Baca EPUB: Elegi Tanah Deli

3 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
BACHTIAR SIAGIAN
Elegi Tanah Deli
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Edisi ini terbit berkat arsip KITLV di Leiden. Bagi cetakan tidak terbaca kami tandai dengan (…).

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Sebungkus mie rebus

Hari itu tepat tanggal tiga puluh, akhir bulan. Di kantor perkebunan tembakau Timbang Langkat, milik Maskapai Belanda “Deli Batavia” tampak kesibukan. Maklum, hari itu hari gajian besar. Sejak lewat tengah hari para buruh perkebunan itu datang mengambil sisa gajinya yang sudah mereka ambil sebagian pada pertengahan bulan, ketika gajian kecil.

Sebagian besar dari mereka adalah buruh kontrakan dari Jawa. Ada buruh lepas yang setiap saat dapat diganti. Ada juga buruh musiman yang hanya memperoleh kesempatan bekerja ketika tanaman tembakau telah tumbuh dan perlu diselamatkan dari serangan ulat yang selalu merusak daun tembakau yang mahal itu. …daun tembakau Deli yang urat-uratnya bagus, warnanya menarik dan baunya harus sangat terkenal?

Untuk memberantas ulat yang merugikan itulah diperlukan buruh musiman, buruh pencari ulat yang upahnya dihitung dari jumlah ulat yang didapat dikumpulkan setiap hari.

Ketika mbakyu Sarkah, janda berumur 40 tahun yang menjadi buruh pencari ulat—meninggalkan kantor perkebunan itu kira-kira jam lima sore, …di lipatan setagennya yang kumal, sudah terselip beberapa buah uang logam; dua buah uang perak bernilai masing-masing seratusan dan tiga buah uang talen yang masing-masing bernilai dua puluh lima sen.

Itulah harga tenaganya selama dua pekan bekerja mencari ulat di ladang-ladang tembakau milik tuan Maskapai.

Selama musim ulat, mbakyu Sarkah setiap hari menjelajahi ladang tembakau yang luas itu.

Tak sepohon tembakaupun yang luput dari sentuhan jari-jarinya yang membuka setiap daun, memburu ulat yang merukan tuan Maskapai itu. Sengatan panas terik yang seolah-olah membakar hampir-hampir tak dirasakannya. Diperiksanya daun-daun tembakau yang hijau itu lembar demi lembar. Tak seekor ulatpun akan lepas dari cengkraman jari-jarinya yang keras dan lincah.

Ulat yang berhasil ditangkapnya dimasukkan ke sebuah tabung bambu dan sorenya diserahkan kepada Mandor yang akan menghitung dan mencatat jumlahnya. Pada hari gajian—pertengahan dan akhir bulan—dia dtang ke Kantor Perkebunan untuk menerima upah, sesuai dengan jumlah ulat yang telah di-setornya kepada mandor.

Tadi, ketika engku kerani Siregar di kantor menyebut jumlah ulat setorannya selama dua pekan terakhir, mbakyu Sarkah agak mengeluh. Hanya dua ribu tujuh ratus limapuluh ekor ulat yang berhasil di-setornya. Hasilnya benar-benanr merosot, tetapi siapa yang harus dipersalahkan.

Selama dua pekan itu hujan kerap kali turun dan itulah yang menganggunya. Bukan saja air hujan yang menghanyutkan ulat-ulat yang ada di daun tetapi juga karena dia sendiri pantang kehujanan. Setiap kali kehujanan penyakit bengeknya kumat.

Setiap kali hujan turun, dia terpaksa berteduh di gubuk-gubuk ladang yang sudah ditinggalkan dan letaknya agak jauh dari ladang tembakau. Acapkali selama berjam-jam dia terpaksa berteduh di tempat itu dalam keadaan lapar dan kedinginan.

Jika hujan reda dan dia pergi ke ladang tembakau, dia tak akan berhasil memperoleh ulat, padahal ada orang yang datang menagih dan menunggu di pondoknya.

Dengan perasaan murung, mbakyu Sarkah buru-buru meninggalkan kantor perkebunan itu. Begitu tadi menerima upahnya dia langsung teringat pada hutang-hutangnya yang harus dibayar. Mungkin sudah ada orang yang datang menagih dan menunggu di pondoknya.

Dia mempercepat langkahnya karena mendengar suara guntur di kejauhan sambil sesekali mendongak melihat gumpalan awan hitam yang berbondong-bondong di sebelah barat. Anginpun mulai berhembus kencang, menerpa wajahnya yang muram.

Walaupun badannya sangat lelah, mbakyu Sarkah mempercepat langkahnya. Napasnya jadi tersengal-sengal. Tetapi celakanya, hujan mulai turun ketika dia baru saja tiba di persimpangan.

Dia mulai menggerutu dan sambil berlari-lari pandangnya menyebar mencari-cari tempat berteduh. Dadanya mulai terasa sesak padahal belum ada tempat untuk berteduh, terkecuali di emperan samping rumah mandor Besar, Raden Atmaja yang terkenal galak terhadap kuli-kuli. Istrinya juga angkuh dan sombong.

Tetapi hujan semakin deras. Dia jadi tertegun, ragu. Akan berteduh di emperan rumah Mandor Besar yang galak itukah dia? Hatinya tak rela, namun hujan telah mengguyur kepala dan badannya. Dia mulai merasa kuatir penyakitnya akan kumat. Itu berarti dia akan mangkir, tak bisa bekerja beberapa hari tanpa penghasilan barang se-senpun.

“Ah, nekat”, katanya dalam hati sambil bergegas menuju ke emperan rumah mandor itu. Setiba di situ ternyata ada temannya sepondok yang juga sedang berteduh. Dia merasa agak lega.

“wah, kukira mbakyu sudah sampai di pondok”, ujar Tomblok, temannya itu sambil tersenyum.

“Ah, tadi upahku dibayar belakangkan. Gara-gara mandor Giman salah menghitung”, sahutnya sambil agak megap-megap karena napasnya sesak.

Tomblok yang usianya lebih muda itu tak bicara lagi. Dia merasa iba melihat Mbakyu Sarkah yang napasnya tersengal-sengal, sementara Sarkah bersandar ke dinding rumah sambil mengamati air hujan yang jatuh dari atapm memercik-mercik di ujung jarinya yang kurus dan berlumpur. Pikirannya melantur jauh ke pondoknya. Dia teringat pada anak ayam piaraannya di dalam keranjang dekat dapur.

“Aduh. Jangan-jangan keranjang itu terendam air dan anak ayam itu mati”, katanya dalam hati. Dia jadi agak gelisah dan menyesali dirinya sendiri. Mengapa dia tadi tak memindahkan keranjang itu ke kamarnya?

Dia termangu, pandangnya kosong, sementara air hujan terus memercik-mercik membasahi kakinya. Hatinyapun mulai bertanya-tanya mengapa hidungnya bertambah susah dan penyakitnya tak kunjung sembuh. Alangkah jauh berbeda dengan dulu, lima belas tahun yang lalu, ketika dia dan mendiang mas Kasio, suaminya, baru tiba dari Jawa sebagai orang kontrakan. Suaminya bekerja sebagai kuli pacul dengan upah tiga puluh lima sen sehari. Dia sendiri bekerja di gudang dengan upah duapuluh lima sen sehari.

Pada masa itulah dia sempat memiliki perhiasan dari emas; kalung, gelang, kerabu. Dia juga bisa sesekali mengirim uang ataupun pakaian ke orangtuanya di Jawa. Dia merasa berbahagia hidup sebagai orang-kontrak di Tanah Deli, ketimbang sengsara di desanya yang miskin.

Ah, seandainya Kang Kasio tak tergoda oleh setan judi, barangkali dia sudah bisa pulang ke desanya dan membeli rumah. Tetapi semua yang telah mereka peroleh dengan cucuran keringat di Deli, telah amblas di tikar judi. Maklum, pada setiap Hari Gajian, dipertengahan ataupun akhir bulan, tuan Maskapai mendatangkan bandar-bandar judi dari kota untuk mengadakan permainan judi, di perkebunan itu. Ada dadu segi enam, dadu kocok, ceki, selikuran, pakau dll.

Ketika masa kontraknya habis, jangankan punya uang simpanan untuk pulang ke Jawa, bahkan untuk melunasi hutang di kantor perkebunan itupun tak bisa. Apalagi jalan keluarnya, selain menandatangani kontrak baru dan uang porsekot kontrak itu hanya pas-pasan untuk membayar hutang yang telah ada. Untung juga tuan maskapai itu baik hati, karena masih mau menyambung kontraknya.

Setelah kontraknya diperpanjang tiga tahun lagi dia dan suaminya berniat untuk berhemat agar sehabis kontrak bisa pulang ke desanya dan membeli sepetak sawah Kang Kasiopun berjanji untuk tidak lagi berjudi.

Alangkah besar pengharapannya ketika itu. Setiap sore, sepulang dari gudang, dia pergi mencari genjer yang banyak terdapat di parit-parit ladang perkebunan.

Genjer itulah yang ditumisnya setiap hari untuk lauk makan. Sesekali dia membeli tempe untuk direbus sebagai tambahan lauk. Kadangkala dia juga membeli ikan asin yang murah, makan japuk, untuk tambahan lauk. Makan daging, cukuplah setahun sekali pada waktu Lebaran. Ketika itu tuan Maskapai menghadiahkan beberapa ekor sapi untuk disembelih dan dagingnya diberikan secara cuma-cuma kepada semua buruh di perkebunan itu.

Walaupun sudah berniat dan berupaya menghemat hidup mereka agar dapat pulang dan membeli sepetak sawah di Jawa sehabis kontrak, segalanya sia-sia. Kang Kasio, suaminya, terperosok lagi ke tikar judi. Semua pengharapannya hanya tinggal impian yang menyedihkan.

Lebih dari sepuluh tahun dia dan mendiang suaminya membanting tulang di perkebunan tembakau itu dan akhirnya kehabisan tenaga. Kang Kasio sudah tak kuat lagi memacul dan dia sendiri diserang penyakit bengek. Setelah itu tuan Maskapai tidak berkenan lagi memperpanjang kontrak, walaupun masih berbaik hati untuk mengizinkan buruh yang telah kehabisan tenaga untuk menetap di perkampungan yang disebut kampung Kelonengan dan berada di tanah konsesi perkebunan. Sesekali tenaga mereka dimanfaatkan juga sebagai buruh harian ataupun buruh musiman. Sejak itu penghidupan mereka sulit, apalagi beberapa tahun kemudian suaminya jatuh sakit dan meninggal dunia, tanpa meninggalkan apa-apa untuk bekal Sarkah.

Sementara mbakyu Sarkah hanyut dalam lamunan, hujan bertambah deras.

“Dingin, mbakyu?”. Tomblok temannya itu tiba-tiba bertanya. Sarkah seolah-olah tersentak dari lamunannya.

“Iya, Mblok. Dadaku mulai terasa sesak”, sahut mbakyu Sarkah agak tersengal-sengal, sementara kakinya mulai terendam air hujan yang telah menggenangi halaman samping rumah itu.

“Dingin-dingin begini, yang enak makan singkong godok ya mbakyu”, ujar Tomblok lagi sambil menelan liur.

Mbakyu Sarkah hanya mesem karena kecapekan. Diapun mulai merasa kedinginan dan perutnya lapar.

Kedua wanita pekerja itu tak bicara lagi, seolah-olah hanyut dalam kepedihan perasaan masing-masing.

Sekonyong-konyong menyebar bau sesuatu; gurih, merangsang! Mbakyu Sarkah seolah-olah tersentak. Pandangnya segera menyebar mencari-cari sumber bau yang gurih itu. Ketika ia menoleh ke halaman depan rumah itu, pandangannya tertumbuk pada sebuah kereta dorong penjual mie rebus.

“Aduh, si Berahim penjual mie sudah datang, Mblok”, bisiknya pada Tomblok.

“Wah, iya, mbakyu”, sahut Tomblok sambil melihat Berahim, orang India Islam yang berjualan mie pada setiap Hari Gajian di perkebunan itu. Penjual mie itu sedang melayani pesanan istri Mandor Besar,

“Bikin agak pedas, Him”, ujar istri mandor besar itu dari pendopo rumahnya.

“Oh, iya, bu Raden. Dingin-dingin begini memang lebih enak yang pedas”, sahut orang Keling itu tersenyum sambil membikin mie pesanan itu.

“Bikin dua piring lagi, ya”, perintah istri mandor besar itu pula setelah Berahim mengantarkan sepiring mie.

“Iya, bu Raden”, sahut Berahim sambil tersenyum lebar dan buru-buru merebus mienya.

Bau gurih mie rebus itu terus menyebar. Mbakyu Sarkah dan Tomblok yang terus menerus menjadi sasaran bau yang merangsang itu, sebentar-sebentar melirik penjual mie itu, sambil menelan liur.

“Dingin-dingin begini, makan mie rebus tentunya enak, ya mbakyu”, ujar Tomblo agak lirih.

“Ya, enak, Mblok”, sahut mbakyu Sarkah sambil melihat air hujan memercik-mercik di kakinya.

“Mie si Berahim memang enak, mbakyu. Pakai sotong. Waktu gajian besar yang lalu aku membeli sebungkus. Betul-betul gurih, mbakyu”, kata Tomblok pula seraya menelan liur.

“Kalau masih kepingin ya beli, Mblok”, tukas Mbakyu Sarkah agak lesu.

“Ah, tunggu gajian bulan depan saja, Mbakyu”, sahut Tomblok sambil meringis. Lalu keduanya tak bicara lagi.

“Sepiring lagi Berahim”.

Tiba-tiba terdengar lagi suara istri Mandor Besar Jaya. Sarkah menoleh, seolah-olah terdorong untuk melihat penjual mie rebus itu. Tiba-tiba dia berpaling cepat, ketika pandangnya beradu dengan pandang istri Mandor Besar yang melihat orang berteduh di emperen samping rumahnya.

Mbakyu Sarkah jadi merasa gelisah karena merasa rendah di hadapan istri mandor Besar itu. Dia benar-benar menyesal berteduh di emperen rumah itu. Ah, mengapa dia tadi tidak terus pulang ke pondoknya?

“Barangkali mbok-mbok di samping rumah itu mau membeli mie, Berahim”, terdengar lagi suara istri Mandor Besar itu agak lantang.

Perasaan mbakyu Sarkah jadi galau. Dia semakin gelisah.

“Siapa yang dimaksud istri mandor besar itu?”, dia bertanya dalam hati. Tiba-tiba dia mendengar suara penjual mie itu.

“Mie rebus ya, mbok?” …

Mbakyu Sarkah menoleh. Dia jadi sangat gugup ketika pandangnya bertemu dengan pandang Berahim yang tersenyum melihatnya.

“Ah, lain kali saja, Berahim”. Sahutnya gugup. Hatinya jadi sedih dan napasnya semakin sesak.

“Ayo, pulang saja, mbakyu”, bisik Tomblok tiba-tiba.

“Ah, masih ujan, mblok. Kalau kehujanan penyakitku kambuh”, sahut mbakyu Sarkah agak megap-megap.

