Baca EPUB: Di Antara Banyak Penghalang

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
SOBRON AIDIT
Di Antara Banyak Penghalang
Kacabenggala Editions

Publisher Note

This edition does not include a publisher’s note. For this digital restoration, this page is repurposed to acknowledge those whose efforts made its preservation possible.

The entirety of this book was taken from the site of Sébastien Lallement. We humbly made some modification to the chapter’s title to ease the reading process.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Hilang Begitu Saja

Boleh dikatakan semua urusan, semua persoalan, semua perkara, tidak ada ada yang sampai tuntas diurus dan diselesaikan. Dari yang tampaknya mungkin kecil, sampai yang kelihatannya cukup besar bahkan sangat besar, tetap saja tidak diurus sampai tuntas. Mengapa? Mungkin terlalu banyak benang kusut yang jalin-berjalin, kait-mengait, sudah sangat sulit mengusutnya. Dan mungkin kalaupun terus mau diusut akan ketemu biangkerok yang sesungguhnya, dan ini tidak mungkin diurus, sebab menyangkut banyak ikan paus, ikan-ikan besar dan meraksasa. Tak mungkin akan bisa diurus tuntas, percuma saja! Maka lalu ya sudahlah, biarkan saja berlalu. Kalaupun ada yang berani mau mengusut, di depan sana sudah menunggu ancaman, "okey, kalau kau terus mau ngotot mengusut, aku dan kami sudah siap dengan seperangkat bukti yang kamu dan kalian juga berbuat sama dengan yang kami buat! Boleh, silahkan, kita saling bongkar! Boleh coba, kita saling habis-habisan"! Maka masing-masing mundur teratur, dan perkara itu lalu HILANG BEGITU SAJA,-

Tidak mungkin membongkar sampai tuntas soal Marsinah, soal Udin, soal Eddy Wuryanto dan Bupati Sri Roso. Sejarah sudah membuktikan, perkara itu hanya bikin berbusa mulut teriak-teriak menuntut, tetapi perkara sesungguhnya tetap saja dipeti-eskan : HILANG BEGITU SAJA,-

Dulu soal korupsi di Pertamina, Ibnu Sutowo, dan banyak lagi rentetannya sampai yang agak besar soal Eddy Tanzil, apa hasilnya? Tak ada, dan raib HILANG BEGITU SAJA,- Lalu ada tuntutan mau mengadili Suharto, bentuk MA baru dengan Jaksa Agung baru, pecat si ini, angkat si itu, umumkan bahwa perkara ini harus benar-benar tuntas. Hadapkan Suharto ke MA. Tapi permainan ini hanya benar-benar sandiwara belaka. Tidak mungkin Suharto dihadapkan ke pengadilan, tidak mungkin berani dan tidak ada yang berani. Semua perangkat tokh dia punya, orang-orang dia, anak-buah dan anak-anak didik dia. Bahkan pada akhirnya ketahuan belangnya, si Jagung yang dapat hadiah ayam betina itulah yang malah ketahuan korupsi cukup besar! Lalu untuk sekedar meredakan kemarahan orang banyak, dia sedikit digeser dan dipindahkan.

Tapi apa hasilnya, dan apa yang orang akan lihat kelanjutannya? Tidak ada, tidak mungkin lebih dari segitu saja, yang ada yalah HILANG BEGITU SAJA,- Suharto tetap saja sehat-sehat dan selamat-selamat, bahkan mulai lagi tancap gas buat "merebut pikiran massa". Betapapun dan bagaimanapun besarnya "pembongkaran" dari TIME ke dunia luas, tetap saja Suharto senyum di kulum yang selalu mengandung belati dan racun itu. Masalah inipun sudah tampak akan HILANG BEGITU SAJA,-

Sudah terlalu parah apa yang dulu ditanamkan Suharto selama puluhan tahun, rasa selalu ketakutan, rasa selalu tunduk, selalu merasa masakbodo, dan bodoh, membodohi orang banyak. Dan ancamannya dengan kata-kata gebug itu bukan hanya omongan, tapi benar-benar dilaksanakan.. Sampai-sampai menyangkut culik-menculik, hilang-menghilangkan, bakar-membakar, bunuh-membunuh, tak ada dan tak pernah diusut secara tuntas. Belasan masih para aktivis pemuda-mahasiswa hilang tak tentu rimbanya, tak tahu di mana kuburannya. Katanya pernah mau diusut dan diperkarakan. Itu hanya tipuan saja, mau sekedar meredam kemarahan orang banyak.

Dan apa yang kita dengar? Apa hasil "pengusutan" itu? Tak ada, nol besar, HILANG BEGITU SAJA,-Soal Trisakti, peristiwa naas nasional 13,14 dan 15 Mei, Semanggi, perkosaan, semua HILANG BEGITU SAJA, termasuk masalah Ketapang, Ambon,Sambas, apalagi Situbondo yang kasusnya sudah menyembul lama. Terlalu banyak perkara, persoalan, pengusutan, yang pada akhirnya HILANG BEGITU SAJA,-Semoga saja kebudayaan yang sudah membudaya begini, jangan sampai karena tidak diurus secara tuntas dan terus-menerus, menjadikan pada akhirnya Negara RI sendiri tahu-tahu HILANG BEGITU SAJA,- Jangan sampai begitu! Agar jangan sampai begitu, samasekali harus membrantas budaya HILANG BEGITU SAJA itu!

Paris 15 Juli 1999,-

Ketahuan

Orang dari satu rumpun keluarga menghadapi nasib kehidupan lain-lain. Kata orang banyak, sudah begitu suratan nasibnya. Segala sesuatunya itu sudah disuratkan di tangan, di kehidupan orang per orang. Juga keluarga Martini dan Martina itu. Martina mbaknya yang bersuamikan Mas Prapto, kelihatannya biasa-biasa saja. Pegawai Pertamina, mungkin kelas atas mungkin kelas menengah-atas atau bahkan pegawai yang selalu di kehidupan basah. Tampaknya tidak kaya benar, tetapi jauh dari miskin, seperti kehidupan Martini dan Masnya Hendra.

Adik-kakak Martini dan Martina bagaikan berbalikan nasibnya. Martini hanya mengharapkan gaji Mas Hendra dari guru SD Petojo itu saja. Mana cukup! Mau ngobyek seperti orang-orang itu, tak ada lahannya, tak ada modal, tak ada dua-enam dan tujuh, re l a si-, hubungan "baik dan akrabnya". Paling-paling menumpangkan jualan kue-kue di warung tetangga, itupun hanya sekedar tambahan yang tak bisa mengubah kehidupan secara berderajat. Tapi hubungan baik antara keluarga tampaknya tak ada pengaruhnya akan bisa barangkan sedikit mengubah nasib-susah guru SD sekeluarga itu. Baik sih baik, ramah sih ramah, keluarga sih keluarga, tapi kehidupan masing-masing sudah tertata-rapi, begitulah adanya. Misalnya saja ketika si adik, Martini dan Mas Hendra bertandang-kekeluargaan ke rumah mbak Martini-Mas Prapto, keluarga itu selalu saja "membekali" dengan sedikit beras bahkan adakalanya uang walaupun hanya 10.000 rupiah, sebagai tanda keeratan keluarga.

Tapi pernah suatu kali mas Hendra sangat memerlukan uang dan berusaha meminjam kepada iparnya Mas Prapto. Melalui isterinya Martini agar bisa diusahakan oleh mbaknya Martina, agar bagaimanalah Mas Prapto dapat menolong meminjami uang yang jumlahnya mungkin tak begitu berarti bagi Mas Prapto. Apa sih hanya jumlah 150.000 rupiah buat pegawai-basah staf Pertamina? Walaupun jumlah sebegitu hampir setengah gaji satu bulan buat Mas Hendra sebagai guru SD.

Dan "malang" nasib Mas Hendra sekeluarga, Mas Prapto katanya benar-benar sedang kering waktu itu. Tentu saja Mas Hendra tidak lalu sakit hati dan kecewa besar. Bagaimanapun dia mengerti, yang namanya orang, kan tidak selalu ada pada "posisi siap beri, siap meminjamkan" apalagi hanya kepada seorang guru SD. Hubungan baik, hubungan keluarga ya baik ya keluarga, jangan dicampurkan dengan berbagai rasa kecewa walaupun hanya seujung rambut, begitulah pikir Mas Hendra. Dan ini juga ditanamkannya kepada isterinya Martini, dan Martini merasa sangat berbahagia punya suami yang walaupun pegawai rendah, guru SD, tetapi penuh tawakkal, padahal dalam hati Martini, mas Hendra kan bukannya haji, bukannya orang yang sangat taat agama, tokh begitu baik hatinya. Dan keluarga itu sangat bahagia dengan kesederhanaan dan kejujurannya walaupun cukup sempit kehidupan perekonomiannya. Ternyata, kata hati baik Martini maupun Mas Hendra, tidak menaruh dendam, tidak menanggung beban kebencian, adalah keringanan kehidupan dalam masa-masa krisnom dan krismon ini. Kata orang kampung, apa sih arti kekayaan dan kecukupan itu?! Banyak ya habis, sedikit ya cukuplah,- maka akan tenanglah kamu dengan pandangan hidup ini.

Yang sering datang tentu saja keluarga Martini mendatangi kakaknya yang punya rumah gedung, bermobil merci, punya tiga pembantu. Sedangkan Martina sangat jarang ke rumah adiknya. Tetapi setelah menghadapi hari lebaran, berhubung ketiga pembantunya semua pada pulang kampung, maka sangat terasalah betapa berat mengerjakan pekerjaan-rumah-tangga itu. Dan Martina berpesan kepada adiknya, agar sering-sering ke rumah, kalau bisa membantu beban pekerjaan kakaknya. Tentu saja Martini siap-sedia dan dengan rela akan membantu pekerjaan-rumahtangga kakaknya.

Ketika siang itu Martini datang ke rumah kakaknya, didapatinya kakaknya sedang senggugukan menangis, dan begitu melihat adiknya Martini datang karena memang dipesankannya, segera saja Martina memeluk erat adiknya dan menangis sejadi-jadinya. Martini tidak mengerti ada apa, mengapa. Dia heran, ada apa yang terjadi. Dia hanya memeluk kakaknya dan berupaya membujuknya agar mengatakan apa yang telah terjadi. Apa karena terlalu capek bekerja, atau ada kejadian yang sangat menyedihkan?

"Ni, cobalah, siapa yang takkan marah dan sangat sedih, baru saja kutinggalkan satu hari, baru saja para pembantu pulang kampung tiga hari ini, rumah sudah dibobol maling! Dibobol maling, habislah, habis! Mau bilang apa aku nanti kepada Mas Prapto!",- "Kan mbak tidak meninggalkan rumah sampai menginap kan?". "Ya itulah, aku hanya pergi pagi pulang malam, tapi kok bisa-bisanya para maling itu begitu tahu waktuku", kata Martina masih agak senggugukan menahan tangis. "Lalu banyak yang hilang mbak?", kata si adik sambil mau tahu. "Ya Allah Ni, kamu tahu, bukan hanya uang dan perhiasan yang sudah kukumpulkan bertahun-tahun buat dijual, tapi juga jam-tangan berlapis emas ada 12 dan jam cartier Swiss-Prancis buatan tangan pula, satunya saja ada yang seharga 100 juta rupiah, dan kok tega-teganya, surat pemilikan-tanah seluas 30 hektar itupun buat apa mereka curi!! Buat apa!! Gelang emas-ular yang 24 karat 20 gram itupun juga ludas dibawa maling! Dollar yang begitu kutunggu buat dilepas ketika harganya tinggi, kini habislah, habis Ni, habis sudah".

"Sudahlah mbak, habis mau apa, nanti juga bisa dicari lagi", kata Martini tak ada kekuatan-bujuknya, dan seakan asal ngomong saja. "Yang penting asal mbak selamat dan sehat saja, harta kan bisa dicari lagi", Martini tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan kata-katanya dalam keadaan begini.

Hari itu Martini tidak pulang, dia bermalam di rumah kakaknya. Kakaknya sedang dalam keadaan sangat sedih dan rasa kehilangan yang begitu banyak dan mengagetkan. Dalam hatinya, bukan main banyak barang yang berharga yang hilang, dan barulah kini ketahuan, betapa kayanya kakaknya dan Mas Prapto ini. Sesudah hilang barulah ketahuan betapa harta-benda itu mau ngomong setelah berada di tangan orang lain. Sedangkan dirinya dan Mas Hendra tak mungkin akan kehilangan begitu banyak, karena memang tak pernah punya apa-apa. Dollar, perhiasan, rupiah dan tanah, tanah, sekali lagi : tanah! Tanah itu yang paling wah, walaupun punya kesulitan berganda buat mencairkannya nanti, sebab ada masalah tandatangan, saksi, dan hukum. Tapi semua itupun bisa diatur, semua mungkin,-

Paris 11 September 1999,-

Flora

Di kelas ini terdiri dari banyak bangsa. Ada yang dari Maroko, Turki, Albania, Indonesia, Cheko, Tunisia, dan beberapa lagi. Kebanyakan wanita. Ada yang masih muda belia, ada yang sudah berumahtangga dengan dua atau tiga anak. Mereka belajar Bahasa Belanda. Semua orang memahami, mau tinggal di sesuatu negara orang lain, seharusnyalah bisa dan menguasai bahasa setempat. Dan mereka sudah belajar selama tiga bulan, empat kali dalam seminggu. Sekarang guru mau tahu, sampai di mana penguasaan bahasa yang mereka dapatkan. Dan kini pelajaran mengarang yang temanya cukup sederhana, mudah dikerjakan, dan gampang mengingatnya, yaitu Tentang Keluargaku.

Gampang saja, aku punya ibu dan bapak, atau saudara, atau adik,kakak,abang. Dan juga aku punya isteri atau suami, atau anak. Anakku ada dua, satu yang laki-laki dan satunya lagi perempuan, dan sebagainya dan sebagainya. Tema yang para siswanya seakan setuju semua, sebab memang mudah dan sangat sederhana. Di antara siswa ada yang dengan rasa agak sedikit meremehkan, sebab terlalu gampangnya menurut mereka. Ada yang cukup satu lembar kertas saja, sudah tercakup semua yang hendak dikatakan. Tak banyak harus menggunakan gramatika atau tatabahasa yang kebanyakan orang tidak begitu suka.

