Baca EPUB: dari-ir-soekarno-sampai-ke-presiden-soekarno

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
TAN MALAKA
Dari Ir Soekarno sampai ke Presiden Soekarno
Kacabenggala Editions

Publisher Note

(Kata Pengantar)

Ada seorang penulis bangsa Inggeris jang mengatakan bahwa sedjarah dunia adalah riwajat-hidupnja orang2 besar. Utjapan itu sudah djelas tidak benar. Tidak benar, karena mengabaikan peranan rakjat banjak didalam mempengaruhi djalannja perkembangan sedjarah. Penulis itu melebih-lebihkan pengaruh seseorang jang mempunjai „sifat2 luar-biasa”, sehingga didalam mentjari-tjari „orang luar biasa” itu melupakan peranan rakjat, jang sesungguhnja adalah sumber dari se-gala2nja. Namun demikian, tidaklah bisa diingkari pengaruh orang2 besar pada djalannja sedjarah, baik dalam artian jang baik maupun jang buruk.

Pengaruh Sukarno terhadap sedjarah Indonesia besar sekali, tidak mungkin orang memungkiri Ir Sukarno memang orang jang luar biasa. Tetapi kenjataan itu tidak memudahkan orang jang ingin mengenal Sukarno sebenarnja. Mana mythos, mana fakta? Dan kesan seseorang tentang orang lain ber-beda2 tergantung dari sipenindjau. Kita kenal Sukarno dimata Sukarno sendiri, seperti ditjeritakannja pada Cindy Adams dalam autobiografi-nja. Ada lagi Sukarno dimata Louis Fisher, wartawan Amerika. Sekarang kami sadjikan pada pembatja Sukarno dalam pandangan Tan Malaka. Tan Malaka, jang nama lengkapnja Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka, dalam autobiografinja, „Dari Pendjara ke Pendjara” jang ditulis ditahun 1948 (?) telah menjoroti Ir Sukarno sebagai pemimpin Indonesia. Isi brosur ini diambil dari autobiografi-nja itulah.

Tan Malaka, tidak asing lagi buat pembatja. Seluruh hidupnja sesudah masa kanak2 ditjurahkan untuk perdjuangan kemerdekaan bangsa dan rakjat Indonesia. Empat puluh (40) tahun jang lalu dia telah menelorkan konsep jang kongkrit tentang Republik Indonesia dalam sebuah bukunja, jang menjebabkan almarhum Prof. Moh. Yamin S.H. mengikatkan gelar „Bapak Republik Indonesia” padanja. Karena djasa2-nja pula Tan Malaka setjara anumerta telah diangkat sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia.

Djakarta, Agustus 1966

Penerbit.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

DARI Ir SOEKARNO SAMPAI KE-PRESIDEN SOEKARNO

Karena amat banjak menjinggung pimpinan Negara Republik Indonesia dalam masa revolusi ini, maka saja perlu sekali mengemukakan sedikit pandangan tentang dirinja Presiden Soekarno. Barangkali ada baiknja djuga kalau disamping itu saja tjeritakan perhubungan saja dengan Presiden Soekarno.

Sjahdan perobahan djiwa manusia itu umumnja, sebagai tjerminnja perobahan masjarakat manusia umumnja pula, djuga mengalami undang Dialektika, jakni perobahan sedikit demi sedikit, dari abad ke abad, pada suatu ketika bertukar mendjadi pertukaran sifat. Dengan madju-berubahnja masjarakat manusia sedunia, dari zaman komunisme-asli ke zaman sosialisme modern melalui zaman perbudakan, zaman-ningrat dan zaman-kapitalisme, maka madju-berobahnja kebudajaan dan kedjiwaan (psychology) manusia itu dalam ratus ribuan tahun.

