Baca EPUB: Dua Perioda di Perancis

3 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
NH. DINI
Dua Perioda di Perancis
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Nh. Dini dilahirkan di Semarang, 29 Februari 1936. Mula-mula ia menulis cerita pendek yang dimuat di majalah Kisah, yang kemudian juga dimuat dalam majalah Mimbar Indonesia dan Siasat. Ia menikah dengan Yves Coffin, seorang diplomat Perancis.

Selama dalam masa perkawinannya yang lebih dari 24 tahun, Dini telah mengunjungi banyak negeri. Antara lain ia pernah tinggal di Kobe, Jepang (1960–1962); Pnompenh, Kamboja (1963–1965); Manila, Filipina (1969–1971); dan di Detroit, Amerika Serikat (1976). Di antara masa-masa itu, ia menetap di Perancis selama lebih kurang sepuluh tahun — antara lain dengan bekerja sebagai Dame de Compagnie/Governess bagi orang tua — hingga tahun 1980, di saat mana ia harus kembali ke Indonesia untuk menjalani suatu operasi penyembuhan bagi kesehatannya.

Selain itu ia juga pernah diundang untuk berkunjung ke Jepang, atas undangan „The Japan Foundation” (1986). Cerita pendeknya dalam bahasa Perancis, „Les Nids de Poisson dans la baie de Jakarta” („Sarang Ikan di Teluk Jakarta”, 1988), memenangkan hadiah pertama Lomba Penulisan Cerita Pendek dalam bahasa Perancis (Concours de la Meilleure Nouvelle de langue française) yang diselenggarakan oleh „Radio France Internationale”, surat kabar Le Monde, dan Kedutaan Besar Perancis di Indonesia.

Buah karyanya yang telah terbit antara lain Dua Dunia (1956), Hati yang Damai (1961), Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977) Keberangkatan (1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979), Sekayu (1981), Dongeng dari Galia (1981), Pangeran dari Seberang (biografi penyair Amir Hamzah, 1981), Kuncup Berseri (1982), Tuileries (1982), Segi dan Garis (1983), Peri Poly-botte (dongeng Perancis, 1983), Orang-orang Tran (1985), Sampar (terjemahan karya pengarang Perancis, Albert Camus, La Peste, 1985), Pertemuan Dua Hati (1986), dan Jalan Bandungan (1989).

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Masa hidup saya di Perancis terbagi menjadi empat babak. Masing-masing merupakan fase pemasakan ke arah kematangan, dan masing-masing berisi pengalaman yang khas. Jika ditanya bagian mana yang paling saya sukai, saya tidak dapat menentukan pilihan. Karena keempatnya seolah-olah telah disiapkan oleh penulis skenario handal agar saling melengkapi. Seperti permainan puzle itulah layaknya.

Babak kedua, yang juga saya sebut periode „Fontenay-Aux-Roses”, di antaranya memberi pengalaman rasanya mempunyai bayi laki-laki. Sebelum kelahirannya pun, saya sudah dihadapkan pada ujian menyelesaikan masalah yang barangkali bisa dianggap gampang, namun yang secara psikologis harus ditangani dengan kelembutan. Atau dalam bahasa Perancisnya, avec doigté.

Sejak berumur dua tahun, anak saya Lintang tumbuh ditemani oleh seekor kucing blasteran ras Siam. Namanya Miu. Kucing ini tidak kami anggap sebagai binatang peliharaan, melainkan sebagai anggota keluarga. Dia saya mandikan sepekan sekali, dia tidur bersama Lintang, dia bahkan seringkali makan dari piring Lintang. Di meja makan, Miu juga mempunyai kursi melulu untuk dia. Selesai makan, pada waktu saya menyajikan pencuci mulut berupa campuran irisan buah salade de fruits, Miu mendapat bagiannya yang hanya berisi pisang dan sausnya. Karena pada suatu hari, kami mengetahui dia mengambil irisan buah dari mangkuk Lintang.