Ada yang sungguh cepat selesai, dan dengan tertawa dan senyum ke luar ruangan kelas, tetapi menunggu temannya yang belum selesai. Ketika mereka baru mula-mula masuk dulu, menggunakan berbagai macam bahasa. Yang dari Maroko berbahasa Perancis dengan yang dari Perancis, seperti halnya si Nita itu dengan Azizah. Yang dari Cheko berbahasa Inggeris dengan yang dari Turki, seperti Eva dan Hindun itu. Tapi oleh gurunya diminta agar mereka selalu menggunakan bahasa Belanda, biarpun seberapa bisanya saja dulu. Dan kini pada umumnya mereka sudah menggunakan bahasa Belanda, tak terdengar lagi bahasa Inggris dan Perancis, atau Turki.

Ada yang menjadi perhatian guru dan siswa, kenapa Flora begitu lama. Dan tampaknya dia belum mulai-mulai menulis. Dia tampaknya murung dan sangat sedih. Teman-temannya semua tahu, Flora adalah siswa yang pandai, bahasa Belandanya cukup baik, lalu kenapa tidak menulis. Kenapa tidak mengarang, padahal pengetahuan bahasanya cukup dapat diandalkan. Flora sudah hampir setahun tinggal di Belanda di Almere Buiten. Beberapa temannya secara solider menunggu Flora sampai selesai, dan semua heran, mengapa Flora belum juga memulai menulis karangan itu, yang padahal begitu gampangnya buat dia. Dan terlebih lagi teman-teman siswa itu menjadi heran, dan kebingungan, Flora bukannya malah mempercepat agar selesai dengan pelajaran mengarang ini. Karena jampelajaran hampir selesai, malah tampaknya dia menangis. Kenapa? Sakitkah dia? Gurunya juga kebingungan. Dan jam pelajaran mengarang selesai sudah, tak sebarispun yang ditulis Flora, malah dia menangis yang tampaknya sangat menyedihkan.

Gurunya mengajak beberapa siswa berunding buat mengantarkan Flora pulang dan mengajuk hatinya, kenapa menangis, kenapa begitu bersedih. Gurunya minta agar Eva dan Nita yang dari Cheko dan Indonesia, yang baru pindah dari Perancis, membujuk Flora agar menghilangkan kesedihannya. Guru minta agar besok datang lagi bersama Flora, dan juga semua siswa sudah dapat mengetahui hasil ujian mengarang hari ini. Semua siswa tentu saja tidak dimintapun akan merasa sangat senang, sebab besok mereka akan tahu, ada apa dibalik kesedihan dan tangisan Flora yang tampaknya begitu berat.

Keesokan harinya semua siswa disamping gembira mengetahui hasil ujiannya yang pada umumnya baik dan ada yang sangat baik, juga mau tahu benar mengapa dan apa yang terjadi dengan Flora. Dan bagaimana halnya dengan Flora yang tidak mengikuti ujian mengarang itu. Para siswa bagaikan berkumpul seakan bersidang, bukan lagi seperti biasanya duduk tertib di bangku dengan gaya murid-murid SD - SMP. Sekali ini Flora tampak lebih segar dari kemaren, tapi tetap saja tampak wajahnya yang belum normal seperti biasanya. Flora menceritakan keadaan dirinya, yang sebenarnya cerita itulah yang seharusnya menjadi karangannya.

"Saya tidak tahu siapa ibu saya. Saya tidak tahu siapa ayah saya. Saya disebutkan adalah anak-negara oleh negara dan pemerintah saya di Albania. Sejak berumur beberapa hari saya sudah masuk penitipan Rumah Sakit buat anak-anak-negara. Penitipan ini adalah Rumah Sakit yang tugasnya menampung bayi-bayi dan anak-anak yang tidak dikehendaki orangtuanya, atau yang tidak jelas dan orangtuanya tidak mau mengakui dan memelihara anak itu. Tentu saja saya samasekali tidak tahu, adakah saudara saya yang lainnya. Lalu bagaimana saya akan menuliskan karangan itu. Semuanya bagi saya serba gelap, tidak tahu, dari mana mau ke mana, untuk apa, mau mengapa. Saya ada di tengah teman-teman dan guru, itu saja", kata Flora. Dan dia terisak sedih lagi, dan siswa lainnya ada yang juga menitikkan airmata. Airmata sedih, dan airmata setiakawan. Di tengah cerita Flora itu, beberapa temannya memeluk Flora dengan sangat eratnya, menciuminya dengan sangat rasa kekeluargaannya. Kerubungan dalam kelas terhadap Flora menjadikan kelas itu penuh dengan rasa kesedihan, setiakawan dan keakraban.

Sejak itulah malah Flora merasa mengalami hidup baru. Semua temannya sangat baik kepadanya, yang tadinya ada terasa ragu-ragu, apakah akan diceritakannya semua hal-ihwalnya kepada temannya itu. Tetapi atas pendapat Nita dan Eva temannya yang sangat baik itu, dan juga beberapa teman lainnya, sebaiknyalah Flora menceritakan semua ini. Dan ternyata semua temannya berbuat lebih baik dan lebih dekat lagi kepada Flora. Dan sejak itulah Flora merasakan ternyata banyak saudara-saudaranya dari berbagai bangsa dan berbagai asal kelahiran dan berbagai agama. Dan gurunya mevrouw Bouman juga sangat baik kepadanya. Dulu sebelum kejadian ini, tak ada perasaan yang menonjol sedih yang dirasakan Flora, tetapi setelah ada ujian mengarang yang bertemakan kekeluargaan itu, tercukillah kesedihannya. Sakit dan sangat sedihnya. Tetapi setelah diceritakannya keadaan dirinya malah berbalik, dia merasa begitu banyak saudara-saudaranya. Dulu dia belum dapat bergaul rapat seperti sekarang ini. Kini rumah siapapun teman-temannya sekelas, dia bebas datang ke rumahnya, dan dia disambut hangat oleh semua temannya.

Dan dia merasakan, tidak usahlah lagi begitu bersedih hati seperti dulu itu, tokh sudah banyak temannya yang rela menjadi saudaranya sendiri, keluarganya sendiri. Dan semua teman sekelasnya itu benar-benar sudah begitu baik hati terhadap aku yang anak-negara ini, yang padahal negaraku itu malah tidak memperdulikan akan daku,- begitu Flora berpikir.-

Paris 16 Oktober 1999,-

Pega

Pega adalah seorang gadis-muda, bahkan perawakannya kecil mungil, seakan masih anak-anak. Tetapi dia bukan lagi anak-anak, sebentar lagi akan mendewasa, sebab umurnya sama dengan cucu saya Loulou, sama-sama 12 tahun. Dia sering datang ke rumah kami di Almere. Dia berasal dari Iran. Mengapa sering datang ke rumah? Karena mereka berdua akan menghadapi pertandingan playback-show, imite, menirukan Janet Jackson menari dan menyanyi. Pada pertandingan ini diikuti seluruh sekolah setingkat SMP di Almere, dan memperebutkan bintang-pelajar dalam pertunjukan kesenian, terutama tarian dan nyanyian.

Hampir setiap sore mereka berlatih di rumah, dengan kaset-video tarian dan nyanyian Janet Jackson. Dengan gembira dan segala kelelahannya, tertawa gembira, dan mengalir keringat di wajah masing-masing, tampak pipi keduanya bagaikan tomat, memerah berseri. Ibu Loulou, anak saya, membuatkan mereka kue-kue buat sehabis berlatih nanti, lalu istirahat dan makan kudapan. Hari itu Nita membuat pisang-goreng yang kalau kami di Belitung menamainya jemput-jemput. Sebab dibuat dengan menghancurkan pisang yang sudah sangat ranum itu dicampur dengan tepung, telor dan santan. Digoreng menjadi sejumput-sejumput, agak dibulatkan, dan karena itulah namanya jemput-jemput. Saya sangat suka akan jemput-jemput itu. Dulu setengah abad yang lalu, saya sering minta buatkan kepada ibu saya. Kini cucu sayalah yang sering minta dibuatkan kepada ibunya.

"Pega", kataku, "suka kamu akan kue ini?". "Ya, enak sekali ya. Saya suka sekali. Di Iran juga ada kue ini, tapi bukan dengan pisang, dengan kentang dihancurkan", katanya.

Pega anaknya lincah, dan cantik. Bolamatanya sangat hitam, alisnya sangat lentiknya. Dan rambutnya terurai panjang sampai mendekati pinggangnya. Saya perhatikan, wanita Iran memang jarang tidak cantik. Pega selalu merasa enak dan sangat betah di rumah. Selalu dia tidak akan pulang kalau tidak dijemput tantenya atau ibunya. Nah, ketika tantenya atau ibunya menjemput Pega, bertambahlah kukuhlah pendapat saya, bahwa memang sangat jarang wanita Iran yang tidak cantik. Ketika menjemput Pega itulah, antara ibunya atau tantenya, banyak berbahasa Iran, tentu saja kami tidak mengerti. Tetapi kalau berbicara biasa, mereka akan berbahasa Belanda, dan kami mengerti. Dan begitu agaknya suara dikeraskan dengan wajah yang keras, lalu mereka bertukar dengan bahasa Iran. Kami kira, tentulah ada hal-hal yang orang lain tidak perlu tahu, sehingga mereka berbahasa ibunya.

Setelah beberapa kali Pega dijemput secara agak memaksa, karena sebenarnya Pega tidak mau pulang ke rumahnya, lalu Pega tak datang lagi ke rumah kami. Beberapa kali Loulou terpaksa latihan sendirian, sebab hari H-day-nya semakin dekat. Saya sendiri menjadi ada terasa kehilangan Pega, sebab biasanya setiap hari dia datang ke rumah, dan saya sempat omong-omong dengan Pega, tanya tentang hal-hal di Iran, misalnya jauh tidak antara kota suci Qoum dengan Taheran. Dan Pega bisa menjawabnya secara baik dan benar.

"Loulou", kataku pada suatu hari. "Kenapa Pega tidak datang lagi?". "Akh, dia banyak soal dengan keluarganya". "Dia yang banyak soal"? "Bukan dia yang banyak soal, tapi keluarganya yang banyak soal, lalu dia yang menderita", kata Loulou memperbaiki ucapannya. Ketika kutanyakan soal apa, Loulou tampak sangat menahan perasaan. "Soal ibunya...........", kata Loulou. Dan lalu Loulou tidak meneruskan, dan tiba-tiba saja masuk kamar dan saya dengar isak-tangis Loulou. Kelihatannya sangat bersedih, dan saya tidak lagi bertanya. Soal perasaan setiakawan antara keduanya, anak-anak muda remaja itu sangat kuat, dan sangat dekat. Tidak bisa lain, sayapun menjadi penasaran mengapa terjadi hal-hal yang dulunya begitu baik suasananya, tapi kini sangat menyedihkan. Loulou tentulah akan bercerita kepada mamanya, dan saya tentulah akan lebih mau tahu, dan kepada mama Loulou-lah tempat bertanya.

Ternyata ada perubahan yang begitu menggoncangkan dalam kehidupan keluarga itu. Keluarga ini keluarga broken. Ayahnyalah yang mula-mula meninggalkan ibunya bersama Pega. Jatuh cinta kepada seorang wanita di tempatnya bekerja, dan dengan mudah serta enaknya, dia meninggalkan rumah keluarganya. Lalu mereka hanya tinggal bertiga, ibu Pega, tantenya dan Pega. Ibu Pega juga beberapa bulan antaranya, juga jatuh cinta kepada seorang pria asal setempat. Bercintalah mereka dengan asyiknya. Tentu saja, artinya kehidupan yang dulu baik, aman-tenteram, lalu menjadi neraka di rumah. Pega sering sendirian ditinggalkan ibunya, sedangkan tantenya yang masih muda cantik lagi, tidaklah menjadi soal benar apabila memang dia sering bepergian dengan teman-dekatnya atau calon suaminya. Dan Pega sering-sering sendirian di rumah, dan juga sering menangis. Dia kehilangan kasihsayang ayahnya, lalu kehilangan kasihsayang ibunya. Masing-masing tenggelam dalam alam percintaan. Dan sejak itulah Pega sangat tidak suka berada di rumah yang sudah menjadi tempat bersedih dan kedukaan itu. Dan itulah pulalah dulu itu, Pega merasa sangat betah kalau di rumah dan tidak mau pulang kalau tak dijemput. Tetapi ketika itu Pega belum mau bercerita kepada Loulou dan siapapun.

Perubahan kemajuan atau perubahan apapun begitu mendatangkan strata sosial dan adat-budaya yang juga berubah. Tadinya ibu dan tante Pega masih memakai cadar, berkudung sebagaimana biasa wanita Iran yang masih memegang teguh adat negerinya. Tetapi begitu bersayap-bebas, lalu bagaikan burung terbang ke mana-mana, maka cadar atau setengah mukenah itu, ditanggalkan. Lalu, akh.......... sudah mulai merokok, bergaya hidup modern, bukan lagi seperti wanita Iran yang masih tradisional. Dan rumahtangga yang dulu aman-sentosa, kini berpecahan, berantakan, dan Pega yang paling menderita.

"Di mana Pega sekarang Loulou", kataku suatu hari. Lama Loulou tidak menjawab dan diam merenung dalam. Lalu ibunya mendatangi saya, dan Loulou masuk kamar lagi dan terdengar isaktangisnya. Ibu Loulou menceritakan kepada saya, bahwa Pega sementara ini di antar ke rumah anak-anak yang punya soal. Misalnya karena orangtuanya sering memukul anak, atau anak itu dibiarkan terlantar tak keruan, dan soal-soal psikologis lainnya. Sejak itulah kami semua merasa kehilangan Pega, terlebih Loulou yang sangat dekat dengannya, disamping satu kelas sekolahnya, juga banyak hal persamaan antara keduanya. Karena punya persoalan yang begitu berat dan menyedihkan, Pega tidak bersekolah lagi sementara ini. Dan kami tidak mendengar perihal ibunya dan tantenya. Tetapi Nita berusaha mencari keterangan, di mana keluarga mereka tercerai-berainya. Yang penting kami ingin mengetahui Pega secara jelas, tetapi juga lebih dari itu belum dapat ditentukan karena persoalannya sudah menjadi persoalan sosial-negara.