Tetapi dalam dirinja seseorang (manusia) pada suatu masjarakat dalam masa hidupnja seseorang itu, bisa berlaku gerakan kemadjuan atau gerakan kemunduran. Seseorang dalam seumur hidupnja bisa bertukar dari revolusioner mendjadi konservatif atau anti-revolusioner dan sebaliknja dari konservatif bertukar mendjadi revolusioner. Jang mendjadi pendorong dalam pertukaran paham itu biasanja perdjoangan klas dalam masjarakat itu. Filsafat atau Pandangan Hidup dan djuga kemauan atau wataknja orang itu sendiri. Seseorang jang berwatak wadja dan consequent dan mempunjai pandangan jang tepat tentang gerakan-klas dalam masjarakat itu, biasanja patah atau tegak dengan pahamnja semula. Tetapi orang jang tiada mempunjai Filsafat atau Pandangan Hidup jang tepat dan masak, tetapi mempunjai watak dan kemauan jang mudah diombang-ambingkan oleh sentimen (perasaan) serta hawa nafsu diri sendiri atau pengaruh dari luar, biasanja, kalau bertemu dengan sesuatu rintangan, mudah sekali bertukar warna, dan memilih keuntungan sementara untuk menjelamatkan dirinja sendiri.

Satu dua diantara pelbagai ukuran jang biasanja kita pakai terhadap seseorang jang terdjun kedalam masjarakat, sebagai pemimpin ialah, apakah pertama sekali dia dapat melihat kedepan dan kedua apakah dia tjukup mempunjai watak-consequent untuk memegang pandangan kedepan itu. Dalam prakteknja, kita bertanja, pertama apakah jang didjandjikan oleh pemimpin itu kepada pengikut dan Rakjatnja, kedua apakah dia djudjur-consequent melaksanakan apa jang sudah didjandjikan itu, sambil djuga memperhatikan tjara dan moral jang didjungdjungnja untuk menepati djandjinja itu.

Kita pertama bertanja: Apakah jang didjandjikan oleh Ir Soekarno kepada Rakjat Indonesia, ketika dia memimpin P.N.I. dimasa „Hindia Belanda”? Kedua, apakah Ir Soekarno djudjur-consequent memegang semua djandjinja itu?

Kita semua mengetahui, bahwa Ir Soekarno menudju kepada „Indoneia-Merdeka”, atas dasar „Sosio-Nasionalisme” dan „Sosio-Demokrasi” dengan tjara „MASSA-AKSI” serta dengan semangat „jang tak kenal damai” (bukan serupa Almarhum Dr Sutomo).

Ir Soekarno sudah menderita banjak kesengsaraan lantaran pahamnja itu dari pihak imperialisme Belanda dan sebaliknja pula mendapatkan kehormatan, simpati dan pudjian jang luar biasa dari hampir semua golongan Rakjat di Indonesia.

Tetapi bagaimanakah Ir Soekarno menepati djandjnja?

Dengan Djepang jang imperialistis, militeristis dan teocratis itu Ir Soekarno, dari mulanja Djepang masuk sampai djatuhnja, dari tahun 1942 sampai tahun 1945, dia bisa „kerdja-sama”, bahkan bisa „sehidup-semati” untuk mendirikan Indonesia Merdeka dikelak kemudian hari, dalam lingkungan „Asia Timur Raja” jang pastilah tjotjok dengan filsafat hidup Tenno Heika dan Kenpei Djepang. Oleh karena kepertjajaan dan penghargaan Tenno Heika maka dia dianugerahi bintang ratna-sutji, klas II dan diangkat mendjadi ketua Panitya Persiapan Kemerdekaan Indonesia, atas perintahnja Tenno Heika, oleh Djenderal Terauchi, Panglima Tertinggi seluruhnja Angkatan Perang Djepang di Asia Selatan, antara tanggal 5 dan 11 Agustus 1945 di Saigon.

Presiden Soekarno (jang walaupun atas desakan para pemuda Djakarta!) pada tanggal 17 Agustus 1945 sudah memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia dan dimasa Djepang mentjiptakan „Amerika kita setrika, Inggeris kita linggis” serta dengan setjara sandiwara „membakar potretnja van der Plas (Roosevelt dan Churchill)—dengan perdjandjian „Naskah Linggardjati” dan „Renville Principles” menerima kembali „Mahkota Radja Belanda” disamping mengakui modal-asing baik jang langsung memusuhi ataupun jang tak-langsung memusuhi Republik.

