Publisher Note
Edisi ini terbit berkat arsip KITLV di Leiden. Bagi cetakan
tidak terbaca kami tandai dengan (…).
Untuk anak-anakku:
Kini kukisahkan segalanya kepada kalian, apa yang pernah
kualami dan kusaksikan.
Bukan untuk membangkitkan dendam dan kebencian, tetapi
untuk sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu mengenal dan
mengasihi sesama manusia.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Di antara ratusan tahanan yang berjubel di penjara itu, Mas Karso-lah yang paling kukagumi. Dia bekas pegawai sebuah Jawatan dan ditahan karena menjadi anggota Serikat Buruh di Jawatan itu.
Sejak enam bulan yang lalu kami ditempatkan dalam satu sel yang agak luas. Di situlah kami berkenalan dan akhirnya kukagumi. Perawakannya kecil kendati di dalamnya tersembunyi jiwa besar. Wajahnya selalu tampak jernih, seolah-olah siksaan yang sedang dialaminya selama bertahun-tahun di penjara itu dirasakannya. Dia pendiam dan setiap subuh, sebelum pintu sel dibuka petugas, dia berdoa, mohon keselamatan keluarganya yang sudah hampir setahun tak ada kabar beritanya.
Pada tahun-tahun awal masa tahanannya, istri dan anak-anaknya datang mengunjunginya setiap Sabtu sambil membawakan makanan tambahan agar dia tak mati kelaparan di penjara itu. Maklum, orang-orang tahanan hanya mendapat jatah makan 200 gram jagung gerontol sehari. Akibatnya, makin lama makin banyak orang tahanan yang diserang busung lapar.
Menjelang tahun kedua, kunjungan keluarganya menurun dan kiriman makanan tambahan pun tersendat-sendat. Akhirnya istrinya tak pernah lagi datang. Sejak itu Mas Karso tak tahu di mana keluarganya itu berada. Kendati keadaannya semakin sulit, dia tetap tabah dan wajahnya selalu jernih.
“Saya tak tahu di mana istri dan anak saya sekarang. Mungkin pulang ke desa. Mudah-mudahan mereka selamat dan bisa memperolah nafkah untuk hidup”, katanya, ketika kami bercakap-cakap seusai melakukan kerja korve membersihkan parit.
Dia sangat mencintai istrinya, kendati telah lima belas tahun menikah dan dianugerahi tiga orang anak, dua orang lelaki dan seorang perempuan. Ketika dia ditangkap, anaknya yang tertua baru duduk dikelas lima SD, sementara yang paling kecil baru berusia dua tahun.
“Saya selalu kangen pada anak-anak, bung. Saya selalu berdoa untuk mereka. Semoga Tuhan yang Maha Pengasih selalu melindungi mereka”, katanya seraya tersenyum.
Keteguhan dan ketenagannya itulah yang kukagumi. Apalagi setelah dia mengalami peristiwa luar biasa yang kusaksikan dan tak akan pernah terlupakan.
Menjelang Hari Natal yang lalu, secara tak terduga, istrinya datang mengunjunginya sambil membawa makanan dan pakaian. Seorang tahanan yang bertugas korve mengantarkan kiriman keluarga ke sel-sel, mendadak datang menemuinya sambil menjinjing sebuah tas besar, penuh berisi makanan dan pakaian.
“Ibu datang pak. Ini kirimannya”, katanya sambil menyerahkan tas yang penuh itu.
“Istri saya datang. Aduh…” tanya mas Karso agak gugup.
“Iya, pak”, sahut pengantar tas itu sambil bergegas mengantarkan tas kiriman orang lain ke sel-sel.
Mas Karso tampak agak kebingungan, apalagi setelah mendengar panggilan lewat pengeras suara.
“Panggilan untuk Karso, nomer register sekian, segera datang ke piket untuk bertemu istrinya.”
“Itu panggilan untuk Mas”, kataku begitu melihat dia kebingungan.
“Iya. Tolong bung keluarkan isi tas itu, sementara saya ganti pakaian”, katanya semakin gugup.
Isi tas itu segera kukeluarkan sementara dia berganti pakaian untuk menemui istrinya. Isi tas itu cukup banyak. Ada rantang berisi sup ayam, ada kantong plastik berisi kue-kue, ada bungkusan besar berisi pakaian, dan ada rokok kretek, gula, kopi, jeruk manis, pisang.
Begitu aku selesai mengeluarkan isi tas, Mas Karso telah selesai berganti pakaian. Dia segera pergi menemui istrinya sambil membawa tas yang telah kosong itu.
“Salam untuk Mbak, Mas”, kataku begitu dia melangkah ke luar sel.
“Akan saya sampaikan”, sahutnya girang, lalu buru-buru menuju kantor piket dengan wajah cerah.
Sejam kemudian dia kembali ke sel dengan wajah berseri.
“Apa kabar Mbak dan anak anak, Mas?”, kubertanya begitu dia masuk ke sel.
“Sukur. Semuanya baik-baik. Salam istriku untuk bung”, sahutnya seraya tersenyum.
Siang itu kami makan enak dan kenyang. Ada sup ayam, sambal goreng udang, pepesan ikan bandeng.
“Rupanya Mbak pinter masak”, kataku sambil menambah nasi.
“Memang dia pinter masak, bung”, katanya sambil menambah supnya. Seusai makan kami minum kopi sambil menikmati rokok kretek.
Dia bersandar ke dinding dan sesekali mengepulkan asap rokoknya. Matanya tak berkedip, seolah-olah hanyut dalam lamunan.
Memang biasanya, orang tahanan yang baru bertemu dengan istrinya sering melamun. Aku bisa memahami perasaannya. Kutinggalkan dia sendirian di sel agar tak terganggu.
Namun, malamnya aku kaget dan benar-benar ikut merasa tersiksa. Karena perut kenyang, malam itu aku cepat tertidur. Ketika terbangun tengah malam karena hendak buang air kecil, kulihat Mas Karso masih belum tidur. Ia bersandar ke dinding sambil merokok.
“Belum tidur, Mas?”. Aku menyapanya.
“Udara panas, bung”, sahutnya.
Setelah aku kembali dari kamar kecil, dia menawarkan rokok.
“Ayo merokok, bung. Kalau mau ngopi, kita rebus air”, katanya akrab.
“Besok saja kita ngopi, Mas”, kataku sambil duduk.
“Kalau bung lapar, masih ada biskuit”, katanya lagi.
“Ah, aku kenyang betul, Mas”
“Ayo, merokok”, ujarnya lagi sambil menyodorkan sebatang kretek. Akupun menemaninya merokok. Rasanya tak enak membiarkan dia melaum sendiri di tengah malam itu. Mungkin hatinya sedih setelah bertemu sesaat dengan istri dan anak-anaknya tadi. Jika ditemani mungkin dia agak terhibur.
“Lama tak merokok kretek, kok rasanya nikmat betul, mas”, kataku sekedar memecah kesepian.
Dia hanya tersenyum, sementara perhatianku tertuju pada pakaian yang dipakainya. Pakaian itu terbuat dari bahan biasa, berwarna coklat muda. Baju dan celana itu tampak terlalu besar untuk ukuran badan Mas Karso.
“Rupanya Mbak mengirim pakaian?”, aku bertanya sambil mengamati pakaiannya yang kebesaran itu.
“Iya, bung. Rupanya bekas pakaian suaminya”, sahutnya tenang.
Aku jadi kaget mendengar bicaranya.
“Suami? Suami siapa, Mas?”, aku bertanya ragu. Dia tak segera menjawab dan agak tertunduk.
“Suami ibu anak-anak saya, bung. Dia sudah kawin dengan seorang pegawai dan sedang mengandung lima bulan. Tadi dia datang untuk mohon maaf dan mohon pengertian saya”, katanya lirih sejurus kemudian.
Aku terdiam mencenganginya.
“Biarlah, bung. Yang penting anak-anakku bisa makan dan bisa bersekolah”, katanya sambil menghela napas dalam, sementara matanya berkaca-kaca.
Aku terhenyak, sementara rokok kretek yang nikmat itu terasa pahit.
Tangerang, 1968
Gara-gara sayang pada menantu, pak Minta, petani asal Bekasi, dijebloskan ke penjara. Dia dituduh gestapu PKI.
Somad bin Haji Ji’ung, menantunya, pernah menginap selama tiga malam di rumahnya, padahal menantunya itu sedang dicari-cari oleh Tentara karena menjadi anggota Barisan Tani Indonesia. Karena kesalahan menerima menantunya itu menginap di rumahnya, pak Minta sudah lima tahun ditahan di penjara.
“Apakah kamu pernah menerima Somad bin Haji Ji’ung menginap di rumahmu?”, tanya seorang petugas begitu dia ditangkap.
“Ya, betul. Itu kan menantu saya, pak”, sahut Minta berterus terang.
“Hm, pantes. Rupanya kamu juga gestapu PKI”, ujar petugas itu lagi dengan mata melotot.
Pak Minta hanya terbengong-bengong mendengar tuduhan petugas itu. Dia sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud oleh petugas tersebut.
“Kamu tahu dia itu BTI?”, tanya petugas itu pula sebelum pak Minta menjawab.
“Iya, saya tahu, pak”. sahut Minta jujur
“Lantas kamu berani menerimanya menginap di rumahmu. Kamu tentu PKI”, bentak petugas itu.
“Ah, tiii……dak, pak”.
Pak Minta semakin gugup.
“Bohong. Kamu gestapu PKI”, kata petugas itu berteriak marah. Lalu pak Minta diperlakukan seperti bola ping-pong.
“Astagfirullah”, rintih pak Minta sambil menyeka darah yang mengucur dari hidung dan bibirnya. Sejak itu dia tak pernah lagi diperiksa, kendati sudah lima tahun ditahan.
Pada bulan-bulan pertama masa tahanannya, pak Minta benar-benar merasa sedih dan hatinya terus bertanya-tanya apa sebenarnya kesalahan yang telah diperbuatnya. Apakah hanya karena menantunya menginap di rumahnya? Dia benar-benar merasa bingung. Jika perbuatannya itu dianggap salah? Apakah ia harus menolak kedatangan suami anaknya itu? Ah, rasanya tak patut dia berbuat demikian terhadap menantunya. Dia akan dianggap sinting, tak tahu sopan santun, sombong dan berakhlak rendah.
Sementara itu sang waktu terus berlalu dan pak Minta tak pernah menuduh siapapun sebagai penyebab penderitaannya itu. Apa yang dialaminya dianggapnya sebagai […] takdir yang harus dilaluinya. Dia tak pernah merasa bersalah, terkecuali terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa.
Semasa mudanya ia sering lalai mengerjakan solat dan pernah berpacaran tanpa nikah. Dia merasa berdosa dan menyesali perbuatannya itu. Kini ia ikhlas menerima semua ganjaran sambil mohon pengampunan atas dosa-dosanya.