Begitu eratnya hubungan mereka berdua, sampai-sampai tidak jarang Miu menunggui Lintang di kamar kecil. Lintang amat penakut. Maka untuk ke kakus pun, dia membawa Miu. Dari luar, kami selalu mendengar percakapan Lintang, dengan disela „ngeong” si Miu, seolah-olah binatang itu sungguh-sungguh menanggapi bocah mungil itu.

Pendek kata, Miu amat menyenangkan. Dia cepat dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan apartemen. Padahal sebelum itu, kami tinggal di sebuah rumah besar dengan kebun luas di Phnom Penh (Kamboja). Ketika sampai di Paris, suatu kali saya tunjukkan bak pasir sebagai kakusnya, dia langsung mengerti.

Tetapi bagaimana pun, ada satu kekurangan Miu; dia suka menggigit-gigit semua benda atau pakaian lembut atau empuk. Di satu sisi, ini ada baiknya, karena bapaknya Lintang yang mempunyai kebiasaan membuka kaus kaki di mana-mana, menjadi lebih disiplin, langsung memasukkannya ke dalam keranjang pakaian kotor. Begitu pula Lintang, sangat rajin membenahi binatang-binatang permainannya yang terbuat dari imitasi bulu. Hanya satu kali dia lupa menggantungkan baju kamarnya. Hasilnya, sepotong pakaian yang cukup bagus, hadiah seorang sahabat saya itu, ditiduri Miu di ranjang. Untunglah kami segera mendapati dia yang sedang asyik bergumul dengan baju berharga itu. Dengan susah payah saya harus mengerahkan seluruh keahlian saya menjahit, guna menambal lubang-lubang bekas gigitan Miu.

Diperhitungkan, bayi yang saya kandung akan lahir di bulan Maret. Saat itu udara masih dingin. Jadi bayi akan terbungkus baju dan selimut yang serba tebal, terbikin dari kain yang lembut. Ditambah lagi Miu tidak biasa dengan kehadiran bayi. Bagaimana jika „disuguhi” bahan gerogotan yang empuk dan hangat semacam itu?

Hidup di Perancis dan tinggal di apartemen tidak dapat dibandingkan dengan keadaan di Indonesia. Saya tidak mau mengambil risiko „lupa menutup pintu kamar bayi”, agar Miu tidak berbuat kesalahan. Kecelakaan dapat terjadi hanya dengan satu kali kecerobohan. Dan orang tidak pernah bisa mengira sampai di mana keparahan akibat keteledoran tersebut.

Perlahan-lahan, dengan lembut dan secara bertahap, saya membuka pengertian Lintang tentang keadaan yang akan datang. Saya jelaskan sesederhana mungkin, bahwa tempat adik yang sekarang adalah sepanas tubuh saya. Jadi kalau dia keluar, harus diberi pakaian sehangat mungkin, harus di-bedong dengan popok lebar dan tebal yang disebut lange dalam bahasa Perancis. Semua itu empuk, dan pastilah Miu menyukainya untuk digigit-gigit. Dan macam-macam lagi, dan yang lain-lainnya.

Bersamaan dengan permulaan pembicaraan antara Lintang dan saya itu, paling sedikit dua kali sepekan, kami kedatangan tamu sepasang suami isteri setengah umur. Mereka teman baik kami yang baru kehilangan kucing, mati makan racun ketika dibawa berlibur ke luar kota. Teman inilah yang kami rencanakan akan menjadi „orang tua asuh” Miu, kalau Lintang mau melepaskan sahabatnya itu.

Dengan kunjungan-kunjungan teman tersebut, Lintang semakin kenal dekat dengan meréka. Begitu pula Miu.

Dan ketika saya sampai pada tahap mengatakan kepada Lintang bahwa dalam hidup ini seringkali kami tidak dapat mempunyai semuanya, bahwa orang diharuskan memilih, Lintang dapat memutuskan pilihannya: antara adik dan Miu, dia memilih adik, dengan janji harus boleh sekali-sekali menengok sahabatnya itu.

