Baca EPUB: Cerita dari Tanah Pengasingan

1 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

SOBRON AIDIT
Cerita dari Tanah Pengasingan
Kacabenggala Editions

Publisher Note

This edition does not include a publisher’s note. For this digital restoration, this page is repurposed to acknowledge those whose efforts made its preservation possible.

The entirety of this book was taken from the site of Sébastien Lallement. We humbly made some modification to the chapter’s title to ease the reading process.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Temanku KOKO (1)

Kami tinggal jauh sekali dari ibukota provinsi Ciangxi, Nanchang, ratusan kilometer jaraknya. Pada hari-hari biasa kami menggunakan waktu buat belajar dan berkebun, bertani, beternak. Pada hari Minggu, nah, pada hari inilah yang kami tunggu-tunggu. Rasanya kami berharap dan berdoa betul, agar pada hari itu jangan hujan, agar ada mentari yang bersinar-terang keemasan. Hari Minggu adalah hari istirahat, hari bebas melakukan kegiatan pribadi. Dan kami, orang yang berjenis seperti aku ini, yang bukan kutu-buku, bukan pula kutu-kerja, sudah punya rencana masing-masing.

Hari Minggu bagi kami adalah hari-nembak. Kata seorang teman, hari-tembur, artinya tembak-burung. Kami punya tiga tim. Tim-penembak, Tim-penyiang(tukang siangi dan cabut-bulu) dan Tim-masak. Mengapa begitu banyak dan tampak rumit? Sebenarnya tidak begitu. Ini hanya sekedar pembagian kerja saja. Jangan sampai semua mau nembak, lantas kalau begitu banyak dapat, mau diapakan itu burung yang ratusan banyaknya. Lantas siapa yang mau mengerjakan buat masaknya, mau diapakan. Ini pekerjaan orang gila! Tapi daripada kita sendirinya yang gila, lebih baik pekerjaannya saja yang gila! Aku termasuk dalam Tim-penembak ini.

Tim-penembak tidak selalu sama jumlahnya. Terkadang sampai belasan orang, terkadang hanya 7 sampai 8 orang. Senapang yang kami gunakan yalah senapang mimis 4,5 khusus untuk burung. Sebenarnya kami sangat ingin punya senapang yang 5,5, agar bisa nembak pelanduk atau kancil, tapi senapang itu tidak dijual secara umum. Burung yang selalu ada dan selalu kami bawa pulang, yang terbanyak adalah tekukur, ketitir dan balam, lalu jalak, kepodang, burung-gereja, termasuk merpati liar, dan beranjangan. Sebenarnya nama-nama burung itu banyak juga yang aku baru tahu selama di Tiongkok itu. Karena pengalaman bertahun-tahun ini, maka kami tahu jenis burung, dan mana yang enak dan mana yang amis, bau anyir. Burung yang paling enak yalah burung yang makan biji-bijian, sereal, seperti balam, tekukur, ketitir dan burung-gereja. Ada "barter dan transaksi" di antara kami. Kami berani menukar satu balam dengan tiga atau empat burung-gereja. Mengapa? Menurutku burung-gereja jauh lebih enak daripada balam. Tetapi ada juga yang berpendapat, balam lebih enak. Tapi semua berpendapat sama, burung yang makan biji-bijian pasti enak.

Kalau kami berangkat nembak, biasanya pagi sesudah sarapan, sebelum jam 08.00 atau bahkan jauh lebih pagi lagi, dan kami makan di tengah hutan. Kami berbekal minuman dan makanan. Karena kami pulangnya sore, petang bahkan sesudah jam 19.00. Bayangkanlah, kami selalu akan membawa burung yang begitu banyak sampai ratusan ekor, terdiri dari berjenis-jenis seperti yang kusebutkan tadi. Dan ini oleh Tim-penyiang dan Tim-masak harus diseleksi, yang mana buat digoreng saja, yang mana buat digulai atau sedikit dibumbui. Sebab burung yang makan biji-bijian, sangat enak, tak perlu lagi dibumbui berbagai macam bumbu. Burung yang makan jenis buah-buahan, masih perlu dibumbui. Sedangkan burung yang makan segala ulat dan cacingan serta ikan, minta ampun amis dan anyirnya! Perlu banyak bumbu. Nah, bagaimana semua itu buat mengerjakannya kalau tak ada Tim ini!

Tim-penyiang biasanya 7 sampai 10 orang, Tim-masak cukup 4 sampai 5 orang. Dan tim yang makan, tak ada timnya! Yang makan, siapa saja yang suka, bisa puluhan orang. Begitu sampai di perkampungan kami, segera setor hasil, dan kami para penembak yang sudah sangat letih-lelah masuk-hutan ke luar-hutan, berpanas pula, bagaikan mau kering, kehausan, kepanasan. Matahari di Ciangxi bila musimpanas bukan main panasnya, sampai 42 C. Dan kami segera mandi menyegarkan diri. Lalu istirahat sambil menunggu tim lainnya bekerja, dan yang ditunggu itu, masakan burungnya itu! Rasanya makan burung hasil tembakan sendiri, dinyami pula, tanpa nasi, atau kalau mau nasi ya boleh, bukan main nikmatnya. Kami ngobrol, kelakar, saling meledek dan tentu saja bergosip. Enaknya semua tim ini tidak ada kaum wanitanya, jadi kami bebas kelakar yang miring-miring dan porno! Dalam Tim-penembak ini ada seorang temanku, namanya Koko. Koko sebenarnya salah satu bahkan satu-satunya penembak yang selalu kurang jitu. Dia paling banyak dapat burung tiga sampai lima ekor saja dalam seharian suntuk itu. Sedangkan kami paling sedikit dapat 40 ekor seorang. Ada seorang teman yang berhasil nembak hampir seratus ekor. Tetapi kenapa Koko lalu kok "terseleksi" dalam tim ini? Koko orang baik dan sangat komunikatif, ramah, banyak gurau, selalu bikin tertawa-ramai dengan gurauannya. Karena itu kami semua sepakat, baiklah Koko kami ajak juga, sebab dia mau ikut kami dan tak betah tinggal di asrama perkampungan itu. Dan lagi sekalian sportlah, kata Koko. Dan kami tak keberatan, tak pula ada maksud buat "memecatnya" dari tim ini hanya disebabkan dia kurang pandai nembak.

Suatu kali kami nyeberang sungai yang tidak begitu lebar, tetapi harus dengan perahu karena terlalu dalam kalau diharungi. Ketika kami hampir mendekati daratan, ada gugusan pepohonan, terdengar berkelepak burung balam, besar dan sangat menggiurkan buat menembaknya. Kami siap. Ada teman yang mulai menembak, tetapi karena di atas perahu yang goyang bagaikan orang menari itu, mana pula bisa kena! Dan balam itu tidak juga mau terbang. Ada dua tiga tembakan, mana bisa, goyang begini. Koko-pun tak ketinggalan, dia juga membidik, dan melepas—————-dan burr, balam itu jatuh, lalu Koko terdiam kaku, sedangkan kami bertepuk senang, menyambutnya. Balam itu kami ambil dan berikan pada Koko. Kami masih ketawa gembira, karena teman kami si Koko bukan main hebatnya. Di atas perahu yang goyang itupun dia bisa menjatuhkan balam, yang kami biasanya banyak yang jitu malah melepas peluru dengan hasil kosong.

Koko akhirnya bisa juga tertawa karena kami menyambutnya dengan gembira. Dasar Koko, ketika kami katakan, bukan main hebatnya kamu, Ko! "Mana hebat, saya betul-betul nggak jitu. Tadi itu yang saya bidik mata-kanannya, malah yang kena kepalanya! Jadi meleset dari sasaran", kata Koko dengan nada guraunya. "Kenapa Koko bisa nembak begitu hebat?", kata seorang teman. "Ada dua aspek", kata seorang teman yang tegila-gila teori dua-aspek. "Pertama burung itu memang sudah nasibnya mati di tangan Koko. Kedua, tanpa perahu yang goyang, tanpa perahu yang menari-nari seperti tadi, tidak mungkin Koko sejitu itu, dan kita semua kalah dengannya kalau dalam seperti situasi itu tadi", kata si jago teori dua-aspek. "Nanti sesampainya di asrama jangan sampai kalian ceritakan kepada teman-teman lain ya, nggak enak saya, dikira sombong", kata Koko masih juga dengan guraunya. Dan ini pertanda kami harus ceritakan "kehebatannya" kepada banyak teman lain.

Biasanya Koko akan selalu mendatangi rumah atau kamar teman-teman sesudah malam mau istirahat, menanyakan keadaan teman-teman, apakah masih sangat lelah-letih, ataukah ada yang sakit. Dan kebiasaan ini hanya ada pada Koko yang baik dan ramah itu. Kami menganggapnya watak-luhur Koko seharusnya bisa kami tiru. Tidak boleh kalau ada di antara kami yang menolaknya masuk Tim-penembak karena dia penembak tak-jitu. Tokh sudah ada bukti, di sebuah perahu yang goyangpun dia bisa menjatuhkan seekor balam yang besar, montok-gemuk enak-lezat. Soalnya sekarang Koko juga harus berusaha menjatuhkan burung berjenis apapun tanpa dalam sebuah perahu yang goyang! Dan ini terlepas dari pengetahuan teori dua-aspek apapun.

Kehidupan kami, belajar, berdebat, bertengkar, bahkan siap kalau mau saling berkelahi mempertahankan argumentasi masing-masing. Sukurnya, dan baiknya, kehendak yang demikian sangat sedikit, sangat minoritas dan tak dapat pengikut! Dan kami dari hari ke hari menjalani kehidupan yang harus kami jaga benar agar tidak membosankan, jangan sampai kami ini gila. Tiap hari Minggu, kami pergi jauh ke desa-desa yang sangat terpencil, menyeberangi sungai, melewati pegunungan, berjam-jam. Sangat lelah-letih, sangat panas, tetapi hati sangat puas, karena bisa melepaskan kebosanan hidup rutine begini. Kami tidak tahu apa dan bagaimana nasib kami selanjutnya. Semua tidak pasti, tidak ada kepastian. Seandainya kami tidak pandai membawakan seni-hidup yang "terkumpulkan-campur-baur" di dalam perkampungan dan asrama begini, barangkali ada di antara kami yang bisa disebut gila, sinting atau senewen. Orang yang seperti Koko, bagaimanapun tetap kami perlukan. Dan dia cukup pandai membawakan seni-hidup yang "terkumpulkan-campur-baur" begini. Aku sendiri yang bersukukan Melayu yang sangat minorits di tengah suku Jawa yang mayoritas, cukup banyak memetik pengalaman sosial maupun kultural serta banyak istilah yang aku tahu selama di perkampungan dan asrama itu. Kata-kata "di-lep" "rujak-sentul" "muk" atau "umuk" dan maha-pentingnya air dan tanah, barulah aku menyedarinya selama di perkampungan itu. Kami bertani, kami beternak, kami belajar, kami berdiskusi, kami bertengkar, dan tidak sangat salah kalau pada suatu haripun kami berkelahi. Hanya akhirnya kami bisa dan mampu menyedari bahwa hal itu tidak seharusnya terjadi. Dan kehidupan terus mengalir, dan kami memang berusaha agar alur dan aliran ini tetap berjalan, biar lambat tetapi terus sampai kami tahu akan ke mana akhirnya.

Paris 4 April 1999

Temanku KOKO (2)

Setelah bertahun-tahun kami bersama hidup di suatu desa yang termasuk terbelakang, di sebuah perkampungan, asrama yang sebenarnya sangat baik, maka tibalah masa berpisah. Koko temanku mendapat tugas yang entah ke mana, yang kami tidak boleh tahu walaupun pada akhirnya ya tahu juga.Dan aku, sekeluargaku, setelah isteriku meninggal di Beijing pada tahun 1980, juga pergi dari Tiongkok. Semula samasekali tak ada bayangan akan sampai di Perancis, karena kami tadinya mau mencari kehidupan di sebuah negeri yang berbahasa Inggeris. Misalnya di Australia, Canada, Hongkong atau lainnya. Tapi nasib rupanya berkata lain, dan setelah bertahun-tahun di Perancis malah merasa "beruntung" tidak jadi ke Hongkong dulu itu. Karena kehidupan di Hongkong jauh lebih berat daripada di Perancis. Setelah kami mulai menancapkan diri dengan kehidupan di Paris, mendirikan sebuah resto atas hasil kerja-keras dan usaha sendiri, maka mulai berjalan kehidupan "yang normal".

Dan teman-teman yang dulu "satu kandang, satu kampung" yang kini bertebar-biar di Eropa, di Jerman, di Holland, di Swedia dan Eropa Timur, pada ketemu lagi. Ada yang bertemu ketika kebetulan bertahun-baru di Jerman, Bieleveld dan juga ketika di Amsterdam di Holland.Pada pertemuan itu kami saling bersalaman dan berpelukan, karena sudah belasan tahun tak bertemu. Rasanya sangat mesra mengenangkan masa dulu-dulu itu.

Tetapi yang pernah kualami di Amsterdam ada seorang teman yang dengan agak kasar tidak mau menyambut salam tahun-baruku. Sebenarnya aku memang tidak kenal dengan teman itu. Siapa saja yang pernah datang atau berdiam di Tiongkok, aku selalu tahu siapa orangnya. Karena aku di Tiongkok cukup lama, selama 18 tahun! Sedangkan orang yang mau kusalami itu adalah yang selama ini berdiam di Uni Sovyet(ketika itu) dan tak pernah ke Tiongkok. Sebenarnya aku benar-benar tidak sakit hati, tidak dendam, tetapi selalu bertanya dalam hati ini, kok tega-teganya menolak ajakan salam padahal waktunya dan suasananya sangat baik, pada hari baik, bulan baik, tahun baik, kata kami orang-orang kampung.

Dan bagaimanakah ceritanya maka aku sampai di Holland itu? Suatu waktu Koko datang ke Paris, dan langsung menuju resto kami, karena dia tahu aku bekerja di sana. Dan kami bertemu dengan sangat gembira, berpelukan dan kembali saling mengenang cerita lama, termasuk soal burung balam dulu itu! Dan kami saling berjanji bahwa aku akan ke tempatnya di Stuttgart, Jerman. Dan akupun memenuhi janji itu. Itulah kisah bertemunya kami dan pergi bersama mobil pribadinya, sebuah BMW, di mana dia memang bekerja di pabrik BMW di Jerman.Dan dengan BMW itu kami berdua berangkat ke Holland dari Stuttgart, dan pada akhirnya menjalani Perancis dengan mobilnya itu.

Teman-teman "kaum pelarian politik" yang di Eropa ini, memang paling sulit hidupnya, paling harus kerja-keras secara plus, adalah kami yang di Paris. Mengapa? Kami harus cari kerja sendiri, dan jaminannya tidak sebaik teman-teman di Holland dan Jerman. Di Holland penganggur seumur hidup tetap bisa hidup, tapi jangan coba-coba di Perancis! Juga dalam jaminan dan gaji di Jerman jauh lebih baik daripada di Perancis. Ini sorry ya, bukan keluhan tapi memang begitulah kenyataannya, dan maksudku bukan mau gugat-menggugat, tapi sekedar cerita sajalah. Sebab bagaimanapun, tokh aku dan kami tidak pernah menyesali akan jalannya kehidupan kami dari dulu sampai sekarang.

Dan kami berdua Koko selama hampir satu bulan itu telah banyak mengelilingi tanah Jerman, Holland dan Perancis, berdua saja dengan sedannya yang menurutku betapa bagusnya, mewah dan kerennya. Sukurlah temanku itu, yang tadinya hidup di dunia ketiga yang cukup miskin kini sudah punya mobil mewah menurut ukuran kami di Paris.Yang dulunya menjalani hutan, gunung, lembah, bertani, beternak sebagai penggembali kambing, kini hidupnya antara kota di Eropa, kan hebat kan!

Sambil menyetir yang aku di sebelahnya, selalu dapat "perintah" darinya agar putar musik, lagu ini, lagu itu.Ada dan banyak lagu-lagu yang aku sangat suka. Ada lagu yang sairnya tentang Kali Progo, dinyanyikan seorang pria, kalau tak salah namanya Fendy, aku lupa. Kalau hanya Ebiet, itu memang kesenangan kami sejak dulu. Lalu si hitammanis Hetty Kus Endang, lalu aku paling suka suaranya Arie Kusmiran. Lagu-lagu itu sangat kusenangi. Kalau bosan lalu Koko bilang, ayo putar Rolling Stone, atau putar ABBA, atau mana kasetnya Whitney Houston. Dan aku sebagai , entah ko-pilotnya entah apanya. Tapi kami penuh dengan kegembiraan. Dan kenapa ya, ini selalu jadi pertanyaanku, kenapa kalau kebetulan kami berhenti karena lampu merah, di mana juga banyak kendaraan lainnya, lalu Koko bilang. Keraskan sedikit suaranya! Padahal menurutku suara musiknya sudah cukup keras, apalagai kalau hanya untuk didengar kami berdua saja dalam mobil itu.

Dan kalau kebetulan kami berhenti karena lampu merah, dan beberapa meter ada sedan lain yang penyetir dan penumpangnya wanita, dan bila cantik, maka Koko akan bilang. Cepat pasang kaset Abba atau Rollingstone! Cepetan, selagi mereka lihat kita itu! Keraskan suara musiknya agar mereka dengar! Maka akupun memenuhi suruhannya. Tapi sebenarnya aku kurang sreg. Lah, ngapain sih perduli amat dengan wanita itu, dan tokh tak ada gunanya. Walaupun mereka dengar, tapi kan hal-hal biasa saja itu. Dan begitu jauh aku berpikir tentang perkara ini. Kataku dalam hati, aduh Koko, bertahun-tahun hidup di negeri dunia ketiga yang begitu ketinggalan, begitu terbelakang. Dan kini kamu hidup di negeri yang sangat maju industrinya, lha kok masih juga berpikir secara kampungan dan primitif. Dan ketika kuajukan masalah ini, ternyata Koko agak marah juga padaku. Dan aku tidak ambil-hati, biasa-biasa saja.

Ketika kami di Holland, di rumah seorang teman lama Koko, kami sempat menyewa perahu dan berdua berperahu di tali-air yang begitu banyak di Holland. Koko mengayuh, terkadang pakai mesin-motor, sedangkan aku mengendalikan kemudi. Kami duduknya berhadapan, saling bisa memandang muka. Dan ketika hampir saja akan ke pinggir dan menubruk tepian, cepat Koko memerintahkan, "ke kiri—–, kiri cepat". Tapi karena aku hanya mendengar perintah itu saja, sedangkan kami berhadapan, bagaimana akan tahu kiri dan kanannya karena akan saling bertentangan, sebab kami berhadapan. Kiri dia bukankah kanan saya, dan sebaliknya. Maka perahu itupun menubruk tepian. Bukan main marahnya Koko kepadaku.

"Bagaimana revolusi mau menang kalau cara kerja begini saja sampeyan sudah salah besar! Bagaimana partai punya kader seperti sampeyan ini, rata-rata di bawah minimum, hancurlah revolusi dibuatnya! Ini pencerminan dari partai kita dulu itu! Kadernya pada bego, maka beginilah kita, kalah melulu!", katanya terus merepet ngomel. Dan aku sementara diam saja. Tapi sudah mulai panas juga dibuatnya. Karena dia menuduhku kader bego, di bawah minimum. Yang aku mau klarkan, klarifikasikan, perkara ini, perkara kader tadi itu.

Dan aku minta "berlabuh" di tengah sungai yang lebarnya beberapa meter itu.

"Tidak perlu", katanya. "Sangat perlu", kataku. "Lantas sampeyan mau apa?", katanya. "Aku mau menjelaskan, kenapa sampeyan sampai terpikir soal revolusi segala, kalah melulu segala, padahal hanya soal nubruk tepian begini saja. Lalu kalau sampeyan mau tanya, saya mau apa, semua apa dan bagaimana saya mau untuk ini. Apa saja mau, dari halus-halusan sampai yang paling kasar sekalipun", kataku sangat sukar menahan kemarahan. Rupanya dia tersentak juga mendengarkan ini. Kujelaskan agar dia tahu, bahwa aku tak pernah jadi kader seperti dia. Aku tak pernah jadi pimpinan apapun. Di Lekra-pun aku hanya anggota biasa, samasekali tak pernah jadi pimpinan apapun, anggota pleno apapun. Apalagi di partai dan ormasnya, samasekali tak pernah. Aku bergerak di badan persahabatan, itu benar. Ketika Prof Prijono jadi ketua Lembaga Persahabatan Indonesia-Tiongkok, aku jadi sekretarisnya. Juga ketika Pak Djawoto ketua Lembaga itu, akupun sempat jadi sekretarisnya. Juga ketika Henk Ngantung, yang gubernur DKI Jakarta-Raya, akupun sempat jadi sekretarisnya. Dan menurutku badan Lembaga Persahabatan itu tak ada bau-baunya secara langsung akan mempengaruhi jalannya revolusi! Ini yang akau mau klarkan dengan Koko, agar dia tidak lagi sembarangan ngomong.

Dan ditengah-tengah sungai itu, kami berdiskusi, berdebat dan bertengkar. Bahkan sebenarnya pikiranku begitu terbelakang dan keliru, sebab sampai berkelahipun akan kuladeni. Gila kan! Koko memang orangnya kecil. Tetapi keberaniannya luar biasa, berani berkelahi dengan siapa saja, segede apapun badan lawannya, dengan senjata apapun. Kalau sudah marah ketika berdiskusi, matanya yang bundar itu seakan mau ke luar, bagaikan mata kepiting. Merah menyala, penuh sinar semangat api. Dan kalau sudah naik ampernya, hangat-panas, maka air-liurnya sering-sering berhamburan karena sangat semangat mengucapkan kata-kata kemarahan dan ketegasannya.

Aku tidak tahu apakah ada orang lain melihat kelakuan kami berdua di tengah sungai itu. Dan aku tak dapat membayangkan sekiranya kami masing-masing tak dapat menahan diri, betapa jadinya, dan betapa malunya. Sukurlah entah darimana asalnya maka kami berdua tersadar, setelah berapi-api saling menyemprotkan kemarahan, terkadang terselip makian, berangsur api kemarahan masing-masing itu menyusut dan akhirnya bisa padam sendiri. Dan kami saling mengurut dada, menarik nafas panjang, saling memandang, tetapi sudah tak ada apinya lagi.

Dia berjanji tidak akan menyebut kata-kata kader lagi, dan akupun berjanji tidak akan berbuat berlaku seperti layaknya mau habis-habisan saja. Sejak itu, ketika kami menuju Paris, aku mengulangi lagu Kali Progo yang di sana-sini diselingi bunyi air yang membanjir, berkecipak menghanyutkan, bagus dan plastis benar bunyinya. Dan diselingi suara Arie Kusmiran "Kaulah segalanya", membuat kami terasa muda kembali, segar dan dunia terasa bersinar dan tetap punya harapan-harapan tertentu.

Paris 4 April 99

Kehidupan di Desa

Kami menjalani kehidupan dengan jadwal yang sebenarnya sangat teratur. Pagi-pagi bebas olahraga. Ada teman yang jalan-pagi selama 1 sampai 2 jam, ada yang jogging, ada yang taiqiquan dan senam biasa. Lalu jam makan-pagi. Lalu jadwal umum, belajar, diskusi, belajar-bahasa, dan belajar yang lainnya. Jam makan-siang, lalu istirahat sebentar. Dan sesudah itu jadwal-sore. Jadwal-sore, kami berkebun, beternak, menggem-balakan kambing. Berkebun termasuk segala sesuatu yang menyangkut perkebunan, misalnya memupuk, menyiangi, memanen, atau semua pekerjaan yang ada kaitannya dengan perkebunan.

Kebun kami cukup baik. Subur, berbuah lebat dan besar-besar. Jenis tanamannya, cabai(cabe), timun, ti-mun-suri, wortel, ubi-jalar, jagung, kentang dan lain-lain. Pernah kami turut bersawah, bertanam-padi, teta-pi bersawah ini bukan bagian kami. Kami hanya membantu dan sambil belajar bersawah kepada penduduk setempat. Berkebun begini kalau dilakukan sungguh-sungguh memang cukup berat. Memikul pupuk, koto-ran manusia(tinja) dari kakus umum yang jauhnya sekira 200 meter, kalau dilakukan berkali-kali selama setengah-jam saja, capeknya bukan main. Apalagi rata-rata kami bukanlah berasal dari petani ketika di tanahair dulu. Dan lagi umur kami sudah berkepala 4 menjelang 5 bahkan ada yang sudah 5 dan 6. Tentu saja oleh teman-teman muda takkan dibiarkan bekerja berat yang sama dengan mereka.

Teman-teman muda itu disamping tenaganya masih kuat, juga semangatnya selalu menggebu-gebu. Rata-rata mereka baru saja menamatkan pelajarannya di berbagai negara-sosialis. Mereka itu lulusan sarjana tehnik, perlistrikan, bangunan-sipil, pharmacien, kedokteran, sarjana-ekonomi, bek as dubes, pekerja-internasional, mahaguru, dan lain-lain. Ada beberapa tenaga muda yang baru berumur 20-an, tetapi jumlahnya sangat sedikit. Ini artinya kalau ditinjau dari sudut sejarah, tenaga muda yang berumur 20-an i-tu, baru saja mau mulai kuliahnya, maka terjadilah peristiwa-besar nasional itu, 1965, - Dan seperti kebanyakan kami, mereka tak bisa pulang, tak mungkin pulang. Karena paspornya dicabut oleh KBRI di mana dia pernah tinggal. Sebab semua KBRI sudah di-calling rezim Suharto-Orba-Abri, agar orang-orang tertentu yang dianggap PKI dan Sukarnois-demokrat, dicabut paspornya dan tidak boleh pulang. Kalaupun pulang berarti masuk-perangkap. Karenanya teman-teman itu memilih tidak pulang, dan bergabung dengan teman-teman senasib lainnya.

Aku pernah bekerja memikul tinja ini. Pekerjaan ini memang sangat berat. Apalagi dengan tenaga tua seperti diriku ini. Dan lagi kesehatan tidak begitu baik. Tahun 1957 aku mulai mengidap hipertensi dan sampai detik ini. Maka tidak heranlah sesudah lama bekerja pikul-memikul begini, jatuh sakit, darah lebih dari 220/130, dan satu bulan masuk sanatorium. Sesudah itu banyak teman menyarankan agar aku memilih pekerjaan ringan. Misalnya bagian mencabut rumput. Teman-teman itu memang maksudnya baik, selalu memperhatikan keadaan kondisi kesehatan kita. Tetapi akhirnya akupun harus berterus-terang, bahwa untuk pekerjaan cabut-rumput itu sangat berat. Ada yang tanya, lalu apa dong yang ringan-nya?! Kukatakan pekerjaan yang ringan buatku yalah cangkul-mencangkul. Banyak teman merasa heran. Dan kukatakanlah rahasianya! Mencabut rumput itu harus jongkok, agak nongkrong, jadi perutku yang agak buncit ini terpaksa ketekuk dan berlipat, dan aku tersiksa sangat. Orang gemuk janganlah diberi pekerjaan yang jongkok-jongkok, tersiksa perutnya!

Dan semua teman lalu mengerti, dan akupun menjadi petani cangkul-mencangkul. Pekerjaan inilah yang sebenarnya sangat sesuai denganku setelah "menilik dan meniliti" perawakan tubuh! Hasil perkebunan kami memang bagus dan hasilnya menggiurkan penduduk di sekitar perkampungan kami. Karena itu ketika kami panen, wartel, kentang, cabe, ubi dan jagung, pihak Markas Barisan sebagai Tuan-rumah kami, mengundang berbagai kesatuan brigade-produksi untuk menjual hasil tanaman kami. Sedangkan yang lainnya untuk keperluan dapur buat makanan kami sendiri.Sudah tentu hasil penjualan itu bukanlah masuk kantong kami. Tetapi kami tahu berapa hasil uangnya, karena semua perbelanjaan dengan sistim pembukuan-terbuka. Dan semua itupun pada setiap bulan selalu diumumkan berapa uang masuk dan berapa uang keluar, dengan kertas tebal tercatat di dapur, setiap orang bisa melihat dan memeriksa dan kalau ada pertanyaan atau pendapat bisa mengajukannya ke Kepala Barisan Produksi.

Kami setiap rumahtangga yang berkeluarga, selalu punya kebun-kecil di halaman pekarangan rumah. Kebun ini isinya sesuai dengan "isi kepala si tuan-rumahnya" . Misalnya rumah kami banyak tanaman bunga, karena isteriku suka akan berbagai jenis bunga, tetapi karena aku punya selera lain, maka bagiku yang penting yalah cabai yang pedas, serai, laos, jahe. Yang satu sifatnya rupa dan wajah, yang satunya lagi rasa dan selera. Tetapi tak ada pertentangan keduanya, karena saling menghormati dan menghargai. Hanya kalau sudah soal siram-menyiram, maka akan ketahuan, siapa yang menyiram punya siapa duluan. Aku tentulah akan menyiram cabe, seraiku dulu. Lalu nanti barulah berjenis bunga itu. Dan memang, perkebunan "pemerintah atau kolektif" jauh kalah bersaing dengan perkebunan "swasta" di rumah pribadi masing-masing. Mengapa? Sudah menjadi adat-kebiasaan barangkali, bahwa kepunyaan pribadi tentulah akan lebih disayangi daripada kepunyaan bersama dan umum. Tetapi kalau ini kukemukakan kepada teman-teman tertentu yang semangatnya menggebu-gebu atau sedikit agak kekiri-kirian, tentulah diriku akan dapat gelaran "seorang revisionis, atau oportunis, atau egois" pokoknya yang is is-lah ujungnya!

Bagaimana tidak akan subur, pupuknya saja dari kotoran-ayam dan kambing. Menurut guru-pertanian kami, pupuk atau kotoran-ayam jauh lebih baik buat tanaman percabean, perjahean, dan serai. Maka tanaman serai dekat dapur kami jauh lebih tinggi dari orang. Dan pernah kuekspor ke Vietnam! Karena kebetulan ada teman-teman dari Vietnam yang sedang berkunjung ke Ciangxi, kukirimi dan kutitipkan berjenis cabe dan serai serta laos dan jahe. Jadi tanaman-pribadiku sudah berkategori "tanaman eksport".

Untuk apakah tanaman dan hasil tanaman pribadi di depan atau sekitar rumah ini? Sebenarnya tak ada keperluan khususnya, hanya menyenangkan hati saja. Kalaupun digunakan, hanya sedikit, sekedar menyalurkan hobby saja. Sebenarnya diam-diam kami juga sering masak-sendiri, namanya merevisi makanan. Masakan kantin buat kolektif ramai-ramai begitu kalau lama-lama ya bosan juga. Maka timbullah ide, membawa bekas makanan, atau daging atau ikan, sampai di rumah "direvisi" dengan gaya kita, gaya sendiri, gaya melayu, sesuai selera. Nah, disinilah cabe tanaman sendiri yang sangat pedas itu, dan serai serta laos, jahe berfungsi sangat kuat! Diri kita menganggap akan melakukan suatu pekerjaan gelap-gelapan, yang terlarang sih tidak, tetapi boleh dikatakan "tidak disiplin", ideologinya tidak kuat, atau nah yang begini ini sumber bibit revisionis itu! Nyatanya teman lainpun begitu juga! Masing-masing melakukan "pekerjaan-gelap" begini, tetapi masing-masing pada berdiaman, berrahasia, ternyata sama-sama berbuat demikian. Dan begitu saling tahu, pada senyum kalau bertemu di jalanan. Teman yang semangatnya menggebu-gebu yang agak sedikit-banyak kekiri-kirian, akan mengecap dirikita sebagai kaum revisionis. Orang yang semangatnya masih borjuis-kecil, non-proletariat, atau tipe akan lekas menyerah kepada musuh, demikianlah tuduhan sementara teman itu kepada orang yang berjenis seperti diriku ini. Ada pula yang berpendapat, mana bisa orang begini mau berrevolusi, mana pula akan ingat akan kawan-kawan di Pulau Buru! Dan segala macam tuduhan, padahal hanya sekedar masak-masakan kecil yang sesuai selera kita saja adanya.

Oleh sebab berbagai macam bentuk dan jenis kontradiksi, oleh hal-hal kecil yang sangat remeh-temeh, maka dengan adanya perilaku kedua pihak begini, kehidupan menjadi tidak senyaman dulu lagi. Itulah sebabnya kami pernah menamakan kehidupan kami dulu itu, dari belajar ke belajar tetapi masih tetap saja "kurang-ajar" dan kami ini alumni atau tamatan universitas-idelogi dari fakultas-kontradiksi, yang takkan mendapatkan diploma apapun.

Kalau malam, mungkin sekedar membunuh-waktu banyak teman menjadi anggota Golkar. Apa pula itu? Golkar adalah golongan-kartu, teman-teman yang selalu keasikan main kartu, dan kecanduan main kartu-, karenanya lalu dinamakan golkar. Orang yang selalu makan di rumah tidak di kantin secara bersama-sama, akan ditegur, "hey, makdirumnih", maksudnya hey makan di rumah nih, dengan agak menyindir dengan agak sinis walaupun cukup tipis! Di kalangan kami sangat banyak singkatan, sehingga kalau tidak mengikuti perkembangan hidup kolektif begini akan ketinggalan. Nasgor adalah untuk nasigoreng, nasgordas, adalah nasi goreng pedas, tembur adalah tembak-burung. Seorang sedang mengambil atau menjemput sambal, ada yang ngomong di belakang kita sambil agak bercanda, suksam juga ya rupanya, suka-sambal juga ya rupanya!

Dalam olahraga, aku termasuk golongan jalgi, jalan-pagi, tapi juga taiqiquan yang tak ada atau sulit menyingkatkannya. Kalau sore tak ada jadwal-perkebunan, kami main volley, badminton, main bola, pingpong dan berenang, di danau yang airnya butek, sama-sama kawanan kerbau kepunyaan penduduk setempat. Dan pada hari-hari tertentu kami mengadakan malam-pertunjukan deklamasi dan drama, tarian, dan nyanyian. Bukan main hebatnya sementara teman-teman tertentu, sangat kreatif dan berseni-tinggi. Ada sebuah rongsokan mobil-tua yang hampir karatan. Oleh beberapa teman, besinya dipotongi, dilas, dijadikan alat musik-klenengan, gambang yang bisa memainkan musik-Jawa yang bagaimanapun, artinya termasuk slendro-patet-manyuro dan sebagainya. Dan gilanya lagi, aku termasuk salah seorang penyanyi anggota panembromo, yang kata-kata Jawanya aku tak ngerti dan tak tahu, tetapi bisa menyanyikannya! Pekerjaan gila begini, agar dirikita tidak gila sesungguhnya, mencari kesibukan dengan berbagai cara yang normal dan yang ada gunanya.-

Paris, 5 April 99

Kehidupan Sehari-hari di Desa

Makanan di kantin sebenarnya tidak begitu cocok untuk kami. Tapi mereka, para pekerja-dapur, kami tahu sangat berusaha agar kami bisa menikmati makanan yang disajikan. Ini kami ketahui dari teman-teman Ti-ongkok para penterjemah yang semuanya kebetulan dari perantauan, hoakiaw istilahnya. Para pekerja dapur berusaha keras menyampaikan harapannya melalui penterjemah agar kami mengajukan pendapat, bagaimana sebaiknya masakan yang disukai "weibing" (orang-asing") itu. Ada yang kami ajukan secara pokok saja, misalnya kalau masakan kentang mbok dikupas dululah, juga wortel, dikupas kulitnya dulu, agar enak dan dilihat matapun sedap, bersih, menarik dan mengundang selera. Ini masakan kentang dan wortel yang semestinya enak, karena segar, baru saja dipetik dari ladang tanaman kami sendiri itu, bulat-bulat tak dikupas dan kelihatannya masih kotor. Sedangkan yang lainnya secara umum, terlalu banyak minyak. Terkadang daging, ayam atau ikan, berendam-tenggelam dalam minyak yang penuh menyelimuti daging. Melihatnya saja nek, agak muak dan tak menarik. Itulah juga salah satu alasan mengapa banyak teman yang membawa makanan dari kantin, lalu merevisinya di rumah. Karena sering bawa pulang dan merevisinya ini, sebagian teman yang selalu bersemangat menggebu-gebu, radikal itu, menamakannya "kaum revisionis", bukankah keterlaluan dan kekiri-kirian?

Pihak dapur mengajukan usul dan pendapat agar ada teman di antara kami yang turut mengajar masak, yang sesuai dengan lidah kami. Lao Cang, kepala dapur yang badannya selalu pakai singlet sete-ngah-tiang, di mana bulu-ketiaknya selalu tampak, dan keringatnya selalu mengalir, memang berusaha untuk mengerti dan memahami kami. Dan teman kami, hari itu membuat acar-segar, timun, tomat, apel, sedikit daun salade lalu digauli dengan air-jeruk dan sedikit cuka dan gula. Lalu diletakkan di atas meja-umum, di mana semua orang bisa mengambil seperlunya. Lalu ikan-teri digoreng, dilado, cabe dan bawang. Juga diletakkan di tengah meja-umum. Lao Cang menyaksikan, dan dia terperangah. Semua teman rebutan, dan sekejap habis, dan nasi juga kehabisan. Dari peristiwa ini Lao Cang banyak belajar. Dan dia berusaha keras menuruti selera kami. Musimpanas, provinsi Ciangsi termasuk daerah terpanas di Tiongkok. Bisa sampai 43 C panasnya. Dan kalau sudah begitu panas siapa yang punya selera makan lagi! Maunya hanya minum saja. Dan makanan yang disajikan Lao Cang, siasia saja, kebanyakan tak dimakan. Dan Lao Cang kelihatan sangat bersedih-hati. Kami berusaha menghiburnya, mengatakan hawa panas begini mana ada di antara kami punya selera makan. Jadi bukan masalah makanannya dan masakannya, tetapi memang tidak ada nafsu makan. Lao Cang mengerti dan memahaminya. Bagaimanapun dia punya beban kelihatannya, sebab dia merasa bertanggungjawab atas kehidupan dan kesehatan kami sehari-hari.

Lama-kelamaan Lao Cang sedikit demi sedikit tahu juga selera kami. Dan diapun sudah pandai memasak beberapa macam masakan yang diajarkan teman-teman kami. Misalnya dia sudah tahu bagaimana cara membuat gado-gado, sambal-terasi, lodeh, sayur-asam, gulai, balado-daging, balado-teri, emp al, dan lain-lain. Lao Cang betul-betul penduduk asli-setempat, orang Ciangsi. Dan berpendidikan ala kadarnya, tetapi semangatnya untuk belajar dari kami sangat besar dan sungguh-sungguh. Aku ingin mendahului cerita ini. Setelah kami bubar, artinya perkampungan dan asrama kami itu dikosongkan karena sudah tak ada orangnya lagi, karena kami sudah pada berangkat dari Tiongkok, kami dengar dan kami ketahui bahwa Lao Cang sudah diangkat menjadi tukang-masak Kelas Satu di hotel berbintang terbesar di Nanchang ibukota provinsi. Padahal dulu itu, untuk menjadi tukang-masak kabupatenpun belum punya kans! Dan kami mendengar ini sangat merasa gembira. Artinya Lao Cang berhasil menjadi orang yang sempat terangkat dari desa ke ibukota, di hotel berbintang lagi, dan kami juga merasa berhasil bisa "mempromosi" ajaran masakan Indonesia, budaya-bangsalah! Belasan tahun sesudah itu ada teman-teman yang berkunjung ke Tiongkok dan mencari Lao Cang buat menyatakan selamat dan salam dari banyak teman. Dan kami dapat kabar Lao Cang sangat merasa senang bahagia sambil mengeluarkan airmata penuh rasa persahabatan. Terharu juga kami mendengarnya.

Sebenarnya sejak dulu bahan-bahannya banyak, dan kaya. Tetapi karena belum tahu cara masaknya, maka bahan-bahan itu jadi siasia. Setelah diajari barulah tahu dan kenal selera kami. Ciangsi adalah termasuk Tiongkok Selatan. Orang Tiongkok Selatan biasanya sangat pandai masak. Ada peribahasa Tiongkok yang menyatakan, kalau mau cari isteri yang pandai masak, carilah orang Kwangchow(Kanton).Kalau mau cari isteri yang cantik carilah orang Suchow, kota dekat Shanghai -, memang benar, betapa cantik-cantiknya wanita Suchow dan Shanghai ini. Kalau mau cari pemandangan yang indah, ada sorga di bumi, datanglah ke Hangchow. Kalau mau mati dengan keranda terkenal bagusnya buatan dan bahan kayunya, datanglah ke Lanchow! Jadi ada empat chow yang terkenal, dan semua kota itu ada di Selatan bagian Tiongkok. Ada lagi pemeo yang menyatakan bukti orang Kwangchow itu jago masak dan masakannya enak. Katanya semua makhluk yang punggungnya menghadap ke langit, bisa dimakan dan enak di makan. Apa saja yang punggungnya menghadap ke langit, tidak perduli harimau, ular, beruang, kucing, buaya, unggas semua bisa dimakan dan enak, kecuali meja dan kapalterbang! Untung saja meja dan kapalterbang i-tu bukan jenis makhluk! Hati-hati jangan sampai ada orang berjalan seperti monyet atau harimau, bisa dimakan orang Kanton!

Dan memang semua resto di dunia bagaikan berlomba mencari tukangmasak dari Kanton! Aku masih ingat bagaimana persahabatan yang sangat erat antara Chou En-lai dan Charli Chaplin. Dan ketika Chaplin bercerita tentang enaknya masakan Bebek-Beijing, PM Chou mengirimkan tukangmasak orang Kantonnya buat pesta yang diadakan Charli Chaplin. Sebuah hadiah-kado yang luarbiasa dalam kesejarahan orang-orang penting di dunia.

Ketika aku masih bekerja di Beijing menjadi penyiar Radio Beijing pada tahun 1979 sampai 1981, aku bertugas "mengawal-ruangan sastra-budaya dan pariwisata". Aku masih ingat salah satu siaran itu menceritakan riwayat masakan Tiongkok. Bahwa seekor ayam bisa dijadikan 300 resep, tigaratus jenis masakan. Yang rasanya berlainan dengan bumbu yang saling berbeda. Juga tersiar ada tukang-kue di Kanton yang bisa membuat kue sebanyak 300 jenis dengan bentuk dan rasa yang berlainan. Berita ini tersiar ke seluruh dunia. Dan sampai di Jepang, ada seorang wartawan Jepang yang meragukan kebenarannya. Wartawan ini juga kebetulan seorang gastronomic(tukangrasa dan penikmat makanan). Dia diundang datang ke Kanton buat membuktikan kebenaran siaran itu. Di sebuah hotel yang ada restonya yang kebetulan tukang-kue itu bekerja, dia menginap dan sangat memudahkan pekerjaan sang wartawan. Sang wartawan minta disajikan setiap hari 15 kue. Kue itu satu persatu dinikmatinya, dilihatnya, ditelitinya, difoto, ditanyakan apa saja resepnya. Semua kehendak dan keterangan yang diminta wartawan Jepang itu dikabulkan. Kenapa setiap hari hanya 15 kue? Agar dapat dengan teliti dan seksama mengetahui kebenaran berita itu. Sebab juga harus mencatat apa saja ramuannya dan bagaimana rahasia mengadonnya.

Maka sang wartawan yang bertugas itu sesudah satu minggu merasa memang benar semua yang diberitakan oleh koran dan radio-televisi Tiongkok. Sampai sepuluh hari sang wartawan "menyerah", dan tokh baru 150 jenis kue yang diteliti, dirasa, difotonya. Dia masih "punya hutang" sebanyak 150 jenis kue lagi, dan harus 10 hari lagi dia menginap di hotel itu buat menyelesaikan tugasnya! Sang wartawan menyiarkan pula pengalamannya, katanya "memang benar tukang-kue itu telah dengan sukses membuat dan menguasai 300 jenis kue buatan dan resepnya sendiri", - Maka pulanglah sang wartawan dan diantarkan sampai lapangan-terbang oleh tukang-kue yang berpengalaman itu. Cerita tentang Tiongkok takkan habis-habisnya, dan semua itu memang benar bukannya dongeng. Kalau dongeng akan lebih banyak dan lebih asyik lagi.