Kendati telah bertahun-tahun menderita di penjara, dia selalu tampak tenang dan ikhlas, terkecuali ketika dia pada suatu hari ditempatkan ke sebuah sel yang sempit dan pengap. Sel yang semestinya ditempati dua orang, dijejali selusin orang. Karuan saja pak Minta tak bisa melakukan sholat di situ. Jangankan untuk bersujud, untuk duduk sajapun harus berhimpitan. Akhirnya pak Minta hanya sholat dalam hati sambil bermandi keringat dan merasa tersiksa oleh bau kencing yang menusuk hidung.
Ketika aku dipindahkan dari penjara Salemba ke penjara Tangerang, kami berkenalan. Aku ditempatkan di blok C sementara dia di Blok B. Di antara kedua blok itu ada ruangan yang dijadikan musolla. Di situlah kami berkenalan. Dia selalu ada di musolla karena bertugas di situ. Selain menjaga kebersihannya, dia menggelar dan menggulung tikar-tikar untuk sholat. Sehabis sholat Magrib, menjelang waktu Isa, kami sering bercakap-cakap.
Dia pembersih, kendati baju dan sarungnya telah penuh tampalan. Hanya itulah pakaiannya dan hanya digunakannya ketika sholat. Di luar waktu sholat dia hanya bercelana pendek yang tampalannya sudah menutupi kain aslinya.
Pada setiap hari Kamis dia mencuci sarungnya. Karena tak punya sabun, sarung itu hanya direndam lalu dibilas perlahan-lahan. Dia tak berani memeras sarung itu, takut kalau-kalau bertambah koyak.
Kendati hanya punya sarung dan baju yang penuh tampalan, dia tak merasa malu untuk ikut sholat berjemaah. Bahkan dia merasa bersukur karena masih memiliki pakaian itu untuk menghadap Tuhannya.
Namun pada suatu hari pak Minta benar-benar merasa sedih kendati ia diam dan hanya berserah diri pada Yang Maha Kuasa.
Ketika berlangsung apel pagi pada suatu hari Jum’at, Perwira Piket mengeluarkan perintah agar semua orang tahanan yang beragama Islam hari itu harus ikut bersholat Jum’at di Musolla.
“Semua yang ikut sholat harus berpakaian rapi dan bersih. Ada rombongan wartawan luar negeri yang akan datang meninjau”, kata Perwira itu lagi dengan suara lantang.
Begitu apel selesai, Kepala Blok langsung menugaskan Pak Minta dan beberapa orang tahanan lainnya untuk membersihkan musolla itu.
“Kabarnya, yang akan datang meninjau itu wartawan televisi Australi. Mereka akan bikin film”, bisik Enjong, salah seorang yang sedang membersihkan musolla.
“Wah, kalau kita difilm, hebat, dong”, tukas Memet temannya yang sedang menyapu lantai.
Pak Minta sendiri tak punya perhatian pada hal-hal begitu. Baginya, membersihkan musolla adalah termasuk ibadah. Ada ataupun tak ada tamu, tugas ibadah itu dilakukannya dengan ikhlas.
Sekitar jam sebelas, terdengar bunyi lonceng. Para tahanan yang beragama Islam harus apel lagi sebelum pergi ke Musolla. Siang itu Bapak Komandan sendiri yang akan memeriksa persiapan mereka yang akan sholat Jum’at.
“Hitung”, teriak Kepala Blok begitu para tahanan yang akan ikut sholat Jum’at telah berdiri rapi dalam barisan.
“Satu, dua, tiga, empat, lima….” teriak para tahanan yang berdiri dalam barisan itu.
Lalu Bapak Komandan memeriksa barisan. Setiap orang diamati sikap dan pakaiannya. Yang dianggap cukup memenuhi sarat disuruh keluar dari barisan dan langsung menuju ke musolla.
Pak Minta sudah siap di dalam barisan dan walaupun sarung dan bajunya penuh tampalan, cukup bersih untuk dipakai bersholat menghadap Tuhan.
“Hei, apa tadi kamu tidak mendengar perintah?”, ujar Bapak Komandan dengan nada agak marah, begitu berada di hadapan pak Minta.
Pak Minta kaget dan sebelum dia sempat menjawab, Komandan itu sudah memberi perintah.
“Ayo, kembali ke sel-mu. Tidak usah ikut sembahyang. Bikin malu”, katanya sambil melotot.
Pak Minta merasakan perintah itu seperti petir di siang bolong. Dia hanya tercengang, sementara bibirnya bergerak-gerak, seolah-olah hendak mengajukan protes. Namun, tiba-tiba dia menundukkan kepalanya lalu meninggalkan barisan menuju ke selnya dengan perasaan tertusuk.
Ketika tak lama kemudian, suara adzan bergema dari Musolla dan rombongan orang-orang bulek terlihat menuju ke musolla itu, pak Minta termangu di sudut selnya. Hatinya terus bertanya-tanya mengenai makna semua yang baru dialaminya itu.
Sejurus kemudian terdengar suara Ikomah dan pak Minta sujud dihadapan Tuhannya.
“Haya alas sholah. Haya alal falah”
Tangan pak Minta gemetar menekan tikar sembahyangnya, sementara butir-butir air mata meluncur di pipinya.
“Allahu Akbar- Allahu Akbar”
Nk. 1975
Sudah lebih lima jam mereka berdua terpanggang di halaman rumah Kepala Penjara itu. Matahari bulan Agustus terasa menyengat badan mereka yang telanjang, sementara rumput teki yang mereka cabuti seolah-olah membangkang dan mengejek.
Baru saja mereka selesai membersihkan halaman sebelah timur dan mulai mengerjakan bagian barat, rumput teki di bagian timur telah mulai tumbuh lagi.
“Rumput setan”, berungut Naryo yang rambutnya telah memutih, begitu melihat rumput yang mulai tumbuh di halaman timur. Wajahnya seolah-olah sepetak sawah yang kering di musim kemarau itu; retak-retak berkerut dan hangus disengat panas matahari.
“Kenapa, Mas?”, tanya temannya yang lebih muda sambil menyeka keringat.
“Teki pun ikut menyiksa”, sahut Naryo dengan nada kesal.
Gono, temannya, tak menanggapi, terlalu lelah. Kerongkongannya kering, kendati tangannya terus bergerak menyabuti teki yang masih menantangnya. Jari dan telapak tangannya terasa pedih.
“Rumput teki ini lebih ulet dari kita, No. Tak gampang menyerah, tanpa banyak omong seperti kita”, ujar Naryo sejurus kemudian. Gono hanya menoleh lalu berpaling lagi meneruskan kerjanya tanpa bicara sepatah pun.
“Lapar, No?”, Naryo bertanya pula.
“Ya lapar, ya haus”
“Sebentar lagi kan lonceng istirahat”
“Ah, masih lama, Mas. Paling-paling sekarang baru jam sebelas”
Naryo mengamati bayangan pohon Asam yang ada di sudut halaman. Dia tampak lesu dan keduanya tak bicara lagi.
Tiba-tiba terdengar suara seekor burung beo kepunyaan Bapak Kepala Penjara.
“Kulonuwun, kulonuwun, ndoro”
Kedua orang tahanan itu menoleh ke arah sangkar burung yang ada di ujung pavilyun.
“Hm, beo itu boleh bunyi seenak udelnya. Tanpa alasan bilang kulonuwun”, ujar Naryo seraya tertawa.
“Memang tidak tak punya pikiran”, tukas Gono yang bekas guru SD itu.
“Karena tak punya pikiran dia lebih beruntung dari kita orang tahanan. Dia tak pernah disiksa pikirannya sendiri. Biarpun dikurung seperti kita dia tetap tenang karena tak pernah berpikir tentang Hak Azasi, tak pernah berpikir mengenai demokrasi, hukum atau keadilan”, kata Naryo yang pernah jadi Jaksa […] tertawa lebar.
Gono tersenyum kendati digayuti kelesuan. Lalu keduanya tak bicara lagi, disiksa rasa haus dan lapar. Tetapi tak lama kemudian mereka bicara lagi, seolah-olah berkompensasi.
“Hm. Pada saat sepanas ini, enaknya minum teh dingin, ya, No”, ujar Naryo sambil menelan liur yang kering.
“Tapi aku lebih suka es krim, Mas”, sahut Gono pula meringis menarik rumput di depannya.
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita memanggil.
“Hei, pak Tuek, pak Tuek”, teriak seorang wanita gendut—istri Kepala Penjara—seraya melihat mereka. Ditangannya ada sebelah pepaya masak, kuning kemerah-merahan.
Keduanya menoleh ke arah wanita itu. Gono yang kiranya tergiur oleh buah itu berbisik.
“Aduh, ada rezeki, Mas”, katanya seraya menelan liurnya.
“Sini, pak”, teriak wanita itu begitu melihat kedua orang tahanan itu menoleh.
Didorong oleh keinginan untuk menikmati pepaya itu Naryo bergegas mendatanginya, sementara Gono menunggu sambil membayangkan betapa lezatnya pepaya yang akan dihadiahkan ibu Kepala Penjara itu. Bukankah layak ibu itu memberi hadiah karena halaman rumahnya telah mereka bersihkan?
“Pak Tuek”, ujar istri Kepala Penjara itu begitu Naryo tiba di depannya.
“Iya, bu”, sahut Naryo gairah seraya membungkukkan badannya dan melirik pepaya yang menggiurkan itu.
“Parit yang di belakang rumah bersihkan juga ya, pak”, katanya memerintah.
“O, iya, bu. Nanti kami bersihkan”, sahut Naryo ramah sambil melirik pepaya itu. ia seolah-olah tak sabar menunggu saat pepaya itu diberikan. Namun wajahnya tiba-tiba tampak agak muram begitu wanita itu bicara.
“Tolong masukkan pepaya ini ke kandang beo, pak”, katanya sambil menyerahkan pepaya itu pada Naryo.
“O, o, iya, bu”, sahut Naryo agak gugup, sementara Gono yang mengamatinya jadi terperangah.
Naryo segera memasukan pepaya itu ke dalam kandang burung beo itu dengan perasaan sangat kecewa.
Gono yang sejak tadi menunggu dengan penuh pengharapan, hanya tertunduk menahan siksaan perasaan dan kerongkongannya yang kering.
“Hm. Beo itu lebih dihargai, No”, ujar Naryo begitu kembali ke dekat Gono. Temannya itu tak bicara lagi, seolah-olah terbenam dalam kekecewaan yang menyakitkan.
Tong, tong, tong, tong…!
Tiba-tiba terdengar bunyi lonceng istirahat. Keduanya bergegas meninggalkan halaman itu.
“Betul juga, Mas. Jadi beo lebih beruntung. Martabatnya lebih tinggi dari kita manusia tahanan”, kata Gono sambil tertawa getir.
