Publisher Note
Terdjemahan bahasa Inggris dari bahasa Rusia oleh Max Hayward dan Manya Harari.
Diterdjemahkan dari bahasa Inggris oleh Trisno Sumardjo.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Tokoh-tokoh terpenting dalam roman ini
Bab Pertama: Espres Pukul Lima
Bab Kedua: Gadis dari Dunia Lain
Bab Ketiga: Perajaan Natal dirumah Sventitsky
Bab Keempat: Tibalah jang tak terhindar
Bab Kelima: Meninggalkan Zaman Lampau
Bab Kesebelas: Perhimpunan Rimba
Bab Keduabelas: Buah Arbai Dingin
Bab Ketigabelas: Diseberang Rumah Kariatid
Tokoh-tokoh terpenting dalam roman ini
Nama Keluarga Nama dan Nama Ajah (Nama Ketjil)
Keterangan
Zhivago Yury Andreyevich (Yura, Yurochka)
Vedenyapin Nikolay Nikolayevich (Kolya)
Paman Yury Zhivago
Dudorov (Nicky)
Teman Yury Zhivago
Gordon (Misha)
Teman Yury Zhivago
Gromeko Alexander Alexandrovich
Gromeko Anna Ivanovna
(lahir Krueger). Istri Alexander Gromeko
Gromeko Antonina Alexandrovna (Tonya)
Anak perempuan Alexander Gromeko
Guishar Amalia Karlovna
Guishar Larissa Fyodorovna (Lara)
Anak perempuan Amalia Guishar
Guishar Rodyon Fyodorovich (Rodya)
Anak lelaki Amalia Guishar
Komarovsky Victor Ippolitovich
Antipov Pavel Pavlovich (Pashenka, Pasha)
Galiullin Gimazetdin
Galiullina Fatima
Istri Gimazetdin Galiullin
Galiullin Iosif Gimazetdinovich (Yusupka)
Anak lelaki Gimazetdin Galiullin
Tiverzina Marfa Gavrilovna
Tiverzin Kuprian Savelyevich (Kuprik)
Anak lelaki Marfa Tiverzina
Tyagunova Pelagia (Bibi Polya)
Samdevyatov Anfim Yefimovich
Mikulitsin Avercius
Mikulitsina Helen
Istri Avercius Mikulitsin
Mikulitsin Liberius Avercievich
Anak lelaki Avercius Mikulitsin
Tuntseva Glaphira (Glasha)
Bibi Liberius Mikulitsin
Tuntseva Seraphima (Sima)
Bibi Liberius Mikulitsin
1
Mereka madju sambil menjanji „Kenangan Abadi” dan tiap kali mereka berhenti, derap kaki mereka, kuda-kuda serta embusan angin seakan-akan melandjutkan njanjian itu.
Orang-orang jang lewat menjingkir untuk pawai itu, lalu menghitung djumlah karangan bunga dan membuat tanda salib. Beberapa orang ikut serta karena ingin tahu sadja dan bertanja: „Siapa jang akan dikubur?” — „Zhivago”, djawab orang. — „O, pantas”. — „Bukan dia, melainkan istrinja”. — „Apa bedanja? Nah, semoga ia istirahat dengan damai. Pawai ini bagus”.
Saat-saat terakhir lewat tjepat menurut takdir, tak mungkin surut. „Tuhanlah jang empunja bumi serta isinja, bumi serta segenap penghuninja”. Pendeta menebarkan tanah dalam bentuk salib atas tubuh Marya Nikolayevna. Terdengar njanjian „Djiwa mereka jang adil”. Kemudian amat riuhlah chalajak. Keranda ditutup, dipaku dan diturunkan ketanah. Tanah bergumpal-gumpal berkeletuk bagai hudjan atas tutupnja, ketika kuburan buru-buru diuruk dengan empat tjatuk. Gundukan tanah tumbuh diatasnja dan seorang anak lelaki umur sepuluh tahun naik kepuntjaknja.
Pada achir pemakaman jang besar-besaran perasaan orang biasanja hampa dan beku dan inilah agaknya menjebabkan beberapa pelawat menjangka bahwa anak itu hendak berpidato atas makam ibunja.
Ia menegakkan kepala dan dari tempat ketinggiannja itu ia memandang nanar ketamasja tandus dimusim panas itu dan kekubah-kubah biara. Mukanja dengan hidung pesok itu menegang. Ia djulurkan lehernja. Kalau anak serigala berbuat begitu, pastilah ia hendak meraung. Anak ini menutup mukanja dengan tangan-tangannja, lalu tersedu-sedan. Angin menimpanja serta meletjut tangan dan mukanja dengan sambaran dingin air hudjan. Seorang lelaki berpakaian hitam dengan lengan badju ketat berdjalan kekuburan. Itulah Nikolay Nikolayevich Vedenyapin, saudara wanita jang meninggal dan paman anak jang menangis itu; ia adalah pendeta jang meninggalkan djubahnja atas permintaannja sendiri.
Dihampirinja sianak dan diantarnja keluar.
2
Mereka menginap dibiara; paman Kolya dapat kamar disitu, karena bekas pendeta. Malam itu malam terachir mendjelang Pesta Penjembahan Sang Prawan Kudus. Esok harinja mereka hendak bepergian ke Selatan, menudju kesebelah kota dipedalaman disungai Volga, tempat paman Kolya bekerdja pada penerbit jang mengeluarkan harian progresif. Mereka telah membeli kartjis dan barang-barang mereka terkemas dalam kamar. Ratapan peluit mesin-mesin berbunji dari djauh, diantar oleh angin dari djalan kereta-api jang terdekat.
Malam itu sangat dingin. Dua djendela dikamar itu setinggi tanah dan membuka pandangan pada podjok taman dapur jang tak terurus, seladjur djalan raja dengan bentjah-bentjah beku dan sepotong tanah pekuburan, tempat Marya Nikolayevna dikebumikan siang hari tadi. Ditaman dapur itu tak ada apa-apa ketjuali semak-semak akasia disepandjang tembok serta beberapa tempat persemaian kubis jang kerut-merut dan biru karena dingin. Pada tiap tiupan angin akasia tak berdaun itu menari-nari seolah kerasukan dan mengendap-endap ketanah.
Pada malam itu Yura, sianak itu, dibangunkan oleh ketukan didjendela. Kamar gelap diterangi kerdipan sinar putih jang berpuaka. Dengan hanja sepotong kemedja menutupi tubuhnja, larilah ia kedjendela dan menekankan wadjahnja kekatja dingin.
Diluar tak ada kelihatan djalan, pekuburan atau dapur taman, tak apa-apa selain badai serta udara penuh kepulan saldju. Badai ini seolah melihat si Yura dan sadar bahwa ia berdaja menakutkan, maka menderumlah ia, memekik dan berbuat sedapat-dapatnja untuk menarik perhatiannja dan sorak-sorailah ia atas hasil jang diperolehnja. Iapun djungkir-balik dilangit, selimut putih berleret-leret menjebarkan diri diatas bumi dan membungkusnja seperti dengan kain kafan. Taufan ini meradjai bumi dan tak ada tandingnja.
Ketika Yura turun dari daun djendela, hasrat pertamanja ialah mengenakan pakaian, lari keluar dan hendak berbuat sesuatu. Ia kuatir bahwa tempat kubis itu akan teruruk, hingga tak dapat digali kembali dan bahwa ibunja jang tertanam dilapangan terbuka itu akan tenggelam makin dalam, makin djauh dari padanja dibawah tanah.
Sekali lagi ia mengutjurkan air-mata. Pamannja bangun, bertjerita padanja tentang Kristus dan mentjoba membudjuknja, kemudian ia menguap dan berdiri depan djendela termenung-menung. Mereka mulai berpakaian. Tjahaja mulai terbit.
3
Waktu ibunja masih hidup, Yura tak tahu bahwa ajahnja telah lama meninggalkan mereka dengan main perempuan dan minum-minum di Siberia dan diluar negeri, pun bahwa ia telah melarutkan kekajaan keluarganja kesegenap pendjuru angin. Ia selalu mendengar bahwa ajahnja djauh bekerdja di Petersburg atau disalah satu pasar-malam besar, biasanja di Irbit.
Ketika ibunja jang tak pernah kuat itu mulai kurus-kering, iapun bepergian ke Perantjis Selatan dan Italia Utara untuk berobat. Yura dua kali ikut dengannja. Ia sering diserahkan pada orang-orang jang tak dikenalnja, sering berganti pengasuh. Ia mendjadi biasa dengan segala perobahan ini, maka dengan latar-belakang belang-bonteng ini, dilingkungi ketidak-tentuan jang terus-menerus, iapun tak heran akan ketidakhadiran ajahnja.
Ia ingat bahwa sewaktu ketjilnja banjak sekali barang-barang jang dikenal dengan nama keluarganja. Ada pabrik-pabrik Zhivago, ada bank Zhivago, gedung-gedung Zhivago, peniti dasi Zhivago, bahkan sebuah kue jang sebetulnja bernama baba au rhum, dikenal orang sebagai roti Zhivago; ja, pada suatu ketika tjukuplah orang berpesan pada sais kereta-saldjunja: „Ke Zhivago!”, maka lebih baik dari pada akibat pesanan: „Bawa aku ke Timbuktu!” ia akan membawa kita dalam kereta-saldjunja kesebuah keradjaan mudjizat diudjung dunia. Taman melingkupi kita sesunji tamasja didusun; burung-burung gagak menaburkan hudjan es, waktu hinggap didahan besar pohon-pohon ru; kokoknja berbunji seperti ranting patah; andjing-andjing datang berlarian menjeberangi djalan dari kandang-kandang baru ditempat terbuka, dimana matahari bersinar mendjelang magrib.
Semua itu sekonjong-konjong hilang. Mereka djatuh miskin.
4
Suatu hari dalam musim panas tahun 1903, dua tahun setelah ibunja wafat, Yura menjusur ladang-ladang dalam kereta terbuka jang dihela dua kuda, bersama pamannja Kolya. Mereka hendak mengundjungi Ivan Ivanovich Voskoboynikov, seorang guru dan penulis buku-buku peladjaran populer jang tinggal di Duplyanka, tanah-milik Kologrivov jang mempunjai pabrik sutra dan mendjadi pelindung besar bagi kesenian.
Hari itu dirajakan Pesta Sang Prawan Kazan. Musim panen mentjapai puntjaknja, tapi tak nampak seorangpun, entah lantaran perajaan atau lantaran istirahat tengah hari. Ladang-ladang jang baru separoh dipanen, matjam kepala seorang tawanan jang ditjukur separoh, tinggal terbakar surja. Burung-burung terbang berputar diatas. Gandum jang sudah matang berdiri tegak sunji-senjap. Djauh dari djalanan, timbunan-timbunan panen mendjulang diatas batang-batang jang terpantjang, dan kalau kita tatap lama-lama, mereka seakan bergerak, seperti para pengawas jang berdjalan dikaki-langit untuk membuat tjatatan.
„Ladang-ladang ini milik tuan-tanah atau milik petani?” tanja Nikolay Nikolayevich kepada Pavel, pesuruh penerbit jang duduk miring dibangku kereta dengan bahu terangkat dan bersilang kaki, hingga kentara bahwa ia tak bisa mengendara.
„Milik madjikan”. Pavel menjalakan pipanja serta mengisapnja; setelah lama berdiam diri ia todongkan udjung tjambuknja kedjurusan lain: „Itulah jang kami punja! — Ajo, lekas,” serunja kepada kuda-kuda; ekor dan lambung mereka diawasinja seperti tampuk alat-alat lokomotif. Tapi kuda-kuda itu tak beda dari kuda lain diseluruh dunia; kuda jang terdekat menghela bebannja dengan ketulusan bersahaja jang kodrati, sedangkan kawannja melengkungkan kuduk laksana angsa; bagi jang tak mengetahui halnja ia seperti pemboros waktu tanpa pikiran lain selain hendak berlagak menurut irama bunji gentanja.1
Nikolay Nikolayevich membawa tjobaan tjetak buku Voskoboynikov tentang masalah tanah; penerbitnja telah meminta pengarang buku itu supaja memeriksanja kembali, menghadapi penjensoran jang makin keras.
„Orang sudah main keras disana”, tuturnja pada Pavel. „Seorang pedagang digorok dan peternakan kuda seorang zemsky2 dibakar. Apa pendapatmu tentang semua ini? Apa kata orang didusunmu?”
Tapi Pavel rupa-rupanja malah mempunjai pendirian lebih muram dari pada sensor jang meminta Voskoboynikov melunakkan nafsunja dalam pendiriannya mengenai masalah agraria.
„Tuan harapkan utjapan apa dari mereka? Kaum petani itu susah dikekang. Nasib mereka terlalu baik. Itu tak baik bagi orang-orang matjam kami. Tjoba beri mereka tambang, demi Tuhan, sebentar lagi jang satu sudah mentjekik kerongkongan jang lain. — Ajo, djalan!”
Inilah kedua kalinja Yura ikut pamannja ke Duplyanka. Ia menjangka telah mengenal djalan itu; tiap kali sehabis melewati ladang-ladang dikanan-kiri dengan garis tipis hutan-rimba didepan dan dibelakangnja, iapun mengharapkan djalan berbelok kekanan, membuka pemandangan bergelombang atas tanah-milik Kologrivov, jaitu tanah terbuka jang terbentang sepuluh mil pandjangnja, dengan sungai mengkilap djauh dan djalan kereta-api diseberangnja. Namun tiap kali ia keliru. Ladang menjusul ladang, lalu ditelan oleh hutan-hutan. Pergantian tamasja demi tamasja seluas itu menimbulkan perasaan seolah tak ada djarak, hingga orang berpikir dan mimpi tentang hari depan.
Buku-buku jang kelak membuat Nikolai Nikolayevich termashur, belum djuga ditulis, tapi segala gagasannja telah menemukan bentuk. Namun ia belum sadar bahwa waktunja sudah dekat.
Segera ia akan mendapat tempatnja antara para pengarang sezamannja — para profesor universitas dan filsuf-filsuf gerakan revolusioner — sebagai orang jang sungguhpun mempunjai pengalaman seperti mereka, namun sedikitpun tak sama dalam djalan pikirannja, ketjuali dalam pemakaian istilah. Mereka semua tanja ketjuali berpegangan pada dogma ini atau itu serta puas dengan kata-kata dan gedjala lahiriah, tapi dia, Pater Nikolay, seorang pendeta, pernah mendjadi penganut Tolstoy dan idealis revolusioner dan kinipun masih bergerak. Ia mendambakan buah idaman, penuh ilham namun kongkrit jang akan menundjukkan djalan terang dan merobah dunia mendjadi baik, idaman jang tak mungkin disalah-artikan bahkan oleh seorang anak atau sitolol jang dungu, seperti halnja halilintar atau gemuruh guntur. Ia dambakan sesuatu jang baru.
Yura suka menemani pamannja. Ia mengenangkan dia pada ibunja. Seperti ibunja iapun bergerak bebas dan senang dengan jang gandjil-gandjil. Dengan tinggi hatinja ia mempunjai rasa samarata dengan semua machluk, pun mempunjai pembawaan untuk memahami segala sesuatu dalam sekedjap mata, untuk mengungkapkan buah-pikirannja jang mula-mula timbul, sebelum kehilangan arti dan daja hajatinja.
Yura gembira bahwa pamannja mengadjaknja ke Duplyanka. Tempat itu indah dan hal inipun mengingatkannja pada ibunja jang mentjintai alam dan sering membawanja djalan-djalan didusun.
Iapun ingin bertemu kembali dengan Nicky Dudorov, meskipun Nicky jang dua tahun lebih tua itu mungkin meremehkannja. Nicky adalah anak sekolah jang tinggal bersama keluarga Voskoboynikov; ketika ia berdjabatan tangan dengan Yura, ia sentakkan kedua belah lengannja sekuat tenaga dan menunduk rendah sekali, sampai rambutnja melontjat kekening, menutup separoh mukanja.
5
Nikolay Nikolayevich membatja naskah jang telah diperbaiki: „Urat saraf hajati masalah kemiskinan”.
„Kupikir Esensi akan lebih baik”, kata Ivan Ivanovich, sambil menulis pembetulannja untuk tata-huruf.
Mereka bekerdja dalam ketaraman beranda tertutup. Banjak kaleng air dan alat bertanam berserakan disitu, djas hudjan disampirkan kepunggung kursi bobrok dan binkap-binkap berlumur lumpur berdiri disudut dengan mulutnja kelantai.
Nikolay Nikolayevich mendiktekan: „Ditilik dari sudut lain, statistik kelahiran dan kematian menunjukkan............”.
„Sisipkan: ......... selama tahun jang bersangkutan...........”, udjar Ivan Ivanovich, seraja mentjatat. Angin silir masuk. Gumpalan-gumpalan granit menindih kertas-kertas.
Ketika mereka selesai, Nikolay Nikolayevich segera minta-diri.
„Taufan akan datang. Aku mesti pergi”.
„Djangan. Kau tak boleh pergi. Mari minum teh sekarang”.
Teh disediakan didalam taman. Asap arang sepoi mengalun dari samovar, menjapu bau tembakau dan bunga-bunga. Pelajan wanita mengantarkan baki berisi mentega sebungkah, buah arbai dan kue kedju. Dia memberitahukan bahwa Pavel pergi mandi kekali dengan membawa kuda-kuda. Dengan begitu Nikolay Nikolayevich terpaksa mengalah dan menunggu.
„Mari kesungai, sampai teh selesai terhidang”, saran Ivan Ivanovich.
Berkat persahabatannja dengan Kologrivov ia mendapat dua kamar dalam rumah pemimpin perusahaan itu. Rumah dengan taman ketjil jang tersendiri dipodjok jang tak terurus dalam taman besar, dekat djalan tua jang kini ditumbuhi rumput lebat dan tak dipergunakan lagi selain untuk dilalui kereta pengangkut kotoran, menudju keselokan jang dipakai sebagai pelimbahan sampah. Kologrivov, seorang djutawan jang berpikiran maju dan bersimpati dengan revolusi, sedang diluar negeri bersama istrinja. Jang tinggal ditanah-miliknya hanjalah kedua anak perempuannja, Nadya dan Lipa, disertai pendidik mereka dan serombongan ketjil budjang-budjang.
Pagar dari semak-semak berdiri jang rimbun memisahkan rumah pengusaha itu dari taman besar dengan padang-padang rumput dan kolam-buatannja jang mengelilingi rumah. Ketika Ivan Ivanovich dan Nikolay Nikolayevich menjusur pagar ini, keluarlah dari situ burung-burung sriti didepan mereka dengan djarak waktu beruntun dalam kelompok-kelompok ketjil jang sama besarnja. Berbondong-bondong mereka disitu dan memenuhi semak-semak dengan kitjauan runtut seperti air mengalir dalam pipa.
Mereka melewati rumah-rumah penangasan bunga, pondok tukang kebun dan beberapa puing batu jang tak diketahui asal-nja. Mereka bitjara tentang bakat-bakat baru didunia kesusasteraan dan kesardjanaan.
„Sudah tentu masih ada orang-orang berotak tjemerlang”, udjar Nikolay Nikolayevich, „tapi mereka tersisih. Jang lazim kita ketemukan sekarang ialah aneka-ragam kelompok dan himpunan. — Bila orang bergerombol, itulah selalu alamat keugaharian, biarpun ketaatan bersama itu ditudjukan pada Solovyev atau Kant atau Marx. Kebenaran hanja ditjari oleh perorangan dan dia memisahkan diri dari mereka jang tak tjukup tjinta pada kebenaran. Berapa banjak hal didunia jang patut kita taati? Sangat sedikit. Kupikir orang harus taat pada keabadian, jaitu kata lain untuk penghidupan, kata jang lebih kuat. Orang harus djjudjur kepada keabadian, — kepada Kristus! Tapi kaukerutkan keningmu, kawan. Seperti biasanja, kau tak mengerti sepatah katapun”.
„Hm”, sahut Ivan Ivanovich. Ia orang kurus berambut pirang, gelisah bagai belut dan mempunjai djenggot ketjil jang aneh jang menjebabkan dia serupa dengan orang Amerika dari zaman Lincoln; ia kerapkali meraupnya dan menggerumiti udjungnja. „Tentu aku berdiam diri. Kau tahu, pendirianku tentang hal-hal ini agak berlainan. Tapi kebetulan kita tiba pada hal ini; tjoba katakan, bagaimana halnja ketika kautanggalkan djubah pendeta? Aku berani bertaruh, kau tentu takut. Apa mereka telah mengutukmu?”
„Kautjoba merobah pokok pembitjaraan. Bolehlah, tak ada halangan ............ Aku tidak didjatuhi kutukan. Orang tidak mengutuk lagi sekarang. Tentu ada jang tak menjenangkan dan ada beberapa akibat tertentu. Misalnya, aku dilarang melakukan dinas sipil untuk waktu jang sangat lama, pun aku tak boleh mengundjungi Moscow atau Petersburg. Tapi itu remeh-temeh. Seperti kataku tadi, orang mesti djudjur kepada Kristus. Tjoba kuterangkan. Jang tak kaufahami ialah bahwa orang mungkin menjadi atheis, mungkin tak tahu apakah Tuhan itu ada atau harus ada, namun masih pertjaja bahwa manusia tak hidup alamiah, tapi hidup bersedjarah, dan sedjarah jang kita ketahui sekarang ini mulai dengan Kristus, dibangun olehNja dengan Evangeli. Apakah sedjarah? Sedjarah dimulai oleh abad-abad karja sistematis jang diabdikan untuk memetjahkan masalah mudjizat tentang maut, agar maut sendiri mungkin dapat diatasi. Itu sebabnya orang menulis simfoni-simfoni, mengapa mereka temukan jang tak berhingga dalam ilmu hitung serta gelombang elektromahnetis. Tapi kita tak dapat madju dalam djurusan ini tanpa gelora djiwa jang tertentu. Penemuan-penemuan ini mustahil tanpa perbekalan rohaniah, dan untuk itu segala sesuatu jang dibutuhkan telah diberikan oleh Evangeli. Apakah itu? Pertama, menjajangi tetangga — jakni bentuk tertinggi daja hidup. Sekali ia mengisi hati manusia, meluaplah ia dan harus beredar. Jang kedua ialah dua konsep jang merupakan bagian terbesar pembinaan manusia modern — tanpa itu ia tak mungkin kita bajangkan — jakni gagasan tentang kepribadian bebas dan tentang penghidupan dipandang sebagai pengorbanan. — Perhatikan, semua ini masih baru sekali. Didunia klasik tak ada sedjarah dalam artian demikian. Disitu hanja tumpahan darah, kekedjaman, kebinatangan dan para Caligula bopeng jang bebas dari dugaan bahwa tiap manusia jang memperbudak manusia lainnya tak boleh tidak mesti turun deradjatnja. Disitu ada kekekalan mati jang angkuh, berupa monumen-monumen perunggu dan tiang-tiang pualam. Baru setelah kedatangan Kristuslah manusia dan zaman-nja dapat bernafas bebas. Baru setelah Dialah manusia mulai hidup terus dalam keturunannja dan tak lagi mati dalam selokan matjam andjing — orang mulai hidup dirumah, dalam sedjarah, pada puntjak karjanja jang diabdikan untuk menaklukkan maut, sebab mereka pudjikan diri sendiri pada tudjuan ini. — Uh! Aku berkeringat matjam babi. Tak ada bedanja, kalau aku omong dengan tembok kosong”.
„Itu metafisika, kawan. Terlarang bagiku oleh dokter, perutku tak betah”.
„O, kau tak tertolong lagi. Mari beralih soal. — Wah, bersukur amat kau, alangkah indah pemandangan ini. Tapi kukira, kau tak menikmatinja, walaupun hidup disini tiap hari”.
Sungai mengkilat dalam tjahaja matahari, menjilaukan mata. Ia mengkilap sambil berkelok dan mengurai lengkungnya seperti seladjur logam. Sekonjong-konjong permukaannja berkeriput. Kapal tambang besar jang dimuat kereta, kuda, petani serta istri mereka berangkat untuk menjeberang.
„Tjoba pikir, ini baru lewat djam lima”, kata Ivan Ivanovich.
„Itulah espres dari Syzran. Ia lewat disini pukul lima lewat lima”.
Djauh dimedan itu datanglah sebuah kereta-api ketjil jang bersih, sedang mendjeladjah dari kanan kekiri; tjatnja kuning dan biru dan ia nampak ketjil disebabkan djaraknja. Tiba-tiba ia nampak berhenti. Uap jang mengepul putih, terbang tjepat diatas lokomotif dan sedjurus kemudian mereka dengar peluitnja jang mengedjutkan.
„Aneh”, kata Voskoboynikov. „Ada jang tak beres. Ia tak perlu berhenti ditengah rawa itu. Tentu ada apa-apa. Mari pulang minum teh”.
6
Nicky tak terdjumpa dirumah maupun ditaman. Yura terpaksa djalan-djalan tak bertudjuan disekitar rumah, selama pamannja dan Ivan Ivanovich bekerja diberanda; ia menduga bahwa kawannja itu sembunji, sebab ia tak suka pada tamu, sedangkan Yura tak dianggapnya sepadan.
Tempat itu bukan main eloknja. Tiap dua menit seekor djalak kuning membunjikan kitjauannja sepandjang tiga nada, diikuti oleh kesepian agar seluruh lagu sulingannja jang djernih dan lembah itu turun dan meresap dalam tamasja. Bau bunga jang ditangkap tak berdaja oleh genangan hawa, ditahan oleh panas dan terhimpun sepi atas persemaian. Timbul olehnja kenangan kuat pada Antiba dan Bordighera! Ia terus membelok kekanan dan kekiri. Hawa diatas padang rumput seperti mimpi jang mengedjutkan: suara ibunja mengiang dalam dengkur ’lebah dan ungkapan lagu burung-burung. Dibuatnja ja menggigil oleh dambaan hampa bahwa ibunja menunggu djawabannja, bahwa ia memanggilnja, disana-sini berganti-ganti.
Ia berdjalan keselokan dan dengan melalui semak-semak jang merimbuni tepinja jang bersih itu turunlah ia sampai ketumbuh-tumbuhan jang berselimpangan ditanah dasarnja. Gelap dan lembablah udara disitu antara dahan-dahan gugur; bunga hanja sedikit dan batang-batang pohon „ekor kuda” jang tertigas nampak seperti lambang-lambang keradjinan Mesir jang tergambar dalam kitab Indjilnja.
Perasaan Yura bertambah tertekan. Ia ingin menangis. Kepalanja menunduk kelutut dan iapun terisak-isak.
„Malaikat Tuhan, pelindung kudus”, doanja, „kuatkan aku didjalan kebenaran dan kabarkan pada ibu bahwa aku sentosa dan dia tak usah kuatir. Kalau ada hidup sesudah mati, ja Tuhan, terimalah dia dikediaman ilahiatmu, tempat wadjah mereka jang keramat dan adil bersinar bagai dian. Ibuku baik-budi, tak mungkin berdosa; kasihanilah dia, Tuhan, dan djangan biarkan dia menderita. Ibu!” — dalam pedihnja jang menjajat hati dipanggilnja ibunja dari sorga bagaikan orang keramat jang baru dikuduskan dan tiba-tiba ia tak betah lagi menanggung, lalu djatuh pingsan.
Tak lama kemudian ia siuman. Ketika ia sadarkan diri, ia dengar pamannja memanggilnja dari atas. Ia mendjawab dan mulai merangkak dari selokan. Sekonjong-konjong ia ingat bahwa ia belum berdoa untuk ajahnja jang tak hadir itu, seperti jang diadjarkan oleh ibunja.
Tapi sesudah pingsan itu hatinja merasa sangat ringan dan senang; ia tak mau kehilangan perasaan ini, pun ia menggagas bahwa tak akan banjak jang terjadi, djika ia tunda doanja untuk ajahnja itu. „Ajah boleh menunggu”, demikian ia njaris berpikir. Yura sama sekali tak ingat padanja.
7
Dalam kupe kelas dua dari kereta-api jang berhenti ditengah
padang diseberang sungai duduklah Misha Gordon
footnoteDi Rusia, nama Gordon kerapkali merupakan nama
keluarga Jahudi. jang bepergian bersama ajahnja, seorang
pengatjara dari Orenburg. Misha adalah anak lelaki berumur
sebelas tahun dengan wadjah perenung dan mata hitam jang
besar; ia bersekolah dalam kelas dua. Ajahnja, Grigory
Osipovich Gordon, lagi pindah kedjabatan baru di Moscow. Ibu
serta para saudara perempuannja sudah disana, sedang
membereskan rumah petak mereka.
Perdjalanan Misha dan ajahnja sudah tiga hari lamanja.
Rusia dengan ladang, padang rumput, dusun dan kotanja jang pudar oleh sinar matahari, beterbangan lalu, dibungkus dalam kepulan debu.
Deretan kereta-kereta terentang disepandjang djalan; mereka meminggir dengan susah-pajah pada simpangan djalan, maka dari kereta-api jang lari kentjang itu mereka seolah berhenti dan kuda-kudanjapun tak madju-madju.
Disetasiun-setasiun besar para penumpang melontjat keluar dan lari buru-buru kebipet; matahari jang hampir tenggelam dibelakang setasiun, menerangi kaki mereka serta roda-roda kereta-api.
Segala gerak didunia ini bila ditilik satu persatu, adalah tenang dan tertimbang, tapi djika diambil sebagai keseluruhan, nampak seperti dibius arus besar penghidupan jang memadu serta membinanja. Orang bekerdja dan berdjoang, mereka dirangsang oleh kesulitan dan kechawatiran masing-masing, namun segala kegiatan ini bagaikan pegas-pegas akan kehabisan daja, hingga mesinnja matjet, andaikata tak dikekang oleh perasaan tak atjuh jang mendalam dan meliputi segalanja. Perasaan ini timbul dari pengetahuan jang menjenangkan bahwa semua penghidupan insani itu djalin-mendjalin, dari perasaan bahwa jang satu mengalir dalam jang lain; bersukurlah orang dengan kejakinan bahwa semua peristiwa didunia ini tak hanja terjadi dibumi jang mengubur apa jang mati, tapi, dijuga ditingkat lebih tinggi jang oleh setengah orang dikenal sebagai Keradjaan Ilahi, oleh setengahnya lagi dikenal sebagai sedjarah dan oleh lain-lainnya lagi dikenal dengan nama lain.
Misha, siremadja itu merasa tjelaka dan pahit-getirinja, sebab diketjualikan dari pola umum itu. Hasrat besarnya adalah sumber utama djiwanja, maka ketidakatjuhan jang dialami dunia selebihnya itu tak memberinja kesegaran dan keluhuran budi. Ia maklum akan sifat jang sudah menjadi warisannja ini dan ia memandangnja dengan kesadaran diri jang muram. Hal ini menjebabkan dia merasa malang dan hina.
Sebab sepandjang ingatannja ia tak pernah lepas dari keherananja, mengapa machluk insani dengan tangan dan kaki seperti manusia lainnja, dengan bahasa dan tjara hidup jang sama dengan umat selebihnya, bisa begitu lain — sedikit orang jang suka padanja dan tak ada jang menjanjagi. Ia tak kundjung mengerti mengapa orang tak bisa mentjoba memperbaiki diri, kalau ia memang lebih buruk dari manusia lain. Apakah artinja menjadi seorang Jahudi? Apakah tudjuan pengertian itu? Apakah hasil atau pembenaran tantangan tak bersendjata ini jang buahnya hanja penderitaan?
Bila dia bawa masalah ini pada ajahnja, ia mendapat djawaban bawa dalih-dalihnja tak masuk akal, bahwa alasannja tak wadjar, tapi iapun tak diberi pemetjahan jang tjukup mendalam untuk membuatnja tunduk dengan mulut bungkam terhadap takdir.
Maka dengan hanja mengetjualikan orang-tuanja iapun lambat-laun memandang rendah pada semua orang dewasa jang telah menimbulkan kekisruhan ini dan sama sekali tak mampu membereskannja. Ia jakin benar-benar bahwa bila ia besar, ia akan meluruskan semuanja.
Misalnja tak seorangpun dapat menjarankan supaja ajahnja djangan mengedjar orang gila itu ketika ia lari masuk gang, tak ada pula jang mentjegahnja menghentikan kereta-api, ketika orang tadi mendorongnja kesamping, membuka pintu, lantas melontarkan diri dengan terdjerembab dari kereta espres itu, seperti tukang selam jang melontjat dari papan-lompat kedalam kolam-renang.
Kini setelah kereta-api tertahan seolah satu abad lamanja, maka djustru karena bukan orang lain selain Grigory Osipovich jang menarik rem darurat itulah membuat kesan seolah penghentian kereta-api serta keributan itu adalah karena kehendak keluarga Gordon.
Tak ada jang mengetahui, mengapa harus menunggu selama itu. Konon penghentian jang tiba-tiba itu telah merusakkan rem angin, kabar lain mengatakan bahwa kereta-api berhenti dilereng tjuram dan bahwa lokomotif tak dapat bergerak, kalau tidak menambah ketjepatannja. Pendapat ketiga menjatakan bahwa jang bunuh diri itu orang terkemuka, hingga pengatjaranja jang menemani dia dikereta-api telah mendesak supaja didatangkan beberapa pegawai dari setasiun terdekat, jakni Kologrivovka, agar dapat disusun keterangan jang resmi. Itu sebabnja pembantu masinis telah naik ketiang telegraf: lori jang membawa regu pemeriksa kini dalam perdjalanan.
Dari kakus-kakus datanglah bau busuk jang lemah, tak dapat dihilangkan seluruhnja oleh minjak wangi dan dari tempat agak ketinggian tertjium bau ajam-goreng, dibungkus dalam kertas kotor jang tertjoreng oleh minjak. Wanita-wanita dari Petersburg jang pendek-nafas dengan suara......... dan rambut jang mulai memutih, mendjelma djadi zanggi, disebabkan alat-alat ketjantikan bertjampur djelaga; mereka membedaki muka dan mengusapkan djari kesaputangan, seolah tak terdjadi apa-apa. Gang jang sempit memberi mereka kesempatan untuk menarik-narik pundak dengan lagak genit, dan ketika mereka lewat kupe, tempat Gordon duduk, Misha mendapat kesan bahwa dengan bibir tertekan mereka mendesiskan: „Aduh! Itulah komplotan halus! Mereka merasa machluk istimewa! Terpeladjar! Semua ini terlalu berat bagi mereka!”
Djenazah orang jang bunuh diri itu terbaring dirumput disisi tanggul. Darah menggoresi keningnja dengan tjorengan warna tua, seakan hendak mentjoret-hapus wadjahnja. Darah kering itu tidak seperti darahnja sendiri, tapi seperti berasal dari luar dirinja: plester jang direkatkan, atau setjetjah lumpur atau daun basah.
Orang bergilir-gilir mendjenguk dengan rasa iba, berkelompok mengerumuni dia, sedangkan temannja seperdjalanan, seorang pengatjara gemuk dan angkuh jang nampak seperti hewan jang terpiara baik dalam kemedjanja penuh keringat, berdiri disampingnja, bersungut-sungut dengan air-muka tak bergerak. Ia tersiksa oleh hawa panas dan mengipas-ngipaskan topinja. Untuk mendjawab segala pertanjaan ia mengangkat bahu dan berkata dengan geram: „Ia peminum. Apa boleh buat. Inilah hasil jang typis dari sakit ajan”.
Sekali dua kali seorang perempuan tua kurus jang memakai badju wol dan saputangan renda menengok majat itu. Dialah Tiverzina, seorang djanda; dua dari anak-anak lelakinja mendjadi masinis, maka diapun naik kelas tiga bersama dua menantunja dengan kartjis tjuma-tjuma.
Bagaikan rubiah-rubiah dengan kepala biara, dua perempuan pendiam itu ikut sang mentua dengan berkudung kain-leher. Chalajak menjingkir untuk mereka.
Suami Tiverzina mati terbakar dalam ketjelakaan kereta-api. Ia berdiri agak surut dari majat itu, tapi masih dapat melihatnja dari tjelah-tjelah kelompok orang; ia mengeluh, seakan membuat perbandingan antara dua ketjelakaan itu: „Masing-masing punja takdirnja sendiri”, demikian ia seolah berkata. „Jang satu tewas menurut iradah Tuhan, tapi demi sukmaku, jang ini meninggal karena kemewahan dan kekalutan pikiran!”
Segenap penumpang turun untuk menengok majat dan hanja kembali ketempat duduk karena kuatir barang-barang mereka akan ditjuri orang.
Ketika mereka melompat kedjalan kereta-api, lalu memetik bunga atau djalan sebentar guna melemaskan kaki, mereka merasa seolah seluruh tempat itu baru tertjipta oleh berhentinja kereta, seolah rawa sepi atau sungai lebar atau rumah bagus serta geredja ditanggul tjuram depan mereka itu tak akan ada, bila tak terdjadi ketjelakaan.
Bahkan matahari jang memantjarkan tjahaja sendjanja pada tempat pembunuhan diri itu, malu-malu seperti seekor lembu jang meninggalkan gerombolannja dekat dari situ untuk melihat orang banjak, diapun seperti alat panggung pertundjukan, gedjala setempat belaka.
Misha sangat terharu oleh peristiwa ini dan mula-mula ia menangis karena terkedjut dan iba. Sepandjang perdjalanan jang lama itu, orang jang sekarang tewas ini berkali-kali datang kekupe mereka untuk ngobrol berdjam-djam dengan ajah Misha. Ia mengatakan bahwa ia merasa lega, berkat kesopanan budi, kedamaian serta pengertian jang ditemukan padanja, maka bertanjalah ia tak henti-henti tentang segala seluk-beluk hukum mengenai tjek, peraturan pembajaran, kebangkrutan dan fraude: „Wah, tak kusangkal!” serunja atas keterangan Gordon. „Lunak benar hukum itu! Mengapa pengatjara saja berpemandangan muram sekali?”
Tiap kali orang jang urat-sarafnja remuk-redam ini mendjadi tenang kembali, kawan seperdjalanannja itupun datang mendjemputnja dari deresi kelas satu, lantas membawanja kerestorasi untuk minum sampanje. Kawan itu tak lain dari pengatjara gemuk jang tertjukur bersih, berpakaian bagus tapi kurang beradat itu jang kini berdiri disisi majat, dengan pandangan seolah tak ada jang perlu diherankan. Sulitlah untuk melepaskan kesan bahwa kegelisahan langganannja jang terus-menerus tadi telah menguntungkan baginja, entah bagaimana.
Ajah Misha mengatakan padanja jang bunuh diri itu seorang djutawan, Zhivago, tukang pelesir jang baik-hati, tapi waktu itu ia setengah sinting. Tak atjuh akan hadirnja Misha, iapun bertjerita tentang mendiang istrinja serta anaknja lelaki jang sebaja dengan Misha, kemudian tentang keluarganja jang kedua jang ditinggalkannja pula seperti jang pertama. Tiba kesoal itu ia lalu ingat sesuatu, mendjadi putjat sebab takut dan mulai kumat-kamit serta kehilangan djalan tjeritanja.
Terhadap Misha ia menunjukkan kesajangan jang sukar difahamkan dan agaknja mentjerminkan perasaannja terhadap orang lain. Ia menghudjani anak itu dengan hadiah-hadiah jang dibelinja setelah ia melompat disetasiun-setasiun besar; disitu orang djuga mendjual alat-alat permainan serta barang-barang keanehan setempat dalam kios-kios buku dikamar-tunggu kelas satu.
Ia minum tak henti-henti dan mengeluh bahwa ia tak tidur tiga bulan dan tiap kali ia sadarkan diri, sungguhpun untuk waktu singkat sadja, iapun menderita siksaan jang tak dapat dibajangkan oleh manusia normal.
Achirnja ia masuk bergegas dalam kompartimen mereka, menggapai tangan Gordon hendak mengatakan sesuatu, tapi tak sanggup bitjara, lantas lari kebordes dan melontarkan diri dari kereta-api.
Kini Misha mengamat-amati peti kaju ketjil berisi batu-batu galian dari Ural, hadiah terachir dari jang wafat itu. Sekonjong-konjong orang banjak itu bergerak. Sebuah lori berderak-derak diatas rel disebelah. Seorang dokter, dua agen polisi dan seorang amtenar dengan kokar ditopinja melontjat keluar. Berbagai pertanjaan diutjapkan dengan suara resmi jang dingin dan tjatanpun dibuat. Dengan terpeleset dan tergelintir, polisi dan para kondektur menjeret dengan tjanggungnja majat itu keatas tanggul. Seorang petani perempuan mulai menangis. Para penumpang diminta kembali ketempat duduk, kondektur meniup peluit dan kereta-api berdjalan lagi.
8
„Inilah Minjak Keramat”, pikir Nicky dengan geramnja, sambil mentjari djalan keluar dari kamar. Suara tamu-tamu sudah dibalik pintu, hingga ia tak dapat berbalik. Dalam kamar ada dua randjang, kepunjaan dia dan Voskoboynikov. Belum habis kilatan pikirannja, ia sudah merangkak dibawah randjang pertama. Ia dengar mereka memanggilnja serta mentjarinja diluar, heran bahwa ia menghilang; achirnja masuklah mereka dalam kamar-tidur itu.
„Apa boleh buat”, udjar Nikolay Nikolayevich. „Larilah, Yura. Kukira kawanmu akan muntjul djuga dan kau bisa main-main dengannja nanti”. Mereka bitjara tentang kerusuhan mahasiswa di Petersburg dan Moscow, hingga Nicky hampir setengah djam tinggal terpendjara setjara tak lajak dan tak njaman itu. Achirnja mereka keluar keberanda. Pelan-pelan Nicky membuka djendela, melompat dan pergi ketaman besar.
Semalam ia tak tidur dan kini merasa tak senang. Ia berumur empatbelas tahun, kesal-hati dan djemu dengan keadaannja sebagai kanak-kanak. Semalam suntuk ia bangun, lalu keluar waktu sudah subuh. Surja fadjar melemparkan bajang-bajang pohon jang pandjang dan berembun, berleret-leret ditaman. Bajangan itu tidak hitam, melainkan abu-abu tua seperti beledu tertjelup dalam air dan agaknja dari bajangan lembab ditanah inilah, dengan garis-garis tjahaja didalamnja seperti djari-djari gadis, maka terhambur bau sedap dinihari jang memusingkan kepala. Sekonjong-konjong ada kilatan putih, berpendar seperti embun dirumput, jang menjambar dan lewat beberapa langkah dari padanja, terus mengalir, tak terhisap oleh tanah. Kemudian dengan gerak-gerik jang tak tersangka tadjamnja ia membelok kesamping, lalu bersembunji. Itulah ular rumput. Nicky menggigil.
Dalam tabiatnja ada beberapa kegandjilan. Kalau hatinja rusuh, ia bitjara keras pada diri sendiri dengan meniru ibunja jang memilih buah pembitjaraan serba luhur dan suka pada paradox.
„Hidup ini agung”, pikirnja. „Tapi mengapa mesti penuh kepedihan? Tuhan pastilah ada. Tapi kalau Ia ada, akulah Dia itu”. Ia menengadah kepohon populir jang bergetar dari kaki sampai puntjaknja dengan daun-daun basah seperti lempengan timah sepotong-sepotong. „Kusuruh ia berhenti bergerak”. Setjara kegila-gilaan ia kerahkan tenaga sekuat-kuatnja, diam-diam ia berhasrat sepenuh djiwanja dengan tiap raup daging dan darah: „Berhenti”, maka pohon itupun segera menurut, beku tak bergerak. Nicky ketawa riang dan lari kesungai dengan senang untuk mandi.
Ajahnja adalah teroris Dementiy Dudorov jang dihukum mati gantung tapi diampuni Tsar dan sekarang kerdja-paksa. Ibunja seorang putri Georgia dari keluarga Eristov, wanita tjantik lagi mandja, masih muda dan selalu terlibat dalam sesuatu buah minatnja — kerusuhan, pembrontakan serta kaum pembrontaknja, teori-teori extrim ataupun artis-artis termashur dan orang-orang malang jang gagal hidupnja.
Ia memudja Nicky, merobah namanja, Inokentivy mendjadi pelbagai nama timangan mesra jang menggelikan, misalnja Inochek dan Nochenka, dan membawanja ke Tiflis untuk dipamerkan pada keluarganja. Apa jang sangat mengesan pada anak itu disana ialah sebatang pohon jang tumbuh liar dipelataran dalam dirumah mereka. Pohon ini berasal dari negeri panas, besar, dengan daun-daun seperti kuping gadjah jang meneduhi pelataran terhadap matahari terik didaerah Selatan itu. Nicky tak dapat luput dari gagasan bahwa ia pohon dan bukan binatang.
Berbahajalah bagi Nicky untuk memakai nama ajahnja jang mengerikan itu. Ivan Ivanovich ingin supaja ia memakai nama ibunja dan setelah disetudjui ibunja iapun hendak memohon pada Tsar untuk membuat perobahan itu. Tatkala Nicky berbaring dibawah randjang dengan rasa mendongkol kepada seluruh dunia, iapun berpikir tentang hal itu. — Voskoboynikov telah meremehkannja dengan mentjampuri hidupnja sedjauh itu! Ia akan menundjukkan gigi.
Natasha pula! Mentang-mentang umurnja limabelas tahun, ia merasa berhak mendjengit hidung serta bitjara merendah-rendah padanja, seolah ia masih kanak-kanak. Ia akan mengadjarnja. „Kubentji dia”, udjarnja berkali-kali dalam batin. „Kubunuh dia. Kubawa dia keperahu dan kukaramkan dia”.
Ibunjapun dingin pula! Pasti ia telah membohongi dia dan Voskoboynikov, ketika ia pergi. Ia tak pernah sampai dekat pegunungan Kaukasus, tapi disetasiun penghubung jang pertama ia balik, lalu pergi ke Petersburg dan kini bersama para mahasiswa sesuka-sukanja menembaki polisi, sedangkan dia boleh membusuk hidup-hidup dalam kubang dina ini. Tapi ia bukanlah sidungu seperti jang mereka sangka. Ia akan membunuh Nadya, meninggalkan sekolahnja, lari keajahnja di Siberia dan membangkitkan pembrontakan.
9
Teratai tumbuh disekeliling seluruh tepi kolam. Perahu memotong ditengah bunga-bunga itu dengan kering berkerosok dan membuat saluran segitiga; air hitam didalamnja nampak seperti air semangka jang diiris sekerat.
Nicky dan Nadya memetik teratai. Mereka berdua memegang tangkai jang sama, jang ulet dan seperti karet itu. Mereka tersentak olehnja, hingga kepala mereka berantukan dan perahupun tersodok ketepi, seolah terkait. Disitu tangkai teratai lebih pendek dan saling berdjalinan; bunga-bunga putih dengan djantung kuning bagai kuning-telur jang dilereti darah itu menjelam dan muntjul kembali dengan menjemprot air. Kedua anak itu terus memetik dengan melentik atas pinggiran perahu jang makin lama makin oleng.
„Aku djemu disekolah”, kata Nicky. „Sudah waktunja aku mulai penghidupan — terdjun kemasarakat dan mentjari nafkah”.
„Aku malah ingin tanja padamu tentang perbandingan akar pangkat dua. Aldjabarku sangat buruk, hingga aku hampir tak naik kelas”.
Nicky merasa tertusuk. Tentunja Nadya mengguruninja, menjindir bahwa ia masih kanak-kanak — dengan menjinggung-njinggung perbandingan akar pangkat dua, sedangkan ia belum sampai belajar aldjabar. Tapi ia tak menundukkan sakit-hatinja; ia pura-pura tak atjuh, namun sadar akan kedunguannja waktu ia bertanja:
„Bila kau dewasa, kau akan kawin dengan siapa?”
„Itu masih djauh sekali. Kukira tak ada jang akan kawin dengan aku. Belum kupikirkan”.
„Djangan sangka aku perhatikan itu”.
„Tapi mengapa tanja-tanja?”
„Kau gila”.
Mereka mulai bertengkar. Nicky ingat bahwa subuh tadi ia membentji perempuan, maka ia mengantjam akan menenggelamkan Nadya, djika dia ini tak berhenti memakinja. „Boleh tjoba”, kata sigadis. Nicky memeluk pinggangnja. Merekapun bergumul, kehilangan keimbangan dan djatuh keair. Mereka pandai berenang, tapi bunga-bunga teratai melilit tangan dan kaki, hingga mereka terapung-apung. Kesudahannja mereka pandjat lagi lumpur dibawah, lalu naik kepantai; air mentjutjur dari sepatu dan kantong-kantong. Antara jang dua itu Nicky paling kehabisan nafas. Andaikata ini terdjadi pada musim semi jang baru sadja berlalu, mereka sesudah rusuhnja reda, akan berteriak, menjumpah-njumpah dan terkekeh-kekeh, berbaring dekat-mendekat dengan basah-kujup.
Tapi kini mereka duduk membungkam, njaris tak bernafas, tertimpa oleh kedunguan mereka sendiri. Nadya meradang diam-diam sebab merasa hina, sedang Nicky kesakitan disekudjur tubuh, seakan lengan dan kakinja babak-belur dan iganja patah. Achirnja dengan lemah-lembutnja Nadya menegur seperti orang dewasa: „Kau gila betul” dan Nickypun menjambut dengan suara jang djuga bernada kedewasaan: „Maaf”.
Mereka pulang dengan meninggalkan djedjak basah seperti dua kereta-air. Djalannja menandjak ketanggul berdebu penuh ular, dekat tempat dimana Nicky pagi itu melihat ular-rumput. Ia terkenang pada kerusuhan hatinja jang mengganggunja semalam serta mahadajanja pada waktu fadjar, ketika ia menundukkan alam. „Perintah apa hendak diberinja sekarang pada alam?” kadjinja. Apakah jang paling dihasratkannja didunia? Sadarlah ia bahwa jang paling diinginkannja ialah djatuh kekolam lagi bersama Nadya dan ia sedia berkorban untuk mengetahui apakah itu akan terdjadi pula kelak.
1
Peperangan dengan Djepang belum selesai, tapi dibajangi oleh peristiwa-peristiwa jang tak tersangka. Gelombang-gelombang revolusi menjapu bumi Rusia, masing-masing lebih besar dan luar biasa dari jang dulu-dulu. Pada waktu inilah Amalia Karlovna Guishar, seorang wanita Rusia kelahiran Perantjis dan djanda seorang insinjur Belgia, tiba di Moscow dari daerah Ural bersama dua putranja — jang lelaki Rodyon, jang perempuan Larissa. Ia masukkan anak laki-lakinja dalam akademi militer dan anak perempuaninja dalam sekolah menengah wanita; djustru disekolah itu dan dikelas jang sama duduklah Nadya Kologrivova.
Suami njonja Guishar telah mewariskan padanja uang simpanannja jang djumlahnja mula-mula tambah besar, tapi kini mulai menurun. Guna mentjegah kekeringan sumberinja dan djuga agar ada jang dikerdjakannja, ia membeli perusahaan ketjil, jakni perusahaan pakaian Levitskaya dekat gapura Kemenangan1 1Perkampungan orang miskin. ; diperolehinja itu dari para ahliwaris Levitskaya, beserta kemauan baik pemilik firma itu dan semua pendjahit wanita dan para maganginja.
Ia berbuat begitu atas nasehat Komarovsky, seorang pengatjara, teman mendiang suaminja dan sekarang penjokongnja jang terbesar, pengusaha berhati-dingin jang kenal akan dunia usahawan Rusia seperti dikenalnja punggung tangannja. Bersama dialah njonja Guishar mengatur kepindahannja dengan surat-menjurat; dia bertemu dengannja serta anak-anaknja disetasiun, lalu diantaranja mereka keudjung lain kota Moscow, ke Hotel Montenegro di Djalan Oruzheiny2 2Djalan Oruzheiny : Djalan Meriam atau Djalan Persendjataan. , dimana telah dipesannja kamar-kamar. Dialah pula jang mengandjurkan supaja Rodya dikirim keakademi militer dan Lara kesekolah jang dipilihinja; iapun berkelakar bebas dengan sianak lelaki, sedangkan sigadis dipandangnja nanap, sampai ia merah-padam.
2
Mereka tinggal kira-kira sebulan di Hotel Montenegro, sebelum pindah kerumah petak ketjil dengan tiga kamarnja jang berdampingan dengan bengkel pendjahitan. Tempat ini adalah jang paling kotor di Moscow — lorong-lorong belakang, warung-warung gelap, sarang likhachi3 dan kampung-kampung pertjubalan.
Anak-anak itu tidak putus-asa menghadapi kamar kotor, kutu randjang dan prabot-prabot jang bobrok. Sedjak siajah meninggal, ibu mereka senantiasa hidup dalam ketjemasan terhadap kemiskinan. Rodya dan Lara sudah biasa mendengar bahwa mereka ditepi djurang keruntuhan. Mereka sadar bahwa mereka lain dari anak-anak jang bergelandangan didjalan-djalan, namun tak ubahnja dengan anak-anak jang dibesarkan dalam rumah-piatu, mereka merasa takut sampai kehulu-hati terhadap orang kaja.
Ibu mereka memberi bukti jang hidup tentang rasa takut ini. Njonja Guishar adalah wanita gendut berambut pirang, kira-kira tigapuluh tahun umurnja; serangan penjakit djantungnja silih berganti dengan tjetusan kekonjolannja. Ia pengetjut jang luar-biasa dan sangat ketakutan terhadap lelaki. Itu sebabnya ia lantaran panik dan bingungnja, terombang-ambing antara pelukan patjar jang satu dan patjar lainnja.
Di Hotel Montenegro keluarga itu tinggal dikamar 23, sedangkan kamar 24 sedjak hotel itu didirikan sudah didiami oleh pemain cello Tishkevich, orang baik-hati jang gundul, berkeringat deras dan memakai rambut palsu; kalau ia hendak mejakinkan orang tentang sesuatu, ia tangkupkan tangan-tangannja seakan berdoa, lalu menekankannja kehati. Kalau main untuk pesta-pesta laziman dan digedung-gedung konser, iapun mendongak dan memutar-mutar matanja seperti kena pesona. Ia djarang dikamarnja dan tinggal sehari-harian di Bolshoi dan di Konservatorium. Mereka itu tetangga jang tenggang-menenggang dan hal ini merapatkan jang satu pada jang lain.
Karena selama kundjungan-kundjungan Komarovsky itu kehadiran anak-anak ada kalanya membuat siibu malu, Tishkevich suka memberikan kuntji kamarnja, agar dapat digunakan olehnya. Lambat-lambat kebaikan budi ini dianggapnja sudah lazim, hingga dalam beberapa hal ia mengetuk sadja pintu Tishkevich, lalu dengan air-mata bertjururan ia minta dilindungi terhadap sang madjikan.
3
Tempat bengkel adalah rumah berloteng satu dekat podjok Djalan Tverskaya, dibagian kota jang dimasuki djalan kereta-api dari Brest beserta segala depo, gudang serta rumah-dinas.
Dalam salah satu rumah ini tinggallah Olya Demina, gadis berotak entjer jang bekerja dibengkel njonja Guishar; pamannja adalah pegawai gudang. Ia murid tjekatan. Ia pernah dikeluarkan oleh pemilik bengkel jang dulu, tapi kini ia mulai disajangi oleh pemilik jang baru. Olya suka sekali pada Lara Guishar.
Tak ada perobahan apa-apa sedjak Levitskaya, mesin-mesin djahit mendengkur amat kentjang, dipandjat kaki para pendjahit jang letih atau digerakkan tangan jang seliweran. Disana-sini duduk seorang perempuan dimedja, mendjahit tenang dengan sapuan lebar dari lengannja, ketika ditariknja djarum serta benang jang pandjang. Lantai dikotori tjabikan-tjabikan kain. Orang harus bitjara keras, kalau ingin suaranja terdengar diatas kerisik mesin-mesin serta njanji siulan si Kyril Modestovich, burung kenari dalam sangkarnja didjendela; pemiliknja jang dahulu telah membawa serta kekuburnja rahasia nama adjaib burung itu.
Dikamar-tamu, para wanita mengelompok dalam kumpulan jang menarik disekitar medja jang ditimbuni majalah-majalah mode; mereka berdiri, duduk atau mengelai-ngelai dalam berbagai sikap jang mereka tiru dari gambar-gambar mode itu, sambil membitjarakan model-model dan pola-pola. Dikursi pemimpin didepan medja lainnya duduklah Faina Silantyevna Fetisova, seorang perempuan dengan tulang-tulang menondjol dan kutil-kutil dilekuk-lekuk pipinya jang empuk; dialah coupeuse tertua dan pembantu njonja Guishar.
Sebatang rokok dalam pipa tulang terdjepit antara gigi-gigi kuningnja dan matanja berbidji kuning terpantjang dibelakang pantjara asap kuning dari hidung dan mulutnja; begitulah ia menulis dalam buku tjatatannja semua ukuran, pesanan dan alamat para langganan.
Njonja Guishar tak berpengalaman dalam mendjalankan bengkel pendjahitan. Ia tidak merasa seperti madjikan jang sebenarnya, tapi personilnja djudjur dan Fetisova dapat dipertjaja. Sungguhpun begitu, dalam zaman sesulit ini ia tak berani memikirkan hari-depan; kadang-kadang ia disergap ketjemasan jang melumpuhkan.
Komarovsky sering datang menemui mereka. Apabila ia lewat bengkel untuk menudju ketempat kediaman mereka, dikedjutkannja para wanita sampai kelabakan, hingga mereka lari kebelakang tirai-tirai serta menghindari lelutjonnja dengan malu-malu; tukang-tukang djahit itupun kesal dan geli dan berguman: „Sang pangeran datang”. „Itu dia penjakit djantung Amalia”. „Bandot tua”. „Buaja”.
Jang lebih lagi dibentji orang ialah andjingnja Jack, seekor bulldog; kadang-kadang ia dibawa tuannja pada tambang jang ditarik-tarik oleh andjing itu dengan sengitnja, hingga Komarovsky dibelakangnja tersandung-sandung dan sempojongan dengan lengan-lengan terentang, bagaikan orang buta jang ikut penuntunnja.
Pada suatu musim semi Jack menanam giginja kekaki Lara serta menjobek kausnja.
„Kuhadjar dia, penjakit!” bisik Olya dengan serak kekuping Lara.
„Itu memang andjing djahanam, tapi bagaimana akalmu?”
„Sjt, diam sadja! Begini: kauingat telur-telur Paskah dari batu dipeti ibumu jang berlatji-latji itu........?”
„Ja, jang terbikin dari kristal dan pualam itu”.
„Itu dia! Membungkuklah, kubisikkan. Ambillah dan tjelupkan dalam lemak babi — binatang kotor ini akan melahapnja sampai ia tertjedjik........... sisetan! Nah, begitulah — ia akan mampus...........”
Lara ketawa dan merasa iri terhadap Olya. Inilah gadis jang bekerdja dan miskin. Anak-anak begitu biasanja lekas tua, tapi dia ini lurus dan kekanak-kanakan. Jack dan telur-telur itu — dari mana diambilnja gagasan demikian? „Dan mengapakah?” pikir Lara, „aku ditakdirkan untuk melihat segala-galanja dan dengan begitu memberati hatiku?”
4
„Ibu adalah — apa namanja? ............ Dia dan ibu ............ Ah, kata-kata kotor! Aku tak mau menjebutnja. Tapi mengapa dilihatnja aku dengan tjara begitu? Aku ini anak ibu, bukan?”
Lara baru melampaui enambelas tahun, namun tubuhnja sama sekali sudah dewasa. Orang menjangka umurnja delapanbelas tahun atau lebih. Pikirannja djernih, ia sangat rupawan dan mudah bergaul.
Dia dan Rodya sadar bahwa penghidupan tak akan gampang bagi mereka. Lain dari orang jang nganggur atau kaja, mereka tak berwaktu senggang untuk buru-buru membuat teori atau menaruh perhatian terhadap hal-hal jang belum perlu dilaksanakan. Jang keruh hanjalah jang serba mewah. Lara paling bersih antara matjluk sedunia.
Kedua-duanja sudah berterima-kasih atas keuntungan ketjil. Mereka tahu menghargai segala hal serta apa sadja jang mereka peroleh sampai sekarang. Siapa mau madju, dia mesti memberi kesan baik. Lara belajar radjin disekolah, bukan karena ia tjinta pada kepandian setjara mudjarad, melainkan karena hanja murid terbaiklah jang membayar uang sekolah dengan potongan. Dengan alasan jang sama itu ia mentjuti piring-piring ibunja dan berbelandja untuknja. Ia bergerak dengan kemolekan jang tenang dan segala sesuatu jang ada padanja — suara, bentuk badan, gerak-gerik, mata kelabu serta rambutinja jang mengkilap — adalah sesuai dan selaras.
Hari itu hari Minggu dipertengahan bulan Djuli dan siapa berlibur boleh tinggal agak lama dirandjang. Ia telentang dengan tangan melingkupi kepala.
Bengkel sepi. Djendela terbuka mengantar pemandangan kedjalan. Lara mendengar derak-derak sebuah droshki dari djauh mendjadi bunji meluntjur jang lemas, ketika roda-rodanja meninggalkan batu-batu lebuh dan mengindjak alur-alur djalan trem. „Aku tidur sedjenak lagi”, pikirnja. Desah kota membuatnja ngantuk seperti lagu dondang.
Lara sadar bahwa ia menjentuh seprai dengan pundak kiri dan dengan ibu-djari kaki kanannja — ini menentukan ruangan jang diambilnja dalam randjang. Segala jang ada antara pundak dan kaki itulah dirinja sendiri jang kini belum djelas — djiwa atau sukmanja jang ketat diselubungi garis lingkung tubuhnja dan hendak menerobos tanpa sabar kehari-depan.
„Aku mesti tidur”, pikir Lara, maka dalam chajalan ia tampilkan Djalan Tukang Kereta4 dibagian panasnja seperti jang biasa nampak pada saat itu — kereta-kereta besar dipamerkan dilantai jang tersapu bersih dalam bangsal-bangsal para tukang kereta, banjak lentera dan beruang padjangan serta penghidupan jang mewah. Dan agak djauh lagi didjalan itu para pradjurit berkuda berbaris dipelataran tangsi-tangsi Znamensky — kuda-kuda dipasang rapi dalam lingkar dan orangpun melompat kepelana dan lewat pelan-pelan, lalu kentjang, kemudian agak tjepat — dan anak-anak berderet-deret diluar bersama para pengasuh dan inang, sedang menonton didekat kisi-kisi.
Dan lebih djauh lagi, pikir Lara, itulah Djalan Petrovka. „Ja Allah, Lara, tjoba pikir! Aku hanja ingin menundjukkan rumah petakku kepadamu. Sudah dekat”.
Hanja itu „hari-nama” Olga, anak perempuan ketji dari teman-teman Komarovsky jang tinggal di Djalan Tukang Kereta dan orang-orang dewasa merajakannja dengan dansa dan sampanje. Dia mengundang ibu, tapi ibu tak dapat keluar, ia tak begitu sehat. Kata ibu: „Ambil sadja Lara. Kau selalu berpesan supaja kudjaga Lara. Nah, sekarang kaulah jang mendjaganja”. Dan dia betul-betul mendjaga — alangkah lutju!
Dansa walsa itulah asal-mulanja. Gila benar! Berputar-putaran tanpa memikirkan apa-apa. Musikpun main dan lampaulah satu abad seperti kehidupan dalam roman. Tapi begitu musik berhenti, begitu hatimu tergugat, seolah air dingin seember ditumpahkan atas dirimu atau ada orang memergokmu telandjang. „Alasanku untuk membiarkan orang intim denganku tentulah hanja pameran — guna menundjukkan bahwa aku sudah dewasa”.
Tak pernah aku dapat membajangkan bahwa ia berdansa sepandai itu. Alangkah tjekatan tangannja, alangkah amannja bila ia memeluk pinggangku! Tapi aku tak bakal membolehkan lagi orang mentjium aku sematjam itu. Tak pernah kumimpikan, bibir orang bisa sekurang-adjar itu, djika lama-lama ditekankan pada bibirku.
Kegilaan ini mesti ditjegah. Sekali dan untuk selamanja. Tjegahlah malu-malu kutjing dan ketawa sipu-sipu dan kerlingan mata — kalau tak mau berachir dengan malapetaka. Disinilah tapal-batas jang mengerikan. Satu langkah dan aku akan terpelanting kedjurang. Aku tak boleh ingin dansa lagi. Itu akar kedjahatan. Aku harus menolak tegas-tegas — pura-pura tak pernah beladjar berdansa atau beralasan kaki patah.
5
Pada musim panas-timbul kegelisahan antara para pekerja dinas kereta-api didjaringan Moscow. Orang-orang dari trajek Moscow-Kazan mogok dan rekan-rekan dari trajek Moscow-Brest diharapkan ikut serta. Putusan untuk mogok sudah diambil, tapi panitia pemogokan masih berselisih tentang tanggalnja. Tiap orang djawatan kereta-api tahu akan ada pemogokan; pentjetusannja hanja memerlukan suatu alasan.
Pada awal Oktober itu hawa dingin dan langit redup, tepat pada hari pembayaran upah. Sedjak lama tak ada kabar dari para akuntan; kemudian datang seorang anak lelaki kekantor, membawa daftar gadji dan setumpukan buku-kerdja jang tadinja ditahan untuk memperhitungkan upah. Kasirpun mulai membagi-bagi bingkisan-bingkisan gadjian. Dalam deretan jang tak putus-putusnja para kondektur, tukang wesel, tukang kaju, tukang api dan buruh wanita dari depo bergerak melintasi tanah tandus antara gedung-gedung kaju tempat pimpinan dan setasiun beserta segala bengkel, gudang, depo lokomotif serta djalan kereta-api.
Hawa penuh bau musim dingin jang baru tiba dikota — daun-daun ahorn jang terindjak, saldju leleh, djelaga panas dari mesin-mesin dan roti jang baru keluar dari tungku (dimasak dalam ruang kolong bipet disetasiun). Kereta-api datang atau berangkat, dilangsir, digandeng atau dilepas menurut tanda-tanda bendera jang berkibar, tergulung atau terbuka. Suling mesin meraung, tjorong dan peluit tukang langsir dan kondektur menuter dan mendjerit. Asap naik kelangit bagai tangga-tangga tak berudjung, sedang mesin-mesin mendesis, memanasi mendung musim dingin dengan gumpalan-gumpalan uap mendidih.
Fuflygin, Kepala Bagian, dan Pavel Ferapotovic Antipov, Pengawas Djalan dari distrik setasiun, berdjalan hilir-mudik dipinggir djalan kereta-api. Antipov barusan memarahi bagian reparasi tentang kwalitet alat-alat tjadangan untuk memperbaiki sepur. Badja tak tjukup lemas, rel-rel tak lulus udjian tekanan dan Antipov berpendapat bahwa rel itu akan petjah dalam hawa saldju. Fihak pimpinan tak mengatjuhkan keluh-kesahnja. Rupa-rupanja ada jang mentjatut dengan kontrak-kontrak.
Fuflygin memakai djas-bulu jang mahal, tak dikantjing hingga memperlihatkan pakaian sipilnja dari wol jang baru; pada djas itu terdjahit seladjur kain dari uniform kereta-api. Dengan hati-hati ia melangkah diatas tanggul, senang melihat garis-garis lapelnja, lipatan lurus ditjelananja dan sepatunja jang bagus potongannja. Utjapan Antipov masuk kekuping jang sebelah dan keluar dari kuping lainnja. Fuflygin ada pikirannja sendiri; berkali-kali ia mengeluarkan dan melihat kepada arlodjinja; ia hendak baru-baru pergi.
„Betul, betul, kawan”, selanja tak sabar, „tapi itu hanja berbahaja ditrajek utama atau diseper terusan jang sangat ramai lalu-lintasnja. Tapi lihatlah apa jang ada: tjuma sepur-tjabang dan sepur-buntu, djelatang dan „kembang-kuda”. Dan lalu-lintasnja apa? — paling-paling lok langsiran jang tua untuk mengotjok deresi kosong. Apa lagi jang kauminta? Kau tak pakai otak! Badja lagi disebut-sebut! Rel kaju sudah tjukup!”
Fuflygin melihat arlodjinja, mengatupkan tutupnja, lalu memandang djauh kedjadian jang menudju kesepur. Nampak sebuah kereta ditikungan djalan. Inilah saat kepergian Fuflygin. Istrinja datang mendjemput. Sais menarik kuda-kudanja hampir sampai ketepi djalan kereta-api, sambil menegur-negur mereka dengan suara tinggi seperti suara perempuan, tak ubahnja dengan pengasuh anak jang memarahi anak-anak tjeneng: kuda-kuda itu takut pada kereta-api. Disudut kereta duduk seorang wanita manis, bersandaran kebantal-bantal sambil melamun-lamun.
„Nah, kawan baik, sampai ketemu lagi”, udjar Kepala Bagian itu dengan melambaikan tangannja, seolah mengatakan: „Patut kuperhatikan hal lain jang lebih penting dari rel”.
Dan berangkatlah suami-istri itu.
6
Tiga-empat djam kemudian, dekat waktu magrib, dipadang jang agak djauh dari djalan kereta-api jang sebelumnja tak didatangi seorangpun, muntjullah dua sosok tubuh dari tanah; mereka menoleh, lalu berdjalan kentjang.
„Mari djalan lebih tjepat”, kata Tiverzin. „Bukannja aku kuatir disergap polisi, tapi bila kaum penakut dalam lobang ditanah itu selesai, mereka akan keluar dan menangkap kita. Aku mual melihat mereka. — Apa gunanja mendirikan panitia, djika hasilnja begini? — Orang main api, lantas mengendap untuk berlindung. Kaum matjam apa — memihak kesana?”
„Istriku Darya sakit tipus. Mesti kubawa kerumah-sakit. Sebelum itu aku tak bisa mengerdjakan jang lain”.
„Kabarnja hari ini hari gadjian. Aku akan singgah kekantor. Kalau tak ada pembajaran, kutinggalkan kamu sekalian, demi Tuhan, dan kuhabisi semuanja sesukaku sendiri; tak kutunggu satu menitpun”.
„Bagaimana tjaramu, tjoba katakan!”
„Gampang. Turun kekamar ketel, meniup suling, habis perkara”.
Mereka berpamitan dan berdjalan kedjurusan lain-lain. Tiverzin lewat djalan kereta-api kearah kota. Ia berpapasan dengan orang-orang jang datang dari kantor dengan membawa upah. Mereka banjak sekali. Melihat gelagatnja, ia perhitungkan bahwa semua buruh setasiun telah dibajar.
Hari mulai gelap, dikantor lampu-lampu menjala. Buruh-buruh jang nganggur menggerombol dipelataran diluar. Depan gapura pelataran berdiri kereta Fuflygin; didalamnja duduk istrinja, masih dengan sikap jang sama, seakan tak bergerak sedjak pagi. Ia menunggu suaminja jang sedang mengambil uangnja.
Hudjan es mulai turun. Sais turun dari tempatnja untuk memasang kap dari kulit. Ketika ia menarik kaju-kaju topang jang tegar itu dengan kaki sebelah terentang pada punggung kereta, Fuflygin mengagumi manik-manik perak jang djatuh berbinar dalam tjahaja lampu kantor; matanja jang merenung dan tak berkedip itu terpantjang pada satu titik diatas kepala buruh-buruh tadi; agaknya pandangannja itu djika perlu, dapat menembusi mereka seolah mereka itu hanja saldju atau kabut.
Tiverzin menangkap ungkapan wadjahnja dan iapun meringkuk. Ia lewat tanpa menjalam dan memutuskan akan mengambil upahnja lain hari sadja, agar ia tak ketemu suaminja. Ia menjeberang kebagian pelataran jang lebih gelap, kearah bengkel dan sosok hitam putaran lokomotif dengan bekas-bekas djedjak jang berleret-leret seperti kipas dari tempat itu sampai kedepo.
„Tiverzin! Kuprik!” Beberapa suara berseru dari dalam gelap. Banjak orang diluar bengkel-bengkel. Didalamnja ada orang berteriak dan seorang anak menangis. „Masuklah dan tolong anak itu”, kata seorang perempuan antara chalajak itu.
Seperti biasanja, Pyotr Khudoleyev, mandor tua itu sedang menghadjar Yusupha,5 muridnja.
Khudoleyev bukannja dari dulu mendjadi penjiksa murid-murid atau pemabuk jang suka berteriak. Dulu ia sebagai pekerdja muda jang gagah pernah menarik kerlingan kagum anak-anak perempuan kaum pedagang dan pendeta didaerah industri disekitar Moscow.
Tapi Marfa jang tahun itu mentjapai promosi disekolah biara keuskupan, telah menolaknja serta kawin dengan teman sekerdjanja, jakni masinis Saveliy Nikitich, ajah Tiverzin.
Lima tahun sesudah kematian Saveliy jang dahsjat itu (ia mati terbakar dalam tubrukan kereta-api jang menggemparkan pada tahun 1883) Khudoleyev mengulangi lamarannja, tapi Marfa menolaknja lagi. Begitulah ia mulai suka minum dan mendjadi brandal; ditjobanja membalas dendam kepada dunia jang menurut anggapannja menjebabkan nasib buruknja.
Yusupha adalah anak Gimazetdin,6 djurukuntji dalam blok perumahan, tempat tinggal Tiverzin. Tiverzin melindungi anak itu dan hal ini malah membuat Khudoleyev tambah membentjinja.
„Begitu tjaramu memegang kikir, hai anak sipit?” hardik Khudoleyev; didjambaknja Yusupha dan dipukulnja kuduknja.
„Begitu tjaramu mengikis tjoran, bangsat Tartar sipit?”
„Aduh, saja kapok, tuan; aduh saja kapok, tuan! Oh, sakit, tuan!”
„Dikasi tahu satu kali, minta dikasi tahu seribu kali; pasang dulu „mandrel”nja, lalu sekrupkan sematnja, tapi kau tak dengar! Kau terus sadja dengan tjaramu sendiri! Porosnja hampir kaupatahkan! Blasteran!”
„Saja tak sentuh porosnja, tuan, sungguh”.
„Mengapa kauusik anak ini?” tanja Tiverzin jang dengan menjikut-njikut dapat melewati orang banjak.
„Bukan urusanmu”, djawab Khudoleyev.
„Aku tanja, mengapa kauusik anak ini”.
„Dan aku bilang, njahlah sebelum ada heboh, hai sosialis, djangan ikut tjampur! Anak andjing ini hampir patahkan poros saja. Dibunuhpun ia tak patut. Ia mesti berterima-kasih pada nasib untungnja bahwa ia masih hidup, djahanam sipit ini — aku hanja djewer kupingnja dan djambak rambutnja sedikit”.
„Djadi kaupikir kepalanja mesti dipotong untuk ini? Khudoleyev, kau sudah tua, seharusnja kau malu, sungguh, mandor tua seperti kau ini! Kau sudah dapat uban, tapi otak sehat belum”.
„Aku bilang, pergilah, selama tubuhmu masih utuh. Kupukul ususmu dari perut, kalau kau berchotbah padaku, andjing! Kau terbikin atas bantalan rel, hai djuhi, dibawah hidung bapakmu sendiri. Kukenal ibumu, sitjabo, sikutjing gudikan, sirok-dalam jang kumal!”
Apa jang terdjadi sudah itu, lampau dalam sedetik. Kedua-duanja memungut benda pertama jang mudah tertjapai dibangku-bangku-putar, dimana berserakan alat-alat berat dan segala potongan besi; pastilah mereka saling membunuh, djika orang banjak tak menjerbu kedalam, guna melerai. Khudoleyev dan Tiverzin berdiri dengan kepala menekur; kening mereka hampir bersentuhan, putjat dengan mata berleret darah. Mereka amat gusar, sampai tak mampu mengeluarkan sepatah kata. Mereka ditahan erat-erat, lengan-lengan mereka disengkelit dari belakang. Sekali dua kali mereka hendak lolos dengan tubuh menggeliat serta menjeret rekan-rekan jang bergajutan pada mereka. Kait dan kantjing beterbangan, badju dan djaket mereka melongsor, hingga pundak kelihatan. Disekitar mereka riuh-rendah suara orang tak henti-henti.
„Pahat itu! Rampas pahatnja, dia akan hantjurkan kepalanja. Tenang, tenang, Pyotr, kawan tua, ingin lenganmu patah? Apa guna kita main dengan mereka ini? Pisahkan dan tutup dalam kamar, habis perkara!”
Tiba-tiba dengan tenaga luar-biasa Tiverzin menjikut lepas orang-orang jang menahannja; ia lolos dan lari kepintu. Orang memburunja, tapi setelah ia nampak telah berobah pikiran, iapun dibiarkan sadja. Ia keluar, membanting pintu dibelakangnja, lantas pergi tanpa menoleh-noleh. Malam lembab jang gelap dimusim rontok itu menjelubungi dia. „Kutjoba menolong dan datanglah orang banjak dengan golok”, kumat-kamitnja sambil melangkah terus, tak sadar akan arahnja.
Dunia busuk jang penuh kebohongan dan tipuan ini, dimana seorang njonja jang lebih dari kenjang itu dengan kurang-adjar memandangi sekelompok buruh dan dimana salah satu korbannja jang mabuk bersenang hati dengan mendendami kaumnja sendiri, dunia begini sekarang lebih dibentjinja dari dulu. Ia bergegas, seakan langkahnja itu sanggup memburukan waktu, dimana hal-ichwal dibumi akan mendjadi beres dan selaras, seperti jang dichajalkannja kini oleh otaknja jang meradang. Ia maklum bahwa seluruh perdjoangan mereka dalam hari-hari belakangan ini: segala kerusuhan disepandjang lin, pidato pada rapat-rapat, putusan untuk mogok — belum terlaksana, namun djuga tidak batal — adalah tangga-tangga ketjil terpisah-pisah didjalan besar jang terbentang depan mereka.
Tapi saat ini sangat rusuhlah hatinja, hingga ia ingin lari-lari sepandjang djalan, tiada berhenti untuk menarik nafas. Ia tak menerka kemana perginja dengan langkah-langkah pandjang itu, namun kakinja sudah tahu betul kemana ia terbawa.
Lama kemudian barulah Tiverzin mendengar putusan jang diambil oleh panitia pemogokan, setelah ia tinggalkan kolong perlindungan dibawah tanah bersama Antipov, jakni memulai pemogokan malam itu djuga. Ditempat itulah putusan diambil, djuga putusan mengenai siapa dari mereka harus pergi kesuatu tempat dan siapa-siapa akan dipanggil.
Segerombolan sudah meninggalkan depo serta gudang barang-barang, ketika Tiverzin membunjikan suling mesin dibengkel reparasi. Bunji seraknja itu meletup bagaikan dari hulu-hatinja sendiri dan beberapa detik kemudian turun kenada mendatar. Segera gerombolan tadi ditambah dengan orang-orang dari kamar-ketel jang meletakkan alat-alat mereka, setelah mendengar tanda Tiverzin.
Bertahun-tahun Tiverzin menjangka bahwa dia sendirilah jang malam itu menghentikan pekerdjaan dan lalu-lintas kereta-api. Lama kemudian didepan pengadilan, waktu ia dipersalahkan ikut-serta dalam pemogokan, tapi tidak dituduh sebagai pengandjur, barulah ia ketahui hal jang sebenarnja.
Orang lari keluar dan bertanja: „Kemana mereka semua? Mengapa sirene itu?” — „Kau tidak tuli”, sahut suara dari gelap. „Ada kebakaran. Itu tanda-bahaja. Kita dipanggil untuk padamkan api”. — „Mana jang kebakaran?” — „Mesti ada, kalau tanda-bahaja berbunji”.
Pintu-pintu berdebakan, banjak lagi orang keluar. Suara-suara lain terdengar. „Bukan kebakaran. Kaupertjaja sitolol? Itu pemogokan, tahu? Lemparkan alat-alatmu, kawan-kawan. Biar mereka tjari alat-alat lain untuk pekerdjaan mereka jang kotor itu. Pulang sadja, kawan-kawan”.
Makin banjak lagi jang bergabung pada gerombolan. Buruh kereta-api sedang mogok.
7
Dua hari kemudian pulanglah Tiverzin, lesu karena kurang tidur, kedinginan sampai ketulang. Musim jang luar biasa dinginnja pada waktu ini telah mulai semalam sebelumnja, pada hal Tiverzin tak bawa pakaian-panas. Gimazetdin sidjurukuntji mendjemputnja dipintu-gerbang.
„Trima-kasih, tuan Tiverzin”, gegapnja dalam bahasa Rusia jang berantakan. „Tuan tak biarkan Yusupka tersiksa. Saja akan selalu berdoa untuk tuan”.
„Kamu gila, Gimazetdin, siapa kamu panggil dengan „Tuan”?” Buanglah kata itu dan lekas utjapkan apa jang hendak kaukatakan; kaulihat, hawa amat dingin”.
„Kamu tak usah kedinginan. Kamu akan segera hangat, Kuprian Savelich. Saja dan ibumu Marfa Gavrilovna kemarin mengambil segudang penuh kaju dari setasiun barang-barang — pohon „berk” semua — kaju bagus, kering”.
„Trima-kasih, Gimazetdin. Kalau ada lagi jang mau kaukatakan, lekaslah. Aku kebekuan”.
„Aku ingin mengatakan, djangan menginap dirumah, Savelich. Sembunjilah. Polisi tadi kemari, menanjakan siapa-siapa datang kerumah. — Tak ada jang datang, kataku, orang-orang kereta-api jang datang, bukan orang asing, sungguh-mati”.
Tiverzin belum kawin; ia tinggal bersama ibunja dan adiknja lelaki jang sudah beristri. Rumah itu milik Geredja Tritunggal Kudus jang terdekat. Antara penjewanja ada beberapa pendeta dan dua arteli7 pendjual keliling — sekumpulan tukang daging dan sekumpulan tukang sajur — tapi kebanjakan mereka adalah pegawai ketjil djawatan kereta-api, trajek Moscow-Brest.
Rumah itu terbuat dari batu, didirikan disekitar empat tepi pelataran kotor tak berbatu. Tangga-tangga kaju beratap merajapi tembok sebelah luar, menghadap kepelataran; anak-anak-tangga kotor lagi litjin, berbau kutjing dan kubis; kakus dan lemari-makan bergembok menempel-nempel dibordes.
Saudara Tiverzin ikut perang lawan Djepang dan luka-luka. Sekarang ia dirawat dalam rumah-sakit tentara di Krasnoyarsk dan istrinja serta dua anak perempuan pergi mendjemputnja untuk membawa pulang (keluarga Tiverzin turun-temurun mendjabat buruh kereta-api, mereka berdarah pengembara dan sudah bepergian diseluruh Rusia dengan kartjis tjuma-tjuma). Rumah-petak itu lengang dan tak berpenghuni, ketjuali Tiverzin serta ibunja.
Kediaman mereka diloteng kedua. Dipanggung-tangga diluar ada ember jang selalu diisi oleh tukang-air. Tiba disitu, Tiverzin melihat bahwa tutup ember tergeser kepinggir; sebuah mangkuk timah berdiri dipermukaan air beku. „Prov tentu disini tadi”, pikirnja dengan menjeringai. „Kuat benar ia minum, ususnja tentu terbakar”. Prov adalah Prov Afanasyevich Sokolov, pembatja psalma digeredja, kerabat ibu Tiverzin.
Tiverzin memungut mangkuk itu dari es, lalu menarik hulu genta pintu. Bau uap panas dari masakan, seperti jang biasa tertjium ditiap rumah-tangga, berarak menjambutnja.
„Halo, ibu, apimu hebat; njaman dan hangat disini”.
Ibunja merebahkan diri kepelukannja dan terisak-isak. Ia membelai kepalanja dan sedjurus kemudian mengelakkannja pelan-pelan.
„Siapa tak berani, tak menang, ’bu”, udjarnja lembut.
„Kereta-api berhenti dari Moscow sampai Warsawa”.
„Aku tahu, itu sebabnja aku menangis. Kau dikedjar, Kuprinka, kau harus enjah”.
„Teman ibu jang manis waktu muda, Pyotr, hampir menghantjurkan kepalaku!” Ia bermaksud membuatnja ketawa, tapi dengan sungguh-sungguh ibunja berkata: „Menertawakan dia adalah dosa, Kuprinka. Dia patut dikasihani, orang malang itu”.
„Antipov ditawan. Orang datang waktu malam, menggeledah rumahnja, membongkar segala-galanja dan membawanja pagi ini. Sedangkan istrinja Darya sakit tipus dirumah-sakit. Dan Pasha, anaknja jang duduk disekolah menengah, sendirian dirumah bersama bibinja jang tuli. Pun mereka akan diusir. Kupikir, anak itu baiklah tinggal disini sadja. — Prov ada perlu apa?”
„Bagaimana kau tahu dia disini tadi?”
„Kulihat ember tak tertutup dan mangkuk itu diatas es — tentu si Prov menelan air, kubatin”.
„Pikiranmu tadjam, Kuprinka. Memang dia Prov — Prov Afanasyevich. Ia pindjam balok-balok sedikit — kuberi itu. Tapi aku tjeriwis sadja, wah tolol! Lupa sama sekali — kabar jang dibawa Prov itu. Tjoba pikir, Kuprinka! — Tsar telah menandatangani manifes dan semuanja bakal terbalik — tiap orang akan diperlakukan adil, petani dapat tanah dan kita semua disamakan dengan kaum ningrat! Betul sudah ditandatangani, kata Prov, hanja belum diumumkan. Sidang geredja mengirim sesuatu untuk dimasukkan dalam ibadah, pudjian pada Tuhan atau doa untuk Tsar; ia djelaskan, tapi aku lupa”.
8
Pasha Antipov jang ajahnja ditangkap sebagai salah seorang pemimpin pemogokan, mulai tinggal dirumah keluarga Tiverzin. Ia anak jang bersih, rapi; raut-mukanja patut dan rambutnja merah terpisah ditengah-tengah; ia selalu melitjinkan rambut ini dengan sikat serta menjingsatkan kemedja atau gesper-sekolahnja diikat-pinggang. Ia suka sekali berkelakar dan bakatnja meneliti sesuatu adalah luar-biasa; tiap orang serta dirinja sendiri dibuatnja ketawa, karena pandainja meniru-niru segala hal jang didengar atau dilihatnja.
Segera sesudah Manifes diumumkan pada tanggal 17 Oktober, diadakan demonstrasi besar, mulai dari Gapura Tver dan dimaksudkan bergerak ke Gapura Galuga diudjung lain kota Moscow. Tapi benar-benar dapat dikatakan bahwa terlalu banjak tjampur-tangan menjebabkan kerintjuan! Berbagai badan revolusioner merentjanakannja bersama, tapi bertengkar, lalu bersikap masa-bodoh; kemudian pada hari jang ditentukan, ketika mereka dengar bahwa rakjat keluar djuga, mereka buru-buru mengirim wakil-wakil untuk memimpin.
Walaupun Tiverzin membudjuk ibunja supaja djangan ikut, namun ia menggabungkan diri pada para demonstran dan Pasha jang gembira dan ramah seperti biasanja itupun ikut serta.
Waktu itu hari kering dengan saldju beku dalam bulan Nopember; langit sepi-kelabu dan butir-butir saldju djatuh sedikit satu demi satu, berpusing pelan-pelan dan ragu-ragu, sebelum hinggap didjalanan laksana debu abu-abu jang halus.
Rakjat tertjurah kelebuh seperti bandjir — wadjah, wadjah, wadjah — djas panas bertilam dan topi kulit domba, mahasiswa wanita dan pria, orang tua, anak, pegawai kereta-api berpakaian seragam, buruh dari depo trem dan kantor telepon dengan sepatu binkap dan djaket kulit, gadis dan anak sekolah.
Beberapa djurus mereka menjanji lagu-lagu „Marseillaise”, „Warsawa” dan „Korban-korban djatuh”. Orang jang selama itu berdjalan undur diputjuk pawai sambil menjanji dan memimpin dengan pitjinja jang dipergunakan sebagai bilah, kemudian berpaling, menaruh pitjinja dikepala dan mendengarkan apa jang dikatakan para pemimpin lainnja disekelilingnja. Njanjian putus dengan katjau. Sekarang terdengar derap-derap kaki tak terbilang diatas djalan beku.
Pemimpin-pemimpin menerima kabar dari para simpatisan bahwa kaum Kosak8 sedang menjediakan perangkap untuk pawai itu lebih djauh didjalanan. Kabar itu dikirim dengan telepon kepada seorang apoteker, dekat dari situ.
„Tak mengapa”, kata para pemimpin. „Kita harus tetap tenang dan tidak hilang akal, itu jang terpenting. Kita duduki sadja gedung umum pertama jang kita djumpai, kasih tahu pada rakjat, lalu berpentjaran”.
Mulailah perdebatan tentang gedung mana sebaiknja akan didatangi. Ada jang mengusulkan gedung Himpunan Pekerdja Toko, lainnja menjebut Sekolah Teknik, lainnja lagi Sekolah Korespondensi Dagang.
Selagi berbantah-bantahan itu tibalah mereka kepodjok gedung sekolah jang tinggi dan tiap bagiannja merupakan perlindungan sama baiknja dengan jang disebut-sebut tadi.
Tatkala mereka sampai kepintu, para pemimpin membelok kesamping, naik tangga keserambi-depan jang separuh lingkaran itu, lalu memberi isjarat pada barisan terdepan supaja berhenti, tapi orang salah mengerti gerak-gerik mereka. Pintu jang berlipat-ganda itu dibuka dan rakjatpun — dengan djas dan pitji jang sentuh-menjentuh — bergerak kebangsal-depan, lantas naik tangga.
„Kamar-kuliah, kamar-kuliah”, seru beberapa suara dari belakang, tapi lain-lainnja terus mendesak kedepan, menjebarkan diri lewat gang-gang serta menjasar kekelas-kelas. Para pemimpin achirnja berhasil menggiring mereka keruang-kuliah, lalu berkali-kali mentjoba mengingatkan mereka pada perangkap, tapi tak seorangpun mendengar. Bahwa pawai tadi dihentikan dan dimasukkan dalam gedung itu diartikan sebagai undangan untuk buruh-buruh mengadakan rapat dan memanglah rapat ini segera dimulai.
Sehabis berdjalan dan menjanji-njanji itu senanglah orang duduk sebentar serta membiarkan orang lain bersusah-pajah untuk mereka dengan berseru-seru sampai serak. Para pembitjara jang sefaham mengenai banjak hal, nampak mengatakan soal-soal jang sama; kalaupun ada perbedaan antara mereka, perbedaan itu dilupakan oleh giliran duduk serta mengaso. Kesudahannja tukang pidato jang paling buruk antara orang banjak itu mendapat sambutan paling bergairah. Orang tak berusaha mengikuti pembitjaraannja, hanja memekik setudju dengan tiap kata dan tak ada jang mengatjuhkan segala interupsi; tiap mereka menerima apa sadja jang diutjapkannja itu, karena tak sabar budja. Ada jang berteriak: „Bikin malu!” lantas disusunlah telegram protes; kemudian chalajak jang bosan dengan suara mendengung itu bangkit serempak, lupa segala hal tentangannja, lalu meluap keluar bagai sebentuk perwudjudan jang tunggal — dengan djas dan pitji jang sentuh-menjentuh —, turun tangga, terus kelebuh. Pawaipun berlangsung.
Selama orang berapat didalam, saldju telah turun. Lebuh memutih. Saldju makin tebal.
Ketika kavaleri menjerang, para peserta dibelakang mula-mula tak mengetahui apa-apa. Gemuruh jang mengeras terlampias kearah mereka seperti seruan chalajak ramai: „Hore!” sedangkan djeritan seorang seperti „Tolong!” dan „Pembunuhan!” tenggelam dalam keriuhan. Hampir seketika dan seolah terdukung oleh gelombang suara disepandjang gang sempit jang tergubah karena chalajak terbelah, muntjullah kepala kuda-kuda serta para penunggang; surai dan pedang terajun melajang kentjang tak berbunji diatas chalajak.
Separuh peleton lari menjeruduk, balik dan tersusun kembali, lalu memetjah-belah ekor pawai. Pembunuhan dimulai.
Beberapa menit kemudian lebih boleh dikatakan kosong. Orang berpentjaran kedjalan-djalan tjabang. Saldju lebih enteng. Sendja kering dan seperti sketsa arang. Matahari jang njaris terbenam dibelakang rumah-rumah, mendjulurkan djarinja dibalik tikungan dan menjentuh apa sadja jang merah didjalanan — udjung merah pitji tentara, bendera merah jang terseret ditanah serta banjak tjelekéh merah dan garis darah disaldju.
Seorang lelaki jang mengerang dengan kepala terbelah merangkak-rangkak menuruti tepi trotoar. Beberapa pradjurit jang memburu sampai keudjung djalan jang terdjauh, kini balik berdjedjer pelan-pelan. Tiverzina dengan kain-leher tersembat kekuduknja, lari kian-kemari, njaris ketabrak kaki kuda, sambil berseru liar: „Pasha! Pasha!”
Sepandjang perdjalanan tadi Pasha ikut dengannja dan membuatnja ketawa dengan meniru-niru pembitjara terachir didalam rapat, tapi tiba-tiba ia menghilang ditengah kekatjauan, waktu tentara menjerang.
Punggungnja ditempa letjutan tjambuk9 mereka; walaupun ia hampir tak merasanja, berkat mantelnja jang tebal dilapisi kapas, namun ia memaki-maki dan mengepalkan tangannja terhadap para penunggang kuda jang mundur itu, marah sebab mereka berani memukul perempuan setua itu, lagi pula didepan umum.
Dengan gelisah ia mentjari kesana-kesini dan achirnja beruntunglah ia menemukan anak itu diseberang djalan. Ia berdiri dalam relung antara sebuah toko dan serambi rumah batu; disitulah tadi sekelompok orang jang kebetulan lewat didjepit oleh seorang tentara jang naik ketrotoar. Pradjurit jang senang melihat ketakutan mereka, membuat pameran haute-école: ia undurkan kudanja kepada orang banjak itu, lalu menjuruhnja menari dan mentjatjar-tjatjar udara dengan pelan-pelan, seperti dalam atjara sirkus. Tiba-tiba dilihatnja kawan-kawannja pulang; iapun berpaling tjepat dan dengan beberapa lontjatan tibalah ia dalam barisan.
Chalajak mementjar dan Pasha jang saking takutnja tak dapat menerbitkan suara, lari kepada perempuan tua itu.
Tiverzina menggerutu sepandjang djalan kerumahnja „Pembunuh-pembunuh kedji! Rakjat bahagia sebab Tsar memberinja kemerdekaan, tapi kaum pembantai jang terkutuk ini tak rela. Jang mereka inginkan ialah merusak segala-galanja, memutar-balik tiap kata”.
Ia geram sekali pada tentara berkuda itu, marah pada seluruh dunia dan saat itu djuga pada anaknja sendiri. Kalau selaranja lagi datang, baginja semua kesulitan belakangan ini akibat kesalahan „anak buah Kuprinka jang tolol dan tak betjus” itu menurut istilahnja.
„Orang-orang setengah sinting ini mau apa? Mereka tak kenal diri sendiri, asal bikin tjelaka sadja, ratjun dunia! Matjam tukang pidato itu. — O, Pasha, kasi lihat lagi bagaimana tjaranja, kasi lihat, sajang — O, lutju! Kena betul”.
Dirumah ia marahi anaknja. Belum tjukup tuakah ia untuk ditjambuk dipunggung oleh sikonjol berambut keriting diatas kuda?
„Ibu sangka saja ini siapa? Ibu pikir aku kapten Kosak atau kepala polisi?”
9
Nikolay Nikolayevich menjaksikan demonstrasi bubar dari djendelanja. Ia maklum siapa mereka dan ingin tahu adakah Yura diantara mereka. Tapi agaknya tak ada kawan-kawannja disana, meskipun ia seolah melihat anak Dudorov itu — ia tak ingat betul namanja — sibrandal itu jang belum lama berselang dari bahunja ditjabut sebutir pelor; kini ia rupa-rupanja sudah kembali, menjusup kian-kemari, pada hal tak ada urusannja.
Nikolay Nikolayevich baru pulang dari Petersburg. Ia tak punja rumah-petak di Moscow, tapi tak mau tinggal dihotel, maka menompanglah ia pada sanak-kerabat jang djauh, jakni keluarga Sventitsky. Mereka memberinja kamar-podjok di-„entre-sol”.
Suami-istri Sventitsky tak punja anak, hingga rumah berloteng dua jang sedjak dahulukala disewa oleh almarhum orang-tua mereka dari Pangeran-pangeran Dolgoruky terlalu besar bagi mereka. Rumah ini sebagian dari kelompok gedung jang tak terurus dengan pelbagai gaja dan dengan tiga pelataran-dalam serta sebuah taman jang terletak ditanah-milik Dolgoruky, sebidang tanah tiga-segi jang dilingkungi lorong-lorong sempit, terkenal nama kuno Muchnoy Gorodok10 .
Meskipun djendelanja empat, kamar itu gelap dan penuh didjedjali buku, kertas, selimut dan gambar. Ada balkonnja jang merupakan separuh lingkaran disudut rumah. Pintu-pintu katja pada balkon ini ditutup karena musim dingin.
Pintu-pintu serta dua djendela membuka pemandangan kedjalan jang membentang sampai djauh, dimana nampak bekas djedjak kereta saldju dan rumah-rumah serta pagar-pagar ketjil jang tak lurus.
Dari taman masuklah bajang-bajang merah dalam kamar. Pohon-pohon jang dibebani saldju beku dengan dahan-dahannja seperti batang lilin jang mengukus, mendjenguk kedalam, seakan ingin melepaskan bebannja kelantai kamar.
Nikolay Nikolayevich menindjau djauh. Ia berpikir tentang musim dingin jang lalu di Petersburg — tentang Gapon11 , Gorky, pertemuannja dengan Witte12 , para pengarang modern jang sedang laku. Dari „rumah-gila” itu ia lari keibu-kota kuno jang tenang lagi sunji, untuk menulis buku jang diangan-angankannja. Tapi keadaannja tak berangsur baik. — Tiap hari kuliah — Sekolah Tinggi untuk Wanita13 , Perkumpulan Agama dan Filsafat, Palang Merah dan Dana Pemogokan — tak sesaatpun untuk mengerahkan otaknja. Dari pantji ia telah terdjun keapi. Jang diperlukannja ialah pergi ke Swis, kesuatu daerah terpentjil, ketenangan danau, gunung, langit dan udara jang bergema dan bersamadi.
Nikolay Nikolayevich berpaling dari djendela. Inginlah ia mengundjungi seseorang ataupun djalan-djalan sadja dilebuh, tapi ia ingat bahwa Vyvolochnov, penganut Tolstoy itu akan datang untuk membitjarakan sesuatu urusan. Ia mondar-mandir dalam kamar dan pikirannja beralih kepada kemanakannja.
Ketika Nikolay Nikolayevich pindah dari bentengnja disungai Volga ke Petersburg, ditinggalkannja Yura di Moscow, dimana ada banjak kerabatnja — para keluarga Vedenyapin, Ostromyslensky, Selyavin, Mikhael, Sventitsky dan Gromeko. Mula-mula Yura diselundupkan kerumah situkang-ketjek tua Ostromyslensky jang tjeroboh itu, terkenal dikalangan famili sebagai Freddy. Freddy hidup berzina dengan anak-angkatnja Motya dan karena itu ia menganggap dirinja pendobrak adat pusaka serta perintis kemadjuan. Ia menjalah-gunakan kepertjajaan sanak-saudaranya, sampai-sampai diambilnja uang jang diberikan padanja untuk keperluan hidup Yura dan dipergunakannja untuk diri sendiri. Yura dipindahkan kekeluarga profesor Gromeko dan masih tinggal disana.
Nikolay Nikolayevich berpendapat bahwa suasana dilingkungan itu sangat sesuai. Anak perempuan mereka, Tonya, sebaja dengan Yura dan Misha Gordon, kawan dan teman-sekolah Yura, sering bersama mereka.
„Itu tiga-serangkai jang lutju”, pikir Nikolay Nikolayevich. Ketiga-tiganja mendalami „Arti Tjinta” dan „Sonata Kreutzer”; pun djuga sangat gemar berchotbah tentang kesutjian. Tentulah tak mendjadi soal, kalau orang dewasa bertekun dalam kesutjian, tapi anak-anak ini melewati kesewadjaran, sama sekali kehilangan kesadaran akan proporsi.
Mereka masih kekanak-anakan, lagi pula exentrik. Apa sadja jang berhubungan dengan kelamin, ditjap „rendah budi” oleh mereka dan perkataan itu dipergunakan sampai memualkan, pun mereka djadi merah-padam atau putjat waktu mengutjapkannja. „Rendah-budi” dipatrapkan untuk naluri, pornografi, pertjabulan dan hampir seluruh dunia fisika
„Andaikata aku di Moscow”, pikir Nikolay Nikolayevich, „tak kubiarkan sedjauh itu. Rasa malu memang perlu, asal terbatas........... Ha! Nil Feoktissovich, silakan!” Ia disela oleh kedatangan tamunja.
10
Jang masuk itu orang gemuk dengan kemedja Tolstoy dan ikat-pinggang kulit jang lebar, sepatu but dari vilt dan tjelana jang melembung ditentang lutut. Rupanja seperti orang jang baik-hati, tapi sebuah „prince-nez” dengan pita hitam lebar bergerak ganas diudjung hidungnja. Ia telah mentjopot topinja diserambi, tapi tak menanggalkan sjalnja jang dibawanja masuk terseret-seret dilantai, sedang topinjapun masih ditangannja. Segala beban ini mentjegahnja untuk berdjabatan tangan, bahkan untuk berkata: „Apa kabar?”
„Hmm”, lenguhnja dengan putus-asa, sambil menengok disekeliling kamar.
„Taruh dimana sadja”, kata Nikoly Nikolayevich, maka dengan begitu Vyvolochnov dapat menguasai diri kembali serta buka mulut.
Dia adalah seorang murid Tolstoy jang membuat segala buah pikiran gurunja jang serba-gerak itu mendjadi dangkal hingga tak bebas dan lama tergenang tanpa gangguan. Ia datang untuk minta kepada Nikolay Nikolayevich supaja bitjara dalam rapat untuk menjokong para tawanan politik, jang akan diadakan disalah satu sekolahan.
„Saja sudah pernah bitjara disekolah itu”.
„Untuk menjokong politisi jang ditawan?”
„Ja”.
„Harap bitjara sekali lagi”.
Nikolay Nikolayevich mengelak sedikit, lalu menjatakan bersedia. Selesai urusan itu, Nikolay Nikolayevich tak berusaha menahan tamunja. Sebenarnja ia dapat pergi seketika, tapi agaknya merasa bahwa itu kurang sopan, maka ditjarinja buah-tutur jang hangat dan wadjar sebagai pamitan. Pertjakapan mendjadi terpaksa-paksa dan tak njaman.
„Djadi tuan sekarang dekaden? Menggunakan mystik?”
„Apa maksud tuan?”
„Itu tak guna. Tuan ingat dewan dusun kita?”
„Tentu! Bukankah kita kumpulkan bersama?”
„Dan sungguh baik dan meriah usaha kita memperdjuangkan sekolah dan sekolah tinggi guru. Masih ingat?”
„Tentu. Baguslah pergulatan itu”.
„Sudah itu adakah tuan bekerdja untuk kesehatan umum?”
„Ada sementara”.
„Hmm — Dan sekarang jang serba-tinggi sadja — dan pohon air dan soal pemuda dan „Mari seperti Matahari”14 . Tak masuk akal, sungguh — orang tjendekia seperti tuan, dibekali rasa humor serta pengetahuan tentang manusia ............ Wah! Tapi apakah dengan ini saja terobos apa jang kudus bagi tuan?”
„Apa guna, bitjara untuk bitjara sadja? Apa jang kita ributkan? Tuan tak tahu idaman saja”.
„Rusia butuh gedung sekolah dan rumah-sakit, bukan faun dan pohon air”.
„Tak ada jang menjangkal”.
„Kaum tani berpakaian tjompang-tjamping dan kelaparan............”
Demikian pertjakapan tersentak-sentak. Meskipun sadar akan tiada gunanja, namun Nikolay Nikolayevich mentjoba djuga menerangkan apa jang menariknja kepada beberapa pengarang dari mazhab symbolis. Lalu dengan beralih kepada adjaran-adjaran Tolstoy, berkatalah ia:
„Sampai kesatu hal saja ikuti tuan, tapi Tolstoy mengatakan, makin banjak orang mengabdikan diri pada keindahan, makin djauh ia tinggalkan budi ............”
„Dan tuan anggap baik jang sebaliknja — dunia akan tertolong oleh keindahan, begitu? — Dostoyevsky, Rozanov15 , sandiwara-mysteri dan apa lagi?”
„Tunggu, saja bentangkan dulu pendirian saja. Hemat saja, apabila binatang jang tidur dalam djiwa manusia dapat dikekang oleh antjaman — matjam apa sadja, pendjara atau pembalasan setelah mati — maka lambang tertinggi kemanusiaan adalah sipendjinak singa dalam sirkus dengan tjambuknja dan bukan pendeta jang mengorbankan diri. Tapi tak tuan lihatkah soalnja? Apa jang berabad-abad meningkatkan manusia atas hewan bukanlah pentung, melainkan musik didalam batin: daja tak tertundukkan dari kebenaran jang tak bersendjata, dengan teladan jang menarik. Orang selalu berpendapat bahwa jang paling penting dalam Evangeli ialah peladjaran achlak serta firman-firman. Tapi bagi saja jang terpenting ialah kenjataan bahwa Kristus bitjara dengan parabel-parabel jang terambil dari penghidupan sehari-hari, bahwa ia djelaskan kebenaran dengan realitet sehari-hari. Gagasan jang mendasarinja ialah bahwa pergaulan antara manusia itu kekal, pun bahwa keseluruhan hidup ini suatu perlambangan, sebab keseluruhannja mengandung arti”.
„Aku tak mengerti sepatah katapun. Hendaknja tuan tulis buku tentang itu!”
Achirnja pergilah Vyvolochnov. Nikolay Nikolayevich bukan main geramnja. Ia marahi diri sendiri, sebab dia nafaskan beberapa buah pikirannja jang paling intim kepada siongok tadi, hingga tak sedikitpun ada hasilnja. Kemudian, seperti jang kadang terdjadi, kemarahannja bertukar sasaran. Ia ingat hal lain jang djuga mengganggunja, lalu dilupakannja Vyvolochnov sama sekali.
Ia tak memelihara buku-harian, namun satu-dua kali dalam setahun ditulisnja dalam buku tjatatan tebal buah-pikiran jang meninggalkan kesan istimewa. Diambilnja buku itu, lalu mulai menulis dengan huruf-huruf besar jang mudah dibatja. Inilah jang ditulisnja.
„Sepandjang hari dibikin bingung oleh perempuan konjol dari Schlesingen itu jang datang pagi ini, duduk sampai waktu makan-siang dan selama dua djam penuh mengesalkan hatiku dengan membatjakan bahasa katjauan itu — naskah opera bersadjak oleh symbolis X untuk symfoni kosmogonis oleh komponis Y — djiwa planit-planit, suara unsur-unsur, dsb, dsb.
„Tiba-tiba mengerti mengapa bahan ini begitu buruk, membosankan dan dibikin-bikin, djuga bila terdjumpa dalam Faust. Seluruhnja merupakan kekenesan, tak seorangpun sungguh-sungguh berminat kepadanja. Orang modern tak memerlukannja. Bila ia gelisah oleh rahasia semesta, ia berpaling keilmu-alam, tidak kehexameter Hesiodus.
„Tak hanja bahwa bentuknja merupakan anachromisme dan bahwa djiwa-djiwa dari bumi dan udara ini tjuma mengatjaukan apa jang telah didjelaskan oleh ilmu, tapi djuga genre ini terlepas semata-mata dari inti sendiri, sebab-musabab kesenian sekarang.
„Segala kosmogoni ini chusus untuk dunia purba — dunia jang penghuninja sangat sedikit, hingga alam belum diatasi oleh manusia. Mamut masih mengembara dibumi, naga dan dynosaurus masih segar dalam ingatan orang. Alam bersahadja nampak dimatamu, menundjam ganas tak terelakkan pada kudukmu, hingga mungkinlah ia benar-benar penuh dewa-dewi. Itulah halaman-halaman pertama kronik insani, jaitu baru permulaannja.
„Dunia purba ini berachir dengan Roma, berhenti lantaran penduduk terlalu padat.
„Roma adalah pasar lowak untuk dewa-dewa pindjaman dan bangsa-bangsa terdjadjah, tempat djual-beli berdasarkan dua pangkat — bumi dan langit — jang pertama untuk budak-budak, lainnja untuk dewa-dewa. Dari Dacia, Herulia, Scythia, Sarmatia, Hyperboria. Roda-roda besar tanpa djari-djari, mata terbenam dalam lemak, kebiadaban, dagu berlipat, kaisar-kaisar jang buta-huruf, ikan jang makan daging budak-budak terpeladjar. Kebinatangan jang terpilin tiga kali lipat matjam usus. Ketika itu lebih banjak orang dari jang pernah ada sesudah itu jang semuanja didjedjalkan dalam gang-gang di Coliseum dan semuanja serba tjelaka.
„Kemudian ditengah onggokan emas dan pualam jang memuakkan ini datanglah Dia, dengan langkah tjepat dan dilingkungi tjahaja, bertjiri peri-kemanusiaan dan dengan provinsialisme Galilea jang bidjaksana, maka sedjak saat itu tak adalah dewa atau bangsa, jang ada hanja manusia — manusia situkang-kaju, manusia penggarap ladang, manusia gembala dengan kawanan domba pada waktu surja terbenam, manusia jang namanja tak kurang megah bunjinja16 , dinjanjikan dalam lagu-dondang dan diperperibadikan dalam balai seni-rupa antero dunia”.
11
Djalan Petrovka nampak seperti sesudut Petersburg jang kesasar di Moscow. Rumah-rumah jang berhadap-hadapan dikedua segi djalanan, perhiasan tenang disemua fasade, toko-buku, perpustakaan, sikarikaturis, sipendjual tembakau jang baik-budi, restoran jang menjenangkan dengan pintu-depan jang dikanan-kirinja ada dua lampu-gas bundar diselubungi saldju beku dan digandjal kaju tebal, semua ini membantu menimbulkan kesan demikian.
Dimusim dingin, wadjah kota mengungkap antjaman. Penduduknja adalah para pemangku pekerdjaan liberal jang dapat dipertjaja, tahu-diri dan bergadji baik.
Disinilah Victor Ippolitovich Komarovsky menjewa tempat kediamannja jang indah diloteng ketiga; orang sampai kesitu melalui tangga lebar dengan kisi-kisi djati jang kokoh. Induk-semangnja, Emma Ernestovna, adalah pendiam dan djarang nampak; dalam rumah jang seperti puri tenang ini dia laksana wanita bangsawan jang memelihara rumah-tangganja dengan tjermat lagi sopan. Ia meneliti segala, tapi tak pernah tjampur-tangan dalam hal-ichwal penghidupan sipenjewa dan dia inipun membalas budinja dengan rasa-halus seorang satria, lajak bagi orang sesantun dia, jakni ia tak menerima siapapun djuga — lelaki maupun perempuan — jang kehadirannja tak akan sesuai dengan ketenangan dunia siprawan tua. Kesunjian biara meradjai rumah itu — semua markisa ditutup dan tiada debu setapakpun, seperti dalam gedung sandiwara jang sedang dipakai.
Tiap minggu pagi Victor Ippolitovich dengan disertai andjing bulldognja, djalan-djalan seenaknja di Petrovka dan disepandjang Kuznetsky Most; disalah satu simpangan djalan ia bertemu dengan Constantine Illarionovich Satanidi, seorang peran pendjudi.
Mereka djalan bersama-sama, saling menuturkan berbagai anekdot pendek serta buah pikiran singkat jang remeh dan begitu penuh ketadjaman terhadap hal-ichwal didunia, hingga tjojtok sekali untuk diganti dengan bunji mengerang keras, asal sadja memenuhi djalanan dari seberang keseberang dengan bunji selantang suara mereka, sengal-sengal tak bermalu dan seperti tertjekik oleh getaran sendiri.
12
Hawa menjalahi peredaran musim. Air menetes: tik-tik-tik diatas talang dan pinggiran atap, hingga semua atap berkirim-kiriman berita, seolah dimusim-semi. Saldju lagi meleleh.
Lara berdjalan sepandjang djalannja seolah terbius dan baru sadar akan apa jang terdjadi, setelah ia sampai kerumah.
Semua orang tidur. Ia terdjerumus lagi dalam pesona, maka dalam termangu-mangu itu duduklah ia depan medja-hias ibunja, masih memakai gaun ungu kekuning-kuningan jang hampir putih dan bertepi renda serta tjadar pandjang jang untuk malam itu dipindjamnja dari toko, nampaknja seperti pakaian istimewa.
Dengan kedua belah tangannja dimedja ia duduk menetap bajangannja dalam tjermin, namun tak melihat apa-apa. Sedjurus kemudian ia tekurkan kepala ketangannja.
Kalau ibu dengar tentang ini, ia akan membunuhnja. Ia bunuh dia, lalu bunuh-diri.
Bagaimana itu terdjadi? Bagaimana mungkin terdjadi? Sekarang sudah terlambat, seharusnja ia berpikir lebih dulu.
Sekarang ia — apa namanja? — perempuan jang ternoda. Ia tokoh perempuan dari roman Perantjis, sungguhpun besok ia pergi kesekolah, duduk berdampingan dengan gadis-gadis lain itu jang seperti anak-anak ketjil bila dibanding dengan dia. O, Tuhan, mengapa ini terdjadi?
Bertahun-tahun kemudian, bila sudah mungkin, pada suatu hari ia akan mentjeritakan halnja kepada Olya Demina dan Olya akan merangkulnja dan tersedu-sedu.
Diluar djendela tetesan air berbisik-bisik dan saldju jang mentjair bergumam penuh pesona. Didjalanan ada orang menggedor pintu tetangga. Lara duduk menekur, pundaknja bergeletar oleh isaknja.
13
„Itu semua sampah, Emma Ernestovna sajang. Aku djemu dan mual”. Ia terus membuka dan menutup latji-latji, membongkar semuanja, melempar segala manset dan krah kepermadani dan dipan, tak sadar apa jang diperlukannja.
Ia rindukan Lara sampai hilang akalnja, tapi tak ada kemungkinan bertemu dengannja hari Minggu itu. Ia mudar-mandir seperti gila dalam kamar, bagai binatang jang dikurung.
Gadis itu baginja mempunjai daja-penarik aneh jang tidak badani. Tangannja menakdjubkan dia bagai daja-chajal jang agung. Bajangannja didinding kamar hotel mengesan padanja sebagai udjud kesutjian. Kutangnja terentang didadanja dengan kokoh dan wadjar seperti kain lenan dirangka radjutan.
Djari-djarinja mengetuk-ngetuk katja djendela menurut irama derap kaki kuda jang pelan diaspal didjalan-kereta dibawah. „Lara”, bisiknja seraja memedjamkan mata. Ia bajangkan kepala sigadis dalam pelukan lengannja; matanja terkatup, dia tidur dengan tak sadar bahwa ia menatapnja beberapa djam berturut-turut tanpa tidur. Rambut hitamnja terurai dan keindahannja menjengat matanja seperti asap, menjusup kehatinja.
Hari Minggu itu ia djalan-djalan tanpa hasil. Ia melangkah beberapa djedjak bersama Jack, lalu berhenti, berpikir tentang Kuznetsky Most, tentang lelutjon Satanidi dan barisan kenalannja jang berpusing-pusing — ah, ia tak betah. Ia balik. Andjingnja terkedjut, menengadah dari bawah dengan pandangan jang membantah, lalu berdjalan gojang dibelakangnja dengan enggan.
„Djahanam, apa artinja semua ini?” pikir Komarovsky. „Setan apa merasuki diriku?” Hati-nuranikah ini atau rasa kasihan atau sesalan? Kuatirkah ia tentangnja? Tidak, ia tahu gadis itu sudah aman dirumah. Tapi mengapa ia tak sanggup melupakannja?
Ia kembali kerumahnja, naik tangga dan melalui bordes pertama, dimana hiasan-hiasan heraldik dipodjok-podjok djendela melempar petjahan-petjahan tjahaja berwarna depan kakinja; separoh-djalan pada kelompok djendjang pertama ia berhenti.
Ia tak boleh menjerah pada perasaan gelisah jang meletihkan dan mengusik ini. Achirnja ia bukan anak-sekolah. Ia harus tahu apa akibatnja, djika gadis ini — jang masih kanak-kanak, anak mendiang temannja — bukan lagi alat permainan belaka, melainkan mendjadi obsesi. Ia mesti berteguh hati. Ia harus djudjur terhadap diri sendiri serta kebiasaannja, kalau tidak, ia akan kehilangan semuanja.
Komarovsky menggenggam kisi-kisi sampai tangannja njeri, lalu ia pejamkan matanja sedjurus, berpaling dan turun bertegap hati. Dibordes jang ditaburi petjahan tjahaja berwarna itu andjingnja menantinja. Ia mengangkat kepalanja matjam kurtjitji tua dengan rahang pandjang jang berliur dan menengadah padanja dengan mata memudja.
Andjing ini membentji gadis itu, ia menggeram padanja, menundjukkan giginja dan merobek kaus-kakinja. Ia dengki padanja, seolah kuatir madjikannja akan ketularan sesuatu jang insaniah olehnja.
„Djadi sekarang kaupikir, semuanja akan pulih kembali seperti dulu — Satanidi, lelutjon, muslihat busuk dan sebagainja? Baiklah, terima ini, dan ini, dan ini”. Ia pukul andjing itu dengan tongkatnja dan menendangnja. Jack mendjerit, melolong, mengontai keatas djendjang dengan menggojang pantat, lalu mengorek-ngorek pintu untuk mengeluh kepada Emma Ernestovna.
Dan lampaulah hari demi hari, pekan demi pekan.
14
Lingkaran ini keresapan setan! Andaikata penjelenongan Komarovsky dalam penghidupan Lara ini hanja memualkan belaka, dapatlah ia membrontak dan mentjampakkannja. Tapi soalnja tak semudah itu.
Ia merasa terangkat, karena seorang laki-laki jang rambutnja mulai beruban, tjukup tua untuk mendjadi ajahnja, orang jang dalam rapat-rapat mendapat tepuk-tangan dan disebut dalam surat-kabar, telah mentjurahkan waktu dan uangnja kepadanja, membawanja keluar menonton konser dan sandiwara, menjebutnja seindah dewi dan pada umumnja konon akan memperkaja djiwanja.
Sebetulnja ia masih anak-sekolah berpakaian tjoklat seragam jang disekolah masih suka berbuat kenakalan jang tak berarti. Tjumbu-tjumbuan Komarovsky dalam kereta dibelakang punggung kusir atau dalam „opera box” dengan terlihat djelas oleh hadirin, menjenangkan dan menantang dia karena ada anasir rahasia tjampur keberanian.
Tapi kesukaan bertualang jang kekanak-kanakan ini tak lama berlangsung. Dalam batinnja mulai berakar ketakutan terhadap diri sendiri jang menggodanja dan mematahkan semangat. Letih lesu oleh pergulatannja dengan peladjarannja dan dengan bangun waktu malam, dengan air-mata dan kepala pusing tak henti-henti, iapun merasa ngantuk sepandjang hari.
15
Ia bentji padanja, ia kutukan djiwanja. Tiap hari itu terlintas dalam otaknja.
Ia telah mendjadi tawanannja seumur hidup. Bagaimana ia sampai memperbudaknja? Apa sebabnja ia telah tunduk pada keinginannja serta memenuhi kebutuhannja untuk membuatnja malu? Apa kekuasaannja atas dirinja? Umurnja? Atau karena ibunja tergantung pada uangnja? Itukah jang amat mempengaruhi atau menakutkan? Tidak, seribu kali tidak. Itu omongkosong semua.
Dialah sendiri jang berkuasa atasnja. Tak sadarkah ia, betapa Komarovsky memerlukannja? Ia tak perlu ketjut, hati-nuraninja bersih. Komarovskylah jang patut malu dan takut serta kehilangan hati karena ditinggalkannja. Tapi Lara djustru tak mau berbuat begitu. Ia tak dapat berchianat, tak sanggup seperti dia mengambil keuntungan dari jang lemah dan jang tergantung padanja.
Itulah djustru perbedaan antara mereka. Dan itu pula membuat seluruh penghidupan ini begitu menakutkan. Orang tak hantjur oleh guntur dan petir, melainkan oleh tjurian mata dan fitnahan jang dibisikkan. Hidup penuh pengchianatan dan kedua-artian. Benang jang tunggal mudah putus bagaikan sarang laba-laba, tapi tjoba lepaskan dirimu dari djaring! Djaring itu malah makin mendjerat.
Bahkan jang kuatpun dikuasai oleh jang rengkeh dan suka berchianat.
16
Ditjobanja buah-pikiran jang bukan-bukan. Bagaimana kalau ia kawin, tanjanja pada diri sendiri, adakah bedanja? Tapi sekali-sekali ia tertjekam oleh siksaan batin jang mentjemaskan.
Komarovsky tak malu-malu bersudjud dikakinja serta memohon: „Tak boleh begini terus. Ingatlah apa jang kubuat denganmu! Kau menudju keruntuhanmu. Ibumu harus tahu dan kita akan kawin”. Komarovsky menangis dan mendesak-desak, seolah Lara membantah dan menjangkal. Ia tahu itu tjuma omong-kosong dan ia njaris tak mendengarkan.
Dan ia masih sadja ikut, kini bertjadar, dengan Komarovsky untuk makan-siang dalam kamar-kamar jang terpisah direstoran jang mengerikan itu, dimana para pelajan dan tamunja menelandjangi dia dengan pandangan mereka, bila ia masuk dan satu-satunja jang diperbuatnja ialah bertanja diri: „Andaikata ia tjinta padaku, maukah ia menghinaku begini?”
Pernah ia mimpi. Ia terkubur dibawah tanah; jang tinggal padanja hanjalah lambung kiri dan kaki kanannja. Sedjumput rumput tumbuh dari tampuk-susunja jang kiri dan diatas tanah itu orang-orang menjanji: „Mata hitam dan dada putih” serta „Masha djangan menjeberangi sungai”.
17
Lara tidak alim. Ia tak pertjaja pada ibadah. Tapi supaja betah menanggung hidupnja ia kadang-kadang memerlukan musik dari batin, sedangkan ia tak selalu mengubah sendiri komposisinja. Musik itu penuturan Allah tentang hidup, maka pergilah ia kegeredja guna mendengarnja.
Sekali pada awal Desember, ketika ia merasa seperti Katerina dalam drama „Taufan”17 , ia pergi bersembahjang dengan hati begitu berat, hingga ia merasa seolah tiap saat bumi bisa terbelah didepan kakinja dan langit-langit geredja jang lengkung itupun berlekuk-lekuk. Itu akan baik baginja dan akan menjudahi segalanja. Ia hanja menjesal telah membawa serta Olya sitjeriwis itu.
„Itu dia Prov Afanasyevich”, bisik Olya.
„Sst. Djangan ganggu. Prov Afanasyevich jang mana?”
„Prov Afanasyevich Sokolov. Orang jang lagi membatja itu. Dia sepupu kami deradjat kedua”.
„O, psalmis itu. Kerabat Tiverzin. Diam sadja”.
Mereka masuk pada permulaan ibadah. Psalm itu berbunji:
„Djiwaku hendak memudji Tuhan dan seluruh batinku menguduskan namanja jang keramat”.
Semua penjembah berkelompok menghadap mimbar diudjung geredja jang hampir kosong dan berkumandang itu. Gedung itu baru. Djendela katjanja jang sederhana tak menghiasi djalanan diluar jang abu-abu, penuh saldju dan ramai. Didepannja berdiri djurukuntji geredja jang tak memperhatikan ibadah; ia keras-keras memarahi seorang pengemis perempuan jang tuli dan setengah sinting dengan suara mendatar dan membosankan, tak ubahnja dengan djendela dan djalanan.
Selama Lara dengan menggenggam uang ketjilnja, mentjari djalan lewat para penjembah tanpa mengganggu mereka, membeli dua lilin untuknja dan untuk Olya didekat pintu, lalu berbalik, Prov Afanasyevich telah melantjarkan pembatjaan sembilan „Kebahagiaan” dengan pesatnja, seakan sudah mudah sekali dimengerti tanpa perantaraannja.
„Bahagialah jang bersahadja dalam djiwa ... Bahagialah jang kesedihan ... Bahagialah jang lapar dan haus akan keadilan ...”
Lara menggigil dan berdiri tenang. Itulah tepat untuknja. Dia berkata: Bersukurlah jang tertindas. Ada jang mereka njatakan untuk diri sendiri. Segala hal ada didepan mereka. Begitulah pikiran Dia. Begitulah pendapat Kristus tentang hal ini.
18
Pemberontakan Presnya sedang berkobar. Rumah keluarga Guishar terletak diwilajah pergolakan. Di Djalan Tver, beberapa meter dari rumah mereka sedang didirikan barikade. Orang membawa air berember-ember dari pekarangannja untuk memadatkan batu-batu dan besi tua dengan es.
Pekarangan jang terdekat dipakai oleh kaum pemberontak untuk tempat pertemuan, tjampuran antara pos Palang Merah dan dapur sop.
Lara kenal dua anak-lelaki jang pergi kesitu. Jang seorang adalah Nicky Dudorov, kawan sekolahnja Nadya. Ia tinggi-hati, tulus, dan pendiam; tabiatnja sangat mirip pada tabiat Lara sendiri, hingga tak menariknja.
Lainnja adalah Pasha Antipov jang mengundjungi sekolah menengah dan tinggal dengan Tiverzina jang tua, nenek Olya Demina. Mau tak mau Lara menjaksikan kesan jang diterima anak itu dari padanja, ketika mereka bertemu dirumah Tiverzin. Hatinja jang kekanak-kanakan itu begitu terbuka, hingga ketika ia melihat Lara, ia tak pikir-pikir hendak menjembunjikan kegembiraannja; sigadis seolah tak beda dari sebuah tamasja dengan pohon-pohon, rumput dan awan, jang dapat ia nikmati tanpa bahaja akan diketawai orang.
Begitu Lara merasa bahwa ia berpengaruh atasnja, begitu ia mulai memakai pengaruhnja tanpa sadar, sungguhpun baru bertahun-tahun kemudian dan pada taraf persahabatan jang djauh lebih landjutlah ia mempergunakan setjara sungguh-sungguh watak sianak jang mudah ditempa lagi menurut itu. Waktu itu maklumlah Pasha betapa ia mentjintainja, sampai seluruh hatinja dipertaruhkan untuknja sepandjang hidup.
Kedua anak itu melakukan permainan orang dewasa jang berbahaja sekali, jakni peperangan, maka dalam perang ini mereka tak hanja menghadapi segala risiko pertempuran biasa, tapi djuga bahaja pembuangan atau gantungan. Namun tjara mereka memakai pitji wol jang diikat dibelakang menunjukkan bahwa mereka kanak-kanak jang masih ada orang-tuanja atau perlu diawasi orang-tua. Larapun berpikir tentang mereka sebagai kanak-kanak. Segala kegemaran mereka jang berbahaja itu mengandung kembang kewadjaran tak berdosa jang mereka kenakan pada segala hal — pada malam jang djumbai kehinggapan saldju beku, hingga nampak lebih putih dari pada hitam, pada bajang-bajang biru-hitam dipekarangan, pada rumah diseberang djalan tempat mereka sembunji dan terutama pada tembakan-tembakan pistol jang datang dari situ. „Anak-anak menembak”, pikir Lara. Demikianlah tjaranja berpikir, tak hanja tentang Nicky dan Pasha, namun djuga tentang semua orang jang menembak-menembak diseluruh Moscow. „Anak-anak sopan jang baik-hati” pikirnja. „Mereka menembak karena baik-hati”.
19
Mereka mendengar bahwa barikade mungkin akan digempur dan rumah mereka mungkin dalam bahaja. Terlambatlah untuk tinggal dirumah kawan-kawan atau dibagian lain dalam kota Moscow, sebab distrik mereka telah dikepung; mereka terpaksa berlindung dekat dari situ. Jang hendak ditudju ialah Hotel Montenegro.
Ternjata banjak orang lain jang mengalami keadaan jang sama telah mempunjai tudjuan jang sama djuga. Hotel itupun penuh tapi demi persahabatan lama mereka didjandjikan akan mendapat tempat tidur jang dibentangkan dilantai gudang-kain.
Agar tak menarik perhatian dengan mendjindjing kopor-kopor, segala barang keperluan dikumpul dalam tiga bungkusan; tapi dari hari kehari kepindahan mereka tertunda-tunda.
Menurut kebiasaan lama, bengkel masih buka lama sesudah permulaan pemogokan umum. Tapi pada suatu sendja dingin jang mendjemukan, berbunjilah genta dipintu. Ada orang datang untuk menuntut dan memprotes. Madjikan diminta keluar. Fetisova menggantinja untuk meredakan keributan. Beberapa saat sesudah itu dipanggilnja para pendjahit keserambi-depan untuk diperkenalkan kepada tamu. Tamu ini keliling mendjabat tangan, tjanggung tapi penuh perasaan, lantas pergilah ia, rupa-rupanja setelah ada jang diurusnja dengan Fetisova.
Para pendjahit kembali kekamar-kerdja dan mulai mengenakan kain-leher serta mantel musim-dingin jang usang.
„Ada apa?” tanja njonja Guishar, buru-buru masuk.
„Mereka suruh kami keluar, njonja; kami mogok”.
„Tapi mengapa ......... Apa kesalahanku pada kalian?” Njonja Guishar menangis.
„Djangan begitu, Amalia Karlovna. Kami tak apa-apa terhadap kamu. Kami banjak berhutang-budi. Soalnja bukan antara kamu dan kami. Semua orang berbuat jang sama, seluruh dunia. Kita tak bisa melawan semua, bukan?”
Mereka semua pergi, djuga Olya-Demina, bahkan Fetisova jang ketika pamit berbisik pada njonja Guishar bahwa ia hanja memerankan pemogokan untuk menolong perusahaan serta pemiliknja. Njonja Guishar putus-asa.
„Tak tahu budi sama sekali! Tertipu benar aku oleh orang-orang ini! Berlimpah-limpah kebaikanku pada anak-gadis itu. Nah, bolehlah dia dimaafkan, sebab masih kanak-kanak, tapi penenung tua itu?”
„Mereka tak boleh mengetjualikan ibu sendiri, ibu tak mengerti”, Lara mentjoba membudjuknja. „Tak ada jang menaruh dendam pada ibu. Malah sebaliknja. Apa jang terdjadi sekarang, dilakukan atas nama kemanusiaan, guna membela jang lemah, untuk menolong perempuan dan anak-anak. Begitulah sebetulnja. Djangan geleng-geleng. Akan ibu alami, suatu hari nasib ibu dan aku akan lebih baik karena ini”.
Namun ibunja tak mengerti. „Selalu begini”, isaknja. „Djustru kalau aku tak dapat berpikir, datanglah kau dengan sesuatu jang mengherankan; sedang orang menggentjet aku, kau bilang itu menolong. Wah, rupanja aku kehilangan akal”.
Rodya lagi disekolah. Lara dan ibunja mundar-mandir sendiri dirumah kosong. Lebuh tak berlampu memandang nanar kedalam kamar dan kamar melampiaskan pandangannja.
„Mari kehotel, bu, sebelum gelap”, mohon Lara. „Marilah, bu. Djangan tunda, pergilah kita sekarang”.
Mereka memanggil djurukuntji. „Filat, Filat. Bawa kami ke Hotel Montenegro, Filat sajang”.
„Baik, njonja”.
„Bawa bungkusan-bungkusan ini. Dan djagalah rumah ini, Filat, sampai beres nanti. Harap djangan kaulupakan makanan-burung buat si Kyril Modestovich dan gantilah airnja. Inilah kuntji rumah. Tjukupkah begitu, kukira, datanglah menengok kita”.
„Baik, njonja”.
„Trimakasih Filat. Tuhan melindungimu. Nah, duduklah kita18 , lalu berangkat nanti”.
Waktu mereka keluar, hawa segar seakan asing, seolah mereka tadinja sakit berminggu-minggu. Bunji-bunji keras, bulat seperti diasah dimedja-putar, bergemulung penuh gema lembut diudara ikal, beku dan bersih. Tembakan dan salvo meletup, meledak dan berdebuk, hingga djarak dibuatnja pipih seperti apam.
Sungguhpun Filat mentjoba mejakinkan Lara dan Amali bahwa tembakan-tembakan itu benar-benar berpeluru, namun mereka tak pertjaja.
„Kau tolol, Filat. Pikirlah sendiri. Tak mungkin berpeluru, sebab tak kelihatan orang menembak. Siapa jang menembak menurut kau? Roh kudus barangkali? Tentu tak pakai peluru”.
Pada sebuah simpangan djalan mereka ditahan oleh sepatroli Kosak jang menggeledah dan setjara kurang-adjar mendjamah-djamah mereka dari kepala sampai kaki. Pitji Kosak jang tak berputjuk itu diikat kedagu, tergelimpang dengan manisnja kekuping dan membuat tiap mereka buta pada mata jang sebelah.
„Bagus sekali”, pikir Lara sambil berdjalan terus. Ia tak akan berdjumpa Komarovsky, selama distrik dipisahkan dari kota selebihnja. Ibunja tak memungkinkan dia melepaskan Komarovsky. Ia tak dapat mengatakan: „Harap ibu tak bergaul lagi dengan dia”. Kalau itu dibuatnja, semuanja akan terbuka.
Tapi apa salahnja? Mengapa ia takuti itu? O, Tuhan! Apa sadja boleh terdjadi, asal itu berachir!
Allah! Allah! Ia akan djatuh pingsan lantaran mual. Apa jang barusan diingatnja? Apa nama gambar jang mengedjutkan itu? Ada orang Roma gendut didalamnja. Tergantung dikamar-pribadi pertama, tempat mulai semua ini. „Wanita djambangan?” Itu dia. Pastilah. Gambar termashur. Orang Romawi gendut itu sedang menentukan pilihannja antara siwanita dan djambangan. Ketika ia mula-mula melihatnja, ia masih belum wanita, ia belum dapat dibanding dengan karja seni semahal itu. Itu kelak mendjadi kenjataan. Medja diatur indah seperti untuk pesta.
„Kemana kau lari sekentjang itu? Aku tak dapat mengedjarmu”, sengal njonja Guishar. Lara djalan tjepat. Tenaga tak dikenal mendorongnja, ia seakan melangkah dalam udara, didjulang oleh daja-pendorong jang gagah itu.
„Bagus sekali”, pikirnja, mendengarkan letupan bedil. „Bahagialah jang tertindas. Bahagialah jang ditipu. Tuhan mempertjepat peluru. Mereka dan aku satu-hati”.
20
Gromeko bersaudara mempunjai rumah dipodjok Sivtsev Vrazhek19 dan djalan ketjil lainnja. Alexander Alexandrovich dan Nikolay Alexandrovich Gromeko kedua-duanja profesor ilmu kimia, jang pertama di Akademi Petrov, lainnja di Universitas. Nikolay belum kawin. Alexander punja istri jang nama gadisnja Krueger. Ajahnja seorang radja-besi; ia punja tanah-milik besar dipegunungan Ural dekat Yuryatin; disitu ada beberapa tambang jang tak menguntungkan dan terbengkalai.
Rumah keluarga Gromeko berloteng dua. Diloteng paling atas terletak kamar-kamar tidur, kelas sekolahan, kamar-kerdja dan perpustakaan Alexander Alexandrovich, kamar-duduk Anna serta kamar-kamar Tonya dan Yura; itulah tempat-tempat kediaman. Ruang-bawah dipergunakan untuk menerima tamu. Dengan tirai-tirai berwarna pistachio, kepala piano jang mengkilap, akwarium, kain-dinding hidjau-djaitun serta tumbuh-tumbuhan dalam pot-pot seperti ganggang-laut, maka ruangan mirip pada dasar-laut hidjau jang bergojang dalam suasana impian.
Keluarga Gromeko ini beradab, suka menerima tamu dan ahli serta penjajang besar mengenai musik. Mereka sering mengadakan resepsi serta malam musik-kamar untuk kwarter musik-gesek dan trio piano.
Malam musik demikian akan diselenggarakan dalam bulan Djanuari 1906. Konser pertamanja ialah sonata-biola oleh seorang komponis muda, murid Taneyev, kemudian trio Tchaikovsky.
Persiapan telah dimulai sehari sebelumnja. Perabot-perabot digeser melingkar dalam kamar-tamu. Disatu sudut penjetem piano menjentil berlusin kali dawai jang sama, maka ditaburkannja bunji-bunji arpeggio seperti seraup manik-manik. Didapur orang memetik bulu-bulu ajam, mentjutji sajur dan mentjampur mustard dengan minjak djaitun untuk menghidangkan selada.
Shura Schlesinger, teman akrab dan orang kepertjajaan Anna, pertama-tama tiba pagi itu dan mendjemukan orang.
Shura adalah perempuan tinggi kurus dengan raut-muka runtut dan wadjah agak kelaki-lakian jang mengingatkan pada wadjah Kaisar, apalagi bila bertopi astrakan abu-abu jang dipasang miring; ia memakainja terus didalam rumah dan hanja sedikit menjingkapkan tjadar jang tersemat pada topi itu.
Dalam waktu kesusahan atau kesukaran, dua teman ini saling meringankan beban-beban mereka. Ini mereka lakukan dengan rangsang-merangsang, pertjakapan berangsur-angsur mendjadi tadjam, sampai meletuskan badai perasaan jang segera berachir dengan air-mata dan perdamaian. Adegan demikian berhasil memenangkan kedua-duanja, seperti penggunaan lintah untuk tekanan-darah tinggi.
Shura Schlesinger telah berkali-kali kawin, tapi ia selalu melupakan suaminja segera sesudah tjerai, pun ia menganggap enteng semua perkawinannja itu, hingga dalam tingkah-lakunja senantiasa tinggal keresahan dingin perempuan budjangan.
Shura adalah teosuf, tapi ia djuga ahli dalam upatjara ibadah Geredja Ortodox; bahkan bila ia sama sekali terpesona dalam keadaan extase setinggi-tingginja, iapun tak dapat menahan diri untuk mendahului pendeta jang bertugas. „Dengarkan, ja Tuhan”, „Kini dan selama-lamanja”, „Malaikat terpuja”, gumamnja tak henti-henti dengan suara stakato jang serak.
Shura mempunjai pengetahuan tentang ilmu-hitung dan penjembahan esoteris setjara India, dia tahu alamat guru-guru paling terkenal dikonservatorium Moscow, dia tahu siapa tinggal bersama dengan siapa dan entah apa lagi ketjuali itu. Itu sebabnja ia dipanggil orang sebagai djuru-pisah dan organisator untuk segala kedjadian penting dalam penghidupan.
Pada waktu jang ditentukan, tamu-tamu mulai datang. Saldju turun dan apabila pintu-depan terbuka, nampaklah udara terbang lalu, bagaikan terpilin dalam seribu simpul oleh saldju jang berpendar. Dari tempat dingin ini masuklah kaum laki-laki dengan sepatu saldju pandjang jang tjanggung, masing-masing tanpa ketjuali berusaha sedapat-dapatnja untuk nampak seperti orang dusun ongok, tapi sebaliknja isteri-isteri mereka dengan muka hangat karena saldju, dengan mantel tak terkantjing, kain-leher jang tersingkap serta rambut ditaburi embun beku, mempribadikan tipe sigenit jang berpengalaman, djiwa tjurang jang tak dapat dipertjaja. „Kemanakan Cui”20 , bisik orang disekeliling, ketika musikus muda masuk.
Dibalik pintu-pintu dikanan-kiri kamar-dansa itu medja-makan mengkilap laksana djalanan bersaldju, putih dan pandjang. Tarian tjahaja dibotol-botol dingin penuh vodka dari buah anggur merah menjemput pandangan. Flakon-flakon ketjil dari hablur berlandasan perak serta susunan indah alat-alat permainan dan zakuski21 menangkap daja-chajal, sedangkan sapu-sapu-tangan jang dilipat mendjadi limas tegak serta bakul-bakul dari cenerairia ungu jang berbau buah badam agaknya mengasah selera.
Agar tak lama-lama menunda kenikmatan berkat redjeki duniawi, tamu-tamu bergegas kebawah, menudju kesuguhan rohani. Mereka duduk berdjedjer-djedjer. „Kemanakan Cui”, bisik orang lagi, waktu pemusik itu duduk depan piano. Konser dimulai.
Sonata jang diduga akan kering, rumit dan membosankan itu memenuhi kekuatiran jang demikian, djadinja terlalu direntang-pandjangkan.
Waktu djedah, kritikus Kerimbekov dan Alexander Gromeko berselisih tentang sonata itu, Kerimbekov mengetjam, sedangkan Gromeko membelanja; sementara itu disekeliling mereka orang merokok, omong-omong dan menjeret-njeret kursi. Sampai taplak medja jang mengkilap dikamar sebelah menarik perhatian kembali dan membuat mereka mengambil putusan untuk melandjutkan konser.
Pianis mengangguk pada kawan-kawannja; pemain biola dan Tishkevich membungkuk dengan indahnja dan musikpun memainkan rajuanja.
Yura dan Tonya bersama Misha Gordon jang selama separuh waktunja ada dirumah Gromeko, duduk dideretan ketiga.
„Yegorovna memberi tanda pada tuan”, bisik Yura kepada Alexander Alexandrovich jang duduk tepat didepannja.
Yegorovna, budjang Gromeko jang beruban, berdiri diambang pintu dan dengan memandang gelisah kearah Yura sambil mengangguk dengan gigih kepada Alexander Alexandrovich, ditjobanja menjadarkan Yura bahwa ia perlu sekali bitjara dengan madjikannja.
Alexander Alexandrovich menoleh, memandangnja dengan rengut; lantas mengangkat pundaknja, tapi Yegorovna tak undur. Segera mereka bitjara dengan tanda-tanda lewat kamar, tak ubahnja dengan sepasang orang bisu-tuli. Hadirinpun menjaksikan itu. Anna memantjarkan pandangan amarah pada suaminja jang kemudian berdiri merah-padam dan djalan bertandjak kaki turut tepi kamar.
„Kau tak malu, Yegorovna? Mengapa amat tergesa? Nah, ada apa?”
Yegorovna bergumam kekupingnja.
„Apa itu Montenegro?”
„Hotel”.
„Nah, apa soalnja?”
„Mereka minta ia pulang selekasnja. Seorang keluarganja hampir meninggal”.
„Wah, mengapa maut datang sekarang? Aku hanja dapat membajangkannja ............ Tapi mustahil, Yegorovna. Kalau permainan selesai, baru kusampaikan padanja. Sebelum itu tak mungkin”.
„Pelajannja dikirim dengan kereta untuk mendjemputnja. Ada jang sekarat, saja katakan, tuan tak faham? Seorang wanita — kelas bangsawan”.
„Dan aku katakan mustahil. Beberapa menit sadja tak merobah apa-apa”. Ia bertandjak kaki kembali ketempatnja dengan kerut murung, sambil menggaruk-garuk punggung-hidungnja.
Pada achir tempo pertama, sebelum tepuk-tangan reda, didekatinja para pemusik dan disampaikannja pada Tishkevich bahwa ia perlu pulang; dirumahnja ada ketjelakaan, mereka harus berhenti main. Lalu ia berpaling menghadap publik, meminta ketenangan dengan mengangkat tangan:
„Tuan-tuan dan njonja-njonja, saja chawatirkan trio ini harus berhenti. Tuan Tishkevich dapat kabar buruk dari rumah. Seluruh simpati kita bersama dia. Ia terpaksa meninggalkan kita. Saja tak mau ia pergi sendirian dalam saat begini. Saja ikut serta untuk membantu, djika perlu. Yura, suruh Simon menjediakan kereta, ia telah siap berdjurus-djurus. Tuan-tuan dan njonja-njonja, saja tak mengutjapkan „Selamat malam” — hendaknja tetap disinilah semua — tak lama lagi saja kembali”.
Anak-anak minta dibolehkan ikut, karena ingin berkendaraan dimalam bersaldju beku.
21
Sekalipun sedjak Desember arus penghidupan pulih seperti biasa, sekali-sekali masih ada tembakan, dan meskipun ada lagi rumah-rumah terbakar, seperti jang biasa terdjadi, tapi kelihatannja sebagai sisa-sisa kebakaran dari bulan Desember jang membakar habis diri sendiri.
Anak-anak tak pernah selama itu naik kereta. Sebetulnja Hotel Montenegro hanja sedjauh lemparan batu — tjuma lewat Bulevar Smolensky, turut Djalan Sadovaya, tapi saldju beku jang ganas serta kabut telah mengatjaukan djarak-djarak dan memanggal-manggalinja, seolah sifat ruangan didunia ini berbeda-beda. Asap rumbai jang merojak dari api ditepi djalan22 , derap langkah kaki serta gerat-gerit kereta-saldju jang lewat, semua itu membantu timbulnja kesan bahwa mereka sudah berdjalan entah berapa lamanja, pun tengah menudju kesuatu tempat terpentjil jang mengerikan.
Didepan gerbang hotel ada kereta-saldju sempit jang indah; kuda-kudanja ditutup kain dan pada kakinja terikat bantalan-bantalan. Kusirnja meringkuk ditempat-duduk penumpang hendak berhangat-hangat; kepalanja terbebat dan teruruk oleh tangan-tangannja jang besar lagi bersarung. Serambi-depan hotel itu hangat; sipelajan duduk dengan ngantuk disitu, dibelakang lang kamar-pakaian; terdendang oleh dengkur kipas-angin, oleh bunji kerosok dari tungku dan samovar jang lagi mendidih, iapun sekali-sekali terbangun oleh ngoroknja sendiri.
Seorang perempuan berhias tebal dengan muka seperti pungkahan tepung berdiri depan tjermin disebelah kiri. Djaket bulunja terlalu tipis untuk iklim dingin. Ia menanti seseorang jang akan turun; dengan membelakangi katja, kepalanja dipalingkan atas tiap bahu, agar jakin bahwa dari belakang ia kelihatan bagus. Sais jang kedinginan itupun masuk. Mantelnja jang membondjol membuatnja mirip pada gambar kue didepan toko pemasak roti; dan ia tambah serupa, lantaran mengeluarkan kepulan uap. „Berapa lama lagi njonja disini?”, tanjanja pada perempuan didepan tjermin. „Mengapa saja selalu kerepotan dengan orang-orang sematjam njonja? Aku tak ingin kudaku mati kedinginan”.
Para pegawai hotel kehilangan akal; peristiwa kamar No 23 hanja salah satu gangguan jang ditambahkan pada kesukaran mereka sehari-hari. Bel mendering tiap menit, lantas muntjullah nomor-nomor dibelakang katja pandjang pada sebuah kotak didinding, menunjukkan tamu mana dalam kamar mana jang bikin heboh serta mengusik pelajan atau babu-kamar, tanpa sadar akan apa jang diinginkannja sendiri.
Saat ini dokter memberi obat peluntur pada situa gila Guisharova23 untuk mentjutji perutnja. Glasha, babu-hotel, djatuh keletihan dengan mengepel lantai serta mengangkut-angkut seember air-tjutji kotor keluar dan air bersih kedalam. Tapi taufan jang kini mengamuk dalam kamar pegawai ini dimulai sebelum kerusuhan terdjadi, sebelum Tirashka dikirim dengan kereta untuk memanggil dokter dan pemain biola jang malang itu, sebelum Komarovsky tiba dan banjak orang berdjedjalan dalam gang diluar pintu kamar No 23.
Keributan mulai sendja itu, ketika ada orang berpaling dengan tjanggungnja dalam gang sempit jang terbentang dari dapur sampai bordes, hingga dengan tak sengadja menjikut Sisoy, pelajan jang djustru ketika itu keluar, menundjuk dengan susah-pajah dan dengan baki jang penuh-sesak berajun-ajun ditangan-kanannja. Baki berderik-derik kelantai, sopnja tumpah dan petjah pula dua piring sop dan sepiring daging.
Sisoy bersikeras bahwa jang bertanggung-djawab ialah situkang ngepel jang kini harus membajar ongkos kerugian. Sekarang sudah mendjelang pukul sebelas dan separoh djumlah pegawai seharusnja beristirahat, tapi kerisauan masih sadja berlangsung.
„Dialah jang kena sodok, tangan dan kakinja tiada tegap. Jang diurusnja tjuma duduk dengan botol, seakan botol itu istrinja, ia minum anggur matjam ikan-asin makan garam, lantas tanja ia siapa menjikutnja, siapa menumpahkan sopnja, siapa membanting piring-piringnja. Kaupikir siapa menjodokmu, hai iblis, djahanan Astrakan, machluk tak tahu malu?”
„Matryono Stepanovna, kukatakan tadi supaja mendjaga kesopanan lidahmu”.
„Dan siapa jang menjebabkan kehebohan ini, he? Kaukira, orang jang tjukup penting untuk membanting piring-piring? Bukan, tjuma sitjeroboh ini, sibunga-aspal jang berlagak ini, si-lima-perak-satu-kali ini, kesutjian jang berchalwat, begitu baik hasilnja untuk diri sendiri sampai ditelannja arsenikum. Ja, sang njonja tinggal di Montenegro, tentu tak kenal sikutjing-lorong, kalau didjumpainja”.
Misha dan Yura berdjalan kian-kemari dalam gang diluar kamar njonja Guishar. Semuanja ternjata serba lain dari jang disangka oleh Alexander Alexandrovich. Dibajangkannja duka-tjerita jang bersih dan pantas dalam penghidupan seorang pemudik. Tapi ini urusan setan. Kotor dan memalukan, dan tentu tak baik untuk anak-anak.
Anak-anak itu mendinginkan tumit didalam gang.
„Silakan bertemu dengan njonja, tuan-tuan muda”.
Seorang pelajan mendekati mereka dan untuk kedua kalinja ditjobanja mengadjak mereka dengan suara halus jang tenang.
„Silakan masuk, djangan kuatir. Dia tak apa-apa, tuan tak usah takut. Dia sembuh betul. Tuan tak bisa tinggal disini. Sore tadi ada insiden disini, barang gerabah jang berharga terbanting petjah. Tuan lihat, kami harus lari keatas dan kebawah, mengantar makanan, dan gang agak sempit. Masuklah kesana”.
Anak-anak itupun menurut.
Didalam kamar menjala sebuah lampu lilin jang biasanja berdiri dimedja, tapi kini telah diambil dari tampuknja dan dibawa kebelakang sekatan kaju kedalam bagian kamar untuk tidur. Bagian ini berbau kutu busuk; disitu ada tirai jang memisahkannja dari kamar selebihnja dan dari gang. Tapi tirai ini telah terkuak, sedangkan dalam keributan tadi tak ada orang berpikir hendak menutupnja. Lampu berdiri atas dingklik rendah dan menerangi tempat-tidur setjara menjilaukan dari bawah seperti lampu-panggung.
Njonja Guishar telah mentjoba meratjuni diri sendiri, bukan dengan arsenikum seperti jang disangka tukang-tjutji tadi, melainkan dengan iodine. Dalam kamar ada bau masam jang mentjekam dari buah „walnut” hidjau, jang kulitnja masih empuk dan hitam bila ditjetjeh.
Dibelakang sekatan, babu sedang mengepel lantai; dirandjang terbaring seorang perempuan setengah telandjang; basah kena air-mata, air dan keringat, dengan rambut melengket beruntai-untai, ia memegang kepalanja diatas ember sambil menangis keras.
Anak-anak remaja berpaling segera, sebab merasa malu dan tak sopan untuk melihat kearahnja. Tapi Yura telah tjukup berpengalaman, hingga tak dipengaruhi kenjataan bahwa dalam keadaan tertentu jang luar-biasa dan tegang, dalam saat tenaga dan urat-sarafnja diudji, maka perempuan tak lagi seperti jang dilukiskan oleh seni-patung, melainkan lebih mirip pada tukang-gumul dengan otot-otot melembung, tak berpakaian selain dengan tjelana-pendek, siap untuk bertanding.
Achirnja ada djuga orang dibelakang sekatan jang tjukup berselera untuk menutup tirai.
„Tuan Tishkevich sajang, mana tanganmu? Ulurkan tanganmu”, kata perempuan itu, tertjekik oleh air-mata dan rasa-muak. „O, alangkah kedji pengalamanku. Aku ngeri karena sjak-wasangka ........ Tuan Tishkevich ........ Kuchajalkan ........ tapi semoga semua ini ternjata mustahil, hanja chajalan katjau ........ Tjoba, alangkah lega. Dan hasilnja ........ beginilah aku ........ hidup ........”
„Tenanglah, Amalia Karlovna, itu kuminta ........ Kedji benar semua ini, sungguh amat kedji”.
„Pergilah kita sekarang”, udjar Alexander Alexandrovich dengan geramnja kepada anak-anak.
Tersiksa oleh rasa malu, mereka berdiri diambang pintu gang dan oleh sebab tak tahu kemana mata mesti diarahkan, merekapun memandang lurus kedepan, kepedalaman kamar jang penuh bajang-bajang.
Dinding digantungi foto-foto dan ada rak-buku jang diisi dengan partitur-partitur musik; sebuah lesenar ditimbuni kertas dan madjalah mode, sedang diseberang medja bundar dengan taplak radjutan ada seorang gadis tidur dalam kursi besar, lengannja jang sebelah terkulai dipunggung kursi, mukanja tertekan kesebuah bantal. Dia tentu letih bukan kepalang, tidur terus ditengah segala kegaduhan dan kerusuhan.
„Kita pergi sekarang”, ulang Alexander Alexandrovich. Kedatangan mereka tak ada artinja dan tinggal lebih lama akan nampak kurang patut. „Segera setelah tuan Tishkevich keluar ........ aku minta-diri dari padanja”.
Tapi jang keluar dari belakang sekatan bukanlah Tishkevich, melainkan seorang laki-laki jang tegap, gemuk dan tahu diri.
Dengan menundjuk lampu ia djalan kemedja serta menempatkan lampu itu kembali ketampuknja. Tjahajanja membangunkan sigadis. Ia bersenjum kepadanja, mengusap matanja dan mengeliat.
Melihat gadis ini Misha menatapnja dan terus menatap, seakan tak sanggup mengelakkan matanja sendiri. Ia tarik lengan Yura, hendak berbisik kepadanja, tapi Yura tak mau. — „Tak boleh bisik-bisik didepan orang — Apa sangka mereka nanti?”
Sementara itu sigadis dan silaki-laki melakukan adegan bisu. Tak sepatah kata lewat mulut mereka, hanja mata bertemu mata. Namun pengertian antara mereka mempunjai sifat magi-hitam jang mengerikan; laki-laki itu seolah dalang, sedangkan sigadis menatjam boneka jang menurut tiap geraknja.
Senyuman lesu mengerutkan matanja dan meretakkan mulutnja, tapi untuk membalas pandangan ria silaki-laki, gadis itu memberi isjarat halus jang litjik, alamat pengertian akan dosa bersama. Kedua-duanja senang bahwa semuanja berachir dengan baik — rahasia mereka aman, pun pertjobaan njonja Guishar untuk bunuh-diri gagal.
Yura menelan mereka dengan matanja. Dari keremangan didalam gang, dimana orang tak melihatnja, ia memandang tak berkedip kelingkaran sinar lampu. Adegan antara gadis tawanan dan penguasanja itu penuh rahasia jang tak boleh tersiar, tapi sekaligus terus-terang tanpa malu. Berbagai perasaan jang baru dan bertentangan berdesakan dengan pedih dalam hati Yura.
Inilah djustru apa jang oleh dia bersama Tonya dan Misha dibitjarakan tak habis-habisnja dan telah dibuang sebagai „vulgar”, tenaga jang begitu menakutkan dan menarik mereka dan jang mudah mereka kuasai dengan kata-kata dari djarak jang aman. Kini hadirlah tenaga itu didepan mata Yura sendiri, punja udjud jang sebenar-benarnja, namun tjampur-baur dan kabur seperti dalam mimpi, berdaja merusak jang patut disesalkan, penuh keluh dan tak tertolong — dan manakah filsafat Yura jang kekanak-kanakan itu dan apa hendak dibuatnja?”
„Kau tahu siapa lelaki tadi?” tanja Misha, waktu mereka keluar kedjalanan. Yura jang sibuk dengan pikirannja itu tak mendjawab.
„Dialah jang membuat ajahmu djadi pemabuk dan menjebabkan kematiannja. Pengatjara jang bersama dia dalam kereta-api — ingat? Kukatakan itu padamu”.
Yura berpikir tentang sigadis dan hari-depan, tidak tentang ajahnja dan hari jang lampau. Mula-mula ia bahkan tak mengerti apa jang dituturkan Misha, lagi pula hawa terlalu dingin untuk bitjara.
„Kau tentu kedinginan, Simon”, kata Alexander Alexandrovich kepada saisnja. Mereka pulang.
Perajaan Natal dirumah Sventitsky
1
Pada suatu musim dingin Alexander Alexandrovich menghadiahkan pada Anna sebuah lemari pakaian. Ia memperolehnja setjara murah. Lemari terbikin dari kaju-arang, tapi begitu besar hingga kalau utuh tak dapat lewat pintu manapun djuga, djadi dimasukkan kerumah sepotong demi sepotong, lalu timbul masalah hendak dipasang dimana. Lemari itu tak tjotjok untuk kamar-tamu karena kegunaannja, tak tjotjok untuk kamar-tidur karena besarnja. Kesudahanja sebagian dari bordes dibersihkan untuknja diluar kamar-tidur jang terbagus.
Markel, seorang utas datang untuk menjusunnja. Ia bawa serta anaknja perempuan Marinka; umurnja enam tahun. Marinka diberi gula-gula djelai. Dia genggam itu dalam kepalannja jang lengket-lengket serta mengisapnja sambil menjedot hawa dengan hidung dan memperhatikan ajahnja.
Mula-mula semuanja beres. Lemari tumbuh depan mata Anna; ketika hampir selesai — hanja puntjaknja perlu dipasang — ia berniat membantu Markel. Ia masuk kelemari, berdiri atas papan jang tinggi, terpeleset dan djatuh terantuk kedinding lemari, jang hanja ditahan dengan pasak-pasak; tali jang dilingkarkan kesitu oleh Markel setjara renggang sadja, mendjadi terlepas. Anna djatuh telentang bersama bagian-bagian lemari jang berderak-derak kelantai dan iapun luka-luka parah.
„O, njonja, njonja”, Markel lari mendjemputnja. „Mengapa berbuat begitu, sajang? Tulang-tulang ada jang patah? Rabalah tulang-tulang njonja. Tulanglah jang penting, bagian jang empuk tak djadi soal; jang empuk itu bisa pulih, asal Tuhan mengizinkan, lagi pula itu hanja untuk pesiar, kata orang — Djangan djerit-djerit, monjet ketjil!” hardiknja pada Marinka jang menangis. „Usap ingusmu dari hidung dan larilah keibumu. — Wah, mengapa njonja tak mempertjajakan pada saja menjusun lemari ini tanpa njonja? Melihat saja, barangkali njonja berpikir,” saja hanja tukang, tapi terus-terang sadja: membikin lemari sudah biasa saja kerdjakan. Saja mulai sebagai tukang lemari. Njonja tak akan pertjaja banjaknja prabot jang dihasilkan tangan ini, ja begitulah — lemari, bipet, pernis, walnut, mahoni. Banjak pula wanita muda baik-baik jang saja ketemu, ja, begitulah. Lenjap dibawah hidung saja, ja, begitulah. Dan sebabnja ialah minuman, njonja, minuman keras”.
Markel menjorong kursi besar dan berkat bantuannja Anna mengelakkan diri kesitu, mengerang dan mengusap luka-lukanja. Markel lantas mulai membetulkan lemari. Ketika memasang putjuknja, berkatalah ia: „Sekarang pintu-pintunja, lalu siaplah untuk dipamerkan”.
Anna tak suka lemari itu. Bentuk dan formatnja mengingatkan dia pada tandu keranda atau kuburan radja dan memenuhinja dengan ketakutan penuh tachajul. Ia memberinja nama makam Askold1 1Askold adalah salah seorang pendiri negara Rusia; ia memerintah di Kiev, tempat ia berkubur. ; jang dia maksudkan ialah kuda Pangeran Oleg2 2Oleg, Pangeran Kiev lainnja, dibunuh oleh seekor ular jang keluar dari tengkorak kuda kesajangannja. jang menjebabkan wafatnja madjikannja. Karena tjaranja membatja tidak berentjana, hubungan antara buah-buah pikirannja tiadalah semestinja.
Sesudah peristiwa ini Anna menderita kelemahan paru-paru.
2
Selama bulan Nopember 1911 Anna terbaring dirandjang dengan radang paru.
Yura, Misha Gordon dan Tonya menghadapi promosi pada musim semi jang datang, Yura dalam ilmu kedokteran, Tonya dalam ilmu-hukum, Misha dalam falsafah.
Segala hal dalam otak Yura bertjampur-baur dan salah letak sadja, segala hal menjadi pula milikrja jang chas — pandanganja, kebiasaan dan ketjenduranganja. Lain dari biasanja, ia sangat mudah menangkap kesan-kesan; dan kesegaran serta kebaruan dalam pendirianja adalah istimewa.
Sungguhpun ia sangat tertarik pada kesenian dan sedjarah, ia hampir tak ragu-ragu mengenai pemilihan kariernja.
Baginja kesenian bukannja panggilan djiwa, sama halnja dengan kenjataan bahwa kegembiraan batin serta kemurungan bukanlah pekerdjaan. Ia menaruh minat pada ilmu-alam serta jakin bahwa manusia mesti berbuat sesuatu jang berguna dalam kehidupan praktis. Ia menetap pada ilmu kedokteran.
Dalam tahun pertama dari peladjaran jang empat tahun itu ia tinggal setriwulan dalam kamar-urai jang letaknya djauh dibawah tanah diruang-kolong Universitas. Orang turun melalui deretan tangga jang melengkok.
Selalu hadir segerombolan mahasiswa jang tjeroboh, ada jang bekerdja keras dengan buku-peladjaran jang rusak-redam, dilingkungi tulang-tulang, ada jang tenang melakukan penguraian, masing-masing disudutnja, lain-lainnja bersendagurau, membuat lelutjon atau memburu tikus-tikus jang berlari-larian dalam kelompok dilantai batu.
Dalam udara temaram dirumah-majat, djenazah telandjang para perempuan jang tenggelam, orang-orang muda jang bunuh diri dan belum dikenal, dipreservir baik-baik hingga tak membusuk; disitu tubuh-tubuh itu mengkilap putih seperti fosfor. Injeksi-injeksi dengan tawas membuat mereka muda serta mengubah kebulatan tubuh jang tak ada sebelumnja. Majat-majat dibedah, dipotong-potong dan dipreparir, namun keindahan tubuh manusia masih djuga nampak dalam bagian seketjil-ketjilnja, sehingga kekaguman jang dirasakan Yura waktu melihat tubuh gadis jang ajuh tak atjuh terlempar atas medja seng, terasa pula olehnja ketika ditatapnja lengan atau tangan jang terpenggal. Ruang kolong berbau karbol dan formaldehide serta dipenuhi kehadiran rahasia, rahasia hidup tak dikenal dari majat-majat telandjang ini dan rahasia hidup dan mati sendiri — maut jang hadirnja ditempat ini terasa lajak, seolah kamar dibawah tanah inilah rumah kediaman ataupun markas besarnja.
Suara rahasia jang membenam segala hal lainnja ini mengganggu Yura waktu ia melakukan penguraian. Tapi banjak lagi dalam kehidupan jang mengusikinja djuga. Itu sudah lumrah baginja, pun tak dapat dielakkan.
Yura pandai berpikir dan lebih pandai lagi menulis. Sudah sedjak masa sekolahnja ia mimpikan hendak menulis buku dalam prosa, buku berisi kesan-kesannja tentang hidup; didalamnja, bagaikan batang-batang dinamit jang tersembunji, akan disimpannja hal-hal jang paling luar-biasa jang pernah disaksikan dan dipikirkannja. Ia terlalu muda untuk menulis buku demikian; jang dibuatnja ialah menulis puisi. Ia serupa pelukis jang seumur hidupnja membikin sketsa-sketsa untuk lukisan besar jang diidamkannja.
Kekuatan serta keaslian sadjak-sadjaknja mendorong Yura untuk memaafkan diri sendiri tentang apa jang dianggapnja dosa pembenihannja, sebab jakinlah ia bahwa hanja keaslian dan kekuatanlah jang mampu mengubah realitet pada karja seni dan bahwa tanpa itu kesenian akan tak guna semata-mata, merata-tanah serta pemborosan waktu.
Yura sadar betapa besar peranan pamannja untuk membentuk wataknya.
Nikolay Nikolayevich kini tinggal di Lausanne; disitu beberapa bukunja telah terbit dalam bahasa Rusia maupun dalam bahasa-bahasa lainnja. Dalam buku-bukunja itu dikembangkannja segala pemandangannja tentang sedjarah sebagai alam semesta kedua — semesta jang didirikan manusia dengan dibantu oleh waktu dan ingatan, sebagai djawaban terhadap antjaman maut. Diilhami oleh pengertian baru tentang ke-Kristenan, hasilnja ialah gagasan baru tentang kesenian.
Misha Gordon bahkan lebih mendalam lagi terkena oleh gagasan-gagasan ini dari pada Yura. Akibat pengaruh inilah ia menjelami filsafat serta mengikuti kuliah tentang theologi; ia malahan menimang-nimang gagasan hendak pindah kelak kekuliah theologi.
Yura madju dan berkembang dibawah pengaruh teori-teori pamannja, tapi Misha terhambat oleh itu. Yura dapat menerima peranan keturunan kebangsaan jang berlaku dalam segala pendapat Misha jang extrim itu; ia terlampau berendah-hati, hingga tak ditjobanja mengadjak Misha supaja melepaskan rentjana-rentjananja jang aneh itu, namun kadang-kadang ia ingin agar Misha lebih empiris dan lebih dekat pada hidup.
3
Suatu malam pada achir Nopember Yura pulang terlambat dari Universitas; ia tjapik dan belum makan apa-apa sepandjang hari.
Ia dengar bahwa sendja tadi orang mengalami ketakutan jang sangat. Anna menderita kegontjangan; beberapa dokter telah memeriksanja; sekali mereka menasehatkan pada Alexander Alexandrovich supaja memanggil pendeta, tapi kemudian mereka berobah pikiran. Kini ia merasa lebih baik; ia sadar dan iapun meminta orang mendatangkan Yura kepadanja, pada saat ia pulang. Yura segera naik tangga.
Kamar menundjukkan akibat kerepotan jang baru terdjadi. Seorang perawat sedang mengatur sesuatu dengan tenangnja dimedja. Beberapa tuala dan saputangan jang dipakai untuk kompres masih terserak-serak, basah lagi kumal. Air dalam ember tjutjian berwarna merah-djingga, akibat darah jang dimuntahkan; beberapa ampul petjah-petjah dan petikan kapas jang menggelembung mengambang dipermukaannja.
Anna terbaring bersimbah peluh dengan bibir terhangus. Sedjak pagi air-mukanja mendjadi liar.
„Salahkah diagnosisnja?” Yura bertanja diri. „Semua tanda radang-paru ada padanja dan inilah tentu krisisnja”. Sesudah menjalam serta mengatakan sesuatu untuk membesarkan hati, sebagaimana lazimnja dalam keadaan demikian, disuruhnja perawat keluar, diangkatnja pergelangan Anna untuk ditepam, lantas merogoh kantong djasnja untuk mengambil stethoskop. Sisakit menggerakkan kepala, seakan berkata: „Tak guna, apa soalnja?” Ia mengerti bahwa ada hal lain jang diinginkannja. Anna bitjara dengan susah-pajah.
„Kata mereka …sakramen terachir…Maut menunggu…Tiap saat…Orang takut, bila giginja akan ditjabut, itu sakit, orang menjapkan diri…Tapi ini bukan gigi…ini seluruh diriku, seluruh hidupku…sedang ditjabut…Apa artinja? Tak ada jang tahu…Dan hatiku pilu dan takut”.
Iapun diam. Air-mata mengalir dipipinja. Yura bungkam. Sedjenak lagi Anna menjambung.
„Kau pandai, berbakat…Itu sebabnja kau lain…Katakan apa-apa padaku…Biar pikiranku mengaso”.
„Apa hendak kukatakan”, djawab Yura. Ia gelisah dikursinja, ia bangkit, berdjalan dikamar, duduk lagi. „Pertama-tama, kau akan baik besok pagi, kutahu tanda-tandanja, kau boleh pertjaja. Lalu soal maut, kesadaran jang pulih, kebangkitan kembali…Kau ingin tahu pendapatku sebagai ahli-ilmu? Atau lain kali sadja? — Tidak? — Sekarang djuga? — Nah, sesukamulah. Tapi maklumlah, hal ini sulit diperkatakan tanpa persiapan”. Maka dibuatnja disitu tjeramah dari luar kepala, hingga heranlah ia tentang diri sendiri.