Paris 5 Maret 1999

Evaluasi - Bedahdiri

Ketika kami masih dalam "satu kandang, satu kampung, satu asrama" dulu itu, di mana campurbaur yang muda dengan yang berkeluarga, yang tua, yang penyakitan, yang hampir-hampir kena syaraf, sungguh banyak soal-soal kecil yang kalau tak diurus secara baik akan menimbulkan soal besar. Entah bagaimana dan mengapa persisnya ketika itu teman-teman muda tak boleh pacaran dengan orang setempat, rakyat Tiongkok. Mereka dianjurkan untuk menunda pernikahan, menunda berkeluarga, agar jangan cari isteri dulu. Tentu saja pendapat begini ditentang banyak teman. Kita tidak tahu kapan kita bisa pulang, kita tidak tahu kapan kita bisa berkeluarga, beristeri. Dan tahu-tahu kini ada larangan, katakanlah ada anjuran agar jangan berkeluarga dulu, jangan pacaran dulu, terlebih-lebih dengan penduduk setempat, orang Tiongkok. Barangtentu banyak sekali tentangan, penolakan dan "pemberontakan" dalam bentuk kecil dan perlawanan keras.

Ketika itu aku sama pendapatnya dengan pendapat yang banyak itu, yalah cobalah dicarikan jalan bagaimana memecahkan soal ini. Teman-teman muda itu bukankah umurnya semakin menua saja, tentu tidak akan bisa menunggu yang waktunya tak berbatas. Lagi pula disamping masaremajanya akan "hilang percuma" secara biologist, tetapi bukankah secara psychologis-pun tidak tepat seakan mengekang naluri alamiah mereka. Karena aku ini bukan kader, bukan pimpinan, maka satu-satunya jalan ya hanya ngomel, dan menggerundel. Waktu itu akan berpendapat, bagaimanapun secara hukum-alam, seseorang yang tidak punya dan belum punya, suatu waktu perspektifnya akan punya. Dan seseorang yang ada dan punya, suatu waktu perpekstifnya akan hilang. Betul saja, tak sampai bertahun-tahun, kena pada diriku. Pada tahun 1980 aku kehilangan isteri, meninggal di Beijing. Dan betul saja, beberapa teman muda yang dulu itu belum pada kawin, belum berpacaran, beberapa tahun kemudian punya isteri punya anak. Betapa bahagianya, sudah begitu lama, begitu banyak kehilangan masa-muda dan umur yang siasia. Inilah hukum alam, berjalan menurut alamiah, mengalir bagaikan air. Dan aku sendiri menerima keadaan diri begini, siapapun suatu waktu akan mengalaminya.

Setelah berjalan bertahun-tahun, di mana kami dulu yang "satu kandang, satu kampung, satu asrama" pada bertebar-biar ke seluruh Eropa Daratan. Sejarah kami terus berjalan menurut keadaan masing-masing diri dan perorangan. Oleh nasib orang demi orang, kami adakalanya bisa bertemu, tapi juga terkadang hanya untuk sementara. Dan tragisnya suatu tempat yang paling banyak orang Indonesianya, di Holland, sering sekali kalau bertemu di tempat............kematian. Karenanya ada teman yang mengejek secara sinis bahkan sarkastis, katanya PKI itu adalah Perkumpulan Kematian Indonesia. Karena selalu saja bila bertemu secara lengkap dari mana-mana datang melayat, ziarah, ketika adanya kematian mengantar ke tempat peristirahatan terakhir. Jadi memang ada alasan mengapa mereka sebutkan kata-kata itu, sebab ada rasa dongkol, marah, sedih, tetapi kepada siapa? Semua juga merasakan kehilangan. Bukan dua-tiga kali kejadian begitu itu, bahkan mungkin sudah belasan kali. Umur semakin tua, tenaga semakin hilang, kesehatan semakin merosot, ya tentu saja kemana sih akan berakhirnya?

Tidak dapat kuperkirakan mengapa tahu-tahu kami menancapkan kaki dan meletakkan pantat di Paris ini, dan tahu-tahu saja hampir duapuluh tahun! Oleh sejarah lama kami dipersatukan lagi dengan bentuk dan wajah yang berlainan dari dulu. Oleh masing-masing perjalanan hidup, kami dipersatukan oleh tarikan nafas yang sama, helaan dan hembusan nafas yang seragam. Ada kalanya kami "berkumpul sesama bu-jang lapok" atau bujang-tua. Secara menggelikan di antara kami ada beberapa kategori "pembujangan" dan mengapa sejarahnya "membujang-lapok" itu. Kategori pertama, menjadi duda-tua karena ditinggalkan isteri meninggal. Kategori kedua, menjadi duda, karena ditinggalkan isteri, cerai. Kategori ketiga, menduda karena meninggalkan isteri, menceraikan. Dan nah ini, yang aslinya, kategori keempat memang "bujang-tingting" asli, belum pernah berkeluarga, nah sebenarnya inilah bujang-lapok asli. Dan aku termasuk kategori pertama, menduda selama belasan tahun. Ada yang dari kategori pertama seperti diriku dulu itu, tapi kini sudah "mengkhianat" karena sudah menikah tahun ini juga walaupun umurnya sudah berkepala————–tak boleh disebutkan!

Kalau kupikir-pikir sangat lain antara aku dengan banyak teman itu? Tetapi masing-masing orang sudah tentu ada kekurangannya dan ada kelebihannya. Kata peribahasa, satu-pecah-dua, bagaikan permukaan mata-uang, yang istilah mendunianya, bagaikan yang-ying. Coba lihat itu Mas Silo, orangnya berperuntungan. Sangat sering kalau aku berjalan dengan Mas Silo, tahu-tahu saja Mas Silo dapat uang, tergeletak di jalan, dan ada saja yang dilihatnya. Lalu aku meniru dia, juga ketika aku berjalan sendirian, menunduk jalan siapa tahu akan dapat uang juga. Sampai sakit leher dan sakit mata, tak pernah dapat uang. Kalau kami beli loto, Mas Silo sering dapat, dan aku tak pernah dapat. Nah, akan perihalnya Mas Aji, dia ini perejeki cewek! Bila dia mau, mengedipkan mata saja itu cewek akan berdatangan di bawah ketiaknya! Bisa-bisa bergandulan!

Nah, lain lagi Mas Bud(alm). Dia ini betul-betul karismatik. Tak ada orang yang benci, tak ada orang yang tak suka padanya. Semua orang pada senang kepadanya. Dia murah rezeki. Barang-barang, uang, buku dan majalah pada berdatangan kepadanya. Banyak teman mengiriminya. Rumahnya penuh dengan buku, majalah, harian, benda-benda antik-romantik lainnya. Dia orangnya ringantangan buat membantu orang lain dan sangat baik hati. Aku pernah berpendapat, kalau Mas Bud ini dilahirkan 2000 tahun yang lalu, niscaya dia bisa menjadi nabi! Dia pasang dia punya muka dan wajah, lalu cewek bule akan datang menciumnya. Kalau aku lain lagi, aku datang dan merebutnya, dengan sedikit kekerasan. Kalau tak begitu mana orang mau, aku tokh bukan arjuna dan bukan Valentino, jelek tak bertampang pula!

Ada keluargaku, selalu hidup dalam kekurangan katanya. Tetapi kalau kuhitung-hitung televisinya saja ada dua atau tiga. Makannya dan hidupnya berkecukupan. Rumahtangganya baik, perabot lengkap dan bagus.Katanya semua itu diberi dan dihadiahi teman. Banyak teman menyumbangkan kepadanya ketika dia pindah dulu.Pokoknya semua barang dan benda di rumahnya samasekali bukan sandingan dengan kepunyaanku. Mana ada orang yang memberi dan menghadiahi diriku, takkan dan dan pernah. Nah, inilah yang kukatakan nasib perorangan itu. Jalannya lain-lain, peruntungannya berbeda-beda. Jadi di manakah letaknya diriku dibandingkan dengan banyak teman itu tadi? Lama kuperiksa-diri, lama kubedahdiriku.

Ternyata aku selalu dan akan selalu harus kerja-ketras. Kerja-keras dulu maka barulah mendapatkan. Takkan ada yang namanya orang akan kasi hadiah atau apalah yang sifatnya gratis. Semua aku harus bayar, semua harus kukerjakan sendiri. Semakin banyak mengarang semakin banyak aku harus keluar uang! Dan sudah puluhan tahun aku tak pernah dan tak tahu apa itu yang namanya royalti atau honorarium?! Siapa yang mau memuat tulisanku karena tersangkut nama yang belakangnya itu?! Kuberikanpun bukuku kepada KOMPAS misalnya, mereka bilang tak pernah terima! Padahal aku tahu mereka takut mengatakan yang sesungguhnya. Namun demikian, lama juga aku berpikir dan merenung, apakah aku menyesali nasib begini? Kukatakan pelan-pelan dan jujur kepada diriku sendiri. Tidak, samasekali tidak menyesali diri. Ini adalah sudah bagianku, dan itulah diriku, bekerja-keras sekali lagi kerja-keraslah! Kau tak mungkin mendapatkan apapun tanpa kerja-keras. Inilah diriku. Orang lain mungkin juga begitu, tetapi kulihat, kubandingkan, terkadang adakalanya tidak sangat memerlukan kerja-keras dan tokh dia akan mendapatkan, akan punya dan memiliki. Lain dengan diriku, tanpa kerja-keras, apapun takkan kumiliki, takkan kudapati. Bedahdiri ini perlu kucamkan pada diriku setelah aku membanding-sandingkan dengan banyak teman-temanku lainnya.

Namun demikian nasib secara kebersamaan kami masih tetap sama. Sama-sama tidak bisa pulang, tidak boleh pulang. Datang boleh-boleh saja bagaikan orang-asing dan turis, pulang tunggu dulu!

Paris 6 Maret 1999

Sedikit Tentang Pernikahan

Setelah teman-teman kami berada dan hidup di luar Tiongkok barulah ketentuan buat menikah dan berkeluarga ini dapat dijalankan dan ditembus. Banyak yang menikah dengan orang keturunan Tiongkok juga tetapi berasal dari ras-suku lain. Misalnya dengan orang yang dari Thailand, dari Birma, dari Kamboja dan lain-lain. Sedangkan yang sudah lama menetap di Eropa-daratan, ada juga yang menikah dengan orang Indonesia yang benar-benar berasal dari Indonesia. Bagaimana caranya, sedangkan pihak prianya tidak bisa pulang atau tidak pulang yang sementara itu "menunggu" di Eropa? Melalui para keluarganya, sahabatnya, temannya "memesan tolong carikan" jodoh buat diperisteri.

Kelihatannya hal sepele dan agak aneh, kan? Sebenarnya jauh tidak! Teman-teman itu banyak yang "mendatangkan" isterinya berdasarkan "pesanan" tadi, melalui keluarga, teman, sahabat atau hubungan lainnya yang saling bisa percaya-mempercayai. Yang memesan harus siap menanggung biaya tiket-pesawat buat dua orang. Yang seorang yalah calon isterinya, dan yang satu lagi orang yang mengantarkan, bisa orangtuanya "calon penganten" atau pihak keluarga yang menanggung. Dan orang ini harus pula dibiayai buat tiket pulang kembali ke Indonesia. Jadi satu tiket pergi saja buat "calon isteri" dan satu tiket pergi-pulang, buat yang mengantarkan atau wakil keluarga pihak wanita.. Sedangkan biaya lainnya juga harus siap, misalnya biaya pestanya, dan surat-menyurat melengkapi "kepindahan calon sang isteri". Sebelum hal ini terjadi, sudah tentu dengan dihubungkan oleh pihak keluarga, wakil keluarga, maka "kedua calon mempelai" berhubungan dengan surat-menyurat, tilpun, fax atau apa saja. Artinya jauh sebelum ini kedua orang itu belum saling-kenal, dan belum saling berhubungan. Betulbetul dalam pengertian "tolong carikan"!

Kejadian begini pada mula-mulanya di suatu negeri Eropa, katakanlah misalnya Holland. Tetapi lama kelamaan juga "merembet" ke Jerman, Swedia, dan Perancis yang tadinya belum menemui kasus demikian, akhirnya tokh mendapatkan cara demikian juga. Aku ingin menuliskan hal ini, benar-benar ingin menuliskan kebenaran dan sejarah kehidupan kami selama di tanah-pengasingan ini. Banyak teman yang membawa isterinya dari Tiongkok, yang pada mulanya berkenalan secara cinta, asmara, asyikmaksuk, dan datang atau pindah ke Eropa dan hidup di Eropa. Tak lama, sang isteri yang dulu hidup dalam pergaulan yang sempit dan agak terkekang, begitu sampai di Eropa ini melihat dunia yang begitu bebas dan luas, dan lalu berhubungan dengan dunia bebas-luas itu, maka pada akhirnya ——minta cerai! Dan dia hidup dengan orang lain, bisa orang sesamanya bisa juga dengan orang Eropa juga! Juga termasuk yang membawa isteri dari luar Eropa, terkadang hanya sempat hidup beberapa tahun saja sudah itu cerai!

Tetapi prosentase cerai dari teman-teman yang beristeri dengan "cara pesanan" tadi, ada yang lima enam tahun bahkan belasan tahun tetap saja kekal! Aku belum pernah dengar yang dengan cara begini lalu ada yang cerai. Padahal mereka tadinya samasekali bukan berdasarkan cinta-mula-pertama seperti yang diala-mi orang-orang normal biasa. Pada mulanya mereka samasekali tak saling kenal, tak saling hubungan, bahkan "dibantu" orang lain buat berhubungan dan menjalin cinta selanjutnya. Dan patut dicatat, patut mendapat tempat, bahwa cara yang tampaknya aneh dan kuno ini, ternyata sangat awet dan terbukti mereka lestari dalam mengharungi kehidupan bersamanya selama belasan tahun ini. Sudah terbukti lestari dan awet, lalu kita bisa geleng kepala memikirkan banyak teman yang tadinya bercintaan secara asmara, secara bertunangan sekian tahun, saling mengenal, tahu-tahu sesampainya di Eropa bahtera yang dijalankan bersama itu ternyata kebocoran dan akhirnya karam-tenggelam. Jadi jangan remehkan cara yang kelihatannya kuno dan aneh itu!

Aku melihat dan mengetahui ada belasan pasang yang hidupnya saling sangat mencintai, padahal pada mula-pertamanya kenalpun tidak! Dan hidup bahagia belasan tahun sejak mula pertama mereka menikah yang berdasarkan "pesanan cara paketan" itu. Dan ada yang anak-anaknya saja sudah hampir dewasa dan bersekolah seperti orang-orang Eropa lainnya itu. Hal ini sangat membanggakan. Mau hidup cara Eropa atau modern? Dengan hidup-bersama, hidup-kumpul bersama, atau kasarnya kumpul-kebo? Boleh-boleh saja, tetapi itu mah bukannya hidup berumahtangga, membina keluarga, tak termasuk kategori yang kita bicarakan dan ceritakan sekarang ini.

Ada ilustrasi lain. Seorang muda atau setengah- baya, berkenalan dengan seorang wanita Eropa, tetapi wanita ini sudah tua dan hampir bisa dikatakan tua-banget! Orang setengah-baya kita ini dalam keadaan kebingungan, sebab wanita itu yang umurnya sudah 72 tahun, walaupun ada bagian-bagian fisikal yang dapat dikatakan masih berfungsi dan dalam keadaan mulus karena perawatan khusus, katanya sangat mencintai dirinya. Sedangkan wanita ini sangat kaya, tetapi tak ada keluarganya, tak ada anaknya. Wanita ini pada suatu hari mengajak teman kita yang setengah-baya ini kawin, berumahtangga, menikah lho maksudnya! Wanita ini juga mengemukakan pendapat dan usulnya mengapa dia mengajak kawin teman setengah-baya kita ini. Katanya agar nanti kalau dia mati, semua harta-bendanya akan jatuh ke tangan suaminya ini, teman kita setengah-baya kita ini. Kalau tidak, begitu wanita 72 tahun itu meninggal, semua harta kekayaannya akan jatuh ke tangan pemerintah, karena memang tak ada akhli-warisnya, tak ada keluargannya. Soal kenapa tak ada keluarganya lagi tak usahlah kita urus! Itu cerita lain lagilah!

Teman kita setengah-baya ini sebenarnya sangat bimbang. Mau mengawininya, tetapi ada rasa malu, masaksih menikahi orang tua-banget! Lalu apa yang dia bisa "pakai" dengan ketuaan begitu. Teta-pi bila dipikir-pikir secara buruk dan miring, begitu wanita itu meninggal maka diapun akan menjadi kaya-raya.Hanya orang setengah-baya tadi tetap dalam keadaan bingung, antara malu tetapi mengingat harta kekayaan yang begitu banyak, lalu timbul rasa maju-mundur. Maka teman kita satu ini datang kepada teman kita yang dapat dianggap bisa memberikan nasehat atau usul-usul. Dan teman kita yang dianggap sesepuh ini juga sudah tua, orangtua yang bisa diandalkanlah!

"Bagaimana Mang, menurut Mang tentang perkara saya ini"kata teman setengah-baya itu. "Sudahlah, kawini sajalah. Dia kan memang cinta benar kepadamu, disamping dia juga mau mewariskan harta-kekayaannya kepadamu. Apalagi soalnya!Hanya kalau jadi kawin, kau harus benar-benar memelihara dan mencintai isterimu itu, walaupun umurnya sudah berkepala 7, sedangkan kau baru berkepala 4", kata dan nasehat Mang tadi. "Tapi aku malu Mang kalau banyak ditertawakan teman-teman lain. Kok isterimu tua banget sih. Sepertinya ketahuan terang-terangan menunggu harta-kekayaannya. Ini yang menjadi kebimbanganku", kata teman tadi. "Yah kalau begitu kau pikirlah lagi baik-baik. Timbang dan putuskan berdasarkan kejujuran hatimu. Ini perkara kawin, berumahtangga, bukan soal sepele. Ini soal hidup-mati yang berkelanjutan panjang". Tetap saja teman ini dalam keadaan bimbang sangat. Bimbangnya sebenarnya soal itu tadi.Antara mau kawin tetapi malu, dan antara mengingat harta-kekayaan akan jatuh ke tangannya dan sebenarnya mana dia akan benar-benar cinta kepada nenek itu!

Dua tiga minggu kemudian datang lagi teman kita ini kepada Mang. Tampak wajahnya sangat murung, terlihat lemas karena mungkin kurang tidur memikirkan sang nenek yang benar-benar minta dika-wini. Nenek itu juga sangat memerlukan kasihsayang teman setengah-baya itu. Dan jauh sebelumnya teman kita ini memang selalu datang ke rumah nenek buat membantu orang tua tersebut. Dari seringnya berkunjung ini lalu nenek punya rasa kasihcinta kepada orang setengah-baya ini, lalu teringat akan harta-kekayaannya, daripada jatuh ke tangan pemerintah bukankah jauh lebih baik ke tangan "suaminya" ini. Tetapi harus menikah secara sah, ini keharusan undang-undang. "Jadi sampai sekarang kau belum memutuskan, mau mengawininya apa tidak?"kata Mang. "Belum pasti benar Mang. Tapi sudah ada pikiran yang agaknya mendekati itu, hanya kini dia sedang tidak begitu sehat. Nanti akan saya katakan padanya bahwa okey, saya setuju". "Nah begitu dong", kata Mang. "Hanya kau harus janji pada dirimu sendiri, bahwa kau harus betul-betul mengasihi-sayang kepada isterimu itu. Bukan karena harta-kekayaannya. Kamu harus jujur itu!"

Dua tiga minggu tak ada teman setengah-baya ini ke rumah Mang. Mang sudah agak senang juga ketika dulu itu, sebab dia sudah punya keputusan. Dan sebulan kemudian datanglah teman kita ini. Tetapi wajahnya sangat murung dan sangat memelas. Hampir saja jatuh ke pangkuan Mang kalau tidak cepat ditopang. "Mang tak ada gunanya lagi, Mang. Semua sudah berakhir. Dia kemaren sudah meninggal", kata teman kita ini. "Ya Allah, sialnya nasibmu Parto! Inilah kebangetanmu, inilah hasil kebimbanganmu. Ya, sudahlah. Semoga saja kau akan menemui yang lain yang lebih tak punya soal", kata Mang mengakhiri kata-katanya dari sebuah cerita kebimbangan orang-muda setengah-baya dengan nenek 72 tahun, -

Paris 7 April 1999

RBKP = erbekape

RBKP adalah Revolusi Besar Kebudayaan Proletar. Yang mencetuskannya yalah Mao Tze-tung sendiri, sebutan populernya di Tiongkok, Ketua Mao. Isi pokok apa maksud diadakannya RBKP, agar bisa dengan lanjut dan mantap meneruskan, membangun Tiongkok dengan prinsip MLFMTT, ketika itu. Apa pula itu? Artinya prinsip Marxisme, Leninisme Fikiran Mao Tze Tung, disingkat MLFMTT itu tadi. Juga agar Tiongkok tidak berubah warna, dengan tegas jangan sampai berbelok ke arah revisionisme seperti PKUS dan Uni Sovyetnya, ketika itu. PKUS adalah Partai Komunis Uni Sovyet yang sangat berseteru dan sangat bertentangan secara ideologis dengan PKT dan Tiongkok. PKT adalah Partai Komunis Tiongkok. Hal lain isi pokok RBKP, kita tulis saja dengan erbekape, yalah membuang atau membasmi adat-lama, kebia-saan lama, cara-cara lama dan yang sifatnya menghalangi kemajuan. Ini maksudnya dalam menegakkan ke-pemimpinan yang benar-benar MLFMTT itu tadi. Sebab ketika itu sudah ditengarai ada unsur-unsur yang mau membelokkan ideologi dan kepemimpinan di CC, Comite Central dan PB, Polit Biro Partai.

Ketika itu di mana-mana bersuasana erbekape, dan kepemimpinan Ketua Mao dengan adanya erbekape ini menjadi sangat terkonsolidasi dan utuh-kuat. Tetapi di sana-sini sudah tentu ada yang

rontok, terlemparkan, tersisihkan, karena dipecat, dicabut. Bahkan perselisihan dan saling konfrontasi berhadapan sangat sering terjadi bentrokan, berkelahi, huruhara danb jatuh korban banyak. Tidak ada sumber yang sangat jelas dan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan berapa sebenarnya angka kematian, angka korban selama erbekape ini. Tetapi semua sependapat angka korban selama erbekape ini dari puluhan-ribu sampai ratusan ribu orang! Pertentangan antara garis-lama-usang, jalan kapitalisme, dengan garis revolusioner Ketua Mao, sangat meruncing. Perang-dalam-negeri secara kecil-kecilan tetapi merata ini, tidak diumukan ke luar, karena masalah ini adalah "hukum perjuangan kelas" yang sangat meruncing antara ideologi reaksioner dengan ideologi revoluisioner. Ini berlaku kira-kira dari tahun 1966 sampai dengan meninggalnya Ketua Mao bahkan jauh sesudah itu, tahun menjelang akhir tahun 1970-an, di mana kepemimpinan Teng Sio-ping ditegakkan secara mantap. Sebelum Teng Siao-ping, ada beberapa pimpinan lagi yang sebenarnya tidak kuat.

Akibat adanya erebekape ini sangat banyak hal-hal yang cukup merugikan banyak kemajuan yang yang tadinya sudah mau mantap, tetapi kalau erbekape tidak dilakukan, sangat dikuatirkan Tiongkok akan berubah warna seperti Uni Sovyet, demikian sementara pendapat. Uni Sovyet dicap sebagai negara yang mengkhianati prinsip ML, Marxisme-Leninisme, sudah revisionis, karena merevisi ajaran ML sejati. Dan kami hidup antara masa begini cukup lama, lebih dari sepuluh tahun. Bagaimana keadaan kami? Kami ini terdampar, orang menumpang di negeri orang, semua diatur oleh tuan-rumah, pihak Tiongkok yang melindungi dan menjamin kehidupan kami secara keseluruhan. Kami berada di tengah gejolak dan arus besar erbekape. Tentu saja kami terikut, terbawa arus, dan habis mau apa? Mau menentangnya? Mau melawan arus? Mau sok jagoan? Namun demikian seperti adanya hukum-alam yang tak dapat dilawan, kami ini punya otak, punya perasaan dan punya pikiran, dan punya pendapat. Tetapi tidak bisa dikemukakan secara terang-terangan. Kalau dikemukakan, nanti tuan-rumah marah dan tidak senang bahkan bisa memusuhi kami. Dan kalau ini terjadi, sangat menyusahkan keduabelah pihak, tamu dan tuan-rumah. Tapi kami mencatat dalam hati, bahwa ini tidak benar, ini sudah keterlaluan, ini dogmatis, ini sangat pragmatis, ini sifatnya sudah pemujaan yang berlebihan.

Sangat banyak hal di luar pemikiran nalar yang obyektif, terlalu berlebihan dan terlalu bersifat pemujaan kepada perseorangan Ketua Mao saja. Sebetulnya kalau mau ngomong tentang kultus-individu yang pe-mujaan perseorangan, maka peristiwa erbekape Mao-lah yang paling tipikal sebagai contoh. Di mana-mana gambar besar Ketua Mao, di mana-mana patung besar Ketua Mao. Di rumah siapa saja dan di mana saja akan ditemukan gambar, foto, lukisan Ketua Mao. Bahkan banyak di rumah petani yang pemujaan altar kepercayaan ke-Confusius-annya, digantikna dengan foto Ketua Mao. Di mana-mana dicetak dengan metal emblim, atau insinye Ketua Mao yang selalu menghiasi dada setiap orang di Tiongkok, termasuk dada kami, para pengungsi-politik ini. Kalau metal, besi-baja itu dilebur menjadi kapal atau pabrik, barangkali sudah berapa kapal-induk yang bisa dibuat dan sudah berapa pabrik yang sudah berdiri. Tapi ini demi penegakan atau kultus-individu kepada Ketua Mao. Kami berani berkata demikian sudah tentu dalam hati saja, atau antara kami saja, tidak boleh ketahuan oleh tuan-rumah!

Kami sekali-sekali juga diajak ke daerah-daerah yang terbelakang, tetapi juga terkadang diajak ke daerah yang sedang membangun, dan ke daerah yang sudah maju. Semua tergantung dari program tuan-rumah, apa keperluannya dan apa sasaran pendidikannya. Suatu kali kami diajak ke daerah pertanian yang sedang membangun, pindah memindahkan tanah, memikul tanah, membuat tanggul, membuat lahan pertanian. Kedatangan kami dengan maksud bekerja-sama dengan kaum tani itu, dan membantu peker-jaan produksi suatu brigade produksi dari sebuah komune pertanian. Sebenarnya kami tahu dan paham benar, bahwa bekerja-sama dengan kaum tani ini hanya sekedar proforma saja. Sebab baru satu-dua jam bekerja, sudah diadakan istirahat, dan adanya ceramah atau pertunjukan dari kaum tani setempat, dan terkadang tukar-menukar pertunjukan. Artinya dari pihak kami juga harus menari atau menyanyi atau apa saja yang sifatnya pertunjukan, panggung.

Sebelum kami kerja mencangkul, memikul, menyiangi rumput dari tanaman-musiman, kepala brigade pro-duksi akan ceramah atau menjelaskan dulu situasi brigade produksi, riwayat singkat dan angka-angka kemajuan pertanian di sana. Lalu sesudah itu——-nah, berlakulah hal aneh itu. Kepala Brigade Produksi mengatakan bahwa sebelum kita kerja, baiklah kita minta petunjuk(rupanya jauh sebelum Harmoko, sudah ada budaya minta petunjuk itu!) Ketua Mao dulu, dan kita akan segera menghadap Ketua Mao, katanya. Kami saling melihat antara kami saja. Ada yang heran, ada yang agak sinis, ada yang benar-benar menunggu kedatangan Ketua Mao dari Beijing ke Tiongkok Selatan ini, buat memperoleh wejangan dan petunjuk yang diharapkan tadi. Lalu tuan-rumah desa itu mengajak kami ke luar ruangan, dan diminta ber-baris dua-dua, dan kami menuju ke sebuah lapangan. Ada di antara kami yang mengira Ketua Mao sudah menunggu di lapangan, karenanya kita harus sangat tertib berbaris. Dan tak jauh terlihat tegak sebuah patung besar Ketua Mao dengan gagahnya merentangkan tangannya ke kejauhan. Di hadapan patung besar itulah, tuan-rumah minta petunjuk dan garis ideologi-kerja buat hari ini.

Setiap orang Tiongkok, termasuk kami walaupun orang Indonesia, punya buku-kecil-merah, namanya buku-ilu. Ilu artinya kutipan kata-kata, quotation Ketua Mao. Buku ini menjadi petunjuk-kerja bahkan petunjuk-kehidupan bagi orang Tiongkok ketika itu. Takkan ada orang Tiongkok yang tak punya buku-ilu ini, takkan ada seorangpun orang Tiongkok yang tak punya insinye, emblim dari metal yang bergambarkan Ketua Mao! Di hadapan patung besar Ketua Mao itulah kami membuka buku-ilu pada halaman sekian, paragraf sekian untuk sama-sama membaca kutitap kata-kata Ketua Mao itu. Antaranya kami membaca bersama dengan keras dan setengah berteriak lantang, "bersatu, giat, serius dan lincah". I-ni kutipan kata-kata Ketua Mao sewaktu berpidato di Universitas Militer dan Politik Anti Jepang. Lalu kutipan lainnya pada halaman sekian, terbaca dan bersama-sama bersuara "kita harus rendah-hati dan berhati-hati, tidak sombong dan tidak terburu nafsu, dan mengabdi rakyat Tiongkok dengan sepenuh hati". Kutipan ini dari tulisan Ketua Mao, "Dua Nasib Tiongkok", - Lalu baca lagi halaman sekian, "mengabdi sepenuh hati kepada rakyat dan sekejappun tidak memisahkan diri dari massa;dalam segala hal bertolak dari kepentingan rakyat dan bukan dari kepentingan diri-sendiri atau suatu golongan kecil";-Sesudah itu barulah kami mulai bekerja-sama dengan petani’setempat. Sudah tentu para petani itu sangat ramah, dan dengan rasa senang dan bangga mereka sangat bersemangat bersama kami. Pada umumnya mereka sangat jarang melihat orang asing. Karena itu tak heran terkadang kami jadi tontonan mereka.

Sesudah bekerja yang hanya satu-dua jam itu, kami menonton pertunjukan dan kamipun mempertunjukkan tarian dan nyanyian yang kami pelajari bersama di asrama kami. Dan ketika makan-siang, kami makan bersama petani setempat. Dan begitu mau pulang mengakhiri kunjungan, Kepala Barisan Produksi minta kami bersama-sama buat menghadap dan melaporkan pekerjaan hari ini kepada Ketua Mao! Dan mungkin sudah tahu semua di antara kami yang bego-bego dulu itu yang menyangka Ketua Mao sudah menunggu di lapangan, kini tidak lagi sebego dulu. Dan benarlah kami berbaris dua-dua dengan tertib menuju lapangan, di hadapan patung Ketua Mao yang besar-gagah itu. Kepala Brigade Produksi minta kami membuka buku-ilu halaman sekian, pragraf sekian buat dibaca bersama. Dan kami sudah kebiasaan bahkan ada yang sudah hapal tentang apa dan persoalan apa dan pada bagian halaman berapa dari buku-merah-kecil itu. Sudah itu upacara seremonial begini akan diakhiri dengan teriakan membahana keras dan lantang : Hidup Ketua Mao! Hidup garis MLFMTT! Ganyang imperialis dunia Amerika Serikat dan kakitangannya! Serentak dengan suara lantang membahana itu, tangan kita harus diacungkan tinggi-tinggi ke langit, seperti orang sedang demonstrasi meneriakkan slogan-slogan. Dan kami larut-turut dengan semua peristiwa tersebut, walaupun dengan hati dan pikiran yang tidak satu.-

Paris 8 April 1999

Masih Tentang erbekape - RBKP

Dengan adanya erbekape ini di seluruh Tiongkok semangat rakyat sangat bergelora, selalu menggebu-gebu, dan pikiran menjadi menyeluruh, ke seluruh dunia. Dan sudah tentu ada bahaya kesombongan. Slo-gan dan motto sudah mulai ada kata-kata bahwa Beijing - Tiongkok adalah pusat-revolusi-dunia. Badan kita ada di Tien An-men, tetapi hati kita ada di seluruh-dunia. Kita adalah mercu-suar revolusi dunia. Ada kata-kata itu tidak dilahirkan melalui badan resmi negara, seperti badan-partai atau koran-partai, tetapi ter-kadang melalui koran-daerah, atau badan-partai setempat. Namun semua ini diketahui oleh pusat. Bisalah dimengerti bagaimana hebat dan dahsyatnya pemujaan kepada Mao Tze-tung, ketua Mao. Mao diibaratkan sebagai matahari-merah yang terbit di ufuk Timur, yang merah, merah dan sangat merah. Sebutan merah dan bagaikan mentari-merah ini biasanya disebut dua-tiga kali diteriakkan sekeras-kerasnya ketika menyerukan slogan-slogan Partai dan Negara. Ada perasaan kalau kurang bersemangat menyerukan slogan itu akan dicap kurang revolusioner, kekadaran ideologinya pantas diragukan! Perasaan ini banyak menghinggapi banyak kepala dan pikiran. Sehingga ada kalanya jor-joran siapa yang paling keras dan lantang mengucapkan Hidup Ketua Mao, Hidup MLFMTT(Marxisme Leninisme Fikiran Mao Tze-tung).

Banyak akibat dan dampak negatifnya gerakan ini. Kekuatan memang terkonsolidasi pada batas-batas tertentu, tetapi perpecahan juga sangat menyeluruh. Ketika itu timbullah kata-kata, apabila banyak pusat berarti tidak ada pusat, sebab pusat selalu hanya ada satu. Ini disebabkan banyak sekali yang menuntut dan memperjuangkan bahwa dirinya, kelompoknya, faksinya adalah pusat yang sebenarnya yang harus di-turuti dan ditaati. Karena itu sudah sangat banyak yang namanya BBR, -Barisan Berontak Revolusioner. Ini di kalangan orang Tiongkok. Kebanyakan kerja dan perjuangannya hanya ganyang-mengganyang antara BBR itu, sebab masing-masing merasa dirinya, kelompoknya yang paling revolusioner, yang paling Marxis-Leninis sejati, yang paling cinta Mao dan Fikiran Mao Tze-tung. Dampak begini lalu merasuk di kalangan kami, orang-orang melayu yang sebenarnya hanya jadi penonton luaran saja yang sebenarnya sangat tak tahu apa-apa! Tapi sangat merasakan tahu segala tentang sesuatu, tahu sesuatu tentang segala. Dan kami memproklamirkan diri dengan BBR yang sebenarnya turut-turutan saja dengan BBR di luar, di dunia-luaran di kalangan orang Tiongkok sendiri.

Maka lahirlah BBR Musso, BBR Palu-Arit, BBR Padang-Lalang, BBR Angin Timur, BBR Sungai Merah, BBR Danau Merah, dan entah berapa BBR lagi, yang semuanya merasa dan mengaku dirinya paling revolusioner, paling Marxis-Leninis sejati, mungkin merasakan dirinya paling komunis 100 persen dan 24 karat murni, tingting! BBR ini adalah pencerminan kehidupan luar di kalangan orang Tiongkok yang sedang melaksanakan dan menjalankan RBKP itu. Dan kami setiap hari kerjanya sebenarnya hanya mencari kesalahan pihak lain. Ketika itu ada kata-kata di luaran, artinya di kalangan orang Tiongkok, mencari dan menyimpan bahan-gelap. Nah, kamipun begitu, mencari kesalahan dan kekeliruan orang lain yang menjadi seterunya, katakanlah BBR lain. Kalau dapat carilah "kelemahan-musuh" kita itu, carilah sampai dapat, baik dalam masalah ideologi, filsafat dalam kepartaian, maupun dalam masalah moral sehari-hari. Misalnya saja bahwa dia dulu pernah korupsi, atau mendekati dan menggoda si anu, isteri teman sendiri, atau dekat dengan kader Central yang pikirannya revisionis, condong ke PKUS, Uni-Sovyet. Dan segala macam "kelemahan dan ekor" teman lain. Perpecahan antara kami secara begini memang sangat merugikan kesatuan-kehidupan yang sebenarnya sama-sama bernasib "orang terdampar -pengungsi, terpukul, kalah" walaupun tidak pernah akan menye_ rah!

Bagaimanakah dampak gerakan RBKP itu? CC PKT dan KRN - RRT sudah menyatakan dengan resmi bahwa kerugian akibat adanya gerakan RBKP itu betapa banyaknya kemunduran dan korban jiwa antara rakyat Tiongkok sendiri.Dan RBKP yang dicetuskan Mao sendiri itu, pada pokoknya tidak berhasil, tidak sukses, bahkan terlalu banyak setback-nya, mundur jauh. Ketika itu produksi sangat mundur, jatuh, industri apalagi! Kesibukan rakyat hanyalah dalam ganyang-mengganyang saja, rapat setiap hari, bertengkar, maki-maki dan lalu berkelahi, lalu jatuh korban.Ke Kantor, ke Badan-Resmi hanyalah datang buat rapat, buat diskusi, berdebat yang tak berkesudahan. Aku pernah melihat dengan matakepalaku sendiri dari ketinggian asrama kami lantai-empat, di seberang jalan yang sangat jelas, ada dua rombongan pemuda. Mereka rupanya dari dua BBR yang saling bertentangan.Lalu bertemu di sebuah jalanan, lalu berdebat, bertengkar-panas. Lalu berkelahi.Rupanya memang sudah saling siap. Beberapa pemuda menangkap dan memiting seseorang lawannya, lalu dipukuli dengan pentung dan matanya dilempari dengan entah batu atau peluru-besi yang bulat-bundar, dan terdengar suara———bledos—–ternyata matanya ke luar, muncrat. Pemuda itu terkulai dengan penuh darah, dan katanya mati. Peristiwa ini hanya lewat di seberang asrama kami yang dibatasi dengan sebuah-tali-air yang kami tidak mungkin ke luar, karena kami di asrama yang punya peraturan sangat ketat.

Begitu banyak peristiwa yang berdampak negatif begitu. Hampir setiap hari terdapat korban berjatuhan akibat pertentangan antara BBR itu, yang merasa dirinya paling benar paling revolusioner, paling Marxis-Leninis. RBKP yang berintikan mengganyang empat-lama, di antaranya takhyul dan mistik , kepercayaan abstrak, sampai ke desa-desa. Suatu waktu kebetulan listrik sudah masuk-desa. Sudah dijelaskan bahwa setiap orang agar berhati-hati dengan aliran listrik, bisa berbahaya dan mematikan. Seseorang yang sudah merasa dirinya "bersih dari anasir takhyul dan mistik" sangat menentangnya dan tidak percaya kawat yang begitu saja kok bisa mematikan. Orang ini lalu dengan gagah membongkari proyek yang belum selesai-baik itu. Dan orang ini tersengat listrik dan mati, mati-konyol. Ini semua karena dia merasa sangat tidak percaya kawat sekecil itu saja ada "kekuatan dalamnya yang mistik dan takhayul". Boleh percaya boleh tidak, tetapi aku mendengarnya cerita-cerita dari ekses RBKP ini.

Ketika aku masih bekerja di Pustaka Bahasa Asing yang menerbitkan berbagai majalah dalam bahasa asing yang banyaknya puluhan bahasa, aku menjadi seorang pemolish. Dari kata polish, membersihkan, meneliti, menyemir bahasanya agar bagus dan sesuai dengan arti aslinya. Dalam majalah itu terbaca sebuah kisah nyata ketika Ketua Mao berenang di Sungai Yang Tze. Ketua Mao memang sangat suka berenang, dan pandai berenang. Tetapi pandai bukan berarti juara, bukan berarti kampiun yang hebat. Dari bacaan kisah tersebut tertulis bahwa hari itu Ketua Mao berenang sejauh 15 km dengan waktu antara satu sampai dua jam. Membaca cerita ini aku tertawa dan geleng kepala. Tidak mungkin terjadi, omong kosong kataku dalam hati.Karena aku juga sebenarnya "setan air" ketika di Jakarta dulu. Kolam-renang Manggarai dan Cikini serta Mangga-Besar di kota, dalam setiap minggu aku tukar-tukar tempat saja antara satu kolam ke kolam lainnya. Dan lagi aku ini anak-pantai, anak-laut, mana mungkin berenang sejauh 15 km hanya satu dua jam, dan lagi Ketua Mao ketika itu sudah berusia 60 ta-hun lebih bahkan hampir 70 tahun. Lalu kuajukan kepada Pimpinan Redaksi majalah itu, kader Tiongkok. Sekaligus kuajukan juga keberatanku dengan cerita sampingannya, bahwa ada seorang nelayan di sebuah perahu, begitu asiknya dan kagumnya melihat Ketua Mao, lalu terjatuh ke sungai itu. Dan ketika diwawancarai oleh wartawan, bagaimana perasaan nelayan tersebut melihat dan sempat begitu beruntung menyaksikan Ketua Mao berenang, nelayan itu menjawab, "peristiwa itulah yang sangat membahagiakan-nya dalam seluruh kehidupannya, dan ketika dia terjatuh-tercebur ke sungai dari perahunya, dia terminum air, dan sangat terasa air itu sangat manisnya, karena air itu membawa badan dan jiwa Ketua Mao di sungai Yang Tse", begitu kilah wartawan dalam menggambarkan kekaguman rakyat - nelayan Tiongkok kepada Pemimpin Agungnya, Jurumudi Agungnya. Dan aku memberikan pendapat bahwa bagaimana bagian yang tak masuk-akal begitu dihilangkan saja atau sedikit diubah agar bisa masuk-akal. Pemimpin Redaksi malah berkeras justru cerita beginilah yang dibutuhkan dan diperlukan masarakat kini. Dan aku sudah tentu tidak ngotot, karena memang tugasku hanya mem-polish bahasanya saja, sedangkan yang dipertahankannya adalah masalah "ideologi dan strategi", ya sudah takkan ketemu.-

Paris 9 Maret 1999

Desa Gunung Kepala-Ayam

Sebenarnya kami tak tahu apa nama desa kami ini. Nama Tiongkoknya Chi Gong-san, kalau diterjemahkan artinya memang Kepala Ayam. Ada sebuah gunung yang tidak begitu tinggi, tetapi kelihatan dari ke jauhan yang bagaikan kepala-ayam, atasnya agak melengkung. Kami penguhuni perkampungan asrama kami semuanya pernah mendaki gunung kepala-ayam ini. Dari jauh gunung ini terlihat megah, terpancak kukuh, dan cukup indah kalau dilihat dari kejauhan. Kalau kita naiki sampai puncak benar-benar, cukup terdapat kesulitan dan harus berhati-hati, bisa-bisa terjatuh masuk lembah yang sangat dalam. Begitu sampai di puncak, terasa juga ngos-ngosan nafas dibuatnya. Sekedar olahraga ringan, boleh jugalah. Jauh desa kami ini dengan ibukota provinsi, Nanchang, sekira 220 km. Dan kami tidak boleh sembarangan pergi ke kota! Ada aturannya, mau apa, keperluan apa? Yang pasti boleh dan diatur keberangkatan adalah buat teman-teman sakit, ke hospital, ke rumahsakit Nanchang. Dan inipun sudah dalam pengaturan klinik-kecil, atau puskemas setempat di asrama kami, melalui dokter yang punya wewenang buat mengaturnya. Yang "enak" yalah teman-teman yang sakit gigi. Sebab biasanya teman yang sakit gigi, tak pernah hanya satu kali ke kota, selalu berkali-kali, berulang-ulang, dan memang begitu peraturannya. Jadi kami yang nakal dan "berideologi rendah" ini akan gembira sekali kalau dapat sakit-gigi agak ringan. Sebenarnya bukan senang karena sakit-gigi itu, tetapi akan ke kotanya itu lho! Dan kalau ke kota, selalu harus menginap, dan kalau menginap selalu harus di hotel, nah, ini tema pokoknya. Menginap di hotel dan makan di hotel, betapa enak dan mewahnya rasanya. Maklumlah kami kan orang desa!

Pernah kami bersajak akan perjalanan hidup kami ini. Sebab dulunya, dari Beijing-nya, kami mula-mula dipindahkan ke Ciangsu, di Nanjing, lalu ke Ciangxi di Nanchang. Dua provinsi dan dua ibukota ini huruf ujungnya bersajak bagus sekali. Dari Ciangsu ke Ciangxi, dari Nanjing ke Nancang. Ya bagus sih bagus, tetapi kami yang menjalaninya penuh dengan segala pertentangan dan perasaan yang sangat sulit digambarkan. Dulu ketika sedang ramainya kontradiksi dan sedang menggilanya RBKP, kehidupan kami sangat diombang-ambingkan pertentangan antara kami dan juga merupakan pencerminan situasi keseluruhan, termasuk keadaan Tiongkok dan dunia. Kenapa sampai membawa-bawa dunia? Tentu saja! Karena ada pengaruhnya kepada kehidupan keseluruhan kita dan kami. Ketika itu sedang memuncaknya perang-dingin, pertentangan antara kubu-sosialis, perseteruan antara PKUS dan PKT, dan kemerosotan gerakan komunis-internasional, yang kami namakan gerakan GKI. Perang perbatasan antara Tiongkok dan Uni Sovyet saja makan-korban ribuan jiwa, dan perang-perbatasan Tiongkok-Vietnam makan-korban puluhan-ribu korban jiwa di kedua-belah pihak. Belum lagi korban selama gerakan RBKP. Banyak peristiwa terjadi di Tiongkok yang tak diumumkan ke dunia internasional. Misalnya saja korban-bencana alam akibat gempa bumi di Thangsan di bagian agak utara dari provinsi kami, makan-korban jiwa paling banyak di dunia! Hampir satu juta jiwa yang hilang! Mana ada bencana gempa bumi sedahsat itu! Selu-ruh kota membusuk, bau bangkai, dan penyakit menular menjalar ke mana-mana. Puluhan ribu tenaga TPR(Tentara Pembebasan Rakyat) dan barisan lainnya dikerahkan buat membantu korban gempa bumi di Thangsan.

