Baca EPUB: Derap Revolusi

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
SOBRON AIDIT
Derap Revolusi
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Edisi ini hadir dengan empat cerita pendek dari koleksi Derap Revolusi. Karya Sobron Aidit sebelumnya telah hadir pada edisi Kacabenggala, diantaranya: Novelette Abu, novelette Kisah Pak Kapten, dan cerita pendek Basimah.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Rakjat dan Revolusi

DIPINGGIRAN SUNGAI JANG MENGALIR DERAS ber-batu², berbondongan rakjat mengelilingi sesuatu. Berkerumun ramat dan ribut. Penduduk² setempat berdatangan terus-menerus. Beberapa orang berpakaian hitam² dengan ikat kepala merah memegang golok berkilat tadjam. Disampingnja sesosok tubuh diikat terik. Duatiga meter dari situ diikat pula seorang istri dan beberapa anak jang berumur 7 tahun, sembilan tahun dan seorang wanita ketjil jang kira² berumur 3 tahun. Mereka tak berdaja. Kaki tangannja diikat-mati dan ditambatkan pada sebuah pohon jang sudah mendjadi tunggulbesar. Penduduk² masih terus berdatangan.

Seorang jang rupa²nja memegang golok pandjang dengan muka merahnja berkata :

„Ajo sembelih sadja. Habiskan. Mata² tak ada ampunan. Sudah berapa gerilja kita dichianatinja, mati disembelih nica. Diam² rupanja dia nefis. Babi betul !”,

„Djangan tangguhkan lagi. Siapa jang tak berani menjembelihnja, saja jang potong. Saja biasa potong kerbau”, kata seorang muda.

„Djangan lekas² dipotong. Siksa dulu, seperti nica menjika kita. Belanda menjiksa kita bukan main kedjamnja. Kita bakar dia sedikit²”.

„Akur bangat. Adikku jang bungsu dia jang tangkap dan dia jang bunuh. Karena itu menurut keadilan aku pula jang berhak menjembelihnja”, kata seorang jang gagah tinggi.

Lalu orang itu mendekat ketubuh jang tengah diikat itu. Menguakkan orang² jang di-samping²nja. Orang berpinggiran memberi djalan. Akan tetapi orang jang terdekat mentjegahnja. Dengan goloknja jang tadjam berkilat itu dia memperingatkan :

„Djangan, bung. Dia ini aku jang tangkap. Pagi² tadi dia masuk menerobos dikebun singkong dibelakang rumahku. Aku terpaksa sedikit main silat. Untung dia tak bawa sendjata apa². Dia kira dengan berpakaian preman dan tak bawa² apa itu njawanja akan lebih selamat. Dia kira orang tak tahu, diam² dia sudah masuk nica. Dia kira aku tidak tahu, abangku dibunuhnja dengan belatinja dipos 9. Sekarang aku jang mesti habiskan njawanja. Bung lihat sadja !”

„Djangan begitu, bung, adikku dipotongi dulu daun kupingnja oleh kawan²nja baru dibunuh dengan bajonet. Aku harus diberi bagian. Atau begini dulu. Lepaskan ikatannja, djaga rapat di-pinggir². Lantas biarkan dia bergelut dengan aku, sama² tidak pakai sendjata. Pakai sendjata juga boleh. Biarkan, bung, lepaskan ikatannja. Aku ingin berkelahi dengan dia. Aku ingin mengadu tenaga. Biar dia rasain”.

„Bung gila, aku jang tangkap, enak² kau jang mau melepaskan dendam. Dia masih hutang njawa sama keluargaku !”

Sudah itu beberapa orang mendekat lagi. Sekarang berdatang orang² baru. Mereka melihat dekat. Mendjengukkan kepalanja diantara orang² ramai. Seorang mengenalnja :

„Nah ini dia jang di-tjari². Si Talip, mula² masuk TRI, lalu diam² melarikan diri sesudah melaporkan kekuatan tentara kita. Di Pos 9 dia ini radjanja. Karim jang kontet dulu kawan kita penghubung markas dulu dia jang tangkap. Dia sendiri jang habisin dengan pisaunja. Huh, baru sekarang, ja, ketangkap”.

„Kok bisa ketangkap, bung, gimana sih”,

„Pagi² sudah mendjenguk anakbininja lewat kebonsingkong. Aku jang tankap, ketahuan, subuh². Sekalian kita bawa anakbininja. Kita habisin sekalian, djangan² anak²nja nanti ikut² belanda. Itu dia anakbininja”, kata orang memegang golok itu sambil mengundjukkan goloknja kearah sosok tubuh jang terikat terik. Orang menoleh. Rintihan sakit kedengaran pelan² dan ter-iba².

Rasain luh. Dilalap. Laki luh duluan baru anak², baru bini-nja,” kata satu suara.

„Jang penting dianja dulu. Sekarang sadjalah. Tolong gotong, kakinja”.

Tubuh itu diangkat ketepi sungai jang mengalir deras. Muka Talip si-mata² dan militer nica itu tampak bendjol² dan darah mengalir pelan². Rupanja sebelum itu sudah dipukuli Rakjat. Tubuhnja seperti buntalan kain² buruk. Berdebap dia djatuh terempas ditepi kali.

„Nah sekarang sampailah adjalmu, babi belanda ! Beberapa menit lagi kau akan dipisahkan dari dunia ini. Kepala dan badanmu harus ditjeraikan”, kata orang jang memegang golok itu.

Beberapa anak² ketjil dan wanita² agak mendjerit melihat golok berkilau itu. Mereka dengan bimbang undur kebelakang. Mau melihat tapi ngeri. Tidak melihat, tapi rasanja ingin menjaksikan.

„Sampai semua orang sudah melihatnja, baru dia kita tjeraikan kepala dan badannja. Ajo, hai orang² lihat dulu nih Talip jang membakar gubuk markas darurat gerilja, ini dia. Barangkali ada saudara² kalian jang terpotong mati, ini dia jang algodjonja. Djenderal pos 9, markas nica dikampung Tjurug. Abangku, ai, abangku jang begitu baik dulu, kau lalap Talip”, sambil golok itu menjentuh kakinja. Dan kaki itu luka ketjil. Darah keluar. Kedengaran rintihan sakit pedih perih.

Orang² jang melihat dari dekat, ada jang ketawa ada jang agak kengerian. Beberapa orang jang langsung keluarganja dihabiskan Talip ketawa ter-kekeh².

„Nah, begitu bung, sedikit². Aku tjari djeruk nipis dulu. Kita sambal. Lukanja perasi djeruk nipis agar sakit”.

„Tjepatan dikit !”

Orang tadi betul² keluar dari orang ramai. Dia pergi mentjari djeruk nipis.

Seorang tua jang setengah umur mendjenguk dekat.

„Astagafirullah, ini dia si Talip. Si Talip, Talip, dia inilah jang mengabarkan anakku si Murad sudah masuk pelopor. Belanda² datang kerumah memukuli aku. Sekarang dia ketangkap. Talip, Talip, ai kau betul² berdosa banjak, Talip”, kata orang itu. Kemudian orangtua itu mendekat lagi. Tepat tentang mukanja, orang itu berdahak dan dikumpulkannja dahak itu, lalu diludahinnja muka Talip „tjuh, tjuh”, beberapa dahak hidjau mengenai muka Talip.

Orang² ketawa. Jang memegang golok tadi tertawa geli.

„Ini pak, golok, silakan tjontel sedikit dagingnja. Sebentar kita tunggu djeruk nipis”, orang itu memberikan goloknja. Tapip orang tua itu menolak.

„Biarin, aku mau meludahinja sadja……tjuh……tjuh”.

Orangtua itu terus-meneurs men-dengus²kan kerngkongannja. Rupanja dia mengumpulkan dahak jang agak tebal hidjau. Sudah itu…… „tjuh……tjuh”. Dua tempat matanja penuh berselepotan ingus tebal hidjau kekuningan seperti nangka setengah matang.

Orang² ketawa. Jang ditunggu belum datang. Orang² tidak lagi menghiraukan anak bini Talip jang diikat terletak agak kedjauhan. Mereka kepanasan. Anak² itu tidak lagi menangis tetapi rintihan jang berat keluar dari mulutnja. Namun tak seorang berniat melepaskan ikatan itu. Betapa dendam Rakjat. Banjak anggota keluarga gerilja jang habis njawanja oleh tangan Tapi, atau oleh tangan belanda sendiri.

Mula²nja dia masuk BKR, lantas TRI. Kepertjajaan dia dapati terus. Tapi markas gerilja sering diserang belanda, dimana kebetulan waktu itu selalu tak ada Talip. Pembakaran rumah jang ada anggota gerilja, atau geriljanja sendiri. Gerilja waktu itu belum lagi teratur, belum ada kesatuan dan belum terorganisasi. Talip masih gampang berbuat diam². Setelah ada kesatuan BKR dan apalagi sesudah ada TRI, barulah ketahuan, bahwa selama ini Talip adalah mata². Mentjium bau jang tak baik ini, lekas² Tapi melarikan diri kekesatuan nica. Tapi anak bininja berada didaerah kekuasaan TRI dengan kehidupan serba tjukup. Rupanja kerinduan dengan anak bininja pagi itu begitu mendesaknja. Dengan berpakaian menjamar tidak setahu anggota militer lain, tidak sempat lagi membawa sendjata satupun, dia menerobos kampung. Pagi² dia berangkat djam 2. Tapi subuh² dia tertangkap.

„Ah, lama betul itu anak. Ai, siapa jang ada djeruk dirumahnja, lekas ambil ! Ambil lekas ! !, kata osang jang memegang golok itu.

Orang² tak ada jang bergerak. Mereka lebih senang menonton dengan rasa sedap. Bagi wanita² jang lekas datang kengerian, berlalu tjepat. Ada djuga wanita² jang agak berani mendekat dan dengan rasa gembira melihat tontonan itu. Beberapa orang wanita muda jang kekasihnja ditangkap belanda dan dibunuh kawan² Talip, dengan kepalamata ingin tahunnja melihat djelas mana jang bernama Talip itu. Mereka hanja mendengar namanja sadja dari mulut kemulut. Sekarang tertangkap. Lalu mereka mendekat dan menjaksikan dengan teliti.

Dari djauh sudah kelihatan anak muda jang membawa djeruk jang dipesankan tadi. Orang jang memegang golok dengan suaranja jang parau, bersorak kegirangan.

„Lekas atuh djang, kemarikan djeruknja”.

Djeruk itu disambut. Lekas² dikupas dibelah dengan golok jang berkilat itu. Djeruk djadi dua bagian. Dengan sedikit mengangkatkan golonja, dia melukai tubuh Talip. „Djes”, tubuh itu luka dan kakinja bergerak kesakitan. Airkali mengalir deras. Biasanja airkali itu berbunji bergemuruh. Akan tetapi suara airkali sudah dikalahkan oleh suara² Rakjat jang mengerumuni tubuh² itu. Warna airkali djernih, sebab deras mengalir dan dari sungai jang bergunugn dekat sekali.

Ketika orang jang memegang golok tadi mengangkatkan lagi goloknja untuk membelah betis Talip, tiba² ada suara keras.

„Stop, stop, stop !”.

Empat orang tentara RI jang berpakaian lengkap, bersendjata lengkap mendekati keramaian itu. Orang jang memegang golok terpaksa memberhentikan pekerdjaannja.

„Stop, djangan lakukan begitu. Kita usut dipos. Tidak boleh begitu !”, kata seorang tentara jang berpangkat letnan.

„Lepaskan ikatannja !”

Tapi orang tadi keberatan. Tentara² sendiri jang melepaskan ikatan itu.

„Dia kan tangkapan saja, pak. Sudah bunuh banjak orang² kita. Abang saja ditikamnja didadanja. Nih, keluarga² irang jang melihatnja ini”, kata orang itu sambil menundjuk kekanan kekiri mengelilingi orang jang berkerumun, „hampir semua sudah dichianati mata² babi ini !”

„Ja, ja, saja tahu. Kamipun tahu semua. Karena itu dia kita selidiki dulu, baru dihukum”.

„Tapi kan hukum mati mestinja, kan, pak. Mata² sih !”

“Dilihat kesalahannja dulu, baru diputuskan”.

„Biasanja sih kalau terang mata² tidak ada djalan lain, sembelih sadja”.

Letnan itu diam sadja. Dengan mukanja jang sungguh² dia membuka semua ikatan itu.

Orang melihat dengan mata jang bertanja². Kemudian ikatan tangannja diberi jang baru. Borgol besi. Lalu tentara² itu melihat pula beberapa sosok tubuh anak² dan sesosok tubuh wanita. Dengan menggelengkan kepalanja, tentara menudju ikatan itu. Dia melepaskan ikatan itu semuanja. Tampak tubuh² jang setengah mati, didjemur kepanasan. Anak² dan wanita istri Talip, samasekali tak diikat, dibiarkan sekehendak hatinja. Merekapun memang samasekali tak bermaksud untuk lari. Tak ada kekuatan untuk lari dan tak ada maksud untuk itu. Mereka tak tahu kesalahan mereka.

Orang² mengikutkan tentara. Orang² jang penuh dendam dengan pisau dan golok²nja turut mengikutkan dari belakang. Jang paling ngotot ialah jang menangkap mula². Tapi tentara mendjamin bahwa tangkapannja tetap ada ditangan tentara. Mustahil akan lepas atau dilepaskan.

„Tapi kalau nanti didjatuhkan hukuman mati, saja harap saja jang matiin, pak, ja”, katanja.

„Nanti sadjalah, sesudah diperiksa. Tidak bisa sekehendak hati kita”.

„Mereka bisa sekehendak mereka, kenapa kita tak boleh?”, katanja pula.

„Kita djangan turutkan mereka, mereka orang biadab, kita orang beradab. Kita ini orang Indonesia jang sudah merdeka. Mereka kan pendjadjah, perampok. Kita orang baik², ada peraturan hukum tersendiri”.

Orang² terus mengikutkan tentara² itu. Dengan lemas Talip berdjalan dimuka dengan didampingi dua orang tentara. Letnan dibelakang dengan orang² jang penuh dendam. Letnan bertjakap dengan Rakjat. Beberapa orang jang agak berani bertanja², mengapa mesti dibawa kepos dulu, tidak lantas sadja disembelih. Letnan mendjawab :

„Tiap² kesalahan ada hukumannja. Kalau mata² itu terus dibunuh, kitapun akan rugi?”

„Apa ruginja. Kan dia mata² jang sudah banjak menumpas njawa² tentara kita !”, kata seorang.

„Kalau dia kita bunuh sekarang djuga, kita tidak akan tahu lagi dengan sebenarnja apa² jang sudah dilakukannja. Kalau dia kita tanjai terus-menerus dnegan pemeriksaan jang teliti dengan tjara pemeriksaan mata² pula, tentu akan lebih banjak rahasia terbuka jang kita sendiri tidak tahu dan tidak menduganja. Perlu kita tanjai banjak. Agar rahasianja banjak terbuka, agar kekuatan musuh kitapun kita ketahui djuga dari dia”, kata Letnan.

Sudah itu orang jang ber-tanja² tadi itu berdiaman. Mereka meresapkan kata² Letnan. Dua tiga orang kelihatan mengangguk ketjil. Jang lainnja diam, entah mengerti entah tidak, akan tetapi sudah tampak kepuasannja agak sedikit terpenuhi.

