Publisher Note
Artikel ini dimuat dalam majalah Djawa Baroe, edisi No. 5 Th. I, pada 1 Maret 1943.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Ketoea Moeda Toean
K. H. Dewantara
Kini datanglah waktoenja kita ra’jat Indonesia dipoelau Djawa dan Madoera, akan dapat kesempatan oentoek menjelenggarakan segala kekoeatan dan tenaga kita goena pembangoenan masjarakat baroe. Ini boekan sadja Kewadjiban bagi kita, tetapi seharoesnjalah kita rasanja sebagai hak kita. Keinsjafan akan itoe pastilah akan meringankan beban jang soenggoeh berat dan boleh djadi akan meminta matjam2 pengorbanan, baik dari kita sebagai seseorang maoepoen sebagai ra’jat bersama.
Jang pertama kali djanganlah kita loepakan, bahoea kedatangan Balatentara Dai-Nippon benar2 mengadakan „pembalikan zaman”, jang biasanja haroes dibiajai dengan beriboe-riboe djiwa manoesia, akan tetapi karena berkat kesentausaan tentara perdjoerit darat, laoet dan oedara dari J. M. M. Tenno Heika, dalam sedikit waktoe sadja dapat diselesaikan dengan tak mengalirkan darah dari fihak ra’jat. Patoetlah karenanja, kita berterima-kasih kepada Balatentara Nippon dengan keinsjafan, bahoea hanja Dai-Nipponlah jang dapat melenjapkan kekoesaan dan pengoeasa bangsa Barat dinegeri kita ini. Beratoes-ratoes tahoen ra’jat kita mentjoba berkali-kali, dengan tjara pemberontakan jang besar-besaran atau setempat-tempat, moelai djaman Mataram hingga djaman jang achir-achir, mentjoba mendjatohkan kekoeasaan Belanda jang menindas ra’jat kita, sajang seriboe sajang, selaloe sia-sia belaka. Soenggoeh negeri kita, sajang seriboe sajang, selaloe sia-sia belaka. Soenggoeh negeri Nederland ketjil, dan lemah, tetapi bantoean belakang dari negeri2 Eropa lain, teristimewa Inggeris dan Amerika, teroes mengokohkan segala sifat daulat bangsa Belanda, diseloeroeh kepoelauan kita Indonesia.
Sekaranglah kita terlepas dari kalangan bangsa Eropa. Kalau ini benar-benar jang kita harap-harapkan sedjak ra’jat ita berdjoeang oentoek kemakmoeran noesa dan bangsa, maka rasa-kesetriaan kita seharoesnjalah mendorong pada kita oentoek memberi biajanja. Djanganlah kita merasa poeas djika beloem menjerahkan soembangan jang setimpal dengan bagian kemakmoeran jang kita harapkan itoe. Djanganlah kita soeka menerima semata-mata tidak dengan soeka memberi poela. Djanganlah kita bertabi’at „pengemis”, jang tjoema meminta-minta tidak dengan bekerdja.
Watak jang seboeroek itoe boekanlah watak kita; boekanlah sekali-kali tabi’at ra’jat kita. Tindjaulah ke-belakang, ketahoeilah riwajat bangsa kita sendiri, jang teroes meneroes tak dengan berpoetoes asa selaloe memberi perlawanan, jang soenggoehpoen tak berhasil, tetapi tjoekoep memboektikan sifat kesatriaan dan keloehoeran-boedi dalam oemoemnja. Ingatlah pada perlawanan Sultan Agoeng dengan Pangeran Poeroebaja sebagai panglima besarnja, jang melawan Jan Pieterszoon Koen dengan tjara jang heibat dan mengagoemkan. Ingatlah bagimana Pangeran Mangkoeboemi mereboet kekoeasaan Koempeni jang meradjalela diseloeroeh tanah Djawa; dan walaupoen kemoedian beliau terpaksa menerima kontrak-damai jang membagi Mataram mendjadi Soerakarta dan Jogjakarta, tetapi perlawanannja soenggoh2 memboektikan tabi’at keberanian dan keloehoeran boedinja. Ingatlah pada langkah-lakoe sang Ksatria Pangeran Diponegoro, jang memboektikan poela, bahoea ra’jat kita boekanlah ra’jat jang lemah atau pengetjoet.
Kini datanglah waktoenja, kita menjelenggarakan segala tenaga kita oentoek membangoenkan masjarakat baroe. Balatentara Dai Nippon telah memboeka pintoe gerbang pendjara, jang beratoes-ratoes tahoen menoetoep kita dalam soeasana gelap goelita. Pemerintah Nippon telah bermoerah hati memberi kesempatan pada kita oentoek toeroet membentoek masjarakat kita jang haroes baharoe segala-galanja. Djanganlah ini hanja dirasai sebagai „kewadjiban” tetapi sebagai „hak” poela.
Marilah kita semoea memberi tenaga kita, jang pertama-kali oentoek menjokong Pemerintah akan tertjapainja kemenangan achir; karena inilah tanggoengan timboelnja Asia-Raja jang dengan sendiri akan menimboelkan masjarakat baroe di Djawa.
Amin, amin, amin!