“Kalau begitu aku duluan, mbakyu”, kata temannya itu sambil terus pergi berlari-lari.

Mbakyu Sarkah jadi agak tercengang melihat Tomblok menerobos hujan. Ah, kalau bukan karena …penyakitnya kumat, rasanya dia ingin pergi secepatnya dari emperen rumah Mandor Besar itu. Hatinya semakin sedih. Dia bersandar ke dinding yang telah basah sementara bau mie rebus yang gurih itu terus merangsangnya. Perutnya yang lapar terus menggodanya. Ia jadi gelisah.

“Ah, apa salahnya membeli mie rebus itu sebungkus”, bisik hatinya. Dia seolah-olah didesak untuk menyuruh si Berahim membikin mie itu. Namun tiba-tiba muncul sesuatu di benaknya. Dia teringat pada hutang-hutangnya yang harus dibayar. Wajah mereka yang berpiutang seolah-olah terbayang di depan matanya. Dia temangu sesaat lalu mengingat-ingat dan menghitung jumlah hutangnya. Di kedai taukeh Asiong, kedai Cina di perkebunan itu, hutangnya se-perak tiga talen, pada tuan Salim, orang Arab yang berdagang bedak, celak dan minyak wangi, tiga puluh lima sen. Pada mbakyu Dimpil, penjual pecal, lima puluh Sen. Jadi semua hutangnya berjumlah dua rupiah enam puluh lima sen. Jika semua hutang dibayar, sisa uangnya jadi pas-pas untuk membeli sebungkus mie rebus yang berharga sepuluh sen.

Hampir saja dia memesan mie itu pada si Berahim, tetapi tiba-tiba dia teringat pula hutangnya pada Mbok Ranu, penjual tempe. Bukankah hutang itu harus dibayar juga?

Mbakyu Sarkah tersandar ke dinding yang basah itu, lesu, sementara bau gurih mie rebus si Berahim terus juga merangsang.

“Ah, biar hutang-hutang tak usah dilunasi dulu”, pikirnya sambil menelan liur. Lalu dia menoleh lagi ke si Berahim, hendak memesan mie yang menggodanya itu. Namun, sekonyong-konyong wajah orang-orang tempatnya berhutang terbayang lagi di depan matanya. Dia jadi bimbang dan bersandar lagi, lesu.

“Janji harus ditepati, hutang harus dibayar”, bisik hatinya tiba-tiba. Dia merasa gelisah, terombang-ambing dalam kebimbangan.

Tiba-tiba terdengar suara berjual mie rebus itu.

“Daripada kedinginan, lebih baik makan mie yang pedas, mbok. Kan tadi baru gajian”, kata orang Keling penjual mie itu,

Dia tak menoleh, kendati merasa kata-kata itu dialamatkan ke dirinya. Hatinya sedih dan tiba-tiba dia pergi meninggalkan emperen itu walaupun hujan masih deras. Sekujur badannya basah kuyup namun dia terus melangkah, seolah-olah ingin melupakan kesedihannya.

Ketika malam itu hujan reda dan pondoknya sepi, Mbakyu Sarkah telah terbaring di bale-balenya, megap-megap kedinginan. Dia sudah tak mampu untuk merebus air atau memanaskan nasi yang dimasaknya pagi tadi. Untunglah Tomblok datang menjenguknya, membawa seceret teh panas dan sepiring nasi dengan sambel dan ikan asin bakar.

“Ayo, dahar dulu, supaya tak masuk angin, mbakyu”, katanya mengamati Bakyu Sarkah dengan perasaan iba.

“Aduh, terima kasih, Mblok”, sahutnya megap-megap.

Tak lama kemudian Tomblok pulang dan Sarkah terus terbaring di bale-balenya. Walaupun megap-megap karena napasnya sesak, ia bersukur kepada Gusti Allah karena masih ada orang yang baik hati seperti Tomblok. Diapun mengucapkan sukur dalam hati karena dia tak lupa membayar hutangnya.

Ketika malam bertambah larut, Mbok Sarkah masih belum juga tidur. Hatinya sedih disiksa kenangan pada bau mie rebus yang gurih itu.

Bj. 1950

Tahi lalat perempuan

Bagi Sirun, langit sore itu kehilangan warna. Yang telihat hanya kepucatan yang menjemukan perasaan.

Maklum, sore itu gajian besar, gajian akhir bulan. Semua penghuni perkebunan tembakau itu, kuli-kuli, mandor-mandor, centeng-centeng, tandil-tandil, kerani-kerani, menerima sisa gajinya yang sebagian telah diambil pada gajian kecil pertengahan bulan.

Ah, siapa lagi selain Sirun, penjaga malam gudang beras perkebunan yang terletak di depan stasiun kereta api, yang sempat merenungi langit di atas perkebunan itu.

Sejak bunyi kentong tanda gajian, jam sebelas siang tadi, perkebunan itu tampak seperti tenggelam dalam kesibukan-kesibukan luar biasa. Jalanan tidak beraspal yang menghubungkan Pondok Besar dengan jalan raya menuju ke kota B. sudah seperti kubangan kerbau, berlobang-lobang penuh lumpur, becek karena hujan yang terus menerus turun selama beberapa hari.

Waktu itu memang musim hujan dan kenderaan berat terus menerus menggunakan jalan perkebunan itu, ya truk-truk pengangkut bibit tembakau, pedati-pedati besar pengangkut barang, kereta dorong para pedagang makanan, sado —sejenis delman—yang mengangkut penumpang yang pergi atau pulang berbelanja dari kota.

Sejak tengah hari, para pedagang telah banyak yang datang ke perkebunan tembakau itu. Pedagang kain, penjual obat, penjual martabak, mie rebus, gado-gado, sate, juga pedagang Es Johor, es kacang hijau ataupun bandrek panas.

Sado yang mengangkut bini-bini mandor-mandor, centeng-centeng, pergi berbelanja ke kota ataupun arak-arakan pengantin yang baru pulang dari rumah tuan Kadhi, menambah kesibukan di jalan yang becek itu.

Orang-orang Cina yang bandar judipun telah berdatangan dan sejak lewat tengah hari menggelar tikar judinya di Pajak, yaitu semacam bangsal yang menjadi pusat keramaian di perkebunan itu.

Rombongan Ketoprak Dor dari Medan yang tabuhannya bukan gamelan tetapi harmonium, gitar dan sejenis beduk, juga sedang sibuk memasang layar di panggung untuk mengadakan pertunjukan malamnya.

Suasana di Pondok Besar malam itu benar-benar akan sangat meriah dan menyenangkan, sedangkan Sirun harus menjaga gudang, bersunyi-sunyi sendirian sepanjang malam. Dia benar-benar merasa kesal.

“Tadi kakang kubelikan gado-gado enak”, ujar Poniyem, istrinya, sepulang berbelanja.

“Ah, aku masih kenyang, Yem”, sahut Sirun yang tengah menyisipkan goloknya ke pinggang. Ketika itu jam di atas lemari menunjukkan pukul setengah lima dan Sirun akan segera pergi ke tempat tugasnya.

“Bawa saja ke tempat jaga. Malam-malam kan kakang lapar” kata Poniyem sambil membungkus gado-gado itu. Sirun diam saja.

“Aduh, kalau kakang kebetulan …, kita bisa pergi menonton Ketoprak Dor”, ujar Poniyem pula sambil memberikan bungkusan gado-gado itu kepada suaminya. Sirun tersenyum.

“Wah, kalau semua buruh pergi, siapa yang jaga gudang?”, katanya sambil mengusap kumisnya yang lebat.

“Ah, kan banyak orang lain yang bisa menjaga gudang itu, Kang”, sahut Poniyem tersenyum manja.

“Siapa?”

“Ya, banyak. Misalnya Kang Darman. Dia kan masih duda”

Sirun tertawa cekakakan.

“Aduuh, Yem, Yem. Bukan sembarang orang dipercayai menjaga gudang”, katanya sejurus kemudian sambil mencubit pantat istrinya.

“Memang. Tetapi orang yang cocok untuk berjaga malam kan orang bujangan yang tak punya tanggungan di rumah”, kata Poniyem seraya tersenyum genit.

Sirun hanya mencengangi istrinya itu lalu bertanya.

“Yang tidak punya tanggungan? Maksudmu apa?”

“Maksudku ya orang bujangan seperti si Darman. Biar jaga dua hari dua malam, tak ada yang kesepian menunggu di rumah”, ujar Poniyem.

Sirun menggeleng-gelengkan kepala.

“Yem, Yem. Apa kowe kira tuan Maskapai percaya pada orang seperti Darman? Kowe kan dengar sendiri omongan Mandor Raup? Tuan Maskapai hanya percaya pada aku”, kata Sirun bangga sambil mengusap kumisnya lagi. Poniyem hanya tersenyum.

“Kalau kowe pergi menonton ke Pondok Besar, pulangnya jangan terlalu malam, Yem”, kata Sirun sejurus kemudian dan terus pergi, diantarkan istrinya sampai ke luar pintu.

Agak lama juga wanita itu termangu, melihat suaminya menjauh. Ketika Sirun membelok ke sebuah tikungan dan lenyap dari pandangan, dia masih berdiri di depan pintu itu, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.

Tiba-tiba dia menghela napas dalam lalu masuk dan menutup pintu.

Ketika Sirun tiba di gudang …, matahari turun ke balik Bukit Barisan. Dia segera memeriksa kunci semua pintu gudang itu lalu mengamati setiap sudut kolongnya, kalau-kalau ada sesuatu yang mencurigakan.

Setelah menganggap keadaan di sekitar aman, dia duduk di tangga, mencengangi langit senja yang kemerah-merahan. Sejurus kemudian dia mengeluarkan tepak tembakaunya dan mulai melinting tembakau dengan daun nipah. Sementara ia melinting rokoknya, pikirannya menerawang jauh. Dia membayangkan betapa meriahnya keadaan di Pondok Besar.

“Ah, alangkah senangnya jika malam itu dia libur, menonton Ketoprak Dor bersama Poniyem. Ataupun bermain ceki di rumah Mandor Amat. Hm, mana tahu dia menang dan bisa membeli kalung emas untuk Poniyem. Dia sendiri akan membeli sepasang baju gunting Cina dari sutera Santung”, pikirnya, melamun, sambil bersandar santai.

Tiba-tiba dia merasa kesal dan mendadak berdiri lalu mengambil sebuah batu di tepi rel kereta api. Dengan gemas dilemparkannya batu itu ke atas atap gudang yang terbuat dari seng.

“Glontaaannnng…”

Suara atap seng itu keras, mengagetkan. Burung-burung Gereja yang banyak bersarang di bawah atap gudang itu kaget dan beterbangan kian kemari, kebingungan.

Sirun tertawa cekakakan.

“Hm, rasain. Aku yang jaga, kowe enak-enak kelonan di sarangmu”, katanya sambil melihat burung yang terbang kian kemari kebingungan.

Setelah melampiaskan kekesalannya, Sirun duduk lagi di tengga, santai bersandar. Bulan yang baru mendaki dan terlihat seolah-olah bertengger di puncak pohon-pohon jati, seolah-olah mempesonanya. Dia mulai melamun lagi. Poniyem istrinya yang montok itu mulai terbayang di depan matanya. Dia teringat betapa sayangnya Poniyem terhadapnya. Istrinya itulah yang memijit-mijitnya jika dia kecapekan atau sakit.

“Ah, kowe betul-betul istri yang setia, Yem”, katanya dalam hati sambil terus membaringkan diri di tikar yang sudah digelarnya.

Di langit terlihat gumpalan awan-awan putih, bergerak perlahan melintasi hutan jati dan Sirun hanyut dalam lamunan di gudang yang sepi itu.

Sekoyong-konyong muncul lagi bayangan Poniyem di benaknya; Poniyem yang sedang pasrah menelantang di hadapannya. Sirun seolah-olah dijalari aliran listrik, membakar, menegangkan Nafsu berahinya tiba-tiba berkobar, meronta-ronta.

“Ah, setan”, katanya tiba-tiba sambil terus duduk, Dia benar-benar merasa gelisah. Seandainya Poniyem tadi tidak mengatakan akan pergi menonton ke Pondok Besar, rasa-rasanya dia nekat meninggalkan gudang beras itu sebentar, pulang menemui Poniyem.

Dia jadi kecewa sendiri lalu berbaring lagi di tikarnya, melihat bulan yang semakin tinggi. Sepi terasa makin menjepit dan sesekali terdengar suara gamelan di Pondok Besar, sayup-sayup, seolah menggodanya.

“Glok, glok, glok. . . Glok, glok, glok”

Tiba-tiba terdengar suara burung hantu dari semak-semak di sekitar gudang. Dia bertambah gelisah. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menjalarinya. Dia duduk lagi, termangu, bertanya-tanya dalam hati.

“Apa yang akan terjadi? Apakah ada orang yang akan merampok gudang itu?”

Sirun bertambah gelisah lalu meraba goloknya dan dengan mata nyalang pergi mengelilingi gudang itu kalau-kalau ada yang mencurigakan.

Tak lama kemudian dia kembali lagi ke tikarnya. Tak satupun yang patut dicurigai. Namun, perasaan aneh itu terus mengganggunya.

Sudah lewat tengah malam, ketika tiba-tiba terdengar sayup-sayup bunyi kentong kantor perkebunan, tanda ada bahaya.

“Tong, tong, tong…tong, tong, tong”

Sirun kaget dan buru-buru meraba goloknya sambil cepat berdiri, siap menghadapi setiap serangan perampok. Pandangnya yang tajam menyebar, mengamati setiap sudut gudang, sementara suara kentong itu terus terdengar sayup-sayup.

“Hm. Pantas perasaanku tak enak. Rupanya ada bahaya”, katanya dalam hati sambil memegang gagang goloknya yang hampir setiap hari diasah.

“Apa yang terjadi di Pondok Besar? Perampokankah? Pembunuhankah?”, dia terus bertanya-tanya sendiri.

Tiba-tiba dia merasa cemas, ketika teringat pada istrinya.

“Sudah pulang atau masih di Pondok Besarkah Poniyem? Aduh, bagaimana istrinya itu jika ada orang yang mengamuk di Pondok Besar? Bukankah mereka yang kalah judi sering kalap dan mengamuk?”, pikirnya dengan perasaan cemas.

“Ah, barangkali dia sudah pulang sebelum tengah malam. Bukankah dia sudah mengatakan agar poniyem cepat pulang ?”, pikirnya pula menghibur diri sambil berjalan mondar-mandir

Tiba-tiba dia kaget dan loncat ke belakang sambil memasang kuda-kuda Cimandenya. Matanya mendadak liar, mencari-cari. Dia mendengar suara gemerisik mencurigakan lalu dengan cepat mencabut goloknya yang tajam berkilat.

“Ah, sundel lu”, katanya jengkel begitu melihat seekor tikus lari terbirit-birit masuk ke sebuah lobang di dekat pintu gudang.

Dia menyarungkan goloknya lalu duduk lagi di tangga gudang, lesu. Ketegangan sesaat itu seakan-akan menguras tenaganya. Dia termangu, sementara embun mulai turun dan malam bertambah dingin.