Kembali ke desa kami Desa Gunung Kepala-Ayam. Desa ini sebenarnya sangat subur. Penduduk sekitar situ adalah petani. Hidup mereka cukup miskin, tapi sudah pasti tidak ada yang sampai kelaparan.Mereka pada umumnya tidak bersepatu, rumahnya sangat sederhana. Pemanas ketika musimdingin hanya dari batu-arang yang sangat dihemat. Biasanya pemanas itu dibawa kemana-mana, seolah-olah dalam keranjang, dan bisa dijinjing ke mana-mana. Kami sendiri baru pertama kali itulah melihat bahwa pemanas bisa di bawa ke mana-mana. Kalau tidur mereka samasekali tak pakai pemanas, dengan selimut yang mereka rasa cukup tebal saja, langsung mereka akan bisa tidur lelap. Kalau kami bisa sakit bahkan bisa mati kedinginan. Rumah kami saja yang baru itu, di dalam rata-rata hanya 14 sampai 16 C, terlalu dingin. Kalau pakai pemanas dengan batu-arang lalu naik sampai 22 C, ada yang sampai 25 C, dan itu terlalu pa-nas. Tapi sebenarnya buat kesehatan tidak begitu baik, banyak debu, banyak polusi, agak sulit bernafas, paru-paru terpaksa kerja keras. Asrama kami benar-benar baru dan kami selalu nganyari peru-mahan baru. Pihak tuan-rumah, Tiongkok selalu menyediakan dan menyiapkan perumahan dan asrama yang benar-benar baru, belum pernah didiami oleh siapapun, memang untuk kami sendiri. Ini terjadi di Desa Kepala Ayam ini. Lalu ketika kami pindah bedol-desa ke kota, di Nanchang, kamipun dapat perumahan asrama baru juga. Pindah bedol desa itu bukan main hebat dan ramainya kerja-keras, pesta kerja. Truk besar-besar, lalu lintas selama seminggu lebih sebanyak lebih 50 truk mondar-mandir antara desa dan kota. Dan ini demi hanya untuk kami!

Kami hidup ditanggung oleh tuan-rumah, makan-minum, pakaian, rekreasi, meninjau provisni lain setiap musimpanas, dan kami dapat uang-saku lagi. Dari segi kehidupan betapa tuan-rumah sudah sangat bertanggungjawab dan sangat memperhatikan kami. Sebenarnya dalam hatiku, ini aku hanya menceritakan diriku sendiri, pendapatku sendiri, : betapa baiknya dan bertanggungjawabnya tuan-rumah kepada kami, dan betapa kami atau kita sangat berhutang-budi kepada tuanrumah. Dokter setiap hari datang kepada kami, memeriksa dengan teliti kesehatan kami. Ada pemeo antara kami, apa bedanya orang Tiongkok dengan kami para melayu ini kalau berhadapn dengan RS(Rumah-Sakit)? Kalau kami gampang masuk RS tetapi sukar keluarnya, kalau orang Tiongkok sulit masuk RS tetapi gampang keluarnya! Karena pihak tuan-rumah benar-benar bertanggungjawab atas tamunya. Dan ingat tuan-rumah memperlakukan kami sebagai tamu-partai bahkan tamu-negara dalam bentuk kecil, tak ada tamu akan menerima penghargaan semulia itu lagi. Sedangkan buat orang Tiongkok, masuk RS itu adalah suatu ke-mewahan, luarbiasa, kalau sakit-keras dan serius barulah bisa masuk. Sedangkan buat ke luarnya sangat gampang. Sebab masih terlalu banyak yang sedang menunggu giliran buat masuk!

Kami dapat dengan luas berjalan-jalan dan mengedari pedesaan kami. Bukan main bagusnya warna-warni segala tumbuh-tumbuhan ketika musimsemi tiba. Tanaman gandum yang menghijau, lalu bau wangi tanaman sesawian, biji-bijian, dan segala jenis bunga sangat menyenangkan hati yang melihat dan merasakan keindahan sekitar alam tersebut. Dan air, air ledeng di pedesaan kami sangat segar, bersih dari polusi apapun. Kami sering minumnya langsung dari ledeng dan sumur, dan betapa menyegarkannya. Ke manapun kami pergi sampai jarak beberapa kilo meter bahkan sampai belasan kilometer, tanda pengenal desa kami akan selalu tampak, yaitu sebuah gunung yang bagaikan boneka mainan anak-anak, Desa Gunung Kepala Ayam! Dan kami para penghuninya, begitu liburan dari kewajiban belajar dan berkebun serta menggembala, menjalani pedesaan kami. Kami akan selalu bercakap-cakap dan datang ke rumah-rumah penduduk setempat, para petani asli penduduk situ. Mereka sangat ramah. Walaupun terdapat kesulitan dalam berbahasa, sebab mereka tak mengerti bahasa mandarin, beijing, yang selalu kami guna-kan. Sedangkan kami tak mengerti bahasa setempat mereka. Maka bahasa tarzanlah yang lebih berfungsi! Sebenarnya kami tahu juga bahwa tuan-rumah, pihak Tiongkok tidak begitu suka kalau kami langsung berhubungan dengan penduduk setempat. Sudah tentu dengan berbagai alasan seperti bahwa harus hati-hati dengan adanya perjuangan-kelas di mana-mana, adanya mata-mata dan orang jahat di mana-mana. Dan semua alasan ini mungkin ada juga benarnya, tetapi satu hal yang kami mengerti, apapun dan bagai-manapun apabila kami langsung berhubungan dengan penduduk setempat, pihak tuan-rumah sudah pasti tidak akan merasa senang. Hal ini bukan hanya di sini di tempat kami ketika itu, tetapi juga ketika kami di Nanjing maupun Beijing dulu. Mungkin mereka kuatir akan adanya rasa kecemburuan-sosial. Karena taraf kehidupan kami jauh lebih baik dari mereka.

Di desa kami, makanan berlimpah, benar-benar berlimpah. Kami berusaha bagaimana setiap orang berusaha keras untuk——kurus, atau jangan terlalu gemuklah! Sudah makan cukup masih juga mau makan burung hasil tembakan setiap hari Minggu! Dan tidak hanya orang-orang muda yang "gila" mencari anak atau bayi-tikus buat ditelan mentah-mentah yang masih berwarna merah-darah itu, orang tuapun juga berlaku begitu bahkan wanita yang agak "panasan", turut menelan bayi-tikus yang masih me-rah-darah itu. Oh, mbak Titut itu bukan main sukanya menelan empedu ular yang baru saja dikeluarkan dari perutnya! Katanya makan empedu ular sangat sehat, mata hitam bercahaya, rambut menjadi ikal bergelombang. Dan mbak Titut memang terkenal suka menelan empedu ular ini. Dan memang beliau punya body yang aduhai walaupun sebentar lagi umurnya akan segera berkepala 5. Aku pernah membunuh ular sebanyak tiga ekor sekaligus. Dengan rasa senang kusetorkan empedunya kepada mbak Titut itu. Dan aku makan badan ularnya, disop atau ditumis bukan main enaknya! Kepandaian menangkap ular ini ada seninya. Usahakan menangkap ekornya dan segera sentak sekuat-kuatnya denga amat cepat, maka akan remuk seluruh tulangbelakangnya, dan mati tergeletak. Bisa ular selalu dan hanya ada pada kepala dan giginya, jadi hindarkanlah kepalanya itu! Semakin ular berbisa semakin enak rasanya.

Tetapi manapula dapat menyaingi rasa enak kalau kami bergerombolan di bawah pohon cemara di depan asrama kami mengadakan pesta-rujak ramai-ramai! Rujak berjenis buah-buahan seperti apel, bangkuang, timun, ubijalar dan lain-lain. Berteduh di bawah pohon cemara, kena angin silir-silir sambil ngobrol dan tangan-tangan pada agak rebutan menjumput potongan buah-buahan yang dicelupkan pada saus pedas itu, maka lupalah mertua lewat karena anaknya sudah dikeloni! Dan berlakulah apa beda orang Jepang dengan kita para melayu ini. Orang Jepang merasa akan enak dan puas kalau bekerja itu sudah keluar keringat mengucur! Orang kita para melayu ini akan puas kalau keluar keringat mengucur karena makanan enak dan pedas! Nah, inilah bedanya antara kita dan Jepang yang maniak kerja itu! Paris 9 April 99

Kehidupan Kolektif

Apakah yang pokok yang kami pelajari secara bersama di pedesaan kami, Desa Gunung Kepala-Ayam ini? Kami belajar bersama mengenai pikiran yang selama ini membalut diri kami. Dan pikiran ini kami periksa apakah benar dan kalau benar dan tetap benar apa masih sesuai dengan suasana sekarang ini. Lalu kalau salah, di mana kesalahannya, apanya yang salah. Misalnya kesalahan teorinya ataukah teorinya benar tetapi begitu diprakekkan menjadi lain.Kami membahas semua pikiran besar maupun pikiran kecil yang ada pada kami, sehingga banyak pekerjaan yang ke luar dari jalur semestinya. Sudah tentu pikiran pokoknya yalah mengenai garis-garis politik selama ini. Mengapa terpukul, mengapa gerakan ini mundur begitu merosot, mengapa kalah dan begitu banyak korban sejak tahun 1965 itu.

Gerakan belajar ini kami namakan GPL atau GPF, artinya Gerakan Pembetulan Langgam, atau Gerakan Pembetulan Fikiran. Sebenarnya gerakan ini adalah lebih banyak bersifat kritik dan otokritik, memeriksa pekerjaan dulu-dulunya, memeriksa diri dan organisasi, dan semacam bedahdiri.Setiap hari seperti layaknya sebuah sekolahan atau akademi, kami belajar bersama, berdiskusi, memeriksa pekerjaan. Untuk mendalami sebuah teori, diperlukan banyak bahan-bahan, buku-buku dan ajaran para akhli filsafat, tidak hanya dari Marx dan Engels saja, tetapi juga dari Feurbach, Nietsche dan Dimitrov dan lain-lainnya. Sedangkan tu-lisan mereka masih dalam bahasa asing, seperti bahasa Jerman dan Russia. Harus pula kami terjemahkan. Ini artinya ada pekerjaan, seksi bagian terjemahan, dan lalu untuk itu ada lagi seksi untuk bagian perceta-kan, sebab harus dicetak, difoto-kopi. Maka pedesaan kami itu bagaikan sebuah kantoran, atau sebuah sekolahan-akademi. Kesibukan karena belajar dan diskusi banyak minta perhatian secara khusus, dan kalau sudah memasuki materi diskusi, akan timbul pergeseran-pergeseran tertentu dalam pikiran masing-masing. Dan seseorang harus dengan jujur mengemukakannya, secara terusterang, blak-blakan. Sudah tentu dengan gaya masing-masing teman. Dan sudah tentu banyak perbedaan pendapat. Maka ramailah suasana, penuh dengan debat, silang-siur pendapat. Terkadang membawakannya sangat keras, sudah mengarah ke pertengkaran, bahkan ada terlontar kata-kata kasar dan bersifat makian. Tetapi karena suasana kami, kehidupan kami jauh lebih baik dan lebih bebas dari beberapa tahun yang lalu, ketika kami masih di Nanjing, Ciangsu atau masih di Beijing, pusat ibukota negara, maka sekeras apapun perbedaan pendapat, masih bisa ditoleransi. Dan kami tetap bisa ngomong satu sama lain, bisa teguran, bisa bersama-sama dalam kehidupan kolektif.

Suasana selama adanya GPL atau GPF ini sangat melelahkan otak. Setiap hari bergumul dengan buku bacaan dan dokumen-lama, bahan-bahan perbandingan. Rasanya begitu ke luar ruangan belajar dan diskusi, terasa segar dan sangat menyenangkan, karena di luar ruangan yang sumpek penuh bau rokok, penuh asap, dan "bersih dari polusi kata-kata dan teori"! Waktunya selalu kami adakan pagi hari, sedangkan sorenya kami berladang, berkebun, bekerja-badan termasuk menggembala kambing. Nah, ketika itulah kami merasakan segarnya udara luar, pedesaan kami yang penuh kehijauan karena hasil kerja tangan kami sendiri. Begitu memandang agak ke jauhan akan tampak perbukitan, bukit-batu dan semak-semak hijau dan perkebunan kami yang sudah rampak subur bergayut buah terong, cabe yang segar-segar dan besar, kemerahan dan hijau-hijau bercampur merah karena mau matang. Dan merambatlah butiran timun-suri, blewa dan timun, jagung yang mengeluarkan jenggotnya yang agak coklat. Memandang kehijauan dan kesuburan itu saja sudah menjadikan kami terhibur.

Kalau kukenangkan kembali kejadian ini, menjadikan diriku tertawa lucu, mengapa? Kalau kami bersama Mas Bud dan beberapa teman lain mau berenang ke danau seberang sana, selalu harus melewati kebun timun-suri, blewa itu. Mata kami lengket saja melihat buahnya yang memancing mata dan gatal tangan untuk mengambilnya, akan betapa sedapnya nanti sehabis berenang dimakan bersama tiga empat orang teman. Kami sambil melihat ke belakang kalau-kalau ada teman lain melihat, lalu dengan cepat memetik dan mencomot buah-buah tersebut, dan mengantonginya atau memasukkannya ke dalam ransel yang selalu kami sandang. Yah, bukankah itu mencuri? Mencuri hasil perkebunan kolektif, yang padahal kema-rennya kami juga yang mengerjakannya bersama-sama. Bagaimanapun tetap saja mengambil barang yang bukan kepunyaan pribadi, dan apakah itu bukan mencuri? Sudahlah, tokh kami mencuri hasil perladangan sendiri yang kolektif. Dan kami saling tertawa lucu jadinya. Akh, sangat ngenes dan sedih, Mas Bud meninggal tahun lalu karena kecelakaan, kami semua bersedih hati.

Di pedesaan ini bagaimana maka aku menjadi lebai atau gelaran Pak Haji yang tukang-potong kambing. Aku sendiri lupa-lupa ingat. Yang kuingat ketika mula-pertamanya, ada maksud kami mau motong kambing, tetapi siapa yang akan berani atau mau serta bersedia memotongnya belum lagi tahu. Ketika itu aku mengajukan diri, "baiklah saya saja" kataku spontan saja. Dan sejak itulah aku punya jabatan baru, sebagai tukang-potong kambing, jagal-kambing istilah kasarnya. Hari di mana hari-potong-kambing itu adalah pekerjaan besar-besaran dan penuh kesibukan kerja. Sebab kambing yang akan dipotong itu sebanyak 5 ekor paling sedikit, dan 7 ekor paling banyak, dan memang rata-rata 6 ekor. Potong kambing tidak hanya memotongnya saja, tetapi juga mengulitinya, membersihkannya, memotong bagian-bagiannya, dan mengumpulkan serta membersihkan lapangannya. Tidak ada orang yang hanya bekerja di satu bagian saja, harus merangkap yang ada saling hubungannya. Bagian masak-kambing memang bagian seksi masak dan seksi konsumsi, makanan.

Kalau sudah hari potong kambing, jam-kerjaku di mulai pada jam 05, 30 pagi. Pada jam 06, 00 harus sudah siap di lapangan potong, dengan sebilah pisau yang sangat tajam. Pisau ini pisau khusus buat potong kambing, karena itu selalu ada padaku, di rumahku, dan selalu aku sendiri yang mengasahnya. Suatu kali sempat juga aku terpikir, terlalu banyak potong kambing dan terlalu tertumpu hanya kepadaku seorang saja, jangan-jangan nanti dalam mimpi akan motong kambing lalu terpotong pada orang, atau pada diri sendiri. Ngeri juga akh! Tetapi segera pikiran itu kulawan! Sukurlah selama aku menjadi lebai atau Pak Haji jagal-kambing ini aku sudah memotong kambing sebanyak 94 ekor, dalam jangka waktu selama 7 tahun, untung saja aku punya catatannya. Potong kambing tidak tentu waktunya, terkadang tiga empat bulan satu kali, terkadang sampai 6 bulan baru potong kambing, tergantung kambing kami juga. Kalau banyak teman minta potong kambing, dan kami setuju, ya potong saja, tetapi tetap berdasarkan kenyataan keadaan kambingnya sendiri. Misalnya kami merasa kawanan kambing itu sudah terlalu banyak atau memang sudah waktunya potong kambing karena mau makan sate, gulai dan sebangsanya. Kawanan kambing sudah kami anggap banyak kalau jumlahnya lebih dari seratus ekor. Bila sudah melebihi angka itu, sebaiknya ada yang dipotong. Dan teman penggembala biasanya tahu benar mana kambing sehat dan mana yang sebaiknya dipotong duluan.

Di pedesaan kami, asrama itu terbagi dua blok. Blok A terdiri dari orang-orang muda yang bujangan. Atau orang tua yang juga tidak ada keluarganya. Blok B terdiri dari orang-orang yang berkeluarga, ada anak-anaknya, rumahtangga. Orang-orang muda yang penuh dinamis dan selalu gembira ini, selalu dengan semangat menggebu-gebu ini, biasanya akan datang padaku dan selalu berkata bila sedang hari potong kambing, " jangan lupa ya mas ya nanti, kebijaksanaanlah, ya kayak biasalah", katanya sambil mesem-mesem. Aku harus tahu itu artinya aku harus memisahkan daging kambing yang mereka sukai, terutama jeroannya. Mereka ingin masak secara sendiri, yang pedas dan berbumbu "istimewa". Aku dengan senang hati memisahkan "kebijaksanaan" tadi itu. Herannya aku, semua ini teman pria, tetapi kenapa ada beberapa teman wanita justru yang berkata padaku begini, "Mas, tolong ya nanti, biasalah, peluru dan senapangnya itu lho. Tapi tolong sembunyiin deh, jangan sampai tahu orang lainlah", kata wanita yang bersuami itu. Ada keheranan padaku, kenapa yang minta ini justru sang isterinya, kenapa tidak suaminya. Tapi sudahlah, tak perlu diusut, kan kita dalam gerakan GPL - GPF kan! Apa itu benda jangan lupa tadi? Kemaluan kambing, senapang dan pelurunya itu, tentu pembaca tahu kan? Dan yang minta kebijaksanaan begini, soal meriam dan pelurunya tadi itu, tidak hanya satu keluarga! Artinya aku harus bagi-bagi antara mereka. Oh, ini termasuk demi kepentingan rasa-aman dan rasa-sedap kekeluargaan mereka, dan aku harus turut melindungi keadaan begini.

Rasanya gatal mulut ini mau mengatakan, bahwa peluru dan meriam kambing itu hanya enaknya saja, tapi mungkin tak ada pengaruhnya buat kedahsatan seks. Tapi pula untuk orang yang percaya sudah tentu menjadi semacam kekutan psychologis, secara kejiwaan saja, bukan secara physiologis-biologis. Memang ada pengaruhnya juga, karena daging kambing panas dan hot. Tapi menurut "pengalamanku" jenis daging kambing itu hanya gertak dan keberanian serta kekuatan sementara saja. Hanya sekedar perang cepat selesai! Kalau mau perang-tahan lama, dan "mempermainkan" musuh dengan agak semau dewek, makanlah wortel mentah, kalau dapat jus wortel mentah itu! Semua bahan makanan dan obat-obatan yang bagaikan menunjam ke bumi dinamakan pasak-bumi, nah itu kalau mau perang-tahan lama. Termasuk jinsom yang tumbuhnya menunjam dalam tanah, ya juga wortel itu. Ingat bagaimana jalannya seekor ikan kuda-laut? Juga "berdiri-tegak" bila ikan kuda-laut itu bergerak dan jalan, dia selalu tegak berdiri, nah itu dia! Jenis tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, obat-obatan yang menyerupai organ manusia, akan menuruti sifat alamiah dan naluriah manusia, dan bisa menjadi obat buat penyakit yang berkepentingan. Misalnya buah tou, rupa-dalamnya berkeriput, berjalin dan berkotak-kotak terbagi dalam sel-sel, bagaikan otak manusia. Nah, buah tou sangat baik buat kesehatan otak. Juga buah jambu-mente, atau istilah kami di kampung, jambu-monyet, lihat rupa bijinya itu. Bukankah sebagai belahan buah-pinggang atau nir? Nah, buah atau biji jambu-mente itu baik buat kesehatan nir, buah-pinggang. Coba perhatikan telinga manusia. Rupanya bagaikan seorang bayi yang letaknya dalam kandungan. Pada daun telinga itulah paling lengkap gambaran anatomi seorang manusia. Semua titik tusuk-jarum buat akupungtur ada pada sebuah telinga manusia. Hanya kenapa agak kurang orang menujukan ke titik itu? Karena titiknya terlalu kecil dan rumit, dan juga bukankah ada titik lainnya yang juga sama fungsinya dengan titik di telinga itu?!

Jadi tidaklah benar-banyak apa "khasiat" meriam dan peluru kambing itu. Boleh-boleh saja kalau sekedar mensugesti dirisendiri. Karena itu aku "sebagai penguasa kerajaan perdagingan kambing" ini tidak pernah mengambil "kebijaksanaan" seperti yang diharapkan banyak teman pria dan wanita demi untuk suaminya itu. Bukan karena mau sok berteori "tidak mementingkan diri sendiri", tetapi karena aku tahu dan punya sedikit pengalaman bagaimana kalau mau "perang-cepat selesai" bagaimana kalau mau "perang tahan-lama". Bak kata akhli strategi dan taktik perang zaman Tiongkok lama, Sun-Tze, "kenalilah diri-sendiri, kenalilah musuh, seratus kali berperang niscaya seratus kali menang", dan itu benar, terbukti. Dan kami sambil tertawa dan senyum berarti ketika kubungkus baik-baik dan hati-hati peralatan perang tadi itu, - meriam dan peluru kambing, - entah akan dimasak dengan cara apa, tak tahulah aku. Dalam hatiku turut mengharapkan dan mendoakan agar mereka menikmati kehidupan berkeluarga ini.

Pada lain kesempatan potong kambing lagi, suara itu selalu terdengar " jangan lupa Mas ya, kebijaksanaanlah, tahu sama tahulah, nanti kita makan di rumah kami saja" kata seorang teman pria yang kukenal baik. Ketika ada suara seperti biasanya itu, "Mas jangan lupa ya, ya biasalah meriam beserta pelurunya", kata seorang wanita dengan agak pelan mengucapkannya bagaikan bisik-bisik, dan tentu saja tidak akan berkata seperti teman pria tadi itu. Tidak akan berkata " nanti makan di rumah saya saja ya", mbok yang dia perlukan justru khusus buat sang suami berdua saja, siapa tahu kepada anaknya sendiripun mereka rahasiakan, dan wajar kan!?

Betapa enaknya dan mesranya persahabatan antara kami selama di desa itu dulu. Kini telah menyebar ke berbagai negeri, entah di mana, entah kapan lagi bisa bertemu, yang tentunya sudah pada tua, kakek-kakek dan nenek, termasuk nenek yang minta meriam dan peluru kambing itu dulu.-

Paris 10 April 1999

Ketika Hari Libur dan Hari Pasaran

Kalau kami merasa terlalu lelah-letih karena belajar dan diskusi, apalagi dalam suasana yang panas dalam pengertian obyek pembicaraannya agak berat, memerlukan bahan-bahan teori, buku dan ajaran para akhli filsafat dan politici, maka kami sangat merindukan hari libur, hari Minggu atau Hari Pasaran. Menurutku adakalanya hari belajar dan diskusi itu jauh lebih berat daripada hari kerja-badan di ladang, di kebun, di kandang atau di mana saja. Kepala rasanya pusing tujuh-keliling, dan hati sumpek, mau marah dan sangat lekas tersinggung -, ini kalau yang didiskusikan banyak perbedaan pendapat, dan suasananya kebe-tulan tidak dalam keadaan mulus dan in the mood.

Hari libur, umumnya hari Minggu, kebanyakan teman sudah punya acara sendiri. Secara bersama, secara kelompok, secara grup atau pribadi, bebas aktif, dan berinisiatif. Ada yang suka tinggal di asrama, atau di rumah saja, sambil membenahi rumah, ada yang sibuk berkebun pribadi di sekitar rumahnya, dan ada yang seperti kaum ibu-ibu itu pergi ke hutan mencari berbagai jenis bunga. Dan ada yang ke hutan pergi mencari bahan ramuan obat-obatan tradisional. Ada yang pergi memancing, mencari danau atau sungai yang agak besar. Dan seperti sudah kutuliskan, ada yang tembur, tembak-burung, dan aku salah seorang anggota grup ini. Hari Pasaran di tempat kami tidak hanya ada pada satu tempat dan hanya pada hari-hari itu saja. Misalnya di desa A, hari pasarannya ketika hari Minggu dan Rabu, tetapi di desa B hari pasarannya ke-tika hari Selasa dan Jumat, sedangkan di desa C, hari pasarannya pada hari Senin dan Kemis. Desa atau tempat hari pasaran itu cukup jauh dari desa kami. Terkadang kami harus berjalan sejauh lebih dari 5 km, bahkan ada yang sampai 10 km, ada juga yang skalanya kecil, yang jauhnya hanya 3 km saja. Ini semua ukuran pedesaan, menurut orang desa situ, jarak 5 km cukup dekat, padahal melewati pegunungan dan lembah. Karena itu kalau kami merencanakan mau melihat dan mendatangi hari pasaran, kami harus siap diri bahwa pulangnya akan sore bahkan menjelang malam. Perjalanan jarak 5 sampai 10 km itu jangan diukur dengan lamanya perjalanan di kota! Kalau di kota mungkin hanya memerlukan waktu satu dua jam saja atau lebih sedikit, tetapi di desa jalannya bukannya rata! Melalui pegunungan bebatuan, semak, lembah dan sungai, tali-air, terkadang bertemu kawanan serigala segala, walaupun tidak seganas yang seperti dalam filem-filem itu.

Hari pasaran tidak setiap tempat sama barang yang ada di sana. Ada pasaran yang lengkap, ada hari pasaran yang besar, dan cukup lengkap yang dijual dan dijajakan. Tergantung pasaran dan situasi penduduk setempatnya. Kami pernah dan bahkan sering melihat hari pasaran yang skalanya besar dan agak lengkap. Di sana dijual dan jual-beli segala rupa yang tak terpikirkan pada kita, mungkin karena kita orang kota besar dulunya, asalnya. Ada jual-beli kuda, sapi, kambing, gigipalsu, pasang-gigi, babi, unggas, segala yang bisa terbang seperti ayam, burung, serati(entok) angsa, sepeda, centong, kuali, se-patu, segala rupa makanan yang hangat mengepul berasap memancing selera! Dan sudah tentu ada warung dan kedai minuman dan makanan. Rakyat setempat sangat suka akan anggur yang dipanaskan, atau arak yang panas. Anggur yang dipanaskan ternyata enak juga, kami pernah mencobanya.

Dan harga kuda seekornya antara 1000 yuan sampai 2000 yuan. Tentu saja ini kuda pembawa-beban atau kuda tunggangan biasa, samasekali bukan kuda-pacu, yang penduduk setempat sangat memerlukannya. Sebagai perbandingan, harga seekor kuda-pacu untuk bertanding di pacuan-kuda di Paris, harganya sampai satu juta francs! Satu francs sama dengan 1, 80 yuan. Jauh lebih mahal dari sebuah mobil yang termahal! Harga seekor babi hanya ratusan yuan, sedangkan harga sapi lebih mahal dari babi, tapi tidak semahal kuda. Juga banyak dijual berjenis sayuran, bibit, daging-segar, termasuk daging kuda, babi, rusa, berjenis unggas.

Kalau kami sudah lelah menjalani dan melihat pelbagai suasana hari pasaran begini, kami biasanya mencari warung buat nongkrong, dan membuka perbekalan kami dari rumah, atau kami membeli makanan setempat yang cukup enak dan lezat. Sudah tentu kami jadi tontonan juga, sebab sangat jarang orang asing apalagi turis yang berkeliaran begitu jauh masuk pedalaman Tiongkok! Kami ajak mereka bicara dan ngomong, dan ada di antaranya yang mengerti bahasa Tiongkok Beijing. Mereka orang-orang desa itu kebanyakannya tidak mengerti Bahasa Nasional mereka, atau dialeknya lain sehingga kami tidak mengerti. Kami tawarkan rokok dan ajak sama-sama minum sambil berkelakar sebisa dan sesedapat mungkinnya. Mereka sangat senang dan gembira, nah kalau sudah begini, biasanya kami kelabakan sendiri, sebab kami jadi tontonan meriah dan dikerubuti banyak orang.

Aku sangat suka akan halnya yang sifatnya bergerak, mobil, jalan, dan tidak suka yang sifatnya banyak diam di tempat. Misalnya aku tidak suka mancing, karena banyak diamnya, nunggunya. Tapi aku sangat suka nembak, berburu daripada mancing. Karena itu sebenarnya aku paling tidak suka nonton filem, karena terlalu banyak diam di suatu ruangan. Kalau aku nonton filem, itu artinya satu keharusan, yang menurutku, filem ini harus kutonton, harus kulihat sebab ada perlunya, ada yang penting di dalamnya. Juga termasuk aku tidak suka cukur-rambut, sebab harus berdiam-diri selama duduk di kursi itu. Dan tidak aneh kalau kesenanganku adalah jalan-jalan, dan jalan melihat-lihat, voyage kata orang Perancis. Pariwisata dan darmawisata, piknik, inilah kesukaanku. Karena itu bila aku mendengar ada hari pasaran yang skalanya agak besar dan besar, maka aku siap mengadakan perjalanan jauh, dari pagi sampai pe-tang. Siap membawa perbekalan, termasuk batere, obat-obatan, tali-temali, pisau, api-geretan, dan lain-lain. Mengadakan perjalan agak jauh ini, sebaiknya mencari teman, agar ada orang di samping yang bisa diajak bicara, tidak kesepian. Pernah juga karena teman tak ada yang mau ikut, aku terpaksa sendirian. Gilanya, masih juga aku jalani walaupun sendirian!

Menjalani pegunungan, atau katakanlah perbukitan bebatuan dan semak-semak begini cukup melelahkan. Dan kalau kita kelelahan dan capek, enak saja tertidur ketika istrirahat di bawah pohon yang rindang. Hawa panas Ciangsi ini rata-rata sampai 40 C, bahkan adakalanya sampai 42 C, sangat mudah lelah. Keringat mengucur terus, dan kalau istirahat di bawah pohon rindang, ditiup angin silir-silir, sepoi-sepoi basah kata pengarang-lama dulu itu, maka kita akan tertidur. Dulu ketika kami belum mendengar ceramah dari puskemas kami bagaimana berbisanya seekor ular, tidak jarang kami mengalami ular pelan-pelan merayap di kaki kami atau bahkan di paha kami. Tetapi hukumnya, ketika ular itu sedang merayap jalan, sekali-kali janganlah bergerak, jangan sampai mengagetkan ular, sangat berbahaya. Jadi dirikita membiarkan saja jalan dan merayapnya ular itu di badan kita. Dan yang begini ini sudah tentu menghendaki keberanian atau ketenangan yang kuat. Ketika itu rata-rata kami "kaum tembur" ini masih berani dan agak biasa mengalami semua ini. Tetapi setelah kami mendengar ceramah bagaimana berbisanya seekor ular, maka sudah ada dan timbul rasa takut. Tentu saja, ada ular namanya "ular-lima-langkah". Artinya begitu dipagutnya, dicotoknya dengan gigi penuh berbisa itu, kita hanya bisa melangkah lima langkahan saja, sudah itu mati! Lalu ada kobra, lalu ada welangweling, lalu ada ular-tanah, dan berbagai jenis namanya. Semua itu pernah kami lihat dan bahkan kami makan.

Ada teman kami Mas Elemen, kena gigit ular. Untung saja segera dia ke puskemas, dan diberi pertolongan oleh dokter puskemas di tempat kami. Besok pagi-pagi buta, dia dibawa ke rumahsakit Nanchang di ibukota provinsi. Badannya sudah tampak agak membiru dan bila ngomong sudah tampak gemetar, sulit mengontrol dirinya. Setelah mendapat pengobatan yang sangat serius, dengan mengerahkan beberapa dokter akhli ke-ular-an, namun Mas Elemen memerlukan 3 bulan di rumahsakit. Dan kini dia masih sehat walaupun umurnya sudah berkepala 7. Ada teman yang usil, jangan-jangan Mas Elemen sampai kini sehat justru ada serum bisa ular itu dulunya! Dan sejak itulah kami sudah agak takut juga dengan ular yang dulu agak kami remehkan begitu saja. Akibatnya tak berani lagi kami tiduran di sembarang tempat seperti dulu itu, di mana kami biarkan ular merayap jalan di atas kaki atau paha kami, bahkan perut kami, hanya dengan keberanian dan ketenangan saja. Sesudah kami mendengar ceramah betapa berbisanya seseekor ular, dan pula menyaksikan bagaimana menderitanya teman kami Mas Elemen, tiga bulan di RS, maka kami mulai berhati-hati terhadap binatang melata ini. Tetapi soal makan empedu dan soal makan ular, tak ada perubahan di antara kami, tetap saja suka empedu ular dan tumis masakan ular yang pedas-pedas hangat-hot itu! Coba lihat mbak Titut yang suka empedu ular itu, matanya kian hitam, rambutnya kian ikal-lebat, dan bodynya tetap aduhai dan amboi!

Paris 11 April 1999

Mau Lihat, Datanglah!

Setelah sepuluh tahun kami meninggalkan Tiongkok dan berdiam di Paris, ada keinginan buat melihat Tiongkok, terutama buat ziarah ke kuburan isteri yang meninggal tahun 1980. Sebelum itu kami banyak bertanya segala sesuatunya tentang Tiongkok, dan juga banyak menerima masukan segala macam pikiran. Ada yang berkata agar hati-hati kalau di Beijing nanti, orang Tiongkok itu sudah banyak berubah, kalau dulu yang penting adalah persahabatan maka kini yang penting adalah fulus! Dan hati-hati, kota besar seperti Beijing itu cukup banyak kejahatan, copet, jambret, rampok dan ya sama sajalah seperti Jakarta atau Paris, demikian pendapat itu. Dan lagi sekaligus kami mau melihat dan anjangsono kepada teman-teman tua yang masih tinggal, dan juga mau ke Selatan, maksudnya ke Guilin. Aku ingat benar ketika aku pertama kali ke Guilin, tahun 1973. Guilin itu sebuah daerah dan kota kecil mungil yang nempel di pinggiran Sungai Ciang. Sangat indah, dengan pemandangan aliran sungai yang berbatu-gunung dan bukit yang bagaikan batu-apung, timbul dan menyebar indah. Lalu para nelayan dengan perahu dan burung-penangkap ikannya selalu mendampingi "tuannya, para nelayan" itu. Dan banyak sekali para penyair yang terilhami setelah melihat keindahan Guilin yang bak surgawi di bumi. Seorang penyair Indonesia, yang juga pernah menjadi mahaguru di Universitas Moskow, yang lalu ngendon karena dipaksa dan dianiaya selama belasan tahun di Pulau Buru, Buyung Saleh, pernah menulis : "kalau mau lihat hari esok, datanglah ke Tiongkok"! Itulah sajaknya yang terpendek dan cukup terkenal.

Pikiran kami dipenuhi dengan berbagai macam perasaan dan kekuatiran. Kami pergi dengan tiga generasi. Seorang cucuku berumur 5 tahun, dan anakku yang dulu ketika meninggalkan Beijing masih re-maja putri, dan kini sudah menuntun anaknya, dan aku kakeknya. Kami maksud pertama mau ziarah, ke kuburan isteriku, ke kuburan ibu dari anakku, dan nenek dari cucuku. Di Beijing kami bertemu dengan ba-nyak teman sekerja dulunya, Radio Beijing. Bahkan kami sempat dijamu makan-bersama oleh badan resmi Radio Beijing, yang dulu boleh dikatakan yang memutus kontrak-kerjaku dengan rapat hanya selama 10 menit, sebab aku tak punya pendapat. Kalau orang sudah tak suka, ya harus pergilah! Tetapi anehnya, sang ibu penguasa akhli-orang-asing itu ketika jamuan itu tak ada lagi, tak muncul. Ketika kutanyakan kepada teman penterjemah, ke mana "beliau" dulu itu. Dia tak menjawab dan kelihatannya sangat sukar untuk menjawab. Ketika kupancing dengan pertanyaan bodohku, "Apa dia sudah pensiun? Tak mungkin kan, dia kan masih muda belum sampai umur buat pensiun?!", kataku. Barulah ada teman yang nyeletuk " Ya bisa saja kan, pensiun dini, atau dipensiunkan misalnya, atau mengajukan diri buat pensiun karena ada alasan yang masuk-akal" kata seorang teman pihak Tiongkok. Dan aku langsung menjawab buat menyetop pembicaraan, "Oo gitu. Ya ya, betul juga".

Apa yang kami terima lewat pendengaran, percakapan dan berita-berita dari mulut ke mulut tentang Beijing ketika di Paris, sangat berlainan. Beijing merupakan kota tidak lagi tertutup seperti dulu, sudah sangat berlainan dengan Beijing ketika kami masih tinggal di sana. Beijing terutama di metro bawah tanah, stasiun metro, sangat bersih, jauh lebih bersih dari di Paris. Tidak ada sampah menumpuk, lantainya bersih, mengkilat, dan setiap waktu ada petugas yang membersihkannya. Tanda pengenal ke luar-masuk pintu jelas tergambarkan, ada huruf latinnya tidak seperti dulu. Sehingga sangat memudahkan para turis yang samasekali tak mengerti Bahasa Tiongkok. Semua taksi ada tanda harga per kilometernya berapa yuan setiap kilometernya, terpampang di atas taksi. Ini hal baru yang kulihat yang di bagian dunia mana-pun tak ada. Misalnya ada taksi yang bertuliskan 2 yuan satu kilometernya, tapi ada juga yang 3 yuan, bahkan 3, 50 yuan satu km-nya. Ada yang 1, 50 yuan. Kita tinggal pilih mau yang mana. Mau yang murah, sudah tentu tidak akan begitu baik. Ada yang mahal, tentulah dalamnya baik, bersih dan baru. Semua sudah kami coba. Yang 1, 5O yuan, aduh, sengsara naik taksi itu, amat pendek hampir menyenggol kepala, sakit badan kita dibuatnya. Nah, yang 3 yuan, bukan main enaknya, sebab Mercy besar yang ditaksikan. Jadi betul-betul hukum jual-beli cara kapitalistis, dan memang begitulah keadaannya. Yang murah tentulah tidak seenak yang mahal, wajarlah!

Ketika itu hari tanggal 1 Mei. 1 Mei adalah Hari Raya Buruh, pesta Taman di mana-mana. Dan hawa Bei-jing ketika itu amat hangat, di tengah musimsemi, di mana pelbagai bunga yang warna-warni berhias bersaing indah dan wangi menyebar sekitar. Kami bertiga cucu-ibu-kakek berjalan mengitari Taman Chung San di sebelah dan belakang Tien An-men. Mau naik bis, terlalu padat, mau cari taksi tidak muncul-muncul, karena memang kendaraan lalulintas sangat padat, macet dan tersendat-sendat. Banyak jalan, agak lelah-letih. Di Beijing setiap halte bis yang satu dengan yang lainnya sangat jauh. Kalau diumpamakan dengan Paris, 5 halte bis di Paris sama dengan 1 halte bis di Beijing. Jadi jangan coba-coba, karena kita tahu tinggal satu halte lagi, baikan jalan kaki sajalah! Asal saja siap, satu halte bisa itu artinya harus jalan kaki paling sedikit 20 sampai 30 menit! Melihat kami berjalan sudah tak gagah lagi, ada seorang pasangan nenek-kakek menegur-sapa kami secara sangat sopan. "Kalian mau ke mana? Kelihatannya capek betul ya. Lihat anak lucu satu ini, sudah merah mukanya. Marilah mampir dulu ke rumah kami. Itu lihat sudah dekat, sudah kelihatan. Mampirlah minum dulu. Ini kan Hari Raya Buruh Sedunia, marilah kita mampir dulu", ajak sang kakek. Dan ketika kami jawab dengan Bahasa Beijing juga, pasangan kakek-nenek itu sangat gembira, dan dengan keras minta kami mampir di rumahnya. Dan setelah mereka tahu bahwa kami orang asing, yang datang dari Paris, lebih-lebih lagi mereka merasa sangat gembira berkenalan dengan kami. "Samasekali tak ketahuan bahwa kalian orang asing. Bahasanya begitu baiknya", kata nenek. Maka kuceritakanlah bahwa anakku ini lahirnya malah di Beijing ini pada tahun 1964. Dan kami terpaksa memenuhi harapan dan kebaikan sepasang orang tua itu.

Kami menginap di hotel Bambu. Dulunya adalah perumahan kepunyaan Kang Sheng. Kang Sheng adalah anggota CC dan Pulitbiro PKT, sudah lama meninggal. Lalu dijadikan hotel oleh pemerintah. Setelah di renovasi dan diubah sana-sini, maka menjadi hotel yang sangat bagus dan indah. Menginap di sini bagaikan tinggal di rumahtangga sendiri, karena suasananya suasana rumahtangga sangat familaire. Pekerja dan petugas hotelnya sangat baik dan ramah. Mau bercerita dan mau menjawab pertanyaan kita asal masih dalam batas kewajaran dan kesopanan. Kalau dulu ketika kami masih tinggal di Tiongkok, tidak bakalan mendapat jawaban begitu ramah dan menyenangkan. Benar-benar sudah bersuasana lain. Mungkin ada alasan lainnya, sebab Beijing baru saja menjadi tuan-rumah Asian Games ke IX ketika itu. Kota dan seluruh bagian kota sangat bersih, teratur rapi, dan kami tidak menemukan copet atau maling atau jambret selama 10 hari kami di Beijing. Yang paling menyolok yalah sangat ramainya orang di mana-mana. Di resto ramai, di kereta-api ramai, di jalanan ramai, apalagi dalam bis umum, atau troli. Dan bahkan untuk ke———–wc umum saja harus lama antrinya, ramai yang menunggu giliran, di mana-mana ramai! Maklumlah penduduk Tiongkok adalah penduduk bangsa dan negara yang paling banyak dan paling ramai di dunia ini, lebih dari satu milyard orang!

Kami sering "kehilangan Loulou" cucuku yang berumur 5 tahun itu. Tahu-tahu dia sudah dibawa pergi oleh petugas dan pegawai hotel. Entah ke mana, mereka main-main di Taman yang tak jauh dari hotel, atau membeli es krim -, es krim Tiongkok tidak kalah dengan es krim Itali-, dan tahu-tahu sudah blepotan mukanya penuh dengan coklat dan makanan. Loulou selama 10 hari di Beijing itu sudah pandai beberapa lagu Tiongkok, dengan Bahasa Tiongkoknya sekaligus walaupun dia tak tahu artinya. Kalau kami ke resto atau pertokoan, atau ke mana saja, banyak sekali orang Tiongkok yang menggosok-gosok alis mata Loulou, sebab katanya hitam benar warnanya, dan apakah pakai celak, alat penghitam alis. Mereka ingin membuktikan pakai apa maka bisa begitu hitamnya. Sudah kami katakan, itu adalah warna aslinya, sejak dia lahirnya.Tidak pakai apapun! Dan mereka barulah percaya setelah menggosok alis Loulou yang terkadang dia mengerinyutkan matanya karena agak sakit juga dipijat demikian gemas dan geregetannya. Semua situasi ini hanya membuktikan saja bahwa apa yang kami terima masukan ketika di Paris dulu itu, adalah tidak benar. Dan kami setelah beberapa kali datang lagi ke Tiongkok sesudah itu, sangat merasakan akan perbedaan kalau kami berada di tanahair sendiri, Indonesiaku, Jakartaku, Beli-tungku, bahwa mengapa terasa sekali akan kekuatiranku, ada rasa cemas, ada rasa takut dan rasa tidak aman selama aku di tanahair sendiri? Mengapa harus terjadi pada diriku secara begini?! Mungkin karena ada sejarahnya yang sangat traumatis, yang sangat merasakan mimpi-buruk. Padahal aku inginnya memeluk-mendekap-merangkul sayang dan cinta kepada tanahairku, kampunghalamanku, - Dan mengapa aku harus selalu takut, kuatir, merasa tidak aman, tidak terjamin kalau aku sedang berada di kampunghalamanku sendiri malah, mengapa?! Memang pernah bahkan berkali-kali aku diikuti para intel, tetapi mengapa harus mengikuti diriku, - padahal kejadian dan terjadinya peristiwa itu, samasekali aku tak berada di tanahairku sendiri, yang akupun tak tahu menahu, lalu apa kesalahanku, dosaku, tokh sejak tahun 1963 sampai kini, sampai kini aku harus hidup di luar tanahairku sendiri. Semogalah reformasi sejati dan reformasi total ini akan dapat mengubah sejarah-lama yang selama ini dibengkokkan, ditekuk, dimainkan semaunya! Semoga!

