Baca EPUB: Daerah Tidak Bertuan

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
TOHA MOHTAR
Daerah Tidak Bertuan
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Bagian 1

SEORANG JANG TELAH TUA, KURUS, djangkung dan agak membungkuk memasuki ruangan. Pada wadjahnja jang muram membajang kelelahan jang dalam, jang membuat ia kelihatan lebih tua. Rambutnja jang separoh tertutup destar hitam, sudah putih tjampur kelabu. Ia langsung menghampiri komandan Kaélani jang telah bangkit dari bangku, jang menjambutnja dengan uluran tangan dengan pandang matanja pula.

„Kapan berita kematian Truno kalian terima?” tanjanja seraja melepaskan tas-kulit jang dikaitkan pada ikat pinggang sebelah kanan dan melémparkannja kepodjok ambin. Suaranja tegas, péndék, berlawanan dengan wudjud tubuhnja jang begitu rapuh.

„Sehari sesudah ditanam”, sahut Kaélani, „Alwi datang ke sana. Pak Mantri sudah berangkat waktu itu”.

Semua mata dalam ruangan itu mengawasi jang baru datang, seorang tua jang mengenakan badju dril tjoklat dengan epolét di pundak. Wadjahnja jang kering dan hitam oléh matahari nampak londjong menjengkang, djanggut jang tumbuh djarang menghiasi dagunja jang lantjip. Bibirnja tipis biru agak tertarik kedalam oléh ketuaan. Matanja tjekung, lebih dalam tampaknja sedjak seminggu ia meninggalkan daérah pertahanan barat.

Ia duduk diatas ambin bambu, menarik napas dalam², sebentar melepaskan katjamatanja, lalu dengan punggung ibudjari disékanja mata jang tampak selalu berair itu. Urat² jang menondjol pada kulit tangannja jang kisut lebih merupakan hiasan dari tanda ketuaannja.

Barangkali tidak seorangpun jang tahu, di antara meréka jang mendjeladjahi daérah pertahanan barat, nama orang tua itu jang sebenarnja. Pensiunan mantri-garam, hanja itulah jang meréka kenal dan ia dipanggil ’Pak Mantri’ oléh semua anak Pasukan Liar. Pak Mantri sudah mendjadi nama dan orang tak pernah berpikir buat mengetahuinja lebih banjak.

„Ja. Saja sudah berangkat saat itu. Saja merasa wadjib buat meneruskan perdjalanan,” katanja. Lalu sedikit berpaling ia menatap Kaélani. Dari matanja seperti memantjar tjahaja jang asing. Ia anggukkan kepalanja perlahan dan suara jang menjusul dari bibirnja terdengar dalam dan chusuk, seperti ditudjukan semata-mata kepada komandan jang masih muda itu.

„Sudah bérés seluruhnja, Kaélani. Kampil sudah selamat diterima Markas Pertahanan. Komandan Dipisi kenal namamu”

Dengan utjapan ini seluruh jang hadlir dalam ruangan itu mengerti, bahwa kampil-permata milik Pasukan Liar telah sampai ke tangan jang lebih berhak dengan selamat.

„Dipisi mendjandjikan bantuan sendjata dan peluru jang lebih banjak,” sambung pak Mantri. Komandan Kaélani langsung mengulurkan tangan, mendjabat tangan tua itu dengan erat. Tak ada jang lebih besar jang dinantikan selama ini daripada berita itu. Lalu suara jang terlompat dari bibirnja terasa gemetar oléh kebanggaan jang memenuhi dadanja.

„Pak Mantri, saja merasa bangga. Semua merasa sukur dan hormat. Tugas jang berat itu telah didjalankan dengan baik. Djasa ini akan dikenang sepandjang Pasukan Liar ini dikenang orang jang pernah tergabung di sini. Terimakasih atas nama semua, jang ada di sini dan atas nama meréka jang telah mendahului kita.”

Pak Mantri mengangguk. Ia pedjamkan matanja seperti ia menghendaki keheningan, agar bisa menangkap seluruh utjapan komandan Kaélani. Sedjenak kemudian ia mengangkat kepala.

„Semua telah berdjalan menurut semestinja. Kami tjuma bajang² jang bergerak, karena ada jang menggerakkan,” katanja.

Kaélani menunduk; jang lain tidak menjela. Ada jang meréka nantikan. Dari bibir jang tipis-biru itu meréka harapkan lahirnja kisah gugurnja Truno. Bagi meréka, anak² jang bergelut di daérah pertahanan jang paling depan ini, berita gugurnja seorang sahabat tidaklah mengedjutkan benar. Ada jang didambakan, bagaimana Truno menghadapi saatnja jang penghabisan, barangkali ada pesan jang ditinggalkan. Dengan kisah² sematjam itu meréka bisa merasa bertambah kaja. Ada jang dikenangkan, ada jang bisa disebutkan dengan chidmat dan chusuk.

Dan orang tua itupun tahu pula, apa jang diharapkan anak² pasukan itu daripadanja. Ia sadar, adalah kewadjibannja untuk berbitjara sekarang. Djikapun meréka tidak menagih dengan pandang jang begitu haus, iapun tak akan mampu menjimpannja didalam hati. Ia akan bitjara, ia akan bertjerita, tidak peduli untuk siapa.

„Aku tak akan lupa. Ia menjebut namamu, Kaélani. Ia membawa semangat pasukan ini dalam perdjalanan jang paling achir.”

Djari²-nja jang kurus pandjang itu menggulung tembakau daun djagung, dan pelan ia njalakan batu apinja. Kesunjian berlangsung terlalu lama buat meréka, namun tidak seorangpun jang ingin menjela. Mobin, penémbak titis itu duduk di podjok. Sebanjak kisah² jang ia dengar dari gugurnja para sahabat jang paling dekat, dalam saat² begitu selalu berbauran dalam chajalinja, dan djika muntjul bajangan sendiri ia akan menarik napas jang pandjang dan dalam. Maka terangkatlah do’a jang lahir dengan getaran hatinja: „Tuhan. Djauhkan aku dari malapetaka serupa itu.”

Pak Mantri belum djuga mulai bitjara. Asap tembakau jang meresapi rongga-dadanja seperti mengurangi kelesuannja. Tapi kisah pahlawan Truno telah mulai membajang sebelum dibuka. Wadjah bekas tahanan Nusakambangan, jang pernah diperbantukan memperkuat Pasukan Biru dari pendjara Kalisosok pada permulaan répolusi, pelahan-lahan muntjul dalam semua hati jang hadlir.

„Mobin. Truno minta kepadamu buat mengenangnja dengan do’a seorang sahabat.”

Mobin mengangkat muka sebentar. Semua tahu, itu bukan kebetulan. Mobin jang tahu banjak tentang Tuhan, tentang agama dan kitab sutji, dan paling chusuk memandjatkan do’a.

„Kami semua di sini sudah memandjatkan do’a bersama buat keselamatan rohnja, Pak Mantri,” kata Alwi, anggauta paling muda dalam pasukan, pemegang kekki, sendjata mesin buatan Djepang. Ia satu²nja jang bertjelana péndék, duduk bersimpuh dibawah Pak Mantri.

Kisah gugurnja Truno bermula, ketika tentara Ghurka melepaskan lagi témbakan² mortir sedjak pagi hari dari seberang kali. Truno membawa karabén Djepang jang disandangnja di pundak, Pak Mantri njengkelit pistol, dalam gémbolan sarungnja digulung kampil-permata jang harus diserahkan kepada Markas Pertahanan di belakang. Tidak seorangpun jang mengerti tugas ini ketjuali Kaélani sebagai komandan pasukan, Ganda jang menjimpan kampil itu selama ini dan Pak Mantri sendiri.

Itulah saatnja jang paling achir anak² pasukan jang lain melihat Truno, berdjalanan dibelakang Pak Mantri sebagai pengawal. Keduanja meninggalkan daérah pertahanan, menerabas pesawahan dan daérah tambak sebelah barat désa Bandjaranjar. Tak ada jang mengira saat itu, bahwa djustru jang mendjauhi daérah pertempuran akan mendjadi satu²nja korban. Ia termasuk seorang jang tidak dikenal benar dari mana asalnja, jang datang untuk menemui mautnja di sini.

Dan kini jang meréka tangkap tinggal suara Pak Mantri: „Kami berdua meninggalkan daérah ini melintasi tambak sebelah Bandjaranjar. Kalian tahu arahnja. Lorong itu meléwati gubuk lapuk bekas warung kopi, dimana anak Pesindo meninggal lantaran peluru sendiri sebulan jang lalu.”

Ja. Anak pasukan seluruhnja kenal dan tahu peristiwa dan tempat itu.

„Meléwati gubuk itu, kami bisa dengar gemontang mortir jang menghudjani kalian di sini. Gemanja pandjang seperti merajapi permukaan tambak jang begitu luasnja. Kami berdua berdjalan dengan membisu. Gema ledakan itu terdengarnja seperti memburu kami dari belakang. Waktu itu tak seorangpun jang kami temui sepandjang djalan. Dukuh ketjil sudah kosong. Dua hari sebelumnja penduduk sudah mengungsi ke sebelah utara, ketika djatuh mortir jang pertama kali. Dan seperti kalian tahu, pasukan Pesindo jang ada di sana, telah ditarik ke kota Gersik pagi harinja. Kami melangkahkan kaki lebih tjepat dan lebih pandjang. Sedjak dari sini Truno tidak berkata sepatah djua. Sekarang aku djadi ingat semua ini. Suasana jang lengang dan sunji jang begitu menekan membangkitkan ngeri dan merampas seluruh rangsang buat sekedar berbitjara.”

Achirnja sampai djuga saatnja kami merasa telah di luar djarak témbakan. Kami menjusur tepian kali ketjil jang deras alirnja, berdjalan diatas pematang tambak jang basah dan litjin. Kukira kalian pernah pula mendjeladjahi daerah itu. Tak djauh didepan kami ada pohon trembesi jang membatasi pinggiran tambak. Waktu itulah kudengar pertama kali suara Truno dari belakang.

„Pak Mantri. Tugas kita kali ini, maha penting tampaknja. Apa gerangan jang mesti kita selamatkan ke markas pertahanan? Tudjuan kita Modjokerto, bukan?”

Tak ada tjuriga sedikitpun dalam hatiku. Dan akupun mendjawab tanpa menoléh. „Laporan. Tjuma laporan. Biar komandan Dipisi tahu adanja Pasukan Liar di pertahanan Barat. Kita butuh bantuan peluru jang lebih banjak.”

Kami berdjalan terus dalam kesunjian. Untuk berapa lama aku tak tahu. Tapi mendadak timbul pertanjaan jang anéh dalam telingaku, suara Truno kudengar lagi dari belakang. „Jang benar, Pak Mantri. Truno bukan anak ketjil. Mengapa mesti dirahasiakan?”

Aku tidak menjahut, dan kami berdjalan terus. Antara sesaat tak ada suara, barangkali ia menanti aku bitjara dan barangkali lalu tak sabar sebab kudengar lagi suaranja.

„Katakan, Pak Mantri. Biar aku tahu, buat apa aku mengawal. Kalau sadja muntjul orang jang hendak mengganggu, biar aku tahu untuk apa aku mesti berkelahi. Kalaupun aku mesti membunuh, biarlah ada kejakinan dalam hatiku untuk mendjalankannja dengan djiwa jang tenang. Dan djikapun aku mesti mati, biarlah roh ini bisa tenang pula meninggalkan djasadnja. Biarlah aku jakin untuk apa aku berkorban.”

Seperti semula aku mendjawab tanpa menoléh, tapi bibit gelisah sudah mulai kembang di sana. „Aku sudah tjeritakan semua kepadamu, Truno! Engkau tidak pertjaja?”

Barangkali ia tertawa ketika itu, aku tak pasti, aku tak bisa membédakan suaranja ketika itu. Dan selagi aku belum bisa menimbang benar suara itu, Truno sudah berbitjara: „Tidak. Aku tidak pertjaja. Pak Mantri dusta kepadaku. Atau, atau......... aku jang mesti mengatakannja?”

Aku terkedjut oléh suara itu. Kegelisahan tjepat sekali berkembang, lalu rasa tjemas mulai mendesak. Apa gerangan jang dikehendaki orang ini? Apa sadja jang bisa berputar dalam kepalanja? Oh, djika sadja kalian dapat ikut merasakannja. Aku tidak berkata, aku tidak menoléh. Kukira dibelakangku bukan lagi Truno jang aku kenal, bukan lagi Truno jang didjamin Kaélani sebagai bekas tahanan jang telah berubah oléh peperangan. Aku, oh Tuhan, aku telah membuat kesalahan untuk tidak meminta pengawal jang lain. Siapa manusia dibelakangku ini? Aku tahu, tentu. Tapi buat sampai pada ingatan ini, betapa lambat dan sulitnja, kesadaran seperti mengambang sadja. Aku sudah kenal dia sebelumnja, aku tahu itu. Siapa dia? Ingatan itupun lalu memberi bentuknja jang bulat, dan kengerian lalu pelan² mulai menguasai seluruh diriku. Ia bekas tahanan, bekas pendjahat dari pendjara Nusakambangan, tempat kumpulan pembunuh jang tidak tanggung.”

Pak Mantri berhenti, mengusap wadjahnja sebentar dengan sebelah tangan. Selintas kedua matanja terangkat ke atas dan seluruh pendengarnja seperti mau menarik napas jang dalam dan tanja jang tidak terutjapkan mengganggu kepala meréka. Apa jang bisa dilakukan oléh orang tua jang begini rapuh tubuhnja dalam menghadapi keadaan jang demikian? Semua mata djadi tidak mengedip menatap wadjah jang tjekung, bibir jang kering, sebab meréka tak mau kehilangan sepatah perkataanpun, meréka akan tangkap seluruh kalimat jang bisa lepas daripadanja. Ada ketjemasan jang anéh, kendatipun itu tinggal kisahnja, sebab dalam pikiran anak² pasukan itu tjuma ada satunja kemestian, meletupnja peluru dari laras karabén tua, dan menggeleparnja tubuh jang rapuh itu.

„Aku tahu jang kalian bajangkan, meski kalian tahu, bahwa itu tidak terdjadi. Barangkali saat itu aku bisa mentjabut pistol, membalikkan diri dan menémbaknja. Tapi kalian tahu, itu bunuh diri. Barangkali tidak satupun di antara kita jang punja bajangan lain, apa djadinja djika seorang Truno dengan karabén dibelakang tengkuk mendapat antjaman jang demikian mendadak.”

Sekarang Pak Mantrilah jang menarik napas dalam², pelahan diséka dahinja dengan belakang tangan, pandangnja menunduk, dan suaranja seperti djauh sekali.

„Lalu kudengar suara Truno dari belakang, dan dinginnja seperti menghapus segala kebimbangan. „Pak Mantri!” serunja, „Aku bisa menémbak dari belakang, aku bisa bawa lari kampil itu ke daérah musuh. Aku tahu sedjak berangkat. Djawab, Pak Mantri!”

Aku sudah sampai kepada titik jang paling mengerikan, jang sebelumnja tjuma ada dalam bajangan. Adalah lain sekali djika orang mentjapai kejakinan, bahwa maut tinggal seraih tangan. Oh, aku bisa bertjerita pada kalian, bahwa di saat memuntjaknja kengerian, rasa tjemas tak ada sama sekali. Jang tinggal tjuma sisa gemetarnja tangan dan djari². Ada ketenangan jang mengagumkan dalam dada sendiri dan aku mampu mendjawab dengan suara jang tetap: „Engkau tidak keliru, Truno!”

Ja, aku merasa saatku sudah tiba sekarang. Djawaban mana jang bisa aku berikan? Aku tak punja kata jang lain. Ia dapat menémbak aku setiap detik. Siapa jang akan menjaksikan? Ia dapat melémpar majatku ketengah tambak dan melarikan kampil-permata kedaérah pendudukan. Tak ada jang akan berbitjara tentang pembunuhan di sini. Aku tahu, aku sudah tua. Tidak di sini, kematianpun sudah tak djauh djaraknja. Tuhan, apa dosaku? Tak berhakkah aku akan mati jang lebih baik? Aku siap menghadap Engkau setiap saat, setiap detik, tapi djangan tjara seperti ini.

Lalu seperti kudengar tawanja. Sekarang masih aku tak jakin, apakah itu suara tertawa. Suara itu lebih menakutkan dari antjaman dan témbakan. Kalian mengerti, manusia jang bisa menémbak manusia dengan tertawa sematjam itu bukan manusia. Tapi ia pun bukan binatang. Lebih dari itu. Kemudian kudengar suaranja dingin menjentuh telingaku:

„Katakan, Pak Mantri. Truno tjuma ingin kepertjajaan!”

Aku tidak menjahut. Sesaat kemudian suara itu terdengar lebih dekat.

„Aku mengerti sekarang, Pak Mantri. Kepertjajaan bukan jang mesti diminta, lebih berat untuk direbut, lebih berat dari menémbak seorang sahabat.”

Perlahan aku membalikkan diri. Ia berdiri dua langkah djauhnja dari tempatku. Karabénnja masih bergantung pada pundaknja seperti kalian lihat ketika kami berangkat dari sini. Perasaan malu jang dalam menjentuh hatiku. Kutatap matanja, bukan mata pembunuh seperti jang kungerikan.

„Truno! Dalam gémbolan sarungku tersimpan kampil-permata jang mesti kita serahkan kepada Markas Pertahanan. Itulah jang mesti engkau kawal dan itulah tugas kita.”

Perlahan, ia melangkah ke depan, lalu merangkul tubuhku. Ketika bitjara suaranja gemetar seperti orang jang tak kuasa menahan sendu.

„Aku tak perlu jang lebih dari itu, Pak Mantri. Mari berangkat, kukawal sampai ke tempat tudjuan. Djika datang bahaja dan kita berdua harus mati, akulah jang lebih dahulu.”

Untuk pertama kali aku menjaksikan betapa beratnja perdjuangan jang telah berlaku dalam batinnja. Dan sekarang dalam menghadapinja, dengan pandang jang begitu saju, aku ingin memberikan jang lebih dari sekedar kepertjajaan.”

Pak Mantri berhenti sebentar, mukanja menengadah ke atas seperti mendadak ia menemukan kembali jang hilang dari kepala. Lalu suaranja jang perlahan mengantar lahirnja utjapan jang bangkit dari dasar hatinja.

„Kukira aku tak kan mampu memberikan jang lebih dari itu. Kepertjajaan adalah penjerahan seluruhnja, sebulat diri kita lahir dan batin, dan orang tak merasa kehilangan karenanja.”

Agak lama ia berhenti berbitjara. Utjapan jang paling achir lenjap seperti suatu pembébasan dan lega sekali tampaknja napas jang berhembus dari pipi jang legok. Diangkat perlahan tangannja, rokok dari daun djagung jang terselit antara djari sudah lama mati, tapi ia tidak peduli. Dilepasnja katjamata, diusapnja lagi mata ketjil jang basah itu dengan kedua punggung ibu-djarinja. Lalu mata itu menatap semua, sorot daripadanja seperti mampu berbitjara: Tidakkah benar demikian? Tapi jang berdesis léwat bibirnja: „Dan kita djustru merasa bertambah besar dan tambah kaja karenanja.”

Tidak seorangpun jang mentjoba berbitjara. Kisah Pak Mantri dalam kalimat jang putus² dan péndék² itu hanja pembangkit lahirnja kisah lain jang lebih dalam bermain di hati masing², dan meréka menerawang Truno dari sudutnja jang lain pula. Seperti pula sekarang, wadjah Mobin dengan matanja jang bulat penuh tanja itu menatap wadjah Pak Mantri dari tempat duduknja, dan hatinja tak mau pertjaja. Ada djadinja manusia jang demikian. Dan lantaran dia seorang Mobin, maka diapun hanja bisa bitjara dengan hatinja sendiri. Tuhan, Kau maha kuasa. Kau tjiptakan peperangan, dan perang itu bisa robah se-gala²nja. Perang bisa membuat manusia djadi binatang, dan kini perang itu pula jang bisa merobah binatang djadi manusia. Aku lambat buat mengerti. Tapi, aku jang beriman, di tanganMu, aku pertjaja, segalanja membawa makna, segalanja membawa arti. Dan aku tak bakal ragu tentang kebenaranMu. Mobin-pun lalu menutup matanja pelan, kalimat sutji lalu mengalir dari bibirnja lirih sekali.

Suara Pak Mantri terdengar lagi:

„Sungguh, aku tak pernah merasakan bahagia seperti sekarang. Seorang manusia dari dunia lain jang tak pernah aku mengerti, saat itu mendadak begitu dekat di hati, begitu dekat di mana prasangka tidak dibutuhkan lagi dan di mana orang tak akan bertanja, hendak berbuat apa dia kepadaku? Djikapun sekarang ia muntjul di sini, mengatjungkan laras kepada dada ini, aku akan tersenjum. Kalian tidak pertjaja?”

Pak Mantri berhenti berbitjara dan Mobin menjahut didalam hati, ja, aku bisa pertjaja sekarang, lantaran aku sudah beladjar untuk melihat, bahwa segala bisa terdjadi.

Orang tua itu mengangkat lagi katjamatanja, disékanja matanja dengan belakang ibudjarinja. Sunjilah jang agak lama antara meréka seperti ia menanti, kalau² ada jang ingin menjela atau barangkali ia sedang menghadapi babak jang paling berat. Perlahan ia menundukkan mukanja. Antara kedua alisinja timbul leluk jang samar² seperti antara kesunjian jang membatasi kisahnja. Sekarang tidak ada lagi suara jang mengganggu.

Tanpa mengangkat muka Pak Mantri bitjara lagi seperti suatu ratapan suaranja kemudian, sesal jang dalam membajang pada wadjahnja jang masih sadja menunduk.

„Lalu ledakan itu. Gelegar mortir diatas kepala kami. Aku masih dengar djeritannja, begitu keras dan begitu tadjam, penuh ketjemasan terhadap keselamatanku: „Tiarap Pak Mantri!”, ja, aku masih ingat suara itu.

Sekarang Pak Mantri berhenti antara kalimat² jang diutjapkan. Seperti membutuhkan segala kekuatan untuk mengutjapkan kalimat² itu, setiap kata jang diutjapkan bibirnja jang tipis-hitam itu dengan getaran hatinja.

„Ditengah djeritan jang melengking itu menjusul ledakan jang kedua. Truno mengaduh; ia tahan perutnja dengan kedua tangan dan mengalirlah darah. Kedua matanja membelalak, kedua bibirnja membuka seperti banjak jang hendak terlontar dari mata dan bibir itu. Lalu terkulailah ia djatuh disamping pematang.”

Pak Mantri berhenti, mengangkat wadjahnja. Mata jang tjekung ketjil itu menatap semua.

„Aku tak tahu apa jang mesti kulakukan; apa jang mesti kuutjapkan. Aku tak tahu, apa jang mesti kubisikkan dalam djiwa jang begitu tersajang. Aku setengah berlutut di sampingnja. Pandang mata itu, seperti tinggal di sana kekuatannja buat bitjara. Pada saat itu dia menjebut namamu, Mobin; dan engkau, Kaélani. Kuusap dahinja, kuraba nadinja, darahnja mengalir dan mengalir. Bibirnja jang tertarik dalam menahan pedih dan njeri; wadjahnja bertambah putjat dan pandangnja bertambah pudar. Achirnja, ja, Tuhan, ia masih bisa berbitjara. Bibirnja jang putjat itu bergerak-gerak. Kutundukkan kepalaku rendah² dan kutangkap bisiknja.

„Pak Mantri! Pak Mantri! Aku bekas tahanan, aku bekas pembunuh. Aku datang mau berdjuang, sekarang aku sendiri berlumuran darah.”

Tak ada lagi suara jang keluar dari bibirnja. Aku tatap matanja jang tak bisa lagi mengedip. Pada matanja seperti ada jang bergerak makin mendjauh, makin mendjauh. Aku tahu, roh sedang meninggalkan djasad jang begitu menderita.

„Sebut nama Tuhanmu, Truno. Hanja Dia Jang dapat mengampuni semua dosa, Jang Pengasih dan Jang Penjajang. Berbahagialah engkau, kawan!”

Baru kemudian kusadari, tjuma inilah jang kubisikkan dekat² di telinganja.

„Imanmu mesti tetap Truno. Kepergianmu akan dikenang oléh semua jang di belakang. Aku akan tetap mengenangkan tentang budimu kepada siapa sadja, di mana dan kapan pula waktunja.”

Semua jang hadir menghéla napas jang pandjang. Itulah kisah kepergian Truno jang meréka nantikan selama seminggu dengan tak sabar, tapi tidak seorangpun jang mengira akan menemukan bentuknja jang begitu dalam dan meminta tempatnja di hati. Semua merasa memiliki sekarang, dan Truno mendjadi bagian Daérah tidak Bertuan jang lebih hidup sesudah kematiannja. Kisah gugurnja mendjadi bagian riwajat Pasukan Liar, dan apa jang dilakukan oléh bekas tahanan Nusakambangan itu terhadap Pak Mantri, diterimanja sebagai perlakuan terhadap diri meréka. Benar kata orang tua itu, sekarang meréka merasa bertambah besar dan bertambah kaja.

„Aku tak tahu pasti, kapan saatnja roh jang tersajang itu meninggalkan djasadnja, dan aku ragu apakah ia masih mampu menangkap suaraku jang kubisikkan.”

Sekarang Pak Mantri menjandarkan kepala ke atas ransel dipodjok ambin. Ia berhenti berbitjara. Ia sudah memberikan seluruhnja kepada meréka. Kisah Truno sudah berachir, dan meréka tak membutuhkan landjutannja. Meréka semuanja terpaku seperti kisah itu masih berlandjut dalam keheningan. Bajangan Truno djadi bertambah djelas dalam kepala. Mata tjekung dibalik katjamata itu lalu tertutup perlahan, kelelahan jang sangat membajang pada wadjahnja jang hitam, pada lekuk antara alis jang tak mau hilang, pada bibirnja jang hitam biru, pada naik turunnja dada jang sudah begitu tipis, pada keriput tangan dan kaki jang kering. Pak Mantri terbudjur diatas ambin, suara napasnja jang mulai menjentuh semua telinga adalah satu-satunja dari kehadirannja. Puntung rokok daun djagung jang tak pernah dinjalakannja terlepas dari selitan djari.

Mobin berdiri. Ia mengutjapkan do’a jang tidak terdengar. Alwi melangkah meninggalkan ruangan dengan kepala menunduk. Ganda, bekas tahanan pendjara Kalisosok, menatap mata Kaélani tanpa kata seperti dengan sorot matanja jang tadjam itu ia ingin mengatakan: „Akupun berhak mendapatkan kepertjajaan seperti itu, Kaélani. Akupun bersedia memberikan segalanja di sini seperti Truno.

Sekarang Kaélani menundukkan mukanja. Tatapan bekas tahanan Kalisosok itu dirasanja seperti suatu tuntutan.

Bagian 2

ESOK HARINJA PAK MANTRI KELUAR dari ruangan markas ketjil itu dengan kepalanja menengadah menjambut angin pagi. Wadjahnja tampak segar. Di pundaknja tergantung geranat kuning pada epolét, pistol kesajangannja terselip di ikat pinggang. Orang tua itu tersenjum, ketika terlihat Kaélani datang menghampirinja.