Ketika hari pertandingan pertunjukan dimulai, dan hasil terakhir dari Dewan Juri menyatakan bahwa tarian-nyanyian Janet Jackson, yang dibawakan secara tunggal oleh Loulou mendapat hadiah pertama buat seluruh sekolah di Almere, Loulou masih sempat sangat gembira di lingkungan teman-temannya. Tetapi segera setelah itu dia sangat bersedih, dan seperti biasa Loulou tidak bisa menyembuyikan perasaannya yang mendalam kepada teman akrabnya Pega. Tetapi semua teman Loulou juga tahu, kesedihan Loulou adalah kesedihan seorang teman yang sangat akrab. Loulou tadinya ingin benar berbagi bahagia, dengan membawakan piala kemenangan itu buat disimpan berdua Pega, tetapi entah di mana Pega ketika itu, tak ada di antara mereka yang tahu. Beberapa teman Pega dan Loulou sekelas dan kelas lainnya, pada malam itu benar-benar merasa kehilangan Pega, gadis-kecil-cantik yang sangat baik itu. Perubahan yang begitu menggoncangkan kehidupan keluarga Pega merambat menjadi kesedihan bersama antara teman-teman Pega baik di sekolahnya maupun di lingkungan keluarga lainnya. Sampai kini kami tidak tahu di mana Pega, tapi kami sangat menyayangi Pega,-

Paris 22 Oktober 1999,-

Sabrina I

Bagaimana sebenarnya mulainya perkenalanku dengan Sabrina, begitu cepat, begitu kilat, tapi juga tak lama lalu tamat. Berkali-kali kuminta agar Siao Chen sekretarisnya Tuan Luis mengurus kepulanganku ke Paris, mengurus tiket pesawat MAS via Kualalumpur buat ke Paris. Tetapi belum juga dikerjakannya. Kulihat Siao Chen itu namanya saja sebagai sekretaris, tapi sungguh tak mirip. Masaksih seorang sekretaris bekerja siang-malam dengan Tuan Luis, yang lalu menginap di hotel yang sama, dan bahkan satu kamar dengan Tuan Luis-nya sendiri?! Barangkali merangkap sekretaris luar-dalam. Dan setelah kutanyakan sana-sini, memang begitulah kedaannya. Gadis-muda di Beijing ini perlu pekerjaan, perlu matapencaharian, lalu ketemu Tuan Luis, dijadikanlah sekretaris yang merangkap, begitulah! Dan lagi Siao Chen cukup manis, lincah, ramah dan muda, baru 20 tahun umurnya.

Kedatanganku ke Beijing atas undangan Tuan Luis. Karena dalam suatu pembicaraan, dia ini akan membangun sebuah hotel bertingkat-belasan di kota Beijing. Dan hotel itu akan diperlengkapi dengan restaurant, dan restaurant itulah yang katanya mau diserahkannya padaku buat mengelolanya, me-management-nya. Lalu Tuan Luis juga menjanjikan agar akupun turut berpartisipasi dengan perusahaannya, misalnya mengurus hubungan dagangnya dan proyeknya yang ada di Thailand, Singapur, Paris, Hongkong dan Jepang.

Apa yang dimintanya, memang telah kukerjakan selama di Beijing ini, antaranya mengumpulkan teman-teman yang bisa diajak kerjasama dalam mengelola restauran itu. Kami adakan pertemuan, antaranya dengan banyak temanku yang dulu atau bahkan masih aktive di Radio Beijing dan bekas murid-muridku yang kini sudah pada punya anak yang telah beranjak dewasa. Dan setelah pekerjaan itu rampung kukerjakan seperti apa menurut kehendak Tuan Luis, aku harus pulang ke Paris. Dan kuminta agar Siao Chen mengurus tiket kepulanganku dari Beijing ke Paris via Kualalumpur. Berkali-kali kutagih, apakah sudah diurus? Ternyata belum juga. Dan aku sangat dongkol pada Siao Chen. Rupanya kalau orang sedang dongkol, Siao Chen yang sebenarnya cantik dalam sehari-harinya itu, lalu di mataku berubah menjadi jelek! Dan aku dengan perasaan masih dongkol menilpun ke kantor MAS jauh di tengah kota.

Di Beijing, tentu saja kalau mau mudah berhubungan sebaiknya menggunakan bahasa Tionghoa Beijing. Dan aku dalam hal ini tidak begitu banyak kesulitan buat berbahasa Beijing, sebab hampir 20 tahun tinggal di Beijing. "Jadi bagaimana apakah bisa di-conform buat berangkat hari Minggu depan?" kataku kepada wanita yang sedang berbicara itu. "Sebaiknya, kalau dalam satu hari ini, kami tidak menilpun, Tuan datang ke kantor, buat konformasi terakhirnya, sebab saya juga harus banyak menilpun siapa saja yang kira-kira ada yang mengundurkan diri", katanya di seberang sana.

Aku tidak bertanya dan tidak memperdulikan lagi Siao Chen sekretaris luar-dalam itu. Pikiranku sudah mau pulang saja ke Paris. Dan aku ingat pekerjaanku sendiri di restauran kami, sudah terasa lama meninggalkan resto dan teman-temanku. Dan keesokan harinya aku mendatangi kantor Mas di tengah kota Beijing, jauh tempatnya dari hotel kami, yang agak di luarkota dekat Kebun Binatang dan menuju ke Universitas Beijing dan Istana Musimpanas.

Di kantor itu yang tidak besar, tapi menyenangkan, bagus hiasannya, tidak seperti hiasan di kantor orang-orang Beijing asli. Ada empat orang yang bekerja di ruangan depan, semuanya wanita, muda-muda. Salah seorang yang menghadapiku adalah seorang yang berwajah lain, lebih cantik dari yang lain, dan berpakaian Malaysia, seperti kebanyakan stewardess Malaysian Airways. Dan dia mengurus tiketku termasuk penginapan di Kualalumpur. Aku percaya sangat, wanita muda ini bukan orang Tiongkok asli. Dan setelah kutanyakan apakah bisa berbahasa Melayu atau Indonesia? Ternyata dia bisa berbahasa Melayu, dan kami akhirnya berbahasa Melayu yang tadinya bahkan sejak di hotel melalui tilpun, selalu campuran bahasa Beijing dan bahasa Inggris.

Gadis ini sangat ramah, dan setelah kami saling menggunakan bahasa Melayu, keramahannya melebihi sebelumnya, dan dia banyak tertawa gembira, karena mungkin bisa berbahasa Melayu itu. Bahasa Melayu-ku tentu saja tidak sebaik dia, tetapi dulu ketika aku masih mengajar bahasa dan sastra Indonesia di Beijing pada tahun 1964, aku pernah diminta bantuan mengisi kekosongan guru berbahasa Melayu. Terpaksalah aku harus banyak belajar lagi memperdalam bahasa Melayu. Memang tidak begitu sulit, sebab dasar bahasa daerah kami di Belitung sudah berdasarkan bahasa Melayu Riau, jadi tinggal memperlancarkannya saja. Dan buku-buku di perpustakaan Institut Bahasa Asing Beijing turut membantu bibliographiku.

Kutanyakan nama gadis itu. Katanya Sabrina, tapi nama lengkapnya Sabrina Chai. Pastilah keturunan Tionghoa, apalagi sepertiga penduduk Malaysia adalah keturunan Tionghoa. Setelah aku menuju pulang ke hotelku, banyak sekali pikiranku yang masih nyangkut ke Sabrina tadi itu. Bagaimana ketika aku membuka dompetku buat mengeluarkan carte-blue, kartu-kredit buat membayar tiket, terlihat olehnya foto seorang wanita. Sabrina melihat dan dengan enak saja lalu minta diperlihatkan. "Akh cantik amat gadis kecil ini", kata Sabrina. "Ini adalah cucuku yang pertama, umurnya 7 tahun, namanya Loulou", kataku. "Pastilah ibunya cantik sangat ya?!" "Mungkin suatu waktu Enchik akan bertemu, siapa tahu kan?" "Ya, siapa tahu", kata Sabrina. Beberapa temannya yang di kantor ini pada berkerumun mengedarkan foto Loulou, dan kantor itu seakan-akan sudah jadi rumah biasa, bukan kantor yang sangat sibuk. Terasa nyaman suasananya. Dan kami agar tidak terlalu egois, lalu menggunakan bahasa Tionghoa lagi.

Ternyata Sabrina datang ke Beijing adalah buat meng-up-grading tenaga-tenaga MAS lainnya, agar bisa berdikari, tanpa bantuan orang-orang dari Malaysia sendiri. Jadi Sabrina hanya dipekerjakan sekian bulan, untuk mendidik tenaga muda, terutama dalam masalah ticketting dan marketing. Sudah itu dia harus kembali ke kantor asalnya di Kuching - Sarawak.

Setelah aku sampai di hotelku, ada rasa kegelisahan. Terasa enak dan bersemangat balik muda setelah bertemu Sabrina tadi itu. Dalam hati, coba nanti kutilpun dari hotel. Lalu kamu mau apa, tanyaku pada diri sendiri. Begitulah aku, selalu bisa berdialog dengan diriku sendiri. Terkadang diriku selalu ada dua, yang satu bisa kusebutkan perasaan, yang lainnya bisa kusebutkan pikiran. Dua-dua ini kalau ada masalah agak pelik, akan selalu berdialog, dan sukurlah selama ini pihak pikiran yang menang. Tapi menghadapi persoalan Sabrina ini, aku tidak atau belum memastikan siapa yang akan menang.

Satu hal yang Sabrina tahu, tak ada yang kusembunyikan selama percakapan kami tadi. Bahwa aku bertugas di Beijing buat apa, semua kuceritakan dengan seadanya saja, lalu bahwa aku sudah punya cucu yang umurnya sudah 7 tahun.

Dan kegelisahanku tampaknya tak bisa kupendam, lalu kuangkat tilpun, kutanyakan dulu apakah aku boleh bicara dengannya agak sedikit leluasa, bukan dalam urusan dinas. Mendengar permohonanku itu, malah dia tertawa. "Bapak ndak cakap ape, katekanlah, saye dengar baek-baek, kebetulan pule kini tak ade orang yang sedang mengurus kerje", katanya terdengar tertawa kecil dan amat ramahnya. Agak gemetar juga aku dibuatnya, tapi kuusahakan setenang mungkin, agar bisa berbicara dengan wajar dan normal. "Yang penting sebenarnya tak adelah. Hanya kalau Sabrina ade waktu, apalah sudi mau menemani saye makan malam, ya, hanye itu yang saye mau katekan", kataku agak menenangkan diri. "Oh, kebetulan saye tak ade program lain dalam duetige hari ini. Nah, saya siaplah menemani bapak. Di mane bapak punye maksud mau makan, ke situlah kite pergi", katanya dengan logat kentalnya. Dan aku jadi sedikit bingung, aku hanya mau me- ngajak makan bersama, dan ketika dia serius mau, lalu aku tak siap mau diajak ke mana. "Sabrinalah yang menentukan, kan Sabrina lebih tahu Beijing, apalagi di tengah kotanya, saye tak begitu pandai mencari tempat. Sudah amat jauh berubah dari belasan tahun yang lalu itu", kataku. "Baiklah, saya punye usul, tapi bapak boleh tolaklah kalau tak merase setuju, begitu ye", katanya dengan suara yang menurutku sangat lembutnya, sangat mesranya.

Dan dia mengusulkan agar di kota saja, agar juga tak jauh dari tempat tinggalnya. Dan aku setuju. Akh, dia sudah maupun aku sudah senang, dan rasanya lama sekali menunggu waktu itu. Penyakit dunia, waktu itu sangat terasa lama bila ditunggu, tetapi sangat cepat berlalu ketika kita sedang asyik bekerja atau dalam rasa kesenangan. Dan penyakit dunia yang lain, kalau dirikita sedang dalam keadaan jatuh-, tak dapat kusebutkan, agak malu rasanya-, semua itu terasa indah terasa romantis yang padahal kalau dalam keadaan "sadar", sebenarnya ya biasa-biasa sajalah adanya.

Paris 27 Oktober 1999,-

Sabrina II

Hotel di mana aku menginap adalah hotel baru berbintang 5, nama hotel itu bila diterjemahkan dengan bahasa Indonesia, artinya ZAMAN BARU, dikenal dengan hotel ANA,- All Nippon Airways, kepunyaan maskapai beberapa penerbangan Jepang yang bergabung menjadi satu. Karena kami ini menjadi satu grup dengan Tuan Luis yang kapitalis Singapur itu, maka kami mendapatkan kamar yang sangat luas, tetapi bergabung menjadi satu, menjadi satu kompleks perkamaran. Kamar induk dengan banyak anak-anak kamar. Setiap kamar punya perlengkapan sendiri seperti halnya kamar-kamar lain itu. Aku sangat menyukai hotel ini karena lokasinya luas, besar dan yang paling penting ada kolam-renangnya. Hotel berbintang 4 dan 5, selalu ada kolam-renangnya. Hotel kami ada 34 lantai, dan kami ada pada lantai 32,-layaknya memang sebuah kantoran.

Tuan Luis memang sudah menjanjikan padaku, bahwa begitu aku pensiun nanti dari restaurant kami RESTAURANT INDONESIA, aku segera bergabung dengannya. Tetapi sekarang sudah bisa memulai pekerjaan, memantau, memperkirakan dan merencanakan apa-apa saja yang menjadi pekerjaanku nantinya. Kukira ini bukan pekerjaan mudah dan gampang. Aku sudah memperkirakan pekerjaan nantinya, akan banyak mondar-mandir antar negara, dan hidupku akan banyak di atas udara, dengan pesawatterbang, sebagaimana yang dikerjakan Tuan Luis sekarang ini. Diapun pernah membayangkan bagaimana nantinya kalau aku sudah bergabung dengannya, begitulah kira-kira pekerjaanku, mengontrol, mengawasi, dan memperlancar pekerjaan Tuan Luis. Yang dia merasa senang denganku, karena kebetulan aku bisa beberapa bahasa, dan lagi, dan ini benar-benar gila dan agak tak masuk akal! Dia ingin menjadikan aku seperti layaknya sebuah maskot. Dia sangat mempercayai mistik dan yang berbau takhyul, bahwa dengan mengajakku bergabung dengannya dia percaya betul bahwa aku ini akan membawa banyak rezeki bagi perdagangannya. Dan untuk itu dia pernah membicarakan soal gaji, salaire, berapapun yang aku minta dia akan penuhi asal saja masih dalam kategori masakakal, termasuk misalnya tiga-empat kali dari gajiku yang sekarang di resto kami sendiri.