Dimasa Djepang sebetulnja banjak djalan lain buat Gitjo Soekarno untuk menjingkiri ikatan halus atau kasar jang ditjoba dikenakan oleh para kaki-tangan Tenno Heika kepadanja. Tak perlu dia sendiri mengandjurkan atau menjetudjui pengerahan romusha, pengumpulan intan berlian Rakjat Indonesia serta para gadis („buat dilatih”) untuk dikirim ke Tokyo. Tidaklah perlu Presiden Soekarno, dimasa Republik ini terus menerus menerima usul Inggeris, jang sangat merugikan Rakjat ialah menghentikan pertempuran di Surabaja dan Magelang serta usul dari pihak Belanda mengakui beberapa Negara Boneka dalam daerah Republik Indonesia (N.I.T., Borneo dll.) dan sekarang menerima dan mendjalankan usul Belanda mengosongkan „kantong” dan menarik lk. 35.000 peradjurit dari Djawa Barat dan Djawa Timur dan seterusnja menerima kembali MAHKOTA Belanda, N.I.S. dan UNI-Nederland-Indonesia, djadinja membatalkan Proklamasi 17 Agustus.

Seandainja Ir Soekarno tetap memegang pendiriannja semula dan bersandar atas kepertjajaan kepada kekuatan 70 djuta Rakjat dan dynamikanja revolusi, artinja tetap memegang dasar „Indonesia Merdeka” dengan „Sosio-Nasionalisme” dan „Sosio-Demokrasi”-nja tetap pula memegang tjara perdjuangan „MASSA-AKSI” dengan semangat „jang tiada kenal damai” (djuga terhadap sembarangan imperialisme) maka dengan kerdja „illegal” dimasa Djepang Kemerdekan 100% boleh-djadi sekali lebih lekas tertjapainja daripada jang disangka-sangka.

Tetapi kalau kita peladjari perbuatannja Ir Soekarno, maka kita terpaksa mengambil kesimpulan, bahwa dia tiada memusingkan analysanja masjarakat Indonesia. Tiada tampak bagi saja dalam semua pidatonja perhatian kepada pertentangan jang dalam antara kebutuhan Belanda terhadap Indonesia dalam arti keperluan hidup dan tiada pula kelihatan dalam semua pidatonja itu pusat perhatian kepada Pokok-pendorongnja gerakan Rakjat di Indonesia, ialah gerakan Murba jang tak kenal damai. Semua dipusatkan kepada grande-eloquence, kemahiran kata, untuk mengikat perhatian dan perasaan para pendengar semata-mata. Kurang untuk menimbulkan kejakinan jang berdasarkan pengertian atas bukti dan perhitungan jang njata, dan seterusnja untuk menerbitkan kemauan seperti badja untuk melaksanakan kejakinan itu, karena kepintaran mempergunakan bahasa Indonesia, maka dengan suara jang bergemuruh bersiponggang dan mempengaruhi para pendengar, dapatlah Bung Karno memukau, meng-hipnotisir, sesuatu rapat Rakjat Murba.

Grande-eloquence beserta Grande-elegance a’la Soekarno, jang banjak mendapat ketjotjokan pada irama-djiwa Murba Indonesia, jang tertindas terperas bisa dipergunakan oleh sesuatu imperialisme sebagai Dewi-Nasionalisme untuk mengebiri Gerakan-Murba jang dipengaruhi oleh paham komunisme, tetapi jang belum diobori, di-organisir akan di-disciplin oleh ilmu komunisme. Tetapi Grande-Eloquence dan Grande-Elegence itu sadja tak dapat mendidik Kader Murba jang bisa mempelopori gerakan dan revolusi Murba di Indonesia.