Talip jang agak djauh didepan berdjalan terhujung². Dengan diiringi beberapa pasang mata jang sangat awas, tawanan itu berdjalan terus. Mereka menudju pos tentara dekat stasiun Tjurug jang djauhnja kira² tiga kilometer. Djarak jang begitu dekat bagi orang² didesa, tapi tjukup djauh bagi orang² kota.

Pos tentara RI terletak dekat stasiun kereta-api. Tentara² itu memang sudah mentjium lama bahwa pengchianatan Talip dengan laporan lengkapnja membuat katjau balau pertahanan pasukan RI. Sudah lama pihak tentara mentjium bahwa Talip pada satu waktu tentu akan tertangkap. Tertangkap oleh tentara² atau tertangkap oleh Rakjat. Dan apakah akibatnja bila tertangkap oleh Rakjat. Tidak ada djalan lain, njawa itu akan melajang, kepala dan badannja akan ditjeraikan Rakjat jang penuh dendam. Betapa halnja, kalau dalam pertempuran² antara pasukan RI dan nica ini, Rakjatlah akan sangat menderita. Sebab Rakjat tak bersendjata, sedangkan gerilja² dan tentara² itu adalah anak Rakjat, Belanda kehilangan sasaran. Mereka tidak bisa menemukan gerilja atau sangat sukar bertempur dengan gerilja itu. Jang selalu menjerang lalu mundur, menjerang lagi. Jang dapat mereka temukan hanjalah Rakjat, dan Rakjat inilah jang gampang didjadikan sasaran. Tentara memang melindungi Rakjat. Akan tetapi bila tentara itu berpindah pos, maka Rakjat jang tadinja pernah menerima tentara² itu akan dimusuhi dan tidak hanja itu malah dibunuh serta rumah²nja dikabar oleh belanda. Hanja inilah jang bisa dilakukan belanda. Dalam pada itu banjak jang sudah kedjadian bahwa antara pertempuran disekitar kampung² tersebut selalulah keluarga² gerilja jang terlebih dulu djadi sasaran belanda. Belanda dapat laporan lengkap dari Talip. Taliplah jang mengetahui setjara terperintji situasi disekitar kampung itu. Belanda tinggal melaksanakan apa² jang ditundjukkan Talip. Sedjak itu terjadi, Talip dipindahkan kepos 9, sebuah pos belanda jang bersendjata berat, lengkap dengan panser, teng, dan mortit serta otomatik² sendjata jang baik jang sangat di-idam²kan para gerilja² muda.

Pos 9 pernah pula diserang dari pasukan RI akan tetapi serangan itu gagal samasekali. Rupanja rentjana penjerangan itu sudah ditjium belanda. Orang² pasti menduga bahwa kegalan itu disebabkan laporan Talip. Sebab sebelum itu djalan² penjerangan sudah sedjak lama direntjanakan, bahkan sewaktu Talip masih digerilja djuga. Kesalahan taktik tidak segera merubah djalan² penjerangan kearah pos itu.

Tidak sampai satu djam, rombongan iring²an itu tiba dipos tentara RI, dekat stasiun kereta-api. Orang² jang melihat iring²an itu bertambah ramai. Stasiun penuh manusia. Mereka ingin melihat. Empatlima orang jang mengenal Talip, segera mendekati dan melihatnja djelas ² :

„O, bangsat itu sudah tertangkap rupanja. Tamat riwajat kau, Talip !”.

„Untung ditangkap tentara, tjoba kalau dilepaskan ditangkap Rakjat, hukumannja tusuk perut dengan bambu runtjing, seperti djepang tempo hari. Masih untung, paling² hanja hukum tembak, rasa sakitnja sebentaran”.

Kemudian rombongan itu memasuki pos tentara. Tentara² jang ada disekitar itu dengan wadjah puas memandangi tubuh jang sudah kuju itu. Dibelakang tubuh tadi, ada lagi beberapa tubuh jang djuga sudah lunglai amat. Tiga orang anak Talip dan istrinja mengikutkan dari belakang. Mereka sudah hampir tudjuh bulan tidak bertemu. Sekali bertemu hampir bertjerai untuk seumur hidupnja.

Talip langsung dibawa kekamar komandan. Anak² istrinja turut dari belakang. Sedang Rakjat diluar ber-bondong² dan berkerumun. Mereka ingin melihat mereka dari dekat, betapa rupanja mata² jang sedang banjak diperbintjangkan orang² itu.

Talip didudukkan disebuah krosi. Diberi minum, djuga anak istrinja. Kadang² kedengaran bunji isakan ketjil dan rintihan sakit.

Kabar penangkapan itu mendjadi berita dari mulut kemulut. Masing² ingin melihat, menjaksikan rupa Talip. Beberapa orang dengan harapan besar me-nanti²kan bahwa tawanan itu akan diserahkan pada Rakjat, se-tidak²nja akan mendapat hukuman mati. Akan tetapi hukum melindungi dengan batas tertentu.

Pada hari itu Talip ditidurkan dipos tentara. Anak bininja sesudah diizinkan pulang, sesudah melepaskan rindu, masih djuga diberi kesempatan bertemu dan ber-tjakap² dengan Talip sampai malam. Pada djam jang sudah ditentukan tentara menasehatkan agar pulang sadja kerumahnja. Dengan diantarkan tentara, anak² istrinja kembali.

Keesokan harinja, pagi² sekali Rakjat telah berkerumun disekitar pos pendjagaan dan pos tentara dekat stasiun. Mereka ingin mendapat kepastian, apa achir keputusan hukuman untuk Talip. Beberapa orang jang hampir menamatkan riwajatnja kemaren, turut duduk² dan berdeiri dekat tempat itu. Beberapa keluarga gerilja jang tewas akibat pengchianatan dan pembunuhan Talip menambahi rombongan. Orang² tua, anak² muda jang rumahnja dibakar belanda akibat laporan Talip, mereka sama menunggu keputusan serta kesudahan nasib Talip. Mereka menunggu. Datang sendiri kepos tentara, dan menanjakan. Menemui komandan dan bitjara sendiri. Komandan meladeni dengan ramah-tamah. Ketika itu Talip ada dikamar sebelah, kamar tahanan. Kamar tahanan itu berdjeradjak besi, agak rapat, rapi tjukup untuk dapat mengeluarkan kepalan tangan. Dari agak kedjauhan, terlihat Talip duduk dengan memandangi orang jang berada diluar.

Ketika orang² lebih mendekati kamar tahanan itu, segera tentara minta agar orang² mendjauhkan diri. Orang² menuruti dengan agak patuh. Tapi setelah tentara itu tidak kelihatan lagi, mereka mendekat lebih dekat.

Orang² terus berdatangan. Duatiga orang diantaranja seolah² mengepalai rombongan itu. Mereka ada jang membawa golok bersarung, pentungan² keris, belati jang agak pandjang sehingga akan kelihatan dari samping bila belati itu disimpan dikantong. Mereka menudju kedepan. Ruangan dimana komandan biasanja bekerdja. Komandan dengan tenang keluar mendatangi Rakjat jang berdjedjal padat. Rakjat dengan nafas sesak panas siap menanti kemungkinan².

„Pak serahkan Talip pada kami. Kami orang jang kehilangan keluarga akibat pengchianatan Talip. Ni nih, rumahnja dibakar belanda karena anaknja gerilja, karena anaknja tentara, Talip jang melaporkan”, kata seorang sambil menundjukkan tangannja keseorang jang agak tua.

„Bukan hanja saja, pak. Anak tetangga saja Talip jang bunuh”, katanja lagi.

„Pokoknja begini, karena Rakjat jang dapat menangkapnja hidup² maka Rakjat minta Talip agar diserahkan pada Rakjat. Bapak djangan kuatir, kami menjembelihnja didepan bapak² sendiri, bapak djaga senapang kalau² Talip lari, kalau² kami bohong. Mari sama² kekali, saja jang sembelih”, kata orang jang menangkapnja kemaren.

„Putusannja belum didjatuhkan. Tapi segera kita periksa. Paling lambat duatiga hari ini”, djawab komandan dengan sopan dan ramah-tamah.

„Baiknja Rakjat turut memeriksa dan mengadilinja. Banjak jang sudah djadi korban. Saksi kita sediakan, kalau perlu satu kampung”, kata seorang lagi.

„Sudah tentu, kamipun akan menanjakan pada saksi² jang betul² pada sumpahnja. Rakjat selalu diminta pendapat dan didengarkan”.

„Kalau begitu, sekaranglah kita habiskan. Saja biasa potong kerbau, biar saja jang batjok”.

„Itu namanja bukan penjelesaian. Itu penjelesaian tanpa pemeriksaan”.

„Belanda sendiri kalau mau bunuh orang tidak lagi periksa² segala. Kita ini pakai periksa² segala. Kalau mereka jang tangkap kita, kita disembelihnja, sesudah dibakarnja lebih dulu. Si Ibad, itu jang di Tjimelati dulu, orang dapati kepalanja jang sudah hampir busuk. Siapa jang bunuh. Kawan² Talip. Talip djang tundjukkan tempat Ibad sering² berkumpul sama kawan² pedjuang”, kata seorang jang dari tadi sudah tak sabar lagi.

„Kita djangan meniru belanda. Belanda itukan pendjadjah, penipu, tidak ada perikemanusiaan. Belanda itu memang harus kita usir dari Indonesia, tapi bukan kita siksa, bukan kita aniaja”.

„Bukan diusir, dibunuh habis, djangan kasi bibit”.

„Ja, setudju, sapu bersih. Rakjat sakithati. Rakjat dendam, Rakjat djadi hakim,” kata satu suara.

Beberapa orang jang tak sabar lagi melemparkan batu² kekamar Talip. Batu itu masuk, hampir sadja mengenai kepalanja. Kemudian beberapa orang meniru perbuatan pertama. Sekarang batu² itu mendjadi hudjan mengenai kamar dan djeradjak djendela tahanan. Talip mengendapkan badannja menghindari hudjan batu itu. Tentara² berusaha mentjegah perbuatan² orang jang tak sabar. Djendela ditutup. Orang² mundur kebelakang. Mereka sudah sampai kepuntjak kesabaran.

Sudah itu komandan menarik nafas pandjang. Rentjana pemeriksaan harus melalui hukum.

Rakjat masih belum puas. Mereka menanti. Komandan berdiri tenang².

„Saudara saja tahu sekali, Talip ini pengchianat. Banjak korban djiwa jang sudah dilakukannja. Banjak bapak², ibu² kehilangan anaknja akibat perbuatan Talip. Belanda kedjam, Talip djuga kedjam. Tapi kita tidak akan beladjar kedjam dari belanda dan Talip. Jang penting bukan kedjam dan membalas dendam. Jang penting revolusi ini harus berdjalan baik dan selesai. Revolusi bukanlah untuk membalas dendam. Revolusi itu besar, tidak hanja membalas dendam se-mata². Dia merobah. Dulu kekuasaan belanda, sekarang haruslah kekuasaan kita, mutlak. Soal kedjam dan bengis bukanlah watak revolusi. Revolusi itu bagus. Menggulingkan kekuasaan pendjadjah belanda menggantinja dengan kekuasaan RI, djadi bukan kedjam dan pembalasan dendam”.

Djadi mau diapakan Talip ini”, kata satu suara.

„Kita periksa dulu. Kita selidiki kesalahan²nja jang lain. Barangkali malah ada jang lebih besar dari kesalahannja jang kita sudah tahu. Banjak lagi rahasia²nja jang belum kita tahu. Kalau kita bunuh tjepat² seperti kemauan saudara², kita akan rugi. Apalagi kita siksa, kita lukai sedikit², kita potong kakinja lantas ditjepreti dengan djeruk nipis. Tjara ini tjara kedjam dan tjara belanda. Tjara jang paling buruk, tidak berperi kemanusiaan. Itu namanja kedjam dan sakit hati serta dendam. Sedangkan revolusi bukanlah untuk membalas dendam, bukan pula untuk menjiksa orang, bukan untuk membalas sakit hati”.

„Tunggu dulu, pak, tunggu dulu”, kata seorang jang agak merahpadam. Dia melandjutkan :

„Kalau sudah diperiksa dan ternjata hukumannja mesti hukuman mati, apa boleh serahkan pada kami, kami akan bunuh setjara biasa djuga, tidak kedjam”.

„Sekarang saja tanja”, kata komandan, „saudara pertjaja tidak sama tentara² RI, tentara Rakjat sendiri. Apa saudara lebih pertjaja sama orang² jang tidak semestinja mendjatuhkan dan mendjalankan hukum. Kalau saudara tidak pertjaja menjerahkannja pada kami, itu berarti saudara tidak punja tentara, tidak punja pemerintahan, tidak punja alat² negara jang baik. Dan kalau tjara itu mau dilaksanakan, itu berarti negara kita ini bukanlah negara jang betul² akan memelihara kemerdekaannja, tapi negara jang hanja mau membalas dendam, dan itu bukan negara. Ada hukum²nja, dan kami kan tidak bodoh, kami bukan penchianat. Apa saudara dapat membuktikan bahwa kami pengchianat, kami alat² negara jang kerdajsama dengan belanda?”.

Orang² diam. Mereka mengerti sedikit². Komandan bitjara terus. Mereka mengerti tambah banjak. Jang tidak mengerti tidak takut² bertanja. Komandan mendjelaskan dengan bahasa daerah.

„Apa itu perbuatan baik, kalau Talip kita sembelih, lantas anak² istrinja kita bunuh djuga? Apa itu revolusi kalau membunuh anak² jang belum tentu bersalah, karena sadja bapaknja mata² dan pengchianat. Apa itu akan dapat keuntungan dengan menjiksa memuaskan nafsu balas dendam kita.

„Apa itu berperikemanusiaan menjembelihi musuh jang sudah dalam tangan kita. Kita tak beladjar kedjam dari belanda. Biarkan belanda kedjam memang itu tabiatnja. Kita tak usah beladjar buruk dari orang jang memang buruk tabiatnja. Kalau kita beladjar kedjam dari orang jang memang kedjam, itu namanja pembunuhan bandit² rampok² jang memuaskan nafsunja tidak hanja harta, tapi djuga dijwa. Bukan kesitu kita berpihak”.

„Djadi bagaimana, pak?”

„Serahkan pada kami. Kami ini tentara RI, tentara saudara². Saudara jang mula² menangkapnja tidak begitu sadja dibiarkan. Dia akan dihargai sebagaimana mestinja, akan diperhatikan, akan ditjatat”.

Komandan menerangkan pandjang lebar. Beberapa orang menganggukkan kepalanja. Dua tiga orang meninggalkan tempat itu. Disusul lagi oleh oleh beberapa orang. Beberapa waktu lamanja pos itu sepi. Hampir tengah hari, Rakjat tidak lagi duduk² berdiri dan dekat² pos itu. Mereka semua pulang. Mereka menanti putusan apa jang akan ditjatuhkan, dan bila waktunja.

Siang djam mendjelang sore, tentara² berapat. Beberapa tentara dari pos lain, dan dengan mebawa surat penting², mereka datang kepos dan turut rapat. Sidang pemeriksaan. Sudah itu datang lagi beberapa orang preman dengan beberapa orang² tua, beberapa orang kampung biasa jang didjemput tentara.