„Kebangkitan kembali — Dalam bentuk kasarnja seperti jang dichotbahkan untuk menghibur kaum lemah, gagasan ini tak berbitjara padaku. Utjapan Kristus tentang jang hidup dan jang mati selalu kuartikan dalam pengertian lain. Dimanakah terdapat tempat untuk segenap gerombolan manusia jang terhimpun selama beribu-ribu tahun? Semesta tak tjukup besar, Tuhan dan budi dan maksud baik akan kewalahan. Mereka akan tertindih lebur oleh sekawanan hewan jang pelahap dan mendesak-desak itu.
„Namun dalam tiap masa, penghidupan jang esa dan tak berubah, jang setjara tak terfahamkan selalu dikenal sebagai penghidupan, dia mengisi semesta dan tiap saat diperbaharui dalam perpaduan dan pergantian udjud tak terbilang. Kamu kuatir, apakah kamu akan bangkit dari maut atau tidak, tapi kamu sudah bangkit — kamu bangkit dari kematian ketika lahir, namun tak kamu sadarkan. Apakah kamu rasakan njeri nanti? Soalnja, apakah djaringan-djaringan merasakan desintegrasi mereka? Dengan kata lain, apa akan terdjadi dengan kesadaran kamu? Tapi apa pula kesadaran itu? Pikirlah. Kalau kita tjoba dengan sadar untuk tidur, dengan begitu pastilah kita tak dapat tidur; kalau kita tjoba menjadarkan diri punja digesti, pastilah katjau perut kita. Kesadaran adalah ratjun, bila kita pergunakan untuk diri sendiri. Kesadaran adalah pantjaran sinar jang diarahkan keluar; djalan madju diteranginja, agar kita tak tergelintjir. Tak beda dengan lampu sorot dilokomotif — bila sinarnja dibelokkan kedalam, akan timbul malapetaka.
„Djadi apa akan terdjadi dengan kesadaran kamu. Kesadaran kamu, bukan kesadaran orang lain. Nah, apakah kamu? Inilah masalah tak terpetjahkan. Mari kita selidiki. Apakah dirimu itu jang selalu kamu kenal sebagai diri sendiri? Apa jang kamu sadari dalam dirimu? Gindjal? Djantung? Pembuluh-darahmu? — Bukan. Betapa djauhpun kamu menoleh kewilajah ingatanmu, selalu kamu temukan identitetmu dalam sesuatu manifestasi-dirimu jang aktif diluar — dalam karja tanganmu, dalam keluargamu, dalam orang-orang lain. Sekarang perhatikan. Kamu dalam orang-orang lain adalah kamu sendiri, djiwamu sendiri. Inilah kamu. Inilah pula nafas kesadaranmu, tempat hidupnja, buah kesenangannja seumur hidup. — Djiwamu, keabadianmu, hidupmu dalam orang-orang lain. Dan bagaimana sekarang? Kamu selalu dalam orang lain dan kamu akan tetap disitu. Tak djadi apalah, kalau kelak itu disebut ingatanmu. Itulah kamu nantinja — kekuatan jang masuk kehari-depan dan mendjadi bagian dari padanja.
„Dan kini hal jang terachir. Tak ada jang perlu dikuatirkan. Tak ada kematian. Kematian bukanlah urusan kita. Tapi kamu sebut tadi bakat — itu lain, itu kita punja, itu tersedia bagi kita. Dan berbakat dalam artian terluas dan tertinggi adalah berbakat untuk hidup.
„Mati tak akan ada, kata Santa Johannes; lihat sadja betapa sederhana buah-pikirannja. Tak akan ada mati, sebab jang lampau sudahlah lampau; itu hampir sama dengan mengatakan bahwa tak akan ada kematian, sebab kematian sudah tak laku lagi, sudah tua dan kita sudah bosan dengannja. Jang kita perlukan ialah jang baru dan jang baru itu ialah hidup kekal”.
Ia djalan kian-kemari sambil bitjara. „Tidurlah”, udjarnja; ia mendekati randjang dan menepam kening Anna. Beberapa saat kemudian Anna berangsur-angsur terselap.
Diam-diam Yura meninggalkan kamar; dimintanja Yegorovna menjuruh djururawat masuk. „Persetan”, pikirnja, „sudahkah aku mendjadi sjarlatan sekarang? Membatjakan mantera segala, menepam-nepam dengan tangan?”
Esok harinja sembuhlah Anna.
4
Anna makin lama makin baik. Pertengahan Desember ia tjoba berdiri, tapi masih teramat lemah. Dokter-dokter menasehati supaja ia tinggal dirandjang sadja dan betul-betul mengaso.
Ia sering minta Yura dan Tonya datang, lalu omong tentang masa-ketjilnja dipegunungan Ural. Ia dibesarkan ditanah-milik ajahnja, Varykino ditepi sungai Rynva. Yura maupun Tonya tak pernah kesana, tapi dengan mendengarkan tjerita Anna, Yura dengan mudah dapat membajangkan hutan seluas duabelas ribu acre itu, belum terdjamah, tak tertembus, gelap bagai malam; hutan jang terbelah oleh sungai kentjang mengalir, dengan garis tadjam melengkok-lengkok seperti tetakan pisau, dengan dasar batu karang dan tebing batu tjuram didaerah Krueger.
Pertama kali selama hidup, Yura dan Tonya menjuruh orang membuat pakaian-malam, untuk Yura sebuah djaket; untuk Tonya gaun-malam ringan dari satin jang hanja menelandjangkan lehernja.
Mereka hendak memakainja pertama kali untuk perajaan Natal tradisionil dirumah Sventitsky pada tanggal duapuluhtudjuh. Djaket dan gaun tadi diantarkan pada hari jang sama. Yura dan Tonya mentjobanja, merasa senang dan belum lagi menanggalkannja, ketika Anna mengutus Yegorovna untuk mendjemput mereka.
Tatkala mereka masuk, iapun menegakkan diri atas sikutnya, memandangi mereka, lalu minta mereka berpaling.
„Bagus sekali”, udjarnja. „Amat indah. Tak kusangka sudah selesai. Tjoba kulihat lagi, Tonya. Beres djuga; kusangka tadi bannja mengkerut sedikit. Kamu tahu, mengapa kupanggil? — Tapi aku lebih dulu ingin omong dengan kau, Yura”.
„Aku tahu, Anna Ivanovna. Kutahu kaulihat surat itu. Sudah kusuruh kirim sendiri padamu. Kutahu kau sependirian dengan Nikolay Nikolayevich. Kamu berdua berpendirian supaja warisan itu djangan kutolak. Tapi tunggu sebentar. Tak baik bagimu, kalau bitjara. Biarkan sadja aku menerangkan — meskipun sebagian besar sudah kautahu.
„Nah, jang pertama-tama. Para pengatjara sepakat, harus ada perkara — Zhivago, sebab ditanah-milik ajah ada tjukup uang untuk menutup ongkos dan membajar imbalan mereka. Terlepas dari itu sebenarnja tak ada warisan sama sekali — tak apa-apa selain hutang dan kekatjauan — serta banjak kain kotor untuk ditjutji. Andaikata betul ada sesuatu jang dapat diuangkan, mengapa aku hendak menghadiahkannja pada istana dan tidak kupakai sendiri? Tapi itu soalnja — semuanja tjuma penipuan. Djadi dari pada mengorek-ngorek segala debu itu lebih baik tak kupakai hakku atas milik jang sebetulnja tak ada, baik kulepaskan sadja pada gerombolan lawan jang diada-adakan itu serta kaum penuntut tjurang jang mengedjarnja.
„Kau tahu, salah seorang penuntut ialah njonja Alice jang menamakan dirinja Zhivago dan tinggal bersama anak-anaknja di Paris — sudah lama kukenal dia. Tapi kini ada matjam-matjam tuntutan baru — aku tak tahu bagaimana halnja dengan kau, tapi baru sadja kudengar tentang mereka.
„Ketika ibu masih hidup, ajah ternjata kena pikat oleh seorang putri Stolbunova-Enritsi jang berkelakuan jang bukan-bukan. Wanita ini mendapat anak dari ajah, Yevgraf; sepuluh tahun umurnja.
„Putri ini hidup menjendiri. Rumahnja tak djauh dari kota Omsk; ia tinggal disitu dan tak pernah keluar. Sumber penghasilannja tak diketahui orang. Kulihat foto rumahnja. Sangat bagus, ada lima djendela Perantjis dan medaljon dari stucco ditepi atapnja. Dan belakangan ini rumah itu seolah terus-menerus memandang padaku dengan djidjik, dari kelima-lima djendelanja, langsung melewati beribu-ribu mil antara Ural dan Moscow; kurasa rumah itu kini atau besok memberi padaku „mata-djahaman”.
„Djadi hendak kauapakan semua ini — modal bajangan, kaum penuntut tjulas, kedjahatan, kedengkian? Dan pengatjara pula?”
„Tak mengapa. Kau hendaknja djangan melepaskannja”, kata Anna. „Kau tahu mengapa kupanggil engkau?” tanjanja lagi, maka segera dilandjutkannja apa jang kemarin ditinggalkannja.
„Aku sudah ingat namanja. — Kauingat pendjaga hutan jang tentangnja aku tjerita kemarin? Namanja Bacchus! Aneh, bukan? Orangnja sungguh menakutkan, hitam bagai setan, djenggotnja tumbuh sampai kebulu-mata dan ia menjebut diri Bacchus! Dimukanja ada bekas-luka; seekor beruang pernah mentjakarnja, tapi diusirnja. Begitulah semua mereka disana. Pakai nama-nama bersuku-kata dua, bulat dan njaring! Bacchus atau Lupus atau Faustus. Sewaktu-waktu dapat dikabarkan ada orang begitu barangkali Auctus — jang namanja seperti letusan dari bedil laras-dua kepunjaan kakekmu — maka tiap kita tjepat-tjepat berkumpul dibawah dari kamar anak-anak sampai dapur. Maka tak terduga bagaimana rupanja, tak tersangka siapa jang kita djumpa. Mungkin pendjual arang dengan anak beruang hidup-hidup, atau penjelidik pertambangan dari pelosok terdjauh ditanah-milik itu dengan sebungkah tjontoh pelikan. Dan kakekmu akan selalu memberi mereka apa-apa untuk djasa mereka. Ada jang dapat duit, gandum atau peluru-peluru. Hutanpun mendatangi kita sampai kedjendela. Dan saldju, o, saldju! Lebih tinggi dari atap!” Anna mulai batuk-batuk,
„Tjukup, tak baik untukmu”. Tonya dan Yura mendesaknja.
„Omong-kosong, aku tak apa-apa. Aku ingat. Menurut Yegorovna, kamu berdua merasa rusuh hendak menghadiri perajaan lusa ini atau tidak. Djangan sampai kudengar lagi jang tolol sematjam itu, kamu mestinja malu! Pada hal kausebut dirimu dokter, Yura! — Nah, itu sudah beres, kamu pergi, habis perkara.
— Tapi soal Bacchus lagi. Waktu muda ia pandai-besi. Ia berkelahi, lantas rusak dari dalam. Maka dibuatnja usus-usus besi.
— Ah, djangan bodoh, Yura. Tentu itu tak mungkin, djangan kauambil arti-katanja! Tapi begitulah kata orang disana”.
Ia disela pula oleh serangan batuk, lebih lama dari jang tadi. Batuknja terus berlangsung, ia tak sempat bernafas.
Yura dan Tonya bergegas menghampirinja. Mereka bahu-membahu didepan randjang. Tangan mereka bersentuhan. Anna jang masih batuk-batuk itu menangkap tangan mereka dan merapatkannja sedjurus lagi. Ketika dapat bitjara kembali, udjarnja:
„Kalau aku mati, tinggallah bersama-sama. Kamu serasi. Kawinlah. Nah, sudah kupertunangkan kamu”, tambahnja, lalu iapun tersedu-sedu.
5
Mendjelang musim semi 1906, sebelum Lara mentjapai kelas tertinggi disekolahnja, hubungannja jang enam bulan dengan Komarovsky telah memburuknja sampai keudjung batas tenaganja. Dia pandai menggunakan kesulitannja dan bila dianggapnja perlu, ia ingatkan dia pada kehormatannja jang ternoda itu, dengan tjara seolah tak ada dibuatnja begitu. Sindiran-sindiran begitu membawanja dalam keadaan bingung; djustru itulah jang diperlukan seorang buaja untuk mendjatuhkan perempuan serta membuatnja tak berdaja guna melawan hantu kegasangan jang menakutkan dia, tiap kali ia menjadarkan diri kembali. Dunia kontradiksi tak sehat jang dihuninja waktu malam itu tak dapat diuraikan, tak beda dengan magi hitam. Disitu segala hal mendjadi terbalik dan bertentangan dengan logika: njeri jang menjengat dinjatakan oleh gelak-ketawa jang berdenting bagai perak; perlawanan dan penolakan berarti setudju dan tjiuman jang berhutang-budi menaburkan diri ketangan sipenjiksa.
Ini agaknya akan berlangsung tak henti-henti, tapi dalam musim semi itu, ketika ia mendengarkan peladjaran sedjarah pada achir tahun, sedang berpikir tentang liburan, dimana sekolah dan pekerjaan dirumah malahan tak lagi akan memisahkan dia dari Komarovsky, tiba-tiba diambilnja putusan jang merobah djalan hidupnja.
Pagi itu panas dan badai mempersiapkan diri. Lewat djendela kelas jang terbuka terdengar gemuruh kota dari djauh, tunggal-nada seperti dari sarang lebah dan djuga teriakan anak-anak jang main-main dipekarangan. Bau tanah berumput dan daun-daun muda membikin kepala pusing seperti kalau kita terlalu banjak makan apam dan minum vodka sesudah berpuasa.
Peladjaran mengenai peperangan Napoleon di Mesir. Ketika guru tiba pada pertempuran di Fréjus, langit menghitam, berderak-derak, dibelah oleh kilat dan guntur; kepulan debu tjampur pasir meluntur dalam kelas bersama bau hudjan. Dua murid jang suka mendapat pudjian, lari keluar dengan patuhnja guna memanggil pelajan, agar djendela-djendela ditutupnja; ketika mereka membuka pintu, angin meniup semua kertas-isap beterbangan dari lesenar-lesenar.
Djendela-djendelapun ditutup. Hudjan turun lebat diatas kota, kotor oleh debu. Lara menjobek satu halaman dari buku-latihan dan menulis kepada tetangganja, Nadya Kologrivova:
„Nadya, aku ingin tinggal lepas dari ibu. Tolonglah mentjarikan pekerjaan guru jang dibajar sebaik mungkin. Kaukenal banjak orang kaja”.
Nadya mendjawab dengan tulisan:
„Ibu dan ajah mentjari pengasuh untuk Lipa. Mengapa tak tinggal bersama kami? — senang sekali, bukan? Kau tahu, mereka sajang padamu”.
6
Lara tinggal tiga tahun pada keluarga Kologrivov, aman seperti dalam benteng. Tak seorangpun mengganggunja, bahkan ibu serta saudaranja jang mendjadi asing terhadapnja, mendjauhkan diri dari padanja.
Kologrivov adalah usahawan gaja baru jang utama. Ia memandang rendah serta membentji kelas jang sedang merosot itu dengan dendam berganda, baik sebagai orang jang tjukup kaja untuk mengatasi kas negara, maupun sebagai orang jang dari kedudukan rendah telah naik keketinggian jang tak ternilai ini. Ia melindungi kaum pendjahat politik dirumahnja dan menjewa pengatjara untuk membela mereka; sampai-sampai orang berkelakar tentang dia dengan mengatakan, bahwa ia sangat bersemangat untuk menjokong revolusi serta membuar-buarkan kekajaannja, hingga diongkosinja pemogokan-pemogokan dipabriknja sendiri. Sebagai penembak ulung jang suka menggunakan senapan, pada hari-hari Minggu dalam musim dingin 1905 ia berdiam dihutan-hutan didaerah Serebryanny, dengan memberi latihan menembak pada kaum pemberontak.
Istrinja, Serafima, dengan tjaranja sendiri merupakan kepribadian jang djuga luar-biasa seperti suaminja. Lara sangat sajang pada kedua-duanja dan seisi rumah menaruh hati padanja.
Setelah tiga tahun hidup tanpa gangguan ini ia dikundjungi kakaknja Rodya jang hendak membitjarakan sesuatu. Setjara dibikin-bikin ia berajun atas kaki pandjangnja kedepan dan kebelakang, sedangkan untuk menambah dramatiknja iapun bitjara sengau. Ia menuturkan bahwa kadet-kadet tahun ini mengumpulkan uang untuk hadiah perpisahan bagi direktur Akademi, lalu mengandelkan pada dia supaja memilih dan membeli pemberian itu. Uang ini diperdjudikannja dua hari jang lalu sampai kopek terachir. Habis bitjara, iapun terperonjok kekursi dan menangis.
Lara termangu-mangu karena terperandjat. Antara isak-isaknja, Rodya meneruskan:
„Kemarin malam aku ketemu Victor Ippolitovich. Ia tak mau bitjara tentang itu dengan aku tapi katanja, asal kau minta dia…Katanja, meskipun tak kausukai lagi kami semua, namun kau masih berkuasa besar atasnja…Lara, sajang…Sepatah kata dari kau sudah tjukup…Kau insaf apa artinja ini bagiku, alangkah memalukan, menodai kehormatanku sebagai kadet…Datanglah padanja, apa susahnja untuk kau…Djangan kausuruh aku mengorbankan hidupku untuk menutupi maluku”.
„Hidupmu…Kehormatanmu sebagai kadet”. Dengan marah, Lara mondar-mandir dalam kamar.
„Aku bukan kadet. Aku tak punja kehormatan. Kau boleh berbuat denganku sesuka-sukamu. Masuk akalmukah apa jang kauminta? Kau faham apa jang dia suruh kaubuat? Tahun demi tahun aku membanting-tulang dan sekarang kau datang dan duduk dan tak perduli kalau segala jang kubina terbaur-baur kesegenap pendjuru angin. Njahlah keneraka. Silakan, tembak dirimu. Apa urusanku? Berapa jang kaubutuhkan?”
„Enamratus rubel kira-kira. — Tudjuhratus dengan angka bulat”, tambahnja setelah bimbang sebentar.
„Rodya! Kau gila! Kau sadar apa jang kaukatakan itu? Kauperdjudikan tudjuhratus rubel! Kau tahu berapa lamanja orang biasa seperti aku ini bekerdja untuk mengumpul sebanjak itu dengan halal?”
Ia berhenti dan setelah diam sedjurus berkatalah ia dengan dingin, seperti pada orang tak dikenal:
„Baiklah. Kutjoba. Datanglah besok. Dan bawa pistolmu — jang hendak kaupakai untuk bunuh diri itu. Serahkan padaku. Beserta tjukup banjak peluru, djangan lupa!”
Uang didapatnja dari Kologrivov.
7
Pekerdjaannja pada keluarga Kologrivov tak menghalangi Lara menamatkan sekolahnja dan mulai berkuliah di Universitas. Ia beladjar dengan baik, hingga akan berpromosi tahun depan, tahun 1912.
Dalam musim semi tahun 1911 muridnja Lipa lulus sekolah. Ia sudah bertunangan dengan insinjur muda, Friesendank. Keadaannja baik dan asalnja dari keluarga baik-baik. Orang-tua Lipa setudju tentang tunangannja, tapi keberatan kalau ia kawin semuda itu. Gadis mandja, kesajangan keluarga jang keras-kepala itu, membuat gaduh, berteriak-teriak kepada orang-tuanja dan mengentak-entakkan kakinja.
Dirumah-tangga makmur ini Lara telah diterima sebagai anggota keluarga, hingga tak ada jang mengingatkannja pada utangnja, ataupun utang itu memang sudah dilupakan. Ia hendak membajarnja lama sebelum itu, andaikata tak ada pengeluarannja jang rahasia.
Tak setahu Pasha, ia mengirim uang pada ajahnja di Siberia, menolong ibunja jang pengomel dan serba kekurangan, pun pengeluaran Pasha sendiri dikuranginja dengan membajar sebagian dari ongkos makan dan pemondokannja, langsung keinduk-semangnja. Dialah jang mentjari kamar untuknja dalam gedung baru di Djalan Kamerger dekat Teater Kesenian.
Pasha jang sedikit lebih muda dari Lara, tjinta kegila-gilaan padanja serta menurut tiap keinginannja seketjil-ketjilnja. Sehabis mengchususkan diri dalam ilmu disekolahan, iapun atas nasehat Lara beladjar bahasa Junani dan Latin, agar memperoleh gelar dalam Kesusasteraan dan Sedjarah. Idaman Lara ialah agar setelah masing-masing berpromosi dalam tahun depan, mereka akan nikah dan pergi mengadjar disalah-satu ibu-kota propinsi di Ural.
Musim-panas tahun 1911 Lara untuk achir kalinja ikut keluarga Kologrivov ke Duplyanka. Tempat itu sangat digemarinja, kesajangannja lebih dari kesajangan para pemiliknja sendiri. Mereka mengerti hal ini, maka tergubahlah suatu kebiasaan. Apabila kereta-api kotor lagi panas itu meninggalkan mereka disetasiun dan begasi sedang dimuatkan kesebuah kereta, sedang keluarga itu duduk disitu pula sambil mendengarkan sais dari Duplyanka dengan kemedja merahnja dan djas tak berlengan, jang menuturkan kabar setempat semusim itu, maka Lara jang dibuat bungkam oleh kesunjian tamasja jang tak bertepi, jang harum dan lagi bersemadi itu, dia menudju kerumah dengan mengajun kaki.
Djalanan ketjil jang terindjak rata oleh para musafir dan djemaah itu menuruti rel, kemudian melenggok keladang-ladang. Disini Lara berhenti, menutup mata, lalu menjedot sebanjak-banjaknja hawa jang mengantarkan segala bau dari tamasja luas itu. Alam disitu lebih disajanginja dari pada kerabatnja, lebih baik dari kekasihnja, lebih bidjak dari buku. Sedjenak ditemukannja kembali arti hidupnja. Dia ada dibumi untuk memberi isi pada pesonanja jang bergairah dan untuk menjebut tiap hal pada namanja jang tepat, atau djika ini tak dikuasainja, maka demi tjinta hidupnja ia hendak melahirkan para ahliwaris jang akan menggantinja untuk berbuat begitu.
Musim panas itu ia tiba letih-lesu oleh banjaknja tugas jang dilakukannja. Ia lekas djengkel, kesal dan tjepat dibuat sakit-hati oleh jang remeh-temeh. Kepekaannja ini hal jang baru semata-mata, tak sesuai dengan fitratnja jang dulu senantiasa amat lunak lagi lapang.
Keluarga Kologrivov sajang padanja seperti biasa ingin dia tinggal bersama mereka, tapi kini setelah Lipa dewasa, ia menganggap dirinja berlebih dalam rumah. Ia menolak gadjinja. Mereka memaksanja menerima. Waktu itu djuga ia memerlukan uangnja, sedangkan tak ada djalan lain untuk mendapatkan uang, karena djika ia mentjarinja setjara pribadi, tapi masih tinggal bersama mereka sebagai tamu, hal itu akan memalukan, pun djuga mustahil dalam prakteknja.
Ia jakin bahwa kedudukannja tjurang, tak tertahankan lagi, maka dichajalkannja bahwa mereka semua menganggapnja beban dan hanja menundjukkan muka manis padanja. Ia membebani diri sendiri, ia ingin lari dari diri sendiri dan dari kaum Kologrivov, setjepat dan sedjauh ia dapat dibawa oleh kakinja. Tapi menurut gagasannja ia harus membajar dulu utangnja, pada hal saat itu ia tak menemukan akal untuk berbuat begitu. Ia merasa sebagai sandera — berkat kesalahan Rodya sitolol itu — maka iapun makan-hati dengan segala rasa kesalnja jang tak berdaja.
Dengan urat-sjaraf setegang itu tiap kali ia menjangka orang menghinanja. Kalau kawan-kawan kaum Kologrivov menaruh minat padanja, jakinlah ia, mereka memandangnja sebagai „penumpang” jang penurut serta korban jang gampang diperoleh; kalau mereka tak menegurnja, itu berarti dia terlalu remeh bagi mereka.
Segala kesedihannja tak mentjegahnja ikut serta pada kegemaran mereka dengan suka-hati. Sepandjang musim-panas diadakan pesta-pesta besar dirumah, maka diapun mandi, berperahu dan berpiknik tengah-malam dipinggir sungai, berdansa dan melepas kembang-api bersama orang-orang lain. Dia ikut main dalam sandiwara amatir, bahkan sangat menggemari perlombaan menembak. Dalam perlombaan ini dipergunakan senapan Mauser jang pendek. Pembidikannja bagus, sungguhpun untuk menembak sasaran ia lebih suka pistol Rodya jang enteng. „Sajang aku perempuan”, gelaknja. „Aku akan dapat madju sebagai duelis”. Namun makin banjak ia melipur diri, makin sedikit ia tahu apa jang dikehendakinja sendiri dan makin tjelaka rasanja.
Kembali kekota sehabis liburan, keadaannja tambah buruk, sebab pada segala kesukarannja itu kini dibubuhkan tengkar-selisihnja dengan Pasha (ia mendjaga dengan hati-hati supaja tak sungguh-sungguh bertengkar dengannja; dipandangnja dia sebagai tempat berlindung jang terachir). Pasha mulai menundjukkan sematjam kepertjajaan-diri. Pertjakapannja mendjadi sedikit menggurui, hal jang menggelikan baginja, tapi djuga mengganggu.
Pasha, Lipa, Keluarga Kologrivov, uang — semua kesulitannja berpusing-pusing dalam otaknja. Ia djemu dan mual dengan kehidupan. Hidup membuatnja kegila-gilaan. Ia ingin melepaskan segala hal jang pernah dikenal atau dialaminja, tapi malah dimulainja sesuatu jang sama sekali baru dan belum ditjoba. Dengan perasaan demikian tibalah ia pada putusan berbahaja pada hari Natal tahun 1911. Ia hendak meninggalkan keluarga Kologrivov sekarang, seketika itu, ia akan berdiri sendiri, maka untuk itu ia akan meminta uang pada Komarovsky. Dia berpikir bahwa sesudah semua kedjadian antara mereka serta tahun-tahun kebebasan jang direbutnja untuk diri sendiri itu, Komarovsky harus menolongnja setjara satria, tanpa tuntutan, keterangan atau sjarat.
Dibekali gagasan demikian, berangkatlah ia kedjalan Petrovka, malam hari tanggal 27. Pistol Rodya jang terisi dan berpasak, disimpannja dalam mofnja. Kalau Komarovsky menolak atau menghinanja dengan tjara apapun, ia akan menembaknja.
Berdjalanlah ia dilebuh-lebuh jang berdandan ria dengan hati jang amat rusuh, tak melihat, tak menjadari apa-apa ketjuali adanja tembakan pistol jang sudah meletup dalam hatinja — dan dalam hatinja ia sama sekali tak mengatjuhkan, siapa akan disasari tembakannja. Tembakan itu didengarnja sepandjang djalan Petrovka, terbidik pada Komarovsky dan pada dirinja sendiri, pada nasibnja serta sasaran kaju dipohon djati atas padang-rumput di Duplyanka.
8
„Djangan sentuh mofku!” Emma Ernestovna mengulurkan tangan hendak membantunja menanggalkan mantel; ia menjambutnja dengan pelbagai „O” dan „Ah”, mengatakan bahwa Victor Ippolitovich sedang keluar, tapi ia hendaknja menunggu disitu. „Tak mungkin. Aku tergesa. Mana dia?” Ia menghadiri perajaan Natal. Dengan menggenggam setjabik kertas jang memuat alamat, ia lari turun kelompok-tangga muram jang dikenalnja itu dengan gambar lambang dikatja djendelanja, lalu menudju kerumah kaum Sventitsky di Muchnoy Gorodok.
Baru sekaranglah, ketika ia keluar kedua kalinja, ia melihat kesekeliling dalam kota dan malam musim-dingin.
Udara dingin seperti es. Djalan ditutup es tebal jang hitam, berbungkah matjam beling dari dasar botol bir jang petjah. Hawa jang dihirup menjakitinja; hawa itu tebal oleh saldju beku abu-abu, mentjutjuh dan menggelitik parasnja seperti bulu-bulu kelabu jang beku dimantelnja.
Dengan hati berdebar ia berdjalan dilebuh-lebuh kosong didepan pintu beruap rumah-rumah-makan jang murah. Muka-muka merah matjam sosis atau kepala kuda dan kepala andjing, dengan djenggot bertjeranggah es, bermuntjulan dari kabut. Semua djendela dirumah-rumah dilapisi tabir es dan saldju, hingga putih seperti kapur; bajangan berwarna pohon-pohon Natal jang bertjahaja serta bajang-bajang mereka jang berpesta, bergerak-gerak dipermukaan djendela jang tak tertembus sinar itu, seolah ada pertundjukan „lentera mudjizat” didjalanan.
Ketika lewat didepan gedung tempat kediaman Pasha di Djalan Kamerger, Larapun berhenti dan hampir pingsan. „Aku tak sanggup terus. Tak betah”, utjapannja hampir keras. „Aku naik, kutjeritakan semuanja”. Dikumpulnja tenaganja dan masuklah ia lewat pintu gerbang berat jang terhias.
9
Dengan muka merah dan lidah terdjulur kepipi, Pasha berdiri didepan tjermin, bergulat dengan krah, kantjing dan lobang-kantjing dimuka kemedjanja jang dikandji. Ia hendak kepesta. Djiwa remadjanja membuatnja malu, ketika Lara masuk tanpa mengetuk dan melihatnja sebelum ia selesai berpakaian. Namun ia lekas menangkap kerusuhannja. Lara njaris tak mampu berdiri. Ia mendekat, menjingkap udjung gaunnja pada tiap langkah, seolah merandai ditempat penjeberangan.
Ia bergegas mendjemputnja. „Ada apa? Apa jang terdjadi?”
„Duduklah disisiku. Duduk, tak usah selesai berpakaian. Aku buru-buru, sebentar lagi mesti pergi. Djangan sentuh mofku. Tunggu, djangan lihat sedetik, berpalinglah”.
Ketika Pasha menurut, Lara jang memakai mantel dan gaun, menanggalkan mantel itu, menggantungnja dan memasukkan pistol dalam kantongnja; kemudian ia balik kedipan.
„Sekarang kau boleh lihat. Njalakan lilin dan matikan lampu listrik”.
Ia gemar bitjara dalam gelap diterangi lilin, maka Pasha selalu menjimpan lilin sedikit. Ia memasang lilin baru ditampuknja atas landasan djendela, lantas menjalakannja. Apinja berkedip dan berkerisik, memantjarkan bintang-bintang ketjil, lalu meruntjing seperti panah, kemudian tenang. Kamar diterangi tjahaja halus. Ditentang njala lilin, es meleleh dikatja djendela, meninggalkan rekah hitam seperti lobang pengintip.
„Dengarkan, Pasha”, udjar Lara. „Aku kesulitan, kau mesti menolongku. Djangan takut dan djangan tanja-tanja. Tapi djangan beranggapan, kita bisa seperti orang-orang lain. Kau mesti bersungguh-hati menghadapi soal ini. Aku terus dalam bahaja. Kalau kautjinta aku, kalau kau tak mau aku binasa, djangan kita undurkan perkawinan kita”.
„Tapi itulah djustru jang kuinginkan”, sela Pasha. „Kita kawin, kapan sadja menurut kehendakmu. Tapi apakah kesukaranmu? Djangan siksa aku dengan teka-teki”.
Tapi Lara menghindari pertanjaannja dan mengalihkan pertjakapan. Mereka lama omong-omong tentang matjam-matjam hal jang tak sangkut-paut dengan kemalangan Lara.
10
Musim dingin itu Yura mempersiapkan karangan tentang susunan urat-saraf mata untuk perlombaan Medali Emas di universitas. Walaupun ia hanja berwewenang dalam ilmu kedokteran umum, iapun hampir mempunjai pengetahuan spesialis tentang physiologi penglihatan. Minatnja untuk itu berhubungan dengan segi-segi lain dalam wataknja — bakatnja untuk mentjipta serta perhatiannja atas daja-chajal dalam seni dan susunan gagasan menurut logika.
Saat itu ia bersama Tonya naik kereta-saldju sewaan kerumah Sventitsky.
Setelah enam tahun tinggal serumah semasa ketjil dan dewasa, mereka saling mengenal tentang segala hal jang dapat dimaklumi; masing-masing mempunjai tabiat dan kebiasaan, termasuk tjaranja ketawa tentang lelutjon dari tiap mereka; pun mereka tahu waktunja untuk berdiam diri bersama-sama. Sekarang djuga mereka boleh dikatakan berdiam diri sadja dalam kendaraan, sibuk dengan pikiran masing-masing, dengan mulut terkatup erat terhadap hawa dingin.
Yura menggagas tentang tanggal perlombaan, pun bahwa ia harus lebih bertekun untuk karangannja. Kemudian pikirannja diselewengkan oleh keramaian pesta achir tahun didjalanan, hingga melontjat kesoal-soal lain. Ia telah mendjandjikan kepada Gordon sebuah tulisan tentang Blok untuk harian stensilan mahasiswa jang diterbitkannja; anak-anak muda dikedua ibu-kota tergila-gila pada Blok, terutama Yura dan Gordon. Tapi pikiran inipun tak sanggup memikat perhatiannja lama-lama.
Mereka djalan terus dengan dagu terperosok dalam krah, menggaruk-garuk kuping dan melandjutkan pikiran masing-masing, namun ada satu hal jang terpikir oleh mereka berdua.
Kedjadian didepan randjang Anna tadi merobah mereka dalam pandangan masing-masing, seolah baru sadja diberi daja penglihatan.
Bagi Yura, kawan lamanja Tonya jang ‘sampai waktu itu merupakan sebagian hidupnja jang dengan sendirinja sudah harus ada sadja, tak perlu diartikan lagi, tiba-tiba mendjadi machluk jang paling sulit didekati, paling rumit untuk dibajangkan. Ia telah mendjadi wanita. Dengan melebih-lebihkan chajalannja, dapatlah ia membajangkan diri sendiri sebagai kaisar, pahlawan, nabi, penakluk, namun tak bisa sebagai wanita.
Kini sesudah Tonya meletakkan tugas mulia lagi sulit sekali atas pundaknja jang kurus-rengkeh ini (sekarang ia nampak kurus dan rengkeh padanja, sekalipun ia gadis jang sehat betul), iapun merasakan simpati jang hangat serta rasa kagum tjampur malu-malu jang merupakan permulaan kasih-sajang.
Perobahan sikap Tonya terhadap Yura sama dalamnja.
Yura merasa, achirnja mungkin lebih baik mereka tak djadi pergi tadi. Ia resah tentang Anna. Mereka njaris berangkat, waktu mendengar bahwa ia merasa kurang enak; merekapun masuk kamarnja, tapi dia menjuruh mereka kepesta dengan tadjam, seperti sebelum itu. „Bagaimana tjuatja sekarang?” tanjanja. Mereka pergi kedjendela untuk mendjenguk keluar. Waktu mereka berpaling, tirai-tirai berbentuk djaring itu tersangkut pada gaun baru Tonya, terseret dibelakangnja, matjam tjadar pernikahan. Semua ketawa, sebab penjerupaan itu tjepat sekali mengesan.
Yura menengok keliling dan melihat apa jang sebentar tadi dilihat Lara. Gerat-gerit amat keras dari kereta-saldju didjalanan beku itu menimbulkan gema pandjang sekali dari pohon-pohon jang ditumbuhi es dipelataran dan didjalan-djalan. Tjahaja jang bersinar lewat djendela-djendela penuh saldju beku merobah rumah-rumah mendjadi peti penuh permata indah jang beruap. Didalamnja membara kehidupan Natal di Moscow; lilin-lilin menjala dipohon-pohon, para tamu mundar-mandir dan berkelakar dengan berpakaian istimewa, main umpetan dan „tjari-tjintjin”.
Ia mendapat kesan bahwa Blok adalah suatu perjudian Natal dalam penghidupan dan kesenian Rusia modern — Natal dalam kehidupan dikota Utara ini, Natal dibawah langit berbintang dikota modernnja dan disekitar pohon berbiru dikamar-tamu abad keduapuluh. Tak perlu menulis artikel tentang Blok, pikirnja, jang perlu hanjalah melukis versi Rusia dari Pemudjaan Magi dari Belanda, dengan saldju didalamnja dan srigala-srigala rimba tjemara jang gelap.
Waktu mereka lewat Djalan Kamerger, Yura melihat ada lilin melelehkan selingkaran ketjil lapisan saldju disalah-satu djendela. Sinarnja laksana kerlingan mata jang sengadja menengok kedjalanan, seolah api itu mengawasi kereta-kereta jang lewat dan menanti seseorang.
„Lilin menjala dimedja, lilin menjala…”, bisiknja pada diri sendiri — permulaan sadjak jang katjau, tak berbentuk; diharapkannja sadjak itu akan membina udjudnja sendiri, tapi ia tak mendapat apa-apa lagi.
11
Upatjara kuno berlaku pada perajaan Natal dirumah Sventitsky. Pukul sepuluh setelah anak-anak pulang, pohon dinjalakan kedua kalinja untuk jang muda dan dewasa; pesta berlangsung sampai pagi. Orang-orang jang lebih tua main kartu semalam suntuk dalam kamar-duduk „Pompeia”, terpisah dari kamar-dansa oleh tabir-tabir jang bergantungan pada gelangan-gelangan perunggu. Pada waktu fadjar mereka semua bersantap bersama-sama.
„Mengapa kamu terlambat?” tanja kemanakan Sventitsky, Georges, jang berlari melintasi serambi-depan untuk menudju kekamar paman dan bibinja dirumah sebelah belakang. Yura dan Tonya meninggalkan barang-barang mereka, lalu mendjenguk kekamar-dansa, sebelum pergi menjalami tuan dan njonja-rumah.
Mereka jang tak berdansa tapi berdjalan atau bertjakap-tjakap, memperdengarkan kersak-kersik pakaian mereka serta saling mengindjak kaki, bergerak laksana tembok hitam didepan pohon Natal jang bernafas panas itu, dilingkungi sinar jang berkobar berderet-deret.
Ditengah kamar, orang-orang jang berdansa berputar-putaran sampai pusing. Mereka dipasang berdua-dua atau merupakan rantai oleh seorang mahasiswa hukum jang muda, Kola Kornakov, anak pembantu djaksa-umum jang memimpin „cotillon”. „Grand rond!” teriaknja sekeras-kerasnja didalam kamar, atau „Chaîne chinoise!” — dan semua turut perintahnja. „Une valse, s’il vous plaît” serunja pada pianis, seraja mengiring pasangannja pada awal babak pertama; iapun berputar-putar dengannja, berangsur-angsur makin lambat dalam lingkaran jang kian ketjil, sampai mereka hampir tak kentara lagi menuruti irama walsa jang tinggal gema jang melenjap; tiap orang lalu bertepuk-tangan, es dan minuman dingin diedarkan antara chalajak jang riuh dan berpusing dengan tersuruk-suruk. Para pemuda dan gadis jang merah-padam tak sesaatpun berhenti dengan seru-menjeru dan ketawanja, bila minum air-buah dan limun; namun tiap kali mereka meletakkan gelas dibaki, keramaian mendjadi sepuluh kali riuhnja, seakan telah terminum sesuatu jang membuat mereka lebih gembira lagi.
Tanpa singgah dikamar-dansa, Tonya dan Yura melintasi kamar-kamar tuan-rumah diudjung lainnja dalam flet itu.
12
Kamar-kamar sebelah belakang didjedjali perabot-perabot jang dipindahkan dari kamar-dansa dan kamar-tamu. Disinilah bengkel keluarga Sventitsky, dapur wasiat jang berbau tjat dan perekat; banjak bungkusan berwarna dan kotak hadiah serta sekedar lilin tertimbun atas tiap kursi.
Keluarga Sventitsky menulis nama-nama atas kartu-hadiah dan untuk kursi buat makan-malam serta nomor-nomor atas kartjis lotre. Mereka dibantu Georges, tapi dia selalu salah hitung dan bingung, hingga mereka marah lagi djengkel. Orang gembira sekali atas kedatangan Tonya dan Yura, orang ingat mereka waktu ketjil dan tanpa basa-basi menjuruh mereka bekerdja.
„Felitsata Semyonovna tak mengerti bahwa ini semua harus dikerjakan sebelumnja, tidak ditengah perajaan, ketika tamu-tamu disini. — Tengok apa jang kaubuat sekarang, Georges — bonbonnière jang kosong mesti didipan dan jang berisi buah badam bergula mesti dimedja — kaubikin semua salah-letak”.
„Aku senang si Annette sudah sembuh. Pierre dan aku sangat sedih”.
„Dia tambah sakit, bukan tambah baik, sajang, mengerti? Kau selalu memutar-balikkan semua”.
Achirnja selama separoh malam itu Yura dan Tonya tinggal bersama Georges dan keluarga Sventitsky dibelakang lajar.
13
Selama itu Lara duduk dikamar-dansa. Ia tak berpakaian-malam, pun tak kenal siapapun disitu, namun ia tak pergi-pergi, lalu berdansa walsa dengan Koka seperti orang tidur-djalan, ataupun mundar-mandir dikamar tanpa tudjuan.
Sekali dua kali ia berhenti dan berdiri ragu-ragu diluar kamar-duduk, dengan harapan akan nampak pada Komarovsky jang duduk menghadap pintu. Tapi dia ini memegang kartu-kartu didepannja bagaikan perisai ketjil ditangan kiri; ia memang tak melihatnja ataupun pura-pura begitu. Lara tertjedjik karena merasa dihina. Seorang gadis jang tak dikenalanja, masuk dari kamar-dansa dan Komarovsky memandangnja dengan tjara jang dikenalanja. Gadis itu merasa dipudji, lalu merah-padam serta bersenjum senang. Lara merah karena malunja dan njaris memekik. „Korban baru”, pikirnja, maka dalam tokoh gadis itu dilihatnja diri sendiri seperti bajangannja dalam tjermin. Ia tak melepaskan maksudnja hendak bertemu dengan Komarovsky, tapi diputuskannja untuk bertangguh, menunggu saat jang lebih lajak. Ia memaksa diri untuk bertenang-hati, lantas masuk kamar-dansa.
Komarovsky main bersama tiga lelaki lain. Jang disebelah kirinja adalah Kornakov, ajah Koka, anak-muda tampan jang berdansa lagi dengan Lara: demikian jang difahamkannja dari beberapa kata jang diutjapkan antara mereka. Sedangkan ibu sipemuda ialah perempuan tinggi berambut hitam dan berpakaian hitam, dengan mata menjala serta leher seperti ular jang tak njaman dilihat, jang berdjalan madju-mundur antara kamar-dansa dan kamar-duduk, sambil mengawasi anaknja berdansa dan suaminja main kartu. Achirnjapun Lara mendengar bahwa gadis jang tadi menimbulkan perasaan serba rumit padanja itu adalah adik sipemuda, hingga tjuriganja tiada berdasar.
Ia tak memperhatikan nama-keluarga Koka, waktu ia pertama-tama memperkenalkan diri, tapi Koka mengulangi nama itu, ketika ia dalam gerak meluntjur jang terakhir dari musik walsa mengajunkannja kesebuah kursi, sebelum membungkuk untuk pamit. „Kornakov, Kornakov”. Nama ini mengingatkan pada sesuatu. Sesuatu jang tak menjenangkan. — Ja, itu dia, ia tahu sudah. Kornakov adalah asisten djaksa dimahkamah agung di Moscow jang mengadakan pidato fanatik pada pengadilan sekelompok buruh kereta-api, termasuk Tiverzin. Atas permintaan Lara, Kologrivov telah mengadjukan permintaan padanja, tapi tak berhasil. Djadi begitulah…Wah, wah, wah…Adjaib sekali…Kornakov.
14
Mendjelang pukul dua pagi. Telinga Yura mengiang-ngiang. Tadi ada selingan dengan teh dan petits fours dan kini orang mulai berdansa pula. Tak ada lagi jang mau mengganti lilin-lilin dipohon, kalau habis menjala.
Yura berdiri tertjenung ditengah kamar-dansa, memperhatikan Tonya sedang berdansa dengan orang tak dikenal. Ia berajun menghampirinja, mengibaskan udjung gaun satinnja jang pendek seperti ikan, lalu menghilang.
Gadis itu sangat rusuh. Selama waktu selingan ia menolak teh dan memuaskan hausnja dengan djeruk, bukan main banjaknja, jang dikupasnja, lalu diusapnja djari-djari dan sudut mulut dengan saputangan sebesar kembang buah. Terus-menerus ia ketawa dan bitjara dan selalu ia keluarkan saputangan tadi serta menjisipkannja kembali diikat-pinggang atau dilengan atau dileher gaun jang terlipat.
Kini ketika ia lewat depan Yura, putar-putar dengan pasangannja tak dikenal, ia menangkap dan menekan tangannja sambil senjum. Saputangan jang dipegangnja tadi, tinggal ditangan Yura. Ia menekannja kebibir dan memedjamkan mata. Disaputangan ada bau pesona tangan Tonya tjampur bau djeruk. Inilah sesuatu jang baru dalam hidup Yura, tak pernah dialaminja sebelumnja, sesuatu jang tadjam menusuk keseluruh raga-djiwa dari atas kebawah. Bau kekanak-kanakan jang naif ini seperti utjapan seorang kawan penuh perasaan jang dibisikkan dalam gelap. Ia tekankan saputangan itu kemata dan bibir, terbius oleh bau akrabnja. Pada saat itu ada tembakan meletus didalam rumah.
Tiap orang berpaling, melihat ketabir jang tergantung antara kamar-dansa dan kamar-duduk. Sepi sesaat. Lalu gaduh. Beberapa orang berlari kian-kemari, ada lagi jang mengedjar Koka kekamar-duduk; dari situlah bunji tembakan berasal dan masih sadja keluar orang-orang lain, menangis, bantah-membantah dan bitjara berbareng.
„Apa dibuatnja, apa dibuatnja”. Berulang-ulang Komarovsky berkata dengan putus-asa.
„Borya, Borya, kau hidup, bukan?” djerit njonja Kornakov dengan hysteris. „Mana dokter Drokov? Katanja disini. — O, tapi mana, mana dia? — Kau berani mengatakan, itu hanja goretan? Ini buktinja, aku selalu benar. Dia jang njuruh kaum pendjahat itu! Sekarang kaulihat, manusia matjam apa mereka itu. O, sajang, kasihan, kau mati-sahid untuk kejakinanmu! — Itu dia, sampah, itu dia; kutjakar matamu, sibusuk, kau tak luput sekarang! — Apa, tuan Komarovsky? Tuan? Dia tembak tuan? Wah, saja tak betah, ini saat duka, tuan Komarovsky, aku tak punja waktu untuk mendengarkan lelutjon. — Koka, Koka sajang! Kau pertjaja? Dia tjoba membunuh ajahmu…Ja…Tapi Tuhan…Koka! Koka!”
Chalajak bergegas keluar kamar-duduk, masuk kamar-dansa.
Paling depan nampak Komarovsky jang dengan ketawa mejakinkan tiap orang bahwa ia tak apa-apa; dengan saputangan ia menepam goretan ditangan kiri. Mereka diikuti kelompok lain jang agaknya menjeret Lara pada kedua belah lengannja.
Yura tertjenung. — Gadis ini lagi! Dan lagi-lagi dalam keadaan luar-biasa! Dan lelaki berambut abu-abu itu pula didekatnja. Tapi kali ini Yura kenal lelaki itu. Dialah pengatjara terkemuka Komarovsky jang ada sangkut-pautnja dengan tanah-milik ajahnja. Tak perlu membungkuk. Kedua-duanja pura-pura tak saling mengenal. Dan sigadis…Djadi gadis inikah jang menembak? Kepada sidjaksa? Tentu ada alasan politis. Kasihan. Dia menghadapi malapetaka. Alangkah tjantik dan tinggi-hati! Dan orang-orang kurang-adjar ini menjeretnja, melipat lengannja seolah menangkap pentjuri! Tapi ia lekas sadar bahwa ia keliru. Lara njaris pingsan, orang mengangkatnja, hampir-hampir menggendongnja kekursi terdekat; disitu ia achirnja djatuh tak sadarkan diri.
Yura menghampirinja untuk menolong membuatnja siuman, tapi lantas berpikir, lebih baik memperhatikan sikorban sekedarnja.
„Tuan dapat saja tolong? Saja dokter”, tegurnja pada Kornakov. „Tjoba saja lihat tangan tuan. O, tuan beruntung. Dibebatpun tak perlu. Tapi bolehlah setetes iodine. — Itu Felitsata Semyonovna, dia tentu punja sedikit iodine”.
Felitsata dan Tonya mendekati mereka, nampak putjat dan terkedjut. Mereka tuturkan padanja supaja pergi dan mengambil djasnja. Ada pesan dari rumah agar mereka lekas pulang.
Yura chawatir sekali, dia lupakan segala dan segera mengambil barang-barangnja.
15
Mereka tak ketemu Anna hidup-hidup. Waktu mereka buru-buru naik tangga kekamarnja, ia sudah meninggal sepuluh menit jang lalu. Sebab kematiannja ialah serangan asthma, akibat busung paru-paru jang akut. Diagnosanja terlambat dibuat. Beberapa djam jang pertama, Tonya mendjerit-djerit, memukulkan kepalanja kelantai dan tak mau kenal siapa-siapa. Hari berikutnja ia mulai tenang, namun hanja sanggup mengangguk untuk mendjawab segala tegur-sapa Yura atau ajahnja: pada saat ia membuka mulut, ia tertjengang oleh kesedihannja, hingga mulai memekik-mekik lagi seperti kerasukan.
Ia menjelingi talkin dengan bersudjud berdjam-djam lamanja disisi djenazah; tangannja jang pandjang lagi indah menggapai sudut keranda jang berdiri atas panggungnja, ditumbuni karangan-bunga. Ia tak melihat siapa-siapa disekitarinya, tapi segera setelah pandangannja bertemu dengan mata kerabatnja, iapun tjepat bangkit, lari keluar kamar naik tangga sambil menahan air-matanja, sampai ia djatuh kerandjang dan membenamkan pedih-nja jang berbadai itu dalam bantal.
Akibat kesusahan, dan berdiri berdjam-djam tanpa henti serta kurang tidur, akibat njanjian njaring dan kilatan njala lilin siang-malam serta masuk-angin pula, mabuklah Yura oleh rasa kantuk terbius halus, penuh dukatjita serta pesona.
Tatkala sepuluh tahun jang lalu ibunja wafat, ia baru kanak-kanak. Ia masih ingat air-matanja, sedih dan ketjut tak terhibur. Waktu itu dirinja sendiri tak penting baginja. Bahkan hampir tak dipertjaja bahwa makhluk tersendiri seperti Yura ini ada atau mempunjai harga atau kepentingan. Jang berarti ketika itu ialah segala jang diluar dan disekitar dia. Dari tiap pendjur dunia luar itu menekan padanja, padat, tak tersangkal, njata bagaikan rimba; jang menjebabkan ia tergontjang oleh kematian ibunja ialah bahwa disampingnja ia telah kesasar dalam rimba dan kini ia sekonjong-konjong kehilangan ibunja, hingga ia sebatang-kara dalam rimba. Rimba ini terjadi dari segala hal didunia; segala jang dikenalnja ada didalamnja — awan dan papan-nama toko dan puntjak menara-lontjeng dan para penunggang kuda jang berdjalan didepan kereta Sang Prawan Kudus, tak berpitji tapi memakai penutup kuping untuk menghormati Lukisan Sutji3 3Ikon Sang Prawan dari Iverskaja dianggap mudijzat dan dibawa dengan kereta kepada jang sakit dan sekarat. Didalamnja ada banjak parade toko dan arkade dan langit malam berbintang jang tak tertjapai dan Tuhan jang Pengasih dan orang-orang keramat.
Langit tinggi jang tak tertjapai itu melentikkan putjuknja sangat rendah, benar-benar sampai keudung gaun pengasuhnja, ketika ia tjeritakan perihal Tuhan; dekat dan mudah tertjapai seperti pohon-pohon hazel dalam parit, bila dahannja direnggut dan buahnya dipetik. Ia seolah tertjempung dalam ember untuk membasuh anak-anak dengan bunga-bunga merah dan keemasan, maka setelah dimandikan dalam api dan emas itupun ia berubah menjadi persembahjangan dalam geredja ketjil djidalan-tjabang, dimana ia pergi bersama pengasuhnja. Disitu bintang-bintang dari langit menjadi sinar-sinar didepan ikon-ikon dan Tuhan jang pengasih adalah pendeta budiman dan mereka semua hendak bertugas sebaik-baiknya. Tapi langit itu adalah terutama djagat njata dari orang-orang dewasa dan dari kota jang muntjul serba gelap disekitarnja, maka dengan seluruh imannja jang setengah hewani itu Yura pertjaja kepada Allah, pendjaga rimba itu.
Sekarang sudah lain sama sekali. Selama duabelas tahun di-sekolah dan diperguruan tinggi Yura telah mempeladjari karja-karja klasik serta Indijl, banjak sasakala serta penjair, sedjarah dan ilmu-alami; dibatjanja semua itu seakan kronik dan silsilah keluarganja. Sekarang tak ada jang ditakutinja, hidup ataupun mati; segala sesuatu didunia, tiap hal, disebut dalam kamusunja. Ia merasa sama tinggi dengan semesta dan segala doa untuk Anna kini baginja mempunjai bunji jang lain dari doa-doa untuk ibunja jang didengarnja waktu kanak-kanak. Dulu doanja katjau, pedih dan ketakutan. Kini ia mendengarkan ibadah, seakan ibadah itu pesan pribadi untuknja jang langsung mengenai dirinja. Ia menjimak kata-katanja dan mengharapkan dari padanja makna jang tegas seperti dari tiap uraian lainnja jang sungguh-sungguh. Dan kealimannja ini sama sekali tak ada persamaannja dengan perasaannja terhadap semua kekuatan dari bumi dan langit, jang hanja dihormatinja sebagai nenek-mojangnya sendiri.
16
„Allah Kudus, Kudus dan Djaja, Kudus dan Kekal, kasihanilah kami". Apa ini? Dimana dia? Orang mengangkat keranda keluar. Ia harus bangun. Ia tertidur berpakaian lengkap didipan pada pukul enam pagi. Ia jakin badannja panas. Kini orang menjari dia diseluruh rumah, tapi tak ada jang berpikir hendak menengok disudut terpentjil perpustakaan dibelakang lemari buku.
„Yura! Yura!” Markel memanggilnja. Mereka mengangkat peti majat. Markel harus membawa karangan-karangan bunga, tapi dimanapun tak diketemukannya Yura untuk membantunja; tjelakanja pula, ia tertahan dikamar-tidur, tempat timbunan karangan bunga, sebab pintu kamar-tidur itu terhalang oleh pintu lemari pakaian jang terbuka dibordes.
„Markel! Markel! Yura!” teriak orang dari bawah. Markel menjingkirkan halangan dengan sekali pukul kepintu, lantas lari kebawah dengan beberapa karangan bunga.
„Allah Kudus, Kudus dan Djaja, Kudus dan Kekal”, kata-kata itu hanyut pelan-pelan kedjalanan dan tinggal disana; seolah ada bulu jang dengan halusnja menjapu udara; semuanja berajun-ajun — karangan bunga, orang lewat, kepala kuda berdjambul, pedupaan jang gojang dirantai dalam tangan pendeta serta bumi putih dibawah kaki mereka.
„Yura! Ja Allah! Achinrja!” Shura Schlesinger menggontjang-gontjang bahunja. „Mengapa kau? Keranda lagi diangkut. Kau ikut?”
„Ja, tentu”.
17
Lajatan telah selesai. Dalam hawa dingin itu para pengemis menjuruk-njuruk, berkumpul dalam dua barisan. Kereta-majat, pedati dengan karangan-karangan bunga serta kereta keluarga Krueger bergerak dan gojang sedikit. Sais-sais mendekati geredja. Shura Schlesinger keluar dengan muka tertjoreng oleh bekas air-mata; ia buka tjadarnja jang basah, pandangannya memantjar dan mentjari-tjari dibarisan kereta; setelah menemukan kereta, tempat menunggu orang-orang jang mengangkat keranda, iapun memberi perintah dengan anggukan kepala, lalu lenjap bersama mereka dalam geredja. Makin banjaklah orang jang tertjurah keluar.
„Nah, djadi berpulanglah Anna Ivanovna. Ia tak lagi bersama kita, sukmanja jang malang telah melawat ketempat mubarak”.
„Ja, kasihan, hidupnja lampau dan kini istirahatlah ia”.
„Kau punja kereta atau kauambil nomor sebelas?”
„Aku semutan karena berdiri sadja selama ini. Mari melunjurkan kaki sedikit, tjari kereta”.
„Kau lihat betapa sedihnya Fufkov? Ketika melihat Anna, air-mata mengalir dimukanja, hidungnya merah dan ia memandang nanap kepadanja. Berdiri disisi suaminja pula”.
„Ia selalu menaruh hati padanja”.
Demikian orang berdjalan kepekuburan diudjung lain dari kota. Hari itu saldju beku meleleh. Hari tenang, muram, hari berachirnya pembekuan saldju, hari jang tepat untuk penanaman majat. Saldju kotor nampak seperti bersuar dari belakang sutra dan pohon-pohon ru dibelakang pagar geredja basah dan gelap bagi perak redup, nampak seperti djubah kabungan.
Dipekuburan itu djuga ibu Yura dimakamkan. Tahun terachir ini ia tak mengundjungi kuburannja. Ia memandang kearahnya sambil berbisik: „Mama”, hampir seperti jang mungkin dilakukannja bertahun-tahun lebih dulu.
Orang pulang dalam kelompok-kelompok piktores jang murung; lenggak-lenggok djalanan ketjil jang disapu bersih itu agaknya tak selaras dengan langkah para pengabung jang tenang lagi sedih. Tonya bergandengan dengan ajahnya. Mereka diikuti keluarga Krueger. Tonya nampak manis dalam pakaian hitam.
Saldju beku kelabu, rumbai seperti bulukan, meretjup-retjup dirantai jang mengikat salib-salib pada kubah dan pada tembok-tembok djingga dari biara. Djemuran tergantung dari tembok ketembok dipodjok terdjauh pekarangan biara — kemedja dengan lengan berat karena kujup, tjita dan taplak medja-makan jang basah dan menggelembir. Yura sadar bahwa inilah sebagian tanah biara — kelihatan lain akibat gedung-gedung baru — dimana malam itu taufan mengamuk.
Yura berdjalan terus sendirian, mendului jang lain-lain, sekali tempo berhenti agar mereka mengedjarnja. Untuk membalas tantangan kesepian jang terbawa oleh maut dalam hidup masarakat ketjil jang para anggotanja berdjalan pelan-pelan dibelakangnja itu, iapun bagai air jang mau-tak-mau tersalur kebawah, terhanyut untuk mimpi, berpikir, menjusun ujud-udjud baru, mentjipta keindahan. Lebih bersemangat dari jang pernah dialaminja, sadarlah ia bahwa kesenian mempunjai dua ketekunan jang tetap dan tak berachir: seni selalu bersemadi tentang maut dan disamping itu selalu mentjiptakan kehidupan. Ia jakin bahwa ini berlaku untuk semua kesenian besar dan sedjati; demikianlah karja seni jang dinamakan Firman Santa Johan serta semua karja jang telah melengkapkannja dari abad keabad.
Ia gembira menghadapi waktu sedikit hari lagi jang hendak disisihkannja untuk dipergunakannja seorang diri, djauh dari universitas dan dari rumah, supaja ditulisinja sadjak untuk memperingati Anna. Didalamanja akan disisipkannja semua hal seada-adanja jang oleh penghidupan ditebarkan dalam perdjalanannja — beberapa gambaran tentang segi-segi terbaik dalam watak Anna; Tonya jang sedang berkabung; beberapa peristiwa ketika pulang dari melajat; djemuran jang tergantung ditempat ia menangis dulu sebagai kanak-kanak, dimana taufan mengamuk.
1
Lara jang sakit demam, terbaring setengah sadar dirandjang Felitsata Semyonara; keluarga Sventitsky, budjang-budjang serta Dr Drokov berbisik-bisik disekelilingnja.
Rumah selebihnja kosong dan gelap. Hanja sebuah lampu ditangannja dalam kamar-duduk melontarkan tjahaja kusamnja kian-kemari dideretan pandjang kamar-kamar jang bersambungan.
Kian-kemari dalam gang pandjang ini berdjalanlah Komarovsky dengan langkah tegap jang tak sabar, seolah ia dirumahnja sendiri dan bukannya bertamu. Ia mendjenguk kekamar-tidur untuk dapat kabar, lalu undur keudjung lain dalam rumah melalui pohon dengan gelembung-lembung peraknja serta melintasi kamar-makan dengan medjanja jang dimuati hidangan belum tertjetjap serta piala-piala hablur hidjau jang tiap kali berdering-dering, bila ada kereta lewat dibelakang djendela atau seekor tikus berlarian ditaplak antara barang-barang petjah-belah.
Perasaan berbadai berdesak-desakan dalam dadanja. Inilah skandal! Ia ternoda! Ia mendidih oleh amarah. Kedudukannja terantjam, namanja dibahajakan oleh peristiwa ini. Sedapat-dapatnja ia mesti mentjegah gundjingan orang, atau djika sudah tersiar kabarnja, ia mesti menghalangi desas-desus, mentjekiknja waktu lahir.
Sebab lain untuk kerusuhannja ialah bahwa dialaminja sekali lagi daja-tarik tak terelakkan dari gadis liar jang putus-asa ini. Ia selalu maklum bahwa dia lain dari orang lain. Dari dulu ada keunikannja. Tapi ia telah melukai sigadis serta meruntuhkan penghidupannja dengan mendalam, pedih, tak terpulihkan lagi dan betapa resah dan geramnja gadis itu dalam putusannja hendak membina kembali hari-depannja serta memulai dari permulaan!
Dipandang dari sudut manapun, teranglah ia mesti menolongnja — mentjari kamar untuknja barangkali — tapi dalam keadaan apapun ia djangan sampai mendekatinja; ia malah harus mendjauh, menjingkirkan diri agar tak membajangi dia; kalau tidak, entah apa akan dibuatnja dengan wataknja jang suka bergolak itu.
Masih banjak pula kesulitan dihadapi! Ini bukanlah hal jang berakibat baik. Hukum tidak main-mata dengannja. Hari belum pagi dan belum dua djam sesudah peristiwa dimulai, namun polisi telah datang dua kali dan dia, Komarovsky, terpaksa kedapur menemui sersan untuk melunakkan soalnja.
Dan kian landjut halnja, kian rumit nanti. Harus dibuktikan bahwa Lara bermaksud menembak dia dan bukan Kornakov. Namun itupun belum mengachiri soalnja; gadis itu hanja bebas dari sebagian tuduhan, tapi masih disasari tuntutan mengenai hal-hal lainnja.
Tentu akan ia tjoba apa sadja guna mentjegah itu. Bila perkara ini tiba didepan mahkamah, ia akan mendapatkan bukti dari seorang ahli ilmu-djiwa bahwa Lara tak dapat dipertanggung-djawabkan atas perbuatannja, ketika ia melepaskan tembakan; ia akan berusaha supaja pengusutan perkara dihentikan.
Berkat renungan ini ia mendjadi tenang. Malam telah lampau. Djulur-djulur tjahaja beterbangan dari kamar kekamar, menjusup kebawah kursi dan medja bagaikan maling atau pengawal mahkamah.
Ketika achir kalinja menengok kekamar-tidur, Komarovsky mendengar bahwa Lara belum bertambah baik, lalu pergilah ia mengundjungi seorang kawan, Ruffina Onissimovna Voit-Voitkovsky, pengatjara wanita, istri seorang pengungsi politik. Fletnja dengan delapan kamar kini terlalu besar baginja; ia tak begitu mampu lagi, maka dipersewakannja dua kamar. Satu diantaranja baru-baru ini dikosongkan, hingga Komarovsky mengambilnja untuk Lara. Kesitulah ia dibawa beberapa djam kemudian, pingsan oleh demam-otak.
2
Ruffina Onissimovna adalah perempuan jang berpikiran madju, lawan keras prasangka dan sangat tjenderung pada segala sesuatu jang dipandangnja „positif dan hajati”.
Dalam peti berlatji-latji disimpannja turunan program Erfurt1 1Program Partai Sosial Demokrat Djerman jang diterima oleh Kongres S.D. tahun 1891. jang dipudjikan oleh pengarangnja. Salah sebuah foto didinding menundjukkan suaminja, „Voit budiman”, pada hari pelantjongan umum di Swis, bersama Plekhanov2 2Teoretikus Marxis jang terkemuka, seorang Rusia jang kebanjakannja tinggal di Swis. , kedua-duanja memakai djaket sutera dan topi panama.
Sekali melihat penjewanja jang sakit itu, Ruffina Onissimovna tiada menjukainja. Ia menanggap Lara sebagai orang jang berpura-pura setjara memualkan dan pertjaja bahwa dari mula sampai achir ia tak betul-betul mengigau dalam demamnja. Jakin benarlah ia bahwa Lara mempribadikan seorang Gretchen jang gila dalam pendjara Gothik.
Kedjidikannja itu dinjatakan dengan keributan riuh-rendah: membanting pintu, menjanji keras-keras, lari dalam bagian rumahnja bagaikan taufan dan membuka semua djendela sepandjang hari.
Flet itu letaknja diloteng paling atas dari sebuah gedung di Djalan Arbat3 3Djalan jang sangat lebar dengan pasar ditengahnja. , bila musim-dingin lampu dan matahari hadir kembali, djendela-djendelanja dilimpahi langit biru, selebar sungai jang kebandjiran. Selama separoh musim-dingin, flet itu penuh dengan suasana musim-semi jang baru-baru mendjelang.
Angin hangat dari Selatan meniup melalui djendela putaran. Disetasiun-setasiun jang djauh lokomotif mengaung bagai singa-laut. Lara jang terbaring sakit dalam randjangnja itu mengisi waktu senggangnja dengan kenangan.
Sering sekali diingatnja sendja hari waktu ia tiba di Moscow dari Ural, tudjuh atau delapan tahun jang lalu, dalam masa-ketjilnja jang tak terlupakan.
Mereka naik kereta dari setasiun, lewat djalan-djalan muram kehotel diudjung lain dalam kota. Satu-persatu lampu-lampu didjalanan melemparkan bajangan bongkok sais ketembok-tembok; bajangan itu tumbuh terus sampai mendjadi raksasa, merembet keatap-atap; lalu terpotonglah ia dan semuanja mulai dari semula.
Seribu enamratus lontjeng di Moscow berbunji dalam udara gelap diatas dan trem-trem djuga mendentingkan belnja, ketika ladju didjalanan, tapi Larapun bising oleh segala tjahaja dan wadjah kedai jang seolah ramai djuga seperti roda dan lontjeng.
Dalam kamar hotel ia terkedjut melihat sebuah semangka jang luarbiasa besarnja. Itulah hadiah Komarovsky jang meriah jang baginja seperti lambang kekuasaan dan kekedjamannja. Ketika Komarovsky menusukkan pisau dalam buah jang menakdjubkan ini dan bundaran besar hidjau-tua itu petjah berbelah dengan menundjukkan ulu-hatinja jang dingin dan bergula, Larapun menahan nafasnja, namun ia tak berani menolak sekeratpun; karena gugupnja, suapan djingga jang harum itu sendat dikerongkongan, tapi ia memaksa diri untuk menelannja.
Seperti ia kena intimidasi oleh makanan jang mahal dan oleh penghidupan malam diibu-kota, begitu ia kemudian kena intimidasi oleh Komarovsky sendiri — inilah sebenarnja jang dapat mendjelaskan segala-galanja.
Tapi sekarang Komarovsky berubah, hingga tak dapat dikenalnja kembali. Ia tak menuntut apa-apa daripadanja, tak pernah mengingatkannja pada jang lampau, bahkan tak pernah mengundjunginja; ia mendjaga djaraknja, sambil berdjandji sesopan-sopannja bahwa ia sedia menolongnja.
Beda sekali tjara Kologrivov, bila ia bertandang padanja. Ia suka sekali kedatangannja. Bukan karena tokohnja jang tinggi-tampan, tapi karena berkat vitalitetnja serta intelligensi jang berseri-seri diwadjahnja, berbareng dengan senjum riang-tjendekia, maka tamunja itu memenuhi separoh kamar.
Ia duduk dipinggiran tempat tidur, mengusap-usap tangannja sambil merenung. Pernah ketika ia diminta menghadiri rapat menteri-menteri di Petersburg, iapun bitjara kepada mereka jang tua-tua dan bertitel itu seperti kepada anak-anak sekolah jang nakal; tapi kini terbaring didepannja seorang gadis jang barusan masih anggota rumah-tangganja, seperti anaknja sadja. Dengan Lara ini, seperti djuga dengan keluarga selebihnja, pergaulannja njaris tak lebih dari sepatah kata atau selintas pandangan waktu berpapasan: walaupun sangat singkat, tjara itu mengandung kemesraan serta daja-tarik jang terasa oleh mereka semua. Ia tak sanggup memperlakukannja dengan ketakatjuhan berat seperti seorang dewasa. Lantaran tak tahu bagaimana hendak memulai, tanpa menjentuh sesuatu jang njeri, berkatalah ia dengan senjum seperti kepada kanak-kanak: „Nah, apa jang kaukerdjakan, nak? Apa maksud segala melodrama ini?”
Ia berhenti, meneliti tjoreng-moreng lembab ditembok-tembok dan diplafon, lalu menggeleng-geleng, alamat tak setudju.
„Ada pembukaan pameran internasional di Düsseldorf — lukisan, patung, bunga. Aku mau nonton. Kau tahu, disini agak lembab. Dan berapa lama lagi kau mau bergelandangan kian-kemari, tanpa tempat-tinggal jang lajak? Antara kita: perempuan bernama Voit ini machluk jang tak menjedapkan. Kukenal dia. Mengapa tak pindah sadja? Kau tjukup lama sakit terbaring-baring. Sudah waktunja kau bangkit. Gantilah kamarmu, mulailah apa sadja, selesaikan peladjaranmu. Ada seorang pelukis, temanku; dia akan ke Turkestan selama dua tahun. Studionja tersekat-sekat — lebih mirip pada flet ketjil-ketjilan. Kukira ia mau menjerahkannja beserta prabot kepada siapa sadja jang mau mendjaganja. Boleh kuurus itu? Ada lagi satu hal. Sudah lama aku ingin melakukan ini, kewadjiban sutji …sedjak Lipa …Inilah sedikit uang, premi, karena dia berpromosi. Djangan tolak …Kuminita kau djangan keras-kepala …sungguh, kau harus menerima …”
Dan sungguhpun Lara membantah, mentjutjurkan air-mata dan menentang, tapi sebelum ia pergi dipaksanja ia menerima tjek sedjumlah sepuluhribu rubel.
Ketika ia sembuh, Larapun pindah kepenginapan jang ditundjukkan Kologrivov, dekat Pasar Smolensky. Flet itu dipuntjak rumah berloteng dua jang agak tua nampaknja. Bagian lainnja didiami oleh tukang-tukang pedati, disebelah bawah ada gudang. Pekarangan jang berkerikil selalu dikotori gandum dan djerami jang terbuang. Burung-burung dara berkeliaran, mendekut-dekut dan terbang riuh-rendah setinggi djendela Lara; kadang segerombolan tikus berbondong-bondong lewat selokan batu.
3
Pasha sangat sedih memikirkan Lara. Selama Lara sakit keras, ia tak diizinkan menengoknja, tapi bagaimana perasaannja? Lara telah mentjoba membunuh seorang laki-laki, jang setahunnja tak lebih dari kenalannja belaka, lalu orang jang mendjadi sasaran pembunuhan jang ditjobanja itu kemudian melindungi dia dari segala akibat. Ia telah mengelakkan hukuman jang membajanginja. Berkat dialah Lara dapat melandjutkan studinja, aman tak tergugat. Pasha bingung dan tersiksa.
Ketika ia sembuh, Lara memintanja datang dan berkata: „Aku perempuan djahat. Kau tak kenal aku, tak dapat kaubajangkan, bagaimana aku ini. Lain hari kutjeritakan. Sekarang aku tak dapat bitjara; kaulihat sendiri, tiap kali kutjoba, aku menangis. Tapi biarkan sadja aku, lupakan semuanja tentang diriku. Aku tak lajak bagimu”.
Lantas menjusullah adegan-adegan, kedji; masing-masing lebih memilukan hati, lebih tak tertahankan dari jang terachir. Semua ini terdjadi, ketika Lara masih tinggal di Djalan Arbat; Voitkovskaya bertemu Pasha digang dengan muka tertjoreng bekas air-mata, maka larilah ia kekamarnja, rebah diatas dipan, lalu ketawa sampai mulas, sambil berseru: „O, aku tak bisa, tak bisa, terlalu berat! Lelaki pendiam jang kuat! Samson!”
Untuk membebaskan Pasha dari hubungan jang merongrong ini, untuk merenggut tjintanja kepadanja sampai keakar-akar dan menjudahi siksaannja. Larapun mengabarkan bahwa ia tjeraikan dia selama-lamanja; ia tak sangkut-paut lagi dengannja, sebab ia tak mentjintainja; tapi dengan pengingkaran-diri ini ia menangis begitu banjak, hingga tak mungkin orang pertjaja padanja.
Pasha menuduhnja berbuat tudjuh matjam dosa besar, iapun tak pertjaja tiap kata jang diutjapkannja dan bersedia mengutuk serta membentjinja, namun ia tjinta padanja sampai hatinja bingung; ia dengki kepada pikiran Lara sendiri, kepada piala jang dipakainja untuk minum, kepada bantal jang ditidurinnja. Kalau mereka tak ingin kehilangan pikiran sehat, mereka harus bertindak tjepat dan tawakkal. Mereka sepakat untuk kawin dengan segera, tanpa menunggu udjian mereka. Perkawinan akan berlangsung hari Minggu pertama sehabis Paskah, jang atas permintaan Lara ditunda sekali lagi.
Mereka nikah pada hari Senen sebelum Paskah; waktu itu sudah njata sekali mereka telah lulus udjian dengan sukses. Semua persiapan diadakan oleh Lyudmila Kapitonovna Chepurko, ibu Tusya, rekan Lara. Lyudmila adalah perempuan manis dengan buah-dada jang tinggi; suaranja bagus, besar dan seperti menjanji; kepalanja penuh tachjul tak berbilang, ada jang didapatnja dari orang lain, ada jang digubahnja sendiri.
Ketika Lara akan „dituntun kemimbar” (menurut sebutan mesra Lyudmila dengan suara djipsinja, waktu ia membantunja berpakaian), hari itu panas sekali. Kubah keemasan dari geredja-geredja dan djalan-djalan ketjil jang baru diberi pasir dalam taman-taman dikota, berwarna kuning-mendjerit. Pohon-pohon berk muda jang ditebang pada malam Paskah, bergantungan diatas pagar geredja, penuh debu, dengan daun-daun terpilih djadi gulungan ketjil-ketjil dan hangus. Hawa seungkap nafaspun seolah tak ada; sinar matahari menjilaukan, menari-nari didepan mata dalam tjelekeh-tjelekeh jang bersuara. Hari itu seolah hendak diadakan seribu perkawinan; semua gadis berpakaian meriah seperti penganten dengan rambut jang dikeritingkan; semua anak muda meminjaki rambut mereka dan memakai pakaian hitam jang singsat untuk menghormati perajaan. Tiap orang penuh gairah dan tiap orang bersemangat.
Ketika Lara mengindjak permadani jang menudju kemimbar, Lagodina, ibu salah seorang temannja, menabur seraup matauang perak didepan kakinja sebagai alamat kemakmuran; dengan maksud jang sama Lyudmila telah mengatakan padanja, supaja apabila mahkota perkawinan ditating atas kepalanja, djangan sampai ia membuat tanda salib dengan tangan jang tak ditutup oleh udjung tjadarnja atau pelipit renda. Dituturkannja pula kepada Lara, agar ia tinggi-tinggi mengangkat lilinnja, supaja ia berwibawa dalam rumah-tangganja. Tapi Lara jang mengorbankan haridepannja untuk Pasha itu membawa lilinnja serendah-rendahnja, namun sia-sia belaka, sebab betapa rendahnja ia membawanja, tapi Pasha memegang lilinnja lebih rendah lagi.
Dari geredja mereka langsung pulang, menghadapi sarapan perkawinan distudio, jang baru sadja dihiasi oleh Pasha. Tamu-tamu berseru: „Pahit!”, lantas didjawab serempak oleh lain-lainnja dari udjung kamar lainnja: „Bikin manis!”, maka kedua penganten itupun ketawa ketjil malu-malu dan tjium-mentjium4 4Istiadat Rusia pada perkawinan. . Lyudmila menjanji „Taman Anggur” untuk menghormati mereka, dengan ulangan berganda „Tuhan memberkahimu kasih dan kerukunan” serta lagu jang mulai dengan „Lepaskan untaian, uraikan rambut pirang”.
Sesudah semua tamu pulang dan mereka tinggal sendirian, Pasha merasa gelisah dalam kesepian jang tiba-tiba. Lampu bersinar dari seberang djalan, tapi bagaimanapun eratnja ia menutup tirai, namun seladjur tjahaja jang setipis pisau-tjukur menjelinap dalam kamar. Tjahaja ini mengganggu istirahatnja, ia merasa seolah mereka diintai. Dengan terperandjat ia sadar bahwa ia lebih banjak berpikir tentang tjahaja itu dari pada tentang Lara atau dirinja sendiri atau tjintanja kepadanja.
Sepandjang malam itu jang seabad lamanja, Antipov („Stephanie” atau „sigadis tjantik”, menurut sebutannja oleh rekan-rekannja) mentjapai kesenangan setinggi-tingginja dan rasa putus-asa sedalam-dalamnja. Segala ketjurigaan dan terkaannja silih berganti dengan pengakuan-pengakuan Lara. Ia menanjai Lara dan pada tiap djawabannja semangatnja kian turun, seakan ia terdjun kedalam djurang. Chajalannja jang tertusuk itu tak sanggup mengedjar segala uraian Lara.
Mereka bitjara sampai subuh. Dalam seluruh penghidupannja Pasha tak pernah berobah setjara menentukan dan tiba-tiba, seperti selama malam ini. Ia bangkit sebagai orang jang lain dari dulu, hampir heran bahwa ia masih disebut Pasha Antipov.
4
Sembilan hari kemudian teman-teman mereka menjelenggarakan pesta perpisahan untuk mereka, masih dalam kamar jang sama. Baik Pasha maupun Lara telah lulus ujian, kedua-duanja sama utamanja dan kedua-duanja telah ditawari pekerdjaan dikota jang sama didaerah Ural; esok mereka berangkat kesana.
Sekali lagi orang minum-minum, menjanji dan beramai-ramai, tapi kali ini jang hadir hanjalah jang muda-muda.
Dibelakang sekatan jang memisahkan tempat kediaman dari studio ada kopor, terbikin dari ranting-ranting, dan sebuah lagi jang lebih ketjil kepunjaan Lara; ada seperti barang-barang gerabah dan beberapa karung. Begasinja banjak sekali. Sebagian akan dikirim sebagai barang muatan esok harinja.
Hampir semuanja telah terkemas, tapi masih ada lowongan ketjil dalam peti dan kerandjang-kerandjang. Berkali-kali Lara mendapat pikiran untuk membawa sesuatu, lantas dimasukkannja itu dalam salah sebuah kerandjang dengan mengatur kembali lapisan atas, supaja rata.
Pasha ada dirumah dan sudah menghibur tamu-tamu, ketika Lara kembali dari kantor pendaftaran di Perguruan Tinggi; ia kesitu untuk mengambil surat kelahirannja serta dokumen-dokumen lainnja; ia naik diikuti djurukuntji dengan seberkas kain pembungkus dan tambang kokoh-kuat untuk barang-barang jang akan dikirim sebagai barang muatan. Djurukuntji disuruhnja pergi; ia keliling menemui tamu-tamu, berdjabatan tangan dengan beberapa orang serta mentjium lain-lainnja, kemudian masuk kamar untuk ganti pakaian. Waktu ia tampil kembali, orangpun bertepuk-tangan, lalu duduk, maka mulailah keriuhan seperti pada santapan perkawinan beberapa hari jang lampau. Wodka disuguhkan, agar para tetangga lebih terhibur lagi; tangan dan garpu bertemu ditengah medja, tempat terhidang roti, makanan pendahuluan dan makanan rebusan; pidato diadakan dan orangpun menggeretjok sambil menghabiskan isi gelas mereka, bertukaran lelutjon dan mabuk-mabuk.
„Aku letih-lesu”, kata Lara jang duduk disisi suaminja. „Kau berhasil menjelesaikan jang perlu-perlu?”
„Ja”.
„Bagaimanapun djuga, aku merasa senang sekali. Aku bahagia. Kau djuga?”
„Tentu. Tapi itu pandjang tjeritanja”.
Sebagai keketjualian, Komarovsky telah dibolehkan ikut serta dengan pesta pemuda ini. Pada achir perajaan ia mulai mengatakan betapa sedih rasanja nanti, bila kedua teman mudanja itu meninggalkan Moscow — kota akan sematjam gurun, gurun Sahara; tapi ia mendjadi amat sentimentil dan tersedu-sedu, sampai terpaksa mulai dari permulaan lagi.
Pada suami-istri Antipov ia minta izin untuk menjurati dan mengundjungi mereka di Ural, djika ia tak betah menanggung perpisahan.
„Itu tak guna sama sekali”, kata Lara dengan suara lantang lagi tertjenung. „Dan menulis surat, Sahara dan sebagainja itu pada umumnja tak bermakna. Soal berkundjungan tak usah digagas. Berkat Tuhan, kau akan selamat tanpa kami, kami bukanlah orang-orang istimewa. Bukankah begitu, Pasha? — Kalau mudjur, akan kaudjumpai teman-teman muda lainnja”.
Sekonjong-konjong ia lupa apa jang diutjapkannja, lalu pergilah ia keatas, lari kedapur. Disitu ia metjopoti gilingan daging serta mendjedjalkan semua bagiannja kesudut-sudut peti barang gerabah dan menggandjalnja dengan djerami sedjemput-sedjemput.
Waktu berbuat begitu, ia melukai diri dengan tepi peti dan njaris ketusuk.
Karena tekun dalam pekerdjaannja, ia tak mendengarkan lagi suara tamu-tamunja, lupa segala hal mereka, sampai diingatkan akan hadirat mereka oleh gelak-ketawa jang tiba-tiba. Ia mendapat kesan bahwa orang mabuk selalu hendak melakukan peranan orang jang mabuk; makin mabuk, makin keras usahanja, hingga pemeranannja itu makin berlebih-lebihan.
Pada saat itu ada bunji lain jang datang dari pekarangan, menarik perhatiannja. Ia kuakkan tirai, lalu mendjenguk keluar.
Seekor kuda jang pintjang melintasi pekarangan dengan lontjatan-lontjatan pendek serba tempang. Ia tak tahu, kuda siapa itu dan bagaimana ia sampai kesasar dipekarangan. Kota jang sedang tidur itu seperti mati, bermandi hawa subuh dingin jang biru-kelabu. Lara memedjamkan mata, hanjut pada pikiran mendalam serta kesenangan penghidupan didusun, entah bagaimana, berkat bunji langkah kuda jang pintjang tadi, beda dari bunji lainnja.
Bel dipintu mendering; ada orang naik tangga untuk membuka pintu. Lara memedjamkan telinga. Itulah Nadya. Lara lari mendjemputnja. Nadya datang langsung dari kereta-api, segar, mempesona, seolah dibawanja harum bunga bakung dilembah Duplyanka. Dua kawan itu berdiri dengan bungkam sadja karena terharu, hanja sanggup rangkul-merangkul dan menangis sepuas-puasnja.
Nadya mengantarkan pada Lara utjapan selamat serta salam dari seluruh keluarga dan hadiah orang-tuanja. Diambilnja kotak-permata dari tasnja, dibukanja itu dan diulurkannja kalung jang sangat indah.
Nafas orang mengganggap karena senang dan kagum. Seorang tamu jang mabuk, tapi sudah siuman sedikit, berkata :
„Itu permata djingga. Ja, ja, djingga, pertjaja atau tidak. Begitulah. Sama berharganja dengan intan”.
Tapi menurut Nadya batu-batu itu adalah safir jang kuning. Lara mengadjak Nadya duduk disampingnja untuk makan dan minum. Kalung ada disisi piringnja dan ia melihatnja tak henti-henti. Batu-batu itu terletak dalam lekuk-lekuk dibantalan ungu jang melapisi kotaknja, kadang mirip pada embun, kadang serupa dengan sebulir buah anggur ketjil.
Sementara itu beberapa tamu jang telah sadar kembali, telah mulai minum lagi untuk menemani Nadya jang segera dibuat mabuk oleh mereka.
Tak lama kemudian tiap orang dalam flet itu tidur lelap. Kebanjakan mereka akan mengantar Lara dan Pasha esoknja, djadi menginap sadja. Banjak jang sudah ngorok sebelum kedatangan Nadya, dan Lara sendiri kelak tak pernah faham, apa sebabnja ia tidur berpakaian lengkap disofa dekat Ira Lagodina.
Malam hari ia bangun oleh suara-suara dipekarangan; para pemilik kuda telah datang mengambil hewan itu. Waktu membuka mata, berkata ia dalam batin: „Apa pula kerdja Pasha, mengendap-endap ditengah kamar?” Tapi ketika orang jang disangkanja Pasha itu menoleh, nampaklah muka jang menakutkan, bopeng dan ada bekas lukanja dari kening sampai dagu. Ia mengerti bahwa itu pentjuri, ditjobanja berteriak, tapi tak sanggup mengeluarkan suara. Ia ingat kalungnja, maka setelah ia hati-hati menegakkan diri dengan sikutnja, iapun melihat kemedja, dimana kalung itu ditinggalkannja.
Kalung masih disitu antara remah-remah roti dan bungkus-bungkus tjoklat jang kosong; pentjuri dungu itu tak melihatnja. Ia hanja mengorek-ngorek dalam kopor jang ia kemaskan tadi dengan teliti, hingga pekerdjaan Lara dikatjaukannja; hanja itulah jang dapat dipikirkannja saat itu, setengah tidur dan masih mabuk. Ditjobanja lagi berteriak dan dialaminja lagi bahwa ia tak bisa. Achirnja ia menjodok perut Ira dengan lututnja dan ketika Ira mendjerit kesakitan, diapun mendapatkan kembali suaranja. Pentjuri tadi membuang segala-galanja dan lari. Beberapa lelaki melompat hendak menangkapnja, tanpa mengetahui ada apa sebetulnja, tapi waktu mereka tiba keluar, sipentjuri telah lenjap.
Kegaduhan ini membangunkan tiap orang dan Lara tak membolehkan mereka tidur lagi. Ia membuat kopi untuk mereka, lalu menjilakan mereka pulang, sampai tiba waktunja untuk pergi kesetasiun.
Kemudian ia bekerdja; buru-buru ia menjumbat kerandjang-kerandjang dengan sprei dan sarung bantal, menutup begasinja serta mengikatnja dengan tambang, sedangkan pada Pasha dan istri djurukuntji ia hanja minta agar tak mengganggu dia dengan mentjoba membantunja.
Semuanja selesai pada waktunja. Suami-istri Antipov dapat mentjapai kereta-api. Semua berdjalan lantjar, seakan terkipas oleh topi-topi para teman jang dilambaikan dibelakang mereka. Waktu mereka berhenti melambai dan tiga kali menjerukan sesuatu — barangkali „Hure!” — kereta-api menambah ketjepatannja.
5
Hawa sangat buruknja sampai hari ketiga jang tengah berlalu. Waktu itu musim-rontok kedua dari peperangan. Hasil-hasil bagus tahun pertama diikuti kemerosotan-kemerosotan. Tentara Kedelapan Brussilov jang dipusatkan di Carpathia dan sudah siap menuruni lereng-lereng ke Honggaria, malahan mundur, hanjut oleh air-surut pemunduran umum. Kita menarik diri dari Galicia jang kita duduki selama bulan-bulan pertama pertempuran.
Dr Zhivago jang belum lama berselang dikenal sebagai Yura tapi kini makin sering ditegur sebagai Yury Andreyevich, berdiri dalam gang dari seksi gynaekologi rumah-sakit, diluar pintu bagian perempuan, dimana ia baru sadja membawa Tonya, istrinja. Ia telah berpamit dari padanja dan kini sedang menanti untuk bertemu dengan bidan serta mengatur tjaranja untuk memperoleh kabar dan panggilan, bila keadaan mendesak.
Ia perlu buru-buru kembali kehospitalnja sendiri. Ia masih harus memenuhi dua panggilan pasien, tapi disinilah ia malah memboroskan waktu jang berharga dengan memandang nanap dari djendela keair hujan berleret-leret miring jang ditjambuk oleh angin musim — rontok bagaikan ladang gandum dalam badai.
Hari masih belum gelap sekali. Dapat dilihatnja rumah-sakit sebelah belakang, beranda bertutup katja dari rumah-rumah preman dipelataran serta rel-tjabang trem jang menudju kesalah satu blok rumah-sakit.
Hudjan mengutjur tegar lagi muram, tak tambah tjepat atau lambat dilanda angin, maka anginpun agaknja gusar oleh ketidaktjuhan air ini, lalu menggontjang-gontjangkan pohon merajap disalah satu rumah, seakan hendak merenggutnja sampai akar-akarnja, melambungkannja keudara dan mentjampaknja dengan muak bagai kain tjompang-tjamping.
Ada trem dengan dua kereta-gandengan lewat depan beranda kegerbang rumah-sakit. Orang-orang jang kena luka diangkut masuk.
Rumah-rumah-sakit di Moscow terlalu penuh-sesak, apa lagi sehabis petempuran di Lutsk. Orang-orang jang luka diletakkan disegala gang dan bordes. Karena semua tempat sudah didjedjali, orang mulai memakai bagian-bagian perempuan.
Yury berpaling dari djendela, menguap lantaran letih. Tak ada jang perlu dipikirnja. Sekonjong ia ingat peristiwa dirumah-sakit Salib Kudus, tempatnja bekerdja. Sedikit hari berselang ada perempuan meninggal dibagian pembedahan. Diagnosa Yury ialah echinococcus limpa, tapi semua orang menjalahkan dia. Hari ini harus dilakukan pemeriksaan majat, tapi orang intern jang bertugas adalah pemabuk besar dan hanja Tuhanlah jang maklum, apa akan dihasilkannja.
Malam mendadak tiba. Diluar tak kelihatan apa-apa lagi. Seolah akibat sentuhan tongkat mudjizat, disemua djendela muntjullah tjahaja.
Gynaekolog-kepala keluar dari bagian Tonya melalui serambi jang memisahkannja dari gang. Gynaekologi ini seorang raksasa. Bila orang bertanja padanja, ia mendjawab dengan angkat bahu dan putar-putar mata sadja; ini agaknja berarti bahwa betapa mudjupun ilmu-pengetahuan, namun „masih banjak lagi dilangit dan bumi, Haritio…”
Ia lewat didepan Yury dengan senjum dan anggukan, memberi isjarat beberapa kali dengan tangannja jang gemuk, hendak menjatakan bahwa tak ada djalan lain selain kesabaran, lalu meninggalkan gang untuk merokok dikamar-tunggu.
Dibelakangnja datanglah asistennja jang suka omong, kebalikan dari gynaekolog tadi jang pendiam.
„Kalau saja djadi tuan, saja pulang sadja”, tuturnja pada Yury. „Besok saja tilpun tuan di Salib Kudus. Tak bakal terdjadi apa-apa antara kini dan esok. Banjak alasan untuk mengharapkan kelahiran normal, pembedahan tak akan perlu. Tapi rongga pinggangnja memang sempit, kepala baji dalam posisi occipito-posterior, njeri tak ada, pun kontraksinja lemah. Semua ini memberi alasan untuk gelisah. Namun tak bisa lekas ditentukan. Tergantung dari meningkatnja rasa njeri, bila persalinan mulai. Barulah kita tahu apa akan terdjadi”.
Ketika esok harinja Yury menilpun, djurukuntji rumah-sakit jang menerima panggilannja minta ia menunggu selama ditjarinja keterangan; sesudah membiarkan ia menunggu dengan pilu sepuluh menit lamanja, iapun kembali dengan keterangan kabur jang disampaikan setjara kasar: „Mereka bilang, katakan padanja, dia bawa istrinja terlalu pagi, ia mesti mengambilnja pulang”.
Dengan berang Yury mengatakan supaja dipanggil orang jang lebih bertanggung-djawab. Djururawat jang achirnja mendjawab, menuturkan bahwa gedjala-gedjala telah menjesatkan, bahwa dokter tak usah chawatir, tapi mungkin mesti menunggu dua hari lagi.
Pada hari ketiga ia dengar bahwa persalinan telah mulai malam jang lalu, airnja telah keluar waktu fadjar, njerinja hebat dengan selingan pendek-pendek sedjak dinihari.
Ia terbirit-birit kerumah-sakit. Waktu melalui gang menudju pintu jang setjara chilaf dibiarkan separoh terbuka, ia dengar djerit-pekik Tonya jang menjajat hati; ia berteriak seperti korban ketjelakaan jang dengan anggota-anggota-badan jang remuk ditarik dari bawah roda kereta-api.
Ia tak boleh melihatnja. Ia menjatjit djarinja sampai berdarah, lantas melintas kedjendela; hudjan lebat masih berleretan miring seperti kemaren dan kemaren dulu.
Seorang perawat keluar dan didengarnja tangis baji jang baru lahir: „Ia aman, ia aman”, pikir Yury jang pulih gembiranja; ia hampir tak menangkap apa jang dikatakan perawat itu pun bahwa ia disangkutkan olehnja dalam utjapan selamatnja. seolah bahwa ia berperanan dalam apa jang terdjadi. — Apakah sebetulnja hubungannja dengan kedjadian ini? Ajah — anak; tak dilihatnja sesuatu jang patut dibanggakan dalam kedudukannja sebagai ajah jang bukan hasil djerih-pajahnja ini; ia tak dapat merasa apa-apa mengenai hadiah ke-orang-tuaan jang turun padanja dari langit. Semua itu diluar kesadarannja. Jang penting ialah bahwa Tonya, Tonya jang tadi mengalami bahaja maut, kini aman-sentosa.
Ada pasiennja jang tinggal dekat rumah-sakit. Ia pergi mengundjunginja dan balik dalam setengah djam. Pintu serambi maupun pintu seksi terbuka pula sedikit. Tanpa sadar akan perbuatannja, Yury buru-buru masuk keserambi.
Gynaekolog raksasa dengan djubah putihnja muntjul didepannja, seakan timbul dari tanah, serta merintangi djalannja.
„Tuan mau berbuat apa?” bisiknja sengal-sengal, supaja sisakit tak mendengarnja. „Tuan hilang akal? Ada luka-luka, darah, risiko akan sepsis, belum pula kegontjangan batin! Baik benar kelakuan tuan, sedangkan tuan dokter”.
„Bukan maksud saja …Boleh melihat sepintas sadja? Dari sinilah, mengintip dipintu”.
„O, baiklah, itu lain halnja. Silakan, kalau tuan ingin. Tapi djangan sampai kepergok saja …Kapan dia lihat tuan, saja bekuk leher tuan, pembunuhan akan terdjadi”.
Didalam kamar itu dua perempuan berdjubah putih berdiri membelakangi pintu; mereka adalah bidan dan djururawat. Ditapak tangan siperawat terbaring seorang tunas kerdil insani jang menangis-nangis, menggeliat dan meringkuk seperti sepotong karet India merah-tua. Bidan meletakkan balut dipusat, sebelum memotong tembuni. Tonya terbaring atas randjang pembedahan dengan papan jang dapat digerakkan ditengah kamar. Randjang ini agak tinggi. Yury jang dalam gairahnja melebih-lebihkan segala hal, mengira bahwa Tonya terbaring kira-kira pada ketinggian sebuah lesenar, jang didepannja orang menulis sambil berdiri.
Terangkat lebih tinggi, lebih dekat kelangit-langit dari jang biasa dialami machluk fana biasa, Tonya terkapar ngah-ngah dalam mendung kepedihannja jang telah diderita. Bagi Yury ia seperti bahtera sedang mengaso ditengah pelabuhan, sehabis berlabuh dan lagi dibongkar, bahtera jang terombang-ambing antara negeri tak dikenal dan benua kehidupan diseberang lautan maut, dimuati djiwa-djiwa jang baru mengungsi. Satu djiwa baru sadja mendarat dan bahteranja kini bersauh, istirahat dengan lambang ringan karena kosong. Bahtera itu seluruhnja mengaso,
tiang-tiangnja jang diudji berat serta badannja dan kenangannja jang tertjutji bersih dari bajangan pantai lainnja, dari penjeberangan serta berlabuhnja.
Dan lantaran tak ada jang pernah menjelidiki negeri jang dia kibarkan benderanja, tak ada pula jang kenal bahasanja untuk bitjara dengannja.
Tiap orang dirumah-sakitnja mengutjapkan selamat padanja. Heranlah ia menjaksikan, betapa tjepat kabar itu beredar.
Ia masuk kamar pegawai jang terkenal dengan nama Pelimbahan. Karena rumah-sakit kekurangan ruangan, kamar itu dipakai sebagai kamar-pakaian; orang masuk dari luar membawa sepatu-saldju, mereka lupakan bingkisan mereka dan mengotori lantai dengan kertas dan puntung rokok.
Seorang intern jang tua lagi lemah berdiri dekat djendela, menating botol berisi tjairan hitam didepan tjahaja dan memeriksanja dari atas katjamatannja.
„Selamat”, udjarnja, tanpa menoleh.
„Trima-kasih. Tuan baik-hati”.
„Djangan bertrima-kasih pada saja. Saja tak sangkut-paut. Pichuzkin jang memeriksa majat. Tapi tiap orang takdjub — ternjata memang echinococcus. Ahli diagnosa benar, kata mereka semua. Tiap orang membitjarakan itu”.
Saat itu masuklah dokter-kepala, ia menjalam dan berkata:
„Persetan, tempat ini diapakan sadja? Kotornja bukan main! Hai, Zhivago, memang benar echinococcus; tjoba pikir, kami keliru. Selamatlah. Ada satu hal lagi. Mendjemukan. Orang mengontrol lagi kelasmu. Kali ini saja tak dapat mentjegah mereka. Kurangnja personil medis ini mengchawatirkan. Tak lama lagi akan kamu tjium bau mesiu”.
6
Suami-istri Antipov lekas bermukim di Yuryatin. Keluarga Guishar dikenangkan dengan penuh kesajangan dan hal ini telah membantu Lara mengatasi kesukaran untuk menjusun rumah-tangga ditempat jang baru. Kini mereka sudah empat tahun disitu.
Lara serba repot dan banjak pula jang perlu dipikirnja. Ia harus mendjaga rumah maupun Katya, anaknja perempuan jang kini berumur tiga tahun — Marfutka, budjang berambut merah, bekerdja keras, namun tak sanggup menjelesaikan semua pekerdjaan. — Ketjuali itu Lara ikut memperhatikan segala kepentingan Pasha, pun mengadjar disekolah menengah putri. Ia bekerdja terus-menerus dan merasa bahagia. Inilah djustru penghidupan jang diimpi-impikannja.
Ia suka Yuryatin. Ia lahir disitu. Letaknja disalah satu djalan kereta-api ke Ural dan dipinggir sungai besar Rynva; orang dapat berlajar disungai ini, ketjuali dibagian-bagian udiknja.
Suatu pertanda bahwa musim-dingin di Yuryatin mendekat ialah bahwa orang mengambil perahunja dari sungai, memuatkannja diatas pedati, membawanja kekota dan menjimpannja dipekarangan sebelah belakang. Disitu perahu itu menggeletak dibawah langit, menunggu musim-semi. Di Yuryatin, adanja perahu-perahu dengan dasar berwarna muda jang terbalik diketeduhan pekarangan itu sama artinja dengan pengungsian burung-burung bangau ataupun saldju pertama ditempat-tempat lain. Dipekarangan rumah jang disewa keluarga Antipov ada pula perahu demikian.
Katya main-main dibawah lindungan badan perahu jang putih itu seperti dalam rumah peranginan.
Lara suka pada adat kedaerahan di Yuryatin, pada huruf hidup jang pandjang menurut logat Utara serta kaum terpeladjarnja jang naif dan mudah pertjaja itu dengan sepatu vilt dan djas flanel abu-abu tak berlengan. Ia tertarik pada tanah serta manusia jang sederhana.
Tak tersangka bahwa Pasha, anak buruh kereta-api di Moscow, malahan ternjata seorang metropolit jang tak dapat berobah. Ia menilaikan penduduk Yuryatin djauh lebih rendah dari Lara. Ia tak suka pada mereka jang dianggapnja orang-orang biadab lagi dungu; mereka membikinnja gugup.
Sekarang ternjata ia punja bakat jang aneh, jakni dapat membatja dengan tjepat serta mengingat segala keterangan jang dipungutnja. Diwaktu lampau ia sangat banjak membatja, antara lain karena Lara. Dalam chalwatnja dipropinsi ini ia begitu sering membatja, hingga Lara sekalipun kini baginja bukan lagi orang jang tahu banjak. Mengenai lingkungan guru, teman-teman sekerdjanja itu, ia mendjulang tinggi atas mereka dan iapun mengeluh, sebab merasa kurang bebas bernafas. Kini dalam masa perang ini patriotisme mereka jang baku dan teradat tiada selaras dengan perasaannja jang lebih rumit itu terhadap negerinja.
Pasha telah berpromosi dalam kesusastraan klasik dan kini ia mengadjar bahasa Latin serta sedjarah Purba. Tapi sedjak disekolah menengah dulu ia mengandung hasrat jang hampir dilupakan terhadap ilmu exak, ilmu-alam dan ilmu-hitung, maka sekarang hasrat ini hidup kembali. Dengan beladjar sendiri dirumah ia mentjapai tingkat universitas dalam mata-mata peladjaran itu dan ia bertjita-tjita hendak mengedjar gelar dengan beralih pada salah satu tjabang ilmu serta pindah bersama keluarganja ke Petersburg. Studinja sampai djauh malam merongrong kesehatannja, hingga ia kena penjakit insomnia.
Hubungannja dengan istrinja adalah baik, namun tak begitu mudah. Sifat Lara jang berbudi serta suka repot tentangnja itu menekan kepadanja, tapi ia tak hendak mengeritik, chawatir kalau-kalau ada utjapannja jang tak berarti dianggapnja ketjaman — barangkali sindiran bahwa darah Lara lebih berbangsa dari darahnja, atau bahwa Lara pernah berpajtjaran dengan orang lain. Takutlah ia akan dituduh olehnja bahwa ia berpikir jang bukan-bukan dan menggelikan tentangnja, maka hal inilah menghalangi mereka untuk bertindak sewadjarnja. Masing-masing selalu berusaha untuk lebih bermurah-hati daripada jang lain, hingga segalanja mendjadi lebih rumit.
Malam ini akan ada tamu-tamu — guru-kepala sekolahan Lara, beberapa rekan Pasha, seorang anggota mahkamah-djuri dimana Pasha djuga pernah bekerdja serta satu-dua orang lagi; semuanja badut-badut besar menurut pendapat Pasha. Ia heran bahwa Lara sanggup beramah-tamah dengan mereka dan tak pertjaja ada seorangpun antara mereka jang disukai Lara.
Sesudah mereka pergi, Lara lama membenahi kamar dan memasukkan hawa, mentjutji piring didapur bersama Marfutka. Kemudian ia menengok apakah Katya sudah beres diselimuti dan sudah tidur, lalu tjepat ia menanggalkan pakaian, memadamkan lampu dan rebah disisi suaminja, biasa seperti seorang anak naik randjang bersama ibunja.
Tapi Pasha tidak tidur, ia hanja pura-pura begitu. Ia tak mampu tidur, itu sering terdjadi belakangan ini. Karena tahu bahwa ia akan berbaring dan bangun sadja berdjam-djam, iapun bangkit diam-diam, mengenakan djas-bulunja dan pitji diatas pakaian-tidurnja, lantas keluar.
Malam djernih, bersaldju beku. Es jang berkeping-keping ketjil, hantjur berkerisik djadi serbuk dibawah kakinja. Langit jang bersuar karena bintang-bintang, memantjarkan sinar biru putjat seperti njala spiritus diatas bumi hitam dengan lumpur beku berpungkah-pungkah.
Keluarga Antipov tinggal diudjung lain kota, kalau ditindjau dari pelabuhan-sungai. Rumahnja adalah jang terachir didjalanan; diseberangnja ada padang jang dilintasi rel dengan djalan-silangnja dan pondok-sinjal.
Pasha duduk atas perahu jang terbalik itu dan melihat kebintang-bintang. Segenap pikiran jang bertahun-tahun mendjadi biasa baginja, berkerumun serta mengganggunja. Terasa olehnja, semua itu harus selesai dipikirkan pada waktunja, djadi mungkin djuga sekarang ini.
Tak boleh begini terus, gagasnja. Lama sebelum kawin, ia mestinja sudah menjadarkan diri akan hal ini. Mengapa Lara membiarkan dia sewaktu ketjilnja untuk memandang padanja sepuas-puasnja? Ketika itupun Lara sudah mampu menjuruhnja berbuat apa sadja sekehendaknja. Mengapa ia tak pernah punja kesadaran untuk menghentikan hal itu pada waktunja, ketika Lara sendiri mendesak? Belum djelaskah bahwa jang ditjintainja bukanlah dia, melainkan tugas jang diwajibkannja sendiri dan dilakukannja dengan kemurahan hatinja ini? Jang ditjintainja ialah gandaan heroismenja sendiri. Tapi apa hubungan panggilan sutji ini, sungguhpun berdjasa atau luhur, dengan kehidupan keluarga jang sebenar-benarnja? Jang paling tjilaka dalam hal itu ialah bahwa ia tjinta padanja tetap seperti dulu. Lara luar-biasa manisnja. Namun — jakinkah ia akan tjintanja sendiri? Ataukah itu rasa hutang-budi jang hilang-akal menghadapi ketjantikan serta murah-hatinja? Siapa sanggup menemukan jang benar?
Djadi apa akan dibuatnja? Melepaskan istri dan anaknja dari hidup munafik ini? — Ini bahkan lebih penting dari membebaskan diri. Ja, tapi bagaimana? Tjerai? Tenggelam? „Sampah kedji!” ketjamnja geram. „Jang sematjam itu takkan kubuat! Djadi tak guna latihan melodrama ini, sekalipun hanja dibajangkan!”
Ia tengadah kebintang-bintang, seakan minta nasehat mereka. Bintang-bintang itu berkedip terus, ketjil-besar, satu-satu atau sekelompok, ada jang biru, ada jang berwarna pelangi. Sekonjong-konjong mereka terhapus dan rumah, pekarangan serta Pasha jang duduk diperahu itu disoroti tjahaja deras dan denjar, hingga nampak djelas, seolah ada orang lari dari padang kegerbang, melambaikan suluh terbuka. Kereta-api tentara jang menjembulkan asap berkepul-kepul kelangit kuning diselingi api, melewati silangan-djalan untuk pergi ke Barat, seperti lain-lainnja, tak terbilang banjaknja, jang telah lewat siang-malam selama tahun jang lalu.
Pasha bersenjum, naik tangga dan tidur. Ia telah menemukan djawaban.
7
Mendengar putusan Pasha, Lara tertjenung dan mula-mula tak pertjaja pada kupingnja sendiri. „Gila”, pikirnja, „ia hilang akal. Asal tak kuperhatikan, ia akan lupa”.
Namun ternjata ia telah bersiap-siap selama dua minggu terachir. Ia mengirim surat-surat keterangan pada perwira jang ditugasi pendaftaran, penggantinja disekolah-menengah sudah ada, lagi pula ia telah menerima perintah supaja berangkat kesekolah latihan militer di Omsk.
Lara melolong bagai istri petani, menggapai tangan Pasha dan terguling-guling didepan kakinja. „Pasha, Pasha sajang”, pekiknja, „djangan tinggalkan kami. Djangan begitu, djangan. Belum lagi terlambat, kuurus semuanja. Kau belum pula menempuh udjian ilmu kedokteran dan lagi, hatimu itu …Kau malu berobah pikiran? Tapi tak malu mengorbankan keluargamu untuk gagasan jang gila? Kau tak pantas djadi tentara sukarela! Seumur hidupmu kauketawai Rodya, tapi sekarang kau iri-hati. Kaupun akan membanggakan diri berpakaian seragam, akan ikut main-main pedang. Pasha, mengapa kau? Kau kehilangan pribadimu, lain dari biasanja. Apa sebab kau berobah? Katakan dengan djudjur, demi Kristus, tanpa utjapan muluk-muluk, betulkah ini jang dibutuhkan Rusia?”
Tiba-tiba sadarlah ia bahwa sama sekali bukan itulah soalnja.
Meskipun ia tak mengerti seluruhnja, namun jang terpenting dapat dirabanja. Pasha salah faham tentang sikap Lara terhadapnja. Ditentangnja perasaan keibuan jang selama hidupnja merupakan sebagian dari kasih-sajangnja kepadanja; ia tak mengerti bahwa tjinta demikian adalah lebih, bukannja kurang dari perasaan biasa dari wanita terhadap lelaki.
Lara menggigit bibir dan dengan meringuk, seolah ia ditjambuk dan menelan air-matanja, mulailah ia mengemaskan barang-barang Pasha.
Sesudah suaminja berangkat, seluruh kota seolah sunji, bahkan seolah djumlah gagak jang beterbangan dilangit itu berkurang. „Njonja, njonja”, Marfutka hendak menenangkan kembali. „Ibu, ibu”, Katya menarik-narik lengannja. — Dia telah mengalami kekalahannja jang terbesar selama hidupnja. Harapannja jang paling baik dan tjemerlang telah runtuh.
Surat-surat Pasha dari Siberia mengisahkan segenap perasaannja. Ia melihat segalanja lebih terang. Ia amat rindu pada istri dan anaknja.
Namun beberapa bulan kemudian ia mendapat pengangkatan darurat sebagai tanda penghargaan dan setjara tiba-tiba pula ia dikirim untuk tugas aktif. Perdjalanannja tak mendekati Yuryatin, sedangkan di Moscow ia tak punja waktu untuk mengundjungi siapa-siapa.
Ketika ia menulis dari medan-perang, bunji suratnja tak begitu murung. Ia hendak berbuat jang istimewa, hingga sebagai hadiahnja atau sebagai akibat luka enteng ia mungkin boleh tjuti dan pulang untuk menengok keluarganja. Ia lekas mendapat kesempatan. Pasukan-pasukan Brussilov menerobos dan menjerang. Surat-surat Pasha tak datang lagi. Lara mula-mula tak chawatir. Disangkanja Pasha bungkam itu karena operasi-operasi militer, ia tak sempat menulis, bila resimennja bergerak. Tapi dimusim-rontok kemadjuan kian lambat, pasukan-pasukan menunggu dalam parit-parit, namun masih sadja belum ada kabar dari padanja. Ia mulai gelisah dan mentjari keterangan, pertama-tama ditempatnja sendiri di Yuryatin, lalu melalui pos di Moscow, kemudian kealamatnja jang lama dimedan-perang. Djawaban tak ada, agaknya tak seorangpun mengetahui apa-apa.
Bersama wanita-wanita lainnja setempat, Lara telah membantu dibagian militer jang digabungkan pada rumah-sakit kota. Kini ia berlatih sungguh-sungguh dalam kwalitetnja sebagai djururawat, memperoleh izin meninggalkan sekolahnja untuk enam bulan; kemudian dengan memasrahkan rumahnja pada pengawasan Marfutka, dibawanja Katya ke Moscow. Ditinggalkannja anaknja pada Lipa jang hidup sendirian, sebab suaminja Friesendank adalah warga-negara Djerman, hingga diinternir bersama warga-warga musuh lainnja di Ufa.
Karena jakin bahwa tjara-tjara lain untuk mentjoba mendapat kabar Pasha tiada guna, Lara telah memutuskan untuk pergi mentjarinja. Dengan maksud inilah ia beroleh pekerdjaan sebagai perawat dalam kereta-api klinik jang menudju ketapal-batas Honggaria, melalui kota Liski, alamat terachir jang oleh Pasha diberikan padanja.
8
Kereta-api Palang Merah, diperlengkapi dengan sumbangan-sumbangan sukarela jang dikumpulkan oleh Panitia Tatyana Penolong Orang Luka-luka5 5Panitia jang diketuai oleh Tatyana, isteri Tumenggung Besar, putri Tsar. tiba di Markas Besar Divisi. Kereta-api ini pandjang, sebagian besar tersusun dari gerbong-gerbong-barang jang buruk lagi pendek; dalam dresi kelas satu jang satu-satunja duduk orang-orang terkemuka dari Moscow dengan hadiah-hadiah untuk tentara. Antara mereka adalah Gordon. Ia tahu bahwa teman semasa ketjilnja Zhivago ditugaskan dirumah-sakit Divisi; mendengar bahwa rumah-sakit itu disebuah dusun jang dekat, iapun minta izin jang perlu untuk berdjalan didaerah tepat dibelakang medan-perang, lalu ia membontjeng kereta jang menudju kedusun itu.
Sopirnja adalah orang Beylo-Rusia atau Lithuania jang bahasa Rusianja buruk. Kechawatiran orang jang berlebih-lebihan terhadap mata-mata waktu itu membatasi pertjakapannja pada omongan resmi jang tak segar; ketjewa oleh ketaatannja jang menondjolkan diri itu, Gordon berdiam diri sadja selama bagian terbesar perdjalanannja.
Di Markas Besar orang sudah biasa dengan tentara jang bergerak serta mengukur djarak dengan kesatuan seratus mil, maka didapatnja keterangan bahwa dusun itu sangat dekat — paling djauh limabelas mil, tapi sebenarnja djaraknja lebih mirip pada limapuluh mil.
Disepandjang djalannja terdengar desah-desau geram dari kaki-langit sebelah kiri. Gordon belum pernah mengalami gempabumi, namun dengan tepat diterkanja bahwa bunji gerantang dari artilleri musuh dari djauh jang njaris tak terdengar itu mirip benar pada gontjangan dan deru-deram, akibat gunung berapi. Mendjelang magrib, njala djingga berdenjar diatas kaki-langit disebelah itu dan terus berkedip-kedip sampai fadjar.
Mereka lewat dusun-dusun jang hantjur. Ada jang dikosongkan, ada jang penduduknja hidup dalam kolong-kolong djauh dibawah tanah. Banjak tumpukan debu dan reruntuh berdjedjer-djedjer, seperti dulu rumah-rumah. Seluruh tempat tinggal jang terbakar demikian itu dapat terlihat sekedjap mata, sedjenis bumi jang tandus-kering. Para perempuan tua mengorek-ngorek dalam abu, masing-masing diatas reruntuhan rumahnja sendiri, sekali-sekali menggali sesuatu dan menjimpannja; agaknya merasa terlindung dari mata orang asing, seakan dinding-dinding masih berdiri disekitar mereka. Mereka menengadah ke Gordon dan memandangnja dari belakang, waktu ia lewat, seolah menanjakan padanja, kapan lagi dunia pulih otak-sehatnja, kapan perdamaian dan tata-tertib dikembalikan dalam kehidupan mereka.
Setelah gelap, kereta ditahan patruli, disuruh meninggalkan djalan raja. Sopir itu tak kenal trajek kereta jang baru. Mereka putar-putar sadja berdjam-djam, tanpa sampai kemana-mana. Waktu fadjar tibalah mereka kedusun jang namanja seperti jang ditjari itu, namun tak ada jang tahu-menahu tentang rumah-sakit. Ternjata ada dua dusun dengan nama jang sama. Achirnja pada pagi hari terdjumpalah dusun jang dimaksudkan. Tatkala mereka lewat didjalan desa jang berbau bunga dan jodoform. Gordon mengambil putusan tak hendak menginap, tapi mengawani Zhivago siang hari, lantas balik sore itu kesetasiun kereta-api, tempat ia tinggalkan kawan-kawannja. Namun keadaan menahannja disini lebih seminggu.
9
Garis depan sudah mulai bergerak. Sebelah Selatan dari distrik jang didatangi Gordon, pasukan-pasukan kita berhasil menerobosi posisi-posisi musuh. Balabantuan menjusul serta melebarkan bobolan, tapi mereka ketinggalan, hingga kesatuan-kesatuan jang madju tadi terpentjil dan ditangkap. Antara tawanan itu adalah Letnan Antipov jang terpaksa melaporkan diri, tatkala peletonnja menjerah.
Ia disangka mati kena granat dan teruruk oleh ledakannja. Ini ditjeritakan atas djaminan kawannja, Ensign Galiullin jang menindjau dengan teropong dari pos pengamatan, ketika Antipov memimpin serangan.
Jang dilihat Galiullin adalah pemandangan biasa atas kesatuan jang sedang menjerang. Orang madju tjepat, hampir berlari, melintasi daerah tak bertuan, padang musim-rontok dengan semak-semak kering dan …, runtjing tak bergerak. Tudjuannja ialah menghalau tentara Austria dari parit-paritnja, lalu menubruk mereka dengan sangkur ataupun memusnahkan mereka dengan granat-tangan. Bagi jang lari itu padang seolah tak berudjung. Tanah dibawah kaki bergeser-geser bagai rawa. Pembawa pandji-pandji pada mulanja lari didepan, kemudian disamping mereka, sambil melambaikan pistol diatas kepala, mulutnja merekah dari kuping kekuping oleh pekik-pekiknja jang tak terdengar olehnja sendiri maupun oleh pasukannja. Sekali tempo mereka merebahkan diri ketanah, bangkit serentak, lantas lari berseru-seru. Tiap kali ada satu-dua orang kena tembak, djatuh bersama lainnja, tapi tjaranja lain-lain; ia tergolek bagai pohon dihutan jang ditebang dan tiada bangkit kembali.
„Tembakan mereka melewati sasaran, panggil baterai”, kata Galiullin dengan chawatir kepada perwira artileri jang berdiri disisinja. — „Tidak, tunggu, sudah beres”.
Para penjerang hampir bertemu dengan musuh, ketika artileri berhenti menembak. Dalam kesunjian mendadak itu para penindjau mendengar deburan hati sendiri, seolah mereka tak ubahnja dengan Antipov, telah membawa anak-buah kepinggir parit musuh dan dalam sedikit menit berikutnja diharapkan akan menundjukkan ketjakapan dan keberanian jang mengagumkan. Waktu itu mereka lihat dua bom enambelas intji Djerman meledak didepan kaum penjerang. Jang terdjadi berikutnja ditutupi kepulan hitam dari debu dan asap. „Ja Allah! Habis. Mereka binasa”, bisik Galiullin dengan bibir putjat; ia menduga, pembawa pandji-pandji serta anak-buahnja telah gugur. Granat lain turun kepos pengamatan. Dengan melentik-lentik, para penindjau itu bergegas kedjarak jang lebih aman.
Galiullin dan Antipov tadinja menempati lobang perlindungan jang sama. Karena orang jakin bahwa Antipov meninggal, kawannja diminta mengurus dan menjimpan barang-barangnja untuk sidjanda jang fotonja banjak terdapat antara benda-benda lain.
Galiullin, seorang ahli mesin, barusan mendapat promosi. Dialah anak Gimazetdin, djurukuntji dikompleks gedung flet Tiverzin, jaitu Yusupka jang sebagai magang dalam masa djauh lampau dipukuli oleh Khudoleyev, dan berkat orang jang dulu menjiksanja itulah ia kini mendapatkan promosinja.
Setelah pengangkatannja itu, bertentangan dengan kemauannja sendiri dan entah apa sebabnja, ia diserahi pekerdjaan enteng sebagai komandan tangsi dalam kota ketjil dibarisan belakang. Dalam tangsi ini terhimpun orang-orang setengah-tjatjat; para instruktur jang setua mereka, tiap pagi membawa mereka kelatihan jang sudah dilupakan oleh kedua fihak. Ia harus mengawasi latihan serta pergantian pengawal didepan gudang adjudan. Selain itu tak diharapkan apa-apa dari padanja. Ia ongkang-ongkang sadja, ketika antara orang-orang panggilan baru jang dikirim dari Moscow dan ditempatkan dibawah perintahnja itu muntjul tokoh Pyotr Khudoleyev jang sangat dikenalinja.
„Nah, kawan lama”, seringai Galiullin dengan masam.
„Ja, tuan”, kata Khudoleyev jang bangkit dengan patuh dan memberi salut.
Hal ini mustahil berachir begitu sadja. Pertama kalinja orang preman itu nampak membikin kesalahan dalam latihan, letnan itupun membentaknja dan ketika ia mendapat kesan bahwa orangnja tak memandangnja langsung kemata, tapi agak kesamping, dihantamnja ia pada rahangnja, lalu menahannja untuk dua hari dengan roti dan air dalam kamar tutupan.
Sedjak itu tiap gerak-gerik Galiullin berbau dendam. Namun pembalasan begini jang berlandasan pada kedudukan masing-masing dan pada segala peraturan jang diperkeras dengan tingkat itu terlalu kurang sportif, merendahkan budi. Apa akal? Mereka berdua tak boleh ditempat jang sama. Tapi alasan apa dapat dipakai seorang perwira untuk memindahkan orang preman dari kesatuannja, dan kalau bukan oleh sebab disiplin, kemanakah ia dapat memindahkannja? Dipandang dari sudut lain, dalih-dalih apa dapat dikemukakan Galiullin untuk minta kepindahannja sendiri? Dengan alasan bahwa tugasnja dianggap menjemukan dan tak berfaedah, diadjukannja permohonan supaja dikirim kemedan-perang. Dengan begitu ia mendapat penghargaan dan ketika dalam pertempuran pertama ia menundjukkan tjiri-tjiri lain jang baik, njatalah bahwa ia lajak sebagai perwira jang gilang-gemilang, maka ia tjepat naik mendjadi letnan.
Galiullin kenal Antipov dari masa kaum Tiverzin, waktu Pasha Antipov tinggal enam bulan lamanja dirumah mereka tahun 1905 dan ketika Yusupka datang main-main dengannja pada hari-hari Minggu. Disitupun ia ketemu Lara satu-dua kali. Sedjak itu ia tak dengar apa-apa dari mereka berdua. Tatkala Antipov tiba dari Yuryatin serta masuk resimen, Galiullin terkedjut oleh perobahan pada sahabat lamanja jang dikenalinja dulu sebagai anak pemalu, nakal dan keperempuan-perempuanan, tapi kini telah berobah mendjadi seorang terpeladjar jang angkuh lagi murung. Ia tjerdas, sangat berani, pendiam dan sarkastis. Kadang-kadang bila Galiullin menangkap ungkapan murung dimatanja, ia akan berani sumpah bahwa dilihatnja disitu, hampir seperti mendjenguk dari djendela, suatu hal jang lain, boleh djadi suatu gagasan jang merasukinja, barangkali djuga rasa rindu pada anak atau istrinja. Baginja Antipov seolah orang lain jang mengganti Antipov jang dulu, hasil penenungan seperti dalam dongeng. Sekarang Antipov lenjap, dan tinggallah Galiullin dengan segala dokumen serta fotonja, ditangannja adalah rahasia perobahannja jang tak terungkai.
Terdjadilah apa jang harus terdjadi esok atau lusa: penjelidikan Lara tentang suaminja sampai pada Galiullin. Ia bermaksud hendak kirim surat padanja, tapi ia sibuk, ia tak punja waktu untuk menulis dengan saksama, pun ia ingin menjijapkannja menghadapi hal jang mengedjutkan itu. Terus ia menunda-nunda, sampai didengarnja bahwa Lara sendiri ada disuatu tempat dimedan-perang sebagai djururawat, tapi waktu itu ia tak tahu kemana mengalamatkan suratnja padanja.
10
„Ada kudakah hari ini?” tanja Gordon pada tiap kali Dr Zhivago pulang untuk makan tengah hari. Mereka tinggal dalam teratak petani di Galicia.
„Djangan harap. Lagi pula, kau mau kemana? Tak dapat bergerak kekanan atau kiri. Ada desas-desus jang katjau dan menakutkan, tak seorang jang mengerti. Di Selatan telah kita lewati lambung tentara Djerman dibeberapa tempat dan menjusup ketempat-tempat lainnja dan konon ada beberapa kesatuan kita jang terlalu radjin telah ditawan. Di Utara, tentara Djerman telah menjeberangi sungai Sventa pada tempat jang semula dianggap tak dapat dilalui: itulah kavaleri mereka, kekuatannja satu pasukan. Mereka meledakkan rel-rel, menghantjurkan gudang-gudang persediaan dan kuduga mereka sedang mengepung kita. Begitulah gambarannja, djangan sebut-sebut soal kuda”. — „Ajo, Karpenko”, tegurnja pada kurirnja, „lekas siapkan medja-makan. Apa hidangannja siang ini? Kaki kambing? Bagus”.
Barisan pengobatan dengan rumah-sakitnja beserta gedung-gedung pelengkapnja tersebar diseluruh dusun jang setjara adjaib masih tinggal utuh. Rumah-rumah mengkilap dengan djendela berkisi-kisi menurut gaja Barat jang terbentang dari tembok ketembok, namun tak sekeping gentengpun jang rusak.
Achirnja musim-rontok jang panas dan keemasan telah mendjelma djadi „musim-panas Indian”. Waktu siang para dokter dan perwira membuka djendela, memukul lalat-lalat jang merajap dalam bondongan hitam disepandjang daun djendela serta langit-langit jang rendah, membuka badju dan mantel jang basah-kujup oleh keringat, lantas mengesip sop kubis jang sangat panas, ataupun teh.
Malam hari mereka duduk main kartu didepan tungku terbuka, meniup kebalok-balok basah dengan mata pedih kena asap dan memaki-maki para kurir karena tak pandai membikin api.
Malam sunji. Gordon dan Zhivago berbaring atas dua bangku-tidur berhadap-hadapan. Antara mereka ada medja-makan serta djendela rendah jang mendjulur sepandjang dinding. Katja djendela berkeringat; kamar panas dan penuh asap tembakau. Mereka telah membuka terali dikedua udjung, agar menghirup sekedar malam segar musim-rontok. Seperti biasanja mereka bertjakap-tjakap dan seperti biasanja kaki-langit didjurusan medan-perang berkelip-kelip dengan tjahaja djingga. Rentetan bedil jang tak putus-putus itu sekali tempo diselingi dentuman berat jang menggojahkan tanah, seakan ada kopor berat berlapis badja sedang diseret dilantai, hingga tjatnja terkikis. Zhivago berdiam diri sebab kagum. „Itu si Bertha, meriam Djerman enambelas intji. Pelurunja sebesar botjah ketjil, jang beratnja enampuluh pud”.6 6Satu pud sama dengan 36 pon. Ketika mereka mulai omong-omong lagi lupalah ia apa jang sudah dibitjarakan.
„Apakah bau jang meliputi seluruh dusun ini?” tanja Gordon. „Sudah kutjium, waktu aku datang. Bau ini mendjidjikkan, manis dan memualkan, seperti bau tikus”.
„Aku tahu jang kaumaksudkan. Itu gandja — banjak sekali ditanam disini. Tumbuhannja sendiri berbau bangkai jang menjesakkan dan melengket kehidung. Lagi pula didaerah pertempuran seringlah majat terhampar dipadang gandja, tak terkubur sampai mulai membusuk. Tentu sadja bau bangkai ada dimana-mana. Tak dapat tidak. — Kau dengar? Itu Bertha lagi”.
Dihari-hari belakangan ini mereka telah bertjakap-tjakap tentang segala sesuatu dibumi. Gordon mendengarkan gagasan kawannja tentang perang dan semangat zaman. Zhivago mengatakan, betapa sulitnja baginja untuk menerima logika tak berbelas-kasih tentang saling membinasakan, untuk membiasakan diri melihat orang luka-luka, istimewa kekedjaman luka-luka tertentu jang terdjadi sekarang ini serta mengenangkan mereka jang belum mati, tapi oleh teknik pertempuran modern digubah mendjadi bungkahan daging jang tersiksa.
Sedjak ia berhari-hari ikut dengannja, Gordonpun menjaksikan jang serba mengerikan. Ia sadar betapa tak berachlak rasanja, kalau melihat sadja tanpa berbuat apa-apa, pada hal orang lain menderita dengan berani; kalau menjaksikan usahanja jang luar-biasa untuk mengatasi takutnja terhadap maut; kalau nampak risiko jang diambilnja serta pengorbanan jang diberinja. Tapi iapun tak berpendapat bahwa orang menundjukkan budi jang lebih tinggi dengan menangis melulu tentang mereka. Ia lebih suka bertindak bersahadja dan djudjur, menurut keadaan jang ditemuinja dalam penghidupan.
Bahwa orang mungkin pingsan melihat luka-luka, ia ketahui dari pengalamannja sendiri, setelah mereka kundjungi pos pertolongan-pertama jang dipegang oleh kesatuan gerak-tjepat Palang Merah, tepat dibelakang garis-depan.
Mereka tiba ketempat terbuka dalam hutan jang rusak-redam oleh tembakan artileri. Kereta meriam pejot-pejot tergelimpang dalam belukar jang patah-patah dan terindjak-indjak. Seekor kuda terikat kesebatang pohon. Dekat didalam hutan ada rumah jang didirikan untuk pos pertolongan-pertama dan dua kemah abu-abu telah terpantjang diseberang djalan jang menudju kearahnja.
„Mestinja tak boleh kubawa kau”, kata Zhivago. „Parit-parit ada satu-dua mil dari sini, sedangkan baterai kitapun diseberang sana, dibelakang hutan. Dapat kaudengar apa jang sedang terdjadi. Djadi djanganlah main pahlawan. Tak akan kupertjaja, djika kau berbuat begitu. Kau harus takut sekali, mau-tak-mau. Tiap saat keadaan bisa berobah dan mereka mulai menggranat kita”.
Para pradjurit muda jang letih dengan sepatu but besar, dengan badju kotor jang hitam kena peluh didada dan ditulang-belikat, berbaring terpentjar-pentjar telentang atau menelungkup, dipinggir djalan. Inilah jang tinggal dari sebuah detasemen jang ditarik dari garis-depan, sehabis bertempur berat selama empat hari dan akan dikirim kebelakang guna mengaso sebentar. Mereka berbaring seperti terbuat dari batu, tanpa tenaga untuk senjum atau maki-maki dan tak ada jang menoleh, ketika beberapa kereta datang tjepat berderak-derak didjalanan. Itulah kereta-kereta mesiu jang tak berpegas; waktu berdjalan agak kentjang kepos pertolongan-pertama, orang-orang luka jang dimuat kesitu tergontjang-gontjang, segala tulang mereka terbentur-bentur dan usus terpilin-pilin. Dipos itu orang-orang jang luka ini akan buru-buru dibalut dan jang paling buruk keadaannja akan dirawat. Dalam djumlah jang mengagetkan, mereka sedjam jang lalu dipungut dimedan pertempuran depan parit-parit, ketika artileri berhenti menembak sedjurus. Ada separoh jang pingsan.
Kereta-kereta berhenti dimuka beranda kantor, kurir-kurir turun tangga dengan tandu-tandu untuk mengambil mereka. Seorang djururawat wanita menjingkapkan kain penutup salah satu kemah dan berdiri mengamat-amati; ia sedang tak bertugas. Dua lelaki jang tadinja berbantah-bantahan dengan lantang dalam hutan dibelakang perkemahan — suara mereka bergema ditjelah-tjelah pepohonan muda jang tinggi, tapi pertjakapan tak dapat diikuti — kini keluar dan berdjalan didjalanan kearah kantor. Seorang dari mereka adalah letnan muda jang dengan rusuhnja berseru-seru kepada jang lain, jakni perwira Palang Merah dari kesatuan gerak-tjepat; ditempat terbuka dalam hutan tadinja ada pos meriam dan ia ingin tahu kemana perginja pos itu. Dokter tak tahu-menahu, itu bukan urusannja; ia minta padanja supaja djangan berteriak-teriak dan meninggalkan dia sadja — ia sibuk, orang-orang luka telah sampai; namun siperwira terus maki-maki Palang Merah, para penembak meriam dan seluruh dunia. Zhivago menghampiri dokter itu; mereka menjalam, lalu masuk kantor. Letnan jang masih lantjang menjumpah-njumpah dengan sedikit logat Tartar itu melepaskan tali kudanja, melompat kepelana dan lari didjalanan masuk hutan. Djururawat masih sadja melihat-lihat.
Sekonjong-konjong air-mukanja mengungkap kengerian. „Apa kerdja kalian? Kamu gila!” teriaknja pada dua pradjurit luka enteng jang berdjalan tanpa bantuan diantara tandu-tandu. Ia lari kearah mereka.
Kurir-kurir itu mengangkat orang jang tersiksa setjara kedjam bukan kepalang. Petjahan granat jang menghantjurkan mukanja dan merobah lidah serta bibirnja mendjadi bubur merah tanpa membunuhnja, bersarang dalam susunan tulang rahangnja, menggantikan pipi jang sobek-sobek. Ia mengerang pendek-pendek dengan suara lembut jang tiada insaniah; tak seorangpun dapat mengartikan bunji ini sebagai hal jang lain dari pada permintaan untuk menghabiskan dia lekas-lekas, untuk mengachiri siksaannja jang tak terbajangkan.
Djururawat memperoleh kesan bahwa dua orang luka ringan jang berdjalan disisi tandu itu amat terharu oleh ratap-tangisnja, hingga mereka hendak segera mentjabut petjahan besi tadi dengan tangan telandjang.
„Djangan begitu. Ahli-bedah akan mengerdjakan itu, dia ada alat-alat chusus …kalaupun perlu”. (Allah, Allah ambillah dia, djangan sampai aku bimbang bahwa kau ada).
Saat berikutnja, waktu ia diangkat keatas tangga, orang itu mendjerit, sekudjur tubuhnja bergeletar dan iapun meninggal.
Jang baru sadja wafat itu ialah preman Gimazetdin; perwira berhati rusuh jang teriak-teriak tadi adalah anaknja, Letnan Galiullin; djururawat itu Lara. Jang menjaksikan adalah Gordon dan Zhivago. Semuanja ada disitu, bersama-sama disatu tempat ini. Tapi beberapa diantara mereka tak pernah saling mengenal, sedangkan lain-lainnja waktu ini tak ingat-mengingat. Dan ada hal-hal mengenai mereka jang tak akan pernah diketahui dengan pasti, sedangkan orang-orang lain hanja menunggu kesempatan lain guna memperkenalkan diri.
11
Diwilajah ini dusun-dusun agaknja setjara adjaib luput dari pemusnahan, merupakan pulau-pulau keamanan tak terbilang ditengah lautan reruntuh. Suatu sore waktu matahari terbenam, Gordon dan Zhivago pulang naik kereta. Disebelah desa nampak seorang Kosak muda dikerumuni orang banjak jang bergembira; Kosak itu melambungkan mata-uang tembaga dan seorang Jahudi tua dengan djenggot putih dan djubah pandjang disuruh menangkapnja. Situa berkali-kali gagal. Mata-uang terbang lewat tangan-tangannja jang direntangkan dan djatuh kelumpur. Kasihan! Situa membungkuk untuk memungutnja, Kosak tadi memukul pantatnja, para penonton memegang pinggang sambil ketawa gelak-gelak; inilah pusat hiburan, jang sedjauh itu tak djadi apa, tapi tak ada jang dapat mengatakan dengan pasti, bahwa kelandjutannja tak bakal lebih buruk. Tiap kali setelah waktu sedjurus istri sikakek lari dari teratak mereka menjeberangi djalan, teriak-teriak dan mengatjungkan tangan, lalu buru-buru balik dengan ketakutan. Dua anak perempuan ketjil melihat kakek mereka dari djendela teratak seraja menangis.
Kusir jang menganggap semua ini sangat menggelikan, melambatkan kendaraannja, hingga para penumpangnja dapat melihat. Tapi Zhivago memanggil Kosak tadi, memaki-makinja serta menjuruhnja berhenti memantjing-mantjing sikakek.
„Baik, tuan”, udjarnja patuh. „Kami tak tahu; kami hanja main-main”.
Gordon dan Zhivago meneruskan perdjalanan dengan berdiam diri, sampai nampak dusun mereka sendiri.
„Menjedihkan”, kata Yury. „Tak dapat kita bajangkan apa jang harus dialami bangsa Jahudi jang malang itu dalam perang ini. Pertempuran kebetulan terdjadi dalam perkampungan7 7Perkampungan ini ialah suatu daerah di Rusia Barat; orang-orang Jahudi Rusia dikumpulkan disitu, ketjuali sedjumlah ketjil. mereka. Padjak hukuman, penghantjuran milik serta semua penanggungan agaknya dianggap tak tjukup, sebab merekapun harus menerima segala penguberan, penghinaan dan tuduhan kurang patriotis. Bagaimana mereka bisa patriotis, kalau musuh menawarkan hak sama-rata, sedang kita tak berbuat apa-apa selain memburu-buru mereka? Dalam sumber dendam mereka ini ada sesuatu jang paradoxal, dirangsang djustru oleh hal-hal jang selajaknja menimbulkan simpati — kemiskinan, padatnja djumlah mereka, kelemahan serta ketidakmampuan untuk membalas serangan. Aku tak mengerti. Ada hal jang fatal dalam hal ini”.
Gordon tak mendjawab.
12
Sekali lagi mereka berbaring dibangku-tidur depan kedua udjung djendela jang sangat pandjang itu; hari telah malam dan mereka bertjakap-tjakap.
Zhivago bertjerita pada Gordon, bagaimana ia pada suatu hari bertemu Tsar dimedan-perang.
Waktu itu adalah musim semi pertama jang dialami Yury dalam tentara. Ia diperbantukan pada kesatuan jang menduduki muara lembah di Pegunungan Carpathia serta merintanginja terhadap Hunggaria. Markas Besarnja ada dilembah.
Didasar lembah ada setasiun kereta-api. Zhivago melukiskan rupa tamasja; gunung-gunung ditumbuhi pohon-pohon ru dan pinus jang besar dengan awan berumbai-rumbai dipuntjaknja; karang-karang batu-tulis dan grafit nampak dari tjelah-tjelah rimba seperti bungkah-bungkah gundul jang aus dilingkungi bulu-bulu tebal. Pagi lembab dan gelap dalam bulan April, abu seperti batu-tulis, dikepit gunung-gunung dari segala djurusan, djadi sepi tak berangin. Kabut terkatung diatas lembah, segalanja disitu menguap dan meruap keatas — asap lokomotif dari setasiun dan kabut kelabu dari padang-padang, pegunungan kelabu dan rimba gelap dan mendung gelap.
Tatkala itu Kaisar mengadakan pemeriksaan keliling di Galicia; mendadak terdapat kabar, ia akan datang memeriksa kesatuan, dimana ia mendjadi kolonel kehormatannja. Ia bisa datang setiap saat. Barisan pengawal kehormatan disiapkan diperon. Waktu berdjam-djam berlalu penuh kegairahan, maka tibalah dua kereta-api rombongan Kaisar dengan tjepatnja, satu demi satu dan tak lama kemudian masuklah kereta-api Tsar.
Diiring oleh Tumenggung Besar Nicolas, Tsar memeriksa barisan grenadir. Tiap kata dari salam tenangnja mentjetuskan seruan „hura” jang meletup dan berderai-derai, lantang dan berkumandang, dengan bunji memantjar seperti air dari ember jang terdjun.
Tsar senjum-senjum dan gelisah, nampak lebih tua, lebih dari gambarannja dimata-uang dan medali. Parasnja lesu lagi empuk sedikit.
Dengan ungkapan minta maaf ia terus menatap kepada Tumenggung Besar, tak tahu apa jang dikehendaki dari padanja pada tiap saat, maka Tumenggung Besar itupun dengan membungkuk chidmat menundjukkan padanja djalan untuk keluar dari kesulitan, tidak dengan kata-kata, melainkan dengan menggerakkan alis atau pundaknja.
Sambil mengamati dia pada pagi panas jang kelabu dipegunungan itu Yury berbelas hati kepada Tsar dan merasa ngeri oleh pikirannja bahwa sifat menjendiri jang takut-takut dan pemalu ini adalah atribut hakiki pada sang penindas, bahwa kelemahan begitu rupa dapat membunuh atau memaafkan, mengikat atau melepaskan.
„Selajaknja ia berpidato — „Aku, pedangku, rakjatku”, — seperti Wilhelm. Setidak-tidaknja „rakjat” harus disebut. Tapi kau tahu, ia bertindak sewadjarnja, setjara Rusia; tragisnja, ia mengatasi jang banal itu. Dan memanglah main sandiwara matjam ini mustahil di Rusia, bukan? — sebab main sandiwara adalah main sandiwara. Aku hanja bisa menerima bahwa ada „rakjat-rakjat” semasa Caesar — bangsa-bangsa Gallia, Scythia, Illyria. Tapi kemudian gagasan itu hanja chajalan semata, suatu frase bagi kaum Tsar, radja dan politikus untuk digunakan dalam pidato: „Rakjat, rakjatku”.
„Sekarang medan-perang dibandjiri wartawan dan penulis harian. Mereka mengamat-amati, mengumpul kebidjikan populer, mengundjungi jang luka-luka dan menjusun teori-teori baru tentang djiwa rakjat. Itulah versi baru dari Dahl8 8Dahl adalah penjusun kamus baru Rusia jang mendjadi klasik dan berisi a.l. daftar pandjang tentang keanekan-keanekan ilmu-bahasa. dan sama omongkosongnja — grafomania dalam ilmu bahasa dan ketiadaan kekangan-diri dalam bahasa. Itu satu djenis — dan ada djenis lain — bahasa setjekak, „sketsa dan adegan”, kebimbangan dan misantropi. Karangan matjam itu kubatja tempo hari. Masih kusimpan. Ini dia. — „Hari muram matjam kemaren. Hudjan sedjak pagi, lumpur saldju. Aku mendjenguk dari djendela dan melihat didjalanan. Barisan tawanan tak berudjung. Luka-luka. Tembakan senapang. Menembak hari ini seperti kemaren, besok seperti sekarang dan tiap hari dan tiap djam”. Subtil dan berakal! Tapi mengapa menjalahkan bedil? Tak waras, kalau mengharap keragaman dari bedil! Mengapa tak dilihatnja diri sendiri, menembakkan segala kalimat jang sama, koma, daftar kedjadian, hari demi hari, memegang teguh kebadjikan kewartawanan berentet-rentet, setjepat regu kutu jang melontjat-lontjat? Mengapa tak masuk akalnja bahwa dialah jang mesti berhenti mengulangi diri — bukan bedil — bahwa tak ada artinja menetes-neteskan omong-kosong dari buku tjatatan, bagaimanapun lamanja ia berbuat begitu; sebab fakta tak ada, sebelum manusia menempatkannja dalam suatu segi kepribadiannja, dalam ukuran menurut semangat-djiwa insaniahnja sendiri jang punja kemauan tertentu — menurut dongeng atau mitos”.„Kau benar semata-mata”, sela Gordon. „Dan sekarang kututurkan pendapatku tentang peristiwa jang kita saksikan tadi. Kosak jang memperolok sidatuk tua itu dan seribu-satu peristiwa lain jang sedjenis — tentulah tak usah dibikin teori tentangnja. — Tak perlu dipikirkan, jang perlu hanjalah menampar muka seseorang. Tapi masalah Jahudi dalam keseluruhannja — nah, djadi djuga berfilsafat. Jang kututurkan ini bukannja barang baru — kita berdua mendapat gagasan dari pamanmu.
„Kau bilang tadi, apakah rakjat? …Dan siapa berbuat lebih banjak bagi rakjat, dia jang mengelus-elusnja atau dia jang lupa segala-galanja tentangnja, namun menghelanja pada keuniversialan serta kekekalan, berkat keindahan murni amal-budinja? — Nah, tentu ini tak usah diperdebatkan lagi …
„Dan apakah sebetulnja bangsa-bangsa jang kita bitjarakan ini sekarang, dalam zaman Kristus? Bukan hanja bangsa belaka — melainkan bangsa jang tersusun dari banjak perorangan jang telah berganti kejakinan, berobah. — Jang penting tentang mereka ialah perobahan mereka, bukan ketaatan mereka kepada tjara-tjara kuno.
„Sekarang, apa jang disebut oleh Evangeli tentangnja? — Untuk mulai, Evangeli tak menetapkan undang-undang, djadi bukannja penentuan: „Ini begini dan ini begitu”. Evangeli adalah tawaran, tawaran pertjobaan jang naif: „Sudikah kamu hidup setjara baru sama sekali? Sukakah kamu mentjetjap kebahagiaan rohaniah?” Dan tiap orang senang, semua menerima baik, semua terbawa olehnja beribu-ribu tahun lamanja …
„Kalau Evangeli mengatakan bahwa di Keradjaan Tuhan tak ada Jahudi atau bukan-Jahudi, adalah itu berarti bahwa semua manusia sederadjat dipandangan Tuhan? Aku tak pertjaja bahwa itu sadja artinja — itu sudah diketahui — dikenal para filsuf Junani, moralis Romawi dan Nabi-Nabi Hebrewa. Jang dituturkan oleh Evangeli ialah bahwa dalam hidup serta masarakat baru jang lahir dari hati dan dinamakan Keradjaan Tuhan ini tak ada bangsa-bangsa, melainkan hanja orang-orang.
„Tadi kaukatakan, fakta sadja tak punja arti apa-apa — sebelum ada pengertian tertanam kedalamnja. Nah, pengertian jang harus kautanam dalam fakta-fakta itu agar mempunjai arti bagi insani hanja itulah: djiwa Kristen, rahasia kepribadian.
„Lalu kita bitjara tentang perlombaan kaum politikus jang sudah biasa — mereka tak memperhatikan penghidupan sebagai keseluruhan, orang-orang matjam ini pikirannja terbatas dan mereka suka pembatasan hanja karena pembatasan belaka. — Mereka senang seperti si Badut, kalau dapat menjuruh tiap orang berpikir dan bitjara tentang kelompok jang dibatasi dengan rapi — kian terbatas, kian baik — suatu bangsa, terutama bangsa jang ketjil, paling tjotjok lagi djika bangsa itu mengalami kesulitan hingga mereka bisa banjak mengadili dan menimbang dan mengatur dan memutuskan serta berbelas-hati untuk membuat pembagian keuntungan. Nah, adakah tjontoh lebih tepat tentang korban-korban mentalitet ini selain bangsa Jahudi? Tjara berpikir sebagai bangsa telah memaksa mereka dari abad keabad untuk mendjadi bangsa dan tak lebih dari pada bangsa — dan jang luar-biasa ialah mereka terbelenggu oleh kewadjiban jang mematikan ini selama berabad-abad itu, sedangkan dunia selebihnja dibebaskan dari padanja oleh kekuatan baru jang telah muntjul dari tengah-tengah mereka sendiri! Luar-biasa, bukan? Apa sebab-musababnja menurut kau? Tjoba pikir! — Pembebasan luhur dari keuga-harian, dari pentjekikan hidup sehari-hari jang suram lagi mendjemukan itu pertama-tama tertjapai dibumi mereka, dinjatakan dalam bahasa mereka, mendjadi milik bangsa mereka! Dan mereka sebenarnja menjaksikan dan mendengarnja, namun mereka lepaskan itu! Mengapa begitu? — Mengapakah djiwa dengan daja dan keindahannja jang bukan kepalang itu mereka biarkan sadja keluar, meninggalkan mereka hingga ketika ia dinaikkan kesinggasana kemenangan, mereka terlantar bagaikan kulit kosong jang ditanggalkannja! — Untuk kepentingan siapakah kesahidan jang suka-rela ini? Siapa akan beruntung, kalau djiwa itu tetap keluar, hingga segenap lelaki — perempuan tua tak bersalah ini, kanak-kanak dan seluruh bangsa jang pandai, baik-budi, berperi-kemanusiaan ini harus senantiasa diolok-olok, dipukuli dari abad keabad? Dan apa sebabnja semua sahabat „rakjat” ini, semua pengarang jang menulis tentang masalah-masalah nasional, dari bangsa manapun mereka berasal, selalu tak berdaja-chajalan, tak berbakat? Apa sebabnja para pemimpin intelektuil bangsa Jahudi tak pernah melampaui Weltschmerz jang penurut serta ironi? Apa sebabnja mereka — sekalipun harus meledak bagai ketel, akibat tekanan tugas mereka — tak membubarkan tentara ini jang senantiasa bertempur dan terbunuh besar-besaran, entah untuk apa? Apa sebabnja para pemimpin itu tidak berkata pada mereka: „Tjukup, berhentilah kini. Tak usah kaupegang teguh identiketmu, djangan berkumpul berbondong-bondong. Berpentjarlah. Djadilah seperti jang lain-lain. Kamu umat Kristen jang pertama dan jang terbaik didunia. Kamu telah mendjadi apa jang dilawan oleh jang paling buruk dan paling lemah antara kamu”.
13
Hari berikutnja, ketika Zhivago pulang untuk makan-siang, ia berkata: „Nah, kau sangat ingin berangkat, sekarang kita semua akan berangkat. Tak kukatakan: „sukurlah”, sebab bukanlah sukur namanja, kalau kita terdjepit dan kalah lagi. Djalan ke Timur terbuka, tekanan dari Barat. Semua kesatuan pengobatan diperintahkan keluar. Kita pergi besok atau lusa. Entah kemana. — Dan kukira, Karpenko, pakaian-dalam tuan Gordon belum pula ditjutji. Selalu begitu sadja. — Menurut Karpenko, ia memasrahkannja pada gadisnja, tapi asal ditanjai siapa dan dimana dia, sitolol ini tak tahu!”
Ia tak mengatjuhkan alasan Karpenko jang bohong itu dan djuga permintaan maaf Gordon karena memindjam kemedja-kemedja tuan-rumahnja.
„Beginilah hidup ditentara”, sambungnja. „Sehabis membiasakan diri disatu tempat, harus pindah ketempat lain. Waktu kami datang, tak ada jang kusukai disini. Kotor, pengap, tungku salah letak, langit-langit terlalu rendah. Dan sekarang, sungguh aku tak ingat lagi bagaimana tempat jang kami tinggalkan dulu. Aku merasa tak keberatan tinggal seumur hidupku ditempat ini, memandangi sudut tungku ini dengan sinar matahari dilantai dan bajang-bajang pohon itu bergerak-gerak disitu”.
Mereka berkemas tanpa buru-buru.
Malam hari mereka bangun oleh teriakan orang, tembakan bedil dan langkah-langkah jang berlari-larian. Dusun diterangi tjahaja geram dari atas. Banjak bajangan berkelebatan lewat djendela. Pemilik rumah dan istrinja bangun dibelakang sekatan. Yury menjuruh kurirnja supaja bertanja apa sebab keributan itu.
Didapatnja kabar, tentara Djerman telah menerobos. Yury bergegas kerumah sakit serta menjaksikan kebenaran kabar itu. Dusun sedang ditembaki. Rumah-sakit harus segera dipindahkan, dengan tiada menunggu perintah untuk mengungsi.
„Sebelum fadjar kita semua akan pergi”, kata Yury pada Gordon. „Kau ikut regu pertama, pedati sudah siap sekarang, tapi kupesan mereka supaja menunggu kau. Nah, selamat djalan. Kuantar kau, agar tempat dudukmu terdjamin”.
Mereka lari didjalan dusun, membungkuk-bungkuk dan memeluk tembok-tembok. Peluru-peluru berdesing lalu dan dari simpangan-simpangan terlihat ledakan granat laksana pajung menjala jang terbuka diatas padang.
„Kau akan berbuat apa?” tanja Gordon sambil berlari.
„Aku menjusul dengan regu kedua. Aku harus kembali dulu untuk mengemas barang-barangku”.
Mereka berpisah dipinggir desa. Pedati dan beberapa kereta jang merupakan konvoi bergerak, berantukan satu sama lain dan berangsur-angsur merenggang. Yury melambai kesahabatnja jang melihatnja sedjenak lagi dalam tjahaja gudang terbakar.
Dengan mentjari lindungan rumah-rumah lagi, Yury buru-buru pulang. Beberapa meter dari rumahnja ia terpelanting oleh tekanan hawa letusan dan kena petjahan granat. Ia djatuh ditengah djalan, berlumuran darah dan pingsan.
14
Rumah-sakit, tempat Yury sembuh kembali dibagian perwira, telah diungsikan dan rupa-rupanja dilakukan orang dalam kota ketjil didepan rel kereta-api, dekat Markas Besar Umum. Hari panas pada achir bulan Pebruari. Djendela dekat randjangnja terbuka.
Pasien-pasien membuang waktu sebelum makan-siang. Mereka dengar ada djururawat baru dipekerdjakan pada staf rumah-sakit dan hari itu akan pertama kali keliling. Dalam randjang diseberang Yury, Galiullin sedang melihat-lihat surat-kabar jang baru datang dan marah-marah keras tentang tempat-tempat kosong, akibat penjensoran. Yury membatja surat-surat Tonya jang diantar oleh pos-lapangan dalam seberkas kiriman. Angin mengerisikkan surat dan koran. Mendengar bunji langkah ringan, iapun mendongak. Lara masuk kamar.
Baik Yury maupun Galiullin ingat akan dia, meskipun jang satu tak mengira bahwa jang lain mengenalnja, sedangkan Lara tak ingat kedua-duanja. Udjarnja: „Apa kabar? Mengapa djendela terbuka? Tidak kedinginan?” Menghampiri Galiullin, ia bertanja bagaimana ia merasa, lalu memegang pergelangannja guna mengetahui detak nadi, tapi seketika itupun ia melepaskannja dan duduk disisi randjang, sambil memandangnja dengan ungkapan ragu-ragu.
„Sungguh tak terduga, Larissa Fyodorovna”, kata Galiullin. „Saja kenal suami njonja. Kami seresimen. Saja simpan barang-barang ini untuk njonja”.
„Mustahil”, katanja berulang-ulang, „mustahil. Tuan kenal dia! Kebetulan sekali, luar-biasa. Lekas tjeritakanlah, bagaimana terdjadinja. Ia tewas kena granat, bukan, dan teruruk oleh ledakan? Tuan lihat sendiri, saja sudah tahu, djangan chawatir menjampaikan halnja padaku”.
Keberanian Galiullin lenjap. Diputuskannja mentjeritakan kebohongan jang menjenangkan.
„Antipov ditawan. Ia terlalu djauh kemuka beserta kesatuannja. Dikepung dan hubungannja terputus. Ia terpaksa menjerahkan diri”.
Namun ia tak pertjaja. Terharu oleh pertemuan setiba-tiba ini dan karena tak ingin dilihat orang-orang lain pada saat ia tak menguasai diri, larilah ia kedalam gang.
Sedjurus kemudian ia kembali, tenang pada lahirnja; chawatir akan menangis lagi, bila bitjara dengan Galiullin, sengadja ia tak melihat padanja dan mendekati Yury. „Apa kabar. Bagaimana rasanja?” tanjanja dengan suara merata.
Yury menjaksikan kerusuhannja dan air-matanja tadi. Ia ingin bertanja, mengapa ia sebingung itu, ingin menuturkan bahwa ia pernah melihatnja dua kali dalam hidupnja, sekali sebagai anak-sekolah, kemudian sebagai mahasiswa, tapi ia kuatir akan mengganggunja, pun ia mungkin akan salah faham. Lalu diingatnja tiba-tiba hari Natal bertahun-tahun jang lampau, keranda dengan djenazah Anna serta djerit-pekik Tonya. Ia berobah pikiran dan berkata:
„Trima-kasih. Saja dokter, dapat mendjaga diri sendiri. Tak perlu apa-apa”.
„Mengapa ia seperti sakit-hati?” pikir Lara. Heran ia menatap orang jang tak dikenalnja itu dengan hidung pesek dan mukanja jang biasa.
Berhari-hari hawa redup, tak menentu, dengan angin hangat jang berkerosok waktu malam berbau tanah basah.
Selama itu ada kabar-kabar aneh dari Markas Besar Umum dan desas-desus jang mengchawatirkan dari pedalaman. Hubungan telegram dengan Petersburg berkali-kali terputus. Dimana-mana, ditiap sudut, orang membitjarakan politik.
Djururawat Antipov keliling tiap pagi dan sore, bertukar kata sedikit dengan tiap pasien, termasuk Galiullin dan Yury. „Machluk aneh”, pikirnja tentang Yury. „Muda dan perengut. Tak dapat disebut tampan dengan hidung ungkitnja itu. Tapi ia tjerdas dalam artian setinggi-tingginja, penuh hajat dan pikirannja menarik. Walaupun bagaimana, itu bukan urusanku. Urusanku disini menjelesaikan pekerdjaan selekas-lekasnja, lantas pulang ke Moscow, agar dekat Katya, kemudian minta dibebaskan dari pekerdjaan djururawat dan pulang ke Yuryatin, balik kesekolahan. Sekarang sudah terang-benderanglah apa jang terdjadi dengan Pasha, tak ada harapan, djadi kian lekas aku berhenti berperanan pahlawan ini, kian baik. Aku tak terdampar disini, andaikata aku tak mentjari Pasha”.
Bagaimana dengan Katya disana, pikirnja, kasihan sijatim! Itulah selalu membuatnja menangis.
Baru-baru ini dilihatnja ada perobahan besar dilingkungannja. Sebelumnja ada segala matjam tugas, kewadjiban sutji — kewadjiban terhadap tanah-air, tentara, masarakat. Tapi kini setelah kalah perang (dan bentjana ini mendasari jang lain-lainnja) segala hal agaknya hilang, tak ada lagi jang keramat.
Segala-galanja tiba-tiba berobah — nada, iklim achlak; orang tak tahu apa hendak dipikir, siapa akan didengarnja. Seolah seumur hidupnja ia selalu dituntun seperti anak ketjil, lantas sekonjong-konjong ia sendirian, harus beladjar berdjalan sendiri. Tak ada siapa-siapa disekitarnja, kerabat atau orang lain jang pendapatnja dapat dihormatinja. Pada waktu demikian terasa kebutuhan untuk berserah diri pada jang mutlak — hidup atau kebenaran atau keindahan — untuk diatur olehnja sekarang, karena tata-tertib bikinan manusia telah tersisihkan. Orang ingin menjerahkan diri pada tudjuan tertinggi demikian, lebih banjak, lebih siap-sedia dari jang pernah dibuatnja dulu dalam waktu damai jang telah dikenalnja, dalam penghidupan lama jang kini dibuang, lenjap selama-lamanja. Tapi dalam halnja sendiri, demikian Lara memperingatkan diri, ada Katya untuk memenuhi kebutuhannja akan sesuatu jang tak bersjarat, kebutuhan akan mempunjai tudjuan. Karena Pasha kini tak ada lagi padanja, Lara tak hendak lebih dari seorang ibu sadja jang mengabdikan seluruh tenaganja pada anaknja, sijatim jang patut dikasihani itu.
Dari Moscow Yury mendengar bahwa Gordon dan Dudorov tanpa izinnja telah menerbitkan bukunja jang mendapat pudjian dan dianggap mempunjai kemungkinan susastra jang besar; bahwa Moscow mengalami zaman katjau lagi rusuh, sedang menghadapi sesuatu jang penting; ketidakpuasan dikalangan chalajak terus meningkat, kedjadian-kedjadian politik jang gawat sedang mendjelang.
Malam larut. Yury ngantuk bukan main. Sekali-sekali ia terselap dan membajangkan bahwa segala kerusuhan achir-achir ini membuatnja bangun terus. Nafas angin jang ngantuk lesu menguap, bergerak diluar djendela. Angin itu meratap dan mengeluh: „Tonya, Sasha, aku rindu padamu, aku ingin pulang, aku ingin bekerdja kembali”. Diiringi gumam angin ini, Yury tidur dan bangun dan tidur lagi, dalam selingan gembira dan sedih jang keruh lagi tjepat, bergairah dan gelisah bagai tjuatja jang berganti-ganti, bagai malam resah.
Lara teringat bahwa setelah Galiullin menundjukkan djasa untuk mengenangkan Pasha dan bersusah-pajah mendjaga barang-barangnja, ia belum pula menanjakan padanja siapa dia dan dari mana asalnja. Ia mengedjikan diri sendiri.
Guna memperbaiki kelalaiannja dan supaja tak disangka tak tahu budi ia tanjakan segala hal tentang dia sendiri, ketika esok harinja ia berkeliling lagi.
„Astaga”, serunja, sesudah mendengar tjeritanja. Djalan Brest duapuluh-delapan, keluarga Tiverzin, Revolusi 1905, musim-dingin! Yusupka? Ia tak ingat pernah ketemu dia, maafkan sadja. Tapi tahun itu, tahun itu, dan rumah itu pula! Benarkah pernah ada tahun demikian, rumah demikian? Djelas benar ia ingat semuanja kembali! Tembakan itu — dan bagaimana ia menjebutnja waktu itu? — „Pendapat Kristus!” Betapa kuat, betapa tadjam menusuk segala perasaan jang kita alami pertama kali sebagai kanak-kanak. „Maaf, maaf, Letnan, siapa nama ketjil dan nama keluarga tuan? Ja, ja, pernah tuan sebut pada saja. Trima-kasih, Osip Gimazetdinovich, saja banjak hutang-budi, karena tuan mengingatkan saja, memulihkan semuanja dalam kenangan saja”.
Sepandjang hari, kemanapun perginja, ia berpikir tentang „rumah itu”, hampir bitjara dengan diri sendiri dan keras-keras. Tjoba pikir, Djalan Brest, no 28! Dan kini orang menembak lagi, tapi djauh lebih menakutkan! Sekarang tak dapat dikatakan: „Itu anak-anak jang menembak”. Anak-anak sudah dewasa semua, jang lelaki semua disini, ditentara, semua orang bersahadja jang dulu tinggal dalam rumah itu dan dirumah-rumah lain sematjam itu dan didusun-dusun jang djuga seperti itu, mereka semua disini. Betapa luarbiasa, luar-biasa benar!
Semua orang sakit jang tak harus tinggal dirandjang, masuk tjepat dari kamar-kamar lain, berdjengkang dengan ramainja pakai kruk, atau lari-lari, atau djalan dengan tongkat, sambil berseru:
„Pertempuran didjalan-djalan Petersburg! Tangsi Petersburg bergabung pada pembrontak! Revolusi!”
1
Kota ketjil, tempat pengungsian rumah-sakit itu namanja Melyuzeyovo. Letaknja didaerah tanah hitam1 1Daerah pertanian tersubur di Rusia terkenal sebagai Chernozem („tanah hitam”). jang subur. Debu hitam bergantungan diatasnja sepandjang hari bagai sekawanan belalang. Debu itu ditimbulkan oleh tentara dan konvoi jang melalui kota; mereka bergerak kedua djurusan, ada jang kemedan-perang, ada jang datang dari situ dan tak dapat dikatakan apakah perang masih berlangsung atau sudah selesai.
Tiap hari Zhivago, djururawat Antipova dan Galiullin mendapat tugas-tugas baru jang muntjul bagai tjendawan. Mereka serta beberapa orang dari kota-kota jang dipandang berpengetahuan dan berpengalaman, ditundjuk untuk tiap pekerdjaan jang menampilkan diri.
Mereka bertugas dalam dewan kota dan selaku wakil komisaris dalam tentara serta seksi kesehatan; tugas-tugas jang berturut-turut ini mereka pandang sebagai hiburan, sematjam main olahraga diluar atau main buta-butaan. Namun kian sering mereka merasa sudah waktunja untuk berhenti main-main serta kembali kepekerdjaan biasa dan kerumah.
Yury dan Antipova kerapkali bertemu dalam pekerdjaan mereka.
2
Hudjan merobah debu hitam djadi lumpur berwarna kopi dan lumpur ini tersebar didjalan-djalan jang kebanjakannja tak berlapis batu.
Kota itu ketjil sekali. Diudjung hampir tiap djalan masih kelihatan stepa tandus dan langit suram, tamasja luas jang muram akibat revolusi dan perang.
Yury menulis pada istrinja :
„Sudah kulihat beberapa kesatuan tentara dekat sini. Kekatjauan terus bertambah, walaupun apa sadja ditjoba untuk memperbaiki disiplin dan moral.
„Dengan tjara post scriptum (sebetulnja mesti kusebut lebih dulu) perlu kutjeritakan bahwa banjak pekerdjaan kulakukan bersama seorang Antipova, djururawat dari Moscow jang lahir di Ural.
„Kuingat mahasiswa wanita jang menembak djaksa-umum dipesta mengerikan itu pada malam meninggalnja ibumu? Kurasa, kemudian ada pengadilan. Kuingat pernah mentjeritakan padamu bahwa Misha dan aku melihat dia sekali, ketika dia masih bersekolah, disebuah hotel jang kotor dimana ajah membawa kita. Tak kuingat apa sebab kita pergi, hanja kuingat bahwa malam itu sangat dingin. Kukira waktu itulah terdjadi pemberontakan di Presnya. — Nah, gadis itulah Antipova.
„Sudah kutjoba berkali-kali untuk pulang, tapi itu tak gampang. Soalnja bukanlah pekerdjaan — itu mudah kami selesaikan — jang sulit ialah perdjalanan. Tak ada kereta-api sama sekali, atau kalau ada, begitu penuh, sampai kami tak ada harapan untuk naik.
„Tapi tentu sadja tak bisa terus-menerus tak menentu sematjam ini; ada diantara kita jang telah berhenti atau tak dibutuhkan lagi, termasuk Antipova dan Galiullin, sudah berniat bersama aku hendak berangkat pekan depan, apapun jang terdjadi. Kami akan berangkat terpisah-pisah, dengan begitu harapan kami lebih baik.
„Djadi tiap hari aku mungkin muntjul tiba-tiba, sungguhpun akan kutjoba mengirim telegram”.
Tapi sebelum berangkat diterimanja djawaban Tonya. Dengan kalimat-kalimat jang patah-patah melulu oleh tangis dan dengan air-mata serta bintik-bintik tinta sebagai tanda-batja, ia minta padanja agar tak pulang ke Moscow, tapi langsung pergi ke Ural bersama djururawat jang hebat itu, jang perdjalanan hidupnja ditandai berbagai alamat dan peristiwa serba adjaib, hingga dia, si Tonya, dengan hidupnja jang bersahadja tak mampu bersaing dengannja.
„Djangan chawatirkan hari-depan Sasha”, tulisnja. „Kau tak bakal perlu malu tentang dia. Akan kubesarkan dia dengan prinsip-prinsip jang semasa ketjilmu kausaksikan penggunaannja dirumah kita, begitulah djandjiku”.
Yury buru-buru membalas. „Kau agaknya hilang-akal, Tonya! Mengapa sampai kauchajalkan hal jang demikian? Tidakkah kau mengerti — atau tak merasa tjukup mendalam-bahwa kalau bukan karena kau, kalau bukan karena pikiranku jang teguh lagi setia tentang kau dan rumah kita, aku tak dapat mengatasi dua tahun peperangan jang mengerikan dan merusak ini? Tapi kata-kata tak guna. Kita segera akan bersama-sama, penghidupan kita akan mulai lagi, maka semuanja akan terang.
„Jang mendjadi pikiran mengenai suratmu ialah soal lain. Kalau aku benar-benar memberimu alasan untuk menulis setjara begitu, kelakuanku dulu tentunja bertjabang dan aku bersalah tak hanja terhadap kau, tapi djuga terhadap wanita lain jang telah kusesatkan. Aku akan minta maaf padanja, bila ia kembali. Dia didusun. Dewan-dewan setempat sedang dibentuk didusun-dusun (terlepas dari dewan-dewan setingkat propinsi atau kota jang sudah ada sebelumnja) dan dia pergi untuk membantu sahabatnja jang bertindak selaku instruktur, berhubung dengan perobahan-perobahan dalam pemerintahan ini.
„Barangkali perlu kauketahui bahwa meskipun kami tinggal serumah, namun sampai sekarang aku tak tahu mana kamar Antipova, aku tak pernah berusaha mentjarinja”.
3
Dari Melyuzeyevo ada dua djalan raja, satu ke Timur, lainnja ke Barat. Jang satu betjek dan lewat hutan menuju ke Zabushino, kota ketjil jang berdagang gandum, administratif dibawah Melyuzeyevo, meskipun dalam banjak hal lebih madju. Lainnja berkerikil, lewat padang-padang, panas dimusim-dingin tapi kering dimusim-panas, menuju ke Biryuchi, pusat djalan kereta-api jang terdekat.
Dalam bulan Djuni Zabushino mendjadi Republik merdeka, dibentuk oleh pemilik kintjir Blazheiko dan disokong oleh kaum desertir dari Resimen Barisan ke-212 jang meninggalkan medan-perang pada waktu pergolakan dengan terus membawa sendjata, kemudian tiba di Zabushino melalui Biryuchi.