Partai Nasional Indonesia (P.N.I.) terdiri sebahagian besarnja daripada kaum intelek-burdjuis. Mereka ini dalam hati ketjilnja takut kepada akibatnja gerakan Murba, tetapi dengan pidato jang abstract, kabur, tetapi grande, mereka bisa memberi pengharapan dan impian kepada Murba. Apabila Murba jang sesungguhnja bergerak untuk mentjapai maksudnja Murba jang sebenarnja, dan Imperialisme Belanda, Djepang atau Inggris mengambil tindakan keras, maka grande eloquence dapat dipergunakan untuk menutupi, menjelimuti dan membungkus segala-gala jang tiada-consequent serta memalsukan semua jang consequent dapat menjembunjikan apa jang kompromistis, menjelimuti apa jang sebenarnja anti Massa Aksi, serta membungkus segala sesuatu jang dalam hakekatnja anti-kemerdekaan.

Grande-elegance a’la Soekarno tak pernah concrete, njata, ialah tepat dan berterang-terangan melawan musuh jang njata dan dekat. Dizaman Belanda Nasionalisme jang mestinja anti pemerintah „Hindia Belanda” itu dapat dibungkus dengan perkataan „kapitalisme-imperialisme”. Istilah ini dapat dipakai sebagai tabir asap untuk memperlindungi diri dari para pemimpin P.N.I. terhadap undang2 „Hindia Belanda”. Bukannja Partai Nasional Indonesia langsung menentang pemerintah Hindia Belanda, melainkan imperialisme-kapitalisme jang djauh, abstract, jang tergantung diawang-awang. Begitu oleh Grande Eloquence, istilah MASSA-AKSI, jang berarti „Murba Bersendjata jang Bertindak Sendiri”, boleh disulap mendjadi massa aksi dalam arti membangun kerdja-sama di „Hindia Belanda”, dan ber-„Kinro Hoorzi” dizaman Djepang dan bersama-sama „memotong kaju” dan „menjapu djalan” direvolusi ini. Dizaman Djepang Sosio-Nasionalisme jang radical agresif mendjadi “Hakko Itjiu” atau „Hakko Seisin”. Teristimewa pula sekarang „Sosio-Nasionalisme” dan „Sosio-Demokrasi” itu boleh dipakai sebagai perisai terhadap tuduhan „war-criminal” dan sebagai selimut untuk „kerdjasama” dengan kapitalisme imperialisme Belanda, ialah tengkulaknja Kapitalisme-Imperialisme Amerika Inggeris.

Berhubung dengan amat longgarnja TJARA Ir Soekarno mentafsirkan sesuatu paham itu, maka tak pastilah saja ini dalam menentukan, apakah sikap Ir Soekarno jang sebenarnja terhadap paham dan diri saja sendiri, walaupun dimasa lampau, kelihatannja masih serba baik.

Buat sekedarnja membuktikan sikap itu dizaman lampau, ialah sebelumnja tangkapan saja pada tanggal 17 Maret 1946 di Madiun, maka tak akan ada salahnja, kalau disini saja kemukakan beberapa peristiwa jang barangkali tiada begitu atau sama sekali tiada diketahui oleh umum.

Sebermula, maka kebetulan sadja, saja dalam tahanan di Modjokerto (13 Djuli 1946 sampai 29 Djanuari 1947) saja terpandang satu Buku, bernama „INDISCH TIJDSCHRIFT v/h RECHT”. Dalam buku ini tertjantum Ir Soekarno, pada Landraad Bandung 22 Desember 1931.

Hampir setengahnja laporan proces itu, jang menutupi lebih kurang 60 muka, mengambil bagian jang memperhubungkan aksi Ir Soekarno dimasa P.N.I. dengan saja sendiri, ialah dengan perantaraan buku MASSA-AKSI jang saja tulis tergesa-gesa di Singapura pada pertengahan tahun 1926. Buku MASSA-AKSI itu sekarang sudah diterdjemahkan dari bahasa Belanda kedalam Bahasa Indonesia dan sudah disiarkan pada tahun lampau. Karena buku MASSA-AKSI dimasa „Hindia-Belanda” tjuma djatuh ketangan beberapa pemimpin jang berpengaruh sadja, didjatuhkan setjara rahasia sekali, dan karena ISI buku MASSA-AKSI-lah pula jang pertama sekali diperingatkan oleh Presiden Soekarno kepada saja pada pertemuan bermula, maka baiklah saja turunkan disini tjatatan dari beberapa pemeriksaan itu.