Paris 11 April 1999

Guilin Yang (1)

Kami berangkat dengan keretapi dari Nanchang ke Guilin. Guilin sebuah kota kecil di selatan, termasuk provinsi Kwangxi. Guilin sangat indah. Keindahannya terutama perpaduan sungai, pemandangan bebatuan di sungai Ciang yang bagaikan batu-apung yang membentuk hiasan alam secara alamiah. Dan pemandangan para nelayan sepanjang sungai itu bergulat mencari kehidupan, menangkap ikan dengan jala, dan pukat tradisional, dan selalu diiringi burung-burung yang bertengger di sisi perahu itu. Burung itu akan menangkap ikan dan membawanya ke perahu, dan sebelumnya para nelayan mengikat leher burung itu agar tidak terus langsung menelan ikan. Dengan demikian si nelayan masih bisa memperoleh ikan itu. Bu-rung-burung tersebut memang dipelihara untuk keperluan penangkapan ikan.

Pada umumnya para turis akan diajak berlayar sepanjang Sungai Ciang ini, menikmati pemandangan yang sangat indah. Kalau berkabutpun tetap indah, karena kabut itu seakan menjadi tabir-alam yang tampaknya sangat halus bagaikan sutera kekelabuan. Kalau ada matahari lain lagi keindahannya, sinar yang memancarkan caya keemasan, memantul di air sungai, dan dari jauh tampak lengkungan pelangi yang berwarna-warni. Ketika kita sedang menikmati keindahan sungai dan bebatuan-raksasa yang bagaikan pelampung timbul mengapung itu, terdengar nyanyian para nelayan. Mereka menyanyi dengan suara yang sangat bersih dan merdu, tanpa tahu bahwa disekeliling mereka siang-siur perahu-motor membawa para turis. Sangat alamiah, sangat naluriah, wajar dan bagaikan air sungai itu sendiri, mengalir dan mengalir, tanpa sengaja berbuat demi kepentingan para turis! Keindahan sungai Ciang bagaikan salah satu permata Tiongkok di bagian Selatan. Cerita Sungai Ciang betapa banyak yang mengharukan, dan sudah dijadikan opera Beijing dan opera setempat. Ke Guilin tetapi tidak melayari Sungai Ciang samasaja dengan tidak ke Guilin, sama saja ke Paris tidak melihat Eiffel Tower dan Musium Louvre atau istana musimpanas Versailles.

Ada yang hendak kuceritakan pahit-manisnya kunjungan kami ini selama di Guilin. Guilin Sungai dan keindahan bebatuan, para nelayan, burung-burung, perahu nelayan yang silang-siur, dan nyanyian merdu para nelayan yang sangat wajar itu, adalah di luar penginapan kami, di luar hotel kami. Kami menginap di sebuah hotel berbintang yang juga disediakan buat para turis asing. Tetapi cara pengelolaan hotel itu sangat di luar kebiasaan hotel lainnya di dunia! Kalau kami mau interlokal menilpun teman di Beijing, kami harus menyerahkan uang sejumlah 500 yuan kepada desk di pusat information, sebagai tanggungan. Padahal ongkos tilpunnya tak sampai seharga 20 yuan! Ini wajib katanya, harus menyerahkan uang tang-gungan, sudah peraturannya begitu, walaupun kita yang akan menilpun itu tokh ada di depan mereka sendiri, petugas kantor itu! Lalu kalau kita mau membawa kunci kamar hotel, kita harus menyerahkan uang tanggungan juga sejumlah 500 yuan, dan jumlah ini bukannya sedikit, satu bulan gaji pegawai biasa ketika itu! Memang uang itu hanya sebagai tanggungan, dan akan kembali kepada kita lagi. Tetapi selama kami "naik-hotel turun-hotel" di Tiongkok ini, baru kejadian beginilah yang kami alami di Guilin. Tidak pernah terjadi di bagian manapun di dunia ini seperti yang di Guilin itu! Memang mereka tidak menipu, tetapi peraturan yang sangat kaku dan aneh itu, kenapa masih bercokol di tengah keterbukaan Tiongkok ketika itu?!

Ketika kami berjalan-jalan di sekitar perhotelan, tampak barisan pengemis duduk dengan teratur, berjarak satu setengah meter seorang. Dan panjangnya barisan pengemis ini lebih dari 40 meter, sedangkan jumlah pengemisnya sekira 30 orang. Mereka memainkan alat musik, menyanyi dan berdoa cara mereka. Dan orang yang akan memberikan uang, dipersilahkan kepada siapa saja, karena tempat penampungan uangnya ada di depan mereka masing-masing. Pemandangan begini baru kali ini yang kulihat dan aku benar-benar merasa aneh bin ajaib. Samasekali tak menyangka Guilin yang begitu bagus-indah, dipuja-puja, tokh masih mengandung borok-borok yang tadinya tak tampak jelas. Selama kami di Beijing 10 hari itu, kami tak pernah melihat pengemis, dan orang gelandangan, semacam di Guilin! Ada rasa kecewa dalam diriku. Jauh-jauh aku datang dari Paris mau melihat dan menikmati Guilin yang sangat bagus dan indah dan mengesankan ketika tahun 1973 dulu itu, kini tampak borok-borok yang dulunya tak terlihat atau memang belum muncul.

Cerita kelabu begini belum berakhir! Ketika kami berjalan sepanjang pasaran yang penuh orang berjualan segala macam, kami tertarik dengan orang berjualan udang segar yang masih menggelepar! Kalaupun kami membelinya tentulah kami minta tolong masakkan kepada resto yang ada di depannya. Setiap resto yang jumlahnya puluhan itu, selalu di depannya ada orang berjualan segala macam makhluk hidup, seperti ular, ayam, bebek, udang, ikan, kura-kura, kelinci, burung, belibis, biawak, dan lain-lain. Dan barangsiapa yang berkenan membelinya bisa langsung dimasak di resto di depannya itu. Seekor ular kobrapun dijual, dan kalau mau, tunggu barangkan setengah jam dan kemudian, sudah matang di piring! Kami pernah membeli ayam-katai yang berkaki-kuning, dan dimasak seperti yang kami mau. Tak sampai 40 menit sudah lengkap dengan dua tiga jenis masakan ayam-katai itu tadi!

Ayam yang enak selalu berkaki kuning, dan yang katai, katek-pendek, akan lebih enak lagi! Filsafat kami mungkin sudah "turunan dari sononya", pakaian boleh sederhana, tapi makanan haruslah enak! Barangkali sudah menurun "penyakit" ini dari ayahku dulu sampai cucuku Loulou yang baru kali ini melihat Tiongkok! Dan terbenturlah pada suatu kali ketika kami mau membeli udang yang segar menggelepar itu. Baru saja dibeli orang dengan seharga 5 yuan, tahu-tahu kepada kami harganya 15 yuan! Kami tanyakan mengapa demikian, baru saja ada orang membelinya seharga 5 yuan. "Ya, tapi dia tadi orang Tiongkok, penduduk sini. Kalian orang asing walaupun bahasanya baik dan bagus. Orang Tiongkok mana banyak uang seperti kalian! Kalian para turis sudah pasti banyak uang, tidak mungkin harganya akan sama dengan harga bagi kami", kata sipenjual dengan enteng dan seenaknya ngomong.

Anakku Nita sudah sangat marahnya, untung saja dia tidak maki, hanya tampak mukanya merah dan sangat sulit menahan diri. Nita selalu berbahasa Beijing dengan baik. Melihat kemarahan dan hampir saja seperti mau ngamuk, sipenjual menurunkan harganya menjadi 10 yuan dan lalu 7 yuan. Tetapi Nita sudah sangat marah, dan bukan soal jumlah uang lagi perkaranya. Tetapi sudah menyangkut "agak harga diri" karena seperti dipermalukan di depan umum, apalagi orang-orang merubungi kami, turis asing yang bukan bule! Dan kami jadi tontonan. Siang itu kami tak jadi makan, karena terlalu marahnya! Semua ini kami alami di Guilin, yang tadinya pernah menjadi pujaanku dalam hati, sehingga kalaupun aku ke Tiongkok, mengunjungi Guilin samasekali tak boleh dilewatkan. Dan begitu kami menginjakkan kaki dari hari pertama sampai pulang dengan hati yang dongkol, Guilin kami tinggalkan dengan kesan yang sangat tak enak tak sedap. Dulu ketika kami mau ke Tiongkok, ke Beijing, kesan luarnya, haruslah berhati-hati di Beijing karena ibukota. Ibukota kan katanya jauh lebih kejam daripada ibutiri. Dan kami "dipersiapkan" bahwa di Beijing itu banyak pencopet, jambret, kejahatan, penipuan. Okey lah harus berhati-hati dan waspada. Ternyata Beijing sangat mengesankan, sangat banyak menemukan kebaikan yang tadinya tak tersangka, yang tadinya penuh prasangka buruk. Dan dalam hati, pasti akan ada lagi yang jauh lebih baik daripada Beijing, yaitu Guilin! Ini persangkaan luarnya. Tetapi nyatanya berbalik, sangat banyak menemui peristiwa yang sangat tak terduga yang menyakitkan, menyedihkan. Kukatakan kepada Nita, daripada darahtinggi kita dua-duanya, lebih baiklah kita lekas meninggalkan Guilin ini.

Dan Guilin yang indah dan bagus itu hanyalah jauh dari tempat penginapan kami. Namun demikian aku masih mau menambahkan suatu cerita yang cukup menarik, di tengah Sungai dalam pelayaran yang penuh keindahan, kemerduan suara para nelayan dengan nyanyian yang berpuisikan sangat menyentuh hati, tanpa mereka tahu, ada juga para turis yang mengerti apa yang mereka senandungkan.

Paris 12 April 1999

Guilin Yang (2)

Sungai Ciang yang mengaliri pinggiran kota Guilin, cukup besar, tetapi tidak termasuk besar di lingkungan Tiongkok. Ada dua batang sungai besar Tiongkok yang bisa disejajarkan dengan sungai-sungai besar di dunia, seperti dengan Sungai Nil, di Mesir dan Mississippi di AS dan Irawadi di India, yalah Sungai Kuning dan Sungai Yangtze. Panjang Sungai Kuning hampir 6000 km, sedangkan Sungai Yang Tze hampir 5000 km. Sungai Nil di Mesir hampir 7000 km. Sungai Ciang sepanjang hampir 1000 km, hampir sepanjang Pulau Jawa. Tanah Tiongkok cukup besar. Ketika aku masih menjadi penyiar Radio Beijing per-nah aku menyiarkan sebuah berita yang sifatnya pengenalan tanah Tiongkok. Serombongan domba yang sangat baik, gemuk, penuh bulu bahan-wol, akan dibawa ke Kanton dari Urumqi, ibukota provinsi Xianjiang, daerah yang agamanya kebanyakan Islam. Domba ini akan diangkut dengan gerbong keretapi dengan pengawalan dan pemeliharaan para penggembala yang sudah terlatih. Sudah tentu pada tempat-tempat tertentu, kereta akan berhenti beberapa waktu buat keperluan perjalanan yang jauh. Dari Urumqi ke Kanton selama satu minggu! Tentu saja keretanya bukan kereta penumpang, jadi tidak sangat cepat. Tetapi bagaimanapun, kereta itu setiap hari jalan, tidak menginap di suatu tempat. Sesampainya di Kanton, rata-rata setiap domba timbangannya berkurang antara 10 sampai 15 kg! Ini sekedar gambaran bahwa Tiongkok itu begitu luasnya. Kalau kereta biasa buat penumpang, perjalanan itu memerlukan dua sampai tiga hari tiga malam!

Dari kota Guilin sekiranya perjalanan sungai ini akan menyusuri ke muara, memerlukan ratusan kilometer lagi. Kami dalam perjalanan ini menyusur ke hilir, mudik. Dalam kapal-motor kami berpenumpang kira-kira 60 orang, semua pada pokoknya para turis dari Hongkong, Taiwan, Vietnam, dan kami, tak ada orang bulenya, kebetulan. Anak-buah kapal hanya tiga orang, jurumudi, jurumasak, dan seorang lagi yang mondar-mandir membantu juru-juru lainnya itu. Kami akan menjalani sungai ini hanya sepanjang 80 km saja, dengan mampir di kota-kota kecil, yang di peta tak tertulis sebab saking kecilnya. Perjalanan diren-canakan selama 8 sampai 9 jam. Bayarannya kami bertiga, 300 yuan, lengkap dengan makanan-kecil dan makan siang. Kami berlayar mulai jam 09.00. Hari sangat bagus, sinar mentari bulan Mei cukup hangat tetapi tidak sampai panas dan kepanasan. Kami penumpang kapal karena semuanya para turis, dan kebetulan saling bisa berbahasa Tionghoa, Inggeris, maka saling berkelakar tanya-menanya dan penuh dengan riang-gembira. Ketika hari sudah menjelang jam 11.00 belum ada tanda-tanda orang-kapal akan menyiapkan makanan siang. Kami saling bertanya, pada jam berapa kita ini akan makannya. Tetapi menurut jadwal yang kami terima sebelum naik kapal, jadwal makan antara jam 12.00 sampai jam 13.00.

Dan menghela nafaslah kami setelah kapal berhenti di sebuah pelabuhan kecil di suatu kota kecil. Orang kapal tampaknya membeli atau mengambil perbekalan, berjenis ikan, berjenis sayuran dan daging ayam yang tampaknya baru disiangi, lalu berjenis buah-buahan. Barangkali semua itu untuk kami, pikir kami para penumpang ini. Tetapi ketika itu hampir jam 11, 30, - nah kapan akan mulai masaknya?! Tampaknya orang kapal ini benar-benar sudah profesional. Mereka berdua segera mulai masak, sedangkan jurumudi tetap di posnya. Dan kami menyaksikan persis, antara mereka bertiga semuanya serba bisa, menjalankan kemudi, masak-memasak dan sekaligus menjadi pelayan resto-kapal buat para turis! Dan ini yang mau kuceritakan itu. Betapa mereka menguasai pekerjaan dan menguasai keadaan, dan sangat cepat. Baru saja jam 11, 30 membeli ikan, daging dan buah-buahan, satu jam kemudian ada empat macam masakan sudah tersedia di meja masing-masing kami, yang satu mejanya buat 6 orang, persis sepuluh meja. Dan kami makan dengan lahapnya, enak, sedap dan sangat asik.

Di Tiongkok, apalagi Tiongkok Selatan seperti Guilin ini, di mana masakan tradisional masih kental, tidak dikenal kulkas dan pendingin! Karena semua makanan harus segar, harus baru, bukan dari tumpukan es! Nah, dari sinilah cara kerja mereka yang sudah sangat terdidik, menguasai persoalan dan keadaan keseluruhan. Lama sekali aku tercenung, mereka hanya bertiga, tetapi sudah meladeni kami sebanyak 60 orang, persis jadwal seperti yang dibagikan kepada kami sebelum naik kapal. Tak secuilpun antara kami yang yakin tadinya bahwa kami akan makan-siang persis jadwal yang tertulis. Bagaimana mungkin mereka hanya bertiga, merangkap anak-buah kapal, tapi juga merangkap sebagai tukang-masak, dan pelayan resto-kapal sekaligus. Tapi inilah Tiongkok!

Dan kami sangat puas naik kapal sambil menyisir dan menyusur hilir, yang cukup sempit melewati bebatuan yang menonjol menyembul ke atas, bagaikan sengaja menghadang perjalanan kami. Tetapi jurumudi kapal sangat terampil, berbelok, menghindar, memutar dan mengitar. Sedangkan para nelayan dengan perahunya yang kecil-mungil dengan sisinya penuh burung sejenis jenjang dan bangau, saling bersahabat. Mereka sangat tenang, sangat senang tampaknya. Dan nyanyian nelayan yang sangat bebas dan sangat wajar dan merdu, berpuisikan nyanyian alam :

Sungai Ciang mengalir ramah menghidupi kami berabad-abad sudah perahu dan air burung dan ikan kami para nelayan saling memelihara alam dan manusia haruslah saling memperhatikan.

OO ooi bagusnya gunung dipancar mentari kencana alam lukisan dari tangan Tuhan penaka gambaran orang yang sedang asik bercintaan.

Dalam bahasa Tionghoanya sebenarnya puisi yang dinyanyikan para nelayan itu sangat bagusnya. Tetapi bila diterjemahkan akan terasa hilang keasliannya, dan kita hanya menangkap makna isinya, bukan lagi nafas-jiwa puisinya.

Sekiranya tak ada kejadian yang tidak sedap dan menyakitkan itu, betapa indahnya Guilin dan sungai Ciang yang bagaikan permata-cantik-molek di Tiongkok Selatan. Tapi tetap harus dicatat, Guilin tetap indah, bagus dan mengasikkan, hanyalah para pengelola urusan pariwisatanya yang cukup brengsek dan merugikan daya-jual wisatanya. Tadinya ada maksud kami buat mengirim surat kepada Sekda atau Pemda daerah provinsi Kwangxi, mengabarkan perkara yang kami alami selama menginap di Guilin, agar nantinya bagian pariwisatanya bisa memperbaiki kerjanya. Tetapi setelah dipikir-pikir, sudahlah jangan menambah urusan yang memang sudah cukup banyak ini. Baik sekiranya ditanggapi secara sungguh-sungguh dan mau memperbaiki diri, tetapi kalau dianggap kami ini mau turut campur-tangan urusan dalam negeri Tiongkok, lalu tambah runyamlah urusan! Dan kami niscaya akan dipertimbangkan baik-baik dan setelitinya apabila minta visa buat ke Tiongkok lagi, siapa tahu!

Paris 12 April 1999

Spesialis Beranjangan

Tembur, tembak-burung, suatu kehidupan mengisi liburan dalam kegiatan-kerja kami sehari-hari, kami la-kukan hanyalah pada hari Minggu. Caranya pergi bergrup, bersama beberapa orang, atau membentuk grup kecil, atau sendirian. Tembur biasa, lebih baiklah pergi bergrup, atau grup kecil. Tetapi kalau tembur dila-kukan sendirian, tentulah ada keistimewaan lain. Pada biasanya, tembur sendirian dilakukan kebanyakan hanya tembur burung yang juga spesial. Ketika itu kami tembur hanya tertuju kepada burung beranjangan. Burung beranjangan ini sejenis puyuh, atau gemak kata orang Jawa. Warnanya bintik-bintik coklat, lebih kecil dari puyuh. Kesamaannya dengan puyuh, beranjangan juga tidak pernah hinggap di atas pohon atau ranting. Selalu hinggap di atas tanah, dan berjalan biasa seperti ayam. Tetapi lainnya dengan puyuh, bila beranjangan terbang, melesat-cepat dan tinggi ke atas. Dan di atas itu dia bermain dengan terbang mengepakkan sayapnya tetapi tetap pada posisinya, hanya bertahan dengan sayapnya. Dia melihat jauh ke bawah, kira-kira akan di mana hinggapnya di tanah nanti. Lalu dengan cepat pula menukik bagaikan pe-luru menuju ke bawah dan hinggap di tanah.

Beranjangan biasanya akan hinggap di atas tanah yang warnanya sama dengan badan dan bulunya. Yaitu tanah yang coklat, agak kehitaman, dan tanah yang kering. Ciri tempat hinggapnya beranjangan yalah se-lalu tanah datar, atau yang rumputnya tipis, jarang-jarang, dan bekas lapangan panenan biji-bijian, bekas gandum yang paling disukainya, atau lapangan penebahan jagung, atau padi sawah kering.

Pada mulanya di antara kami tidak begitu berminat tembur beranjangan, karena sangat sulit. Sebab sangat pandai berkamuflase. Sering kami datangi, mendekatinya ketika dia sedang hinggap, atau ketika mau hinggap. Tetapi karena pandainya dia berkamuflase hinggap di atas tanah yang sama warnanya de-ngan bulu dan sayapnya, maka kami sering tertipu, tidak kelihatan, tahu-tahu berrr——-terbang tiba-tiba sangat mengejutkan. Dan sasaranpun hilang, dan kami jalan lagi mencari beranjangan lain. Karena kebi-asaan beranjangan ini hinggap di tanah dan tak pernah di atas pohon, ranting dan daun, maka kamipun juga harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan beranjangan ini. Kalau biasanya kami tembur sambil melihat ke atas, mengamati segala jenis burung yang hinggap di atas pohon yang tinggi, berlindung di sebelah-sebelah daun, sering sakit leher, dan kalau terlalu lama seharian suntuk, dari pagi sampai menje-lang petang. Tetapi tembur beranjanganpun sama saja, hanya kepala-leher dan mata harus selalu melihat ke bawah, menunduk dan mencari sasaran dengan teliti dan dengan mata yang sangat awas.

Dan karena tembur beranjangan selalu di lapangan terbuka, maka tidak perlu banyak ke luar-masuk hutan. Karenanya para atau kaum tembur ini, tidak begitu suka tembur beranjangan, terlalu lama dan sa-ngat mendongkolkan, dan lagi dapat hasilnya tidak akan sebanyak tembur biasa. Tembur biasa, seseo-rang teman, paling sedikit akan mendapatkan 30 ekor burung. Tetapi seseorang tembur beranjangan dapat hasil 25 ekor saja sudah luarbiasa hebatnya! Mungkin karena itu sangat sedikit penggemar tembur beranjangan. Kata teman-teman, ngapain mau dipermainkan beranjangan yang ayam bukan, burung bu-kan, puyuhpun bukan.

Tetapi aku sangat suka mengawasi dan mengamati beranjangan ini. Pernah aku tergila-gila memburu beranjangan. Aku mau tahu benar, bagaimana maka dia "suka mempermainkan" kami para tembur ini. Memang sangat pandai beranjangan berkamuflase. Berminggu-minggu bahkan sampai beberapa kali hari Minggu, sampai lebih sebulan, aku mempelajari hukum terbang dan hinggapnya beranjangan ini. Pernah dalam sehari suntuk itu, aku hanya dapat beranjangan 14 ekor saja, terlalu jauh dari jatah. Hal ini karena aku lebih banyak hanya melihat dan mengamati dengan cermat bagaimana hukum terbang dan hinggapnya. Bila beranjangan sedang berkepak-kepak tinggi di atas, sekira 30 meter lebih, dia akan meli-hat ke arah tanah yang akan menjadi sasaran hinggapnya. Lalu cepat-melesat dan menukik ke bawah, lalu sayapnya itu direntangkan lebar dan sama dengan tanah warnanya. Tentu saja kita akan selalu terkecoh. Ketika dia menukik hinggap ke tanah itu, beberapa lamanya dia tetap diam terpaku di tanah itu, sama-sekali tidak bergerak. Dan ketika kita tahu bahwa dia diam terpaku itu, kita mendekatinya secara diam-diam pula dan senapang jangan dulu diarahkan ke sasarannya. Dengan gerak "pura-pura saling tidak tahu" lalu barulah pelan-pelan kita arahkan laras senapang, dan dengan bidikan-yakin, kita lepaskan ke arahnya, dan biasanya bunyi peluru-mimis terdengar dosss, dan dia tergeletak menggelepar sebentar.

Ketika aku boleh dikatakan sedikit-sedikit agak menguasai hukum-terbang dan hinggapnya beranjangan ini, walaupun tetap mendapat hasil yang jauh lebih sedikit daripada teman-teman tembur biasa, ada perasaan senang dan suka juga tembur beranjangan. Memang hasil yang kudapat sepanjang hari, dari pagi sampai petang, selalu dibawah 30 ekor, bahkan sering hanya dapat belasan ekor, padahal kalau tembur biasa, jatah itu selalu di atas 40 ekor. Dan seperti kelaziman kami para tembur, semua hasil kami setorkan ke bagian penyiang-bulu dan bagian seksi-masak.

Lainnya lagi tembur beranjangan ini, harus selalu tembur sendirian, terkadang terasa sepi, sepanjang hari tidak ngomong, tidak ada yang bisa diajak bicara. Paling-paling ketemu kaum tani yang lalu-lalang mela-lui padang-dataran bekas jagung, padi-padian, gandum, panenan kacang-kacangan. Pernah sekali aku memburu beranjangan agak ke atas bukit yang semaknya tidak begitu tebal. Beranjangan itu terbang agak merendah, tetapi belum mau hinggap-hinggap juga. Dan aku terus memburunya sampai ke atas bukit agak berbatu dan semak-semak tipis. Tanpa curiga apapun, aku terus lari-lari kecil, dan di depanku sekilas terlihat tanah gundukan yang ada semak-semaknya seakan terlindung, dan ketika aku mau menghindarinya, karena agak cepat lari-lari kecil itu, sudah tak bisa ngerem lagi, dan aku terperosok ke dalam sebuah lobang yang besar. Dan aku terseret ke bawah, untungnya masih bisa menyambar akar pepohonan di sekitar situ. Dan aku tertolong dari bahaya yang kira-kira dapat kupastikan atau kemungkinan besarnya, akan hilang dari peredaran kehidupan ini. Setelah aku agak tenang, barulah ku-amati lobang besar itu. Ternyata dulunya mungkin sebuah sumur tua, yang dalamnya ke bawah sekira 10 sampai 20 meter. Kulihat ke bawah, tampak kepalaku memantul dikembalikan cahaya samar-samar, dan ternyata tetap ada airnya. Sumur tua dan yang sangat dalam itu hampir saja menguburkan diriku. Ketika itulah malah aku semakin agak gemetar, sekiranya aku masuk dan terperosok jatuh terus ke dalam, tak seorangpun yang tahu, tak seorangpun yang bisa menolong. Mau teriak? Siapa yang akan mendengarkan?! Sekitar situ sepi dan hutan semak, tak ada orang, tak ada penduduk. Lama sekali aku terkejut dan memikirkan, bagaimanalah sekiranya tadi itu aku benar-benar jatuh ke dalam. Isteriku dan dua anakku akan kehilangan suami dan ayahnya, dikarenakan tembur beranjangan! Memikirkan ini, bergidik bulu halus sekujur tubuh.

Sudah itu berminggu-minggu aku bergabung kembali dengan grup tembur biasa. Kepada teman-teman tertentu kuceritakan pengalaman ini, tetapi samasekali tak kuceritakan kepada isteriku di rumah, kuatir kalau aku tidak boleh lagi tembur sendirian. Dasar aku suka tembur, dan mungkin "dari sononya dulu sudah turunan", ayahku seorang pemburu benar-benaran. Dia punya berjenis senapang, dari yang mimis 5, 5 sampai senapang chess, dan double-loop, berlaras dua, dan sepanjang hidupnya sudah menembak rusa dan kijang sebanyak 56 ekor. Aku ingat benar catatan pribadinya ketika sampai tahun 1942 itu. Tak pernah dicatatnya kalau hanya pelanduk atau kancil, apalagi burung punai, balam dan jenis lainnya. Dan sangkutan pakaian di rumah kami, selalu dari tanduk rusa atau kijang yang bagaikan bercabang sengaja buat sangkutan pakaian. Dan secara diam-diam tetapi sangat berhati-hati, aku tetap saja sekali-sekali menjadi tembur sendirian, spesialis beranjangan yang tadinya begitu mendongkolkan, tetapi lama ke lamaan menjadi suka dan sekali-sekali lalu tergila-gila.

Lalu ada-ada saja penemuan dalam perjalanan semua jenis pekerjaan dan kehidupan kita ini. Kalau dulu itu aku merasa harus berhati-hati jangan sampai terperosok dalam lobang atau sumur tua, maka kini sudah harus ditambah lagi, harus hati-hati dengan gerombolan serigala dan ular. Beberapa kali aku bertemu dengan serigala sebanyak tiga empat ekor. Dengan mata nyalang dan ganasnya, kami saling siap dan mengawasi, dan siap berjaga. Kusiapkan senapangku, yang sebenarnya tak mungkin dapat membunuhnya, apalah hanya mimis kaliber 4, 5. Lalu bertemu ular, dan ini sangat biasa. Kalau berminat menangkap dan membawanya ke rumah, boleh-boleh saja membunuhnya. Tetapi hanya membawa beban berat saja adanya, biarkanlah dia hidup. Dan aku jalan dan jalan, masuk hutan, masuk dataran, terkadang ada terlintas pikiran, sampai kapan hidup begini akan berakhir, sebenarnya bukan begini yang aku mau, aku tokh mau pulang ke tanahair. Dan pikiran begini bukan hanya ada padaku, selalu ada pada kami semua. Aku dan kami para tembur samasekali tak ada bermaksud mau jadi pemburu sejati, seperti ayahku dulu itu. Ini kan hanya sekedar pengisi waktu agar kami jangan sampai stress dan frustrasi dan lalu gila betulan!

Paris 14 April 1999

Resah dan Panorama Beijing

Ketika pihak tuan-rumah, Radio Beijing sudah memutuskan bahwa kontrak-kerjaku tidak akan diperpan-jang lagi, dan akupun memutuskan harus ke luar Tiongkok, nah, masa-masa itulah, yang paling menye-dihkan, resah-gelisah, dan kalau tidak kuat, bisa berakibat fatal. Untunglah selama ini, sepanjang hidupku, aku selalu dituntun oleh pikiran, dan bukan oleh perasaan. Pikiran, nalar yang bersih-jernih, untungnya selalu mendominasi hidupku, dan semogalah, aku berdoa dan berharap agar seterusnyalah begitu. Bagaimana tidak. Isteriku baru saja meninggal. Aku kehilangan isteri, dua putriku yang sedang beranjak dewasa kehilangan ibunya. Jadinya aku harus merangkap jadi ayah dan jadi ibu sekaligus buat anak-anakku. Kalau sampai aku berbuat apa saja yang tak baik bagi pandangan mereka, maka bukankah aku gagal sebagai ayah dan ibunya sekaligus? Tidak jadi panutan, tidak mampu jadi contoh bagi anak-anaknya sendiri. Aku harus bisa menguasai diri, harus bisa mengendalikan diri. Dan itu sangat tidak mudah. Misalnya saja, mungkin ini yang kuceritakan ini, adalah sebagian hal-perkara diri dan pribadiku yang sangat sulit kuatasi. Ketika dulu isteriku meninggal dan ketika upacara pemakamannya, aku tetap bisa mengenda-likan diri. Tidak menangis, tidak menampakkan airmuka-keruh dan kusut di depan orang-orang yang sedang menyatakan berduka-cita dan belasungkawa. Termasuk kepada kedua anakku, dan inipun sangat perlu kutunjukkan kepada mereka agar tabah menghadapi kenyataan kesedihan hidup ini. Tampaknya di luar sepertinya aku ini kuat?!

Tetapi ada rahasia yang mau kubuka kepada kalian. Ketika aku sendirian di kamar-kerjaku, di kamar-tidurku, betapa sedihnya hati ini dan aku menangis, menangis dan menangis. Kubiarkan diriku begitu, biarlah agar bisa sedikit hilang rasa duka ini, - dan tokh tak ada seorangpun yang tahu dan melihatku-, ini pikirku ketika itu. Betapa akan beratnya kehidupan kami bertiga, karena kami akan menempuh hidup yang samasekali baru yang samasekali belum kami kenal. Kami akan meninggalkan Tiongkok. Tetapi ketika itu belum tahu mau ke mana, dan hal inipun menambah beban pikiran, cobalah pikir, harus pergi dari Tiongkok tetapi belum tahu mau ke mana?! Kan gila namanya! Lama berbulan-bulan barulah tahu, bahwa kami akan ke Paris yang tadinya, sejak dulunya, tak pernah secuilpun ingat dan ada maksud mau ke Paris sana. Artinya kami harus mulai dari O, nol lagi, dari samasekali tiada dan harus di-ada-kan.

Sambil menunggu persiapan keberangkatan, aku menjalani kota Beijing yang segera akan kutinggalkan, setelah kami berdiam di Cina selama 18 tahun! Aku tak tahu mau ke mana dan mau apa dengan berjalan mengelilingi kota Beijing dan sekitarnya ini. Semula aku naik bis, naik-turun bis, tukar bis-troli, metro, pokoknya membunuh waktu. Ini biasanya kulakukan ketika sore hari. Sebab, nah inilah baiknya pihak tuan-rumah, Radio Beijing, masih memperkenanku bekerja setengah hari, sampai ketika aku mau be-rangkat meninggalkan Beijing, dan aku tetap mendapat gaji walaupun juga hanya setengahnya dari dulu. Sangat wajar sebab bekerjanyapun hanya setengah hari.

Ketika sore hari itulah aku bersepeda mengeliling Beijing. Semula menuju lapangan Tien An-men. Lapa-ngan ini sangat luas. Kukira lebih luas dari Lapangan Merah di Moskow. Kalau ada rapat-umum, bisa menampung sampai satu juta orang, bahkan bisa lebih. Di sekitar lapangan ini, ada Gedung Balai Rakyat, yang besar dan megahnya luar-biasa. Satu tiangnya saja, tidak bisa dipeluk oleh dua orang sekaligus, mungkin tiga empat orang barulah bisa. Dan kalau resepsi negara karena Hari Raya Nasional 1 Oktober, ada bangket, jamuan-makan, sekali mengundang tamu sampai 3000 - 5000 tamu, duduk makan bersama dengan diiringi musik yang anggota pemain musiknya sampai 300 orang. Semua ini pernah kualami ketika aku masih "menjadi tamu asing yang dihormati" dulu itu. Dalam Gedung Raksasa itu ada sebuah panggung pertunjukan, yang bisa menampilkan koor-besar sejumlah 3000 penyanyi sekaligus!

Tiongkok selalu besar, gede dan hebat serta gila-gilaan. Tetapi apa kekurangannya? Dia sangat tertutup, sangat menutup-diri, dan seakan-akan memang mengisolasi diri. Semua besar, bukan main, bahkan dalam soal negatifpun besar! Misalnya saja, tidak banyak orang tahu, bahwa korban bencana alam karena gempa-bumi yanga paling banyak di dunia, juga di Tiongkok, di Thangsan. Korbannya menelan hampir satu juta jiwa! Ini terjadi tahun 1976, - Sangat sulit dipercaya, dan juga karena tak ada di koran, apalagi koran asing, koran luar-negeri.

Di samping-samping Lapangan Tien An-men, selain Gedung Balai Rakyat itu, adalagi Gedung Musium

Sejarah, lalu di bagian belakangnya ada Taman Cungsan, taman yang sangat besarnya, kalau di Paris seperti Jardin Luxembourg. Lalu ada istana Gogong, Istana Kota Terlarang, yang bukan main antik, besar dan tradisionalnya. Dan semua yang kusebutkan, cukup sering aku masuk dan melihatnya. Sangat nikmat memandangnya dekat-dekat, mengamatinya, mempelajari sejarahnya, dan mendengarkan cerita-cerita sesungguhnya maupun yang ada fiktifnya agar tambah menarik. Semua ini kujalani sendirian, bersendiri saja, tapi anehnya memang aku sangat membutuhkan kesendirian begini.

Dan aku dari sana lalu mengedari Beijing dari berbagai sudut, jauh dan jauh sekali yang aku sendiri tak tahu lagi ke mana dan di mana. Pokoknya bersepeda menelusuri jalan yang mulus datar itu. Ada kesamaan tanah Holland, Belanda dengan dataran Beijing ini, tanahnya datar, rata tak ada tanjakan, enak dan mulus bila bersepeda. Bedanya dengan Holland, datarnya Holland selalu di bawah laut! Dataran rendah dan lobang - hole lalu Holland. Dan bila sudah jauh dari kota, pemandangan berubah menjadi pemandangan pedesaan, ladang gandum, kebun sayuran, kesibukan para petani menebah padi, gandum, dan panenan kentang, bawang dan lainnya. Sangat asik melihatnya dari pinggiran jalan. Bersepeda begini biasanya berjam-jam, lupa mau ke mana dan ada di mana. Pernah satu hari, senja sudah mau petang, aku tak tahu lagi ada di bagian mana dari kota Beijing. Tak ada lagi tanda yang berhuruf latin, dan tak ada tanda plang nama papan penunjuk. Aku sudah kehilangan arah. Hari sudah mau petang, tetapi aku tidak tahu di mana arah tempat tinggalku. Kutanyakan pada penduduk, di mana letak Radio Beijing. Orang itu menjawab : " Wah masih jauh sekali. Saya kira lebih dari 30 km lagi. Arah Istana Musim Panas saja masih harus dile-wati dulu", katanya. "Lalu di mana arah Istana Musim Panas itu sendiri", kataku. "Nah, ambil jalan menuju Utara, lalu nanti kalau ada persimpangan-empat itu belok ke Timurnya, nah, sudah tinggal beberapa km lagi", katanya. Ini orang Beijing seperti orang Jawa saja! Kalau sudah pakai sebelah Timur, Barat, Selatan, maka mati-kutulah aku. Mana aku tahu arah mata-angin Selatan, Barat, Utara segala! Orang Jawa di metro bawah-tanahpun dia akan tahu mana arah Selatan, Utara, dan lainnya. Aku tidak.

Jadi ternyata aku ini sesat, nyasar. Dan jauhnya bukan main. Istana Musim Panas saja sudah sangat jauh dari kota. Dan Radio Beijing letaknya di bagian kota. Istana Musim Panas jauhnya dari tempat kami hampir 25 km, dan aku harus mencari sasaran tempat itu dulu, barulah tahu arah ke mana bagian kotanya. Hari itu ternyata aku sudah bersepeda hampir 70 km, dan malam barulah aku sampai di rumah.

Mengapa begini? Memang asik dan enak bersepeda di Beijing. Tetapi mungkin saja karena aku dalam keadaan cukup stres, bercampur frustrasi, menghindari keruwetan dan kerumitan kehidupan. Ruwet dan rumit samasekali bukan dalam urusan kebendaan dan materi, tetapi kejiwaan, kalbu, hati-nurani. Kami sungguh belum tahu akan nasib dan haridepan kami. Mau pulang ke tanahair, tidak mungkin! Lalu mau ke mana? Sanak tidak, kadang tidak, keluargapun tak ada di tempat yang akan didatangi itu. Semua serba asing, semua serba belum dikenal. Betul-betul harus dimulai dari nol lagi. Perginya kami dari Tiongkok samasekali bukan dalam keadaan normal. Baru saja ditimpa kesedihan, kemalangan. Dan kesedihan serta kemalangan itu tidak hanya dari satu segi saja, tapi bersegi banyak. Sudah kehilangan isteri, kontrak-kerja diputus, PHK secara sopan, sudah tak ada kerjaan lagi, lalu harus pergi yang entah ke mana. Tuan-rumah samasekali tidak mengusir, tetapi kita harus tahu dirilah. Tuan-rumah mau berhubungan dengan RI pemerintah Indonesia, berusahalah jangan sampai jadi "batu-sandungan" hubungan itu. Inilah yang juga ada dalam pikiranku. Di mana-mana, di tanah mana saja, bagi kami yah semua itu hanyalah tanah-pengasingan. Tanah kami adalah Nusantara, Indonesia, itulah tanahtumpah-darah kami. Tetapi kami diharamkan untuk datang berdiam disana, kalau tetap mau, yah, penjara, tahanan, siksaan sudah lama menunggu. Apa mau menyerahkan batangleher dengan sukarela?!

Itulah kontradiksi dalam pikiran ini. Semoga saja bertumpuknya kontradiksi ini tidak menjadikan diri stres dan frustrasi berkelanjutan, dan bertahanlah jangan sampai gila atau sejenisnya. Ini saja sudah cukup baik. Dan barangkali itulah sebabnya aku tersesat begitu jauh dari tempat tinggalku perumahan Radio Beijing. Dan gilanya lagi, aku tak pernah merasa kapok, jera dengan bersepeda menjalani kota Beijing ini. Yang harus dijaga, selalu eling kata orang Jawa!

Paris 15 April 99

Seni-masak - Seni-makan

Diambil rata-rata atau pukul-rata, orang Utara tak sepandai orang Selatan dalam soal seni-masak dan seni-makan. Dan budaya gastronomik semacam ini memang banyak didominasi orang-orang dari Selatan, dari Tiongkok Selatan. Makanan orang Utara tampaknya memang sangat sederhana dan kurang variasi kalau dibandingkan dengan orang-orang dari Selatan. Dua daerah ini pernah kami masuki jauh ke pedalaman, dan dapat dikatakan agak merata. Daerah Heilungchiang dan Liaoning yang dulu disebut Manchuria, berminggu-minggu kami di sana, sampai daerah ibukotanya Harbin dan Shenyang. Daerah ini sudah perba-tasan dengan Uni-Sovyet(Russia sekarang), dan daerah yang sangat dingin. Biasanya kalau musimdingin sampai 30 - 40 derajat dibawah nol C.

Ketika di Shenyang, di penginapan kami, pada waktu makan-siang, tersaji ikan tenggiri-goreng, dan ada beberapa kepalanya. Teman-teman agak rebutan menjumput kepala tenggiri goreng ini. Di antara kami kaum prianya, banyak yang suka kepala ikan, apalagi tenggiri, dan digoreng lagi! Rupanya petugas dapur memperhatikan tingkah-laku kami. Seperti biasa kawan Tiongkok selalu berusaha menyenangkan para tamunya. Dan keesokan harinya ketika makan siang, tergelarlah belasan kepala ikan tenggiri, tetapi badannya dan bagian lainnya tak ada, hanya semata-mata kepalanya saja! Melihat yang tersaji hanya ke-palanya saja, teman-teman wanita yang tidak suka kepala ikan menjadi tidak senang, dan protes kepada kami kaum pria, kepada kami yang antara lain para isteri kepada para suaminya masing-masing. Dan teman penterjemah yang selalu mengikuti kami ke mana-mana lalu menjelaskan kepada tuan-rumah setempat, bahwa memang ada yang suka kepala ikan, tetapi juga cukup banyak yang tidak suka kepala ikan. Juga ditanyakan kepada kami, suka makan apa, daging apa. Dan rupanya ada teman yang menjawab, kami suka kambing. Keesokan harinya di meja-makan tersaji daging kambing, tetapi aduh mak! Kambing yang sebenarnya begitu enak, tetapi kok digoreng! Daging kambing itu kan yang paling enak dipanggang atau disate, atau digulai, bukannya digoreng.

Memang bukan kesalahan petugas dapur, mungkin kami juga salah, kenapa tidak dijelaskan bagaimana cara masaknya, diapakan, bagaimana harus masaknya. Rupanya di daerah itu agak mudah untuk mendapatkan ikan, makanan laut. Pernah kami disajikan ikan-pari, tetapi sayang, masaknya juga digoreng. Padahal ikan-pari paling enak kalau digulai atau dipepes atau dipanggang, dan bukan digoreng. Lalu pernah makan-pagi dengan telor-matasapi, dan pakai———madu! Kami sangat tidak biasa makan telor-matasapi atau ceplok telor dengan madu! Apa rasanya! Nah, hal-hal begini tak pernah terjadi di da-erah selatan. Masakan daerah selatan selalu enak dan cocok buat kami, bahkan banyak hal-hal tak terduga, tak terpikirkan pada kami, dan ternyata sangat enak. Namun bagaimanapun halnya, mungkin karena faktor kebiasaan atau kebetulan banyak persamaannya saja dengan orang-orang dari selatan, ka-rena kami sendiri dari selatan juga!

Ada dua daerah atau provinsi Tiongkok yang terkenal pemakan serba-pedas, yang tak kalah dengan orang Minang atau Indonesia lainnya yang suka pedas. Provinsi Szechuan dengan ibukotanya Chengdu, dan provinsi Hunan dengan ibukotanya Changsa. Yang pertama, di mana Deng Sio-bing berasal, dan yang kedua, di mana Mao Tze-tung berasal, sama-sama suka pedas. Memang makanan dua daerah itu terkenal pedas dan enak serta cocok buat kita. Kami suka sekali masuk resto Szechuan di Beijing. Ada jenis makanan yang namanya "sup tiga dewi", dan ada yang namanya "guopa". Guopa ini sebenarnya goreng kerak yang masih hangat itu, lalu segera disiram dengan saus sea-food atau saus tumis-ayam atau saus apa saja yang kita minta pada menu yang menyertainya. Dan, nah ini yang eksotisnya, bunyinya menggema serrrrr satu ruangan itu. Asap mengepul tinggi bermain lengkak-lengkok sangat indahnya, dan orang di kiri-kanan kita pada melihat "keajaiban" ini. Dan kitapun mulailah menyantap goreng kerak yang sangat lunak setelah disiram kuah sea-food tadi. Makanan ini sangat enak, sedap dan biasanya sambil makan sambil berkeringat. Inilah bedanya orang melayu dengan jepang! Jepang kalau bekerja selalu berkeringat, melayu kalau makan selalu berkeringat, begitu gurau banyak teman, sorry ini hanya becanda saja.

