Publisher Note
Artikel ini pertama kali dimuat pada 18 Januari 1953 dalam majalah Siasat, No. 295, Th. VII. Salinan artikel ini berasal dari lampiran skripsi yang ditulis Fransiska Domas Ngantini di Universitas Sanata Dharma tahun 1999.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
IWAN TURGENEV, salah seorang pudjangga besar Rusia pernah mengatakan dalam salah satu buku tjeritanja dengan kata2 demikian: „Itulah kebagusan jang hebat dari puisi; ia mengatakan pada kita sesuatu jang tidak ada, tetapi jang bukan sadja lebih baik; bahkan djuga jang lebih mendekati kebenaran…”. Salah seorang sardjana sastera lainnja bilang, bahwa kesusasteraan adalah lebih daripada kenjataan sehari-hari.
Utjapan2 jang lutju itu sungguh tak masuk diakal bila diterima dengan sepintas-lalu belaka. Tetapi lambat-laun dalam pergaulan rapat dengan dunia-sastera utjapan2 tersebut kian lama kian menjata dan achir2nja merupakan hukum apabila dengan ini dipergunakan ukuran2 jg pada tempatnja. Terlampau banjak kelumit2 sastera mengharukan seseorang, bahkan mengutjurkan air matanja, lebih benar daripada kenjataan jang terdjadi dan jang sedang dihadapinja didunia dan waktunja sendiri. Demikian pula tidaklah kurang2 debaran djantung mendjadi tjepat dan berahi datang meluap menghadapi kekasih jang dihidangkan oleh seorang pudjangga pada pembatnjanja, lebih benar daripada bila kekasih itu dihadapi sendiri dengan darah dan dagingnya.
Kesusasteraan membawa manusia pada perkenalan dengan dirinja sendiri, dalam bentuk, sifat dan watak-wataknja. Dan soal2 ataupun objek2 jang dikemukakan adalah djalan dan lorong2 jang menudju kediri kembali.
Setelah membatja Günther Weisenborn dalam bukunja Dokter in de Gran Chaco, kisah seorang dokter jang mentjari penjelesaian tentang masalah sakit, kemudian terlibat dalam revolusi Mexico—dibatjanja pula Albert Helman dalam bukunja De Rancho der X Mysteries, kisah seorang asing jang tertarik pada tjerita Mexico dan pergi kesana serta berhadapan dengan bangsa Mexico bersama keadjaiban, kelemahan dan kekuatan2nja—dibatjanja Laurence E. Schmeckebier dalam bukunja jang indah Modern Mexican Art jang hampir separoh dari buku itu berisi reproduksi fresco2 masjhur dari Mexico—ditontonnja beberapa film Mexico: the torch, the pearl dan lain2 lagi—orang ini dengan terharu, haruan jg membuat hatinja demikian sakitnja, ia djatuh tjinta pada Mexico, Mexico jang hanja ia ketahui dari musik, film, sastera dan covarrubias-nja. Dan apabila orang ini datang sendiri ke Mexico dengan tubuhnja maka kenjataan2 dari buku jang dibatjanja, tentang gairat2 jang diterimanja dari film dan sasteranja adalah lebih benar daripada jang dapat diperalamina.
Kekuasaan apakah sebenarnja jang tersembunji didalam buku2 dan film serta musik dan lukisan itu—pendeknja dalam seninja itu. Disinilah letaknja rahsia dari dunia seni umumnja dan kesusasteraan chususnja. Rahsia jang mana tiap pengarang mau mengetahui dan memilikinja sebagai sendjata, dari jang kerdil hingga raksasanja sekali. Inilah jang bisa menjulap seorang mendjadi djeni jg menjentuh kedjadian2 mati mendjadi hidup, bergerak, bernafas, berdjuang dan abadi. Tiap pengarang dengan mempertaruhkan hidupnja mau memiliki, dan tiap pudjangga dengan penuh sajangnja mempertahankan ini buat ketentuan sedjarah hidupnja sendiri—buat menjumbangkan kemampuannja untuk meringankan penderitaan manusia, manusia seluruhnja diatas dunia dan didalam sedjarahnja.