Waktu itu, umur Lintang menjelang enam tahun.

Tentu saja saya juga sedih ketika mengantarkan Miu pindah ke rumahnya yang baru. Tetapi saya yakin Lintang tidak begitu khawatir, karena dia juga tahu bahwa orang tua asuh Miu amat penuh perhatian kepada Miu. Selama beberapa hari, sambil menunggu kelahiran bayi, saya banyak membawa Lintang berjalan-jalan di taman terdekat. Kami juga banyak berbicara dan bergurau.

Itu adalah pengalaman pertama bagi saya berdiskusi secara serius dengan anak perempuan saya. Untuk seterusnya, kami berdua akan mempunyai kesempatan-kesempatan lain memperbincangkan masalah-masalah yang dia hadapi.

Beberapa hari sebelum bayi lahir, saya merasa menerima „penerangan” mengenai jalan hidup yang bakal saya jalankan. Tiba-tiba saya melihat jelas bagaimana saya harus bersikap dan berbuat. Oleh karenanya, ketika bayi lahir dan benar laki-laki seperti yang saya perkirakan, dia saya beri nama Padang. Dalam bahasa Jawa berarti terang.

Enam tahun tidak mengelola bayi tidak membuat saya kaku ketika membawa Padang pulang dari Klinik „L’Hay-les-Roses”. Dimulai dari hari pertama di rumah, saya mendapat kejutan.

Pagi itu saya tinggal sendirian di apartemen. Lintang sudah dibawa bapaknya ke sekolah, sekali jalan karena dia sendiri berangkat ke kementeriannya di Quai d’Orsay-Paris.

Mandi pagi buat Padang dapat saya tangani dengan baik walaupun bertahun-tahun saya tidak memegang bayi. Setelah selesai, dia saya letakkan di meja di mana kain anduk sudah saya siapkan buat mengeringkannya. Pada waktu itulah saya menerima sembur air hangat di wajah dan baju. Sementara saya kebingungan mencari sumber dari mana semburan itu, entah dua, tiga atau lima detik, saya sudah merasa bagaikan basah kuyup! Baru kemudian saya sadar dan melihat, bahwa „burung” kecil anak laki-laki saya itulah yang melontarkan air seni dan membasahi sasaran terdekat. Begitupun, saya masih belum bereaksi dengan tepat, karena saya kebingungan hendak menghindar. Gerakan pertama ialah menjauhi, pergi dari sana. Untunglah sekejap itu pula saya teringat, bahwa meninggalkan bayi di atas meja mempunyai risiko besar. Bisa saja dia tiba-tiba menggelundung ke samping!

Lama setelah kejadian itu, saya sering berpikir betapa saya tidak siap menerima pengalaman yang sesungguhnya sedemikian sepele. Saya kurang cepat bereaksi dengan gerakan tepat.

Misalnya, mengapa saya tidak langsung mengambil popok dan menyumbat „si burung”, sehingga air seninya mengumpul pada kain? Atau bahkan anduk yang tergelar di bawah Padang pun cukup lebar untuk keperluan tersebut.

Semua itu disebabkan karena saya belum pernah berhadapan dengan bayi lelaki yang telanjang. Dan sejak hari itu, setiap kali mengganti popok atau mengeringkan tubuhnya selesai mandi, telunjuk saya teracung kepada anak saya laki-laki. „Awas!” kata saya, „Jangan mentang-mentang kamu punya ’pipa’, maka kamu kira bisa ’menghujani’ saya untuk kedua kalinya!”

***

Periode terakhir masa tinggal saya di Perancis saya beri nama „Argenteuil-Paris”.

Selama tiga tahun lebih saya hidup memisahkan diri dari rumah tangga saya. Langsung saya mendapat pekerjaan sebagai dame de compagnie, semacam perawat untuk orang tua. Tugas saya ialah menyiapkan makanan, membenahi ruangan dan kamar tidur seperlunya, menemani majikan saya menonton televisi atau keluar ke bioskop maupun teater, membacakan buku dan berdiskusi ataupun bercanda. Pendek kata seperti arti compagnie itu, saya adalah teman si majikan.