Udara pagi jang bersih terasa menjegarkan dada, sedjuknja menjapu kulit. Diangkat kedua tangannja pandjang². Ia menggeliat. Dari léhér dan pinggang jang setengah diputar terdengar suara gemeletuk tulang² jang tua dan urat² jang kaku tertarik seperti bisa menghilangkan kepenatan. Dari mulutnja mengepul uap, berbau sambal udang jang membangkitkan semangat anak² pasukan. Itulah satu²nja makanan di daérah pertahanan Barat jang dikirimkan penduduk dari seberang djembatan, jang tidak mau mengungsi.

„Hendak ke mana, Pak Mantri?” tanja Kaélani seraja menirukan putaran pinggang, dan léhér. Tapi tulangnja tidak bergemeletuk. Pak Mantri tertawa, dan uap dari mulutnja bertambah djelas dalam sinar tjahaja pagi.

„Engkau lupa? Aku pernah mendjandjikan peta seberang kali itu jang lebih sempurna.” Alisnja jang tebal kelabu bergerak dan pandangnja djadi bertambah tadjam.

„Sekarang?”

„Ja. Kapan lagi waktunja?”

„Pak Mantri masih terlalu tjapai tampaknja.”

Orang tua itu menggéléngkan kepala dan senjum tampak menambah tjekung pipinja. Kaélani menawarkan seorang pengawal, tapi ia menolak.

„Seorang diri akan lebih baik bagi orang seperti aku. Kau tahu, orang tua tak ’kan begitu ditjurigai. Tjoba perhatikan mukaku.”

Pada bibirnja masih membajang senjum ketika ia membenamkan topi méndong jang agak lébar dengan kedua tangannja, hingga destarnja jang hitam itu tidak tampak. Ia tinggalkan Kaélani dengan langkah jang tetap dan tidak menoléh lagi.

Komandan muda itu mengikuti anakbuahnja jang paling tua dengan mata dari belakang, sampai hilang dibalik pohon² dan semak hidjau. Ada jang asing terasa dalam mengamati geraknja tubuh jang tua itu. Lama Kaélani sampai bergerak meninggalkan tempatnja berdiri.

Pak Mantri menjusur sungai ketjil, meléwati rumpun² bambu jang banjak hantjur, melintasi pesawahan dan kebun jang terbengkalai dan banjak ditumbuhi alang² setinggi lutut. Ke Timur dimasukinja sebuah kampung ketjil. Tidak ada sebuahpun rumah² kampung itu jang utuh. Sebahagian besar roboh dan hantjur oléh témbakan mortir, ketika tentara Inggris menduduki désa Moro disebelah Barat. Penduduk désa ini mengungsi ke kota² sebelah Barat Lamongan, sebahagian pemudanja menggabungkan diri dengan pasukan pemberontak BPRI, dan sebahagian lagi mengikuti pasukan Pesindo. Pak Mantri pernah mendjeladjahi kampung ini, kenal banjak dari meréka jang dulu membangun dapur² umum di sini untuk para pedjuang jang mengundurkan diri sebelah Barat Surabaja. Dengan langkahnja jang tetap dan perlahan sebentar² ia berhenti seperti hendak meneliti kampung itu: lorong-lorongnja, kalinja gubuk-gubuknja dimana dia pernah berteduh dibawah atapnja dengan tjerita² tentang pertempuran di kota, tentang perdjuangan, kemerdekaan dan harapan. Orang tak akan merasa sunji diatas kuburan, djika ia kenal djisim²nja jang ditanam dibawah tanahnja.

Ia menjusuri bekas djalan selebar hasta jang ia pernah kenal dulu dan jang sekarang telah ditumbuhi oléh rumpun² dan rerumputan jang lebat. Tak ada tanda, bahwa sedjak penduduk meninggalkan kampung ini ada kaki jang mengindjaknja kembali. Diturutinja djalanan ketjil jang tak djelas lagi batasnja dan ia senang bisa menduga, bahwa djalan ini buntu dipinggir kali. Di sini, terlindung dari pohon² trembesi, Pak Mantri berhenti, dan dengan setengah djongkok ia mendjeladjahi daérah seberang kali dengan matanja jang ketjil. Ia tahu, Républik tidak sepenuhnja menguasai daerah pinggiran sungai ini, tapi musuhpun belum pernah mengindjakkan kaki di sini. Hanja ada kalanja orang² Ghurka menémbaki daérah ini dengan mortir dan patroli musuh kadang² menjusuri daérah seberang.

Orang tua itu mengambil slepi dari sakunja, dikeluarkannja tembakau dan daun djagung, lalu djari² jang kurus pandjang menggulungnja dengan agak gemetar. Sebatang rokok jang tidak sempurna gulungannja diselitkan di bibir. Batu api dinjalakannja dan asap tembakau mengepul dari hidung dan mulutnja. Kegugupan jang anéh djadi berkurang oléh isapan jang péndék² djaraknja. Selagi gulungan jang pertama belum habis separoh, digantinja dengan jang lebih mantap dan lebih padat. Disela naiknja asap dari bibirnja, dipandangi alir sungai jang agak keruh oléh hudjan. Ia tidak ragu akan kemampuan untuk menjeberanginja. Ia masih kuat berenang dan dengan sebatang pohon pisang kedua kakinja masih tjukup kuat mendajungnja ke seberang. Ia duduk diatas tanah, matanja jang ketjil sebentar² mendjeladjahi daérah seberang kali dan rasa gugup masih sadja belum lenjap dari dadanja. Dibukanja topi méndong jang lébar itu. Panas matahari jang belum tinggi terasa hangat pada tengkuk dan wadjahnja dan angin jang bertiup dari belakangnja terasa menjedjukkan. Ia tidak tjemas, tapi ia tidak bisa mengerti kegugupan jang dirasanja sekarang. Usianja, mukanja jang penuh keriput, matanja jang ketjil dan tjekung merupakan taméng jang baik untuk mengelabui serdadu Ghurka. Hal itu ia sadari, namun sekarang ia memandangi daérah seberang kali, kesepiannja membajang seperti daérah kematian. Timbul sadja kesangsian jang samar, mampukah ia mendjalankan tugasnja kali ini?

Ditutupnja air mukanja dengan kedua tangan. Setelah agak lama, diangkatlah mukanja, ditatapnja langit jang biru bersih. Ketika itu, seperti terbit sadja keinginan jang asing untuk bisa melihat dibalik kebiruannja. Mendadak ia bangkit, terkedjut oléh sesuatu jang ia tak akan menjadarinja. Diperiksanja ruang peluru, ditimangnja sendjata itu dengan tangan kanan, sebuah Colt buatan Djepang jang sudah tua.

Lalu diletakkannja diatas sarung jang telah digelarnja diatas tanah bersama dengan badju dan peralatan jang lain. Sesudah itu diikat pada keempat udjungnja. Dengan belatinja jang péndék ditebangnja batang pisang jang langsung ditariknja kepinggir kali. Sekarang ia sudah siap untuk menjeberang, sebab buntalan sarung itu telah pula disandangnja diatas pundak. Didorongnja batang pisang itu ke air perlahan, dirapatkan perutnja pada batangnja diudjung belakang. Batang pisang itu bergerak menurutkan arus, dan mendajunglah ia dengan kedua kakinja.

Pekerdjaan itu ia lakukan tidak lebih dari sepuluh menit, tapi dirasanja ia telah melawan arusnja selama berdjam-djam. Kedua kakinja terasa atis, kaku sampai ke tulang, dan ketika ia duduk menjandarkan tubuhnja pada batu besar, seluruh tubuhnja lemas seperti seluruh tenaganja telah lenjap sama sekali. Dari tempat ini ia memperkirakan letak markas Pasukan Liar jang anak² pasukannja mengharapkan kedatangannja kembali dengan selamat.

Dan sekarang dipinggir kali Tjermé, bersandarkan diri pada batu besar, air mukanja mengarah ke Timur dimana matahari telah naik setinggi rumpun bambu djauh di seberang. Lurus dibawah matahari itu berkelarian anak² muda jang berdjuang, mempertaruhkan djiwa dan sedia mendjadi tumbal daérah pertempuran. Ia menjaksikan kematian seorang Truno; disaksikannja pandang mata, ketika roh itu meninggalkan djasad kasarnja dan bibir jang putjat itu memanggil dirinja dengan kesadaran jang bergetar menerima panggilan itu. Ia héran, sesudah di sini dipinggiran sungai Tjermé, ia menjadari, tahanan Nusakambangan itu telah memperlakukannja lebih dari seorang ajah. Perlahan ditutuplah matanja dan dilihatnja Truno bukan seorang. Ia mulai mengerti betapa sajangnja ia terhadap Kaélani, betapa besar hatinja djika duduk disamping Mobin dan ia bisa merasakan kembali, bagaimana ketika berdiri dibelakang Alwi jang sedang membersihkan sendjata mesin jang telah tua itu. Dialah waktu itu jang mendahului bitjara: „Sajangkah engkau terhadap sendjata Djepang jang sudah tua begini, Alwi?” Dan anak ketjil jang bertjelana péndék itu menoléh dengan mata jang bulat. „Keselamatan kawan² tergantung pula dari sendjata ini, Pak Mantri!” Ia bisa tertawa waktu itu dan ia tepuk pundak si anak, tapi sekarang kemesraannja lebih menjentuh hatinja.

Ia berdiri mengikat sarung pada pinggangnja, menjelipkan Colt Djepang dalam lipatan sarungnja. Sudah tak ada lagi sisa keraguan dalam hatinja. Sebab ia lebih tahu sekarang, bahwa apapun jang terdjadi, djauh di seberang ada jang mengharap, ada jang mendo’akan, ada jang merindukan dia kembali.

Dengan kaki jang teguh Pak Mantri menjelinap di antara rumpun² jang lebat. Kelelahan dan kepenatannja sudah tak terasa lagi. Belum djauh melangkah ia terhenti. Dihadapannja, pada tanah basah jang tidak berumput, tampak dengan djelas bekas tapak sepatu. Ia djongkok memperhatikan dan dilihatnja bekas telapak itu tambah banjak di sana-sini. Dirabanja dengan udjung djari dan ia memastikan, umur telapak itu belum lama. Ia benamkan topi méndong lebih dalam menutupi kepalanja. Mata jang ketjil dikerinjitkan dan dipandangnja keliling sedjauh matanja dapat menangkap sela² rumpun dan pohon². Ditjabutnja pistol dan dengan tangan jang lain dirabanja geranat jang tergantung di pundak. Lalu tubuh tua itu bergerak dari rumpun ke rumpun.

Bagian 3

KAPTEN WELLINGTON MONDAR-MANDIR dalam kamarnja dengan kepala menunduk. Langkah kakinja jang pandjang tidak menentu. Kaki²nja itu menjangga badannja begitu tegap dan bidang, seperti mau bergerak sadja diluar sadar. Ada jang mentjengkam hatinja begitu dalam; seluruh daja ingatnja membangkitkan kembali peristiwa jang terdjadi pagi ini. Rambutnja jang berwarna kuning djagung lusuh tidak teratur dan pada mukanja jang lantjip membajang kegelisahan. Isapan rokok jang tidak teratur, kepulan asap jang tergantung dalam ruangan jang begitu sempit, puntung² jang tersebar di lantai batu mérah, ruangan itu melahirkan suasana jang redup dan murung.

Seperti suatu keadjaiban dirasanja sekarang, djika seperti mendadak sadja ia berada di daérah jang asing sekali, daérah jang dahulu hanja didengar dan dikenalnja sebagai daérah koloni Belanda dengan rakjatnja jang hidup terbelakang.

Djika ia mengangkat mukanja sebentar dan berpaling kearah djendéla, ia akan dapat memandangi rumpun² jang hidjau, putjuk njiur jang melambai², suatu panorama jang tak pernah dikenal sepandjang hidupnja. Di atasnja langit kelihatan biru dan bersih dalam kebiruan jang lebih tjemerlang dari warna langit di tanah-airnja. Dan betapa aibnja, sekarang, di siang itu, di sini, bendéra keradjaan Inggris melambai di halaman.

Jang terdjadi pagi ini begitu banjak merampas perasaan, pikiran dan kesadarannja. Sekarang, sedjauh sedjarah pengalamannja sebagai seorang militér, ia merasa telah sampai pada suatu tonggak dalam riwajat hidupnja, setjertjah peristiwa ketjil jang sungguh tak bakal bisa dilupakan selama²nja dan barangkali bakal mempengaruhi sikap hidupnja kemudian.

Ia berhenti melangkah, kedua tangannja jang pandjang dan kukuh itu diangkatnja berpegangan sisi djendéla, matanja melajang ke luar. Antara rumpun² itu, djauh diseberang sungai, barangkali dibalik kebun² kelapa, jang sekarang dari tempatnja berdiri tampak hanja seperti kilatan warna hidjau jang sungguh tak bakal bisa dilupakan selama²nja kekuatan² bersendjata jang mesti dihadapinja. Diusap air mukanja dan pandangnja bertambah redup. Pertanjaan itu sekarang tambah djelas mengganggu dirinja: Siapa meréka?

Perlahan ia membalikkan tubuhnja jang begitu berat, ditinggalkannja djendéla, dilepasnja ikat pinggang kulit, sarung pistol dan isinja ditaroh diatas médja. Dihenjakkan tubuhnja diatas pélbéd dipodjok ruangan, kedua matanja lalu tertutup perlahan. Alisnja bergerak, pada dahinja jang lébar timbul garis² jang membatasi: Siapa meréka?

Ia tak pernah memperdulikan pertanjaan jang demikian. Tapi peristiwa pagi ini telah melahirkan djawaban jang tidak dikehendaki dalam pengalaman péndék jang mengedjutkan, jang menggontjangkan seluruh kepertjajaan, budi dan akalnja. Peristiwa itu sendiri dalam kedjadiannja, adalah hal jang biasa, jang biasa dihadapi oléh setiap komandan pasukan tempur, dan ia telah terlatih dan terdidik untuk menghadapinja. Sungguh, dan ini bukan lantaran ia lebih tjepat mentjabut pistol, lebih mahir melepaskan témbakan dan bukan pula karena matanja jang biru bening harus menjaksikan robohnja seorang lawan jang berlumuran darah. Tidak. Peristiwa serupa itu sudah banjak dialaminja. Pada dadanja tergantung bintang-djasa jang dipetiknja dalam aréna pendaratan di Dunkirk. Ia pernah ikut mengedjar kesatuan² tentara Nazi jang terlatih baik itu sepandjang sungai Rijn.

Kaptén Inggris jang telah djauh meninggalkan tanah airnja itu sekarang membudjur diatas pélbéd, kedua tangannja menjangga kepala, matanja masih sadja menutup dan tinggal ingatannja jang menjusuri djalan peristiwa sepagi ini. Terbajang sekarang, bagaimana tangan itu terangkat mentjabut pistol tua buatan Djepang. Lamban sekali gerak itu. Ia dapat membatja kembali dalam ingatannja sekarang, keriput tangan jang kering itu, urat² jang menondjol pada tangannja, lalu ajunan tangan jang tidak pasti. Ia tambah jakin bahwa peluru itu tak akan sampai pada sasarannja. Apa guna membalas témbakan itu?

Tapi itu telah terdjadi, terlalu tjepat, setjepat pistol di tangan sendiri mendahului meletup, dan tubuh tua itu djatuh tersungkur, dan Colt buatan Djepang terlepas dari genggaman.

Hal itu telah terdjadi. Darah dari dadanja jang lalu membasahi dril tjoklat dan tangan jang kering itu lalu tertarik mengedjang djari seperti tjari pegangan. Kaptén Wellington melangkah mendekati, serdadu jang mengawalnja lalu melepaskan témbakan Tommygun tanpa sasaran. Ternjata korban itu seorang diri. Topi méndong jang lébar terlepas ketika djatuh dan waktu itulah ia terkedjut menjaksikan rambut jang telah kelabu putih tersembul dari bawah destarnja jang hitam. Air-mukanja hitam kering penuh keriput oléh terik matahari, usia dan derita. Mata jang tjekung dan dalam masih membuka, hitam tidak bergerak seperti memandangi titik bajangan jang tidak tampak. Tarikan napasnja sudah lama berhenti, peluru itu benar² telah menembus djantungnja. Geranat tangan masih tergantung pada epolét di pundaknja. Ketika ia melangkah pergi meninggalkan korban, bajangan wadjah jang kering itu tak mau pergi. Orang tua itu tak mahir menémbak, pikirnja, dan ia tak pernah terdidik untuk berkelahi dan bertempur. Tapi adalah satu kenjataan ia di sini, menjusuri daérah pertempuran jang berbahaja, seorang diri menghadapi satu pasukan jang terlatih dan berpengalaman. Apakah jang bisa membuat seorang jang telah begitu tua untuk bersedia mendjalani jang demikian?

Ia jakin, suatu jang tidak benar telah bergedjolak didalam hatinja. Untuk pertama kali sebagai seorang serdadu kaptén Wellington telah merasa membunuh manusia, dan bahwa tak ada haknja di sini untuk berbuat demikian.

Gerit pintu ruangan terdengar terlalu keras. Ia membuka matanja, duduk dipodjok pélbéd. Seorang sersan berbangsa Belanda jang bermisai lurus kesamping berdiri dengan sikap hormat, lalu mengulurkan tangan.

„Engkau selamat, Kaptén. Saja gembira mendengar engkau selamat.”

Kaptén Wellington membiarkan uluran tangan itu. Ditatapnja muka pendatang itu lurus² dengan mata jang gelap. Sersan Belanda itu masih berdiri di hadapannja dengan tangan kanan jang masih diulurkan.

„Saja sudah dengar peristiwa penémbakan itu, Kaptén. Anda selamat. Saja datang untuk mengutjapkan selamat.”

Matanja masih menatap mata sersan di hadapannja, tidak mengedip, pandangan itu bertambah redup djadinja.

„Anda putjat. Anda sakit, Kaptén!”

„Kemari. Duduk di sini, sersan Wolters. Aku ingin berbitjara. Aku ingin berbitjara sebagai Wellington dan Wolters, aku ingin berbitjara dari hati ke hati.”

Sersan Belanda jang bermisai mérah itu mengambil tempat disampingnja. Kaptén Wellington mulai berbitjara dengan suara jang perlahan, rendah, tapi bulat didukung oléh duka dan haru getar hatinja. Dan kisah sepagi itu tentang tangan jang kurus kering mengajun pistol ditjeritakan seluruhnja, jang bisa ditangkap oléh matanja, dan jang bisa diraba dengan hati. Ia dapat mengisahkan itu kembali, dan sebagai lajaknja suatu pengalaman jang begitu tadjam menjentuh hatinja, ia ingin melepaskannja kembali. Tjerita djadi hidup di telinga sersan Wolters jang mendengarkannja dengan termangu. Selesai mentjeritakan pengalaman itu Wellington memalingkan muka.

„Engkau sekarang dapat mengerti, Sersan!”

Tangan itu lalu didjulurkan kembali dan sekarang Wellington tahu, uluran itu tidak untuk keselamatannja, untuk jang lebih dari itu, untuk pengertian jang sama. Maka sekarang disambutnja uluran tangan, didjabatnja erat dan digontjangnja ber-ulang².

„Saja mengerti sekarang, Kaptén!” angguk sersan Wolters.

Hening sedjenak; diganggu oléh seorang serdadu jang melangkah dan berdiri tegak didepan meréka, memberi hormat dan menjerahkan lipatan kertas. Wellington menerimanja, membuka lipatan itu perlahan. Kertas itu sebahagian tertutup oléh darah hitam jang sudah kering. Diatasnja rangka peta jang belum selesai, tjorétan pénsil dan tanda² silang, dimana kubu² sendjata mesin dipasang. Selebihnja angka² serta tanda² lain jang ia tidak mengerti.

Lama gambar peta itu direnunginja, tapi matanja tak lagi tertambat pada tjerétan pénsil jang sekarang sudah kehilangan harganja.

Perlahan kaptén muda itu mengangkat muka. Ia tidak berkata, hanja matanja jang biru itu lurus menentang mata serdadu jang masih tegak dihadapannja. Tanpa diminta serdadu itu memberi laporan péndék dengan suara tegas dan nada bangga:

„Kami temukan kertas ini dalam saku pemberontak tua itu, Kaptén. Majatnja sudah kami lémpar ke kali.”

Bagian 4

BERITA PERTAMA SEBAGAI LAPORAN datang dari Alwi. Ia berada disebelah Selatan stasion keréta api, tak djauh dari djembatan jang rusak. Hanja sekali terdengar témbakan pistol, meskipun lamat² suara itu, ia berani memastikannja. Lalu disusul oléh réntétan suara témbakan Tommygun. Waktunja, matahari belum lurus diatas kepala. Suara témbakan itu tidak terdengar sampai di markas, mungkin oléh kegaduhan, mungkin oléh arah angin dan mungkin djarak témbakan jang mémang agak djauh. Kendatipun berita laporan demikian bukannja suatu kepastian dan tidak diperkuat oléh laporan anak² pasukan lain jang menempati pos² pengadangan disebelah Barat Tjermé, namun semuanja menerima dengan gelisah. Di antara meréka tak banjak jang mau bitjara, hanja pandang² sadja jang saling beradu.

Bila sendja léwat dan Pak Mantri belum djuga datang, ketjemasan anak² pasukan bertambah, suasana markas bertambah lengang. Ada jang meronta didalam hati meréka dan ada jang lalu memadat di kepala. Sebagian besar dari meréka mondar-mandir datang dan pergi tanpa kata.

Djika sadja harapan akan kepulangannja tambah kabur, baru terasa betapa besarnja orang tua itu telah memberikan sumbangannja kepada pasukan. Dahulu, anak² Pasukan Liar itu dengan tidak disadari telah menemukan jang dibutuhkan. Kekosongan meréka telah terisi oléh mimpi seorang tua jang damba mentjurahkan sajang terhadap anak² jang diberikannja tanpa sadar pula. Pak Mantri telah mendjadi ajah pasukan. Tanpa ketjuali, dari Alwi jang paling muda sampai Kaélani jang mendjabat kepala pasukan, bukanlah orang² jang mendapat didikan kepradjuritan, bukan jang diadjar ilmu tentara dan bukan jang dilatih untuk mendjadi pegulat. Meréka hanja sekelompok pemuda. Pemboman jang dilakukan oléh kapal-kapal Inggris dari pelabuhan Tandjung Pérak terhadap kota jang tertjinta, dirasakan sebagai suatu hinaan jang paling dalam menusuk hati. Dan meréka jang sekarang berkumpul dalam Pasukan Liar ini hanjalah sebagian dari anak² kota jang sekedjap sadja dibuat oléh keadaan mendjadi matang untuk bertarung, untuk bertempur, untuk berbuat apapun melawan orang² Inggris. Meréka beladjar memegang sendjata di saat lawan sudah didepan dada. Anak² ini digerakkan oléh satu perasaan, berbuat lantaran ada jang dinjalakan didalam dada. Tentara Inggris dan Ghurka jang punja pengalaman dalam peperangan dunia tak pernah meréka perhitungkan kekuatannja, tak pernah terlintas dalam kepala meréka untuk memikirkan muslihat guna menghadapinja. Kaélani sebagai komandan jang akan pimpin meréka dalam penjerbuan, tapi Pak Mantri jang akan berbitjara, lalu darah meréka djadi meronta. Meréka jakin untuk apa meréka bertempur. Pak Mantri adalah anak pasukan dalam mendjalankan tugasnja, tapi dia adalah bapak pasukan di kalangan meréka.

Ketika Kaélani mengangkat mukanja dari kedua tapak tangannja jang lébar itu, didepan médja telah menjala lampu ublik. Belati ketjil jang tadjam terletak di samping dan tjukilan jang dalam pada lumah médja-djati jang lébar itu djelas terbatja: Pak Mantri, Maret sembilan belas empat enam.

Di luar sudah bertambah gelap, tapi suara kaki jang mendekati markas ketjil itu bertambah njata. Meréka penduduk kampung jang menjelenggarakan dapur-umum, jang mengantar nasi bungkus ke semua pos pemberontak. Meréka itu tidak banjak, meréka hanja sisa jang ikut bertahan di daérah perbatasan. Tangan² bergerak sematjam mesin jang utuh seperti suatu kemestian jang wadjar. Seperti djuga jang berdiri di garis jang paling depan, meréka itu butuh arti dari pekerdjaan meréka, butuh kebanggaan, bahwa meréka telah ikut berbuat sesuatu, bahwa merékapun adalah bagian jang tidak bisa dipisahkan dari semua, bahwa merékapun termasuk jang setia terhadap républik.

„Pagi ini ada sampi jang njasar dari daérah pendudukan, bung. Kita pésta malam ini!” kata salah seorang sambil menaruh beberapa bungkus nasi diatas médja.

„Njasar atau disasarkan?” sahut Kaélani.

„Apa bédanja!” tawa seorang, „njamannja akan sama sadja. Dagingnja tetap daging. Sambel goréng pedas kali ini!”

Meréka tjepat pergi seperti ada jang memburunja malam itu, lalu langkah meréka lenjap didalam gelap di luar.

„Kaélani!”

Kaélani menoléh perlahan. Ganda berdiri dibelakangnja. Tubuhnja jang tegap dan péndék tambah tegap dan besar dalam tjahaja ublik. Ia mengenakan badju hitam tanpa kantjing, dada tertutup kaos polang. Pada pundaknja tergantung karabén péndék jang telah diganti tali kulitnja dengan tampar waru. Sendjata itu tak pernah ditinggalkan ke mana dia pergi seperti telah mendjadi bagian dari dirinja. Ia melangkah mendekati médja, menarik bangku kaju nangka dengan sebelah tangan, lalu matanja jang tadjam mengamati tjukilan diatas médja, kemudian duduk dihadapan Kaélani. Tangannja didjulurkan melintang médja, udjung djarinja berhenti pada tjukilan itu. Matanja menatap mata Kaélani. Mata itu begitu hitam dan berkilau di malam hari, tambah tadjam lantaran samarnja tjahaja lampu dan mata itulah jang membantu membuat kumisnja jang lebat hitam mendjadi tambah garang.

„Kau jakin, Kaélani, Pak Mantri tak bakal balik kembali?”

„Tjuma Tuhan jang tahu, Ganda!”

„Perkara Tuhan jang tahu, tak usah kau utjapkan kepadaku, Kaélani. Aku butuh djawaban dari hatimu malam ini.”

„Bagaimana aku tahu?”

Kaélani hanja menatap matanja jang tadjam seperti tidak dapat memberikan djawaban. Ganda mendjulurkan tangannja. Dengan telundjuknja ia sentuh dada Kaélani, mendekatkan kepalanja dan dari bibirnja jang setengah tertutup misai keluarlah suaranja jang berat: „Djika terdjadi hal jang tidak diharapkan, djika jang paling tertjinta di sini mengalami malapetaka, ada jang tersendat djauh di dalam. Itu jang kutanjakan.”

„Betapa besar sajangmu pada orang tua itu, Ganda.”

„Lebih dari jang bisa kau kirakan.”

Kedua alis jang tebal itu mendesak ke bawah dan pandang itu seperti mau menembusi mata Ganda dihadapannja.

„Paling tidak sama besar dari apa jang ada dalam hatimu, Kaélani,” ulang Ganda.