Talip diperiksa. Sekelebatan surat² penting resmi dibetangkan dimedja. Tidak kurang 14 orang tentara, dan 20 orang preman, orang kampung ditanjai. Mereka lalu pulang. Lalu Talip ditanjai. Djawaban jang tidak bisa lagi dimungkiri. Dengan menundukkan kepala Talip mendjawab lesu. Bukti² lebih dari itu, akan dapat ditjarikan lebih banjak. Pemeriksaan dalam masa revolusi sesuai dengan situasi. Rapat berdjalan terus. Sedikit ada perdebatan, sudah itu pendapat djadi padu dan bulat. Datang lagi saksi² lain, pergi lagi. Datang jang baru, orang² preman dan tentara² sendiri. Sidang berdjalan terus. Sampai malam. Sidang dimulai djam empat sore berachir sampai djam 3 pagi, hampir sebelas djam penuh. Sidang selesai dengan baik. Sudah itu ada pula djaringan tilpun dari markaas besar tentara RI. Putusan disampaikan. Suara setudju disambut seperempat djam kemudian.

Kemudian rapat pemeriksaan bubar.

****

Mendjelang subuh² beberapa orang tentara sebanjak 7 orang mendju sebuah tebing tinggi. Dibawahnja rombongan itu ada delapan orang, seorang lagi ialah Talip. Sesudah bedug subuh berbunji, terdengar pula beberapa letusan serentak. Sesosok tubuh tergeletak.

Keesokan harinja, pagi² sekali Rakjat mendatangi lagi pos tentara. Mereka tetap menanti putusan apa jang ditjatuhkan pada Talip. Duatiga orang mendekati pos itu. Disusul lagi oleh beberapa orang. Rombongan itu berkerumun. Beberapa orang mendekat kearah kamar tahanan. Tapi kamar tahanan itu kosong. Lalu orang² dengan berani bertanja pada pendjaga pos. Mereka ingin bertanja lebih banjak. Tapi ada dua-tiga orang tentara jang mendjawab pertanjaan itu.

„Itu dia, dibelakang dekat kamar tahanan djuga. Sebentar lagi akan dibawa”, kata tentara itu menundjukkan majat Talip.

Orang menudju ketempat jang ditundjukkan tentara². Mereka berkerumun kedekat majat Talip. Ada jang merasa puas, ada jang merasa belum tjukup puas. Ada jang merasa paling tidak puas dan paling sedih, ialah anak² dan istri Talip. Tapi mereka mengerti. Revolusi berdjalan terus sampai menang.

Perajaan dan Pemogokan

TIGA HARI LAGI TIBALAH HARI JANG DINANTI-nantikan itu. 17 Agustus 1948, perajaan ulangtahun kemerdekaan jang ketiga. Buruh sudah lama memutuskan bahwa pada hari itu, buruh akan merajakannja setjara sepatutnja. Dari 13 EB (Emmer Bagger) seluruh pulau itu, jang beranggotakan hampir limaribu orang dan jang disokong dari buruh² kantor besar GMB (gemeenschappe maatschappij billiton) jang akan mentjapai djumlah tudjuhribu orang. Ketua buruh setiap EB (kapal keruk timah) telah putus merundingkan, perajaan selengkap mungkin. Dari setiap daerah diharuskan membawa permainan atau pertundjukan Rakjat jang akan diperlihatkan pada hari itu.

Izin sudah diminta kepada tuankuasa (kepala perusahaan jang tertinggi). Akan tetapi sampai sekarang pihak tuankuasa belum memberi djawaban. Diberi atau tidak, buruh² tetap akan merajakan hari jang begitu keramat. Dan kapalkeruk akan beristirahat, sebab buruh²nja akan mengumpul disatu tempat.

Tempat itu sudah diputuskan, di Pilang, sebuah EB 8, dimana ada sebuah lapangan besar. Tidak begitu djauh dari pusat kota.

Persediaan sudah hampir lengkap. Susunan² atjara hampir mentjapai penjelesaian. Empat buah bangsal darurat sudah hampir sempurna dibangun. Semua dikerdjakan buruh² sendiri, dengan uang kas sendiri dan uang sokongan sukarela. Setiap njawa merasa gelora gembira. Betapa tidak, perajaan hari nasional ditengah kekuasaan Belanda.

Izin belum diterima. Tapi kejakinan buruh² tetap menguasai perajaan. Masing² dengan kesibukan tugas jang diberikan. Dan tugas itu dilaksanakan dengan penuh kegembiraan dan tanggungdjawab.

Dipihak sana, pihak Belanda memegang perusahaan, rapat² dan sidang lengkap terus-menerus diadakan. Mereka tidak seorangpun menjetudjui adanja perajaan itu. Tidak mungkin menjetudjui. Politik berarti kalah, ekonomi berarti matjet. Sehari buruh² tidak bekerdja untuk semua EB sebanjak 13, itu berarti ratusan ribu gulden uang disia-siakan.

Sidang tetap pada pendirian semula. Tuankasa Van de Moll dan kepala staf Tanzer, kepala pemerintah kabupaten Van Aandell, bekerdja keras mentjari djalan untuk menghindarkan hari perajaan itu. Kepala polisi Van den Berg sudah dihubungi. Letnan Keyzer sudah pula diberitahukan akan adanja perajaan jang berarti matjetnja perusahaan. Lebih penting dari itu semangat nasional mengalami naik-pasang. Arti politik sangat mendjatuhkan.

Keesokan harinja sewaktu Van de Moll memimpin sidang, dimana sidang jang paling menentukan karena berarti dua hari lagi perajaan itu akan diadakan, adalah sidang jang benar² hangat. Van den berg dan Keyzer tetap berpendirian, dengan kekerasan sendjata perajaan itu pasti dapat dipatahkan. Buruh² digiring bekerdja setjara paksa. Tapi Van Aandell agak berkeberatan dengan tjara itu. Kota akan mendjadi tempat demonstrasi dan Rakjat akan mendapat angin baru untuk gerakan kemerdekaan. Tjara lain belum ditemukan. Debat sengit berlangsung sampai enam djam. Satu pendapat jang bulat padu ialah perajaan itu harus ditjegah. Sangat mendjatuhkan arti politik, disamping membuangkan ratusan ribu gulden, karena produksi matjet satu hari.

Sekarang tjaranja inilah jang mesti diambil segera. Lusa buruh² akan mendemonstrasikan kerdjasamanja. Selekas mungkin tjara perempuan baru harus lekas² dilaksanakan.

Ruang sidang penuh abu rokok. Jang paling ngotot ialah kepala polisi dan letnan itu. Kekerasan sendjata sangat diperlukan untuk menundjukkan bahwa pemerintah berwibawa kuat. Dari djendela kamar sidang, kelihatan buruh berbondong membawa daun kelapa, pohon² kelut untuk menghiasi bangsal². Mereka gembira dan bersemangat. Sepintas lalu Keyzer melihat dengan matanja jang agak kesipitan. Lekas² mukanja dipalingkan kearah lain. Kemudian dua buah prahoto kepunjaan orang Tionghoa penuh membawa kaju²an dan atap rumbia. Alat² untuk menjempurnakan bangunan bangsal dan podium untuk membuka atjara. Waktu prahoto itu tepat terlihat pada djendela katja kamar persidangan, Van Aandell jang ketika itu sedang membuangkan matanja kearah djalan, lekas² memutarkan kepalanja. Ruangan sepi sedjenak. Tapi keputusan belum dapat dengan tjara apa perajaan itu akan ditjegah.

Tiba² pintu diketok. Suara memerintah agar masuk. Dan seorang pegawai jang biasanja mengantarkan surat² penting masuk membawa surat beramplop pandjang. Surat itu sampai ketangan tuangkuasa. Dia membukanja segera. Dibatjanja. Berkali-kali dibatjanja. Tampak mukanja agak gembira. Tjepat sekali tangan kanannja mengempas kemedja keras itu. Harapannja akan terlaksana. Surat itu, adalah telegram dari Batavia. Kantor pusat jang pada waktu itu berada di Batavia, di Standaard Vacuum (Standvac). Telegram jang agak pandjang itu dibeberkan ketengah medja. Tangan² sambut menjambut. Sudah itu berapat lagi. Sekarang muka² mereka agak gembira. Sinar harapan timbul. Tjara jang akan diambil sudah bulat. Putusan itu harus segera disampaikan besok pagi paling lambat. Mereka membubarkan diri sesudah berapat hampir tudjuh djam.

Keesokan harinja ketua buruh, Mahwa mendapat surat panggilan untuk datang kekantor besar (HK = hoofdkantoor). Mahwa diiringi dengan duapuluh pemimpin buruh masing² dari EBnja. Dengan sepeda² mereka meluntjur didjalan seperti anak² adu balap. Mahwa akan diiringi oleh dua orang dari pimpinan harian, Samad dan Karim. Mereka akan datang kalau ada panggilan. Mereka akan minta izin. Akan tetapi keputusan segala sesuatu adalah ditangan mereka sendiri.

Sampai di HK, rombongan itu menjandarkan sepeda²nja. Jang boleh masuk hanjalah tiga orang, Mahwa dan dua orang tadi. Kawan² lainnja menunggu diluar.

Pimpinan perusahaan sudah menunggu. Beberapa belanda lainnja menjertai perundingan itu. Kepala polisi dan kepala militer. Perundingan dibuka. Tuankuasa perusahaan membentangkan usulnja. Kepala polisi dan kepala militer menjarankan pandangannja. Perundingan berjalan lantjar meskipun tidak ada satu keputusan jang dapat dihasilkan. Lantjar untuk tidak berdebat, tapi buntu pada pendapat. Mahwa dan kawan²nja tetap mendjawab „Tidak”. Kemudian ketika akan kembali, Mahwa mendjandjikan bahwa putusan terachir ada ditangan buruh² sendiri. Kalaupun buruh² setundju akan usul pihak pimpinan perusahaan, maka persetudjuan itu akan disampaikan hari itu djuga sebelum djam 12 tepat. Kalau tidak ada berita² dari buruh, itu artinja buruh tetap mendjalankan rentjananja.

Sesudah itu Mahwa keluar diiringi kedua kawannja. Mereka segera mengambil sepedanja dan langsung mendajungnja terus kekantor panitya perajaan, dimana wakil² buruh dari masing² EB menanti dengan perasaan agak ketjemasan.

Sampai ditempat itu, Mahwa berunding sebentar dengan kedua kawannja. Kemudian dengan pimpinan kepala grup buruh masing² EB. Usul pihak perusahaan disampaikan. Kemudian usul itu disampaikan lagi kepada kepala grup. Kepala grup diminta segera menjampaikan sekarang djuga usul setengah duabelas. Jang ditugaskan segera berangkat. Mahwa dan kawan²nja menanti keputusan buruh² jang langsung berkepentingan. Tapi pekerdjaan persiapan perjaan berdjalan terus. Bangsal² dihiasi indah. Podium berdekorkan kapal keruk. Pantjang² untuk lampu petromak sudah ditonggak teguh.

Tidak sampai djam setengah duabelas, kepala grup sudah kembali dari 13 EB. Mereka segera bersidang. Usul itu tidak diterima. Berarti mereka tetap merajakan hari keramat 17 Agustus. Betapa kedjatuhan politik lagi bagi pihak pimpinan perusahaan. Buruh² menolak sarat² dari pihak perusahaan : gadji mereka akan dinaikkan menjadi 7% dengan penandatanganan jang sah, apabila mereka menghentikan maksud mengadakan perajaan itu. Gadji mereka akan segera dibajar pada 31 Agustus dengan kenaikan 7% itu.

Tapi usul ini dengan suara bulat ditolak buruh². Perajaan tetap diadakan. Tuntutan kenaikan gadji akan segera menjusul sesudah perajaan ini. Dua tiga suara memberikan pendapat bahwa kenaikan gadji itu adalah hadiah peringatan hari ulangtahun radja belanda di Hollan. Buruh² tidak mengharapkan hadiah itu, tapi menuntut haknja jang sudah dihasilkannja tapi belum dipunjainja serta dimiliki ditangannja. Sungguh tidak menimbulkan perdebatan jang sengit, buruh² menolak usul² itu. Perajaan hari kemerdekaan tetap dilangsungkan. Hari tanggal 17 Agustus tetap didjadikan hari tidak bekerdja untuk semua produksi timah. Buruh² HK jang tidak termasuk langsung menghasilkan produksi timah, pada hari itu akan turut menjertai perajaan dan tidak masuk kerdja.

Buruh² semakin gembira dan diliputi rasa gelora bersemangat. Mereka bekerdja seperti mereka bekerdja untuk kepentingan diri dan keluarga sendiri. Rasanja seakan-akan mereka bekerdja akan mengadakan pesta perkawainan anak, saudara dan dirinja sadja.

Hari perajaan semakin dekat. Tidak sampai 20 djam lagi. Buruh² semakin mempersiapkan diri, pertundjukan apa dan kepandaian apa jang akan mereka perlihatkan pada hari perajaan itu. Badju² dan tjelana² jang paling baru dan paling bersih sudah menunggu untuk dipakaikan ketubuh. Minjak rambut dan sabun jang bersisa mendjadi hari terachir pada waktu itu. Persiapan lain, seperti minjak, dan tempat gelanggang permainan beripat, sebuah permainan asli Belitung jaitu adu pukul dengan rotan sebesar indukdjari kaki, permainan tjampak, sematjam doger, tarian jang berpantun-pantun, bersair melagukan tjerita² sedjarah, sudah dalam kepala dan rentjana untuk segera dipertontonkan dan diperdengarkan. Prahoto jang membawa medja² untuk berdjualan terutama koperasi ketjil²an buruh jang baru dibentuk, bolakbalik mengangkuti bawaan berat itu. Beberapa buruh Tionghoa membawa beras dan sajur²an mentah. Menumpukkan barang itu ditempat bangsal dapur bekerdja bangunan. Mereka kuli² parit jang betul² asli Tiongkok turut menjumbangkan segala apa jang kiranja dapat disumbangkan. Mereka djuga tergabung dalam perserikatan buruh tambang timah. Ada dua tiga orang membawa ajam, membawa telur ajam, telur bebek. Pesta buruh untuk merajakan hari nasional, akan pasti berdjalan lantjar. Sebelum itu mereka beladjar dari pengalaman² dan kekurangan pesta perajaan jang pernah mereka adakan pada tanggal 1 Mei dulu.

Padjang²an bangsal dan podium serta gelanggang pertundjukan permainan sudah sempurna dihiasi dengan dekor jang ditjiptakan buruh² sendiri. Sebuah lingkaran daun kelapa muda jang merupakan tulisan 17-8-48 ulangtahun kemerdekaan ke III, menambah semarak hiasan. Hiasan² jang kurang begitu baik segera diganti dan disulap mendjadi hiasan jang lebih indah. Mereka bekerdja dengan ketentuan seindah-indahnja. Tanpa keluhan kelelahan, diam² hari sudah djauh sendja. Beberapa petromak dipasangkan.

Keesokan harinja, hari jang keramat. 17 Agustus. Matahari tjerah indah. Pukul delapan pagi buruh² berdatangan berbondongan naik sepeda. Ada jang naik prahoto, ada jang berdjalan kaki. Mereka menudju Pilang. Akan tetapi apakah jang mereka temui sedatangnja mereka ketempat itu? Di sudut² lapangan telah medjaga beberapa puluh militer belanda dan beberapa orang polisi. Lapangan itu didjaga keras. Tidak seorangpun jang diperkenankan masuk. Pintu masuk jang merupakan gerbang selamat datang dengan huruf² terbuat dari daun kelapa muda, sudah didjaga dengan rapat sekali. Buruh² keheranan. Mereka menunggu dengan tandatanja besar. Militer² berdjaga dengan bajonet terhunus. Beberapa peti peluru dionggokkan dekat beberapa karaben-mitraljur. Militer² itu memandangi dengan mata galak. Buruh² memandangi dengan mata bertanja-tanja.

