ATTTA hh
ABDULLAH HUSSAIN
7897 N
PERISTIWA
KEMERDEKAAN
DI ACEH
BALAIPUSTAKA
0060 4924
0.81568 a24
ATTA
hh.7097.N
PERISTIWA
KEMERDEKAAN
PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH
Abdußlub Hussaln
BALAL PUSTAKA Jakarta, 1990
AWIT2839 KEAAN DI EH
hh.7897.N
muns9 AJAS
PERISTIWA KEMERDEKAAN
DI ACEH
oleh Abdullah Hussain
41791790
en Volkenkunde
BALAI PUSTAKA Jakarta,1990iete
li. fesp ull
Hak pengarang dilindungi undang-undang D C Cetakan pertama—1990
rlo nimeuH dallubdA
F sbnuln Hus Hussain, Abdullah p Peristiwa kemerdekaan di Aceh / oleh Abdullah Hussain. cet. 1. -- Jakarta : Balai Pustaka, 1990. 259 hlm.; 21 cm. -- (Seri BP no. 3644).
- Fiksi Sejarah. I. Judul. II. Seri.
ISBN 979 — 407 — 263 — X
BATZU IAA Disain Kulit: Balai Pustakaslst
KATA PENGANTAR
Ketika itulah aku melihat satu perbedaan dan perubahan yang besar yang terjadi pada dua bangsa yang berlainan. Dulu orang-orang Jepang menjadi yang dipertuan dan mereka dengan sesuka hati melakukan apa
saja terhadap orang-orang Indonesia .... Tetapi kini kulihat pegawai
polisi rendahan membusungkan dadanya karena udara kemenangan me- nyesak di dalamnya. Pegawai polisi rendahan itu menjadi lambang bangsa Indonesia yang baru merdeka. Itulah ungkapan seorang pelaku sejarah pada saat-saat bangsa Indonesia memulai titik balik sesudah lama hanya menjadi genshijin atau inlander. Tulisan Abdullah Hussain tentang perjalanannya sendiri dalam masa-masa sesudah Proklamasi Kemerdekaan tampak menyegarkan. Memang, selama ini yang paling banyak menonjol adalah perjuangan masyarakat di Jawa. Perjuangan di daerah-daerah seperti tenggelam begitu saja. Barangkali karena memang para pelaku sejarahnya yang enggan untuk menuliskan dan menebarkan pengalamannya. Justru dalam suasana demikian, kemauan Abdullah Hussain tampak menyegarkan. Peristiwa-peristiwa yang menegangkan, lucu, tidak masuk di akal, dan sebagainya berbaur menjadi satu. Dalam saat-saat kritis, akan bermunculan peristiwa-peristiwa yang seolah-olah merupakan kebetulan saja. Benarkah demikian? ". Aku tidak tahu, mengapa di setiap tempat yang baru saja aku kunjungi selalu saja timbul pergolakan yang penuh semangat dari para
pemuda pejuang ....'
Pikiran Abdullah bukan bertujuan untuk menyombongkan diri. Bahkan akhirnya ia pun memupus bahwa semuanya ini hanya merupakan suatu kebetulan. Namun terlepas dari apakah itu suatu kebetulan atau tidak, inilah bukti bahwa gejolak hati dan perasaan suatu bangsa yang selalu ditindas dan teraniaya memerlukan picu untuk pembebasannya. Dan picu itu adalah Proklamasi Kemerdekaan.
Balai Pustaka
maad gmev aaaduq aab nabadq ute 2adoa aan rao a 806q0t g0610-3muuanisho 28 80ed ub abaq baim1 gns aqe 062uknim 0ad sšu292 a8asb a291m n6b nsu19qib 80av ibajnom
iaws8aq asdiul imil io1sT .... sieenobn| ga87o-8na1o gebertist sise
-9m 089480ama2 47abu 600162 6206b6b 082202uda9m 0ad6bn01 2310q gnedmal ibatnam ui nadabasr iałoq iawsgo9 .avnmnieb ib ks2ova
.6k9b1am iuri6d gn6v sia9nobal a2806d
s29n0bal cmad 12-1662 sbq 01|92 m|aq 80810 naq8|800 reu1 vbamłm va1a mińanag ib6inám avned smsl dabu2sz 2liad lii1 ialumom B26m-82sm malsb bnib09e agnaen6lsinq g0at091 ninzzuH dallubdA mmzilut ema2 .a0amM .0a1082om 28qme7 066|abiam22 mmkk019 rsbuma .awei ib telatvasm aegeouioq ralaba loknonom aevaad anilaq gney int iekama .a uod mal0 192 sabdsvab i u9 nab na2ilmmom 40mu n699m9 g0av svadm1a(52 uolsb9q s18q gnkmom an218 -6A v6uama.nablmab an2mva msiab unaoL .vnemalsgnq n6d90om
.06km90v09m lsqm81 ai6z20H dallub
aab laka ib lum abil ,ul nsga y aiq-wi9 a g ez nalurd u so-dalo q-aiai oi dga sqg,ude ebb u... silim l
e. 1. lakar Bolai Pustaka. 1990.... gneuiq sbumad
ne2da8 .mb as78869o20594um29686199 86206 d0bdA me69 uleue eelequom syaed mi avasume avded zuqumom noq si aynide delm ,b a nab ahoib ulal gn ssed uae nsaaq aab iar leloto awded ilu di d m s M6875b19m92izmmuskko19 stanu9 isle8 Disaia Kulic Balai Pastaka
ATT
Menjelang berakhirnya Peperangan Asia Timur Raya, berbagai peristiwa yang menarik hati telah terjadi dengan cepat sekali. Peristiwa-peristiwa mengenai maju mundurnya peperangan hanya diketahui oleh orang-orang Jepang yang menjadi pegawai-pegawai tinggi saja, sedangkan orang-orang Indonesia kecuali yang berada di pusat-pusat pemerintahan seperti di Jakarta, Bukittinggi, dan Medan sama sekali buta terhadap peristiwa tersebut. Setelah jaminan kemerdekaan ala Jepang diumumkan oleh Perdana Menteri Koiso dalam Teikoku-Gekail Jepang yang ke-85, maka dengan diam-diam Jepang telah membawa Soekarno, Hatta, dan beberapa orang pemimpin yang lain ke Saigon untuk bertemu dengan Panglima Angkatan Bersenjata Jepang di Timur Jauh, Jenderal Terauci2 untuk pembicaraan- pembicaraan selanjutnya tentang pelaksanaan jaminan kemerdekaan itu. Dalam perjalanan ke Saigon itu Soekarno dan Hatta telah singgah di Taiping3 dan bertemu dengan pemimpin-pemimpin Malaya.4 Menurut keterangan, sekembalinya mereka dari kunjungan kilat itu, satu persidangan untuk membentuk sebuah badan persiapan kemerdekaan telah diadakan di Jakarta, beberapa orang pemimpin dari seluruh Kepulauan Indonesia telah ikut serta dalam persidangan tersebut. Dari Sumatera Uta- ra terdapat Mr. Teuku Mohd. Hassan dan Dr. M. Amir serta Mr. Abbas dari Sumatera Selatan. Berita tentang persidangan itu baru diketahui oleh rakyat di daerah- daerah melalui surat-surat kabar, dan kemudian disiarkan hanya sekedar memberi gambaran tentang kegiatan-kegiatan Jepang untuk persiapan kemerdekaan Indonesia saja. Lebih daripada itu tidak ada. Kami di Langsa masih terus bekerja seperti biasa. Sedikit pun kami tidak
- Dewan Perwakilan Rakyat
- Juichi Terauchi, lahir tahun 1879
- Sebuah pekan di Perak, Tanah Melayu
- Dr. Burhanuddin El-Hilmy, ketua Partai Kebangsaan Melaya Malaya dan Ibrahim Yaakub yang kemudian hijrah ke Indonesia dan menggunakan nama Iskandar Kamil
menyangka bahwa satu perubahan besar telah terjadi dalam sejarah dunia
dan kemanusiaan, terutama sekali dalam peperangan dunia yang kedua. Pak
Sjamsuddin M.S. masih giat memberi penerangan di kampung-kampung
tentang jaminan kemerdekaan Jepang itu. Sedangkan aku telah mengatur persiapan-persiapan untuk menghadapi kemungkinan yang bakal tiba. Nasibku baik. Istriku tidak membantah dan tidak pula bertanya mengapa mereka itu mesti diantar ke Kotacane dan Tuan Obara telah bermurah hati meminjamkan mobil Chevroletnya untuk keperluan itu, serta surat yang membolehkan aku meminta bensin di mana saja. Tanggal 22 Agustus 1945 (tanpa disadari pengumuman kemerdekaan In- donesia telah 5 hari berlalu), kami bertolak dari Langsa. Keadaan cuaca pagi itu sangat baik, angkasa jernih dengan awan-awan tipis bertaburan di sana- sini berlatarbelakangkan langit biru. Sebelum berangkat aku lebih dulu mengunjungi rumah Tuan Bunsyutyol dan Tuan Ikeda. Dan waktu kami lewat di muka Kantor Gunseibu2, kulihat kawan-kawanku sedang ber- adiotaiso3. Aku duduk di depan bersama Abu Ben yang menyetir mobil itu. Istriku,
dan Nani duduk di belakang. Pada waktu itu bulan puasa dan karena
kami akan berjalan jauh, maka tidak seorang pun yang berpuasa.
Kira-kira pukul 12.00 tengah hari sampailah kami di Medan dan terus ke
Jalan Teratai, ke rumah Mak Tua Rahmah. Waktu sampai Mak Tua
Rahmah mengatakan kepadaku bahwa perang telah damai. Aku tidak per- caya, namun juga tidak berkomentar. Ketika kami pergi ke Sentral Pasar, seseorang dari Aceh kawan Abu Ben menceritakan pula tentang damai ini.
Di dalam mobil Abu Ben bertanya, "Betulkah perang sudah damai, Tuan?"
"Mungkin,"jawabku.
Ketika berputar-putar di kota Medan itu aku bertemu pula dengan M. Ganie dan dia pun dengan terang-terangan menceritakan tentang hal damai itu. Nampaknya cerita tentang damai ini telah menjadi rahasia umum!
Ketika akan kembali ke Jalan Teratai, kami berhenti di sebuah simpang
untuk membeli es krim. Aku melihat Pak Moenar Hamidjoyo di seberang jalan. Aku pun mengejarnya, dan sekarang barulah aku mengetahui dengan jelas tentang damai yang dikatakan itu. Pak Moenar bekerja sebagai pemimpin majalah Melati di Kantor Sumatera Sinbun dan sebagai sebuah kantor surat kabar, maka berita-berita
1. Assisten Residen
- Kantor Assisten Residen
- Bersenam mengikut radio 9 s0m duasY
ATTA
yang mereka terima tentulah lebih jelas daripada apa yang dipercakapkan orang di luar. Pak Moenar mengatakan bahwa Jepang telah menyerah kalah, karena bom atom telah dijatuhkan di negerinya oleh Amerika. Tetapi Pak Moenar memperingatkan aku, 'hal ini tidak boleh diumumkan, karena Jepang tidak suka kalau orang tahu bahwa ia telah kalah. Janganlah diberitahukan kepada siapa pun, karena Kempeitail Jepang masih ber- kuasá di sini.' Mendengar itu hatiku menjadi lega sedikit. Sekurang-kurangnya peperangan sudah tidak ada lagi. Dan betapa senangnya apabila damai telah mengembangkan sayapnya di muka bumi ini. Tiba-tiba pikiranku beralih kepada maksud perjalananku ke Kotacane. Apakah masih perlu aku meneruskan perjalanan ini? Sesungguhnya keputusan yang kuambil sesudah itu tidak mengecewakan dan aku tidak tahu betapa pula sebaliknya kalau aku mengurungkan perjalanan pada waktu itu? Dalam masa pemerintahan Jepang, hampir tiap simpang jalan di kota Medan dipasang peti-peti radio untuk umum yang diselenggarakan oleh Hodoka (Kantor Penerangan). Dari peti-peti itu terdengar berita dalam bahasa Indonesia tentang damai yang diumumkan. Sampai di rumah, istriku bertanya, "Apakah kita jadi berangkat ke
Kotacane?" "Ya," jawabku. "Kita belum tahu apa yang akan terjadi sesudah ini."
Aku teringat kembali ucapan yang disampaikan oleh Pak Moenar. Ter- bayang olehku air mukanya ketika menyampaikan ucapan itu. Menurutku, ada beberapa perkara lain yang sengaja disembunyikannya. Ia tidak mau mengatakan karena satu dan lain sebab yang mungkin dia sendiri saja yang mengetahuinya. Pukul empat petang kami berangkat ke Brastagi dan dua jam kemudian kami pun sampai di kota dingin itu. Sebelum perang, kota Brastagi ini terkenal sebagai tempat peristirahatan yang sehat udaranya di Sumatera. Beberapa buah hotel yang baik dan tempat-tempat peristirahatan terdapat di kota ini. Kami hanya menginap di sebuah hotel Cina, namun ini pun ter- masuk salah sebuah hotel yang rapi dan bersih. Aku selalu berpendapat bahwa untuk mengurangi rasa dingin di tempat yang sangat dingin hendaklah mandi, oleh sebab itu meskipun telah pukul enam sore dan dingin mulai meresap sampai ke tulang sumsum, aku memaksakan diriku untuk mandi sedikit. Air panas tidak ada. Maka man-
- Polisi rahasia tentara Jepange.um
dilah aku dengan air dingin yang seperti es itu. Sebelum sejuknya menguasai diriku, maka lekas-lekas kusiram tubuhku dengan air segayung penuh dan bulu roma pun terus tegak, sekujur tubuhku menggigil. Rasa-rasanya tidak sanggup aku menyiram air lagi, tetapi kukeraskan juga hatiku. Ku- cedok airnya dengan cepat-cepat dan kusiramkan lagi. Gigiku menggele- tuk, dan hanya dengan dua gayung itu sajalan yang sanggup aku mandi! Waktu keluar dari kamar mandi, kulihat istriku menggigil kedinginan di tempat tidur. Sejak tadi ia langsung ke tempat tidur, berselimut dan tidak bangun-bangun lagi.,Aku masih bisa berjalan-jalan dan duduk-duduk, mandi dengan dua gayung itu ada gunanya juga. Di sebelah kamar mandi kudengar suara orang sedang bercakap-cakap dengan kuatnya, kadang-kadang diiringi suara ketawa. Begitu keras per- cakapan itu, maka dapatlah kudengar sedikit-sedikit apa yang sedang diper- bincangkan. Mereka membicarakan tentang 'damai' dan kemungkinan Belanda datang kembali ke Indouesia. Waktu aku keluar dari kamar, kulihat orang-orang yang bercakap itu sedang minum-minum, seolah-olah mereka merayakan sesuatu yang penting. Mereka berlima, dua orang di antaranya memakai seragam polisi dan yang lainnya mungkin pegawai ne- geri. Aku tidak sampai pukul berapa mereka mengadakan pesta itu. Ketika aku terbangun pukul dua pagi, masih kudengar suara mereka di luar. Menjelang pagi udara menjadi tambah dingin, aku terpaksa meletakkan bantal-bantal di atas tubuh istriku untuk mengurangi dinginnya. Pukul tujuh pagi kami meninggalkan Brastagi menuju ke Kotacane. Setelah melalui Kabanjahe, maka perjalanan pun mulai mendaki bukit-bukit dan jembatan-jembatan yang sempit. Kadang-kadang jalannya meniti di lereng-lereng bukit yang tinggi, di pinggir jurang-jurang yang dalam. Orang-orang di daerah Batak Karo ini sangat rajin, hampir sama dengan orang Batak Tapanuli. Di antara bukit-bukit yang tinggi itu terdapat kampung-kampung dan ladang-ladang yang sangat subur. Kadang-kadang kita menjadi heran, melihat ladang-ladangnya itu tinggi di atas belakang bukit ataupun jauh di bawah, di lembah. Pukul dua belas sampailah kami dengan selamat di Kotacane. Ibu mer- tuaku sangat terperanjat melihat kedatangan kami yang tiba-tiba itu. Bapak tidak ada di rumah. Ia pergi membuat jalan ke Blangkejeren bersama dengan Jepang yang menjadi Kepala Kantor Pekerjaan Umum. Mereka belum mengetahui tentang berita damai itu dan ketika kami memberitahukan, hampir semuanya tidak percaya. Aku kemudian mengun- jungi rumah Mohd. Djamil, Kepala Polisi Kotacane. Ia juga belum mengetahui apa-apa tentang berita damai itu. Malah dia menasihatkan agar
AT3TY
aku jangan menyampaikannya kepada orang lain, yang katanya mungkin akan menimbulkan hal-hal yang tidak baik. Pagi-pagi tanggal 24 Agustus kami meninggalkan Kotacane tanpa singgah di Brastagi dan di Medan lagi. Pukul sebelas malam kami sampai dengan selamat di Langsa. Sebelum kembali ke rumah, aku singgah dulu di rumah Tuan Bunsyutyo. Kulihat lampu di dalam rumahnya terang-benderang. Beberapa buah mobil ada di depan rumah itu. Lalu naiklah aku ke rumahnya dan kulihat di ruangan tamu banyak pegawai pemerintah seperti Guntyol, Suntyo2, Kutyo3 dan kepala-kepala kantor dengan anak-istrinya masing-masing. Ada yang menangis dan ada pula yang tertawa-tawa. Tuan Obara sendiri matanya balut bekas menangis dan di antara percakapannya yang dapat kutangkap ialah: "Apa boleh buat perang sudah damai, jadi In- donesia tidak dapat merdeka lagi." Kemudian ia mengatakan kepadaku bahwa Tuan Ikeda sedang menunggu aku di rumahnya. Aku pun berangkat ke rumah Tuan Ikeda, rupanya ia belum lagi tidur. Setelah aku memberi hormat dan mengambil tempat duduk ia pun bertanya,"Tuan Abdullah sudah tahu bahwa perang sudah berhenti?" "Sudah!" "Jadi bagaimana pikiran Tuan Abdullah sekarang?" "Saya Tuan, tentu bersenang hati kalau benar-benar perang sudah damai." "Bukan maksud saya demikian, saya bermaksud bagaimana sikap Tuan Abdullah, sebab Tuan Abdullah adalah bekas spion Jepang. Kami semua mesti kembali ke Jepang dan kalau Tuan Abdullah mau boleh turut bersama-sama saya." Saat itulah untuk pertama kali Tuan Ikeda menyebut bahwa aku 'spion' Jepang. Sebelumnya, walaupun dià mengetahui dari Tuan Matsubushi misalnya, tetapi tidak pernah ia mengatakannya. Aku tidak segera men- jawab pertanyaan itu, karena hatiku sendiri tiba-tiba saja menjadi kacau- balau demi mendengar ucapannya itu, terutama ketika dia mengingatkan aku akan perananku sebagai anggota kolonne kelima itu. Aku tidak tahu apa jadinya kalau nanti Tentara Sekutu telah mendarat di Sumatera ini. Orang-orang Jepang tentu tidak akan dapat membela aku sebab mereka sendiri seolah-olah sudah menyerah kepada nasib saja. Melihat wajah Tuan Ikeda dan Tuan Bunsyutyo Langsa yang tidak begitu gembira itu
- Bupati
- Camat
- Kepala mukim
aku merasa sangsi apakah benar-benar perang ini sudah damai ataupun orang-orang Jepang telah menyerah kalah? Setelah diam sejurus, aku pun menjawab, "Terima kasih banyak atas baiknya ingatan Tuan itu. Tetapi saya adalah orang Indonesia. Ini harus Tuan tahu. Biarpun seribu tahun saya mandi di Jepang namun saya tetap orang Indonesia. Selama tanah air Indonesia itu masih ada, maka apa gunanya saya ikut Tuan." "Tidak, saya tanya barangkali Tuan Abdullah seperti pegawai-pegawai polisi yang lain, yang datang pada saya minta turut ke Jepang sebab mereka itu sayang kepada kami." "Oh, begitu? Sayang sekali saya bukan polisi Jepang, saya polisi Indonesia, biarpun Jepang pergi, Indonesia toh masih ada." "Kalau begitu bagus, tetapi bagaimana dengan pekerjaan Tuan Abdullah sebagai spion Jepang? Apa tidak takut sama Amerika?" "Itu soal saya sendiri, saya yang jadi spion maka saya yang bertanggung jawab," jawabku dengan tegas. Aku sendiri tidak tahu mengapa aku begitu berani mengucapkan kata-kata yang serupa itu. Padahal aku sendiri masih waswas dan bingung dengan segala keadaan yang sedang berlaku sekarang ini. Tetapi itulah nasibku, sebab ucapan-ucapan yang keluar dari mulutku tanpa dipikirkan lebih dulu itu menjadi satu dorongan yang kuat untuk tidak mau surut dari apa yang telah dikatakan. Aku bersedia menerima resiko apa saja karena ucapan-ucapan yang telah kukeluarkan itu. Tuan Ikeda diam. Dia memandáng tepat ke mukaku. Aku juga meman- dang kepadanya. Selama Jepang memerintah di Indonesia dialah satu- satunya orang Jepang yang kukenal dari dekat. Biarpun orangnya baik, tetapi air mukanya membayangkan kebengisan yang tersembunyi, yang sewaktu-waktu dapat diperlihatkannya. Kepadaku kebengisan itu belum pernah terlihat, tetapi kepada orang lain sangat sering dan orang-orang takut kepadanya. "Kalau begitu besok urus pegawai polisi itu semua, dan coba beri nasihat,"katanya. "Itu urusan gampang," kataku. "Serahkan saja kepada saya!"
AT1TY
Pagi-pagi tanggal 25 Agustus 1945 aku pun mengumpulkan semua
pegawai polisi di halaman Kantor Polisi Langsa. Tuan Ikeda juga ikut serta. Kepada polisi-polisi itu kukatakan bahwa barangsiapa yang mau turut orang-orang Jepang ke negerinya supaya mencatatkan nama serta boleh berangkat karena orang-orang yang seperti itu tak perlu tinggal di Indonesia.
Siapa yang tidak mau turut boleh menangis karena orang-orang Jepang mau
berangkat dan takkan dapat bertemu lagi. Ternyata tidak seorang pun yang menjawab seruanku itu, semuanya mengaku akan bersama-sama dengan aku senang dan susah dalam menjaga keamanan negeri. Setelah melihat dan mendengar sendiri pengakuan pegawai-pegawai polisi itu maka Tuan Ikeda pun mengucapkan selamat tinggal serta memberi nasihat agar pegawai-pegawai itu patuh kepada disiplin kepolisian serta turut perintahku dengan sebaik-baiknya.
Pegawai-pegawai negeri yang datang dari ketiga buah distrik itu masih
berada di Langsa. Mereka akan menghadiri satu pertemuan perpisahan
yang akan diadakan di Langsa Klub pada tengah hari itu.
Ruangan klub itu penuh sesak dengan pegawai-pegawai negeri, ketua- ketua kaum yang terkemuka dan pegawai-pegawai Jepang. Tuan Bunsyu- tyo dan Tuan Ikeda telah berpidato sehingga banyak yang mengeluarkan air mata, sebab sedih hatinya akan berpisah. Selepas pidatonya itu aku pun minta izin untuk mengucapkan sedikit perasaan hatiku kepada ha- dirin. Permintaanku itu dipenuhi dan berbicaralah aku seperti yang per- nah kubicarakan kepada pegawai-pegawai polisi tadi pagi. Memang pem- bicaraan itu agak kasar, sebab setelah selesai pidato itu aku sendiri merasa, betapa tersinggungnya pembesar-pembesar itu. Merah padam warna mukanya menahan marah, tetapi mereka tidak berani menjawab ataupun membuat sesuatu sanggahan karena mereka masih takut kepada orang-orang Jepang.
.13
Selama Jepang berkuasa di Aceh, di Langsa telah didirikan sebuah sekolah menengah bertempat di bekas E.L.S.1 murid-murid sekolah ini ialah mereka yang sudah tamat dari H.I.S2 di Langsa, Kuala Simpang dan Idi. Sebelum itu murid-murid yang ingin melanjutkan pelajarannya harus berangkat ke Kotaraja³ atau ke Medan, karena di sana saja yang ada
sekolah-sekolah menengah, lanjutan pada zaman Belanda dulu.
Sekolah menengah di Langsa dapat dikatakan berdiri atas inisiatif Bun- syutyo Langsa, Tuan Obara sendiri. Dia sangat sayang dan bangga dengan sekolah itu. Oleh sebab itu, dia sengaja mengambil kesempatan untuk meng- ucapkan selamat tinggal kepada pelajar-pelajarnya, dan aku tidak tahu mengapa dia mengajak aku ikut serta dalam kunjungannya itu dan diminta- nya aku memberi sambutan setelah selesai pidatonya. Sambutanku itu
serupa saja dengan sambutan kepada pegawai-pegawai polisi dan
pegawai-pegawai negeri di Langsa Klub tadi. Sampai hari ini aku masih bertanya-tanya di dalam hati mengapa dią ataupun Tuan Ikeda membiarkan aku berucap begitu kasar, padahal ketika itu mereka semua telah tahu apa yang akan terjadi, meskipun kepada kami disembunyikan sedapat mungkin. Dengan tidak kusadari, sejak itu aku telah menjadi seorang 'revolu- sioner!'
- Europese Lagere School
- Holland Inlandse School
- Nama Asal Banda Aceh
ATTY
Masa depanku sangat kabur. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dan bagaimana akhirnya riwayat hidupku ini. Orang-orang Jepang akan berangkat tidak lama lagi dan aku akan ditinggalkan seorang diri tanpa ada perlindungan apa-apa. Kalau dulu orang-orang Jepang itu menjadi tempat bersandar dalam melakukan sesuatu tindakan, maka kini bulat-bulat ter- serah kepada kekuatan dan kebijaksanaanku sendiri saja. Yang menjadi harapanku satu-satunya ialah anggota-anggota Seinendanl dan pegawai-pegawai polisi. Tetapi pada pegawai-pegawai polisi itu sendiri tidak dapat kugantungkan harapanku sepenuhnya, karena mereka tentu akan melihat juga ke mana mereka itu kubawa. Kalau mereka melihat aku akan menceburkannya ke dalam kesusahan, sudah tentu mereka semua akan meninggalkan aku dan mungkin juga akan berbalik menentang aku. Makan dan minumku sudah tidak teratur lagi, demikian juga tidur. Nenek yang masih ada di rumah itu sebagai orang tua satu-satunya yang merasa khawatir melihat keadaan diriku, tetapi dia tidak pernah berbicara apa-apa, kecuali kepada Junied, seorang pemuda yang kuambil sebagai anak angkat. Baiklah kuceritakan sedikit tentang Junied ini, karena sedikit banyak dia pun akan memainkan peranan yang penting pula dalam pergolakan yang akan terjadi sesudah Jepang menyerah kalah. Dalam masa Jepang, Junied bekerja di Kantor Belasting sebagai kerani. Umurnya barangkali baru men- capai 17 tahun. Ia berasal dari Kuala Simpang dan bapaknya bekerja sebagai pegawai perkebunan kelapa sawit. Selama bekerja di Langsa dia me- numpang di rumah Osman. Dia sangat aktif dalam perkumpulan Melati dan karena keaktifannya itu dia dipilih oleh kawan-kawannya menjadi ketua.
Dalam seminggu, beberapa kali dia datang ke rumahku pada waktu sore
untuk bertanya itu dan ini terutama dalam soal organisasi, atau belajar ber-
pidato. Aku, sebagai penasihat perkumpulan Melati, sering pula meng-
- Barisan pemuda
adakan pertemuan dengan anggota-anggotanya. Suatu hari diadakan rapat umum khusus untuk anak-anak yang diselenggarakan oleh anak-anak sendiri secara besar-besaran. Dalam penyelenggaraan itu, tidak seorang pun orang dewasa atau pemuda yang telah berusia 17 tahun ke atas turut ambil bagian di dalamnya. Begitu meriah rapat itu, sehingga oráng-orang dewasa merasa kagum sekali, sebab mereka sendiri tidak sanggup mengadakan pertemuan yang begitu besar, begitu teratur dan meninggalkan kesan yang tak mudah dilupakan. Pada malam harinya diadakan pula pertunjukan san- diwara dengan cerita 'Jalan Bahagia', sebuah drama kanak-kanak yang khusus kutulis untuk PPM1.
Setelah perayaan itu selesai Junied pun lebih sering datang ke rumahku
dan kemudian meminta supaya dia boleh tinggal di situ. Dari bapak dan abangnya (memang kukenal dengan baik) telah kuterima surat yang meminta supaya kuterima Junied tinggal bersama-sama dan menganggapnya sebagai anakku sendiri. Sejak itu Junied pun pindah dan tinggal bersama-sama di rumah itu satu kamar dengan iparku A. Rahman2. Kedatangan Junied di dalam keluarga kami merupakan satu keberun- tungan juga, karena dia tidak saja menjadi teman nenek yang selalu kuting- gal sendirian, tetapi juga dapat membantu pekerjaan-pekerjaan di rumah. Dia seorang anak yang rajin, sabar dan baik hati. Hampir semua orang di kota Langsa mengenalnya dengan baik dan sayang kepadanya. Pada waktu itu Pak Karim Duriat menjadi Inspektur Sekolah, dan karena dia dan istrinya tergolong ahli pendidik yang baik, maka petunjuk-petunjuk selalu diberikan kepada Junied dalam menjalankan organisasi PPM itu. Apatah anak-anak gadis Pak Karim juga ikut menjadi anggotanya yang aktif, sehingga seringkali pertemuan diadakan di rumah mereka yang ter- letak di Kampung Jawa Muka. Demikianlah Junied telah menjadi keluargaku dan karena aku sendiri menjadi seorang pegawai polisi yang telah dikenali orang maka kepadanya juga penghormatan-penghormatan yang sepantasnya diberikan oleh orang ramai. Dalam masa pemerintahan Jepang bapak Junied pernah dikirim ke Kuala Lumpur untuk belajar membuat sabun dari minyak kelapa sawit. Beberapa bulan lamanya dia di Malaya, dan kembali dengan membawa ilmu penge-
tahuannya untuk diamalkan. Sejak itu kami, terutama pegawai-pegawai
negeri telah menggunakan sabun minyak kelapa sawit sebagai pengganti
sabun abu yang banyak diusahakan oleh perusahaan-perusahaan sabun par-
tikulir.
- Persatuan Pencinta Melati
- Mayjen A. Rahman Ramly, Mantan Dirut Pertamina
ATETY
Kebetulan beberapa kejadian pada masa belakangan itu terdapat dalam catatanku, oleh sebab itu dapat kutuliskan tanggalnya dengan tepat. Aku menganggap tanggal 26 Agustus merupakan tanggal yang bersejarah. Boleh juga kukatakan sebagai tanggal Republik Indonesia mendapat modal per- juangan yang pertama di Aceh (meskipun kami belum mengetahui tentang adanya Republik itu). Pagi hari pada tanggal tersebut, aku telah memberani- kan diri mengemukakan satu usulan kepada Tuan Ikeda. "Mengapa Tuan bersusah payah datang ke kantor lagi!" kataku kepada- nya sebagai membuka pembicaraan. "Saya masih memegang tanggung jawab di Kantor Polisi ini," demikian jawabnya dengan bersungguh-sungguh. "Saya kira Tuan tidak perlu datang lagi, apa yang mesti diurus dapat juga saya lakukan dengan tidak menyusahkan Tuan. Tuan telah letih bekerja tanpa istirahat, jadi pada pendapat saya sementara menunggu Tuan dipanggil pulang, lebih baik Tuan bersenang-senang saja di rumah." Rupanya usulanku itu masuk di akalnya.
"Betulkah Tuan Abdullah boleh mengurus tanpa campur tangan saya?"
tanyanya seraya memandang tepat ke mukaku, seolah-olah'mau mengajuk kesungguhan hatiku agaknya. "Betul, Tuan," jawabku tegas. "Apa sukarnya, semuanya sudah ber- jalan dengan lancar dan saya hanya meneruskan tradisi yang sudah Tuan susun saja." "Saya pikir juga begitu. Lebih baik saya duduk-duduk saja di rumah." "Tetapi agar lebih sempurna saya kerjakan, hendaklah Tuan membuat surat keterangan menyerahkan tanggung jawab ini kepada saya. Sebab Tuan tahu, beberapa orang Jepang masih belum mengerti betul dengan keadaan ini, jadi tidaklah payah saya memanggil-manggil Tuan lagi kalau ada apa-
apa, surat itu saja saya tunjukkan."
"Buatkanlah surat itu," katanya menyuruh aku membuat surat penyerah- an itu.
PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH - 2
Aku segera membuat surat keterangan itu demikian bunyinya: Pada hari ini tanggal 26 Agustus 1945 saya K. Ikeda, Keisatsutyol Langsa menyerahkan urusan kepolisian di Kewedanan Langsa kepada Tuan Abdullah, Keibu2 Wakil Kepala Polisi. Segala sesuatu yang berhubung dengan kantor polisi ini, dengan keamanan dan sebagainya terserah ke dalam tanggung jawabnya.
tt. tt dan capnya ABDULLAHN.H. K. IKEDA.
Di dalam surat itu dituliskan pula terjemahannya dalam bahasa Jepang. (Surat itu sudah hilang ketika Tentara Jepang menyerang Langsa). Sejak itu aku telah mengambil alih seluruh urusan kepolisian itu dan Tuan Ikeda pun tak pernah datang-datang lagi. Setiap pagi di Kantor Polisi itu kami menaikkan bendera merah-putih, sehingga pada suatu hari aku telah dipanggil oleh T.T. Mohd, Daoedsjah, Guntyo Langsa dan menyuruh aku menurunkan bendera tersebut, karena katanya nanti Bunsyutyo marah! Dia juga mengatakan, "Kita belum tahu siapa lagi yang bakal datang kemari, sebab itu tak usah dulu naikkan bendera." Larangan itu kujawab dengan mengatakan bahwa urusan menaikkan bendera itu adalah tanggung jawabku sendiri dan aku tidak akan menurunkan bendéra itu walaupun apa yang akan terjadi. Masalah itu tidak berkelanjutan. Tidak seorang pun yang pernah meng- gugat tentang bendera itu. Aku pun asyik mengurus masalah keamanan, dengan melawat ke tiap-tiap pos polisi yang ada di dalam kewedanaan Langsa. Kami tidak mempunyai mobil, tetapi ada sebuah sepeda motor yang me- makai side-van yang dapat digunakan dalam bepergian ke tempat-tempat yang jauh. Seorang Cina yang menjadi masinis di Kantor Polisi itu yang selalu menjadi supirnya. Aku juga telah membeli seekor kuda Australia dari seorang Jepang dengan harga lima ratus rupiah Jepang, lengkap dengan pelananya. Setiap pagi aku ke kantor menunggang kuda itu. Kawanku T. Alibasjah juga telah membeli seekor kuda, jadi setiap petang kami selalu menunggang kuda di sekitar kota Langsa. Kuda yang kubeli itu adalah seekor kuda yang sangat jinak dan baik, siapa saja boleh menunggangnya. Tetapi kuda T. Alibasjah
- Kepala Polisi Kewedanaan
- Inspektur Polisi
ATTY
sangat jahat, selain daripada tuannya maka tidak seorang pun yang boleh menunggangnya. Pernah satu kali aku pinjam, dan hampir saja aku me- nemui maut. Ketika ia membawa lari melejang dengan kencangnya, biar apa pun yang kulakukan ia tidak peduli dan dibuangnya aku beberapa kali dari atas punggungnya, sehingga tali kekangnya terlepas dari tanganku, dan kakiku juga terlepas dari tempatnya di pelana itu. Aku memeluk lehernya dan merapatkan lututku ke perutnya. Akhirnya di Jalan Tengah Kampung Jawa dia membuang aku ketika hendak melompati sebuah parit kecil. Aku terpelanting jatuh dan hampir terbentur ke batang kelapa. Siku, bahu dan pinggangku luka-luka. Kuda itu telah melarikan diri entah ke mana. Besoknya baru ditemukan orang di dekat Kebun Lama.
Kabar angin telah mulai bertiup bahwa Indonesia telah merdeka. Tetapi tidak seorang pun yang percaya dengan berita itu, karena belum ada suatu keterangan resmi. Aku juga telah mendengar kabar bahwa ke Kantor Guntyo Langsa telah ada perintah untuk membentuk Komite Nasional dan men- dirikan PNI1. Tetapi tentang Indonesia merdeka tak pernah disebut-sebut. Dari mulut Guntyo sendiri belum pernah diucapkannya. Pembentukan Komite Nasional dan PNI itu kabarnya bertalian dengan musyawarah yang telah diadakan di Jakarta bagi persiapan kemerdekaan Indonesia sebelum Jepang menghentikan perangnya. Selebaran-selebaran tentang kembalinya Pemeríntah Belanda di Indonesia telah mulai dijatuhkan dari kapal-kapal terbang. Di Langsa, beberapa orang bekas pegawai Hindia Belanda telah membentuk sebuah komite van ontvangst2 untuk menyambut kembalinya Belanda nanti. Beberapa orang di antara mereka itu sudah tidak takut lagi memperlihatkan kegirangannya. Orang-orang Cina di Langsa telah sibuk membuat bendera-bendera Belanda, Cina, Amerika, Rusia, Perancis dan Inggris. Berita-berita tentang bakal datangnya Tentara Chiang Kai-shek telah tersiar ke mana-mana. Orang-orang sudah mulai mengerti kedudukan yang sebenarnya tentang per- damaian yang dikatakan oleh Jepang itu. Di ujung kampung kelapa di depan rumahku ada sebuah rumah panggung yang didiami oleh janda Krijsman. Suaminya telah ditangkap dan dibunuh oleh Jepang. Aku tidak tahu bagaimana mulanya maka janda ini telah berkenalan baik dengan pembesar-pembesar Kempeitai dan mendapat kepercayaan yang sedemikian baiknya sehingga salah seorang perempuan simpanan pegawai Kempeitai itu ditumpangkan di rumah tersebut. Perempuan simpanan Kempeitai itu selalu kulihat bolak-balik dari rumah itu ke Kantor'Kempeitai di samping Kantor Polisi. Kadang-kadang kulihat
- Partai Nasional Indonesia
- Panitia Penyambutan
ATETY
dia seharian tinggal di rumah janda Krijsman itu. Ia seorang peranakan In- do. Ibunya orang Cina dan bapaknya orang Belanda. Kulitnya putih kuning, tubuhnya langsing dan tinggi, rambutnya hitam dan panjang sampai ke ping- gang. Dia selalu memakai rok dan menunggang sepeda. Kalau bukan dalam zaman Jepang, tentu tidak masuk akal bila perem- puan yang begitu muda dan cantik akan menjual dirinya sedemikian rendah. Aku sendiri ketika mengetahui tentang keadaannya merasa heran dan bertanya-tanya di dalam hati, mengapa dia sanggup menceburkan dirinya demikian rupa, padahal tak mungkin tidak ada yang mau mengambilnya menjadi istri. Pada suatu petang ketika aku duduk-duduk sendirian di atas tembok jalan di depan rumah, kulihat dia datang dari pasar dan mau membelok ke rumah tumpangannya. Dia menganggukkan kepalanya memberi hormat kepadaku. Itulah pertama kali dia beramah-tamah serupa itu. Dan karena anggukan yang pertama itu maka setiap petang pada waktu yang sama aku akan menunggu dengan sabar di tembok itu. Dan rupanya dia pun menggunakan waktu yang sama pula untuk pulang ke rumahnya. Setelah dua tiga kali maka pada suatu sore dia tidak terus membelok ke rumahnya, tetapi terus menuju ke depanku. "Selamat sore," ujarnya dengan suara merdu dan sedikit logat Belanda. "Selamat sore," jawabku dan bangkit menyambutnya. Dia menghentikan sepedanya, lalu turun dan meletakkan sepedanya di tepi tembok. "Boleh saya duduk?" tanyanya dengan senyuman manis yang bermain dalam anak matanya yang riang gembira itu. "Mengapa tidak ke dalam saja," kataku seraya memberi isyarat dengan tangan mempersilakannya masuk. "Tidak usah," katanya. "Di sini saja cukup." "Nama saya Ientje," katanya. "Saya sudah lama ingin berkenalan dengan Tuan Abdullah tetapi tidak ada kesempatan." "Ientje apa?" tanyaku. "Ientje saja sudah cukup. Nyonya belum pulang kemari lagi?" "Belum," jawabku. "Mengapa Ientje ingin berkenalan dengan saya. Apakah tidak menimbulkan curiga Tuan Jepang itu nanti?" "Tidak. Saya ingin berkenalan dengan Tuan karena banyak hal yang mau saya bicarakan. Cuma sayangnya waktu begitu singkat." "Mengapa begitu singkat? Saya kurang mengerti," tanyaku dengan keheranan. "Masa bagi saya tinggal di sini, seharusnya kita telah berkenalan
beberapa bulan sebelumnya. Tetapi ya ...." Dia menarik nafas panjang.
"Kenapa?" "Tidak ada apa-apa. Ah, biarkan hal itu begitu saja. Apakah di sini ada buku-buku Inggris?" Hatiku berdebar-debar mendengar pertanyaannya itu. Biarpun Jepang telah kalah, aku masih tetap curiga kepada mereka. Apakah ini perangkap penghabisan yang akan diberikan kepadaku. Melihat aku terdiam dan ternganga itu, perempuan itu lalu berkata: "Buku-buku cerita, saya ingin membacanya untuk merintang-rintang waktu." "Ada satu dua, tetapi ...!"
"Tetapi apa? Saya bukan spion Jepang," katanya seolah-olah mengetahui
apa yang menjadi keraguanku. "Bukan itu,"aku bermaksud akan menyembunyikan keraguanku itu padanya.
"Ya, saya bukan spion Jepang, jadi tidak usah Tuan Abdullah khawatir."
"Baiklah kataku." Lalu aku pun minta izin masuk ke dalam dan meng- ambil beberapa buah novel Inggris yang kuserahkan kepadanya. Dia me- nyambutnya dengan gembira. "Ini dapat saya habiskan dalam waktu seminggu dan kalau lebih cepat, tentu cepat pula saya pulangkan," katanya seraya meminta diri. Kupandangi dia ketika menaiki sepedanya sampai hilang di balik pagar hidup di depan rumah tumpangannya. Besok petangnya ketika aku duduk-duduk di tembok itu, dia datang dan bercakap-cakap denganku. Tetapi dia tidak mau turun langsung dari sepedanya. Kedua kakinya saja yang dipijakkan ke tanah. Dia menceritakan sebagian dari isi novel yang telah dibacanya, katanya ceritanya menarik sekali, walaupun bagian permulaannya menjemukan. Karena aku mendapat orang yang sealiran, maka sangatlah senang hatiku bercakap-cakap dengannya. Aku menceritakan pula isi Gone With the Wind karangan Margaret Mitchell yang sedang kubaca, namun belum rampung semuanya. "Nanti pinjamkan kepada saya," katanya. "Tetapi tebal sekali, 1000 halaman lebih," ujarku. "Lebih tebal lebih baik," jawabnya. "Apalagi buku-buku lain?" "Buku detektif Bulldog Drummond,"kataku. "Saya suka detektif." "Mengapa?" "Bagi saya membaca buku-buku detektif itu lebih mengasyikkan daripada
ATLTY
buku-buku novel yang kadang-kadang menjemukan, karena terlalu lambat mendapat excitementnya."
"Entahlah. Tetapi saya tidak suka."
Hubungan kami telah begitu akrab. Petang berikutnya ia telah masuk
sampai ke beranda. Nenek telah menyediakan teh untuk kami dengan ubi rebus. Kulihat dia tidak segan-segan memakannya, sambil mengatakan
'enak' berulang-ulang, sebagaimana kebiasaan orang Barat yang 'enak
dengan apa saja.
Dua hari kemudian ketika aku dari kantor, kulihat salah sebuah buku itu
ada di tempat tidurku. Kata nenek nona itu menyuruh dia meletakkannya di situ tengah hari tadi. Terasa ganjil cara dia mengembalikan buku itu. Dalam hatiku timbul per- tanyaan mengapa tidak dia sendiri yang mengembalikannya kepadaku petang nanti seperti biasa. Dan aku pun segera mengambil buku itu, kubalik-
balik halamannya. Tiba-tiba terjatuhlah sebuah surat.
Tulisannya begitu kecil, tulisan wanita yang panjang-panjang dan kurus. Kubaca surat itu dengan terburu-buru, tetapi kemudian terpaksa kuulang- ulang membacanya dengan perlahan-lahan untuk memahami apa yang ter- tulis di dalamnya itu. Dia memberitahu supaya aku jangan tidur di rumah pada malam hari. Disuruhnya aku berpindah-pindah selang satu malam karena ada gerakan pembersihan yang akan dilakukan oleh Jepang sebelum mereka itu dikumpulkan dan dikirim kembali ke negerinya. Mereka masih berkuasa karena mereka ditugaskan untuk menjaga keamanan sampai Tentara Sekutu datang. Dia juga memperingatkan aku tentang orang-orang Jepang yang menyewa di sebelah rumahku itu; katanya, Jepang-Jepang itu bukan hanya pegawai tambang minyak seperti yang selalu aku sangka. Mereka itu khusus ditem- patkan di situ oleh Kempeitai untuk mengawasi gerak-gerikku, orang-orang yang datang ke rumahku dan mungkin juga mereka telah meletakkan alat- alat yang dapat merekam apa yang aku bicarakan. "Terimalah pemberitahuanku ini dengan ikhlas. Biarpun kita barangkali berlainan haluan, tetapi aku adalah seorang manusia yang cinta akan per- damaian dan ketenteraman."
Gemetar juga hatiku membaca suratnya itu, walaupun was-was masih
ada tentang kebenarannya. Tetapi mengapa dia menyuruh aku tidur di tempat lain dan hal ini amat berat menekan perasaanku, karena di dalamnya terselip sedikit 'kemungkinan' bahwa apa yang dikatakannya itu benar. Aku menyangka tentu petang itu dia tidak datang, tetapi aku menung-
gunya juga di tembok di depan rumah. Tepat pada waktunya sampailah dia,
dalam keadaan santai dan bersahaja saja kelihatannya. Senyumnya masih seperti biasa, dia meņegur aku dengan ramahnya seolah-olah tidak ada yang terjadi di antara dia dan aku. Kuajak dia masuk tetapi dia menolak dengan alasan dia hanya singgah sebentar saja. "Ientje," ujarku. "Mengapa Nona menulis surat yang serupa itu kepada saya?" "Karena keselamatan Tuan Abdullah. Saya telah melihat satu daftar di dalam bilik tuan saya, daftar orang-orang yang akan ditangkap. Nama Tuan Abdullah nomor tiga." "Apakah benar ini?" "Kalau Tuan Abdullah tidak percaya, saya kuatir kalau-kalau Tuan Abdullah tidak dapat mengucapkan kata-kata penyesalan lagi." "Tetapi tentunya daftar itu ditulis dalam bahasa Jepang," kataku masih ragu-ragu juga. "Benar dalam bahasa Jepang, tetapi tahukah Tuan Abdullah bahwa saya tahu bahasa Jepang.' "Betulkah?" aku membeliakkan mata kepadanya. "Ya, saya sebenarnya ...?" Tetapi dia tak sempat mengucapkan kata-kata itu karena kawanku Ghazali tiba-tiba saja datang dari belakang kami. Percakapan kami pun terhenti sampai di situ. Aku memperkenalkan Ghazali kepada Ientje, tetapi sebentar kemudian dia pun mohon diri. Ghazali duduk di sampingku dan menceritakan hal keributannya dengan Teuku Abdullah Paloh, Kepala Kantor Kejaksaan. Katanya sudah beberapa hari ia tidak pergi ke kantor, karena 'mogok'. Aku lalu menasihatinya agar dia tidak usah terlalu berkeras sampai begitu. Tetapi dia seorang yang sangat keras hati, tidak sesuai dengan pembawaannya yang lemah dan malas saja kelihatannya. Kalau Ghazali sudah datang ke rumahku, maka kami pun bercakap-cakap sampai waktu isya. Setelah makan dan salat aku berpesan kepada Junied dan nenek bahwa aku akan ke luar, dan tidak usah tunggu aku pulang. Kedatangan Ghazali sebagai satu blessing in disguise bagiku untuk mengikut usulan Ientje itu. Malam itu aku tidur di rumah Ghazali. Kira-kira jam lima pagi aku kembali ke rumah. Kulihat nenek sedang memasak air di dapur dan dia terperanjat melihat aku masuk dari pintu belakang, karena pada sangkanya aku masih tidur. Junied juga telah bangun dan dia memberitahukan kepadaku bahwa tadi malam ada beberapa kali telepon berdering. Sekali dia yang mengangkat tetapi orang itu tidak mau menyebut nama serta tidak pula meninggalkan
ATITY
pesan. Dia hanya bertanya apakah aku ada di rumah atau tidak. Walau- pun di rumahku memang ada telepon, namun jarang sekali berbunyi, kecuali kalau ada panggilan yang perlu dari pegawai-pegawai polisi. Aku tidak mencurigai apa-apa tentang telepon itu. Selagi aku berpakaian, kudengar ada orang memanggil-manggil namaku di luar, dari serambi depan. Kuminta Junied membuka pintu dan sebentar kemudian Junied pun masuk dengan suara rendah hampir seperti berbisik,
"Bapak, perempuan dari rumah depan."
Memang dia hanya mengenali perempuan itu sebagai perempuan dari rumah depan saja. Aku pun menyuruh dia mempersilakan perempuan itu masuk dan untuk pertama kalinya dia masuk ke ruangan tengah. Selesai berpakaian aku pun ke luar, kulihat dia berpakaian lebih cantik dari biasa. Baju roknya berbunga-bunga kecil yang cerah sekali warnanya. Rambutnya disisir dengan licin. Kasutnya tumit tinggi putih. Seperti mau bepergian jauh. "Selamat pagi," kataku sambil menuju ke dekatnya. Dia berdiri dan menganggukkan kepala."Silakan duduk. Mau bepergian nampaknya?" "Saya datang mau mengucapkan selamat tinggal," katanya. "Saya akan kembali ke Siantar sore ini. Dan ini buku-buku Tuan Abdullah. Terima kasih banyak." Aku tertegun ketika mendengar dia mengatakan maksud kedatangannya pagi itu. Setelah aku duduk barulah aku dapat berbicara. "Mengapa begitu terburu-buru sekali?"
"Ya, apa boleh buat. Jepang itu menyuruh saya kembali ke Siantar,
karena katanya dia tidak lama lagi akan pulang ke negerinya dan petang ini ada kendaraan yang akan ke Medan." "Sedih sekali," kataku. "Baru saja kita berkenalan, tiba-tiba berpisah dan saya masih ingin mendengar sambungan cerita kita yang belum selesai itu." "Tidak apa tentang cerita itu. Ada hal lain yang akan Tuan Abdullah dengarkan nanti, mungkin cerita tentang saya. Saya sudah berpesan kepada bibi tukang masak di Kempeitai itu untuk memberitahukan kepada Tuan Abdullah apa-apa yang perlu seandainya saya sudah pergi nanti." Aku memang kenal baik dengan bibi tukang masak Kempeitai itu, karena dia kawan baik mungkin juga ada hubungan darah dengan tukang masak kami dulu. Tetapi aku tidak pernah bercakap-cakap lama dengannya, O karena dia selalu menghindari untuk berbicara panjang-panjang. Nenek datang membawa dua cangkir kopi dan sedikit getuk ubi. Kuper- silakan ia makan.
"Beruntung sekali," katanya. "Saya belum makan apa-apa karena saya takut tidak sempat bertemu dengan Tuan Abdullah." "Makanlah," ujarku. "Makanlah jangan segan-segan. Saya jarang makan pagi kecuali minum kopi saja." "Masakan saya makan sendirian saja," jawabnya dengan senyum simpul. "Malulah saya." "Kenapa harus malu. Anggaplah kita ini sudah lama berkenalan dan buatlah rumah ini seperti rumah Nona sendiri." "Kalau Tuan Abdullah ke Siantar jangan lupa cari saya. Adakah orang yang Tuan Abdullah kenal di Siantar?" "Ada beberapa orang, tetapi saya tidak tahu apakah mereka masih ada di sana ataupun sudah pindah. Tetapi biar bagaimanapun saya akan mencari juga. Tetapi apakah ada orang mengetahui hanya dengan nama Ientje saja dan berapa banyak Ientje ada di sana?" "Ini nama saya." Lalu dia mengulurnya sehelai kertas yang telah ber- tulis namanya. Tetapi alamatnya tidak ada. "Tanya kepada manager Hotal Siantar ataupun kepada Kantor Polisi, mereka akan memberitahu- kan di mana rumah saya." Setelah bercakap-cakap sejurus lamanya, maka ia pun minta izin. Untuk pertama kalinya dia pergi ke dapur mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal kepada nenek. Aku mau mengantarkannya ke luar, tetapi dia melarang, katanya, "Tak usah ke luar, tunggu sampai saya pergi dulu." Aku tidak ke luar, dalam hati merasa heran tentang sikapnya yang sangat misteri itu. Setelah dia pergi aku masih duduk di kursi sambil memper- hatikan namanya yang tertulis pada sehelai kertas kecil, sobekan dari sebuan buku catatan. Siapakah dia yang sebenarnya? Benarkah dia hanya seorang perempuan yang menjual dirinya kepada Jepang? Mengapa pada Hotel Siantar mesti kutanyakan alamatnya? Selain hotel, juga polisi, kuhilangkan keraguan itu dengan mengatakan: Ah, memang dia seorang perempuan yang sudah rusak moralnya. Ya, dalam zaman seperti ini apa pun boleh saja térjadi untuk menyambung hidup. Tidak mutlak apakah dia terpelajar atau tidak, perintah perut lebih berkuasa daripada perintah hati dan perasaan! Aku berangkat ke Kantor Polisi. Mula-mula kulihát buku laporan yang ada di kamar pengawal. Tidak ada kejadian yang penting semalam, tidak ada pula catatan yang menunjukkan bahwa mereka menelepon ke rumahku. Untuk meyakinkan lagi aku bertanya kepada Kepala Pengawal. Me- nurut mereka tidak ada yang menelepon ke rumahku. Jadi siapa? Timbul kembali pertanyaan itu dalam kepalaku.
ATUTY
Tengah hari aku mendapat kabar dari Kantor Bunsyutyo Langsa bahwa beberapa orang utusan Tentara Sekutu akan pergi ke Kotaraja dengan jalan darat. Mereka akan melewati kota Langsa. Kepadaku diminta supaya mengatur penjagaan-penjagaan di jalan raya yang akan dilalui oleh mereka dan persiapan-persiapan lain kalau sekiranya mereka terpaksa singgah ber- malam di Langsa. Kapan para utusan itu akan lewat belum lagi diberi- tahukan, tetapi herannya ketika aku pergi ke pasar kudengar orang-orang berbicara tentang utusan-utusan tersebut, terutama sekali dari orang-orang Cina. Dari pembicaraan itu dapat kutarik kesimpulan bahwa antara orang-orang Indonesia dengan orang-orang Cina sudah timbul satu perbedaan perasaan yang mungkin akan mengakibatkan kekacauan. Orang-orang Indonesia merasa tidak senang mendengar bahwa utusan-utusan itu akan lewat di Langsa, sebab entah dari mana meręka memperoleh keterangan yang mengatakan bahwa utusan itu bukanlah Tentara Inggris atau Amerika, melainkan Tentara Belanda yang menyamar sebagai anggota Tentara Sekutu. Sebaliknya di pihak orang-orang Cina menganggap bahwa dalam utusan itu akan ikut juga Tentara Chiang Kai-shek. Betapa pun juga anggapan orang, kami di pihak polisi tidak boleh mem- biarkan sesuatu yang tidak baik terjadi. Kami harus menjaga keamanan dengan segenap tenaga yang ada pada kami. Aku tidak pulang sampai petang. Kira-kira jam tujuh malam terdengar bunyi letusan pistol tiga kali berturut-turut dari arah rumah Kempeitai yang letaknya selang satu rumah dari Kantor Polisi. Karena letusan itu datangnya dari situ maka kami tidak mempunyai kekuasaan untuk menyelidikinya. Walaupun kami semua merasa gundah kalau-kalau ada di antara orang-orang Indonesia yang menjadi korbannya. Aku tidak lagi duduk di dalam kantorku, melainkan telah ke luar dan duduk bersama-sama dengan polisi pengawal di luar. Aku menunggu kalau-kalau ada orang yang datang mengadu bahwa ada di antara kaum keluarganya yang hilang ditangkap Jepang. Sampai jam sembilan tidak ada berita apa-apa dari orang ramai. Sedang aku bersiap-siap hendak pulang, tiba-tiba aku dipanggil oleh seorang polisi. la menunjukkan seorang perempuan yang berdiri di bawah pohon beringin di belakang kantor itu. Aku tidak dapat mengenalinya, karena dia berdiri di dalam gelap. Aku pun menghampirinya.
"Tuan!" ia menegur.
Suaranya kukenal.
"Ada apa, Bibi?" tanyaku dan menghampirinya.
"Nona Ientje telah mati," katanya dengan gugup.
"Apa?" aku sungguh-sungguh terperanjat mendengarnya. "Tetapi dia sudah pulang ke Medan?" "Dia belum sempat pulang," jawabnya. Walaupun kami bicara di dalam gelap tetapi dia kelihatan gelisah. Matanya liar memandang ke kiri dan ke kanan. "Bagaimana dia bisa mati?" "Dia ditembak oleh tuannya." Bibi itu meneruskan ceritanya. "Tadi pagi, pagi-pagi sekali dia telah sampai di kantor itu berpakaian rapi bagai orang yang hendak bepergian. Kepada kami dia sudah berpamitan dan kelihatan- nya sangat riang gembira. Dia bernyanyi dan berjalan menuju kaki lima dapur. Kami semua menyangka dia gembira karena hendak berangkat." Bibi itu diam dan menarik napasnya lagi. "Kira-kira jam enam petang tadi kami di dapur mendengar dia bertengkar dengan tuannya di dalam kamar. Tuan besar ada di luar. Karena mereka berbicara dalam bahasa Jepang, kami tidak mengerti ujung-pangkal pertengkarannya itu. Dan tiba-tiba pada jam tujuh terdengar bunyi letusan tiga kali. Tuan besar berlari ke dalam. Pintu kamar itu tidak terkunci dan saya serta paman ikut masuk. Ah, ngeri sekali Tuan ...?" "Teruskan," aku mendesak."Apalagi?" "Ngeri Tuan. Nona itu jatuh tertiarap di lantai dan di atasnya terbaring pula tuannya." "Kedua-duanya mati?" "Tuan itu belum mati, masih bergerak dan mengerang-erang. Tetapi nona itu sudah kejang." Bibi itu terhenti lagi. "Teruskan,"kataku."Apalagi?" Tuan besar menarik tuan muda ke sebelah dan saya sudah tidak sanggup melihatnya lagi. Saya lari ke bawah. Paman terus menunggu karena tuan besar mengajaknya menarik tuan muda jtu. Kata paman ketika dipisahkan barulah tuan muda itu diam dan mati. Di dada dan bawah dagunyà ada bekas pelor; dahi nona itu berlubang, belakang kepalanya tembus. Darah melimpah di atas lantai. Tuan besar mengajak paman menggali lubang di depan rumah, sekarang mereka sedang mengerjakannya dibantu oleh tukang kebun." "Mengapa Bibi datang memberitahukan kepada saya?" "Karena nona itu berpesan, kalau terjadi apa-apa supaya disampaikan kepada Tuan." "Tahukah tuan Jepang itu tentang pesannya ini?" "Tidak Tuan." "Apalagi yang Bibi tahu?"