Republik ini tak mau mengakui Pemerintah Sementara, lalu melepaskan diri dari Rusia selebihnja. Blazheiko adalah penganut sesuatu sekte jang pernah surat-menjurat dengan Tolstoy. Dewan Setempat disebutnja Sidang Nabi dan ia proklamasikan keradjaan „seribu tahun” jang baru, dimana segala pekerdjaan dibagi samarata dan segala milik dipunjai bersama-sama.
Zabushino selalu mendjadi tempat sasakala dan hal-hal jang dilebih-lebihkan. Ia disebut dalam tambo Zaman Kerusuhan2 2Masa pemerintahan sementara dan perang-saudara dalam abad ke-17. , letaknja ditengah rimba-rimba lebat jang sampai waktu belakangan ini penuh dihuni kaum perampok. Kota ini masjhur dimana-mana, berkat kemakmuran para pedagangnja serta kekajaan buminja jang bukan kepalang dan dari sini pula terbitnja banjak kepertjajaan rakjat, adat serta keanehan bahasa jang mentjirikan seluruh daerah.
Tentang kaki-tangan Blazheiko kini seperti biasanja tersebarlah tjerita-tjerita adjaib. Konon ia lahir bisu dan tuli dan hanja mampu bitjara atas kemurahan Tuhan jang chusus jang dilimpahkan padanja sewaktu-waktu.
Republik ini hidupnja dua minggu, dirobohkan sebelum achir Djuni oleh kesatuan jang taat pada Pemerintah Sementara. Kaum desertir undur ke Biryuchi. Disependjang rel ada beberapa mil rimba jang pernah dibuka dikanan-kiri pusat djalan kereta-api; disitulah ditengah medan tonggak-tonggak tua jang ditumbuhi pohon anggur liar, ditengah ongokan kaju jang susut karena pentjurian serta pondok-pondok bobrok dari kaum pekerja musiman jang menebang pohon-pohon, maka para desertir itu membuat perkemahan.
4
Rumah-sakit dimana Yury mendjadi pasien dan kini dokter, ditempatkan dalam rumah istri Tumenggung Zhabrinskaya. Dia menawarkannja pada Palang Merah pada permulaan perang.
Rumah ini berloteng dua, letaknja disalah satu bagian terbaik dalam kota, disudut djalan raja dan pelataran jang terkenal dengan nama „Platz”, dimana dulukala pradjurit berlatih dan kini diadakan rapat-rapat.
Berkat letaknja itu ada pemandangan bagus disekitarnja; ketjuali djalanan dan pelataran, dapat terlihat pula pekarangan rumah disebelah (dimiliki keluarga provinsial jang miskin dan hidupnja hampir setjara kaum tani) serta taman tua Tumenggung itu disebelah belakang.
Istri Tumenggung ini mempunjai tanah-milik besar didaerah Razdolnoye, maka rumah tadi hanjalah dipakai bila ia sekali tempo ada urusan dikota, sebagai pusat pertemuan bagi tamu-tamu jang datang dari segala djurusan untuk bertamu di Razdolnoye dalam musim-panas.
Sekarang rumah ini mendjelma djadi rumah-sakit, sedangkan pemiliknja ditawan di Petersburg, tempat ia menghuni.
Dari personil jang besar hanja tinggal dua perempuan: Ustinya, bekas koki-kepala dan mademoiselle Fleury, bekas pengasuh putri-putri jang sudah kawin.
Mademoiselle Fleury jang beruban, tjeroboh dan berpipi djingga itu mundar-mandir dengan memakai sandal-tidur serta hoskot tua jang menggelembur, rupa-rupanja merasa senang dirumah-sakit, seperti djuga ditengah keluarga Zhabrinsky dulu. Ia menuturkan tjerita-tjerita pandjang dalam bahasa Rusia jang buruk dengan menelan segala achiran kata, disertai gerak-gerik dengan sikap dramatis, kemudian meledaklah gelak-ketawanja jang parau jang berkesudahan dengan batuk-batuk.
Ia jakin mengenal djururawat Antipova lahir-batin dan berpendapat bahwa djururawat dan dokter itu saling menaruh hati. Djalinan asmara berapi-api jang begitu digemari bangsa Latin, meresap kehatinja, maka amat sukalah ia bila menemukan mereka bersama-sama, lantas digojang-gojangkan djarinja sambil mengedipkan mata dengan nakalnja; ini mengherankan Lara dan mengganggu Yury, tapi tak ubahnja dengan orang aneh lainnja, mademoiselle inipun berpegang teguh pada chajalannja, tak hendak melepaskannja, apapun jang terdjadi.
Ustinya lebih lagi mempunjai tabiat jang adjaib. Sosok-tubuhnja berbentuk buah pir jang pajah bergerak itu membuatnja nampak seperti ajam jang hendak bertelor. Biasanja ia pertimbangkan tutur-katanja, suka bitjara singkat dan mengenai soal, tapi chajalannja tak dapat dikekang dalam segala hal mengenai tachajul. Ia lahir di Zabushino dan konon anak tukang sihir disitu, maka diketahuinja mantera-mantera tak berbilang
dan iapun tak akan keluar, sebelum lebih dulu bergumam-gumam diatas tungku dan lobang-kuntji, agar selama kepergiannja rumah itu terlindung dari kebakaran dan iblis. Ustinya bisa berdiam-diri bertahun-tahun, tapi kalau ia satu kali sadja dipantjing, tak ada jang sanggup menahannja. Tiap serangan atas kejakinannja merangsangnja pada pembelaan kebenaran jang berkobar-kobar.
Walaupun Republik Zabushino sudah runtuh, namun dewan revolusi Melyuzeyevo takut pada pengaruh anarchisnja didaerah, lalu memutuskan hendak melawannja dengan kampanje penerangan. Kesempatan baik untuk kegiatan demikian timbul pada sore hari, bila dipelataran diadakan rapat-rapat persahabatan jang spontan; rapat-rapat ini hanja sedikit dihadiri orang-orang kota jang tak ada kerdjanja, jang dulu berkumpul untuk bergundjing diluar pos pemadam kebakaran disatu ujung Platz. Dewan memberi andjuran pada mereka dan mengundang para pembitjara setempat dan tamu-tamu untuk memimpin diskusi-diskusi. Tamu-tamu jakin bahwa kabar-kabar tentang sibisu-tuli jang dapat bitjara itu omong-kosong belaka dan djuga ingin mengatakan begitu. Tapi kaum utas ketjil, istri serdadu dan bekas budjang di Melyuzeyevo tak menganggap kabar-kabar itu omong-kosong dan bersedia membelanja.
Antara mereka adalah Ustinya. Mula-mula ia takut-takut, ditjegah oleh rasamalu perempuan, tapi lambat-laun ia lebih berani dalam pembantahan segala pendirian jang tak disukai Melyuzeyevo, maka sekarang ia sendiri mendjadi pembitjara umum jang berpengalaman.
Desas-desus suara orang dipelataran terdengar dari djendela-djendela rumah-sakit jang terbuka; pada malam-malam sunji bahkan dapat tertangkap kata demi kata. Kalau Ustinya sedang bitjara, mademoiselle buru-buru masuk tiap kamar jang ada orangnja, lalu memohon mereka supaja mendengarkan, maka dengan tiada sengadja iapun menirunja setjara menggelikan dalam bahasa Rusia jang tak karuan: „Rasputi...... Raspu...... Tsar...... Zabushi...... bisu-tu...... kaum pengchianat!”
Diam-diam mademoiselle bangga atas sahabatnja jang bersemangat dan berlidah tadjam itu; dua perempuan ini amat gemar-menggemari, meskipun mereka tak pernah habis bertjakar-tjakaran.
5
Yury sedang keliling kekantor-kantor dimana ia perlu minta izin dan prioritet untuk kepulangannja ke Moscow, pun untuk menemui para sahabat dan kenalannja, guna pamit.
Waktu itu komisaris muda jang baru diangkat untuk sektor setempat dimedan-perang tinggal beberapa hari di Melyuzeyevo dalam perdjalanannja ketentara. Kabarnja ia masih remadja betul.
Pengangkatannja berhubungan dengan kegiatan baru dimedan-perang. Tentara bersiap-siap hendak menjerang dan orang berusaha sedapat-dapatnja untuk melenjapkan kelesuan para pradjurit serta mengokohkan disiplin. Orang mendirikan mahkamah-mahkamah perang revolusioner dan hukuman mati jang baru-baru ini dibatalkan, telah dipulihkan kembali.
Salah satu tanda-tangan jang diperlukan Yury untuk kertas-kertasnja ialah tandatangan major-kota setempat. Biasanja orang tak dapat mendekati kantornja. Antrinja memandjang separoh djalanan dan dikantorpun begitu riuh, hingga orang tak dapat dengar apa-apa.
Tapi hari ini bukan hari penerimaan tamu. Para perakit duduk berdiam diri dalam kantor tenang itu, tak puas karena pekerdjaan makin rumit, dan mereka bertukaran pandangan jang ironis. Dari kamar major-kota terdengar suara-suara gembira, disitu seolah ada orang-orang jang melepaskan badju, lagi minum-minum.
Galiullin keluar dari kamar itu, melihat Yury, lantas melambai padanja dengan gerak-gerik seluruh badannja jang berlebih-lebihan, njaris merangkak, seolah hendak meluntjur untuk perlombaan berlari.
Lantaran perlu sekali ketemu dengan major-kota, Yurypun masuk. Dilihatnja kamar dalam keadaan katjau jang patut dilukis.
Pusat perhatian orang ialah komisaris baru, pahlawan hari itu dan buah-bibir dikota, jang mestinja pergi keposnja, tapi kini sibuk bitjara dengan para penguasa keradjaan kertas ini, terlepas semata-mata dari soal-soal staf dan operasi.
„Ha, inilah bintang kita djuga”, kata major-kota, memperkenalkan Yury. Komisaris jang hanja sibuk dengan dirinja sendiri itu tak melihat keliling dan major-kota jang hanja berpaling untuk menanda tangani kertas-kertas jang oleh Yury diletakkan didepannja dan untuk mengisjaratkan dengan sopan agar Yury duduk diatas puf jang rendah, diapun mengambil sikapnja seperti tadinja, penuh minat jang terpesona.
Yurypun duduk. Ia satu-satunja orang dikamar jang duduk selajak machluk insani. Lainnja berlehehan setjara adjaib dengan rasa njaman jang berlebih-lebihan dan dibikin-bikin. Major-kota hampir terbaring kelesenarnja, bertopang pipi dengan sikap berpikir seperti Byron. Pembantunja, seorang gendut jang padat, bertengger dilengan dipan, kakinja terlipat diatas tempat duduk, seolah naik pelana dengan menghadap kesamping. Galiullin duduk mendjangkangi kursi, mendekap sandaran, kepalanja menekur kelengannja; sedangkan komisaris itu selalu mengangkat diri dengan kedua belah pergelangannja keduan djendela, lantas melontjat dari situ, mundar-mandir dikamar dengan langkah ketjil serba tjepat, menggerantang bagai mesin penggilingan, sesaatpun tak berhenti atau diam. Ia omong tak habis-habis; pokok pembitjaraan ialah masalah kaum disertir di Biryuchi.
Komisaris itu tepat seperti jang digambarkan orang kepada Yury: kurus dan manis, anak-muda jang baru keluar dari sekolah, berapi-api bagai lilin oleh tjita-tjitanja. Konon ia berasal dari keluarga baik-baik (anak senator, menurut dugaan) dan salah seorang jang pertama-tama membawa resimennja ke Duma dalam bulan Pebruari. Namanja Gintz atau Gintze — Yury tak mendengarnja betul-betul — dan bitjaranja sangat djelas, dengan logat Petersburg serta intonasi Baltik sedikit.
Ia memakai tunika jang ketat. Agaknja ia malu sebab semuda itu, maka agar nampak lebih tua, air-mukanja dibuatnja sarkastis dan ia pura-pura bungkuk dengan melentikkan pundak jang berepolet kaku itu dan tangannja selalu masuk kantong; hal ini sebenarnja menggubah padanja silhuet bergaja dari seorang penunggang kuda, dapat digambar dengan dua garis lurus jang bertemu kebawah dari sudut pundaknja sampai kaki.
„Ada satu resimen Kosak ditempatkan dekat rel”, demikian keterangan major-kota kepadanja. „Merah, lojal. Akan diperintahkan keluar; pemberontak-pemberontak akan dikepung dan dihabisi. Komandan pasukan ingin sekali mereka dilutjuti tanpa bertangguh”.
„Kosak! Sama sekali djangan”, bentak komisaris. „Ini bukan tahun 1905. Bukan waktunja untuk mengenangkan sedjarah. Pendirian kami bertentangan semata-mata dengan itu. Djenderal-djenderal kamu hendak mendjadi terlalu pandai”.
„Belum terdjadi apa-apa. Ini baru rentjana, saran”.
„Kami sepakat dengan Komando Tertinggi, tak akan tjampurtangan dalam perintah-perintah operasionil. Saja bukannja membatalkan perintah untuk menggerakkan tentara Kosak. Biar mereka datang. Tapi akan kuambil tindakan menurut otak sehat. Saja kira ada bivak mereka disana?”"
„Ja. Sekurang-kurangnja ada perkemahan. Perkemahan bersendjata”.
„Bagus. Saja mau kesitu. Tundjukkan pada saja tantangan ini, sarang perampok ini. Mereka betul pemberontak, tuan-tuan, bahkan desertir, tapi ingatlah, mereka rakjat. Dan rakjat seperti kanak-kanak, kita harus kenal mereka, harus tahu djiwa mereka. Agar mereka berbuat sebaik-baiknja, kita harus mendekati dengan tjara setepat-tepatnja, kita harus mengharukan, menggerakkan hati mereka.
„Saja akan pergi dan bitjara dari hati kehati; akan kamu saksikan, mereka nanti kembali keposisi mereka jang mereka tinggalkan dan sama nilainja dengan emas itu. Tak pertjaja? Mau mempertaruhkan apa?”"
„Saja heran. Semoga Tuhan membenarkan kamu”.
„Akan saja katakan pada mereka: „Ambil misalnja soal saja. Saja anak tunggal, harapan satu-satunja orang-tua saja, namun saja pasrahkan diri saja. Semuanja saja lepaskan — nama, keluarga, kedudukan. Saja kerdjakan ini untuk memperdjoangkan kamu, kemerdekaan jang lebih agung dari jang ditjetjap oleh bangsa-bangsa lain sedunia. Begitulah saja dan begitu pula banjak pemuda lain seperti saja, belum lagi disebut kalangan tua, perintis-perintis luhur, pembela hak-hak rakjat jang dikirim ke Siberia untuk membanting-tulang atau dipendjarakan dalam Benteng Schlüsselburg. Apa kami kerdjakan ini untuk kami sendiri? Apa kami harus mengerdjakan ini? Dan kamu, kamu jang bukan lagi orang preman biasa, melainkan pradjurit tentara revolusioner pertama didunia, bagaimana hidupmu untuk panggilan luhur ini? — Waktu ini ketika darah tanah-air kita tertumpah dan djerih-pajahnja luar-biasa guna mentjampakkan naga musuh jang mendjepitnja, kamu mau sadja dibohongi segerombolan djiwa kosong, kamu djadi sampah, tak punja kesadaran politik, kekenjangan kemerdekaan, pentjoleng, jang tak puas dengan apapun djuga. Pepatah mengatakan; berilah satu intji dan mereka ambil satu elo; masukkan babi kekamar-makan dan dia pandjatkan tjakarnja diatas medja. — O, saja akan berterus-terang, akan kubuat mereka merasa malu”.
„Djangan, itu sangat berbahaja”, major-kota memberanikan diri menaruh keberatannja, sambil memandang penuh arti kepada pembantunja.
Galiullin berusaha sedapat-dapatnja, agar komisaris melepaskan maksudnja jang gila itu. Ia kenal orang-orang dari pasukan 212 itu, mereka tergolong divisinja dimedan-perang. Tapi komisaris tak mau mendengar.
Yury hendak bangkit dan pergi. Kenaifan komisaris membuatnja malu, namun kepalsuan jang lihai dari major-kota serta pembantunja itu — dua penipu tjeridik sedjahat-djahatnja — tiada lebih baik. Ketololan dari jang satu diimbangi oleh kemunafikan dari jang lain-lainnja dan Yury muak oleh air-bah kata-kata mereka, dungu, tak bermakna, hingga ditolak oleh penghidupan sendiri.
Betapa kuatnja kerinduan orang untuk melarikan diri dari kekosongan dan kedunguan utjapan manusia jang bertele-tele, untuk mengungsi ketengah alam jang nampaknja tak berbahasa itu, atau lari pada kerdja keras jang tenang lagi lama, pada tidur njenjak, pada musik murni, atau pengertian insaniah jang disampaikan oleh emosi tak bernadah!
Yury ingat bahwa ia perlu menerangkan sesuatu pada djururawat Antipova nanti. Itu tak akan sedap, namun ia senang diharuskan bertemu dengan dia, sungguhpun berat. Antipova belum mungkin pulang. Tapi ia bangkit selekasnja, lalu keluar, tak setahu jang lain-lain.
6
Antipova sudah pulang. Mademoiselle jang memberi tahu pada Yury, menambahkan bahwa ia tjapik; ia tadi tjepat-tjepat makan dan naik kekamarnja dengan berpesan supaja ia tak diganggu. „Tapi datang sadjalah, ketuk pintunja”, usul mademoiselle.
„Saja jakin ia belum tidur”. — „Mana kamarnja?” — Sesudah mengatasi keheranannja, mademoiselle menuturkan, kamarnja diudjung gang dibordes tertinggi, melewati beberapa kamar, tempat menjimpan semua prabot istri Tumenggung; Yury tak pernah kesitu.
Hari mulai gelap. Diluar, rumah-rumah dan pagar-pagar seolah dekat-mendekati dalam magrib. Pohon-pohon keluar dari pedalaman taman, waktu kena sentuh tjahaja lampu minjak jang bersinar didjendela-djendela. Hawa gelap dan lengket-lengket. Tjahaja lampu jang menjorot kepekarangan, menetes dari kulit pohon seperti keringat.
Yury berhenti dipuntjak tangga. Ia merasa bahwa mengetuk pintu Lara, pada hal ia baru sadja pulang dan letih oleh perdjalanannja, sudahlah hal jang tak patut dan memalukan. Lebih baik mengundurkan keterangannja sampai besok. Dalam keadaan linglung akibat pergantian pikiran, ia berdjalan keudjung lain dari gang itu, dimana ada djendela jang membuka pandangan atas pekarangan tetangga; ia mendjenguk dari situ.
Malam penuh bunji-bunji rahasia jang tenang. Didekatnja didalam gang ada kran meneteskan air dengan tetesan penuh jang lamban. Disuatu tempat diluar djendela orang berbisik-bisik. Disuatu tempat ditaman sajur, orang menjiram persemaian mentimun; rantai sumur berdentjing, waktu orang mengangkat air dan menuangkannja dari ember keember.
Semua bunga berbau barengan, seolah sepandjang hari tadi bumi pingsan dan kini mulai siuman.
Dan dari taman Tumenggung jang umurnja berabad-abad itu, dikotori dahan-dahan gugur hingga susah dimasuki, bau harum berdebu dari pohon-pohon linden tua jang berkuntum mengalir dalam gelombang besar setinggi rumah.
Bunji-bunji keras datang dari djalan diseberang pagar disebelah kanan — lagu sepotong-sepotong, pradjurit mabuk, pintu-pintu terbanting.
Bulan merah besar terbit dibelakang sarang gagak dalam taman Tumenggung. Mula-mula warna-warna pabrik batu-bata baru di Zabushino, lalu berobah djadi kuning seperti menara-air di Biryuchi.
Dan tepat dibawah djendela mengalun bau djerami jang baru tersabit, kuat bagai bau teh Tiongkok, bertjampur dengan bau dari bajang-bajang malam jang mengerikan. Dan ada lembu sedang diikat; lembu itu diambil dari dusun djauh, ia berdjalan sehari suntuk, lelah lagi rindu kepada kawan-kawannja dan belum mau menerima makanan dari pemilik baru.
„Ajo, he, mau dipukul?” budjuk pemiliknja berbisik-bisik, tapi lembu itu menggeleng kepala dengan marahnja, mendjulurkan leher, melenguh setjara memilukan; dan dibelakang lumbung-lumbung hitam di Melyuzeyevo bersinarlah bintang-bintang, dan benang-benang simpati tak terlihat bergantungan antara bintang-bintang dan lembu, seakan ada gudang ternak didunia lain, dimana orang menjajangi lembu.
Semuanja meradang, tumbuh, membubung oleh ragi hidup. Kegembiraan hidup bagai angin tenang mengalun dalam gelombang-pasang sama-rata lewat padang dan kota, menembus tembok dan pagar, kaju dan daging. Agar luput dari arus jang membandjir ini, Yury keluar kepelataran, untuk mendengarkan pidato-pidato.
7
Sekarang bulan sudah tinggi. Tjahajanja dipelataran setebal kapur, dengan permadani lebar hitam didepan portik gedung-gedung batu.
Rapat diadakan diseberang pelataran dan Yury dapat mendengar tiap kata, asal mau, tapi ia sangat terkena oleh kehebatan pemandangan, hingga duduklah ia dibangku diluar pos pemadam kebakaran dan melihat-lihat sadja tanpa mendengar apa-apa.
Djalan-djalan buntu jang sempit bersumber pada pelataran, berlumpur tebal seperti djalan dusun, digarisi oleh rumah-rumah ketjil jang pentjang-pentjong. Pagar anjaman pohon willow meretjup-retjup dari lumpur seperti udjung pot kepiting. Nampak kilapan djendela terbuka seperti mata satu-satu. Putjuk pohon djagung jang merah-basah dengan rambut berminjak ditaman depan rumah mendjenguk kesemua djendela dan bunga holly-hock jang kurus, putjat dan terpentjil-pentjil, memandang djauh dari atas pagar, matjam perempuan jang keluar waktu malam untuk tjari hawa sekedar, sebab kegerahan dirumah.
Malam terang-bulan ini mengagumkan seperti kurnia atau kepandaian bernubuat. Tiba-tiba dalam kesunjian gemilang jang bersuasana dongeng ini berdetaklah bunji menggeratang jang berirama dari suara terkenal jang baru-baru ini didengarnja. Suara itu bagus dan berbunji dengan mejakinkan. Yury menjimak, lantas ingat seketika. Itulah komisaris Gintz sedang berpidato.
Pemerintah kota rupa-rupanja meminta dia menjokong kampanje dengan gengsinja, dan iapun bitjara sepenuh perasaan; ia menjalahkan penduduk Melyuzeyevo karena tjara hidup mereka tak teratur, pun karena mau sadja ditulari pengaruh desintegrasi kaum bolsjewik jang menurut kejakinnja adalah sebenarnja biang-keladi kekatjauan di Zabushino. Dengan semangat seperti jang ditundjukkannja dikantor major-kota, diperingatkannja mereka bahwa musuh kuat dan tak berbelas-kasih dan bahwa tanah-air sedang dalam udjian. Chalajak mulai mengetjam.
Teguran-teguran supaja tak menjela pembitjara, silih-berganti dengan seruan-seruan protes. Selaan kian keras dan berganda. Seorang jang datangnja bersama Gintz dan kini mendjabat ketua, berteriak bahwa tak dibolehkan orang bitjara dari bawah, lalu dimintanja chalajak supaja tertib. Beberapa orang bersikeras bahwa wargakota jang ingin bitjara hendaknja diizinkan, sedangkan lain-lainnja minta supaja tenang.
Seorang perempuan berdjalan ditengah chalajak kepeti kaju jang digunakan sebagai panggung. Ia tak mentjoba naik kepentas itu, tapi berdiri disampingnja. Perempuan ini terkenal. Publik berdiam diri. Perhatiannja tertarik. Perempuan itu adalah Ustinya.
„Sekarang kamu bitjara tentang Zabushino, kawan Komisaris”, begitu ia mulai, „dan tentang kewaspadaan, kamu andjurkan kami supaja waspada dan djangan sampai tertipu, tapi sebenarnja kamu sendiri — saja dengar tadi — jang kamu maklumi hanjalah main-main dengan kata-kata seperti „bolsjewik-mensjewik”, tjuma itulah jang kamu bitjarakan, bolsjewik dan mensjewik. Dan segala utjapan tentang djangan bertempur lagi dan semua manusia sesaudara, saja namakan itu ilahiat, bukan soal mensjewik, pun supaja semua bengkel dan pabrik diperuntukkan orang miskin, itu bukan soal bolsjewik, melainkan menurut kemanusiaan dan kesajangan. Dan tentang sibisu-tuli, kami sudah dengar tjukup banjak tanpa kamu. Tiap orang terus-menerus omong tentang sibisu-tuli. Lagi pula, apa keberatanmu terhadap dia? Hanja karena ia gagu selama itu, lalu sekonjon-konjon mulai bitjara, tanpa minta izinmu. Nah, apa soalnya? Apa itu begitu mengherankan? Kita tahu, banjak lagi kedjadian telah terdjadi. Ambillah keledai betina jang tersohor, misalnja: „Balam, balam”, udjarnja. „Dengarkan, saja katakan terus-terang, djangan kesitu, kamu akan menjesal”. Tapi ia tak mau dengar, ia djalan terus. Seperti kamu jang bilang: „Sibisu-tuli”. „Apa gunanja mendengarkan dia?” pikirnja. „Dia tjuma keledai betina, binatang bisu. Tapi tengok, betapa tjelakanja ia kemudian. Kamu sekalian tahu, apa kesudahannja”.
„Apa?” tanja seorang jang ingin tahu.
„Tjukup”, tukas Ustinya. „Kalau terlalu banjak bertanja, kamu djadi tua, sebelum waktunja”.
„Djangan begitu. Sebutlah”, desak pengetjam itu.
„Baik, baik, bagaimana dan mengapa, hai sidjudas bengal. Dia berobah djadi tiang garam”.
„Salah, sajang, itu Lot. Itu isteri Lot”, seru chalajak. Semua ketawa. Ketua menertibkan rapat. Yury pergi tidur.
8
Malam berikutnja ia ketemu Lara. Didjumpainja dia dalam kamar persediaan; setumpuk pakaian, baru keluar dari mesin pemulas, terletak didepannja; ia sedang menjeterika.
Kamar persediaan adalah salah satu kamar-belakang paling atas, jang membuka pemandangan ketaman. Disitu disediakan samowar, makanan dipersiapkan dan piring-piring dionggokkan dalam lift jang dilajani orang untuk dikirim ketukang tjutji. Disitu pula daftar barang petjah-belah, piring dan gelas disimpan dan ditjotjokkan dan disitu orang datang diwaktu senggang serta bertemu menurut djandji. Dalam kamar itu bau kuntum linden, seperti dalam taman tua, bertjampur dengan bau pahit ranting-ranting pohon karwai; ditambahkan kesitu asap arang dari dua buah seterika jang bergilir-gilir dipakai Lara dan berganti-ganti ditaruhnja dalam pipa saluran asap, agar tetap panas.
„Mengapa semalam tak mengetuk pintu? Saja dengar dari mademoiselle. Tapi sebetulnja baik begitu. Aku tak dapat memasukkan kau, aku tidur hampir seketika. Nah, apa kabar? Hati-hati, djangan sampai pakaianmu kena arang”.
„Rupa-rupanja kau djadi tukang binatu untuk seluruh rumah-sakit?”
„Bukan, ini kebanjakannja pakaianku sendiri. Kau lihat? Kau selalu menggangguku dengan mengatakan aku terlengket di Melyuzeyevo. Nah, kali ini aku betul-betul akan angkat-kaki. Aku sudah tjutji-tjutji, kemas-kemas. Bila selesai, aku pergi. Aku akan di Ural, kau di Moscow. Suatu hari bertanjalah orang padamu: „Barangkali kau kenal kota ketjil bernama Melyuzeyevo?” — „Tak ingat benar”. — „Dan siapa Antipova?” — „Tak pernah dengar tentang dia”.
„Barangkali begitu. Kau senang dalam perdjalanan tadi? Bagaimana rasanja didesa?”
„Itu tjerita pandjang. — Wah, tjepat benar seterika ini djadi dingin. Tolong ambilkan lainnja, mau? Disana, tengok, dalam pipa. Dan boleh kuminta mengembalikan ini? Trima kasih. — Desa-desa itu berlainan, tergantung dari penduduknja. Ada jang orang-orangnja radjin, kerdja keras, djadi baiklah keadaannja. Ada jang kukira semua laki-lakinja mabuk, maka desa begitu tandus dan mengerikan”.
„Mana bisa! Tak ada alasan untuk mabuk. Banjak jang tak kau fahami! Soalnja, tak ada orang disana, semua lelaki masuk tentara. Bagaimana dewan-dewan baru, jang revolusioner itu?”
„Kau salah terka tentang hal mabuk itu, tapi kelak sadjalah kita berdebat tentang itu. Dewan-dewan? Banjak kesulitan mengenai dewan-dewan ini. Perintah-perintahnja tak dapat dilaksanakan, tak ada jang diadjak kerdja. Jang diperhatikan kaum tani sekarang hanjalah masalah tanah. Aku mampir di Razdolnoye. Dusun indah! Tjoba lihatlah disana. Dusun itu dibakar dan didjarah sedikit musim-semi jang lalu. Lumbungnja dibakar habis, pohon-pohon jang menghasilkan buah djadi hangus, sebagian fasadenja rusak oleh asap. Zabushino tak kulihat, aku tak sampai kesana. Tapi menurut semua orang, sibisu-tuli itu memang ada. Mereka djelaskan bagaimana rupanja, katanja ia muda dan terpeladjar”.
„Semalam di Platz, Ustinya membelanja”.
„Pada saat aku pulang, banjak lagi jang tak beres datang dari Razdolnoye. Sekali kuminta, duapuluh kali pula kuminta supaja mereka biarkan sadja itu. Kitapun sudah kenjang dengan kesulitan. Dan pagi ini datang djurukuntji kantor major-kota, membawa surat — mereka minta servis-teh dari perak dan gelas kristal, itu soal hidup atau mati, hanja untuk satu malam; mereka akan mengiriminja kembali. Separohnja tak bakal kita lihat lagi. Katanja sadja dipindjam — aku kenal pindjaman matjam apa itu. Mereka mau pesta, untuk menghormati tamu atau apa”.
„Bisa kuterka, siapa itu. Komisaris baru sudah tiba, ia diangkat untuk sektor kita dimedan-perang. Orang mau menghadjar kaum desertir, mengepung dan melutjuti mereka. Komisaris kita masih baji. Rakjat kita ingin memanggil tentara Kosak, tapi dia bilang djangan, ia akan mengaduk perasaan mereka. Dia bilang, rakjat seperti kanak-kanak dan sebagainja, dia sangka semua ini mainan kanak-kanak. Galiullin mentjoba mendebatnja. Katanja: „Rimba djangan diutik-utik. Serahkan pada kita membereskannja”. Tapi orang matjam itu tak bisa diapa-apakan, kalau ia sudah punja kemauan. Kuingin kau mendengarkan aku. Berhentilah sebentar menjeterika. Segera kita akan kewalahan, kita tak berkuasa mentjegahnja. Sebaiknja kau berangkat, sebelum terdjadi apa-apa”.
„Tak bakal ada apa-apa, kau melebih-lebihkan sadja. Dan apapun terdjadi aku akan berangkat djuga. Tapi aku tak bisa pergi begitu sadja. Harus kuadakan timbang terima jang saksama dan inventaris mesti tjotjok. Djangan-djangan orang sangka aku tjuri apa-apa, lalu lari. Dan pada siapa kutimbang-terimakan? Itulah soalnja. Tak dapat kusebut apa jang kualami dengan inventaris djahanam ini, sedangkan penghargaan jang kuterima hanjalah tuduhan bahwa aku berbuat tjurang! Kudaftarkan barang-barang Zhabrinskaya atas nama rumah-sakit, sebab itulah maksud perintah mereka. Lalu dikatakan aku tjurang dan menjimpan barang-barang itu untuk pemiliknja. Mual!”
„Djangan kaurepotkan lagi soal pot dan selimut. Persetan dengan itu. Masak kita ribut-ribut tentang itu sadja diwaktu begini. O, kuingin ketemu kau kemaren. Kemaren aku dalam keadaan baik, serasa dapat kuterangkan tiap hal dilangit dan dibumi, dapat kudjawab tiap masalah. Benar, tak main-main, aku gatal-gatal untuk mengeluarkan itu dari dadaku. Kuingin tjerita padamu tentang istriku, anakku dan diriku sendiri....... Wah, mengapa laki-laki dewasa tak boleh bitjara dengan wanita dewasa, tanpa ditjurigai punja alasan jang lebih landjut! Persetan segala alasan — landjut atau tidak. Setrikalah terus, tak usah kauperhatikan aku, aku akan terus bitjara. Aku berniat bitjara lama-lama.
„Tjoba pikir apa jang terdjadi sekarang! Dan kau dan aku hidup dizaman kini! Kau sadar bahwa jang sedang berlaku ini luar-biasa? Hanja satu kali terdjadi dalam zaman abadi. Tjoba, seantero Rusia sudah roboh atapnja, dan kau dan aku dan siapa sadja ada dilangit terbuka! Dan tak ada jang memata-matai kita. — Kita bebas — bebas tak hanja dalam kata-kata — kebebasan betul-betul, tiba dari langit, kebebasan jang tak terduga. Kebebasan karena kebetulan sadja, karena salah-faham.
„Dan tiap orang djadi besar, terkedjut oleh kebesarannja sendiri. Kau lihat? Orang seolah-olah terperandjat oleh dirinja sendiri, oleh keagungannja jang tiba-tiba nampak.
„Teruslah menjeterika. Tak usah omong. Kau tak djemu. Tjoba ganti seterikamu.
„Semalam kulihat rapat dipelataran. Pemandangan disitu mengherankan. Ibu Pertiwi Rusia sedang bergerak, tak bisa berhenti, ia gelisah dan tak dapat mengaso, ia bitjara dan tak sanggup berhenti. Dan bukan hanja manusia jang buka mulut. Bintang dan pohon bertemu dan berbintjang, bunga berfilsafat pada malam hari, rumah-rumah batu berapat. Seperti dari Evangeli sadja, bukan? Seperti dari zaman para nabi. Seperti dalam Santa Paulus — ingat? „Kau akan bitjara dengan lidah dan nubuat. Berdoalah untuk kesanggupan saling mengerti”.
„Aku tahu jang kaumaksudkan tentang bintang dan pohon jang berapat. Aku faham. Pernah kualami djuga”.
„Sebagian disebabkan oleh perang, revolusi menjebabkan jang selebihnja. Perang menggubah retak bikinan dalam hidup — seolah hidup dapat ditunda sementara. Omong-kosong! Revolusi petjah mau-tak-mau, sematjam nafas jang terlalu lama ditahan-tahan. Tiap orang hidup kembali; lahir kembali, berobah lahir-batin. Boleh dikatakan, tiap orang mengalami dua revolusi — revolusi pribadinja sendiri maupun revolusi umum. Bagiku, sosialisme merupakan laut, sedangkan arus-arus tersendiri jang prive, jang pribadi itu mengalir kedalamnja — laut hidup, hidup jang berhak tersendiri. Kukatakan hidup, tapi jang kumaksud ialah hidup jang terlihat dalam karja seni, dirobah oleh djeni, diperkaja oleh daja-tjipta. Baru sekaranglah orang memutuskan hendak mengalaminja, bukan dalam buku serta gambar, melainkan dalam diri mereka sendiri, bukan dalam teori, melainkan dalam praktek”.
Suaranja jang sekonjong-konjong bergeletar itu menundjukkan gairahnja jang meningkat. Lara berhenti menjeterika serta menatapnja dengan sungguh-sungguh, dan serba heran. Ini membuatnja bingung dan ia lupa apa jang hendak diutjapkannja. Setelah sesaat berdiam diri dengan malu-malu, iapun dengan lantjar meluntjurkan lagi apa sadja jang melintas dalam kepala.
„Sekarang kuhasratkan sekali penghidupan jang djudjur lagi produktif. Ingin sekali mengambil bagian dalam pemesatan ini. Tapi ditengah kegembiraan umum jang terbit kembali ini kudjumpai ungkapan matamu jang nanar, sedih, penuh teka-teki, mengembara entah dalam keradjaan mudjizat jang mana. Aku mau korbankan apa sadja, asal itu tak terdjadi, asal kulihat pada wadjahmu bahwa kau tak kurang suatupun, bahwa kau senang hidup, tak butuh apa-apa dari siapapun djuga. Asal ada seseorang jang dekat padamu, kawan atau suami (sebaiknja seorang pradjurit) jang datang menggandeng tangankau dan dengan ramahnja menuturkan agar aku tak usah rusuh-hati tentang nasibmu dan pergi sadja meninggalkanmu. Tapi kalau begitu, akan kupukul dia........ Maaf, bukan begitu maksudku”.
Suaranja mengchianatinja lagi. Ia geleng kepala dan dengan malu jang tak tertahan iapun bangkit dan pergi kedjendela. Bersandar kedauan djendela, ia memandang keluar dengan mata linglung, gelisah dan buta kearah taman jang ditjadari kegelapan; ia mentjoba menenangkan dirinja.
Lara berdjalan mengitari papan seterikanja (jang didjedjalkan antara tepi medja dan daun djendela lainnja), berhenti dua-tiga langkah dibelakangnja ditengah kamar. „Itulah jang sudah kuchawatirkan”, udjarnja lembut, seolah bitjara pada diri sendiri. „Seharusnja aku......... Djangan, Yury Andreyevich, djangan begitu. O, tjoba lihat apa jang kaubuat!” Ia lari kembali kepapan-seterika, dimana sepotong blus jang hangus mengeluarkan asap tadjam berkepul ketjil dari bawah seterika.
„Yury Andreyevich”, sambungnja, sambil mengentakkan dengan marahnja alat itu keatas landasannja, „pakailah otak sehat, pergi sebentar ke mademoiselle, minum seteguk air dan baliklah, sajang, dan bertindaklah seperti biasa, begitulah jang kuinginkan. Kau dengar, Yury Andreyevich? Kutahu kau sanggup. Dan kuminta kau berbuat begitu”.
Mereka tak ada lagi keterangan sematjam itu dan seminggu kemudian berangkatlah Lara.
9
Beberapa waktu kemudian Zhivagopun pulang. Malam sebelum ia berangkat, ada badai jang dahsjat. Kegaduhan taufan bertjampur dengan keributan hudjan lebat; hudjan itu kadang memetjah langsung diatap, kadang turun pesat kedjalan bersama belokan angin, seolah menjapu djalannja selangkah demi selangkah.
Gemuruh guntur bersambungan tanpa selingan, djumbuh djadi bunji mengaum jang rata. Dalam dendjaran kilat, lebuh lari djauh bersama pohon-pohon tunduk jang lari kearah jang sama.
Mademoiselle Fleury terdjaga malam itu oleh ketukan jang buru-buru dipintu-depan. Ia duduk tegak dengan kaget dan menjimak. Ketukan berlangsung.
Mungkinkah, pikirinja, tak ada orang lagi dirumah-sakit jang berdiri dan buka pintu? Mesti diakah jang mengerdjakan segala-galanja, perempuan setua ini, djustru sebab menurut kodratnja ia djudjur dan punja rasa tanggung-djawab?
Taruhlah, keluarga Zhabrinsky adalah kaum ningrat, bekas pemilik rumah ini, tapi bukankah rumah-sakit ini hak rakjat, kepunjaan rakjat sendiri? Siapa jang berwadjib mendjaganja? Misalnja, sidjururawat lelaki itu kemana larinja? Ia ingin tahu. Tiap mereka lari — tak ada lagi kurir, perawat, dokter, tak ada orang jang berwenang. Pada hal masih ada jang luka-luka didalam rumah, dua orang buntung dikamar-bedah, bekas kamar-tamu; sedangkan dibawah, disebelah kamar-tjutji, gudang penuh dengan penderita dysentri. Dan Ustinya pergi bertamu, setan! Dia tentu tahu betul ada taufan datang, tapi itu bukan halangan baginja. Sekarang ia dapat alasan baik untuk menginap dirumah orang lain.
Nah, sukurlah ketukan habis, orang tentu tahu takkan ada jang mendjawab, djadi ogah dan pergi. Mengapa pula orang keluar pada malam begini......... Atau mungkinkah itu Ustinya? Bukan, dia punja kuntji. — „Ja Allah, dimulai lagi, sangat menakutkan”.
Babi-babi, semuanja tak beda. Zhivago tak dapat diharapkan mendengar apa-apa; besok ia berangkat, pikirannja sudah di Moscow atau dalam perdjalanan. Tapi Galiullin bagaimana? Ngorok sadja ditengah kegaduhan ini? Atau ia sudah bangun, baring-baring sadja dan mendengarkan, pertjaja bahwa ia achirnja akan bangkit? Dia biarkan sadja seorang perempuan lemah tak berdaja untuk turun dan membuka pintu entah untuk siapa, pada malam dahsjat ini dinegeri sedahsjat ini.
Galiullin! — tiba-tiba ia ingat. Itu orang baik — Galiullin! Bagaimana pikirannja, tentu ia setengah ngantuk. Galiullin tak ada disitu, sekarang ia pasti sudah djauh. Ia sendirilah bersama Zhivago jang menjembunjikan dia, menjamarkan dia sebagai orang preman, lalu memberi keterangan padanja tentang tiap djalan, tiap dusun didaerah, supaja ia tahu tjaranja lari sehabis pembunuhan kedjam disetasiun Biryuchi itu, dimana mereka menewaskan Komisaris Gintz serta mengedjar Galiullin sepandjang djalan dari Biryuchi sampai Melyuzeyevo, menembaknja, lalu memburunja diseluruh kota.
Andai kata tak ada mobil-mobil itu, satu batupun takkan tinggal tegak di Melyuzeyevo. Kebetulan lewat satu regu berlapis badja, jang lantas mempertahankan kota dan mengalahkan orang-orang djahat itu.
Taufan sedang reda. Guruh tak begitu memandjang lagi, kurang djelas dan lebih mendjauh. Hudjan sekali-sekali berhenti dan air masih kedengaran berkeresak pelan-pelan dari daun-daun dan turun keselokan-selokan. Kilat tak berbunji mengkilap-kilap dalam kamar mademoiselle dan berlangsung sedjurus, seakan mentjari sesuatu.
Sekonjong-konjong ketuk dipintu-depan jang telah lama berhenti, mulai lagi. Ada orang jang perlu segera ditolong dan mengetuk berulang-ulang dengan putus-asa. Angin timbul pula dan hudjan turun.
„Tunggu!” teriak mademoiselle kepada entah siapa; bunji suaranja sendiri menakutkannja. Tiba-tiba ia menduga siapa itu.
Ia duduk, menjodok kaki dalam sandal, menjungkupkan gaun atas bahunja, lantas bergegas memanggil Zhivago; turun bersama dia akan mengurangi takutnja. Tapi diapun sudah mendengar ketukan tadi dan sedang turun dengan lilin menjala. Pikiran jang sama mendatangi mereka berdua.
„Zhivago, Zhivago, ada ketukan dipintu-depan, aku takut turun sendiri”, serunja dalam bahasa Perantjis disusul dengan bahasa Rusia: „Kaulihat nanti, itu Lara atau letnan Galiullin”.
Dibangunkan oleh ketukan, Yurypun jakin bahwa itu seorang jang dikenalnja, mungkin Galiullin jang larinja terhalang dan balik untuk mentjari perlindungan, ataupun djururawat Antipova jang tak dapat meneruskan perdjalanannja, dengan akibat bahwa ia pulang kepadanja.
Diportik, Yury memberikan lilinnja kepada mademoiselle, menarik pasak-pasak dan memutar kuntji. Tiupan angin mendorong pintu hingga terbuka, memadamkan api dan menghudjani mereka dengan tetes-tetes dingin.
„Siapa? Siapa? Ada orang disitu?” Mademoiselle dan dokter itu bergiliran berseru kehawa gelap, tapi tak ada djawaban. Tiba-tiba ketukan mulai ditempat lain dipintu-belakang? Mereka berpikir kini, mungkin didjendela Perantjis ditaman.
„Rupa-rupanja angin”, kata dokter. „Tapi supaja kita tahu, tengoklah dibelakang. Aku tinggal disini, barangkali sungguh ada jang datang”.
Mademoiselle lenjap dalam rumah, sedangkan dokter keluar dan berdiri berteduh diportik. Matanja mendjadi biasa dengan hawa gelap, maka dapat ditangkapnja tanda-tanda pertama terbitnja fadjar.
Diatas kota, mendung berlari kegila-gilaan seperti dikedjar, sangat rendah sampai mumut-mumutnja hampir menjentuh puntjak pohon-pohon jang melentik kearah jang sama, hingga nampak bagai sapu jang menjapu langit. Hudjan meletjut dinding kaju rumah, merobahnja dari abu-abu mendjadi hitam.
Mademoiselle kembali. „Bagaimana?” tanja Yury.
„Kau benar. Tak ada orang”. Ia telah keliling diseluruh rumah; sebatang dahan jang memukul-mukul djendela kamar persediaan telah memetjahkan sekeping genteng; dilantai ada bentjah-bentjah besar, jang ada pula dalam bekas kamar Lara — disitu ada laut, betul-betul laut, ja samudra. „Dan disebelah sini, tengok, ada magun dipukul tutupnja jang patah, kau lihat? Hanja itulah”.
Mereka omong-omong sebentar, lalu balik kekamar masing-masing, ketjewa bahwa semua keributan itu tak guna.
Tadinja mereka jakin bahwa sesudah pintu terbuka, Lara akan masuk, kedinginan benar dan kujup sampai kulit dan mereka akan bertanja selusin pertanjaan, selama ia menanggalkan topi dan mantel; dan dia akan pergi untuk ganti pakaian, lalu turun untuk berdiri depan tungku dapur jang masih hangat sedjak kemaren malam, mengisahkan pengalamannja, sambil menjingkap rambutnja kebelakang dan ketawa.
Mereka jakin betul tentang itu, hingga ketika mereka menguntji pintu, kejakinan itu seolah berbekas dilebuh, dibalik podjok, seperti gandaan lembab dari wanita ini ataupun gambarannja jang terus mengusik mereka.
10
Orang beranggapan bahwa jang bertanggung-djawab tak langsung atas kerusuhan disetasiun Biryuchi adalah telegrafis di Biryuchi, Kolya Frolenko.
Kolya ini anak tukang lontjeng di Melyuzeyevo dan sedjak ketjil sekali telah dikenal di Melyuzeyevo. Mademoiselle kenal baik akan dia, sebab sebagai anak ketjil ia bersama beberapa budjang tinggal di Razdolnoye serta main-main dibawah pengawasannja dengan kedua anak asuhannja, jaitu putri-putri Tumenggung (waktu itulah Kolya beladjar mengerti bahasa Perantjis).
Biasanja orang melihat dia atas sepedanja, tanpa djas dan topi, pakai sepatu musim-panas dari mota dalam iklim apapun. Dengan bersalib lengan kedada, ia mengajuh didjalanan dari Biryuchi, sambil menengadah kekawat tiang-tiang untuk melihat keadaannja.
Hanja sedikit rumah di Melyuzeyevo jang ada telepunnja, disalurkan dengan sambungan tjabang kepada sentralnja disetasiun Biryuchi. Sambungan ini diawasi oleh Kolya dari kantor setasiun. Disitu ia tenggelam dalam pekerdjaannja, sebab djika sep setasiun tak ada, padanja tak hanja diserahkan telepun dan telegrap, melainkan djuga sinjal-sinjal kereta-api jang dilajani dari kamar-kontrol jang sama.
Lantaran harus mendjaga beberapa alat mesin sekaligus, Kolya telah mengembangkan tjara bitjara jang chusus, tak terang, singkat dan mengandung teka-teki, jang kalau perlu memungkinkan dia menghindari pertanjaan atau terlibat dalam pertjakapan. Konon ia telah menjalah gunakan keuntungan jang didapatnja dengan begitu pada hari keributan itu.
Memang benarlah bahwa dengan tjaranja menghindar itu ia telah menghantjurkan segala maksud baik Galiullin dan barangkali tanpa sengadja membelokkan kedjadian kearah jang berbahaja.
Galiullin menilpun dari kota, menanjakan Komisaris Gintz jang ada disetasiun atau didekatnja, untuk menjampaikan bahwa ia akan segera menemuinja dan untuk memintanja supaja menunggu dan tidak berbuat apa-apa sebelum ia tiba. Kolya tak mau memanggil Gintz, dengan alasan bahwa ia lagi sibuk melajani sinjal untuk kereta-api jang sedang datang. Pada waktu itu djuga ia menggunakan tiap alasan, benar atau tidak benar, untuk memperlambat kereta-api jang mengangkut tentara Kosak jang diperintahkan pergi ke Biryuchi.
Ketika pasukan-pasukan itu datang djuga, ia tak dapat menjembunjikan keketjewaanja.
Lokomotif jang merangkak dalam bajangan setasiun, segera berhenti didepan djendela besar dikamar-kontrol. Kolya menjingkap tirai wol hidjau dengan kependekan nama perusahaan kereta-api jang terdjahit dengan warna kuning dipingirannja; ia mengambil potji air besar jang berdiri atas baki lebar ditepi djendela batu, menuangkan sedikit air dalam gelas tebal dari tanah jang sederhana, minum beberapa teguk, lalu memandang keluar.
Masinis melihatnja dari kabinnja dan mengangguk kepadanja setjara bersahabat.
„Kutu busuk”, pikir Kolya dengan bentjinja. Ia mendjulurkan lidahnja dan mengatjungkan tindju. Masinis itu tak hanja mengerti, tapi dengan mengangkat bahu serta mengangguk kearah kereta-api ia bahkan berhasil menjatakan: „Apa harus kubuat? Aku ingin tahu apa jang kaubikin, kalau kau ditempatku. Dialah jang kuasa”. — „Kau tetap badjingan tengik”, djawab Kolya dengan isjarat.
Kuda-kuda jang dikeluarkan dari gerbong-gerbong, melawan dan bertahan. Kaki mereka mengentak dititian kaju dan mendengung diperon batu. Sambil melondjak-londjak mereka digiring melewati beberapa sepur.
Pada udjung rel ada dua deretan kereta kaju rongsokan. Tjatnja sudah terbasuh bersih oleh hudjan, ulat dan hawa lembab melapukkan dari dalam, hingga kereta-kereta ini sekarang kembali keasalnja, sekeluarga dengan kaju dihutan jang tumbuhnja mulai tepat dibelakang alat-alat pengangkutan, dengan lumutnja dan pohon-pohonnja serta awan-gemawan jang mendjulang diatasnja.
Diluar setasiun, Kosak-Kosak itu melontjat kepelana dan lari kentjang keperkemahan desertir ditempat terbuka dalam hutan. Kaum pemberontak itu segera terkepung. Sungguhpun ada bedil dipondok-pondok, namun mereka terkedjut melihat para penunggang kuda itu jang seperti biasanya nampak lebih mengesankan diantara pohon-pohon dari pada dipadang terbuka. Tentara Kosak menghunus pedang.
Gintz berdjalan masuk lingkaran, melompat ketumpukan kaju ditengah-tengah, lantas menegur orang-orang disekelilingnja. Ia bitjara tentang kewadjiban pradjurit, tentang arti tanah-air dan tentang banjak lagi hal jang luhur-luhur. Tapi gagasan ini tak mendapat simpati dari para pendengarnja, sebab terlalu luas. Mereka telah terlalu banjak menjaksikan peperangan, hingga letih dan menjadi kasar. Semua itu sudah mereka dengan sebelumnya dan propaganda jang mengelus-elus itu, berbulan-bulan lamanya, dari Kiri maupun dari Kanan, membikin mereka sinis. Ketjuali itu mereka rakjat sederhana jang tak suka pada nama asing Gintz serta logat Baltiknja.
Gintz merasa bahwa pidatonja terlampau pandjang dan iapun terganggu oleh diri sendiri, namun ia menganggap perlu mengulangi utjapannja agar dimengerti dengan djelas oleh orang-orang ini jang selajaknja berterima-kasih, tapi wadjah mereka menundjukkan tak lain selain kedjemuan, ketidaktahuan dan permusuhan. Lambat-laun habislah kesabarannja, maka diputuskannja bitjara terus-terang dan mengeluarkan antjaman-antjaman jang sampai sekarang ditahan-tahannja. Dengan tiada menghiraukan gerutu jang meningkat-ningkat, ia peringatkan kaum pemberontak itu bahwa telah dibentuk mahkamah-mahkamah perang revolusioner, lalu diserukannja supaja mereka menjerahkan sendjata dan para pemimpin mereka; kalau tidak, akan dihukum mati. Djika menolak, udjarnja, terbuktilah mereka pengchianat kedji, sampah berkepala udang jang tak tahu politik. Orang-orang itu sudah tak biasa mendengar gertakan demikian.
Beratus-ratus suara mulai bergemuruh. Ada jang berendah-hati dan hampir tak menaruh dendam: „Baik, baik. Berhentilah, tjukup”. Tapi ada pula jang karena bentjinja hampir-hampir berteriak dan mereka ini dapat sokongan. Terdengar seruan-seruan hysteris:
„Dengar dia melebih-lebihkan soalnja, kawan-kawan! Tak ubahnja dengan dulu! Tipu-muslihat kaum pegawai ini belum habis-habis. Djadi kita pengchianat, he? Dan kamu sendiri apa, jang mulia? — Bakal apa kita repotkan dia? Rupa-rupanja ia orang Djerman, infiltrator, tjoba lihat! — Tundjukkan kertas-kertasmu, hai ningrat. — Dan kamu melongo sadja?”. Berpalinglah mereka pada Kosak-Kosak: „Kamu datang untuk memulihkan ketertiban, silakan, belenggulah kami, habisi kami”.
Tapi para Kosak itu tambah tak suka pada pidato Gintz. „Baginja kita semua babi”, gerutu mereka. „Dia anggap dirinja sendiri paling berkuasa”. Seorang demi seorang menjarungkan pedangnja; satu persatu turun dari kuda. Sesudah kebanjakan mereka meninggalkan pelana, dalam bondongan tak teratur bergeraklah mereka ketengah tempat terbuka, bertjampur dan bersahabatan dengan orang-orang dari resimen ke-212.
„Kamu harus enjah”, tutur perwira Kosak dengan chawatirnja kepada Gintz. „Tjepat pergilah, djangan sampai kelihatan. Mobilmu ada disilangan djalan kereta-api, akan kami kirim untuk mendjemput kamu. Lekas”.
Gintz pergi, tapi ia merasa tak patut untuk mengendap-endap, maka terang-terangan ia menuju kesetasiun. Ia bukan main rusuhnja, namun ketinggian-hatinja memaksanja berdjalan dengan tenang, tanpa terburu-buru.
Ia dekat setasiun. Ditepi hutan jang kelihatan dari sepur-sepur, ia pertama kali melihat keliling. Pradjurit-pradjurit pakai bedil telah mengikutinja. „Mereka mau apa?” pikirnja. Dia tjepatkan langkahnja.
Begitu pula jang memburunja. Djarak antara mereka tak berobah. Ia melihat dua deretan kereta rongsokan, ia melangkah sampai kebelakangnja dan lari. Kereta-api, jang tadinja membawa tentara Kosak itu, telah dilangsir, hingga sepur-sepur bersih. Ia melintas disitu dan melontjat keperon jang tinggi. Saat itu djuga para pradjurit lari-lari dari belakang kereta-kereta rusak.
Kolya dan kepala setasiun berseru dan melambai padanja supaja masuk kegedung setasiun, dimana ia akan aman.
Tapi sekali lagi rasa hormat-diri jang dididikkan padanja sedjak beberapa generasi, rasa hormat orang kota jang memaksanja berkorban diri, namun tragis karena tak sesuai dengan keadaan, menghalangi djalannja kekeamanan. Dengan hati berdebar liar, ditjobanja dengan luar-biasa untuk mengekang ketakutannja. Ia berkata dalam hati: „Harus kuserukan: „Djangan kelewat buru-buru, kamu tahu saja bukan mata-mata”. Rasa kemanusiaan akan menenangkan, menghentikan mereka”.
Bulan-bulan terakhir ini rasa bakti dan kepahlawanannja dengan tak sadar telah bertalian dengan penjusunan panggung dan mimbar, dengan kursi-kursi diatasnja untuk dilontjati guna melontarkan seruan untuk berbuat, tantangan terhadap barisan pendengar jang berdjedjalan. Ia memerlukan mimbar.
Dekat pintu-pintu setasiun, dibawah genta setasiun ada sebuah ember jang dipergunakan bila ada kebakaran. Diatasnja ada tutupnja. Gintz melompat kesitu, lalu bitjara sekedar kepada orang-orang jang mendekat itu dengan tjara mengharukan jang tak pada tempatnja. Keberanian gila dalam sikapnja ini, dua langkah dari pintu, dimana ia mudah dapat berlindung, membuat mereka keheran-heranan hingga berhenti mengedjar. Dan turunlah bedil mereka.
Tapi Gintz melangkah kedepan ketepi tutup ember, jang mendjadi terbalik, maka djatuhlah ia dengan sebelah kaki dalam air, sebelahnja lagi keluar dari ember.
Melihat dia duduk berdjangkang diatas ember dengan tjanggungnja, orang-orang itupun ketawa gelak-gelak dan seorang jang didepan menembak Gintz dalam duduknja. Ia sudah mati, ketika jang lain-lainnja baru-baru datang serta menusukkan sangkur dalam tubuhnja.
Mademoiselle menilpun Kolya supaja untuk Dr. Zhivago ditjarikan tempat duduk jang baik dalam kereta-api ke Moscow; kalau tidak, ia mengantjam hendak membuka rahasianja.
Seperti biasa, Kolya lagi mengadakan pembitjaraan lain dan menilik potong-potongan ketjil jang menghiasi penuturannja, ia sedang mengirim kabar dengan kode melalui alat ketiga.
„Pskov, Pskov, kaudengar? — Pemberontak jang mana? Bantuan apa? Kamu bilang apa, Mademoiselle? Berhentilah bitjara. — Pskov, Pskov, tiga puluh enam titik nol satu lima. — Persetan, panggilanku dipotong. — Halo, halo, tidak denger. — Kamu lagi, Mademoiselle? Saja sudah bilang tak bisa, tanja kepala setasiun. Suaranja bohong, dongeng belaka. — Tiga-puluh-enam ....... Persetan ......... Berhentilah Mademoiselle”.
Dan berkatalah Mademoiselle:
„Djangan kelabui mataku, Pskov, Pskov, ah, bohong. Kutahu muslihatmu; besok kamu sediakan tempat dikereta-api untuk dokter dan aku tak mau denger dari kau tentang pembunuhan Judas-Judas ketjil lagi”.
12
Hari keberangkatan Yury adalah sumuk. Taufan sematjam jang mengamuk dua hari sebelumnja, sedang mendjadi-djadi. Dilingkungan setasiun jang dikotori kulit bidji-bidji bunga matahari, semua pondok lempung dan gangsa kelihatan putjat dan ketjut dibawah antjaman senjap dari langit hitam.
Rumput dipadang luas depan setasiun jang terbentang dikanankirinja, telah terindjak-indjak dan hilang-lenjap oleh chalajak tak terbilang jang menanti kereta-api berminggu-minggu.
Kaum lelaki tua dengan djas abu-abu dari wol jang kasar berdjalan-djalan dari kelompok kekelompok, mentjari kabar atau desas-desus. Anak-anak berumur empat-belas tahun diam-diam berbaring bertelekan siku, sedang memusing-musingkan ranting-ranting jang terkupas, seolah mendjaga sekawanan domba; sedangkan adik-adik mereka jang ketjil berkeliaran dibawah kaki orang dengan kemedja jang berkibaran serta pantat merah-djingga. Para ibu duduk ditanah, mendjulurkan kaki lurus kedepan, menjamankan pemandangan; pada dada mereka baji-baji diselubungi djaket sawo-matang jang biasa dipakai petani, hingga tak tentu bentuknja.
„Semua berpentjar matjam domba sadja, ketika tempo hari ada tembakan”, kata kepala setasiun setjara tak mengenakkan kepada Yury, waktu mereka djalan berbelok-belok antara deretan-deretan tubuh jang berbaring ditanah didepan gerbang dan dilantasi setasiun. „Dalam sekedjap mata semua meninggalkan padang rumput. Tanah nampak lagi, tanah jang berbulan-bulan tak kami lihat, karena mereka bertjokol terus, kami sudah lupa bagaimana tanah itu rupanja. — Disinilah ia menggeletak. Lutju. Dalam perang saja lihat beberapa hal jang tak sedap, orang mengira saja sudah biasa pada apa sadja. Namun saja masih merasa kasihan. Sebab semuanja tak bermakna. Apa kesalahannja terhadap mereka? Tapi, ja, mereka bukan lagi manusia. Mereka bilang, ia anak-mas. — Sekarang, mari kekanan, kekantor saja. Tak ada harapan dikereta-api ini. Saja chawatir, tuan akan terhimpit mati. Saja tempatkan tuan dalam kereta-api setempat. Sedang disiapkan sekarang. Tapi djangan sebut-sebut itu, sebelum kita mulai mempersilakan mereka; kereta akan petjah-belah sebelum selesai diatur. Tuan pindah kereta di Sukhinichi nanti malam”.
Waktu kereta-api jang disembunjikan tadi masuk mundur dari belakang gudang-gudang, seluruh chalajak tertjurah kesepur-sepur. Orang terguling-guling dari tanggul matjam gundu, naik geradjangan keatas rel, sikut-menjikut, melontjat ketangga dan bufer atau memandjat djendela dan terus keatap. Kereta-api penuh seketika, selagi masih berdjalan dan ketika berhenti diperon ia tak hanja sesak terdjedjal, tapi penumpangnja bergerombol-gerombol diluar diseluruh kepandjangannja, dari puntjak sampai dasarnja. Adjaiblah bahwa Yury berhasil naik kekopeling dan dari situ dengan lebih tak dapat diperhitungkan lagi, masuk kegang.
Disitu ia duduk dibegasinja sepandjang djalan ke Sukhinichi.
Mendung telah terpentjar-pentjar, padang dibakar matahari, dari udjung keudjung penuh gema kerik djangkrik jang menenggelamkan debak-debuk roda-roda.
Para penumpang jang berdiri dekat djendela menutupi matahari terhadap jang lain-lain. Bajangan mereka pandjang lagi berganda, menggoresi lantai, tempat-tempat duduk serta sekat-sekat. Terdesak keluar kompartemen oleh orang banjak, mereka melompat dari djendela didinding lainnja, lantas lari dan melompat-lompat ditanggul seberang, bersama bajangan kereta-api jang bergerak.
Disekitar Yury orang berteriak, menderumkan njanjian, maki-maki dan berdjudi. Tiap kali kereta-api berhenti, kegaduhan didalam ditambah dengan keributan orang banjak diluar jang menjerbu. Keriuhan tambah hebat matjam taufan dilaut dan seperti dilaut pula, diikuti oleh kesunjian jang tiba-tiba. Dalam kesepian jang tak dapat didjelaskan ini terdengar langkah orang bergegas diperon, —kasak-kusuk dan ketjaman diluar gerbong barang, suara orang berpamit dari djauh serta kotek ajam dan kerisik pohon jang tenang ditanam setasiun.
Lalu, bagaikan pesan jang disampaikan ditengah djalan atau seperti salam dari Melyuzeyevo jang seolah dialamatkan setjara pribadi kepada Yury, masuklah arus bau wangi jang dikenalnja. Datangnja dari salah satu segi djendela, lebih tinggi dari ketinggian taman atau bunga dipadang serta diam-diam mengatasi hal-hal lainnja. Yury terhalang dari djendela oleh orang banjak, hingga tak dapat dilihatnja pohon-pohon; tapi dibajangkannja pepohonan jang tumbuh sangat dekat, memajungi atap kereta dengan dahan-dahan jang tenang, dirimbuni daun berdebu, hingga pekat bagai malam, ditaburi susunan bunga lilin ketjil berkedip-kedip.
Dimana-mana sepandjang djalan ada hiruk-pikuk dan dimana-mana pohon linden berkuntum.
Baunja seolah dimana-mana sekaligus serta mengedjar para penumpang dalam perdjalanan ke Utara, terbang bagai kabar-angin disekitar tiap sepur-tjabang, gardu dan tempat pemberhentian, pun menunggu mereka waktu tiba ketudjuan mereka dengan kepastian jang tak terelakkan.
14
Malam itu di Sukhinichi seorang djurukuntji kolot jang baik budi mengantarkan Yury lewat sepur-sepur jang tak diterangi lampu kesebelah belakang kereta-api jang tak masuk rentjana dan baru datang, lalu mempersilakannja dalam deresi kelas dua.
Begitu ia membukanja dengan kuntji kondektur serta mengangkat begasi Yury kedalamnja, begitu pula kondektur datang hendak melemparkannja keluar, tapi ia dilembutkan oleh Yury, lalu pergi.
Kereta-api rahasia ini menurut perintah chusus; djalannja tjukup kentjang, hampir tak pernah berhenti disetasiun-setasiun, lagi pula dikawal setjara bersendjata. Deresi hampir kosong.
Kompartment Yury diterangi lilin jang njaris habis, berdiri diatas medja ketjil; njalanja berkibar-kibar oleh arus angin dari djendela jang separoh terbuka. Lilin ini kepunjaan satu-satunja penumpang lainnja, anak-muda berambut pirang jang menilik besarnja tangan dan kakinja adalah sangat tinggi. Anggota-anggota-badannja bersendi lemah, seakan tak sempurna pemasangannja. Tadinja ia mengelai-ngelai ditempat duduk dekat djendela disuatu sudut, tapi waktu Yury masuk, iapun duduk tegak dengan sikap jang lebih patut.
Sebuah benda jang nampak seperti kain-pel terbentang dibawah tempat duduknja. Salah satu sudutnja bergerak dan muntjullah seekor andjing jang daun-kupingnja besar. Andjing ini menjelidiki Yury, menghidunja, lalu mulai djalan kian-kemari dalam kompartimen, sambil mengembangkan tjakarnja jang bersendi lemah, sama dengan tjara madjikannja menjilangkan kaki. Atas perintah sang madjikan ia segera merangkak kembali kebawah tempat duduk, serupa lagi dengan bulu-bulu kumal.
Saat itulah Yury baru melihat fudral bedil, sabuk peluru dari kulit serta ransel jang berbondjol diatas rak.
Pemuda itu baru pulang dari memburu.
Ia suka sekali bertjakap-tjakap, maka segera diadjaknja Yury omong-omong dan selama itu ia langsung melihat kemulut Yury.
Suaranja bernada tinggi dan tak mengenakkan, kadang-kadang naik mendjadi suara perempuan jang ketjil. Keanehan lain dalam tjaranja berbitjara ialah bahwa sungguhpun ia orang Rusia tulen, namun diutjapkannja huruf hidup oo benar-benar setjara orang asing, dihaluskan mendjadi u dari bahasa Perantjis atau ii dari bahasa Djerman. Untuk melafaskannja sadja agaknja diperlukan tenaga jang luar-biasa; ia utjapkan itu dengan memaksa diri sedapat-dapatnja, dengan teriakan lemah, pun lebih keras dari bunji apapun. Sekali tempo, rupa-rupanja dengan pemusatan tenaga, berhasillah ia memperbaiki ketjanggungannja, tapi masih timbul djuga.
„Apa pula ini?” pikir Yury dengan heran. „Aku pasti pernah batja tentang ini, aku harus tahu sebagai dokter, tapi tak masuk akal djuga. Tentunja penjakit otak jang mengakibatkan ia tak bitjara dengan sempurna”. Adapun sebabnja, ia mendjadi geli, sampai hampir tak sanggup menahan perobahan air-mukanja. „Lebih baik tidur”, kata batinnja.
Ia naik ketempat tidur jang letaknja paling atas. Pemuda itu menawarkan untuk memadamkan lilinnja agar ia tak tetap bangun. Yury menerima, kompartimen itupun tertjempung dalam gelap semata-mata.
„Perlu saja tutup djendela?” tanja Yury. „Tuan tak takut pentjuri?”
Djawaban tak ada. Diulanginja pertanjaannja lebih keras, namun masih sadja tak terbalas. Ia menggeret korek-api, lalu mendjenguk dari tempat tidurnja untuk melihat apakah tetangganja keluar. Mustahil ia sudah tidur dalam waktu sependek itu. Ia masih disitu, duduk ditempat semula dengan mata terbuka. Ia senjum-senjum menatap muka Yury jang terkulai diatasnja.
Korek padam, Yury menjalakan jang lain dan selama terang itu diulanginja pertanjaannja ketiga kalinja.
„Sesuka tuan sadja”, djawab pemuda itu seketika. „Saja tak ada apa-apa jang akan diingini pentjuri. Tapi barangkali baiklah dibuka. Pengap disini”.
„Wataknja adjaib!” pikir Yury. „Boleh djadi orang exentrik. Tak mau bitjara dalam gelap. Adjaib benar!”
15
Tjapik oleh segala kedjadian diminggu-minggu terachir dan oleh keberangkatannja pagi-pagi, Yury mengharap akan tidur pada saat ia menjamankan diri, tapi ia terlalu letih, hingga bangun sadja sampai dekat fadjar.
Pikirannja berkelarian dan berpusing-pusing dalam gelap; agaknja bergerak dalam dua lingkaran, dua gulungan jang terus-menerus berdjalanan dan terurai kembali.
Lingkaran pertama menjangkut pada gagasannja tentang Tonya: rumah-tangga serta penghidupan mereka dulu jang teratur, dimana tiap hal sampai seketjil-ketjilnja mengandung puisi, bakti dan kemesraan. Yury mendambakan penghidupan ini, diinginkannja itu utuh lagi sempurna, maka setelah berpisah dua tahun, ketika pulang dengan pesatnja dalam kereta-api expres itu, ia berhasrat sudah sampai disana.
Kemudian kesetiaannja pada revolusi dan kekagumannja terhadapnja, revolusi dalam maknanja seperti jang diterima oleh kelas menengah, seperti jang diartikan oleh para mahasiswa, penganut Blok dalam tahun 1905.
Lingkaran akrab ini djuga mengandung firasat tentang soal-soal baru. Didalamnja ada segenap ramalan dan kemungkinan jang sebelum perang, antara 1912 dan 1914, telah tampil dalam pikiran orang Rusia, dalam seni dan hidupnja, dalam hari-depan Rusia sebagai keseluruhan serta hari-depan dia, Zhivago, sendiri.
Sehabis perang baiklah balik keiklim itu guna menjaksikan pembaruan serta kelandjutannja, sama baiknja dengan pulang kerumah.
Dalam lingkaran lain dari pikirannja itu ada pula hal-hal baru, tapi sangat berbeda, tak serasi dengan jang pertama! Hal-hal jang baru ini tidak akrab, tidak terbina oleh jang lama; tak dipilih-pilih, tapi dilahirkan oleh kenjataan dan tiba-tiba sadja bagai gempa-bumi.
Antaranja adalah perang dengan penumpahan darah dan kekedjamannja, ketiadaan hidup berkeluarga beserta keliaran serta kepentjilannja, dengan udjian-udjian serta kebidjaksanaan duniawi jang diadjarkannja. Disitu pula kota-kota ketjil jang sepi, tempatnja terdampar oleh perang dan orang-orang jang oleh perang itu ditjampur-baurkan bersama dia. Soal baru jang sedjenis adalah revolusi, bukannja jang lazim ditjita-tjitakan oleh mahasiswa dalam tahun 1905, melainkan kebangkitan baru inilah jang lahir dari perang sekarang ini, berdarah, berampun, elementer, revolusi pradjurit jang dipimpin oleh kaum profesional, kaum bolsjewik.
Dan antara pikiran-pikiran barunja adalah djururawat Antipova, terhundjam oleh peperangan dari punggung masa lampau, dengan penghidupannja jang serba tak dikenalnja, Antipova jang tak pernah menjalahkan siapapun, namun djustru kebungkamannja itulah suatu ketjaman jang terpentjil diam-diam dan kuat dalam kepentjilannja. Dan ada djuga usaha Yury jang djudjur untuk tidak mentjintainja sepenuh hati, lain dari usahanja diseluruh hidupnja sampai kini untuk mentjintai tak hanja keluarga atau teman-temannja, melainkan djuga setiap orang.
Kereta-api berlari sekentjang-kentjangnja. Angin dari depan jang lewat djendela, menggeram dan menjembur debu kerambut Yury. Ditiap setasiun, siang-malam, chalajak menjerbu dan pohon-pohon linden menderu.
Kadang-kadang beberapa kereta atau pedati bergeletuk kesetasiun dari dalam gelap; suara-suara dan derak roda bertjampur dengan bunji kerosok pohon-pohon.
Pada saat-saat demikian Yury merasa faham, apa sebab bajang-bajang malam ini berkerisik serta dekat-mendekati, apa sebabnja mereka berbisik-bisikan, njaris tanpa membalikkan daun-daun, kena kantuk berat, seperti mulut menggagap jang kasak-kisik. Itulah pula jang dipikir Yury, seraja membalik-balik dan berputar-putar ditempat-tidur — kabar tentang lingkaran keresahan dan kerusuhan jang makin melebar di Rusia, kabar tentang revolusi tentang taraf kesulitan dan bahajanja dan tentang kemungkinan mentjapai kebesaran pada achirnja.
16
Esok paginja Yury tidur sampai siang, bangun lewat pukul sebelas. „Prince, Prince”, tetangganja dengan lembut memanggil andjingnja jang tak senang. Yury heran bahwa dikompartimen masih hanja mereka sendiri sadja; tak ada penumpang lain jang masuk.
Propinsi Kaluga sudah lewat, mereka sudah sampai dipropinsi Moscow. Nama setasiun-setasiun sudah dikenal Yury sedjak ketjil.
Ia tjutji muka dan tjukur dengan komfor dari sebelum perang dan kembali pada waktunja dalam kompartimen untuk sarapan jang ditawarkan padanja oleh kawannja jang aneh itu. Sekarang ia dapat lebih djelas melihatnja.
Jang paling mengesankan ialah bahwa ia suka sekali omong dan tak sesaatpun tenang. Ia senang bitjara dan jang paling disukainja bukanlah menghubungkan serta menukar pikiran, melainkan fungsi pertjakapan sendiri, jakni melafaskan kata-kata dan mengeluarkan bunji. Sambil bitjara ia selalu melondjak-londjak seakan berpegas; ketawanja membisingkan dan tanpa alasan, ia menggaruk-garuk tangan dengan tjepat sekali dan apabila segala hal lainnja tak sanggup mengutarakan perasaannja, ia memukul lututnja keras-keras, ketawa bergontjang-gontjang sampai memekik.
Dalam pertjakapannja ada kegandjilan seperti semalam. Anehnja, ia tidak konsekwen; sekali ia berbuat pengakuan jang tak diminta, sekali ia tak mendjawab pertanjaan jang paling tak berarti. Diobralkannja hal-hal tentang dirinja sendiri jang bukan-bukan dan tak ada hubungannja. Barangkali ia sedikit bohong; tapi pastilah ia ingin mengesankan dengan pendirian-pendiriannja jang keluar batas dan dengan mengingkari apa sadja jang sudah mendjadi pendapat umum.
Semua itu mengingatkan Yury pada sesuatu. Begitulah suasana radikal dari kaum nihilis pada abad terachir dan agak kemudian dari beberapa tokoh Dostoyevsky; lebih dekat lagi kezaman sekarang, suasana anak-tjitju mereka sendiri, jakni para intelektuil propinsial jang sering mendului ibu-kota-ibu-kota, karena mempertahankan kesungguhan hati jang oleh kota-kota besar dianggap kolot.
Pemuda itu mentjeritakan bahwa ia kemenakan seorang revolusioner terkemuka, tapi orang-tuanja sudah terlandjur reaksioner, orang-orang pra-sedjarah menurut istilahnja. Mereka punja tanah-milik besar disebuah distrik jang kini berdekatan dengan medan-perang. Disitulah sianak-muda dibesarkan. Seumur hidup orang-tuanja bermusuhan dengan pamannja, tapi pamannja tak betah dan kini menggunakan pengaruhnja untuk menghindarkan mereka dari banjak kesusahan.
Pendiriannja sendiri tak ubahnja dengan pendirian pamannja; dalam segala hal ia seorang extremis, dalam hidup, politik maupun kesenian. Inipun mengingatkan Yury pada Peter Verkhojvensky3 3Tokoh dalam sebuah roman Dostoyevsky. — bukan karena kirinja, melainkan karena kebobrokan dan bombasmenja. „Nanti ia sebut dirinja seorang futuris”, pikir
Yury; dan memanglah pertjakapan beralih kefuturisme. „Berikut soal olah-raga, patjuan-kuda, gelanggang-skat atau gulat Perantjis”; tapi sebenarnja dibitjarakan hal tembak-menembak.
Pemuda itu telah berburu dekat rumahnja. Ia penembak berpengalaman, udjarnja bangga; andaikan tak ada penjakit djasmaninja jang menghalangi dia masuk tentara, pastilah ia ternama sebagai penembak ulung. Menangkap pandangan Yury jang ingin tahu, berserulah ia: „Tuan tak melihat apa-apa? Saja sangka tuan telah menerka tjatjat saja”.
Diambilnja dua kartu dari kantong jang diulurkannja pada Yury. Jang selembar adalah kartu pengenalannja. Ia mempunjai dua nama madjemuk, jaitu Maxim Aristarkhovich Klintsov-Pogorevshikh — atau Pogorevshikh sadja, begitu ia minta Yury memanggilnja, untuk menghormati pamannja jang memiliki nama itu.
Kartu lainnja terbagi dalam persegi-persegi dan dalam tiap persegi tergambar dua tangan jang ditangkupkan setjara berlainan, pun djari-djarinja dilipat dengan tjara aneka-ragam. Itulah abdjad untuk orang bisu-tuli. Maka teranglah segala-galanja. Pogorevshikh adalah murid jang berbakti luar-biasa dari sekolah Hartman atau Ostrogadov, seorang bisu-tuli jang mentjapai kesempurnaan tak terduga dalam hal berbitjara, tidak dengan mendengar, melainkan dengan melihat, dengan memperhatikan otot-otot kerongkongan guru-gurunja; metode inipun memungkinkan dia mengerti utjapan orang lain.
Dengan mendjalinkan tjeritanja tentang daerah asalnja dan tentang pemburuannja, berkatalah Yury:
„Maaf, kalau kurang patut dan tuanpun tak usah mendjawab. — Apa ada hubungan tuan dengan pembentukan républik Zabushino?”
„Bagaimana tuan bisa menerka? — ...... Tuan kenal Blazheiko? ...... Ja, ja! Memang ada hubungan itu!” Pogorevshikh bertjelotjeh, ketawa, menggontjangkan seluruh tubuhnja dan memukul-mukul lututnja.
Pogorevshikh mengatakan bahwa Blazheiko adalah kedoknja dan Zabushino kesempatan setempat untuk mengedjar tjita-tjitanja sendiri. Yury tak selalu dapat mengikuti uraian filsafatnja jang agaknja tjampuran anarchisme dengan kebohongan seorang pemburu belaka.
Tak tergugat bagai orakel, diramalkannja akan ada perubahan-perubahan penuh bentjana di Rusia dalam masa sangat dekat. Setjara pribadi Yury mengakui bahwa ini bukan barang mustahil, tapi ia dibuat geram oleh kesombongan anak-sekolah jang tak sedap jang ada pada segala keterangannja.
„Tunggu”, udjarnja setjara mengudji. „Semua ini mungkin benar, jang tuan katakan itu bisa terdjadi. Tapi saja pikir, dengan segala hal jang berlaku sekarang — kekatjauan, desintegrasi, tekanan dari musuh — bukanlah saatnja untuk memulai pertjobaan-pertjobaan berbahaja. Tanah-air mesti mengatasi satu perobahan lebih dulu, sebelum terdjun dalam perobahan lain. Perlu damai dan tertib lebih dulu”.
„Itu pernjataan jang naif sekali”, kata Pogorevshikh, „Jang tuan sebut kekatjauan itu adalah keadaan biasa seperti ketertiban jang tuan dambakan. Segala pemusnahan ini adalah taraf jang tepat dan wadjar dari rentjana pembinaan jang luas. Masarakat belum tjukup mengalami desintegrasi. Harus petjah berantakan, lalu pemerintahan revolusioner jang murni akan menjusun kembali petjahan-petjahan itu atas dasar jang baru sama sekali”.
Yury mual. Ia masuk gang.
Kereta-api jang tambah kentjang itu mendekati Moscow, larinja lewat hutan-hutan berdaun penuh villa musim-panas. Peron-peron ketjil tak beratap dengan banjak laki-laki dan perempuan diatasnja terajun djauh kesamping dalam kepulan debu, berpusing seperti atas djentera. Kereta-api membunjikan peluit berulang-ulang dan gema geram seperti suling mengerang dihutan bersama peluit itu.
Tiba-tiba, pertama kali selama berhari-hari, Yury sadar sedjelas-djelasnja dimana ia berada, apa jang terdjadi dengannja dan apa menantinja sedjurus lebih dari sedikit djam lagi.
Tiga tahun penuh perobahan, gerakan, ketidaktentuan, keruntuhan, perang, revolusi, adegan pembinasaan, adegan maut, penggranatan, djembatan jang diledakkan, kebakaran, reruntuhan — semua ini sekonjong-konjong mendjelma ruangan besar, kosong, tandus. Kedjadian njata jang pertama sedjak selingan pandjang itu ialah kepulangannja penuh pusingan dengan kereta-api ini dan dengan pengetahuan bahwa rumahnja masih aman, masih ada disuatu tempat, dengan tiap batu seketjil-ketjilnja jang disajanginja. Inilah soal hidup, ini pengalaman, inipun jang ditjari petualang, jang digagas oleh seniman — pulang kekeluarga, kediri sendiri, pembaruan hidup.
Kereta-api lolos dari kerimbunan daun-daun, masuk kelapangan terbuka. Padang landai naik dari lembah sampai ketanggul jang lebar. Padang ini digoresi horisontal oleh banjak persemaian kentang hidjau-tua; diseberangnja, dipuntjak tanggul ada kotak-kotak penangas dari katja. Menghadap kelapangan, dibelakang ekor kereta-api jang berbelok-belok, mendung muram merah menutup separoh langit; sinar matahari menembusnja, berpentjaran bagai djari-djari roda dan dengan tjerlang tak tertahankan mengkilat dikatja kota penangas.
Sekonjong-konjong hudjan lebat hangat, berpendaran dalam tjahaja surja, djatuh dari mendung tadi. Hudjan ini sama pesatnja dengan kereta-api jang ladju, menghantam bantalan rel serta mengguruh diatasnja, seolah takut ketinggalan dan hendak mengedjar.
Baru sadja Yury melihatnja, nampaklah geredja Kristus Sang Djuruselamat4 4Geredja Santa Djuruselamat jang menandai Moscow dibangun guna memperingati Perang Napoleon dan berdiri ditengah kota. Dirombak sehabis revolusi, hendak diganti dengan Istana Sovjet jang sampai sekarang belum dibangun. diatas punggung bukit dan sesaat kemudian dilihatnja berbagai kubah, tjerobong asap, atap serta rumah-rumah dikota.
„Moscow”, kata Yury, kembali kekompartimen. „Kini saat berkemas”.
Pogorevshikh melontjat, mentjari-tjari dalam tas perburuannja dan mengeluarkan seekor bebek gemuk. „Ambillah”, udjarnja, „sebagai tanda-mata. Djarang saja mendapat kawan jang menjenangkan seperti tuan”.
Bantahan Zhivago sia-sia. Achirnja berkatalah ia: „Baiklah, saja terima sebagai hadiah untuk istri saja dari tuan”.
„Bagus, bagus, istri tuan”, dengan riangnja Pogorevshikh mengulanginja terus, seakan didengarnja kata itu pertama kalinja; ia melontjat dan ketawa berkali-kali, sampai Princepun melompat serta ikut bergembira.
Kereta-api masuk stasiun. Kompartimen djadi gelap, seakan sudah malam. Sibisu-tuli mengulurkan bebek liarnja jang terbungkus dalam kertas koran jang lebar.
1
Selama ia duduk dikereta-api, bagi Yury seolah hanja kereta-api jang berdjalan, seolah waktu berhenti dan hari masih tengah-siang sadja.
Tapi sebetulnja sudah sore benar, ketika keretanja djalan pelan-pelan dari setasiun ketengah chalajak ramai di Pelataran Smolensky.
Entah bagaimana sebenarnja, ataupun ingatan Yury teruruk oleh pengalaman dari tahun-tahun lainnja, tapi sewaktu ia kelak mengenangkannja kembali, ia merasa bahwa chalajak itu berkerumun dipasar hanjalah karena kebiasaan belaka, bahwa sudah tak ada alasan untuk berada disana, sebab toko-toko diselubungi, bahkan tak dikuntji, dan tak ada jang dapat dibeli atau didjual dipelataran kotor jang tak ada orang menjapunja lagi.
Dan seolah telah dilihatnja lelaki-perempuan tua, kurus, berpakaian patut, meringkuk dipinggir tembok-tembok jang berdiri bagai ketjaman bisu kepada orang-orang jang lewat, sambil menawarkan apa jang tak diperlukan orang — bunga-bunga bikinan, saringan kopi dengan tutup katja dan peluit, pakaian-malam dari tule hitam serta pakaian seragam dari kantor-kantor jang telah ditutup.
Mereka jang lebih sederhana, berdagang barang-barang jang lebih berfaedah — remah-remah runtjing dari roti rangsuman jang hitam dan lohok, gelintiran gula kotor, dan bungkusan tembakau kasar dari satu on jang dipotong separoh, tepat diatas etiket.
Sampah kedji ini berkeliling diseluruh pasar, harganja naik, tiap kali berganti tangan.
Kereta berbelok kedjalan-tjabang. Matahari jang sedang tenggelam ada dibelakang. Didepan mereka seekor kuda berderap-derap, menarik kereta-beban kosong jang melondjak-londjak. Ditimbulkannja semprotan-semprotan debu jang menjala dalam tjahaja sendja.
Achirnja mereka mengedjarnja, lalu berdjalan lebih tjepat. Yury heran melihat banjaknja surat-kabar dan poster tua jang disobek dari tembok dan pagar, mengotori djalanan. Angin meniupnja kesatu arah, sedangkan kaki kuda, roda dan kaki manusia menjeretnja kearah lain.
Mereka lewati beberapa simpangan djalan dan nampaklah rumah Yury dipodjok dua djalan-tjabang. Keretapun berhenti.
Yury menahan nafas, hatinja memukul bagai palu, waktu ia keluar, berdjalan kepintu-depan, lantas membunjikan bel didinding. Tak ada apa-apa. Ia mengebel lagi. Karena masih belum ada djawaban, iapun terus mengebel dengan selingan pendek-pendek, penuh gairah. Ia masih mengebel, ketika dilihatnja pintu dibuka Tonya jang berdiri untuk menahan pintu agar tetap terbuka. Hal jang tak tersangka-sangka ini membuat kedua-duanja bisu, hingga jang satu tak mendengar lainnja berseru. Tapi karena pintu jang tetap dibuka lebar oleh Tonya itu dengan sendirinja mengutjap selamat datang dan hampir merupakan pelukan, merekapun segera sadar kembali dan berangkul-rangkulan. Sesaat kemudian keduanja bitjara sekaligus.
„Pertama-tama, semua orang baik-baik sadja?”
„Ja, ja, djangan kuatir. Semua beres. Kutulis padamu banjak hal jang bukan-bukan, maaflah. Tapi kelak sadja kita bitjarakan itu. Mengapa tak berkirim telegram? Markel akan membawa barang-barangmu keatas. Kuduga engkau kuatir, waktu Yegorovna tak membuka pintu. Dia kedusun”.
„Kau lebih kurus. Tapi alangkah muda, dan manis pula! Tunggu sebentar, kubajar kereta”.
„Yegorovna pergi mentjari tepung. Semua budjang lainnja sudah disuruh pergi. Sekarang hanja tinggal seorang gadis, Nyusha, belum kaukenal, ia mendjaga Sasha; tak ada orang lain. Tiap orang sudah diberi tahu, kau akan datang, semua ingin bertemu kau — Gordon, Dudorov, tiap mereka”.
„Sasha apa kabarnja?”
„Berkat Tuhan, baik. Ia baru bangun. Kalau kau tidak baru datang dari kereta-api — sedang ada typhus dimana-mana — kita boleh segera melihatnja”.
„Ajah dirumah?”
„Tak ada jang menulis padamu? — Ia didewan-kota dari pagi sampai malam, ia ketuanja. Ja, pertjajalah! Kereta sudah dibajar? Markel! Markel!”
Mereka berdiri ditengah djalan dengan kopor kaju dan tas Yury jang merintangi djalan; orang-orang jang lewatpun berhenti dan melihat mereka dari kepala sampai kaki, memandangi kereta jang sedang melepaskan diri dari tepi trotoar serta pintu-depan jang terbuka lebar, guna menjaksikan apa akan terdjadi.
Tapi Markel dengan rompi diatas kemedja kapasnja dan dengan pitji-djurukuntji-ditangan, sedang lari dari gerbang untuk menjambut madjikan mudanja, sambil berseru-seru:
„Allah Jang Maha Kuasa, itulah Yurochka! Wah, itulah buah hati kita sendiri! Yury Andreyevich, tjahaja mataku, djadi tak kamu lupakan kami, kami jang tiap hari berdoa untukmu! Kamu hormati kami, kamu pulang! — Kalian mau apa?” tukasnja pada para penonton. „Apa jang luar-biasa? Njah! Mengapa melotot?”
„Apa kabar, Markel?” Yury memeluknja. „Pakailah pitjimu, keledai. Apa kabar? Bagaimana istrimu? Dan anak-anak?”
„Bagaimana lagi! Mereka tumbuh, berkah Illahi. Soal kabar, dapat kamu lihat sendiri — sewaktu kamu pergi berbuat jang djaja, kamipun sibuk. Semua katjau, melarat, setanpun tak mampu memilih — djalanan kotor, atap tiris, perut kosong matjam dibulan Puasa — dan semua ini „tanpa anexasi atau padjak”.1 1„Damai tanpa anexasi atau padjak”, adalah sembojan kaum Sosialis kiri.
„Aku keluhkan pada Yury Andreyevich tentang kau, Markel. Yurochka, ia selalu begitu. Aku tak betah omong-kosong matjam itu. Semuanja untuk kepentinganmu, disangkanja kau suka itu — akibat merekalah ia setadjam itu. Baik, baiklah, Markel, djangan berbantahan denganku, kukenal kau. Kau tak dikenal orang, Markel. Sudah waktunja kau beladjar berpikir sehat sedikit. Djangan membual pada kami, seolah kami tukang warung!”
Merekapun masuk. Markel mengangkut barang-barang Yury kedalam, menguntji pintu-depan dibelakangnja dan bitjara lagi setjara akrab:
„Antonina Alexandrovna marah, kamu dengar utjapannja. Selalu begitu. Katanja, batinmu hitam melulu, Markel, matjam pipa perapian ini. Sekarang, udjarnja, tiap anak ketjil, barangkali bahkan tiap monjet atau andjing timangan tahu apa soalnya. Itu tentu benar, tapi meskipun begitu, Yurochka, pertjaja atau tidak, orang jang tahu telah melihat buku itu, buku Tukang Batu2 2Buku Tukang Batu : jakni Para Protokol Kaum Tua-tua Zion. ; seratus empatpuluh tahun buku itu letaknja dibawah batu, tapi sekarang — inilah pendapatku jang sudah kupertimbangkan, Yurochka — kami telah kena tipu. Tapi aku tak boleh omong; lihatlah Antonina Alexandrovna geleng-geleng kepala kepadaku”.
„Tak heran — Tjukup, Markel, letakkan barang-barang itu dan sekian sadjalah. Kalau Yury Andreyevich perlu apa-apa, ia akan memanggilmu”.
2
„Sukur ia pergi! Nah, kau boleh dengarkan dia kalau mau, tapi pertjajalah, itu tjuma main sandiwara. Kita bitjara dengannja dan kita anggap dia orang dusun totol, nampaknja dungu amat, tapi sementara itu diam-diam diasahnja goloknja — hanja sadja siongok kurang-adjar ini belum menentukan benar-benar untuk siapa goloknja itu”.
„Apa itu tak terlalu ditjari-tjari? Kurasa ia mabuk, tjuma itu soalnja”.
„Aku ingin tahu, kapan siumannja. Betapa djuga aku djemu dengan dia. — Jang kuchawatirkan ialah, Sasha mungkin tidur lagi, sebelum kaulihat. Asal sadja tak ada kutu-kutu typhus dikereta-api …Kau tak bawa kutu-kutu?”
„Kukira tidak. Kompartimenku mewah benar-benar dari sebelum perang. Tapi baiklah aku tjutji sadja tjepat-tjepat. Nantinja aku tjutji dengan saksama. Djalan mana? Tak lewat kamar-tamu lagi?”
„O ja, kau belum tahu. Aku timbang-timbang dengan ajah dan achirnja kami putuskan memberikan sebagian tingkat bawah kepada Akademi Pertanian. Terlalu luas djuga untuk dipanaskan dimusim dingin. Bahkan loteng paling atas masih terlalu luas djuga. Djadi kami tawarkan pada mereka. Belum dipakai, tapi mereka tempatkan disitu perpustakaan, herbarium serta koleksi bidji-bidji. Hanjalah kuharap tak akan masuk tikus-tikus dengan adanja bidji-bidji itu, sebab itu padi-padian, bukan? Tapi sekarang kamar-kamar itu didjaga dengan rapi sekali. O ja, kita tak lagi memakai nama kamar, itu sekarang disebut ruang-hidup. Mari, lewat sini. Djangan pelan-pelan disaluran asap ini. Kita naik tangga-belakang. Ikutlah, kutundjukkan djalan”.
„Aku senang sekali, kamar-kamar ini kauserahkan. Rumah-sakit jang kudiami tempo hari djuga rumah partikulir. Deretan kamar tak berudjung jang masih ada lantai parketnja sedikit. Dalam pot-pot ada palma jang mendjulurkan tjakar-tjakarnja diatas randjang matjam hantu — sampai ada beberapa orang luka-luka dari daerah pertempuran jang bangun mendjerit-djerit — tentunya mereka tak lagi normal sepenuhnja — sakit urat-saraf — lalu pohon-pohon itu kami pindahkan. Jang kumaksudkan ialah, ada sesuatu jang tak sehat dalam tjara hidup orang kaja. Kelimpahan barang-barang jang tak berguna. Terlampau banjak prabot dan kamar dan kemegahan dan expresi-diri. Aku senang sekali mengurangi kamar-kamar kita. Mestinja kita lepaskan lebih banjak lagi.
„Itu bungkusan apa? Apa jang mentjotjok keluar, rupanja seperti paruh burung. O, bebek! Bagus! Bebek djantan liar! Dimana kaudapat? Hampir tak kupertjaja mataku. Harganja tak bernilai sekarang”.
„Pemberian orang dikereta-api. Kelak kututurkan, tjeritanja pandjang. Apa mesti kubuat? Kutaruh sadja didapur?”
„Ja, tentu. Segera kusuruh si Nyusha nanti untuk mentjabut bulunja dan mentjutjinja. Kata orang, musim-dingin ini akan timbul matjam-matjam kengerian — kelaparan, hawa dingin”.
„Ja, itu disebut orang dimana-mana. Tadi aku melihat dari djendela kereta-api — kupikir, adakah diantero dunia jang lebih berharga dari keluarga, penghidupan dan pekerdjaan jang damai? Selebihnja tiada kita kuasai. Menurut gelagatnja, akan datang zaman susah. Ada orang jang hendak keluar, katanja ke Selatan, ke Kaukasus atau lebih djauh lagi. Aku tak akan ingin begitu. Lelaki dewasa diharapkan menundjukkan gigi dan ikut dengan apa sadja jang datang ketanah-air. Tapi lain halnja dengan kau. Kudoakan, kau tak akan mengalami semuanja. Ingin kukirim kau ketempat jang aman — boleh djadi Finlandia. — Tapi djika kita bergundjing setengah djam pada tiap langkah, kita tak akan tiba diatas”.
„Tunggu sebentar. Aku lupa sama sekali mengatakan. Kudapat kabar hebat untukmu. Nikolay Nikolayevich sudah pulang”.
„Siapa itu Nikolayevich?”
„Paman Kolya”.
„Tonya! Mustahil! Bagaimana mungkin?”
„Betul. Ia dulu di Swiss. Djalannja memutar lewat Londen, melalui Finlandia”.
„Tonya! Kau tak main-main? Kau ketemu dia? Dimana ia? Bisa kita djumpai dia sekarang djuga?”
„Djangan buru-buru. Ia tinggal dirumah orang didusun. Ia djandji akan kembali lusa. Ia banjak berobah. Kau bakal ketjewa. Ditengah djalan ia singgah di Petersburg, ia djadi bolsjewik. Ajah sampai parau berdebatan dengan dia. Kita agaknya matjet pada tiap langkah. Mari. Djadi kaudengar pula, zaman susah akan datang — apa kata orang? kesulitan, bahaja, ketidaktentuan?”
„Pendirianku begitu djuga. Biarlah. Kita akan tahan, bukan itulah achir segala. Kita tunggu sadja, tak ubahnja dengan orang-orang lain”.
„Kata orang, tak akan ada kaju-bakar, air atau lampu. Uang dibatalkan. Perbekalan tak masuk. Tapi kita berhenti lagi! Ajo. Dengar, konon didjual tungku besi jang hebat di Arbat. Ketjil. Bisa bakar surat-kabar untuk memasak. Kutahu alamatnja. Kita mesti beli sebuah, sebelum habis semua”.
„Benar. Djadilah. Akal baik itu. Tapi paman Kolya, tjoba pikir! Tak dapat kulupakan”.
„Kututurkan sadja maksudku. Dipuntjak rumah kita pisahkan satu sudut, umpamanja dua-tiga kamar jang bersambungan; itu untuk kita sendiri, ajah dan Sasha bersama Nyusha, sisanja kita lepaskan sadja. Kita pasang satu sekatan dan bikin pintu sendiri seperti dalam flet. Salah satu perapian logam itu kita pasang ditengah kamar, pipanja lewat djendela; semua tjutjian, masakan, hiburan, semuanja kita kerdjakan dalam satu kamar ini. Dengan begitu kita pergunakan bahan-bakar sehemat-hematnja dan siapa tahulah, dengan kemurahan Tuhan akan kita lewati musim-dingin”.
„Tentu kita lewati. Itu tak soal. Baguslah gagasanmu itu. — Dan tjoba dengarkan! Rumah ini kita bikin hangat, kita masak bebek dan kita undang paman Kolya”.
„Bagus sekali. Akan kuminta Gordon membawa sedikit minuman keras. Dapat diambilnja dari salah satu laboratorium. Tengok, inilah kamar jang kupikirkan tadi. Setudju? Letakkan tasmu, pergi kebawah dan ambillah kopormu. Bisa kita minta Dudorov dan Shura Schlesinger djuga, kalau rumah hangat nanti. Tak keberatan? Belum lupa, dimana kakusnja? Taruhlah sedikit obat untuk desinfeksi. Sedang kaubuat itu, aku ke Sasha dan kusuruh Nyusha kebawah; kalau kami selesai, kupanggil kau”.
3
Hal jang baru dan terpenting baginja di Moscow ialah anak lelakinja jang ketjil. Yury mendapat panggilan, segera sesudah anak ini lahir, djadi ia hampir tak mengenalnja.
Suatu hari tatkala Tonya masih dirumah-sakit, Yury mengunjunginja; ia sudah berpakaian seragam dan sedikit hari lagi akan meninggalkan Moscow. Ia tiba pada saat baji-baji disusui dan tidak diizinkan masuk.
Maka duduklah ia dikamar-tunggu. Dari tempat pengasuhan diudjung gang diseberang bagian wanita, terdengar sepuluh atau duabelas baji menangis berbareng. Beberapa djururawat masuk gang, buru-buru agar baji-baji jang lahir itu tak masuk angin, lalu membawa mereka keibunja masing-masing, terbungkus bagai bingkisan, seorang dikepit tiap lengan.
„Ngijer, ngijer”, pekik baji-baji itu dalam satu nada, tanpa nafsu, njaris tak berperasaan, seolah tangisan itu pekerdjaan sehari-hari. Hanja satu suaralah jang lain dari lain-lainnja. Suara ini djuga memekikkan „ngijer, ngijer” pun tak menjatakan penanggungan lebih dari jang lain, tapi lebih mendalam dan seakan berteriak bukan karena kewadjiban, melainkan dengan rasa permusuhan dingin jang disengadja.
Yury telah memutuskan bahwa anaknja diberi nama Alexander — kependekannja Sasha — guna menghormati mentuanja. Ada alasan baginja untuk menghajalkan bahwa suara jang dia teliti tadi adalah suara anaknja; boleh djadi sebab tangisan jang chusus ini sudah mempunjai watak tersendiri dan agaknya sudah mengandung kepribadian serta derma makhluk insani tertentu untuk hari depan; suara itu ada bunjinja tersendiri jang merangkum nama sianak, Alexander, demikian dichajalkan oleh Yury.
Ia tidak keliru. Ternjata kelak bahwa itu betul-betul suara Sasha. Itulah hal pertama jang diketahuinja tentang anaknja.
Hal berikutnja adalah foto jang dikirim Tonya kemedan-perang, foto itu menundjukkan anak gemuk jang ria dengan mulut berlengkung Cupido; ia berdiri diatas selimut, kakinja bengkok matjam huruf O dan tindjunja keatas, seolah ia menarikan tarian petani. Waktu itu Sasha berumur setahun dan baru mulai berdjalan; kini usianja dua tahun dan ia belajar bitjara.
Yury mengangkat tasnja, meletakkan itu atas medja-kartu dekat djendela, lalu mulai mengeluarkan barang-barangnja. Kamar ini telah dipakai untuk apa sadja, pikirnja. Ia tak mengenalnja kembali. Tonya tentu mengganti perabot atau kertas-dindingnja atau merobah riasnja, entah bagaimana.
Diambilnja alat tjukurnja. Terang bulan jang tjemerlang mengambang antara tiang-tiang menara lontjeng, tepat dibelakang djendela. Ketika bulan menerangi tumpukan pakaian dan buku paling atas dalam tasnja, berobahlah tjahaja dalam kamar, maka sadarlah ia dimana ia berada.
Dulu kamar ini gudang. Kursi dan medja rusak disingkirkan disitu dan disinipun Anna menjimpan arsip keluarganja serta kopor-kopor tempat menumpuk pakaian untuk musim-dingin selama musim-panas. Selama hidupnja tiap sudut dipenuhi barang rongsokan sampai kelangit-langit dan anak-anak tak dibolehkan masuk. Hanja waktu Natal atau Paskah — bila banjak sekali anak-anak mengundjungi pesta-pesta dan seluruh loteng paling atas dibuka untuk mereka — kamar itu tak dikuntji dan anak-anakpun main rampok-rampokan disitu, sembunji dibawah medja, berpakaian anekawarna serta menghitamkan muka mereka dengan gabus terbakar.
Yury mengenangkan ini semua, kemudian ia turun lewat tangga-belakang untuk mengambil kopor kajunja dari serambi-depan. Didapur Nyusha berdjongkok didepan tungku, menjabut bulu bebek atas setjabik kertas-koran. Waktu Yury masuk membawa kopornja, Nyusha melontjat dengan gerak malu-malu jang indah; ia merah-padam, mengibaskan bulu-bulu dari apronnja, mendjalami dia, lalu menawarkan bantuannja. Yury mengutjapkan terima-kasih, mengatakan ia tak perlu ditolong, lantas pergi keatas. Dari djarak beberapa kamar, istrinja memanggilnja: „Kau boleh masuk sekarang, Yury”.
Masuklah ia untuk melihat Sasha.
Kamar-baji ini bekas kelas sekolah Tonya. Anak lelaki dalam randjang ketjil itu djauh kurang manis dari pada fotonja, tapi dialah pendjelmaan ibu Yury, almarhum Marya Nikolayevna Zhivago, lebih mirip padanja dari foto-foto jang disimpan Yury.
„Inilah ajah, ini ajahmu, lambaikan tanganmu, anak manis”, kata Tonya. Diturunkannja dinding randjang jang sebelah, supaja Yury mudah mentjium sianak serta mengangkatnja.
Sasha membiarkan orang brewok tak dikenal jang barangkali menakutkan dan tak menariknja itu mendatangi dia sangat dekat dan melentik diatasnja, kemudian ia melondjak tegak sambil menggapai bagian depan gaun ibunja dengan tangan sebelah, lantas dia ajunkan dengan marah tangan lainnja dan menampar muka Yury. Terperandjat oleh keberaniannja sendiri ia lalu merebahkan diri dalam pelukan Tonya dan menangis tersedu-sedu.
„Nakal, nakal”, Tonya memarahinja. „Djangan begitu, Sashenka. Apa pikir ajah? Dia kira Sasha anak djahat. Ajo, tundjukkan kau bisa tjum, tjumlah ajahmu. Djangan menangis, tak apa-apa-lah”.
„Biarlah, Tonya”, pinta Yury padanja. „Djangan hiraukan dia dan djangan kuatir. Kutahu, kaupikir jang bukan-bukan — bahwa itu tadi ada artinja, alamat buruk — tapi omong-kosong semua. Soalnja wadjar sekali. Anak ini tak pernah melihat aku. Besok ia manis terhadapku dan kami akan bersahabatan, kaulihat nanti kami dapat bergaul sebaik-baiknja”.
Namun ia meninggalkan kamar dengan ketjil-hati dan firasat buruk.
4
Dalam sedikit hari kemudian sadarlah ia betapa ia terpentjil. Tak ada jang salah, pikirnja. Ia hanja menerima jang sepantasnja.
Anehnja, kawan-kawannja telah mendjadi kabur tak berwarna. Tak seorang dari mereka masih punja pandangan dan dunianja tersendiri. Mereka lebih hidup dalam kenangannja. Ia tentu menilaikan mereka terlalu tinggi dulu.
Berbuat begitu adalah gampang, selama keadaan mengizinkan orang-orang jang mampu untuk menuruti kegilaan dan perbuatan mereka jang bukan-bukan, dengan merugikan simiskin. Berbuat kegila-gilaan tanpa bekerdja, seperti jang dinikmati minoritet, padahal kebanjakan orang menderita, dengan sendirinja mengubah anggapan kosong tentang adanja watak murni dan keaslian.
Tetapi sesudah kelas-kelas rendahan naik dan orang-orang kaja kehilangan privilesi mereka, alangkah tjepatnja mereka ini djatuh! Kebiasaan berpikir bebas mereka lepaskan dengan mudah sadja, dengan senang hati — kebiasaan jang tentunja tak pernah mendjadi milik mereka jang sebenar-benarnja!
Sekarang Yury hanja dapat bergaul senang dengan Tonya, ajahnja serta dua-tiga rekanja, orang-orang dengan pekerdjaan biasa dan sederhana, tanpa ribut-ribut atau omong berbelit-belit.
Pesta dengan bebek dan wodka diadakan menurut rentjana, sedikit hari sesudah ia pulang. Waktu itu ia telah ketemu lebih dulu dengan kebanjakan mereka jang datang, hingga pesta-makan itu sebetulnja bukanlah merajakan pertemuan kembali.
Bebek besar merupakan kemewahan istimewa dizaman kelaparan itu; sajanglah tak disertai roti, hingga kemegahannja agak tak bermakna — malah sedikit tak menjenangkan.
Minuman kerasnja (jang disukai dan sangat laku dipasar gelap) dibawa oleh Gordon dalam botol obat-obat dengan tutup dari gelas. Tonya meraih botol itu dan dientjerkannja alkohol dalam bagian-bagian ketjil dengan sedikit-banjak air menurut seleranja. Tjampuran jang selalu terlalu entjer atau terlalu kental itu oleh sesuatu sebab agaknya lebih beratjun dari pada kalau dibuat kian kental, dan ini adalah pula gangguan.
Tapi jang paling menjedihkan ialah bahwa pesta itu tak serasi dengan keadaan zaman. Tak dapat dibajangkan seseorang dalam rumah-rumah diseberang sedang makan-minum dengan tjara jang sama pada waktu jang sama. Diluar disebelah sana dari djendela, kota Moscow berdiam diri, gelap, lapar, toko-tokonja kosong dan rakjat telah lupa apa itu permainan atau wodka, bahkan tak berpikir lagi tentang hal-hal demikian.
Begitulah tjara hidup satu-satunja jang njata, ialah hidup seperti tiap orang lain, lenjap dalam penghidupan orang-orang lain tanpa bekas, pun bahagia sendirian bukanlah bahagia; maka djikalau bebek dan wodka mungkin hanja satu-satunja bebek dan wodka dikota, itu bukanlah lagi bebek dan wodka.
Dari tamu-tamu mereka tak memperoleh banjak hiburan. Gordon dulu menjenangkan, ketika ia mempunjai pikiran-pikiran berat jang diungkapkannja dengan kata-kata muram lagi bimbang. Dialah teman terbaik bagi Yury dan iapun digemari orang disekolah.
Tapi sekarang ia tak menjukai lagi bajangan batinnja sendiri; ia mentjoba memperbaikinja, tapi gagal semata-mata. Ia berusaha mendjadi gembira, mengisahkan tjerita berturut-turut jang dianggapnja djenaka dan selalu berkata: „Lutju!” dan „Menggembirakan sekali!” kata-kata jang dulu tak berdjumpa dalam kamusnja, sebab Gordon tak pernah memandang penghidupan sebagai hiburan.
Sambil menunggu Dudorov, ditjeritakannja gundjingan jang berlaku tentang perkawinan Dudorov. Yury belum pernah mendengarnja.
Ternjata Dudorov telah kawin kira-kira setahun lamanja, kemudian tjerai dari istrinja. Lelutjon dalam tjerita ini selalu ditjari-tjari, mulai dengan ketika Dudorov setjara chilaf dimasukkan dinas militer. Tatkala ia berdinas dan persoalannja sedang diselidiki, ia harus mengalami banjak kesukaran, karena linglung dan lupa menjalami para perwira.
Berbulan-bulan sesudah lepasnja ia masih sadja melihat epolet dimana-mana dan mengangkat tangan; ia lebih bingung lagi dan njaris djatuh sakit urat-sjaraf. Djustru waktu itulah, demikian menurut tjeritanja, ia ketemu dua orang gadis bersaudara disetasiun ditepi sungai Wolga — mereka menunggu kapal jang sama — maka dalam saat kebingungan waktu dilihatnja banjak uniform berkeliaran disekitar mereka dan karena kenangannja pada masa dinas dalam tentara, iapun djatuh tjinta pada jang termuda, lantas buru-buru meminangnja.
„Lutju, bukan?” kata Gordon, tapi ia terpaksa memotong penguntjian tjeritanja, sebab suara pelaku-utamanja terdengar diluar pintu. Dudorov masuk.
Perobahan dia kebalikan dari perobahan Gordon. Dulu dia suka bimbang dan tak menentu pikirannja; kini ia bersungguh-hati laksana sardjana.
Sebagai anak-muda ia diusir dari sekolahan karena berkomplot untuk melarikan seorang tawanan politik, lantas pindahlah ia dari sekolah kesenian jang satu kesekolah kesenian lainnja, tapi achirnja hinggap difakultas sedjarah klasik. Ia mentjapai gelarnja kemudian dari kawan-kawannja, lalu terus bekerdja sebagai lektor dalam sedjarah Rusia dan sedjarah dunia. Sekarang ia menulis buku tentang politik agraria Ivan Jang Dahsjat dan sebuah lagi tentang Santa Just.
Ia bertjakap ramah-tamah tentang tiap objek, suaranja tak pernah turun atau naik dari tingkat nada jang tenang dan agak sengau, sedang matanja nanar terpantjang kesatu titik, seolah ia sedang mengadjar.
Mendjelang penutupan, ketika pesta mentjapai puntjak keramaiannja dan tiap orang berseru-seru dan berbantahan, tiba-tiba masuklah Shura Schlesinger jang sebagai biasanja mengusik mereka semua, hingga semuanja bertambah riuh dan bersemangat. Dudorov jang sedjak ketjilnja mendjadi teman Yury, namun tak pernah menjapanja dengan „tuan”, masih menegurnja dengan „kau” dengan menanjakan berkali-kali apakah sudah dibatjanja sadjak-sadjak Mayakovsky, „Perang dan Damai” serta „Tulang punggungku adalah Suling”.
Sebab tak mendapat djawaban Yury ditengah keriuhan itu, sedjurus kemudian ia bertanja lagi: „Sudah kaubatja „Tulang-punggungku adalah Suling” dan „Manusia”?”
„Sudah kudjawab, tapi kau tak dengar. Aku selalu suka pada Mayakovsky. Ia sematjam penerusan dari Dostoyevsky. Atau lebih tepat, ia seorang tokoh Dostoyevsky jang menulis lyrik — salah seorang pemberontaknja jang muda, si „Pemuda Mentah” atau Hippolyte atau Raskolnikov. Daja puisinja menelan segala-galanja! Dan tjaranja menjatakan sesuatu: betul-betul tak mau damai, terus-terang! Dan jang paling hebat, keberaniannja melontarkan semuanja kewadjiban masarakat, bahkan lebih djauh lagi, kealam-semesta!”
Tapi jang paling menarik malam itu tentulah Paman Kolya. Tonya salah sangka bahwa ia keluar kota, ia telah kembali pada hari kemenakannja pulang. Mereka sudah ketemu berulang-ulang, sudah pula mengutjapkan segala „O” dan „Ah” pada mulanja dan omong-omong serta ketawa bersama sesuka hati.
Pertama kalinja adalah pada malam kelabu jang mendjemukan, waktu ada gerimis selembut debu tjair. Yury mentjarinja dihotelnja. Hotel-hotel sudah tak hendak menerima orang, ketjuali kalau didesak oleh para penguasa kota, tapi Nikolay Nikolayevich sudah dikenal dan masih ada beberapa kenalannja disitu.
Hotel itu seperti pelindungan orang sakit djiwa jang diserahkan pada pasien-pasiennja — kosong, katjau dan dipasrahkan pada nasib.
Pelatarannja jang besar seolah menindjau kedalam kamar tak tersapu itu lewat djendela besar, lengang lagi mengerikan, lebih mirip pada pelataran dalam mimpi-malam dari pada pelataran jang biasa nampak didepan hotel.
Bagi Yury pertemuan itu peristiwa hebat tak terlupakan. Ia ketemu dengan jang didewa-dewakannja semasa ketjil, guru jang menguasai pikirannja waktu remadjanja.
Uban paman Kolya patut baginja, pun pakaian asingnja jang longgar itu serasi dengannja; menilik usianja, ia sangat muda lagi tampan.
Tak dapat disangkal bahwa ia dibajangi oleh keagungan peristiwa-peristiwa, disamping mana ia kehilangan perbawa. Tapi Yury tak pernah hendak mengukurnja dengan ukuran begitu.
Ia heran menjaksikan ketenangan paman Kolya serta nada suaranja jang ringan lagi objektif, bila bitjara tentang politik. Ia lebih tenang dari kebanjakan orang Rusia waktu itu, tanda bahwa ia orang baru, suatu hal jang nampaknja kolot dan sedikit memalukan.
Tapi perduli apa itu selama djam-djam pertama dalam pertemuan kembali jang mempesona itu? Bukan politiklah, tapi hal jang lain sekali jang membikin mereka ketawa dan menangis dan saling memeluk leher dan bitjara menggagap dan tertjenung kegairahan.
Jang mempertemukan mereka adalah kenjataan bahwa kedua-duanja berwatak seniman kreatif dan sungguhpun mereka djuga sekerabat dan zaman lampau muntjul dan hidup lagi antara mereka dan kenang-kenangan naik bergelombang dan mereka tuturkan segala kedjadian serta keadaan dalam hidup masing-masing, namun dalam saat mereka sampai pada soal terpenting, jang hanja dikenal oleh orang jang sanggup bekerdja kreatif, maka lenjaplah segenap perbedaan serta pertalian lainnja antara mereka — tak lagi paman dan kemenakan atau orang jang lebih tua dan lebih muda — jang tinggal hanjalah kekerabatan tenaga dengan tenaga, prinsip utama dengan prinsip utama.
Sepuluh tahun lamanja Nikolay Nikolayevitch tiada bitjara tentang masalah mengarang serta arti tugas pengarang setjara tepat mengenai soalnya ataupun dengan seseorang jang pendapatnja setjotjok itu dengan gagasannja sendiri. Tiada pula Yury menemukan sebanjak itu kesenjawaan, rangsangan atau dorongan.
Demikianlah mereka berseru-seru, mundar-mandir resah dalam kamar dan memegang kepala, ataupun berdiri hening depan djendela seraja mengetuk-ngetuk katja, jang satu tergontjang dan terbius oleh intuisi jang lain dan oleh mendalamnja kesefahaman jang terbukti dengan begitu.
Demikian pertemuan mereka jang mula-mula; tapi sedjak itu mereka berdjumpa bersama orang-orang lain, pada hal dalam hadirat orang lain sikap paman Kolya berlainan sama sekali.
Ia sadar ia seorang tamu di Moscow, dan ia suka mendjadi tamu, sekalipun belum terang apakah jang dianggapnja tempat kediamannja itu Petersburg atau kota lain. Ia senang disebut pahlawan salon politik; boleh djadi dibajangkannja bahwa salon-salon politik dengan gaja salon madame Roland di Paris pada malam sebelum konvensi itu bisa djadi djuga di Moscow.
Bila mengundjungi teman-teman wanita jang senang menerimanja dalam flet mereka dilorong-lorong ketjil jang sepi di Moscow, iapun dengan tjara seramah-ramahnja suka mengusik mereka beserta para suami dengan tjara berpikir mereka jang pitjik, terbelakang dan bersifat lokal itu. Iapun bangga bahwa diketahuinja isi surat-surat-kabar, seperti dulu ia banggakan pengetahuannja jang patut diragukan, lagi pula tak djelas.
Konon ia pernah punja hubungan asmara jang tak berkeputusan, punja banjak urusan terbengkalai dan sebuah buku jang belum selesai di Swiss dan ia hanja datang untuk menjelam dalam putaran air; ini berarti bahwa bila ia dapat meluputkan diri, ia akan langsung kembali kepegunungan Alp jang disajanginja.
Ia pro Bolsjewik dan sering menjebut-njebut dua orang Sosial Revolusioner dari sajap kiri jang sefaham dengannja, dua wartawan jang menulis dengan nama samaran Miroshka Pomor dan Sylvia Coterie.
„Mengerikan betul djadinja, Nikolay Nikolayevich”, kata mertua Yury kepadanja, „dengan segala Miroshka ini; sampah melulu. Dan Lydia Pokori pula”.
„Coterie”, Nikolay Nikolayevich meralatnja, „dan Sylvia”.
„Pokori atau Potpourri, sama sadja. Apa artinja nama”.
„Sama sadja dan kebetulan Coterie”, Nikolay Nikolayevich bertahan dengan sabar. Pertjakapan mereka berdua adalah seperti ini:
„Apa jang perlu dibantah? Sudah terang, hingga malulah kita kalau masih harus mentjari bukti-bukti. Itulah A-B-C dari segalanja. Berabad-abad kebanjakan manusia terpaksa hidup tak semestinja. Ambillah buku sedjarah jang mana sadja. Apapun namanja, feodalisme dan perbudakan atau kapitalisme dan industri, keadaannja tidak fitri dan tidak adil. Ini sudah lama diketahui dan dunia telah bersiap-siap untuk pembalikan jang akan membawa terang pada rakjat serta menempatkan segalanja ditempat jang sewadjarnja”.
„Kau tahu benar, tak ada gunanja menambal-nambal susunan lama, kita harus menggali sampai kedasar-dasar. Tak bakal menghasilkan runtuhnja seluruh gedung — Apa salahnja? Hal itu menakutkan, tapi tak akan mentjegah terdjadinja. Ini soal waktu. Bagaimana dapat kaubantah?”
„Bukan itu soalnja, bukan itu jang kubitjarakan”. Alexander Alexandrovich mendjadi rusuh dan perdebatan berkobar-kobar.
„Kaum Potpourri dan Miroshka itu orang-orang tanpa hati-nurani. Lain bitjara, lain perbuatan. Betapa djuga, dimana logikamu? Sama sekali tak ada mantiknja. Tunggu sebentar, kukasi lihat sesuatu”, lalu mulailah ia mentjari koran jang memuat karangan jang membantah bunjinja sendiri; dibantingnja latji-latji medja-tulis dan dipakainja segala keributannja itu guna memperkuat kefasihannja.
Alexander Alexandrovich senang kalau ada rintangan, bila ia bitjara; penjimpangan pikiran itu memberinja alasan untuk gumam dan gerutu. Kefasihan lidahnja datang, bila ia kehilangan dan mentjari sesuatu — hendak menemukan sepatu-saldjunja jang kedua dalam kamar-pakaian jang temaram — atau kalau ia berdiri didepan pintu kamar-mandi dengan anduk tersampir dilengannja, atau kalau waktu makan ia lagi mengulurkan piring berat penuh hidangan, atau djika menuangkan anggur dalam gelas kawan-kawannja.
Yury suka mendengarkannja. Ia sajang pada bahasa Moscow kunonja jang seperti tembang serta huruf r jang mendengkur lembut, chusus bagi kaum Gromeko.
Bibir Alexander Alexandrovich sebelah atas dengan kumis terpotong ketjil mendorong atas bibir sebelah bawah, tepat seperti dasi kupunja jang menondjol dari kuduknja; antara jang dua itu ada persamaannja, maka hal ini membuatnja mirip pada seorang anak jang menimbulkan haru dan kepertjajaan.
Pada malam pesta itu Shura Schlesinger tiba sangat terlambat; ia datang langsung dari rapat dan memakai setelan serta petji lelaki. Dengan langkah besar ia masuk kamar, lalu mengeluh dan menuduh-nuduh sambil berdjabatan tangan.
„Apa kabar, Tonya. Apa kabar, Alexander? Bikin malu, akulah. Seluruh Moscow tahu bahwa ia sudah pulang, tiap orang bitjara tentang dia, sedangkan kau tak bilang apa-apa padaku. Wah, rupa-rupanja aku tak pantas. Mana dia, si Yura? Boleh aku ketemu dia? — Ha, apa kabar? Sudah kubatja, hebatlah; aku tak mengerti sepatah katapun, tapi nampak segera itu penuh bakat. — Apa kabar, Nikolay Nikolayevich? — Tunggu sebentar, Yura sajang, aku mesti bitjara denganmu. — Halo, anak-anak. Kaupun disini, Gogochka, Gangsa Djantan” (ini ditudjukan pada seorang famili Gromeko jang djauh, jang dengan berapi-api mengagumi tiap bintang jang sedang naik, terkenal sebagai si Gangsa, berkat ketawanja jang dungu dan sebagai si Tjatjing Pita, sebab tinggi kurus). „Makan-minum, ja? Nanti segera kukedjar kau. Nah, kawan-kawan tersajang, tak kamu duga, betapa banjak kamu rugi. Kamu tak tahu apa-apa, tak lihat apa-apa. Sajang kamu tak tahu apa jang terdjadi, apa sedang dikerdjakan didunia! Pergilah melihat rapat raksasa jang benar-benar, dengan pekerdja dan pradjurit jang sungguh-sungguh, bukannja dari buku. Tjoba sampaikan pada mereka soal berperang hingga kemenangan tertjapai! Mereka achirnja akan menang! Aku barusan mendengarkan seorang kelasi — Yura, sajang, kau bisa dibikinnja edan! Wah, semangatnja! Tulusnja!”
Shura terus-menerus disela orang. Tiap mereka berteriak. Ia melintas ke Yura, menggapai tangannja dan dengan mendekatkan mukanja pada muka Yura iapun berseru bagai megafon, mengatasi hiruk-pikuk:
„Mari kubawa kau, Yura sajang, kuperlihatkan padamu manusia-manusia jang riil. Kau harus, ja harus, mentjetjap bumi sendiri, seperti Antheus. Mengapa kautatap aku senanar itu? Aku kuda-perang tua, kau tahu, bukan? Mahasiswa tua dari Bestuzhev3 3Mahasiswa jang mengikuti kuliah untuk wanita pada Universitas Bestuzhov. Banjak dari mereka masuk sajap kiri. . Aku lihat pendjara dari dalam, aku bertempur dibarikade. — Betul, pertjaja tidak? — Tapi akulah, kita belum kenal rakjat sama-sekali. Aku baru sadja dari sana, dari tengah-tengah mereka. Aku dirikan perpustakaan untuk mereka”.
Ia telah minum dan rupa-rupanja agak mabuk. Tapi Yurapun kepalanja pusing. Tak tahulah ia bagaimana terdjadinja bahwa Shura kini disatu sudut kamar dan dia disudut lainnja; ia berdiri depan udjung medja dan agaknya sedang berpidato, tak tersangka oleh dirinja sendiri. Diperlukannja beberapa djurus untuk beroleh suasana tenang.
„Tuan-tuan dan njonja-njonja …saja ingin …Misha! Gogochka! Tolong, Tonya, mereka tak mau dengar! Tuan-tuan dan njonja-njonja, boleh saja utjapkan sepatah kata? Kita segera akan mengalami hal jang luar-biasa, jang tak masuk akal. Sebelum kita dikedjarnja, saja ingin kamu dengarkan. Bila tiba saatnja, hendaknja Tuhan mentjegah bahwa kita kehilangan djiwa dan jang satu kehilangan jang lain. Gogochka, nanti kau boleh bersorak, aku belum selesai. Pergilah dari situ, datanglah dan dengarkan baik-baik.
„Dalam tahun ketiga peperangan ini rakjat mendjadi jakin, bahwa perbedaan antara mereka digaris-depan dan mereka digaris-belakang sekali waktu harus hapus. Lautan darah akan naik dan sampai pada kita semua serta menenggelamkan tiap orang jang tak ikut perang. Bandjir ini ialah revolusi.
„Bila ini terdjadi, kamu akan sadar apa jang kami sadari dimedan-perang, jaitu bahwa penghidupan telah berhenti, bahwa tak ada lagi diri pribadi, bahwa tak terdjadi apa-apa didunia ketjuali membunuh dan mati. Kalau kita masih hidup nanti pada waktu orang menulis kronik serta kenang-kenangan tentang zaman ini, maka dengan membatja kenang-kenangan itu akan kita lihatlah bahwa dalam lima atau sepuluh tahun ini telah kita alami lebih dari jang dialami orang-orang lain dalam seabad. Apakah rakjat akan naik dengan sendirinja serta madju setjara spontan bagaikan air-pasang ataukah semuanja bakal dikerdjakan atas nama rakjat sadja? Entahlah. Orang tak dapat meminta peristiwa sebesar itu dalam surat-kepertjajaan, tak perlu diberi bukti dramatis tentang hadiratnja; kita menerimanja atas pengandelan. Adalah daif dan dina, kalau kita hendak menggali sebab-musabab dari kedjadian-kedjadian raksasa. Sebenarnjalah sebab-musabab itu tak ada. Jang ada asal-mulanja hanjalah pertengkaran dalam keluarga — maka sesudah orang saling mendjambak rambut dan membanting barang-barang petjah-belah, orangpun hendak ingat siapa jang memulainja. Apa jang betul-betul besar, tak adalah asal-mulanja, tak ubahnja dengan semesta. Tiba-tiba sadja kita dihadapinja, seolah ia selalu ada disitu atau seolah ia djatuh dari langit.
„Saja pikir djuga, Rusia ditakdirkan selaku negeri sosialis jang pertama sedjak dunia mulai berkembang. Bila itu terdjadi, kita akan lama terperandjat, pun djika kita sadarkan diri, masih sadja kita setengah-sadar dan kehilangan separoh ingatan kita. Kita lupa mana jang mula-mula datang dan mana jang menjusul dan kitapun tak akan mentjari sebab-musabab dari jang tak dapat diuraikan ini. Tata-tertib baru akan mengelilingi kita dan tak lebih asing bagi kita daripada hutan dikaki-langit atau awan diatas kita. Tak apa-apa lagi jang tinggal”.
Ia bitjara sedikit lagi dan ketika itu ia sudah siuman sama sekali, tetapi waktu duduk ia masih belum djuga dapat mendengar djelas apa jang orang katakan padanja, lalu mendjawab setjara merambang. Ia tahu, mereka semua menundjukkan simpati, namun ia merasa tertindih oleh kemalangan. Udjarnja:
„Terima-kasih, terima-kasih. Saja hargai perasaan kamu, tapi itu tak patut bagi saja. Djangan setjepat itu menaruh hati. Serasa kamu onggokkan kesajangan, sebagai tjadangan kalau-kalau dihari-depan kamu menaruh kesajangan lebih banjak lagi”.
Mereka semua ketawa dan bertepuk tangan, menganggap utjapannja itu lelutjon jang disengadja, sedangkan dia sendiri tak tahu apa jang dikatakannja tadi; sebab amat beratlah firasatnja tentang bentjana serta perasaannja jang tak berdaja terhadap masa-depan, sekalipun ia amat haus akan kebaikan budi dan sanggup benar mentjapai bahagia. Tamu-tamu hendak pergi. Muka mereka pandjang, sebab letih. Mereka menguap dengan mengatup dan membuka rahang, hingga nampak seperti kuda.
Orangpun pamit sambil menguak tirai dan membuka djendela. Fadjar kekuning-kuningan dilangit lembab, penuh dengan mendung bertjelekeh jang hidjau-tanah bagai katjang-polong. „Rupa-rupanja ada taufan, waktu kita omong-omong tadi”, kata seorang. „Waktu djalan tadi aku kehudjanan, ketika baru tiba disini”, Shura mengijakan.
Lorong-tjabang jang lengang itu masih gelap dan derairan air dari pohon-pohon bersahutan dengan tjitjitan tak henti-henti dari burung-burung sriti jang kebasahan.
Sekali terdengar guruh, seakan ada badjak diseret melintasi langit. Lalu sepi. Lalu empat kali berdebuk seperti ada kentang-kentang jang terlalu matang terlontar dari persemaian empuk jang baru digali dimusim rontok.
Guruh tadi membersihkan ruangan dalam kamar berdebu jang penuh asap. Seketika itu bagai aliran-aliran listrik, unsur-unsur jang membentuk hidup mendjadi kelihatan: udara dan air, kebutuhan untuk bergembira, bumi, langit.
Lorong-tjabang dipenuhi suara tamu-tamu jang pulang. Mereka telah berbantahan dengan tjara tertentu didalam rumah dan kini masih bantah-membantah dengan tjara jang presis sama didjalanan. Lama-kelamaan suara mereka melembut dikedjauhan dan achirnja berangsur-angsur lenjap.
„Malam larut”, kata Yury. „Mari tidur. Didunia ini jang kutjinta hanjalah kau dan ajah”.
5
Agustus sudah lewat dan kini September hampir lampau. Musim-dingin mendjelang dan didunia insani udara berat oleh sesuatu jang tak dapat dielakkan, seperti adjal alam jang mendatang. Itulah buah-bibir orang.
Makanan serta kaju balok harus diperoleh. Tapi dalam zaman kemenangan materialisme itu alat telah mendjadi pengertian mudjarad, maka makanan dan kaju-bakar diganti oleh masalah gizi dan masalah persediaan bahan-bakar.
Penduduk kota tak berdaja seperti kanak-kanak dalam menghadapi jang tak dikenal, hal jang tak dikenal itu menjapu bersih segala kebiasaan jang dikenal dan hanja meninggalkan ketandusan belaka — sungguhpun itu hasil dan tjiptaan kota-kota.
Orang masih sadja bitjara dan menipu diri sendiri dalam hidup sehari-hari jang bergulat terus, pintjang lagi tersuruk-suruk kearah nasib tak tertentu. Tapi Yury menangkap jang sebenarnja, ia dapat melihat bahwa kehidupan sudah terkutuk, bahwa dia dan jang seperti dia telah dihukum untuk dibinasakan. Hukuman Tuhan menunggu, barangkali maut. Nasib mereka telah ditentukan dan hari-hari kini sedang berlari didepan mata mereka.
Akal sehatnja terpelihara, berkat hal-ihwal sehari-hari dalam hidupnja, pekerdjaannja serta kesukarannja. Istri, anaknja, keperluan tjari nafkah, faal prakteknja sehari-hari jang bersahadja, inilah djuru-selamatnja.
Ia faham bahwa ia kerdil didepan mesin raksasa masa-depan. Ia takut, tapi djuga tjinta pada masa-depan ini; diam-diam dibanggakannja itu dan seolah untuk achir kalinja, seolah hendak berpamit iapun mempunjai kesadaran berhasrat akan adanja pohon dan awan dan orang jang berdjalan dilebuh, akan kota besar Rusia jang bergulat ditengah bentjana — maka bersedialah ia mengorbankan diri untuk memperbaiki keadaan, namun tak berdaja berbuat apa-apa.
Biasanja ia terharu oleh langit dan orang-orang, bila ia menjeberangi Djalan Arbat dipodjok Djalan Taman Kereta, dekat rumah-obat Perkumpulan Dokter Rusia.
Ia kembali bekerdja dirumah-sakit, jang masih disebut Rumah-sakit Salib Kudus, walaupun himpunan jang memakai nama itu sudah bubar — sampai sekarang tak ada jang menemukan nama jang lebih tepat.
Personilnja sudah terbagi dalam golongan-golongan; kaum moderat jang kebodohannja mengganggunja dan jang menganggapnja berbahaja, lalu mereka jang lebih landjut politiknja dan menganggapnja tak tjukup Merah; begitulah maka tak ada jang menjukai dia.
Ketjuali tugas-tugasnja jang biasa, ia diserahi mengasuh statistik oleh direktur. Beribu pertanjaan melewati tangannja, beribu formulir harus diisi. Djumlah kematian, djumlah orang sakit, gadji pegawai, tingkat kesadaran politiknja serta peranannja dalam pemilihan umum, kekurangan bahan-bakar, makanan, obat, semuanja harus ditjotjokkan dan dilaporkan.
Yury bekerdja didepan medjanja jang dulu dekat djendela kamar-pegawai; medja itu ditumpuki kartu serta formulir dengan format dan bentuk aneka-ragam. Tumpukan itu dikesampingkannja; kebetulan ia beristirahat sedjurus, tak hanja untuk tjatatan-tjatatannja tentang kedokteran, tapi djuga untuk „Boneka dan Manusia”-nja, sebuah buku harian jang muram tentang zamannja, terdiri atas prosa, sadjak dan serba-serbi, diwarnai oleh perasaannja bahwa separoh dunia sudah kehilangan pribadinja dan memainkan entah peranan apa.
Kamar terang dengan tembok-temboknja bertajut putih dipenuhi tjahaja matahari keemasan jang kusam pada musim-rontok jang menjusul hari Mi’radj Maria, ketika saldju beku pertama-tama timbul waktu fadjar dan burung-burung prindjak dan djalak terbang pesat dalam hutan dengan dedaunan jang mengkilap dan makin menipis. Pada hari-hari demikian langit mentjapai ketinggian paling atas dan tjahaja dingin jang biru-hitam dari Utara menjelinap dalam hawa transparan antara langit dan bumi. Segala hal dibumi mendjadi lebih mudah dilihat dan didengar. Tiap bunji mendengung bukan main djauhnja, lantang lagi sedjuk. Tanah terbuka luas, seolah menundjukkan seluruh penghidupan untuk masa-depan bertahun-tahun. Kegemilangan ini tak akan tertahankan, andaikata umurnja pandjang; datangnja pada achir hari jang pendek dimusim-rontok, dekat sebelum permulaan magrib.
Begitulah kini tjahaja dalam kamar-pegawai itu, tjahaja matahari jang terbenam kepagian dimusim-rontok, berair dan mengatja seperti buah „Granny Smith” jang matang.
Yury duduk menulis depan lesenarnja, berhenti berpikir, lalu mentjelupkan pena dalam tinta, sedangkan burung-burung tak bersuara terbang lewat djendela tinggi dikamar-pegawai serta melemparkan bajang-bajang ketangannja jang bergerak dihalaman kertas, keatas medja dengan formulir-formulirnja dan ketembok-tembok kamar, lantas lenjap.
Asisten ahli-kimia masuk; ia orang gemuk jang beratinja banjak turun, sampai kulitnja menggelembir berlipat-lipat dibadannja. „Daun ahorn hampir semuanja hilang”, udjarnja. „Tjoba pikir, daun-daun itu tetap tegak dibawah segala hudjan dan angin, tapi kini saldju beku satu pagi sadja sudah begitu akibatnja!”
Yury menengadah. Burung-burung adjaib jang tadi seliweran didepan djendela adalah daun ahorn. Daun-daun itu lepas dari pohon, melajang setinggi pohonnja, lalu berobah djadi bintang-bintang djingga melengkung dan djatuh agak djauh dipadang rumput.
„Djendela sudah dibetulkan dengan dempul?”
„Belum”. Yury terus menulis.
„Sudah waktunja, bukan?”
Yury tekun dalam kerdjanja dan tidak mendjawab.
„Sajang Tarasyuk tak ada”, sambung ahli-kimia itu. „Ia patut dinilai dengan emas, betul. Melap sepatu atau reparasi arlodji — semuanja dia bisa. Dan dia tjarikan apa sadja untukmu. Sekarang kita harus membetulkan djendela sendiri”.
„Tak ada dempul”.
„Bisa dibikin. Kuberi resepnja”. Diterangkannja bagaimana membuat dempul dengan minjak lin dan kapur. „Nah, aku pergi sekarang. Kurasa kau ingin meneruskan kerdjamu”.
Ia berdjalan kedjendela lainnja dan melentikkan diri atas botol-botol dan hasil-hasil pertjobaannja. „Kaurusakkan matamu”, udjarnja sedjurus kemudian. „Mulai gelap. Dan tak akan dikasi lampu. Mari pulang”.
„Aku kerdja duapuluh menit lagi kira-kira”.
„Istrinja dulu pelajan disini”.
„Istri siapa?”
„Istri Tarasyuk”.
„Aku tahu”.
„Dimana dia sendiri, tak ada jang tahu. Ia berkeliaran diseluruh negeri. Musim-panas jang lampau ia datang dua kali untuk ketemu istrinja, kini ia enjah lagi. Ia menjusun hidupnja setjara baru. Ia salah seorang bolsjewik-serdadu jang kita djumpai dimana-mana jang berdjalan dilorong-lorong atau naik kereta-api. Boleh aku tjerita tentang mereka? — Ambil sadja si Tarasyuk. Dengan kerdja-tangan ia bisa bikin apa sadja. Segala kerdjanja mesti baik. Itulah pula jang terdjadi dengannja dalam tentara — ia beladjar perang, seperti ia beladjar pekerdjaan lain-lainnja. Ia mendjadi penembak nomor wahid. Reaksinja sempurna, antara mata dan tangan ada kerdja-sama jang baik. Ia dihadiahi bintang — bukan lantaran keberanian atau otaknja, tapi karena sasarannja selalu kena. Nah, apa sadja dimulainja, menimbulkan hasrat kuat padanja, djadi berdjoanglah ia dengan hebatnja. Ia mengalami apa makna bedil bagi manusia — bedil itu memberi kekuasaan, membawa keistimewaan. Ia ingin mendjadi kekuasaan dalam diri sendiri. Manusia dengan bedil bukan manusia sembarangan. Dulukala orang begitu mendjadi bandit. Tjoba sadja sekarang mengambil bedilnja dari padanja! Nah, lalu muntjullah sembojan: „Todongkan sangkurmu pada madjikanmu”, maka menodonglah Tarasyuk. Begitulah tjeritanja. Itulah Marxisme”.
„Itu djenis jang murni — langsung dari penghidupan. Tak tahu kau?”
Ahli-kimia itu balik ke-tube-tubenja.
„Bagaimana hasilmu dengan spesialis perapian itu?” tanjanja.
„Aku berterima-kasih sekali padamu, karena kaukirim dia. Orang itu menarik benar. Kami berdjam-djam bitjara tentang Hegel dan Croce”.
„Tentu! Ia dapat doktorat filsafatnja di Heidelberg. Bagaimana tungkunja?”
„Tak begitu baik”.
„Masih keluar asapnja?”
„Tak henti-henti”.
„Ia tak sanggup membetulkan tjerobong. Pipanja mestinja disambungkan pada saluran api. Apa dia pasang itu lewat djendela?”
„Tidak; lewat saluran api. Tapi asap masih keluar djuga”.
„Kalau begitu, ia tak dapat menemukan lobang-hawa jang tepat. Sajang Tarasyuk tak ada! Tapi tungku itu achirnja akan baik djuga. Moscow tak dibangun dalam satu hari. Membetulkan tungku sampai bisa dipergunakan bukanlah seperti main piano, perlu keahlian. Kau sudah dapat kaju?”
„Dari mana bisa didapat?”
„Kusuruh djurukuntji geredja datang padamu nanti. Dia pentjuri bahan-bakar. Dia potong pagar-pagar untuk didjadikan kaju-bakar. Tapi harus tawar-menawar dengan dia. — Lebih baik sipenangkap tikus sadja”.
Mereka turun menudju kamar pakaian, mengenakan mantel, lalu keluar.
„Penangkap tikus? Tapi tak ada tikus disini”.
„Tak ada hubungannja dengan tikus. Aku bitjara tentang kaju. Sipenangkap tikus itu perempuan tua jang banjak berdagang kaju. Dia kerdjakan itu benar-benar atas dasar perusahaan — dibelinja rumah-rumah untuk bahan-bakar. Wah, gelap, awas kalau melangkah. Dulu aku dapat membawa kau kemana-mana dengan mata tertutup dikota ini, kukenal tiap batu, aku lahir dekat sini. Tapi sesudah tiap pagar mulai dirombak, tak dapat kutemukan djalan, djuga tidak waktu siang. Seperti dikota asing sadja. Tapi djuga ada tempat-tempat hebat mulai nampak. Lihat, tidak? Ada rumah-rumah ketjil bergaja Empire jang tak pernah kita ketahui, dengan medja bundar hidjau dan kursi-kursi-taman jang lapuk diatas rumput. Tempo hari aku lewat ditempat seperti itu, sematjam rimba ketjil disimpang-tiga; ada wanita tua mengais-ngais dengan tongkat — kira-kira seratus tahun umurnja. „Halo, nenek”, tegurku „kamu tjari tjatjing untuk mantjing?” Aku main-main tentunja, tapi dia bersungguh-hati. „Bukan tjatjing”, udjarnja, „djamur”. Dan itu benar, kota lambat-laun djadi hutan. „Ada bau daun busuk dan bau tjendawan”.
„Agaknja kutahu tempat jang kaumaksud — antara Djalan Perak4 4Djalan Perak : Serebryannaya. Djalan Sunji : Molchannaya. dan Djalan Sunji, bukan? Aneka hal jang aneh-aneh kualami selalu disitu — aku ketemu seorang jang sudah duapuluh tahun tak kulihat ataupun kutemukan apa-apa. Kabarnja berbahaja disitu, tiada mengherankan; dibelakangnja ada „padang kelintji”, djaringan lorong-lorong jang menudju ketempat persembunjian jang tua untuk maling-maling dekat Smolensky. Sebelum kita sadar dimana kita berada, mereka telah menelandjangi kita dan lenjap”.
„Dan tengoklah lampu-lampu djalanan itu — sinarnja hampir tak ada. Tak heran orang menjebutnja „pendjotos”. Awas, djangan ketabrak apa-apa”.
6
Memanglah matjam-matjam peristiwa dialami Yury dipersimpangan djalan dekat Djalan Perak. Suatu malam dingin jang gelap, dekat sebelum pertempuran bulan Oktober, ia menemukan seorang laki-laki jang menggeletak pingsan didjalan. Ia melintang persis ditrotoar, tangan dan kakinja mendjulur, kepalanja bersandaran tiang lampu. Waktu Yury hendak membangkitkannja, orang itu mengerang dan menggumam beberapa kata, agaknya tentang buku-tjatatan. Ia tadinja diserang dan kerampasan. Kepalanja kena pukul berkali-kali, tapi Yury tak menemukan tulang jang patah.
Ia pergi keapotik di Djalan Arbat, menelepun kerumah-sakit untuk minta kereta jang digunakan dalam waktu darurat, lalu diangkutnja sisakit kebagian ketjelakaan.
Orang jang luka-luka itu ternjata pemimpin politik jang terkemuka. Selama sakitnja ia dikundjungi Yury, maka bertahun-tahun kemudian ia bertindak selaku pelindungnja dan menolongnja dari berbagai kesalahfahaman orang pada waktu itu jang berat dibebani sjak-wasangka.
7
Rentjana Tonya telah diterima dan keluarganja menghuni tiga kamar diloteng paling atas selama musim-dingin.
Hari Minggu dingin dan banjak angin, muram akibat mendung saldju jang besar-besar. Yury sedang libur.
Api dinjalakan waktu pagi dan tungku mulai berasap. Nyusha kerepotan dengan balok-balok basah. Tonya jang tak tahu-menahu tentang tungku, memberinja nasehat-nasehat jang bertentangan. Yury jang tahu seluk-beluknja, hendak tjampur-tangan, tapi istrinja memegang bahunja dan mendorongnja keluar dengan lemah-lembut: „Djangan ikut-ikut. Kau hanja menuang minjak kedalam api”.
„Sukur, kalau ada minjak. Susahnja, tak ada minjak ataupun api”.
„Djangan main-main pula. Bukan waktunja”.
Kesulitan dengan tungku ini merintjukan keinginan tiap orang. Mereka tadinja berharap akan merampungkan kesibukan masing-masing sebelum malam, hingga mengaso waktu sendja, tapi kini makan-siang akan terlambat. Tonya tak sempat tjutji rambut dan berbagai rantjangan lainnja terpaksa dibatalkan.
Api kian lama kian berasap. Ketika angin meniup, asap turun dari tjerobong, gumpalan-gumpalannja jang berdjelaga memenuhi kamar, laksana hantu hitam dalam hutan mudjizat.
Kesudahannja Yury menjingkirkan semua orang kedua kamar lainnja, membuka djendela, mengambil separoh dari balok-balok dan merenggangkan sisanja, lalu ditaruhnja banjak serpih dan sarutan kaju berk ditjelah-tjelahnja.
Hawa menjerbu kedalam, tirai tersirap dan terajun, kertas tersembur dari lesenar, pintu dalam gang terbanting dan angin mengedjar-ngedjar sisa asap.
Balok-balok menjala dan berkerasak. Tungku menggelegak karena api, nampaknja dibeberapa tempat seperti logam menjala merah jang panasnja menghabiskan mangsanja.
Kamar mendjadi lebih terang. Djendela beruap. Yury telah menutupi rekah-rekahnja dengan dempul jang dibikin menurut resep ahli-kimia, baunja bagai bau lemak jang hangat. Dari balok-balok jang dikeringkan dekat tungku timbul bau tadjam kulit pohon berk jang hangus dan bau pohon espen jang harum bagai air-wangi.
Nikolay Nikolayevich masuk buru-buru, rusuh seperti angin.
„Orang bertempur didjalan. Kadet berdjoang untuk Pemerintah Sementara lawan pradjurit dari tangsi jang menjokong kaum bolsjewik. Mereka berkelahi dimana-mana, djumlah titik-bakar pemberontakan tak bisa dihitung. Waktu kesini, aku dapat kesulitan, sekali dipodjok djalan Dmitrovka Besar, sekali di Gerbang Nikitsky. Sekarang kita sama sekali tak bisa lewat disana, harus berdjalan memutar. Mari, Yura, pakailah djasmu dan keluar. Kau harus melihat. Ini sedjarah. Satu kali terdjadi seumur hidup”.
Namun ia tinggal disitu berdjam-djam. Mereka lantas makan dan ketika ia hendak pulang, masuklah Gordon dengan tjara jang sama dan dengan kabar jang kebanjakannja sama.
Tapi ada pula kelandjutannja. Gordon bitjara tentang tembakan jang tambah ramai, tentang orang-orang lewat jang terbunuh oleh peluru kesasar. Menurut dia seluruh lalu-lintas berhenti. Tak tersangka ia dapat lolos kelorong-tjabang, tapi djalan dibelakang tertutup. Nikolay Nikolayevich tak mau pertjaja, lalu bergegas keluar, tapi semenit kemudian iapun kembali. Katanja, peluru berdesing-desing dilorong-lorong, menanggalkan repih-repih batu-bata dan kapur dari podjok-podjok. Tak seorangpun ada diluar. Lalu-lintas berhenti sama-sekali.
Pekan itu Sasha ketjil masuk angin.
„Sekali kukatakan, seratus kali kusebut, ia tak boleh main-main dekat tungku”, kata Yury dengan marah. „Kepanasan baginja djauh lebih buruk dari pada kedinginan”.
Sasha panas dan kerongkongannja njeri. Ketakutannja pada penjakit adalah chusus dan luar-biasa dan ketika Yury hendak memeriksa tenggorokannja, ia mengelakkan tangan ajahnja, menekankan gigi, memekik dan gelagapan. Antjaman dan budjukan tak mempan sedikitpun. Tapi satu kali ia kurang hati-hati, lalu menguap lebar; Yury menggunakan kelupaannja ini dengan menjodokkan sendok teh dan menekan lidahnja tjukup lama, hingga sempat melihat pangkal tenggorokannja jang merah serta amandel jang bengkak dan berbintik-bintik putih. Bintik-bintik ini menggelisahkannja. Dengan tjara jang sama berhasillah ia memperoleh sebuah specimen dan karena ia punja mikroskop, iapun dapat memeriksanja. Sukurlah bukan diphteria.
Tapi pada malam ketiga Sasha diserang krup urat-saraf. Suhunja melontjat tinggi, ia tak sanggup bernafas. Yury tak berdaja meringankan penderitaannja dan tak tahan melihatnja. Tonya mengira anaknja akan mati. Mereka bergiliran menggendongnja didalam kamar dan ini agaknya membuatnja sembuh.
Mereka perlukan susu dan air-soda untuknja. Tapi pertempuran dilorong-lorong sedang mendjadi-djadi. Tak sesaatpun tembakan meriam dan bedil berhenti. Andaikatapun Yury melintasi daerah perang dengan mempertaruhkan njawanja, ia tak akan menemukan siapa-siapa dilebuh-lebuh diseberangnja. Kota berhenti hidup, sebelum keadaan menetap.
Namun hasilnja sudah terang. Dari segenap pendjuru datang desas-desus bahwa kaum pekerdja mentjapai kemenangan. Kelompok-kelompok kadet masih berdjoang, tapi mereka sudah petjah-petjah dan tak berhubungan lagi dengan pimpinan.
Distrik Sivtsov diduduki regu-regu pradjurit jang mendesak kepusat kota. Pradjurit-pradjurit dari medan-perang melawan Djerman serta para pekerdja remadja duduk dalam parit jang digali dilorong-tjabang; mereka sudah mulai mengenal orang-orang jang tinggal didjalanan itu dan bertjanda dengan mereka jang lewat atau berdiri didepan gerbang. Dikota sebelah ini orang mulai bergerak sedikit.
Gordon dan Nikolay Nikolayevich jang tersangkut dirumah Zhivago, lepas dari kurungan tigahari. Yury senang dengan kehadiran mereka selama Sasha sakit dan Tonya memaafkan mereka, meskipun mereka menambah kerintjuan. Tapi mereka merasa perlu membajar hutang-budi dengan menghibur tamu-tamu itu dengan pertjakapan jang tak habis-habisnja. Yury letih karenanja dan senang ketika mereka pergi.
8
Mereka dapat kabar bahwa tamu-tamu itu sudah pulang dengan selamat, namun masih belum boleh dikatakan bahwa dikota sudah ada perdamaian. Dipelataran-pelataran masih ada pertempuran, sedangkan distrik-distrik masih tertutup. Yury tak dapat pergi kerumah-sakit. Ia kehilangan naskahnja serta tjatatan selidik-ilmiah dan tulisannja jang ditinggalkannja dalam latji lesenar dikamar-pegawai.
Orang hanja keluar dekat-dekat disekitar tempat-tinggalnja waktu pagi, djalan-djalan sekedar untuk beli roti atau mengerumuni seorang tak dikenal jang membawa sebotol susu, sambil menanjakan dimana ia mendapatkannja.
Sekali-sekali tembakan mulai lagi diseluruh kota. Diduga bahwa kedua fihak sedang berunding, bahwa tembakan jang lenjap atau meningkat itu tergantung dari perundingan jang menurut gelagatnja akan berhasil atau gagal.
Suatu malam pada achir Oktober (menurut penanggalan tua) Yury tanpa keperluan tertentu pergi mengundjungi seorang rekan. Lebuh njaris kosong; selama berdjalan itu ia hampir tak berdjumpa siapa-siapa. Ia melangkah tjepat. Saldju pertama lagi turun, lembut bagai serbuk, tjerai-berai oleh angin jang mengembus.
Ia membelok kepada banjak lorong-tjabang, sampai ia tak dapat menghitungnja, ketika saldju menebal dan angin mendjelma badai, badai dari djenis jang suka bersuit dipadang serta menjelimutinja dengan saldju, tapi jang didalam kota suka menghantam kanan-kiri kegila-gilaan, seolah kesasar.
Ada persamaannja antara kedjadian-kedjadian didunia rohani dan dunia djasmani, antara segala pergolakan dekat dan djauh, dibumi dan dilangit. Disana-sini ada letusan dari tempat-tempat terpentjil dalam pertahanan jang setengah bobol. Njala jang menggelegak dan reda sedang naik dan petjah dikaki-langit. Dan saldjupun menggelegak dan terbang membudjur dibawa angin serta menguap dibatu-batu basah dibawah kaki Yury.
Anak pendjual koran dengan mengepit seberkas tebal surat-kabar jang baru ditjetak, sambil berteriak: „Kabar terachir!”, mengedjarnja dengan tjepat disuatu simpangan djalan.
„Tak usah uang kembali”, kata Yury. Anak itu mentjabut selembar dari tumpukannja, menjodokkannja ketangan Yury, lantas lenjap dalam badai saldju.
Yury berhenti dibawah lampu-lorong untuk membatja djudul-djudul. Koran itu koran extra jang terachir, tertjetak hanja pada halaman sebelah; beritanja ialah pemberitahuan resmi dari Petersburg bahwa sudah dibentuk suatu Dewan Komisaris Rakjat Sovjet dan bahwa kekuasaan Sovjet serta Diktatur Proletariat sudah didirikan di Rusia. Menjusul dekrit-dekrit pertama pemerintahan baru dan pelbagai kabar singkat jang diterima dengan telegram atau telepun.
Badai memetjut mata Yury dan menutup halaman tertjetak itu dengan bubur saldju abu-abu jang berkerisik, tapi bukanlah badai saldju menghalangi Yury membatja. Ia terharu dan tertjengkam oleh keagungan zaman dan berpikir betapa pentingnja itu untuk abad-abad jang akan datang.
Lantaran ia mesti terus membatja djuga, ia memandang keliling, mentjari tempat jang lebih terang dan lebih terlindung. Ia berdiri sekali lagi dipersimpangan Djalan Perak dan Djalan Sunji jang angker itu, didepan sebuah gedung tinggi berloteng lima, dengan pintu berlapis katja dan serambi-depan jang luas lagi benderang.
Ia masuk, berdiri dibawah tjahaja dari plafon dan membatja berita.
Langkah orang berbunji diatasnja. Dia turun pelan-pelan sampai separoh tangga, berhenti seolah bimbang, lalu berpaling dan lari lagi kebordes loteng pertama. Ada pintu dibuka dan dua suara mengalun keluar, memar oleh gema, hingga tak dapat ditentukan apakah jang bitjara itu laki-laki atau perempuan. Pintu lantas terbanting dan langkah orang tadipun turun, kali ini tegap.
Yury tekun membatja koran dan tak bermaksud mendongak, tapi orang tak dikenal itu sekonjong-konjong berhenti dikaki tangga, hingga iapun menegakkan kepala.
Didepannja berdirilah anak muda jang umurnja kira-kira delapanbelas tahun, pakai petji dari kulit kidjang serta djas kaku dari kulit kidjang seperti jang dipakai di Siberia, bulu-bulunja disebelah luar. Rambutnja hitam dan matanja mata Kirghis jang sipit. Raut-mukanja bertjorak kebangsawanan, berseri sepintas-lintas dengan kelembutan bersipu-sipu jang mengesankan kesunjian, seperti kadang-kadang terdjumpa pada orang jang asalnja tjampuran berganda.
Pemuda itu rupanja menjangka Yury orang lain. Ia memandang padanja dengan malu dan ragu-ragu, seakan kenal tapi tak bertetap hati untuk bitjara. Untuk mengachiri kesalahfahaman, Yury mengukurnja dengan pandangan dingin jang mengetjilkan hati.
Pemuda itu berpaling dengan bingung dan pergi kepintu-depan. Disitu ia berhenti, menoleh lagi sebelum keluar, lalu dibantingnja pintu-katja berat jang menutup dibelakangnja.
Beberapa menit kemudian Yurypun pergi. Pikirannja dipenuhi oleh berita tadi; dia lupakan tak hanja sipemuda, tapi djuga rekan jang tadi hendak dikundjunginja, lantas baliklah ia langsung kerumah. Tapi ditengah djalan ia disasarkan pula oleh kedjadian lainnja; itulah salah satu soal ketjil dalam penghidupan sehari-hari jang dizaman itu mendjadi penting, sungguhpun tak pada tempatnja.
Tak djauh dari rumahnja ia tersandung dalam gelap pada setumpukan papan. Didjalan itu ada sesuatu lembaga pemerintahan, dan papan itu jang nampaknja dirombak dari rumah kaju disekitar kota, tentunja disediakan sebagai bahan-bakar untuknja. Tak seluruhnja dapat masuk kepekarangan, maka sisanja ditinggalkan ditrotoar. Seorang pengawal bertugas pada bukit balok ini; ia mundar-mandir dipekarangan, sekali-sekali menengok keluar gerbang.
Tanpa berpikir dua kali, Yury menggunakan saat ketika sipengawal berpaling dan angin melambungkan sekelompok saldju; ia mengendap-endap ketempat jang gelap, menghindari tjahaja lampu; dengan hati-hati dilepaskannja sebatang balok dari bawah sekali, lalu ditariknja; dengan susah-pajah dibebankannja itu atas pundaknja dan segera tak dirasakannja beratnja (berat badan sendiri bukanlah beban), lalu pergilah ia mengendap-endap dengan merapatkan diri pada tembok jang berbajangan, maka dibawanja kaju itu dengan selamat kerumah.
Tepatlah kedatangannja, sebab kaju-bakar sudah habis. Kaju itu dipotong, batang-batangnja ditumpuk, Yury menjalakan tungku dan djongkok didepannja berdiam diri, sedangkan Alexander Alexandrovich menggeserkan kursinja dan duduk berdiam.
Yury mengambil koran dari kantong disebelah djasnja dan mengulurkannja padanja:
„Sudah tahu ini? Penting betul. Lihatlah”.
Masih djongkok dan sambil menjodok balok-balok ia bitjara dengan diri sendiri.
„Hebat pembelahan itu! Ambil pisau dan potong segala penjakit busuk. Mudah sadja, tanpa omong-kosong; sihantu kelaliman jang kawakan, jang berabad-abad sudah biasa dielus-elus, dihormati dan disembah, kini ditangkap dan dihukum mati.
„Keberanian ini, tjara melihat sesuatu sampai udjungnja, mempunjai tjorak kebangsaan. Didalamnja ada kepesatan berapi-api setjara Pushkin dan rasa terikat pada fakta seberani Tolstoy”.
„Pushkin”, katamu? „Tunggu sedetik. Biar aku habis membatja. Aku tak bisa batja dan bitjara berbareng”, tukas Alexander Alexandrovich, jang salah mengira bahwa Yury menegurnja.
„Dan gagasan jang betul-betul djenial ialah begini. — Andaikan kita suruh orang mentjiptakan dunia baru, membuka zaman baru — orang akan minta supaja disediakan ruangan dulu. Orang akan menunggu sampai abad-abad jang lama itu habis, sebelum mulai membina abad baru, ingin mendapat daftar neratja, angka bulat, halaman kosong”.
„Tapi disini hal-hal itu tak dihiraukan — „Ini dia. Terima atau tolaklah”. Hal jang baru ini, sedjarah jang mengagumkan dan tak terduga ini telah meletus ditengah-tengah penghidupan sehari-hari sendiri tanpa tindjauan sedikitpun atas djalanannja nanti. Mulainja tidak pada permulaan, mulainja ditengah, tanpa tangguhan jang chusus, begitu sadja pada hari jang kebetulan ada, pada saat orang kerdja sesibuk-sibuknja. Itu benar-benar djenial. Hanja keagungan jang tulen bisa lepas dari ikatan tempat dan waktu seperti itu”.
9
Musim-dingin datang dan sifatnja djustru seperti jang diramalkan. Tak begitu mengerikan seperti dua musim-dingin jang menjusul, namun sudah sedjenis, muram, dingin, membawa kelaparan, maka selama itu orang menjaksikan kebiasaan dari segala jang dikenalnja serta perobahan semua dasar hidup, dan orangpun dengan mengatasi tenaga insaniahnja berusaha mempertahankan hidup jang hendak membersit dari pegangan.
Ada tiga musim-dingin berturut-turut jang serba dahsjat; dan tak semua hal jang kini nampak seperti terdjadi dalam musim-dingin tahun-tahun 1917 dan 1918, betul-betul terdjadi dalam waktu itu — beberapa kedjadian mungkin berlaku kemudian. Tiga musim-dingin jang bersusul-susulan ini, sekarang lebur djadi satu, sulitlah memisah-misahkannja.
Penghidupan lama dan tjara hidup baru masih belum berdjalanan; belum bermusuhan seperti ketika perang-saudara petjah setahun kemudian, tapi tak djuga tjukup berhubungan. Kedua-duanja seperti dua bagian teka-teki jang diletakkan berdampingan dan tak dapat disesuaikan.
Dimana-mana ada pemilihan baru: untuk mengadakan perumahan, untuk perdagangan, industri, dinas pemerintahan kota. Untuk tiap hal diangkat komisaris, jang memakai badju dari kulit hitam, dengan kekuasaan tak terbatas dan kemauan badja, dipersenjatai alat-alat intimidasi dan pistol, orang jang djarang tjukur dan djarang lagi tidur.
Dia kenal kaum burdjuis jang mengumpet jang biasanja menjimpan inventaris pemerintah jang tak begitu berharga, maka bitjaralah ia pada mereka tanpa kasihan sekelumitpun dan dengan senjuman Mephistopheles, seperti menghadapi maling-maling ketjil jang tertangkap basah.
Merekalah orang-orang jang mengorganisir semuanja menurut rentjana, dan maskapai demi maskapai, perusahaan demi perusahaan mendjadi milik bolsjewik.
Rumah-sakit Salib Kudus kini dikenal sebagai Rumah-sakit Reformasi Kedua. Banjak jang berobah didalamnja. Sebagian dari pegawai dipetjat, lain-lainnja ada jang minta berhenti, sebab berpendapat bahwa pekerdjaannja tak tjukup menguntungkan. Mereka adalah dokter jang prakteknja laku dan dibajar banjak, suka omong besar dan anak manja masjarakat, jang keluar untuk kepentingan diri sendiri, namun membanggakan diri bahwa mereka membuat protes jang patut bagi warga-negara, pun memandang rendah pada orang-orang jang masih tinggal. Zhivago masih bekerdja.
Waktu malam dia dengan Tonya berbitjara sematjam ini:
„Djangan lupa hari Rebo di Persatuan Dokter, ada dua karung kentang beku buat kita dikolong gedung. Kuberi tahu nanti kapan aku prei. Kita mesti pergi bersama membawa kereta-saldju”.
„Baik, sajang, waktu berlimpahan. Mengapa kau tak tidur sekarang? Djauh malam sudah. Kuingin kau mengaso, kau tak bisa berbuat segala-galanja”.
„Ada wabah. Keletihan merosotkan daja-tahan sampai djadi penjakit. Kau dan ajah nampak menjedihkan. Kita harus berbuat, tapi apa, aku tak tahu. Kita kurang mendjaga diri. Dengarkan, Tonya. Kau tidur, tidak?”
„Tidak”.
„Jang kutjemaskan bukan aku sendiri, hidupku ada sambilan, tapi djika sewaktu-waktu aku djatuh sakit, kau harus punja akal sehat, ja, djangan biarkan aku dirumah. Bawa aku segera kerumah-sakit”.
„Djangan omong begitu, sajang. Insja Allah, kau tetap sehat. Bagaimanapun djuga, kalau kita menemukan djambatan, kita seberangilah dia”.
„Ingatlah, tak ada lagi orang djudjur, ataupun kawan-kawan. Orang jang pandai bekerdja, kurang lagi djumlahnja. Kalau terdjadi apa-apa, djangan pertjaja siapa-siapa ketjuali Pichuzhkin. Kalau ia masih disana, temunja. Kau tak tidur?”
„Tidak”.
„Gadji tak tjukup, djadi pergilah mereka; sekarang kiranja mereka punja prinsip-prinsip dan perasaan kewargaan. Kalau ketemu mereka didjalan, mereka hampir tak mau berdjabatan tangan, hanja mengangkat alis: „Djadi kau bekerdja untuk mereka?”
— „Ja”, kataku, „dan semoga kau tak gusar karenanja. Kubanggakan penderitaan kami dan kuhormati siapa jang menghormati kami dengan membebankan penanggungan itu pada kami”.
10
Bagi kebanjakan orang makanan terdiri atas gandum rebusan serta sop ikan terbikin dari kepala bandeng, disusul oleh sisa bandeng itu sebagai hidangan kedua; ada djuga bubur terbuat dari rebusan djenis-djenis gandum lainnja. Ini akan merupakan makanan utama bagi sebagian besar orang untuk waktu lama jang akan datang.
Seorang profesor wanita, teman Tonya, memberitahu padanja bagaimana memasak roti dalam tungku Belanda mereka. Maksudnja ialah mendjual sebagian roti mereka untuk menutup ongkos pemanasan tungku besar seperti jang sudah-sudah dan tidak lagi menggunakan perapian logam jang masih sadja mengeluarkan asap, tapi hampir tak menghasilkan panas.
Roti Tonya baik, tapi rantjangan dagangnja tak djadi. Mereka harus berbalik ketungku jang tjelaka itu. Keadaan mereka sungguh-sungguh berat.
Suatu pagi ketika Yury telah berangkat bekerdja, Tonya mengenakan mantel musim-dinginnja jang lusuh — dia begitu penat, sampai ia dengan mantel itu masih menggigil pula dalam iklim panas — lantas pergilah ia „tjari sasaran”. Jang tinggal hanja dua balok.
Ia mengembara dilorong-lorong dalam bagian kota, dimana kadang-kadang terdapat kaum petani dari salah satu dusun diluar Moscow jang mendjual sajur dan buah-buahan. Didjalan raja, petani jang membawa muatan dapat ditangkap.
Ia lekas menemukan apa jang ditjarinja. Seorang pemuda raksasa dengan djas petani berdjalan pulang bersama dia, mendorong kereta-saldju jang nampaknja seringan barang mainan serta ikut masuk pekarangan dengan hati-hati.
Didalam kereta ada semuatan balok berk jang ditutup kain-bungkus, tak lebih tebal dari kisi-kisi rumah-dusun kuno dalam foto dari abad 19. Tonya tahu, matjam apa balok-balok itu: nampaknja sadja berk, tapi djenisnja djenis pohon jang paling djelek, pun baru sadja dipotong, hingga tak baik untuk dibakar. Tapi karena tak ada pilihan lain, tak ada gunanja membantah. Pemuda itu membawa lima atau enam pelukan kekamar-duduk, maka untuk gantinja diambilnja lemari ketjil Tonya dengan pintu katja. Diangkutnja itu kebawah, lantas dimuatnja dalam kereta-saldju untuk dibawa sebagai hadiah untuk istrinja. Sebagai sindiran pada perdagangan kentang dikemudian hari ia tanjakan harga piano.
Waktu Yury pulang, ia tak mengatakan apa-apa tentang pembelian Tonya. Tentu lebih masuk akal untuk memotong lemari tadi, tapi mereka tak akan sampai hati berbuat begitu.
„Ada surat untukmu dimedja, kaulihat?” tanja Tonya.
„Jang diteruskan dari rumah sakit? Ja, pesan sudah kuterima. Panggilan orang sakit. Tentu aku pergi. Ngaso sedikit, lantas pergi. Tapi djauh djuga. Kira-kira dekat Gapura Kemenangan. Sudah kutahu alamatnja”.
„Tahu, apa jang ditawarkan sebagai upah? Baiklah kaubatja. Sebotol konjak Djerman atau sepasang kaos kaki. Kaupikir, orang-orang matjam apa ini? Rupanja tak tahu bagaimana hidup kita sekarang. Orang kaja baru, kuduga”.
„Ja, itu tentu dari leveransir”.
Leveransir, konsesionaris atau agen adalah nama-nama untuk pemborong partikelir ketjil jang mendapat kontrak dari pemerintah guna melever pelbagai barang. Negara telah membatalkan perdagangan partikelir, tapi memberi fasilitet tertentu pada mereka dalam waktu krisis ekonomi.
