sehat ini. Pada suatu kali mungkin tuan mengundjungi sebuah restoran, tuan memesan satu porsi mi godog. Mungkin karena tuan memang tidak mempunjai selera makan, mungkin tuan sedang terpikat pada suatu objek jang kaja akan sex-appeal, mungkin djuga karena makanan itu memang tidak enak, maka tuan akan berseru sengit: kurangadjar! tidak enak! Seruan ini adalah kritik. Dan dibalik dinding, parakoki mentjoba dengan seluruh kemampuannja untuk mentjiptakan rasa jang tjotjok—jakni harmoni antara bumbu dan segalanja sehingga mendjadi mi godog. Tuan bisa pertimbangkan betapa gampangnja seorang kritikus terpeleset, pada pertimbangan-pertimbangan jang tidak sehat, sedang seorang koki, seorang pekerdja jang dimilikinja. Melihat kenjataan ini tidak salahlah dugaan umum betapa kadang2 golongan pengarang djemu dan bentji pada golongan kritikus, dan mengerti pulalah tuan lebih djelas lagi mengapa banjak tersiar berita kritikus di-maki2 pengarang, atau dilapangan lain kritikus digarap oleh torero atau bokser. Mungkin tuan akan meradang dan menjatakan, bahwa keragaman masjarakat modern dewasa ini sudah demikian pelik dan tiap2 orang berhak menduduki lapangannja masing2, dan bahkan wadjib bergerak dilapangan jang dipilihnja sendiri, dan orang tak perlu tjampurtangan baik setjara iseng maupun setjara amaturisme dilapangan jang samasekali tidak mendjadi daerah kejakinannja. Benar sekali, tetapi dilapangan kesusasteraan, lapangan jang sangat rapuh ini orang tidak bisa berlaku sembarangan dan kasar. Sebab, sebagaimana kesusasteraan ini dilahir oleh perasaan halus manusia, iapun menghendaki diperlakukan setjara halus pula. Antara golongan pengarang dan golongan jang tidak dikaruniai perabaan susastera ada banjak perbedaan jang adjaib. Buktinja, tuan terima tjinta tanpa ingin tahu dari mana datangnja. Golongan pengarang dengan sadar atau tidak bekerdja mentjarikan alasan2 kedjiwaan untuk tuan, agar tuan lebh sadar akan tjinta tuan, agar tuan miliki tjinta itu sebagai suatu keseluruhan, kulit bersama isi dan djiwa bersama nafasnja. Kesadaran inilah jang menjebabkan tuan bukan hanja tinggal sebagai hiasan pentjiptaan, hiasan sedjarah belaka, tetapi djustru pembentuknja sekaligus, djuga agar tuan sadar apa guna penderitaan serta kebahagiaan jang tuan tanggungkan bagi kebangunan djiwa tuan sendiri. Ini pulalah sebabnja mengapa saja tidak akan membantah, apabila salah seorang pudjangga mengatakan, bahwa kesusasteraan bekerdja dengan seluruh kemampuannja, dengan bahan2 dengan tjara dan thema tersendiri, dengan djurusan dan djiwa jang tersendiri pula. Sembahjang untuk kesedjahteraan djiwa tuan2. Dan bagi saja sendiri—sekalipun mungkin suatu hal jang patut dianggap lutju—pekerdjaan mengarang adalah suatu keibadahan.
Sintuhan jang bersifat menghantjurkan terhadap hasiltulisan amat terasa pedih dihati golongan pengarang. Dengan diam2 pengarang ini menjesali kekurangannja sendiri dalam menuangkan tjita kedalam bentuk sastera jang tepat. Ia dengan diam2 menangisi kelenaannja dalam menjugukan kemauan-baik dan kejakinannja. Memang, tuan, ada golongan pengarang jang hidupnja tiada lain daripada perangkaian njanjian atau pudjaan. Tetapi dalam hal ini lebih banjak dikemukakan golongan pengarang jang menjadari tempatnja didalam masjarakatnja—masjarakat jang masih hidup dan bergerak, —jang menjadari fungsinja sebagai tenaga jang diharapkan tenaga-perbaikannja. Perbedaan golongan diantara pengarang adalah paralel dengan perbedaan jang terdapat diberbagai lapangan, dan mungkin djuga disemua lapangan. Dan matjam karja jang telah diselesaikan dalam sesuatu kehidupan, inilah jang menentukan matjam nilai apakah manusia itu didalam pergaulan besar ini.