Tiba-tiba dia berdiri dan dengan langkah gontai pergi mengambil botol berisi kopi yang terletak di dekat tikarnya. Baru saja dia membuka tutup botol itu, tiba-tiba terdengar suara orang memanggilnya.

“Kang…Kang Sirun”, terdengar suara orang itu agak lirih, mencurigakan.

Sirun segera memasang kuda-kuda sambil memegang goloknya. Pandangnya yang tajam langsung menyebar, mencari-cari orang yang memanggilnya itu.

Tiba-tiba darahnya tersirap, jantungnya berdebar ketika melihat bayangan seseorang di ujung gudang, berjalan ke arahnya.

Sirun mundur selangkah, membelitkan sarungnya ke pinggang lalu dengan golok di tangan mengamati orang yang datang itu. Perasaannya semakin tegang ketika bayangan orang itu bertambah dekat. Dia menahan napas, siap untuk menghadapi serangan. Hanya tinggal beberapa langkah, ketika dia tiba-tiba memaki.

“Ah, kurang ajar kowe Man. Kukira rampok”, kata Sirun seraya tertawa lebar. Darman, orang yang baru datang itu meringis.

“Punya tembako, Kang”, dia bertanya sambil mengambil tempat duduk di tikar Sirun.

“Oh, ada, Man. Kebetulan tadi mbakyumu membelikan tembakau Tampang yang mantep”, sahut Sirun sambil menyodorkan tepak tembakaunya. Darman tersenyum dan segera melinting rokok.

Keduanya tampak akrab. Mereka sudah lama bersahabat karib, sejak keduanya bekerja sebagai kuli pacul di perkebunan tembakau itu. Mereka berasal dari sebuah desa, dekat Kutoarjo di Jawa Tengah. Ikatan perasaan se-desa itu kiranya menyebabkan mereka merasa seperti bersaudara, walaupun Sirun lebih tua dari Darman.

Selama bertahun-tahun menjadi kuli kontrak di perkebunan tembakau itu, pekerjaan mereka selalu sama. Setelah beberapa tahun menjadi kuli pacul keduanya dipindahkan ke gudang, mengemas daun-daun tembakau yang akan dikirim ke Pelabuhan Belawan. Tetapi pada suatu hari, atas usul Mandor Raup, Sirun dipindahkan ke gudang beras sebagai penjaga malam.

Walaupun sudah berpisah pekerjaan, persahabatan mereka terus berlangsung. Darman sering mengunjungi Sirun yang dianggapnya sebagai kakak.

“Tadi ada kentonga. Ada kejadian apa di Pondok Besar, Man?”, tanya Sirun begitu sehabatnya itu menyulut rokok.

“Ada yang dibacok, Kang”, sahut Darman tenang sambil menghembuskan asap rokoknya. Sirun jadi agak kaget dna bertanya lagi.

“Di mana?”

“Di Pasar Tiga, Kang”

“Siapa yang dibacok ?”

Darman mengepulkan asap rokoknya, seolah-olah tak mendengar pertanyaan Sirun.

“Siapa yang dibacok ?”, tanya Sirun mendesak, sementara Darman bersikap dingin, seolah-olah menganggap hal yang ditanyakan Sirun tak penting.

“Ah, biasa, Kang. Orang gendakan1 ”, katanya sambil melihat kepulan asap rokoknya.

“Wah, pantes kakang jadi dapat firasat jelek. Rupanya bakal ada kejadian begitu”, kata Sirun sambil melinting rokok. Darman seolah-olah tak mendengar bicara Sirun dan pandangnya terarah ke hutan jati, seperti melamun. Namun, sejurus kemudian dia menoleh.

“Bawa makanan, Kang?”, dia bertanya sambil melirik bungkusan gado-gado yang tergantung di ujung pintu gudang.

“Itu ada gado-gado. Kalau lapar, ya makan”, sahut Sirun sambil tertawa.

“Aku lapar. Minta sedikit, Kang.”

“Makan saja, habiskan”

“Lho. Kakang ?”

“Aku masih kenyang”

Darman langsung mengambil bungkusan itu dan sejurus kemudian dia makan dengan lahap, sementara Sirun termangu.

“Yang dibacok itu orang kebon atau orang pereman, Man?”, dia betanya sejurus kemudian.

Darman yang sedang asyik mengunyah gado-gado tak menjawab. Sesaat kemudian Sirun bicara lagi.

“Selama kita di Deli, barangkali sudah lebih sepuluh orang yang dibacok karena gendakan, ya Man”, katanya sambil memandang jauh. Darman terus saja makan.

“Hm, bodoh. Untuk apa bacok-bacokan soal perempuan? Perempuan kan banyak”, kata Sirun lagi. Darman yang sudah menghabiskan gado-gado menoleh.

“Kalau hati sedang panas, ya bagaimana, Kang” katanya sambil membuang daun pembungkus gado-gado itu. Sirun tersenyum.

“Memang betul Man. Kalau bini kita gendakan, hati kita panas. Kalau mbakyumu diganggu orang, aku ya bisa silap”, katanya.

Darman yang sedang meneguk kopi dari botol tak menanggapi bicara Sirun.

“Untung saja Mbakyumu jujur. Jarang ada perempuan yang setia seperti dia”, kata Sirun pula dengan perasaan bangga. Darman hanya tersenyum sambil mencukungkil-cungkil gigi dengan kuku jari kelingkingnya. Hening sesaat, tetapi sekonyong-konyong Darman menarik napas dalam lalu bicara agak lirih.

“Sekarang ini perempuan banyak, tetapi yang jujur sedikit, Kang!”, katanya.

Sirun tersenyum mendengar bicara sahabatnya itu. Dia maklum mengapa Darman mengeluarkan kata-kata begitu. Bukankah dia pernah dikhianati istrinya, Si Ijah yang lari mengikut lelaki lain?

“Betul, Man. Sekarang banyak perempuan tidak jujur, mata duitan. Makanya, kalau kowe mau kawin lagi, hati-hati memilih. Kowe kan sudah mengalami sendiri bagaimana sakitnya kalau bini kita selingkuh”, ujar Sirun bersunggung-sungguh.

Darman hanya meringis sambil mengambil tepak tembakau Sirun lalu melinting rokok lagi.

“Tuuuut…!”, tiba-tiba Sirun buang angin,

“Aduh, perutku kembung, Man”, katanya sambil menepuk-nepuk perut. Darman tak menoleh dan terus melinting rokoknya. Sirun meliriknya. Kiranya dia merasa iba melihat sahabatnya yang sudah duda bertahun-tahun.

“Man. Kalau kowe mau kawin lagi, pilihlah perempuan yang betul. Jangan sekali-kali mengawini perempuan yang punya tahi lalat di tengkuk. Perempuan begitu biasanya selingkuh, tidak jujur. Lihat saja si Tuminah, janda si Kromo, yang akhirnya jadi lonte. Lihat si Juminah, anak centang Dirun. Baru kawin dua bulan minta cerai dan jadi nyai tuan Smit di Pasar Tiga”, katanya sejurus kemudian.

“Apa mbakyu tak punya tahi lalat begitu, Kang?”, tanya Darman tiba-tiba sambil mencengangi Sirun. Sirun tetawa lebar.

“Waah, sebelum Kakang kawin, itu dulu yang kakang selidiki. Kakang tidak mau punya istri selingkuh”, katanya.

Darman mendengar bicara sahabatnya itu dengan sikap dingin sambil menggaruk-garuk pantatnya yang digerayangi kutu busul.

“Wah, tikar kakang ini banyak tingginya”, katanya sambil meringis.

Sebelum sempat menganggapi bicara Darman, Sirun mendadak kaget karena mendengar suara derap langkah orang bersepatu di seberang gudang.

“Hati-hati. Ada orang”, bisiknya sambil terus berdiri memegang gagang golokgnya.

Tiba-tiba melihat sinar lampu senter, menyebar, mencari-cari, dari balik ujung gudang yang menghadap rel keretaapi.

Sirun mengamati dengan mata melotot. Sejurus kemudian muncul beberapa sosok tubuh di ujung gudang, bergegas mendatanginya.

“Eh, Mandor Besar Jumadi bersama Polisi, Man”, katanya agak berbisik. Darman tampak agak kaget, tetapi segera tenang lagi.

“Barangkali mau menangkap aku, Kang”, katanya dengan suara datar begitu melihat Mandor Besar Jumadi dan Polisi itu.

“Kowe kenapa?”, sirun bertanya gugup.

“Tadi mandor Rauf kubacok. Dia kupergoki sedang gendakan…”, sahutnya dengan tenang. Mendenagar itu Sirun seperti tersengat listrik, kaget. Tetapi sebelum sempat bertanya, Mandor Besar Jumadi telah berteriak.

“Nah, itu dia yang membunuh”, katanya sambil menunjuk Darman. Polisi segera memborgol tangan Darman yang tetap bersikap tenang, sementara Mandor Besar itu langsung merampas golok Sirun dan menuduhnya.

“Kowe yang menyuruh Darman membacok Mandor Rauf, ya Sirun”, katanya dengan nada marah.

“Aa.a.. ti...dak, Raden”, sahut Sirun gemetar dan bingung.

“Asu! Kalau bukan kowe yang menyuruh, mengapa dia datang ke sini setelah membunuh orang ? Pasti kowe yang menyuruh dia. Lebih baik mengaku saja Sirun, supaya hukumanmu ringan”, bentak Mandor Besar itu lagi.

Sirun gemetar dan sebelum ia sempat menjawat, Polisi telah memborgolnya. Kedua orang bersahabat itu digiring ke Kantor Polisi.

Sirun, penjaga gudang beras berkumis lebat yang selalu terlihat garang itu mendadak kehilangan pamornya dan tampak sangat lesu. Pikiran dan perasaannya sangat galau. Bicara Mandor Besar yang menuduh dia yang menyuruh Darman membacok mandor Rauf membingungkannya. Dengan siapa mandor jahanam itu bergendak?

Apakah dengan istrinya, Ponoyem?

Jika bukan dengan Poniyem, mengapa Mandor Besar Jemati menuduh dia menyuruh Darman membacok mandor Rauf.

Malam itu juga Sirun dan Darman diperiksa Polisi, di tempat terpisah. Darman mengakui semua perbuatannya.

“Saya sakit hati karena mandor Rauf hampir setiap malam meniduri istri Sirun, yang saya anggap seperti saudara saya karena kami se-desa”, katanya terus terang.

Polisi tidak begitu saja pada pengakuan Darman. Mereka curiga, kalau-kalau Sirun ikut terlibat sebagai dalang pembacokan itu.

“Apa betul-betul kowe tidak tahu Mandor Rauf sering datang tengah malam ke rumahmu?”, tanya polisi yang memeriksa.

“Betul. Saya tidak tahu”, sahut Sirun dengan perasaan tertusuk. Dia tunduk, badannya agak gemetar.

“Bohong. Kowe pasti tau binimu sering tidur bersama mandor Rauf ketika kamu menjaga gudang. Lantas kamu menyuruh Darman mengintip dan membunuh mandor itu”, kata polisi itu lagi dengan nada marah.

Sirun tak menjawab. Badannya gemetar, hatinya pedih, matanya berkaca-kaca.

“Ayo, mengaku saja, Sirun”, bentak Polisi itu lagi. Sirun hanya tunduk, gemetar menahan kepedihan. Air matanya sudah tak terbendung. . .

“Aduuuh biuuung…Kowe goblok Sirun, goblokkkk!”, teriaknya tiba-tiba dengan nada kekesalahn dan kepedihan sambil membenturkan kepalanya ke tepi meja juru periksa itu. Lalu dia tersungkur, tak sadarkan diri.

Sebulan kemudian Sirun terlihat lagi duduk di tengga gudang beras perkebunan itu, berjaga malam. Pengadilan membebaskannya, sementara Darman dijatuhi hukuman lima tahun penjara karena terbukti melakukan pembunuhan.

Kendatipun dia masih mendapat kepercayaan tuan Maskapai untuk menjadi penjaga gudang itu, hatinya selalu sedih. Dia sering terkenang pada Darman sahabatnya itu. Diapun acapkali teringat pada Poniyem yang begitu menyakitkan hati dan telah pergi entah kemana.

Kini Sirun sudah tak ingat pada cerita tentang tahi lalat di kuduk perempuan. Dia kini tenggelam dalam kesepian dan hanya burung-burung gereja yang bersarang di atap gudang itulah yang selalu menemaninya.

Bj. 1950

Sepotong roti tuan besar

Aku tinggal di rumah kakekku. Rumah itu milik Maskapai Perkebunan Tembakau. Selain sebagai tempat tinggal, iapun dijadikan kantor kakekku yang kerani ekspedisi.

Rumah itu terletak lk 200 meter di seberang stasiun Kereta api kota B., sebuah kota Kewedanaan yang kemudian menjadi kota Kabupaten.

Di sekitar kota itu banyak perkebunan tembakau milik Maskapai Belanda. Buruhnya sebagian besar orang kontrakan yang didatangkan dari Jawa. Ada juga orang Cina, orang Keling, orang Benggali dari India.

Di antara stasiun kereta api dan rumah kakek ada sebuah gudang besar, milik Maskapai Perkebunan. Melalui gudang itulah tembakau Deli yang terkenal dan mahal di kirim ke pelabuhan Belawan untuk diangkut dengan kapal ke Eropah.

Di depan gudang itu ada rel kereta api dan pada musim pengiriman tembakau belasan gerbong kereta api berjejer-jejer di situ. Kuli-kuli kontraklah yang memikul peti-peti tembakau itu dari gudang ke gerbong sepanjang hati dengan upah tiga puluh lima Sen. Sedikit lebih mahal dari harga sebatang rokok. Serutu merek Karel I yang sangat digemari tuan-tuan Belanda.

Di belakang gudang itu ada rel lori sepanjang belasan kilometer, menuju ke perkebunan tembakau. Pada musim pengiriman tembakau banyak gerbong-gerbong lori yang ditarik sapi datang mengangkut tembakau. Pada hari-hari biasanya hanya sebuah kereta lori yang tetap datang untuk mengambil surat-surat dari pos, koran dan bahan makanan serta minuman tuan-tuan Belanda yang bekerja di perkebunan; ada roti, keju, mentega, selai, daging, sausis, bir, wiski, brandy, anggur dll.

Sais kereta lori itu, mamang1 1paman Sa’ik berumur lk 40 tahun, berasal dari …dan sudah lima belas tahun bermukim di Tanah Deli. Perawakannya tegap, kemisnya tebal dan dilengannya ada gelang akar bahar hitam.

Entah kenapa sebabnya, mang Sa’ik sayang kepadaku. Mungkin karena kakekku kerani ekspedisi yang mengurus pengiriman ataupun penerimaan barang-barang perkebunan.

Setiap datang dia selalu mencariku dan biasanya membawa oleh-oleh, entah …, nagasari, kowe cucur, uli goreng ataupun pisang.