“Tapi lebih baik jadi manusia tahanan daripada menjadi beo”, sahut Naryo lesu.
Keduanya tersenyum, kendati di hati masing-masing terasa sesuatu yang menyakitkan, sementara matahari terus menyengat.
Nk. 1975
Di antara para tahanan politik di penjara itu, Anen, bekas pedagang buah di pasar Tanah Abang-lah yang merasa nasibnya paling sial. Bukan saja karena merasa tidak bersalah, tetapi juga karena dialah satu-satunya tahanan yang bibirnya cacad.
Akibat kecelakaan ketika menumpang opelet, beberapa tahun yang lalu, bibirnya jadi sumbing. Selama dalam tahanan, bibirnya yang sumbing itu acapkali menimbulkan salah sangka yang akibatnya menambah penderitaannya. Entah apa sebab musababnya, bibirnya yang sumbing itu membikin dia terlihat seperti tertawa mengejek. Bagi teman-temannya, para tahanan, hal itu tidak pernah menjadi persoalan. Namun lain halnya dengan para petugas yang menjaganya.
Sebulan yang lalu dia ditampar seorang petugas karena mengira dia tertawa mengejek. Ketika itu dia mendapat tugas korve, mengantar tas dan keranjang berisi makanan, kiriman keluarga untuk para tahanan. Ketika tas dan keranjang itu sedang diperiksa isinya oleh petugas, secara tak sengaja dia melihat salah seorang petugas mengambil sebungkus rokok kretek dari sebuah tas. Dia tak memberi reaksi apapun karena memang sudah biasa melihat hal seperti itu. Namun petugas tersebut marah begitu melihat Anen seperti tertawa dan mengejek.
“Bangsat. Kamu mengejek ya? Kamu kira aku mau nyolong rokok?”, katanya marah seraya menampar Anen.
Anen yang merasa tidak mengejek, benar-benar merasa jengkel. Bukan hanya terhadap petugas itu tetapi juga terhadap bibirnya yang sering menambah penderitaannya.
Pengalaman yang pahit itu kemaren terulang lagi dan akibatnya sangat menyakitkan hati Anen. Ia tak akan pernah melupakan peristiwa yang menjijikan itu seumur hidupnya.
Pagi itu dia mendapat tugas melakukan korve terjun bebas. Istilah terjun bebas itu tak punya sangkut paut dengan olahraga terjun payung. Para tahanan menggunakan istilah tersebut untuk jenis kerja yang menjijikkan, yaitu menguras tangki tinja berukuran 2x3 meter dengan kedalaman lk. 2 meter yang setiap hari menampung tinja ratusan tahunan. Tangki itu dikuras sepekan sekali oleh para tahanan. Kotoran itu digunakan untuk pupuk tanaman kangkung di sekitar tembok penjara.
“Aduh, sialan”, Anen menggerutu begitu namanya disebut oleh Kepala Blok untuk ikut melakukan tugas korve yang menjijikan itu.
“Tenang, jangan grogy, Nen. Entar elu pulang bakal dapat wing”, ujar temannya berkelakar, begitu melihat Anen menggerutu. Anen diam saja, kendati wajahnya tampak seperti tertawa mengejek.
Setelah sarpan jagung gerontol sebanyak lk. 80 butir, Anen bersama beberapa orang tahanan lainnya berangkat ke tempat tugasnya. Teman-temannya membawa ember dan pikulan sementara dia membawa sebuah galah dari bambu. Di ujungnya ada ember kecil yang digunakan sebagai gayung ketika menguras tangki tinja itu.
Oleh karena tangki yang akan dikuras itu berada di luar tembok, mereka dikawal oleh seorang petugas yang tampangnya tampak seram. Petugas itupun kiranya merasa jengkel mendapat tugas mengawal tahanan yang bertugas menguras tangki yang berbau busuk itu.
Pagi itu langit cerah sementara angin sepoi-sepoi berhembus menyegarkan. Begitu tutup tangki kotoran itu dibuka, bau busuk menyebar menusuk hidung.
“Ayo, cepat kerjakan”, perintah pengawal yang mengawasi dari tempat yang agak jauh sambil menutup hidungnya dengan saputangan.
“Iya, pak”, sahut Anen yang berdiri di tepi tangki dan menimba kotoran dengan ember kecil yang ada di ujung galahnya. Teman-temannya menunggu dengan ember masing-masing. Setelah Anen mengisi ember itu penuh, mereka memikulnya dan kemudian menyiramkannya ke tanaman kangkung yang tampak subur. Setelah ember kosong, mereka kembali ke tepi tangki untuk diisi lagi.
Anen terus menimba kotoran dan mengisi ember-ember, sementara terik matahari seolah-olah membakar badannya yang telanjang, bermandi keringat.
Pengawal yang kiranya merasa tersiksa oleh bau busuk itu, mendesak para tahanan itu untuk mempercepat pekerjaan mereka.
“Ayo, cepat selesaikan. Jangan main-main”, teriaknya sambil menutup hidung.
“Iya, pak”, sahut Anen sambil menimba kotoran dengan napas tersengal-sengal. Kendati merasa capek, ia bergegas melakukan pekerjaannya. Tetapi tiba-tiba tali pengikat ember yang dijadikan gayung itu putus dan ember kecil itu terjatuh ke dalam tangki dan terbenam ke dalam genangan tinja.
“Aduh, celaka”, ujar Anen kaget, begitu melihat ember kecil itu terbenam. Dia termangu sejurus, kebingungan.
“Hei, cepat kerjakan. Mengapa kamu main-main”, teriak pengawal yang melihatnya berhenti menimba.
Anen jadi bertambah gugup dan bingung. Dicobanya mengambil ember kecil itu dengan galah yang masih dipegangnya, namun tak berhasil.
“Hei, kamu kerja apa main-main, monyet?”, teriak pengawal dengan nada marah.
“Timbanya jatuh, pak”, sahut Anen gugup sambil melihat ke arah pengawal itu.
“Hm. Kamu ketawa lagi. Kamu berani mengejek, ya, setan”, teriak pengawal marah sambil mendatangi Anen yang merasa cemas.
“Saya tidak mengejek, pak. Saya Cuma bingung karena ember itu jatuh”, sahut Anen bertambah gugup.
“Mengapa bisa jatuh, ha?”, tanya pengawal itu lagi dengan mata melotot.
“Talinya putus, pak”
“Tentu kamu sengaja. Ayo ambil”, pengawal itu bertambah marah.
Mendengar perintah itu Anen merasa sangat gusar. Ia mencengani pengawal itu, seolah-olah mohon dikasihani. Melihat Anen seperti tertawa mengejek, pengawal itu hilang kesabarannya.
“Ayo turun, ambil ember itu”, teriaknya sambil menghampiri Anen lebih dekat.
Anen yang berdiri di bibir tangki itu terpaksa turun ke dalam kotoran. Dia terbenam sampai ke dada. Dicobanya meraba-raba ember yang berada di dasar tangki, namun tak berhasil, karena tangannya tak dapat mencapai dasar tangki. Diboanya mengangkat ember itu dengan ujung kakinya, tetapi tetap tak berhasil.
“Ambil pakai tanganmu, monyet”, teriak pengawal dengan marah.
Anen tampak ragu dan bingung, sementara pengawal itu terus menghardiknya.
“Ayo, menyelam. Ambil dengan tanganmu, goblok”, bentaknya.
Tiba-tiba Anen menghilang ke dalam genangan tinja itu dan sejurus kemudian muncul lagi memegang ember yang tenggelam itu. Kepala dan tubuhnya penuh tinja. Teman-temannya yang menunggu di tepi tangki kiranya tak sampai hati melihat Anen.
“Ini embernya, pak”, ujar Anen sambil memegang ember dan naik ke pinggir tangki.
“Hm, dasar setan. Sudah makan tahi, masih ketawa! Pantas kamu gestapu PKI”, ujar pengawal itu sambil terus membuang ludah karena merasa mual.
Anen tak berkata apa-apa dan mengikat ember itu ke ujung galahnya.
“Ayo, cepat selesaikan”, perintah pengawal itu sambil pergi ke tempatnya semula.
Dengan berlumuran tinja teman-temannya, para tahanan, Anen menyelesaikan pekerjaannya. Kendati wajahnya tampak seperti tertawa, hatinya pedih tersayat.
Ketika pagi keesokan harinya para tahanan terus apel dan bersama-sama mengucapkan kelima Sila Pancasila, Anen juga ikut mengucapkannya dengan khidmat. Suaranya lantang, kendati hatinya pedih, sementara wajahnya tetap tampak seperti tertawa dan mengejek.
Tng. 1967
Orangnya sangat sederhana. Namanyapun gampang menyebutnya: Karmin!
Dia buruh kereta api dan dianggap Gestapu PKI karena menjadi anggota Serikat Buruh Kereta Api. Dia pendiam dan sangat perasa.
Sejak kami berkenalan di penjara Salemba hubungan kami sangat akrab. Maklum, kami ditempatkan di sel yang sama. Kendati kami datang dari lingkungan yang berbeda, hati kami seolah-olah terjalin satu. Aku banyak belajar dari sikapnya yang lugu, namun penuh perasaan kasih sayang dan tanggungjawab.
“Dulu Mas kerja di mana?”, aku bertanya begitu kami berkenalan.
“Di Jawatan Kereta Api, bung”, sahutnya lugu.
“Sebagai kondektur?”
“Saya masinis lok”
“Di mana?”
“Di Manggarai”
“Keluarga masih di sana?”
Dia tertegun sesaat.
“Sudah pulang ke desa. Ya, terpaksa karena diusir dari rumah Jawatan”, katanya sejurus kemudian.
Aku jadi kaget mendengar […]
“Diusir?”
“Iya, karena saya dianggap PKI dan ditahan”, katanya seraya menghela napas dalam.
Dia tampak sangat kecewa. Aku bisa memahami perasaannya, apalagi setelah kami bergaul agak lama. Dia merasa diperlakukan tidak adil, sewenang-wenang.
Sudah hampir 20 tahun dia bekerja di Jawatan Kereta Api dan sejak lima tahun lalu menjadi anggota Serikat Buruh. Baginya, masuk Serikat Buruh itu hanya didorong oleh nalurinya sebagai manusia yang harus bergaul rukun dengan sesama temannya buruh. Dia tak pernah memikirkan soal politik, apalagi melakukan kudeta. Baginya, hidup hanyalah bekerja untuk menghidupi keluarga.
Sejak kecil dia sudah bekerja di sawah, membantu orang tuanya yang selalu mengajarkan agar dia rajin, jujur, dan setia. Itulah sikap hidupnya, sehingga ia disenangi oleh teman-temannya sepekerjaan maupun oleh atasannya.
Ketika dia ditangkap dua tahun yang lalu, dia benar-benar merasa bingung.
