Baca EPUB: gema-revolusi-rusia-di-indonesia

7 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
SOE HOK GIE
Gema Revolusi Rusia di Indonesia
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Artikel ini diterbitkan di mingguan Djaja pada 7 November 1964 dalam edisi No. 146.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

PADA tanggal 8 Maret 1917 di Petrograd1 tidak berbeda dengan pagi2 sebelumnja. Udara masih agak dingin karena musim semi baru sadja akan tiba. Djalan2nja djuga sebagai biasa, dan wanita2 jang lapar djuga sebagaimana biasa antri dimuka toko2 roti. Tidak ada seorangpun jang menjangka bahwa hari itu akan mendjadi salah satu hari jang terpenting dalam sedjarah Rusia, djuga sedjarah dunia.

Dalam antri ini terdjadi kerusuhan2. Keesokan harinja polisi dipanggil untuk mentertibkannja dan polisi menembaki wanita2 jang lapar tadi. Tindakan se-wenang2 ini didjawab dengan pemogokan2 oleh buruh2 dipabrik, dengan mogok sekolah oleh peladjar. Suasana kini mendjadi katjau. Rakjat jang telah be-ratus2 tahun ditindas oleh rezim Tsar kini mulai berontak. Mereka berbaris di-djalan2 dan menjanjikan lagu La Marseillaise:

Bangkitlah, wahai putra2 Ibu Pertiwi

Hari jang berbahagia telah tiba

Marilah kita bangkit melawan kesewenang2an.

Tentara jang diperintahkan untuk menembaki demonstran menolak, karena merekapun merasai kebenaran dari pada tuntutan2 Rakjat. Tentara Tsar memihak rakjat, dan senapan2 kini diarahkan pada perwira2 mereka sendiri. Revolusi Rusia kini telah meletus, fadjar perdjuangan jang djaja bagi kaum jang terhina dan tertindas telah menjingsing.

Kemenangan Rakjat tertindas

Berita2 tentang pemberontakan kaum buruh ini dengan tjepat tersebar keseluruh dunia. Sepuluh hari kemudian, 18 Maret 1917, berita2 pertama tentang penembakan wanita2 jang lapar, tentang pemogokan2 buruh dan peladjar, tentang memihaknja tentara kepada rakjat jang tertindas, sampai ke Indonesia. Djam delapan malam, berita itu sampai ketangan seorang tokoh sosialis Belanda di Semarang, Sneevliet. Apakah jang lebih mengharukan bagi seorang sosialis, selain daripada berita kemenangan kaum buruh di Rusia. Sneevliet tergerak hatinja, perasaannja me-luap2 dan malam itu djuga ia menulis artikel jang diberinja djudul Kemenangan (Zegepraal). Mendjelang pagi artikel ini siap, dan akan merupakan salah satu artikel jang terpenting untuk sedjarah Indonesia moderen.

„Telah ber-abad2 disini hidup ber-djuta2 rakjat jang menderita dengan penuh kesabaran dan keprihatinan, dan sesudah Diponegoro tiada seorang pemuka jang menggerakkan massa ini untuk menguasai nasibnja sendiri.

Wahai rakjat di Djawa, Revolusi Rusia djuga merupakan peladjaran bagimu. Djuga rakjat Rusia ber-abad2 mengalami penindasan tanpa perlawanan, miskin dan butahuruf seperti kau.

Bangsa Rusiapun memenangkan kedjajaan hanja dengan perdjuangan terus-menerus melawan pemerintahan paskaan jang menjesatkan.

Djuga di Rusia sarekat2 buruh dipimpin oleh Pemerintah. Kebaktian kepada kemerdekaan adalah kebaktian jang berat. Kebaktian itu tidak mengidjinkan kelemahan, rasa takut, ketidakpastian.

Kebaktian itu menghendaki keseluruhan kepribadian, keberanian, diatas segala2nja keberanian.

Apakah lontjeng kegembiraan sekarang djuga menggema dalam hati kita?

Apakah penabur dari benih propaganda untuk politik radikal dan gerakan ekonomi rakjat di Indonesia memperlipat kegiatannja?

Dan tetap bekerdja dengan tak henti2nja, meskipun banjak benih djatuh diatas batukarang dan hanja nampak sedikit jang tumbuh?

Dan tetap bekerdja melawan segala usaha penindasan dari gerakan Kemerdekaan ini?