Seniman dengan rahasisa ini mentjiptakan dunia baru, dunia tersendiri, jang lebih benar daripada dunia jang dapat diraba—dunia jang mutlak dan takd apat dipertengkarkan. Pikiran atau filsafat seniman bisa bersalah dan bodoh, tetapi rahsia ini akan tetap hidup, djuga dunia jang ditjiptakannja, berkat adanja dia takkan rusak, terlepas dari segala hukum diatas jang sudah ditemukan dan diakui. Dan rahsia ini adalah pula suatu sebab mengapa seni lebih dari ketjakapan2 jang dapat dipeladjari. Dan sudah mendjadi anggapan umum dimasa-masa dahulu, bahkan kadang2 djuga kini, bahwa seorang pudjangga adalah lebih dari orang biasa. Dimana kini anggapan demikian memang bukanlah pada tempatnja. Kelebihan tiap orang adalah kekuatan jang melindunginja dari bahaja kelaparan. Dan kelebihan ini boleh dikata ada pada tiap orang—dalam tingkat2nja—dari petani pemimpin2 pemerintahan. Dan pudjangga2pun punja kelebihannja—dalam tingkat2 masing2. Ini orang dapati djuga dalam dunia bintang. Apabila kelebihan dari binatang itu dilenjapkan, mati atau lumpuhlah ia sebagai machluk jang bebas.
Dan dunia jang lebih benar jang ditjiptakan oleh para seniman itu pula jang menjebabkan mengapa senilukis tak dapat dikalahkan oleh ketjakapan memotret, aktir2 tak dapat diganti oleh kartoon, senisastera tak dapat diusir oleh reportase objektif, senipahat tidak oleh kemahiran mentjetak belaka.
Rahasia jang memungkinkan adanja seni ialah daja chaja.
Adalah suatu kechilafan bila orang mentjampur-adukkan chajal dengan lamunan. Lamunan biasanja adalah suatu gedjala adanja kekatjauan pikiran. Dan chajal—orang mengosongkan diri dari perasaan dan pikirannja, otak dan hatinja, kemudian chajal datang berkundjung dan menjentuh benda2 atau pikiran2 ataupun perasaan2 beku mendjadi hidup. Dan kalau pada permulaan tahun 1952 Lembaga Kebudajaan Indonesia dalam kongresnja di Bandung mengesahkan suatu kesimpulan, bahwa kesusasteraan bukan ditjiptakan tetapi mentjiptakan dirinja sendiri, ini tidaklah begitu salah bila batu lontjatan pikiran diletakkan pada chajal dengan manusia sebagai mediumnja—sebagai perantara.
Soalnja sekarang berpindah pada pandangan seseorang tentang chajal. Adakah chajal itu dipandang sebagai kedjadian kedjadian psychologis atau mystis. Kalau ia dipandang sebagai kedjadian mystis, maka ia adalah sesuatu jang luhur, suatu pemberian atau ilham jang manusia hanja memiliki sebagai penerimaan belaka. Dan dimasa ini bersama dengan perkembangan apa jang disebut kritis-materialisme, kata2 luhur adalah buah tertawaan jang menjenangkan. Tetapi bila kedjadian itu dipandang sebagai barang psychologis semata maka kesimpulan jang telah disahkan oleh Kongres Lembaga Kebudajaan Indonesia di Bandung itu sungguh2 berbau dupa dan setanggi.