Akan halnya Sabrina, dia di hotel, yang kalau kuterjemahkan menjadi PERKASA terletak di kota Beijing-nya, sedangkan aku dipinggiran kota. Hotelnya juga berbintang 5, sebagai perhotelan tempat mangkalnya staf MAS. Kesenangan kami kebetulan banyak samanya, misalnya suka berenang, suka mendengarkan musik, dan suka makan, nyamian.

Dan pada hari perjanjian makan-malam itu, kami menuju sebuah rumah-makan yang dia sudah sangat kenal. Bagiku sebenarnya bukan makannya itu yang penting, tapi melihat dan bertemu dengannya. Ya, Allah, pekikku dalam hati, ketika menjemputnya di Hotel PERKASA itu, cantiknya mak dia! Berbaju merah menyala dan kerudung biru, serta berspan agak ketat, dan baunya wangi tetapi lembut, seperti wanginya bunga magnolia yang pernah kukenal dulu. Cocok pakaian ini dengan tubuhnya yang sintal dan orangnya yang suka olahraga, berenang dan kebugaran sejenis gimnastik pelangsingan tubuh. Berlainan benar denganku, badan agak repot karena gemuk, dan tidak muda lagi, untuk enaknya asal jangan dikatakan tualah!

Sesudah makan-malam, kami menuju hotelnya, dan duduk-duduk mendengarkan musik-hidup yang selalu ada di dekat bar yang luas itu. Ini sebuah hotel internasional, yang bersuasana juga internasional. Dan Tiongkok untuk itu bukan main pandainya dengan gaya meniru yang serba Barat. Ada yang bagiku sangat repot tinggal di Beijing ini, sangat sulit mau ngopi! Tak ada seperti cafe-cafe seperti di Paris atau kota-kota lainnya di Eropa. Kalau mau ngopi harus mencari hotel dan restoran serta bar di hotel yang skalanya internasional. "Kite duduk-duduk saje di suasane musikallah ya Pak", katanya. Dan lalu dia menuju kamar, ada yang mau diambilnya rupanya. Dan sebelum itu dia mengatakan padaku, dengan minta maaf banyak-banyak sebab aku belum diizinkanya masuk kamar hotelnya. Dan aku bukannya malah bersedih dan kecewa, tetapi malah sangat menghormatinya, betapa dia tahunya hargadiri. Sikapnya ini malah kuhargai dengan sangat.

Dia memperlihatkan foto-foto selama di Kuching dan Beijing ini. Dia bercerita dan aku menjadi pendengar yang baik. Ternyata dia adalah seorang yang sedang ditinggalkan suaminya, dalam urusan perceraian. Dan ketika bercerita itu dia tampak sangat murung dan dari kelopak mata yang memang besar dan hitam itu keluarlah beberapa butiran mutiara-putih yang bernama airmata. "Bapak tahu kan, adat kami, adat kite bangse melayu ini, saye yang begini mude, akan segere menjadi jande, dapatlah bapak bayangkan. Umur baru duepuluh sembilan, menikah sudah empat tahun, tahu-tahu saje die tinggalkan awak sendiri!" Aku masih tetap mendengarkan dengan baik dan tekun. Kuberanikan diriku, kuambil saputangan yang memang kepunyaannya di atas meja itu, kukeluarkan dari tas-wanitanya. Dan dibiarkan aku berbuat dengan perasaan yang dalam yang ada padaku. Airmata yang hampur jatuh mengalir itu kuhapus, dan betapa senangnya hati ini, masih tetap dibiarkannya aku. Tadinya kukira dia akan menolak dan akan merasa malu dan segan, ternyata tidak.

Mungkin kataku pada diriku ketika suasana sudah sepenuhnya sadar, makin mabuklah aku ketika itu. Tapi adalah benar, aku merasakan ada apa-apa dengan perkenalan cara kilat ini. Aku menjadi sangat merasa kasihan padanya, ada rasa yang kutekankan pada diriku, agar kalau memang punya rasa kasihan, kasihanilah sebagai bapak mengasihani anak. Dan sangat berat aku mengakui, bahwa umurnya dan umurku terpaut 30 tahun! Dan seperti biasa penyakit yang selalu kuderita, mengapa aku ini selalu punya soal-soal dengan wanita muda, anak-anak muda yang umurnya selalu di bawah umur anakku! Dan anehnya dan sakitnya, pikiran dan perasaan itu selalu datangnya kalau sudah ketelanjuran, terkadang sudah jauh.

Ketika aku minta diri buat pulang, malam sudah larut benar. Sudah mendekati pagi karena sudah lewat jam 24.°°. Lagi-lagi aku berbuat viveriperi coloso, nyerempet bahaya, ketika mau pulang itu, yang walaupun taksi sudah menungguku, berani-beraninya aku masih mampu berkata,- "Rin, bolehkah aku menciummu, dikedua belah pipimu saja, sebagaimana kami layaknya di Perancis?", kataku dengan nekat barangkali ketika itu. "Tentu saja, pak, bapak teman saye yang sangat baek, yang mustahil saye dapat lupekan dalam hidup ini. Bapak sangat perhatikan saye dan saye sangat senang bersame bapak malam ini", katanya dengan lancar dan tampak bersemangat. Dan aku mencium keduabelah pipi yang montok itu. Terasa wangi parfumnya yang sangat soft, halus dan mesra. Aku percaya ciuman itu mungkin tidak begitu jujur, tapi aku sudah berusaha buat jujur. Belum bisa ternyata.

Dan kesokan harinya, lagi keesokannya lagi, kami mengulangi pertemuan kami. Sabrina sangat gembira dan "malangnya" nasibku, apa saja yang aku mau lakukan terhadapnya, mengapa dia biarkan? Mengapa dia mau saja? Mengapa? Tak lama lagi aku harus kembali ke Paris. Ada perasaanku berkata dengan dua sayap, sudahilah perkenalan ini, jangan sampai terlalu berhanyut-hanyut, dan terlalu sulit buat mengurai benang-kusut itu. Ada lagi sayap lainnya, semoga saja kesempatan ini adalah yang terakhir buatku "main api". Benarlah kata orang, main api akan dekat terbakar, main pisau akan dekat luka, dan kini, aku ini sedang main apa?

Dan aku sudah mulai diizinkannya masuk kamarnya. Nah, habislah batas-batas yang dulu masih ada. Berdosakah aku? Kalau kukatakan ya, lalu ada pemaafan buat diriku terhadapnya, lalu kenapa dia mau saja yang aku kehendaki darinya? Mengapa dia biarkan aku berlarut-larut dengannya, yang padahal kemungkinan besar di antara kami dua-duanya akan tenggelam dalam lautan duka dan yang serba tak mungkin itu? Sudah kukatakan padanya, berapa umurku kini, tapi dia tidak ambil perduli, lalu siapa yang salah? Mungkin memang kami berdua, mungkin yang paling besar kesalahannya yalah diriku, kenapa membiarkan diri begitu jauh hanyut dan begitu dalam tenggelamnya.

Kalau dulu sebelum terjadi hal-hal ini betapa inginnya aku segera pulang ke Paris. Tetapi kini, rasanya lho cepat amat harus pulang ke Paris! Perasaanku bagaikan pernah kualami puluhan tahun yang lalu. Kalau dulu melang wajar, tapi kini di mana letak kewajarannya? Perbuatanku sepertinya sengaja membelenggu diriku sendiri. Sabrina-pun tampaknya juga mengalami hal-hal yang seperti kualami, bagaimana tidak, kalau kami sudah saling berserah dan berpasrah. Tetapi begitu ada secerah pikiran jernih, lalu dua-dua kami selalu bertanyakan pada diri sendiri, akan mungkinkah cara perkenalan begini dan pendekatan jiwa dan hati begini dapat diteruskan? Atau mungkinkah hanya pada taraf saling berkencan saja? Kukatakan pada Sabrina, bagaimanalah perasaanku sekarang dengan pergaulan intim begini, dan ternyata dia dengan menarik nafas panjang, juga punya perasaan itu. Kami tidak tahu bagaimana akhirnya perkenalan dan kedekatan serta keintiman kami dalam beberapa hari ini. Dan Sabrina tidak mau memikirkan perihal itu. Jadi apa yang harus kita pikirkan bersama, kataku suatu kali. "Tak tahulah saye. Mungkin memang kesalahan ade pade saye, tapi juga bapakpun terkire punye pule kedosaan itu, mungkinkah begitu pak?", katanya dalam tilpun sesudah kami sama-sama di hotel tempat kami tinggal.

Tak tahulah aku. Mauku segeralah meninggalkan Beijing ini. Ada pikiran, bagaimana nantinya kalau aku sudah berpos di Beijing, dan lalu sudah memegang pekerjaan yang dipercayakan Tuan Luis ini? Sangat banyak yang menjadi pikiranku yang berbelit, kusut, sulit diurai. Dan salahku, mengapa dulu mau saja berbuat yang tidak diperhitungkan akibat belakangnya? Memang kami masih sama-sama orang bebas, masing-masing tak punya ikatan. Tetapi bukanlah hal itu benar yang menjadi persoalan. Persoalan pokok, dapatkah dan mungkinkah perkenalan - pendekatan ini diteruskan? Dengan pertautan umur yang begitu besar? Mungkinkah akan dapat diteruskan, atau sudah gilakah kalau masih mau juga meneruskannya?

Dan aku benar-benar pada masa itu begitu banyak pikiran suntuk. Lalu kenapa dulu itu berani-beraninya dan nekad-nekadnya berlaku bagaikan anak-anak muda?! Terkadang ada pikiran, sudahlah, jangan banyak dipikirkan, bagaimana sajalah nantinya, semoga Tuhan memberikan jalan. Barangkali juga Tuhan akan mengatakan, "kok kamu nggak kapok-kapoknya, selalu begitu sih. Ini kan bukan pertama kalinya kamu alami setelah isterimu meninggal", barangkali begitu Tuhan mengatakan, dan kemungkinan besar hanya akulah yang ada pikiran begitu, karena dosa sudah ada di punggung, di bahu, di pikulan,-

Paris 27 Oktober 1999,-

Sabrina III

Sekembalinya dari Beijing ke Paris, pikiranku menjadi begitu banyak cabangnya. Tentang pekerjaan mendatang, menanggulangi tugas yang diembankan Tuan Luis, dan pekerjaan yang sekarang di resto kami sendiri, lalu, dan ini cukup makan pikiran : masalah Sabrina, yang sedang nyangkut berat. Lalu apakah sudah pasti walaupun sudah sah pensiun, terus menggabungkan diri dengan Tuan Luis? Meninggalkan teman-teman yang selama ini selalu senafas, sepekerjaan, bahkan meninggalkan resto yang dirisendiri salah seorang pendiri-dasarnya? Kalau dikaji dengan pikiran jernih, sebenarnya belum cukup kuat untuk mengatakan ya atau tidak secara tegas dan lugas. Masih tetap dalam kebimbangan.

Salah satu peperangan dalam pikiran yalah : mengapa harus pindah ke pekerjaan Tuan Luis? Jelas pekerjaan Tuan Luis adalah semata-mata keuntungan kapitalis, perorangan, tak ada bau-bau sosialisnya. Sedangkan kami adalah sebuah koperasi, berdasarkan sosial-kultural, dan jauh dari kapitalisme, penuh dengan semangat setiakawan dan solidaritas. Dulu mencarinya mati-matian dan habis-habisan, lalu sekarang mau ditinggal? Meninggalkan banyak teman-teman yang dulu satu kandang, satu nasib dan satu perasaan? Pikirkanlah benar-benar sebelum mengambil keputusan terakhir, begitu kataku pada dirisendiri. Belum lagi yang kupikirkan sekarang masalah perasaan dengan Sabrina. Hubungan yang pernah begitu erat - mesra, apakah akan diteruskan atau mau diputus? Baiklah seandainya mau diputus, bagaimana cara memutuskannya? Sedangkan dari pihak Sabrina sendiri menyerahkan padaku, bagaimana sebaiknya menurut bapak, katanya dulu itu sebelum kami berpisah.

Perang perasaan, perang emosi pada diri sendiri memang adalah perang yang sangat dahsyat buat diri. Dan kalau sudah terpental begini lalu ke mana larinya? Menyendiri, berdoa, memohon kepada Tuhan, dengan serius dan khusuk minta bantuan kepada Tuhan, menyerahkan diri.

Ada beberapa perubahan. Anakku yang kedua, akan segera menikah tahun ini, 1995. Calon suaminya tinggal di Holland. Dia akan menikah setelah menjanda selama 7 tahun, dengan anak satu : Loulou. Dan sudah bertunangan secara resmi, tinggal hari pernikahan di Balai Kota dan memestakannya di Paris dan di Amsterdam. Jadi artinya begitu banyak yang makan pikiran sehari-hari. Sebelum itu kami sudah saling mengenal dan ternyata masih ada hubungan keluarga dipihak bapak dari calon suaminya dengan ponakanku dari pihak ibunya. Dan karena kehidupan serba campuran begini, maka di rumah kami menggunakan beberapa bahasa sekaligus, sebab anakku belum mengertri bahasa Belanda, sedangkan mertuanya tidak mengerti bahasa Prancis, lalu pakai bahasa Inggris. Dan cucuku berbahasa Prancis dengan ibunya, dan berbahasa Indonesia denganku. Dan dua anakku selalu menggunakan bahasa Cina, karena anakku yang kedua lahirnya di Beijing, dan lagi kami di Beijing hampir 20 tahun.