Demikianlah serba sedikit tentang kehidupan dan penghidupan seorang pengarang. Tentang modern atau tidaknja tak ada batas jang bisa menentukan, karena seperti telah dikatakan diatas, kemodernan terletak pada wudjud hasil karja jang telah ada dan kedua pada selera jang dominan didalam masjarakat pada waktu tertentu.
Tentang kerdja seorang pengarang, memang dalam banjak hal tertentu terdapat perbedaan besar daripada pekerdja biasa—buruh dok misalnja. Buruh ini bekerdja pada waktu2 dan hari2 tertentu. Pengarang tidak! Disaat tuan sedang mendengkur dirandjang dalam hangatan selimut atau benda2 lainnja, jang bisa dipergunakan untuk itu, banjak kali seorang pengarang sedang menari-narikan djari diatas mesintulis, atau ia sedang gentajangan kemana sadja kaki membawanja, jang mana diharapkan dapat merumuskan alasan2 rangsang perasaan atau pikiran jang sedang berketjamuk didalam djiwanja. Atau ia sedang mengulur angan mentjari sari2 kedjadian, tempo atau irama dalam kehidupan. Banjak kala angan itu demikian djauh, berajun antara benda2 jang ada untuk segera hilang—hilang dari ingatan, hilang dari angan itu sendiri—benda2 jang hanja ada dalam sekedjap sadja dalam hidup manusia dan kemudian hilang lenjap tiada tertemui kembali. Benda2 ini tidak bisa diraba, bahkan kadang2 djuga tidak oleh pikiran dan angan itu sendiri.
Kalau ada untung ia menjelinap kedalam bawah sadar untuk kemudian muntjul dengan tjerlang tjemerlang didalam suatu hasil tulisan tertentu. Tapi bila tidak ia merupakan arwah2 jang tidak pernah dilahirkan. Barangkali pada suatu kali ia menitis kedalam angan seorang pengarang lain, barangkali harus menunggu seribu tahun untuk bisa terdjilma diatas kertas, atau—tidak buat selama-lamanja. Begitu banjak benda2 itu dan berkilauan, berkedjapan dimasa seorang pengarang mengulur angan. Dalam keadaan demikian ia tidak bedanja dengan pemabok jang tidak menjadari adanja bumi. Seorang pengarang jang tjekatan barangkali mampu mentjatat segala jang telah dapat dipungutnja dari alam angan ini. Benda2 ini kemudian harus dirumuskan dengan kata2 jang tepat, sehingga tiap orang dapat membuktikan adanja, dapat mempersaksikan kehadirannja baik dengan pikiran ataupun perasaan. Benar, bahwa pengarang2 diwaktu achir2 ini banjak jang mendjurus kearah intelektualisme, mengutamakan bimbingan pikiran agung kedalam hasiltulisannja dan bukan berkisar pada emosi dan haruan belaka, tetapi tuanpun tahu, bahwa dalam dunia kesusasteraan mejakini masih tetap berharga daripada mengetahui. Ada terlampau banjak hal jang tidak terangkum oleh pikiran manusia seisi bumi, bahkan pikiran inipun tidak kuasa menterdjemahkan, dan hanja perasaan sadja dapat merabanja. Tidak djarang hanja kombinasi keadaan atau lukisan jang dilantunkan oleh perasaan dapat menterdjemahkannja dengan tepat, sedang pikiran tak mampu merumuskannja. Sementara itu buruh atau pegawai2, bahkan mungkin tuan sendiri, sedang asjik memelihara hal atau barang jang sudah lama ada. Golongan pekerdja lain mungkin hanja mengelap-elap atau menjemir kembali dikantor-kantor administrasi atau dibengkel-bengkel.
Perbedaan dasar pekerdjaan ini, jang mana segolongan hanja memelihara jang telah ada, dan golongan pengarang melahirkan dari tiada keada, inilah jang memberanikan saja mengatakan, bahwa kesusasteraan adalah bapa dinamik sesuatu bangsa manusia, baik dipandang setjara apapun djuga. Lahirnja bangsa2 besar selamanja dimulai oleh kesusasteraannja. Kesusasteraan telah mendahului ber-tahun2, berpuluh tahun sebelumnja. Tjita sosial, tjita pergaulan antara bangsa, pendeknja tjita pembentukan moral baru kemasjarakatan tidak mungkin lahir dengan mendadak dengan adanja revolusi ataupun perang kelahiran bangsa. Terlebih dahulu ia ditanamkan oleh pengarang dibumi kehidupan kemasjarakatan. Dan masjarakat inilah mendukungnja, jang memupuk dan memperdjuangkannja. Revolusi atau peperangan telah djauh terdahulu dimulai oleh sipengarang.