Ada makanan elite, karena enaknya dan karena mahalnya, yaitu sup sirip ikan hiu, dan tumis haysom, jenis teripang. Makanan ini biasanya hanya pada upacara atau pesta atau perayaan dan peringatan. Jenis makanan yang luks. Apalagi yang namanya telapak-kaki-beruang! Di Taman Beihai di Beijing ada satu resto yang khusus menjual berjenis kue yang kecil-mungil. Apa pasal mengapa begitu? Dulu ketika masih ada raja dan permaisuri Tze-tsi yang katanya sangat manis dan mulutnya kecil-mungil, suka sekali makan kue manis tapi yang kecil sesuai dengan mulutnya. Nah, dari situlah riwayat kue-kecil itu.

Di Tiongkok ada kebiasaan dan kepercayaan bila mau masak daging atau ikan tertentu, akan jauh lebih enak kalau airnya dari daerah tertentu juga. Begitupun dengan berjenis teh. Teh tertentu akan jauh lebih enak apabila disedu dengan air daerah tertentu. Mungkin ada benarnya, sebab mereka yang gourmandes dan gastronomik begini selalu menyelidiki dengan seksama. Jenis masakan orang Tiongkok sangat kaya ragamnya. Seekor ayam bisa dengan resep sejumlah 300 jenis! Dan rasa serta bumbunya berlainan walapun sedikit bedanya, namun akan terasa tidak sama satu dengan yang lainnya. Padahal dasar bumbu Tiongkok itu yang paling pokok yalah bawang-putih, jahe, dan beberapa daunan yang agak asing bagi kita. Dan peranan api, besar-kecilnya api sangat memainkan peranan. Memasak jenis sayuran hijau seperti sawi-hijau segar itu, haruslah dengan api yang sangat besar dan panas, tetapi hanya sebentar saja. Hasilnya sayuran itu tampak segar, tidak layu, tetapi renyah kalau sudah di mulut, bagaikan makan kerupuk yang garing. Ada dengan api yang kecil tetapi lamanya berjam-jam, dan hasilnya seperti daging yang lunak, lumat dan tenggelam dalam gigi dan mulut.

Ada seni-masakan Tiongkok yang agak aneh dan jadi tontonan. Seekor ikan yang utuh yang masih hidup lalu dicelupkan dipenggorengan yang sangat panas, dan lalu diangkat dan dihidangkan. Para tamu makan dan menjumput ikan itu pada bagian badannya sampai dekat ekornya, tetapi jangan kepalanya. Dan ikan itu sampai habis dagingnya, tetapi bagian kepalanya bersama insangnya itu tetap masih ngap-ngap bernafas atau bergerak! Sampai habis bagian dagingnya, tetapi bagian kepalanya itu masih kelihatan bergerak seakan-akan masih bernafas. Ini dapat dikatakan seni-masak yang jempolan. Hanya tentu saja jempolan di kalangan tertentu dan dunia tertentu pula. Begitu seni-masak ini dibawa dan diperkenalkan di Eropa ini, lalu banyak yang "mengutuknya" karena terlalu sadis katanya. Tampaknya "perkenalan dan pertunjukan itu" mungkin akan lebih mendapat perhatian dan pasaran juga bila di bagian Asia saja.

Ada buku petunjuk yang diterbitkan bagian Pharmasi dan Kedokteran yang isinya memberitahukan, makan apa saja yang terlarang dengan pasangan atau campuran yang tak boleh disatukan atau berdekatan waktunya. Misalnya sekali-kali janganlah makan kepiting dengan susu! Kalau kita janganlah begitu selesai makan duren(durian) terus minum kopi, nanti keracunan. Buku itu memberikan petunjuk, agar berhati-hatilah dengan makanan, jangan sampai campur-aduk lalu keracunan. Ini menandakan daerah Tiongkok itu penuh dengan pelbagai rasa dan jenis masakan, karenanya selalu akan menemui keracunan. Tetapi pencekal dan penawarnya cukup bagaikan benteng yang sangat kuat. Dan banyak dituliskan berjenis penawar atau pencahar keracunan itu di antaranya jahe, cuka dan teh-kental diminum tanpa gula.

Di daerah Liaoning - Shenyang dan Heilungchiang - Harbin, kami banyak menemui rumah penduduk yang ada tempayan raksasanya, sangat besar. Berisi air untuk masak. Tetapi selalu ada ikannya di dalam, sehingga sering-sering agak keruh karenanya. Ketika kami tanyakan mengapa pelihara ikan di dalam tempayan besar itu, jawabnya untuk mencegah keracunan dan melihat ada tidak unsur racunnya. Sebab kalau air itu terkena racun sedikit saja, ikannya akan mati atau berenangnya menjadi oleng seperti orang mabuk. Masuk akal juga dan sangat bijak pengenalan dan pengetahuan rakyat setempat itu.

Dalam membuat roti-kukus, bakpau, berjenis roti-kukus dan masakan dari gandum, peranan pengadonan tepungnya sangat penting bahkan yang paling pokok. Seorang akhlinya akan menghasilkan jenis roti-kukus yang sangat empuk, lunak tetapi segar dan aroma gandumnya menyebar berasap kesekeliling ruangan. Tidak aneh, di Tiongkok, tingkat pengetahuan seorang koki jurumasak sangat terpilih kelasnya. Ada tukangmasak kelas satu, kelas dua dan seterusnya, dan ada yang digelari shifunya, sudah profesor aspirannya! Dan banyak tukangmasak kelas satu serta shifunya itu dipilih dan diangkat menjadi anggota KRN(Komite Rakyat Nasional) sejenis DPR/MPR kalau di kita. Tak putus-putusnya mengisahkan tentang perkara makanan di Tiongkok ini. Dulu, dulu sekali, ada tuantanah, feodal, raja-raja kecil yang begitu gila dan cerewetnya, minta disajikan semangkuk masakan lidah-bebek, atau lidah-ayam dengan masakan dan bumbu tertentu. Itu kan artinya satu lidah berarti satu bebek atau ayam, nah ini semangkuk pula, entah berapa ekor bebek atau ayam yang harus "jadi korban" kemauan dan selera gila begitu?! Ternyata masih dalam abad tahun inipun orang yang begini masih ada!

Dulu, dulu sekali, makan secara aneh dan sinting begini masih berbekas dalam ingatan orang. Ada sejenis keranjang atau kerangkeng kecil buat monyet hidup. Monyet itu diketok kepalanya, tentu saja berdarah dan menjerit kesakitan, dan raja serta tuantanah, pangeran zaman dulu itu, dari kepala yang sudah terbuka itu menjumput otak monyet, dicelupkan pada saus yang sudah tersedia di mejanya. Dan rumah-makan yang menyediakan makanan seperti itu, baru saja dilarang adanya. Semoga tahun-tahun mendatang, apapun dan bagaimanapun seni-makan dan seni-masak juga harus memperhatikan seni-hak-azasi makhluk, termasuk binatang tentunya. Semoga saja pihak yang mempertahankan keberadaan seni-masak dan seni-makan jenis lama seperti dulu itu, bisa berubah dan berani mengubah pandangan lamanya.-

Paris 17 April 1999

Sirima, Biduan Yang———-

Tidak begitu ingat benar aku, kapan persisnya aku mengenal Sirima. Tapi mula pertama kulihat dia sedang menyanyi di Chatelet les Halles, stasion bawah-tanah yang boleh dikatakan terbesar di kota Paris. Suaranya sangat bagus, merdu, dan sangat menguasai semua lagu yang dibawakannya. Tetapi pastilah lagu yang dinyanyikannya dalam Bahasa Inggeris akan terasa jauh lebih enak dibandingkan dia membawakan lagu yang dalam Bahasa Perancis. Mungkin karena dia baru datang, belum lama di Paris, atau memang lagu-lagu yang dibawakannya dalam Bahasa Inggeris lebih enak, lebih bagus. Ada sedikit catatan mengenai ini. Selama aku setiap tahun mengikuti perlombaan kejuaraan nyanyian se Eropa yang diadakan secara bergilir di salah satu negara Eropa ini, belum pernah Perancis mendapat hadiah! Paling-paling hanya sampai nomor 4, itupun susah bangat berjuangnya! Dan lagipula lagu-lagu Perancis itu tidak begitu menon-jol seperti lagu-lagu dari negara lainnya.

Sirima adalah seorang wanita keturunan Inggeris - Kolombo, dan datang ke Perancis sebagai kami jugalah. Mencari perlindungan politik. Tampaknya dia dari kalangan menengah di negerinya dulu. Dan yang ini yang paling menonjol, disamping suaranya yang memang bagus, merdu, cantiknya minta ampun. Sesudah menyanyi selalu tersenyum, dan senyumnya selalu tampak sangat wajar. Dan giginya putih berbaris sangat indahnya, dan bibirnya lalu basah mengkilat, dan pada pipinya ada lesung-pipit, menambah cantik yang sangat alamiah. Mengapa alamiah? Dia tidak pernah pakai lipstik. Rambutnya dikepang-dua. Maka lengkaplah ciptaan Tuhan dalam dirinya, asik-cantik-menarik-menggoda, lalu suaranya tidak ada tandingannya selama aku suka mendengarkan para penyanyi menyanyikan lagu apa saja selama aku di Paris ini.

Sirima menyanyi diiringi gitar oleh seorang yang jauh sebelum kenal dengan Sirima, sudah lama menyanyi di kaki-lima begini. Suara laki-laki peranakan Laos ini cukup lumayan, dan dia dapat banyak penonton, dan juga banyak dapat uang dari pekerjaan ini. Ini dulu, lalu sesudah dia dapat "menggaet" Sirima ini, bertambah berserilah kehidupan matapencahariannya. Dan aku seperti biasanya, kalau sudah kagum kepada suara penyanyi, apalagi wanita, dan apalagi cantik lagi, berusaha keras buat mengenalnya lebih dekat. Tentu mula-mula aku harus kenal managernya dulu, yang orang Laos itu. Namanya Mouk, umurnya sekitar 30-an, sedangkan Sirima 23, - Kalau aku sedang tidak dalam berdinas di resto, maka aku selalu mencari Sirima dan Mouk ini, di mana mereka "ngamen". Terkadang kalau tak ada di Chatelet les Halles, kucari di Opera dan Auber, stasion besar juga masih di pusat kota Paris. Dan terkadang bertemu, dan mereka tahu aku mencari mereka. Dan kami ngobrol sebentar. Biasanya kalau sehabis menyanyikan dua-tiga lagu, Sirima istirahat sebentar, dan Mouk temannya itu meneruskan dengan main musik, gitar-listrik, yang dengan kadi di sorong atau tarik ke mana-mana.

Lama ke lamaan dua orang itu jadi tahu bahwa aku sangat mengagumi Sirima, dan selalu saja mencari mereka kalau kebetulan aku tidak kerja atau sedang istirahat dua tiga hari. Bahkan terkadang aku suka menolong mengedarkan tempat-uangnya buat minta derma atau sumbangan dari para penonton. Dan mereka sangat percaya padaku, sebab bukannya sembarangan orang yang bisa begitu saja diperkenankan memegang "baki-uang" itu, ini adalah kepercayaan dan adat masing-masing perorangan. Dan terkadang terasa agak berat "baki-uang" itu karena isinya penuh, bahkan ada yang pakai uang-kertas 20-an francs dan pernah dapat uang-kertas 50 francs. Tanda orang-orang sangat senang akan suara dan lagu yang dibawakan Sirima. Lama ke lamaan lagi, kalau lama aku tak ketemu Sirima dan Mouk, dan begitu ketemu, sudah berani mencium pipinya dua-dua dan aku memeluk Mouk sebagai tanda kangen. Dia tanya ke mana saja aku. Kujawab aku ke Belanda beberapa hari. Ketika Sirima sedang istirahat dan Mouk meneruskan main gitar-listriknya, kami berdua ngobrol. Kukatakan " Rima, sekali-sekali cobalah kau pakai rambut ekor-kuda, jangan hanya kepang-dua saja. Percayalah kau akan lebih cantik kalau pakai rambut ekor-kuda", kataku. " O ya, kau yakin begitu? Kau mau kalau aku pakai ekor-kuda?", katanya. "Aku mau lihat kau menyanyi pakai rambut ekor-kuda. Kapan? Besok?" "Okey, akan kucoba, kau datang kan? Tokh bukan hanya mau lihat rambutku saja kan?" Dan kami berpisah, sesudah kupeluk dia dengan rasa yang sayang dan agak miring-miring sedikit.

Suatu hari datang ke Paris, keluargaku dari Jakarta. Dia ini juga penyanyi di televisi Indonesia, di Radio dan juga pernah main filem. Dan dia juga sampai kini masih sebagai fotomodel. Sudah tentu dapatlah diperkirakan, masaksih ada fotomodel yang tidak cantik? Dia tinggal bersamaku di Fontenay. Maya, ku-ajak mencari Sirima, agar Maya juga turut menyaksikan dan mendengarkan suara Sirima yang sangat merdu dan orangnya cantik pula. Beruntung, Sirima dan Mouk sedang "ngamen". Kami berdua Maya agak dari kejauhan melihat dan mendengarkan Sirima menyanyi. Seperti biasa, suaranya sangat indah, bagus dan merdu. Dan selalu tersenyum. Maya tak tahan, minta agar mendekat lagi, dekat lagi. Dan Maya menjadi penonoton yang paling depan, dekat Sirima menyanyi. Rupanya Maya sangat mengagu-minya, dan bagaikan terpesona akan suaranya yang bagus itu, dan juga akan kecantikan Sirima. Begitu selesai menyanyi, Maya memberikan uang sejumlah 100 francs, dan tampak Sirima kaget dan terheran-heran. Memang jumlah itu sangat besar, biasanya paling besar antara 20 sampai 50 francs saja, yang paling sering yalah 5 sampai 10 francs bahkan bisa saja satu-dua francs saja.Dan aku mem-perkenalkan Maya kepada Sirima.

Sekarang dua-duanya penyanyi yang berbakat. Maya ketika itu sudah membuat kaset sejumlah 7 album, memang belum banyak, tetapi sudah memulai menggarap lahan kehidupan kerja-seninya. Sedangkan Siri-ma belum menghasilkan album. Tetapi tampaknya haridepannya sangat baik. Dua-tiga tahun sesudah itu, dia mengorbit, diorbitkan seorang penyanyi Perancis yang sudah punya nama, Goldman dengan lagunya "la bas———– di sana". Sekarang dua-duanya pula pertanyaan diajukan kepadaku. Maya banyak tanya tentang Sirima ini, darimana aku kenalnya, dan bagaimana mula-mula kenalnya. Dan Maya benar-benar menikmati suara dan lagu yang dibawakan Sirima. Maya benar-benar mengaguminya. Kalau Maya mem-bicarakan Sirima ketika sedang menikmati suaranya, Maya bagaikan memberi kursus kepadaku. "Nah, kek, coba perhatikan nafas dan tarikan suaranya, lalu lehernya dan alunan nafasnya, sangat baik mengontrol tarikan nafasnya itu. Dan antara nada dan pertukaran nadanya, dia bisa kendalikan semau dia, dan ini tanda dia sudah menguasai hukum tarikan suara, bagaikan lepas saja, ke mana alunan suara itu dia mau bawa", kata Maya menjelaskan kepadaku, seperti seorang guru kepada muridnya. Dan Maya, sempat-sempatnya ngeledekku : "Kakek sih bukan tertarik sama suaranya saja, lebih-lebih orangnya kan? Ngaku deh kek, agar hukuman-nya ringan. Kalau nggak masaksih di uber-uber ke mana Sirima "ngamen" sampai ujung dunia juga dilakonin".

Pada hari lain, ketika aku sendirian dan Maya tak ikut, aku mencari Sirima sampai Gare de L*Est, stasiun yang keretanya menuju ke Timur seperti ke Jerman dan lain-lain. Ternyata mereka berdua ada di sana. Dan aku langsung memeluk Sirima dan mencium pipinya, yang ketika itu sedang istirahat sedangkan Mouk memainkan gitarnya. "Mana Maya", katanya. "Dia tidak ikut, ada keperluan lain". "Siapa sih sebenarnya dia itu?" "Kan dulu sudah kukatakan, dia keluargaku. Dia memanggilku kakek". "Kok nggak mirip keluarga, sangat lain rupanya". "Ya, bukannya keluarga langsung". "Nah, itu sudah kusangka", katanya. "Lain kali kau cerita yang panjang ya, aku mau dengar", katanya lagi.

Dan aku menanyakan keadaan kehidupan mereka berdua Mouk, bagaimana, dan apa rencana selanjutnya. Tampaknya mereka memang hidup-bersama, kumpul-kebo. Sampai ke masalah ini, lalu agak lama Sirima diam. Dan tampak airmukanya redup dan melihat ke kejauhan. Tampak matanya agak merah, dan ada butiran berkilat bagaikan permata, airmatanya akan segera menggenang. Cepat-cepat dia menghapusnya dengan saputangan. Dan tiba-tiba saja dia menjatuhkan kepalanya ke dadaku. Pelan sekali dia mengatakan: "Tak tahu jadinya bagaimana kehidupanku ini di bawah kekuasaan Mouk ini. Dia sangat pencemburu, dan aku terlalu banyak tidak boleh ini, tidak boleh itu", katanya sambil sedikit terisak. Sebenarnya aku sudah sangat kuatir, sebab bagaimana sekiranya Mouk melihat kejadian ini, untung saja lagu yang dia mainkan tidak akan segera berhenti karena sudah habis. Dan kami masih sempat sedikit ngobrol dengan Mouk, sedangkan airmata dan wajah Sirima sudah tidak sekusut tadi lagi. Dan ketika aku minta diri buat pulang, Sirima bagaikan tidak begitu rela : "Kau tidak sama-sama kami pulangnya? Okey lah, salam hangat kepada Maya yang katamu itu cucu kamu itu ya", kata Rima sambil masih sempat mencubitku di tangan ketika salaman.

Sudah itu lama kami tak bertemu. Aku mencari Sirima dan Mouk ke mana-mana dan tak ketemu. Kutanyakan kepada temannya yang kira-kira kenal mereka, tetapi itupun tidak berhasil. Banyak sekali orang-orang penggemar suara Sirima yang juga mencari Sirima, ke mana dan di mana mereka?! Dan aku sangat ngotot mencari Sirima dan Mouk. Terasa aku sangat merindukan Sirima dan juga barangkali Mouk. Kutanyakan ke mana-mana, bahkan kucari temannya yang sama-sama orang Laos juga. Bahkan kenapa aku sudah begitu gila, kutanyakan kepada polisi di situ yang berpos di Chatelet Les Halles. Dan betapa aku kaget dan shock-nya mendengar penjelasan bagian kepolisian, setelah mereka menanyakan siapa indentitasku, bahwa Sirima mati terbunuh oleh Mouk sendiri! Dan Mouk ada di penjara, karena dengan sukarela menyerahkan diri kepada polisi. Terasa badanku lemas, dan berkeringat dingin sekurjur tubuh. Sudah tak tentu rasa, dan puyeng. Kuusahakan agar bisa menguasai diri. Dan sesampainya di rumah, aku minum air-dingin dan menenangkan diri. Inikah akhirnya perkenalanku dengan Sirima dan Mouk? Perkenalan yang bagaikan tadinya sebagai kecambah yang mau tumbuh, tetapi tiba-tiba layu dan mati oleh angin-sakal atau racun-berbisa. Tak dapat aku mengerti bagaimana maka terjadi hal-hal demi-kian. Sudah tercium memang bahwa Mouk itu sangat pencemburu, dan suka mukul Sirima, tetapi akan terjadi pembunuhan, samasekali di luar perhitungan akal-sehat. Namun tetap saja terjadi. Tadinya ada maksudku mau mengunjungi Mouk di penjara, tetapi setelah dipikir-pikir panjang, baiklah ditunggu saja, kapan ada waktu yang baik, atau tunggu sampai dia keluar penjara. Tetapi berapa lama, berapa tahun la-gi? Pembunuhan hukumannya bisa puluhan tahun, atau bisa seumur-hidup, tergantung perkaranya bagai-mana.

Dan sukurlah, Mouk "hanya" dihukum tujuh tahun. Dia berkelakuan baik, samasekali tidak mempersukar pengadilan dan selama di penjara kelakuannya terpuji sangat. Pengampunan ini semoga saja menjadi pelajaran yang sangat mencengkam dirinya sepanjang hidupnya. Dan betapa akan halnya Sirima, biduan yang sebenarnya haridepannya sangat gemilang, sayangnya nasib saja yang cukup buruk. Suaranya yang begitu bagus, merdu, dan orangnya yang selalu tersenyum ramah, dan kalau dengan rambut ekor-kuda seperti pernah kulihat ketika kami saling janji itu, betapa cantiknya dan sportifnya dia. Dan sangat lama Maya yang dari Jakarta menilpunku menanyakan keadaan Sirima, tidak percaya akan ceritaku. Dia me-ngucap berkali-kali kata Innalillahi waillahiroi jiun dan kagetnya bukan main. Lama sekali aku meyakinkan Maya, bahwa memang Sirima dibunuh oleh temannya sendiri, Mouk.

Dan inilah keanehan dunia, aku masih sempat bertemu Mouk, dan kami ngobrol lagi di tempat yang dulu mereka saling kerjasama dalam "pengamenannya". Semula dia sangat sedih bertemu denganku, sebab biasanya dulu itu kalau kami bertemu selalu bertiga dengan Sirima, kini hanya berdua saja. Dan Mouk tetap masih main musik gitar-listrik dan tetap menyanyi sebagaimana sebelum kenal dengan Sirima dulu itu. Begitu setiap kali aku mendengar gitar-listrik Mouk, langsung saja aku teringat Sirima yang sebenarnya dia sudah dengan pelan-pelan masuk ruang relung hatiku yang sangat jauh dan dalam.-

Paris 18 April 1999

Cinta - datang - pergi dan hilang

Ada segi-segi yang lain resto kami ini dengan resto lainnya. Terkadang benar-benar mirip kantor-jawatan-sosial. Bagaimana tidak, kalau suatu kali ada saja "pengaduan" yang sifatnya agar kami turut menyele-saikan persoalan perseorangan. Seorang wanita yang umurnya sekira di bawah 30-an, datang kepada kami, menceritakan persoalan dan pengaduannya kepada kami. Wanita ini katakan sajalah bernama Sumi. Dia bersama keluarga majikannya, dari Arab datang ke Paris buat berlibur, datang berempat, tuannya Sultan Zaki, isterinya dan anaknya yang berumur dua tahun, dan Sumi sebagai pengasuh anak itu, baby-sitter, merangkap pekerjaan segala. Maksudnya apa saja asal masih ada waktu kerja, mencuci pakaian, seterika, membersihkan rumah, masak dan lainnya.

Mereka datang ke Paris menginap di sebuah hotel berbintang-empat. Suatu hari Sumi ini sakit, dan sakitnya agak keras, muntah-berak dan badannya panas. Tidak hanya satu hari, hari kedua Sumi tak dapat lagi mengikuti acara tuan dan nyonyanya, dan sakitnya kian keras. Akhirnya oleh pihak hotel dipanggilkan dokter-darurat-urgence. Dan pada akhirnya Sumi harus masuk rumahsakit, diopname. Tentu saja Tuan Zaki dan nyonya tidak bersenang hati. Tetapi apa boleh buat, mau apa. Tidak mungkin menunggui Sumi diopname. Entah kapan akan sembuh dan bisa pulangnya. Tuan Zaki beserta keluarganya bertekad pulang duluan ke Ryadh. Dan Sumi ditinggalkan di rumahsakit. Kepada Sumi tidak ditinggalkan pesan apa-apa, dan lagi Sumi ketika itu belum siuman benar, karena sakitnya masih belum sembuh dan belum sedar betul. Tetapi memang semua barang Sumi ditinggalkan di hospital itu, termasuk paspor dan uang dollar buat jaminan ala kadarnya, hanya beberapa ratus dollar saja, yang tidak mungkin hidup sebulan di Paris, belum lagi buat beli tiket pesawat baik ke Arab, apalagi ke Jakarta.

"Jadi kamu sudah lapor belum ke Ambassade Paris" kata kami. "Sudah pak, dan juga sudah ada yang mau bantu. Tetapi bukan hanya itu, yang saya mau, lalu bagaimana nasib saya ini jadinya. Saya mau pulang ke mana?! Mau ke Ryadh mana ada uang buat beli tiket lagi, mau pulang ke kampung saya di Klaten, lebih-lebih lagi tak punya uang. Saya maunya kerja di Paris ini dulu, kumpulkan uang lalu beli tiket pesawat lalu pulang", katanya. Mendengarkan ceritanya kami geleng-geleng kepala. Sampai hati benar keluarga Tuan atau Sultan Zaki itu! Nah, ini persoalan kami, bagaimana kami bersikap buat menolongnya. Yang kami agak senang dan agak lega, Sumi sudah melapor ke Ambassade. Bukankah pekerjaan beginian seharusnya memang Ambassade yang menanganinya?! Namun menurut Sumi ada orang-orang di sana yang sedia membantunya, tetapi tentu saja tidak seperti yang diharapkan. Kami segera menghubungi keluarga Perancis yang kami kenal dan lalu keluarga ini menghubungi lagi sebuah organisasi sosial yang pekerjaannya menangani nasib para wanita dan anak-anak yang terpinggirkan oleh orang-orang tuanya atau suaminya atau keluarganya. Di Perancis selalu ada badan-organisasi yang menangani pekerjaan akibat kekerasan yang dilakukan oleh para suami, orangtua, dan keluarganya sendiri, dan kukira tidak hanya Perancis, tetapi di Eropa ini.

Pendek cerita kira-kira dua bulan sesudah kejadian itu, Sumi dengan keluarga Perancis yang mengurusnya datang makan di resto kami. Dan betapa Sumi sudah mau senyum dan tertawa dengan "tuan atau majikan barunya" yang sebenarnya samasekali bukan tuan dan majikan, tetapi keluarga yang betul-betul berhati emas. Tuan Gerard sekeluarga, isteri dan dua anaknya yang masih balita, turut bergembira karena bagaimanapun Sumi akan mereka pekerjakan sementara di rumahnya sendiri, dan menurut Tuan Gerard kepada kami, Sumi akan mendapatkan uang buat beli tiket. Dan mereka sudah berunding, termasuk dengan pihak Ambassade Paris dan Ryadh, akan mempersoalkan dan menuntut Tuan atau Sultan Zaki itu. Karena katanya ada gaji Sumi yang belum dibayar, sedangkan Sumi sudah lebih lima tahun bekerja di Tuan Zaki. Dan lagi menuntut Tuan Zaki, mengapa dan betapa seenaknya meninggalkan Sumi seorang diri di Paris yang sedang sakit keras. Malam itu kami dengar tertawa renyah Sumi dan sekeluarga Tuan Gerard. Mereka terutama Sumi menyatakan rasa terimakasihnya kepada kami, dan kami lebih-lebih menyatakan rasa terimakasih kami kepada sekeluarga Tuan Gerard yang telah menolong Sumi.

Tidak sedikit pasangan keluarga campuran, isteri orang Indonesia, suami orang Perancis. Atau suami orang Indonesia, isterinya orang Perancis. Ada orang Indonesia namanya Abud, dari Jakarta. Dia ini adalah suami dari wanita Perancis yang benar-benar menikah secara adat di Indonesia. Karena Sylvie sudah sangat jatuh-cinta berat dan mendalam. Sehingga baru kenal beberapa bulan saja sudah siap-sedia mau menikah menjadi suami isteri. Abud dan orangtua Abud mengizinkan saja asal mau menikah secara Islam. Yang namanya orang jatuh-cinta berat mana ada pertimbangan lain dan nalar jernih! Okey sajalah. Ibarat barang dan mau memiliki permata yang indah dan mahal, seharusnya calon pembeli meneliti secara seksama dan berhati-hati, membalik-balik muka-belakang kiri-kanan, atas-bawah! Tetapi ini tidak. Sang Isteri adalah dosen di sebuah universitas, sedangkan Abud tamat SMP-saja masih diragukan! Dulu mereka ketemu di sebuah pesta di Tanahabang, lalu berdansa, lalu bicara, lalu saling merasa, lalu cinta, dan lalu ya sekarang ini! Sang isteri dengan pendapatan yang jauh lebih besar dari kami pegawai resto digabung empat orang sekaligus, dengan pendapatan Abud yang hanya "ngamen" dengan gitarnya mengelilingi kota Paris. Ya, bisa dibayangkan, cinta-mesra bagaimanapun tentulah akan ada akhirnya kalau posisi atau fungsi sangat tak seimbang, sangat pincang. Maka akhirulkalam, sang isteri Madame Abud atau Sylvie pada suatu hari meninggalkan Abud, dan kini bersama seorang pria bule juga yang posisi dan fungsinya sudah seimbang dan tanpa pincang! Dan mulailah Abud gentayangan pontang-panting cari kerja. "Ngamen" saja mana cukup, mana tetap! Dan lagi yang menambah soal, Abud belum menguasai Bahasa Perancis. Bagaiman mau cari kerja di Paris, kalau bahasa Perancisnya saja masih bermodalkan satu sen dua sen. Pernah melamar pekerjaan di resto kami, dan kami usahakan bisa kerja. Tetapi dasarnya memang sangat kurang, maka terlalu banyak pendapat teman-teman kami, bagaimanalah agar Abud cari kerja lain sajalah agar jangan merusak yang sudah ada ini. Kami tetap bersabar memberi kesempatan kepada Abud agar bisa mengubah diri.

Pada suatu kali ada lagi pemuda dari Bali yang datang kepada kami, buat cari kerja kalau sekiranya ada lowongan. Katanya sih dia sudah ada pengalaman bekerja di resto di Bali. Dan dia ini punya isteri orang Perancis yang jadi guru setingkat SMA. Mereka menikah di Denpasar. Sesudah jatuh-cinta berat lalu segera kawin, berumahtangga. Kini sudah punya dua anak. Si Putu ini mengaku kepada kami sudah punya pengalaman kerja baik di Bali maupun di Perancis ini, di Lion katanya. Kami sih berusaha percaya. Tetapi dalam pekerjaan sehari-hari cukup banyak hal-hal yang agak mengecewakan kami. Dari segi bahasanya saja, sangat sulit lancar. Sulit kami mengerti tentang Putu ini. Isterinya orang Perancis, tentulah seharusnya setiap hari latihan bahasa, punya kamus-hidup di rumahnya sendiri. Seharusnya kamilah yang harus banyak praktek kepada Putu yang beristerikan orang Perancis ini. Lagipula katanya sudah tinggal selama 7 tahun di Perancis ini. Maka suatu kali kami tanyakan akan halnya keheranan kami ini. "Putu, kenapa sih kamu bahasa Perancisnya agak belepotan padahal isterimu orang Perancis. Apa kamu hanya bahasa Indonesia saja di rumah dengan isterimu?!" "Akh, malah nggak Pak. Bahasa Indonesiapun tidak—" "Lalu kenapa tidak lancar bahasa Perancisnya?" "Kami di rumah malah bahasa Bali, Pak". "Hah, bahasa Bali malah!", kata kami keheranan dan bercampur kejengkelan. Semua kami pada geleng kepala. Tujuh tahun di Perancis, tidak mengerti bahasa Perancis, malah berbahasa Bali di Paris, dengan isteri orang Perancis! Isterinya mendapatkan pengetahuan banyak dari negeri kita, sampai bahasa dan budaya Balipun dia lebih tahu dari kami orang-orang resto! Tetapi jauh, jauh sekali dalam hati kami, bertanya-tanya, akan tahan berapa lama lagikah pasangan ini bisa mempertahankan kehidupan secara begini? Banyak pasangan yang tadinya begitu lengket-lekat, rapat-padat, hanya beberapa bulan saja bu-bar dengan sendirinya. Pasal jatuh-cinta, cewek Perancis atau cowok Perancis, bukan main bisa mengalahkan bangsa lain, -inilah pendapat kami yang mungkin kasar dan semoga tidak benar! Tetapi cukup banyak pasangan yang tadinya kami lihat datang ke resto berdua-mesra, beberapa tahun kemudian atau bahkan beberapa bulan kemudian, bubar dan lalu dengan pasangan baru lagi.

Maka tertawalah aku ketika membaca berita dari tanahair, ada pasangan yang nyeleweng dari pasangan-hidupnya, zinah, istilahnya. Lalu pasangan itu mendapat hukuman diarak-digendang-tabuhkan-dimusikkan sepanjang jalan dan gang masuk rumahnya itu. Maka ramailah gang dan jalan itu. Hal ini yang aku tertawa, sebab ingat di Paris dan Perancis. Kalau hukumannya itu sama dengan yang terjadi di Indonesia, maka setiap gang dan jalan di Paris ini, harus ada berapa rombongan musiknya! Dan betapa akan ramainya setiap gang dan jalanan, - meriahlah jadinya.

Karena itu, di Paris dan Perancis sangat jarang dan sangat terasa aneh kalau ada yang merayakan hari ulangtahun perkawinan-emas, selama 50 tahun. Untuk perkawinan-perakpun tak pernah dengar. Sudah tentu bukannya tidak ada, tetapi sangat langka. Dan itupun kalau ada, tentulah dari kaum tradisional, kaum kuno orang-orang dulu. Di resto kami selalu ada yang bertanya dan mempercakapkan antara temannya sendiri, -"Tampaknya Anda awet juga ya dengan pasangan yang ini"? "Yah, masih bisa bertahanlah". "Sudah berapa lama?" "Sudah hampir 6 tahun". "Wah, hebat juga. Tak ada niat ganti pasangan?", kata temannya dengan nada gurau. "Lihat-lihat saja, bagaimana keadaan kongkrit nantinya sajalah", katanya. "Bagimana Anda sendiri?" "Selama 6 tahun ini, yah sudah tiga kali ganti pasangan. Tapi itu kan bukan kemauan saya sendiri, tergantung dua belah pihaklah. Saya bisa bertahan, tapi dia tidak bisa, dia bisa bertahan tetapi saya tidak bisa, coba bagaimana mau lama!", katanya enteng saja.

Bagaimanapun kami tetap berharap agar pasangan yang tadinya begitu mesra dan saling jatuh-mendalam agar bisa lama bertahan, bahkan bukan main baiknya kalau bisa langgeng seumur hidup. Tentu saja seperti kata pelanggan kami itu tadi, semua itu tergantung kepada kedua-belah pihak. Makanya sebelum memilih, memutuskan, lihatlah, telitilah, pertimbangkanlah baik-baik agar bisa lama dan awet.-

Paris 20 April 1999

Madame Eliane Albert (1)

Ada tiga pengetahuan praktis yang kurasakan banyak gunanya yang kudapatkan selama 18 tahun di Cina. Pertama tentang Tusukjarum (akupungtur). Kedua tentang Taichichuan, silat-sehat. Ketiga tentang Feng-shui, ilmu tentang-letak, berdasarkan mata-angin dan sumber-air. Tiga pengetahuan praktis ini kurasakan cukup banyak gunanya. Selama mula-mula kami tinggal di Perancis, kami ditempatkan di sebuah kota kecil bernama Lure, ratusan kilometer jauhnya dari Paris. Letaknya di bagian Perancis Timur, tak jauh dari per-batasan Suisse. Di Lure, kami mempelajari bahasa Perancis untuk selama 6 sampai 8 bulan, lalu dilepas untuk kemudian mencari kehidupan sendiri. Ini sebagai peraturan bagi semua pendatang-baru yang kira-kira akan tinggal di Perancis, mendapat perlindungan kehidupan dari pemerintah Perancis. Jadi setiap hari tugas kami yalah belajar bahasa Perancis, biasanya pagi hari atau sore hari. Kalau dinasnya pagi hari, maka sore harinya aku menggunakan waktuku untuk tusukjarum. Karena penghuni asrama kami itu semuanya bernasib sama, yaitu sama-sama refugie, pengungsi politik, tentulah bagi mereka tidak bayar. Sama-sama miskin, tak punya uang.

Setiap hari ada-ada saja yang minta pengobatan tusukjarum, atau pijat atau pemeriksaan darah, dengan tensi-meter. Praktek tusukjarum sudah kumulai sejak di Tiongkok. Dan penyakitnya juga bermacam.Ta-pi pada umumnya yang berhubungan dengan syaraf, bukan karena bakteri, kuman, microbe. Misalnya ada yang minta tusukjarum karena, setelah kuperiksa, ternyata kena Vietnam-rose, penyakit-kotor, sipilis yang sangat berbahaya. Dan kuanjurkan agar ke dokter, walaupun dia sangat malu.

Karena aku dikenal sebagai "Papa dokter" tanpa bayar dan gratis, maka siapa saja yang berobat tusukjarum, lalu menganggap secara otomatis adalah gratis. Padahal sebenarnya bukan begitu. Banyak sekali orang-orang dari kota lain yang berdekatan dengan kota kami yang datang dengan kendaraan pribadinya ke asrama kami, buat cari "Papa dokter". Dan mereka antri setiap hari Sabtu dan Minggu buat keperluan tusukjarum. Terpaksa aku "mengangkat sekretaris atau pembantuku" yaitu anakku sendiri, Ina. Dia mengurus pembukuan, mencatat, sudah berapa kali, atau kapan lagi giliran yang akan datangnya, dan apa penyakitnya, serta titik apa yang harus ditusuk. Sebenarnya dalam hati ini, kalau orang luar, apalagi yang sudah mapan, kerja-tetap, mbok bayarlah seberapa bisanya. Aku kan perlu uang juga! Tetapi perasaan hati ini, tak sampai bisa dan sanggup mengemukakannya secara terang-terangan. Lagipula cukup berbahaya, karena bisa dianggap praktek-gekap, lalu bisa ditangkap! Aku tidak punya diploma kedokteran, bisa dianggap melanggar undang-undang. Jadi sudah dikenal oleh semua pasienku yang datang dari kota-kota Vesoul, Belfort, Mulhouse, sebagai pengobatan gratis. Yah, marah dan kecewa sih tidak, tetapi ada perasaan, kok orang-orang kaya seperti mereka turut-turut tidak bayar.

Karena pengobatan tusukjarum ini semakin lama semakin meluas, maka aku harus benar-benar memper-siapkan diri buat sungguh-sunggu belajar lagi tentang pengetahuan kedokteran. Buku-bukunya yang penting dan yang berhubungan dengan pelajaran tusukjarum memang kubawa serta, sedangkan sebagiannya adalah peninggalan dari isteriku almarhum. Kebetulan dia juga seorang geneacoloog-chirurgian, akhli bedah-kewanitaan ketika di Cina dulu itu. Jadi dari diapun banyak yang kudapatkan tentang masalah pelajaran tusukjarum ini. Maka menjadi gandalah pelajaranku, harus belajar bahasa Perancis dan harus buka-buka buku tentang pengobatan tusukjarum. Dan sibuklah aku dibuatnya.

Karena pekerjaan ini menyangkut manusia, pastilah harus berhubungan dengan orang. Karena itu aku jadi banyak punya teman. Ada temanku namanya Antoin, peranakan Kamboja, bekas tentara. Tentara kolonial Perancis dulu ketika masih menguasai Indo-Cina. Dia ini menjadi guru karate, juga pelatih anggota tentara di Mulhouse, dekat perbatasan Suisse. Antoin mula-mula datang berobat, minta tusukjarum, karena sakitnya syaraf-mulut. Mulutnya itu menyong, miring, tak sedap dipandang, tidak simetris. Lalu kuusahakan mengobatinya, dipadukan dengan urut. Ada beberapa minggu dia datang, bahkan sampai sebulan lebih. Tetapi karena penyakitnya ini sudah sangat lama, bertahun-tahun, maka agak lambat efeknya. Tetapi dia merasakan ada faedahnya, ada efek baiknya. Padahal dari tempatnya itu ke asrama kami, dia harus nyetir mobil hampir 200 km.

Sampai sekarang sejak tahun 1982 itu, aku tetap tak mengerti kenapa Antoin begitu baik kepada keluarga kami. Kami pernah menginap beberapa hari di rumahnya. Waktu itu dia banyak cerita tentang banyak hal kepadaku. Ada masalah keluarga. Dia ingin menceraikan isterinya dan ingin kawin lagi. Padahal ada tiga anaknya yang lucu-lucu, dan cukup cerdas. Aku sangat menyayangkan kalau dia sampai jadi menceraikan isterinya, apalagi setelah aku tahu, calon simpanannya itu, agaknya kurang dari isterinya yang sekarang ini. Dan aku dengan hati yang tulus dan dengan sepenuh hati dan penuh harapan, agar dia jangan sampai menceraikan isterinya ini, paling tidak, berpikirlah lagi baik-baik, tenang-tenang. Karena kulihat apa salah isterinya. Isterinya sangat baik, sangat dicintai anak-anaknya, dan penuh tanggugjawab, dan dengan sangat baik juga merawat suaminya, si Antoin "menyong" ini, - demikian kemarahanku dalam hati kepada Antoin. Tak kusangka, setelah kunasehati baik-baik dan pelan-pelan bagaikan momong anak, dan teman yang sedang sangat bimbang, Antoin menangis dan memelukku. Kukatakan " kau akal-akalan saja karena mau mengawini si Maria yang masih muda jelita itu, ngaku deh. Kau sangat terpikat sama anak Portugis satu itu, ya nggak?!", kataku setengah mengganggunya. Dan Antoin secara pelan-pelan melepaskan niatnya itu. Dan sementara ini selamatlah seisi keluarga Antoin.

Suatu kali, dengan tergesa-gesa datanglah Antoin ke asrama kami. Dia mengabarkan, dan mengharapkan agar aku ikut dengannya ke Mulhouse. Ada orang yang harus diobati, katanya temannya sendiri. Kuta-nyakan siapa. Dan dia menjawab : "Madame Albert". "Siapa itu Madame Albert?" "Dia isteri kepala-polisi di Mulhouse, temanku. Sudah tak usah kuatirlah", katanya. Mendengar nama isteri kepala-polisi, agak gemetar juga badanku, malah setengah ketakutan. Betul-betul Antoin ini tidak mengerti persoalan. Aku ini kan setengah praktek gelap walaupun tanpa bayar, apakah dia tak punya perhitungan bahwa atas nama undang-undang aku bisa masuk penjara. Namun Antoine berpendapat lain, dia dengan keras minta agar aku ikut dengannya. Tuan dan Madame Albert menunggu-ku menurut Antoin. Okey lah kuikuti Antoin.

Sesampainya di Mulhouse, kami memang sudah ditunggu kedua pasangan itu. Aku bagaimanapun tetap dalam keadaan kuatir dan takut. Ini bisa menjadi skandal praktek-gelap. Dan bisa masuk perangkap dan langsung ke penjara. Sialnya, yang mau diobati itu justru isteri kepala-polisi setempat, ini benar-benar suatu kejadian gila dalam hidupku! Barangkali siapapun akan tahu dan melihat bahwa aku ini dalam keragu-raguan, takut dan cemas. Dan untungnya kedua pasangan itu tampaknya agak ramah. Dan mereka menanyakan asal-usulku, darimana dulunya, bagaimana kok bisa sampai di Perancis ini. Aku ingat ketika aku mula-mula datang di lapanganterbang Paris dulu itu, tanggal 23 Desembetr 1981, - aku diinterogasi polisi bandar-udara. Dan aku sudah dipesan oleh banyak teman, agar jangan bohong, berterusteranglah, ceritakan apa adanya. Dan ketika itu memang benar, pada akhirnya kami sekeluarga dilindungi, dijamin kehidupannya selama belum bisa bekerja sendiri. Tetapi ini, polisi lain, polisi yang tak ada hubungan dengan kaum pelarian politik, dan juga karena mau berobat tusukjarum.