Ketika sedang sibuk memikirkan dan mempersiapkan sekitar pernikahan dan pesta itulah datangnya surat panjang Sabrina. Isi pokoknya dia mau datang ke Paris dan "kalau boleh serte bapak tak keberatan, saye bersame due lagi teman saye, mau ke Paris dan menumpang di rumah bapak. Itupun kalau bapak berkenan dan tak menyulitkan. Dan kite bicarekan secara tuntas dan bagaimane berakhirnye hubungan kite ini, yang dulu bapak juge pernah katekan kepade saye. Semoge bapak berkenan, dan saye menunggu jawaban bapak", demikian singkatnya isi surat itu. Sebelum surat ini, kami memang selalu berhubungan surat-menyurat, bahkan tilpun. Selalu dia mengatakan padaku, lebih baik hemat uang, jangan menilpun tapi kirim surat saja, tokh hanya makan waktu menunggu 5 sampai 7 hari saja.

Dalam hatiku, nah, kalau begitu akhirnya, semoga saja hubungan yang pernah begitu dekat dan intim, dan saling berkaitan, dapatlah memecahkan masalah bagaimana sebaiknya. Semoga ada jalan, demikian pikirku. Dan pada bulan April tengah musimsemi, musimbunga kata orang, Sabrina dan dua temannya datang dan menginap di rumah kami. Bayangkan, karena pernikahan Nita - Gassy, juga pada bulan April berkenaan pula dengan Hari Kartini itu, betapa ramainya rumah kami. Ada keluarga yang datang dari Selandia-Baru memang khusus buat itu, dan kedua mertua anakku, jadi besanku, juga di rumah kami. Maka sekira belasan orang di rumah kami yang tak luas itu.

Sabrina datang dengan dua temannya, Alice dan Lee Fong, dua-duanya stewardess MAS, masih muda-muda bahkan lebih muda dari Sabrina, baru 23 dan 27 tahun. Kedatangan wanita-wanita muda dari Malaysia ini membuat suasana sangat menyenangkan, ramai dengan tertawa. Dan lebih-lebih kami merasa sangat gembira bahwa mereka mau turut meramaikan pesta perkawinan ini selama di Paris dan di Amsterdam, jadi mereka dalam satu minggu penuh itu akan selalu bersama kami. Dan aku dan kami berdua Sabrina selalu mengambil kesempatan buat bagaimana secara berdua merundingkan yang dulu pernah mau kami tuntaskan. Sukurlah orang rumah kami dan keluarga kami pada tahu dan mengerti tentang hubungan kami. Bahkan mengerti bahwa pertemuan kali ini buat menuntaskan bagaimanalah sebaiknya hubungan itu.

Ketika kami selalu berdua baik sedang di rumah maupun ketika bepergian berdua selama di Paris, kedua teman Sabrina dan anak-anakku samasekali tidak menaruh sak-wasangka atau dengan perasaan tidak senang. Alice dan Lee Fong selalu punya teman, anakku maupun cucuku, mereka samasekali tak mengalami kesulitan berbahasa, sebab anak-anakku cukup baik bahasa Inggrisnya, dan semua mereka bisa berbahasa Beijing - Mandarin.

"Rasanya tidak bisa lain, Rin, antara kita memang sudah seharusnya tidak meneruskan hubungan kita secara di Beijing dulu itu. Tidak mungkin, menurut saya tidak wajar. Umur kita terpaut begitu besar, kau masih begitu muda dan saya sudah begitu berumur. Anggaplah ketika di Beijing itu suatu intermezzo, yang kita mungkin sama-sama kehausan karena kesepian, karena kerinduan, dan bukan mustahil karena ada rasa keisengan. Karena itu kita lebih banyak pakai perasaan dan emosi bukannya dengan pikiran yang jernih. Kesalahan ada dan terletak pada saya", kataku ketika kami berdua duduk di sebuah bangku di sebuah taman. Sabrina sambil meremas dedaunan hijau, merunduk, dan dengan berat berpikir agak lama. "Yah, pak, sayepun berpikir kearah itu. Soal kesalahan tidak hanye bapak, sayepun turut bersalah, dan benarlah seperti kate bapak, mungkin kite keduenye dalam bujukan setan-hantu agar berbuat seperti yang pernah kite lakukan itu. Tapi itupun tak saye anggap dose benarlah, sebab bukankah kite berdue samesame orang tak berikatan, dan same-same saling membutuhkan. Sudah tentu setelah kite same-same merase hubungan itu tak akan selamat sejahtere kalau kite teruskan, make baiklah kite balik semule, ya, kan pak", katanya padaku. Dan ada perasaanku padaku, sukurlah, mendekati penyelesaian yang baik.

Tiga hari rombongan Sabrina di rumah kami, lalu kami sama-sama ke Amsterdam dan selama di Amstredam mereka juga selalu bersama kami. Pada suatu pesta di Amsterdam, banyak sekali teman-teman yang baru bertemu setelah belasan tahun tak bertemu. Dan sudah banyak pula mulut-mulut usil yang kuanggap baik, bukannya dengan maksud jahat, yang menyatakan "itu tuh katanya yang jadi pacarnya si simon", dan aku diam saja, tokh mereka tak tahu yang kami sudah mendekati habis - kikis cintaku terbang seperti kata Amir Hamzah raja penyair itu.

Pengakhiran hubungan ini sempat menjadi perdebatan antara dua anakku, Wita dan Nita. Wita beranggapan kenapa aku suka benar menguber; mengejar wanita muda belia, kan malu sudah tua-tua, katanya. Dan Nita agak membela, soalnya siapa yang mengejar siapa, kan bukannya papa yang cari-cari dan nguber sampai ke Malaysia, bukankah malah mereka yang datang baik-baik lalu menginap di rumah kita? Lagi pula saya sangat kenal papa, dia itu bukan orangnya yang tukang nguber, tapi nasibnya saja yang membikin dia sering mengalami begituan semua. Dan aku tidak berkata dan mengatakan apapun. Dari semua perbuatanku, mereka akan menilai bapaknya itu siapa dan bagaimana, seperti apa adanyalah, tak usah dibedaki, tak usah dihias-dandani.

Dua tahun sesudah itu, surat Sabrina tiba dengan permintaan, pertama tolong turut memikirkan, kedua tolong merestui. Ada dua calon yang sedang "berperang" merebut hati Sabrina di Malaysia, Sarawak. Yang pertama bahannya begini, yang kedua bahannya begitu. Dan dalam surat menyurat antara kami berdua, sudah kuketahui kualitas masing-masing pemuda itu. Dan aku menyarankan agar kawinlah dengan orang yang benar-benar serius dan sudah menunjukkan kesungguhannya mencintai dirimu,- inilah yang pokok. Lihatlah luar-dalamnya, galilah sampai dalam dan melebar agar dapat terlihat isi aslinya. Dan Sabrina ternyata memilih yang sama dengan pilihanku.

Tahun lalu bulan November, mereka menikah di Kuching. Bersama kedua mempelai, turut berfoto kedua orang tua masing-masing. Dan Sabrina mengakhiri suratnya "bapak yang sangat saye sayangi, kalau bapak ade peluang datang ke Kuching, saye bersame Roy suami saye siap sediekan bapak bilik tersendiri, bapak bebas di rumah kami, seberape lame bapak kehendaki. Juga keluarge kite lainnye seperti Nita - Gassy dan Loulou. Terimalah salam takzim kami berdue, dan mohon restu dan doa bapak", katanya.

Dan akupun menarik nafas panjang. Berakhir juga cerita percintaan kilat yang begitu cepat tamat ini. Dan pada akhirnya aku memang akan sungguh-sungguh berusaha agar bagaimanapun hubungan ini menjadi hubungan keluarga yang malah sudah sangat dekat, tetapi samasekali bukan lagi dengan cara dulu itu,-

Paris 28 Oktober 1999,-

Pelajaran Agama

Sabtu malam, Nita-Gas, suami-istri ada undangan untuk bersama merayakan upacara pernikahan temannya yang orang Turki. Mereka memang bermaksud untuk menghadirinya. Belum pernah tahu bagaimana adat dan upacara serta perayaan pesta pernikahan temannya orang Turki. Yang serba sedikit diketahuinya yalah, pada biasanya perayaan dan pesta itu cukup besar dan penuh dengan makanan mewah yang kira-kira sangat cocok dengan selera mereka. Dan mereka-pun "siap" dengan bayangan makanan penuh kelezatan dan yang sangat memancing selera.

Karena pesta itu diadakan pada jam-makan malam, maka barulah jam 19.°° upacara dimulai. Sedangkan biasanya di Belanda, makan-malam sudah bisa dimulai pada jam 18.°° atau sebelumnya. Karena masih cukup waktu untuk menanti sampai jam tersebut, mereka mau mampir ke rumah temannya yang akrab, Magda. Keluarga Magda adalah keluarga Indonesia yang sudah belasan tahun menetap di Belanda. Pergaulan antara keluarga Nita dan Magda ini cukup dekat. Dan mereka mengenalnya secara akrab, bukan lagi basa-basi antara tamu yang masih memegang keresmian dan protokol. Nita dan sekeluarganya sudah biasa makan-minum di rumah keluarga Magda, sebaliknya Magda dan keluarganya tidaklah merasa asing bila di rumah keluarga Nita. Juga termasuk anak-anaknya, bergaul secara baik dan saling mendorong dalam pelajaran dan sekolahnya. Misalnya saja, anak Magda yang sulung sedang mau ujian Bahasa Perancis, dan Laura anaknya Nita, sedia membantu dalam mata pelajaran Bahasa Perancis, karena buat Laura Bahasa Perancis adalah bahasa-ibunya.

Ketika mereka mampir di rumah Magda, seperti biasa keluarga Magda dengan hangat menyambut Nita-Gas, dan minta agar mereka makan dulu. Adalah bagaikan pantangan dan tabu datang ke rumah Magda tanpa makan dulu. Dan Nita dan Gas, suaminya, melihat bagaimana penuh hidangan makanan yang lezat-lezat yang tersaji di meja-makan. Sabtu-malam memang biasanya banyak teman-teman keluarga Magda yang datang bertamu, dan pada biasanya mereka selalu menyajikan makanan yang cukup banyak, sebab para tamunya biasanya selalu saja ada. Melihat keadaan ini ada juga rasa tergodanya, baik pada Nita maupun pada Gas. Apalagi makanan kesenangan mereka seperti lado-tempe, sambal-udang-petai, dan sayur-asam dan banyak lagi yang menarik.

Tapi karena tekad mereka sudah bulat akan makan-pesta di pesta pernikahan teman Turki ini, maka mereka "bertahan" untuk tidak makan di rumah Magda. Magda sedikit membujuk, biar makanlah sedikit dulu, nanti kan makan lagi di pesta itu. Namun "bujukan" itu mereka tolak halus dan sopan. Magda tidak "memaksa" karena mengerti kira-kira apa yang ada dalam pikiran temannya ini. Mereka bahkan menjanjikan kalau tidak sangat malam, merekapun tetap akan kembali ke rumah Magda lagi, sebab sudah biasa antara mereka kalau sedang gilanya mau ngobrol, maka barulah menjelang pagi baru pulang.

Mereka menuju ke rumah teman Turki itu. Dari agak kejauhan sudah tampak para tamu sangat banyaknya, tampaknya meriah dan mewah agaknya. Kursi tempat duduk sudah sulit mencari yang agak enak, semua sudah ditempati. Jadi duduklah seadanya saja, asal masih ada kursi kosong, sudahlah, duduki saja. Dan mereka saling berkenalan dengan teman-teman barunya, juga bertemu dengan teman-teman lamanya. Hidangan kecil, makanan nyamian memang ada tetapi tidaklah sangat beragam, kelihatannya sederhana saja. Dan mereka berdua tampak menyisir dan menyusurkan matanya ke banyak arah, melihat dan "mencari" apa kira-kira sudah akan segera makanan diangkat dan dihidangkan. Bayangan mereka pastilah akan sangat mewah dan penuh kelezatan. Tunggu punya tunggu, belum ada tanda-tanda makanan yang penuh membayang di pikirannya akan segera disajikan. Tampaknya tamu lainpun, sama saja kelakuannya, menunggu dan menunggu.

Lama-lama yang keluar adalah roti panggang gaya Trurki, seperti pizza Itali, tetapi dengan gaya Turki, besar, bulat. Di dalam pizza ini sudah lengkap dengan campuran dagingnya, tentu saja kalau tidak kambing adalah sapi, atau ikan dengan segala saladnya. Dan berbagai saus lainnya, lalu kacang-kacangan sebagai pelengkapnya. Lalu minuman, lalu ya hanya itulah. Tidak terbayang yang lainnya, dan hanya ada dalam bayangan pikirannya saja semua kemewahan dan kelazatan itu. Tak ada dalam kenyataan. Hidangan ini tampaknya menjadi "pertanyaan" juga bagi banyak tamu lainnya, hanya tidak diungkapkan, tapi saling merasakan, sebab mereka para tamu itu hanya berkata dengan mata, bukan dengan mulut. Atau dengan bibir tapi tak ada suara, agak memiringkan bibir, tanda tidak puas.

Rasa ketidakpuasan ini ternyata bermuara jadi satu. Kenapa? Setelah mereka pulang, Nita dan Gas masih sempatnya mampir di sebuah restaurant, memesan makanan. Dan hampir tak dapat dipercaya, ada beberapa tamu yang bertemu dalam pesta tadi itu, juga sedang memesan makanan. Dan mereka lagi-lagi saling memainkan mata dan bibirnya, tapi tak ada suaranya. Kelihatannya sudah sama tak perlu bicara lagilah, tokh, dengan mampirnya di restaurant itu sudah cukup banyak kata-kata yang mau diungkapkan.

Betullah sudah. Nita dan Gas tetap mampir ke rumah Magda. Dan mereka dengan jenaka menceritakan kejadian tadi itu. Tapi Magda dengan sangat menyesal, menyatakan bahwa makanan sore tadi itu, sebagian besar sudah pada dibawa beberapa temannya buat oleh-oleh orang di rumah. Ini kebiasaan Magda, selalu membawakan berkah dan oleh-oleh makanan, yang dikemasnya dalam plastik khusus untuk itu. Termasuk biasanya juga buat Nita-Gas buat anak-anaknya di rumah. Tapi Nita dan Gas betul-betul bukan mau balik ke rumah Magda lalu mau makan lagi, bukan, tapi hanya ingin ngobrol dan cerita-cerita malam minggu. Nita dan Gas betul-betul sangat minta maaf kalau menyusahkan dan merepotkan Magda.