Barangkali tuan akan menuduh saja terlampau enthusias memperkenalkan pekerdjaan pengarang. Tapi, bila benar demikian, ini tiada lain daripada obrolan seorang jang terlampau mentjintai pekerdjaannja. Dan saja kira, semua pengarang akan sependapat dengan saja.
Alasan2 tersebutlah, jang membangkitkan keheranan golongan pengarang, mengapa kesusasteraan dimasa merdeka ini terasa amat dianaktirikan. Mungkin ini disebabkan karena kurangnja pengenal sastera diantara kita, jang mengabarkan tuah-tuah jang terkandung didalamnja. Djangan tuan heran apabila dikatakan, bahwa djuga seorang pengarang beladjar dari hasil tulisannja sendiri!
Apabila pekerdja2 dilain lapangan bergaul dengan bahan2 pekerdjaan jang dapat diraba atau setidak-tidaknja dapat dibuktikan, maka pengarang bergaul dengan bahan2 jang teramat halus dan tak djarang memang tak dapat atau susah untuk dibuktikan, apapula diraba. Ia hidup didalam pertentangan2 besar antara tjita satu dengan lainnja, berbagai matjam tjita jang simpangsiur datang dari segala benua, pertentangan antara nafsu2 rendah dan kehendak untuk meningkat kearah kerohanian jang lebih tinggi, pendeknja segala matjam pertentangan jang sifatnja boleh dikatakan abstrak, sehingga keriuhan didalam djiwanja itu banjak kala menjebabkan ia lupa pada kenjataan2 ketjil diselingkungan dirinja sendiri. Tidaklah begitu mengherankan apabila umum berpendapat, bahwa seorang pengarang tidak mungkin bisa berdagang, tidak mungkin mempunjai disiplin pegawai apabila ia bekerdja sebagai pegawai. Apabila tidak ada kekuatan2 lain jang memaksa, barangkali pendapat umum tersebut benar belaka. Tjontoh dari kekuatan lain ini misalnja tangis anak ketjil, dan anak ketjil itu adalah anaknja sendiri, dan anak itu sakit, ia lapar. Keadaan atau kekuatan sematjam itu memaksa sipengarang untuk menjadari kelilingnja, dan dia dipaksa berkompromi dengan kelilingnja. Tetapi ada pula golongan pengarang jang tidak mau berkompromi. Golongan ini jang biasa dinamai bohemien, ia enggan berbagi dengan siapapun djuga, nafsu menjatakan dirinja lebih kuat daripada kekuatan2 kemasjarakatan diselingkungannja. Dan para pengarang dari golongan terachir ini dapat dikatakan selamanja tewas dimedan kemasjarakatan, dapat kehidupan pentjiptaan ia mungkin telah memberikan segala jang ia punja, mengajakan mereka jang menderita kemiskinan kedjiwaan, tetapi didalam kehidupan kemasjarakatan ia terpaksa mesti djadi pengemis, atau setidak-tidaknja berkekurangan.