Tapi sebagaimana kebiasaanku, dalam masa sulit begini, aku selalu berdoa dalam hati, agar Tuhan melin-dungiku agar Tuhan selalu menyertaiku, menemaniku. Dan percakapan menjadi ringan dan agak bersahabat. Kutanyakan apa sakitnya. Madame Albert menyebutkan, dia pernah jatuh ketika sedang main tenis, dan jatuhnya tidak bisa mengendalikan gerak yang harmonis, sehingga dia agak terhempas. Dan sejak itulah ada soal tentang buang-air-kecilnya. Sangat sulit dan tidak lancar, selalu merasa masih mau kencing, tetapi yang keluarnya sangat sedikit, tidak tuntas. Kutanyakan apakah sudah periksa dokter, dan apakah sudah minum obat dari dokter. Semua dijawabnya sudah, tetapi belum sembuh, dan mereka mengatakan, tidak baik terlalu banyak minum obat dokter-barat, banyak zat kimianya. Pendapat begini, banyak sekali dikemukakan orang Perancis. Mereka selalu saja mau yang natural, bebas kimia, bebas obat-obatan. Baik sih baik juga, tetapi harus lihat masalahnya per kasus.

Hari itu baru kuperiksa saja, belum mulai kuobati, baru menanyakan sejarah penyakitnya dan rasa badannya setelah minum obat dari dokter itu. Dan kukatakan apakah bersedia tusukjarum yang titiknya mungkin mereka tidak setuju atau punya pendapat. Sebenarnya mengapa aku tanyakan hal beginian, ka-rena aku tahu di titik-tusuk mana yang harus kuobati. Aku menjadi takut dan was-was, sebab titik-tusuk itu sama dengan titik-tusuk yang penyakitnya berlawanan. Misalnya sakit suka-kencing, beser kata orang, sering-kencing, tidak bisa kencing, mampet, tidak lancar, semua titik-tusuknya sama, namanya guanyuan. Juga titik-tusuk ini untuk mengobati penyakit impoten, dan juga karena terlalu besar nafsu-sahwatnya, sehingga sulit dikendalikan, titik-tusuknya sama. Karena tusukjarum sebenarnya adalah untuk menetralisir satu penyakit dengan penyakit yang berlawanan, ini antara lain. Penyakit darah-tinggi dengan penyakit darah-rendah pada umumnya titiktusuknya sama. Dia, jarum itu akan menetralisir kekurang-seimbangan dalam tubuh kita.

Dan kenapa kutanyakan pertanyaan bodoh tadi itu? Karena aku sebenarnya takut dan ragu-ragu apakah mereka percaya dengan kemampuan pengobatan tusukjarum ini, dan termasuk kepadaku secara pribadi. Dan ini jangan main-main, yang diobati ini adalah isteri kepala-polisi setempat! Inilah sebenarnya ganjelan pokok dalam pikiranku saat itu. Sesampainya di rumah Antoin, aku memerlukan berunding dengan Antoin teman baikku itu. Dan dia tetap dengan bersemangat agar aku mengobatinya, jangan ragu-ragu, mereka percaya padaku, demikian Antoin. Hari itu dan beberapa hari aku terpaksa harus menginap di rumah Antoin, untuk bisa mengobati Madame Albert.-

Paris 21 April 1999

Madame Eliane Albert (2)

Sudah kukatakan kepada Madame Albert titik-tusuk mana saja yang akan kulakukan nanti. Dan dia siap untuk itu, dan kuminta agar suaminya Tuan Albert juga menyaksikannya, ada di kamar itu. Titik-tusuk ini ada tiga jari di atas tulang kemaluan. Lalu ada koordinasi dengan titik-tusuk lain, chusanli, dekat betis, sepasang kiri-kanan. Lalu ada beberapa titik-tusuk lagi yang letaknya biasa-biasa saja. Semua ini mengabdi kepada jalannya darah dan lancarnya saluran kencing, dan berfungsinya segala aparat kemaluan. Sesudah aku diantar oleh Antoin, aku masuk ke rumah Tuan Albert Kepala Polisi Mulhouse itu. Rumahnya besar dan luas. Ada pekarangan dan kebun, dan ada taman yang penuh bunga, lalu air-mancur. Bunga-bunga tulip dan mawar saling bersaing warna.

Mengapa aku agak takut dan ragu? Kepada pasien lain tak ada perasaan ini. Mungkin karena sepasang keluarga ini adalah Kepala Polisi yang seharusnya memeriksa diriku, kenapa praktek-gelap, tanpa diploma, tanpa sertifikat apapun. Ada sedikit ketenangan karena pasangan keluarga ini tampaknya baik dan ramah, dan benar-benar menyerahkan dirinya untuk diobati secara serius. Faktor inilah yang agak menjadikan diriku tenang. Pelan-pelan kubuka slipnya agak ke bawah, dalam hatiku sudah mengucapkan bismillahhir-rochman nirrochim. Dan kerjasama kami sangat baik. Madame itu membantu apa mauku dan bagaimana letak posisi yang seharusnya. Sedangkan suaminya Tuan Albert diam saja sedang membaca koran. Mana dia perduli apa yang kami sedang lakukan. Lama-lama Tuan Albert malah minta diri, mau pergi ke dinasnya. Polisi harus selalu siap, dan apalagi dia kepalanya.

Madame Albert berperawakan atletis. Anaknya dua, satu laki-laki dan satu perempuan, masing-masing berumur 7 dan 5 tahun. Madame ini sangat sederhana, samasekali tidak cantik, tetapi badannya sangat indah, dan kulitnya sangat halus dan bersih. Dia berusia belum sampai 30. Tidak pakai lipstik, hiasannyapun sangat sederhana. Dan kalau bicara agak pelan, satu-satu dan sangat jelas. Bagiku orang yang baru saja belajar bahasa Perancis, sangat enak mengikuti pembicaraannya. Mudah dimengerti dan jelas ucapannya, sehingga diam-diam kita dapat belajar bahasa. "Kalau terasa ada reaksi yang agak keras, agar Madame katakan kepada saya", kataku. "Oo ya, tapi panggil saja saya Eliane. Lebih enak dan akrab rasanya", kata Eliane kepadaku. Dan Eliane sudah kukatakan jangka waktu tusukjarum begini biasanya setengah-jam. Dan dia berusaha agar aku banyak ngomong, agar memecah keheningan dan dia tahu, bahwa kami kaum refugie ini perlu latihan bahasa. Jadi dipancingnya agar aku ngomong. Banyak dia tanya tentang kami di foyer(asrama) di Lure. Maksudnya agar antara kami ada dialog, ada percakapan yang santai, jangan sampai tegang. Tampaknya malah dia samasekali tak ada ketegangan, yang tegang malah diriku.

Masih sempat aku berpikir, oh nasib, yang dulu lama di Cina, tak boleh pulang, paspor dicabut, diancam, semua karya dilarang. Dan kini menjadi "dokter telanjang-kaki" di pedalaman Perancis dekat Suisse. Yang diobati ini, adalah isteri pembesar daerah-setempat, yang sebenarnya punya hak dan kewajiban mengusutku, mengapa aku berani-beraninya buka praktek tusukjarum secara gelap. Tak punya izin praktek, tak punya diploma, tak secuilpun sertifikat. Apakah ini artinya? Inilah saling percaya

Ada yang sangat berat yang mau kukatakan kepada Eliane. Hal ini kepada siapa saja yang sakitnya sejenis penyakit Eliane. Bahwa selagi dalam proses pengobatan ini, sebaiknya jangan dulu berhubungan badan, jangan dulu bersetubuh. Bagaimana cara aku mengatakannya, dan apakah aku bisa dan sanggup menyatakan hal itu. Tetapi setelah kupikir-pikir, aku sekarang ini berposisi sebagai "dokter", katakanlah apa yang seharusnya tidak boleh atau dianjurkan demi kebaikan pasien. Dan dengan "keberanian yang agak gugup" kukatakan kepada Eliane. Eliane malah tertawa renyah : "Apa yang Anda minta demi kesembuhan saya, tentu saja akan saya taati, dan turuti dengan baik. Lagipula saya harapkan agar Anda bebas mengatakan apa saja demi kesembuhan saya. Andalah dokter saya sekarang ini", katanya dengan senyum yang sangat ramah.

Satu minggu aku terpaksa ngendon di rumah Antoin karena berselang sehari aku berdinas tusukjarum. Pada yang ketiga kalinya, aku akan minta diri buat pulang ke asramaku di Lure. Dan lain kali aku akan datang lagi. Dan pada terakhir kali itu sebelum aku pulang, kutanyakan pada Eliane bagaimana rasanya ketika kencing sesudah tiga kali tusukjarum itu. Dikatakannya banyak perubahan, dan sudah agak lancar, tidak lagi mampet seakan-akan selalu saja belum tuntas. Ketika keempat kalinya tusukan itu, aku berdoa dihadapan pasienku, Elian, dengan suara yang terdengar. Doa seperti ini selalu kulakukan apabila aku dalam keadaan ragu-ragu, tidak stabil atau sungguh-sungguh minta bantuan kepada Tuhan. Kukatakan kepada Eliane, agar dia juga memejamkan matanya, dan konsentrasi penuh, dan tanganku sambil meme-gang gagang jarum. "Tuhanku, aku datang padaMU sekarang ini. Tolonglah aku Tuhan, sembuhkanlah penyakit nyonya yang kuobati ini. Dan kuatkanlah jiwa dan imanku menghadapi segala pekerjaanku berkenan dengan pasienku ini, Tuhan. Sembuhkanlah dia Tuhanku, tolonglah dia, aku samasekali tak dapat menyembuhkannya. Hanya KAU-lah yang bisa menyembuhkannya, dan tolonglah aku Tuhan, dengan KAU menyembuhkan Eliane ini", kataku berulang-ulang. Ketika selesai berdoa, lalu Eliane bertanya, apakah aku tadi itu berdoa untuknya, untuk kesembuhannya?

"Ya, saya berdoa kepada Tuhan agar nyonya sembuh dan sehat". "Sebut saja Eliane namaku", katanya ramah dan kelihatannya memang sungguh-sungguh. "Apakah Anda berdoa dalam bahasa Arab atau Latin barangkali?" "Tidak, saya selalu berdoa dalam bahasa saya, bahasa Indonesia. Selalu begitu", kataku. Dia agak heran, ada doa dalam bahasa sendiri. Kukatakan aku sungguh-sungguh minta tolong kepada Tuhan agar menyembuhkan Eliane.

Keesokan harinya ketika aku mau pulang mau naik kereta dari Mulhouse ke Lure, Eliane datang ke rumah Antoine, dengan satu anaknya, mau mengantarkanku ke Lure. Kujawab agar biarkan aku naik kereta saja, terlalu jauh buat bermobil ke Lure. Eliane berkeras tidak akan membiarkan diriku pulang sendirian. Dia akan mengantarkanku dengan anaknya laki-laki yang umur 7 tahun itu. Kukatakan dia sedang dalam pengobatan. Dia tetap mengatakan mau mengantarkan karena katanya betul-betul setelah empat kali tusukan rasa sakit dan nyerinya ketika kencing sudah tak ada lagi. Dan rasa mampet dulu itu sudah lancar sekarang ini. Sambil dia agak pelan kedekat telingaku mengatakan: "Yang Anda katakan dulu itu, saya turuti, kami selama pengobatan Anda, tak pernah berhubungan badan. Tetapi kan Anda tidak mengatakan bahwa saya tidak boleh menyetir mobil ke Lure hanya untuk mengantarkan Anda. Ya kan?!" katanya.

Dan aku mengalah. Kami berjam-jam bermobil. Sambil ngobrol dengan bebasnya. Ada dikatakan Eliane, bahwa akan sangat senang dirinya apabila aku mau pindah ke Mulhouse, dan nanti akan dicarikan pekerjaan buatku. Dan aku sangat mengucapkan rasa terimakasihku. Perhatiannya kepadaku dan kepada kami kaum refugie, pengungsi ini sangat besar. Dalam hatiku, tak pernah aku mau pindah ke manapun dan di manapun, kecuali ke dan di Paris. Karena di sanalah banyak teman-temanku. Lagipula kami sudah saling janji akan mendirikan sebuah resto buat kami kaum pengungsi ini, agar jangan jadi pengangguran abadi.

Dan aku sangat berterimakasih kepada Tuhanku yang sudah menyembuhkan penyakit Eliane. Aku sangat berterimakasih kepada Tuhan yang sudah menolong Eliane dan juga aku. Tanpa pertolongan Tuhan tidak mungkin Eliane akan sembuh. Dan aku mungkin hanya sebagai perantara saja adanya. Ketika aku pamitan mau pindah ke Paris, Eliane datang dengan sekeluarga lengkapnya, ke asrama kami. Orang-orang di asrama kami pada bisik-bisik dan ngomong, karena ada yang tahu, bahwa yang datang itu adalah Kepala Polisi kota Mulhouse. Tuan Albert menyalamiku, dan Eliane dengan erat memelukku bagaikan saudaranya sendiri. Kami berpisah, dan betapa aku senangnya, karena perpisahan ini adalah tanda kesembuhan Eliane, dan aku sebaiknya cepat-cepat saja pergi ke Paris, agar terhindar dari segala kemungkinan yang tidak-tidak. Namun demikian aku sudah sangat minta kepada Tuhan agar aku dikuatkan pertahanan imanku, karena aku tahu bahwa aku punya banyak "dosa simpanan", yang harus kubersihkan.

Paris 21 April 1999

Panorama Pengemis dan Pengamen di Paris

Berbagai macam dan cara pengemis bekerja secara hariannya. Ada yang minta-minta dengan terang-terangan, minta sedekah dan uang dengan begitu saja. Mengulurkan tangannya dan mengharapkan ba-rangkan dua tiga francs. Ada yang main harmonica yang dengan entah lagu apalah, asal bunyi saja. Ada yang memang berlagu dan bagus. Ada seorang ibu sedang menggendong anaknya, sambil menadahkan dan mengulurkan tangan minta uang atau apa saja, biasanya tiket-restoran. Mereka naik metro, RER, dan keretapi, atau berkeliaran sepanjang jalan, atau menunggu di depan restoran, mengharapkan pemberian orang. Kelihatannya mereka tidak usah begitu bersusah-payah benar, karena ada saja orang yang memberikan uang, tiket-restoran, atau rokok, atau apa sajalah. Pengemis dan pengamen tampaknya malah tambah banyak di sekitar Paris ini. Apalagi zaman sangat susah mencari pekerjaan seperti sekarang ini. Dan pengangguran kian tambah naik angkanya, pemecatan setiap waktu mengancam para pekerja.

Ada pengemis-murni, betul-betul hanya mengemis, ada yang dengan kerja lain, misalnya sambil main akordeon, harmonica. Dan ada yang main musik, menyanyi dan sangat bagus dan indah. Ini tidak termasuk pengemis, apalagi pengemis murni. Orang yang begini termasuk pengamen. Tampaknya grup atau rombongan ini cukup banyak mendapatkan uang, karena orang-orang menyukai permainan, nyanyian dan musiknya. Ada kalanya mereka mengedarkan kaset musik dan nyanyian yang mereka ciptakan sendiri. Dan selalu ada saja yang membelinya. Kebanyakan orang, termasuk aku juga, sangat jarang atau bahkan boleh dikatakan tak pernah memberikan uang kepada pengemis-murni ini. Terkadang dengan gagahnya, orangnya tampaknya kuat, kukuh, tapi menengadahkan tangannya mengharapkan pemberian kita. Dan kita, agak segan merogo kantong buat memberikannya. Karena terasa begitu mudah dia minta-minta tanpa kerja apapun. Pandangan ini ternyata memang ada, artinya tidak hanya dariku saja. Tetapi itulah kata peribahasa, rezeki seseorang, selalu saja diperhatikan Tuhan, ada-ada saja orang yang mau dan rela memberinya uang, tiket-resto, rokok dan lainnya.

Ada pengemis di metro atau RER, keretapi yang bergrup, rombongan, atau ibu-ibu dengan menggendong bayinya, mengemis ke mana-mana, dan selalu saja berkata : "Yah, tuan-tuan dan nyonya, nona-nona, saya pengungsi dari Rumania, sudah dua hari ini tidak makan, kalau tidak keberatan, berilah saya barangkan dua-tiga francs atau seberapa sajalah. Saya juga menerima tiket-restoran, atau apa sajalah yang bisa saya uangkan buat beli makanan. Ya tuan-tuan dan nona, atas kemurahan hati Anda sekalian, betul-betul saya ucapkan banyak terimakasih dan semoga Tuhan memberkahi Anda sekalian, ——terimakasih banyak", katanya dengan nada yang sudah amat hapal dan lancar. Yang aku herankan, kenapa disebutkan itu asal-usul negeri mananya, yang padahal banyak pengemis yang berasal dari negeri lain tak pernah menyebutkan asal negerinya. Setelah lama sedikit "kupelajari" ternyata kebanyakan mereka memang terbanyak dari kaum gipsy negeri-negri bekas negeri sosialis. Mereka ada sindikat dan mafianya. Bayi-bayi itu ada yang secara sewa-menyewa dari kaum mereka juga, sebagai "tameng" rasa penarik belas-kasihan, dan pada satu petang, mereka kumpul pada satu tempat dan menyetorkan hasil pengemisannya, lalu berbagi atas "pengaturan" kepala-grup mafia atau sindikatnya.

Dan aku, bahkan mungkin orang lain juga yang punya pengalaman seperti diriku, selalu saja menemui orang-orang ini yang selalu saja berkata " saya sudah dua hari ini tidak makan————dan seterusnya. Tetapi orangnya itu-itu juga, kalau dijumlahkan entah sudah berapa hari. Sebab kemaren dan kemaren dulunya, dan hari ini dia juga mengatakan sudah dua hari tak makan. Kalau betul, tentulah dia tidak hanya sudah dua hari, tetapi sudah lama benar tidak makan, dan tokh badan dan perawakannya tetap saja gagah dan kuat, tidak ada tanda kelaparan.

Namun demikian, aku dan kami para teman-temanku yang "senasib dengan kami" sama-sama orang miskin tidak boleh mengejek mereka. Selalulah berpikir, bukan mustahil suatu waktu nasib demikian ja-ngan-jangan menimpa dirikita. Janganlah sombong dan mentang-mentang. Tetapi lalu kenapa aku sendiri tidak pernah memberikan uang kepada mereka ini. Aku selalu memberikan uang kepada orang yang mengemis dengan sambil ada kerjanya, misalnya dia bermusik, dia main harmonika, dia bergitar, dia menyanyi bahkan ada yang menari dengan sangat sederhananya, apa adanya sajalah. Dan aku serta banyak orang rela memberikan uangnya, karena mereka ini dengan simpatik dan sungguh-sungguh menyanyi, main musik, memberikan kesenangan dan kekaguman pada orang lain. Aku pernah berpikir, kalau mau memberikan uang dan sedekah, berikanlah kepada orang yang juga bekerja, ada kerjaannya bukannya hanya menadahkan dan mengulurkan tangannya saja. Apalagi kalau seseorang itu lewat di depan kita ternyata bau alkohol, bau bir, bau minuman keras. Orang itu mengemis mengharapkan uang mungkin hanya mau beli minuman saja. Tetapi lama ke lama-lamaan pikiranku ini juga kubantah sendiri, sebab kalau semua orang berpikir seperti aku itu, lalu akan dapat apa orang-orang yang kusebutkan tadi. Dari mana dia akan dapat uangnya, bagaimana makannya.

Ada satu hal yang kutangkap dan kusimpulkan selama aku "mempelajari" masalah ini. Ternyata orang yang berbaik-hati mau dan rela memberikan uagnya itu, adalah sesama kaum miskin! Kebanyakan yang memberikan uang, sedekah dan sumbangannya itu, pada umumnya adalah sesama kaum tidak punya juga! Perhatikan baik-baik, ternyata orang hitam, yang berkulit-hitam dan berwarna, lebih sering memberikan uangnya daripada orang bule asli! Ternyata mereka lebih bersifat sosial daripada orang yang berkulit putih-bule itu. Sorry ya, ini menurut pengamatanku selama ini. Pernah aku menjadi sedikit agak emosi dengan cara orang-orang itu mengucapkan, "saya sudah dua hari tidak makan————-dan seterusnya. Lalu ketika dia sudah agak jauh, kudekati, agak kubujuk agar dia tidak marah dan jangan sampai salahpaham. Lalu kukatakan bagaimana kalau caranya diubahlah sedikit. Coba pikirkan dan pertimbangkan. Kuharap "amigo jangan marah padaku, dan boleh coba dengan resep ini", kataku pada satu kali. Untung dia tidak marah dan tampak agak tersenyum, mungkin dia merasa lucu, kok ngemis saja mesti ada caranya!

Dan secara tidak sengaja, terdengar padaku ketika aku sedang dalam metro, ada yang berteriak "tuan-tuan dan nyonya-nyonya, nona-nona, sudilah kiranya Anda sekalian sedikit meringankan beban kehidupan saya yang tidak punya pekerjaan ini, yang sampai kini terus saja menganggur belum dapat pekerjaan. Sejak kemaren saya belum makan, Anda dapat memberikan apa saja kepada saya, asal saja dapat saya uangkan buat beli makanan. Dan atas kemurahan hati Anda sekalian semoga Tuhan memberkahi Anda sekalian————-dan terimakasih banyak atas kemurahan hati Anda sekalian". Aneh suaranya lain dari yang lain. Kulihat ke arah belakang mencari suara tadi. Salahkah mataku? Tampaknya orang itu yang setengah baya, kukenal dan pernah kami ngomong-ngomong tentang "tehnik" mengemis. Akh, janganlah merasa diri sombong, kataku dalam hati yang ditujukan kepada diriku sendiri. Jangan-jangan dan pada satu kali, siapa tahu diri kitapun akan bernasib demikian. Sekali-kali jangan mengejek dan menghina mereka, bukankah kita ini satu asal, sama-sama tidak punya apa-apa, sama-sama miskin?!

Dan aku sedikit demi sedikit memang merasakan diriku, bahwa kami sebenarnya sama saja nasibnya. Hanya aku mungkin lebih sedikit beruntung, punya pekerjaan tetap. Orang berjuang, orang berpolitik, bertempur dan berperang, merebut kekuasaan, bukankah sebenarnya mau memperbaiki nasibnya sendiri secara bersama-sama atau secara golongannya, atau secara keseluruhan nasib bangsanya?! Jadi hai diriku, kataku sendiri, kalau kau sedikit saja ada kesempatan punya uang, punya kelebihan sedikit saja, mbok kasihlah mereka. Kau tidak akan menjadi miskin karenanya, karena sedikit menyumbangkan "harta-bendamu" kepada nasib sesamamu sendiri, kataku dalam hati kepada diriku sendiri. Hari ini kau bisa makan dan hidup yang agak mapan. Tetapi apakah hal itu akan kekal-abadi? Siapa tahu, besok lusa, kau akan seperti mereka itu, maka janganlah kau merasa diri begitu angkuh.-

23 April 1999

Pesta Musik dan Pak Pendeta——

Banyak sekali orang-orang muda yang ngamen di Paris. Terutama kalau sudah mulai musimsemi menje-lang musimpanas di mana hawa sudah mulai hangat. Rombongan atau grup-grup kecil yang terdiri dari dua-tiga orang dan grup agak besar yang terdiri dari lebih empat orang. Mereka main musik di mana saja, asal ada tempat dan tidak dilarang. Di dekat stasion metro, kereta, pelataran bis mangkal, atau di depan universitas Sorbonne yang terkenal itu. Mereka bermusik dengan asiknya, sedangkan penontonnya terkadang makin lama makin ramai, dan ini tandanya pertunjukan itu laku, dan lagi artinya akan banyak dapat sumbangan uang. Masarakat di Perancis tampaknya tidak segan-segan mengeluarkan uang asal apa yang dilihat dan didengarnya itu memuaskan mereka. Yang penting mereka puas, dan kalau puas mereka tak segan menyumbangkan uangnya. Ternyata yang berlaku begini, termasuk aku. Bagiku asal bisa memuaskan diriku, rasanya tak sangat berat buat mengeluarkan uang. Dulu, suatu kali pernah anakku berdua temannya dari Holland, turut ngamen, dengan sebuah gitar mereka menyanyi di beberapa tempat. Tidak lama hanya tiga empat jam saja, tapi mereka bisa mengumpulkan hampir 400 francs. Tetapi mereka juga tahu, mungkin dapat uang sedemikian banyak hanya beberapa jam saja, tidak akan selamanya demikian. Mungkin kebetulan saja hari itu agak beruntung. Karena itu mereka tidak perlu mengulanginya lagi buat terus-terusan. Dan lagi biasanya para siswa dan mahasiswa yang berlibur antar Eropa ini, selalu siap-sedia buat ngamen di mana saja dan kapan saja. Sebab dengan ngamen mereka sangat yakin akan mendapatkan uang buat beli tiket kereta, bis, metro bahkan mungkin pesawatterbang, dan termasuk buat mengongkosi hidupnya selama liburan itu. Dan banyak teman kami melakukan pekerjaan begini, dan berhasil baik. Bisa liburan, ongkosnya murah, dan bisa dapat uang dengan ngamen secara demikian.

Di Paris, ada satu kebiasaan yang sudah begitu terus-menerus. Yaitu Pesta Musik. Pesta Musik ini biasanya hari pertama mulainya musimpanas. Biasanya tanggal 20 atau 21 Juni, terkadang disesuaikan dengan keesokan harinya, agar jatuh pada hari libur, atau keesokan harinya dijadikan hari libur. Sebab malam orang-orang pesta-musik, semalam suntuk, sampai pagi, tidak mungkin bisa langsung kerja ke-esokan harinya. Di mana-mana pesta-musik. Ada yang mendirikan panggung-darurat, ada yang hanya pasang-meja-kursi sekedarnya saja. Pertunjukan musik ini tidak bayar, yang nonton tidak bayar, yang menggelar pertunjukanpun juga tidak bayar. Dan bukan seperti hari biasa ngamen, mengharapkan sumbangan uang. Betulbetul pesta-musik, saling gembira. Terkadang antara satu grup dan grup lain hanya berjarak beberapa meter saja, sehingga bunyinya tidak teratur, seakan-akan kacau. Tetapi masing-masing orang tidak perduli, asal tidak saling mengganggu secara sengaja. Orang yang menonton tentu saja bebas mau nonton yang mana saja yang disukainya. Bisa pindah-pindah dan betapa banyaknya rombongan dan grup musik itu. Bisa sampai ratusan bahkan ribuan orang di seluruh Paris ini. Orang-orang Paris atau Parisien(ne) pada ke luar malam itu, dan berpesta-musik, menari, berdansa, menyanyi bersama-sama, dan tidak sedikit yang mabuk-mabuk. Malam itu benar-benar dengan hangat menyambut musimpanas hari pertama pada tanggal 21 Juni.

Sore itulah aku ditilpun suatu suara yang aku sudah sangat kenal. "Hallo, Pak Pendeta ini, kan? Malam pesta-musik, kita ketemu di Plaza Sorbonne, biasa kita main malam ini. Kamu datang ya, aku pakai rambut ekor-kuda kesenanganmu Pak Pendeta. Jangan tidak ya!" "Akh kau Rim, mana Mouk, malam ini tentu dengan dia kan?" "Yang ditanya malah Mouk, padahal aku yang nilpun. Ya, dia datang agak terlambat, sekitar jam 21.00, sedang aku harus menunggu barang-barang peralatan musik ini, sekarang ini. Kalau Pak Pendeta datang sekarang, tentu aku akan sangat senang, kita bisa ngobrol sebentar", kata Sirima. Sialan Sirima ini, suka sekali dia mengganggu dengan sebutan Pak Pendeta kepadaku. Dia sengaja ngeledekku dengan anggapan aku ini seorang yang alim, penakut, tidak berani, kepada dirinya. Terkadang dongkol juga jadinya, dan mau menunjukkan "keberanian" itu kepadanya. Dan bagaikan terbanglah aku segera menuju Plaza Sorbonne yang selalu dipenuhi orang-orang muda dan para mahasiswa.

Tak sulit mencari Sirima, bagiku dia sangat menonjol, lain dari orang lain. Begitu ketemu, kupeluk hangat dan erat, sehingga dia keheranan ada apa ini. Tapi dia malah tertawa renyah. Membekas bau rambutnya yang harum, dan benarlah tampak dia sangat cantik dengan rambut ekor-kudanya, yang selalu kuminta bila kami akan bertemu. Sambil menunggu agak malam dan menunggu Mouk, kami menuju cafe sekitar situ, agar kelihatan barang-barang peralatan musik ketika sedang minum kopi. "Kemana saja kau tak muncul-muncu sudah hampir seminggu ini, Pak Pendeta?", katanya membuka percakapan. Lagi-lagi dia ucapkan kata-kata itu. Sengaja dia membakarku, padahal aku sendiri sebenarnya sudah terbakar tanpa api. Dan kudekatku kursiku, dan kuraih dia sambil kupeluk, tidak lagi dipipi seperti biasa, tapi sudah lain kali ini, lain. Aku sendiri sudah lama terbakar dengan api yang lain. Dan kami membiarkan diri kami tenggelam sebelum Mouk datang, dan dia diam saja dengan keberandalanku yang mungkin memang dia harapkan. Hari pertama musimpanas, Pesta musik, dan kami berhari-pertama menanam benih emosi selama ini. Dan sejak itulah Sirima tak pernah lagi memanggilku Pak Pendeta, yang menurut anggapannya aku ini orang alim, penakut, tak berani menjawab apa yang dia rasakan. Padahal dia tidak tahu, mungkin rasa itu akulah yang paling besar merasakannya. Aku selalu mengunakan pikiran, nalar yang pertama sudah itu barulah perasaan, emosi dan lainnya.

Aku selalu bertanya pada diriku, mengapa Sirima yang begitu cantik, begittu menarik, dan punya teman Mouk yang baru berumur berkepala 3, sedangkan Sirima baru 23 tahun, dan aku sudah berumur berkepala 5, masih juga tak puas-puasnya dengan Mouk yang sudah satu rumah itu walaupun mereka baru saja kumpul-kebo. Dan jauh sesudah itu barulah kuketahui, betapa banyaknya orang-orang lain yang naksir Sirima, sedangkan aku menurut Sirima samasekali tak termasuk orang yang dicurigai oleh Mouk. Dan orang-orang lain itu antaranya teman-teman Mouk sendiri, dari Laos, Kamboja dan termasuk ada orang bulenya. Aku sangat menyedari benar, tidak mungkin aku akan menang bersaing dengan orang-orang muda ini. Mereka di samping muda-muda masih punya harapan hari depan yang gemilang. Sedangkan aku sebentar lagi harus pensiun! Lalu, nah, ini yang selalu menjadi pikiranku, mengapa selalu saja, dan selalu saja, asal "nyangkut" "kusut-rasa-asmara" selalu dengan orang yang sangat jauh kemungkinannya untuk bisa terus langsung sukses. Selalu saja berkencan dengan anak-anak muda yang umurnya sama atau di bawah umur anakku! Dan ini bukan hanya satu-dua kali, tetapi sudah berkali-kali. Dan lagi, coba tanya anakku sendiri, mereka berdua kakak-beradik selalu menceritakan aku, ayahnya. Yang satu berkata : "saya tahu benar kok, bukan dari pihak papa yang ngejar-ngejar, itu saya tahu", katanya kepada kakaknya.

Kepada Sharon stewardess cantik dari MAS ketika kukenal di Beijing dulu, kukatakan, sudahlah, kau harus segera menikah dengan orang lain. Carilah yang masukakal dan yang punya haridepan. Dan memang selama kami di Beijing hanya satu bulan itu, bagaikan anak-anak muda yang sedang mabuk kasmaran, kami selalu berdua dan berlupa. Selalu kukatakan pada teman-temanku apabila mereka tanya kapan aku ini jadinya dengan si Anu, si Anu. Kukatakan aku sudah tutup-buku! Tetapi ketika mereka tahu bahwa aku juga masih juga "main-main", lalu mereka "tagih", "lho bukunya belum rapat ditutup, apa?!". Dan aku mesem-mesem saja. Kukatakan sudah, sudah tutup-buku, tapi terkadang terbuka sendiri tanpa sadar. Dan ternyata dulunya aku ini menganggap diriku paling pencemburu, ternyata ada lagi yang melebihi diriku. Dua tahun sesudah kami "mengawali" hapusnya sebutan Pak Pendeta, Sirima terbunuh oleh Mouk teman sekamarnya sendiri, karena kecemburuan Mouk yang membuta. Dan Sirima meninggal, dan Mouk harus membayar selama 7 tahun di penjara. Ada maksudku, ingin mengajak Mouk menziarahi kuburan Sirima di Paris, yang sama-sama kami sudah menanamkan rasa cinta dan sayangnya. Sampai kini aku masih bisa melihat Mouk, tetapi tidak mungkin lagi melihat Sirima. Padahal mungkin tidak setahu Mouk, segitiga kami, cukup awet, dan kami termasuk orang-orang yang berdosa, kepada Sirima, aku kepada Sirima dan aku kepada Mouk. Semoga saja buku itu benar-benar "sudah tutup" tanpa ada selingan lagi, jangan sampai banyak mengadakan dan menciptakan berbagai macam kontradiksi lagi, -

Paris 24 April 1999

Nasib Pengangguran

Mula-mula kami datang di Perancis, kami harus memenuhi peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah, per-tama sebagai kaum asilan, refugie politik. Tugas utama yalah masuk-asrama ( foyer ), untuk belajar bahasa Perancis, selama 6 sampai 8 bulan. Selama di asrama, kami ditanggung pemerintah, dengan dapat jatah bahan makanan, lengkap, cukup bahkan bisa berlebihan. Bahan makanan ini bisa dimasak sendiri, ada dapurnya, bahkan ada tempat penyimpanan makanan, kulkas, lemari, kompor dan lain-lain. Setiap hari Jumat sore kami antri untuk menerima bahan makanan buat satu minggu. Bahan makanan ini sudah diper-hitungkan pasti cukup. Kalau hemat, bahkan bisa berlebihan. Ada bahan-bahan, beras, minyak, susu, mentega, margarine, yaoghurt, roti, kentang, segala macam. Sudah itu kami masih dapat uang-saku. Kami bertiga, dengan dua anakku, terkadang satu minggu dapat antara 250 sampai 350 francs. Dengan uang-saku itu kita harus mengatur sendiri keperluan kita, di luar jatah makanan sehari-hari. Misalnya mau cukur rambut, beli odol, mau nonton, naik bis dan kereta, beli pakaian, sepatu dan lainnya. Karena itu kitapun harus memperhitungkan juga, agar cukup, agar pas. Tak ada istilah nanti bisa pinjam atau berhutang, tak ada itu, dan takkan terjadi, sebab pihak asrama dan pemerintah akan menolaknya dengan keras dan disiplin.

Ketika sedang dalam tanggungan pemerintah, di foyer, kehidupan sebenarnya masih enak, sementara boleh tidak memikirkan yang lain, kecuali harus berkonsentrasi pada pelajaran bahasa Perancis. Sebenarnya itulah maksud pemerintah, selama diasramakan, diberi pelajaran bahasa Perancis, adalah buat persiapan berdikari untuk nantinya dalam mencari pekerjaan, mencari kehidupan. Mencari pekerjaan dan mencari penghidupan adalah tidak mungkin kalau tidak bisa berbahasa Perancis! Bagaimana orang, atau kantoran atau perusahaan, pertokoan akan mau menerima kita kalau kita sendiri tidak bisa ngomong Perancis. Hidup di Perancis mutlak harus bisa berbahasa Perancis! Tentu saja, kukira sangat wajar. Dan begitu kami mengakhiri pelajaran bahasa Perancis selama 6 sampai 8 bulan itu, nah, mulailah perjuangan mencari pekerjaan dan mencari kehidupan. Tidak bisa lagi dan tidak boleh tinggal di asrama semula, harus pergi meninggalkan foyer itu. Dan ke mana dan di mana, terserah saja, harus cari sendiri. Mencari pekerjaan dan persiapan mencari rumah, atau kamar, apartemen kecil. Dan ketika masa beginilah baru terasa, betapa tidak enaknya jadi kaum pengangguran. Status kita begitu keluar foyer, artinya sedang dalam pengangguran.

Pemerintah Perancis sudah tentu tidak akan membiarkan dirikita terlunta-lunta tidak keruan salama kita benar-benar dalam keadaan mencari pekerjaan itu. Pemerintah akan siap membantu kita dengan uang saku antara 45 sampai 50 francs satu hari selama satu tahun. Kalau dalam satu tahun tidak juga kita men-pat pekerjaan, masih ada kesempatan beberapa bulan lagi, atau uang saku buat bantuan itu dikurangi sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya habis. Dan pada biasanya kaum penganggur, teman-temanku, rombongan kami dulu, selalu ada saja lobang atau lowongan yang bisa "memperpanjang" hidup kami. Juga kudengar rombongan lainnya, ada saja pekerjaan yang didapatkannya. Apa dan siapakah rombongan yang kumaksud? Kami para pengungsi dari Asia Tenggara, Vietnam, Laos, Kamboja dan ada yang dari Afrika dan Asia lainnya seperti dari Iran, Afganistan, India, Pakistan, dan terakhir "zaman kami itu" sudah mulai masuk dari Srilangka, Kolombo. Kini, detik ini, bukan main banyaknya yang dari Kosovo, Albania.

Ada syarat lainnya untuk dapat terus bantuan uang-saku itu. Dulu ditetapkan, satu bulan satu kali, kita harus antri buat mencatatkan dan menandatangani suatu surat perjanjian yang isinya memang benar-benar kita dalam usaha mencari pekerjaan. Kami haru mencatatkan dan menandatangani surat itu di kantor ANPE, Agence Nationale Pour Emploi. Kantor ini sangat terkenal di kalangan kami kaum pengangguran, termasuk di kalangan orang Perancis sendiri. Sebab betapa banyaknya kaum pengangguran Perancis. Ketika kami baru datang dulu, angka pengangguran masih sekitar satu sampai dua juta orang. Kini, Perancis memiliki angka pengangguran lebih dari 3 juta orang! Sebab siapapun yang bekerja dengan sistim kontrakan, selama sekian tahun atau sekian bulan, sesudah itu statusnya sama dengan kami dulu itu, sama-sama pengangguran. Sudah tentu dapat uangnya tidak sama, karena kami memang belum pernah dapat pekerjaan. Sedangkan orang-orang lain itu, karena kontraknya sudah habis, atau sedang dalam mencari pekerjaan baru. Lain statusnya, antara kaum pengangguran yang memang belum pernah dapat pekerjaan dengan kaum pengangguran yang sudah punya pengalaman-kerja.

Ketika kami antri buat, istilahnya pointage, tandatangan-pengecekan, di kantor ANPE itu, orangnya sangat ramai, bisa puluhan orang, dan antrinya sangat panjang. Bisa berjam-jam, dan biasanya makan-waktu satu hari suntuk. Ketika itulah sangat terasa, tidak enak, ada rasa memelas, agak terhina rasanya. Apalagi sambil kita antri buat pointage, orang sibuk dengan mobil, motor, bis, sepeda, buat menuju pekerjaan di kantornya masing-masing, sedangkan kami hanya buat sebuah tandatangan pengecekan saja. Ada teman-teman di antara kami yang merasakan, betapa kita ini sepertinya bagaikan parasit, benalu, yang hidupnya di dahan pohon orang lain, dan orang lain itu, adalah yang kami lihat sibuk menuju kantornya masing-masing itu. Ada rasa malu, bahkan malu sangat, tetapi mau apa! Ada perasaan terhina, rasanya hidup dari belas-kasihan orang, walaupun melalui kantor yang bernama ANPE. Hierarchi administrasi mekanisme pekerjaannya, dari ANPE ini dossiernya akan dikirimkan ke kantor Assedic, dan kantor inilah yang akan mengirimkan uangnya kepada kita. Sebenarnya perasaan ini, setelah bertahun-tahun dan kami semua sudah dapat pekerjaan, tak perlu ada, tak perlu jadi beban benar. Kami samasekali tak merasakan bahwa kaum pengangguran sekarang ini, yang sama dengan kami dulu itu, adalah bagaikan parasit dan benalu. Kami membayar pajak buat semua keperluan apa yang dibebankan pemerintah, termasuk buat kesejahteraan kemanusiaan pada umumnya, artinya termasuk buat kaum pengangguran itu. Tetapi tidak ada perasaan kami menganggap mereka yang sedang menganggur itu adalah bagaikan parasit dan benalu, yang menunggu belas-kasihan orang. Perasaan yang kami pendam dan rasa-beban dulu itu, mungkin hanya perasaan betapa tidak enaknya jadi kaum pengangguran itu. Itu saja soalnya mungkin. Maklumlah, perasaan orang yang sedang menganggur, penuh dengan berbagai macam rasa yang tak enak, yang menyedihkan.

Bayangkan, sudah berusaha mencari pekerjaan di mana-mana dan ke mana-mana, tetapi tak ada lowongan, tak ada celah-celah pekerjaan yang bisa menerima kita. Setiap hari mendatangi perkantoran, pertokoan, restoran, buat mencari pekerjaan, tetapi pekerjaan itu sendiri tak ada, tak tersedia. Dan betapa banyaknya orang mencari pekerjaan, pada bersaingan. Dan kami bukanlah anak-anak muda lagi. Ketika kami sibuk dan tegang mencari pekerjaan, umur kami sudah berkepala 4 bahkan 5, yang artinya beberapa tahun saja bisa kerja lalu terus pensiun! Karena umurnya memang sudah sore! Kami harus mencari pekerjaan ini juga antaranya buat mendapatkan cap dari kantor atau pertokoan tersebut, bahwa memang benar kami pernah datang buat melamar pekerjaan. Dan cap ini akan kami perlihatkan dan tunjukkan kepada kantor ANPE ketika kami pointage nanti setiap bulannya. Ini gunanya cap itu. ANPE mau tahu apa benar-benar dirikita mencari pekerjaan. Tanda bukti bahwa kita sungguh-sungguh mencari pekerjaan. Dan kalau badan sudah lelah-letih, mau minum, mau makan di luaranpun harus pikir-pikir, sebab uang di saku harus dihemat, harus ada remnya, jangan sampai kebobolan. Dan ketika itu rasa sedihnya timbul lagi. Melihat minuman, melihat makanan yang begitu menarik, begitu memikat selera, dalam diri begini haus dan lapar, tetapi kita harus ingat, kita ini sedang menganggur, hemat-hematlah, hari masih panjang dan jauh. Nasib kita belum tahu lagi, akan ke mana dan bagaimana. Hari depan belum dan tidak bisa dipastikan, tidak tahu akan bagaimana.

Rasa begini memang sangat menyedihkan. Ada mobil pengangkut sop dan minuman panas, dibagikan secara gratis kepada orang-orang miskin dan kaum pengangguran, kaum gelandangan. Pernah aku mencoba antri buat menerima sop panas yang sekiranya pastilah enak, asap bau aromanya tersebar ke mana-mana, memikat hidung. Dan rasanya bukan main malunya, sebab mereka menolakku, karena aku tak punya kartu sans domisile, ada kartu buat kaum miskin-papa. Aku hanya punya kartu pengangguran, tapi "belum" punya kartu tanpa kediaman, gelandangan. Jadi aku belum punya syarat buat antri sop panas yang baunya sangat memikat itu. Ternyata kalau begitu masih ada orang yang statusnya lebih miskin dariku sendiri. Jadi, janganlah hanya melihat ke atas saja, mungkin perlu sekali-sekali melihat ke bawah. Sebab mungkin dirikita terkadang masih agak atasan dari orang yang lebih bawahan.