Lagi pula malam itu tidak boleh terlalu berpanjang-panjang, sebab keesokan harinya mereka ada acara di gereja, ada missa di kotanya, Almere. Magda dan Nita adalah anggota koor gereja, sebagai penyanyi dan juga pemain orgel. Nita yang dulunya hanya mengenal piano, kini harus memainkan orgel buat gereja. Kerjasama mereka sangat baik, juga pergaulan antara kekeluargaan mereka juga sangat baik. Sebab anggota koor dan musik itu sebagian besar adalah keluarga Magda, iparnya, abangnya, dan keluarga lainnya, kecuali Nita pendatang baru.

Pagi itu missa dan pelajaran agama dimulai pada jam 14.°°. Banyak orang-orang atau jemaat yang datang, biasanya juga berkeluarga, termasuk anak-anak. Tapi ada ruangan buat anak-anak agar jangan terlalu mengganggu ketertiban upacara. Sambil berkhotbah, lalu diselingi nyanyian puja-puji, dan lalu alunan suara orgel yang dimainkan Nita. Ada suara pendeta yang menyebutkan permisalan,- "Saudara-saudara, ada masanya Tuhan datang ke rumah saudara, bisa melalui orang lain, dan Dia mengetok pintu rumah saudara. Tetapi saudara ragu-ragu apakah pintu akan dibukakan? Dan saudara mendua hatinya, siapa sih yang mengetok pintu itu? Jangan-jangan orang jahat, dan saudara sengaja berlambat-lambat sebab masih membutuhkan pikiran keraguan tadi. Apakah akan dibukakan pintu itu? Saudara-saudara, Tuhan datang kepada saudara selalu dengan maksud baik, bukan mau berbuat yang tidak-tidak kepada saudara-saudara. Paling sedikit Dia mau memberitahukan sesuatu yang sangat berguna bagi saudara. Dan begitu saudara sudah yakin, sebaiknya dibukakan saja pintu itu. Tetapi begitu saudara bukakan pintu itu, Tuhan sudah pergi, Dia mungkin sudah terlalu lama menunggu saudara, dan karena saudara juga terlalu berlambat-lambat dan dengan hati mendua. Sayang, sayang sekali, Tuhan datang, Tuhan mengetok pintu, tapi saudara tidak membukakan pintu. Begitu saudara membuka pintu, Tuhan-pun sudah pergi, mungkin sudah agak lama. Mungkin saudara menyesal, kenapa tadi itu saya tidak membukakan pintu. Kalau saya tahu yang menegtok itu adalah suara Tuhan atau orang utusan Tuhan, pastilah saya akan bukakan. Begitu saudara berpikir, tapi itu sudah terlambat saudara. Dan saudara mungkin lama menyesalnya, tapi itulah pelajaran bagi kita semua. Menyesal itu selalu datangnya terlambat dan kemudian", kata Pak pendeta.

Nita dan Magda berdiri berdekatan. Dan mereka saling memandang, lalu bercubitan. Ada yang mereka rasakan, seakan-akan pernah kejadian itu mereka alami, terutama bagi Nita, dan Magda, bukankah dia sudah mengetok pintu rumah Nita agar tadi malam itu makan sajalah di rumahnya. Tapi dengan "bertekad bulat" mereka tetap saja mau makan di rumah pesta teman Turkinya itu. Dan lalu tak ada apapun yang tadinya tergambar pada ruangan pikirannya. Teringat ini kedua teman sejawat itu semakin menguatkan pegangan tangannya bercubitan dan berkikian tertawa merasa sangat lucunya. Terasa "kayaknya nyindir ya", kata mereka setelah upacara selesai. Mereka tidak perduli apakah perumpamaan itu tepat atau hanya mirip-mirip saja, tetapi ada kesamaannya, hanya ada kelainan peristiwa terjadinya, dan hal-ihwalnya, tapi tetap saja ada ke-paralel-annya.-

Paris 27 November 1999,-

Di Antara Banyak Penghalang

Ada dua undang-undang yang bernama satu TAP MPRS nomor 25/1966, dan yang satu lagi berupa INSTRUKSI Mendagri nomor 32/1981, yang melarang, mencegah, lalu mengatur untuk tidak bolehnya paham komunisme dan penganut paham komunis, orang-orang PKI, hidup normal di Indonesia. Yang satu bersifat undang-undang secara pokok dan umum, sedangkan yang satu lagi bersifat petunjuk praktis bagaimana semestinya undang-undang itu dijalankan secara kongkrit.

Dua-duanya saling berkaitan. Yang kedua, yaitu INSTRUKSI Mendagri lebih bersifat mengatur secara orang perorang, yang menjalankan lebih kongkrit, ini tidak boleh dan itu tidak boleh, jangan begini dan jangan begitu. Instruksi ini lebih menjadikan wargenagara kelas dua karena terkena perlakuan diskriminasi, yang akhirnya mengalami kematian perdata. Misalnya seseorang yang dituduh PKI, atau penganut paham komunis tidak boleh dipekerjakan di sesuatu jawatan, kantor, perusahaan yang sifatnya vital. Tidak boleh menjadi pegawai negeri, apalagi memasuki dinas ABRI/TNI. Kalau mau pindah harus melapor dulu, harus menunjukkan surat-keterangan "bersih diri" "bersih lingkungan" dan "litsus". Juga harus ada orang yang menanggungnya, agar gampang kalau "mau diambil, diciduk" dan "gampang diawasi, gampang dikontrol". Dengan demikian yang dianggap "terdakwa" itu selalu saja harus jadi urusan jawatan, kantoran, dan orang-orang lain.

Di sini pemerintah dapat bermain dengan dua-mata-pisau, yang satu memang sebagai hukuman, dan yang kedua, agar orang-orang lainpun tahu bahwa "si terdakwa" tadi selalu saja jadi urusan orang banyak, yang pada akhirnya orang banyak mulai menanamkan rasa benci, rasa antipati, karena selalu membawa rasa takut pada orang lain. Lalu ada rasa selalu ingin manjauhi orang itu, dan pada akhirnya orang itu lama-lama akan terisolasi jauh dari pergaulan. Hal ini dialami orang-orang kiri itu ketika masih jaya-jayanya kekuasaan Orba/Abri/TNI

Bagaimana presiden keempat ini, Gus Dur? Paling banyak yang berpendapat, bahwa Gus Dur sih jauh lebih baik daripada presiden kedua dan ketiga, dan tak ada sama-samanya. Gus Dur sangat memperhatikan sejarah-lama yang gelap itu. Sehingga olehnya dikirim seorang menteri dengan stafnya langsung datang ke Eropa, terutama Holland, agar menjajagi, menemui para orang-orang kiri itu buat mendiskusikan kepulangan mereka.

Tentu saja orang-orang itu menyambut hangat adanya maksud uluran tangan dari pemerintah buat "mengurus kepulangan mereka". Maka bersambutlah reaksi dalam negeri dengan reaksi luarnegeri. Yang sedang di luarnegeri merasa mendapat angin segar buat ada harapan bisa pulang mudik yang selama puluhan tahun "terbuang dan kelayaban" di tanah pengasingan. Tetapi reaksi dalam negeri juga cukup keras dan lantang buat bagaimana cara mencegahnya. Nah, bertemulah dengan satu undang-undang dan satu Instruksi tadi itu. Agar undang-undang itu tidak perlu dicabut, jangan sampai dicabut. Bahaya komunisme tetap ada, tetap laten, dan jaga-jagalah mereka jangan sampai ada kebangkitan baru!

Reaksi dalam negeri dengan luarnegeri ini malah yang paling banyak mempersoalkannya adalah dari dalam negeri sendiri, yang pro dan kontranya justru sama-sama berada dalam negeri, sedangkan persoalannya ada di luar negeri. Maka bicaralah Ketua-ketua Partai, Ketua MPR, Organisasi Massa dan para mantan Jenderal, dan Jenderal yang masih aktif. Ada yang membagi secara global, yang kontra adalah kaum Islam yang keras, dan kanan, dan petinggi AD yang juga kanan bangat. Bahkan ada maksud-maksud tertentu sampai merasa perlu buat membuat pasukan seperti bentuk banser dulu itu, yang bisa "digunakan serta siap-pakai buat meng-apa-apakan orang-orang itu".

Melihat semua gejala ini, orang-orang yang memang sudah sangat peka akan ancaman dan siksaan batin begitu, sudah lama merasakan, himbauan akan kepulangan dulu itu, hanyalah kehendak sebagian orang-orang yang memang berkehendak baik dan jujur. Ya, Gus Dur sih memang baik dan jujur, tetapi bawahannya itu lalu bagaimana? Tokh Gus Dur takkan mungkin terus-terusan mengawasi bawahannya, marah-marah terus kepada bawahannya, secara ketat memerintah ini itu dan lalu langsung mengawasinya. Masih terlalu banyak pekerjaan Gus Dur yang lain.

Lagi pula menteri yang dulu itu diutus Gus Dur, Pak Yusril sendiri malah berpendapat lain dan agaknya bertentangan dengan niat semula yang dikerjakannya di Holland dengan yang belakangan ini, sebab beliau juga termasuk orang yang samasekali tidak setuju undang-undang dan Instruksi itu dicabut! Padahal undang-undang dan Instruksi itulah yang paling pokok menjadi penghalang buat menormalisasi kepulangan orang-orang yang selama ini disebut "kelayaban" itu. Dan tentu saja orang-orang itu merasa mandeg, macet, mampet buat pulang. Sebab pulang dengan rasa ketakutan, ancaman dan kebencian saudara-saudaranya di dalam negeri, tentu saja akan mengurungkan niatnya.

Oleh banyak sebab, yang tadinya sudah pulang dan sudah berada di Indonesia, tahu-tahu saja kembali lagi ke "tanah pengasingannya", tidak jadi atau belum jadi buat menetap terus. Dan secara main angka, dari yang katanya ratusan "kaum kelayaban" di Eropa ini, belum ada 5 persennya yang siap sedia melaksanakan buat pulang menetup terus di tanahair. Mereka tetap masih lihat-lihat dulu, lihat-lihat keadaan kongkritnya bagaimana. Sebab jangan sampai kehidupan semulanya cukup baik-baik, lalu pada akhirnya setelah pulang lalu menyusahkan orang lain, keluarganya, teman dan sahabatnya dan sudah tentu dirinya sendiri. Belum lagi menghadapi teror yang tak tampak, ancaman, pemerasan, dan dari "orang-orang yang berpakaian putih-putih" yang katanya siap jihad itu. Masih begitu banyak penghalang, masih begitu banyak rasa takut, rasa kebencian, yang dulu begitu dalam dan berakar kuat yang ditanamkan Suharto -Orba - Abri/TNI ke dalam tubuh bangsa ini.

Suara-suara jernih dan jelas-jemelas sih tetap saja ada di mana-mana. Seperti suara "kalau paham komunis dilarang, kenapa paham kapitalis tetap saja bergentayangan bebas" yang padahal katanya sama-sama tidak baiknya. Suara-suara dan kehendak baik dan jujur tetap saja ada, dan hidup dan akan tetap hidup. Tetapi orang-orang yang menjadi persoalan pokok itupun juga mau hidup, hidup yang terjamin. Jangan sampai mereka hidup secara normal di "tanah pengasingan" lalu begitu pulang sudah ada yang menampung: penjara-baru, penyiksaan-baru dan ancaman-baru. Karenanya mereka sejak jauh-jauh hari sudah seharusnya mempunyai perhitungan cermat, bukan dengan perasaan emosi sentimental, tetapi dengan penalaran jernih dan menjangkau jauh.

Paris, 7 April 2000,-

Rakyat dilarang memasang pelita, Kaisar boleh membakar rumah rakyat

Keluarga Cendana sudah membentuk apa yang dinamakan TKC,- Team Konsultan Cendana,diketuai Yohanes Yacob. Seruan pertama Tim ini menghimbau kepada instansi resmi, Menkeh dan Pangab, agar massa yang luas tidak terus-terusan menghujat dan mencerca mantan Presiden Suharto. Maksudnya tentu saja bagaimanalah agar kedua instansi resmi itu sedapat mungkin menahan atau mencegah agar massa yang luas jangan lagi menghujat dan mencerca Suharto. Menteri Muladi sudah menjawabnya,dan jawaban itu sangat rasional-,pemerintah tidak bisa melarang secara undang-undang adanya penghujatan,pencercaan dan kebencian,tetapi pemerintah bisa melindunginya sebagai warganegara biasa,sebagaimana orang-orang lainnya,melindunginya kalau ada yang mau berbuat secara kriminal.

Jauh sebelum itu Suharto sudah tampil di televisi TPI kepunyaan anaknya sendiri,Tutut. Di depan tivi dia menjelaskan bahwa dirinya tak punya sesenpen tabungan di bank luarnegeri,boleh periksa katanya. Sudah tentu adalah keterlaluan bodohnya kalaudi bank Swiss atau di mana saja ada nama Suharto, apalagi kalau dibumbui dengan kata Suharto, Presiden RI yang tinggal di Jalan Cendana,Jakarta Pusat. Siapapun tidak akan menemui nama itu. Hal semua orang tahu. Lalu tak lama kemudian keluarlah himbauan dari Tim TKC itu. Berdatangan reaksi dari mana-mana. Ada yang membenarkan himbauan itu setelah melihat tayangan tivi yang bertampang sangat memelas itu-,katanya. Tetapi kebanyakan orang tidak menyetujui himbauan itu.

Baru saja satu tahun reformasi berjalan, yang arah dan tujuan secara mantapnyapun belum ditegakkan sampai kini, belum ada keputusan mau apa, dengan cara bagaimana. Tetapi mantan Presiden ini sudah layu, lesu, memelas, padahal baru saja orang-orang pakai kata-kata,pakai mulut, pakai bahasa. Sedangkan dia berkuasa selama 32 tahun,pakai senjata,pakai penjara, pakai undang-undang, pakai tentara, buat menyiksa dan memenjara serta menculik bahkan membunuhi begitu banyak Rakyat-, lha kok kini dengan memelas dan minta dengan himbauan agar orang-orang jangan lagi menghujat dan mencercanya.