Kaélani lalu menunduk, matanja tertudju pada tjukilan kaju jang belum lama ia pahatkan dilumah médja dan djari kanannja mengusap ruang kosong antara tjukilan nama Pak Mantri bulan dan tahunnja.

„Itulah jang aku tjemaskan sekarang, Kaélani. Djangan kau jang isi harinja.”

„Tambah dalam kita tjemas.” Kaélani tak tahu, apa jang mesti diutjapkan. Muka orang tua itu membajang dalam kepalanja.

„Ja, aku tahu, sedalam itu pula kegelisahanmu.”

Kaélani tidak menjahut. Ia berdiri, dibantingnja belati ke médja dan menantjap pada udjungnja. Lalu ia membalikkan diri membelakangi Ganda. Bergerak dua langkah, kembali lagi duduk diatas kursi dan menutup muka dengan dua belah tangan. Dan Ganda hanja terdengar suaranja:

„Ajah kandungku meninggal ketika Djepang masuk kota, Kaélani.”

Agak anéh datangnja suara itu, tapi Kaélani tidak menjahut dan suara Ganda bersambung lagi:

„Ia ditémbak Djepang, ketika lari di tanggul Berantas. Aku pernah tjeritakan itu kepadamu, bukan? Pada malam, ketika aku serahkan kampil-permata itu kepadamu.”

Kaélani tidak bergerak dan suara Ganda bersambung lagi:

„Ajahku ditémbak seperti andjing, lalu dilémparkan kedalam bengawan. Aku tjuma dengar tjeritanja.”

Kaélani mengangkat mukanja, matanja saju menatap sahabatnja.

„Ja, aku tak kan lupa. Tapi djangan bitjarakan itu sekarang, aku tak bisa mendengarnja.”

„Bagaimana aku dapat menahannja? Ini tjuma luapan hati. Dada ini terlalu penuh, Kaélani!”

Ganda berhenti sebentar, suaranja seperti suatu ratapan.

„Saja takut hal itu akan berulang. Bagiku orang tua itu lebih dari seorang ajah.”

„Tak usah kau utjapkan kepadaku. Kau kira ada jang lain dalam hatiku?”

Kaélani berdiri, melangkah gelisah, diambillah sebungkus nasi, disurukkan kedepan Ganda.

„Makanlah jang kenjang. Kita tak tahu, apa jang akan terdjadi bésok.”

Ganda terkedjut. Ia hanja menatap sahabatnja diseberang médja.

„Makanlah!,” ulang Kaélani. „Kita tidak sendiri. Makanan di sini disiapkan oléh meréka dengan pengorbanan jang tidak ketjil.” Dibukanja bungkusan itu perlahan, dagingnja sebesar tindju, orang² di dapur umum itu seperti tak sabar memotongnja dengan teratur. Benar! Itulah pésta meréka. Tjerita tersesatnja lembu dan kesasarnja kambing dari daérah pendudukan terdapat setiap minggu. Binatang-binatang itu milik para pengungsi dari daérah musuh jang tidak sempat mengurus ternak.

„Kau lihat Alwi petang ini?” tanja Kaélani mendadak.

„Alwi? Mendjelang asar ia kulihat menjeberangi rél keréta menjusuri djalan sebelah gudang padi, jang hantjur. Tidak berbitjara dia kepadamu?”

„Bitjara? Minta izin, jang kau maksud?” sahut Kaélani. „Ia tahu, aku tak akan menjetudjuinja.” Dalam hatinja ia landjutkan utjapan itu, „Tapi iapun tahu, hatiku tak akan menghalanginja.”

Keduanja makan lamban seperti ada keengganan menghadapi hidangan jang terhitung istiméwa malam itu. Belum sampai habis, Ganda menjisihkan bungkusan nasi itu kesamping, lalu mengusapkan tangannja keudjung tjelana.

„Ada jang ingin saja tanjakan kepadamu, Kaélani. Malam ini ingin saja dengar djawabanmu dari engkau, dari jang menjebutkan dirinja sahabat.”

Seperti tak atjuh Kaélani berdiri, mengangkat sisa nasi dan menaruhnja dipodjok ambin. „Soal apa?” tanjanja tanpa mengangkat muka.

„Soal Solimin,” bisik Ganda sungguh². „Ada kalanja aku tidak bisa mengerti orang ini.”

„Apa urusanku dengan Solimin? Ia sahabat karibmu, Ganda. Kalian datang sama² dari Kalisosok, sama² dari pendjara, sama² dari Pasukan Biru. Engkau lebih kenal dia. Apa jang ingin kau ketahui daripadaku?”

„Engkau jakin, kampil-permata itu sudah kuserahkan seluruhnja untuk pasukan?”

Sekarang Kaélani mengangkat mukanja, pertanjaan itu tidak pernah diduganja.

„Ganda!” tangan kanan Kaélani memegang tangan Ganda diatas lumah médja. „Dengarkan baik². Aku, Kaélani, jang kebetulan djadi komandan di sini tak pernah ada keinginan untuk mengetahui lebih banjak. Kau serahkan kampil itu melalui aku, bagus. Dan aku sebagai wakil kalian menjerahkannja kepada Markas Pertahanan. Itu sudah bérés, kau ikut dengar tjerita Pak Mantri!”

„Tapi Solimin tidak mau pertjaja, Kaélani.”

„Itu soal Solimin. Aku tidak punja kepentingan untuk mengetahui, apakah benda² itu kalian raup dari toko Tundjungan atau kalian dapat tertjétjér di Blauran, ketika orang Inggris masuk kota. Aku tidak perduli.”

„Aku tidak tahan menghadapi senjum tjibirinja. Ia menuduh aku telah mengchianatinja; menjerahkan kampil-permata itu tanpa meminta pertimbangannja. Ia merasa ada haknja untuk mendapat sebahagian, dan aku dituntutnja. Dia tuduh aku masih menjimpan. Barangkali ia akan membitjarakannja kepadamu. Tapi, demi Tuhan .................”

„Kenapa tidak kau adjak dia berunding sebelumnja?”

„Dulu aku jakin, dia tak akan setudju. Kuakui, mémang ada niat kami untuk membaginja berdua, djika perdjuangan ini sudah selesai. Tapi di sini, dalam lingkungan kalian, aku sadar aku tak bisa berbuat demikian.”

Ganda berdiri, bergerak antara beberapa langkah seperti sekedar menghilangkan kekakuan urat²nja, lalu duduk kembali diatas bangku.

„Baik! Itu persoalan Solimin atau katakan itu persoalan kami berdua. Barangkali mémang aku harus menghadapinja seorang diri.”

Ganda bangkit dari tempat duduknja, tapi tampaknja ia seperti tambah gelisah, mondar-mandir disamping médja, lalu duduk kembali. Matanja jang hitam tidak bersinar tadjam, hitamnja banjak bergerak seperti ada keraguan. Utjapannja kemudian seperti tiba² terlompat dari bibirnja.

„Kaélani. Kalian di sini adalah orang² jang bébas tidak seperti aku. Ganda punja sisa hukuman jang terlalu pandjang. Djika perang ini selesai dan Républik menagih sisanja, umurku habis dibelakang kurungan.”

Kaélanilah sekarang jang bangkit dari tempat duduknja. Ia djadi tak tahan menatap mata Ganda jang saju dengan suara jang padat kerinduan.

„Aku punja bini, jang kelak mesti kutjari. Aku punja anak jang tak pernah kulihat.”

„Djangan kau njalakan pikiran itu di sini, Ganda.”

„Ia berkobar sendiri tanpa kusadari, Kaélani. Semalam aku bermimpi. Dan mimpi tjuma chajal jang diturunkan Tuhan di malam hari. „Aku lihat dia, aku dengar teriaknja: Kang, Kang!”

„Ganda!”

„Tjuma kepadamu aku bitjara, Kaélani; kau adalah Komandanku. Dulu kepada Pak Mantri, lantaran dia ajah pasukan. Kepada siapa lagi aku mesti bitjara?”

Kaélani menunduk. Sedjak Ganda tidak berbitjara lagi dan kesepian dalam ruangan itu bertambah menekan, ia ulurkan tangannja diatas médja.

„Sisa hukuman? Djangan kau hanjut dalam bajangan jang kau bangun sendiri. Tjoba kau tangkap hatiku, Ganda. Kalau benar apa jang kau takutkan itu datang, aku ingin djadi pembélamu.”

Ganda tidak menjahut.

„Aku akan berteriak kepada semua, kepada jang tertinggi di Républik nanti, aku bersaksi segala jang telah engkau berikan kepada Républik.”

Ganda masih tetap tidak menjahut.

„Djika tidak berhasil, akan aku hantjurkan pintu pendjara dengan geranat, dengan apapun, untuk membébaskan kamu.”

Ganda mengangkat mukanja, tapi tidak berbitjara.

„Engkau tidak pertjaja? Barangkali semua ini tjuma utjapan kesombongan jang berlebihan. Aku tidak tahu, bagaimana aku mesti mejakinkan engkau, Ganda.”

Ganda berdiri mengulurkan tangan.

„Sambut tanganku, Kaélani,” utjapannja gemetar dan pandang berkatja-katja. „Sambutlah tanganku, meskipun ini tidak kita lakukan pada pertemuan kita jang pertama kali. Aku pertjaja kepadamu.”

Meréka berdjabat-tangan jang erat, jang dilakukan meréka untuk pertama kali. Sesudah itu Ganda mengambil sebungkus nasi, jang dimasukkannja kedalam ransel. Disandangnja karabén péndék jang bertali waru, lalu melangkah ke halaman. Sebelum hilang didalam gelap, masih terdengar suaranja:

„Malam ini saja di pos dekat langgar jang dojong itu, Kaélani!”

Djika Kaélani melangkah turun mengikuti anak buahnja jang bermisai hitam pandjang itu sampai hilang dari matanja, maka jang membajang dalam kepalanja adalah muka jang lain. Terbajang senjuman dengan bibir atas jang terangkat sedikit. Ja, seperti Ganda djuga, ia enggan menghadapi senjum pengetjut. Solimin, Solimin.........!

Bagian 5

GANDA MENINGGALKAN MARKAS KETJIL dengan berdjalan antara pohon², melangkahi pagar² jang telah dojong dan roboh, antara rumah² jang telah hantjur dan rusak. Kendati langit bersih dan bintang² lebih tjemerlang dari biasa, kebun² dan pekarangan sama samar dan gelapnja. Hanja pada beberapa bidang tanah-terbuka jang ditumbuhi alang² tidak begitu gelap. Tapi semua itu tak ada artinja untuk Ganda. Ia kenal daérah itu dengan liku-likunja, tanahnja jang naik turun, selokan² dan djembatan²nja. Oléh keadaan dan ketegangan setiap hari, meréka mendjadi mengenali daérah itu lebih baik dari penduduk asli. Seperti pada malam itu, djika ia telah meléwati pohon mangga jang batangnja bertjabang di bawah setinggi pundak, dan kemudian kaki merasakan turunnja tanah beberapa hasta djauhnja, dekat pohon petai-tjina jang petjah batangnja oléh ledakan mortir, ia akan membélok tanpa ragu² ke kiri. Sepuluh langkah antaranja, ia sudah meléwati langgar jang telah roboh. Disebelah langgar berdiri sebuah gubuk ketjil jang setengah dojong.

Gubuk inilah jang dia masuki. Djika ia mendjadjaki djerami dalam ruangan itu dengan kakinja, terasa angin malam jang bertiup dan gerimis halus mulai turun. Udara bulan Maret tak bisa didjagakan. Dari djendéla jang sudah tak berdaun lagi, Ganda dapat melihat langit di atas per-lahan² mendjadi suram, bintang² jang semula begitu tjemerlang mendjadi pudar dan achirnja tertutup oléh mendung kelabu jang tjepat merata. Gerimis tidak mendjadi hudjan jang besar, tapi tampaknjapun tak akan lekas² berhenti.

Ganda mendekati djendéla, dilihatnja langit dan dilepasnja karabén péndék, serta disandarkannja dibawah djendéla. Dirabanja Vickers rampasan jang diselitkan di pinggang, dibawah kaos polangnja. Ada suara jang mengedjutkan. Alisnja berkerinjit. Suara témbakan itu didengarnja, djauh dan pandjang gemanja, agak lambat dan lamat², terhalang oléh gerimis. Gemanja seperti ber-sahut²an. Ia mengukur dengan pendengarannja. Ia seperti bisa memastikan témbakan itu dibuka oléh suara réntétan Kekki, sendjata mesin ringan buatan Djepang. Témbakan jang bersahutan itu berlangsung antara beberapa menit jang makin djauh gémanja. Lalu témbakan mortir djauh disebelah Barat. Telinganja sudah terlatih di daérah perbatasan ini, sehingga dapat memastikan seperti djarum kompas jang tjukup pekanja; daérah Bendjeng djadi sasaran, jang malam itu dipertahankan oléh sepasukan TRI.

Setengah djam kemudian témbakan itu berhenti dan sepinja malam menambah kegelisahan. Ganda dapat membajangkan, Alwi dan beberapa anak² mengundurkan diri kearah Barat, lalu membélok ke Utara. Larut malam, meréka baru akan memasuki Daérah Tidak Bertuan.

Ketika Ganda bergerak hendak meninggalkan djendéla, ia terhenti. Suara itu amat tadjam, jang datangnja begitu mendadak dari belakang. Suara jang ia kenal, tapi malam ini menusuk telinganja begitu dingin, jang isinja terasa mendjalari kuduknja. Hendak menoléh, iapun bimbang.

Barangkali malam itulah Ganda mendengarkan suara sendiri jang mendjadi gemetar. Udjung sangkur Djepang jang pandjang itu terasa menekan bawah punggungnja dan dua djengkal dari udjungnja jang lantjip itu ada laras jang bisa menjala setiap detik. Dan njala itu tergantung dari telundjuk djari seorang Solimin, jang gampang kehilangan kepala. Sebab suara Soliminpun gemetar oléh marah, jang gelagatnja sulit pula untuk dikendalikan.

„Aku sungguh tidak main², Ganda. Sudah begitu banjak aku bitjara kepadamu. Engkau terlalu banjak lagak, engkau merasa seorang pahlawan. Tidak seperti dulu ketika sama² kita meninggalkan Kalisosok. Djangan bergerak! Sangkur ini bisa membenam dalam perutmu!”

„Sabar, Solimin. Demi Tuhan............, Kapan engkau datang dari Bandjaranjar?”

„Kau, bangsat. Apa gunanja pertanjaan itu? Dan sekarang kau mengemis kesabaran, jang sudah tak ada dalam hatiku.”

„Demi Tuhan, Solimin.”

„Badjingan matjam kau tak punja Tuhan. Kau tak berhak bersumpah!”

„Ingat, Solimin! Kita sama² dari Kalisosok. Kau pun pernah berdjandji untuk membajar hukuman dengan perdjuangan di sini.”

„Tapi tidak dengan kampil itu!”

„Djangan lupa, kita sahabat, Solimin. Dan kau tahu di mana kampil itu sekarang!”

„Sahabat?” nada suara Solimin bertambah tinggi. Di kepala Ganda terbajang senjumnja jang ketjil terangkat pada podjok bibirnja dan malam itu begitu tadjam. „Apa kau bilang? Sahabat? Aku tahu sekarang, Ganda. Sahabat bukan sekedar sebutan. Perkataan itu harus ditandai kesetiaan dan ini djustru jang kau tidak punjai.”

Djika Ganda hendak menjela, Solimin membentak dengan tekanan sangkur jang lantjip itu pada bawah pinggangnja.

„Bagiku, kata²mu sudah tak akan ada lagi harganja, Ganda. Dan malam ini aku chawatir akan mendjadi malam jang paling achir bagimu. Akulah jang akan berbitjara, dan keselamatan njawamu tergantung dari sikapmu. Engkaulah jang menentukan mati dan hidupmu malam ini.”

„Solimin!”

„Diam, pengetjut! Katakan, di mana kampil-permata itu kau sembunjikan!”

Tak ada suara; kepala Ganda mulai terasa nanar. Djika Solimin berbitjara lagi disertai pula dengan tekanan udjung sangkur, dan suaranja bertambah gemetar.

„Apakah kepadamu aku mesti katakan, Ganda, bahwa isteriku di daérah pendudukan? Ia akan mengungsi ke mari, ke daérah Républik. Aku akan menjambutnja. Aku akan tinggalkan Pasukan Liar ini dan kami tak akan terikat apa².”

„Demi Tuhan, demi Rasul ............... Solimin!”

„Djangan kau bikin aku kehilangan kepala, Ganda. Aku tidak bertanja jang mustahil.”

Suara Solimin bertambah tinggi nadanja dan gemetarnja tambah dingin mengaliri darahnja. Tekanan sangkur bertambah terasa menembus badju dan kaos polangnja. Djika selama ini ada jang mampu menekan gedjolak hati jang meronta di dalam dada, sekarang tiba² seluruhnja seperti terlepas dari semua tali. Ganda membalikkan diri dengan ketjepatan jang tidak pernah dimilikinja; tangan kanannja mengangkat Vickers, tapi bunji témbakan tidak terlontar dari larasnja. Sebab dalam kegugupan menghadapi sikap Ganda jang tidak disangka itu, kedua tangan Solimin terajun dengan sebulat tenaga dan kekuatannja, dan sangkur Djepang jang pandjang itu membenam melalui bawah-rusuk menembus djantungnja. Tubuh Ganda jang berat itu menumbuk dinding dibawah djendéla, terlentang ke samping. Mulutnja terbuka dengan suara seribu napas jang lepas bersama. Kakinja mengedjang sebelah dan timbul berisik djerami jang tadjam. Kaki jang mengedjang itu mengedjang lagi seperti tinggal itu bagian dari badan kasarnja jang mempertahankan njawa jang pergi dan suara berisik djerami jang ditimbulkan terasa tambah njeri di kuping Solimin. Ia djongkok pada sebelah lutut dan alam dikelilingnja terasa seperti bergojang.

„Ganda!,” bisiknja gemetar, „Ganda! Aku tidak bermaksud melakukan ini. Ganda!”

Diusapnja muka Ganda dengan tangannja jang lébar itu dan dinginnja seperti mengalir dari udjung tangan ke sekudjur tubuh Solimin. Kendati tubuh itu sudah tidak mengedjang lagi, suara berisik djerami seperti bertambah hidup dalam telinga Solimin. Diusapnja lagi muka itu.

„Ganda! Buat apa engkau melawan. Engkau tahu, aku tak bakal bisa berbuat lain.”

Pelan Solimin bangkit, matanja jang liar menghadap djendéla, menembusi gelap di luar, lalu memandangi langit jang berat kelabu. Ketika ia menunduk lagi, memandang tubuh jang terkapar dibawah djendéla didalam gelap, seperti bertambah ngambang kesadaran, bahwa semuanja itu benar telah terdjadi. Timbul niat meninggalkan tempat itu tjepat², lari ke daérah pendudukan, ke daérah musuh. Tapi majat Ganda ésok hari akan ditemukan. Tak guna lari, seluruh anak² pasukan akan tahu semuanja, dan meréka akan mengedjarnja, meréka itu tak akan melupakannja.

Disérétinja majat Ganda keluar gubuk, per-lahan² diantara pohon². Majat itu akan diseberangkan kedaérah musuh, ditinggalkan di sana, dan tjerita kematian Ganda akan mendjadi lain, témbakan jang ramai malam ini di daérah Moro, akan bisa menimbulkan kisah seribu matjam tentang gugurnja Ganda. Tapi tiba² ia terhenti, ia tahu, ia tak akan bisa berbuat demikian. Ia tahu darah itu akan tertjétjér dimana², di sepandjang djalan. Tidak, ia tak dapat berbuat demikian.

Ditinggalkanlah majat sahabatnja. Solimin ingin tjepat² meninggalkan tempat itu. Tak lama lagi anak² pasukan akan ada jang datang ke situ dan seluruhnja bisa terbongkar. Ia makin jakin, lari ke daérah musuh hanja akan menelandjangi kedjadian jang sebenarnja. Dan semua djari dari anak² pasukan akan terarah kepadanja: „kedjar dia! kedjar dia!” Dendam seperti itu tak akan padam selama²nja.

Solimin merajap didalam gelap dari rumpun ke rumpun, bergerak mendjauhi daérah itu, dimasukinja bekas gudang padi, dihempaskannja tubuh keatas tanah. Sekudjur badannja terasa gerah sekali, dimalam jang dingin seperti itu ia bertjutjuran keringat. Dipedjamkan matanja, ia tak ingin memiliki bajangan itu, tapi seperti ada jang mengedjar, suara Ganda jang paling achir, suara robohnja tubuh jang berat itu, ketika menimpa dinding. Tidak, ia tak ingin mendengar itu. Ditutupnja rapat² telinganja dengan kedua tangan, dirapatkan kedua mata, tapi suara berisik djerami dari kaki jang mengedjang bertambah djelas terdengar. Solimin tak bakal bisa menolak, lantaran suara itu tak datang dari luar dirinja, itu suatu gema jang tinggal djauh didasar hatinja.

Bagian 6

ACHIRNJA KEPALA PASUKAN LIAR JANG berkeliaran di sepandjang Daérah Tidak Bertuan itu mulai pertjaja, bahwa berdjuang bukan sekedar bertaruh njawa dalam hudjan peluru, bahwa tugasnja sekarang bukan tjuma melawan musuh dan menjelamatkan anak-buahnja dari antjaman maut jang bisa datang setiap saat. Itupun bukan pula sekedar gambaran dari suatu sembojan merdéka atau mati, seperti banjak didengarnja, dan seperti ia sendiri meneriakkan dan menjangkanja. Sekarang ia merasa, bahwa jang dihadapinja tidak akan terbatas pada tjutjuran darah, pada robohnja sahabat jang paling ditjinta.

Kaélani berdiri disisi djendéla. Perlahan kedua alisnja mendesak kelopaknja dalam² ke bawah, lalu sorot matanja djadi tambah tadjam tampaknja. Pandang demikian seperti bisa menembusi segala jang ada di depan seperti bisa menangkap seluruh batang² kekajuan jang roboh djauh di hadapan dan mata itupun seperti bisa pula menelusuri jang ada di baliknja. Seperti ada tambatan hati di sana, jang disajang, jang ditjemaskan.

Betapakah lamanja, sedjak hari ia kenal meréka? Anak² pasukan jang bersembunji dibalik pohon², dibawah semak² rumpun jang hidjau itu. Sedjak kapankah semua itu bermula?

Mémang benar baru berbilang bulan meréka bertemu, lalu berkumpul bersama. Namun, apa arti pandjangnja waktu di sini?

Pelan Kaélani membalikkan diri, lalu napasnja tertarik dalam sekali. Iapun tak bakal pula bertanja pada orang dihadapannja jang sekarang menatap wadjahnja seperti banjak sekali jang akan dimintanja dari pandang jang demikian. Lalu ia melangkah mendekati, dan suara jang keluar rendah sekali:

„Benar, Marno. Akulah jang selama ini menghadapi Ganda dengan penuh prasangka.”

Orang dihadapannja tetap tidak bergerak. Suara Kaélani jang rendah tapi berat dan dalam itu seperti tak mampu menjentuh hatinja.

„Aku mengerti, Ganda adalah sahabat karibmu, Marno!”

Marno tetap tidak bergerak. Ia duduk diatas bangku kaju nangka menghadap médja dengan kepala terkulai, disangga oléh kedua tangan jang hitam mengkilat. Tubuh itu seperti artja jang tak bakal bangun lagi. Rambutnja pandjang dan hitam-arang, lebat sekali. Seluruh djari²nja tenggelam di sana. Ketika djari² jang tampak kaku itu bergerak seperti hendak meremas-remas, suara Kaélani terdengar lagi:

„Akupun mengerti pula, bahwa persahabatanmu dengan Ganda dimulai dalam tawanan, dalam antjaman maut, dalam derita jang sama, dan itu melahirkan harga jang lain. Djuga djika tumbuh setiakawanmu jang begitu dalam kepadanja, aku bisa mengerti, Marno!” Ia berhenti sebentar, lalu: „Sebelum engkau datang, sepagi ini ada jang aku tjemaskan, dan aku tjoba membajangkan betapa pengaruh kematian Ganda terhadap dirimu. Aku tjemas sekali, Marno.”

Kaélani berhenti lagi. Matanja mengawasi sadja djari² jang tenggelam dalam rambut jang begitu lebat, seperti seluruh kehidupan sahabat dihadapannja tinggal berpusat di situ. Tapi Marno masih tetap menunduk dan djari² itu masih tetap tidak bergerak.

Kaélani tambah mendekat lagi sekarang. Lalu suaranja seperti desisnja suatu bisikan jang tambah rendah:

„Gugurnja Ganda mengingatkan orang kembali peristiwa pinggiran sungai Tjermé achir Désémbér jang lalu. Engkau tahu. Enam orang pengadang TRI jang menjebar dipinggiran sungai, gugur oléh tusukan sangkur Ghurka ditengah malam, dibawah gerimis seperti semalam.”

Ia berhenti sebentar seperti dengan sengadja hendak memberikan tempat jang lain untuk kalimatnja jang kemudian. Ia mendekat dua langkah lagi dan suaranja jang menjusul seperti diantar oléh getar hatinja jang di-tahan² sedjak penguburan Ganda, dan bibir jang mengutjapkan kata² itupun gemetar pula.

Tapi Ganda tidak menemui kematiannja lantaran tusukan sangkur Ghurka seperti meréka sangka.”

Dan kepala jang menunduk sadja selama ini, terangkat oléh utjapan Kaélani jang paling achir. Wadjah jang hitam itu seperti tidak berdarah lagi, tapi matanja jang mérah menatap mata Kaélani lurus dan tadjam. Tak lagi mengedip mata itu. Kedua alisnja bergerak diiringi oléh njala jang menjembul dari maniknja, seperti djauh dari dasarnja ada sesuatu jang menggelora dan sudah matang untuk meledak. Tak ada kata sepatahpun jang terlepas dari bibirnja jang begitu putjat dan biru, tapi apalah artinja kata di sini. Kedua tangan hitam jang dikepalkan itu lebih banjak bitjara.

„Dan kau lihat luka itu, Marno? Luka demikian, jang bisa tembus dari dada ke punggung belakang, tjuma mungkin oléh tusukan bajonét Djepang jang pandjang.” Kesepian kemudian seperti mengandung ketegangan jang tinggi, puntung rokok jang sudah lama mati dibantingnja ke tanah, lalu suara jang menjusul dibimbing oléh nada jang lain.

„Sungguh tidak sulit buat mengerti,” Ada antara sesaat waktu jang memisahkan kalimat ini: „Dan kau tahu, Marno, siapa orangnja diantara kita jang punja sangkur Djepang.”

Tadjam sekali utjapan Kaélani jang paling achir, dan seperti tjuma utjapan itulah jang bisa membangkitkan Marno dari tempat duduknja. Tubuhnja jang berat itu mendjulur ke depan, kedua tangannja jang hitam dan padat berpegangan erat pada pinggiran médja.

„Tenangkan dadamu, Marno. Engkau tidak sendiri. Sungguh tak ada bédanja antara kita. Menghadapi kepergian Ganda, hatiku sama parahnja dengan hatimu. Dengarkan! Semalam ia bitjara banjak kepadaku, sebelum ia berangkat ke pos-pendjagaan. Itulah malam untuk pertama kalinja aku mendjabat tangannja, jang ternjata untuk achir kalinja pula.”

