Publisher Note
This edition does not include a publisher’s note. For this digital restoration, this page is repurposed to acknowledge those whose efforts made its preservation possible.
Artikel ini pertama kali dimuat tahun 1957 dalam majalah yang diasuh oleh PKI, Bintang Merah edisi 1-2/1957. Di tahun yang sama, artikel tersebut diterbitkan ulang oleh Harian Rakjat, surat kabar milik PKI, pada 28 Februari.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Sewaktu aku masih kanak2, dengan kawan2 aku sering berdarmawisata kesebuah djembatan-gantung. Benda ini mendjadi suatu objek jang begitu mengagumkan, begitu menjenangkan, tak lajak untuk tidak diketahui dan disaksikan. Sebegitu djauh tak ada keterangan apa2 jang memberikan pendjelasan terhadap kemestian adanja djembatan itu.
Masa kanak-kanak itu telah djauh berlalu, tetapi djembatan-gantung itu masih segar didalam ingatanku. Mengapa? Karena dia menimbulkan pertanjaan, mengapa djustru djembatan-gantung, mengapa bukan djembatan biasa? Mengapa bukan titian. Mengapa mesti djembatan-gantung, jang, apabila dilalui segera memberikan reaksinja dengan gojangannja, jang pada masa kanak2ku itu terasa amat menjenangkan?
Sampai sebegitu djauh tiadalah kuketahui, bahwa matjam djembatan itu tiada lain daripada sikap pembuatnja terhadap situasi tanah, dimana lalulintas dan hubungan harus diadakan.
Kemudian tibalah hari tanggal 21 Pebruari 1957. Malam itu hudjan rintik2. Anehnja tukang-betjak itu sekali ini tak banjak tjintjong. Diambilnja tiap tawaran jang datang daripadaku, dan dengan hati-hatinja diantarkannja aku keistana. Lima sepuluh menit dari waktu jang masih ada kupergunakan untuk berkundjung ditempat kawan jang tinggal dipaviljun istana. Pembitjaraan tentu sadja mengenai konsepsi Presiden, karena kami memang ada dalam suasana itu. Bagiku sendiri adanja konsepsi presiden ini bukanlah sesuatu jang patut diherani. Pada suatu kali orang memang harus memperlihatkan sikapnja terhadap situasi diri dan kemasjarakatannja sendiri. Dan karena tiap orang tiada lain daripada anggota masjarakatnja, dia harus selalu berada dalam hubungan dengan masjarakatnja itu. Untuk ini orang mesti mempunjai djembatan. Mungkin djembatan-gantung, mungkin djembatan biasa, mungkin pula djembatan darurat kompton. Tanpa adanja sikap, hilanglah kemampuan orang untuk memilih. Pemilihan adalah pula hasil daripada adanja sikap. Dan selama ini timbulnja affair itu. Kesalahannja dia ikut terlibat didalamnja. Dan jang ikut terlibat pula didalamnja adalah pemerintah sendiri semasa itu. Djuga dia bersalah.
Tetapi setelah kedaulatan ini, satu demi satu pengchianatan diperbuat bukan karena kechilafan, tetapi karena disengadja. Djangan takut mempergunakan kata chianat ini, apabila kita telah berhadapan dengan gedjala2 jang memang mengchianati norma2 revolusi. Revolusi jang lalu terdjadi bukan didorong oleh perasaan iseng mau berpetualang, tetapi adalah suatu perbuatan, suatu laku, jang lahir karena adanja sikap. Tetapi selama Revolusi berdjalan, terutama setelah pemulihan kedaulatan, tenaga2 anti-revolusioner jang mengaburkan sikap dengan sengadja ini kian banjak, merambat-meluas dengan ikut tjampurnja Partai2. Satu demi satu diantara tokoh2 Partai terlibat dalam skandal, biasanja dalam skandal pentjurian uangnja rakjat, baik dia digugat oleh hukum jang ada di Indonesia ataupun tidak. Mereka ini adalah pengchianat, bukan kriminil, karena kita harus memandangnja dari djiwa Revolusi. Mereka ini menghapuskan sikap kita jg. mendjadi satu2nja modal kemerdekaan. Tetapi djustru karena kaburnja sikap ini, jang memang dibuat kabur, orang bukan menganggapnja sebagai pengchianat, tetapi sebagai suatu kesalahan jg. bisa ditebus dengan melakukan hukuman pendjara. Mereka ini sebenarnja, bukanlah bersalah terhadap pemerintah, tetapi dia berchianat terhadap rakjat, karena rakjat sadjalah jang djadi bidang Revolusi, dia jang memungkinkan adalnja.