ATITY
"Kata paman ketika dia menarik nona itu dia menemukan surat tergeng- gam di dalam tangannya. Surat itu berlumuran darah sebab tertindih di bawah dadanya." "Surat apa, Bibi tahu?" "Saya tidak tahu, tetapi tentu surat penting." "Apalagi yang Bibi tahu?" "Kata paman, ketika mereka sedang berada dalam kamar itu tuan besar berkata dalam bahasa Melayu, 'bodoh, pasal cinta saja mau mati.? Itu saja Tuan, permisi saya pulang dulu, nanti tuan besar itu memanggil saya pula." Aku tidak mengetahui dengan jelas motif pembunuhan itu, tetapi ketika kuhubung-hubungkan semua masalah, maka aku berkesimpulan bahwa Ientje tentu mau membawa lari dokumen penting dan mereka berebut dokumen itu. Agaknya karena dia berkeras ataupun karena telah mengetahui isi dokumen itu maka tuannya menembaknya agar kejadian itu kelihatan sebagai drama percintaan. Karena dia juga membunuh dirinya, maka tuan besar Kempeitai itu mengatakan mereka itu bodoh membúnuh diri hanya karena masalah cinta. Tetapi aku tidak berani mengatakan apa-apa tentang hal itu kepada orang lain. Malam itu aku tidur di rumah Amiruddin di Jalan Kanton. Pagi-pagi sekali aku telah pulang ke rumah. Setelah minum dan bertukar pakaian aku pun ke luar menuju ke Kantor Polisi. Aku mengambil jalan di depan Kantor Pekerjaan Umum dan lewat di depan Sekolah Rakyat, kemu- dian melintas di depan rumah Kempeitai. Benarlah di depan rumah itu kulihat tanah telah tersirah. Kiranya di situlah Ientje dikubur dalam satu lubang bersama-sama dengan tuan Jepangnya. Ketika itu baru aku teringat, dia masuk ke rumahku pada pagi itu. Dia pergi ke belakang menjumpai nenek, perbuatan ini belum pernah dia lakukan sejak kami berkenalan. Rupanya dia buang tabiat seperti yang di- percayai oleh orang kita terhadap orang yang akan mati. Ientje telah dikubur tanpa upacara dan untuk sementara rahasianya telah terbenam bersama-sama jasadnya. Tengah hari aku mendapat kabar bahwa utusan Tentara Sekutu akan lewat di Langsa kira-kira jam dua. Aku pun menyuruh beberapa orang pegawai polisi berjaga-jaga di beberapa tempat yang penting. Hampir pukul satu aku ke luat dari Kantor Polisi menuju ke Langsa Klub. Ketika aku akan melewati Kantor Gunseibu, tiga buah mobil dari jurusan Medan lewat di jalan ráya Kuala Simpang-Idi dengan lajunya. Aku sempat melihat orang-orang di dalamnya hanya sepintas lalu saja. Aku tidak
melihat ada orang berkulit putih, tetapi hanya orang yang berkulit sawo- matang seperti aku juga. Mereka memakai pakaian hijau dengan topi beret, di depan mobilnya berkibar-kibar bendera tiga warna, yakni bendera Belanda. Begitu cepat mereka lewat hingga dalam sekejap mata saja sudah hilang dari pandangan. Dengan tidak disangka-sangka dari sekolah Cina telah keluar satu rombongan orang Cina yang terdiri dari anak-anak sekolah di bawah pimpinan gurunya. Mereka membawa bendera-bendera kuasa besar termasuk bendera Belanda. Dari jurusan lain muncul pula satu rombongan orang Indonesia yang kabarnya akan menyerang rombongan Cina itu. Aku yang ketika itu berada di dalam Langsa Klub segera ke luar dengan menunggang sepeda. Aku sampai di antara kedua rombongan yang sedang mara itu tepat pada waktunya. Aku berdiri di tengah-tengah, antara barisan orang Indonesia dengan barisan orang Cina sehingga terhindarlah insiden, yang kalau terjadi akan menimbulkan korban yang banyak. Aku menasihati orang-orang Cina itu agar mereka pulang dengan baik dan bendera-bendera yang mereka bawa itu diserahkan kepadaku. Aku katakan perbuatannya itu melanggar undang-undang negeri, mengadakan demonstrasi tanpa izin dan mereka semuanya dapat ditangkap. Karena mendengar keteranganku juga karena melihat orang-orang Indonesia sedang berdiri di depan mereka yang kian lama kian banyak, maka barisan itu pun bubar, sedang benderanya diserahkan kepadaku serta pegawai polisi yang telah datang ke situ. Aku juga menyuruh orang Indonesia itu bubar dan kembali ke tempatnya masing-masing. Setelah peristiwa itu, tidak ada terjadi peristiwa lain, meskipun orang-orang Cina masih yakin bahwa Tentara Chiang Kai-shek akan datang ke Sumatera dan memerintah negeri itu atas nama Tentara Sekutu. Keyakinan mereka itu didasarkan pada kemenangan Tentara Sekutu yang di dalamnya ikut serta Kuomintang. Kabarnya di semua tempat perasaan yang serupa telah meluap dengan hebatnya. Sebagian orang Cina dengan terang-terangan menunjukkan sikap sebagai bangsa yang menang dalam peperangan. Bendera-bendera Kuomintang dibuat sebanyak-banyaknya di samping bendera negara lain. Di kota Langsa, walaupun orang Cina lebih banyak bermastautin dari kota lain di Aceh, tetapi unjuk perasaan secara terang-terangan tidak terjadi. Mereka membuat bendera dengan diam-diam, atau mungkin juga sedang menunggu saatnya yang baik untuk memperlihatkan sikapnya. Aku memanggil Kapten Cina dan mengingatkan kepadanya, kalau mereka salah langkah kami tidak dapat mencegah malapetaka yang bakal terjadi. Kapten Cina itu, seorang peranakan dari Melaka (dia menggantikan
ATTT2
Kapten Cina yang ditangkap oleh Jepang) mengerti akan maksudku. Kebetulan dia juga seorang teman baikku karena kami sama-sama dari Malaya.
Pada suatu pagi ketika aku sedang bekerja, masuklah Tuan Hassanuddin, Keibuhol yang mengepalai Hoan-Kwa (Bagian Kriminal) di Kantor Polisi Langsa. Setelah memberi hormat ia pun berkata, "Tuan, hari ini saya minta supaya Tuan meninggalkan kantor sebentar." Permintaan itu sangat ganjil. Aku memandangnya dengan tercéngang. Belum pernah terjadi seorang bawahan seperti dia meminta kepalanya meninggalkan kantor. Apakah hujan berbalik ke langit? Tanya hati kecilku. "Kalau Tuan minta membuat surat pernyataan pun saya bersedia, yaitu selama Tuan tidak ada di kantor ini, segala yang terjadi menjadi tanggung jawab saya," katanya setelah melihat aku terheran-heran. "Ada apa?"tanyaku kemudian. "Itu soal saya," jawabnya dengan serius. "Nanti setelah selesai saya akan memberitahukan kepada Tuan. Sekarang saya minta Tuan meninggalkan kantor ini kira-kira selama tiga jam." "Tetapi saya yang bertanggung jawab di sini, dan saya tidak boleh menyia-nyiakan tanggung jawab itu, bukan?" "Itu benar. Saya dapat melakukannya selama Tuan pergi, karena hal ini terpaksa diselesaikan segera hari ini. Tuan boleh pergi atau pulang ke rumah." Seorang kopral masuk setelah mengetuk pintu. Dia memberi hormat kepadaku, kemudian bicara dengan Tuan Hassanuddin. "Semuanya sudah siap Tuan, tinggal tunggu perintah." Mendengar itu Tuan Hassanuddin memandang dengan tajam kepadaku. Pada matanya terlihat ancaman sekiranya aku tidak memenuhi maksudnya. Perawakan Tuan Hassanuddin sedang saja tingginya tetapi tegap. Selama bekerja di bawah pengawasanku dia tidak pernah melalaikan kewajiban- nya, orangnya sangat berani.
- Pembantu Inspektur Polisi
ATET'YA
"Agar kita dapat menjaga keselamatan, buatlah surat resmi," kataku kepadanya. Mendengar itu dia tersenyum sedikit, kemudian keluar. Sebentar kemudian dia masuk membawa sepucuk surat diketik. Isinya mengatakan bahwa "Mulai jam sembilan sampai jam dua belas hari itu, dia mengambil tanggung jawab di Kantor Polisi itu dan segala yang terjadi di dalam kantor itu pada waktu tersebut adalah tanggung jawabnya." Surat itu siap ditandatangani olehnya. Setelah kuterima surat tersebut, aku pun mengambil sepeda dán keluar menuju pasar. Hatiku tidak tenteram. Lalu aku pun pulang kembali ke Kantor Polisi itu tetapi tidak masuk ke dalam. Kuletakkan sepedaku dan kemudian aku pergi ke Kantor Kehakiman yang tak jauh dari situ. Sebenarnya selama masa menunggu penyerahan pemerintahan dari Tentara Jepang kepada Tentara Sekutu (kalaupun benar demikian) urusan pemèrintahan selalu statis. Kecuali semua Kantor-kantor Polisi hanya ter- dapat pelangnya saja, sedangkan pegawainya tidak ada yang bekerja. Mereka hanya berkumpul dan berkelompok-kelompok ngobrol tentang berbagai hal. Perkara yang paling hangat diperbincangkan ialah tentang adanya les hitam Kempeitai Jepang yang akan menangkap orang-orang penting. Tiap-tiap orang telah memasukkan sendiri namanya ke dalam les itu, untuk memperlihatkan bahwa ia pun penting juga, walaupun pada hakikatnya dia dulu seorang mata-mata Jepang. Kabarnya Kempeitai telah menyediakan keranjang-keranjang seperti keranjang babi dan kamar-kamar gelap, untuk tempat orang-orang yang akan ditangkapnya. Aku tidak tahu pasti tentang hal ini, tetapi kebenarannya mungkin ada, apalagi aku sendiri telah men- dengarnya dari Ientje beberapa hari yang lalu. Di Kantor Kehakiman pada waktu itu ada beberapa orang sedang ber- cakap-cakap. Aku pun masuk dan ikut dalam kumpulan mereka itu. Kami bercerita tentang berbagai hal. Tiba-tiba aku melihat kopral yang bercakap- cakap dengan Tuan Hassanuddin di dalam kamarku tadi membonceng seorang pemuda Cina. Aku duduk menghadap ke jalan raya dan pandang- anku tepat ke halaman Kantor Polisi. Pemuda Cina yang dibawa oleh kopral itu anak seorang hartawan di Langsa. la pandai berbahasa Inggris, karena pernah bersekolah Inggris di Medan. Orangnya sangat kacak dan tingkah lakunya pun sudah agak kebelanda-belandaan. Ia menjadi mata-mata Kempeitai dan telah banyak menjebloskan orang-orang Cina bangsanya sendiri ke dalam perangkap Kempeitai itu. Dia ada dalam daftar kami, karena kami banyak sekali menerima pengaduan dari orang-orang Indonesia, yang mengatakan bahwa PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH — 3
dia mengejek-ejek kemerdekaan Indonesia. Sejak jaminan kemerdekaan
yang dikatakan oleh Jepang, hingga berita-berita angin tentang Indonesia merdeka bertiup dengan kencangnya. Orang-orang Indonesia sangat sakit hati terhadapnya, karena dia begitu berani mengatakan: "kalau Indonesia
merdeka potong gua punya lancau!'"
Sekarang tahulah aku mengapa dia dibawa. Aku juga marah terhadap pemuda itu, tetapi belum timbul maksud untuk membalas dendam secara semborono dengan tidak ada alasan yang cukup. Kiranya sekarang dia akan diberi ganjaran oleh Tuan Hassanuddin. Aku pun keluar dari Kantor Kehakiman lalu pergi ke belakang Kantor Polisi. Kulihat pemuda Cina itu diiring oleh dua orang polisi, seorang di an- taranya kopral yang membawanya, serta seorang Cina yang menjadi kerani polisi. Mereka masuk ke dalam kamar Hoan-Kwa. Tuan Hassanuddin telah menunggu di dalamnya. Aku tidak berani lama-lama di situ, lalu kembali ke Kantor Kehakiman. Sebentar kemudian terdengar suara pekikan dan raungan dari arah Kan-
tor Polisi itu. Beberapa orang keluar dari Kantor Guntyo untuk melihatnya,
tetapi mereka segera masuk kembali sebab dilihatnya polisi-polisi pengawal
di luar itu dalam keadaan biasa saja, seolah-olah tidak ada terjadi apa-apa.
Rintihan dan pekikan terus-menerus terdengar, aku menjadi gelisah. Dalam hati aku mendoa agar jangan sampai pemuda itu cedera ataupun mati dikerjai oleh mereka itu. Kira-kira satu jam kemudian kulihat Tuan Hassanuddin bersama-sama kopral polisi itu telah keluar dengan sepedanya. Setelah mereka itu jauh aku pun cepat-cepat ke luar menuju ke kamar Hoan-Kwa. Di depan kamar itu ada seorang polisi lengkap dengan senjata sedang jaga. Ketika dilihatnya aku datang, maka ia pun memberi hormat. Aku terus masuk ke dalam kamar itu, Kulihat pemuda Cina itu meringkuk di atas lantai, kemejanya koyak-rabak dan beberapa bekas tangan terlihat di belakang dan pipinya. Orang Cina yang menjadi kerani polisi itu sedang menunggunya. Dia bangun untuk memberikan tempat duduknya kepadaku. Tetapi belum sempat aku melangkah ke kursi itu, pemuda Cina yang sedang meringkuk di lantai itu memandang ke atas. Ketika dia melihat aku yang datang, maka dirangkulnya kedua kakiku, ia
mencium kasutku. Dengan teriak dan tangis ia minta tolong untuk
melepaskannya. "Tolonglah saya Tuan," katanya dalam sedu-sedan. "Tolonglah saya, saya bertobat tidak akan berkata seperti itu lagi. Saya minta maaf. Saya ber-
sumpah tidak akan mengatakannya lagi."
t. Kemaluan (bahasa Cina)
ATITY
Aku hampir jatuh, karena kedua kakiku dipegangnya dengan erat. Belum sempat aku melepaskan kakiku, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Tuan Hassanuddin masuk dengan muka merah padam. Tangannya memegang pistol yang terselip di pinggangnya.
"Mengapa Tuan kemari?" katanya."Tuan tidak ada urusan di sini.
Saya minta dengan hormat Tuan ke luar segera." Dia menyuruh pegawai polisi Cina dan kopral yang di belakangnya menarik pemuda Cina itu dari kakiku. Lama juga baru terlepas, sebab pemuda itu memegangnya dengan kuat sekali. Aku terus ke luar, kembali ke Kantor Kehakiman. Di situ telah ada Kapten Cina dan bapak pemuda itu. Ketika mereka melihat aku datang, ke- duanya bangun dan memberi hormat. "Tolonglah Tuan, bebaskan anak celaka itu," kata bapak pemuda itu. "Anak itu memang jahat dan saya juga tidak suka kepadanya. Tetapi biar bagaimanapun dia adalah anak saya dan saya berjanji akan mengajarnya sendiri." Kulihat jam tanganku menunjuk pukul dua belas, maka aku pun meng- ajak mereka itu ke kamar kerjaku. Kusuruh mereka menunggu di situ dan aku ke luar menuju ke kamar Hoan-Kwa. Tuan Hassanuddin menepati janjinya. Tepat jam dua belas dia menyerahkan pemuda itu kepadaku dan suratnya tak kukembalikan kepadanya. Pemuda itu menyangka memang benar akulah yang telah menolongnya, lalu dia mencium sepatuku dan dia kuangkat berdiri. Aku tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh pegawai-pegawai polisi itu kepadanya, tetapi dia tak dapat lagi berjalan tegap. Ia terhuyung-huyung sambil berpegang pada bajuku, lalu kubawa dia ke kamarku. Belum sempat aku duduk, bapaknya telah menyerbu dan menempe- lengnya beberapa kali, anaknya terjatuh dan disepaknya. Kapten Cina dan aku terpaksa menyabarkannya. Aku memberi nasihat kepada pemuda itu dan juga kepada bapaknya."Kau bernasib baik dan aku harap tidak ada cedera apa-apa Kau tahu apa yang telah kaulakukan? Kau mengusik sen- timen rakyat sedangkan orang mau mengorbankan nyawanya untuk membela kehormatannya." "Saya bertobat Tuan, tidak akan mengatakan lagi dan merasa menyesal sekali. Ampunilah saya sekali ini," jawabnya dengan terisak-isak. Mereka kusuruh pulang. Dan itulah terakhir kali aku melihatnya di Langsa, karena beberapa hari kemudian dia telah diusir oleh bapaknya. Dia lari ke Medan dan bekerja menjadi mata-mata Belanda pula. Sejak itu tersiarlah kabar bahwa seorang pemuda Cina telah mati di-
bunuh oleh pegawai polisi Langsa karena menghina kemerdekaan Indo- nesia. Dari Kotaraja kami terima telegram yang meminta laporan lengkap tentang 'pembunuhan' itu. Memang kejadian itu ada baiknya juga, sebab sejak itu seluruh bendera yang sedang disiapkan oleh orang-orang Cina di Langsa telah hilang. Bendera Belanda telah hilang birunya hanya tinggal merah dengan putihnya saja lagi! Tak lama kemudian Tuan Hassanuddin pun dipindahkan ke Idi untuk memperkuat barisan polisi di sana. Memang sebelumnya pun dia berasal dari Idi juga.
ATIT2
Pada tanggal 30 Agustus telah datang ke Kantor Polisi Langsa seorang
pembesar Jepang dari Keimubul Kotaraja untuk meminta semua senjata
api. Pistol, senapan dan pelornya diserahkan kepadanya, sebab memang
demikian perintah dari atas. Siapa dia orang yang di atas itu aku pun tidak
tahu. Tetapi yang sudah pasti kebanyakan Kantor Polisi sudah tidak memiliki senjata lagi. Senjata-senjata Giyu-Gun2 telah lama ditarik sejak ter- jadinya pemberontakan di Pandrah. Anggota Giyu-Gun diberi tombak
dan opsir-opsirnya cukup dengan pedang panjangnya saja.
Memang pada waktu itu hanya Kantor Polisi Langsa sajalah satu-satunya instansi yang masih memiliki senapan karabin dan pelor (60 laras karabin
dan kira-kira 15.000 biji pelor). Senapan karabin ini dulunya digunakan oleh
Tokobetsu Keisatsutai (Polisi Istimewa yang mengawal jembatan dan kuala- kuala sungai) dan beberapa laras di antaranya kepunyaan polisi sendiri. Senjata api (pistol) boleh dikatakan polisi Langsalah yang paling mewah sekali, tiap-tiap orang mulai dari komandan sampai kepada Kepala Polisi memilikinya. Aku sendiri mempunyai selaras pistol colt yang masih baru. Setelah memperlihatkan surat tugasnya kepadaku, aku pun berkata kepadanya bahwa Kantor Polisi Langsa tidak termasuk dalam kekuasaan surat itu, dan sepucuk senjata pun tidak akan kuserahkan kepadanya. Melihat aku berkeras demikian, dia lalu menelepon Tuan Ikeda dan Tuan Bunsyutyo Langsa. Tuan Ikeda datang sendiri, sedangkan Tuan Bunsyutyo menyerahkan kebijaksanaan kepada Túan Ikeda. Sebenarnya Tuan Ikeda sendiri tidak dapat mengubah keputusanku itu. Lebih-lebih lagi karena aku berpegang kuat kepada surat penyerahan tang- gung jawab yang diberikannya kepadaku dulu. Aku mengancam, kalau dipaksa dengan kekerasan maka aku dan pegawai-pegawai polisi seluruhnya akan meletakkan jabatan. Keamanan di daerah Langsa tentu tidak terjamin,
- Kantor Pusat Kepolisian
- Tentara Rakyat
sebab orang-orang kampung semuanya telah mengetahui bahwa orang Jepang sudah tidak berkuasa lagi walaupun mereka itu boleh menembak untuk mempertahankan dirinya. Mendengar ancamanku itu, Tuan Ikeda dan orang Jepang itu termenung tak dapat berkata-kata. Akhirnya dicari jalan kompromi. Perintah yang dibawanya mesti dilaksanakan juga dan untuk melaksanakannya maka senapan angin, senapan anjing dan senapan-senapan yang sudah patah pun diserahkan kepadanya. Senapan-senapan yang lain boleh kami gunakan terus. Itulah modal perjuangan Republik Indonesia yang pertama di daerah Aceh dan itulah pula sebabnya, maka kukatakan bahwa penyerahan yang dilakukan oleh Tuan Ikeda tentang tanggung jawab Kantor Polisi itu merupakan modal perjuangan yang pertama. Dengan modal yang diperoleh itu akhirnya wilayah Langsa menjadi daerah Republik Indonesia yang pertama di Sumatera! Senjata itu telah kubagi-bagikan: 5 laras untuk Kantor Polisi Idi dan 5 laras untuk Kantor Polisi Kuala Simpang dan tiap-tiap orang Suntyo mendapat satu. Selebihnya kami gunakan di Langsa. Tiap-tiap polisi yang kuberikan senapan, kuminta berjanji untuk men- jaganya seperti menjaga dirinya sendiri. Kalau dia sudah mati terbunuh barulah senapan itu terlepas dari tangannya! Semangat pada waktu itu sudah menjadi jaminan bahwa janji itu akan dipenuhi dengan sebaik-baiknya. Pegawai-pegawai polisi yang mendapat senjata merasa bangga karena diberi kepercayaan dan kehormatan sedemikian besar. Senapan itu pun dijaganya seperti ia menjaga dirinya sendiri. Seorang India bernama Siradjulhak, yang menjadi ketua orang-orang India di Langsa, telah menceritakan kepada beberapa orang bahwa dia sedang menyusun satu les nama orang-orang yang bekerja sama dengan Jepang untuk diserahkan kepada Belanda. Dia kami jemput ke Kantor Polisi. Dengan gemetar dia mengaku bahwa dia hanya main-main saja dan bertobat tidak akan mengeluarkan lagi perkataan yang serupa itu. Pada suatu petang ketika aku dalam perjalanan pulang dari Idi, di tengah jalan aku bertemu dengan beberapa buah truk Tentara Jepang. Dalam truk itu terdapat kawan-kawanku orang-orang "F"l dulu. Mereka memberitahukan kepadaku bahwa mereka akan kembali ke Melaya
- Fujiwara Kikan (Barisan Fujiwara) yang menjadi kolonne kelima sebelum Tentara Jepang masuk ke Sumatera. Barisan ini diketuai Iwaici Fujiwara yang meninggal dunia pada tahun 1986 dalam usia 77 tahun
ATI72
karena disuruh oleh Tuan Matsubushi. Berhubung hari telah sore, ku- minta mereka singgah bermalam di Langsa dan berangkat ke Medan besok paginya saja. Ketika sampai di Langsa, kulihat semua truk itu berhenti di pekarangan Kantor Polisi Langsa. Beberapa orang di antara kawanku itu menungguku di dalam kantor.
M. Hasbi dan Said Ali kuajak ke rumahku. Kawan-kawan yang lain
menginap di Langsa Hotel. Setelah makan malam, mereka menceritakan bahwa mereka tidak berani tinggal di Sumatera lagi, takut nanti Tentara Sekutu menangkapnya. Utusan-utusan Tentara Sekutu yang ada di Kotara- ja, menurut keterangan mereka, sedang mengumpulkan bahan-bahan untuk menangkap kaki tangan Jepang. Oleh karena itu mereka telah meminta kepada Tuan Matsubushi supaya dikirim kembali ke Malaya. Tuan Matsubushi juga menyuruh mengajak aku pulang bersama-sama. Dengan tegas kukatakan kepada mereka bahwa aku akan tetap tinggal di Indonesia, terutama di Langsa. Biar apa pun yang akan terjadi, aku tidak akan beranjak dari keputusan yang telah kuambil itu. Berbagai bujuk rayu mereka lakukan, kadang-kadang disertai dengan ancaman-ancaman yang menakutkan juga. Aku tetap bersikeras sehingga akhirnya mereka saja yang berangkat. Keesokan harinya, Tuan Ikeda datang ke kantor, untuk pertama kali dia datang dengan memakai seragamnya. Aku terperanjat melihat kedatangannya yang tiba-tiba itu. Tetapi kemudian setelah kami bertukar pikiran, dia mengaku bahwa dia sudah silap menyerahkan tanggung jawab Kantor Polisi itu kepadaku dan untuk pertama kalinya dia mengaku kalah terha- dap taktik yang telah kupergunakan selama bekerja dengannya. 'Sekarang baru saya tahu bahwa Tuan Abdullah seorang yang pintar. Mengapa dulu Tuan Abdullah tidak terang-terangan memperlihatkan tujuan Tuan Abdullah yang sebenarnya?" "Kalau saya perlihatkan tujuan saya yang sebenarnya ketika itu tentulah saya tidak ada lagi sekarang ini," jawabku. Ketika kami berbincang-bincang itu rupanya di luar kamar di dekat pintu dan di kamar Tokko-Kwal beberapa orang pegawai polisi sedang mengintip. Mereka khawatir kalau-kalau Tuan Ideka menyerang aku dalam kamar itu, sebab kedatangannya yang berseragam lengkap itu telah menimbulkan kecurigaan mereka. Waktu Tuan Ikeda meninggalkan kantor, serta-merta mereka masuk ke dalam dan memuji-muji aku, karena telah bicara begitu tegas kepada Tuan
- Bagian Polisi Rahasia
Ikeda. Mereka sendiri tídak menyangka bahwa aku berani berterus-terang seperti itu. Sebaliknya setelah mereka meninggalkan aku sendirian, aku merasa sedih pula melihat Tuan Ikeda yang sudah demikian lemah semangatnya. Memang keputusasaan dapat menyebabkan orang hilang keberaniannya. Kalau dulu orang-orang Jepang penuh dengan seisinl yang menggentarkan orang-orang asing, karena mereka mempunyai harapan besar untuk menang dan berkuasa dalam dunia ini ataupun untuk mati karena berbakti kepada Tenno Heika2nya, maka kini harapannya itu sudah hilang dan seisinnya itu pun ikut luntur begitu saja. Orang-orang Aceh juga termasuk salah satu bangsa yang berani mati. Tetapi keberanian mereka itui ialah karena Allah, setelah membaca Hikayat Perang Sabil yang memberi harapan tentang satu dunia lain yang lebih kekal dan indah daripada dunia fana ini anugerah Allah subhanahu wa taala. Untuk mencapai dunia itu mereka rela mengorbankan dirinya, rela mati syahid karena agamanya. Orang-orang Jepang adalah sebaliknya. Untuk Tenno Heika mereka rela menjadi kamikaze3. Karena selama hidup ini jarak antara mereka dengan Tenno Heikanya jauh sekali. Mereka sebagai manusia biasa sedangkan Tennonya ialah dewa penjelmaan dari Ameterasu O-mikami4. Apabila mereka mati dalam pengabdian terhadap Tennonya itu, maka roh mereka akan kembali ke Yasakuni Zinja5 dan mendapat taraf yang sama dengan Tennonya. Tak ada lagi yang lebih mulia daripada cita-cita ini! Tetapi sekarang semuanya itu sudah tidak ada lagi. Tennonya tidak lebih daripada manusia biasa; kemuliaannya hanya karena dia seorang raja yang menjadi simbol negaranya. Banyak di antara orang-orang Jepang tidak dapat menerima kenyataan ini. Mereka belum mau percaya bahwa Tennonya itu manusia biasa dan dalam keragu-raguan itulah mereka berada sekarang, bingung dan menyesatkan. Beberapa orang Jepang telah membunuh diri dengan jalan harakiri6. Malah ada pula seorang pemuda Indonesia, opsir dari Giyu-Gun yang men- coba melakukan harakiri seperti itu di Kotaraja. Tetapi dia dapat diselamatkan ketika dia menjerit meminta tolong karena terasa sakit setelah isi perutnya terburai ke luar.
- Semangat
- Maharaja Jepang
- Barisan Berani Mati
- Dewi Matahari
- Makam para pahlawan
- Menusuk perutnya dengan pedang kecil, membunuh diri secara terhormat
ATTY
Dalam kegembiraan karena kemenanganku atas perdebatan dengan Tuan Ikeda itu, aku semakin khawatir akan keselamatanku. Kalau dulu aku masih dapat mengharap bantuannya ketika berhadapan dengan orang-orang Jepang lainnya seperti Kempeitai Langsa, maka kini dia mungkin akan men- jadi tenaga pendorong Kempeitai itu untuk memerangkap aku. Aku sadar bahwa biar betapa pun juga, Tuan Ikeda itu orang Jepang dan tentulah dia lebih terikat kepada bangsanya sendiri!
41.
Malam itu di rumah Amiruddin kami mengadakan satu rapat kecil di an- tara beberapa orang tokoh politik terkemuka di Langsa. Rapat itu dipimpin oleh Pak Wiryo. Pak Sjamsuddin tidak dijemput untuk hadir karena menurut Pak Wiryo dia belum boleh diajak berunding. Dalam rapat itu kami mengatur taktik perjuangan untuk menghadapi gerakan bekas pegawai-pegawai Hindia Belanda yang telah menyiapkan Komite Penyam- butan untuk menyambut kedatangan tuan-tuan Belandanya. Aku memberi jaminan bahwa seluruh anggota Seinendan dan Kepolisian Langsa berdiri di belakangku. Dan sekiranya benar berita tentang Indonesia merdeka itu, maka gerakan kaum reaksioner yang masih mau menjadi abdi Belanda itu dapat dihancurkan. Pak Wiryo menerangkan bahwa dia sedang menunggu perintah dari Jawa atau dari Palembang, yang akan memberi petunjuk-petunjuk apa yang harus dilakukan. Sebenarnya perintah ini sudah harus diterima lama sebelum Jepang menyerah. Berita-berita tentang perintah ini telah lama kudengar dari beberapa orang penting. Tetapi karena berita itu tidak resmi dan terlalu kabur maka ada yang menganggapnva sebagai berita selentingan. Tetapi setelah beberapa bulan kemudian, yaitu setelah berita Indonesia merdeka diketahui umum, barulah jelas berita yang dimaksudkan itu memang sesungguhnya bersumber. Itulah berita dari gerakan di bawah tanah yang dipimpin oleh St. Sjahrir. Itulah pertama kali aku menghadiri rapat politik yang dipimpin oleh jago- jago tua politik. Rapat itu begitu ringkas, karena Pak Wiryo yang memim- pinnya tidak membenarkan orang-orang berbicara bertele-tele. Kalau ter- nyata apa yang dibicarakan itu telah disinggung oleh pembicara sebelumnya maka dia disuruh berhenti. Setelah itu kami pun membicarakan hal yang lain, sehingga larut malam. Malam itu aku menginap di rumah Amiruddin. Selama Jepang berkuasa di daerah Aceh, semua radio telah dikumpulkan di Kantor Polisi, sehingga tidak sebuaħ rumah pun yang memiliki radio selain rumah kepala-kepala Tentara Jepang. Ketika radio-radio tersebut dipindahkan dari Kantor Polisi Langsa ke Kantor Polisi Bireuen, radio milik
A9172
ibu mertuaku tidak kumasukkan dalam pengiriman itu. Radio merk Erres model yang terbaru, tetapi sudah tidak dapat digunakan lagi karena beberapa peralatan di dalamnya telah dirusak oleh Jepang, Bola-bola radio itu masih ada, dan kusimpan dalam laci mejaku. Pada tanggal 26 September aku dipanggil ke Bireuen untuk menerima kembali semua radio yang diambil dari daerah Langsa untuk dikembalikan kepada pemilik aslinya. Aku berangkat ke Bireuen dengan menumpang prahoto Bushi Chosei Cho — sebuah kantor persediaan bahan-bahan keperluan yang berada di bawah pengawasan Gunseibu Langsa. Ikut pula bersamaku seorang kawan baik yang bernama Baharum. Baharum berniat memperkenalkan aku dengan Ida Irawaty salah seorang anggota PPM yang aktif. Dulu Ida tinggal di Kotaraja dan baru beberapa bulan sebelum Jepang menyerah, ia pindah ke Bireuen dan tinggal bersama abangnya. Baharum kenal baik tidak saja dengan Ida, tetapi juga dengan keluarganya. Aku mengenal Ida hanya lewat surat-menyurat saja, sedang berhadapan muka belum pernah. Sebenarnya Ida telah menjadi tokoh yang penting dalam PPM ketika namanya menjadi sasaran kritik seorang yang tidak dikenal. Seseorang yang agaknya iri hati karena Ida menolak untuk bersahabat dengannya. Kemu- dian ia menulis surat kaleng kepada beberapa orang pemimpin Melati yang terkemuka, termasuk juga kepadaku. Sejak itulah aku mengetahui nama Ida, dan aku telah meminta bantuan Kepala Polisi Bireuen untuk menye- lidiki sumber surat kaleng itu yang stempel posnya dari salah sebuah kota kecil di dalam wilayahnya. Sejak itulah aku berkenalan dengan Ida. Radio-radio yang akan kami ambil dari Bireuen itu sudah berkurang jumlahnya, sebab kebanyakan sudah rusak dan tak dapat diperbaiki lagi. Oleh sebab itu tidak sampai setengah hari, urusan kami pun selesai: Setelah makan, aku dan Baharum pergi ke rumah Ida. Disalah satu lorong kecil di belakang kedai letak rumahnya, kalaupun boleh dikatakan rumah. Tetapi yang sebenarnya ialah sebuah bangsal panjang yang didirikan di samping sebuah rumah besar. Papan-papan tong dan seng-seng buruk yang menjadi dinding dan atap rumah itu. Kedatangan kami disambut oleh Ida bersama keluarganya. Sebenarnya aku tidak memerlukan seorang perantara, sebab kami sudah berkenalan walau hanya lewat surat-surat. la langsung menegurku dengan ramah-tamah seolah-olah kawan lama saja. Aku terpesona sejenak ketika melihat orangnya. Aku baru sadar apa sebabnya surat kaleng terhadap dirinya itu ditulis orang. Ia seorang
gadis yang cantik, benar-benar cantik. Kulitnya kuning langsat, badan- nya berisi, mukanya bulat, alis matanya tebal dan hitam, hidungnya amat bagus dí antara mulut yang kecil bak limau seulas dengan anak matanya yang hitam riang. Rambutnya hitam lebat terjurai sampai ke pinggangnya. Sayangnya dia tidak begitu tinggi. Tetapi ia lemah-lembut dan suaranya merdu enak didengar. Tidak terasa hari telah berjalan dengan cepatnya. Menjelang hari malam, terpaksa kami minta diri, karena akan pulang ke Langsa pada malam itu juga. Itulah kenanganku yang tak dapat kulupakan ketika mengambil radio ke Bireuen!
Karena kebanyakan radio itu sudah tidak dapat digunakan lagi, maka
tidak seorang pun ingin mengambilnya kembali. Radio-radio itu kami masukkan ke dalam sebuah kamar dan tercampak di situ sebagai barang rongsokan!
Dari Ghazali Idris kudapat kabar bahwa Tuan Abdoessoeki, kepala
kantor telepon pandai memperbaiki radio. Pada suatu petang aku dan Ghazali pergi ke rumahnya dan kami nyatakan maksud kedatangan kami itu. Mukanya berseri-seri ketika mendengar bahwa pada kami ada
radio yang rusak. Rupanya dia ingin sekali mencoba kembali pengetahu-
annya itu. Ketika itu juga dia ikut dengan kami ke Kantor Polisi. Aku
serahkan kepadanya radio ibu mertuaku yang peti serta bola-bolanya masih
baik. Setelah dilihat sebentar oleh Tuan Abdoessoeki, ia menggelengkan
kepalanya, "Sudah parah sekali rusaknya, tak dapat diperbaiki lagi,"
katanya. Aku dan Ghazali sangat kecewa. Karena itulah satu-satunya radio yano kami kira masih baik dan dapat diperbaiki. Kami sama sekali tidak me-
nyangka bahwa karena radio itu ada di kantor itu, maka ada orang yang
merusakkannya sehingga tidak dapat diperbaiki. Dulu ketika radio-radio lain akan dibawa ke Bireuen, aku memeriksa isi pesawat radio itu. Ketika itu hanya ada beberapa kawatnya yang halus-halus saja yang diputuskan, aku masih yakin bahwa keadaan itu tetap demikian, dan tidak pernah kulihat-lihat lagi. Kini, ketika Tuan Abdoessoeki membukanya kulihat bukan dua-tiga kawat-kawat halus itu yang diputuskan, malah semua isi perutnya diputuskan seperti sarang tikus. Yang baik hanya bola radio itu saja dan apalah gunanya bola-bola ini kalau yang lainnya tidak ada? Tuan
Abdoessoeki pun kulihat seperti putusasa. Dia mengetuk-ngetuk alat yang
sedang dipegangnya itu pada peti radio itu. "Tidak ada radio yang lain?" tanyanya kemudian. "Ada," jawabku."Tetapi radio-radio itu semuanya rusak belaka."
ATI72
"Cobalah tunjukkan kepadaku,"katanya. Aku memanggil pegawai polisi yang jaga di kantor itu, kemudian minta membukakan pintu kamar tempat radio-radio rusak itu. Setelah itu masuklah Tuan Abdoessoeki ke dalam dan memeriksa dengan teliti dari satu peti ke peti lainnya. Tiba-tiba dia mengangkat sebuah peti radio Philip model lama. Diperhatikannya perkakas yang masih ada pada peti yang tidak tertutup itu dan dengan riangnya dia berkata, "Hanya ini saja yang belum rusak benar!" Aku menyuruh pegawai polisi itu mengangkat radio tersebut ke dalam kamarku. Di atas mejaku Tuan Abdoessoeki memeriksanya dan mulai menguji tiap-tiap kawat kecil yang ada di dalamnya. Setelah itu dia memasang bola-bola yang ada. Ketika dicolokkan pada listrik maka kelihatan cahaya api yang kecil pada beberapa tempat. Bila disentuh dengan alat yang dipegangnya maka kedengaranlah bunyinya berkeruk- keruk. Kami sangat gembira, -walaupun belum kedengaran suaranya, tetapi serasa kami sudah mempunyai radio! Sampai jauh malam belum juga terdengar suara, kecuali bunyi berciut- ciut saja yang tidak tentu ujung pangkalnya. Malam itu kami berhenti hingga di situ saja. Malam berikutnya kami datang ke tempat itu lebih awal lagi. Tuan Abdoessoeki membawa alat pendengaran yang ditekapkan ke telinga. Dari beberapa radio yang lain dia mengambil onderdil yang diperlukan- nya. Onderdil itu dipasangkan pada radio yang diperbaikinya itu, yang
dibungkus dengan kertas timah pembalut rokok. Meskipun bunyi telah semakin jelas tetapi belum ada satu stasiun yang dapat kami tangkap. Malam itu juga sama dengan malam yang lalu, kami tidak berhasil memperbaiki radio itu hingga dapat menerima siaran dari luar. Tetapi Tuan Abdoessoeki seorang yang sabar, dengan keringat meleleh di dahinya dia bekerja keras. Kira-kira pukul 1.00 dini hari barulah kami berhasil menangkap salah satu stasiun, tetapi suaranya belum bersih, begitu jauh kedengaran hingga agak sukar untuk mendengar perkataannya. Tetapi kami sungguh bergembira karena akhirnya kami berhasil juga. Siang harinya Tuan Abdoessoeki tidak membuang waktu dengan per- cuma. Dia mempelajari kembali buku-buku tentang radio yang masih ada di rumahnya. Pada malam itu setelah dia dapat membetulkan kesalahannya, maka kami dapat mendengar siaran dengan lebih jelas dari stasiun-stasiun radio Ceylonl, Australia dan New Delhi. Karena kami mendengar radio itu melalui earphone, maka terpaksalah kami bergantian menggunakannya. Kami telah mendengar pidato Van Mook dan lain-lainnya dari stasiun
- Sri Lanka
Australia. Tetapi belum pernah sekali pun kami melintasi gelombang Radio Indonesia yang pada saat itu telah mulai bekerja. Pidato Van Mook walaupun menimbulkan tanda tanya kepada kami tentang beberapa perkara yang tidak kami mengerti, tidaklah terlalu kami hiraukan. Kami sangat gembira karena dapat mendengar siaran-siaran melalui radio, yang sudah beberapa tahun ini tidak kami dengar, sehingga hampir-hampir saja kami menyangka bahwa benda yang bernama radio itu sebenarnya tidak ada. Demikianlah setiap malam kami bertiga berkumpul dalam kantorku mendengar siaran-siaran radio secara sembunyi-sembunyi. Pegawai-pegawai polisi yang jaga di luar juga tidak tahu apa yang kami kerjakan di dalam kantor itu, karena dikira mereka kami masih saja berusaha memperbaiki radio yang rusak itu. Tanggal 30 September 1945 merupakan tanggal bersejarah bagi kami. Pada malamnya seperti biasa kami bertiga berkumpul di kantorku untuk mendengar siaran radio secara rahasia. Secara kebetulan kami dapat menangkap sebuah siaran berbahasa Indonesia. Mula-mula kami menyangka tentulah siaran itu berasal dari salah sebuah stasiun yáng biasa kami dengar. Tetapi suaranya agak lain daripada suara-suara radio Australia, Ceylon atau New Delhi. Kami tunggu sampai selesai acara yang sedang berlangsung itu untuk mengetahui stasiunnya, Alangkah terperanjatnya ketika kami mendengar penyiarnya dengan suara penuh semangat meng- ucapkan: Radio Republik Indonesia Bandung dan siaran itu disambung pula dengan sebuah pidato dari Menteri Urusan Umum Republik Indonesia.
R. Abikusno ... Kami bertiga terpesona dan tak dapat berkata-kata seju- rus lamanya. Karena kami masih menggunakan earphone maka berganti- gantilah kami mendengar pidatonya itu. Kami sungguh gembira karena itulah pertama kali kami mendengar secara resmi bahwa Indonesia telah merdeka dan menjadi sebuah negara republik. Kami tidak sangsi lagi karena kami tahu dengan benar siapa Abikusno itu. Karena terlalu gembira, maka belum sempat berita-berita lain kami dengar dengan teliti, radio itu kami tutup dan buru-buru keluar dari Kantor Polisi itu. Sebenarnya pada malam itu di Sekolah Muhammadiyah yang terletak di Jalan Kuala Simpang akan diadakan satu rapat pengurus Pemuda Muhammadiyah. Rapat itu tidak dapat diadakan karena Tuan Abdoessoeki yang menjadi ketuanya tidak hadir. Tuan Abdoessoeki lupa sama sekali tentang rapat itu, sebab ia terlalu asyik dengan radio yang sedang diperbaikinya. Ketika kami sampai di depan sekolah itu ia baru teringat anggota-anggota
ATT
pengurus yang lain yang terlihat sedang bersiap-siap akan pulang, setelah menyangka bahwa Tuan Abdoessoeki tidak datang. Beberapa orang yang sedang berdiri dengan memegang sepedanya itu tercengang-cengang melihat kami datang tergopoh-gopoh seperti itu. Sebenarnya kami bertiga, tetapi dengan tidak disadari Ghazali sudah hilang entah ke mana. Ketika orang-orang itu melihat Tuan Abdoessoeki dalam keadaan gugup mereka lalu bertanya. "Ada apa?" Tuan Abdoessoeki tidak dapat menjawab. Dia hanya menggeleng- gelengkan kepalanya dan menunjuk-nunjuk kepadaku. "Indonesia sudah merdeka!" tiba-tiba itulah perkataan yang pertama keluar dari mulutku. Mereka semuanya memandang dengan tajam kepada kami berdua, se- olah-olah tidak percaya dan salah seorang di antaranya berkata, "Jangan main-main!" Aku baru dapat bernapas kembali dan berkata, "Benar Indonesia sudah merdeka dan bukan main-main." Tuan Abdoessoeki mengangguk-anggukkan kepalanya membenarkan ucapanku itu. Mereka tidak mudah mempercayainya tanpa tanya jawab yang pan- jang. Lalu salah seorang di antaranya bertanya, "Dari mana Saudara- saudara dengar?" Ketika itulah baru aku menceritakan dari mula sampai akhirnya, ten- tang radio rahasia di Kantor Polisi itu. Sebenarnya sampai saat itu Kempeitai Langsa masih melarang orang-orang mendengar radio. Rupanya Ghazali Idris yang telah terpisah dari kami itu telah pergi ke gedung bioskop Dai Toal yang sedang memutar sebuah film. Dimin- tanya pada pengurus panggung itu supaya menghentikan pertunjukkan itu sebentar, katanya atas perintah Kepala Polisi, karena ada yang akan disampaikan kepada publik. Mendengar ucapannya maka film pun dihentikan. Waktu lampu dihidupkan Ghazali telah berdiri di atas pentas di depan layar putih dan berpidato dengan tenang: "Saudara- saudara," katanya. "Kami telah dapat mendengar dari siaran radio bahwa Indonesia telah merdeka." Sekian saja ucapannya itu dan ia pun turun dari pentas itu. Didatanginya pula bioskop Melati dan demikian juga dilakukan olehnya. Setelah pengumumannya itu pemutaran film sudah tidak dapat diteruskan lagi, karena orang-orang sudah mulai meninggalkan pang-
- Asia Raya
gung. Mereka sudah mulai panik dan terasa sekali kegelisahannya. Mereka ke luar mau mencari sumber dari mana berita itu diperoleh! Kami yang sedang berdiri di depan Sekolah Muhammadiyah itu meng- ambil keputusan membangunkan dr. Bagiastra. Sambil menggosok-gosok matanya, dokter itu bertanya siapa yang sakit. Sangkanya tentulah ada orang penting yang telah diserang penyakit dengan tiba-tiba malam itu, sebab di- lihatnya yang datang itu orang-orang yang dikenalnya juga. "Indonesia sudah merdeka, Dokter!" kataku sebagai juru bicara kawan- kawan yang datang itu. Dia membelalakkan matanya melihat muka kami satu per satu. "Sungguhkah apa yang Saudara-saudara katakan ini?" tanyanya se- tengah percaya. "Sungguh Tuan," kataku."Saya, Tuan Abdoessoeki dan Ghazali men- dengarnya sendiri dari siaran radio Republik Indonesia.' "Di rumah siapa ada radio?" "Di Kantor Polisi," jawabku ringkas. "Tunggulah sebentar," katanya dan terus masuk ke dalam tanpa mem- persilakan kami masuk lagi. Kami berdiri di luar rumahnya, sebentar kemu- dian istrinya ke luar. Rupanya dia pun mendengar percakapan kami. "Betulkah Indonesia telah merdeka?" tanyanya dan memandang kepadaku. "Betul, Nyonya!" "Dari radio?" "Benar, kami mendengar dari radio di Kantor Polisi." "Ah, mereka ini dengar sendirian saja," dr. Bagiastra bersungut-sungut sambil memasang butang bajunya dan ke luar menjumpai kami. "Marilah kita ke Kantor Polisi, saya mau melihat radio itu dan mendengar sendiri." Kami pun berjalan dalam satu rombongan kecil menuju ke Kantor Polisi. Dokter Bagiastra ialah seorang yang sangat teguh pendiriannya dan tidak mudah terpengaruh apabila belum memperoleh keterangan yang jelas. Pada malam itu dia mau membuktikan sendiri sebelum dia percaya pada kabar yang kami sampaikan. Pegawai-pegawai polisi yang jaga di kantor itu terperanjat melihat kami datang beramai-ramai. Tetapi setelah melihat aku ada bersama-sama maka mereka pun tidak bertanya apa-apa lagi. Kuminta pintu kantorku itu di- buka dan kami pun masuk ke dalam. Beberapa orang terpaksa menunggu di luar karena kamar itu terlalu kecil. Tuan Abdoessoeki menunjukkan radio itu kepada dr. Bagiastra dan dia
A71724
pun memutar-mutar knopnya. Kami lupa bahwa pada waktu itu sudah lewat pukul sebelas malam. Sudah tidak ada siaran lagi. "Kalau begini saya baru percaya bahwa Indonesia telah merdeka," kata dr. Bagiastra. "Apa yang harus kita lakukan?" "Kita umumkan," kataku. "Tetapi baiklah kita beritahukan kepada kawan-kawan di wilayah lain." Ketika kami sedang bercakap-cakap itu, Ghazali Idris pun tiba. Dibawanya pula beberapa orang kawan lainnya. Mereka masuk bersesak- sesak ke dalam kamar itu. Air muka kawan-kawan yang datang itu kelihat- annya serius, antara percaya dan tidak. Tetapi ketika dilihatnya kami sedang berunding, maka mereka pun ikut dalam perundingan tersebut. 物 Aku mengambil keputusan untuk memberitahukan berita kemerdekaan Indonesia itu kepada kepala-kepala polisi Idi dan Kuala Simpang yang kuketąhui akan percaya pada apa yang kukatakan. Kemudian serentak dibuat pengumuman. Semuanya telah sepakat untuk mengadakan satu per- temuan besar pada tanggal 1 Oktober di tanah lapang Langsa dan hal ini juga akan kami sampaikan kepada kepala-kepala polisi yang juga kawanku. Aku pun menelepon ke Idi dan minta bicara dengan Tuan Hassanuddin. Tuan Hassanuddin kebetulan tidak ada di kantor pada waktu itu, jadi kupesankan kepada polisi yang jaga di sana supaya memanggil Tuan Hassanuddin dan minta bicara dengan aku di Langsa. Kemudian aku menelepon pula ke rumah Joesoef Effendi, Kepala Polisi Kuala Simpang. Dia juga terperanjat mendengar berita itu, dan sebagai satu perintah kukatakan kepadanya bahwa tanggal 1 Oktober hendaklah diadakan upacara mengumumkan berita itu. Dia berjanji akan melaksanakannya. Setelah itu aku pun minta bicara dengan Kantor Polisi Lhok Sukun. Pada waktu itu orang yang akan berbicara lewat telepon dengan Lhok Sukun harus melalui sentral telepon Lhok Seumawe. Di Kantor Polisi Lhok Sukun itu aku dapat berbicara dengan Saudara Karim, seorang Keibuho yang kukenal baik. Dia tidak berani mengambil keputusan dan harus memberi tahu kepalanya, Tuan Salim, seorang pegawai lama yang cukup kukenal hanya banyak bicara tetapi tidak berani bertindak. Rupanya ketika aku bicara dengan Lhok Sukun itu, pembicaraan kami telah 'dicuri' dengar oleh pegawai-pegawai telepon di sentral Lhok Seumawe, karena selesai pembicaraanku itu, aku langsung mendapat sam- bungan dari Tuan Hatta, Kepala Kantor Telepon di sana. Setelah ia bertanya tentang kebenaran berita yang kusampaikan ke Lhok Sukun itu, lalu katanya, "Jangan main-main Tuan Abdullah, ini soal merdeka bukannya perkara kecil." PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH — 4
"Memang benar," jawabku. "Saya tidak main-main." "Dari mana Tuan Abdullah mendapat kabar ini?" "Dari radio dan di sini, Tuan Abdoessoeki juga ada, mau bicara dengannya?" Kuserahkan gagang telepon itu kepada Tuan Abdoessoeki. Tuan Abdoessoeki pun berbicara panjang dengan teman sekerjanya itu dan kemudian untuk meyakinkan lagi diserahkan pula kepada dr. Bagiastra. Kami meminta supaya Tuan Hatta menyambungkan berita itu ke Bireuen dan seterusnya ke Kotaraja. Belakangan ini pembicaraan telepon tidak dapat diteruskan langsung ke Kotaraja, karena kekuatannya sudah tidak berapa baik lagi. Kemudian telepon itu berdering lagi, kuangkat, dan Tuan Hassanuddin berbicara. Kukatakan kepadanya tentang berita yang kami dengar itu. Ia berjanji akan menyampaikannya kepada Bapak Joenoes, Kepala Polisi Idi, yang selama ini sering sakit-sakit saja. Selesai kami berbicara, tiba-tiba ada telepon dari Joesoef Effendi, Kepala Polisi Kuala Simpang. Dia menanyakan tentang simbol polisi yang kami pakai sekarang, apa yang mesti dilakukan? Kusuruh dia mencampakkan lambang sakura yang menjadi simbol kami sekarang, gantikan dengan merah putih saja, pita pun boleh juga. Memang aku sendiri tidak ingat tentang simbol ini. Kami pun masih memakai lambang sakura itu di topi kami. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Ghazali. "Marilah kita pergi ke rumah Guntyo, kita beritahukan hal ini kepadanya." Salah seorang mengusulkan. Sudah pukul satu dini hari. Namun tidak seorang pun yang mau pulang. Semuanya ikut bersama-sama menuju ke rumah Guntyo di Kampung Jawa Belakang. Memang nasib kami baik sekali, sebab tidak ada seorang Jepang pun kami jumpai di jalan raya. Sebenarnya orang-orang Jepang sudah tidak begitu ketat memperhatikan pengawalan keamanan kota ini. Mereka hanya menjaga daerah tertentu saja. Keamanan kota terserah kepada kami pegawai polisi seluruhnya. Ketika kami sampai di rumah Guntyo, T.T. Mohd. Daoedsjah, kami lihat lampu rumahnya terang-benderang. Hanya kami berempat saja yang masuk ke dalam rumah itu. Kami melihat selain Guntyo sendiri, ada juga Tengku Sulang Hibatullah, Kepala Kantor Pekerjaan Umum; Teuku Ali;
M. Thoha, Hakim Langsa; T. Alibasjah, Suntyo Langsa; M. Radjab, seorang saudagar dan beberapa orang yang lain lagi. Mereka terkejut melihat kami datang dengan rombongan besar itu.
A7372
"Ada apa Cik Lah?" Dia selalu membahasakan aku dengan panggilan 'cik' karena aku dari Malaya. Aku memandang berkeliling dan setelah kulihat semuanya diam menunggu jawabanku, maka aku pun berkata: "Saya datang kemari untuk memberitahukan kepada Ampun bahwa Indonesia telah merdeka, dan kami telah memutuskan akan mengadakan satu rapat umum besok pagi untuk mengumumkan berita ini kepada rakyat serta mengadakan upacara pengi- baran bendera Merah-Putih." Kupandang wajah setiap orang yang ada dalam ruangan itu sekali lagi. Kulihat mereka saling memandang. Teuku Alibasjahlah yang mula-mula berkata: "Saya akan ikut Saudara Abdullah." "Saya harap Ampun tidak akan menolak, karena biar bagaimanapun Ampun yang akan terus menjadi ketua pemerintah di sini. Kawan-kawan saya di luar sedang menunggu keputusan," ujarku sambil menunjuk ke luar. Di mana kawan-kawanku duduk bergerombol di dekat tembok rumahnya. "Saya tidak keberatan kalau berita itu benar," kata Guntyo sejurus kemu- dian, tetapi nada suaranya rendah sekali. "Hanya karena Jepang masih berkuasa di sini maka kita lebih baik pergi minta izin lebih dulu." Aku sebetulnya keberatan untuk minta izin karena aku sudah tidak mengakui lagi kekuasàan Jepang di Langsa. Tetapi agar terhindar dari in- siden yang tidak diingini aku pun tak berkeberatan sekedar untuk memberitahukan saja. Setelah putus mufakat, aku, T.T. Daoedsjah dan dr. Bagiastra diutus ke rumah Bunsyutyo. Tiba-tiba kami teringat bahwa dalam keadaan seperti saat itu mungkin Bunsyutyo tidak akan mengerti. "Baiklah, marilah kita jumpai Tuan Ikeda," ujar Guntyo itu. "Ampun telepon dulu kepadanya, katakan kita akan datang ke rumahnya." Guntyo itu pun menelepon. Aku dan kawan-kawan yang lain masih terus berdiri dan tidak dipersilakan duduk. "Tuan Ikeda kah ini?" tanya Guntyo pada mulut gagang telepon itu. "Ini
ada satu perkara penting, saya dan Tuan Abdullah akan datang kemari."
Setelah gagang telepon itu diletakkan, ia pun bangun dan keluar ber- samaku menuju rumah Tuan Ikeda. Rumah Tuan Ikeda hanya berjarak kira-kira seratus meter dari rumahnya. Kawan-kawan yang berada di luar itu kusuruh menunggu di situ sampai aku pulang. Ketika kami sampai di rumah Tuan Ikeda, lampu-lampu terang-bende- rang dan dia duduk di kursi ruangan depan menunggu kedatangan kami. "Ada apa?" tanyanya setelah kami mengambil tempat duduk.
"Cik Lah yang bicara!" kata Guntyo itu menyuruh aku berbicara dengan Tuan Ikeda. "Begini Tuan," aku memulai. "Indonesia sudah merdeka sekarang ini. Jadi kami datang kemari untuk memberitahu bahwa kami akan meng-
adakan satu rapat umum tanggal 1 besok. Kami minta Tuan memberi-
tahukan kepada orang-orang Jepang lainnya terutama sekali tentara, supaya
jangan mengganggu ataupun menimbulkan provokasi sehingga menim-
bulkan kemarahan rakyat." "Tetapi saya tidak boleh memberi izin, karena saya tidak mempunyai kuasa apa-apa sekarang ini?" ujar Tuan Ikeda. "Kami datang bukan untuk meminta izin Tuan." jawabku. "Kami datang untuk memberitahukan supaya Tuan memperingatkan orang-orang Jepang agar jangan mengganggu kami." "Ini tidak bisa, bagaimana Indonesia boleh merdeka sedangkan Belanda akan datang kemari?" jawab Tuan Ikeda berkeras. Apakah Tuan akan berkawan dengan Belanda yang tidak bernegeri itu ataupun Tuan akan bersahabat dengan kami?" dengan keberanian yang agak luar biasa aku ajukan pertanyaan itu kepadanya. Setelah sejurus lamanya tidak menerima jawaban, aku pun menyambung: "Dulu Tuan mengajar kami supaya mempunyai seisin seperti orang Jepang dan Tuan mengajar kami untuk menjadi bangsa yang merdeka. Sekarang kesem- patan itu telah kami peroleh, Tuan tentu gembira bukan? Sekalipun Jepang telah kalah, kami bangsa Indonesia yang Tuan-Tuan didik itu kini telah menang dan akan menebus kekalahan Tuan-Tuan itu. Kami tidak mau bermusuh dengan orang-orang Jepang. Kami ingin bersahabat terus sampai kapan pun, karena orang-orang Jepang telah membuka jalan kepada kami." Tuan Ikeda masih terus diam, "Bagaimana Tuan, bolehkah Tuan memberitahukan Tuan Bunsyutyo bahwa kami akan datang ke rumahnya agar jangan sampai dia salah sangka, Tuan dapat menjelaskan sebelum kami sampai ke rumahnya itu?" "Baiklaß," ujar Tuan Ikeda."Sekarang saya akan menelepon. Pukul berapa sekarang?" "Pukul setengah dua," jawab Guntyo. Tuan Ikeda menelepon ke rumah Bunsyutyo. Sejurus lamanya terdengar- lah dia bicara panjang lebar dengan Bunsyutyo itu. Dia menerangkan tentang kedatangan kami ke rumahnya membawa berita bahwa Indonesia telah merdeka dan tentang maksud kami akan mengadakan rapat umum besok pagi di tanah lapang.
