Publisher Note
Digitalisasi awal oleh Membaca Soedjatmoko, artikel ini pertama kali diterbitkan dalam Majalah Siasat, 25 Januari 1953.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Tjiptaan musik jang bernilai, biar buah tangan untuk piano maupun simfoni memakai kor, melawat mengatasi batas² waktu maupun kebangsaan. Ini malahan tudjuannja. Untuk memenuhi tugas ini, dibikinlah supaja mungkin mentjapai siapa² jang mempunjai minat selera dan tertjipta perhubungan antara peminat² ini dengan si komponis, dimana sadja ia berada atau dizaman manapun djuga. Lalu musiknja tersedia sebagai tjetakan dan rekaman bunji adalah satu kebutuhan essensi. Mengusahakan dokumentasi musik adalah satu daja upaja jang wadjib dibantu seluas²nja.
Timbul beberapa pertanjaan, seperti: Adakah perhubungan komponis dengan masjarakat, ataukah mereka ini tertjerai? Adakah diberi kesempatan luas bagi publik untuk mendengar dan mengappresiasi tjiptaan² sekarang?
Apapun sebab-sebabnja, bagi kehidupan musik Indonesia chusus di Ibu Kota, kelihatan keadaan terlantar. Satu hal adalah terang: si komponis kita terpentjil. Ia tersingkir kepinggir. Ia terdesak dan tak masuk hitungan dalam negerinja sendiripun. Pihak penerbit tidak sudi menerbitkan karangannja sebab menganggapnja „UNCOMMERCIAL”; bukan barang laku untuk diperdagangkan. Paling² mereka bersedia menerima manuskrip buku njanjian sekolah² rakjat, djuga hanja djikalau P.P.K mensahkannja untuk seluruh sekolah rakjat di Indonesia dan kementrian P.P.K mendjadi pembeli dan ditjetak ratusan ribu buku. Ada pula jang bersedia mentjetaknja dengan stensil, tapi komprador atau tengkulak² beginian hanja sudi menerbitkan lagu² krontjong populer sadja jang lakunja terang seperti katjang goreng, tapi nilainja tak ada perhubungan apa² dengan sedjarah kebudajaan. Pendek kata tjiptaan² si komponis jang djudjur terhadap keseniannja tetap sunji, sebab tak dapat kesempatan diperdengarkan; tetap sunji senjap tidak memperoleh realisasi biar oleh instansi pemerintah seperti radiopun. Radio hanja pengabdi massa dalam arti, massa ini jang menetapkan politik siaran radio, sebab jang dianggap tidak memperoleh sukses dan tepuk tangan riuh dari massa ini, itu bukan kesenian. Utility begini terang adalah kompromi politik²an, dan tidak menundjukkan pengertian tentang kedudukan kesenian, biar sendjung rambutpun. Akibatnja jalah para komponis tidak mempunjai publik, dan djikapun ada sangat terbatas sekali.
Kesukaran dan rintangan² serupa ini mengenai komponistik sebetulnja bukan chusus di Indonesia sadja. Diberbagai negeri lain persoalan hampir sama sadja. Hanja disana sini terdapat usaha² jang berhasil mengatasi rintangan² atau sedikitnja memperketjil rintangan dan kesukaran tadi.
Kita pernah menerima Bulletin du Centre de Documentation de Musique Internationale (Mei 1951) dalam mana kita dapat batja bahwa para anggota seksi Pernatjis dari International Society of Contemporary Music djuga mengeluh dan menjesalkan sekali, tidak adanja suatu pusat dokumentasi, dimana terdapat semua jang ada perhubungannja dengan musik modern, seperti partitur, piring hitam dll. Anehnja sekali peristiwa, para anggota ini berkundjung kenegeri Belanda dan negeri ketjil ini ternjata mempunjai kebesaran jang unik sekali. Ternjata Nederland jang pertama kali mempunjai organisasi dokumentasi dalam lapangan musik, tidak hanja dokumentasi tapi meningkat pada penerangan pula sekalian. Para komponis anggota² ISCM kota Paris tadi segera berusaha untuk mengadakan badan dokumentasi seperti dinegeri Belanda itu: Centre de Documentation de Musique Internationale (CDMI).
Badan dokumentasi dinegeri Belanda itu bertempat dikota Amsterdam dan pendiriannja berbentuk jajasan jang diberi nama DONEMUS, singkatan dari Documentatie Nederlandsche Muziek. Dalam harian Het Parool dikabarkan baru² ini bahwa tanggal 17 Oktober tahun jang baru lalu, Donemus ini memperingati berdirinja lima tahun perpustakaan dokumentasi musik tjiptaan² komponis bangsa Belanda.