Dan setelah pemulihan kedaulatan ini hanja satu Partai jang tidak pernah ikut berchianat. Partai ini adalah PKI. Ini sebabnja lawan2nja bilang PKI budak Moskow jang kesetiaannja patut diragukan. Spekulasi ini lebih mudah diutjapkan daripada membuktikannja. Karena itu pula hingga sekarang orang hanja sampai pada spekulasi murah ini. Sebaliknja kenjataan pula membuktikan, bahwa PKI terdiri atas buruh dan tani atau kaum proletar, kaum jang biasanja tak ketentuan statusnja. Dan djustru buruh dan tani inilah sepandjang abad telah memberi kita makan, pakaian, dan perumahan. Djuga buruhlah jang membuatkan kita djalan, dan segala jang kini mendjadi kekajaan nasional. Tetapi sedjak kedaulatan dipulihkan, sedjak itu pula dia ditinggalkan mentah2. Perbuatan itu tidak sampai disitu sadja, dia difitnah, dichianati, dihisap dan di-indjak2. Kawan, batjalah berita sehari-hari, berapa banjak tiap hari terdapat kedjadian mengenaskan. Tiap hari akan kaudjumpai dikoran-koran itu setidak-tidaknja sedunia politik Indonesia nampaknja kurang memperhatikan sikap ini. Mudah dapat difahami, karena dunia politik sedikit sekali menjadari situasi perseorangan dan kemasjarakatan. Orang politik lebih banjak terdapat dalam urusan kepentingan keduniawian—keduniawian jang tiada berarah. Situasi itu dengan sengadja dikatjaukan oleh kepentingan keduniawian jang tiada berarah ini. Bukan orang tidak mempunjai sikap, tetapi sikap itu sendiri telah dikatjaukan dari dalam. Manakah Partai di Indonesia ini tidak pernah berchianat? Semua. Tetapi soalnja adalah, apakah pengchianatan itu dilakukan karena kechilafan ataukah karena sengadja. Bagiku sendiri hanja ada satu Partai jang selama ini tidak berchianat. Dan Partai ini adalah PKI. Memang, utjapan ini pasti akan menjebabkan orang mengatakan, karena aku anggota PKI. Kawan, aku bukan anggota PKI. Bagiku, kalau PKI pernah bersalah, mungkin kesalahannja adalah karena adanja affair Madiun. Tetapi djuga affair ini, hingga sekarang tidak ada perumusan resmi, jang dilahirkan atas dasar penjelidikan hukum revolusi, sehingga sebenarnja orang belum lagi punja hak untuk menjatakan itu sebagai pengchianatan. Mungkin engkau menjangka, bahwa aku senang dengan adanja affair itu. Tentu sadja tidak. Affair ini terdjadi waktu kami berada dalam pendjara. Tidak seorangpun, waktu itu djam lima sore, membuka mulut. Sehabis suratkabar dibatjakan untuk kami, dengan kepada runduk kami pergi menghindarkan pandang masing2. Ada sesuatu jang putus didalam hati kami. Perasaan anti-komunisku jang dibentuk oleh batjaan melalui buku2 ekonomi dan sosiologi jang ada dalam pendjara itu, djuga dari satu-dua buku filsafat, jang semuanja ditulis oleh orang Barat, membuatnja mendjadi lebih mengambil bentuk.
Setelah pemulihan kedaulatan dan menjaksikan sendiri hantjurnja banjak keluarga, dan pembunuhan2 jang terdjadi akibat adanja affair tsb. bertambah pula bentuk itu mendjadi tegas. Tetapi djuga bertambah lama, bertambah kusadari, bahwa proses terdjadinja sikapku ini tidak benar, karena dia pada mulanja hanja dibentuk oleh batjaan, bukan dibentuk oleh pengamatan atas dunia riil itu sendiri. Dengan demikian kurombak tjara pembentukan sikap jg. demikian, sekalipun ini bukanlah pekerdjaan sehari-dua, tetapi lama, melalui kedjengkelan dan harapan, melalui subjektivitas dan objektivitas, dan jang paling achir adalah pendapat bahwa bila memang PKI pernah bersalah, maka kesalahan karena adanja affair Madiun. Ini belum berarti, bahwa dialah jang menjebabkan orang gantung diri, seorang dilindas kereta-api, kadang2 siajah bunuh seluruh keluarganja. Peristiwa ini bukan tidak bitjara apa2. Dia melukiskan pengchianatan jang dideritanja. Dan pada suatu kali bila orang2 jang hidup dalam indjakan pengchianatan ini mendjadi insaf, bahkan dengan tekat pembunuhan jg. sama, bahwa bukan diri sendiri dan keluarganjalah jg. mesti dibunuh, tetapi djustru mereka jang mengchianatinja, kau akan saksikan betapa hebatnja tenaga jang bakal meletus, dan betapa banjaknja korban jang runtuh, tertebang sebagai batang padi dimusim panen. Usaha satu2nja jg. dapat menjembunjikan diri keselamatan pengchianat2 ini tjuma dua, dan dua-duanja harus ditempuh: menghalangi datangnja keinsafan pada rakjat, dan mengemis bantuan dari negeri2 lintahdarat, jang bila rentjana dapat didjalankan, rakjat jang telah dichianati itu kemudian didjualnja.