Mereka bukanlah bekas orang-orang berada atau kepala firma jang dipetjat — orang-orang ini tak dapat bangkit kembali setelah pukulan jang mereka terima. Mereka adalah sedjenis pengusaha baru, orang-orang tanpa akar jang terangkat dari bawah oleh perang dan revolusi.
Yury minum air panas dengan sacharin, diputihkan dengan susu, lalu keluar mengundjungi pasiennja.
Saldju tebal menutupi djalanan dari tembok ketembok, dipelataran sampai setinggi djendela tingkat terbawah. Sosok-sosok tubuh setengah mati bergerak tanpa suara diruangan luas ini, mendjindjing sedikit makanan atau menghelanja dengan kereta-saldju. Lalu-lintas lain hampir tak ada.
Tanda-gambar warung jang lama masih tergantung disana-sini, tak ada hubungannja dengan koperasi-koperasi ketjil dibawahnja. Warung-warung ini semua kosong dan terkuntji, djendelanja dirintangi atau ditutup dengan papan.
Warung-warung ini terkuntji dan kosong bukanlah hanja karena tak ada barang-barang, tapi djuga karena pembentukan kembali segala segi penghidupan, termasuk perdagangan, sampai sekarang kebanjakannja tinggal diatas kertas dan belum menjangkut kesoal-soal remeh-temeh seperti warung-warung jang tutup ini.
11
Yury menemukan rumah itu diudjung Djalan Brest dekat Gapura Tver.
Rumah ini berbentuk barak batu jang tua, dibangun disekitar pelataran, dengan tangga kaju beratap jang merajapi tembok-tembok pelataran.
Hari itu para penjewa lagi mengadakan rapat umum jang sebelumnja sudah diatur dengan baik, dikundjungi oleh seorang utusan wanita dari distrik pemilihan Sovjet; ketika itu muntjullah panitia militer untuk mengontrol lisensi sendjata dan mentjari sendjata jang tak pakai lisensi. Para penjewa harus kembali keflet-flet mereka sambil menunggu giliran, tapi ketua panitia minta supaja utusan distrik pemilihan Sovjet itu djangan pergi, sebab penjelidikan tak akan lama, hingga rapat akan dapat dilandjutkan.
Waktu Yury tiba, memanglah panitia sudah hampir selesai, tapi flet jang ditudjunja belum digeledah. Dibordes Yury ditjegat seorang pradjurit dengan bedil, tapi ketua panitia mendengar mereka berbantahan, lalu menjuruh supaja penjelidikan ditunda sampai dokter selesai memeriksa pasiennja.
Pintu dibuka tuan-rumah, seorang pemuda sopan dengan paras putjat kekuning-kuningan dan mata saju. Hatinja rusuh oleh pelbagai hal — sakit istrinja, penggeledahan jang mendjelang serta hormatnja jang mendalam terhadap ilmu kedokteran dan para pelaksananja.
Guna menghemat waktu bagi dokter itu ia hendak memberinja ichtisar singkat tentang penjakit istrinja, tapi lantaran terburu-buru maka pembitjaraannja djadi pandjang dan tjerai-berai.
Jang nampak pada dokter itu ialah tjampuran antara flet jang mewah dan ruangan dibawah tanah jang murah; kebanjakan prabot dibeli tergesa-gesa sebagai penanaman modal terhadap inflasi jang tjepat, terdiri atas prabot-prabot jang tak lengkap serta benda-benda tunggal jang tak serasi, karena seharusnja bersetel-setelan.
Pemuda itu mengira, penjakit istrinja disebabkan oleh gontjangan urat-sjaraf. Dengan banjak penjimpangan diuraikannja bahwa mereka baru-baru ini beli lontjeng kariljon jang kuno. Peralatannja tak dapat diperbaiki lagi dan mereka membelinja murah sekali, hanja sebagai tjontoh keahlian jang luar biasa dari sipembikin (dibawanja dokter kekamar sebelah untuk melihatnja). Tapi sekonjong-konjong lontjeng jang bertahun-tahun tak diputar itu, mulai memainkan sendiri kariljonnja, sebuah minuet jang rumit, lantas berhenti. Istrinja ketakutan, tutur sipemuda, jakinlah ia bahwa saat terachirnja telah ditandai, maka beginilah ia, mengigau sadja; ia tak mengenal suaminja, tak makan dan tak minum.
„Djadi tuan pikir itu gontjangan urat-sjaraf”, kata Yury menjangsikan. „Boleh saja lihat dia?”
Mereka masuk kamar lain; disitu ada lampu plafon dari beling, randjang berganda jang lebar serta dua medja-randjang dari mahoni. Seorang perempuan ketjil dengan mata hitam besar berbaring dipinggir randjang, sampai keatas dagunja ditutupi badju bulu. Melihat mereka, ia melepaskan lengannja sebelah dari bawah selimut, melambaikan tangannja agar mereka enjah, maka lengan gaunnja jang longgar itupun melengser sampai ketiaknja. Kemudian, seolah ia seorang diri dalam kamar, ia menjanji sesuatu dengan suara lembut; hal ini membuatnja sedih sampai ia menangis, merengek-rengek seperti anak ketjil serta minta „pulang”. Ketika Yury menghampiri randjang, iapun membelakanginja dan tak mau disentuhnja.
„Mestinja kuperiksa dia”, kata Yury, „tapi sebetulnja tak djadi apa. Dia terang kena typhus — berat pula, kasihan; tentu ia merasa tjelaka sekali. Saja nasehatkan pada tuan, bawalah dia kerumah-sakit. Saja jakin, tuan berusaha dia tak kekurangan suatu apa dirumah, tapi dia perlu sekali diawasi dokter terus-menerus selama beberapa minggu. Tuan bisa mendapatkan kendaraan apapun djuga, kereta, bahkan pedati sadja? Tentu ia mesti diselimuti rapi-rapi. Saja beri tuan surat-izin”.
„Saja tjoba, tapi tunggu sebentar. Betulkah typhus? Tjelaka!”
„Saja chawatir begitu!”
„Dengarlah, saja jakin akan kehilangan dia, djika dia saja lepaskan — apakah tuan tak bisa mendjaganja disini? Silakan datang sesering tuan suka — saja akan senang sekali membajar dengan apa sadja jang tuan kehendaki”.
„Maaf, sudah saja sebut, ia perlu diawasi terus. Berbuatlah seperti jang saja katakan. Nasehat saja betul-betul untuk kebaikan dia. Djadi usahakan sekeras-kerasnja agar mendapat kereta dan saja tulis surat-izin. Baiklah saja tulis dalam kamar panitia rumah-tangga. Surat-izin harus dibubuhi tiap perumahan, pun ada beberapa formalitet lainnja”.
12
Seorang demi seorang para penghuni jang menjelimuti diri dengan sjal dan djas bulu telah balik keruangan dibawah tanah jang tidak dipanaskan dan dulu merupakan gudang untuk telur, tapi kini digunakan oleh panitia rumah-tangga sebagai kamar-sidang.
Sebuah lesenar-kantor dan beberapa kursi berdiri disatu udjung. Karena kursi kurang banjak, orang telah memasang peti telur kaju kosong jang tua, dibalikkan serta didjedjerkan, hingga merupakan bangku. Setumpukan peti-peti ini jang setinggi langit-langit, mendjulang diudjung kamar jang terdjauh. Disatu sudut ada seonggokan serutan kaju jang lengket berbungkah-bungkah, lantaran tjampur dengan kuning-telur beku jang menetes dari telur-telur petjah. Tikus-tikus bikin hiruk-pikuk didalamnja, sekali tempo tampil sampai ketengah lantai batu, lantas lari kembali.
Tiap kali itu terdjadi, seorang penghuni wanita jang gemuk naik keatas sebuah peti sambil berteriak; dengan lembut diangkatnja gaunnja dan seraja mengentakkan tumit sepataunja jang tak ketinggalan mode itu, iapun berseru dengan suara parau, tenang dan mabuk:
„Olya, Olya, disini penuh dengan tikus. Njah, binatang nadjis! Ai-ai-ai! lihat, kaum keparat itu mengerti, mengatjipkan gigi mereka jang djahanam. Ai-ai-ai! ia mau naik, ia akan sampai dibawah rokku, aku takut! Berpalinglah, tuan-tuan. Maaf, aku lupa kita sekarang bukan tuan-tuan, tapi kawan-kawan sesama warga-kota”.
Mantelnja dari wol astrakhan terbuka, memperlihatkan tiga lapisan dagu gendutnja jang bergetaran dan buah dada jang subur serta perutnja jang diselubungi sutra. Dulu ia bunga pudjaan dikalangan pedagang ketjil serta perakit toko, tapi sekarang matanja seketjil mata babi itu tak lebih dari rekah sadja antara pelupuk matanja jang bengkak. Seorang penjaingnja pernah mentjoba menjiramnja dengan vitriol, tapi ia luput dan hanja satu-dua tetes meninggalkan bekas ketjil jang hampir mempereloknja, setitik dipipinja dan setitik disatu sudut mulutnja.
„Djangan mendjerit-djerit, Khrapugina. Bagaimana kita bisa bekerdja terus?” tegur utusan wanita dari Dewan Kota; ia telah dipilih djadi ketua dan duduk dibelakang lesenar.
Utusan itu sudah kenal rumah itu beserta kebanjakan penghuninja seumur hidupnja. Sebelum rapat ia bitjara tak resmi dengan bibi Fatima, sidjurukuntji jang dulu tinggal bersama suami dan anak-anaknja disatu podjok dalam ruangan kotor dibawah tanah, tapi sekarang ia hanja beserta anak perempuannja dan sudah pindah dalam dua kamar terang ditingkat pertama.
„Nah, Fatima, apa kabar?” tanja utusan itu.
Fatima mengeluh bahwa rumah sebesar ini dengan penghuni sebanjak itu terlalu berat baginja seorang diri, pun bahwa ia tak dapat bantuan, sebab sungguhpun tiap keluarga diharapkan bergiliran membersihkan tangga serta ambang-pintu, namun tak ada jang berbuat begitu.
„Djangan kuatir, Fatima, akan kita tegur mereka. Lagi pula, ini panitia rumah-tangga matjam apa? Terlalu. Unsur-unsur djahat diberi perlindungan; orang-orang jang achlaknja patut ditjurigai, dibiarkan tak terdaftar. Kita singkirkanlah mereka dan memilih panitia lain. Kudjadikan kau kepala rumah-tangga, asal tak bikin ribut”.
Bibi Fatima mohon supaja dilepas, tapi utusan itu tak mau dengar.
Setelah mengedar pandang dalam kamar dan memutuskan bahwa tjukup banjak orang hadir, ia minta orang supaja tenang dan membuka rapat dengan pidato pengantar jang singkat. Ia mengetjam keteledoran panitia rumah-tangga, mengusulkan supaja didjadikan tjalon-tjalon untuk pembentukan panitia baru, lalu beralih kesoal lain.
Sebagai penutup ia bitjara sedapat-dapatnja:
„Djadi begitulah, kawan-kawan. Terus-terang sadja, ini rumah besar, baik untuk losmen. Tjoba, kita tak tahu dimana mempatkan semua delegasi jang datang dikota untuk mengundjungi konperensi-konperensi. Sudah diputuskan mengambil alih gedung ini untuk penginapan Dewan Kota bagi tamu-tamu dari dalam negeri serta menjebutnja Penginapan Tiverzin, guna menghormati kawan Tiverzin jang tinggal disini sebelum ia dibuang, seperti jang tiap orang maklumi. Tak keberatan? Sekarang soal tanggal. Tak usah buru-buru, ada waktu setahun penuh. Kaum pekerdja akan diberi perumahan kembali, lain-lainnja harus tjari akomodasi sendiri dan diberi waktu setahun”.
„Kami semua pekerdja! Tiap kami! Kami semua buruh!” seru hadirin dari tiap pendjuru, dan satu suara mengisak-isak:
„Itulah Sjovinisme Rusia Raja! Semua bangsa kini sama! Kutahu apa jang kausindir”.
„Djangan semua berbareng. Siapa mesti kudjawab lebih dulu? Apa hubungan bangsa-bangsa dengan ini, warga Valdyrkin? Tengok si Khrapukina, adakah kaulihat soal kebangsaan berhubung dengan soal dia? Namun kita pasti mengeluarkan dia”.
„Apa? Apa? Tjoba sadja, keluarkan aku, kita lihat nanti. Hai, dipan djebol! Sprei kumal!” Khrapugina mendjerit-djerit, menjebut utusan itu dengan tiap nama gila jang ditemukannja dalam kantjah perselisihan itu.
„Setan betina!” Bibi Fatima bringas. „Kau tak malu?”
„Djangan ikut-tjampur, Fatima, dapat kudjaga diri sendiri”, kata utusan itu. „Tutup mulut, Khrapugina, kutahu segala tentang kau. Ajo, tutup mulut; kalau tidak, kuserahkan kau pada penguasa sekarang djuga, sebelum kau ditangkap sedang bikin wodka dan buka tempat sembunji maling-maling”.
Keributan sedang memuntjak, waktu Yury masuk. Pada orang pertama jang sempat mendengarkannja, ia tanjakan apakah dapat ia ketemu dengan seorang dari panitia rumah-tangga; jang ditegurnja itu mentjorongi mulutnja dengan tangannja dan berserulah ia mengatasi hiruk-pikuk:
„Ga-li-ull-li-na! Ada tamu”.
Yury keheran-heranan. Perempuan tua jang kurus dan sedikit bongkok — bibi Fatima — mendekatinja; wadjahnja akan tjukup bukti baginja bahwa ia ibu Galiullin. Namun ia tak segera mengenalkan diri dan berkata:
„Seorang penghuni kena typhus” (Disebutnja namanja).
„Harus ada matjam-matjam persiapan untuk mentjegah menularnja. Lagi pula, sisakit harus dibawa kehospital. Akan kutulis surat-izin; panitia rumah-tangga perlu menanda-tanganinja. Bagaimana dan dimana bisa saja dapat?”
Perempuan itu menjangka, jang dimaksudkan ialah: „Bagaimana membawa sisakit kehospital?”, maka didjawabnja: „Ada kereta datang dari Dewan Kota untuk kawan Demina, utusan itu. Kawan Demina itu baik benar; kutjeritakan padanja, pasti ia bolehkan sisakit naik keretanja. Djangan kuatir, kawan dokter, dia akan sampai djuga kesana”.
„Bagus sekali. Jang saja maksud sebenarnja, dimana dapat saja tulis surat-izin itu? Tapi kalau soal kereta sudah beres…… Boleh saja tanja, apakah njonja ibu dari letnan Galiullin? Kami satu regu dimedan-perang”.
Galiullina sangat terperandjat dan putjat. Dipegangnja tangan Yury: „Mari keluar. Kita bitjara dipekarangan sadja”.
Sampai diluar pintu, ia berkata tjepat-tjepat. „Bitjaralah dengan lembut, demi Tuhan. Djangan bikin saja tjelaka. Yusupha sudah kesasar. Tjoba pikir — apakah ia? Ia magang, pekerdja. Mestinja ia mengerti — orang ketjil sekarang djauh lebih baik nasibnja; orang buta dapat melihat itu, tak ada jang dapat menjangkal. Entah bagaimana pikiran tuan sendiri, mungkin tak mengapa bagi tuan, tapi Yusupha berdosa, Tuhanlah mengampuninja. Bapak Yusupha orang partikelir, ia dibunuh; konon mukanja hantjur kena tembakan dan lengannja dan kakinja”.
Suaranja bergetar; ia menunggu sampai lebih tenang, lalu sambungnja:
„Mari. Saja ambil kereta. Saja kenal tuan. Dia pernah kesini beberapa hari lamanja. Dia tjerita. Dia bilang, tuan kenal Lara Guishar. Gadis baik hati, kuingat dia, dulu dia biasa datang menengok kami. Bagaimana dia sekarang, entahlah — siapa tahu hal-ihwal kamu? Sudah sewadjarnja bangsawan taat pada bangsawan. Tapi mengenai Yusupha, itu dosa. Mari, kita minta-lah kereta itu. Saja jakin kawan Fatima suka memindjamkan pada tuan. Tuan tahu siapa kawan Fatima? Dialah Olya Demina, dulu tukang djahit, bekerdja untuk ibu Lara; itulah dia dan diapun dari sini. Dari rumah ini djuga. Mari”.
13
Malam gelap sekali. Disekitar mereka gelap semata-mata. Hanja lingkaran ketjil tjahaja dari lampu-saku Demina berlontjatan dari angin-saldju jang satu keangin-saldju jang lain, empat-lima langkah kemuka, lebih membingungkan daripada menerangi djalan. Disekitar mereka gelap melulu dan mereka telah tinggalkan rumah, tempat banjak orang mengenal Lara, tempat ia sering datang sewaktu gadis dan konon tempat Antipov, suaminja dibesarkan.
„Betul bisa tjari djalan tanpa lampu, kawan dokter?” Demina setjara main-main melindunginja. „Kalau tidak, saja pindjamkan lampu ini. Pertjajalah, saja sungguh berpengaruh atasnja, waktu kami masih ketjil. Mereka punja perusahaan mendjahit. Saja magang dibengkelnja. Saja ketemu dia tahun ini. Ia berhenti ditengah djalannja ke Moscow. Saja bilang: „Mau kemana, tolol? Tinggallah disini. Tinggal bersama kami. Kami tjari pekerdjaan untukmu”. Sia-sia sadja, ia tak mau. Nah, urusan dialah itu. Ia bersuamikan Pasha dengan otaknja, tidak dengan hati; sedjak itu dia sinting. Maka pergilah ia”.
„Bagaimana pikiran kamu tentang dia?”
„Awas — litjin. Entah sudah berapa kali saja katakan pada mereka, djangan buang air kotor dari pintu — sama sadja dengan mengomongi tembok. Pikiran saja tentang dia? Apa maksud tuan dengan pikiran? Apa mesti saja pikirkan? Tak ada waktu untuk berpikir. Disinilah saja tinggal. — Satu hal tak saja tjeritakan padanja — adiknja lelaki jang ditentara itu, saja kira sudah ditembak. Soal ibunja jang dulu madjikan saja — akan saja urus dia. Nah, saja mesti masuk sini. Selamat djalan”.
Begitulah mereka pisah. Tjahaja lampu ketjil Demina menjoroti gerbang batu sempit dan ladju terus, menerangi tembok-tembok bernoda serta tangga kotor, sedangkan Yury tinggal dikelilingi gelap. Disebelah kanannja adalah Djalan Taman Kemenangan
ootnote{Djalan Taman Kemenangan : Sadovaya Triumfalonya.} disebelah kirinja Djalan Taman Kereta
ootnote{Djalan Taman Kereta : Sadovaya Karetnaya.}. Mendjulur sampai kedjauhan hitam penuh saldju itu lebuh-lebuh ini bukan lagi djalanan, melainkan galangan ditengah rimba gedung-gedung batu, seperti galangan dihutan-hutan lebat Siberia atau Ural.
Dirumah adalah terang lagi hangat.
„Mengapa terlambat?” tanja Tonya. „Ada kedjadian luar-biasa, selama kau pergi tadi”, sambungnja sebelum mendapat djawaban. „Sungguh tak terduga. — Kemaren ajah merusakkan weker — aku lupa menjampaikan padamu — dia susah sekali sebab itulah lontjeng satu-satunja jang djalan dirumah. Ia tjoba membetulkannja, dia kutik-kutik terus, tapi pertjuma. Tukang arlodji dibalik podjok ini minta upah jang tak masuk akal — tiga pon roti. Aku bingung dan ajahpun putus-asa. Nah, kira-kira satu djam jang lalu — pertjaja, tidak? — tiba-tiba ada bunji mendering — keras, menusuk, membisingkan, kami takut sampai hilang akal! Itulah weker tadi! Dapat kaubajangkan? Ia mulai berbunji lagi, dengan sendirinja sadja”.
„Saat typhusku tiba”, Yury berkelakar. Ditjeritakannja tentang pasien typhus dan lontjeng kariljon.
14
Tapi lama kemudian barulah Yury kena typhus. Selama itu keluarga Zhivago diudji sampai udjung kesengsaraan. Mereka tak punja apa-apa dan kelaparan. Yury mentjari anggota partai jang pernah ditolongnja, jakni jang mendjadi korban perampokan. Orang ini menolongnja sedapat mungkin, tapi perang-saudara petjah dan dia hampir tak pernah di Moscow; ketjuali itu penderitaan orang pada waktu itu dianggapnja normal sadja dan dia sendiripun kelaparan, walaupun hal itu disembunjikannja.
Yury mentjoba menemui suami-istri dalam rumah di Djalan Brest — bekas pasien typhusnja serta suaminja, „sileveransir” — tapi sementara itu sipemuda telah berbulan-bulan lenjap, pun tak diketahui apa-apa tentang istrinja. Galiullina sedang keluar, ketika Yury datang, kebanjakan penghuni adalah orang baru, sedangkan Demina ada dimedan-perang.
Suatu hari ia dapat alokasi balok dengan harga resmi. Ia harus mengambilnja disetasiun Vindava. Waktu berdjalan di Djalan Meschanskaya5 5Meschanskaya : Djalan Burdjuis. jang bukan main pandjangnja — seraja
mengawasi kusir pedati jang dimuati harta-karun tak tersangka itu — lebuh itu nampak lain sekali padanja; ia merasa gentjang dari kiri kekanan, kakinja tak mau mendukungnja. „Ini dia”, pikirnja, „habis riwajatku, inilah typhus. Kusir itupun memungutnja, ketika ia djatuh dan meletakkannja diatas balok-balok. Ia tak pernah tahu, bagaimana ia sampai kerumah”.
15
Selama hampir dua minggu ia mengigau dengan selingan waktu. Ia mimpi bahwa Tonya meletakkan dua lebuh atas medja-tulisnja, Djalan Taman Kereta disebelah kiri dan Djalan Taman Kemenangan disebelah kanan, pun telah menyalakan lampu dimedja; tjahajanja hangat dan djingga itu menerangi lebuh-lebuh tadi dan kini ia dapat menulis. Maka menulislah ia.
Ia menulis apa jang seharusnja sudah lama ditulisnja dan senantiasa ingin ditulisnja, namun tak pernah sanggup. Sekarang soalnja mudah sekali; ia menulis dengan semangat dan mengatakan tepat apa jang ia ingin menjatakan. Hanja sekali tempo datanglah seorang pemuda, pemuda dengan mata Kirghis jang sipit, pakai djas kulit kidjang tak dikantjing, bulu-bulunja disebelah luar, seperti biasa dipakai di Ural atau Siberia.
Ia tahu dengan pasti, pemuda ini adalah roh mautnja, atau untuk menjebutnja setjara sederhana sekali, dialah mautnja. Tapi bagaimana mungkin ia mautnja, kalau ia membantunja menulis sadjak? Bagaimana maut bisa berfaedah, bagaimana mungkin baginja untuk menolong?
Sasaran sadjaknja bukanlah penguburan ataupun kebangkitan kembali, melainkan masa diantaranja; djudulnja adalah „Ketjauan”.
Ia selalu ingin melukiskan bagaimana selama tiga hari bumi hitam jang penuh tjatjing dan mengamuk telah menjerang djelmaan abadi tjinta-kasih, menjerbunja dengan batukarang dan batu longsor — laksana gelombang jang terbang melontjati pantai, menutupi dan mengaramkannja — betapa tiga hari lamanja taufan hitam bumi mengamuk, madju dan mundur.
Dua baris berkali-kali kembali dalam kepalanja:
„Kami senang didekatmu”
dan
„Bangkitlah, sudah waktunja”.
Didekatnja adalah neraka, kebusukan, kerapuhan, maut jang menjentuhnja; tapi musim semi dan Maria Magdalena dan penghidupan sama djuga dekat padanja. Dan sudah waktunja untuk bangun. Waktu untuk bangun dan bangkit. Waktu untuk berdiri dan hidup kembali.
16
Ia mulai sembuh. Mula-mula ia terima sadja segala-galanja seperti orang setengah sinting. Ia tak ingat apa-apa, tak melihat hubungan antara jang satu dengan jang lain, pun tak heran akan apa-apa. Istrinja memberinja makanan roti putih dan mentega dan teh manis; ia memberinja kopi. Ia sudah lupa bahwa tak ada barang-barang sematjam itu, maka dinikmatinja tjita-rasanja seperti puisi atau dongeng, seperti hal jang baik dan sepantasnja bagi orang sakit jang sedang sembuh. Tapi tak lama kemudian ia mulai berpikir dan heran.
„Bagaimana kaudapatkan semua ini?” tanjanja kepada Tonya.
„Granya mendapatkannja untuk kita”.
„Granya siapa?”
„Granya Zhivago”.
„Granya Zhivago?”
„Ja, adikmu Yevgraf dari Tomsk. Adik-tirimu. Ia datang tiap hari, selama kau sakit”.
„Dia pakai djas kulit kidjang?”
„Betul. Djadi kaulihat djuga dia. Kau tak sadar hampir sepandjang waktu. Katanja ia kepergok kau ditangga dalam sebuah rumah. Ia kenal kau — maksudnja menegurmu, tapi kaubikin ia takut setengah mati. Dipudjanja engkau, ia batja tiap kata jang kautulis. Apa sadja dia berikan pada kita! Beras, kismis, gula! Sekarang ia pulang. Ia ingin kita kesana pula. Ia anak aneh, agak berteka-teki. Kupikir ada hubungannja dengan pemerintah. Katanja kita hendaknja menjingkir untuk satu-dua tahun, mengungsi dari kota-kota besar, „balikilah kedusun” untuk sementara, udjarnja. Kukenangkan tanah Kruger. Sudah kutanjakan pendapatnja, djawabnja itulah gagasan jang baik sekali. Kita akan dapat menanam sajur-sajuran, pun ada hutan disekitar kita. Tak ada makanannja, kalau mati tanpa berdjoang, matjam domba”.
Bulan April tahun itu Zhivago bersama seluruh keluarganja berangkat kebekas tanah-milik Varykino dekat kota Yuryatin, djauh didaerah Ural.
1
Achir bulan Maret. Seperti biasanya, beberapa hari terakhir bulan ini adalah hari-hari pertama jang panas dalam tahun ini, musim-semi palsu jang diikuti oleh taraf jang lebih dingin.
Keluarga Zhivago berkemas-kemas untuk berangkat. Guna menjamar sebab-musabab kesibukan, bertuturlah mereka pada para penjewa jang kini memenuhi rumah bagaimana burung sriti bahwa flet lagi dibersihkan untuk menghadapi hari Paskah.
Yury tak menjetudjui perdjalanan. Sampai sekarang ia mengira tak akan terdjadi apa-apa dan karena itu ia hanja sepintas-lalu menjatakan keberatannja, tapi rupa-rupanja tibalah waktunja bagi dia untuk pengutjapkan apa jang benar-benar dipikirnja.
Dibuatnja itu dalam tukar-pikiran sekeluarga antara dia sendiri, Tonya dan ajahnja. „Kamu berpendapat aku salah?” tanjanja achirnja. „Kamu masih ingin bepergian?”
„Menurut kau kita harus berusaha sedapat mungkin tahun-tahun berikutnja”, udjar Tonya. „sampai sistim baru tentang penjewaan tanah terbentuk dan kita bisa dapat tanah untuk menanam sajur-sajuran diluar Moscow. Tapi bagaimana kita akan betah selama itu? Itulah masalah jang betul-betul menarik dan kau belum mendjawab”.
„Gila benar”, ajahnja meniokongnja.
„Baiklah”. Yury mengalah. „Jang menggangguku ialah ketidaktentuan. Kita pergi membuta, kedalam gelap, ketempat jang belum kita kenal apa-apanja. Dari tiga orang jang tinggal di Varykino, ibu dan nenek sudah meninggal, sedangkan kakek ditahan sebagai sandera, andaikan ia masih hidup”.
„Kamu maklum, tahun terakhir dalam perang ini ia mengadakan sematjam pendjualan, didjualnja hutan-hutan dan pabrik-pabrik, ataupun bukti-miliknja itu ditulis atas nama orang lain, bank atau orang partikelir, entahlah. Sebetulnja kita tak tahu apa-apa. Tanah itu tanah siapa? Bukan maksudku kepunjaan siapa, aku tak ambil pusing tentang itu, tapi siapa jang bertanggung-djawab? Siapa jang menjelenggarakannja? Apakah pohon-pohon sedang ditebang? Pabrik-pabrik bekerdja, tidak? Dan jang terpenting siapakah jang berkuasa dibagian tanah-air disitu, atau lebih tepat, siapa akan berkuasa pada saat kita tiba disana?
„Kau pertjaja bahwa Mikulitsin, pemimpin tua itu akan menolong kita, tapi siapa dapat mengatakan bahwa ia masih disana? Bahkan bahwa ia masih hidup? Bagaimanapun djuga, apa jang kauketahui tentang dia selain namanja sadja — itupun kita ingat hanja karena kakek kepajahan melafazkannja”.
„Tapi akupun tak akan menimbulkan kesulitan sadja. Kamu telah bertekad dan aku sudah setudju. Tak ada alasan menunda-nja. Kita tjuma harus mengetahui bagaimana tjara orang bepergian sekarang”.
2
Maka pergilah Yury kesetasiun Yaroslavsky untuk menjelidiki.
Antrian penumpang tak berudjung bergerak lewat bangsal-bangsal turut titian antara sandaran kaju. Menggeletak dilantai batu, dibawah mereka ada orang-orang berbadju tentara kelabu jang batuk-batuk, meludah, berguling-guling dan bitjara dengan suara jang tak terduga kerasnja, tanpa memperhitungkan bahwa ruangan berkubah disitu memperganda gema.
Kebanjakan mereka adalah pasien-pasien typhus jang sering dilepas oleh rumah-rumah-sakit jang penuh-sesak itu, sehari sehabis krisis. Sebagai dokter, Yurypun kerapkali harus berbuat begitu, tapi tak pernah dibajangkannja bahwa sebanjak itu orang-orang tjelaka ini atau bahwa mereka terpaksa mengungsi kesetasiun kereta-api.
„Tuan mesti dapat prioritet”, tutur seorang kuli jang memakai apron putih. „Dan harus datang tiap hari untuk menanjakan apa ada kereta-api. Sekarang kereta-api sama djarangnja dengan emas, djadi soal untung-untungan. Dan tentunja (ibu-djarinja menggeser-geser pada dua djari lainnja) sedikit tepung atau apa …Roda tak berputar tanpa minjak; jang penting lagi (ia mengetuk djakunnja) tuan tak sampai djauh, kalau tak ada sedikit wodka”.
3
Pada waktu itu Alexander Alexandrovich beberapa kali dipanggil selaku penasehat pada Dewan Tinggi Ekonomi dan Yury dipanggil untuk mengobati seorang anggota pemerintah jang sakitnja berbahaja. Kedua-duanja dibajar dengan jang ketika itu paling tinggi nilainja, jakni girik-girik untuk toko pertama barang-barang konsumsi jang baru diadakan dan didjaga keras.
Gedung itu gudang tua tentara disebelah Biara Santa Simon. Dokter dan profesor lewat biara dan pekarangan tangsi, langsung melalui pintu batu rendah sampai kekolong berkubah. Kolong itu landai, melebar pada udjungnja jang terdjauh, dimana ada lang membudjur dari dinding kedinding; dibelakangnja ada seorang pelajan, sibuk menimbang, mengukur dan menjampaikan barang-barang dengan gerak-gerik tenang tak tergesa, mentjoret pos-pos dalam daftarnja dan sekali-sekali mengisi lagi persediaannja dari gudang sebelah belakang.
Langganan tak banjak, hingga mereka segera dapat giliran. „Wadahnja”, kata kepala gudang, sambil menengok kegirik-girik. Dokter dan profesor itu mengatjungkan berbagai sarung-bantal, besar-ketjil, maka dengan mata melotot mereka melihatnja diisi dengan tepung, gandum, makaroni, gula, lemak, sabun, korek-api dan bungkusan-bungkusan kertas jang kelak ternjata berisi kedju Kaukasia.
Terharu oleh kemurahan-hati kepala gudang dan tak ingin membuang waktu lagi, buru-buru mereka masukkan segala bingkisan itu dalam karung-karung besar, lalu menggendongnja.
Dengan terpesona mereka keluar dari kolong itu, bukan karena memikirkan makanan sadja, tapi karena sadar bahwa merekapun berguna didunia dan tidak hidup pertjuma, djuga bahwa mereka sudah sepantasnja menerima pudjian serta trima-kasih jang dilimpahkan Tonya kepada mereka dirumah.
4
Berhari-hari dua orang itu menghilang dalam kantor-kantor pemerintah untuk mengedjar surat-surat perdjalanan serta mentjatatkan rumah, hingga mereka dapat memakainja kembali setelah pulang ke Moscow nanti; dan selama itu Tonya mengatur segala milik keluarga.
Sambil djalan kian-kemari dalam tiga kamar jang kini resmi diserahkan kepada keluarga Zhivago itu ia dengan wadjah pilu menimbang-nimbang duapuluh kali dalam tangannja segala benda, djuga jang terketjil, sebelum memutuskan hendak meletakkannja dalam tumpukan barang-barang jang akan dibawa. Hanja bagian ketjil begasi mereka dimaksudkan untuk keperluan pribadi; sisanja akan digunakan sebagai valuta dalam perdjalanan dan selama minggu-minggu pertama setelah tiba.
Angin sepoi musim-semi masuk lewat djendela terbuka dengan sekelumit bau roti jang baru dipotong. Dipekarangan djago-djago berkokok dan anak-anak main serta bersahut-sahutan. Makin banjak hawa dimasukkan, makin njata bau kapur barus dari kopor-kopor terbuka, tempat menjimpan pakaian musim-dingin.
Soal memilih barang-barang mana mesti dibawa atau ditinggalkan, ditentukan oleh teori jang mendalam, berdasar pada tindjauan orang-orang jang sudah berangkat lebih dulu jang mereka sampaikan pada kawan-kawan dirumah. Dengan dibatasi sampai sekedar dalil-dalil jang sederhana tapi serba penting, teori itu mengendalikan perbuatan Tonya, hampir seolah ada suara rahasia datang dari luar djendela bersama djerit-pekik anak-anak serta bunji tjitjit burung-burung sriti, jang membunjikan instruksinja kepadanja.
„Pakaian boleh leluasa”, kata suara itu, „tapi begasi dikontrol dalam perdjalanan, djadi berbahaja, ketjuali kalau dipaku, agar nampak seperti pakaian. Segala matjam alat keperluan, pakaian, terutama djas, asal tak terlalu rusak. Djangan bawa kopor atau kerandjang (tak ada kuli); pasti djangan bawa apa-apa jang tak guna dan ikatlah semua mendjadi bungkusan-bungkusan jang tjukup ketjil untuk dibawa perempuan atau kanak-kanak. Garam dan tembakau ternjata sangat berfaedah, namun mengandung risiko. Uang supaja uang kerenkas.1 1Uang kertas, diedarkan oleh pemerintah Kerensky. Dokumen paling sulit diselamatkan”. Dan sebagainja dan sebagainja.
5
Satu hari sebelum mereka berangkat, timbul badai saldju. Kepulan saldju abu-abu terbang kelangit, balik kebumi bagai angin pujuh putih dan meniup djauh didjalanan gelap serta menjelubunginja seperti dengan katan.
Semua begasi sudah dikemas. Rumah beserta barang-barang jang masih ada didalamnja, dipasrahkan pada sepasang suami-istri jang tua; itulah bekas pelajan toko dengan istrinja, kerabat Yegorovna jang tinggal di Moscow dan pada musim-dingin terachir telah menolong Tonya dengan mendjualkan pakaian dan prabot-prabot untuk mendapat kentang dan balok-balok.
(Markel tak dapat dipertjaja. Pada pos milisi jang dipilihnja sebagai perkumpulan politiknja betul tak disebutnja bahwa bekas madjikannja mengisap darahnja, namun dituduhnja mereka telah membuatnja tak berpengetahuan selama bertahun-tahun ini dan sengadja menjembunjikan dari padanja bahwa dunia berasal dari monjet).
Tonya membawa suami-istri itu untuk memeriksa rumah achir kalinja; ia tjobakan semua kuntji pada gembok, membuka dan menutup latji serta lemari, mengingat-ingat perintah untuk saat-saat penghabisan.
Segala kursi dan medja dipepetkan kedinding, tirai diturunkan dan ada setumpuk bungkusan disudut. Kamar-kamar kosong jang kehilangan alat-alat penjaman untuk musim-dingin, sedang diamat-amati oleh badai dari djendela tak berhias, mengenangkan tiap mereka pada perasaian jang lampau. Yury teringat pada kematian ibunja. Tonya dan Alexander Alexandrovich mengingat kematian dan penguburan Anna. Meskipun tak pada tempatnja, mereka merasa seolah malam ini malam terachir dirumah itu dan mereka akan melihatnja kembali; sungguhpun tak melahirkan firasat mereka agar tak saling menjedihkan, namun hatipun pilu; dan merekapun bergulat dengan air-mata, waktu menoleh kepenghidupan masing-masing dibawah atap ini.
Walaupun ia menghadapi semua ini, Tonya bersusah-pajah djuga untuk menjembunjikan perasaannja, maka bitjaralah ia tak henti-hentinja dengan istri pendjaga rumah. Dalam hatinja ia melebih-lebihkan hutang-budinja kepada suami-istri itu, maka agak tak disangka kurang tahu-budi, iapun berkali-kali minta maaf, pergi kerumah sebelah dan pulang dengan membawa hadiah-hadiah untuk siistri — blus-blus dan banjak kain katun dan sutra. Bahan-bahan itu semua berwarna muram dengan pola kotak-kotak atau polka; dan lebuh jang seolah mendjenguk lewat djendela gundul pada malam perpisahan ini adalah muram djuga dengan batu bata berkotak-kotak serta saldju berpola polka.
6
Mereka tinggalkan rumah waktu fadjar. Para penghuni lainnja mestinja masih tidur, tapi seorang dari mereka, Zevorotina, sangat gemar mengatur peristiwa sosial, maka dibangunkannja seisi rumah: „Perhatian! Perhatian! Kawan-kawan; Lekas! Pamitilah dengan bekas2 2Ekwivalen dalam bahasa Rusia dari ci-devant. kaum Gromeko!”
Orang membandjiri serambi-belakang (pintu-depan sekarang terus dipalang) dan berdiri dalam separoh lingkaran, seakan hendak dipotret.
Mereka menguap dan menggigil, menarik-narik djas tua jang tersampir keatas bahu, mengentak-entak dengan sepatu vilt besar jang terpasang buru-buru kekaki telandjang mereka.
Markel telah berhasil memabukkan diri dengan sesuatu minuman busuk; ia berhasil mendapatkannja bahkan dalam masa „kering” ini, maka tak ubahnja dengan majat ia terkulai atas kisi-kisi lapuk diserambi jang hendak roboh dibawah bebannja. Ia ingin membawa begasi kesetasiun dan merasa sangat dihina, ketika tawarannja ditolak; achirnja ia dienjahkan orang dan keluar dari djalanan-tjabang.
Hari masih gelap. Angin telah reda dan saldju turun lebih tebal dari pada malam jang lalu. Butir-butir saldju besar jang seperti wol melajang tenang kebawah, mengambang atas tanah, bimbang akan menetap dibumi.
Di Djalan Arbat hawa lebih terang. Disitu saldju luruh laksana kelir pentas selebar lebuh, turun pelan-pelan dan melilitkan lawi-lawinja kekaki orang lewat, hingga orang sama sekali tak merasa bergerak madju, seolah hanja memukul irama.
Tak ada orang lain ketjuali jang sedang bepergian itu, tapi segera mereka terkedjar oleh sebuah kereta dengan kuda seputih saldju dan sais jang nampak seperti digulingkan dalam tepung; dengan pembajaran jang luar-biasa (kurang dari seharga satu kopek waktu itu) dibawanja mereka kesetasiun beserta begasi. Hanja Yury jang djalan-kaki atas permintaannja sendiri.
7
Didjumpainja Tonya serta ajahnja sudah antri dalam salah satu deretan tak berudjung. Nyusha dan Sasha djalan-djalan diluar, sekali tempo menengok kedalam untuk melihat apakah sudah waktunja datang pada jang dewasa itu; mereka mengeluarkan bau parafin jang kuat jang diusapkan tebal-tebal kekuduk, pergelangan serta mata-kaki sebagai lindungan terhadap kutu.
Orang antri berderet-deret itu sampai kegerbang peron-peron, tapi sebenarnja para penumpang baru naik kereta-api setengah mil lagi djauhnja. Tukang sapu tak tjukup banjak, hingga setasiunpun kotor, sedangkan rel-rel didepan peron-peron itu tak dapat dipakai sebab penuh debu dan es. Semua kereta-api berhenti agak djauh.
Tonya melambai pada Yury dan ketika ia tjukup dekat, diserukannja petundjuk-petundjuk kemana ia mesti pergi agar surat izin bepergian mereka distempel.
„Tjoba, apa jang mereka berikan?” tanjanja, sesudah ia kembali. Yury mengulurkan seberkas kertas lewat kisi-kisi.
„Itu untuk kereta istimewa”, kata laki-laki jang berdiri dibelakang Tonya dan membantja dari atas pundaknja.
Lelaki didepannja lebih tegas. Ia adalah salah seorang jang gemar pada formulir-formulir; dalam keadaan apapun ia mengetahui peraturan jang tepat dan sanggup membitjarakannja dengan objektif serta menerimanja tanpa tanja-tanja.
„Setempel ini”, ia menerangkan, „memberi tuan hak atas tempat-duduk dalam kereta berkelas, jaitu kereta-penumpang, kalau ada kereta-penumpang dalam kereta-api”.
Segera seluruh deretan ikut-serta.
„Kereta-penumpang? Kalau dapat duduk dibufet sadja, boleh-lah berterima-kasih sekarang!”
„Djangan dengarkan mereka”, kata ahli formulir itu. „Saja terangkan sadja, mudah sekali. Karena semua kereta-api istimewa sudah dibatalkan, hanja ada satu djenis kereta-api, sama sadja untuk siapapun — tentara, orang kerdja-paksa, ternak, rakjat — sama sadja kereta-apinja. Mengapa mesti menipu orang ini?” tegurnja pada chalajak. „Kata adalah tjuma-tjuma, boleh bitjara sesuka-hati, tapi bitjaralah dengan djelas, supaja ia mengerti”.
„Apa artinja keteranganmu?” seru orang mengatasinja. „Apa artinja utjapanmu, waktu kamu sebut ia mendapat tjap untuk kereta istimewa! Mesti kamu lihat dulu orangnja, sebelum kasi keterangan. Bagaimana orang begini rupa masuk kereta istimewa? Kereta istimewa itu untuk pelaut. Pelaut matanja terlatih dan punja bedil. Dia melihat padanja dan apa jang nampak? — Anggota kelas jang bermilik! Lebih buruk lagi, seorang dokter, bekas bangsawan. Lantas diambilnja bedilnja — nah, selamat tinggal”.
Entah sampai kemana djauhnja simpati orang jang timbul oleh masalah dokter itu, andaikata chalajak tak memindahkan perhatiannja kesoal lain.
Berdjurus-djurus lamanja orang telah melihat sepenuh minat lewat djendela-djendela katja besar kedjalan kereta-api jang dilindungi atap sepandjang djarak beratus-ratus djar. Saldju jang turun hanja kelihatan disebelah udjung atap jang terdjauh; nampak sedjauh itu saldju seolah tak bergerak, gugur ketanah selambat remah roti jang dilemparkan pada ikan dan tenggelam dalam air.
Selama setengah djam jang lalu sosok-sosok tubuh tak dikenal berdjalan djauh lewat rel, sendiri atau berkelompok. Mula-mula mereka disangka buruh kereta-api jang sedang bertugas, tapi kini satu gerombolan berlari-lari, sedangkan didjurusan jang mereka tudju itu nampak kepulan asap ketjil.
„Buka pintu, bangsat-bangsat!” teriak suara-suara dari deretan itu. Chalajakpun bergerak, bergegas kepintu-pintu, jang dibelakang mendorong-dorong jang didepan.
„Tengok itu! Disini kita terkuntji, tapi disana itu kaum keparat dapat djalan-belakang, tak usah antri. Buka, hai setan-setan; kalau tidak, kita dobrak gerbang-gerbang! Ajo kawan-kawan, dorong!”
„Tolol! Nasib orang-orang itu tak usah diiri-hatikan”, kata ahli formulir jang tahu segalanja. „Mereka milisi, dipanggil untuk kerdja-paksa dari Petrograd. Mereka tadinja akan dikirim ke Vologda dari Setasiun Utara, tudjuannja dialihkan kemedan-perang Timur. Mereka tidak pergi atas kemauan sendiri. Mereka dikawal. Dan akan menggali parit-parit”.
8
Orang sudah tiga hari dalam perdjalanan, tapi belum djauh bergerak dari Moscow. Hawa masih sadja dingin. Diluar djendela rel, padang, hutan dan atap rumah dusun, semua ditimbuni saldju tebal.
Keluarga Zhivago beruntung benar dengan mendapat untuk mereka sendiri satu podjok dalam deretan bangku-tidur paling atas, tepat dibelakang djendela pandjang jang buram dibawah langit-langit; disitulah mereka mengatur tempat untuk berkelompok sekeluarga.
Tonya tak pernah sebelumnja bepergian dalam gerbong barang. Gerbong itu berdiri tinggi diatas tanah dengan pintu-pintu geseran jang berat. Pertama kali masuk, Yury harus mengangkat kawan-kawannja jang perempuan, tapi kemudian mereka telah beladjar naik dan turun sendiri.
Bagi Tonya deresi itu tak lebih baik dari kandang beroda jang dia sangka akan ambruk oleh gontjangan pertama. Namun selama tiga hari mereka tergontjang dari belakang kedepan dan dari samping-kesamping, bila kereta-api merobah ketjepatan atas arahnja, selama tiga hari roda-roda berderak-derak dengan tjepat dibawah mereka seperti tongkat jang memukul genderang mainan jang mechanis, namun mereka masih selamat. Kechawatirannja ternjata tak beralasan.
Dalam kereta-api itu ada duapuluh-tiga kereta (keluarga Zhivago duduk dalam kereta keempat-belas). Bila berhenti disetasiun dusun, hanja bagian depan atau tengah atau ekornja jang berdiri disisi peron jang pendek itu.
Para pelaut duduk didepan, penumpang biasa ditengah, orang kerdja-paksa duduk dalam delapan kereta dibelakang. Mereka ada kira-kira limaratus orang, manusia dari segala umur, dengan keadaan dan pekerdjaan masing-masing.
Mereka merupakan pemandangan luar-biasa — para pengatjara kaja lagi gagah serta makelar dari Petersburg berdampingan dengan kusir, penjapu lantai, pelajan rumah-pemandian, tukang lowak bangsa Tartar, orang gila jang melarikan diri, pemilik toko dan rahib, tjampur-baur dengan kelas-kelas jang mengisap kekajaan.
Kaum pengatjara dan makelar duduk berpakaian kemedja disekeliling tungku-tungku besi jang merah menjala, sambil mentjeritakan kisah-kisah tanpa hentinja, berkelakar dan ketawa. Mereka orang-orang jang punja koneksi banjak. Mereka tak merasa gelisah; mereka berhubungan dengan orang-orang berpengaruh jang mendalangi segala hal ditempat kediaman mereka dan djika kedjepit, mereka kelak dapat membajar untuk meluputkan diri.
Lain-lainnja jang memakai sepatu but dan djubah dengan kaki telandjang dan pakai kemedja diluar tjelana, berdjenggot atau tidak, berdiri dekat pintu setengah terbuka dari gerbong jang kekurangan hawa itu dengan berpegangan pada daun pintu atau papan-papan jang terpaku sebagai penutup lobang-pintu; dengan muka masam mereka melihat kaum petani serta dusun-dusun dipinggir djalan dan tak bitjara dengan siapa-siapa. Mereka tak punja teman-teman berpegaruh. Mereka tak berpengharapan.
Orang-orang kerdja-paksa terlalu banjak untuk gerbong-gerbong jang disediakan bagi mereka, maka selebihnja ditempatkan antara penumpang-penumpang bebas, antara lain dikereta nomor empatbelas.
9
Tiap kali kereta-api berhenti, Tonya duduk tegak dengan hati-hati agar kepalanja tak terantuk plafon, lalu menengok kebawah lewat rekah dipintu untuk melihat apakah ada gunanja keluar. Hal ini tergantung dari besarnja setasiun, dari berapa lamanja kira-kira berhenti dan sebagai akibatnja kemungkinan djual-beli jang menguntungkan.
Kesempatan adalah begini. Kereta-api membangunkannja dari kantuk dengan berdjalan lebih lambat. Djumlah tempat dan wesel diatasnja ia berdebur dan berderak-derak menandakan bahwa setasiun itu tjukup besar.
Ia mengusap mata, mematutkan rambut dan setelah mentjari-tjari didasar sebuah bungkusan, ditjabutnja sehelai anduk jang diradjuti dengan djago, kalung kuda dan roda.
Yury jang djuga bangun itu menolongnja turun dari bangku-tidur. Gardu-gardu sinjal dan tiang-tiang lampu hanjut lewat djendela, disusul oleh pohon-pohon jang seolah menjambut tamu dengan mengulurkan serbet-serbet kearah kereta-api3 3Menurut istiadat, roti dan garam disuguhkan dalam serbet sebagai tanda menghormati tamu-tamu. . Lama sebelum kereta-api berhenti, para pelaut melompat keatas saldju jang belum terindjak kaki itu, lantas lari kebalik podjok gedung setasiun, disitu biasanja ada istri-istri petani jang setjara gelap mendjual makanan.
Pakaian seragam para kelasi dengan tjelana berbentuk bel serta pita jang berkibar dipetji pipih, memberi kesan seolah mereka bergerak tjepat dan gegabah, hingga menjingkirlah orang seperti menghadapi keladjuan para peserta perlombaan ski atau skat.
Dibalik podjok gedung ada para gadis dan perempuan dari dusun-dusun terdekat, jang satu sembunji dibelakang jang lain, gelisah seperti menghadapi pendudjum; mereka berdiri satu barisan dibawah lindungan tembok setasiun, mendjual mentimun, gandum jang dibungkus dalam serbet jang diisi kapas, agar kedju-desa, berpiring-piring daging lembu rebusan serta kue tetap panas lagi lezat. Terbebat dalam sjal jang disisipkan kebawah badju kulit-domba, perempuan-perempuan itu merah-padam sekali mendengarkan lelutjon para pelaut, namun mereka takut, karena pelaut-pelaut inilah jang biasanja merupakan kesatuan-kesatuan jang dibentuk guna membanteras spekulasi dan „pasaran bebas” jang terlarang.
Tapi segera mereka luput dari kesukaran, ketika kereta-api berhenti dan para penumpang sipil menambah besarnja kelompok. Perdagangan mendjadi ramai.
Tonya lewat depan deretan perempuan tadi dengan anduk tersandang kebahu, seolah ia hanja pergi kebelakang setasiun untuk tjutji muka dengan saldju. Beberapa perempuan sudah berseru: „He, berapa harga serbet itu?”, tapi ia terus berdjalan, diiringi suaminja.
Diudjung deretan ada perempuan dengan sjal hitam berpola merah. Dilihatnja anduk radjutan itu, maka berseri-serilah matanja. Sambil melihat kanan-kiri dengan hati-hati ia mengendap kesisi Tonya dan dengan membuka barang-barangnja berbisiklah ia dengan gairahnja: „Tengok. Berani bertaruh, njonja sudah lama tak melihat ini. Suka? Djangan pikir pandjang-pandjang, kalau mau dapat. Mau kasi serbet itu untuk separoh …?”
Tonya tak dengar kata jang terachir.
„Apa maksud kamu?”
Jang dimaksudkan ialah separoh kelintji, dibakar dari kepala sampai ekor dan dibelah dua. Kelintji itu diatjungkannja: „Saja bilang, saja kasi separoh untuk serbet njonja. Mengapa nanap sadja? Ini bukan daging andjing. Suami saja pemburu. Ini betul-betul kelintji”.
Merekapun bertukaran barang. Masing-masing berpikir telah beruntung. Tonya merasa malu, seolah telah menipu petani perempuan itu, pada hal dia inipun senang sekali dengan pendjualannja, lalu memanggil temannja jang djuga sudah mendjual habis barang-barangnja dan pergilah mereka bersama-sama, pulang kedesa, selama djalanan masih baik, melangkah besar-besar lewat djalan ketjil bersaldju sampai djauh.
Saat itu timbul hiruk-pikuk antara orang banjak. Seorang perempuan tua berteriak: „He! Mau kemana? Mana uangku? Kapan kaubajar aku, maling tak bermalu? Tengok, sebut dia babi serakah dan dia tak mau djuga menoleh. Brenti! Brenti, tuan kamerad! Saja ketjurian! Brenti, pentjuri! Dia pergi, itu dia, tangkap!”
„Jang mana?”
„Itu jang tertjukur bersih dan menjeringai”.
„Jang lengan badjunja bolong itu?”
„Ja, ja, tangkap dia si Arabi!”
„Jang sikutnja tambalan itu?”
„Ja, ja, ja Allah, saja kena rampas”.
„Ada apa?”
„Orang itu tadi beli susu dan kue-kue, ia isi perutnja, lantas pergi tanpa bajar, djadi menangislah sinenek ini”.
„Itu tak boleh djadi. Mengapa orang tak mengedjarnja?”
„Mengedjar? Dia punja tali tjelana dan ban peluru. Dialah akan mengedjar kita”.
10
Dikereta empatbelas ada beberapa tawanan kerdja-paksa. Bersama mereka adalah Voronyuk, si pengawal. Tiga orang terpentjil dari jang lain-lain, jaitu Prokhor Pritulyev, bekas kasir pada toko anggur pemerintah di Petersburg, jang didjuluki „tukang uang”; Vassya Brykin, seorang anak-muda berumur enambelas tahun jang mendjadi magang pada perusahaan besi; dan Kostoyed-Amursky, seorang revolusioner dari partai-kerdjasama-buruh, jang dibawah pemerintahan lama telah masuk segala pendjara dan kini akan berkenalan dengan pendjara pemerintah baru.
Kaum tawanan jang ketika ditangkap masih belum kenal satu sama lainnja, lambat-laun mulai berkenalan. Ternjata bahwa si „tukang uang” dan Vassya simagang, berasal dari daerah jang sama — propinsi Vyatka dan djuga bahwa kereta-api akan melewati daerah itu.
Pritulyev berasal dari Malmysh. Rambutnja dipotong pendek, ia bopeng, tjebol dan buruk. Badjunja jang abu-abu dan mendjadi hitam oleh keringat diketiaknja, adalah ketat bagai korset perempuan. Ia bisa duduk berdjam-djam, tak berkutik bagaikan patung, dengan termenung menggaruk kutil-kutilnja ditangan, sampai berdarah dan bernanah.
Beberapa bulan jang lampau pada suatu sore ia djalan-djalan di Djalan Nevsky dan terlibat dalam kerusuhan milisi disudut Djalan Liteyny. Ia harus memperlihatkan kertas-kertasnja dan ketahuan mempunjai buku-distribusi kelas empat seperti jang diberikan pada penganggur-penganggur dan tak dapat dipakai untuk beli apa-apa. Itu sebabnja ia ditahan, bersama banjak orang lain jang ditawan karena hal jang sama, lalu dikawal dan digiring ketangsi-tangsi. Seperti kelompok jang terdahulu, kelompoknja akan dikirim untuk menggali parit-parit dimedan perang Archangel, tapi ditengah djalan haluannja dirobah dan dikirim ke Timur lewat Moscow.
Isteri Pritulyev di Luga, tempat ia bekerdja sebelum perang. Ia dengar tentang nasibnja dari orang lain dan lantaran disangkanja ia sedang berdjalan ke Utara, iapun baru-baru ke Velogda (tempat pertemuan kereta-api ke Archangel) untuk mentjarinja dan mentjoba membebaskannja. Tapi kesatuan itu tak djadi kesana, hingga baginja sama sadja dengan tinggal dirumah. Dewasa ini tak tahulah orang, dimana letaknja segala soal.
Di Petersburg, tempat ia dipindahkan pada permulaan perang, Pritulyev hidup bersama seorang Pélagia Tyagunova. Pada saat ia ditangkap, mereka sedang djalan-djalan dan baru sadja berpamitan, siwanita untuk pulang, silaki-laki untuk memenuhi djandji ditempat lain; dengan menindjau ke Djalan Liteyny ia masih sempat melihat punggungnja sedang menghilang ditengah orang banjak.
Dia adalah wanita dari kelas menengah jang montok dengan sikap gagah, tangan indah serta rambut tebal jang dikelabang dan sekali-sekali disampirkan kepundak sambil menarik nafas pandjang. Pélagia ini sekarang ada dalam deresi, sebab atas kemauannja sendiri ia hendak mendampinginja dalam perdjalanannja.
Sulitlah untuk mengetahui apa jang menarik perempuan pada lelaki djelek jang mendjemukan begitu, tapi mereka njata-njata melengket padanja. Dalam deresi lebih kedepan ada lagi temannja perempuan, Ogryskova, seorang gadis dengan tulang menondjol serta bulu-mata putih jang entah bagaimana sampai dapat naik kereta-api; oleh Tyagunova ia disebut „siparuh”, „simontjong” dan diberi banjak nama lagi jang tak sedap.
Dua pendjaga itu sangat bermusuhan dan saling menghindari dengan tjermat. Ogryskova tak pernah muntjul dalam deresi empatbelas, sungguh suatu teka-teki, bagaimana ia selalu berhasil berdjumpa dengan sasaran nafasnja; tapi barangkali ia puas dengan melihatnja dari djauh sadja, bila semua penumpang turun untuk membantu mengambil bahan-bakar untuk lokomotif.
11
Tjerita Vassya sangat berlainan. Ajahnja gugur dalam perang dan ibunja mengirimnja ke Petersburg untuk magang pada pamannja.
Paman ini punja toko sendiri di Pasar Apraksin. Suatu hari pada musim-panas jang lalu ia dipanggil pemerintah Sovjet untuk mendjawab beberapa pertanjaan. Ia salah pilih mengenai pintu, masuk kantor dewan pemilihan Barisan Buruh. Kamar penuh tawanan; sedjurus kemudian masuklah pradjurit-pradjurit, mengepung orang-orang itu, lalu membawa mereka ketangsi-tangsi di Semyonovsky untuk menginap dan esok harinja digiring kesetasiun.
Beredarlah kabar tentang penangkapan sebanjak itu, maka datanglah kerabat orang-orang tawanan itu untuk berpamit. Antara mereka adalah Vassya bersama bibinja. Pamannja minta pada pengawal (jaitu Voronyuk jang kini ada dalam deresi empatbelas) agar ia boleh keluar untuk minta-diri dari istrinja. Pengawal itu menolak, ketjuali kalau ada sanderanja. Paman dan bibi itu menawarkan Vassya dimasukkan, sedangkan pamannja dikeluarkan. Inilah achir kalinja ia melihat bibi atau pamannja.
Ketika ia mengetahui muslihat itu, Vassya jang tadinja tak menaruh sjak sama sekali, kini menangis, merajap-rajap kekaki Voronyuk, mentjium tangan-tangannja serta memohonnja supaja dibebaskan, tapi sia-sia. Voronyuk bukannja orang jang berhati batu, tapi disiplin amatlah tegangnja dalam zaman serba keruh itu; atas djumlah anak-buahnja ia bertanggung djawab dengan njawanja dan djumlah-djumlah itu dikontrol menurut daftar. Begitulah Vassya ikut dalam barisan buruh.
Kostoyed, anggota kerdjasama buruh itu selalu dihormati oleh para pendjaga dipendjara-pendjara dan berhasil berteman dengan mereka dibawah pemerintahan jang manapun; ia telah berkali-kali minta perhatian pemimpin konvoi atas nasib Vassya jang tidak tertahankan. Pemimpin konvoi mengakui bahwa itu salah-faham jang menjedihkan, tapi menurut utjapannja ada kesulitan-kesulitan formil, djika ia berbuat apa-apa sebelum mereka sampai ketudjuan; ia berdjandji akan bertindak sedapat-dapatnja kelak.
Vassya adalah anak-muda jang menarik dengan raut-muka jang berseimbangan, rupanja seperti chadam radja atau malaikat jang dilukis. Jang luar-biasa padanja ialah bahwa ia berhati sutji dan berdjiwa bersih. Kesukaannja ialah duduk dilantai dibawah kaki orang-orang jang lebih tua dan menengadah pada mereka; sambil merangkul dengkulnja ia dengarkan mereka bertjakap-tjakap atau bertjerita tentang pengalaman mereka. Dengan memperhatikan airmukanja sadja, selama ia mengekang air-matanja atau tertjekik gelak-ketawa, kita hampir-hampir dapat mengikuti pembitjaraan.
12
Keluarga Zhivago mengundang makan Kostoyed, anggota kerdjasama buruh itu. Ia duduk dipodjokan mereka, menjeropot kaki kelintji dengan bunji menjedot keras. Ia sangat takut masuk angin dan berganti tempat berkali-kali, sampai ia achirnja mendapat tempat jang tjotjok baginja. „Bagus”, udjarnja. Diselesaikannja tulang tadi, ditjutjupnja djari-djarinja sampai bersih, lalu diusapnja dengan sapu-tangan, kemudian mengutjapkan terima-kasih pada jang mendjamunja dan berkata: „Djendela tuan kurang beres, harus ditempeli dempul. — Tapi untuk kembali pada pertjakapan kita, tentulah kelintji bakar itu hebat, tapi kalau disimpulkan dari situ bahwa kaum tani makmur, itu buru-buru, untuk memakai kata jang lembut sadja; maafkanlah utjapan saja ini”.
„Tjoba”, kata Yury. „Lihatlah semua setasiun, tempat kita berhenti. Pohon dan pagar masih berdiri, belum ditebang untuk kaju-bakar. Dan pasar-pasar itu! Dan perempuan. Itu kan menakdjubkan? — Setidak-tidaknja disini penghidupan berlangsung terus dan rakjat senang dengannja. Tak setiap orang ketimpa tjelaka. Bukankah itu bukti-bukti bahwa semuanja beres?”
„Memang bukti, andaikata benar, tapi itu tidak benar. Bagaimana tuan bisa berpikir bahwa itu benar? Tuan mesti melihat apa jang terdjadi dipedalaman, 50 atau 100 mil dari kereta-api, dimana sadja. Kaum tani berontak, kerusuhan ada terus-menerus. Menurut tuan, mereka melawan kaum Merah atau kaum Putih, tanpa pilih bulu, siapapun jang sedang berkuasa; mereka menentang sadja tiap kekuasaan jang berlaku, sebab tak tahu apa jang mereka kehendaki sendiri. Izinkanlah saja berlainan faham. Petani tahu betul apa jang ia kehendaki, lebih tahu dari tuan atau saja, tapi jang mereka kehendaki itu lain sekali.
„Ketika revolusi terdjadi dan membangunkan dia, ia jakin bahwa inilah pemenuhan impiannja, impian sedjak dulukala untuk hidup setjara anarchis ditanahnja sendiri dengan pekerdjaan tangannja sendiri, bebas semata-mata dengan tiada berhutang pada siapapun djuga. Tapi ternjata dialaminja ia hanja menukar penindasan lama oleh negara Tsar itu dengan kekangan baru jang lebih keras oleh supra-negara jang revolusioner. Herankah kita, kalau dusun-dusun bergolak dan tak dapat tenteram? Dan tuan katakan, mereka bahagia! Kiranja banjak hal jang tidak tuan ketahui dan saja kuatir agaknya tuan tak ingin pula mengetahuinja”.
„O, baiklah, aku berani mengatakan, aku tak ingin tahu. — Demi Tuhan, mengapa aku harus tahu segala-galanja dan merusuhkan diri tentang tiap hal jang patut direstui? Sedjarah tak minta nasehatku, aku terpaksa menerima sadja apa jang terdjadi, djadi mengapa akan kusangkal fakta-fakta? Tuan beranggapan itu tidak realistis. Tapi dimana sekarang ini ada realitet di Rusia? Kupikir, Rusia takut karena existensi. Benarlah saja ingin pertjaja bahwa kaum tani lebih baik nasibnja dan dusun lebih makmur. — Kalau saja tak dapat pertjaja itu, apa mesti kukerdjakan? Siapa mesti kupertjaja, dengan apa saja mesti hidup? Saja harus hidup terus, saja ada keluarga”.
Ia mengisjaratkan putus-asanja dan dengan menjerahkan perdebatan pada mentuanja, ia beralih tempat melunglaikan kepalanja atas tepi bangku-tidurnja untuk melihat apa jang terdjadi dibawah.
„Situkang uang”, Pritulyev serta temannja Pélagia sibuk ngomong-ngomong dengan Vassya dan Voronyuk sipengawal. Kereta-api sebentar lagi mendekati daerah Vassya dan Pritulyev, maka Pritulyev sedang mengingat-ingat djalan kedusunnja, setasiun serta djalan jang mesti diambil bila naik kuda dan bila djalan-kaki; mendengar bunji segala nama jang dikenal dan berdaja-gaib itu Vassya mengulanginja dengan mata bersinar, seolah terpesona.
„Turun di Beting Kering?” gagapnja dengan rusuh. „Lantas terus ke Buysky?”
„Betul, Buysky — desa Buysky. Tentu kukenal, disitu kami balik, membelok kekanan, lalu kanan lagi. Itu untuk sampai kerumah kami, ke Verentenniki. Dan kamu mesti kekiri, meninggalkan sungai, bukan? Kenal sungai Pelga? O, tentu sadja! Itulah sungai kami. Terus sadja turut kali, terus, terus, lalu naik batu-karang sebelah kanan jang mendjulang atas kali Pelga itu djuga, disitulah dusun kami Veretenniki! Tepat ditepi tebing, tjura-a-a-am! Gamang disitu, demi Tuhan. Ada tambang batu disitu, untuk batu-kintjir. Disitu tinggal ibuku, di Veretenniki, sama dua saudara perempuanku. Kak Alya. Dan kak Arya…Ibu seperti kamu sedikit, bibi Polya, muda lagi tjantik. Paman Voronyuk! O, paman Voronyuk, demi Kristus, kumohon kamu, demi Tuhan …Paman Voronyuk!”
„Apa, sih? Paman, paman sadja, kutahu aku bukan bibimu. Kauharapkan apa dari aku? Aku tidak gila. Kalau kulepas kau, habis riwajatku. Amin. Aku akan dipasang ketembok”.
Pélagia Tyagunova termenung-menung mendjenguk dari djendela, mengelus-elus rambut Vassya jang kemerah-merahan. Sekali tempo ia menunduk kepadanja dan bersenjum, seolah mengatakan: „Djangan bodoh. Ini bukanlah untuk disebut-sebut pada Voronyuk didepan orang banjak. Djangan susah, sabarlah, beres nanti”.
13
Waktu mereka tinggalkan Rusia Tengah dan pergi ke Timur, mulailah peristiwa-peristiwa jang djarang tersua. Orang lewat wilajah bergolak, daerah-daerah tempat gerombolan bersendjata sedang berkuasa, lewat dusun-dusun dimana baru sadja pemberontakan dipadamkan.
Kereta-api dapat berhenti entah dimana sadja dan patruli keamanan memeriksa kertas-kertas dan begasi para penumpang.
Sekali mereka berhenti waktu malam, tapi tak ada jang masuk dan tak ada jang bangun.
Malam gelap. Seolah tanpa alasan, kereta-api telah berhenti ditengah-tengah tanah luas dengan pohon-pohon ru dikanan-kiri rel. Penumpang-penumpang lain jang sudah turun dan lagi mengentakkan kaki kesaldju, mentjeritakan pada Yury bahwa tak ada apa-apa, tapi masinis tak mau terus, katanja disitu ada bahaja dan harus diperiksa dulu dengan lori; beberapa djuru-bitjara dari kalangan penumpang sudah mendatanginja dan kalau perlu mau menjuapnja, pun pelaut-pelaut ikut tjampur-tangan dan pasti akan berhasil.
Seperti ada api-unggun, saldju didepan kepala kereta-api diterangi sekali-sekali oleh kilatan berapi dari mesin atau oleh batu-bara menjala dalam tender. Dalam tjahaja ini beberapa sosok tubuh gelap kini nampak lari-lari kedepan lokomotif.
Jang pertama, boleh djadi masinisnja, mentjapai udjung terdjauh dari titian, melompati bufer-bufer dan lenjap seolah ditelan bumi. Pelaut-pelaut jang mengedjarnja berbuat begitu djuga; merekapun melontjat dan lenjap.
Semua ini membuat beberapa penumpang ingin-tahu, antaranja Yury dan pergilah mereka untuk melihat.
Disebelah sana dari bufer-bufer terbentanglah rel didepan mereka dan disitu mereka tertjenung oleh pemandangan jang mengherankan. Ditepi djalan raja, sebelah atas tubuh masinis tersembul dari saldju jang dalam, dimana ia terdjatuh. Jang mengedjarnja itu berdiri dalam separoh lingkaran disekitarnja, bagai pemburu-pemburu mengerubungi mangsa; seperti dia merekapun teruruk saldju sampai kepinggang.
„Terima-kasih, kawan-kawan, benarlah kamu „burung-badai” jang „bergolak”, seru masinis itu. „Elok dipandang, pelaut-pelaut memburu sesama buruh dengan bedil! Hanja lantaran kukatakan bahwa kereta-api harus berhenti. — Kamulah saksiku, kawan-kawan penumpang; kamu lihatlah tempat apa ini. Tiap orang bisa berkeliruan dan melepaskan segala pasak. — Persetan dengan kamu, kaum blasteran keparat, persetan dengan ibu dan nenekmu, tak perduli! Untuk kamulah aku berbuat ini supaja tak terdjadi apa-apa dengan kamu, tapi inilah trima-kasihmu untuk djerih-pajahku. Silakan, silakan, tembaklah aku! Disini aku — kamu saksikan, kawan-kawan penumpang, aku tidak lari”.
Suara-suara gelisah timbul dari kelompok. „Diamlah, sobat …Mereka tak bermaksud menembak …Tak akan dibiarkan begitu …Mereka tjuma menakut-nakuti kamu …” Lain-lainnja mendesak padanja: „Betul, Gavrilka, bangkitlah sendiri! Persilakan mereka!”
Pelaut pertama jang kerengkelan dari dalam saldju adalah seorang raksasa berambut merah; kepalanja begitu besar, hingga parasnja seolah rata. Ia berpaling pada para penumpang, lalu bitjara dengan suara besar, sabar dan tidak tergesa-gesa, berlogat Ukraina, maka sikap tenangnja itu, tak serasi dengan kedjadian, hingga djanggal.
„Maaf, apa gunanja segala thermidor4 4Menundjuk pada Revolusi Perantjis; dalam bentuk di-Rusiakan, perkataan ini dipergunakan oleh pelaut jang „sadar-politik” itu dengan arti „kegaduhan”. ini? Djangan sampai masuk angin dibawa dingin ini, kaum warga. Angin banjak. Mengapa tak duduk kembali, supaja hangat?”
Chalajak lambat-laun berpentjaran. Siraksasa mendekati masinis itu jang masih rusuh, katanja:
„Tjukuplah, djangan hyteris lagi, kawan masinis. Keluarlah dari saldju. Djalan sekentjang-kentjangnja dan waspadalah”.
14
Esoknja, kereta-api jang merajap bagai siput lantaran takut keluar dari rel jang dibedaki angin dengan saldju dan tak ada jang membersihkannja itu, berhenti disamping reruntuh jang habis terbakar, tiada bernjawa. Hanja inilah sisa setasiun itu, Kelmes Hilir; namanja masih terbatja sedikit disebelah depan jang hangus.
Dibelakangnja terletak dusun tak berpenghuni, diselimuti saldju. Dusun inipun rusak terbakar. Sebuah rumah diudjungnja hangus, rumah disebelahnja ambruk karena kaju-kaju podjoknja djatuh; kereta-saldju jang patah, pagar, potongan-potongan logam berkarat dan prabot pejot-pejot tersebar diseluruh lorong; saldju kotor kena djelaga dan pungkahan-pungkahan tanah hitam nampak ditjelah-tjelah lumpur beku, berdjerambai oleh balok-balok setengah terbakar, dimana orang telah bersusah-pajah menjirami api dengan air atau memukulnja supaja padam.
Tempat itu sebetulnja tak begitu mati seperti nampaknja. Masih ada sedikit penduduk. Kepala setasiun keluar dari puing, pengawal melompat dari kereta-api dan menaruh kasihan padanja: „Saja duga, dusun dimakan api dan setasiun ikut terbakar?”
„Selamat siang dan selamat datang. Memang ada kebakaran, tapi ada jang lebih buruk lagi”.
„Saja tak mengerti”.
„Djangan tjoba mengerti”.
„Strelnikov jang tuan maksudkan?”
„Ja”.
„Mengapa? Apa jang tuan buat?”
„Kami tak berbuat apa-apa, tapi para tetangga; kamilah jang dia hadjar untuk balas dendam. Tuan lihat desa disana — itulah Kelmes Hilir didaerah Ust-Nemdinsk — merekalah biang-keladinja”.
„Kedjahatan apa jang mereka buat?”
„Kira-kira dosa terberat ketudjuh-tudjuhnja. Mereka membubarkan Panitia Petani Miskin, itu dosa pertama; tak mau beri kuda pada Tentara Merah, itu jang kedua (dan mereka semua bangsa Tartar, djadi menunggang kuda), menentang dekrit mobilisasi — itulah sedikit-dikitnja nomor tiga”.
„Saja faham, faham betul. Djadi digranat?”
„Tentu”.
„Dari kereta-api badja?”
„Begitulah”.
„Sedih benar. Namun bukan urusan kami”.
„Betapa djuga, sudah lewat. Tapi kabar jang kami dapat untuk kamupun tak begitu baik — saja chawatir, kamu harus tinggal disini berhari-hari”.
„Kamu main-main. Kami angkut tentara kemedan-perang”.
„Sama sekali tak main-main. Seminggu lamanja ada badai disini — hudjan saldju disepandjang lin, sedangkan tak ada orang membersihkannja. Separoh dusun sudah lari. Sisanja saja suruh bekerdja, tapi tak akan tjukup”.
„Setan alas! Djahanam, apa mesti saja kerdjakan sekarang?”
„Kita bersihkan pada waktunja”.
„Berapa dalamnja saldju itu?”
„Tak begitu buruk. Dalamnja berbeda-beda. Sebelah tengah paling sulit. Ada penggalian tanah kurang-lebih dua mil pandjangnja, disitu kita pasti kerepotan. Lebih kesana lagi hutan menghindarkan sebagian besar saldju dari rel. Dan sebelah sini tanah terbuka, djadi angin ada djuga membuang saldju”.
„Djahanam, katjau pula. Saja suruh kerdja para penumpang”.
„Itulah jang saja pikirkan!”
„Pelaut-pelaut djangan dikutik-kutik. Tapi ada sepasukan kerdja-paksa dan djuga para penumpang bebas, semua kira-kira tudjuh ratus orang”.
„Lebih dari tjukup. Kita akan mulai, bila tjatuk-tjatuk sudah tiba. Kami agak kekurangan tjatuk, djadi kami minta pada dusun terdekat. Sebentar lagi datang”.
„Wah, tjelaka amat! Kamu pikir, kita bisa berhasil?”
„Tentu bisa. Kata orang, kota dapat direbut dengan djumlah orang jang banjak, sedangkan ini tjuma rel. Djangan kuatir”.
15
Pekerdjaan membersihkan rel itu makan tiga hari dan seluruh keluarga Zhivago, djuga Nyusha, ikut-serta. Inilah tiga hari paling njaman selama perdjalanan.
Suasana didaerah itu seperti rahasia tertutup. Didalamnja ada sesuatu jang mengingatkan kita pada pemberontakan Pugachov seperti jang disaksikan Pushkin dan pada Asia jang liar menurut sketsa-sketsa Aksakov. Reruntuh menambah sifat keaiban; begitu pula sikap-sikap sisa penduduk jang tjuriga dan hati-hati, takut pada pertanjaan orang dan menghindari para penumpang; bahkan dikalangan sendiripun mereka bungkam.
Jang bekerdja itu dibagi dalam regu-regu, tawanan dipisahkan dari warga bebas. Seluruh tempat dikelilingi pasukan keamanan.
Wilajah djalan kereta-api ini dibagi dalam bagian-bagian, tiap regu diserahi satu bagian dan semua dikirim kebagian masing-masing serta bekerdja berbarengan. Gunduk-gunduk saldju antara bagian-bagian itu menjembunjikan tiap regu dari jang lain dan tak disentuh-sentuh sebelum pekerdjaan selesai.
Sepandjang hari para pekerdja itu tinggal diluar dan kembali hanja untuk tidur. Hawa njaman dan dingin dan giliran bekerdja pendek-pendek, lantaran tjukup tak tjukup banjak. Senang semata-mata.
Dibagian Yury sepandjang rel ada pemandangan bagus. Disebelah Timur tanah menurun djadi lembah dan timbul bergelombang sedjauh kaki-langit.
Dipuntjak bukit ada rumah jang disasari semua angin; dimusim-panas pohon-pohonnja tentu memberi kesedjukan, tapi kini renda esnja tak sanggup melindunginja.
Saldju memperhalus dan membulatkan segala garis-keliling. Ia tak dapat menutup seluruhnja dasar anak-sungai berkelok-kelok, jang dimusim-semi akan lari kebawah keviaduk dibawah tanggul djalan kereta-api, tapi ini tersungkap saldju, seperti anak dalam randjangnja dengan kepalanja dibawah selimut berbulu.
Adakah jang tinggal dalam rumah diatas bukit itu, pikir Yury, ataukah ia kosong dan segera akan runtuh, diserahkan pada suatu panitia-tanah? Apa terdjadi dengan orang-orang jang pernah berdiam disitu? Sudah lari keluar negeri? Atau mati ditangani kaum tani? Ataukah mereka disukai, hingga boleh tinggal didaerah ini sebagai spesialis teknis? Dan andaikata mereka tinggal, apakah Strelnikov membiarkan mereka hidup, ataukah mereka senasib dengan kaum kulak?
Rumah itu menggelitik rasa ingin-tahunja, namun tetap bungkam dengan murungnja. Dewasa ini tak biasa orang bertanja-tanja, pun tak ada jang akan mendjawab.
Tapi matahari berbinar diatas keputihan jang menjilaukan dan Yury memotong saldju berkeping-keping, menimbulkan longsoran sinar intan jang kering. Itu mengenangkan pada masaketjilnja. Ia melihat dirinja dipekarangan rumah, pakai topi bertepi dan kulit domba hitam jang diradjut dalam bulu-domba ikal, sedang memotong saldju jang menjilaukan djuga mendjadi kubus dan limas dan roti dadih dan benteng dan kota bergua. Penghidupan sangat nikmat pada masa djauh lampau itu, tiap hal merupakan pesta bagi mata dan perut!
Tapi sekarang inipun selama bekerdja tiga hari dibawah kolong langit, para pekerdja merasa senang dengan perut kenjang. Tak heran. Waktu malam mereka mendapat pungkahan-pungkahan besar roti baru jang panas (tak seorangpun tahu dari mana datangnja dan atas perintah siapa); roti itu berkerak kerut-merut dan lezat, mengkilat sebelah atas, retak dipinggir dan arang ketjil-ketjil ikut termasuk disebelah bawahnja.
16
Mereka hampir-hampir sajang pada reruntuh setasiun itu jang seperti tempat berlindung bagi orang jang mendaki gunung pada waktu libur. Bentuknja, letaknja, soal-soal ketjil dalam kerusakannja terpantjang dalam ingatan Yury.
Tiap sendja mereka balik kepadanja, waktu matahari — lantaran taat kepada kebiasaan lama — tenggelam, seperti jang selalu terdjadi, dibelakang pohon berk diluar djendela telegrafis.
Sebagian tembok sebelah luar telah roboh dan menimbuni kamar, tapi djendelanja masih ada, pun sudut diseberangnja masih utuh, beserta kertas-kuning berwarna kopi, tungku bertegel dengan lobang-hawanja jang bundar dan tutupnja dari kuningan serta daftar prabot kantor berbingkai hitam. Tak ubahnja dengan sebelum ketjelakaan, matahari jang sedang tenggelam itu merajap atas tegel-tegel dan menjalakan tjahaja sawo-matang jang hangat dikertas serta menggantungkan bajang-bajang pohon berk pada kait seperti sjal wanita.
Dibelakang gedung ada kamar-tunggu jang remuk, tapi dipintunja jang terkuntji masih ada kertas pengumuman, jang terpaku waktu hari-hari pertama Revolusi Perantjis atau belum lama sebelumnja; bunjinja:
„Penumpang jang memerlukan obat dan bebat diminta untuk sementara djangan kuatir. Disebabkan hal-hal jang mendesak, pintu disegel; dengan ini harap maklum.
Ttd. Dokter di Daerah Ust-Namdinsk,
„Si Anu”
Ketika achirnja gunduk-gunduk saldju antara bagian-bagian rel itu disingkirkan, nampaklah djalan kereta-api terentang djauh, lurus lagi rata bagai panah. Banjak gunungan saldju mengkilat dikanan-kiri rel, putih didepan pagaran hutan jang hitam.
Kelompok-kelompok jang memegang tjatuk berdiri berdjarak-djarak disepandjang rel. Melihat satu sama lainnja pertama kali, heranlah mereka menjaksikan djumlah mereka sebesar itu.
17
Walaupun sudah kasep dan segera malam akan tiba, kereta-api diharapkan akan berangkat djuga satu-dua djam lagi. Yury dan Tonya turun untuk bersenang-senang melihat rel jang bersih itu sekali lagi. Tapi disitu tak ada seorangpun jang ketinggalan. Mereka memandang kekedjauhan, bertukaran beberapa kata, lalu kembali.
Waktu balik kederesi itu mereka dengar suara dua perempuan jang bertengkar dengan hebat dan mereka kenal itu sebagai suara Ogryskova dan suara Tyagunova; mereka bergerak kearah jang sama, tapi disebelah lainnja dari kereta-api, tersembunji oleh barisan deresi tak berudjung. Kedua perempuan itu agaknya hampir tak pernah sama djauhnja dengan Yury dan Tonya, tapi selalu lebih landjut sedikit atau lebih kebelakang.
Rupa-rupanja mereka amat rusuh, sampai kehabisan tenaga dan menilik tjara meningkatnja suara mereka sampai berteriak, lalu turun sampai berbisik, maka kaki mereka tak sanggup mendukung tubuh ataupun mereka berkali-kali tersandung dan djatuh kesaldju. Agaknya Tyagunova mengedjar Ogryskova dan memukulnja dengan tindju, bila ia mentjapainja. Ia menjebutnja dengan apa sadja jang masuk kepalanja, maka suaranja jang halus dan berlagu itu menjebabkan semua maki-makiannja djauh lebih memalukan dan kasar lagi kedengarannja dari pada suara lelaki jang menjumpah-njumpah.
„Babi, sundal”, teriaknja. „Aku tak bisa bergerak satu intjipun, tanpa melihat kau menggerendeng kian-kemari. Apakah badut tuaku tak tjukup untukmu, sampai kau main mata dengan sibajji?”
„Djadi Vassya djuga lakimu jang kawin dengan sah, he? Bagus!”
„Kukasi kau laki jang sah, hai penjakit busuk! Satu kata lagi dari montjongmu jang kotor dan kubunuh kau!”
„Wah, simpan tindjumu. Kau mau apa, sih?”
„Aku mau kau mampus, hai sarang berahi, kutjing kepanasan, andjing betina tak tahu malu!”
„Begitu aku, he? Wah, wah, tentulah aku tjuma kutjing, andjing betina, dibanding dengan njonja besar matjam kau. Kau jang lahir dalam got, kawin dalam selokan, tak laku bagi tikus dan landak karena sibujung!…Tolong! Tolong! Pembunuhan. Dia bunuh aku. Tolong sijatim tjelaka, tolong, gadis miskin tak berdaja!”
„Mari pergi”. Tonya bergegas. „Aku tak betah mendengarnja, terlalu mendjidjikkan. Mereka achirnja akan berbuat kedji sekali”.
18
Tiba-tiba berobahlah tjuatja dan pemandangan. Tanah datar berachir, djalan kereta-api melilit banjak bukit dan teras ditanah pegunungan. Angin Utara jang tak kundjung henti kini reda, maka datanglah embusan hangat dari Selatan laksana dari tungku.
Disini hutan tumbuh dilereng-lereng, menondjol dari landaian gunung-gunung, maka tatkala kereta-api melintasinja, ia harus mendaki tanah terdjal berbukit, sampai tiba ketengah hutan, lalu turun lewat tanah tjuram. Kereta-api berderak-derak dan ngah-ngah waktu lewat hutan, njaris tak mampu menjeret diri, seolah-olah ia pendjaga hutan tua jang berdjalan didepan dan menuntun para penumpang jang berpaling kekiri dan kekanan untuk melihat-lihat apa jang nampak.
Tapi belum ada jang patut dilihat. Hutan-rimba masih lengang dalam tidur njenjaknja dimusim-dingin. Hanja disana-sini sebatang dahan gojang berkerosok, membebaskan diri dari beban saldju jang hinggap, seakan-akan melepaskan krah badjunja.
Yury letih dan ngantuk. Berhari-hari ia terbaring dibangkunja dan tidur dan bangun dan berpikir dan menjimak. Namun tak ada jang perlu didengarkan.
19
Selama Yury tidur sepuas-puasnja, musim-semi tambah panas dan melelehkan seluruh djumlah saldju tak terbilang itu jang telah turun antero Rusia: semua saldju jang turun di Moscow pada hari keberangkatan mereka dan terus sadja turun sepandjang djalan sedjak itu; semua saldju jang selama tiga hari mereka buang dari rel; semua lapisan saldju, tebal, dalam, jang hinggap sepandjang pandangan mata dibukit dan tanah datar dalam djarak tak terbatas.
Pertama-tama saldju meleleh tenang dan diam-diam dari dalam. Tapi ketika telah terdjadi separoh dari proses raksasa ini, tak dapat lagi ia disembunjikan dan mulai nampaklah keadjaiban. Air menggelegak dari bawah, menjanji lantang. Rimba bergerak dalam kelebatannja jang tak tertembus dan bangunlah segala-galanja didalamnja.
Untuk air itu banjak sekali tempat bermain. Ia bertjeburan dari batu-karang, mengisi tiap kolam berlimpah-limpah, lalu menjebarkan diri. Ia bergemuruh dan merabuh dan beruap dirimba. Ia menggarisi hutan-hutan, tenggelam dalam saldju jang merintangi geraknja; mendesis ditanah datar atau melontarkan diri dan tertebar dalam tjipatran keruh. Bumi djadi kenjang. Pohon-pohon ru jang tua berdiri diketinggian jang mengerikan, hampir-hampir minum tjiaran dari mendung, sedangkan diakarnja keluar uap putih jang mengering, mirip pada buih bir dikumis orang.
Langit jang mabuk oleh musim-semi dan pusing oleh segala uapnja itu mendjadi tebal karena mendung. Mendung rendah jang ditepi-tepinja menggelembur bagai vilt, melajang atas hutan-hutan, maka terlontarlah hudjan dari padanja, hangat, berbau tanah dan peluh, membilas lapisan pertahanan es hitam jang terachir dari bumi.
Yury bangun, menggeliat, menegakkan diri atas sikutnja, lalu melihat-lihat dan menjimak.
20
Mendekati daerah pertambangan, kian lama kian banjak pemukiman; bagian perdjalanan makin pendek, pemberhentian tambah sering. Banjak lagi orang turun-naik disetasiun-setasiun ketjil. Mereka jang hanja bepergian djarak pendek, tidak tjari tempat dan tidur, melainkan duduk dimana-mana, dekat pintu atau ditengah deresi dan berbantahan dengan suara lembut tentang masalah-masalah setempat jang hanja dimengerti oleh mereka sendiri.
Dari sentilan-sentilan jang dilantingkan oleh orang-orang setempat itu dalam tiga hari terachir, Yury menjimpulkan bahwa disini kaum Putih sedang mendapat hasil terbaik dalam pertempuran dan sudah atau hampir merebut Yuryatin; dan kalau ia tak salah dengar tentang namanja atau djika tak ada orang lain jang senama dengan teman lamanja itu, maka pasukan-pasukan Putih dipimpin oleh Galiullin, jang penghabisan kali dilihatnja di Melyuzevevo.
Karena tak hendak mengedjutkan keluarganja dengan desas-desus jang kabur ini, ia buat sementara tak menjampaikan apa-apa kepada mereka.
21
Waktu malam baru tiba, bangunlah Yury, dipenuhi rasa bahagia tak menentu jang kuat, sampai ia bangkit. Kereta-api berhenti. Setasiun bermandi magrib, mengatja, mendjelang malam terang. Sesuatu jang halus dan djaja dalam gelap jang berbinar ini menjarankan tamasja luas terbuka, seolah setasiun itu berdiri tinggi atas tanah berbukit.
Orang djalan-djalan diperon lewat deresi, bitjara lembut dan melangkah diam-diam bagai bajang-bajang. Yury terharu oleh kenjataan bahwa seperti sebelum perang, orang tak mau mengganggu para penumpang jang sedang tidur.
Tapi sebenarnja ia salah terka. Tak ubahnja dengan diperon-peron lainnja, disinipun orang ramai berteriak dan mengentakkan sepatu. Tapi dekat dari situ ada djeram. Kesegaran dan kebebasannja memperluas djangka malam; inilah jang memenuhi Yury dengan kebahagiaan dalam tidurnja. Gemuruh air-terdjun tak kundjung henti itu mengatasi tiap bunji lain dan menjebabkan seolah semuanja sunji belaka.
Yury tak tahu-menahu tentang air-terdjun itu, namun ia dibuatnja tenang dan segar, maka tidur lelaplah ia.
Dua lelaki omong-omong dibawah bangkunja.
„Nah, mereka masih menentang djuga? Apakah sekarang sudah tenang?”
„Maksudmu, tukang-tukang kedai itu?”
„Ja, pedagang gandum”.
„Sudah djinak! Kalau sudah ada satu-dua jang kena pukul, sebagai tjontoh, semuanja menurut sadja. Daerah ini kena denda”.
„Berapa?”
„Empat puluh ribu pud”.
„Mana bisa!”
„Untuk apa aku bohong?”
„Empatpuluh ribu semangka busuk!”
„Empatpuluh ribu pud gandum”.
„Bukan main!”
„Empatpuluh ribu gandum jang terbaik”.
„Tak apalah. Tanah ini subur. Dan perdagangan gandum sedang ramai-ramainja. Dari sini sepandjang kali Rynva sampai Yuryatin kau djumpai dusun demi dusun, bandar demi bandar, saudagar besar demi saudagar besar”.
„Djangan teriak. Kaubangunkan orang-orang ini”.
„Baiklah”. Ia menguap.
„Tidur sadja, ja? Rupanja kita djalan sudah”.
Namun kereta-api tetap pada tempatnja. Tapi datanglah kereta-api lain dengan kentjangnja dari belakang, deram-derumnja meledak membisingkan kuping, menghapus bunji air-terdjun ketika dekat; expres kolot itu mengguntur lewat rel jang paralel; ia menjuling, mengedipkan sinar pada ekornja dan lenjap dikedjauhan didepannja.
„Tjelaka. Sekarang tjuma Tuhan jang tahu, kapan kita akan berangkat”.
„Memang. Tak mungkin segera”.
„Itu kereta-api badja istimewa. Tentunja Strelnikov”.
„Pasti dia”.
„Dia seperti binatang buas, kalau menghadapi kaum kontra-revolusioner”.
„Dia kedjar si Galileyev”.
„Siapa itu?”
„Pemimpin Kosak Galileyev. Konon ia diluar Yuryatin dengan dilindungi tentara Tjeko. Ia merebut pelabuhan-pelabuhan, sibusuk itu lengket sadja. Galileyev, pemimpin Kosak”.
„Tak pernah dengar tentang dia!”
„Atau barangkali pengeran Galileyev. Namanja tak kuingat betul”.
„Tak ada pangeran sematjam itu. Tentunja Ali Kurban. Kautjampur-aduk sadja”.
„Mungkin Kurban”.
„Itu lebih bisa diterima”.
22
Mendjelang pagi Yury bangun pula. Ia telah mimpi lagi tentang sesuatu jang menjenangkan dan tinggallah padanja perasaan gembira jang membebaskan djiwa.
Kereta-api berhenti lagi; barangkali itu setasiun jang tadinja djuga, tapi rasa-rasanja tak mungkin begitu. Sekali lagi ada bunji djeram, boleh djeram lain, tapi lebih mungkin jang sama djuga.
Hampir seketika ia tidur kembali dan waktu rgantuk itu didengarnja bunji kaki jang lari dan sedikit keributan. Kostoyed berselisih dengan pemimpin konvoi, mereka berteriak-teriak. Hawa lebih njaman lagi dari sebelumnja. Didalamnja ada nafas sesuatu jang baru, sesuatu jang tadinja belum ada disitu, sesuatu jang gaib dan berhubungan dengan musim-semi, putih, semu hitam, tak berudjud, tertebar bagai angin saldju dalam bulan Mei, bila serbuk putih jang melebih itu djatuh kebumi dan membikinnja lebih hitam dari pada putih. — „Transparan, putih kehitam-hitaman, berbau njaman — buah anggur”, terka Yury dalam tidurnja.
23
Esok harinja berkatalah Tonya:
„Kau benar-benar aneh, Yura, banjak hal berlawanan dalam dirimu. Kadang-kadang kau dibangunkan oleh lalat dan tak dapat tidur kembali sampai pagi, pada hal disini kau tidur sadja dengan segala hiruk-pikuk ini dan aku tak dapat membangunkan kau. Tjoba pikir, Pritulyev dan Vassya sudah melarikan diri! Begitupun Tyagunova dan Ogryskova! Bisa kaubajangkan itu? Tunggu, itu belum semuanja. Voronyuk lari djuga. Betul, pertjajalah, dia lari. Sekarang dengarkan. — Bagaimana mereka sampai berhasil, bersama-sama atau sendiri-sendiri, dan bagaimana urutannja — semuanja tak diketahui. Tentang Voronyuk tentu dapat dimengerti — melihat jang lain-lainnja lenjap, ia harus berusaha menjelamatkan diri. Tapi jang lain-lain itu bagaimana? Mereka pergi atas kemauan sendiri, ataukah ada jang disisihkan? Misalnja, kalau kedua perempuan itu boleh ditjurigai, apakah Tyagunova membunuh Ogryskova, atau sebaliknja? Tak ada jang tahu. Pemimpin regu pekerdja mundar-mandir dalam kereta-api seperti orang gila. „Djangan berangkatkan kereta-api. Demi undang-undang kuperintahkan, djangan djalan, sebelum kutangkap orang-orang tawananku”. Komandan kereta-api berteriak kembali: „Kubawa tentara kemedan-perang, aku tak menunggu anak-buahmu jang penuh kutu itu. Tak kuimpi-impi”. Lalu pergilah kedua-duanja pada Kostoyed. „Kau jang syndicalis dan terpeladjar, kau duduk sadja, membiarkan pradjurit jang tulus, anak alam jang tak tahu apa-apa, bertindak setjara gegabah! Katanja populis!”5 5Populis: Idealis sajap-kiri jang mengabdikan diri pada „bekerdja antara rakjat”. Dan Kostoyed membalas sedapat-dapatnja. „Menarik sekali”, udjarnja. „Tawanan harus mendjaga pengawalnja, he? Sungguh, kalau itu terdjadi, ajam betina akan berkokok. Kugontjang-gontjang kau sekeras-kerasnja : „Yura! Bangun! Ada jang lari!” Tapi sia-sia belaka. Kalaupun ada meriam meletup kekupingmu, tak kaudengar djuga …Tapi kelak sadja kusambung tjerita …O, tengok! Ajah, Yura, tengok, alangkah indahnja!”
Melalui lobang djendela, jang katjanja sudah diambil, mereka dapat melihat daerah itu digenangi air-bah musim-semi dari udjung keudjung. Tentunja ada sungai jang membobol tepi-tepinja, maka airpun sampai kedjalan kereta-api. Kereta-api itupun seakan betul-betul meluntur diatasnja.
Disana-sini permukaan air berobah djadi biru-logam; diatas air selebihnja matahari pagi jang terik mengedjar-ngedjar bidang-bidang tjahaja halus jang mengatja, litjin dan berminjak seperti mentega meleleh jang oleh tukang-masak diusapkan dengan bulu atas kerak kue.
Dalam bandjir tak bertepi ini tenggelamlah awan-gemawan putih jang londjong, tampuknja tergenang bersama padang, djurang dan semak-semak.
Dan ditengah air-bah itu ada seladjur tanah semit dengan seleretan pohon-pohon, diperganda oleh bajangannja dalam air dan tergantung antara bumi dan langit.
„Tengok, bebek sekeluarga”, kata Alexander Alexandrovich.
„Mana?”
„Dekat pulau. Lebih kekanan. Sajang, mereka terbang. Takut pada kita”.
„Ja, kulihat sekarang”, udjar Yury. „Sekali tempo kita hendaknja bitjara, Alexandrovich. Lain kali …Tak mengapalah, kau senang sekali, kaum tawanan dan perempuan itu sudah ambil putusan. Dan aku jakin tak ada pembunuhan. Mereka hanja lari — seperti air”.
24
Malam putih daerah Utara sedang berachir. Segala hal nampak djelas, gunung, semak-semak dan lembah, tapi seolah tak pertjaja penuh pada diri sendiri dan hanja ada dalam dongeng.
Hutan jang didalamnja ada beberapa pohon anggur, baru sadja berdaun. Tumbuhnja dibawah batu-karang jang melengkung dipinggiran sempit jang berachir dalam djurang.
Walaupun air-terdjun itu tidak djauh, tapi hanja kelihatan dari tepi lembah diseberang semak-semak, Vassya Brykin, tawanan jang lari itu sudah lelah karena melihat-lihat kesitu dengan girang tjampur ngeri.
Segala hal dekat dari situ tak dapat dibandingkan dengan air-terdjun. Air-terdjun ini unik dan itulah membuatnja dahsjat, mendjelmakan djadi machluk jang diwarisi hidup dan kesadaran, barangkali sebagai naga atau ular bersajap dari wilajah ini jang memungut upeti dan memangsa dusun-dusun.
Ditengah djalannja ia memetjah pada batu-karang tadjam dan terbagi dua. Bagian atas hampir tak bergerak, tapi kedua batangnja sebelah bawah mengajun sedikit dari kiri kekanan, seakan air-terdjun itu terus-menerus tergelintjir dan meluruskan diri, gontjang, namun selalu seimbang kembali.
Vassya telah membentangkan badju kulit-dombanja ditanah dan kini ia berbaring dipinggir semak-semak. Ketika hari lebih terang, seekor burung besar dengan sajap berat terbang kebawah dari gunung, melajang lantjar melingkari hutan, lalu hinggap atas pohon ru dekat tempat ia berbaring. Ia menengadah terpesona ketenggorokannja jang biru-tua serta dadanja jang biru-kelabu dan ia bisikan namanja dalam bahasa Ural. Ronzha. Lantas bangkitlah ia, memungut badjunja, menjampaikannja kebahu dan menjeberangi tempat terbuka untuk menemui kawannja.
„Mari, bibi Polva. Astaga, kamu dingin sekali! Kudengar gigimu mengertak-ngertak. Wah, apa jang kamu pandang senang itu? Mengapa takut begitu? Kita harus djalan, dengarkan, kita harus mentjapai sebuah dusun. Selesaikanlah sendiri. Orang akan menjembunjikan kita didusun, tak bakal mentjelakakan kaumnja sendiri. Kita sudah dua hari tak makan, akan mati disini. Paman Voronyuk tentu sudah bikin ribut besar, semua tentu mentjari kita. Kita harus pergi, bibi: terus-terang sadja, kita harus lari. Aku sebenarnja tak tahu apa akan kubuat dengan kamu, bibi — kamu bungkam sadja sedjak dua hari penuh. Kamu terlalu bingung, ja, demi Allah! Apa jang kamu sedihkan? Kamu tidak bermaksud mendorong bibi Katie dari kereta-api: kamu tidak mendorong Katie Ogryskova, kamu hanja memegangnja dari samping, tak sengadja — kulihat kamu. Dia menegakkan diri dari rumput — kulihat dia dengan mata kepala — dia bangkit dan lari. Dia sama paman Pritulyev pasti akan menjusul kita. Kita semua akan bersama kembali. Jang penting ialah berhenti bersedih-hati, dengan begitu kamu temukan lidahmu kembali”.
Tyagunova bangkit, memegang tangan Vassya dan berkata lembut: „Mari, sajang”.
25
Dengan dinding berderak-derak, deresi-deresi menandjak kebukit tjuram. Dibawah tanggul ada semak-semak, jang puntjaknja tak sampai kepermukaan djalan kereta-api. Lebih rendah lagi ada padang-padang. Bandjir baru sadja reda, meninggalkan pasir dan petjahan-petjahan papan tersebar tak keruan. Balok-balok tentunja hanjut dari tempat lebih tinggi dibukit, tempatnja tertimbun.
Belukar muda dibawah tanggul masih gundul, hampir sama dengan sewaktu musim-dingin. Hanja pada kuntum-kuntum jang menghinggapi seluruh belukar itu laksana lemak lilin ada hal jang tak sesuai dengan lain-lainnja, sesuatu jang tak guna dan tak pada tempatnja; barangkali debu atau peradangan, jang membuat kuntum-kuntum ini menggendut; maka hal jang tak pada tempatnja dan tak guna inilah beserta debu merupakan alamat hidup jang telah membakar pohon-pohon jang paling tjepat tumbuhnja dengan njala hidjau dedaunannja.
Disana-sini ada pohon berk bersahid, tertusuk oleh gigi dan panah daun-daunnja jang mekar berbelah dua dan dengan melihatnja sadja kita kenal baunja: bau damarnja jang mengkilat jang digunakan untuk bikin minjak rengas.
Sebentar kemudian kereta-api sampai ketempat, dimana agaknya balok-balok jang hanjut oleh bandjir tadi dilonggokkan. Tempat pembukaan djalan dihutan nampak ditikungan rel; tempat itu ditimbuni serpih serta sarutan kaju dan ditengahnja ada longgokan batang pohon besar. Lokomotif mengerem, kereta-api bergeletar dan berhenti pada titik jang ditjapainja ditikungan diatas bukit jang sedikit membelok keluar dari lingkung jang lebar.
Dari mesin terbitlah satu-dua kali bunji suling dan teriakan, tapi para penumpang tak memerlukan tanda-tanda itu untuk mengetahui bahwa kereta-api telah berhenti untuk mengambil bahan-bakar.
Pintu-pintu dibuka dan keluarlah bondongan manusia sebanjak penduduk kota ketjil; hanja para pelaut tinggal dalam deresi-deresi, sebab mereka dibebaskan dari keletihan.
Ditempat terbuka itu tak tjukup banjak kaju-bakar ketjil, hingga kaju-kaju besar perlu ada jang dipotong sampai ukuran jang diperlukan. Anak-buah lokomotif punja gergadji-gergadji jang termasuk dalam peralatan mereka; itu dibagi-bagikan pada para pekerdja suka-rela, sebatang untuk sepasang pekerdja, antaranja Yura serta mentuanja.
Para pelaut dengan ketawa ketjil menondjolkan kepala dari pintu-pintu deresi. Rekrut-rekrut ini merupakan tjampuran adjab antara buruh-buruh setengah tua, langsung keluar dari latihan darurat militer dan anak-anak muda jang baru tamat dari perguruan tinggi angkatan-laut, jang nampaknja seperti digolongkan dengan chilaf pada kaum kepala keluarga jang tenang itu; agar tak usah berpikir, mereka berkelakar dan membuat pelaut-pelaut jang lebih tua itu djadi bulan-bulanan. Mereka semua maklum, saat udjian sudah dekat.
Lelutjon dan ketawa kasar mengiringi kelompok-kelompok jang bekerdja itu.
„Hai nenek-nenek! Aku bukannja malas, aku terlalu muda untuk bekerdja, pengasuhku tak mengizinkan aku”. „He Martha, djangan gergadji gaunmu, masuk-angin nanti!” „He putri remaja, djangan masuk hutan, kemarilah untuk djadi istriku!”
26
Ditempat terbuka itu ada beberapa kuda-kuda; Yury dan Alexander Alexandrovich memandjatinja dan mulai menggergadji.
Inilah saatnja ketika musim-semi keluar dari saldju dengan memberi kesan seolah saldju telah mengurungnja enam bulan jang lampau. Hutan berbau air dan ditimbuni daun-daun dari tahun jang lalu, seperti sebuah kamar tak tersapu, tempat orang menjobek surat, wesel dan kwitansi jang terlonggok bertahun-tahun.
„Djangan tjepat-tjepat, ajah akan tjapik”, kata Yury, sambil menggerakkan gergadjinja lebih lambat lagi beruntun. „Dan bagaimana kalau mengaso?”
Hutan bergema oleh dentingan parau dari gergadji-gergadji lain; dari djauh sekali seekor bulbul mentjoba suaranja; dengan selingan waktu lebih pandjang, seekor djalak bersiul seperti meniup debu dari suling, bahkan uap lokomotif naik kelangit, menjanji bagai air susu jang mendidih atas tungku spiritus seorang djururawat.
„Apa hendak kaukatakan padaku tempo hari?” tanja Alexander Alexandrovich. „Ingat? Kita lewat pulau, bebek-bebek terbang, lalu kaukatakan hendak bitjara dengan sekali tempo”.
„O ja …Ah, bagaimana menjatakan ini sependek-pendeknja? Kupikir, kita merosot makin dalam. Seluruh daerah ini katjau-balau. Entah apa akan kita djumpai, bila sampai kesana. Barangkali kita perlu berpikir masak-masak untuk menghadapi …Jang kumaksud bukanlah kejakinan kita — dalam hutan bersemi selama lima menit tak banjaklah jang dapat kusebut tentangnja. Ketjuali itu, kita sudah saling mengenal betul. Ajah dan aku dan Tonya dan banjak lagi seperti kita, membina dunia kita sendiri-sendiri waktu ini. Satu-satunja perbedaan antara kita ialah deradjat kesadaran kita tentang itu. Jang kumaksud ialah, kita barangkali hendaknja bersetudju lebih dulu tentang kelakuan kita, supaja kita tak usah malu atau membuat malu pada jang lain”.
„Kutahu maksudmu. Kuhargai tjaramu mempersoalkannja. Kutjeritakanlah. Kauingat malam itu pada musim dingin ditengah badai saldju, ketika kaubawa surat-kabar dengan dekrit-dekrit pertama dari pemerintah? Kauingat betapa langsung dan tak terbantah dekrit-dekrit itu? Bukan main! Jang bitjara pada kita ialah keesaan pemikirannja. Tapi itu hanja mengandung kemurnian asli bagi gagasan orang jang memahaminja, itupun hanja pada hari diumumkannja. Sehari kemudian, belat-belit politik sudahlah membalikkannja sama sekali. Apa jang dapat kukatakan? Pemerintah ini memusuhi kita, filsafatnja asing bagiku, aku tak ditanja apakah kusetudjui segala perobahan ini. Tapi aku dipertjaja dan tindak-tandukku sendiri membuatku mempunjai tanggung-djawab tertentu, djuga kalau tak dilakukan setjara bebas”.
„Tonya selalu bertanja apakah kita akan tiba pada waktunja untuk menanam sajur-majur kita. Entahlah. Aku tak kenal tanah atau iklim di Ural; musim-panas pendek, sampai tak dapat kubajangkan bagaimana tumbuh-tumbuhan bisa berbuah matang pada waktunja”.
„Tapi betapa djuga, kita bepergian bukan main djauhnja ini bukanlah untuk mendjual hasil kita bertjotjok-tanam. Lebih baik kita hadapi segala soal setjara djudjur, tudjuan kita lain sekali. Kita mentjoba hidup dengan tjara baru, ikut-serta dalam memboroskan milik Krüger, pabrik-pabrik serta mesin-mesinnja. Kita tak hendak membina kembali kekajaannja, tapi tak ubahnja dengan tiap orang lain dengan tjara jang luar biasa katjaunja, kita tjintjanglah kekajaan itu dan membantu memboroskan setjara kolektif beribu-ribu kehidupan untuk mendapat kehidupan jang sekopek harganja. Aku bukannja ingin mengambil kembali tanah-milik itu atas sjarat-sjarat lama sebagai hadiah, pun andaikata kauberi aku emas seberat badanku. Itu akan sama bodohnja dengan berlari-lari dengan telandjang atau mentjoba melupakan abdjad. Sebab zaman hak-milik sudah lampau di Rusia, dan bagaimanapun djuga, kita kaum Gromeko sudah tak punja kesrakahan lagi seangkatan jang lalu”.
27
Dideresi terlalu panas dan berbeda untuk tidur. Bantal Yury diresapi keringat. Hati-hati agar tak membangunkan jang lain-lain, ia turun dari bangku-tidurnja, lalu menggeser pintu deresi.
Hawa panas lembab jang melengket meletjut kewadjahnja, seakan ia dalam kolong rumah melanda sarang laba-laba. „Kabut”, terkanja. „Panas-teriklah besok. Itu sebabnja sekarang tak ada angin, hawa sesak menekan”.
Setasiun itu besar, boleh djadi setasiun penghubung. Ketjuali kabut dan kesunjian, ada pula rasa kehampaan, keterlantaran, seolah kereta-api telah kesasar dan dilupakan orang. Kereta-api itu agaknya tepat dibelakang daerah langsir, djauh kebelakang, hingga orang-orang didalamnja tak akan tahu-menahu, andaikata diudjung lain dari djaringan rel itu bumi terbedah dan menelan gedung setasiun.
Dari djauh sajup-sajup terdengar dua bunji.
Disebelah belakang jang telah mereka lewati, ada bunji berkelepak seperti ada badju sedang ditjutji atau angin memetjutkan bendera basah jang berat ketiangnja.
Dari depan datang gemuruh merata jang membuat Yury dengan pengalamannja dalam perang itu menadjamkan telinganja. „Artileri”, demikian putusannja, sesudah mendengarkan nada rendah jang berlangsung terus itu dengan berkumandang tenang.
„Itu dia, kita ditengah medan-perang”. Ia mengangguk pada diri sendiri, sambil melontjat dari deresi. Ia melangkah sedikit kedepan. Dua deresi kemuka sudah merupakan udjung kereta-api; deresi-deresi lainnja sudah dilepas dan pergi bersama lokomotif.
„Djadi inilah sebabnja mereka begitu tegang kemaren. Mereka sudah merasa akan segera masuk kantjah, bila tiba disini”.
Ia berdjalan mengitari deresi terdepan, dengan maksud menjeberangi rel dan melihat sebagian besar setasiun, tapi didepannja muntjullah seorang pengawal, bersendjatakan bedil.
„Kemana? Ada pas?” udjarnja lembut.
„Ini setasiun apa?”
„Itu tak soal. Tuan siapa?”
„Saja dokter dari Moscow. Kami sekeluarga bepergian dengan kereta-api ini. Inilah surat-surat keterangan saja”.
„Boleh kamu isi dengan …Saja tidak gila, siapa bisa batja dalam gelap? Ada kabut — tak lihat sendiri? Dan saja tak perlu surat-surat untuk tahu, dokter matjam apa kamu ini. Banjak lagi dokter matjam kamu jang menembaki kami dengan meriam dua-belas intji. Saja ingin hantjurkan otakmu, tapi kini terlalu pagi. Baiklah, mumpung badanmu masih utuh”.
„Dia sangka aku orang lain”, pikir Yury. Teranglah tak ada gunanja untuk membantah, baik menuruti nasehatnja sadja, sebelum terlambat. Iapun berpaling dan djalan balik.
Tembakan meriam reda dibelakangnja. Dibelakangnja itulah Timur. Disana matahari telah terbit ditengah kabut berarak, suram menembusi bajangan-bajangan jang mengambang, seperti orang mandi telandjang dibelakang kepulan uap.
Yury berdjalan sepandjang kereta-api dan melewati deresi-deresi terachir. Kakinja kian dalam tenggelam dalam pasir empuk.
Bunji kelepak jang tunggal-nada itu mendekat. Tanah melandai tjuram. Ia berhenti hendak mengamati bentuk-bentuk tak tentu didepannja; kabut memperbesar mereka setjara tak wadjar. Selangkah lagi, maka udjud perahu-perahu jang tertambat dipantai muntjul dari gelap. Didepannja ada sungai lebar; riak-riaknja malas berketipuk, pelan dan lelah terantuk pada pinggiran bahtera-bahtera nelajan serta papan-papan tempat punggahan ditepian.
Sesosok tubuh muntjul dari pantai.
„Siapa izinkan kamu bergelandangan?” tanja seorang pengawal lainnja jang bersendjata.
„Ini sungai apa?” Pertanjaan terlontar, meskipun Yury sudah tegas mengambil putusan tak akan bertanja-tanja lagi.
Sebagai djawabannja, pengawal itu memasang peluitnja kemulut, tapi ia tak usah berpajah-pajah menggunakannja, sebab datanglah pengawal pertama jang hendak dipanggilnja dengan peluit itu; dia rupa-rupanja telah mengikuti Yury dengan diam-diam dan kini bergabung dengan kawannja. Mereka berdiri sambil bertjakap-tjakap.
„Tak sjak lagi. Burung matjam ini dapat kaukenal dalam sekedjap mata. „Ini setasiun mana?” „Sungai apa ini?” Dia kelabui mata kita. Bagaimana? Kita bawa dia langsung kedermaga atau kereta-api dulu?”
„Kekereta sadja. Tunggu putusan pemimpin. — Surat-surat kamu”, bentaknja pada Yury. Dengan menggenggam seberkas kertas itu dan sambil berseru pada seseorang: „Awas dia”, iapun bersama pengawal pertama tadi berdjalan kesetasiun.
Orang ketiga jang sampai saat itu belum dilihat Yury, agaknya seorang nelajan. Tadi dia berbaring dipantai, tapi kini ia bergumam, bergerak, lalu mulai menerangkan pada Yury tentang kedudukannja.
„Untung kamu dibawa pada pemimpin. Itu mungkin menjelamatkan kamu. Tapi djangan salahkan mereka. Mereka hanja melakukan tugas. Sekarang rakjat jang berkuasa. Barangkali itu lambat-laun malah baik, sungguhpun sekarang belum dapat dikatakan apa-apa. Mereka keliru. Mereka sudah lama mengedjar-ngedjar seseorang. Maka kamulah disangka dia. Ini dia, pikir mereka, inilah musuh Negara Buruh, kita tangkap dia. Keliru, ja, itu sadja. Kalau terdjadi apa, kamu harus mendesak supaja dibawa kepemimpin. Djangan biarkan dua orang ini berhasil. Mereka sadar politik; tjelaka, Tuhan melindungi kita. Mengenjahkan kamu, bagi mereka tak soal. Djadi djika mereka katakan „Ikut”, ingatlah, djangan mau. Katakan, kamu mau ketemu pemimpin”.
Dari nelajan ini Yury mendengar bahwa sungai itu sungai Rynva jang terkenal sebagai djalan lalu-lintas dan bahwa setasiun itu alat keperluan bagi Razvilye, daerah industri disekitar kota Yuryatin. Didengarnja pula bahwa Yuryatin jang letaknja beberapa mil lagi keudik, kini agaknya sudah direbut kembali dari Tentara Putih; djuga bahwa barusan ada huru-hara di Razvilye jang rupa-rupanja telah diredakan pula, maka sunji-senjaplah semua, karena wilajah setasiun telah dibersihkan dari penduduk dan dikepung. Achirnja didapatnja kabar bahwa deresi-deresi dari beberapa kereta-api disetasiun digunakan sebagai markas besar tentara, antaranja kereta-api istimewa untuk komisaris tentara Strelnikov, jang kepadanja dua orang pengawal tadi pergi melapor.
Pengawal ketiga kini datang dari djurusan jang ditempuh oleh jang dua tadi; ia berbeda dari mereka, terutama karena ia menghela bedilnja jang popornja terseret-seret ditanah, ataupun ia menopang bedil itu didepannja, matjam seorang kawan jang mabuk jang memerlukan bantuannja. Pengawal inilah sekarang mengantar Yury kekomisaris.
28
Bunji ketawa dan gerak-gerik terdengar dari salah satu dua deresi jang digandeng; kesitulah pengawal membawa Yury setelah menjebut kode kepada pendjaga, tapi bunji tadi berhenti, ketika dua orang itu masuk.
Pengawal itu mengantar Yury lewat gang sempit kekompartimen jang lebar ditengah-tengah. Ruangan ini bersih dan njaman, tempat kerdja orang-orang jang berpakaian bagus dilingkungan sepi semata-mata. Apa jang telah dibajangkan Yury tentang latar-belakang Strelnikov, ahli militer tak berpolitik jang kenamaan, jang mendjadi buah kebangsaan dan ditakuti orang didaerah itu, adalah berlainan.
Tapi pastilah pusat kegiatannja jang sebenarnja ada ditempat lain, lebih dekat pada markas-besar staf dan pada tempat operasi tentara. Jang disini tentunja para pengiring pribadinja, kantor pribadi serta tempatnja untuk tidur sadja.
Itu sebabnja kesunjian ini jang lebih mirip kepada kesepian ditempat pemandangan orang sakit dengan lantai berlapis gabus dan para pelajan bersandal empuk.
Kantor itu adalah bekas wagon restorasi, dengan permadani dan beberapa lesenar didalamnja.
„Sebentar”, kata seorang perwira muda didepan lesenar dekat pintu. Dengan anggukan kepala jang tak atjuh ia menjuruh pergi pengawal tadi jang meninggalkan ruangan dengan bedil berderak-derak diatas ladjuran logam jang dipaku melintang dilantai gang. Sesudah itu tiap orang merasa berhak melupakan Yury dan tak perlu memperhatikannja lebih landjut.
Dari tempat ia berdiri didepan pintu, Yury dapat melihat surat-suratnja terletak disebuah lesenar diudjung terdjauh dalam kamar. Lesenar ini digunakan orang jang lebih tua dari lain-lainnja dan mirip pada seorang kolonel jang kolot. Ia sedjenis ahli statistik tentara. Dengan kumat-kamit ia mentjari-tjari keterangan dalam buku-buku, mempeladjari peta-peta, mengontrol, membandingkan, menggunting dan melekatkan sesuatu. Setelah memandangi setiap djendela, iapun memberitahukan: „Hawa djadi panas”, seolah kesimpulan ini dipaksakan padanja, baru sesudah diperiksanja semua djendela tadi.
Seorang ahli listrik tentara sedang merangkak-rangkak dilantai untuk membetulkan hubungan listrik jang putus. Ketika ia sampai kelesenar dekat pintu, perwira muda tadi bangkit untuk meluangkan tempat baginja. Didepan medja sebelahnja seorang pengetik wanita dengan badju tentara dari kulit sedang bergumul dengan mesin-tulisnja; wagennja telah tergelintjir dan matjet. Perwira muda tadi berdiri disampingnja dan memeriksa sumber kerusakan dari atas, sedangkan siahli listrik merangkak kebawah medja serta memeriksanja dari bawah. Kolonel bergaja kolot itupun bangkit dan ikut-serta, maka sibuklah keempat-empatnja dengan mesin ketik itu.
Hal ini membuat Yury merasa lebih senang. Orang-orang ini tentunja lebih mengetahui nasibnja dari pada dia sendiri; susah difahamkan bahwa mereka akan berbuat tak atjuh begitu dan sibuk dengan jang remeh-temeh, dihadirat orang jang mereka anggap tak dapat tertolong lagi.
„Tapi siapa tahu?” pikirnja. „Mengapa mereka tak atjuh benar? Bedil meletup dan orang gugur, namun mereka ini tenang-tenang meramalkan suhu — bukan panasnja pertempuran, melainkan panasnja hawa. Barangkali mereka sudah terlalu banjak melihat, sampai tak punja perasaan lagi”.
Agar ada jang dilihatnja, iapun memandang nanap melintasi kamar lewat djendela diseberangnja.
29
Ia dapat melihat tepi djalan kereta-api dan lebih tinggi dibukit setasiun serta lingkungan kota Razvilye.
Tiga kelompok tangga kaju tak bertjat mendjurus dari peron kegedung setasiun.
Diudjung rel ada tempat pembuangan mesin tua. Lokomotif tanpa tender, dengan tjerobong asap jang bentuknja seperti leher sepatu but atau tjangkir, berdiri bersaf-saf ditengah sampah bertimbun-timbun.
Kuburan mesin dibawah dan kuburan manusia diatas, besi rel jang bengkok dan besi berkarat dari atap-atap dan tanda-gambar dikota-kota dilingkungan kota, itu merupakan lukisan tunggal tentang kebobrokan serta ketuaan, dibawah langit putih jang dibakar hawa panas dinihari.
Sebagai penduduk Moscow Yury sudah lupa betapa banjak tanda-gambar toko jang masih ada dikota-kota lain betapa banjak gambar-gambar itu menutupi wadjah rumah-rumah. Antara jang dilihatnja sekarang ada jang besar sekali, hingga mudah dibatjanja dari tempat ia berdiri; gambar-gambar ini merosot amat rendah atas djendela-djendela jang miring dirumah-rumah bertingkat satu, sampai rumah-rumah ketjil jang tak lurus ini hampir tersembunji, seperti muka anak-anak dusun dibawah pitji runtjing kepunjaan ajah mereka.
Kabut lenjap dari Barat; apa jang tinggal dari padanja kini di Timur bergerak-gerak dan terkuak bagai kelir panggung.
Dan dibukit sebelah atas Razvilye, satu-dua mil dari padanja ada kota besar, sebesar ibukota propinsi. Matahari menjepuh warna-warnanja dan djarak djauh itu menjederhanakan garis-garisnja. Kota itu bergajutan pada puntjak bukit berleret-leret, rumah demi rumah, lebuh demi lebuh, dengan geredja besar ditengahnja diatas puntjak, serupa dengan gambar berwarna jang menundjukkan biara sunji di Gunung Athos.
„Yuryatin”, pikir Yury dengan gairahnja. „Kota jang sering disebut oleh Anna dan Antipova sidjururawat. Adjaiblah bahwa harus kulihat dia dalam keadaan begini?”
Saat itu perhatian para militer dialihkan dari mesin-ketik kesesuatu jang mereka lihat dari salah sebuah djendela lainnja, maka Yurypun menengok keliling.
Sekelompok tawanan jang dikawal sedang naik tangga setasiun. Antara mereka ada seorang pemuda dengan pakaian seragam sekolah jang kepalanja luka-luka. Ia telah menerima pertolongan pertama, tapi tetesan darah merembas dari bebatnja jang selalu ditjorengi oleh tangannja atas muka suramnja jang berkeringat. Diapit oleh dua orang Tentara Merah diekor pawai, ia menarik perhatian tak hanja oleh sikap tegasnja, muka tampan serta keadaan mengharukan dari pemberontak semuda itu, tapi djuga oleh keanehan gerak-geriknja serta gerak-gerik kedua pengiringnja. Perbuatan mereka sama sekali berlainan dari apa jang diharapkan orang.
Sipemuda masih memakai petji sekolahnja. Petji ini senantiasa gelintjir dari kepalanja jang terbebat itu, tapi ia tak mentjopotnja serta membawanja dengan tangan; tiap kali ia menjodoknja kembali hingga mengatjaukan perban dan lukanja, sedang kedua pengawal dengan tjekatan pula membantunja.
Ada suatu perlambangan dalam perbuatan jang tak masuk akal ini jang bertentangan dengan otak sehat, maka terpengaruh oleh pentingnja, inginlah Yury lari keluar untuk menegur anak itu dengan kata-kata jang mendidih dalam batinnja. Ingin ia menjerukan padanja dan pada orang-orang dalam deresi bahwa kemubarakan tertjapai bukannja dengan ketaatan pada bentuk serta pakaian seragam, melainkan dengan membuang semua itu.
Ia berpaling; Strelnikov masuk dengan langkah pandjang-tegap, lalu berdiri ditengah kamar.
Bagaimana mungkin bahwa dia, seorang dokter dengan berribu-ribu kenalannja, sampai hari ini tak mendjumpai kepribadian jang terumus sebaik itu seperti jang ada pada orang ini?
Apa sebab mereka tak pernah berpapasan dan djalan mereka tak bersilangan?
Entah apa sebabnja mengapa sekaligus nampak orang ini adalah hasil penjelesaian sang hasrat. Ia adalah diri sendiri jang utama, kedirian jang dipilihnja sendiri, maka segala sesuatu dari padanja segera berkesan sebagai tjontoh jang chas — kepalanja jang berproporsi tepat dan bagus letaknja, langkahnja jang bersemangat kaki pandjangnja, sepatu butnja jang mungkin telah kena lumpur, namun nampak bersih, dan badju wolnja jang kelabu jang mungkin kumal, namun nampak seperti dibikin dari lenan terbaik dan baru disetrika.
Begitulah akibat jang tak terhindari, berkat kegemilangannja, ketjekatannja jang tak dibuat-buat serta pandainja menjesuaikan diri dengan tiap keadaan jang dapat dibajangkan didunia.
Pikir Yury, ia tentunja mempunjai bakat luar biasa, tapi tak mesti bakat keaslian. Bakatnja jang terpantjar dari tiap gerak-geriknja itu, mungkin djuga bakat tiruan.
Dewan itu tiap membina diri atas orang lain — meniru para pahlawan dari sedjarah ataupun mereka jang mempengaruhi daja-chajal orang dengan mendapat nama dimedan-perang dan dalam pertempuran dikota, ataupun jang bergengsi besar atas chalajak, atau salah seorang kawan jang mentjapai kehormatan, atau djuga tiru-meniru belaka antara kawan-kawan.
Dengan sopannja Strelnikov menjembunjikan rasa heran atau terganggu jang mungkin ada karena kehadiran Yury. Ia menegur stafnja dengan memperlakukan dia seperti salah seorang mereka.
Udjarnja: „Selamatlah. Sudah kita usir mereka. Semuanja lebih seperti main-main dari pada perang sungguhan, sebab merekapun Rusia seperti kita, dibekali omong-kosong belaka — mereka tak mau melepaskannja, djadi harus kita pukul habis. Komandan mereka itu temanku. Asalnja malah lebih proletar dari asalku. Kami dibesarkan dirumah jang sama. Ia telah berbuat banjak sekali untukku selama hidupku dan aku tak sedikit berhutang budi padanja. Dan kini aku gembira sebab kita pukul mundur mereka keseberang sungai, bahkan lebih djauh lagi barangkali. — Lekas selesaikan hubungan listrik itu, Guryan, kita perlukan telepon; pesuruh dan telegram sadja tak mungkin tjukup. — Alangkah panasnja! Tapi bisa djuga tadi aku tidur satu djam. O ja! —”. Ia berpaling ke Yury, ingat bahwa ia dibangunkan untuk mengurus hal jang tak masuk akal berhubung dengan orang ini.
„Orang ini?” pikir Strelnikov, sambil menatapnja dengan tadjam. „Omong kosong! Sama sekali tak mirip. Bodoh!” Ia ketawa dan berkata pada Yury: „Maaf, kawan. Kamu disangka orang lain. Pengawal saja chilaf. Kamu boleh pergi. — Mana buku-kerdja kawan itu? — O, ini surat-surat keterangan tuan. Boleh kulihat sebentar — Zhivago — Zhivago — Dokter Zhivago — Moscow — Tak soal; kita pergi kekamar saja sebentar? Ini sekertariat, tempatku dideresi sebelah. Lewat sini, tak akan lama”.
30
Siapakah sebenarnja Strelnikov?
Bahwa ia mentjapai dan tetap memiliki kedudukannja adalah luar-biasa, sebab ia orang tak berpartai dan walaupun lahir di Moscow, namun sama sekali tak dikenal: dari universitas ia langsung bekerdja sebagai guru dipropinsi-propinsi dan selama perang ia ditangkap dan dikabarkan hilang, diduga terbunuh. Baru sadja ia kembali dari pendjara Djerman. Ia dikemukakan dan ditanggung oleh Tiverzin, seorang buruh kereta-api dengan pandangan politik jang madju, jang ditengah keluarganja ia hidup waktu anak-anak. Orang-orang jang menentukan pengangkatan mendapat kesan baik dari padanja: dalam masa retorik berlebih-lebihan serta extremme politik itu nafsu revolusionernja jang tak terkekang dengan semangat zaman, menondjol pula oleh ketaatan dan kefanatikannja jang bukannja didapat setjara memindjam atau kebetulan, melainkan asli, sengadja dipupuknja dan berkembang oleh keadaan penghidupannja.
Ia buktikan betapa tepat kepertjajaan para penguasa itu.
Antara pertempuran-pertempurannja jang ternjata adalah pembakaran Kelmes Hilir (tempat kereta-api Yury tertahan oleh saldju), pembasmian pemberontakan kaum tani dari Gubassovo jang menjusun perlawanan bersendjata terhadap padjak makanan dan anak-buah resimen ke-14 jang merampok konvoi makanan. Iapun membereskan soal pradjurit-pradjurit „Razin”6 6Stenka Razin adalah pemimpin pemberontakan rakjat dalam abad ke-17. jang mulai pemberontakan dikota Turkatuy dan menjeberang ke Kaum Putih, serta soal pemberontakan di Chirkin Us, tempat terbunuhnja seorang komandan jang setia.
Tiap kali ia menimbulkan ketakdjuban besar dan mengadakan penjelidikan, pengadilan serta hukuman, pun memperkuat hukumannja dengan bekerdja tjepat, tegang dan tegas.
Ia telah mengekang penjakit desersi setempat dan menjusun kembali badan-badan pendaftaran pradjurit. Alhasil, wadjib-dinas mentjapai kemadjuan dan pusat-pusat penerimaan Tentara Merah bukan main sibuknja.
Achirnja ketika tekanan Tentara Putih Utara meningkat, hingga keadaan diakui genting, pada Strelnikovlah dipertjajakan kewadjiban-kewadjiban baru, militer, strategis dan operasionil. Kegiatannja segera membuahkan hasil-hasilnja.
Strelnikov („Penembak”) maklum bahwa kabarnja ia didjuluki Razstrelnikov, „Penghukum”. Ia menerimanja dengan tenang, ia tak terganggu oleh apapun djuga.
Ajahnja seorang pekerdja jang dimasukkan pendjara karena ikut revolusi tahun 1905. Ia sendiri tak turut dalam gerakan revolusioner waktu itu, pertama karena ia terlalu muda dan kemudian diuniversitas karena anak-anak muda jang berasal dari kaum miskin lebih menghargai pendidikan tinggi dan bekerdja lebih keras dari pada anak-anak kaum kaja. Pergolakan antara mahasiswa lainnja tiada menggerakkan hatinja. Ia menghimpun pengetahuan jang bukan main banjaknja dan sesudah mentjapai doktorat dalam kesenian, iapun kemudian beladjar sendiri tentang ilmu dan ilmu-hitung.
Bebas dari dinas tentara, ia mendaftarkan diri dengan sukarela, mendapat surat-perintah, dikirim kemedan-perang, ditawan dan ketika mendengar tentang revolusi di Rusia iapun melarikan diri dalam tahun 1917 dan pulang. Ia mempunjai ketjakapan istimewa untuk berpikir djelas dan logis, djuga memiliki kemurnian achlak jang agung serta rasa keadilan; iapun bergairah dan patut dihormati.
Tapi untuk tugas ahli ilmu jang membuka tanah baru, akalnja tak akan mampu membawa intuisi bagi jang tak dapat diperhitungkan: kesanggupan untuk penemuan-penemuan tak terduga jang menghantjurkan keselarasan tandus dari firasat hampa.
Dan agar berdjasa bagi orang lain, disamping prinsip-prinsip jang memenuhi pikirannja ia butuhkan hati jang tak berprinsip — sedjenis hati jang tak mengenal hal-hal jang umum, melainkan hanja jang chusus, hati jang punja kebesaran amal-perbuatan serba ketjil.
Penuh dengan hasrat-hasrat tinggi sedjak masa-ketjilnja, ia telah memandang dunia sebagai tempat pertarungan jang leluasa, dimana tiap orang berlomba mentjapai kesempurnaan, sambil menaati peraturan-peraturan dengan saksama. Ketika dialaminja bahwa gambaran ini tak benar, ia tak sadar bahwa konsepsinja tentang tata-tertib dunia mungkin terlalu bersahadja. Ia memupuk segala kesedihannja beserta hasratnja untuk mengadili antara penghidupan dan tenaga-tenaga gelap jang merusaknja serta mendjadi pahlawan penghidupan dan penjelamatnja.
Pahit oleh ketjewanja, ia dipersendjatai oleh revolusi.
31
„Zhivago”, ulang Strelnikov, waktu mereka duduk dikamarnja.
„Zhivago…Pedagang agaknya. Atau bangsawan…O, bukan, dokter dari Moscow…Bepergian ke Varykino. — Aneh, mengapa kamu tinggalkan Moscow untuk dusun terpentjil ini?”
„Demikianlah maksudnja. Mentjari jang tenang, terpentjil dan tak dikenal, untuk mengaso”.
„Wah, romantis benar! Varykino! Saja kenal kebanjakan dusun disini. Itu dulu tanah-milik Krueger. Kamu barangkali kerabatnja? Boleh djadi ahliwarisnja?”
„Mengapa seironis itu? Soal „ahliwaris” tak ada sangkut-pautnja. Meskipun benar istri saja…”
„Nah, begitu djadinja! Tapi djika tuan rindu pada Kaum Putih, saja terpaksa mengetjewakan tuan. Daerah ini sudah kami bersihkan”.
„Tuan masih memperolok saja?”
„Apa lagi seorang dokter. Dokter tentara. Dan kita berperang. Itu urusan saja memang. Tuan desertir. Kaum Hidjau7 7Istilah untuk menundjukkan anarchis-anarchis terutama kaum petani jang melawan Tentara Merah maupun Tentara Putih. djuga tjari lindungan dihutan-hutan. — Apa alasan tuan?”
„Saja dua kali luka dan tjatjat, hingga keluar dari tentara”.
„Sebentar lagi tuan berikan pada saja referensi dari Komisariat Rakjat bagian Pendidikan atau Kesehatan, untuk membuktikan bahwa tuan warga Sovjet atau „simpatisan” atau „lojal sekali”. Ini zaman apokaliptis, tuan tersajang, ini Pengadilan Terachir. Ini zaman malaikat-malaikat dengan pedang menjala serta hewan-hewan bersajap dari djurang, bukannja zaman simpatisan atau dokter jang lojal. Tapi sudah saja katakan tuan bebas, tak saja tarik kembali utjapan saja, tapi ingatlah, hanja untuk kali inilah. Saja rasa kita akan berdjumpa lagi, maka pertjakapan kita akan lain sekali. Tjamkan”.
Yury tidak hilang akal oleh antjaman atau gertakan tadi. Udjarnja:
„Saja tahu pikiran tuan tentang saja. Dari segi tuan, tuan benar. Tapi soal jang tuan ingin perbintjangkan dengan saja adalah soal jang telah saja perdebatkan seumur hidup dengan pendakwa jang saja chajalkan, djadi anehlah kalau sampai sekarang saja belum punja kesimpulan. Sajanglah tak dapat saja terakan dalam beberapa kata sadja. Djadi djika saja betul-betul bebas, izinkan saja pergi, tanpa menjelesaikan hal ini dengan tuan. Kalau belum bebas, putuskanlah apa hendak diperbuat dengan saja. Saja tak berdalih pada tuan”.
Mereka diganggu oleh telepon. Kawatnja telah diperbaiki. Strelnikov mengangkat alat penerimaan.
„Terima-kasih, Guryan. Sekarang kirimlah orang kesini dengan baik-baik untuk mengantar kawan Zhivago kekereta-apinja. Aku tak ingin ada kekeliruan lagi. Dan hubungkan aku dengan Bagian Pengangkutan Razvilye Cheka”.
Seperginja Zhivago, Strelnikov menelepon setasiun kereta-api.
„Ada ditangkap seorang anak-sekolah jang menarik-narik petjinja keatas telinga, kepalanja terbebat; itu memalukan. — Betul. — Ia mesti dirawat, djika perlu. — Tentu. — Ja, kau bertanggung-djawab padaku pribadi, seolah dia bidji-matamu. — Beri djuga ransuman, djika perlu. Betul. Nah, sekarang urusan kita…Aku masih bitjara, djangan putuskan. Djahanam, ada orang lain jang bitjara. Guryan! Guryan! Hubunganku putus!”
Buat sementara ia tak mentjoba lagi menjambung pertjakapannja. „Mungkin dia salah seorang muridku dari sekolah landjutan” pikirnja. „Setelah besar kini ia memusuhi kita”. Dihitungnja tahun-tahun sedjak ia berhenti mengadjar, untuk mengetahui apakah benar-benar mungkin anak itu dulu muridnja. Kemudian ia melihat dari djendela kearah kaki-langit, mentjari bagian dari Yuryatin, tempat ia tinggal dulu bersama istrinja. Kalau-kalau istri dan anaknja perempuan masih disana? Dapatkah ia mendjumpai mereka? Mengapa tidak sekarang, saat ini djuga? Ja, tapi bagaimana mungkin? Kehidupan mereka sudah berlainan. Mesti didjalaninja dulu penghidupannja jang sekarang, jang baru ini, kemudian ia dapat kembali kepenghidupan jang terhenti. Suatu waktu ia akan berbuat begitu. Tapi kapan, kapan?
1
Kereta-api jang membawa keluarga Zhivago masih berdiri disepur-tjabang, dihalangi kereta-kereta-api lain, tapi pagi itu pertama kali mereka merasa bahwa hubungan mereka dengan Moscow telah putus dan berachir.
Mula sekarang mereka ada didaerah lain, dalam lingkungan propinsi baru jang lain jang ada pusat permasalahannja sendiri. Nampak segera bahwa disini orang hidup lebih dekat-mendekati dari pada di Moscow. Meskipun lingkungan setasiun dikepung dan resminja ditutup bagi orang sipil, tapi dengan tjara jang tak dapat dibajangkan, para penumpang kereta-kereta-api setempat telah berhasil „menjelundup” (menurut istilah sekarang). Mereka memenuhi deresi-deresi, berdjedjalan dalam gang-gang atau djalan-djalan dan berdiri disekitarnja.
Semua tanpa ketjuali telah saling mengenal; bila jang satu melihat jang lain, mereka melambai atau berseru-seru dan bertukaran salam djika berpapasan. Tjara bitjara dan berpakaian, makanan dan tingkah-laku mereka sedikit lain dari jang ada pada penduduk ibu-ibu-kota.
„Apakah mata-pentjaharian mereka?” pikir Yury. Apa perhatian serta sumber kebendaan mereka, bagaimana mereka sanggup menghadapi segala kesulitan zaman dan menghadapi undang-undang?
Tak lama kemudian diperolehnja djawaban.
2
Diiringi pengawal jang menjeret bedilnja dibelakang atau menggunakannja bagai tongkat, Yury balik kederesinja.
Hari panas bagai penuh uap. Rel dan atap deresi nampak seolah meleleh. Bumi jang hitam bagai minjak, berpendaran kuning seperti sepuhan emas.
Bedil pengawal menggubah alur-alur dalam debu dan sekali tempo berdentingan bila terantuk pada bantalan rel.
„Iklim telah menetap”, udjarnja, „sudah waktunja menabur gandum untuk musim-semi — padi-padian — masa keemasan bagi panen. Meskipun terlalu pagi untuk bukwait. Ditempat asal saja orang menabur bukwait pada perajaan Akulina. Saja bukan orang dari daerah ini, asal saja dari Morzhansk, dekat Tambov. Hai, kawan, dokter, andaikan tak ada perang-saudara dan gangguan dari kontra-revolusi ini, adakah tuan berpendapat bahwa saja boroskan waktu saja didaerah asing dalam musim ini? Perang-kelas menjelonong antara kita matjam kutjing hitam1 1Menurut tachjul di Rusia, seekor kutjing hitam jang lari diantara dua orang, berarti bahwa mereka akan bertjektjok. , tengoklah apa akibatnja bagi kita”.
3
Orang mengulurkan tangan dari kereta untuk membantu mereka naik.
„Trima-kasih, saja tak usah ditolong”.
Yury memandjat, lalu memeluk istrinja.
„Sukur-alhamdulillah bahwa begini achirnja”, kata istrinja berulang kali. „Sebenarnja kami sudah tahu bahwa engkau selamat”.
„Kau tahu aku selamat? Apa maksudmu?”
„Para pengawal datang dan mentjeritakan apa jang terdjadi. Kalau tidak, bagaimana kami betah menanggung ketegangan urat-saraf? Begini sadjapun ajah dan aku njaris kehilangan akal. Itu dia, tidur njenjak, tak dapat kaubangunkan. Sehabis ketegangan itu ia tertidur bagaikan balok. Ada beberapa penumpang baru. Kuperkenalkan kau sebentar lagi. Tapi dengarkan dulu apa jang dipertjakapkan tiap orang — semua mengutjapkan selamat padamu, bahwa kau beruntung dapat lolos — Ini dia”. Tiba-tiba ia berpaling dan sambil menoleh ia perkenalkan suaminja kepada salah seorang penumpang baru jang karena dihalangi orang banjak, berdiri dideresi sebelah belakang.
„Samdevyatov”, demikian orang itu memperkenalkan diri; ia mengangkat topinja jang halus keatas kepala orang banjak dan membuka djalannja kedepan melewati desakan sosok-sosok tubuh mereka.
„Samdevyatov”, pikir Yury. „Dengan nama sematjam itu ia seperti tokoh dari sebuah balada kuno Rusia, lengkap dengan djenggot rumbai, kemedja dan ikat-pinggang berkantjing. Tapi orang ini dari Perkumpulan Seni setempat. Rambut keriting beruban, kumis, djenggot ketjil …”.
„Nah, apakah Strelnikov menakutkan kamu?” udjar Samdevyatov. „Terus-teranglah”.
„Tidak. Mengapa takut? Pertjakapan kami menarik hati. Dia memang kuat kepribadiannja”.
„Saja kira begitu djuga. Dapat saja bajangkan bagaimana dia. Asalnja tidak dari sini. Ia dari Moscow, orang kamu. Begitu pula kebanjakan pembaharuan kita, semua dibawa dari ibu-kota. Kami sendiri tak akan menggagas segala pembaharuan itu”.
„Yury sajang, Anfim Yefimovich kenal tiap orang”, udjar Tonya. „Ia dengar tentang kau dan tentang ajahmu, pun dikenalnja kakekku — ia kenal siapapun! — Saja pikir, tuan tentu ketemu dengan Antipova, guru itu?” selonongnja sambil lalu, maka mendjawablah Samdevyatov dengan ungkapan rasa jang sekelumit djuga: „Apa halnja tentang Antipova?” Yury tak mendjahut apa jang didengarnja itu dan Tonyapun menjambung: „Anfim Yefimovich ini seorang bolsjewik, djadi hati-hatilah, sajang, kau harus berkelakuan sebaik-baiknja”.
„Betul?” udjar Yury. „Tak kusangka. Saja kira tuan sematjam seniman”.
„Ajah saja menjewakan kereta. Tudjuh troikanja jang berdjalan. Tapi saja masuk Universitas dan memanglah saja seorang Marxist”.
„Dengarkan apa jang ditjeritakan Anfim Yefimovich padaku, Yura — wah, Anfim Yefimovich, kalau boleh saja katakan, nama dan nama-keluarga tuan sungguhlah dapat melipat lidah orang! — Dengarkan, sajang, apa jang dia tjeritakan padaku — kita bersukur sekali. — Setasiun besar Yuryatin tak dapat menerima kereta-api ini — sebagian kotanja terbakar, pun djembatan sudah diledakkan, kita tak bisa lewat. Djadi kereta-api ini akan dibelokkan kepada lin lain dan lin ini kebetulan jang kita perlukan, jaitu jang menudju kesetasiun kita, Torfyanaya. Hebat, kan? — Kita tak usah pindah dan menjeret barang-barang kita dari setasiun kesetasiun, kita tinggal sadja dikereta. Tapi, kata Anfim Yefimovich, kita akan berdjam-djam dilangsir hilir-mudik, sebelum betul-betul berangkat”.
4
Tonya benar. Deresi-deresi disambung dan dilepas, kereta-api dipindah tak henti-henti dari satu sepur jang terhalang kesepur lain, dimana ada kereta-kereta-api lainnja jang merintangi djalannja ketanah terbuka.
Kota jang djauh itu sebagian tersembunji oleh tanah berkelok-kelok. Hanja sekali-kali atap rumah, tjerobong pabrik serta salib dimenara lontjeng nampak dikaki-langit. Salah satu daerah pinggirannja terbakar. Asap mengalun melintasi langit kelihatan seperti surai kuda jang berkibar diembus angin.
Yury dan Samdevyatov, duduk dilantai deresi dengan kaki bergantung ditepinja. Samdevyatov terus menuding djauh, sambil menerangkan kepada Yury apa jang terlihat. Tiap kali kereta-api lari kentjang hingga mengaburkan suaranja, maka dengan miring kesamping ia dekatkan mulutnja kekuping Yury dan mengulangi apa jang sudah diutjapkannja, sampai suaranja serak.
„Itulah bioskop „Raksasa” jang terbakar. Kadet-kadet mempertahankannja, sekalipun sebelum itu mereka menjerah. Umumnja pertempuran sama sekali belum habis. Kamu lihat bintik-bintik hitam dimenara-lontjeng itu? Itulah orang-orang kita, sedang menembaki orang Tjeko2 2Legiun Tjeko-Slowakia ikut-serta dalam peristiwa-peristiwa di Rusia Timur dan Siberia tahun 1918-1920. ”.
„Tak saja lihat apa-apa. Bagaimana dapat kamu lihat sedjauh itu?”
„Jang terbakar disana itu rumah kaum pekerdja-tangan, Khokhriki, Kholodeyevo, daerah toko-toko, lebih djauh lagi. Saja berkepentingan djuga, sebab penginapan kami disitu. Untunglah kebakaran hanja dipinggiran kota dan agaknja tak akan meluas sampai kepusat”.
„Apa kata tuan?”
„Saja bilang, pusat sampai sekarang tak apa-apa, pusat kota — geredja, perpustakaan …Nama kami Samdevyatov adalah San Donato jang di-Rusiakan. Menurut dugaan, kami berasal dari keluarga Demidov3 3Seorang Demidov membuka tambang-tambang pertama didaerah Ural dengan seizin Peter Agung. Dalam abad ke-19 keturunannja menerima gelar Pangeran San Donato dari Vatikan. ”.
„Masih tak dapat saja dengar”.
„Saja bilang, Samdevyatov berasal dari San Donato. Konon kami ini tjabang keluarga Demidov, Pangeran Demidov San Donato. Tapi itu barangkali tjuma dongeng. Tempat ini disebut Lembah Spirka. Penuh vila dan tempat-tempat jang dikundjungi orang untuk berfoja-foja. Lutju nama itu, bukan?”
Didepan mereka terbentang sebuah lembah, sepur-sepur-tjabang simpang-siur disitu. Tiang-tiang telepon berbaris kekaki-langit seperti raksasa-raksasa pakai sepatu tudjuh mil dan djalan raja seperti pita lebar jang berbelok-belok menjaingi keindahan djalan kereta-api. Djalan ini menghilang diatas horizon, muntjul kembali dalam lengkung besar pada pengkolan, lalu lenjap lagi.
„Itu djalan-raja kita jang mashur. Dia lewat Siberia dari seberang keseberang. Kaum tahanan biasa menjanjikan lagu-lagu tentangnja. Kini ia basis operasi bagi para partisan …Kamu akan menjukainja, ia sama sekali tak buruk. Kamu akan biasa dengannja, akan kamu rindukan dia, bila pergi …Dikota ada serba-serbi jang aneh-aneh. Misalnja pompa-air. Perempuan antri-air disimpangan djalan, itulah tempat berhimpun mereka dilangit terbuka sepandjang musim-dingin”.
„Kami tak akan tinggal dikota. Kami pergi ke Varykino”.
„Saja tahu. Istri tuan mentjeritakan itu. Tapi kamu akan kekota djuga untuk sesuatu keperluan. Pada saat saja lihat istri kamu, saja terka siapa dia. Ia gambaran hidup dari Krueger tua — mata, hidung, kening — serupa benar dengan kakeknja. Tiap orang disini ingat siapa Krueger”.
Dimana-mana ada teng minjak merah dikaki-langit serta iklan besar dipapan-papan reklame kaju. Satu diantaranja menjemat pandangan Yury; iklan itu diulangi dua kali dan berbunji: Moreau & Vetchnikin. Alat penabur benih. Mesin tebah.
„Itu firma jang baik. Alat-alat pertaniannja kelas-satu”.
„Tak dengar. Apa kata tuan?”
„Saja katakan, firma itu baik. Tak dengar? — firma baik. Mereka bikin alat-alat pertanian. Perseroan terbatas. Ajah saja dulu pemegang saham”.
„Saja sangka, menurut tuan dia menjewakan kereta”.
„Memang. Itu bukan halangan untuk mempunjai saham. Sangat pandai pula ia menanam modal. Ia punja modal dibioskop „Raksasa””.
„Tuan agaknya bangga?”
„Atas kepandaian ajah? Tentu”.
„Tapi Marxisme tuan bagaimana?”
„Ja Tuhan, apa hubungannja? Mentang-mentang Marxis, haruskah orang mendjadi tolol? Marxisme itu ilmu positif. Doktrinnja adalah adjaran tentang realitet, falsafahnja mengenai sedjarah”.
„Ilmukah Marxisme itu? Wah, sedikit-dikitnja mengandung resiko djuga untuk berbantahan dengan orang jang hampir tak dikenal, tapi tak apalah …Marxisme tak tjukup menguasai diri untuk mendjadi ilmu. Ilmu lebih berimbang. Tuan bitjara tentang Marxisme dan objektivitet. Tak saja kenal adjaran lain jang lebih berpusat-diri dan lebih djauh dari fakta-fakta dari pada Marxisme. Umumnja orang hendak mengudji teorinja dengan praktek, agar beladjar dari pengalaman, tapi mereka jang berkuasa sangatlah ingin hendak memitoskan kesempurnaan mereka, hingga mereka membelakangi kebenaran sedjauh-djauhnja. Politik tak berarti bagi saja. Tak saja sukai orang jang tak menghiraukan kebenaran”.
Samdevyatov menganggap utjapan Yury sebagai sikap gegabah seorang jang exentrik dan iapun mendengar dengan senjum.
Kereta-api masih dilangsir. Tiap kali ia sampai kesinjal: „Berangkat”, seorang perempuan dengan kaleng-susu terikat pada ikat-pinggangnja jang bertugas ditempat itu, menjingkirkan radjutannja, lalu membungkuk menarik pengumpil, maka dibuatnja kereta-api balik kembali. Ketika kereta-api pelan-pelan mendjauh, ia duduk lurus dan mengatjungkan kepalan padanja.
Samdevyatov mengamati perempuan ini: „Mengapa ia berbuat begitu?” pikirnja heran. „Mukanja tak asing. Mungkinkah itu Glasha Tuntseva? Bukan, kukira mustahil dia Glasha. Nampaknja terlalu tua. Tapi apa sebab ia membentji aku? Kukira karena Ibu Rusia sedang menderita kemelut dan kereta-api katjau, maka situa ini lagi kesulitan, djadi dia pikir akulah biang-keladinja dan diatjungkan kepalan padaku. Ah, persetan! — Seolah tak ada lagi jang kupikirkan”.
Achirnja perempuan tua itu melambaikan benderanja, berseru-seru kepada masinis dan membiarkan kereta-api melewati sinjal-sinjal, masuk ketanah terbuka, tapi ketika deresi keempatbelas lewat didepannja, dia djulurkan lidahnja terhadap dua pembual jang duduk dilantai itu; ia mual melihat mereka. Samdevyatov sekali lagi tertjenung-tjenung.
5
Tatkala wilajah pinggiran dari kota terbakar itu dengan segala teng minjak bundar, tiang telepun dan papan reklame telah lenjap dikedjauhan, diganti oleh tamasja berhutan serta berbukit rendah, sedangkan disana-sini nampak sekelebatan djalan raja, berkatalah Samdevyatov:
„Mari balik ketempat-duduk. Saja harus turun dan setasiun tuan nomor dua dari sini. Ingat, djangan chilaf”.
„Rupanja kamu kenal benar daerah ini?”
„Tak ubahnja dengan pekarangan sendiri. Sampai kira-kira djarak seratus mil. Saja pengatjara. Duapuluh tahun praktek. Saja selalu bepergian untuk bekerdja”.
„Sekarangpun begitu?”
„Tentu”.
„Tapi sekarang ini matjam apakah pekerdjaan tuan?”
„Apa sadja. Transaksi lama jang belum selesai, operasi dagang, pelanggaran kontrak. Pekerdjaan bertumpuk-tumpuk, saja tenggelam didalamnja, tjukup untuk mendirikan bulu-roma”.
„Tapi bukankah semua itu sudah dianulir?”
„Memang, nominalnja. Tapi dalam praktek ada segala matjam masalah jang bertentangan. Disatu segi ada nasionalisasi, disegi lainnja soal bahan-bakar untuk Sovjet dikota-kota serta pengangkutannja untuk Dewan Ekonomi Daerah. Dan tiap orang ingin hidup. Inilah kedjanggalan-kedjanggalan dalam taraf peralihan, djika masih ada lobang antara teori dan praktek. Dalam zaman seperti inilah dibutuhkan orang-orang jang pandai dan punja sumber banjak seperti saja. Bahagialah orang jang tak melihat terlalu banjak. Dan sekali tempo berguna djuga menjumbat hidung, demikian kata ajah. Mata-pentjaharian separoh daerah ini tergantung pada saja. Tak lama lagi saja akan singgah di Varykino untuk tjari kaju. Tapi belum lagi. Orang tak bisa sampai kesana, kalau tidak naik kuda, sedang kuda saja lumpuh. Dan kalau saja terbanting-banting diatas besi tua ini, tuan tak akan ketemu saja. Tengoklah tjaranja merajap! Betapa kasar. Kereta-api namanja! Mungkin saja berguna bagi tuan di Varykino. Saja kenal betul keluarga Mikultisin itu”.
„Tuan tahu mengapa kami kesana dan apa maksud kami?”
„Sedikit-banjaknja. Dapat saja bajangkan. — Kembali ketanah, panggilan kekal ibu pertiwi. Impian tentang hidup dengan memeras keringat”.
„Apa salahnja? Tuan agaknja tak setudju”.
„Naif dan idylis, tapi tak djadi apa. — Selamatlah. Tapi saja tak jakin. Itulah Utopia. Dibikin-bikin sadja”.
„Menurut pendapat tuan, bagaimana nanti Mikultisin menerima kami?”
„Dia tak akan membiarkan tuan lewat pintu, mengusir tuan dengan gagang sapu dan tindakannja itu benar! Keadaannja sudah mengchawatirkan. Pabrik kosong, pekerdja lari, tak ada mata-pentjaharian dan makanan dan kamu lagi muntjul! Andaikan dia bunuh kamu, tak saja salahkan dia!”
„Tjoba! Kamu bolsjwik, tapi kamupun mengakui bahwa apa jang sedang berlaku ini bukanlah kehidupan, melainkan kegilaan, impian buruk jang tak boleh ada”.
„Tentu saja akui. Tapi tidakkah kamu lihat bahwa ini soal keharusan historis? Mesti kita tempuhlah itu”.
„Dimana letak keharusannja?”
„Kamu kanak-kanak atau hanja pura-pura? Kamu tiba dari bulan? Kaum serakah dan parasit duduk dipunggung pekerdja jang kelaparan serta mengedjarnja sampai mati, tapi kamu chajalkan semuanja bisa berlangsung begitu? Dan segala udjud lain dari perkosaan dan penindasan? Tak kamu fahamkan kebenaran amarah rakjat, keinginannja hidup dalam keadilan, penuntutannja pada kebenaran? Ataukah kamu pikir perobahan radikal mungkin melalui Duma, peraturan parlementer dan bahwa tak perlu ada kediktatoran?”
„Kita bitjarakan atas salah-faham, maka djika berbantah seratus tahunpun, kita tak bakal menatap dari mata kemata. Saja biasanja berdjiwa revolusioner, namun kini saja berpendirian bahwa dengan kekerasan tak akan tertjapai apa-apa. Orang mesti dengan amal baik dibawa kekebaikan. Tapi hal ini kita tinggalkan sadjalah. Tentang keluarga Mikultisin — kalau kita harus menghadapi apa jang tuan sebut tadi, untuk apa kami kesana? Baik pulang sadja”.
„Tak perlu begitu! Pertama, didunia ini bukanlah mereka sendiri sadja. Kedua, Mikultisin sangat baik-hati sampai keluar batas. Ia akan ribut, menolak dan bertahan diri, namun kemudian ia meleleh. Akan dia berikan kemedjanja sendiri, dia bagi-bagi rotinja pada kamu. Saja kenal dia seperti punggung tangan saja ini”.
Dan Samdevyatovpun mengisahkan tjerita Mikultisin.
6
„Mikultisin tiba disini dari Petersburg duapuluh-lima tahun jang lampau. Ia bekas mahasiswa Lembaga Teknologi. Ia mendapat kesukaran, lantas dideportasikan dan dikirim kesini dengan diawasi polisi. Ia bekerdja sebagai pemimpin pabrik Krueger dan dikawin. Waktu itu disini ada empat perempuan kakak-beradik — seorang lebih dari pada dalam drama Chekhov — dari keluarga Tuntseva; Agrippina, Avdotya, Glaphira (Glasha) dan Seraphina (Sima). Semua pemuda menghendaki mereka. Mikultisin kawin dengan jang sulung.
„Tak lama sesudah itu mereka punja anak lelaki. Karena tjinta kemerdekaan, ajahnja jang tolol itu membaptiskan dia sebagai Liberius. Liberius, disingkat Libby, tumbuh agak liar, namun dimilikinja segala bakat jang luar-biasa. Waktu perang petjah, umurnja 15 tahun. Dipalsukannja tanggal pada surat-kelahirannja, lalu pergi kefron setjara suka-rela. Ibunja jang lemah itu, entah mengapa, tak tahan menderita setiba-tiba itu. Ia terbaring dikerandjangnja dan tak bangkit lagi. Ia meninggal setahun sebelum tahun jang achir ini, dekat sebelum revolusi”.
„Pada achir peperangan Liberius pulang selaku pahlawan dengan tiga medali dan tentunja ia utusan jang sama sekali bolsjewik dari medan-perang. — Pernah kamu dengar tentang „Perhimpunan Rimba”?”
„Tidak”.
„Kalau begitu, tak ada artinja mengisahkan tjerita ini pada kamu, separoh maknanja hilang. Pun tak ada gunanja kamu memandang dari djendela kedjalan-raja. Apa jang luar-biasa pada djalan-raja itu sekarang? — Para partisan. Dan apakah partisan? — Mereka adalah tulang-punggung tentara revolusioner dalam perang-saudara, kekuatan jang timbul dari pertemuan dua faktor: dari satu segi organisasi politik jang merebut pimpinan revolusi dan dari segi lainnja kaum bawahan dari tentara jang tak mau turut perintah penguasa jang lama lagi, ketika kalah perang. Dari dua anasir ini tentara partisan terbentuk. Kebanjakan mereka adalah petani menengah4 4Menurut teori Lenin, kaum tani dibagi dalam tiga kategori — petani kaja jang digolongkan sebagai kaum kulak, petani dengan kemampuan sedang jang dikenal sebagai petani menengah, dan petani miskin atau tak bertanah. , namun terdapat djuga segala matjam manusia — petani miskin, rahib jang dipetjat, anak kulak jang menentang ajahnja. Ada pula idealis anarchis, orang jang lari tanpa paspor dan pemuda jang diusir dari sekolah, sebab ada hubungannja dengan perempuan. Djuga tahanan perang Djerman dan Austria jang diberi djandji akan dimerdekakan serta dipulangkan kenegerinja. — Nah, salah satu kesatuan dari tentara rakjat jang besar ini disebut Perhimpunan Rimba dan Perhimpunan Rimba dipimpin oleh seorang kawan Penghuni Rimba dan kawan Penghuni Rimba ini adalah Libby, Liberius Avercievich, anak Avercius Mikultisin”.
„Kamu bersungguh-hati?”
„Ja, sungguh-sungguh. — Tapi kita landjutkan sadja hal Avercius. Setelah kematian istrinja, ia kawin lagi. Istrinja jang kedua ini, Hellen, adalah ingénue, baik oleh fitratnja, maupun karena disengadja. Dari sekolah ia langsung kemimbar dan masih sangat muda, namun dia bersikap seolah lebih remadja lagi — ia bertjelotjeh dan terkekeh-kekeh, nampaknja dungu. Pada saat ia ketemu orang, diudjinja dia: „Kapan Suvorov lahir? Kapan dua sudut segitiga sama dengan jang ketiga?” Maka apabila kamu kepergok berbuat kesalahan, bukan main senangnja. Tapi akan kamu alami sendiri itu dalam satu dua djam.
„Situa mempunjai keanehannja sendiri. Ia hendak djadi pelaut. Ia beladjar ilmu mesin. Mukanja tertjukur bersih, ia tak pernah mentjabut pipanja dari mulut, bitjara melalui giginja dengan suara lembut jang ramah, rahangnja sebelah bawah mendondol seperti jang biasa pada pengisap pipa, matanja dingin dan abu-abu. — O, ada detail jang saja lupakan — dia seorang Sosial Revolusioner dan terpilih mendjadi wakil daerah untuk Dewan Konstitusi5 5Dewan Konstitusi dibentuk setelah Revolusi Februari dibawah Pemerintahan Sementara dan dirobohkan oleh kaum bolsjewik, ketika mereka tak berhasil memperoleh majoritet didalamnja. ”.
„Itu sungguh penting sekali! Djadi ajah dan anak saling bertentangan? Lawan-lawan politik?”
„Dalam teorinja, memang. Namun dalam prakteknja tak ada perselisihan antara kaum Rimba dan Varykino. Tapi kita landjutkanlah tjerita ini. Tinggal tiga perempuan kakak-beradik dari keluarga Tuntsev jang oleh perkawinannja jang pertama mendjadi ipar-ipar Mikultisin, berdiam di Yuryatin sampai kini, semuanja perawan tua jang gigih; namun zaman berobah, maka berobah pula gadis-gadis itu”.
„Jang sulung, Avdotya, mendjabat asisten di Perpustakaan Umum — Berambut hitam, manis, bukan main malu-malunja, merah-padam pada tiap hal jang remeh. Pengalamannja diperpustakaan itu amat menekan. — Sunji-senjap, sedangkan gadis itu menderita selesma jang chronis — sering kena serangan bersin dan nampak seakan hendak djatuh menembus lantai — Urat-sarafnja tak beres”.
„Gadis kedua, Glasha, merupakan kurnia bagi keluarganja. Tenaganja hebat, bekerdjanja mengagumkan, apa sadja ia mau mengerdjakannja. Libby dari kawanan „Rimba” itu wataknja dianggap menurun dari bibinja ini. Suatu hari ia djadi pendjahit atau bekerdja dipabrik kaos-kaki, lalu tiba-tiba sadja ia beralih mendjadi perias rambut. Kamu lihat tadi perempuan ditempat wesel jang mengatjungkan kepalan tangan pada kita? — Saja pikir: sungguh mati, inilah Glasha, dia telah bekerdja dalam dinas kereta-api! — Tapi achirnja kurasa bukan dialah itu, kelihatannja terlalu tua”.
„Lantas jang bungsu, Sima. Dialah noda mereka, dia timbulkan kesukaran tak henti-henti bagi mereka. Ia gadis terpeladjar, banjak membatja, biasanja meminati puisi dan filsafat. Tapi sedjak revolusi — dengan segala pergeseran keatas bagi umum, segala pidato dan demonstrasi — agak gontjanglah pikirannja dan ia djadi maniak keagamaan. Kakak-kakaknja menguntjinja, bila mereka pergi bekerdja, namun dia melontjat dari djendela, ngelujur kedjalan-djalan, menghimpun orang banjak, mengchotbahkan Udjian Kedua serta kiamat dunia. — Nah, sudah waktunja saja berhenti bitjara, kita hampir sampai. Ini setasiun saja. Berikut setasiun kamu. Berkemas-kemaslah”.
Sesudah ia pergi, berkatalah Tonya pada Yuri: „Entah bagaimana perasaanmu, tapi kurasa ia diantar Nasib pada kita. Kukira hidup kita akan dibantunja nanti”.
„Kuharap begitu, manis. Tapi hatiku rusuh karena tiap orang mengenalmu sebagai tjutju Krueger dan karena Krueger begitu terkenal. Waktu kusebut „Varykino”, bahkan Strelnikov bertanja dengan tjaranja jang tak mengenakkan itu apakah kita ahliwaris Krueger”.
„Sesudah meninggalkan Moscow supaja tak dikenal orang, kudapat kesan bahwa kita disini malah akan lebih tampil kedepan. Tentu hal ini tak bisa dirobah lagi dan tentu tak ada gunanja menjesali apa jang sudah terdjadi. Tapi baiklah kita berdjaga-djaga dan perbuatan kita djangan sampai menjolok mata. Pada umumnja kupunjai firasat jang tak menjenangkan …Tapi kita agaknja sudah hampir sampai. Mari kita bangunkan ajah dan bersiap-siap”.
7
Tonya berdiri diperon setasiun Torfyanaya, menghitung keluarga serta begasinja berkali-kali, agar jakin bahwa tak ada jang ketinggalan dikereta-api. Pasir peron jang sering diindjak itu kokoh dibawah kakinja, namun dia masih gelisah, karena tak mau salah turun disetasiun, pun derak-derik roda masih tinggal ditelinganja, sungguhpun kereta-api berdiri tak bergerak didepan matanja. Hal ini merintangi dia untuk melihat, mendengar dan memahami apa-apa dengan saksama.
Penumpang-penumpang jang meneruskan berdjalan, menjerukan selamat tinggal serta melambai-lambai dari deresi, namun tak dilihatnja mereka. Tak dilihatnja pula kereta-api berangkat dan baru sadar bahwa kereta itu tak ada lagi, ketika ia menjadari kehadirannja sedang memandangi padang hidjau dan langit biru diseberang rel jang kosong. Setasiun itu dibikin dari batu dan dikanan-kiri gerbangnja ada bangku-bangku. Hanja keluarga Zhivagolah penumpang-penumpang jang turun di Torfyanaya. Mereka letakkan begasi mereka dan duduk disebuah bangku.
Kesunjian, kekosongan dan kerapian setasiun berkesan pada mereka. Anehlah rasanja kalau tak dikerumuni orang banjak jang simpang-siur dan memaki-maki. Sedjarah belum sampai kedaerah terpencil ini, walaupun disitu penghidupan akan mendjadi seganas penghidupan dikota.
Setasiun itu sembunji dihutan pohon berk. (Waktu kereta-api masuk, didalam kereta mendjadi gelap seperti waktu sore). Sekarang bajangan pohon-pohon jang hampir tak berkulit itu bergerak sedikit atas tangan dan wadjah mereka, dilantai, tembok dan atap setasiun dan diperón dengan pasirnja jang bersih, basah dan kuning itu. Sedjuk rasanja dibelukar dan bunji njanjian burung disitupun sama sedjuknja. Njanjian jang lurus, terus-terang dan murni ini menerobosi dan mendjeladjah hutan dari udjung keudjung. Hutan itu dilintasi kedua djurusan oleh rel dan djalan dusun jang kedua-duanja dirimbuni oleh djuluran lunglai lagi pandjang dari dahan-dahan jang bergantungan dan bergontjang-gontjang.
Sekonjong-konjong Tonya dapat melihat dan mendengar; semuanja menjentuh kesadarannja berbarengan — seruan burung jang lantang, kesepian tanah hutan jang tak terdjamah serta kesunjian tenang jang mengalir. Dalam batinnja ia telah menjiapkan pidato:
„Aku tak pertjaja, kita akan betul-betul tiba dengan aman disini, sajang. Strelnikov itu umpamanja mudah sekali berlagak lembut didepanmu, kemudian mengirim telegram untuk menawan kita semua pada waktu kita turun dari kereta-api. Tak kupertjaja rasa berbudi mereka, kanda, itu komedi belaka”. Namun menghadapi pemandangan penuh pesona didepannja itu, amat lainlah kata-kata jang keluar dari hatinja. „Elok benar!” serunja. Ia tak sanggup bitjara lebih dari itu. Ia tersedu-sedu.
Mendengar tangisnja itu keluarlah seorang tua ketjil jang memakai uniform sep setasiun dan menjeberang kearah mereka dengan tersuruk-suruk. Seraja menjentuh putjuk merah pitjinja, bertanjalah ia dengan sopannja:
„Inginkah njonja muda menggunakan sesuatu dari peti-obat setasiun untuk urat-saraf njonja?”
„Tak apa-apa. Trima-kasih. Ia akan pulih sebentar lagi”, udjar Alexander Alexandrovich.
„Ini akibat kegelisahan serta kepajahan dalam perdjalanan — sudah biasalah itu. Djuga disebabkan hawa panas seperti di Afrika ini jang begitu djarang digaris-lintang ini. Dan jang paling menekan ialah kedjadian di Yuryatin”.