“Mas salah apa?”, tanya istrinya cemas ketika Tentara datang mengambilnya tengah malam.
“Dia hanya akan dimintai keterangan. Nanti juga bisa pulang”, kata petugas yang membawanya. Namun sejak malam itu dia tak pernah pulang.
Setelah beberapa bulan di penjara, istri dan anak-anaknya datang, untuk memberitahu bahwa mereka diusir dari rumah Jawatan yang mereka tinggali selama ini.
Dia sangat kaget mendengar berita itu. Tubuhnya gemetar karena gejolak perasaannya yang meronta-ronta karena kekecewaan.
“Kita diperlakukan sewenang-wenang”, katanya dengan geram.
“Mereka bilang keluarga gestapu PKI tidak layak menempati rumah milik Negara”, kata istrinya dengan air mata bercucuran.
Karmin, yang perasaannya sangat tertusuk, hanya menundukkan kepala, menahan kesedihan hatinya.
Selama kami tinggal di satu sel, Karmin acapkali kuminta bercerita mengenai pengalamannya sebagai masinis lok.
“Kerja sebagai masinis lok, hampir tak punya waktu untuk omong-omong”, katanya pada suatu malam.
“Mengapa begitu, Mas?” aku bertanya.
“Abis, tanggungjawab sebagai masinis besar, bung. Masinis harus selalu hati-hati”, katanya bersungguh-sungguh. Lalu dia termangu sejenak.
Kuamati wajahnya yang seolah-olah membayangkan saat-saat dia berada di sebuah lok.
“Setiap masinis tentu harus cermat, ya, Mas?”, kataku sejurus kemudian.
Dia tersenyum.
“Bukan hanya cermat. Masinis harus terampil dan lok tidak suka masinis banyak omong. Lok selalu minta perhatian. Kalau kurang perhatian lok marah. Lantas ada-ada saja tingkahnya”, katanya bersungguh-sungguh.
Aku jadi tercengang mendengar bicaranya itu dan sesaat kemudian dia bicara lagi.
“Lok seperti manusia, bung. Kalau disayangi dia nurut. Ada lok yang minta dimandikan air kembang tujuh macam pada setiap bulan Sapar atau Jum’at Kliwon. Dulu pernah ada lok jalan sendiri di stasiun Cikampek”, katanya gairah.
Aku senang mendengar obrolannya tentang kereta api dan dari obrolannya itu aku dapat merasakan betapa dia mencintai pekerjaannya sebagai masinis lok. Baginya kerja […] adalah bagian tak terpisahkan dari hidupnya.
Kendati Mas Karmin senang mengobrol mengenai kereta api, ada perangainya yang sering menimbulkan pertanyaan di pikiranku. Pada setiap jam delapan atau jam sembilan malam dia selalu berdiri di pintu sel yang terkunci dan melalui celah-celah jeruji jendela kecil di pintu itu mengintip ke luar.
Setelah berulang-ulang memperhatikan kebiasaannya yang aneh itu, akhirnya aku tahu bahwa pada saat dia bersandar di pintu sel itu terdengar sayup-sayup bunyi seruling dan deru roda kereta api ekspres dari Surabaya memasuki stasiun Gambir.
Setiap kali terdengar deru roda dan seruling lok yang memasuki stasiun, setiap kali pula Mas Karmin menyandarkan kepalanya ke jeruji di jendela kecil itu.
“Kenapa, mas?”, aku bertanya pada suatu malam, ketika dia bersandar di pintu sel itu. Dia tak segera menjawab.
“Mas sakit?”, tanyaku lagi.
“Saya mendengar suara lok saya, bung”, katanya lirih.
“Suara lok Mas?”, aku bertanya heran.
“Iya, bung. Dia baru pulang dari Surabaya. Barangkali dia kehilangan saya. Suara serulingnya seperti menangis sedih”, katanya dengan nada sedih.
Aku jadi termangu karena keharuan sementara dia tampak lesu.
“Rupanya Mas sangat menyayangi lok itu, ya”, kataku lagi.
“Iya. Saya merawatnya selama 6 tahun, bung”, katanya lirih.
Sl. 1967
Malam Minggu itu benar-benar menyiksa perasaan Santo. Bukan saja bahunya yang lecet dan memar terasa lebih sakit, juga bunyi gamelan dan suara sinden dari rumah Pak Mimbap—kepala penjara—yang sedang mengadakan pesta besar-besaran. Suara sinden yang meliuk-liuk dirasakannya seperti mengejek, mentertawakannya.
“Hm, mentang-mentang aku tahanan", katanya dalam hati sambil terlentang di tikarnya yang telah butut sementara teman-temannya se-sel telah tidur.
Sudah seminggu Santo menderita karena bahunya yang lecet dan memar akibat memikul beberapa batang pohon langkap dari hutan ke rumah pak Mimbap yang akan mengadakan pesta perkawinan anaknya.
Batang pohon langkap yang selayaknya dipikul oleh lima orang, digotong hanya oleh dia dan dua orang tahanan lain. Padahal jarak dari hutan kerumah itu tidak kurang dari tiga kilometer, melalui daerah berbukit-bukit.
“Berat yak?”, ujar pak Pawiro, pegawai penjara yang mengawa mereka dalam dialek Banyumasan yang medok.
“Yoo berat, pak”, sahut teman Santo dengan napas ngos-ngosan.
“Lho, nanti malam Minggu kan bakal ada imbalannya. Pokoke lumayan", kata pak Pawiro lagi.
“Lumayan apanya, pak?”, tanya Santo.
“Lho, ketika pak Mimbap pesta, kan sampean-sampean bakal korve di rumahnya. Ya, mencuci piring, menimba air, membelah kayu, merembus air. Malamnya mengangkat makanan dan minuman untuk tamu-tamu, membakar sate. Pokoke sampean bakal kenyang”, kata pak Pawiro seraya tersenyum.
“Wah, kalau kita disuruh membakar sate, ya lumayan, To”, ujar Simin teman Santo yang berperawakan gemuk.
“Kambing yang bakal dipotong saja lebih tujuh ekor, ayam lebih tigapuluh ekor, sapi seekor. Hm, pokoknya sampean bakal wareg”, ujar pak Pawiro lagi seraya tertawa.
Santo dan teman-temannya tersenyum sambil terus memikul batang langkap yang berat itu.
“Kalau sampean korve di rumah pak Mimbap, harus pakaian rapi, yak. Biar pantes. Banyak tamu-tamu dari Purwokerto dan dari Cilacap”, kata pak Pawiro lagi seusai mereka mengangkut batang langkap dan kembali ke dalam penjara.
Malamnya Santo sering mengerang kesakitan. Bahunya lecet dan memar. Selama beberapa malam dia tak bisa tidur. Bahu yang lecet dan memar itu benar-benar menyiksanya, kendatipun sesekali dapat melupakannya dengan ingat bicara pak Pawiro. Bukankah pada hari Saptu malam Minggu yang akan datang dia akan dikorve-kan di rumah pak Mimbap yang mengadakan pesta. Ah, mana tahu dia mendapat tugas membakar sate.
Namun apa yang dijanjikan pak Pawiro itu kiranya tak sejalan dengan nasibnya yang malang. Ketika hari Saptu dia menunggu-nunggu panggilan untuk ikut korve di rumah pak Mimbap yang akan mengadakan pesat itu, dia jadi sangat kecewa. Ketika seorang pegawai penjara menyebut nama-nama orang tahanan yang dapat tugas korve di rumah Pak Mimbap malam itu, namanya tak disebut.
Ketika pintu sel dikunci dan suara kelenengan dari rumah pak Mimbap mulai terdengar, Santo termangu ditikarnya, sementara bahunya yang lecet dan memar itu terasa semakin sakit.
Mardi, tahanan politik yang berpredikat sarjana itu benar-benar kaget ketika mendapat perintah untuk segera menghadap Perwira Piket.
“De Er Es Mardi, nomor dua ribu dua ratus sekian, diperintah segera menghadap Perwira Piket. Istrinya mau ketemu”, teriak seorang anggota Hansip di pintu masuk Bloknya.
Mardi jadi gugup mendengar panggilan itu. Dia termangu sesaat, seolah-olah belum yakin bahwa dia dipanggil karena istrinya datang.
“Bung dipanggil. Ibu datang”, ujar seorang tahanan, temannya se blok, ketika nielihat Mardi seperti bengong.
“O, o , iya…”, ujar Mardi bertambah gugup, sambil terus masuk ke selnya untuk berganti pakaian. Sejurus kemudian dia keluar lagi dengan berpakaian rapi. Wajahnya tampak cerah.
“Selamat bertemu, bung Mardi”, ujar seorang temannya seraya tersenyum.
“Oho terima kasih”, sahut Mardi girang seraya bergegas menuju pintu blok.
Nina, istri Mardi bersama anaknya yang baru berumur lk dua tahun, Oni, sudah menunggu di ruang pertemuan. Wajahnya yang manis tampak seperti langit mendung.
Begitu Mardi masuk dia menangis dan merangkulnya. Karena melihat ibunya menangis, Oni, anak perempuan itu itupun ikut menangis.
Mardipun sangat terharu. Matanya berkaca-kaca kendati dia berupaya menguasai dirinya.
“Setahun lebih kau tak memberi kabar, Nin. Mengapa?”, dia bertanya lirih.
”Aku tahu kau menghadapi banyak kesulitan dan penderitaan. Aku yakin kau tabah menghadapi percobaan berat ini”, ujar Mardi lagi seraya mengelus kepala istrinya
“Aku telah berbuat kesalahan, mas. Aku mohon ampun. Aku terpaksa, aku terpaksa,mas. Oni sering sakit dan perlu ke dokter. Dia perlu susu, perlu pakaian. Dari mana biayanya ? Aku sudah berusaha mencari kerja, tetapi tak seorangpun mau menerimaku karena aku istri orang gestapu pki”, kata wanita itu terisak-isak.
Mardi termangu mendengar bicara istrinya itu. Hatinya seperti disayat-sayat.
“Apakah Mas Karman atau Mbakyu Sunar tak memberi bantuan?”, tanyanya sesaat kemudian.
“Mbak Sunar pernah mengirimkan uang sekedarnya tetapi disertai pesan agar aku dan Oni jangan datang ke rumahnya, atau ke rumah saudara yang lain. Mereka takut berhubungan dengan aku karena Mas ditahan”, kata istrinya seraya menyeka airmatanya.
Mardi hanya termenung mendengar kata-kata istrinya. Hatinya pedih, apalagi setelah istrinya berterus terang mengakui kesalahannya.
“Aku betul-betul bingung, Mas. Aku tak sampai hati membiarkan Oni ikut menderita. Lalu… aku bekerja pada seorang asing sebagai hostess dan aku mengaku tak bersuami. Akhirnya… aku melakukan kesalahan. Aku sekarang sedang hamil, mas”, kata wanita itu tersedu-sedu seraya memeluk dan mencium kaki Mardi.