“Ini mamang bawain getuk, Yung”, katanya pada suatu hari sambil mengeluarkan sebungkus getuk dari saku bajunya.

“Ayo, makan. Enak Yung”, katanya lagi begitu aku menerima getuk itu.

“Wah, terimakasih, Mang”, kataku sambil mulai memakan oleh-olehnya itu. Dia sangat senang.

“Besok mamang bawain lagi”, katanya pula tersenyum. Setelah itu dia pergi mengurus pekerjaannya.

Sebelum menjadi sais lori itu, mang Sa’ik punya jabatan Centeng yang harus menjaga keamanan di perkebunan Tandem, tempat tinggalnya. Kepercayaan yang diperolehnya itu bukan saja karena badannya tegap dan kumisnya tebal, tetapi karena dia ahli kuntau yang disegani.

Walaupun dia ahli kuntau dan pemberani pada suatu hari dia diberhentikan sebagai centeng karena tidak mampu melindungi seorang Asisten Belanda, tuan Dolman, yang dikeroyok kuli-kuli di ladang tembakau. Sejak itulah dia dijadikan sais lori.

Setiap pagi dia membawa kereta lorinya ke belakang gudang itu melintasi hutan jati yang ada di tepi ladang-ladang tembakau. Sektar jam sebelas siang dia tiba di gudang tersebut.

Setelah menambatkan sapinya di samping gudang, dia segera menemui kakekku untuk menyerahkan surat-surat yang dibawanya dari kantor Perkebunan tempat tinggalnya. Ada surat-surat yang harus dimasukkan ke kantor pos dan ada juga yang diteruskan ke Kantor Pusat Perkebunan di Medan.

Setelah itu mang Sa’ik kembali ke lorinya, menunggu surat, barang dan koran yang akan dibawanya pulang. Yang tidak boleh tidak harus dibawanya setiap hari ialah roti tawar yang masih hangat dan baunya harum, untuk tuan-tuan Belanda, baik Tuan Besar, Kepala Perkebunan, maupun Tuan Kecil, pembantu-nya.

Jika pesuruh toko makanan yang mengantarkan roti itu datang, sekitar jam empat sore, mang Sa’ik segera berdiri di samping sebuah peti besar yang ada di kereta lorinya. Lalu persuruh toko itu menyerahkan satu ……roti yang berbungkus kertas sambil menyebutkan nama tuan-tuan Belanda pemiliknya.

Sambil menerima dan memasukkan roti itu ke dalam peti, mang Sa’ik mengingat nama-nama tuan Belanda yang disebut pesuruh itu. Maklum, dia tak bisa baca tulis, namun daya ingatnya kuat.

Untuk menyebut nama tuan-tuan kebon itupun dia sulit. Nama Van Laren disebutnya Peleran, Dunkelman jadi Dongkelan dan …jadi Borokan.

Setiap hari tak kurang dari delapan jam Mang Sa’ik berada di kereta lorinya itu. Dia meninggalkan pondoknya jam enam pagi dan baru nanti jam sembilan malam kembali. Walaupun bekerja sepanjang hari, dia selalu tampak riang. Sesekali memang wajahnya muram dan pada saat itu dia tak suka bicara dan kumisnya yang lebatpun tak setegar biasanya.

“Kok diam saja, Mang ?, , tanyaku sesekali dia tampak murung.

“Ah, memang lagi sial, Yung. Kalah main”, sahutnya dingin dan aku tak berani lagi mengajaknya bercakap-cakap. Salah-salah bicara dia bisa membentak marah sambil membelalaka matanya yang kemerah-merahan. Tetapi keadaan seperti itu biasanya hanya sebentar. Jika dia nanti kembali ke lorinya dan berbaring seenaknya menunggu barang-barang yang akan dibawa, biasanya dia memanggil dan mengajakku bercakap-cakap.

“Kalau memang punya anak seperti lu, mamang kagak bakal nyuruh lu jadi sais lori, Yung”, katanya pada suatu hari setelah memanggilku.

“Tapi aku senang narik lori, Mang. Apa salahnya jadi sais lori seperti Mamang”, kataku.

“Ah, sais lori dianggap seperti sapi, Yung. Salah dikit dimaki-maki”, katanya lagi dengan nada jengkel.

“Ya, jangan bikin salah, Mang”, kataku lagi sambil tersenyum.

Tiba-tiba dia tertawa, terkekeh-kekeh. Kumisnya turun naik dan matanya jadi sipit.

“Mamang sih kagak salah, tapi si Putih, sapi sialan itu. Disuruh jalan cepat, dia merengkel kagak mau jalan. Gara-gara terlambat mamang yang diomelin”, katanya.

“Kalau dia merengkel, ya dicambuk, Mang”, kataku lagi.

“Aduh, kasihan, Yung. Dia kan capek juga. Malah lebih capek dari mamang”, katanya sambil mengusap kumisnya.

Tiba-tiba dia menoleh ke arah lain. Bik Minah, yang tinggal di belakang rumah kakek tampak sedang menyebrangi rel kereta tapi menuju ke stasiun. Mang Sa’ik mengamatinya dengan mata tak berkedip. Bik Minah sendiri tak menoleh, kendati dia tahu Mang Sa’ik mengamatinya. Dia memang benci pada sais lori itu. Setiap kali Mang Sa’ik menegurnya, dia membuang muka sambil meludah.

Setelah bik Minah menghilang ke balik sebuah gerbong di depan stasiun, mang Sa’ik menarik napas lalu termangu.

“Punya bini memang enak, Yung”, katanya sejurus kemudian. Aku hanya mencenganginya tak mengerti apa yang dikatakannya. Diapun termangu lagi, seolah-olah ada sesuatu yang diingatnya.

“Hm, memang enak, Yung. Tetapi bini sering bikin sial”, katanya lagi sejurus kemudian sambil mengelus-elus kepalaku. Aku terus mencenganginya.

“Yung. Kalau lu sudah gede, cari bini yang benar. Jangan kayak bini mamang”, katanya lagi sesaat kemudian sambil melihat jauh.

“Bini mamang kenapa?”

“Ah, bini mamang perempuan sial dangkal, disamber gledek”.

“Disamber gledek? Di mana, Mang?”

Tiba-tiba dia tertawa cekakakan, lalu bicara sambil memegang kepalaku.

“Dasarnya lu masih ingusan, Yung. Bini mamang bukan disamber gledek yang di langit, tapi disamber tuan Roston yang dulu di Pasar Tujuh. Sekarang dia sudah pindah. Tau kemana”, katanya. Lalu dia termangu lagi, tetapi sejurus kemudian bicara lagi dengan luapan emosi.

“Hm, mestinya sih Belanda itu gua bacok, biar modar”, katanya geram. Setelah itu dia terbatuk-batuk dan meludah? …!

“Mamang sudah tua. Kok tak punya anak?”, aku bertanya pula sambil mencenganginya. Dia tertawa lagi.

“Ah, dasar lu masih ingusan, Yung. Kan mamang sudah bilang, bibik lu disamber tuan Roston. Dasar perempuan sundel”, sahutnya dengan nada kesal. Lalu dia termangu lagi, seperti ada yang merisaukan hatinya. Aku jadi gelisah dan ingin meninggalkannya. Tetapi baru saja aku berdiri, dia menegurku.

“Eh, lu mau kemana? Di sini saja, Yung”, katanya seraya memegang tanganku. Lalu dicenganginya aku.

“Mamang kepingin punya anak seperti lu, Yung”, katanya dengan suara lirih. Wajahnya tiba-tiba tampak sedih.

“Kalau punya anak, apa mamang sayang?”, aku bertanya sambil tersenyum.

“Namanya anak, tentu sayang, Yung”, sahutnya sambil menatapku tersenyum. Setelah itu dia termangu lagi. Aku jadi gelisah dan pergi meninggalkannya. Dia tercengang melihat aku. Wajahnya semakin muram.

Selama libur sekolah, aku pulang ke rumah orang tuaku di kota lain. Hampir dua pekan kami tak bertemu. Tetapi begitu aku kembali, dia datang mencariku. Bersamanya ada seorang anak lelaki, sebaya dengan aku. Rambutnya dikuncung dan dia hanya bercelana kolor merah. Anak itu hanya tercengang melihatku. Matanya besar dan ingusnya terus meleleh.

“Ini anak mamang, Yung. Sekarang lu punya teman main”, kata Mang Sa’ik tersenyum, memperkenalkan anak itu.

Aku jadi tercengang dan bertanya-tanya dalam hati, mengapa dia tiba-tiba punya anak. Kiranya dia dapat membaca pikiranku.

“Namanya di Kuncung, Yung, anaknya si Tirah yang jual getuk. Sekarang jadi anak angkat mamang. Pergi ajak main-main, Yung”, katanya sambil tersenyum.

Lalu si Kuncung kuajak bermain gasing di samping gudang, tetapi anak itu kiranya tak sedang bermain-main dengan aku. Aku jadi merasa sebel melihatnya dan hendak pulang, tetapi Mang Sa’ik memanggilku.

“Mau kemana, Yung?,

“Pulang, mang”.

“Si Kuncung diajak main dong”, katanya lagi sambil melihat si Kuncung.

“Ah, dia tak mau bermain-main dengan aku, Mang”, kataku sambil pergi, tetapi masih sempat mendengar Mang Sa’ik mengomeli anaknya itu.

“Lu sih, diajak main diam aje, kayak sapi”, katanya dengan nada kesal.

Sejak itu aku enggan pergi bermain-main ke lori Mang Sai’ik. Tetapi setelah hampir sepuluh hari kami tak bertemu, entah mengapa tiba-tiba aku merasa rindu dan ingin bercakap-cakap dengan dia. Aku segera pergi mencarinya ke samping gudang. Kereta lori dan sapinya ada, tetapi dia tak kelihatan.

“Eh, kemana Mang Sa’ik”, aku bertanya-tanya dalam hati. Lalu aku duduk di kereta lori itu, menunggunya.

Tiba-tiba ada seseorang datang dari arah stasiun, baru menyeberangi rel.

“Hei, Bocah. Jangan main-main di lori, nanti kejepit celaka”, katanya sambil menghampiri aku. Aku jadi agak kaget, apalagi orang itu tak pernah kukenal.

“Ah, tidak apa-apa, pak. Aku biasa bermain-main di sini. Mang Sa’ik mana ?, aku bertanya sambil terus duduk di kereta itu.

“Wah, dia dibui. Sekarang bapak yang jadi sais”, sahut orang itu agak angkuh. Aku jadi kaget.

“Mang Sa’ik dibui? Kenapa?, aku langsung betanya sambil turun dari lori itu.

“Lho, wong rotinya tuan besar itu dimakan. Ya dibui”, sahut orang itu dengan nada mengejek.

Aku segera pulang dan bertanya-tanya dalam hati, mengapa sampai Mang Sa’ik yang sering membawakan oleh-oleh untukku, memakan roti tuan Besar. Rasanya tak mungkin Mang Sa’ik berbuat demikian.

Sejak hari itu aku tak pernah lagi bermain-main di lori itu. Apa perlunya ke situ jika Mang Sa’ik yang baik hati itu tak ada.

Tetapi beberapa pekan kemudian Mang Sa’ik datang bersama si Kuncing, anak angkatnya itu. Mereka baru pulang dari Rumah Sakit. Dia agak pucat dan kumisnya yang tebal itu sudah dicukur.

“Mengapa mamang tidak jadi sais lori lagi?”, aku bertanya begitu kami bertemu. Dia tersenyum.

“Mamang sudah kagak dipercaya, Yung. Hm, gara-gara si Kuncung”, katanya sambil melihat anak angkatnya itu.

“Dia kenapa?”, aku bertanya lagi sambil mengamati si Kuncung.

“Gara-gara mamang ketiduran di lori. Eh, roti kiriman untuk Tuan Besar dicuilin sampai tinggal separoh. Kan sialan ?”, katanya sambil tersenyum. Aku merasa heran dan bertanya lagi.

“Lantas, kok mamang yang disalahka?“

“Di kantor, mamang bilang mamang yang makan. Ketimbang anak mamang digebukin centeng, mendingan mamang yang dihukum”, ujar mang Sa’ik tenang.

Aku jadi tercengang sementara dia mengelus-elus si Kuncung.

“Hei. Sing-sringin ingus lu. Jorok”, katanya mendadak, sesaat kemudian ketika melihat ingus anak angkatnya itu meleleh.

Kuncung langsung menyedot ingusnya kembali ke hidung sementara Mang Sa’ik tertawa.

“Hm, Kuncung, Kuncung. Buang ingus saja lu kagak bisa, udah kepingin makan roti tuan Besar”, katanya sambil memegang kuping anak angkatnya itu.

Si Kuncung hanya mencenganginya sementara ingusnya terus meleleh. Akupun tak bicara apa-apa lagi, sementara hatiu bertanya-tanya mengapa sepotong roti tuan Besar dapat menjebloskan Mang Sa’ik ke penjara.

Wetan 1951.

Ruang 3x3 meter

Hari itu Badrun betul-betul sial!

Karena terlambat tiba di pabrik, Mandor Giman marah dan memaki-makinya.

“Kowe digaji tuan Maskapai untuk kerja, bukan untuk ngeloni binimu. Asu!”, katanya di depan buruh-buruh lain.

Dia benar-benar merasa tersinggung. Tak patut mandor Giman bicara sekasar itu, biarpun dia terlambat tiba di pabrik. Ah, kalau tak mengingat kedua orang anaknya yang masih kecil, entah apa yang sudah dilakukannya tadi terhadap mandor yang sombong dan penjilat itu. Rasanya ia ingin menggonyoh mulutnya ataupun mencekiknya sampai mati.

Dia memang sudah mengaku salah karena telah melanggar peraturan yang berlaku. Ketika dia terbangun pagi tadi, matahari sudah agak tinggi. Teman-temannya sudah sejak tadi pergi ke tempat pekerjaan masing-masing.

Tanpa membasuh mukanya terlebih dulu, dia pergi berlari-lari ke pabrik penggilingan karet tempatnya bekerja itu. Baru sekali itu dia datang terlambat, tetapi Mandor itu tak punya pertimbangan. Begitu dia datang, mandor itu langsung memaki-makinya dengan kata-kata kotor yang menyakitkan hati.

Dia merasa jengkel dan sakit hati. Dia juga merasa kesal karena tak bisa menjelaskan mengapa dia datang terlambat. Mana mungkin dia menjelaskan, mengapa semalam, menjelang subuh dia tak bisa tidur. Seharusnya mandor itu tepo selero—dan mengerti bahwa dia baru saja 3 hari menikah. Tetapi mandor itu memang selalu mau menang sendiri.

Dengari hati kesal Badrun terus bekerja sebagai penggiling getah. Cairan getah yang sudah dibekukan seperti bantal digiling menjadi lembaran-lembaran tipis.

Ketika lonceng istirahat berbunyi pada jam 11 siang itu dia buru-buru pulang ke pondoknya yang terletak lebih kurang satu kilometer dari pabrik. Perutnya sangat lapar dan badannya agak kurang enak. Mungkin masuk angin karena pagi tadi dia pergi bekerja tanpa sarapan apapun. Apalagi malamnya dia kurang tidur.