Bagian pertama dari pengalaman itu, saya bekerja pada Tuan Pierre Willm yang berasal dari propinsi Cologne, tetapi sudah lama tinggal di Argenteuil. Rumahnya besar, bertingkat tiga, ditambah ruang bawah tanah yang disebut cave atau kelder. Halamannya juga luas. Pada dinding luar, dekat trotoar, kota praja menempelkan prasasti: „Di rumah ini pernah tinggal Karl Marx. Dari tahun sekian sampai tahun sekian”. Tulisan itu terukir pada lempengan tembaga yang lebar, sehingga dapat terlihat dari jauh. Secara berkala, ada petugas dari balai kota datang untuk menggosok dan membersihkannya hingga berkilap.

Yang memberikan pekerjaan itu kepada saya adalah seorang teman yang dulu saya kenal sebagai direktris Rumah Sakit „Calmette” di Phnom Penh, namanya Alice Willm. Jadi majikan saya adalah abangnya Alice.

Pada mulanya pekerjaan saya cukup tenang dan tidak menyusahkan. Tuan Willm sangat menyayangi saya. Setiap Jum’at, dia memerintahkan agar saya mempersiapkan segala sesuatunya untuk kedatangan Lintang. Karena anak sulung saya ini bersekolah di St. Denis, di Lycée de la Légion d’Honneur dan tinggal di asrama, maka setiap akhir pekan, dia nebeng pulang ke rumah tuan Willm. Pada diri lelaki berumur 83 tahun itulah Lintang mendapatkan pengalaman „memiliki seorang kakek”. Tuan Willm mempergunakan semua kesempatan untuk menyenangkan hati kami, Lintang dan saya, memberi hadiah berharga pada hari ulang tahun kami dan seterusnya.

Ketenangan itu berlangsung hampir satu tahun. Kemudian majikan saya berangsur-angsur menjadi lemah. Pokok dari semuanya, ialah dia bosan hidup. Dia ingin segera menyusul istri yang sangat dia cintai. Walaupun saya berusaha semampu saya untuk memberinya perasaan „dibutuhkan”, tetapi anak-anak dan cucu-cucunya sendiri kelihatan tidak mempedulikan kehadirannya.

Masa itu membukakan mata saya betapa sulitnya orang menjadi tua di negeri modern seperti Perancis. Untuk beberapa waktu lamanya, saya mendapat ujian kesukaran membangkitkan rasa gairah hidup bagi majikan yang sudah menjadi teman saya itu. Berapa kali di waktu malam saya kehabisan tenaga untuk mengembalikan tubuh besar dan gemuk itu ke atas tempat tidur! Karena berkali-kali dia tidak sadar, menggelundung ke lantai.

Akhirnya, dengan tambahan datangnya perawat lelaki untuk memandikan Tuan Willm setiap pagi, hati saya agak tenang. Tetapi Tuhan menetapkan rencana lain.

Satu tahun lebih saya bekerja padanya, Tuan Willm meninggal dunia di rumah sakit. Amanat yang ditinggalkan kepada anak-anaknya, „Dini harus diperbolehkan tinggal di rumah itu sampai dia mendapat pekerjaan atau tempat tinggal lain.”

Saya memang menjadi rebutan.

Tiga orang teman baik sudah mendapatkan pekerjaan buat saya, juga sebagai dame de Compagnie. Sesungguhnya saya bisa langsung meninggalkan bekas rumah Karl Marx itu dan bekerja di tempat lain. Tetapi yang saya cari adalah pekerjaan dan tempat tinggal di kota Paris. Juga siapa yang memberi pekerjaan merupakan hal penting bagi saya. Karena meskipun saya berbaik-baik dengan teman, saya tidak suka terlalu berhutang budi kepadanya.