Mardi gemetar mendengar pengakuan istrinya itu. Perasaannya benar-benar bergejolak kendati masih dapat dikekangnya.
“Aku sedih mendengar itu, Nir. Tetapi apa yang telah terjadi tak usah kau sesali”, katanya dengan suara tersendat-sendat.
“Ampuni aku, Mas”, ujar istrinya sambil terus memeluk kaki Mardi.
“Lupakanlah semua itu, Nina. Kau tak bersalah. Mungkin sudah suratan takdir kita harus mengalami ini. Tetapi… demi kehormatanku, kehormatanmu dan kehormatan Oni, sebaiknya kita berpisah”, kata Mardi setengah menghela napas dalam.
“Kalaupun kita harus bercerai, aku tak akan pernah melupakan Mas”, kata Nina terisak-isak.
Baru saja Nina mengucapkan itu, waktu yang diberikan untuk pertemuan itu habis. Mardi kembali ke selnya, sementara Nina dan anaknya meninggalkan tempat pertemuan itu dengan mata yang masih merah.
Kendati hatinya penuh luka, Mardi kembali keblok dengan sikap tegar. Tak seorangpun menduga dia sedang bersedih hati.
“Bagaimana kabarnya anak-anak, bung?”, tanya seorang temannya, begitu Mardi tiba di sel.
“Yah, baik-bak saja”, sahutnya […] tersenyum.
Kendatipun Mardi selalu tampak tenang, sejak pertemuan dengan istrinya itu dia sering tak bisa tidur. Kenangan masa lampaunya selalu membebani pikirannya. Apalagi setelah seminggu kemudian dia mendapat kiriman makanan serta obat-obatan dari Nina.
Pada hari Saptu, seminggu setelah pertemuannya itu, Acep, seorang tahanan yang sedang bertugas korve mengantarkan kiriman keluarga untuk para tahanan, datang mengantarkan sebuah keranjang.
“Pak Mardi. Ini kiriman dari ibu”, katanya seraya menyerahkan keranjang itu.
“Untuk saya?”, tanya Mardi kaget.
“Iya, pak. Lekas kosongkan keranjangnya, pak. Sebentar lagi saya ambil”, kata Acep pula sambil terus bergegas pergi mengantarkan kiriman ke blok lain.
Mardi tegak seperti patung, mencengang keranjang besar yang penuh itu. Pikirannya mendadak kacau dan berbagai perasaan tumpang tindih di hatinya. Keranjang kiriman itu menyakitkan hatinya. Ia merasa kehormatannya dipermainkan.
“Hm. Kau sangka aku mau menukar harga diriku dengan sekeranjang makanan? Aku bukan manusia sehina itu, Nina”, katanya dalam hati sambil meletakkan keranjang itu di dekat pintu selnya untuk dikembalikan pada wanita yang dianggapnya merendahkan martabatnya itu.
Baru saja dia meletakkan keranjang itu, tiba-tiba seorang temannya yang baru pulang dari berobat ke klinik penjara itu, menyampaikan kabar kematian seorang teman mereka.
“Bung Slamet meninggal, bung”, ujar Kardi temannya itu.
“Sdr. Slamet meninggal?”, tanya Mardi agak kaget.
“Iya, bung. Sekarang setiap hari ada tahanan yang meninggal karena kelaparan dan sakit”, sahut Kardi sambil terus masuk ke sellnya, di sebelah sel Mardi.
Mardi termangu mendengar bicara temannya itu. Ia teringat pada teman-temannya yang sakit dan kelaparan di RS penjara itu. Sejurus kemudian ia tampak gelisah, seolah-olah menghadapi persoalan yang membingungkan.
“Keranjangnya pak Mardi”, terdengar suara Acep yang hendak mengambil keranjang.
“Aduh, maaf dik Acep”, ujar Mardi gugup begitu melihat Acep. Dia segera mengangkat keranjang itu ke dalam selnya dan mengeluarkan isi keranjang yang penuh itu. Ada nasi, roti, kue, gula, kopi, susu, jeruk, berbagai vitamin.
Begitu isinya dikeluarkan, Acep segera membawa keranjang itu pergi sementara Mardi membungkus barang-barang itu dengan sarungnya. Setelah itu dia pergi membawa bungksan itu ke RS, dan menyerahkannya pada temannya yang juga seorang tahanan dan bertugas merawat para tahanan yang sakit di situ.
“Ini kiriman keluargaku untuk teman-teman yang membutuhkannya, bung”, katanya sambil menyerahkan barang-barang itu.
“Semuanya untuk teman-teman di sini?”, tanya Susilo, temannya yang menerima barang-barang itu sambil mencengangi Mardi.
“Ya, semuanya”, sahut Mardi tersenyum.
“Untuk bung sendiri?”, tanya Susilo lagi.
“Sudah ada, bung”, sahut Mardi agak gagap-karena tak mengira Susilo bertanya begitu
Temannya itu segera membagi-bagikan makanan itu pada mereka yang dirawat di situ sementara Mardi segera kembali ke bloknya dengan perasaan aneh, yang selama ini tak pernah dirasakannya. Kebahagiaan dan kesedihan seolah-olah menjadi satu. Dia berbahagia karena dapat membantu teman-temannya yang sakit dan kelaparan. Ia merasa sedih karena kehilangan anak dan istri yang dicintainya.
Selama lebih lima bulan Nina terus mengiriminya makanan dan obat-obatan pada setiap hari Saptu dan Mardi membagi-bagikannya pada teman-temannya. Tak sepotongpun yang diambiinya untuk dirinya sendiri, padahal dia semakin kurus karena penderitaan bathin dan kelaparan.
Akhirnya Mardi jatuh sakit dan tewas akibat busung lapar. Setelah dia pergi untuk selama-lamanya barulah teman-temannya tahu apa yang telah dilakukannya untuk menolong teman-temannya.
“Dia telah melakukan pilihan terhormat bagi dirinya dan bagi teman-temannya”, kata Susilo ketika melihat jenazah Mardi diusung ke luar penjara, sementara matanya berkaca-kaca.
Slb. 1967
Siang itu langit di atas penjara Salemba memang mendung, tetapi lebih muram lagi wajah Suminta ketika kembali ke sel-nya, setelah lebih satu jam dipanggil petugas ke kantor Piket.
Begitu tiba di sel yang pengap itu dengan mata agak merah dan kepala terkulai, dia langsung duduk berpeluk lutut dan bersandar ke dinding dengan mata terpejam.
Aku yang se-sel dengan dia segera mafhum bahwa dia tadi mengalami sesuatu yang menyakitkan hati. Mungkin dia diinterogasi lagi dan dipukuli.
Terdorong oleh keinginan untuk mengetahui persoalannya aku menghampirinya.
“Apa bung tadi diperiksa?”. Aku bertanya sambil duduk di dekatnya.
Dia menggelengkan kepala sementara butir-butir airmata meluncur ke pipinya yang cekung.
“Bung dipanggil piket urusan apa?”, aku bertanya lagi sesaat kemudian.
Dia tak menjawab sementara airmatanya bertambah deras. Sejurus kemudian bibirnya bergerak-gerak seolah-olah hendak mengatakan sesuatu tetapi tak bisa mengeluarkannya.
Aku mulai bertanya-tanya dalam hati mengapa dia sampai sesedih itu, padahal selama ini dia Kuanggap salah seorang temanku yang paling tabah dan sangat penyabar.
Dia seorang petani miskin yang berasal dari sebuah desa sekitar Bekasi. Karena ada gerakan lanreform dan dia memperoleh sepetak tanah garapan dari organisasi tani BTI, dia dituduh Gestapu PKI dan sudah tiga tahun dipenjarakan.
Tiga bulan setelah dijebloskan ke penjara istri dan anak-anaknya yang dua orang datang mengunjunginya. Namun setelah itu keluarganya tak pernah lagi datang. Bahkan memberi kabarpun tidak. Kendatipun hal itu menyedihkannya, dia tetap tabah dan tak sekalipun ia terdengar mengeluh.
Tetapi mengapa dia sekarang selemah itu? Aku terus bertanya-tanya dalam hati sementara keinginan untuk mengetahui persoalannya makin mendesak.
“Bung tadi diperiksa lagi?”, aku kembali bertanya.
Dia tak menjawab, tetapi sesaat kemudian tiba-tiba dia ber-istigfar.
“Astagfirullah”, ucapnya. Lalu ia menghela napas dan menyeka airmatanya. Setelah termangu sesaat mulailah ia menceritakan pengalamannya yg menyedihkan.
Ketika mendadak dipanggil ke kantor piket dia benar-benar merasa cemas. Dengan jantung berdebar-debar ia dibawa menghadap Perwira Intel.
“Suminta?”, tanya Perwira itu begitu dia masuk ke ruang kantor.
“Iya, pak”.
“Asal Bekasi?”
“Iya, pak”.
“Kamu punya anak?”
“Punya, pak. Dua orang. Yang pertama lelaki dan yang kedua perempuan”.
“Siapa namanya?”
“Yang lelaki Dudung, yang perempuan Nunung”
“Umurnya?”
“Ketika saya ditangkap, Dudung berumur delapan tahun, adiknya lima tahun, pak”
Perwira itu mengamatinya dengan pandangan aneh lalu sejurus kemudian bertanya lagi.
“Istrimu pernah besuk?”
“Pernah sekali, pak. Sudah lama”
“Setelah itu tak pernah datang?”
“Tidak, pak”
“Memberi kabar?”
“Juga tidak, pak”
“Hm…”
Perwira itu tertegun sesaat, seolah-olah memikirkan sesuatu.
“Apa kamu pernah mendapat kabar istrimu meninggal dunia?”, tanyanya sejurus kemudian sambil menatapnya.
“Tidak, pak”, sahutnya kaget.
“Kata anak-anakmu ibunya telah meninggal dunia setahun yang lalu. Anak-anakmu datang mencarimu. Kamu saya izinkan menemuinya”, ujar Perwira itu pula.
Mendengar bicara Perwira itu wajahnya mendadak pucat dan tubuhnya gemetar. Sebelum dia sempat menanyakan apa-apa Perwira itu membawanya ke ruang pertemuan.
“Betul itu anakmu ?”, tanya Perwira itu seraya menunjuk kedua orang anaknya yang kurus dan berpakaian compang camping.
“Paaakk…”, teriak kedua anak itu begitu melihat Suminta yang masih tercengang melihat keduanya.
“Ya Allah…anakku”, ujar Suminta gemetar sambil terus merangkul kedua orang anaknya yang menangis tersedu-sedu…
Suminta menciumi kedua orang anaknya itu dengan airmata bercucuran.
“Apa betul ibumu sudah meninggal?”, tanya Suminta sedih.
“Iya, pak. Ayo pulang, pak… Pulang”, ujar Dudung seraya menangis.