Keminem, janda yang baru tiga hari menjadi istrinya telah menunggunya di depan pintu.

“Kata mbakyu Tirah, mas dimarahi mandor Giman. Apa iya?”, tanya wanita itu begitu Badrun tiba di rumahnya yang hanya 3x3 meter.

Badrun agak kaget mendengar bicara istrinya itu. Dia tak menyahut karena merasa jengkel istrinya mendengar peristiwa buruk yang dialaminya tadi.

“Memang mbakyu Tirah gatal mulut. Apa perlunya dia menceritakan peristiwa yang memalukan itu pada Keminem”, katanya menggerutu dalam hati.

“Mas salah apa, kok dimarahi?”, tanya istrinya yang merasa penasaran pertanyaannya tak dijawab. Badrun yang bertambah jengkel terus membungkem.

“Kenapa dimarahi, Mas?”, tanya wanita itu lagi mendesak.

“Ah, mandor Giman itu memang penjilat. Aku baru bikin salah sekali, mulutnya sudah seperti kakus. Hm, kalau tidak ingat kowe dan anak-anak dia sudah kubacok”, kata Badrun tiba-tiba dengan luapan emosi sambil melemparkan topinya ke bale-bale. Istrinya jadi termangu.

“Ya, sabar, Mas. Ketimbang dipecat dari pekerjaan kan susah”, katanya sejurus kemudian sambil melihat Badrun dengan perasaan iba.

Badrun tak menanggapi lalu meneguk segelas air teh yang sudah disediakan Keminem.

“Anak-anak kemana?”, dia bertanya sejurus kemudian sambil meletakan gelas yang sudah kosong.

“Pergi dengan teman-temannya ke Pondok Besar. Sebentar lagi kan pulang”, sahut istrinya sambil meletakan bakul nasi di meja. Dia hanya memakai kutang, tanpa baju.

Sambil menarik bakul nasi ke deranya, Badrun sempat melirik payudara istrinya yang montok. Dia tersenyum, matanya bergerak-gerak gelisah, sementara wanita itu meletakan sayur asam dan sambal terasi didepannya.

“Dahar, mas. Tadi aku bikin sayur asam”, katanya seraya tersenyum. Tetapi Badrun tak menyahut dan pandangannya menyebar mengamati keadaan kamar tempat tinggalnya yang sempit itu. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah kandag ayam yang tergeletak di dekat pintu belakang.

“Kandang ayam itu pindahkan keluar, Nem”, katanya sambil mulai mengisi piringnya.

“Lho. Dipindah keluar, mas?”, istrinya bertanya sambil mencenganginya.

“Iya, pindah saja. Bekasnya disapu dan gelarkan tikar. Anak-anak biar tidur di situ”, katanya tanpa ragu. Keminem kaget.

“Lho. Anak-anak tidur di situ?”, dia bertanya heran.

“Iya, supaya tidak umpel-umpelan di bale-bale. Mana bisa tidur pules kalau bersempit-sempit”, sahut Badrun sambil mengunyah nasinya.

“Kalau dipindahkan keluar, ayamnya bisa dicuri maling. Nanti Lebaran kan kita perlu ayam?”, kata Keminem sambil mengisi gelas air minum Badrun.

Badrun yang sedang makan jadi tertegun, berpikir.

“Iya, ya. Sekarang banyak maling. Kalau begitu gerobokan itu saja dipindahkan ke luar”, ujarnya sambil melihat ke sebuah lemari sederhana terbuat dari triplek bekas peti getah sheet.

“Ah, jangan, mas. Kalau gerobokan itu diluar, piring mangkok kita bisa hilang. Jangan, mas”, bantah wanita itu.

Badrun tertegun lagi, berpikir-pikir, seperti agak kebingungan.

“Kalau tak ada barang yang dipindahkan ke luar, anak-anak tidur di mana?”, tanyanya sejurus kemudian.

“Ya di bale-bale bersama kita. Apa salahnya. Abis, rumahnya sempit”, kata Keminem pula sambil tersenyum.

Badrun menarik napas lalu termenung. Pikirannya jadi simpangsiur. Dia takseang anak-anaknya tidur bersama-sama mereka. Tetapi bagaimana harus mengatakan itu pada istrinya? Untuk berterus terang dia merasa malu. Apalagi anak-anak itu anak kandungnya dari istri pertama. Dia jadi gelisah. Istrinya itu kiranya kurang tanggap, tak mengerti mengapa Badrun seperti merasa keberatan anak-anaknya tidur sebale-bale dengan mereka.

“Ah, memang sulit juga”, kata Badrun tiba-tiba, sambil menghela napas dalam.

“Sulit apa, mas”, istrinya bertanya sambil mencenganginya.

“Ya sulit, Nem. Tadi aku datang terlambat karena bangun kesiangan. Gara-gara anak-anak tidak cepat tidur”, ujar Badrun dengan nada kesal, sementara istrinya tiba-tiba tersenyum.

Malam tadi, sampai dinihari dia dan Badrun menunggu anak-anak itu tidur. Maklum, mereka tidur bersama-sama di bale-bale yang sempit, sementara udara panas dan nyamuk banyak tak kepalang tanggung. Di ruang seluas 3x3 meter itulah mereka tidur bersempit-sempit, diantara barang-barang milik mereka; gerobok makanan, gerobok peralatan dapur, peti-peti triplek tempat pakaian, kandang ayam dari bambu, pendaringan tempat beras, jemuran pakaian kerja, tong tempat air minum.

Ketika Badrun menikahinya, Keminem tak pernah mempersoalkan di mana mereka akan tidur di kamar yang sempit itu. Dia mau menjadi istri Badrun karena kasihan melihat anak-anaknya. Ibu mereka telah meninggal dunia, tiga tahun yang lalu, padahal mereka masih kecil-kecil.

Misran, akan yang pertama baru berumur tujuh tahun. Adiknya, seorang perempuan, Tuminah berumur 4 tahun. Selama ini Badrun sendirilah yang mengurus anak-anaknya itu, padahal ia harus pergi bekerja setiap hari.

Sungguh, dia kasihan melihat Badrun dan anak-anaknya itu. Itulah yang menyebabkan ia rela dinikahi lelaki itu dan tak pernah merasa keberatan untuk tidur sebale-bale dengan Badrun dan anak-anaknya.

“Bagaimana kalau malam anak-anak tidur di rumah dik Parto, Nem? Dia kan bujangan”, tanya Badrun sekonyong-konyong, setelah lama termangu.

“Aduh, jangan, mas. Nanti orang mengira aku tidak suka pada anak-anak Mas. Biar sempit umpel-umpelan kan lebih baik tidur dirumah kita sendiri”, sahut istrinya ketus.

Badrun terdiam. Penolakan istrinya itu cukup beralasan. Namun bagaimanapun persoalan tidur anak-anaknya itu terus menggerayangi pikirannya. Dia terus termangu, tetapi tiba-tiba Misran dan adiknya Tuminah datang berlari-lari.

“Pak…”, kata Tuminah sambil terus menyandarkan badannya ke dada Badrun. Badrun tersenyum.

“Ayo, makan”, katanya sambil mengelus anaknya itu.

“E, Bapak tadi malam kelonan […]”, ujar Misran tiba-tiba sambil nyengir memandang bapaknya.

“Hus. Kurang ajar”, bentak Badrun lalu menjewer kuping Misran. Anak itu ketakutan dan berlari keluar.

“Kenapa dimarahi, mas”, tanya Keminem yang menyaksikan peristiwa itu dengan nada kecewa.

“Anak kurangajar, ya harus dimarahi. Coba, kalau dia bilang begitu dimana-mana. Akan bikin malu”, sahut Badrun dengan perasaan jengkel.

Istrinya diam saja sementara pikiran Badrun semakin kalut.

“Ah, begini saja, Nem. Kandangan ayam itu saja kita pindahkan keluar”, katanya sambil mengambil topinya dan terus pergi. Wanita itu tercengang melihat suaminya pergi.

Selama berjalan menuju ke pabrik, pikiran Badrun agak tenang. Dia sudah memutuskan untuk memindahkan kandang ayamnya keluar. Biar Misran dan Tuminah tidur di bale-bale, dia dan istrinya tidur di lantai bekas tempat kandang ayam itu.

Tetapi tiba-tiba pikirannya kacau lagi. Apa yang harus diperbuatnya jika Keminem menolak dan tetap ingin tidur bersama anak-anak itu di bale-bale? Badrun bertambah bingung…

“Kok kang Badrun kelihatan lemes saja?”, tanya Parto, temannya, bercanda sambil tersenyum, begitu dia tiba di pabrik. Teman-temannya yang lain ikut tersenyum. Badrun hanya nyengir.

“Semalam kan panas. Nyamuk seperti setan. Aku jadi kurang tidur”, katanya. Teman-temannya yang gemar bercanda terus tertawa.

“Kalau mau enak tidur, ya minum anggur kuat, Run. Tidurnya enak, macul-nya mantep”, kata Kang Karso pula berkelakar sambil terus tertawa.

Badrun hanya meringis, namun saran kelakar temannya itu seolah-olah memecahkan persoalannya.

“Hm. Kalau anak-anaknya diberi minuman anggur sedikit sebelum tidur, tentu mereka akan tidur pules dan badannya sehat”, pikirnya sambil terus bekerja.

Ketika lonceng di Perkebunan Karet itu berbunyi pada jam lima sore, Badrun buru-buru pulang dan mampir ke toko baba Amang langganannya, dia menghutang sebotol Anggur Obat kuat.

“Haya, lu baru punya bini, sekalian minum anggur, Badrun”, kata Cina tua pemilik toko itu sambil tersenyum.

“Badan capek, tauke. Saban hari giling getah”, sahut Badrun tersenyum sambil mengambil anggur itu dan buru-buru pulang.

“Kandang ayamnya sudah kupindahkan keluar, Mas”, ujar istrinya begitu dia tiba di rumah.

“Bekasnya sudah dibersihkan, Nem?”, tanya Badrun tersenyum lega sambil meletakan botol anggur itu di gerobokan.

Keminem agak tercengang melihat suaminya membawa sebotol anggur.

“Mas, beli anggur obat?”, dia bertanya heran.

“Oh, iya. Biar badan tidak terlalu capek menggiling karet setiap hari. Minum anggur kan tidur bisa pules”, sahut Badrun tersenyum. Setelah itu dia mengambil timba dan pergi ke sumur di belakang rumahnya.

Begitu dia mulai menimba air untuk mandi, terdengar suara guntur di kejauhan.

“Hm, hujan…”, katnya sambil mendongak melihat gumpalan awan hitam yang bergerak dari arah barat. Tak lama kemudian angin mulai berhembus kencang. Daun-daunan para yang kering mulai beterbangan sementara halilintar mulai membahan.

Badrun buru-buru mengguyuri badannya lalu bergegas pulang. Keminem, istrinya di rumah juga pontang-panting menyelamatkan gaple yang dijemur di halaman.

“Sebentar lagi hujan, Nem”, kata Badrun yang pulang dari sumur berlari-lari.

“Kalau hujan, ayam kita bagaimana, mas. Kasihan anaknya”, kata istrinya agak gugup begitu ada guntur menderu.

“Ayo, kita masukkan lagi ke dalam”, kata Badrun sambil membetulkan sarungnya yang merosot dan langsung memindahkan kandangnya.

“Anak-anak biar tidur di bale-bale. Kita di bawah saja, Nem”, katanya sejurus kemudian. Istrinya tersenyum lega.

“Pantesnya memang begitu, Mas”, katanya sementara Badrun meliriknya penuh arti.

Malam itu hujan lebat, seperti disiram dari langit. Guntur menderu-deru dan kilat sambar menyambar. Air hujan yang dihempaskan angin ke atap seng rumah itu, terdengar seperti jeritan yang menakutkan.

Badrun termangu, berpeluk lutut di bale-bale. Sudah tiga batang rokok dihabiskannya namun hujan tak juga reda. Keminem, istrinya tidur di samping Tuminah sambil mengelus-elus kepala anak tirinya yang baru saja tertidur. Misran, anak yang lelaki belum juga tidur. Dia berselimut sarung dan menindih kepalanya dengan bantal karena takut mendengar suara air hujan yang terhempas ke atap seng.

Ketika malam yang dingin itu bertambah larut, Badrun merasa gelisah, kendati sudah setengah gelas anggur yang diminumnya. Sebentar-sebentar ia melirik istrinya yang menelentang di samping Tuminah. Sesaat kemudian dia melirik Misran yang masih menggelisah, belum tidur.

“Ayo, tidur Misran”, katanya dengan nada kesal.

“Iya, pak”, sahut anak itu sambil terus berselimut dan menutupi mukanya. Badrun menarik napas.

“Sebentar lagi kan dia tidur, mas”, ujar Keminem sambil menyelimuti Tuminem yang sudah tidur lelap. Badrun tak menoleh, tetapi tiba-tiba turun dari bale-bale itu dan pergi menuangkan anggur ke gelas lalu meneguknya.

“Dingin ya, Nem?”, dia bertanya sambil melihat ke arah istrinya yang masih menelentang di samping Tuminem.

“Iya, mas. Dingin betul”, sahut wanita itu tanpa menoleh.

Badrun termangu di tepi bale-bale seolah-olah sedang memikirkan sesuatu. Sejurus kemudian dia menoleh ke istrinya.

“Si Misran diberi sedikit anggur, ya Nem. Supaya tidak kedinginan”, katanya.

“Lho. Nanti dia mabuk”, sahut wanita itu sambil bangun.

“Ah, tidak. Ini kan anggur obat, Nem”, kata Badrun sambil terus pergi menuangkan anggur di gelas.

“Kalau dia mabuk bagaimana…?”, tanya Keminem lagi dengan nada gusar.

“Ah, tidak. Ini anggur obat. Ayo, suruh Misran bangun”, tukas Badrun seolah-olah tak sabar.

Keminem tampak ragu, tetapi dibangunkannya juga anak tirinya itu.

“Bangun Ran. Ayo bangun. Ayo minum obat dulu”, katanya sambil menarik kaki Misran. Anak itu segera duduk, sementara ayahnya sudah memegang hampir setengah gelas anggur.

“Minum ini ya. Biar tidak kedinginan”, ujar Badrun sambil mendekatkan gelas berisi anggur itu ke mulut Misran. Misran yang mencium bau anggur itu mulanya menolak, tetapi Badrun setengah memaksanya.

“Ayo minum. Manis, kok”, katanya sambil memegang dagu anak itu. Lalu Misran mencicipinya dan ketika terasa manis dia mau meminumnya.

“Hm, enakkan. Nah, sekarang tidur yang enak”, ujar Badrun tersenyum sementara anaknya itu berbaring lagi.

Keminem yang hanya melihat peristiwa itu dengan perasaan gusar, tiba-tiba kaget.

“Aduh, banjir, mas”, katanya sambil turun dari bale-bale dan buru-buru memindahkan barang-barang mereka yang masih ada di lantai. Air hujan yang meluap dari parit-parit kebun karet itu mulai membanjir dan masuk ke rumah. Badrun segera turun membantu istrinya.