„Kami lihat kebakaran dari kereta-api, ketika lewat disana”.
„Tuan-tuan dari Rusia6 6Rusia diwilajah Eropa, jang dibedakan dari Siberia. , kalau tak salah?”
„Dari djantungnja benar?”
„Dari Moscow! Tak mengherankan, urat-saraf njonja terganggu. Konon tak ada batu tegak disana”.
„Tak seburuk itu. Orang suka melebih-lebihkan. Namun kami kesulitan betul. Ini anak saja dan dia suaminja dan itu anak mereka. Dan ini pengasuhnja, Nyusha”.
„Salam dan selamat datang. Saja bersukur. Tuan-tuan sudah saja tunggu-tunggu. Anfim Yefimovich Samdevyatov menelepun dari Sakma. Dr Zhivago datang sekeluarga dari Moscow, katanja, dan dimintanja saja membantu sedapat-dapatnja. Djadi tuanlah itu, bukan?”
„Bukan, Dr Zhivago itu menantu saja. Itu dia. Saja bukan dokter. Saja profesor ilmu pertanian, nama saja Gromeko”.
„Maafkan kechilafan saja. Senang sekali berkenalan dengan tuan”.
„Djadi tuan kenal Samdevyatov?”
„Siapa tak kenal Anfim Yefimovich, pembuat mudjizat itu? Dia satu-satunja harapan — satu-satunja tumpuan kita. Kalau tidak karena dia, sudah lama kami mati. Bantulah sedapat-dapatnja, katanja. Baik, kata saja. Saja djandji berbuat demikian. Tuan perlu kuda atau apa? Mau kemana?”
„Kami hendak ke Varykino. Djauhkah dari sini?”
„Varykino! Itu sebabnja saja bertanja-diri siapa putri tuan ini! Djadi Varykino jang mendjadi tudjuan? Djelaslah semuanja! Ivan Ernestovich Krueger dan saja membikin djalan ini bersama-sama. Saja ambil kuda sekarang. Saja panggil seorang dan kami tjari kereta. — Donát! Donát! Bawa barang-barang ini sementara kekamar-tunggu. Ada kuda? Larilah kekamar-minum, tjoba tjarikan. Pagi ini Bacchus disini. Tengok apa masih ada. Katakan, ada empat penumpang. Mereka orang baru. Katakan, mereka hampir tak punja begasi. Dan djagalah baik-baik begasi itu — Njonja, boleh saja kasi nasehat orang-tua? Sengadja tak saja tanjakan sampai kemana hubungan keluarga njonja dengan Ivan Ernestovich Krueger. Harus hati-hati sekali, kalau bitjara tentang itu. Dizaman sekarang kita tak bisa beramah-tamah dengan sembarang orang”.
Ketika nama Bacchus disebut, para musafir itu berpandang-pandangan serba heran. Terkenanglah mereka pada tjerita Anna tentang pandai-besi adjaib itu jang membikin isi-perutnja sendiri dari besi jang pantang rusak serta banjak lagi dongeng-dongeng setempat jang telah dikisahkannja.
8
Kuda itu adalah kuda-betina jang baru-baru ini beranak, saisnja seorang tua berkuping lunglai dengan rambut kusut, putih bagai burung hantu jang putih. Entah apa sebabnja, tapi tiap hal padanja adalah putih: sepatu barunja dari kulit berk belum menghitam dan kemedja serta tjelananja dari lenan telah pudar karena tua.
Anak kuda jang keriting dan hitam bagai malam itu seperti kuda main-mainan jang ditjat, lari dibelakang induknja, sembari menendang-nendangkan kakinja jang bertulang empuk itu.
Para musafir berpegangan ketepi kereta jang melondjak-londjak atas alur-alur kereta didjalanan. Mereka merasa damai dihati. Impian mereka terlaksana, mereka hampir keachir perdjalanan. Selama satu-dua djam terakhir hari tenang jang tjerah itu dengan murah-hati tetap melimpahkan keindahannja.
Djalan mereka kadang-kadang lewat hutan, kadang-kadang melalui padang terbuka. Bila lewat hutan, mereka terlempar djadi unggunan pada tiap kali roda kereta menabrak akar, maka duduklah mereka dengan menjempitkan bahu, berkerut kening dan berpegangan satu sama lain. Tapi dipadang terbuka, dimana ruang itu sendiri seolah menjalam dari sepenuh hati, mereka duduk lurus, melepas lelah dan menegakkan kepala.
Tanah disitu berbukit-bukit. Seperti biasanja, bukit-bukit itu punja ungkapan tersendiri, muntjul besar dan gelap dikedjauhan, laksana bajang-bajang angkuh, diam-diam mengawasi para musafir. Namun ada tjahaja djingga mengikuti mereka sepandjang padang, menghibur serta memberi harapan.
Tiap hal menjenangkan dan mengherankan mereka, terutama ketjek sais tua jang lemah itu; ia bitjara dengan idiom kuno, sisa pengaruh bahasa Tartar, serta keanehan bahasa setempat jang bertjampur dengan keanehan gubahannja sendiri.
Bila anak-kuda itu ketinggalan, induknja berhenti menanti; segera sianak mengedjarnja dengan lompatan-lompatan molek seperti gelombang, kemudian dengan kakinja jang pandjang dan terlalu berdekatan itu berdjalanlah ia dengan likuknja kereta, lalu mendjulurkan leher pandjangnja kebawah sawat untuk menjusu ditetek siinduk.
„Aku heran”, seru Tonya pada Yury; ia berseru pelan-pelan, sebab kuatir bahwa giginja jang menggeletuk karena gontjangnja kereta itu akan menggigit putus udjung lidahnja pada gontjangan jang tiba-tiba. „Mungkinkah ini si Bacchus jang ditjeritakan ibu kepada kita? Kauingat segala dongeng tentang sipandai-besi jang ususnja petjah dalam perkelahian, lantas membikin usus baru jang lengkap? — Bacchus Siperut-Besi. Tentu kutahu itu hanja dongeng, tapi apakah jang ditjeritakan itu mengenai orang ini?”
„Tentu tidak. Pertama, seperti jang kaukatakan, itu dongeng belaka, sasakala, pun menurut ibu sasakala itu seratus tahun umurnja, ketika ibu masih muda. Tapi djangan bitjara sekeras itu. Bukan maksudmu membuat situa ini sakit-hati, bukan?”
„Ia tak dengar apa-apa, ia tuli. Kalaupun dengar, ia tak akan mengerti — ia sinting”.
„Hai, Fyodor Nefyodich!” seru sikakek itu pada kudanja, jang entah mengapa ditegurnja dengan nama dan nama-keluarga lelaki, sekalipun ia seperti djuga para penumpangnja maklum bahwa itu kuda-betina.
„Djahanam panasnja! Seperti jang dirasakan anak-anak Ibrahim ditungku Persia! Ajo, setan kurus! Aku omong pada kau, Mazeppa7 7Seorang pemimpin tentara Rusia di Ukraina dalam zaman Peter Agung. !”
Kadang, tanpa mukadimah, dilontarkannja sepotong sadjak tua jang agaknja dibikin dipabrik-pabrik Krueger tempo dulu.
„Hai binatang iblis. Bangkai betul kau. Kuberi kau tjambuk, tapi kau kurangadjar. Hai, Fedya Nefedya, ada niatmu untuk djalan? — Hutan itu namanja tayga8 8Rimba di Siberia jang belum terdjamah. tak ada udjungnja. Dan didalamnja bukan main banjaknja petani, Perhimpunan Rimba ada disitu. — Hai Fedya Nefedya, kau berhenti lagi? Setan!”
Sekonjong-konjong ia berpaling ke Tonya dan menatapnja langsung kemata.
„Dimana otakmu, wanita muda? Kamu sangka aku tak tahu siapa kamu? Kamu berpikiran pendek, sajang, kulihat itu. Sungguh-mati, saja kenal kamu. Pasti kukenal. Tak kupertjaja mata kepalaku — kamu gambaran hidup Grigov. (Ini versinja tentang nama Krueger). Apa kamu bukan tjutjunja? Sajalah paling tahu siapa Grigov. Seumur hidup saja bekerdja untuknja, saja tahu segalanja tentang dia. Saja kerdjakan segala matjam pekerdjaan untuknja — bertugas untuknja ditambang sebagai pemburu dan melajani dongkrak diatas tanah dan dikandang-kandang. — Ajo. djalan! Berhenti lagi, matjam tak punja kaki. Demi bidadari Tiongkok! Tak dengar, aku bitjara denganmu?”
„Nah, kamu tanjakan apakah saja Bacchus sipandai-besi itu. Kamu kurang tjerdas, sajang, punja mata besar tapi tak punja otak! Si Bacchus itu — ia disebut Postagonov, Postagonov si Perut-Besi — dia masuk kubur lebih 40 tahun jang lampau.
Tapi namaku Mekhonóshin. Nama-ketjil kami sama, namun nama-keluarga kami lain”.
Sedikit demi sedikit situa menuturkan apa jang sudah mereka dengar dari Samdevyatov tentang keluarga Mikulitsin. Ia bitjara tentang istri kedua Mikulitsin sebagai „jang kedua” dan tentang istrinja kedua sebagai „bidadari”, „bidadari putih”. Ketika sampai pada pemimpin partisan Liberius, lalu mendengar bahwa kemashurannja belum mentjapai Moscow, pun bahwa Perhimpunan Rimba tak dikenal disana, iapun hampir tak pertjaja:
„Belum dengar? Belum dengar tentang kawan Rimba? Demi bidadari Tiongkok! Untuk apa Moscow punja telinga?”
Malam mendjelang dan bajang-bajang mereka jang tambah pandjang berlari mendahului mereka. Mereka lewat wilajah datar tak berpohon. Dalam gerombolan terpencil berdirilah disana-sini batang „kaki angsa” jang tinggi, rerumput dan djelatang jang diputjuknja ada djambul-djambul sedang mengembang. Disinari setinggi tanah oleh matahari jang sedang terbenam, tetumbuhan itu nampak tinggi, hingga mengerikan seperti pengawal-pengawal berkuda jang diselingi djarak-djarak besar dan mendjaga tanah-datar itu tanpa gerak.
Ngarai terbentang djauh dan dikedjauhan itu ia berachir pada sederetan bukit tinggi. Sebatang sungai atau djurang dapat dibajangkan dikaki gunung-gunung itu jang melintang didjalan musafir bagaikan tembok, seolah langit diseberangnja dilingkungi benteng dan djalan itu menudju kesebuah gapura.
Dipuntjak punggung gunung berdirilah sebuah rumah putih jang rendah dan pandjang.
„Tuan lihat tempat pengintaian bukit itu?” kata Bacchus.
„Disitu tinggal keluarga Mikulitsin. Dan dibawahnja ada djurang, Shutma namanja”.
Dua tembakan bedil meletup dari bukit-bukit, diikuti gema menderu jang bergulung-gulung.
„Apa itu? Bukan kaum partisan itu, kakek, jang menembaki kita?”
„Alhamdulillah! Bukan partisan! Itu Mikulitsin lagi menakut-nakuti srigala didalam djurang Shutma”.
9
Pertemuan mereka jang pertama dengan Mikulitsin terdjadi dipekarangan rumah pengusaha. Peristiwa itu menjedihkan, dimulai dengan sunji dan diachiri dengan kekatjauan jang ribut serta kebodohan.
Helen, istri Mikulitsin, pulang lewat pekarangan dari djalan-djalan waktu sendja dihutan. Sinar surja jang sedang tenggelam, berwarna emas seperti rambutnja, mengiringi dia didalam hutan dari pohon kepohon. Ia memakai gaun musim-panas jang ringan. Ia merah-padam akibat perdjalanannja, lagi mengusap mukanja dengan saputangan. Topi djeraminja tergantung dibelakang kuduknja pada karet jang terentang dibawah tenggorokannja jang tak tertutup.
Suaminja sedang mendjemputnja dari tepi ngarai; baru sadja ia naik dari dalamnja dengan bedil jang hendak dibersihkannja, karena dilihatnja ada kerusakannja.
Sekonjong-konjong ditengah pemandangan penuh damai ini masuklah Bacchus dengan lantjarnja, diiringi derak-derik keras dari roda kereta diatas kerikil, mengantarkan jang tak tersangka-sangka.
Para penumpang turun dan Alexander Alexandrovich mulai memberi keterangan, sambil mendeham-deham serta mentjopot dan memasang lagi topinja.
Tuan- dan njonja-rumah mereka mendjadi gagu karena keheranan. Kebisuan jang tak dibikin-bikin ini berlangsung bermenit-menit, tak ubahnja dengan kebingungan wadjar dari tamu-tamu mereka jang terperandjat dan malang serta ditimpa malu itu. Sesuatu utjapan tak dapat mendjelaskan keadaan lebih landjut, tak hanja pada mereka jang langsung terkena, tapi djuga kepada Sasha, Nyusha dan Bacchus; rasa malu mereka jang pedih itu bahkan mendjangkut pada kuda, anak kuda, sinar emas surja sendja serta njamuk-njamuk jang mengiang dan mengerubungi wadjah dan kuduk Helen.
Kesunjian achirnja dipetjahkan oleh Mikulitsin. „Aku tak mengerti, aku tak mengerti apa-apa dan tak bakal mengerti. Kamu pikir apakah ini? — Daerah Selatan, tempat kaum Putih jang ada roti berlimpah-limpah? Mengapa kamu pilih kami? Apa sebab kamu kemari — djustru kemari?”
„Tak pernah kamu pikirkan tentunja, ini akan djadi tanggung-djawab berat bagi Avercius Stepanovich?”
„Djangan menjela, Helen. Dia benar semata-mata. Tak pernah kamu pikir, beban apa kamu timpakan atas kita?”
„Demi Allah! Kamu salah tampa. Apa jang kita bitjarakan ini? Tak ada maksud untuk mengganggu, untuk mengusik kedamaian pikiran kamu. Jang kami perlukan ialah soal ketjil sekali. Kami maksudkan sebuah sudut dalam pondok tua jang kosong dan bobrok serta seladjur tanah jang kebetulan akan djadi liar, sebab tak dibutuhkan orang, hingga kami dapat menanam bahan makanan. Dan satu muatan kaju bakar dari hutan, tak ada orang akan melihat kami mengambilnja. Apakah permintaan ini terlalu banjak, apakah ini beban berat?”
„Tidak, tapi dunia lebar. Apa hubunganinja ini dengan kami? Mengapa djustru kami jang terpilih untuk kehormatan ini dan bukan orang lain?”
„Karena kami dengar tentang kamu, pun kamu harap kamu pernah dengar tentang kami, djadi kami datang tidak asing betul!”
„O! Djadi karena Krueger! Sebab kamu kerabatnja! Bagaimana kamu sampai hati berbuat begitu pada waktu begini?”
Raut muka Mikulitsin runtut. Ia melambungkan rambutnja kekuduk dan melangkah pandjang-pandjang, memantang kakinja lebar-lebar ketanah; dimusim-panas ia memakai kemedja Rusia jang diikat dengan tali sutera berdjambul. Ia sedjenis lelaki jang dizaman dulu mungkin mendjadi badjak disungai Wolga. Dizaman-zaman jang lebih dekat, orang sematjam itu mengubah type mahasiswa abadi, tukang-mimpi jang mendjadi guru.
Mikulitsin telah mengabdikan masa-mudanja kepada gerakan kemerdekaan, kepada usaha untuk revolusi; satu-satunja kekuatirannja ialah bahwa ia tak hidup tjukup pandjang untuk mengalaminja, atau kalaupun tiba, revolusi itu akan terlalu lunak, tak tjukup berdarah untuk impiannja jang radikal itu. Setelah tiba, revolusi itu mengatasi harapannja jang paling djauh, tapi dia jang berdarah pembela setia bagi proletariat itu, dia jang pertama-tama ikut mendirikan Panitia Kerdja serta menjerahkan pengawasan pabrik kepada kaum buruh, dia ditinggalkan begitu sadja; djadi sama sekali ia tidak berada dipusat segala peristiwa, melainkan disinilah, didusun terpencil jang telah ditinggalkan oleh kaum buruh, antaranja kaum mensjewik! Dan sekarang, kemustahilan apa lagi ini jang mendjadi puntjak segala-galanja? Keturunan keluarga Krueger jang tak diundang ini baginja seperti lelutjon terbesar Sang Nasib, muslihat jang disengadja. Itu mengisi pialanja sampai tumpah-ruah.
„Ini melampaui segala pikiran-sehat. Tak masuk akal! Sadarlah kamu, dalam bahaja apa kamu tjempungkan saja? Rupanja saja sudah gila. Saja tak mengerti. Saja tak mengerti apa-apa dan tak bakal mengerti”.
„Fahamkah kamu, kita sudah duduk atas gunung berapi?”
„Tunggu dulu, Helen. Istri saja benar semata-mata. Keadaan tjukup buruk tanpa kamu. Ini penghidupan andjing, rumah-gila. Saja terdjepit antara dua api — antara mereka jang membuat hidupku sengsara karena anak saja seorang Merah, seorang bolsjewik, kesajangan rakjat, dan mereka jang ingin mengetahui apa sebab saja dipilih untuk Dewan Konstitusi. Tak ada jang puas, tak ada jang kumintai bantuan. Dan sekarang kamu! Enak benar, kalau berkat kamu saja harus menghadapi regu penembak!”
„Ah, masak! Demi Tuhan, pikirlah dengan sehat!”
Sedjurus kemudian ia melunakkan hatinja dan berkata:
„Wah, tak ada gunanja bertengkar dipekarangan. Masuklah kita. Bukannja saja mengharapkan sesuatu akibat jang baik, tapi kita seperti menengok dalam katja gelap. Betapa djuga, kami bukan „janitsar”, kami bukan biadab, kami tak bakal mengusir kamu kehutan dimakan beruang. Helen sajang, baiklah kita persilakan mereka dalam kamar palem untuk sementara, dekat kamar-kerdja. Kelak akan kita tindjau, dimana mereka dapat menghuni; mungkin kita tjarikan sebuah pondok ditaman. Silakan masuk. — Bawalah barang-barang mereka kedalam rumah, Bacchus, salamilah mereka”.
Bacchus berbuat menurut perintah sambil bergumam:
„Demi Maria! Barangnja tak lebih dari bawaan djemaah. Tjuma bungkusan-bungkusan ketjil, tak sepotong koporpun”.
10
Sore-sore hawanja dingin. Mereka tjutji-muka dan kaum wanitanja mengemaskan kamar untuk malam hari. Sasha jang dengan tak sadar hendak mendengar ungkapannja jang kekanak-kanakan itu disambut dengan kesukaan dan oleh sebab itu mengotjeh semanis-manisnja, dialah murung karena sekali ini ia tak berhasil, tak ada jang memperhatikannja. Ia ketjewa bahwa anak-kuda hitam itu tak dimasukkan kerumah dan ketika ibunja memarahinja serta menjuruhnja supaja diam, iapun tersedu-sedu, takut kalau-kalau ia akan dikirim kembali ketoko-baji, dimana menurut kepertjajaannja ia dibeli oleh orang-tuanja. Kechawatirannja itu sungguh-sungguh dan ia ingin tiap orang disekitarnja ikut-serta, namun itu dianggap omong-kosong dan dalam keadaan ini tak mampu mempengaruhi. Kaum dewasa jang merasa gelisah dalam rumah orang lain itu baginja lebih terburu-buru dari pada biasanja; mereka lalu-lalang dan berdiam-diri, tekun dalam tugas mereka. Sasha merasa terhina dan menurut istilah pengasuh kanak-kanak ia mendjadi kesal-hati. Dengan susah-pajah ia dibawa makan dan ditidurkan. Ketika ia achirnja tidur, Ustinya, babu Mikulitsin, membawa Nyasha kekamarnja untuk diberitahu tentang rahasia rumah-tangga. Tonya beserta kaum lelaki diundang untuk minum teh bersama suami-istri Mikulitsin.
Yury serta mentuanja pergi keteras dulu untuk makan angin sekedar.
„Alangkah banjak bintang!” udjar Alexander Alexandrovich. Malam gelap-gulita. Dua orang jang terpisah oleh djarak beberapa meter sadja itu tak dapat melihat satu sama lainnja. Dari djendela dibelakang mereka memantjar tjahaja lampu kedalam ngarai; dari lobangnja jang memandjang itu semak-semak, pohon-pohon dan udjud-udjud lain jang kabur naik samar-samar kedalam hawa basah jang dingin. Tapi Yury dan Alexander Alexandrovich ada diluar tjahaja itu dan hal ini malah menebalkan kegelapan disekitar mereka.
„Yura, besok pagi kita pertama-tama harus menengok teratak jang dia maksudkan untuk kita dan djikalau teratak itu bisa dipakai, kita harus segera mulai memperbaikinja. Kalau kemudian ia sudah memadai, waktu itu saldju sudah mentjair ditanah, maka dapatlah kita mulai menggali lobang-lobang untuk petak-bibit tanpa kehilangan waktu. Benarkah kudengar ia mengatakan akan memberi kita bidji-bidji kentang?”
„Memang begitu. Djuga bidji-bidji lain didjandjikannja. Kudengar ia mengatakan itu dengan kupingku sendiri. Mengenai teratak, kita sudah melihatnja, waktu melintasi taman. Ajah tahu, dimana? Itulah rumah kaju disebelah belakang, hampir tak kelihatan karena ada djelatang. Kutundjukkan pada ajah, ingat? Kupikir, itu tempat baik untuk persemaian. Aku mendapat kesan seolah dulu disitu pernah ada taman bunga, setidak-tidaknja begitulah nampaknja dari djauh; tentunja aku mungkin keliru. Tanah dipetak-bunga itu dulu rupa-rupanja dirabuki dengan baik; kubajangkan itu mungkin masih tjukup baik”.
„Entah, besoklah kita lihat. Kurasa ia sekarang dikotori rerumput dan keras seperti batu. Tentu dulu ada taman-dapur, entah dimana, jang mendjadi sebagian dari rumah. Barangkali sekarang tak dipergunakan. Besoklah kita selidiki. Mungkin diwaktu fadjar masih ada saldju ditanah. Malam ini pasti hawa membeku. — Bagaimanapun djuga, bersukurlah kita ada disini achirnja — boleh berterima-kasihlah kita. Tempat ini bagus. Aku suka”.
„Mereka ini orang-orang baik. Terutama sisuami. Sikap istrinja agak dibikin-bikin. Ada sesuatu padanja jang tak dia sukai sendiri. Itu sebabnja ia banjak bitjara dan menampilkan diri lebih dungu dari jang sebenarnja. Dia seolah buru-buru hendak mengelakkan perhatian orang dari pandangannja, sebelum kita sempat menerima kesan buruk. Dan kalau ia lupa melepaskan topinja, lantas memakainja dibelakang kuduknja, itu bukan karena linglung — itu betul mematutkan dia”.
„Baiklah kita kembali; kalau tidak, kita disangka tak sopan”. Ketika menudju kekamar-makan, tempat njonja- dan tuan-rumah serta Tonya minum teh disekitar medja-bundar dibawah lampu-gantung, mereka lewat kamar-kerdja Mikulitsin jang gelap. Djendelanja sangat besar, lebarnja sepandjang dinding, membuka pemandangan atas ngarai. Sebelum itu, ketika masih terang, Yury telah menangkap pemandangan dari situ diatas djurang serta tanah-datar diseberangnja, jang mereka lintasi bersama Bacchus. Didepan djendela ada medja-gambar jang djuga memenuhi pandjangnja dinding. Seputjuk senapan jang terletak memandjang diatasnja, tapi masih mengosongkan banjak ruangan dikedua udjungnja, menarik perhatian disebabkan ukurannja.
Kini sambil lewat disitu, Yury sekali lagi teringat dengan iri-hati kepada djendela, format dan kedudukan medja serta luasnja kamar jang berperabot bagus ini; dan itulah jang pertama-tama dipertjakapkannja dengan tuan- dan njonja-rumahnja, waktu ia masuk kamar-makan:
„Alangkah elok tempat kamu ini! Kamar-kerdja itupun indah, tentulah tempat sempurna untuk bekerdja, ilham semata-mata!”
„Pakai gelas atau tjangkir? Tuan suka jang kental atau entjer?”
„Yura, tengoklah. Stereoskop. Putra Avercius Stepanovich membuatnja, ketika kanak-kanak”.
„Masih sadja ia belum dewasa dan belum menghuni tetap, walaupun telah direbutnja distrik demi distrik untuk kaum Sovjet dari Komuch”.
„Komuch itu apa?”
„Itu tentara pemerintah Sovjet, bertempur guna memulihkan kekuasaan Dewan Konstitusi”.
„Sepandjang hari kami dengar putra tuan dipudji-pudji. Tuan tentu bangga tentang dia”.
„Foto-foto stereograf tentang pegunungan Ural itu djuga karjanja, dibuatnja dengan kamera bikinan sendiri”.
„Biskuit ini bukan-main! Dibikin dengan sacharin?”
„Astaga, tidak! Dihutan begini mana bisa mendapat sacharin? Ini gula tulen. Tak kamu lihat saja menaruh gula dalam teh tuan?”
„Tentunja saja tadi memandangi foto-foto dan tak lihat tuan. Dan saja pertjaja betul ini teh tulen!”
„Memang! Teh melati”.
„Bagaimana mendapatkannja?”
„Kami punja sedjenis permadani terbang. Kawan kami. Dia tokoh umum gaja baru. Sangat kiri. Dia wakil resmi Dewan Ekonomi Daerah. Dibawanja kaju kami kekota dan didapatnja untuk kami tepung dan mentega melalui kawan-kawannja. Ulurkan gula itu, Civvy”. (Ini nama-timangan untuk Avercius).
„Dan sekarang saja ingin kamu sebut tahun wafatnja Griboyedov”.
„Ia lahir tahun 1795, saja kira. Tapi kapan ia dibunuh, tak saja ingat”.
„Mau teh lagi?”
„Sudah tjukup”.
„Sekarang ada suatu hal untuk tuan. Sebutlah tanggal Perdjandjian di Nijmeghen dan negara-negara mana menandatanganinja?”
„Djangan ganggu mereka, sajang. Mereka belum sempat mengaso dari perdjalanan”.
„Dan kini ada jang saja ingin tahu. Ada berapa matjam lensa dan kapankah foto mendjadi riil, bertentangan, fitri atau terbalik?”
„Bagaimana njonja mengetahui sebanjak itu tentang ilmu-alam?”
„Di Yuryatin pernah ada guru ahli ilmu jang hebat; ia mengadjar disekolah untuk lelaki dan disekolah kami. Tak sanggup saja sebut, betapa pandainja. Mengagumkan. Dia menerangkan segalanja sampai sedjelas-djelasnja. Antipov namanja. Ia kawin dengan guru djuga. Semua gadis tergila-gila padanja, semua djatuh tjinta. Ia berangkat kepeperangan dengan suka-rela, lalu gugur. Ada jang mengatakan bahwa godaan kita ini, Komisaris Strelnikov, adalah Antipov jang bangkit dari kematian. Tapi itu tjuma desas-desus jang dungu tentunja. Mustahil sama sekali. Tapi siapa tahu? Segala hal ada kemungkinannja. Sedikit teh lagi?”
1
Dimusim-dingin, ketika Yury punja waktu lebih banjak, ia mulai membuat buku-harian. Ia mulai dengan kutipan dari Tyntchev:
„Sering sekali pada musim-panas jang lampau perasaanku seperti itu. Alangkah sukurnja, bekerdja dari fadjar sampai magrib untuk keluarga dan untuk diri sendiri, mendirikan atap atas kepala mereka, mengolah tanah untuk makanan mereka, mentjiptakan duniaku seperti Robinson Crusoe, dengan meniru Al Chalik Semesta serta mentjiptakan hidup seolah aku ini ibuku sendiri berkali-kali.
„Banjaklah pikiran baru timbul dikepala, bila tangan sibuk dengan pekerdjaan keras djasmaniah, bila djiwamu memberimu tugas jang bisa diselesaikan dengan ketekunan djasmani dan jang mengantarkan hadiahnja dalam kesenangan dan hasil baik, setelah kita enam djam berturut-turut menggali dan membanting-tulang, terbakar oleh nafas penghajat dari langit. Dan bukan rugi, melainkan untunglah bahwa segala pikiran, intuisi, kesesuaian faham jang sepintas-lalu ini tidak direkam atas kertas, melainkan dilupakan. Pertapa dikota jang mentjambuk urat-saraf serta daja-chajalnja dengan kopi hitam kental dan tembakau, tiada mengenal minuman paling mandjur, jakni kesehatan dan kebutuhan jang sungguh-sungguh.
„Aku tak akan lebih landjut dari ini. Aku tak mengchotbahkan adjaran Tolstoy tentang kesederhanaan dan „kembali ketanah”; tiada kutjoba menggagas sendiri pemetjahan masalah pertanian atau memperbaiki pandangan sosialis mengenai itu. Jang kubuat hanjalah mendudukkan kenjataan; aku tak membina suatu sistim atas persoalan kita sendiri. Itu amat kebetulan sadja dan perekonomian kita terlalu tjampur-baur; kami sebenarnja tidak tolong-diri; jang kami hasilkan sendiri — kentang dan sajur-majur — hanjalah bagian ketjil dari jang kami perlukan; selebihnja kami peroleh dari tempat-tempat lain.
„Kami pergunakan tanah setjara tidak sah. Kami letakkan hukum ditangan sendiri dan kami sembunjikan terhadap Negara apa jang kami perbuat. Kaju jang kami tebang itu barang tjurian dan tak dapat dimaafkan bahwa kami mentjolong dari Negara ataupun bahwa itu milik Krueger. Kami selamat, karena Mikulitsin memajungi kami (tjara hidupnja sangat bersamaan dengan tjara hidup kami) dan karena djauh dari kota, dimana orang sukurlah tak tahu sampai kini apa jang kami perbuat.
„Tak kusebut-sebut bahwa aku seorang dokter, sebab aku tak hendak membatasi kebebasanku. Namun dimana sadja selalu ada jang mengetahui bahwa ada dokter di Varykino. Maka dengan susah-pajah mereka djalan duapuluh mil untuk mentjari aku dengan membawa seekor ajam atau beberapa telur atau sedikit mentega sebagai upah, dan achirnja aku tak dapat menolak itu, sebab orang jakin bahwa obat-obatan hanja bermanfaat, djika orang membajar untuknja. Demikianlah praktekku ada penghasilannja sedikit. Namun sokongan terbesar bagi Mikulitsin dan kami adalah Samdevyatov.
„Wataknja bukan main rumitnja. Aku tak mampu menjelaminja. Ia tiang-penopang sungguh-sungguh bagi revolusi dan ia patut menerima kepertjajaan penuh dari Sovjet di Yuryatin. Dengan segala kekuasaannja jang diperolehnja ia sebenarnja dapat menuntut kaju hutan di Varykino dengan tak usah menghiraukan Mikulitsin atau aku, dan iapun tahu kami tak akan berdaja. Tapi djuga, bila ia suka merampok Negara, dapatlah ia mengisi kantongnja dan tak ada pula orang menggerutu. Tak seorangpun jang perlu disuapnja atau diberinja pembagian, djadi apa sebabnja ia begitu memperhatikan kami — Mikulitsin dan sep setasiun dan kami sendiri dan hampir tiap orang didalam distrik? Sesaatpun tak dilewatinja untuk mengedjar sesuatu tempat serta mendapatkan sesuatu untuk dibawa pada kami. Buku Dostoyevsky Ditjengkam Kekuasaan serta Manifesto Komunis sama-sama diketahuinja dan ia bitjara sama baiknja tentang kedua-duanja. Kukira, apabila ia tidak merumitkan penghidupannja setjara murah-hati dan sembrono ini, maka ia akan bosan sama sekali.
2
Sedjurus kemudian Yury menulis:
„Kami tinggal dalam dua kamar dibangunan tambahan dibelakang rumah tua itu. Pada masa-ketjil Anna Ivanovna, Krueger menggunakannja untuk anggota-anggota chusus dari staf rumah-tangganja — pendjahit, pengatur rumah-tangga dan pengasuh anak-anak jang berpensiun.
„Waktu kami datang, bangunan ini agak bongkar-bangkir, tapi kami memperbaikinja tjukup tjepat. Berkat bantuan orang-orang jang mengetahui seluk-beluknja, kami dirikan kembali tungkunja jang melajani kedua kamar. Kami atur kembali pipa-pipa asap, hingga menghasilkan panas lebih banjak.
„Dibagian pekarangan ini taman jang dulu ada itu lenjap, pupus oleh tumbuh-tumbuhan baru. Tapi kini setelah musim-dingin mematikan segala-galanja dan jang hidup tak lagi menimbuni jang mati, maka jang lampau itu nampak lebih djelas, digaris-kelilingi oleh saldju.
„Kami telah beruntung. Musim-panas ini kering lagi hangat. Maka sempatlah kami menggali kentang sebelum ada hudjan dan hawa dingin. Dengan tak menghitung kentang jang kami kembalikan pada Mikulitsin, kami punja duapuluh karung. Itu kami simpan dalam peti terbesar dikamar-kolong dan kami tutup dengan selimut-selimut tua serta djerami. Djuga kami tempatkan dua tong mentimun asinan dan dua tong kubis asin jang diolah Tonya. Kubis biasa tergantung sepasang-sepasang dibalok. Wortel kuning terbenam dalam pasir kering; radisa, bit dan ubi, katjang polong dan katjang disimpan dikamar-atap. Dalam bangunan tambahan ada tjukup kaju-bakar sampai musim-semi.
„Kusukai nafas musim-dingin jang hangat-kering dikamar-kolong, bau tanah, akar dan saldju jang menjengat hidung ketika membuka magun, kalau turun waktu dinihari sebelum fadjar dimusim-dingin, dengan membawa tjahaja ketjil jang berkedip-kedip.
„Tjobalah keluar; hawa masih gelap. Pintu menggerit-ngerit, boleh djadi kita bersin atau saldju berkerisik dibawah kaki; kelintji-kelintji dipetak kubis djadi kaget, lantas lari dengan meninggalkan bekas-bekas jang simpang-siur disaldju. Andjing-andjing dikedjauhan mulai melolong dan baru berhenti setelah waktu jang lama. Djago-djago habis berkokok dan tak ada lagi jang mereka utjapkan. Fadjar menjingsing.
„Dipadang luas bersaldju itu tak hanja ada pola dari bekas-bekas kelintji, tapi djuga dari bekas-bekas srigala jang dengan rapi melintasi padang itu bagaikan seuntai tasbih. Srigala berdjalan seperti kutjing, tjakar jang satu diletakkan depan tjakar lainnja; kata orang, ia berdjalan bermil-mil dalam satu malam.
„Orang memasang perangkap-perangkap, tapi bukan srigala jang terdjebak, melainkan kelintji jang tjelaka itu, separuh terbenam dalam saldju dan kalau diambil, ia kaku karena beku.
„Mula-mula karena musim-semi dan musim-panas kami sangat kesukaran. Satu-satunja jang dapat kami perbuat ialah bergulat terus. Tapi kini dapatlah kami mengaso waktu sore dimusim-dingin. Berkat usaha Samdevyatov jang memberi kami lilin, duduklah kami mengelilingi lampu. Para wanita mendjahit atau meradjut, Alexander Alexandrovich dan aku membatja keras-keras. Tungku panas dan karena ditundjuk sebagai tukang-api, aku tunggulah saatnja untuk menutup api, supaja tak memboroskan panasnja. Kalau ada balok hangus jang merintangi njala api, kubawa ia sedang berasap, lari keluar, lalu kulempar sedjauh mungkin kedalam saldju. Balok itu terbang diudara bagaikan suluh, melontarkan bara-bara dan menerangi petak-petak putih persegi ditaman jang sedang tidur, lantas mengubur diri dibeting saldju.
„Berkali-kali kami batja Perang dan Damai, Eugen Onegin serta sadjak-sadjak Pushkin lainnja dan terdjemahan dalam bahasa Rusia dari Rouge et Noir Stendhal, serta Tale of Two Cities Dickens dan tjerita-tjerita pendek Kleist”.
3
Waktu musim-semi mendjelang, Yury menulis:
„Kukira Tanya sedang mengandung. Kukatakan itu padanja; dia tidak pertjaja, namun aku jakin. Tanda-tanda permulaan tak dapat diingkari, untuk mengetahui itu tak usah kutunggu tanda-tanda berikutnja jang lebih djelas.
„Dalam keadaan demikian, wadjah wanita berobah. Bukannja ia mendjadi djelek, tapi ia tak seluruhnja dapat menguasai lagi rupanja. Ia sudah dimiliki oleh hari depan jang dikandungnja, ia tidak lagi diri-pribadinja jang penuh. Karena tak sanggup menguasai rupanja itu djasmaninja seakan tak keruan; parasnja redup, kulitnja djadi kasap, sinar matanja berobah, tidak seperti jang diinginkannja; ia seolah tak sepenuhnja sanggup mengatasi segala ini, lalu membiarkannja sadja.
„Tonya dan aku tak pernah terlerai dan pekerdjaan tahun inipun bahkan lebih lagi merapatkan kami. Kusaksikan betapa tangkasnja ia, kuat dan tahan-udji; pandailah ia merentjanakan pekerdjaannja, agar sedikit mungkin kehilangan waktu antara dua tugas.
„Aku selalu beranggapan bahwa tiap pembenihan adalah tanpa noda dan bahwa dogma jang mengenai Ibunda Tuhan ini mengungkap gagasan segala keibuan.
„Pada waktu sianak lahir, tiap perempuan mempunjai aureol keterpentjilan, ia seakan disisihkan, tersendiri. Pada saat penting ini lelaki kehilangan peranannja, seolah tak pernah ada hubungannja dengannja, seolah peristiwa itu seluruhnja tak beralasan.
„Perempuanlah seorang diri jang menghasilkan keturunannja serta membawanja keatas, ketingkat tertinggi kehidupan, tempat tenang lagi aman bagi sebuah dondang. Sendirian, diam-diam dan berendah-hati, ia memberi makanan pada sianak serta membesarkannja.
„Ibunda Tuhan diminta „berdoa dengan radjinnja kepada Putranja serta Tuhannja”, dan bunji psalma terekam kemulutnja: „Djiwaku memudji Tuhan dan sukmaku telah bersukur demi Tuhan, Djuruselamatku. Sebab Dia telah melihat taraf daif pelajannja: saksikanlah, sedjak kini semua angkatan akan menjebutku teranugrahi”. Untuk anaknjalah ia berkata demikian, Dia akan memudjinja („sebab Jang Mahakuasa telah memberiku hal-hal agung”); Dialah keluhurannja. Tiap wanita dapat mengatakan itu. Bagi tiap mereka Tuhan ada pada anaknja. Para ibu dari orang-orang besar chususnja mempunjai perasaan begitu, tapi mula-mula semua ibu adalah ibu dari insan besar — bukan salah mereka, kalau kelak penghidupan mengetjewakannja”.
4
„Kami tak habis-habis membatja kembali Eugen Onegin serta sadjak-sadjak Pushkin. Kemarin Samdevyatov tiba dengan membawa hadiah banjak sekali — makanan lezat serta minjak untuk lampu-lampu. Hal itu kami bitjarakan berlarut-larut.
„Aku selalu berpendapat bahwa seni bukanlah kategori, bukan wilajah tempat pengertian tak berbilang serta berbagai gedjala, tapi sebaliknja, seni itu terpusat, terbatas sekali. Jakni suatu prinsip jang memasuki tiap karja seni, tenaga jang dipergunakan untuknja serta kebenaran jang digarap didalamnja. Dan tak pernah kupandang ia sebagai bentuk, melainkan sebagai bagian dari isi jang tersembunji dan dirahasiakan. Semua ini begitu terang bagai siang. Kurasakan dia dalam tiap tulang tubuhku, namun luar biasa sulitnja untuk menjatakan ataupun merumuskannja.
„Karja seni berbitjara pada kita dengan segala tjara — dengan temanja, sasarannja, situasinja, tokoh-tokohnja. Namun pertama-tama ia berbitjara pada kita karena dihadiri oleh seni. Orang djauh lebih terharu oleh kehadiran seni dalam Kedjahatan dan Hukuman dari pada oleh kedjahatan Raskolnikov.
„Dalam seni tak ada kedjamakan. Seni primitif, seni dari Mesir, Junani, seni kita sendiri — semua itu kurasa sama benar, jakni seni jang tak berobah beribu-ribu tahun. Boleh disebut dia suatu gagasan, pernjataan tentang hidup, mentjakup segala hal, hingga tak mungkin dibelah-belah dalam kata demi kata; dan kalaupun ada sekelumit dari padanja dalam sebuah karja jang djuga mengandung hal-hal lain, maka seni mengatasi semua unsur lainnja dalam hal pentingnja dan ternjata merupakan inti, djantung dan djiwa dari karja itu”.
5
„Selesma sedikit, batuk, mungkin suhu naik. Nafas pendek sepandjang hari, penjempitan udjung tenggorok, kerongkongan tersumbat. Ini hal jang buruk. Djantungku tentunja. Peringatan pertama tentang adanja warisan dari fihak ibu — djantungnja lemah sepandjang hidupnja. Benarkah itu soalnja? Tjepat benar. Kalau benar, tak dapat kuharapkan umur pandjang.
„Dikamar ada sekelumit bau barang terbakar. Bau penjetrikaan. Tonya sedang menjeterika; tiap kali ia mengambil sebuah batu-bara dari tungku, lalu menaruhnja dalam seterika; katup seterika menutupnja seperti sepasang gigi. Aku teringat olehnja pada sesuatu, tapi entah apa. Sebab kesehatan lemah, aku suka lupa.
„Guna merajakan hadiah sabun dari Samdevyatov, kami telah dua hari mentjutji-tjutji dan Sasha mendjadi liar. Ketika aku menulis, ia duduk mendjangkangi silangan kaju dibawah medja dan dengan meniru Samdevyatov jang tiap kali datang membawanja dalam kereta-saldju, iapun berbuat seolah membontjengkan aku.
„Sesudah merasa baik, aku harus pergi keperpustakaan kota untuk membatja ethnografi tentang daerah ini. Konon perpustakaan itu pernah menerima pemberian-pemberian penting dan luar-biasa baiknja. Aku kepingin menulis. Tapi harus lekas. Musim-semi akan tiba, sebelum kita sadarkan — maka tak adalah waktu untuk membatja atau menulis.
„Pusing-kepala mendjadi-djadi. Tidur kurang. Mengalami impian katjau seperti jang kita lupakan, sesudah bangun. Jang tinggal dalam ingatanku hanjalah bagian jang membangunkan aku. Jaitu suara perempuan. Kudengar itu waktu tidur, djelas benar, hingga bergema dikelilingku. Kuingat suara itu dan terus kudengar dalam chajalan; dan dengan menuruti daftar kenalanku jang perempuan kutjoba berpikir tentang seseorang jang bitjara dengan suara jang basah, berat, empuk dan mendalam itu, namun tak ada jang memilikinja. Kurasa itu mungkin suara Tonya dan karena aku sudah biasa dengannja, maka tak lagi kutangkap nada suaranja. Kutjoba melupakan bahwa ia istriku, hingga tjukup mengambil djarak untuk mentjari. Namun bukan pula suara dia. Itu masih tetap rahasia.
„Bitjara tentang mimpi, biasanja orang beranggapan bahwa kita mimpikan sesuatu jang telah berkesan sekali pada kita pada siang hari, tapi kupikir djustru sebaliknjalah.
„Sering ada sesuatu jang pada waktunja tidak kita perhatikan — pikiran kabur jang kita malas menggagasnja sampai habis, utjapan jang dikeluarkan tanpa perasaan dan lewat tanpa dimaklumi — inilah jang datang kembali waktu malam, bertubuh darah-daging sebagai tokoh-tokoh dalam impian, seolah hendak memaksa kita mengganti kerugian, sebab kita abaikan dia waktu bangun”.
6
„Malam djernih bersaldju. Lain dari biasanja, segala sesuatu terang-benderang dan saling berhubungan. Bumi, langit, bulan dan bintang-bintang, semua seolah terikat djadi satu oleh saldju beku. Bajangan pohon-pohon terbaring menjilang djalan-djalan, djelas tergaris seperti dipahat djadi relief. Kita menjangka terus melihat sosok-sosok gelap melintasi djalan-djalan disana-sini. Bintang-bintang besar tergantung didahan-dahan bagaikan lentera biru. Bintang-bintang ketjil ada seantero langit seperti bunga desi dipadang dalam musim-panas.
„Kami landjutkan pembitjaraan tentang Pushkin. Tempo hari kami pertjakapkan sadjak-sadjak jang ditulisnja disekolahan. Banjak sekali tergantung dari pemilihan metrum!
„Selama ia pergunakan baris-baris pandjang, hasratnja terbatas pada hendak mengesan pada lingkaran sastra „Arzamas”. Mitologi, bombasme, kebidjakan duniawi, epikuranisme, sofisme — jang semuanja dipakai — semua ini supaja tak ketinggalan oleh orang-orang dewasa dan untuk mengelabui mata pamannja.
„Tapi sesudah ia berhenti meniru Ossian dan Parny, lalu dari „Kenang-kenangan tentang Tsarskoye Selo” beralih ke „Kota Ketjil” atau „Surat pada Kakak Perempuan” atau „Kepada Tempat-tintaku” (jang ditulisnja kemudian di Kishinev), atau „Kepada Yudin”, maka seluruh Pushkin sudah ada disitu.
„Hawa, tjahaja, keramaian hidup, keramaian hal-ihwal jang riil dan dapat seolah menjerbu kedalam puisinja dari djalanan seperti melalui djendela terbuka. Hal-ihwal jang kongkrit — jang berada didunia luar, jang sedang berlaku, kata-kata biasa — menerobos dan menguasai sadjaknja serta menjisihkan bagian-bagian jang samar-samar dalam permadahannja. Hal-ichwal tak terbilang banjaknja berleretan dalam kolom-kolom bersandjak dihalaman buku.
„Kesannja ialah bahwa segala tetrameter ini jang kemudian mendjadi kenamaan adalah kesatuan-kesatuan dari kaju meteran, digunakan untuk mengukur penghidupan di Rusia; diukurnja seluruh existensi Rusia, tak ubahnja kalau kita menarik garis-keliling sebuah kaki atau menggambarkan format sebuah tangan, agar jakin bahwa sepatu atau sarung-tangannja sesuai dengannja.
„Dengan tjara jang banjak samanja, kemudian irama bahasa pertjakapan Rusia, intonasi utjapan biasa bersimpangan dalam trimeter dan daktylus Nekrassov”.
7
„Aku ingin berguna selaku dokter atau petani dan berbareng dengan itu mengerdjakan sesuatu jang kekal, jang azasi; ingin sekali aku menulis karja seni atau ilmu.
„Tiap manusia lahir sebagai seorang Faust, dengan hasrat memeluk, mengalami serta menjatakan tiap hal didunia. Faust mendjadi ahli-ilmu, berkat kesalahan orang-orang jang mendahuluinja dan sezaman dengannja. Kemadjuan ilmu menuruti hukum pengelakan — tiap langkah kedepan adalah akibat reaksi terhadap desilusi dan teori-teori palsu jang sedang meradjai waktu tertentu. Berkat teladan guru-gurunja Faust mendjadi seniman. Langkah-langkah kedepan dalam seni adalah karena perasaan tertarik, karena kekaguman serta hasrat siseniman hendak menuruti teladan mereka jang terdahulu jang paling dikaguminja.
„Apakah jang menghalangi aku untuk berguna sebagai dokter atau pengarang? Itu menurut pendapatku bukanlah penanggungan atau pengembaraan kami, ataupun penghidupan kami jang senantiasa berobah dan tak teratur, melainkan meradjalelanja klise dalam zaman retorika kita — segala „fadjar hari-depan”, „pembentukan dunia baru”, „penjuluh perikemanusiaan”. Pertama kali mendengar ini, kita berpikir: „Chajalan jang kaja benar!” Tapi sebenarnja jang menjebabkannja mendjadi muluk-muluk ialah bahwa dibelakangnja tak ada daja-chajalan, sebab buah-pikiran itu tak asli. „Hal” jang menakdjubkan tak pernah lain dari hal jang biasa, tapi disentuh oleh tangan djenius.
Peladjaran terbaik mengenai objek dalam hal ini adalah Pushkin. Dibuatnja pudjaan tentang pekerdjaan jang djudjur, kewadjiban dan rutine. Kata-kata „burdjuis” dan „kelas menengah” sekarang mendjadi istilah jang disalah-gunakan, tapi Pushkin telah mendahului kritik dalam „Pohon Keluarga”nja: „Akulah seorang burdjuis, burdjuis” dan djuga dalam „Perdjalanan Onegin”:
„Jang paling kugemari dalam seluruh kesusasteraan Rusia ialah sifat Rusia jang kekanak-kanakan pada Pushkin dan Chekhov, pun bahwa kerendahan-hati mereka tak memerlukan jang muluk-muluk seperti tudjuan terakhir manusia atau kemubarakaan mereka sendiri. Mereka bukannja tak memikirkan hal-hal ini untuk hasil jang baik, tapi mereka selalu merasa bahwa mereka tak pantas bagi hal-hal sepenting itu. Kalau Gogol, Tolstoy dan Dostoyevsky bersedih-hati dan mentjari arti hidup, menjiapkan diri untuk maut dan membuat neratja, maka dua orang ini sampai udjung hidupnjapun terbawa hanjut oleh arus tugas masing-masing jang ditimpakan pada mereka oleh panggilan mereka sebagai pengarang, maka selama memenuhi tugas-tugas ini merekapun mendjalankan hidupnja sendiri, diam-diam, dan kehidupan maupun pekerdjaan ini mereka selenggarakan sebagai hal-hal jang swasta dan bersifat perseorangan, tak penting bagi orang lain. Tapi hal-hal jang bersifat perseorangan ini sedjak itu telah mendjadi penting bagi kita semua, karja mereka mematangkan diri bagaikan buah kuldi jang dipetik masih hidjau dari pohon, tapi makin matang dalam hal makan dan kelezatannja”.
8
„Tanda-tanda pertama musim-semi. Saldju meleleh. Hawa jang lesu berbau kue bermentega serta vodka seperti pada malam Puasa. Matahari seolah berminjak, mengantuk dan berpendar dalam rimba; pohon-pohon ruw mengantuk dengan daun-daun runting jang bersuar bagai bulu-mata, bentjah-bentjah berminjak bersinaran waktu sendja. Tanah-dusun itu menguap, menggeliat, membalikkan diri dan tidur lagi.
„Bab ke-7 Eugen Onegin menggambarkan musim-semi, rumah Onegin jang sunji karena ditinggalkannja, kuburan Lensky dekat anak-sungai dikaki bukit.
Mengapa „pentjinta”? Sewadjarnjalah mengatakan bahwa itu serasi. „Pentjinta” itu tjotjok. Pun ia memerlukannja karena sandjaknja. — Ataukah sebenarnja ia ingat pada Bulbul si Perampok jang disebut dalam balada? „Bulbul Perampok”, anak Odimantiy”.
„Kami tiba di Varykino pada awal musim-semi. Pohon-pohon lekas menghidjau — els dan hasel dan anggur liar — terutama di Shutma, ngarai dibawah rumah Mikulitsin. Dan tak lama kemudian burung-burung bulbul mulai menjanji.
„Sekali lagi kuherankan perbedaan antara njanjiannja dan njanjian burung-burung lain, djurang lebar jang tak didjembatani oleh Alam antara jang lain-lain itu dan kekajaan serta keistimewaan bulbul. Alangkah hebat keragaman serta kekuatan dan resonansinja! Turgenev ada menulis tentangnja — tentang siulan ini, seolah ada setan hutan main suling. Dua bunji terutama menjolok. Jang sebuah ialah „tjok-tjok-tjok” jang mewah, diulangi penuh semangat. Kedua kalinja berbunji, maka hutan-belukar jang ditaburi embun, menggigil kesenangan. Bunji lainnja berat, memohon, meminta perhatian atau memperingatkan: „Bangun! Bangun!”
9
„Musim-semi. Hampir waktunja untuk menabur benih. Tak ada waktu untuk menulis, pun tidak untuk memiara buku-harian. Selama kutulis, baiklah hasilnja. Kusisihkan untuk musim-dingin berikutnja.
„Tempo hari — benar-benar waktu Puasa — tepat ditengah air bah musim-semi, seorang petani jang sakit mengendarai kereta-saldju masuk pekarangan, menempuh lumpur bertjampur saldju. — Kukatakan padanja, aku tak berpraktek lagi. Tak kupunja obat-obatan atau alat jang diperlukan. Namun sia-sia, ia mendesak-desak. — „Tolonglah saja. Kulit saja tak beres. Kasihanilah tubuh jang sakit ini”. — Apa boleh buat! Hati bukanlah batu. Kuminta dia membuka badjunja. Ia menderita lupus. Waktu memeriksa dia, aku melirik kebotol karbol ditepi djendela (Djangan tanja dari mana datangnja — botol serta sedikit barang jang kubutuhkan — semua dari Samdevyatov). Lalu kulihat ada kereta-saldju lagi dipekarangan. Mula-mula kusangka itu pasien lagi. Tapi ternjata itu adikku Yeygraf, jang datang tiba-tiba dari langit. Keluargaku menemani dia — Tonya, Sasha, Alexander Alexandrovich. Kemudian aku ikut-serta. Kami hudjani dia dengan segala pertanjaan. Dari mana dia? Bagaimana datangnja? Seperti biasanja, ia menghindar-hindar sadja; ia bersenjum, mengangkat bahu, bitjaranja teka-teki belaka.
„Ia tinggal dua minggu, kerap pergi ke Yuryatin, lantas lenjap, seperti ditelan bumi. Selama ia tinggal dengan kami itu sadarlah aku bahwa pengaruhnja lebih besar dari pengaruh Samdevyatov, bahkan bahwa koneksi serta pekerdjaannja lebih rahasia lagi. Djadi apakah ia? Apa jang dilakukannja? Mengapa kekuasaannja besar? Ia berdjandji memudahkan segala hal untuk kami, hingga Tonya akan punja lebih banjak waktu untuk Sasha dan aku untuk berpraktek mengobati serta mengarang. Kami tanjakan, bagaimana dibajangkannja itu. — Ia tersenjum. Namun hasilnja sepadan dengan omongnja. Ada tanda-tanda perobahan dalam keadaan kami.
„Sungguh mengagumkan. Dia adik-tiriku. Nama kami sama. Namun saja praktis tak tahu-menahu tentang dia.
„Kedua kalinja ia menerobos dalam hidupku selaku djuru-selamat jang menolongku dan memetjahkan segala kesukaranku. Barangkali dalam tiap penghidupan disamping tokoh-tokoh lain jang terlibat didalamnja, mesti ada kekuatan tersembunji jang tak dikenal, tokoh jang hampir-hampir djadi lambang dan datang menolong tanpa diminta, maka dalam penghidupanku mungkinlah Yeygraf, adikku ini, memegang peranan musim-semi penghidupan”.
Disini berachirlah buku-harian Yury; ia tak pernah memulainja lagi.
10
Yury melihati buku-buku jang diambilnja tadi dalam kamar-batja perpustakaan umum di Yuryatin. Dikamar-batja ini ada banjak djendela dan kira-kira seratus orang bisa duduk disitu. Medja-medja pandjang berdiri dalam saf-saf jang berudjung dekat djendela. Perpustakaan ditutup waktu magrib; dimusim-semi tak ada penerangan dikota. Tapi bagi Yury ini tak djadi soal, sebab dalam hal apapun ia tak pernah tinggal dikota lewat waktu-makan. Ditinggalkannja kuda jang dipindjamnja dari Mikulitsin itu ditempat penginapan Samdevyatov; ia membatja sepandjang pagi, lalu balik ke Varykino waktu sendja.
Sebelum mengundjungi perpustakaan, Yury hampir tak pernah ke Yuryatin; tak ada kepentingan chususnja disana dan ia hampir tak mengenalnja. Kini, ketika kamar-batja lambat-laun dipenuhi penduduk setempat, ada jang duduk disebelahnja, ada jang agak djauh dari padanja, ia merasa seakan bisa mengenal kota itu dengan berdiri disalah-satu simpangan djalan, pun seakan tak hanja orang-oranglah jang masuk kedalam kamar, melainkan segala djalanan dan rumah tempat mereka tinggal, djuga bertemu disitu.
Yuryatin jang sesungguhnja, jang riil dan tidak chajali, nampak dari djendela-djendela. Didepan djendela terbesar jang ada ditengah-tengah deretan, berdirilah sebuah bak berisi air panas. Bila para pembatja ingin beristirahat, keluarlah mereka keatas bordes untuk merokok ataupun mengerumuni bak tadi, minum air, mengosongkan piala kedalam basi, lantas menggerombol depan djendela, mengagumi pemandangan diatas kota.
Ada dua djenis pembatja. Sebagian besar berasal dari kaum tjeridik-pandai setempat, sisanja orang-orang jang lebih sederhana.
Kaum intelek ini kebanjakannja perempuan, pakaiannja buruk, rupanja muram tak terpelihara, mukanja pandjang dan membajangkan penjakit serta mengembung, disebabkan satu dan lain hal — karena kelaparan, sakit-kuning ataupun busung-air. Sedjak dulu mereka membutuhkan batjaan, mereka kenal para pegawai setjara pribadi dan merasa senang diperpustakaan.
Rakjat djelata kelihatan sehat dan tampan, memakai pakaian terbaik serapi-rapinja; mereka masuk dengan malu-malu dan takut-takut, seolah memasuki geredja; mereka lebih riuh dari jang lain-lainnja, bukan karena tak mengenal peraturan, melainkan karena dalam keinginan untuk berdiam diri itu mereka tak sanggup menguasai kaki dan suara mereka jang tak suka diam.
Pustakawati beserta dua pembantunja duduk ditempat ketinggian dalam relung ditembok menghadapi djendela-djendela, terpisah dari kamar selebihnja oleh sebuah lang. Seorang pembantu adalah perempuan bermuka masam; ia memakai kain-leher dari wol dan selalu memasang katja-mata serta mentjopotnja, bukan karena perlu, melainkan karena perasaannja.
Pembantu lainnja jang memakai blus sutra hitam, rupanja lemah dadanja, sebab ia bernafas dan bitjara dibelakang saputangannja jang tak pernah dilepas dari hidung serta mulutnja.
Personil ini mempunjai muka jang djuga pandjang, menggembung dan lembek seperti kaum intelek tadi, kulit mereka sama longgarnja, berwarna tanah dan kehijau-hidjauan seperti mentimun atau tanah abu-abu. Mereka bergiliran menerangkan peraturan kepada para pembatja baru dengan bisik-bisik, mengatur kartu-pesanan, mengambil buku serta mengembalikannja dan kadang-kadang mengerdjakan laporan dan lain-lainnja.
Dengan asosiasi pikiran jang sukar diperhitungkan, dimulai ketika melihat kota sungguhan diluar djendela dan kota chajali didalam kamar beserta muka orang jang bengkak-bengkak disekitarnja jang mengesankan seolah tiap mereka menderita gondok dan entah mengapa mengingatkan dia pada wadjah masam perempuan jang melajani sinjal-sinjal disetasiun Yuryatin, ketika ia tiba pagi hari itu, terkenanglah Yury pada pemandangan dari djauh atas kota serta Samdevyatov disisinja dilantai deresi dan segala keterangan dan uraiannja. Ditjobanja menghubungkan uraian-uraian jang diterimanja djauh diluar kota itu dengan keadaan dekat disekelilingnja, mumpung ia mendjadi pusat adegan ini, tapi tak tjukup diingatnja apa jang dituturkan Samdevyatov padanja.
11
Yury duduk diudjung kamar jang terdjauh dari pintu. Didepannja ada sekumpulan laporan tentang statistik zemstvo setempat serta beberapa buku keterangan mengenai ethnografi didaerah itu. Ditjobanja djuga mendapatkan dua buku tentang sedjarah pemberontakan Pugachev, tapi bibliotikaris jang pakai blus sutera itu membisikkan bahwa seorang pembatja tak boleh mengambil buku sebanjak itu sekali gus, pun bahwa ia harus mengembalikan beberapa madjalah dan buku keterangan, sebelum hendak mengambil karja-karja lain jang diminatinja.
Demikianlah ia mengasjikkan diri dengan kumpulan buku-buku jang belum terpilih itu, lebih tergesa dan lebih tekun dari mula-mula, supaja nanti disisihkannja apa jang betul-betul diperlukannja serta menukar sisanja dengan buku-buku sedjarah jang ia ingin membatja. Ia melihat-lihat buku-buku-penuntun serta membatja djudul bab-bab dengan asjik sekali dan tiada menoleh-noleh kesekitarnja. Pembatja sebanjak itu tidak mengganggunja. Ia telah mengamati baik-baik para tetangganja; mereka jang disebelah kanan-kiri sudah terpantjang dalam ingatannja, tanpa mengangkat matanja ia tahu mereka ada disitu dan ia jakin mereka tak akan meninggalkan kamar-batja sebelum dia, seperti djuga segala rumah dan geredja diluar djendela itu tak akan bergeser dari tempat-tempatnja jang sudah ada.
Mataharilah jang berganti tempat. Ia sudah bergerak diseluruh ruangan dari sudut-sebelah Timur dan kini bersinar melalui djendela-djendela ditembok Selatan, tepat mengenai mata para pembatja jang terdekat.
Pustakawati jang sakit pilek chronis itu turun dari tempat ketinggiannja, lalu berdjalan kedjendela-djendela. Didaun djendela jang putih itu ada besi berlipat-lipat jang melunakkan tjahaja setjara menjamankan. Semua ditariknja kebawah, ketjuali satu. Djendela terakhir masih dalam bajangan. Ia menghampiri guna membuka magunnja, tapi ia lemas oleh serangan bersin.
Setelah ia bersin sepuluh dan selusin kali, Yury menerka bahwa ia ipar Mikulitsin, salah seorang putri Tuntsev jang disebut oleh Samdevyatov. Ia mengangkat kepala dan melihat kearahnja, seperti jang sudah dilakukan kebanjakan pembatja.
Kini ditangkapnja suatu perobahan diruangan. Diudjung jang djauh ada pembatja baru. Yury segera mengenal kembali Antipova. Ia membelakanginja, bitjara lembut kepada pustakawati jang pilek itu jang melunglai kearahnja dan mendjawab berbisik-bisik. Pertjakapan rupanja berakibat baik bagi pengasuh perpustakaan itu. Sungguhlah ia nampak sembuh seketika, maka lenjaplah sekarang selesmanja maupun air-mukanja jang gugup itu. Sambil memandang penuh kesajangan dan terima-kasih kepada Lara, diambilnjalah dari mukanja saputangan jang tadi tidak henti-hentinja ia tekankan kemulut itu, dimasukkannja kedalam kantong, lalu kembali ketempat-duduknja dibelakang sekatan dengan rasa bahagia, pertjaja-diri serta bersenjum-senjum.
Kedjadian jang ditandai oleh peristiwa ketjil jang mengharukan ini disaksikan oleh beberapa orang diberbagai tempat dalam ruangan; merekapun bersenjum dan melihat ke Lara dengan penghargaan. Dari tanda-tanda ketjil ini Yury menjimpulkan betapa Antipova dikenal dan disukai orang dikota.
12
Mula-mula Yury hendak pergi menjapanja. Tapi diwaktu jang lampau dalam hubungannja dengan Lara ia telah mendjadi malu-malu dan tak bersahadja, bertentangan dengan kodratnja dan inilah jang mentjegahnja. Diputuskannja tak hendak mengganggunja dan tak meninggalkan pekerdjaannja. Supaja menghindari godaan untuk melihatnja, ia menggeser kursinja kesamping, hingga punggungnja njaris menjentuh medja; ditjobanja memusatkan perhatian kebuku-bukunja, dengan memegang sebuah dan meletakkan lain-lainnja atas lututnja.
Namun pikirannja melambung berdjagat-djagat djauhnja dari apa jang dibatjanja. Sekonjong-konjong ia sadar bahwa suara jang pernah didengarnja dalam impian pada malam musim-dingin di Varykino adalah suara Lara. Penemuan ini membikinnja terperandjat, maka didorongnja kursinja kebelakang, hingga dibuatnja keributan jang mengedjutkan para tetangga dan iapun memandang ke Lara.
Ia melihat mukanja dari samping, hampir dari belakang. Ia memakai blus kotak-kotak serta ikat-pinggang; ia duduk keasjikan dengan bukunja, tenggelam semata-mata dalam batjaannja seperti anak ketjil dengan kepala sedikit menunduk atas pundak-kanannja. Sekali-sekali ia berhenti memikir, menengadah kelangit-langit atau langsung kedepan, lantas menopang lagi pipinja dengan tangan dan menulis dibuku-tjatatannja dengan sapuan potlot serba tjepat.
Yury menangkap lagi apa jang ditangkapnja dulu di Melyuzevevo. „Dia tak punja kegenitan”, pikirnja. „Ia tak ingin menjenangkan orang atau nampak tjantik. Dianggap remeh seluruh segi penghidupan wanita ini, ia seakan menghukum diri karena berparas manis. Namun permusuhan angkuh terhadap diri sendiri ini membikinnja lebih menarik lagi”.
„Tiap hal dikerdjakannja baik-baik. Tjaranja membatja tidaklah menundjukkan bahwa membatja adalah kegiatan tertinggi manusia, melainkan seolah hal jang sebiasa-biasanja, jang bahkan dapat dilakukan oleh binatang. Seolah ia membawa air dari sumur atau mengupas kentang”.
„Renungan-renungan ini menenangkannja. Sebetulnja djaranglah ia mengalami kedamaian begitu. Pikirannja tak lagi melontjat dari objek. Mau-tak-mau ia tersenjum; kehadiran Lara mempengaruhi dia, tak ubahnja dengan pustakawati jang sakit urat-saraf tadi”.
Ia tak lagi merusuhkan letak kursinja, pun tak chawatir akan diganggu, maka iapun bekerdja kurang-lebih satu djam dengan konsentrasi jang lebih besar lagi dari pada saat kedatangan Lara. Didjeladjahnja seluruh ongokan buku didepannja, dengan menjisihkan jang paling diperlukannja, malahan masih punja waktu untuk membatja karangan jang diperlukan dan ditemunja dalam salah sebuah buku. Kemudian diputuskannja bahwa ia sudah tjukup banjak berusaha hari itu, dikumpulkannja semua buku dan dibawanja kelesenan. Dengan hati-nurani jang lurus tanpa maksud lebih landjut, digagasnja bahwa sehabis kerdja keras pagi itu pantaslah ia berlibur untuk bertemu seorang teman lama dan bahwa ia berhak mengizinkan diri bertemu dengannja untuk kesenangan hati. Tapi ketika ia bangkit dan memandang keseluruh ruangan, Lara tak ada lagi disitu.
Buku-buku jang baru sadja dikembalikan Lara, masih terletak diatas lang, tempat ia sendiri menaruh buku-bukunja dan ternjata buku-buku peladjaran tentang Marxisme. Ia rupa-rupanja mengadjar kembali diri sendiri dalam politik, sebelum pulang kepekerdjaannja sebagai guru.
Pada kartu pesanannja jang menondjol antara halaman-halaman buku-buku, tertulislah alamatnja. Yury mengambilnja dan heran melihat keanehannja: Djalan Pedagang1 1Djalan Pedagang: Kupecheskaya. , diseberang „Rumah Kariatid”. Pada seorang pembatja ia bertanja apa artinja ini dan mendengar bahwa kebiasaan menggambarkan letak rumah dengan hubungannja dengan „Rumah Kariatid” itu sudah lazim di Yuryatin, seperti kebiasaan di Moscow jang menjebut suatu distrik dengan nama geredja parochinja.
„Rumah Kariatid” adalah gedung berwarna muram, abu-abu seperti badja, dengan patung-patung ketudjuh Muse jang memegang gong, lira dan topeng serta menghiasi fasade. Seorang pedagang mendirikannja dalam abad jang baru lalu sebagai gedung kesenian milik sendiri. Para achliwarisnja mendjual gedung itu kepada Persekutuan Pedagang jang memberikan namanja pada djalanan itu, pun seluruh distrik dikenal dengan nama rumah itu. Gedung ini sekarang dipergunakan oleh Panitia Kota Partai; fasade bagian bawahnja jang dulu ditempeli poster-poster dan programa-programa, kini mempertontonkan proklamasi serta dekrit pemerintah.
13
Sendja pada awal bulan Mei itu dingin dan banjak anginnja. Yury telah mengundjungi perpustakaan, menjelesaikan keperluannja dikota dan sedang berdjalan pulang, ketika sekonjong-konjong ia merobah tudjuannja dan pergi menengok Lara.
Angin sering menahannja, melambungkan debu dan pasir berkepul-kepul didepannja. Iapun melengos sambil menundukkan kepala dan mengusap-usap mata, menunggu sampai debu habis beterbangan, lalu meneruskan djalannja.
Lara berdiam dipodjok Djalan Pedagang diseberang Rumah Kariatid jang gelap dan abu-abu semu biru itu, jang kini dilihatnja pertama kalinja. Gedung ini memang sesuai dengan namanja dan kesannja padanja adalah adjaib dan merusuhkan.
Patung-patung wanita dari mitologi, besarnja separuh manusia, berderet-deret disekelilingnja setinggi pintu paling atas. Ditjelah-tjelah dua kepulan angin berdebu iapun seakan melihat semua wanita digedung itu keluar kebalkon dan memandang padanja dari balustrade.
Ada dua tempat-masuk kerumah Lara, sebuah pintu di Djalan Pedagang, pintu lainnja disebalik podjok dilorong. Karena tak tahu ada pintunja dari depan, iapun masuk dari lorong-tjabang ini.
Ketika ia lewat gerbang, angin membubungkan debu dan kotoran kelangit, menjembunjikan djalan kepekarangan. Dengan menembus tabir hitam ini beberapa ajam jang diburu djago, lari berkokok-kokok dari bawah kaki Yury.
Ketika debu turun, nampak Lara dekat sumur. Ia telah mengisi dua ember dan menggantungkannja dengan pikulan dibahu-kirinja. Rambutnja terikat atjuh-tak-atjuh dengan saputangan, buhulnja didepan agar tak kehinggapan debu dan dia sedang menekan roknja jang menggelembung itu antara kedua lututnja. Ia berdjalan kerumah, terhalang oleh tiupan angin lagi jang mentjabut saputangan dari kepalanja dan membawanja keudjung pagar terdjauh, dimana ajam-ajam masih berkaok-kaok.
Yury memburu, memungutnja serta memulangkan kepadanja. Lara nampak heran, tapi tetap bersikap wadjar seperti biasanja, tanpa bergerak dramatis atau terkedjut. Ia hanja berkata:
„Zhivago!”
„Larissa Fyodorovna!”
„Apa kerdja anda disini?”
„Turunkan ember-ember itu, saja angkat untuk anda”.
„Saja tak pernah berhenti setengah-djalan, tak saja tinggalkan pekerdjaan, sebelum selesai. Kalau saja jang anda tjari, ikutlah”.
„Siapa lagi jang saja tjari?”
„Bagaimana saja tahu?”
„Tak soallah, biar saja bawa ember-ember ini. Saja tak bisa nganggur, sedang anda sibuk”.
„Ini anda sebut sibuk? Biar sadjalah. Anda nanti membasahi djendjang sadja. Lebih baik tjeritakan, apa sebab anda disini. Setahun lebih anda didistrik ini, tapi tak pernah sempat datang sampai sekarang”.
„Bagaimana anda tahu?”
„Dunia penuh desas-desus. Lagi pula, saja lihat anda dikamar-batja”.
„Mengapa tak anda tegur saja?”
„Djangan anda katakan tak melihat saja”.
Sedikit terhujung dibawah beban ember-ember jang agak gontjang itu ia berdjalan didepan Yury lewat gerbang rendah jang melengkung. Disini ia membungkuk, meletakkan ember-ember kelantai-tanah, melepaskan pikulan dari bahunja, menegakkan diri, lantas mengeringkan tangannja dengan saputangan ketjil.
„Mari saja bawa anda lewat serambi-dalam kebangsal-depan. Disitu lebih terang. Anda harus menunggu sedjurus. Saja angkat ember-ember naik djendjang-belakang dan berkemas sedikit. Tak akan lama. Tengoklah djendjang bagus ini — anak-tangganja dari besi tjoran dengan pola ajour. Rumah sudah tua. Gojah sedikit oleh pemboman: nampak dimana batu-bata terlepas. Anda lihat rekah dalam susunan bata ini? — Disitu Katya dan saja meninggalkan kuntji rumah-petak ini, bila kami keluar. Ingatlah. Mungkin anda datang suatu hari, kalau saja keluar — buka sadjalah pintu dan anggaplah ini rumah anda, sampai saja pulang. Tengok, ini dia, tapi sekarang tak saja perlukan. Saja akan masuk dari belakang dan saja buka pintu dari dalam. Satu-satunja gangguan disini ialah tikus. Berbondong-bondong dan tak bisa diberantas. Tembok-tembok tua inilah sebabnja. Rekah dan retak dimana-mana. Sudah saja sumbat tiap lobang-tikus jang saja lihat, namun tak banjak menolong. Barangkali anda mau datang membantu lain kali? Rekah-rekah antara lantai dan tepinja perlu disumbat. Bagaimana? Nah, tinggallah dibordes dan pikirkanlah sesuatu. Tak lama, sebentar lagi kupanggil anda”.
Dengan menunggu Lara memanggilnja, Yury mengedarkan pandangan ketembok-tembok retak dan anak-tangga dari besi tjoran itu. Dalam batinnja ia berkata: „Dikamar-batja kusangka ia tekun dalam pembatjaannja dengan semangat jang ditjurahkannja pada pekerdjaan djasmani jang keras lagi riil. Sekarang kusaksikan bahwa jang sebaliknjapun begitu: diangkutnja air dari sumur dengan enteng dan mudah, seperti sedang membatja sadja. Apapun jang diperbuatnja mendjadi lantjar dan selaras, seolah waktu masih ketjil dulu ia telah mulai penghidupannja dengan terbang dan segala sesuatu dengan sendirinja mengikutinja, wadjar seperti sesuatu akibat timbul dari sebabnja. Semua ini ada dalam garis punggungnja kalau ia membungkuk, dalam senjumnja jang merekah bibir dan membulatkan dagunja, dalam utjapan serta segala pikirannja”.
„Zhivago!” Lara memanggil dari bordes paling atas. Iapun naik.
14
„Ulurkan tangan dan turutlah petundjuk saja. Kita harus lewat dua kamar gelap jang ditimbuni prabot — djangan sampai menabrak apa-apa, hingga luka”.
„Simpang-siur disini. Susah mentjari djalan. Mengapa begini? Rumah-petak ini akan diganti hiasannja?”
„O, bukan begitu. Bukan itu sebabnja. Flet ini kepunjaan orang lain, entah siapa. Flet saja sendiri dulu digedung sekolah. Ketika sekolah itu diambil alih oleh Departemen Perumahan Kota, Katya dan saja diberi sebagian dari flet ini. Penghuni jang dulu sudah pergi dengan meninggalkan seluruh prabotnja, banjak betul. Saja tak suka memakai milik orang lain, djadi semua saja taruh disini dan saja labur djendela-djendela untuk menolak matahari. — Djangan lepaskan tangan saja, anda akan kesasar. Berhentilah disini, kita belok kekanan. Kini kita keluar dari djalan-sasar itu — inilah pintu saja. Sebentar lagi akan lebih terang. Awasi langkah anda”.
Waktu ia mengikuti Lara, ia tertarik oleh pemandangan dari djendela jang menghadap kepintu. Djendela ini membuka pemandangan kepekarangan dan diatas atap-atap rendah diseberangnja sampai ketanah-umum dekat sungai; tanah-umum ini milik kota-pradja. Kambing dan domba merumput disitu, bulu mereka menjapu tanah seperti udjung djubah. Ada pula disitu papan reklame jang dikenallnja: Moreau dan Vetchinkin. Alat penabur benih. Mesin tebah.
Terkenang pada hari kedatangannja dari Moscow, ia segera mulai melukiskannja pada Lara; ia lupa bahwa Strelnikov konon suaminja, dan tanpa pikir pandjang ia tjeritakan pertemuannja dengannja. Bagian tjeritanja ini mengesan sekali pada Lara.
„Anda ketemu dia! Luar-biasa! Tak saja tjeritakan apa-apa pada anda sekarang, tapi ini sungguh luar-biasa. Kamu seakan ditakdirkan untuk bertemu. Saja tuturkan hal ini lain kali, akan takdjudblah anda. Rupa-rupanja kesan anda tentang dia baik dan tidak djelek?”
„Pada umumnja, ja. Mestinja saja mual tentang dia. Kami sebenarnja telah melalui wilajah, dimana ia menjebarkan maut dan kebinasaan. Saja duga akan mendjumpai seorang „bashibazook” atau Jack the Ripper jang revolusioner, tapi ia bukan kedua-duanja. Adalah baik, kalau seseorang itu lain dari jang kita bajangkan. Itu tandanja dia bukan suatu tipe. Kalau tipe, akan lenjaplah dia sebagai manusia. Tapi kalau tak bisa kita tempatkan dia dalam suatu kategori, itu berarti bahwa sekurang-kurangnja sebagian dari padanja adalah apa jang kita kehendaki dari machluk insani. Ia punja inti keabadian”.
„Kabarnja ia bukan anggota partai”.
„Ja, saja kira itu benar. Sedjak itu saja bertanja-diri apakah jang membuatnja menarik. Saja rasa hal itu ada, karena ia ditakdirkan akan musnah. Matinja akan buruk dan dia akan menebus dosa jang dilakukannja. Kaum revolusioner jang mengendalikan sendiri undang-undang, adalah mengerikan, bukan sebagai pendjahat, melainkan sebagai mesin-mesin jang luput dari pengawasan, seperti kereta-api jang mairat. Strelnikov sama gilanja dengan jang lain-lain, tapi ia djadi gila disebabkan penghidupan dan penderitaan, bukan karena buku-buku. Saja tak tahu rahasianja, namun jakin rahasianja itu ada. Persekutuannja dengan kaum Bolsjewik itu kebetulan sadja. Mereka mau menerima dia, selama ia kebetulan searah dengan mereka dan berguna bagi mereka. Pada saat ia tidak diperlukan lagi, mereka akan melemparkannja serta mengindjak-indjaknja tanpa belas-kasihan, seperti jang mereka perbuat dengan ahli-ahli militer lainnja”.
„Anda pikir begitu?”
„Saja jakin”.
„Tapi tak dapat loloskah ia? Tak bisa lari?”
„Kemana dia akan lari, Larissa Fyodorovna? Itu bisa dahulu-kala, dibawah tsar. Tapi tjoba sekarang!”
„Anda membuat saja mengasihani dia. Anda sudah berobah. Biasanja anda bitjara lebih tenang tentang revolusi, anda dulu tak begitu bersikeras mengenai ini”.
„Larissa Fyodorovna, soalnja ialah bahwa segala sesuatu ada batasnja. Selama ini mestinja sudah tertjapai sesuatu jang definitif. Tapi ternjata bahwa mereka jang mengilhami revolusi ini tak mampu berbuat apa-apa selain perobahan dan kekatjauan: itulah anasir kodrati mereka; mereka tak puas dengan sesuatu jang kurang dari persoalan dunia. Bagi mereka, taraf peralihan dan pembinaan dunia sudahlah merupakan tudjuan. Mereka tak terlatih untuk hal-hal lain, mereka tak tahu apa-apa ketjuali itu. Dan tahukah anda, apa sebab ada persiapan-persiapan katjau-balau jang tak kundjung habis ini? Jaitu karena mereka sebetulnja tak punja kapasitet, mereka tak berbakat. Manusia lahir untuk hidup, bukannja untuk mempersiapkan penghidupan. Penghidupan sendiri — hadiah hidup ini — adalah sesuatu jang bermakna dan menakdjubkan! — Mengapa diganti dengan badutan jang kekanak-kanakan dari chajalan remadja, dengan kedanan anak-sekolah ini? Tapi tjukuplah. Saja bergilir bertanja-tanja. Kami tiba pagi hari, waktu ada kerusuhan setempat. Anda mengalami itu?”
„Memang! Disekitar kami semuanja terbakar, heranlah bahwa rumah ini tak habis dimakan api. Saja katakan tadi, rumah ini gojah sekali. Sampai sekarang masih ada bom mlempem dipekarangan. Dekat dibelakang gerbang. Orang merampok, menggranat, segala matjam kengerian — begitu selalu pada pergantian pemerintahan. Tapi waktu itu kami sudah biasa dengannja, itu bukan pertama kalinja. Belum lagi apa jang terdjadi dibawah kaum Putih! Pembunuhan, pembalasan dendam, pemerasan — dosa semata-mata! Tapi belum saja sebut jang paling luar-biasa. — Galullin kita itu! Dia muntjul bersama orang-orang Tjeko dan mendjadi sematjam gubernur-djenderal”.
„Saja tahu. Saja dengar tentang itu. Anda ketemu dia?”
„Sering sekali. Tak bisa anda bajangkan, betapa banjak orang jang saja selamatkan dan saja sembunjikan, berkat dia. Harus saja akui bahwa kelakuannja tak tertjela, ia berbudi, tidak seperti kaum ketjil itu — opsir Kosak bawahan jang mendjadi parvenu, sersan polisi dan entah apa lagi. Tjelakanja, jang menentukan segalanja adalah kaum ketjil itu, bukannja orang-orang sopan. Galullin banjak menolong saja, alhamdulillah. Kami teman lama. Waktu saja masih ketjil, ia mendiami blok rumah disebelah kami dan saja keluar-masuk sadja. Kebanjakan penjewanja adalah buruh-kereta api. Sebagai kanak-kanak saja saksikan banjak kemelaratan. Itu sebabnja sikap saja terhadap revolusi lain dari sikap anda. Revolusi lebih dekat pada saja. Banjak dari padanja saja fahami dari dalam. Namun tak saja sangka, si Galullin, anak djurukuntji, mendjadi kolonel Putih! — atau barangkali djenderal. — Dikeluargaku tak ada militer, saja tak banjak tahu mengenai pangkat-pangkat ketentaraan. Dan anda maklum, pekerdjaan saja adalah guru-sedjarah …Bagaimanapun djuga, begitulah halnja waktu itu. Kami berhasil menolong banjak orang antara kami. Saja sering berdjumpa dia. Kami omong-omong tentang anda. Saja selalu punja kawan dan koneksi ditiap pemerintahan — djuga saja alami penderitaan dan keketjawaan karena mereka semua. Hanja dalam roman jang djeleklah orang terbagi dalam dua fihak jang tak ada sangkut-pautnja. Dalam penghidupan jang sebenarnja semuanja tjampur-baur! Bukankah orang akan mendjadi nol besar jang tak berarti, bila ia hanja memainkan satu peranan seumur hidup, hanja punja satu tempat dimasjarakat dan selalu menghadapi jang itu-itu sadja? — O, itu dia!”
Anak perempuan berumur delapan tahun masuk; rambutnja dikelabang rapi. Mata sipitnja memandang penuh muslihat dan kenakalan dan sudut-sudutnja terangkat, bila ia ketawa. Dia tahu ibunja ada tamu, dia dengar suaranja dari balik pintu, namun ia merasa perlu bersikap seolah terkedjut. Ia membungkuk dan memandang Yury dengan berani dan tak berkedip-kedip, pandangan seorang anak sebatang-kara jang dalam hidupnja sudah mulai berpikir sebelum waktunja.
„Anak saja Katya. Mudah-mudahan kamu djadi teman!”
„Anda tundjukkan potretnja di Melyuzevovo. Sedjak itu ia berobah dan tambah besar!”
„Kusangka kau keluar. Tak kudengar masukmu”.
„Kuambil kuntji dari rekah, disitu ada tikus raksasa — sebesar ini! Tjoba ibu lihat aku melontjat! Aku hampir mati ketakutan”. Air-mukanja djadi lutju, matanja membelalak dan mulutnja menganga bundar seperti mulut ikan diluar air.
„Pergilah sekarang. Paman Yury tinggal untuk makan-siang; kuambil kasha2 2Bubur jang terbikin dari bukwait. dari tungku. Kupanggil kau, kalau selesai”.
„Trima-kasih; saja tak boleh tinggal disini. Kami makan pukul enam, sedjak saja mulai pergi kekota dan saja tjoba tak pulang terlambat. Saja perlukan tiga djam lebih untuk sampai kerumah — hampir empat. Itu sebabnja saja datang sebelum siang tadi. Sajang, saja harus pergi segera”.
„Tinggallah setengah djam lagi”.
„Baik”.
15
„Dan sekarang, karena anda berterus-terang pada saja, sajapun terus-terang pada anda. Strelnikov jang anda djumpai itu suami saja, Pasha Antipov — Pasha jang saja tjari dimedan-perang; kematiannja tak saja pertjaja dan saja benar”.
„Pikiran anda itu tak mengherankan. Saja dengar sendiri jang sematjam itu, tapi sedetikpun tak saja pertjaja. Maka saja lupakan itu sama sekali, ketika bitjara pada anda seterus-terang itu. Omong-kosong belaka. Kuhadapi orang ini. Bagaimana orang akan dapat menghubungkannja dengan anda? Apa persamaan anda dengan dia?”
„Bagaimanapun djuga, itu benar. Strelnikov ini suami saja, Antipov. Kebanjakan orang beranggapan begitu dan saja akui itu. Katya mengetahui itu dan dia banggakan ajahnja. Strelnikov adalah nama-samarannja — ia harus hidup dengan nama palsu, seperti semua orang revolusioner jang aktif. Ada sebabnja maka ia tak boleh hidup atau bekerdja dengan memakai namanja sendiri.
„Dialah pula jang merebut Yuryatin dan membom kami. Ia maklum kami disini, tapi karena takut akan membuka rahasianja sendiri, tak satu kalipun ditjobanja untuk mengetahui apakah kami masih hidup. Tentulah itu kewadjibannja. Andaikata ia bertanja pada saja, akan saja djawab supaja dia lakukan itu. Tak soal …Bahwa saja aman dan Dewan Kota memberi saja tempat jang lajak untuk berdiam, itu boleh dianggap suatu tanda bahwa ia diam-diam mendjaga kami. Tapi bahwa ia sebetulnja harus kesini dan sanggup menahan keinginannja untuk mengundjungi kami — itu tak dapat saja fahami! Itu tidak insaniah, itu sematjam budi-pekerti warga kota Romawi, salah satu hal jang dipikirkan orang sekarang. Namun djangan sampai saja terpengaruh oleh tjara pengamatan anda. Tjara anda dan tjara saja berpikir tidaklah sama. Ada sesuatu jang tak teraba, jang tersisih, jang kita berdua mengerti dan merasakan dengan tjara jang sama. Tapi kalau mengenai masalah-masalah besar, filsafat hidup, baiklah kita tetap disudut-sudut jang berlainan. Tapi mari kembali ke Strelnikov.
„Sekarang ia di Siberia dan anda benar. — Saja dengar ia dituduh tentang hal-hal jang membuat darah saja dingin. Ia di Siberia, memimpin salah-satu pos kita jang terdepan dan ia bertempur dan menghantam Galilullin jang malang itu, teman masa-ketjilnja serta teman seperdjoangan dalam perang lawan Djerman. Galilullin tahu siapa dia, tahu pula bahwa saja istrinja, tapi ia telah menundjukkan budi jang tak ternilai, bahwa ia tak pernah membuat saja merasa demikian, walaupun Tuhanlah jang tahu betapa ia mata-gelap, bila mendengar nama Strelnikov.
„Ja, ia sekarang di Siberia. Tapi ia lama disini, tinggal dideresi, anda djumpai dia. Saja dulu tetap berharap akan kepergok dia setjara kebetulan. Kadang ia pergi kemarkas-besar stafnja, digedung jang biasanja ditempati oleh markas-besar Komuch — tentara Dewan Konstitusi — Dan betapa anehnja permainan nasib — djalan-masuk melalui sajap, dimana Galilullin pernah bertemu saja. Saja selalu kesana, guna minta padanja menolong orang atau menghentikan sesuatu kedjadian jang mengerikan atau lain-lainnja. Misalnja peristiwa di Akademi Militer jang ketika itu menimbulkan heboh besar. — Kalau seorang instruktur tak disukai, kadet-kadet menembaknja dari tempat persembunjian dan mengatakan bahwa ia simpatisan kaum bolsjewik. Ada pula masanja mereka mulai menggasak orang-orang Jahudi. Kebetulan sadja — inilah jang selalu berkesan padaku — kalau orang mendjadi intelek matjam apapun djuga dan tinggal dikota seperti kita, maka separoh teman-temannja mesti orang Jahudi. Tapi diwaktu orang memburu-buru orang Jahudi, waktu segala hal jang mengerikan dan kedji ini terdjadi, kita tak hanja merasa sajang dan marah dan malu, tapi djuga merasa tjelaka karena terpetjah-belah, seolah simpati kita tak berasal dari hati, melainkan dari kepala, dan sesudah itu kita merasa tak djudjur.
„Anehlah bahwa orang-orang jang dulu menegakkan kemerdekaan manusia dari bawah kekangan pendewa-dewaan dan banjak diantaranja kini mengabdikan diri untuk membebaskan manusia dari kelaliman, mendjadi tak berdaja untuk mentjapai kebebasan mereka sendiri dari diri sendiri, dari kungkungan kesetiaan mereka kepada tudjuan kolot dan kuno jang kehilangan segala makna — bahwa mereka tak mendjulang atas diri sendiri dan larut kedalam orang-orang lainnja jang mereka bentuk imannja, sedangkan dengan orang-orang ini akan banjaklah persamaan mereka, asal sudah dikenal lebih baik.
„Sudah barang tentu mereka ini karena dikedjar-kedjar terpaksa mengambil sikap jang kosong-melompong dan mentjelakakan ini, pementjilan jang ingkar-diri dan membuat malu ini, jang hanja menghasilkan azab-sengsara bagi mereka. Tapi saja kira ada djuga jang diakibatkan oleh sematjam senilitet kebatinan, kelelahan berabad-abad. Tak saja sukai siulan ironis mereka dalam gelap, pandangan pitjik mereka jang mendjemukan, daja-chajal mereka jang remeh-temeh. Itu tak mengenakkan, seperti seorang kakek jang bitjara tentang umur tua, atau seorang pasien jang bitjara tentang penjakit. Anda setudju?”
„Belum banjak saja pikirkan tentang ini. Ada temanku, Misha Gordon, jang berpikir seperti anda”.
„Nah, ketempat tadilah saja sering berdjalanan, berharap akan ketemu Pasha waktu ia masuk atau keluar. Dizaman tsar, gubernur-djenderal biasanja berkantor dibagian ini dalam gedung. Sekarang disitu ada pengumuman jang berbunji: „Pengaduan”. Mungkin sudah anda lihat? Itu tempat paling njaman dikota. Pelataran didepannja dilapisi kepingan-kepingan kaju dan diseberang pelataran itu ada taman-kota penuh bunga-bunga ahorn, hawthorn dan kamperfuli. Didjalanan dibalik pintu selalu ada antrian; aku sering berdiri disitu dan menanti. Tentu tak saja tjoba melampaui orang antri, tak saja sebut-sebut bahwa saja istrinja. Lagi pula, nama kami berlainan. Dan djangan dikira bahwa mereka dapat diharukan oleh sentimen! Tjara-tjara mereka sangat berlainan. Tahukah anda bahwa ajahnja sendiri, Pavel Ferapontavich Antipov, seorang bekas tawanan politik, buruh tua, ada sangat dekat disini, dalam permukiman disepandjang rel, dimana ia hidup dalam pembuangan? Pun Tiverzin, temannja, ada disini. Kedua-duanja anggota panitia revolusi setempat. Nah, pertjajalah, Pasha tak pernah mengundjungi ajahnja, pun tak dikatakannja padanja siapa dia. Dan ajahnja menerima sadja itu, tak sedikitpun ia sakit-hati. Kalau anaknja „dilindungi”, maka itulah sewadjarnja; ia tak dapat bertemu dengannja, habis perkara. Orang-orang ini berhati batu, mereka tidak insaniah, dengan segala peraturan dan prinsip mereka.
„Kalaupun saja berhasil membuktikan bahwa saja istrinja, tak ada gunanja bagi saja! Apa artinja istri bagi mereka dalam zaman begini? Pekerdja sedunia, pembentukan kembali semesta, itulah jang penting! Tapi apa artinja istri? Tjuma machluk berkaki dua, tak lebih penting dari seekor kutu atau pindjal!
„Adjudannja biasanja keluar dan menanjakan, apa keperluan orang-orang itu untuk bertemu dengannja, lalu dimasukkannja beberapa orang. Tapi saja tak pernah menjebut nama saja, pun djika ia menanjakan keperluan saja, selalu saja djawab bahwa itu soal pribadi. Tentu saja tahu pula bahwa saja memboroskan waktu sadja. Adjudan itu mengangkat bahu, sambil memandang saja dengan tjuriga. Tak satu kalipun saja bertemu dengannja.
„Agaknja anda berpikir, ia tak memperdulikan kami, tak mentjintai kami, sudah melupakan kami, bukan? Anda chilaf. Saja kenal ia benar-benar. Saja tahu apa maunja dan itu djustru karena ia tjinta pada kami. Ia tak mau kembali pada kami dengan tangan hampa. Ia ingin kembali sebagai pahlawan, terhormat dan keberkahan, untuk meletakkan hasil kemenangannja didepan kaki kami. Seperti anak ketjil!”
Katya masuk lagi. Lara menggendongnja dan mulai mengajun, membelai dan memeluk dia, dan hal ini sangat mengherankan sianak.
16
Yury pulang dari Yuryatin dengan naik kuda. Perdjalanan ini dibuatnja tak terbilang seringnja. Ia sudah biasa dengan djalan itu, hingga tak disadarinja lagi, ia hampir tak melihatnja.
Sebentar lagi ditjapainja simpangan djalan dibutan; disitu djalan lempang menudju ke Varykino dan djalan ketjil membelok kesebuah dusun nelajan ditepi sungai Sakma; disini ada papan reklame lagi jang mendjadjakan mesin-mesin pertanian; seperti biasanja ia akan sampai kesimpangan djalan itu waktu magrib.
Sekarang sudah dua bulan lebih, sedjak ia seperti biasa pergi kekota, tapi tak pulang sendja itu djuga; ia bermalam dirumah Lara dan kemudian mengatakan pada keluarganja bahwa masih ada urusannja, hingga ia tinggal ditempat penginapan Samdevyatov. Sudah lama ia memanggil Lara pada nama-ketjilnja dan mengatakan „kau” kepadanja, meskipun Lara masih memanggilnja dengan Zhivago. Yury menipu Tonya dan apa jang dia sembunjikan terhadapnja kian lama kian berat dan tak halal. Antara mereka hal ini adalah luar-biasa.
Ia memudja Tonya. Ketenangan batinnja paling berharga baginja didunia. Ia siap membela kehormatannja dan lebih peka terhadap apa sadja jang menjinggungnja dari pada ajahnja atau Tonya sendiri. Untuk membela ketinggian-hatinja ia akan mentjintjang siapa sadja dengan tangannja sendiri. Tapi kini dia sendiri menghina-nja.
Dirumah ia merasa sebagai pendjahat. Karena keluarganja tak tahu-menahu dan kesajangan mereka tak berobah, hal ini mendjadi siksaan besar baginja. Ditengah pertjakapan pernah ia tiba-tiba lemas, sebab teringat pada dosanja, maka tak didengarnja lagi sepatah katapun dari jang dikatakan orang.
Bila hal ini terdjadi waktu makan, suapannja tersumbat dikerongkongan, lalu disisihkannja sendoknja dan disingkirkannja piringnja. Dengan heran Tonya bertanja: „Mengapa kau? Tentu ada kabar buruk, ketika kau dikota. Ada orang jang ditangkap? Atau ditembak? Tjoba katakan. Djangan kuatir akan menjedihkan aku. Sesudah kautjeritakan, kau akan merasa lebih enak”.
Apakah ia sudah tak setia padanja, lantaran lebih suka pada wanita lain? Tidak, ia tak membuat perbandingan, tiada pilihan. Ia tak pertjaja pada „tjinta bebas” atau pada „hak” untuk melepaskan nafsu. Baginja adalah merendahkan budi untuk berpikir atau bitjara dalam istilah demikian. Ia tidak „menabur gandum liar”, pun ia tidak menganggap dirinja seorang insan kamil dengan hak dan privilesi istimewa. Kini ia tertindih oleh beban hati-nuraninja jang berdosa.
„Bagaimana sekarang?” tanjanja kadang-kadang pada diri sendiri; ia mengharapkan dengan tjemas sesuatu keadaan jang mustahil dan tak terduga untuk memetjahkan masalah ini untuknja.
Tapi pada saat ini telah ada perobahan. Ia memutuskan hendak bertindak tegas, maka pulanglah ia dengan pemetjahan masalahnja. Ia akan mengakui semuanja kepada Tonya, meminta maafnja dan tak akan menemui Lara lagi.
Tapi belum pula beres seluruhnja. Kini ia merasa belum tjukup djelas bagi Lara, bahwa ia berpisah dari padanja untuk selama-lamanja. Pagi tadi ia memberitahu padanja bahwa ia bermaksud hendak mengakui semuanja dan bahwa mereka tak boleh berdjumpa lagi; tapi sekarang ia merasa telah melunakkan segalanja dan kurang definitif.
Lara sadar betapa sedih perasaan Yury, maka tak ada keinginannja untuk menjusahkannja lagi dengan peristiwa jang menjajati hati. Ditjobanja mendengarkan dia setenang-tenangnja. Mereka bertjakap-tjakap dalam salah satu kamar-depan jang kosong. Air-mata mengalir dipipinja, namun ia tak lebih menjadarinja dari pada patung-patung batu dirumah seberang djalan itu sanggup merasakan hudjan jang mengalir dimuka mereka. Berulang-ulang ia berkata lemah-lembut: „Kerdjakan apa jang kauanggap baik, tak usah kaupikirkan aku. Aku akan mengatasinja”. Diutjapkannja itu dengan tulus tanpa kemurahan-hati jang palsu dan lantaran tak disadarinja bahwa ia menangis, iapun tak mengusap air-matanja.
Ketika terpikir bahwa Lara mungkin salah tampa dan bahwa ditinggalkannja dia dengan kesan jang salah dan harapan jang tak berdasar, njaris ia berbalik untuk langsung kembali dengan kentjangnja serta menjampaikan apa jang belum diutjapkannja itu dan terutama ia hendak minta-diri dengan lebih berperasaan, lebih mesra, dengan tjara jang lebih serasi dengan pamitan penghabisan. Namun ia meneruskan perdjalanan, setelah mengekang diri dengan susah-pajah.
Waktu matahari turun, hutan diliputi hawa dingin dan gelap serta berbau daun basah. Banjak kawanan njamuk mengambang diudara setenang rakit, mendengkur murung dengan bunji merata jang tinggi. Njamuk-njamuk ini hinggap dimuka serta kuduknja, maka terus sadja ia memukulnja; bunji keras pukulannja seirama dengan bunji pengendaraannja — kerisik pelana, derap kaki kuda jang berat dilumpur jang berketjipak serta gelebuk lemah jang terbit dari perut kuda. Dikedjauhan, dimana matahari turun dengan ragu-ragu, seekor bulbul mulai menjanji.
„Bangun! Bangun!” serunja memohon: bunjinja hampir seperti chotbah pada malam Minggu Paskah: „Bangkitlah, o sukmaku, mengapa kau tidur?”
Sekonjong-konjong Yury disasari pikiran jang sangat sederhana. Mengapa buru-buru? Ia tak akan menarik kembali djandji jang diberikan pada dirinja sendiri, pengakuan akan terdjadi, tapi tak usah mesti hari ini djuga. Ia belum menjampaikan apa-apa pada Tonya, belum terlambat untuk menunda sampai ia sekali lagi pergi kekota. Pertjakapan dengan Lara akan diselesaikannja dengan perasaan hangat serta mendalam, hingga dapat mengganti segala penderitaan mereka. Itulah indah tak bertara! Anehlah bahwa ini tak lebih dulu masuk akalnja!
Pada angan-angannja akan berdjumpa Lara sekali lagi, hatinja melompat girang, maka hiduplah ia dalam bajangan pertemuannja dengan Lara.
Itulah pondok-pondok kaju dan lapisan djalan didaerah pinggiran kota …Ia sedang menudju kepadanja. Sesaat lagi akan ditinggalkannja lorong-lorong berlapisan kaju serta tempat-tempat tandus, akan ditjapainja lebuh-lebuh jang dilapis batu dan stucco. Rumah-rumah diwilajah pinggiran kota itu berkelebatan seperti halaman-halaman buku, bukannja kalau dibalikkan selebar demi selebar, melainkan djika kita letakkan ibu-djari ketepi buku, lalu kita lantunkan semua halaman sekaligus. Djalannja kentjang sampai menahan nafas. Dan disanalah rumahnja, diudjung lain dari djalanan, dibawah lobang putih ditengah-tengah mendung, dimana langit mulai tjerah mendjelang sendja. Alangkah sajangnja ia pada rumah-rumah ketjil didjalanan jang menudju kepadanja itu; ingin ia memungut rumah-rumah itu dari tanah serta menjiuminja! Kamar-kamar melengkung berdjendela satu dikolong-atap itu tertutup sampai keatap. Dan semua lampu serta dian ikon jang terbayang dalam bentjah-bentjah itu berpendaran bagai buah murbai! Dan rumah dia dibawah kolong putih langit! Disitulah akan diterimanja lagi hadiah keindahan nirmala jang ilahiah dari tangan chaliknja. Sosok-tubuh bermantel hitam akan membuka pintu, maka kehadiran dia jang diidamkannja itu, tak dimiliki orang lain didunia, terlindung dan dingin bagai malam putih daerah Utara, akan datang padanja bagai ombak-ombak pertama dilaut, waktu orang lari dipantai pasir dalam gelap.
Yury melepaskan tali kekang, melentik kedepan dipelana, memeluk kuduk kuda serta membenamkan mukanja dalam surai. Kuda jang mengartikan tanda kesajangan ini sebagai pengandelan kepada kekuatannja, berlari dengan kentjang.
Waktu kuda melompat-lompat dan kakinja jang enteng hanja sekali tempo menjentuh tanah, maka selain debaran hatinja jang gembira itu Yury seakan mendengar djuga orang berteriak, tapi disangkanja itu chajalan sadja.
Tembakan jang dilepas dari dekat membisingkan telinganja. Ia duduk lurus, menggerapai kekang dan menjentakkannja. Tertahan waktu lari sekentjang-kentjangnja, kuda itu melangkah kesamping, undur, lalu djongkok dan siap melondjak.
Simpang djalan ada didepannja. Alamat Moreau & Vetchinkin.
Alat penabur benih. Mesin tebah diterangi sinar surja sendja. Tiga penunggang kuda merintangi djalannja — seorang pemuda pakai pitji-sekolah dan kemedja dengan dua ikat-pinggang berpeluru, seorang kavaleris pakai mantel opsir dan petji-bulu, seorang lagi jang gemuk dengan pakaian adjaib, seolah untuk pesta badju-fantasi, jakni tjelana berlapis kapas dan topi pendeta bertopi lebar jang rendah memajungi keningnja.
„Djangan bergerak, kawan dokter”, tegur sikavaleris, tertua dari orang bertiga itu. „Asal menurut perintah, tuan akan aman semata-mata. Kalau tidak — maaf sadja — kami tembak tuan. Ahli-bedah pada kesatuan kami telah gugur, djadi kami beri tuan tugas-wadjib sebagai dokter. Turunlah dan berikan tali-kekang kepada pemuda ini. Dan kami peringatkan: djika tuan tjoba melarikan diri, kami tak akan basa-basi”.
„Apakah kamu Liberius dari Perhimpunan Rimba, anak Mikulitsin?”
„Bukan, saja perwira penghubung utamanja, Kamenodvorsky”.
1
Disepandjang djalan raja ada banjak kota, dusun dan permukiman Kosak. Djalan ini adalah djalan pos lama, djalan raja tertua di Siberia. Bagaikan pisau ia membelah kota-kota, memarohnja seperti sebungkah roti menurut garis djalan terbesar didalamnja. Dan didusun-dusun ia berbelok-belok tanpa menoleh, ditebarkannja dusun-dusun itu kekanan-kirinja dengan pondok-pondok terpantjang dalam deretan lurus atas garis melengkung atau melengkok oleh tikungan jang tiba-tiba.
Dahulukala, sebelum ada kereta-api di Khodatskoye, pengangkutan pos dilantjarkan oleh troika-troika. Kafilah teh, roti dan besi kasar dibawa kesatu djurusan dan orang-orang tawanan jang dikawal dipaksa djalan kaki kedjurusan lainnja. Mereka berbaris dengan belenggu gemerintjing — djiwa-djiwa terkutuk tak berpengharapan, dahsjat bagai petir neraka — dan disekitar mereka berkerosoklah rimba gelap tak tertembus.
Orang-orang jang tinggal dipinggir djalan-raja itu seperti satu keluarga. Persahabatan dan perkawinan menghubungkan dusun dengan dusun dan kota dengan kota. Khodatskoye terletak dipersilangan djalan dengan rel; disitu ada bengkel lokomotip serta bengkel-bengkel lain jang perlu untuk memelihara djalan kereta-api; disitulah fakir-miskin jang paling melarat berdiam dan sakit dan mati. Tawanan politik jang punja kepandaian teknik dan sudah melewati masa kerdja-keras, diizinkan tinggal di Khodatskoye sebagai orang buangan jang „bebas” dan bekerdja sebagai ahli tehnik jang berpengalaman.
Pemerintahan Sovjet jang pada hari-hari pertama revolusi didirikan sepandjang djalan ini sudah lama dirobohkan. Beberapa waktu lamanja pemerintahannja diseluruh wilajah diganti oleh pemerintahan Laksamana Kolchak, Panglima Tertinggi kaum Putih.
2
Pada suatu taraf perdjalanan, djalan itu mendaki bukit-bukit, hingga pemandangan disitu makin melebar. Pendakian jang pelan-pelan atau perluasan kaki-langit ini seakan tak habis-habisnja, tapi tatkala kumpulan kuda dan penumpang jang letih itu berhenti untuk istirahat, tiba-tiba mereka telah sampai kepuntjak bukit. Djalan itu melintasi sebuah djembatan, jang dibawahnja sungai Kezhma berbelok-belok.
Diseberang djembatan, ditandjakan jang bahkan lebih tinggi lagi, nampak tembok-tembok batu-bata dari Biara Pemudjaan Salib. Djalan itu mengembara ditanah biara, lenggang-lenggok naik bukit, lewat daerah pinggiran kota Salibkudus1 1Salibkudus: Krestovozdvizhensk (dalam arti-kata: kota Pemudjaan Salib). .
Tiba dipusat kota, djalan itu menusur tanah biara lagi, sebab pintu besi bertjat hidjau dari biara ini membuka kepelataran-pusat. Ikon diatas lengkung gapura dilingkungi sasakala dalam udjud huruf-huruf emas: „Dirgajalah, O, Salib hajati, O, kemenangan kealiman tak bertara”.
Waktu itu Pekan Kudus, achir Puasa; musim-dingin hampir lampau. Ketika saldju mulai tjair, djalan-djalan mendjadi hitam, tapi atap-atap masih berkerudung saldju jang tinggi, putih dan melunglai.
Bagi anak-anak lelaki jang naik sampai kemenara-lontjeng untuk melihat orang-orang jang membunjikan lontjeng itu, rumah-rumah dibawah nampak seperti peti-peti putih ketjil jang simpang-siur berdekat-dekatan. Orang-orang ketjil jang hitam, tak lebih besar dari bintik-bintik, berdjalan antara rumah-rumah dan berhenti didepannja. Mereka berhenti untuk membatja dekrit jang memanggil tiga golongan lagi menurut umur; naskahnja ditempelkan ketembok-tembok menurut perintah laksamana Kolchak.
3
Banjak hal jang tak tersangka-sangka terdjadi waktu malam. Untuk bagian tahun ini hawa tak terduga panasnja dan djatuhlah gerimis jang amat halus dan lembut, hingga seolah hanjut dibawa angin, sebelum mentjapai tanah. Tapi itu chajalan. Sebetulnja ada tjukup air-hudjan jang hangat lagi tjepat mengalir ditanah — jang mendjadi hitam semata-mata dan mengkilat seperti berpeluh — dan mentjutjinja bersih dari saldju jang masih tinggal.
Pohon-pohon apel jang sedang berkembang dan penuh kuntum-kuntum, diluar dugaan telah melampaui pagar tanaman. Air menetes dari pohon-pohon ini, maka deraian air diatas tanah berlapis kaju itu kedengaran sampai diseberang kota.
Tomik, anak andjing jang sepandjang malam dirantai dipekarangan rumah tukang potret itu menyalak dan mendjerit; dan gagak ditaman Galuzin, barangkali terganggu oleh keributan ini, berkokok tjukup keras untuk membuat seluruh kota tak tertidur.
Di Salibkudus bagian bawah orang telah membawa tiga muatan barang-barang kepada saudagar Lyubeznoy, tapi dia menolak penerimaannja dengan mengatakan bahwa itu suatu kechilafan, bahwa ia tak pernah memesan barang-barang itu. Lantaran sudah malam, kuli-kuli meminta padanja supaja dibolehkan menginap, tapi dia memaki-maki dan mempersetan mereka, tak mau membuka gerbang. Hiruk-pikuk inipun terdengar dari udjung kota jang satu sampai udjung lainnja.
Pada djam tudjuh menurut perhitungan geredja dan pukul satu menurut lontjeng, bunji menderu jang gaib, lembut lagi merdu mengapung-apung dari pedalaman lontjeng-lontjeng biara jang njaris tak bergerak.
Deruan ini bertjampur dengan deraian muram diudara: terapung dari lontjeng-lontjeng, bunji itu karam dan larut diudara, seperti sepungkah tanah terenggut dari tepi sungai, tenggelam dan larut dalam air bandjir musim-semi.
Waktu malam pada hari Kemis Putih. Djauh samar-samar dibelakang djaringan hudjan ada lilin-lilin jang disana-sini menerangi muka orang atau kening atau hidungnja, bergerak dan pindah-pindah melintasi pekarangan biara.
Upatjara puasa sedang berdjalan ke Matins.
Seperempat djam kemudian bunji langkah terdengar dilapisan kaju lebuh dari djurusan geredja. Itulah Galuzina, istri tukang-warung jang sedang pulang, meskipun ibadah baru dimulai. Ia berdjalan dengan langkah tak tetap, sekali tjepat, sekali lambat dan berhenti, kain-lehernja menutupi kepala, mantel-bulunja tak dikantjing. Didalam geredja jang sumuk itu ia kegerahan, maka keluarlah ia kehawa segar, tapi kini ia merasa malu dan ketjewa bahwa ia tak tinggal sampai selesai, pun bahwa dua tahun berturut-turut ia tak berpuasa diwaktu Puasa. Namun bukan itulah jang terutama menjebabkan kerusuhannja. Oleh perintah mobilisasi jang hari itu diumumkan terkenalah anaknja jang sinting dan malang itu, Teryoshka. Ditjobanja mengusir pikiran itu dari kepalanja, tapi lembaran-lembaran putih didalam gelap itu tetap ada serta mengingatkan dia, kemana djuga ia berpaling.
Rumahnja dekat dibalik podjok, namun ia merasa lebih njaman diluar dan tak ingin lekas kembali kekamar-kamar jang kurang hawa itu.
Kemurungan jang bergolak dalam pikirannja itu menekan hatinja. Andaikan ditjobanja mengungkap keras-keras segala pikiran ini, satu persatu, ia tak akan tjukup banjak punja kata-kata atau waktu, sampai fadjar sekalipun. Tapi diluar, didjalan itu, segala gagasan jang tak njaman ini menjambarnja berkelompok-kelompok, maka dapatlah dihadapinja semua sekaligus dalam waktu pendek, selama ia berdjalan beberapa kali dari gerbang biara kepodjok pelataran pulang-pergi.
Paskah hampir tiba dan tak seorangpun ada dirumah; semua orang pergi, meninggalkan dia seorang diri. Bukankah ia sebatang-kara? Pasti begitu. Kyusha, anak-angkatnja, tak masuk hitungan. Siapakah Kyusha ini sebetulnja? „Djiwa orang lain adalah kolam gelap” kata pepatah. Boleh djadi dia teman, atau barangkali musuh atau lawan jang tersamar; dia dianggap anak istri pertama suaminja dari perkawinan lain. Menurut Vlas, suaminja, ia anak-pungutnja. Tapi barangkali ia anak-kandungnja? Atau mungkin dia sama sekali bukan anaknja, melainkan entah apa? Siapa dapat menduga hati lelaki? Tapi kalau kita adil, Kyusha ini tiada tertjela. Dia punja otak, manis, sopan — djauh lebih banjak otak dari sisinting. Teryoshka jang tjelaka itu ataupun ajahnja?
Begitulah dia kini, sebatang-kara, tersingkir pada Pekan Kudus ini. Mereka semua berpentjaran, masing-masing pergi sesuka hatinja.
Vlas bergelandangan didjalan raja, berpidato pada rekrut-rekrut baru, mengandjurkan supaja berbuat kepahlawanan jang hebat-hebat.
Mengapa sitolol ini tak mengindahkan anaknja sendiri untuk menjelamatkan dia dari bahaja maut?
Teryoshkapun telah buru-buru meninggalkan rumah pada malam hari sebelum pesta besar itu. Ia pergi kefamili mereka didesa Kuteiny, untuk berhibur dan melupakan kesukarannja. Anak malang itu diusir dari sekolahnja. Ia harus tinggal satu tahun extra hampir ditiap kelas, dan kini setelah ia duduk dikelas delapan, didepaklah ia!
O, betapa sedihnja semua ini! O, Tuhan. Mengapa serba susah begini? Ketjil-hati akibatnja, ia hendak menjerah, ia tak ingin hidup. Apakah jang menjebabkan azab-sengsara ini? Revolusi?
O, bukan! Perang itulah! Perang telah membunuh kumunt-kumuntun lelaki Rusia, hingga jang tinggal hanja kotoran busuk jang tak guna.
Alangkah beda dengan zaman ajahnja!
Ajahnja seorang pemborong. Bidjaksana, terpeladjar. Hidup mereka djauh dari mewah. Dia beserta dua saudara perempuannja, Polya dan Olya, sepasang gadis paling manis jang dapat kita djumpai dan jang satu tjotjok dengan jang lain, tak ubahnja dengan nama-nama mereka. Dan tukang-tukang kaju jang utama berdatangan keajah mereka, masing-masing seorang lelaki jang tampan dan gagah. Pada suatu waktu dia bersama adik-adiknja — ada sadja akal kami! — mendapat pikiran untuk meradjut kain-leher wol berwarna enam. Nah, pertjaja atau tidak, pandai betul mereka meradjut, sampai sjal-sjal itu ternama diseluruh daerah! Dan dizaman itu semuanja bagus dan kaja dan patut — ibadah digeredja dan tari-tarian dan orang-orang dan adat-istiadat — tiap hal adalah menggembirakan hati, meskipun keluarganja sendiri orang-orang sederhana jang berasal dari petani dan buruh. Dan Rusiapun ketika itu seperti gadis pinangan, dilamar oleh lelaki-lelaki tulen, bukan sampah-sampah seperti sekarang. Sekarang segala sesuatu kehilangan seminarnja, jang tinggal tjuma warga-warga, kaum pengatjara dan Jahudi jang siang-malam berkaok-kaok belaka. Vlas tua jang malang serta kawan-kawannja menjangka akan sanggup memulangkan zaman keemasan itu dengan „toast” dan pidato dan utjapan-selamat! Inikah tjaranja untuk merebut kembali tjinta jang hilang? Untuk itu orang harus sanggup mengangkat gunung!
4
Kini ia telah menjeberangi pelataran dan berdjalan satu kali lebih sampai kelatar-pasar. Dari situ rumahnja hampir separoh djalan disebelah kiri, tapi tiap kali ia tiba disitu, iapun berobah pikiran dan tak masuk, melainkan balik kelorong-lorong jang silang-silang disebelah biara.
Latar-pasar itu sebesar padang jang luas.
Dimasa lampau pada hari pasaran ia penuh dengan pedati kaum tani. Disatu udjungnja membudjurlah Djalan Santa Helena2 2Djalan Santa Helena: Yeleninskaya. — udjung lainnja jang berbentuk bulan-sabit digaris oleh gedung-gedung ketjil, berloteng satu atau dua, jang dipergunakan sebagai gudang, kantor dan toko.
Dia masih ingat bahwa disitulah dizaman jang lebih damai ada seorang Brukhyanov tua jang kasar dan murung itu, pakai katjamata dan mantel pandjang, pedagang kulit, gandum, djerami, roda pedati dan pakaian kuda; ia membatja koran pitjisan, sambil duduk dengan gagahnja dikursi diluar pintu besar dari besi lapis-empat.
Dan disana, didjendela ketjil taram-temaram ada beberapa lilin-pernikahan pakai pita serta bunga-bungaan dalam kotak-kotak karton jang menghimpun debu bertahun-tahun, sedangkan dalam kamar-belakang jang ketjil dan tak berisi perabot ataupun barang-barang, ketjuali setumpukan kue bundar besar dari lilin, ada agen-agen tak dikenal jang melakukan perdagangan beribu rubel untuk seorang djutawan, fabrikan lilin jang entah dimana tempat-tinggalnja.
Disitu, ditengah deretan toko-toko berdirilah kedai Galuzin jang besar dengan tiga djendelanja. Lantainja jang kosong dan petjah-petjah itu disapu tiap pagi, siang dan malam dengan daun-daun teh jang sudah dipakai; Galuzin serta para pembantunja minum-minum teh sepandjang hari.
Dan disinilah Galuzina sebagai perempuan muda jang baru kawin, kerapkali dan dengan senang hati duduk dibelakang medja kas. Warna jang disukainja jalah ungu-kuning, warna djubah digeredja pada hari-hari kudus, warna kuntum bunga „lilac”, warna pakaian beledunja jang terbagus serta sepasang piala hablurnja.
Inilah warna kebahagiaannja serta kenang-kenangannja, dan Rusiapun dalam keperawanannja sebelum revolusi, baginja merupakan warna bunga „lilac”. Ia suka duduk dibelakang medja kas, lantaran magrib ungu ditoko jang berbau harum oleh kandji, gula dan gula-gulaan merah dalam rodong-rodong dari gelas itu sesuai dengan warna kesajangannja.
Dipodjok ini, disebelah tempat balok-balok ada rumah-papan tua abu-abu jang dipasang pada keempat sisinja seperti kereta jang tak terurus. Rumah ini berloteng dua, pintu-depannja dua, sebuah ditiap udjungnja. Tiap loteng terbagi mendjadi dua; diloteng-bawah ada apotik Zalkind disebelah kanan dan kantor notaris disebelah kiri. Diatas apoteker ini tinggal Schmulevich, tukang-djahit pakaian wanita jang tua, beserta keluarga besar. Petak diseberang bordes dari tempat Schmulevich, djadi diatas notaris, penuh dengan penjewa-penjewa jang perusahaan atau pekerdjaannja ditjatat dalam kartu-kartu; banjak papan-nama menutupi seluruh pintu-depan. Disini orang membetulkan arlodji dan menambal sepatu; disini bengkel Kaminsky, ahli grafika, dan dua tukang potret, Zhuk dan Strodek berkongsi disitu.
Lantaran loteng-bawah penuh-sesak, maka pembantu-pembantu muda tukang fotograf itu, Blazhein seorang mahasiswa dan Magidson jang meretus foto-foto, telah membuat kamar-gelap diudjung bedeng kaju besar dipekarangan.
Menilik kerlingan marah lampu merah jang mengedip redup didjendela kamar-gelap itu mereka sedang bekerdja disitu. Dibawah djendela inilah Tomik sianak-andjing tadi memekik-mekik, hingga terdengar sampai-sampai diseberang pelataran di Djalan Santa Helena.
„Disitulah seluruh gerombolan Jahudi itu”, pikir Galuzina, waktu lewat didepan rumah kelabu. „Ini gudang kemiskinan dan pengemisan”. Tapi, pikirnja segera, kelirulah suaminja, kalau sangat bentji pada orang Jahudi. Mereka ini bukanlah penguasa negeri, mereka tak tjukup penting untuk mempengaruhi hari-depan Rusia. Walaupun benar djuga, bahwa apabila kita bertanja pada Schmulevich apa sebab menurut pendapatnja negeri kita sedang katjau dan tak karuan ini, maka menggeliatlah ia mengerutkan mukanja jang djelek itu dengan seringai, lalu mendjawab: „Itulah akal-muslihat Leibochka3 3Nama-ketjil dalam bahasa Jahudi untuk Leo, jakni Leo Tolstoy. ”.
Ah, membuang waktu sadja untuk memikirkan omong-kosong begitu! Mereka tak djadi soal! Bukan merekalah jang mentjelakakan Rusia. Jang menjusahkan ialah kota-kota. Soalnja bukanlah bahwa desa tergantung dari kota, tapi orang kota itu terpeladjar dan orang desa harus tjari akal; mereka iri-hati pada pendidikan dikota dan hendak meniru tjara-tjaranja, tapi ketinggalan sadja, djadi sekarang mereka bukan orang desa, namun djuga bukan orang kota.
Atau barangkali sebaliknja? Barangkali soalnja ialah keterbelakangan? Pandangan orang terpeladjar menembus dinding, setiap hal jang terdjadi sudah dilihatnja lebih dulu, sedangkan jang selebihnja adalah seperti orang dalam hutan gelap. Kami merasa kehilangan topi, baru sesudah kepala kami tertigas. — Namun orang terpeladjarpun bukannja tak kesulitan sekarang. Tengoklah, karena kelaparan mereka terusir dari kota! Tjoba, bagaimana duduk perkara? Setanpun akan bingung!
Betapa djuga, orang desalah jang tahu bagaimana mesti hidup. Tengok sadja familinja, keluarga-keluarga Selitvin, Shelaburin, Pamphil Palykh, Modykh bersaudara. Mereka dapat mengandalkan tangan dan kepala sendiri, mereka tak bermadjikan. Segala pertanian disepandjang djalan-raja nampak elok. Limabelas dyssyatina4 4Satu dyssyatina = ± 1.08 ha. tanah pertanian, banjak domba, kuda, babi, lembu dan tjukup gandum dilumbung-lumbung untuk tiga tahun lagi! Dan mereka punja mesin-mesin-pertanian! — Malahan mesin-penuai pula! Kolchak bermanis-manis kepada mereka, ditjobanja supaja mereka memihak padanja, agar masuk tentara rimba, begitu pula jang ditjoba oleh komisaris-komisaris. Mereka pulang dari perang dengan Bintang-bintang George5 5Bintang St George adalah anugerah militer jang tertinggi di Rusia pada zaman tsar. dan tiap orang mengedjar-ngedjar supaja mereka djadi instrukturnja.
Dapat pesanan atau tidak, siapa pandai dalam pekerdjaannja, selalu diperlukan orang; selalu dapat tempat.
Tapi sudah waktunja ia pulang. Tak sopanlah bagi perempuan, mundar-mandir didjalan waktu malam. Kalau ditamannja sendiri, tak djadi apa. Tapi betjek sekali, seperti rawa. Namun ia merasa agak baik sekarang, pikirnja.
Galuzina pulang: pikirannja membuatnja bingung sekali, pun ia kehilangan pedomannja. Tapi sebelum masuk rumah, iapun berdiri sedjurus dipotjik, sembari berpikir sedikit lagi.
Ia menggagas tentang orang-orang jang sekarang berkuasa di Khodatskoye; sedikit-banjaknja tahulah ia bagaimana mereka, mereka bekas orang-orang buangan politik dari ibu-ibu kota, seperti Tiverzin, Antipov, anarchis Vdovichenko si „Bendera Hitam”, tukang-kuntji setempat si „Andjing Gila” Gorsheny. Mereka lihai dan tahu apa hendak dibuat, mereka tjukup banjak bikin gara-gara waktu itu dan pastilah ada jang dikomplotkannja lagi sekarang. Mereka tak bisa hidup, tanpa berbuat sesuatu.
Seumur hidup mereka berhubungan dengan mesin-mesin dan mereka sendiripun tak berperasaan, tak kenal ampun seperti mesin. Mereka memakai sweter dan kemedja, merokok dengan pipa tulang dan minum air rebus, chawatir akan terkena apa-apa. Vlas jang malang itu membuang waktu sadja; orang-orang ini akan memutar-balik segala-galanja, mereka akan selalu tahu djalan.
Lalu dipikirkannja diri sendiri. Ia sadar ia perempuan sederhana, tapi punja pendirian sendiri, tjerdas lagi muda untuk usianja; pukul-rata ia bukanlah orang sembarangan.
Namun segala sifat baiknja ini tak ada artinja dipelosok djahanam ini — pun tidak dimanapun djuga. Ia teringat pada sebuah lagu jang kurang-adjar tentang perempuan tua sinting Sentetyurikhka; lagu ini terkenal santeran didaerah Ural, tapi hanja dua baris pertama jang dapat dikutip:
Kelandjutannja hanjalah omong kotor belaka. Orang menjanjikannja di Salibkudus dan diduganja itu ditudjukan kepadanja.
Dengan sedih ia menghela nafas pandjang, lalu masuk rumah.
5
Langsung ia masuk kekamar-tidur, tanpa berhenti dibangsal untuk membuka mantelnja. Dari kamar itu terlihat dapur. Sekarang, setelah malam tiba, segala udjud dalam kamar dan dalam taman diluar itu hampir-hampir serupa, seolah mengulangi diri. Bentuk tirai-tirai jang lunglai lelah itu serupa dengan bentuk pohon-pohon tak berdaun jang gelap dengan garis keliling jang kabur. Musim-dingin hampir lewat dan didalam taman hawa panas jang gelap dan merah dari musim-semi jang mendatang itu menghangatkan gelap malam jang halus. Dan sebagai akibat pengaruh timbal-balik jang sama antara dua unsur, maka hawa gelap didalam kamar jang apak dengan tirai-tirai berdebu itu diwarnai dan diterangi oleh sinar ungu-tua dari Pesta jang akan datang.
Sang Perawan didalam ikon melepaskan tangan-tangannja jang langsing dan hitam itu dari tataan peraknja serta mengatjungkannja; agaknja dalam tiap tangan dipegangnja huruf-huruf pertama dan terakhir dari nama Junaninja: Ibunda Tuhan. Lampu ikon merah-tua jang nampak hitam seperti tempat tinta dalam gait emasnja, menjebarkan tjahaja jang berbentuk bintang karena dipentjarkan oleh katja bergerigi itu keatas permadani dikamar-tidur.
Waktu menanggalkan mantel dan sjalnja, Galuzina bergerak kurang hati-hati, hingga terasa olehnja penjakit lamanja, rasa tersajat disisinja dibawah tulang belikat. Ia memekik dengan tjemasnja dan mulai bergumam: „Pelindung djaja umat sengsara, Bunda Tuhan jang sutji, djuruselamat kita bila tak berlindung disemesta …” Ditengah-tengah doanja ia terisak-isak.
Ketika njerinja reda, ia mulai menanggalkan pakaiannja, tapi gait-gait dipunggung luput dari djarinja dan tersangkut dibahan badju jang halus dan berkeriput. Pajah ia mentjarinja.
Kyusha, anak-angkatnja itu bangun dan masuk kamar.
„Mengapa ibu dalam gelap? Boleh kuambil lampu?”
„Djangan. Tjukup terang”.
„Tjoba kubuka badju ibu. Nanti ibu tjapik”.
„Djari-djariku bengkak semua, aku mau menangis. Dan tukang-djahit itu tak punja otak untuk mendjahit kait-kait ini, supaja mudah tertjapai. Dia buta matjam kelelawar. Aku ingin menjobel kait-kait ini dan melemparkan kemukanja”.
„Bagus benar orang menjanji dibiara. Sepi disini, njanjian terdengar dari rumah”.
„Njanjinja baik, tapi aku tak merasa enak, nak. Aku kesakitan lagi tadi — sini dan sini. Dimana-mana …gangguan sadja, apa mesti kubuat?”
„Stydobsky, homoeopath itu tempohari menolong”.
„Dia selalu menjuruh orang berbuat jang bukan-bukan. Dia penipu, homoeopath itu tak beres. Ia satu hal. Selain itu, iapun sudah pergi. Pergi, kataku, enjah dari kota. Dan bukan dia sendiri sadja; semua lari, tepat sebelum liburan — seolah mengharapkan gempa-bumi atau apa”.
„Nah, bagaimana kalau dokter Hungaria itu? Tawanan-perang itu — dulu ibu senang dirawat dia”.
„Sia-sia djuga. Pertjajalah, tak ada jang tinggal. Kerenyi Lajos bersama orang-orang Hungaria lainnja ada diseberang garis demarkasi6 6Diluar wilajah jang diduduki tentara Putih. . Ia kena wadjib tugas untuk Tentara Merah”.
„Tapi ibu tahu, ibu banjak berchajal. Hati ibu gugup. Untuk penjakit ibu ini sugesti bisa bermudjizat; begitulah jang dikerdjakan kaum petani, bukan? Ibu ingat istri pradjurit jang dengan bisik-bisik sadja menghilangkan rasa njeri ibu? Siapa namanja?”
„Wah, kausangka aku tolol sekali, tak tahu apa-apa? Aku tak akan heran, kalau kaunjanjikan „Sentetyurikhka” dibelakang punggungku”.
„Bagaimana ibu dapat mengatakan begitu? Itu dosa. Ibu hendaknja malu sendiri. Sebaliknja ibu membantu aku mengingat-ingat nama perempuan itu. Sudah diudjung lidahku. Aku tak puas, sebelum kudapatkan kembali”.
„Namanja lebih banjak dari rok-dalamnja. Entah mana jang kaumaksud. Orang menjebutnja Kubarkha dan Medvedikha dan Zlydarkha dan entah berapa nama lagi. Diapun tak disini lagi. Enjah. Lenjap. — Ia dikurung dibui Kezhma, sebab melakukan abortus dan bikin pil dan sedjenis bubuk, merat dari bui, lalu enjah ke Timur.
Pertjajalah — tiap orang sudah lari — Vlas dan Teryoshka dan bibimu Polya — Pelagia jang penuh kasih-sajang. Kita bodoh, diluar kita berdua dikota ini tak ada lagi perempuan jang baik-baik. Aku tak main-main. Dan untuk kita tak ada lagi pertolongan dokter matjam apapun. Kalau terdjadi apa-apa, dimanapun tak kita dapatkan seorang dokter, bagaimana djuga akal kita. Kabarnja ada dokter di Yuryatin, seorang profesor kenamaan dari Moscow, anak pedagang dari Siberia jang bunuh-diri. Tapi djustru ketika aku hendak memanggil dia, tentara Merah memotong djalan didua tempat. Sekarang pergilah tidur, akupun tjoba-tjoba akan tidur sedikit. Oja, simahasiswa itu, Blazhein, dia buah-pikiranmu. — Apa gunanja mungkir? — kau merah-padam matjam ubi. — Dia akan mandi peluh sepandjang malam, mengerdjakan foto-foto jang kusuruh tjutji, kasihan. Dirumah itu mereka tak tidur dan tiap orang lainpun tak terselap karena mereka. Si Tomik menyalak-njalak, kedengaran diseluruh kota, dan gagak kita jang djahanam inipun berkokok-kokok tak karuan dipohon kuldi. Rupanja aku tak tidur lagi malam ini.
…Wah, kau mengapa marah amat? Djangan mudah tersinggung. Apa gunanja mahasiswa, kalau tidak ditjintai gadis?”
„Mengapa andjing itu melolong? Tengoklah, ada apa dengan dia. Tak mungkin ia ribut tanpa sebab. Tunggu dulu, Lidochka, diam, persetan! Aku keluar untuk melihat apa jang terdjadi; kalau tidak, polisi akan datang sebelum kita sadarkan. Tunggu disini, Ustin, Sivobuly. Kamu tak usah ikut!”
6
Lidochka, wakil Panitia Pusat, tak mendengar pemimpin partisan jang memintanja berhenti, ia meneruskan otjehannja dengan lesu.
„Dengan tjara meratjuni, menuntut, kekerasan dan penganiayaan, pemerintahan burdjuis di Siberia ingin membuka mata mereka jang masih sadja menipu diri. Pemerintahan itu tak hanja memusuhi kelas buruh, tapi sebenarnja djuga memusuhi seluruh kaum tani jang membanting-tulang. Kaum tani di Siberia dan Ural jang membanting-tulang ini haruslah sadar bahwa hanja djika bersekutu dengan proletariat dikota dan dengan pradjurit-pradjurit, hanja djika bersekutu dengan para petani miskin di Buryat sadja…”
Achirnja Lidochka menangkap selaan orang; iapun berhenti, mengusap mukanja jang berkeringat dengan saputangannja dan menutup matanja jang bengkak.
„Mengasolah. Minum air!”, bisik orang-orang jang berdiri paling dekat padanja.
Pemimpin partisan jang gelisah tadi sedang ditenangkan orang.
„Mengapa ribut? Semuanja beres. Lampu sinjal ada didjendela dan kalau boleh kupakai ungkapan jang plastis, mata pengawal lengket keruangan disekitarnja. Tak ada halangan bagi kita untuk menghentikan diskusi. Silakan, kawan Lidochka!”
Balok-balok jang disimpan dalam bedeng besar dipekarangan tukang potret itu telah disisihkan dan rapat ilegal ini diadakan diruang tengah jang dikosongkan dalam bedeng, terpisah dari kamar-gelap dekat pintu oleh dinding balok-balok setinggi langit-langit. Dalam keadaan darurat ada djalan-keluar melalui pintu-katupan dan lewat gang dibawah tanah jang bermuara pada lorong sepi dibelakang biara.
Warna-kulit pembitjara itu kekuning-kuningan dan kusam, djenggotnja merentang dari kuping kekuping; kepalanja jang gundul itu pakai petji hitam dari kain tjita. Ia berkeringat karena gugup dan terus-menerus mentjutjurkan peluh. Rokoknja berkali-kali mati; ia merasa senang membakarnja kembali diarus hawa panas lampu lilin. Dengan membungkuk rendah atas kertas-kertasnja jang berserakan, ia melihat kertas-kertas itu serba gugup dengan mata pitjiknja, seolah menghidu-hidu, lalu dengan suara lembek jang sudah lelah iapun meneruskan:
„Hanja dengan pemerintahan Sovjetlah persekutuan antara simiskin dikota dan simiskin didesa dapat tertjapai. Mau tak mau petani Siberia kini mengedjar tudjuan, jang oleh buruh Siberia sudah lama dimulai. Tudjuan bersama ialah meruntuhkan otoritas jang terbentji dari para laksamana dan perwira serta mendirikan kekuasaan Sovjet bagi petani dan pradjurit, dengan pemberontakan bersendjata. Dan untuk melawan para perwira dan serdadu sewaan Kosak dari kaum burdjuis jang bersendjata lengkap itu, kaum pemberontak akan terpaksa mengadakan perang lini-depan jang konvensionil. Pergulatan akan pandjang dan gigih”.
Sekali lagi ia berhenti, mengusap muka dan memitjingkan mata. Bertentangan dengan peraturan, ada seorang hadirin jang bangkit, mengatjungkan tangan dan minta izin untuk mengutjapkan sesuatu.
Pemimpin partisan atau untuk menjebutnja lebih tepat, komandan kelompok Kezhma dari kesatuan-kesatuan partisan di Trans-Ural, duduk setjara mentjolok dengan sikap bebas seenak-enaknja, tepat dibawah hidung sipembitjara; ia terus-menerus menjelanja dengan tjara sekasar-kasarnja dan tak menundjukkan hormat sedikitpun. Sulit dipertjaja bahwa pedjoang semuda itu — ia sedikit lebih tua dari anak remadja — dipasrahi memimpin tentara-tentara besar dan bahwa anak-buahnja mematuhi perintahnja serta mendewa-dewakannja. Ia duduk dengan tangan dan kaki terbungkus dalam daun mantel-kavalerinja; udjung-atasnja jang tersampir kekursinja memperlihatkan kemedja jang merupakan tanda-pangkatnja, dengan bekas-bekas hitam dipundak; epoletnja ditempat-tempat itu telah dibuang.
Dikanan-kirinja berdiri seorang pengawal jang sebaja dengannja pakai djas kulit-domba putih jang luntur hingga agak kelabu, dengan pinggiran dari bulu keriting anak-domba.
Wadjah mereka jang bagus dan kaku itu tak mengungkap apa-apa selain ketaatan membabi-buta terhadap madjikan mereka serta kesediaan untuk mengabdi sedapat-dapatnja. Mereka tak ikut-serta dalam pembitjaraan itu, tak terpengaruhi oleh hasil-hasilnja dan tak bitjara ataupun senjum.
Dalam ruangan itu ada selusin atau limabelas orang. Ada jang berdiri, ada jang duduk dilantai; mereka bersandar pada balok-balok jang disusun itu, dengan kaki terburai kedepan atau dengan lutut jang ditarik kedagu.
Tiga atau empat orang merupakan tamu-tamu kehormatan dan duduk dikursi. Mereka buruh-buruh tua, veteran dari revolusi tahun 1905. Antara mereka adalah Tiverzin jang sedjak dari Moscow mendjadi murung dan banjak berobah, beserta temannja; Antipov tua jang selalu mengijakan tiap katanja. Mereka tergolong dewa-dewa jang kepadanja revolusi mempersembahkan pemberian serta sadjian jang terbakar; diam-diam mereka duduk bagaikan berhala jang galak; segala sesuatu jang hidup dan insaniah telah terhalau dari batin mereka oleh angan-angan politis.
Diruangan ini ada pula tokoh-tokoh lain jang perlu diperhatikan, misalnja si „Hitam” Vdovichenko, tiang anarchisme Rusia itu. Ia tak bisa diam sesaatpun djuga, ia selalu duduk dilantai, lalu bangkit lagi atau berdjalan mundur dan madju, lantas berhenti ditengah bedeng. Raksasa ini gemuk, kepalanja besar, mulutnja lebar, rambutnja seperti surai singa; dia pernah djadi perwira dalam peperangan dengan Djepang, kalau tidak dalam peperangan jang lebih dulu dengan Turki; dia suka bermimpi dan senantiasa hanjut oleh angan-angannja.
Karena kebaikan hatinja tak terbatas dan karena potongannja jang besar itu menghalangi dia melihat sesuatu jang lebih ketjil dari dia sendiri, maka tak mampulah ia menaruh tjukup perhatian kepada jang sedang berlaku; ia salah-paham tentang segala utjapan orang dan karena pendirian lawan-lawannja disangkanja pendiriannja sendiri, maka disetudjuinja semua.
Disisinja diatas lantai duduklah temannja, Svirid; dia seorang pemburu binatang berbulu. Meskipun bukan penggarap ladang, namun ia dekat pada tanah seperti petani, dan ini nampak dibelakang lobang kemedjanja dari kain seklet jang digenggam oleh tangannja bersama sebentuk salib jang tergantung dari lehernja, jang ditarik-tariknja dan digunakan untuk menggaruk dada. Ia setengah keturunan Buryat7 7Salah satu suku Mongol di Siberia. , ramah-tamah dan buta-huruf; rambutnja tipis dan dikelabang, kumisnja djarang-djarang dan djenggotnja lebih djarang lagi.
Mukanja selalu keriput oleh senjuman, maka dengan tjarak Mongolnja itu mukanja nampak lebih tua dari usianja.
Pembitjara jang berkeliling di Siberia sebagai utusan militer dari Panitia Pusat, itu diwadjibkan mengawasi semangat orang diwilajah luas jang masih harus didjalaninja. Sebagian besar orang jang dihadapinja itu tak menarik perhatiannja. Tapi sebagai seorang revolusioner kawakan jang sedjak ketjilnja mendjadi pemuka rakjat, ia menatap komandan muda jang duduk didepannja itu hampir-hampir dengan pemudjaan.
Ia tak hanja memaafkan kurang-sopannja jang dianggapnja pernjataan fitri revolusioner jang wadjar, tapi ia suka pula kekurang-adjaran itu, tak ubahnja dengan seorang perempuan jang tergila-gila dan merasa senang dengan kekasaran tak bermalu dari kekasihnja jang berdaja kuat.
Pemimpin partisan itu adalah Liberius, anak Mikulitsin.
Jang berpidato itu bekas anggota partai kerdjasama buruh, Kostoyed Amursky jang pernah mendjadi sosialis revolusioner. Ia telah merobah pendiriannja, mengakui kesalahan-kesalahannja jang lampau serta menariknja kembali dalam beberapa pernjataan jang terperintji, maka iapun tak hanja diterima dalam Partai Komunis, tapi tak lama kemudian diserahi pula tugas jang bertanggung-djawab sekarang ini.
Sungguhpun tak lebih dari seorang pradjurit belaka, ia dipilih untuk ini sebagai penghormatan terhadap djasanja jang bertahun-tahun dalam revolusi, terhadap penderitaannja dalam pendjara-pendjara dizaman tsar, pun djuga atas pertimbangan bahwa sebagai bekas anggota partai kerdjasama ia mengenal tabiat kaum petani didaerah-daerah pemberontakan di Siberia. Untuk keperluan perutusan ini pengetahuan jang diharapkan itu dianggap lebih penting dari pengalaman militer.
Perobahan dalam kepertjajaan politisnja ini telah merobah pandangan serta tingkah-lakunja, sampai orang susah mengenalnja kembali. Tak seorangpun jang ingat bahwa ia dulu botak atau berdjenggot. — Tapi barangkali hal ini hanja penjamaran! Menurut perintah keras dari partai ia tetap diawasi. Nama-namanja dibawah tanah adalah Berendey atau kawan Lidochka.
Ada timbul keributan sedjurus oleh pernjataan Vdovichenko bahwa ia setudju dengan instruksi-instruksi Panitia Pusat jang barusan dibatalkan. Sesudah keributan reda, Kostoyed menjambung:
„Untuk mentjakup sedapat-dapatnja gerakan chalajak petani jang makin meluas, perlu segera mengadakan kontak dengan semua kesatuan partisan jang beroperasi diwilajah Panitia Pusat Partai”.
Kemudian ia bitjara tentang persiapan-persiapan untuk tempat-tempat pertemuan rahasia, kode pengawal, kode lain-lainnja serta tjara-tjara perhubungan, dan semuanja ini lantas didjeladjah sampai detail.
„Semua kesatuan mesti diberitahu tentang gudang-gudang persendjataan, makanan serta persediaan kaum Putih dan pusat-pusat penjimpanan harta mereka maupun segala tindakan jang diambil guna mendjamin keselamatan mereka”.
„Jang terpenting ialah menggarap sampai perintjian terketjil segala masalah mengenai organisasi regu-regu partisan, para pemimpin mereka, disiplin perdjoangan, komplotan, hubungan dengan dunia luar, sikap terhadap penduduk setempat, mahkamah-perang revolusioner dan segala taktik pendjabatan diwilajah musuh, misalnja penghantjuran djembatan, rel, kapal-api, barkas, setasiun, bengkel beserta semua peralatan teknik, kantor telegraf, tambang dan persediaan makanan”.
Liberius tak betah. Semua hal jang diutjapkan itu baginja hanja otjehan seorang amatir belaka dan tak sangkut-paut dengan pekerdjaannja.
„Tjeramah bagus sekali”, udjarnja, „akan kuperhatikan. Kukira, semua ini mesti kita terima tanpa protes sepatah katapun, kalau kita tak hendak kehilangan bantuan Tentara Merah?”
„Tentu”.
„Tapi apa harus kukerdjakan dengan djiplakan anak-sekolah jang kamu sebut itu, Lidochka? Persetan, pasukan-pasukan — tiga resimen, termasuk artilleri dan kavaleri — sudah bertempur tiga bulan dan menghalau musuh!”
„Hebat! Djaja benar!” pikir Kostoyed.
Sanggahan itu disela oleh Tiverzin jang tak suka nada Liberius jang kurang-adjar itu.
„Maaf, kawan pembitjara, ada jang tidak djelas bagi saja. Mungkin salah satu fasal dalam instruksi saja tjatat dengan chilaf. Boleh saja batja keras? Saja tak ingin keliru. „Sangat diharapkan supaja kaum veteran jang pernah dimedan-perang dan tergolong dalam organisasi pradjurit pada waktu revolusi, dimasukkan dalam panitia. Diinginkan supaja dalam keanggotaan panitia termasuk pula satu-dua orang perwira non-aktip dan seorang ahli teknik militer”. Apakah tjatatan saja benar, kawan pembitjara?”
„Tepat. Kata demi kata”.
„Kalau begitu izinkan saja mengatakan jang berikut. Hemat saja, pasal mengenai spesialis militer ini menimbulkan kegelisahan. Kami kaum buruh jang ikut-serta dalam revolusi tahun 1905, tak dapat mempertjajai orang-orang dari tentara. Antara mereka selalu ada anasir-anasir kontra-revolusioner”.
Orang berseru: „Tjukup! Bikin resolusi! Kita susun resolusi! Sudah waktunja kita pulang, sudah djauh malam”.
„Saja setudju dengan majoritet” kata Vdovichenko dengan suara berat jang menderu. Dengan bahasa puitisnja, lembaga-lembaga kemasjarakatan sejogjanja dibentuk atas demokrasi, harus tumbuh dari bawah, seperti benih jang ditanam dan berakar ditanah; tak dapat dipukul dari atas sematjam tongkat atau pagar. Inilah djustru kesalahan kediktatoran kaum Jakobin dan inilah sebabnja mengapa Konvensi dilebur oleh kaum Thermidor”.
„Itu terang bagai siang”. Svirid, temannja teman seperdjalanan itu menjokongnja.
„Tiap anak ketjil sanggup melihatnja. Artinja kita pikirkan itu lebih dulu, kini sudah terlambat. Sekarang soalnja ialah berdjoang dan berusaha terus sekuat-kuat kita. Bagaimana bisa mundur, kalau sudah mulai? Kita sudah bikin randjang, kita mesti berbaring disitu”.
„Resolusi! Resolusi!” seru orang lagi dari segenap pendjuru. Mereka terus bitjara sedjurus, tapi jang dikatakan itu kian lama kian melantur dan achirnja pada waktu fadjar rapat itu bubar. Seorang demi seorang pulang, dengan hati-hati seperti biasa.
7
Ada tempat jang menarik hati disepandjang djalan-raja, dimana sungai ketjil Pazhinka jang gesit itu memisah dua dusun Kuteiny Posad dan Maly Yermolay, jang sebuah menurun dari bukit terdjal, sebuah lagi tersebar dilembah dibawahnja. Di Kuteiny diadakan pesta perpisahan untuk rekrut-rekrut baru jang diwadjib-tugaskan oleh Kolchak, sedangkan di Yermolay staf kesehatan dibawah Kolonel Strese, setelah mengaso selama Paskah, melandjutkan pemeriksaan dikalangan penduduk daerah itu jang dapat dimasukkan wadjib-dinas. Untuk keperluan ini tentara berkuda dan tentara Kosak ditempatkan didesa itu.
Hari itu hari ketiga dari Pekan Paskah jang sangat kasep dan musim-semi jang sangat buru-buru datangnja, hangat dan tanpa angin sehembuspun. Medja-medja dengan hidangan makanan dan minuman untuk rekrut-rekrut berdiri dialam terbuka di Kuteiny, agak tersingkir dari djalan-raja, agar tak merintangi lalu-lintas. Medja-medja itu dipasang sambung-menjambung, tapi tidak merupakan garis jang lurus betul; dengan dialasi taplak-taplak putih jang menggelembir ketanah, medja-medja ini melenggang-lenggok didjalan seperti soses putih lagi pandjang.
Penduduk dusun telah menjumbangkan penghasilan mereka untuk keperluan hiburan ini. Suguhannja terutama sisa-sisa dari makanan Paskah, dua ham jang diasapi dan beberapa kulich dan paskha8 8Kulich adalah kue berbentuk roti besar; paskha adalah manisan, terutama terbikin dari kedju, gula dan kismis, bentuknja seperti limas dan dihiasi dengan glazur. Kedua-duanja dihidangkan pada hari Minggu Paskah untuk menandai berachirnja Puasa. . Disepandjang deretan medja tadi disana-sini ada mangkuk-mangkuk berisi djamur, mentimun dan kubis asinan, piring-piring berisi roti bikinan penduduk sendiri jang dipotong mendjadi bungkah-bungkah tebal serta basi-basi jang ditimbuni telur Paskah. Kebanjakan telur ini ditjat djingga atau biru muda.
Petjahan-petjahan kulit telur, djingga dan biru-muda berbaris-keliling putih, mengotori rumput muda disekitar medja-medja. Djingga dan biru-muda pula pakaian para pemuda-pemudi. Dan awan-awan djingga berlajar dilangit, pelan-pelan melela, seolah langit ikut bergerak.
Dengan berpakaian kemedja djingga serta ikat-pinggang sutera, Vlas Galuzin turun dari tangga dirumah Pafnutin dilereng diatas djalan raja, lari keleretan medja dan mulai pidatonja:
„Sebab sjampanje tak ada, saja minum wodka bikinan kita sendiri untuk kamu, kawan-kawan remadja. Saja harapkan hidup pandjang dan tahun-tahun bahagia untuk kamu, pemuda-pemuda, jang hari ini akan berangkat. Inginlah saja memberi toast lebih banjak lagi untuk kamu. Para rekrut budiman! Boleh saja minta perhatian? Djalan salib jang terbentang didepanmu adalah pertahanan tanah-air terhadap kaum perampok jang membandjiri ladang-ladangnja dengan darah sesama saudara jang dibunuh. Rakjat memupuk harapan hendak memperbintjangkan hasil-hasil revolusi setjara damai, tapi partai bolsjewik, jakni budak modal asing, membubarkan Dewan Konstitusi jang merupakan puntjak harapan bangsa itu, dengan kekerasan sangkur tak semena-mena; dan kini darah orang-orang jang tak berdaja mengalir bagaikan sungai. Para pemuda jang berangkat nanti, pada kamulah dipasrahkan kehormatan sendjata kita jang diperkosa! Kita tertindih oleh ketjemaran dan kita berhutang pada Sekutu kita jang gagah-berani. Sebab tak hanja kaum Merah, melainkan djuga Djerman dan Austria telah mendjulangkan lagi kepala mereka jang kurang-adjar. Tuhan bersama kamu, anak-anak muda…” Ia masih bitjara, ketika suaranja terbenam dalam tepuk-tangan. Ia mengangkat gelasnja berisi wodka murni sampai kebibir dan mentjitjip. Wodka itu tak menjenangkannja. Ia lebih suka anggur, ia biasa dengan bau harum jang halus. Namun kesadaran bahwa ia berkorban untuk kepentingan umum memenuhi hatinja dengan keputusan.
„Orang-tuamu ini pandai benar berpidato! Milyukov tak bisa dibandingkan dengan dia. Demi A’llah!” kata Goshka Ryabikh dengan suara mabuk ditengah otjehan orang-orang mabuk jang menghadapi medja disitu kepada temannja Teryoshka — Terenty Galuzin — jang duduk disisinja.
„Bolehlah dia! Tapi kuduga, ia bekerdja seberat itu tentu dengan maksud. Sebagai hadiahnja kuharapkan kau akan bebas dari wadjib-dinas”.
„Kau tak malu, Goshka? Bagaimana dapat kaugagas jang demikian! Melepaskan aku dari wadjib-dinas? Aku ingin lihat itu ditjobanja. Akan kudapat kartuku berbareng dengan kau. Kita akan masuk kesatuan jang sama …Kaum haram itu mendepak aku dari sekolah. Ibu sekarang makan-hati. Kukira aku tak akan dapat tugas. Ajah memang mahir berpidato. Tepat-tepat sadja. Dan jang luar-biasa ialah, itu bakat jang fitri semata-mata. Ia tak berpendidikan”.
„Kau pernah dengar tentang Sanka Pafnutkin?”
„Ja. Betulkah dia kena infeksi jang djahat?”
„Tak dapat disembuhkan. Sedjak didapatnja itu habislah riwajatnja: Salahnja sendiri. Kami peringatkan dia djangan pergi. Kita harus hati-hati dengan pergaulan kita”.
„Apa akan terdjadi dengan dia sekarang, Goshka?”
„Ini pengalaman jang buruk. Ia ingin bunuh diri. Ia dipanggil, ia sekarang diobati di Yermolay. Kukira ia akan ditangkap. Sebelum itu, katanja ia akan pergi, bergabung pada partisan — untuk balas dendam pada kedjahatan masjarakat”.
„Dengarkan, Goshka, kau omong tentang penjakit infeksi, tapi kalau kau tak pergi pada mereka, mungkin kau kena penjakit lagi”.
„Aku tahu maksudmu. Kau sendiri kena dengan melihatnja. Tapi itu bukan penjakit, melainkan dosa”.
„Kupukul hidungmu, kalau kau bilang begitu, Goshka — Bagus benar, bitjara begitu kepada teman, pembohong busuk!”
„Tenanglah, itu tadi tjuma main-main. Jang ingin kututurkan padamu ialah ini — pada hari Paskah kukundjungi Pazhinsk; disitu ada pendeta-pembantu jang berkeliling, seorang anarchis, sangat menarik-hatilah dia. Ia bitjara tentang Pembebasan Kepribadian. Kusuka itu, itu baik. Aku akan turut kaum anarchis, aku — ja, betul-betul. Dalam diri kita ada kekuatan batin, katanja. Itu harus bangun. Katanja, kelamin dan watak, itulah tanda kehadiran elektrisitet hewani. Bagaimana pendapatmu? Djeniuslah dia …Tapi aku bosan. Orang gembor-gembor dimana-mana, tjukup membisingkan. Aku tak betah, djadi diamlah, Terenty; tutup mulut sadja”.
„Baik, tapi satu hal aku ingin tahu, Goshka. Belum djuga kufahami segala perkataan tentang sosialisme itu. Misalnja, istilah sabotaznik9 9Penjabot. itu apa? Apa artinja?”
„Aku ahli tentang segala kata-kata demikian, tapi ketahuilah Terenty, aku mabuk, tinggalkan aku. Seorang sabotaznik ialah orang jang tergolong sesuatu gerombolan. Vataga adalah gerombolan, bukan? Nah, kalau kausebut savatzhnik, itu berarti kau ikut tergolong dalam sesuatu vataga. Mengerti, tolol?”
„Itulah jang sudah kuduga — kata maki-makian …Tapi tadi kausebut-sebut daja-listrik. Itu pernah kudengar. Aku pernah ingin memesan ikat-perut dari Petersburg — terima kontan — kulihat itu dalam iklan. „Untuk menambah tenaga tuan” katanja. Tapi lantas ada revolusi lagi, djadi ada hal-hal lain jang perlu dipikirkan…”
Terenty tak selesai mengutjapkan kalimatnja. Gemuruh suara-suara mabuk disekitar medja terbenam oleh ledakan keras jang bergema dari dekat dan terhenti sesaat. Kemudian meletup lagi, djauh lebih lantang dan lebih katjau dari tadi.
Beberapa orang melompat dari kursi; jang paling tak sadarkan diripun berdiri tegak. Ada pula jang hendak pergi sempojongan, tapi djatuh kebawah medja dan mulai mendengkur. Para wanita menangis. Hiruk-pikuk dimana-mana.
Vlas mentjari biang-keladinja. Pada saat-saat pertama didapatnja kesan bahwa ledakan berasal dari sesuatu tempat didusun, bahkan mungkin dari djarak sangat dekat pada medja-medja. Pembuluh darah dikuduknja menondjol, mukanja merah dan berteriaklah ia: „Siapakah pengchianat dibarisan kita? Siapa pembuat keonaran ini? Siapa menghambur-hamburkan granat-tangan? Akan kutjekik binatang itu, tak perduli apakah ia anakku sendiri. Kawan-kawan sedesa, tak kita izinkan orang mentjemoohkan kita. Dusun harus kita kepung. Sipendjahat akan kita tangkap, tak boleh luput”.
Mula-mula orang mendengarkannja, kemudian perhatian mereka tertarik oleh gulungan asap hitam jang pelan-pelan naik kelangit dari bangsal Wilajah Pedusunan di Moly Yermolay dan semuanja lari ketepi ngarai untuk menindjau keseberang sungai, apa jang terdjadi dalam lembah.
Bangsal itu terbakar. Beberapa rekrut — seorang dari mereka tak bersepatu dan tak memakai pakaian selain tjelana — lari dari gedung bersama Kolonel Strese dan perwira-perwira lain dari dewan pemilihan. Tentara Kosak berkuda serta para pradjurit pembela tanah-air dengan membungkuk dipelana dan mengajunkan tjambuk, lari hilir-mudik didusun untuk memburu seseorang, sedang kuda-kuda menggeliat dibawah mereka seperti ular.
Banjak orang lari kedjalan jang menudju Kuteiny, dikedjar oleh rangsangan lontjing-lontjing geredja jang dengan ributnja membunjikan tanda-bahaja.
Keadaan berkembang dengan ketjepatan jang dahsjat. Waktu magrib, Kolonel Strese jang nampaknja jakin bahwa buruannja sudah meninggalkan Yermolay, membawa tentara Kosaknja ke Kuteiny, mengepung dusun itu dengan patroli-patroli dan mulai menggeledah tiap teratak dan tiap rumah.
Separoh dari rekrut-rekrut kini tak berdaja. Mereka tak meninggalkan pesta dan sedang mendengkur, djatuh ketanah atau meletakkan kepala kemedja. Ketika orang mengetahui bahwa tentara ada didusun, malam telah tiba.
Beberapa anak-muda, antaranja Terenty dan Goshka, terbirit-birit pergi lewat taman-taman-belakang kebedeng jang terdekat; dengan sodok-menjodok dan saling menjikut mereka merangkak dibawah lantai melalui lobang sempit didasar dinding. Dalam gelap ditengah keributan tadi mereka tak sempat meneliti, milik siapakah bedeng ini, tapi kini berhubung dengan bau ikan dan lilin disitu agaknja bedeng ini ialah jang dipergunakan oleh pengusaha toko didusun itu sebagai gudang.
Para pemuda ini tak bersalah apa-apa, bodohlah kalau mereka menjembunjikan diri; kebanjakan mereka lari lantaran dirangsang oleh keadaan, lantaran mabuk dan hilang akal sadja. Namun satu-dua orang jang ikut mereka kini patut ditjurigai dan dichawatirkan bahwa mereka ini bila ketemu, akan menjebabkan mala-petaka. Benarlah kawan-kawan ini tak berbuat lebih busuk dari ugal-ugalan belaka, tapi siapa tahu; dewasa ini tiap hal ada segi politiknja. Diwilajah Sovjet, ugal-ugalan didjalan dianggap tanda reaksi gelap, sedangkan diwilajah Putih itu dipandang sebagai bolsjewisme.
Ternjata mereka tak sendirian didalam bedeng, ada orang-orang lain jang lebih dulu kesitu; ruang antara tanah dan lantai didjedjali orang-orang dari kedua desa. Jang dari Kuteiny sama sekali mabuk. Ada jang mendengkur dan menggertak-gertakkan gigi dan ngelindur, ada jang sakit. Hawa gelap-gelita, sesak dan berbau busuk tak terkira. Guna menutup persembunjian ini, mereka jang tiba paling belakangan telah merintangi lobang didinding. Sedjurus kemudian berachirlah bunji dengkur dan gerutu; jang mabuk telah tertidur njenjak, maka sunji-senjaplah disitu, ketjuali suara bisik-bisik jang gugup lagi tegar disatu sudut, dimana Terenty dan Goshka meringkuk dalam paniknja bersama Koska, seorang pemuda jang galak dan suka bertengkar dari Yermolay.
„Djangan keras-keras”, kata Koska. „Kaubikin tjelaka kita semua nanti, setan keparat. Kau tak dengar? — Orang-orang Strese memburu kian-kemari. Mereka sudah sampai keudjung djalan, kini sedang balik. Itu dia. Djangan tarik nafas, kutjekik nanti …Sukurlah, mereka lewat …Djahanam, mengapa kau kemari? Apa gunanja kau ngumpet, tolol? Siapa memperdulikan kau?”
„Kudengar Goshka memekik: „Sembunji”, djadi aku merajap kesini”.
„Goshka beralasan sungguh. Seluruh keluarganja kerepotan, ditjurigai. Ada familinja jang bekerdja diemplasemen kereta-api di Khodatskoye, itu sebabnja …Djangan gugup, tenang sadja, tolol. Disini orang sudah muntah-muntah — kalau kau bergerak, kita dilumuri kotoran ini karena kau. Tak kautjium baunja? Kau tahu mengapa Strese menguber-uber diseluruh dusun? Dia tjari orang-orang luar, dari Pazhinsk, itulah maksudnja”.
„Bagaimana terdjadinja semua ini, Koska? Bagaimana asal-mulanja?”
„Sanka jang memulainja — Sanka Pafnutkin. Kami semua didaftarkan sebagai rekrut dikantor, antri dengan telandjang, menanti dokter. Waktu giliran Sanka, dia tak mau buka badju. Ketika datang kekantor, ia mabuk sedikit. Pegawai memintanja dengan sopan supaja menanggalkan pakaiannja, bahkan menegurnja dengan „tuan” — Sanka membantah keras. „Tak mau buka badju”, katanja, „tak kupertontonkan tubuh telandjangku pada tiap orang”. Ia seolah malu. Lantas dihampirinja pegawai itu, dipukulnja rahangnja. Lalu, pertjaja atau tidak, sebelum kau sempat mengedipkan mata, Sanka membungkuk, dipegangnja kaki medja dan digulingkannja medja itu. Medja berantakan kelantai dengan segala hal diatasnja, tempat-tinta, daftar tentara dan lain-lainnja! Masuklah Strese, berseru: „Aku tak mau urusan dengan brandal-brandal. Tak kusuka ada revolusi tak berdarah disini. Kuadjar kalian menghormati undang-undang ditempat resmi. Siapa biang-keladinja?”
„Sanka berseru: „Kumpulkan barang-barangmu, kawan-kawan. Habis riwajat kita”. Ia pergi kedjendela dan dihantamnja itu. Kupungut pakaianku dan kupakai sambil lari dibelakangnja. Enjahlah dia kedjalanan, kentjang matjam angin; aku ikut dia dan begitu djuga dua orang lain. Kami semua lari puntang-panting dan mereka mengedjar sambil berseru dan berteriak. Tapi kalau kautanjakan, apa soalnja — tak ada jang tahu”.
„Tapi bom itu bagaimana?”
„Apa soalnja?”
„Nah, siapa melemparkannja? — bom atau granat atau apakah itu?”
„Ja Allah! Kausangka itu perbuatan kami?”
„Siapa, kalau tidak?”
„Bagaimana kutahu? Tentu orang lain. Ada jang menjaksikan hiruk-pikuk ini, lantas berpikir: „Mengapa tak kuledakkan sadja diam-diam pelataran ini, mumpung ada ribut-ribut? — jang ditjurigai nanti orang-orang lain”. Tentunja orang „politik”, salah seorang „politik” dari Pazhinsk; pelataran penuh dengan mereka …Diam! Tutup mulut! Tak kaudengar? — orang-orang Strese datang kembali. Tjelaka kita nanti. Ajo, diam!”
Terdengar suara-suara datang didjalan; sepatu menggerit-gerit, patju gemerintjing.
Kolonel dengan logat Petersburgnja jang tjermat itu bitjara dengan suara memerintah dan menjentak: „Djangan bantah. Tak dapat kautipu aku. Aku jakin tadi ada orang bitjara disana”.
Walikota dusun Yermolay, nelajan tua Otvyazhistin, terus menerangkan:
„Jang Mulia agaknja salah dengar. Lagi pula, mengapa didusun tak akan ada orang bitjara? Ini bukan kuburan. Barangkali ada jang omong-omong. Rumah-rumah penuh manusia. Manusia bukan hewan gagu. Atau barangkali ada setan menggugat orang lagi tidur”.
„He! Djangan pura-pura sinting! Setan memang! Kamu semua disini bukan kanak-kanak lagi. Kamu akan pandai betul, sampai sanggup membenarkan bolsjewisme nanti”.
„Masja’ Allah! Bagaimana Jang Mulia dapat berkata begitu? Tuan Kolonel! Kaum bergadjud didusun kami begitu dungu sampai tak bisa membatja buku-sembahjang! Bagaimana dapat mengerti bolsjewisme?”
„Begitulah tjara kamu semua bitjara, sampai kamu tertangkap. Suruh geledah toko ini dari bawah keatas. Bongkar-balikkan semuanja dan djanganlah lupa menengok kebawah lang-lang”.
„Baik, Jang Mulia”.
„Aku ingin menangkap Pafnutkin, Ryabikh dan Nekhvalenikh, mati atau hidup; kalau perlu boleh kauambil mereka dari dasar laut. Dan djuga sianak andjing Galuzin itu. Tak perduli berapa banjak pidato patriotis jang diadakan bapaknja. Sepandai-pandainja ia bitjara, ia tak bakal tiba-tiba memukul kita! Kalau situkang-warung berkeliling untuk bikin pidato, tentu ada udang dibalik batu. Mentjurigakan. Tak fitri. Kami dapat keterangan, keluarga Galuzin menjembunjikan pendjahat-pendjahat politik dan membuat pertemuan-pertemuan ilegal dirumahnja di Salibkudus. Serahkan padaku begedil itu. Belum kutentukan apa kubuat dengannja, tapi asal dia dapat dipersalahkan sadja, aku tak ragu-ragu lagi untuk menggantung dia, sebagai peladjaran bagi jang lain-lain”.
Para penjelidik itupun pergi. Ketika mereka sudah djauh, berbisiklah Koska kepada Terenty jang mati-kutu.
„Kaudengar itu?”
„Ja”, bisiknja dengan suara berobah.
„Nah, hanja ada satu tempatlah buat aku dan kau dan Sanka dan Goshka sekarang, jaitu hutan. Bukan maksudku, kita tinggal selama-lamanja disana — tjuma sampai mereka ini tenang kembali. Kita lihat sadja nanti, mungkin bisa pulang”.
1
Sedjak Yury ditangkap oleh kaum partisan itu, hampir dua tahun telah lalu. Batas-batas kemerdekaannja sangat tak djelas penentuannja. Tempat tawanannja tak dikelilingi tembok-tembok; tak ada pengawal mendjaganja dan tak ada orang mengawasi gerak-geriknja. Tentara partisan senantiasa bergerak; tak memisahkan diri dari penduduk setempat jang tanah serta tempat kediamannja dilewatinja; tentara itu bertjampur dan benar-benar larut kedalam penduduk.
Nampaknja seolah Yury tidak betul-betul ditawan atau tak berhak atas nasib sendiri; ia kelihatan bebas dan semata-mata tak mampu menggunakan kebebasannja. Keadaannja jang terkurung dan tak bebas itu sebenarnja tak beda dengan bentuk-bentuk keterpaksaan lainnja dalam penghidupan, jang sering pula tak kelihatan, tak teraba dan djuga seolah tak ada kehadirannja, tak lebih dari bajangan jang berasal dari gagasan, sebuah chajalan belaka. Tapi sekalipun ia tak dibelenggu, dirantai atau diawasi, Yury harus menjerah kepada ketidak bebasannja itu, jang nampaknja hanja chajali.
Tiga kali pertjobaannja hendak lari dari partisan, masing-masing berachir dengan penangkapan. Ia tak menderita hukuman, namun ia main-main dengan api dan itu tak ditjobanja lagi.
Ia digemari oleh pemimpin partisan Liberius Mikulitsin jang suka ditemaninja dan mempersilakannja tidur dalam kemahnja. Persahabatan jang dipaksakan ini mendjidjikkan Yury.
2
Selama taraf ini tentara partisan terus-menerus bergerak ke Timur. Kadangkala gerakan ini merupakan kemadjuan, mendjadi sebagian dari serangan umum untuk mengusir Kolchak dari Siberia Barat; kadang-kadang bila tentara Putih menghantam dari belakang dan hendak mengepung tentara Merah, maka perdjalanan ke Timur itupun berganti mendjadi pelarian. Sudah lama hal ini tak masuk akal bagi Yury.
Arah mereka paralel dengan djalan-raja, dan sekali tempo lewat disitu. Dusun-dusun dan kota-kota ketjil disepandjang djalan itu Merah atau Putih, tergantung dari nasib peperangan. Dengan melihat sadja sulitlah untuk mengatakan pada saat tertentu, siapa jang sedang berkuasa disitu.
Apabila tentara petani sedang melalui sebuah permukiman, tiap hal disitu turunlah martabatnja. Rumah-rumah dikedua tepi djalan seakan tenggelam ketanah dan semua penunggang serta kuda, meriam dan manusia besar jang melontjat dan merandai dilumpur itu nampak lebih tinggi dari rumah-rumah.
Suatu hari, tatkala mereka ada dikota ketjil bernama Pazhinsk, pergilah Yury keapoteker untuk mengambil persediaan obat-obatan Inggris jang ditinggalkan oleh suatu kesatuan perwira Putih dibawah djenderal Kappel dan kini telah direbut sebagai hasil-perang oleh tentara partisan.