Melihat isi pertokoan makanan yang sedap-sedap, melihat berjenis minuman segar, di mana dirikita sedang haus dan lapar, tetapi tidak punya uang buat semua itu, betapa rasa tersiksanya. Menelan liur selera yang tak terpenuhi! Dan ya puji Tuhan, sukurlah, tak sampai 4 bulan menganggur penuh, baru bulan ketiga menerima sumbangan uang-saku pengangguran, kami sudah mendapatkan lokasi sebuah restoran yang akan memberi kehidupan kepada kami bersama. Itulah sebabnya pemerintah merasa "terbantu" dengan berdirinya resto kami yang bisa menghidupi kami sendiri, nyawa beberapa orang. Dan karena kami belum sampai "setengahnya" menggunakan "hak-kami" sebagai penerima bantuan pengangguran, maka pemerintah "menyumbangkan" penyediaan semulanya buat satu tahun itu, dilimpahkan buat modal berdirinya resto kami. Dari situ kami punya modal sedikit sebagai sekedar tambahan buat berdirinya resto kami. Memang betapa tidak enaknya jadi kaum pengangguran, tetapi enak tidak enak bukan tergantung pada kita saja, lebih-lebih kepada pemerintah setiap negara, bisa tidaknya, sanggup tidaknya menyediakan lowongan pekerjaan buat warganegaranya masing-masing. Dan tampaknya persoalan ini menyeluruh di bagian dunia ini, setiap negara mempunyai persoalan yang sangat sulit dipecahkan, yaitu bagaimana kemampuan pemerintah dalam menyediakan kesempatan kerja bagi warganegaranya. Dan orang-orang di mana saja, tambah panjang antriannya buat mencari lowongan kerja, buat kehidupannya, buat dirinya dan keluarganya.-

Paris 26 April 1999

Tanggungjawab

Mengapa dulu itu aku seakan-akan mau saja menerima tugas dari guruku dan kepala foyer kami Madame Barre, untuk ditunjuk dan diangkat menjadi kepala-gedung. Kalau kuingat-ingat benar, samasekali bukan kemauanku buat menerima tugas menjadi kepala-gedung. Tapi karena didesak dan dipercayakan, lalu diberi tanggungjawab, maka tak ada jalan lain, aku menerima saja pengangkatan itu. Mungkin karena aku dituakan, atau karena hal-hal mengenai pekerjaan sehari-hariku. Antara lain misalnya setiap pagi mulai jam 06.00 aku olahraga jogging, lalu taicichuan. Lalu sesudah belajar bersama di kelas, bahasa Perancis, aku melanjutkan pekerjaan harianku dengan tusukjarum. Dan pasienku memang banyak, ada belasan orang. Dan kalau hari Sabtu dan Minggu, orang-orang berdatangan dari kota-kota sekitar situ, dari Vesoul, Belfort, Montpellier, dan lain-lain. Berbagai macam penyakit yang berhubungan dengan syaraf. Sulit tidur, banyak kencing malam, tidak bisa kencing, sakit ayan, kalau di kampung kami penyakit ini namanya penyakit gila babi. Sakit lemah syaraf secara umum, impotensi, hipertensi, banyak mimpi dan sebagainya. Bahkan ada yang datang padaku yang mengidap penyakit tidak haid, tidak menstruasi, dan bahkan ada yang datang minta gugurkan kandungannya. Tetapi prinsipku, akan kuobati kalau yang sifatnya membangun, bukannya merusak. Menggugurkan kandungan kuanggap bukannya membangun dan menyembuhkan, tetapi membongkar, merubuhkan, karena itu kutolak. Kuanjurkan agar ke dokter umum dan ke rumahsakit saja.

Lalu pada suatu kali pernah aku berhasil mencegah perkelahian antara orang-orang Afrika dan Asia. Perkara kecil saja, ketika perebutan piala dunia sepakbola di Barcelona tahun 1982, masing-masing dengan klub andalannya, saling mengejek. Lalu menjadi saling mencemoohkan, lalu memukul dinding pembatas gedung. Dan pada akhirnya masing-masing bawa golok, pentung, tombak, pada siap mau perang! Aku yang ketika itu kebetulan yang tertua di antara mereka, dan yang kebetulan semua mereka memanggiku dengan sebutan papa, dari yang kecil umur 4 a 5 tahun sampai nenek-nenek dan kakek-kakek yang hanya tinggal di kamar saja. Sebutan dan panggilan "kehormatan" ini kugunakan sebaik-baiknya dengan menyerukan kepada kedua belah pihak agar menyetop perkelahian, dan tidak boleh seorangpun yang memulai perkelahian. Entah bagaimana pengaruhnya semua yang kuceritakan tadi, dari tukangtusuk jarum, lalu taichichuan, praktek dokter tanpa diploma dan sertifikat apapun, nyatanya mereka mau menuruti seruanku. Dan perkelahian itu tidak terjadi. Seandainya terjadi sungguh tak bisa kubayangkan. Orang-orang dari Asia Tenggara ini, pada umumnya adalah bekas serdadu yang cukup banyak membunuhi kaum komunis di negaranya masing-masing. Sedangkan orang-orang dari Afrika dan Asia Timur-Tengah seperti Iran, Afganistan, juga berpengalaman perang betul-betulan. Sebenarnya pada umumnya di foyer kami ini tempat sarang serdadu pelarian yang banyak membunuhi orang. Dan disitulah aku hidup, di tengah mereka! Dan dari situlah pula, melihat "keberhasilanku" ini yang pada akhirnya menjerat, mengikat dan memelintir kehidupanku sendiri. Maka jadilah aku seorang kepala-gedung di antara tidak sedikit para pembunuh itu!

Padahal dalam hati ini, hanya Tuhanlah yang tahu, betapa aku takutnya, gelisahnya, dan kecilnya nyaliku buat "membawahi" orang-orang muda yang gagah-berani ini, yang pengalaman perangnya benar-benar terjadi di Kamboja, di Laos di Vietnam, di Iran dan Afganistan, dan pedalaman Afrika. Dalam hatiku, kalau saja mereka tahu siapa aku ini, nah, habislah riwayatnya, tamat dan bisa hilang dari peredaran! Tetapi segala apapun yang mau kukerjakan, kumulai, ketika itu sadar benar aku, selalu ingat akan Tuhan dan minta kepadaNYA, memohon kepadaNYA. Agar Tuhan selalu menyertai dan memberkahi pekerjaanku.

Suatu senja menjelang malam, tiba-tiba terdengar teriakan yang sangat mengejutkan. Suara wanita dan jeritan anak-anak yang sangat memilukan. Bergegas aku mencari sumber suara pekikan dan jeritan itu. Ternyata ada di tingkat dua sejajar dengan kamarku, tetapi ada dipojok ujung. Dan aku segera lari mengejar sumber suara itu. Ada di kamar Tuan Lin, orang Laos yang kecil perawakannya tetapi sudah banyak membunuhi orang komunis di negaranya. Teriakan itu adalah suara isterinya dan pekikan tangisan yang sangat memilukan itu adalah dua anaknya yang memang kukenal. Sura Tiak dan Keok, anaknya wanita berumur 9 tahun dan laki-laki berumur 7 tahun. Kuketuk pintu dengan keras, tetapi tidak dibuka juga. "Tuan Lin, aku papa, bukalah pintu! Apa yang Tuan kerjakan itu!", kataku keras agak membentak. Tetapi pintu tetap saja tertutup dan terkunci dari dalam. Kugedor keras lagi. Tapi tetap saja dia membisu sedangkan suara isterinya seperti kehilangan daya, dan dua anaknya semakin menjerit ketakutan. "Tuan Lin, sekali lagi saya katakan, buka pintu, kalau tidak, saya pakai tenaga lain", kataku. Tetapi tidak juga dibuka. Dan aku hanya ingat satu saja, jangan sampai Tuan Lin membunuh orang lagi, jangan sampai Tuan Lin membunuh isteri dan anak-anaknya. Dan aku hanya ingat satu lagi, ini tanggungjawabku, kalau ada kematian, korban perkelahian, korban kekerasan, maka akulah yang bertanggungjawab, karena aku sebagai kepala-gedung asrama kami di tengah kaum pengungsi itu. Kuundurkan badanku untuk siap menyerbu dan menendang pintu itu. Kukumpulkan kekuatanku, dan konsentrasi tanaga-dalam yang mungkin aku punya, maka kuserbu pintu itu, kuterpa-tubruk, dan patah berkeping-keping. Aku masuk. Ya, Allah, apakah yang kulihat ini? Tangan Tuan Lin sedang mencekik leher isterinya, dan di tentang urat-nadi besar itu. Dengan sigap dan gerakan kilat, kutangkap tangan Tuan Lin, lalu kukibaskan sekuatnya, dan badan Tuan Lin yang memang kecil itu, terhempas ke pintu yang sudah patah itu. Aku sangat marah, aku sangat benci, dan aku sangat kasihan akan isteri dan kedua anak Tuan Lin. Tuan Lin kutangkap dengan kedua tanganku, lalu kubawa menuju rumah Tuan Silvain, Kepala Foyer, wakil Madame Barre. Ini memang pesannya kalau terjadi apa-apa. Dan apa-apa itu ya sudah terjadi sekarang ini.

Tuan Lin dipaksa menginap di perumahan penanggungjawab Kepala Asrama. Dan aku membenahi kamar Tuan Lin, serta mengurus anak isterinya. Aduh, aduh, cobaan pertama dan cobaan gila-gilaan ini, sangat menakutkan dan mencemaskan. Kalau ada yang mati, maka akulah yang terkena imbasannya, sebab sebagai kepala-gedung, kenapa sampai terjadi peristiwa ini, justru dalam "wilayah pengawasanku". Dan malam yang menakutkan itu, ternyata belum berakhir, dan masih berkepanjangan. Tiak dan Keok, dua anak Tuan Lin, mengetuk pintu kamarku. Mereka langsung masuk dan menangis sedih dan pilu, agar aku datang ke kamarnya buat melihat ibunya yang sakit keras mendadak. Dan aku segera bergegas menuju kamarnya. Apakah yang kulihat ini? Isteri Tuan Lin muntah darah, dan wajahnya putih-pucat, sudah tak bertenaga lagi. Aku segera menghubungi Tuan Silvain yang gedungnya masih di kompleks itu juga. Dan kami segera menilpun ambulance di kota Lure yang kecil itu. Tak sampai 10 menit, ambulance datang dan segera mengangkut Madame Lin. Sedangkan Tiak dan Keok ikut bersamaku ke rumahsakit. Dan malam itu aku tak sepicingpun bisa tidur sampai paginya. Karena aku mau tahu, bagaimana nasib Madame Lin. Sedangkan Tiak dan Keok terus menangis di pangkuanku. Betapa sedih dan kasihannya dua anak kecil yang tersiksa akibat kekejaman bapanya itu.

Sampai keesokan paginya, aku berdua anak Tuan Lin masih menunggu di rumahsakit. Tuan Lin tak lagi terpikirkan olehku, itu bagian Tuan Silvain yang mengurusnya! Dan agak senang juga hati ini, begitu tahu bahwa krisis sakitnya Madame Lin sudah lewat. Artinya dia tidak sampai fatal, dan kabar inilah yang aku mau tahu. Cekikan Tuan Lin kulihat memang cekikan maut, dan pantas sajalah kalau Madame Lin sampai muntah darah, tidak matipun sudah memadai! Cekikan itu jangan-jangan yang sering dilakukannya kepada musuhnya di Laos sana. Tetapi kini dia sudah ada di negara beradab, dan mereka di bawah pengawasan serta perlindungan yang mereka minta buat melindunginya. Ingat Tuan Lin begini, rasanya benar-benar aku sangat marah dan sudah tidak ingat lagi mau berapa kek dia banyaknya membunuh orang dulunya di negaranya itu! Dia punya isteri yang setia, dua anaknya yang baik, sehat dan lucu. Tetapi siapa tahu karena memang terlalu banyak membunuh orang, lalu terkena sakit jiwa walaupun mungkin masih ringan. Dan di tengah pergaulan hidup beginilah aku berada di tengahnya, menjadi kepala- gedung pula. Oh, nasibku, selalu dirundung kecemasan, kekuatiran dan ketidaktenangan. Keberanianku, aku sendiri tak tahu dari mana datangnya dan bagaimana bisa terjadi begitu. Tetapi satu hal, aku selalu berdoa kepada Tuhan, minta kepadaNYA, memohon perlindunganNYA, selalu dan selalu. Padahal aku boleh dikatakan samasekali tak punya pengalaman apa-apa di tengah masarakat yang penuh api, penuh amarah dan benci satu sama lain ini. Sekali-sekali memang ada perasaan hatiku dan bertanya kepada Tuhan, Tuhan kapan Kau memindahkan aku dari tempat ini? Kapan Tuhan? Ternyata, dan untunglah telegram datang dari temanku Markam, agar aku segera kembali ke Paris! Dan sukur alhamdulillah, Tuhan sangat memperhatikan permohonanku, kecemasan dan ketakutanku sepanjang aku "menjabat kepala gedung" yang sangat menakutkan itu.-

Paris 28 April 1999

Dialog Antara Kami, Kita Dan Mereka

Tahun 1998 masih agak sering kami mendapat "kiriman" tamu dari Indonesia. Mereka para turis dari Indonesia yang keliling Eropa. Pertama ke Holland dulu, lalu ke bagian Eropa lainnya. Dan selalu akan melalui Paris. Dan biasanya selama di Paris akan makan di resto kami. Yang kusebut "kiriman" tamu ini adalah rekan kami sebisnis, antara turisme - pariwisata dan horeca ( hotel - resto dan cafe ). Biasanya dua tiga bulan sekali akan ada saja tilpun dari Holland, pesan tempat buat belasan dan sampai puluhan orang buat makan di resto kami selama di kota Paris. Karena hubungan ini sudah berjalan agak lama dan lancar dan saling menguntungkan, maka kami pasang harga yang semurah mungkin tetapi tidak sampai merugikan kami. Ini menyangkut promosi dan buat kelanjutan relasi yang mantap, dengan rekan sebisnis kami di Holland. Pernah beberapa kali rombongan dari Indonesia. Dan kami sangat gembira menerima rombongan ini, karena kami dapat berjumpa dengan orang Indonesia yang benar-benar "masih hangat" dari Indonesia, bukannya dari Jerman, Swedia, atau Belanda yang sama saja dengan kami keadaannya, dan pula kami sudah lama saling mengenal. Kalau mereka datang, kami ajak ngobrol, kami usahakan agar mereka menjadi betah dan rileks selama makan di resto kami. Lama-lama kami mengerti hukum mereka. Misalnya yang penting kami harus siap agar banyak nasi, ini yang paling penting, lalu laukpauk sambal jangan lupa, kerupuk, lalap,dan sayuran serta buah-buahan. Daging tampaknya tidak sepenting nasi. Apalagi anggur yang biasa menjadi minuman pokok orang Eropa, tak ada yang minta.

Apalagi kalau rombongan itu yang banyak menggunakan kerja-badan, mengeluarkan energi. Misalnya saja para rombongan tarian-bali yang pernah mengadakan pertunjukan di kota Paris, harus siap banyak nasi, nasi dan nasi. Terkadang kami kelabakan meladeninya karena ketika itu kami belum punya pengalaman, sehingga buru-buru tanak-nasi. Dan kami sangat menyukai dan gembira menyambut mereka ini. Sebaliknya merekapun sangat gembira bertemu dan ngobrol dengan kami, tanya-menanyakan segala sesuatunya. Kami tahu mereka sangat puas, bukan hanya dari kata-kata mereka yang keluar dari mulut saja, tetapi mereka menulis di buku-tamu, livre d*or, menyatakan kepuasannya dan puji-pujiannya. Tetapi sekali ini, pada kuartal kedua dan sampai tahun 1999 ini tak ada lagi rombongan seperti dulu itu. Dulu kami banyak juga berkenalan dengan para tamu kami yang ternyata dari berbagai daerah dan wilayah dari Jatim misalnya, ada juga dari Jateng. Yang hampir kesemuanya adalah pejabat-daerah, para bupati, sekwilda, dan ada juga para camat dan "pembesar setempat" di wilayah dan daerah itu. Tetapi pada umumnya pada tingkat kabupaten, bukan kegubernuran. Karena begitu lama tak ada "kiriman" tamu ini, maka kami secara agak iseng-iseng menanyakan kepada rekan kami yang di Holland, mengapa lama sekali para tamu yang seperti dulu itu tak pada datang lagi.

"Akh itu kan sebelum masa reformasi dulu, Mas", kata mbak Vera kepala guide wisata, menjawab dalam tilpunnya. "Dulu itu kan belum ada masalah gencarnya mendobrak, membongkar KKN. Makanya para "pembesar daerah tingkat kabupetan ke bawah" dapat bagianlah. Disuruhlah pelesir ke luarnegeri, tentulah kira-kira merasai juga bagiannya, peruntungannya", kata mbak Vera dari seberang sana. Dan kami terpukau tak mengerti pada mulanya. Tetapi paham pada akhirnya, dengan nafas panjang berkata sendiri——–Oooo begitu rupanya. Dalam hal ini mungkin kami terlalu lambat berpikir secara demikian, karena tidak berada di dunianya sendiri. Dan kami ingat-ingat benar, memang pada waktu itu jauh sebelum bulan Mei 1998, artinya "beliau" itu belum lengser keprabon pandita ratu! Ada-ada saja pikir kami kejadian di dunia ini!

Lalu tak ada hujan tak ada angin, tak ada pertanda alamat apapun, datanglah beberapa orang ke resto kami. Bukan ini yang penting. Tetapi yang datang itu adalah orang yang boleh dikatakan membawa "suatu misi" dari Ambassade RI di Paris. Mereka yang ternyata kami kenal dan tak pernah saling bermusuhan dengan kami, menyatakan maksudnya, bahwa Ambassade ingin mengadakan sedikit keterangan atau ceramah mengenai pemilu sebelum bulan Juni ini. Jadi karena mereka mungkin saja ada anggapan bahwa di resto kami ini ada yang berwarganegara RI yang mau menggunakan hak-pilihnya, maka mereka sengaja datang buat sekedar menanyakan dan menawarkan siapa tahu ada di antara kami yang berminat. Berminat menggunakan hak-pilihnya dan berminat mendengarkan keterangan dan ceramah soal-soal pemilu. Kami pada mengurut dada, ada mimpi apa ini, kok sudah begitu berani dan begitu jengaren datang ke resto kami. Sudah tentu kami menyambut kedatangannya. Kami kan orang resto, kehangatan, kebaikan, keramahan, keterbukaan adalah "profesi" kami. Kalau tidak resto ini takkan dapat berumur sampai sudah 18 tahun!

"Jengaren benar, Mas, lha kok tumben-tumbennya mau datang ke mari", kata kami senyum senang. "Apa nggak boleh, apa dilarang?", katanya bergurau. Dan sekali lagi kami pada bersalaman hangat. "Yang melarang dan yang menganjurkan agar tak datang ke resto kami ini, kan kalian! Dulu surat edarannya langsung dari Jakarta, katanya sih atas anjuran menlu Mokhtar Kusumaatmaja ketika itu". "Yah, sudahlah, yang dulu ya dulu, kita sambut yang akan datang. Bagaimana setuju nggak?", kata seorang di antara mereka. Kami tak menjawab, tapi kami menjawab dengan menyambut kedatangan mereka buat sekarang ini. Orang boleh berbeda pendapat tentang pemilu, pro dan kontra pemilu, tetapi bagi kami yang penting sekarang ini, orang Ambassade datang ke resto kami, walaupun samasekali bukannya pejabat-penting, tapi atas sepengetahuan Ambassade. Bukankah ada kwalitas baru dibandingkan dengan dulu? Tentang apa isi kwalitas itu, tunggu dulu. Itu urusan lain lagi. Kalau sudah sejak dari dulu mereka lakukan hal demikian, tentulah keadaan tidak menjadi seperti selama ini. Tetapi kalau dipikir-pikir, mana berani kalau "beliau" itu masih belum lengser keprabon,pandita ratu! Takkan ada kwalitas baru sekecil apapun.

Dari sangat lama dan sangat jarangnya para turis yang datang ke resto kami, lalu tiba-tiba tak ada hujan, tak ada angin, tak ada pertanda alamat apapun, datang beberapa orang yang kami kenal, dan sejak dulu tak pernah bermusuhan dengan kami, mendekatkan diri, ingin bersentuhan secara sejuk-nyaman, sudah tentu kami menerimanya dengan terbuka. Samasekali bukan dari segi politiknya, tetapi inilah dulu, dari segi kemanusiaan, kewajaran, dan human-being-nya. Kita ini makhluk sosial, bermasarakat, apalagi "profesi" kami orang resto, pergaulan, pendekatan, keterbukaan, kedekatan, adalah mutlak. Senyum dengan wajah jernih, harus kami "pasang" setiap waktu begitu bertugas di resto, dengan kejujuran bukan kepalsuan atau kesemuan. Dan kami merasa dapat santai ngobrol dengan teman-teman kami yang memang bertugas sebagai pelaksana dan mungkin pensukses pemilu itu. Bagi kami bukan pemilunya itu, tapi mau datang dan mau mendekatkan diri itu saja, sudah suatu kwalitas baru. Pemilunya sendiri, di antara kami jangan-jangan tidak satu pendapat, karena memang tidak pernah kami bicarakan sebelumnya. Lagipula status kami tidak punya hak-pilih, sebab kebanyakannya berwarganegara asing.

Paris 1 Mai 1999

Pelurusan Pikiran

Pada mulanya di antara kami bukannya mudah untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan yang harus kami kerjakan sehari-hari. Dalam pikiran tetap ada perjuangan, apa sih pekerjaan yang beginian! Nyapu, ngepel, cuci-piring-mangkuk-gelas, segala cuci-mencuci, lalu ngepel dan membersihkan WC, pekerjaan susu-asma saja! Susu-asma yalah tetek-bengek. "Terlalu remeh-temeh", inilah anggapan sebagian kami. Perjuangan dalam pikiran itu nantinya akan tercermin pada tindak-laku atau menyembul ke luar. Suatu kali akan terucapkan, bahwa demikianlah bias dalam diri seseorang yang menyatakan ketidak-puasannya atas pekerjaan dan "kedudukan sosialnya". Bila "pikiran dan perasaan" itu ke luar, maka tahulah kita, kira-kira teman ini "belum klar, belum jernih akan masalah tugas-pekerjaan" yang dihadapinya. Masih punya soal yang belum terbebaskan dalam dirinya. Dan ini menurut kami masih dalam batas kewajaran, walapun pikiran dan perasaan itu seharusnya dikikis sedikit demi sedikit. Bukannya lalu dipupuk jadi subur, bukan!

Suatu kali teman kami si baju-merah, menanyakan kepada temannya si baju-biru,-"Kerja hari ini?". "Ya, hari ini ngacung di resto", jawabnya. Si baju-merah belum begitu menangkap apa maksudnya. " Apa itu ngacung?". " Ya, ngacung, menjadi kacung, jongos, apalagi!". "Lho kok ngacung, jadi kacung, jadi jongos? Apa maksudnya sampeyan berkata begitu?". "Biasa, tak ada apa-apa. Pekerjaan begini kan memang pekerjaan kacung atau jongos sebutan lamanya. Jenis pekerjaannya ya sama, pesuruh, bisa juga opas kalau di kantoran". Rupanya si baju-merah tidak merasa puas akan jawaban teman tadi. Lalu terjadi sedikit diskusi yang hampir jadi pertengkaran. Yang satu tidak terima sebutan kacung, jongos, pesuruh, yang satunya lagi sebenarnya sama saja, akan tetapi karena luapan ketidakpuasannya lalu terlontar ke luar. Si baju-biru belum dapat menyesuaikan diri dengan pekerjaannya, atau karena perasaan-beban yang masih memberati dirinya. Merasa dirinya kaum intelektuil, pekerja-otak, apalagi ada gelar sarjananya, maka perasaan dan pikiran demikian bukannya mudah untuk mengikisnya dalam waktu yang singkat.

" Kalau menurut pendapat saya, apapun pekerjaan yang kita lakukan asal saja sah dan tidak melanggar undang-undang dan peraturan tata-tertib masarakat yang luas, adalah mulia. Adalah dibenarkan. Mengemispun dibenarkan, habis tak ada lowongan pekerjaan yang bisa didapatkan seseorang! Tetapi kalau mencuri, mencopet, jambret, apalagi rampok, atau pekerjaannya hanya menipu orang saja, nah, ini barulah mengganggu masarakat. Ini melanggar undang-undang, membikin susah orang lain. Kalau sampeyan merasa "jadi kacung dan jongos" tadi itu, justru membikin orang lain senang, sebab bagian resto menjadi bersih. Lantai bersih, piring-mangkuk, gelas semua barang pecah-belah bersih, WC-nya bersih dan tidak bau. Nah, ini pekerjaan mulia! Pikiran dan perasaan sampeyan itu yang belum bersih! Dan perkara ini yang harus sampeyan bersihkan", kata si baju-merah tidak sabaran.

Pada hari lain, ada teman wanita yang bekerja di perumahan orang-orang tua Perancis, pekerjaannya sebagai femme de menage, artinya pekerjaan wanita pembersih rumahtangga. Seorang teman bertanya lagi yang kebetulan sama dengan yang dulu itu. "Mbak besok kan Sabtu, kerja nggak?". "Aduh, saya besok diminta kerja, karena hari Minggunya keluarga Madame Blondel akan datang. Jadi tetap saja besok harus ngembabu", katanya. Tampak temannya itu tidak merasa puas akan jawabannya, lalu minta penjelasannya. "Apa sih maksudnya ngembabu?". "Ya ngembabu jadi babu, jongos kalau laki-laki mah! Pesuruh, ya apalagi". " Lho kok jadi ngotot dan nggak puas begitu sih?" "Memang pekerjaan begitu kan, sama saja dengan pekerjaan seorang babu dan jongos dan pesuruh, apa lagi, tokh kenyataannya memang begitu", kata teman yang merasa bebannya begitu berat itu. Maka terjadi lagi diskusi buat "penjernihan" apa sesungguhnya beban pikirannya. Dijelaskannya, sebenarnya begitu banyak jenis pekerjaan yang diperebutkan antara kaum pencari-kerja, dari berbagai bangsa dan kewarganegaraan di Paris ini. Seseorang tampaknya mendorong kereta-bayi, tapi tampaknya bayi itu bukan anaknya sendiri, dan ternyata wanita itu seorang baby-sitter. Dia bekerja buat mengongkosi kehidupannya, dia datang dari Taiwan, dan sedang mempersiapkan penulisan disertasinya buat gelar doktor ekonomi-perusahaan.

Dan banyak lagi pekerja serabutan, di resto, di pertokoan, di perusahaan, sebagai pekerja-kasar, yang padahal mereka itu sudah bergelar sarjana penuh. Tetapi karena tak ada lowongan pekerjaan yang seprofesi jurusannya, maka pekerjaan apa saja dia tangkap dan pegang erat. Ini semua demi kelanjutan hidupnya. Sampai tahun ini, seorang teman kami yang benar-benar doktor tamatan EHESS Paris, tetap saja dengan rela dan tanpa beban sebagai pekerja resto, termasuk ngepel ruangan dan WC tadi itu. Termasuk yang bisa dikategorikan si baju-biru dengan sebutan "kacung dan jongos" tadi itu. Dan mengapa banyak sekali orang Perancis yang begitu bersimpati dengan kami. Karena mereka banyak juga yang tahu, bahwa di antara pekerja resto kami, lebih dari 80 persennya adalah bergelar sarjana, mahaguru, dan wartawan tingkat nasional yang dikenal banyak jurnalis internasional. Tetapi kebanyakan dalam pikiran teman-teman ini tampaknya sudah "klar dan jernih" bahwa pekerjaan apapun adalah mulia kalau dikerjakan dengan jujur, sungguh-sungguh, dan mencintai pekerjaan.

Seseorang yang "belum klar = klaar, selesai,- jelas-jemelas" akan merasa kikuk kalau ada pekerjaan ngepel di luar resto, yang bisa banyak dilihat orang, terbuka sifatnya. Tetapi kalau masih di ruangan-dalam, tak apalah, tokh orang tak melihatnya. Dan perasaan serta beban-pikiran begini tidak begitu mudah buat mengikisnya dalam waktu yang singkat. Hanya proses praktek pekerjaan dan kehidupan itu sendiri yang akan menempa seseorang "menjadi" atau "belum jadi", atau perlu proses panjang lagi. Seseorang tidak sama proses penempuhannya itu, ada yang lama, ada yang sebentar, bahkan ada yang "belum jadi-jadi juga"! Saling bantu dalam proses pekerjaan dan kehidupan secara begini tampaknya memang dibutuhkan, agar bisa secara matang dan wajar sampai "jadi dan klar serta jernih".

Paris 2 Mei 1999

Serangan Wawancara

Sekali perubahan-goncangan di tanahir bergolak, sekali serangan wawancara bertubi-tubi mencari sasaran. Dan selama ini sudah berkali-kali perubahan-goncangan itu timbul, menyembul ke permukaan. Dulu ada persolan pelepasan para tapol, termasuk tapol PKI, apakah akan dibebaskan atau tidak. Lalu yang terakhir ini, ternyata tapol PKI dibebaskan sesudah puluhan tahun meringkuk di berbagai penjara tanpa diadili dan tanpa pemeriksaan pengadilan. Lalu timbul persoalan "pelurusan sejarah", dan adanya organisasi yang secara khusus mau menyelidiki dan memeriksa para korban Gula Tigapulu Sekilo/PKI itu, berapa sebenarnya angka mendekati kepastiannya. Di mana saja dikuburkan, dibantai dulu itu, dan bagaimana cara penyiksaannya dulu itu. Adanya organisasi ini menyebabkan banyak timbul reaksi berdatangan. "Keadaan yang dulu itu sudah agak mantap-tenteram, lalu bergejolak lagi", barangkali peristiwa ini akan adanya pertanda "kebangkitan PKI". Lalu jenderal besar Nasution bicara, dan keluarga serta anak-anak jenderal Yani datang ke Suharto, dan sepertinya bikin keterangan pers bahwa ayahnya bukanlah dibiarkan-bunuh oleh Suharto. Maka bergejolak lagi yang diametral bertentangan, bukannya kebangkitan PKI tetapi kebangkitan anti-PKI dan mengalihkan sasaran yang sebenarnya sudah hampir mantap. Apa sasaran itu? Sebenarnya bukankah masih tetap reformasi total, dan seharusnya gugatan atas kejahatan Suharto? Malah sasaran itu tetap dibengkokkan, bukannya kejahatan politiknya, pembunuhan berjuta rakyat, kudeta merangkaknya, tetapi malah masih itu itu saja, soal KKN-nya, yang takkan habis-habisnya dan takkan mungkin bisa mengadili Suharto selagi semua aparatnya itu adalah bekas anak-buah dan anak-asuhannya, dan kroninya yang agak tersembunyi! Betapa lihaynya "pengalihan sasaran" dengan cara demikian.

Dan diuber lagilah orang-orang yang dituduh dan disangka PKI serta orang-orang kiri yang dianggap PKI atau "bawahannya, organisasi mantelnya". Cara penguberan ada bermacam-macam, ada cara dalam negeri dan ada cara luarnegeri. Cara luarnegeri, dikirimlah para wartawan, reporter, termasuk wartawan dan reporter benaran, asli, tetapi juga bukan mustahil bisa dirangkap menjadi informan atau embrio intel, atau bahkan intelnya sendiri. Maka diuberlah orang-orang yang dituduh atau disangka atau para keluarga orang-orang PKI ini. Mereka menyiapkan suatu wawancara, pertanyaan, desakan pertanyaan dan menjuruskan suatu pertanyaan agar kalau dapat sesuai dengan rekayasa atasannya. Bisa dari harian atau majalah itu, bisa juga memang "pesanan" dari "yang berwajib dan berwewenang, penguasa". Lalu sibuklah menilpun, mencari orang-orang yang sudah masuk sasaran wawancara ini. Bisa dicari di Holland, bisa dicari di Jerman dan bisa dicari di Perancis, atau di mana saja. Dan kebetulan aku selalu saja "kena sasaran wawancara" ini sejak tahunan lalu, sudah mentradisi ditanyai segala rupa urusan yang aku sebenarnya tak tahu, tak turut dan tak paham soalnya!

Tapi aku selalu paham akan timbulnya perkara ini, kenapa mereka mencari aku, kenapa aku jadi sasaran wawancara, dan sebenarnya apa yang mereka maui, kehendaki dariku. Mereka dengan latarbelakang pikiran berdasarkan "pesanan" dan "agar sesuai dengan rekayasa dari pusatnya tadi", "berusaha keras" agar aku "mau menjawab" yang kira-kira sama dengan pikiran dan rekayasa mereka. Dan aku sendiri sebenarnya "dididik sendiri" oleh mereka dengan pandangan terbalik tentunya. Kepada wartawan dan jurnalis serta reporter muda yang sangat gairah serta sebenarnya murni ini, bahkan aku bersimpati kepada mereka. Karena pada pokoknya sebenarnya mereka mau tahu, mau dengan jelas memahami apa sih sebenarnya yang dikatakan G30S/PKI itu, dan apa sih sebenarnya komunis itu? Tetapi bukankah mereka ini dalam "sedang bertugas" atas suruhan dan tugas-kerja mereka sehari-hari? Karenanya mereka sendiripun yang pertama dan utama menyelesaikan tugas itu dulu, yaitu, menanyai dan mewawancarai sasaran, dan itu adalah aku di antaranya!

Kukatakan pada mereka, kenapa banyak sekali orang tak mau diwawancarai, menjauhi wartawan dan jurnalis, reporter. Sebab banyak sekali terjadi "pemalsuan atau pembengkokan" antara yang ditanyakan dan yang dijawab, tetapi begitu muncul dalam suratkabar dan majalah, malah samasekali lain! Tak ada dalam pertanyaan dan jawaban, sangat menyimpang dan dikarang sendiri. Tentu saja yang diwawancarai sangat kecewa dan marah, dan pada akhirnya takkan mau lagi dia diwawancarai siapapun, tobatlah sudah! Hal ini kukatakan kepada wartawan, jurnalis dan reporter "tukang-tukang buru" orang-orang yang dianggap PKI itu.

Bukanlah sederhana, ada wartawan mewawancarai dengan cara tilpunan jarak jauh, Jakarta - Paris! Ini mahal, dan ini tidak sederhana, tidak memenuhi kehendak dan usulnya. Namun demikian, aku masih tetap saja sedia memenuhi "kehendak" wartawan itu, dengan mengatakan "saya mau lihat dan mau tahu, apakah benar-benar komitmen perjanjian yang tak tertulis di antara kita itu berjalan jujur atau tidak",- dan sukurlah ada dua tabloid dan majalah yang sudah kuperiksa dan kuteliti. Dan ternyata mereka masih dalam kategori cukup jujur, sebab semua yang kukatakan memang ada di dalamnya, tak kulihat penyelewengan yang miring sangat!

Pertanyaan klasik dan tradisional, dari dulu sampai kini. "Berapa yang bapak tahu anggota PKI di luarnegeri?" "Mana saya tahu, dan saya tak pernah tahu, dan saya juga tak pernah hitung, dan tak ada pikiran dan perhatian ke sana". "Bapak kalau ke Eropa lainnya, tentunya berhubungan dong dengan orang-orang PKI di Holland misalnya. Atau dengan sel-sel barunya? Bagaimana pandangan mereka terhadap kebangkitan PKI baru-baru ini? Apakah mereka bersemangat juga dan bergembira?" "Nah, pertanyaan ini yang sebenarnya yang Saudara inginkan jawabannya secara gamblang, kan? Okeylah", kataku. Dan tampak airmuka yang menanyaiku sangat bersemangat dan menunggu tak sabaran, mungkin dalam hatinya, nah, ini baru, kena juga akhirnya! "Saya kalau ke Holland itu sibuk mencari barang-barang keperluan resto kami. Saya cari kecap-manis, daun-salam, kencur-bubuk yang asli, kemiri, dan kapulaga buat gulai-kambing. Kami tak ada dan tak punya hubungan seperti yang Saudara perkirakan itu. Ketahuilah yang membangkitkan PKI itu justru dari golongan Saudaralah, atau pemerintah yang sekarang ini. Merekalah yang membangkitkan PKI. Orang-orang yang dituduh PKI itu sendiri tak pernah openan (perduli ), malah pemerintah dan penguasalah serta aparatnya yang sibuk membangkitkan PKI. Inilah yang saya lihat sejak dulu bertahun-tahun lalu. Nama PKI sendiri, atau istilah itu sendiri, sudah sangat lama tak teringat dan tak ada dalam percakapan apapun di antara kami, malah belakangan ini, penguasa dan aparat pemerintahlah yang menguar-uarkannya. Dari para jenderalnya sampai Habibinya bicara tentang bangkitnya PKI. Tampaknya pengalihan sasaran, kembali seperti tradisi kuno dulu itu, PKI selalu dikambinghitamkan, dan sasaran pokok perjuangan demokrasi dan reformasi dapat dialihkan ke anti PKI. Dan cara inilah sebenarnya yang sangat dikejar dan dipegang teguh oleh pemerintah", kataku.

Tampaknya sang pewawancara tak puas dan tak berhasil mendapatkan jatah. Namun demikian aku samasekali tidak membenci wartawan-jurnalis-reporter muda yang haus akan kejujuran ini. Tetapi aku mengerti, posisinya memang sangat sulit. Kalau benar-benar mau jujur, tak kena bekerja di lapangan ini. Dan kalau terlepas pekerjaan ini, lalu mau makan apa, akan kerja di mana?! Perkara ini bukannya sederhana.

"Berapa orang PKI yang bapak tahu di Paris ini?" "Saya tak pernah tahu berapa orang. Dan saya tak pernah hitung, dan tak pernah tertarik buat mengetahuinya. Kami lebih sibuk bagaimana mempertahankan kehidupan yang begini sulit, agar jangan sampai menganggur, resto bangkrut, nah, kalau hal ini sampai terjadi tamatlah riwayat kami secara keseluruhannya. Ini yang lebih banyak menyita pikiran saya dan kami. Saya kira pemerintah dan penguasa serta aparat intel pasti lebih tahu daripada kami sendiri! Walapun tahunya itu belum tentu benar dan dapat dipercayai". "Bapak gembira tapol PKI dibebaskan itu"? "Tentu gembira, sebenarnya sudah sejak lama seharusnya sudah dibebaskan. Juga bebaskan dong Budiman Sujatmiko itu, juga Xanana, dan yang lainnya yang masih meringkuk". "Bapak anggota PRD?" "Untuk menuntut agar Budiman dan Xanana dibebaskan tak perlu harus anggota PRD, dan anggota Fretilin dan Falantil, ya kan, setuju nggak?", kataku. Dia tertawa merasa lucu. "Bapak nanti memilih partai mana, kalau saya boleh tahu." "Saya tidak punya hak memilih, karena saya orang asing, jadi bukannya tidak mau". "Kalau sekiranya bisa dan ada kesempatan, partai mana yang bapak pilih?" "Saya tidak tahu dan tidak obyektif dengan berandai-andai begitu. Harus tahu keadaan kongkritnya, situasi kongkritnya, barulah menentukan pilihan". "Atau barangkali PDI Perjuangan-Megawati, atau bahkan PRD?" "Itukan kata sampeyan, saya tidak berkata begitu, harus jelas, jangan ngaranglah. Tapi agar sampeyan tahu dan mau ada dan jadi bahan tulisan, okeylah. Saya anjurkan pilihlah partai yang benar-benar dekat dan memperhatikan nasib rakyat kecil, itulah pesan saya". "Maksudnya kan PRD atau PDI Perjuangan?" "Nah, sampeyan sudah berkampanye secara terang-terangan. Saya tidak pernah menyebut nama partai dan golongan. Yang saya sebut yalah pilihlah partai yang benar-benar dekat dan memperhatikan nasib rakyat kecil, itu saja". "Tapi partai mana dong pak?" "Akh, sampeyan kurang pintar mancing dan ngenjebak. Semua orang juga tahu! Kan katanya luber, biar terbuka juga rahasia kan?"

Dan begitu beberapa hari kemudian kulihat lagi majalah dan tabloid itu, dan okey-okey saja, tak sangat menyimpanglah isi percakapan kami itu. Kupesankan lagi kepadanya, jangan sampai orang lain kapok diwawancarai karena lain apa yang ditanya dan dijawab dengan yang tertulis di media cetak. Berhati-hatilah, nguber orang PKI sih boleh-boleh saja, tapi kan mereka itu manusia seperti sampeyan juga, dan yang membangkitkan PKI itu adalah sepenuhnya pemerintah, penguasa dan aparat intelnya, agar nanti dalam pengalihan sasaran tembaknya bukan kepada sasaran pokok yang sebenarnya. Agar sasaran pokok itu terhindar dari amukan massa dan pusat kebencian rakyat yang luas. Sayangnya siapa yang tak tahu hal perkara begitu, namun sementara ini orang-orang berdiaman saja dulu.

Paris 11 Mei 1999

Pulang Yang Malang

Ketika pulang yang pertama setelah puluhan tahun di tanah pengasingan, Mang Karta ketika itu masih punya tenaga, tidak sangat tua, tidak perlu dibantu orang lain. Tidak seperti pulang yang kedua kalinya ini, harus dengan bantuan orang lain. Karena kepulangan yang keduanya ini, dia sudah harus menggunakan kursi-roda, didorong dan ditolong oleh orang lain.

Ketika kepulangannya yang pertama, betapa hasrat buat melepas rindu kepada anak-isterinya, yang oleh peristiwa-besar nasional menjadikan banyak keluarga terpisah begitu lama. Ada keluarga yang sudah menikah lagi, bersuami lagi, atau sang suami beristeri lagi. Tetapi masing-masing pasangan-lamanya tidak saling mendendam dan membenci, sebab sudah saling tahu, perubahan begini, semua sudah saling mengerti. Dan tak ada kamus setia atau tak setia dalam perubahan begitu besar dan begitu sengsara selama kurun waktu demikian panjang. Tetapi kalaupun masing-masing tetap bisa dan mampu bertahan sampai bertemu kembali dalam keadaan "utuh" seperti semula, sebagai suami-isteri, nah, keadaan begini boleh dikatakan dapat acungan jempol, hebat! Dan Mang Karta dengan isterinya ternyata tetap "utuh", masing-masing tetap bisa dan mampu bertahan sebagai suami-isteri. Dapatlah dibayangkan akan betapa bahagianya, pasangan yang terpisah puluhan tahun, tiba-tiba bertemu kembali. Demikianlah pandangan umum orang, dan pandangan demikian adalah wajar-wajat saja, normal. Tetapi pada kenyataannya, tidak hanya dua - tiga bahkan tidak hanya empat - lima, ada beberapa pasangan itu, ternyata setelah bertemu kembali, oleh perubahan yang begitu besar dan lama, dan pernah dilanda gelombang bermacam godaan dan siksaan, lalu menjadi tidak cocok lagi. Ada hal-hal yang sudah menjadi lain samasekali, baik pada sang suami maupun pada sang isteri. Dicoba beberapa lama hidup sebagai suami-isteri lagi, sebagaimana dulunya, namun situasinya sudah lain, dan tak bertemu dan tak ada lagi persesuaian pendapat. Banyak hal-hal yang tidak serasi lagi, sudah sangat berlainan dengan keadaan dulu. Bayangan akan kebahagiaan seperti dulu ternyata tak ada lagi sisa-sisanya. Kalau bertemu masing-masing sudah pasang kuda-kuda, atau dengan diskusi berkepanjangan, hangat lalu bertengkar, lalu saling bongkar. Dan kalau sudah begini, masing-masing berkeputusan, lebih baiklah bubar saja rumahtangga yang dulu pernah aman-tenteram, damai-sejahtera.

Ternyata Mang Karta dan isterinya Mak Rukayah terkena "penyakit" ini. Mak Rukayah yang pernah mendekam di penjara-tahanan wanita sekian tahun, sudah merasa tak ada lagilah cinta yang dulu pernah berkobar-hangat dan mesra itu. Dan Mang Karta yang bercita-citakan "meneruskan" rumahtangga seperti dulu itu, tampaknya hanya akan menjadi mimpi berbusa sabun saja. Betapa sakitnya dia, ketika sampai di rumah isteri dan anak-anaknya yang sudah pada dewasa, dan bahkan sudah ada yang berumahtangga dan memberikan cucu kepadanya, bayangan kemesraan yang sejak di Eropa diendapkannya, kini tersentak dan terkejut-dahsat. Dia di rumah isteri dan anak-anaknya itu "disuruh" bermalam dan tidur di kamar tersendiri, tidak sekamar dengan isterinya dan hanya sendirian. Baginya bukan mau apa-apa, bukan mau bermesraan seperti masih muda dulu itu, bukan! Tetapi mengapa harus diperlakukan begitu oleh isteri dan anak-anaknya. Dia meng-arti-kannya, bahwa dia belum dapat diterima di kalangan keluarganya sendiri, oleh isterinya sendiri, oleh anak-anaknya sendiri yang sangat dicintainya. Yang ketika dia tinggalkan dulu masih bocah selucu-lucunya, yang dengan gemasnya diciuminya dalam pelukan kasih-sayang yang sangat. Tetapi kini anak-anaknya, Eko, Tugal, Teguh dan Sri, tampaknya semua "berpihak" kepada ibunya dan bukan kepadanya. Tindakan ibunya "mengasingkan" ayahnya tidur di kamar sendirian, ternyata disetujui oleh semua anak-anaknya.