Perajaan akan diadakan pada djam sembilan tepat. Setengah djam sebelum itu datanglah Mahwa dan beberapa pimpinan buruh. Kepala grup dari masing² EB, lengkap siap. Buruh² tak diperkenankan mendekat. Pendjagaan semakin disiapkan. Peluru² sudah siap untuk dimuntahkan. Militer² itu enam tudjuh orang memasuki bangsal darurat. Mereka membawa sesuatu. Sesuatu itu adalah kaleng entah apa isinja. Militer² lainnja siap untuk memuntahkan pelurunja bila sewaktu-waktu diperlukan. Buruh² hanja melihatkan dari luar.

Tepat djam sembilan, kaleng² jang dibawa militer² tadi dibuka isinja. Dan dengan tangan jang sigap isi kaleng itu dihamburkan kebangsal, kepodium, ke-medja² pantjang². Minjak tanah. Sudah itu api. Bangunan² dibakar. Podium dibakar. Mereka membakar segala apa jang kiranja bisa dimakan api. Buruh² dengan mata terbelalak melihatkan dari djarak duapuluh tigapuluh meter. Api makan kaju²an. Bunji letupan kaju² dan daun² kelapa dimakan api. Militer² itu lebih menjiapkan barisan dan peluru²nja. Buruh² dengan penuh perasaan melihatkan dari djauh.

Segera pimpinan buruh berapat darurat disamping lapangan jang sedang penuh api itu. Mereka rapat sambil berdiri. Belum habis api makan bangsal² dan bangunan² itu, mereka sudah mendapati keputusan jang disokong oleh semua kepala grup. Mahwa dan kawan²nja mendahului dan mengepalai djalan. Mereka dengan diiringi sepeda dan puluhan prahoto, tidak kurang dari empat ribu orang berdjalan menudju sesuatu tempat.

Enam kilometer dari tempat itu ada sebuah pantai jang besar. Berpasir putihindah. Mereka menudju kepantai Tandjungpendam. Ramai² mereka secara beriring teratur melewati djalan² raja, achirnja sampai djuga dengan harapan² baru. Hari sudah hampir djam 12 siang. Pekerdjaan harus berdjalan lantjar. Ketua dan pimpinan buruh² masing² EB memutuskan untuk meneruskan perajaan ditempat pantai itu. Dengan tjepat kepala grup buruh setiap EB dikumpulkan. Rentjana dibentangkan. Pekerdjaan harus segera dilaksanakan pada waktu itu djuga. Kepala grup dengan tjepat menjampaikan kepada masing² anggotanja. Keputusan jang padu, perajaan segera dilaksanakan. Pertama-tama buruh² harus mentjari perlengkapan alat². Sudah itu segala bentuk permainan seperti jang direntjanakan semula.

Mereka segera bubar dan pergi mentjari apa jang harus mereka kerdjakan dan sediakan.

Achirnja djam 7 malam berdirilah bangunan jang sangat darurat. Hiasan sekedarnja. Lampu² petromak, lampu tempel, pelita², lilin² menghiasi pantai putih bersih itu. Kelihatan dari djauh seperti pasarmalam. Nelajan² jang kebetulan lewat melihat lampu² api jang begitu terang, sebentar mengurungkan niatnja. Mereka mendekatkan perahunja. Sebentar mendjenguk. Pidato² sangat singkat. Sudah itu perajaan dengan segala matjam bentuk permainan Rakjat. Buruh² dari AIRRUA jang djauhnja 50 kilometer dari kota, dari Badau jang djauhnja 60 kilometer dan beberapa kelurahan jang banjak buruh² EBnja, berdatangan membawa alat² permainan dan kesenian masing². Mereka datang dengan prahoto menjewanja bergotong-rojong, dengan speda, sepeda sendirian dan bergontjengan. Dari tempat² jang terdekat tjukup berdjalan kaki.

Djam delapan perajaan kian meriah. Permainan tjampak, beripat, bersair, dan pentjak silat Rakjat. Main bubu jaitu lukah untuk menangkap ikan, sesudah diisi dengan „djiwa”, lalu siapa jang mau melawan bubu itu dipersilahkan bergelut dengan benda jang sudah diisi djiwa itu. Permainan asli Rakjat.

Pantai jang tadinja agak besar, kini bertambah ketjil. Penduduk mengalir mendatangi dan menonton. Lampu² semakin banjak. Dua tiga orang datang polisi bersendjata lengkap dan empat lima orang militer belanda seolah-olah datang untuk menghentikan. Akan tetapi segera Rakjat mengikutkan mereka dengan bangga menundjukkan perajaan itu. Alat² pemerintah itu sesudah lihat sana sini, lalu melihat lagi satu² bentuk permainan. Rakjat terus mengikutkan mereka dengan menundjukkan perajaan itu. Alat² pemerintah itu sesudah lihat sana sini, lalu melihat lagi satu² bentuk permainan. Rakjat terus mengikutkan mereka. Buruh² dengan senjum gembira menantikan apa jang akan terdjadi. Alat² negara tadi sesudah tanja sini tanja sana, meneruskan pengamat-amatannja. Permainan tetap kian meriah. Beberapa militer belanda tadi mempersaksikan permainan beripat. Beripat, dengan sebuah rotan sebesar ibukaki djari dan sepandjang semetersetengah, bergiliran memukulkan kemasing-masing badan lawannja. Dengan suara „Siaaat”, rotan itu djatuh kepunggung lawan, sudah itu „siaaat” lagi kepunggung lawan jang satunja. Mereka bergiliran, dengan diiringi alat² gendang dan gung, permainan beripat itu mendjadikan permainan kegembiraan. Rotan itu bersarang pada punggung, dan warnanja lalu membiru, sakit pedih.

Militer² belanda itu menonton dengan asik dan gembira. Permainan beripat jang begitu dahsat mengerikan, tapi begitu djudjur. Dua tiga orang alat negara lainnja mempersaksikan permainan tjampak, pentjak silat, bersair dengan lagu jang merdu mengisahkan tjerita si Kantan riwajat pulau Belitung, seorang anak jang mendurhakai ibunja mentang² anak tadi sudah beristri dengan orang belanda. Anak tadi jaitu si Kantan sangat malu mengakui ibunja dihadapan istrinja jang tjantik itu, sebab tak mungkin Kantan jang sudah kanja dan punja perahukapal tapi beribukan seorang jang sangat miskin. Tidak hanja itu, Kantan lalu mengusir ibunja dihadapan istrinja jang berbangsa belanda tadi. Ibunja sangat merasa terhina. Dengan rasa sakit hati, ibu itu minta kepada jang mahakuasa agar mentjelakakan Kantan. Dengan memertjikkan buah dadanja kearah matahari, ibu itu meminta, karena Kantan dia jang melahirkan, maka mudah-mudahan sumpanja mengena. Ibu itu minta gar Kantan tenggelam dengan perahunja beserta istri jang berbangsa belanda itu. Sumpah ibu mengena. Tidak lama sesudah itu, perahu Kantan meneruskan pelajarannja. Tapi tidak djauh dari pulau itu, masih dimuara sungai Tjerutjuk sungai jang terbesar di Belitung, datanglah halilintar jang sangat dahsat dan badai topon jang luarbiasa. Perahu Kantan diamuk badai topan serta dibelah petir. Perahu itu lama² tenggelam. Sampai sekarang menurut tjerita orang kampung, bila hari hudjan panas, makan akan terlihatlah dua ekor kera. Seekor kera hitam, itulah si Kantan, dan seekor kera putih, dan itu adalah istri si Kantan orang belanda itu, demikianlah tjerita orang jang menjairkan tjerita si Kantan. Sair itu memakan waktu sampai tiga empat djam, tidak berhenti-hentinja menarik suara dengan merdu.

Militer² belanda tadi jang kebetulan senang menjanji, sangat asik mendengarkan orang jang membawakan sair itu.

Militer belanda dan polisi jang lainnja asik menari tjampak, menonton silat. Buruh² dan penduduk jang tadinja menguatirkan akan terdjadi apa², tapi setelah mereka melihat dengan kepala sendiri bahwa alat² pemerintah itu malah turut menonton dan tjampur tangan, mendjadikan mereka tambah berani dan bersemangat.

Pada mulanja memang benar bahwa alat² negara tadi ditugaskan untuk mengatjau, untuk membubarkan dan untuk menjebarkan kabar² jang mengantjam penduduk jang menonton perajaan itu. Akan tetapi setelah mereka sendiri melihat keadaan kemeriahan perajaan itu, dan sesudah agak asik mempersaksikan tontonan itu, mereka sendiri melupakan tugasnja. Dan bersama Rakjat turut meriahkan perajaan itu walaupun diluar kesadarannja. Dengan menutup merahputih jang begitu berpantjangan menghiasi pagar² darurat dan hiasan² bangsal darurat tadi. Mereka tak perduli. Lagipula kopral dan agenpolisi itu sendiri kelihatannja memang gemar menonton. Dan anak buahnjapun tak pula begitu menghiraukan tugas jang begitu mengikat. Tontonan jang begitu menarik, perajaan jang begitu meriah dan buruh² jang begitu berbaik hati menjambut mereka, menjebabkan mereka tak sampai hati mengatjaukan perajaan itu. Bukan dengan perasaan kasihan jang terutama, tapi memang perajaan itu mengharukan dan menggembirakan, sehingga alat² pemerintahpun turut² terbawa-bawa oleh massa.

Perajaan tetap makin meriah. Dari djauh akan tampak tempat itu sebagai unggun api jang mendjalar pandjang djauh. Kelapkelip lampu jang ratusan itu akan terlihat dari djauh seperti pesta besar. Dan ribuan Rakjat mengaliri tempat tersebut.

Hari semakin djauh malam. Ketua buruh Mahwa dan kawan-kawannja serta kepala grup buruh dari masing² EB tetap berpos ditempat perajaan itu. Mereka memutuskan perajaan itu akan dilangsungkan dua malam. Satu malam untuk buruh² setjara umum, satu malam lagi untuk memberi kesempatan untuk buruh² jang pada malam itu berdjaga dikapal keruk. Sebab setiap EB, biarpun EB itu tidak memproduksi, buruh² tidak bekerdja, akan tetapi keputusan buruh bahwa setiap EB didjaga oleh 30 orang, orang² dari mereka sendiri. Sebab takut² kalau ada pengatjauan, dimana memang buruh² tetap bertanggungdjawab. Buruh² jang belum diberi kesempatan melihat perajaan ini tidak kurang dari 600 orang dari semua EB jang berdjumlah 13 itu. Pada malam besoknjalah kesempatan harus diberikan pada mereka.

Mendjelang djam sebelas malam, datang empat orang buruh jang tidak tergabung pada buruh² EB. Mereka dua orang dari buruh kantor tilpun dan telegram. Dua orang lagi dari serikat mereka tapi dari kantor HK. Keempat orang ini datang mentjari Mahwa dan kawan² pimpinan buruh lainnja. Mereka dikenal baik oleh kaum buruh EB, sebab mereka tergabung dalam serikat buruh pemerintah (Gubernemen bukan maskapai) jang kebetulan mereka ini adalah pimpinan tjabang buruh kantor telegram. Seorang buruh HK itu dikenal sebagai penjimpan arsip di HK. Mereka langsung dibawa kepos tempat Mahwa dan kawan²nja. Untuk mendjumpai Mahwa dan kawan²nja tidaklah begitu sukar apabila memang betul² orang itu berkehendak baik dan sesudah melalui piket darurat.

Beberapa orang dengan matanja jang ber-tanja² mengikutkan buruh² itu. Mereka dibawa masuk kedalam bangsal ketjil darurat. Beberapa pemimpin EB diadjak serta dalam rapat kilat itu. Mereka berapat dan berdiskusi. Buruh telegram dan buruh penjimpan arsip itu membawa beberapa kertas jang bertulisan resmi meskipun sudah salinan. Mereka menjerahkan kertas² itu ketangan Mahwa. Sesudah dibatja, diedarkan dari satu tangan ke tangan lainnja. Sudah itu kedengaran tarikan nafas jang pandjang dan berat. Beberapa pasang tangan mengempaskan tangan² itu keatas lututnja. Mereka agaknja kesal dan marah. Sudah itu mereka berapat dan agak berdebat lagi. Sampai djam 1 malam barulah mereka dapat mengambil keputusan. Keputusan itu segera disampaikan kepada kepala grup masing² EB untuk dipertimbangkan. Jang ditugaskan untuk menjampaikan hasil rapat ini, beberapa buruh dengan bersepeda dan berlari tjepat menjelesaikan tugasnja. Sudah itu beberapa sepedamotor pergi kemasing-masing EB jang letaknja sangat djauh dari satu EB ke EB lainnja. Putusan dinantikan segera untuk melaksanakan aksi lagi.

Mendjelang djam enam pagi, berdatangan lagi semua petugas² jang menjampaikan pesan dan usul pertimbangan tadi. Mereka setjara bulat menjokong hasil rapat. bahwa pemogokan akan dilangsungkan jang sifatnja bukan lagi perajaan ulangtahun kemerdekaan, akan tetapi tuntutan, tantangan, adjaran.

Pemogokan pertama akan dilakukan 3 hari. Sesudah itu bila tidak ada djawaban dan permintaan maafan, pemogokan akan dilangsungkan 3 hari lagi.

Pada pagi itu, pimpinan buruh jang sudah dua ahri tidak tidur sepitjingpun, berapat kembali dan menjusun resolusi serta menjusun sarat² tuntutan jang harus dipenuhi oleh pihak pimpinan perusahaan GMB.

Tuntutan itu antaranja berisi:

1.
Buruh minta ganti kerugian atas pembakaran persiapan perajaan jang dibakar kemarin. Kerugian berdjumlah Rp. 90.000. —
2.
Kenaikan gadji 7% seperti pernah ditawarkan harus dibajar pada tepat tanggal bulan September.
3.
Pimpinan perusahaan harus mengakui bahwa mereka telah menipu buruh dan dengan itu harus minta maaf.
4.
Bila tiga pasal itu tidak dilaksanakan setjara tjepat, maka pemogokan akan berdjalan 3 hari, sudah itu tiga hari lagi untuk selandjutnja akan diteruskan.

Tuntutan itu pada djam 7 sesudah ditep rapi, segera diteruskan kepada pihak pimpinan GMB. Sesudah pihak GMB menerima surat tuntutan itu, mereka segera pula mengadakan rapat kilat. Pemerintah dan GMB berapat disertai kepala militer dan kepala polisi belanda. Rapat jang penuh debat dan tak berkeputusan.

Hari pertama pemogokan buruh tanggal 18 Agustus. Kapalkeruk sepi, pekerdjaan tidak berdjalan. Tapi setiap kapalkeruk (EB) tetap didjaga buruh². Dipuntjak EB itu berpantjangan merahputih dan bendera merah darah, bendera buruh. Sehari penuh tak ada kedengaran dengungan EB. Biasanja setiap pukul 7, pukul 10 dan pukul 4 sore, kedengaran „auuuuuut” sebanjak tigakali dari setiap EB. Penduduk tak lagi mendengar bunji itu. Kota djadi ramai, buruh² mengumpul. Kantor HK hanja pimpinan perusahaan hanja belasan orang. Disetiap kantor jang ada hubungannja dengan pemogokan berpantjangan bendera merahdarah. Beberapa prahoto dan beberapa sepeda dan gerobak dorong membawa perlengkapan makanan untuk buruh² jang bertugas mendjaga EBnja masing². Makanan mentah itu dibawa pula ketepi pantai Tandjungpendam untuk buruh² jang bertugas mendjaga keamanan pos perajaan jang belum pindah kantor. Kantor ditepi pantai. Makanan itu berupa beras, ikan, ajam dan buah²an serta sajur²an. Sokongan dari orang² jang agak berada mengalir ketempat pos² buruh jang bertugas mendjaga keamanan. Beberapa petani Tionghoa, pedagang beras, mengalirkan sokongannja turut solidaritet. Orang² Tionghoa jang mempunjai truk dan prahoto memindjamkan untuk keperluan buruh. Suasana kota suasan pesta.