Hari itu hudjan turun pada sendja dingin jang hanja berwarna dua — putih dimana tjahaja turun, tempat-tempat lainnja hitam; perasaan Yurypun terbatas pada kesahajaan demikian, tidak diperluas oleh warna-warna tambahan.
Djalan jang remuk-redam oleh pendjeladjahan tentara-tentara itu tak lebih dari sungai penuh lumpur hitam, hanja dapat diseberangi disedikit tempat jang bisa ditjapai dengan berpegangan pada rumah-rumah sepandjang ratusan djar. Dalam keadaan begitulah Yury ketemu Pelagia Tyagunova jang mendjadi teman seperdjalanannja dalam kereta-api dari Moscow tiga tahun jang lampau.
Jang mula-mula ingat ialah Pelagia. Baru beberapa djurus kemudian Yury ingat siapa perempuan jang terus memandanginja dari seberang djalan, seperti dari tepi kanal jang dihadapinja, dengan air-muka jang mengandung kesediaan untuk menjalami dia djika ia ingat, atau tak memperkenalkan diri djika ia tak ingat.
Achirnja ia ingat djuga, maka bersama gambaran tentang sebuah truk-barang jang didjedjali manusia, orang kerdja-paksa beserta pengawal dan wanita dengan kudung dibahunja, mengkilatlah dalam pikirannja gambaran tentang keluarganja. Hal-hal ketjil dalam perdjalanannja itu dengan terang-benderang mengerumuni dia dan wadjah-wadjah buah-hatinja jang dirindukannja dengan putus harapan itu muntjul dengan tegas dalam ingatannja.
Ia mengangguk kepada Pelagia supaja berdjalan lebih landjut kebatu-batu jang dapat diindjak, maka setelah pergi kedjurusan jang sama, iapun menjeberangi djalan dan menjalam.
Perempuan itu menuturkan banjak tentang dua tahun jang silam. Setelah mengingatkannja pada Vassya, anak-muda berparas tampan jang masih hidjau itu, jang diwadjib-dinaskan setjara chilaf dan duduk dalam deresi jang sama, maka dilukiskannja bagaimana ia tinggal bersama ibunja didusun mereka Veretenniki. Dulu ia berbahagia disitu, tapi orang dusun memperlakukan dia sebagai orang luar. Kemudian dialaminja tuduhan palsu bahwa ia bertjinta-tjintaan dengan Vassya, maka ia terpaksa pergi, kalau tak hendak ditikam sampai mati. Bersama saudara perempuannja, Olga Galuzina jang sudah kawin, iapun berdiam dikota Salibkudus. Desas-desus bahwa Prityulyek pernah kelihatan dekat dari situ, membawanja ke Pazhinsk. Kabar-angin itu ternjata tak benar, maka terlantarlah ia dikota ketjil ini, tempat ia kemudian mendapat pekerdjaan.
Sementara itu kawan-kawannja ditimpa kemalangan. Veretenniki didjarah, sebagai pembalasan dendam karena telah menahan persediaan bahan makanan. Konon rumah Vassya telah terbakar dan seorang anggota keluarganja mati. Dan di Salibkudus ipar Pelagia, Vlas Galuzin, telah dibui atau ditembak, tak ada jang tahu bagaimana sebenarnja, sedangkan kemenakannja hilang. Saudarinja pernah kelaparan untuk sementara, tapi kini bekerdja untuk mata-pentjahariannja sebagai pelajan dikeluarga petani jang masih famili.
Kebetulan Pelagia bekerdja sebagai babu-tjutji, djustru pada ahli-obat jang persediaannja akan disita oleh Yury. Semua orang jang nasibnja tergantung pada apoteker itu, termasuk dia sendiri, akan menghadapi keruntuhan, berkat peraturan ini, namun Yury tak berdaja mentjegahnja. Pelagia hadir, waktu persediaan dialihkan.
Pedati Yury mendaki djalan menandjak dibelakang rumah-obat. Banjak karung, peti dan botol jang dibungkus dalam djalinan ranting pohon, dibawa keluar.
Tak ubah dengan manusia, kuda apoteker jang kurus dan bergudik itupun menjaksikan pemindahan ini dengan sedih dari kandangnja. Hari hudjan itu mendekati tammatnja. Langit terang sedikit. Surja sendja jang dihimpit mendung-mendung itu mendjenguk keluar dan memandikan pekarangan dengan sinar emas-tua jang sebagai firasat buruk menjepuh bentjah-bentjah, penuh dengan kotoran tjair. Angin tak sanggup menggerakkan nadjis tjair jang terlalu berat untuk digerakkan itu. Tapi air hudjan didjalan beriak-riak dan berpendar merah.
Pasukan-pasukan berbaris didjalan pandjang dengan djalan kaki atau berkendaraan mengitari bentjah-bentjah jang lebih dalam. Dalam persediaan jang disita ternjata ada serodong penuh kokaine; pemimpin partisan baru-baru ini telah biasa makan tjandu ini.
3
Lantaran ada tiphus dimusim-dingin dan disenteri dimusim-panas, pun karena djumlah orang luka-luka meningkat pada waktu pertempuran diulangi, maka Yury tertjempung dalam pekerdjaan.
Meskipun mengalami kekalahan-kekalahan dan berkali-kali mundur, namun barisan partisan senantiasa tambah luas dengan adanja para pemberontak baru dari segala permukiman jang dilewati tentara petani serta musuh-musuh jang menjeberang. Dalam delapanbelas bulan selama Yury ada ditengah-tengah kesatuannja, tentara itu telah mendjadi sepuluh kali besarnja sedjak semula dan kini sudah mentjapai kekuatan jang dibanggakan Liberius pada pertempuran di Salibkudus.
Pada Yury ada beberapa djururawat militer jang baru diangkat namun berpengalaman, beserta dua pembantu-utama, kedua-duanja bekas tawanan-perang-Kerenyi Lajos, seorang komunis Hungaria jang pernah mendjabat perwira kesehatan dalam tentara Austria, dan seorang Kroat, Angelar, jang mendapat didikan sementara sebagai dokter. Yury menggunakan bahasa Djerman dengan Kerenyi Lajos; Angelar mengerti sedikit bahasa Rusia.
4
Menurut Perdjandjian Internasional Palang Merah, personil kesehatan dalam tentara tak boleh turut serta dalam operasi militer dari fihak-fihak jang berperang. Tapi sekali Yury terpaksa melanggar peraturan ini. Ia berada dimedan-perang, ketika permusuhan dimulai dan ia harus senasib dengan jang berperang.
Garis medan perang, tempat ia ditjegah oleh tembakan musuh, ada ditepi hutan. Ia merebahkan diri ketanah disebelah telefonis kesatuannja. Mereka membelakangi hutan dan menghadapi padang dan tentara Putih sedang menjerang dengan melewati ruangan terbuka jang tak dipertahankan ini.
Kaum Putih kini tjukup dekat pada Yury, hingga dilihatnja wadjah-wadjah mereka. Mereka adalah anak-anak muda, barisan suka-rela baru jang berasal dari penduduk ibu-ibu-kota, beserta orang-orang lebih tua jang dimobilisasikan dari tjadangan. Bagian terbesar terdiri dari anak-anak muda tadi, mahasiswa setahun pada universitas dan anak-anak sekolah dari kelas tertinggi.
Tak seorangpun dikenal Yury, namun banjak jang nampaknja tak asing. Ada jang mengingatkannja pada teman-teman sekolahnja, maka iapun bertanja-diri apakah mereka ini adik-adik mereka; beberapa orang lainnja serasa pernah dilihatnja ditengah publik gedung kesenian atau didjalanan pada masa lampau. Wadjah-wadjah mereka jang expresif itu menarik hatinja — mereka agaknja seketurunan, sedjenis dengan dia sendiri.
Rasa tanggung-djawab menurut pengertian mereka sendiri memenuhi mereka dengan keperwiraan berpesona jang merangsang setjara berlebih-lebihan. Mereka madju dalam formasi renggang sekali jang mengatasi kegagahan para Pengawal waktu berpawai, maka berdjalanlah mereka dengan tegak dan menantang, tak mau lari atau merebahkan diri, sungguhpun tanah disitu tjukup berbondjol untuk didjadikan perlindungan. Peluru-peluru partisan menjebat mereka hingga berguguran.
Ditengah padang tandus jang luas ini ada pohon mati jang disambar petir, dihanguskan api atau terbakar dan terbelah dalam pertempuran-pertempuran jang terdahulu. Tiap pradjurit suka-rela jang bergerak madju itu memandang kepohon ini sambil bergulat dengan godaan hendak berhenti dibelakangnja, agar berlindung dan membidik lebih tepat, kemudian dengan membuang pikiran itu iapun berdjalan terus.
Persediaan peluru tentara partisan adalah terbatas dan mereka mendapat instruksi jang diperkuat oleh persetudjuan setempat, supaja tak melajani pasukan jang lebih kuat dan supaja hanja menembak dari djarak pendek.
Yury tak punja bedil; ia berbaring dirumput, menjaksikan djalan pertempuran. Seluruh simpatinja ada difihak anak-anak berani itu jang mendjemput maut. Dengan sepenuh hati ia mengharapkan mereka berhasil. Mereka berasal dari keluarga-keluarga jang rupa-rupanja tak djauh bedanja dari padanja dalam hal semangat, pendidikan, disiplin moral dan nilai-nilai.
Tergeraklah hatinja untuk lari kemedan serta menjerahkan diri dan dengan begitu memperoleh kebebasan. Tapi itu terlalu berbahaja.
Andaikata ia lari dengan memegang sendjatanja atas kepala, ia bisa ditembak dari dua pihak, terkena didada dan dipunggung, oleh para partisan untuk menghukumnja karena berchianat, oleh tentara Putih karena alasannja tak difahami. Ia kenal situasi demikian, ia pernah mengalaminja, ia telah menimbang segala kemungkinan rentjana pelarian begitu dan telah melepaskannja sebab sia-sia. Maka dengan berserah diri pada perasaan bertjabang itu ia menelungkup dirumput menghadapi tempat terbuka dihutan itu dan dengan tiada bersendjata ditunggunja nasib pertempuran.
Tapi untuk melihat sadja tanpa berbuat apa-apa, selama pergumulan mati-matian itu mengganas, adalah mustahil, itu mengatasi daja-tahan insani. Soalnja bukanlah ketaatan pada fihak jang menawannja ataupun membela njawanja sendiri, melainkan berpasrah diri pada kemauan nasib, pada hukum jang mengendalikan apa jang terdjadi didepan matanja. Meluputkan diri dari situ berarti melanggar peraturan. Ia harus berbuat apa jang sedang dikerdjakan orang-orang lainnja. Pertempuran sedang berlaku. Dia dan kawan-kawannja ditembaki. Dia harus menembak kembali.
Djadi, ketika telefonis disisinja itu melontjat, menggeragau, lantas rebah tak berkutik, iapun merangkak kepadanja, mengambil ikat-pinggangnja jang berpeluru serta bedilnja, balik ketempatnja dan mengosongkan senapang itu dengan tembakan berturut-turut.
Tapi iba-hatinja mentjegah dia untuk membidik keanak-anak muda jang dikaguminja dan mendapat simpatinja itu, sedangkan menembak keudara sadja akan terlalu menggelikan, maka dilepaskannja tembakan kepohon jang rusak-redam itu dengan memilih saat ketika tak ada orang antara penglihatannja dan sasarannja. Ia menggunakan tekniknja jang lama.
Dengan merendahkan pandangannja serta lambat-laun memperbaiki pembidikannja dengan menekan pelatuk pelan-pelan dan tidak sekaligus kebawah, seakan tak ada maksud melepaskan peluru, hingga tembakan achirnja terdjadi dengan sendirinja seolah tak disengadja, maka ia menembak dengan teliti menurut kebiasaan lama kearah kaju mati dari dahan-dahan sebelah bawah serta memotong dan menjebarkannja disekitar pohon.
Tapi sajang! Bagaimanapun hati-hatinja agar djangan sampai mengenai seseorang, namun sekali-sekali ada djuga pemuda jang tampil kegaris-tembakannja pada saat jang berbahaja. Dilukainja dua orang, sedangkan seorang lagi djatuh dekat pohon, agaknja kehilangan njawanja.
Achirnja pemimpin tentara Putih jakin bahwa serangan tak berhasil, lalu memerintahkan supaja mundur.
Kaum partisan hanja sedikit. Sebagian dari tentara-induk mereka sedang beroperasi, lain-lainnja ketemu dengan regu musuh jang lebih besar, djauh dari situ. Agar tak menundjukkan kelemahan, mereka tak mau mengedjar tentara Putih jang mundur itu.
Pembantu Yury, Angelar, datang kepadanja ditempat terbuka itu bersama dua djururawat jang membawa tandu-tandu. Yury menjuruhnja merawat jang luka-luka, lalu membungkuk ketelefonis tadi, dengan harap-harap tjemas bahwa ia masih bernafas, hingga dapat ditolong njawanja. Tapi ketika membuka kemedjanja dan menepam dadanja, tahulah ia bahwa djantungnja tak lagi berdetak.
Sebuah djimat tergantung pada tali sutera dari leher simajat. Yury mengambilnja. Djimat berisi setjarik kertas jang kusut dan lusuh pada lipatan-lipatannja, didjahit dalam sepotong kain.
Dikertas jang hampir kojak-kojak, ketika Yury membukanja dengan djari-djarinja, tertulis beberapa petikan dari Psalma kesembilanpuluh1 1Jaitu jang ke-91 menurut Versi Resmi kitab Indjil. Kutipan-kutipan diatas terambil dari Versi Douai jang lebih dikenal oleh bangsa Rusia. dengan segala perobahan kalimat seperti jang sering kesasar dalam doa-doa populer karena kerapkali diulangi, hingga makin banjak menjimpang dari naskah aslinja. Bahasa geredja Slavonia ditulis dalam huruf-huruf Rusia.
Kata-kata dari psalma: „Hidup dalam lidungan Jang Mahatinggi” telah mendjadi „Hidup Lindungan”. Sadjak „Tak perlu kamu takuti panah terbang siang hari” dirobah mendjadi kalimat jang membesarkan hati „Djangan takut pada panah perang pesat”. Kalau psalma mengatakan „DiakuiNja namaku”, kertas itu berbunji „Bekas namaku”, sedangkan „Dalam sengsara aku disisiNja untuk membawa padaNja…” telah mendjadi „Segera bersama Dia mendjelang malam”.
Naskah itu dianggap mudjizat dan perlindungan terhadap peluru. Pradjurit-pradjurit memakainja sebagai djimat dalam perang-imperialis jang terachir. Puluhan tahun kemudian orang-orang tawanan mendjahitnja dalam pakaian serta mengumamkan kalimatnja dalam pendjara, kalau pada malam hari mereka dipanggil untuk diperiksa.
Yury meninggalkan telefonis itu dan pergi kemedan kepada Pengawal Putih muda jang dibunuhnja tadi. Wadjah anak tampan ini menandakan kemurnian djiwa serta penderitaan ichlas. „Mengapa kubunuh dia?” pikir Yury.
Ditjopotnja djas pemuda itu dan disingkapkannja. Tangan dan nama-ketjilnja, Seryozha Rantsevich dengan huruf miring jang teliti — barangkali tangan ibunja — telah meradjut nama dikain-lapisnja. Dari lobang badju Seryozha membersit sebuah salib jang diikat pada rantai, sebuah medali dan kotak pipih ketjil dari emas, mirip pada kotak-hirupan jang rejet sedikit, seolah ditekan dengan kuku. Setjabik kertas djatuh dari situ. Yury membukanja dan mendjadi keheran-heranan. Tulisannja ialah Psalma kesembilanpuluh djuga, tapi kali ini ditjetak menurut naskah bahasa Slavonia jang tulen dan lengkap.
Pada saat itu Seryozha bergerak dan mengerang. Ia masih hidup.
Kelak ternjata ia hanja pingsan, disebabkan luka ketjil jang mendalam. Peluru telah ditampung oleh djimat ibunja, itulah jang menjelamatkannja. Tapi apa hendak dibuat dengan orang pingsan ini sekarang?
Waktu itu kebuasan manusia sedang memuntjak. Orang tawanan tak mentjapai markas-besar hidup-hidup dan musuh jang luka-luka digorok sadja dimedan-perang.
Kalau diperhitungkan keadaan tentara partisan dengan banjak pergeseran desertir dari dan kepada musuh, mungkinlah Rantsevich disebut sebagai sekutu jang baru didaftarkan, asal sadja rahasia ini disimpan setjermat-tjematnja.
Yury menanggalkan pakaian telefonis jang meninggal tadi dan dengan bantuan Angelar jang dipertjajainja, digantinja itu dengan pakaian sipemuda.
Bersama Angelar dirawatnja Seryozha sampai pulih kesehatannja. Ketika ia sembuh betul, iapun dibebaskan, meskipun tak disembunjikannja bahwa ia bermaksud pulang ketentara Kolchak dan meneruskan perdjoangannja melawan kaum Merah.
5
Pada musim-panas para partisan bermarkas di Hutan Adjak, sebuah bukit terdjal dirimbuni rimba; anak sungai gesit berbuih melingkari tiga sisinja dan menggerumiti tepi-tepinja.
Disitu kaum Putih tinggal selama musim-dingin tahun jang silam dan menggali tempat kediaman mereka, dibantu oleh penduduk dusun, tapi mereka berangkat dimusim-semi tanpa menghantjurkan perbentengan mereka. Kini tempat-tempat persembunjian serta parit-parit perhubungan mereka itu digunakan oleh para partisan.
Yury menempati satu guha dengan Liberius Mikulitsin jang dua hari berturut-turut mengganggu tidurnja dengan omong-omong.
„Aku ingin tahu apa jang dikerdjakan orang-tuaku jang termulia, bapakku jang terhormat itu sekarang”.
„Allah, kubentji benar kelakar dungu ini”, keluh Yury dalam batin. „Pada hal dialah gambaran hidup ajahnja sendiri”.
„Menilik pertjakapan kita tempo hari, kau kenal betul dia. Agaknja pendapatmu tentang dia tidaklah buruk. Apa katamu tentang hal ini, tuan tersajang?”
„Liberius Avercievich, besok ada rapat pemilihan pendahuluan. Ada djuga pengadilan terhadap perawat-perawat jang membuat wodka — Lajos dan aku masih harus mempeladjari bahan-bahan bukti. Sedangkan aku tak tidur dua malam. Tak dapatkah pertjakapan ini ditunda? Aku letih sekali”.
„Apa salahnja? Tuturkan sadja apa pendapatmu tentang bapakku, situa itu”.
„Pertama-tama, ajahmu masih sangat muda. Aku tak faham, mengapa kau omong begitu tentang dia. Nah, baiklah, aku tjeritakan. Sudah sering kukatakan padamu, aku tak tahu banjak tentang berbagai kekurangan pada pendirian sosialistis, pun tak kulihat banjak perbedaan antara kaum bolsjewik dan sosialis-sosialis lain. Ajahmu adalah seorang dari mereka jang menjebabkan kekatjauan dan kerusuhan di Rusia baru-baru ini. Dia tipe revolusioner, berwatak revolusioner. Seperti kau sendiri, dia mewakili prinsip penangasan dalam penghidupan di Rusia”.
„Itu dimaksudkan sebagai pudjian atau tjelaan?”
„Sekali lagi kuminta kau menunda pembitjaraan ini kewaktu jang lebih sesuai. Dan aku terpaksa minta perhatianmu, sebab kaupergunakan kokain kelewat batas. Sengadja kautandaskan perbekalan jang diserahkan padaku itu. Kau tahu betul, itu perlu untuk maksud-maksud lain, belum pula kusebut bahwa itu ratjun, sedangkan aku bertanggung-djawab atas kesehatanmu”.
„Semalam kaupatahkan lagi lingkaran studi. Selera-sosialmu merana, seperti petani perempuan jang buta-huruf atau burdjuis kolot. Pada hal kau seorang dokter, banjak membatja, malahan rupanja mengarang djuga. Bagaimana pendjelasanmu tentang itu?”
„Tak ada. Kukira aku ini terlalu tolol; apa boleh buat. Kau mesti mengasihani aku”.
„Tak usah pakai rendah hati jang dibikin-bikin. Kalau kaubuang nada ironis itu dan mau bersusah-pajah menjelidiki apa jang kita buat dalam kelas-kelas kita, kau tak akan sesombong itu”.
„Demi Tuhan, Liberius Avercievich, aku bukannja sombong. Usaha pendidikanmu sangat kuhormati. Kubatja tjatatan diskusi jang kautulis. Kumaklumi gagasanmu tentang perbaikan achlak pradjurit — itu luar-biasa. Segala hal jang kaukatakan tentang bagaimana seharusnja sikap pradjurit terhadap kawan-kawannja, kaum lemah tak berdaja, perempuan dan tentang kehormatan dan kesutjian — itu hampir serupa dengan kaum Dukhobor2 2Golongan-golongan jang melaksanakan prinsip-prinsip, serupa dengan prinsip-prinsip Tolstoy. . Semua djenis Tolstoyisme itu aku apal. Masa dewasaku sendiri penuh dengan aspirasi tentang penghidupan jang lebih baik. Mana bisa kuketawai hal-hal itu?
„Tapi pertama-tama, gagasan memperbaiki masarakat seperti jang diartikan orang sedjak Revolusi Oktober tak menggembirakan aku. Kedua, gagasan itu djauh dari pada dipraktekkan, sedangkan omong-omong sadja tentangnja sudah minta korban lautan darah, hingga aku tak jakin sama sekali, apakah tudjuannja seimbang dengan pengorbanan itu. Dan achirnja jang terpenting — asal kudengar orang bitjara tentang membentuk kembali penghidupan, itu membuatku bingung dan aku djadi putus-asa”.
„Membentuk kembali penghidupan! Siapa berkata begitu, tak pernah mengerti apa-apa tentang hidup — tak pernah merasakan nafasnja, detak djantungnja — betapa banjakpun mereka melihat atau berbuat. Mereka melihatnja sebagai sepungkah bahan mentah jang perlu digarap, diberi keluhuran oleh sentuhan mereka. Tapi penghidupan bukanlah bahan, bukan materi jang harus dibutsir. Kalau kau ingin tahu, hidup adalah dasar bagi pembaharuan diri, ia selalu membarui, mentjipta serta merobah dan membentuk kembali diri sendiri, dia tak terhingga djauhnja dari teorimu atau teoriku tentangnja”.
„Tapi andaikata kauhadiri rapat-rapat kami, kalau kau berhubungan dengan rakjat kita jang hebat agung ini, kau tak akan merasa serendah itu. Kau tak bakal menderita kemurungan ini. Kutahu sebabnja. Kausaksikan kami menderita kekalahan, tak kaulihat sinar harapan didepanmu. Namun kita tak boleh panik, kawan jang baik. Bisa kutjeritakan jang lebih buruk lagi — ini soalku pribadi, tak boleh diumumkan sekarang — tapi aku tak mabuk kepajang. Kemerosotan kita hanjalah sementara, Kolchak achirnja pasti kalah. Tandailah kata-kataku. Kaulihat nanti. Kita akan menang achirnja. Djadi gembiralah!”
„Susah menjebutinja”, pikir Yury. „Mengapa orang bisa seongok dan kekanak-kanakan ini? Selama ini berkali-kali kutegaskan padanja bahwa gagasan kita sama sekali bertentangan; ia menangkap aku dengan kekerasan, ia menahanku tanpa kuminta, namun diangan-angankannja bahwa kekalahan dia membuatku putus-asa dan bahwa harapannja dapat menggembirakan aku! Mengapa ia sebuta itu? Bagi dia, nasib alam-semesta tergantung dari Revolusi Oktober!”
Yury tak berkata apa-apa, hanja mengangkat bahu; tapi hal ini menegaskan betapa kenaifan Liberius telah meletihkannja, sampai ia tak sanggup menguasai diri. Inipun tak luput dari pengamatan Liberius.
„Kau marah, Jupiter, itu berarti kau pasti keliru”, udjarnja.
„Demi Tuhan, mengertilah benar-benar bahwa semua ini tak ada jang berarti bagiku. — „Jupiter” dan „Djangan panik” dan „Siapa berkata A harus berkata B” dan „Si Arab sudah selesai bertugas, si Arab boleh pergi” — tak satupun dari klise-klise, dari utjapan-utjapan konjol ini jang bitjara padaku. Kukatakan A dan tidak kukatakan B — entah apa akibatnja bagimu. Kuakui, kamulah para pembebas Rusia, sinar tjahajanja, tanpa kamu Rusia akan hantjur, tenggelam dalam sengsara dan keterbelakangan, namun tak kuhiraukan tiap-tiap kamu, tak kusukai kamu dan kamu boleh keneraka.
„Mereka jang berpikir untuk kalian, menggunakan pepatah-petitih, tapi dilupakan satu pepatah — „Kau boleh membawa kuda keair, tapi tak dapat kaupaksakan ia minum”; merekapun lazim membebaskan orang dan melimpahkan kurnia djustru pada orang-orang jang tidak memintanja. Kuduga engkau beranggapan bahwa tak dapat kubajangkan apapun didunia jang lebih menjengkelkan dari pada perkemahanmu dan persahabatanmu. Kukira aku harus merestui kau karena kautawan aku, harus berterima kasih padamu karena kaubebaskan aku dari isteriku, anakku, rumahku, pekerdjaanku, segala hal jang kusajangi dan membuat hidupku lajak!
„Tersebarlah kabar-angin bahwa ada tentara tak dikenal — bukan tentara Rusia — telah menggempur dan mendjarah Varykino. Kamennodvorsky tak membantahnja. Konon keluargamu dan keluargaku berhasil melarikan diri. Rupanja ada pradjurit-pradjurit bermata sipit — seperti dari dongeng —, pakai mantel berlapis kapas dan topi-bulu telah menjeberangi sungai Rynva, waktu hawa tak terkira dinginnja; mereka tembak seenaknja tiap machluk hidup dan lenjap setjara adjaib seperti ketika datang. Apa jang kauketahui tentang ini? Benar, tidak?”
„Omong kosong. Bohong semata. Kabar bohong”.
„Kalau kau betul-betul baik dan murah-hati seperti jang kaulagakkan, waktu bertjeramah tentang perbaikan susila pradjurit, lepaskanlah aku. — Aku akan menengok keluargaku — tak kutahu dimana mereka, bahkan tak kutahu apakah mereka masih hidup atau mati. Tapi djika kau tak mau, demi Tuhan, tutup mulut sadjalah dan tinggalkan aku, sebab aku tak menaruh perhatian pada hal-hal lain dan tak akan kutanggung perbuatanku sendiri kalau kau tetap begini. Selain itu, djahat benarlah kalau aku tak berhak tidur!”
Yury merebahkan sekudjur tubuhnja kebangku, kepalanja terbenam kebantal, mentjoba sedapat-dapatnja tak mendengarkan Liberius jang membela diri dan menghiburnja lagi dengan harapan akan kemenangan terachir atas kaum Putih sebelum musim-semi. Perang-saudara akan lampau, perdamaian akan tiba, pun kemerdekaan dan kemakmuran, dan tak ada jang akan berani menahan Yury lebih lama lagi. Tapi sebelum itu ia harus sabar. Lagi pula, mereka sudah mengorbankan segala-galanja dan menunggu-nunggu selama ini, tak djadi apa kalau menunggu beberapa bulan lagi; dan bagaimanapun djuga, kemana ia mesti pergi sekarang? Untuk kepentingannja sendirilah ia djangan sampai pergi kemana-mana seorang diri.
„Matjam piringan gramopon djahanam!” Yury mendidih diam-diam dalam geramnja. „Ia tak bisa berhenti. Mengapa ia tak malu-malu mengunjah muntahannja sendiri bertahun-tahun? Bagaimana ia sanggup mendengarkan bunji suaranja sendiri, setan terkutuk ini? Siang-hari ia melantur-lantur. Tuhan, alangkah kubentji dia. Karena Tuhanlah saksiku, sekali waktu akan kubunuh dia.
„Tonya sajang, anakku jang malang! Dimana kalian? Masih hidup? Ja Allah, segera sekali ia akan melahirkan baji ketika itu. Bagaimana ia waktu bersalin? Lelaki atau perempuankah anak kita? Keluargaku jang tersajang, apa djadinja kamu sekalian? Tonya, untukmu aku menjesali diri selama-lamanja. Lara, aku tak berani mengutjapkan namamu, kuatir kalau hidupku habis kunafaskan. O Tuhan! Tuhan! — Dan orang kedjam jang mendjidjikkan dan tak berperasaan ini masih omong sadja! Sekali tempo ia akan terlandjur dan kubunuh dia, kubunuh dia”.
6
Achir musim panas sudah lampau. Hari ini hari musim-rontok jang tjerah keemasan. Diudjung Barat Hutan Adjak, menara kaju dirumah-balok jang didirikan kaum Putih itu mendjulang dari tanah. Disini Yury berkentjan akan ketemu pembantunja Lajos jang berbangsa Hungaria itu, guna membitjarakan matjam-matjam urusan. Ia tiba pada waktunja dan sambil menanti temannja ia berdjalan disepandjang tepi tanggul jang petjah-belah naik kemenara-pengintaian dan menindjau dari rekah-rekah kubu-meriam jang kini kosong itu kekedjauhan diseberang sungai jang penuh hutan.
Dengan djelas musim-rontok menandai batas antara pohon-pohon ru dan pinus dan pohon-pohon jang daunnja berguguran. Diantara pohon-pohon ru jang merupakan tembok-tembok semu-hitam, muram berumbai-rumbai, maka hutan rimbun jang berwarna seperti api dan anggur itu bersinar bagai kota-kota ketjil abad-pertengahan, dengan istana-istana jang ditjat dan beratap emas, terbikin dari kaju jang ditebang dihutan lebat.
Tanah didekat kaki Yury, dalam parit-parit dan alur-alur didjalan-rimba adalah keras oleh saldju beku, ditimbuni daun-daun willow kering melingkar seperti sarutan, merupakan gulungan ketjil jang tegang. Musim-rontok penuh bau-bauan dari daun pahit sawo-matang ini serta banjak lagi rempah-rempah pedas. Dengan lahapnja ia menghirup bau angit apel dingin, bertjampur dengan bau ranting kering jang pahit, tanah lembah jang gurih dan kabut biru bulan September, jang merabun seperti asap api jang baru dipadamkan.
Tak didengarnja Lajos naik dibelakangnja.
„Apa kabar, kawan sekerdja?” tanjanja dalam bahasa Djerman. Mereka bertjakap-tjakap tentang urusan dinas.
„Ada tiga fasal. Pertama, mahkamah-tentara mengenai perawat-perawat jang membikin wodka, kedua, reorganisasi perawatan dimedan-perang serta persediaan obat; dan ketiga usulku mengenai pembasmian penjakit djiwa dimedan. Tak kutahu apakah engkau setudju denganku, Lajos jang baik, tapi menurut pengamatanku kita sedang djadi gila, pada hal bentuk-bentuk kegilaan orang sekarang ini adalah menular”.
„Soal ini sangat menarik. Kuperhatikan nanti. Sekarang kuadjukan lain hal. Diperkemahan ada kegelisahan. Orang bersimpati dengan jang membikin wodka itu. Ketjuali itu orang kuatir tentang keluarga-keluarga mereka jang melarikan diri dari kaum Putih. Kau maklum, ada konvoi datang membawa para istri, anak dan orang tua, maka beberapa partisan tak mau meninggalkan perkemahan, sebelum mereka tiba”.
„Aku tahu. Kita mesti menunggu mereka”.
„Dan semua ini terdjadi, pada hal besok ada pemilihan untuk komando bersama bagi kesatuan kita serta beberapa kesatuan lain jang sampai kini lepas dari kita. Kukira, tjalon satu-satunja ialah kawan Liberius. Tapi dikalangan pemuda ada jang mengedepankan Vdovichenko. Ia disokong oleh kelompok jang semangatnja lain dari kita, tergolong pada kumpulan pembikin wodka itu — mereka anak tukang-warung dan kulak, para penjeberang dari Kolchak. Mereka inilah jang paling seru buka mulut!”
„Menurut kau apa akan terdjadi pada pengadilan itu?”
„Kupikir, mereka akan dihukum mati, tapi pelaksanaan hukuman akan ditunda”.
„Nah, mari kita bereskan urusan kita. Pertama, soal perawatan dimedan”.
„Baiklah. Perlu kukatakan bahwa aku tak heran mendengar saranmu tentang ilmu penjakit-djiwa jang preventif. Aku sendiri pertjaja. Kita menghadapi sedjenis penjakit psychis jang meningkat dan tersebar dan mendjadi tjiri bagi zaman kita, akibat langsung dari keadaan historis. Diperkemahan ada satu tjontoh — Pamphil Palykh, bekas pradjurit biasa dalam tentara tsar; kesadaran revolusinja tinggi, pun sedjak ketjil ia sedar akan kelas-kelas. Kesusahannja disebabkan karena ia kuatir tentang keluarganja, apabila ia gugur, kuatir kalau-kalau mereka djatuh ketangan kaum Putih dan diharuskan bertanggung-djawab untuknja. Mentalitetnja sangat kompleks. Kukira, keluarganja termasuk pada mereka jang datang dalam konvoi. Aku tak tjukup pandai bahasa Rusia untuk menanjai dia dengan saksama. Dapat kauselidiki melalui Angelar atau Kamennodvorsky. Ia perlu diperiksa”.
„Kukenal benar dia. Ada kalanja kami sering berdjumpa pada rapat-rapat dewan tentara. Muram dan kedjam, keningnja sempit.
— Aku tak mengerti, mengapa ia perlu kauperhatikan. Ia selalu menggemari hal-hal jang extrim, suka menembak dan menghukum. Bagiku ia selalu menolak hati. Biarlah, kukerdjakan nanti”.
7
Hari djernih dan terang, iklim tenang lagi kering selama seminggu penuh. Seperti biasanja bunji gemuruh mengambang atas perkemahan luas itu, mirip pada deruan laut dari djauh. Ada derap langkah, suara orang, kapak memotong kaju, dentjingan landasan, andjing menyalak, kuda meringkik dan kokok djago. Chalajak jang kepanasan, bergigi putih dan bersenjum-senjum saling bersimpangan didalam hutan. Jang mengenal dokter, mengangguk padanja, lain-lainnja berpapasan tanpa menjalam.
Orang tak mau merombak kemah-kemah, bila keluarga-keluarga mereka jang lari dari rumah masing-masing belum tiba, tapi kini para pengungsi itu diharap sebentar lagi akan datang, maka segala persiapan untuk pindah sedang diadakan. Segala sesuatu dibersihkan dan diperbaiki, orang memaku peti, menghitung dan mentjotjokkan kereta-kereta.
Ditengah hutan ada tempat terbuka jang luas, dimana sering ada rapat, jakni sematjam tanggul atau onggokan tanah, dimana rumput telah penjek-penjek kena indjak. Hari itu disiarkan akan ada rapat umum untuk sesuatu pengumuman penting.
Banjak pohon dirimba belum menguning. Dipedalamannja pohon-pohon masih segar lagi hidjau. Surja sendja sedang turun dibelakang rimba, menembusnja dengan sinar-sinarnja; daun-daun jang transparan bagai katja itu berpendar dengan njala hidjau.
Ditempat terbuka dekat kemahnja Kamennodvorsky, perwira penghubung utama, sedang membakar kertas-kertas, sampah jang terbuang dari dokumen-dokumen djenderal Kappel jang djatuh ketangannja, beserta berkas-berkasnja sendiri mengenai partisan. Dengan surja sendja dibelakangnja, api itu sama transparannja dengan daun-daun; njalanja tak kentara dan hanja hawa panas jang mengkilat menundjukkan bahwa ada sesuatu jang terbakar.
Disana-sini hutan-hutan berkilauan dengan buah murbai matang — „sibadju-wanita” jang meriah berdjambul-djambul, „alderberry” semerah bata dan kelompok „virburnum” jang putihnja berganti merah. Dengan menggerintjingkan sajapnja jang seperti katja itu tjapung-tjapung jang sama transparannja dengan njala api daun, berlajar pelan-pelan diudara.
Sedjak masa ketjilnja Yury menggemari hutan-hutan jang nampak pada sendja hari didepan matahari sedang terbenam. Pada saat begitu dia sendiripun merasa seakan ditembusi tombak-tombak tjahaja. Seakan hadiah Sang Hajat mengalir kedalam dadanja, menembusi njawanja, lalu keluar dari pundak-pundaknja sematjam sepasang sajap. Udjud asli jang terbentuk dalam diri sianak seumur hidupnja dan sepandjang masa sesudah itu agaknja merupakan gambaran rohaniah dari kepribadiannja, muntjul dalam batinnja dengan segenap daja aslinja serta memaksa alam dan hutan dan sinar sore dan apa sadja jang nampak untuk didjelmakan mendjadi tokoh seorang gadis jang djuga asli dan melingkupi segala. „Lara”. Sambil menutup mata, ia kumat-kamit dan berpikir, menegur segenap penghidupan, seluruh bumi Tuhan, seluruh tamasja diterangi matahari jang terbentang didepannja.
Namun realitet sehari-hari jang sedang berlaku masih disitu: Rusia mengalami Revolusi Oktober dan Yury adalah orang tawanan partisan. Dengan linglung ia mendekati api Kamennodvorsky.
„Membakar dokumen-dokumenmu? Belum selesai?”
„Tjukup banjak sematjam ini untuk dibakar berhari-hari”.
Yury mengusik setumpuk kertas dengan kakinja. Itu surat-surat dari markas-besar staf tentara Putih. Ia berpikir, mungkin menemukan sesuatu mengenai Rantsevich. Tapi jang dilihatnja hanja pengumuman-pengumuman lama berkode jang mendjemukan. Ditendangnja onggokan lain. Itu ternjata sekumpulan notula jang membosankan djuga tentang rapat-rapat partisan.
Kamennodvorsky mengambil kertas dari kantongnja dan mengulurkannja pada Yury, lalu berkata:
„Inilah perintah-djalan untuk kesatuan kesehatanmu. Konvoi dengan keluarga-keluarga partisan sudah sangat dekat dan perpetjahan kita dalam perkemahan akan diselesaikan sore nanti, djadi sekarang tiap hari dapat diharapkan kita akan pindah”.
Yury memandang kekertas itu, lalu mengeluh:
„Tapi kauberi aku alat pengangkutan jang kurang dari dulu, pada hal ada orang luka-luka extra. Jang bisa djalan-kaki, harus djalan kaki, tapi itu sedikit dan bagaimana pula jang harus ditandu? Dan perbekalan dan randjang-randjang dan peralatan?”
„Bagaimanapun djuga kamu harus berhasil — badju mesti dipotong menurut kainnja. Sekarang soal lain. Ini permintaan kami semua. Kamu mau menengok seorang kawan kami? — ia telah ditjoba, diudji, ia mengabdi tjita-tjita dan hebat sebagai pradjurit. Ada jang tak beres padanja”.
„Palykh? Lajos sudah tjerita”.
„Ja. Tengoklah. Periksa dia”.
„Sakit ingatan?”
„Rupanja begitu. Katanja, ia seperti „kengerian” — Halusinasi agaknja. Insomnia. Kepala pusing”.
„Djadilah, baik kutengok sekarang sadja, sebab saja prei saat ini. Kapan rapat dimulai?”
„Saja kira, orang datang sekarang. Tapi perlu apa? Kamu lihat, sajapun tak pergi. Mereka tak memerlukan kita”.
„Kalau begitu, aku pergi ke Pamphil. Meskipun saja hampir tak dapat melek, ngantuk sekali. Liberius Avercievich suka berfilsafat waktu malam; saja djemu dengan omongnja. Dimana dapat saja djumpai si Pamphil?”
„Kamu tahu gerombolan pohon berk diseberang pelimbahan?”
„Ja, saja kira tahu”.
„Disitu ada beberapa kemah pemimpin ditempat terbuka. Salah satunja diperuntukkan Pamphil. Keluarganja akan datang; ikut konvoi. Disitulah akan kamu temukan dia — disalah satu kemah — statusnja sebagai komandan bataljon — hadiah untuk djasanja dalam revolusi”.
8
Waktu djalan mengundjungi Pamphil, Yury diserang kelelahan. Itu karena bermalam-malam tak tidur. Ia bisa kembali keguhanja dan berbaring disitu, namun ia tak berani, sebab tiap saat Liberius mungkin datang serta mengganggunja. Ia berhenti ditempat terbuka jang ditaburi daun-daun dari hutan-hutan disekitarnja. Daun-daun itu merupakan pola daun-daunan, begitu djuga sinar matahari rendah jang djatuh dipermadani keemasan itu. Djalinan berganda jang tjemerlang ini membikin kepala pusing dan membuat orang ngantuk, tak beda dengan sebuah gambar ketjil atau kumat-kamitan jang tunggal-nada.
Yury berbaring diatas daun-daun halus seperti sutera jang berkerisik itu, kepalanja dibantali lengannja dan lengannja diatas bantalan lumut dikaki pohon; seketika itu iapun terselap. Kilauan tjahaja dan bajang-bajang jang membuatnja tidur tadi, kini merendamnja dalam selimut belang-bonteng, sehingga tubuhnja jang berseludjur ditanah itu tak dapat dibedakan dari sinar matahari serta daun-daun, hilang dari pandangan, seolah ia telah memakai pitji mudjizat.
Namun segera sekali daja hasrat dan kebutuhan untuk tidur sendiri membangunkannja. Sesuatu akibat langsung hanjalah berdaja dalam batas-batas jang berlaku untuknja; diluar batas-batas itu ditjapainja hasil jang bertentangan. Kesadarannja jang bangun dan tak menemukan istirahat itu meradang terus dalam kekosongan. Segala pikiran berputar dan membual-bual dalam kepalanja, otaknja berdegup laksana mesin jang rusak. Keritjuan batin ini memiulkan dan menghabiskan tenaganja. „Liberius babi” pikirnja gusar. „Seolah dunia belum dipenuhi segala hal jang dapat membuat kita gila; mengapa orang jang sehat otaknja mesti sengadja dibikin penderita urat-saraf, dengan mengurungnja serta mendjemukannja dengan persahabatan dan tjelotehnja? Dalam hari-hari ini akan kubunuh dia”.
Seekor kupu belang-bonteng terbang lewat tempat terbuka itu dibagian terangnya, mengembangkan dan melipat sajap-sajapnja seperti sesobekan kain berwarna. Yury melihatnja sambil ngantuk. Dengan memilih lingkungan warna jang paling serasi dengan warnanja sendiri, ia hinggap dikulit sawo-matang berbintik-bintik dari sebatang pohon tjemara dan menghilang kedalamnja, lenjap semata-mata seperti Yury jang lenjap karena disembunjikan oleh permainan tjahaja dan bajangan.
Otaknja berputar menuruti lingkaran pikiran jang sudah biasa baginja — ini dalam banjak karja ilmu kedokterannja pernah disebutnja setjara tak langsung — jaitu tentang kemauan dan tudjuan sebagai bentuk-bentuk terbaik dari adaptasi; tentang mimikri dan warna-warna pelindung; tentang kelangsungan hidup jang terkuat dan apakah pemilihan kodrati betul-betul djalan perkembangan bagi lahirnja kesadaran. Dan apakah subjek? Apa objek? Bagaimana merumuskan identitet masing-masing?
Gagasannja membawanja dari Darwin ke Schelling, dari kupu kesenilukis modern dan seni impresionis. Ia berpikir tentang pentjiptaan, machluk-machluk, daja-tjipta, akal-muslihat.
Sekali lagi ia tidur, tapi terdjaga sesaat kemudian. Ia terganggu oleh pertjakapan lembut jang tertekan. Sedikit kata-kata jang ditangkapnja tjukup memberi tahu bahwa jang dibitjarakan ialah suatu rentjana rahasia jang djahat. Orang tak melihatnja, kaum komplotan itu tak mendugakan kehadirannja. Sedikit berderak sadja dapat melajangkan njawanja. Yury pura-pura mati dan memasang telinga.
Beberapa suara dikenalnja, jaitu suara sampah-sampah partisan jang menggerombol seperti Goshka, Sanka, Koska dan Terenty Galuzin jang biasa menganut mereka, brandal-brandal muda jang selalu bikin gara-gara keonaran dan kekatjauan. Zakhar djuga ikut-serta, seorang jang lebih djahat lagi, tadinja terlibat dalam persoalan wodka, tapi sementara tak dituntut, sebab ia telah mengadukan orang-orang jang paling bersalah. Jang mengherankan Yury ialah kehadiran Sivobuly, seorang partisan dari „kesatuan perak” jang kawakan, salah seorang pengawal-pribadi komandan. Sebagai kelandjutan tradisinja sedjak Stenka Razin dan Pugachev, ia dikenal sebagai orang kesajangan jang dipertjajai oleh kepalanja dan mendapat djulukan „kuping pemimpin”3 3„Kuping pemimpin” — mata-mata komandan. . Rupa-rupanja ia ikut dalam komplotan.
Kaum komplotan ini berunding dengan para utusan dari pos-pos musuh jang terdepan. Delegasi-delegasi itu tak kedengaran, begitu lembutnja mereka bitjara kepada kaum penghianat tadi, maka Yury hanja dapat menerka bahwa mereka sedang bitjara, bila sekali-sekali ada kesunjian jang menjela bisik-bisikan.
Jang paling banjak omong ialah Zakhar, pemabuk itu; tiap kali memaki-maki dengan kotornja dengan suara serak tersengal-sengal. Dialah agaknja biang-keladinja.
„He, kawan-kawan, dengarkan. Jang penting ialah tutup mulut. Asal ada jang buka mulut — lihat golok ini! — kusajat ususnja. Mengerti? Kita sama-sama tahu, kita terdjepit. Tak ada djalan keluar bagi kita. Kita harus mendapat pengampunan. Kita harus pakai muslihat jang belum pernah disaksikan orang. — Orang ingin dia tertangkap hidup-hidup. Sekarang ada kabar, madjikan mereka Gulevoy akan segera datang”. (Orang membetulkannja — „Galullin” — namun tak ditangkapnja nama itu dan disebutnja „djenderal Galeyev”) „Itu kesempatan kita. Tak akan ada kesempatan lain seperti ini. Inilah delegasi-delegasi mereka, jang akan mentjeritakan semuanja. Katanja kita harus tangkap dia hidup-hidup. Sekarang bitjaralah kamu”.
Kini utusan-utusanlah jang bitjara. Yury tak menangkap sepatah katapun, tapi dari djedah pandjang itu disimpulkannja bahwa mereka sedang mendjelaskan usul terperintji. Zakharpun omong lagi.
„Kamu dengar, kawan-kawan? Nah, kan dia orang baik. Tak usah kita ambil apa-apa untuknja. Ia bukan manusia — ia setengah sinting, rahib atau pertapa. Djangan njengir-njengir, Terenty. Nanti kukasi kau alasan untuk njengir-njengir, tolol. Aku tidak bitjara tentang kau. Aku bilang, dia pertapa, begitulah. Tjoba kasi kesempatan dan dia akan robah kalian djadi rahib-rahib — Apa katanja? — Djangan maki-maki, djangan mabuk-mabuk, segala matjam mengenai perempuan. Biasa kau hidup begitu? Malam ini kita ketemu dia ditempat penjeberangan. Kuakali supaja ia datang. Lantas kita serbu bersama. Tak sulit. — Mudah sadja. Jang sukar ialah, ia mesti ditangkap hidup-hidup. Ikat dia, katanja. Nah, kita tjoba sadja; kalau tjara itu tak berhasil, akan kubereskan sendiri sadja, kuhabisi dia dengan tanganku sendiri. Mereka akan kirim pembantu-pembantu”.
Ia terus meneruskan rentjananja, tapi lambat-laun mereka mendjauh dan Yury tak lagi mendengar mereka.
„Komplotan ini mau menjerahkan Liberius kepada kaum Putih atau membunuhnja — babi!” pikirnja dengan djidjik dan geram; ia lupa sama sekali bahwa ia sendiri sering mengharapkan penjiksanja mati. Bagaimana hendak mentjegahnja? Ia putuskan akan kembali pada Kamennodvorsky untuk mentjeritakan tentang komplotan tadi, tanpa menjebut nama-nama dan djuga memberi-tahukan pada Liberius.
Tapi tatkala ia sampai, Kamennodvorsky tak lagi membakar kertas-kertas, hanja pembantunja sedang mengawasi api jang membara itu, agar tak terserak-serak.
Kedjahatan tak djadi berlaku. Terhalang. Ternjata komplotan itu diketahui orang. Hari itu rahasianja terbuka dan kaum komplotan ditangkap. Sivobuly telah bertindak sebagai penghasut. Yury merasa tambah mual.
9
Orang maklum keluarga-keluarga partisan kini sehari lagi akan tiba diperkemahan. Kaum partisan bersiap-siap menjambut mereka dan segera sesudah itu akan berangkat. Yury pergi menengok Pamphil Palykh.
Didjumpainja dia didepan pintu kemahnja dengan sebuah kapak ditangannja. Didepannja ada setumpukan tinggi pohon-pohon muda; ia telah menebangnja, tapi belum mengulitinja. Ada pohon jang djatuh ditempat ia berdiri, lantas roboh seluruhnja dan kajunja jang tadjam dan terbelah itu menusuk djauh kedalam tanah lembab. Pohon-pohon lainnja diseretnja dari dekat, ditimbunkannja atas jang telah ada. Pohon-pohon muda jang bergetar dan berajun-ajun atas dahan-dahannja jang berpegas itu tak terbaring ketanah dan tak berdekat-dekatan. Pohon-pohon ini dengan lengan-lengan terbudjur seolah hendak mengelakkan Pamphil jang telah menebangnja serta merintangi djalannja ketanah dengan dahan-dahan dan dedaunan hidjau jang berdjalinan simpang-siur.
„Untuk tamu-tamuku jang tersajang”, Pamphil mendjelaskan. „Istri dan anak-anak. Kemah teramat rendah. Botjor. Kutebang ini untuk reng-rengan atap jang akan kubikin”.
„Djangan harapkan kau akan dibolehkan menampung mereka dalam kemahmu, Pamphil. Siapa pernah dengar bahwa orang sipil, perempuan dan anak-anak, diizinkan tinggal dalam perkemahan? Mereka akan tinggal dekat diluar dalam kereta-kereta; kau akan sempat bertemu mereka sesuka hatimu diwaktu senggang, tapi kukira mereka tak boleh tinggal dalam kemahmu — Tapi bukan itulah maksud kedatanganku. Kabarnja kau djadi kurus, tak bisa makan atau tidur, bukan? Bagiku kau kelihatan sehat-sehat sadja. Tapi rambutmu perlu dipotong”.
Pamphil berperawakan tinggi, dengan rambut dan djenggot kusut serta kening jang mendjorok didua bagian; tulang djidatnja berbondjol dan menekan pelipis-pelipisnja seperti gelangan atau pita badja, hingga membuat pandangan matanja nanap dan menondjol.
Ketika pada permulaan revolusi, seperti djuga pada tahun 1905, orang chawatir bahwa kekalutan akan merupakan peristiwa abortif jang hanja mengenai golongan ketjil terpeladjar, sedangkan lapisan-lapisan lebih rendah dimasjarakat tak tersinggung-singgung, maka segala kemungkinan telah ditjoba untuk menjebarkan propaganda revolusi dikalangan rakjat, guna mengaduk mereka, membangkitkan serta mentjambuk agar membuat mereka ganas.
Dizaman permulaan itu orang seperti Pamphil jang tak perlu dorongan untuk membentji para intelektuil, perwira dan bangsawan dengan dendam jang buas, dipandang oleh kaum intelek sajap kiri jang bersemangat itu sebagai penemuan jang djarang tersua, hingga sangat dihargai. Tiadanja perikemanusiaan mereka dianggap kesadaran kelas jang mengagumkan, kebiadaban mereka dianggap tjontoh keuletan proletariat dan naluri revolusioner. Adanja segala kesanggupan demikian pada Pamphil menentukan kemashjurannja, maka sangatlah ia dihormati oleh para komandan partisan dan pemimpin partai.
Bagi Yury, raksasa jang muram dan suka menjendiri ini, jang lapangan perhatiannja ketjil dan tak berdjiwa pula hanjalah seorang jang mengalami degenerasi dan tak tjukup waras.
„Masuklah!” kata Pamphil.
„Tak usah. Diluar sini lebih njaman. Lagi pula, bagaimana bisa masuk?”
„Terserah. Sesukamulah. Kita duduk sadja dikaju ini”.
Merekapun duduk diatas pohon-pohon jang berpegas itu dan Pamphil menjampaikan kisah hidupnja pada Yury. „Kata orang, tjerita lekas tammat. Tapi tjeritaku pandjang. Tak habis kukisahkan semua dalam tiga tahun. Entah bagaimana memulainja.
„Nah, kutjoba sadja. Kami masih muda dulu; istriku dan aku. Dia djaga rumah. Aku kerdja diladang. Hidup kami lumajan. Kami punja anak-anak. Aku dimasukkan tentara. Disuruh perang. Nah, perang itulah; apa jang perlu kutjeritakan tentang perang? Kau mengalaminja, kawan dokter. — Lantas datang revolusi. Kulihat tjahaja. Serdadu-serdadu terbuka matanja. Kami dengar, bukan tjuma orang asinglah jang djadi musuh. Musuh ada djuga dirumah.
„Pradjurit revolusi dunia, turunkan bedilmu, pulanglah dan lawanlah kaum burdjuis!” Dan sebagainja. Kaualami sendiri itu, kawan dokter tentara. Kuteruskanlah. Perang-saudara petjah. Aku ikut partisan. Sekarang banjak bagian harus kulewatkan; kalau tidak, tak ada habisnja. Sesudah itu semua, apa jang kulihat dewasa ini? Sikeparat itu, dia bawa dua resimen Stavropol dari fron Barat dan djuga pasukan Kosak jang pertama dari Orenburg. Aku bukan kanak-kanak, kan? Dikira aku tak mengerti? Aku bertempur dalam tentara, kan? Susah, dokter, habis riwajat kita. Dia, sibabi itu, bermaksud menjerang kita dengan segala sampahnja itu. Dia mau mengepung kita.
„Tapi aku punja istri dan anak-anak. Kalau ia sampai kepuntjak, bagaimana mereka bisa luput dari padanja? Tentu mereka tak tahu apa-apa sama sekali diluar semua itu, tapi dia tak perduli. Dia akan tangkap istriku, dia ikat dia dan karena akulah dia mulai menjiksanja nanti; dia akan menganiaya istri dan anak-anakku; menghantjurkan tiap tulang dalam tubuh mereka; mentjintjang mereka. Dan kautanja, mengapa aku tak tidur. Lelaki bisa bertubuh badja, tapi tjukuplah itu tadi untuk mabuk kepajang”.
„Kau orang aneh, Pamphil. Aku tak mengerti. Bertahun-tahun kau terpisah dari mereka, kau malah tak tahu dimana mereka dan kau tak merasa kuatir. Sekarang kau ketemu mereka sebentar lagi, tapi kau bersiap-siap untuk menjanji pada penguburan mereka”.
„Itu dulu, sekarang lain. Si Putih keparat itu mengalahkan kita. Lagi pula, bukan akulah jang kita bitjarakan. Aku tak masuk hitungan. Sebentar lagi aku mampus. Tapi tak bisa kubawa anak-anakku ikut kedunia baka, bukan? Mereka tinggal, lantas djatuh ketangan sibiadab itu. Dia peras darah mereka setetes-setetes”.
„Itu sebabnja kau merasa „kengerian”? Kata orang, kau selalu melihat hantu”.
„Dokter, belum kutjeritakan semua. Jang terpenting kusembunjikan. Sekarang akan kutjeritakan segalanja, kalau kau ingin tahu; kusebut dibawah hidungmu, asal sadja tak kausalahkan aku”.
„Banjak sekali kusingkirkan orang-orang sematjam kau, tak terbilang banjaknja darah opsir melumuri tanganku. Opsir, bangsawan. Dan aku tak pernah menjesal. Kuboroskan sadja matjam air. Semua nama dan djumlah tak kuingat lagi. Tapi ada seorang remadja jang tak bisa kulupakan. Kubunuh anak itu dan aku tak bisa lupa. Kenapa mesti kubunuh dia? Ia membuat aku ketawa, lalu kubunuh dia untuk main-main, tak untuk apa-apa, seperti tolol sadja”.
„Itu dimasa revolusi Pebruari, zaman Kerensky. Kami berontak. Kami dekat setasiun kereta-api. Kami sudah tinggalkan medan-perang. Dikirimlah seorang pemuda, seorang agitator, untuk mengadjak kita berbalik. Supaja kita berdjoang terus sampai menang. Nah, kadet pelontjo itu hendak mengadjar kita supaja menurut. Matjam anak ajamlah dia. „Berdjoang terus sampai menang”. — itu sembojannja. Ia naik ember, sambil menjerukan sembojan itu; ember ada diperon. Nah, ia naik itu seolah bermaksud agar seruannja untuk betempur itu datang dari atas; tiba-tiba tutup ember terpelanting dibawahnja dan dia djatuh tepat kedalam ember. Tepat masuk air. Tak dapat dibajangkan, bagaimana lutjunja ia. Aku ketawa sampai pinggang hampir putus. Aku memegang bedil. Dan aku ketawa sampai pusing. Tak bisa berhenti. Seolah dia gelitik aku. Lalu kuangkat bedilku, kubidik dan kutembak dia, dor. Entah bagaimana terdjadinja. Seperti ada orang mendorongku”.
„Nah, itulah sebabnja aku kengerian. Malam-malam aku mimpi tentang setasiun itu. Lutju ketika itu. Sekarang aku menjesal”.
„Itu terdjadi disetasiun Biryuchi dekat kota Melyuzeyevo?”
„Tidak ingat”.
„Kau ikut pemberontakan di Zibushino?”
„Tidak ingat”.
„Kau difron mana? Fron Barat? Kau di Barat?”
„Kira-kira begitu. Mungkin aku di Barat. Aku tak ingat”.
1
Konvoi jang membawa keluarga-keluarga partisan, lengkap dengan anak-anak dan barang-barang keperluan, telah lama mengikuti tentara pusat partisan. Dibelakang kereta-kereta konvoi itu disusul oleh gerombolan-gerombolan ternak jang besar, terutama sapi — beribu-ribu ekor.
Dengan kedatangan kaum wanita ini tampillah tokoh baru dalam perkemahan. Jakni Kubarikha, istri pradjurit jang mendjadi dukun ternak dan setjara diam-diam djuga seorang penenung. Ia memakai topi pipih ketjil jang terpasang miring dikepalanja serta mantel hidjau Pradjurit Keradjaan Skot jang merupakan bagian dari peralatan Inggris untuk perlengkapan laksamana Kolchak; tiap orang hendak dijakinkannja bahwa pakaiannja itu dibikinnja dari petji dan overall seorang tawanan dan bahwa tentara Merah membebaskannja dari pendjara Kezhma, dimana ia ditawan oleh laksamana Kolchak, entah apa sebabnja.
Tentara partisan telah pindah dari Hutan Adjak ketanah perkemahan baru. Menurut rentjana, mereka akan tinggal disitu sampai tanah disekelilingnja sudah diselidiki untuk menemukan tempat kediaman mendjelang musim-dingin. Tapi keadaan berobah serta memaksa mereka tinggal disana selama musim-dingin.
Perkemahan baru ini berlainan sekali dari jang lama. Hutan disekitarnja lebat dan dibeberapa tempat ada tayga1 1Rimba-raja di Siberia. jang tak tertembus. Disatu sisi diseberang perkemahan dan djalan raja, rimba ini tak berudjung. Pada hari-hari pertama sesudah pindah, ketika kemah-kemah sedang dipasang dan Yury punja waktu senggang lebih banjak, ia telah menjelidikinja keberbagai pendjuru, maka jakinlah ia bahwa orang mudah kesasar disitu. Selama darmawisata itu ada dua tempat jang mengesankan dan tinggal dalam ingatannja.
Jang satu terletak dipinggir tayga, tak djauh dari perkemahan. Hutan itu digunduli oleh musim-rontok, hingga mudah kita lihat pedalamannja, seperti menindjau dari gapura terbuka. Terpentjil disitu ada sebatang pohon arbai berkarat jang indah, satu-satunja jang masih berdaun. Pohon ini berdiri diatas tanggul jang mendjulang atas rawa jang rendah, lembab dan bergunduk-gunduk; ia meraih kelangit, menghadangkan buah-buahnja jang keras berwarna merah itu sebagai perisai pipih bundar terhadap antjaman musim-dingin jang kelabu. Burung-burung musim-dingin ketjil dengan bulu-bulu berkilauan seperti fadjar berhawa beku, hinggap disitu dan mematuk buah-buah terbesar, seraja mendjulurkan leher, lalu mendongak untuk menelannja.
Antara pohon dan burung-burung ini seakan ada hubungan hidup jang erat, seolah pohon itu sudah lama mengamat-amatinja dengan tak hendak berbuat apa-apa, tapi kesudahannja menaruh kasihan: laksana seorang ibu jang menjusui ia telah membuka badjunja menjuguhkan buah-dadanja, senjum-senjum seolah berkata: „Silakan, silakan, makanlah aku sekenjang-kenjangmu”.
Tempat lainnja lebih adjaib lagi. Letaknja diketinggian jang turun terdjal disatu sisi. Bila melihat kedalam ngarai, orang merasa bahwa didasar itu ada sesuatu jang berlainan dari jang ada diatas — anak-sungai atau gua atau padang liar ditumbuhi rumput bernas jang tak pernah dipotong. Tapi sebetulnja hanja ada pengulangan jang itu-itu djuga, namun letaknja dalam, hingga menggamangkan; nampaknja hutan hanja membawa putjuk-putjuk pohonnja kebawah sampai kedepan kaki kita, turun ketingkat-tingkat jang berbeda. Tentunja disitu ada tanah-longsor dulu.
Nampaknja rimba raksasa jang geram dan berbaris diketinggian awan itu telah tergelintjir, kehilangan tumpuannja, lalu djatuh seutuhnja; dan barangkali ia malah menembus bumi dulu, namun berkat sesuatu mudjizat ia tertolong pada saat terachir — maka beginilah ia sekarang, selamat sedjahtera dan menderu-deru dilembah.
Tapi bukan itu sadja jang membuat puntjak ngarai itu menarik-hati. Seluruh tepinja dipagari batu-batu granit besar jang berdiri tegak dan nampak seperti batu-batu dolmen jang gepeng. Setelah menemukan panggung batu ini, jakinlah Yury bahwa asalnja tidak alami, melainkan berbekas tangan insani. Mungkin sebuah tjandi kuno, dimana dulu dilakukan sembahjang dan diadakan sadjian oleh para penjembah dewa-dewa perbegu jang tak dikenal.
Disinilah pada suatu pagi dingin jang muram dilaksanakan hukuman mati atas sebelas orang biang-keladi komplotan serta dua orang perawat jang dikenai hukuman karena membikin wodka.
Barisan pengawal dari duapuluh orang partisan jang paling setia, diperkuat oleh para pengawal-pribadi Liberius, menggiring orang-orang terhukum itu ketempat ini. Barisan ini lantas mengepung mereka dalam separoh lingkaran dengan bedil ditangan, madju dengan langkah tjepat berlontjat-lontjatan, hingga mendorong mereka ketepi gelanggang, dimana tak ada djalan keluar, ketjuali kalau dapat menjeberangi djurang.
Karena mengalami pemeriksaan, pengurungan jang lama serta penghinaan, maka wadjah semua tawanan ini tak lagi menundjukkan persamaan dengan wadjah manusia. Mereka dahsjat bagaikan hantu, hitam, brewok dan liar.
Mula-mula ketika ditangkap, sendjata mereka dilutjuti, dan tak ada orang menganggap perlu untuk menggeledah mereka lagi sebelum exekusi. Penggeledahan demikian akan nampak tak guna dan kedji, olok-olokan tak bermakna terhadap orang-orang jang sudah dekat pada maut.
Tapi sekarang Rzhanitsky, teman Vdovichenko jang berdjalan disampingnja dan seperti dia seorang anarchis kawakan, sekonjong-konjong menembak tiga kali kearah para pengawal dengan membidik pada Sivobluy. Ia penembak ulung, tapi tangannja gemetar karena gairahnja, maka luputlah sasarannja.
Perasaan halus dan iba-hati terhadap bekas teman-teman sendiri jang telah mentjegah penggeledahan kinipun mendjadi sebab mengapa pengawal-pengawal itu tak menggerojoknja ataupun menembaknja seketika itu djuga untuk membalas pertjobaannja tadi. Rzhanitsky masih punja tiga peluru jang belum terpakai dalam pistolnja, tapi ia mata-gelap oleh kegagalannja dan barangkali dalam kerusuhan hatinja iapun lupa bahwa peluru-peluru itu masih ada, maka dilemparkannja pistolnja kebatu-karang. Pistol itu meletup keempat kalinja, melukai salah seorang tawanan dikakinja, jakni djururawat Pachkolya.
Pachkolya memekik, menarik-narik kakinja, lantas djatuh, mendjerit kesakitan. Dua orang jang paling dekat padanja, Sanka Pafnutkin serta Koska Gorazdykh, membangkitkan dia dan dengan memegang lengan-lengannja merekapun menjeretnja, hingga ia tak terindjak oleh kawan-kawannja jang serba kalap itu. Lantaran tak mampu meletakkan kakinja jang luka itu Pachkolya melontjat pintjang-pintjang kearah pinggiran berbatu, ketempat orang-orang tjelaka itu digiring, sambil mendjerit tak henti-henti. Pekiknja jang tak insaniah ini menulari kawan-kawannja dengan paniknja serta mematahkan penguasaan diri mereka. Jang berikut susahlah dibajangkan. Membadajilah maki-makian, sumpah-sumpahan, keluh-kesah dan doa-doa.
Terenty Galuzin jang masih memakai petji-sekolahnja berpita kuning, mentjopot pitji itu, lalu berlutut dan sambil berlutut iapun mengesot mundur, mengikuti orang-orang lainnja kearah batu-batu dahsjat itu. Sambil membungkuk berulang kali ketanah didepan pengawal-pengawal dan menangiskan seluruh isi hatinja, memohonlah ia pada mereka dengan suara berlagu jang sadar tak sadar:
„Maaf, kawan-kawan, aku menjesal, tak mau begitu lagi, mohon dilepaskan, djangan bunuh aku. Aku belum pernah hidup. Aku ingin hidup agak lama lagi, sekali sadja aku ingin ketemu ibuku. Bebaskan aku, kawan-kawan, kumohon dimaafkan. Apa sadja kubuat untukmu nanti. Kutjium tanah dikakimu. O, tolong, tolong, ibu, aku tewas!”
Ditengah-tengah gerombolan itu ada jang melolong:
„Kawan-kawan baik-budi! Mengapa sampai begini? Kita berdjoang bersama dalam dua perang! Kita bangkit dan membela tudjuan jang sama! Lepaskan kami, kawan-kawan. Akan kami balas kebaikanmu, kami akan hutang-budi seumur hidup, kami buktikan nanti dengan perbuatan. — Kamu tuli atau bagaimana? Kenapa tak mendjawab? Kamu bukan ummat Kristus!”
Lain-lainnja lagi berseru kepada Sivobluy:
„Judas! Pembunuh Kristus! Kalau kami pengchianat, kaulah pengchianat tiga kali, andjing, kau mampus nanti. Kaubunuh tsar jang sah jang kepadanja kau telah bersumpah setia, kau djandji akan setia pada kami, lalu kauchianati kami. Bakal kautjium setanmu sendiri, kawan serimba, sebelum kauchianati dia! Kauchianati dia djuga nanti!”
Menghadapi kuburannja, Vdovichenko tetap taat pada diri sendiri seperti selama hidupnja. Dengan kepala tegak dan uban-ubannja melambai diembus angin, ditegurnja Rzhanitsky sebagai kawan seperdjoangan jang menegur rekannja, dengan suara tjukup lantang untuk didengar semua orang:
„Djangan menghina diri sendiri! Protesmu tak akan dihiraukan. Kaum Oprichniki2 2„Pasukan keamanan” Iwan Jang Dahsjat. baru ini, ahli-ahli kamar hasaban baru ini tak akan mengerti! Tapi djangan putus-asa. Sedjarah akan menjebut kebenaran. Anak-tjutju akan memantjang kaum Bourbon dari komisarokrasi ini pada tonggak kenistaan, itu akan menundjukkan segala kekedjaman mereka. Kita mati sahid pada fadjar revolusi dunia. Hidup revolusi djiwa! Hidup anarchi universil!”
Duapuluh tembakan sekaligus, dilepaskan atas aba-aba jang hanja didengar oleh barisan penembak, menjikat separoh dari orang-orang tjelaka itu, membunuh kebanjakan mereka seketika. Sisanja gugur oleh salvo berikutnja. Siremadja Terenty Galuzin meronta-ronta paling lama, namun diapun achirnja tak berkutik.
2
Gagasan untuk bergerak lebih ke Timur selama musim-dingin nanti tak dilepas begitu sadja. Patruli-patruli disuruh menjelidiki tanah diseberang djalan-raja disepandjang garis pemisah dua sungai. Liberius sering tak ada serta meninggalkan Yury sendirian.
Tapi sebenarnja bagi partisan sudah terlambat untuk pindah kemanapun djuga, mereka tak bisa kemana-mana. Waktu inilah mereka mengalami kerugian-kerugian terbesar. Tentara Putih jang menghadapi kehantjurannja sendiri, memutuskan hendak merusak-redamkan kesatuan-kesatuan Rimba jang tak teratur itu, agar memperoleh penjelesaian untuk selama-lamanja, maka dikepungnja mereka lalu ditekan dari segenap pendjuru. Andai-kata radius pengepungan lebih pendek, posisi itu akan mentjelakakan tentara Merah. Mereka dilindungi oleh kelonggarannja, karena musim-dingin jang sudah dekat itu menjebabkan tayga tak tertembusi dan mentjegah musuh menjodokkan sajapnja guna mengepung tentara petani itu dari djarak lebih dekat.
Tapi pindahpun mustahil. Sebetulnja mereka dapat menerobos keposisi-posisi baru, seandainja ada rentjana jang menghasilkan keuntungan-keuntungan strategi jang chusus. Namun tak ada diselenggarakan rentjana tertentu demikian. Orang sudah tak tahu akal. Komandan-komandan muda mendjadi ketjil-hati hingga kehilangan pengaruh atas bawahan mereka. Para komandan jang tua-tua berunding malam hari dan mengemukakan putusan-putusan jang bertentangan. Kesudahannja, maksud memindahkan perkemahan itu dilepaskan, supaja posisi sekarang ini dapat diperkuat didjantung rimba. Keuntungannja ialah bahwa saldju tebal itu menjebabkan orang tak dapat mendekati posisi-posisi mereka, chususnja karena tentara Putih tak punja perlengkapan ski jang tjukup. Pekerdjaan jang mendesak ialah membuat parit-parit dan mengumpulkan persediaan banjak.
Penata-usaha perkemahan melaporkan sangat kekurangan tepung dan kentang. Tapi ada banjak sekali ternak, maka diramalkannja bahwa makanan baku dimusim-dingin nanti adalah susu dan daging.
Orang kekurangan pakaian panas; ada para partisan jang setengah telandjang. Diputuskan agar semua andjing dalam perkemahan dibunuh, maka barang siapa berpengalaman sebagai pendjahit, dikerahkan untuk membikin djaket dari kulit-andjing jang akan dipakai dengan bulu-bulunja disebelah luar.
Yury tak boleh memakai kereta-kereta guna mengangkut orang luka-luka. Kereta-kereta dipergunakan untuk jang lebih penting dari itu. Ketika achir kalinja tentara partisan memindahkan perkemahannja, orang-orang luka itu diangkut dengan tandu sepandjang tigapuluh mil.
Obat-obatan jang tinggal adalah kina, garam Glauber dan jodium. Tapi jodium ini berbentuk kristal dan harus dilarutkan dalam alkohol, sebelum dapat dipakai untuk luka-luka atau operasi. Kini orang menjesali penghantjuran ketel-distilasi wodka, maka orang-orang jang tempo hari membuat wodka dan dibebaskan dalam pengadilan, sebab dianggap kurang bersalah dari jang lain-lain, kini diminta memperbaiki ketel itu atau membikin jang baru. Kini orang mulai memasak alkohol lagi setjara resmi untuk keperluan pengobatan. Kabar ini disambut dengan anggukan dan gelengan. Banjak jang mabuk lagi, hingga menambah demoralisasi umum.
Alkohol jang dihasilkan, hampir 100 persen murni. Kadar inilah jang diperlukan untuk melarutkan kristal, pun djuga untuk membuat tjampuran dengan kina; kina dipergunakan untuk melawan tiphus jang berdjangkit lagi ketika iklim dingin tiba.
3
Yury mengundjungi Pamphil beserta keluarganja. Istri dan anak-anaknja (dua gadis dan seorang lelaki) sepandjang musim-panas telah djalan-kaki didjalan penuh debu dialam terbuka dalam pelarian. Mereka tjemas-tjemas oleh pengalaman itu dan hidup menghadapi kengerian-kengerian lain. Keempat-empatnja mempunjai rambut kuning jang oleh matahari dipudarkan hingga berwarna rami, serta alis lebat jang nampak putih ditengah paras mereka jang kehangusan dan sawo-matang itu. Anak-anak ini terlalu muda untuk menundjukkan alamat azab-sengsara, tapi muka siibu telah tak berhajat. Ketegangan dan ketakutan membuat bibirnja tipis bagai benang, air-mukanja jang runtut dan tak berungkapan mendjadi beku karena lumpuh tak berdaja.
Pamphil sangat terpaut pada mereka semua, mentjintai anak-anaknja sampai tergila-gila. Yury dibuatnja heran oleh kepandaiannja mengukir kelintji, djago dan biruang main-mainan untuk mereka, dengan menggunakan sesudut mata-kapaknja jang diasah dengan teliti.
Ketika keluarganja tiba, ia gembira dan mulai sembuh. Tapi sekarang terdengar kabar bahwa kehadiran segala keluarga itu dipandang merusak disiplin, maka dengan dikawal tjermat-tjermat mereka akan dikirim ketempat kediaman untuk musim-dingin agak djauh dari perkemahan, jang dengan begitu akan diringankan dari beban kaum sipil jang tak bermanfaat itu. Rentjana ini banjak diomongkan, tapi pelaksanaannja tak njata; Yury meragukan apakah rentjana akan didjadikan kenjataan, namun Pamphil djatuh semangat dan „kengerian”nja kembali.
4
Sebelum musim-dingin achirnja tiba, perkemahan mengalami masa keributan, kekuatiran dan ketidak pastian, keadaan katjau-balau penuh antjaman, peristiwa-peristiwa jang adjaib dan tak masuk akal.
Tentara Putih menjelesaikan pengepungan menurut rantjangan. Mereka dikepalai oleh djenderal-djenderal Vitsyn, Quadri dan Bassalygo jang dimana-mana terkenal mempunjai kekerasan dan putusan tak terbantah; nama mereka sadja sudah mentjemaskan para pengungsi diperkemahan maupun penduduk jang suka damai jang masih tinggal didusun-dusun asli mereka dibelakang pasukan-pasukan jang mengepung.
Musuh tak punja peralatan untuk mengeratkan genggamannja. Para partisan dalam hal ini merasa senang, namun mereka tak mungkin tinggal diam-diam sadja. Menerima situasi demikian berarti memperkuat semangat musuh. Betapa amanpun mereka dalam perangkap itu, namun haruslah diadakan penerobosan, meskipun hanja sebagai demonstrasi militer.
Untuk maksud ini disediakan pasukan jang kuat, dipusatkan dekat lingkungan lingkaran sebelah Barat. Sebagai hasil pergulatan sengit berhari-hari, pasukan ini mengalahkan tentara Putih, kemudian menembus sampai kebelakang mereka.
Bobolan ini membuka djalan keperkemahan ditengah tayga, maka disitulah tertjurah arus pengungsi-pengungsi baru; mereka ini tak bertalian darah dengan para partisan. Tjemas oleh hukuman-hukuman jang dilakukan tentara Putih, semua petani dari dusun-dusun jang berdekatan telah meninggalkan rumah dan kini hendak bergabung pada tentara petani jang mereka pandang selaku pelindung kodrati.
Tapi perkemahan itu sendiri ingin bebas dari tanggungannja, djadi tak hendak memikul beban dari pendatang-pendatang baru serta orang-orang tak dikenal. Dikirimlah utusan-utusan untuk mendjemput para pengungsi tadi serta menjalurkan mereka kesebuah desa disungai Chilimka. Desa itu disebut Dvory3 3Dvory: Tempat kediaman (Dvor = menurut arti kata „pekarangan”, diluaskan mendjadi „kediaman”). menurut pertanian-pertanian jang tumbuh disekitar kintjirinja. Maksudnja ialah mendudukkan para pengungsi disana untuk musim-dingin dan mengirim perbekalan jang disisihkan untuk mereka.
Namun selama tindakan-tindakan ini diambil, segala kedjadian menurut djalannja sendiri dan pemimpin perkemahan tak mampu mendjangkaunja.
Musuh telah mengisi kebobolan dalam posisinja, maka kesatuan jang tadinja menerobos, kini tak sanggup kembali kedalam tayga.
Untuk menambah kesukaran partisan para pengungsi wanita berkelakuan aneh sekali. Rimba lebat itu menjulitkan bagi jang mentjari mereka; utusan-utusan tadi mentjoba memotong djalan, namun kaum perempuan itu masuk kehutan menebang pohon-pohon, membikin djalan-djalan serta djembatan-djembatan dan mengembangkan akal jang mengagumkan dalam perdjalanan mereka. Semua ini tak serasi dengan maksud pemimpin partisan dan Liberius mengalami bahwa segala rentjananja mendjadi berantakan.
5
Hal ini membuatnja gusar sekali, waktu ia omong-omong dengan Svirid sipemburu, dekat djalan-raja jang memotong tepi tayga disudut ini. Beberapa anggota stafnja berdiri didjalan, bantah-membantah tentang perlunja memotong kawat telegrap jang terentang dipinggir djalan. Liberius berhak mengambil keputusan terachir, tapi sementara itu ia sibuk bitjara dengan Svirid dan terus memberi tanda pada jang lain-lainnja itu supaja menunggu.
Svirid terpukul hebat karena orang telah menembak Vdovichenko jang satu-satunja kesalahannja ialah bahwa pengaruhnja menjaingi pengaruh Liberius dan mentjiptakan perpetjahan didalam perkemahan. Svirid kepingin meninggalkan partisan, agar kembali kepenghidupannja sendiri jang merdeka itu dulu. Tapi itu mustahil. Ia telah memilih, maka djika ditinggalkannja kawan-kawan Rimba ini, ia akan senasib dengan Vdovichenko.
Tjuatja buruk bukan main. Angin tadjam lagi pesat menjapu mendung-mendung jang dikojaknja dan hitam bagai djelaga terbang itu, dekat diatas bumi. Saldju luruh dari situ dalam kelompok putih jang mabuk dan sekedjap sadja menjelimuti djarak djauh, membeber kafan diatas bumi; tapi semenit kemudian kafan ini terlulur, meleleh djadi lumpur; bumipun muntjul sehitam arang dibawah langit hitam jang ditjiprati air hudjan berleret-leret miring dikedjauhan. Bumi tak lagi sanggup menghisap air dan kalau sekali-sekali mendung tersingkap bagai djendela dengan kilauan mengatja jang dingin untuk menjegarkan langit, maka air jang tak terhisap ditanah itupun tak mau ketinggalan: segala bentjah dan betjekan jang serupa djendela itu berbinar dengan kilauan jang sama.
Hudjan meluntur dan menguap diatas pohon-pohon pinus; djarum-djarumnja jang berdamar itu tahan air seperti kain berminjak. Kawat telegrap dihinggapi tetesan-tetesan air hudjan jang bergantungan dekat-mendekat seperti manik-manik tasbih dan seolah tak akan djatuh-djatuh. Svirid tergolong mereka jang diutus untuk mendjemput kaum perempuan jang lari. Ia hendak menuturkan pada madjikannja segala hal jang dilihatnja: keritjuan sebagai akibat perintah-perintah jang serba tak tjotjok dengan keadaan dan saling bertentangan; segala perbuatan ngeri jang dilakukan oleh perempuan-perempuan paling lemah jang putus-asa dan hilang harapan. Tersuruk-suruk, dibebani karung, bungkusan dan baji-baji, ibu-ibu muda jang air-susunja tak keluar lagi dan hilang ingatan oleh kengerian selama perdjalanan itu meninggalkan anak-anak mereka, menuangkan gandum dari karung ketanah, lalu berbalik. Kata mereka, lebih baik djatuh ketjengkeraman musuh dari pada dikojak-kojak binatang dihutan.
Tapi perempuan-perempuan terkuat menundjukkan keberanian dan pengekangan diri jang tak dikenal oleh laki-laki.
Banjak lagi jang hendak ditjeritakan Svirid kepada madjikannja. Ia ingin memperingatkan dia pada antjaman pemberontakan lebih berbahaja dari jang sudah dipadamkan jang kini mengintai dalam perkemahan, tapi dengan segala maksud baiknja Svirid ini lamban, sedangkan Liberius jang menjuruhnja buru-buru itu semata-mata mematahkan daja-tuturnja. Ketidak sabaran Liberius ini tak hanja karena kawan-kawannja memanggil dan melambaikan tangan dari djalan-raja, tapi djuga karena selama dua pekan belakangan ini ia sudah menerima peringatan sematjam itu berkali-kali, maka kini sudah apallah ia.
„Beri aku waktu, kawan pemimpin. Aku tak pandai tjari kata-kata, tersangkut sadja digigiku, aku ditjekiknja. Aku bilang, pergilah keperkemahan perempuan, perintahkan mereka menghentikan main-gila. Kalau tidak, apa djadinja nanti? — „Semua lawan Kolchak!” ataukah perang-saudara antara perempuan?”
„Teruslah, Svirid. Kaulihat sendiri, aku dipanggil. Djangan bertele-tele”.
„Lantas siiblis betina, Kubarikha itu, tjuma setan jang tahu apa dia sebenarnja. Katanja: „Tjatatlah aku sebagai pengasuh ventilator peternakan …”.
„Veteriner, maksudmu”.
„Begitulah — pengasuh ventilator untuk mengobati ternak dengan angin. Tapi dia sekarang bukannja mendjaga ternak, sikafir, siinduk iblis jang terhormat itu! Dia batjakan misa kepada lembu-lembu dan dia buat istri-istri muda jang mengungsi meninggalkan tugasnja. „Sengsaramu itu akibat kesalahanmu sendiri”, katanja pada mereka. „Begitulah kalau kauangkat rokmu dan memburu Bendera Merah. Djangan begitu lagi”.
„Jang kaumaksud itu pengungsi mana, dari perkemahan kami atau lainnja?”
„Jang lain tentunja. Jang baru-baru itu, jang tak dikenal”.
„Tapi mereka disuruh ke Dvory. Mengapa sampai tiba disini?”
„Dvory? Mana bisa! Dvory terbakar, sampai kintjirnja djuga, tak ada jang tinggal selain bara. Itulah jang mereka lihat disana — tak ada machluk hidup, tak apa-apa selain abu dan reruntuh. Separoh mereka kehilangan akal, mendjerit dan melolong dan balik langsung ketentara Putih, separoh lagi pulang kesini”.
„Tapi bagaimana melewati tayga dan rawa?”
„Apa gunanja gergadji dan kapak? Dari orang-orang kita jang disuruh mengawal mereka, ada jang membantu sedikit. Konon mereka membuka djalan duapuluh mil pandjangnja. Djembatan-djembatan dan lain-lainnja, djahanam! Bitjara tentang perempuan! Mereka bikin apa-apa jang kalau kita kerdjakan tiap hari Minggu akan memakan satu bulan!”
„Bukan main, bikin djalan duapuluh mil! Dan mengapa kau kelihatan senang, he, keledai? Itu djustru jang diinginkan kaum Putih, djalan raja didalam tayga! Sekarang mereka tinggal mendjalankan artileri sadja disitu!”
„Kirimlah tentara palsu — tentara palsu, muslihat itu akan berhasil”.
„Aku bisa berpikir sendiri, trima-kasih”.
6
Siang makin pendek, kira-kira pukul lima sudah gelap. Mendjelang magrib, Yury menjeberangi djalan-raja, dimana Liberius beberapa hari berselang omong-omong dengan Svirid. Ia pulang keperkemahan. Dekat tempat terbuka, dimana tanggul dan pohon arbai menandai batas perkemahan, didengarnja suara Kubarikha jang galak mengantjam, „saingannja”, begitu disebutnja dukun ternak itu setjara main-main. Kubarikha sedang menjanji lagu gembira-ria, suaranja memekik serak dan gegabah. Menilik sambutan gelak-ketawa jang menjelanja terus-menerus, ada sekelompok lelaki dan perempuan jang mendengarkannja. Kemudian sunji. Orang tentunja berpentjaran.
Kubarikha menjangka ia sendirian, maka dinjanjikannja lagu jang berlainan, lembut seolah untuk dirinja sendiri sadja. Yury jang dengan hati-hati mentjari djalannja diwaktu magrib itu disepandjang djalan ketjil dipinggir rawa dengan pohon arbai tadi, berhenti disitu. Lagu itu agaknja njanjian-rakjat, tapi dikenalinja, boleh djadi Kubarikha lagi membuat improvisasi.
Lagu-rakjat Rusia jang kuno adalah seperti air dalam bendungan. Nampaknja tenang dan tak mengalir lagi, tapi dikedalamannja air itu ladju terus lewat pintu-air, maka ketenangannja itu chajali.
Sedapat-dapatnja — dengan ulangan atau perbandingan — ia hendak berhenti atau memperlambat perkembangan temanja setaraf demi setaraf, sampai ditjapainja satu titik jang mengandung rahasia, lalu sekonjong-konjong ia menampakkan diri. Dalam pertjobaan tak waras untuk menghentikan arus zaman itu, djiwa sedih jang mengekang diri memperoleh expresinja.
Kubarikha setengah menjanji, setengah bitjara:
7
Agatha, istri Pamphil, telah membawa lembunja jang sakit kepada Kubarikha. Lembu itu dipisahkan dari kawannja, ditambatkan kepohon dengan tambang jang diikat ketanduk-tanduknja. Madjikannja duduk ditonggak pohon dekat kaki depannja, Kubarikha diatas dingklik duduk dekat kaki belakangnja.
Kawanan tak berbilang itu selebihnja didjedjalkan dalam tempat terbuka, jang dimana-mana dikelilingi hutan gelap pohon-pohon ru jang berbentuk segitiga dan setinggi bukit serta mendjulang dari dahan-dahan sebelah bawahnja jang merentang itu, hingga mereka seolah djongkok dengan bokong gemuk ditanah.
Hampir semua lembu itu hitam-putih dan berasal dari satu djenis dari Swis jang digemari di Siberia. Lembu-lembu ini kehabisan tenaga, tak kurang pajahnja dari pada pemilik, oleh penanggungan dan perdjalanan tak henti-henti serta keadaan penuh-sesak jang tak tertahankan itu. Mereka menggaruk lambung dengan lambung; dan lantaran bingung oleh ruangan jang terlalu ketjil itu mereka lupakan djenis kelamin, lalu melondjak dan pandjat-memandjat, sambil menghela susu mereka jang berat itu dengan susah-pajah serta melenguh seperti sapi djantan. Lembu-lembu muda jang tertindih, lari dari bawah dan terbirit-birit menudju kehutan dengan ekor keatas serta mengindjak-indjak dahan-dahan dan semak-semak. Para gembala — orang-orang tua dan anak-anak — mengedjar-ngedjar seraja berteriak.
Dan seolah terdjepit djuga oleh lingkaran sempit putjuk-putjuk pohon dilangit musim-dingin atas tempat terbuka itu, maka mendung-mendung hitam-putih itupun melondjak-londjak, tumpuk-menumpuk dan berdjatuhan katjau-balau, tak ubahnja dengan lembu-lembu.
Gerombolan penonton jang berdiri djauh dengan penuh minat, mengganggu sipenenung, maka diukurnja mereka dari atas kebawah dengan pandangan djahat. Tapi sebagai ahli ia akan merasa nista, djika mengakui bahwa mereka mengganggunja, maka diambilnja sikap seolah ia tak melihat mereka. Yury mengamat-amati dia dari belakang chalajak; perempuan itu tak melihatnja.
Inilah pertama kalinja ia sempat memandangnja dengan seksama. Seperti biasa, ia memakai petji pengurus perbekalan dan mantel hidjau dari tentara Inggris dengan krah jang kusut. Tapi ungkapan angkuh dan bernafsu jang menimbulkan keremadjaan dalam kilatan dan kehitaman mata wanita jang agak tua ini, malah menundjukkan bahwa ia sama sekali tak menghiraukan apa jang kebetulan dipakainja atau tidak dipakainja.
Jang mengagetkan Yury ialah perobahan pada istri Pamphil. Matanja njaris melompat dari lekuknja, lehernja pandjang lagi kurus bagai bum kereta. Dalam sedikit hari jang lampau ini ia mendjadi djauh lebih tua, sampai Yury hampir tak mengenalnja kembali, begitu hebat pengaruh ketjemasan jang dirahasiakannja itu kepadanja.
„Air-susunja tak keluar-keluar, kak”, udjarnja.
„Tadinja kukira ia bunting; kalau benar, ia sekarang tentunja punja air-susu, tapi masih belum sadja”.
„Mengapa ia mesti bunting? Lihatlah kerak darah disusunja ini. Nanti kuberi kau sedikit minjak rerumput untuk digeserkan disitu. Dan tentu sadja akan kudjampi dia”.
„Jang mendjadi pikiranku djuga ialah suamiku”.
„Akan kudjampi dia, sampai tak mau berkeliaran. Gampang. Ia akan tinggal didekatmu, kau tak akan lepas-lepas dari padanja. Ada kesusahanmu jang ketiga?”
„Soalnja bukanlah bahwa ia berkeliaran. Itu tak mengapa. Susahnja, ia lengket sekuat-kuatnja padaku dan pada anak-anak, karena itu hatinja hantjur. Kutahu pikirannja. Dia sangka, perkemahan akan dibelah. Kami akan kesebelah jang satu, dia kebelahan lainnja. Dan kami akan djatuh ketangan anak-buah Bassalygo, sedangkan dia tak ada dan tak akan ada siapa-siapa untuk membela kami. Dan mereka akan menganiaya kami, mereka akan senang melihat kami dianiaya. Kutahu pikirannja. Aku chawatir, dia akan menghabisi diri sendiri”.
„Akan kupikirkan itu. Kutjarikan djalan untuk menghilangkan sedihmu. Apa kesusahanmu jang ketiga?”
„Tak ada jang ketiga. Itulah semuanja — lembuku dan suamiku”.
„Wah, kau tak kelimpahan kesedihan, dik. Tjoba, betapa kau dikurniai Tuhan! Orang seperti kau ini djarang tersua, matjam djarum dalam onggokan djerami. Tjuma dua beban dihatimu jang tjelaka, dan salah satunja adalah suami jang ditjinta! Nah, mari kita mulai. Apa kauberikan padaku untuk lembumu?”
„Kau ingin apa?”
„Sepotong roti dan suamimu”.
Para penonton ketawa gelak-gelak.
„Kau main-main?”
„Terlalu banjak? Baiklah, tak usah roti. Kita urus sadja soal suamimu”.
Gelak ketawa makin keras.
„Siapa namanja? Bukan suamimu, tapi lembu itu”.
„Sitjantik”.
„Separoh gerombolan disebut begitu. Baik. Kita mulai dengan restu Tuhan”.
Diapun melafaskan mantera untuk silembu. Mula-mula memang mengenai lembu itu, tapi sedjurus kemudian ia melantur dan memberi Agatha peladjaran lengkap tentang penenungan. Yury mendengarkan dengan terpesona, seperti ketika ia pertama kali tiba di Siberia dari Rusia Eropa, waktu disimaknja omongan penuh pembungaan dari Bacchus sisais.
Berkatalah perempuan itu:
„Bibi Margesta, djadilah tamu kita. Datanglah hari Rebo, njahkan penjakit, njahkan daja pemukau, njahkan kerak ini. Tjatjing, keluarlah dari susu lembu. Tenanglah, Tjantik, penuhi kewadjibanmu, djangan tendang ember ini. Tenanglah bagai bukit, agar air-susumu mengalir. Daja dahsjat, lekaslah berkembang, singkirkan penjakit djahat, singkirkan kerak, lemparkan djelatang. Kuat bagai radjalah kata penjihir.
„Begitulah, Agatha sajang, kau harus tahu segala-galanja — memohon dan melarang, kata untuk lari dan kata untuk tahan. Kau harus maklum, apakah hal-ihwal. He kamu, misalnja kamu melihat kesana dan kamu berkata dalam batin: „Itu hutan”. Tapi jang disitu adalah tenaga-tenaga djahat, sedang melawan barisan malaikat — mereka berperang seperti kawan-kawanmu dengan anak-buah Bassalygo.
„Ada tjontoh lain, tengoklah kesana, jang kutuding itu. Kau melihat kedjurusan jang salah, sajang; pakailah matamu dan bukan ubun-ubunmu, tengoklah ketempat jang kutuding. Nah, begitu! Apa itu menurut pendapatmu? Kausangka itu dua ranting didjalin angin? Atau burung membikin sarang? Nah, kedua-duanja salah. Jang disana itu mainan setan, sungguh; karangan-bunga jang disusun djin-air untuk anaknja perempuan. Dia dengar manusia datang dan ia ketakutan, djadi ditinggalkannja itu separoh selesai, tapi kaulihat nanti akan dirampungkannja dalam beberapa malam ini.
„Tjoba lagi: bendera merahmu itu. Kau pikir itu bendera, bukan? Nah, itu bukan bendera. Itu saputangan merah perempuan mati — dia pergunakan untuk menggiurkan. Dan mengapa untuk menggiurkan? Dia lambaikan itu, dia mengangguk, dia berisjarat dan menggiurkan pemuda-pemuda, supaja datang dan dibunuh oleh sang maut, lalu dikirimnja penjakit kelaparan. Begitulah. Dan kamu pertjaja padanja. Kamu sangka itu bendera. Kamu kira ia berkata: „Kemarilah kaum protariat sedunia”.
„Dizaman ini kau harus tahu segala-galanja, Agatha, anakku, tiap hal satu-persatu. Apa burung dan apa batu dan apa rerumput. Burung itu misalnja, itu djalak. Dan binatang itu pensil.
„Sekarang soal lain, andaikata kau djatuh hati pada seseorang, katakan sadja padaku. Kubikin dia mendambakan engkau, siapapun dia — kawan Rimba jang memimpin kau, kalau kau mau, atau Kolchak, atau Pangeran Iwan4 4Pangeran dalam dongeng klasik Rusia. — siapa sadja. Kaupikir aku membual? Sama sekali tidak. Sekarang dengarkan tuturku. Bila musim-dingin tiba dengan taufan dan angin-pujuh dan tiupan saldju, sambar-menjambar dipadang, akan kutantjapkan pisau dalam onggokan saldju sampai kegagangnja, dan kalau kutarik dari saldju, pisau itu merah berlumur darah. Pernah kaudengar jang begitu? Tjoba! Dan kaukira aku omong-kosong? Sekarang tjoba katakan, bagaimana darah bisa keluar dari onggokan saldju jang tjuma terbikin dari angin saldju? Beginilah, sajang, angin-pujuh tadi bukan angin dan saldju belaka, tapi srigala, siluman, penjihir jang kehilangan anaknja — ia mengembara dipadang-padang, menangisi dan mentjari anaknja. Itulah jang kutusuk dengan pisauku, maka ada darahnja. Nah, dengan pisau itu dapat kupotong djedjak kaki tiap lelaki, aku dapat mendjahitnja dengan benang sutra pada rokmu, maka orang itu — siapapun dia, Kolchak, atau Strelnikov atau tsar baru jang dinobatkan — dia akan turuti tiap langkahmu, kemana djuga pergimu. Dan kausangka aku bohong! Kausangka tadi itu: „Kemarilah, kaum protariat sedunia”.
„Dan masih banjak lagi, misalnja hudjan batu jang djatuh dari langit, maka djika orang keluar dari rumahnja, batu-batu itu menghudjani dia. Atau, seperti jang pernah disaksikan orang, penunggang-penunggang kuda jang lewat dilangit; kuku kudanja menjentuh bubungan rumah-rumah. Atau seperti jang dinudjumkan dulu oleh penjihir: „Dalam perempuan ini ada gandum, jang itu ada madunja, jang ketiga ada tupainja”. Dan satria membuka bahu perempuan itu seolah sebuah peti dan dengan pedangnja dia ambil dari tulang belikatnja serangkum gandum atau tupai atau sarang tawon”.
Tak ada perasaan mendalam dan kuat kita djumpai disana-sini didunia, jang tidak bertjampur dengan kasih-sajang. Kian sajang, kian tambah orang jang kita tjintai terasa sebagai korban. Sekali tempo nafsu berahi laki-laki terhadap perempuan mengatasi segala ukuran, hingga chajalannja memindahkan siwanita dari lingkungan kedjadian jang mungkin terdjadi serta menempatkannja dalam penghidupan. Penglihatannja tergantung dari hawa disekitarnja, dari hukum alam dan dari zaman berabad-abad jang mendahuluinja.
Yury tjukup banjak membatja untuk menjadari bahwa utjapan Kubarikha jang terachir adalah kalimat-kalimat pertama dari sebuah hikajat kuno, entah dari Novgorod atau Ipatyevo, tapi sudah rusak oleh kesalahan para penjalin serta pengulangan jang dilakukan para penjihir dan penjanji, hingga hilanglah arti aslinja. Tapi mengapa gambaran-gambaran tak bermakna jang disampaikan setjara demikian itu mentjengkam dan mengharukan dia dengan kuatnja, seolah benar-benar terdjadi?
…Pundak kiri Lara separoh terbuka. Laksana kuntji jang berputar dalam gembok peti jang dirahasiakan, pedang telah membuka tulang-belikatnja dan dengan memperlihatkan relung djiwanja, ditundjukkannja segala rahasia jang tersimpan disitu. Kenang-kenangan tentang banjak kota asing, lebuh, kamar, dusun, terbentang bagaikan film, seperti untaian benang, seberkas untaian pita jang terguling-guling.
Ia tjinta benar padanja dan betapa manisnja ia, tepat seperti jang digagasnja, diimpikan dan dirindukannja. Tapi apakah jang membuatnja semolek itu? Apakah itu sesuatu jang dapat diberi nama dan dipilih dari daftar budi-pekerti orang? Sama sekali tidak! Ia tjantik, berkat garis bersahadja tak bertara jang ditarik oleh sang Chalik dengan satu sapuan pesat disekelilingnja, maka dalam lingkungan garis ilahiat ini ia telah dipasrahkan pada lindungan djiwa Yury, laksana seorang anak jang dibungkus ketat dalam kain sehabis mandi.
Dan apa terdjadi dengan dia sendiri kini, dimanakah ia? Dalam hutan di Siberia, bersama kaum partisan jang terkepung, dan dia harus senasib dengan mereka. Alangkah gandjil keadaan ini, tiada terkira! Ada kabut dalam kepala Yury dan didepan matanja. Tiap hal diliputi kabut. Pada saat itu turunlah gerimis, bukan saldju jang diharapkan orang. Bagaikan bendera besar, terbentang dari satu segi lebuh kota kesegi lainnja, tergantunglah didepannja dari satu sudut tempat terbuka dihutan kesudut lainnja, bajangan amat besar dari sebuah kepala ilahiat jang menakdjubkan. Kepala itu menangis dan hudjan mentjiumnja serta menjekanja.
„Pergilah sekarang”, udjar penenung itu kepada Agatha.
„Lembumu sudah kumanterai, dia akan sembuh. Berdoalah pada Ibunda Tuhan, Dialah persada tjahaja dan kitab kata hajati”.
8
Didalam tayga sebelah Barat berlangsunglah pertempuran. Tapi tayga luasnja tak terkira, maka segala peperangan itu seperti perang ditapal-batas keradjaannja; dan perkemahan jang sembunji dalam djantungnja itu penuh-padat dengan manusia, hingga betapapun banjaknja jang pergi untuk bertarung, namun nampaknja masih lebih banjak sadja jang tinggal.
Gemuruh perang dikedjauhan hampir tak pernah terdengar diperkemahan. Kemudian dengan sekonjong-konjong meletuplah beberapa tembakan didalam hutan dan segera berachir mendjadi rentetan tembakan serba tjepat dan petjah-petjah. Orang terperandjat, lantas lari lintang-pukang kekemah atau kereta, maka timbullah keributan, dimana tiap orang buru-buru mentjari peralatannja.
Kiranja tak ada apa-apa. Namun kaum partisan jang makin besar kelompoknja mengalir kearah tempat, dimana tembakan-tembakan tadi terdengar.
Mereka mengerumuni orang buntung jang terbaring ditanah. Lengan kanan dan kaki kirinja telah terpotong. Tak dapat dikirakan, bagaimana ia sanggup merangkak keperkemahan dengan lengan sebelah dan kaki sebelah jang masih tinggal itu. Lengan dan kaki jang terpotong itu sebagai bungkah-bungkah berdarah jang mengerikan, diikat kepunggungnja, bersama papan kaju ketjil; disitu ada tulisan pandjang jang dengan disertai banjak kata maki-makian menegaskan bahwa kekedjaman ini adalah pembalasan terhadap kekedjaman-kekedjaman serupa jang dilakukan oleh kesatuan Merah jang tertentu — kesatuan jang tak sangkut-paut dengan Perhimpunan Rimba. Ditambahkan bahwa perlakuan jang sama akan didjalankan terhadap semua partisan, ketjuali kalau pada tanggal tertentu mereka menjerah dan memasrahkan sendjata kepada wakil-wakil korps tentara djenderal Vitsyn.
Meskipun ia pingsan karena kehilangan darah, orang jang hampir mati itu dengan suara menggagap menuturkan penjiksaan dan exekusi-exekusi jang dilakukan oleh regu-regu penjelidik dan pelaksana hukuman djenderal Vitsyn. Hukuman mati atas dirinja sendiri ternjata ditangguhkan; mereka tak menggantungnja, tapi memotong lengan dan kakinja untuk dibawa keperkemahan dan menimbulkan ketakutan antara kaum partisan. Orang mengangkutnja sampai pos-pos terdepan perkemahan; disitu ia diturunkan dan disuruh merangkak, didorong oleh tembakan-tembakan diudara.
Ia njaris tak dapat menggerakkan bibirnja. Orang-orang disekitarnja membungkuk rendah untuk menangkap kata-katanja.
Udjarnja:
„Waspadalah, kawan-kawan. Dia sudah menerobos”.
„Sudah dikirim patruli-patruli kuat. Ada pertempuran besar. Kami bertahan”.
„Ada lobangnja. Ia mau menjerang tiba-tiba. Aku tahu…Sampai sekianlah, kawan-kawan. Njawaku hampir habis”.
„Mengasolah sedikit. Tenanglah — Algodjo-algodjo, tak kamu lihat itu berat baginja?”
Orang itupun mulai lagi:
„Setan itu menekan aku. Katanja: „Kau akan mandi darah, kalau tak kausebut siapa kau”. Bagaimana mesti kukatakan bahwa aku penjeberang? Aku sedang lari dari dia kepada kamu”.
„Kausebut-sebut sadja — dia. Siapa jang menekanmu itu?”
„Biar aku bernafas dulu …Dengarkan. Pemimpinnja ialah Bekeshin. Kolonelnja Strese. Anak buah Vitsyn. Kamu disini tak tahu bagaimana dia. Seluruh kota kepajahan. Orang direbus hidup-hidup. Dikuliti. Orang dipegang kuduknja, dimasukkan entah dimana, gelap-gulita disitu. Ia meraba-raba — ternjata dalam sangkar, dalam deresi kereta-api. Dikurungan itu ada empatpuluh orang lebih, semua pakai pakaian-dalam. Sekali-sekali pintu dibuka, siapa kena tangkap lebih dulu — keluar. Ditangkap seperti orang menangkap ajam untuk disembelih. Kusumpah demi Allah. Ada jang digantung, ada dipukuli dengan sebilah besi, ada jang ditanjai. Orang dipukul sampai kojak-kojak, luka-lukanja ditaburi garam, orang disirami air mendidih. Kalau muntah atau berak, dipaksa makan itunja. Tentang anak-anak perempuan, ja Allah!”
Orang tjelaka itu sampai kenafasnja jang penghabisan. Ia menangis, lalu mati, tanpa menjudahi tjeritanja. Segera semua orang mengerti, menanggalkan petji dan membuat tanda salib.
Sendja itu djuga terbanglah diseluruh perkemahan kabar tentang peristiwa jang lebih mengerikan lagi.
Pamphil tadinja ikut orang banjak jang mengerubungi orang sekarat itu. Ia melihatnja, mendengarkan kata-katanja dan membatja antjaman tertulis dipapan.
Ketjemasannja tentang keluarganja bila ia sendiri tewas, mendjak keklimax baru. Dalam fantasinja ia melihat mereka diserahkan untuk disiksa pelan-pelan, menjaksikan air-muka mereka berobah-robah karena kesakitan dan mendengarkan mereka mengerang dan minta tolong. Dalam kesedihan serta putus-asanja — untuk mentjegah penderitaan mereka kelak dan mengachiri penderitaannja sendiri — dia bunuhlah mereka, dia hantam istri dan tiga anaknja dengan kapak setadjam pisau-tjukur itu, jang pernah digunakannja untuk memahat mainan bagi dua gadis ketjil serta anak lelaki jang dulu anak emasnja.
Jang mengherankan ialah bahwa ia sesudah itu tiada segera bunuh diri. Yury tak mengerti, alternatif apa jang mungkin dipikirkannja. Apa jang dapat diharapkannja? Maksud apa dipunjainja, rentjana apa? Teranglah bahwa hidupnja berachir. Terang pula bahwa ia gila.
Ketika Liberius, Yury beserta anggota-anggota dewan tentara sibuk dengan persoalannja, membitjarakan apa hendak diperbuat dengan dia, dia sendiri bebas berkeliaran diperkemahan, kepalanja runduk rendah kedada, matanja jang kuning kotor itu mengantjam tanpa melihat apa-apa. Senjum-simpul suram, akibat penderitaan ingkar-insani jang tak tertundukkan itu tak pernah lepas dari mukanja.
Tak seorangpun mengasihaninja. Tiap orang menghindarinja. Ada jang menjarankan supaja ia ditewaskan, tapi tak ada jang menjokong usul itu.
Tak ada lagi pekerdjaannja didunia. Waktu fadjar ia menghilang dari perkemahan, lari dari diri sendiri seperti andjing gila.
9
Musim-dingin jang landjut tiba dengan hawa beku jang menjengat. Bunji-bunji dan udjud-udjud jang terpisah, seakan tak ada hubungannja, muntjul dari kabut dingin, berdiri, bergerak dan lenjap. Matahari bukanlah matahari jang biasanja ada diatas bumi, ia berlainan. Bundarannja jang merah-karmosin itu tergantung dihutan; kaku dan lambat seperti dalam impian atau dongeng, tersebarlah dari situ sinar-sinar kuning, tebal seperti madu, jang tersangkut dipohon-pohon dan beku disitu ditengah udara.
Kaki bersepatu vilt dan tak terlihat, menjentuh tanah dengan halusnja berlandasan kapas, namun saldju masih memekik gusar dibawah tiap langkah; mereka bergerak kesegenap djurusan, sedangkan tubuh-tubuh jang bertudung dan pakai djaket bulu, jang seasal dengan kaki-kaki itu mengambang setjara terpisah dihawa atasan, seperti chuluk-chuluk ilahiat.
Teman-teman berhenti dan bitjara dengan muka berdekatan, basah seperti mandi dan dengan djenggot jang kaku seperti rumput beku. Kepulan asap tebal jang lembab tersembul dari mulut mereka, terlalu besar bagi kata-kata beku dan terpotong-potong jang diiringinja.
Waktu berdjalan didjalan ketjil, Yury bertemu Liberius jang menghentikannja.
„Halo, orang asing! Datanglah keguaku sore ini. Bermalamlah disitu. Omong-omong nanti. Ada kabar”.
„Kurir sudah pulang? Adakah kabar dari Varykino?”
„Tak sepatah kata tentang keluargamu atau keluargaku. Tapi kesimpulannja menjenangkan, jaitu mereka tentunja pergi sebelum terlambat; kalau tidak, pasti ada kabar. Nanti malam kita bitjarakan itu. Kutunggu kau”.
Ketika sampai kegua sore itu, Yury mengulangi pertanjaannja:
„Apa jang kaudengar tentang keluargaku? Tjeritakan itu sadjalah”.
„Kau tak pernah mau memandang lebih djauh dari hidungmu. Setahuku, mereka selamat-wal’afiat. Tapi soalnja ialah, kabar ini nomor wahid. Tjobalah daging kambing dingin ini”.
„Aku tak suka. Ajo djangan belokkan pokoknja”.
„Kau betul-betul tak mau? Aku sadjalah mengambil sepotong. Meskipun kita sebenarnja perlu sajur-sajuran dan roti. Banjak orang sakit karena kurang vitamin. Musim-rontok jang lalu, ketika ada perempuan-perempuan jang memetiknja, kita mestinja lebih banjak menjimpan katjang dan buah arbai. Nah, seperti kukatakan tadi, keadaan kita bagus sekali. Ternjata benarlah apa jang selalu kuramalkan. Masa terburuk sudah lampau. Tentara Kolchak mundur disepandjang garis pertempuran. Mereka bubar. Sekarang kaulihat sendiri. Apa jang selalu kukatakan? Ingat, bagaimana kau selalu keluh kesah?”
„Kapan aku keluh kesah?”
„Sepandjang waktu. Apa lagi ketika kita didjepit oleh Vitsyn”.
Yury terkenang pada musim-rontok, penembakan kaum pemberontak, Pamphil jang membunuh istri dan anak-anaknja, seluruh kekatjauan dan pembunuhan jang tak habis-habis. Kekedjaman tentara Putih dan tentara Merah bersaingan dalam kebiadaban, keonaran beranak keonaran. Bau darah masuk kehidung dan kerongkongan Yury, mentjekik dan memuakkan dia, memusingkan kepala dan membuat matanja berlinang. Itu bukan mengeluh, itu lain sama sekali, tapi bagaimana menerangkannja pada Liberius?
Gua diterangi suluh-suluh, terbikin dari bilah-bilah jang terpantjang ketataan logam. Baunja harum seperti bau bara. Ketika sebatang bilah habis terbakar, arangnja djatuh kedalam djembangan air jang ada dibawahnja, dan Liberius menjalakan bilah baru.
„Kaulihat apa jang kubakar? Minjak habis. Dan kaju ini terlalu kering, lekas terbakar. Benar-benar tak suka daging? Tentang penjakit kurang vitamin ini, apa lagi jang kautunggu? Bikinlah rapat staf dan kasi tjeramah tentang penjakit ini dan bagaimana membanterasnja”.
„Djangan menjiksa aku lagi, demi Tuhan. Apa jang kauketahui tentang keluarga-keluarga kita?”
„Sudah kusebut. Laporan tak memberi kepastian. Tapi aku belum selesai bertjerita tentang apa jang kudengar dari pengumuman terachir. Perang saudara sudah habis. Pasukan-pasukan Kolchak hantjur luluh. Bagian besar tentara Merah mengedjarnja, menghalaunja ke Timur disepandjang rel kearah laut. Bagian lainnja buru-buru kesini, kita akan bergabung untuk menjapu bersih sisa-sisa tentara Putih jang tjerai-berai dibelakang. Seluruh Rusia Selatan sepi dari musuh. Wah, mengapa kau tak gembira? Belum tjukup bagi kau?”
„Aku senang. Tapi dimana keluarga kita?”
„Tidak di Varykino, sukur sekali. Bukan berarti bahwa kabar gila jang diberikan Kamennodvorsky padamu itu benar — kau ingat desas-desus dimusim-rontok jang baru lalu tentang orang-orang asing adjaib jang mendjarah Varykino? — Aku selalu berpendapat itu omong kosong. Bagaimanapun djuga, dusun itu sunji. Djadi rupa-rupanja ada terdjadi apa-apa achirnja; sukurlah mereka lolos sebelum terlambat, begitu agaknja. Menurut sumber beritaku, itulah pendapat penduduk jang masih tinggal sedikit sadja lagi”.
„Dan Yuryatin? Apa terdjadi disana? Siapa jang menguasainja?”
„Itu tjerita jang tak masuk akal pula. Tak mungkin benar”.
„Apa?”
„Orang bilang, tentara Putih masih disana, tapi itu mustahil sekali. Kutundjukkan padamu, lihat sendiri”.
Dipasangnja sebilah kaju lagi dalam tataan, diambilnja peta jang sobek-sobek dan dibentangkannja hingga distrik jang dibitjarakannja itu ada disebelah atas, lalu dengan memegang potlot diterangkannja posisi mereka.
„Tengok. Disemua sektor ini tentara Putih sudah dienjahkan — sini, sini, sini, seantero wilajah ini. Kau ikuti?”
„Ja”.
„Dengan begitu mereka tak mungkin dekat Yuryatin, sebab dengan perhubungan jang putus, mereka tak bisa menghindari penangkapan, djika disana. Bahkan pemimpin-pemimpin mereka tak mungkin sebodoh itu — anak ketjil manapun bisa mengerti. Mengapa kaupakai djasmu? Mau kemana?”
„Aku sebentar lagi kembali. Penuh asap disini, kepala pusing. Tangkap hawa sekedar diluar”.
Tiba diluar, Yury menjingkirkan saldju dari balok kaju jang dipergunakan sebagai tempat duduk didepan gua, maka duduklah ia, sikutnja bertopang lutut, kepalanja dilandasi kepalan tangan.
Tayga, perkemahan, delapanbelas bulan ditengah-tengah partisan, semuanja terlambung habis dari kepalanja. Ia lupakan itu sama sekali. Kenang-kenangan tentang semua buah-hatinja memenuhi pikirannja, mendesak segala hal lainnja. Ditjobanja membajangkan nasib mereka; pelbagai gambaran muntjul didepannja, masing-masing lebih mentjemaskan dari jang terachir.
Nampak Tonya berdjalan dipadang dibawah badai, menggendong Sasha. Ia membungkusnja dalam selimut, kakinja tenggelam dalam saldju. Ia menarik kakinja keluar dengan segenap tenaga, tapi taufan mendjatuhkannja; ia terhujung-hujung, tergolek dan bangkit, teramat lemah untuk berdiri lurus, sebab angin menghantamnja dan saldju menimpa. Ah, ia lupa. Dua anaklah jang dibawanja, Sasha dan sibaji. Kedua tangannja sibuk, tak beda dengan pengungsi-pengungsi di Chilimka jang kepajahan dan hilang ingatan, lantaran sedih dan ketegangan urat saraf.
Kedua tangannja penuh, sedangkan tak ada orang didekatnja untuk membantu. Ajah Sasha menghilang, kemana, tak ada jang maklum. Ia lenjap, sedjak dulu ia lenjap, seluruh hidupnja ia menghindari mereka. Ajah matjam apakah ia? Mungkinkah seorang ajah sedjati selalu mendjauhkan diri? Dan bagaimana ajah Tonya sendiri? Dimana Alexander Alexandrovich? Dan Nyusha? Dan lain-lainnja? Lebih baik tak usah bertanja, tak usah berpikir.
Yury bangkit, berbalik kegua. Sekojong-konjong pikirannja berbelok kehaluan lain dan ia tak djadi kembali ke Liberius.
Sudah lama ia menjimpan sepasang ski, sebungkus biskuit dan lain-lainnja jang mungkin dibutuhkannja, kalau ada kesempatan untuk melarikan diri. Dipendamnja itu disaldju dekat perkemahan dikaki pohon pinus jang tinggi. Untuk memperganda kemungkinan akan menemukan pohon itu kembali, ia mentjirinja dengan keratan. Kini berpalinglah ia, berdjalan didjalan ketjil, hasil indjakan kaki orang ditengah unggukan saldju, kedjurusan harta karunnja jang terpendam.
Malam bening dengan terang bulan. Ia tahu pos-pos pengawal dan mula-mula berhasil menghindarinja. Tapi ketika ia sampai ditempat terbuka dengan tanggul dan pohon arbai, seorang patruli menjalaminja dari djauh, meladjukan skinja dan dengan berdiri lurus diatasnja, meluntjurlah ia kentjang-kentjang kearahnja.
„Berhenti, atau kutembak! Siapa kamu? Kode!”
„Bagaimana kamu ini? Tak kenal saja? Saja dokter perkemahan, Zhivago”.
„Maaf, kawan Zhelvak. Saja tak ingat tadi, tak ada maksud menghina. Bagaimanapun, Zhelvak atau bukan, kamu tak boleh terus. Perintah adalah perintah”.
„Sesukamulah. Kodenja „Siberia Merah”, djawabannja „Hantjurkan kaum Intervensionis”.”
„Tjukup. Silakan. Apa jang kamu kedjar malam-malam begini? Ada orang sakit?”
„Saja haus dan tak bisa tidur. Saja pikir, baiklah tjari hawa dan makan saldju sedikit. Lantas saja lihat pohon arbai dengan buah-buahnja jang dingin. Saja ingin memetiknja sedikit”.
„Begitulah kegilaan siningrat! Siapa mau memetik arbai dimusim-dingin! Tiga tahun sudah kami tendang keedanan bangsawan, tapi mereka masih sama sadja. Silakan, petiklah arbai itu, sinting! Matjam apa!”
Setjepat kedatangannja, pengawal itu pergi dengan pesatnja, berdiri lurus diatas skinja jang pandjang dan sambil bersiul iapun lari disaldju tak terdjamah, djauh dibelakang semak-semak gundul jang tipis seperti rambut jang djarang-djarang.
Djalan ketjil membawa Yury kekaki pohon arbai jang dia sebut namanja tadi untuk memohon pertolongannja.
Pohon itu separoh ketutup saldju, separoh lagi berdaun dan berbuah beku dan diulurkannja dua dahan putih sebagai sambutan. Ia ingat pada lengan putih Lara jang kuat, lalu diraihnja dahan-dahan itu dan ditariknja kearahnja. Pohon menaburkan saldju keseluruh tubuhnja, seolah itulah djawabannja. Tanpa akal sehat ia bergumam:
„Kutemukan kau, kekasih tjantik, pohon arbaiku, darah-dagingku”.
Malam bening dengan terang bulan. Ia melandjutkan djalan dalam tayga kepohon jang ditandainja; ia menggali barang-barangnja dan meninggalkan perkemahan.
1
Djalan Pedagang terulur berkelok-kelok menuruni bukit, diawasi oleh rumah-rumah dan geredja-geredja kota Yuryatin bagian atas. Disatu sudut berdirilah gedung abu-abu jang suram, dihiasi kariatid-kariatid. Batu-batu persegi besar dibagian bawah fasadenja mendjadi hitam, disebabkan kotoran-kotoran dan proklamasi-proklamasi pemerintah jang baru ditempelkan. Dalam kelompok-kelompok ketjil orang berdiri didepannja, membatja diam-diam.
Tadinja ada embun, tapi kini kering dan hawa beku. Dibagian hari jang baru-baru ini gelap, hawa kini terang. Musim-dingin sudah silam; diganti oleh tjahaja jang menetap sampai sendja. Tjahaja ini menggembirakan, membingungkan dan mengedjutkan.
Tentara Putih sudah pergi, menjerahkan kota pada kaum Merah. Kengerian perang, pemboman dan penumpahan darah telah reda. Inipun membingungkan, tak beda dengan kepergian musim-dingin dan memandjangnja siang dimusim-semi.
Salah satu proklamasi jang dilengketkan ketembok dan masih dapat dibatja dalam tjahaja hari jang memandjang itu mengumumkan bahwa:
„Buku buruh dapat diperoleh pada jang berwenang seharga 50 rubel di Kantor Pangan, Sovjet Yuryatin, Djalan Oktober no 5 (dulu Djalan Gubernur Djenderal), Kamar 137”.
Barang siapa tak mempunjai buku buruh atau mengisi buku buruhnja setjara tak benar, atau (lebih buruk lagi) membuat keterangan palsu, akan dituntut sangat keras menurut peraturan perang. Keterangan-keterangan terperintji untuk menggunakan buku buruh tertjetak dalam I.N.I.K.1 1Surat-kabar Panitia Exekutif Yuryatin. no 86 (1013) untuk tahun ini, dipasang di Kantor Pangan Yuryatin, Kamar 137”.
Proklamasi lainnja menjatakan bahwa didalam kota ada persediaan makanan lebih dari tjukup. Disebutnja bahwa persediaan ini ditimbun belaka oleh kaum burdjuis, dengan maksud merusak tjara distribusi dan menimbulkan kekatjauan. Proklamasi berachir dengan kata-kata:
„Barang siapa ketahuan menimbun makanan, akan ditembak seketika”.
Pengumuman ketiga berbunji:
„Barang siapa tak tergolong kelas jang mengeruk keuntungan, diperbolehkan mendjadi anggota Komune-Komune Konsumen. Keterangan terperintji dapat diperoleh di Kantor Pangan, Sovjet Yuryatin, Djalan Oktober no 5 (dulu Djalan Gubernur Djenderal), Kamar 137”.
Anggota tentara diberi peringatan:
„Barang siapa lalai menjerahkan sendjatanja atau masih membawa sendjata tanpa izin baru mengenai hal itu, akan dituntut menurut hukum jang sangat keras. Kini izin-izin dapat diperoleh di Kantor Panitia Revolusioner Militer Yuryatin, Djalan Oktober no 6, Kamar 63”.
2
Seorang laki-laki kurus kering bermata liar, hitam karena debu, dengan ransel dari kulit pohon jang dipikulnja dengan bilah, ikut kedalam kelompok didepan gedung itu. Rambutnja jang pandjang dan kaku itu belum ada putihnja, tapi djenggotnja jang brewok kemerah-merahan itu mulai beruban. Itulah Dokter Yury Zhivago. Agaknja mantel bulunja telah ditjuri didjalan, atau barangkali ditukarnja dengan makanan. Djaketnja jang tipis, kojak-kojak dan berlengan pendek itu pastilah hasil penukaran. Jang masih tinggal dalam ranselnja hanjalah sisa sepotong roti jang diberikan orang kepadanja sebagai amal dalam sebuah dusun dekat kota, serta sepotong lemak babi. Ia telah sampai ke Yuryatin lebih pagi, tapi ia memerlukan satu djam untuk berdjalan dari pinggiran kota kepodjok Djalan Pedagang, begitu lemahnja ia dan begitu letihnja oleh hari-hari terachir selama perdjalanannja. Sering ia berhenti dan iapun harus memaksa diri agar tak djatuh kelututnja dan mentjium batu-batu dikota itu jang tadinja tak dapat diharapkan akan terlihat lagi olehnja; waktu kota itu nampak, bersukurlah ia seperti ketemu seorang teman.
Hampir dalam separoh perdjalanan-kakinja di Siberia ia mengikuti rel kereta-api jang seluruhnja tak dapat digunakan, tak terurus dan ditimbuni saldju. Satu demi satu, semua kereta-api jang ditinggalkan oleh tentara Putih itu kehilangan faedahnja, dihentikan oleh kekalahan Kolchak, karena kehabisan bahan bakar dan oleh timbunan saldju. Terbuang untuk selama-lamanja dan terpendam disaldju, kereta itu berderet-deret, hampir tanpa selingan, bermil-mil pandjangnja. Beberapa diantaranja dipakai sebagai benteng oleh gerombolan perampok bersendjata, atau tempat persembunjian bagi pendjahat atau pengungsi politis jang melarikan diri — kelana-kelana paksaan dari zaman itu — tapi kebanjakannja kereta-kereta itu merupakan kuburan bersama, makam besar-besaran para korban hawa dingin dan tiphus jang mengamuk disepandjang rel serta menghabiskan dusun-dusun disekitarnja.
Dewasa itu, seperti dizaman apapun djuga, ternjata benar bahwa „manusia adalah srigala terhadap manusia”. Musafir menjimpang dari djalannja, kalau melihat musafir lain; orang membunuh orang lain jang tak dikenallnja, takut kalau ia sendiri dibunuh. Ada kalanja terdjadi kanibalisme. Tertangguhlah hukum-hukum peradaban manusia; jang ditaati ialah hukum rimba; impian orang ialah impian penghuni gua dari prasedjarah.
Sekali tempo nampak pada Yury bajangan sebatang-kara menjelap diparit atau berkelarian didjalanan didepannja. Sedapat-dapatnja ia menghindari mereka, tapi banjak diantara mereka serasa dikenallnja. Ia merasa pernah melihat mereka semua diperkemahan partisan. Satu kali hal itu ternjata benar. Pemuda jang keluar dari timbunan saldju jang menguruk sebuah kereta tidur internasional, meloloskan diri, lalu masuk kembali, memanglah anggota Perhimpunan Rimba. Itulah Terenty Galuzin jang disangka telah tertembak mati. Sebenarnja ia hanja luka-luka dan pingsan. Ketika siuman, ia merangkak dari tempat pendrelan, bersembunji dihutan sampai luka-lukanja sembuh dan sekarang ia pulang ke Salibkudus dengan nama palsu, sambil mengumpet dikereta-kereta jang terpendam dan lari kalau dilihatnja machluk-machluk manusia.
Peristiwa-peristiwa dalam perdjalanan Yury itu mengandung keadjaiban jang tiada indriawi, seolah pungkahan-pungkahan jang terenggut dari kehidupan diplanit lain, jang entah bagaimana telah hanjut sampai kebumi. Hanja alam jang tetap setia kepada sedjarah manusia, tetap mempunjai wadjah seperti jang dilukiskan oleh seniman-seniman sezaman.
Sekali-sekali tibalah sendja sepi kelabu pudar dan djingga tua, dengan pohon-pohon berk jang hitam dan halus bagai tulisan didepan tjahaja magrib; ada pula anak-anak sungai hitam, diuapi sedikit oleh es kelabu, mengalir antara tepi-tepi terdjal jang putih karena saldju dan menghitam dipinggiran, dimana arus air menggerogotinja. Satu dua djam lagi serupa itulah sendja di Yuryatin, berhawa beku, abu-abu, transparan dan sehalus pohon „pussy-willow”.
Yury bermaksud membatja pengumuman jang terpadjang di Rumah Kariatid, tapi matanja mengembara sadja kedjendela-djendela diloteng ketiga rumah diseberang djalan. Itulah djendela-djendela dari kamar-kamar, tempat simpanan prabot-prabot jang ditinggalkan oleh para penjewa jang terdahulu. Djendela-djendela ini pernah dilabur; sekarang, walaupun pinggirannja terkupas oleh hawa transparan, kapurnja rupa-rupanja telah dihapus. Apa artinja ini? Sudah kembalikah para penjewa jang dulu? Ataukah Lara sudah pindah, dan rumah petak ini didiami orang-orang lain, hingga semuanja berobah sama-sekali?
Ketidak tentuan ini tak tertahankan. Yury menjeberangi djalan, masuk dan menaiki djendjang jang dikenal baik olehnja. Diperkemahan seringlah ia mengenangkan tiap putarannja dan tiap lengkungan pada pola ajour ditangga-tangga dari besi tjoran itu! Disatu tempat orang dapat melihat dari tjelah-tjelahnja kearah gudang ditingkat paling bawah, tempat unggunan kursi tua, ember rusak dan bak timah. Ketika tiba disitu dan ternjata semuanja masih tetap sama, Yury merasa seakan berhutang budi pada djendjang itu karena setianja pada zaman lampau.
Dulu ada bel dipintu, tapi telah patah dan tak berbunji lagi, sebelum keberangkatan Yury. Njaris ia mengetuk pintu, kemudian dilihatnja ada gembok dipintu jang tergantung pada dua gelangan; gelangan-gelangan ini dipasang sedjadi-djadinja sadja dalam daun pintu djati dengan ukiran indahnja jang disana sini telah terhapus. Vandalisme demikian tak akan terdjadi dulu. Dulu akan ditjarikan gembok jang serasi dan itu akan memenuhi tugasnja, ataupun dipanggil seorang pandai kuntji dan dia memperbaikinja. Bukti remeh ini berbitjara tentang merosotnja segala sesuatu jang telah ladju berkembang selama kepergiannja.
Yury jakin, Lara dan Katya tak mungkin disitu, djuga bila mereka masih hidup, bahkan djika mereka ada di Yuryatin sekalipun. Ia siap menghadapi keketjewaan jang paling pahit, dan hanjalah untuk meringankan hati nuraninja, maka diputuskannja mentjari kuntji dalam lobang antara batu-batu bata, dimana seekor tikus begitu menakutkan Katya dulu. Ia memukul tembok, untuk mendjamin bahwa ia kini tak akan kepergok tikus. Sedikitpun tak ada harapannja akan menemukan sesuatu. Lobang ditutup dengan bata. Ia sisihkan itu dan meraba kedalam lobang. Heranlah ia, ada kuntji dan surat disitu. Surat ditulis atas kertas jang agak besar. Yury membawanja kedjendela dibordes. Lebih mengherankan lagi, pertjaja atau tidak, surat itu dialamatkan kepadanja! Tjepat-tjepat ia membatja:
„Alangkah bahagia, ja Tuhan! Kabarnja kau masih hidup dan kini kembali. Ada jang melihatmu dekat kota, dia bergegas mentjeritakan itu padaku. Kupikir, kau akan langsung ke Varykino, djadi aku sendiri kesana bersama Katya. Tapi untuk mendjaga kemungkinan, kutinggalkan kuntji ditempat jang biasa. Tunggulah aku, djangan pergi. Kaulihat sendiri, kupakai sekarang kamar-kamar depan. Flet ini agak kosong, beberapa prabot terpaksa kudjual. Kutinggalkan sedikit makanan, kebanjakannja kentang rebus. Tutup kembali penggorengan, tindihlah tutupnja untuk mengelakkan tikus. Aku girang sampai mabok kepajang”.
Ia membatja sampai habis kebawah dan tak sadar bahwa tulisan dilandjutkan disebaliknja. Surat ditekankannja kebibir, dilipatnja dan dimasukkannja kekantong bersama kuntji. Bukan main girangnja, namun bertjampurnja kepedihan jang menjajat tadjam. Lantaran Lara pergi ke Varykino tanpa memberi keterangan, tentunja keluarganja tak ada disana. Hal itu bukanlah menjebabkan dia gelisah, melainkan luka hati jang tak tertahankan serta sedih karena mereka. Mengapa tak disebutnja dengan sepatah katapun, bagaimana dan dimana mereka? — seolah mereka tak ada semata-mata!
Tapi hari makin gelap, pada hal masih banjak jang harus dikerdjakannja, selama masih terang. Jang paling mendesak ialah membatja dekrit-dekrit jang dipasang ditembok Rumah Kariatid. Dewasa ini bukanlah lelutjon, kalau tak tahu menahu tentang peraturan-peraturan, njawa bisa melajang karenanja. Tanpa masuk flet atau menanggalkan ranselnja, iapun turun, menjeberangi djalan dan melihat ketempat luas jang penuh dengan matjam-matjam pengumuman itu.
3
Ada artikel-artikel harian, laporan rapat-rapat dan dekrit-dekrit. Yury memandangi djudul-djudulnja „Penjitaan, padjak dan tjukai untuk anggota kelas-kelas bermilik”.
„Pengawasan oleh buruh dilaksanakan”.
„Panitia-panitia pabrik dan pekerdja didirikan”. Inilah peraturan-peraturan jang dikeluarkan oleh para penguasa baru ketika masuk kota, guna mengganti peraturan-peraturan jang berlaku waktu itu. Pastilah semuanja dimaksudkan untuk pengingatkan pada sifat pemerintahan jang tak kenal kompromi itu, kalau-kalau sifat itu dilupakan oleh semasa berkuasanja kaum Putih. Tapi pusinglah Yury oleh ketunggalnadaan dan pengulangannja jang tak putus-putusnja itu. Dari taraf manakah asalnja? Sedjak pergolakan jang pertama? Atau sedjak didirikannja kembali pemerintahan setelah pembrontakan Putih? Ditulis tahun jang lalu? Atau tahun sebelumnja? Hanja satu kali dalam hidupnja bahasa jang tak kenal kompromi serta pemikiran jang searah ini membuatnja bersemangat. Mungkinkah ia harus membajar untuk satu saat kegembiraan jang buru-buru itu seumur hidupnja, dari tahun ketahun, dengan mendengarkan seruan dan tuntutan jang tak pernah berobah, serta menjajat dan tak masuk akal ini, kian tak berhajat, tak bermakna, tak terpenuhi dalam kelandjutan masa? Mungkinkah bahwa dalam satu saat pendek penuh kemurahan hati jang terlalu peka itu ia telah mengizinkan diri untuk diperbudak selama-lamanja?
Matanja menjala waktu membatja nukilan sebuah laporan:
„Kabar tentang kelaparan menundjukkan tidak adanja kegiatan jang menjedihkan dari organisasi-organisasi setempat. Telah terdjadi penjalahgunaan jang mendjolok mata, spekulasi besar-besaran. — Dan apa jang dikerdjakan oleh panitia pabrik dan pekerdja? Hanja penggeledahan besar-besaran didistrik-distrik perdagangan di Yuryatin dan Razvilye, hanja teror jang dilakukan sekeras-kerasnja, sampai menembak kaum spekulator seketika, dapat meluputkan kita dari kelaparan”.
„Bahagialah jang sebuta itu!” pikir Yury. „Masih bisa bitjara tentang roti jang sudah lama lenjap dari bumi! Tentang kelas-kelas bermilik dan spekulator jang sudah lama disikat habis oleh dekrit-dekrit! Tentang petani dan dusun, pada hal tak ada lagi petani atau dusun! Tak punja ingatankah mereka? Tak ingat segala rentjana dan peraturan mereka sendiri? Sudah lupakah mereka bahwa berkat segala peraturan itu semuanja sudah merata tanah? Manusia djenis apakah mereka ini, mengigau melulu dengan panas demam jang tak pernah turun suhu, tahun demi tahun, tentang hal-hal jang tak pernah ada, tentang tema-tema jang telah lama lenjap, dan tak tahu apa-apa, tak melihat apa-apa dari keadaan sebenarnja disekitar mereka?”
Yury pusing kepalanja. Ia pingsan dan tergolek tak sadarkan diri didjalan. Ketika ia siuman dan orang menolongnja berdiri serta menawarkan mengantarnja ketempat jang ditudju, ia menolak sambil mengutjapkan terima kasih; dikatakannja ia hanja mau menjeberang, ia tinggal disebelah sana.
4
Ia naik lagi dan kali ini dibukanjalah pintu rumah petak Lara. Dibordes masih terang, hampir tak lebih gelap dari ketika ia keluar. Senanglah ia bahwa matahari memberinja waktu.
Kersik kuntji digembok menimbulkan hiruk-pikuk didalam rumah. Flet jang tak didiami manusia itu menjambutnja dengan dentang-denting pantji-pantji jang berdjatuhan. Tikus-tikus jang terburu meninggalkan papan-papan, berlontjatan kelantai dan bertjerai-berai. Tentunja mereka sudah berbiak disitu sampai beribu-ribu. Yury merasa muak dan tak berdaja menghadapi gangguan tak sedap ini, maka diputuskannja hendak merintanginja untuk malam itu dengan pintu tertutup rapat disalah satu kamar, dimana dapat disumbatnja lobang-lobang tikus dengan beling.
Ia berpaling kekiri kebagian flet jang belum dikenalnja, lewat gang gelap dan masuk jang agaknja kamar Lara sendiri, kamar terang dengan dua djendela jang menghadapi lebuh. Langsung didepan djendela nampak gedung abu-abu dengan segala kariatidnja; orang berkelompok-kelompok membelakangi dia, seraja membatja pengumuman-pengumuman.
Tjahaja dalam kamar tak berbeda sifatnja dengan jang diluar, jaitu tjahaja sendja segar-bugar dari permulaan musim-semi. Ini menjebabkan kamar itu seolah sebagian dari lebuh: satu-satunja perbedaan ialah bahwa didalam rumah itu lebih dingin sedikit.
Kelemahan jang tiba-tiba tadi pada sendja itu, ketika ia mendekati kota dan berdjalan disitu satu dua djam lamanja, menimbulkan persangkaan Yury bahwa ia sakit. Kini kesamaan tjahaja dirumah dan dilebuh itu membuatnja gembira dengan tiba-tiba pula. Dengan bermandikan udara dingin seperti orang-orang lewat itu ia merasa ada kekerabatan dengan mereka, suatu kesamaan dengan suasana dikota, dengan kehidupan didunia. Ini melenjapkan ketjemasannja. Ia tak lagi menduga dirinja sakit. Sendja musim-semi jang mengatja, tjahaja jang menembus segala-galanja itu merupakan nudjuman jang baik, suatu djandji akan pemenuhan rahmani segala harapan serba djauh jang berdjangkau luas. Semuanja akan beres, ia akan mentjapai segenap idamannja dalam penghidupan, ia akan menemukan, menjatukan dan mendamaikan semuanja, ia akan selesai memikirkan hal ihwal serta menemukan kata-kata jang tepat melulu. Ia menanti kegirangan hati mendjumpai Lara sebagai bukti langsung bahwa sisanja akan menjusul.
Kerusuhan jang bergedjolak dan kegelisahan tak terkekang mengganti kelemahannja jang tadi. Sebenarnja semangat ini merupakan gedjala jang lebih mejakinkan lagi akan penjakitnja jang mendatang itu dari pada kelemahannja barusan.
Sebelum tinggal disitu inginlah ia menggunting rambut dan mentjukur djenggot. Tadi ketika berdjalan dikota, ia sudah mentjari-tjari seorang pemangkas. Tapi beberapa toko penggunting rambut jang dulu dikenalnja, kini kosong, lain-lainnja sudah beralih tangan dan dipergunakan untuk keperluan lain, selebihnja tutup. Ia sendiri tak punja pisau tjukur. Sebuah gunting akan dapat berdjasa, tapi walaupun dibongkar-balikkannja tiap benda dimedja hias Lara, namun karena tergesanja ia tak menemukan apa-apa.
Sekarang ia ingat bahwa di Djalan Spascky dulu ada bengkel pendjahit: asal masih ada dan ia sampai kesitu sebelum bengkel tutup, barangkali ia boleh memindjam gunting.
5
Ia tak salah ingat. Bengkel masih ada dengan pintu ditepi djalan dan sebuah djendela jang membudjur sepandjang sisi depannja. Para pendjahit wanita jang bekerdja dapat dilihat sepenuhnja dari lebuh. Ruangan itu kelihatan sampai kesebelah belakangnja, penuh sesak dengan para pendjahit.
Barangkali para pekerdja tetap ditambah dengan wanita setempat jang agak tua, jang pandai mendjahit dan telah memperoleh pekerdjaan, supaja berhak atas buku buruh jang disebut dalam proklamasi didinding gedung abu-abu.
Tak sulitlah membedakan mereka dari pendjahit tulen. Bengkel hanja membikin pakaian tentara: tjelana dan djaket berlapis kapas, djas bulu warna-warni, terbuat dari kulit andjing berdjenis-djenis, seperti jang pernah dilihat Yury pada partisan. Pekerdjaan jang lebih tjotjok bagi pendjahit kulit ini sangat berat bagi amatir, jang djarinja djadi bengkok, kalau dia sodokkan tepi kain berlipat jang kaku itu kemesin djahit.
Yury mengetuk djendela dan mengisjaratkan bahwa ia ingin dibolehkan masuk. Perempuan-perempuan itu memberi tanda bahwa tak diterima pesanan swasta. Yury bersikeras. Mereka memberi isjarat supaja ia pergi dan tak mengganggu, pekerdjaan mereka mendesak. Salah seorang nampak bingung; ia tadahkan tangannja keatas seperti perahu ketjil, alamat tak senang dan dengan alisnja ia bertanja apakah maksudnja. Yury menggerakkan dua djarinja seperti gunting. Ini tak dimengerti. Orang mengartikan itu sebagai kekurang-adjaran, bahwa ia meniru-niru dan memperolok mereka. Dengan berdiri diluar dan berpakaian tjompang tjamping serta bertingkah laku seaneh itu ia kelihatan seperti orang gila. Gadis-gadis itu terkekeh, lantas melambaikan tangan supaja ia pergi. Kesudahannja ia mendapat pikiran untuk mengelilingi rumah lewat pekarangan dan mengetuk dipintu belakang.
6
Pintu dibuka oleh seorang perempuan berambut hitam, agak tua dan berhati keras, pakai gaun kehitam-hitaman, barangkali pendjahit kepala.
„Penjakit! Mengapa mengganggu kami? Nah, mau apa?”
„Saja perlu gunting. Djangan terkedjut. Saja ingin memindjam gunting guna memotong rambut dan djenggot. Bisa disini sadja, lantas segera saja kembalikan; tak semenit lamanja. Saja akan sangat berterima kasih”.
Perempuan itu nampak heran dan tak pertjaja. Teranglah ia bimbang tentang kewarasannja.
„Saja baru datang dari perdjalanan djauh. Saja ingin potong rambut, tapi tak satupun toko pemangkas jang buka. Djadi baiklah saja kerdjakan sendiri, tapi tak punja gunting. Boleh saja pindjam?”
„Baiklah. Kupotong rambut kamu. Tapi saja peringatkan. Djika ada maksud kamu jang lain — ada akal hendak merobah rupa misalnja untuk keperluan politik — djangan salahkan kami, kalau kami bikin laporan. Kami tak mau mempertaruhkan njawa untuk kamu”.
„Ja Allah! Pikiran apa itu?”
Iapun mempersilakannja masuk dan membawanja kekamar sebelah jang tak lebih besar dari lemari; sesaat kemudian ia duduk disebuah kursi, sehelai kain dibungkuskan kepadanja dan disisipkan dibawah dagunja, seperti jang dikerdjakan oleh pemangkas rambut. Pendjahit itu keluar dari kamar dan kembali dengan membawa gunting, sisir, alat pemangkas dan pisau tjukur.
„Selama hidup, saja kerdjakan apa sadja”, demikian keterangannja, waktu melihat langganannja keheran-heranan. „Pernah mendjadi perawat rambut. Ketika mendjadi djururawat dalam perang jang dulu, saja beladjar memotong rambut dan mentjukur. Sekarang djenggot ini dipotong dulu, lantas saja tjukur nanti”.
„Harap rambut saja dipotong sangat pendek”.
„Saja kerdjakan sebaik-baiknja. Mengapa kamu pura-pura tak tahu sadja, sedangkan kamu orang terpeladjar? Seolah tak tahu, bahwa sekarang sepekan berarti sepuluh hari; hari ini tanggal tudjuhbelas dan pemangkas berlibur pada tiap tanggal jang ada angka tudjuhnja!”
„Saja betul-betul tak tahu. Saja katakan tadi, saja baru datang dari djauh. Apa perlunja pura-pura?”
„Djangan gelisah, kamu akan kena potong. Djadi baru sadja datang? Bagaimana tjaranja?”
„Pakai dua kaki”.
„Lewat djalan-raja?”
„Sebagian, sebagian lagi lewat rel. Entah berapalah keretaapi jang saja lihat, semua terpendam dalam saldju. Keretaapi mewah, kereta istimewa, tiap matjam jang dapat masuk akal”.
„Nah, tinggal sedikit jang perlu digunting, maka selesailah. Urusan keluarga?”
„Wah, bukan! Saja bekerdja untuk persatuan koperasi kredit jang dulu, sebagai inspektur berkeliling. Saja dapat perintah mengadakan inspeksi di Siberia Timur, disana saja tertahan. Maklumlah, tak ada keretaapi. Tak ada djalan lain, selain djalan kaki. Enam minggu lamanja. Tak dapat saja tjeritakan segala hal jang saja lihat diperdjalanan”.
„Kalau saja djadi kamu, lebih baik djangan tjerita. Ternjata perlu saja tuturkan satu dua hal. Tengoklah diri sendiri dulu. Ini ada katja. Tarik tangan kamu dari kain dan peganglah. Sudah puas?”
„Saja kira, kurang tjukup pendek. Tak bisa dipotong sedikit lagi?”
„Kalau lebih pendek lagi, tak akan pantas. Saja katakan tadi, djangan mulai mentjeritakan apa-apa. Djauh lebih baik tutup mulut sadja. Koperasi kredit, keretaapi mewah, inspeksi keliling — lupakan sadja semua itu. Bukan waktunja lagi. Orang bisa kesusahan tak habis-habis. Lebih baik pura-pura djadi dokter atau guru. Itu dia — djenggot sudah beres. Sekarang mesti ditjukur dengan tjermat. Tjuma disabuni sedikit dan kamu akan sepuluh tahun lebih muda. Saja godok air dulu”.
„Siapakah dia?” pikir Yury. Serasa ada hubungannja dengan dia — sesuatu jang pernah dilihat atau didengarnja, ataupun ia membuatnja ingat pada seseorang — tapi entah siapalah ia.
Kembali pula ia dengan air panas.
„Sekarang saja tjukur. Saja katakan tadi, tutup mulut sadja. Bitjara ibarat perak, diam ibarat emas. Itu selalu benar. Dan koperasi kredit serta kereta-api istimewa — lebih baik pikirkan jang lain sadja, mengaku dokter atau guru. Mengenai segala hal jang kamu saksikan, djangan kutik-kutik itu. Sekarang ini tak ada orang jang bisa dibuat heran. Sakit?”
„Sedikit”.
„Kena gores sekelumit, saja tahu — apa boleh buat. Sabarlah sedikit. Kulit kamu tak biasa dengan pisau tjukur ini, djenggot ini sangat kasar. Tak sampai semenit. Ja..Tak ada jang dilihat orang. Mereka alami semua. Kamipun kesusahan. Apa jang tak terdjadi, selama kaum Putih disini? Pembunuhan, perkosaan, pentjulikan, pemburuan manusia. Ada penguasa ketjil jang tak menjukai seorang tjalon perwira tjadangan. Dikirimnja pradjurit-pradjurit untuk menghadang dia diluar kota dalam hutan, dekat rumah Krapulsky. Ia terdjebak, dilutjuti dan dikawal sampai Razvilye. Ketika itu Razvilye sama dengan Cheka daerah sekarang — tempat exekusi. — Mengapa menjundul-njundul begitu? Kena gores, bukan? Saja tahu, saja tahu. Apa boleh buat. Rambut kamu matjam sikat. Tempat kedji ini satu-satunja. Nah, istri tjalon perwira djadi hysteria. Kolya! Kolya! Apa akan terdjadi dengan Kolyaku? Maka pergilah ia, langsung keputjuk, kedjendral Galiullin. Begitulah tjara omongnja sadja. Ia tak dapat langsung menemuinja. Harus pakai saluran-saluran. Didjalan sebelah sana ada orang jang tahu bagaimana mentjapainja, dia wanita jang bukan main baik hatinja, sangat perasa, tidak seperti orang lain, dia suka membela rakjat. Tak kamu kirakan apa sadja jang terdjadi dimana-mana, penganiajaan, kekedjaman, peristiwa jang mengerikan, nafsu djahat. Tak ubahnja dengan roman „Sepanjol”.
„Jang diomongkan itu Lara”, pikir Yury. Tapi dengan bidjaksana ia berdiam diri dan tak menanjakan detail. Perbandingan jang tak masuk akal tentang roman Sepanjol itu mengingatkan setjara aneh kepada sesuatu — djustru karena tak masuk akal dan tak tjotjok — namun masih sadja ia tak tahu mengapa begitu.
„Sekarang tentulah sudah lain sekali. Memang ada penggeledahan, penjelidikan, penembakan dan sebagainja. Tapi pedomannja sangat berbeda. Pertama, ini pemerintahan baru, baru sadja berkuasa, belum berdjalan dengan saksama. Dan bagaimana djuga, mereka difihak rakjat djelata, itulah kekuatannja. Dalam keluarga kami ada empat perempuan bersaudara, termasuk saja sendiri, semua punja pekerdjaan. Sudah sewadjarnja kami tjondong pada Bolsjewik. Salah seorang saudaraku meninggal. Suaminja seorang buangan politik, djadi pemuka salah satu pabrik disini. Anak mereka — djadi kemenakan saja — dia termashur sekali”.
„O, itulah dia”, Yury djadi ingat. „Bibi Liberius, ipar Mikulitsin, dia buah-tutur orang disini, mendjadi pemangkas rambut — Pendjahit — tukang wesel — mengerdjakan apa sadja!” Tapi ia tak hendak mengatakan apa-apa, agar tak membahajakan diri sendiri.
„Kemenakan saja selalu tertarik kepada rakjat, sedjak ketjilnja. Ia dibesarkan antara pekerdja-pekerdja pabrik. Barangkali pernah dengar tentang pabrik-pabrik di Varykino? — Astaga, tolol benar aku. Separoh djanggut kamu litjin, separoh lagi brewok. Akibat omong-omong. Mengapa tak kamu tjegah? Sekarang busa sabun kering dan air dingin. Saja panaskan dulu”.
Sekembalinja berkatalah Yury:
„Varykino itu bermil-mil djauhnja didusun, bukan? Tentu aman betul disana selama pergolakan ini”.
„Aman betul tidak. Dalam beberapa hal malah lebih buruk dari pada disini. Disini ada sematjam gerombolan bersendjata, tak seorangpun tahu apa sebenarnja. Bahasa mereka bukan bahasa kita. Mereka menjerbu disana, masuk tiap rumah, menembak tiap orang jang dipergoki, lantas pergi lagi, tanpa kasi salam. Majat-majat bergelimpangan sadja disaldju. Itu ketika musim-dingin tentunja. Djangan gerakkan kepala, kamu hampir kena potong”.
„Menurut kamu tadi, ipar kamu tinggal di Varykino. Apakah dia disana, waktu semua itu terdjadi?”
„Tidak. Tuhan serba rahmani. Dia beserta istri menjingkir pada waktunja — itu istrinja jang kedua. Entah dimana mereka, tapi pastilah sudah lolos. Disana ada orang-orang baru djuga, orang-orang asing dari Moskow. Mereka ini bahkan pergi lebih dulu. Lelakinja dua; jang termuda, seorang dokter, dia hilang. Itu tjara bitjaranja, tentunja, disebut sadja „hilang”, agar tak menjinggung perasaan mereka. Ia tentunja sudah tewas — pasti sudah terbunuh. Dia ditjari terus menerus, namun tak muntjul-muntjul. Sementara itu laki-laki lainnja, jang tertua antara jang dua itu, dia dipanggil pulang. Dia profesor, ahli pertanian. Kabarnja ia dipanggil pulang oleh pemerintah. Mereka semua ke Moscow, dekat sebelum kaum Putih tiba kembali. Sekarang kamu begitu lagi, menggeliat dan melondjak sadja. Kamu bikin saja benar-benar memotong lehermu nanti. Nah, uang kamu pasti tak lebih berharga dari hasil tukang tjukur kamu ini”.
Djadi mereka ada di Moscow!
7
„Di Moscow! Di Moscow!” Kata-kata ini bergema dalam hatinja pada tiap anak tangga djendjang dari besi tjoran itu, waktu ia menaikinja ketiga kalinja. Rumah petak kosong itu menjambutnja lagi dengan hiruk-pikuk dahsjat dari tikus-tikus jang lari dan turun berlomba-lomba. Bagaimanapun tjapiknja, namun jakinlah Yury tak akan dapat tidur, kalau ia tak sanggup menjingkiri kelompok jang mendjidjikkan ini. Sebelum bersiap-siap untuk malam ini, pertama-tama ia harus menjumbat lobang-lobang tikus. Untunglah dikamar tidur kurang banjak tikus dari pada dirumah petak selebihnja, dimana lapisan kaju lantai dan pinggirannja sudah lebih rusak. Tapi ia harus bergegas. Udara kian gelap. Benarlah ada lampu berdiri dimedja — barangkali untuk menjambut kedatangannja lampu ini telah diambil dari tataannja dan separohnja diisi parafin, pun ada kotak korek api dengan beberapa batang bidji korek ditinggalkan didekatnja. Namun lebih baik bidji-bidji korek dan parafin itu dihematkan. Dikamar tidur ia temukan lampu minjak ketjil; tikus-tikus telah minum minjaknja, tapi masih ada jang ketinggalan sedikit.
Pinggiran lantai terkelupas dibeberapa tempat. Diperlukannja satu djam lebih untuk mengisi rekah-rekahnja dengan beling. Pintu dapat ditutup dengan baik dan sekali ditutup, akan amanlah kamar tidur itu.
Disudut kamar ada tungku Belanda, dikelilingi bingkai tegel jang tak sampai kelangit-langit. Didapur ada seonggokan balok. Yury memutuskan hendak mentjari beberapa gendongan balok dari Lara; ia djongkok pada lutut sebelah, mengumpulkan balok-balok dan menimbangnja dilengan kiri. Dibawanja itu kekamar tidur dan dionggokkannja dekat tungku; iapun mendjenguk kedalam tungku untuk melihat bagaimana tjara penggunaannja dan keadaannja. Ia bermaksud mengantjing pintu, tapi tombolnja putus; dipasaknja itu erat-erat dengan kertas, kemudian dihidupkannja api dengan mudah sampai menjala.
Ketika ditaruhnja lebih banjak balok lagi, dilihatnja bahwa penampangnja ditandai dengan nama kependekan „LK”. Ia heran, waktu ingat apa artinja. Kalau dizaman Krueger dulu ada kaju ditolak oleh pabrik-pabrik dan didjual sebagai kaju bakar, batang-batang itu ditandai sebelum dipotong-potong, guna menundjukkan asalnja. „LK” berarti Lembah Kulabish di Varykino.
Penemuan ini mengusik pikirannja. Adanja balok-balok ini dirumah Lara berarti bahwa ia berhubungan dengan Samdevyatov dan bahwa dia ini memberinja perbekalan, seperti dulu diperbekalinja Yury serta seisi rumah dengan segala jang dibutuhkan mereka. Ia selalu merasa tak senang menerima pertolongannja. Sekarang perasaan hutang budi jang tak sedap terhadapnja itu dirumitkan lagi oleh perasaan lain.
Sulitlah untuk mengharapkan bahwa Samdevyatov menolong Lara itu melulu karena baik hati. Ia ingat sikap Samdevyatov jang bebas dan gampangan serta tabiat kewanitaan Lara jang impulsif. Antara mereka tentu ada apa-apa.
Balok-balok Kulabish jang kering itu berkerosok gembira dan bergedjolak mendjadi kebakaran besar, maka selama balok-balok ini menjala-njala, kedengkian Yury jang membuta itu berobah dari sjak wasangka mendjadi kepastian.
Namun pikirannja tersiksa dari segenap segi, maka kerusuhan jang satu menghalau kerusuhan lainnja. Ia tak perlu lagi menjisihkan ketjurigaannja, sebab pikirannja melompat kesana sini; renungan tentang keluarganja membandjiri chajalan iri hatinja serta membenamkannja.
„Djika kalian di Moscow, buah hatiku?” Ia kini mendapat kesan seolah pendjahit itu mendjamin kedatangan mereka dengan aman disana. „Djadi kamu alami lagi perdjalanan djauh itu, kali ini tanpa aku? Bagaimana tahan ditengah djalan? Mengapa Alexander Alexandrovich dipanggil pulang? Apakah ia kembali kekursinja di Akademi? Bisa kautemukan rumah kita? Bodoh benar aku! Belum lagi kuketahui apakah rumah masih berdiri. Allah, betapa sulit dan pedihnja semua ini! Asal sadja aku bisa berhenti memikir. Pikiranku tak beres. Mengapa aku ini, Tonya?
Kukira aku sakit. Apa akan terdjadi dengan kita? Apa akan terdjadi dengan kau, Tonya, Tonya, Tonya sajang? Dan Sasha? Dan Alexander Alexandrovich? Dan aku sendiri? Mengapa Kautjampakkan aku, o, Tjahaja Abadi! Mengapa kita selalu terpisah, buah hatiku? Mengapa kamu senantiasa tersingkir dari padaku? Tapi kita akan bersama lagi, kita akan ketemu, bukankah begitu, kasih? Akan kutemukan kau, sungguhpun aku harus djalan kaki sepandjang djalanku kepadamu. Kita akan berdjumpa, bersama-sama lagi, semua akan beres lagi, bukan?
„Mengapa bumi tak menelan aku, mengapa aku begitu djahat, sampai lupa selalu bahwa Tonya dulu menantikan baji dan kini tentu sudah melahirkannja? Bukan sekali ini sadja aku lupa. Bagaimana pengalamannja waktu bersalin? Yuryatin pula tempat singgahan mereka semua dalam perdjalanan ke Moscow! Memang Lara tak kenal mereka, tapi mengapa ada seorang jang tak dikenal semata-mata, tukang djahit dan penghias rambut ini jang dengar segalanja tentang mereka, sedangkan Lara tak menjebut apa-apa tentang mereka dalam suratnja? Mengapa ia tak atjuh, tak perduli begitu? Aneh djuga bahwa tak disebutnja apa-apa tentang Samdevyatov”.”
Yury kini melihat kesekeliling kamar dengan daja tanggapan baru. Semua prabot adalah kepunjaan para penjewa tak dikenal jang sudah lama pergi dan bersembunji. Tak ada milik Lara diantaranja dan dari situ tak dapat dimakluminja apa-apa tentang selera Lara. Foto-foto didindingpun kepunjaan orang lain. Betapa djuga, sekonjong-konjong ia merasa tak njaman, dipandangi oleh semua laki-laki dan perempuan ini. Prabot-prabot jang tak sedap itu bernafaskan permusuhan. Dikamar tidur ini ia merasa asing dan tak disukai.
Alangkah tololnja dulu, selalu mengenangkan dan merindukan rumah ini, alangkah tololnja memasuki kamar ini tidak sebagai inti kerinduannja kepada Lara! Menggelikan benar tjara merasa demikian ini bagi orang luar tentunja! Orang-orang jang kuat, tampan, praktis, efisien seperti Samdevyatov itu hidup, bitjara dan berbuat setjara lain sekali! Dan mengapa diharapkan bahwa Lara akan lebih menjukai kelemahannja serta bahasa tjintanja jang gelap, muram, tak njata ini? Adakah kesediaan Lara untuk mendjadi apa jang dimaknakan oleh Yury dari padanja?
Dan apa maknanja baginja? O, itu gampang! Ia maklum benar.
Malam musim semi …Udara diungkapi oleh bunji-bunji berpentjaran. Suara anak-anak main didjalanan datang dari djarak berbeda-beda, seolah menundjukkan bahwa djarak seluas udara itu hidup. Djarak ini adalah Rusia, sang ibunda tak bertara; Rusia jang ternama dimana-mana, jang sahid, gigih, luar biasa, jang adjaib dan tak bertanggung-djawab tapi terpuja, dengan segala tingkah laku jang senantiasa hebat, mentjelakakan dan tak dapat diperhitungkan. O, alangkah senangnja untuk hidup! Alangkah baiknja kalau bisa hidup dan mentjintai hidup! Alangkah inginnja ia menjatakan trimakasih pada sang hidup, pada existensi sendiri, langsung, berhadap-hadapan, berterima kasih pada udjud hidup sendiri.
Djustru begitulah Lara. Tiap kali ada pertalian dengan hidup, dialah ternjata wakilnja, ungkapannja, dialah ketjakapan untuk bitjara dan mendengar jang dihadiahkan pada machluk bisu tuli.
Dan segala hal jang barusan dipersalahkannja kepada Lara dalam saat kebingungannja tadi adalah seribu kali bohong. Lara sempurna dan tak tertjela.
Matanja sebak oleh kekaguman dan penjesalan. Sesudah membuka tungku, dikais-kaisinja apinja; disodoknja balok-balok jang habis terbakar dan sama sekali telah mendjelma suhu panas itu kebelakang, sedangkan balok-balok jang kurang menjala ditariknja kedepan, agar kena angin. Dengan membiarkan pintu terbuka, iapun duduk menghadapi api, menikmati permainan tjahaja serta kehangatan muka dan tangannja. Tjahaja dan kehangatan ini memulihkan otak sehatnja. Rindunja pada Lara tiada tertahankan; ia ingin memiliki sesuatu jang dapat menghubungkannja dengan dia pada saat itu djuga.
Dirogohnja suratnja jang kumal itu dari saku. Surat itu terlipat, hingga halaman sebelah belakang jang sudah dibatjanja itu merupakan halaman luar, dan kini dilihatnja ada sesuatu tertulis didalamnja. Setelah dilitjinkannja, surat itupun dibatjanja, disinari tjahaja api jang menari-nari:
„Kau tahu keluargamu ada di Moscow. Tonya melahirkan anak perempuan”. Sesudah itu ada beberapa baris jang ditjoret, kemudian: „Kutjoret, sebab tulisan ini menggelikan. Bila kita ketemu, kita akan omong-omong sepuas hati. Aku lari keluar, harus mendapat kuda. Apa mesti kubuat tanpa kuda? Katya menjulitkan aku …” Sisa kalimat itu kotor dan tak terbaca.
„Kuda itu didapatnja dari Samdevyatov”, pikir Yury tenang-tenang. „Andaikata ada jang perlu disembunjikannja, tak akan disebutnja”.
8
Sesudah api tak menjala lagi, Yury menutup pipa asap, lalu makan. Kemudian ia ngantuk sekali, hingga berbaring didipan tanpa menanggalkan pakaian, lantas tidur njenjak. Keributan tikus-tikus jang keras dan kurang adjar dibelakang dinding-dinding dan pintu tak sampai kepadanja. Ia mimpi buruk dua kali berturut-turut.
Ia di Moscow dalam sebuah kamar berpintu katja. Pintu terkuntji. Supaja lebih terdjamin lagi, tombol pintu digenggamnja dan ditariknja. Sasha, anaknja jang ketjil itu dengan memakai pakaian dan pitji kelasi, memukul-mukul dibalik pintu; ia menangis sehabis-habisnja dan meminta supaja dimasukkan. Dibelakang sianak ada air terdjun jang membasahinja dan mengabuti pintu dengan tjipratannja. Bunjinja menggunjur dahsjat. Air itu barangkali tertjurah dari pipa petjah (kedjadian biasa dewasa itu), ataupun pintu tadi merupakan rintangan terhadap sesuatu daerah jang tandus, djurang dipegunungan penuh bunji sungai jang mengamuk serta hawa dingin lagi gelap digua-gua jang seribu tahun umurnja.
Gemuruh tumpahan air itu menakutkan sianak. Suaranja terbenam olehnja, namun Yury berkali-kali melihat dia hendak menjerukan perkataan: „Ajah!”
Patahlah hati Yury. Dengan seluruh djiwanja ia ingin memungut anaknja, memeluknja dan membawanja lari lintang pukang.
Tapi, dengan air mata bertjutjuran dimukanja, ia terus sadja memegang tombol pintu dan menekankan ketubuhnja, maka dihalanginja anak itu, tiada diberinja hati, dan ini disebabkan rasa hormat jang tak wadjar, rasa kewadjiban tak wadjar kepada perempuan lain jang bukan ibu sianak, jang setiap saat bisa masuk kamar lewat pintu lain.
Ia bangun bersimbah peluh dan air mata. „Aku panas, aku sakit”, pikirnja. „Ini bukan tiphus. Ini sedjenis kelelahan dalam bentuk penjakit berbahaja, penjakit jang disertai krisis; tak ada bedanja dengan penjakit menular jang berat dan aku hanja dapat menunggu mana jang akan menang, hidup atau maut. Tapi aku terlalu ngantuk, tak mampu berfikir”. Iapun rebah untuk tidur lagi.
Kini ia mimpi tentang pagi musim-semi jang kelam; lampu-lampu menjala dan ia ada disuatu lebuh di Moscow jang ramai. Menilik lalu-lintas dinihari, trem-trem jang lontjengnja menggerintjing serta bentjah-bentjah penuh tjahaja lampu kuning atas saldju abu-abu dilebuh jang disinari fadjar itu, maka waktu itu adalah sebelum revolusi. Ia mimpikan rumah petak besar dengan banjak djendela, semuanja disatu segi rumah, agaknya tak lebih tinggi dari loteng ketiga, tirai-tirainja ditutup dan sampai kelantai.
Didalam rumah ada orang-orang tidur bergelimpangan, berpakaian lengkap seperti dalam deresi keretaapi; kamar-kamarpun tak terurus seperti deresi keretaapi, dikotori banjak kaki dan sajap ajam panggang separoh termakan beserta sisa-sisa makanan darmawisata lainnja, berserakan atas sobekan kertas koran jang berminjak, sepatu-sepatu jang untuk malam itu ditanggalkan oleh sebanjak itu teman, dan sanak saudara, tamu dan orang tak berumah jang berlindung dirumah petak ini, berdiri berpasang-pasang dilantai. Njonja rumahnja, Lara, dalam hoskut jang buru-buru dikenakannja, bergerak tjepat dan diam-diam dari kamar kekamar, tergesa melakukan tugasnja; Yuri mengikutinja selangkah demi selangkah, menggumamkan dengan lesu keterangan-keterangan jang tak pada tempatnja, dan pada umumnja ia mengganggu belaka. Tapi Lara tak punja waktu sesaatpun lagi untuknja, tak menghiraukan kumat-kamitnja, selain berpaling padanja satu dua kali dengan pandangan tenang jang mengandung pertanjaan, ataupun ia ketawa gelak-gelak dengan njaring dan terus-terang, tak dapat ditiru.
…Inilah satu-satunja bentuk perhubungan jang masih ada antara mereka. Tapi alangkah djauh dan dingin perempuan ini jang daja-tariknja tak terelakkan, jang untuknja telah ia korbankan segala miliknja, jang dipilihnja atas segala hal; dan dibanding dengannja tak adalah jang berharga!
9
Sesuatu diluar dirinja menangis dan meratap dalam dirinja, bersinar dengan kata-kata lembut dalam kelam. Djiwanja merasa sedih untuknja dan diapun pedih untuk diri sendiri.
„Aku sakit”, demikian ingatannja antara tidur, igauan dan pingsan. „Achirnja aku memang sakit tiphus. Agaknya sedjenis tiphus jang chas, tak disebut dalam buku peladjaran. Kalau aku tak dapat mengambil makanan sendiri, aku akan mati kelaparan”.
Tapi ketika ia meluruskan diri dengan sikut, sadarlah ia bahwa ia tak mampu bergerak, lantas pingsanlah ia atau tertidur.
„Berapa lama aku sudah terbaring disini? Aku mula-mula tidur didipan, musim semi baru tiba, tapi kini djendela tebal oleh embun beku, sampai kamar gelap sekali”.
Tikus-tikus ribut didapur, membuat pantji-pantji berdentangan, lari naik tembok, berdjatuhan dan mentjitjit-tjitjit dengan suara alt jang memuakkan dan beriba-iba.
Tatkala ia bangun lagi, djendela-djendela bersaldju itu penuh tjahaja fadjar atau magrib, berkemilau seperti anggur merah dalam gelas hablur.
Sekali ia mendengar suara-suara didekatnja, maka terkedjutlah ia, menjangka bahwa ia djadi gila. Dengan menangis karena menaruh kasihan pada diri sendiri, iapun mengeluh bahwa Tuhan telah meninggalkannja. „Mengapa Kautjampakkan aku, o, Tjahaja Abadi, dan Kaulemparkan aku dalam kegelapan neraka?”
Sekonjong-konjong sadarlah ia bahwa ia tak mimpi atau gila, tapi sebenar-benarnja ia telah terseka dan memakai kemedja bersih; ia terbaring pula tidak diatas dipan, melainkan dalam randjang jang baru dikemaskan, pun ada orang jang menangis bersama dia, duduk disisinja, melentikkan diri kepadanja, rambutnja bertjampuran dengan rambutnja, air matanja djatuh bersama air matanja, itulah Lara: maka iapun pingsan, akibat girangnja.
10
Tadi ia mengeluh bahwa ia terlempar dari sorga, tapi kini seluruh sorga dengan leluasa mengambang rendah atas randjangnja, mengulurkan dua belah lengan putih wanita jang kuat kepadanja. Kepalanja melajang dalam kegembiraan, ia hanjut oleh kebahagiaan, seolah mabuk kepajang.
Seluruh hidupnja ia bergiat, mengerdjakan apa-apa dirumah-tangga, merawat orang sakit, berpikir, beladjar, mengarang. Senang benar kalau tak berbuat apa-apa, tak bergulat, tak berpikir lagi! — menjerahkan semua itu untuk sementara kepada alam, agar mendjadi milik dan kepentingan alam, karja tangannja jang rahmani, menakdjubkan, melimpahkan keindahan itu.
Ia segera sembuh. Lara memberinja makanan, merawatnja, membinanja dengan penuh minat, dengan kemolekannja seputih saldju, dengan nafas hajati jang hangat dalam kata-kata berbisik.
Meskipun omongan mereka jang lembut itu tiada penting, namun penuh arti seperti „Dialog-dialog” Plato.