Maka tidak bisa lain bawah Rakjat di Djawa, diseluruh Indonesia akan menemukan apa jang telah ditemukan oleh rakjat Rusia: kemenangan jang gilang-gemilang.”2

Kolonialis ketakutan

Pagi2 sekali Sneevliet menilpon Dr. Tjipto Mangunkusumo, seorang tokoh anti-kolonial dan pimpinan umum harian De Indiër, menawarkan apakah hariannja mau memuat artikelnja. Dr. Tjipto setudju tetapi menjuruhnja membawa kepada Later, penanggungdjawabnja. Oleh Later kemudian artikel ini diperlunaknja, tetapi untuk telinga Belanda masih terlalu keras. Hari itu djuga artikel Sneevliet „KEMENANGAN” (ZEGEPRAAL) muntjul menghias harian De Indiër. Suara2 revolusi Rusia, kini djuga berkumandang di-desa2 dan kota2 Indonesia3 .

Pada waktu situasi mengenai revolusi Rusia tidak djelas untuk orang2 di Indonesia. Berita2 jang datang pada umumnja singkat2 dan hampir semuanja datang dari kantor2 berita Barat, jang telah mewarnai fakta2 disekitar revolusi Rusia. Walaupun mereka pemimpin2 Indonesia tidak mengetahui setjara djelas tentang revolusi Rusia, tetapi setjara intuitip, mereka sadar bahwa sesuatu peristiwa jang maha penting dalam sedjarah dunia moderen telah terdjadi. Tidak lama setelah berita2 pertama tiba tentang revolusi Rusia, I.S.D.V. dan Insulinde meminta idjin kepada pemerintah kota-pradja Semarang, agar boleh mendiskusikannja, tetapi oleh Belanda ditolak. Demikian pula ketika Insulinde ingin mengadakan peresmian tjabang Bandung, Belanda mengidjinkannja tetapi dengan sjarat bahwa soal Revolusi Rusia tidak boleh di-singgung2 dan Sneevliet tak boleh diundang. Sikap Belanda ini tak usah diherankan, karena revolusi Rusia akan merupakan ilham jang besar bagi perdjuangan rakjat2 jang tertindas4 . Apakah jang lebih ditakuti oleh suatu rezim jang memeras dan menipu rakjat, selain daripada kemenangan perdjuangan dari rakjat murba?

Proses peradilan Sneevliet

Untuk sedjarah Indonesia, djuga untuk sedjarah perdjuangan rakjat Asia, nama Sneevliet sangat penting karena pengabdiannja jang terus-menerus bagi perdjuangan rakjat Asia. Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet dilahirkan pada tahun 1883 di Rotterdam dari seorang keluarga Katolik jang saleh. Setelah menamatkan pendidikan H.B.S. dikotanja ia aktip dalam gerakan serikat buruh Belanda. Dalam usia jang muda ia sudah mendjadi pemimpin buruh dinegerinja. Pandangan2nja jang revolusioner membuat hubungannja agak renggang dengan tokoh2 moderat sosialis Belanda, dibawah Troelstra. Tetapi walaupun demikian ia tidak meninggalkan partai sosialis Belanda (S.D.A.P.).

Dalam tahun 1912 ia memimpin pemogokan kereta api, tetapi partainja, S.D.A.P., tidak mau menjokongnja. Ketjewa karena sikap Troelstra, achirnja ia keluar dari S.D.A.P. Nasib membawanja datang ke Indonesia dalam tahun 1913. Ia sangat gembira, ketika ia sampai di Indonesia karena melihat militansinja perdjuangan rakjat Indonesia, tetapi ia djuga sangat ketjewa karena perdjuangan S.I. jg. militan kemudian diringkus oleh Dr. Rinkes5 . Setelah sebentar bekerdja di „Soerabajaasche Handelsblad”, kemudian ia bekerdja pada sebuah perkumpulan dagang di Semarang dgn. gadji jg. sangat besar. Setjara ekonomis Sneevliet kini benar2 mendjadi orang makmur. Gadji besar pangkat tinggi, terdidik dan disegani oleh masjarakat Belanda. Walaupun demikian ada sesuatu hal jang membuatnja resah…simpatinja jang sangat besar pada rakjat Indonesia jang terhisap diperbodoh oleh kapitalis2 Belanda.