Melihat Marno bergerak, Kaélani mengangkat tangannja, lalu tjepat ia bitjara:

„Djangan bantah! Sikapku selama ini dalam menghadapi Ganda, Solimin, dan Truno, lebih berpidjak atas pertimbangan kepala, demi keselamatan seluruh pasukan. Engkau tahu itu.”

Wadjah jang putjat tapi hitam itu masih sadja menantang mata Kaélani dan sorot matanja jang mérah seperti tambah menjala.

„Duduklah, kawan! Masih terlalu banjak jang hendak kumuntahkan dihadapanmu.”

Perlahan Marno duduk kembali diatas bangku, tapi pandang matanja tak lepas dari mata Kaélani, seperti ia takut tak akan dapat menangkap seluruh utjapannja jang kemudian, dan pandang itu sendiri djadi bertambah tadjam, ingin meraih segalanja jang masih terpendam didalam hati sahabatnja.

Kaélani tambah mendekat. Lalu djika ia mulai berkata, itu berdjalan perlahan sekali, kata demi kata, sedang pada tangannja jang gemetar, pada wadjahnja jang mérah, membajang kesabaran jang dipaksakan.

„Dia pulalah orang pertama jang datang kepadaku. Ia berkata bahwa tengah malamnja ia baru datang dari Bandjaranjar; dialah jang membawa berita gugurnja Ganda kepadaku. Ia tjeritakan tentang luka itu, tusukan itu, dan tentang kemungkinan merajapnja serdadu² Ghurka semalam dibawah hudjan gerimis. Oh, djadi tambah begitu djelas sekarang, betapa gemetar kedua tangannja, dan betapa pula putjatnja muka itu. Dialah jang pertama kali bitjara tentang peristiwa pinggiran sungai Tjermé dahulu, lalu menghubungkannja dengan peristiwa gugurnja Ganda semalam.”

Komandan Pasukan Liar itu sekarang mondar-mandir dalam kegelisahan dihadapan sahabatnja seperti utjapan sendiri jang bisa begitu pandjang, mampu menggugah seluruh perasaannja jang ditahan² sebelumnja. Tiba² ia berhenti melangkah, wadjahnja diangkat, djarinja lurus² menundjuk bangku tempat Marno duduk.

„Ia duduk di situ, menangis seperti anak ketjil, kedua belah tangannja menutupi mukanja seperti dengan tangan itu ada jang sengadja hendak disembunjikan. Engkau ingin tahu apa jang dikatakannja kemudian?”

Kaélani berhenti lagi, menundukkan muka, melangkah lagi, seperti setiap kalimat membutuhkan suatu persiapan dan antjang². Dan Marno diam tidak menjahut.

„Ia berkata, ia ingin menuntut balas. Gugurnja Ganda tak dapat dibiarkan berlalu tanpa balas. Sekarang seperti aku bisa mendengarkan suaranja kembali. Betapa ragu dan liarnja mata jang ketjil itu. Ja, seperti bisa kudengar kembali itu: ’Kaélani!’ katanja, ’Kau tahu aku dan Ganda sama² datang dari pendjara Kalisosok.’”

Sampai di sini Marno bergerak, lalu bangkit, sedang matanja mendjadi liar. Dan Kaélani mengangkat dan mendjulurkan tangannja ke depan.

„Djangan berandjak! Dengar dulu, kawan!”

Bibir Kaélani jang kering itu tampak gemetar pada sudutnja sekarang. Dengan itu ia mentjoba tersenjum, tapi jang lahir bukannja suatu senjuman. Tjuma terangkat sedikit podjok bibirnja, lalu tampaknja itu malahan seperti suatu kemarahan tersembunji jang mentjari bentuknja.

„Djika sadja kau hadir waktu itu, Marno.” katanja. „Ketika dia pergi ikut mengurus djenazah Ganda, kuperiksa sangkur Djepang jang disimpan dalam ranselnja. Ja, Tuhan, ja, Rabbi! Sangkur itu sudah tersaput bersih bekas ditjutji, tapi sarung-kulitnja berbau amis darah.”

"Kaélani!"

„Djangan berdiri!” potong Kaélani dengan suara tadjam. „Masih banjak jang aku hendak bitjarakan. Djangan berdiri!” Ia mengusap air-mukanja dengan tapak tangannja sebelum melandjutkan utjapannja.

„Kau mengerti sekarang, Marno. Sahabat karibmu jang begitu kau sajang, bukan gugur oléh tusukan sangkur Ghurka, seperti anak² pasukan mengira. Meréka jang datang dari seberang kali tidak punja sangkur sepandjang itu. Sangkur L.E. terlalu péndék buat bisa menembus dada Ganda jang bidang itu.”

Marno berdiri. Matanja bertambah liar. Dan tangan kanannja meraih karabén Djepang jang bersandar di ambin tanpa menoléh.

„Djangan berbuat gila, Marno. Aku kepala pasukan. Aku bertanggung-djawab atas segala jang bisa terdjadi di sini. Kita harus beladjar menaruhkan kepala didepan hati dalam menghadapi peristiwa seperti ini.” Lalu suaranja dengan bernada lain: „Dan ada jang kuminta dari padamu. Engkau, jang bakal menggantikan aku, djika akupun harus menemui kematianku di sini,” Kaélani bergerak agak mendekat, tangannja ditumpangkan atas pundak temannja, dibarengi dengan suara perlahan dan mantap. „Djangan bitjarakan itu kepada siapapun, Marno! Anak² tidak perlu mengetahui peristiwa jang sebenarnja.”

Lalu Kaélani membalikkan dirinja seperti ada jang hendak disembunjikan dari mukanja dan matanja, seperti ada sesuatu jang tak dapat ditahan dihadapan sahabatnja. Dia melangkah menudju djendéla, berdiri menghadapkan mukanja ke rumpun² dan kekajuan jang djauh dan matanja tak djemu mendjeladjahinja. Tanpa menoléh ia lalu berkata seperti terhadap seseorang diluar djendéla.

„Sungguh, Marno! Anak² tak patut mengetahuinja.”

„Kaélani!”

Tanpa menoléh Kaélani menjahut.

„Ja, itulah jang paling baik. Barangkali. Biarlah ini tjuma antara aku dan engkau!”

Marno tidak menjahut. Kaélani membalikkan dirinja perlahan. Disékanja dahi jang membasah keringat itu dengan udjung lengan badjunja.

Sekarang ia melangkah mendekati temannja, dari saku tjelananja dikeluarkan sebentuk pipa jang berwarna gading sebulat ibudjari dan sepandjang djengkal. Benda itu diletakkannja diatas médja dihadapan Marno. Itulah pipa Solimin jang begitu terkenal dikalangan anak² pasukan selama ini. Sekarang, diatas médja, ia seperti sebentuk benda keramat jang punja njawa, dan Marno terkedjut memandang itu dengan mata lébar membuka.

„Djangan kagét!” seru Kaélani dan senjum jang anéh mengembang pada bibirnja. „Kau ingin tahu di mana benda ini kudapat?” Agak lama ia berhenti, lalu: „Disisi majat Ganda, jang disérét kepinggir kali.”

Pertjakapan itu tak ber-pandjang². Peristiwanja lalu membajang dengan djelas di kepala Marno, bagaimana seorang Solimin membungkuk menjérét korban-nja, dan bagaimana pipa gading itu djatuh dari sakunja.

„Kau boléh bawa karabén Djepang itu, Marno.” kata Kaélani, „Tapi satu hal jang kuminta. Djangan kau témbakkan ketjuali kuperintahkan. Kita berangkat sekarang!”

Kaélani sendiri tiada pasti, apakah sahabatnja mampu untuk menangkap perintahnja jang paling achir. Wakil kepala pasukan dihadapannja jang bertubuh berat itu tambah gelisah dengan sendjata di tangan. Lantaran hatinja lalu per-lahan² mulai meraba, membajangkan djalannja peristiwa dan alasannja. Kampil-permata itu menuntut korban-nja seorang lagi. Selagi Marno belum sempat bertanja, Kaélani mendahului.

„Djangan kau berkata kepadaku, bahwa kaulah jang paling karib terhadap Ganda di sini, dan kaulah jang paling berhak melakukan pembalasan. Kita tak patut bitjara tentang dendam. Aku sudah suruh Solimin petang ini, mendjelang sendja, buat datang ke tempat gugurnja Ganda. Dan ia kuminta pula membawa tiga buah geranat tangan.”

Tanpa menanti djawaban, Kaélani mentjabut pistolnja, memeriksa ruang peluru, memutar kuntjinja, lalu memasukkan kembali kedalam sarung-kulitnja.

Djika keduanja telah melangkah keluar, berdjalan dalam kesunjian menjasaki puing² reruntuhan, melompati batang² kaju jang banjak roboh, menerabas sela² pohon jang terasa lebih keramat di petang itu sedjak gugurnja Ganda, sendja telah turun, dan matahari telah miring di Barat. Angin petang mulai terasa mengusap kulit, sedang mendung jang masih djauh dan tinggi sekali disebelah Utara seperti menggantung di langit tebal sekali tampaknja, seperti membawa antjaman hendak ikut mengisi malam itu dengan rahasia kengerian jang lain. Kesunjian jang berlangsung terlalu lama di Daérah Tidak Bertuan itu malahan terasa lebih berat menekan semua hati. Barangkali satu ledakan jang datang dari pertahanan lawan diseberang sungai akan tambah melegakan sebagai suatu pembébasan.

Kaélani menoléh. Ia melihat betapa gelapnja roman muka itu, pandang mata itu, dan raut muka jang begitu lain tampaknja. Rasa tjemas menelusupi hatinja.

Bagian 7

GUBUK KETJIL ITU SUDAH DOJONG. TAPI semua dinding jang seluruhnja terbuat dari kulit bambu masih mampu bertahan dari kelapukan, masih utuh, kendati musim basah telah menjuburkan lumut hitam-hidjau pada keliling bawahnja. Tiang²nja dari gelugu njiur jang tjoklat tua masih tampak kukuh. Lubang djendéla sudah tidak berdaun lagi, demikian pula pintu depan dan belakangnja. Gubuk itu menghadap arah Selatan dan dari sana ke manapun pandang hendak dilajangkan, orang akan tertumbuk pada kekajuan jang banjak hantjur batang dan dahannja akibat témbakan² meriam dan mortir dari seberang sungai. Satu²nja bangunan jang tampak dari gubuk ini hanjalah gudang tua milik hadji Rapii, sebuah bangunan batu jang telah hantjur beranda depannja, tinggal sebuah tiang besi sadja bekas penjangga atap séng jang masih tegak berdiri. Selebihnja rumpun² bambu jang lebat hidjau. Djika sadja semuanja itu ditebas serata tanah, dari gubuk itu tentu orang akan dapat menjaksikan lambaian bendéra Inggris jang dipantjangkan didepan gedung sekolah jang meréka pakai sebagai markas bertahan, djuga gardu pendjagaan jang dikelilingi tumpukan karung terisi pasir dekat djembatan. Sebab djarak antara gubuk ini dengan daérah musuh hanja kira² lima belas menit perdjalanan kaki dan sudah berada dalam djarak témbakan mortir dari kaliber jang paling ketjil.

Ketika Kaélani dan Marno memasuki gubuk ini, dalam hati keduanja seperti timbul perasaan jang lain. Suasana keramat menguasai keliling, jang mendjadikan meréka enggan dan berat buat berkata. Sampai langkah kakipun meréka lakukan dengan hati² seperti meréka sedang didampingi pendjaga gaib jang tidak tampak. Dalam gubuk inilah Ganda melakukan tugasnja semalam. Ruangan dalam tidak begitu luas. Di podjok terdapat tumpukan djerami jang sudah kering.

Tentu sadja meréka berdua pernah memasuki gubuk ini dahulu, bukan hanja sekali dua, tapi tempat jang dulu tidak begitu berarti kini ternjata begitu kuat menjentuh hati meréka. Tentu, diatas djerami kering dan tikar tua itu, Ganda menikmati saat² jang paling achir, ketika gerimis mulai turun, sedang dari seluruh inderanja tinggal telinganja jang bisa dibawa buat mengamati daérah keliling. Sebab purnama jang mestinja menghiasi langit malam itu dihalang oléh mendung jang lamban turun sampai pagi.

Marno tidak bertanja. Sungguh saatnja tidak membutuhkan untuk jang demikian. Matanja sadja jang turun dari tumpukan djerami ke pintu tanpa daun di luar, seperti ia dapat mengikuti kembali langkah Ganda jang paling achir malam itu, lalu bekas kaki terpelését, gorésan tanah, dan bekas darah jang telah dibersihkan oléh anak² pasukan.

Dinding bambu bawah djendéla hampir membuka keluar, dibawahnja banjak darah jang telah kering, djerami jang bersérakan di sana-sini. Dalam kepala Marno, barangkali Ganda masih sempat melawan, barangkali masih sempat berteriak meminta tolong. Siapa tahu, atau hanja suara mengaduh, atau rintihan jang pandjang sebelum njawa terlepas badan, ah, hanja seorang Solimin jang tahu. Marno lalu menarik napasnja dalam². Kedua tangannja mengepal dan urat²nja menondjol keluar.

Kaélani menoléh. Tangan kirinja diletakkan di pundak Marno, lalu berkata:

„Ada mémang saatnja aku berpikir akan djalan jang paling mudah dan péndék buat menjelesaikan dan menghabisi bangsat ini dengan tangan sendiri. Biar kuhabisi peluru ini menembusi dadanja. Tapi aku tak akan bisa berbuat begitu dan kau akan mengerti. Apa baiknja jang demikian buat kita?”

„Akulah jang mampu mendjalankan itu sekarang, Kaélani,” sahut Marno péndék. Tegas sekali kalimat itu. Gigi²nja berkerut, matanja tidak mengedip mengawasi timbunan bekas darah sahabat karibnja. Dibalik wadjah jang hitam itu seperti ada njawa lain jang ikut menjusup dan kehausan darah.

„Akulah orang pertama jang hendak menghalangi engkau berbuat demikian. Djika engkau hendak berkeras djuga, aku akan tegak menghadang dihadapanmu, meski itu meminta taruhan njawa.”

Marno menoléh dan kedua matanja jang begitu tadjam menentang mata Kaélani. Kedua pandang beradu seperti saling mendjadjaki arus jang sedang menggelagak dalam dada meréka.

„Ja, Marno. Untuk itu aku di sini. Aku komandan, aku jang pegang tanggung-djawab di sini. Perintahku mesti didengar.” Kaélani berhenti sebentar, mengusap bibirnja dengan belakang tangannja, lalu bitjara lagi dengan suara jang tambah tegas. „Atau aku tembak engkau di sini!”

Utjapan bibir tjuma jang sampai di situ, tapi hatinja melandjutkan, memang benar, barangkali aku bisa menémbaknja, aku akan mampu membunuh seorang sahabat, jang paling dekat, jang paling disajang.

Dan dalam mata itu Kaélani seperti melihat sesuatu jang lain, jang berubah, jang mentjemaskan, sesuatu jang mesti diselamatkan. Permulaan dari suatu derita jang tidak dikenal barangkali telah menjusup di dada sahabatnja dan sekarang ia seperti dapat ikut merabainja. Kedua sahabat ber-hadap²an dengan sendjata di tangan jang siap meletup, tanpa menjadari betapa lamanja kesunjian telah berlangsung. Pandang keduanja beradu seperti dengan begitu meréka saling mentjari jang telah hilang dibalik mata.

Kaélani mendahului bergerak. Ia melangkah membelakangi Marno menudju gundukan tanah, lalu duduk di sana. Kepalanja menunduk seperti batang bunga jang laju terkulai rendah, hingga sebulat wadjahnja tersebunji antara kedua lutut jang diangkatnja. Dengan langkah perlahan Marno mengikutinja dari belakang.

„Engkau pertjaja, Solimin bakal datang seperti engkau minta?”

Tanpa menoléh Kaélani menjahut:

„Pasti! Kau kenal Solimin. Ia jang butuh datang ke mari buat membuktikan setianja pada pasukan buat menundjukkan, bahwa dialah jang paling punja gairah buat menuntut balas kematian Ganda. Engkau ragu?”

Senjum mengembang di bibir Marno. Tapi ia tak perlu mengulangi pertanjaannja. Dari djauh, hilang tampak bajangan Solimin antara pohon². Ia bersarung pelékat jang digantungnja dari léhér turun kesamping pinggang kirinja.

„Engkau benar, Kaélani. Lihat, dia datang.” bisik Marno. Dan matanja tak lepas dari bajangan Solimin jang makin mendekat. Apa akan djadinja djika pembunuh ini dibiarkan berkeliaran dengan bébasnja di kalangan anak² pasukan?

Dan Kaélani mengangkat mukanja, bisik itu datang lagi dari samping.

„Kaélani Biarkan aku jang menémbaknja di sini. Tidak seluruh peluru, sebutirpun djadilah. Dan itu tak usah menembus kepala. Oh, aku ingin menjaksikan dia di sini, djatuh belumuran darah seperti Ganda.”

Kaélani menoléh, setengah terkedjut, dan dari matanja menjembul sinar tadjam jang anéh sekali. Sudah tiba saatnja sekarang, keadaan² jang tidak bisa diréka sebelumnja, saat² jang lebih menuntut kebidjaksanaan daripada timbang pikir, kedjudjuran dan kasih-sajang. Sebab sebagai kepala pasukan ia telah beladjar buat mentjintai keseluruhannja daripada perorangannja, meski jang paling dekat di hati sekalipun. Maka djawaban jang keluar dari mulutnja terdengar seperti bentakan.

„Djangan bitjara jang demikian, Marno! Djangan kau mentjoba melawan perintah.”

Iapun bangkit berdiri. Diusapnja wadjah jang basah keringat dengan lengan tangannja, disapunja rambut jang pandjang dengan djari² tangannja. Kepala pasukan dan wakilnja berdiri hampir sedjadjar, menjambut Solimin jang sudah dekat. Kedua tangan Marno mulai gemetar, pegangan karabén bertambah erat seperti bagian tubuh itu djadi paling sulit dikuasai djika sudah pegang sendjata.

„Demi Tuhan! Djangan, Marno. Aku jang memerintahkan!”

Pertemuan itu djadi kaku, sekalipun Solimin mentjoba berdiri tegak, mengangkat tangan kirinja dengan mengepal tindju sebagai salam pasukan, dan mentjoba tersenjum sesudahnja. Djanggal sekali rasanja senjum itu. Dan sesudah itu ia tak tahu apa jang mesti dikatakan, apa jang mesti dilakukan. Ia tak pernah menjaksikan sikap Kaélani dan Marno begitu anéh dan asing. Solimin mulai menduga, sebesar itu pengaruh kematian Ganda terhadap meréka. Ia berdiri, tak lagi melangkah. Pandang dari matanja jang ketjil itu setengah ragu, lalu tanja jang anéh terlompat dari bibirnja jang tebal.

„Kita berangkat dari sini, Kaélani?”

Pertanjaan Solimin itupun seperti utjapan jang tidak kena, atau itu sekedar pelonggar dadanja jang mulai terasa sesak. Tangan kirinja merabai geranat tangan jang tergantung di pinggangnja. Benar, tiga buah seperti diminta. Sesudah itu lalu ia memandang tanah bawah kakinja seperti ada jang ditjari, membenarkan letak sarung pelékatnja dengan kedua tangan, kemudian melangkah kesamping mendekati batang kaju jang telah roboh dan mengambil tempat duduk di sana. Sebentar wadjahnja menengadah ke langit.

„Bisa turun hudjan malam ini,” katanja. Seperti djuga senjumnja, utjapan itupun sumbang nadanja.

„Solimin!”

Muka Solimin bergerak seperti terkedjut. Panggilan Kaélani terasa terlalu keras masuk telinga.

„Barangkali kita bertiga jang paling mengenal Ganda. Kau tahu, perginja diratapi oléh setiap djengkal tanah di daérah ini.” Suara Kaélani gemetar dan setiap kata seperti terangkat dari lubuknja jang paling dalam.

„Kematian adalah wadjar. Tapi di sini, buat semua kita jang tergabung dalam Pasukan Liar, gugurnja kawan adalah lain. Engkaupun tahu, bagaimana ia pergi, itulah tuntutan tjerita buat meréka jang ditinggalkan.”

„Engkau benar, Kaélani. Seperti aku sendiri ikut bitjara léwat bibirmu. Sungguh gugurnja Ganda tak dapat dibiarkan tanpa balas.”

Utjapan Solimin itu seperti suatu pembébasan dari hatinja jang begitu tertekan, diantar oléh kegirangan jang mendadak menjinari air-mukanja dan matanja jang ketjil sekarang lurus² menatap mata Kaélani. Dan sesudah menjambung utjapan sesudah berhenti sedjenak, tangannja ikut pula ber-gerak².

„Engkau selalu benar, Kaélani! Bagus, bagus sekali. Aku sudah siap sekarang. Untuk itu aku sedia datang ke mari, untuk itu aku memenuhi permintaanmu.” Utjapannja tambah mantap, tak ada lagi tanda keraguan, dan tangan kirinja merabai kembali ketiga geranat tangan jang tergantung di pinggangnja.

„Engkau belum dengar bagaimana Truno gugur dipinggir tambak, dan betapa pengaruh kematiannja terhadap Pak Mantri jang menungguinja waktu itu.”

„Alwi sudah tjeritakan kepadaku tadi siang, Kaélani. Sungguh tak ada kisah kematian jang lebih indah dari gugurnja Truno,” sahut Solimin.

„Dan sekarang menjusul lagi seorang sahabat. Tapi gugurnja Ganda adalah peristiwa jang sungguh² mengedjutkan. Hatiku masih bertanja sekarang, siapa jang menjambut sambatnja, jang dengarkan pesannja, jang bisa tjeritakan kembali seluruh kisah kematiannja.”

Solimin menunduk. Diusapnja dahi, tak ada suara keluar sebagai sahutan, dan Kaélani berbitjara lagi:

„Bekas tahanan Kalisosok jang berdjuang di sini bersama Pasukan Liar, tinggal engkau seorang, Solimin.”

Tjepat Solimin menjahut, setengahnja memotong suara Kaélani.

„Benar, Kaélani. Di antara meréka di sini tinggal, tinggal, ............” Solimin berhenti, seperti ada jang diragukan, lalu: „Ja, tinggal seorang. Ja, siapa lagi?”

Kedua alis Solimin bergerak, pada dahi itu lalu bermain lekuk² jang hilang tampak seperti ada jang djauh hendak diingat kembali. Suaranja jang menjusul kemudian seperti suara untuk dirinja sendiri:

„Kami dari Pasukan Biru punja tékad jang sama. Membajar sisa hukuman dengan berdjuang membéla kemerdékaan. Kukira tjuma Item, pentjuri emas itu jang melanggar sumpah dan sudah hantjur tubuhnja dipinggir pasar Blauran. Kau pernah dengar tjerita itu, Kaélani? Sesudah itu kami masuk Pasukan Liar.”

Sampai di sini Solimin mendadak berhenti bitjara. Matanja jang ketjil membuka bulat², kedua tangannja undur ke belakang mentjari sandaran, mulutnja setengah menganga dan tak ada sepatah kata jang keluar. Dua laras pistol dan karabén mengarah kepada dirinja. Ketika ia dapat berbitjara, suaranja gemetar.

„Apa maksud kalian terhadapku?”

Pandang matanja benar² pandang tidak mengerti. Kaélani memotong seperti tak sabar:

„Jang melanggar sumpah bukan hanja Item, Solimin! Kau tahu itu! Djangan mentjoba mengelabui kami. Ingat! Kau meminta izin kepadaku kemarin dulu hendak menginap di Bandjaranjar. Tapi malam harinja sebelum turun gerimis engkau kembali dengan diam². Ada jang kau sembunjikan. Apa gunanja kau membohong kepada kami, Solimin?”

Lama mata ketjil itu membelalak. Lalu hitamnja bergerak liar, achirnja tawa jang setengah membahak terdengar tiba², anéh dan mengedjutkan.

„Oh, kalian mabuk tuak dari Betan! Bagaimana kalian bisa bersikap begini, buat apa mesti mengantjam Solimin? Sadar, Kaélani! Djangan bermain dengan sendjata itu, Marno! Kita datang ke mari buat menuntut balas gugurnja Ganda!”

„Benar! Benar sekali!” potong Marno untuk pertama kalinja, „Kita hendak membalas kematian Ganda di sini sekarang!” Begitu tadjam suara ini seperti dinginnja bisa menembusi hati Solimin. Lalu Kaélani menggerakkan larasnja:

„Pasukan Liar menghendaki kebenaran, Solimin. Kaulah orang pertama jang membawa kabar kematian Ganda kepadaku. Kau pulalah jang mentjoba mejakinkan aku, bahwa Ghurka merajap lagi semalam. Engkaulah jang paling ribut pagi ini ketika majat Ganda ditemukan. Dalam seluruh gerakmu sepagi ini aku tidak melihat ulah seorang Solimin jang sebenarnja. Ada apa dibalik semua ini? Kukira kaulah pula jang paling tahu dan barangkali menjaksikan kematian Ganda.”

Mata Solimin bertambah liar dan bertambah gelisah. Utjapan Kaélani seperti tuntutan terdengar dalam telinganja. Solimin masih tetap berdiri tidak berandjak selangkah djua dari tempatnja. Kedua kakinja terentang, kedua tangannja jang terlepas ke samping sedikit terangkat, seperti sikap jang siap menerkam.

„Kaélani. Sungguh, kau tak berhak bitjara demikian terhadapku. Kau mabuk, kawan. Ingat, kita di daérah ini, memikul tugas jang sama. Bagaimana bisa timbul pikiran begini dalam kepalamu? Sabar, sahabat! Kau mengerti, akulah jang paling dekat kepada Ganda dari siapapun dalam pasukan. Djangan chilaf, Solimin dan Ganda datang dari satu pendjara dan satu asal: Kalisosok dan Pasukan Biru. Ganda lebih dari seorang sahabat bagiku.”

„Bohong!” bentak Marno.

„Serendah itu kalian menganggap aku? Biar bekas tahanan, Solimin tak akan sekedjam itu. Tidak Kaélani!”

Tidak seperti semula suara Solimin mendjadi rendah dengan nada setengah me-minta² dan kakinja jang mulai gemetar mendjadi terasa berat.

„Ini bukan tuntutan, Solimin. Kami hanja minta pendjelasan, apa gunanja kau bunuh bekas-tahanan jang djudjur itu.” Suara Kaélani bertambah keras dan tadjam: „Djangan berandjak! Marno bisa témbak engkau di sini!”

Untuk pertama kali kakinja mentjoba melangkah, lalu mundur kembali mendengar antjaman itu. Sebab laras² itu ikut bergerak pula.

„Aku sudah periksa sangkur Djepang itu dalam ranselmu, sarung-kulitnja membekas darah. Mestikah aku buktikan, bahwa itu darah Ganda, Solimin? Kau kira, kami bisa dikelabui dengan tjara begini? Sangkur Ghurka jang péndék itu tak akan tembus dalam dada Ganda jang begitu bidang. Kau tahu, Ghurka tak ada jang merajap malam itu. Tapi kau bitjara lain. Masih mentjoba mungkir? Djangan bergerak, biarpun selangkah, namamu akan tinggal tjerita disini!”