Gaplek dalam karung, bekas peti getah lembaran yang dijadikan tempat pakaian, gulungan tikar yang sudah robek-robek, pendaringan, selop, terompah kayu, sapu lidi terpaksa dipindahkan ke bale-bale. Ayam yang di kandang menggelepar-gelepar, berteriak.

“Ayamnya, mas”, kata Keminem cemas. Badrun buru-buru mengangkat kandang itu, namun akhirnya kebingungan karena tak ada tempat yang lowong untuk tempat kandang ayam itu. Sementara itu hujan tak juga henti dan petir sambar menyambar.

“Aduh Gusti. Mengapa nasib kita begini, mas”, tercetus dari mulut wanita yang kebingungan itu. Sambil melihat genangan ari yang semakin tinggi, sementara Badrun terus berdiri memikul kandang ayamnya.

Tiba-tiba terdengar suara Misran ngerang.

“Aduh, aduh., pusing, pak. Aduh”, katanya sambil duduk dan memegang keningnya.

Keminem dan suaminya terkejut.

“Aduh, kenapa?”, tanya Keminem sambil terus naik ke bale-bale yang sudah penuh barang itu. Badrun yang memikul kandang ayam tampak kebingungan.

“Kenapa Misran”, tanya Keminem lagi dengan perasaan cemas sambil memeluk Misran yang terus saja mengerang.

“Barangkali masuk angin, Nem”, kata Badrun yang berdiri di pinggir bale-bale sambil terus memikul kandang ayamnya. Tetapi, baru saja dia berkata begitu, tiba-tiba Misran muntah. Isi perutnya berhamburan ke tikar tidurnya. Bau anggur yang tajam menyebar memenuhi hidung.

Keminem memijit-mijit tengkuk anak itu dengan perasaan sangat gusar.

“Tadi aku sudah bilang. Jangan diberi minuman begitu. Kok mas tega menyuruh Misran minum. Sekarang jadi begini”, katanya mengomeli suaminya.

“Ah, dia masuk angin”, kata Badrun membela diri dan begitu dia mengatakan itu Misran muntah lagi lalu mengerang.

“Aduh, aduuh, pak…aduh”, katanya sambil menangis. Badrun semakin bingung, sementara istrinya yang merasa kesal mengomel lagi.

“Kok, mas. Sampai hati menyiksa anak sendiri”, katanya sambil terus memijit Misran. Misran tampak sedih. Rasa penyesalan mulai menjalari hatinya.

“Aduh, pak…aduh”, Misran terus mengerang, sementara ibu tirinya yang merasa kasihan terus memijitnya dengan mata berkaca-kaca…

Tiba-tiba Badrun melemparkan kandang ayam yang sejak tadi dipikulnya dan naik ke bale-bale.

“Bapak yang salah, bapak yang salah”, katanya sambil memeluk anaknya. Mendengar pengakuan Badrun itu, istrinya merasa iba.

“Kasihan si Misran, mas”, katanya sedih.

“Aku yang salah, Nem”, sahut Badrun sambil memangku anaknya yang sudah mulai tenang dan tak muntah lagi. Istrinya tak berkata apa-apa lalu membersihkan tikar tidur yang penuh muntah Misran.

Ketika Misran tertidur lagi dipangkuan Badrun, Keminem bicara dengan suara lirih.

“Kita ini orang susah, Mas. Harus selalu sabar”, katanya. Badrun tak segera menyahut. Ia termangu seakan-akan mengenang sesuatu. Namun sejurus kemudian dia bicara sambil melihat kandang ayamnya yang sudah digenangi air.

“Iya, Nem. Kita orang susah. Rupanya kita harus selalu sabar”, katanya.

“Gusti Allah kasihan pada orang yang sabar, mas”, ujar istrinya lagi.

“Iya, Nem”, kata Badrun sambil memandang istrinya yang tampak pasrah. Sementara itu hujan terus turun diiringi gemuruh guntur berkepanjangan, seolah-olah musik duka yang mengiri cucuran airmata manusia pekerja di kamar tiga kali tiga meter.

Bukitlawang 1950.

Pensiun

Kami telah berkenalan; Aku dan Mang Kasio! Orangnya kecil, periang dan gemar berkelakar. Di tempat tinggal kami itu—sebuah perkebunan tembakau Belanda di kaki Bukit Barisan—Mang Kasiolah orang yang paling baik hati.

Dia sayang padaku, entah karena aku suka mengajaknya bercakap-cakap ataupan karena kebetulan aku anak seorang Kerani. Bukankah jabatan Kerani merupakan pangkat terhormat bagi seorang Inlandar di perkebunan itu ? Nah, ayahku Kerani gudang sedangkan Mang Kasio hanya seorang masinis Muntik.

Aku sendiri senang dan mengagumi pekerjaan Mang Kasio. Dia dengan kereta api kecil yang disebut Muntik itu, setiap hari pergi ke sebuah kota kecil. Entah untuk mengantarkan bal-bal tembakau yang akan dikirim ke Pelabuhan Belawan, atau untuk membawa kuli-kuli yang akan pergi atau pulang dari Rumah Sakit di kota kecil itu. Pada hari gajian akhir bulan dia mengangkut mereka yang pergi berbelanja ke kota.

Jarak dari tempat tinggal kami ke kota itu lebih kurang lima belas Kilometer. Sepanjang rel terhampar ladang-ladang tembakau dan hutan jati yang seolah-olah memagari ladang tembakau itu.

Bukan main girangnya hatiku bila sesekali memperoleh kesempatan naik Muntik ke kota. Jika sedang melewati ladang-ladang tembakau, biasanya Mang Kasio membunyikan seruling muntiknya, seolah-olah menyapa kuli-kuli yang sedang bekerja di panas terik. Mereka yang mandi keringat itu menoleh dan melambai-lambaikan tangan ataupun berteriak-teriak memanggil teman-temannya yang ada di lori muntuk. Mang Kasio tersenyum di lok muntiknya.

Mang Kasio yang periang dan gemar berkelakar itu kadang-kadang juga cepat naik darah dan marah, walaupun hanya sebentar.

Jika kami—maksudku si Ceming, si Turah, si Kuncung, si Tomblok dan aku—sekonyong-konyong melompat ke atas lori yang sedang dilangsir di dekat gudang, dia marah.

“Ayo turun. Kalau kowe jatuh kakimu putus. Kampret!”, teriaknya geram sambil membelakakan matanya.

Lalu teman-temanku, anak-anak kuli kontrak itu, lari ketakutan. Aku sendiri keras kepala dan menganggap larangan tersebut hanya ditujukan kepada teman-temanku itu. Aku anak seorang Kerani, Mang Kasio tak akan berani memarahi.

Jika Mang Kasio marah, bukanlah karena dia benci pada kami. Sebenarnya dia senang pada kami. Jika akhir bulan dia menerima gaji, biasanya dia membelikan gula-gula untuk kami. Diapun tertawa terkekeh-kekeh melihat kami yang saling berebut mencari gula-gula yang dilemparkan ke semak-semak di dekat gudang.

“Uwis..! Ayo pergi main ke sana. Jangan main di lori”, katanya setelah melihat kami masing-masing mengulum gula-gula.

Mang Kasio sendiri tak punya anak. Dia sudah lama hidup membujang. Barangkali itu sebabnya dia menyayangiku. Jika ia melihat aku bermain-main di pinggir rel, dia menghentikan loknya dan menyuruh aku naik.

“Jangan lompat-lompat di rel lori. Kalau kowe jatuh, Mamang dimarahi engku Kerani”, katanya sambil menarik tanganku naik ke loknya.

“Kalau kebetulan ada Tuan Besar, lekas sembunyi ya. Kalau ketahuan kowe main-main di lok, Mamang bisa dipecat”, katanya lagi setelah aku berada di lok, sambil menarik alat penggerak loknya. Lalu: jas-jus-jas-jus-jas-jus…dan bergeraklah lok muntik itu. Ah, bukan main girangnya hatiku pada saat demikian.

“Kalau sudah besar, aku mau jadi masinis lok muntik seperti Mamang”, kataku. Diapun tertawa riang.

“Hm. Kalau kowe sudah besar, Mamang sudah pensiun, Yung”, katanya sambil mengelus kepalaku. Lalu aku menatapnya kagum.

“Kapan Mamang pensiun?”.

“Wah masih lama. Barangkali sama dengan ayahmu”.

“Kalau sudah pensiun, Mamang kemana?”

Dia tak segera menjawab, termangu. Sejurus kemudian dia sekonyong-konyong tersenyum.

“Kalau pensiun, Mamang kepingin membeli rumah di kampung”, katanya dan setelah itu menghela napas dalam. Pandangnya menerobos jendela bulat lok itu, seolah-olah asyik mengagumi jalur rel yang terhampar lurus ke depan di tengah-tengah hutan Jati. Tiba-tiba dia bicara lagi.

“Kalau kowe sudah besar, jangan jadi masinis. Jadi Kerani saja seperti ayahmu, Yung. Di dalam lok panas, kotor. Gajinya juga kecil”, katanya sambil menatapku.

“Tapi aku lebih suka menolong orang. Bisa pergi ke mana-mana”, kataku.

Lalu dia tertawa mengusap-usap kepalaku kendati aku tak acuh karena terpesona oleh pohon-pohon Jati yang seolah-olah membungkuk menghormati kami.

Sesekali kami melintas ladang-ladang tembakau yang menghijau dengan puluhan kuli-kuli pria dan wanita yang sedang bekerja. Mereka memakai topi lebar dan banyak yang tak memakai baju. Bukan main senangnya aku pada saat-saat begitu. Semuanya mengagumkan: Mang Kasio, loknya, hutan jati, ladang-ladang tembakau, kuli-kuli bertopi lebar tanpa baju. Semuanya kurasakan seolah-olah menyatu dengan diriku.

Bunyi roda lok yang menciut-ciut sepanjang rel kurasakan seperti sebuah nyanyian yang tak terlupakan.

Tetapi pada suatu ketika aku dipisahkan dari Mang Kasio dan semua yang mengagumkan itu. Ayahku mengalami nasib buruk.

Aku baru pulang bermain-main di lok Mang Kasio ketika mendengar ibuku menangis di kamar, sedih, terisak-isak. Ayahku termenung di ruang tamu dengan wajah muram. Begitu aku datang, ayah memelukku. Kulihat matanya agak merah, berkaca-kaca.

“Kita pindah, Yung”, katanya dengan suara agak serak. Aku jadi tercengang.

“Pindah? Kenapa pindah, yah?”, aku bertanya heran. Ayah memelukku lagi, bertambah erat dan wajahnya semakin muram.

“Ayah diberhentikan”, katanya agak tertegun-tegun dan setelah itu dia termangu lagi. Aku sendiri belum bisa memahami mengapa ayahku sangat murung. Dia mengelus-elus kepalaku. Aku jadi ikut sedih, seolah-olah ketularan. Akhirnya aku menangis dan airmataku menetes ke tangan ayah. Tiba-tiba ayah memegang daguku. Dia menatapku, tersenyum.

“Tak usah menangis, Yung. Ayah akan mencari pekerjaan lain supaya kamu bisa terus sekolah”, katanya sambil menyeka airmataku. Kuamati wajahnya dan tiba-tiba aku merasakan kegetiran yang terlihat pada garis-garis mukanya.

“Kalau pindah, Buyung tak bisa naik muntik lagi, Yah”, kataku iba.

“Tapi…kita harus pergi dari sini”, kata ayah membujukku. Namun aku terus menangis.

Sekonyong-konyong Mang Kasio datang. Wajahnya tampak murung.

“Saya dengar engkau diberhentikan”, katanya sambil menyalami ayah.

“Iya, betul. Sudah nasbi, Kang Kasio”, sahut ayah tersenyum kendati terasa juga kegetiran pada suaranya.

Mang Kasio hanya tunduk. Rupanya dia ikut merasa sedih karena ayah diberhentikan.

“Buyung tak bisa naik lok Muntik lagi, Mang”, kataku sedih.

Mang Kasio hanya mencengangi aku tanpa bicara sepatahpun. Barangkali dia merasakan kesedihanku karena tak dapat lagi bermain-main di loknya

Tiba-tiba dia nenoleh pada ayahku. Pandangnya seolah-olah diliputi kabut tebal.

"Saya tak bisa membantu apa-apa, engku”, katanya lirih.

“Saya mohon doa Kang Kasio, supaya si Buyung bisa terus sekolah”, kata ayah sambil memegang bahu Mang Kasio. Masinis Muntuk yang baik hati itu hanya mengangguk dan menundukkan kepala lalu mengusap-usap kepalaku. Setelah itu dia buru-buru pergi tanpa berkata sepatahpun. Tak lama kemudian kudengar suara loknya di kejauhan: jas-jus-jas-jus-jas-jus. !

Sejak itulah kami berpisah…

Kenangan pada lok muntik Kang Kasio telah kabur, ketika dua belas tahun kemudian aku ikut latihan baris-berbaris di halaman Markas Pemuda Pejuang Kemerdekaan. Revolusi Agustus meledak dan dengan djiwa muda yang bergelora aku ikut Barisan Pemuda yang oleh Belanda dijuluki ekstremis.

Hanya beberapa kali ikut latihan baris-berbaris, bertiarap dan menembak, lalu langsung praktek di medan pertempuran melawan Tentara Nica.

Deru lok muntik Mang Kasio yang begitu kusenangi, digantikan oleh deru tank dan panser yang menyebarkan maut. Teriakan kuli-kuli di ladang-ladang tembakau yang terik digantikan oleh dentuman mortir dan lengkingan peluru. Topi pandan kuli-kuli digantikan oleh helm-helm baja.

Jika aku dulu suka melompat-lompat dan berlari-lari mengejar lok muntilk Mang Kasio yang meluncur di rel, kini aku juga melompat-lompat dan berlari-lari dari parit ke parit sambil memberondongkan senjata otomatis ataupun melemparkan granat maut.

Jika dulu aku dan teman-temanku anak-anak kuli kontrak; si Ceming, si Turah, si Kuncung. si Tomblok di Sekolah Kelas III Perkebunan diajari menyanyikan lagu “Panjang Umur Ratu Kita", kini sehabis bertempur, menyanyikan lagu Mariam Tomong beramai-ramai.

Aku dan teman-temanku, yang sebagian juga anak-anak kuli kontrak, tak pernah merasa takut, tak pernah merasa capek dalam melakukan tugas perjuangan. Tak seorangpun yang menghapkan pujian ataupun tanda penghargaan. Di hatiku ada sesuatu yang selalu mendorong dan mengobarkan semangatku. Aku tak tahn apa sebenarnya itu. Yang jelas, aku selalu merasa puas jika telah melakukan tugasku ataupun merasa bangga jika suatu ketika dapat menomorduakan kepentinganku demi kepentingan bersama. Aku bangga rambutku gondrong karena tak sempat bercukur. Aku juga tak merasa malu jika pakaianku amat sederhana dan berbau mesiu atau lumpur, karena berminggu-minggu tak sempat dicuci. Aku memang tak pernah memikirkan mengapa aku begitu. Boleh jadi karena gadis-gadis temanku lebih senang pada pemuda-pemuda yang rambutnya gomrong, tak berganti-ganti pakaian, tak punya duit, tetapi selalu ikut bertempur di front. Mungkin juga karena aku acapkali mendengar kata-kata: “Hei Pemuda. Di tanganmu terletak nasib Bangsa!” Ataupun karena aku sering mengingat ucapan Bung Karno: Beri aku sepuluh pemuda, aku akan menggemparkan dunia.