ATIT
Setelah habis berbicara ia pun menyuruh kami ke rumah Bunsyutyo dan Bunsyutyo pun sedang menunggu kedatangan kami katanya. Kami pun mengucapkan terima kasih atas bantuannya dan mengucapkan selamat tidur. Bunsyutyo telah bangun. Lampu di ruangan tamunya terang-benderang. Ketika dia mendengar kami di bawah, ia pun membuka pintu dan dengan muka berseri-seri mempersilakan kami naik. Aku telah disuruh jadi juru bicara sekali lagi. Dengan ringkas kuterangkan kepada Bunsyutyo itu bahwa Indonesia sudah merdeka dan besok pagi kami di Langsa akan mengadakan satu rapat umum untuk memberitahukan kepada rakyat serta menaikkan bendera Merah Putih secara resmi. Kami datang ke rumahnya itu untuk memberitahukan kepadanya agar dia dapat pula memberitahukan kepada orang-orang Jepang yang ada di Langsa agar jangan sampai terjadi kesalahpahaman sehingga menim- bulkan insiden yang tak diingini. "Saya amat senang kalau Indonesia sudah merdeka," kata Bunsyutyo itu dan kemudian ia pun menelepon kepada Butaityol Langsa. Setelah itu kami pun pulang ke rumah Guntyo dan menyampaikan berita itu kepada orang-orang yang menunggu di sana. Aku menelepon ke Kantor Polisi dari rumah Guntyo supaya mengumpulkan semua pegawai polisi yang ada di Langsa pada malam itu juga. Sementara itu aku dan Suntyo Langsa
T. Alibasjah pergi ke rumah kepala Kampung Melayu, Kampung Jawa dan Paya Bujuk memberitahukan kepada mereka itu agar mengumpulkan anak buahnya pagi-pagi besok di tanah lapang di depan stasiun Langsa karena akan ada pengumuman tentang Kemerdekaan Indonesia dan upacara pengi- baran bendera di Kebun Bunga. Teuku Alibahsjah kemudian pulang ke rumahnya dan memberitahukan kepada penduduk Langsa Lama tentang rapat yang akan diadakan esok pagi itu. Aku telah kembali ke Kantor Polisi dan di sana telah berkumpul anggota-anggota kepolisian yang berjumlah kira-kira empat puluh orang. Kepada mereka kuberikan kata-kata perangsang dan kemudian menyerah- kan kepada setiap orang sepucuk karabin dengan seratus biji peluru dengan disertai pesan bahwa senjata ini hanya dipergunakan apabila ada anasir- anasir yang mau mencoba menurunkan bendera Merah-Putih. Senjata itu harus dijaga seperti menjaga nyawa sendiri. Hilang nyawa barulah hilang senjata, demikian amanatku. Pukul tiga pagi barulah aku sampai di rumah dan tidur sebentar, walaupun hanya dapat dikatakan berbaring-baring saja. Kemudian pada jam
1. Komandan Tentara
lima aku sudah bangun. Setelah mandi dan salat subuh aku pun memakai pakaian seragam polisi lengkap dengan pistolnya. Untuk pertama kalinya benaera Merah-Putih yang kusimpan sejak janji kemerdekaan Jepang itu, kukeluarkan dan kukibarkan di depan rumah pada pagi-pagi buta itu. Lepas sarapan aku pun keluar menuju Kantor Polisi. Orang telah mulai ramai di jalan raya, masing-masing menuju ke tanah lapang. Di Kantor Polisi telah siap menunggu pegawai-pegawai polisi yang sejak tadi malam tak ada yang pulang ke rumahnya. Pukul enam pagi sudah ramai orang berkumpul di tanah lapang dan orang-orang yang baru datang berduyun- duyun dalam rombongan kecil menggabungkan dirinya dalam kumpulan yang telah ada itu. Dari Langsa Lama datang rombongan Suntyo Langsa. Pokok acara yang paling penting pada hari itu ialah mengibarkan bendera Merah-Putih dan kemudian pengumuman tentang kemerdekaan Indonesia kepada rakyat ramai. Karena tiang bendera satu-satunya yang paling tinggi terletak di kebun bunga tepat di depan Stasiun Langsa, maka kumpulan orang ramai pun dipindahkan ke sana. Orang datang sedemikian banyak- nya sehingga melimpah ruah sampai ke serambi stasiun, lapngan padang tennis, dan di depan rumah Bunsyutyo. Setelah semuanya siap maka T.T. Mohd. Daoedsjah dijemput dari rumahnya. Ia datang dengan mobilnya diiringi beberapa buah mobil pembesar-pembesar Indonesia yang lain. Setelah sampai maka upacara pertama pun akan dimulai. Tiba-tiba dari dalam kumpulan orang ramai terdengar satu suara yang meminta supaya upacara itu ditangguhkan seben- tar. Suara itu datangnya dari Khalil atau Sandung, seorang bekas buangan Digul, ia mengaku berbicara atas nama rakyat. "Karena acara ini merupakan satu peristiwa penting," demikian katanya. "Maka saya sebagai wakil rakyat dan atas nama rakyat meminta jaminan akan kebenaran berita proklamasi kemerdekaan itu. Karena akibat dari upacara ini kelak akan meminta banyak korban."
T.T. Daoedsjah memandang kepadaku. Ketika itu semuanya sunyi-
senyap, hingga kalau ada jarum yang terjatuh pun akan kedengaran bu- nyinya, saking sepinya ketika itu. Beribu-ribu mata tertuju kepadaku, sebab sejak semula mereka telah mendengar bahwa aku yang menjadi sumber berita itu. Dengan tak ragu-ragu lagi, aku menarik tangan Tuan Abdoessoeki dan Saudara Ghazali Idris, naik ke atas tembok fountain yang sudah tidak ber- isi air lagi, dan dari situ aku berbicara; "Saudara-suadara, kami tidak dapat menjamin dengan harta karena kami orang miskin tetapi ini kami:
saya, Tuan Abdoessoeki dan Saudara Ghazali Idris, menyerahkan jiwa raga kami kepada Saudara-saudara. Seandainya kami bohong, lakukan- lah apa saja yang Saudara-saudara anggap wajar kepada diri kami masing-masing; dijadikan budak sahaya seumur hidup, direjam dengan batu sampai mati, dikuliti atau sebagainya. Terserah kepada Saudara-saudara sekalian!" Selesai aku bicara, maka bergemuruhlah bunyi tepuk tangan dan tempik sorak dari para hadirin yang beribu-ribu orang itu. Aku pun mempersilakan
T.T. Daoedsjah untuk menyerahkan bendera Merah-Putih yang kami ambil dari Kantor Gunseibu, bendera yang paling besar untuk dikibarkan oleh em- pat orang anggota Seinendan. Ketika bendera itu telah diikat pada talinya, maka timbul pula satu masalah lagi: bagaimana cara memberi hormat kepada bendera itu. Berhubung yang hadir pada waktu itu terdiri dari ber- bagai aliran politik sebelum Jepang menduduki Indonesia, dan masing-masing mereka itu mempunyai cara-cara tersendiri dalam memberi hormat kepada bendera. Masing-masing ingin pula memberi hormat menurut caranya. Orang-orang Parindra mengusulkan supaya diberi hormat dengan mengulurkan tangannya lurus ke depan dan hampir menyerupai hormat Hitler. Orang-orang PNI lain lagi, dan orang-orang Komunis lain pula serta sebagian besar orang-orang telah biasa pula dengan cara-cara Jepang yaitu menundukkan kepalanya. Untuk menyelesaikan masalah itu maka aku telah bermusyawarah dengan
T.T. Daoedsjah sejurus lamanya. Setelah itu aku pun naik sekali lagi ke atas tembok fountain itu dan memberitahukan bahwa tiap-tiap orang boleh memberi hormat kepada bendera itu menurut caranya masing-masing, cara-cara yang lazim bagi mereka. Setelah mencapai persetujuan maka mulailah bendera Merah-Putih itu dikibarkan perlahan-lahan ke puncak tiang, diikuti dengan nyanyian lagu Indonesia Raya oleh anggota Seinendan dan murid-murid sekolah. Tanggal 1 Oktober 1945, merupakan hari bersejarah bagi kota Langsa, karena pada tanggal itulah bendera Merah-Putih dikibarkan dengan resmi di bumi yang sudah merdeka dan berdaulat. Bendera itu berkibar-kibar ditiup angin dengan jayanya, meskipun pada hakikatnya sudah hampir satu bulan setengah lewat dari tanggal proklamasi yang diucapkan oleh Soekarno dan Hatta. Namun kami penduduk-penduduk Langsa dapat berbangga, bahwa kamilah yang pertama kali secara resmi mengibarkan bendera itu. Tanggal 1 Oktober, juga setahun yang lalu bendera Merah-Putih telah dikibarkan di tiang di tanah lapang berdampingan dengan bendera Hinomaru.1. Ketika itu
1. Bendera nasional Jepang
tiangnya lebih rendah, karena dia masih menjadi bendera second-class. Tetapi sekali ini ia dinaikkan tunggal menempati puncak tiang itu, tunggal menghadapi masa depannya yang penuh dengan perjuangan. Bendera itu berkibar-kibar dengan jayanya, bebas lepas tanpa dipengaruhi oleh anasir- anasir asing. Ia dikibarkan dengan upacara yang penuh tanggung jawab. Setelah bendera itu selamat di puncak tiang, maka aku pun meng- ungkapkan sedikit tentang erti tanggung jawab bangsa Indonesia terhadap proklamasi. Aku tegaskan kepada para hadirin bahwa bendera ini telah dikibarkan dan tak dapat diturunkan lagi oleh siapa pun juga. Kalau ada orang yang berani menurunkannya maka ia akan menghadapi mayat- mayat pegawai polisi kami lebih dahulu, dan kepada orang-orang yang masih ragu kami minta agar berani berterus terang untuk mengadakan perhitungan. Kemudian T.T. Daoedsjah sebagai ketua pemerintahan Republik Indonesia di daerah itu mengatakan tentang erti kemerdekaan dan tanggung jawab rakyat terhadap kemerdekaan tanah airnya. Kami tidak dapat membaca proklamasi yang diucapkan oleh Soekarno-Hatta karena kami tidak mengetahui bahwa proklamasi itu ada. Di luar rencana semula, rakyat telah berbaris dan membuat suatu pawai yang besar berkilometer panjangnya. Mereka berjalan berkeliling kota dan kemudian lewat di depan rumah T.T. Daoedsjah. Kami terpaksa berdiri menghormati pawai yang lewat itu. Rasa kagum dan terharu melihat semangat rakyat yang berkobar-kobar sedemikian rupa, setelah menderita kemelaratan yang tidak terperikan hebatnya di bawah pemerintahan Belanda dan Jepang. Yang sangat menarik hati ialah ketika melihat Tuan Arsjad, seorang ulama dan imam mesjid Kampung Jawa Tengah yang berjalan dalam barisan itu, padahal dia dalam keadaan sakit-sakitan sudah sejak beberapa lama. Setelah pawai itu lewat aku berangkat ke kantor telegram, untuk mengirim berita ke Kantor Polisi Kotaraja (kepada Tuan M. Hasjim). Dalam telegram itu kuterangkan: bahwa kami polisi daerah Langsa telah menjadi Polisi Republik Indonesia dan kami minta supaya Kantor Polisi Pusat ikut juga. Satu telegram lagi kukirim ke Kotacane kepada Tuan M. Djamil, Kepala Polisi di sana serta satu lagi ke Bireuen. Atas nama polisi dan rakyat Langsa aku mengirim sepucuk telegram kepada Presiden Soekarno. Dalam berita itu kunyatakan bahwa kami telah menjadi bagian daripada Negara Republik Indonesia, tunduk kepada Presiden dan bersedia mempertahankan tiap-tiap jengkal bumi Indonesia dari serangan penjajah sampai ke titik darah yang penghabisan. Sore itu juga kami mendapat balasan dari Presiden Soekarno yang mengucapkan terima kasih dan
meminta kemerdekaan itu dipertahankan. Hari itu juga jam sebelas kami mendapat berita dari Kantor Telegram bahwa Indonesia telah diakui de fac- to oleh Jenderal Christison di Jawa. Memang sesungguhnya hubungan antara satu daerah dengan daerah lain- nya pada waktu itu sangat terbatas. Kecuali Kantor Telegram yang dibuka terus-menerus selama dua puluh empat jam, tidak ada jalan lain bagi kami untuk mengadakan hubungan dengan dunia luar. Malam itu melalui Radio RI di Bandung kami mendengar dengan jelas siaran warta berita tentang kemajuan-kemajuan yang telah dicapai di Jawa, juga tentang susunan kabinet pemerintahan Republik Indonesia. Teuku Mohd. Hassan telah dilantik menjadi Gubernur Sumatera, sementara Dr.
M. Amir yang sama-sama berangkat ke Jawa ketika mengadakan sidang untuk menyusun perlembagaan Indonesia merdeka anjuran Jepang telah ditunjuk sebagai menteri yang tidak berportfolio. Dalam satu hari itu kami telah bekerja keras untuk mengatur dan memperkuat kedudukan pemerintah Republik Indonesia. Kami benar-benar insaf bahwa hanya kami di Langsa saja yang secara resmi telah meng- umumkannya. Kantor Guntyo saat itu telah ditukar kembali menjadi Kantor Asst. Residen yang kami gunakan membentuk Komite Nasional Pusat dan Tentara Keamanan Rakyat. Keputusan tentang pembentukan kedua badan ini telah diumumkan kepada rakyat dalam satu rapat umum di tanah lapang. Rakyat dari segenap lapisan, pegawai-pegawai kantor dari segala bagian, murid-murid sekolah, pegawai-pegawai polisi berbaris bersaf-saf mengeli-
ib lingi bendera Merah-Putih.
T.T. Mohd. Daoedsjah sebagai ketua memperkenalkan KNI kepada umum, dan rakyat menyambutnya dengan pekikan setuju yang menggema ke angkasa.om Aku ikut berbicara selama 25 menit atas tajuk kęmerdekaan. Ucapanku itu telah mendapat'sambutan hangat dan semangat rakyat telah berkobar- kobar luto
回
Ingin aku membawa para pembaca mengikuti beberapa peristiwa yang terjadi setelah pengumuman kemerdekaan yang kudengar dari teman- temanku di daerah lain. Setelah menerima telepon dari kami yang mengatakan Indonesia telah merdeka, Tuan Hassanuddin langsung pergi ke rumah Bapak Joenoes, Kepala Polisi Idi yang ketika itu sedang sakit-sakitan. Belakangan ini keadaannya tidak berapa sehat benar, selain karena ketuaannya, juga karena tugas dalam masa Jepang yang seringkali menggoncangkan urat sarafnya. Ketika mendengar berita yang dibawa oleh Tuan Hassanuddin itu, ia pun langsung bangun dari tempat tidurnya, seolah-olah ia tidak sakit apa-apa, kemudian memberi perintah supaya besok pagi juga diumumkan serentak dengan Langsa. "Tetapi kita tidak mempunyai bendera Merah-Putih seperti orang-orang di Langsa," kata Hassanuddin. "Pergi cari malam ini juga di kedai-kedai, kalau-kalau mereka itu: ada menyimpan kain merah," perintah Pak Joenoes. Tetapi kain merah memang tidak ada. Di Langsa kain merah itu dibuat khusus dari kain putih yang dicelup atas perintah Bunsyutyo, ketika jaminan kemerdekaan dulu. Tuan Hassanuddin teringat, ia pernah membuat celana dalam dari kain merah, dia buru-buru pulang ke rumah untuk mencari celana itu kalau-kalau masih ada. Perasaannya menjadi lega ketika dari dalam kain-kain buruk ia dapatkan celana itu. Dia pun menyuruh istrinya pada malam itu juga membuka jahitan celana itu dan menjahit. kembali menjadi sebuah bendera. Kain putih telah diberikan oleh Pak Joenoes dari kain seprai, maka jadilah sebuah benderaMerah-Putih.Bendera itulah yang dikibarkan di depan Kan- tor Polisi Idi dengan satu upacara yang sederhana, dihadiri oleh pegawai- pegawai polisi dan beberapa orang luar sebab orang-orang lain masih ragu- ragu tentang berita kemerdekaan itu.
Cerita dari Lhok Sukun lebih menarik lagi. Kepala polisinya Tuan Salim tidak mau menaikkan bendera Merah-Putih karena katanya Kemerdekaan Indonesia itu hanyalah isapan jempol belaka. Menurut Salim yang akan berkuasa ialah orang-orang Cina, karena Chiang Kai-shek akan mendarat tidak lama lagi. Saat di Langsa, di Idi, dan di Kuala Simpang diadakan upacara pengibaran bendera, maka pada hari itu pula Salim, Kepala Polisi itu, ikut dalam satu upacara menaikkan bendera Cina — hanya saja bendera itu belum sampai ke puncak tiangnya, ketika di tempat itu lewat seorang Jepang. Jepang itu menyuruh bendera itu diturunkan dan Salim ditempelengnya. Demikianlah kisah-kisah tentang pengumuman kemerdekaan di daerah kami. Secara otomatis kami pegawai kepolisian di Aceh Timur menjadi pegawai Polisi Republik Indonesia dan hubungan kami dengan Kotaraja pun terputus. Karena pengumuman kemerdekaan itu maka seluruh penduduk, tidak pandang bangsa telah menerima kemerdekaan itu sebagai satu kenyataan. Rumah-rumah dan toko-toko telah mengibarkan bendera Merah-Putih.
Ketika aku sedang bekerja di Kantor Polisi, tiba-tiba datang serombongan pemuda melaporkan kepadaku bahwa di rumah Tuan Obara, Bunsyutyo Langsa, telah dikibarkan bęndera Merah-Putih di bawah bendera Jepang pada satu tiang. Mereka menyatakan tidak senang terhadap perbuatan menghina seperti itu. Menurut ketua rombongan itu, kepada Ass. Residen telah pula disampaikan keberatan itu, tetapi Ass. Residen tidak berani ber- buat apa-apa, malah disuruhnya mereka itu datang mengadukan kepadaku. Aku mengambil sepedaku dan terus menuju ke rumah Bunsyutyo. Memang benar, pada tiang bendera di depan rumahnya terpasang bendera Jepang dan bendera Merah-Putih pada satu tiang. Bendera Jepang terletak di atas. Aku naik ke atas rumah itu dan mengetuk pintu. Pembantunya, suami tukang masak kami dulu membuka pintu. "Ada Tuan Bunsyutyo?" tanyaku kepadanya. "Ada," jawabnya. "Silakan duduk, biar saya panggilkan." Sebelum dia berangkat, aku memanggilnya dan berpesan agar dia jangan pergi jauh-jauh dari tempat itu. Aku merasa khawatir kalau-kale: nanti Bunsyutyo yang sudah putus asa itu akan melakukan sesuatu hai yang tidak diingini. Setelah itu ia pun masuk ke dalam dan memberitahukan kepada Bunsyutyo bahwa aku ada di luar. Lama sekali aku menunggu di luar. Dari arah kamar Bunsyutyo terdengar bunyi orang berjalan seolah-olah seperti orang sedang membuat sesuatu. Aku menjadi gelisah dan perasaan hatiku tidak berapa enak. Udara dalam kamar itu terasa panas, sehingga aku bangun dan duduk beberapa kali. Sejurus kemudian terdengar bunyi sepatu orang berjalan ke luar menuju ke tempat aku menunggu. Aku tertegun sebentar melihat Bunsyutyo itu memakai pakaian jabatannya dengan lengkap. Tanda pangkatnya, pedang, pistol dan bersepatu pacuk. Aku lalu memberi hormat kepadanya. "Ada apa?" suaranya agak kasar sedikit. "Saya datang untuk memberitahukan Tuan, bahwa rakyat merasa tidak
senang melihat bendera Merah-Putih Tuan naikkan pada satu tiang dengan bendera Jepang dan letaknya di bawah pula." "Siapa yang kasi tahu?" tanyanya dengan suara keras. "Beberapa orang rakyat," kataku. "Siapa? Saya tidak mau turunkan." "Saya tidak menyuruh Tuan turunkan bendera itu," kataku dengan sabar. Rupanya dia salah paham tentang maksudku itu. "Rakyat meminta supaya Tuan jangan menaikkan bendera itu pada satu tiang. Kalau Tuan mau menaikkan bendera Jepang saja pun tidak mengapa karena Tuan másih menjadi wakil orang Jepang, dan kalau Tuan mau menghormati kami Tuan naikkan bendera Merah-Putih saja pun tidak mengapa. Tetapi yang mereka tidak senang ialah bendera itu dinaikkan pada satu tiang dan bendera Jepang di atas pula." Meskipun dengan kata-kta yang begitu lembut dia masih tidak mau mengerti atau sengaja tidak mau mengerti. Dia tiba-tiba menangis terisak-isak dan di antara isakannya itu tercetus segala isi hatinya yang sebenarnya: segala tipu muslihat Jepang yang selama ini tersembunyi dari pengetahuan kami. "Abdullah tahu," katanya."Waktu pengibaran bendera dulu banyak orang-orang Nippon yang tidak bersenang hati, lantaran bendera itu bendera bangsa dan bukan bendera negara. Hanya saya yang berkeras, saya paksa supaya mereka itu mengakuinya dan sayalah yang telah menyuruh orang-orang membuat kain merah untuk bendera itu. Kalau tidak di mana ada kain merah?" "Tuan salah mengerti. Saya tidak mengatakan bahwa kami tidak ber- terima kasih atas usaha Tuan itu. Kami sangat berhutang budi kepada Tuan, cuma sekarang ini saya minta Tuan mengerti pula maksud kami.' "Siapa yang sudah akui Republik Indonesia, siapa yang sudah kenal dengan bendera Merah-Putih?" "Secara de facto sudah diakui, namun begitu kami bangsa Indonesia mesti mengakui seratus persen bahwa kami sudah merdeka, walaupun orang lain tidak mengakuinya. Selama bertukar perdebatan itu, mataku tidak lepas memandang gerakan tangannya. Aku khawatir kalau-kalau dalam kekalapannya dia menarik pistolnya dan menembakku ataupun pedangnya itu dipancungnya ke leherku. Aku juga sudah siap dengan pistolku. Di belakang kulihat orang ga- jinya hilir-mudik, matanya tidak pernah dialihkannya dari kami. Bunsyutyo itu masih menangis terisak-isak dan setelah lama sekali duduk dengan tidak bercakap-cakap, maka aku pun meminta diri dan turun dari rumah itu.
Pertemuan itu berakhir dalam suasana yang keruh. Sejak hari itu Bunsyutyo itu terus marah-marah kepada pegawai-pegawainya dan orang-orang yang menjumpainya, kecuali aku yang selalu mengelak untuk bertemu dengannya. Tidak lama setelah aku turun dari rumah itu ia pun menurun- kan kedua bendera itu dari tiangnya dan tidak dikibarkan lagi, baik bendera Jepang maupun bendera Indonesia. Kami pegawai polisi Langsa menjalankan tugas selama 24 jam setiap hari tanpa beristirahat. Aku pulang hanya untuk mandi dan kadang-kadang seharian tidak mandi, makan juga tidak teratur, apalagi tidur. Petang itu aku sedang duduk-duduk di Langsa Klub yang sekarang ini telah kami tukar dengan nama Gedung Nasional. Di antara kawan-kawan yang duduk-duduk di situ ialah Tuan Abdoessoeki. Tiba-tiba ada panggilan telepon dari rumah Bunsyutyo yang meminta Tuan Abdoessoeki datang ke rumahnya. Kami menyangka ia dipanggil untuk membetulkan radio Bunsyutyo itu, tetapi waktu dia kembali setengah jam kemudian, ia memberi- tahukan bahwa Bunsyutyo telah mengeluarkan perintah bendera Merah-Putih dan bendera-bendera negara lain tidak boleh dikibarkan lagi. Katanya perintah itu datangnya dari Tyokan Kakka menerusi Keimubucho. Men- dengar kabar itu hatiku berontak. Pertama, mengapa dia tidak memanggil aku untuk menyampaikan perintah itu sebab aku yang bertanggung jawab terhadap keamanan di daerah Langsa. Kedua, kalau perintahnya itu di- jalankan maka pasti akan timbul huru-hara, dan segala tindakan kami meng- umumkan Proklamasi Kemerdekaan itu akan menjadi sebagai satu olok- olok belaka. Aku tahu ini adalah satu provokasi kepada apa yang telah aku dan kawan-kawanku ikrarkan. Aku mengambil keputusan di dalam hatiku sendiri bahwa perintah itu tidak akan dipatuhi. Malam itu Tuan Ikeda memanggil aku ke rumahnya dan menerangkan bahwa dia telah terima perintah dari Keimubucho tentang bendera itu. "Saya tidak akan bertanggung jawab terhadap sesuatu kejadian yang tak diingini kalau bendera itu diturunkan," kataku kepadanya. "Orang Indonesia jangan salah mengerti, kemerdekaan Indonesia belum
lagi pasti, boleh jadi provokasi musuh saja, sebab itu sabarlah dulu,"
katanya. "Bukan belum pasti, bukan provokasi musuh, musuh tidak ada lagi dan semua orang sekarang kawan belaka dan kami sudah seratus persen merdeka." "Saya pikir tidak," jawabnya masih berkeras. "Pikir saja tidak bisa," jawabku dengan berang. "Nasib baik Indonesia tidak terima bahwa kemerdekaan ini dari Jepang, kalau tidak saya tidak
tahu apa yang akan terjadi. Tentang perjuangan kemerdekaan janganlah Tuan sangka hanya berlaku dalam masa 3½ tahun ini saja, sejak dulu dalam zaman Belanda pun perjuangan ini telah dimulai. Kemerdekaan bukan suatu hadiah, tidak ada dalam riwayat kemerdekaan sesuatu negara bahwa kemerdekaannya merupakan hadiah seperti yang dijanjikan oleh
orang-orang Jepang — dan pendek kata bendera tidak boleh diturunkan!"
"Kalau begitu sukar sekali,' coba bicarakan dulu dengan Guntyo dan keputusannya beritahu saya besok pagi." "Baik!" ujarku lalu meninggalkan rumahnya itu. Beberapa orang pemuda telah diundang ke rumah Guntyo untuk berun- ding tentang soal bendera ini — waktu aku sampai di rumah itu kulihat Bunsyutyo ada bersama-sama, rupanya dia datang ke situ untuk menjalankan pengaruhnya, dia mau memaksa supaya perintah dari Kotaraja itu diterima. Aky menentang ucapannya itu dan dia dengan suara keras dan lantang membentakku. Aku tanya kepadanya bagaimana halnya dengan bendera Cina yang sudah tentu mereka kibarkan pada hari perayaan 10 Oktober, karena orang-orang Cina sudah mengetahui bahwa mereka telah menjadi rakyat dari negara Lima Besar. "Tidak boleh dikibarkan," jawabnya dengan keras. "Siapakah yang sudah mengakui Republik Indonesia?" "Secara de facto telah diakui oleh Jenderal Christison di Jawa." "Jenderál tidak sah.' "Bagaimana persiapan kemerdekaan Indonesia anjuran Jepang dulu? Bukankah atas inisiatif seorang Jenderal juga?" Tanpa menjawab, dengan muka yang merah padam dia bangun dan pulang ke rumahnya. Sepeninggal Bunsyutyo itu kami pun mengambil keputusan, karena aku dan T. Alibasjah tidak mau menurut perintah, maka bendera Merah-Putih terus dikibarkan. Barangsiapa yang berani menurun- kannya maka dia akan menanggung risiko sendiri. Setelah selesai, beberapa orang di antara kami pergi ke rumah Tuan Ikeda. Aku memberitahukan kepadanya bahwa bendera Merah-Putih tidak boleh diturunkan, kalau diturunkan maka keributan yang besar bakal terjadi dan orang-orang Jepang harus menanggung akibatnya. Tanpa berpikir lagi, Tuan Ikeda langsung berkata, "Baiklah, kibarkanlah terus!" Sejak itu masalah bendera ini sudah tidak menjadi persoalan lagi. Kami pegawai-pegawai polisi pun tidak pernah diganggu gugat oleh orang-orang Jepang, seolah-olah mereka itu telah tahu bahwa mereka sudah tidak ada kuasa apa-apa lagi. Kami pun menjalankan tugas kami dengan sebaik- baiknya.
三
Pada suatu malam aku pergi menonton film di Dai Toa Eigakan. Gedung bioskop ini belum ditukar namanya, tetapi kami tidak begitu menghiraukan sangat tentang nama-nama itu karena sekarang semangat kemerdekaan lebih meluap-luap lagi. Kami sedang berusaha untuk menguasai pemerin- tahan seluruhnya. Kantor Bunsyutyo Langsa masih terus mengibarkan bendera Jepang, beberapa orang kawan kami masih terus bekerja seperti biasa, sekalipun tidak ada pekerjaan yang akan diselesaikan. Bunsyutyo telah memberi peringatan kepadaku dan kepada orang-orang lainnya, bahwa bendera Jepang yang di depan kantornya itu tidak boleh diganggu
gugat oleh siapa pun. Tetapi bagiku bendera itu selalu menjadi pikiran
siang dan malam.
Setiap malam aku keluar tanpa memakai seragam polisi, tetapi ke mana
pun aku pergi senantiasa ada dua orang pegawai polisi mengiring per-
jalananku meskipun tidak kuminta. Malam itu aku masuk ke dalam gedung
bioskop. Penjaga pintunya seorang pemuda Indonesia yang bisu, mem- buka jalan bagiku. Aku duduk di salah satu bangku panjang. Tetapi tiba-tiba masuk dua orang Cina, dengan kasarnya mendorong aku dan duduk di sebelahku. Aku meminta dia masuk ke dalam sedikit, tetapi dengan kasar dia memaki-maki aku tanpa sebab. Belum sempat kujawab, tiba-tiba Osman pengiringku memukulnya dan kedua orang Cina itu telah dipasang borgol dan dibawa ke Kantor Polisi. Sehabis menonton aku pun pulang ke Kantor Polisi, kedua orang Cina itu masih ada. Sebenarnya aku tidak pernah melihat mereka itu di Langsa, sebab biar bagaimanapun juga semua orang Cina di Langsa mengenali aku dengan baik dan mereka tidak pernah sekasar itu kelakuannya. Beberapa orang polisi telah memukulnya, ketika aku sampai ke situ aku melarang mereka berbuat yang serupa itu. Aku sedikit pun tidak menaruh dendam, hanya aku ingin mengetahui siapa mereka itu dan datang dari mana. Mereka tidak mau menerangkannya. Tetapi sebaliknya mereka itu berkeras minta dilepaskan. Aku menyuruh ditahan terus selama mereka
tidak mau menerangkan keadaannya dengan sebenarnya. Aku memberi
kesempatan kepada mereka untuk berpikir dan sementara itu aku masuk kę dalam kantorku. Belum sempat aku duduk, pintu kantor itu pun diketuk orang dari luar. Kemudian komandan yang menjadi kepala di kamar pengawalan masuk dan memberitahukan bahwa seorang Kempeitai Jepang mau menjumpai aku dan sedang menunggu di kamar pengawalan. Kusuruh panggil Jepang itu ke kantorku. Sebentar kemudian masuklah seorang pegawai Kempeitai Langsa, orang- nya tinggi besar dan memakai pakaian dinasnya dengan lengkap. "Inikah Sutyo?" tanyanya. Aku tidak berapa kenal dengannya, karena ia baru beberapa hari bertugas di Langsa. "Ya,"jawabku. "Ada apa?"
Dia menarik kursi dan duduk di depanku. "Sekarang banyak besar ne!"
ujarnya lagi, memandang kepadaku dengan sinis. "Serupa saja,"jawabku. "Tuan ada urusan apa?" "Saya datang mau minta lepaskan itu orang Cina. Mereka adalah saya punya orang yang saya bawa dari Berandan.
"Oh, Tuan punya orang rupanya. Pantas mereka itu keras kepala!"
kataku dengan suara mengejek. 'Mereka tidak kenal Sutyo. Jadi saya minta maaf atas nama mereka. Sekarang saya harap Sutyo lepaskan." "Saya boleh lepaskan. Tetapi mereka itu mesti meninggalkan Langsa dalam tempo dua puluh empat jam. Kalau tidak mereka itu saya masukkan ke dalam kurungan." "Tetapi mereka orang saya!" katanya membantah. "Buat apa mereka itu di sini? Tuan tahu bahwa kami di sini tidak perlu ada mata-mata Jepang lagi. Orang-orang Cina di sini semuanya baik-baik belaka. Tidak ada yang mesti Tuan selidiki dari mereka itu dan kalau Tuan bertindak sewenang-wenang sekarang ini terhadap orang-orang Cina di sini, maka Tuan akan berhadapan dengan kami." "Baiklah," jawabnya dengan suara merendah. "Saya akan suruh mereka itu keluar dari Langsa pagi-pagi besok juga." "Mereka akan kami lepaskan pagi-pagi besok. Malam ini biarlah mereka tinggal di'sini." Jepang itu pun keluar dan aku mengikuti dari belakangnya. Kedua orang Cina itu memandang kepada Jepang itu dengan muka yang berseri-seri, karena sangkanya mereka akan dilepaskan. Tetapi kemudian muka mereka itu mendadak berubah dan menjadi pucat demi Jepang itu mengatakan PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH — 5
mereka mesti tidur satu malam di Kantor Polisi itu dan besok pagi-pagi mereka mesti berangkat meninggalkan Langsa. Jepang itu pun meninggalkan Kantor Polisi itu dan pulang ke rumahnya. Ketika itulah baru orang-orang Cina itu datang meminta maaf kepadaku. Berulang-ulang mereka meminta maaf karena tidak mengenali aku. "Tetapi bukan soal itu," jawabku. "Tuan-tuan sekarang ini sudah salah jalan. Tidakkah Tuan-tuan tahu bahwa Jepang sudah kalah perang? Jadi untuk apa lagi bekerja dengan mereka itu? Siapa di antara bangsa Tuan-tuan yang akan Tuan aniaya?" Pagi-pagi besoknya ketika aku berjalan-jalan di depan Gedung Nasional kulihat kawan-kawanku di Kantor Gunseibu itu masih saja menaikkan bendera Hinomaru dan memberi hormat kepada bendera itu. Aku marah melihatnya, lalu kuambil keputusan akan menurunkan bendera Jepang itu dan menaikkan bendera Merah-Putih. Aku pulang ke Kantor Polisi. Sesampai di sana seorang pegawai polisi mengadukan kepadaku bahwa dia telah ditempeleng oleh Tuan Isutani, pegawai Gunseibu Langsa, karena dia tidak memberi hormat kepadanya. "Celaka orang itu," bentakku. "Pergi! Cari Jepang itu dan tempeleng kembali. Kalau tidak kau akan saya berhentikan jadi pegawai polisi. Kau memalukan seluruh corps ini karena terlalu mudah dihina oleh orang asing. Pergi!" Kulihat muka pegawai itu merah padam. Bunga api dendam telah kutanam dalam hatinya. Satu pantangan orang-orang Aceh ialah kalau dia dibuat malu, maka dia tidak akan takut mati. Dendamnya tidak akan habis selama dia belum dapat membalasnya. Aku sudah banyak melihat akibat dendam orang-orang Aceh selama aku menjadi pegawai polisi. Kadang- kadang kalau terjadi sesuatu pembunuhan, maka jarang sekali yang terlibat dalam pembunuhan itu ada sangkut-pautnya dengan kejadian-kejadian yang paling baru. Mereka biasanya membalas dendam bapak-bapak atau kakek- kakeknya, yang tak sempat dibalas semasa hayat mereka itu masih ada. Dendam orang Aceh kepada Belanda pun serupa juga. Mereka telah diajar oleh ibu-ibunya sejak dari dalam buaian. Anak-anak kecil ditanamkan pera- saan dendam dengan satu nyanyian yang turun-temurun. Pegawai polisi itu terus pergi mencari Tuan Isutani dan rupanya Jepang itu telah sadar akan kesalahannya, ia lalu melarikan diri. Sebentar saja seluruh kota kecil itu telah heboh. Orang-orang membicarakan bahwa seorang pegawai polisi sedang mencari seorang Jepang untuk dipukulnya. Telepon di mejaku berdering. Kuangkat gagangnya dan dari ujung di sebelah sana kudengar suara Tuan Bunsyutyo Langsa. MAX AWITZIRER
"Abdullah," katanya. "Bolehkah datang ke rumah saya sebentar?" "Ada apa?" tanyaku. "Ada urusan penting." "Kalau Tuan perlukan saya. Tuan mestilah datang kemari karena saya banyak pekerjaan." "Tetapi ini lebih penting lagi. Tuaņ Abdullah mesti datang kemari cepat." "Apa pentingnya?" "Tunggu sebentar," katanya dan diam sejenak. Tiba-tiba kudengar suara Tuan Ikeda. "Saya Tuan Ikeda," ujarnya. "Tuan Abdullah mesti datang kemari. Ini perkara Tuan Isutani yang sudah silap memukul itu polisi." "Oh, perkara itu? Saya tidak bisa mengurusnya. Sekarang pegawai polisi itu sendiri sedang mencari Tuan Isutani, karena ia mau mengurusnya sendiri. Di mana Tuan Isutani sekarang?" "Kami tidak tahu," jawab Tuan Ikeda dengan suara merendah."Tetapi lebih baik Tuan Abdullah datang kemari." "Tuan," jawabku. "Ini perkara besar, perkara ini hanya boleh diselesaikan oleh orang yang bersangkutan saja. Tuan tahu apa artinya malu bagi orang Aceh. Bagi orang Jepang dia melakukan harakiri, tetapi orang Aceh dia mau menghilangkan arang di mukanya. Saya tidak bisa urus, cuma kalau pegawai itu mau bolehlah Tuan Isutani minta maaf kepadanya. Itu pun akan saya tanyakan kepadanya dulu." "Tolonglah. Ini sangat memalukan," kata Tuan Ikeda. "Baiklah, Tuan!" jawabku dan gagang telepon itu pun kuletakkan. Kupanggil komandan jaga dan menyuruh mencari pegawai polisi yang ditempeleng oleh Tuan Isutani itu. Sebentar kemudian ia pun balik dan masuk ke kantorku. Kulihat matanya merah dan mukanya berkeringat. "Kalau Tuan Isutani meminta maaf kepadamu bagaimana?" tanyaku kepadanya. "Bagaimana menurut Tuan?" jawabnya balik. "Jangan tanya pendapat saya. Tanya pikiranmu sendiri?" kataku. "Kalau di depan Tuan saya terima," ujarnya. Aku pun tersenyum dan dia ikut tersenyum. Aku tahu bahwa dia ingin hal itu dilakukan di depanku karena kepadaku dia malu sekali. Kami berdua pergi ke rumah Bunsyutyo. Waktu kami sampai yang ada hanya Tuan Bunsyutyo dan Tuan Ikeda saja. Tetapi aku tahu Tuan Isutani sedang bersembunyi di suatu tempat. Dia tidak berani keluar, karena dia takut terjadi hal-hal yang tidak enak. Setelah kami duduk, kuterangkan bahwa pegawai polisi itu telah setuju
Tuan Isutani meminta maaf kepadanya di depanku. Setelah itu Tuan Isutani yang sedang berkurung dalam kamar tidur Bunsyutyo dipanggil. Ia kelihatan pucat. Dan aku pun dalam hati kecilku merasa gembira akan kejadian itu, karena ini merupakan satu blessing in disguise untuk membalas dendamku sendiri terhadap Jepang itu, yang pada satu waktu sebelumnya pernah membentak-bentakku karena salah membunyikan sirene ketika kapal terbang Amerika lewat di angkasa Langsa. Dengan gemetar dia meminta maaf kepada pegawai polisi itu. Dia mengaku akan kesilapannya dan dia tidak akan berbuat lagi yang serupa itu. Ketika itulah aku melihat satu perbedaan dan perubahan yang besar yang terjadi pada dua bangsa yang berlainan. Dulu orang-orang Jepang menjadi yang dipertuan dan mereka dengan sesuka hati melakukan apa saja terhadap orang-orang Indonesia. Mereka menganggap orang-orang Indonesia itu gen- shijin atau inlander — tetapi kini kulihat pegawai polisi yang berpangkat rendah itu, yang barangkali sekolahnya juga tidak seberapa menjadi orang yang penting. Kulihat dadanya dibusungkan karena udara kemenangan menyesak ke dalamnya. Matanya bersinar-sinar karena menerinia cahaya kebesaran dirinya, dan air mukanya jernih, sejernih hatinya di dalam. Bagiku ketika itu, pegawai polisi yang rendah pangkat itu menjadi lam- bang bangsa Indonesia yang baru merdeka, yang baru mencapai kedaulatannya, kemerdekaan dan kedaulatannya telah diakui dan aku gembira sehingga dengan tak disadari aku hampir mengeluarkan air mata menyak- sikan kejadian itu! Tuan Bunsyutyo dan Tuan Ikeda juga malu. Mereka ikut malu terhadap Tuan Isutani bangsanya. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa, karena mereka terpaksa mengaku akan kenyataan. Kenyataan itu telah datang menampar muka mereka sendiri sebab mereka bersikap ragu-ragu terhadapnya. Mereka insaf akan arus yang sedang bergelombang. Setelah itu kami pun pulang dan pecahlah pula kabar ke mana-mana bahwa seorang pegawai polisi Langsa telah menempeleng balik Jepang yang menempelengnya. Banyak orang yang mempercayai perkabaran itu. Hanya aku sajalah yang mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Di Kantor Gunseibu Langsa telah ditempatkan seorang pegawai Jepang sebagai pengawal. Dia selalu menunggu di depan kantor itu agar jangan sampai terjadi sabotase dari dalam. Sabotase yang ditakutinya bukannya bom ataupun lain-lain yang serupa itu, melainkan pengibaran bendera Merah-Putih di tiang yang sekarang sedang ditempati oleh bendera Hinomaru. Kalau Jepang ini tidak ada, ada pula Jepang yang lain. Cuma satu kemudahan bagi kami ialah kebanyakan mereka itu tidak bersenjata. Pistol dan pedang yang ada hanya sebagai satu perhiasan yang sudah menjadi kebiasaan saja. Tenaga dan semangatnya sudah tidak ada. Pagi-pagi setelah mereka beradio-taiso. Aku pun pergi ke kantor Gunseibu itu. (Aku boleh pergi ke situ, karena tidak ada larangan yang dikeluarkan). Kedatanganku itu sudah diduga lebih dulu oleh kawan-kawan yang ada di sana. Teuku Yakoeb terus bangun dari kursinya dan menyam- but kedatanganku. Setelah kulihat Jepang yang lain belum datang, sedangkan Jepang yang seorang itu terangguk-angguk di luar, menjaga tiang benderanya. Maka aku pun berkata: "Ampun, saya datang ini untuk memberitahukan bahwa dalam waktu satu jam dari sekarang, sekarang pukul setengah sembilan jadi pada pukul setengah sepuluh, nanti bendera Merah-Putih mestilah sudah ada di puncak tiang di depan ini dan bendera Jepang itu diturunkan." Selesai berkata demikian, belum sempat menunggu jawabannya, aku pun keluar. Kugeserkan pistol yang tersangkut di bagian belakangku ke depan; seolah- olah mau menunjukkan bahwa itulah yang akan kuberikan kalau mereka tidak mematuhi perintahku itu. Teuku Yakoeb ikut keluar sampai ke pintu luar. Di jalan raya dilihatnya ada dua orang pegawai polisi sedang berdiri dengan senapannya. Aku terus ke Gedung Nasional dan dari sana aku melihat apa yang akan dilakukan oleh kawan-kawanku itu. Barangkali juga keadaan mau menolongnya, ketika itu Jepang yang menjaga di luar itu pergi ke kamar kecil. Dalam waktu yang singkat itu
Marsita, Noraini, dan Khairani telah keluar berlari-lari membawa bendera Merah-Putih. Mereka menurunkan bendera Hinomaru, kemudian meng- ikat bendera Merah-Putih pada tali, dan dinaikkan. Tetapi entah bagai- mana talinya tersangkut kira-kira di setengah tiang. Ketika mereka me- narik-narik tali itu, Jepang yang pergi ke kamar kecil itu pun datang. Dia terperanjat besar demi melihat apa yang sedang dilakukan di depan mata- nya itu, tetapi untunglah dia tidak mengganggunya. Dia terus menyambar
sepedanya dan mendayung dengan tergesa-gesa menuju ke rumah Bun-
syutyo.
Bendera itu telah sampai di puncak tiang dan berkibar dengan jayanya.
Kawanku, anak-anak perempuan yang mengibarkan bendera itu telah
masuk kembali ke dalaņ kantornya.
Sebentar kemudian Bunsyutyo pun sampai dengan mobilnya. Dengan
sekali imbasan dia melihat kepada bendera yang sedang berkibar itu,
kemudian tergesa-gesa masuk ke dalam kantornya. Aku memperhatikan
peristiwa itu dari Gedung Nasional, dan hatiku gembira sekali karena apa
yang meņjadi cita-citaku selama ini telah tercapai. Kira-kira setengah jam kemudian kulihat mobil Ass. Residen berhenti di belakang mobil Bunsyutyo di depan kantor itu dan dari dalamnya turun
T.T. Mohd, Daoedsjah. Ia tergesa-gesa masuk ke dalam kantor. Setengah jam kemudian dia keluar. Kemudian kulihat beberapa orang pemuda telah diangkut dengan mobilnya, di antaranya Tuan Abdoessoeki. T.T. Moh. Daoedsjah sudah tidak ikut lagi. Tak lama kemudian pemuda-pemuda itu pun keluar, Tuan Abdoessoeki menuju ke Gedung Nasional. Aku menunggu kedatangannya dengan perasa- an yang gelisah, karena ingin sekali mengetahui apa yang telah dibicarakan oleh Bunsyutyo itu kepada mereka. Sebelum Tuan Abdoessoeki sampai, lebih dulu muncul mobil Ass. Residen. T.T. Mohd. Daoedsjah turun dari mobil dan masuk ke dalam Gedung Nasional, kemudian masuklah pula Tuan Abdoessoeki yang datang dengan berjalan kaki.
T.T. Mohd. Daoedsjah memanggil aku datang ke tempat duduknya pada
sebuah meja bulat berhampiran dengan pintu. Tuan Abdoessoeki juga datang duduk bersama-sama di tempat itu, kawan-kawan yang lain terus masuk ke dalam kamar bola, melihat oràng-orang bermain bola. "Tuan Bunsyutyo memberitahukan kepada saya supaya menahan sedikit semangat Cik Lah," demikian Ass. Residen itu berkata. "Kami semua telah
diberi kopi pahit olehnya karena membiarkan Cik Lah mempengaruhi
pemuda-pemuda di sini dan dia juga telah memberi peringatan kepada
pemuda-pemuda itu supaya jangan terlalu tergopoh-gopoh."a
"Dia marah sekali karena di kantornya telah dinaikkan bendera Merah-Putih."Tuan Abdoessoeki menyela percakapan Ass. Residen itu. Aku diam tidak berkata apa-apa. Dalam otakku penuh pikiran yang ber- macam-macam. Tetapi satu yang sudah pasti aku lakukan yaitu menjumpai Bunsyutyo itu sendiri. Dengan masalah ini sudah dua kali dia melewati aku. Seharusnya kepadakulah yang mesti diberi peringatan, karena akulah yang mendesak kawan-kawanku di kantornya itu menaikkan bendera itu. Mengapa pula kepada Ass. Residen dan Tuan Abdoessoeki serta pemuda-pemuda lain? "Jadi apa pikiran Cik Lah sekarang?" Ass. Residen itu bertanya setelah melihat aku hanya berdiam diri saja. Aku bangun dan berkata. "Sekarang saya mau pergi menjumpainya Aku pun keluar dari Gedung Nasional itu seorang diri, berjalan menuju ke Gunseibu. Kudengar Ass. Residen itu berkata kepada Tuan Abdoessoeki. "Memang dia suka mencari penyakit! Tetapi aku tidak mengindahkannya. Aku terus pergi ke Gunseibu, dan ketika aku memasuki pintu depan, semua mata pegawai Jepang dan Indo- nesia yang berada di dalam kantor itu memandang kepadaku. Aku tidak berkata apa-apa kepada mereka itu, tetapi terus mengetuk pintu kamar Bun-Masuk!" serunya dalam bahasa Jepang. Aku pun mendorong pintu itu dan masuk. Dia tertegun melihat aku yang datang.egns "Ha, pahlawan rupanya," katanya. "Anata wa warui da!"i Dia mengucapkan kata-kata itu dengan suara keras. Memang suaranya seperti geledek jika dibandingkan dengan suaraku. Tetapi aku sudah tidak gentar lagi kepadanya, karena semangatku sekarang lebih kuat daripada semangatnya. Itulah yang kali kedua aku mendengar orang Jepang mengucapkan per- kataan 'warui' terhadapku. Aku tidak mengindahkannya, aku tarik kursi 2008 dan terus duduk menghadapnya.i "Abdullah tidak baik. Mengapa di kantor saya juga dinaikkan bendera Merah-Putih? Bukankah dulu sudah saya katakan, di tempat-tempat lain boleh dinaikkan, saya tidak bantah, tetapi jangan di kantor saya, karena di sini masih merupakan perwakilan Jepang di daerah ini." Dia lalu memukul- mukul mejanya beberapa kali. Menurut cerita kawan-kawanku setelah itu,
- "Anda orang tidak baik!" (bahasa Jepang)
mereka sungguh-sungguh khawatir mendengar suara pekikan dan bunyi pukulan meja itu. Mereka takut kalau aku dipukul oleh Bunsyutyo itu. Tetapi dalam kemarahannya yang meluap-luap itu, tiba-tiba dia ketawa berdekah-dekah. Aku sendiri terperanjat mendengar ketawanya yang tiba-tiba itu. Aku menyangka pikirannya sudah berubah dan aku pun mulai ber- siap untuk menjaga jangan sampai aku menjadi korbannya. "Takutkah Abdullah kepada saya?" tanyanya tiba-tiba. "Tidak!"jawabku tegas. "Bagus! Saya sangat senang melihat semangat Abdullah yang begitu keras. Orang lain ketika saya marah ada yang menangis dan meminta maaf. Tetapi setelah saya mencoba berpura-pura memarahi Abdullah, Abdullah diam saja. Kalau ada seribu orang pemuda seperti Abdullah ini, maka saya percaya kemerdekaan Indonesia tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun juga. Saya senang bahwa Abdullah seorang pahlawan yang berani. Nah, sekarang apa yang dapat saya berikan pertolongan kepada Abdullah?" Mendengar dia menyebut aku 'pahlawan', tersirap juga darah dalam tubuhku. Aku lebih bersemangat lagi daripada tadi. Dengan berani aku ber- kata kepadanya, "Saya minta pistol Tuan, juga pistol-pistol Tuan Jepang yang lain. Karena kami sekarang perlukan senjata api lebih banyak lagi." "Itu boleh. Lain apa lagi?" "Saya mau pinjam mobil Tuan." "Itu juga boleh. Mobil itu boleh Abdullah pinjam hari ini dan pistol biarlah saya pakai dulu. Nanti sudah sampai masanya, saya serahkan, tidak saja pistol ini tetapi pistol serta pedang saya dan pedang-pedang orang lain juga." "Terima kasih banyak," kataku, "Mudah-mudahan sumbangan Tuan kapada kemerdekaan kami ini ada guna hendaknya." "Panggilkan Basjah kemari," katanya. Aku pun keluar dan memanggil Basjah, supirnya. Ketika aku berada di luar, semua orang yang ada di dalam ruangan besar itu memandang kepadaku dengan tanda tanya. Tetapi aku membuat muka selamba saja. Aku terus keluar, kemudian masuk ke dalam mobil Bunsyutyo itu dan duduk di belakang. Mobil itu ialah sebuah mobil Cheverólet Tourer dan bumbungnya bisa dibuka. Melihat itu semua orang lebih takjub lagi. Kemůdian Basjah pun keluar dan duduk di belakang setir. Mesin mobil itu dihidupkan dan bertanya ke mana aku hendak pergi. "Ke Gedung Nasional," kataku seperti tuan besar saja. Sebentar kemudian mobil itu pun berhenti di depan Gedung Nasional.
Orang-orang yang ada dalam gedung itu menyangka yang datang itu Tuan Bunsyutyo, tetapi demi dilihatnya aku yang turun maka bertambah heran lagi mereka. Ass. Residen itu pun memanggil aku serta bertanya apa yang dikatakan oleh Bunsyutyo. "Katanya saya pahlawan nasional dan sebagai hadiahnya maka ia mem- berikan mobil ini kepada saya, serta dia berjanji akan menyerahkan pistol serta pedangnya juga,"jawabku dengan ketawa kecil. Mendengar itu kesemuanya datang dan menepuk-nepuk belakangku. "Bagus, Tuan Abdullah! Bagus!" Dan untuk merayakan kemenangan itu aku menjamu kawan-kawan yang ada di Gedung Nasional itu minum limun seorang sebotol!
Kami di Kantor Polisi Langsa masih saja menerima perintah dari Kantor Polisi Besar di Kotaraja yang ditandatangani oleh Keimubucho Jepang. Semua perintah-perintah itu tidak kami patuhi. Kami hanya melakukan tugas menurut apa yang kami rasa baik bagi kami saja. Karena bertubi-tubi surat perintah datang dan menanyakan itu dan ini, maka pada suatu hari aku memberitahukan kawan-kawanku bahwa aku akan pergi ke Kotaraja. Tgk. Ismail Usman, ketua Pemuda Poesal di Langsa ingin ikut juga, dan kemudian Pembantu Inspektur Osman. Lalu kami bertiga pun menaiki kereta api pertama dari Langsa. Pada ketika itu perjalanan kereta api dari Aceh Timur ke Kotaraja, meskipun lambat tetapi masih berjalan dengan baik. Dalam zaman Jepang, orang-orang yang naik kereta api, terutama pegawai pemerintah, lebih suka meminta gerbong barang, daripada duduk di deresi yang penuh sesak dengan para penumpang lain. Para penumpang, lelaki ataupun perempuan, akan menaiki kereta api itu sampai berjejal-jejal, bergantüng-gantung di tangga, duduk di atas atapnya dan kakus juga udah menjadi tempat duduk yang baik. Sebab itu kalau kita boleh mendapat gerbong barang maka baiklah nasib kita, karena di situ boleh dibentangkan tikar dan boleh duduk atau tidur sesuka hati. Biasanya beberapa minggu sebelumnya permohonan untuk mendapatkan gerbong ini dibuat diajukan kepada kepala stasiun. Kalau kita kenal baik dengannya ataupun kalau 'pokok pisang'.2 kita kuat maka mudahlah kita memperolehnya. Kami mendapat sebuah gerbong dan kami bentanglah tikar di dalam gerbong itu, lalu duduk dengan penuh santai. Di -Idi, melalui seorang pegawai polisi, kami memanggil Tuan Hassanuddin. Ketika dia datang, aku katakan kepadanya bahwa kami akan ke Kotaraja dan kalau dia suka boleh ikut bersama-sama. Ia pun minta izin lalu pulang ke rumahnya dan sebentar kemudian ia datang dengan membawa satu.bungkusan kecil.
- Persatuan Oelama Seluruh Aceh
- Uang kertas Jepang
Kereta api Aceh nama asalnya Atjeh Staatspoor seperti yang telah kukatakan di atas tadi, berjalan tidak menurut jadwalnya, oleh sebab itu masih sempat Tuan Hassanuddin pulang ke rumahnya, mandi, bertukar pakaian dan kemudian datang ke stasiun itu. Sementara menunggu kedatangan Tuan Hassanuddin tadi kami membeli makanan yang banyak dijual di stasiun itu. Biasanya di tiap-tiap stasiun yang disinggahi kereta api, banyak orang menjual makanan, terutama nasi dan kue. Nasinya biasanya dengan lauk ayam dan murah pula dibandingkan dengan tempat- tempat lain di Sumatera. Bersama-sama Tuan Hassanuddin ikut juga Pak Natar Zainuddin, seorang pejuang yang terkenal licin dalam gerakannya, Tgk. Husin Al Mudjahid, ketua Pemuda Poesa seluruh Aceh dan beberapa orang peng- iringnya yang lain. Karena mereka mengetahui kami mendapat sebuah gerbong khusus maka mereka pun ikut menumpang serta dalam gerbong itu. Perlu kuceritakan sedikit tentang Pak Natar Zainuddin ini, ia berasal dari Natal Sumatera Barat. Tetapi telah bermukim di Idi. Anak dan istri- nya tinggal menetap di situ meskipun ia sendiri selalu saja bepergian, sebentar-sebentar ke Medan dan sebentar-sebentar ke Kotaraja. Kami tidak tahu dengan jelas sikap dan pendirian politiknya, karena dia begitu pintar dalam menjalankan kegiatannya.1 Ketika mula-mula Jepang masuk ke Aceh dia sangat rapat dengan para ulama, terutama pemimpin-pemimpin Poesa. Seringkali aku melihat dia ikut Tgk. Muhd. Daoed Beureueh, ulama dan pemimpin Poesa yang terkenal. Pada akhir pemerintahan Jepang dia seringkali bolak-balik antara Langsa, Idi dan Medan dan sebagai senjata dia membawa surat dari salah seorang pembesar Jepang di Sumatera, sehingga pergerakannya bebas lepas saja, tanpa ada gangguan apa-apa. Kini tiba-tiba dia muncul pula di Idi dan ikut bersama kami dalam kereta api itu menuju ke Kotaraja, hanya saja tujuan mereka itu berlainan dengan tujuan kami berempat. Apakah tujuan mereka itu tidaklah kami ketahui. Namun karena karai sama-sama menuju ke suatu arah maka duduklah kami dalam satu gerbong. Di sepanjang jalan telah banyak terlihat bendera Merah-Putih dikibar- kan orang. Ada beberapa orang pula yang memakai lencana merah-putih pada dadanya, seperti yang kami pakai. Berhubung Pak Natar dan Husin Al Mudjahid ikut dalam rombongan kami itu, maka tidak sunyilah kami dengan gelak ketawa sepanjang jalan.