Inilah sebabnja orang enggan duduk dalam satu kabinet dengan PKI, partai jang mewakili buruh dan tani. Dan siapakah akan merasa senang bergaul dan berpadu dengan orang jang dichianatinja? Badjingan jang setengik-tengiknja pun tiada kan suka.
Tetapi apakah sebabnja semua ini bisa terdjadi? Saja kira sebabnja tidak banjak, hanja satu, jakni karena tiadanja atjuan bagi gerak hidup kita jang biasa kita namai kebudajaan. Sudah sedjak bangkitnja kesadaran nasional pada tahun 1908, kebudajaan hanja sekali lintas sadja disebut-sebut, dan bila toh disebut hanja sebagai pentjarian effek gaja belaka. Dan demikian seterusnja hingga kini. Kebudajaan, pun hingga kini, masih tetap diperlakukan sebagai pangkalan atau tempat persembunjian jang aman bagi kegiatan2 sosial jang kebetina-betinaan sematjam mengorganisasikan beauty-contest, auto-rally, filmball, rebutan bintang-film kesukaan dan djangan lupa: mode-show.
Sampai lebih sebelas tahun setelah proklamasi, kita masih tetap dalam keadaan ini, dan akan tetap begini sebelum atjuan bagi gerak hidup kita dipulihkan kembali pada tempat dan harkatnja jang benar. Tanpa ini perkembangan kita masih tetap akan mementjak-mentjak seperti kuda-lumping, karena dia hanja berada dalam bidang phisik belum psychis, dia tidak membentuk dari luar dan dari dalam, tetapi setjara sepihak, dari luar tok. Sedang lembaga2 jang ada untuk ini, misalnja sistim pendidikan masih tetap diatas dasar sistim jang direntangkan oleh bekas pendjadjah, untuk menghasilkan intelektuil dan intelektualitas jang blanko.
Kemudian datanglah hari tanggal 21 Pebruari 1957 itu. Sukarno sudah merasa bahwa waktunja sudah tepat untuk mengumumkan konsepsinja. Tentang sanctie2 daripada diterima atau tidaknja konsepsi itu tak perlu rasanja kubitjarakan disini. Tetapi satu jang aku herankan, Sukarno tak sekalipun menjebut kata kebudajaan, sebagai kelandjutan daripada vakum budaja orang2 politik sedjak 1908. Dia hanja menjebut golongan intelegentsia. Aku kuatir, bila jang dimaksudkannja dengan tiada lain daripada golongan intelektuil dan intelektualis blanko, atau golongan jang menganggap kebudajaan sebagai pangkalan atau tempat persembunjian jang aman. Walau bagaimanapun, dalam suasana kehidupan tanpa haridepan ini, pendjelasan Sukarno atas konsepsinja adalah melegakan hati. Se-tidak2nja dia berusaha membuat djembatan-gantung antara kerdja hari ini dengan haridepan jang djauh lebih baik dikemudian hari. Mengapa djembatan-gantung? Kawan! Tebing2nja terlalu terdjal. Djurang jang mentjeraikan antara kerdjaan hari ini dengan haridepan dikemudian hari terlalu tjuram. Konsepsi Presiden memang djembatan-gantung, sesuai dengan situasi tempat2 jang dihubungkannja.
Mengherankan adalah sikap Partai2 agama jang nampak2nja ogah-ogahan, karena PKI ikut memerintah. Hanja itu sadja. Hanja prasangka2 dangkal bahwa komunisme memusuhi agama. Barangkali ada baiknja orang agama menindjauh barang sedikit sikapnja sendiri terhadap agama. Lebih banjak mereka ini memusuhi Tuhan daripada jang sebaliknja. Mereka lebih suka terdjadinja kekatjauan daripada perdamaian nasional. Ah, kawan, agama adalah untuk manusia, dan bukan manusia untuk agama. Pada suatu masa tertentu dia merupakan hukum jang mengatur kehidupan kemasjarakatan. Sekarang tugasnja digantikan oleh hukum2 jang lahir dari alasan2 jang lebih riil. Ini bukan berarti bahwa agama lantas ditinggalkan mentah2, tetapi dia mendapat tempatnja sendiri dalam hidup manusia. Kawan, sungguh berbahaja mendakwa, bahwa tiada beragama adalah memusuhi Tuhan. Tidak ada seorangpun jang djadi atheis, sekalipun dalam dunia jang ultra modern, karena bagi tiap orang nilai pengertiannja tentang Tuhan berlain-lainan, lebih banjak tergantung pada alasan2 individuil. Tidak semua orang mendapatkan Tuhannja melalui adjaran dari luar. Dalam hal jang chusus individuil ini penemuan sendiri djauh lebih berharga.