Kemudian dengan tangan kirinja Kaélani melémparkan pipa gading jang njaris menimpa udjung kaki Solimin.

„Ambil pipa itu, Solimin. Sedjak semalam kau kehilangan pipa kesajanganmu.”

Wadjah Solimin menunduk. Matanja menatap pipa, lama sekali seperti ia memerlukan waktu buat mengenali benda itu, benda kesajangan jang sekarang mendjadi begitu takut untuk menjentuhnja. Perlahan² wadjah itu terangkat ke atas, tapi matanja jang ketjil tak liar lagi, tjahaja keraguan menjelubungi maniknja seperti hilang arah kemana mesti memandang. Bibirnja jang putjat itu ikut gemetar.

„Kau ingin tahu, di mana pipa itu aku dapat? Tak usah kagét! Kau bisa menduga. Kau kehilangan pipa itu ketika kau menjérét majat Ganda kepinggir sawah. Berkatalah, Solimin!”

Untuk pertama kali keluar suaranja, jang terdengar djauh dan dalam:

„Djangan bitjara seperti itu, Kaélani. Aku tak bisa dengar. Djangan, djangan bitjara jang demikian.”

Belum habis Marno memotong dengan suaranja jang lantang.

„Mengapa tak kau perintahkan aku menémbak dia, Kaélani? Aku sudah pusing mendengar dustanja.”

Solimin menjahut dengan suara jang bertambah gemetar, mukanja bertambah putjat, matanja liar kembali mengawasi udjung laras karabén Marno.

„Djangan tembak aku di sini. Demi Tuhan, djangan tembak aku, Marno. Kaélani tahu seluruhnja dan aku mau bitjara. Aku mau bitjara dan kalian akan mengerti.”

Utjapan ini disertai gerak tangan jang diangkat perlahan ke atas. „Demi Tuhan, djangan menémbak! Sungguh, aku mau bitjara, Marno!”

Solimin berhenti berbitjara, menelan ludah, pandjang dan lama, seperti sulit sekali itu dilakukannja.

Angin petang mulai meniup perlahan jang mulai terasa kesedjukannja mengisi kelengangan seperti hembusannja membawa bajangan dari dunia lain jang ikut menjaksikan pertemuan itu. Mendung dari Utara hampir meratai langit diatas kepala, tapi dipinggir Barat matahari masih tjemerlang dalam kemérahannja, sisa tjahajanja menjentuh gumpalan mendung jang tengah bergerak dengan saputan warna jang menjula². Tiada gelédék, tiada geluduk, tiada gelegar dan kilat jang biasanja mengantar suasana mendung jang demikian.

„Bitjaralah!” seru Kaélani tak sabar.

Solimin terkedjut oléh suara itu. Dahinja jang mulai membasah keringat itu bergerak oléh alisnja jang naik-turun seperti ada jang mesti digali dari dalamnja untuk dikeluarkan, untuk bisa menjelamatkan njawanja dari antjaman kedua laras sendjata-api jang masih sadja lurus² mengarah kepada dadanja.

„Dengarkanlah, sahabat! Aku mau bitjara. Aku ingin kalian mengerti. Aku datang buat menemui dia di sana. Buat bitjara. Tapi Ganda salah mengerti. Dialah jang mendahului mengantjam aku sebelum aku berdiri diambang pintu gubuk itu. Dialah jang mendahului menjerang aku. Barangkali kalian tidak akan pertjaja. Sekarang aku terpaksa bitjara di sini. Sesungguhnja Ganda selalu menolak kuadjak bitjara tentang kampil-permata, jang sedjarahnja datang dari tangan Item. Aku punja hak sebagian, dia tahu. Sebagian dari permata ia sembunjikan, ia gelapkan buat dikuasai, djika perang ini selesai. Perkara ini diluar kepentingan Pasukan Liar. Diluar kepentingan kalian. Dan ini tak ada sangkut-pautnja dengan tugas² kita di sini.”

„Kau dusta! Ganda bilang Républik lebih berhak atas kampil itu, dan kau tahu, itu telah diserahkan kepada pasukan. Djika kau sudah dengar tjerita Pak Mantri, kau pasti tahu, bahwa benda itu telah selamat di tangan Markas Pertahanan. Apa lagi jang kau tuntut?”

„Sisanja. Tidak seluruhnja telah dia serahkan, Kaélani.”

„Aku pernah lihat surat tjatatan kalian. Dan akupun pernah lihat djumlah butirnja.”

„Ia tidak bitjara dahulu kepadaku. Aku tjuriga atas kedjudjurannja.”

„Bitjara kepadamu lebih dahulu? Ganda bilang kau tak akan setudju. Kau akan mendahului melarikannja.”

„Belum tentu, Kaélani. Djangan hidupkan prasangka, karena aku bekas tahanan.”

„Bagus. Trunopun bekas tahanan Kalisosok, dari Nusa Kambangan malah, Gandapun dari satu pendjara dengan engkau. Kami tak pernah menghidupkan prasangka. Tapi kamu, kamu telah melontjat dari satu dusta ke dusta lain.”

„Aku berkata benar, Kaélani. Tak ada saksi bukan suatu dusta. Engkau tak tahu. Djika dia tidak mengantjam dengan Vickers, semua ini tak akan terdjadi.”

„Kau periksa majat Ganda, Solimin?”

Solimin tidak menjahut, mukanja ditutup dengan kedua tangan, dan Kaélani bitjara lagi.

„Pinggang bawah ada luka menggorés, jang menembus badju polangnja. Darah bermula dari bawah djendéla, dinding dibawahnja terdesak membuka keluar. Lukisan itu begitu djelasnja. Bagaimana aku bisa pertjaja pada tjeritamu? Bitjaralah, Solimin!”

Solimin tetap menunduk, mukanja bertambah dalam dan berat seperti ia kehilangan sagala buat bitjara. Tinggal udjung kakinja jang telandjang itu menekan-nekan tanah. Kedua belah tangan sekarang meremasi kedua lutut dengan djari²nja. Bibir bawahnja di-gigit² seperti ada sesuatu jang ingin meronta didalamnja.

„Bitjaralah, Solimin. Selama kami masih pertjaja, bahwa pengakuan termasuk kedjudjuran jang patut dihargai pula.”

Muka Solimin terangkat perlahan, tambah djelas pada wadjah dan bibirnja. Lama keraguan membajang pada wadjah itu dan pandang matanja bergerakan. Suaranja gemetar dan kedut podjok bibirnja menundjukkan kengerian jang dalam.

„Engkau benar, Kaélani! Apa sebenarnja jang mesti aku katakan dihadapan kalian, djika kalian sudah mengetahuinja? Kalian menuntut jang lebih sakit buat diutjapkan.”

Solimin berhenti sebentar seperti ada jang sulit untuk ditelan. Tiba² mata jang ketjil itu berani menatap mata Kaélani dan suaranja lebih djelas terdengar.

„Demi Tuhan, demi leluhur dan jang keramat, jang membawa aku hadir di bumi, aku tak punja niat jang demikian. Aku tak bisa, tak mungkin, aku sendiri tak akan pertjaja. Aku merajap memasuki gubuk itu ditengah gerimis jang sudah djatuh. Ganda kulihat seperti bajang² depan djendéla, menghadap ke luar. Suara gerimis jang makin ribut menolong aku, mengaburkan pandangan Ganda, dan ia tak menjadari, bahwa aku telah dibelakangnja. Ia terkedjut ketika kuminta untuk tidak bergerak dan kudorong belakangnja dengan udjung sangkur. Ia tidak berani menoléh. Kukira dengan antjaman itu ia akan menundjukkan sisa kampil jang aku minta.”

Solimin menundukkan kepala. Lama ia berdiam diri, Kaélani tidak menjela.

„Kaélani! Kau sebagai komandanku dan sahabatku, kuminta bisa mengerti. Engkau tahu, ada kalanja manusia dihadapkan oléh nasib pada satu pilihan tjuma, dan jang satu itu bisa berlawanan dengan segenap harapan dan mimpi²nja. Dan bagiku malam itu terlibat njawa seorang jang paling dekat. Oh, djika Ganda tidak begitu nékad. Tjepat sekali, tak kusangka mulanja, Ganda membalikkan dirinja dan Vickers tjelaka itu terajun ke atas. Djarak kami dengan maut hanja pada ukuran detik, Kaélani. Kau bisa pertjaja, seorang Solimin akan bisa menggunakan kepalanja dalam keadaan jang demikian? Aku tjuma seorang manusia biasa. Sikap apa jang kau harapkan daripadaku?”

Ia menelan ludah pandjang jang tampaknja sulit berlalu, matanja bergerakan seperti mentjari pembéla jang tak kelihatan.

„Aku menjesal, Kaélani. Betul, aku menjesal. Jang sudah terdjadi tak akan balik kembali. Aku menjesal. Kau tahu, aku tak bisa berbuat lain.”

„Kau menjesal, bagus, kawan. Tapi kau pernah dengar pula sesal kemudian tak ada guna. Kau bekas tahanan, Solimin, kau punja pengalaman jang lebih dari kami di sini. Kau pula jang bitjara kepada kami tentang setiakawan, tentang sesal dan tentang tuntutan balas.”

„Sekarang, apa jang kalian minta daripadaku?”

„Bukankah kau pula jang mendahului berkata, bahwa gugurnja Ganda tak boléh léwat tanpa balas? Dengan itu barangkali aku bisa témbak engkau disini. Dan anak² Pasukan Liar akan melémpar majatmu ke sungai Tjermé. Lalu kau bisa bajangkan apa jang terdjadi sesudah itu. Andjing² kelaparan jang berkelarian di daérah pertahanan ini akan menghabiskan dagingmu tanpa sisa. Tapi djangan menjangka, bahwa dengan begitu engkau akan terlupa. Tidak Solimin, namamu akan tetap hidup disepandjang daérah pertahanan, setiap bibir akan menjebut², setiap pedjuang akan mengenal Solimin sebagai pengchianat jang membunuh pahlawan Ganda.”

Solimin mengangkat tangannja:

„Djangan, Kaélani! Djangan! Djangan djadikan kematian Solimin seperti itu!”

„Aku mengerti, kau tak akan memilih kematian jang begitu nista. Djika demikian, kau bisa pilih, merangkak kepinggiran sungai Tjermé. Djangan memtjoba membalik, sebab laras karabén Marno akan menjala, peluru pertama akan menembus kepalamu. Tapi djangan pula engkau memtjoba lari menjeberang ke hulu. Mobin telah kuperintahkan menghadang engkau di sana sampai fadjar terbit ésok pagi.”

„Mobin?” Bekas tahanan Kalisosok itu terkedjut mendengar nama Mobin disebut sebagai penghadang. Tak seorangpun meragukan kemahiran menémbak dari anak Kaligenténg jang ikut Pasukan Liar sedjak dibentuk pertama kali.

„Ja. Mobinlah, orangnja! Djangan kagét, Solimin! Siapa lagi jang kau harapkan untuk pekerdjaan ini? Dengarkan baik². Djika nanti gelap tiba, kau bisa menghanjut ke hilir dan kau akan léwat djembatan gantung itu. Kau habiskan geranat itu ke gardu Ghurka dekat djembatan. Ja, kau tahu arah itu!”

Kaélani berhenti sedjenak dan Solimin mendengarkan tanpa menjela. Ia membajangkan diri sendiri, merangkak melémpar geranat² itu, ia seperti lebih dahulu dapat mendengarkan ledakan, lalu, tjuma Tuhan jang tahu. Sementara suara Kaélani terdengar lagi:

„Solimin! Dengan begitu barangkali kau akan menjusul Ganda. Sebab Ghurka² itu akan menémbak engkau dari atas. Tapi barangkali pula kau masih bisa hidup. Djika gardu Ghurka itu hantjur bersama pendjaganja, kau bisa menghanjut ke hilir, kau bisa balik ke mari. Tapi ingat, djika kau menghanjut ke hilir tanpa meledakkan geranat itu, Alwi sudah menjambut engkau di bawah.”

„Alwi?” Suara ini hampir² tidak terdengar, utjapan itu lebih keluhan dari ratapan. Ia mengerti, seperti anak² Pasukan Liar itu mengerti pula, tak ada bédanja antara Mobin dan Alwi, djika orang bitjara tentang titisnja témbakan.

„Ja. Petang ini Alwi sudah siap dengan kékkinja di bawah. Aku sudah perintahkan, ia menghadang engkau di sana. Inilah kesempatan jang sudah kuberikan kepadamu. Tjukup adil. Kau mempunjai hak buat memilih.”

Ketika Kaélani berhenti berkata, sedjurus sepi, Solimin menunduk, djuga Marno tidak menjela. Seperti segala jang diutjapkan Kaélani terlalu sukar untuk ditangkap. Tapi kemudian ia mengangkat muka dengan pandang mata seperti pandang peminta-minta jang kelaparan. Marno melangkah setindak mengangkat karabén selurus pinggang.

„Demi Allah. Djangan témbak aku di sini, Marno. Aku sudah pilih. Oh, djangan. Aku pernah bersama kalian. Aku termasuk Pasukan Liar, akupun termasuk meréka jang berhak menentukan kematiannja. Aku sudah pilih.”

Solimin berhenti. Wadjahnja jang putjat masih sadja mengarah laras karabén Djepang, matanja liar sebentar seperti dengan mata itu ia hendak mentjari pelarian. Lalu ia menunduk. Lama ia tidak bergerak. Kedua tangannja tergantung lurus ke bawah. Ketika mengangkat mukanja lagi, tangannja jang lébar itu membarengi mengusap air-mukanja perlahan seperti ia merasa adanja sesuatu jang harus dihilangkan dari mukanja itu. Tapi ia tak bitjara lagi. Matanja bertambah ketjil. Bibir bawahnja jang tebal tambah menggantung dan pada kedua podjoknja memutih titik ludah jang duduk mengental. Barangkali Solimin ingin mengutjapkan selamat tinggal, barangkali ia ingin mendengarkan djawaban mesra jang paling achir, barangkali kebimbangan menguasai diri, tapi barangkali pula kematian telah dahulu membajanginja.

Perlahan ia membalikkan dirinja dan langkah pertama seperti langkah pemabuk tjari pegangan. Soliminpun melangkah turun, meninggalkan meréka, tanpa kata, tanpa pesan, berdjalan antara pohon² jang besar, menjusup antara rumpun² dan alang² dan achirnja sampai kepinggir sawah, diseberang rumpun² bambu jang lebat.

Dipinggir sawah ini, dibalik rumpun samping pematang. Solimin berhenti. Ia bertiarap merebah serata tanah. Dan ia tak akan lagi berani menoléh.

Menoléh?

Sungguh tak ada lagi keberaniannja. Mata Marno jang menjalakan dendam masih djelas membajang. Dan sekarang pada djarak sedjauh itu ia tinggalkan, ia merasa laras karabénnja seperti mengikut geraknja dengan bidikan lurus dibelakang tengkuknja. Ia mengerti betapa dendam bisa menjala dalam dada wakil komandan jang bertubuh hitam itu, dan kini orang itu akan mampu menarik pelatuk bedilnja oléh alasan jang paling ketjil.

Sudah sampaikah ia diudjung lakon dari sedjarah hidupnja? Seluruh pantja-inderanja bekerdja seperti ia ingin menemukan sesuatu, keadjaiban barangkali, jang bisa menolongnja. Tapi apa jang bisa ditemuinja ditengah sawah? Apa? Ia tak tahu. Adakalanja orang selalu damba menggantungkan kepertjajaan dan harapannja pada sesuatu jang ia tidak mengerti, jang ia tidak tahu, jang ia tak bisa meraba dengan sebulat pikirnja.

Solimin menelungkupkan kepalanja, menutup kedua mata. Dan untuk pertama kali dalam hidupnja ia mampu melihat datangnja daérah baru dalam kegelapan matanja.

Bagian 8

KAELANI MENGIKUTI SOLIMIN DENGAN matanja, setiap langkah, setiap gerak, seperti ia tak mau kehilangan sedetik djuga dari achir lakon manusia jang tengah berdjalan menudju liangnja. Bertambah djauh Solimin meninggalkannja, bertambah merasa ia, bahwa sebagian dari hatinja telah ikut dibawa serta.

Betapakah perasaan manusia jang kini tengah didorongnja per-lahan² memasuki liang-kuburnja? Barangkali benar apa jang dikatakan Solimin. Bekas tahanan Kalisosok jang paling achir itu tidak pernah berniat membunuh sahabatnja. Siapa jang akan tahu dan siapa jang dapat mengerti kebenarannja? Dan djikapun Solimin telah berdusta, siapa pula jang bisa jakin adanja rangsangan di sana, jang merajapi hatinja begitu ketjil? Ia bekas pendjahat, bekas tahanan pendjara. Barangkali mémang ada sesuatu jang tidak benar dalam dirinja. Siapa tahu?

Ia mendapatkan suatu kesempatan buat mengubah nasibnja dalam suatu gedjolaknja djaman, dimana banjak timbul saat² jang bisa menggontjangkan batin manusia. Seperti djuga Mobin dengan mata-hatinja jang sederhana ingin dapat melihat dan mengerti kegaiban jang bisa lahir di antara meréka. Namun takdir menghendaki Solimin mendapatkan bagiannja jang lain. Kaélani bisa membatja kembali sekarang air-muka tahanan itu, ketika menerima hukuman jang didjatuhkannja. Orang itu tak punja kata, tak sempat pamit buat perdjalanannja jang penghabisan. Barangkali Solimin tjuma penderita jang patut dikasihani, jang butuh diselamatkan.

Kaélani memedjamkan mata, lalu mengusap air-mukanja. Apakah gerangan jang telah merasuki hatinja seperti ini? Apakah jang bisa menggontjangkan djiwanja sekarang? Ia telah bersedia melihat Solimin sebagai penjakit jang membahajakan pasukan, dimana ia sendiri memegang seluruh tanggung-djawab, kehantjuran dan keselamatannja. Dan sebagai lajaknja penjakit, ia mesti disingkirkan sebelum berkembang. Lalu dipaksanja diri untuk pertjaja, bahwa sebagai kepala pasukan ia telah mendjalankan suatu kebidjaksanaan, jang lebih utama dari keadilan sekalipun di saat² jang demikian. Kaélani telah mendjalankannja dan ia tak menjesal. Itu bukannja suatu dendam.

Kaélani membuka mata, lalu perlahan menoléh. Untuk pertama kali ia menatap Marno disampingnja sedjak saat Solimin melangkah turun meninggalkan meréka. Dan itulah pertama kali pula ia bisa melihat, betapa gelapnja muka jang hitam itu, betapa mata jang mérah itu tidak mengedip, lurus² mengawasi arah Solimin bertiarap. Ia menjaksikan betapa eratnja tangan jang kukuh memegang karabén seperti tangan dan badja itu telah mendjadi bagian dari satu tubuh.

„Djangan, Marno. Aku sungguh tak ingin, bahwa kematiannja harus datang dari tanganmu.”

Tanpa menoléh Marno menjahut:

„Serdadu Ghurka dalam gardu itu akan menémbaknja dengan sendjata mesin dan berpuluh peluru akan menembusi dada dan kepalanja. Lalu ia akan roboh tanpa sambat lagi, tanpa sakit, sebab sebelum njeri meratai seluruh lukanja, maut telah lebih dahulu merenggut njawanja.”

Tjuma sebentar sadja Marno berhenti seperti ia membutuhkan waktu sekedar untuk memberi djalan buat senjum jang mengambang di bibirnja jang biru. Lalu ia bitjara lagi:

„Engkau tahu, engkau bisa membajangkan, bagaimana Ganda harus menemui kematiannja jang dipaksakan. Dan sekarang engkau telah djatuhkan hukuman ini, engkau bébaskan ia buat memilih kematiannja, bangsat itu masih kau beri keleluasaan buat memimpikan kemerdékaannja. Adakah ini satu hukuman jang setimpal dengan dosanja?”

Di sini Marno berhenti lagi sebentar dan senjum jang mengambang itupun terbit setjertjah lagi. Lalu:

„Kaélani. Aku ingin menémbak dia sedikit dibawah lambungnja dan biar peluru menggorés udjung djangtungnja. Aku ingin mendengar dia mengerang kesakitan. Tentu ia tak akan segera pingsan, sedang matanja jang masih hidup itu akan menjaksikan darah mengutjur dari tubuhnja dan hidungnja akan bisa membau amisnja darah sendiri. Ia tak akan mati tentu, sebelum darah kikis dari tubuhnja. Kematian akan mendjelang per-lahan². Rasa njeri, sakit dan pedih pada lukanja akan berkepandjangan, sedang rohnja akan bergelut dengan kengerian jang makin memuntjak, kengerian jang tjuma bisa bangkit didalam mimpi. Seluruh uratnja akan tertarik-tarik berdjoang melawan kesakitan itu ...............”

„Marno.”

„Ja, timpalan dosa dan hukuman harus setimbang. Ganda telah mendjalani siksaan jang demikian.”

Kaélani melangkah mendekat, dipegangnja kedua pundak Marno, digojang-gojangkannja, tapi muka jang hitam itu tinggal seperti rautan patung. Ia mengerti, begitu dalamnja rasa sajang sahabatnja terhadap Ganda dan dari djiwa jang sama itupun menjala dendam jang begitu dalam.

„Bagaimana engkau bisa berkata jang demikian?”

Mata Marno tidak mengedip. Keringat meléléh disamping pipinja dan kedua rahangnja jang rapat beradu seperti tak akan membuka lagi, menarik semua urat pelipis jang turun ke léhér. Ia putar tubuh Marno jang berat itu dan ia mentjoba memandangi mata itu lurus², pandang jang ingin menembusi sedjauh dan sedalam rasa.

„Tatap mukaku. Engkau tahu, akulah jang menghalangi engkau buat melepaskan dendam. Aku mengerti. Kita telah beladjar memberikan nilai persahabatan jang lain, seperti tidak pernah kita kenal sebelumnja. Di sini, sahabat, di daérah, dimana kechilafan seseorang akan bisa mendjadi sebab kematian sahabat jang lain. Dan semua sesal jang lahir di sini seperti bajang² jang akan menuruti djedjak kita sepandjang hidup. Oh, aku tahu sekarang, aku mengerti dan melihat seperti bisa kudjamah dengan tangan telandjang ini, betapa rasa sahabat jang telah mengikat engkau dan Ganda. Tapi engkaupun mesti mengerti, bahwa keputusan demikian kuambil, djustru lantaran engkau sahabatku pula, lantaran aku tak ingin engkau menjandang sesal jang lahir di sini!”

Kaélani berhenti. Marno tidak menjahut. Dan kesunjian jang lalu membatasi meréka seperti memberi tempat kepada suara jang membersit di hati Kaélani. Ia berdiri tidak bergerak, mata tidak mengedip menatap sahabatnja. Buat apa ia berdiri di sini, apa pula jang ditjarinja? Sungguh, njawa² jang tersajang di sini, jang berkelarian disepandjang Daérah Tidak Bertuan, meréka jang menjebar dalam kubu² pengadangan, anak² pasukan jang bersembunji dibawah rumpun², meréka itu sadar maut mengadangnja di mana², di semua tjelah, di semua liku, di sembarang waktu. Barangkali ésok akan datang gilirannja. Meréka seluruhnja sadar dan tahu. Betapapun anéhnja bunji kisah jang datang dari daérah ini dan betapa anékanja jang meréka tjipta, semua satu nada: meréka bergelut, berkelahi, berdjuang, bukan buat kebesaran namanja. Bukankah sekarang Solimin merangkak di sana, sedia menjambut maut? Untuk apa? Siapa jang meminta?

Segala jang bersimpangan dalam hati Kaélani adalah gambaran jang begitu hidup dari meréka jang sudah pergi dan jang akan datang, jang telah mendahulu dan akan menjusul. Dan di sini, begitu djelasnja seperti dialah jang berkuasa atas njawa² ini. Maka timbullah suatu jang tak lagi bisa ditahannja, mata itu lalu ber-katja², setitik air mengaliri pipinja.

Marno tak pernah menjaksikan jang demikian. Bagaimanakah Kaélani bisa berurai airmata menghadapi dia? Ia tak pernah melihat airmata itu, tidak pada saat pertemuan meréka dalam pelarian, tidak pada saat maut menghadangnja dari semua arah, tidak pada saat kematian Truno jang mengharukan, djuga tidak pada saat penguburan Ganda sepagi ini. Apakah gerangan jang bisa mendorong titik airmata di mata seorang komandan jang tak pernah gojah hatinja dalam menghadapi maut, ditengah médan perkelahian jang paling seru?

Mata Marno bergerak perlahan dan pada kemérahan air-mukanja seperti menjembul kehidupan jang tiba². Tangan kirinja terangkat ke atas seperti telah hilang mendadak seluruh tenaga jang ada pada tangan jang begitu berat dan kukuh. Dan perlahan pula tangan jang kasar itu menekan pundak Kaélani se-olah² ada rasa jang bisa mengalir dari itu léwat pundak sahabatnja.

Marno menundukkan kepala. Ia tak berani menentang mata jang basah. Benar, sekarang ia mampu meraba persahabatan jang lahir di Daérah Tidak Bertuan ini, sedalam hatinja bisa merangkum.

Bagian 9

MATAHARI SUDAH TURUN DJAUH DI Barat, bulat dan besar sekali, mérah merona, seperti sedjuta njala menjelimutinja. Sebentar lagi garis jang memotong langit dan bumi akan diléwatinja, dan udara sendja akan mulai bangun.

Dan Solimin masih tetap bertiarap, serata tanah tidak bergerak, dipinggir sungai Tjermé disamping tanggul. Ia tak tahu lagi, betapa lama ia menebahi bumi dibawahnja, tapi baru sekaranglah ia menjadari kehangatannja. Dan bahwa itu adalah uap jang kalis mata dari hudjan semalam, dan matahari tak kuasa mengeringkannja sepandjang siang. Itu terasa seperti napas jang ditiupkan menghangati tubuhnja dari suatu kehidupan didalamnja jang ia tak pernah mengerti. Dan putjuk² semak dihadapannja, disampingnja, jang bergerak oléh tiupan angin sendja jang mulai turun perlahan, semak² itu akan tumbuh terus dan akan mendjulang kelak, lantaran pada meréka ada kehidupan tersembunji jang iapun tak pernah mengerti. Dan suara arus air sungai, jang kini seperti tiba² menjentuh telinganja dengan tadjam, air jang gemertjik itu, dan untuk pertama kali suara katak jang berketjimpung di pinggir. Oh, alangkah gaibnja buat merasai kehidupan jang mendjiwai bumi dan isinja, djustru pada saat kehidupan sendiri sudah sampai diudjung djalan.

Benarkah saat itu maut sudah menghadang dihadapannja?

Tidak. Ia tak mau mati. Ia tak mau majatnja hanjut di kali Tjermé, dan andjing² jang kelaparan itu tak bakal menghabiskan dagingnja tanpa sisa. Siapakah jang bitjara demikian? Tidak. Ia mau hidup, seperti djuga burung jang tengah terbang diatas kepalanja sekarang, pulang menembusi sendja mendjelang jang tengah menanti di sarang.

Dan djika Solimin memandang ke langit, ia melihat mendung sudah banjak merata, sedang sisanja berarak berkedjaran menuruni tepian bumi. Langit di Barat bertambah mérah dan matahari sudah tak tampak. Tidak. Ia tak mau kehilangan hidup jang begini indah mengelilinginja, jang dahulu tak pernah dihiraukannja, dan jang sekarang seperti tak menghiraukan dirinja.