- Setelah meninggal dunia barulah aku ketahui ia seorang komunis internasional
Pak Natar seorang yang pandai membuat lucu dan kelucuannya itu kadang- kadang dalam sekali maknanya. Mereka berdua sangat gemuk dan pendek. Kulit Pak Natar lebih hitam daripada kulit kami semua, dia hampir menyerupai orang India. Meskipun dia terkenal di antara segolongan orang-orang terutama orang-orang per- juangan, tetapi rakyat umum dan juga sebagian pegawai rendah, menyangka dia orang asing. Karena mereka berdua itu gemuk maka selalu saja menarik perhatian orang banyak, ketika kereta api itu berhenti di tiap-tiap stasiun. Pak Natar begitu pandai berbahasa Indonesia dengan lidah yang télor. Sehingga banyaklah orang yang bertanya kepada kami, (dalam bahasa Aceh) dia orang apa? Kami selalu menjawab bahwa dia orang asing yang datang bersama-sama dengan Tentara Sekutu. "Mengapa dia memakai lencana merah-putih?" tanya orang yang ada di dekat tempat kami itu. Dengan telor yang dibuat-buat, dia lalu menjawab. "Karena saya sokong kemerdekaan Indonesia. Saya seorang asing sokong kemerdekaan Indonesia, tetapi Tuan orang Indonesia tidak menyokongnya, apa tidak malu?" Orang itu pun tersipu-sipu malu. Ada yang terus menghilang dan kemudi- an muncul dengan memakai lencana merah-putih di dadanya. Di Aceh banyak sekali jeruk bali. Ada di antara kawan kenalan yang bertemu dengan kami di stasiun itu menghadiahkan jeruk tersebut beberapa biji. Ketika di depan orang ramai Pak Natar pura-pura tidak mengetahui buah itu. Lalu ia bertanya dan mengulang-ulangi menyebut nama yang kami katakan. Perbuatannya itu menimbulkan gelak ketawa orang yang mien- dengar dan melihatnya. Mereka pun mengolok-oloknya dengar mem- berikan pisang, tebu dan sebagainya. Dia pura-pura tidak tahu cara memakan tebu, pura-pura memakan kulit jeruk dan dengan demikian dia pun menyelipkan pula propagandanya. Kereta api yang kami naiki itu masih dikawal oleh orang-orang Jepang dan umumnya di tiap-tiap stasiun masih ada orang Jepang yang mengatur perjalanan kereta api itu. Setelah bermalam semalam di Lhok Seumawe, maka besoknya kami pun berangkat ke Bireuen. Di Gelompang Dua, Pak Natar meminta sebuah bendera Merah-Putih dari seorang kenalan Tgk. Husin Al Mudjahid. Bendera itu lalu dipasang di kepala kereta api itu. Mula-mula masinisnya tidak mau, ia takut pada Jepang yang menjaga di Bireuen. Tetapi atas desakan kami, yang mengatakan bahwa Pak Natar itu utusan dari Tentara Sekutu, maka mau tak mau bendera itu pun dipasang di kepala kereta api.
Alangkah gemparnya orang-orang di pekan Bireuen ketika melihat kereta api itu masuk stasiun dengan bendera Merah-Putih melambai-lambai di lokomotifnya. Mereka pun berteriak-teriak menyatakan kereta api itu kepunyaan Republik Indonesia dan berlari-larilah orang datang menyerbu ke stasiun untuk melihat kejadian dan mengetahui siapakah gerangan yang ada dalam kereta api tersebut. Orang-orang Jepang yang menjaga di Stasiun Bireuen juga panik dan gempar. Mereka berlari-lari ke sana kemari dan bertanya-tanya kepada masinisnya mengapa bendera itu dipasang di kepala kereta api? Masinis itu menunjukkan Pak Natar kepadanya. Jepang itu kaget melihat Pak Natar duduk bersama kami, kebetulan kami bertiga: aku, Hassanuddin dan Osman memakai uniform polisí maka dia pun percaya tentu orang yang besar gemuk itu seorang yang penting, tetapi siapa yang membawa tidak,diketahuinya. Namun demikian dia bertanya juga. "Siapa yang menyuruh pasang bendera Merah-Putih itu?" Dengan tenang dan sedikit pun tidak berubah air mukanya, Pak Natar bertanya balik dalam satu bahasa yang dia tidak mengerti, juga kami tidak mengerti. Jepang yang bertanya itu tercengang-cengang. "Orang apakah?" tanyanya lagi keheranan. "Orang dari Samoa," jawabku. "Apa itu Samoa?" "Tuan tidak tahu Samoa? Sebuah pulau dekat Australia dan ia ini utusan dari Tentara Sekutu." Pak Natar lalu bicara dalam bahasanya lagi, sepatah pun aku tidak mengerti tetapi aku main terka seperti dia juga. Aku terangkan kepadanya dengan bahasa Inggris bahwa Jepang itu ingin mengetahui dia itu siapa? Dia lalu mengangguk-angguk kepalanya dan menunjuk-nunjuk kepada kami bertiga yang duduk di sampingnya. Orang-orang berdesakan ingin mendekati tempat kami untuk melihat lebih jelas. Tiba-tiba aku dapat alasan. Kami ini ditangkap untuk dibawa ke Kotaraja kepada Tentara Sekutu," kataku kepada Jepang itu. Mendengar keteranganku itu ia pun pergi dan tidak menghiraukan lagi tentang kereta api itu. Orang ramai bersorak-sorak mengatakan ada utusan Tentara Sekutu membawa tiga orang tawanan ke Kotaraja dan entah dari mana datangnya, sebuah bendera telah dinaikkan di depan stasiun itu. Stasiun Bireuen pun menjadi stasiun kereta api di Aceh yang kedua, yang mengibarkan bendera Merah-Putih. Jepang-Jepang yang tadinya mengawal di tempat itu telah mengundurkan diri.
Orang Indonesia yang menjadi wakil kepala stasiun itu sudah kalang- kabut karena dengan tiba-tiba ia memikul tanggung jawab itu. Dia tidak tahu apa yang akan diperbuatnya, sebab selama ini dia hanya terima perintah saja, dan sekarang siapa yang akan memerintahnya dan bagaimana dia akan memerintah orang lain pula karena dia hanya sen- diri, tidak ada orang yang memerintahnya. Tiba-tiba dia mendapat akal agaknya, lalu dia datang kepada kami di gerbong iti, diikuti oleh serombongan pemuda. Orang-orang yang ada di tempat itu belum mau bubar bahkan terus mendesak-desak ke depan. "Bagaimana sękarang ini?" tanyanya. "Orang yang bertanggung jawab di stasiun ini sudah tidak ada lagi." "Kalau orang lain tidak ada, siapa yang dulunya menjadi wakil?" tanya Pak Natar. Orang-orang yang sedang berkerumun di situ heran dan tercengang karena melihat Pak Natar tiba-tiba telah dapat berbahasa Indonesia. "Dia tahu bahasa Indonesia!" jerit orang yang paling depan. Dan orang yang di belakangnya meneruskan ucapannya. Demikian selanjutnya hingga sampai kepada orang yang paling belakang. "Tuan tahu bahasa Indonesia?" tanya wakil kepala stasiun itu keheranan. "Tuan ini memang tahu," jawabku. "Tetapi dia tidak mau bicara dengan orang-orang Jepang, karena bukan tarafnya. "Kalau begitu siapa yang akan jadi kepala di stasiun ini?" tanya orang Indonesia itu. "Tuan!" seru Pak Natar seraya menunjuk kepada orang itu. "Mana tan- da yang serupa ini?" dia menunjukkan lencana merah-putih yang kami pakai. "Saya akan cari Tuan," jawab orang itu. "Apakah sekarang kereta api ini bisa meneruskan perjalanannya?" tanyanya lagi. Dalam hati kami tertawa kecil, karena tiba-tiba saja kami memberi perintah kepada kepala stasiun itu Aku bertanya kepada Pak Natar dalam bahasa Inggris dan Pak Natar mengangguk-angguk. Kemudian kepada wakil kepala stasiun yang sudah dinaikkan pangkat itu kukatakan. "Kalau semuanya sudah beres, maka bolehlah kereta api ini berjalan." "Baik Tuan," katanya lalu memberi hormat kepada kami. Ia pun lalu menghilang di antara orang banyak itu dan sebentar kemudian kereta api itu pun membunyikan peluitnya dan bergerak perlahan-lahan meneruskan perjalanannya menuju ke Sigli. Demikianlah perjalanan kami yang penuh dengan peristiwa-peristiwa
lucu yang menguntungkan. Selain kelucuan yang terjadi karena kelakuan Pak Natar dan Husin Al Mudjahid, kami pun tidak kurang pula dengan makanan, buah-buahan dan sebagainya yang diberikan oleh kawan-kawan Husin Al Mudjahid yang kebetulan bertemu di stasiun kereta api itu. Karena perjalanan kereta api yang tidak tentu waktunya itu, maka kami terpaksa menginap satu malam di Sigli. Masing-masing mencari tempat penginapan sendiri-sendiri. Pagi-pagi keesokan harinya kami bertemu di stasiun dan sekali ini kami terpaksa berbohong kepada kepala Stasiun Sigli untuk mendapatkan sebuah gerbong barang untuk kami. Gerbong barang yang kami tempati sejak dari Langsa telah dipindahkan entah ke mana. Stasiun Sigli merupakan stasiun sentral yang paling besar di Aceh, karena di sini pula terletak bengkelnya, maka kepala stasiun itu dapat SH bertindak menurut sesuka hatinya. Kepala stasiun itu masih seorang Jepang dan wakilnya orang Indonesia asal Minangkabau. Sekali ini Pak Natar terpaksa menjumpai Jepang itu sendiri dan meminta sebuah gerbong khusus karena katanya dia terpaksa mem- bawa tawanan perang ke Kotaraja untuk diserahkan kepada ketuanya, yaitu wakil Tentara Sekutu. Kepala stasiun itu percaya saja ia diperin- tahkannya kepada wakilnya untuk menyediakan sebuah gerbong. Ketika wakilnya itu datang menjumpai kami, maka ia termenung sejurus lamanya, termangu-mangu tidak dapat berkata. Dia kenal baik dengan Pak Natar, karena sebelumnya dia juga pernah tinggal di Idi, dan dia pun kenal baik dengan aku, karena dia juga pernah tinggal di Langsa, serta anak-anaknya pernah kuselamatkan dari orang-orang Jepang yang mau mengganggunya. "Pergilah bawakan gerbong itu kemari," kata Pak Natar kepadanya. "Jangan tanya-tanya lagi, karena kami perlu ke Kotaraja.' Tanpa bertanya apa-apa lagi orang itu pun pergi dan sebentar kemudian dia menunjukkan kepada kami sebuah gerbong barang yang telah disambungkan kepada kereta api yang akan berangkat ke Kotaraja itu. Agaknya dia kurang puas karena keheranannya itu tidak terjawab. Maka dia menarik tanganku dan bertanya, "Apakah benar-benar Pak Natar itu wakil Tentara Sekutu?"
"Sekarang ini dia memang benar-benar wakil Tentara Sekutu,"
jawabku dengan tersenyum. "Ah, jangan berolok-olok!" katanya dengan bersungguh-sungguh. Matanya masih melekat pada Pak Natar yang pura-pura tidak tahu apa-apa itu.
"Benar,"kataku. "Ah, saya tidak percaya." Lalu dia pun hendak melangkah dari situ. "Saya kenal baik dengannya di Idi."
"Tetapi Tuan tentu tidak tahu bahwa dia selama ini telah bekerja
dengan Tentara Sekutu?"
Dia lalu berhenti dan berbalik kepadaku. "Kalau benar, janganlah dia
berkecil hati terhadap sikap saya ini karena saya sungguh-sungguh heran." "Tidak apa," sahut Pak Natar. "Dari sekarang bekerjalah dengan baik-baik dan besok atau lusa Tuan akan jadi kepala di stasiun ini." Kereta api itu pun berangkat meninggalkan Sigli dan bendera Merah-Putih masih berkibar-kibar dengan megah di lokomotifnya. Kami sengaja tidak makan pagi di Sigli, sebab semua bermaksud akan makan nasi di Padangtiji. Kira-kira setengah jam kemudian sampailah kereta api itu di Padangtiji. Di sini kereta api itu terpaksa berhenti agak lama untük mengumpulkan tenaga guna mendaki Gunung Seulawah yang tinggi itu. Di ujung sebelah kiri stasiun itu ada seorang perempuan Aceh menjual nasi dan kopi. Dia tidak mempunyai kedai. Barang-barang jualannya diletakkan di atas sebuah meja, sedangkan sebuah periuk besar tempat memasak air terletak di atas tungku yang sedang marak apinya, tak jauh dari mejanya itu. Osman kami suruh turun membeli nasi. Mula-mula perempuan itu tidak berapa menghiraukan, tetapi ketika dia memandang Osman yang sedang menuju ke arahnya, dia tertegun sebentar. Melihat ada tiga orang yang memakai seragam dan dua orang gemuk yang menyerupai orang asing. Beberapa anak muda berdiri di dekat gerbong kami, bercakap-cakap dengan Pak Natar yang sedang bertanya itu dan ini kepada mereka itu, seolah-olah dia tidak pernah melihat semua benda-benda yang sedang ditanyakan itu. Sambil membungkus nasi, perempuan itu bertanya kepada Osman. "Tuan-tuan ini mau ke mana?"sib "Kami mau ke Kotaraja." "Dua orang yang gemuk itu siapa?" "Orang Samoa." "Orang apa? Samoa?" "Ya, orang-orang Samoa. Mereka datang kemari bersama-sama dengan tentara orang putih dan kami ini menjadi tawanannya." "Tuan-tuan menjadi tawanannya? Kasihan." Dia lalu membungkus nasi banyak-banyak untuk kami bertiga dan tidak mau mengambil uangnya, dengan alasan kasihan melihat kami yang ditawan dan mungkin pula kami akan dibawa ke negeri yang jauh.
Osman tetap hendak membayar, tetapi ia berkeras juga tidak mau 'me- nerimanya. Sehingga akhirnya Pak Natar sendiri datang membayarnya dan dengan bahasa yang tak tentu ujung pangkal dia menyuruh perempuan itu mengambil uangnya. Dengan ketakutan perempuan itu mengambil uang itu, tetapi selepas itu dia terus mengemasi barang-barangnya dan meninggalkan tempat itu sebelum kereta api berangkat. Apa sebabnya, kami pun tidak tahu.
PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH — 6
国
Sampai di Kotaraja hari telah senja kami berempat menuju Hotel Tengku Nyak Sarung, salah sebuah hotel yang besar di kota itu. Pak Natar Zainud- din serta kawan-kawannya telah berpisah dengan kami dan tidak tahu ke mana tujuannya. Sesudah makan malam, kami berempat bermusyawarah untuk melancar- kan gerakan yang pertama. Mula-mula kami ambil keputusan untuk menjumpai Teuku Nyak Arif, seorang pemimpin Aceh yang terkenal sejak zaman Belanda. Ketika persiapan kemerdekaan yang dijanjikan oleh Jepang, ia telah diangkat sebagai wakil Tyokan Kakka. Rumahnya pun kebetulan tak jauh dari hotel tempat kami menginap. Setelah mencapai kata sepakat, maka kami berempat pergi menjumpai Teuku Nyak Arif, yang sedang makan di rumah Teuku Ali Kereukeun, salah seorang Guntyo. Kedatangan kami disambut dengan acuh tak acuh oleh Teuku Ali itu, tetapi kami tidak mengindahkannya karena kami tidak ada urusan apa-apa dengannya. Sebentar kemudian Teuku Nyak Arif pun keluar dan ketika dilihatnya aku, maka ia pun mengajak masuk ke sebuah kamar lain. Aku meminta supaya kawanku yang lain juga diajak bersama. Dia pun membenarkannya. Setelah duduk ia pun bertanya, "Ada apa?" "Begini Ampun,"jawabku."Kami berempat ini datang kemari untuk memberikan khidmat kepada Ampun di sini, untuk merampas semua kantor pemerintahan dari tangan Jepang. Di Aceh Timur semua kantor telah ada dalam tangan kami dan kami sangat menyayangkan, kalau Kotaraja sebagai pusat pemerintahan masih ada dalam tangan Jepang, dan kami tidak dapat menerima perintah-perintah yang datang dari sini selama perintah-perintah itu ditandatangani oleh orang-orang Jepang." Dia terus memegang tanganku."Saudara-saudara," katanya. "Saya mengucapkan banyak terima kasih atas kerja sama yang Saudara-saudara berikan itu. Saya berbesar hati karena Saudara-saudara sebagai pemuda
begitu berani, datang dari tempat jauh untuk menolong saya. Tetapi saya minta tempo sampai besok, saya akan usahakan dengan jalan damai lebih dahulu, kalau itu tidak berhasil saya akan beritahukan kepada Saudara-saudara. Di mana Saudara-saudara menginap?" "Di Hotel Tengku Nyak Sarung di belakang rumah ini." "Bagus!" "Bilakah Saudara-saudara sampai kemari? Dan apa kabar di Langsa?" "Di Langsa dan sekitarnya semuanya sudah beres. Seorang Jepang pun tidak ada lagi yang masuk kantor." "Saya sudah dengar itu semua, saya sangat gembira." "Kalau begitu kami minta izin dulu dan kami tunggu kabar dari Ampun." "Baiklah," jawabnya. Tanganku digoncang-goncangnya beberapa kali demikian juga tangan kawan-kawan yang lain. Setelah itu kami pun beranjak dari situ. Ketika kami akan turun dari rumah itu di ruang depan kami lihat Teuku Ali Kereukeun dan beberapa orang teuke-teuke sedang duduk- duduk mengisap rokok karena mereka baru selesaì makan dan masing- masing memandang kepada kami dengan pandangan curiga. Dari rumah Teuku Ali itu kami terus mencari Tuan Saoni seorang pegawai tinggi kepolisian. Karena kebetulan ia tinggal di Spoordijk dan di situ juga tinggal Nyak Omar, bekas Kepala Polisi Langsa, maka kami menuju rumah Nyak Omar lebih dahulu. Setelah menceritakan maksud kedatangan kami, maka dengan spontan Nyak Omar berkata. "Besok kita rampas Kantor Polisi itu dari tangan Jepang." Aku seperti tidak percaya dengan apa yang kudengar dari mulutnya itu. Tetapi itulah ucapannya yang sesungguhnya di luar dugaan kami semua, sebab selama ini kami tahu bahwa dia seorang yang tidak berani bertindak. Sebaliknya dari Tuan Saoni pula, kami sangat harapkan sokongan kuat, sebab dia seorang pemuda yang kami anggap berdarah panas, tapi kami malah mendengar suara seorang pengecut. "Mengapa kita tidak minta ban- tuan dari wakil Tentara Sekutu yang ada di sini?" "Mana bisa," jawab Nyak Omar."Kita sendiri yang harus bertindak." "Saya tidak berani," jawab Tuan Saoni. "Jepang-Jepang itu masih sangat kuat." Kami bercakap-cakap di jalan raya di depan rumah Nyak Omar. Setelah itu aku mengajak Nyak Omar pergi ke rumah Pak Hasjim,1 Wakil Kepala
- Diakhir hayatnya mengungsi ke Tanah Melayu dan bermukim di Kelantan kemudian di Pulau Pinang dan meninggal dunia di sana
Polisi Aceh. Karena ia tinggal di dalam kampung, maka terpaksa kami membawa orang yang akan menunjukkan jalan ke rumah itu. Rumah itu terletak di sebuah kebun kelapa di ujung Neuseu. Ketika sampai di tangga dengan suara keras kami memberi salam. "Siapa itu?" tanya Pak Hasjim dari atas, seraya membawa sebuah lampu minyak dan menyuluh arah ke tangga. Lama dia memandangi kami berlima. Dia lebih mengenali Nyak Omar dan setelah aku menegurnya, barulah dia memekik dengan riangnya. "Kepala pemberontak dari Langsa rupanya!" diiringi dengan ketawa yang berdekah-dekah."Silakan naik!" Setelah membuka sepatu kami pun naik. Dia memandang kami satu per satu dengan air muka terheran-heran. "Ada apa ini?" "Biarlah kami duduk dulu," kataku seraya mengambil tempat duduk, setelah berjabat tangan dengannya. Kami semua duduk bersila di atas tikar di serambi rumah itu. "Bila sampai?" tanya Pak Hasjim. "Tadi petang"' jawab Hassanuddin dengan hormatnya. Meskipun kami bertiga pegawai polisi, tetapi akulah yang lebih bebas bercakap-cakap dengan Pak Hasjim itu, selain ada pertalian darah dengan istriku, juga karena aku mengenalnya sejak aku belum masuk kepolisian. Tgk. Ismail Usman sebagai seorang pemuda agama memang dihormati oleh Pak Hasjim dan demikian juga sebaliknya. Setelah bercerita mengenai keadaan keluarga masing-masing maka aku pun membuka pembicaraan tentang maksud kedatangan kami berempat. "Kami sengaja datang dari Langsa untuk ikut merampas kekuasaan di Kantor Besar Kepolisian dari tangan Jepang. Kami di Langsa telah menjadi daerah Republik Indonesia dan tidaklah wajar kalau di pusat ini orang-orang masih tunduk kepada Jepang." Pak Hasjim diam sejenak. Dia tidak berkata apa-apa, hanya kulihat renungannya itu jauh sekali, seolah-olah akan menembusi dinding di belakangku. Senyap-sunyi suasana sejurus lamanya. Ketika itulah baru ter- dengar suara cengkerik dan kodok di sekeliling rumah itu. Aku dan kawan-kawanku, serta Nyak Omar diam menunggu jawaban ataupun perintah yang akan dikeluarkan olehnya. "Anak-anak," katanya dengan lambat-lambat. "Ini perkara besar. Kita tidak boleh mengerjakannya dengan terburu-buru..Saya tahu betapa semangat anak-anak sekalian, tetapi buat sementara ini serahkanlah soal ini kepada saya dan saya minta tempo sampai besok petang. Sekiranya saya tidak berjaya, maka datanglah anak-anak semua membantu saya."
"Kalau demikian kata Bapak," jawabku. "Maka kami akan enunggu di sini sampai besok petang. Dan kami berdoa semoga Bapak berhasil." Setelah selesai pembicaraan itu, maka obrolan kami sudah tidak selancar semula. Kadang-kadang terasa suasana menjadi tegang. Masing-masing asyik dengan pikirannya sendiri-sendiri, tentang tugas yang akan diha- dapinya. Setelah meminum kopi yang dihidangkan kepada kami, maka kami pun meminta izin pergi dari situ. Malam sudah mulai larut. Bulan tidak tampak lagi, jalan kecil yang kami lalui di dalam kebun kelapa itu sudah tidak kelihatan, maka teraba-rabalah kami. Kadang-kadang di antara kami tersandung kakinya ke pelepah kelapa dan Nyak Omar menyumpah-nyumpah ketika ia hampir terperosok ke dalam sebuah lubang. Di ruangan tamu Hotel Tengku Nyak Sarung kami bertemu kembali dengan Pak Natar Zainuddin, Husin Al Mudjahid, A. Hasjmy, H.M. Zainuddin dan beberapa orang pemuda. Kami ikut duduk bersama-sama mereka itu hanya sebentar, karena kami merasa kehadiran kami di situ tidak dikehendaki maka kami pun meminta diri dan kembali ke kamar masing-masing. Besoknya pagi-pagi, kami bertemu dengan beberapa orang kawan dari Aceh Sinbun, di antaranya Ghazali Yunus yang bekerja pada Kantor Domei. Mereka menceritakan tentang telegram yang kukirimkan kepada Pak Hasjim, Kepala Polisi itu telah di 'tahan' dan sebelum telegram itu disampai- kan kepada yang berhak menerimanya, mereka telah membuat beberapa salinan untuk disiarkan serta ditempelkan di tempat-tempat yang penting. Mereka yang berperanan dalam menyiarkan salinan telegram itu ialah: Armein dan Bustaman Melayu, kedua-duanya bekerja di Kantor Telegram. Bustaman Melayu adalah abang Bustamam yang bekerja di Aceh Sinbun dan Ghazali Yunus dari Domei ikut juga membantunya. Mereka juga mendesak para pemuda supaya bangun serentak mengambil tindakan terhadap Jepang seperti yang telah kami lakukan di Langsa. Dari Kantor surat kabar ini kami menuju ke Kantor Besar Polisi di dekat Keraton. Kami melalui jalan ke Setoi dan lewat di depan Kantor Kas Negara. Di kantor itu kami melihat pegawai-pegawai negeri sedang mengadakan satu pertemuan besar. Teuku Nyak Arif, yang memakai kemeja putih tangan pendek dan celana penunggang kuda serta bersepatu pacuk sedang mem- berikan pidato yang berapi-api. Dengan jelas dapat kami dengar isi pidatonya itu. Saudara-saudara semua pengecut! Tidak berani bertindak! Apakah Saudara-saudara tidak dapat mencontohi semangat orang-orang di Aceh
Timur? Apakah Saudara-saudara semua tidak ada inisiatif sendiri untuk bergerak? Sekiranya Saudara-saudara tidak mau bertindak tegas sekarang ini biar saya sendiri yang akan bertindak, saya akan rampas semua kantor Jepang itu dengan bantuan pemuda-pemuda tetapi saudara mesti ingat risiko yang akan Saudara-saudara pikul sekiranya para pemuda itu lebih dahulu mengambil tindakan ini .." Setelah mendengar ucapannya itu kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke Kantor Besar Polisi, karena kami tahu bahwa tenaga kami tidak diperlukan lagi di situ, karena Teuku Nyak Arif sudah dapat mengendalikannya. Ketika sampai di Kantor Besar Polisi, kami uhat keadaannya tenang saja, seolah-olah tidak ada sesuatu kejadian penting yang akan terjadi. Tetapi kami semua tahu bahwa ketenangan suasana pada waktu itu, tak lebih dari ketenangan air pada permukaan sungai yang dalam, sedangkan arus di bawahnya mengalir deras. Pembesar-pembesar polisi Jepang sedang menjalankan tugasnya seperti biasa. Tetapi pembesar-pembesar polisi bangsa Indonesia nampak sekali ke- gelisahannya. Pak Hasjim yang menyambut kedatangan kami di muka pintu kamarnya, mengedipkan matanya seolah-olah memberi jaminan bahwa semuanya akan berjalan dengan baik sebagaimana yang direncanakan oleh- nya Ketika aku ke belakang, aku bertemu dengan Teuku Abdullah Sani seorang Keishi! yang baru diangkat. Dia seorang yang berperawakan besar seperti seorang Belanda. Sebagaimana perawakannya maka suaranya pun keras dan lantang. Tanpa tenggang-menenggang lagi dia bicara dengan keras, "Kalau saya, sekarang juga saya rampas kantor ini." Dia bicara penuh semangat dan Nyak Omar menyokongnya. Aku dapat menangkap maksud Teuku Abdullah Sani itu. Dia ingin men- dapat kedudukan dan untuk itu dia tentu berani melakukan apa saja. Cuma kekurangannya ialah sifat seorang pemimpin seperti Pak Hasjim, yang disegani dan dipatuhi oleh tiap orang. Sebentar kemudian Pak Hasjim datang menjumpai kami dan mengatakan bahwa tepat pukul sebelas bendera Merah-Putih akan dikibarkan dengan resmi di tiang bendera di depan Kantor Keimubu itu. Dia meminta supaya kami keluar dari ruangan pejabat itu dan menunggu di seberang sungai. Waktu itu jam telah menunjukkan pukul setengah sebelas dan kami pun tergesa-gesa ke luar meninggalkan kantor itu menuju ke sebuah gardu yang terletak di depan Keraton, tempat kediaman Tyokan Kakka. Rupanya orang-orang Jepang akan mengadakan rapat istimewa di Keraton, mungkin
- Komisaris Polisi
akan membicarakan keadaan yang sudah mulai genting di sekitar ibu kota Propinsi Aceh itu. Mungkin orang-orang Jepang telah mencium kabar tentang rapat besar para pegawai yang diadakan oleh Teuku Nyak Arif di Kantor Kas Negara. Tak lama sesudah kami keluar, menyusullah pembesar-pembesar Jepang yang ada di berbagai departemen di sebelah kiri Kantor Besar Kepolisian itu. Mereka semuanya menuju ke Keraton tanpa menaruh kecurigaan terhadap para pegawai Indonesia yang ditinggalkan- nya. Tepat jam sebelas Keibuho Malik keluar dari Kantor Besar Kepolisian diikuti oleh beberapa orang pegawai lain. Ia menuju ke tiang bendera dan di belakang mereka menyusul pembesar-pembesar polisi bangsa Indonesia, termasuk Pak Hasjim, Saoni, Nyak Omar dan Teuku Abdullah Sani. Dengan terburu-buru Malik menurunkan bendera Hinomaru dari puncak tiang dan di tempat bendera itu digantikannya dengan bendera Merah-Putih. Ketika bendera itu sampai di puncak tiang, kami lihat beberapa orang Jepang berlari-lari menuju ke jembatan yang menghubungkan Keraton dengan kantor-kantor pemerintah di seberang sungai. Tetapi kemudian mereka membelok dan balik ke Keraton ketika dilihatnya di puncak tiang itu telah berkibar bendera Indonesia. Pak Hasjim memandang kepada kami berempat yang berdiri di muka gardu. Aku membuat isyarat dengan mengacungkan jempol, kemudian berlalu dari situ. Tanggal 15 Oktober 1945 Keimubu Aceh jatuh ke tangan Republik Indonesia. Itulah satu-satunya instansi di pusat yang mula-mula menempa sejarah di Aceh. Instansi yang lain sudah tidak begitu sukar lagi untuk mengikuti jejaknya dan tugas kami dapat dikatakan berjaya sudah. Kami pun mengambil keputusan kembali ke Langsa. Tengah hari itu juga kami berangkat meninggalkan Kotaraja dengan kereta api ke Sigli. Pada hari itu juga satu rapat raksasa telah diadakan di Kotaraja guna membentuk Tentara Keamanan Rakyat dan Barisan Pemuda, tetapi kami tidak ikut dalam rapat itu.
Di sepanjang perjalanan dari Kotaraja ke Langsa suasana telah mulai berubah dan dapat dikatakan jauh berbeda daripada keadaan ketika kami datang seminggu yang lalu. Perubahan suasana secara mendadak telah terjadi akibat dari pertempuran antara Tentara Nicai dengan pejuang-pejuang Indonesia di Jalan Bali, Medan beberapa hari yang lalu. Pemuda-pemuda Indonesia di daerah Aceh Timur, daerah yang paling dekat dengan tempat pertempuran itu, telah ber- usaha berangkat ke Kota Medan guna membantu saudara seperjuangannya. Tetapi karena kendaraan pada waktu itu agak sukar, maka kebanyakan mereka berkumpul di stasiun-stasiun kereta api, dengan harapan pihak yang berkuasa akan menyediakan kereta api istimewa untuk mengangkut mereka ke tempat tujuan. Ketika kami sampai di Stasiun Idi, -di sekitar stasiun itu gelap dengan kepala manusia. Beribu-ribu orang berkerumun di stasiun kecil itu karena mereka mendapat kabar ada sebuah kereta api akan sampai dari Lhok Seumawe. Di antara sekian banyak orang yang berkumpul di situ kami melihat ada seorang tua, rambut dan janggutnya telah putih, pakaiannya tidak senonoh. Tetapi dia bergerak dengan lincah kian-kemari, berteriak-teriak menyuruh orang-orang yang ada dalam kereta api itu turun, memberikan tempatnya kepada pejuang-pejuang yang akan berangkat ke Medan untuk bertempur. Waktu dia sampai ke gerbong kami, Hassanuddin mengenalinya sebagai salah seorang pegawai kereta api di stasiun itu. Osman bertanya kepadanya: "Buat apa Bapak ke Medan?" Dia memandang dengan tajam kepada Osman, matanya melotot dan ter- lihat rasa geramnya kepada orang yang bertanya serupa itu. "Buat apa?" hardiknya kembali. "Buat apa kalau tidak untuk mempertahankan ini?" Segera dipegangnya simbol yang tersemat di dadanya.
- Netherland Indies Civil Administration
Seorang tua yang kulihat seperti orang gila. Dalam bahasa Aceh ia mem- beri pidato yang berapi-api kepada orang-orang dalam kereta api yang tidak mau menyerahkan tempatnya untuk pejuang-pejuang yang akan ke Medan itu. Dan kemudian beberapa orang dengan rela turun meninggalkan tempatnya. Mereka memutuskan perjalanannya hingga kota kecil itu saja dan akan menyambungnya dengan kereta api berikutnya, yang belum pasti bila akan sampai. Hassanuddin turun di Idi. Keadaan dalam kereta api itu hiruk-pikuk, orang-orang duduk di mana saja. Dan orang-orang baru naik masih juga mencoba mencari tempat, menyelinap di celah-celah orang yang sedang berdiri. Di atas atap telah penuh, masing-masing duduk menunduk seperti burung nasar menunggu mangsanya. Di tangga bergantungan beberapa orang pula. Kereta api yang sudah setengah umur itu seolah-olah tak berdaya untuk menarik beban yang demikian beratnya. Bunyi asap yang disemburkan keluar dari lokomotif jelas menunjukkan ketidaksanggupannya itu, tetapi ditariknya juga perlahan-lahan. Kami sudah tidak menghiraukan lagi udara panas yang berkuap seperti dalam api itu, kami lebih mementingkan tempat yang sedang kami per- tahankan. Biasanya perjalanan antara Idi dan Langsa yang jaraknya hanya 60 km itu memakan waktu kira-kira satu jam setengah saja, tetapi kali ini telah menjadi enam jam. Hampir jam sepuluh malam baru kami tiba di Langsa, itu pun terpaksa berjalan kaki kira-kira dua kilometer sebelum mencapai stasiun, kereta api itu kehabisan air! Sampai di Langsa kami langsung menghadapi pekerjaan yang amat berat. Karena daerah kami yang paling dekat dengan Sumatera Timur, maka segala peristiwa yang terjadi di Kota Medan tak dapat kami biarkan begitu saja, sedikit banyaknya mempengaruhi suasana. Apalagi semangat rakyat sudah mulai meluap-luap, hampir-hampir tak dapat dikendalikan lagi. Kami para pemimpin di Langsa merasa khawatir kalau-kalau kemarahan rakyat terhadap kejadian-kejadian di Medan itu akan dialihkan pula kepada orang-orang Jepang yang masih menetap di Langsa. Untunglah mereka itu tidak menimbulkan provokasi yang dapat mengeruhkan suasana. Medan telah menjadi salah sebuah kota yang secara langsung diduduki oleh Tentara Sekutu dari Pasukan Inggris. Mereka itu diboncengi oleh Tentara Nica, yang setiap saat sengaja memancing-mancing para pejuang Indonesia supaya menyerang pasukan Tentara Sekutu. Dalam Tentara Sekutu itu terdapat orang-orang India Islam dan orang-orang Gurkha. Kebanyakan orang India Islam menaruh simpati pada perjuangan orang-orang Indonesia karena mereka menganggap orang-orang Indonesia itu
89.
saudara seagamanya. Dalam masa belakangan banyak di antara mereka itu yang menyeberang ke pihak Indonesia ataupun dengan tipu muslihat menyerahkan alat senjatanya. Gubernur untuk Sumatera telah diumumkan secara resmi. Teuku Mohd. Hassan yang ikut dalam persidangan persiapan kemerdekaan Indonesia di Jakarta menjelang penyerahan Tentara Jepang itu telah dilantik sebagai Gubernur RI yang pertama, sementara Dr. M. Amir dilantik sebagai wakilnya. Gubernur RI ini telah menyiarkan perintah supaya semua kantor peme- rintahan di seluruh Sumatera diambil alih dengan segera dari Tentara Jepang baik dengan cara damai maupun dengan kekerasan. Beliau juga mengeluarkan perintah menyuruh kibarkan bendera Indonesia serentak di segala tempat.
Pada suatu petang aku bertemu dengan Teuku Alibasjah yang baru
pulang dari Medan. Ia menceritakan segala peristiwa yang telah terjadi di Medan dan mengenai pertemuannya dengan Gubernur Hassan. Kebetulan
pula pada malam sebelumnya aku mendengar berita tentang Kongres
Pemuda Indonesia yang akan diadakan di Mataram (Yogyakarta) pada
minggu pertama bulan November. Aku ingin ikut serta dalam kongres itu, maka kuajaklah Teuku Alibasjah kembali ke Medan untuk meminta izin kepada Gubernur. Kami berdua berangkat ke Medan pada hari berikutnya. Malam itu kami menginap di rumah Gubernur yang sudah jadi tempat persinggahan orang-orang, baik yang resmi maupun tidak. Di rumah Gubernur itu aku bertemu dengan Ismail Mangki, seorang teman dari Malaya yang juga menjadi ang- gota F. Ia telah melantik dirinya menjadi ajudan Gubernur. Kami tidak mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Gubernur pada malam itu di rumahnya karena tak berhenti-hentinya orang yang datang menemuinya. Bukan saja orapg Indonesia yang menjadi ketua dari berbagai kantor, tetapi juga dari Tentara Inggris datang untuk merundingkan sesuatu yang timbul secara mendadak, yang mungkin meletus dengan tiba-tiba. Pagi-pagi setelah bangun, kami langsung berangkat ke kantornya di sebuah bangunan kecil tak jauh dari Istana Sultan Deli. Biarpun masih ter- lalu pagi kami sampai di sana, namun orang-orang telah penuh berkumpul di depan kantor itu untuk menghadap Gubernur dan masing-masing mengambil kesempatan untuk mendaftarkan namanya lebih dahulu. Tepat jam delapan, Gubernur pun datang. Setelah mobilnya berhenti, Ismail Mangki yang duduk di sebelah supirnya melompat turun dan mem- buka pintu belakang. Kemudian dia membawa tas Gubernur itu dan
mengikutinya dari belakang. Ismail memakai seragam serba biru, seragam tentera Belanda sebelum Jepang menyerang. Kami mendapat kesempatan lebih dulu untuk bertemu dengan Gubernur. Setelah mengemukakan maksud kedatangan kami maka beliau dengan terus terang menyatakan persetujuannya, bahwa dalam Kongres Pemuda Indonesia yang bakal diadakan di Mataram itu harus ada wakil dari Sumatera, terutama dari Sumatera Utara. Cuma yang menjadi soal ialah bagaimana cara mengirim wakil itu ke sana. Perjalanan laut jelas tidak mungkin, dengan kapal udara jauh sekali, hanya perjalanan daratlah satu-satunya yang masih terbuka, tetapi kebanyakan kendaraan yang menuju ke Sumatera Barat ialah milik orang-orang Jepang, Tentara Sekutu serta anggota- anggota Tentara Keamanan Rakyat. Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan masuklah seorang anak muda yang sebaya dengan aku. Dia memakai pakaian seragam dari kain kaki kuning. Berpedang panjang dan berpistol. Orangnya gagah, kulitnya putih kuning dan potongan rambutnya pendek. Setelah memberi hormat secara militer kepada Gubernur itu lalu bersalaman dengan kami yang duduk. "Ini Kolonel Ahmad," kata Gubernur memperkenalkan pemuda itu kepada kami. "Dia mengepalai Tentara Keamanan Rakyat di Medan dan sekitarnya. Mereka ini datang dari Langsa." Kolonel Ahmad tidak begitu mengindahkan kami. Rupanya pikirannya sedang kacau oleh keadaan yang timbul tiba-tiba pada pagi itu. Salah sebuah sekolah yang menjadi asrama Tentara Indonesia akan diambil oleh Tentara Sekutu untuk asrama tentaranya. Pasukan tentara Kolonel Ahmad tidak mau menyerah dan kalau Tentara Sekutu memaksanya maka mereka akan melawan habis-habisan. Persoalan kami terhenti tanpa keputusan karena persoalan baru yang lebih penting ini. Gubernur bertanya kepada Kolonel Ahmad. "Apakah tentara kita sanggup menghadapi Tentara Sekutu?" "Sanggup!" jawab Kolonel Ahmad dengan tegas. "Walaupun kita ke- kurangan senjata, tetapi semangat kita cukup tinggi." "Saudara pulang saja dulu dan saya akan bicarakan hal ini dengan pemimpin Tentara Sekutu," kata Gubernur sejurus kemudian. Dan beliau berpaling kepada kami. "Soal Saudara berdua, harap bersabar dulu. Akan kita pikirkan kembali apabila jalan telah terbuka dalam waktu dua-tiga hari ini." Kolonel Ahmad bangun dan meminta diri. Barulah pada waktu itu dia memberikan senyuman kepada kami, seperti seorang gadis yang mening- galkan senyum harapan kepada kekasihnya. Kami pun ikut tersenyum dan
dalam hati kecilku aku berdoa agar pertempuran tidak terjadi, sekolah itu tetap menjadi tempat prajurit Republik Indonesia. Kemudian kami pun meminta diri dan terus pulang ke Langsa pada hari itu juga. Meskipun badan masih terasa lelah dan pegal-pegal, sebab seharian dalam kendaraan dari Medan ke Langsa, aku masih juga berusaha untuk berangkat ke Yogyakarta menghadiri Kongres Pemuda di Mataram. Masalah kendaraan dapat diatasi tetapi yang sukar ialah bagaimana men- dapatkan bensin dalam perjalanan. Kebanyakan pusat-pusat bensin dikuasai oleh Tentara Jepang terutama sekali di kota-kota kecil, yang pada waktu itu belum jatuh ke tangan bangsa Indonesia. Aku menjumpai Tuan Bunsyutyo Langsa untuk meminta surat keterang- an darinya supaya aku bisa memperoleh bensin di dalam perjalanan. Tetapi kiranya dia tidak begitu setuju dengan rencanaku itu. Dia berpendapat lebih baik akų tinggal mengatur pemerintahan di Langsa daripada ikut serta dalam kongres karena betapa pun juga hasil yang akan dicapai dalam kongres itu tidaklah akan sebesar tanggung jawabku di daerah itu. Dia menyuruh aku bersikap tenang, tetapi semangatku telah bergelora, aku berazam ingin benar mengikuti kongres yang bakal diadakan itu. Cuma bagiku sudah terlalu singkat waktu, dapatkah aku sampai ke sana dalam waktu sepuluh hari? Sampai pukul satu pagi aku masih belum dapat memejamkan mata, walaupun kepalaku terasa berat tetapi pikiranku memaksa aku berjaga. Aku membalikkan badan ke kiri dan ke kanan, tetapi pikiranku tetap meng- ganggu sehingga aku terus-menerus tidak dapat tidur. Aku mesti berangkat ke Jawa! Itulah keputusan yang telah kubuat pada malam itu dan keputusan ini akan kusampaikan kepada kawan-kawanku.
Ketika kami sedang sibuk dengan urusan kemerdekaan, di Kuala Langsa datang sebuah kapal kecil dari Singapura. Kebanyakan yang menjadi penumpang kapal itu ialah orang-orang Jepang yang telah bertekad untuk tidak menyerah kepada Tentara Sekutu. Mereka datang ke Sumatera untuk meneruskan perjuangannya, -karena mereka mendapat kabar bahwa sebagian besar anggota Tentara Jepang di Sumatera terutama di Aceh akan masuk ke dalam hutan melancarkan peperangan gerilya. Salah seorang Jepang yang menjadi pemimpin pelarian dari Singapura itu, entah bagaimana caranya telah bertemu dengan Tengku Ismail Usman, dia menawarkan berpuluh-puluh geblok kain yang dibawanya untuk ditukarkan dengan uang. Kedatangan mereka di Langsa mendapat sam-
butan yang dingin dari orang-orang Jepang baik yang berada dalam
pasukan tentara maupun dalam pemerintahan sipil. Oleh sebab itu
mereka merasa kecewa dengan rencananya itu, dan sátu-satunya jalan
yang masih terbuka ialah kembali ke Singapura dan menghadapi nasib
apa saja yang bakal diberikan kepada mereka. Karena mereka tidak mendapat sambutan dari bangsanya sendiri, maka mereka pun berikhtiar mencari uang di luar dengan menjual bekal yang mereka bawa. Tengku Ismail kawanku mendapat tawaran kain berpuluh-puluh geblok banyaknya dengan harga yang sangat murah, dan yang lucu ialah setelah kain-kain itu dibawa ke kedainya, orang-orang Jepang itu sudah tidak datang-datang lagi. Kabarnya mereka telah meninggalkan Kuala Langsa dengan terburu-buru.
Ketika orang-orang Jepang itu sampai di Langsa, banyak juga hal-hal
yang ganjil telah terjadi. Mereka itu telah memasuki kampung-kampung bahkan sampai ke perkebunan-perkebunan yang ada di sekitar Langsa. Orang-orang yang secara kebetulan berhubungan dengan mereka itu mendapat berbagai 'harta karun'. Selain dari kawanku Tengku Ismail yang mendapat kain berpuluh-puluh geblok ada pula orang yang mendapat emas berbungkal-bungkal banyaknya, dan yang paling ganjil seorang
kawan, Ghazali Idrisl namanya, telah mendapat sebuah peta, yang menunjukkan tempat di Singapura, yang katanya tempat mereka itu menanam emas yang dirampasnya dalam masa Tentara Jepang bergerak dari utara Tanah Melayu ke Singapura dulu.
- Di Langsa ada dua orang Ghazali Idris, kedua-duanya kawanku
Pada pagi tanggal 1 November, aku menyatakan keputusan yang telah
kuambil semalam kepada Tengku Ismail Usman dan Tuan Abdoessoeki. Mereka berdua akan ikut bersama-sama ke Jawa. Kami bertiga sekali lagi pergi menjumpai Tuan Obara untuk meminta surat keterangan daripadanya supaya kami bisa memperoleh bensin dari Tentara Jepang yang masih tinggal di beberapa kota di sepanjang jalan dari Langsa ke Palembang atau Lampung. Tetapi Tuan Obara masih saja tetap dengan pendiriannya, dia menasihati kami agar mengurungkan maksud itu. Malam itu kami bertiga mengadakan musyawarah secara serius. Keputusan yang kami capai ialah aku dan Tengku Ismail akan meneruskan rencana kami untuk pergi ke Jawa, sementara Tuan Abdoessoeki akan tinggal dahulu. Tengku Ismail telah menjual sebagian kain yang menjadi 'harta karun' itu untuk menambah ongkos kami dalam perjalanan. Aku tidak membawa bekal apa-apa, kecuali beberapa helai pakaian dan surat-surat keterangan tentang pekerjaan dan tujuan perjalanan saja.
Pagi-pagi tanggal 2 November sebelum berangkat aku lebih dahulu
pergi menemui kawan-kawan seperjuangan di bekas Kantor Gunseibu, di Rumah Sakit, di Kantor Polisi, juga etek Rasimah seorang guru perempu- an di Sekolah Rakyat yang aku anggap sebagai orang tuaku. Beliau memberi sekalung bunga dan sepucuk surat yang memberi perangsang kepada kami untuk melanjutkan cita-cita ke Jawa itu. Tengku Yahya seorang sau- dagar memberikan uang sebanyak R300, dari Bengkel R300, dan Peutua Husin R1000. Sebelum meninggalkan Langsa aku telah mengirimkan telegram kepada istriku di Kotacane, guna memberitahu tentang kebe- rangkatan itu. Kebetulan pula ketika itu Nukum, adik angkatku baru saja datang dari Kuala Simpang, sehingga dengan demikian kepergianku itu dengan hati yang tenteram, sebab nenek dapat kutinggalkan kepada Junied dan Nukum. Petang itu juga kami sampai di Medan dan bertemu dengan Jaafar Abdullah, duluáya salah seorang anggota Seinendan di
Langsa dan sekarang bekerja pada salah sebuah surat kabar di Medan.
Kepadanya kami terangkan maksud kami dan dengan perantaraannya dan Tuan Agus Salim dari Jalan Sultan Alimuddin I, kami dapat menumpang sebuah truk yang akan berangkat ke Bukittinggi pada besok harinya. Sementara menunggu truk itu berangkat, kami berjalan-jalan di kota Medan dan tiba-tiba aku bertemu dengan Nukum. Hatiku menjadi ber- debar-debar ketika melihatnya datang dengan terburu-buru itu, kukira ada sesuatu hal telah terjadi di Langsa terutama nenek atau Junied. Tetapi setelah dia dekat, dikatakannya bahwa nenek menyuruh aku mengurung- kan perjalanan itu dan balik kembali ke Langsa. Bagiku hal ini meninggal- kan kesan yang sangat tidak enak, lebih-lebih lagi ketika aku sedang dalam perjalanan ke suatu tempat yang jauh, dengan segala macam halangan dan rintangan menunggu di hadapan kami. Aku menasihati Nukum supaya dia kembali saja ke Langsa dan mene- mani nenek, serta menyabarkan nenek dengan hal-hal yang menggem; birakan hatinya. Hampir jam tiga petang besoknya baru kami bertolak dari Medan. Truk yang kami tumpangi itu tidak seenak kendaraan yang biasa kita tumpangi, apalagi untuk dikatakan soperti sebuah bis. Di belakang truk itu disusun papan-papan, yang dijadikan seperti bangku untuk para penumpang. Papan-papan itu diletakkan melintang dengan jarak yang paling rapat sekali, sehingga lutut orang yang di belakang menyentuh punggung orang yang di depan dan karena itu satu-satunya angkutan yang ada pada waktu itu maka bersesak-sesaklah kami di dalamnya. Orang-orang Minangkabau yang akan pulang ke negerinya banyak sekali, dan pemilik truk itu akan memuat sebanyak mungkin. Semuanya ada kira-kira lima belas orang banyaknya, ditambah pula dengan barang-barang. Tiap-tiap seorang dikenakan bayaran R350. Aku dan Tgk. Ismail bernasib baik karena masih mendapat tempat dalam truk itu, kalau tidak, terpaksalah kami menunggu beberapa lama lagi di Medan, sebab kendaraan antara Medan dan Bukittinggi tak pernah teratur. Walaupun kami berangkat dari Medan pada jam tiga petang tetapi karena singgah mengambil penumpang di beberapa tempat di kota Medan, maka kira-kira jam tujuh malam barulah truk itu berangkat menuju ke Pematang Siantar. Beberapa kilometer di luar kota Medan, kami mulai bertemu dengan gangguan-gangguan di jalan raya. Mula-mula sekali gangguan dari orang-orang Jepang. Semua penumpang mesti turun, dan setiap orang di periksa dengan teliti, seluruh tubuh kami diraba, dan kemudian barang-barang harus diperlihatkan pula kepadanya. Pemeriksaan ini berlangsung selama kira-kira setengah jam. Setelah mereka merasa puas bahwa yang
dicarinya (kalau memang benar ada yang dicari) tidak ada, maka kami pun diperbolehkan naik kembali ke dalam truk itu. Belum sampai satu batu, kami bertemu pula dengan gangguan lain yang dikawal oleh pemuda-pemuda Indonesia pula. Mereka itu memeriksa lebih ketat lagi daripada orang-orang Jepang. Ketatnya penjagaannya itu bukanlah karena pemeriksaan barang-barang yang dibawa ataupun alat senjata, tetapi surat-surat keterangan, tanda-tanda yang menimbulkan kecurigaan mereka tentang mata-mata Nica. Wajah para pengawal itu tidak ada yang manis. Dalam cahaya lampu minyak yang mereka pasang di pondok di tepi jalan itu tampak jelas wajah-wajah yang serius, kadang-kadang lebih mirip kepada bengis. Pertanyaan yang diajukan kepada kami, dengan nada suara yang kuat dan lantang. Kurang-kurang śabar tentu tak sanggup melanjutkan perjalanan itu. Tetapi karena kebanyakan penumpang dalam'truk itu adalah orang-orang Minangkabau, maka tidak begitu sukarlah·bagi kami untuk melewati semua tempat pengawalan itu. Sebelum sampai ke Tebingtinggi kira-kira empat buah sekatan jalan raya yang serupa telah kami lalui. Tiap-tiap satu sekatan itu dikawal oleh pemuda-pemuda dari berbagai partai politik, seolah-olah daerah yang dikawalnya itu adalah daerah di bawah kekuasaan partainya. Sudah jauh malam kami sampai di Tebingtinggi, karena semua kedai sudah tutup maka kami pun terpaksa mengobati lapar dan dahaga hanya dengan meminum kopi dan biskuit-biskuit di sebuah warung kopi yang sudah hampir ditutup pula.. Bagiku yang belum pernah menempuh jalan ke Bukittinggi, pengalaman dalam perjalanan ini sangat menarik hati, meskipun kawan-kawanku di dalam truk itu termasuk Tengku Ismail sendiri telah mulai mengira-ngira dapatkah kami sampai ke tempat tujuan. Supir truk itu kulihat sedikit pun tidak menunjukkan perubahan, dia masih saja segar-bugar seperti ketika baru berangkat dari Medan petang tadi. Aku menyangka tentu dia akan tidur sebentar, tetapi sebaliknya dia ikut mengobrol dengan penumpang-penumpang yang lain, sementara kami melepaskan haus dan dahaga. Aku buru-buru minum, karena bermaksud akan tidur sedikit sementara truk itu berhenti di situ. Tetapi niatku itu tidak dapat terlaksanakan karena semuanya selesai minum hampir bersa- maan dan dengan demikian perjalanan pun diteruskan kembali. Beberapa kilometer di luar kota Tebingtinggi, kami kembali menemui gangguan di jalan raya. Pemeriksaan seperti yang pernah kami alami dila- kukan kembali berulang-ulang. Barang-barang terpaksa diperlihatkan dan jawaban-jawaban pada setiap pertanyaan terpaksà diucapkan berkali-kali. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH — 7
Memang bosan sekali, kami yang sudah capek dan kepayahan itu turun-naik truk berulang-ulang. Tetapi apa mau dikata, pemuda-pemuda itu me- nyangka itulah kewajiban mereka, yang mencintai tanah air. Kami yang datang dari Medan harus diawasi dengan seksama, sebab Medan sudah menjadi sarang Nica. Kadang-kadang timbul pertanyaan dalam hatiku: apakah sebenarnya yang dicari oleh pengawal-pengawal jalan raya itu? Pada pengalaman kami yang ada di dalam truk itu, mereka hanya ingin bercakap-cakap saja, untuk menghilangkan kantuknya. Kadang-kadang mereka terang-terangan memin- ta rokok. Daerah Tebingtinggi ke atas sudah termasuk dalam daerah yang tinggi dari permukaan laut dan hawa dingin telah mulai menggigit kulit tubuh. Walaupun kami dalam truk itu duduk berhimpit-himpitan begitu rapat, untuk saling memberi dan menerima hawa panas dari tubuh masing- masing, tetapi hawa dingin dari daerah ini lebih kuat lagi tekanannya. Sekali waktu aku menggigil kedinginan. Para pengawal jalan raya itu pun tidak terkecuali, walaupun mereka penduduk asli daerah itu. Masing- masing kulihat berpeluk tubuh ketika keluar dari gardunya. Aku kagum melihat semangat yang begitu membara, walaupun tenaganya yang amat berharga terbuang dengan percuma tanpa sesuatu tujuan yang konkret.
Demikianlah keadaan kami sampai akhirnya ayam berkokok. Ketika
matahari sudah mulai mengirimkan fajar sidiknya di ufuk timur, barulah kami sampai di P. Siantar. Ibu kota Simulungun ini belum seratus persen dalam tangan Republik Indonesia. Orang-orang Jepang masih banyak berkeliaran ke sana kemari dan bendera-bendera Indonesia pun hanya terpasang pada rumah-rumah tertentu saja. Setelah sarapan dan mencuci muka di salah sebuah warung maka kami pun meneruskan perjalanan kembali. Pemandangan alam di daerah ini sangat menarik. Kebanyakan orang Batak Karo rajin-rajin, oleh sebab itu hampir tidak ada tanah yang tidak dikerjakan. Sawah-sawah dan ladang- ladang sampai ke puncak-puncak bukit. Pemandangan di waktu pagi seperti
ini sungguh memikat hati dan lebih-lebih lagi bagi seorang pelukis yang men-
cintai keindahan alam. Jalan raya cukup baik, walaupun sesekali kami bertemu dengan lubang- lubang besar. Menurut penglihatanku orang-orang Batak Karo ini tidak melarat hidupnya sepertì orang-orang di beberapa tempat lain di Sumatera Timur. Mereka masih mempunyai pakaian yang wajar, tidak ada yang memakai goni atau kulit kayu. Walaupun penderitaan dalam zaman peme- rintahan Jepang selama tiga setengah tahun itu telah banyak memporak- porandakan keadaan ekonomi di tempat-tempat lain, tetapi di sini sangat
sedikit kesannya. Orang Batak Karo masih mempunyai pakaian, karena mereka lebih mengutamakan kain tenunannya sendiri. Mereka masih mempunyai padi dan beras karena mereka tergolong orang-orang yang rajin ber- tani. Aku tidak akan menceritakan lagi tentang berpuluh-puluh hambatan di
jalan raya yang kami jumpai. Kami semua sudah kebal dengan segala
macam pemeriksaan itu dan karena kami beberapa orang terkurung dalam truk yang sempit itu maka dengan tidak disadari terjalinlah rasa
saling pengertian antara satu sama lain. Aku mendapat teman seorang saudagar yang hendak pulang ke kampungnya di Maninjau. Karena dia
seorang yang gemar membaca, maka timbullah minatku mengobrol
dengannya tentang berbagai soal dan dia berjanji akan memperkenalkan aku dengan beberapa orang pengarang dan penulis di negerinya.
Ketika matahari sudah condong di sebelah barat, kami pun sampai di Perapat. Sebelum masuk ke pekan kecil di tepi danau itu, truk kami ber- belok-belok mengikuti jalan di tepi Danau Toba, jalan di lereng bukit yang menjadi benteng danau itu tak ubahnya seperti ular kena palu, berbelit-belit, sebentar kami di atas dan sebentar di bawah. Pemandangan di sekitar danau itu indah sekali. Hilang segala letih dan lesu digoncang oleh truk itu tatkala aku melihat keindahan alam yang diciptakan Allah. Perasaanku menjadi lega dan rasanya ongkos dari Medan ke Bukittinggi yang kuang- gap terlalu mahal itu, sudah terbayar ketika aku melihat danau dalam suasana matahari redup itu. Kami tidak berhenti di Perapat, tetapi meneruskan perjalanan melewati Balige, hampir jam sepuluh malam kami pun sampai di Tarutung. Truk itu berhenti sebentar di kota kecil itu untuk makan malam. Masing-masing penumpang berjalan mencari kedai makan. Tengku Ismail kawanku tidak mau makan, dia lebih mementingkan tidur. Maka kutinggalkan dia dalam truk itu dan aku berjalan mencari warung nasi. Kawan-kawan lain sudah tidak kelihatan, aku tidak tahu ke warung mana mereka pergi, lalu aku pun masuk ke sebuah warung nasi yang letaknya tak jauh dari tempat truk berhenti. Aku duduk menghadap sebuah meja. Orang yang sedang makan dan minum di kedai itu ramai juga, tetapi tidak seorang pun yang kukenal sebagai teman seperjalanan. Aku meminta nasi dan orang warung itu pun membawa sepiring nasi serta sepiring gulai daging, lengkap dengan rendang-rendangnya. Tiba-tiba aku ingin buang air ke belakang. Aku pun bangun dan berjalan menuju ke dapur. Dalam cahaya lampu gantung yang tergantung di luar dan dibantu pula oleh lampu minyak yang terletak di dapur itu aku
melihat beberapa ekor binatang yang sudah disembelih tergantung kepalanya ke bawah. Mula-mula kukira kambing, tetapi perhatianku tertuju kepada binatang itu karena bentuk kepalanya berbeda dengan kepala kambing. Ketika kudekati, jelaslah kepadaku yang tergantung itu adalah anjing yang sudah dipotong lehernya. Barulah aku sadar bahwa aku sekarang ada di Tanah Batak! Aku tidak jadi ke belakang dan tidak jadi makan, tetapi kubayar juga harga nasinya. Semalam-malaman aku berpikir tentang pengalamanku yang ganjil itu dan ketika kuceritakan kepada kawan-kawan yang lain mereka tertawa berdekah-dekah dan mereka merasa kasihan karena aku tidak dapat makan. Menurut keterangan kawan-kawan itu, di Tarutung ada juga kedai orang Islam dan mereka semua pergi makan di kedai itu! Perjalanan dari Tarutung ke Sibolga, ibu kota Tapanuli sudah mulai sukar. Jalannya sempit dan lebih berliku-liku. Kadang-kadang dari dalam truk kami melihat jurang yang dalam dan jauh di pinggir jalan itu. Kadang-kadang kami sejajar dengan pucuk kayu yang besar-besar yang tumbuh di dasar jurang itu. Kalaulah truk itu tergelincir, maka bangkainya saja tidak akan kelihatan lagi. Tetapi jarang sekali terjadi kecelakaan seperti itu, demikian kata kawan-kawan kami yang sudah biasa melewati jalan itu. Agaknya mereka ingin menyenangkan hatiku. Memang kalau dalam waktu aman seperti sekarang ini aku enggan berpergian dengan truk seperti itu, mesinnya sudah mengeluarkan seribu satu macam bunyi, bannya sudah gundul dan badannya pun sudah reyot, setiap kali ia berbelok seolah-olah kami yang duduk di belakang itu akan tercampak ke luar bersama-sama dengan badannya itu. Supirnya memang hebat. Dia tidak pernah tidur tetapi dia mengemudi- kan truk itu dengan mantap, kadang-kadang di jalan yang berbelok-belok, lebih dari seribu buah tikungan pendek-pendek dan di puncak bukit itu dia hanya memegang kemudi dengan sebelah tangan saja, kadang-kadang dia berpaling bercakap-cakap dengan orang yang duduk di sebelahnya. Kami melalui tikungan yang banyak itu waktu dinihari. Jalan raya yang dipagar oleh hutan belukar dan bukit yang diruntuhkan, sunyi senyap dari suara manusia selain bunyi binatang hutan, suara serangga dan jengkerik. Dalam kesunyian itu aku terkenang cerita Dja Omenek karangan Matu Mona, seram juga bulu tengkukku.