Tudjuannja adalah mentjiptakan kemungkinan² bagi komposisi zaman sekarang mentjapai para musisi: konduktor, instrumentalis, vokalis, kor dll. untuk memainkannja. Djadi njata benar, bukan eskedar hanja pusat dokumentasi lagi seperti digambarkan oleh nama jajasannja, tapi lebih lagi meningkat pada penjelenggaraan dan propaganda tjiptaan komponis bangsanja; dapat djuga dianggap mirip pada pekerdjaan suatu badan penerbit, tetapi sekali-kali bukan untuk memperoleh keuntungan: Donemus adalah non-profit!
Pada tahun 1947 sudah dapat dimulai dengan perustakaan jang berisi 300 tjiptaan musik. Kini isinja telah mentjapai 5500, djika dihitung halaman ada satu djuta pagina! Pada tahun 1949 dapat pula lebih diperluas dengan merekam permainan musiknja pada magnetofon. Terang sekali ini sekaligus mendekati kesempurnaan penerangan, sebab tiap musikus jang membatja-batja partitur dengan mata dan inner ear, sudah barang tentu suka pula sekalian mendengar musiknja, seperti mendengar gramafon. Penerangan bagaimana lagi sebetulnja ia mau inginkan ?
Dengan begini telah terdapat 600 komposisi jang direkam dan hasilnja tentnu akan lebih lagi dengan saban kali terdapatnja pesawat rekorder, wire-recorder atau tape-recorder memakai pita magnetis.
Dikota Paris dalam perpustakaan CDMI terdapat 125 tjiptaan bangsa Belanda jang dititipkan oleh Donemus disana bagi kepentingan komponis bangsanja. Dan kabarnja tidak hanja begini sadja. Dalam waktu singkat akan berikut pula pentjetakannja sekalian, sebab oleh Donemus telah terjtipta kerdjasama dengan penerbit musik UNIVERSAL di Austria, badan jang djuga akan mengedarkannja keseluruh dunia.
Tentu mungkin timbul pertanjaan fulusnja dari mana! Semua ini mungkin berkat subsidi pemerintahnja. Buat tahun 1947 sadja 55.000 rupiah. Tahun 1951 sudah 85.000 rupiah. Dan jang simpatik bukan berapanja! Dari subsidi ini sudah dapat diketahui, bahwa pemerintahnja menaruh minat besar dan perhatian jang lapang pada seni musik kreatif, pada scheppende toonkunst dan bersedia membantunja. Pengertian jang simpatik ada terhadap pengutjapan kedjiwaan dan tidak hanja terbaas pada mendengar-dengar musik belaka untuk menghibur hati dan pikiran pusing seperti di Indonesia.
Bahwa tjara dan tudjuan usaha Donemus itu didasarkan pada dokumentasi memang luas pengaruhnja. Dengan djalan dokumentasi, sekalian tertjipta pula overzicht atau ichtisar dan gambaran lengkap tentang segala hal mengenai para pentjipta musik dan karangannja. Begitu pula mereka dapat ketahui siapa² dan dimana-mana dapat menjelenggarakan permainan musiknja didalam maupun diluar negeri. Kemungkinan ini tertjipta oleh hubungan rapat antara Donemus dengan para komponis: adanja perpustakaan dokumentasi tempat memindjam komposisi untuk dimainkan ditempat sendiri; akibatnja djauh dan dalam.
Apalagi tjiptaan² jang belum diterbitkan mendapat prioritet pertama. Dengan begitu si komponis tidak perlu ragu². Ia djuga akan terhindar dari keadaan terpentjil „eilandpositie” tidak diketahui biar orang² jang wadjib mengetahuinja sekalipun.
Sebetulnja di Indonesia ada paling sedikit nama Dokumentasi. Dalam KEMPEN ada bagian chusus dokumentasi negara. Masih dalam permulaan tentu segala usahanja. Dan sangat mungkin sekali perhatian sudah ada pada jang bernama musik. Tapi perhatian sadja, belum apa². Kita menunggu hasil usah abaik dari Dokumentasi Negara RI ini chusus dilapangan dokumentasi musik, tidak hanja penerangan luar negeri, apa lagi penerangan dalam negeri!
Dari Djawatan Radio apa mau diharapkan ? Mengurus satu pesawat Retocee sadja terlalu bodoh, hinga kini itu mesin djadi karatan, ja …… karatan! Kapitaalsgoed jang bernama Retocee mempunjai potensi produksi begitu besar! Impotentie direksi radio mendjadi halangan terus-menerus.