Perlahan mata Solimin mengarah ke Timur, dan sendja jang diburu mendung sudah setengah mengaburkan pemandangannja. Ia mentjoba mendjeladjahi seluruhnja dengan mata, barangkali dibalik kekajuan itu, barangkali di-tengah² semak djauh disebelah kirinja, meski ia tak melihat apa², ia pertjaja Mobin di sana menghadang dengan bedilnja. Tidak! Ia tak akan lari ke sana. Penémbak jang ditakuti itu hanja membutuhkan-sebutir peluru sadja buat menghabisinja di sini. Menjusup lari ke Timur, sama dengan membunuh diri. Dan menghanjut ke Barat tanpa meledakkan geranat, Alwi sudah menghadang di sana pula. Oh, apa bédanja antara Mobin dan Alwi dengan Marno dibelakangnja?

Solimin merapatkan mukanja pada kedua belah tangannja diatas tanah, dan sekudjur tubuhnja tergetar oléh sedu-sedan dan airmata jang mengaliri tangannja. Ia tahu, sudah tak ada lagi djalan baginja malam ini. Kemanapun hendak melangkah, maut sudah siap menanti. Barangkali ia bisa tetap bertiarap disamping pematang itu sampai pagi. Tapi laras karabén Marno dibelakangnja? Wadjah Marno dengan matanja jang tadjam itu membajang dengan djelas sekali. Sungguh, tak ada bédanja. Betapakah djarak antara dia dan Mobin, antara dia dan Alwi di hilir?

Solimin tak mau membajangkan kematian jang pasti mendatang, jang tampak begitu dekat rasanja sekarang oléh kegelapan jang mulai merata, sedang bajangan laras² sendjata jang mengelilinginja seperti bertambah dekat dan bertambah rapat. Dan djikapun tangis dan airmata mampu mengurangi ngeri jang tambah mentjekam kuat² dalam dirinja, tapi itupun ada batasnja. Solimin ingin bisa menangis, ingin bisa berurai airmata lagi. Tapi tangis itu telah meninggalkannja, matanja tak mau basah. Ia tahu sekarang betapa rasanja buat ditinggalkan oléh semua untuk sendiri tanpa sahabat jang menghiraukannja. Ia ingin menangis. Di manakah airmatanja?

Ia ingin bitjara, tapi siapakah jang mau mendengarkannja sekarang, dalam kesendiriannja? Ia tak bisa lagi mengadu, tak bisa lagi berbagi. Kepada siapa hendak bitjara, kepada siapa hendak bitjara?

Maka perlahan² untuk pertama kalinja ia membajangkan orang² jang ditjintainja. Silih berganti, jang telah terlupa muntjul kembali. Bagian² hidupnja, masanja ketika masih botjah, ibunja, isterinja, rumah tempat bernaung, halaman tempat bermain, bekas usapan kasih-sajang dan kemesraan jang begitu dalam, sekarang tambah djelas menggorés di hati dalam kenangan. Oh, betapa banjak dan pandjangnja jang telah ditinggalkan dalam sedjarah hidup manusia, apa artinja, apa harganja, djika semua itu tjuma sekedar pengantar dari suatu kematian jang begini mengerikan. Di manakah bekas usapan kasih-mesra seperti pernah dialaminja dahulu? Djika sadja jang demikian itu bisa lahir kembali, maut tidaklah akan begini mengerikan.

Solimin menutup kedua matanja, mukanja terhempas perlahan dan kedua belah tangannja mengalasinja. Lalu airmata meléléh, tangisnja bisa mendatang. Dan tiba² oléh tangis dan airmata itu ia merasa tidak sendiri, tidak ditinggalkan. Sekarang ia akan berbahagia untuk bisa menangis, untuk bisa sekedar berurai airmata sepandjang malam. Ia melihat adanja jang mampu mengembalikan tangisnja, dan kepadanja ia mau bitjara, sebab seperti tangis itu sendiri, utjapan hatipun akan merupakan tempat berlindung dari rasa ngeri dan rasa takut.

„............ Engkau jang bersemajam di tempat jang paling tinggi.”

„............ Engkau jang berkuasa mentjiptakan semua titah, semua machluk, termasuk aku, termasuk Solimin, ja Tuhanku ............!”

Ketakutan mendjadikan hatinja menemukan mesra buat bisa bitjara jang demikian.

„............ Engkau jang berkuasa atas segala²nja, atas hidup dan atas matiku. Akulah jang bitjara kepadaMu, aku jang tak melihat djalan lain, ketjuali satu²nja jang lurus mengarah kepadaMu!”

„............ Aku jang tak pernah bitjara, jang tak pernah menjebut namaMu, sekarang aku bisa menjaksikan, kematian tjuma satu garis sadja jang harus diléwati buat bisa menghadap dan bersimpuh dibawah duliMu!”

„............. Beri aku kekuatan buat bisa melangkahi garis itu dengan sumarah! Aku pendjahat. Aku pembunuh. Tapi aku tjuma manusia. Segala jang melekat pada lahir dan batinku adalah pemberianMu, dan aku datang buat mengembalikannja kepadaMu!”

„............. Aku bitjara kepadaMu sekarang, Engkau jang maha murah, maha pengasih dan maha penjajang. Kau jang kuasa takdirkan hidupku tanpaguna, djadikan kematianku punja guna bagi meréka jang kutinggalkan, buat isteriku, buat anakku!”

Tubuh Solimin gemetar. Keringat dingin membasahi semua kulit. Perlahan ia membuka matanja, mukanja menengadah ke langit atas, seperti di sana ia bisa menemui Tuhannja, seperti dari sana datangnja segala ampunan.

Langit makin kelabu, mendung makin merata, dan perlahan² gelap sekeliling.

Bagian 10

MENDUNG KELABU MERATAI SELURUH langit diatas Daérah Tidak Bertuan. Angin bertiup bertambah dingin. Gerimis jang halus menghantar malam itu jang akan melahirkan sebuah kisah buat perdjoangan kemerdékaan.

Kaélani menepuk punggung Marno.

„Mari kita pergi dari sini. Gerimis matjam begini membawa angin djahat. Apa lagi jang kita nantikan?”

„Djangan meratjau, Kaélani. Ia bisa lolos balik ke mari.”

Kaélani tersenjum dalam gelap.

„Ia pengetjut. Ia tak akan berani kembali. Pandang matamu jang begitu menjalakan dendam akan dibawanja ke mana².”

„Baiklah. Tinggalkan aku di sini sampai bésok.”

„Tak guna menjiksa diri dalam gerimis seperti ini, Marno. Kau kira benar, Mobin menghadang di hulu malam ini? Djuga Alwi tidak di hilir.”

Marno terkedjut mendengar itu. Kaélani menepuk-nepuk punggungnja sebelum ia berkata lagi.

„Engkau lupa, aku bilang anak² tak ada jang tahu? Djuga Mobin dan Alwi tak akan tahu.”

„Mobin dan Alwi?”

„Meréka berdjaga di gudang padi malam ini. Bukan di hulu, bukan pula di hilir!”

„Oh, Tuhan.”

„Ingat Marno. Semua ini tjuma ada antara aku dan kau. Djangan lupakan ini. Dan djangan bitjara kepada siapa djuga.”

Lama Marno tidak menjahut. Matanja menembusi kegelapan sekeliling, dan ia tak melihat apa². Gerimis jang mulanja halus itu ber-tambah² sekarang.

„Solimin tak kan balik kembali,” bisiknja. „Dan ia tak kan menghanjutkan diri di kali Tjermé. Ia akan lari ke daérah pendudukan, jang berbahaja buat pasukan.”

„Aku kenal dia dan aku tak bisa pertjaja, Marno,” sahut Kaélani.

Marno tak membantah. Belum habis Kaélani berkata, sebuah ledakan geranat menggema pandjang, disusul ledakan jang lain, kilatnja memantjar dari arah djembatan, lalu lenjap ditelan gelap. Témbakan sendjata mesin menjusul beruntun pandjang. Sesudah itu sunji kembali. Gerimis makin melebat ditiup angin malam.

„Solimin?”

„Benar,” sahut Kaélani. „Djika majatnja mengambang ésok hari, kita kubur disamping Ganda.”

„Solimin.”

„Djangan lupakan, Marno. Ini tjuma antara kau dan aku.”

Bagian 11

ANAK² PASUKAN JANG HADIR PADA waktu pemakaman djenazah Solimin ésok harinja, semua menundukkan kepala, tak banjak jang bertjakap, keharuan jang dalam menjelubungi meréka. Tak seorangpun mengetahui peristiwa jang sebenarnja seperti dikehendaki oléh Kaélani. Tidak Mobin, djuga tidak Alwi. Dua orang bekas tahanan pendjara Kalisosok jang paling achir dalam Pasukan Liar itu telah gugur dalam djarak sehari. Selesai tanah ditimbun, menjusul do’a jang chidmah jang dibatjakan oléh Mobin (ia satu²nja jang bisa membatja do’a), lalu Kaélani melangkah ke depan. Semua menanti dengan napas tertahan. Seperti djuga pada upatjara pemakaman Ganda, ia berbitjara perlahan, suaranja gemetar, tapi tjukup djelas terdengar:

„Solimin. Hari ini tiba saatnja kami harus bitjara kepada teman² jang tinggal, bahwa kematian ini telah kau pilih sendiri, seperti kau minta. Kau telah pergi dengan hati jang bersih. Djikapun banjak dosamu sebelum ini, kami do’akan, semoga semua sudah kau tebus dengan korban jang kau berikan pada malammu jang paling achir. Dosa itu akan diampuni seperti didjandjikan. Kau bersama Ganda, ikut berdiri tegak sebagai bagian dari tonggaknja sedjarah jang besar, merebut dan mempertahankan kemerdékaan, untuk Républik, untuk semua. Beristirahatlah, kawan jang tertjinta, dengan tenang dan damai ...............”

Malamnja anak² dari Pasukan Liar itu menjebar diri menempati pendjagaan dalam bekas²reruntuhan gedung, dalam pos² pengadangan, dalam gubuk² réjot sepandjang garis perbatasan jang paling depan. Tapi tentara Inggris diseberang kali itu tidak mengganggu meréka.

Kisah gugurnja Ganda dan Solimin dibawa oléh anak² pasukan itu, meréka bisikkan dalam djaga dan meréka hidupkan dalam bajangan. Kalisosok memberikan pahlawannja lagi untuk révolusi.

Malam itu Kaélani mentjeritakan tentang pertemuannja dengan Solimin di gudang padi seminggu sebelumnja dan Marno mendengarkan tanpa menjela. Ia dibawa oléh kisah itu, dan pengetahuannja tentang Solimin bertambah banjak. Selesai kisah itu, Marno meninggalkan Kaélani seorang diri. Ia pergi tanpa kata, menjusuri kebun² gelap, mengundjungi anak² pasukan dalam tempat pendjagaan. Kegelisahan jang anéh mengganggu hatinja dan sebentar² muntjul bajangan Solimin ketika merajap mendekati tanggul sungai Tjermé. Apa djadinja djika Solimin mati oléh tangannja?

Esok harinja sebelum fadjar menjingsing, Marno telah siap. Mauser besar tergantung di pinggang, pundak kanan menjandang ransel Djepang, mata mérah tampak tjapai sekali.

Kaélani bangkit dari ambin menjambut uluran tangannja dengan erat, suatu djabat-tangan jang lama dan mesra seperti belum pernah dilakukannja.

„Engkau tak tidur semalam. Engkau perlu istirahat,” kata Kaélani.

„Bagaimana aku bisa memedjamkan mata sesudah peristiwa itu? Banjak jang berteriak dalam hatiku. Aku lambat mendengar Truno, aku tak ketemu pak Mantri. Ganda hanja kukenal majatnja, dan Solimin. Aku bajangkan, bagaimana ia menemui kematiannja. Benar, Kaélani. Semuanja, semuanja. Sampai Solimin jang njaris kutémbak sendiri, orang² ini jang paling tersajang di hati. Engkau mengerti itu! Bagaimana aku bisa memedjamkan mata?”

Kaélani menepuk punggung sahabatnja seraja menjahut:

„Itu wadjar. Orang² ini jang ditanam lebih dahulu. Meréka adalah tumbal jang letaknja paling bawah didalam tanah.”

„Ja, siapa kelak akan menjebut nama Solimin?” Matanja jang saju memandangi bedil Djepang jang tergantung di tiang gelugu. Lama matanja menatap sendjata itu. Lalu ia menoléh kepada Kaélani.

„Engkau benar, Kaélani. Aku tak akan melupakannja. Sungguh aku berterimakasih, aku merasa diselamatkan. Djika ia terkapar ditengah sawah lantaran sendjata itu, bajangannja akan mengedjar aku sampai ke liang kubur. Terima kasih, kawan.”

Dan matanja lalu memandang kembali karabén Djepang itu sebelum ia berlalu, disentuhnja laras dengan tapak tangannja. Dan ia berbisik lagi:

„Terimakasih, kawan.”

Kaélani melangkah sampai ke halaman depan dan sebelum berpisah ia berbisik:

„Djangan lupakan, Marno. Semua ini tjuma antara engkau dan aku.”

„Aku berdjandji. Aku berdjandji tak akan bitjara. Anak² tak akan tahu.”

Dan pundak jang lébar itu di-tepuk²nja berulang kali dengan mesra.

Tak lama Marno hilang dari pandangan, menembus kebun jang penuh tumbuhan dan pohon², turun djalanan ditengah sawah jang lurus menudju Bandjaranjar. Pagi masih terlalu gelap. Marno kembali untuk memimpin regunja jang diperbantukan di pertahanan Betan daérah Gresik, djauh disebelah Timur-Laut.

Kaélani masih berdiri ditengah halaman, kedua tangan terlipat di dada, mata menembusi kegelapan mengikuti bajangan Marno sampai lenjap. Dingin udara subuh tidak terasa.

Barangkali dalam kegelapan itu ia tersenjum, bangga mengusapi dada jang bidang. Pagi itu ia merasa suatu daérah kekuasaan jang tidak tampak jang telah dimenangkannja dan jang tidak bisa direbut oléh kekuatan apapun.

Ia usap air-mukanja, melangkah surut memasuki markas ketjil. Lampu ublik dipodjok médja hampir habis njalanja. Karabén Djepang jang tergantung di tiang gelugu itu diangkatnja dan sekali lagi diperiksanja.

Kaélani tersenjum, pelatuk karabén Djepang itu telah rusak seminggu jang lalu.

Bagian 12

SEMINGGU KEMUDIAN DARI PERISTIWA itu seorang perempuan djongkok menghadap nisan. Tanah masih mérah, tak pernah kering. Karena sedjak djisim itu ditanam, hudjan turun hampir setiap hari dan matahari jang kadang muntjul di sela² mendung tak pernah mengeringkannja. Tjuma melati sadja jang ditaburkan, jang tidak banjak pula dan tidak menutupi pusara. Dibelakang perempuan itu berdiri Mobin dengan sikap ragu dan gelisah. Ia menahan napas mendengar isak perempuan jang djongkok dihadapannja, bertambah keras. Oléh isak itu, suara rindu dalam hatinja bangkit mendadak begitu kuatnja, dan semua jang ditjinta membajang didepan mata jang bertambah berlinang. Akan datang pulakah saatnja baginja untuk ditaburi melati seperti pusara ini, diratapi sedu-sedan seperti tangis wanita dihadapannja pada waktu itu?

Mobin menengadahkan muka ke langit. Ia tak ingin mati di sini, betapapun indahnja sebutan jang akan diberikan orang kepadanja. Ia tak ingin menghidupkan chajal sematjam itu. Ia merasa hidup indah sekali, seperti djuga birunja langit pagi dengan angin jang segar, sekalipun dihiasi dengan ledakan mortir, témbakan² kanon jang datang dari arah Betan, dengan kumandangnja jang pandjang menjusupi langit. Ia masih muda. Masih banjak jang ingin dialaminja. Ia tak mau mati di sini.

Ia ingin tetap hidup, ingin mengikuti perdjuangan sampai kapanpun dan iapun ingin melihat kemenangan jang begitu diharapkan. Djika jang ditjita itu telah datang, ia akan mentjari dan menemui kekasihnja jang masih tinggal di Surabaja, di daérah musuh jang belum pernah didengar kabar sedjak petjahnja pertempuran. Ia akan bangga merasa telah membajar iuran untuk révolusi dan ia akan merasa bahagia telah mendjalankan tugas dengan semestinja.

„Jang ini siapa?”

Mobin hampir terkedjut mendengar suara wanita dihadapannja jang menoléh ke belakang. Isak dan sedu-sedan sudah tak terdengar lagi dan mata jang bulat itupun tidak terlalu basah. Barangkali airmata itu sudah diusapnja dengan seléndangnja jang lusuh itu.

„Ganda,” sahut Mobin setengah gugup. „Gugur sehari sebelum Tjak Solimin!”

„Temannja, tentu.”

„Bukan hanja teman. Solimin gugur membéla Ganda. Iapun datang dari Kalisosok, mbakju.”

„Oh,” keluh wanita itu dengan napas jang dalam. Dan tangannja jang ramping memungut melati jang tidak banjak itu dan ditaburkannja separoh untuk pusara Ganda.

„Aku tak tahu.”

Mata jang bulat itu menoléh memandang Mobin seperti suatu permintaan maaf.

„Pikiran seperti tak ada di sini, dik! Ganda, namanja?”

„Ja, mbakju,” sahut Mobin mengangguk.

Sesudah itu terdengar suaranja jang lemah, rendah, seperti suatu do’a, seperti suatu pertjakapan untuk dirinja sendiri.

„Semoga dosa² keduanja diampuni oléh Tuhan. Kekeliruan²nja, tindak lakunja, semoga tak ada lagi .............,” kalimat itu tertahan, tak ada landjutannja. Lalu ia mengusap air-matanja dengan udjung seléndangnja. Dan suara Mobin mengatasinja.

„Bagi meréka jang gugur di médan peperangan membéla kemerdékaan, membéla tanah-pusaka untuk semua, membéla nasib bangsanja, semua dosa lenjap bersama napas jang paling achir, sama bersihnja seperti sewaktu meréka dilahirkan di bumi. Mati membéla tanahair mati sahid, mbakju.”

Kata-kata ini ditudjukan kepada wanita itu, tapi barangkali pula bagaikan pertjakapan dalam dirinja.

„Aku kenal Tjak Solimin sedjak kami datang didaérah ini. Dan sekarang aku bersukur bisa berkenalan dengan isterinja jang begini setia. Tjak Solimin tak banjak bitjara, dia sering menjendiri. Tapi jakinlah, mbakju. Ia sudah bahagia sekarang.”

„Setia?” Isteri Solimin tertegun sebentar. Katanja: „Aku datang ke mari buat menjaksikan dan biar anak kami bisa mengenal peristirahatannja. Tjuma ini kewadjiban jang bisa kupenuhi untuk jang terachir. Tuhan jang telah menuntun aku ke mari.”

Sesudah mengusap nisan dengan tangan jang ramping itu, isteri Solimin berdiri. Kedua orang itu berdiri ber-hadap-an pada djarak antara sehasta, seraih tangan. Pada djarak sedekat inilah orang kadang bisa menangkap jang lebih dari perwudjudan lahir, dan djika sadja orang berani memandangi mata dengan lurus², maka hatipun akan dapat menerawangnja. Dan kendati tjuma sekilas, sebab kemudian ia menunduk, Mobin seperti bisa menangkap sesuatu dibalik mata jang hitam bulat itu. Tentu sadja ia tak dapat mengukur dengan kemampuan pikirannja, tapi hati jang kadang bisa lebih tadjam dapat menangkap jang menjedjukkan dan menenteramkan. Dan dalam pengertian jang masih samar, ia mentjoba mendudukkan kata setia, rasa djudjur dalam kumpulan watak jang bisa membentuk wanita jang tengah berdiri dihadapannja. Dan bertambah tersentuh hatinja, djika mendadak terbit angannja buat menemukan jang demikian dalam diri kekasihnja jang ditinggalkan di kota pendudukan. Pernahkah dia melihat jang demikian, jang begitu sedjuk, jang begitu menenteramkan? Kapanakah perdjuangan ini akan berachir dan kapankah ia bisa menemuinja?

Isteri Solimin berkata, bahwa ia ingin menemui kepala-pasukan untuk mendengarkan dan barangkali untuk berbitjara. Siapa tahu, Solimin memberikan pesan, memberikan amanat jang hanja dipertajajakan kepada komandannja? Kepala-pasukan se-kurang²-nja akan tahu lebih banjak tentang suaminja dari siapapun.

„Barangkali tjuma sekali ini kesempatan,” katanja. „Sekarang pengetahuan orang bertambah kabur terhadap jang bisa datang di hari ésok. Pertemuan ini pasti ada gunanja. Aku bisa mengenal wadjah² jang bergelut dengan maut di sini, bersama suamiku sampai hari jang paling achir. Dan kisah ini kelak tentu akan membanggakan bagi anak kami. Bukankah suatu kebahagiaan bagi ibu seperti aku, mempunjai tjerita begini luhur buat anaknja?”

Keduanja meninggalkan makam menudju gudang jang dipakai sebagai markas pasukan. Mobin mengiringi wanita itu dari belakang. Matanja bisa menangkap, betapa rambut jang tebal hitam itu ditiup angin pagi, lemasnja léhér jang gelap oléh teriknja matahari, kedua tangan jang tergantung tanpa bobot, seperti bisa tergerak oléh angin jang lemah. Untuk pertama kali semendjak di daérah pertahanan, matanja mentjoba memimang wudjud seorang wanita dalam keseluruhannja. Lalu kata² jang ditjobanja buat menemukan jang tidak tampak melintas dalam otaknja. Wanita ini, pikirnja, betapa bahagianja bisa memilikinja bersama kesetiaannja jang begini luhur. Tapi kebahagiaan jang begini agung, Tuhan telah limpahkan kepada seorang pendjahat, seorang hukuman Kalisosok. Barangkali ia tidak mengerti, ia héran, tapi hati ketjilnja takut buat menghubungkan ini dengan keadilan Tuhan. Sebab pendidikan jang diterimanja sedjak ketjil, mengadjar ia buat banjak mengenjampingkan pikiran dan memandang segala keadaan sebagai takdir.

„Aku kagum pada kesetiaan mbakju. Sebesar itu tjintamu pada Tjak Solimin!”

Mobin sendiri djadi héran, bagaimana utjapan itu bisa terlompat dari bibirnja. Suara itu seperti dibisikkan dari belakang, seperti penémbak jang paling tjepat dari Pasukan Liar itu tengah berkata pada dirinja sendiri, seperti rasa kagum itu tak bisa disembunjikannja. Dan Mobin lalu mendengar suara wanita itu:

„Tjintaku kepadanja? Sekarang aku tak tahu membédakan lagi, apakah hakékat jang pernah menjentuh hatiku ini terhadap dirinja. Mungkin aku sajang padanja, mungkin aku kasihan, mungkin aku takut kepadanja, malah ada masanja menjembul was² jang aku takut mengenangkannja sekarang. Ia pendjahat, ia orang hukuman. Adik tahu itu. Tapi selagi hidupku belum pandjang dengan dia, selagi aku belum mampu menempatkan diri sebagai seorang isteri jang pandai menimbang dengan djudjur harkat seorang suami, kami telah punja anak, dan dia masuk pendjara. Lalu peperangan dan pertempuran jang mengerikan itu, kemudian kematiannja jang begitu mendadak, kematian jang dibitjarakan orang disepandjang daérah pertahanan dengan rasa kagum, hormat, héran dan pudji. Kenjataan² jang mengandung pertentangan ini, aku belum mampu menerimanja dengan wadjar. Apa jang bisa kupertimbangkan, aku seorang isteri hukuman tjuma?” Isteri Solimin diam sedjenak. Lalu katanja: „Tapi djika ia masih hidup,” sambungnja, „barangkali aku bisa lebih banjak beladjar tentang dirinja; barangkali djuga aku bisa mentjintainja. Ia sajang dan setia kepadaku.”

Isteri Solimin berhenti lagi dan dari belakang Mobin bisa melihat perempuan itu mengusap matanja dengan udjung seléndangnja jang lusuh. Lalu suaranja terdengar lagi: „Kukira tak patut menilai seseorang dari segi kekurangannja, apalagi orang itu sudah tak ada. Aku tjuma seorang perempuan dan harus menghadapi semua ini seorang diri. Djika aku mau djudjur, sesungguhnja belum lajak kata setia, kasih dan sajang, apa pula tjinta diutjapkan di sini.”

Sedjenak kemudian terdengar seperti keluhan.

„Oh, apa sadja jang sudah aku katakan? Bagaimana aku bisa begitu banjak bitjara?”

„Lantaran ada kebanggaan jang tersembunji, mbakju. Engkau sudah berani datang ke mari, ke tempat jang berbahaja ini. Tjuma kasih-sajang jang dalam jang bisa menggerakkan kaki buat datang ke mari.”

Sekaranglah wanita itu berhenti melangkah, menoléh sebentar dan katanja lagi sambil melandjutkan langkahnja: „Djangan lupa, kami punja anak. Seorang ibu akan melakukan apa sadja untuk kepentingan anaknja. Itu wadjar. Sebab di sana terletak kebahagiaannja. Dan satu ketika anak kami akan bertanja, siapa ajahnja. Itu haknja, dan aku tak mau berdusta. Itulah jang menjuruh aku datang ke mari. Aku telah beladjar dari pengalaman, bahwa seorang ibu punja kepentingan jang lebih utama dari dirinja sendiri: anak dan hari kemudiannja. Maka ia akan réla memberikan se-gala²nja. Seperti djuga adik di sini, mengembara didaérah pertempuran jang penuh bahaja, sedang njawa jang tjuma satu didjadikan taruhan. Tidakkah itu dibawa oléh kejakinan, bahwa ada sesuatu jang lebih utama dan lebih besar dari diri sendiri?”

Isteri Solimin berhenti berbitjara dan Mobin tidak bertanja lagi. Ia berdjalan dibelakangnja dengan kepala menunduk. Kata² isteri Solimin bertambah dalam meresapi hatinja. Sekarang ia menghendaki kesunjian untuk menangkap apa jang diutjapkan oléh wanita itu, seluruhnja, nada dan pengertiannja. Lantaran pada pengutjapan itu Mobin tidak menemukan dirinja di sana.

Barangkali benar, ia datang ke mari untuk berdjuang, untuk membéla tanahair, bangsa, kemerdékaan dan barangkali pula untuk agama. Tak seorangpun akan membantahnja.

Tapi barangkali pula benar, djika ia sedia mengembara di daérah pertahanan ini guna menjelamatkan diri dari perasaan malu buat tinggal di daérah pengungsian sebagai pemuda untuk menolong diri dari sebutan pengetjut atau barangkali pula untuk kepahlawanan jang dikagumi, kebanggaan, dan harapan jang tersembunji buat beroleh pahala dari darma-baktinja. Hatinja tak bisa membantah hal itu.