Sebenarnya dari segi banyaknya korban yang dibunuh dan dipenjara,apa yang diributkan dan diramaikan orang di dunia ini bahwa Polpot itu membuat The Killing Field, Padang Pembantaian yang bukan main dahsyatnya,maka bila dibandingkan dengan Suharto ini, Pol Pot masih jauh kalah! The Killing Field yang paling hebat, justru di Indonesia. Angka korban yang menurut Jenderal Sarwo Edhie sebanyak hampir tiga juta itu, sebenarnya sampai dia lengser tetap saja terus diadakan pembantaian itu. Sejak dia berkuasa lewat Supersemarnya itu sampai dia lengser, sampai terakhir Peristiwa Mahasiswa Trisakti, korban berjatuhan, apakah bukan karena dia? Sumitro bapaknya Prabowo bilang, Prabowo sebetulnya bukan hanya disuruh menculik tetapi lebih dari itu-, katanya. Lalu kata Amien Rais, dia tahu dari temannya yang tadinya sama-sama mau mendirikan Partai, tapi baru belakangan diketahuinya, bahwa kalau sekiranya jadi Rapat Akbar di Monas dulu itu, maka dampaknya akan lebih hebat dari Peristiwa Tien An Men Beijing.

Orang Nomor Satu RI akan menghabiskan Amien dan banyak peserta rapat itu. Apa semua ini?? Bukankah The Killing Field tahap-tahap selanjutnya? Sebab begitu banyak dia menciptakan The Killing Field-, dan kini betapa banyak lobang-lobang mayat secara massal di Aceh yang kata orang Nomor Satu ABRI mungkin saja itu mayat-mayat korban PKI 30 S dulu itu! Asal ngomong saja!

Kaisar yang satu ini cara membunuh dan memenjarakan serta menyiksa orang menggunakan cara khusus dan tersendiri. Dia memenjarakan orang dengan penjara yang tidak beratap dan tidak berdinding, luas se tanah-air Indonesia. Sebab dia memenjarakan dan menghukum orang tidak hanya dengan siksaan fisik saja, tapi juga secara batin dan kejiwaan. Dia tidak hanya menghukum dan memenjarakan orang per orang, tetapi dia memenjarakan dan menghukum orang secara generasi! Dengan sebutan "tak bersih lingkungan" "tak bersih diri" atau "keturunan PKI", semua kantor dan jawatan pemerintah menjadi tertutup. Orang-orang ini jadi mati matapencahariannya. Ia tidak bisa menemui keluarga, tidak bisa pulang dari luar negeri buat menjenguk keluarga dan kampung halaman, dan tidak bisa apa-apa lagi. Dan kini, sang kaisar minta dengan rasa memelas, janganlah lagi menghujat dan mencercanya. Dia yang selama berkuasa terus-terusan menyiksa, memenjara, membodohi Rakyat. Bahkan sampai dia sudah lengser pun kita semua masih saja merasakan dampak perbuatannya selama ini.

Krismon sekarang ini, apakah bisa lepas dari perbuatan dia selama berkuasa 32 tahun itu? Dan sampai kini kita gontok-gontokan antara kita,apakah bukannya karena perbuatan dia juga selama ini? Terlalu banyak dia meninggalkan PR yang berjibun dan begitu kompleksnya, begitu rumit, begitu mengerikan akibatnya. Semua ini adalah imbas dampak perbuatannya. Lha, kini kok minta dibelaskasihani, janganlah menghujat dan mencerca saya lagi, katanya.

Inilah yang kata peribahasa lama, Rakyat dilarang memasang pelita, Kaisar boleh membakar rumah Rakyat. Padahal peribahasa ini muncul di jaman baheula, zaman feodal dahulu kala. Tokh zaman modern, zaman antariksa, internet. Dan kini, tipikal orang semacam itu diwakili Sang Kaisar Cendana!

Paris, 23 September 1998

Sastrawan dan Sastra yang Terpinggir

Sudah menjadi kenyataan selama kekuasaan Suharto - Orba, lebih 30 tahun, ada suatu bagian dalam kehidupan bangsa ini yang terasa hilang. Yang hilang atau dengan istilah lebih moderatnya, terpinggir, yalah tidak munculnya atau dilarang munculnya sastrawan dan sastra yang dianggap berasal dari Lekra. Semua buku atau tulisan yang berbentuk buku dan siaran, dilarang oleh penguasa Suharto - Orba. Siapa saja dan apa saja hasil sastra yang dilahirkan pada zaman yang dianggap Orla dan yang dianggap Lekra, dilarang beredar, dilarang terbit. Kalaupun terbit dengan "gelap-gelapan", maka sudah dipersiapkan seperangkat undang-undang dan peraturannya buat melarangnya. Kejaksaan Agung akan memanggil sumbernya. Hal ini berkali-kali pernah dialami penerbitan Hasta Mitra karena berani-beraninya menerbitkan karya Pramoedyua Ananta Toer. Tapi sebagaimana Pram, sebagai pengarang dan salah seorang pengurus penerbitan itu tidak pernah menggubris larangan. "Tutup buku" dengan semua aparat penguasa demikian Pram.

Sebenarnya Pram juga banyak menemui pemboikotan, dari sana sini, dari berbagai pihak. Dia pernah tidak diakui sebagai pengarang Indonesia, paling-paling hanya sebagai pengarang Lekra saja. Tetapi Pram terlalu besar, terlalu hebat, terlalu luarbiasa untuk tidak diakui dan untuk dipinggirkan. Tidak diakui dan dilarang terbit di negaranya sendiri,tetapi di negara lain, luarnegeri sudah siap menampung, menerbitkan dan menterjemahkannya. Oleh kalangan kritikus yang berbobot paus dan yang sedang-sedang saja, pernah Pram mendapati pengalaman seakan-akan tidak diperdulikan, tidak dibicarakan, tidak masuk catatan, tidak masuk daftar sebagai pengarang Indonesia,- dia hanyalah pengarang Lekra yang terlarang itu.

Oleh terlalu besarnya, dan terlalu hebatnya Pram, yang karyanya melebihi sastrawan manapun, yang sudah diterjemahkan dalam 28 bahasa asing, dan juga sudah berkali-kali termasuk calon, nominasi penerima Hadiah Nobel Sastra Dunia, maka "mau tak mau, dan terpaksa" kalangan dalam negeripun juga lalu turut membicarakan Pram sebagai sastrawan Indonesia! Dan Pram dengan segala perjuangan yang pahit, tapi ulet, selalu menang! Lalu sampai A. TEEUW-pun turut mau juga membicarakannya. Dulu sebelum adanya kemelut peristiwa-gelap bangsa ini, Pram termasuk sastrawan Indonesia. Tetapi begitu terjadi peristiwa 1965, lalu keberadaan Pram mau dihapuskan sejarah, sejarah mereka! Nyatanya tidak bisa. Pram dengan kehebatan, keluarbiasaan karyanya, adalah orang nomor satu sastrawan Indonesia yang sudah terdaftar di kalangan pemberi Hadiah Nobel Sastra Dunia. Pram terlalu besar buat diremehkan, buat tidak dibicarakan, buat dipinggirkan!

Tetapi sebenarnya masih ada "pram-pram kecil yang berkeliaran dan kelayaban" di tanah rantau atau di dalam negerinya sendiri. Hanya akibat kerusakan dan perusakan dan daya rusak serta daya keterbelakangan rezim Suhartro - Orba, sangat sulit buat mereka bisa memasuki gelanggang dan arena. Masih banyak karya yang terpendam di laci, di lemari dan masih banyak naskah tulisan, yang orang tidak mau, tidak berani menerbitkannya. Banyak "matapencaharian" penulis, sasterawan di dalam negeri yang mengerjakan terjemahan atau tulisan aslinya. Kalaupun ada yang mau dan berani menerbitkannya, ada syarat yang harus dipenuhi penulis atau penterjemahnya, nama harus diubah, harus nama samaran! Kenapa? Penerbit dan toko-buku tidak mau menanggung risiko kerugian material apalagi kerugian moral. Karena takut ketahuan dan lalu dilarang bahkan bisa ditangkap penguasa. Kalau sudah begini artinya tertutuplah semua lubang dan celah-celah kehidupan.

Ada lagi istilah ngenyek buat hasil sastra yang berbau progresif dan maju, yang disebut juga kiri. Termasuk seorang penyair kenamaan-pun pernah terkena ejekan ini, yaitu WS. Rendra. Ada yang mengatakan, kalau hanya begitu saja sih, maka hasil sastra begituan bisa disebut "sastra poster" "sastra pamphlet", "sastra pesanan" dan bermacam sebutan tidak enak demi menolak sastra yang menyatakan, kebenaran tetapi dengan cara-cara baru.

Kalangan tertentu tetap menyebutkan pengarang Lekra atau sastrawan Lekra buat sebutan kepada Agam Wispi, HR Bandaharo, Joebar Ajoeb, dan yang lainnya. Tidak disebutkan bahwa mereka juga adalah pengarang dan sastrawan Indonesia! Kenapa tidak menyebutkan Sitor Situmorang sebagai pengarang dan sastrawan LKN? Kenapa tidak menyebutkan Taufik Ismail sebagai pengarang Manikebu, atau Asrul Sani sebagai pengarang Lesbumi? Mereka disebutkan sebagai pengarang dan sastrawan Indonesia, bukan dari "kandang mereka yang dikotakkan". Sedangkan orang-orang Lekra dikandangkan, disempitkan, dipinggirkan.

Semua mereka yang dituliskan di atas adalah sastrawan Indonesia, bukan sastrawan Lekra, LKN maupun Manikebu ataupun Lesbumi. Mereka mengangkat harkat bangsa dan negara, tidak terdapat pandangan yang begitu sempit dalam karangan mereka. Apa yang selalu diangkat dalam karya Pram? Tidak secuilpun yang "menjelekkan dan menyudutkan kekuasaan yang sekarang ini". Yang ditulisnya adalah sejarah perjalanan bangsa ini, bahkan sejarah budaya dan adat istiadat jauh di belakang kita. Bahwa akhirnya penguasa merasakan itu adalah sindiran, permisalan, adalah soal lain. Kata peribahasa kampung kami "siapa yang terkena dialah yang merasa pedas dan sakit". Dan tulisan Pram adalah secara umum, bukannya dicari-cari, dan memang ada sejarahnya. Lihat misalnya tetralogi tulisan selama di Pulau Buru itu yang memang ada bahan sejarahnya, apalagi Arus Balik dan Arok Dedes.

Akibat semua kekangan, semua dan selama kekuasaan Suharto - Orba, daya rusak dan keterbelakangan perjalanan bangsa ini benar-benar mengalami setback yang luarbiasa. Yang paling dirasakan oleh sastrawan yang dipinggirkan ini, yang masih kelayaban di tanah pengasingan, maupun yang ada dalam negeri, betapa susahnya, betapa sulitnya memasuki "dunia-resmi" dan yang bisa dan biasa tercatat dihadapan masyarakat umum, di depan audience. Karya dan tulisan mereka sangat sulit diorbitkan, sangat sakit buat orang mengumumkannya. Karena berbagai halangan dan pikiran yang masih membelenggu akibat perjalanan sejarah-gelap baru-baru ini. Dan "nasib" sastrawan dan sastra yang terpinggirkan itu, buat memunculkan diri saja bukan main harus menerobos begitu banyak penghalang. Semoga saja dengan keuletan yang juga harus luarbiasa, akan datang kembali "anak yang pernah hilang" selama lebih 30 tahun dulu itu.

Paris 18 Mei 2000

Berhati-hatilah

Jangan dilihat ketika dia jatuh
tapi rasakan dan saksikan cakar-cakar
merayapi urat-urat kehidupan
yang tetap saja masih bersikukuh.
Memang dia pandai dan lihay
jatuhnya karena ferormasi
tapi diam-diam dia turut - ikut
menyelinap di barisan reformasi
namun demikian yang namanya burung gagak
di mana-mana tetap hitam
di mana-mana tetap makan bangkai.
Kini jadi begitu banyak yang namanya reformasi
ada yang mengandung tebu
ada yang mengandung tuba
ada yang bermadu
ada yang bersida
lalu apa itu namanya reformasi
kalau tetap saja anti-Cina
kalau tetap saja anti-Kristen
kalau tetap saja anti-marxis
yang padahal semua itu kesatuan tubuh bangsa
yang padahal cabang dan ranting serta daun-daun ilmu.
Lepaskan tahanan demi kebaikan reformasi
tapi yang PRD dan yang "gula 30 sekilo" tunggu dulu
tunggu burung gagak selesai merengguti daging
dari tulang-tulang mayat
ya, reformasi, kini kau jadi begitu banyak
aliran dan tapsiran
begitu banyak gagak-gagak berlindung jadi burung gereja
beterbangan manis,lucu dan menyenangkan
padahal kau tidak lucu,sangat menyebalkan,membencikan
masih juga tetap ingin,masih ingin,masih mau
mau terus menunggangi kami
bagaikan bandot kebelet-kesemsem,terus masih mau
menghisap,menipu,menghina,dan melecehkan kami
padahal katanya kau sudah jatuh
ternyata cakar-cakarmu tetap saja masih kukuh,-
11 Juni 1998

Bali I

Tetap saja yang terlihat
yang selalu dulu-dulu
bagaikan plat gramofone
berputar-putar jalan di tempat.
Krismon dan krisnom
resto penuh, pasar padat, hotel perang harga
orang-orang menjilati es rim
pesta babi-guling dan bule-bule
bergelamparan berjemur badan
dengan susu menggunung menantang.
Bule-bule simpang-siur saling senyum
jual-beli barang haram
ke luar masuk warung tattuage
jeprat-jepret ketika ritual agama
tiada perduli adat setempat
mahapenting : kepuasan mata, hati, dan perut
melayu pribumi tak lagi saling hormat
berburu duit memang tak perlu ada-beradat.
Tertegun diri : inikah Bali
yang katanya surgawi di bumi?
Seakan Bali bukan lagi milik pribumi
bule-bule betapa sudah
mengangkangi dan melecehkan budaya luhur
di sarang-sarang foya elite
rupiah benar-benar anjlok dan luntur
sedangkan dollar menjadi raja alat-ukur
tampaknya adat dan budaya serta seni
seakan terpatung tegak demi dollar.
Tampaknya Bali benar-benar campur berbaur
entah kepunyaan siapa
antara bule dan pribumi
kebutuhan perdagangan
tak perlu apa dan bagaimana
terpenting dan pokok : fulus tetap raja utama.-
Nusa Dua 30 Juli 99,-

Bali II

Ombak mengalun
dan angin silir-silir menjamah
pucuk puncak kelapa
lalu berderai daun-daun
bagaikan gerak memetik senar kecapi,-
Dari jauh terdengar merdunyi suling
masih berdaya getar : gendang dan gending
tiba-tiba saja cacat di mata tua ini
terdengar ribut-ribut antara bule
karena berebut cewek
tak cocok harga lalu menyalahkan pribumi.
Semuanya yang dulu-dulu
memang masih ada
tapi hanya semata tinggal
remah-remah sisa belaka!