Dajachajal dan dajafantasi adalah soal hidup dan matinja seorang pengarang. Bagi seorang seniman, kenjataan2 telandjang adalah tidak penuh dan terserak, tertjerai satu-sama-lainnja, dan tidak mempunjai hubungan, apabila semua itu tidak dirangkumkan serta diperdjelas oleh dajachajalnja. Kedjadian2 sehari-hari dan benda2 dikeliling kita adalah mati, tidak kuasa memberi kekajaan batin, apabila dajachajal itu tidak ada. Dan apakah lagi harganja dunia bila manusia hidup dikeliling dunia dengan isinja jang mati. Djustru karena itulah tiap seniman hidup dalam dua dunia: dunia kenjataan jang lebih baik dan benar, jaitu chajalnja, dan dunia kenjataan jakni bumi dan alamnja jang dapat diraba dan dirasai.
Kebidjaksanaan dan ketjerdasan sadja tidak tjukup bagi seseorang. Dan apabila ia tidak mempunjai daja fantasi, maka dunia tidak menarik hati lagi, dan hidupnja mendjadi kering dan dangkal.
Sebaliknja, dajachajal jang tidak didukung oleh dajatjipta bukan sadja tidak menaikkan harga manusia bahkan melumpuhkannja. Ia hanja tenggelam dialam chajal. Tiap orang dalam masjarakatnja adalah berlaku sebagai produsen dan djuga sekaligus sebagai konsumen. Sebagai konsumen sudahlah pasti. Dan bila tidak sebagai produsen maka kata sampah untuknja tidaklah begitu menjakitkan hati. Dajachajalpun memainkan peran jang amat penting dalam sedjarah kemanusiaan. Penemuan2 mesin baru atau pendapatan baru sebagian terbesar adalah berkah adanja dajachajal dan bukan pemikiran atau kebetulan semata. Bahkan sebagus-bagus idee bila sonder chajal adalah seperti pasir ditiup angin. Dan setelah idee, chajal dan bahasa ini didukung oleh dajatjipta, maka lahirlah kesusasteraan. Idee dan chajal selamanja merupakan kebulatan jang penuh, berisi ketegas2an mutlak dan karenanja pula hilanglah berbagai details serta embel2 jang biasanja lebih banjak terdapat dalam penghidupan sehari-hari daripada didunia chajal dengan segala kemurnian dan ketegasannja.
Sudah mendjadi kebiasaan bagi orang2 ilmu dan pengetahuan tidak menghargai adanja dajachajal ini. Bahkan banjak diantara mereka jang tidak tergolong didalamnjapun tak kurang2nja bersikap demikian. Peristiwa ini adalah disebabkan oleh kenjataan, bahwa ilmu dan pengetahuan jang ada padanja itu belum merupakan bagian dari hidupnja sendiri, tetapi masih merupakan barang mentah jang ada diluar dirinja, tidak ubahnja dengan seberkas buku dilemari. Apakah mungkin seseorang berandjak dari tempatnja dengan riang, dengan bersemangat dan dengan kejakinan hanja karena telah mengetahui soalnja belaka dan tidak dengan tjampur tangan chajalnja? Bahkan kedjajaan, kemerdekaan dan kebesaran sesuatu bangsa tidaklah dimulai dengan perhitungan jang kering, tetapi dimulai dengan fantasinja.
Kemudian dajatjipta membawa hasil chajalan atas benda2 dan kedjadian2 mati itu kepada masjarakat. Dengan tiada dajatjipta maka chajal itu tidak punja djalan keluar. Dan apa jang benar dan lebih besar daripada kenjataan sehari-hari tidaklah dapat diperalami oleh tiap orang, chusus hanja untuk seorang sadja.
Tiap orang sebenarnja punja daja fantasi jang tjukup untuk memungkinkan dirinja tidak bosan pada hidup dan dunianja sendiri. Dan apabila dajachajal itu datang dari luar dirinja, maka dajatjiptanja adalah ada didalam diri tiap orang. Dajatjiptanja sesungguhnja dapat diperbesar dan dipernjata oleh latihan sehari-hari: latihan mempergunakannja. Sebagai djuga halnja dengan otot2 jang ada pada kita ia lemah atau kian mendjadi kuat bila tidak atau bila terus-menerus dipergunakan. Hasil tjiptaan sesungguhnja tergantung pada besar ketjilnja dajachajal dan chajal itu sendiri. Sedang dajatjtiptanja dapat menjulap dari jang tiada ke jang ada baik jang didjadikan ada itu ketjil maupun besar.