Dalam tahun 1914 ia mendirikan sebuah perkumpulan sosialis pertama di Indonesia, Indische Sociaal Democratische Vereniging, dan ia sendiri mendjadi ketuanja. I.S.D.V. adalah perkumpulan jang militant anti kapitalis. Madjikan2 Sneevliet achirnja mengultimatum Sneevliet „pilih pekerdjaan atau partai”. Tanpa ragu2 Sneevliet meninggalkan pekerdjaannja dan berdjuang memihak rakjat Indonesia. Pilihan ini djuga berarti memilih kemiskinan, demi kedjudjuran terhadap rakjat. Dan dalam tahun 1917, karena artikelnja jang sudah kita kutip diatas ia diseret kemuka pengadilan Belanda di Semarang.

Siapakah jang diadili?

Hari Selasa 20 Nopember 1917 dipengadilan Semarang. Publik jang menghadiri sidang hari Selasa ini agak berbeda dengan hari2 lainnja. Bila biasanja jang menghadiri sidang2 adalah rakjat biasa sadja, tetapi kini jang menghadiri kebanjakan wartawan2, politisi dan pemuka2 masjarakat Indonesia di Semarang. Hakim Mr J.G.J. Oetens van Waren Pancards Clificiel dengan stafnja duduk berhadapan dengan terdakwa Sneevliet jang waktu itu berumur 34 tahun. Segera setelah sidang dibuka, djaksa membatjakan tuduhan2 satu demi satu a.l. menghasut rakjat, menghina Pemerintah, menghina pengadilan dan seribu satu tuduhan sebangsanja. Tanja djawab terdjadi dan saksi satu demi satu dipanggil. Saksi Later dalam pengadilan ini kemudian bersikap pengetjut, tetapi banjak pula saksi2 lain jang bersikap heroik. Dengan tangkas dan mejakinkan Sneevliet berhasil membantah tuduhan2 djaksa kolonial.

Diantara hadirin jang datang mendengarkan proses Sneevliet terdapat Semaoen dan Darsono. Semaoen adalah seorang pemuda jang baru berumur 19 tahun, tetapi walaupun demikian ia adalah ketua S.I. Semarang jg. beranggautakan 20.000 orang. Sedjak umur 17 tahun, pemuda Semaoen telah aktip berketjimpung dalam bidang perburuhan, dan ia adalah pemimpin Sarekat Buruh Kereta Api (V.S.T.P.). Mungkin Semaoen tidak menjangka bahwa 18 bulan kemudian ia akan mengalami nasib jang serupa, diadili sebagai “penghasut”.

Mendekatkan Darsono dan Semaun

Darsono adalah seorang pegawai lulusan sekolah pertanian, dan untuk beberapa saat ia pernah bekerdja disebuah perkebunan. Setiap hari ia melihat praktek2 kolonial diperkebunan-perkebunan, sehingga achirnja berontak djiwanja dan berhenti dari pekerdjaannja. Ia datang ke Semarang sebagai pemuda umur 19 tahun jang djuga tidak puas dengan keadaan masjarakat kolonial. Dan setjara tak disadarinja ia datang kepengadilan mendengarkan persidangan Sneevliet. Baru2 ia tjuriga apakah Sneevliet, si Belanda, ichlas membela rakjat Indonesia. Perkenalannja lebih landjut dalam sidang pengadilan dengan Semaoen dan Sneevliet, achirnja mejakinkannja akan ketulusan dari perdjuangan mereka. Iapun tak pernah menjangka bahwa setahun kemudian, ia akan mengalami nasib jang sama dengan Sneevliet, dilempar kependjara dan diadili sebagai “penghasut” rakjat. Nasib telah membawa Semaoen dan Darsono sebagai tokoh2 perdjuangan rakjat Indonesia melalui sidang pengadilan Sneevliet.

Saksi2 dipanggil sati demi satu, dan achirnja Djaksa kolonial menuntut Sneevliet 9 bulan pendjara. Dalam kesempatan pembelaan dirinja jang berlangsung beberapa djam, Sneevliet kini membuktikan kebenaran tulisannja, bahwa Pemerintah adalah alat sadja dari kaum kapitalis, bahwa Pemerintah telah memeras dan memperbodoh rakjat. Kini sidang berbalik. Pemerintah kolonial adalah terdakwanja, Sneevliet adalah penuntut umum, dan hadirin bersama2 seluruh rakjat Indonesia jang mendjadi hakimnja. Walaupun “tuntutan” Sneevliet supaja “rakjat Indonesia” dibebaskan dari belenggu pendjadjahan tidak terlaksana pada saat itu, tetapi achirnja vonnis terhadap Pemerintah Kolonial datang pada 17 Agustus 1945 dengan lahirnja Proklamasi.