Suminta tak berkata apa-apa dan memeluk anaknya itu seraya menangis.
“Ayo pulang, pak”, ujar Nunung anak perempuannya sambil tersedu-sedu.
“Sekarang kamu ikut siapa?”, tanya Suminta sambil memeluk anaknya.
“Tidak ikut siapa-siapa, pak. Orang bilang bapak jahat, pki. Kami tidur di emperan di bawah jembatan. Ayo, pulang, pak… pulang”, kata Dudung sambil menyeka airmatanya.
Suminta hanya memeluk anaknya itu dengan perasaan teriris.
“Ayo, pulang, pak…”, ucap Nunung yang kecil dan tak berbaju.
“Sebentar lagi juga bapakmu pulang. Sekarang kamu jalan berdua saja, ya”, kata Perwira yang sejak tadi menyaksikan peristiwa itu dengan perasaan iba.
Hanya setengah jam waktu yang diberikan untuk pertemuan yang luarbiasa itu.
Suminta harus kembali ke selnya, sementara kedua orang anaknya tak mau berpisah sambil mengajaknya pulang.
“Ayo pulang, pak… Ayo, pulang, pak”, kata keduanya sambil menangis dan oleh petugas di bawa keluar ruangan.
Aku tak mampu mengeluarkan kata-kata begitu Suminta menceritakan peristiwa itu.
“Alangkah berat beban yang diterima anak-anak kita, bung”, kataku sejurus kemudian sementara airmataku menggenang tanpa kusadari.
Sal. 1969
Walaupun diberi predikat “tahanan politik”, mereka yang disekap bertahun-tahun dalam penjara karena dituduh G. 30S/PKI sebenarnya manusian-manusia biasa, yang punya perut dan karenanya butuh makanan.
Tetapi entah apa sebab musababanya, kendati selama dipenjara diberi makan jagung gerontol, bulgur atau nasi beras slip yang bercampur pasir atau kerikil bahkan pecahan kaca halus, mereka menderita kelaparan dan tidak sedikit yang diserang penyakit busung lapar ataupun beri-beri.
Memang ada juga orang tahanan yang dapat menghindar dari ancaman kelaparan, karena keluarganya menyediakan dana untuk ikut membiayai penahanannya. Dana itu untuk membeli makanan, obat-obatan, pakaian dll. yang dikirimkan kepada mereka. Ada yang dikirim tiga kali, dua kali ataupun sekali seminggu.
Barangkali dengan alasan demi kemanusiaan, para keluarga diberi kesempatan untuk mengirimkan makanan, obat-obatan, pakaian pada para tahanan.
Mereka yang keluarganya tidak mampu untuk ikut membiayai penahanan itu, pasti menderita dan masa penahanannya bisa lebih singkat karena kematian.
Kusen, anak petani asal Kerawang yang sempat bersekolah sampai Kelas Lima SD, tetapi pernah ikut demonstrasi di depan Kedutaan Besar Amerika dan Inggris, telah empat tahun disekap di penjara itu termasuk salah seorang yang keluarganya tak pernah mengirimkan makanan atau obat-obatan. Akibatnya Kusen jatuh sakit.
Perawakannya yang sebelum ditahan agak gemuk, kini seperti jerangkong yang tinggal tulang dengan kulit, sementara perutnya yang sering kosong mulai membengkak.
Kendati teman-temannya yang memperoleh kiriman dari keluarga ada yang memberikan bantuan vitamin dan makanan; namun bantuan tersebut tak memadai sehingga penyakitnya tak berkurang.
Marlan, teman akrabnya sejak di luar dan sama-sama dijebloskan ke penjara empat tahun yang lalu, merasa sangat sedih melihat keadaan Kusen yang sudeh tidak kuat berjalan dan hanya duduk dan terbaring di tikarnya yang butut.
Kendati sama-sama ditahan, Marian lebih mujur karena terpilih menjadi anggota regu korve yang bertugas bekerja di sawah milik penjara.
Walaupun bekerja berat dan seharian terjemur di terik matahari, di luar tembok penjara dia bisa memperoleh makanan tambahan.
Acapkali penduduk desa di sekitar daerah persawahan itu memberikan singkong, pisang kepada para tahanan, walaupun dengan cara sembunyi-sembunyi. Barangkali mereka merasa kasihan melihat para tahanan yang selalu bersikap sopan itu.
Selain itu dia dan teman-temannya, sering menangkap tikus yang banyak bersarang di galengan sawah. Hewan itu mereka panggang untuk menambah makanan.
Selain dimakannya sendiri, Marian sering membawa makanan khas itu untuk Kusen yang sedang menderita itu. Walaupun menghadapi risiko karena mereka yang bekerja korve di sawah dilarang membawa apa-apa sepulang dari sawah.
Setiap kali pulang dari sawah para tahanan itu digeledah. Kantong baju dan kantong celana mereka diperiksa.
Walaupun menghadapi risiko, Marlan yang setia pada sahabatnya itu berani menyeludupkan pangan yang sangat dibutuhkan Kusen.
Pada suatu sore, Marlan datang lagi menemui sahabatnya itu.
“Kusen. Ini aku bawakan obat. Kata teman-teman, obat ini mujarab karena menambah kekuatan”, katanya seraya mengeluarkan seekor cindil, anak tikus yang baru lahir dan belum membuka matanya, dari kantong celananya.
Kusen yang duduk di tikar, tercengang melihat anak tikus di tangan Marlan.
“Makan Sen. Mudah-mudahan tenagamu akan pulih dan penyakitmu sembuh”, ujar Marlan lagi bersungguh-sungguh.
“Anak tikus?”, tanya Kusen seraya mencengangi hewan itu.
“Iya, baru lahir”
“Masih hidup?”
“Iya. Ini obat, Sen. Makanlah,”
Kusen masih mencengangi cindil itu, seolah merasa jijik untuk menelan hewan itu hidup-hidup.
“Obat ini menambah tenaga, Sen. Ayo, makanlah. Jangan menyerah pada penyakit”, desak Marlan lagi.
“Apa aku bisa sembuh dengan obat ini?”, tanya Kusen ragu.
“Soal sembuh atau tidak, Tuhanlah yang menentukan. Kita wajib berusaha, Sen. Kau harus sembuh. Di Jawa kerbau penarik luku diberi jamu ini oleh petani, agar kuat. Ayo, minumlah”, desak Marlan lagi.
Sementara Kusen belum menjawab dia telah mengambil cangkir minum Kusen yang berisi air putih.
“Nah, pegang ekornya. Buka mulutmu lalu masukkan, setelah itu minum agar ia masuk bersama air. Ayo”, desak Marlan seraya memberikan hewan sekecil itu.
Kusen memegang ekor tikus itu lalu mendongak sambil membuka mulutnya. la memejamkan matanya lalu memasukkan tikus itu ke mulunnya. Dia seperti hendak muntah lalu, buru-buru meneguk air minum yang disodorkan Marlan.
“Hm. Beres. Mudah-mudahan kau sembuh”, ujar Marlan seraya tersenyum.
“Hampir saja aku muntah,”, kata Kusen dengan perasaan lega.
“Besok lusa akan kucarikan lagi”, kata Marlan dengan perasaan lega. Setelah itu dia pergi…
Dua hari kemudian dia datang lagi mengantarkan seekor cindil yang warna kulitnya agak kemerah-merahan dan belum membuka matanya.
“Nasibmu baik, Sen. Aku dapat lagi. Bagaimana perasaanmu sekarang?”, katanya bergiirah.
“Kurasa agak sehat, Lan. Tenagaku bertambah”, sahut Kusen sambil duduk di tikarnya.
“Sukurlah. Mudah-mudahan kau sembuh. Nah, makanlah. Besok lusa kucarikan lagi”, kata Marlan girang sambil mengambil cangkir minum Kusen.
Kusen segera menelan cindil itu kendati harus dibantu dengan secangkir air minum.
“Kalau bukan karena terpaksa, aku tak sanggup menelan tikus itu”, ujar Kusen sejurus kemudian
“Memang, Sen. Apapun terpaksa kita makan, tikus, kelabang, gendon. Kita ingin hidup. Kita tak tahu berapa lama lagi kita di penjara ini”, kata Marlan bersemangat.
“Apa ada harapan kita dibebaskan, Lan?”, Kusen bertanya sesaat kemudian.
“Sekarang kita tak usah memikirkan soal bebas. Yang penting kita sehat, Sen”, kata Marlan.
Kusen tak bicara lagi namun di wajahnya terbayang perasaannya yang sedih.
Marlan kiranya maklum betapa perasaan sahabatnya yang sedang sakit itu.
“Yakinlah Sen, bahwa pada suatu saat kita akan bebas. Kita bisa melihat desa kita lagi”, katanya menghibur Kusen.
Kusen menatap sahabatnya itu dengan perasaan lega.
“Kalau kau bawakan tiga ekor lagi barangkali aku akan sernbuh, Lan” , katanya lirih sesaat kemudian.
“Aku akan berusaha, Sen. Kau harus sembuh” , ujar Marlan bersungguh-sungguh dan setelah itu dia pergi.
Bicara Marlan itu benar-benar mengobarkan semangat hidup di hati Kusen. Diapun mulai membayangkan kesembuhannya dalam waktu dekat.
Jika dia sembuh dan pada suatu hari dibebaskan bersama Marlan, dia akan pulang ke desanya dan akan menceritakan semua pengalamannya yang getir kepada teman-temannya, terutama pada Rorom, gadis kecintaannya yang mungkin menunggu-nunggunya.
Gadis itu tentu akan menitikkan airmata mendengar kisah penderitannya di penjara. Ah, alangkah bahagianya jika kelak mereka menikah.
Kusen terus melamun dengan berbagai harapan indah mengenai kesembuhan dan kebebasan sementara malam tiba mengantarkan keheningan.
Keesokan harinya Kusen yang sangat ingin sembuh dan bebas itu berhadapan dengan kenyataan lain yang menyakitkan hatinya.
Tak seperti biasanya, hari itu semua orang tahanan tak boleh keluar dari sel masing-masing walaupun sel sudah tak terkunci.
“Semuanya harus berada di tempat. Siapkan barang masing-masing. Yang namanya dipanggil segera keluar membawa barangnya menuju ke depan kantor Piket”, teriak seorang petugas melalui pengeras suara.
Begitu pengumuman selesai, semua orang tahanan sibuk membenahi barang masing-masing.
Kusen yang sakit itu juga ikut sibuk, kendati miliknya hanya sebuah handuk rombeng, sehelai sarung yang telah penuh tambalan, sepasang pakaian yang sudah kumal, sebuah cangkir kaleng dan piring alumunium.
“Barangkali ada pembebasan, Sen”, bisik seorang temannya yang juga sibuk.
“Mudah-mudahan”, sahut Kusen lirih dengan napas terengah-engah karena membereskan barang-barangnya.