Beberapa kalimat itu disalin kedalam bahasa Indonesia bunjinja seperti berikut:

„Landraad di Bandung, ketua Mr Siegenbeek v. Heukelen vonnis 22 Desember 1931.

Raad van Justitie di Djakarta Mr E. H. de Graag dll. Vonnis 17 April 1931.

Perkara terhadap para pemimpin P.N.I. menurut artikel 153 bis dan 169 dari wetboek v. strafrecht. Pada halaman 609 tertulis: dalam INDISCH TIJDSCHRIFT v/h RECHT Ir Soekarno, R. Gatot Mangkuprodjo, MASKUN, Supriadinata,…

Semendjak berdirinja P.N.I. sampai tanggal 29 Desember 1929, jakni selama tahun tersebut, teristimewa pada pertengahan kedua tahun itu, di Bandung dan tempat lain-lain, ialah di Djawa dengan memimpin atau berbitjara pada rapat umum, kursus dan propaganda tertutup, demikian pula dengan djalan lain memberikan pimpinan kepada dan memadjukan massa-aksinja-partai, mereka mengambil bagian dalam P.N.I. dengan pengetahuan tentang tudjuan Partai. …„Maksud terachir dari P.N.I. dengan tegas dituliskan dalam statuten…„keterangan azas” sebagai sjarat jang pertama disebutkan „kemerdekaan politik”, jakni berhentinja Pemerintahan Belanda diatas Indonesia itu”.

„…Sebagai alat jang paling baik MASSA ASI jang teraturlah jang dikemukakan”.

„…Landraad menganggap penting sekali Brosure MASSA AKSI in Indonesia, terdapat para Product FN, ditulis oleh Tan Malaka, pemimpin Komunis jang pada waktu itu berada di Singapura…”. Pada halaman 639 Tijds. v/h Recht tertulis a.l.:

„…Menimbang, bahwa product Ax djuga menundjukkan „memperbaiki masjarakat oleh Murba (massa) dari Murba, untuk Murba, perkataan mana letterlijk (satu-persatu) terdapat dalam BROSURE Tan Malaka, hal 7…”.

„Menimbang bahwa THESIS tentang pembagian imperialisme atas empat tjorak dalam product O (jang menurut Saksi Kamaruddin dalam pemeriksaan adalah diktat pada cursusen kepada para-tjalon anggauta Partai) jang djuga terdapat dalam product Bu; satu tulisan dari Inu Perbatasari, pemimpin kursus, disalin woordelijk (kata demi kata!) dari Brosure Tan Malaka tersebut hal. 32 pada halaman 656 TIJDS. v/h RECHT:

…„Bahwa (menurut terdakwa Pen!) nationale daad (perbuatan nasional) disebutkan akan berachir tahun 1930”.

…„Sedangkan dengan sedikit perobahan istilah („sedikit perobahan” itu adalah atas tanggungannja djaksa Belanda semata-mata, Pen!) Tan Malaka dalam Product FN mengemukakan, bahwa salah satu sjarat untuk menimbulkan (?) pemberontakan Bersendjata terhadap pemerintah (Hindia-Belanda), ialah bahwa pimpinan (daripada MASSA AKSI) harus senantiasa sanggup membentuk tuntutan dari sembojan jang baru dan bersemangat sehingga „Kemauan Murba” pada suatu saat bertukar mendjadi „Perbuatan Murba”.