Kadang2 dalam pekerdjaannja pengarang memperoleh bahan dari visiun-visiun jang amat rapuh, bahkan djuga amat rapuh sekalipun hanja untuk dikenangkan—visiun2 jang tak djarang muntjul dikala sipengarang terajun-ajun antara djaga dan tidur. Begitu djelas ia nampak begitu gilang gemilang dan menakdjubkan, tapi serenta sipengarang lebih banjak memiliki kesadaran, ia lenjap untuk selama-lamanja. Ia lenjap tidak meninggalkan bekas, sekalipun didalam ingatan, sekiranja visiun itu tidak muntjul dalam wudjud jang dahsat. Bekas-bekas jang sedikit, jang tertinggal didalam ingatan sipengarang, oleh sipengarang dengan segala tenaga kedjiwaan jang ada padanja ditjoba untuk direkonstruksikan. Dan apabila tuan tahu, bahwa banjak kala bekas2 itu hanja berupa kenikmatan atau sebaliknja kedjidjikan belaka, tidak lebih dan tidak kurang! Tenaga kedjiwaan jang hendak merekonstruksikan ini mesti mentjari bahan2 jang mengakibatkan terdjadinja kenikmatan atau kedjidjikan tadi. Dan kalau tuan tahu, bahwa dalam kehidupan manusia ini hanja ada satu matjam kenikmatan dan kedjidjikan, dan apabila ada perbedaan, maka perbedaan itu hanja terletak pada nilai dan warnanja belaka, dapatlah tuan bajangkan sendiri betapa berat pekerdjaan pengarang itu dalam merekonstruksikan bahan-bahan tersebut agar kenikmatan atau kedjidjikan jang dibekaskan oleh visiun itu dapat tuan2 terima dalam keadaan jang utuh. Mungkin rekonstruksi ini dilakukan dengan mempergunakan kata2 jang langsung, mungkin pula dengan perbandingan2, mungkin pula dialirkan kedalam suasana. Ternjata, bahwa dalam segi ini pekerdjaan seorang pengarang tidak banjak berbeda dengan seorang detektif, dan seorang penjelidik, expediteur sekaligus.
Barangkali tuan akan mengatakan, bahwa semua itu hanjalah pekerdjaan routine, dan karenanja tak perlu dibesar-besarkan. Dalam hal ini mungkin ada seorang pengarang jang telah berhasil dapat menganggap pekerdjaannja sebagai routine karena terlampau biasa mengerdjakannja. Tetapi hal demikian terlampau djarang terdjadi, karena situasi pekerdjaan itu selamanja berlainan an berubah-ubah daripada pekerdjaan jang sudah2, dengan urutan dan inti jang djuga berlainan daripada jang sebelumnja. Berbeda halnja dengan motif kedjahatan jang harus ditjari oleh seorang detektif, jang selamanja sematjam, jakni hasrat hidup jang berlebih-lebihan dibandingkan dengan manusia normal. Dan disamping itu suasana hati pengarang dalam kehidupannja sehari-hari mengambil peranan jang amat penting dalam pekerdjaannja. Seorang pengarang jang sedang dalam suasana amarah, berahi, kelengangan, rindu dan sebagainja akan merasa lebih sulit atau lebih mudah melakukan pekerdjaannja, dan perasaan2 se-waktu2 itupun memberi pengaruh jang merusak ataupun membangun pada karangan-karangannja.
Motif2 kedjahatan oleh seorang detektif dapat ditjarinja dengan penjelidikan, dan bahan-bahannja direkonstruksikan—bahan2 jang njata dan dapat dibuktikan. Bagaimana halnja dengan pengarang! Keindahan, kebagusan, haruan, jang semuanja bersifat subjektif ini, dan bagi seorang pengarang harus dibuktikan untuk djuga dapat dikenali oleh pembatjanja—adalah pekerdjaan jang lebih rumit daripada pekerdjaan teknik jang serumit manapun djua. Apabila ada seorang menjatakan, bahwa djustru karena tak dapat dibuktikan dan dikenali itulah pekerdjaannja mengarang lebih gampang tidak bisa dikontrol, dan bisa dilakukan setjara serampangan. Mungkin djuga pernjataan ini benar, tetapi kebenaran jang mutlak terletak pada: bagaimana sesungguhnja pengarang2 itu bersikap terhadap pekerdjaannja. Terutama diantara paratjalon pengarang sendiri banjak timbul salah djuga: jakni, djustru karena tidak bisa dikontrol inilah tiap pengarang boleh mengarang seenak hatinja. Biasa ini disebabkan karena karangan2 jang baik dan berhasil selalu memantjar sebagai kebulatan kesederhanaan. Kesederhanaan, karena disebabkan adanja tenaga2 jang logis! Djuga salahduga ini banjak kala menjebabkan pekerdjaan pengarang dianggap sebagai pekerdjaan main2. Padahal tidak djarang terdjadi seorang ppengarang membutuhkan waktu berhari-hari lamanja, bahkan kadang2 lebih lama daripada waktuitu untuk menuliskan kalimat2 dalam beberapa alinea. Berbahagialah pengarang jang dapat menulis lantjar dengan hasil jang gilang gemilang pula, sekali reguk bisa berpanen sukses dan pengakuan! Tetapi sukses dan pengakuan itu sebenarnja tidaklah bisa diperoleh dengan begitu sadja. Djuga tidak mungkin ia memperolehnja begitu sadja. Sukses dan pengakuan itu hakikatnja telah dipersiapkannja lama sebelum pengarang itu mulai beladjar menulis, jakni sedjak pengarang itu memiliki kesadaran, sedjak ia berumur empat atau enam tahun. Sedang sukses dan pengakuan itu hanja dapat dipaneni pada waktunja jang tepat, sedang ketepatan waktu ini tidak bisa diperhitungkan oleh akal manusia. Tak ada seorangpun diatas dunia ini bisa memperoleh sukses dan pengakuan tanpa persiapan sebelumnja. Dan bagi seorang pengarang persiapan itu tidak lain daripada, gumpalan dan bongkahan2 hidup pribadi dirinja sendiri: kesakitannja, keharuannja, kegirangannja, dambaannja, njanjian dan pudjaannja, angan dan tjitanja, asmara dan dendamkesumatnja—pendeknja se-gala2nja jang ada pada dirinja.