Berita² jang dinantikan buruh² belum djuga tiba. Tapi mereka tetap pertjaja bahwa mereka akan menang. Sementara itu rapat pimpinan perusahaan dan pihak gubernemen belum djuga menemui djalan baik. Mereka sama² merasa bertanggungdjawab. Putusan bersama haruslah dipikul bersama walaupun dalam masing² hati tetap ingin tjutji tangan.

Keesokan harinja keadaan mendjadi gempar. Buruh² tetap mendjalankan pemogokan. Sokongan² setjara ichlas dan djudjur mengalir menguatkan tuntutan buruh. Dalam pada itu kegemparan terdjadi, dua orang pegawai ditangkap. Seorang pegawai arsip HK, seorang pegawai telegram, dua orang buruh jang membukakan rahasia pimpinan perusahaan. Rahasia pimpinan perusahaan sudah mendjadi rahasia umum. Pimpinan perusahaan dengan perasaannja jang masih ada, agak tersinggung perasaannja dengan terbukanja rahasia rapat lengkap GMB dan Gubernemen.

Dari pegawai arsip itu rahasia terbuka bahwa, kenaikan gadji jang 7% adalah kenaikan gaji jang sudah semestinja memang dilaksanakan pada bulan September, jaitu tuntutan buruh pada menghadapi bulan Mei (1 Mei) dulu. Buruh menuntut kenaikan gadji 12%, karena dari penjimpan arsip itu pula buruh² tahu bahwa keuntungan seluruh EB pada tahun jang lampau mengalir 4.000.000 (empat djuta gulden) jang belum dinilai dengan rupiah kenegeri belanda. Produksi naik sebanjak 14%. Tentang angka² ini sangat dirahasiakan, hanja penjimpan arsip jang tahu dengan sumpah tentunja bahwa rahasia itu tidak akan terbuka. Bahwa kenaikan gadji 7% itu adalah kenaikan gadji jang samasekali tak ada sangkut paut dengan apapun. Hanjalah memang perusahaan menganggap bahwa kenaikan gadji itu akan merebut hati buruh dan agar buruh bekerdja baik dan agar kemenangan politik belanda menginginkan agar lebih banjak pegawai² jang bekerdja dan mengabdikan dirinja pada belanda. Suasana politik merubah taktik perusahaan dengan penindjauan perbandingan kenaikan produksi, dengan perbandingan ekonomi dan politik ini, taktik berobah, gadji buruh dinaikkan. Akan tetapi surat serta telegram dari pusat serentak datangnja ketika kesibukan menghadapi hari ulangtahun proklamasi kemerdekaan. Saat itu dipergunakan oleh Van de Moll dan kawan²nja. Kenaikan gadji 7% akan dilaksanakan oleh asal perajaan ditiadakan. Padahal kenaikan itu samasekali tak ada sangkut paut dengan adanja perajaan.

Lagipula penerima telegram, mentjatat bahwa kenaikan gadji 7% dilaksanakan pada 31 Agustus, sebagai kenaikan gadji buruh berhubung naiknja produksi. Pentjatat telegram dan pegawai arsip inilah jang membukakan rahasia pimpinan perusahaan. Karena rasa setiakawannja mereka turut menjokong perajaan dan menjokong buruh dengan kenaikan gadji atas kemenangan tuntutan mereka. Tapi akibat atas kesertiakawanan mereka, pada tanggal 19 Agustus mereka ditangkap. Kegemparan mendjadi-djadi. Pimpinan buruh segera bersidang. Delegasi buruh segera dibentuk. Dua orang tangkapan tadi segera ditahan langsung oleh militer dirumah tahanan militer. Delegasi itu dikirim untuk menemui jang berwewenang. Akan tetapi dimana-mana mereka ditolak. Pimpinan perusahaan, gubernemen, kepala militer tidak bersedia menerima. Buruh² mendjadi lebih bersatu. Kepaduan dan kebulatan mereka sudah tak perlu didjaga lagi, dengan sertamerata mereka mendapati keputusan itu. Apabila kedua orang itu tak dikeluarkan, maka buruh akan mendjalankan pemogokan berdjangka pandjang. Serentak dengan itu sokongan Rakjat pada buruh setjara ber-sama² mendjadi suatu demonstrasi besar. Mereka tidak hanja menjokong perlengkapan makanan buruh selama dalam pemogokan, tapi menjokong untuk berdemonstrasi setjara besar-besaran. Tenaga demonstrasi sebesar 20.000 orang tjukup tersedia jang berarti seperlima isi seluruh penduduk pulau itu. Sokongan itu menambah semangat kaum buruh. Pesta pemogokan. Bendera² merahdarah berpantjangan di-mana², dan disampingnja bendera merahputih. Gedung² dan gudang GMB penuh tulisan dan penuh bendera kertas. Pemogokan akan diteruskan sampai terlaksana tuntutan pertama dan tuntutan semuanja. Tulisan ditembok „Rakjat berdiri di pihak kaum buruh” dan „Kapitalis imperialis belanda harus dikalahkan kaum buruh dengan bantuan Rakjat seluruhnja”, „Buruh menghasilkan, buruh pula jang semestinja harus merasakan hasilnja”, Empat djuta gulden mengalir kengeri belanda dalam tidak sampai duabelas bulan”, „Penipuan dibukakan buruh” dan tulisan² lainnja.

Suasana kota penuh semangat. Buruh² mendjadi pahlawan dimata Rakjat. Rakjat dan buruh lalu seikatan dan persamaan nasibnja lebih terasa semendjak pemogokan ini. Buruh² adalah anak Rakjat. Rakjat dan buruh lalu mendjadi satu kekuatan utama.

Berita² tangkapan belum djuga dapat diusut. Pemogokan berdjalan. Laporan diteruskan ke Batavia. Jang melaporkan adalah buruh sendiri dengan surat² pos dan dengan delegasi setjara diam². Pemogokan tetap mendapat semangat membadja. Sokongan tidak lagi hanja dari orang² Indonesia, tapi dari segala bangsa jang menaruh simpati, dari orang Tionghoa pekerdja parit (buruh GMB djuga) dari pedagangnja dan dari masarakat pedagang India setjara sembunji² datang djuga memenuhi panggilan sedjarahnja.

Setjara diam² delegasi dikirimkan. Sedangkan pemogokan sudah berdjalan seminggu. Batavia belum mengetahui. Tapi rentjana kekerasan sendjata belum dilaksanakan. Rupa²nja militer belanda agak merasa ketjut djuga melihat suasana jang begini panas dan mendapat sokongan dari siapa sadja. Akan memenuhi kehendak buruh, berarti kedjatuhan prestasi pimpinan perusahaan. Pimpinan perusahaan merasa hidup amat terdjepit. Diluluskan tak mungkin, diteruskan dengan tjara begini berarti produksi mata. Sedangkan Batavia belum mengetahui. Mereka mendjalankan tugas jang diberikan Batavia tidak sebagaimana mestinja. Melaporkannja ke Batavia, itu berarti melaporkan kebodohannja sendiri, melaporkan ketidak disiplinannja. Mereka betul² seperti beridir diudjung tanduk. Tangkapan tetap ditahan. Demonstrasi buruh setjara besar²an disiapkan untuk dilaksanakan setjepat mungkin. Kekuatan Rakjat sedang dalam perhitungan penggerakan.

Pemogokan sudah berdjalan hampir sepuluh hari. EB² tetap didjaga kalau² akan dihantjurkan belanda sendiri. Setjara bergiliran mereka dengan teratur mendjaga keselamatan EB² itu seperti kepunjaannja sendiri.

Dalam pada itu sore² dua buah kapal terbang catalina mendarat didekat pasar ikan. Kapal terbang itu membawa belanda². Mereka dari Batavia. Membawa surat² resmi dari pusat perusahaan dari kantornja Standvac. (Pusat kantor GMB dulu disatukan dengan Standvac). Belanda² utusan Batavia itu menginal dihotel pantai, sebuha hotel untuk tamu² GMB.

Ada lebih 20 orang mereka membawa apa² jang diperlukan dalam mengusut perkara ini. Batavia sudah mengetahui tentang kekeruhan ini. Tentu sadja pimpinan perusahaan sangat terkedjut. Sebab mereka samasekali tak mengirimkan berita apa², tahu² persoalannja lengkap sudah diketahui pimpinan pusat. Malu dan kedjatuhan. Sidang² dimulai. Rentjana² dibentangkan. Seorang pimpinan direksi, Stassen pada rapat itu marah² dengan amat sangat. Pemogokan berdjalan sepuluh hari, itu berarti produksi mati, dan kehilangan 600.000 gulden dengan kehilangan keuntungan dengan modal jang mati. Pembekuan modal dalam kegentingan peperangan jang banjak memerlukan timah, adalah perbuatan jang sangat goblok. Sedangkan pengeluaran jang diperlukan sangatlah banjak. Stassen dengan penuh kemarahan, memerintahkan agar melepaskan kedua tawanan itu, luluskan kehendak buruh, ganti kerugian buruh. Pengganti kerugian tak ada artinja apabila dibandingkan dengan kenaikan produksi 14% dan keperluan permintaan di Eropah jang sangat memerlukan timah. Permintaan dari Perantjis, Belgia dan negara jang ketika itu sangat memerlukan timah.

Kedatangan Stassen betul² mengedjutkan pimpinan perusahaan setempat. Serta dengan itu surat putusan mutasi. Empat orang segera dipindahkan ke Batavia untuk segera dikirimkan ke Nibem (Tg Pinang Riau). Pengganti kepala perusahaan sudah ada bersama kedatangan Stassen, dan pimpinan lama segera berangkat dengan Catalina itu djuga. Mutasi jang besar²an ini mengakibatkan pula penggantian bentuk aparatur gubernemen lainnja. Perusahaan GMB dan gubernemen tidak berbeda. Malah gubernemen dikuasai GMB, beberapa orang pedjabat seperti Van Aandell dimutasikan ke Batavia mendjabat kepala bagian produksi. Mutasi² berdjalan agak sukar. Tapi surat² sah dan perintah dari atasan malah diketahui Van MOOK, sukar pula diingkari.

Rapat bubar. Hari itu djuga pimpinan berganti bentuk dengan isi jang sama kolot. Hanja tawanan jang membukakan rahasia tadi dilepaskan. Sudah itu panggilan terhadap pimpinan buruh, untuk segera meluluskan permintaan buruh. Penggantian kerugian Rp. 90.000 dapat dibajar pada waktu itu djuga. Catalina dua buah itu membawa pula uang djutaan dengan dikawal militer dari pusat sebanjak lima orang. Perombakan akan diadakan besar²an. Belanda sudah memikirkan bahwa produksi akan abadi ditangan belanda dan perbaikan barang modal segera akan direparasi atau diganti. Perang belum berhenti. Produksi timah diperlukan untuk dilipatgandakan. Eropah memerlukan tmah. Belanda memerlukan uang dan barang² lain. Kekalahan perang dalam perang dunia kedua sangat menimpa parah negeri belanda. Perang dengan RI akan berdjalan terus, malah ada rentjana² akan didjalankan untuk menghabiskan RI (ingat aksi polisionil kedua).

Pembajaran dan pelepasan tawanan segera pada hari itu djuga meskipun hari sudah pukul 8 malam. Buruh² keheranan. Mereka merasa tidak memasuki pintu kemenangan. Malah mereka merasa bahwa akan ada apa². Tapi uang kerugian diterima sebab itu memang uang buruh dari kas buruh. Kenaikan gadji akan tjepat dilaksanakan pada awal September. Pimpinan perusahaan baru diperkenalkan. Akan tetapi pihak pimpinan perusahaan baru itu dengan lagak ingin mendapat kepertjajaan buruh, berusaha mendekati buruh. Pihak pimpinan meminta agar keesokan harinja buruh sudah dapat bekerdja seperti biasa. Pemogokan tjukup berdjalan hampir hari keduabelas.

Dengan disiplin jang teguh, keesokan harinja buruh bekerdja lagi seperti biasa. Bendera merah diturunkan, akan tetapi bendera merah-putih tetap diujung ketinggian kapal. Pada hari itu Rakjat mendengar auman djauh EB² itu „auuuuuut” dengan bunji jang berat, masing² EB bersahutan. Buruh² dengan mendajung sepedenja pergi ketempat pekerdjaan. Buruh dua orang jang dulu ditangkap, dimutasikan kebagian lain. Mereka dimutasikan kebagian pekerdjaan jang sangat tidak penting. Penggantinja diangkat buruh jang menurut pendapat belanda akan lebih tolol, tapi semua buruh sudah dipersatukan oleh pengalaman baru² ini. Mereka semua sama, tadjam dan waspada penuh rasa setiakawan.

Pimpinan baru perusahaan sering² mengadakan rapat. Pada bulan awal September gadji mereka dibajar dengan kenaikan 7%. Tapi buruh² tidak lalu merasa bangga, mereka penuh tanja, apa lagi jang akan diperbuat belanda. Pimpinan buruh diadjak bekerdjasama dalam memadjukan produksi, dengan bekerdja giat. Dengan penuh kewaspadaan pimpinan buruh meneliti rentjana itu. Rentjana penaikan djam kerdja ditolak buruh, penambahan tenaga kerdja disetudjui, berarti djuga menambah massa mereka dan menambah matapentjaharian mereka.

Dan ketika berbulan-bulan sesudah kedjadian itu, pimpinan perusahaan menawarkan tawaran jang sangat baik dan menarik perhatian buruh menurut belanda sendiri. Belanda menawarkan pimpinan buruh untuk datang menindjau kengeri belanda selama sebulan lebih bersama wakil² B. F. O. jang akan berunding dengan pemerintah belanda. Pihak pimpinan perusahaan menawarkan kartjis tjuma² dan persediaan uang belandja selama berada dinegeri belanda. Belanda akan menanggung semua ongkos dan semua belandja untuk tiga orang wakil buruh. Mereka akan diikutsertakan sebagai penindjau dengan rombongan BFO, wakil federasi belanda sesudah ditelorkan perundingan Malino di Makassar. Tapi dengan tjukup pengertian buruh mendjawab abhwa buruh akan merasa senang djuga bila ongkos² untuk tiga orang itu diluangkan sadja dan untuk mengisi kas buruh. Dan kata buruh, lagipula mereka bukan wakil belanda tapi termasuk harus mewakili Indonesia jang bergabung dengan RI di Djokdja. Benar daerah mereka ada di kekuasaan belanda, tapi siapakah jang dapat menguasai kehendek, ideologi, serta persamaan tudjuan. Dengan mentah² usul belanda itu hanja mendjadi tertawaan buruh.

Semangat Kemerdekaan

SEBUAH DJIP PENUH DENGAN PENUMPANGNJA 7 orang meluntjur didjalan raja jang sudah sepi dan djauh malam. Ada beberapa tukang betjak mendajung lemas, mereka pulang. Tukang sekuteng menjorong gerobak dagangannja. Lampu² duduk dan lilin berkelip-kelip ditiup angin lemah Stasiun Gambir, tjahaja terang. Beberapa puluh orang tidur diubin jang beralaskan tikar tipis, penumpang² jang akan antri djam empat pagi nanti.