Mereka dipersatukan, bukan terutama oleh persamaan mereka dengan dunia selebihnja, melainkan oleh perbedaan dengannja. Kedua-duanja mendjauhkan diri dari tjiri berdukatjarita dalam manusia modern, dari kekagumannja serba ribut terhadap buku peladjaran, semangatnja jang terpaksa-paksa serta kedunguan buntu jang dengan penuh rasa tanggung-djawab dichotbahkan dan dilaksanakan oleh orang tak berbilang banjaknja jang berusaha dibidang seni dan ilmu, supaja seorang mahasukma tetap djarang adanja.
Tjinta mereka besar. Kebanjakan manusia mengalami tjinta, tanpa sadar bahwa tjintanja mengandung keagungan.
Bagi mereka — dan ini menjebabkan kelainan mereka — saat-saat ketika tjinta berahi mengundjungi kehidupan insani jang terantjam itu laksana nafas keabadian, adalah saat-saat pengenalan rahasia jang memberi pengertian lebih luhur tentang hidup dan tentang mereka sendiri.
11
„Tentu sadja kau harus pulang pada keluargamu. Aku tak ingin menahan kau satu hari lebih dari jang diperlukan. Tapi tengoklah apa jang sedang berlaku. Kau tak tahu ada perbedaan besar terdjadi, selama kau sakit. Kita kini mendjadi sebagian dari Rusia Sovjet dan tertelan dalam desintegrasinja. Semua perbekalan kita dikirim ke Moscow — bagi mereka ini hanja setetes dalam lautan, jang bertruck-truck itu hilang lenjap belaka dalam sumur tak berdasar — dan sementara itu tak ada tertinggal untuk kita. Tak ada pos, tak ada pengangkutan manusia, semua kereta-api digunakan untuk gandum. Jang menggerutu dikota banjak sekali, seperti sebelum pemberontakan Gayda, dan sekali lagi Cheka mengamuk sebagai djawaban atas ketidak puasan umum ini.
„Kau tak sanggup bepergian, terlalu lemah. Tulang belulang belaka! Kau benar-benar berpendapat akan bisa djalan kaki? Kau tak bakal sampai kesana. Kalau sudah lebih kuat nanti, itu lain sekali.
„Kalau mau terima nasehatku, tjarilah pekerdjaan untuk sementara. Gunakan keahlianmu sendiri — itu disukai orang. Barangkali boleh bekerdja pada dinas kesehatan daerah.
„Kau harus berbuat sesuatu. Keadaanmu sekarang tak begitu baik — Ajahmu dulu djutawan Siberia jang bunuh diri, istrimu putri tuan tanah setempat dan kau pelarian dari tentara partisan. Tak dapat kausembunjikan — kautinggalkan barisan tentara revolusioner — itu mirip dengan desersi. Bahaja bagimu, kalau tak punja pekerdjaan. Keadaanku sendiripun tak djauh lebih baik. Akupun harus mengerdjakan apa-apa. Sekarang aku diatas gunung berapi”.
„Apa maksudmu? Apa kabar Strelnikov?”
„Djustru dialah sebabnja. Dulu kukatakan padamu betapa banjak musuhnja. Sekarang Tentara Merah menang, maka pedjoang-pedjoang jang terlalu mendekati puntjak dan terlalu banjak tahu ini tammatlah riwajatnja. — Masih untung, kalau hanja dikeluarkan dan tidak disapu bersih. Terutama Pasha mudah kena, ia menghadapi bahaja besar. Kau maklum, ia pergi ke Timur. Kudengar ia melarikan diri dan sembunji. Ia diburu-buru. Tapi kita diamkan sadjalah ini. Aku tak suka menangis dan kalau aku terus bertjerita, aku jakin akan melolong”.
„Dulu kau sangat tjinta padanja. Sekarang masih?”
„Ah, kekasih, aku kawin dengannja, dia suamiku. Kepribadiannja hebat, tulus, bertjahaja. Aku salah besar, bahwa perkawinan kami gagal. Bukannja kau pernah menjakiti hatinja, tak benarlah kalau disebut begitu. Tapi dia istimewa, dia besar, dia sempurna sekali — sedangkan aku bukan apa-apa, aku tak berarti kalau dibanding dengan dia. Disitu letaknja kesalahanku. Tapi djangan kita sebut-sebut lagi hal itu sekarang. Lain kali kutjeritakan lebih banjak. Aku djandji.
„Tonyamu tjantik betul. Seperti potret karja Botticelli. Aku bersama dia, waktu ia bersalin. Kami berteman baik sekali. Tapi inipun hendaknja kita biarkan sadja saat ini!
„Kukatakan tadi, mari kita berdua tjari pekerdjaan. Tiap pagi kita pergi bekerdja dan pada achir bulan kita kumpulkan gadji kita berbiljun-biljun rubel. Maklumlah, sampai waktu paling belakang ini uang kertas Siberia jang lama masih laku. Lalu dibatalkan, maka lama sekali, selama kau sakit, kita tak punja alat pembajaran sama sekali! Betul! Tjoba bajangkan! Namun bisa tahan djuga dan kini kabarnja sudah tiba uang kertas baru, satu kereta-api penuh, sedikitnja empatpuluh truck! Tertjetak dikertas besar, dua warna, merah biru, terbagi dalam kotak-kotak ketjil. Kotak biru masing-masing berharga lima djuta rubel, jang merah sepuluh djuta. Pentjetakannja djelek, luntur dan warnanja pudar”.
„Ja, sudah kulihat uang demikian. Diedarkan di Moscow, dekat sebelum kami pergi”.
12
„Mengapa kau lama di Varykino? Ada orang disana? Kusangka tak seorangpun ada disitu, kusangka kosong sama sekali. Apa sebab kau menetap selama itu?”
„Katya dan aku kesana membersihkan rumahmu. Kupikir, kau akan kesana pada saat kedatanganmu, dan aku tak mau kau melihat rumahmu dalam keadaan begitu”.
„Bagaimana keadaannja? Buruk sekali?”
„Tak terurus, kotor; kami bereskan semua”.
„Djawabanmu pendek dan tak terus terang! Rupanja ada jang tak mau kausampaikan padaku. Tapi biarlah, tak kutjoba mendesak padamu. Tjeritakan tentang Tonya. Sigadis ketjil itu siapa namanja?”
„Masha, untuk mengenangkan ibumu”.
„Tuturkan semua mengenai mereka”.
„Djangan sekaranglah. Sudah kukatakan, masih belum sanggup aku menjebutnja, tanpa menangis”.
„Samdevyatov jang memindjami kau kudanja, dia menarik hati, bukan?”
„Sangat menarik”.
„Kukenal baik sekali. Waktu kami tinggal disana, ia keluar-masuk rumah sadja. Semuanja pengalaman baru bagi kami dan dia bantu membereskan tempat kediaman kami”.
„Aku tahu, dia tjeritakan itu”.
„Tentu ia berdjasa djuga padamu? Kau sering ketemu dia?”
„Ia benar-benar menghudjani aku dengan budi baik! Tanpa dia entah apa harus kubuat!”
„Dapat kubajangkan! Dan kukira kamu berdua teman baik dan dia datang sesuka-sukanja!”
„Selalu! Memang!”
„Dan kausukai dia? Maaf. Mestinja tak kutanjakan itu. Tak ada hakku menanjai engkau. Itu terlandjur! Maaflah”.
„O, tak djadi apa. Kukira jang kaumaksud sebetulnja, bagaimana hubungan kami? Adakah apa-apa antara kami selain persahabatan? Tentu tak ada! Tak terhitunglah apa jang dibuatnja untukku; bukan main hutang budiku padanja, tapi andaikata ia berikan emas seberat badanku, andaikata ia berikan njawanja sendiri, itu selangkahpun tak membawaku lebih dekat kepadanja. Laki-laki sematjam dia tak pernah kusukai, sama sekali tak ada persamaannja dengan aku. Orang-orang jang penuh akal, pertjaja diri dan berkuasa ini — dalam hal jang praktis mereka tak ternilai, tapi dalam hal perasaan tak ada jang lebih mengerikan dari sifat kelaki-lakian jang puas diri dan kurang sopan itu! Bukan begitulah gagasanku tentang hidup dan tjinta! Sebenarnja Anfin ini sebagai manusia mengingatkan aku pada orang lain, jang djauh lebih memualkan lagi. Orang inilah jang menjebabkan aku mendjadi jang sekarang ini”.
„Aku tak mengerti. Kauanggap dirimu apa? Apa jang kaupikir? Djelaskan. Kaulah orang terbaik didunia”.
„Kau sampai hati, Yury sajang? Aku bersungguh hati, tapi kau memudji-mudji aku, seolah kita duduk dalam salon. Apakah aku ini? Ada jang patah dalam diriku, ada jang patah dalam seluruh hidupku. Kutemukan hidup terlalu pagi sekali, aku ditakdirkan menemukannja dan aku ditakdirkan melihatnja dari segi paling buruk — dalam udjudnja jang murah dan tjatjat — melalui mata seorang brandal jang landjut usia. Dia salah satu egois jang tak guna dan puas diri dari zaman lampau, jang mentjari untung dari segala hal dan mengambil apa sadja jang mereka inginkan”.
„Aku agaknya mengerti. Kukira ada sesuatu tadinja. Tapi tunggu dulu. Dapat kubajangkan penderitaan sebagai kanak-kanak, penderitaan jang djauh mengatasi umurmu, kegontjangan dalam pengalamanmu, rasa kenistaan gadis remadja. Tapi itu sudah lampau semua. Jang kumaksud, bukan kaulah jang harus merasa sedih tentang ini, melainkan orang-orang jang sajang padamu, seperti aku. Akulah jang seharusnja mentjabut-tjabut rambutku, sebab aku tak hadir untuk mentjegahnja, kalau itu memang membuatmu sedih. Aneh: Kurasa aku hanja bisa irihati — irihati dengan nafsu jang berbahaja sekali — terhadap orang jang kunadjiskan dan jang tak ada persamaannja denganku. Seorang lawan jang dapat kuhargai, menimbulkan rasa lain padaku. Kukira, kalau seorang laki-laki jang kufahami dan kusukai djatuh tjinta pada perempuan jang kutjintai, aku tak akan merasa sedih atau ingin berkelahi dengannja; akan kurasa ada sematjam persaudaraan penuh dukatjita dengannja. Tentulah sama sekali tak kuinginkan untuk membagi wanita jang kutjinta. Tapi akan kulepaskan dia dan penderitaanku lain dari irihati — tak begitu menjajat dan geram. Kira-kira sama, kalau kutemukan seorang seniman jang mengerdjakan hal jang sama dengan jang kukerdjakan, dengan lebih berhasil. Boleh djadi kulepaskan daja-upajaku sendiri, sebab tak mau mentjontoh karjanja; tak ada gunanja berusaha terus, kalau hasil usaha dia lebih bagus.
„Tapi bukan itulah jang kita bitjarakan. Mungkin tjintaku padamu tak sebesar ini, seandainja tak ada jang perlu kaukeluhkan dan kausesalkan. Tak kusukai orang jang tak pernah djatuh atau tergelintjir. Pekerti mereka tiada berhajat, pun tak bernilai tinggi. Penghidupan belum mendjadjikan keindahannja pada mereka!
„Keindahan inilah jang kugagas. Kupikir, untuk menangkap itu daja chajal kita harus murni, pemandangan kita harus kekanak-kanakan. Itulah jang tak kumiliki. Seandainja tidak dari semula pendapatku tentang hidup sudah ditjap oleh pendirian orang lain jang murah belaka, mungkin aku punja pendapat sendiri dulu. Dan tak hanja itu. Karena sedjak mulanja penghidupanku diserbu oleh kehampaannja jang serakah dan tak bersusila itu, maka ketika aku kemudian kawin dengan lelaki jang betul-betul berdjiwa besar dan luar biasa serta membalas tjintaku, rusak binasalah perkawinanku”.
„Tunggu sebentar, sebelum kau bertjerita tentang suamimu. Aku tak dengki padanja. Kukatakan tadi, aku hanja bisa dengki terhadap jang kurang dari padaku. Tjeritakan dulu tentang orang lain itu”.
„Jang mana?”
„Jang djahat itu. Jang merusak hidupmu. Siapa dia?”
„Pengatjara di Moscow jang agak terkenal. Teman ajahku. Waktu ajah meninggal dan kami serba kesusahan, dia bantu ibuku. Ia kaja dan tak beristri. Dengan melukiskan dia sehitam itu mungkin kubikin dia djauh lebih interesan dari pada sebenarnja. Pada hal dia ordiner semata-mata. Kalau perlu, kusebut namanja”.
„Tak usah. Aku sudah tahu. Pernah kulihat dia”.
„Betul?”
„Malam hari dihotelmu, waktu ibumu minum ratjun. Malam sudah larut. Kau dan aku masih bersekolah”.
„O, kuingat. Kau bersama orang lain. Kau berdiri dalam gelap dibangsal depan. Kalau tak kausebut, mungkin tak kuingat, tapi agaknya pernah kausebut itu, barangkali di Melyuzeyevo”.
„Komarovsky disitu waktu itu”.
„Betul? Mungkin sekali. Mudah kaudjumpai aku dengan dia. Kami sering bersama-sama”.
„Mengapa kau merah padam?”
„Sebab mendengar nama Komarovsky disebut olehmu. Aku tak biasa lagi mendengarnja, aku kaget tadi”.
„Ada teman sekolah jang datang bersama aku malam itu; beginilah tuturnja. Dia ingat Komarovsky itu pernah dilihatnja dalam keadaan luar-biasa sekali. Pemuda ini, Misha Gordon, dalam suatu perdjalanan ketika masih kanak-kanak menjaksikan pembunuhan diri ajahku — industrialis djutawan. Mereka dalam keretaapi jang sama. Ajah melompat dari keretaapi jang bergerak itu untuk mengachiri hidupnja; ia tewas. Dalam perdjalanan itu ajah ditemani Komarovsky jang mendjadi pengatjaranja. Dialah jang menjebabkan ajah minum, dia kutjar-katjirkan perusahaannja, membawa dia dalam keadaan bangkrut dan membuatnja bunuh diri. Karena dialah ajahku bunuh diri dan aku djadi jatim”.
„Masja Allah! Luar-biasa! Bisa begitu? Djadi dalam hidupmupun ia membawa dukatjarita. Dengan begitu kita malah tambah rapat, bukan? Seolah sudah ditakdirkan!”
„Pada orang inilah aku akan selalu irihati setjara gila, tak dapat disembuhkan”.
„Bagaimana kau dapat bitjara begitu? Bukannja karena aku tak tjinta padanja, aku djidjik padanja”.
„Kau dapat mengenal dirimu sedjauh itu? Kodrat manusia penuh rahasia, penuh pertentangan. Barangkali ada sesuatu dalam rasa djidjikmu itu jang mengikat dirimu kepadanja lebih erat dari kepada orang lain jang kautjinta menurut kemauanmu sendiri, tanpa paksaan”.
„Alangkah mengerikan! Dan seperti biasanja, tjaramu mengemukakan itu membuat aku merasa, bahwa hal jang dahsjat dan tak fitri ini barangkali benar. Tapi kalau benar, betapa kedjinja!”
„Djangan takut. Djangan dengarkan aku. Maksudku hanjalah bahwa aku irihati terhadap jang gelap, jang tak sadar, hal jang tak dapat kita hubungi, jang tak dapat kita terka. Aku dengki pada sikat rambutmu, pada titik-titik peluh dikulitmu, pada kuman-kuman diudara jang kauhirup jang bisa masuk kedarahmu dan meratjunimu. Begitu pula setepat-tepatnja, seolah ia penjakit menular, akupun dengki pada Komarovsky jang suatu hari akan membawamu dari padaku, pasti seperti maut akan mentjeraikan kita suatu waktu. Memanglah kedengarannja seperti omong kosong besar jang katjau, namun tak dapat kusebut lebih djelas. Kutjinta kau diluar segala pikiran, ingatan atau ukuran”.
13
„Tjeritakan lebih landjut tentang suamimu. Dialah „Jang tertjatat bersamaku dalam kitab derita murung”. Itu Shakespeare”.
„Dimana ia katakan itu?”
„Dalam Romeo dan Julia”.
„Sudah banjak kutjeritakan padamu di Melyuzeyevo waktu kutjari dia, kemudian disini, waktu kudengar bagaimana anak-buahnja menangkapmu, lalu membawamu kekeretaapinja. Barangkali kutjeritakan djuga atau mungkin kusangka sadja begitu — bagaimana kulihat dia dari djauh, ketika ia naik keretanja. Tapi dapat kaubajangkan, berapa banjak pengawal mengerumuni dia! Nampaknja hampir tak berobah. Masih sadja mukanja tampan, djudjur, tak ragu-ragu, muka paling djudjur jang kulihat seumur hidup. Wataknja tetap djantan, lurus, tak ada jang dibikin-bikin, tak ada main sandiwaranja. Namun ada djuga perbedaannja jang memberatkan hatiku”.
„Seakan ada abstraknja dalam ungkapannja — itu membuatnja tak berwarna. Seakan muka manusia hidup telah mendjadi perpribadian sesuatu prinsip, gambaran sesuatu gagasan. Bukan main sedihku, waktu kulihat itu. Sadarlah aku bahwa hal ini terdjadi karena ia telah menjerahkan diri pada sesuatu jang luhur, namun mematikan dan tak kenal kasihan, jang kesudahannja akan membinasakan dia. Kudapat kesan bahwa ia ditandai oleh sesuatu alamat dan itulah alamatnja. — Tapi barangkali aku bingung sadja. Barangkali aku terpengaruh oleh utjapanmu, ketika kaulukiskan pertemuanmu dengannja. Betapa djuga, lepas sama sekali dari perasaan antara kita, aku terpengaruh olehmu dalam banjak hal!”
„Tjeritakan tentang hidupmu dengan dia sebelum revolusi”.
„Dari dulu, sedjak aku masih kanak-kanak, aku terharu sekali oleh kemurnian, itu menarik sekali bagiku. Pasha memenuhi hasrat ini. Kau maklum, kami boleh dikatakan dibesarkan dirumah jang sama — Pasha, Galiullin dan aku. Ketika masih ketjil, Pasha tergila-gila padaku. Biasanja ia merah padam atau mendjadi putjat, kalau melihat aku. Boleh djadi tak baiklah aku bitjara sematjam ini, tapi kurang baik lagi rasanja kalau aku pura-pura tak tahu. Padanja ada nafsu kekanak-kanakan jang melingkupi segala-galanja; itu disembunjikan oleh sianak, sebab oleh tinggi hatinja ia tak hendak memperlihatkannja, tapi dengan satu kali melihat mukanja sadja tahulah kita segala-galanja. Kami amat sering ketemu. Kalau kau dan aku banjak persamaannja, maka dia dan aku sangat berbeda. Disana dan ketika itulah dia mendjadi pilihan kalbuku. Kuputuskan, bila kami tjukup tua, akan kupersuami anak jang memikat hati ini, maka dalam gagasanku aku bertunangan dengan dia”.
„Kau maklum bahwa bakat-bakatnja luar-biasa! Ajahnja hanja tukang wesel biasa atau tukang djaga kereta-api, entah jang mana, tapi dengan otaknja dan dengan kerdja keras melulu, Pasha dapat mentjapai — aku hendak mengatakan tingkatan — namun lebih tepat disebut puntjak dari pengetahuan akademi dalam dua mata peladjaran — seni klasik dan matematika! Itu bukan sembarangan, bukan?”
„Tapi kalau kamu saling mentjintai, apakah jang tak beres dalam perkawinan kamu?”
„Itu bukan main sulitnja untuk didjawab. Kutjoba menerangkannja. Tapi bagiku tiadalah masuk akal bahwa perlu kuberi pendjelasan pada kau jang begitu bidjak tentang apa sedang terdjadi dengan hidup insani pada umumnja, tentang penghidupan di Rusia dan mengapa banjak keluarga sampai petjah belah, termasuk keluargamu dan keluargaku. Demi Allah, soalnja bukanlah soal perseorangan, soal persamaan atau perbedaan watak, tjinta atau tak tjinta! Segala sesuatu jang telah berdiri, telah terurus, segala hal mengenai rumah-tangga dan tata-tertib dan jang mendjadi kepunjian umum, sudah lebur djadi debu, tersapu bersih dalam pergolakan umum serta pembinaan kembali seluruh masarakat. Seluruh tjara hidup manusia sudah runtuh binasa. Jang tinggal hanjalah djiwa bugil manusia jang menggigil, ditelandjangi sampai sobekan terachir, tenaga djiwa insani jang tak mengalami perobahan sedikitpun, sebab dia senantiasa kedinginan dan menggigil dan meraih-raih ketetangga terdekat jang djuga kedinginan dan sebatangkara. Kau dan aku tak ubahnja dengan dua manusia pertama dibumi jang pada awal dunia tak punja apa-apa untuk berlindung — kesudahannja, kau dan akupun telandjang pula dan tak punja tempat untuk menghuni. Dan kau dan aku adalah sisa penghabisan dari keagungan tak teradjuk jang telah ditjiptakan didunia selama tahun beribu-ribu antara zaman mereka dan zaman kita, maka untuk mengenangkan segala keindahan jang sudah hilang itulah kita hidup dan bertjinta dan meratap dan saling merapatkan diri”.
14
Ia diam sedjurus, kemudian meneruskan lebih tenang:
„Tjamkan. Apabila Strelnikov mendjelma Pasha Antipov kembali, djika sang waktu berbalik; djika berkat sesuatu mudjizat, entah dimana, kulihat djendela dirumah kami bertjahaja dan kulihat lampu menjinari medja dan buku Pasha, sungguhpun diudjung bumi — aku akan merangkak-rangkak kesitu. Tiap bagian dalam diriku akan membuka diri. Aku tak sanggup bertahan terhadap panggilan zaman lampau, panggilan kesetiaan hati. Tak ada jang tak mau kukorbankan, betapapun berharga. Bahkan kau. Bahkan tjinta kita jang begitu bahagia, wadjar dan mendjadi sebagian dari diriku. O, maafkan! Tak kumaksudkan begitu. Tak benar!”
Ia merebahkan diri dalam pelukan Yury sambil menangis. Tapi tjepat sekali ia menguasai diri dan seraja mengusap air matanja berkatalah ia:
„Bukankah panggilan kewadjiban itu pula jang mendorongmu kembali ke Tonya? O, Tuhan, alangkah nista kita! Apa djadinja dengan kita? Apa mesti dibuat?”
Ketika tenang kembali, ia menjambung:
„Tapi belum kudjawab pertanjaanmu tentang apa jang meremukkan kebahagiaan kami. Baru kemudian aku mulai mengerti sedjelas-djelasnja. Dengarkan. Ini bukan tjerita tentang kami sadja. Telah mendjadi nasib banjak orang lain lagi”.
„Tjeritakanlah, kekasihku jang bidjak”.
„Kami kawin dua tahun sebelum perang. Kami baru mulai hendak hidup untuk kami sendiri, baru mendirikan rumah-tangga, ketika perang petjah. Aku jakin kini bahwa peranglah biang keladi dari segala-galanja, dari segenap kesengsaraan berikutnja dan mengedjar-ngedjar angkatan kita, sampai kini. Aku ingat betul bagaimana keadaannja, waktu aku masih ketjil. Aku masih ingat suatu masa, ketika tiap kita menerima harapan untuk perdamaian jang terkandung dalam abad lampau. Sudah sewadjarnjalah orang menuruti otak sehat, berbuat menurut hati nurani adalah benar dan fitri. Mati oleh tangan orang lain adalah peristiwa jang djarang terdjadi, jang ketjuali, sesuatu jang terlepas dari kebiasaan. Pembunuhan terdjadi dalam sandiwara, surat-kabar dan tjerita detektif, tidak dalam kehidupan sehari-hari.
„Dari tjara hidup jang terbatas, tenang tak berdosa ini lantas ada lontjatan kepada darah dan air mata, kepada kegilaan besar-besaran dan kepada kebuasan penjembelihan berhadiah jang sah, terdjadi sehari-hari, sedjam demi sedjam.
„Aku tak pertjaja, hal ini akan luput dari hukuman. Tentunja kau lebih ingat dari pada aku, asal mula desintegrasi itu, bagaimana segala hal sekali gus runtuh — kereta-api dan persediaan makanan dalam kota, pembentukan kehidupan dirumah dan ukuran achlak setjara sadar”.
„Teruslah. Kutahu apa jang kaukatakan berikutnja. Tepat benar pembahasanmu! Senanglah mendengarkan kau”.
„Ketika itulah kepalsuan masuk dinegeri kita Rusia. Ketjelakaan besar, akar dari segala kedjahatan jang mendjelang, adalah hilangnja kepertjajaan pada nilai pendapat orang seorang. Orang berchajal bahwa menuruti selera susilanja sendiri adalah kolot, bahwa semua mesti menjanji lagu jang sama dalam paduan suara dan hidup dengan pendapat orang lain, pendapat jang didjedjalkan dalam kerongkongan tiap orang. Maka timbullah kekuasaan sembojan jang kilau-kemilau, mula-mula berdjiwa tsarisme, kemudian revolusioner.
„Penjakit masarakat ini mendjadi wabah. Menular. Segala sesuatu dihinggapinja, tak ada jang dilewatinja. Dirumah sendiripun tak dapat kita hindari pengaruhnja. Dikandungnja anasir ketidak-benaran. Sebelum itu orang selalu fitri dan spontan, tapi kini mulai bersikap muluk-muluk setjara sinting satu sama lainnja. Dalam pertjakapan menjusup unsur-unsur jang dibikin-bikin, dipaksa-paksakan, untuk pameran belaka — orang merasa harus pintar dengan tjara tertentu tentang objek-objek penting tertentu mengenai dunia. Mengapakah Pasha jang pandai membeda-bedakan sesuatu, jang banjak bersjarat terhadap diri sendiri dan dengan tepat bisa memisahkan realitet dari bajangan itu, mengapa ia sampai tak mampu melihat kepalsuan jang telah mendjelma dalam penghidupan kita?
„Namun disitulah dibuatnja kesalahannja jang tjelaka dan kedji. Semangat zaman, penjakit masarakat jang umum itu disangkanja penjakit seorang dan penjakit rumah-tangga. Dia dengarkan segala klise, segala nada resmi jang tak fitri itu; dan kalau kita bitjara seperti ini disangkanja itu karena dia manusia kelas kambing, karena dia tak berarti. Kupikir, tak akan masuk akalmu bahwa jang remeh-temeh dan kosong-melompong ini mempunjai arti sebanjak itu dalam penghidupan kami sebagai suami istri. — Tak dapat kaubajangkan betapa pentingnja itu, betapa berkat omong kosong kekanak-kanakan itu ia berbuat jang bukan-bukan.
„Tak ada jang menjuruh dia kepeperangan, ia pergi karena menjangka mendjadi beban bagi kami, sehingga kami akan bebas dari padanja. Itulah permulaan segala kegilaannja. Disebabkan sematjam keriahan dewasa jang disalahgunakan, ia sakit hati terhadap hal-hal jang tak usah dihadapi setjara begitu. Ia ngambek terhadap perdjalanan kedjadian-kedjadian. Ia berselisih dengan sedjarah. Sampai sekarang ia masih mentjoba membalas dendam kepada sedjarah. Itulah jang menjebabkan dia mengantjam-antjam setjara tak sehat. Ambisi jang bodoh inilah menghalaunja kemaut. Allah, bagaimana dapat kutolong dia?”
„Murni dan kuatlah tjintamu kepadanja. Terus tjintailah dia. Aku tak irihati. Tak kurintangi engkau”.
15
Tak terasa, musim-panas tiba dan lewat. Yury sembuh dan dengan maksud hendak ke Moscow ia melakukan bukan hanja satu, tapi tiga pekerdjaan sementara. Karena harga uang tjepat turun, sulitlah untuk mentjukupi kebutuhan.
Tiap pagi ia bangun waktu ajam berkokok, keluar dari rumah dan berdjalan di Djalan Pedagang, lewat bioskop „Raksasa” sampai bekas pertjetakan Tentara Kosak Ural jang kini ganti nama Penata-Huruf Merah. Disudut Djalan Gorodskaya, pintu gedung kotapradja bertulisan „Pengaduan”. Ia melintasi pelataran, berbelok ke Djalan Buyanovka, menudju kerumah sakit dan masuk pintu-belakang bagian pasien luar dari Seksi Tentara, tempat ia bekerdja. Inilah pekerdjaan utamanja.
Sebagian besar djalannja dari rumah Lara kerumah sakit diteduhi bajangan pohon-pohon jang memajung; lewat rumah-rumah kaju ketjil jang gandjil, dengan atap terdjal, pintu berhias serta pola-pola ukiran dan lukisan disekitar djendela. Rumah disebelah rumah sakit jang berdiri ditamannja sendiri, adalah warisan dan tempat kediaman djanda pedagang Goreglyadov. Dinding-dindingnja penuh dengan tegel-tegel berlapis katja jang dipotong dengan intan seperti rumah „boyar” jang kuno di Moscow.
Tiga atau empat kali selama pekan jang sepuluh hari itu Yury menghadiri rapat-rapat pengurus Dinas Kesehatan Yuryatin di Djalan Myassky.
Diudjung lain kota itu berdirilah bekas Lembaga Gynaecologi, didirikan oleh ajah Samdevyatov untuk memperingati istrinja jang meninggal waktu bersalin; gedung ini kini disebut Lembaga Rosa Luxemburg; disitu Yury memberi kuliah tentang pathologi umum dan satu atau dua mata peladjaran jang tidak diwadjibkan, sebagian dari kursus baru ilmu kedokteran dan ilmu bedah jang diperpendek.
Malam-malam ia pulang, lapar lagi letih, dan didapatnja Lara sedang sibuk-sibuknja dengan pekerdjaan dirumah-tangga, memasak atau mentjutji. Kelihatan dalam keadaan sehari-hari jang prosais ini dengan rambut kusut, lengan badju tergulung dan rok tersingsing, ia njaris menakutkan Yury dengan ketjantikannja jang patut bagi ratu serta perbawanja; baginja ia lebih mengagumkan dari pada kalau dilihatnja siap untuk pergi kepesta dansa, lebih tinggi seolah tumbuh keatas, dengan sepatu bertumit tinggi dan gaun pandjang terpotong rendah jang udjungnja berkerisik terajun-ajun.
Lara memasak atau mentjutji, menggunakan air sabun untuk membersihkan lantai, atau dengan lebih tenang dan kurang kepajahan ia mendjerumat dan menjeretika pakaian untuk mereka bertiga. Atau bila ia sudah selesai memasak, mentjutji dan berbenah-benah, maka diberinja peladjaran pada Katya. Atau ia bertekun dengan buku peladjarannja, guna mendidik kembali diri sendiri dalam politik, agar dapat memenuhi sjarat untuk pekerdjaannja jang lama sebagai guru disekolah baru jang direorganisasikan.
Makin rapat ia kepada Lara serta anaknja, makin kurang berani ia menganggap kehadirannja dalam rumah itu sebagai barang biasa dan makin keraslah pikirannja terkendali oleh kewadjiban terhadap keluarganja serta kepedihan atas djandji setia jang dilanggarnja. Dalam batas ini tak ada hal jang menjakitkan hati Lara atau Katya. Sebaliknjalah; sikap Yury ini mengandung penghormatan jang tak mengizinkan keakraban jang rendah budi.
Tapi perpetjahan dalam hatinja itu menjedihkan dan menjiksanja; ia hanja biasa dengannja seperti orang membiasakan diri dengan luka jang belum sembuh dan berkali-kali kambuh.
16
Sesudah dua tiga bulan hidup setjara demikian, pada suatu hari dalam bulan Oktober berkatalah Yury pada Lara:
„Rupa-rupanja aku terpaksa akan melepaskan semua pekerdjaanku. Selalu sama sadja — berulang kali hal ini terdjadi. Mula-mula semuanja bagus sekali. — Silakan. Kami sambut pekerdjaan jang baik dan djudjur, kami sambut tiap gagasan, apa lagi jang baru. Itu paling kami sukai. Kerdjakan tugasmu, penjelidikanmu, perdjoanganmu, teruskan.
„Tapi dalam prakteknja kualami bahwa apa jang dimaksud dengan gagasan itu tak lain selain kata-kata belaka — kedjut-kedjutan untuk memudji revolusi dan pemerintahan. Aku bosan dan mual, pun aku tak pandai berbuat begitu.
„Barangkali mereka benar, kalau dipandang dari sudut mereka. Memanglah aku tak berfihak pada mereka. Tapi sulitlah menerima pendirian bahwa mereka pahlawan gemilang dan aku sendiri orang ketjil dan papa, jang memihak pada penindasan dan obskurantisme. Kau pernah dengar tentang Nikolay Vedenyapin?”
„Tentu! Sebelum kau datang, aku dengar tentang dia, pun pernah kautjeritakan tentang dia padaku. Sima Tuntseva sering bertutur mengenai dia, dia sangat mengaguminja. Dengan malu kuakui, aku tak pernah membatja buku-bukunja. Esei falsafi tak menarik bagiku. Menurut pendapatku, sedikit filsafat baiklah dibubuhkan pada penghidupan dan kesenian sebagai bumbu, tapi untuk memberi perhatian chusus padanja bagiku sama anehnja dengan makan asinan melulu. Tapi maaflah, kuganggu kau dengan omong-kosongku”.
„Tidak. Itu sebenarnja banjak sama dengan pikiranku sendiri. Nah, soal pamanku itu, aku disangka terpengaruh buruk olehnja. Salah satu dosaku ialah pertjaja pada intuisi. Tapi tjoba, menggelikan sekali — semua mereka menjerukan bahwa aku mengagumkan dalam hal membuat diagnosa — dan sebenarnjalah aku tidak sering membuat kesalahan dalam menentukan diagnosa tentang sesuatu penjakit — nah, dapatkah soal menangkap keseluruhan situasi dengan tjepat ini dianggap lain dari pada intuisi jang mereka djidjikkan itu?
„Soal lain ialah bahwa aku terkedjar-kedjar oleh masalah mimikri, masalah mimesis — penjesuaian lahiriah sesuatu djasad dengan warna lingkungannja. Kukira ini membuka aspek jang mengherankan mengenai hubungan antara dunia batin dan dunia lahiriah.
„Nah, aku berani menjebut itu dalam kuliah-kuliahku. Mendadak orang berseru-seru: Idealisme, mystik, falsafah kealaman Goethe, neo-Schellingisme.
„Sudah waktunja aku keluar. Aku tetap dirumah sakit, sampai ditendang dari situ, tapi aku minta berhenti sadja dari Lembaga dan dari Bagian Kesehatan. Bukannja aku hendak menggelisahkan engkau, tapi sekali tempo aku merasa, mereka akan datang untuk menangkap aku, kapan sadja”.
„Insja Allah, djanganlah. Sukurlah sekarang belum sampai begitu. Tapi kau benar. Tak ada salahnja, kalau lebih berhati-hati. Kesanku ialah, tiap kali pemerintahan ini memperoleh kekuasaan, dialaminja taraf-taraf tertentu beruntut-runtut. Dalam taraf pertama ada kemenangan rasio, ada semangat kritis, perdjoangan lawan prasangka dan sebagainja.
„Lantas tiba taraf kedua. Jang ada ialah terutama tenaga-tenaga djahat, kaum simpatisan jang tjurang, kaum pak turut. Kian lama kian banjak sjak wasangka — pengaduan, intrise, kebentjian. Kau benar semata-mata bahwa kita sekarang memasuki taraf kedua.
„Kuberikan satu tjontoh. Dalam mahkamah revolusioner setempat ada dua anggota baru, dipindahkan kesini dari Khodatskoye — dua bekas tawanan politik dari kalangan buruh, Tiverzin dan Antipov.
„Mereka kenal aku benar-benar, salah seorang tak lain selain mentuaku sendiri. Tapi sebetulnja sedjak mereka datanglah maka aku betul-betul mulai gemetar tentang njawa Katya dan njawaku. Antipov tak suka padaku dan kukira kedua-duanja mau berbuat apapun djuga. Sangat lajaklah bagi mereka untuk membinasakan aku, bahkan Pasha, dalam hari-hari ini atas nama keadilan tertinggi revolusioner”.
Pertjakapan ini amat segera disusul oleh kelandjutannja. Malam hari ada penggeledahan dirumah djanda Goreglyadova di Djalan Buyanovka 48, diseberang rumah sakit. Orang menemukan tempat persembunjian sendjata dan membuka rahasia komplotan anti revolusioner. Banjak orang ditangkap, gelombang penggeledahan dan penangkapan berlangsung terus. Orang bisik-bisik bahwa beberapa orang jang ditjurigai telah melarikan diri keseberang sungai. „Tapi apa gunanja?” kata orang. „Banjak sungai disini. Misalnja sungai Amur itu, di Blagoveshchensks — tjoba terdjun disitu, berenang keseberang, sudah sampai ke Tiongkok. — sungai hebat itu. Itu soal lain sama sekali”.
„Hawa makin sesak”, udjar Lara. „Kita tak aman lagi. Kau dan aku pasti akan ditangkap. Lantas Katya bagaimana? Aku seorang ibu, djangan sampai kita tjelaka, harus kutjari akal. Harus ada rentjanaku. Aku dibuatnja gila”.
„Mari kita tjoba, kita pikirkan. Sekalipun dalam hal ini kita tak mampu berbuat apa-apa. Mengelakkan pukulan ini adalah diluar kekuasaan kita. Terserah pada nasib, bukan?”
„Memang tak bisa lolos: kemana akan pergi? Namun kita bisa luput dari pandangan umum. Misalnja kita bisa pergi ke Varykino. Aku selalu ingat pada rumah disitu. Sunji senjap dan tak terurus, tapi kita akan kurang nampak dari pada disini, tak akan banjak menarik perhatian. Musim-dingin sudah dekat. Aku tak keberatan sama sekali untuk tinggal disana selama musim itu. Bila tiba waktu mereka menjergap kita, kita sudah hidup setahun lagi: lumajan. Samdevyatov akan terus menghubungkan kita dengan kota. Barangkali ia malah mau menolong kita untuk sembunji. Bagaimana? Benarlah disana tak ada seorangpun, kosong dan sunji, begitulah waktu aku disana bulan Maret jang lalu. Dan kabarnja ada srigala-srigala. Agak menakutkan djuga. Tapi manusia, dan sudah pasti manusia matjam Tiverzin dan Antipov, sekarang lebih menakutkan lagi dari srigala”.
„Entah apa akan kukatakan. Bukankah selama ini kaudorong-dorong aku supaja pergi ke Moscow, supaja djangan kutunda itu? Itu sekarang lebih gampang. Sudah kutanja disetasiun. Rupa-rupanja sudah tak ada lagi pedagang gelap. Tidak setiap orang jang surat-suratinja tak beres diturunkan dari kereta-api. Penembakan berkurang, orang sudah djemu”.
„Hatiku rusuh, sebab tak kuterima balasan atas surat-suratku ke Moscow. Sebaliknja aku kesana, menjaksikan nasib mereka — kau sendiri mengingat-ingatkan aku. Tapi bagaimana mestinja sikapku terhadap apa jang kausebut tentang Varykino? Tentu kau tak bermaksud pergi sendirian ketempat terpentjil itu?”
„Tentu tidak. Tanpa kau itu mustahil”.
„Tapi kausuruh aku ke Moscow?”
„Ja, kau harus pergi”.
„Dengarkan. Aku punja pikiran hebat! — Mari ke Moscow, bertiga”.
„Ke Moscow? Gila! Apa mesti kubuat di Moscow? Aku tak boleh pergi, harus dekat dari sini. Disinilah nasib Pasha akan ditentukan. Harus kunanti dia, harus mudah tertjapai, bila dia perlukan aku”.
„Kalau begitu, mari kita pikirkan tentang Katya”.
„Pernah kita bitjarakan dia dengan Sima — Sima Tuntseva, dia kadang-kadang mengundjungi aku”.
„Ja, aku tahu, sering kulihat dia”.
„Kalau aku djadi kau, aku segera djatuh tjinta padanja. Entah dimana sadja mata kamu, kaum lelaki! Menarik benar dia! — Manis, molek, pintar, terpeladjar baik hati, perasa”.
„Waktu aku tiba, rambutku dipotong oleh adiknja — Glaphira, pendjahit itu”.
„Aku tahu. Mereka berdua tinggal bersama kakak mereka, Avdotya, pustakawati itu. Itu keluarga pekerdja jang djudjur dan berbudi. Kalau terdjadi jang kita tjemaskan, kalau kau dan aku ditahan, aku berniat meminta mereka supaja menerima Katya dan mendjaganja”.
„Itu baik djika memang tak ada djalan keluar lainnja. Insja Allah, djangan sampai begitu hendaknja”.
„Konon Sima ini agak aneh, — tak begitu waras. Memang ia nampak kurang normal, tapi itu hanja karena ia berperasaan mendalam dan orisinil. Antara pendapat kau dan pendapat dia ada persamaan jang luarbiasa. Kurasa aku akan sangat bersukur tentang Katya, djika Sima jang membesarkannja”.
17
Sekali lagi Yury kesetasiun dan sekali lagi ia pulang dengan tangan hampa. Tiap hal belum ada keputusannja. Dia dan Lara menghadapi ketidaktentuan. Hawa dingin dan gelap, seperti sebelum saldju pertama djatuh. Langit jang dapat kita lihat lebih leluasa disimpangan-simpangan djalan, nampak seperti dimusim-dingin.
Lara ada tamunja, Sima. Mereka omong-omong, tapi pertjakapan lebih merupakan tjeramah jang diberikan oleh Sima kepada njonja rumahnja. Yury tak ingin mentjampuri mereka. Pun ia ingin sendirian sebentar. Ia merebahkan diri didipan dalam kamar sebelah. Pintu antara dua kamar itu terbuka; ada tirainja dari atas sampai lantai, tapi ia dapat mendengar apa jang mereka utjapkan.
„Aku terus mendjahit, tapi tak mengapa, Sima sajang. Aku dengar, kupasang kupingku. Dulu aku membatja sedjarah dan filsafat diperguruan tinggi. Kusuka sekali tjaramu menindjau soal-soal. Dan aku senang pula mendengarkan engkau. Bermalam-malam ini kami kurang tidur, berat memikirkan Katya. Sebagai ibunja aku wadjib mendjaga supaja ia aman, kalau ada apa-apa terdjadi dengan kami. Mestinja kupikirkan dengan tenang dan otak sehat, tapi aku kurang sanggup. Kalau kuingat soalnja, aku djadi sedih. Aku sedih sebab tjapik dan tak tjukup tidur. Mendengarkan kau aku djadi tenang. Ketjuali itu, tiap saat saldju bisa turun. Aku suka mendengarkan pertjakapan pandjang lagi bidjaksana, bila saldju turun. Pernah kaualami, tiap kali mendjenguk dari djendela bila saldju turun, bahwa selalu kaurasa seolah ada orang lewat di taman, pergi kerumah? Teruskan sadja, Sima sajang. Aku dengarkan”.
„Sampai kemana pembitjaraan kita tempo hari?”
Yury tak menangkap djawaban Lara. Kini Sima angkat bitjara:
„Aku tak suka kata-kata seperti „kebudajaan” dan „kurun zaman”. Bikin bingung melulu. Aku lebih suka pakai tjara lain. Menurut pendapatku, manusia terdiri atas dua bagian, Tuhan dan karja. Tiap taraf berikutnja dalam kemadjuan pikiran manusia ditjirikan oleh berhasilnja pekerdjaan jang bukan main pandjang dan lambatnja selama banjak angkatan. Karja demikian adalah Mesir. Djuga Junani. Theologi para nabi dari Perdjandjian Lama adalah jang ketiga. Jang terachir menurut waktu, jang sampai kini belum ada gantinja dan masih dihasilkan oleh semua orang jang mendapat ilham dizaman kita, adalah ke-Kristenan.
„Guna menundjukkan padamu hal jang sama sekali baru jang diberikannja pada dunia dalam segala kesegarannja — bukan seperti jang kaukenal dan kaubiasakan, melainkan lebih bersahadja, lebih langsung dan tak terduga-duga — inginlah aku menindjau sedikit ichtisar dari liturgi — sungguhpun sangat sedikit dan diperpendek.
„Banjak sekali naskah liturgi menghimpun konsep-konsep dari Perdjandjian Lama dan Perdjandjian Baru serta menjantumkannja berdampingan. Misalnja semak-semak terbakar, exodus dari Mesir, anak-anak dalam tungku berapi, Junus dan ikan paus, dibanding dengan kelahiran sang prawan serta kebangkitan Kristus.
„Kupikir, segala perbandingan ini dengan sangat mengesan mengedepankan sifat ketuaan Perdjandjian Lama dan sifat kebaruan Perdjandjian Baru. Amat banjak naskah membanding kelahiran sang prawan dengan penjeberangan Laut Merah oleh bangsa Jahudi. Sebuah sadjak misalnja mulai begini: „Chuluk sang penganten prawan pernah tergambar di Laut Merah”, lalu menjambung: „Seperti laut tak dapat dilewati lagi setelah diseberangi orang-orang Israelit, begitu pula jang Tak Ternoda adalah bersih setelah kelahiran sang Emanuel”. Artinja, laut kembali mendjadi tak mungkin dilintasi lewat daratan sesudah kaum Jahudi lewat, dan Maria mendjadi prawan kembali, setelah Sang Nabi lahir. Paralel ditarik antara dua peristiwa itu — Matjam apakah peristiwa-peristiwa itu? Kedua-duanja supra-natural, kedua-duanja sama-sama diakui sebagai mudjizat. Namun ada perbedaan antara dua mudjizat ini — perbedaan dalam hal apa jang dianggap mudjizat dalam dua kurun zaman jang berlainan, jang satu kuno lagi primitif, lainnja baru, post Romawi, madju.
„Dalam peristiwa pertama kita temukan seorang pemimpin bangsa, sang datuk Musa jang memerintahkan laut supaja undur, maka dengan sekali tetak dengan tongkat mudjizatnja, laut itupun terbelah, memungkinkan suatu bangsa seutuhnja — tak berbilang banjaknja, ratusan ribu manusia — menjeberang, dan sesudah orang terachir lewat, laut menutup diri lagi, merendam, menenggelamkan orang-orang Mesir jang datang memburu. Seluruh gambaran ini bergaja kuno — unsur-unsur alam jang tunduk pada sipenjihir, chalajak besar serba ribut seperti tentara Romawi sedang berbaris, bangsa dan pemimpinnja. Segala sesuatunja terlihat, terdengar, membisingkan, dahsjat.
„Dalam peristiwa lainnja ada seorang gadis — tokoh biasa sekali jang didunia kuno tak akan diperhatikan orang — diam-diam, setjara sembunji melahirkan anak, melahirkan hidup, melahirkan mudjizat hidup, „kehidupan bersama” menurut namanja kemudian. Lahirnja sianak tak hanja tidak sah menurut pendapat para sardjana, melainkan djuga bertentangan dengan hukum alam. Dia bersalin bukan karena keharusan, melainkan karena mudjizat, karena ilham. Maka sesudah itu dasar penghidupan bukan lagi keterpaksaan, dasarnja mestilah ilham itu tadi — inilah jang diberikan oleh Perdjandjian Baru — bukan jang biasa, melainkan jang luarbiasa, bukan jang sehari-hari, melainkan jang istimewa, ilham mengganti paksaan.
„Kaulihatlah, bukan main pentingnja perobahan ini. Apa sebabnja peristiwa seorang pribadi manusia, remeh-temeh djika diukur dengan nilai-nilai kuno, mesti dibandingkan dengan pemindahan satu bangsa? Apa sebab nilainja sedemikian itu dalam pandangan Tuhan? — Sebab dengan melalui mata Tuhan-lah peristiwa ini hendaknja dinilaikan, dihadirah Tuhanlah dan dalam tjahaja kudus kechususannja sendiri maka semuanja itu berlaku.
„Ada sesuatu didunia jang telah berubah. Roma habis riwajatnja. Kekuasaan chalajak telah tammat. Kewadjiban jang disodorkan oleh kekerasan sendjata supaja orang hidup rukun sebagai bangsa, sebagai nasio seutuhnja, telah batal. Pemimpin dan bangsa sudah lewat waktunja.
„Gantinja ialah adjaran tentang kepribadian dan kemerdekaan. Kisah hidup insani mendjadi kisah hidup Tuhan dan meliputi semesta. Seperti jang disebut dalam liturgi untuk Pesta Anunsiasi, Adam hendak mendjadi Tuhan, lalu gagal, tapi sekarang Tuhan mendjelma dalam manusia, hingga Adam dapat mendjadi Tuhan.
„Sebentar lagi aku kembali pada hal itu”, udjar Sima. „Aku mau menjimpang sedikit. — Dalam segala hal mengenai perhatian terhadap buruh, perlindungan kaum ibu, pergulatan melawan kekuasaan uang, masa revolusi kita ini masa pentjapaian baru jang kekal abadi. Tapi dalam hal penafsiran tentang hidup dan filsafat kebahagiaan jang dichotbahkannja — benar-benar tak masuk akal bahwa zaman ini hanja sisa jang menggelikan dari zaman lampau. Andaikata segala retorika disekitar pemimpin-pemimpin dan bangsa-bangsa ini berkuasa untuk membalikkan sedjarah, kita akan dibawanja kembali beribu-ribu tahun kezaman Indjil dan zaman para gembala dan nabi-nabi. Sukurlah itu mustahil.
„Sekarang sepatah kata tentang Kristus dan Maria Magdalena — ini bukan dari Evangeli, melainkan dari sembahjang pada salah satu hari dalam Pekan Kudus, kukira Selasa atau Rebo. Kau tahu semua ini, Larissa Fyodorovna, aku hanja ingin mengingatkan kau pada sesuatu.
„Kau maklum, perkataan „pasi” dalam bahasa Geredja Slavonia pertama-tama berarti penderitaan: „pasi Kristus” — Kristus menerima pasinja”. Dalam liturgi kemudian djuga dipergunakan menurut bahasa Rusia dalam arti nafsu gasang dan kekedjian. — „Djiwaku diperbudak oleh pasi, aku telah mendjadi seperti binatang dipadang”, „Setelah terbuang dari firdaus, mari kita mengasah budi agar diizinkan kembali, dengan mendjauhkan diri dari pasi” dan sebagainja. Mungkin aku salah, tapi aku tak suka pada naskah Pekan-Pekan Puasa tentang pengendalian hawa nafsu serta penistaan djasad. Anehnja, itu sangat tak berselera dan kikuk, tanpa puisi jang ada dalam karangan-karangan lainnja tentang kerohanian. Aku selalu beranggapan bahwa jang menjusunnja ialah rahib-rahib gendut jang melanggar Peraturan mereka sendiri! Tak djadi soal bagiku, kalau mereka membuat pelanggaran itu dan menipu orang lain ataupun hidup menurut hati nurani sendiri — bukanlah rahib-rahibnja jang kuperhatikan, melainkan isi sebenarnja dari kalimat-kalimat itu. — Segala penjesalan ini terlampau mementingkan berbagai kelemahan djasadi dan apakah djasad ini, gendut atau kelaparan — itu memualkan. Kesanku ialah, itu mengangkat sesuatu jang tak sutji, tak penting dan bernilai rendah ketingkat keluhuran jang tak ada padanja. — Maafkan segala penjimpanganku ini.
„Jang selalu menarik perhatian ialah bahwa Maria Magdalena disebut-sebut tepat pada malam Paskah, diambang wafatnja dan kebangkitan kembali Sang Kristus. Entah apa sebabnja, tapi peringatan ini bagiku tepat pada waktunja, ialah ketika ia berpamit dari kehidupan dan sebelum ia memulainja lagi. Tjoba perhatikan, bagaimana tjaranja mengadakan peringatan ini — semangat djiwa murni ada didalamnja serta keterus-terangan jang tak alang-kepalang.
„Diragu-ragukan orang, apakah ini berhubungan dengan Maria Magdalena atau salah seorang dari Maria-Maria lainnja, tapi bagaimanapun djuga dia memohon kepada Tuhan:
„Lepaskan hutangku, seperti kulepaskan rambutku”. — Artinja: „Seperti aku menguraikan rambutku, hendaknja Kaubebaskan aku dari dosaku”. Adakah pernjataan menjesal, kehausan untuk dimaafi jang lebih kongkrit, lebih njata dari pada ini?
„Dan kemudian dalam liturgi hari itu djuga ada bagian lain jang lebih terperintji, kali ini hampir pasti menundjukkan pada Maria Magdalena.
„Ia meratap lagi dengan tjara inderawi jang memilukan tentang hari-lampaunja dan tentang kebusukan jang tertanam oleh zaman silam itu dalam batinnja, hingga tiap malam bernafas lagi dalam dirinja. „Nafsu jang menjala-njala bagiku seperti malam, api dosa jang gelap tak bersinar”. Dia memohon Kristus menerima air matanja penuh penjesalan dan supaja terharu oleh ketaatan keluh-kesahnja, hingga ia boleh mengeringkan kaki keramatNja dengan rambutnja — ia mengingatkan padaNja bahwa dalam riak-riak rambutnja jang gemersik itulah Eva pernah berlindung, ketika ia tertjekau oleh takut dan malunja ditaman firdaus. „Izinkan aku mentjium kakiMu jang amat keramat dan menjekanja dengan air mataku dan mengeringkannja dengan rambut kepalaku jang menutupi dan melindungi Eva, ketika dengan kuping bising ia tjemas dalam keteduhan siang hari disorga”. Dan segera sesudah segala hal tentang rambutnja ini iapun berseru: „Siapa sanggup mengadjuk dosaku sebanjak ini dan pengadilanMu sedalam itu?” Alangkah akrabnja, alangkah sedjadjarnja hubungan antara Tuhan dan hidup, Tuhan dan orang seorang, Tuhan dan wanita!”
18
Dengan letih Yury telah tiba dirumah dari setasiun. Hari itu hari liburnja, biasanja pada hari demikian ia tidur tjukup banjak agar tahan selama sembilan hari lainnja dalam pekan jang sepuluh hari pandjangnja itu. Ia telentang didipan, sekali tempo menggeliat. Tapi walaupun ia mendengarkan Sima melalui kabut kantuk jang makin dekat, namun pikirannja menjenangkan hati.
„Tentu semua itu diambilnja dari buku-buku paman Kolya”, pikirnja. „Tapi meskipun begitu, dia tjerdas dan berbakat”.
Ia bangkit dan mendekati djendela, jang membuka pemandangan kepekarangan, seperti djuga djendela dikamar sebelah tempat Lara dan Sima kini bergumam tiada terdengar.
Hawa makin gelap dan agaknja saldju akan turun. Dua burung djalak terbang dari lebuh, mengepak-ngepakkan sajap sambil berputaran, mentjari tempat hinggapan, dengan bulu-bulu jang kusut oleh angin. Mereka bertengger ditutup peti sampah, terbang kepagar, turun ketanah dan melontjat-lontjat dipekarangan.
„Ada djalak, ada saldju”, pikir Yury. Pada saat itu djuga berkatalah Sima keras-keras dalam kamar lainnja:
„Ada djalak, ada kabar. Kau akan dapat tamu, atau paling tidak, surat”.
Sedjurus kemudian ada orang menarik tombol bel pintu jang sudah dibetulkan Yury. Lara keluar dari belakang tirai, berdjalan tjepat lewat bangsal depan untuk membuka pintu. Yury mendengarnja bitjara dengan adik Sima, Glaphira.
„Kau djemput kakakmu? Ini dia”.
„Tidak, aku tak mendjemputnja, tapi kalau dia selesai, baiklah kami pulang bersama-sama. Kubawa surat untuk temanmu. Untunglah baginja, aku dulu bekerdja dikantor pos. Entah sudah berapa tangan jang dilewatinja, surat ini dari Moscow dan sudah lima bulan beredar. Orang tak dapat menemukan alamatnja. Achirnja orang mendapat pikiran untuk menanjakan padaku dan aku tahu, tentu — ia pernah ketempatku untuk potong rambut”.
Surat pandjang jang ditulis atas banjak lembaran, kumal dan kotor dalam amplop rusak jang telah dibuka dikantor pos, adalah dari Tonya. Tahu-tahu Yury melihat surat itu sudah ditangannja, tak ingat bagaimana sampai disitu; tadinja ia tak melihat Lara mengulurkannja padanja. Ketika mulai membatja, ia masih sadar bahwa ia di Yuryatin, dirumah Lara, tapi sambil membatja ia lambat laun tak sadar lagi. Sima keluar, menjalami dia dan mengutjapkan selamat tinggal; Yury mendjawab tepat setjara otomatis, namun tak memperhatikannja dan tak tahu-menahu kapan ia meninggalkan rumah. Sedjurus kemudian ia lupakan sama sekali lingkungannja.
„Yura”, tulis Tonya, „kau tahu kita punja anak perempuan? Kita baptiskan dia dengan nama Masha, untuk memperingati ibumu.
„Sekarang soal lain. Beberapa orang terkemuka, para profesor jang tergolong partai Kadet dan sosialis sajap kanan, Milyukov, Kizewetter, Kuskova dan lain-lainnja lagi, termasuk pamanmu Kolya, ajahku dan kami selebihnja, akan dideportasikan dari Rusia.
„Ini nasib buruk, apa lagi karena kau tak ada, tapi kita harus menerimanja dan berterima kasih pada Tuhan, bahwa tjara pembuangan kami masih seenteng itu dalam zaman dahsjat ini, dimana segala hal bisa djauh lebih buruk bagi kita. Andaikata kau disini, kau akan ikut bersama kami. Tapi dimana kau? Kukirim surat ini kealamat Antipova; dia akan menjampaikannja padamu, bila berdjumpa denganmu. Aku tersiksa karena tak tahu apakah exit permit jang kami terima untuk sekeluarga akan diperpandjang untukmu kelak, bila insja Allah orang akan menemukan kau. Tak kulepaskan kepertjajaanku bahwa kau masih hidup dan akan ditemukan. Hatiku berkata begitu dan aku jakin ia benar. Barangkali kelak, kalau kau sudah muntjul kembali, keadaan di Rusia akan lebih lunak, hingga kau akan berhasil memperoleh visa tersendiri untukmu, maka kita semua akan berkumpul lagi ditempat jang sama. Namun sambil menulis ini aku sendiri tak pertjaja bahwa kita akan sebahagia itu.
„Jang paling menjedihkan ialah bahwa kutjinta kau, tapi kau tak tjinta padaku. Kutjoba terus hendak mengetahui mengapa pengadilan atas diriku ini berlaku, hendak kufahami, kutemukan sebab musababnja. Kutindjau diriku sendiri, kuturuti seluruh penghidupan kita bersama dan tiap hal jang kuketahui tentang diriku sendiri, namun tak kutemukan asal mulanja, tak kuingat apa jang kulakukan dan mengapa kutimpakan malapetaka ini kepadaku sendiri. Pemandanganmu tentang aku adalah salah dan tak baik, kaupandang aku dalam tjermin jang merusak udjud.
„Aku tjinta padamu. Kau tak tahu betapa besar tjintaku. Kutjintai segala hal padamu jang tak biasa, jang menjenangkan dan jang tidak menjenangkan serta segala hal jang tak ada istimewanja, namun karena punjamu maka mendjadi berharga bagiku, sebab terpadu dengan tjara jang luar biasa; wadjahmu jang diperindah oleh ungkapanmu, meskipun barangkali akan ternjata biasa kalau tiada ungkapan itu, ketjerdasan dan bakatmu jang mengganti kemauanmu — sebab kau tak punja kemauan.
Semua itu kusajangi dan setahuku tak ada didunia ini jang lebih baik dari padamu.
„Tapi dengarkan apa jang hendak kusampaikan padamu. Andaikatapun aku kurang sajang padamu, andaikata aku tak begitu suka dan kagum padamu, masih sadja aku berpikir bahwa kutjintai kau; kenjataan seram bahwa aku tak atjuh akan tak terlihat olehku. Melulu karena takut sadja akan mendjatuhkan padamu hukuman jang menistakan dan menghantjurkan itu, aku dengan tak sadar akan berusaha supaja djangan sampai kuketahui bahwa aku tak mentjintai engkau. Kau maupun aku tak akan memakluminja. Hatiku sendiri akan menjembunjikan itu terhadap diriku, sebab tak punja tjinta berarti hampir sama dengan membunuh, pun aku tak bakal tjukup kuat untuk memberi pukulan demikian pada siapapun djuga.
„Urusan kami belum ada jang betul-betul selesai, tapi rupa-rupanja kami akan berangkat ke Paris. Aku akan dinegeri djauh itu, dimana kau dibawa waktu ketjil, dimana ajah dan paman dibesarkan. Ajah kirim salam. Sasha tumbuh pesat; ia bukanlah amat tampan, namun anak kuat lagi besar; dan tiap kali kami sebut engkau, ia menangis tersedu-sedu, tak mau dihibur. Aku tak sanggup meneruskan surat ini. Aku tak henti-henti menangis. Slamat tinggal sadjalah. Biar kubikin untuk seluruh masa jang kautempuh, untuk perpisahan tak kundjung habis, segala udjian dan ketidaktentuan, untuk sepandjang djalanmu jang gelap dan serba djauh. Tak kusalahkan kau tentang apapun djua, aku tak meradjuk; djadikan hidupmu sesuka hatimu, asal kau djaga keselamatanmu.
„Sebelum kami tinggalkan daerah Ural — tempat jang ternjata mentjelakakan dan mentjemaskan kita itu — aku agak dekat berkenalan dengan Larissa Fyodorovna. Aku berhutang budi padanja, karena dia terus menerus disisiku waktu kualami penanggungan dan karena dia membantu aku selama persalinan. Dengan tulus kuakui bahwa dia orang baik, tapi aku tak hendak munafik — dia sama sekali berlainan dari aku. Aku ditakdirkan untuk memudahkan penghidupan dan mentjari djalan jang masuk akal, dia — untuk merumitkan hidup serta merintjukan djalannja.
„Allah melindungimu, aku harus berhenti. Orang datang minta surat ini, sudah waktunja aku berkemas-kemas. O, Yura, Yura, kekasih sajang, suamiku, ajah anak-anakku, apa terdjadi dengan kita? Sadarkah kau, kita tak akan bertemu lagi selama-lamanja? Sesudah kutulis ini, sadarkah kau apa artinja? Kau mengerti, mengerti? Orang mendesak-desak padaku dan aku merasa seolah mereka datang untuk membawa aku kepada maut. Yura! Yura!”
Yury selesai membatja dan mengangkat kepala. Matanja tak hidup, tak berair-mata, kering karena sedih, kosong karena menderita. Ia tak melihat dan tak menjadari apa-apa disekitarnja.
Saldju djatuh diluar. Saldju itu ditiup angin, luruhnja kian tebal, kian tjepat, seolah-olah hendak memburu sesuatu; dan Yury menatap nanap padanja, tidak seperti ia melihat saldju itu, melainkan seperti ia masih membatja surat Tonya; pun seolah deretan serba putih jang berbinar didepannja itu bukanlah bintang-bintang ketjil, terbuat dari saldju kering, melainkan djalur-djalur kosong antara huruf-huruf hitam ketjil, putih tak berudjung.
Mau tak mau ia memekik dan menggapai dadanja. Ia merasa akan pingsan, terhujung-hujung ia melangkah beberapa kali kedipan, lalu djatuh kesitu, tak sadarkan diri.
1
Musim-dingin telah menetap. Saldju turun lebat, ketika Yury pulang dari rumahsakit. Lara mendjemputnja dibangsal depan.
„Komarovsky disini”, udjarnja dengan suara lemah jang tergontjang. Ia nampak kalut, seolah-olah kena pukul.
„Mana? Dirumah ini?”
„Tidak, tentu tidak. Pagi tadi ia datang, katanja nanti malam ia kembali. Sebentar lagi ia tiba. Ia ingin bitjara dengan kau”.
„Mengapa ia datang?”
„Aku tak mengerti semua utjapannja. Katanja ia akan berangkat ke Timur Djauh, ia menjimpang dari djurusannja untuk bertemu dengan kita. Chususnja kau dan Pasha. Katanja kita dalam bahaja besar, kita bertiga, kau, Pasha dan aku. Hanja dialah dapat menjelamatkan kita, asal kita turuti nasehatnja”.
„Aku pergi sadja. Aku tak mau ketemu dia”.
Lara tersedu-sedu, ia hendak merebahkan diri depan kaki Yury serta memeluk lututnja, tapi Yury memaksanja berdiri.
„Tinggallah dirumah untukku”, Lara memohon kepadanja. „Bukannja aku takut sendirian dengan dia, tapi aku tak suka sama sekali. Djangan biarkan aku sendirian bertemu dengannja. Ketjuali itu, dia praktis dan berpengalaman — mungkin ia betul-betul dapat memberi nasehat pada kita. Dapat kumengerti, betapa kau muak dengannja, tapi kuminta, sisihkan perasaanmu dan djangan pergi”.
„Mengapa kau, sajang? Djangan bingung. Apa jang kautjoba? Tak usah kau berlutut. Bangkitlah dan gembiralah. Kau benar-benar harus luput dari sihantu ini — dibuatnja kau matikutu. Kau tahu aku bersamamu. Tentu aku tak pergi. Kalau kau mau, dengan senang hati kubunuh dia”.
Kira-kira setengah djam lagi malam akan tiba. Gelap semata-mata. Sekarang sudah enam bulan, sedjak semua lobang tikus tersumbat dan Yury masih berdjaga-djaga untuk menutup lobang-lobang baru pada waktunja. Merekapun memiara kutjing besar berbulu beledu, jang sepandjang waktu bermenung-menung sadja dengan penuh teka-teki. Tikus-tikus masih ada dirumah, tapi kini lebih berhati-hati.
Sambil menunggu Komarovsky, Lara mengiris beberapa sajat roti hitam rangsuman dan meletakkan piring dengan sedikit kentang rebusan dimedja. Mereka hendak menerima dia dalam kamar makan tua jang masih mereka pergunakan untuk makan. Medja dan lemari djati hitam jang besar dan berat itu adalah sebagian dari prabot-prabot jang asli disitu. Diatas medja ada botol kastroli bersumbu jang digunakan sebagai lampu jang dapat dipindah-pindah.
Komarovsky masuk dari malam gelap bulan Desember, penuh kehinggapan saldju. Kepingan-kepingan saldju djatuh dari topi, mantel dan sepatunja serta meleleh berbentjah-bentjah dilantai. Kumis dan djenggotnja jang dilapisi saldju itu membuatnja seperti badut (dulu ia tertjukur bersih). Ia memakai kostum tua namun bagus, dengan tjelana berloreng ketjil jang indah lipatannja. Sebelum mengutjapkan salam, ia lama menjisir rambut basahnja dengan sisir saku serta mengeringkan kumis dan alis dengan saputangan. Kemudian dengan tak berkata apa-apa dan dengan ungkapan serba hebat, iapun mengulurkan tangan-tangannja — jang kiri kepada Lara, jang kanan kepada Yury.
„Marilah kita anggap diri kita teman-teman lama”, udjarnja sambil menoleh pada Yury. „Saja kawan karib ajah kamu, tentu sudah kamu ketahui. Ia wafat dalam pelukan saja. Saja pandangi sadja kamu untuk melihat apakah ada serupanja. Tapi agaknja kamu tak menurun dari fihak ajah. Dia orang jang suka meluas, spontan lagi impulsif. Kamu rupanja mirip pada ibumu. Dia suka mimpi dan halus budi”.
„Larissa Fyodorovna minta saja bertemu dengan kamu. Katanja, kamu ada urusan dengan saja. Saja setudju, tapi pertemuan kita ini bukan atas permintaan saja dan saja tak menganggap kita sudah kenal-mengenal. Mari kita landjutkan. Kamu mau apa?”
„Saja senang, bertemu kamu berdua, kawan-kawan tersajang. Saja mengerti semuanja, betul-betul. Kalau boleh saja katakan, kalian sangat tjotjok benar. Pasangan jang sempurna”.
„Djangan begitu. Hendaknja kamu djangan tjampur tangan. kami tak meminta simpati. Kamu lupa daratan”.
„Djangan lekas tersinggung, anak muda. Barangkali ada djuga miripmu dengan ajah kamu. Ia suka marah seperti itu tadilah. Nah, anak-anak, saja utjapkan selamat. Tapi sajangnja, kalian benar-benar masih kanak-kanak — tak hanja sebagai kiasan, melainkan memang kanak-kanak jang tak tahu apa-apa dan tak berpikiran. Selama dua hari disini saja dengar lebih banjak dari pada kamu maklumi atau kamu duga tentang diri sendiri. Tanpa sadar kamu berdjalan ditepi djurang. Kalau berpangku tangan sadja, tak lama lagi kamu kehilangan kemerdekaan dan barangkali njawa.
„Ada gaja komunis jang tertentu, Yury Andreyevich. Sedikitlah jang sesuai dengannja. Tapi tak ada jang menghina tjara hidup itu dan berpikir terang-terangan seperti jang kamu kerdjakan. Tak dapat saja bajangkan, mengapa kamu bertjumbu-tjumbuan dengan bahaja. Kamu memperolok dunia mereka, menistakannja. Mending kalau hidupmu dulu mendjadi rahasiamu sendiri — tapi ada orang-orang dari Moscow jang tahu segala hal mengenai kamu. Kamu berdua sama sekali tak disukai kaum pendeta Themis disini. Kawan Antipov dan kawan Tiverzin sibuk mengasah tjakarnja.
„Meskipun begitu, kamu laki-laki, Yury Andreyevich, kamu tak bertuan dan tentulah berhak penuh untuk main gila dan mempertaruhkan hidupmu, kalau suka begitu. Tapi Larissa Fyodorovna tidak bisa bergerak bebas. Dia seorang ibu, njawa anaknja ada ditangannja dan dia tak bisa mengembara dengan kepala tersungkup awan.
„Saja korbankan waktu sepandjang pagi dengan mentjoba agar dia memandang keadaannja dengan sungguh hati. Ia tak mau mendengarkan saja. Harap pergunakan pengaruh kamu. Ia tak berhak mempermainkan keselamatan anaknja. Djangan sampai ditolaknja alasan-alasan saja”.
„Seumur hidup tak pernah saja paksakan pendapat saja pada orang lain. Pasti tidak pada jang dekat pada saja. Larissa Fyodorovna berhak penuh mendengarkan kamu atau tidak, sesuka hatinja. Itu soal dia sendiri sadja. Terlepas dari itu, saja tak tahu-menahu tentang jang kamu bitjarakan tadi. Belum saja dengar apa jang kamu sebut alasan-alasan”.
„Kian banjak kamu ingatkan saja pada ajah kamu — sama keras kepalanja. Nah, dengarkan. Tapi soal ini agak rumit, djadi harap sabar dan djangan menjela.
„Diputjuk pimpinan sedang direntjanakan perobahan-perobahan besar. — Ja, betul, saja dapat ini dari sumber jang paling dapat dipertjaja, djadi jakinlah bahwa ini benar. Jang mereka pikirkan ialah pemutaran haluan kedjurusan jang lebih demokratis, suatu konsesi kepada legalitet dan ini akan terlaksana amat segera.
„Namun djustru karena itulah para anggota instansi-instansi urusan hukuman, jang pekerdjaannja mesti dibatalkan, sangat buru-buru untuk menagih kwitansi-kwitansi mereka setempat, djadi sebelum tammat nanti ada waktu penuh kebuasan, lebih buas dari jang sudah kita saksikan. Kamu tertjatat untuk dibinasakan, Yury Andreyevich. Namamu ada dalam daftar — saja sampaikan ini dengan sungguh-sungguh, saja lihat sendiri. Kamu harus berupaja menjelamatkan diri, sebelum terlambat.
„Tapi semua ini hanja mukadimah. Kini kita tiba pada soalnja.
„Tenaga-tenaga politik jang masih taat pada Pemerintahan Sementara beserta Dewan Konstitusi jang dibubarkan, sedang berhimpun dipropinsi dekat laut dipantai Lautan Teduh. Pelbagai orang terkemuka sedang berkumpul — para anggota Duma, para anggota terkemuka dari zemstvo-zemstvo jang dulu, serta tokoh-tokoh umum lainnja, para penguasa dan industri maupun sisa-sisa dari tentara suka rela.
„Mereka hendak membentuk republik Timur Djauh; Pemerintah Sovjet membiarkannja sadja, sebab pada saat ini perlu ada „buffer” antara Siberia Merah dan dunia selebihnja. Republik itu akan mempunjai pemerintahan koalisi. Atas desakan Moscow, lebih separoh kursinja akan diperuntukkan orang-orang Komunis. Kalau mereka anggap perlu, mereka akan mengadakan coup d’état dan menundukkan republik. Rentjana itu sangat kentara, namun diberinja kita nafas sekedar — kita pergunakanlah sedapat-dapatnja.
„Suatu waktu sebelum revolusi saja sudah biasa mengasuh urusan Merkulov, Arkharov bersaudara dan beberapa bank serta firma perdagangan lainnja di Wladiwostok. Orang mengenal saja disana, maka datanglah seorang utusan pada saja atas nama kabinet bajangan itu, menawarkan djabatan menteri kehakiman dalam pemerintahan jang akan dibentuk. Ini dilakukan setjara rahasia tapi atas persetudjuan tak resmi dari Sovjet. Saja terima dan sekarang saja dalam perdjalanan kesana. Jang saja tjeritakan tadi terdjadi semuanja atas izin diam-diaman dari pemerintahan Sovjet, tapi karena tidak terang-terangan itulah maka tak baik kalau kita bitjara banjak tentang ini.
„Kamu dan Larissa Fyodorovna dapat saja bawa. Dari sana mudah kamu dapatkan kapal dan pergi kekeluargamu diseberang laut. Tentu kamu tahu, mereka telah diusir keluar negeri. Akibatnja pergolakan besar tempo hari; seluruh Moscow masih membitjarakannja.
„Kepada Larissa Fyodorovna saja djandjikan akan menolong Strelnikov. Sebagai anggota pemerintah merdeka jang diakui oleh Moscow, dapat saja djaga dia di Siberia Timur, lantas membantunja menjeberang kedaerah kami jang otonom. Djika ia tak berhasil melarikan diri, saja sarankan supaja ia ditukar dengan seorang jang ditawan oleh Sekutu dan penting bagi pemerintahan Moscow”.
Lara telah mengikut keterangan Komarovsky dengan susah pajah, tapi ketika ia sampai kepersiapan untuk keselamatan Yury dan Strelnikov, iapun menjimak. Dengan merah padam sedikit, berkatalah ia pada Yury:
„Kaulihat, sajang, betapa pentingnja ini semua untuk kau dan Pasha”.
„Kau teramat pertjaja, sajang. Rentjana jang separoh selesai djangan dianggap kenjataan jang bulat. Tak kukatakan bahwa Victor Ippolitovich sengadja menipu kita, tapi sampai sekarang ia hanja mentjeritakan tentang istana-istana diudara. Mengenai saja sendiri”, ia berpaling pada Komarovsky, „trimakasih atas perhatian terhadap urusan saja, tapi saja rasa kamu tak betul-betul membajangkan bahwa akan saja persilakan kamu mengurusnja. Mengenai Strelnikov, Lara akan memikirkannja”.
„Soalnja ialah”, kata Lara, „apakah kita ikut dia atau tidak. Kau tahu betul, aku tak pergi tanpa kau”.
Komarovsky mentjitjip alkohol entjer jang dibawa Yury dari rumahsakit, mengunjah kentang-kentang rebus dan makin lama makin mabuk.
2
Malam larut. Tiap kali sumbu lampu dibersihkan, apinja berkerisik dan menjala tjerlang serta menerangi kamar, kemudian njalanja reda dan pulihlah bajang-bajang. Yury dan Lara ngantuk, ingin membitjarakan semuanja antara mereka sendiri, namun Komarovsky tak pergi-pergi. Mereka terganggu oleh kehadirannja, seperti mereka terganggu djuga oleh adanja lemari djati berat dan hawa gelap bulan Desember diluar djendela.
Ia tak memandang kepada mereka, melainkan lewat kepala mereka, matanja tertambat kesuatu titik djauh, suaranja jang lesu, terseret-seret dan menggerit-gerit itu terus sadja berbunji mendjemukan dan tak henti-henti. Timur Djauh merupakan kuda kepangnja jang terachir. Ia sedang mendjelaskan pentingnja Mongolia dibidang politik. Yury dan Lara tak menaruh minat pada pokok pembitjaraannja itu, sudah lupa titik-tolaknja dan ini menjebabkan keterangannja lebih membosankan lagi. Berkatalah ia:
„Siberia — sungguh suatu Amerika Baru seperti sering disebut orang — mempunjai kemungkinan-kemungkinan luarbiasa. Dia tempat kelahiran kebesaran Rusia dihari depan, tongkat pengukur bagi kemadjuan kearah demokrasi serta kesehatan politik dan ekonomi. Jang lebih mengandung segala kemungkinan untuk masa mendjelang adalah tetangga kita jang besar, Mongolia Luar. Apa jang kamu ketahui tentangnja? Kamu menguap dan mengedip tak malu-malu, pada hal Mongolia hampir sedjuta mil luasnja dan bukan main kekajaannja akan pelikan; negeri jang belum terbuka, jang menggelitik keinginan Tiongkok dan Djepang dan Amerika Serikat. Mereka semua bersiap-siap untuk mentjaploknja, itu akan merugikan kepentingan Rusia — dan kepentingan ini disadari oleh segenap lawan kita, apabila ada pembagian wilajah terpentjil diatas globe ini kedalam bidang-bidang pengaruh.
„Tiongkok mengexploitir keterbelakangan feodal theokratis di Mongolia dengan melalui pengaruhnja atas para lama dan khutukht. Djepang menjokong para pangeran setempat, para hoshun. Rusia Merah telah bersekutu dengan para hamjil — Perkumpulan Revolusioner Pembrontakan Gembala-gembala Mongolia. Saja sendiri lebih suka adanja suatu Mongolia jang benar-benar makmur, diperintah oleh sebuah hurultai jang dipilih setjara bebas. Hendaknja kamu perhatikan setjara pribadi bahwa kalau sudah melewati tapalbatas Mongolia, dunia ada dikakimu — kamu merdeka bagai udara”.
Pidatonja jang bertele-tele itu menggugat urat saraf Lara. Kesudahannja, lantaran kesal sampai hendak menangis dan ketjapikan, diulurkannja tangan padanja dan dengan rasa permusuhan jang tak disamarkannja, berkatalah ia sesingkat-singkatnja:
„Sudah djauh malam, kamu harus pergi, saja ngantuk”.
„Wah, kamu tak akan kurang sopan; kamu tendang saja malam-malam begini? Tentu saja akan kesasar — saja tak kenal kota ini dan malam gelap gulita”.
„Tadi mestinja kamu ingat itu dan tidak duduk terus-menerus. Tak ada jang meminta kamu tinggal sampai larut malam”.
„Mengapa kamu sekeras hati itu? Belum pula kamu tanjakan apakah ada tempat saja menginap”.
„Itu sedikitpun tak djadi soal bagiku. Kamu sanggup mendjaga diri sebaik-baiknja. Kalau kamu memantjing-mantjing supaja dipersilakan menginap disini — sudah pasti kamu tak dapat kamar, tempat Katya dan aku tidur; kamar-kamar lainnja penuh tikus”.
„Biarlah ada tikus”.
„Terserahlah”.
3
„Ada apa, sajang? Kau bermalam-malam tak tidur, tak kausentuh makananmu, lalu-lalang sepandjang hari matjam hantu. Apa sadja jang kaupikirkan? Djangan kaubiarkan dirimu tertindih oleh sedihmu”.
„Izot, pendjaga rumahsakit itu, sudah nampak lagi — ia mentjari babu tjutji dibawah; mereka berpatjar-patjaran. Waktu itu ia mampir untuk memberi kabar gembira padaku! „Bui sudah siap untuk djenismu”, udjarnja. „Tiap hari bisa terdjadi kini”. — „Bagaimana tahu?” kutanja. — „O, sudah pasti sekali, saja dengar di Pelikan”. Bisa kauterka, Pelikan ini adalah Ispolkom1 1Ispolnitelny Komitet Panitia Exekutif Dewan Kota. . Kedua-duanja ketawa.
„Dia benar semata-mata”, kata Yury. „Tiap hari bisa terdjadi dan sudah waktunja kita menghilang. Soalnja, kemana? Kita harus menjelinap diam-diam, djadi tak mungkin pergi ke Moscow — tak dapat kita bersiap-siap untuk perdjalanan, tanpa menarik perhatian. Dengarkan, kasih. Mengapa kita tak berbuat apa jang kauusulkan pertama kalinja? Mari ke Varykino, sembunji disana — sekurang-kurangnja seminggu dua minggu atau sebulan”.
„Terima-kasih, sajang. O, alangkah senangnja! Aku faham bahwa tak kausukai usul itu. Tapi kita tak akan tinggal dirumahmu. Berat bagimu menghadapi itu — melihat kamar-kamar kosong, rasa ketjewa, perbandingan dengan jang sudah-sudah. Maklum benarlah aku apa artinja membina kebahagiaan atas penderitaan orang lain, mengindjak-indjak apa jang keramat dan tersajang bagi orang lain. Aku tak akan menerima pengorbanan demikian darimu. Tapi itupun tak bakal terdjadi. Keadaan rumahmu buruk sekali; bagaimanapun djuga, akan sulitlah kamar-kamar itu dibikin lajak untuk didiami. Jang kuharapkan ialah rumah bekas kediaman keluarga Mikulitsin”.
„Semua itu benar sekali dan aku berterimakasih padamu, karena kau tjermat dan perasa. Tapi tunggu dulu. Aku mau bertanja, namun lupa-lupa sadja. Apa kabar tentang Komarovsky? Masih disini atau sudah pergi? Sedjak aku bertengkar dengannja, lalu kuusir dia, tak kudengar apa-apa lagi tentang dia”.
„Akupun tak tahu. Biar sadjalah. Apa perlumu dengan dia?”
„Aku mulai makin berpendapat bahwa kita berdua lebih baik djangan mengambil sikap jang sama terhadap usulnja. Keadaan kita berlain-lain. Kau harus memikirkan anakmu. Kalaupun kau ingin menempuh bahaja bersama aku, itu bukanlah hakmu.
„Tentang Varykino. Tentu sadja kalau kita pergi kehutan itu dimusim-dingin, tanpa makanan, tanpa tenaga atau harapan — itu gila sekali. Tapi biarlah, tjintaku! Biar kita gila, djika tak ada jang tinggal pada kita selain kegilaan. Mari kita berendah-rendah lagi. Kita minta Samdevyatov memindjamkan kuda pada kita. Dan kita minta padanja, atau bukan dia, melainkan kaum pedagang gelap jang diperintahinja, agar suka memberi kita tepung dan kentang setjara kredit, sedjauh kredit kita masih berharga. Dan kita minta supaja ia tak menggunakan budi baiknja jang dilimpahkannja pada kita itu, dengan mengundjungi kita lekas-lekas, tapi supaja ia menunggu dulu: boleh datang, bila ia sudah memerlukan kudanja. Mari kita menjendiri sebentar. Mari pergi, buah hatiku. Dan selama seminggu akan kita potong dan pergunakan balok lebih banjak dari pada jang digunakan seorang njonja rumah jang berhemat selama setahun dalam zaman damai.
„Maaflah, aku tak sanggup bitjara lebih tenang. Ingin betul aku tak berkata jang muluk-muluk kepadamu! Namun benar belaka, bukan, bahwa tak ada pilihan kita? Dari sudut mana kita lihat, maut mengetuk pintu kita. Umur kita sudah terukur. Djadi setidak-tidaknja biarlah kita gunakan dengan tjara kita sendiri. Mari kita habiskan waktu sambil mengutjap selamat tinggal pada hidup, mari kita sendiri sadja bersama-sama untuk achir kalinja, sebelum bertjerai. Akan kita utjapkan selamat tinggal pada tiap hal jang kita sajangi, pada tjara kita menilaikan hal ihwal, pada tjara kita memimpikan hidup dan pada jang disampaikan oleh hati nurani kita dan pada segala harapan kita dan pada kita sendiri satu sama lainnja. Kita akan saling bertukar lagi kata-kata rahasia jang kita utjapkan malam-malam, agung lagi damai laksana nama lautan Timur. Bukanlah sia-sia bahwa kau berdiri diachir hidupku, bidadariku jang rahasia dan terlarang, dibawah langit peperangan dan kekatjauan, kau jang bangkit pada permulaan hidupku dibawah langit zaman kanak-kanak penuh damai.
„Malam itu, sebagai anak sekolah berpakaian seragam kehitam-hitaman, dalam bajangan kamarmu dihotel, sudahkah kau seperti sekarang, dengan ketjantikanmu jang memukau hati.
„Kemudian seringlah kutjoba memberi nama dan rumus pada pesona jang bidji-bidjinja telah kautaburkan dalam diriku — tjahaja dan bunji jang lambat-laun menghilang dan telah tersebar keseluruh djiwaku serta mendjadi alat bagiku guna mengerti segala hal lainnja didunia melalui dirimu.
„Ketika engkau — bagai bajangan dengan pakaian anak sekolah — muntjul dari bajangan kamar itu — maka sebagai anak jang tak tahu-menahu tentang dirimu, dirundung segala siksaan dalam daja tanggapanku, aku mengerti seketika itu: bahwa gadis ketjil kurus kering ini mengandung segala kewanitaan didunia seperti mengandung gelombang listrik. Andaikata kusentuh kau pada saat itu, walaupun hanja dengan putjuk djariku sadja, akan timbul kilatan jang menerangi kamar serta membunuh aku seketika itu djuga ataupun memenuhi diriku selama sisa hidupku dengan arus magnetis berupa ratap rindu dan kepiluan. Tumpah-ruahlah air mataku; aku menangis dan menjala dalam batin. Dahsjatlah iba hatiku untuk diriku sendiri, sianak lelaki, dan lebih dahsjat untuk kau, seorang gadis. Seluruh hakekatku jang terkedjut itu bertanja-tanja: kalau siksaan untuk mengandung tenaga tjinta sudah begini rupa, bagaimana pula siksaan untuk mendjadi wanita, untuk mendjadi tenaga itu sendiri jang merupakan sumbernja?
„Nah, achirnja kutjeritakan ini padamu: Tjukup untuk membuat aku gila. Dan seluruh diriku ada disitu”.
Lara dengan berpakaian lengkap berbaring dipinggir randjangnja. Ia merasa sakit, ia menggulingkan diri dan menutupi tubuhnja dengan kain leher. Yury duduk dikursi disisinja, bitjara pelan-pelan, kadang-kadang berhenti lama. Ada kalanja Lara meluruskan diri dengan sikutnja, menekankan dagu ketangannja dan menatap Yury dengan mulut terbuka. Pada saat lainnja ia benamkan kepalanja kebahu Yury, lalu menangis kegirangan, tanpa sadar akan air matanja. Achirnja ia mendjulur dari randjang, memeluknja dan berbisik penuh bahagia:
„Yury, kekasihku, alangkah pandai engkau, kau tahu segala-galanja, kau terka segala-galanja. Yury, buah hatiku, kaulah kekuatanku dan tempatku berlindung — semoga Allah mengampuni durhakaku — O, betapa bahagiaku. Mari pergi, kasih, mari pergi. Disana kututurkan nanti apa jang kugagas”.
Yury berpikir bahwa Lara menjangka sedang mengandung dan bahwa itu agaknja tak benar. Udjarnja:
„Aku tahu sudah”.
4
Pada pagi abu-abu dimusim-dingin mereka meninggalkan kota. Hari itu hari kerdja dan orang lewat didjalanan untuk pergi ketempat bertugas. Mereka ketemu banjak kenalan. Disimpangan-simpangan djalan jang menandjak; kaum perempuan jang tak punja sumur dipekarangan sendiri, sedang antri dekat pompa air tua; pikulan dan ember terletak ditanah disamping mereka. Dengan hati-hati Yury mengitari mereka, mengendalikan kuda betina Samdevyatov jang kuning-kelabu dan bersemangat itu. Kereta saldjunja meluntjur dari djalan melengkung terus ketrotoar jang penuh bentjah beku, lalu menabrak tiang lampu.
Dengan sekentjang-kentjangnja mereka kedjar Samdevyatov jang berdjalan dilebuh dan melaluinja, tanpa menoleh untuk melihat apakah ia mengenal mereka atau kudanja kembali, atau apakah ada jang hendak disampaikannja pada mereka. Sebentar kemudian mereka menjusul Komarovsky dan lewat pula tanpa menjalam.
Dari seberang djalan, Glasha Juntseva berseru:
„Orang banjak bohong. Kabarnja kamu pergi kemaren. Tjari kentang?” dan setelah memberi isjarat bahwa ia tak dapat mendengar djawabannja mereka, ia melambaikan salamnja.
Mereka baru mengurangi ketjepatan untuk Sima, itupun dilereng berbahaja, tempat jang sulit untuk berhenti; kudanja terus sadja menarik-narik kendali. Sima jang dari kaki sampai kepala terbungkus dalam beberapa sjal dan nampak kaku seperti balok, berdjalan tempang ketengah djalanan untuk menjalam serta mengutjap slamat djalan.
„Kalau kamu pulang, kita omong-omonglah”, katanja pada Yury.
Achirnja mereka tinggalkan daerah pinggiran kota. Meskipun Yury pernah kesitu dimusim-dingin, namun ia lebih ingat pada djalanan itu dalam keadaannja sewaktu musim-panas, dan sekarang ia hampir tak mengenalnja kembali.
Karung-karung makanan serta bungkusan-bungkusan lainnja disodokkan djauh dalam rumput kering disebelah depan kereta-saldju dan diikat dengan tambang. Yury mengendarai dengan berlutut tegak dilantai kereta seperti petani-petani setempat, ataupun duduk dengan kakinja jang hangat dalam sepatu vilt Samdevyatov itu bergantungan diluar.
Waktu sore, ketika seperti biasanja dalam musim-dingin, siang seolah hendak berachir djauh sebelum matahari terbenam, Yury memetjut kudanja tanpa ampun dan kuda itupun ladju pesat seperti panah. Kereta saldju gontjang dan melompat-lompat atas djalan tak rata itu bagai kapal dalam taufan. Lara dan Katya terbungkus dalam mantel berbulu, hingga hampir tak dapat bergerak. Mereka terajun, waktu lewat tikungan dan terlondjak atas alur-alur, terguling kanan kiri dan kedalam rumput kering seperti karung, sambil memekik-mekik dengan riangnja. Kadang-kadang Yury menubrukkan keretanja ketanggul jang penuh saldju itu dengan sengadja, untuk main-main, maka terlemparlah mereka semua kedalam saldju dengan aman. Setelah diseret oleh kendali beberapa meter djauhnja, ia menghentikan kudanja, dan membetulkan kereta; lantas diketuk-ketuklah djarinja oleh Lara dan Katya jang naik lagi sambil ketawa dan berolok-olok.
„Kutundjukkan nanti tempat aku dihadang oleh orang-orang partisan”, kata Yury; ketika kota sudah djauh dibelakang mereka; tapi ia tak sanggup menepati djandjinja, sebab tamasja sudah berobah, tak dapat dikenal kembali, karena hutan tandus oleh musim-dingin dan semuanja sunji-senjap dan kosong. „Ini dia”, segera ia berseru, tapi ia keliru; papan alamat pertama Moreau dan Vetchinkin jang berdiri dipadang itu disangkanja jang ada dihutan, tempat ia tertangkap. Waktu mereka lewat papan kedua jang masih ditempatnja jang lama disemak-semak dekat simpangan djalan pada belokan kesungai Sakma, papan itu tak kentara, sebab ada embun beku matjam renda kemilau jang membuat hutan nampak seperti karja keradjinan perak hitam putih, maka tiang alamat itupun tak mereka lihat.
Waktu magrib mereka tiba di Varykino dan lantaran jang pertama-tama nampak ialah rumah keluarga Zhivago, maka berhentilah mereka didepannja. Mereka menjerbu seperti perampok, buru-buru karena sebentar lagi akan gelap. Tapi didalam rumah sudah gelap hingga tak separoh kebobrokannja, tak separoh kekedjian itu nampak pada Yury. Ia ingat, sebagian prabot masih ada disitu; Varykino kosong dan tak ada orang jang melengkapkan kerusakannja. Tak dilihatnja ada barang-barang milik pribadi; tapi karena ia tidak disitu, waktu keluarganja berangkat, tidaklah diketahuinja berapa sadja jang dibawa mereka. Sementara itu Lara berkata:
„Lekaslah. Sebentar lagi gelap. Tak ada waktu untuk merenung-renung. Kalau kita harus tinggal disini, kuda harus kegudang, makanan masuk portik dan akan kubenahi kamar ini untuk kita sendiri. Tapi bukan begitu maksudku. Semuanja sudah kita bitjarakan semula. Tinggal disini akan menjedihkan kau, djadi djuga menjedihkan aku. Ini dulu kamar apa, kamar tidurmu? O, kamar kanak-kanak. Itulah randjang anakmu. Terlalu ketjil untuk Katya. Tapi djendela-djendelanja utuh, dinding atau langit-langit tidak retak, tungku bagus. Aku kagum melihatnja, waktu datang, tempo hari. Djadi kalau kau ingin sekali disini — meskipun aku tak suka — kutanggalkan mantel dan lekas mulai bekerdja. Pertama-tama harus membereskan tungku dan terus-menerus mendjaga api; perlu dihidupkan siang malam untuk sekurang-kurangnja tiga hari. Tapi mengapa kau, sajang? Kau diam sadja”.
„Sebentar. Tak apa-apa. Maaf …Wah, barangkali lebih baik kita melihat-lihat dulu dirumah Mikulitsin”.
Mereka meneruskan perdjalanan.
5
Rumah Mikulitsin digembok. Yury mentjabut gembok itu beserta sekrup-sekrupnja dan serpih-serpih. Disinipun mereka masuk buru-buru, langsung kekamar-kamar dipedalaman rumah, tanpa menanggalkan pakaian, masih pakai mantel, topi dan sepatu but.
Jang lekas menarik perhatian mereka ialah bahwa bagian-bagian tertentu terurus dengan rapi, chususnja kamar-kerdja Mikulitsin. Baru-baru ini pasti ada orang tinggal disitu, tapi siapa? Mikulitsin sekeluarga? Tapi kalau ada orang, mengapa dia pergi dan mengapa pintu digemboknja dan tidak dikuntji sadja?
Lagi pula, kalau keluarga Mikulitsin tinggal dirumah selama waktu-waktu jang lama, tentunja seluruh rumahnja terurus, tak hanja beberapa kamar belaka. Semua hal menundjukkan bahwa ada orang menjelonong tapi siapa? — Yury maupun Lara tak menghiraukan masalah ini atau membebani otak dengan mentjari pemetjahannja. Dewasa ini tak kuranglah rumah-rumah jang setengah kena rampok, tak kurang kaum pengungsi. „Seorang perwira Putih jang lari”, kata mereka satu sama lainnja. „Kalau ia datang lagi, akan kita urus. Tjukup banjak kamar untuk kita semua”.
Dan sekali lagi, seperti djauh sebelumnja, Yury berdiri terpesona diambang pintu kamar kerdja jang luas itu, bersahadja dan njaman, dengan medja pandjang jang menjenangkan didepan djendela, penuh kemungkinan bagi pekerdjaan jang sabar dan serba berhasil.
Antara bangunan lainnja dipekarangan ada djuga kandang-kandang jang didirikan dekat gudang, terkuntji, dan Yury tak merasa perlu membukanja, karena kandang-kandang itu banjak kemungkinannja akan tak dapat dipakai. Kuda dapat menginap digudang jang gampang dibuka. Ia melepaskan pakaian kudanja, memberinja kesempatan untuk mengaso dan memberinja air dari sumur. Rumput dalam kereta saldju jang maksudnja hendak diberikan kepada kuda itu telah terindjak-indjak mendjadi debu oleh kaki mereka. Untunglah masih ada sedikit rumput kering diruang kolong dalam gudang.
Mereka berbaring dengan berpakaian lengkap, menggunakan mantel bulu mereka sebagai selimut, lalu tidur dengan lelap, sehat dan njaman seperti kanak-kanak sehabis berlari-lari dan main-main sepandjang hari diudara terbuka.
6
Sedjak saat bangunnja, Yury terus memandang kepada medja didepan djendela jang menarik hatinja. Djari-djarinja gatal hendak memegang kertas dan pena. Namun ia tak menulis sebelum sendja; ditunggunja sampai Lara dan Katya naik randjang. Sebelum itu ia akan sibuk benar, meskipun jang perlu dibereskan untuk tempat tinggal misalnja hanja dua kamar.
Sambil menanti hari sendja, menurut ingatannja tak adalah pekerdjaan penting. Ia hanja tertjengkam oleh nafsu hendak mengarang.
Harus ada jang ditjoret-tjoretnja. Sebagai permulaan ia mau mengudjudkan pikiran-pikiran lama jang belum tertulis, hanja untuk meletakkan dasarnja. Kemudian, asal dia dan Lara bisa tinggal terus disitu, ia berharap akan mempunjai waktu untuk jang baru dan lebih bermutu.
„Kau sibuk? Lagi apa?”
„Menghidupkan api sadja dari tadi. Ada apa?”
„Aku perlu bak untuk tjutji pakaian”.
„Kalau kita terus memanaskan tungku seperti ini, balok akan habis. Kutengok dulu ditempat unggunan kaju kita jang lama, mungkin masih ada beberapa balok, siapa tahu. Kalau ada, akan kuambil. Besok kukerdjakan itu. — Bak, katamu? Ada kulihat, entah dimana”.
„Aku lihat djuga, tapi tak kuingat pula dimana. Tentu ada ditempat jang tidak semestinja, itu sebabnja kita lupa. Tak apalah. Kupanaskan sadja air sepantji guna mengepel lantai. Jang tinggal akan kupakai untuk tjutji pakaianku dan pakaian Katya. Tjoba berikan pula kaupunja. Sore nanti mandilah kita, kalau sudah selesai mengatur semuanja, sebelum tidur”.
„Trima kasih. Kuambil barang-barangku sekarang. Prabot-prabot berat sudah kugeser dari dinding, menurut kemauanmu”.
„Bagus. Karena bak tidak ketemu, pakaian kutjutji sadja dimedja tjutji. Tapi itu kotor, mesti kukorek dulu”.
„Bila api ditungku sudah baik, kuperiksa lemari-lemari lainnja. Masih sadja kutemukan apa-apa dalam lesenar dan peti berlatji itu — sabun, geretan, kertas, potlot, pena, tinta. Dan lampu dimedja separoh penuh parafin. Aku jakin, keluarga Mikulitsin tak punja itu, djadi tentu ada fihak lain jang membawanja kemari”.
„Untunglah! Nistjaja sipenghuni jang tak kita kenal itu, seperti dari buku Jules Verne sadja. Tapi kita omong-omong melulu, pada hal air ditjerekku mendidih”.
Dengan sibuknja mereka lari dari kamar kekamar, tak pernah hampa-tangan atau diam sesaatpun, bertabrakan dan tersandung Katya jang selalu menghalangi kaki mereka. Katya tertjenung-tjenung sadja, merintangi pekerdjaan, lalu memberengut, bila kena marah. Ia menggigil dan keluh kesah karena kedinginan.
„Kasihan anak-anak sekarang”, pikir Yury, „korban penghidupan kita jang lalu-lalang, kelana ketjil jang tjelaka”. Dengan suara keras ia berkata:
„Gembiralah, sajang. Kau tak mungkin kedinginan — itu omong-kosong; tungku panas sekali”.
„Tungku boleh panas, tapi aku dingin”.
„Nah, sabarlah sampai malam nanti. Nanti kubikin api besar dan kaudengar tadi ibu mengatakan hendak memandikan engkau dengan air hangat. Sekarang mainlah dengan ini, tangkaplah”. Diambilnja semua bekas mainan Liberius dari gudang jang dingin, dilemparkannja itu kelantai, sebagian utuh, sebagian petjah, segala kepingan dan kubus kaju, kereta-api dan lokomotif, papan berkotak-kotak dan bergambar, atau penuh angka-angka untuk main dengan dadu atau fiches.
„Apa jang tuan sangka, Yury Andreyevich?” Katya memprotes seperti orang dewasa. „Itu bukan kupunja. Dan mainan untuk baji. Saja terlalu besar”.
Tapi sesaat kemudian duduklah ia dengan senangnja ditengah-tengah selimut, maka semua alat permainan mendjadi batu bata sebuah rumah untuk Nina, boneka jang dibawanja dari kota. Rumah ini lebih lajak dan terurus dari pada semua tempat menompang lainnja dirumah-rumah orang lain, dimana ia tinggal sebagian besar dari hidupnja.
Lara mengamatinja dari dapur. „Tengoklah nalurinja untuk berumahtangga. Ia menundjukkan bahwa kerinduan pada rumah dan tata tertib tak dapat dibinasakan. Kanak-kanak adalah djudjur sekali, mereka tak takut pada kebenaran; kitalah jang kuatir akan nampak ketinggalan zaman, sampai bersedia mengchianati apa jang paling kita sajangi dan memudji apa jang tak kita sukai dan mengiakan apa jang tak kita mengerti”.
„Inilah baknja”, kata Yury jang muntjul dari portik gelap.
„Memang tidak pada tempat jang biasa, tapi dibawah botjoran dilangit-langit. Agaknja sudah disitu sedjak musim-rontok belakangan ini”.
7
Dengan menggunakan bahan-bahan jang mereka bawa itu, Lara telah memasak tjukup banjak untuk tiga hari, maka untuk makan-siang dihidangkannja suguhan pesta luarbiasa, terdiri atas sup kentang, daging kambing panggang serta kentang. Katya makan sampai tak sanggup mengunjah lagi, terkekeh-kekeh dan kian lama kian nakal, kemudian dengan badan hangat serta perut penuh ia melingkar dikain leher ibunja disofa, lantas tidur.
Lara jang tjapik dan kepanasan oleh tungku, ngantuk pula hampir-hampir seperti anaknja, merasa senang karena masakannja berhasil baik. Ia tak hendak buru-buru membersihkan medja, lalu duduk beristirahat. Sesudah jakin bahwa Katya tidur, ia bersandar kemedja, kepalanja bertopang ketangan dan berkata:
„Dengan membanting tulang ini aku bisa bahagia, asal kutahu kemana kita pergi, asal ada faedahnja. Kau harus selalu mengingatkan aku nanti bahwa kita datang kesini agar tinggal bersama-sama. Sebab sebenarnja kalau kita pandang setjara djudjur, apakah jang kita buat ini, apa artinja? Kita serbu rumah orang, kita merampok dan senang seperti dirumah sendiri, tapi kini kita ribut kegila-gilaan supaja lupa bahwa ini bukan penghidupan, melainkan pengisi panggung — tak riil semuanja, „pura-pura” seperti dikatakan anak-anak, permainan anak ketjil, baik untuk diketawai kutjing”.
„Tapi kaulah sendiri jang mendesak-desak untuk pergi, bukan begitu, sajang? Tak kauingat berapa lamanja aku menolak?”
„Aku ingat. Tak kusangkal itu. Djadi akulah jang salah! Kau boleh sadja menimbang-nimbang dan bimbang, sedangkan aku harus logis dan tjotjok selalu. Kau masuk rumah itu, kaulihat randjang anakmu dan hampir pingsan. Itu hakmu, tapi aku tak boleh merasa kuatir tentang Katya, tak boleh memikirkan hari depan, semua hal harus mengalah untuk tjintaku padamu”.
„Lara sajang! Djangan putus-asa. Pikirlah. Kita masih bisa merobah putusanmu. Akulah jang pertama-tama mengandjurkan supaja kaupertimbangkan rentjana Komarovsky lebih bersungguh-sungguh. Kuda ada. Kalau kau mau, besok kita kembali ke Yuryatin. Komarovsky masih disana, kita lihat dia tadi — kebetulan dia tak melihat kita agaknja. Pasti kita ketemukan kembali dia”.
„Aku belum berkata sepatahpun, tapi kau sudah tersinggung. Tjoba pikir, memang salahkah aku? Djika persembunjian kita tak lebih baik dari pada begini, itu sama sadja dengan tinggal di Yuryatin belaka. Djika kita sungguh-sungguh mau menjelamatkan diri, kita harus punja rentjana jang lebih masuk akal, dipertimbangkan dengan saksama, dan begitulah djustru tawaran Komarovsky. Meskipun ia mendjidjikkan, tapi bukan tolol, ia praktis dan tahu betul tentang keadaan. Disini lebih berbahaja dari pada ditempat lain. Tjoba pikir! — sendirian dipadang luas sekali jang dilanda angin! Kalau kita malam-malam ditimpa saldju, esoknja kita tak mampu menggali tubuh kita sendiri! Atau andaikata malaekat kita, tamu tak dikenal ini ternjata bandit jang datang untuk menggorok kita! Kau punja bedil? Kukira tidak! Nah, bagaimana? Jang mengedjutkan aku ialah tidak adanja pikiran padamu dan aku ketularan pula. Pikiranku tak beres”.
„Tapi apa maumu? Kausuruh apa aku sekarang?”
„Entah apa hendak kukatakan. Kau selalu mesti menundukkan aku. Kau mesti terus mengingatkan aku bahwa aku budak tjintamu dan tak patut berpikir atau membantah. Dengarkan pendapatku. Tonyamu dan Pashaku seribu kali lebih baik dari pada kita, tapi bukan itulah soalnja. Soalnja ialah, tjinta sebagai kurnia adalah seperti segala kurnia lainnja. Betapapun besarnja, diperlukannja perestuan untuk menjatakan diri. Kau dan aku seolah diajak bertjinta disorga, lalu dikirim berdua kebumi untuk melihat apakah peladjaran itu masih kita ingat. Jang kita miliki bersama-sama ialah keselarasan jang utama — tanpa batas, tanpa tingkatan, segala-galanja bermutu sama, segalanja memberi kesenangan, segalanja mendjelma semangat djiwa. Namun dalam kemesraan liar ini jang tiap saat menanti-nanti kita, ada sifat kekanak-kanakan jang tak terdjinakkan, jang terlarang. Hasrat ini sifatnja menghantjurkan, bertentangan dengan ketenteraman rumah-tangga. Aku wadjib mengchawatirkannja dan tidak pertjaja padanja”.
Dengan lengan-lengannja melingkari kuduk Yury, ia bergulat dengan air matanja.
„Tak kaulihat, keadaan kita lain-lain? Kau diberi sajap untuk melajang tinggi diatas awan, sedangkan aku perempuan, aku mendapat sajap agar tetap dekat ketanah, guna melindungi keturunanku”.
Tutur kata ini menjenangkan Yury, namun tak ditundjukkannja itu, agar tak nampak sentimental.
„Benar belaka bahwa dalam tjara hidup kita penuh pengembaraan ini ada unsur ketidakdjudjuran dan keterpaksaan. Kau benar semata. Tapi bukan kitalah jang membuatnja begitu. Pelarian tak waras kian kemari ini terdjadi pada tiap orang, ini anasir semangat zaman.
„Tiap hari kugagas sendiri itu. Inginlah aku berusaha sedapat-dapatnja untuk tinggal disini sementara waktu. Tak dapat kudjelaskan betapa besar hasratku untuk bekerdja kembali. Jang kumaksud bukanlah bertjotjok tanam. Itu jang kami kerdjakan disini dulu; kami usahakan itu sekeluarga dan kami berhasil. Tapi untuk itu tak ada lagi tenagaku. Gagasanku lain.
„Lambat laun berobahlah keadaan. Barangkali orang akan menerbitkan buku-buku lagi.
„Itulah jang kupikirkan. Mungkin kita bisa mengatur djandji dengan Samdevyatov — tentu sjarat-sjaratnja mesti menguntungkan dia — supaja diongkosinja hidup kita disini selama enam bulan, dengan sjarat bahwa selama itu aku mengarang buku, misalnja buku karangan susastra, boleh djadi kumpulan sadjak. Bisa pula kuterdjemahkan buku klasik ternama dari bahasa asing.
„Aku pandai bahasa. Tempo hari kulihat sebuah iklan; ada penerbit di Petersburg jang melulu mengerdjakan penterdjemahan. Aku jakin benar, pekerdjaan seperti ini akan memasukkan uang. Djika bisa bekerdja demikian, aku akan bersukur”.
„Aku senang karena kauperingatkan. Sematjam itu pula jang kupikirkan hari ini. Tapi aku tak pertjaja akan hari depan kita disini. Malah kufirasatkan, kita segera akan terhalau lebih djauh lagi. Namun selama kita punja ruang bernafas ini, kuminta sesuatu padamu. Berliburlah beberapa djam dalam beberapa malam berikut ini, tinggalkan segala sadjak jang sewaktu-waktu kauresitaskan padaku itu. Separohnja hilang, sisanja tak pernah kautulis; aku chawatir akan kaulupakan sadjak-sadjak itu, hingga tak berbekas lagi; menurut katamu sendiri itu dulu sering terdjadi”.
8
Pada achir hari itu mereka tjutji muka dengan air panas jang berlimpahan dan Lara memandikan Katya. Senang bukan kepalang karena merasa bersih, duduklah Yury dekat medja depan djendela, membelakangi kamar, dimana Lara jang berselimut anduk dan berbau sabun, rambutnja terpilin dengan anduk Turki lainnja mendjadi serban, sedang menaruh Katya dirandjangnja serta menjelimutinja.
Ketika Lara jang tadinja pura-pura tidur, achirnja benar-benar terselap, hari sudah pukul satu malam. Gaun tidur dia dan Katya, tak beda dengan kain randjang jang baru ditjutji dan diseterika itu, mengkilap karena bersih dan berenda. Dizaman itupun Lara berhasil mendapat kandji, entah bagaimana.
Kesunjian jang melingkungi Yury bernafaskan bahagia dan hajat. Tjahaja lampu kuning mentjetjah halus kertas-kertas putih serta mewarnai permukaan tinta ditempat tinta dengan emas. Diluar, malam berhawa beku dimusim-dingin itu berwarna biru pudar. Agar melihatnja lebih djelas, Yury masuk kekamar sebelah jang gelap dan dingin, lalu mendjenguk dari djendela. Tjahaja terang bulan melapisi padang bersaldju seperti putih telur atau kapur jang diberi kandji. Keindahan malam berhawa beku itu tak dapat dimadahkan. Hati Yury tenteram. Ia balik kekamar hangat jang terang itu dan mulai menulis.
Dengan hati-hati dituntunnja gerak hidup tangannja menurut tulisannja jang mengalir, maka setjara lahirnjapun tulisan itu tak kehilangan expresi, hingga berdjiwa dan tidak bisu; karangannja makin baik dan makin djauh menjimpang dari jang asli, ketika ia membuat salinan berturut-turut dari sadjak-sadjak jang paling diingatnja dan jang paling djelas terbentuk dalam pikirannja: „Bintang Natal”, „Malam Musim Dingin” serta sekumpulan sadjak lainnja dalam genre jang berdekatan dengan itu, jang kelak dilupakan orang atau hilang, tak diketemukan lagi.
Setelah melengkapkan sadjak-sadjak lama ini ia melandjutkan sadjak-sadjak lain jang pernah dimulainja, tapi belum selesai; ia mendapatkan nadanja dan melekatkan dasar bagi sambungannja, meski tak sedikitpun ia berharap akan sanggup menjelesaikannja sekarang. Achirnja ia madju dan terbawa oleh kemadjuannja itu dimulainja sadjak baru.
Setelah dua tiga bait serta beberapa gambaran plastis jang mengherankan dia sendiri, iapun dikuasai oleh pekerdjaannja itu, maka dialaminja bahwa apa jang disebut ilham itu sedang mendatanginja. Pada saat-saat demikian, hubungan antara tenaga-tenaga jang mengendalikan seniman seolah terbalik. Tenaga jang paling berpengaruh bukan lagi datang dari siseniman atau keadaan djiwanja jang hendak diungkapkannja, melainkan dari bahasa, alat ungkapannja. Sebagai persada dan tempat kediaman bagi keindahan dan makna, maka bahasa sendirilah jang mulai berpikir dan berbitjara untuk manusia dan semata-mata mendjelmakan musik, bukan dalam pengertian bunji-bunji lahiriah jang dapat terdengar, melainkan berkat kekuatan serta kepesatan gerak batinnja. Laksana arus sungai djaja jang mengasah batu dan memutar roda dengan keladjuannja sendiri, maka arus kata-kata itu sambil mengalir, berkat tenaga hukum-hukumnja sendiri, mentjiptakan sandjak dan irama dan tak berbilang banjaknja udjud serta bentukan lainnja, bertambah-tambah penting dan sampai kini belum tersua, belum tertindjau, belum punja nama.
Pada saat-saat demikian Yury merasa bahwa sebagian besar karjanja bukanlah hasilnja sendiri, melainkan dikerdjakan oleh sesuatu diatasnja jang mengendalikannja: daja fikir dan puisi sedunia pada waktu itu dan dihari depan. Ia dikendalikan oleh langkah berikutnja dalam rangkaian perkembangan sedjarahnja; dan dirinja sendiri dirasakannja hanja sebagai alasan dan sebagai poros jang menggerakkannja.
Buat sementara, perasaan ini melepaskan dia dari sesalan diri, dari ketidakpuasan dengan diri sendiri, dari kesadaran akan kekosongannja. Ia menengadah, memandang kesekitarnja.
Dilihatnja dua kepala jang tidur itu atas bantal-bantal seputih saldju. Kemurnian raut muka mereka dan kemurnian dikain randjang serta kamar jang bersih, dalam malam, saldju, bintang-bintang, bulan, mengalir dihatinja dalam satu gelombang penuh makna, menimbulkan padanja rasa gembira atas kemurnian hakekat jang mentjapai kemenangan.
„Tuhan! Tuhan!” bisiknja, „untuk akukah semua ini? Mengapa Kauhadiahi aku sebanjak itu? Mengapa Kauizinkan aku menghadap padaMu, mengembara dalam duniaMu, antara kekajaan-Mu, dibawah bintang-bintangMu, didepan tjinta kasihku jang tak bersukur, tak berkeluh kesah dan gegabah ini?”
Pukul tiga Yury menegakkan kepalanja dari atas kertasnja. Ia tinggalkan pemusatan diri jang terpentjil dan tak berpamrih itu, pulang kerealitet dan kepada diri sendiri, bahagia, penuh tenaga dan tenteram. Sekonjong-konjong kesunjian tanah terbuka jang terbentang djauh diluar djendela, diganggu oleh bunji pilu jang menjeramkan.
Ia berdjalan kekamar sebelah jang tak berlampu, tapi selama ia bekerdja tadi djendela telah berlapis es. Diseretnja gulungan permadani jang tersodok kepintu depan untuk menahan angin, disandangnja mantel kebahu, lantas keluar.
Ia silau oleh kilauan putih jang menari-nari disaldju tak berbajang-bajang dibawah sinar bulan, maka pada mulanja ia tak melihat apa-apa. Kemudian berbunji lagi lolongan jang pandjang, meratap dan mendalam itu, tertekan oleh djarak djauh, lantas nampak padanja empat bajangan pandjang, tak lebih tebal dari tjoretan potlot, ditepi padang saldju, tepat diseberang ngarai.
Srigala-srigala itu berdiri berdampingan, kepalanja mendongak dengan mulut tertudju kerumah, menjalaki bulan atau pantulan tjahaja peraknja didjendela-djendela. Tapi baru sadja Yury sadar bahwa itu srigala, sudahlah mereka berpaling dan lari-lari andjing, seolah dapat membatja pikirannja. Mereka lenjap dari pandangannja, sebelum dilihatnja kedjurusan mana mereka menghilang.
„Kesulitan tambah memuntjak!” pikirnja. „Amat dekatkah liangnja? Barangkali dalam djurang. Dan kuda Samdevyatov ada digudang! Tentu mereka mentjium baunja”.
Diputuskannja untuk sementara tak merusuhkan Lara dengan memberi tahu hal ini kepadanja. Ia berbalik, menutup semua pintu antara kamar-kamar dingin dan bagian rumah jang dihangatkan, menutup rekah-rekah dengan banjak selimut dan pakaian untuk menahan angin, lantas kembali kelesenarnja. Tjahaja lampu benderang dan mengasjikkan seperti tadi-tadinja. Tapi seleranja untuk menulis sudah habis. Ia tak bisa mulai. Jang dipikirkannja hanja srigala-srigala, bahaja jang mengintai dan segala matjam kesukaran. Ketjuali itu iapun letih.
Lara bangun. „Masih bekerdja, sajang?” bisiknja dengan suara jang berat karena kantuknja. „Menjala dan bersinar bagai lilin diwaktu malam. Duduklah disisiku sedjurus. Kutjeritakan impianku”.
Yury mematikan lampu.
9
Satu hari penuh kegilaan tenang berlalu pula. Mereka menemukan sebuah toboggan2 2Toboggan = kereta saldju Indian. (pent). dirumah; Katya jang sambil teriak-teriak meluntjur kedjalan ketjil tak tersapu dari tempat peluntjuran jang dibikin Yury dengan menimbun saldju padat-padat dengan tjatuknja serta menuang air untuk melapisinja dengan es. Bolak-balik ia naik keputjuk tempat ketinggian itu dan menjentak toboggan tadi dengan tambang; senjumnja tak lepas-lepas dari wadjahnja.
Tjuatja membeku; pembekuan tambah kuat, namun udara tjerah. Saldju mendjadi kuning pada siang hari; waktu matahari terbenam, warna madu itu dirembesi warna oranje sebagai tjitarasa tambahan.
Segala pekerdjaan mentjutji dan memandikan jang dilakukan Lara sehari sebelumnja telah membuat rumah djadi lembab. Uapnja jang mendjadi beku menggelapkan djendela-djendela dan mentjorengi lapisan dinding. Kamar-kamar gelap dan tak menjedapkan. Yury mengangkut balok-balok dan air, meneruskan pemeriksaan rumah jang makin banjak menghasilkan penemuan-penemuan, ataupun dibantunja Lara dengan pekerdjaan untuk rumahtangga jang tak kundjung habis.
Waktu sibuk-sibuknja mengerdjakan sesuatu, tangan mereka suka bertemu dan bergandengan, lalu mereka turunkan sadja apa jang sedang didjindjing, lemah dan mabuk kepajang, dengan segala pikiran terhalau dari kepala. Dan waktu berlalu sampai malam tiba, maka dengan terperandjat mereka ingat bahwa Katya sudah terlalu lama ditinggal sendirian, atau bahwa kuda belum diberi air dan makanan, maka atas gugatan hati nurani mereka buru-buru mengedjar waktu jang tersia-sia dan memperbaiki akibat kelalaian mereka.
Yury kurang tidur; dalam otaknja ada kekaburan nikmat seperti mabok dan ia njeri disekudjur tubuh, akibat kelelahan jang lamat-lamat. Tak sabar ia menantikan malam, agar meneruskan karangannja jang terputus.
Perletakan dasar diselesaikan separoh olehnja dalam kelesuan batin jang mentjadari lingkungan serta pikirannja. Kekaburan jang meliputi segala hal merupakan suatu taraf perdjalanan kearah kedjelasan udjud terachir. Seperti kerintjuan rangka kasar pertama, kekosongan siang hari jang lamban itu adalah persiapan jang perlu mendjelang malam.
Kehampaannja jang lesu itu menggarap dan mengolah segala-galanja. Semuanja mengalami perobahan dan memperoleh aspek lain-lain.
Yury merasa bahwa impiannja hendak tinggal di Varykino tak akan terlaksana, bahwa sudah dekatlah saat perpisahannja dengan Lara; mau tak mau ia akan kehilangan dia, maka hilang pula kemauannja untuk hidup dan barangkali hidup itu sendiri. Hatinja pilu, namun siksaan terbesar ialah ketidaksabarannja menantikan malam, hasratnja hendak menjatakan kepedihannja begitu rupa, hingga orang-orang lain akan menangis.
Srigala-srigala jang sepandjang hari diingatnja itu bukan lagi srigala dipadang saldju dibawah bulan: mereka sudah mendjadi suatu pengertian, mewakili tenaga permusuhan jang bermaksud membinasakan dia dan Lara dan hendak mengusir mereka dari Varykino.
Permusuhan ini berkembang dalam gagasannja, hingga ketika malam mendjelang, seolah mengintai seperti hewan dari prasedjarah atau naga jang djedjaknja telah ditemukan dalam djurang Shutma, haus akan darah Yury dan menaruh nafsu pada Lara.
Malam tiba dan Yury menjalakan lampu dimedja. Lara dan Katya sudah naik randjang sore itu.
Apa jang ditulisnja malam jang lalu, terpisah dalam dua bagian. Salinan-salinan bersih — versi-versi jang sudah diperbaiki dari sadjak-sadjak lama — dikerdjakan dengan tulisan terbagus seperti karja grafika tembaga. Karja-karja baru ditulis dengan tjakar-ajam tak terbatja, bolong-bolong dan penuh dengan singkatan. Waktu hendak menegaskan tjoreng-moreng ini ia mengalami keketjewaan sebagaimana biasanja. Kemaren malam rangka-rangka kalimat itu membuatnja heran, mengharukan dia sampai hendak menangis dengan baris-baris tertentu jang berhasil baik diluar dugaannja. Sekarang, waktu dibatjanja kembali baris-baris jang sama, sedihlah ia ketika dilihatnja baris-baris itu dipaksa-paksakan dan ditjari-tjari sadja setjara mentjolok.
Idaman seumur hidupnja ialah mengarang dengan keaslian jang tak kentara dan tak menampilkan diri, supaja tak nampak dari luar, tersamar dalam bentuk pengutjapan jang lazim dan biasa. Sepandjang hidupnja ia bergumul untuk mendapatkan bahasa jang berendah hati, tak berpamrih, supaja pembatja atau pendengarnja dapat menguasai isinja, tanpa sadar akan adanja alat pengantar. Sepandjang hidupnja ia berusaha mentjapai gaja jang tak terasa hadirnja, maka terkedjutlah ia waktu menjadari bahwa ia masih djauh dari tjita-tjitanja.
Kemaren malam dengan tjara sederhana jang hampir-hampir menggagap, serta mendekati keakraban sebuah lagu dondang, ia hendak membawakan perasaannja tentang tjinta tjampur siksaan djiwa, rasa tjemas tjampur berani, begitu rupa, hingga perasaan itulah sendiri jang bitjara, hampir tak tergantung dari kata-kata.
Setelah melihat-lihat segala bagan kasar itu sekarang, ia merasa perlu sebuah tema penghubung untuk menjatakan baris-baris itu, jang dengan tiadanja penghubung mendjadi tjerai-berai. Ia mentjoret apa jang sudah ditulisnja dan mulai menulis dongeng Santo George dan Naga dalam bentuk lyrik jang sama. Ia mulai dengan pentameter jang lebar lagi luas, tapi keselarasannja merupakan gangguan baginja dengan deru-derainja jang litjin dan tunggal-nada, karena terlepas dari maknanja. Dibuangnja irama jang muluk-muluk serta caesura dan dipotongnja baris-baris tadi mendjadi empat ukuran, seperti orang memotong kata-kata tak bermanfaat dalam prosa. Tugasnja kini lebih sulit, tapi lebih menarik. Karangannja sudah lebih hidup, namun masih bertele-tele. Ia memaksa diri, menulis baris-baris lebih pendek lagi. Kini kata-katanja terdjedjal dalam tetrameter-tetrameter dan Yury merasa bangun sama sekali, terdorong dan bersemangat; maka datanglah kata-kata jang tepat untuk mengisi baris-baris pendek itu, dibisikkan oleh ukurannja. Hal-hal jang njaris tak disebut, mendjadi berudjud karena disarankan. Ia mendengar kaki kuda berderai-derai dipermulaan sadjak seperti kita mendengar derap-derap kuda disalah satu balada Chopin. Santo George sedang naik kuda dengan kentjangnja dikeluasan padang rumput tak berudjung. Dapat dilihatnja dia makin ketjil dikedjauhan.
Ia menulis terburu demam, kepajahan mengedjar kata-kata jang tertjurah berlimpahan jang selalu tepat dan dengan sendirinja sadja terpelanting pada tempatnja.
Tak dilihatnja Lara turun dari randjang dan menghampiri medja. Dalam gaun malam jang pandjang ia nampak sangat kurus dan lebih tinggi dari sebenarnja. Ia terperandjat ketika Lara berdiri disampingnja, putjat, tjemas, dan sambil mengulurkan tangan ia berbisik:
„Kau dengar? Seekor andjing melolong. Bahkan dua, kukira. O, ngeri! Itu alamat sangat buruk. Kita betah-betahkan sampai esok sadja, lantas pergi, pergi! Aku tak mau tinggal sedetikpun lebih lama disini”.
Sedjam kemudian, setelah diandjurkan berulang-ulang, ia tenang kembali dan tidur. Yury keluar. Srigala-srigala itu lebih dekat dari pada malam jang lalu. Malahan lebih tjepat mereka menghilang dan lagi-lagi sebelum ia dapat menentukan kedjurusan mana mereka pergi. Mereka tadi berdiri dalam kelompok, ia tak sempat mendapat kesan bahwa djumlahnja lebih besar.
10
Hari ketigabelas sedjak mereka berdiam di Varykino. Tak ada hal jang baru atau jang berlainan. Malam hari srigala-srigala melolong lagi — mereka lenjap pada pertengahan pekan, tapi telah kembali lagi. Lara jang masih menjangka itu andjing-andjing, memutuskan lagi hendak berangkat, takut akan alamat itu. Sebagai wanita jang kerdja keras dan tak biasa mentjurahkan isi hatinja sepandjang hari, tak pernah bermandja-mandja dengan kemesraan jang luarbiasa, maka sikap tenangnja jang terimbang itu silih-berganti dengan kegelisahan serba rusuh.
Mereka alami keadaan jang sama berkali-kali, hingga ketika pagi itu dalam pekan kedua sedjak mereka tinggal disitu, Lara mulai berkemas-kemas untuk perdjalanan pulang, terasalah seolah waktu satu setengah minggu sedjak kedatangan mereka itu tak pernah ada.
Udara dalam kamar djadi lembab dan gelap lagi, kali ini oleh sebab tjuatja redup. Hawa beku berkurang tadjamnja dan menilik mendung rendah jang kelam, agaknya saldju akan turun tiap saat. Yury letih-letai oleh ketegangan fisik dan mental, akibat terlalu banjak tak tidur waktu malam. Kakinja lemah dan otaknja rintju; dengan menggigil kedinginan serta menggaruk-garuk tangannja ia mundar mandir dari kamar kekamar, menunggu keputusan Lara untuk menentukan apa hendak dibuatnja.
Lara sendiri bingung. Djustru ketika itu ia mau mengorbankan apa sadja, asal dapat mengganti kebebasan mereka jang tak karuan itu dengan kesibukan sehari-hari jang meskipun meletihkan, namun sudah tetap dengan segala pekerdjaan dan tugas, hingga kehidupan mereka mendjadi patut, djudjur dan lajak.
Seperti biasa, pagi itu ia mulai membenah randjang-randjang, menjapu, menghalau debu dan menjapkan sarapan. Kemudian ia mulai berkemas-kemas dan meminta Yury memasang kuda; teguhlah putusannja hendak berangkat.
Yury tak membantah. Kembali kekota adalah gila; disitu gelombang penangkapan tentu sudah memuntjak, namun tinggal disinipun tak waras; mereka sendirian dan tak bersendjata dalam musim-dingin ditengah hutan itu dengan segala bahajanja.
Ketjuali itu hanja tinggal segendongan rumput kering sadja digudang atau dikolong. Andaikata ada kemungkinan untuk tinggal lama, tentulah Yury akan berkeliling didaerah itu, mentjari djalan lain untuk mendapatkan makanan dan rumput, tapi untuk dua tiga hari jang tak tertentu sadja tak perlu berpajah-pajah. Dibuangnja pikiran itu, lalu memasang kuda.
Ia tak pandai mengerdjakan itu — Samdevyatov mengadjarnja, tapi ia lupa-lupa sadja — namun ia berhasil djuga, walaupun kikuk. Ia mengikat kuknja kepada kedua belah bum, menggulung tambang ditempat longgarnja dan membuhul udjung tali berlapis logam itu disekitar sebatang bum; kemudian dengan kaki sebelah ia berpidjak pada lambung kuda, lantas menarik lurus kedua udjung sengkelit jang kaku itu serta mengeratkannja. Achirnja ia menuntun kudanja keportik, menambatkannja disitu dan masuk rumah untuk memanggil Lara.
Lara dan Katya telah mengenakan mantel dan semuanja sudah terkemas, namun Lara bingung sekali. Dengan berpulas-pulas tangan dan menahan-nahan air matanja ia memintanja duduk sebentar, lalu dengan menghempaskan diri kekursi dan bangkit lagi iapun bitjara ngawur dengan deraian suara melengking jang meratap-ratap, tergelintjir atas kata-katanja sendiri dan menjela diri sendiri berkali-kali, untuk menanjakan apakah Yury tak setudju dengannja:
„Apa boleh buat, entah bagaimana terdjadi, tapi kaulihat sendiri, kita tidak bisa pergi sekarang, terlambat, sebentar lagi gelap, kita akan kegelapan dihutanmu jang mengerikan itu. Begitu, bukan? Akan kuturuti tiap kehendakmu, tapi aku tak bisa memutuskan untuk berangkat — ada jang mentjegahku, namun buatlah apa jang kauanggap baik. Mengapa kau bungkam sadja? Separoh hari kita sia-siakan, mengapa, Tuhanlah jang maklum. Besok kita akan lebih mampu berpikir. Bagaimana kalau tinggal satu malam lagi? Besok kita bangun pagi-pagi, berangkat pada dinihari, pukul enam atau tudjuh. Bagaimana? Kaunjalakan tungku, kau mengarang satu malam lagi, kita tinggal satu malam lagi disini — baguslah itu, hebatlah itu, bukan? O, Tuhan, apakah aku berbuat salah lagi?”
„Kau melebih-lebihkan soalnja. Magrib masih djauh, ini masih siang. Tapi terserahlah. Kita tinggal sadja. Tapi tenanglah dulu, tak usah bingung. Ajo, tanggalkan mantelmu. Kita buka bungkusan-bungkusan. Dan Katya lapar, katanja; mari makan sedikit. Kau benar, tak baiklah pergi setiba-tiba itu, persiapan tak seberapa. Tapi djangan rusuhlah, djangan nangis. Sebentar lagi kunjalakan tungku. Tapi sebelum itu, baiklah kupakai kereta saldju, mumpung ada didepan pintu, lantas kuambil sisa balok-balok dalam gudang kaju kami jang lama, balok sudah habis. Djangan nangis sekarang. Aku lekas kembali”.
11
Ada beberapa djedjak kereta saldju jang menudju kegudang-kaju dekat rumah keluarga Zhivago; itu bekas kepergian Yury jang dulu-dulu dan saldju diatas ambang terindjak-indjak dan kotor, akibat kundjungannja terachir dua hari jang lalu.
Langit jang sedjak pagi bermendung sadja, kini sudah tjerah. Hawa tambah dingin lagi. Taman tua jang terbentang sampai djauh itu mengelilingi rumah dan pekarangan; tanahnja mendjulur tepat kearah gudang, seolah hendak melihat Yury dan mengingatkan dia pada sesuatu. Dalam musim-dingin itu saldju tebal dan menggunduk diatas ambang hingga lapisan atas dari ambang itu nampak lebih rendah dan gudang seakan bongkok. Saldju melajah dari atap, hampir menjentuh kepala Yury seperti tepi kepala tjendawan raksasa. Tepat diatasnja, seakan terpantjang kesaldju, berdirilah bulan perbani jang bersinar dengan tjahaja abu-abu disepandjang garis potongan sabitnja. Hati Yury gelap dan sedih, maka meskipun sendja baru mulai dan tjahaja siang belum berkurang, namun ia merasa seolah gelap penghidupannja, dan bulan perbani jang bersinar hampir setinggi mata itu adalah alamat pertjeraian dan bajangan kesepian.
Ia begitu letih, sampai hampir tak sanggup berdiri. Dilemparkannja balok-balok lewat lobang pintu kekereta saldju dalam gendongan lebih ketjil dari biasanja; sentuhan kaju dingin jang ulet karena saldju itu terasa menjakitkan lewat sarung tangannja. Pekerdjaannja tak membuatnja lebih hangat. Dalam hatinja ada sesuatu jang patah dan berhenti. Ia mengutuk nasibnja jang malang dan untuk Lara ia berdoa supaja Tuhan sudi menjelamatkan njawa perempuan molek, sedih, berendah hati dan sederhana jang ditjintainja itu. Dan bulan perbani berdiri diatas gudang, menjala tanpa hangat dan bersinar tanpa pantjaran tjahaja.
Kudanja menoleh kerumah Mikulitsin dan meringkik, mula-mula lembut, malu-malu, kemudian lebih keras, mejakinkan.
„Ada apa?” tanja Yury heran. „Senangkah dia atau takut? Takut tidak, kuda tidak meringkik lantaran takut, dia tak akan sebodoh itu untuk memberitahu pada srigala-srigala bahwa ia mentjium bau mereka. Ia tentu ingin pulang — Sabarlah sedikit, kita tak lama lagi berangkat”.
Ia mengambil djuga serpih-serpih untuk menjalakan balok-balok serta kulit pohon berladjur-ladjur, mengeriting seperti kulit sepatu but, menutup muatannja pada kereta saldju dengan tambang, lalu kembali dengan berdjalan disebelah kepala kuda.
Kuda itu meringkik lagi, kini untuk mendjawab suara kuda lain dari djauh. „Apa itu? Mungkinkah Varykino tak begitu sunji seperti jang kita sangka?” Tak terpikir olehnja bahwa mereka mendapat tamu atau bahwa ringkikan tadi datang dari depan rumah Mikulitsin. Ia membawa kereta saldjunya kebelakang bangunan-bangunan pertanian, dan rumah itu tak nampak padanja, sebab dihalangi tikungan-tikungan tanah bersaldju.
Dengan selena-lenanja — mengapa mesti buru-buru? — ia menimbun kaju dan setelah melepaskan kudanja ia tinggalkan kereta saldju didalam gudang. Lalu dibawanja kuda kekandang, dimasukkannja kebagian terdjauh, dimana angin kurang banjak dan ditaruhnja sisa rumput jang tinggal beberapa rangkuman sadja itu dipapan palung.
Ia resah, ketika djalan pulang. Didepan portik berdiri sebuah kereta saldju petani jang besar; seekor kuda djantan hitam berambut litjin terpasang didepannja; mundar-mandir disampingnja ada seorang tak dikenal, gendut dan djuga berambut litjin, jang sekali-sekali menepuk kudanja dan memeriksa kakinja sebelah bawah.
Dari rumah keluar suara-suara. Meskipun Yury tak hendak menguping dan djuga belum tjukup dekat untuk mendengar lebih dari kata-kata terpentjil sadja, namun ia mau tak mau berhenti dengan mendadak, lalu menjimak. Dikenalnja kembali suara Komarovsky jang bitjara dengan Lara dan Katya. Mereka agaknya dalam kamar pertama dekat pintu dan sedang berbantahan; menilik bunji suaranja, Lara rusuh dan menangis, sekali menolak keras, sekali setudju. Ada jang membuat Yury merasa bahwa djustru ketika itu Komarovsky berbitjara tentang dia, menjarankan supaja ia djangan dipertjajai („mengabdi dua madjikan”, demikian agaknya jang ditangkap Yury), bahwa tak mungkin diketahui apakah ia lebih terpaut pada Lara atau pada keluarganja, pun Lara tak usah mengandalkan dia, sebab kalau berbuat begitu ia akan „lari bersama kelintji dan memburu bersama andjing” hingga ia „terdjepit antara dua kursi”. Yurypun masuk.
Seperti diduganja, mereka ada dalam kamar sebelah kanan, Komarovsky pakai mantel bulu sampai ketumitnja, Lara sedang memegang krah mantel Katya, hendak mengantjinginja tapi tak menemukan gait-gaitnja, lalu membentak anaknja supaja djangan meronta-ronta, sedangkan Katya memprotes: „Pelan-pelan, ibu, kautjekik aku”. Ketiga-tiganja berdiri dengan pakaian untuk bepergian, siap untuk berangkat. Tatkala Yury masuk, Lara dan Komarovsky bergegas menjambutnja dan bitjara berbareng:
„Kemana sadja kau tadi? Kami perlukan sekali kau!”
„Apa kabar, Yury Andreyevich? Kamu lihat, meskipun tempo hari kita main kasar-kasaran, saja datang lagi, sungguhpun tak kamu undang”.
Yury mengutjapkan selamat datang.
„Kemana sadja kau tadi?” tanja Lara lagi. „Sekarang dengarkan utjapannja dan putuskan untuk kita berdua. Kita tak boleh kehilangan waktu. Harus tjepat”.
„Tapi mengapa berdiri sadja? Duduklah, Victor Ippolitovich. Apa maksudmu, sajang, dengan „kemana aku pergi”? „Kau tahu aku pergi mengambil kaju, kemudian kurawat kuda. Victor Ippolitovich, silakan duduk”.
„Wah, kau tak kaget melihat dia? Tak heran? Tempo hari kita menjesal bahwa ia sudah pergi dan tak kita terima tawarannja; sekarang disinilah dia, dibawah hidungmu sendiri, tapi kau tak heran sama sekali! Namun jang lebih mengherankan lagi ialah apa jang hendak disampaikannja pada kita sekarang. — Tjeritakan, Victor Ippolitovich”.
„Entah apa jang dimaksud oleh Larissa Fyodorovna. Satu hal mesti saja terangkan: dengan sengadja saja sebarkan desas-desus bahwa saja sudah berangkat, tapi saja tinggal dikota, agar kamu dan Larissa Fyodorovna punja lebih banjak waktu untuk berpikir tentang apa jang sudah kita perbintjangkan; mungkin kamu dapat mengambil keputusan jang kurang tergesa-gesa”.
„Tapi tak boleh kita tunda lebih lama lagi”, Lara menjela.
„Sekaranglah saat paling tepat untuk berangkat. Dan besok pagi …tapi biarlah Victor Ippolitovich sendiri jang menjampaikannja”.
„Sebentar, Lara sajang. Mengapa kita semua berdiri pakai mantel? Tanggalkan dan duduklah. Lagi pula, jang kita bitjarakan ini penting-penting, tak bisa diselesaikan dalam satu menit. Victor Ippolitovich, saja kuatir, perbintjangan kita menjinggung soal pribadi; meneruskan itu akan menggelikan dan memalukan. Soalnja, saja tak pernah berniat ikut dengan kamu; Lara lain halnja. Kalau terdjadi apa jang djarang terdjadi, jakni bahwa perasaan kami tak sama dan kami ingat bahwa kami bukan satu orang, melainkan dua, selalu kukatakan padanja supaja saran-saran kamu dipikirkan lebih mendalam. Dan sebetulnja dia tak henti-henti berpikir, ia bolak-balik sadja kesitu”.
„Tapi hanja dengan sjarat bahwa kau ikut”, Lara menjela.
„Sama sulitnja bagi kau dan aku untuk membajangkan pertjeraian kita, tapi barangkali lebih baik kita sisihkan sadja perasaan kita dan mau berkorban. Sebab kepergianku tak mungkin djadi”.
„Tapi belum kaudengarkan semua, kau belum tahu …Dengarkan apa kata Victor Ippolitovich …Besok pagi — Victor Ippolitovich”.
„Jang dimaksudkan Larissa Fyodorovna rupa-rupanja kabar jang saja sampaikan tadi. Disepur-sepur tjabang di Yuryatin sudah disiapkan keretaapi resmi dari Pemerintahan Timur Djauh. Datangnja kemaren dari Moscow dan besok berangkat ke Timur Djauh. Kepunjaan Kementerian Perhubungan kami. Separoh keretaapi itu kereta-kereta tidur.
„Saja mesti naik keretaapi ini. Untuk para pembantu saja disediakan beberapa tempat duduk. Kita dapat bepergian serba mewah. Kesempatan sematjam ini takkan ada lagi. Saja sadar, kamu tak biasa bitjara asal bitjara sadja, kamu bukanlah orang jang suka menarik kembali sesuatu putusan dan sudah kamu putuskan tak ikut dengan kami. Tapi meskipun begitu, tak sudikah kamu menindjau kembali untuk kepentingan Larissa Fyodorovna? Kamu dengar, dia menjatakan tak akan pergi tanpa kamu. Ikutlah, kalau tidak ke Wladiwostok, sekurang-kurangnja sampai Yuryatin — disana kita lihat lebih landjut.
— Hanja sadja, kita mesti buru-buru — sesaatpun tak boleh terbuang. Saja ada sais — saja tak mengendarai sendiri — sedangkan tak ada tempat untuk lima orang dikereta saldju saja. Tapi agaknya pada kamu ada kuda Samdevyatov — kamu katakan tadi, membawa kuda itu untuk mengambil balok-balok, bukan? Dia masih dipasang?”
„Tidak, sudah saja lepas”.
„Nah, pasanglah kembali setjepat-tjepatnja. Kusir saja akan membantu …Tapi tak usahlah kita repotkan itu — kita lupakan sadja kereta kamu, kereta saja tjukup besar, agak berdesak-desakanlah. Hanja sadja, tjepatlah, demi Tuhan. Kemaskan jang perlu-perlu sadja untuk perdjalanan — jang paling mudah tertjapai. Soal berkemas tak perlu diributkan, kalau mau menolong njawa anak”.
„Saja tak mengerti, Victor Ippolitovich. Kamu bitjara seolah saja setudju akan ikut serta. Silakan, selamat djalan, biar Lara ikut, djika ia ingin. Soal rumah tak usah kau pikirkan. Akan kubersihkan dan kukuntji, sesudah kau pergi”.
„Apa katamu, Yura? Omong-kosong apa ini? Kau sendiri tak pertjaja pada omongmu. „Djika Lara ingin”, wah! Seolah kau tak tahu benar, aku tak bakal pergi tanpa kau dan tak bakal mengambil putusan sendiri. Djadi djangan berkata gegabah tentang menguntji rumah segala!”
„Djadi kamu berkepala batu?” kata Komarovsky. „Kalau begitu, seizin Larissa Fyodorovna saja ingin bitjara sepatah kata dengan kamu; sendirian, kalau bisa”.
„Tentu. Djika sepenting itu, kita masuk dapur sadja. Tak keberatan, sajang?”
12
„Strelnikov sudah ditangkap, dihukum mati dan ditembak”.
„Kedji betul! Sudah pasti?”
„Djangan diberi tahu pada Lara. Dia akan hilang akal”.
„Tentu tidak. Itu sebabnja saja minta bitjara dengan kamu sendirian. Sesudah kedjadian ini, dia dan Katya terantjam bahaja dari dekat. Bantulah saja menjelamatkan mereka. Kamu benar-benar tak mau ikut dengan kami?”
„Benar. Sudah saja katakan”.
„Namun dia tak mau pergi tanpa kamu. Apa mesti kubuat? Kamu hendaknja menolong saja dengan djalan lain. Kamu harus pura-pura; biarkan dia menjangka, kamu masih mungkin berobah pikiran, bertindaklah seakan kamu masih mungkin dijakinkan. Saja tak sampai hati melihat dia minta diri dan meninggalkan kamu, disini atau disetasiun Yuryatin. Kita akan berusaha supaja ia menjangka kamu akan ikut djuga, kalau tidak sekarang, kemudian, kalau sudah kutjari kesempatan lain agar kamu dapat bertolak. Kamu harus pura-pura mau menerima. Kamu harus mejakinkan dia, djuga kalau kamu terpaksa menyalahi djandji — Tapi dari fihak saja ada tawaran jang bukan tawaran kosong — saja sumpah demi kehormatan saja bahwa begitu saja terima kabar dari kamu nanti, begitu saja usahakan kamu pergi ke Timur Djauh dan akan saja urus agar kamu dari sana dapat kemana sadja menurut kehendak kamu. — Tapi Larissa Fyodorovna harus pertjaja bahwa kamu sedikitnja ikut mengantar kami. Kamu harus membuatnja pertjaja. Misalnja, kamu pura-pura menjapkan kereta saldju, sambil mendesak kita supaja berangkat segera tanpa menunggu kamu, agar tak membuang waktu — kamu sebut sadja akan menjusul, bila sudah siap”.
„Saja kaget mendengar kabar tentang Strelnikov tadi, sampai tak semua utjapan kamu saja tangkap. Tapi kamu benar. Menurut logika zaman ini, kalau Strelnikov sudah diadili, terantjamlah pula njawa Lara dan Katya. Salah satu dari kami pasti akan ditangkap, djadi bagaimanapun djuga kami akan bertjerai. Mengingat itu mungkin lebih baik kamulah jang mentjeraikan kami dengan membawa mereka sedjauh-djauhnja. Saja sebut ini, sungguhpun tak ada artinja lagi, sebab segala hal sudah sesuai dengan kamu. Boleh djadi saja achirnja akan putus-asa, lalu merajap-rajap padamu dan meminta-minta untuk Lara, untuk hidup dan keamanan serta perdjalanan keseberang laut, ketempat keluarga saja dan bersukur hati dengan menerima itu semuanja dari tangan kamu. Namun berilah saja waktu guna mempertimbangkan itu semua. Saja terpukul benar oleh apa jang kamu tjeritakan tadi. Saja tertindih dan pening, tak sanggup berpikir atau menimbang dengan sempurna. Barangkali dengan menuruti kehendak kamu, saja akan membuat kesalahan jang membawa malapetaka, tak terpulihkan lagi, jang akan mentjelakakan saja seumur hidup. Namun jang dapat kubuat sekarang ialah bersetudju dengan membabi-buta dan menuruti kemauanmu, seolah tak punja kehendak sendiri …Baiklah, untuk kepentingan dia kini saja keluar, mengatakan padanja akan menjapkan kereta dan menjusul, namun sebetulnja aku tinggal disini …Tapi ada satu hal lagi. — Sebentar lagi gelap, bagaimana dapat berangkat sekarang? Djalan lewat hutan-hutan dan banjak srigala, waspadalah …”.
„Saja tahu. Djangan kuatir. Saja ada bedil dan pistol. Ada pula saja bawa minuman keras, supaja tahan hawa dingin. Mau sedikit? — Saja punja banjak”.
13
„Apa kubuat? Apa kubuat? Kulepas, kusingkirkan dia, kuberikan. Mesti kukedjar mereka. Lara! Lara!”
„Mereka tak dengar. Angin meniup kesini, pun mereka barangkali bitjara sekeras-kerasnja. Lara tentu merasa bahagia, tenteram. Tak tahu menahu tentang muslihat jang kulakukan dengan dia.
„Pikirnja, bagus sekali bahwa begini djadinja, apalagi jang kuharap? Si Yura jang tolol dan degil itu achirnja mengalah, alhamdulillah; kita menudju ketempat aman-njaman, disitu orang lebih berotak sehat dari pada kita, disitu terdjaminlah hukum dan tata-tertib. Kalaupun terdjadi jang tak diharap, kalau ia tak datang dengan keretaapi besok? Komarovsky akan mengirim keretaapi lain untuk mendjemput dia, maka sebentar lagi ia akan bersama kita. Pada saat ini ia tentunja didalam kandang, buru-buru, gelisah, mengutik-utik pakaian kuda, lantas buru-buru mengedjar dan berbareng sama kita, sebelum kita masuk hutan nanti.
„Begitu tentu pikirannja. Sedangkan kita belum pamitan sebagaimana mestinja, aku hanja melambai padanja, lantas berpaling; kutjoba menelan sedihku, seolah sepotong apel jang tersangkut dikerongkongan dan mentjekikku”.
Ia berdiri diportik menjandang mantel dibahu sebelah. Dengan tangan jang bebas ia menggapai putjuk tiang kaju langsing, dekat dibawah atap, seakan hendak mentjekiknja. Seluruh perhatiannja terpusat pada sebuah titik dikedjauhan. Disitu nampak seruas djalanan jang menandjak, dipagari oleh sedikit pohon berk jang berenggangan. Sinar rendah matahari sendja turun ketempat terbuka ini; disitulah kereta saldju jang kini tersembunji dibelakang lereng landai, akan muntjul tiap saat.
„Slamat djalan, slamat djalan”, kata Yury berulang-ulang tanpa sadar, ketika ia menantikannja; disodoknja kata-kata tak bersuara itu dari dadanja kedalam hawa malam jang beku.
„Slamat djalan, tjintaku esa, tjintaku jang hilang selamanja”.
„Mereka datang, datang”, bisiknja lewat bibir kering jang surut, tatkala kereta pesat bagai panah keluar dari belakang lereng, melewati pohon-pohon satu demi satu, lambat laun berdjalan pelan dan — O, sukurlah! — berhenti disebelah pohon terachir.
Hatinja berdebar dan bergolak liar, sampai kakinja tak tahan, iapun merasa lemah tak berdaja, seluruh tubuhnja lembek seperti kain, seperti mantel jang terpeleset dari bahunja. O Tuhan, iradahMukah memulangkan dia padaku? Apa jang terdjadi? Apa jang berlangsung disana mendjelang terbenamnja matahari? Apa artinja ini? Mengapa mereka berhenti? O, tak lagi berhenti. Mereka bergerak. Ladju. Tentu ia berhenti untuk melihat kerumah penghabisan kalinja. Atau barangkali supaja jakin bahwa aku sudah pergi? Bahwa aku menjusul? Lenjaplah mereka”.
Asal matahari tak lekas tenggelam (dalam gelap mereka tak akan nampak), beruntunglah ia; mereka akan berkelebat lewat lagi, achir kali, diseberang ngarai, tempat srigala-srigala melolong dua malam jang silam.
Dan kini saat inipun tiba dan lalu. Matahari merah gelap, bundar bagai bola, masih mengambang atas kepulan saldju biru dikaki langit, dan padang saldju dengan lahapnja mengesip tjahaja kuning panas serba lembab itu waktu kereta saldju nampak sekilas dan lenjap. „Slamat djalan Lara, sampai ketemu diachirat, slamat djalan kekasih, kaulah bahagiaku abadi tak kundjung tuntas. Takkan kulihat kau lagi, takkan pernah kulihat lagi”.
Udara mendjelang kelam. Tjahaja magrib merah tembaga jang belang-belang disaldju, tjepat mengusam dan padam. Djauh disana, udara empuk kelabu diliputi magrib ungu jang berganti kuning tua; halimun keruh menodai djaringan halus pohon-pohon berk dipinggir djalan, terlukis tipis dilangit djingga jang putjat, seolah tiba-tiba mendjadi dangkal.
Kesedihan telah mempertadjam mata batin Yury, mempertjepat daja pandangnja beratus kali. Udara biasa disekitarnja serasa aneh. Malam bernafaskan rasa iba, laksana teman jang menjaksikan segala perasaannja. Serasa tak pernah ada magrib seperti itu; malampun kini tiba pertama kali untuk melipur dia dalam kesunjian dan kehilangannja. Serasa ngarai disitu tak selalu dipagari hutan jang tumbuh dibukit-bukit disekeliling serta membelakangi kaki langit, tapi pohon-pohon ini seolah baru sekarang sadja berdiri disitu, muntjul dari bumi dengan maksud menjampaikan belasungkawa.
Hampir-hampir dielakkannja keindahan berchuluk dalam saat itu jang seperti kelompok kawan-kawan jang datang mendesak padanja, njaris ia berkata pada tjahaja magrib jang masih ketinggalan: „Trima kasih, aku tak apa-apa”.
Masih berdiri diberanda, ia memalingkan muka kepintu tertutup, membelakangi dunia. „Surjaku gemilang telah tenggelam”: sesuatu dalam batinnja mengulangi itu seolah hendak mengapalkannja. Ia tak tjukup bertenaga untuk melafalkan kata-kata itu keras-keras.
Ia masuk rumah. Pertjakapan tunggal jang berganda berlaku dalam batinnja, dua djenis monolog jang berbeda, jang satu kering dan bersoal, lainnja seperti sungai bandjir, ditudjukan pada Lara.
„Sekarang aku ke Moscow” demikian pikirnja dengan lantjar. Pertama-tama, hidup harus langsung. Djangan sampai tak berdaja, karena kurang tidur. Tak usah tidur sama sekali. Bekerdja sepandjang malam sampai rebah. Ja, dan jang perlu pula, lekas menjalakan tungku dikamar tidur, agar malam ini tak kedinginan”.
Tapi ada djuga pertjakapan batin lainnja. „Aku tinggal sedjurus dengan kau jang tak terlupa, buah kebahagiaanku, selama lengan dan tangan dan bibirku dapat mengenangmu. Kutangisi engkau, hingga ratapku akan kekal dan patut bagimu. Kutulis kenangan tentang dirimu mendjadi bajangan pedih pilu tak berhingga. Aku tinggal disini sampai itu selesai, kemudian akupun hendak pergi. Betapa kulukiskan bajanganmu nanti? Kulukiskan itu diatas kertas seperti laut sesudah ia sampai dasarnja terbongkar oleh taufan dahsjat, jang meninggalkan dipantai bekas-bekas gelombang terkuat jang paling djauh djalannja. Ganggang laut, kerang, batu kambang, segala sisa paling ringan, segala hal paling enteng jang dapat diangkatnja dari dasar laut itulah terlempar kepasir dalam garis putus-putus. Garis tak berudjung jang terentang djauh ini alamat air pasang. Demikianlah kau terlempar dalam hidupku, kekasih, buah kebanggaanku, demikianlah kutulis tentang dirimu”.
Ia masuk, menguntji pintu dibelakangnja dan menanggalkan mantel. Ketika masuk kamar tidur jang pagi itu dibenahkan Lara serapi dan setjermat itu, tapi telah teratjak-atjak lagi sebab ia buru-buru berkemas; ketika dilihatnja randjang tak terurus dan segalanja bungkar-bangkir berserakan dikursi-kursi dan dilantai, iapun seperti anak ketjil, menjandarkan dada ketepi randjang jang keras, membenamkan kepala dikain seprai, lalu menangis sedih sepuas-puasnja seperti kanak-kanak. Namun tak lama. Segera ia bangkit keliling dengan kedjutan termangu serba lesu, mengambil botol wodka jang ditinggalkan Komarovsky, mentjabut gabusnja, menuangkan separoh gelas, membubuhkan air dan saldju, lalu dengan selera jang hampir sama kuatnja dengan rasa putus-asa jang tertjurah dalam air matanja, iapun minum dengan tegukan-tegukan lahap serba pandjang.
14
Sesuatu jang tak masuk akal bertjokol dalam batin Yury. Otak sehatnja terlantur-lantur. Tak pernah adat kebiasaannja seaneh itu. Dibiarkannja rumah terbengkalai dan dirinja sendiri terlantar, malam didjadikannja siang dan tak lagi ia menghitung waktu semendjak kepergian Lara.
Ia minum wodka dan menulis tentang Lara, tapi kian banjak ia mentjoret dan menulis kembali jang dikarangnja, kian banjak tokoh Lara dalam sadjak-sadjak dan buku tjatatannja menjimpang dari tjontohnja jang hidup, dari Lara sebagai ibu Katya, dari Lara jang bepergian bersama anaknja.
Ralat dan penulisan kembali itu disebabkan karena ia mentjari kekuatan dan ketepatan expresi, tapi djuga sesuai dengan bisikan hasrat hendak mengambil djarak jang melarangnja mempertontonkan pengalaman pribadi serta kedjadian sebenarnja dimasa lampau setjara terlalu bebas, agar ia tak menjinggung perasaan atau melukai hati mereka jang langsung tersangkut. Sebagai hasilnja maka uap panas realitet terhalau dari sadjak-sadjaknja, jang meskipun mendjadi kurang darah dan kurang hidup, namun mengandung rasa berpasrah diri serba tenteram, hingga mendjundjung hal jang chusus ketingkatan universil jang dapat ditjapai oleh siapapun djua. Ini bukanlah tudjuan jang dikedjarnja dengan sengadja, melainkan timbul dengan sendirinja sebagai lipuran, seperti pesan jang dikirim Lara kepadanja dari perdjalanannja laksana salam dari djauh, bagai bajangan Lara dalam impian atau sentuhan tangannja dikenningnja, maka gembiralah ia dengan tertjapainja keluhuran dalam sadjaknja itu.
Berbarang dengan pengolahan ratapannja tentang Lara itu ia meneruskan tjatatannja jang telah ditjoret-tjoretkannja sekali tempo selama bertahun-tahun tentang alam, hidup sehari-hari dan berbagai hal lainnja. Seperti jang selalu dialaminja bila ia menulis, sedjumlah gagasan tentang kehidupan individuil dan semasjarakat melintasi otaknja.
Teringat kembali ia bahwa ia berpikir tentang sedjarah, tentang apa jang disebut djalan sedjarah, bukannja dengan tjara jang mendjadi kebiasaan orang, melainkan dalam bentuk pelukisan-pelukisan jang terambil dari keradjaan tumbuh-tumbuhan. Pada musim dingin dibawah selimut saldju, dahan-dahan bugil dalam hutan menggundul adalah tipis dan kerdil, seperti rambut-rambut pada kulit orang tua. Namun selama beberapa hari sadja dimusim semi, hutan sudahlah berobah, ia sampai keawan-awan, orang bisa sesat atau sempurni dalam kerimbunannja jang simpang siur. Selama perobahan ini hutan bergerak dengan ketjepatan jang melebihi ketjepatan binatang, sebab binatang tak tumbuh setjepat tumbuh-tumbuhan; namun gerakan itu tak kentara. Rimba tak beralih tempat, kita tak dapat menunggunja dan menangkapnja waktu ia bergerak. Berapa lamapun kita memandangnja, tak kita lihat ia bergerak. Begitu pula bagi mata kita bergeraklah penghidupan masjarakat jang senantiasa tumbuh, selalu berobah; tak bergantilah sedjarah jang bergerak tak terlihat dalam peralihannja tak putus-putus, seperti hutan dimusim semi.
Begitu pula pikiran Tolstoy mengenai ini, hanja sadja tak disebutnja serba djelas. Walaupun menjangkal bahwa sedjarah digerakkan oleh Napoleon atau penguasa dan djenderal lainnja, namun bantahannja itu tiada diselesaikannja. Sedjarah tidak dibuat oleh siapa-siapa. Sedjarah tak dapat dibuat, tak dapat pula dilihat, seperti tak mungkin kita lihat tumbuhnja rumput. Perang dan revolusi, radja dan Robespierre adalah alat organiknja, raginja. Tapi revolusi dibuat oleh orang-orang fanatik jang bergiat dengan pikiran berarah tunggal, orang-orang jang berdjiwa sempit dalam bakat besarnja. Tata-tertib lama mereka rombak dalam beberapa djam atau sedikit hari sadja, pergolakan seluruhnja berlangsung hanja berpekan atau paling lama bertahun-tahun namun puluhan tahun, berabad-abad kemudian, djiwa sempit jang menimbulkan pergolakan tadi disembah-sembah sebagai hal jang keramat.
Dengan meratapi Lara ia meratapi djuga musim panas djauh lampau di Melyuzeyevo, tatkala revolusi berupa dewa jang datang kebumi dari langit, dewa musim panas ketika tiap orang djadi gila dengan tjara masing-masing dan ketika penghidupan tiap orang berlangsung atas haknja sendiri, tidak sebagai ilustrasi untuk suatu thesis guna menjokong politik tinggi.
Sambil mentjoret-tjoret sepotong demi sepotong itu ia membuat tjatatan jang memperkuat kejakinannja bahwa kesenian selalu mengabdi keindahan, bahwa keindahan adalah kenikmatan bentuk jang berisi, bahwa bentuk adalah kuntji hidup djasadi, sebab tak ada machluk hidup tanpa bentuk, maka tiap karja seni, termasuk duka-tjera, membuktikan kenikmatan hadirat existensi. Dan segala gagasan dan tjatatannja sendiripun memberinja kenikmatan, kenikmatan penuh dukatjita dan air mata, hingga ia pusing kepala dan letih.
Samdevyatov mengundjunginja. Diapun memberinja wodka serta mentjeritakan bagaimana Antipova bersama anaknja berangkat dengan Komarovsky. Ia datang dengan naik lori diatas rel; diketjamnja Yury karena tak mengurus kudanja dengan baik, lalu diambilnja kembali kuda itu, tak hendak meninggalkannja tiga-empat hari lagi seperti jang diminta Yury, namun ia berdjandji akan kembali pekan itu djuga untuk membawa Yury dari Varykino selama-lamanja.
Kadang-kadang, setelah tekun dalam pekerdjaannja, Yury sekonjong-konjong terkenang pada Lara dengan sehidup-hidupnja seolah ia ada didepannja, maka patahlah hatinja karena kemesraan dan rasa kehilangan jang menjajat-njajat. Tak ubahnja dengan semasa ketjilnja, ketika setelah ibunja meninggal ia menjangka mendengar suaranja dalam bunji burung-burung ditaman Kologrivov dalam keagungan musim panas, begitupun pendengarannja jang biasa dengan suara Lara dan mengharapkan itu mendjadi anasir hidupnja kini mempermainkannja, maka didengarnja Lara memanggil: „Yura” dari kamar sebelah.
Dalam minggu itupun ia mendapat matjam-matjam gangguan urat saraf. Pada achir pekan ia bangun waktu malam dari kekau tak karuan mengenai seekor naga jang berliang dibawah rumah. Ia membuka mata. Dari ngarai ada kilat menjambar dan didengarnja tembakan bedil meletup dan bersipongang. Mengherankan bahwa beberapa saat sesudah pengalaman adjaib demikian, ia tertidur kembali, dan esok harinja ia berkata dalam batin bahwa ia telah mimpi.
15
Dan inilah jang terdjadi satu dua hari kemudian.
Yury achirnja memutuskan supaja memakai otak sehat; kalau ia mau bunuh diri, bisa ditjarinja djalan jang lebih tjepat dan kurang menjerikan. Ia berniat hendak pergi sesudah Samdevyatov tiba.
Sedjurus sebelum magrib, ketika masih terang, didengarnja langkah orang berkerasak disaldju. Ada jang tenang-tenang menghampiri rumah dengan langkah tegap dan seenaknja.
Adjaib. Siapa gerangan? Samdevyatov ada kudanja, dia tak akan djalan kaki. Sedangkan Varykino kosong. „Dia tjari aku”, pikir Yury; „instruksi atau perintah supaja aku pulang kekota. Atau mereka mau tangkap aku. — Tidak, mereka tentunja berdua, tentu ada kendaraan untuk membawa aku. Itu Mikulitsin”, pikirnja girang, mengira telah mengenal kembali langkah itu. Tamu jang belum dikenal itu mengorek-ngorek pintu dengan pasuknja jang patah, seolah mengharapkan ada gembok disitu; kemudian ia berdjalan tak ragu-ragu, mengetahui kemana harus pergi, dibukanja pintu-pintu jang bersangkutan dan ditutupnja dengan hati-hati dibelakangnja.
Selama itu Yury duduk depan lesenarnja, membelakangi pintu. Ketika ia bangkit dan menoleh untuk menghadapinja, dilihatnja orang tadi sudah ada diambang, tempat ia mendadak berhenti.
„Siapa tuan tjari?” Yury meletjutkan kata-kata tak mengikat jang kebetulan masuk kepalanja, maka tak heranlah ia bahwa tak diperolehnja djawaban.
Orang tak dikenal itu seorang laki-laki berpotongan baik jang kekar dan bermuka tampan. Ia pakai djaket dan tjelana bulu serta sepatu but dari kulit kambing jang hangat; iapun menjandang bedil.
Jang mengedjutkan Yury bukanlah kedatangannja, melainkan saat ketika ia tampak. Karena ada bekas-bekas bahwa rumah pernah didiami, ia telah mengira akan kedatangan seseorang. Dia inilah rupa-rupanja pemilik perbekalan jang ia ketemukan itu jang seperti dimakluminja tak mungkin berasal dari Mikulitsin. Ada sesuatu pada orang itu jang serasa dikenalnja, ia merasa pernah mendjumpainja.
Melihat Yury, tamu itupun tak nampak kaget, seperti jang dapat diduga. Boleh djadi ia telah mendengar bahwa rumah itu berpenghuni, bahkan tahu siapa-siapa penghuninja. Boleh djadi ia malah mengenal Yury.
„Siapa dia? Siapa dia?” Yury menjiksa otaknja. „Dimana kulihat dia dulu, demi Tuhan? Pasti tidak …Pagi panas bulan Mei, entah tahunnja. Setasiun Razvilye. Deresi komisaris, alamat sial itu. Gagasan pakai-djadi, pikiran satu arah, prinsip tegang dan main kuasa sendiri tanpa batas …Strelnikov!”
16
Berdjam-djam mereka ngomong. Mereka bitjara seperti hanja orang Rusia dapat bitjara, chususnja pada waktu itu, ketika orang putus asa dan hilang akal dalam menghadapi zaman rusuh, penuh ketjemasan.
Tak beda dengan tiap orang lain, Strelnikov banjak bitjara dengan gugup, tapi ada alasannja sendiri djuga mengapa ia terus menerus bertjakap-tjakap.
Ia tak mau berhenti, ditjobanja sedapat-dapatnja agar pertjakapan berlangsung; ia tak berani seorang diri. Takutkah ia pada hati nuraninja sendiri, dikedjar-kedjar oleh kenang-kenangan pribadi ataukah ia tersiksa oleh ketidakpuasan terhadap diri sendiri, jang membuat orang bentji dan djidjik pada dirinja, hingga ia bersedia mati karena malu? Ataukah ia telah mengambil keputusan jang mengerikan dan tak dapat ditarik kembali, lalu tak mau sendirian menghadapinja, lantas ingin menunda pelaksanaannja dengan omong-omong kosong dengan Yury serta menemaninja?
Apapun soalnja, rupa-rupanja ia menjimpan rahasia penting jang memberatinja, selama ia mentjurahkan isi hatinja sederas mungkin mengenai hal-hal lain.
Begitulah penjakit dan keedanan revolusi dari zaman itu: dihati ketjilnja tiap orang berbeda dari kata-katanja sendiri serta wadjah lahiriah jang ia pergunakan. Tak seorangpun jang bersih hati nuraninja. Tiap mereka ada alasannja untuk merasa bersalah dalam segala sesuatu, bahwa ia penipu, pendurhaka jang belum diketahui dosanja. Sekelumit alasan sudahlah tjukup melambungkan daja chajal sampai penjiksaan diri jang keluar batas. Orang memfitnah dan menuduh diri sendiri, tak hanja karena takut, tapi djuga atas kemauan sendiri, terdorong oleh impuls pemusnah jang berpenjakit, terpengaruh oleh pesona metafisik, hanjut oleh nafsu pengutukan diri jang tak dapat dikekang, bila sudah diberi kebebasan.
Sebagai orang tentara berpangkat tinggi jang sering mengetuai mahkamah militer, Strelnikov tentu mendengar dan membatja tak berbilang djumlahnja pengakuan serta keterangan orang-orang jang kena hukuman. Kini ia sendiri tertjekam oleh impuls hendak membuka kedoknja sendiri, menilaikan kembali seluruh hidupnja, membikin neratja, tapi dalam demam kerusuhan hatinja ia bengkokkan segalanja sekedji-kedjinja.
Bitjaranja tak teratur, dari pengakuan jang satu melontjat kepengakuan lain:
„Semua ini terdjadi dekat Chita …Anda heran melihat segala barang dari luar negeri jang anda temukan dalam latji dan lemari? Itu berasal dari penjitaan jang kami lakukan, waktu Tentara Merah menduduki Siberia Timur. Tentu bukan saja sendiri jang membawa kesini. Disekitar saja selalu ada pengabdi-pengabdi jang dapat dipertjaja; dalam hal itu hidup saja senang sekali. Lilin, korek, teh, alat menulis dan sebagainja, semua berasal dari perlengkapan tentara jang disita, ada jang dari Tjeko, Inggris, dan Djepang. Aneh, bukankah begitu? „Bukankah begitu” adalah utjapan jang paling disukai istriku, mungkin sudah kamu ketahui. Tak dapat saja putuskan, apakah akan saja tuturkan pada anda, kapan saja datang, tapi sekarang bolehlah terus-terang sadja — saja datang untuk bertemu dengan isteri serta anak. Kabar jang menjatakan bahwa mereka disini, terlambat saja terima. Itu sebabnja saja ketjele. Waktu saja dengan melalui gundjingan orang serta laporan bahwa anda bersama dia dan waktu nama anda disebut pada saja, entah apa sebabnja, tapi dari beribu-ribu muka jang saja lihat dalam tahun-tahun ini, saja segera ingat pada seorang Dr. Zhivago jang pernah diantarkan pada saja untuk diperiksa”.
„Dan kamu tak menjesal, mengapa tak menjuruh saja ditembak sadja?”
Strelnikov tak menghiraukan pertanjaan itu. Boleh djadi ia malah tak mendengarnja. Tenggelam dalam pikiran, ia meneruskan pertjakapan tunggalnja.
„Tentu saja dengki, kini saja dengki dalam hal itu. Bisa dimengerti, bukan? …Baru bulan-bulan terachir saja sampai kedaerah ini, sesudah tempat persembunjian saja lebih ke Timur lagi diketahui orang. Saja akan dihadapkan kemahkamah tentara atas tuduhan jang dibikin-bikin. Hasilnja mudah diterka. Saja tak bersalah. Saja pikir tadinja, mungkin masih ada harapan membela diri dan membersihkan nama saja suatu waktu dihari depan, kalau keadaan sudah lebih baik. Djadi saja putuskan untuk menghilang sadja selama masih bisa, sebelum ditangkap, tersembunji sekarang, bertapa, pindah kesana sini. Barangkali saja berhasil, kalau tak ada bangsat remadja itu jang saja pertjajai berkat kata-kata manusia; dia melaporkan saja.