Akibat dari salahduga paratjalon pengarang ini selamanja melahirkan hasil2 tulisan jang djauh lebih banjak daripada hasiltulisan jang berhak dinamai hasilkesusasteraan. Ini terdjadi dan akan terdjadi dimanapun djuga tuan berada, terutama didaerah-daerah, dimaan norma2 kesusteraan hantjur atau belum terbentuk. Mereka ini membandjiri tiap kesempatan jang ada dengan tulisan2-nja. Dan kurangnja bimbingan rasa susastera, baik dikalangan penerbit maupun pembatja di Indonesia dewasa ini, mengakibatkan: jang pahit dan tidak diharapkan menimpalah pada golongan pengarang jang pertjaja, bahwa satu2nja pengutjapan hidupnja, jang menghubungkan dirinja dengan pergaulannja, dengan masjarakatnja, hanja satu, —tulisannja. Kehilangan ini untuk tuan2 mungkin tidak berarti apa2, barangkali tuan memandangnja sebagai serdadu jang tewas dimedan pertempurna kemudian tjukup dihibur dengan sebutan pahlawan atau didirikan tugu untuknja. Tapi bagi pengarang itu sendiri kehilangan ini, walaupun diutjapkan setjara kiasan, berarti kehilangan hubungannja, hidup terpentjil disegumpal tanah jang bukan lagi mendjadi buminja, karena djiwanja terputus dari alat2 perhubungannja dengan masjarakatnja.
Tuan, seorang biksu, biksuni atau pertapa, bila meninggal dunia, maka ia meninggal setjara kudus, karena ia jakin, bahwa segala darmanja telah dibaktikannja pada sesuatu jang dipudjanja. Ia mati dengan kerelaan, karena kejakinannja, bahwa ia telah kerdjakan segala jang ia rasa djadi kewadjibannja, baik terhadap manusia, dunia dan sesuatu jang dipudjanja. Tetapi berbeda dengan seorang pengarang seperti dilukiskan tadi. Bila ia mati, ia mati dalam keadaan penasaran. Ia tahu masih banjak jang harus dikatakan dan diperbuatnja, tetapi orang tidak mau menerimanja. Ia menjesali kelambanan sesamanja, barangkali djuga ia menjesali djamannja. Ia tak ubahnja dengan pendjahat terkutuk jang mati dalam pelarian dan persembunjiannja dibelukar, diketemukan sesudah mendjadi busuk dan tiada berharga. Suatu utjapan jang mengerikan mengatakan, bahwa terdjadinja pengarang adalah permulaan suatu kutukan jang harus dipikul terus menerus—seorang pengarang adalah kudabeban jang selalu menghamba pada manusia, tetapi tidak selamanja menerima terimakasih jang sewadjarnja. Sukses keuangan jang mungkin diterimanja selamanja tidak seimbang dengan segala jang telah diberikannja, ia tidak lain daripada suatu hiburan jang murah dan bersifat sementara, dan sementara itu ia telah banting segala kartunja, ia tidak membutuhkan atau lebih tepat dikatakan tidak mempunjai perlindungan sebenangpun terhadap amarah dan tjatjian masjarakat. Setjara kiasan dapat dikatakan, seorang pengarang adalah seorang jang vogelvrij verklaard. Karena itu, tanpa sesuatu kejakinan jang pasti, lebih baik djangan mendjadi pengarang. Mungkin tuan akan bertanja: bukankah sementara itu pengarang mendapat kemashuran? Ah, tuan, kemashuran bisa diperoleh tiap orang dengan setjara gampang. Tjontoh untuk ini terlampau banjak terdapat dalam sedjarah. Pembunuh Willem van Oranje djuga termashur. Tetapi saat2 terachir dari kematian pengarang djauh lebih mengharukan. Kenangkan kematian Chairil, Tolstoi, Allan Poe, Zola, Babel, Amir Hamzah, dan dapat tuan sebutkan puluhan nama lagi kalau kurang tjukup.