Diluar itu semua tiap golongan bisa kerdjasama. Bersama bekerdja mengatur kehidupan kita. Dalam mengatur kehidupan ini ada dua hal pokok, setjara lokal dan internasional. Setjara internasional, sudah sedjak dahulu tiap kita ikut mengaturnja, baik dia tidak beragama, baik dia jg biasa atheis, baik dia beragama—agama sebagai gaja hidup atau sebagai kebutuhan. Tetapi jang tak dapat dibantah adalah, mereka jang mengatur ini bukanlah karena beragama atau tidak, atheis atau tidak, tetapi jang pasti adalah mereka itu bekerdja atau tidak. Dalam hal ini pokoknja adalah kerdja. Dan dalam mengatur kehidupan kita semua itu jang bekerdja adalah buruh dan tani. Sisanja hanja koordinator atau parasit. Filsafatnja djadi: filsafat kerdja. Dan mengapa tidak? Tiap kita mengenakan pakaian tanpa memperdulikan siapakah jg. menanam kapas atau jang memelihara domba, atau jang menenunnja atheis atau tidak, beragama atau tidak. Demikian djuga halnja dengan makanan jang kita makan tiap hari. Tetapi tanpa kerdja, seluruh kita tidak akan berpakaian, tidak akan makan.
Apakah sebabnja orang ogah-ogahan terima konsepsi Presiden, soalnja karena orang ingin buka praktek sendiri, mendjadi radja sendiri tanpa pengawasan. Selama ini jang terdjadi adalah pengchianatan demi pengchianatan. Jang bekerdja dengan sedjudjur hatinja kena gentjet, karena dia akan menjederhanakan persoalan. Dan apabila mendjadi sederhana, sikap orang terhadap hidup dan dunianja mendjadi tegas. Dalam hubungan ini pernah aku bertjakap-tjakap dengan seorang muslimin kampung. Ada kata2nja jg tak dapat aku lupakan: Kalau berdosa, berdosalah kepada Tuhan, djangan kepada manusia. Kepada Tuhan selamanja kau bisa mendapat ampunan dan karunia, kepada manusia kau akan dapat pembalasan dendam. Kawan, djangan lupa, jang mengatakan ini adalah seorang muslimin. Tentu, bahwa teologi Kristen lain lagi halnja, setidak-tidaknja, walaupun ummat kristen tidak mendapatkan ampun dan karunia langsung dari Tuhan, setidak-tidaknja dia bisa memohon kepada Kristus.
Sekarang kita akan bersama-sama mengatur kehidupan lokal kita. Untuk mengaturnja kita membutuhkan alat, dan alat ini ialah jang disimpulkan dalam konsepsi Presiden. Mengapa kita takkan tundjang konsepsi ini, walau kini belum lagi djelas kedudukan hukum-nja? Konsepsi itu sehat walaupun masih ada kekurangannja: sebagai kelandjutan daripada perdjuangan politik jang mengalami vakum kebudajaan mendjurus kearah pembentukan manusia politik, dan bukan manusia budaja. Dan kedua, bahwa dengan tiadanja kekuasaan mutlak pada dewan nasional ini, belumlah sampai kita pada demokrasi terpimpin jang sesungguhnja. Dan ketiga, salahnja menjusun komposisi personalia, akan mendjadikan keadaan lebih ruwet.
Agaknja terlampau berlaurt-larut menebak-nebak kemungkinan2 ini. Pokoknja, aku menghargai dan dapat menerima konsepsi Presiden itu, sekalipun aku bukanlah orang politik. Walau demikian, akupun, sebagaimana engkau barangkali, mengharapkan adanja perdamaian nasional, mengharapkan adanja djaminan bagi kehidupan kita sendiri dan anak-tjutju kita. Aku sendiri menjadari, bahwa tiada gunanja kita boroskan tenaga untuk menambah kekalutan sekarang, untuk kemudian kehabisan tenaga dan dilihat kekatjauan pula.
Marilah kita bangunkan tradisi Revolusioner. Marilah kita pupuk sifat2 dan ketjenderungan2 Revolusioner, agar kita sebagai bangsa akan tetap tinggal remadja, dan dengan demikian akan tetap dapat memobilisasikan keadilan dan kebenaran.
Aku harap, engkaupun mau bersama denganku mengharapkan, agar segi kebudajaan ikut termaktub didalam konsepsi itu, untuk menghindarkan pertumbuhan masjarakat hewan.
Djakarta, 24-II-1957