Kata-kata itu sungguh membakar hatiku. Aku seorang pemuda. Hari depan bangsa di tanganku. Itulah yang sering dibisikkan hatiku. Dan aku selalu teringat pada Bangsaku; Mang Kasio, si Ceming, si Turah, si Kuncung, si Toblok. Akupun tak bisa melupakan kuli-kuli yang bekerja sejak pagi hingga petang di ladang-ladang tembakau, di hutan-hutan Jati. Mungkin itu yang selalu mengobarkan semangat juangku dan membuat aku tak pernah merasa takut untuk melawan Nica.

Ketika pada tanggal 21 .lull 1947 Belanda menyerbu daerah Republik, pasukanku berada di front barat. Tank, panser, pesawat terbang dikerahkan oleh Belanda untuk menghancurkan Republik. Pertempuran sengit berkobar di semua front.

Pagi itu tank-tank dan panser musuh menyerbu kubu-kubu pertahanan kami. Kendati persediaan peluru sangat kurang, kami memberikan perlawanan sengit.

Si Madi, temanku yang melayani sebuah senapan mesin buatan Jepang yang kami beri nama “Sanggul Dua” gugur oleh pecahan peluru mortir.

Si Ratna, gadis temanku yang aktif di palang merah gugur ditembus peluru yang ditembakkan dari pesawat Mustang.

Peristiwa itu membakar semangat kami untuk terus bertempur membalas dendam.

“Merdeka atau Mati”, teriak teman-temanku sambil menembakkan senjatanya masing-masing.

Lebih dari tiga jam kami bertahan di kubu itu, tetapi akhirnya kehabisan perluru dan terpaksa mundur sambil bertempur. Kami masing-masing merasa kesal karena tak dapat meneruskan perlawanan. Kami mundur ke daerah pegunungan untuk menyusun kekuatan demi melanjutkan perlawanan dengan cara bergerilya. Oleh karena persedian puluru sangat terbatas, kami menggunakan semboyan “satu peluru untuk satu nyawa serdadu Nica".

Perobahan situasi berlangsung cepat dan aku ditugaskan memimpin sebuah pasukan kecil, bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Ada kalanya kami bersembunyi dibukit-bukit lalu menggempur konvoi Belanda, ataupun menyergap patruli musuh secara mendadak. Aku betul-betul merasa berbahagia jika berhasil menghancurkan sebuah konvoi musuh. Jika ranjau yang kami tanam di jalan tiba-tiba meledak, kami segera menghujani serdadu Rica yang panik itu dengan beberapa granat yang kami sebut "manggis". Melihat musuh bergelimpangan di jalan itu, aku girang dan puas karena merasa telah membalaskan dendam teman-temanku yang telah gugur di front barat.

Namun, pada suatu hari terjadi peristiwa yang membekas dalam di hatiku. Pasukanku mendapat perintah untuk meledakkan sebuah jembatan. Aku merasa bangga mendapat kepercayaan itu. Kendati jembatan itu berada di daerah yang dikuasai Belanda, aku berani melakukannya. Aku tahu betul jalan-jalan pintas menuju ke sana. Jembatan itu tak jauh dari kota kecil tempat tinggalku, ketika ayahku diberhentikan dan pindah dari Perkebunan. Aku betul-betul yakin pasukanku akan mampu melaksanakan tugas tersebut. Hanya masih ada satu hal yang harus ditanggulangi. Aku memerlukan bahan peledak. Ke mana aku harus mencarinya?

Aku segera menghadap Komandan Batalyonku untuk meminta petunjuk. Aku benar-benar kaget ketika Komandanku memberi perintah agar aku pergi ke perkebunan tempat tinggalku dulu.

“Saya kenal betul perkebunan itu, karena semasa kecil saya tinggal di sana, Komandan”, kataku agak bangga.

“Hm, bagus. Di sana banyak bom peninggalan Tentara Jepang…”, kata Komandanku tersenyum.

Aku segera berangkat ke sana. Ada perasaan aneh yang mendesak di hatiku. Sekonyong-konyong segala yang kukagumi dulu muncul lagi dalam ingatanku; rumah di mana ibuku menangis, gudang tempat ayahku setiap hari bekerja, pondok tempat tinggal si Ceming, si Turah, si Kuncung, si Tomblok.

Ketika aku tiba di sana dan mataku tertumbuk pada lok muntik yang pernah kukagumi, aku benar-benar terharu. Aku seakan-akan melihat Mang Kasio berdiri di lok tersebut.

“Di mana Mang Kasio sekarang? Masih hidupkah dia?”, aku bertanya-tanya dalam hati. Tanpa sadar aku melangkah menuju lok itu dan tahu berada didekatnya. Tak seorangpun ada di depan gudang dimana lok itu berada. Aku termenung dikeheningan yang seakan-akan menjepit. Kedua jendela bulat di lok itu kurasakan seolah-olah mata Mang Kasio yang iba melihatku. Sepi, ya sepi sekali. Tak ada bunyi roda yang menciut-ciut, tak ada bunyi uap yang mendesis merenggut ketenangan, tak ada suara napas kuli-kuli yang terengah-engah memikul bal-bal tembakau dari gudang ke lori..

Aku seolah-olah nanar oleh kenangan yang menghimpit. Kucoba naik ke lok yang tampak seperti suatu bayangan yang membeku. Aku tak mampu lama-lama di situ dan bergegas turun. Aku seakan-akan mendengar kembali suara Mang Kasio memarahi teman-temanku dan mendengar tawapnya ketika melihat aku dan teman-temanku berebutan gula-gula yang sengaja dilemparkannya ke semak-semak di tepi rel.

Aku jadi benar-benar merasa rindu pada masinis tua itu.

“Di mana dia sekarang”, aku bertanya lagi dalam hati. Lalu aku berjalan perlahan-lahan mengitari lok yang lumpuh itu. Di dekat rodanya yang mulai berkarat banyak potong-potongan kayu yang basah.

“Mengapa lok ini tidak digunakan?”, aku mulai bertanya dalam hati. Tiba-tiba aku teringat akan bicaraku pada Mang Kasio.

“Kalau aku sudah besar, aku mau jadi masinis lok, Mang”, kataku dulu. Aku jadi tersenyum mengingat masa kanak-kanakku.

“Lapor, Komandan”, tiba-tiba kudengar suara seorang bawahanku. Aku cepat menoleh.

“Lapor, pak. Ada lemet siap pakai. Lima bungkus utuh”, katanya dalam bahasa sandi.

“Hm. Bagus”, sahutku girang.

Bom yang kuperlukan untuk meledakkan jembatan sudah ada lima buah, peninggalan tentara Jepang. Tetapi bagaimana mengangkut bom yang berat itu mendekati sasaran? Aku jadi termangu memikirkan soal itu. Aku langsung teringat pada Mang Kasio.

“Segera pergi ke Pondok. Cari masinis lok ini”, kataku memerintah prajurit bawahanku itu.

“Siap”, sahutnya tegas lalu bergegas pergi melaksanakan perintahku.

Aku menunggu di situ sambil memikirkan rencana melaksanakan tugasku. Tak lama kemudian bawahanku itu datang lagi melapor.

“Lapor, pak. Masinis lok ini sudah mati terbunuh ketika ikut merampas gudang senjata Jepang”, katanya. Aku benar-benar terkejut mendengar berita itu.

“Sudah mati terbunuh? Dari siapa kamu dapat keterangan itu?”, aku bertanya dengan perasaan kecewa.

“Dari orang-orang yang tinggal di Pondok”, jawab prajurit itu tegas.

Aku termangu sesaat. Walaupun hatiku sedih mendengar berita itu aku merasa bangga karena Mang Kasio, masinis yang baik hati itu, gugur sebagai pahlawan yang tak dikenal. Lalu aku menundukkan kepala sebagai penghormatan terhadap masinis tua itu.

“Terimalah penghormatanku, Mang”, kataku dalam hati dengan perasaan terharu.

Setelah itu pikiranku dirongrong lagi oleh soal mengangkut bom itu. Aku merasa gelisah. Rasanya tak mungkin kami bisa membawa bom itu mendekati sasaran jika lok itu tak dapat digunakan. Tetapi mana bisa lok itu dijalankan jika tak ada masinisnya? Aku semakin gelisah. Tak mungkin aku dapat menghancurkan jembatan itu tanpa alat peledak. Aku termangu, kebingungan.

“Apakah tak ada salah seorang dipondok yang dapat menjalankan lok itu?”, tiba-tiba terlintas pertanyaan itu dibenaku.

Pertanyaan itu seolah-olah mendesakku untuk segera pergi ke Pondok. Siapa tahu ada orang lain yang bisa menjalankannya.

Begitu aku tiba di sana, penghuninya saling berbisik sambil mencengangiku dengan pandang bertanya. Aku menghampiri mereka sambil mengamati setiap orang kalau-kalau di antara mereka ada yang kukenal.

“Merdeka. Merdeka!”

Tiba-tiba ada yang mengucapkan salam perjuangan.

“Merdeka”, sahutku seraya menoleh.

“Bapak mencari siapa?”, tanya seorang lelaki tiba-tiba, sambil mendekati aku.

“Saya memerlukan orang yang bisa menjalankan lok muntik”, kataku sambil tersenyum ramah. Orang itu mengernyitkan keningnya.

“Wah sekarang tidak ada, pak. Masinisnya, si Kuncung sudah meninggal”, katanya dengan wajah agak murung.

“Kuncung?”, aku bertanya kaget.

“Iya, pak”, sahut orang itu.

Aku jadi termangu, bertanya-tanya dalam hati apakah Kuncung yang disebut orang itu adalah si Kuncung temanku dulu. Tiba-tiba orang itu bicara lagi.

“Itu, pak, bini mendiang si Kuncung. Kasihan. Anaknya tiga orang”, katanya sambil menunjuk seorang wanita kurus yang sejak tadi memperhatikan kami.

Lain kuhampiri wanita itu. Dia mencengangi aku dengan pandang bertanya. Aku jadi agak gugup. Kerongkonganku seolah-olah tersumbat. Kuusap-usap kepala anaknya sementara wanita itu terus mencengangi aku dengan bibir yang bergerak-gerak seolah-olah hendak mengatakan sesuatu yang tak terucapkan. Kuamati wajahnya yang kurus itu. Tiba-tiba muncul sesuatu dalam ingatanku.

“Ah, kowe kan Tomblok?”, tiba-tiba terlontar saja pertanyaan itu tanpa kusadari.

Dia terkejut. Matanya yang sayu tiba-tiba bersinar.

“Kok bapak kenal saya?”, dia bertanya sambil mencengangiku.

“Aku si Buyung, anak kerani gudang yang suka main-main di muntuk”, sahutku sambil tersenyum. Dia benar-benar kaget dan kiranya sangat terharu.

“Aduh, Buyung”, dia seolah-olah berteriak menyebut namaku lalu merangkul kakiku dan menangis tersedu-sedu. Aku jadi gugup dan bingung. Rasa harus melecut-lecut hatiku. Tanpa sadar aku membungkuk dan memegang bahunya.

“Aku baru saja mendengar si Kuncung sudah tak ada, Blok”, kataku dengan perasaan galau. Tangisnya makin menjadi-jadi.

“Sabarlah Mblok. Betapapun, suamimu gugur sebagai pahlawan”, kataku sambil mengangkatnya berdiri.

Orang-orang yang ada di Pondok mulai mengerumuni kami sambil saling berbisik dan memandangi aku. Lalu satu demi satu mereka datang menyalami aku tanpa berkata apa-apa. Namun dari sorot mata mereka memancar perasaan kagum terhadap aku, bocah nakal yang dulu senang bermain-main di lok dan sekarang kembali sebagai pemuda berambut gondrong yang membawa senjata dan disebut pejuang kemerdekaan.

“Kasihan si Kuncung, pak. Dia ditembak serdadu Jepang”, ujar seorang lelaki tua yang datang menyalami aku.

Aku seras mengenal wajah orang tua itu. Kucoba mengingat-ingatnya.

“Apa lupa sama Bapak Kromo?” tanyanya tiba-tiba sambil tersenyum.

“Pak Kromo, ya? Aduh maafkan, aku lupa, pak”, kataku sambil merangkul orang tua yang dulu bekerja di gudang membantu ayahku dan sering datang ke rumah kami. Kiranya pak Kromo juga sangat terharu karena kurangkul seperti orangtuaku. Matanya jadi berkaca-kaca.

“Aduh tidak disangka bisa ketemu lagi, Yung”, katanya tersendat-sendat.

Setelah itu ada orang yang mempersilakan aku duduk di sebuah bale-bale, sementara seorang ibu datang membawa ceret dan beberapa cangkir.

Setelah menghabiskan secangkir teh pahit, Tomblok kuajak bercakap-cakap. Dengan airmata berlinang dia menceritakan bagaimana si Kuncung, suaminya ikut menyerbu gudang penyimpanan senjata Jepang yang ada di perkebunan itu. Suaminya dan beberapa pemuda gugur ditembak serdadu Jepang:, namun gudang senjata itu dapat direbut oleh Barisan Pemuda.

Aku terharu mendengar kisah itu, namun pikiranku terus digerayangi persoalan lok yang begitu penting.

“Apa Mang Kasio masih hidup, pak Kromo?”, akhirnya aku bertanya pada orang tua itu.

“Dia masih ada, tetapi sudah tua betul, Yung”, sahut pak Kromo.

“Mang Kasio masih hidup?”, aku bertanya kaget.

“Ya, masih”

“Di mana dia sekarang?”

“Di Kampung. Jauh juga dari sini, Yung”.

Mendengar keterangan pak Kromo aku benar-benar merasa sangat girang. Harapan untuk dapat menggunakan lok itu muncul lagi.

“Barangkali Mang Kasio mau menolongku. Aku harus ke sana, ke Mang Kasio”, kataku dalam hati.

Aku tak membuang-buang waktu dan sesegera berangkat diantarkan pak Kromo, walaupun sudah tak kuat berjalan cepat.

Kami melalui jalan pintas dengan menyeberangi sungai yang airnya deras dan berbatu-batu. Selama di perjalanan, muncul berbagai persoalan di benakku. Masih bisakah Mang Kasio yang sudah tua memperbaiki dan menjalankan lok itu.: Jika tak bisa, apa yang harus kulakukan untuk mengangkut bom itu? Persoalan itu benar-benar meresahkan hatiku.

Setelah berjalan kira-kira satu jam, kami tiba di sebuah daerah perladangan.