Djip tadi berdjalan menudju sebuah gedung besar. Agaknja gedung itu gedung orang asing, sebuah perusahaan atau kantor dagang jang luas dan megah. Djip berhenti persis didepan gedung itu. Penumpang²nja turun. Beberapa orang pakai topi bambu meskipun hari sudah begitu malam dan langit bersih berbintang terang. Dua tiga orang lainnja membawa kaleng ketjil seperti kaleng biskuit, bundar memandjang. Beberapa orang lainnja tampak membawa alat² jang diperlukan lainnja. Mungkin djuga sendjata api, mungkin benda² jang tidak berbahaja.

Mereka berbondong menudju pintu pertama masuk. Tapi pintu itu dikuntji dari dalam. Pintu pagar besi jang kuat. Mereka mengetok keras² pintu itu. Pendjaga gedung datang segera.

„Mau apa kamu”, kata suara galak.

„Buka tjepat, atau kami naik lontjat”, kata orang² itu dengan lebih tegas dan berani.

„Mau apa. Saja jang djaga disini”, katanja lagi dengan memegang pedang sendjata djaga malamnja.

Kemudian ada lagi seorang pendjaga jang datang mendekati, djuga memakai pedang serupa.

„Buka tjepat. Awas, sekali lagi, lekas buka atau kami pakai kekerasan”.

„Kamu rampok”, kata orang itu dengan sendjata siap mengajunkan pedangnja.

Tapi dua orang muda tadi dengan tangkas melontjat naik pintu pagar besi jang tingginja kira² hampir dua meter. Lekas sekali kedua orang itu menangkap pedang jang mau diajunkan. Sudah itu segera pula kawan²nja jang lain naik melontjat. Dan merampas kuntji pintu pagar besi. Dengan mudah mereka membukanja. Tudjuh orang kawan²nja masuk kedalam. Kedua pendjaga jang memakai pedang tadi sedang bergumul sebentar. Sudah itu mereka dipegangi oleh kawan²nja jang lain. Jang lain menanjai dan berkata.

„Bapak dua orang jang djaga disini, hanja dua orang?”

„Ja, hanja dua orang”, katanja dengan agak ketakutan.

„Ini kan gedung kepunjaan belanda, ja, pak?”.

„Ja, kepunjaan belanda. Saja jang djaga disini dengan kawan ini”, sambil menundjukkan keteman jang sedang dipegangi orang² muda itu.

„Ja, lepaskan mereka”, kata orang muda kepala rombongan itu.

Kedua pendjaga gedung itu dilepaskan dengan bebas. Tapi mereka penuh duga dan agak ketjut. Mereka berpikir, rampokkah ini, atau mau mengatjau sadja. Tampangnja memang menjeramkan. Mengapa pula bertopi malam² begini. Apa pula jang dibawanja dalam kaleng itu.

„Bapak djangan takut. Kami bukan rampok, bukan tjopet. Kami orang baik². Pegawai negeri, pedjuang dan dari organisasi jang sah, bukan liar”, katanja menerangkan ketika kedua pendjaga itu tampaknja agak ketakutan dan penuh dengan muka bertanja.

„Kami bertugas melakukan aksi. Aksi revolusi kita jang belum selesai”.

Sudah itu mereka menudju kegedung dan mendekati gedung itu. Tembok²nja didjamah. Kedua pendjaga itu mengikutkan dari belakang. Pedangnja dengan bebas berajun di pinggangnja. Tampaknja pedang itu tidak akan dipergunakan untuk diajunkan kepada pemuda² tamu jang tak diundang. Mereka mengikutkan dan memperhatikan apa jang akan diperbuat tamu² itu.

„Silakan mulai. Dua dari tembok sana, dua dari tembok sini”.

Pemuda² jang membawa kaleng tadi menudju tempat jang ditundjukkan kepala rombongan. Mereka membuka kaleng itu dan mentjelupkan kwas lalu mulai menulis dengan huruf besar hitam setinggi satu meter dan tebal, tulisan kira² sepuluh sentimeter.

Kedua pendjaga tadi melihatkan sadja dengan muka muram. Mereka tak berdaja.

„Apa nanti kata tuan saja, pak”, kata pendjaga tadi sudah mulai memanggil bapak pada anak² muda.

„Bapak tahu, kita sekarang sedang mengadakan aksi pada belanda. Belanda masih mendjadjah Irian Barat. Irian Barat itu kepunjaan kita, tapi oleh belanda masih terus diduduki. Padahal menurut perdjandjian KMB jang mereka tandatangani sendiri, mestinja sudah hampir 8 tahun seharusnja mereka serahkan pada kita, atau setidak-tidaknja membitjarakan lagi atas djandjinja. Belanda itu pendjadjah, bapak, lagipula penipu. Belanda senang² mengambil hak kita, tapi kita Rakjat Indonesia menderita kelaparan, kemiskinan, kemelaratan, bahkan banjak mati oleh perbuatannja”.

Pendjaga tadi masih belum mengerti. Mereka hanja diam sadja termangu. Tapi sekarang mereka tidak setakut tadi lagi. Tampaknja pemuda² itu ramah tamah djuga. Dan sungguh tak berniat buruk pada pendjaga itu, sehingga pendjaga ² sudah tambah berani.

„Apa jang mesti saja bilang kalau tuan saja tanja nanti, pak?”

„Katakan sadja dengan sebenarnja. Ada pemuda² Indonesia jang sedang terus mendjalankan revolusi datang kemari mentjoreti gedung² ini. Bapak tidak usah takut. Tidak hanja gedung ini sadja jang ditjoreti, semua gedung, gudang kepunjaan belanda semua kita tjoreti. Tjoba bapak lihat besok, semua gedung² belanda sudah bertulisan seperti jang kami tulis ini. Bapak tak usah kuatir tak usah takut. Bapak kan hanja bekerdja, hanja bekerdja mendjaga hakmilik belanda agar tidak hilang. Agar haknja aman tidak ketjurian. Kami datang ini bukan untuk mentjuri, tapi untuk menulisi itu”.

„O, begitu. Sudah ditjoreti akan diapakan lagi?”

„Tidak apa² lagi. Kami akan pergi mentjari gedung² belanda lain. Jang kepunjaan belanda”.

Lalu orang² itu diam dan masing² dengan pikirannja. Pemuda² lainnja sedang asik menulisi tembok gedung itu.

„Merokok, pak, enak dingin²”, kata kepala rombongan itu sambil menjodorkan rokoknja kearah muka pendjaga. Pendjaga menerimanja dengan senang hati. Lalu pemuda itu menjalankan geretennja dan menjodorkan lagi kepada teman pendjaga jang satunja. Mereka merokok semua. Mengisap rokok kretek djinggo lezat² dimalam jang begitu sunji dan dingin.

„Bapak sudah lama bekerdja disini?”.

„Sudah tiga tahun”.

„Banjak gadjinja?”

„Ja, asal tidak berhutang sadja sudah mendingan, pak, tapi tiap bulan hampir berhutang sebesar gadji sendiri. Djadi belandja akan tjukup kalau gadji itu akan dibajar duakali”.

„Sudah berapa anaknja?”.

„Saja sudah empat. Kawan saja ini sudah lima”.

„Enak bekerdja disini, pak?”.

„Bukannja enak, pak, tidak ada lagi pekerdjaan lain. Kalau ada jang lain, gadjinja akan besar, saja sendiri mau pindah. Tapi sekarang kerdjaan susah didapat”, katanja lagi.

Pemuda² tadi selesai menulisi dengan kalimat² „Usir belanda dari Indonesia”, „Imperialis belanda harus dinjahkan dari Irian Barat”, „Sita modal² belanda”, „Bebaskan Irian Barat setjepatnja”, „Hapuskan segala perdjandjian jang mengikat dengan belanda”, „Putuskan hubungan dalam bidang apapun terhadap belanda”, „Rakjat Indonesia bersedia konfrontasi dalam bidang apapun”, „Hantjurkan imperialisme kolonialis belanda di Irian Barat, sikat bersih sisa² kolonial belanda dari muka bumi Indonesia”, „Irian Barat segerakan masuk wilajah kekuasaan RI”, dan banjak lagi tulisan² ketjil besar memenuhi tembok gedung itu.

Pendjaga² hanja melihatkan dengan muka jang agak kelutjuan. Kepala rombongan pemuda tampak tersenjum berseri.

„Nah hanja ini jang kami kerdjakan pak, tidak untuk merampok isi gedung ini, tidak untuk membakarnja”.

„Tadinja saja sudah kuatir kalau bapak² akan berbuat djahat. Saja tanggungdjawab sih, kalau ada barang hilang”, kata pendjaga itu dengan agak ramahtamah.

„Kalau belanda tanja² bapak katakan sadja terus terang. Ada pemuda² datang kemari. Katakan djuga bapak dikerasi pemuda² itu meskipun sudah melarangnja. Terus terang sadja, bapak tidak bohong kan, bahwa kami masuk dengan debat ketjil, pergumulan ketjil, dengan bapak”.

„Heh…… hehhh…… heh……”, kata pendjaga tertawa kelutjuan.

„Tapi bapak tak usah kuatir. Semua gedung gudang perusahaan belanda semua ditulisi begini”.

„Apa rombongan bapak ini jang mengerdjakannja?”

„Tidak, tidak hanja kami. Banjak lagi, seluruh Rakjat Indonesia. Malah bapak djuga harus tjoreti begini, asal kepunjaan belanda. Bapak lihatlah besok. Kalau hanja kami tidak akan tekerdjakan gedung belanda sebanjak ini. Ini ditugaskan dengan tertentu, pak, bukan sembarangan disamping memang kemauan Rakjat Indonesia seluruhnja. Bapak setudju kan kalau semua belanda kita usir dari Indonesia?”

„Setudju sadjam pak, dulu saja djuga ikut revolusi”.

„Lah kenapa kerdja sama belanda?”

„Orang kata tidak ada kerdjaan lain lagi. Kebetulan dikantor ini diterima, jah, djadi saja kerdja disini. Ambil mudahnja sadjalah. Habis anak² perlu makan, sih”.

„Kalau ada kerdjaan jang lain, gadjinja sama dengan gadji bapak sekarang, mau tidak bapak kerdja ditempat lain, kepunjaan bangsa sendiri, jang bukan imperialis”.

„Tentu sadja, pak, kan malu djuga djaga² gedung belanda begini sedangkan kita sudah merdeka. Jang dilihat merah-putihbiru, padahal dulunja begitu nek”.

„Tadi kok ngalangi waktu kami masuk?”.

„Tentu sadja, saja tanggungdjawab. Saja kira bapak² orang mau ngerampok”, kata pendjaga tadi dengan agak berani, tapi diutjapkannja dengan senjum.

„O, begitu. Bapak hanja kerdja malam sadja?”

„Kadang² djuga siang disuruh ngantar surat atau apa sadja asal disuruh tuan mengantarkan apa² kekantor-kantor lain”.

„Kantor² kepunjaan belanda djuga?”

„Lah ja, dong, abis kemana lagi?”.

Kepala rombongan tadi mengeluarkan buku tjatatannja. Sedangkan kawan² lainnja sudah mendekati penjelesaian penulisan itu. Sekarang tembok itu penuh tulisan. Seorang pemuda menulisi pula pada katjanja. Lalu pemuda tadi pergi mendapatkan pedjaga itu, dan tanja².

„Pak, mobil itu punja disini djuga, pak, punja belanda?”.

„Ja, itu mobil untuk angkut barang² dari gudang, emang power itu”.

Kemudian pemuda itu menudju kepower jang ditundjukkan. Lalu dengan tjepat menulisinja :

„Kembalikan Irian Barat atau kami rebut dengan kekerasan”.

Pendjaga hanja melihatkan dari djauh. Mereka sekarang betul² sudah merasa lebih berani.

„Tadi bapak bilang, bapak kadang² djuga disuruh mengantarkan barang² kekantor lain. Kantor belanda djuga. Dimana itu, pak?”

„O, bapak mau tahu”.

„Ja, asal kantor atau gudang gedung kepunjaan belanda”.

„Saja banjak tahu, kok. Itu jang di Tjikini apotik itu satu”.

„O, ja itu sudah”, kata kepala rombongan pemuda itu sesudah melihat tjatatannja.

„Lantas di Tanah Abang, di Merdeka Barat…… lantas”, kata pendjaga itu sambil lama mengingat-ingat. Pemuda itu mentjatat djalan² dan nomor²nja sekalian setelah ditanjakannja lagi pada pendjaga itu. Dia mentjatat jang belum ada dalam bukunja.

„Lantas di Djalan Segara. Di Senen djuga itu jang modal belanda punja. Lalu di Nusantara toko…… jah toko itu djuga kepunjaan belanda”.

Pemuda tadi mentjatat banjak gedung², kantor kepunjaan belanda.

„Nah, jang di Tjikini apotik itu, gampang njoretinja pak, temboknja bersih, katjanja besar. Nulisnja gampangan sebab rendahan dan besar, ruangannja baik”.

„Jah itu sudah, jang lain”.

Pendjaga itu menjebutkan lagi banjak gedung² dan gudang². Sedangkan pemuda mentjatatnja. Pemuda² lain mendekati, pekerdjaannja selesai. Empat kaleng tjat habis dengan tulisan besar² dan terang. Semua mengumpul.

„Nah, pak, kami sudah selesai. Bilang jang seperti saja pesankan tadi, jah”, kata pemuda itu.

Lalu dia mengeluarkan rokok djinggonja, dan memberikannja pada pendjaga. Dua orang pemuda mengeluarkan dua bungkus rokok jang kebetulan sudah hampir habis tinggal dua batang lagi, serta memberikannja pada pendjaga itu.

„Ini pak rokok², iseng² djangan sampai ngantuk. Ini bukan njogok, lho. Bapak djuga kan bangsa dewe djuga. Tjinta kemerdekaan anti belanda. Setudju kan kalau kita ambil semua milik belanda didjadikan kepunjaan milik RI. karena dia djuga merampok milik kita”.

„Lah ja, ratusan tahun dia ngendjadjah”, kata pendjaga.

„Nah kan bapak tahu, djuga ngerti”.

„Tentu sadja, bekas pelopor djuga kok dulunja”, katanja lagi sambil agak kesombongan.

Lalu pemuda² tadi berpamitan dan bersalaman dengan kedua pendjaga tadi. Pendjaga² tadi agak djanggal djuga menerima sambutan salaman tangan² pemuda² jang begitu gagah² dan ramah tamah. Mereka keheran-heran memperhatikan pemuda² itu. Djip itu diperhatikannja dan mengabur tjepat menudju Merdeka Selatan dan Merdeka Barat.

„Kirain mau apa”.

„Kalau mau nulisi sih nggak usah² main gumul²an segala”, kata kawan satunja.

„Heh…… anak² tempo ini”.

Sudah itu mereka menguntji pintu pagar besi jang kokoh itu.

Keesokan harinja penuhlah tulisan jang dilihat orang² didjalanan. Gedung², kantor² belanda penuh hiasan tulisan hitam, merah, kuning, putih diatas dasar hitam. Mobil² power penuh tulisan. Ditangan djembatan, tembok², tiang listrik besar, pohon² sudah bertulisan aksi massa menentang belanda dan bernafaskan pemutusan hubungan diplomatik hubungan segala bidang.