„Ketika itu saja lari ke Barat melintasi Siberia, djalan kaki dimusim-dingin, menghindari manusia dan menderita kelaparan. Saja biasa tidur dibeting saldju atau dalam kereta-api — jang berderet-deret tak berudjung, tertimbun saldju disepandjang lin utama di Siberia.
„Nah, saja ketemu anak muda ini, dia badjingan; katanja ia lari dari pasukan penembak partisan — dia dideretkan bersama banjak orang terhukum lainnja, tapi dia tjuma luka-luka, lantas merangkak dari tumpukan majat, sembunji dihutan, lalu sembuh dan kini ia pindah-pindah dari persembunjian jang satu kepersembunjian lainnja, persis seperti saja. Begitulah tjeritanja. Sampahlah dia, djahat dan ongok; pernah diusir dari sekolah karena malas”.
Kian banjak perintjian jang ditambahkan Strelnikov pada pendjelasannja, kian jakinlah Yury bahwa ia kenal pemuda itu.
„Namanja Terenty Galuzin?”
„Ja”.
„Kalau begitu, tiap hal jang disebutnja tentang partisan dan penembakan itu benar. Ia tak bohong sepatah katapun”.
„Satu-satunja sifatnja jang baik ialah, bahwa ia memudja ibunja. Bapaknja ditembak sebagai sandera, ibunja dalam pendjara dan agaknya akan senasib. Mendengar itu, ia mengambil putusan berbuat segala-galanja untuk menjelamatkan ibunja. Ia pergi kepada Cheka setempat, melaporkan diri dan menawarkan bekerdja untuk mereka. Mereka setudju akan memberinja kesempatan, dengan sjarat bahwa ia melakukan pengchianatan jang penting. Ia tjeritakan dimana saja sembunji. Tapi untunglah saja dapat lari pada waktunja.
„Dengan daja upaja jang luar biasa dan setelah bertualang tak habis-habisnja, saja seberangi Siberia dan mentjapai wilajah ini. Saja sangat terkenal disini, djadi saja kira mereka sama sekali tak akan berpikir mentjari saja disini; tak terduga bahwa saja akan berani kesini. Memanglah mereka lama mentjari saja disekitar Chita, pada hal saja sembunji dirumah ini atau dalam satu dua rumah lain dekat dari sini, dimana saja jakin akan aman. Tapi kini tak begitu lagi. Orang sudah tahu dimana saja. Dengarkan, sebentar lagi sudah malam, saja tak suka pada malam, karena tak bisa tidur sudah lama sekali. Kamu tahu itu tak sedap. Djika masih ada sisa lilinku — lilin bagus, bukan? Lemak murni! — bolehkah kita bitjara sedikit lagi? Mari omong-omong sebentar anda, semalam suntuk, dengan bermewah-mewah pakai lilin”.
„Lilin masih utuh. Hanja sebungkus jang saja buka. Jang saja pakai tjuma parafin jang saja temukan disana”.
„Ada roti?”
„Tidak”.
„Djadi hidup dengan apa? Wah, pertanjaan bodoh! Kentang, tentu!”
„Memang. Berlimpah-limpah. Mereka jang tinggal disini dulu pandai mengurus rumah-tangga, mereka tahu bagaimana menjimpan kentang; semuanja aman sentosa diruang kolong, tak busuk atau beku”.
Sekonjong-konjong Strelnikov beralih kerevolusi.
17
„Ini tak akan berarti apa-apa bagi kamu. Kamu tak akan mengerti. Kamu dibesarkan setjara lain sekali. Ada dunia pinggiran kota, dunia kereta-api, dunia lorong belakang dan kamar sewaan. Kotoran, kelaparan, kepadatan penduduk, kemerosotan buruh sebagai machluk manusia, kemerosotan perempuan. Ada pula dunia orang-orang istimewa, dunia mahasiswa serba gagah dan putra saudagar kaja; dunia tanpa hukuman, dunia kedjahatan tak bermalu, tak berhati nurani; dunia orang kaja jang ketawa atau angkat bahu tentang air mata simiskin, jang kena rampok, terhina, jang disesatkan, kekuasaan kaum parasit jang satu-satunja keistimewaannja ialah bahwa mereka tak pernah mempersoalkan sesuatu, tak pernah memberikan apa-apa kepada dunia dan tak pernah mewariskan apa-apa.
„Tapi bagi kami hidup adalah perdjoangan. Kami pindahkan gunung-gunung untuk mereka jang kami tjintai dan apabila tak kami bawakan apa-apa selain kesusahan, bukanlah maksud kami mengganggu satu rambutpun dikepala mereka, pun achirnja kami sendiri lebih menderita dari mereka.
„Tapi sebelum saja teruskan, saja wadjib menjampaikan satu hal pada anda. Kamu harus enjah dari Varykino; djangan ditunda, kalau masih menghargai hidup. Orang mengepung saja makin erat dan anda akan tersangkut dalam apapun jang terdjadi dengan saja. Kamu sudah terlibat hanja karena bitjara dengan saja sekarang. Dan terlepas dari lain-lain hal, disekitar ini banjak srigala. Tempo hari malam-malam saja harus menembak-nembak, agar bisa keluar dari ngarai Shutma”.
„Djadi kamulah jang menembak”.
„Ja. Pasti kamu dengar saja. Saja menudju kepersembunjian lain, tapi sebelum sampai, saja lihat dari berbagai tanda bahwa itu sudah diketahui. Orang-orang jang disana agaknya sudah ditembak. Saja tak akan lama disini. Saja menginap, lalu pergi besok pagi …Nah, saja teruskan sadja, kalau boleh.
„Tentu tidak di Moscow atau di Rusia sadjalah adanja Djalan Tverskaya-Yamskaya3 3Distrik kota di Moskow dalam abad ke-19, seperti Piccadilly di London. dengan brandal-brandal muda pakai topi hiasan dan kaos kaki indah itu jang foja-foja bersama gadis-gadis sewaan dalam kereta sewaan. Djalan itu, penghidupan malam didjalanan, penghidupan malam dalam abad jang lalu, serta segala kuda patjuan dan brandal-brandal itu ada ditiap kota dalam dunia.
„Begitulah. Tapi jang membuat abad kesembilanbelas mendjadi kesatuan, jang membedakannja sebagai taraf kesedjarahan ialah lahirnja gagasan sosialis. — Revolusi-revolusi, para pemuda berbakti jang mati dibarikade, para wartawan jang memutar otak tentang bagaimana memberangus penghinaan uang jang tak semena-mena itu, bagaimana hendak menjelamatkan deradjat manusia bagi simiskin. Timbullah Marxisme. Digalinja akar kedjahatan, ditemukannja obatnja, ia mendjadi kekuatan agung dari abad ini.
„Dan begitu pula Djalan Tverskaya-Yamskaya — kotoran dan kepahlawanan, kedurhakaan dan lorong belakang serta proklamasi dan barikade.
„Tak dapat anda bajangkan, betapa tjantiknja dia sebagai kanak-kanak, sebagai anak sekolah jang tinggal dikamar sewaan disebelah kami; kebanjakan penjewa adalah buruh kereta-api dari trajek Brest — dinamakan trajek Brest ketika itu, kemudian beberapa kali namanja diganti — Bapak saja — ia sekarang anggota mahkamah revolusioner — adalah mandor setasiun. Saja bisa kerumah itu dan bertemu dia. Dia masih kanak-kanak, namun ketika itupun zaman jang penuh kewaspadaan, ketegangan dan kegelisahan itu sudah tertjermin padanja, terbatja dari parasnja, matanja. Segala anasir pembentuk zaman itu — air mata dan penghinaan dan harapan, timbunan balas dendam serta ketinggian hati, semua itu sudah ada dalam ungkapan dan tingkah laku dia, dalam tjampuran sifat malu-malu dan moleknja sebagai gadis serta keberaniannja. Atas namanja, dengan kata-katanja dapatlah kamu gugat abad ini. Kamu akui tentu, ini bukan sembarangan. Ini suatu pertanda, ini nasib. Alam memberkahinja dengan sesuatu jang mendjadi hak kelahirannja.
„Kamu lukiskan dia dengan tepat. Sajapun melihatnja ketika itu, presis seperti kamu gambarkan. Anak sekolah dan sekaligus pahlawan drama rahasia. Bajangannja didjemput adalah bajangan pembelaan-diri jang tak berdaja dan waspada. Begitulah saja lihat dia dan masih begitu dia dalam kenangan. Ulasan anda sempurna.
„Anda lihat dan ingat? Dan apa anda kerdjakan dengannja?”
„Itu tjerita lain sama sekali”.
„Ja. Baiklah. Djadi kamu lihat sendiri, seluruh abad kesembilanbelas ini — revolusi-revolusinja di Paris, angkatan-angkatan pengungsi di Rusia, mulai dengan Herzen, pembunuhan para tsar; ada jang hanja dikomplotkan, ada jang terlaksana, seluruh gerakan buruh didunia, seluruh Marxisme dalam parlemen dan universitas di Eropa, seluruh sistim gagasan baru serta kebaruannja, ketjepatan dari kesimpulannja, ironinja, obat-obatnja jang tak berbelas-kasih jang ditemukan atas nama belas-kasih itu — semua itu meresap pada Lenin, agar dinjatakan, dipribadikan olehnja, agar menimpa dunia lama sebagai pembalasan dendam atas perbuatan-perbuatannja.
„Dan bahu-membahu dengannja muntjullah didepan mata dunia negara Rusia sebagai tokoh jang luas tak bertara, menjala-njala bagi tjahaja pembalasan bagi seluruh dukatjita dan penderitaan ummat manusia. Tapi untuk apa saja tjeritakan semua ini pada anda? Bagi anda hal ini hanja hiruk-pikuk jang kosong.
„Untuk kepentingan gadis ini saja beladjar dan mendjadi guru dan pergi menempuh nasib gelap, ke Yuryatin. Untuk dialah saja menelan buku-buku dan mendalami pengetahuan banjak sekali, agar siap-sedia dan berguna, bila dia perlukan bantuan saja. Untuk mendapat hatinja kembali setelah kawin tiga tahun, saja berangkat kepeperangan; ketika perang selesai dan saja pulang dari tahanan, saja ambil keuntungan dari kenjataan bahwa saja disangka mati, maka dengan nama samaran saja buru-buru mentjemplungkan diri dalam revolusi, untuk menebus sedapat-dapatnja segala kesalahan saja terhadapnja dan segala penderitaannja, untuk mentjutji bersih pikirannja dari kenang-kenangan itu, sampai tak mungkin lagi untuk kembali kezaman lampau dan tak ada lagi Djalan Tverskaya-Yamskaya. Dan selama itu mereka, dia serta anaknja, tinggal dekat pada saja, mereka disini! Alangkah beratnja bagi saja untuk menahan keinginan menjongsong mereka dan bertemu dengan mereka! Tapi pertama-tama saja ingin menjelesaikan karja hidupku! Sekarang, apa jang tak hendak saja korbankan untuk melihat mereka sepintas lalu! Bila ia masuk, djendela seolah terbuka serta-merta dan kamar penuh udara dan tjahaja”.
„Saja tahu, anda sangat tjinta padanja. Tapi maaflah, sadarkah anda akan tjintanja pada anda?”
„Maaf, apa anda katakan?”
„Saja tanja, apakah anda merasa betapa besar tjintanja pada anda? — lebih dari pada siapapun didunia!”
„Apa alasan anda mengatakan itu?”
„Dia sendiri menjebutnja”.
„Dia katakan itu? Pada kamu?”
„Ja”.
„Maaf, saja sadar akan menanjakan sesuatu jang tak patut, tapi asal tak terlalu kurang sopan sekali, kalau anda tak keberatan, harap tjeritakan setepat-tepatnja apa jang dikatakannja”.
„Dengan senang hati. Katanja, kamulah teladan jang menundjukkan bagaimana mestinja seorang manusia, laki-laki jang tak pernah ditemunja tolok-bandingnja, kamulah unik dalam hal kesetiaan dan asal dia bisa pulang kerumah jang dulu ditempati bersama, dia akan berlutut dan merangkak kesitu dari udjung bumi”.
„Maaf; kalau tidak mengusik sesuatu jang amat akrab, ingatkah anda dalam keadaan apa ia mengatakan itu?”
„Dia telah berbenah dikamar ini, lalu keluar untuk mengibaskan permadani”.
„Maaf, permadani jang mana? Ada dua”.
„Itu, jang besar”.
„Terlalu berat baginja — anda membantunja?”
„Ja”.
„Kamu pegang kedua udjungnja dan dia melentik kebelakang, melambungkan lengan-lengannja seperti diatas ajunan, membuang muka terhadap debu jang beterbangan, lalu dia pedjamkan matanja dan ketawa? Begitu, bukan? Saja kenal tingkah lakunja! Lantas kamu berdjalan dekat mendekati, sambil menggulung permadani berat itu djadi dua, kemudian empat lipatan, sedangkan dia berkelakar dan menarik-narik raut muka, bukan? Begitu, bukan?”
Mereka bangkit, menjeberangi kamar kedjendela-djendela jang berlainan dan memandang keluar kearah jang tak sama. Sedjurus kemudian Strelnikov menghampiri Yury, menggamit tangan-tangannja, menekannja kedada, lalu dengan buru-buru seperti sebelumnja ia menjambung:
„Maaf. Saja sadar telah menjinggung hal-hal jang kamu sajangi dan kamu kuduskan. Namun kalau boleh, saja ingin bertanja-tanja lagi. Harap djangan pergi. Djangan tinggalkan saja. Saja akan segera pergi sendiri. Tjoba pikir — enam tahun perpisahan, enam tahun pengekangan diri jang tak insaniah. Namun saja masih berpendapat, kemerdekaan belum sepenuhnja saja tjapai. Bila sudah, saja pikir tangan-tangan saja akan tak terikat, hingga dapatlah saja berkumpul dengan mereka lagi. Tapi sekarang, seluruh perhitungan saja gagal. Besok saja akan ditangkap. Kamu rapat dengannja dan disajanginja. Barangkali kamu ketemu dia suatu hari …Tapi mengapa saja sebut-sebut ini! …Saja gila. Saja akan ditangkap dan takkan sempat bitjara sepatah katapun untuk membela diri. Mereka datang dengan antjaman dan maki-makian dan menjumbat mulut saja. Saja tahu tjara-tjaranja!”
18
Achirnja malam itu Yury tidur lelap. Pertama kali sedjak bermalam-malam ia tertidur pada saat ia berbaring. Strelnikov menginap disitu; Yury mempersilakannja dikamar sebelah. Satu dua kali, waktu Yury terdjaga dan membalikkan badan atau menarik selimutnja sampai kedagu, terasalah betapa tidurnja itu amat menjegarkannja, lalu terlelaplah ia kembali dengan segera dan bahagia. Mendjelang fadjar, ia dapat beberapa impian pendek jang kalaidoskopis tentang masa ketjilnja, begitu terperintji dan logis, hingga disangkanja itu benar-benar terdjadi.
Ia mimpi misalnja bahwa lukisan tjet air ibunja jang menggambarkan suatu tempat di Riviera Italia djatuh dari tembok. Ia buka matanja. „Itu mustahil”, pikirnja. „Antipovlah itu, suami Lara, Strelnikov, dia menakut-nakuti srigala dingarai Shutma, begitu tjerita si Bacchus. Ah, omong kosong! Memang lukisanlah. Itu dia, petjah-petjah dilantai, demikian ia mejakinkan diri, waktu kembali bermimpi.
Ia bangun kesiangan, pusing lantaran terlalu banjak tidur. Mula-mula ia tak sadar, siapa dan dimana dia.
Kemudian dia ingat: „…Strelnikov disitu. Sudah siang. Aku mesti berpakaian. Ia tentu sudah bangun sekarang. Kalau belum, kubangunkan dia, kusediakan kopi, lalu minum bersama”.
„Pavel Pavlovich!” serunja.
Tak ada djawaban. „Masih tidur dia. Sungguh njenjak tidurnja”. Tiada buru-buru ia mengenakan pakaian, lantas masuk kamar sebelah. Topi bulu Strelnikov terletak dimedja, tapi dia sendiri tak ada dirumah. Rupa-rupanja lagi djalan-djalan. Tanpa topi. Berlatih diri. „Mestinja sudah kutinggalkan Varykino hari ini, tapi sekarang terlambat. Lagi-lagi aku kesiangan, begitu sadja saban hari”.
Ia menjalakan tungku dapur, memungut ember, pergi kesumur. Beberapa meter dari pintu, Strelnikov tergelimpang didjalan ketjil, kepalanja dibeting saldju. Ia telah menembak diri. Saldju berpungkah merah dibawah pelipis kirinja, tempat ia mengutjur darah. Tetesan darah jang telah muntjrat dan terguling disaldju menggubah manik-manik seperti arbai dingin.
1
Tinggal kini mentjeritakan kisah pendek tentang delapan atau sepuluh tahun terachir penghidupan Zhivago, ketika ia kian lama kian merosot, lambat-laun kehilangan pengetahuan serta ketjakapannja sebagai dokter dan sebagai pengarang; dari bawah tekanan ini ia muntjul dan meneruskan pekerdjaannja, tapi setelah kegiatannja mentjetus sebentar, iapun djatuh kembali dalam taraf-taraf lama, dimana ia tak mengatjuhkan diri sendiri dan segala hal didunia. Selama tahun-tahun itu penjakit djantungnja jang dulu dibuatnja sendiri diagnosanja, tapi tanpa mengerti betul parahnja, berkembang ketingkat lebih landjut.
Ia tiba di Moscow pada permulaan P.E.B.1 1Politik Ekonomi Baru (pent.). taraf perkembangan Sovjet jang paling palsu dan paling dwi-arti. Ia lebih kurus lagi, lebih terlantar dan tak terurus dari pada ketika tiba di Yuryatin, setelah lari dari partisan. Selama perdjalanannja, sekali lagi ia kehilangan satu persatu dari pakaiannja jang agak berharga, ditukarnja itu dengan sedikit roti atau kain tua tjompang-tjamping untuk menutupi ketelandjangannja. Demikianlah ditandaskannja mantel dan setelan bulunja jang kedua, maka sampailah ia di Moscow dengan memakai topi kulit domba abu-abu, putih dan djas tentara usang jang semua kantjingnja sudah terkikis seperti sebuah overall seorang tawanan. Dalam pakaian begini ia tak dapat dibedakan dari chalajak tak berbilang, anak-buah Tentara Merah jang membandjiri semua setasiun, djalanan dan pelataran dikota.
Ia tak datang sendirian. Kemanapun perginja, ia diikuti oleh seorang petani muda lagi tampan, jang djuga pakai pakaian rosokan dari tentara. Dalam keadaan inilah mereka muntjul disalon-salon Moscow jang masih tinggal sedikit, dimana Yury semasa ketjilnja sering berkundjung; disitu orang masih ingat padanja serta menerimanja bersama kawannja (setelah ditanjai setjara bidjaksana, apakah mereka sudah mandi — sebab penjakit typhus masih menghebat), dan disitu ia dengar dalam keadaan apa keluarganja berangkat dari Rusia.
Yury beserta kawannja itu malu-malu; akibat kesipuan jang sangat itu mereka tak hendak setjara terpisah bergaul dengan orang-orang lain, karena tak berani bertjakap-tjakap. Bila dua tokoh djangkung ini muntjul dalam pertemuan antara teman-teman Yury, biasanja mereka mementjilkan diri kesatu sudut, diam-diam sadja sepandjang sore, tanpa ikut-serta dalam pertjakapan orang banjak.
Dengan berpakaian seburuk itu dan disertai sipemuda kemana-mana, dokter jang tinggi-kurus itu nampaknja seperti petani „pentjari kebenaran”, dan pengiringnja seperti murid berhati sabar, penurut dan pemudja jang sepatah-patuhnja.
Siapakah teman Yury ini?
2
Dalam bagian terachir perdjalanannja, Yury menggunakan kereta-api, tapi bagian jang terdahulu dan lebih djauh telah didjalaninja dengan kaki.
Dusun-dusun jang dilewatinja tak lebih bagus dari jang dilihatnja di Siberia dan Ural dulu, setelah ditinggalkannja tentara partisan. Bedanja, ketika itu lagi musim-dingin, sedangkan sekarang, pada achir musim-panas dan awal musim-rontok jang panas-kering, maka tjuatja demikian membuat perdjalanannja lebih enteng.
Dusun-dusun tadi separoh kosong, ladang-ladang terbengkalai dan tiada orang berpanen, tak ubahnja dengan sehabis penjerbuan musuh — begitulah akibat peperangan: Perang Saudara.
Selama tiga hari achir September, djalannja menjusur tepi terdjal sebatang sungai. Sungai jang mengalir kearahnja itu disebelah kanannja. Disebelah kiri, ladang-ladang jang tak terpungut panennja itu terbentang dari djalan sampai keawan-awan bergumpulan dikaki-langit. Dengan diselang-seling djarak-djarak djauh, ladang diganti oleh hutan, kebanjakannja hutan djati, mapel dan elm. Hutan-hutan ini membudjur kesungai melalui ngarai-ngarai dalam, turun tunggang-langgang kesitu dan memotong djalanan.
Diladang-ladang terbengkalai itu gandum matang berserakan dan tertjetjer ditanah. Yury mengumpulkannja berangkum-rangkum; lantaran tak dipunjainja alat untuk merebus dan membuat bubur, maka dalam keadaan terdjepit ia masukkan gandum itu kemulutnja, lalu menggerusnja dengan susah pajah antara geriginja. Dengan lebih pajah lagi ia tjernakan makanan mentah jang setengah terkunjah ini.
Seumur hidup ia tak pernah melihat padi-padian dengan warna tjoklat berkarat jang berfirasat buruk itu, warna emas tua jang buram. Bila dituai pada waktunja, warnanja biasanja djauh lebih terang.
Ladang-ladang berwarna api jang menjala tanpa api, ladang-ladang jang diam-diam menjatakan malapetakanja ini dikelilingi langit luas serba dingin lagi tenang jang sudah berwadjah musim-dingin, digelapi oleh mendung-mendung saldju pandjang jang berbulu-bulu dan senantiasa bergerak, dengan pusat hitam dan sajap putih.
Segala sesuatu bergerak terus, pelan-pelan dan runtun: sungai mengalir, djalanan terulur-ulur memapasnja dan Yury berdjalan disitu kearah jang sama dengan arah awan-awan. Ladang-ladang itupun bukannja menetap. Ada jang berkutik-kutik didalamnja, jang memenuhinja dari udjung keudjung dengan deru-derai ketjil tak henti-henti jang memualkan Yury.
Tak pernah ada hama tikus seperti itu. Mereka berbiak dalam djumlah jang sukar dapat dipertjaja, tak pernah begitu sebelumnja. Mereka berlari-larian atas muka dan tangan Yury, masuk lengan badju dan tjelananja diwaktu malam, bila ia karena sudah gelap terpaksa menginap dibawah langit terbuka; mereka berkedjar-kedjaran menjeberangi djalan diwaktu siang, kekenjangan dan berbondong-bondong, dan bila diindjak kaki, mereka mendjelma djadi bubur jang bergeletar.
Andjing-andjing kampung jang djumbai dan sudah djadi buas, mengikutinja dari djarak jang aman, bertukaran pandang seolah mentjari saat terbaik untuk menghundjam dan mentjintjangnja. Mereka makan bangkai, tak menolak daging tikus dan memandangi Yury dari djauh, berdjalan dibelakangnja dengan penuh harapan, seakan menantikan sesuatu. Entah mengapa, tapi mereka tak pernah masuk hutan dan apabila ia mendekati salah seekor, mereka berdikit-dikit undur, berpaling dan lenjap.
Pada waktu itu hutan dan ladang menundjukkan kontras jang sempurna. Ditinggalkan manusia, ladang-ladang itu nampak dianak-jatimkan, seolah ketidakhadirannja membuatnja terkutuk; tapi hutan senang dibebaskan dari manusia, berkembang megah seakan luput dari tahanan.
Biasanja buah hazel tak sempat matang, karena orang dusun, chususnja anak-anak, memetiknja ketika masih hidjau, dengan mematahkan dahan-dahan. Tapi kini semua bukit dan ngarai jang dimusim-rontok ini ditumbuhi hutan-hutan, mendjadi rimbun oleh daun-daun kuning dan kasar jang ditaburi debu dan dibuat kasap oleh matahari; dan sebagai mahkota jang seolah diikat dengan pita adalah bulir-bulir buah jang mengembang, tiga empat bulir mendjadi satu, serba matang dan siap untuk keluar dari kulitnja. Sambil berdjalan, Yury mengupas dan memetjahkan buah-buahan ini serta mengisi penuh kantong-kantong dan ranselnja dari kulit berk; seminggu penuh ia melulu makan buah hazel.
Ia merasa seperti menjaksikan ladang-ladang itu tertjekau oleh penjakit berbahaja dan hutan-hutan mengalami kesembuhan jang menjegarkan, seolah Tuhan berdiam dihutan dan Setan mengintai dari ladang.
3
Pada suatu titik dalam perdjalanannja, Yury menemukan dusun sepi jang terbakar habis. Semua rumah tadinja berdiri seleteran dipinggir djalan diseberang sungai. Diladjur tanah antara leretan ini dan garis pinggir tepi sungai tak ada bangun-bangunannja.
Hanja satu dua rumah jang terbakar dan hangus jang masih berdiri, tapi kosong djuga. Rumah-rumah lain tak ada sisanja, ketjuali reruntuhan hangus bertimbun-timbun; pipa-pipa tungku jang hitam menjongak-tjongak dari situ.
Batu-batu karang jang menghadap kesungai penuh dengan lobang-lobang; disitu orang dusun menggali batu untuk keperluan menggerinda — itulah mata-pentjaharian mereka. Tiga batu tjanai jang belum selesai menggelimpang ditanah didepan rumah penghabisan dalam deretan tadi, salah sebuah dari sedikit rumah jang masih berdiri. Tak beda dengan jang lain-lain, rumah inipun tak didiami orang.
Yury masuk. Hari masih sore; tapi agaknya ada angin meniup kedalam, ketika ia melangkahi ambang. Djerami dan rumput kering berdjambak-djambak seliweran dilantai, sisa-sisa kertas menepuk-nepuk dinding dan seluruh teratak gojah dan berderak-derak. Seperti seluruh pedusunan, rumah inipun penuh tikus jang lari kesegenap pendjuru sambil mentjitjit.
Ia keluar. Matahari sedang tenggelam dipinggiran ladang-ladang dibelakang dusun; sinar emasnja jang hangat menggenangi tepi diseberang dengan segala teluk dan semak-semaknja, bajang-bajangnja jang mengusam mendjorok sampai ketengah sungai. Yury menjeberangi djalan dan duduk disalah satu batu gerinda jang terletak dirumput.
Dari belakang pinggiran tepi sungai muntjullah kepala djumbai jang tampan, disusul oleh pundak, kemudian lengan-lengan. Ada orang naik kedjalan ketjil dibatu karang, membawa seember air. Melihat Yury ia berhenti, baru kelihatan dari pinggang keatas.
„Tuan mau minum air? Asal tuan tak memukul saja, saja tak apa-apa”.
„Terima kasih. Ja, aku mau minum. Tapi kemarilah, djangan takut. Mengapa aku akan memukulmu?”
Jang mengangkat air itu anak muda belasan tahun, dengan kaki bugil, pakaian tjompang-tjamping dan rambut kusut-kasau.
Meskipun Yury berkata manis, pemuda itu menatapnja dengan pandangan chawatir tjampur tjuriga. Oleh sesuatu sebab ia bertambah gelisah. Achirnja, setelah meletakkan embernja, ia lari kearah Yury, namun berhenti ditengah djalannja sambil kumat-kamit:
„Bukan…mustahil…aku tentu mimpi. Maaf, kawan, kalau saja bertanja-tanja, tapi saja serasa kenal kamu…Ja! Ja! Pasti! Kamu tuan dokter, bukan?”
„Kau siapa?”
„Tak kenal saja?”
„Tidak”.
„Kita sekeretaapi dari Moscow, dalam satu deresi. Saja dikeradjapaksakan”.
Itulah Vassya Brykin. Ia merebahkan diri ketanah didepan Yury, mentjium tangannja, lantas menangis.
Puing hangus itu reruntuh dusun kelahirannja, Veretenniki. Ibunja sudah meninggal. Ketika dusun dihantjur-leburkan, Vassya sembunji ditambang batu, tapi ibunja jang menjangka ia telah diangkut kekota, mendjadi gila karena sedih, lantas terdjun kesungai, sungai Pelga itu jang mengalir dikaki karang, tempat mereka duduk dan bertjakap-tjakap. Dua saudarinja perempuan Alya dan Arya konon diasuh dalam rumah piatu dalam distrik lain, tapi ia tak tahu apa-apa dengan pasti tentang mereka. Ia ikut Yury ke Moscow dan ditengah djalan ia mengisahkan banjak kedjadian jang menjeramkan.
4
„Gandum jang berantakan diladang-ladang ini dari musim-dingin jang silam. Kami baru sadja selesai menabur benih, ketika kesusahan mulai, sesudah bibi Polya pergi. Kamu ingat bibi Polya?”
„Tidak. Bahkan tak pernah kenal. Siapa dia?”
„Tak pernah kenal bibi Polya! Dia bersama kita dikeretaapi! Jang tinggi dan manis itu, jang suka menatap orang langsung kemata?”
„Jang selalu memilin dan mengurai rambutnja itu?”
„Itu dia! Jang rambutnja dikelabang, memang!”
„Ja, kuingat dia. Tunggu sebentar, sesudah kupikir — aku ketemu dia kemudian dalam sebuah kota di Siberia. Kami berdjumpa dilebuh”.
„Betul? Kamu ketemu bibi Polya?”
„He, mengapa kau? Mengapa kaugontjangkan tanganku matjam itu? Awas, djangan sampai kautarik sampai putus. Dan mengapa kau merah-padam matjam gadis sadja?”
„Tjeritakan lekas, bagaimana dia? Tjeritakan”.
„Baik-baik sadja, waktu kami ketemu. Dia tjerita tentang kau dan orang-orang sedusunmu. Agaknya dia katakan, dia tinggal bersama kau, ataukah aku salah dengar?”
„Tentu, tentu. Dia tinggal bersama kami. Ibu suka padanja, seperti pada adik sendiri. Dia pendiam dan bekerdja dengan baik, pandai sekali menggunakan djarum. Selama dia bersama kami, kami banjak mempunjai apa-apa. Tapi gundjingan orang membikin hidupnja sengsara di Veretenniki.
„Didusun ada orang jang namanja si Kharlam Busuk. Ia djatuh hati pada Polya. Ia tukang fitnah, hidungnja membusuk. Polya tak sudi melihatnja. Lantaran itu ia dongkol pada saja, djadi ia fitnahi saja dan Polya. Begitulah asal mulanja. Achirnja pergilah Polya, tak betah lagi. Itulah permulaan kesukaran kami.
„Dekat dari sini ada pembunuhan djahat. Seorang djanda dibunuh dalam rumah dihutan dekat Buyskoye. Dia hidup sebatangkara dipertanian ditepi hutan. Ia suka berdjalan dengan sepatu-but lelaki pakai ban karet. Ia piara andjing galak jang diikat rantai pandjang — rantai itu begitu pandjang, sampai siandjing dapat mengitari seluruh rumah. Namanja Gorlan. Dia kerdjakan segala-galanja dirumah dan dipertanian itu sendirian sadja tanpa bantuan. Nah, tahun lampau musim-dingin tiba, sebelum terduga oleh siapapun djuga. Saldju buru-buru turun, pada hal sinenek belum menggali kentangnja. Datanglah ia di Veretenniki, katanja: „Tolonglah”, udjarnja, „kubajar kau dengan uang atau kuberi sebagian dari kentangku”.
„Saja bilang, djadilah, tapi setiba saja dipertanian, Kharlam ada disitu; dia sudah bekerdja sebelum saja dan sinenek tak ambil pusing untuk memberitahu pada saja. Saja tak mau berkelahi tentang itu, djadi kami kerdja bersama-sama. Tjuatja buruk sekali — hudjan, saldju, betjek, lumpur saldju. Kami menggali dan menggali dan kami bakar putjuk-putjuknja guna mengasapi kentang supaja kering. Selesai pekerdjaan, sinenek mengurus pembajarannja dengan kami, bereslah, lantas disuruhnja Kharlam pergi, tapi saja diberinja isjarat jang berarti supaja saja tinggal disitu atau datang lagi kelak.
„Djadi kembalilah saja dan dia bilang: „Aku tak suka menjerahkan surplus saja2 2Semasa „Komunisme dizaman perang” (kira-kira tahun 1917-1921) petani-petani harus menjerahkan kepada negara, „surplus” dari hasil-hasil mereka, jaitu tiap hasil jang tak dibutuhkan oleh si-produsen dan tidak diperlukan sebagai benih. Penjerahan setjara sporadis dipaksakan oleh regu-regu bersendjata jang kerapkali menghadapi perlawanan banjak. Keadaan ini berobah setelah tahun 1921; ketika itu dibawah P.E.B. kaum petani harus menjerahkan bagian tertentu sebagai padjak in natura, tapi sisa surplusnja boleh mereka djual sendiri. pada negara. Kau anak baik”, katanja, „aku jakin, kau tak akan mengchianati aku. Tengoklah, aku tak sembunjikan apa-apa terhadap kau. Tadinja aku sendiri mau gali lobang, tapi lihat sadja bagaimana tjuatja sekarang. Lobang terlandjur tak kubikin, sudah musim-dingin kini, tak mungkin kubikin sendiri. Asal kau mau menggali untukku, kantongmu tak bakal kempes”.
„Saja bikinlah lobang itu sebaik-baiknja untuk tempat simpanan, lebar dibawah, tjut diatas, seperti gutji, lantas kami njalakan api lagi dan lobang kami panaskan dan kami keringkan dengan asap — itu semua dalam taufan mengguruh. Lantas kami masukkan kentang-kentang dalam lobang jang kami tutup lagi dengan tanah. Serba rapi. Tentu saja tak bilang apa-apa pada siapapun, bahkan tidak pada ibu dan adik-adik. Allah mentjegahnja!
„Nah, belum sebulan jang lampau pertanian itu dirampok. Orang-orang jang lewat Buyskoye bilang, pintu terbuka lebar dan seluruh tempat dibersihkan. Sidjanda tak nampak hidungnja, sedangkan Gorlan sudah mematahkan rantainja dan lari.
„Sedikit hari kemudian, dekat sebelum tahun baru, saldju mentjair; malam Santo Basil ada hudjan, sampai saldju terbilas dari tempat-tempat ketinggian dan tanahpun kelihatan. Lalu si Gorlan balik kepertanian dan menemukan tempat kentang terpendam; saldju tak ada sama sekali dan dia mulai mendangkir tanah. Ia menggali dan menggali, tanah dilontar-lontarkannja, dan itu dia kaki sinenek muntjul dari liang, pakai sepatu but dengan ban karet jang biasa dipakainja — seram betul!
„Tiap orang di Veretenniki merasa kasihan dengan sinenek. Tak ada jang menaruh sjak pada Kharlam. Bagaimana dapat mentjurigainja? Itu bahkan tiada terpikir. Andaikata dia jang berbuat, mana berani dia tinggal di Veretenniki dengan seenak-enaknja? Dia akan lari, pikir orang, dia akan lari sedjauh-djauhnja dari Veretenniki.
„Jang bersukadjita tentang pembunuhan dipertanian itu ialah kaum kulak.
„Inilah kesempatannja untuk mengatjau-balaukan dusun”, kata mereka, „itulah kesalahan orang kota. Mereka berbuat begitu sebagai peladjaran, peringatan untukmu, supaja kalian tak mengumpulkan gandum dan memendam kentang. Tapi kamu tolol, kamu kira jang membunuh itu bandit-bandit dari hutan. Kerdjakan sadja menurut perintah orang kota. Masih banjak lagi akal mereka, mereka dapat semuanja, kalian dibikin kelaparan. Kalau mau tahu bagaimana sebaiknja bagi kamu, dengarkanlah, kami adjar kamu berpikir. Bila mereka datang untuk mengambil apa jang kamu hasilkan dengan mandi keringat, katakan sadja kita tak punja sebutir gandumpun, apalagi surplus. Dan kalau ada kesukaran, pergunakan tjanggahmu. Dan kalau ada jang menentang kemauan dusun, dia harus hati-hati!” Nah, semua orang tua-tua berunding dan mengadakan rapat-rapat dusun dan itulah djustru jang dikehendaki Kharlam. Pergilah dia kekota dengan tjeritannja. „Kedjadian bagus didusun”, katanja, „dan apa jang kamu perbuat? Panitia Kaum Miskin3 3Panitia petani-petani jang tak punja tanah, dibentuk guna mendorong timbulnja „perang kelas” didusun-dusun. , itulah jang kita perlukan. Kasi perintah dan sebentar lagi saja bikin mereka bertjakar-tjarakan”. Kemudian ia enjah, entah kemana, dan tak nampak-nampak lagi didaerah kami.
„Apa jang terdjadi kemudian, datang dengan sendirinja. Tak ada jang mengatur, tak ada jang bersalah. Tentara Merah dikirim dari kota dan mereka membuat pengadilan. Dan mereka mulai dengan saja — itu berdasar pada keterangan Kharlam. Saja hindari kerdjapaksaan. Saja melarikan diri. Dan sajalah jang membunuh sinenek dan menghasut dusun, kata mereka. Saja dikurung dalam kamar, tapi untungnja saja dapat akal untuk mengangkat salah satu papan lantai, lalu enjah. Saja sembunji dalam gua ditambang batu tua. Dusun dibakar diatas kepala saja — tak pernah saja lihat; ibu terdjun dalam lobang didalam es dan tak pernah saja lihat. Semua terdjadi dengan sendirinja sadja. Orang memasukkan sendiri anak-buah Tentara Merah itu didalam rumah, memberi wodka, hingga semua mabuk-mabuk. Malam hari rumah itu terbakar lantaran kurang hati-hati. Apinja tersebar kerumah-rumah lain, dari jang satu kepada jang lain. Ketika itu mulai, orang dusun melontjat dari rumah masing-masing dan lari. Tapi orang-orang dari kota itu — djangan lupa, tak ada jang mau membakar mereka — tentulah mati terbakar semuanja. Tak ada jang menjuruh orang-orang kami supaja lari atau menghindari rumah mereka jang terbakar itu. Tapi mereka takut-takut, kalau-kalau ada apa-apa lagi. Kaum kulak menjebarkan desas-desus, bahwa tiap orang kesepuluh pasti akan ditembak. Waktu saja keluar dari gua, mereka sudah hilang semua. Tak satu machlukpun saja djumpai — mereka berkeliaran, entah dimana”.
5
Yury dan Vassya tiba di Moscow dalam musim-semi tahun 1922 pada permulaan P.E.B. Hawa terang lagi hangat. Belang-belang tjahaja matahari jang terpantul dari kubah-kubah keemasan Geredja Sang Djuruselamat bermain-main dipelataran dibawahnja, jang ditumbuhi rumput dalam rekah-rekah antara batu-batu pelapis djalan.
Larangan atas usaha swasta telah ditiadakan dan perdagangan dalam batas-batas sempit jang tertentu diizinkan. Djual-beli berlaku dalam rangka omset pedagang lowakan dalam pasar ketjil-ketjilan, maka akibat kekerdilan mereka ini ialah pentjarian laba dan spekulasi. Djual-beli demikian tak menjiptakan kemakmuran baru dan tak ada dibuat apa-apa untuk mengurangi kekotoran kota, pada hal orang mendjadi kaja raja dengan mendjual dan mendjual kembali barang-barang jang sudah didjual selusin kali, suatu hal jang tiada bermakna.
Beberapa pemilik perpustakaan swasta jang sederhana menurunkan buku-buku mereka dari lemari untuk digabungkan. Mereka beritahukan Dewan Kota tentang hasrat mereka hendak membuka toko buku koperatif. Mereka memohon lokalitet dan dibolehkan memakai sebuah gudang jang kosong sadja sedjak hari-hari pertama revolusi, ketika orang menutup toko jang ada disitu, maka dibawah lengkung atap jang luas itu mereka mendjual koleksi-koleksi mereka jang ketjil dan terhimpun sedjadi-djadinja itu.
Istri-istri profesor jang selama zaman serba sulit tadinja memasak roti bundar putih serta mendjualinja, bertentangan dengan peraturan, kini berdagang terang-terangan ditoko-toko jang telah disita dan bertahun-tahun tak terpakai. Mereka menerima revolusi, mereka telah berobah dan kini mengatakan: „Boleh, deh” untuk mengganti „Ja” atau „baiklah”.
Setibanja di Moscow, berkatalah Yury:
„Kau harus tjari kerdja, Vassya”.
„Saja ingin beladjar”.
„Tentu sadja”.
„Angan-angan saja lainnja ialah menggambar potret ibuku dari luar kepala”.
„Gagasan bagus djuga itu. Tapi untuk itu kau harus pandai menggambar. Pernah tjoba?”
„Waktu saja magang pada paman, saja biasa main-main dengan arang, bila ia tak melihat”.
„Nah, apa salahnja. Kita tjoba sadja nanti”.
Pada Vassya tak ada bakat besar sebagai seniman, namun ia tjukup mempunjai ketrampilan jang rata-rata untuk berlatih sesuatu kedjuruan. Atas pertolongan kawan-kawannja, Yury dapat memasukkan dia dalam apa jang dulu bernama Lembaga Stroganov; disitu ia mula-mula mengikuti kursus pengetahuan umum, kemudian mengchususkan diri dalam mentjetak, mendjilid buku dan design buku.
Yury dan Vassya menggabungkan tenaga. Yury menulis brosur-brosur ketjil, masing-masing berisi beberapa lusin halaman mengenai berbagai objek, Vassya menata-hurufkan, lalu mentjetaknja dalam terbitan ketjil-ketjil jang merupakan sebagian dari prakteknja dalam Lembaga. Buku-buku itu kemudian disebarkan melalui toko-toko buku tangan-kedua jang baru dibuka oleh teman-teman mereka.
Buku-buku ketjil ini mengandung filsafat Yury tentang hidup, pendiriannja tentang ilmu kedokteran, rumus-rumusnja tentang kesehatan dan sakit, pemikiran tentang revolusi dan mutasi djenis-djenis, teorinja tentang kepribadian sebagai dasar biologis djasad dan buah pikiran tentang agama dan sedjarah (pendiriannja banjak bersamaan dengan pendapat pamannja dan Sima), serta djuga sadjak-sadjak, tjerita-tjerita pendek dan bagan-bagan mengenai tanah Pugachev jang pernah dikundjunginja.
Buku-buku itu ditulis dengan gaja pertjakapan jang mudah, namun sama sekali bukan berdjenis populer, karena mengemukakan pendirian-pendirian polemis jang sesuka-sukanja dan belum terbukti; lagi pula selalu bersemangat dan orisinil. Buku-buku itu lekas mendapat pasaran dan sangat digemari para pembatjanja.
Pada zaman itu ada spesialis-spesialis dalam segala hal, termasuk komposisi puisi dan kepandaiannja menterdjemahkan karja susastra; orang menulis pembahasan dan mendirikan lembaga-lembaga untuk mempeladjari teori tentang semua hal didjagat, maka timbullah segala matjam Istana Pemikiran serta Akademi Gagasan Berseni. Yury bertindak selaku penasehat kedokteran pada limapuluh persen dari lembaga-lembaga bikin-bikinan ini.
Dia lama berteman dengan Vassya dan menjewa losmen-losmen bersama, pindah dari kamar bobrok jang satu kekamar bobrok lainnja jang semua buruk dan tak patut didiami.
Begitu tiba di Moscow, Yury telah menengok bekas rumahnja di Djalan Sivtsev. Didapatnja kabar bahwa keluarganja tidak tinggal disitu, waktu ada di Moscow. Pembuangan telah merobah kedudukan mereka sama sekali. Kamar-kamar jang dulu didaftarkan atas nama mereka, sudah diberikan pada penjewa-penjewa baru, tak ada bekas sama sekali dari barang-barang milik mereka. Mengenal Yury sendiri dianggap berbahaja, maka iapun dihindari orang matjam penjakit sampar.
Markel tak ada lagi disitu. Ia telah naik harkat didunia, diangkat mendjadi pengawas gedung di Muchnoy Gorod (dulu tempat kediaman Sventitsky). Sebenarnja ia boleh menggunakan rumah-petak pengawas, namun ia lebih suka mendiami bekas tempat djurukuntji dengan lantai dari tanah tertumbuk, tapi ada djuga disitu pipa-pipa air tersendiri dan tungku Rusia jang bukan main besarnja. Dirumah-rumah petak semua pipa dan radiator petjah oleh hawa dingin, tapi rumah djurukuntji itu selalu hangat lagi kering, pun ada airnja jang mengalir.
Tiba waktunja ketika persahabatan antara Yury dan Vassya mendingin. Vassya berkembang setjara luarbiasa. Ia tak lagi berpikir dan bitjara seperti sianak muda tjompang-tjamping, telandjang-kaki dan kusut-masai dari Veretenniki. Ketegasan dan kewadjaran dari segala kebenaran jang diserukan oleh revolusi itu makin menarik baginja, dan pembitjaraan Yury jang serba gelap dan penuh gambaran itu kini terasa sebagai suara kesesatan, terkutuk, sadar akan kelemahannja, djadi mengelak-elak.
Yury menghubungi pelbagai departemen pemerintahan. Ia hendak mentjapai dua hal: rehabilitasi politik untuk keluarganja serta izin bagi mereka untuk kembali ke Rusia, maupun paspor luar negeri untuk dia sendiri serta izin untuk membawa mereka dari Paris.
Vassya heran, betapa tjar dan kepalangtanggungnja segala usaha Yury. Ia seakan buru-buru selalu untuk menganggap djerih pajahnja gagal; ia bitjara dengan terlalu banjak kejakinan dan hampir-hampir dengan kepuasan bahwa tak ada gunanja untuk berusaha lebih landjut.
Vassya makin banjak membantah Yury dan meskipun Yury tak mendjadi gusar bila dikritik setjara tepat, namun hubungannja dengan Vassya lama kelamaan memburuk. Kesudahannja persahabatan mereka putus dan bertjerailah mereka. Yury menjerahkan kamar jang dipergunakan bersama itu kepada Vassya, lalu pindah ke Muchnoy Gorod, dimana Markel mahakuasa dan sudah menjediakan untuknja sebuah sudut belakang dari apa jang dulu merupakan flet Sventitsky. Tempat itu terdiri atas sebuah kamar mandi jang rusak, sebuah kamar dengan djendela tunggal disebelahnja serta dapur bobrok jang lapuk dan pintu belakang. Setelah pindah itu Yury tak berpraktek lagi sebagai dokter, dia tak mengurus dirinja sendiri, tak mengundjungi kawan-kawannja lagi dan hidup serba miskin.
6
Hari Minggu abu-abu dalam musim-dingin. Asap mengepul berleret-leret dari atap-atap dan memantjar tipis hitam dari djendela-djendela, jang bertentangan dengan peraturan, masih dipakai sebagai tempat penjaluran pipa logam dari tungku-masak. Hal-hal jang menjenangkan bagi hidup dikota belum dipulihkan. Para penghuni di Muchnoy Gorod nampak tak pernah mandi, mereka menderita bisul-bisul, kedinginan dan kena selesma. Karena hari Minggu, Markel Shchapov sekeluarga ada dirumah.
Mereka makan didepan medja dapur jang pandjang. Dimedja ini djuga dulu ketika roti dirangsum, semua kupon para penghuni dikumpul, dipotong, digunting, dihitung, dipilih dan dibungkus dalam setjabik kertas atau diikat seberkas-seberkas menurut djenisnja, sebelum pada waktu fadjar dibawa kepada pemasak roti; pada waktu agak siang, bila roti sudah datang dari tukang masak itu, disini pula orang memotongnja, mengiris atau mematahkannja, menimbang dan membagi-bagi menurut rangsumannja. Tapi kini semua itu tinggal kenangan belaka. Perangsuman makanan telah diganti oleh tjara pengawasan jang lain, maka pada siang hari itu keluarga Shchapov makan sekenjang-kenjangnja serta menggigit dan mengunjah dengan nikmatnja.
Separoh kamar dipenuhi oleh tungku Rusia gendut jang berdiri ditengah-tengah; diatasnja ada alat-alat keperluan tidur dan selimut-selimut bergantungan dari tepi-tepinja.
Dekat pintu ada sebuah kran (jang betul-betul dapat dipakai) jang menondjol dari dinding diatas lobang dilantai. Pada dua segi kamar berleretan bangku-bangku; dibawahnja tersimpan barang-barang keperluan sekeluarga dalam kopor-kopor dan bungkusan-bungkusan. Medja disebelah kiri; diatasnja terpasang sebuah rak piring.
Kamar amat panas. Tungku menjala sekuat-kuatnja. Didepannja berdiri isteri Markel, Agatha; lengan badjunja tersingsing keatas siku dan dia sedang menggunakan sebilah tang guna menggeser-keserkan pantji-pantji didalam tungku, supaja berdekatan atau berdjauhan, menurut keperluan. Berganti-ganti mukanja jang berkeringat itu diterangi api dari tungku dan dikaburkan oleh uap dari masakannja. Ia menjodok pantji-pantji tadi kesatu sudut, memungut dari belakangnja sebuah kue diatas piring besi, membalikkannja, lalu mengembalikannja agar mendjadi kuning tua. Yury masuk dengan mendjindjing dua ember.
„Slamat makan”.
„Anggaplah ini rumah anda. Silakan duduk dan makan bersama kami”.
„Trima-kasih, saja sudah makan”.
„Kami tahu apa jang anda sebut makan itu. Mengapa tidak duduk dan ambil sesuatu jang panas? Tak usah anda tjemohkan — ini makanan jang patut, kentang goreng, kue dan kasha”.
„Tak usahlah, trima-kasih…Maafkan saja terus membuka pintu dan memasukkan angin. Saja ingin mengambil air sebanjak mungkin. Tempat mandi sudah saja bersihkan, sekarang saja mengisi itu serta bak-bak. Saja masuk setengah lusin kali lagi nanti, sudah itu akan lama tak saja ganggu lagi kamu. Maaf bahwa saja susahkan kamu seperti ini, tapi dimana-mana tak saja ketemukan air”.
„Silakan. Kalau kamu minta sirup, tak dapat kami beri, tapi air berlimpah-limpah. Ambil sadja sesuka kamu — kami tak akan minta bajaran”.
Semua ketawa.
Waktu Yury datang untuk mengisi ember ketiga dan keempat, berobahlah nadanja.
„Menantu-menantu saja menanjakan siapa anda. Saja terangkan, namun mereka tak pertjaja. — Angkut teruslah air itu, tak usah mendengarkan saja. Hanja sadja djangan tumpahkan, kikuk benar! Kalau air beku, tak sampai hatilah saja melihat kamu mematuknja dengan linggis. Dan tutuplah pintu baik-baik, tolol, angin masuk. — Ja, djadi saja tjeritakan siapa kamu, tapi mereka tak mau pertjaja. Berapa banjak uang kamu butuhkan dulu? Kamu punja segala kepandaian, tapi apa djadinja? Tjoba!”
Waktu Yury masuk kelima atau enam kalinja, Markel mengerut kening.
„Sekali lagi, dan kamu akan kepajahan. Semua ada batasnja, kakek. Andaikata si Marina ketjil tak selalu membelamu, pintu akan saja kuntji dengan dua pasak. Kamu ingat Marina kita, bukan? Itu dia, sirambut hitam diudjung medja. Dia merah padam, tengok. Selalu ia berkata: „Djangan singgung perasaannja, pak”. — Siapa pula mau menjinggung perasaan kamu? Dia telegrafis dikantor-pos pusat — dia pandai bahasa-bahasa asing. „Dia lagi sial”, udjarnja. Dia kasihan dengan kamu, mau menempuh api dan laut untuk kamu! Seolah sajalah jang salah bahwa kamu melarat! Kamu tak usah terbirit-birit ke Siberia, meninggalkan rumah pada saat genting. Salah sendiri. Tengok kami — kami tahan selama kelaparan dan blokade Putih, kami tak gentar — maka beginilah kami, slamat sedjahtera. Salahkan diri sendiri. Andaikata kamu djaga Tonya dengan saksama, dia tak bakal berkelana diluar-negeri sekarang. Nah, urusan kamulah itu! Perduli apa? Tjuma jang saja ingin tahu — maaflah — mau diapakan air sebanjak itu? Kamu sewakan diri untuk bikin lapangan peluntjuran, atau bagaimana? Air melulu! Saja sampai tak bisa marah pada kamu, matjam ajam basah sadja!”
Lagi-lagi semua ketawa, ketjuali Marina jang dengan marah melihat keliling dan berapi-api. Yury heran mendengar suaranja, sungguhpun belum dapat disebutnja, apakah dalam suara itu jang membuatnja terharu.
„Banjak jang perlu dibersihkan dalam rumah, Markel. Lantai harus digosok, pun ada pakaian saja sendiri jang perlu ditjutji”.
Keluarga Shchapov terheran-heran.
„Memalukan bahwa kamu sebut itu, apalagi mengerdjakannja sendiri. Lain kali akan kamu buka toko binatu Tionghwa”.
„Biar anak saja pergi keatas”, kata Agatha. „Dia akan mentjutji dan mengepel untuk kamu dan menisik apa-apa, kalau perlu. — Kau tak usah takut padanja, sajang. Kaulihat sendiri, ia berpendidikan baik, lalatpun tak bakal diganggunja”.
„Tak perlu begitu, Agatha Mikhailovna! Tak saja impikan, menjuruh Marina menggosok lantai saja. Mengapa dia mesti mengotori tangannja untuk saja? Saja selesaikan sendiri sadja”.
„Tangan kamu boleh kotor dan tangan saja tidak?” Marina menjela. „Djangan begitu, Yury Andreyevich. Agaknja kalau saja naik kekamar anda, kamu tak akan mengusir saja?”
Marina boleh dilatih mendjadi penjanji. Suaranja murni, modulasinja tepat, terdengar dari djauh dan kuat. Suaranja tidak keras, namun menurut kesannja lebih kuat dari pada jang diperlukan untuk bitjara biasa, pun seolah bukan sebagian dari padanja, tapi dapat dibajangkan mempunjai kehidupan tersendiri. Suara itu seperti datang dari belakang punggungnja atau dari kamar sebelah. Suaranja itu pelindungnja, malaekatnja; tak ada jang hendak melukai atau mentjelakakan perempuan jang mempunjai suara begitu.
Begitulah pengangkutan air dihari-hari Minggu itu menjebabkan timbulnja persahabatan antara Yury dan Marina. Gadis itu sering keatas untuk membantunja dengan pekerdjaannja dirumah. Suatu hari ia tinggal bersama dia dan tak pulang kelosmennja. Demikian ia mendjadi istri ketiga Yury, sekalipun Yury belum tjerai dari istri pertamanja dan perkawinan mereka tidak didaftarkan. Merekapun mendapat anak-anak. Dengan bangga Markel dan Agatha menjebut-njebut anak mereka sebagai istri dokter. Siajah menggerutu karena tak dilakukan pernikahan setjara baik-baik digeredja maupun dikantor pendaftaran warga, tapi Agatha menukas: „Kau hilang akal? Tonya masih hidup, itu akan mendjadi bigami” — „Kau jang hilang akal” kata Markel. „Tonya mau apa? Keadaannja sama sadja dengan mati. Tak ada hukum jang melindungi dia”.
Kadang-kadang Yury mengatakan sambil berkelakar bahwa romantik mereka adalah romantik duapuluh ember, seperti ada roman duapuluh bab.
Marina memaafkan Yury atas segala kegandjilannja jang mendjadi-djadi, kekotoran dan kekatjauan jang dibuatnja dalam rumah, kekesalan hatinja dan angan-angannja; ia maklum bahwa semua itu adalah karena Yury hidup tanpa rentjana dan sadar akan halnja. Marina bersabar hati dengan segala gerutunja dan gangguan perasaan serta urat sarafnja.
Pengabdiannja malah lebih landjut lagi. Sekali tempo mereka mengalami kemiskinan jang sangat, berkat kesalahan Yury, maka supaja ia tak sendirian sadja dalam keadaan demikian, iapun meninggalkan pekerdjaannja dikantor pos (untunglah orang disitu amat menghargainja, hingga ia selalu diterima kembali setelah terpaksa tak masuk). Untuk menuruti Yury ia keluar bersama dia, mengerdjakan jang bukan-bukan dari rumah kerumah. Mereka memotong kaju untuk sebagian terbesar para penjewa diberbagai loteng. Beberapa diantara mereka, chususnja tukang-tukang tjatut jang djadi kaja raja pada permulaan P.E.B., beserta para seniman dan sardjana jang dekat pada pemerintah, membentuk rumahtangga jang megah. Suatu hari ketika Yury dan Marina melangkah hati-hati dengan sepatu but mereka dari vilt, agar tak mengotori permadani dengan tahi gergadji, mereka membawa kaju dalam kamar kerdja seorang penjewa jang setjara menghina tetap bertekun dalam batjaannja, tak mau menghormati mereka dengan selajang-pandangpun. Jang memberi petundjuk dan berurusan dengan mereka adalah istrinja.
„Apa jang tertjium oleh sibabi ini?” pikir Yury. Orang terpeladjar itu menggores-gores dengan ganas ditepi katja bukunja. Ketika lewat didekatnja dengan seberkas balok, Yury menjenguk dari atas bahunja. Diatas lesenar ada salah satu bukunja dari penerbitan pertama jang dikarangnja dan ditjetak oleh Vassya.
7
Yury dan Marina kini tinggal di Djalan Spiridonovka dan Gordon mempunjai kamar di Djalan Bronny, dekat dari situ. Marina dan Yury ada dua anak perempuan, Kapka (Capitolina), berumur enam tahun serta seorang baji Klazhka (Claudia) jang baru enam bulan.
Awal musim-panas tahun 1929 itu sangat terik. Orang-orang jang tinggal dalam djarak beberapa djalanan sadja suka menjeberang untuk kundjung-mengundjungi, tanpa topi dan hanja memakai kemedja.
Kamar Gordon adalah sebagian dari bangunan gandjil jang dulu rumah seorang pendjahit jang banjak laku. Tokonja ada didua loteng jang dihubungkan dengan djendjang memutar; kedua-duanja membuka pemandangan atas djalanan melalui djendela katja kepingan, dimana nama dan pekerdjaan sipendjahit disebut dengan huruf-huruf emas. Kini tempat itu terbagi dalam tiga kediaman. Dengan memasang papan-papan lantai, dapat dibikin sebuah kamar lagi diruangan antara bagian bawah dan bagian atas. Sebagai kamar duduk, djendelanja itu gandjil, tinggi kira-kira tiga kaki mulai dari lantai dan sebagian ditutup oleh sisa-sisa dari huruf-huruf tadi. Dari luar tiap orang dalam kamar kelihatan sampai lututnja ditjelah-tjelah huruf-huruf. Itulah kamar Gordon. Pada saat ini ia bersama Zhivago, Dudorov, Marina serta anak-anak jang berlainan dengan orang dewasa, nampak seluruhnja dibelakang katja. Tak lama kemudian Marina pergi bersama anak-anak, hingga tinggal tiga orang laki-laki tadi.
Sambil bermalas-malas dimusim-panas itu mereka ngomong selela-lelanja, kenikmatan orang-orang jang dulu teman sekolah dan telah melampaui tahun-tahun persahabatan tak berbilang.
Barang siapa tjukup mempunjai perbendaharaan kata untuk memuaskannja, dia bitjara dengan wadjar dan tersusun. Jang demikian itu hanjalah Yury.
Kedua temannja selalu kekurangan alat expresi. Untuk menambah kamus mereka, mereka mundar-mandir, mengepulkan asap rokok, membuat gerak-gerik dan mengulangi diri („Itu terang tak djudjur, kawan; tak djudjur, ja, ja, begitulah tak djudjur”). Mereka tak sadar bahwa drama jang berlebih-lebihan ini bukanlah alamat kemesraan dan kelapangan, melainkan djauh dari itu, jakni hasil pemikiran sempit jang kurang tepat.
Baik Gordon maupun Dudorov mempunjai pergaulan jang lajak dikalangan universitas, mereka hidup ditengah-tengah buku-buku jang baik, para pemikir jang baik, para komponis serta musik jang baik (jang baik-baik sadja), tapi mereka tak tahu bahwa mempunjai selera jang ugahari adalah djauh lebih tjelaka dari pada tak berselera sama sekali.
Dudorov maupun Gordon tak merasa bahwa segala peringatan mereka kepada Yury bukanlah pertama-tama akibat keinginan setjara bersahabat untuk mempengaruhi tingkah lakunja, melainkan akibat ketidaksanggupan untuk berpikir bebas, ataupun untuk menuntun pertjakapan semerdeka-merdekanja. Bagaikan kereta jang mairat, hal itu merintangi mereka untuk mentjapai tudjuan. Sebab tak mampu memutar haluan kereta, terpaksalah mereka pada suatu waktu menghantam sesuatu, maka mereka hantamlah Yury serta menghudjani dia dengan segala chotbah dan instruksi.
Bagi Yury, pegas-pegas dari emosi dan pemikiran mereka, beserta kegojahan simpati mereka adalah terang bagai siang. Namun tak mungkin ia mengatakan: „Kawan-kawan tersajang, kalian konjol sekali — kalian beserta kalanganmu, semua nama dan tokoh-tokoh jang kalian sebut, kegemilangan mereka dan kesenian jang begitu kalian kagumi! Satu-satunja hal jang tjemerlang dan hidup pada kamu ialah bahwa kalian hidup sezaman dengan aku dan mendjadi teman-temanku!” — Tapi hal ini tak dapat diutjapkan terus terang. — Maka agar tak menjinggung perasaan mereka, iapun mendengarkan dengan lembut hati.
Dudorov belakangan ini telah kembali dari taraf pertama deportasinja; hak-hak sipilnja dipulihkan padanja, pun ia diizinkan meneruskan penjelidikan ilmiah serta kuliahnja diuniversitas.
Pada teman-temannja itu ia kini membuka isi hati dan buah pikirannja selama pembuangan. Pendjelasannja tidak dipengaruhi oleh keketjutan atau pertimbangan lahiriah.
Disebutnja bahwa alasan untuk penuntutan, tjara orang memperlakukan dia dalam pendjara dan setelah keluar, dan istimewa pertjakapannja dari hati kehati dengan penjelidiknja telah „mengipas otaknja”, „memberinja pendidikan ulangan dalam politik”, membuka matanja terhadap banjak hal jang tak dilihatnja dulu serta membuatnja „tumbuh sebagai tokoh perseorangan”.
Pandangan ini berbitjara pada Gordon, djustru karena merupakan pendirian budak sewaan. Dengan perasaan simpati ia mengangguk-angguk dan setudju dengan Dudorov dalam segala hal. Jang paling mengharukannja ialah usangnja perasaan dan pernjataan Dudorov; perasaan jang berbau buku peladjaran kolot itu dianggapnja alamat persamaan peri-kemanusiaan mereka.
Segala keusangan serba patuh dalam diri Dudorov ini adalah kandungan semangat zaman. Tapi jang djustru mendongkolkannja ialah kesempurnaan dan kemunafikan jang terang benderang dari keusangan itu. „Barang siapa tidak merdeka”, pikirnja, „selalu mengidealisasikan keadaannja jang terbelenggu”. Begitu pula dalam Abad Pertengahan, kaum Jesuit selalu menggunatandaskan hal itu. Yury tak betah akan mystik politis dari kaum tjerdik pandai Sovjet ini, meskipun djustru itulah jang dianggap sebagai hasil utama mereka dan dalam bahasa sehari-hari digambarkan sebagai „kesanggupan rohaniah tertinggi abad sekarang”. Namun inipun disimpannja untuk diri sendiri, agar tak menjakitkan hati teman-temannja.
Jang menariknja dalam kisah Dudorov ialah laporannja tentang kawan seselnja, Bonifacius Orletsov, seorang pendeta penganut Tikhonov4 4Pendeta penganut Tikhonov: pendeta jang setia pada sang datuk Tikhon, kepala Geredja Rusia Orthodox jang diperkarakan karena menentang penjitaan harta benda geredja oleh negara. Para pendeta jang menganut Tikhonov itu tak menjetudjui „Geredja Hidup” jang dewasa itu memperoleh bantuan tertentu dari pemerintah. . Orletsov punja anak perempuan umur 6 tahun jang memudjanja. Penangkapan serta nasibnja sesudah itu berarti pukulan hebat bagi sianak. Tjap „duta agama” dan tjap „dibebaskan dari hak warga” baginja seperti alamat kenistaan, suatu noda, maka dalam hati kanak-kanaknja ia barangkali bersumpah hendak membersihkan nama ajahnja pada waktunja. Tudjuan sedjauh itu, digagas sedjak ketjil dan dipupuk oleh ketetapan hati jang berkobar-kobar, pada waktu itu sudah membuatnja seorang murid jang sebelum tjukup umur telah penuh semangat dengan apa jang menurut pendapatnja pengaruh tak terlawan dalam komunisme.
„Aku harus pergi”, kata Yury. „Djangan marah, Misha. Apak disini, sebab panas diluar, aku kekurangan hawa”.
„Tapi djendela terbuka, tengok, diatas lantai itu…Maaf, kami terlalu banjak merokok. Kami lupa-lupa sadja bahwa tak boleh merokok bersama kau. Bukan salahku, maka seapak ini, tapi karena djendela dibikin segandjil itu. Mestinja kautjarikan aku kamar lain”.
„Aku mesti enjah, Misha. Kita tjukup lama omong-omong. Trimakasih atas perhatianmu…Aku bukannja mengada-ada. Kudapat penjakit, djantungku mengapur. Kulit otot-otot djantungku sudah aus dan terlalu tipis, pada suatu hari akan petjah. Pada hal umurku belum empatpuluh tahun, pun aku bukannja pemabuk atau sembrono dengan kesehatanku”.
„Omong kosong! Kami belum meniup lagu kuburanmu. Kau akan hidup lebih lama dari kami”.
„Dewasa ini tambah banjak sadja orang kena penjakit djantung berdarah ketjil. Tak selalu berbahaja. Ada jang dapat mengatasinja. Ini penjakit biasa dizaman kita. Kupikir, sebab-musababnja terutama rohaniah. Sebagian terbesar dari kita terpaksa hidup setjara bertjabang, sistematis dan terus menerus. Kesehatan djadi terganggu, djika sehari demi sehari orang harus bitjara lain dari jang dirasakannja, kalau orang harus menjembah apa jang tak disukainja, bersenang hati kalau mendapat sesuatu jang hanja mendatangkan sengsara. Susunan urat saraf bukanlah chajali, itu sebagian dari djasad, dan djiwa memang ada, dia didalam diri kita, seperti gigi ada dalam kepala kita. Kita tak dapat memperkosanja terus menerus, tanpa kena hukuman. Beratlah bagiku mendengarkan engkau, Nicky, waktu kautjeritakan bagaimana kau dididik kembali dan tumbuh dalam pendjara. Seperti mendengarkan kuda kemidi jang menggambarkan bagaimana ia diadjar main”.
„Aku harus membela Dudorov”, kata Gordon. „Kau sudah tak biasa lagi mendengar manusia bitjara, kata-katanja tak dapat kautanggap lagi”.
„Mungkin begitu, Misha. Tapi bagaimana djuga, biarkan aku pergi sekarang, aku sulit bernafas. Betul, aku tak melebih-lebihkan”.
„Tunggu dulu, kau mau menghindar-hindar sadja. Kau tak boleh pergi, sebelum kaudjawab pertanjaan kami dengan djudjur, langsung dari hati. Setudju atau tidak, bahwa sudah waktunja kau berobah tjara hidupmu dan bertaubat! Apa jang hendak kaubuat? Pertama-tama, mesti kaubereskan dulu hal Tonya dan Marina. Mereka manusia, wanita jang merasa dan menderita — bukannja gagasan tak bertubuh jang dapat kausunglap-sunglap dalam kepalamu. Kedua, adalah suatu keonaran bahwa orang seperti kau mesti djatuh merosot. Kau harus bangun dan membuang keteledoranmu, harus berani, dan pandanglah semua tanpa kesombonganmu jang sangat tak pada tempatnja itu. Ja, ja, tanpa tekeburmu terhadap segala orang jang tak dapat dimaafkan itu. Kau mesti bekerdja dan berpraktek lagi”.
„Baik, inilah djawabanku. Baru-baru ini hal-hal ini sudah kupikirkan sendiri, djadi aku bisa berdjandji akan ada perobahan. Kukira semuanja akan beres. Dan tak lama lagi. Kaulihat nanti. Betul. Semuanja akan lebih baik. Aku punja hasrat bernafsu jang tak terlukiskan untuk hidup, dan hidup nistjaja berarti berdjoang, madju, meningkat, mengedjar kesempurnaan dan mentjapainja.
„Aku senang bahwa kaubela Marina, Misha, seperti dulu selalu kaubela Tonya. Tapi maklumlah, aku tak pernah bertengkar dengan mereka, aku tidak bermusuhan dengan mereka atau dengan siapapun mengenai mereka. Mula-mula kau suka menjalahkan aku, sebab Marina memanggil aku dengan „anda” dan dengan Yury Andreyevich, sedangkan aku memanggilnja dengan „kau” dan „Marina” — tapi aku sendiri sedih tentang itu! Lagi pula, kau tahu bahwa sebab-musabab dari keadaan tak wadjar ini sudah lama disingkirkan; segalanja sudah diusut dan kesama-rataan sudah terlaksana.
„Sekarang ada kusampaikan kabar baik lainnja. Kuterima surat-surat lagi dari Paris. Anak-anak tambah besar, dapat banjak teman Perantjis jang sebaja. Sasha sedang menamatkan sekolah rakjat; Misha akan segera masuk kesitu; tak pernah kulihat dia. Aku punja firasat bahwa walaupun bagaimana, sungguhpun mereka mendjadi warga Perantjis, namun mereka tak lama lagi akan kembali, maka segalanja akan beres, entah bagaimana.
„Agaknja Tonya serta mentuaku mengetahui hal Marina dan anak-anak kami. Tak pernah kusebut-sebut dalam surat-suratku, tapi nistjaja mereka mendengarnja dari kabar angin. Dapat dimengerti, Alexander Alexandrovich sebagai ajah merasa gusar. Tentu ia terkena sekali, mengingat Tonya. Dengan begitu dapat difahamkan mengapa surat-menjurat kami terhenti selama hampir lima tahun. Aku masih menulis pada mereka, sesudah kembali ke Moscow, kemudian mereka sekonjong-konjong tak mendjawab lagi.
„Kini, baru sekali mereka mulai menulis lagi, tiap mereka, bahkan djuga anak-anak. Nadanja hangat lagi mesra. Tentu ada sebabnja maka mereka berserah nasib. Boleh djadi Tonya telah mendapatkan lelaki lain; insja Allah. Entahlah. Akupun sekali-sekali kirim surat …Tapi aku betul-betul tak bisa disini lebih lama. Kalau aku tak pergi, aku diserang asthma. Selamat tinggal”.
Pagi berikutnja Marina buru-buru kerumah Gordon, sangat bingung ia. Ia tak dapat menitipkan anak-anaknja kepada siapa-siapa, maka digendongnja sibaji jang dibungkus selimut, dan dengan tangan jang bebas dihelanja si Kapka, jang terseret dan tersuruk-suruk.
„Yury disini, Misha?” tanjanja dengan suara tjemas.
„Semalam tidak pulang dia?”
„Tidak”.
„Tentu menginap dirumah Nicky”.
„Aku kesana tadi. Nicky ada diuniversitas, tapi tetangga-tetangganja kenal Yury, menurut mereka dia tidak kesitu”.
„Djadi dimana dia?”
Marina menurunkan Klazhka diatas dipan dan mendjadi hysteris.
8
Dua hari Gordon dan Dudorov tak berani meninggalkan Marina seorang diri; mereka bergilir mendjaganja dan mentjari Yury. Mereka datangi semua tempat jang mungkin dikundjunginja — Muchnoy Gorod, Djalan Sivtsev, semua Istana Pemikiran dan Rumah Gagasan, dimana ia pernah bekerdja; mereka bertamu ketiap temannja jang setahu mereka pernah disebutnja dan jang alamatnja dapat ditemukan — namun sia-sia.
Mereka tak melaporkan hilangnja kepada tentara milisi. Meskipun ia terdaftar dan tidak ditjatat oleh polisi, tapi baiklah perhatian para penguasa tak ditundjukkan kepada seorang jang menurut ukuran masarakat pada waktu itu hidupnja sama-sekali tak merupakan teladan; demikianlah diputuskan tak membawa-bawa mereka, ketjuali kalau tak ada djalan lain nanti.
Pada hari ketiga datanglah surat-surat dari Yury lewat pos-pos jang berlainan untuk mereka ketiga-tiganja — Gordon, Dudorov dan Marina. Ia amat menjesali segala kesusahan dan kegelisahan jang ditimbulkannja bagi mereka, ia minta mereka tak usah memikirkan dia dan demi segala hal jang keramat iapun memohon supaja tak mentjarinja lagi pun dikatakannja itu akan sia-sia belaka.
Diterangkannja bahwa guna membina kembali hidupnja sesempurna dan setjepat mungkin, ia hendak tinggal seorang diri untuk beberapa waktu, sambil memusatkan diri pada persoalan-persoalannja; sesudah mendapat pekerdjaan nanti serta beroleh kejakinan jang lajak bahwa ia tak akan djatuh lagi dalam tjara hidupnja jang sudah-sudah, maka ia hendak meninggalkan tempat sembunjinja, lantas kembali pada Marina dan anak-anak.
Disampaikannja pada Gordon bahwa ia mengirim tjek kepadanja untuk Marina serta meminta supaja ditjarinja seorang pengasuh untuk anak-anak, hingga Marina bisa bekerdja lagi; menurut keterangannja ia tak mengirim uang langsung kepada Marina, sebab kuatir akan ada orang melihat kwitansinja, hingga ia mungkin mengalami bahaja akan dirampok.
Uang segera tiba; djumlahnja djauh mengatasi djumlah jang pernah djatuh ketangan Yury atau teman-temannja. Orang menjewa tenaga pengasuh dan Marinapun kembali kepekerdjaannja dikantor-pos. Dia masih bingung sekali, namun karena sudah biasa dengan keanehan Yury, achirnja ia terima sadja kegandjilannja jang belakangan ini. Ketiga-tiganja terus mentjari, tapi lambat-laun mereka berkesimpulan bahwa itu tak bermanfaat, seperti jang sudah diperingatkan oleh Yury. Tak ada hawadabannja.
9
Namun selama itu ia tinggal sedjauh lemparan batu, dibawah hidung dan mata mereka sendiri, ditengah distrik jang mereka djeladjahi.
Pada hari menghilangnja itu ia meninggalkan Gordon dan tiba di Djalan Bronny, sesaat sebelum magrib. Ia membelok langsung kerumahnja, tapi hampir seketika itu djuga, dalam djarak kurang dari seratus djar, ia kepergok saudara tirinja Yevgraf, jang djalan kearahnja dilebuh itu. Ia tak ketemu dia atau mendengar tentang dia selama tiga tahun lebih. Ternjata Yevgraf baru datang di Moscow; seperti biasanja ia tiba seperti dari langit sadja dan segala pertanjaan Yury dielakkannja dengan senjum atau kelakar. Sebaliknja, dari sedikit pertanjaan jang ditudjukannja pada Yury ia segera dapat menjimpulkan inti kesukaran Yury, maka disitu pula dan pada saat itu, antara satu dua tikungan, selama mereka melangkah didjalan ramai jang sempit dan memutar itu, disusunnja rentjana praktis untuk menjelamatkannja. Dialah jang punja gagasan supaja Yury menghilang dan sembunji untuk beberapa waktu.
Disewanja sebuah kamar untuknja di Djalan Kamerger jang namanja masih tetap begitu, dekat Gedung Kesenian. Diambilnja langkah-langkah untuk memperoleh pekerdjaan jang baik baginja disebuah rumah sakit, dengan banjak kesempatan untuk meneruskan pekerdjaan penjelidikannja. Ditolongnja ia dengan uang dan dibantunja dalam segala hal. Achirnja ia djandjikan bahwa keadaan keluarganja jang bertjabang di Paris itu akan diperbaiki, pun bahwa Yury akan pergi mendjemput mereka di Paris atau mereka akan datang kepadanja. Semuanja ini diichtiarkan agar diawasinja sendiri. Seperti biasanja, pertolongannja ini membaharui tekad Yury dan seperti biasanja sumber kekuasaannja tetap gelap, Yury bahkan tak mentjoba menerka.
10
Kamarnja menghadap ke Selatan, hampir berbatasan dengan teater tadi dan membuka pandangan atas atap-atap rumah diseberang; disebelah sana matahari tinggi diatas Djalan Okhotny, tapi lebuh dibawahnja teduh.
Bagi Yury kamar itu lebih dari tempat bekerdja, lebih dari kamar studi belaka. Pada waktu kegiatannja menggerogoti tenaganja, ketika timbunan buku tjatatannja dilesenarnja terlalu ketjil untuk menampung segala rentjananja dan ketika rantjangan buku-bukunja telah nampak mengelilingi dia, bersandar menghadap tembok seperti lukisan belum selesai dalam sanggar seorang pelukis, maka kamarnja itu seperti ruangan pesta bagi djiwanja, kamar lowak bagi pikiran terganggu dan gudang bagi penemuan-penemuan.
Untunglah rundingan Yevgraf dengan pengurus hospital berlarut-larut, pun pekerdjaan Yury jang baru itu ditangguhkan tanpa kepastian. Penundaan ini meluangkan waktu untuk menulis.
Mula-mula ditjobanja memilih sadjak-sadjaknja jang dulu jang diingatnja sepotong-sepotong, ataupun jang oleh Yevgraf, entah bagaimana, ditemukan naskahnja (ini berupa tulisan tangan jang dikerdjakan Yury sendiri ataupun salinan oleh orang-orang lain). Namun bahan-bahan katjau-balau ini mentjerai-beraikan tenaganja, lebih dari ketjenderungan wataknja sendiri. Lekas-lekas ia kesampingkan itu, lalu mulai pekerdjaan baru.
Ia membuat rantjangan kasar sebuah artikel, mirip pada tjatatan jang dibikinnja ketika ia pertama kali pergi ke Varykino, ataupun ditjantumkannja bagian tengah atau achiran atau permulaan sebuah sadjak, sedapat-dapatnja sadja. Ada kalanja ia kewalahan mengedjar pikirannja, sungguhpun dengan tulisan tjepat jang terdiri atas huruf-huruf pertama serta singkatan.
Ia tergesa-gesa. Apabila daja chajalnja mendjadi lemah, iapun memetjutnja dengan menggores gambar-gambar dipinggiran buku tjatatannja. Gambar-gambar ini selalu memperlihatkan sepotong hutan atau simpangan djalan dikota, ditandai alamat „Moreau & Vitchinkin. Alat pembenihan. Mesin tebah”.
Semua artikel dan sadjaknja mengenai satu tema sadja, jakni Kota.
11
Tjatatan ini kelak ditemukan antara kertas-kertasnja:
„Waktu aku kembali ke Moscow tahun duapuluh dua, kota ini kosong dan hantjur. Baru sadja dialaminja pengangguran dari tahun-tahun pertama sehabis revolusi; sekarang ini ia masih banjak serupa dengan itu. Namun dalam keadaan beginipun ia masih merupakan kota besar modern dan kota adalah satu-satunja sumber ilham bagi seni zaman kini jang betul-betul modern.
„Segala hal serta gagasan jang seakan tak tjotjok dan tjampur baur setjara serampangan sadja dalam karja para simbolis (Blok, Verhaern, Whitman) bukanlah hanja keisengan jang bergaja. Meletakkan impresi-impresi setjara berdampingan ini langsung terkutip dari kehidupan.
„Kalau mereka serba tjepat menderet-deretkan gambaran dalam baris-baris sadjak, begitu pula sebuah lebuh dalam kota ramai berkelebatan didepan kita beserta chalajak dan segala matjam kereta pada achir abad jang silam, atau trem, bis dan kereta-api listrik pada awal abad kita.
„Dalam kehidupan begitu dari manakah datangnja kesederhanaan kedusunan dalam seni? Dimana orang telah mentjobanja, ketiadaan seni setjara dibikin-bikin itu adalah ketjurangan bersusastra, tidak diilhami oleh pedusunan, melainkan terambil dari lemari buku diakademi. Bahasa hidup zaman kita berasal dari kota.
„Aku tinggal diatas simpangan djalan jang ramai. Moscow jang silau oleh matahari serta hawa putih panas dari aspal dipekarangan, oleh kilauan surja jang berpentjaran dari djendela loteng paling atas, bernafas dan berkuntum oleh warna lebuh dan awan, dia sedang berputar-putar disekelilingku, memusingkan kepalaku dan hendak membuat aku suka membikin pusing orang lain dengan menulis pudjaan tentangnja.
„Deru-deram tak putus-putusnja siang malam dilebuh diluar tembok kita ada hubungannja dengan pikiran kita, seperti djuga mat-mat permulaan dari musik pembukaan ada hubungannja dengan tirai jang sekarang masih kelam dan penuh rahasia, tapi sudah mulai merah oleh kilauan lampu-lampu sorot. Kersak-kersik terus-menerus tanpa selingan, serta gerak-gerik kota diluar pintu dan djendela kita ini adalah musik pembukaan jang agung tak teradjuk bagi penghidupan untuk kita masing-masing. Dengan ungkapan beginilah aku ingin menulis tentang kota”.
Dalam karja Zhivago jang masih dapat disimpan, tak ada sadjak-sadjak jang begitu rupa. Barangkali sadjak „Hamlet”nja berasal dari rangkaian demikian.
12
Suatu pagi achir Agustus Yury naik trem di Djalan Gazetny, menudju kerumah sakit Botkin (dikenal sebagai Rumah sakit Soidatenko waktu itu); hari itu hari pertama dari pekerdjaan barunja.
Ia sial dengan tremnja; motornja rusak dan terus sadja mengalami matjam-matjam kerintjuan. Djalannja dirintangi pedati didepannja jang roda-rodanja tersangkut dalam alur rel, ataupun isolasinja tak beres diatap atau dibawah lantai; aliranpun putus, disertai kilatan dan bunji kerisik.
Lalu sopirnja turun dari bordes depan, mengitari trem dengan membawa kuntji Inggris, lantas djongkok dan mengutik-utik motor antara bordes belakang dan roda-roda.
Trem tjelaka itu menghalangi lalu-lintas disepandjang lin. Seluruh djalan terbendung oleh trem-trem lain jang sudah berhenti dan ada beberapa lagi jang bergabung pada deretan itu dari belakang sampai kepelataran Manège dan seterusnja. Para penumpang madju dari belakang kedepan deretan, dengan harapan akan menghemat waktu, maka sampailah mereka djustru kepada trem jang menjebabkan segala keruwetan. Pagi itu panas, sedangkan deresi penuh-sesak dan kekurangan hawa. Diatas chalajak jang lari simpang siur dilebuh dari trem jang satu ketrem lainnja, merajaplah mendung lembajung, naik makin tinggi dilangit. Badai sedang bersiap-siap.
Yury menempati tempat duduk tunggal disebelah kiri, terpepet kedjendela. Nampak padanja segi kiri Djalan Nikita dan satu segi Konservatorium. Perhatiannja kabur, karena pikirannja melantur-lantur, dilihat-lihatnja orang lalu jang djalan kaki atau berkendaraan pada segi itu; tak ada jang dilewatinja.
Seorang wanita tua berambut putih, pakai topi djerami ringan dengan bunga-bunga desi dan centaura dari kain lenan serta berpakaian ungu ketat jang sudah kolot, berdjalan ditrotoar; ia terengah-engah dan mengipas-ngipas dengan bungkusan pipih jang dipegangnja. Lantaran korsetnja erat dan kepanasan, hingga ia kepajahan dan bersimbah peluh, ia senantiasa mentjutjuh bibir dan alisinja dengan saputangan renda ketjil.
Djalannja searah dengan djalan trem. Ia sudah berkali-kali hilang dari pandangan Yury, ketika trem berangkat lagi sesudah berhenti untuk diperbaiki, lalu melampauinja, dan iapun nampak lagi dibidang penglihatannja, waktu trem sekali lagi mogok dan terkedjar olehnja.
Yury teringat pada teka-teki dalam ilmu hitung disekolah, masalahnja ialah kapan dan dalam urutan bagaimana kereta-keretaapi jang berangkat pada saat-saat berlainan dan mempunjai ketjepatan berbeda-beda tiba ketudjuan; ditjobanja menemukan metode umumnja untuk mendapatkan djawabannja, tapi sia-sia, maka dari kenangan tentang sekolah ini ia beralih pada kenangan lain dan renungan jang lebih rumit.
Ia berpikir tentang manusia-manusia jang hidupnja searah lagi berdekatan, namun ketjepatannja lain; ia bertanja diri dalam keadaan apa beberapa diantara mereka melampaui jang lain-lain serta hidup lebih lama dari jang lain-lain. Ia mendapat gagasan tentang sesuatu jang mirip pada teori relativitet, diperuntukkan bagi perlombaan manusia, tapi ia terlibat-libat tak karuan, lantas berhenti berpikir.
Kilat menjambar dan guruh mengguntur. Trem jang sial itu matjet keduapuluh kalinja; ia berhenti ditengah-tengah bukit jang melandai dari Djalan Kudrinsky sampai kebun binatang. Wanita berbadju ungu tadi muntjul dalam lingkungan bingkai djendela, lewat dan bergerak terus. Air hudjan pertama jang menetes berat menimpa djalanan, trotoar serta wanita itu. Angin kentjang meletjut pohon-pohon, menubruk daun-daun, menjentak topi siperempuan, mengungkit tepi roknja dan tiba-tiba reda.
Yury merasa letih lagi sakit. Dengan mengatasi kelemahannja ia bangkit dan menarik tali-tali djendela keatas dan kebawah hendak membuka djendela, tapi ini tiada tergerak.
Orang berseru-seru kepadanja bahwa djendela itu dimatikan, dipaku pada tempatnja, namun Yury jang melawan kelelahannja dan tertjengkam oleh sematjam panik, tiada memahami seruan-seruan itu, ataupun tak menjangka itu ditudjukan kepadanja. Masih sadja ditjobanja hendak membuka djendela, lagi-lagi ia menjentakkan tali tiga kali — keatas, kebawah, kearahnja sendiri — lalu tiba-tiba ia merasa njeri lainnja jang amat sangat; fahamlah ia bahwa ada jang patah dalam dirinja; ia telah berbuat sesuatu jang tak mungkin dipulihkan, bahwa inilah kiamatnja. Pada saat itu trem bergerak lagi, tapi hanja berdjalan sebentar lewat Djalan Presnya, kemudian mandek pula.
Dengan kemauan jang mengatasi kemampuan manusia, Yury menerobos ditengah chalajak jang padat itu lewat gang, sempojongan dan tersandung-sandung, lantas tiba dibordes belakang; orang menghalangi djalannja dan menggamit-gamitnja. Hawa segar seakan menghidupkannja kembali, dan ia berpikir bahwa mungkin masih ada harapan, bahwa barangkali ia sembuh.
Ia mulai menjapu djalannja lewat orang-orang jang berdjalan, hingga banjak lagi menimbulkan hardik, maki-makian dan tendangan. Ia tak menghiraukan mereka, membersit lepas dari chalajak, turun dari trem tak bergerak itu, madju selangkah, dua langkah, tiga, djatuh kebatu-batu lebuh dan tak bangkit lagi.
Maka timbullah gemuruh orang jang bitjara, bantah-membantah dan memberi nasehat. Beberapa orang turun dari trem dan mengerumuninja. Mereka lekas jakin bahwa ia tak bernafas lagi; djantungnja berhenti. Kelompok disekeliling majat itu ditambah dengan orang-orang lain jang turun dari trotoar, ada jang lega, ada jang ketjewa bahwa orang mati itu tadinja tak digilas trem dan bahwa kematiannja tak sangkut-paut dengan trem. Chalajak tambah besar. Wanita bergaun ungu tadi mendekat djuga, berdiri sedjenak, melihat kemajat, menjimak omongan orang dan terus pergi. Dia orang asing, tapi mengerti djuga bahwa ada usul supaja djenazah dimasukkan dalam trem untuk dibawa kerumah sakit, sedangkan ada pula jang mengatakan supaja tentara segera dipanggil. Ia tak menunggu apa djadinja.
Wanita bergaun ungu itu berbangsa Swis, dialah Mademoiselle Fleury dari Melyuzeyevo jang sekarang sangat tua sekali. Dua-belas tahun lamanja ia menulis kepada para penguasa, minta izin untuk pulang kenegerinja dan baru sadja permohonannja diluluskan. Ia tiba ke Moscow untuk minta visa exitnja dan sekarang ia pergi kekedutaannja untuk mengambilnja, maka sambil berdjalan itu ia mengipas-ngipaskan surat-suratnja jang dihimpun mendjadi berkas, diikat dengan pita. Demikianlah ia berdjalan terus dengan melampaui trem itu kesepuluh kalinja dan tak tahu menahu bahwa ia melewati Zhivago serta melampaui hidupnja.
13
Dari pintu gang jang terbuka nampak sepodjok kamar serta medja jang menjudut ketembok. Diatas medja ada keranda jang bentuknja seperti perahu terukir kasar dan menuding kepintu dengan udjung sempitnja, udjung jang menopang kaki djenazah. Itulah medja, tempat Yury menulis diwaktu lampau; tak ada medja lainnja disitu. Naskah-naskah telah dimasukkan kelatji dan peti majat berdiri didaun medja. Kepala Yury terangkat oleh bantal-bantal dan tubuhnja terbaring miring atas tempat ketinggiannja seperti dilereng bukit.
Ia dikerubungi bunga banjak sekali, bunga lilac bergerombol-gerombol jang sulit ditjari pada musim ini, bunga cyclamen dan cineraria dalam banjak pot dan kerandjang. Kembang-kembang ini menghadang tjahaja dari djendela-djendela. Tjahaja membersit tipis-tipis dari unggunan bunga, djatuh kewadjah dan tangan-tangan djenazah serta kaju dan garis-keliling keranda. Bajang-bajang dimedja merupakan pola daun dan ranting jang seolah baru sadja menghentikan gerak-geriknja.
Pada waktu itu kebiasaan membakar majat dilakukan orang dimana-mana. Dengan mengharap pensiun bagi anak-anak dan mengingat hari depan mereka disekolah serta kedudukan Marina dikantor-pos, diputuskan supaja tak perlu diadakan requiem serta membatasi perhelatan pada pembakaran djenazah setjara sipil. Para penguasa jang bersangkutan telah diberitahu dan orang sedang menunggu mereka.
Sementara itu kamar terasa kosong, seperti rumah petak jang sepi antara kepergian penjewanja sekeluarga dan kedatangan para penghuni berikutnja. Kesunjian hanja dipatahkan oleh bunji kaki tersuruk jang tak atjuh dari para pelawat jang masuk bertandjak kaki untuk berpamitan dari jang wafat. Djumlah mereka tak banjak, namun masih agak lebih banjak dari jang dapat diduga. Kabar kematian orang jang hampir tak dikenal ini telah beredar dikalangan mereka setjepat kilat. Diantara mereka banjak jang mengenalnja pada waktu-waktu berlainan dalam hidupnja, tapi kemudian ia tak berhubungan lagi dengan mereka serta melupakan mereka. Sadjak-sadjak serta karja ilmiahnja lebih banjak lagi membuat orang berteman dengannja, orang-orang jang tak pernah ketemu dengan dia namun merasa tertarik olehnja dan kini datang mengundjunginja untuk pertama dan achir kalinja.
Pada waktu ini, ketika kesunjian jang tak diisi oleh suatu upatjara apapun itu hampir setjara inderawi terasa menekan dengan rasa kehilangan, hanjalah bunga-bunga tadi jang mengganti njanjian serta psalma.
Bunga-bunga ini lebih dari berkembang dan berbau harum belaka. Dengan serempak bagai paduan suara — barangkali ini berakibat bahwa mereka tjepat mendjadi laju — mereka dengan murah hati mentjurahkan wangian serta memberi kekuatan dan harum pada siapapun djuga, hingga seolah melaksanakan ibadah.
Dengan mudah kita dapat berpikir bahwa keradjaan tumbuh-tumbuhan adalah tetangga terdekat pada keradjaan maut. Boleh djadi rahasia pendjelma serta mudjizat hidup jang begitu menjiksa otak kita, terpusat dalam kehidupan bumi, ditengah pohon-pohon dalam kuburan dan pada tunas-tunas berkembang jang meretjup-retjup dari tanah. Tatkala Maria Magdalena tak segera dapat mengenal sang Isa jang muntjul dari makam, disangkanja Ia seorang tukang kebun.
14
Waktu djenazah Yury diangkut kerumah petak di Djalan Kamerger (ini alamatnja terachir menurut pendaftaran), kawan-kawannja jang diberitahukan tentang wafatnja dan terkedjut mendengar itu, buru-buru masuk kamar, langsung dari bordes lewat pintu terbuka lebar, dengan membawa serta Marina. Setengah mabuk karena terperandjat dan sedih, ia merebahkan diri kelantai dan mengentangkan kepala ketepi peti kaju pandjang diserambi depan, tempat orang meletakkan djenazah, sebelum kamar jang tak tersapu itu selesai terbenah dan sebelum keranda jang sudah dipesan itu datang. Ia bermandi air mata, kumat-kamit dan mendjerit-djerit, tertjekik oleh kata-katanja sendiri, sambil meratap keras. Menurut kebiasaan petani, ia njatakan kesusahannja dengan limpahan kata-kata, tak merasa terganggu atau malu oleh kehadiran orang lain. Ia merangkul erat majat itu, njaris tiada terpisahkan ketika tiba waktunja bagi djenazah untuk dibawa kekamar, dimandikan dan dimasukkan peti-majat. Itu semua terdjadi kemaren hari. Sekarang mabuk sedihnja sudah reda, beralih pada kebisuan lesu; ia duduk berdiam diri, meskipun masih sadar tak sadar tentang diri sendiri dan lingkungannja.
Disitu sadja ia duduk selama sisa hari jang lampau dan sepandjang malam, tiada berandjak kemana-mana. Disitu orang mengantarkan bajinja, agar disusunja dan kesitu Kapka beserta pengasuhinja jang muda mengundjunginja.
Ia didampingi kawan-kawannja. Gordon dan Dudorov sama sedihnja dengan dia. Markel, ajahnja, duduk dibangku disisinja, terisak-isak dengan keras dan mengesang-ngesang dalam saputangannja dengan bunji jang mengedjutkan. Ibu dan kakak-adiknja pulang pergi seraja menangis.
Tapi dalam kumpulan itu ada dua orang, lelaki dan perempuan, jang mementjilkan diri. Sama dengan jang lain-lainnja mereka tak menuntut ikatan lebih dekat pada jang wafat. Mereka tak berlomba-lomba menjatakan dukatjita dengan Marina, anak-anaknja ataupun jang lain-lain. Tapi walaupun tak menuntut apa-apa, rupa-rupanja ada hak mereka jang chusus atas Yury dan tak seorangpun menanjakan atau membantah kekuasaan tak bersuara jang telah mereka peroleh tanpa tergugat itu. Njatanja, merekalah jang menugaskan diri untuk mengurus lajatan, mereka mengawasi tiap hal sedjak semula, diam-diam tapi dengan perasaan berwenang, hingga mereka nampak puas. Ketenangan mereka luar-biasa dan menimbulkan kesan jang gandjil; mereka seolah tak hanja terlibat dalam penguburan, melainkan djuga dalam peristiwa kematian, bukan menurut pengertian bersalah atau tidak mengenal hal itu, tapi setelah peristiwa terdjadi, merekalah orang-orang jang berserah diri, jang menerima, jang berdamai dengannja dan tak melihatnja sebagai hal terpenting mengenai Yury. Antara para pelawat itu sedikitlah jang kenal mereka, sedikit orang lainnja dapat menerka siapa mereka, namun kebanjakannja tak tahu menahu.
Tapi apabila silaki-laki dengan mata Kirghiz sipit jang mengungkap serta menimbulkan rasa ingin tahu itu masuk kamar, didampingi perempuan jang ketjantikannja tak terurus itu maka mereka semua, bahkan djuga Marina, seketika itu bersingsut tanpa membantah, seolah atas persetudjuan; bangkitlah mereka dari tempat duduk mereka, kursi dan bangku berlarik-larik dekat tembok, lalu keluar dan berdesak-desakan setjara tak njaman didalam gang dan bangsal depan, meninggalkan dua orang tadi dibelakang pintu separoh terbuka, seperti dua fihak jang perlu berunding dengan tenang, tanpa gangguan, untuk menjelesaikan sesuatu jang langsung mengenai penguburan dan penting sekali.
Demikianlah pada kesempatan ini pula. Mereka sendirian mengambil tempat atas dua kursi dekat dinding, lalu membitjarakan urusan mereka.
„Apa hasilmu, Yevgraf Andreyevich?”
„Pembakaran dilakukan nanti malam. Setengah djam lagi ada jang datang dari perkumpulan dokter untuk mengambil djenazah dan membawanja kegedung perkumpulan. Upatjara sipil pukul empat nanti. Surat-surat keterangannja tak ada jang beres; buku-buruhnja sudah tak berlaku, kartu serikat sekerdjanja sudah kawak — belum ditukar dengan jang baru, pun iurannja bertahun-tahun belum dibajar. Semua itu mesti diurus dulu; itulah jang makan banjak waktu tadi. Sebelum ia diangkut — sebentar lagi, kita harus siap — kutinggalkan kau sedjurus atas permintaanmu tadi…Maaf. Itu telepun. Sebentar sadja”.
Yevgraf keluar, ia masuk gang jang penuh dengan rekan-rekan Yury tak dikenal, teman-teman sekolahnja, para anggota staf rumah sakit jang muda, penata huruf dan pedagang buku; disitu Marina sambil mendekap kedua anaknja dan melindungi mereka dalam lipatan mantel jang disampirkan kebahunja (hari dingin), duduk ditepi bangku kaju menunggu sampai sempat kembali kekamar, tak ubahnja dengan orang jang mengundjungi tawanan dalam pendjara dan menanti sampai dipersilakan oleh pengawal. Gang dan bangsal itu ramai sekali. Pintu depan terbuka dan tak terbilang banjaknja orang berdiri atau djalan-djalan dan merokok dibordes. Lain-lainnja berdiri dan omong-omong didjendjang jang menudju keloteng bawah; ditempat lebih rendah jang makin dekat kelebuh, suara orang makin keras lagi bebas.
Dengan memegang alat penerima, Yevgraf berusaha mendengar, mengatasi kasak-kusuk berlarut-larut itu, dan dengan suara sopan jang tertekan ia mendjawab pertanjaan orang lewat telepun tentang urusan lajatan serta keadaan disekitar wafatnja dokter. Kemudian ia balik kekamar dan pertjakapan dimulai lagi.
„Sehabis pembakaran nanti djanganlah menghilang sadja, Larissa Fyodorovna. Aku tak tahu tempat tinggalmu. Djangan pergi tanpa memberitahu padaku. Ada permohonanku jang penting padamu. Selekas-lekasnja — besok atau lusa — aku ingin mengatur kertas-kertas kakakku. Kubutuhkan bantuanmu. Kau tahu banjak tentang dia, barangkali lebih banjak dari siapapun djuga. Menurut katamu, kau baru beberapa hari sadja tiba dari Irkutsk dan tak tinggal lama; kaukatakan datang kesini setjara kebetulan, dengan maksud lain, tak tahu bahwa rumah petak ini sedjak bulan-bulan terachir didiami kakakku, tak tahu nasib apa menimpanja. Aku tak mengerti semua jang kausebut itu dan tak hendak meminta pendjelasanmu, tapi kuminta kau djangan pergi, sebelum memberikan alamatmu. Sebaiknja kita pergunakan beberapa hari untuk memeriksa naskah-naskah ini dirumah ini djuga atau setidak-tidaknja sangat dekat dari sini. Barangkali dalam dua kamar lainnja digedung ini. Mengurusnja gampang. Kukenal pengurus gedung”.
„Katamu, kau tak mengerti utjapanku — Apa sulitnja? Aku tiba di Moscow, kutinggalkan barang-barangku disetasiun, lalu djalan-djalan dibeberapa lebuh dikota lama — Separuhnja tak kuingat lagi, lupa sebab sudah lama tak disini. Nah, aku djalan sadja, lewat djembatan Kuznetsky dan Djalan Kuznetsky dan tiba-tiba kulalui jang mengedjutkan, jang kukenal benar — itulah Djalan Kamerger. Disinilah dulu tempat kediaman suamiku waktu ia mahasiswa, Antipov jang mati tertembak itu — dirumah ini, presis dikamar ini, tempat kita duduk sekarang. Aku masuk; pikirku, siapa tahu, mungkin para penghuni jang dulu masih ada, tjoba kutengok. Aku tak tahu bahwa segalanja sudah berobah — tak ada jang ingat nama-nama mereka. — Itu baru kumaklumi kemudian, sehari sesudah itu dan sekarang, lama kelamaan setelah bertanja-tanja. Tapi kau ada. Entah mengapa kutjeritakan padamu. Aku sama sekali bingung — pintu terbuka lebar, banjak orang dimana-mana, peti-majat dalam kamar, ada djenazah. Siapa? Aku masuk, naik djendjang dan melihat. Kukira aku gila, hilang akal. Tapi kau disini, kaulihat aku, bukan? Wah, mengapa aku tjerita padamu?”
„Tunggu, Larissa Fyodorovna, tunggu sebentar. Sudah kukatakan, Yury dan aku tak menjangka sama sekali bahwa ada hubungan istimewa dengan kamar ini, ataupun bahwa Antipov dulu tinggal disini. Tapi jang paling mengherankan ialah salah satu kalimatmu tadi. Nanti sadja kusinggung. — Tentang Antipov, Strelnikov itu, pernah pada permulaan Perang Saudara aku sering sekali mendengar tentang dia, hampir tiap hari, malah aku ketemu dia dua tiga kali, namun tentunja tak kusadari bahwa namanja penting bagiku dari sudut hubungan keluarga. — Tapi maaf, mungkin aku salah dengar, bukankah kausebut tadi — boleh djadi hanja selip lidah — bahwa dia ditembak? Kau nistjaja tahu bahwa ia bunuh diri?”
„Ja, kudengar djuga tjerita orang begitu, tapi aku tak pertjaja. Pavel Pavlovich bukanlah orangnja untuk bunuh diri!”
„Tapi ini pasti benar. Antipov menembak diri sendiri dirumah itu, dimana menurut Yury kau tinggal, sebelum kau pergi ke Wladiwostok. Itu dekat sekali sesudah keberangkatanmu. Kakakku menemukan majatnja. Dia menguburnja. Bagaimana sampai orang tak menjampaikan itu padamu?”
„Lain lagi tjerita orang…Djadi benarlah ia bunuh diri! Kata orang memang begitu, tapi aku tak pertjaja. Dan dalam rumah itu pula? Nampaknja mustahil begitu. Detail ini sangat penting bagiku. Kukira kau tak tahu apakah dia dan Zhivago pernah bertemu, pernah kenal-mengenal?”
„Menurut Yury, mereka lama bertjakap-tjakap”.
„Begitu? Alhamdulilah, sukurlah”. Antipova pelan-pelan membuat tanda salib. „Alangkah kebetulan, mengherankan, seolah diatur dari semula. Boleh aku kembali pada hal ini kelak, untuk dapat keterangan lebih banjak darimu? Tiap perintjian mengandung kemesraan bagiku. Tapi djangan sekarang, aku terlalu tertekan. Aku mau tenang sebentar, mengatur pikiranku. Kau mau maafkan aku?”
„Tentu! Tentu!”
„Tak keberatan?”
„Tentu tidak”.
„O ja. Hampir lupa. Kauminta aku djangan pergi sehabis pembakaran. Djadilah. Aku djandji. Tak akan menghilang. Aku kembali kesini bersama kau, tinggal ditempat jang kautundjuk dan selama kauanggap perlu. Kita periksa naskah-naskah Yury. Kubantu kau. Memang aku bisa berguna baginja. Kukenal benar karangannja, tiap lenggoknja, kukenal dengan hatiku, dengan darah hajatku. Pun ada jang kumintakan padamu pula, aku perlu bantuanmu. Kudengar, kau seorang pengatjara — bagaimana djuga, kaukenal semua kebiasaan dan peraturan sekarang. Lagi pula, perlu kuketahui instansi pemerintahan jang manakah tempat kuminta keterangan. Sedikitlah jang maklum tentang hal-hal itu, bukan? Kuperlukan nasehatmu tentang sesuatu jang menjedihkan, kedji betul. Mengenai seorang anak. Tapi kelak sadja kita bitjarakan, bila kita pulang dari tempat pembakaran. Seumur hidup aku terpaksa mentjari orang sadja. Tjoba kita bajangkan sesuatu chajalan belaka, dimana kita perlu menjelidiki tempat seorang anak, anak jang dulu diserahkan pada orang tak dikenal untuk dibesarkan, adakah sesuatu tempat bertanja diseluruh negeri bagi umum mengenai semua rumah pemeliharaan kanak-kanak? Dan adakah pentjatatan mengenai semua kaum luntang-lantung, apakah jang sematjam itu pernah dikerdjakan atau ditjoba? Djangan sebut sekarang, djanganlah. Kelak sadja kita bitjarakan. Aku takut. Hidup begitu menjemaskan, bukan? Entah bagaimana kelak kalau anakku sudah datang padaku, tapi sekarang tak kulihat halangan untuk tidak tinggal dirumah petak ini. Katya punja bakat hebat untuk musik dan drama; dia pandai sekali meniru orang, dapat menjanji aria opera, sesudah didengarnja sadja. Dia anak luar biasa, bukan? Aku ingin dia masuk bagian remadja sekolah drama atau Konservatorium, mana sadja jang mau menerimanja, pun ia mesti terdaftar dalam sekolah asrama. Itu sebabnja aku datang tanpa dia sekarang, jakni untuk tjari djalan; sesudah kuurus semua, aku pergi kembali. Segalanja rumit, bukan, tak dapat kita djelaskan semua hal. Tapi kelak sadja kita bitjarakan ini. Kini aku tunggu sedjurus; kuberanikan diri, aku diam-diam sadja, mengendapkan pikiran dan kutjoba supaja tidak takut. Ketjuali itu sudah terlalu lama kita halangi teman-teman Yury untuk masuk kamar. Kukira dua kali kudengar tadi orang mengetuk pintu. Dan ada terdjadi apa-apa diluar — rupanja orang-orang dari perusahaan penguburan sudah tiba. Aku tinggal diam-diam disini sebentar, tapi baiklah kaubuka pintu dan persilakan mereka masuk. Sudah waktunja, bukan? Tunggu, tunggu. Harus ada pandjatan dekat peti majat, supaja orang dapat mentjapai Yury. Kutjoba djuga tadi dengan bertandjak kaki, namun sangat sulit. Dan itu perlu bagi Marina Markelovna serta anak-anaknja. Lagi pula sudah semestinja begitu, didjelaskan dalam ibadah: „Dan harus kautjum aku dengan tjiuman penghabisan”. O, aku tak tahan, tak betah, Ngeri! Ngeri, bukan?”
„Kumasukkan mereka. Tapi ada satu hal, sebelum itu. Kausebut banjak teka-teki dan kautimbulkan banjak pertanjaan jang njata-njata akan melukai hatimu, djadi entah apa hendak kukatakan padamu. Namun ada satu hal jang perlu kaumaklumi. Aku bersedia menolongmu dalam segala kesusahanmu. Kutawarkan ini seichlas-ichlasnja, dengan seluruh hatiku. Dan ingatlah. Sama sekali djangan putus asa, bagaimanapun keadaanmu. Berharap dan berbuat, itulah kewadjiban kita, kalau nasib buruk. Berpangku tangan dan putus asa berarti melalaikan kewadjiban. Kini kubuka pintu untuk jang melajat itu. Kau benar tentang pandjatan itu, kuambil bangku”.
Namun Lara tak lagi mendengarkannja. Ia tak pernah mendengarnja membuka pintu, tak didengarnja pula orang masuk berbondong-bondong dari gang serta Yevgraf jang memberi petundjuk pada pengurus penguburan dan para pelawat terpenting; tak didengarnja chalajak tersuruk-suruk, ataupun sedu-sedan Marina, orang batuk-batuk ataupun air-mata dan ratapan kaum perempuan.
Gerak-gerik chalajak disekitarnja, bunji-bunji jang tunggal nada itu membikinnja pusing dan mabuk kepajang. Ia perlukan seluruh tenaganja, agar tak djatuh pingsan. Hatinja hendak petjah dan kepalanja njeri. Dengan mengatup mata ia alihkan perhatiannja sendiri dengan berbagai kenangan, kadjian dan dugaan. Ia lari kesitu, tenggelam kedalamnja, seolah hanjut untuk sementara, selama beberapa djam kearah masa depan jang mungkin tak akan sempat dialaminja, masa depan jang menambah umurnja dengan puluhan tahun, dimana ia sudah mendjadi tua.
Tak seorangpun jang tinggal. Satu sudah meninggal. Lainnja bunuh diri. Jang tinggal hanjalah seorang jang mestinja sudah terbunuh, jang ia tjoba membunuhnja tapi gagal, orang jang tak ada persamaannja dengan dia, orang tak guna dan berdjiwa kosong jang telah membuat hidupnja mendjadi rangkaian kedjahatan, tanpa diketahuinja sendiri. Dan hantu keugaharian ini sedang berkeliaran dilorong-lorong-belakang di Asia, dikenal hanja oleh para pengumpul perangko, sedangkan tak satupun jang tinggal dari mereka jang dekat dan diperlukannja.
Bajangkanlah! Waktu itu hari Natal; dia bermaksud menembak orang-orangan jang mendjidjikkan itu, ketika ia omong-omong dalam gelap dikamar ini djuga dengan Pasha jang masih anak muda, sedangkan Yury jang djenazahnja akan diangkut sekarang ini masih belum tersua dalam hidupnja.
Ia memaksa ingatannja guna menjusun kembali pertjakapan hari Natal dengan Pasha itu, namun jang terkenang olehnja hanjalah lilin jang menjala diambang djendela dan meleleh serta membikin belang bundar dalam kerak saldju dikatja.
Bagaimana dapat diketahuinja bahwa Yury jang majatnja menggeletak dimedja, telah melihat lilin itu, waktu ia berlalu disitu, lantas memperhatikannja, maka sedjak ia melihat tjahajanja („Lilin menjala dimedja, lilin menjala”) segala sesuatu jang disediakan untuk nasibnja telah menguasai hidupnja?
Pikirannja mengembara. Batinnja: „Tak mengapalah, hanja sajang bahwa ia tak dikubur oleh geredja. Upatjara pemakaman begitu hebat lagi indah! Lebih dari sepantasnja bagi kebanjakan manusia, waktu meninggal, tapi untuk Yury tersajang alangkah agung kesempatan demikian. Dia patut disambut „Ratap tangis jang mendjelma Haleluja”.
Kini kalbunja bergelombang dengan bangga lagi lega, seperti biasanja kalau ia terkenang pada Yury dan selama waktu-waktu selingan jang pendek dalam hidupnja, ketika ia berdampingan dengannja. Sehembus nafas hidup jang merdeka dan tak terikat jang mendjadi tjiri Yury, kini memenuhi paru-parunja. Tak sabar ia bangkit dari kursi. Sesuatu kemustahilan terdjadi dengannja. Untuk beberapa djurus sadja dengan bantuan Yury ia ingin lari kekemerdekaan, kealam terbuka, luput dari mala-petaka jang mengungkungnja, agar dirasakannja lagi kesenangan hidup bebas. Kesenangan begitu baginja hak dan kesempatan untuk memangsi dia sepuas-puasnja, tanpa diganggu. Tak sabar dan bernafsu ia memandang orang banjak disekelilingnja dengan mata perih jang tak mampu melihat dan penuh air mata, seolah ditetesi obat pedas oleh seorang ahli mata; dan semua orang itupun bergerak, mengendap-endap dan berdjalan keluar kamar, achirnja meninggalkan dia sendirian dibelakang pintu separoh terbuka; lalu dihampirinja medja dengan keranda diatasnja itu dan iapun membuat tanda salib, naik kepandjatan jang dipasang oleh Yevgraf dan tiga kali membuat tanda salib jang lebar diatas djenazah, kemudian ia menekankan bibirnja pada kening dan tangan-tangan jang dingin itu. Dia hapus kesannja bahwa kening dingin itu mendjadi lebih ketjil, seperti tangan jang dikepalkan; ia berhasil mengelakkan tanggapannja. Sesaat ia berdiri diam dan membungkam, tak berpikir maupun menangis membungkuk atas keranda, bunga-bunga dan djenazah serta melindungi itu semua dengan seluruh djiwanja, dengan kepala, dada hati serta tangan-tangannja jang sekuat hatinja.
15
Seluruh badannja tergontjang-gontjang oleh isaknja jang tertahan-tahan. Ia melawan air matanja selama mungkin, namun sekali-sekali hal itu mengatasi kekuatannja, maka tumpahlah air mata itu, mentjutjur lewat pipinja dan tertjurah kegaunnja, tangannja dan peti majat jang digamitnja erat-erat.
Ia tak bitjara ataupun berpikir. Banjak gagasan, pendirian umum, kenjataan dan kepastian jang dengan sendirinja sadja mendjeladjah dan memburu batinnja, bebas seperti awan dilangit atau seperti segala pertjakapan waktu malam hari dimasa lampau. Itulah jang ketika itu membawa pada mereka kebahagiaan dan kemerdekaan; djuga pengetahuan, bukannja jang berasal dari otak, melainkan pengetahuan mesra jang ditukarkan antara mereka, langsung dan menurut naluri.
Pengetahuan demikian memenuhinja kini, pengetahuan kelam dan tak djelas tentang maut, kesiapan untuk mati jang mengenjahkan segala hal jang tak berdaja dalam kehadirannja sendiri. Rasanja seperti telah hidup duapuluh kali dan kehilangan Yury tak berbilang kali seringnja, seakan sudah ditimbunnja pengalaman hatinja dibumi ini, sampai tiap hal jang dirasakannja dan dibuatnja disisi keranda ini benar semata-mata dan tepat mengenai soalnja.
„O, alangkah besar tjinta itu, betapa bebas, baru, tak ada bandingnja dibumi!” Sesungguhnja mereka batinkan apa jang oleh orang lain dinjanjikan dalam lagu-lagu.
Mereka bertjinta-tjintaan bukanlah karena keharusan, „diperbudak oleh nafsu”, seperti jang dilukiskan orang tentang asjik-masjuk. Mereka berkasih-kasihan, karena tiap hal disekitar mereka menghendakinja, pohon dan awan dan langit diatas kepala mereka dan bumi dibawah kaki. Boleh djadi dunia disekeliling mereka, orang-orang tak dikenal jang tersua didjalanan, pemandangan jang terbuka untuk dilihat mereka waktu djalan-djalan, kamar tempat mereka tinggal atau berdjumpa, malah lebih bersukatjita dengan tjinta mereka dari pada mereka sendiri.
Nistjaja inilah djustru jang mempersatukan mereka dan menggubah persaudaraan mereka. Tak pernahlah, pun tidak dalam saat-saat bahagia jang paling indah dan paling bergolak, mereka kehilangan perasaan tentang jang paling bermutu dan paling memukau — kesenangan untuk mendalami seluruh semesta, udjudnja, keindahannja, perasaan bahwa mereka sesal dengannja, sebagian dari padanja.
Keserasian jang melingkupi segala hal ini merupakan nafas hajati bagi mereka. Dan karena itu mereka tak tertarik oleh kelaziman hendak memandjakan manusia, mendjundjung dia atas alam selebihnja serta menjembahnja. Sosiologi jang berdasarkan dalil palsu ini dan dipergunakan sebagai politik, terasa oleh mereka sebagai barang bikinan diletantis jang patut dikasihani dan tak dapat mereka fahami.
16
Dan kini ia mulai minta diri dari padanja dengan kata-kata bersahadja jang lazim bagi pertjakapan akrab lagi tegas, dengan tjara jang merombak rangkaan realitet dan gandjil — tak kurang gandjil dari paduan suara dan monolog dalam tragedi ataupun bahasa bersadjak atau musik atau kebiasaan lainnja jang hanja dapat dibenarkan apabila emosi sedang memuntjak. Pembenarannja dalam hal ini, keadaan jang menegangkan nada pembitjaraannja jang enteng dan tak direngungkan lebih dulu itu ialah air mata; didalamnja kata-katanja jang prosais dan tidak muluk-muluk itu bermandi, berenang dan terbenam.
Kata-kata jang diresapi air mata ini seolah dengan sendirinja sadja bergandeng-gandeng, dirangkaikan mendjadi penuturan empuk, lembut, tepat, seperti kerisik daun-daun halus jang basah, tersuruk oleh angin.
„Djadi kita bertemu lagi, Yurochka. Mengapa begini Tuhan mempertemukan kita? Alangkah tjelaka, bajangkanlah! O, aku tak betah! O Tuhan! Aku nangis sadja! Bajangkan! Lagi-lagi begini nasib kita. Pergimu ini menguntji riwajatku. Lagi-lagi sesuatu jang besar, tak terhindar. Rahasia hidup, rahasia maut, keindahan mahasukma, keindahan asmara — itu kita mengerti. Tapi soal remeh-temeh seperti merobah bentuk dunia — terima-kasih sadja, itu bukan soal kami.
„Selamat tinggal, djiwa agung, mata hatiku, buah kebanggaanku; slamat tinggal, sungaiku jang dalam dan kentjang, betapa kusanjangi gemertikmu sepandjang hari, betapa senangku bermandi dalam riak-riakmu, sedjuk lagi dalam.
„Kauingat bagaimana kita berpisah hari itu, waktu saldju bertimbun-timbun? Mengapa kauakali aku? Aku tak akan pergi tanpa kau, bukan? O, aku tahu, kutahu kaupaksa dirimu, kausangka itu baik bagiku. Dan sesudah itu semuanja serba susah. Apa jang tak terpaksa kuterima disana, apa jang tak harus kualami? Tapi nistjaja tak kaumaklumi apa-apa tentang itu. Ah, apa jang kubuat, Yura, apa jang kubuat? Aku pendjahat besar, tak masuk akalmu itu. Tapi bukan salahku. Aku sakit tiga bulan dihospital dan sebulan penuh aku tak sadarkan diri. Dan sesudah itu hidupku sia-sia sadja, Yura. Hatiku tak tenteram, aku tak sanggup hidup untuk belas kasih dan penanggungan. Namun belum pula kutjeritakan padamu jang terpenting. Tak dapat kusebut, tenagaku tak tjukup. Tiap kali aku tiba kebagian hidupku jang itu, aku terhenti, bulu-kudukku berdiri, ngeri betul. Lagi pula, aku bahkan tak tahu pasti, apakah aku masih normal. Namun aku tak pernah lari keminuman keras, seperti jang sering dilakukan orang — kuhindari itu, sebab perempuan jang mabuk berarti puntjak kenistaan, tak boleh djadi, bukan?”
Terus sadja ia bitjara, menangis dan menjiksa diri, tapi sekonjong-konjong ia menengadah, lalu heran ketika dilihatnja kamar penuh sesak dengan manusia dan serba riuh. Ia turun dari pandjatannja dan meninggalkan keranda, terhujung-hujung, sambil menekankan telapak tangan kematanja, hendak melepaskan diri dari air mata jang belum habis ditangiskannja serta membuangnja kelantai dengan djari-djarinja.
Enam orang menghampiri peti majat, mengangkatnja, lalu membawanja keluar.
17
Lara tinggal berhari-hari di Djalan Kamerger. Penertiban dokumen-dokumen Yury dimulai dengan bantuannja, tapi diachiri tanpa dia. Diapun telah bitjara dengan Yevgraf serta menjampaikan padanja hal jang penting.
Suatu hari Lara keluar dan tak pulang kembali. Agaknja ia ditahan didjalanan, hal mana sering terdjadi waktu itu, dan dia meninggal atau menghilang disuatu tempat, terlupa sebagai suatu nomor tak bernama disebuah daftar jang kemudian terlantar sadja, disalah satu kamp konsentrasi wanita atau tjampuran jang tak terbilang banjaknja di Utara.
1
Gordon jang baru naik pangkat djadi letnan, bersama major Dudorov sedang pulang kepada kesatuan-kesatuan mereka, jang satu dari tempat tugasnja di Moscow, lainnja dari liburan tiga hari. Ketika itu musim-panas tahun 1943, sesudah penerobosan jang menondjol digaris perang Kursk dan sesudah Orel dibebaskan.
Mereka ketemu didjalan, lalu menginap di Cherny, kota ketjil jang sekalipun sebagian besar telah mendjadi reruntuh, namun belum hantjur-mumur seperti kebanjakan tempat-tempat berpenduduk lainnja dalam „Zone gurun” ini jang ditinggalkan orang, segera sesudah tentara penjerbu mengundurkan diri.
Antara segala tumpukan bata petjah dan batu jang hantjur mendjadi serbuk debu, mereka dapatkan sebuah gudang jang belum rusak; disitulah mereka bersiap-siap untuk menginap. Tatkala Dudorov achirnja terselap oleh kantuknja, kira-kira pukul tiga pagi, dekat sebelum fadjar, ia tak lama kemudian diganggu lagi oleh kegelisahan Gordon. Dengan kikuk ia terdjun dalam rumput kering jang empuk itu serta terguling-guling disitu seolah dalam air, lalu dikumpulkan sedikit pakaian hingga merupakan gulungan dan meluntjur dari putjuk tumpukan rumput itu dengan kikuk pula.
„Kemana kau? Masih pagi”.
„Kesungai, tjutji pakaian”.
„Gila. Malam ini kita mesti pulang kekesatuan. Tanya, babu tjutji itu akan menjediakan pakaian bersih untukmu. Tak usah buru-buru”.
„Aku tak mau menunggu. Pakaianku penuh keringat, kotor. Kutjutji tjepat-tjepat dan kupulas baik-baik. Dalam panas ini semuanja lekas kering. Aku mau mandi dan ganti badju”.
„Tak baik. Kau perwira, bukan?”
„Masih pagi betul, tak ada orang disini, semua tidur. Bisa djuga aku menjuruk dibelakang semak-semak atau apa sadja. Tak ada mata melihat. Djangan bitjara dan tidurlah; kalau tidak, kau tetap bangun sadja”.
„Mana bisa tidur lagi? Aku ikut”.
Mereka turun kesungai, lewat runtuhan batu jang sudah putih panas oleh matahari, meskipun baru sadja surja terbit. Ditempat-tempat jang dulu namanja lebuh, orang lagi tidur dibawah matahari, berkeringat, dengan muka merah dan mendengkur. Kebanjakan mereka adalah penduduk setempat jang kehilangan tempat tinggal, kakek, perempuan, anak, bertjampur dengan sedikit anak-buah Tentara Merah jang terpintjil dari kesatuan mereka dan hendak bergabung kembali. Gordon dan Dudorov melangkah hati-hati lewat mereka, supaja tak mengganggu tidurnja.
„Omong lembutlah; kalau tidak, kota ini bangun, maka slamat tinggallah tjutjianku”.
Demikian mereka landjutkan pertjakapan semalam dengan suara tertekan.
2
„Sungai mana ini?”
„Entah. Sungai Zusha barangkali”.
„Bukan, bukan Zusha”.
„Kalau begitu, terserahlah”.
„Peristiwa itu terdjadi disungai Zusha — Maksudku, Christina”.
„Ja, tapi agaknya lebih kehilir. Konon Geredja telah menjatakan dia orang kudus. Apakah kau ketahui lebih banjak detail dari jang disebut dalam pers?”
„Tidak sedjelas-djelasnja. Ada gedung batu tua jang dinamakan Gedung Kandang. Dulu dipergunakan sebagai peternakan kuda sovhoz — kini namanja akan tertjatat dalam sedjarah — sudah tua sekali dengan tembok-tembok tebal. Tentara Djerman membuatnja djadi benteng tak tertembus; letaknja dibukit, dari situ mereka dapat menembaki seluruh distrik dan kemadjuan kita terhambat olehnja. Harus dihantjurkan. Maka dengan keberanian dan kepandaian jang mengagumkan, Christina menerobos kegaris pertahanan Djerman, dan meledakkannja; dia ditangkap hidup-hidup dan digantung”.
„Mengapa orang menjebutnja Christina Orletsova dan bukan Christina Dudorova?”
„Kami baru bertunangan. Pada musim-panas tahun empat-puluhsatu kami hendak kawin, bila peperangan selesai. Sesudah itu seperti tentara lainnja, aku pergi kemana-mana sadja. Kesatuanku entah berapa kali sudah dipindahkan dan selama itu putuslah hubunganku dengannja. Tak kulihat kembali ia. Kudengar tentang prestasinja jang gagah berani serta wafatnja sebagai pahlawan itu tak beda dengan orang lain — melalui suratkabar dan surat perintah tentara. Konon akan didirikan monumen untuknja, dekat dari sini. Kudengar bahwa Zhivago — djenderal itu, adik Yury — sedang keliling didaerah ini guna mengumpul keterangan tentang dia”.
„Maaf — mestinja tak kuminta kau bitjara tentang ini. Kau djadi gelisah”.
„Bukan begitu. Tapi aku tak mau mentjegahmu. Tanggalkan badju, masuk air dan bekerdjalah. Aku mau berbaring ditepi dan mengunjah sebatang rumput dan pikir-pikir. Barangkali malah bisa tidur sedikit”.
Sedjurus kemudian mereka mulai omong-omong lagi.
„Dimana kau beladjar tjutji pakaian matjam itu?”
„Karena terpaksa maka timbul akal. Nasib kami djelek. Kami dikirim djustru pada waktu kamp-kamp hukuman sedang seburuk-buruknja. Sedikit sekali jang masih hidup. Mari mulai dengan kedatangan kami. — Turun dari kereta-api — Gurun saldju. Hutan dikedjauhan. Para pengawal bersendjata; montjong-montjong tertudju pada kami, itulah andjing-andjing srigala. Kira-kira bersamaan dengan kami, didatangkan pula kelompok-kelompok lain. Kami disebar-sebar, merupakan segi berganda jang besar dipadang itu, menghadap keluar hingga jang satu tak melihat lainnja. Lalu kami diperintahkan bertelut, diperingatkan supaja terus memandang kedepan, kalau tak mau dihukum mati. Kemudian apel, itu tak habis-habisnja dan setjara menghina, berdjam-djam lamanja; dan selama itu kami berlutut sadja. Lantas bangkitlah kami; kelompok-kelompok lain disuruh berbaris kesegenap pendjuru, semua ketjuali kami. Pada kami diberitahu:
„Tinggal disini. Ini kamp kamu” — Padang saldju terbuka dengan sebatang tonggak ditengahnja beserta tulisan jang berbunji: „GULAG 92 Y-N. 90”.1 1GULAG: Glavnoye Upravleniye Lagerei, jakni Direktorat Pusat Kamp-Kamp, sebagian dari NKVD. — tjuma itu”.
„Nasib kami tak seburuk itu. Masih untung namanja. Aku hanja mendjalani taraf kedua sadja, akibat otomatis dari taraf pertama. Pun aku hanja diponis menurut fasal2 2Fasal: Baik Dudorov maupun Gordon rupa-rupanja dihukum atas kedjahatan politik, tapi beratnja hukuman tergantung pada „fasal”nja, jakni paragraf dari Undang-Undang Kriminil, menurut mana korban pembersihan itu dituduh. Hukuman terberat dilaksanakan atas mereka jang digugat menurut fasal 58 jang bersangkutan dengan propaganda anti negara, sabot, teror, dsb. lain, djadi keadaanku berlainan. Sesudah bebas, aku direhabilitir seperti pada pertama kalinja dan diizinkan melandjutkan pekerdjaan memberi kuliah. Dan aku dipanggil dengan tjara jang lazim, tidak masuk bataljon hukuman seperti kau”.
„Ja, nah …Djadi hanja itulah jang ada, tonggak dengan papan bertulisan: „GULAG 92 Y-N. 90”. Pertama-tama kami patahkan pohon-pohon muda dengan tangan belaka dalam hawa beku, supaja mendapat kaju untuk mendirikan pondok-pondok. Dan kesudahannja — pertjaja-tidak? — kami bangun kamp kami sendiri. Kami dirikan pendjara kami, pagar balok, sel-sel hukuman dan menara-menara pengintai, semuanja dengan tangan belaka. Kemudian kami bekerdja sebagai orang utas. Kami tebang pohon-pohon. Kami mengganti kuda, delapan orang didepan kereta saldju, kami angkut kaju, tenggelam kesaldju sampai kekuduk. Sedjak lama kami tak tahu-menahu tentang perang. Itu disembunjikan terhadap kami. Tiba-tiba sadja mereka datang dengan tawaran. Orang boleh berdinas suka-rela digaris depan dalam bataljon hukuman dan kalau dapat keluar hidup-hidup, bebaslah dia. Kemudian serangan demi serangan, kawat listrik berduri bermil-mil pandjangnja, periuk api, mortir, rintangan artileri berbulan-bulan. Regu kami disebut pasukan maut. Tersapu hampir sebersih-bersihnja. Bagaimana dan apa sebab aku masih hidup, entahlah. Tapi — tjoba pikir — neraka sekedji-kedjinja itu bukan apa-apa, suatu restu, kalau dibanding dengan kekedjaman dalam kamp konsentrasi, bukan karena soal kebendaan, melainkan karena hal-hal lain”.
„Ja, pengalamanmu bukan main!”
„Disitu orang bukan hanja beladjar tjutji badju, melainkan segala hal jang dapat dipeladjarin”.
„Memang luar biasa. Tak hanja kalau dibanding dengan hidupku sebagai orang tawanan, tapi djuga kalau dibanding dengan apa sadja dari tahun-tahun tigapuluhan, bahkan dengan keadaanku jang sedap diuniversitas, ditengah buku dan uang dan kesenangan — bahkan dengan keadaanku jang begitu rupa, kedatangan perang adalah seperti sehembus air segar, pertanda kebebasan, taufan jang menjutjikan.
„Kupikir, kolektivisasi adalah kesalahan maupun kegagalan, dan lantaran hal itu tak boleh diakui, maka tiap bentuk intimidasi harus digunakan untuk membikin rakjat tak mampu lagi berpikir dan berpendirian sendiri, untuk memaksa mereka melihat apa jang tak ada dan untuk membela jang sebaliknja dari apa jang tertangkap oleh mata. Itu sebabnja ada teror Yezhov jang kedjam tak bertara, ada pengumuman konstitusi jang tak pernah dimaksudkan untuk dilaksanakan dan ada pemilihan-pemilihan jang tak berdasar pada prinsip mengeluarkan suara setjara bebas.
„Maka ketika perang petjah, segala keseramannja jang riil, bahajanja jang riil, antjaman maut jang riil, adalah suatu pangestu, terbanding dengan kekuasaan ingkar insani dari kebohongan; suatu kelegaan, sebab dipatahkannja pesona huruf tak bernjawa.
„Hal itu tak hanja terasa oleh orang-orang jang posisinja seperti posisimu, dalam kamp konsentrasi, melainkan oleh siapapun tanpa ketjuali, dirumah dan dimedan perang; mereka semua menghela nafas pandjang dan mentjeburkan diri dalam kantjah perdjuangan penuh bahaja namun pembebas ini dengan gembira sungguh-sungguh, dengan terpukau.
„Perang mempunjai tjiri jang chas sebagai mata rantai dalam rentetan dasawarsa revolusioner. Perang menandai berachirnja pengaruh langsung dari sebab musabab jang tak terpisahkan dari kodrat pergolakan itu sendiri. Sekarang ini sedang berlangsung sebab musabab taraf kedua; jang kita saksikan sekarang ialah buah dari buahnja, hasil dari hasilnja — para pribadi jang digembleng oleh azab sengsara, tak pernah mandja, berdjiwa pahlawan, siap untuk amal perbuatan jang agung, tak pandang bahaja, luar biasa. Tjiri-tjiri jang mengagumkan, hampir tak dapat dipertjajai ini adalah kuntum-kuntum bunga angkatan sekarang.
„Dan apabila kusaksikan hal-hal itu, hatiku penuh bahagia, sungguhpun Christina mati sahid, sungguhpun kita luka-luka dan mengalami kekalahan-kekalahan, sungguhpun darah tertumpah ruah dalam perang. Karena kulihat tjahaja pengorbanan diri jang menerangi wafatnja Orletsova serta hidup kita semua, maka sangguplah aku mengatasi kehilangannja.
„Aku dibebaskan djustru pada waktu kau jang sial itu sedang mengalami segenap azaban itu. Tak lama kemudian Christina masuk universitas sebagai mahasiswa ilmu sedjarah. Aku mengadjarnja. Lama sebelum itu sudah kuketahui bahwa ia gadis jang luar biasa, ketika ia masih kanak-kanak, pada achir masa pertamaku dalam bui — Waktu Yury masih hidup, ingat? Kutjeritkan pada kamu berdua — Nah, kini ia salah satu mahasiswaku.
„Ketika itu baru sadja ada kebiasaan bahwa mahasiswa mengritik guru-guru. Christina paling bernafsu untuk memfitnah aku. Aku tak mengerti apa salahku, maka ia seganas itu! Dia begitu agresif dan tak adil, hingga kadang-kadang para mahasiswa lainnja membantahnja serta membela aku. Selera humornja besar, maka dengan sesuka hatinja ia djadikan aku bulan-bulanan dalam „harian tembok”, menjebut aku dengan djulukan jang terang benderang bagi siapapun djuga. Lantas sekonjong-konjong, kebetulan sadja, sadarlah aku bahwa permusuhan jang mendalam ini adalah samaran kasih-sajangnja padaku — tjinta teguh jang tahan udji jang telah lama dikandungnja dan selalu kulantunkan tanpa mengetahui bahwa ia mentjintaiku.
„Bersama-sama kami mentjetjap musim-panas jang nikmat dalam tahun empat puluh satu, dekat sebelum dan sesudah perang. Christina termasuk sekelompok mahasiswa, laki-laki perempuan jang diberi tempat kediaman disuatu daerah pinggiran Moscow, dimana kesatuanku djuga dilatar-belakangi oleh latihan militer mereka. Orang membentuk kesatuan-kesatuan pembela tanah-air untuk daerah pinggiran kota, Christina beladjar mendjadi parasit, para pengempur Djerman jang pertama diintai dari bubungan rumah-rumah di Moscow dan dipukul mundur. Seperti kukatakan tadi, waktu itulah kami bertunangan, tapi hampir seketika itu djuga kami terpisah, karena resimenku bertolak. Tak pernah kulihat dia kembali.
Kemudian, sesudah keadaan kita baik dan tentara Djerman menjerahkan ribuan orang, akupun setelah dua kali luka-luka, dipindahkan dari bagian anti pesawat terbang ke Staf Ketudjuh Divisi, dimana diperlukan orang-orang jang pandai bahasa asing. Begitulah aku sampai berhasil membawa kau keatas kapal, sesudah kutolong kau dari dasar laut”.
„…Tanya, babu tjutji remadja itu teman Christina. Mereka berkenalan dimedan perang. Ia banjak bertjerita tentang dia. Kaulihat tjara Tanya bersenjum, melebar keseluruh parasnja seperti Yury? Kau akan lupa bahwa hidungnja pesek dan tulang pelipisnja menondjol, kau akan berpendapat bahwa ia manis betul dan menarik. Itu tipe Rusia, seperti tipe Yury. Kautemukan itu dimana-mana disini”.
„Aku tahu jang kaumaksud. Tapi tak kulihat senjumannja”.
„Nama djulukannja kedji, tak beradab, Tanya Jang Tersingkir. Nistjaja bukan nama keluarganja. Heran, mengapa ia sampai didjuluki begitu”.
„Dia tjeritakan pada kami. — Dia seorang bezprizornaya3 3Anak terlantar. Dalam berbagai waktu, chususnja tahun-tahun 1922-1925 dan sesudah kampanje kolektivisasi tahun 1932, banjaklah anak-anak tak bertempat tinggal jang orang tuanja meninggal dalam Perang Saudara, menghilang selama pembersihan-pembersihan dsb., berkelarian dalam negeri dan merupakan masalah administratif jang luar biasa. — ’jang orang tuanja tak dikenal. Barangkali Bezocherednaya — ’jang tersingkir’ disimpulkan dengan chilaf dari Bezotchaya dalam artian „tak berajah”, begitulah tentunja orang menjebutnja dipedalaman, tempat ia dibesarkan, dimana bahasa negeri masih murni. Kemudian didalam kota nama ini tak dimengerti dan karena disitu segala hal dipungut dan diputar-balik, orang lantas merobahnja mendjadi sesuatu jang lebih aktuil dan berbau kota”.
3
Beberapa waktu sesudah pertjakapan itu Gordon serta Dudorov ada dalam kota Karachev jang kena gempur sampai merata tanah. Masih sadja mereka mentjari kesatuan mereka dan di Karachev itu mereka ketemu dengan beberapa bagian belakangnja jang sedang menjusul induk pasukan.
Musim-panas terik ketika itu; sebulan lebih tjuatja baik dan tenang sadja. Dengan menggembung dibawah langit biru tak berawan, tanah hitam daerah Bryanschina, wilajah mubarak jang subur antara Orel dan Bryansk itu dibangunkan matahari sampai berwarna tjoklat semu hitam.
Djalan utama memotong kota dengan garis lurus dan bermuara kedjalan raja. Disatu seginja rumah-rumah telah diledakkan oleh periuk-periuk api, mendjelma djadi ongkokan-ongkokan reruntuh; puing-puing ini dilindungi pohon-pohon tumbang jang petjah belah dan hangus, berasal dari kebun-kebun jang dirata-tanahkan. Disegi lainnja ada tempat-tempat tandus jang barangkali tak pernah ada bangunannja; maka sebagian besarnja tak didjamah oleh api dan kehantjuran, lantaran tak ada jang dapat dihantjurkan.
Disegi jang dulu ada rumah-rumahnja itu penduduk jang tak beratap sedang mengais-ngais dalam abu jang membara, memungut matjam-matjam benda dipelbagai podjokan reruntuh serta menghimpunnja semua disatu tempat. Ada pula jang tergesa-gesa menggali parit-parit, guna membikin tempat kediaman darurat dibawah tanah, djuga memotong turf berkeping-keping untuk atapnja.
Tempat-tempat tandus diseberang nampak putih disebabkan kemah-kemah, banjak pula lori dan kereta kuda, kepunjaan aneka rupa djawatan tambahan — ambulan dinas luar jang terpisah dari staf-staf divisi, bagian-bagian dari segala djenis intendan serta depo jang terpintjil atau tjampur-baur dan kini hendak diatur kembali. Dan anak-anak muda kurus-kering dari regu-regu bantuan jang diwadjibdinasakan, pakai petji kwartir abu-abu dan menggendong mantel berat jang tergulung, dengan muka berwarna muram, putjat dan menjeringai karena sakit dysenteri, menurunkan ransel mereka disitu, lalu tidur dan sarapan, sebelum berdjalan terus ke Barat.
Separoh dari kota jang terbakar dan diledakkan itu masih menjala, sedangkan dari djauh terdengar ledakan-ledakan, dimana periuk-periuk api dengan fungsi tertangguh masih meletus-letus. Sekali tempo penduduk jang sedang menggali tanah itu merasakan gelombang gontjangan dibawah kaki, mereka meluruskan punggung, bertopang pada tjangkul, sambil mengaso dan menoleh serta menindjau kedjurusan letusan tadi.
Disitu gumpalan asap, api dan serbuk batu jang kelabu, hitam dan merah-bata itu naik kelangit, mula-mula menjembur dan mentjurat, kemudian agak pelan-pelan seperti tahi logam berat jang mengepul, lantas berkembang bagai kipas dan tersebar laksana bulu-bulu; achirnja tjerai-berai dan turun kembali kebumi. Dan jang menggali itupun melandjutkan penggaliannja.
Ditengah tempat-tempat tandus diseberang reruntuh tadi ada ladang jang dilengkungi pagar hidup, dirindangi pohon-pohon besar jang memajung. Dibajangi dan terkurung oleh pohon-pohon serta pagar itu, tempat ini seakan tersisih dari dunia selebihnja sebagai pekarangan milik pribadi jang sedjuk dan terlindung dibawah hawa magrib.
Disinilah Tanya, babu tjutji remadja itu bersama beberapa orang petugas lain dari resimennja, termasuk Dudorov dan Gordon serta lain-lainnja lagi menanti-nanti lori jang telah dikirim untuk mendjemputnja. Barang-barang tjutjian dari resimen jang dipasrahkan padanja, terbungkus dalam beberapa para-para jang bertumpuk-tumpuk diladang. Tanya mendjaganja dengan tjermat, tak beringsut selangkahpun, dan sisa kelompoknja itu djuga mengawasinja, kuatir kalau-kalau tak sempat membontjeng.
Mereka telah lama menunggu, lima djam lebih. Lantaran menganggur, mereka dengan senang mendengarkan gadis itu jang mengalami banjak dalam hidupnja dan berketjek terus menerus. Pada saat itu ia mengisahkan bagaimana ia ketemu djenderal major Zhivago.
„Betul aku ketemu dia kemaren. Aku dibawa untuk menghadap djenderal kita, djenderal major Zhivago sendiri. Ia lewat disini dan menaruh perhatian pada Christina, ia bertanja-tanja tentangnja. Ia ingin ketemu dengan saksi-saksi pandangan mata jang mengenalnja. Djadi akulah jang ditundjuk orang kepadanja. Kata orang, kami dulu berteman. Dia suruh mengantarkan aku kepadanja. Djadi orang datang dan membawa aku. Dan dia sedikitpun tak menakutkan, tak ada istimewanja, sama dengan orang biasa sadja. Matanja sipit, rambutnja hitam. Nah, kusampaikan apa jang kuketahui. Didengarnja aku, lalu katanja „Trima-kasih”. „Dan kau siapa?” tanjanja. „Dari mana kau datang?” Wah, tentu tak kutjeritakan apa-apa padanja. Apa jang perlu kubanggakan? Aku seorang bezprizornaya, kamu tahu bagaimana hidupku, keluar masuk sekolah reformasi, selalu pindah-pindah. Tapi ia tak mau melepas aku. „Biarlah”, udjarnja. „Djangan takut. Tak ada jang perlu kau malukan”. Nah, mula-mula tjuma kutjeritakan satu dua kata, karena takut, lantas kutjeritakan lebih banjak sedikit, dan dia mengangguk-angguk sadja, seolah mau mengatakan „Teruslah”, djadi lebih berani aku. Dan memang banjak jang bisa kutjeritakan. Kamu tak akan pertjaja, kalau kukisahkan, kamu akan bilang: „Dia bikin-bikin sadja”. Nah, begitu djuga dia. Sesudah aku selesai, ia bangkit dan mulai mundar-mandir dalam pondok. „Masja Allah”, katanja. „Luarbiasa. Dengarkan”, katanja, „sekarang aku tak punja waktu. Tapi aku perlu kau lagi kelak, pertjajalah, kuperlukan kau dan kuminta kau datang lagi kelak. Tak kusangka dapat kutemukan hal sematjam ini. Tak akan kubiarkan kau disini”, katanja. „aku perlu memeriksa beberapa detail. Lantas, siapa tahu, mungkin aku ternjata pamanmu sendiri, kau akan terangkat mendjadi kemenakan seorang djenderal. Dan akan kukirim kau kesekolah tinggi”, udjarnja, „supaja kau terpeladjar. Dimana sadja, sesukamu”. Demi Allah, begitulah utjapannja. Ia suka menertawai dan mengusik orang”.
Pada saat itu sebuah kereta kosong jang pandjang dan berdinding tinggi seperti jang lazim dipergunakan di Polandia dan Rusia Barat untuk mengangkut rumput, masuk keladang. Dua kuda jang berpakaian menurut keperluannja, dikendarai oleh seorang pradjurit dari pasukan pengangkutan berkuda, jang dahulukala dinamakan kusir perbekalan. Ia menghentikan keretanja, melontjat dari tempat duduknja dan mulai melepaskan kuda-kuda. Tiap orang ketjuali Tanya dan satu dua pradjurit, mengerumuni dia serta memohonnja supaja membawa mereka, kemana djuga perginja, tentu sadja dengan menjatakan bahwa ia tak bakal rugi. Namun sais itu menolak dengan mengatakan bahwa ia tak berhak menggunakan kereta serta kuda-kudanja setjara lain dari jang diperintahkan padanja. Dituntunnja kuda-kuda itu dan iapun tak nampak lagi.
Tanya serta para petugas jang sampai kini duduk ditanah, semuanja naik dalam kereta kosong itu jang dibiarkan berdiri diladang. Setelah diselingi oleh kedatangan kereta dan oleh perbantahan dengan sais tadi, pertjakapan dimulai kembali.
„Apa jang kutjeritakan pada djenderal?” tanja Gordon.
„Tuturkan pada kita, kalau bisa”.
Maka dia kisahkan tjeritanja jang mengerikan itu.
4
„Memang banjaklah jang bisa kutjeritakan. Konon aku kelahiran bangsawan. Apakah kudengar dari orang-orang jang tak kukenal, ataukah kusimpan sendiri dalam hatiku, entahlah, tapi disebut-sebut bahwa ibuku, Raissa Komarova, adalah isteri seorang menteri dari kabinet Rusia, kawan Komarov, jang bersembunji di Mongolia Putih. Namun Komarov ini agaknya bukan ajah kandungku. Nah, pastilah aku bukan gadis terpeladjar, aku dibesarkan sebagai jatim-piatu, tak punja ajah dan ibu. Boleh djadi jang saja katakan nanti menggelikan bagi kamu, tapi aku hanja ingin saja katakan jang kuketahui; kamu hendaknja menempatkan diri dalam tempatku.
„Semua ini terdjadi disebelah sana dari Krushitsy, diudjung lain Siberia, lebih djauh lagi dari negeri Kosak, dekat tapal-batas Tiongkok. Waktu kami, jakni kaum Merah, madju sampai kekota terpenting kaum Putih, maka Komarov, menteri itu, dia masukkan ibu sekeluarga dalam keretaapi istimewa dan memerintahkan supaja mereka dibawa pergi. Ibuku takut, ia tak berani bergerak selangkahpun tanpa dia.
„Tapi tentang aku, Komarov tak tahu menahu. Tak tahu sama sekali bahwa ada seorang matjam aku ini. Ibu memperoleh aku, waktu ia lama terpisah dari padanja dan dia takut bukan main, kalau-kalau ada jang terlandjur menjebutinja, hingga terdengar olehnja. Komarov bentji pada anak-anak, ia suka teriak dan mengentak kaki, bila ia melihat mereka. „Anak hanja bikin kotor dan repot dirumah, aku tak betah”, begitu diseru-serukannja.
„Nah, seperti kubilang tadi, waktu tentara Merah mulai mendekati kota, ibuku suruh panggil si Marfa dari setasiun Nagornaya, dia tukang wesel. Itu tiga setasiun djauhnja dari kota. Kutjeritakan bagaimana keadaannja. Pertama Nizovaya, itu dalam lembah, lantas Nagornaya, itu dipuntjak bukit, kemudian Pas Samson. Kini fahamlah aku, bagaimana ibu mengenal tukang wesel wanita ini. Kukira situkang wesel ini suka datang untuk djual susu dan sajar majur dikota. Ja, tentu begitulah terdjadinja.
Dan kupikir, ada sesuatu jang tak kumaklumi. Rupanja ibu kena muslihat, orang membobonginja. Tjuma Tuhanlah jang tahu, alasan apa jang dipakai; kuduga mereka bilang bahwa itu hanja sementara, untuk satu dua hari sadja sampai kekatjauan reda dan segalanja teratur. Tapi tak disebut bahwa aku djatuh ketangan orang-orang tak dikenal untuk selama-lamanja. Dibesarkan oleh orang-orang lain. Ibu tak akan sampai hati, menjerahkan anaknja sendiri dengan tjara begitu.
„Nah, kamu maklum bagaimana halnja dengan anak. „Omonglah dengan bibi, kau dapat bibi manis jang baik, djangan takut pada bibi”. Kemudian habislah air mataku oleh tangisku, sebagai kanak-kanak hatiku kojak-kojak oleh sengsara — namun baiklah tak kutjeritakan sadja itu. Aku ingin menggantung diri, aku njaris djadi gila, selagi masih anak ketjil. Begitu sadjalah aku waktu itu. Kuduga, bibi Marfa mendapat uang untuk memelihara aku, uang banjak sekali.
„Selain urusan tiang sinjal, ada djuga pertanian jang lumajan, ada lembu dan kuda dan tentu pula aneka rupa ternak bersajap dan sebidang tanah besar untuk menanam kentang — disana orang bisa mendapat tanah seluas-luasnja — dan tentu tanpa sewa dan ada teratak milik pemerintah dekat djalan keretaapi. Bila keretaapi datang dari sana, ia hampir-hampir tak sanggup memandjat bukit, begitu tjuram, tapi bila datangnja dari bagian Rusia ditempat kamu, turunlah ia amat kentjang, orang harus menggunakan rem. Dibawah itu, pada musim-rontok bila hutan djadi gundul, nampak setasiun Nizovaya seperti diatas piring sadja.
„Paman Vassya, laki bibi Marfa, aku suka menjebutinja bapak, menurut kebiasaan petani. Dia baik hati dan gembira, tapi terlalu suka mempertjajai orang, apa lagi kalau mabuk. Tiap orang tahu apa jang dapat diketahui tentang dia. Pada sembarang orang jang ditemuinja ia keluarkan isi hatinja.
„Tapi tukang wesel wanita itu, aku tak menjebutinja ibu. Barangkali karena aku tak bisa melupakan ibuku sendiri atau entah bagaimana, tapi dia ini betul-betul djahat. Djudas benar. Djadi kusebut dia bibi Marfa sadja.
„Nah, waktu berlalu, tahun ganti tahun, berapa banjaknja, tak kutahu. Aku mulai menjambut keretaapi untuk memberi tanda dengan bendera, aku sanggup memulangkan lembu atau melepas kuda. Bibi Marfa mengadjar aku menenun, dan soal rumah-tangga dengan sendirinja akulah jang mengurusnja. Menjapu atau bebenah atau masak-masak sedikit, itu bukan apa-apa, akulah jang mengerdjakan semuanja. O ja, aku lupa, akupun mendjaga si Petya. Petya kakinja kutung, umurnja tiga tahun, namun ia sama sekali tak bisa djalan, djadi kugendong ia kemana-mana. Kalaupun sekian tahun jang silam, namun aku masih menggigil sampai kepunggung, bila kuingat bagaimana bibi Marfa suka melirik-lirik kakiku jang kuat ini, seperti mau mengatakan, mengapa kakiku tak lumpuh. Lebih baik akulah jang punja kaki kutung dari pada Petya; seolah aku punja mata setan jang membuat begitu. Dapat kamu bajangkan, ada manusia jang djahat dan terbelakang seperti itu didunia?
„Tapi sekarang dengarkan kisahku. Semua itu bukan apa-apa, kalau dibanding dengan jang terdjadi kemudian, akan heranlah kamu.
„Ketika itu zaman P.E.B., seribu rubel hanja sekopok harganja. Paman Vassya mendjual lembu di Nizovaya dan mendapat dua karung penuh duit. — Uang Kerenki namanja — o, maaf, orang menjebutnja djeruk-djeruk4 4Djeruk-djeruk: Kata sebutan untuk „djuta-an”, demikian orang memakai uang kertas djuta-an rubel, ketika inflasi lagi memuntjak pada tahun-tahun 1921-1922. ketika itu, begitulah namanja. Lalu ia mabuk dan mengatakan pada tiap machluk di Nagornaya, bagaimana kajanja dia.
„Kuingat hari itu hari musim-panas jang banjak anginnja. Angin menabrak atap, orang hampir terpelanting dibikinnja dan lokomotif tak mampu menandjak, sebab menempuh angin. Sekonjong-konjong kulihat seorang pengemis, perempuan tua, turun dari puntjak bukit; angin menarik-narik roknja dan melambungkan saputangannja.
„Dia djalan terus, sambil mengerang dan memegang perutnja. Dia minta kami membolehkan dia masuk; kami suruh dia duduk dibangku. „O”, teriaknja, „Aku tak betah, tak betah, perutku terbakar, maut menjergapku. Demi Kristus”, mohonnja, „bawa aku kerumah sakit, kubajar dengan apa sadja, sesukamu”. Nah, bapak memasang si Udalyo, kuda itu, depan pedatinja, dinaikkan sinenek kepedati, lantas dibawanja dia limabelas kilometer lebih djauhnja kerumah sakit.
„Sedjurus kemudian tidurlah kami, bibi Marfa dan aku, lantas kami dengar Udalyo meringkik diluar dan pedati masuk pekarangan. Rasanja agak terlalu lekas untuk kepulangan mereka. Betapa djuga, bibi Marfa menjalakan dian, mengenakan djaketnja, lalu melepaskan pasak, tanpa menunggu bapak mengetuk pintu.
Dibukanja pintu, tapi bukan bapak jang berdiri diambang, melainkan orang lain, dia hitam, menjeramkan, dia bilang: „Kasi tundjuk”, katanja, „mana duitmu jang kauterima untuk sapimu? Lakimu sudah kubunuh dihutan”, katanja, „tapi karena kau perempuan, tak kuapa-apakan kau, asal kau beritahu dimana uangmu. Kalau tak mau tundjukkan, kau tahu apa akan terdjadi, kau sendiri jang kesalahkan nanti; dan djangan suruh aku menunggu, aku tak ada waktu untuk luntang-lantang”.
„O, Tuhan mahakuasa, kawan-kawanku sajang, bajangkan itu — tjoba, kalau kamu sendiri ditempat kami! Kami gemetar diseluruh tubuh, mati kutu, tak mampu bitjara — ngeri betul! Pertama, paman Vassya terbunuh, dia bilang sendiri, dibunuhnja ia dengan kapak dan kini kami sendirian menghadapi dia, sendirian dirumah dengan bandit, bandit dirumah kami, njata-njata dia bandit.
„Kuduga, saat itulah bibi Marfa hilang akal, patah hati tentang suaminja, lagi pula tak bisa menundjukkan sedihnja.
„Mula-mula ia djatuhkan diri depan kakinja…„Kasihanilah aku”, katanja, „djangan bunuh aku, aku tak tahu apa-apa, tak pernah dengar tentang uang itu, aku tak tahu uang apa jang kamu maksud”. Tapi orang itu tak mau pergi begitu sadja, ia tidak bodoh, setan! „Baiklah”, kata bibi Marfa, „Uang itu diruang kolong. Kubuka pintu-lantai untukmu”. Namun dia fahami muslihat itu. „Tidak”, katanja, „kau jang turun, kau tahu tempatnja, kau jang ambil. Aku tak perduli, kau turun kekolong atau naik atap, aku tjuma mau uang. Tapi awas, djangan tipu aku”, katanja, „tak guna membodohkan aku”.
Lalu kata bibi Marfa: „Astaga, mengapa kaupikir begitu? Dengan senang hati aku turun, kuambil sendiri, tapi kakiku lemah, aku tak sanggup lewat tangga. Aku tunggu sadja dianak tangga paling atas, kuterangi kamu dengan lampu. Djangan kuatir, kusuruh anakku ikut kamu”, katanja. Akulah jang dimaksudkannja.
„O, kawan-kawan, dapat kaukira-kirakan bagaimana perasaanku, mendengar itu? „Aduh, mati aku”, pikirku, dan gelap melulu didepan mataku dan kakiku tak sanggup menegakkan aku, kukira aku akan pingsan.
„Namun iblis itu masih disitu sadja, sekali pandang dia melihat kami berdua, lalu ditjutkan matanja, dibikinnja melirik, seolah mau mengatakan: „Kukenal muslihatmu, kau tak bisa menipu aku”. Fahamlah dia, bahwa aku tak berarti bagi bibi Marfa, aku bukan darah dagingnja, djadi dia sergap si Petya, diangkatnja dia dengan tangan sebelah dan dengan tangan lainnja disodoknja pintu-lantai. „Ambil lampu”, katanja pada bibi Marfa, lantas turunlah ia — lewat tangga dibawah tanah dengan si Petya.
„Kukira bibi Marfa sudah hilang akal dan tak mampu mengerti apa-apa, dia sama sekali gila. Begitu sibandit turun bersama Petya, bruk! dibantingnja pintu tadi, dikuntjinja dan mulai diseret-seretnja kopor berat untuk memindih pintu, sambil mengangguk-angguk dan bersijarat padaku supaja menolongnja, sebab kopor itu terlalu berat baginja. Kopor dipasang pada tempatnja, dia duduk diatasnja, sukaria dia seperti badut, perempuan madjenun itu. Begitu dia duduk, begitu perampok tadi mulai teriak-teriak dan memukul-mukul pintu. Tak dapat ditangkap apa jang dia katakan itu, sebab papan-papan lantai teramat tebal, tapi dari suaranja bisa disimpulkan maksudnja: kalau dia tidak dikeluarkan, Petya akan dibunuhnja. Untuk menakuti kami ia mengaum lebih galak dari binatang buas.
„Sekarang Petya djadi korban” teriaknja, namun bibi Marfa tak mengerti apa-apa, dia ketawa dan mengedipkan mata padaku, seolah mengatakan: „Biar dia gembor-gembor sesuka hatinja, aku duduk dikopor dan kuntji kupegang”. Apa sadja kutjoba dengannja, aku mendjerit-djerit kekupingnja, supaja ia membuka ruang kolong itu untuk menjelamatkan Petya, kutjoba pula menggeserkannja dari kopor, tapi sia-sia, dia lebih kuat dari aku dan tak mau dengar apa-apa.
„Nah, perampok itu memukul-mukul lantai dan waktupun berlalu dan dia duduk terus, dengan mata berputar-putar, tak mau dengar apa-apa.
„Nah, sebentar kemudian — Ja Allah, ja Allah, apa jang belum kulihat dan kualami dalam hidupku? Namun jang sekedji ini takkan kudjumpai lagi. Seumur hidup akan kudengar sadja suara Petya jang tinggi dan lemah itu — Si Petya ketjil memekik dan meringik dibawah tanah, anak sutji tak bersalah — si iblis itu menggigitnja sampai mati.
„Apa kubuat, apa kubuat dengan perempuan tua edan serta pembunuh ini?” pikirku. Dan waktu berlalu. Segera sesudah aku berpikir begitu, kudengar Udalyo meringkik diluar; selama itu ia berdiri disana, siap sedia. Ja, begitulah. Udalyo meringkik seolah mengatakan: „Mari kita lekas lari, Tanya, tjari orang-orang baik jang mau menolong”. Aku menengok dari djendela dan kulihat hari hampir fadjar. „Bagus”, pikirku, „trima kasih, kau masukkan pikiran dalam kepalaku, Udalyo”. Begitu sebaiknja. Pergilah kita”. Tapi baru sadja kupikir begitu, seakan kudengar suara lain jang berseru dari hutan: „Tanya, djangan tergesa, Tanya, kita mesti pakai tjara lain”. Dan sekali lagi aku tahu, aku tak sendirian dalam hutan. Dari bawah terdengar lokomotif menjuling, seperti djago berkokok dipekarangan kita sendiri. Kukenal mesin ini dari bunjinja, ia selalu bersiap-siap di Nagornaya — orang menjebutinja bangkir — untuk mendorong kereta-api-barang memandjat bukit. Jang djalan ini keretaapi tjampuran, ia lewat tiap malam pada waktu demikian. Nah, lokomotif jang kukenal inilah memanggil aku dari bawah. Aku menindjak dan hatiku melondjak. „Apakah aku gila seperti bibi Marfa”, pikirku, „maka tiap binatang hidup dan tiap mesin gagu bisa bitjara padaku dalam bahasa Rusia?”
„Nah, tak perlu berpikir lagi, keretaapi kian dekat; tak ada waktu untuk berpikir. Kugamit lentera — tjahaja belum terang dan aku lari lintang-pukang kedjalan keretaapi, lalu berdiri tepat ditengah-tengah, antara rel, sambil menggontjang-gontjangkan lentera.
„Nah, apa lagi jang perlu kukatakan? Kuhentikan keretaapi itu; berkat anginlah ia djalan pelan-pelan, alhamdulillah, pelan-pelan, boleh dikatakan setjepat orang djalan kaki. Kuhentikan dia dan masinis jang mengenal aku, dia mendjenguk dari djendela kabin dan berseru-seru; tak kudengar omongnja, karena angin. Aku teriak padanja: pondok sinjal diserbu, dirampok dan ada pembunuhan, ada bandit dirumah; tolonglah, kawan, kami perlu bantuan lekas-lekas. Dan selama aku berkata begitu, anak buah Tentara Merah melontjat-lontjat dari keretaapi, seorang demi seorang — itu keretaapi tentara, ja — mereka melompat keatas djalan rel. „Ada apa?” tanja mereka; mereka tak mengerti mengapa malam-malam keretaapi berhenti dihutan, dilingkupi bukit terdjal dan tak berdjalan lagi. Sesudah mendengar semuanja, mereka seret bandit itu dari ruang-kolong; dia memekik dengan suara lebih ketjil dari suara Petya: „Kasihanilah saja orang-orang budiman”, katanja, „djangan bunuh aku, aku tak mau berbuat begitu lagi”. Mereka pakai hukum mereka sendiri. Mereka menghela dia sampai kebantalan rel, mengikat tangan dan kakinja kepada rel, lantas melindasnja dengan keretaapi.
„Aku bahkan tak pulang untuk ambil pakaian, begitu takut. Kuminta supaja aku boleh ikut keretaapi, maka naiklah aku dan pergi. Sesudah itu aku mengembara diseparoh negeri kita sendiri dan negeri-negeri lain bersama kaum bezprizorny — entah kemana sadja. Aku tak melebih-lebihkan. Bahagia dan bebas benarlah aku sehabis segala kesedihan dimasa ketjilku! Meskipun harus djuga dikatakan bahwa masih banjak pula kedjahatan dan kesengsaraan. Tapi itu semua datang kemudian, lain kali kutjeritakan …
„…… Pada malam jang kukisahkan tadi turunlah seorang pegawai dari keretaapi, ia pergi kerumah untuk mengurus milik pemerintah itu dan untuk memberi instruksi tentang bibi Marfa, supaja diatur apa akan dibuat dengannja. Ada jang mengatakan, dia tak pernah sembuh dan meninggal dalam rumah gila; lain-lainnja lagi mengatakan, dia sudah baik dan keluar”.
Lama sesudah mendengar tjerita Tanya, Gordon dan Dudorov djalan-djalan dibawah pohon-pohon dengan berdiam diri. Kemudian datanglah lori, jang dengan kikuk membelok dari djalan keladang; semua para-para dimuatkan kesitu. Kata Gordon: „Kau faham, siapa dia? — Tanya sibabu tjutji itu?”
„Ja, tentu”.
„Yevgraf akan mengurusnja”. Setelah berdiam diri ia menjambung.
„Hal ini terdjadi berkali-kali dalam perdjalanan sedjarah. Sesuatu jang dirantjang dengan tjara bertjita-tjita dan luhur mendjadi kasar dan serba kebendaan. Demikianlah timbulnja Roma dari Junani dan timbulnja revolusi Rusia dari pentjerahan Rusia. Ambillah satu baris dari Blok „Kita anak zaman kedji di Rusia”; segera dapat kaulihat perbedaan zaman. Dalam zamannja, ketika ia berkata demikian, ia maksudkan itu dalam arti kiasan, metaforis. Anak-anak jang dimaksudkan itu bukan anak-anak, melainkan putra-putra, para ahliwaris kalangan tjerdik pandai, sedangkan malapetakanja bukanlah kedji, melainkan mengandung rahasia; itu sangat beda. Sekarang kiasannja telah beralih djadi arti kata: anak-anak memang anak-anak dan malapetakanja betul-betul kedji. Disitulah bedanja”.
Pada malam tenang dimusim-panas di Moscow, lima atau sepuluh tahun kemudian, Gordon dan Dudorov berkumpul lagi, duduk dekat djendela, tinggi diatas kota raksasa jang mendjauh samar-samar diudara magrib. Mereka membuka halaman-halaman buku karangan Yury jang disusun oleh Yevgraf, buku jang telah mereka batja lebih dari satu kali dan hampir apal. Pembatjaan diselingi tukar-pikiran, dimana mereka kembangkan gagasan-gagasan sendiri. Hawa mulai gelap, hingga huruf-huruf tertjetak itu tak djelas lagi, dan mereka mesti menjalakan lampu.
Kota Moscow dibawah mereka jang terbentang djauh itu — Moscow, kota kelahiran sipengarang, dimana ia mendapat separoh pengalamannja — kini terasa oleh mereka bukannja sebagai tempat terdjadinja semua ini, melainkan sebagai tokoh utama tjerita pandjang; dan malam itu, dengan buku ditangan, sampailah mereka pada achir tjerita itu.
Sungguhpun pentjerahan dan kemerdekaan jang diharapkan tiba sehabis perang itu tiada mengantarkan kemenangan, namun tiap orang merasakan ada firasat akan kemenangan itu selama tahun-tahun sesudah perang ini, dan itulah satu-satunja makna historisnja.
Oleh dua teman tua jang duduk depan djendela ini terasa bahwa kemerdekaan djiwa itu ada, bahwa pada malam itu djuga masa depan hampir-hampir mendjelma udjud dilebuh-lebuh dibawah itu, pun bahwa mereka sendiri telah memasuki masa depan itu dan mulai sekarang mereka adalah sebagian dari padanja.
Mereka rasakan sukahati penuh ketenteraman terhadap kota keramat ini dan terhadap seluruh negeri serta jang masih hidup antara mereka jang memainkan peranan dalam tjerita ini, djuga terhadap anak-anak mereka, maka musik kebahagiaan tak berbunji memenuhi hati mereka, melingkungi mereka dan menjebarkan diri kemana-mana. Dan buku ditangan mereka itu seolah mengerti perasaan mereka serta memberi pada mereka sokongan dan penguatannja.
1Pasangan kuda seperti untuk sebuah troika, tapi kurang seekor. Didepan troika, kuda jang terdekat berdjalan kentjang dan dua kawannja berdjalan biasa.
2Pendjabat resmi jang mengurus soal-soal pertanian.
3Supir-sipir taxi tertentu jang sebagai kelas mempunjai nama buruk, disebabkan hubungan mereka dengan pelatjur-pelatjur.
4Djalan Tukang Kereta : Djalan Karetny.
5Kata pengetjil dari „Joseph” dalam bahasa Tartar.
6Nama Islam Djamaluddin jang di-Rusiakan. (Gimazetdin adalah seorang Tartar).
7Kumpulan buruh atau pedagang ketjil jang bekerdja bersama dibawah seorang mandor dan biasanja menjewa rumah bersama-sama.
8Pasukan-pasukan jang tersangkut dalam gerakan ini adalah pasukan-pasukan kavaleri, bukan Kosak, tapi orang-orang tak berpendidikan menamakan semua pasukan berkuda itu Kosak.
9Dalam buku otobiografinja „Pemimpin jang Aman”, pengarang melukiskan insiden dalam tahun 1905, ketika ia ikut berdemonstrasi didjalanan dan kena tjambuk.
10Muchnoy Gorodok: Kota Tepung.
11Seorang pendeta dan pemimpin revolusi jang memimpin demonstrasi di Pelataran Istana Musim Dingin dalam tahun 1905 pada hari jang kemudian terkenal sebagai „Minggu Berdarah”; ia dituduh mendjadi agent provocateur dan dibunuh oleh kaum revolutioner.
12Perdana Menteri dalam tahun 1905.
13Peladjaran-peladjaran universiter untuk wanita (perempuan tak diizinkan masuk universitas setjara resmi).
14Djudul sebuah buku sadjak oleh K.D. Balmont.
15V. Rozanov, 1856 — 1919. Konsep-konsep historiosofisnja mempengaruhi beberapa orang intelektuil di St. Petersburg dan Moscow. Aliran ini tak dapat diterima oleh penganut Tolstoy.
16Menundjukkan utjapan Gorki jang termashur : „Manusia jang namanja berbunji megah”.
17Sandiwara karangan Ostrovsky.
18Adat di Rusia: sebelum pindah atau bepergian, orang duduk sebentar, agar selamat.
19Sivtsev Vrazhek : Lembah Kuda Kelabu.
20Musikus Rusia tersohor, 1835-1918.
21Hidangan dingin sebelum sop, jang tak tergolong pada hidangan utama (hors-doeuvres).
22Pada simpangan-djalan dibuat api, bila hawa sangat dingin.
23Nama njonja Guishar jang di-Rusiakan oleh pegawai hotel.