Pagi-pagi benar kami sampai di Sibolga dan supir truk itu membawa kami
ke sebuah warung kopi. Meskipun kedai-kedai masih banyak yang belum dibuka, tetapi kami melihat bendera-bendera Indonesia berkibar di mana- mana. Kantor Pemuda Indonesia juga telah ada di kota ini. Aku sudah ketagihan kopi. Lalu aku pun meminta kopi hitam kepada
penjaga warung itu. Sebentar kemudian dia pun membawa semangkuk kopi hitam, dan serbuk kopinya terapung-apung di permukaan cangkir. Pada sangkaku tentulah kopi tubruk, tetapi demi kucicipi sedikit, tidak ada rasa kopi sedikit jua pun. Rasanya kelat-kelat sedikit. Namun karena sudah begitu ketagihan, aku pun minum juga, namun herannya ketagihanku tidak hilang. Setelah makan dan mencuci muka kami pun meneruskan perjalanan kembali. Dalam perjalanàn itulah baru kuketahui bahwa kopi yang
kuminum itu adalah pinang kering yang digoreng hitam seperti kopi.
Memang ganjil juga kedengarannya sebab Sibolga terkenal sebagai kota tempat kopi dihasilkan!
Setelah melewati Padangsidempuan, Kotanopan dan Rao yang menjadi perbatasan antara Tapanuli dengan Minangkabau maka kami pun me- masuki daerah adat yang terkenal itu. Letih lesu yang kurasa selama dalam perjalanan telah hilang sama sekali tatkala melihat keindahan alam Minangkabau dengan rumah gedangnya yang terletak di kiri-kanan jalan. Kaum wanitanya cantik-cantik dan suasana kampung aman dan tenteram. Aku tidak dapat menggambarkan perasaan hatiku pada waktu itu. Aku sangat riang gembira dan tak puas-puas memandang ke kiri dan ke kanan. Seolah- olah kalau tidak berbuat seperti itu aku akan ketinggalan untuk menikmati negeri yang megah itu. Menjelang tengah hari kami pun mulai mendaki banjaran bukit yang tinggi. Kawanku menunjuk arah ke depan, ke sebuah puncak bukit yang samar-samar kelihatan terselubung dalam kabut, bahwa itulah Bukittinggi, katanya. Pada sore tanggal 6 setelah tiga malam diperjalanan maka kami pun sampai ke kota Bukittinggi. Sebuah kota yang benar-benar terletak di puncak sebuah bukit kecil, pasarnya melandai dari jam besar sampai ke bawah. Kedai-kedai berderet-deret di kiri-kanan jalan, kebanyakan kedai-kedai itu kecil dan rendah-rendah, hanya beberapa buah saja yang dua tingkat. Dengan pertolongan orang yang bersama-sama dengan kami dalam truk itu, kami mendapat sebuah kamar pada sebuah losmen. Hawa di Bukittinggi sesuai dengan namanya, sangat sejuk karena ketinggiannya, petang itu hujan gerimis turun tak berhenti-hentinya dan kata orang hujan yang serupa itu seringkali terjadi, karena tempatnya yang tinggi dari permuka- an laut. Kamar yang kami dapat itu agak di belakang, keadaannya gelap dan lam- pu listrik yang menerangi kamar itu hanyalah sebuah bola yang sangat kecil tenaganya, cuma dapat menunjuk jalan di mana kami harus tidur saja. Karena capek dalam perjalanan, kami cepat-cepat pulang ke losmen,
setelah makan malam di sebuah restoran yang terletak berhadapan dengan losmen tersebut. Malam itu aku dan Tengku Ismail tidur dengan nyenyaknya. Kain selimut yang telah kumal di losmen itu tidak mencukupi untuk menolak udara dingin yang begitu keras, maka kupakailah jas hujan yang kubawa dari Langsa. Karena nyenyaknya kami tidur maka tidak kami sadari bahwa kami telah menjadi mangsa kepinding yang berpuluh-puluh banyaknya! Pagi-pagi itu ketika akan ke kamar mandi aku melihat seluruh tubuhku berbintil-bintil merah dan di beberapa tempat masih terasa gatal. Mula-mula kusangka nyamuk dan aku pun tidak berapa menghiraukannya karena aku tidak sadar ketika mereka mengeroyok kami. Lepas sarapan kami berjalan-jalan mengitari kota Bukittinggi itu. Kotanya kecil tetapi letaknya sangat baik. Tgk. Ismail menjumpai beberapa orang teman semasa ia bersekolah di Normal Islam dahulu. Selain untuk menanyakan kabar, kami juga tidak melepaskan peluang untuk menanyakan kemungkinan meneruskan perjalanan ke Palembang. Tetapi malangnya tidak ada kendaraan yang berangkat ke sana pada waktu itu, kecuali kalau memang ada orang yang mau membayar dengan bayaran yang mahal. Mereka menyuruh kami menunggu hingga ada orang-orang yang akan ke Palembang dalam waktu beberapa hari itu. Aku kagum melihat pemandangan di Ngarai, hatiku mengucap syukur kepada Allah yang telah menciptakan alam demikian indahnya. Dari Ngarai itu tampak sayup-sayup Kota Gedang, sebuah perkampungan kaum intelek- tual di Minangkabau. Ingin hatiku untuk mengunjungi kota itu. Engku Datuk Sati teman dalam truk membawa aku dan Tgk. Ismail mengunjungi Pusat RRIl lama juga kami di stasiun radio itu dan waktu keluar dari sana secara kebetulan kami bertemu dengan Engku Ilyas, pegawai Kantor Pos Bukittinggi. Beliau sebelumnya menjadi pegawai pos di Langsa dan pada masa pemerintahan Jepang beliau meminta pindah ke Padang, supaya dapat tinggal berdekatan dengan orang tuanya. Engku Ilyas dan istrinya yang kupanggil kakak mengajak kami tinggal di rumahnya di Jalan Taruk. Mula-mula kami merasa keberatan tetapi dia dan istrinya amat berkeras supaya kami tinggal di rumahnya sementara menunggu kendaraan ke Palembang. Mereka itu sangat baik hati, orang yang taat pada agama pula, maka kami pun pindah ke rumahnya. Rumahnya ialah bekas sebuah asrama, waktu zaman Jepang rumah itu menjadi tempat tinggal pegawai PTT (Pos, Telepon dan Telegrap).
- Radio Republik Indonesia
Rumah yang kecil itu mempunyai dua buah kamar, maka sebuah kamar diserahkannya untuk kami. Kami meminta untuk tinggal di serambi saja, sebab mengingat anak-anaknya yang begitu banyak, apalagi perempuan semuanya. Dengan enggan mereka membenarkan kami. Tetapi tak terlalu lama kami menjadi penghuni serambinya, karena rumah di sebelah, sebuah rumah yang dihuni oleh anak-anak muda pegawai PTT telah mengajak kami tinggal bersama-sama mereka. Kami pun pindah ke situ. Tak jauh dari rumahnya itu kebetulan ada seorang pemuda dari Aceh Barat yang sudah bersemenda dengan orang Bukittinggi. Meskipun kami tidak kenal dengan pemuda itu tetapi kami kenal dengan abangnya, dulu abangnya itu pernah bersekolah Jepang bersama-sama dengan aku di Syonan-to.1 Maka lingkaran pergaulan kami pun semakin luaslah sudah. Hashim pemuda Aceh itu telah membawa kami ke rumah Yunus, seorang pemuda Aceh dari Lhok Sukun, yang pada waktu itu telah menjadi seorang terpenting di Bukittinggi. Yunus dulunya belajar agama di Padangpanjang dan ketika Jepang menduduki Sumatera ia tidak belajar lagi, hanya mem- bantu induk semangnya dengan berbagai pekerjaan. Ketika Jepang menye- rah dia tiba-tiba menjadi seorang yang terkemuka karena keberanian yang telah diperlihatkannya.
"Beranikah saya?" tanyanya, ketika kami mengunjungi rumahnya.
'"Ataupun saya hanya gertak saja?" Kami juga tidak dapat mengatakan mana yang benar. Ceritanya sangat lucu. Ketika berita kemerdekaan Indonesia sampai ke Minangkabau, orang-orang menjadi gempar. Ada yang tidak percaya dan ada pula yang mencari- cari jalan untuk merealisasikan berita itu. Pasukan Tentara Jepang masih kuat di Bukittinggi, apalagi kota itu dulunya menjadi ibu kota Sumatera seluruhnya yang tunduk di bawah pemerintahan di Syonan-to. Di Bukittinggi juga letaknya Tyu-Sangi-In semacam Dewan Perwakilan Jepang untuk wilayah Sumatera. Pasukan Jepang yang masih bersenjata lengkap itu harus dilucuti, demiki- an keputusan yang telah dicapai oleh para pemimpin di Bukittinggi, dan setelah itu barulah seluruh instansi dapat diumumkan sebagai instansi Pemerintah Republik Indonesia. Tetapi bagaimana cara melucuti senjata Tentara Jepang yang begitu besar jumlahnya itu. Sedangkan mereka telah mendapat perintah dari pasukan Tentara Sekutu yang berada di Padang untuk menjaga keamanan sampai tugasnya itu diambil alih?
- Singapura
Satu-satunya jalan yang dapat diambil ialah dengan membentuk sebuah panitia serupa dengan misi muhibah yang sudah ada dan akan menjumpai kepala pemerintahan Jepang untuk meminta supaya mereka menyerahkan senjatanya. Ketika itulah, entah dari mana datangnya tiba-tiba saja muncul pemuda Yunus ini. Orang Aceh sangat terkenal tentang keberaniannya, maka pada dugaan orang-orang Bukittinggi ini pun demikian juga pemuda yang kurus langsing dan tidak berapa tinggi potongan tubuhnya itu. Mereka menanyakan pikirannya. "Ah, itu soal gampang saja," kata Yunus. "Saya seorang saja dapat melucuti semua senjata Tentara Jepang itu." Semua orang terperanjat mendengar ucapannya. Mereka heran ter- cengang-cengang antara percaya dengan tidak. "Benarkah Saudara dapat melucuti senjata-senjata Jepang itu hanya seorang diri saja?" Yunus menjadi serba salah. Barulah dia insaf bahwa ucapannya yang secara berseloroh itu telah menjadi perangkap yang memerangkap dirinya. Tetapi dia pantang mundur, karena dia tidak ingin nama bangsanya menjadi luntur di mata orang-orang Minangkabau, lalu dia pun berkata, "Sekarang juga saya akan pergi menjumpai komandan Tentara Jepang itu." Ia pun berangkat menuju ke tempat pasukan Tentara Jepang yang men- duduki Rumah Sakit Bukittinggi. Di belakangnya menyusul berpuluh-puluh orang yang ingin melihat bagaimana caranya dia melucuti senjata Tentara Jepang itu seorang diri saja. Ketika sampai di muka pintu gerbang, tempat seorang pengawal sedang bertugas, ia ditahan, tidak dibenarkan masuk. "Saya mau berjumpa dengan Tuan Besar," katanya, meminta izin kepada tentara itu. "Ada perlu apa?" tanya tentara itu dengan curiga. "Ada urusan penting. Tuan lihat itu orang-orang di belakang saya?" Yunus menunjukkan kepada pengawal Jepang itu orang-orang yang sedang berdiri tak jauh dari tempat itu. Orang-orang yang berkumpul itu semakin lama semakin banyak, sebab tersiar kabar yang mengatakan tentang seorang pemuda Aceh telah berangkat ke markas Jepang untuk melucuti senjata. Ketika Jepang itu melihat orang-orang yang berkerumun itu, ia pun lalu menelepon kepalanya dan sebentar kemudian datang beberapa orang tentara lain, membawa Yunus ke dalam. Yunus sendiri telah kembang kempis hatinya. Dia sangka tamatlah sudah riwayatnya pada waktu itu. Tetapi biar betapa pun juga, apabila ketakutan telah memuncak, maka keberanian dan nekat pula yang mengambil tempat dalam hatinya. Biarlah apa yang akan terjadi, kata
hatinya. Dia pun berjalan bersama-sama dengan tentara yang mengiring- nya itu, masuk ke kantor komandannya. Yunus tunduk memberi hormat dan komandan itu pun mempersilakannya duduk pada sebuah kursi dengan air muka yang manis. Datanglah kembali keberaniannya dan dia pun duduk. "Ada apa?" tanya komandan Tentara Jepang itu. "Saya datang membawa kabar, Tuan," ujar Yunus. "Kabar apa?" tanya komandan itu dengan bersungguh-sungguh. Yunus diam sebentar. "Kabar apa?" komandan Jepang itu mendesak. "Orang-orang Indonesia meminta supaya Tentara-tentara Jepang me- nyerahkan senjatanya," kata Yunus dengan bersemangat. "Siapa itu orang-orang Indonesia?" tanya Jepang itu lagi. "Tuan boleh saksikan sendiri, mereka itu sekarang sedang menunggu di luar," Yunus bangun dan menunjuk ke luar dari jendela kantor komandan itu. Semua orang-orang Jepang yang ada di situ sama-sama bangun dan melihat ke arah yang ditunjuknya. Memang di sana telah berhimpun beratus-ratus orang Indonesia, lebih besar jumlahnya daripada yang ditinggalkan Yunus tadi. "Mana bisa!" teriak Jepang itu. "Mana bisa!" "Saya cuma datang memberitahukan saja kepada Tuan." Ia seolah- olah mau membersihkan dirinya. "Sekiranya Tuan tidak ingin kejadian ini memakan korban, maka lebih baiklah Tuan pikirkan masak-masak." Yunús lalu bangun dan berpura-pura akan keluar dari tempat itu. "Tunggu dulu," teriak Jepang itu. "Pergilah panggil pemimpin orang-orang Indonesia itu kemari." Dengan segera Yunus pun ke luar dan memanggil pemimpin-pemimpin yang sedang menunggu di luar itu. Dan demikianlah kisahnya sehingga senjata-senjata Tentara Jepang di Bukittinggi telah jatuh ke tangan para pejuang Indonesia, dan dengan kisah itu pula Yunus menjadi seorang yang terkemuka. Ia dihormati dan disanjung sebagai pemuda Aceh yang berani, menambahkan keharuman ņama pahlawan-pahlawan negerinya. Sejak itu ia pun ditugaskan untuk menyelesaikan segala urusan yang meminta keberanian dan kesabaran dan setiap tugas itu diselesaikannya dengan memuaskan. la tidak saja melakukan tugas itu di sekitar Bukittinggi tetapi juga sampai ke seluruh pelosok Minangkabau.
Bumi Minangkabau indah sekali. Lebih-lebih pada waktu pagi. Dari rumah Engku Ilyas jelas kelihatan Gunung Merapi yang berselubung awan. Kelihatannya amat dekat sekali. Pada waktu pagi kami yang lelaki sering pergi mandi di kantor radio yang sudah tidak digunakan lagi. Kantor itu terletak di tengah-tengah sawah tak jauh di belakang rumah mertua Hashim. Di kiri-kanan jalan terbentang sawah yang luas, berpetak-petak dan tersusun dengan indahnya sampai ke punggung bukit. Kadang-kadang dalam embus- an angin pagi yang dingin itu terdengar suara anak gadis menghalau burung, diselingi bunyi juek-juek yang dipasang di sekeliling sawahnya. Suara gadis yang menunggu padi itu, sambut-bersambut, dan seiring dengan suara itu tampaklah kawanan burung terbang ke udara dan kemudian berlegar-legar untuk hinggap kembali. Kalaulah tidak karena banyak urusan, maka ingin aku tinggal terus di negeri ninik mamak ini untuk memuja keindahan alamnya. Tetapi pada waktu itu aku telah ditakdirkan untuk jadi orang perjuangan, maka godaan yang selalu bergolak dalam hatiku kutekan sekuat mungkin. Keadaan alam yang indah dan ajaib seperti di Ngarai itu, menebalkan lagi rasa cintaku kepada tanah air! Setelah tiga hari di Bukittinggi, kami pun mengambil keputusan untuk berangkat ke Padang. Kami berangkat dengan menumpang kereta api. Kereta api di Minangkabau masih baik, dan berjalan menurut jadwalnya yang biasa. Penumpangnya tidak terlalu banyak, karena setiap orang yang akan menumpang harus memperlihatkan surat tugas dari kantornya sebelum dia dibenarkan membeli karcis. Harga karcisnya telah dinaikkan sampai tiga kali lipat Aku dan Tengku Ismail mendapat surat keterangan yang dipinjamkan oleh Amir, seorang pegawai PTT. Pemandangan alam di sepanjang jalan menarik sekali. Aku memang sangat terpikat dengan alam Minangkabau. Gunung-ganang, bukit-
bukau, sawah dan kampung menjadi pemandangan yang indah. Sejak
dari Kayutanam, waktu dulu terkenal dengan I.N.S.1 yang dipimpin oleh
M. Shafei, kelihatan sawah-sawah yang lebar terbentang, kampung-
kampung yang serupa dengan kampung-kampung di sekitar jalan kereta
api di Tanah Melayu. Danau Singkarak dengan airnya yang biru bagai
permadani terbentang itu hanya dapat kulihat dari jauh! Padangpanjang — kota dingin pusat pelajaran Islam di Sumatera hanya kulihat dari dalam kereta api saja dan aku bermaksud akan kembali lagi pada satu waktu nanti. Kami sampai di Padang sudah hampir petang. Padang yang terletak di tepi laut itu juga amat indah pemandangannya, hampir sama dengan Pulau Pinang. Keadaan udaranya selalu panas siang dan malam. Kami menginap di salah sebuah hotel. Keadaan kota Padang seperti air tenang di permukaan sungai. Orang-orang Belanda berjalan leluasa ke sana kemari di dalam pasar, mereka mendapat perlindungan yang sepenuhnya dari Tentara Sekutu yang bertugas di kota itu. Lalu-lintas dijaga oleh Tentara India dari pasukan Tentara Inggris. Pegawai polisi Indonesia hanya sebagai simbol — sebagai satu tanda bahwa mereka itu masih ada, sedang- kan tugas dan tanggung jawabnya hampir tidak ada. Salah seorang Inspektur Polisi Indonesia ialah kawanku yang sama-sama di Tanah Melayu dulu. Ketika aku bertemu dengannya, maka banyaklah kawan-kawan lain yang dulunya menjadi anggota F datang menemui kami di hotel. Moeaz salah seorang kawan yang sama-sama dengan aku dari Kelang dulu, mengajak aku dan Tengku Ismail tinggal di sebuah rumah di Belantungkecil. Maka kami pun pindah ke rumah itu. Rumah di Belantungkecil ini mula-mula kusangka sebuah asrama. Rumah itu ialah berbentuk bungalow yang besar, mungkin dulunya tempat tinggal pegawai tinggi Belanda ataupun pegawai tinggi Jepang. Di belakang rumah itu ada sebuah rumah besar lain yang dihuni oleh beberapa orang guru wanita. Setelah satu hari satu malam di rumah itu, maka kami pun mulai menge- tahui keadaan sebenarnya. Beberapa orang yang tinggal di situ terkenal sebagai jago-jago. Salah seorang di antara jago-jago samseng itu bernama Omar, baru saja keluar dari penjara, dialah yang menjadi ketuanya. Di luar bangunan dipasang papan nama 'Kantor Pembangunan'. Beberapa buah meja terletak di dalam salah sebuah kamar, seolah-olah rumah itu benar-benar sebuah kantor arsitek yang mengambil upah membuat denah- denah rumah dan sebagainya. Telepon juga ada yang seringkali disembunyi- kan di dalam laci meja.
- Indisch National School
Aku dan Tengku Ismail sekamar dengan Moeaz, makan dan minum kami ditanggung percuma. Malah setiap minggu mendapat uang saku pula. Waktu siang hari beberapa orang pemuda bekerja di rumah itu seolah- olah mereka itu pegawai kantor pembangunan yang diiklankan di depannya. Tetapi ketika malam menjelang, rumah itu berubah menjadi pusat gerakan sulit yang menggoncangkan urat saraf kota Padang. Pemuda-pemuda yang tadinya kelihatan biasa saja, beralih rupa menjadi pegawai polisi lengkap dengan seragamnya dan mereka berjalan meronda kota Padang sampai selesai tugas-tugas sulitnya. Besoknya pagi-pagi gemparlah penduduk kota itu dengan maklumat-maklumat yang keras terhadap orang-orang Belanda, pasukan Tentara Inggris dan orang-orang Indonesia yang menjadi kaki-tangan Belanda. Di bawah maklumat itu ditandai dengan tulisan SSS—Serikat Sang Saka. Tanda ini kemudian menimbulkan ketakutan bagi orang-orang yang menerimanya. Bersama dengan maklumat itu, ada pula terbetik berita tentang orang-orang yang diculik. Tentang anak yang kehilangan bapak, istri yang kehilangan suami ataupun rumah yang dibakar dengan semua penghuninya hangus di- jilat api! Karena aku dan Tgk. Ismail orang luar, maka kami tidak pernah dia- jak serta dalam semua gerakan itu. Mereka ingin membuktikan bahwa putra-putra Minangkabau juga dapat menunjukkan kebolehannya dalam memperjuangkan kemerdekaan tanah airnya. Pada suatu malam ketika aku sedang duduk-duduk di beranda, berhenti- lah sebuah jeep dan dari dalamnya turun Omar dengan beberapa orang kawannya. Mereka kelihatan letih. Pakaiannya basah kuyup dan mukanya bernoda cipratan darah halus. Kami tidak pernah bertanya untuk menghindarkan kecurigaan. Tetapi hatiku sendiri bagai diusik untuk mengetahui gerakan mereka itu, apa yang sudah mereka lakukan sehingga keadaannya menjadi sedemikian rupa? Bunyi sirene kereta bomba bukan lagi merupakan satu keanehan. Malam ini juga sebentar-sebentar terdengar bunyi itu dan kami berdua tidak mengetahui bahwa bunyi itu ada hubungannya dengan kawan-kawan kami yang baru pulang itu. "Benarkah semuanya musnah?" tiba-tiba seorang kawan bertanya kepada Omar yang duduk tersandar kecapekan pada sebuah kursi. "Aku pikir tidak seorang pun lepas ke luar," katanya lambat-lambat. Aku dan Tgk. Ismail diam saja. Kami tidak ikut campur dalam pem- bicaraan itu. Tetapi kami hanya menjadi pendengar yang setia. "Bagaimana bisa Tentara-tentara Inggris itu datang sebelum kita memasang api?" tanya kawannya yang lain.
"Itulah yang aku tidak tahu. Ketika aku sedang menyiram minyak ben- sin di sekeliling rumah itu, tiba-tiba saja aku mendengar orang menjerit dan berlari-lari keluar lewat jalan belakang," Omar meneruskan cerita- nya. "Aku pun tidak lengah lagi, lalu kupasang api dan waktu aku hendak melompat pagar berduri itu, Tentara-tentara Inggris telah dekat sekali." "Pagar-pagarnya dialiri dengan listrik rupanya," kata kawannya. "Boleh jadi. Tetapi kami tidak mengetahui hal itu." Dari pembicaraan mereka tahulah kami bahwa mereka telah membakar lagi rumah tumpangan orang-orang Belanda. Sejak orang-orang Belanda kembali ke Padang, kebanyakan mereka tinggal berkumpul dalam sebuah rumah, kecuali yang paling berani saja tinggal di rumah yang terasing. Dan yang tinggal terasing itu biasanya orang-orang Belanda yang pernah tinggal di Padang sebelum perang, mereka menempati kembali rumahnya. Rumah yang dibakar oleh para pejuang ini ialah salah sebuah asrama yang didiami oleh beberapa orang dan hal ini kami ketahui pada keesokan harinya, dari siaran surat kabar. Beberapa orang telah menjadi korban dalam kebakaran itu.
Para utusan dari Jawa telah mulai datang ke Sumatera. Mereka itu ke- banyakan masih muda-muda, ada yang baru menduduki bangku sekolah menengah. Mereka datang ke Sumatera diutus oleh berbagai perkumpulan. Hampir semua perkumpulan pada waktu itu menjadi bagian dari badan pemerintahan, karena mereka mendapat layanan yang baik dari semua instansi pemerintah yang mereka kunjungi. Keadaan perjuangan sudah mulai meningkat kepada satu keadaan yang tegang. Para pemuda Indonesia laki-laki dan perempuan telah mulai menun- jukkan sikapnya yang berterus-terang. Pelajar-pelajar perempuan secara terang-terangan menawarkan diri sebagai modal perjuangan. Mereka rela menjadi istri siapa saja yang membawa kepala Belanda sebagai mas kawinnya! Dan sudah tersiar kabar bahwa ada orang Belanda yang sudah ke- hilangan kepalanya. Tetapi aku tidak pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri tentang hal ini. Namun demikian, tawaran para pelajar itu memang benar ada, karena seorang pelajar perempuan terang-terangan mengumum- kan dalam sebuah rapat raksasa bahwa dia rela menjadi istri siapa saja yang sanggup membawa kepala Belanda sebagai mas kawinnya, cuma mas kawin yang dimintanya ialah: dua buah kepala Belanda! Engku Ilyas telah dipindahkan ke Kantor Pos di Padang dan dia menyewa sebuah rumah di tepi laut. Kami diajaknya, tinggal bersama-sama dengan- nya. Dan seperti ketika di Bukittinggi dulu, kami tidak dapat menolak tawarannya itu dan aku dengan Tengku Ismail pun pindah ke rumahnya. Sebenarnya kami tidak mempunyai suatu pekerjaan tetap. Oleh sebab itu setiap pagi lepas minum kopi kami pun ke luar berjalan-jalan menjelajahi kota Padang, melihat suasana yang kadang-kadang panas dan kadang-kadang dingin. Pada şuatu tenga hari, ketika akú dan Tengku Ismail berjalan-jałan di dalam Pasar Padang, lewat sepasang orang Belanda. Mula-mula mereka berjalan dengan santai di loróng-lorong pasar, melihat dan menawar barang-barang jualan, tetapi kemudian — entah dari mana terdengar
suatu suara yang meneriakkan kata 'bunuh'. Ketika itu juga beberapa orang telah menyerbu orang Belanda itu dan memukul yang laki-laki. Orang Belanda itu pun berlari, ia lewat di sela-sela aku dan Tengku Ismail yang tertegun karena terperanjat oleh kejadian yang tiba-tiba itu. Un- tunglah Tengku Ismail menarik tanganku dengan cepat, sehingga terhin- darlah aku dari tabrakan para penyerang itu. Aku tidak melihat lagi orang Belanda yang perempuan itu. Tetapi orang Belanda yang laki terus berlari menuju ke arah persimpangan jalan, yang kebetulan pada waktu itu ada beberapa orang anggota Tentara Inggris sedang menjaga lalu-lintas. Kedai-kedai sudah mulai ditutup. Tengku Ismail menarik aku keluar dari lorong itu. Tetapi aku masih terus tegak terpaku melihat orang Belanda itu dikejar sampai ke tengah jalan. Nasibnya malang, ia terjatuh. Berpuluh- puluh orang melompat ke atasnya dan karena orang yang menyerangnya itu terlalu banyak, maka keadaan itu secara kebetulan telah menolongnya. Tidak ada orang yang dapat memukulnya dengan tepat dan kuat, dan kebetulan pula tidak ada seorang pun yang membawa pisau. Tentara Gurkha yang jaga di persimpangan jalan itu telah'meninggalkan tempatnya, mereka berlari-lari sambil meniup peluit menuju ke markasnya, di bekas Balai Kota Padang. Sebentar kemudian keluarlah sepasukan tentara bersenjata menyerbu ke tempat penyerangan itu terjadi. Orang-orang Indonesia yang menyerang itu telah bingkas bangun dan berlari menye- lamatkan diri. Orang-orang Gurkha tidak menembak, mereka hanya me- nyelamatkan orang Belanda yang malang itu saja. Kabarnya Belanda itu tidak mati, hanya luka-luka berat saja tetapi tidak membahayakan. Perempuan yang bersama-sama dengannya juga telah di- selamatkan, karena dia menyembunyikan diri di balik sebuah warung kecil dan ketika orang-orang menyerang Belanda laki-laki itu, ia terus berlari kembali ke tangsi Inggris yang tak jauh dari situ. Karena tidak ada kendaraan angkutan ke Sumatera Selatan, maka Tengku Ismail sudah merencanakan pulang saja ke Aceh. Aku masih ingin tinggal di Minangkabau untuk beberapa hari. Pada waktu Tengku Ismail pulang itu aku turut mengantarkannya sampai ke Bukittinggi.'Dalam per- jalanan ke Bukittinggi itu kami singgah di Padangpanjang, karena Moein kawan Tengku Ismail yang pernah tinggal dan mengajar di salah sebuah agama di Aceh mengajak singgah di rumahnya di Bungatanjung. Kami sampai di Padangpanjang pada pukul sembilan malam. Hawa kota ini terlalu dingin, jauh berbeda dengan hawa kota Padang yang panas itu. Di kota inilah pusat pendidikan Islam yang terkenal, terutama untuk kaum putri. Encik Rahmah El Jusussiyah ahli pendidikan dan patriot, pemimpin Madrasah Diniyah Putri tinggal di kota itu.
Karena hawanya yang terlalu dingin melebihi hawa di Bukittinggi, maka malam itu aku tidak sanggup mandi lagi. Kebetulan kami sampai di Padangpanjang pada petang hari Raya Idul Adha. Malam itu kota kecil yang Jliliputi kabut itu bergema oleh suara takbir dari menara mesjid yang terletak di tengah-tengah kota. Lampu-lampu yang berwarna-warni gemerlapan dari setiap rumah. Dalam kedinginan yang menusuk sampai ke tulang sumsum itu, terasa suasana kudus yang meliputi alam kota kecil itu mencekam kuat di dalam hati. Walaupun udara dingin menekan dengan berat, pagi-pagi kámi telah bangun dan mandi. Kemudian salat subuh. Matahari belum terbit, tetapi di jalan raya orang telah ramai dengan pakaian-pakaian hari rayanya. Setelah sarapan, kami pun ikut di belakang rombongan orang yang menuju ke sebuah tanah lapang di muka Kantor Polisi, karena di situ akan dilangsungkan salat hari raya. Tiap-tiap penjuru tanah lapang itu telah dihiasi dengan bendera Merah Putih dan bendera bulan bintang. Aku membentangkan jas hujanku sebagai alas. Ketika kami berdiri tegak, khusuk dengan bacaan ayat-ayat suci yang dibaca oleh imam melalui pengeras suara, aku melihat berpuluh-puluh ekor kepinding melata-lata keluar dari bajuku itu, karena kepanasan ditimpa sinar matahari. Aku ter- peranjat sekali melihat kejadian itu, karena sedikit pun tidak menyangka bahwa selama ini aku mempunyai musuh dalam selimut yang demikian banyaknya! Kami berhari raya ke rumah Moein di Bungatanjung yang terletak kira- kira 12 km dari Padangpanjang. Kami berangkat dengan sebuah sado dan melalui sebuah jalan raya yang menuju ke Batusangkar. Di kiri-kanan jalan terdapat sawah yang luas, dengan kampung-kampung yang ber- tumpuk-tumpuk di sana-sini. Mataku tak lekang-lekang dari Danau Singkarak yang terbentang jauh di depan, berlatarbelakangkan bukit- bukit dengan jayanya. Rumah Moein ialah sebuah rumah adat yang besar, karena keluarganya termasuk golongan orang yang terkemuka di kampung itu. Itulah pertama kali aku menaiki rumah adat dan berkenalan dengan kaum keluarga Moein yang ramah-tamah itu. Malam itu dengan tidak setahu kami, Moein telah mengatur satu pertemuan di mesjid. Tengku Ismail dan aku diminta berbicara. Karena sudah tidak dapat menolak lagi, maka kami pun berbicara di depan para hadirin yang tak kurang dari 300 orang banyaknya. Dan alangkah terperanjatnya kami, karena ketika pertemuan itu selesai, ketua kampungnya menyerahkan sebuah amplop yang berisi uang tak kurang dari 300 Rupiah. Di Bungatanjunglah aku pertama kali berbicara di depan umum PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH — 8
di luar Aceh dan kiranya itulah titik permulaan aku menjadi tukang pidato di Minangkabau. Setelah itu aku telah diundang untuk berbicara di ber- bagai tempat dan kemudian mendapat hadiah-hadiah yang berupa uang. Rencanaku untuk tinggal beberapa lama lagi di Minangkabau semakin kuat! Keesokan harinya kami pun pulang ke Padangpanjang diantar oleh Moein. Hari itu hari Jumat dan kami pun bersalat di mesjid kota itu. Kebetulan khotib dan imamnya ialah Tuan Dasuki Samad, salah seorang pemuka agama Islam yang terkenal sejak zaman Belanda. Memang sejak selesai peperangan itu orang-orang lebih banyak mendekatkan diri dengan Allah. Tidak saja di Aceh tetapi juga di tiap-tiap tempat yang kami singgahi, orang-orang yang menunaikan fardu Jumat luar biasa banyaknya, ruangan mesjid tidak memadai lagi. Orang melimpah ruah sampai ke luar sama halnya seperti di Padangpanjang ini juga, mesjid yang begitu besar menjadi sempit. Apakah orang-orang sudah jera dengan malapetaka peperangan dan kini mencari perlindungan dengan Khaliknya?, Di antara rukuk dan sujud, imam membaca doa kunut mendoakan kekekalan Republik Indonesia! Petang itu juga kami berangkat ke Bukittinggi
Perayaan tiga bulan berdirinya Negara Republik Indonesia telah diadakan dengan meriah sekali oleh penduduk kota Bukittinggi dan sekitarnya. Satu pawai yang berkilo-kilo meter panjangnya telah dimulai dari Kantor Luhak Agam yang bersebelahan dengan Panggung Agam. Pawai ini berjalan berkeliling kota dan kemudian menuju ke lapangan di atas Ngarai, tem- pat rapat raksasa akan diadakan. Tanah lapang itu penuh sesak dengan umat manusia, semboyan-semboyan yang bersemangat diucapkan oleh para pemuda. Di antara yang berpidato dalam rapat itu ialah Tuan Dasuki Samad, Abdul Karim Halim salah seorang utusan dari Jawa dan seorang putri Palang Merah.1 Pidato putri Palang Merah itu lebih banyak menarik perhatian orang ramai, karena semangatnya yang berapi-api dan caranya dia berpidato itu cukup menarik melebihi dari orang lelaki. Tengku Ismail telah berangkat pulang ke Aceh. Sedih juga hatiku ketika melepaskannya, sebab selama ini kami berdua tidak pernah berpisah walaupun sekejap. Tetapi hal ini tidak dapat dielakkan, karena kami sudah lama dalam perjalanan dan harapan untuk tembus ke Jawa sudah amat tipis, apalagi Kongres Pemuda yang akan kami hadiri itu telah berlangsung seminggu yang lalu. Suasana tanah air semakin genting dengan meletusnya pertempuran di Surabaya, antara arek-arek Suroboyo dengan Tentara Inggris. Aku juga sebenarnya ingin kembali segera, ketika berita pertempuran di Surabaya itu sampai di Bukittinggi, tetapi kawan-kawan di Minangkabau meminta supaya aku tinggal untuk beberapa waktu lagi bagi membantu mereka mengobarkan semangat rakyat. Para pemuda menghendaki orang yang dinamis untuk memimpin per-
- Kemudian kuketahui namanya Khatijah Sidik. Dia menjadi Kétua Wanita UMNO yang pertama setelah berhijrah ke Tanah Melayu dan menikah dengan seorang dokter perubatan di Johor Bharu
juangan. Keadaan di Minangkabau pada waktu itu telah demikian panasnya dan hanya menunggu waktu saja untuk meletus. Pemuda-pemuda Aceh yang ada di Minangkabau telah dikumpulkan di Padang sebagai satu barisan istimewa dalam menggempur orang-orang Nica, tetapi aku tidak pernah berjumpa dengan mereka itu. Kebetulan satu kongres umat Islam di Sumatera akan dilangsungkan di Bukittinggi. Utusan dari berbagai daerah telah berduyun-duyun datang ke kota dingin itu. Di antara utusan dari Aceh adalah Tengku Sulaiman Mahmud, salah seorang temanku. Secara kebetulan pula, ketika aku merasa sendirian setelah ditinggalkan oleh Tengku Ismail, maka aku mendapat Tengku Sulaiman ini sebagai gantinya. Pertemuan kami pun secara kebetulan saja yaitu dalam kereta api ketika aku akan berangkat ke Solok untuk mencari Burhan, kawanku yang sama-sama dikirim oleh Fujiwara Kikan dulu. Selama di Bukittinggi ini aku pindah tinggal di Hotel Melati yang ber- sebelahan dengan Bioskop Agam. Setiap hari aku dibawa melawat ke kampung-kampung untuk turut memberi pidato. Semangat rakyat pada waktu itu sudah luar biasa hebatnya dan karena Bukittinggi belum dimasuki oleh Tentara Sekutu maka pekerjaan kami tidaklah begitu sukar. Pada suatu pagi aku telah dipanggil ke Kantor Pemuda di Bukittinggi. Aku menyangka panggilan itu tentulah ada sangkut-pautnya dengan urusan yang kulakukan selama ini, tetapi kiranya sangkaanku itu meleset. Aku dipanggil dan ditahan di kantor itu karena dicurigai sebagai kaki-tangan Nica. Memang pada waktu itu sangat sukar kita menentukan siapa kawan dan siapa lawan. Kaki-tangan Nica telah banyak sekali yang dilepaskan-dan menyusup masuk ke dalam daerah yang dikuasai oleh Republik Indonesia. Kebanyakan kaki-tangan itu terdiri dari kaum wanita terutama anak-anak gadis belasan tahun. Sebagian telah ada yang ditangkap dan dari pengakuan mereka itulah maka semua perkumpulan politik dan persatuan pemuda sangat berhati-hati terhadap setiap langkah dan gerak-gerik orang-orang asing. Kiranya pengawasan ini terkena pula kepadaku sendiri. Pemuda yang memanggil aku itu tidak mengatakan sebab-musababnya. Jadi tidak banyak keterangan yang dapat kuperoleh. Memang selama aku di Minangkabau 'belum sekalipun aku melaporkan diri, tidak saja pada kantor-kantor pemerintah RI tetapi juga di kantor-kantor pemuda yang berselerak farak itu. Aku hanya ikut dalam rombongan yang dibentuk oleh beberapa orang teman yang kukenal lewat perantaraan Yunus dan kawan-kawannya. Ketika aku sampai di kantor itu hari masih pagi benar, orang-orang belui banyak yang datang kecuali beberapa orang pemuda
yang tidur meringkuk di atas bangku yang dirapatkan ke dinding. Kantor
itu dulunya sebuah sekolah. Aku dibawa dan dipertemukan dengan seorang pemuda yang duduk menghadap sebuah meja di dekat pintu, dan setelah dicatat namaku, maka disuruhnya aku duduk pada sebuah bangku panjang di hadapannya. Pemuda yang memanggil aku tadi telah hilang entah ke mana. Maka duduklah aku memperhatikan pemuda penjaga pintu itu. Dia seorang pemuda berbadan tegap, kulitnya hitam manis dan air mukanya menunjuk- kan bahwa dia seorang yang lemah-lembut walaupun dia telah membiarkan misai dan janggutnya tumbuh agar kelihatan menakutkan. Tiba-tiba masuklah seorang pemuda yang tinggi kurus, kulitnya putih. Ia memakai kemeja dan celana dari kain khaki putih, kasut kulit hitam. Kepalanya ditutup topi felt dan berkaca mata hitam. Ujung topi di bagian depan ia tarik sampai menutup alis matanya. Ia kelihatan seperti detektif dalam cerita film. Pemuda yang menjaga di pintu itu bangun dan memberi hormat, tetapi hormatnya tidak dibalas oleh orang yang baru masuk itu. Dia terus menuju ke sebuah bilik. Daun pintu pembatas yang berpegas itu melanting dengan kuatnya. Sebentar kemudian dia muncul dan melihat kepadaku. Aku coba memberi senyum kepadanya, tetapi senyumanku itu tidak ia balas. Dia kemudian memanggil pemuda penjaga itu. Sebentar kemudian pemuda itu pun ke luar dan menyuruh aku masuk. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja pemuda yang memanggil aku tadi muncul di belakangku dan ikut masuk bersama-sama. Aku duduk pada sebuah kursi di hadapannya. Dia masih memakai topi dan kacamata hitamnya. Tetapi tidak memrandang kepadaku. Dia hanya menunduk membaca sebuah berkas surat yang terbentang di hadapannya. "Siapa nama Saudara?" ls,Abdullah,"
"Datang dari mana?"
"Dari Aceh."
"Sudah berapa lama Saudara di sini?"
"Sejak 6 Oktober yang lalu."
"Untuk apa Saudara datang kemari?" "Saya dalam perjalanan ke Jawa." Waktu itulah baru ia mengangkat mukanya dan memandang ke mukaku. Biji matanya yang hitam terlindung di balik kacamata itu memandang
kepadaku dan aku membalas pandangannya pula, sehingga dia menunduk
kembali. Aku merasa heran mengapa semua pertanyaan itu tidak ditulis, kalau dia benar-benar ingin membuat proses-perbal terhadapku?
Setelah diam sejurus lamanya, tiba-tiba dia memecah kesepian itu dengan pertanyaan: "Siapa yang Saudara kenal di sini?" "Yunus!" jawabku tegas. "Yunus dari Aceh itu?" "Ya," jawabku tanpa ragu-ragu lagi. Dan memang benar seperti yang kurencanakan semula. Kalau sekiranya ia bertanya siapa yang aku kenal atau kawanku, maka Yunus inilah akan kusebut. Aku tahu nama Yunus pada waktu itu menjadi nama yang dimuliakan oleh tiap-tiap orang pe- juang kemerdekaan. "Mengapa dari tadi tidak Saudara katakan?"tanyanya kembali. "Saudara tidak bertanya," jawabku dengan ketawa kecil. "Kalau dari tadi Saudara katakan maka tidaklah terjadi hal yang seperti ini. Sekarang saya minta maaf atas kekeliruan ini dan Saudara boleh pulang," katanya dengan nada suara merendah. "Oh, tidak mengapa," jawabku. "Saya senang melihat ketelitian Saudara-saudara sekalian. Dalam waktu seperti ini kita tidak boleh lalai. Bolehkah saya menggunakan telepon Saudara ini sebentar?" "Silakan!" Aku pun memutar telepon itu untuk menghubungi Yunus. Kebetulan ia ada di rumah. Aku meminta ia menjemput aku dari Kantor Pemuda itu, tetapi aku tidak katakan sebab-musabab aku ada di situ. Tak lama kemudian aku pun meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang lebih gembira lagi karena mendapat kawan baru. Petang itu kira-kira jam dua aku diperintahkan berangkat ke Padang. Aku menumpang sebuah bis yang akan berangkat pada waktu itu. Bis itu sudah tua sekali dan para penumpangnya pun duduk berdesak-desak beradu lutut. Waktu kami sampai di persimpangan Padang Garung, kami diperintah turun oleh para pemuda yang menjaga di tempat itu. Kulihat ban tangan pemuda-pemuda itu menunjukkan bahwa mereka dari regu Kantor Pemuda yang kukunjungi tadi pagi. Setiap orang diperhatikan dengan teliti dan semua kopor dan bungkusan barang-barang dibuka, diperiksa satu per satu. Seorang anak gadis telah ditahan oleh pemuda-pemuda itu, karena dalam kopornya terdapat buku catatan dengan rajah-rajah yang bertu- lisan Belanda. Karena aku sudah naik kembali ke dalam bis, maka aku tidak dapat mendengar apa yang dipertengkarkan antara pemuda-pemuda yang memeriksa itu dengan anak gadis tersebut. Tetapi ketika bis diperintah berjalan dengan meninggalkan anak gadis itu di situ, aku tidak merasa senang apalagi naluriku mengatakan anak gadis itu
tidak bersalah. Supir bis itu pun enggan mau berangkat karena dia telah menerima ongkos dari gadis itu dan mungkin juga ada sesuatu hal yang lain, yang tidak kami ketahui. Aku turun kembali dan mendekati gadis itu. Ia menangis terisak-isak karena akan ditinggalkan di situ. Dengan baik aku bertanya kepadanya. "Kenapa Saudara?" "Karena mereka menuduh saya menjadi spion Nica sebab buku catatan saya ini." Dia menunjukkan buku itu kepadaku. Aku pun mengulurkan tangan untuk mengambil buku itu. Tetapi salah seorang pengawal itu maju ke depan dan kulihat dia memegang gagang pistolnya. "Saudara siapa?" tanyanya dengan kasar. "Saya kawan gadis ini," kataku dengan berani. "Mengapa ia ditahan?" "Karena kami curiga kepadanya sebab buku-bukunya." "Boleh saya lihat?" Entah karena melihat aku tidak takut pada gertakannya itu maka ia pun mengambil buku itu dan menyerahkannya kepadaku. Aku tidak tahu mem- baca bahasa Belanda, tetapi rajah-rajah yang seperti itu pernah kulihat dan aku pun tersenyum kecil. "Ini kan mode baju?" kataku. "Tetapi mereka tidak percaya," sambung gadis itu. "Ini buku catatan potongan pakaian, Saudara," kataku kepada anggota pengawal itu. "Saya tidak tahu, tetapi saudara mesti kami bawa ke kantor," jawab- nya dengan tegas, sedikit pun tidak terlihat kelunakan pendiriannya itu. "Bolehkah saya menggunakan telepon Saudara ini sebentar?" tanyaku setelah melihat ketegaran hatinya yang tak dapat diajak berunding. "Ini hanya untuk keperluan kami saja. Orang luar tidak dibenarkan menggunakannya." "Saya akan berbicara dengan Saudara Sofjan," jawabku. "Sofjan mana?" tanyanya dengan tercengang dan perubahan terlihat pada air mukanya. "Ketua Kantor Pemuda!" jawabku sambil menuju ke meja tempat telepon itu. Ia mengikuti aku dari belakang. Beberapa orang temannya yang lain mengikuti dengan pandangan saja. Ia tidak mencegah aku menggunakan telepon itu dan setelah kudapat nomornya maka aku pun meminta berbicara dengan Saudara Sofjan dan untunglah dia masih ada di kantornya. Setelah kuterangkan duduk perkara- nya, maka ia pun meminta untuk berbicara dengan pengawal itu. Dan gagang telepon itu pun kuserahkan kepadanya. Setelah mereka berbicara sebentar, gagang itu pun diletakkan.
"Mengapa dari tadi tidak diterangkan identitas Saudara," katanya dengan kesal, seraya berjalan menuju ke tempat bis yang sedang menunggu itu. "Baiklah," katanya kepada anak gadis itu. "Saudara boleh berangkat dan kami meminta maaf atas peristiwa ini." "Tidak mengapa," sahut anak gadis itu. Kulihat ia mengusap matanya dengan belakang tangannya. Setelah memperbaiki letak rambut yang menutup dahinya, ia pun menutup kopornya dan aku menolongnya meng- angkatkan ke dalam bis. Ketika bis itu akan bergerak, pengawal itu berdiri tegak dan memberi hormat kepadaku. "Terima kasih Saudara,"kata gadis itu. "Terima kasih banyak." "Kembali," jawabku. "Saudara ini mau ke mana?" "Saya mau kembali ke Padang, ke rumah orang tua saya." "Siapa orang tua Saudara?" "Dr. Jamil!" "Dr. Jamil? Wali Kota Padang?" "Ya!" sahutnya sambil memandang ke mukaku seolah-olah untuk me- mastikan apakah kami pernah bertemu sebelumnya. "Saudara kenal?" "Siapa yang tak kenal? Tetapi saya belum pernah berjumpa." "Datanglah ke rumah saya," dia mempersilakan aku dengan senyuman kecil terkulum di bibirnya. "Insya Allah," jawabku. Sejak itu setiap orang di dalam bis itu terutama supirnya sangat hormat terhadapku. Mereka mengulurkan rokok, buah-buahan dan sebagainya. Dan mereka pun bercerita berbagai hal yang ada sangkut-pautnya dengan perjuangan kemerdekaan. Kira-kira pukul tujuh malam kami pun sampai di Padang. Anehnya sampai hari ini aku tidak pernah mengetahui siapa nama gadis itu, karena aku tidak menanyakan kepadanya. Aku pergi ke Belantungkecil di Kantor Pembangunan. Kawan-kawan di sana menyambut kedatanganku dengan gembira. Mereka mengharapkan aku untuk ikut aktif dalam gerakannya. Tetapi satu-halangan yang paling besar, ialah karena aku tidak begitu lancar berbahasa Minangkabau walau- pun aku mengerti kalau ada orang berbicara kepadaku. Sehari sesudah aku sampai di Padang, kawan-kawan di Belantungkecil itu telah merencanakan akan menculik seorang Indonesia, yaitu pegawai dari salah sebuah kantor Nica. Mereka telah mendapat laporan-laporan yang cukup tentang gerakan orang tersebut yang telah banyak merugikan perjuangan kemerdekaan. Di antara tindakannya yang paling berbahaya ialah ia telah menyerahkan sebuah les kepada Nica, yang berisi nama-nama pemim-
pin Indonesia yang mesti dihapuskan dari muka bumi ini. Beberapa orang pembesar telah hilang dan tidak diketahui di mana kuburnya. Aku tidak ikut serta dalam gerakan penculikan itu, sebab aku tidak dapat memberikan sumbangan apa-apa dalam tindakan tersebut. Pagi-pagi sekali anggota-anggota Kantor Pembangunan itu telah berangkat dengan sebuah mobil. Tetapi tak lama kemudian mereka kembali dan menyumpah-nyumpah. Kiranya usaha mereka itu sia-sia saja. Malam itu kudengar mereka membuat rencana yang lebih rapi lagi, dan kudengar juga mereka menetapkan salah seorang di antaranya sebagai tukang jagal, yang akan menyembelih orang itu. Aku selamanya tidak begitu setuju dengan soal pembunuhan, biar betapa pun beratnya kesalahan sese- orang itu, namun untuk mengambil nyawanya bukanlah kita manusia yang mesti menentukannya! Setelah sarapan berangkatlah tiga orang dari rumah itu dikepalai oleh Omar. Mereka berangkat dengan mobil yang semalam juga, tetapi nomor mobil itu telah diganti dengan yang baru. Anggota-anggota yang lain tinggal menunggu di rumah. Setiap kali ada deringan telepon, kami melompat men- dekatinya untuk mengetahui hasil yang telah mereka capai. Tetapi sampai sore berita dari mereka tidak kami dengar. Setelah jam sembilan, barulah mereka itu pulang. Wajah mereka jauh berubah. Tidak seperti segembira sebelumnya. Mula-mula kami sangka mereka menghadapı kegagalan untuk kedua kali.Tetapi ketika melihat jas hujan dari salah seorang di antaranya berlumuran darah, maka hatiku pun menjadi kecut. Aku tidak dapat berkata-kata lagi dan rasá ngeri mulai menjalar ke seluruh tubuhku. Aku pernah melihat darah binatang yang di- sembelih, tetapi darah manusia yang serupa itu, walaupun sedikit terlalu kuat badinya. "Sudah selesai," kata Omar membuka pembicaraan setelah mereka diam sejenak melepaskan lelahnya."Baru jam empat kami dapat menculik dari
rumah istri mudanya."
Aku ingin sekali mendengar bagaimana caranya mereka menculik orang itu. Maka aku pun menarik kursi'lebih dekat lagi, di belakang Omar.
"Sejak pagi kami sudah mengawasi rumah orang itu, mula-mula kami
mendapat kabar bahwa ia tidur di rumah istri tuanya, tetapi kemudian ter- nyata ia tidak tidur di situ. Oleh sebab itu yakinlah kami bahwa dia akan pulang ke rumah itu pada malam itu, maka kami pun bergiliran menunggu di depan rumahnya. Pukul dua ketika ia pulang, kami datang ke rumahnya dan aku masuk ke rumah itu dengan mengatakan ia diminta datang segera ke kantornya karena
kepalanya sedang menunggu. Mula-mula ia agak ragu, tetapi setelah ku- sebutkan nama orang Belanda tempat ia menyampaikan rahasia, maka ia pun dengan tidak ragu-ragu lagi mengikuti aku. Mobil kami telah menunggu di jalan tetapi agak jauh dari rumahnya. Aku mengusulkan kepadanya supaya menggunakan mobil itu saja biar agak cepat, dia pun tidak keberatan, lalu naiklah kami ke dalam mobil itu, setelah dijanjikan ongkos pulang-pergi. Setelah ņaik maka tangannya ku- tangkap dan mulutnya kututup dengan tanganku. Hamid menolong me- nyumbat mulutnya dengan kain dan kemudian dia kami bungkus dengan goni, kami letakkan di atas lantai mobil itu, dan kuinjak dengan kakiku. Kami membawanya ke tepi pantai dan di sanalah dia disembelih." Ia menutup ceritanya itu dan memandang kepada Yusuf, yang membawa pulang jas hujan yang berlumuran darah itu. Yusuf lepasan sekolah agama. Dia sama dengan Omar, badannya tegap, tidak berapa tinggi, mukanya bulat dan di bawah dagunya ada sedikit jang- gut kecil. Rupanya dia yang menyembelih orang itu. Moeaz, kawanku yang sama-sama dari Tanah Melayu dulu bertanya: "Bagaimana sampai hatimu melakukan pekerjaan yang dahsyat itu." "Aku anggap saja bahwa aku menyembelih kambing," jawab Yusuf dengan tidak ragu-ragu sedikit jua pun. "Kalau kita menyembelih kambing apa yang kita pikirkan?" "Tetapi ini manusia!"ujar Moeaz. "Dia kuanggap kambing," jawab Yusuf. "Dan setelah dia mati baru kulihat dia sebagai manusia. Tetapi semuanya sudah selesai, yang menjadi masalah kami ketika itu ialah bagaimana hendak menyingkirkan mayatnya." "Nasib kami baik, di dekat pantai itu ada tempat yang berlumpur, jadi kami benamkan saja dia di dalam lumpur itu." "Tetapi kalau air pasang nanti, tentu mayatnya timbul?" tanya Mokhtar pula. Mokhtar ini berasal dari Aceh Barat. "Itu bukan soal kita lagi, soal kita bagaimana menyingkirkan dia dari dunia ini." Pembicaraan itu kami hentikan di situ saja setelah datang orang yang membawa nasi. Setelah makan, aku lihat Yusuf bekerja keras mencuci jas hujannya. Malam itu, semalam-malaman aku tidak dapat memicingkan mataku, karena mengenangkan betapa membajanya jiwa Yusuf, sampai dia berani menyembelih orang seperti itu.
"Apalagi yang masih kaupikirkan?" tanya Moeaz yang kebetulan ter-
bangun dan melihat aku masih belum tidur. Aku membalik-balikkan badan ke kiri dan ke kanan. "Bagaimana dia sampai hati berbuat seperti itu?" kataku, seolah-olah aku bersungut kepada diriku sendiri." "Berbuat apa?" tanya Moeaz yang sudah membuka matanya lebar-lebar. "Membunuh orang seperti itu?" "Ah, itu yang kaupikirkan. Sudahlah, mari kita tidur." Dia lalu menarik kain sarung yang dijadikan selimut dan menekukkan kakinya. Sebentar kemudian terdengar kembali dengkurnya. Pagi-pagi aku membaca dalam surat kabar, yang menyiarkan sebuah berita tentang pembunuhan. Seorang laki-laki telah dijumpai mati di tepi laut, mayatnya yang sudah tidak berkepala lagi terapung-apung dimainkan gelombang yang menghempas pantai: Setelah dicari di sekitar tempat itu, maka kepala orang tersebut dijumpai di dalam lumpur. Motif pembunuhan itu tidak diketahui, demikian berita tersebut. Pagi berikutnya orang-orang di kota Padang telah pula membaca siaran-siaran SSS yang ditempelkan di dinding-dinding toko dan di tiang- tiang listrik, yang mengatakan bahwa orang yang dijumpai mati terbunuh itu ialah kaki-tangan Nica, agen dari Van der Plaas. Setiap orang yang berhubungan dengan Belanda akan mengalami nasib yang serupa, kata pengumuman itu sebagai penutup. Tentara-tentara India terutama yang beragama Islam telah banyak mem- bantu pemuda-pemuda Republik Indonesia dengan secara diam-diam. Kadang-kadang mereka menyerahkan senjatanya bulat-bulat, dan sebagai dalih untuk pihak atasan, maka mereka itu meminta supaya pemuda-pemuda itu mengikatnya dan menelepon markas Tentara Sekutu. Kadang-kadang tidak saja senjata, tetapi juga jeep yang dikendarainya itu diserah- kannya. Hampir setiap malam ada saja pembunuhan yang terjadi. Kalau tidak orang Belanda atau kaki-tangannya yang dibunuh, maka orang-orang Indonesia pula yang menjadi korban. Biasanya tindakan pembalasan dari pemuda-pemuda Indonesia lebih kejam lagi, seorang Indonesia mati maka dua atau tiga orang Belanda harus membayárnya. Dengan demikian, orang-orang Belanda yang tadinya tinggal terpencil di luar-luar kota pun mulai berkumpul kembali di dalam asrama ataupun di hotel-hotel. Pada waktu siang hari, aku sering dibawa oleh teman-teman memasuki kampung-kampung di sekitar kota Padang untuk memberi penerangan tentang perjuangan Republik Indonesia, terutama untuk memberi contoh apa yang diperbuat oleh pemuda-pemuda Indonesia di Aceh. Di Minang-
kabau masih banyak orang Jepang, mereka itu masih berkuasa di bebera- pa daerah dengan alat senjata yang lengkap. Sasaran yang kami utamakan sekarang ialah senjata-senjata Jepang itu dapat dirampas, sementara kekacauan-kekacauan dilakukan terus di dalam kota.