Argenteuil memang di pinggir kota Paris. Tetapi rumah Tuan Willm sangat dekat dengan stasiun kereta api. Jarak dari situ ke stasiun St. Lazare di Paris bisa ditempuh hanya dalam waktu tujuh menit. Sehingga pada waktu-waktu saya libur, Paris dapat saya jadikan tempat berkelana yang mengasyikkan. Namun demikian, saya belum pernah merasakan „tinggal di kota Paris” dan menikmati seluruh keindahan serta keramahannya sepuas hati saya.

Maka saya memutuskan untuk menganggur selama beberapa waktu.

Tuan Willm meninggal di musim semi. Bersama tukang kebun, saya bahkan sudah memenuhi halaman depan dengan hasil semaian saya, bunga-bunga pensée, pétunia dan bégonia. Semua itu di bawah pengawasan Tuan Willm yang duduk di teras. Lalu untuk menunjukkan kepada anak-anak majikan saya bahwa saya tahu diri, dalam perundingan, saya katakan bahwa saya minta izin tinggal di rumah itu sampai musim gugur.

Pada waktu itulah mulainya bagian kedua dari periode Argenteuil-Paris bagi saya. Rumah Tuan Willm menerima teman-teman saya bergiliran, baik yang tinggal di Perancis maupun yang dari Indonesia. Saya juga menerima titipan anak-anak dari teman-teman yang kerepotan membagi waktu antara urusan kantor dan rumah tangga. Tidak hanya itu. Binatang peliharaan pun saya terima dengan senang hati. Musim panas merupakan masa liburan bagi orang Perancis. Hanya sedikit dari mereka yang pergi sambil bisa membawa binatang kesayangan mereka. Pada suatu kali, saya mendapat titipan seekor bajing bernama si Merah bersamaan dengan si Abu-Abu, seekor kastor. Juga ada kucing anggora yang cantik, bersifat dan berkelakuan lembut seperti seorang putri. Binatang ini bahkan mau tidur bersama saya, menanggapi semua omongan saya seolah-olah mengerti dan selalu ingin mengetahui saya berada di mana. Ada lagi seekor kucing hitam kelam bernama Cassius Clay yang galak. Sampai hari akhir dia tinggal, dia tetap tidak mau ramah terhadap saya, bahkan lari ke tingkat lain, sehingga yang empunya mendapatkan kesulitan untuk menangkapnya kembali.

Selama hidup tanpa pemasukan nafkah itu, saya semakin menyadari betapa beberapa teman merupakan teman sejati, yang tidak segan-segan membagi apa yang mereka punyai demi kesejahteraan saya. Dan sebagai kontradiksi dari masa pengangguran yang tidak mendatangkan materi itu justru mulailah bagi saya perlawatan yang sesungguhnya di bidang tontonan: festival film, opera, teater, pameran-pameran. Semua itu selalu dibayar oleh teman-teman. Selama saya berumah tangga, tidak satu kali pun saya menikmati tontonan opera di gedung megah di Paris. Keluar dari kehidupan berumah tangga malahan memberi banyak kesempatan menjelajahi dunia seni dan budaya di kota Paris.

Ketika musim gugur tiba, untuk satu bulan saya tinggal di apartemen Bénédicte Milcent, seorang teman yang kemudian saya anggap sebagai kakak saya bangsa Perancis. Sebulan berikutnya saya habiskan di La Barka1 , rumah kakak saya Perancis yang lain Mireille Labat, di desa Trans-en-Provence, beberapa puluh kilometer dari kota Nice. Menjelang bulan Desember, saya menjemput Lintang ke Paris. Walaupun telah berpisah dengan suami, kementerian masih memberi saya hak tiket pesawat terbang ulang-alik ke Amerika untuk menengok anak saya Padang, yang waktu itu berumur sekitar sebelas tahun.

Penggalan dari „Souvenirs”

Sekayu, April 1991


1nama ini diangkat sebagai judul sebuah roman Nh. Dini (catatan penyunting)