Njatalah bahwa djuga didalam dunia kesusasteraan, latihan mentjipta itu perlu, untuk menjiapkan diri dan djuga untuk memperbesar tenaga kerdja apabila chajal datang padanja. Dan bila demikian halnja, maka karangan jang bagus lahirlah.
Usaha parausawan dalam memasukkan sistim lopende band Taylor dalam penjelenggaraan dan pembuatan film di Hollywood menjebabkan kematian senifilm disana. Kemunduran ini terus-menerus terasa. Kesusasteraan tidak menduduki tempat pertama sebagai dahulu. Djiwa dagang telah menetukan segala-galanja. Tjerita boleh diotak-atik semuanja: kasih sedikit romance,sedikit perkelahian dan njanjian, kadang tarian dan banjolan, dan filmpun djadilah. Alih2 perkelahian, tjium, badut, njanji dan tari sudah sedia untuk memasak adegan2. Dengan lopende band demikian dapat dihasilkan beratus film dalam sekwartal, dan akibatnja: kematian film sebagai hasil seni tidak dapat dihindarkan.
Adalah suatu keanehan bahwa seorang usawan film Indonesia mau meniru-niru tjara kerdja Hollywood ini. Dengan tiada sadar ia telah mentjabut keris untuk menikam dadanja sendiri dalam masa Indonesia baru memperoleh kelahirannja sebagai machluk seni-bebas. Dan bila usawan tersebut kini merupakan exponent didunia film Indonesia, dapatlah dimengerti mengapa hingga kini tidak ada dari puntjak2 kesusasteraan Indonesia sebelum dan sesudah perang difilmkan, bahkan djuga tidak oleh Perusahaan Film Negara. Keadaan pintjang ini dikuatkan pula oleh adanja dua gerombolan dalam pertumbuhannja jang tersendiri-sendiri, jakni gerombolan budaja resmi jang dipersatukan oleh djeritan Dewantoto hendak mempersatukan puntjak2 kebudajaan daerah sebagai kebudajaan Indonesia—satu pikiran jang gilang-gemilang dalam keselipannja—dan golongan lain jang mempergunakan kehadiran hidupnja. Gerombolan pertama adalah mereka jang berkuasa dibadan-badan penjelenggaraan hasil seni dan golongan kedua adalah jang sesungguhnja mereka jang dikuasai tetapi menghasilkan. Dan dalam hal ini apabila Balai Pustaka dibandingkan dengan Perusahaan Film Negara, maka jang pertama adalah djauh lebih madju, bahkan jang termadju disaat ini.
Dajatjipta ini—dan ini jang sungguh2 sangat disesalkan—ada dalam daerah pengaruh penjelenggaraan dan keuangan djuga. Manakah jang harus dikerdjakan terlebih dahulu mengsi perut jang lapar, menjelimuti tubuh jang dingin, ataukah berketjimpung dialam abstrak dengan chajal dan tjintanja! Tidaklah begitu salah apabila dikatakan, bahwa kedudukan gerombolan pertama tersebut jang memegang kekuasaan dilapangan penjelenggaraan mengantjam akan makin lemahnja daja tjipta dilapangan kesusasteraan dan seni pada umumnja.
Djalan satu2nja jang terdekat adalah suatu keharusan bagi golongan kedua untuk mempunjai penjelenggaraan sendiri, bahkan sedapat mungkin terlepas dari gerombolan jang pertama.
Dajafantasi adalah kekuatan2 jang tak dapat terantjam oleh apapun djuga. Tetapi dajatjipta adalah sangat rapuhnja.***