“Kita sudah hampir sampai, Yung”, ujar Pak Kromo tiba-tiba. Mendengar itu keinginan untuk segera bercakap-cakap dengan Mang Kasio terasa mendesak. Suaranya, tawanya, hardiknya yang dulu seolah-olah terdengar lagi.

Akhirnya kami tiba di halaman rumahnya yang ditanami pohon singkong. Hatiku berdebar-debar ketika mendekati rumahnya yang sangat sederhana. Pandangku menyebar mencari-cari.

Sekonyong-konyong dia muncul dari samping belakang rumahnya. Dia tampak kurus dan sangat tua. Kulitnya kehitam-hitaman dibakar terik matahari dan karena tak memakai baju terlihat garis-garis tulang rusuknya.

Dia menyongsong kami dengan tersenyum ramah. Aku hampir-hampir tak mampu menahan gejolak rasa haru . Aku seolah-olah terjepit antara kegembiraan dan kekecewaan. Gembira karena bertemu lagi dan kecewa karena dia sudah sangat tua dan rasanya tak mungkin lagi dapat nembantuku.

“Eh, Mo”, katanya begitu melihat pak Kromo, dan lansgung menyalaminya. Aku tersenyum. Tiba-tiba Mang Kasio membungkukkan badannya, memberi hormat kepadaku. Barangkali karena aku berambut gondrong dan membawa pistol. Matanya yang cekung mengamati aku dengan pandang bertanya.

“Ini si Buyung, anak kerani gudang, Kang”, ujar pak Kromo memperkenalkan aku.

Mang Kasio tercengang. Diamatinya wajahku, seakan-akan tak percaya bahwa aku betul-betul si Buyung yang sering bermain-main di loknya.

“Buyung anak engku Anu?”, dia bertanya seraya melihat pak Kromo.

“Iya, Mang. Mamang lupa?”, terlompat saja kata-kata itu dari mulutku.

Tiba-tiba dia merangkulku. Badannya gemetar.

“Aduh Buyung. Kowe sudah sebesar ini?”, katanya sementara matanya mulai berkaca-kaca.

“Iya, mang, tapi belum jadi masinis muntik”, kataku berkelakar sambil tertawa, untuk mengurangi ketegangannya.

Dia menundukkan kepala sambil menyeka air matanya.

“Mamang tentu sudah pensiun,”, kataku lagi sejurus kemudian. Dia jadi agak gugup dan sambil menarik aku masuk ke rumahnya dia berkata.

“Nasib mamang jelek, Yung”

“Kenapa?”

“Hanya tinggal menunggu setahun lagi pensiun, tahu-tahu Nipon datang. Mamang dipaksa bekerja terus”

“Lantas?”

“Hm. Apalagi dipensiun, makan saja cuma diberi gaplek campur jagung”

Mendengar bicaranya itu aku jadi termangu sementara dia tampak kesal. Lalu dia menanyakan keadaan orang tuaku. Ketika kukatakan ayahku telah tak ada, dia termenung.

“Nasib ayahmu serupa nasib mamang, Yung. Tak pernah pensiun”, katanya sejurus kemudian dengan nada sedih.

Aku diam saja dan setelah itu ia banyak nenanyakan soal-soal perjuangan dan kujawab semampuku. Aku sendiri sudah tak berniat lagi untuk meminta bantuannya. Dalam kondisinya setua dan selemah itu rasanya tak mungkin dia melakukan pekerjaan yang berat. Aku benar-benar tak sampai hati menyuruhnya memperbaiki dan menjalankan lok tua itu.

Setelah kami agak lama bercakap-cakap sambil makan ubi rebus, tiba-tiba dia menoleh ke jendela lalu memegang bahuku.

“Sudah sore, Yung. Mendingan di sini saja, ya. Mamang masih kangen,” katanya dengan nada mengharap.

Aku jadi merasa serba salah. Hati kecilku seakan-akan mendesak agar aku menginap di situ memenuhi harapannya. Barangkali dia akan terhibur, tetapi bagaimana dengan tugasku? Aku jadi agak ragu dan tak segera menjawab.

“Sebenarnya aku kepingin betul tidur di sini, Mang. Tetapi ada tugas yang harus segera kulaksanakan. Tugas itu sangat penting ", kataku sejurus kemudian.

Dia tak bicara dan hanya memegangi aku. Di matanya terbayang kekecewaannya. Aku iba melihatnya.

"Kalau masih ada umur, lain kali aku datang lagi dan menginap, Mang”, kataku sembari menghiburnya. Dia tersenyum.

"Kalau mau datang, beri kabar, Yung", katanya bersungguh-sungguh.

"Oh, iya, Mang, tetapi.., mungkin masih lama. Atau mungkin juga kita hanya dapat bertemu sekali ini", kataku berterus terang.

Dia agak terperanjat dan langsung bertanya.

"Kenapa begitu ?,

"Aku harus segera berangkat, Mang"

"Kemana?”

“Tak begitu jauh Mang, tetapi…berbahaya”

Dia jadi agak gelisah. Seakan-akan merasa kuatir. Dicenganginya tanganku.

“Yung. Sebelum berangkat ke sini dulu, ya. Mamang punya ayam. Biar mamang panggang untuk lauk makan diperjalanan”, katanya tulus.

Aku benar-benar merasa terharu.

“Barangkali aku tak bisa ke sini lagi karena dalam satu dua hari ini harus melakukan persiapan. Kalau si Kuncung masih hidup, barangkali malam ini juga aku berangkat,” kataku dengan perasaan agak berat.

“Lho, kok si Kuncung?”, dia bertanya kaget seraya mengernyitkan keningnya.

“Iya, mang. Kalau dia masih hidup, barangkali dia bisa membantuku, Mang”, sahutku.

Dia makin tercengang.

“Membantu apa?”, dia bertanya heran.

Aku tak segera menjawab karena merasa ragu. Perlukah kujelaskan pada Mang Kasio? Tetapi orangtua itu terus bertanya, mendesak. Akhirnya kujelaskan juga.

“Kalau dia masih hidup dia tentu bisa membantu menjalankan lok muntik", kataku berterus terang.

“Menjalankan lok muntik?”

“Iya,mang. Aku harus membawa barang yang berat. Barang penting untuk perjuangan".

Mendengar bicaraku itu dia terdiam, tetapi tiba-tiba dia pergi ke kamarnya dan tak lama kemudian dan datang lagi sambil membelitkan kain sarungnya di leher dan memakai baju. Aku jadi tercengang dan bertanya-tanya dalam hati.

“Lok itu rusak, Yung. Tapi coba mamang betulkan. Mana tahu bisa jalan lagi”, katanya tanpa ragu. Aku jadi tercengang.

“Mamang yang membetulkan?”, aku bertanya tergagap-gagap.

“Lho, iya, Yung. Ayo kita berangkat sekarang supaya tidak kemalaman”, katanya tanpa ragu barang sedikitpun.

Hampir sehari semalam Mamang Kasio berupaya memperbaiki lok muntik itu. Di samping aku dan beberapa prajurit, pak Kromo dan beberapa orang penghuni pondok juga ikut membantu. Tomblok istri almarhum Kuncung dan beberapa wanita lain ikut menyediakan makanan dan air minum, kendati hanya tiwul dan teh tanpa gula.

Menjelang magrib keesokaan harinya Mang Kasio berhasil menggerakkan lok itu. Suara jas-jus nya yang begitu banyak menghiasi kenanganku, sekonyong-konyong terdengar lagi memecah kesepian malam. Kalau bukan karena mengihgat segi keamanan rasanya aku ingin bersorak-sorak karena kegirangan. Tanpa sadar aku langsung memeluk Mang Kasio. Dia tersenyum lega.

“Sekarang dia bisa jalan lagi, Yung. Kowe bisa lompat-lompat lagi seperti dulu”, katanya sambil tertawa lebar.

“Aku masih kepingin jadi masinis, Mang”, kataku pula girang. Setelah itu kami pergi beristirahat ke Pondok.

Keesokan harinya bom-bom yang akan kubawa diangkut ke lori. Untuk menghindari serangan pesawat terbang Belanda, baru malamnya sekitar jam 23.00 kami berangkat. Anggota-anggota pasukanku naik di lori menjaga alat-alat peledak itu sementara aku sendiri berada di lok, menemani Mang Kasio.

Oleh karena roda-roda lok itu hampir-hampir tak berminyak pelumas, Mang Kasio tak berani menjalankan lok itu cepat-cepat. Bunyi roda yang menciut-ciut dan dengus uapnya yang tak putus-putus, seolah-olah bunyi ombak yang terhempas, memecah kesepian hutan jati yang kami lalui. Bunga api yang menyembur dari cerobong asap lok menggarisi tebing malam yang kelam, indah mengagumkan.

Mang Kasio yang kemaren tampak sangat tua dan tak berdaya, sekonyong-konyong gesit dan bersemangat. Keringatnya bercucuran seperti dulu. […] asap dari panas dapur lok itu seolah-olah memberinya kekuaan. Pada saat itulah baru kusadari betapa besar kecintaan orang tua itu pada kerja dan lok untuk itu. Sejak itu pula kusadari bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya memerlukan […] yang bertempur di front tetapi juga setiap orang yarg rela berkorban.

“Capek Yung?”, dia bertanya tiba-tiba ketika melihat aku termangu di sampingnya.

“Ah, tidak, mang”, sahutku agak gugup.

Dia tersenyum lalu sejurus kemudian bicara lagi.

“Kalau mamang punya anak, tentu dia ikut kowe bertempur, Yung”, katanya lirih. Setelah itu dia menghela napas dalam, seakan-akan ada yang meresahkan hatinya.

“Mamang sih. Dari dulu membujang terus”, kataku sambil tersenyum. Dia menoleh melihatku dan hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa sementara lok itu terus bergerak walaupun lambat: jas-jus-jas-jus-jas-jus!

Hanya tinggal beberapa kilometer lagi dari tempat menurunkan bom-bom itu, ketika lok itu mendadak macet. Aku benar-benar merasa cemas kalau-kalau lok itu tak bisa diperbaiki lagi.

“Aduh, bagaimana, Mang”, aku bertanya gusar.

“Ya, kita dandani lagi, Yung", sahutnya dengan tenang, sehingga kecemasanku berkurang.

Mang Kasio segera memeriksa beberapa bagian lok itu. Wajahnya tampak tegang.

“Apa bisa diperbaiki lagi, Mang”, aku bertanya lagi tak sabar.

“Kita coba, Yung. Harus bisa", katanya dengan penuh keyakinan. Aku jadi agak tenteram.

Setelah lebih dua jam Mang Kasio berupaya memperbaiki lok itu namun belum juga berhasil, aku merasa ccmas. Apa jadinya jika sampai siang lok itu belum dapat bergerak dan pesawat pengintai musuh melihatnya. Pasti mereka akan menembaki dan membomnya.

Aku benar-benar gelisah sementara embun muai turun merayapi kami dan lok itu. Aku segera memutuskan untuk menurunkan bom-bom itu dan menyembunyikannma di parit-parit hutan jati.

Sementara kami menurunkan dan menyembunyikan bom peledak itu, Mang Kasio masih terus berupaya memperbaiki lok tersebut.

“Bagaimana, Mang”, aku bertanya lagi setelah bom-bom itu kami amankan.

“Sebentar lagi jalan, Yung”, sahutnya tegas.

Ternyata apa yang dikatakannya itu benar. Beberapa menit kemudian lok itu dapat digerakkan lagi.

“Ayo, kita berangkat, Yung”, katanya sambil menyeka keringat.

“Mang. Kita tak bisa meneruskan perjalanan”, kataku sambil menatapnya.

“Lho, kenapa?”, dia bertanya heran.

“Berbahaya, Mang. Kita kesiangan dan biasanya pada pagi hari pesawat terbang musuh melakukan patruli. Kalau mereka melihat lok ini, pasti mereka membomnya”, kataku menjelaskan.

Dia mencengangiku dengan pandang bertanya, tetapi tak berkata apa-apa.

“Sebaiknya mamang membawa lok dan lori ini kembali ke perkebunan secepatnya, sebelum pesawat terbang musuh datang”, kataku tegas.

“Lantas bagaimana kowe membawa barang-barang itu, Yung?”, dia bertanya sesaat kemudian.

“Karena sudah dekat, bisa kami pikul, mang”, sahutku.

“Oh, iya, hati-hati, Yung”, katanya lagi sambil menatapku iba.

“Doakan supaya kita bisa ketemu lagi, ya Mang”, kataku pula sambil menyalaminya.

Dia hanya menganggk lalu naik ke loknya. Setelah itu dia menoleh lagi melihatku.

“Hati-hati, Yung”, katanya dan setelah itu dia menarik alat penggerak lok itu. Lok itu mulai bergerak lambat, seolah-olah enggan meninggalkan kami. Mang Kasio menoleh lagi, melambaikan tangannya.

“Selamat jalan, Mang. Sampai bertemu lagi”, kataku sambil melambaikan tangan dengan perasaan iba.

Lok itu terus meluncur semakin cepat dan akhirnya membelok di sebuah tikungan dan lenyap dari pandangan. Hanya suaranya masih terdengar sayup-sayup menyedihkan: jas-jus-jas-jus…!

Aku segera mengatur bawahanku untuk mulai mengangkat bom-bom itu. Tetapi baru saja aku memulainya, tiba-tiba ada prajuritku yang berteriak.

“Ada pesawat terbang”, katanya gugup.

Aku kaget dan segera mendongak untuk melihat pesawat itu. Beberapa detik kemudian terdengar bunyi sebuah pesawat menderu-deru. Sebuah pesawat Mustang muncul, menuju ke arah perkebunan.

Aku segera teringat pada Mang Kasio dan loknya dan merasa cemas. Tiba-tiba kulihat pesawat itu berputar dan menukik kearah hutan jati.

“Aduh, Mang Kasio”, kataku kaget dan sebelum sempat berpikir lagi terdengar suara berondongan mitraliur dan ledakan granat. Aku cepat bertiarap di parit sementara pesawat itu melintas di atasku sambil berputar dan kembali ke arah yang tadi lalu terdengar lagi bunyi tembakan dan ledakan granat. Sejurus kemudian pesawat itu berputar dan terbang ke arah Selatan.

Aku dan beberapa prajurit segera berlari-lari menuju tikungan yang diapit hutan jati itu. Ketika tiba di situ aku kaget. Kulihat lok itu terguling keluar dari relnya. Aku cepat berlari menghampirinya dan setiba di situ tubuhku gemetar dan airmataku bercucuran.

“Mang Kasio…”, aku menjerit begitu melihat orangtua itu tergeletak di samping loknya, berlumuran darah. Tubuhnya dirobek peluru dan pecahan granat. Dia telah gugur.

“Merdeka, Mang”, kataku dengan airmata berlinang lalu memeluknya.

Dia telah pergi untuk selama-lamanya. Dia tak pernah menerima pensiun. Tetapi kini, dia dan loknya menerima sesuatu yang melebihi pensiun; Kehormatan sebagai manusia merdeka yang berjuang membela kemerdekaan Bangsa dan Tanah Airnya.!

1955


1pacararan, berzinah