Pada halaman 659 TIJDS. v/h RECHT:

„…Menimbang penolakan, jang menjataan, bhawa jang menjebabkan timbulnja gerakan pemberontakan, jang ketjil2 dan tidak teratur, tiadalah memberi djaminan bagi djajanja pertjobaan revolusi, sudah terdapat pada surat code Tan Malaka dan Subakat dalam Product V, kepada para pemimpin Komunis di negeri ini, dari sudut mana, berhubung dengan Product LL, sama sekali tiada terbukti, seperti jang hendak dikemukakan oleh Pembelaan, bahwa P.N.I., jakni para pemimpinnja tiada menghendaki pemberontakan bersendjata terhadap pemerintah tetapi lebih tepat, bahwa (P.N.I.) menolak Putsch, revolusi, jang tiada teratur, sebagai siasat, untuk mentjapai maksudnja, pengesahan jang pasti tentangan kesimpulan itu terdapat dalam uraian Tan Malaka sendiri dalam Brosure Product FN, dimana penolakan jang pasti terhadap PUTSCH, sebagai siasat untuk mentjapai tudjuan nasional, ialah kemerdekaan, djuga diberi alasan penuh oleh P.N.I. menurut product FO dan OO, dengan mempertentangkan PUTSCH jang tiada sempurna itu dengan MASSA AKSI jang teratur sebagai alat jang effisient (sempurna) untuk mentjapai maksud terachir, ialah „Kemerdekaan Indonesia sepandjang revolusi bersendjata”.

Pada halaman 660 tertulis:

„PUTSCH” ialah hasil pekerdjaan seorang dua, jang berputus asa, sedangkan revolusi adalah hasilnja sesuatu gerakan masjarakat. Satu revolusi seperti di Perantjis dan Rusia timbul, setelah Rakjat Murba, disebabkan oleh sesuatu kedjadian menundjukkan kemarahannja serta kemurkaannja dengan protes pada rapat umum dan demonstrasi jang disetudjui oleh seluruh Rakjat jang tak lain lagi melainkan Murba jang diorganisir”.

Tjatatan diatas bukan dimaksudkan untuk membenarkan tuduhan djaksa Hindia Belanda, terhadap Ir Soekarno. Djuga bukan buat membenarkan tafsiran djaksa dan P.I.D. Hindia Belanda tentang MASSA AKSI, tetapi atas sedikit tjatatan diatas oleh pihak ketiga, dapat diambil sekedarnja kesimpulan, bahwa P.N.I. dan Ir Soekarno setudju dengan MASSA AKSI sebagai „alat jang paling baik” untuk mentjapai kemerdekaan politik”. Dikatakan pula, bahwa baik dalam rapat umum ataupun dalam rapat terbuka dan dalam kursus Partai, maka buku MASSA AKSI banjak dipergunakan.

Rupanja tuduhan pengadilan dimasa „Hindia Belanda jang berkenaan dengan MASSA AKSI” itu tak berapa djauhnja daripada kebenaran! Sesudahnja saja membatja laporan tentang proses Ir Soekarno cs. Dalam TIJDS. v/h RECHT tersebut di Modjokerto, maka hal ini saja tjotjokkan pula dengan keterangan beberapa pemimpin jang rapat perhubungannja dengan Ir Soekarno dimasa lampau. Keterangan pengadilan „Hindia Belanda” itu, tentang perhubungan Ir Soekarno dengan buku MASSA AKSI itu sama sekali dibenarkan. Malah ditambahi pula dengan keterangan bahwa bukan P.N.I. dan Ir Soekarno sadja, tetapi ada lagi partai lain2 dan para pemimpin lain jang mempergunakan Brosure MASSA AKSI dalam gerakan kemerdekaan sebagai petundjuk.

Perkataan jang pertama sekali diutjapkan oleh Presiden Soekarno pada permulaan September 1945, di Rumah Dr. Suharto, dimana saja pertama sekali berkenalan dengan Presiden Soekarno dengan perantaraan Sdr. Sajuti Melik atas nama saja jang sebenarnja sesudah 3½ tahun saja bersembunji di Indonesia. Kempei, perkataan itu ialah: „Dalam buku MASSA AKSI rupanja Sdr. (Tan Malaka) anggap sifatnja imperialisme Inggeris berada diantara imperialisme Belanda dan imperialisme Amerika!”