Keadaan demikian sangat mengherankan, bahkan sangat menyakitkan hatinya. Tetapi dia tidak bisa dan tidak mungkin menyalahkan mereka. Ini rumah mereka, dan dia boleh dikatakan tidak berbuat apapun ketika mereka sengsara tak berketentuan nasibnya dulu itu,- selama lebih 30 tahun itu. Memang benar bahwa dia tidak mungkin dapat dan mampu berbuat sesuatu untuk "menyelamatkan" keluarganya, semua orang juga tahu, dan banyak keluarga yang bernasib sama-sama sengsara, menderita, miskin dan bahkan terkadang terlunta-lunta. Sudah tentu dia sebagai ayah yang merasakan "kegagalannya" begitu merasa "diasingkan" dengan tidur di kamar sendirian di tengah keluarga lengkap di "kalangan sendiri" pula. Malam itu sudah tentu dia samasekali tak bisa tidur. Peristiwa ini sangat menyedihkan, dan dia tidak merasa sangat cengeng kalau air-matapun mengaliri pipinya yang sudah kerinyut-tua. Aduh, katanya dalam hati, dulu betapa gagah-beraninya dia melawan serdadu kolonial Belanda, bertempur di sepanjang Krawang-Bekasi, dengan rambut panjang, dan bermarkas di Menteng 31. Semua peristiwa nasional yang bersangkutan dengan Revolusi Agustus, dia selalu ada di tengahnya, walaupun orang-orang yang kini memusuhi dirinya, menghapus sejarah yang dulu dia turut berpelaku di dalamnya. Semangat bernyala-nyala, kobaran api dalam jiwanya selalu membara, bahkan dia pernah berkali-kali hampir mati karena pertempuran, karena penculikan, karena pengkhianatan. Tetapi kini setelah diri tua, kembali keharibaan keluarga sendiripun sudah "diasingkan". Karena takut, karena kuatir? Akh, mungkin bukan itu, atau bukan karena itu saja?! Berbagai macam pikiran dalam kepalanya. Apapun alasan lainnya, tetapi kejadian kepulangan pertama ini, sungguh menyakitkan dan menyedihkan. Kepulangan pertama ini bukannya memanen kebahagiaan menikmati nostalgia-lama, malah menderaikan air-mata duka. Isteri dan anak-anaknya tidak bisa menerima kembali suami dan ayah mereka. Lalu siapa yang mau disalahkan? Lalu apa kesalahannya sendiri? Tak berjawab, tak mungkin dijawab secara tuntas. Karena masalah ini masalah perasaan, perasaan manusia yang tetap manusiawi, yang padahal antara keluarga sedarah.

Mang Karta kembali ke tempat pengasingan-lamanya dengan hati yang setengah hancur. Malu, malu dan malu pada dirisendiri! Malu kepada banyak teman dan sahabat. Sebab tentulah mereka itu akan menanyakan bagaimana rasanya pertemuan kekeluargaan yang begitu lama terpisah puluhan tahun. Lalu apa yang akan dijawab dan mesti diceritakannya?! Terkadang merinding bulu kuduknya, bukannya ketakutan, tetapi karena sangat sedihnya, sangat tragisnya. Kembali bertemu dengan isteri dan anak-anaknya, tetapi "diasingkan" di kamar tersendiri! Apa artinya semua itu? Bukankah artinya dia belum diterima secara baik di kalangan keluarganya sendiri?! Dia dibikinkan jarak sedemikian rupa oleh keluarganya sendiri. Maka kembalinya Mang Karta ke tempat tanah pengasingannya ini, mencatat kesedihan yang sangat, yang sejak dulu tak terbayangkan dan tak pernah dialaminya.

Ada beberapa tahun setelah itu didapatnya kabar bahwa isterinya meninggal. Dan sekali lagi batu besar seakan menimpa dirinya lagi. Kesedihan ini, demikian pikirnya, sesudah hari tua barulah bertubi-tubi dialaminya. Dan sesudah itu timbul rasa yang sangat besar dan keinginan yang tak tertahankan, dia sangat ingin menyusul kepergian isterinya, meninggal di tanahair sendiri, mati dan dikubur di kampunghalaman sendiri. Hanya itulah keinginannya yang sangat. Seiring dengan rasa sedih-duka, umur bertambah tua, dan penyakit pada bermunculan. Operasi peluru yang bertahun-tahun masih bersarang di dalam tubuhnya, kini terasakan sakitnya bila cuaca dingin dan pada musimdingin. Tak seorangpun membayangkan, mengapa mesti terdampar begini lama di Eropa ini! Pecahan peluru yang baru dapat diambil setelah hampir setengah abad mendekam dalam tubuhnya, pertanda bukti bahwa dia memang benar-benar pejuang dan bertempur berhadapan dengan serdadu Belanda ketika zaman Revolusi Agustus dulu itu. Bukan main gagah-beraninya, kobaran semangat apinya, API Menteng 31-nya. Tetapi kini? Tetap saja semangat pulang dan berkubur di tanahairnya sendiri, menggebu-gebu, seakan tak tertahankan. Di tulisnya surat kepada anak-anaknya, keluarganya yang lain yang masih cukup dekat. Dan kepada beberapa orang temannya.

Belum lagi mendapat balasan yang tuntas, dia kini sudah bukan seperti dulu lagi, sudah menggunakan kursi-roda. Sudah perlu pertolongan orang lain secara kongkrit. Umur sudah tua, badan sudah uzur, betapapun semangat masih ada sisa apinya, tetap saja memerlukan bantuan orang lain. Tapi dia tidak perduli, ini semangat mau pulang dan mau berkubur di kampungnya sendiri bukan main menggeloranya. Mungkin dengan setengah nekad, dia pulang juga dengan bantuan seorang dua orang lain sebagai pendorong dan pengiring beserta kursi-rodanya. Selama penerbangan belasan jam itu, tak lepas dari pengawasan pramugari Garuda yang memang sudah dijanjikan oleh penerbangannya. Tetapi sudah itu harus ada pula orang lain yang bertugas buat mengawal dan membantunya. Dan harus sampai ke tujuan, mencari anak-anaknya dan lalu menyekar di kuburan isterinya. Tapi bukankah semua ini, karena taruhan cinta, karena kasih-sayang kepada keluarganya? Akan dikabarkannya kehendak dan cita-cita terakhirnya kepada isterinya yang sudah almarhum itu dan juga kepada semua anak-anaknya. Semoga saja mereka, kata hatinya,akan menerima dan menyokong kehendak yang mulia ini.

Cerita duka yang tak berkesudahan dan selalu berkepanjangan ini, tetap saja masih membalut dirinya. Betapa sedih hatinya, setelah dia tahu, ada beberapa orang anaknya yang dengan sengaja menghindar untuk bertemu dengannya. Dan memang ada juga seorang anaknya yang masih mau bersedia menemuinya, menemaninya. Tetapi dia sendiri cukup bijaksana untuk mengetahui dan merasakan hati dan perasaan anaknya ini. Sebenarnya anaknya inipun tetap saja segan menemani dan menyertai ayahnya ini, dan ada kekuatiran kalau-kalau akan menyusahkan kehidupan mereka yang memang sudah mantap ini. Dan dia, Mang Karta samasekali tidak sakit hati atau menyesali perasaan dan sikap anak-anaknya. Dia hanya merasakan kesedihan dan kemalangannya saja. Alangkah sialnya nasib diri ini,- demikian dia selalu berpikir. Dalam hatinya lalu berpikir, betapa sulitnya buat hidup, tetapi juga betapa sulitnya mau matipun! Hidup di tanah pengasingan bukannya enak dan gampang, tetapi penuh kerinduan kepada tanahair dan kampunghalaman, terasa kering tandus, miskin jiwa. Tetapi mau matipun di kampunghalaman sendiri, tetap saja sulit dan bahkan bukannya mustahil samasekali tak bisa! Dan hal ini yang sampai kini menyakitkan, menyedihkan, sampai almarhum isterinya Mak Rukayah dan anak-anaknya tetap saja belum menerima kehadirannya di tengah keluarga. Lalu bagaimanakah akan berakhirnya kehidupan ini? Sekarang bukannya hanya penguasa yang menolak kedatangan dan kepulangannya, tetapi sampai matipun isterinya dan sampai kinipun anak-anaknya, tetap saja masih menolak kepulangan dan kehadirannya di tengah keluarga sendiri! Lalu siapakah yang bersalah? Siapakah yang bernasib begini malang? Apakah hanya aku saja? Dua kali kepulanganku, dua kali kemalangan dan kesedihanku. Barangkali baik juga kalau aku memancangkan diriku begini, kalau dulu gagahberani bertempur dan berperang melawan penjajahan kolonial Belanda, kini bertempur melawan perasaan sedih, tersendiri dan sepi. Dan aku harus menang seperti dulu-dulu itu,-

Paris 13 Mei 1999

Seri Pramoedya Ananta Toer (1)

Mengapa tulisan ini kumasukkan dalam ruangan Cerita Dari Tanah Pengasingan? Dan bahkan mungkin akan kuakhiri dengan Seri Pramoedya Ananta Toer ini. Karena pada suatu pertemuan antara kami, yang kami namakan pertemuan antara "para sastrawan dan budayawan eksilan se Eropa" dengan Pram di Holland pada tanggal 3 Juli 1999, sebelum rombongan ini kembali ke Indonesia keesokan harinya, tanggal 4 Juli 1999,- ada dikatakan Pram : "pada pokoknya kita ini sama-sama pernah diasingkan, sama-sama terkena buangan dari pemerintah Orba-Abri-Suharto. Yang satu di luarnegeri, yang lainnya di penjara-penjara dan Pulau Buru. Keduanya sama-sama kena pengasingan, yang satu dengan kekuatan senjata dan penyiksaan kongkrit, yang satunya lagi oleh dampak kekuasaan politiknya yang fasis. Bedanya hanya pada berat-ringannya secara kongkrit, secara fisik dan psychis. Dan tokh sampai kini kalian belum boleh pulang walapun sudah boleh datang, hanya sebagai turis".-

Maka bertemulah teman-teman Pram dan "anak-didik"nya yang sudah puluhan tahun terpisah yang sama-sama pernah terasingkan. Kami saling melepaskan rindu dan kekangenan. Kami ngobrol - berkelakar - tanya-jawab banyak soal, dan bergurau melepas rasa nostalgik.

Aku mengenal Pram sejak tahun 1951, ketika dia masih di Balai Pustaka. Ketika itu umurku baru 17 tahun dan sering ke Balai Pustaka buat bertemu dengan banyak pengarang. Ruangan Balai Pustaka yang besar dan luas itu, tanpa kamar per kamar, tapi penuh meja per meja, dan mereka yang bekerja di situ pada umumnya adalah sebagai redaktur Balai Pustaka, baik majalah yang diterbitkan oleh Balai Pustaka maupun sebagai buku tersendiri. Antara meja per meja saling berdekatan, dengan demikian antara sesama pekerja di ruangan itu menjadi terbuka secara umum. Karenanya, disamping menemui Pram, bisa juga menemui Anas Makruf, Amal Hamzah, Taslim Ali atau M.Balfas, yang semuanya adalah para sastrawan dan penyair. Kebanyakan mereka, kini sudah lama meninggal.

Pram juga banyak menunjukkan dan mengajariku bagaimana caranya mengarang dan membuat cerpen. Dan selalu kuberikan dulu kepada Pram sebelum kukirimkan kepada beberapa majalah, dan dia dengan rela dan penuh dengan rasa tanggungjawab menunjukkan apa saja yang diketahui dan dikuasainya. Kurasakan bantuannya cukup banyak padaku. Lebih dari perkenalan ini, secara kebetulan aku sendiri satu kelas dengan dua adiknya,- Koesaisah Toer dan Koesalah Soebagyo Toer. Kami satu kelas ketika di Taman Dewasa Taman Siswa Kemayoran. Juga aku mengenal adiknya yang lain seperti Waloeyadi Toer dan Soesilo Toer. Mereka pada pokoknya semua menulis, kecuali Koesaisah yang belum pernah kuketahui tulisannya di berbagai majalah. Waloeyadi Toer lebih dikenal sebagai penterjemah sastra. Dan terjemahannya cukup baik dan telah berhasil banyak dimuat dan diterbitkan oleh berbagai badan penerbitan. Perkenalan dan pergaulanku dengan Pram dan keluarganya, sampai kami berpisah pada tahun 1993. Dan betapa rasa senang dan GR-nya aku, namaku ada dalam dua buku penerbitannya, Hoa Kiau di Indonesia dan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Biarlah rasa ge-er itu ada asal saja jangan sampai membesar dan mendominasi. Anggap saja suatu kekerdilan jiwaku saja adanya!

Istri Pram, Bu Maemunah, kukenal sejak tahun 1954, ketika diadakan Pekan Buku Indonesia. Pekan Buku pertama di Indonesia yang dibuka sendiri oleh Menteri PP dan K Mohammad Yamin. Yang mengadakan Pekan Buku itu adalah Tjio Wie Thay, seorang pecinta kebudayaan dan kesusasteraan Indonesia, yang kelaknya bernama Mas Agung, dia ini pemilik Toko Buku Gunung Agung. Mas Agung yang mendirikan Yayasan Idayu yang banyak menerbitakn karya-karya Bung Karno. Barangkali bukan kebetulan yayasan itu bernama Idayu, karena nama itu adalah nama keturunan keluarga Bung Karno yang berasal dari Bali. Pada Pekan Buku inilah tempat bertemu dan berhimpunnya pengarang dan sastrawan Indonesia. Setiap hari dan setiap senja, para sastrawan muda pada berkumpul dan juga termasuk mejeng di sana. Dan aku mulai berkenalan dekat dengan banyak penulis lainnya sepertri Nugroho Notosusanto, Ramadhan KH, Trisno Sumardjo, Trisnoyuwono dan banyak lainnya. Jauh sebelum ini kami sudah saling berkawan dan berteman dengan WS Rendra, Ajip Rosidi yang dulu itu tulisannya masih Ayip Rossidhy, lalu ditanyakan oleh Menteri Yamin, mengapa harus begitu menulisnya. Maka tulisan namanya berubah sampai kini ini. Juga dengan Misbach Yusa Biran, SM Ardan, Soekanto SA, Riyono Pratikto, kami berteman baik. Semoga saja mereka ini tidak merasa keberatan kutuliskan namanya ini, sudahlah, tak usahlah ingat segala "bersih lingkungan dan bersih diri" itu lagi. Kan sudah zamannya reformasi kan?! Dan harapanku, jangan sampai pula para intel dan penguasa lalu mencari nama-nama ini buat "diverhoor dan diinterogasi" nggak zamannya lagi cara begituan!

Pada Pekan Buku itulah kami selalu bertiga dengan Pram dan Dullah, seorang pelukis istana. Kami sama-sama ngincer, karena ada yang ditaksir. Rupanya Tuhan memperkenankan Pram buat "memetik" Maemunah yang selalu kami namakan Mimi, sedangkan aku yang naksir Nunung, adiknya, Nursiah, Tuhan tidak berkenan. "Untung tidak berkenan", kalau tidak, bagaimana mau kasi makan anak orang, ketika itu awak sangat miskinnya! Dan dua tahun sesudah Pekan Buku itu, kedua manusia berbahagia itu melangsukan pernikahannya di daerah Sawah Besar. Paman Mimi atau Bu Maemunah adalah Husni Thamrin, seorang pejuang dan Pahlawan Nasional asli dari Betawi, yang namanya sangat terkenal di kalangan volksraad dulu itu. Jadi perkenalanku dengan Pram dan seluruh keluarganya memang sudah berlangsung hampir saja setengah abad. Karena itu ketika pertama kali aku datang ke Jakarta tahun 1993 setelah 30 tahun hidup di luarnegeri, rumah Pram kuperlukan kucari dulu. Dan Mimi kakakku itu tetap masih segar mengingat namaku dan rupaku.

Ketika mereka "melanglangbuana" di AS, Eropa - Holland - Prancis dan Jerman, selama tiga bulan lebih, mereka bagaikan trilogi-wisata, trilogi-perjalanan-kunjungan,-Pram, isterinya Bu Maemunah dan Joesoef Ishak. Kami anggap mereka bertiga merupakan kesatuan dalam selama kunjungannya itu. Mereka sukses selama perjalanan yang sangat berat itu, setiap hari penuh dengan acara yang padat, adalah karena kesatuan bertiga, sangat kompak, bersatu, saling memperhatikan, saling mengingatkan. Kesatuan mereka bertiga benar-benar sangat berperanan dalam dan selama kunjungan yang berat ini. Kalau dalam kunjungan ada nama trilogi ini, maka dalam penerbitan Pram, juga ada triloginya. Tanpa trilogi atau trias-humanica ini, tak mungkin kita akan mendapatkan buku-buku Pram. Mereka bertiga adalah Pram - Hasyim Rachman dan Yoesoef Ishak. Mereka bertiga inilah yang dapat dan sangat berjasa dalam menyajikan semua karya Pram yang kini bisa dinikmati dunia.

Mereka bertiga mendirikan penerbitan yang bernama Hasta Mitra atau Tangan Sahabat. Di Holland nama itu dengan nama Manus Amici, dengan pengertian yang sama. Penerbitan Hasta Mitra-lah yang paling berjasa memperkenalkan Pram ke dunia luar, ke luarnegeri. Tanpa penerbitan ini, mungkin Pram belum akan menjadi yang sekarang ini. Dengan penerbitan Hasta Mitra, akhirnya Pram mencapai puncak kariernya sebagai pengarang yang paling besar di Indonesia. Tak ada seorang pengarang Indonesia yang karyanya sudah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa asing. Dan tak ada seorang pengarang Indonesia yang telah dinominasikan buat calon pemenang Hadiah Nobel Sastra Dunia, dan bahkan sudah berkali-kali! Semua ini boleh dikatakan adalah hasil kerja badan penerbitan Hasta Mitra ini.

Kami ketika pada pertemuan di Holland itu, sama menundukkan kepala tanda berdukacita, mengenang meninggalnya Hasyim Rachman pada tanggal 28 Juni 1999 di Jakarta. Kami mengerti sepenuhnya, kalau rombongan ini sangat terpukul dengan meninggalnya Hasyim Rachman, teman sekerja Pram dan Yoesoef sejak di Bintang Timur sampai Pulau Buru dan sampai akhir hidupnya. Rombongan ini dengan usianya rata-rata di atas 70 tahun, bukan lagi "sepantasnya" menempuh perjalanan begitu jauh, begitu lama dan begitu berat. Tetapi karena dukungan banyak orang, banyak teman dan sahabat, dan juga mendukung hasil kerja dan hasil karyanya sendiri, semangat yang menyala-nyala itu tetap terpelihara dengan baik dan utuh.

Paris 7 Juli 1999,-

Seri Pramoedya Ananta Toer (2)

Bagi Pram, setiap negara yang dikunjunginya, selalu ada saja suasana baru yang sangat mengesankan, mengharukan dan meninggalkan kesan yang dalam. Di AS dan selama di AS, rapat besar antara orang Indonesia dan warga AS serta warga keturunan, bagaikan rapat kampanye pemilu. Dihadiri sejumlah 20.000 orang, bertempat di Toronto. Mereka dengan hangat dan bersahabat menyambut rombongan Pram. Mereka mengenal Pram melalui karya-karyanya, dan mengenal semua pemberitaan Pram di negerinya sendiri, yang puluhan tahun tersiksa dan tertindas, dihina dan disepelekan. Kehangatan sambutan yang begitu meriah menjadikan banyak orang tercengang dan heran, mengapa Pram begitu mendapat sambutan hangat. Di AS pula Pram mendapat gelar kehormatan Doktor Honoris Causa bersama Sekjen PBB, Koffie Annan. Sebuah universitas memberikan gelar begini, sangatlah tidak mudah, dan melalui banyak pertimbangan, dengan penyelidikan asal-usul sejarah hidupnya seseorang yang akan diberikan gelar tersebut. Melalui jalan keseluruhan hidupnya dan pekerjaan selama dan sepanjang kehidupannya. Dan Pram sudah mendapatkan gelar kehormatan itu.

Ketika aku di Paris sedang ramai-ramai dan sibuk-sibuknya mendampingi dan menyertai kegiatan rombongan ini, ada seorang teman yang mengatakan, "kini dalam perkara Pram, tidak sedikit orang yang sudah makan tai"!,- katanya tiba-tiba. Dan aku kaget serta terhenyak heran, apa maksud perkataan itu. Segera kutanyakan apa pengertiannya. " Ya tentu saja, dulu ketika ramai-ramainya orang menghujat Pram karena soal manikebu, soal hadiah Magsaysay, soal pencalonan nominasi Hadiah Nobel Sastra Dunia, tidak sedikit orang mencela dan maki-maki Pram dengan kata-kata kotor, termasuk kata tai. Dan kini orang-orang itu tidak sedikit yang berbalik memuja-muji Pram, dan turut menyambut hangat. Apa ini bukannya makan tai?!",-katanya malah bertanya kepadaku.

Barulah aku mengerti apa maksud kata-kata tersebut, walaupun belum kukatakan bahwa sesungguhnya aku tidak setuju dengan kata-kata yang rasanya tidak patut diucapkan begitu. Dan dalam hubungan ini, ketika dalam pertemuan dengan Pram diberbagai kota dan negara, masih tetap ada pertanyaan yang mengarah ke soal-soal lama, masih ada pengungkitan soal-soal lama yang tetap saja belum terselesaikan. Misalnya bagaimana sikap Pram terhadap soal manikebu, pembakaran buku-buku, pemecatan dan penindasan terhadap orang-orang yang menentang Lekra dan menentang garis revolusioner di zamannya Bung Karno. Dan Pram tampaknya bagaimanapun "sudah belajar" bagaimana menjawab semua pertanyaan itu dengan nalar yang jernih dan bukan dengan perasaan yang marah.

Kata Pram : " persoalan manikebu tanpa membawa persoalan Perang Dingin adalah korup. Karena ada hubungan, karena ada kait-mengaitnya, tidak berdiri sendiri begitu saja",-Lalu soal bakar-membakar buku orang-orang yang berbeda pendapat dan menentang Pram, dia menjawab : " dari dulu saya selalu dituduh membakar buku. Kalau buku-buku itu memang ada, maka saya bukannya membakarnya, tetapi mengambilnya buat perpustakaan saya. Saya sangat banyak membutuhkan buku-buku dari berbagai aliran dan pikiran demi memperlengkap isi perpustakaan saya. Malah buku-buku dan banyak dokumentasi saya yang hancur, hilang tak keruan, diobrak-abrik tentara dan penguasa. Nah, lagi-lagi kan, maling teriak maling. Malah bukannya hanya buku-buku dan dokumentasi saya yang hilang dan dirampok, dihancurkan, tetapi juga rumah saya bahkan popok bayi anak sayapun diobrak-abrik, dan itu sudah lama saya katakan dan tulis!", kata Pram.

Lalu soal tindas-menindas terhadap orang-orang tertentu, di kalangan lawan-lawan Pram ketika itu, Pram menjawab : " yang bisa menindas adalah orang yang punya kekuasaan, punya bedil, punya uang dan pangkat, saya punya apa?! Malah penguasa dan tentara angakatan-darat yang menangkap saya dan memenjarakan saya, justru ketika zamannya Bung Karno. Tuduhan menindas dan menggencet sudah pasti salah alamat, bukan buat saya. Saya yang malah digencet terus-menerus", katanya. Hal ini dari dulu banyak digugat lawan-lawan Pram, karena katanya ada yang sampai dipecat dari pekerjaannya, dari kantornya, dari universitasnya, akibat tindasan, hasutan, gencetan dari Pram. Kata Pram sambil tertawa, " hebat sekali kalau saya sudah begitu besar kekuasaannya sampai bisa memecat, menindas orang. Padahal yang saya perjuangkan selama ini justru menghilangkan semua unsur itu, justru menegakkan keadilan dan kebenaran",-

Di suatu tempat pertemuan ada yang bertanya tidak puas, kenapa Pram mau datang ke AS, yang padahal mbahnya negeri kapitalis dan imperialis, dan mengapa begitu mudah mendapatkan visa buat ke AS, yang orang lain sangat sulit mendapatkan visa masuk AS. Pram menjawab, yang mengundang datang ke AS samasekali bukannya pemerintah AS, tetapi Badan Penerbitan Buku Pram dan Universitas, yang tak ada hubungan dengan badan eksekutif pemerintahan. Lagipula dia juga ingin memenuhi harapan begitu banyak orang yang ingin bertemu dan berdialog dengannya, berjumpa-muka denga begitu banyak penggemar dan pembaca karyanya. Pram mengingatkan ajaran Bung Karno yang juga dianutnya, Bung Karno menolak kapitalisme tetapi tidak menolak kapital! Ciri watak kapitalisme dan imperialisme itu yang kita tentang, tetapi kita tidak menetang kapital, bahkan kita memerlukan kapital, tetapi bukan dengan cara kapitalisme yang sudah menjadi suatu paham atau isme.

Lalu tentang orang lain sangat sukar mendapatkan visa masuk AS, Pram dengan tertawa sama herannya dengan orang lain. Pram mendapatkan visa masuk AS selama 5 tahun, selama lima tahun! Ini benar-benar visa gila! Mana ada visa selama itu kalau hanya kunjungan biasa, bukan missi pekerjaan dan berdinas-tugas. Dan Pram dalam hatinya ada kecurigaan, yang dinyatakan juga kepada sidang pertemuan, " mungkin ada usaha memang buat menyingkirkan saya agar selama jangka waktu kampanye dan pemilu ini, lebih baiklah saya jangan berada di dalam negeri. Siapa tahu penguasa dan pemerintah kuatir dan takut kalau-kalau saya aktive berkampanye dan /mengacau/ suasana pemilu",- Inilah kecurigaan yang ada dalam hatinya dengan mendapat visa begitu mudah dan begitu lama jangka waktunya.

Ada yang menanyakan apakah Pram sudah berubah pandangan dengan diundangnya dia oleh masarakat di AS? Pram menjawab, apa yang dia perjuangkan, masih sama dengan yang pernah didengar dan diketahui oleh masarakat luas. Tapi kata Pram, kunjungan rombongannya ini bukanlah perjalanan politik, tetapi "perjalanan literaire", sesuai dengan profesinya sebagai pengarang yang sudah mendunia. Kunjungan dan perjalanan ini, trio Pram, Bu Maemunah dan Pak Yoesoef, dengan usia di atas 70 tahun, benar-benar perjalanan-matang, dewasa, dan berwawasan cultural-literaire.

Paris 8 Juli 1999,-

Seri Pramoedya Ananta Toer (3)

Yayasan France Libertés, suatu organisasi yang didirikan oleh Mme Danielle Mitterrand, isteri bekas Presiden Mitterrand, yang mengundang Pram beserta rombongannya buat berkunjung dan bertemu-muka dengan masarakat Prancis di Paris. Juga turut serta Badan Penerbitan Karya Terjemahan buku-buku Pram. Mme Danielle dengan sangat simpatik dan dengan perhitungan dari segi hubungan praktis dalam setiap acara rombongan Pram nantinya, telah menempatkan Pram dekat lokasi resto Indonesia. Hal ini dengan maksud agar Pram serta rombongannya itu mudah dalam berhubungan dengan masarakat Indonesia-nya sendiri, sehingga Resto sudah bagaikan "markas-besar" rombongan Pram dan panitya setempat.

Dan undangan jamuan-makan yang diadakan Mme Danielle Mitterrand dengan masarakat Prancis, juga diadakan di Resto Indonesia. Hal ini tidak kebetulan, karena Mme Danielle sendiri sudah berkali-kali makan di resto tersebut, termasuk ketika suaminya, Presiden Mitterrand masih hidup dan masih aktive. Dan Mme Danielle sudah mengenal dekat masarakat Indonesia seputar resto tersebut. Bahkan setiap kali datang dan pulang dari resto, beliau tak melupakan buat pamitan dan bersalaman kepada setiap pegawai dan pekerja di resto, dari pekerja di sal sampai tukangmasak, koki resto di dapur.

Pada tanggal 17 Juni 1999, Kementerian Kebudayaan Prancis telah menyampaikan Piagam Kehormatan dan Penghargaan kepada Pram. Piagam ini bernama " Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres". Artinya "Satria Berkuda atau Orang Terkemuka di Bidang Seni dan Sastra". Piagam Kehormatan dan Penghargaan ini hanya diberikan kepada orang-orang yang sangat berjasa dalam bidang seni dan sastra, dan karyanya sudah mendunia, biasanya tiga sampai lima tahun sekali.

Pada tanggal 19 Juni 1999, bertempat di Balai Pengarang Prancis di Paris, Maison des Écrivains, Piagam itu diserahkan melalui France Libertés kepada Pram. Pada pertemuan ini banyak dihadiri oleh para pengarang Prancis dan gurubesar Bahasa dan Sastra Indonesia, seperti Francois-Rene Daille, pengarang yang telah menterjemahkan karya-karya Pram, Francis Wurts, Pierre Labrousse dan Farida Sumargono, dua-duanya gurubesar dan penulis Kamus Indonesia-Prancis dan Prancis-Indonesia. Juga beberapa pengarang Indonesia di Paris, antaranya Sitor Situmorang.

Di kalangan masarakat Prancis, Pram sudah dikenal baik. 18 tahun yang lalu, ketika Pram baru dibebaskan dari Pulau Buru, dan ketika dia masih selalu dalam tahanan kota dan dilarang melakukan profesinya sebagai pengarang, sejumlah tokoh-tokoh penting Prancis telah ramai-ramai menandatangani petisi yang menuntut kepada rezim Orbanya-Suharto agar memulihkan hak-hak sipil Pram sepenuhnya. Di antara banyak tokoh penting yang menandatangani petisi itu, terdapat 4 orang yang pernah menjadi Perdana Menteri, bahkan seorang di antaranya, kini sedang menjabat PM, yalah PM Lionel Jospin, dan beberapa menteri lainnya.

Setelah Piagam itu diberikan dan disiarkan melalui pers dan radio serta televisi, maka semakin banyak Media-Cetak dan Elektronik yang "memburu dan mengejar" Pram buat wawancara. Bahkan televisi Jerman secara khusus datang ke Prancis buat keperluan itu, yang padahal tak urung tokh Pram akan berkunjung ke Jerman. Dan ucapan selamat berdatangan dari penjuru dunia, dari AS, Australia, Jepang, Selandia Baru, dan Indonesia, Kalimantan, Lampung dan daerah Sumatra lainnya, Jawa dan Malaysia, melalui fax dan e-mail yang selalu tersedia mengikuti ke mana rombongan pergi.

Dalam setiap pertemuan tatap-muka dan tanya-jawab, dengan bebas setiap orang leluasa mengemukakan pendapat, bahkan "uneg-uneg" rasa tidak senang maupun kebencian terhadap Pram. Dan Pram tampaknya sudah semakin "lancar-belajar dari pengalaman selama ini". Dia menjawab dengan pikiran dan penalaran yang jernih, tidak dengan emosi dan perasaan sentimen. Pertanyaan yang dulu-dulu lalu diungkit lagi, dikorek lagi, yang padahal sudah sering diajukan, dan jawabannyapun ya sama saja. Pertanyaan bagaimana sebenarnya pandangan Pram terhadap masalah manikebu, dan "tindasan serta gencetan Lekra atau Pram dkk" terhadap orang-orang manikebu yang menjadi lawan politiknya. Juga tentang pembakaran buku-buku dari lawan politik Pram dulu itu.

Pram menjawab "mempersoalkan manikebu, tanpa mempersoalkan Perang Dingin, adalah korup. Karena manikebu samasekali tidak berdiri sendiri, ada kait-mengaitnya, ada hubungannya ketika itu",-Lalu mengenai tindasan, gencetan, yang katanya dilakukan Pram dkk terhadap lawannya, sehingga lawannya itu dipecat, diberhentikan dari pekerjaannya di berbagai Jawatan, Kantor dan Universitas, Pram mengatakan, "yang menindas, menggencet, menyiksa dan sebangsanya itu, selalu dilakukan oleh kalangan yang punya bedil, punya senjata, punya pangkat, kekuatan dan uang, punya kekuasaan, dan saya, apa yang saya punya, tokh kalian sendiri tahu semua itu. Darimana bisa sampai saya bisa menggencet dan menindas orang-orang itu! Tidak mungkin bisa terjadi dan bisa dibuktikan!

Dan pembakaran buku-buku? Kalau ada buku-buku itu, malah saya sangat berkepentingan buat menyimpannya, memperlengkapi perpustakaan yang sudah saya kerjakan sejak puluhan tahun yang lalu. Semua teman juga tahu, saya dari dulu banyak membutuhkan dan mengkoleksi berbagai buku dari berbagai aliran dan faham, berbagai disiplin ilmu. Yang membakar dan merampok serta menghancurkan perpustakaan saya, justru adalah tentara Angkatan Darat dan penguasa militer. Mereka sudah merampoki bukan saja rumah saya, tetapi juga merusak dan mengobrak-abrik perpustakaan dan dokomentasi saya yang sudah saya kumpulkan, susun rapi-rapi, sejak bertahun-tahun. Jadi siapakah yang membakar dan merusak serta merampok secara sesungguhnya? Bukankah hal ini seperti maling teriak maling? Mereka bukan saja merusak barang-barang berharga, tetapi juga merusak dan menghancurkan popok bayi anak saya! Inilah dan beginilah mereka. Dan ini sudah saya tulis dan siarkan dulu-dulunya.

Ketika ada yang menanyakan apakah Pak Pram tidak ikut pemilu tahun ini? Pram menjawab, "tidak, saya tidak ikut pemilu, dengan sangat sadar saya lakukan. Sebab kalau saya ikut pemilu berarti saya turut menentukan dan mengangkat Kepala Penjara yang akan memenjarakan saya sendiri. Dan bagi saya, Indonesia sekarang ini adalah bagaikan sebuah penjara yang sangat besar dan luas, sedangkan penghuninya adalah Rakyat Indonesia termasuk saya sendiri",-

Pram sendiri punya pendapat terhadap negara-negara Barat yang banyak disebut Barat - Timur, Utara - Selatan. Barat dan Utara terlalu menyombongkan dan tepuk-dada mempermasalahkan demokrasi dan hak-hak azasi manusia. Katakanlah Prancis, yang sangat terkenal dengan Revolusi Prancis-nya. Suatu Revolusi Borjuis Demokratis yang sangat banyak mengilhami negara-negara lain. Terkenal dengan demokrasinya. Adalah benar Prancis menjalankan demokrasi yang demokratis. Tetapi apakah juga benar Prancis sudah betul-betul menjalankan demokratisasi terhadap negara-negara lain? Terutama kepada negara-negara bekas jajahannya atau yang di bawah pengaruhnya? Samasekali tidak. Mungkin Prancis memang menjalankan demokrasi dan demokratisasi terhadap Rakyatnya sendiri, tetapi terhadap Rakyat lain, Rakyat di negara-negara jajahannya dulu? Prancis berlaku demokratis terhadap Rakyatnya sendiri, tetapi di luar itu, apalagi kepada bekas negara jajahannya atau kepada negara lain, terutama dunia-ketiga? Samasekali berlainan. Jadi artinya Prancis hanya demokratis di dalam negerinya sendiri! Kepada orang lain? Ini pertanyaan bukan buat dijawab sekarang. Tetapi pikirkan dan lihat, selidiki, uji! Dan lagi yang paling banyak mendrop senjata ke negara lain, menghasut perang-dalam-negeri orang lain adalah Barat dan Utara, sedangkan yang banyak jadi korban adalah Timur dan Selatan, dalam pengertian straregi dan taktik kapitalisme dan imperialisme.

Dan Pram tak lupa mengatakan dan mengutip ajaran Bung Karno, bahwa kami anti-kapitalisme dan imperialisme, tetapi kami tidak anti kapital. Bahkan kami sangat memerlukan kapital pada suatu waktu tertentu, buat membangun negara. Tetapi sekarang ini, ada sedikit saja kapital sudah diperebutkan oleh oknum penguasa buat dikorupsi dan memperkaya diri sendiri. Ruangan pertemuan menjadi ramai bergalau dengan sentilan dan kritik Pram terhadap pengertian demokrasi yang dianut Barat - Timur dan Utara - Selatan, yang katanya, Barat - Utara itu negara kaya dan demokratis dan berkeadilan tinggi, maunya sebagai guru dan murid, bapak dan anak, majikan dan buruh. Itukah demokrasi dan demokratis?

Paris 8 Juli 1999,-

Seri Pramoedya Ananta Toer - Habis - Selesai

Pada pertemuan di Balai Pengarang Prancis di Paris, peserta sidang agak terkejut dan heran mendengar cerita yang dikatakan Sitor Situmorang. Ketika dia bertanya kepada beberapa mahasiswa Indonesia jusrusan Bahasa dan Sastra Indonesia, buku apa saja karya Pram yang sudah dibacanya? Seorang mahasiswa menjawab, dia samasekali tidak pernah membaca karya Pram dan lagi tak kenal siapa itu Pram, demikian katanya. Ini jawaban mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Jakarta. Mendengar jawaban ini para peserta sidang ketika itu pada berlihatan satu sama lain, heran dan terkejut. Tetapi setelah Sitor menceritakan lebih lanjut bagaimana "akhir cerita itu", barulah pada mengerti, Ooo itu tokh persoalannya.

Ketika masa garang-garangnya, kejam-kejamnya Orba-Suharto, semua karya Pram dilarang. Dilarang diterbitkan, dilarang dibaca dan dilarang menyimpan buku-buku Pram, apalagi mengedarkan dan mempropagandakannya! Beberapa orang terkena hukuman karenanya. Ada yang membaca dan mendiskusikan karya Pram, dan orang ini ditangkap dipenjara selama 8 tahun! Apa salahnya? Karena menyimpan, membaca dan mendiskusikan karya Pram! Dan orang-orang itu sampai kini masih hidup dan telah pula menjalani beberapa tahun kehidupan di penjara karena karya Pram itu. Nah, mahasiswa itu sudah tentu terkena dampaknya. Kalau mau lulus dari kuliahnya, kalau mau hidup "aman tentram" apa salahnya katakan saja tidak tahu dan tidak kenal karya Pram dan tak tahu siapa itu Pram. Dan kebanyakan orang, sangat memerlukan "rasa aman dan tentram ini", dan hal itu bukan salahnya, tetap normal-normal saja. Lagi pula ingat, di sana sini selalu banyak intel yang akan melaporkan apa saja yang bisa dilaporkan demi uang masuk!

Maka ruangan sidang yang tadi ramai bergalau, lalu mengerti mengapa ada jawaban demikian. Dalam banyak pertemuan, Pram selalu membawa persoalan yang sifatnya mengajak berpikir, yang sifatnya mengandung nilai sejarah. Misalnya soal nama INDONESIA. Dia lebih cenderung dengan nama asalmula nama kepulauan, yaitu NUSANTARA. Artinya Antara Pulau-pulau. INDONESIA adalah kepulauan India, nama asalnya adalah India, Indos-Nesos. Jadi menurut Pram, kita ini sudah salah kaprah, sudah malas berpikir, sudah malas bekerja buat memperbaiki. Lalu bisa juga dengan nama DIPANTARA. Dipantara adalah Antara Benteng. Dulu kerajaan Singosari yang mula-mula membuat benteng pertahanan negara kekuasaannya. Dan Kerajaan Singosari adalah kerajaan yang mula-mula berhubungan dengan luarnegeri secara "hubungan diplomatik" gaya dulu. Makanya ada kepentingan buat membangun benteng-benteng pertahanan. Jadi ada dua nama yang cenderung diusulkannya : NUSANTARA atau DIPANTARA. Karena orang banyak menggunakan nama INDONESIA, tak ada salahnya diapun terkadang turut sealiran kalau tak mau keterasingan!

Lalu tentang Negara Maritim. Menurut Pram, negara Imperium Maritim terbesar pada abad-abad yang lalu adalah yang dibangun VOC di Batavia pada abad ke 17 - 18. Keadaan tatanan kenegaraan lalu berubah adalah ketika VOC bangkrut, maka mulailah berdominasi Angkatan Darat ( Belanda ), lalu diteruskan dengan RI sampai sekarang ini. Sebuah Negara Kepulauan seperti Indonesia - Nusantara ini, sudah semestinya dan sewajarnyalah kalau tatanan kenegaraan adalah Maritim, termasuk Angkatan Laut yang seharusnya kuat dan kukuh. Tetapi ini, RI, dari dulu tetap saja yang paling berkuasa, berdominasi dan berhegemoni adalah Angkatan Darat. Sedangkan Angkatan lainnya hanya sebagai embel-embel dan cenderung dianak-tirikan, baik Angkatan Laut, apalagi Angkatan Udara-nya. Kita habis-habisan, mati-matian dan gontok-gontokan, pada berbenturan, kejatuhan dan kemiskinan serta kebodohan, bukan main banyaknya andil yang diberikan Angkatan Darat ini!

Ada yang menanyakan, mengapa Pak Pram masuk PRD dan menyokong PRD? Pram banyak menjawab, dia menyukai dan bersimpati banyak kepada PRD karena orang-orang muda ini sangat berani, berani melawan, berani mengatakan tidak, dan berani masuk penjara dan berani mati demi perjuangan merebut demokrasi, keadilan dan kejujuran. Dan perjuangan mereka sangat berhari depan. Sekarang ini menurut Pram yang paling pokok yalah diperlukan keberanian, keberanian yang menyeluruh, termasuk berani mengakui kesalahan diri sendiri, berani mengoreksi dan berani mengakui kebenaran pihak lain kalau memang sudah teruji benar. Seandainya PRD ini tahu-tahu atau lama-lama berubah dari yang dilihatnya sekarang ini, maka Pram tidak ragu-ragu akan berpihak kepada yang lebih muda lagi, mungkin kepada adik-adik dan angkatan sesudah PRD yang lama-lama bisa tidak muda lagi! Kata Pram, orang yang selalu ketakutan akan semua perjuangan ini adalah bagaikan ternak, hanya tahu makan dan bernyawa saja adanya. Dalam soal ini, Pram bukan main-main!

Pram adalah orang pertama dan satu-satunya yang kita tahu, dengan berani melawan penguasa sejak dulu sekali. Ketika dia diminta melapor ke penguasa setempat, militer yang mengawasi para tapol, Pram menolak keras, tidak mau melapor. Dan ketika Jaksa Agung minta agar Pram menghadap, Pram dengan "gila dan beraninya" berkata, dia atau saya yang perlu, kalau dia yang perlu saya, dia harus datang kepada saya! Dan jawaban ini benar-benar dia laksanakan, Pram tidak mau datang menghadap!

Keberanian atau mungkin "kenekadan" Pram sudah amat dikenal masarakat luas. Tetapi dipihak lain, masarakat luaspun mengetahui penderitaan dan penyiksaan pada Pram memang sudah keterlaluan. Tampaknya sangat sesuai dengan semua isi karyanya yang menceritakan tentang penyiksaan, penderitaan tetapi juga tentang keberanian. Dalam semua karya Pram, selalu saja isinya tentang revolusi, tentang perlawanan, keberanian manusia. Ketika pada satu saat banyak teman yang agak "down" di Pulau Buru, karena ketika itu banyak pembunuhan gelap dan kekejaman yang dilakukan militer, maka Pram dengan sedar menceritakan bagaimana seorang perempuan saja begitu ulet, militan, pantang menyerah. Tokoh itu adalah tokoh NYI ONTOSOROH! Dan sampai kini tokoh wanita ulet, militan , dalam karyanya itu selalu jadi pedoman banyak orang. Dan tokoh ONTOSOROH itu selalu saja ada di mana-mana, bisa dilihat dan disaksikan. Tokoh itu sebenarnya hidup dan eksis, hanya siapakah dia? Dia akan muncul di mana dan kapan saja, karena tokoh yang begini memang sangat diperlukan.

Cerita-cerita dari Pulau Buru yang kita baca selama ini, adalah cerita lisan kepada banyak teman-temannya ketika di Pulau Buru itu. Cerita ini lalu beredar, dari mulut ke mulut, dari stensilan ke stensilan, lalu menjadi yang seperti sekarang ini, tetralogi. Karya besar, epos Pram adalah ARUS BALIK. Tetapi masih ada lagi yang belum terbit dan akan segera terbit, dua novelnya, yang mengandung sejarah : KEN AROK dan MANGIR, semuanya yang mengandung nilai sejarah, yang memang ada dan tertulis dalam sejarah dan akan lebih bagus dan menarik bila dibalut, dihias, dan ditatani dengan seni-sastra, yang, apalagi kalau penulisnya Pram.

Ketika pertemuan terakhir sebelum mudik ke Jakarta keesokan harinya, pada tanggal 3 Juli dulu itu, kutanyakan, apakah sangat capek dengan tiga bulan terus-menerus penuh acara begitu, Pram menjawab, bukannya hanya capek dan lelah, tetapi "sudah habis dan habis-habisan", katanya dengan tertawa. Sungguh ketika itu dia dan rombongannya sangat merasa senang dan bahagia berada di tengah teman-teman lamanya. Dan Mimi bertanya kepadaku " kapan lagi kau pulang, bron?". "Bukannya pulang Mi, tapi kapan datang lagi ke Jakarta. Karena kami masih tetap dilarang pulang, tapi hanya boleh datang saja, buat keperluan sebagai turis saja". Dan Mimi senyum penuh mengerti. Duduk bertiga berdekatan begini, dengan Pram dan Mimi, ketika tahun 1954 dulu itu, di mana pasangan ini masih muda dan penuh semangat cinta dan kasih sayang. Kini cucunya sudah limabelas! Aku "baru" empat! Salam hangat buat kalian berdua dan seisi keluarga di rumah di Jakarta,-

Cerita Dari Tanah Pengasingan Habis/Selesai, sampai nomor 33 dengan Seri Pramoedya Ananta Toer.-Paris 9 Juli 1999,-