110902 .9v||26a m=46v 25m2ma m6b 7μm|2. 0528ba6b 2067 304mka 2182 ne0da 08216va3m. 296v .1808a 161a malcb 828dmam 046 .1867735
.11157m51 18122 1b 17696|a|9732. 101099 28μm916μm9m 206v 3020m0123 dedumeq o qmul malab ib laqmub tudot gno sisq sem Yusups4 k 5099088m59 380 8580m5m=80q69Pb6668P6m810g9508659c98 -2R6iF b hab 6401ghb8166j6578516mm8/5qm5bgmkv 222 amal2-msuiz dumudaijara ienmgib sgev.amso.8wded.odatesom.8a4aloaisuna 206680019.qsim2pa8679kb aeVajabne841a084.ma8664adydslai.uni dengda ddak rag mgo seakit jaa pun.qul090 634e ppam/mu09g -0meg1bdasmm2m62879d guev amao1 kibal mar1-81moT .mejb-mab |msou angaobukoboba aidyqoa sbumaq-abumoq uined. ingbdsmmbbaaluqabiudbvaesjoscmakamknmazem gaaba|gdkboa -8bum9qv0imm1 692n0,02 6q 50m 8nabk2.bm8mm7 ae2ammoqeommmavmsignm sbua5q -dpm2ib u1i avmiaiaba9zibgmav qoo1 agv| kge1s1 .a1sm9e aia aabb gnabal Nasokani b, dideka pn ada mpat yang berume bb maa qsi q gnea dibguga abe baedeq mabaiáyiscibainom gy aluq siznobn 616m|8m.a|0abgk8067994.486 9m|o4.4|caksiaa0oba| sbam996b69a7 0im9 aegm .smeadmom a0ed abnnk8 gno ai ua1 aub m|02 a9ab.kmi0 2b1 bns89nmg memoeu bd iamamakmb gane doloamadibgunee uahagapaneo.kbe9a n oge m ga detmeodmam dameastmaesnobnd liduqa nagneuioq g0a0o1 gnykaibsieabniebumqsbumqubiaudoqibgndjsqe
Para pencuri yang dilepaskan dari penjara cukup makan tangan. Mereka tidak saja membuat teror membunuh orang-orang Belanda, tetapi juga merampas dan memperkosa orang-orang perempuan. Bagaimana seorang perempuan Inggris diperkosa telah menggemparkan urat saraf kota Padang. Akibat dari perbuatan yang kejam itu maka banyak orang yang tidak bersalah telah dibunuh oleh Tentara Inggris. Kota Padang serta beberapa rumah di sekitarnya telah dibakar. Aku sedang membaca Alquran di dalam bilikku di Kantor Pembangunan itu. Petang itu petang Jumat. Tiba-tiba Omar masuk dan memberi tahu bahwa aku harus segera pindah dari rumah itu, karena telah diperoleh berita bahwa anggota pasukan Tentara Inggris akan menggeledah dan menangkap semua pemuda yang ada di dalam kota. Belum sempat aku bertanya lebih lanjut, ia telah menghilang. Kawan- kawan yang lain, yang tadinya sedang bercakap-cakap dan bermain kartu dalam ruangan tamu rumah itu telah hilang semua. Aku menggigil ketakut- an, ketika kuketahui bahwa aku tinggal seorang diri dalam rumah yang serba misteri itu. Bermacam-macam perkakas yang biasa digunakan oleh anggota SSS berselerak-tarak di sana sini, bahkan jas yang dulunya kena darah orang yang dibunuh itu pun masih tergantung di sangkutannya. Tiba-tiba aku teringat rumah guru-guru perempuan di belakang kantor itu. Aku pun segera berlari ke situ dan menjumpai salah seorang penghuninya. "Kami minta maaf, Dik," jawabnya. "Kami tidak dapat menolong. Kami ini orang-orang perempuan semuanya." "Tetapi di mana saya mesti bersembunyi?" tanyaku sambil memandang liar berkeliling. Aku menjadi semakin cemas apabila deru kendaraan berat semakin nyaring kedengaran, tidak putus-putus di jalan raya bahkan di sekitar tempat itu juga. Orang-orang yang berjalan kaki sudah tidak ada seorang pun di atas jalan raya, jalan menjadi lengang dan menyeramkan. "Cobalah Adik lekas-lekas mencarinya sebelum malam tiba," jawab
salah seorang guru yang berdiri di sebelah guru yang bercakap dengan aku itu. "Kami sendiri tidak dapat menolong." Aku berpaling dan berjalan meninggalkan tempat itu. Maksudku akan pergi ke Kampung Dhobie, karena di sana ada rumah seorang teman. Tetapi ketika aku ke luar ke tepi jalan raya, kulihat di ujung jalan di kiri-kanan telah berjajar tank dan jeep, tentara-tentara yang bersenjata berjalan kian kemari dengan sangkur yang terhunus. Aku masuk ke dalam rumah. Aku ambil wuduk dan masuk ke dalam bilik. Senja sudah mulai melabuhkan tirainya. Kupasang telinga untuk mendengar azan magrib dari masjid di Kampung Jawa, tetapi sampai hari sudah gelap gulita azan tidak juga kedengaran. Aku pun salat magrib dan kemudian membaca Alquran. Aku membacanya dari surat Al-Fatihah dan terus kubaca dengan tidak berhenti sampai waktu isya. Soal makan sudah tidak kuhiraukan lagi, dan dalam waktu membaca itu aku ber- angan-angan sendiri, bagaimana jika sekiranya aku ditangkap oleh tentara Inggris. Aku akan mengatakan bahwa aku orang dari Malaya. Datang ke Sumatera ini karena dipaksa oleh Jepang. Aku berada di rumah ini karena tidak mendapat tempat menumpang yang lain. Tentu mereka akan memper- cayai keteranganku itu, sebab aku sendiri dapat membuktikan bahwa aku orang Malaya. Barangkali sudah hampir pukul sebelas malam. Kelopak mataku begitu berat dan aku pun tidak tahu lagi apa yang kubaca. Maka aku pun merebah- kan diri di atas tempat tidur, sementara mata belum terpejamkan aku mem-
baca segala macam doa yang kuingat, sehingga aku tidak tahu kapan
sebenarnya aku terlelap. Aku terbangun karena mendengar suara ribut-ribut dan lebih terperanjat- nya lagi ketika aku melihat Moeaz berlumuran lumpur. "Kau dari mana?" aku bertanya dan melihat kepada teman-teman yang lain yang kebetulan sudah berkumpul kembali di dalam rumah itu. "Aku tidur di dalam got," jawabnya. "Hei, tak ada orang yang datang memeriksa di sini?" "Aku tidak tahu,"jawabku. Karena memang sebenarnya aku tidak tahu, sebab aku telah tertidur demikian nyenyaknya. Aku tidak,tahu apakah ada orang datang menggeledah rumah itu ataupun tidak. Tiba-tiba Omar masuk. Kami semua memandang kepadanya. "Kau tidur di mana semalam?" tanyanya kepadaku. Matanya yang tak pernah mengenal kompromi itu, begitu tajam memandang.sehingga aku tidak dapat menentang lama-lama.
"Aku tidur di sini," jawabku. "Masak?" dia heran dan seolah-olah tidak percaya. "Seluruh Belan- tung-kecil ini telah dikepung dan semua rumah telah digeledah. Kita belum tahu berapa orang pemuda yang sudah diangkut tentara." "Dia memang tidur di sini," Moeaz menambah keteranganku. "Aku tidur di dalam got itu dan akulah yang pertama sampai ke rumah ini." "Hai, jangan-jangan kau ada ilmu, Abdullah?" Omar mulai lembut. "Sehingga orang-orang itu tidak berjumpa dengan engkau." Secara jujur kuterangkan kepada mereka itu bahwa aku tidak ada me- makai ilmu apa-apa, kecuali aku membaca Alquran saja berulang-ulang sebelum aku tidur. Aku terangkan juga bahwa aku telah putus asa, karena aku ditinggalkan seorang diri dan pertolongan yang kuminta dari guru-guru perempuan itu pun tidak dapat pula. "Rumah mereka itu pun digeledah juga, bukan?" tanya seorang kawan lain. Sambil menjenguk ke luar ke arah rumah guru-guru itu. "Rumah kakak kena geledah semalam?" "Digeledah dan diperiksa habis," terdengar satu suara kecil sayup-sayup dari rumah itu. Aku menjadi bingung. Kawan-kawan yang lain tidak percaya bahwa aku tidak ada ilmu, biar betapa pun juga kuterangkan kepada mereka itu. "Mengapa mereka membuat penggeledahan begitu besar?" tanya seorang kawan kami, seorang pelukis muda yang sering melukis gambar-gambar untuk siaran SSS. "Cari nasi dulu," kata Omar. "Siapa yang dapat keluar, ke kota?" Semuanya diam. "Kami mau mendengar cerita dulu," sahut seorang teman yang di dekat jendela. "Pagi kemarin seorang mayor Tentara Inggris dan seorang perempuan Palang Merah telah mati terbunuh di Pantai Teluk Bayur ketika mereka mandi-mandi. Kabarnya perempuan itu telah diperkosa, apakah setelah dibunuh ataupun sebelumnya. Oleh sebab itu Tentara Inggris mengambil tindakan balasan untuk mencari orang yang bersalah. Menurut kete- rangan, mereka sudah mengetahui orang yang bersalah itu, karena ada orang yang melihat ketika kejadian itu terjadi. Tetapi orangnya bukàn orang-orang kita. Orang-orang kita tidak akan berbuat sedemikian kejam. Perbuatan serupa-itu tidak berperikemanusiaan. Apalagi kita tidak mau bermusuhan dengan Tentara Inggris. Kita memusuhi Nica dan kaki- tangannya." Seolah-olah ada satu naluri yang datang menggoda hatiku pada waktu itu.
Naluri itu mengatakan bahwa keselamatan kami terancam dan mungkin juga penggerebekan akan dilakukan sekali lagi. "Kita harus keluar dari sini," kata Omar selanjutnya. "Kita tidak boleh lagi berlama-lama di sini." Ucapannya itu seolah-olah menjawab kesang- sianku terhadap naluri yang kurasa tadi. "Ke mana kita mesti pindah?" tanya Moeaz. "Kita harus meninggalkan kota Padang. Kota ini telah terlalu panas bagi kita untuk bergerak." "Ke mana kita mesti pergi?" tanya seorang teman pula. "Kita mesti meninggalkan kota ini, masing-masing harus mencari jalan sendiri untuk keluar dari kota Padang. Siapa-siapa yang tidak mau pergi boleh tinggal di sini dengan risikonya sendiri." Tidak seorang pun berkata. Masing-masing diam dengan pikirannya sendiri-sendiri. Aku rasa perasaankulah yang paling rusuh pada, waktu itu. Aku tidak tahu ke mana harus pergi dan bagaimana caranya aku akan meninggalkan kota Padang yang sudah begitu ketat dikawal oleh Tentara- tentara Inggris. Lepas makan pagi, Moeaz mengajak aku ke pasar. Keadaan di pasar itu sudah mulai lengang. Orang-orang sudah tidak seramai ketika kami mula- mula sampai. Beberapa buah kedai kecil saja yang terbuka, itu pun hanya sebelah pintunya saja. Moeaz meninggalkan aku pada sebuah restoran. Kira- kira satu jam lamanya dia menghilang, tetapi aku tidak ke mana-mana karena mematuhi pesannya supaya menunggu sampai dia kembali. Aku sudah mulai gelisah, karena duduk menunggu tanpa sesuatu peker- jaan. Apalagi kawan untuk diajak bicara pun tidak ada. Di kiri-kananku semuanya berbicara dalam dialek Minangkabau. Aku mengerti apa yang dibicarakan, tetapi aku tidak dapat ikut serta dalam pembicaraan itu karena aku tidak begitu lancar dalam dialek mereka. Tiba-tiba kulihat Moeaz datang bersama-sama Mokhtar. "Mari kita pulang sekarang," kata Moeaz mengajak aku meninggalkan tempat itu. "Kita berangkat sore ini ke Pariaman." "Dengan apa?" tanyaku. "Dengan biduk," jawab Mokhtar.
Setelah makan tengah hari kami bertiga mengucapkan selamat tinggal kepada kawan-kawan di Kantor Pembangunan itu. Sedih juga hati kami mengenangkan perpisahan yang tiba-tiba itu, setelah bergaul dan berjuang bersama-sama. Dengan tak disadari air mata ke luar tanpa disekat-sekat lagi. Dalam masa seperti itu, kemungkinan untuk berjumpa kembali sudah tipis sekali, sebab itu kami mengucapkan selamat tinggal sambil berpeluk-pelukan dan bermaaf-maafan atas segala salah dan silap selama tinggal bersama. Kami meninggalkan rumah itu tanpa membawa barang. Kopor pakaianku yang kubawa dari Aceh kutinggalkan di rumah Yunus di Bukittinggi. Moeaz serta Mokhtar juga tidak membawa apa-apa selain dari sebuah bungkusan kecil. Kawan-kawan di Kantor Pembangunan itu mengantar kami sampai ke muka pintu rumah, dengan tidak berpaling lagi kami terus berjalan menuju ke Muara. Di tepi kali, tak jauh dari pabrik semen kulihat sebuah biduk yang sedang besarnya bertambat di pangkalan. Pada haluan biduk itu tertulis 'Tjantik Manis'. Barang-barang kami dimasukkan ke dalam biduk itu oleh awaknya, dan kami pun duduk di tepi pangkalan menunggu waktu berangkat yang belum pasti entah kapan. Ketika itu permulaan bulan Desember, tanggal 5. Keadaan udara tidak begitu cerah. Langit gelap dengan awan-awan tebal yang mengandung hu- jan. Jam setengah enam sore ketika biduk itu ke luar Muara, hari telah gelap benar, bagai diselungkup oleh kawah besar layaknya. Lampu- lampu yang berkerlap-kerlip kelihatan dengan indahnya di sepanjang pantai, ombak belum begitu besar. Pelayaran biduk itu tidak berapa lan- car, karena angin yang tidak tetap datangnya. Perutku sudah mulai terasa' mual mau muntah. Bau air laut yang ber- campur dengan bau ikan asin (karena perahu itu membawa ikan asin) menyebabkan napasku menjadi sesak dan sangat tidak menyenangkan.
Tetapi untunglah aku tidak sampai muntah. Karena biduk itu sedang
PERISTIWA·KEMERDEKAAN DI ACEH — 9
besarnya, maka tempat untuk kami bertiga pun sangat terbatas pula, awak-awak biduk itu yang tiga orang terpaksa mengalah. Mereka duduk di luar, tempatnya di bawah kajang diberikan kepada kami. Malam itu aku tidak berapa bernafsu untuk makan, tetapi Moeaz dan Mokhtar kulihat makan dengan enaknya. Mereka makan sambil ngobrol. Aku lebih lekas berbaring, melunjurkan kaki di sela-sela mereka itu. Perasaanku, yang biasa berkendaraan di darat, pelayaran biduk itu ter- lalu lambat. Ketika keluar dari Muara, juragan biduk itu menunjukkan kepadaku sebuah lampu yang berkelip-kelip dari jauh. "Itulah Pariaman," katanya. Tetapi setelah berjam-jam dalam pelayaran kulihat lampu itu sama saja jauhnya. Sehingga dengan demikian aku pun tertidur. Hujan turun seketika lamanya dan kemudian berhenti. Pagi-pagi sudah kelihatan Kampung Pariaman. Rumah-rumah dan kedai-kedai dapat dilihat dengan samar-samar. Kusangka tak lama lagi kami akan mendarat dan lepaslah siksaan yang kurasa amat menekan dalam biduk itu. Tetapi lantaran angin tidak tetap datangnya, maka sampai jam tiga sore kami masih saja terkatung-katung di-dalam laut. Mataku tidak lekang memandang ke tepi pantai yang pasirnya memutih itu, laksana sebuah garis lukisan memisahkan antara langit yang menjadi latar belakangnya dengan laut. Sekali-sekali ombak menghempas di tepi pantai itu, menyebabkan garis putih itu terganggu sebentar. Karena menunggu angin yang baik, maka biduk itu pun dilabuhkan di Pulau Ujung yang terletak tepat di Pantai Pariaman. Kami semua turun ke pulau itu. Agak lega juga sedikit karena dapat meluruskan kaki setelah duduk meringkuk selama dua puluh jam. Pulau itu tidak ber- penghuni, keadaan laut di sekelilingnya berkarang. Rupanya keadaan dalam biduk itu tidak saja tidak sesuai dengan diriku, melainkan juga dengan kawan-kawanku Moeaz dan Mokhtar. Oleh sebab itu ketika sebuah perahu nelayan lewat di dekat pulau itu menuju ke Pariaman, maka kami pun menumpang ke darat. Mokhtar dan Moeaz ada membawa granat-tangan seorang satu. Dan alangkah pucatnya muka kami ketika perahu nelayan itu sampai ke tepi, seorang pemuda berdiri seolah-olah sengaja menunggu kedatangan kami. Ia lebih dulu menegur kami. "Saudara-saudara datang dari U68 Padang bukan?" Aku tidak menjawab. Karena akan ketahuan bahwa aku bukan anak Minang asli. Oleh sebab itu kuberi isyarat pada Moeaz dan ia pun menjawab mengatakan kami dalam perjalanan pulang ke kampung di Sasak
dan karena keadaan biduk yang kami tumpangi itu melelahkan badan maka kami memilih jalan darat saja. "Saya tahu," katanya, dengan sebuah senyuman sinis. "Saudara- saudara ada membawa senjata api?" "Tidak ada,"jawab Moeaz. "Saya cuma memberi peringatan saja," ujar pemuda itu. "Di sini masih ada Tentara Jepang dan tiap-tiap orang lebih-lebih pemuda akan diperiksa dengan teliti. Kalau kedapatan membawa senjata api, maka ia akan ditangkap dan dibawa ke sebuah kemah tahanan. Tanda-tanda RI juga tidak boleh dipakai di sini." Kami berpandang-pandangan satu sama lain. Dalam hatiku bertanya: siapakah agaknya pemuda ini kawan atau lawan? Tetapi aku tak sempat menjawab pertanyaanku karena orang sampan yang membawa kami itu, membawa barang-barang kami ke darat dan kami pun mengucapkan terima kasih kepada mereka itu. Sama dengan orang-orang biduk "Tjantik Manis" juga, mereka tidak mau diberi upah. Pemuda yang bicara dengan kami tadi telah berlalu dari situ, tetapi dia menuju arah ke selatan. Kami bertiga menenteng barang-barang dan berjalan. "Bagaimana dengan telur ayamku ini?" tanya Moeaz, sambil meme- gang-megang kantung celananya. "Berikan kepada Abdullah," ujar Mokhtar. Hatiku kecut mendengar sarannya itu. Tapi aku tidak berani menolak, sekiranya Moeaz menye- rahkan kepadaku. Dalam hatiku berdoa agar usul itu tidak diterima Moeaz. Tetapi belum sempat pikiranku itu menghilang, Moeaz meraba- "aba kantungnya dan mengeluarkan benda bulat hitam, bergaris-garis itu. Lebih besar sedikit daripada telur angsa. "Tolong kau bawa," katanya. "Aku nanti berjalan dulu memancing Tentara Jepang. Kalau benar-benar mereka melakukan pemeriksaan yang teliti kepadaku, kamu berdua balik lagi ke sini dan berbuatlah apa yang patut dengan benda-benda itu." Ia terus berjalan tergesa-gesa. Kami menunggu sampai dia jauh benar barulah kami menyusul perlahan-lahan. Waktu dia sampai ke dalam Pekan Pariaman, dari jauh kami melihat beberapa orang Jepang yang membawa senapan dengan bayonet terpasang dilarasnya berjalan ber- ulang-alik. Tetapi mereka tidak melakukan pemeriksaan. Melihat itu hati kami senang sedikit dan kami pun berjalan menuju ke tempat Moeaz itu. Beberapa meter lagi dari tempatnya, kami lihat sebuah sado berhenti
dan Moeaz pun naik, ia duduk di depan di samping kusir. Kami terus saja naik dan duduk di belakang. Ada juga orang-orang yang meman- dang kepada kami, tetapi kami pura-pura tak menghiraukan mereka itu. Sado itu pun berjalan. Di sepanjang jalan antara Pariaman dan Tiku, kulihat banyak sekali rumah-rumah batu, di antara rumah-rumah papan yang besar dan kecil. Di samping rumah yang sudah berpenghuni itu, banyak pula rumah-rumah yang belum siap, ada yang baru didirikan tiangnya saja dan ada pula yang sudah berdinding tetapi tidak beratap. Pohon-pohon pisang atau pohon buah-buahan yang lain telah tumbuh di dalam rumah-rumah yang terbengkalai itu. Hatiku ingin bertanya, mengapa banyak sekali rumah-rumah yang belum siap dan terbengkalai itu, di kiri-kanan jalan. Aku menyangka rumah-rumah itu seperti bekas dibakar Jepang, tetapi kalau dibakar tentulah pohon-pohonan itu tidak ada. "Mengapa banyak sekali rumah-rumah yang belum siap?" tanyaku dengan tidak sabar lagi. "Ini nasibnya orang pergi merantau, Nak," jawab tukang sado itu.
"Saya kurang mengerti," ujarku untuk meminta penjelasan yang
lebih lanjut lagi.
"Bagi orang-orang Pariaman ini sudah menjadi adat. Biar di mana juga mereka merantau, selalu mengirimkan uangnya ke kampung. Uang itu dibelikan tanah dan dibuatkan rumah oleh keluarganya. Rumahlah yang paling banyak, sebab kebanyakan mereka itu ada mempunyai tanah. Ibu atau bapaknya membuat rumah menurut penerimaan kiriman
dari anaknya. Kalaulah keadaan anak yang di rantau itu tetap baik,
maka selesailah rumahnya dan kalau tidak maka terbengkalailah rumah itu, dan yang tidak selesai itu ialah rumah-rumah yang sudah tidak men- dapat kiriman lagi dari rantau."
Dalam perjalanan dari Pariaman ke Tiku kami melewati kampung
Naras, Sungai Limau (aku teringat pada kampungku di Kedah yang se-
rupa namanya) dan Kasan Gedang. Pemandangan di kampung tersebut biasa saja, seperti kebanyakan kampung-kampung di Tanah Melayu iuga. Cuma pada waktu itu di sana-sini terdapat bendera Merah-Putih berkibar-kibar dan banyak pula penduduk kampung kulihat memakai len- cana palu-arit.Kebanyakan penduduk kampung di sini dipengaruhi oleh anasir-anasir-Komunis. Kusir sado yang kami tumpangi itu tidak mau masuk ke dalam Pekan Tiku. Dia berhenti kira-kira dua ratus meter dari pekan dan menyuruh kami turun berjalan kaki masuk ke dalam pekan itu. Menurut keterangan-
nya dia takut kepada orang Jepang yang sedang mengawal dengan senapan bersangkur, tepat di jalan masuk ke pekan itu. Tadi kami telah mendengar ceritanya tentang pertempuran yang telah terjadi di Tiku beberapa hari yang lalu antara orang-orang Jepang dengan orang-orang Indonesia. Kabarnya korban dari pihak Jepang ada 17 orang dan dari pihak Indonesia satu orang tewas, dan satu orang luka-luka. Sejak pertempuran itu kedudukan orang-orang Jepang di Tiku telah diperkuat sedemikian rupa dan pemuda-pemuda Indonesia pun diburu habis- habisan, sehingga di pekan kecil itu sekarang hanya terdapat orang-orang tua saja. Moeaz berjalan lebih dulu sebagai pelopor. Kulihat dia diperiksa dengan teliti oleh Jepang yang jaga itu, celana dan bajunya diraba. Bungkusan yang dibawanya pun disuruh buka dan dalam waktu itulah aku berjalan bersama-sama Mokhtar. Aku dan Mokhtar sangat takut, karena dalam kantung kami ada granat-tangan yang kami bawa dari Padang. Ingin membuang benda yang berbahaya itu sudah tidak sempat lagi, lalu kami pun dengan nekat berjalan perlahan-lahan di belakang Moeaz. Aku dan Mokhtar membaca Surat Al-Nas dan Surat Al-Falak berulang-ulang. Entah mengapa maka surah-surah itu yang kami baca aku pun tidak tahu. Tetapi kami telah lewat tanpa disadari oleh Jepang itu. Kami tidak diperiksa. Aku dan Mokhtar masuk ke kaki lima dan menunggu Moeaz. Di kaki lima itu ada beberapa orang tua-tua. Ketika mereka melihat kami datang maka mereka pun dengan segera menyuruh kami masuk ke dalam sebuah warung kopi dan terus ke dapur. Dapur warung itu terbuka ke mesjid yang terletak di belakangnya. Kami dibawa ke mesjid itu dan setelah sampai ke dalamnya barulah mereka itu bertanya. "Tuan-tuan ini datang dari mana?"
"Kami datang dari Padang," jawab Mokhtar dalam dialek Minangka-
bau. Belum sempat orang-orang itu melanjutkan pertanyaannya, Moeaz pun masuk. Kami memandang kepadanya, mukanya agak pucat sedikit.
"Celaka," katanya mengutuk. "Jepang itu mau menahan aku di tang-
sinya." "Jadi bagaimana kau bisa lepas?" tanyaku dengan bernafsu.
"Aku katakan kepadanya bahwa aku akan pulang ke kampung dan aku
bukan orang Tiku." Dia percaya?"tanyaku lagi. "Setelah memeriksa lututku." "Lututmu diperiksa, mengapa?"
"Kalau-kalau ada calar bekas merangkak barangkali. Setelah dilihat- nya tidak ada lalu aku diperbolehkan lewat dengan peringatan mesti tidak boleh singgah." "Tetapi sekarang hari telah senja. Kita tidak akan dapat berjalan di dalam gelap." Orang-orang yang bersama kami itu memandang satu sama lain. Agaknya mereka itu ingin mengajak kami bermalam di situ tetapi mereka khawatir terhadap peringatan Jepang itu. "Kita boleh bermalam di sini," jawabku. "Kita tidur di mesjid ini." "Tidak usah tidur di mesjid," jawab seorang yang sudah separuh umurnya. "Marilah Tuan-tuan tidur di rumah saya. Pagi-pagi besok Tuan-tuan berangkat." "Bagaimana dengan Jepang-Jepang itu?" tanya Mokhtar. "Dia tentu menyangka Tuan-tuan telah pergi dan kalau mereka me- meriksa nanti malam, saya katakan Tuan-tuan menunggu sampan. Tuan-tuan ada bawa senjata?" "Ada dua biji granat-tangan," jawab Mokhtar. "Lebih baik disingkirkan dulu benda-benda itu," kata orang yang mengajak kami itu. "Mari!" Kami pun ke luar mengikutinya menuju ke tepi laut. Pantai itu tidak jauh letaknya dari mesjid. Setelah melihat ke kiri dan ke kanan maka kami pun menanam granat-tangan itu di situ. Setelah makan malam, barulah aku tahu mengapa kami didesak untuk menginap di Tiku pada malam itu. Orang-orang di situ ingin mengetahui ilmu yang kami pakai untuk dapat meloloskan diri dari pemeriksaan Jepang itu. Mereka percaya kami dapat menghilang dari mata musuh walaupun pada mata kawan kami kelihatan jelas. Aku tersenyum mendengar permintaan mereka itu. Aku bertanya pada Mokhtar kalau-kalau dia benar-benar mempunyai ilmu. Dia pun tersenyum juga. "Kami memerlukan ilmu serupa itu," kata tuan rumah. Orang-orang yang lain, kira-kira enam orang semuanya ikut mengangguk-anggukkan kepalanya, membenarkan permintaan tuan rumah itu. "Kami akan ber- tempur dengan Jepang tidak lama lagi. Keadaan di sini sudah tambah panas dan kami tidak tahan melihat kekasaran dan kekejaman yang di- lakukan oleh mereka itu. Tuan-tuan lihat sendiri bagaimana Saudara Moeaz ini diperiksa tadi." "Sebenarnya kami tidak memakai ilmu apa-apa. Entahlah karena ta-
wakal kami agaknya, maka kami tidak diapa-apakan oleh Jepang itu," jawabku dengan tenang. "Tetapi Tuan-tuan mesti ada memakai sesuatu," katanya mendesak. "Kalau tidak, tentu Tuan-tuan diperiksa juga oleh Jepang itu." "Entahlah!" jawabku. "Kalau Tuan-tuan mau percaya barangkali juga boleh. Kami hanya membaca Surat Al-Nas dan Surat Al-Falak saja berulang-ulang." "Itu saja?" orang itu mendesak. "Ya, itu saja,"jawab Mokhtar memperkuat keteranganku. Semua orang di dalam rumah itu membaca surah itu berulang-ulang. Kemudian tuan rumah berkata, kebetulan dia yang lebih cerdas kelihat- annya. "Aneh juga. Begitu sederhana tetapi kesannya begitu hebat. Syukurlah kepada Allah yang telah mengantarkan Tuan-tuan kemari. Mengapa Tuan-tuan membaca surat itu?" "Saya mendapatnya ketika saya di Padang," kataku dan aku pun menceritakan kepada mereka tentang pengalamanku ketika ditinggalkan kawan-kawan seorang diri di dalam rumah di Belantungkecil. Aku ter- ingat pada maksud surat itu. Tentu ada hikmah yang besar maka Allah menurunkannya kepada Nabi. Hanya sekarang aku membacanya berulang-ulang sebagai doa.
Semua orang mengangguk-anggukkan kepalanya, membenarkan kete-
ranganku itu. Beberapa orang membaca keras-keras surah-surah itu berulang-ulang. Kemudian mereka menceritakan kepada kami tentang per-
tempuran yang telah terjadi di Pekan Tiku itu. Seorang Jepang telah ber-
pihak kepada orang-orang Tiku. Menurut keterangan mereka, Jepang itu telah berikrar taat setia kepada Republik Indonesia, dia turut dalam badan
pengurus Pemuda Republik Indonesia di situ dan menjadi ketua bagian
keamanan. Dialah yang memimpin pertempuran itu. Orang-orang Tiku telah meminjam kepada kami dua buah sepeda untuk digunakan dalam perjalanan menuju ke Sasak. Untuk membalas budi baik mereka itu kami menghadiahkan granat-granat itu, dan mereka sangat berterima kasih,tidak saja karena hadiah itu tetapi juga karena ilmu yang telah kami ajarkan. Ketika mendayung sepeda di atas jalan yang tidak dapat dikatakan jalan sepeda itu, Moeaz bertanya kepadaku, "Betulkah ilmu kau itu?" "Mudah-mudahan saja dengan keyakinan mereka itu, ilmu itu akan berguna," kataku. Dalam hati diam-diam aku berdoa kepada Allah mudah-mudahan amalanku itu diterima oleh-Nya.
Jalan yang kami tempuh sungguh tidak menyenangkan, kadang-kadang berjalan kaki dan menuntun sepeda itu. Bersampan menyebe- rangi sungai yang dalam dan besar, memikul sepeda sambil menyebe- rangi sungai-sungai kecil yang airnya hingga pinggang, melewati hutan lebat dan menakutkan, melewati kampung Tiagan dan kampung-kampung kecil lainnya. Kadang-kadang menunggangi sepeda itu di atas pasir di tepi pantai dan kadang-kadang di sela-sela pohon kelapa. Karena sepeda itu hanya dua, maka kami berganti-ganti membawa penumpang. Siapa yang kepayahan ikut membonceng. Ketika matahari sudah condong ke barat kami pun sampai di sebuah kampung yang ber- nama Mandiangin. Letak kampung itu sangat sesuai dengan namanya. Penduduk di kampung itu tidak berapa banyak, tetapi mereka semuanya baik-baik, perempuannya cantik-cantik, seolah-olah negeri dewa. Keba- nyakan penduduk di kampung itu sangat miskin, mereka hanya memakai kain goni dan kulit kayu. Pakaian yang dapat dikatakan baik hampir tidak ada. Kami menumpang di rumah ketua kampung. Rumahnya besar dan itulah satu-satunya rumah yang beratap seng di kampung itu. Anak tuan rumah itu semuanya bersekolah di luar, ada yang ke Padang dan dua orang anak perempuannya baru saja pulang dari Jawa. Karena perjalanan yang begitu jauh, maka aku sudah tidak dapat me- nahan keringat yang lengket di tubuhku. Aku perlu mandi sebelum makan. Tetapi ketika maksud itu kusampaikan kepada Moeaz, sambil melotot ia mengatakan kepadaku: "Di sini tidak boleh mandi. Orang-orang disini jarang yang mandi. Mereka mandi angin saja." Mula-mula aku tidak percaya. Aku sangka Moeaz berolok-olok saja untuk menyesuaikan nama tempat itu dengan perbuatan penduduk-pen- duduknya. Tetapi ketika aku mengatakan: "Ah, yang benar sajalah, Moeaz!" "Ini benar," katanya dengan sungguh-sungguh. "Aku tidak main- main. Menurut kepercayaan orang-orang di sini, kalau orang luar mandi di tempat ini maka dia tidak akan keluar lagi dari kampung ini, dia akan tinggal dan kawin di sini." Waktu dia mengucapkan kata kawin, terbayang dalam ingatanku anak gadis tuan rumah yang baru pulang dari Jawa. Kalau aku terpaksa kawin dengan dia aku rela berkorban tidak mengapa, biarlah aku tinggal di Mandiangin ini untuk selama-lamanya. Jika telah berumah tangga nan- ti, ia akan kubujuk pindah ke kota, apalagi dia sendiri telah pernah meng- hirup udara kota?
Agaknya Moeaz dapat menangkap apa yang kupikirkan pada waktu
itu. "Kami tidak mau kau tinggal di sini. Kami tidak mau perjuanganmu
hanya sampai ke Mandiangin ini saja." Aku pun sadar dari angan-anganku itu."Jadi aku tidak boleh mandi? Tetapi aku tidak akan dapat tidur kalau badanku lengket seperti ini. Kau kan tahu bahwa hal ini tak pernah kutinggalkan sejak kita dalam per-
jalanan." Moeaz memperlihatkan kegusarannya dengan kerutan-kerutan pada
alisnya. Karena dia tahu benar bahwa aku pantang dilarang. Bagiku walaupun telah ada benih waswas tertanam dalam hatiku, namun tekad untuk mandi itu ingin tetap kulaksanakan.
"Aku telah mengatakan kepadamu apa yang kuketahui, jikalau kau
mau mandi juga terserah kepadamulah," jawabnya dengan putus asa. "Di mana timbanya?"
"Pergilah minta di dapur. Timba tidak pernah diletakkan di perigi,
sebab orang-orang di sini tidak pernah mandi." Moeaz masih mau menanamkan pengaruhnya kepadaku. Aku pun pergi ke dapur rumah itu. Salah seorang anak gadis tuan rumah itu sedang berdiri di muka pintu. Dia tersipu-sipu melihat aku datang mendekatinya, tetapi dia tidak lari karena dia gadis terpelajar. "Ada apa?" tanyanya dengan suara merdu dan wajah yang manis. "Ada timba?" tanyaku dengan muka yang lebih manis lagi.
"Timba?" dia heran dan tercengang. Kulihat timba ada di depannya, di atas bangku panjang di muka pin-
tu. Tetapi dia tertegun sebentar. "Oh ya timba," katanya kemudian dan
diberikannya timba itu kepadaku. Kusambut timba itu dan terus menuju ke mesjid. Mula-mula perbuat- anku itu tidak berapa menarik perhatian orang ramai, sebab mereka menyangka aku hendak mengambil air untuk berwuduk. Tetapi setelah mereka melihat aku meimbuka baju dan memakai kain basahan yang ku- bawa sendiri, maka mulailah orang-orang berkumpul dan melihat aku mandi seperti menonton orang bermain sulap. Melihat orang begitu banyak memperhatikan aku mandi, maka semangat untuk mandi pun mulai kendur dan hatiku semakin kecut. Ketika itu barulah aku merasa menyesal karena tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Moeaz. Aku memandang berkeliling mencari Moeaz dan Mokhtar, untuk mendapat kekuatan kembali. Tetapi mereka tidak kelihatan batang hidungnya.
Aku pun terus mandi perlahan-lahan. Anak-anak kecil lebih berani lagi,
mereka datang mendekati sampai hampir kena percikan air yang kusi- ramkan ke badan. Setelah selesai mandi aku pun mengambil wuduk dan membawa kembali timba itu ke dapur rumah, dalam timba itu kuisi air. Betapa pun gembiranya kami pada malam itu, tetapi hatiku selalu saja merasa kurang enak, karena terasa bagai ada sesuatu hal yang kurang wa- jar yang telah kuperbuat. Lepas makan kami banyak bercerita tentang berbagai hal. Anak-anak gadis tuan rumah itu menceritakan kisah mereka selama di Jawa dalam pemerintahan Jepang. "Saudari tidak ingin meneruskan pelajaran kalau keadaan telah nor- mal kembali nanti?" tanyaku. "Saya rasa tidak lagi," jawabnya. "Saya akan membuka sekolah di kampung ini." "Apakah di sini tidak ada sekolah?" tanya Mokhtar. "Ada. Tetapi guru-gurunya sangat susah diperoleh. Kebanyakan guru-guru tidak mau datang kemari, karena tempat ini jauh. Sekarang ini guru-guru itu anak-anak kampung ini sendiri." Malam itu agaknya karena letih, maka aku tidur dengan nyenyak sekali. Angin laut yang berhembus dengan kencang itu menyebabkan kami tidur lelap. Moeaz bangun lebih dulu, kemudian aku pun terjaga dan bangun. Aku tidak mandi lagi. Kami cuci muka saja. Setelah sarapan maka kami pun mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah dan keluarganya. Kami hadiahkan uang beberapa ratus rupiah kepada anak-anak kecil yang ada di rumah itu. Setelah itu kami pun meneruskan perjalanan ke Sasak. "Datanglah lagi," kata anak-anak gadis manis itu. Mereka mengucapkan kata-kata itu hanya sebagai pemanis mulut belaka. Mereka tahu bahwa kami tidak akan datang lagí, walaupun hatiku sendiri sangat ingin mengunjunginya, andaikata tidak sejauh itu. Sekali lagi kami melintasi hutan-hutan yang lebat, Derjalan menuntun sepeda di atas pasir di tepi pantai. Kira-kira tengah hari kami pun sampai di Sasak, sebuah pekan kecil di muara Sungai Pasaman. Kami berhenti di pekan itu sampai jam lima sore, kemudian menyeberang sungai luas yang bergelora dengan ombak menuju ke Maligi, kampung Moeaz. Kira-kira jam tujuh kami pun sampai. Dan kami sudah tidak kuat lagi untuk berjaga sampai jauh malam. Badan kami capek sekali. Setelah makan kami pun tidur dengan nyenyak sampai tengah hari. Maksud kami akan tinggal beristirahat di sini beberapa hari lamanya. Pagi-pagi barulah aku mengetahui, bahwa kampung itu merupakan
sebuah pulau kecil yang dikelilingi air. Letak kampung itu sangat baik, agak jauh dari laut, terpisah dari pantai pasir oleh sebuah selat kecil. Rumput yang tumbuh di sela-sela pohon kelapa, sangat subur dan seperti dipangkas layaknya. Di sebelah utara kelihatan Gunung Pasaman yang indah dan'sangat menarik bentuknya. Kebanyakan penduduk kampung bekerja menangkap ikan, keadaan mereka sangat miskin terutama sekali dalam soal pakaian. Aku telah diminta memberi ceramah di kampung itu. Penduduknya menyambut kedatangan kami bagai menyambut pembesar negeri, mereka keluar beramai-ramai dan kemudian memberi jamuan makan, kebanyakan hidangannya terdiri dari bermacam-macam jenis ikan. Aku dan Moeaz lebih banyak meratah ikan daripada makan nasi, apalagi nasi sangat kurang di sini. Setelah empat hari di Kampung Maligi, maka kami pun berangkat menuju Sasak untuk kembali ke Bukittinggi. Mula-mula kami membuat rencana akan mengambil jalan Talu, tetapi karena keadaan perhubung- an yang begitu sukar, maka kami pun mengubah haluan perjalanan menuju ke Tiku kembali. Mokhtar tetap tinggal di Sasak karena ia akan meneruskan perjalanan ke Sibolga dan kemudian ke Barus dan Meula- boh, kampungnya. Dari Sasak kami menumpang sebuah biduk yang bernama 'Sri Minang'. Jam sebelas malam kami mulai bergerak ke luar dari muara sungai yang luas itu. Ombak yang besar bergulung-gulung datang dari haluan, dan biduk itu pun oleng ke kiri dan ke kanan menahan paluan ombak. Pada waktu itu hatiku menjadi kecut sekali melihat keadaan biduk itu, kubayangkan biduk,itu akan hancur di muara sebelum sampai di laut. Tetapi anak-anak biduk itu begitu cakap mengemudikannya. Setelah satu jam lebih berjuang dengan angin dan ombak, maka selamatlah biduk itu ke luar, ke laut. Malam gelap tidak berbintang, seolah-olah hujan atau angin yang besar akan datang layaknya. Tetapi anak-anak biduk itu mengatakan kepada kami bahwa angin itu segera akan hilang dan hujan tidak jadi. Memang benar demikian, walaupun mereka tidak mempunyai alat-alat modern seperti radar, tetapi dari pengalamannya mereka mengetahui tentang perubahan udara. Kira-kira hampir dinihari, bulan mulai tim- bul. Bulan sudah tua, tetapi cukuplah menjadi mata dunia untuk melihat kami yang berlayar di tengah lautan itu, menjadi saksi kepada perjalanan kami. Biduk itu lebih besar daripada biduk 'Tjantik Manis' dulu, berlayar dengan tenangnya. Dari buritan terdengar dendang pelaut yang dilagukan oleh jurumudi, dengan kaba Minangkabau yang terkenal, Ia
menyanyi untuk menghibur hatinya, yang sendirian di subuh pagi itu. Entah teringat pada kekasihnya yang ditinggalkan ataupun pada kekasih yang akan diketemuinya di tempat tujuannya. Sesekali dendangnya itu ditingkah oleh bunyi ciutan tali-temali yang tegang karena ditekan angin. Meskipun pelayaran kami sekali ini lebih baik daripada pelayaran yang dulu, tetapi aku tidak dapat memejamkan mata dengan nyaman. Otakku penuh dengan berbagai pikiran. Untuk pertama kalinya selama perjalanan ini aku teringat ke kampung. Aku teringat ke Kedah, dan dari sana pikiran itu mengelana pula ke Langsa, aku teringat pada istriku di Kotacane dan kemudian ingatan itu ditutup oleh gambaran baru tentang kawan-kawanku. Apa yang mereka lakukan dan apa yang sudah terjadi semenjak aku tinggalkan. Karena malam yang sunyi dan pikiran kosong maka ingatan-ingatan seperti itu datang mengisinya. Dan aku tidak dapat memejamkan mata- ku sampai matahari terbit di sebelah timur. Aku bangun dan berdiri di terali biduk memandang matahari yang sedikit demi sedikit muncul dari permukaan laut. Keadaan di sekitar tempat matahari itu muncul begitu indah sekali dengan lukisan-lukisan alam yang asli. Air laut di sekitar tempat matahari bersinar tampak berkilau-kilauan. Pada waktu siang tidak ada yang kami kerjakan, selain hanya ber- angan-angan sendiri. Pikiranku tadi malam kembali bermain dalam ingatanku. Dan setelah lelah dengan angan-angan itu aku pun berbaring- baring di atas geladak, berjemur di tempat panas. Dua malam kami dalam biduk itu, maka sampailah kami ke Tiku dan berlabuh di kualanya. Melihat ada biduk yang datang, orang-orang Jepang di pekan itu datang untuk memeriksa. Orang-orang kampung pun datang untuk melihat siapa yang datang dan apa yang dibawa oleh biduk itu. Ketika mereka melihat aku dan Moeaz maka berseri-serilah muka mereka itu. Mereka menyambut kami berdua sebagai menyambut ulama besar. Diajaknya singgah di rumahnya dan dimintanya supaya kami bermalam lagi di situ. Kami menolak, dan petang itu juga kami terus berangkat dengan sado ke Pariaman. Dari Pariaman kami menum- pang kereta api ke Padangpanjang. Moeaz membawa aku menginap di Bengkel Mas yang dimiliki oleh Dt. Maka. Di situlah aku berkenalan dengan E. Rustam, seorang tokoh PKI dan kawan-kawannya. Ketika kami sedang ngobrol terdengarlah bunyi beduk isya. Anehnya E. Rustam menyuruh salah seorang anak buahnya
membaca iqamat dan kemudian dia menjadi imam, kami lalu salat ber- jamaah. Ketika selesai salat, aku ingin sekali bertanya tentang paham komunisnya itu. Sebab setahuku komunis itu tidak beragama. "Mengapa engku salat? Setahu saya orang-orang komunis tidak perca-
yakan pada Allah."
"Ini komunis Indonesia," jawabnya pendek. Dan aku pun menjadi ragu-ragu dengan jawabannya itu, apakah komunisnya mereka itu hanya nama saja. Mereka menganut paham komunis karena mereka ingin mendapat satu partai yang revolusioner untuk menggugat penja- jah, sedangkan dalam diri mereka masih tetap menjadi umat yang per- caya tentang adanya Allah. Lepas makan malam kami pergi menonton pertunjukkan sandiwara 'Ratu Asia' yang dipimpin oleh Sjamsuddin Sjafiil, seorang temanku dari Aceh. Mereka juga baru hijrah dari Padang. Ketika aku dan Tengku Ismail sampai di Padang dulu mereka sedang bermain di sana, pernah satu malam aku ikut menontonnya. Malam itu mereka mempertunjuk- kan cerita 'Bangkai Bernyawa'. Sedang kami asyik menonton tiba-tiba gedung itu digerebek oleh Tentara Inggris dibantu oleh laskar-laskar Nica. Para pejuang lari berpencaran, ada yang sempat naik ke atas pen- tas dan berpura-pura menjadi anak wayang. Pertunjukan itu dihentikan hanya sampai setengah jalan saja. Malam itu ialah malam pertama mereka di Padangpanjang. Sebagai biasa pada malam pembukaan seperti ini tidak pernah dihidangkan cerita, melainkan dipenuhi dengan acara-acara hiburan yang menarik hati. Tarian-tarian, nyanyian dan lelucuan. Ketika sedang asyik kami menonton, tiba-tiba kulihat Omar berjalan ke depan membawa satu karangan bunga. Karangan bunga itu kemudian disambut oleh seri panggungnya. Itulah tanda yang harus kami perhatikan, tanda yang dipesankan kepada kami ketika akan berpisah di Padang dahulu. Setelah menyerahkan karangan bunga itu Omar pun ke luar dan dia menunggu di luar panggung. Semua para pejuang yang berasal dari Kantor Pembangunan ikut ke luar dan bertemu di halaman panggung itu. Omar membawa kami semua ke Kantor PRI.2 Hampir semua kawan- kawan dari Padang hadir, kecuali beberapa orang yang dari dulu tidak mau beranjak dari kotanya itu.
- Pemuda pelakon veteran film-film Indonesia
2. Pemuda Republik Indonesia
Kulihat wajah Omar muram saja. Aku pun mengetahui bahwa ada perkara-perkara yang tidak menyenangkan hatinya telah terjadi selama kami berpisah. Setelah semua kawan-kawan berkumpul dan selesai bersalam-salaman serta menanyakan kabar, maka Omar pun bicara dengan ringkas, "Saudara-saudara," katanya. "Saya merasa sangat bergembira karena hampir semua kawan-kawan dapat berkumpul di sini. Saya ingin menyampaikan kabar kepada Saudara-saudara sekalian, bahwa keadaan perjuangan kita menghadapi masa yang genting. Keadaan di kota Padang sejak kita tinggalkan menjadi semakin panas dan baru-baru ini sebagian dari kota Padang telah dibakar oleh Tentara Inggris, malah rumah kita di Belan- tungkecil juga telah musnah dijilat api. Tetapi kita harus kembali ke Padang, semangat kita tidak boleh luntur karena perbuatan-perbuatan provokasi seperti itu. Kita harus berjuang bersusun bahu dengan pemimpin-pemimpin kita yang masih bertahan di sana dan saya harap Saudara-saudara akan ikut bersama-sama saya kembali ke Padang apabila segala sesuatu telah kita atur." Selesai dia bicara itu, suasana dalam ruangan pertemuan itu menjadi kacau beberapa saat. Aku tidak dapat menggambarkan dengan jelas, bagaimana marahnya para pemuda itu mendengar berita yang baru itu. Memang kami semua tidak mengetahui sedikit jua pun bahwa kota Padang telah dibakar sedemikian rupa. Setiap orang berkobar-kobar se- mangatnya dan íngin kembali segera ke Padang. "Tetapi," kata Omar, setelah keadaan tenang kembali. "Saudara-saudara jangan silap. Kita sekarang tidak saja menghadapi musuh yang terang-terangan, tetapi juga musuh dalam selimut. Mata-mata musuh banyak tersebar dalam masyarakat kita dan mungkin juga dalam ka- langan kita sekarang ini pun mata-mata itu ada." Ia diam dan memper- hatikan muka kami satu per satu seolah-olah mau menguji tuduhannya itu. Semua kawan-kawan diam tidak berkata-kata dan membalas pan- dangan Omar dengan rasa ketakutan. "Kalau ada musuh yang seperti itu, kita berhentikan saja dia menjadi manusia," jawab Moeaz. Itulah pertama kali aku mendengar Moeaz berbicara dengan penuh semangat. Ia seorang yang berperawakan tinggi dan sedikit bungkuk. Segala gerak-geriknya dan apa șaja yang dilakukannya selalu lambat dan 'lalai'. Tetapi dalam kelambamannya itu rupanya tersimpan semangat baja, seperti semangat yang baru saja dicetuskannya.
"Memang itulah hukumannya kalau orang seperti itu ada dalam kalangan kita," jawab Omar. "Sekarang siapa yang akan kembali ke Padang?" Hampir semua mengangkat tangan. Aku menjadi serba salah sebab aku telah berniat akan kembali ke Aceh. Tetapi kalau aku tidak angkat tangan seperti mereka, maka mungkin aku akan dituduh sebagai mata- mata. Dalam keadaan seperti itu kemungkinan selalu ada. Akhirnya aku mengangkat tangan juga. Setelah selesai, maka setiap orang diminta memberikan alamatnya untuk dihubungi apabila perlu. Omar menyuruh aku menunggu seben- tar, sehingga kawan-kawan yang lain telah ke luar. Moeaz juga ikut bersama-sama kami tinggal di kantor itu. Kau mau ikut lagi dengan kami ke Padang?" tanya Omar, seolah- olah dia dapat membaca perasaan yang sedang bergolak dalam hatiku tadi.
"Mengapa pula tidak?" tanyaku sebaliknya, karena ingin menyembu-
nyikan perasaanku sendiri. "Barangkali kau tidak tahu apa yang sedang terjadi di Aceh sekarang ini," katanya dan ia diam menunggu reaksiku. "Apa yang sudah terjadi?" tanyaku dengan hati yang berdebar-debar.
"Pertempuran telah terjadi antara para pejuang Republik Indonesia
dengan orang-orang Jepang di Aceh Timur." "Di Aceh Timur?" "Ya, di Aceh Timur," katanya dengan tenang. Aku belum pernah me- rasa gelisah yang amat sangat selama dalam perjalanan ini, tetapi sekarang kegelisahan itu telah mulai mengganggu hatiku. Tiba-tiba saja seluruh tubuhku terasa bagai digoncang oleh perasaan itu. Aku diam termenung tidak berkata apa-apa. "Selain daripada itu, kami rasa kau tidak perlu ikut kami ke Padang. Lebih baik kau pulang ke Aceh saja." Aku mendapat kekuatan kembali. "Apakah kalian ingin menyingkirkan aku secara tidak langsung?" "Tidak," jawabnya. "Kami tidak mau menyingkirkan kau, malah kami ingin kau tetap tinggal bersama-sama kami. Cuma kami tidak dapat menjamin keselamatanmu sedemikian rupa, sebab bahaya yang mengancammu lebih besar daripada bahaya yang mengancam kami." Aku tidak mengerti pada apa yang dikatakan olehnya itu. Hatiku kacau-balau, kadang-kadang aku ingin marah karena dengan begitu mudah mereka mau menyingkirkan aku dari golongannya, biar apa pun
alasan yang mereka berikan. Dan aku pun merasa terganggu dengan berita yang disampaikannya itu. "Kami tidak memaksa kau," katanya setelah melihat aku diam tidak berkata-kata. "Kalau kau berkeras juga akan ikut kami, kami terima dengan segala senang hati, tetapi lebih baik kau berangkat ke Bukittinggi besok, tanyakan kepada kawan-kawan kita di sana tentang berita yang kusampaikan ini." Terhibur juga perasaanku ketika mendengar ucapannya itu. Aku tahu tentang pribadi Omar ini, sebab itu kecurigaan kepadanya kalaupun ada hanyalah sangat sedikit sekali. Aku pun mengambil keputusan akan pergi ke Bukittinggi besok dan hal itu kukatakan kepadanya. Kami pun berpisah. Karena hari telah larut malam aku dan Moeaz kembali ke Bengkel Mas. Udara malam itu terlalu dingin. Memang udara Padangpanjang lebih dingin daripada Bukittinggi. Aku kembali ke tempat penginapan kami dengan berpeluk tubuh, seluruh tubuhku menggigil kedinginan. Pagi-pagi sekali aku menaiki kereta api ke Bukittinggi. Moeaz dan Omar mengantar aku ke stasiun. Mereka tahu bahwa itulah pertemuan kami yang terakhir. Engku Ilyas telah pindah kembali ke Bukittinggi. Dia tinggal di rumah yang lama juga. Aku pun pergi ke rumahnya, ketika aku sampai ke situ, ia pun menceritakan tentang pertempuran yang terjadi di Aceh. Katanya Tentara Jepang dari Medan telah menyerbu sampai ke kota Langsa. Se- lama tujuh hari tujuh malam telah terjadi pertempuran hebat. Sekarang ini Tentara Jepang menguasai Kuala Simpang, setelah diadakan gen- catan senjata oleh Gubernur Sumatera Mr. Teuku Mohd. Hassan. Ketika mendengar berita itu, aku ingin sekali segera kembali ke Aceh. Pada petang itu juga aku pergi mencari kendaraan ke Medan. Tetapi kendaraan hanya ada seminggu sekali. Aku terpaksa menunggu beberapa hari lagi. Dari kawan-kawan di Kantor PRI aku mendapat kabar pula bahwa aku sedang dicari oleh anggota Tentara Sekutu. Mereka menganggap aku sebagai biang keladi dari berbagai kejadian yang terjadi di beberapa tempat di Minangkabau itu. Tempat-tempat yang kukunjungi seringkali berekor dengan pertempuran antara pemuda-pemuda Indonesia dengan Tentara Jepang. Aku tidak tahu apakah benar karena aku ataupun karena memang semangat pemuda-pemuda itu sudah meluap-luap tak dapat dibendung lagi. Tentara Sekutu sekarang telah ada di Bukittinggi. Sebagai biasa, apa-
bila ada Tentara Sekutu maka ada pula Tentara Nica yang membonceng- nya. Pertempuran-pertempuran secara frontal antara Tentara Nica dengan Tentara Republik Indonesia, seperti yang terjadi åi Medan dan Surabaya belum ada, Tetapi semuanya hanya menunggu waktu saja, umpama bisul yang sudah matang benar. Dari Yunus aku mendapat keterangan yang lebih jelas lagi. Aku sebe- narnya dicurigai oleh kawan-kawan seperjuangan. Tindak-tandukku mencurigakan mereka. Keterangan ini dapat kuterima, karena aku sen- diri tidak dapat memberi satu alasan yang tegas mengapa aku ada di Minangkabau? Tetapi betapa pun juga aku menghargai segala sikap yang baik dari kawan-kawanku semua. Pada suatu hari Arman, salah seorang pegawai PTT mengajak aku ke Solok. Ia datang ke rumah Amir, yang terletak di sebelah rumah Engku Ilyas, untuk mengajak aku ke sana, karena ia akan menjenguk orang tuanya yang sedang sakit. Pagi-pagi sekali kami berangkat dengan kereta api yang langsung ke Padang. Dalam kereta api itu aku bertemu dengan Tengku Sulaiman Mahmud wakil dari Aceh yang akan menghadiri Kòngres Islam se-Sumatera dan Kongres Pemuda. Tengku Sulaiman akan ke Solok juga untuk menemui salah seorang temannya. Dalam kereta api yang ke Solok itu aku bertemu pula dengan Bachtiar, Demang Muda di Batusangkar. Dia dulunya pernah belajar di Syonan Koa Kun- renzyo. Dia mengajak aku ke Batusangkar tetapi aku terpaksa menolak- nya, karena aku harus meneruskan perjalanan ke Solok. Kereta api ke Solok meninggalkan Stasiun Padangpanjang pada jam satu tiga puluh. Mulai dari Stasiun Sampur kereta api itu berjalan di pinggir Danau Singkarak. Aku terpesona melihat danau yang indah itu, dengan airnya yang biru laksana sebuah lautan kecil di tengah-tengah daratan. Kira-kira satu jam lebih barulah sampai di Stasiun Singkarak yang terletak di ujung danau itu. Tengku Sulaiman Mahmud telah meminta aku tinggal di Bukittinggi sampai selesai Kongres Islam dan kemudian kembali ke Aceh bersama- sama dengannya. Ia meminta supaya aku suka ikut dalam rombongan- nya yang hanya beberapa orang saja itu sebagai salah seorang utusan. Ajakannya itu segera kuterima. Karena aku ingin sekali menghadiri sebuah kongres yang besar seperti yang bakal diadakan itu, apalagi itu Kongres Islam yang pertama yang diadakan di Sumatera sejak Indonesia merdeka. Sekurang-kurangnya secara tidak langsung aku ikut serta dalam pembentukan sejarah Islam sekalipun aku tidak menjadi wakil yang resmi. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH — 10
Sampai di Solok kami berpisah. Amran membawa aku ke rumah Yahya, salah seorang teman dari Bukittinggi yang sekarang sudah pindah ke Solok. Di rumahnyalah aku menginap. Malam itu aku diajak menon- ton sebuah sandiwara Ikatan Pelajar Keputerian yang diadakan untuk pengumpulan dana. Di restoran 'Bakti' yang didirikan di samping gedung pertunjukan itu aku bertemu dengan Harun Intan Batuah, bekas pegawai pegadaian Kuala Simpang, E. Tan Midjo bekas buangan Digul dan E. Munir. Gadis-gadis Solok yang terbilang cantik itu bekerja me- layani tamu-tamu yang datang ke restoran 'Bakti' itu. Besoknya pagi-pagi aku mengunjungi rumah Burhan Adamy, kawan- ku yang bersama-sama ditahan di Medan waktu kami mula-mula datang dari Malaya dulu. Malangnya dia tidak ada di sana, dan menurut kete- rangan mertuanya dia tinggal di Padangpanjang berarti aku sudah tidak dapat bertemu lagi dengannya, karena dalam perjalanan pulang ke Bukittinggi, aku tidak singgah lagi di situ, dan itulah kali penghabisan aku melewati Padangpanjang, kota dingin yang tidak dapat kulupakan itu. Sebelum menaiki kereta api kembali ke Bukittinggi, aku berjalan-jalan di sekitar Pekan Solok. Aku teringat kampungku di Kedah yang penuh dengan sawah, tetapi Solok dan kampungku jauh bedanya. Kampungku tidak pernah kekurangan beras sedangkan Solok yang menjadi kampung persawahan ini malah sebaliknya!