Inilah perkataan jang pertama jang diutjapkan oleh Presiden Soekarno dalam pertemuan jang sangat kami rahasiakan itu, karena Djepang masih bersendjata lengkap di Indonesia, jang sudah dua minggu lebih memproklamirkan kemerdekaannja.

Baik djuga saja ulangi disini, bahwa pada permulaan September tahun 1945 itulah Ir Soekarno dan saja berkenalan nama dengan nama. Muka dengan muka, seperti sudah saja tjeriterakan dilain tempat, sudah bertemu di Bajah setahun sebelumnja, ketika saja menghidangkan minuman kepada Gitjo Soekarno. Meskipun saja di Bajah itu belum puas dengan djawab Ir Soekarno atas pertanjaan saja (Husein) tentang kemerdekaan Indonesia dan amat ketjewa dengan PUTERA dan HOKOKAI jang berturut2 dibangunkan dan dibubarkan, ketjewa dengan Panitya Penjelidik dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia… pada Presiden Soekarno saja masih memusatkan segala perhatian. Dimasa Djepang berapa kali saja berniat melangkahkan kaki kerumah Ir Soekarno di Pegangsaan Timur No. 56, tetapi terhambat karena adanja Djepang itu!! Saja jakin akan diterima oleh Ir Soekarno, tetapi sebaliknja jakin pula, tiada akan lepas dari tjengkeraman Kempei Djepang. Pada achir pertjakapan, jang tiada disaksikan oleh Dr. Soeharto, tuan rumah sendiri, tetapi disaksikan oleh Sdr. Sajuti Melik, Presiden Soekarno sambil menundjuk, berkata kepada saja lebih kurang seperti berikut: „kalau saja tiada berdaja lagi, maka kelak pimpinan revolusi aan saja serahkan kepada saudara”.

Kami berpisah dengan sedikit sokongan uang dari Presiden Soekarno kepada saja.

Jang kedua kalinja, tiada lama sesudah itu, dengan perantaraan Sdr. Sajuti Melik djuga, saja berdjumpa dengan Presiden Soekarno dirumahnja Dr Muwardi (Banteng), djuga dalam keadaan rahasia.

Sekali lagi Presiden Soekarno mengandjurkan, bahwa nanti pimpinan revolusi akan diserahkan kepada saja sambil memberi sokongan uang pula.

Bagi saja dimasa itu, perkara hak saja menerima pimpinan revolusi, atau haknja Presiden Soekarno menjerahkan pimpinan revolusi itu kepada saja, sebenarnja sekedjappun tiada mempengaruhi perasaan, paham dan sikap memberikan sambutan terhadap usul Presiden Soekarno. Saja sudah amat gembira bertemu mua dengan Presiden Republik Indonesia: Republik jang sudah sekian lama saja idaman, jang Presiden-nja adalah putra Indonesia sedjati pula. Usul memimpin Revolusi tadi saja anggap sebagai satu kehormatan sadja dan sebagai satu tanda kepertjajaan dan penghargaan Bung Karno kepada saja belaka. Teristimewa pula sebagai satu tanda jang njata, bahwa dimasa lampau benar ada satu ikatan djiwa dan paham antara Bung Karno dan saja, walaupun kami hidup berdjauhan.

Dibelakang harinja sesudah demonstrasi 19 September 1945 di Djakarta, jang saja dengar pula kabar dari pihak para Menteri, bahwa dalam satu sidang Presidentiil Kabinet, Presiden Soekarno berkata, bahwa „kelak dia akan menjerahkan pimpinan revolusi kepada salah seorang jang sudah mahir dalam gerakan revolusioner”. Nama orang itu belum diumuman, tetapi akan disebutkan dalam satu rapat tertutup.