Belanda² sendiri dengan rasa tjemas dan gelisah menanti dengan harapan djangan lebih luas lagi aksi ini didjalankan. Kantor KPM penuh tjoretan. Lantas ada bendera merah. Ada pemogokan atau pengoperan barangkali. Orang² dari djalan berturunan dari sepeda dan menonton. Rakjat tersenjum dan tertawa. Suasana pesta aksi massa menentang imperialis kolonialisme belanda dilantjarkan setjara serentak. Hanja orang² jang pessimis dan tak pertjaja pada Rakjat sendiri jang dengan sinis mengatakan agar djangan apa² terhadap belanda. Bagaimana kita mau membebaskan Irian Barat kalau kapal² kita sendiri seperti kotak sabun, seperti kaleng minjak tanah. Tapi orang itulah jang djustru membuat perdjandjian KMB itu. Kini dia pula jang menjebarkan pessimisme perdjuangan aksi massa. Namun Rakjat lebih bidjaksana serta tak terkalahkan. Kotak sabun djuga bisa menghantjurkan sendjata bila sudah dibentuk lain. Perdjuangan berdjalan terus.

Siang² pendjaga gudang malam itu dipanggil tuannja. Dengan marah² belanda itu menuduh bahwa pendjaga² dan orang² itu sudah sekongkol. Tapi pendjaga itu marah. Dikatakannja malah mereka bergelut mempertahankan agar orang² itu tidak masuk kehalaman gedung. Tapi mereka menerobos djuga. Dan lebih marahlah setelah dikatakannja orang² itu djuga datang kerumahnja dan menulisi disedannja. Tapi pendjaga mendjawab tegas. Betul² mereka samasekali tidak ngomong apa², apalagi memberitahukan rumah tuannja.

Belanda² itu tetap marah². Pendjaga² malah tambah bersemangat.

„Begini sadja tuan, kalau tuan mau berhentikan kami, kasi pesangon, kami akan kerdja ditempat lain. Tuan tidak kasi berhenti, kami sendiri akan segera berhenti. Bajar gadji kami hari ini djuga. Tuan kira kami akan mampus kalau tidak kerja sama belanda. Betul² tuan ini belanda”.

„Ja, tapi kamu orang harus tanggungdjawab toch”,

„Kami tanggungdjawab, kami akan tanggungdjawab bukan sadja atas kerdjaan orang² malam tadi, tapi kami akan tanggungdjawab atas belanda jang terus-menerus menduduki Indonesia, Irian Barat, dimana akan kami usir segera dengan perang membebaskan Irian Barat”, katanja dengan tersenjum asam dan bersemangat sambil mukanja merahpadam.

„Pokoknja tuan bajar gadji kami. Suasana panas. Djangan² tuan sendiri hanja duatiga hari ini lagi tinggal di Djakarta. Sudah itu boleh naar hollan”, kata pendjaga jang satunja.

Mendengar ini belanda tadi agak takut djuga. Dia memang memikirkan bahwa suasana memang betul² panas. Didjalanan tadi penuh Rakjat jang menonton aksi massa itu. Segala hal milik belanda penuh tulisan.

„Ingat tuan, kita akan berada seperti revolusi tahun² dulu. Tuan bisa tjelaka”.

Belanda itu diam sadja. Mukanja merengut, panas tapi tak tersalurkan.

„Tuan ini memang betul² belanda, belanda keparat laknat ! !”, sambil pendjaga itu keluar dan membanting daun pintu keras² „darrr”. Belanda itu sendirian dalam kamar memikirkan nasibnja. Apa akan djadinja hakmilik belanda dan nasib diri serta keluarganja. Alangkah pahit bila dirinja harus pulang ketanah dingin kosong tak subur itu. Penuh manusia tapi hampa kemakmuran dengan tanah² jang berada rendah dibawah laut. Dia memikirkan ini.

Matsah

MATSAH ADALAH TENTARA GERILJA RI, KOMAN-dan pasukan, berumur 28 tahun. Adiknja dua orang, seorang bernama Djoni dan seorang lagi bernama Willy, dan ini adik kontan. Tapi keduanja adalah knil, militer belanda.

Begitu beda memang, nama Matsah agak kekampung-kampungan, asli, tapi Djoni, Willy agak kebelandaan. Tapi hal itu tidak soal.

Dia mendengar beberapa kawan²nja banjak ditangkap dan dibunuh, tidak lain atas petundjuk dan penangkapan atau penjerbuan pasukan adiknja. Beberapa kali terdjadi pertempuran dengan tentara nica, knil, tapi dia belum menemukan adiknja itu. Keinginannja menangkap adiknja hidup², atau menawannja atau apa boleh buat untuk membunuhnja bila tidak ada djalan lain.

Satu hal, pasukan nica dan knil ini terlalu banjak membunuhi Rakjat hanja karena mereka tak bisa menangkap gerilja jang sesungguhnja. Tapi gerilja di-mana² menjerbu, menghilang, muntjul lagi, menjamar, sungguh membingungkan.

Satu kali pasukan Matsah jang berdjumlah tudjuhbelas orang itu kembali dari sebuah pertemuan penjerangan benteng diatas bukit. Pasukan itu hanja punja dua vickers, dua senapang djepang dan sebuah KM (karaben mitraljur) dan beberapa granat, serta beberapa orang tenaga tjadangan jang berpisau belati, pisau lempar. Karena banjak orang dan banjak sendjata jang tidak sesuai, setiap orang mendapat giliran menguasai sendjata itu setjara ber-ganti² pada waktu tertentu.

Hari itu mereka berdjalan menjusur sungai, lalu membelah dikeluasan padang rumput dan masuk semak² memotong djalan sebuah kampung jang sudah lama dikuasai belanda. Matahari semakin menurun, sinar memantjar kearah rembang sore. Angin memukul pipi dan mengibaskan rambut, menguakkan djenggot jang pandjang. Mereka berdjalan tenang, sekali² ber-tjakap², tertawa. Burung² belibis beterbangan dari sebuah danau ketjil diseberang sana. Tengah mereka mereka memperhatikan burung² belibis pulang sore itu, diseberang sana noda hitam dari djauh sekali. Bergerak satu² dan dua benda seperti korek api berdjalan pelan. Beberapa detik pasukan itu terdiam dan mengendap berlindung setengah badan. Matsah memperhatikan dengan matanja jang tadjam, mata jang terkenal tepat. Benda itu menudju kearah pasukannja.

Dia memerintahkan dengan hati² agar pasukan bersikap mengambil posisi. Konfrontasi sendjata tak dapat dielakkan. Djaraknja semakin dekat, tinggal menanti situasi strategis. Sendjata² dipersiapkan dan Matsah membagi sasaran bidikan. Untuk dua buah truk jang kian mendekat itu tjukup sebuah KM dan tiga buah granat sebagai penembakan permulaan. Lainnja untuk barisan jang berdjalan seorang².

Musuh datang arah depan. Posisi pasukan Matsah agak terletak pada ketinggian tanah. Lebih djelas, musuh datang dengan tenang. Dua buah truk penuh nica berkulit hitam dan bertjampur dengan kulit keputihan. Diatas truk beberapa militer melihat kearah timur dengan memegang senapangnja masing². Mereka berkulit hitam. Didepan truk jang berdjalan pelan itu ada beberapa orang tentara jang membuka djalan untuk truck. Mereka memikul papan. Kemudian papan dihadangkan didepan truk, dan truk berdjalan diatasnja. Tanah begitu lumpur dan berlobang. Papan dan batang² kaju sebagai pembuka djalan, dipikul, diangkat, direntangkan, dan truk lewat diatasnja. Terus berganti.

Untuk pasukan Matsah sebuah penjergapan jang sangat ideal karena letak persembunjian jang diatas bukit ketjil penuh batu jang agak bersemak. Laras² senapang djepang, KM, vickers, tersembunji diantara semak² pohon keremungint. Granat² sudah siap dipegang, siap untuk dibuka dan dilemparkan. Pasukan musuh semakin mendekat. Djarak seratus meter tjukup membuat tembusan berondongan KM.

Gerilja Matsah memperhatikan dengan mata musang mengintai ajam jang empuk gemuk. Setiap dada dipenuhi rasa gembira, tapi kadang² keketjutan. Berapa orang dalam dua buah truk jang ditutupi terpal hitam itu, tak ada jang mengetahui. Diatas kepala truk dan jang berdjalan didepan tidak lebih dari duabelas orang. Dapat dihitung djelas. Tapi berapa jang didalam dan apa isi truk jang berat itu, mereka masih meraba-raba.

Pasukan semakin dekat mengarah tepat menudju dibawah bukit tanah jang agak ketinggian. Untuk pasukan nica, knil, waktu jang sore begini tidak begitu menakutkan. Beberapa kali bertemu dengan gerilja selalu pada malam hari atau mendjelang pagi dan didaerah pinggiran kota. Lagi pula biasanja gerilja itu seorang² dan menembak satu² lalu lari, undur djauh. Mereka biasanja menemui gerilnja hanja tembakan, dan pastilah tembakan itu datangnja dari seorang², bukan satu pasukan, tapi tjukup menggetarkan. Kadang² tidak berbunji, tahu² sudah tertantjap sebuah pisau tadjam beratjun, dan tiga menit kemudian melajang njawa jang tadinja berkuasa, persis seperti hantu, setan. Tidak diketahui dari mana, dari siapa, tidak kelihatan.

Djalan terakhir bagi nica, menangkapi pemuda² atau orang² jang tidak bersalah, jang menurut mereka ada hubungannja dengan gerilja. Mereka ditembaki. Tapi namun demikian, gerilja terus ada, meradjalela, muntjul menghilang, menggempur, hilang lagi.

Musuh semkain dekat. Tampak muka dan dapat dikenal. Hanja tiga orang jang berkulit putih lainnja hitam seperti orang Afrika atau sawo matang seperti orang Indonesia. Anggota pasukan Matsah hampir tak dapat menguasai diri. Djarak enampuluh meter. Djarak limapuluhlima meter. Limapuluh meter lagi. Tapi aba² belum diberikan. Penjerangan tak dapat dilakukan tanpa keluar dari mulut atau isarat dari komandan. Perintah ini ditunggu gerilja seperti seorang kekasih menanti kekasihnja jang berdjandji sudah sampai waktu tapi belum muntjul².

Maksum jang berbelati, bersembunji dibalik sebuah tunggul besar jang dimakan rajap. Sebentar² melihat kearah Matsah jang sedang asik memperhatikan gerak-gerik musuh. Maksum diserang kegelisahan. Dia merangkak pelan sekali menudju Rahman jang sedang menudingkan senapang djepangnja kearah musuh. Rahman menoleh sekilas, kemudian siap lagi dengan matanja jang membidik.

„Apa dia lupa memberikan perintah”, kata Maksum berbisik hampir² tidak kedengaran.

„Pasti tak akan kita lewatkan. Ini makanan. Banjak sendjatanja. Kau boleh ambil itu otomatik jang pendek terlipat sana itu”, suara berbisik.

„Kalau tak ada perintah, hantam sadja, daripada kita dihantam mereka”.

„Tidak boleh, mesti tunggu perintah”.

„Kau lihat itu sudah djarak tidak sampai limapuluh meter”. Kemudian suara² itu diam lagi.

Maksum gemetar menanti suara perintah. Rasa gelisahnja djustru paling menguasai dirinja, disebabkan dia sekali ini bukan gilirannja menguasai sendjata. Bila dia menembak selalu tepat. Sekali ini orang lain. Dia sangat kuatir kalau² tak tepat menembus musuh jang begitu gampang dalam djarak tembakan. Kedengaran djalan nafasnja jang tidak teratur. Penuh rasa tjemas dan keinginan.

„Mengapa belum ada perintah?”

„Sebentar lagi barangkali. Kau ini seperti orang jang baru menemui musuh sadja !”.

Pasukan musuh semakin dekat dan tenang.

„Kau sudah lama mengenal Matsah?”.

„Sudah, sedjak masih anak². Kami sepermainan”.

„Adiknja ke-dua²-nja masuk nica. Keluarganja banjak jang nefis. Barangkali dia mata² belanda”, bisik Maksum pelan sekali;.

„Tidak, tidak mungkin. Dia republikein asli. Pertjajah ! Sudah banjak menhantjurkan musuh”.

„Tapi kau tidak lihat, sampai sekarang belum ada isarat penjerangan”.

„Aku tidak tahu, barangkali sebentar lagi”.

„Tak mungkin, musuh mau dibiarkan lewat. Kita tertipu. Atau karena ada kenalan, kawan atau keluarganja antara knil, nica itu. Pasti begitu !”.

„Aku pertjaja pada pimpinannja. Kau baru duabulan pada kesatuan ini. Aku sudah berbelasan bulan”.

„Tapi kau djuga sekali ini pasti tertipu. Dia pasti mata² musuh. Apalagi keluarganja nica, knil dna nefis. Tak akan dia membunuh hubungan darahnja. Dia mesti dihilangkan dari pasukan kita”, kata Maksum dengan rasa gelisah tak sabar.

„Apa maksudmu?”

„Dia harus dibunuh kalau pasukan kita ini mau selamat !”

„Kau gila ! Kau mau djadi komandan. Terus terang sadja. Ambisimu busuk !”

Tak ada djawaban. Mereka berdiam. Suara musuh kedengaran. Wadjahnja tampak satu² dapat dikenali.

Matsah tenang menanti. Anggota pasukannja semakin gelisah dan mati²an melawan kesabaran jang tak terhingga. Melawan kesabaran ini rasanja lebih sengsara dari berperang sendiri.

Tangan² terasa gatal akan melepaskan tembakan. Rasa gemuruh didada. Lalu nafas jang pandjang mendesah dan djatuh, lalu ditarik lagi. Anggota pasukan jang bukan gilirannja memegang sendjata api, djustru lebih menjesalkan keadaan tegang dalam penantian ini. Terutama Maksum jang sudah resahgelisah ingin menembak tapi tak punja kekuasaan. Terus gedjolak bentji dan dendam bersarang pda dadanja. Komandannja sudah djatuh dalam penghormatan batinnja.

Pasukan musuh berdjarak empatpuluh meter bergaris lurus dari atas ketinggian bukit ketjil dan semak² keremunting.

„Kau masih djuga tidak pertjaja padaku. Dia mata². Komandanmu itu mata² musuh.

Kau menunggu kau sendiri dilalap musuh. Dilalap kawan² komandanmu”.

„Aku pertjaja dia. Aku kenal benar dia dari kanak²ku. Dia pandai, tidak seperti kau”.

„Dia gila bukan pandai !”

„Kau pandir !”

„Aku sendiri akan beri komando. Komandanmu itu pasti mata². Musuh sudah begitu dekat dibiarkan untuk membunuh kalian !”

Jang diadjak bitjara tidak mendjawab. Asik memandang kebawah dari dataran tinggi menudju gerakgerik musuh. Waktu Rahman menoleh, Maksum sudah mengingsut pelan² bergerak undur kebelakang dan hati² sekali. Dia merangkak pelan sekali memandjangkan kakinja pada tanah jang agak keras dan bergerak menudju seseorang. Dia lihat sanasini.

Empat meter dari tubuhnja akan sampai pada komandan Matsah. Dia meperhatikan Matsah dengan hati². Tapi Matsah asik memperhatikan gerakgerik musuh. Dia memperhitungkan djarak dan posisi. Maksum tak tahan lagi. Merangkak pelan² dan hati² sekali menudju komandannja. Hampir dua meter lagi, dibukanja lambat² sebilah belatinja dipegang digenggam erat. Sudah putus tindakan jang akan diambil Komandannja harus dibunuh, karena pastilah mata² musuh pikirnja.