Jang manakah jang bisa disebut kepentingan jang lebih utama dari kepentingan diri sendiri? Do’anja jang dipandjatkan setiap siang dan malam, do’a diwaktu peluru meledak diatas kepala, do’a jang selalu begitu chidmat buat didjauhkan dari segala malapetaka, lalu sembahjangnja setiap waktu jang djauh lebih chusuk di sini, di daérah dimana njawa bisa terampas se-waktu² dan tangis hatinja buat bisa tetap dekat dan ingat kepada Tuhannja, lantaran ketjemasannja terhadap dosa, takut kepada siksaan, ngeri kepada neraka, antjaman dan kutukan. Kata² wanita dihadapannja seperti bisa menggugah kesadaran, bahwa segala jang diamalkannja selama ini tjuma tertudju untuk diri sendiri.

Rasa malu jang asing merasuki hatinja, dan manusia itu mendjadi begitu ketjil dan nista. Manusia matjam apakah aku ini, pikirnja.

„Itu tempatnja?”

Mobin tersentak. Ia mengangkat muka dan tjahaja anéh memantjar dari matanja. Dengan gugup ia menjahut: „Ja. Itulah tempatnja. Masuklah, mbakju. Alwi tentu sudah memberi tahukan kedatangan mbakju.”

Dipandangnja wanita itu dari belakang seperti masih terlalu banjak jang belum terbatja oléh matanja, masih dalam dan djauh jang masih bisa diselaminja. Matanja lébar tidak mengedip seperti tak hendak dilepaskan wanita itu dari matanja. Djuga ketika isteri Solimin tertegun diambang pintu gudang padi, dan djuga ketika hilang dibalik pintu.

Napas itu djadi begitu dalam, matanja masih membuka lébar seperti menanti setjertjah bajangan jang tinggal di sana.

Sedjenak Mobin masih termangu, lalu perlahan membalikkan dirinja, meninggalkan tempat itu dengan kepala menunduk dan hati jang mentjoba menangkap kembali semuanja. Dan rasa malu jang asing sekali lagi menjentuh hatinja. Manusia matjam apakah aku ini, pikirnja.

Bagian 13

PAGI ITU KAELANI SENDIRI DI DALAM gudang padi. Sedjak Solimin mati, gudang itu dipakai sebagai markas ketjil buat mengatur anak-buahnja bergilir menempati kubu² pengadangan. Sudah seminggu sedjak itu tidak sebutir pelurupun jang meledak. Tentara Inggris diseberang Selatan kali benar² enggan bergerak. Dan Daérah Tidak Bertuan itu dari arah lain seperti kuburan raksasa dengan hantu²nja jang bersembunji.

Belum lama datang laporan, bahwa pasukan istiméwa Pesindo jang bermarkas di Bandjaranjar ditarik seluruhnja ke front Betan, daérah Selatan Gresik. Sedang sisanja, sebuah regu jang menamakan dirinja regu „Welud” jang terdiri dari anak² peladjar dari daérah Kediri, menjusul ke front Timur Laut beberapa djam kemudian. Pasukan baru datang menduduki Bandjaranjar, sebuah pasukan TRI jang tak utuh lagi, jang hanja terdiri dari duapuluh orang.

Djuga kumandang suara mortir jang lamat² datang djauh dari Timur-Laut sedjak pagi buta, dan djuga ributnja anak² jang mentjeritakan akan bergeraknja tentara Ghurka di daérah Timur menudju Gresik.

Laporan itupun tidak penting.

Diatas segala kematian Solimin seperti mendesakkan pengertian baru jang samar bentuknja dan itu tergantung sadja dalam rawang otaknja seperti bajangan hantu jang tak mau pergi. Pengalaman itu seperti telah membawa dirinja memasuki babak baru dengan tuntutan²nja sendiri jang tak pernah dia bajangkan sebelumnja. Seperti baru sekarang ia menjadari, bahwa hidup dan nasib seluruh anak-buahnja jang menjebar di Daérah Tidak Bertuan itu berada dalam genggaman tangannja. Ia héran melihat itu sebagai suatu kekuasaan jang ada pada tangannja.

Seorang Solimin telah dapat disingkirkan, karena dia menghendakinja. Bukan hanja demikian, bahkan bagaimana pembunuh dan bekas tahanan itu mesti menemui kematiannja, ia pula jang merantjangnja. Semua itu bisa terlaksana seperti tak ada kekuasaan lain jang bisa menghalangi. Dan seluruh anak Pasukan jang lain tak akan mengerti peristiwa jang sebenarnja, karena ia menghendakinja.

Kaélani melihat dirinja begitu djelas, bahwa di sini, di „Daérah Tidak Bertuan”, ia bisa bertindak sebagai penuntut, sebagai hakim jang mendjatuhkan hukuman, dan sekaligus sebagai algodjo jang melaksanakan hukuman.

Apakah haknja buat bisa berbuat demikian terhadap semua njawa jang begitu tersajang di sini?

Dan sekarang, menjadari, adanja kekuasaan itu dalam tangan, dan belum lama menggunakannja buat menentukan kematian seorang Solimin, menghidupkan tanja jang bertambah terasa sebagai suatu tuntutan: adilkah itu?

Dan tuntutan itu bertambah keras bergema dalam saat² jang kosong, di waktu malam, djika anak² semua menempati pos² pengadangan dan ia harus bergelut seorang diri dengan suara hatinja: adilkah itu?

Dan tuntutan ini, ia tahu, tidak seperti dahulu, pasti akan datang dari seberang lain, dari meréka jang mentjintai dan merindukan njawa² jang berkeliaran di sini. Sebab di sini, ia diadjar oléh pengalaman, bahwa meréka jang mati di „Daérah Tidak Bertuan” ini tidak hanja meninggalkan nama, tapi melahirkan tuntutan² jang akan membajangi semua jang ditinggalkan.

Marno menjatakan hal itu ketika ia menjesali kematian Ganda.

Pensiunan mantri-garam jang telah tua itu merasa terikat buat bitjara kepada siapa sadja, ketika menunggui gugurnja Truno dipinggir rawa jang begitu mengharukan.

Dan sekarang Solimin jang gugur, meninggalkan tuntutannja pula.

Adilkah itu?

Solimin punja isteri jang begitu disajang, punja anak jang belum pernah didjamah.

Kaélani mondar-mandir didalam gudang seperti tubuhnja jang berat itu bisa bergerak sendiri tanpa dimauinja. Kepalanja dipenuhi oléh pertanjaan² dan hatinja dibebani oléh tuntutan² dari dunia lain. Gambaran itu bertambah djelas, bagaimana Solimin menemui kematiannja, bagaimana serdadu² Ghurka melepaskan témbakannja begitu lama, bagaimana peluru menghudjani dada dan kepala, bagaimana darah mengaliri tubuhnja, bagaimana majatnja hanjut ke hilir.

Adilkah itu?

Dan semua itu bisa berlaku karena dia jang merantjangkan seperti kekuatan gaib dengan tiba² dalam tangannja.

Pintu bergerit, Alwi masuk mengganggunja.

„Tjak. Ada perempuan, Tjak. Isteri Solimin!”

Kaélani terkedjut. Ia berhenti, menoléh, dan matanja jang tadjam menentang mata Alwi. Dan Alwi merasa telah mengganggu dengan kedatangannja, jang mendadak. Dan anak itu bitjara dengan suara jang lebih rendah:

„Isteri Solimin datang ke mari, Tjak!”

Tanpa ulangan tentu sadja Kaélani sudah mengerti.

„Ia diantar Mobin dari makam Solimin!”

Sudah tiba waktunja sekarang buat menghadapi wudjud dari tuntutan² jang begitu ditjemaskan. Apakah sekarang jang bisa dia lakukan? Kapankah pernah dia membajangkan jang demikian? Oh, menghadapi seorang wanita jang hanja akan bisa menggelarkan perasaan² dengan sedu-sedannja, air mata jang meléléh, lalu kata² jang tak terutjapkan, kata² jang berlompatan melalui mata jang saju dan gemetarnja tangan, dari peluh dan bibir jang keputjatan.

Dalam gudang-padi itu pula dahulu ia melihat, betapa sesuatu itu bisa mendjalar dalam batin Solimin, betapa bekas hukuman itu bisa berurai airmata, betapa kedua tangannja bisa gemetar dan basah. Ia pernah takut pada tangan itu, sebab daripadanja seperti bisa mendjulur kekuatan anéh jang bisa menggerakkan tubuhnja tanpa sadar. Barangkali dalam rangsangan seperti itu djika ia membunuh Ganda dan ketika melémpar geranat² ke kubu Ghurka.

Tidak! Bagaimana ia berani menemui isteri Solimin pada saat itu? Ia tak bisa menerima kedatangannja! Tetapi ketika ia menoléh, Alwi sudah tak ada dan wanita itu sudah diambang pintu.

Matanja jang bulat sekali, begitu hitam seperti pekatnja malam, lurus² memandangi Kaélani. Pakaian dan seléndangnja jang begitu lusuh, rambutnja jang hitam tebal tidak teratur, lukisan jang begitu tadjam menggorés di hatinja. Kehadirannja jang begitu mendadak seperti menghidupkan kembali suara Solimin.

Barangkali pandang wanita jang begitu bulat itu hendak memantjarkan tuduhan² jang ditahannja selama ini sedjak ia mendengar kematian suaminja: mengapa tjuma seorang jang ditugaskan menuntut balas, dan mengapa itu mesti suaminja? Seorang diri merajap dengan geranat ke kubu musuh? Itu bukan kebidjaksanaan, itu pemaksaan tindak bunuh diri!

Untuk pertama kali dalam hidupnja Kaélani gelisah tjuma lantaran sepasang mata, dan rasa takut jang anéh ikut pula menjelimuti kegelisahan itu. Ia berdiri di sana setengah ragu menentang pandang itu. Dan ia tak tahu bagaimana mesti berkata, betapa ia mesti menjambut. Sebab ia mengerti sekarang, wanita dihadapannja ini punja pula haknja, punja kebenarannja dan punja keadilannja jang tersendiri untuk membéla kebahagiaan hidupnja.

Kaélani memerlukan keberanian guna menghadapi isteri Solimin. Dan segala jang pernah dimilikinja, jang bisa membuat dirinja tak gentar untuk menghadapi amuknja seorang Solimin didepan anak² Pasukan, ia tahu kini itu tak tjukup buat menghadapi perempuan itu.

Tapi isteri Solimin sekarang berdiri gelisah ditengah pintu. Ia tidak mengira menemui kepala-pasukan jang masih muda, jang punja pandang begitu angker dan dalam seperti dibalik wadjah dan pandang itu tersimpan kegaiban² jang ia tak akan mengerti. Pandang itu, wadjah itu, dengan rauntja jang begitu tadjam dan tubuh jang begitu tinggi dan tegap. Benda² jang bersérakan diatas ambin, topi badja jang dipalut radjut, peluru mortir sebesar lengan jang disusun diatas médja, pistol dan sarungnja jang tergantung di kursi, karabén jang digantungkan pada tiang, puntung² peluru jang bersérakan, benda² lain jang ia tidak mengenal, ransel dan sabuk-kulit jang bergantungan di sana-sini. Di mata isteri Solimin benda² itu seperti tangan² maut jang bisa mendjangkau setiap waktu. Orang² di garis jang paling depan ini, pikirnja, berlainan dengan meréka jang tinggal djauh di belakang, bergerak didampingi maut setiap detik. Tentu sadja ia sering bertemu dengan pedjoang², tentara, dengan sendjata², tapi tidak di sini dalam suatu ruangan jang begini tintrim. Ia merasa seperti tiba² datang mendesakkan diri di daérah keramat jang terlarang, dan bahwa hadlirnja di sana adalah suatu dosa. Buat apa gerangan ia mesti datang ke mari? Apa haknja buat tiba² menampakkan diri?

„Duduk! Silahkan duduk!”

Dan dalam telinganja kata² Kaélani itupun punja nada jang lain sekali, tapi oléh suara itu timbul keberaniannja untuk berbitjara.

„Saja isteri Solimin, Tjak!”

Dengan tertib isteri Solimin duduk diatas bangku kaju nangka, keringat membasahi dahinja. Seperti pesakitan, ia merasa salah buat datang ke sana. Ia merasa, kedatangannja tidak dikehendaki. Kekakuanpun menguasai diri, seléndang jang lusuh itu dipakai menjapu keringat. Ia menunduk, ia tak berani lagi memandang wadjah itu.

Achirnja Kaélani bisa berbitjara: „Tjak Solimin banjak bertjerita kepadaku. Tentang pertemuan kalian di Kalisosok jang paling achir. Besar sekali sajangnja kepadamu. Utjapannja jang kasar ketika itu? Kau takut ketika itu? Itu djustru lukisan kasih-sajangnja jang dalam kepadamu. Ia menjesal, tak bisa menemukan kata jang lebih baik. Ia sering berbitjara kepadaku!”

„Ja!” Ia masih menunduk.

„Dan anak kalian. Sudah seberapa besarnja? Sudah pandai apa dia?”

Ia tahu pula djadinja. Sekarang isteri Solimin mengangkat muka. Seperti pertanjaan itu jang bisa memberi kekuatan dan seperti mendadak lalu ia menjadari buat apa ia hadlir di sini.

„Lantaran baji kami, aku datang ke mari, Tjak!”

„Berapa umurnja sekarang?”

„Sepuluh bulan, Tjak.”

„Bagus. Sudah beladjar berdjalan barangkali. Di mana sekarang?”

„Di Bunder, Tjak. Bésok kami akan berangkat mengungsi!”

„Bagus. Daérah ini bertambah tak aman!”

„Tjak! Sedjak itu aku tak pernah menéngoknja ke pendjara. Aku takut utjapan itu. Aku mau lari, aku .............” berhenti sebentar seperti bimbang terhadap apa jang hendak diutjapkan, „............. Tapi kami punja anak!”

Ia lalu menunduk, meremasi udjung seléndang dengan djarinja.

„Oh, itu. Ia tahu, ia mengerti. Itupun ia berbitjara pula kepadaku,” kata Kaélani.

Ia masih tetap menunduk, masih tetap mempermainkan udjung seléndangnja.

„Bagaimana mbakju bisa datang ke mari?”

„Aku datang di Bunder baru kemarin dari daérah pendudukan. Dan orang² banjak jang berbitjara tentang Tjak Solimin, tentang penjusupan di malam jang gerimis, tentang penghantjuran kubu Ghurka dan tentang gugurnja; orang² mentjeritakan dengan kagum dan pudji. Benarkah itu demikian?”

„Benar!” sahut Kaélani dengan anggukan seperti hendak mejakinkan diri sendiri.

„Tjak. Djika demikian, aku bisa memiliki kekajaan dengan tjerita ini. Aku bisa berikan tjerita ini kepada anak kami kelak, djika sudah datang waktunja ia menanjakan ajahnja!”

Untuk itu djadinja isteri Solimin datang ke mari. Dada Kaélani seperti lega mendadak. Ia bisa bernafas dalam² sekarang. Lalu paras dengan mata jang begitu hitam itu kini menghadapi lurus² mukanja. Alangkah beningnja mata jang hitam itu, dan alangkah dalamnja suara jang datang.

„Tjak. Aku datang ke mari hanja akan menjampaikan rasa sukur, bersama rasa terima kasih, jang tidak terhingga. Engkau Tjak, jang berkuasa di sini, engkau, jang kuasa mengubah nasib suamiku, jang berkuasa menutup riwajatnja djadi begitu indah, jang berkuasa memberikan kekajaan ini dengan suatu kisah jang begitu luhur. Kami berterima kasih, atas nama anak kami, Tjak!”

Apakah jang bisa diberikan sebagai djawaban untuk pernjataan jang demikian? Sesaat lamanja Kaélani masih tak bisa mendjawab. Ia duduk dihadapan isteri Solimin menghadap médja dengan pandang jang bertambah gelisah.

„Djangan berpikir demikian, mbakju. Orang tak punja kekuatan buat mengubah nasib jang lain. Apalagi aku jang lebih muda.”

Pertjakapan itu telah berdjalan tidak seperti ditakutkan semula. Dan ketika isteri Solimin bangkit dari tempat duduknja meminta diri, sampai diambang pintu Kaélani tertegun. Ia melihat punggung itu, léhér itu.

„Mbakju Minah.” Panggilan itu terlompat sadja dari bibirnja. Isteri Solimin menoléh dengan pandang terkedjut dan héran. Ia tahu pula namanja djadi. Alangkah banjaknja suaminja berbitjara kepada pemuda ini.

„Dari Bunder hendak terus mengungsi ke mana?”

Mata jang hitam itu masih menatap matanja.

„Aku punja kerabat di Tjepu. Barangkali aku akan ke sana!”

„Tjepu?” Seperti ada pikiran jang mengganggu mendengar itu. Dan itu tampak pada lekuk jang timbul mendadak diatas dahinja.

„Tjepu? Tjepu kota minjak. Barangkali tak akan aman di sana. Musuh pasti satu ketika, mentjoba merebut daérah itu. Tak ada kerabat di daérah lain, Kediri umpamanja, atau Solo, Djokdja, Malang atau Madiun? Ada saudara di sana?”

Mata jang bulat itu kini memandangnja dengan bertambah héran.

„Ada. Seorang paman tinggal di désa Semampir, dipinggiran kota Kediri. Tapi kukira itu djauh sekali! Dan aku belum pernah ke sana.”

„Itu sama djauhnja dengan kota Tjepu; untuk keselamatan kalian tjobalah mengungsi ke sana!”

„Terima kasih, Tjak!”

Seorang anak-pasukan disuruhnja mengantar sampai ke désa Bunder. Dan kedua orang itu berdjalan beriringan melalui kebun² jang menudju djalan besar.

Kaélani menjandarkan tubuhnja di pintu. Ia menjaksikan punggung itu mendjauh dan dari punggung itu matanja tak mau lepas. Kaélani pernah memandangi punggung Solimin jang bergerak menudju sungai Tjermé, dan ia merasa, pembunuh itu telah membawa sebahagian dari hatinja. Dan perasaan seperti itupun timbul pula waktu itu. Kaélani tidak bergerak bersandar di pintu sampai Minah lenjap dari matanja.

Barangkali pertemuan itu tjuma sekali, pikirnja, dan barangkali ia tak akan bertemu lagi. Pertemuan jang ditakutkan mulanja itupun telah memberikan perpisahan jang meminta tempatnja di hati pula.

Kaélani merebahkan diri diatas balai². Dari arah Gersik masih terdengar gema mortir jang seperti tak mau berhenti sedjak pagi. Tapi dalam hatinja, djika ia perlahan menutup mata, bajangan punggung wanita itu mendjadi djelas, punggung jang bergerak makin mendjauh ........., makin mendjauh .........!! Pertemuan itu tjuma sebentar, tjuma dalam beberapa menit. Tapi pandjangnja waktu bukanlah unsur jang penting buat mengukur dan menentukan lakon manusia. Dan seperti djuga kepada meréka jang hidup di Daérah Tidak Bertuan ini mengenai hal itu tak akan ada pertanjaan, kapan mulanja? Sekarang, keselamatan manusia jang tak pernah dikenal sebelumnja telah mendjadi sebagian dari harapannja jang paling dalam.

Bagian 14

KAELANI MASIH TERLENTANG DIATAS ambin. Matanja terbuka menatap atap-genting tanpa langit². Tapi ia tak melihat apa². Seperti penglihatan itu tidak dibutuhkannja. Tak ada bédanja dengan menutup mata, malahan dengan begitu ia bisa melihat pengalaman jang tjuma beberapa detik bertambah djelas dan pikirannja bertambah gampang menangkap keseluruhannja.

Setiap kata jang pernah didengar, ia ingin bisa meresapinja lagi, bersama dengan bajangan²nja jang tinggal dari matanja jang hitam bulat, seluruh bajangan gerak dan langkahnja.

Begitu péndék waktu pertemuan itu, tapi alangkah banjaknja jang dibisikkan dalam hatinja. Sekarang, tidak seperti hari pertama ketika ia pergi berdjuang, ia bisa menjadari bahwa daripadanja tidak hanja dimintai keberanian, tidak hanja dituntut pertimbangan pikiran jang bidjaksana sebagai kepala pasukan, barangkali bukan hanja djiwa dan raganja, malahan seluruh perasaannja diminta pula di sini. Dan alangkah bahagianja sekarang untuk mengetahui, bahwa djika sadja orang telah bersedia untuk memberikan seluruhnja dan segalanja, membuat dadanja bertambah djembar.

Kaélani bisa tersenjum sekarang, tapi tidak pada bibirnja.

Perlahan ia bangkit, melangkah menudju pintu, mendjeladjahi kekajuan dihadapannja dengan matanja.

Untuk pertama kali dalam hidupnja dengan sadar ia merasa mengutjapkan do’a jang indah sekali, do’a jang bukan untuk dirinja.

„Tuhan! Djangan djadikan perempuan itu bisa mengetahui nasib suaminja. Djangan biarkan kebanggaan jang sudah bersemi dalam dadanja mendjadi rusak karena itu.”

Lalu tangan kanannja mengusap air-mukanja, dari dahi menurun ke dagu, seperti ladjimnja orang menutup do’a dengan chidmah dan chusuk.

Bagian 15

ALWI LARI MEMBUKA PINTU GUDANG-PADI, dan sekedjap telah berdiri disamping ambin tempat Kaélani merebahkan diri.

„Tjak Kaélani! Marwan gugur pagi ini. Djenazahnja akan diangkut dari Betan léwat Bunder dan akan terus dibawa ke Lamongan. Tentara Ghurka telah bergerak léwat Betan mentjoba merebut Gersik.

Kaélani bangkit. Ia sadar, Tampaknja ia tak begitu terkedjut. Itulah peperangan jang daripadanja sebagai kepala pasukan diminta lagi seorang korban. Ia melangkah perlahan, mengambil ikat-pinggang kulit dan dipasang sarung pistolnja.

Sebentar ia menunduk, dari bibirnja jang agak putjat keluar suara jang hampir tidak terdengar, rendah sekali suaranja dan suasana mendjadi teramat chidmah: „Marwan!”

Ketika Kaélani mengangkat muka, tampaknja muka itu bertambah putjat. Kelelahan membajang pada air-muka dan tjahaja matanja.

„Aku pergi ke Bunder sekarang. Tak ada jang perlu ikut. Mungkin aku terus ke Lamongan, mungkin pula tidak. Tergantung pada keadaan dan keperluan. Beritahu Mobin tjepat²!”

„Kalau Ghurka bergerak siang ini?”

„Kukira tidak. Separoh dari kekuatannja ditarik ke Timur kemarin petang. Tapi djika meréka bergerak djuga, Mobin tahu apa jang mesti dilakukan.”

Tak ada lagi pertjakapan jang perlu. Tjepat Alwi hilang di antara kekajuan. Seluruh anggauta Pasukan Liar sedjak kemarin petang menempati kembali kubu² pengadangan. Berita gugurnja Marwan di front Gersik mendjalar dari kubu ke kubu dan kesepian di Daérah Tidak Bertuan mengandung ketegangan jang bisa meledak se-waktu² oléh gangguan dari seberang sungai.

Sepandjang djalan menudju Bunder Kaélani tak mendjumpai apa² seperti tak ada kehidupan dibelakang garis pertahanan jang membentang sedjauh sepuluh kilométer sampai ke Bunder Daérah tengah pertahanan inipun seperti kuburan raksasa dalam kesepian, dengan roh² jang bisa bangkit se-waktu² menapaskan perlawanan djika diganggu. Kumandang mortir dari front Timur-Laut, jang biasanja terdengar lebih djelas sepandjang djalan-bulak jang memotong pedésaan Bandjaranjar sudah tak terdengar lagi.

Kaélani melangkah pandjang. Sepatu lars tanggung dari penerbang Djepang itu seperti bertambah berat di kakinja, karena soolnja jang bertambah tebal oléh tanah bétjék sepandjang djalan. Keringat mengalir dari tengkuk menuruni belakang punggungnja dan badju dril soklat tanpa léhér mendjadi basah.

Pertiga Bunder masih djauh.

Dari sebelah Timur Kaélani melihat samar² bajangan jang bergerak dibawah kekajuan pohon² kelapa, bajangan jang sebentar² hilang terhalang oléh semak² jang tinggi dibalik gubuk² dipinggir sawah, lalu muntjul kembali, hilang-tampak dalam gerak jang tergesa². Achirnja rombongan jang hanja terdiri dari empat orang itu makin djelas mengarah kepadanja, kemudian lenjap dibalik tanggul.

Ketika Kaélani turun dari djembatan ketjil, meréka berpapasan. Seorang perempuan menggéndong anak jang tertutup dengan seléndang. Perempuan itu menangis, matanja mérah, pipinja basah seperti air mata tak pernah berhenti. Darah mengaliri seléndang itu, membasahi kain perempuan dan menurun sampai ke kaki. Dua orang laki² jang sudah setengah umur mengiringinja dari belakang, seorang lagi jang lebih muda mendampingi perempuan itu, barangkali suaminja. Matanja mérah, liar dan basah. Kedua lengan badjunja tersaput darah jang mengering. Laki² itu menatap Kaélani.

„Anak saja, Bung! Di mana Palang Mérah? Bung bisa tolong? Anak saja, Bung!”

Kaélani tjepat² mendekati, merogoh tangan anak dalam géndongan itu dan meraba nadinja. Sementara itu mata perempuan menatap penuh harap dengan napas jang menahan sedu-sedan seperti menunggu malaikat jang hendak menjelamatkan anaknja.

„Potong sadja djalan ini léwat sawah!” seru Kaélani.

„Dibelakang Bandjaranjar ini ke kanan sepandjang kali, sampai djembatan putus.” Tangannja menundjuk ke pedésaan sebelah Barat.

„Di sana ada Palang Mérah. Djika ta kada, di sana banjak truk léwat. Mintalah menumpang ke Rumah-sakit Lamongan di belakang. Tjepat!”

Mata Kaélani tak berani lagi menatap pandang perempuan itu, tak bisa melihat darah anak dalam géndongan dan pelukannja. Perempuan dan pengiringnja turun djalanan sawah dengan tjepat, dengan gerak jang lebih ter-gesa²; utjapan Kaélani telah menerbitkan harapan² baru. Antara beberapa langkah seorang dari pengiring itu menoléh ke arah Kaélani lalu berseru dengan suara jang keras seperti ia takut tak bisa didengar: „Terima kasih, Bung! Terima kasih! Apa Bung dari Pasukan Liar?”

Dari pinggir djalan Kaélani mengikuti rombongan ketjil itu dengan mata jang lebih djelas, bahwa meréka berdjalan lebih ter-buru², sebab bagi meréka sudah djelas arah tudjuan jang mendjadi korban mesti diselamatkan. Kejakinan membajang dalam gerak meréka jang tjepat makin mendjauh, bahwa maut masih bisa dilawan.

Kaélani menggigit bibirnja. Apa guna dusta itu ia berikan kepada meréka? Apa salahnja djika ia mentjeritakan jang sebenarnja? Kaélani merasa, tangan anak itu dingin dan nadi sudah lemah denjutnja. Darah terlalu banjak tertumpah.

Buat apa ia berbitjara demikian? Ia tahu Palang Mérah tak ada di djembatan putus dan rumah-sakit Lamongan terlalu djauh.

Mata Kaélani masih mengikuti rombongan, jang kini telah menaiki udjung kampung dan bélok ke kanan seperti ditundjukkannja, lalu lenjap dibalik pohon² dan kehidjauan rumput dibalik sawah jang membentang dihadapannja.