Peristiwa penjerahan pimpinan revolusi itu saja bitjarakan dengan Mr. Subardjo, jang pada masa itu mendjabat pekerdjaan Menteri Luar Negeri. Mr. Subardjo saja kenal baik ketika di Nederland pada tahun 1922 dan saja djumpai di Djakarta pada tanggal 25 Agustus 1945, ialah seminggu lamanja setelah Proklamasi Kemerdekaan dan setelah seminggu lamanja saja sia2 mendjumpai kembali Sukarni cs. dan Chaerul Saleh cs. Mr. Subardjo menganggap usul penjerahan pimpinan revolusi kepada saja, sebagai usul jang penting djuga. Desas-desus sudah terdengar dikiri-kanan, bahwa Presiden Soekarno akan ditangkap oleh Inggeris dan akan dituduh sebagai „war criminal” (pendjahat perang) karena dianggap oleh Sekutu membantu Djepang, ialah musuhnja Sekutu dalam Perang Dunia Kedua. Berhubung dengan kemungkinan penangkapan itu, diperkuat pula oleh aksinja Murba Djakarta pada tanggal 19 September jang tiada disetudjui oleh Presiden Soekarno rupanja bertambah merasa perlu mengadakan pajung sebelum hudjan, ialah mempersiapkan „SURAT WARISAN” tentang pimpinan revolusi.

Kelihatannja benar pada saja, bahwa Mr. Subardjo, Menteri Urusan Luar Negeri, amat setudju dengan usul tadi.

Setelah keadaan di Djakarta mendesak, karena Inggeris hendak mendarat, dan saja terpaksa meninggalkan Djakarta (keterangan jang lebih landjut akan menjusul dibelakang) maka Mr. Subardjo berusaha dan berhasl mendapatkan „SURAT WARISAN” itu.

Jang terpenting disebutkan dalam „SURAT WARISAN” itu ialah, bahwa „kalau tiada berdaja lagi” maka mereka, Soekarno-Hatta, akan menjerahkan pimpinan revolusi itu kepada Tan Malaka, Sjahrir, Iwa Kusumasumantri, dan Wongsonegoro. „SURAT WARISAN” itu ditanda-tangani oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta pada tanggal 1 Oktober 1945.

Mulanja jang mau menanda tangani tjuma Presiden Soekarno sadja, dan „SURAT WASIAT” itu akan diberikan kepada saja sendiri sadja. Tetapi karena desakan Moh. Hatta (ialah menurut Mr. Subardjo) maka Wakil Presiden Moh. Hatta sendiri ikut menanda tangani dan menambah tiga orang lain untuk mewarisi.

Karena saja anggap perlu meng-organisir Murba diluar kota Djakarta, sebab saja pandang Djakarta sudah terantjam dan saja belum dapat perhubungan dengan para pemuda Djakarta, dan sama sekali belum tahu akan adanja MARKAS MENTENG 31, maka dengan „SURAT WARISAN” jang ditanda tangani oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta didalam tas pada tanggal [terpotong] Oktober 1945 saja meninggalkan Djakarta sampai sekarang (17 Pebruari 1946).

Demikian perhubungan paham dan diri Ir. Soekarno dengan saja semendjak berdirinja P.N.I. pada tanggal 4 Djuli 1927 sampai satu setengah bulan berdirinja Republik Indonesia, ialah sampai tanggal 1 Oktober 1945 itu.

Baik djuga saja sebutkan disini, bahwa pada saat meninggalkan Djakarta dan membawa „SURAT WARISAN” jang saja anggap sebagai lambang kepertjajaan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta itu, tertjantumlah dihati saja: Kalau kelak MASSA AKSI terhadap Inggeris-Belanda berhasil, maka akan gagallah tuduhan „war-criminals”, tuduhan pendjahat perang itu, kepada Soekarno-Hatta. Dan kalau Massa Aksi gagal, maka seluruh rakjatlah jang akan menanggung djawabkan tuduhan war-criminals ditambah revolutionary-criminals itu, jakni tuduhan pendjahat perang ditambah tuduhan pendjahat revolusi: Tegasnja saja mengharapkan Soekarno-Hatta „sehidup semati” dengan Rakjat/Pemuda Indonesia.

Ringkasnja pada nasib seluruhnja MURBA ber-AKSI dan AKSI MURBALAH saja anggap tergantungnja nasib para pemimpin Soekarno-Hatta.