Sejurus kemudian terdengar suara petugas, memanggil nama-nama serta nomor para tahanan.
Kusen mendengarkan dengan wajah tegang. Ketika petugas menyebut nama Marlan yang bernomor 1885 dia agak kaget lalu buru-buru menoleh melalui pintu selnya, kearah sel Marlan yang terletak jauh dari selnya itu.
Tampak Marlan keluar dari selnya, menggendong ransel yang terbuat dari bekas karung beras. Setelah berada beberapa langkah dari pintu selnya Marlan menoleh dengan […] ke arah Kusen.
Dia melambaikan tangan pada sahabatnya yang sedang sakit itu lalu buru-buru menuju ke arah kantor piket.
Kusen termangu sedih, mendengarkan nama-nama yang masih terus dipanggil dengan perasaan tegang.
Ketika panggilan itu selesai dan namanya tak ada disebut, Kusen termangu sedih.
“Kau sudah bebas, Lan. Aku tak akan sembuh”, katanya dalam hati dengan mata berkaca-kaca. Sementara Marlan yang akan dibuang ke Nusakambangan selalu teringat pada sahabatnya yang sakit dan memerlukan cindil.
Sejak pagi dia sudah berpakaian rapi. Wajahnya juga memancarkan kecerahan perasaannya yang jauh berbeda dari biasanya.
Biasanya pada jam-jam begitu dia bercelana pendek, berkaos oblong dan berjalan mondar-mandir sampai berkeringat. Setelah itu dia istirahat sebentar sambil menghirup kopinya lalu mulai membaca buku pelajaran bahasa Perancis.
Pagi itu para tahanan mendapat kesempatan menerima kunjungan keluarga masing- masing dalam rangka Hari Natal dan Tahun Baru.
“Selamat bertemu anak-anak, pak Salim”, ujar Sudono, temannya sesel
“Oh, terimakasih. Mudah-mudahan saja mereka belum melupakan saya" , sahut Salim sambil tertawa.
“Wah, mana mungkin anak-anak dari keluarga terpelajar yang progresif berbuat begitu", kata Sudono seraya tersenyum.
Pak Salim juga tersenyum mendengar bicara temannya itu. Dia merasa bangga karena dianggap terpelajar dan progresif.
“Memang soal pendidikan dalam keluarga banyak menentukan buruk baik anak-anak kita. Saya selama ini selalu mementingkan soal pendidikan mereka, bung. Saya benar-benar merasa ngeri melihat anak-anak menjadi cross-boy dan cross-girl karena pengaruh film dan bacaan yang buruk.”, katanya sejurus kemudian.
“Dan banyak teman-teman kita sendiri yang kecolongan. Bapaknya berpikiran progresif anaknya jadi cross-boy atau terjerumus menjadi pengisep ganja”, kata Sudono menerangi.
“Itu betul, bung. Makanya saya bersikap keras terhadap anak-anak. Terkadang saya sampai bentrok dengan ibunya yang menganggap saya terlalu kaku dan keras. Tetapi apa boleh buat. Saya lakukan itu demi hari depan mereka sebagai manusia yang baik, manusia Indonesia yang progresif, berkepribadian”, ujar Salim bersemangat.
Tiba-tiba pembicaraan mereka terhenti karena kedatangan Acep, seorang tahanan yang bertugas korve mengantarkan keranjang […] makanan kiriman keluarga ke sel-sel.
“Ada kiriman, pak Salim”, katanya seraya menyerahkan keranjang yang penuh itu.
“Terimakasih, Cep”, ujar Salim tersenyum lalu membawa keranjang itu ke selnya.
Dia segera mengeluarkan isi keranjang itu dan sebelum selesai terdengar suara panggilan melalui pengeras suara.
Dia bergegas mengeluarkan isi keranjang itu dan siap menemui keluarganya.
“Salam untuk ibu, pak Salim”, ujar Sudono lagi.
“Terimakasih”, sahut Salim seraya buru-buru pergi dengan perasaan sangat gembira.
Istri dan kedua orang anaknya, Rini, perempuan yg sudah berumur 17 tahun dan Gatot, lelaki yang telah berumur 14 tahun, telah menunggu ruang pertemuan.
“Pak”, teriak Rini dan Gatot begitu melihat ayah mereka datang […] […] […] yang tampak tercengang melihat Rini memakai rok mini yang mencolok.
“Apa perlunya kamu datang ke sini kalau untuk membikin ayah malu. Di sini penjara orang-orang beradab, yang tahu sopan santun. Ini bukan penjara narapidana kriminal”, katanya marah.
Gadis itu terkejut dan tampak kebingungan dan wajahnya yang cantik itu berobah muram.
“Apa kamu sudah tidak kenal pakaian yang sopan?”, ujar Salim lagi seraya melotot.
“Sabar, pak. Jangan lekas marah. Rini memakai rok mini begitu, karena sekarang di luar sudah jadi mode. Sekarang keadaan sudah berobah. Jangan lantas menuduh yang tidak-tidak”, ujar istrinya setelah melihat suasana pertemuan itu menjadi tegang.
“Tapi aku tidak mau anak-anak ikut berpakaian tidak sopan seperti ini. Kalau berpakaian tidak sopan, lebih baik tak usah datang lagi”, ujar Salim jengkel.
“Bapak sudah ketinggalan zaman”, ujar Gatot anak lelaki itu.
“Kurang ajar. Masih ingusan sudah berani bilang begitu”, kata Salim marah.
“Sabar, pak. Bijaksanalah menghadapi anak-anak jangan menuruti emosi. Bapak sudah lima tahun di sini dan tidak tahu perobahan yang terjadi di luar. Semua sudah berobah, pak”, kata istinya lagi dengan nada tenang.
Salim tak bicara lagi. Dia termangu, sementara hatinya sedih dan matanya mulai berkaca-kaca.
“Pak. Kalau Rini dianggap salah, Rini mohon ampun”, kata gadis itu lagi seraya menangis.
Salim tak menyahut dan hanya menyeka airmatanya.
“Aku rela kehilangan segalanya, tetapi ayah tak rela kehilangan tradisi baik keluargaku […] bangsaku”, kata Salim lirih.
Lalu kedua orang anaknya itu memeluknya sambil menangis.
“Kami juga tak rela kehllangan ayah” , ujar Rini tersedu-sedu.
Salim memeluk kedua anaknya itu dan tak lama kemudian waktu yang disediakan untuk pertemuan itu habis.
“Semoga ayah tetap tabah dan sehat. Kami selalu menunggu ayah pulang”, ujar kedua anak itu ketika berpisah dengan Salim.
“Doa ayah untuk kalian semua", sahut Salim agak tersendat-sendat. Lalu ia buru-buru meninggalkan ruang pertemuan itu dengan hati yang sedih sementara penjara itu terasa makin menyiksa.
…1975
Rohim, orang muda mantan supir yang sudah beberapa tahun mendapat kehormatan menjadi tahanan politik, memang cekatan dan rajin. Bukan hanya ketika harus ikut korve, memacul, mendangir dan menyiram kebun kangkung di belakang penjara itu, tetapi terutama ketika antri bersama para tahanan lainnya untuk mendapat jatah kangkung rebus yang hanya diberi garam.
Pada saat antri, Rohim yang cekatan itu selalu berada di jajaran paling depan. Begitu rantangnya penuh, dia bergegas membawanya ke selnya dan setelah memakan separoh jatahnya itu, dia kembali ke tempat antrian sambil membawa rantang kosong. Biasanya setelah masing-masing tahanan mendapat jatah, masih ada sisanya di dalam. Sisa pembagian itulah yang diincernya dan karena para tahanan itu memang kelaparan, sisa itulah yang diperebutkan. Dalam hal berebutan itulah Roliim selalu unggul. Wajarlah jika mereka yang tak sempat mendapat bagian lantas mengomel.
“Si Rohim memang serakah, mau kenyang sendiri, egois”, ujar Memet, temannya se-sel.
“Dia memang tidak solider pada teman, dia memang repisionis, remo”, tukas yang lain pula.
“Aduh… Buat apa ribut dengan teman, hanya soal kangkung”, kata seorang tahanan yang agak tua.
“Ah, tentu ribut, pak, kalau pembagiannya tidak adil. Kita kan orang repolusioner, yang melawan ketidakadilan”, sahut orang yang mengomel tadi.
Rohim sendiri tak ambil pusing pada ocehan teman-temannya.
“Setiap orang kan punya rezeki sendiri-sendiri. Mengapa ribut kalau rezekiku lebih”, katanya sambil nyengir.
Soal kangkung rebus sisa jatah itu akhirnya menimbulkan kekisruhan antara Rohim dan teman-temannya sesama tahanan politik. Namun, pada suatu hari kekisruhan itu berakhir ketika terdapat sesuatu atau yang luarbiasa.
Pada hari Saptu, ketika Rohim baru saja memasuki sel-nya membawa serantang kangkung jatahnya, mendadak masuk pak Dulok, seorang petugas penjara yang berbadan tegap dan berwajah seram tetapi baik hati. Sejak tadi pak Dulok memasuki sel-sel, mencari kucingnya.
“Rohim. Apa kamu melihat si Hitam?”, katanya petugas itu sambil mengamati sudut-sudut sel itu.
“Tidak, pak”, sahut Rohim agak kaget.
“Kalau kamu melihat kucing itu, lapor saya”, kata pak Dulok lagi dengqn nada jengkel.
“Iya,pak”, sahut Rohim dan petugas itu terus pergi. Setelah itu Rohim mulai memakan sebagian jatahnya dengan tergesa-gesa. Sementara itu para tahanan lain masih antri di halaman dapur, menunggu pembagian jatah sayurnya.
Sambil mengirup kuah sayur jatahnya, Rohim melirik ke luar. Oleh karena yang antri tinggal sedikit, dia segera mengambil rantang kosong dan buru-buru pergi antri. Hanya tinggal lima orang yang antri di depannya.
“Ada sisanya No?”, tanya Rohim agak berteriak pada Warno, temannya yang membagi-bagi jatah kangkung itu.
“Ada, masih banyak”, sahut Warno sambil menyeka keringatnya.
Rohim yang perutnya sudah agak kenyang tersenyum lagi. Namun, dia jadi sangat terkejut begitu melihat Warno yang sedang menciduk sayur dari dalam drum tiba-tiba berpaling dan dengan gugup berteriak.
“Aduh, teman-teman… Sayurnya jangan dimakan. Ada bangkai kucing di sayur”, katanya dengan agak gemetar.
Warno yang sedang menciduk kangkung rebus drum besar, kiranya melihat bangkai seekor kucing.