Dalam pembelaan dirinja, jg. 90% merupakan gugatan politik terhadap pemerintah kolonial, Sneevliet dengan baiknja memberikan landasan2 theori kepada tuntutan rakjat Indonesia. Pidato ini kemudian dibukukan: “Het Proces van Sneevliet”, banjak sekali memberikan sumbangan bagi studi politik sosialis Indonesia.

Oleh hakim, kemudian Sneevliet dibebaskan, akan tetapi kebebasan ini tak lama berlangsung. Setahun kemudian, ia diusir dari Indonesia.

Sumbangan Revolusi Rusia

Banjak sekali orang jang berpendapat bahwa pergerakan rakjat Indonesia dipengaruhi oleh kedjadian2 diluar negeri. Memang hal ini benar, tetapi pengaruh tadi hanjalah pengaruh tambahan, karena sebab2 dari pergerakan rakjat terletak di Indonesia sendiri. Revolusi Rusia djuga ikut mempengaruhi pergerakan rakjat diachir tahun2 belasan, dan hal ini njata dari proses pengadilan Sneevliet, ketakutan Belanda terhadap berita2 mengenai revolusi Pebruari (lebih2 revolusi 25 Oktober), akan tetapi walaupun bagaimana kondisi internlah jang lebih menentukan perdjuangan rakjat Indonesia. Seperti halnja dengan revolusi Tiongkok, Turki dll, revolusi Rusia ikut mempengaruhi Sedjarah Indonesia, tetapi kesemuanja hanja sebagai pengaruh tambahan sadja.

Sebagai achir karangan ini baik kita lihat perdjuangan Sneevliet lebih landjut. Achir tahun 1918 ia diusir dari Indonesia, dan lalu setelah sebentar diam dinegeri Belanda, ia aktip dalam gerakan Komintern di Timur Djauh. Ide2nja tentang perlunja persekutuan antara kaum proletar dan kelas burdjuasi nasional, dalam tahap perdjuangan nasional demokratis, sangat banjak mempengaruhi pemikiran2 theoritis Partai Komunis Tiongkok. Mendjelang 1930 ia berselisih dengan Stalin, jang menjebabkan ia keluar dari Partai Komunis. Walaupun demikian gerakan dan semangat revolusionernja tetap bernjala2. Ketika Belanda diduduki oleh kaum Nazi, ia aktip memimpin gerakan dibawah tanah, dan ketika ia tertangkap oleh kaum Nazi ia dihukum mati (1942).

Oleh Belanda Semaoen kemudian dibuang (1923), dan beliau baru kembali ketanah air dalam pertengahan tahun 1960. Darsono djuga dibuang oleh Belanda dalam tahun 1926, dan baru pada tahun 1950 beliau kembali dari pembuangannja.

Soe Hok-gie

Tjatatan:

Pada waktu revolusi Rusia meletus, di Rusia masih dipakai penanggalan lama, jang berbeda dengan penanggalan jang dikenal oleh dunia internasional. Selisih antara kedua penanggalan ini 16 hari. Revolusi pertama jang meletus di Petrograd menurut perhitungan penanggalan lama petjah pada tanggal 23 Pebruari, atau dengan penanggalan baru pada tanggal 8 Maret. Walaupun demikian revolusi itu disebut revolusi Pebruari.

Revolusi jang kedua petjah pada tgl. 25 Oktober (kalender lama), tetapi menurut perhitungan baru djatuh pada tgl. 7 Nopember. Walaupun demikian revolusi jang kedua ini disebut revolusi Oktober. (Red.)


1Kini Leningrad.


2Terdjemahan ini diambil dari „Sosialisme Indonesia” oleh Dr. H. Roeslan Abdulgani. (1960).


3Mengenai peristiwa ini lihat proses pengadilan Sneevliet jang dimuat antara tanggal 21 Oktober – 7 Desember 1917 (tidak setiap hari) di „Sinar Djawa”.


4Lihat karangan2 Sneevliet dalam „Het vrije woord” tanggal 25 Maret, 10 April, 10 Mei 1917.


5Seorang penasihat urusan „Boemipoetera”.