Kuta 31 Juli 1999,-

Bali III

Ada "teman-baruku" betapa berbaik hati
bertanya ini itu, menjelaskan sana-sini
bermanis muka ingin menanam jasa
jauh-jauh hari sudah tertanam di hati ini
bertingkah ramah keterlaluan
mungkin mengandung benih kepalsuan.
Dan benarlah, betapa hinanya
"teman-baruku" itu ternyata memang intel
sudah dibukukan, dicetak, disebarkan
masih juga ngintil, membuntut, mengintip
ikut menjadi ekor
yah, orang cari makan
memang macam-macam
ada yang melapor, menjual teman
mungkin demi hidup di tengah krisis begini
tapi juga memang ada yang berwatak:
senang dan bahagia bila orang lain terkena
siksa, aniaya dan mati mengenaskan!

Ubud 1 Agustus 1999,-

Bali IV

Tuban - Kuta - Nusa Dua
Sanur - Tanah Lot - Karangasem - Klungkung
sungguh sulit mengenang yang dulu pernah ada
Jimbaran tempat pertemuan konglomerat
berbagi wilayah, berebut untung.
Dulu pernah berseri hidup bersemi
kini berangsur hilang
bagai pelita kehabisan minyak
menanti padam!

Jimbaran 1 Agustus 1999,-

Bali V

Wayan dan Made
Putu dan Nyoman
memang sedang banyak uang.
Dari tukangsapu jalan
pengecat rumah bertingkat
meningkat jadi satpam
dan pegawai staf hotel berbintang.
Ada yang ada
tapi juga ada yang hilang
ke Bali-annya dan ke Hindu-annya
menipis aus
masih orang Balikah mereka?
Mungkin sudah milik orang Australia - Jepang dan Korea
atau Amerika dan Eropa.
Keluarganya satu-satu
diboyong pria Selandia Baru
ada yang dicerai pria Prancis
pulang-pulang lagi-lagi menjadi babu.

Denpasar 1 Agustus 1999,-

Bali VI

Globalisasi - mekanisasi dan reformasi?
Informasi dan korupsi
lebih berbau terasi!
Terasi sih karuan, nagih dan sedap
dengan berbagai lalap
segar - goncang lidah dan betapa nikmat
tapi yang ini
warisan sang pendeta ratu keprabon lengser
sampai di Bali ini, hingga di Bali ini
mencakar-cakar, menyobek sobek
mengoyak-ngoyak kehidupan rakyat.

Kuta 1 Agustus 1999,-

Bali VII

Hotel di Bali tak boleh lebih tinggi
dari ujung pucuk puncak kelapa
ada peraturannya dan ditaati
tapi yang namanya pejabat
dari menteri sampai gubernur turun ke bupati
dan lebih rendah dari lurah
Tuhanpun selalu mereka hujat
karena belum kesampaian punya istana
karena belum kesampaian punya rumah gedung
lebih dari tiga!

Nusa Dua 1 Agustus 1999,-

Bali VIII

Ketipak ketipung bertalu-talu
gendang dan gending saling bersanding
hinggap kepodang di pucuk bambu
berbagai kembang tak merasa bersaing.
Motor dan mobil merayapi jalanan
orang-orang asing merajai keuangan
tahu-tahu saja nanti tahun duaribu
banyak yang tak tahu
mana Nusantara mana Bali
Bali masih dikenang
Nusantara bertambah hilang.
Nusa Dua 2 Agustus 1999

Bali IX

Salak - kopi dan ngaben
apakah benar asli Bali?
masakbodo tak perduli palsu maupun asli
detik itu ada di Legian
ada di Badung dan Ubud
periksa dan periksa hanyalah urusan pejabat
percaya dan percaya-pun bisa dibeli
karena perut - hati dan mata perlu makan.-
Tanah Lot 2 Agustus 1999

Bali X

Betapa kayanya Nusantara
limaratus sukubangsa limaratus dialek bahasa
tak tersaingi dunia walaupun Cina, India
apalagi hanya Amerika.
Tak terdengar bunyi bedug dan azan di Bali
yang di Jawa - Sumatra setiap beberapa jam menggema suara
tapi itulah yang juga kekayaan
Budha dan Hindu
memulau bersatu.
Tambang - hutan dan lautan
minyak - emas dan intan
Nusantara paling tersohor mashur
tapi juga korupsi dan kolusi
sungguh tak tersaingi
pembunuhan - balasdendam - pembakaran
huru-hara dan perkara yang tak pernah tuntas
murahnya nyawa, pelanggaran dan pelecehan hak azasi manusia
Nusantara paling terkenal mengental.
Tak ada yang tak mungkin
bisa berputar bisa diputar
berbolak-balik, selatan jadi utara
timur jadi barat
tergantung kuasa sang Kaisar
yang ya, sekejap berubah jadi tidak
yang tidak, sedetik berubah jadi ya
tergantung siapa yang kuasa.
Benoa 2 Agustus 1999

Bali XI

Tekukur - perkutut bernyanyi manggut-manggut
beterbangan antara pucuk bougenvil
membuka hari menulisi pagi
orang-orang siap ke kantor
pejabat - pegawai - eksekutif siap
dengan bagan-bagan, rencana-rencana korupsi.
Pedagang-besar, pedagang-kecil, kakilima, asongan
siap dengan rencana paksaan dan bujukan
penjaja seks dengan rencana memulas senyuman
agar harta kecil sedikit membesar
siapa tahu mampu membuka kredit rumah
siapa tahu diboyong cowok Eropa.
Mentari mulai meninggi
berapa dapat hari ini?
Resto dan hotel penuh pelanggan
sayang sang boss bukan bangsa sendiri
orang Bali selalu makan gaji
pada bangsa pendatang
orang Timor Timur selalu makan gaji dan kena aniaya
preman baju-hijau
pendatang dari Jawa
yang satu wangsa Eropa
yang satu orang dewek.

Sanur 4 Agustus 1999,-

Bali XII

Di Bali aku tidak mendapat tempat
juga tidak tercatat
tapi aku ada dan bersaksi
lalu kenapa selalu memberi?
Mungkin karena ada dan punya.
Barangkali ini benar-benar gila
tak jemu-jemunya
tak kapok-kapoknya
terus ikut - mengamat, membuntut
siapa bisa menduga
kali ini betul-betul gila
dikirimnya intel perempuan!
Dikira aku akan terpental-pental
luruh jatuh dan hina
akh, Katy,kamu pasti bukan orang Bali
begitulah impian rekayasa
betapa menggoda, asik, cantik menarik
sayang intel!

Sanur 5 Agustus 1999,-

Bali XIII

Tupai di Sanur ben ar-benar jinak
makan dari tangan manusia
sudah itu kembali ke pokok-pokok
pepohonan lebat-rimbun berlompatan ria.
Merpati kota di Eropa
Paris - Amsterdam dan Roma
hanya penerima umpan - terlalu manja
tapi ada jalinan keduanya.
Kalau diperlakukan adil - tidak diancam
dengan cinta yang jujur dan sedikit mendalam
jangankan tupai dan merpati
macan dan singa-pun
tunduk oleh sekerat rotan
kecil lurus tipis.
Tentu saja rakyat Timor Timur
penduduk Aceh puluhan tahun berlawan menggeram
Irian Jaya memeram gemas
di mana-manapun menanti
dan menunggu pemicu
lepas bingkas
lalu meletus
kebakaran besar memang akan mengganas.

Sanur 7 Agustus 1999,-

Bali XIV

Kala darah dicapklan di kain-putih
itulah tanda setia dalam sumpah
penganut dan panutan senyawa sudah
maka sang ketua punya kekuasaan berlimpah.
Sekali saja lancung keujian
akan lahir tumbuh benih keraguan
bila bersemi saling berseberangan
maka habis-kikis sejarah bulan madu.
Bila sang Ketua diam-diam bersekutu
dengan raja jin-setan yang selalu senyam-senyum
bila salah, walaupun hanya satu keliru
bisa-bisa dianggap ribu seribu.
Rakyat bila percaya akan sangat kuat hebat
takkan tertandingi walaupun sekeras karang granit
tapi bila kau berkhianat
habis kikis walaupun sudah tercatat,-

Sanur 9 Agustus 1999,-

Bali XV

Jutaan jiwa amblas ditebas
tanpa pengadilan tanpa proses
puluhan ribu dibui-kerangkeng
tanpa tahu apa dosanya.
Sudah itu keturunan anak-cucunya
menanggung dosa generasi
memikul dosa turunan
lalu tahu-tahu saja kini
santer terdengar suara agar
sang penjagal diampuni
berikan sajalah harta rampokan entah seberapa
Ya Tuhan, inilah kami demi agama
mengamalkan yang saleh dan yang salah.
Mungkin inilah pertanda zaman
nyawa rakyat tak seharga benang
nyawa penjagal lebih besar dari Gunung Agung
mungkin inilah pertanda langit
mungkin inilah pertanda bumi dan laut
katup dan klep revolusi tak mungkin ditahan
besok lusa bersama kita rasakan,-

Sanur 9 Agustus 1999,-

Bali XVI

Ketika kau kukirimi surat
lalu dua jilid permata darah dan jiwa
kau jawab dengan kertas panjang segi empat
bagaikan isi telegram - singkat padat.
"Siapa kamu sebenarnya
samasekali tak kukenal
apakah kamu yang dulu kulihat
sebagai tukangsapu di resto Berlin"?
Malukah daku dan apakah terasa hina?
berbangga-bangga mau bersapa
ternyata serambutpun orang tak kenal
kau tak kenal aku
tapi aku kenal betul kamu
angkuhmu betul-betul tebal mengental
hitam seperti aspal!

Sanur 10 Agustus 1999,-

Bali XVII

Jumat dulu ke Bali aku datang
Jumat ini ke Paris aku pulang
yang satu dari negeri asing
yang lain ke negeri sendiri.
Presiden kedua, Presiden ketiga
mungkin yang keempat, bagi kami tak jauh berbeda
sungguh bijak mendasari yang pokok dan yang penting
karya abadinya : penjara di mana-mana
dari negeri sendiri hingga ke negeri orang.
Sampai ke Presiden keempat
yang dulu tergila-gila mau pulang
bukan lagi pulang dan datang
kereta terakhir tak pula sempat
karena terlalu renta
lalu langsung ke akhirat!

Sanur 11 Agustus 1999,-

Bali XVIII

Presiden Satu duapuluh tahun
Presiden Dua tigapuluh dua tahun
Presiden Tiga, semoga saja
jangan sampai seumur jagung.
Presiden Empat, orang-orang harap-harap cemas
semakin lama di singgasana
semakin banyak korban berjatuhan
Presiden itu raja seperti turunan Majapahit - Mataram
atau Ken Arok yang disumpahi Mpu Gandring.
Mungkin korban mendatang sedang berbaris
menunggu tongkat komando sampai diangkat
pertanda segera masuk liang lahat
O Presiden, O Raja, bilakah kami rakyat Indonesia ini
terlepas bebas dari penderitaan
yang sudah berabad-abad?

Denpasar 11 Agustus 1999,-

Bali XIX

Enaknya mak jadi jenderal sekarang
tak pernah perang tapi selalu menang
dulu masa-masa enam-lima enam-enam
ratusan ribu rakyat habisludas
membantai penduduk tanpa senjata
menjagal rakyat tanpa perlawanan
sungguh hebat hingga terangkat jadi jenderal
tapi di Timor Timur
yang berlawan, kendatipun senjatanya pada usang
puluhan ribu ibu-ibu jadi janda di Jawa
ternyata kalianpun bisa juga pada modar
ternyata kalian menang dan bergaya
hanya kepada rakyat yang tanpa senjata!

Denpasar 11 Agustus 1999,-

Bali XX

Katy, benar kan bahwa kamu pasti bukan orang Bali
kureguk kucup, kulepaskan segala berahi
telentang-mengangkang, kamu minta agar aku
buka semua segala tambo siapa aku
lalu kamu jadi pegawai-tetap informan
Katy, sini kubilang
kamu akan lebih pas jadi pacarku
daripada jadi intel
sampai di bandara Ngurah Rai
lalu aku dicekal
Itu kan maunya kamu!

Sanur 11 Agustus 1999,-

Bali XXI

Orang-orang, pejabat-pejabat
koran-koran menulis setiap hari
tentang Bank Bali, lagi-lagi Bank Bali
sedang orang-orang Bali di Bali sendiri
tak tahu dan tak mengerti
mengapa mereka bicara tentang Bank Bali
yang orang Bali sendiri tidak ambil perduli.
Perkara korupsi?
Mungkin obat mujarab
hanyalah revolusi
juga pesemaian subur demokrasi
takkan bersemi tanpa revolusi!

Ngurah Rai 13 Agustus 1999,-

Puisi Tentang Kaya

Orang miskin kaya akan harapan
Orang kaya sungguh menggunung
harta benda rumah dan tanah
Timor Timur kaya akan pembunuhan.
Suharto - Habibi kaya akan korupsi
tapi sangat miskin akan demokrasi
RI - Orba - TNI kaya akan pembunuhan
tapi sangat miskin akan keadilan.
Rakyat Indonesia kaya akan penderitaan
kaum atasan, elite, kaya akan penipuan
pemimpin kaya akan tipu-daya
Aceh - Timor Timur kaya akan korban pembunuhan.
Yau, saudaraku, kita sungguh kaya
yang satu dengan harapan-harapan
doa-doa dan minta-minta
yang lain dengan tipu-daya dengan korupsi
pembunuhan, penyiksaan, setiap hari, setiap hari.
Inilah kekayaan kita
yang satu dengan harapan-harapan, angan-angan, cita-cita
yang lain setiap hari bersiasat buat menipu kita,-

Paris 13 September 1999,-