Tanggal 21 Desember 1945, tanggal ini tertulis dalam buku catatanku, merupakan permulaan Kongres Islam yang diadakan oleh persyerikatan- persyerikatan Islam di seluruh Sumatera. Jam delapan malam resepsi pembukaan berlangsungnya kongres diadakan di Gedung Nasional Bukit- tinggi, Aku mendapat kesempatan menghadiri Kongres itu sebagai salah seorang peninjau dari Aceh yang diperbantukan kepada delegasi resmi yang dipimpin oleh Tengku Sulaiman Mahmud. Kongres itu dipimpin oleh Haji Sirajuddin Abbas dari Perti (Persatuan Tarbiyatul Islamiah). Di antara yang ikut berbicara pada malam itu ialah Tuan Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli, Sutan Mangkuto, konsul Muhammadiah di Minangkabau. Syeikh Sulaiman membicarakan antara lain tentang persyerıkatan- persyerikatan yang berbagai macam. Menurutnya perserikatan yang ber- bagaí macam itu laksana makanan yang berbagai jenis. Masing-masing kita bebas memilih mana yang kita sukai, dengan satu tujuan untuk merasa kenyang. Sesudah itu beliau menceritakan pula tentang arti syahid. Menurutnya syahid itu ada tiga macam. Syahid dunia akhirat, yaitu orang yang mati dalam pertempuran menegakkan kebenaran di atas jalan Allah tetapi kalau ia kena tembak dan mati di rumah sakit maka ia tidak dapat syahid di akhirat tetapi di dunia. Syahid dunia ialah orang yang mati dalam pertempuran dengan niat yang lain dari jalan Allah. Datuk Mangkuto berbicara tentang perjuangan politik. Beliau meng- ibaratkan perjuangan politik itu seperti ombak di laut, terdampar satu datang lagi yang lain dengan tidak putus-putusnya. Kita mesti berjuang dengan apa saja, katanya, walaupun dengan gigi dan lidah. A. Malik Ahmad berbicara pula tentang musuh, menurut keterangannya musuh itu ada tiga macam: musuh yang pasif (tidak berpendirian), musuh yang fitnah (mata-mata) dan musuh yang bersifat penjajahan. Wakil dari Jambi pula mengatakan bahwa kita tidak hanya mengambil
Islam sebagai agama, tetapi juga kita mesti menjamin tanah tempat tegak- nya. Rapat yang pertama ini berakhir pada jam satu dinihari. Hari berikutnya, Kongres bertempat di Bioskop Agam. Juga diadakan pula rapat tertutup, di dalam rapat itu turut berbicara antara lain Tuan Hamka, beliau mengatakan kemerdekaan suatu bangsa timbulnya dari-pada kemerdekaan jiwanya. Syahadat tauhid adalah ucapan yang me- nandakan merdeka. Seorang hadirin, bernama Zainal Abidin telah meminta supaya diadakan sebuah komisi Islam guna menyelidiki siapakah yang menjadi biang keladi yang membuat perpecahan dalam kalangan umat Islam, berhubung dengan adanya Kongres Islam yang berturut-turut. (Sebuah lagi Kongres Islam telah diadakan oleh MITS — Majelis Islam Tertinggi Sumatera). Bersamaan dengan itu timbullah perdebatan yang sengit dengan pemimpin rapat, Haji Sirajuddin Abbas. Malamnya diadakan lagi rapat tertutup untuk mendengar keputusan komisi dan resolusi. T.A.R. St. Mansoer berbicara, kata-katanya ter- susun dengan indah, antara lain beliau menerangkan tentang kejadian manusia. Manusia katanya terjadi dari tiga unsur: berjiwa seperti malai- kat, bernafsu seperti iblis, makan dan minum seperti binatang. Tuan Darwis Thaib berbicara tentang persatuan Islam dan untuk membangun umat Islam yang sejati beliau mengusulkan supaya didirikan dua buah sekolah. Di atas tanah lapang yang berlainan tempat- nya, satu untuk putra dan yang lain untuk putri. Anak-anak sejak berumur lima tahun dididik di sekolah-sekolah tersebut dalam bentuk persaudaraan dan semangat sama rata sama rasa. Apabila murid-murid dari kedua buah sekolah ini telah mencapai umur 25 tahun maka mereka boleh kawin, setelah mereka itu diajarkan syarat-syarat hidup. Rapat ini pun selesai pada jam satu pagi. Setelah tiga hari tiga malam berbicara, berdebat dan kadang-kadang sampai menggenggam'tinju, maka Kongres Islam yang pertama ini pun ditutup dengan sebuah rapat raksasa di tanah lapang di atas Ngarai. Rapat ini telah dihadiri oleh beribu-ribu umat Islam laki-laki dan perem- puan. Di antara para pembicara terdapat seorang dari Riau yang berbicara dengan susunan kata-kata yang teratur, dihiasi dengan pepatah dan peribahasa, sehingga ucapannya itu mendapat sambutan yang sangat meriah. Kata-katä yang bersemangat yang masih tersemat dalam hatiku sekarang ini, ialah ucapan dari Usman Abdullah, wakil dari Jambi, dengan berterus terang ia memperingatkan penduduk Minangkabau
yang sebagian besar acuh tidak acuh dengan perjuangan, mereka lebih mementingkan harta benda dan kepentingan diri-sendiri. "Kalau Tuan-tuan masih membanggakan Gunung Singgalang dan Gunung Merapi, Danau Maninjau dan Danau Singkarak, maka tunggulah! Kami rakyat dari daerah di sekitar Minangkabau ini akan datang kemari, menggem- pur Gunung Merapi dan Gunung Singgalang itu. Kami akan menimbun Danau Maninjau dan Danau Singkarak itu dengan tanah gunung-gunung itu sehingga tidak ada lagi yang akan Tuan-tuan megahkan." Meskipun ucapannya itu satu sindiran yang berterus terang dan sangat dalam sekali menusuk hati orang-orang Minangkabau, tetapi kepada kedua orang yang berbicara itu mereka berikan tepukan yang paling hangat. Aku merasa beruntung karena dapat menghadiri kongres ini. Meskipun semua yang dibicarakan itu kadang-kadang tidak begitu mendalam seperti kita harapkan dari sebuah kongres yang besar seperti itu. Tetapi artinya bagi umat Islam di Sumatera amat besar sekali. Itulah Kongres Islam yang pertama se-Sumatera, diwakili oleh tiap-tiap daerah. Itulah pula motor gerakan yang pertama dari umat Islam, yang telah bangun menentang penjajah sehingga Belanda menghadapi kesulitan yang amat besar. Selesai rapat itu aku bertemu dengan Suparman, salah seorang utusan dari Jawa. Kami makan bersama-sama di Restoran Perdamaian yang terletak berdampingan dengan Hotel Melati tempat aku dan Sulaiman Mahmud menginap. Karena malam itu tidak ada tugas yang perlu dikerjakan, maka aku pun menonton film untuk yang kedua kalinya di Panggung Agam. Sebuah film Filipina yang berjudul 'Minda Mora', dengan cerita yang menarik. Film tersebut menggambarkan sebuah kisah percintaan antara Loling dan Felix, sejak dari masa sekolah. Dalam satu pelayaran, kapal yang ditumpangi oleh Felix pecah dan tenggelam karena dipukul topan. Loling yang setia itu menunggu dan berdoa dengan penuh pengharapan. Di sebuah pulau Felix telah dipelihara oleh satu keluarga nelayan. Ia jatuh cinta pada Minda seorang gadis pulau. Ketika Felix kembali ke negerinya ia lupa pada Minda dan tak lama kemudian ia pun bersiap- siap akan kawin dengan Loling. Ketika Loling sedang didandani dengan pakaian pengantin, datanglah Minda yang telah bersusah-payah mencari kekasihnya. Di rumah Loling terjadilah peristiwa sedih. "Saya mencari orang saya," kata Minda waktu ditanya oleh Loling. Alangkah terkejutnya Loling ketika ia mengetahui bahwa 'orang
sayanya' Minda itu adalah Felix yang bakal menjadi suaminya beberapa jam lagi.
"Kasihanilah saya," kata Minda. "Engkau orang kaya, segala sesuatu
dapat engkau peroleh dengan mudah. Tetapi bagiku yang miskin ini Felix itulah satu-satunya kepunyaanku," Minda memohon. "Tetapi kami sudah berjanji, dan saya sudah lama menunggunya?" ujar Loling.
"Kami sudah bercinta-cintaan dan sudah sama-sama memimpikan
yang indah-indah,"jawab Minda. Waktu Felix datang untuk menjemput Loling ke gereja, ia heran melihat Loling turun dengan pakaian biasa saja. "Loling, apa yang sudah terjadi?" tanya Felix. Loling menjawab dengan memanggil Minda turun. Minda yang sudah siap berpakaian pengantin itu pun turun. Semua tamu terperanjat besar melihat kejadian yang aneh itu.
"Felix, bergembiralah kamu, kamu telah mencintai dua perempuan,
Tuhan mengetahui akan hatimu, ambillah Minda menjadi istrimu." Waktu Felix dan Minda meninggalkan tempat itu, Loling menangis dan memeluk bahu ayahnya. "Ibu dan Ayah, saya menangis bukan karena sedih, tetapi saya menangis karena saya dapat memberi 'kebahagiaan' kepada seorang 11
makhluk ....
Demikianlah sebuah contoh pengorbanan suci, yang kuperoleh ketika menonton film itu. Di Minangkabau masih banyak terdapat pemuda-pemuda Aceh yang datang menuntut ilmu, terutama sekali ilmu agama. Mereka itu tinggal
di berbagai tempat, tanpa sesuatu persatuan yang mengikatnya. Atas ini-
siatif Tengku Sulaiman Mahmud, maka kami kumpulkan dua belas orang
pemuda itu dalam sebuah rapat yang diadakan di Hotel Melati. Tengku Sulaiman yang menjadi pemimpinnya. Dengan suara bulat terbentuklah sebuah ikatan -- Ikatan Pemuda-pemuda Aceh. Panitia sementara terdiri dari A. Manaf Manany, Mohd. Jaacoeb, Hashim Latiff dan A. Rahman. Pertemuan itu sekaligus merupakan ucapan selamat jalan kepada aku dan Tengku Sulaiman yang akan berangkat kembali ke Medan besoknya. Pada malam itu kami telah dijamu makan di rumah Engku Ilyas, dan kepada anak-anaknya kuberikan hadiah subang dan cincin emas yang
kubawa dari Langsa, yakni barang-barang rampasan Jepang yang telah
diserahkan kepadaku. Tanggal 26 Desember 1945, kami meninggalkan Bukittinggi — kota
yang indah permai, alam yang telah memikat dan menawan jiwa ragaku. Tetapi aku terpaksa meninggalkannya karena aku masih mau menjadi orang perjuangan. Orang perjuangan yang mau bergerak secara extremis tidak sesuai tinggal di sini, karena disini masih kuat dengan adat, dengan ninik mamak, segala sesuatu harus dilakukan dengan jalan perundingan. Tetapi kalau aku ingin menjadi seorang pemuda pemuja alam, maka tanah Minangkabaulah yang akan kupilih. Bagiku tidak ada tanah yang demikian menarik, selain daripada tanah Minangkabau ini. Selama dalam perjalanan antara Bukittinggi dan Medan, tidak ada hal-hal yang menarik hati yang perlu kuceritakan, kecuali pemeriksaan di jalan-jalan raya semakin diperketat. Sebentar-sebentar truk kami terpaksa berhenti dan menurunkan penumpang-penumpangnya untuk di- periksa dan dibongkar barang-barang kepunyaannya. Pemeriksaan di jalan-jalan raya ini seolah-olah sudah menjadi satu bagian dari kehidupan, karena kalau tidak ada pemeriksaan itu, kehidupan tidak lancar jadinya. Setiap perkumpulan (partai) ada barisan yang mengadakan pengawalan di jalan raya, anehnya mereka tidak tahu apa yang mereka cari! Truk itu berjalan siang dan malam dengan tak berhenti-hentinya, Supirnya seorang saja, tidak ada penggantinya. Kadang-kadang hatiku menjadi kecut melihat dia memegang kemudi dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memeluk bahu seorang perempuan muda, penumpang yang juga akan ikut ke Medan. Karena dia seorang perempuan dan muda pula telah mendapat tempat istimewa di sebelah supir. Dia pun agaknya ingin pula dihibur setelah dua hari dua malam menem- puh jalan yang bagai ular dipalu itu. Kami sampai di Medan pada tang- gal 28 sore.
Keadaan di kota Medan tidak ubahnya seperti keadaan di Padang dan di Bukittinggi. Panas, dan terasa bagai ada sesuatu yang tak betul jalan- nya. Mula-mula aku mencari kawan-kawan dari Langsa untuk menanya- kan keadaan di Aceh Timur. O, alangkah gelisahnya hatiku ketika mendengar berita bahwa di Langsa kini sedang berkecamuk keganasan yang ditimbulkan oleh anak-anak dewa, sehingga perhubungan dengan Medan telah terputus. Tengku Sulaiman menyabarkan hatiku dan dia mengajak aku menginap di rumah salah seorang sahabatnya di Sentral Pasar. Di situlah kami menginap, sementara ada perhubungan dengan Aceh. Setiap malam terdengar rentetan bunyi senapan dan mesin-gun, kadang-kadang tak jauh dari tempat kami menginap itu. Orang-orang di kota itu pun tidak sesibuk dulu lagi. Hanya orang-orang yang benar-benar ada urusan saja yang masuk ke kota. Walaupun pada waktu siang, keadaan kelihatan tenang dan pekerja berjalan seperti biasa, tetapi pada malam hari di sana-sini sunyi-senyap. Hanya pegawai-pegawai keamanan saja yang masih ada di jalan raya, sebagai tanda bahwa manusia masih ada di tempat itu. Malam yang sunyi sepi itu sesekali diganggu oleh letusan tembakan. Menurut keterangan, orang-orang Cina di dalam kota itu telah diper- senjatai oleh Nica dan mereka itu membentuk sebuah barisan sendiri yang diberi nama Poh An Tui. Dari atas loteng rumahnyalah mereka me- lepaskan tembakan kepada pejuang-pejuang Indonesia yang menyusup masuk ke dalam kota pada waktu malam. Perbuatan orang-orang Cina itu telah menimbulkan kemarahan pemuda-pemuda Indonesia, maka mereka pun berusaha untuk mencari pemimpin Poh An Tui itu. Dan pada suatu hari pemimpin itu pun ditem- bak mati. Sebagai ganjaran akibat kematian pemimpinnya itu maka orang-orang Cina di kota Medan telah mengadakan aksi mogok selama satu
hari. Cerita tentang kematian dan aksi mogok ini tidak kami ketahui, walaupun kantor surat kabar Waspada terletak beberapa pintu saja dari tempat penginapan kami itu. Pada pagi itu aku dan Tengku Sulaiman ke luar mencari kopi, karena walaupun kami menginap di rumah teman tetapi kami selalu makan di
luar. Hampir seluruh kota tidak ada kedai kopi yang dibuka, keadaan
pasar serta jalan-jalan raya pun sunyi-senyap seperti keadaan pada waktu malam. Orang-orang Cina tidak berjualan, mereka menutup pintu kedai- nya. Meskipun orang-orang Cina tidak banyak dan mereka hanya ber- pusat di dalam kota saja, tetapi aksi mereka itu berkesan juga. Banyak orang yang tidak dapat membeli sayur, ikan, daging dan sebagainya.
Banyak orang yang tak dapat minum kopi dan di antara orang-orang yang
jadi korban itu termasuk aku dan Tengku Sulaiman. Tetapi kami masih beruntung, karena hotel-hotel kepunyaan orang Aceh masih ada. Ke sanalah kami pergi. Setelah selesai minum aku pun berjalan pulang ke tempat penginapan. Di tengah jalan aku bertemu dengan Cin, salah seorang temanku dari Pulau Pinang. Dulu dia pernah bersama-sama di Syonan Koa Kunrenzyo.1 Sejak kami berpisah di Singapura dulu, itulah pertemuan kami yang pertama, maka kami ber- peluk-pelukan di depan kedai abangnya. Kami lupa bahwa ketegangan hubungan antara orang Cina dan Indonesia sedang memuncak. Tiba-tiba beberapa orang Cina yang tinggal di sebelah-menyebelah kedai itu bergerak maju mendekati kami dan tak jauh dari situ bergerak pula sekumpulan orang-orang Indonesia. Melihat keadaan seperti itu kami pun berpisah. Cin terus masuk ke dalam kedaí, sedangkan aku terus masuk kembali ke dalam hotel orang Aceh di situ. Dalam hotel itu aku selamat, karena orang-orang Aceh tak pernah diganggu orang. Setelah beberapa hari di Medan, aku sudah tidak sabar lagi. Aku
mengajak Tengku Sulaiman berangkat ke Kotacane dan dari sana ke
Takengon. Tengku Sulaiman menolak, karena dia masih ingin menunggu
di Medan. Aku pun meninggalkan Tengku Sulaiman di Medan dan
berangkat ke Kotacane. Istriku dan ibu-bapaknya sangat gembira menyambut kedatanganku yang tiba-tiba itu. Mereka sedikit pun tidak menyangka bahwa aku akan sampai ke sana. Mereka mengira aku masih berada di Jawa, ataupun telah menjadi korban perjuangan, karena aku tak pernah mengirim berita. Keadaan di Kotacane masih tenteram seperti sediakala. Hanya beberapa orang pemimpin perjuangan yang membuat kacau, karena 1 Sekolah Latihan Pegawai-pegawai Tinggi, Singapura
mereka ingin membalas dendam kepada pegawai-pegawai negeri yang dulu menjadi ketua ataupun mereka yang bertindak sewenang-wenang. Di antara mereka itu terdapat seorang bekas pegawai polisi yang ber- nama Gindo Bangko. Dia menjadi pemimpin Pemuda Republik Indo- nesia dan ingin menjadi Wedana di daerah itu. Aku tidak turut campur dalam gerakan pemuda di daerah ini, aku masih memikirkan berita-berita yang kudengar dari Aceh Timur. Aku ingin pada hari itu juga berangkat ke Takengon untuk kembali ke Langsa melalui Bireuen. Tetapi jalannya amat sukar. Bapak mertuakú yang bekerja sebagai opseter Pekerjaan Umum lebih mengetahui hal ini. Beliaulah yang telah bekerja keras dalam masa Jepang dulu untuk mem- buka jalan, menghubungkan Kotacane dengan ibukota Aceh Tengah. Tetapi belum sempat jalan itu selesai peperangan pun berhenti dan sekarang ini tidak ada yang bekerja lagi, semuanya gairah dengan semangat perjuangan, gila memperjuangkan kursi dan sebagainya. Rumah bapak mertuaku itu terletak berdampingan dengan Kantor Pekerjaan Umum. Oleh sebab itu aku pun mencari jalan untuk mengisi waktuku, dan menghibur hati yang sedang gelisah itu dengan mengarang sebuah roman 'Patah Tumbuh Hilang Berganti' — sebuah cerita perjuangan yang terjadi di Mojokerto. Sebelum meninggalkan Kotacane ceritaku ini telah selesai dan aku merasa sangat gembira dengan hasil usahaku itu. (Sayangnya naskah cerita ini telah hilang waktu aku meninggalkan Sumatera). Tengku Sulaiman yang masih tinggal di Medan telah mengirim kabar kepadaku, bahwa perhubungan antara Medan dan Langsa telah terbuka. Mendengar berita itu, aku pun segera berangkat kembali ke Medan bersama-sama dengan A. Rahman, iparku. Memang benar perhubungan telah ada. Seorang India yang telah masuk Islam, Toradja Abdullah namanya baru saja datang dari Langsa dan bertemu dengan aku di Sentral Pasar. Aku pun bertanya berbagai hal tentang keadaan kawan-kawan di Langsa. Toradja menasihatkan supaya aku bersabar dulu, sebab katanya orang-orang Jepang masih mencari-cari aku. Tetapi aku berkeras juga hendak pulang. Aku men- dapat satu jalan, lalu kuminta surat keterangan Toradja itu untuk ku- gunakan dalam perjalanan itu. "Ini sangat berbahaya Tuan," katanya. "Saya boleh serahkan surat ini, tetapi bagaimana dengan keselamatan diri Tuan?" "Itu jangan kau khawatir," jawabku dengan tegas. "Aku akan menyamar sebagai orang India, bukankah aku juga hitam seperti kau?"
"Tetapi banyak orang yang mengenal Tuan?" "Itu dapat kuatur nanti. Berikanlah surat itu kepadaku." Toradja pun menyerahkan surat keterangannya itu. Kulihat surat itu ditulis dalam Bahasa Indonesia, dikeluarkan oleh Kantor Kepolisian Langsa dan ada pula cap Jepang di bawahnya, yang menurut Toradja dicap oleh Jepang di Kuala Simpang. Surat keterangan itu berbunyi : Yang memegang surat ini seorang lelaki India berumur 25 tahun, bernama Toradja Abdullah, tinggal di Langsa dan bekerja sebagai tukang dobi. Aku pun mulai menggunakan nama Toradja itu dan untuk me- lengkapi penyamaran itu, kupinjam topi feltnya yang sudah lusuh itu untuk kupakai. Aku sudah kelihatan seperti orang India. "Kalau Tuan selamat sampai ke Langsa," kata Toradja. "Saya akan sembelih ayam." Memang niatnya itu tulus. Dia dan adik-adiknya sangat sayang kepadaku. Aku menerima doanya itu sebagai satu alamat yang baik. Setelah itu aku pun pergi mencari kendaraan yang akan ke Langsa. Ada sebuah truk kecil yang dibuat seperti bis, yang akan berangkat besok pagi, seandainya mereka dapat memperoleh beberapa orang penumpang lagi. Aku pun meminta supaya namaku dimasukkan dalam daftar penumpangnya. "Apakah Tuan tidak takut kepada Jepang?" tanya supir truk itu. "Tidak," jawabku ringkas. "Tetapi hendaklah semua orang yang menumpang dalam kendaraan ini membantu memberi perlindungan kepadaku." "Itu saya jamin," jawabnya. "Besok pagi akan kita atur bagaimana yang baik." Kira-kira jam sepuluh pagi besoknya, kami pun berkumpul di depan Hotel Aceh. Semuanya ada sepuluh orang yang akan berangkat ke Langsa. Tiga orang Cina, seorang Benggali Sikh, seorang India dan lima orang Indonesia. Mereka semuanya kenal baik denganku dan mudahlah aku memberitahu mereka itu tentang penyamaran yang akan kulakukan. Ketika aku memberitahu namaku Toradja Abdullah, semuanya tak dapat menahan geli hatinya. Lalu ketawa berdekah-dekah. Tetapi mereka mengakui bahwa aku ada potongan orang India, apalagi dengan topi felt yang kutarik tepinya menutup alis mata. Mulai dari Setabat, pemeriksaan sudah ketat. Orang-orang Jepang yang menjaga di jembatan Setabat itu menyuruh semua penumpang
turun dan berbaris. Tiap-tiap surat keterangan diperiksa dengan teliti. Karena aku orang India, maka aku disuruhnya berdiri bersama-sama dengan orang India yang sebenarnya dan Benggali Sikh itu. Orang Cina di sebelah. Kami orang 'asing' tak berapa diperiksa, cukup dengan melihat surat keterangannya saja, tetapi orang-orang Indonesia ditanya dengan berbagai pertanyaan. Setelah mereka puas dengan jawaban- jawaban yang diberikan kepadanya, maka kami pun diperbolehkan berangkat. Di Pangkalan Berandan pemeriksaan lebih keras lagi, orang-orang Indonesia disuruh menggulung celana hingga ke lutut, dan mereka meneliti lutut itu. A. Rahman hampir saja ditahan, karena di lututnya ada bekas parut. Untunglah dia pandai berbahasa Jepang dan menjawab semua pertanyaan dengan fasih. Jepang itu tertarik hatinya dan mem- perbolehkan A. Rahman ikut bersama-sama kami. Setelah menyeberang Sungai Besitang ke daerah Aceh, kami diperiksa dengan lebih teliti lagi, tetapi aku yang menyamar menjadi orang India tidak diperiksa dengan teliti. A. Rahman ditanya lagi tentang parut di lututnya, ketika itulah baru aku mengetahui sebab musabab kenapa lutut menjadi perhatian mereka. Aku teringat kisah di Tiku. Setiap orang yang ikut bertempur tentulah akan berparut lututnya, karena merangkak di atas tanah dan orang yang berparut lutut itu tentulah orang-orang yang sudah bertempur. Waktu pemeriksaan hampir selesai, tiba-tiba aku melihat ada seorang Jepang di salah sebuah kedai kopi tak jauh dari gardu pengawalan itu. Ia memandang kami terus-menerus. Aku merasa sudah pernah melihat Jepang itu dan tidak syak lagi akulah sekarang ini yang benar-benar diperhatikannya. Ketika itu juga aku mulai mergenali Jepang itu, yaitu pegawai Kereta api di Langsa yang telah ribut dengan aku, karena soal ikan. Hatiku kecut ketika Jepang itu bangun dan berjalan ke arah kami. Beberapa langkah, ia pun berbalik kembali ke tempat duduknya. Ketika itu pula kami disuruh naik, yaitu setelah diberi pidato menyuruh kami menjauhkan diri dari pertempuran ataupun menyerang orang-orang Jepang. Pidatonya itu tak berapa kuperhatikan, karena perasaanku sedang gelisah karena Jepang di kedai kopi itu. Alangkah leganya dadaku ketika truk itu berjalan meninggalkan pekan kecil itu. Rupanya semua orang di dalam truk itu tahu tentang kegelisahanku. Mereka masing-masing berdoa agar perjalanan kami seterusnya dalam keadaan selamat.
Pemeriksaan paling akhir ialah di Kuala Simpang. Tempat pemeriksaan tepat di muka Kantor Polisi. Ketika truk itu berhenti, seorang kopral polisi datang mendekati pintu belakang di mana'aku sedang turun. Ketika dia melihat aku, dengan otomatis dia bersiap dan memberi hormat. Mulutnya sudah terbuka untuk menyebut namaku. Dengan cepat kuberi isyarat menyuruh ia diam dan kebetulan pada waktu itu pula orang-orang Jepang yang memeriksa di tempat itu datang. Kopral polisi yang sudah mengangkat tangannya hendak memberi hormat itu, terus menggaruk-garuk kepalanya. Kami diperiksa lebih keras lagi. Aku juga tidak terlepas dari pemeriksaan itu, tetapi aku menjawab bahwa aku orang India dan tidak pernah turut campur dalam hal orang-orang Indonesia. Mendengar keteranganku itu, ia pun menyerahkan aku kepada kopral polisi untuk dilihat surat keterangannya. Kopral itu menyembunyikan mukanya, karena tidak tahan melihat surat keteranganku. Setelah itu kami pun diiring' ke stasiun kereta api seperti orang ber- salah. Dari sini perjalanan ke Langsa harus dilakukan dengan kereta api, jalan mobil sudah terputus. Antara Medang Ara dengan Tualangcut telah dijadikan daerah tak bertuan. Orang-orang Jepang dari Kuala Simpang memberhentikan kereta api itu sampai ke Medang Ara dan dari Tualangcut disambut pula oleh Tentara Indonesia. Waktu di stasiun itu aku sengaja mengelak untuk bertemu dengan orang ramai. Untunglah, karena hari sudah petang dan aku memakai topi sampai menutup kening, maka tidak ada orang yang mengenali lagi. Setelah naik ke dalam kereta api, aku duduk di sebuah sudut.
A. Rahman melindungi aku dari orang banyak. Karena kereta api itu tidak berlampu, maka kehadiranku tidaklah diketahui orang. Dalam kereta api itu orang-orang Jepang mondar-mandir. Mereka berjalan dan memperhatikan tiap-tiap orang. Waktu mereka mendekati tempat dudukku, kutarik topi itu ke atas sedikit, agar jangan mencurigakan. Setelah lewat Medang Ara, barulah aku buka suara. Hampir semua orang dálam gerbong itu terperanjat melihat aku tiba-tiba ada dalam kereta api itu bersama-sama dengan mereka. Mereka menyangka aku jatuh dari langit. Setelah selesai berjabat tangan satu sama lain, aku pun kembali duduk di sudut berdampingan dengan pintu. Aku tidak mau jika Tentara Indonesia yang naik dari Tualangcut mengetahui aku ada di dalamnya. Orang lain telah kuberitahu tentang maksudku itu dan mereka pun senang karena mereka ingin melihat kegemparan atau kehebohan karena sandiwaraku itu.
Sejak dari Tualangcut, pegawai Tentara Indonesia mulaï melakukan pemeriksaan kepada setiap penumpang. Tetapi mereka hanya memeriksa surat-surat keterangan saja. Muka orang yang memiliki surat itu tidak dilihatnya, karena gelap. Mereka menggunakan lampu senter dengan cermat. Ketika sampai di Stasiun Langsa, semua penumpang disuruh turun berbaris dan melalui suatu lorong kecil yang sengaja dibuat untuk me- mudahkan pemeriksaan. Tiap orang mesti melalui lorong kecil itu dan masuk ke dalam sebuah kamar. Menyerahkan surat keterangannya dan kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pegawai yang duduk di sudut bilik itu. Kemudian melalui sebuah pintu, di sana pun diperiksa lagi. Setelah itu barulah ia bebas berjalan ke kota. Aku menunggu giliranku dengan sabar. Seorang teman yang bersama- sama dalam kereta api itu menyuruh aku memperkenalkan diri, supaya jangan terlalu lama menunggu. Tetapi aku menolak, karena aku ingin kawan-kawan yang memeriksa itu terkejut dan juga untuk mengetahui sampai sejauh mana ketelitian pemeriksaan yang mereka lakukan. Orang-orang yang telah melewati pemeriksaan itu memegang teguh janjinya. Tak seorang pun yang membuka rahasia bahwa aku ada dalam rombongan itu. Mereka tidak terus pulang, tetapi menunggu di luar untuk melihat kehebohan dan kelucuan. Akhirnya tibalah giliranku. Aku berdiri di depan meja Benseh, seorang anggota Pemuda Republik Indonesia. Ia tidak melihat ke mukaku, tetapi tunduk memandang pada kertas yang di hadapannya. "Siapa nama?" tanyanya setelah dia melihat surat keterangan yang kuserahkan kepadanya itu. Aku diam tidak berkata-kata. Karena kalau aku menjawab sudah pasti dia mengenal suaraku. "Siapa nama?" tanyanya lagi dengan nada suara mulai marah. Aku terus membisu. Dia lalu mendongak memandang kepadaku untuk melepaskan ledakan kemarahannya. Terdiam dia sebentar. Mulutnya ternganga. Setelah keheranannya hilang ia pun memekik: "Tuan Abdullah!" Lalu dipeluknya aku dan beberapa orang lain menyerbu ke luar dari bilik-bilik yang di sebelah-menyebelah. Setiap orang memegang dan menggoncang-goncang tanganku. Orang-orang yang ikut bersama aku dalam kereta api itu, tertawa terbahak- bahak karena geli melihat sandiwara itu. "Biarlah kawan-kawanku ini pergi dulu," kataku kepada pemuda:
pemuda itu, sambil menunjuk kepada orang-orang yang sedang
menunggu dalam barisan di belakangku. "Biarlah mereka menunggu sebentar," jawab Benseh. "Kami semua rindu kepada Tuan. Rindu kami belum habis." "Kalau begitu biarlah mereka ini pergi. Mereka bukan mata-mata musuh. Mereka semua telah membantu saya melewati pengawalan Tentara Jepang sejak dari Medan sampai ke Medang Ara," kataku. "Ya, Tuan-tuan semua boleh berjalan terus. Terima kasih banyak atas bantuanmenyelamatkan Tuan Abdullah ini," kata Benseh. Orang ramai pun berlalu dari situ. Pada saat itu pula kulihat Zakaria Idris dengan rombongannya menyerbu masuk ke dalam bangunan sta- siun itu. Mereka mengangkat aku tinggi-tinggi serta membawa ke luar dari bangunan itu terus ke Kantor Pemuda yang letaknya di depan sta- siun itu. Orang ramai telah mulai berkumpul di depan kantor itu. Mereka memekik-mekik ingin melihat aku. Aku pun ke luar dan berdiri di tangga meneriakkan satu ucapan ringkas. Selesai ucapan itu, aku pun pergi makan bersama-sama dengan para pengurus Kantor Pemuda, pada waktu itu hari telah hampir pukul 11.00 malam. Waktu makan itulah baru aku teringat kepada A. Rahman. Rupanya dia sudah tidak ada lagi. Dia pulang lebih dulu dan dialah yang telah memberitahukan kepada Zakaria Idris tentang kedatangan itu. ·Banyak yang kudengar dari kawan-kawanku itu tentang pertempuran yang telah terjadi di antara Tentara Jepang dengan orang Indonesia. Menurut cerita Teuku Alibasjah, tak lama setelah aku dan Tengku Ismail berangkat, mereka pun membuat beberapa perundingan untuk melucuti senjata orang-orang Jepang. Mula-mula orang-orang Jepang yang sudah dilucuti senjata itu akan dibawa ke sebuah tempat pengasingan di sebuah perkebunan. Tetapi banyak pula yang tidak setuju dengan rencana itu, karena, akan menjadi satu tanggung jawab untuk memberi makan Jepang-Jepang itu. Akhirnya mereka mencapai kata sepakat, Jepang yang telah dilucuti senjatanya dikirim ke Medan kepada Tentara Sekutu. Pada hari perlucutan senjata itu dilakukan, Teuku Alibasjah dan beberapa orang pemimpin di kota Langsa telah menemui Tuan Bunsyutyo serta Butaityo. Mereka menyampaikan keputusan rakyat memin- ta senjata dari orang-orang Jepang itu. Mula-mula Bunsyutyo dan Butaityo merasa keberatan. Tetapi ketika mereka melihat beribu-ribu
penduduk sedang berdiri di depan Gedung Atjeh Handelmaatschapij,
yang menjadi markas Tentara Jepang, maka mereka pun mulai panik dan dengan tergesa-gesa menyetujui senjaà-senjatanya diambil. Sebenarnya orang-orang kampung itu sudah salah terima tentang berita yang disampaikan kepada mereka. Menurut keterangan, tiap-tíap kepala kampung diberi perintah supaya menyampaikan berita kepada anak buahnya untuk siap sedia, karena pada hari tersebut satu perundingan untuk melucuti senjata Jepang akan diadakan. Seandainya perundingan itu gagal maka orang-orang kampung diminta untuk mengepung markas dan rumah kediaman orang-orang Jepang. Tetapi kepala kampung malah mengerahkan anak-buahnya pada hari itu untuk turun ke kota karena orang-orang Jepang akan dilucuti senjatanya. Biarpun demikian hal itu menjadi satu blessing in disguise bagi pemimpin-pemimpin itu. Kalau tidak, tentu Jepang tidak semudah itu mau menyerahkan senjatanya. Setelah semua senjata diambil, maka orang-orang Jepang pun dikum- pulkan dan hari berikutnya mereka dikirim ke Medan dengan kereta api. Orang-orang Jepang terpaksa mengikuti kemauan rakyat, karena hari-hari belakangan ini mereka telah menyaksikan peristiwa-peristiwa yang mengkhawatirkan. Seorang Jepang pegawai Mitsui Busan Kaisha telah ditangkap oleh polisi karena dituduh berhubungan dengan perempuan Indonesia, (hal ini hanyalah alasan belaka, sebab sebelum itu tak pernah ada orang yang menghiraukannya, walaupun setiap orang Jepang me- nyimpan perempuan-perempuan Indonesia). Jepang itu telah dibawa ke Kantor Polisi dan ditahan di sana. Malamnya ketika pengawalan tidak berapa ketat, Jepang itu melarikan'diri ketika ia minta izin membuang air kecil di belakang kantor. Ia melarikan diri ke markas tentara. Berita pelarian ini telah dibesar-besarkan oleh pegawai polisi, sehingga menim- bulkan reaksi hebat dari rakyat di sekitar kota. Besoknya ketika perundingan penyerahan senjata diadakan, secara tidak langsung diungkit- ungkit pula tentang orang Jepang yang melarikan diri itu. "Rakyat akan datang mengambilnya secara paksa," kata para utusan sebagai suatu ancaman. Dan orang-orang Jepang itu pun menyerahkan senjatanya, lalu mereka semua berangkat meninggalkan Langsa. Betapa marahnya Nica terhadap peristiwa ini dapat digambarkan ketika kedatangan Tentara Jepang itu ke daerah Aceh, lengkap dipersen- jatai oleh Tentara Sekutu. Nica tidak senang senjata orang-orang Jepang diserahkan kepada orang-orang Indonesia, oleh sebab itu mereka hasut Tentara Sekutu untuk mempersenjatai orang-orang Jepang kembali dan mendesak mereka itu mengambil kembali senjata-senjatanya dengan ke-
kerasan. Karena terdesak oleh keadaan yang serba salah apalagi semangat- nya sendiri sudah menurun, orang-orang Jepang itu pun kembali ke Aceh. Mereka mesti mengambil kembali senjatanya, karena menurut perjanjian perletakan senjata, senjata-senjata itu mesti diserahkan kepada Tentara Sekutu. Berita tentang kedatangan orang Jepang kembali telah diketahui oleh rakyat di Aceh Timur, maka Tentara Keamanan Rakyat pun bergerak dari Langsa menuju ke Kuala Simpang di bawah pimpinan Mayor Bakhtiar. Pertempuran pun terjadi dengan serunya di sepanjang jalan raya Kuala Simpang — Langsa. Mayor Bakhtiar telah tertembak perut- nya hingga tembus ke belakang. Sejak itu pasukannya pun terdesak mundur. Mereka mundur sampai ke Tualangcut. Tentara Keamanan Rakyat belum pernah terlatih dalam soal peperangan secara frontal seperti itu. Apalagi anggota-anggota pasukannya terdiri dari berbagai macam golongan manusia yang hanya tahu memanggul senjata saja, tetapi tidak tahu tentang taktik peperangan. Peutua Husin, kawanku yang sama-sama bekerja di Gunseibu dulu dan paling belakangan masuk Giyu-Gun telah pergi ke Sungai Long dan pada sebuah tanah tinggi yang ditumbuhi rumput, dia membuat kubu pertahan- annya. Di situlah dia dengan beberapa orang teman menunggu kemarahan tentara Jepang dengan mobil tempurnya. Beberapa buah mobil tempur yang merangkak seperti kura-kura itu telah terbalik karena granat-tangan yang dilemparkan oleh Peutua Husin dan kawan-kawannya. Orang-orang Jepang yang berjalan kaki mengiringi mobil tempur itu mencari-cari dari arah mana serangan itu datang, tetapi mereka tidak dapat mengetahui malah mereka pula menjadi korban ledakan granat. Tiba-tiba seorang kawan Peutua Husin, karena terlalu jengkel melihat orang-orang Jepang itu, bangun dan menembak dengan senapannya. Peutua Husin tak sempat menarik kawannya itu untuk duduk, maka ketika itu pula tempat mereka bersembunyi dan bertahan itu disiram dengan mitraliur. Peutua Husin tewas sebagai pahlawan bangsa dengan kawan-kawannya, dan Tentara Jepang pun memasuki kota Langsa. Waktu pertempuran sedang terjadi di sepanjang jalan raya Kuala Simpang-Langsa itu, di Langsa sendiri telah dibuat persiapan untuk membantu garis depan, selain tenaga manusia, juga makanan. Para pen- duduk laki-laki dan perempuan yang tidak ikut ke garis depan membuat dapur umum dan membungkus nasi untuk prajurit yang sedang bertem- pur. Untuk mengantar nasi itu Pak Wiryo telah menawarkan diri. Biar PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH — 11
pun ia dicegah, karena masih ada orang lain yang lebih muda dan gesit, tetapi dia mendesak juga untuk memberikan baktinya. "Kalau saya mati nanti," katanya kepada istrinya setelah ia salat, "Kuburkanlah saya dengan pakaian saya ini juga dan tutuplah muka saya dengan bendera ini." la menunjukkan bendera Merah-Putih yang sedang dipegangnya. Bendera itu dimasukkannya ke dalam saku jasnya. la pun berangkat dengan truk Bushi Chosei Cho, yang dikemudikan oleh salah seorang supir dari Persatuan Supir Republik Indonesia. Orang-orang Langsa tidak mengetahui bahwa pada waktu itu pertahanan di garis depan telah pecah dan orang-orang Jepang telah maju ke Langsa. Kelambatan Tentara Jepang itu hanyalah karena serangan yang dilakukan oleh Peutua Husin dan kawan-kawannya. Tetapi seka- rang pertahanan itu pun telah pecah. Truk yang membawa nasi itu sampai di Langsa Lama dan ketika Pak Wiryo turun mencari Tentara
Keamanan Rakyat yang mengawal di sepanjang jalan untuk diberikan
ransum, ia pun ditembak oleh Jepang yang sedang maju dengan berjalan kaki. Melihat Pak Wiryo tertembak, supir itu pun dengan segera membelok- kan truknya untuk pulang. Berita tentang kemarahan Jepang itu pun ter- siar dengan cepat dan orang-orang pun lari meninggalkan kota, masing- masing mencari perlindungan. Pembesar-pembesar negeri seperti Ass. Residen, Kepala Pekerjaan Umum, Jaksa dan lain-lain telah mengungsi ke Kemuning, sebuah kampung kecil arah ke ulu. Dr. Bagiastra, sesuai dengan tugasnya sebagai dokter tidak meninggalkan kota. Ia terus bertugas merawat orang-orang yang luka di rumah
sakitnya. Ketika orang-orang Jepang sampai di kota Langsa, ia pun
ditangkap dan dibawa ke Kantor Polisi. Orang-orang Jepang lebih dahulu menduduki Kantor Polisi dan orang pertama yang mereka cari, menurut keterangan dr. Bagiastra, ialah aku. Mereka menganggap aku- lah yang menjadi biang keladi sehingga terjadi perlucutan senjata itu. Keterangan dokter ini dapat dibuktikan kebenarannya, karena rumahku
sendiri ketika itu digeledah oleh orang Jepang, pintu belakang mereka
pecahkan dan mereka masuk ke dalam rumah. Nenek sudah bersem- bunyi di rumah seorang tetangga dan yang ada di rumah pada ketika itu hanyalah Junied. la sedang memegang pistol mau menembak orang Jepang yang datang itu ketika dipergoki lalu diikat. Kemudian dibawa ke Kantor Polisi. Bersama-sama dr. Bagiastra ia diikat. Kepadanya ditanyakan tempat persembunyianku. Walaupun Junied mengatakan aku tidak ada di Langsa tetapi mereka tidak percaya. Mereka masih terus mencari di seluruh kota Langsa.
Selama dua hari dua malam orang-orang Jepang itu berkuasa di Langsa. Mereka menggeledah beberapa tempat yang dicurigainya. Dari rumahku mereka mengambil sebuah pedang yang kami jadikan hiasan dinding. Dan pada waktu itu pula bala bantuan sedang bergerak dari Aceh Utara. Beribu-ribu orang, tidak saja anggota Tentara Keamanan Rakyat tetapi juga orang-orang kampung yang bersenjatakan tombak, parang dan pedang ikut serta maju menuju Aceh Timur. Ketika mendengar berita itu pada malam yang ketiga, dengan terburu-buru orang-orang Jepang meninggalkan kota Langsa. Mereka mundur dan membuat per- tahanan di Langsa Lama. Jika bantuan dari Aceh Utara itu sampai maka terjadilah pertempuran sengit di sekitar tempat itu. Karena bantuan terlalu banyak, maka orang-orang Jepang pun mundur sampai ke Tualangcut. Gubernur Sumatera Mr. Teuku Mohd. Hassan telah berkejar ke Aceh Timur dan mengusahakan gencatan senjata. Orang-orang Jepang disuruh mundur sampai ke Kuala Simpang dan orang-orang Indonesia mundur hingga di Tualangcut itu saja. Dan itulah ceritanya sehingga aku sampai kembali ke Langsa. Waktu orang-orang Jepang telah terpukul mundur, barulah dicari orang-orang yang hilang dalam pertempuran pertama ketika Tentara Jepang maju ke Langsa. Di antara yang hilang terdapatlah Ghazali Idris, Pak Wiryo, Peutua Husin dan beberapa orang yang lain lagi. Pak Wiryo telah dikuburkan di tempat kejadian itu juga, sesuai dengan amanatnya. Mukanya ditutup dengan bendera Merah-Putih yang dibawanya, ia dikuburkan dengan pakaiannya sekaligus. Ghazali Idris diketemukan di dalam Sungai Langsa, ia bergantungan pada serumpun bambu dan menunggu di situ dengan harapan orang-orang akan men- carinya. Ia kena tembak pada pahanya, hampir di pinggang. Dan karena sudah dua hari dua malam lebih ia di situ, tanpa pertolongan, maka darah yang keluar banyak sekali dan lukanya pun sudah menjadi parah. Ia pucat lesi dan tidak berdaya lagi, ketika dibawa ke rumah sakit. Ghazali tak dapat ditolong sebagaimana mestinya. Untuk membantu darah tak cukup alat, untuk memotong pahanya itu pun tak cukup alat juga. Memang pada waktu itu obat-obatan dan alat-perkakas sangat kurang sekali. Aku bermaksud akan pergi melihatnya di rumah sakit pada malam itu juga, tetapi banyak kawan-kawan yang melarang karena hari telah larut benar. Keesokan harinya aku pergi menjumpainya di rumah sakit yang
telah kosong itu. Hanya ada beberapa pasien saja yang masih ada di sana. Dia ditempatkan pada bangunan yang berdampingan dengan tempat tinggal para juru rawat. Dengan demikian mereka dapat mengawasi- nya lebih teliti. Tak dapat kubayangkan bagaimana terharunya hati kami ketika bertemu. Aku tak dapat menahan air mataku lagi saat melihat tubuhnya yang tinggal kulit pembalut tulang saja. Kakinya yang sebelah kecil, sebesar lengan. Dia menangis dan aku pun menangis. "Nasibmu baik kau lekas kembali," katanya dengan suara lemah. "Kalau tidak barangkali kita takkan dapat bertemu lagi." "Ah, jangan bicara begitu," sahutku. Tak dapat lagi kuteruskan, kerongkonganku sudah tersumbat. Kulihat tempat lukanya. Dekat sekali dengan pinggang. Menurut dokter luka itu harus selalu dibuka-buka karena mau mengeluarkan serpihan-serpihan tulang yang masih tinggal di sana, yang sebentar- sebentar bernanah. Itulah yang sangat menyiksa dirinya. Pada waktu itulah aku dan kawan-kawanku baru mengetahui gadis yang menjadi pujaan hatinya. Dia adalah Asnani yang tinggal di rumah petak di depan rumahku. Tiap-tiap petang Asnani datang ke rumah sakit itu membawa makanan dan menemaninya untuk beberapa waktu. Barangkali karena itulah maka dia masih saja kuat kelihatan, sekalipun pada hakikatnya lebih separuh tenaganya sudah tidak ada lagi. Melihat penderitaannya itu, dokter tak dapat lagi membiarkannya lebih lama demikian. Jalan satu-satunya yang masih ada untuk menyelamatkan nyawanya hanyalah dengan memotong pahanya itu. Dokter menanyakan pendapat kami semua, pendapat kaum keluarga- nya, semuanya setuju saja. Lalu dengan baik dokter dan aku memberi- tahukan kepadanya. Mula-mula ia tak mau, ia kuatir kalau-kalau Asnani nanti meninggalkannya karena kakinya yang hanya tinggal sebelah. Aku membujuknya, kukatakan, lebih baik demikian sebab betapa pun juga dia masih dapat bekerja dengan tangan dan akan berakhir penderitaannya yang terus-menerus itu? Dia berjanji akan menanyakan lebih dahulu kepada kekasihnya. Di Langsa pada waktu itu sudah tidak ada Kepala Polisi. Wakilku dulu telah mati dibunuh ketika Jepang menyerang Langsa, dan pegawai-pegawai polisi yang masih ada itu pun sangat mengharapkan agar aku kembali memimpin mereka. Aku sendiri karena beberapa bulan sudah biasa hidup bebas lepas tanpa terikat, telah keenakan begitu saja. Namun demikian kadang-kadang pergi juga aku melihat-melihat dan memberi nasihat kepada pegawai-pegawai polisi itu.
Teuku Alibasjah telah menjadi Wedana Langsa dan dia tinggal di sebuah rumah di depan Kantor Gunseibu dulu. Keadaan di kota Langsa pada waktu itu seolah-olah tidak keruan saja. Tentara-tentara yang dulunya ditempatkan di Langsa, karena menghadapi ancaman Tentara Jepang di Kuala Simpang, masih belum ditarik kembali. Walaupun pada dasarnya orang-orang Jepang itu patuh dengan gencatan senjata yang telah diadakan oleh Gubernur Teuku Mohd. Hassan. Aku mendapat kabar bahwa beberapa orang bangsawan telah ditang- kap ketika Tentara-tentara Jepang menyerang Langsa. Di antara mereka itu ada yang telah mati di dalam tahanan (tidak diketahui sebab-musabab- nya), yang sudah pasti mati ialah Tengku Sulung, Guntyo Temiang. Aku merasa sedih mendengar berita itu, sebab biar bagaimñanapun Tengku Sulung itu ialah kawanku yang baik, lebih-lebih ketika istrinya masih hidup. Ada seorang bangsawan yang minta perlindungan diri kepada orang-orang Jepang di Kuala Simpang. Pada suatu hari Abu Bakar Majid dan Budiman telah datang ke Langsa dan mengajak aku pergi ke Kuala Simpang untuk meminta orang Jepang menyerahkan bangsawan Aceh itu. Bangsawan itu dulunya menjadi oleebalang di Lhok Sukun dan kemudian menjadi Guntyo di Langsa menggantikan Teuku Daoedsjah yang telah dipindahkan ke Kotaraja. Abu Bakar Majid dan Budiman ini pernah bekerja dengan Tuan Yone- zawa,1 sebelum mereka memasuki latihan opsir Giyu-Gun. Dalam rombongan kami itu ikut serta Tengku Osman Peudada. Kami berangkat dengan sebuah jeep dan ketika sampai di Medang Ara kami disambut oleh orang Jepang yang menjadi pengawal di situ. Mula-mula dia merasa curiga terhadap kami, tetapi setelah diketahuinya maksud kami, maka ia pun menghubungi markasnya. Tak lama kemudian datang seorang pembesar Jepang yang pandai berbahasa Indonesia, lalu mem- bawa kami menjumpai kepalanya, seorang kolonel. Mula-mula pembicaraan itu agak tegang juga, tetapi lama-kelamaan mereka mulai lembut. Setelah mereka mendapat jaminan bahwa bangsawan itu tidak akan dibunuh, barulah mereka mau menyerahkannya. Kebanyakan pembesar Jepang yang ada di situ ialah pembesar-pembesar Jepang dari Aceh dulu. Dan ketika kami sampai kembali di Langsa, seorang Jepang lain sedang menunggu untuk meminta izin ting-
1. Ketua pasukan polisi rahasia lain daripada polisi biasa dan Kempetai, yang bergerak
sendiri
gal di Aceh. Dia tidak mau pulang ke Jepang ataupun ikut bersama- sama Jepang yang lain ke Medan. Anehnya, Jepang yang datang meminta izin itu ialah Tuan Matsumoto yang menjadi musuhku! Abu Bakar Majid menyerahkannya kepadaku. Meskipun dulunya aku sangat marah kepadanya, tetapi ketika melihat dia merendahkan diri sedemikian rupa, maka hatiku pun menjadi lembut. "Berilah izin kepada saya untuk tinggal di sini," katanya. "Saya boleh bekerja apa saja, saya juga sanggup menjadi tukang sapu, asalkan saya diberi kesempatan." Ya, memang aneh sekali hidup ini! Dan kalau kita akan membalas dendam, sudah tentu kita tidak akan mendapat penyelesaian dalam perkara apa saja. Aku memberi izin kepadanya untuk tinggal di Aceh. Sementara itu keadaan di kotą Langsa sudah tidak setenteram dahulu lagi. Sisa peperangan dengan Jepang masih ada bekas-bekasnya. Orang-orang yang datang dari utara masih banyak, mereka itu berkumpul di Langsa untuk menunggu komando menyerang pertahanan Jepang di Kuala Simpang. Selagi komando itu belum ada maką selama itu pula mereka berkumpul di sana, menempati rumah-rumah sekolah, masjid, surau dan bangunan-bangunan besar lainnya. Pada waktu itu ada beberapa orang yang tak kukenal selalu saja bolak-balik antara Langsa dengan Lhok Seumawe. Mereka itu pada pen- dapatku tentulah orang-orang besar, karena melihat para pengiringnya yang lengkap bersenjata dan garang-garang belaka. Aku tak pernah ber- kenalan atau diperkenalkan dan aku pun merasa tidak perlu untuk ber- kenalan dengan mereka yang tak ubahnya seperti gangster dalam film- film cowboy itu. Dalam masa keadaan meruncing di Aceh Timur seperti itu, tiba-tiba pecah kabar bahwa perang saudara telah terjadi di wilayah Lamlo, antara puak oleebalang dengan rakyat. Menurut berita yang kami dapat di Langsa, puak. oleebalang yang mula-mula menyokong kemerdekaan Indonesia jtu telah mempersiapkan dirinya dengan alat-alat senjata yang diperoleh dari Tentara Jepang dan kemudian menyerang Tentara Ke- amanan Rakyat yang ditempatkan di situ. Ada orang yang mengatakan mereka itu dihasut oleh kaki-tangan Nica dan ada pula yang mengatakan bahwa ada di antara oleebalang itu yang telah pegi ke Medan untuk mene- rima instruksi dari Belanda. Tetapi walau bagaimanapun perang saudara yang terkenal dengan nama Peristiwa Cumbok ini telah banyak memakan korban dari kedua belah pihak. Usaha-usaha untuk mengadakan gencatan
senjata telah dilakukan oleh Teuku Panglima Polem Mohd. Ali, anak Panglima Polem yang terkenal dalam perjuangan menentang Belanda dulu dan oleh Teuku Bujang salah seorang buangan politik yang telah dibebaskan ketika Jepang masuk ke Indonesia. Namun perjuangan yang sengit terus-menerus terjadi sehingga Teuku Cumbok itu tewas. Itulah peristiwa berdarah yang paling besar yang pernah terjadi di Aceh setelah merdeka dan karena itu pula Lamlo diubah namanya menjadi Kotabakti. Sebenarnya peristiwa ini adalah ekor dari dendam lama yang tak kun- jung padam, antara rakyat dengan oleebalang di daerah itu. Dalam zaman Belanda, oleebalang di daerah ini terkenal sekali dengan keke- jamannya. Menurut cerita, anak gadis yang akan kawin, lebih dulu mesti dibawa dan tidur dengan oleebalang itu. Perampasan harta, kerbau dan tanah tak terkatakan lagi. Rakyat di daerah ini benar-benar terjepit dan hidup di atas bara api. Itulah sebabnya ketika terjadi pertempuran, perbuatan ganas yang kadang-kadang melampaui perbuatan biadab telah dilakukan oleh kedua belah pihak. Tetapi syukurlah peperangan itu telah berhenti dan keadaan telah pulih kembali. Orang yang bolak-balik yang kukatakan di atas tadi rupanya bernama Teuku Ibrahim salah seorang kemenakan Teuku Bujang. Ia anak oleebalang di Cunda, sebuah kampung yang letaknya tak jauh dari Lhok Seumawe. Karena pamannya bekas orang buangan, dan dihormati oleh setiap orang, maka ia pun turut menumpang kebahagiaan. Ikut mempropagan- dakan dirinya sebagai salah seorang orang besar. Ia seringkali datang ke Langsa dan pada suatu kali aku melihat ia makan dan ketawa-ketawa besar di rumah Bang Amin, tempat aku menumpang dulu. Karena dia tidak pernah menegur aku, maka aku pun tidak pernah mendekatinya. Dan aku juga tidak ingin tahu tentang perbuatannya. Aku sendiri tidak mempunyai pekerjaan yang tetap. Walaupun aku masih menjadi pegawai polisi tetapi aku tidak pernah pergi ke Kantor Polisi.
Setelah tiga hari aku sampai di Langsa, Tuan Hassanuddin, pegawai polisi dari Idi datang ke rumahku. Ia datang bersama Abu Bakar Majid dan Budiman. Mula-mula aku menyangka kedatangan mereka itu hanyalah sebagai satu kunjungan biasa saja. Barangkali mereka datang ingin mendengar kisah-kisah perjalananku yang tak sampai ke Pulau Jawa itu. "Tuan Abdullah," Tuan Hassanuddin membuka bicara. "Kami datang untuk memberitahukan kepada Tuan satu perkara penting." Aku diam dan perasaan ingin tahu menguasai diriku. Tuan Hassanuddin tidak terus bicara. la diam dan memandang ke mukaku. Pandangan matanya yang tak berkedip itu membuat aku menjadi gelisah dan terpaksa pula aku memandang muka kawannya yang dua orang itu.