Perempuan itu mempunjai perdjoangan, orang² jang mengiringnja mempunjai kesediaan buat ikut melawan maut. Biarkan meréka berdjoang dan bergelut, sampai habis segala harapan. Itu bukan siksaan, lantaran padanja ada perasaan sajang di hati. Dan biarkan perempuan itu merasa telah memberikan se-gala² untuk keselamatan anaknja. Barangkali itulah jang lebih baik.

Rombongan itu sudah tak ada, sudah djauh dibalik kampung jang sunji. Belum lama Kaélani meninggalkan djembatan, tiba² ia dikedjutkan oléh suara pesawat udara jang tak tampak mulanja, lalu ia melihat sebuah pesawat pemburu jang terbang meninggi sehabis menuik sepandjang djalan jang menghubungkan kota Gersik dan Lamongan, sebelah Barat pertiga Bunder. Selagi Kaélani berpikir tentang kemungkinan jang bisa terdjadi dengan langkahnja jang bertambah tjepat, tiba² muntjul sebuah pesawat besar bermotor dua terbang sedjadjar ditengah djalanan menudju Lamongan, bertambah rendah, hilang dibalik kampung. Terdengar ledakan, tiga kali djumlahnja. Kaélani belum pernah mendengar ledakan jang begitu dahsjat dalam djarak seribu langkah dari tempatnja berdiri, djuga tidak ketika orang² Inggris menghudjani pinggiran Surabaja dengan meriam² pada permulaan révolusi. Suara itu menggetarkan tanah jang dipidjaknja seperti digetarkan suatu gempa. Djalan sebelah Barat Bunder putus pada tiga tempat, batu²nja berhamburan berpuluh méter mendjadi peluru. Maka mendjadi djelaslah sekarang dalam pikiran Kaélani, tentara musuh mentjoba memutuskan hubungan Gersik dan Lamongan, satu²nja daérah perbekalan dan lalu-lintas balabantuan jang paling utama.

Kaélani mempertjepat langkah. Suara pesawat hilang dan tak balik lagi. Orangpun bertambah banjak jang berlarian, djerit dan tangis terdengar seperti peristiwa pemboman itu telah membangunkan daérah jang sedang lelap mulanja.

Bagian 16

KAELANI BERHENTI MELANGKAH. SEBUAH usungan ambin dari bambu léwat didepannja pada djarak sepuluh langkah, lalu berhenti dipinggir sawah. Namun suara jang mengantarnja, batjaan ajat² sutji dalam nada tunggal jang mengharukan itu, terus sadja menggumam dari bibir² orang tua, mengumandang menggetarkan udara keliling seperti lajaknja lagu keramat jang penuh hikmah, jang mampu memberikan kekuatan batin pada meréka jang pada hadir dan jang tengah menderita. Dan usungan jang lainpun datang. Jang telah meninggal diturunkan, didjadjarkan diatas tanah beralaskan tikar. Djerit dan tangis meréka jang baru datang, kerabat² dekat jang merasa kehilangan mengatasi kumandang do’a² jang belum djuga mau berhenti.

Lalu dari sela² batjaan ajat² sutji itu orang masih bisa menangkap pertjakapan jang simpang-siur dengan nada dan suara jang ber-lain²an, utjapan² jang seperti bertaburan dari semua arah.

„Ja Rabbi, Ja Tuhan ............!”

„Siapa jang itu?”

„Oh!”

„Djangan buka!”

„Pengungsi dia!”

„Ja, Tuhan. Wanita dia!”

„Lihat kakinja!”

„Masih hidup dia!”

„Aku bilang djangan dibuka!”

„Inna lillahi wa inna ilaihi rodjiun,” suara hampir dari semua bibir.

Dan tak ada hati jang tak guntjang melihat robékan daging itu. Tangan lantjang telah membuka daun pisang jang menutupi muka dan dadanja. Rambut jang lebat hitam itu, paras jang bukan paras lagi, rahang bawah sudah tak ada, dan dérétan gigi atas jang lalu djadi tampak seperti terdorong djauh ke luar. Dada jang sobék itu, dari sana tentunja darah mengalir jang membasahi ambin bambu dan jang lalu banjak menétés kebawah tanah. Lalu djari² jang ramping, mata jang hitam itu, di mana mata itu, kebaja itu, kain itu, seléndang itu, oh semua jang lusuh itu. Dan suara itu, „Masih hidup ia! Masih hidup ia!”

Kaélani bertahan buat tegaknja kaki sendiri. Tanah jang dipidjaknja seperti perlahan mau berputar, kedua lututnja seperti gojang sendiri dan darah seperti mau turun seluruhnja dari kepala.

Ia angkat kedua tangan menutupi mukanja, seluruh djari seperti hendak meremas dan merobék wadjah sendiri, dan hatinja mendjerit. Aku tak bisa menjaksikannja. Tuhan, djangan biarkan ia menderita, njeri itu, sakit itu, kedjang kaki itu. Ia tak bakal bisa hidup. Di mana kekuatanku, di mana keberanianku?

Kedua tangan Kaélani gemetar. Seluruh djari²nja seperti mau kaku. Matanja liar menatap langit atas, seperti dari sana ia menuntut kekuatan kembali, tapi kekuatan itu sudah tak ada. Dan suara itu terdengar lagi: Ja, Allah! Masih hidup ia! Dan gumam batjaan ajat² sutji itupun lalu meninggi pula.

Mana kekuatanku? Mana kekuatanku? Biar tjuma buat mentjabut pistol ini dan menghabisi peluru menembus kepalanja. Biar tak kedjang lagi kaki itu, biar tak terasa lagi njeri itu. Ia tak bakal bisa hidup. Tuhan, di mana Engkau?

Per-lahan² batjaan do’a itu menurun nadanja, dan desis lega dari samping: „Sudah tak ada ia. Tutup sadja dengan seléndangnja.”

Lalu bisik itu: „Dia, jang tak mau membagi deritanja. Alangkah muljanja roh itu!”

„Didengar Tuhan do’aku. Ia sudah tak menderita lagi ............”

Kaélani menoléh mentjari suara itu. Di sini, ditengah orang² jang tak dikenalnja, pada wadjah² jang sederhana itu, ia menemukan sesuatu jang tidak tampak, jang bisa mendjadikan dirinja begitu ketjil sekarang, buat hanja memiliki keberanian menémbak dan ditémbak, jang selama ini begitu dibanggakan, dikagumi oléh anak² pasukan. Di sini ia mengerti, harapan dan perdjoangannja tak bisa digantungkan pada keberanian jang demikian. Seperti tak pernah disadari sebelumnja, orang membutuhkan lebih dari keberanian se-mata². Apakah gerangan jang sudah didengarnja? Suara itu sudah tak ada tentu, do’a² itu sudah berlalu. Dan ia, jang berdo’a buat mendapatkan bahagian dari derita itu, tidak menginsjafi betapa suaranja telah mengambil tempat begitu dalam di hati Kaélani.

Korban sebanjak tudjuh orang dikumpulkan, ambin didjadjar dan ditutupi dengan tikar méndong. Bagi meréka tidak akan disediakan kain kapan, tidak akan disutjikan, tak akan disembahjangi dan tak akan ditangguhkan penguburannja sampai ésok harinja. Menurut kejakinan orang² di daérah pertahanan, korban² pemboman itu sama sutji dan sempurnanja dengan meréka jang gugur di garis jang paling depan.

Kerabat para korban itu ber-tambah² djua jang datang, maka tangis dan isak, sedu dan sedan, se-bentar² terdengar lagi. Semua korban sudah dikenal, karena meréka penduduk asli dari désa itu, ketjuali seorang sadja jang meréka kenal sebagai pengungsi dari daérah pendudukan. Majat baji didjadjarkan dekat ibunja. Orang tak akan ragu, sebab baji itu sendiri tak ada jang mengenalnja. Dan ada pula sementara orang jang menjatakan, bahwa pengungsi wanita jang mendjadi korban itu menggéndong bajinja, ketika meninggalkan pertiga Bunder bersama dengan rombongan pengungsi jang paling achir.

Kaélani membuka tikar penutup baji. Masih utuh tubuhnja, tanpa luka, hanja bagian samping ada warna hitam biru jang turun hampir sampai ke kaki. Anak ini meninggal karena tekanan udara jang kuat ketika petjah ledakan itu. Darah itu mengalir dari hidung dan telinga, dari mulut, dan barangkali pula dari matanja. Ia amati wadjah itu, matanja tertutup setenang anak² jang masih lelap dalam tidurnja, dan bukan sebagai majat jang mesti dikubur bersama meréka. Ia pegang dagunja jang ketjil itu. Alangkah tjantiknja, alangkah bersihnja. Kisah jang begitu indah tentang ajahnja, tak akan didengar kelak.

Sepuluh bulan. Sudah pantas merangkak, sudah beladjar melangkah barangkali, mungkin sudah pula mulai beladjar memanggil ibunja. Tjuma seorang jang akan bangga, jang menanamkan harapan pada wadjah ketjil dan halus ini. Dan belum lama, orang itu mengutjapkan sukur dihadapannja atas nama anak jang sekarang hanja bisa dikenalinja sebagai majat jang mesti ditanam.

Setitik air mengambang pada kedua matanja. Kaélani memedjamkan matanja sebentar, dan hatinja bisa berkata terang, Tuhan, barangkali aku tak akan mengerti. Tapi aku pertjaja, semua ini berlaku atas djandjiMu.

Kaélani membuka mata perlahan, memandangi wadjah itu lagi. Tuhan, idjinkan aku mendjadi wali dari baji jang ikut Kau panggil menghadap ini.

Korban² itu diangkut, satu per satu diatas ambin, ditutup dengan kain dan tikar, merupakan usungan jang pandjang dan orang jang hadir, para kerabat dan sisa orang kampung itu jang tidak lari mengungsi, mengiringinja dari samping dan dari belakang. Kaélani memikul ambin bambu tempat mengangkut ibu dan baji. Orang² itu berdjalan dengan langkah jang pandjang. Segalanja berdjalan dengan ter-gesa². Kekeramatan jang memenuhi udara désa hari itu dan langitnja jang berat seperti bertambah rendah terasa menekan hati dan suasana lalu bertambah seram dan tintrim. Dalam setiap geraknja orang tampak seperti di-buru².

Penjangkulan tudjuh buah liang kubur dibelakang masdjid itupun dikerdjakan dengan ter-gesa², dan djika dalamnja sudah dianggap tjukup, maka majat² itupun diturunkan. Tangis terdengar lagi ketika tanah mulai ditimbunkan. Dan seperti tak diketahui dari mana asalnja, bungapun ditaburkan orang, dibagi rata atas semua pusara.

Do’a péndék dipandjatkan dan djika sudah se’lesai, jang hadlir seperti tak tahu apa jang mesti dilakukan dan semua seperti menanti. Apa lagi? Orang seperti menghadapi suatu babak jang dilupakan kelandjutannja.

Pada saat itulah Kaélani melangkah ke depan, berdiri tegak dihadapan pusara jang tidak dikenal oléh meréka. Wadjahnja jang putjat menunduk. Seluruh hadirin seperti digerakkan oléh satu perasaan, meréka memandang dengan héran dan terharu. Suara bisikan jang rendahpun mendjalar dari telinga ketelinga. „Itu suaminja, tentu. Ia, jang tepekur sadja sedjak tadi dipinggir sawah. Orang itu sudah tak bisa menangis lagi. Kesedihan sudah terlalu dalam mengorék hatinja.” „Engkau belum tahu? Itu dia Kaélani, Kepala Pasukan Liar jang mendjeladjahi daérah pertempuran. Bukan, dia bukan suaminja.” „Oh, itu dia? Aku baru lihat dia sekarang. Itukah orangnja? Dan apanja perempuan itu?”

Maka sekedjap sadja Kaélani djadi perhatian seluruh hadirin. Semua mata tertudju kepadanja, dan bisik² itu tjepat merata. Kaélani sendiri terkedjut ketika mengangkat muka, melihat semua wadjah mengarah kepadanja dengan pandang seperti ada jang dinantikan daripadanja. Semua mata memandanginja dengan tatapan gairah dan belas kasihan dan ia berdiri di sana seperti mengemban suatu rahasia. Katakanlah kepada meréka jang menerima djisim ini dengan hati begitu terbuka. Kaélani menarik napas dalam. Ja, ia mau berkata. Tapi kata jang mana bisa mewakili perasaan hatinja sekarang? Ia lupa, bahwa bagaimana ia menjambut tatap meréka, bagaimana ia berdiri di sana dengan gelisah, bagaimana matanja jang ber-katja² linangan air mata itu punja pandang begitu djauh melampaui kepala² meréka jang hadir, bahkan bagaimana bibirnja gemetar ketika mulutnja membuka, itupun sudah suatu duta jang baik buat menjatakan perasaan hatinja. Orang tak akan lagi mengukur dari utjapan²nja, tapi léwat seluruh perwudjudannja, dari sana orang bisa membatja perasaannja.

„Kami, atas nama djisim wanita dan baji jang telah diterima dengan hati jang tulus dalam tanah jang keramat ini, atas nama meréka jang mentjintainja, dengan ini kami mengutjapkan kata terima kasih jang sebesar dan se-dalam²nja .............” Utjapan itu berhenti di sana. Ia menunduk dan tampak gelisah; pada air-mukanja membajang kelelahan jang sangat, rambutnja jang kering bergerak dan djatuh pada dahinja. Kaélani mengangkat muka; matanja seperti dalam sekali dan pandang itu seperti memantjar dari dasar hatinja. Ia hendak berbitjara. Tapi manalah kata jang lebih patut dari semua itu! Ia ingin dapat mengutjapkan di sini sekarang. Bibirnja membuka, namun ia tak mampu menemui itu. Apa bédanja?

Seorang tua mendekati, dan membisikkan dalam telinganja: „Katakan kepada meréka, siapa dia. Meréka ingin mengetahuinja!”

Oléh keheningan jang mutlak suara bisikan itu djadi begitu djelas, seperti telinga dalam kuburan itu bisa ikut menangkapnja. Seperti mendadak Kaélani tahu, apa jang harus diutjapkannja sekarang. Semua mata jang masih sadja menatapnja itu punja haknja untuk mendengar dan mengetahui. Dan meski pelan sekali suara itu dimulainja, tapi keheningan mendjadikan tiap kata jang keluar dari bibirnja bisa bulat ditangkap nada dan pengertiannja.

„Sekalian jang hadir, semua jang tertjinta. Seminggu jang lalu ada seorang pedjuang jang merajap ditengah malam, dibawah gerimis, menghanjutkan diri di sungai Tjermé, lalu menghabiskan geranat buat menghantjurkan kubu Ghurka. Djisimnja lalu kami kuburkan di Daérah Tidak Bertuan ............”

Sampai di sini pembuka kata itu begitu djelasnja, mata hadirin bergerakan, ber-pandang²-an, dada terasa longgar, tabir rahasia sudah tersingkap, pertanjaan telah menemui djawabannja sebelum diutjapkan. Semua orang sudah mendengar itu, kisah pahlawan Solimin jang begitu mengharukan telah mendjadi milik meréka sedjak minggu jang lalu.

„Orang itu telah memberikan djiwanja, hidup dan harapannja, untuk sesuatu jang lebih luhur dari semua itu. Dan daripadanja sekarang jang luhur itu menuntut korbanan lagi, isteri jang disajang dan satu²nja anak jang pernah dilahirkan dari meréka.”

Kaélani tak bisa bitjara lagi, ada sesuatu jang tersendat ditengah léhér dan ia menunduk. Tapi orang² sudah tak membutuhkan lagi pendjelasan, sebab sekarang pusara itu sudah punja nama dan tjerita. Meréka melangkah mendekati seperti pusara² jang lain tak dihiraukannja lagi. „Biar di sini peristirahatannja, biar ia djadi lambang kesetiaan buat désa ini, buat semua!”

Tangan jang kasar menekan dan memegang pundaknja dan Kaélani terkedjut, ia menoléh dan matanja jang mérah itu membelalak sebentar seperti tak pertjaja ia pada orang jang hadir mendadak disampingnja.

„Kau!” tegurnja. „Bagaimana djenazah Marwan?”

„Sudah berangkat ke Lamongan sebelum kapal terbang mendjatuhkan bom!”

„Anak² jang lain?”

„Tetap baik semangatnja. Kemarin anak² menjusup melampaui djurang tempat kita istirahat dulu, disebelah kebun arén. Dari situ meréka melepaskan tekidanto menghabiskan sisa peluru jang kau kirimkan. Marwan kena, djustru ketika meréka mengundurkan diri.”

Keduanja berdjalan meninggalkan kuburan, orang² sudah djauh mendahului.

„Bagaimana engkau tahu itu?”

„Isteri Solimin? Dia datang pagi ini, ingin tahu dengan pasti tempat kuburnja.”

„Apa sadja jang ia katakan?”

Kaélani mentjeritakan pertemuan jang hanja beberapa menit itu, kemudian perpisahannja dan semua perasaan jang timbul karena itu!

„Oh, djika sadja kau ikut hadir pada waktu itu!”

Iapun mentjeritakan datangnja usungan dipinggir sawah sampai saat penanamannja. Keduanja melangkah menudju pertiga Bunder jang tidak djauh dari tempat itu. Sesaat tak ada jang berbitjara, keduanja sama² tenggelam dalam pikiran masing² membajangkan pengalaman² jang begitu mengharu kalbu.

„Solimin barangkali orang jang paling bahagia di antara kami buat memiliki isteri jang begitu setia!” kata Kaélani tanpa memalingkan mukanja.

Sekaranglah tangan jang besar, hitam dan kukuh itu merangkul tubuh Kaélani.

„Kau tak tahu, Kaélani. Akulah jang mengangkat dia ketika ambin itu datang, dan aku menjaksikan betapa tangannja jang ber-gerak² mentjari pelukan anaknja.”

Ia berhenti sebentar, tangannja jang besar mengusap mukanja dan Kaélani memandanginja tanpa berkata.

„Pengalaman ini tak akan terlupa sepandjang hidupku, Kaélani.”

Ketika keduanja sampai di pertiga Bunder, hari sudah gelap. Matahari sudah tak nampak, sendja tak bakal lama, dan seperti djuga kemarininja sekarang mendung mendadak sadja menjebar diatas kepala tak diketahui dari mana arah datangnja. Ketika sebuah truck jang hendak berangkat menudju Gersik sudah siap, dan pasukan baru jang akan memperkuat Betan sudah siap pula berlompatan keatasnja, kedua orang itu berdjabat tangan tanpa kata, namun banjak sekali jang terasa didalam hati.

Kaélani berdiri, memandangi bergeraknja truck itu jang makin mendjauh, dan tangan Marno jang melambai, sampai hilang didalam gelap. Barulah kemudian ia meninggalkan tempat itu dengan langkah pandjang, menudju Daérah Tidak Bertuan seorang diri.

Bagian 17

KETIKA KAELANI MEMASUKI GUDANG-padi malam itu rasa asing selintas timbul pada hatinja. Ia termangu sebentar diambang pintu. Tidak sebuah ranselpun jang tampak, tidak seputjuk sendjata dan tidak pula sebutir peluru jang tinggal. Sendjata karabén Djepang jang menggantung di tiang gelugu jang telah rusak pelatuknja itupun sudah tak ada pula. Lampu bidji-djarak dipodjok médja, itulah satu²nja jang hidup didalam gudang itu; sebentar² njalanja jang lemah bergerakan menahan tiupan angin malam, maka segala bajangan hitam dan kelabu didalam gudangpun djadi ikut bergerakan seperti tarian hantu dalam kesenjapan. Kaélani melangkah masuk dengan hati² seperti ada keengganan buat mengusik kesepian. Ketika ia berdiri ditentang médja dekat lampu, wadjahnja tampak mengkilat, dahinja jang basah diusapnja dengan lengannja. Barulah sekarang ia merasa betapa tjapai tubuhnja, urat² terasa kaku dan ngilu mendjalari kedua betisnja. Diambilnja ketupat jang tergantung di tiang; ia mentjoba memakannja, namun perutnja setengah menolak untuk diisi. Tapi dipaksanja djuga untuk menelan dan teguk demi teguk air gendi diminumnja pula. Dilepasinja sepatu lars kulit dan ia merebahkan diri diatas ambin.

Di luar terdengar suara langkah jang makin mendekat. Kaélani malas bangkit; ia kenal Mobin sampai pada langkahnja. Kelelahan itu tambah terasa sedjak dibaringkan. Mobin terus masuk, menarik kursi kaju dan duduk disamping Kaélani.

„Ada kesibukan jang luar biasa diseberang kali, Tjak. Anak² saja siapkan dengan seluruh perbekalannja. Djika musuh bergerak malam ini, kami akan menjusur pinggiran kali ke Barat. Alwi memegang kékki bersama lima anak mengadang diseberang tambak.”

Dengan laporan péndék dari Mobin itu Kaélani bisa menangkap kedudukannja dengan djelas. Daérah pengadangan jang biasa, kosong seluruhnja; perlawanan tak akan ada malam itu, djika Ghurka bergerak. Ketjuali Alwi berlima akan memukul lawan dari belakang dengan kékki djika keadaan memungkinkan dari balik tanggul.

Sesudah itu Kaélani mentjeritakan pertemuannja dengan Marno, tentang djenazah Marwan jang dibawa ke Lamongan, pemboman djalan Bunder dan keadaan sisa anak² jang bertugas di Betan.

„Semoga isteri Solimin sudah meninggalkan Bunder, Tjak!” kata Mobin. Kaélani sengadja tidak mentjeritakan seluruh pengalamannja. Mobin berdiri, tampaknja ia seperti gelisah seperti lahir mendadak ingatan jang djadi mengganggu hatinja. Ia melangkah perlahan menudju djendéla bambu. Dan angin jang datang dari luar bertiup léwat djendéla, membelai wadjah, kuping, léhér dan dadanja jang telandjang dan rasa isis jang meresapi seluruh tubuhnja membangkitkan haru jang dalam. Tanpa menoléh ia berkata:

„Djika peperangan ini telah selesai, perempuan itu harus kita tjari, ia harus kita tolong. Kita, seluruh anak² Pasukan Liar, terikat untuk berbuat demikian.”

„Isteri Solimin?” kata Kaélani. „Aku akan bitjara kepadamu tentang dirinja, tapi tidak pada malam ini. Aku tjapai sekali, Mobin!”

Mobin tidak berkata lagi. Kepalanja masih sadja menunduk ketika pergi. Langkah kakinja sudah tak terdengar lagi, dan tubuhnja jang besar itu lalu hilang dalam kegelapan, meninggalkan komandannja seorang diri didalam gudang padi.

Perlahan Kaélani mengenakan sepatu larsnja. Sekarang ia harus bergerak dengan hati², gemeletuk tulang dan urat² seperti mendjandjikan kesegaran baru. Ditiupnja lampu bidji djarak, maka ruangan gudang padi itu mendjadi gelap mendadak, hitam dan pekat, dan gemersik daun² diluar gudang lalu djadi tambah njata kedengarannja dalam telinga, dan angin malam jang dingin tambah terasa tadjam ketika bertiup lagi.

Kaélani lalu melangkah keluar meninggalkan gudang, menembusi kebun² jang gelap. Kedua kakinja seperti punja mata, jang bisa mendjeladjahi seluruh liku² daérah itu. Maka sekarang Daérah Tidak Bertuan itu terbuka sama sekali, dan lawan bisa memasukinja se-waktu². Saat manapun jang meréka pilih malam itu, meréka akan dapat menduduki markas Pasukan Liar, gudang padi dan daérah sekitarnja tanpa kehilangan peluru sebutirpun.

Témbakan mortir jang pertama mulai terdengar, seperti dapat diikuti arah suara itu, dan ledakannja menggelegar djauh di Timur disekitar halte keréta-api Tjermé dipinggir sawah. Témbakan itu lalu disusul oléh jang lain dengan gemanja jang pandjang dan tambah mengerikan di malam gelap. Tapi Kaélani bisa tersenjum dalam hatinja. Daérah jang dikosongkan itu akan mendjadi sasaran témbakan orang² Inggris dari seberang kali. Dalam kegelapan itu ia membajangkan betapa anak² pasukannja jang menjusur pinggiran tanggul, serta Alwi berlima dengan kékkinja jang mengadang di tempat lain. Témbakan-pun bertambah ramai. Njala peluru mortir seperti tjahaja bintang alihan jang menentang gelapnja langit.

Ia telah sampai dipinggiran kampung jang telah kosong. Ia tahu, seperti hatinja dapat mengukur semua djarak kearah manapun ditarik dalam daérah itu, bahwa ia sudah tak djauh lagi dengan anak² pasukan. Markas gudang padi sudah djauh dibelakangnja. Dihadapannja membentang sawah dan ladang jang terbengkalai sedjak timbulnja pertempuran untuk waktu jang orang tak bakal bisa menduganja. Djalanan keréta-api jang tinggi di tengah² sawah tampaknja hitam memandjang ke Barat jang lalu menjatu dengan kehitaman kampung jang djauh. Djauh disebelah utara, sawah itu habis membatasi désa Bandjaranjar jang malam itu tampaknja seperti garis jang tebal hitam sekedar pemisah dari langit jang kelabu. Di mana² tampaknja seperti warna kelabu dan hitam jang disaputkan ber-seling². Tak tampak adanja tjahaja, tak terasa adanja tanda kehidupan sedjauh mata hendak dilajangkan.

Kaélani termangu sedjak didalam gelap, tangannja merabai sarung pistol jang menggantung di pinggang.

Ketjapaian badannja tidak terasa lagi, sekalipun wadjahnja barangkali akan tampak putjat djika sadja ada tjahaja jang meneranginja.

Ada antara saat jang selalu tak bisa diduga, suara gelegar mortir² jang djauh di belakang tak terdengar lagi. Lalu sebuah témbakan, pistol barangkali, jang lamat² sadja seperti datang dari arah jang djauh sekali dan tak mampu menguak sepinja malam. Suara sendjata mesin jang pandjang beruntun dengan gemanja jang naik turun itu seperti ditudjukan ke semua arah. Kaélani tahu, bahwa dari semua suara itu tidak sebutir pelurupun jang meledak dari pihaknja. Lalu terdengar suara deru jang pandjang lamat² melangut seperti mentjoba menaiki gelapnja malam.

Tidak seperti pada saat² sebelumnja, kini ia dapat menguasai seluruh keadaan jang demikian. Betapapun gelapnja malam itu, ia dapat membajangkan betapa anak² pasukannja menjusur dipinggir kali dengan Mobin sebagai gembala menghéla meréka, merajap meninggalkan daérah bahaja makin djauh ke Barat. Dan iapun dapat membajangkan dengan djelas, musuh bergerak melampaui djembatan Moro, tempat Solimin dahulu melémparkan ketiga geranatnja, dibawah lindungan mobil badja jang didahului oléh témbakan² mortir. Ia tahu itu. Ia usap wadjahnja di gelap malam itu, seperti dengan begitu ia mampu memandangi segalanja dengan bertambah djelas lagi. Perdjuangan telah berhasil menguasai daérah jang luas di semua hati, kisah² Pak Mantri, tjerita kematian Truno, gugurnja Ganda serta perginja Solimin. Semua itu adalah bagian dari kisah² jang tak bakal mati, tentang manusia² jang sedia mendjadi tumbal bagi kemerdékaan.