[Bagian ini terpotong lanjutan ceritanya]
Pada saat teman-temannya, para tahanan politik di sel nomor sebelas, menikmati kolak singkong pada malam Peringatan Hari Proklamasi, pak Sunarto merintih di bale-bale Rumah Sakit penjara itu. Lengan kanannya membengkak dan bila tersenggol sedikit, sakitnya terasa dari ujung kaki sampai ke ujung rambut.
Serantang penuh kolak singkong yang diantarkan temannya masih belum dicicipinya, kendati hatinya lega. Apa yang telah dilakukannya kiranya ikut menggembirakan teman-temannya pada peringatan Hari Proklamasi disel penjara itu.
“Ini kiriman teman-teman untuk bapak. Teman-teman merasa sedih karena bapak tidak ada di sel pada saat kita memperingati Hari Kemerdekaan. Semua teman salut atas pengorbanan bapak”, ujar Simin, temannya se-sel yang datang bersama Muhajir mengantarkan serantang kolak singkong.
Kata-kata temannya itu sangat mengharukan hati Sunarto. Siksaan lengannya yang bengkak itu terlupakan sesaat.
Ketika Simin dan Muhajir kembali ke penjara, kata-kata itu masih terus diingatnya. Dia benar-benar merasa lega karena telah ikut menyumbang sesuatu dalam memperingati Hari Kemerdekaan Tanah airnya. Memang sumbangan itu tak berarti, namun itulah yang dapat diberikannya setulus hati. Dia melakukan itu dihadapan sejarah, dihadapan Tuhannya sebagai pernyataan cintanya terhadap Tanah Airnya, bangsanya, temannya, walaupun dia dituduh pengkhianat dan dipenjarakan tanpa diadili.
Beberapa hari sebelum Hari Proklamasi, dia dan teman-temannya di-sel nomor sebelas yang berpenghuni lebih dari duapuluh orang, telah berunding dan mengambil keputusan untuk memperingati Hari Kemerdekaan. Dalam rangka itu mereka akan membikin kolak singkong agar hari itu mereka tidak terlalu kelaparan.
“Kolak yang akan kita bikin itu kita namakan kolak kemerdekaan. Jadi, harus enak”, ujar seorang tahanan yang masih muda, Ardi, mantan guru yang dipenjarakan karena menjadi anggota Persatuan Guru Republik Indonesia, PGRI.
“Cocok”, sahut yang lain seraya tertawa.
“Sedikitnya kita masing-masing harus mendapat bagian serantang penuh”, tukas Joko yang badannya kurus karena setiap hari kelaparan.
“Aku”, sela yang lain pula.
Munadi, yang mantan anggota Serikat Buruh dan menjadi ketua kamar itu segera mengatur pembagian tugas. Mereka yang bekerja korve diladang mendapat tugas mencari singkong atau ubi. Yang kerja korve memasak gula kelapa harus bisa menyingkirkan sebagian gula yang dimasaknya untuk dibawa ke sel.
“Bagaimana bisa memperoleh dan membawa masuk bahan-bahan itu ke-sel, terserah pada cara masing-masing. Yang penting, tanggal 16 Agustus sore, bahan-bahan itu sudah terkumpul”, ujar Munadi.
“Beres”, kata mereka yang muda-muda sambil tersenyum.
“Lantas bagaimana soal kelapanya? Kolak kan harus pakai santen supaya enak”, tanya Memet, orang tahanan asal Jakarta.
“Waah…sekarang tak ada kelapa yang tua. Seminggu yang lalu kan semua pohon kelapa disekitar penjara ini sudah dipanjat dan kelapa yang tua dipetik untuk jatah pegawai penjara”, kata Miskun, yang sering bertugas memanjat kelapa.
“Aduh, kolak tanpasanten ya bukan kolak kemerdekaan”, ujar Ardi yang tampak kecewa walaupun agak tersenyum.
“Pakai kelapa atau tidak, yang penting bikin kolak supaya kita kenyang”, kata Joko samb[…]
“Betul, Ko”, sambut yang lain sambil tertawa. Perundinganpun selesai. Pakai kelapa atau tidak, mereka akan membikin kolak dalam merayakan hari kemerdekaan.
Keesokan harinya, para tahanan politik itu pergi melakukan tugas kerja masing-masing. Ada yang menebang kayu damar di hutan, ada yang membabat belukar, ada yang memacul di ladang padi gogo pegawai penjara, ada yang memecah batu, ada yang ke pelabuhan untuk membongkar beras dll.
Sunarto, orang tahanan yang kepalanya telah ditaburi uban dan penyakit encoknya sering kumat, juga harus bekerja. Dia pendiam dan walaupun pakainnya di penjara itu penuh tambalan, dia orang terpelajar. Dia menguasai beberapa bahasa asing, Inggris, Belanda, Jerman, Perancis.
Di sel nomor sebelas itu dia dihormati karena kearifannysa dan dialah yang tertua di antara penghuni sel itu. Oleh karena dia sebagai orang tahanan harus bekerja, Munadi, ketua kamarnya berupaya agar dia diberi pekerjaan yang agak ringan, sebagai pembantu di rumah seorahg pegawai penjara yang bernama Sadikun.
Setiap hari Sunarto datang melakukan tugasnya. Selain menimba dan memikul berember-ember air untuk mengisi bak mandi, dia juga acapkali harus mencuci pakaian, membelah kayu, mencuci piring atau membersihkan kamar mandi.
Ibu Sodikun, istri pegawai itu, kiranya seorang wanita yang baik hati. Setiap kali pak Sunarto selesai melakukan tugasnya dan hendak kembali ke penjara, Ibu Sodikun selalu memberinya nasi dan sayur untuk tambahan makan.
Tetapi dua hari sebelum hari Proklamasi, pak Sunarto mendapat pelayanan istimewa.
Tidak seperti biasanya ketika dia datang pagi itu, ibu itu telah menyediakan secangkir kopi dan sepiring nasi goreng dengan irisan […]
“Sarapan dulu, pak. Nanti sesudah sarapan tolong bantu memarut kelapa”, ujar ibu itu ramah.
“Oh, iya, bu.”, sahut Sunarto sambil tersenyum.
“Mengerjainya tak usah buru-buru. Kalau capek, istirahat dulu”, ujar ibu itu lagi.
“Berapa butir, bu?”, tanya Sunarto setelah menghrup kopinya.
“Ah, tidak banyak, pak. Cuma 25”, sahut ibu itu.
Mendengar jumlah itu Sunarto jadi agak terkejut. Memarut 25 butir kelapa bukanlah pekerjaan ringan. Dia jadi agak gelisah, sementara nasi goreng yang disugukan ibu itu sudah tinggal separoh. Sambil menyuap nasi itu dia berpikir bagaimana harus mengatasi pekerjaan seberat itu.
Akan dikerjakannya secara bertahapkah dan kelapa itu diparutnya dalam 2 hari? Bukankah ibu itu sudah mengatakar agar dia tak perlu tergesa-gesa? Dia jadi agak tenang. Kelapa sebanyak itu akan diparutnya dalam dua hari agar tidak terlalu melelahkan.
Tetapi tiba-tiba dia teringat pada rencana pembikinan kolak kemerdekaan yang tak punya kelapa. Dia berpikir lagi. Bukankah kalau dia memarut, dia bisa mengumpulkan potong-potongan kelapa itu untuk dibawa ke selnya?
Begitu selesai sarapan dia mulai mengambil kelapa yang akan diparut dari gudang dapur. Kelapa itu sudah dikupas dan hanya tinggal membelah dan mencungkilnya untuk bisa segera diparut.
Ketika lonceng penjara terdengar tengah hari itu Sunarto telah memarut sepuluh butir. Potong-potongan kelapa itu, kira-kira sejempol tangan, disisihkannya untuk dibawa ke selnya. Bukankah potongan kelapa yang dikumpulkannya, di sel dapat diparut lagi untuk kolak yang akan mereka bikin?
Sunarto menyeka keringatnya dan berhenti sebentar untuk makan siang. Dia memang sudah merasa letih, rasa linu mulai menjalari lengan kanannya.
Begitu selesai makan dia mulai memarut lagi tanpa istirahat. Satu demi satu kelapa itu diparutnya, kendati makin lama makin lambat karena tangan kanannya mulai terasa sakit.
Sebentar-sebentar ia tertegun menahan sakitnya, namun sesaat kemudian dia memarut lagi dengan menahan sakit. Sekitar jam empat sore sudah delapan belas butir yang selesai dan potong-potongan kelapa sisa parutan bertambah banyak. Sebagian sudah dikantonginya.
Lengannya terasa semakin menyiksa. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya sementara mukanya pucat. Namun dipaksanya juga memarut, satu demi satu. Namun ketika kelapa yang keduapuluh selesai, dia tak mampu lagi menahan sakit di lengannya itu, sementara hari semakin sore.
“Baru selesai dua puluh, bu. Ini potong-potongan yang sudah tidak bisa diparut saya minta bu”, katanya agak gemetar.
“Oh, iya. Kalau kurang, bawalah serantang yang sudah diparut, pak”, ujar ibu itu dengan nada tulus.
“Oh, terimakasih, bu”, katanya agak meringis, menahan sakit. Setelah itu dia buru-buru pulang.
Setiba di penjara, dikeluarkannya potong-potongan kelapa itu dari kantong celananya.
“Ini ada krucilan kelapa. Barangkali masih bisa diparut untuk kolak kita. Di rantang ini ada kelapa parutan”, katanya pada Munadi, sambil membuka rantangnya.
“Wah, cukup lumayan, pak. Kolak kita bakal enak”, ujar Munadi seraya tersenyum.
Ketika para tahanan sore itu di-apel untuk dihitung petugas, badan Sunarto semakin parah dan ketika dia berada di sel dan sel itu dikunci petugas, dia mulai menggigil.
Dia terbaring di tikarnya yang sudah koyak-koyak dan lengannya semakin terasa menyiksa- [kemungkinan terpotong]
Teman-temannya sekamar merasa cemas karena panas Sunarto terus meningkat dan dia mulai merintih menahan denyutan lengannya yang sangat sakit.
Sekitar jam 23.00 malam itu, Munadi berteriak memanggil piket dan ketika seorang petugas datang kepala kamar itu segera melaporkan keadaan Sunarto dan meminta agar dia bisa diantarkan ke rumah sakit.
Setengah jam kemudian Sunarto dibawa ke Rumah sakit penjara yang persediaan obathya minus dan dokternya datang beberapa hari sekali.
Ketika teman-temannya kembali ke-sel, Sunarto merintih menahan sakitnya sementara hatinya sedih karena teringat pada keluarganya, yang entah bagaimana keadarannya. Dia teringat pada teman-temannnya yang gugur dalam membela Republiknya yang tercinta.
Sunarto terbaring di ruangan yang sepi itu dan kendatipun matanya berkaca-kaca, ia merasa berbahagia karena masih dapat menyumbangkan sesuatu dalam memperingati Hari Kemerdekaan Tanah Airnya.
Perm. 1970