Dia melihat sekelilingnja kalau² ada jang memperhatikan. Tak seorangpun jang melihat tindaktanduknja. Kawan² lainnja asik membidikkan sendjata kearah musuh.

Aman untuk mengerdjakan komandan mata² itu. Anggota pasukan semakin menebalkan konsentrasi dada kepala mata telinga untuk datangnja komando. Saat jang paling aman bagi Maksum untuk mendjalankan tusukan belati kepunggung komandan Matsah. Dia merangkak mendekat lagi. Tjukup djarak tusukan sebuah belati jang pandjang 20 sentimeter. Dari sela² daun tampak agak djauh musuh² sedang asik bekerdja membabat djalan dan menambal lobang betjek² bekas hudjan tadi malam. Djalan itu untuk dua buah truk.

Komandan Matsah asik memperhitungkan, sedang anggota gerilja berbelati Maksum asik memperhitungkan djarak tusukan udjung belati untuk dibenamkan dipunggung komandan. Sudah, sudah pasti pisau itu akan dibenamkannja. Sekali lagi dilihatnja kiri kanan dan dibelakang, tapi tak ada kawan² jang melihat tindakan apa jang akan diambilnja. Sedang Matsah asik memperhitungkan djarak dan posisi pasukannja dan pasukan musuh, disatu pihak pasukan musuh jang di-raba² kekuatan serta ketangkasannja, dilain pihak pasukan gerilja jang dikuasai penuh dibawah tanggungdjawabnja jang telah lama dikenalnja.

Maksum semakin mendekat dan dari djarak tepat. Musuh makin njata dibawah mata. Begitu Maksum mendekat dan mengangkat gagang belati untuk dihundjamkan dipunggung komandan, tiba² sadja dia terundur terkedjut keras mendengar suara lantang menggema…… „pasaaaaaang ! ……. Kemudian diiringi dengan rentetan KM serta tiga buah granat dan vickers ketjil manis, senapang djepang jang kasar, menghamburkan kearah duabuah truk, dan barisan musuh. Sekilas dua buah truk itu terhenjak. Kemudian djadi miring dan terbakar. Rentetan KM terus berdjalan beberapa detik dan satu² bunji senapang serta vickers lalu diiringi dengan suara² jang tak begitu njata. Beberapa detik lagi isi truk itu meledak dan menghambur, menggelegar bumi. Tanah² didataran tinggi tempat pasukan gerilja, bergetar diiringi api mendjulang keatas. Sesaat lagi sebuah truk dibelakangnja meledak menggelegarkan bumi didekatnja. Kelihatan dua orang berlari meng-gapai² dengan otomatik USA. Terdengar bunji tak sedap : „dum” dua kali. Kemudian militer itu djatuh tergeletak. Disampingnja dua putjuk sendjata otomatik idaman pasukan gerilja ! Kemudian bunji² djadi kaku, hanja kain² terpal jang terbakar, rumput hidjau djadi hangus, karet dan bau mesiu dan belerang.

Maksum terduduk agak terpelanting, diam² pelan² dimasukkannja udjung belati kesarung dipinggangnja. Selesai dengan tugas penjapuan, komandan memberi aba² sesudah tenang² dan tidak ada ketjurigaan, dua orang mendekati tempat sasaran penggempuran, sedang jang lain tetap waspada dengan lop senapang masing² dan vickersnja. Komandan Matsah turun. Dan aba² berkumpul terdengar tenang tapi penuh wibawa dan kemenangan. Sendjata² dikumpulkan. Bahan peledak mesiu didalam buah truk habis musnah meletus dan terbakar.

Masing² anggota pasukan tersenjum berseri penuh kepahlawanan dan kebanggaan. Maksum belum menguasai diri. Sebentar² matanja melirik komandan, tapi komandan Matsah tidak melihat ketjurigaan jang hampir² membunuh dirinja.

Rahman mendekati dengan tidak ragu, dia mendengus :

„Apa kataku ! Tepat djitu dan itulah pimpinan koamndanku, komandan kita jang telah kukenal sedjak ketjil jang kau anggap mata² tadi”.

Maksum diam, tapi masih didengarnja pertanjaan jang minta djawaban atas kekalahan anggapannja.

„Apa pendapatmu sekarang?”

„Aku salah”, djawabnja lesu „salah duga. Kau tentu mengerti. Aku penuh ketjurigaan. Keluargaku terlalu banjak jang sudah dichianati mata² musuh, kawan kita sendiri”.

„Apa pendapatmu komandan Matsah djuga mata² musuh?”

„Aku tidak tahu, tapi barangkali memang bukan. Sudahlah, kau djangan menanjakan itu lagi”.

Dengan tidak sengadja teraba belati dipinggangnja, lalu tangannja jang sebelah itu dimasukkannja kedalam kantong. Rahman belum puas.

„Sekarang mestinja kau pertjaja komandanmu sendiri. Dia ahli strategi dan menguasai situasi, menguasai serta mengetahui anak buah”.

Maksum tidak mendjawab. Lambat sekali kesadarannja datang. Terdengar suara.

„Kumpulkan musuh”, kata komandan Matsah.

Anggota pasukan mendjaga dengan mata kearah barat, timur, selatan dan utara. Jang lainnja mengumpulkan majat² musuh dan mengumpulkan sendjata².

Sesudah terkumpul semua, komandan memeriksa dengan teliti muka demi muka ditengadahkan keatas. Komandan merenung satu². Diluar kesadarannja dia telah berkata.

„Tidak ada Djoni. Tidak ada Willy. Mereka harus kutemukan hidup² atau mati”.

Kata² ini didengar beberapa orang anak buahnja. Jang mengerti menjimpannja dihati. Berhasrat benar komandan menangkap kedua adiknja jang telah begitu banjak membunuh bangsanja jang sedang berdjuang mati²an. Terlalu banjak membunuhi Rakjat jang tak bersalah. Kedua adiknja sudah begitu djauh mengchianati tanahair, membunuh Rakjat jang tak bersalah.

Kini dia mentjari musuh, mentjari adiknja hidup atau mati. Mentjari setiap djiwa jang menchianati dan menghalangi revolusi.

Ketika ditanjakan, mengapa menjergap musuh dalam djarak jang begitu dekat begitu berbahaja. Dia mendjawab bahwa anak²nja kurang begitu pandai, tidak begitu tepat untuk menembus dada djantung musuh jang selama ini selalu memberhentikan djantungnja revolusi, djantung Rakjat. Lagi pula posisi dan strategi letak musuh dan pihaknja tjukup baik untuk dibidik dalam djarak sekian………

Dia tak ingin musuh masih dapat melarikan diri, musuh harus dihilangkan, harus dikalah-lenjapkan. Dan adiknja jang begitu banjak membunuh kawan²nja jang bergerilja, menangkapi orang² jang tak bersalah, menjiksanja sampai tak bernafas, haruslah dilenjapkan.

Seminggu sesudah itu, pasukan Matsah mempunjai sendjata jang lengkap. Otomatik SUA dan peluru² terbaik.

Seminggu kemudian pasukan itu bertambah sepuluh orang, sedang penjerangan, penjergapan terusmenerus.

Suatu sore datanglah Maksum kekamar komandan dengan penuh menjerah berkata pelan serta penuh haru :

„Komandan, maafkan saja. Saja ingin terusmenerus membaktikan diri dalam pasukan kita ini. Saja ingin dipimpin. Saja pernah bersalah. Kesalahan jang hampir² menghantjurkan pasukan kita ini”.

Mendengar ini komandan Matsah ter-heran², lalu terkenang akan tjerita Rahman jang melaporkan setjara tidak resmi bahwa Maksum pernah hampir menewaskan dirinja.

Dengan mata terhundjam kedalam mata Rahman, komandam mendjawab jakin.

„Saja mengerti, saja paham maksudmu. Saja pernah menerima laporan tentangmu. Kau tidak bersalah. Lain kali kau harus selalu berpikir, menjelidiki, mengumpulkan kenjataan, barulah menarik kesimpulan dan kalau perlu barulah mentjurigai, kemudian barulah bertindak………!”

Rahman tidak mendjawab. Menundukkan kepala dengan diiringi komandan diantarkan sampai diambang pintu kamar dengan tepukan dipunggung.

„Bertugaslah baik²”.

****

Pada satu penjerangan patroli belanda dimana pertempuran tak dapat dielakkan, membikin pasukan Matsah menderita kerugian delapan orang anggota pasukan jang baik². Di pihak musuh sepuluh orang tewas dan tudjuh orang dapat ditangkap hidup².

Tawanan digiring. Seorang diantaranja Djoni adik komandan Matsah. Djoni selalu mentjuri pandang melihat komandan Matsah. Tapi Matsah mengerti pandangan penjerahan dan minta pengampunan ini. Bagi Djoni sebagai adik memandang abang, lain dengan Matsah sebagai patriot memandang pengchianat. Pandangan Matsah untuk adiknja bertjampur dengan bermusuhan.

Anggota pasukan jang mengerti keadaan kekeluargaan ini, menanti apa jang akan terdjadi, satu testing jang tak ada taranja dalam kehidupan revolusi. Mereka dengan dada penuh duga me-reka² apa jang akan diperbuat komandannja.

Tawanan digiring kemarkas gerilja. Atasan komandan Matsah datang untuk memeriksa, mengadakan penelitian, penjelidikan, tanpa djawab, pengumpulan keterangan. Pemeriksaan berdjalan lantjar dengan bukti² jang dapat dipertanggungjawabkan.

Beberapa pemeriksa memutuskan lima orang antaranja dipastikan untuk dihukum mati. Tidak ada seorangpun jang menentang keputusan ini. Anggota persidangan lengkap komandan, sesudah meneliti dan mengusut putusan itu, lalu membenarkan dan menjokong putusan itu. Dalam sidang penentuan anggota pemeriksa putusan hukuman, termasuk komandan Matsah. Seorang diantara tawanan jang akan dihukum itu adalah Djoni.

Keesokan harinja putusan itu disampaikan untuk dilaksanakan waktu itu djuga. Komandan Matsah masih sempat menemui Djoni. Dengan wadjah pengharapan, Djoni masih mengharapkan pengampunan dari abangnja dari sedarahnja djuga jang berkuasa, jang dapat menghapuskan atau meringankan hukuman itu andaikata berusaha keras mempengaruhi atasannja. Sampai kedepan kamar Djoni, komandan Matsah melemparkan mata musangnja kemudian mata singanja kedalam bolabidji mata Djoni. Terasa degup djantung Djoni ber-talu² keras, dan nafasnja jang tak menentu irama.

Belum sempat Djoni membuka mulut, komandan Matsah mendahului.

„Dimana Willy?”

„Aku tidak tahu. Mungkin dipasukan lain”.

„Tapi jang pasti adalah pasukan belanda”.

„Bagaimana tentang aku?”.

„Pasti sudah. Kaupun sudah mengetahuinja. Tidak ada pengampunan. Kau terlalu banjak membunuh kawan, keluarga dan Rakjatmu sendiri”.

„Bagaimana pendapatmu sendiri tentang aku, adikmu?!”

„Sama dengan jang lain. Pendapat mereka adalah pendapatku djuga. Kami dalam hal² tertentu selalu berpendapat sama. Karena kesatuan kami didasarkan atas ideologi jang sama. Kau adikku. Tapi kau musuhku. Dan dalam revolusi, hal² jang mengenai hubungan darah mestilah dikebelakangkan. Jang terpenting untuk revolusi itu sendiri. Untuk adikku, kau terlalu besar buat diampuni, adalah wadjar dengan putusan sekarang”.

„Hanja itu pendapatmu”, kata Djoni sambil lemah dan menanti harapan.

„Apa lagi pendapatku. Willy semestinja segera menghadapi nasib seperti kau djuga. Aku akan mentjari dia terus sampai kemenangan revolusi ini”.

„Apa itu pendirianmu dari hatimu jang sungguh²? Saudara seibu sebapa”.

„Lebih dari itu ! Terlalu ketjil dan mudah serta ringan untuk menghukum mati dirimu berdua Willy”.

Kelihatan tulang pipi Matsah jang menondjol keluar, dan gerahamnja jang terkatup rapat, menggeretak berbunji tanda kegeraman. Matanja jang merah berkatja berkobar mendjeludjur tubuh Djoni jang lebih tinggi besar dari dirinja.

„Kau gemuk diumpani belanda untuk membunuhi bangsamu sendiri jang berevolusi membebaskan penindasan pendjadjahan”.

„Aku tidak mengerti itu. Aku tidak paham. Aku ter-bawa²”.

„Mulutmu sama busuk dengan hatimu. Sesudah tertangkap lalu beribu dalih ini itu untuk membebaskan diri. Njawa² jang kauhabiskan dengan tanganmu sendiri tidak bisa lagi berdalih seperti sekarang kaulakukan”.

„Matsah, apa sebenarnja pendirianmu padaku tentang vonis ini ! Tjobalah berterus terang. Aku adikmu”, harap Djoni dengan tjemas menanti.

Komandan Matsah menarik nafas menekan beban berat dihatinja, dirongga dadanja jang penuh. Tapi achirnja keluar djuga sesudah beberapa menit tertekan dirongga mulutnja.

„Hukuman mati untukmu ! Kau tahu? Agar kau tahu……”, kata Matsah menahan berat perasaannja. Sekali lagi dia menarik nafas pandjang.

„Aku telah mengadjukan permintaan pelaksanaan hukuman mati untuk kawan²mu dan untuk kau sendiri. Agar kau lebih tahu lagi, bahwa aku sendiri telah pula mengadjukan permintaan agar aku diperkenankan turut meletikkan pelatuk senapangku untukmu, agar kau tahu itu. Aku akan tudjukan peluru itu tepat kerongga dadamu jang busuk itu. Akan kutudjukan peluru itu tepat didjantungmu. Tapi sajang, permintaan itu ditolak. Aku tidak tahu, mungkin kawaan²ku dan atasanku mentjurigaiku dengan melepaskan tembakan tidak mengenai dirimu. Ketjurigaan mereka beralasan. Tapi dari hatiku sendiri mengharapkan agar anak buahku dapat melepaskan peluru tepat kedjantungmu seperti pelurumu mengenai puluhan Rakjat dan bangsamu sendiri. Waktunja sebentar lagi tiba. Agar kau tahu, itulah pendapatku”.

Dengan tjepat komandan Matsah membalikkan badannja dan membelakangi Djoni, meninggalkannja sendirian dibelakang pintu jang didjaga dua orang bawahan komandan Matsah.

Tidak disadari Matsah, semua pertjakapan diri dan adiknja dapat ditangkap dan didengar djelas oleh kedua anakbuahnja diluar setahu Matsah.

Djoni jang lemah menjerah tanpa harapan lunglai sendiri sepi kaku.

Empat djam kemudian, disebuah lapangan ketjil jang berlandaskan tebing batu, kedengaran beberapa tembakan serentak. Beberapa tubuh tergelimpang djatuh. Dari kamar komandan Matsah, terdengar djelas suara tembakan jang begitu keras. Beberapa detik dia menutupkan mukanja dan meremas rambutnja jang tebal pandjang. Tangan itu meremas muka jang tadjam berbulu. Dengan tak sedar dia berkata pelan.

„Sebagian selesai. Besok untuk sebagian. Ah, adikku jang tersesat djauh”.

_________________________________________________________________

Keterangan:

KNIL = Kesatuan Tentara Belanda.
  
NEFIS = Djawatan Mata2 Belanda.