Memang, karja2 seorang pengarang biasanja diikuti oleh perkembangan namanja didalam masjarakat. Seorang pengarang jang baru mentjoba merebut „pasaran” pembatja sanggup mengurbankan segala-galanja untuk mendapat nama. Dapat dikatakan, ia sanggup menderitakan segala-galanja. Inilah romantik masa perdjuangan pertama—hakikatnja romantik dari semua idealis. Djiwanja lebih besar, dapat mengalahkan kebutuhan2-nja akan material2 praktis buat kehidupannja. Tidak salah bila tuan banjak melihat pengarang2 baru jang hidup moratmarit, segala tidak terurus, tetapi bila dalam pembitjaraan bersama persoalan menjangkut pada selukbeluk kesusasteraan, maka sekali sulap mereka ini mendjadi manusia2 lain. Lihat matanja jang menjala-njala, gerak-geriknja jang hidup, suaranja jang lantjar meluntjur dari lubuk kepertjajaannja. Dalam keadaan demikian seakan makan, minum, kesehatan dan pakaian hanja barang2 sambil lalu dalam hidup, dan djustru demikian bagi kurun romantik mereka ini. Tetapi tuanpun tahu, bahwa tiap pengarang adalah idealis jang tidak berhenti pada satu tjita sadja. Tjita jang telah terebut mendjadi kenjataan akan diikuti oleh tjita lain jang harus direbut pula, dan seterusnja. Artinja, bahwa tambah lama mereka ini tambah menjadari kebutuhan2 material untuk kehidupannja.
Tambah djauh berdjalan, tambah berkurang masa romantik ini. Dan bila seorang pengarang telah mendapat nama didalam masjarakat, mautakmau ia harus pertahankan nama ini, seperti djuga dalam ketentaraan. Tetapi bila dalam ketentaraan ketegangan uratsaraf ini berlaku hanja untuk sementara sadja, seorang pengarang mengalaminja sepandjang hidupnja, selama ia masih merasa diri pengarang. Dan tuan tahu sendiri, mempertahankan selamanja lebih sulit daripada menjerang atau merebut.
Seorang pengarang jang telah berpengalaman mengetahui benar, bahwa kritik2 daripada parapengarang baru, jang pada hakikatnja kritikan mereka ini sedikit-banjaknja tidak lain daripada usaha menaikkan nama sendiri setaraf dengan orang jang dikritiknja, dan karenanja tak perlu benar mendapat perhatian. Tetapi musuh seorang pengarang adalah kemundurannja sendiri! Terutama bagi para pengarang Indonesia jang dilahirkan dalam usia muda, kemunduran ini amat tjepat datangnja sebagaimana djuga amat tjepat kelahirannja sebagai pengarang. Para pengarang atau peminat jang romantis sering mentertawakan masalah umur seseorang sebagai pengarang. Namun dipandang dari sudut manapun, umur merupakan faktor penting jang tidak bisa diabaikan.
Suatu kali tuan menghadapi buku kesusasteraan, mungkin tuan terpikat oleh tjeritanja, kagum padh gajanja, tetapi bila dihubungkan buku itu dengan segala jang telah dikurbankan oleh pengarangnja, tuan akan memasuki alam kehidupan pengarang itu sendiri, mungkin hanja dengan sajup2 sadja terasa oleh tuan, bahwa segala-galanja telah dipertjajakan oleh pengarang itu didalam tulisannja. Dengan ingatan pada kehidupan pengarang, mungkin tuan bisa mentjintai kesusasteraan, sebagaimana tuan mentjintai segala jang memberi tuan harapan jang indah2, jang menguntungkan dan jang menjenangkan.
POTRET DIRI oleh Karjono. (Foto: Djaw. Kebud. Djatim)