"Malam ini,"kata Tuan Hassanuddin selanjutnya. "Tuan jangan
keluar dari rumah. Kalau Tuan mendengar bunyi letusan, duduk sajalah di rumah, jangan keluar-keluar." "Ada apa?" tanyaku dengan gelisah. "Saya tidak dapat mengatakannya. Nanti Tuan akan mengetahuinya sendiri. Bukankah begitu, Bakar?" "Ya, Tuan tak usah keluar. Lebih baik diam di rumah," Abu Bakar Majid memperkuat keterangan Tuan Hassanuddin itu. Semua pem- bicaraan ini dilakukan dalam bahasa Aceh dan sebentar kemudian mereka pun minta diri. Setelah mereka itu pergi, aku pun menjadi serba salah. Aku ingat kem- bali tentang kedatangan Tengku Husin Al Mudjahid bersama Pak Natar Zainuddin beberapa hari yang lalu ke rumahku. Mereka itu tidak pernah datang dan itulah yang pertama kali sesudah hari perkawinanku dulu. Tetapi tidak ada percakapan serius tentang suatu perkara yang dapat ku- ingat. Kemudian aku teringat pula pada percakapan Alimuddin semalam tentang suatu revolusi yang mungkin terjadi di Aceh Timur. Tetapi mereka tidak pernah menerangkan lebih lanjut tentang hal itu. Akhirnya
aku mengambil keputusan akan tetap tinggal di rumah pada malam itu, seperti yang telah disarankan oleh Tuan Hassanuddin dan kawan- kawannya. Karena pikiranku tidak tenteram, aku tidak dapat duduk dengan tenang. Aku coba membaca buku, tetapi belum sampai satu halaman buku itu telah kuletakkan. Aku menyetel radio dan mencari-cari stasiun yang masih dapat kudengar siarannya. Tetapi siaran radio itu juga tidak menarik hati. Tiba-tiba di antara pukul dua belas dan satu, aku mendengar bunyi letusan beberapa kali. Aku yakin bahwa itulah letusan yang dikatakan oleh Tuan Hassanuddin tadi siang. Apakah yang ditembak mereka? Hatiku bertanya dan aku menunggu. sampai jam tiga pagi. Karena mataku sudah terlalu berat, aku mencoba tidur sebentar tetapi ketika kepalaku menyentuh bantal, mataku kembali nyalang. Aku bergolek- golek juga di tempat tidur dan ketika aku hampir terlelap kudengar bunyi mobil berhenti di depan rumah dan kemudian terdengarlah namaku dipanggil dari luar. Aku segera bangun dan membuka pintu. Kulihat Tuan Hassanuddin lengkap dengan pakaian seragamnya, bertopi waja dan ditaruh rumput- rumput seperti Tentara Jepang yang mula-mula kulihat di Bedong (Kedah) dahulu. Di belakangnya menyusul Amat, seorang pegawai polisi bagian Tokko-Kwa dari Idi. Mereka berdua saja yang datang dan terus masuk ke dalam rumah. "Tuan Abdullah," kata Tuan Hassanuddin dengan kasar. "Pakai baju dan ikut kami." Ia dan Amat membuka topinya dan duduk. "Mau ke mana?" aku bertanya. Aku berani bertanya karena mereka ini dulunya pernah bekerja di bawahku. Dan sebegitu jauh mereka sangat menghormati aku malah mereka mau mempertaruhkan nyawa- nya untuk membela kalau sekiranya aku dalam bahaya. "Ikut perintah!" kata Tuan Hassanuddin, mukanya serius. Aku memandang kepada Amat, dia tidak berapa serius kelihatan. Pada air mukanya masih tampak ketenangan. "Nenek, ada kopi?" Tuan Hassanuddin berseru kepada nenek yang sejak tadi sudah bangun dan menjenguk ke dalam ruangan tengah untuk melihat orang yang datang. "Kopi ada," ujar nenek. "Tetapi mengapa berpakaian seperti orang
mau perang, sih?"
"Kami datang mau membawa Tuan Abdullah, Nek," kata Hassanuddin. "Kami mau tangkap dia!"
Nenek tidak menghiraukan ucapannya itu, karena dia tahu bahwa Tuan Hassanuddin dan Amat itu dulunya bekerja bersama-sama aku. Ia terus pergi ke dapur. Aku khawatir juga melihat gurauan yang tidak me- nyenangkan hati itu. "Benar," ujar Amat yang dari tadi diam saja. "Pergilah Tuan Abdullah mandi dan berpakaian." Aku sudah tidak dapat mengelak lagi, lalu pergi mandi dan kemudian berpakaian. Aku masih bingung dengan kejadian yang tak menentu ujung-pangkal itu. Setelah minum kopi dengan getuk ubi yang dibuat nenek. Aku pun menaiki jeep bersama-sama mereka. Amat memberikan tempatnya di sebelah Tuan Hassanuddin kepadaku dan dia duduk di belakang. Waktu sampai di kota barulah aku mengetahui bahwa satu peristiwa besar telah terjadi pada malam itu di kota Langsa. Kota itu telah sunyi- senyap seperti negeri dialahkan garuda. Tuan Hassanuddin membawa aku berputar-putar keliling kota. Pada bangunan-bangunan besar, kulihat gerombolan-gerombolan orang ber- kumpul. Mereka semuanya membawa senjata, kalau tidak senapan, tentulah tombak, lembing, parang, pistol dan berbagai macam lagi. Pakaiannya beraneka ragam, ada yang memakai topi besi dengan mena- ruhkan rumput-rumput pada topinya itu. Aku tidak bertanya. Dalam hatiku timbul berbagai pertanyaan. Apa yang sudah terjadi? Ketika sampai di Kantor Polisi barulah jelas, bahwa pegawai polisi sudah tidak ada seorang jua pun, yang ada pada waktu itu adalah orang-orang kampung, di antaranya bekas tukang carukl yang dulunya pernah ditangkap oleh polisi dalam zaman Jepang. Merekalah yang menghuni kantor itu sekarang ini. Melihat keadaan yang serupa itu, aku sudah tidak dapat berdiam diri lagi. "Apa yang sudah terjadi ini?" Tuan Hassanuddin dan Amat mengajak aku turun dari jeep itu. Kami masuk ke dalam kantor kepala polisi. Disuruhnya aku duduk pada meja- ku dan mereka duduk pada dua buah kursi di hadapan meja itu. "Tadi malam di sini telah kami lakukan pembeřsihan terhadap anasir- anasir anti-Republik Indonesia. Orang-orang yang dicurigai telah ditangkap. Sekarang saya minta kepada Tuan Abdullah untuk menge- luarkan siaran kepada rakyat supaya jangan panik dan kembali bekerja
- Istilah bagi penyelundup kecil-kecilan waktu Jepang
seperti biasa. Barangsiapa yang membuat kacau dia akan ditangkap dan dihukum bunuh." "Tetapi mengapa pegawai polisi ditangkap juga?" aku bertanya dengan perasaan berang. "Itu satu kesilapan," kata Tuan Hassanuddin, "Tetapi Tuan Abdullah dapat minta supaya mereka dibebaskan." "Kepada siapa saya mesti minta?" "Kepada ketua yang melancarkan gerakan ini," jawabnya, "Tuan Abdullah jangan mengira bahwa di Langsa ini saja dilakukan hal serupa ini, tetapi di seluruh Aceh telah dilakukan serentak. Semua orang yang dicurigai telah ditangkap dan sekarang mereka itu ada dalam tahanan." Aku sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi. Mau tidak mau aku sekarang terpaksa menurut. Arus ini kuat, kalau aku melawannya sudah tentu aku juga akan dihanyutkan. "Baiklah," jawabku."Marilah kita pergi menjumpai ketua itu, biar
siapa pun juga orangnya."
"Tetapi panggilah orang yang membuat maklumat itu dulu. Saya tidak boleh meninggalkan kota ini sampai semua orang kembali bekerja seperti sediakala." Aku dengan segera mencari kawan-kawanku yang tidak kena tangkap. Untunglah kebanyakan mereka itu masih ada. Lalu kusuruhlah membuat maklumat-maklumat dan kemudian ditempelkan di tempat-tempat umum. Sebuah mobil telah digunakan untuk memberitahu kepada rakyat umum di kampung-kampung dan sekitarnya, bahwa kejadian pada malam itu adalah pembersihan terhadap anasir-anasir yang anti-Republik Indo- nesia. Aku terus tinggal di Kantor Polisi itu sampai sore. Orang-orang telah mulai ke luar ke pasar dan pegawai-pegawai yang datang ke pejabat pada siangnya pun terus kerja seperti biasa. Aku masih belum tahu siapa-siapa yang telah ditangkap. Ada berita yang mengatakan bahwa Teuku Alibasjah telah mati kena tembak, ketika dia menentang orang-orang yang datang mau menangkapnya. Sedih juga hatiku mendengar berita itu, tetapi aku belum berani bertanya kepada Tuan Hassanuddin dan Amat. Mereka berdua telah ke luar entah ke mana. Matahari hampir terbenam, ketika mereka datang kembali ke kantor itu dan mengajak aku ikut bersama-sama. Aku pun menaiki jeep itu dan tanpa bertanya ikut saja ke mana mereka bawa. Kira-kira jam delapan malam sampailah kami di Idi. Setelah makan, aku pun dibawa ke Kantor Pemuda Poesa.
Aku dibawa masuk ke dalam sebuah kamar yang diterangi oleh lampu gasolin. Di situ aku melihat Tengku Husin Al Mudjahid duduk tersandar pada sebuah kursi besar, perutnya menonjol. Dia seorang yang gemuk pendek, jambangnya tidak terpelihara, pada pinggangnya ada sebuah pistol besar buatan Jerman, ia memakai sepatu pacuk. Ia menegur aku dalam bahasa Aceh. "Saudara ini orang mana? Orang Aceh atau orang Malaya?" "Tengku pikir saya orang mana?" tanyaku kembali. Aku tidak gentar padanya, walaupun aku telah mengetahui dengan jelas bahwa dialah orang yang paling berkuasa di seluruh Aceh. Ketika berhadapan dengannya aku teringat akan revolusi sosial yang telah terjadi di daerah Sumatera Timur. Kejadian itu telah banyak mengorbankan orang-orang bangsawan, di antaranya pujangga Amir Hamzah dan Dr. M. Amir, seorang pakar ilmu jiwa bangsa Indonesia. Sadarlah aku sekarang ini bahwa revolusi yang serupa itu pula sudah terjadi di daerah ini, tetapi sampai sejauh mana, aku kurang tahu. Ketika mendengar pertanyaanku itu, ia ketawa berdekah-dekah. "Sekarang Tuan Abdullah mau apa?" tanyanya. "Saya mau supaya pegawai polisi yang ditahan itu dibebaskan semuanya. Mengapa mereka ditangkap?" "Baiklah," katanya. Lalu ia memanggil pembantunya Osman Adamy supaya membuat surat untuk membebaskan pegawai-pegawai polisi yang ditahan itu. Setelah surat itu kuterima, Tuan Hassanuddin mengan- tar aku ke penjara Idi. Kudengar suara orang di dalam penjara itu terlalu bising. Ada yang menyebut-nyebut nama Allah, ada yang meratapi dirinya, ada yang membaca ayat-ayat suci dan ada pula yang mengerang- erang. Aku tidak berani masuk, karena aku mudah terharu dan tidak dapat menahan kesedihan melihat orang-orang yang ditangkap itu, yang sudah tentu sebagian besar kenal baik dengan aku. Kuberikan saja surat itu kepada kepala penjara dan sebentar kemudian pegawai-pegawai polisi dàri Langsa pun dipanggil namanya, satu per satu keluar dari kurungan- nya. Ketika mereka melihat aku berdiri di luar, masing-masing datang menyerbu menyambar tanganku dan menciuminya. Susah juga aku mau mengelak serbuan mereka itu, karena aku hanya sendiri sedang mereka itu banyak. Setelah semuanya keluar, aku pun kembali menjumpai Tengku Husin Al Mudjahid meminta sebuah truk untuk mengangkut pegawai-pegawai polisi itu kembali ke Langsa. Setelah mereka diberi makan lalu di bawa pulang ke Langsa. Aku berpesan kepada mereka itu supaya jangan mem-
balas dendam terhadap orang-orang yang menangkapnya, karena hal itu terjadi akibat salah faham saja. Aku diantar kembali ke Langsa oleh Tuan Hassanuddin. Untuk men- jaga keamanan kota Langsa aku kembali bekerja sebagai kepala polisi. Dan dari pegawai-pegawai polisi yang kena tangkap itulah aku mengetahui bahwa dalam penjara Idi itu ada Teuku Alibasjah yang masih hidup, hanya perutnya saja yang tembus bekas peluru. Teuku Abdullah Paloh juga ditangkap dan ia diikat dengan rantai dalam satu kamar dengan Teuku Ibrahim anak oleebalang Cunda dan beberapa órang bangsawan dari Idi, Langsa dan Temiang. Tak lama kemudian atas jasa baik Teuku Mohd. Amin salah seorang anggota Pengurus Besar Poesa, Teuku Abdullah Paloh pun dibebaskan dan dipindahkan ke Kotaraja. Teuku Ibrahim telah ditembak mati, setelah pengadilan rakyat yang dibentuk oleh ketua gerakan pembersihan itu membuktikan dia bersalah. Ia ditembak mati pada sebuah bukit kecil jalan ke Panton Labu. Menurut keterangan yang kuperoleh, Teuku Ibrahim itu terbukti bersalah karena menyusun satu barisan di bawah tanah untuk menentang orang-orang Poesa dan itulah sebabnya maka ia selalu bolak-balik dari Lhok Seumawe ke Langsa. Teuku Abdullah Paloh dan beberapa orang lain di Langsa adalah kaki-tangannya. Tindakan yang dilakukan Teuku Ibrahim ini disebabkan karena ingin membalas dendam terhadap pen- culikan dan pembunuhan yang telah dilakukan oleh orang-orang yang tidak diketahui terhadap pamannya Teuku Bujang belum lama setelah peristiwa Cumbok. Dalam penjara ia telah dirantai dengan rantai besi yang besar. Ia seorang yang kuat. Kabarnya rantai yang begitu besar itu dapat diangkat olehnya dan dibantingkannya ke muka Teuku Abdullah Paloh yang di- anggapnya telah berkhianat kepadanya, sehingga muka Teuku Abdullah Paloh itu luka-luka. Setelah dia dijatuhi hukuman mati, ia pun dibawa ke bukit kecil itu dan di sana telah siap digali sebuah lubang untuk kuburnya. Tetapi ketika ia ditembak, peluru pistol itu sedikit pun tidak memberi bekas terhadap kulitnya. Ia ditikam dan ditetak dengan parang, itu pun tidak juga lut. Setelah puas para algojonya yang ingin berusaha membunuhnya itu, namun tidak juga berhasil, ia pun lalu berkata: "Benarkah saya ini bersalah?" "Benar engkau bersalah," ujar orang-orang itu. "Benarkah Tuan-tuan mau membunuh saya?" "Benar!"
"Kalau begitu tembaklah saya di sini," katanya. Ia lalu membuka mulutnya dan orang itu pun.menembak di anak lidahnya. Ketika itulah pelor itu baru menembusi kepalanya sampai ke belakang dan ia pun mati. Mayatnya digotong ke dalam lubang itu lalu ditimbun. Kata orang tempat itu sekarang berhantu! Orang-orang tahanan yang lain, kebanyakannya dari kaum oleebalang telah dibawa ke suatu tempat di Takengon, di antara mereka itu ter- masuklah Teuku Alibasjah. Dua hari setelah revolusi sosial itu terjadi di Langsa, pada suatu malam aku dibawa lagi ke Idi. Aku dipertemukan dengan Tengku Husin Al Mudjahid, karena ia menghendaki aku menjadi Bupati di Langsa. Aku menolak tawaran itu dan mereka lalu menawarkan jabatan Wedana. Itu pun aku tolak juga. Malam berikutnya bertemu di Gedung Nasional Langsa telah diadakan suatu rapat umum dihadiri oleh kepala-kepala kampung, ketua-ketua golongan, pegawai-pegawai negeri dan rakyat yang ada di sekitar kota Langsa. Dalam rapat itu ikut hadir Tengku Husin Al Mudjahid. Ia datang di- iringi oleh para pengikutnya, yang memakai seragam tentara dan bersen- jatakan pistol. Di antara mereka itu terdapat Nurdin Sufi, bekas opsir Giyu-Gun, Osman Adamy, Abu Bakar Amin, Abu Bakar Majid, Budiman dan Hassanuddin. Setelah dia berbicara sebentar, lalu bangun Osman Adamy meng- umumkan kepada hadirin bahwa mulai hari itu aku diangkat menjadi Bupati di Langsa. Dengan serta-merta aku membantah pengangkatan itu. Heboh sebentar. Setelah orang-orang mulai tenang, dia lalu menarik tanganku ke atas tempat yang agak tinggi, dengan mengacukan mulut pistolnya ke dadaku ia berkata: "Kalau ia tidak mau jadi Bupati, kita angkat dia menjadi Wedana dan kalau ini juga tidak mau, kita akan hadiahkan dengan ini ..!" Aku mulai takut melihat mulut pistol yang sudah dekat dengan perutku itu. Orang bertepuk tangan dan menjerit-jerit meminta supaya aku menerima pengangkatan itu. "Mau atau tidak?" Osman Adamy bertanya dengan suara lantang dalam gemuruh tepukan dan suara orang ramai itu. "Semua diam!" dia memekik.
"Setelah reda suara orang itu, dia lalu bertanya, "Mau terima atau
tidak." "Kalau main pistol yang seperti ini, apa boleh buat," kataku. "Saya terima!"
Sejurus lamanya suara tepukan dan pekikan bagai hendak menerbang- kan atap gedung itu. Begitulah caranya ketika aku dilantik menjadi Wedana Langsa. Mula-mula Tengku Husin Al Mudjahid mengucapkan selamat kepadaku, kemudian Osman Adamy dan setelah itu semua orang yang hadir dalam gedung itu. Sebagai Bupati telah diangkat Teuku Ali, adik Teuku Mohd. Daoed- sjah. Maka kami pun mulai menjalankan tugas masing-masing pada hari berikutnya. Waktu gerombolan revolusi sosial itu menyerang ke Temiang, Raja Karang telah ditangkap dan ditahan di rumah. Raja Karang ini sejak zaman Jepang terkenal sebagai seorang yang angkuh. Dia tidak berapa suka, Teuku Sulung diangkat menjadi Guntyo Temiang, oleh sebab itu selama tiga tahun Jepang memerintah, dia seolah-olah memencilkan diri, jarang ke luar dan kadang-kadang dalam perayaan-perayaan pun dia tak pernah hadir. Dia termíasuk salah seorang raja yang kaya. Rumahnya besar dan daerahnya juga besar, yang kebanyakannya terdiri dari perkebunan karet. Aku pernah sekali ke rumahnya dengan Tuan Ikeda. Ketika Raja Karang itu ditangkap dan ditahan, anak gadisnya telah diambil sebagai istri oleh Tengku Husin Al Mudjahid. Peristiwa ini ham- pir saja menimbulkan korban antara dia dengan pembantunya Nurdin Sufi yang kabarnya juga ada menaruh hati kepada anak gadis itu. Pengikut-pengikut Tengku Husin Al Mudjahid sudah mulai goyah terhadap kepemimpinannya karena peristiwa itu. Mereka menuduh ia telah mengkhianati perjuangan. Ia mau menghapuskan feodal, sedang- kan anak feodal diambil menjadi istrinya. Anehnya anak gadis itu juga suka kepada Tengku Husin Al Mudjahid, sehingga tuduhan yang mengatakan anak gadis itu telah dipaksa supaya kawin dengannya telah hilang begitu saja dan kawan-kawannya kembali mengaku taat setia kepadanya. Kabarnya karena itu pula Nurdin Sufi tidak jadi meninggalkannya. Tugasku sebagai Wedana Langsa banyak kulakukan di luar jabatan. Setiap hari aku ke luar melawat ke kampung-kampung untuk meng- gembleng semangat rakyat. Sebagai Wedana aku mendapat sebuah mobil Ford, tetapi aku lebih suka menggunakan truk ketika mengadakan lawatan ke luar kota. Karena dengan truk itu lebih banyak orang yang dapat kubawa di dalamnya. Orang-orang itu bukanlah pegawai-pegawai negeri, tetapi orang-orang kampung yang hendak bepergian yang ku- ketemui di jalanan.
Dalam seminggu hanya satu hari saja aku di kantor untuk menanda- tangani surat-surat, kebanyakan ialah surat-surat izin membawa barang-barang makanan dari Langsa ke Sumatera Timur. Perhubungan perniagaan antara Langsa dengan Pulau Pinang telah mulai ada. Banyak saudagar-saudagar Cina dari Pulau Pinang yang datang membawa barang-barang dagangannya ke Langsa. Di Langsa mereka membeli karet yang masih banyak terdapat di kebun-kebun, pe- ninggalan zaman Belanda dan Jepang. Karet-karet itu harus mendapat izin dari kantor Wedana sebelum dibawa ke luar, yaitu setelah ada surat pengeluarannya dari Kantor Residen. Sebulan sesudah aku diangkat menjadi Wedana Langsa, maka aku pun pergi ke Kotacane dengan menggunakan truk kewedanaan untuk menjemput istriku. Perjalanan tidak begitu sukar, karena beberapa kilometer di luar kota Medan berada di dalam kekuasaan Republik Indonesia, walaupun kifa terpaksa menghadapi pemeriksaan-pemeriksaan yang keras dan kasar dari Laskar-laskar Rakyat yang membuat halangan-halangan di jalan raya. Truk kami tak berapa ketat diperiksa, sebab pada sebelah-menyebelah dinding truk itu tertulis: Kantor Kewedanaan Langsa. Ibu mertuaku agak keberatan untuk melepaskan istriku kembali ke Langsa. Tetapi karena aku mendesaknya juga maka mau tak mau ia pun terpaksa mengalah. Dia meminta supaya aku membawa juga Nani ber- sama-sama, sebab Nani sudah tidak dapat tinggal lebih lama lagi di Kotacane, karena ada seorang pemuda Batak Karo yang tergila-gila kepadanya. Ibu mertuaku takut kalau-kalau nanti pemuda itu menggunakan guna-guna, yang banyak sekali terdapat di daerah yang masih kuat dengan kepercayaan primitif itu. Malam itu aku didatangi oleh seorang pesuruh dari Tuan Mohd. Djamil. Ia meminta aku membawa serta Inspektur Amiruddin, yang sekarang sedang bersembunyi di salah satu tempat, di luar kota itu. Inspektur-Amiruddin sedang dicari-cari oleh pemuda-pemuda Kotacane yang mau membalas dendam terhadapnya, jika mereka bertemu, niscaya ia akan dibunuh. Aku memang berani mengambil risiko seperti itu, selain dia salah seorang pegawai polisi yang kukenal, aku juga tidak suka terjadi pertumpahan darah karena sesuatu dendam pada waktu yang sudah-sudah. Malam itu juga ia dibawa ke rumah bapak mertuaku, karena pagi-pagi sekali kami akan berangkat kembali ke Langsa. Dalam perjalanan kembali itu kami telah diperiksa dengan teliti seperti ketika waktu kami
datang dulu. Inspektur Amiruddin bersembunyi di bawah terpal, di
sebelah kursi tempat aku duduk. Truk itu kami perlengkapi sedemikian rupa, sehingga di belakangnya kami dapat duduk dengan leluasa di atas kursi. Istriku duduk di depan bersama-sama supir. Aku, Nani dan seorang kenek duduk di belakang. Supir dan keneknya adalah orang-orang yang tahan banting, apa saja sanggup mereka lakukan. Mereka sengaja kupilih untuk perjalanan yang begitu jauh dan menyukarkan, apalagi dengan adanya seorang pelarian di bawah terpal. Di daerah Kotacane tidak begitu keras pemeriksaannya apalagi ketika mereka melihat tulisan pada truk itu, sebab Kotacane masih termasuk daerah Aceh, biar bagaimanapun juga rasa kedaerahan di sana masih kuat pengaruhnya. Setelah lewat dari daerah itu, Amiruddin pun kami suruh ke luar dari tempat persembunyiannya. Mukanya masih pucat ketakutan, dan duduk meringkuk dengan menahan napas. Orang-orang memeriksa truk itu me- nyebabkan ia seperti orang yang sudah kehabisan semangat. Ketika sampai di Langsa, setelah menginap satu malam di rumahku, ia pun berangkat ke Kotaraja dan tak lama kemudian kudengar kabar ia telah dipindahkan ke Meulaboh, menjadi kepala polisi di sana. Beberapa bulan kemudian ibu mertuaku kembali ke Langsa dan aku pun mendapat sebuah rumah berdampingan dengan stasiun kereta api. Rumah Wedana dalam zaman revolusi seperti itu dapat dikatakan sebagai rumah pesanggerahan umum. Kami tidak perlu menyediakan kursi-meja, tetapi cukup dengan tikar saja dan pintu rumah tak pernah tertutup. Sebab setiap waktu ada saja orang yang datang dan menumpang tidur, tidak saja dari daerah Aceh itu sendiri tetapi juga dari jauh, dari Jawa dan dari tempat-tempat lain. Teuku Mohd. Daoedsjah telah diangkat menjadi Residen Aceh meng-
gantikan Teuku Nyak Arif yang telah direvolusi-sosialkan oleh Tengku
Husin Al Mudjahid.
Waktu menjadi Residen dulu, Teuku Nyak Arif telah mendapat pang-
kat Mayor Jenderal Tituler dari Panglima Tertinggi Tentara Nasional Indonesia di Sumatera. Dan ketika ia ditangkap, pangkat itu diambil-alih
oleh Tengku Husin Al Mudjahid. Teuku Nyak Arif kemudian diasingkan
ke Takengon dan tak lama kemudian meninggal di sana. Aku ingin sekali kembali ke Tanah Melayu. Melihat perhubungan yang sudah begitu teratur antara Pulau Pinang dan Langsa, maka keinginan itu menjadi semakin besar. Tetapi karena pekerjaan yang begitu banyak, maka keinginan itu telah kupendam buat sementara.
PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH — 12
Orang-orang Jepang masih ada di Kuala Simpang. Orang-orang Indo-
nesia tidak diganggunya, tetapi untuk mematuhi syarat gencatan senjata, maka orang-orang yang melintasi daerah Temiang yang berada di bawah pengawasan Tentara Jepang tidak boleh membawa senjata. Sebagai protes adanya Tentara Jepang di bumi Aceh itu, dr. Bagiastra, Karim Duriat, Abdoessoeki dan aku telah membuat ikrar untuk tidak mencukur rambut dan jambang. Maka mulai saat itu kami pun membiar- kan rambut, janggut dan misai tumbuh semaunya. Mula-mula geli juga, tetapi lama-kelamaan menjadi biasa. Yang paling hebat ialah dr. Bagiastra, janggut dan jambangnya begitu lebat sehingga yang kelihatan hanya mulut, hidung, mata dan dahinya saja. Orang yang benar-benar mematuhi ikrar ini hanyalah dokter itu saja. Pak Karim telah mencukur rambut, janggut dan kumisnya ketika ia
pergi menghadiri sidang Dewan Perwakilan Rakyat di Bukittinggi. Aku
mencukurnya ketika mau berangkat ke Pulau Pinang dan Tuan Abdoessoeki kemudian mengikuti setelah melihat Pak Karim dan aku sudah tidak berjanggut lagi. Beberapa orang pemuda dari Jawa telah datang ke Aceh untuk mem- perkuat semangat perjuangan. Mereka dikirim oleh berbagai perkumpul-
an. Di antara mereka itu adalah Soeroso Prawirodirdjo dari Madiun dan Gatot Iskandar yang datang dari Kediri. Meskipun blokade Belanda di laut sudah mulai diperkuat, tetapi setiap hari ada saja motorboat dan kapal-kapal kecil yang menembus blokade itu. Motorboat, kapal dan tongkang-tongkang itu membawa berbagai macam barang dagangan dari Tanah Melayu untuk ditukarkan dengan karet yang sangat banyak terdapat di daerah Langsa. Pada waktu itu, karena baru saja mendengar nama 'bom atom' maka semua barang yang dibuat dari plastik disebut atom. Tali pinggang plastik disebut tali pinggang atom, ball-point disebut pena atom dan orang berlomba-lomba ingin memiliki barang-barang atom ini.
Barang-barang yang sangat diperlukan dan selalu mendapat pasaran baik ialah ban mobil, onderdil ganti mobil, tepung, beras, gula, bahan- bahan pakaian dan semen. Setiap motorboat, tongkang atau kapal kecil yang membawa barang-barang ini akan pulang dengan muatan karet yang sarat dan kalau mereka bernasib baik dapat menembusi blokade Belanda maka taukenya pun mendadak menjadi hartawan. Nyak Chut Hashim seorang saudagar dari Yan (Kedah) dan telah lama tinggal di Pulau Pinang telah datang ke Langsa dengan seorang temannya. Mereka membawa obat-obatan banyak sekali. Setelah berbicara dengan dr. Bagiastra di Langsa, mereka disarankan pergi ke Kotaraja untuk ménjumpai Residen Aceh dan Kepala Rumah Sakit Dokter Mah- yuddin. Untuk memudahkan urusannya, aku telah diajak pergi bersama- sama. Sehari sebelum kami berangkat, Junied, anak angkatku meminta izin untuk pergi mengunjungi orang tuanya yang sedang sakit di Rumah Sakit TB di Medan. Pagi-pagi sekali dia telah bangun, setelah mandi dan berpakaian, ia pun berteriak dari biliknya. "Junied pergi, Pak! Junied pergi, Bu!"
"Baiklah," jawabku. "Kirim salam kepada bapakmu nanti."
Di luar pengetahuanku, kepada kawan-kawannya ia memberitahukan bahwa ia tidak akan kembali lagi ke Langsa. Tetapi tidak seorang pun di antara kawan-kawannya yang memberitahukan kepadaku tentang hal itu. Besoknya aku pun berangkat ke Kotaraja dengan Nyak Chut Hashim dan temannya. Tetapi selama dalam perjalanan itu hatiku selalu saja tidak enak. Selama dua hari di Kotaraja aku hanya ingin kembali saja ke Langsa. Setelah segala urusan selesai, maka buru-buru aku mendesak Nyak Chut Hashim untuk kembali segera ke Langsa dan kalau mereka mau menunggu lebih lama lagi, aku sendiri saja yang akan pulang. Waktu sampai di Langsa, kulihat semuanya berjalan seperti biasa, tidak ada perubahan apa-apa. Malam itu aku mengunjungi Pak Karim Duriat. Kuperhatikan mereka itu tidak begitu gembira menyambut ke- datanganku, dengan tidak sabar aku bertanya.
"Apa yang sudah terjadi? Semua orang tidak begitu gembira kelihatannya."
Ibu Karim melihat kepada suaminya yang sedang duduk pada sebuah kursi menghadap aku. Pak Karim memandang balik kepada istrinya itu. "Bung Abdullah sudah tahu"
"Tau apa?"
"Junied sudah meninggal." "Tak mungkin. Dia kan pergi ke Medan?" jawabku setengah percaya. "Ya," kata Ibu Karim. "Dia meninggal pada petang kedua dia sampai ke Medan." "Benarkah Bu. Jangan bergurau,"kataku. Tetapi sekujur tubuhku telah lemah lunglai. Belum pernah aku merasa sesedih itu seumur hidupku. Terngiang kembali suara Junied ketika pamit pada pagi itu. "Bukan bergurau. Bung Abdullah lihat sendiri, semua anak-anak sedang bersedih hati." Aku diam tidak dapat berkata-kata. Sebentar kemudian aku pun pulang ke rumah. Rupanya tidak ada seorang pun yang ingin memberitahu tentang kematian Junied itu kepadaku. Mereka telah ber- mufakat supaya Ibu Karim saja yang menyampaikannya. Mereka takut kalau aku tidak percaya dengan berita itu, karena mereka tahu aku terlalu sayang kepada Junied. Dua hari kemudian aku menerima surat dari Medan dan guntingan surat kabar yang memuat maklumat tentang kematian Junied itu. Dalam surat dari bapaknya itu dilampirkan pula pelor yang masih ada darahnya yang telah menembusi tubuhnya. Sebuah sajak yang ditulisnya malam menjelang ia menemui ajalnya, dan uang kertas Jepang yang juga penuh dengan darah. Menurut surat itu, Junied sedang dalam perjalanan pulang dari melihat orang tuanya di rumah sakit bersama seorang teman. Waktu mereka melewati suatu tempat, mereka telah diserang oleh sekumpulan Tentara Gurkha. Kawannya tiarap di tanah dan tidak bergerak, tetapi Junied telah mengangkat kepalanya ketika didengarnya bunyi tembakan sudah tidak ada lagi. Saat itulah ia diberondong dengan peluru senjata mesin. Tujuh belas buah peluru telah bersarang di dalam tubuhnya. Berhubung hari sudah malam, maka besok paginya barulah mayatnya dicari dan dikuburkan dengan bantuan tentara-tentara India yang beragama Islam. Setelah itu barulah kawan-kawannya menceritakan kepadaku tentang apa yang telah dikatakan Junied, bahwa ia tidak akan kembali lagi. Meja di tempat kerjanya telah ia bersihkan dan semua barang yang kuberikan kepadanya, disimpannya baik-baik pada satu tempat. Memang dia telah tahu bahwa dia tidak akan kembali lagi!
T. Ishak (bukan nama sebenar) ialah seorang pemuda yang gagah,
tingginya sedang, kulitnya putih kuning, rambutnya hitam lebat dan sangat peramah. Dalam usianya yang baru meningkat dua puluh tahun itu dia sudah dapat dianggap sebagai seorang pemuda yang beruntung. Selain sudah mempunyai pekerjaan yang baik di dalam sebuah perusahaan negeri, dia juga termasuk golongan orang yang banyak uang. Dalam masa Jepang dia bekerja sebagai pegawai sebuah perusahaan yang menyediakan bahan-bahan baku untuk rakyat, karena dia seorang anak muda yang rajin dan aktif, maka Jepang telah memberi kepercaya- an yang penuh kepadanya. Semua kontrak dengan kuli-kuli di dalam perusahaan itu diserahkan kepada kebijaksanaannya, sehingga ketika Jepang menyerah, seluruh perusahaan itu diserahkan kepadanya. Ketika kantor tempatnya bekerja menjadi perusahaan milik negara, maka perusahaan yang dikendalikan oleh T. Ishak pun digabungkan menjadi sebagian dari kantor itu pula dan T. Ishak telah diangkat menjadi salah seorang pegawai tinggi. Selama beberapa bulan mengendali- kan perusahaan itu ia telah mendapat keuntungan yang banyak dan kantor tempatnya bekerja sekarang telah membayar ganti rugi kepadanya, karena pengambilalihan itu, sehingga mendadak dia tiba-tiba menjadi orang kaya baru. Perkenalanku dengan T. Ishak bermula, ketika salah seorang olee- balang dari sebuah kecamatan memperkenalkan dia kepadaku dan meminta supaya aku memperhatikannya selama dia bekerja di Langsa. Hubunganku kemudian menjadi lebih akrab ketika ia ikut serta dalam Seinendan. Karena aku lebih tua sedikit daripadanya, maka dia menganggap aku sebagai abangnya dan segala suka dukanya selalu diceritakannya kepadaku. Barangkali akulah satu-satunya orang luar yang mengetahui bahwa dia bukan keturunan bangsawan.
T. Ishak anak seorang petani biasa di kampung dalam kecamatan itu.
Karena hubungan bapaknya sangat dekat dengan oleebalang, maka anak laki-lakinya yang bungsu diberikannya kepada oleebalang yang menjadi raja di tempat itu. Oleebalang itu sangat sayang kepada anak angkatnya
yang dianggapnya seperti anaknya sendiri. Anak itu lalu disekolahkan
dan dipelihara dengan sebaik-baiknya. Agar dia tidak merasa asing dalam keluarga yang baru itu maka kepadanya pun diberikan gelar yang serupa dan itulah sebabnya maka dia telah menjadi salah seorang bangsawan Aceh.
Gelar yang diberikan itu kemudian mendatangkan bala kepadanya.
Satu bala, yang menurut anggapanku, merupakan satu penghinaan yang besar, satu olok-olok kalaupun tak dapat dikatakan satu balas dendam. Dan inilah yang akan kuceritakan dalam kisahku ini. Sepulang dari mengunjungi orang tuanya di kampung, T. Ishak mem- beritahukan kepadaku bahwa dia akan meminang anak perempuan seorang oleebalangcut di sebuah tempat sebelah utara Idi. "Sudah lamakah kau kenal anak gadis itu?"tanyaku kepadanya. "Sudah lama, Bang," jawabnya. "Saya sudah kenal dengan dia sejak dulu. Saya mengambil keputusan ini setelah saya berjumpa dengannya di stasiun kereta api dalam perjalanan pulang tadi. Ia berjanji akan menerima pinangan saya kalau pinangan itu saya lakukan sekarang ini." "Kapan kau akan meminangnya."
"Kalau boleh minggu depan. Saya harap Abang yang melakukannya."
Aku memang kenal baik dengan oleebalangcut, bapak gadis itu. Aku tahu mengapa T. Ishak meminta aku yang melakukan pinangan itu. Setelah putus mufakat maka minggu berikutnya kami bawa tepak sirih untuk meminang Cut Kamaliah, putri oleebalangcut untuk T. Ishak. Dengan segera pula pinangan kami diterima dan dibuat ketetapan akan melangsungkan perkawinan itu pada awal bulan Februari yang akan datang. Kami pun pulang membawa berita gembira itu kepada T. Ishak. Malangnya pada malam perkawinan itu akan dilangsungkan aku tidak dapat ikut bersama-sama. Walaupun demikian aku wakilkan seorang kepercayaanku untuk menjadi pengiring T. Ishak itu. Amat supirku yang merangkap sebagai pengawal pribadiku kusuruh ikut bersama-sama. Entah mengapa ketika aku melepaskan T. Ishak pada petang itu hatiku selalu tidak enak. Aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi, tetapi aku tidak berani mengatakannya. Hanya kupesan- kan berulang-ulang 'kepada Amat orang kepercayaanku itu supaya berjaga-jaga dan jangan membiarkan T. Ishak seorang diri.
Kira-kira jam dua pagi aku mendapat panggilan lewat telepon dari Idi.
T. Ishak sendiri yang bicara dengan aku. "Abang," katanya dengan suara gemetar, seolah-olah tersekat di kerongkongannya. "Saya sudah kena tipu." "Apa? Tipu apa?" tanyaku dengan keheranan. Debaran jantungku menjadi semakin kuat.
T. Ishak menceritakan kepadaku bahwa dia telah dikawinkan bukan
dengan Cut Kamaliah, tetapi dengan seorang pembantu rumah olee- balangcut itu. Naik darahku mendengar ceritanya itu. Satu hal yang sangat kubenci dalam hidup ini ialah penipuan. Aku merasa diperbodoh- bodohkan orang tidak pada tempatnya, aku merasa penipuan itu sebagai satu penghinaan yang paling kotor. Satu najis. Lebih-lebih lagi kalau yang menipu itu orang yang mengagung-agungkan dirinya sebagai orang terpelajar. Kuberi perintah kepada T. Ishak supaya ia jangan mengambil tindakan apa-apa. Supaya ia tenang sampai pagi dan kemudian pulang segera ke Langsa. Adat orang Aceh dalam perkawinan ialah setelah ber- sanding, pengantin laki-laki terus tinggal dan tidur di rumah pengantin perempuan. Kupesan kepada T. Ishak supaya ia kembali ke rumah pengantin perempuan itu dan dengan baik-baik ajak 'istrinya' itu bercakap-cakap sampai pagi, kalau boleh coba selidiki apa sebabnya sampai terjadi yang demikian itu. Amat juga kusuruh menunggu dan pulang bersama-sama T. Ishak besok paginya. Malam itu aku tidak dapat tidur. Dengan beberapa orang kawan aku berbincang untuk mencari jalan tindakan apa sebaiknya yang akan di- lakukan kepada oleebalang itu. Pagi itu juga aku menghubungi Osman Adamy di Idi untuk meminta bantuannya. Ia berjanji akan memberi- tahukan kepadaku siang besoknya. Kira-kira jam delapan pagi T. Ishak dan Amat telah sampai di Kantor Penerangan. Kami beberapa orang telah siap menunggunya di beranda kantor itu. "Celaka punya orang," demikian ucapan yang mula-mula keluar dari mulut Amat setelah dia sampai di hadapan kami. "Kita semua kena tipu." "Coba ceritakan dari mula," kataku dengan tak sabar lagi dan menyuruh mereka duduk. "Karena Tuan menyuruh saya jangan meninggalkan T. Ishak, maka saya pun mengikutinya ke mana saja. Sejak sampai saya tetap ada di sampingnya," kata Amat. Waktu itu T. Ishak kulihat pucat, lemah lung-
lai waktu menarik kursi, bukan karena dia kurang tidur tetapi karena tekanan perasaan yang begitu berat, karena kecewa ataupun karena malu besar. "Saya sudah mulai curiga waktu penghulu menikahkannya. Saya heran mengapa penghulu itu menyebut nama Halimah, bukan Cut Kamaliah seperti yang kita ketahui." Amat berhenti sebentar menarik napas. 'Mengapa T. Ishak terima nikahnya kalau nama itu sudah ditukar?" tanya Tgk. Ismail, ulama muda kami. "Karena itulah kali pertama saya menerima akad nikah, maka saya sudah terlalu gugup. Saya dengar dengan terang nama Halimah dan bukan Kamaliah, saya mau bertanya tetapi kemudian saya menyangka itu nama kecilnya. Tetapi Amat bertanya setelah itu, setelah ijab kabul itu selesai," jawab T. Ishak. "Saya yang bersalah. Saya terlalu ragu-ragu. Tetapi karena saya sudah tidak tahan lagi lalu saya bertanya, bukankah yang akan di- kawinkan itu lain namanya? Ada seorang menjawab, Itu nama kecilnya. Kemudian waktu bersanding kecurigaan saya menjadi bertambah besar, ketika saya. melihat di dekat pelamin lampu-lampunya tidak berapa terang. Saya ambil sebuah lampu gasolin di dekat pintu, saya bawa ke dekat pelamin. Saya tak percaya perempuan itu yang akan dijadikan istri oleh T. Ishak. Kulitnya hitam, emuk pula," kata Amat. "Siapa sebenarnya perempuan itu?" aku bertanya kepada T. Ishak. "Salah seorang orang gajian di rumah itu. Waktu kami berdua di dalam bilik dia menangis menceritakan kepada saya bagaimana dia dipaksa untuk kawin dengan saya. Dia menceritakan bahwa dia diupah untuk mengambil tempat Cut Kamaliah. Cut Kamaliah sudah tidak ada lagi di situ, ia disembunyikan di suatu tempat entah di mana. Perempuan itu menyembah-nyembah kepada saya, kalau saya mau menjadikan dia istri dia rela dan kalau saya mau menceraikannya pun dia tidak berkecil hati. Jadi apa yang mesti saya lakukan sekarang?" "Adakah kau berbuat sesuatu kepada perempuan itu?" tanya Achmid Abdullah. "Tidak, dia masih bersih, malah saya kasihan melihatnya." jawab
T. Ishak. "Bagaimana menurut Tengku?" aku bertanya kepada Tgk. Ismail. "Ceraikan saja," jawabnya ringkas. Petang itu kami mendapat kabar dari kawan-kawan di Idi. Bahwa oleebalangcut telah meminta ampun atas kejadian itu dan dia bersedia untuk membayar apa saja kerugian yang dituntut oleh T. Ishak. Malah
kalau T. Ishak mau kawin juga dengan Cut Kamaliah dia akan bersedia.
T. Ishak telah mengambil keputusan tidak akan kawin lagi dengan anak oleebalang itu. Halimah pun diceraîkan dan tak lama kemudian terdengar kabar bahwa Cut Kamaliah sudah seperti orang gila. Bapaknya menyesal bukan kepalang.
.185
Peperangan di Surabaya terus berkecamuk. Berita tentang adanya peperangan itu kami ikuti melalui radio dan surat-surat kabar yang terbit di Medan yang sampai di Langsa dengan waktu yang tidak teratur. Sebelum meminta perlindungan kepada Tentara-tentara Inggris yaitu sebelum revolusi sosial terjadi di Sumatera Timur, Dr. M,Amir telah mendirikan sebuah Kantor Penerangan. Aku tidak tahu tentang tujuan kantor tersebut didirikan, tetapi karena tertarik dengan namanya, maka sebuah kantor yang serupa pula namanya telah kudirikan di kota Langsa. Rumah tempat tinggal Kenciji Langsa dulu kuambil menjádi tempat kantor itu dan kusuruh ditulisi sebuah papan nama yang besar, yang kami pasang di depannya. Beberapa orang bekas anggota Seinendan Langsa dulu yang tidak mempunyai pekerjaan kutunjuk sebagai pegawainya. Achmid Abdullah kuangkat sebagai wakilku, yang mengurus semua soal administrasi, Zakaria Idris sebagai pegawai perhubungan, Salleh sebagai pegawai per- pustakaan, Yusuf sebagai pegawai teknik bagian radio.
"Saya tidak dapat menjanjikan gaji untuk Saudara-saudara," kataku
ketika mereka mula-mula masuk bekerja."Tetapi untuk belanja hidup Saudara-saudara selama bekerja dalam jawatan ini akan saya usaha- kan." Semua buku-buku dari perkebunan yang masih tersisa dari pembakar- an Jepang kusuruh kumpulkan dan dibawa ke kantor itu. Buku-buku In- donesia milikku sendiri yang beratus-ratus buah itu juga kuserahkan ke situ untuk menjadi bacaan umum.
Hampir setiap hari orang-orang dari sekitar Langsa datang berkumpul di kantor itu. Kadang-kadang kantor itu pula yang mereka jadikan tem-
pat mengadakan berbagai rapat, tempat bertemu dengan kawan-kawan,
tempat meminta bantuan uang dan sebagainya. Ada pula sebagian
datang hanya untuk duduk di kursi empuk yang sengaja kusediakan di
ruangan tamu, sebab seumur hidupnya belum pernah mereka merasakan duduk di kursi yang serupa itu. Tugasku setiap hari kubagi antara tugas sebagai Wedana di Kantor Kewedanaan dan tugas sebagai ketua Kantor Penerangan. Namun demikian, orang ramai tidak dapat membedakan pembagian tugasku itu. Sehingga kadang-kadang aku melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan kewedanaan di Kantor Penerangan dan pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan penerangan di Kantor Kewedanaan. Yusuf telah berusaha memperbaiki radio-radio yang rusak. Dengan rajin dan usahanya, dengan alat perkakas yang sangat sederhana dapat- lah kami mengadakan siaran radio yang kami relay dari Yogyakarta ke berbagai tempat di kota Langsa. Pada waktu itu pertempuran masih terus berlangsung di Surabaya. Setiap malam siaran Radio Republik Indonesia dari Surabaya kami dengar dengan penuh perhatian. Pidato Bung Tomo yang memanggil kawan-kawannya untuk maju ke medan pertempuran, kami rasa seolah-olah memanggil kami. Surabaya Sue atau Ketut Tantri, wanita Amerika yang menjadi penyiar dalam bahasa Inggris dari siaran radio tersebut menjadi salah seorang yang sangat besar pengaruhnya kepada pendengar-pendengarnya. Pada saat itulah Soeroso dan Gatot Iskandar sampai di Langsa. Entah dari siapa mereka mendapat keterangan, namun mereka terus saja men- cari rumah dr. Bagiastra. Kebetulan pada waktu itu di rumah dokter itu ada tamu lain, maka mereka dibawa ke rumahku. Di rumahku mereka tinggal dan mengadakan pertemuan dengan pemimpin-pemimpin pemuda yang ada di kota itu. Setiap hari mereka ikut aku dengan rom- bongan yang pergi ke tiap-tiap kecamatan untuk mengangkat camat, penghulu dan ketua kampung yang baru. Mereka ikut aku bersalat Jumat di tiap-tiap mesjid. Mereka ikut memberi penerangan kepada rakyat sampai ke kampung-kampung yang terpencil jauh dari kota. Kedatangan kami ke tiap-tiap kampung itu telah disambut dengan meriah sekali, seperti menyambut pembesar- pembesar yang sungguh-sungguh besar. Aku mereka kenal dengan nama julukan 'wedana janggut' — meskipun yang sebenarnya janggutku tetap tidak panjang-panjang. Kami dijamu dengan kenduri yang besar, kata- kata pujian dan sambutan tak henti-hentinya diucapkan. Dan ketika melihat semangat rakyat yang demikian itu, keyakinan kami menjadi semakin tebal, bahwa kemerdekaan Indonesia bukan suatu perkara main-main.
Camat, penghulu dan ketua kampung yang diangkat menggantikan oleebalang-oleebalang besar dan kecil yang sudah menarik diri ataupun yang telah ditangkap, dilakukan menurut pilihan suara terbanyak. Kadang-kadang dengan cara mengundi terbuka dan kadang-kadang dengan mengundi rahasia. Mereka yang telah diangkat itu terus memegang tugasnya sampai keadaan kembali normal. Soeroso dan Gatot mengajak aku ke Kotaraja. Tetapi sebelum aku berangkat, lebih dahulu aku pergi menjumpai Ghazali di rumah sakit untuk memberitahukan kepergianku itu. Menurut Ghazali jawaban yang diterima dari Asnani setelah diberi- tahukan kepadanya tentang maksud dokter hendak memotong kakinya itu sangat tidak memuaskan. Asnani hanya berkata, "Ikut suka hatimu- lah!" Meskipun jawaban itu bagi Asnani tidak ada artinya, tetapi bagi Ghazali telah meninggalkan perasaan waswas dan bimbang, sehingga dia mengambil keputusan, biarlah kakinya itu terus-menerus demikian. Dia tidak mau kakinya itu dipotong. Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Selesai berpamitan, aku pun berangkat menuju ke Kotaraja. Kami menginap di Hotel Melati, Bireuen. Pagi-pagi ketika aku bangun, pelayan hotel itu datang memanggil mengatakan ada telepon dari Langsa. Hatiku berdebar-debar, tetapi kukuatkan juga hatiku untuk mendengar suara orang di ujung sebelah sana. Kudengar suara dr. Bagiastra, yang memberitahu bahwa Ghazali sudah meninggal dunia. Badanku serta-merta menjadi lemah. Terbayang di ruang mataku tubuh yang kurus kering, yang sedang terbaring di salah sebuah tempat tidur di Rumah Sakit Langsa. Waktu aku berpamitan padanya, keadaan- nya telah semakin payah dan itulah sebabnya maka aku berpesan kepada dr. Bagiastra supaya memberitahu kepadaku seandainya terjadi sesuatu tentang keadaan kawanku itu. Beberapa hari kemudian, ketika aku sampai kembali di Langsa kudapati kawan-kawanku masih dalam berkabung, senyum sudah pudar dari bibir mereka, yang sungguh-sungguh merasa kehilangan Ghazali itu. Kawan-kawanku menceritakan kepadaku: penguburannya dilakukan seperti penguburan mayat seorang pahlawan tanah air. Dua belas das senapan ditembakkan ke udara ketika mayatnya dimasukkan ke dalam liang lahat.
Orang-orang yang datang mengiring mayatnya ke pekuburan tak ter- bilang banyaknya, belum pernah terjadi sebelumnya. Beribu-ribu orang, laki-laki dan perempuan, tua-muda, tentara dan rakyat berjalan berkilometer panjangnya. Andainya dia dapat melihat bagaimana penghormatan orang terhadapnya ketika itu — niscaya senanglah hatinya. Beberapa bulan sebelum Jepang menyerah, Ghazali telah menulis sebuah lirik lagu yang diberi judul 'Kembang Tak Jadi' — lagunya digubah oleh Mohd. Ali Salleh. Pada tanggal 14 April 1946, di dekat rumah sakit tempat ia dirawat, diadakan pesta perkawinan salah seorang jururawat dengan salah seorang teman kami. Meskipun tempat itu tidak terlalu dekat, namun bunyi musik dapat juga didengar oleh telinganya. Ghazali dengan tenang mendengar alunan musik itu, dan di antara lagu-lagu yang dinyanyikan, terdengar lagu 'Menimbang Rasa' yang liriknya ditulis olehnya. Mula- mula kawan-kawan yang membawakan lagu itu tidak sadar bahwa tak jauh dari tempat itu terbaring penggubah liriknya dengan air mata yang berlinang-linang, mendengarkan lagu itu. pernah sudah hatiku kubuka seluruhnya umpama buku dapatnya terbaca apa yang terlukis dan terguris di dalamnya. Bagi mereka, juga bagi penyanyinya tentu tak dapat merasakan apa yang sedang berkecamuk di dada penggubahnya yang tinggal tulang kerangka itu. Tetapi rasa itu baginya terlalu menyayat, lebih-lebih lagi dalam waktu itu. Adiknya yang menungguinya tidak sadar bahwa abangnya sedang tenggelam dalam alunan lagunya itu, namun ketika tiba-tiba abangnya tersentak bangun dan menyebut-nyebut nama kekasihnya, baru dia menyadari apa yang sudah terjadi. Setelah dia agak tenang, lalu dengan perlahan-lahan dia meminta kepada adiknya, supaya pergi meminta pemain-pemain musik itu memainkan lagu 'Kembang Tak Jadi' khusus untuknya. Waktu permintaan itu disampaikan, barulah kawan-kawan itu sadar bahwa mereka telah membuat kesalahan, karena memainkan lagu 'Menimbang Rasa' tadi. Mau tidak mau, meskipun penuh dengan keharuan dikabulkan juga permintaannya, tetapi kegembiraan diliputi oleh suasana sedih, tidak segembira tadi. Ketika lagu itu selesai, keadaan Ghazali pun semakin berat. Waktu berita itu disampaikan kepada kawan-kawan yang sedang pesta itu, maka mereka pun datang beramai-ramai ke rumah sakit dan terus berjaga-jaga
di situ. Saat dini hari dia pun sudah tidak dapat bicara lagi. Tepat jam setengah enam pagi ia pun menghembuskan napasnya yang penghabis- an, berangkat ke alam baka kembali menghadap hadirat Tuhannya. Asnani menangis meraung-raung. Tetapi kesedihannya itu akhirnya hilang juga, ketika tak lama kemudian ia dikawinkan oleh orang tuanya dengan seorang pemuda dari kaum keluarganya sendiri. Malam per- kawinan itu telah disemarakkan oleh pancaragam 'Angkatan Muda Sebaya' yang terdiri dari teman-teman Dalok, abangnya dan bekas teman-teman Ghazali semasa hidupnya. Di antara mereka itu ada yang masih ingat kisah-kisah lama, lalu secara kebetulan, ketika pasangan pengantin itu bersanding di atas pelamin, dimainkan lagu 'Kembang Tak Jadi'. Ketika pengantin perem- puan itu mendengar lagu tersebut, maka ia menangis terisak-isak, sehingga suasana yang riang gembira itu berubah menjadi heboh. Asnani tak dapat duduk lebih lama lagi di atas pelamin itu, maka dengan ter- paksa dia dibawa masuk ke dalam kamarnya. Di kota Langsa ada sebuah jalan di Kampung Jawa, yang bernama Jalan Ghazali di samping jalan-jalan lain yang masing-masingnya mem- punyai riwayat tersendiri, misalnya Jalan Peutua Husin dan Jalan Wiryo di Kampung Melayu.
Walaupun di daerah Langsa terdapat bermacam-macam partai politik karena penduduknya terdiri dari berbagai golongan. Tetapi partai Masyumi memegang peranan penting, karena kebanyakan penduduk kampung di sekitar kota Langsa terdiri dari orang Aceh dan orang Minangkabau yang banyak berniaga di dalam kota merupakan penganut Islam yang terbesar. Mereka ini dengan sendirinya menjadi anggota dan penyokong Masyumi. Barisan Islam yang lain yang tidak kurang pula kuatnya ialah Mujahiddin. Meskipun sebagian besar anggota Mujahiddin itu adalah orang-orang Masyumi juga, tetapi Mujahiddin berdiri-sendiri sebagai satu organisasi tentara rakyat yang kuat dengan pimpinan yang terasing. Itu- lah sebabnya di Aceh tidak terdapat Hiszbullah, Laskar Rakyat Masyumi, yang banyak terdapat di daerah lain di Jawa dan Sumatera. Kebanyakan orang-orang yang menjadi anggota Masyumi ini baik ulama maupun para pemudanya adalah militant belaka. Mereka meng- hendaki hukum Islam dijalankan dengan sebaik-baiknya tanpa teng- gang-menenggang lagi. Apabila mereka merasa pihak pemerintah terlalu tedeng aling menutupı dalam soal-soal yang berhubungan dengan agama, maka mereka mengambil kekuasaan ke dalam tangannya sendiri. Berita bagaimana tindakan itu·dilakukan sampai juga kepada kami di kota Langsa, tetapi tidak pernah terlintas kepada kami semua bahwa orang-orang Langsa akan mengalami yang serupa itu, karena melihat para pemimpin Mujahiddin di Langsa yang begitu moderat. Seorang penghulu di Langsa yang kami beri gelar 'Kadi Revolusioner' ialah seorang anggota Masyumi dan juga ahggota Mujahiddin yang tegas. Ia bersikap tegas dalam hukum-hukum agama. Namanya Tgk. A. Rahman. Kawan dan lawan sangat segan kepadanya, karena pendiriannya yang teguh dan berterus terang. Aku sendiri sangat menghormati- nya, karena ilmu dan pendiriannya itu. Namun demikian dia seorang
yang dapat diajak berunding dan bersedia pula memberikan pendapat- pendapatnya dengan segala senang hati. Hari itu aku seharusnya berangkat ke Peureulak untuk memeriksa sebuah irigasi yang baru dibikin atas usaha Pak Sjamsuddin MS yang selama ini aku minta membantu para petani yang tak dapat mengerjakan sawahnya karena kekurangan air. Setelah menyelesaikan urusan orang-orang yang datang ke rumahku sejak pagi-pagi, maka barulah pada jam sembilan lebih aku sampai di kantor. Di situ pun telah banyak pula orang-orang yang menunggu untuk meminta atau mengadukan sesuatu. Ketika aku sedang menandatangani surat-surat yang telah siap terletak di atas mejaku itu, aku mendengar bunyi genderang dan suara orang memekik-mekik di luar. Aku pun bangun melihat dari jendela ke arah datangnya suara riuh-riuh itu. Hilang semangatku sejurus lamanya,,ketika tampak apa yang sedang terjadi. 'Anggota-anggota' Mujahiddin dengan berbagai macam seragam, lengkap dengan senjata api dan pedang, beberapa orang yang memukul genderang, sedang memaksa seorang ternama yang menjadi tahanan di Kantor Polisi untuk mendukung di atas bahunya seorang perempuan sundal. Orang ternama dan perempuan itu telah ditangkap pada malamnya dalam salah sebuah hotel di kota itu. Satu hal yang menarik hati di daerah Aceh ini ialah berkurangnya kembang-kembang malam di dalam kota sejak dari zaman Jepang dahulu. Kembang-kembang malam yang kebanyakan datang dari daerah luar, tidak begitu berani mencari makan di Aceh karena mereka mengetahui bahwa di daerah ini orang-orang sangat kuat menjalani hukum- hukum Islam. Dan kejadian antara orang ternama ini dengan perempuan sundal dari luar merupakan satu hal yang luar biasa dan itulah sebab maka mereka ditangkap. Di depan orang ternama itu tergantung sebuah poster yang bertulis 'Aku telah berzina dengan perempuan ini'. Selain itu ada juga beberapa orang lain, yaitu laki-laki Cina yang mendukung perempuan Indonesia, karena mereka telah kedapatan hidup sebagai suami-istri di luar nikah, walaupun umum telah mengetahui tentang hal mereka itu sejak ber- puluh-puluh tahun yang lalu. Orang yang ditangkap karena hidup di luar nikah ada beberapa pasang. Mereka itu kemudian diarak berkeliling kota untuk disaksikan oleh orang ramai. Dan pada leher tiap-tiap orang laki-laki yang menjadi 'kuda tunggangan' itu tergantung poster yang sama. Aku buru-buru meninggalkan pekerjaanku. Aku ke luar lewat pintu
belakang kantor itu dan dengan meminjam sepeda salah seorang pegawai aku lari ke dalam kota mencari Tgk. A. Rahman 'Kadi R'evolu- sioner' itu, kemudian aku mengajaknya menemui Tgk. Ismail ketua Masyumi di Langsa. Aku menceritakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi. Kedua orang ini merasa gusar, mereka mengakui bahwa perbuatan ini merupakan tindakan liar yang tidak bertanggung jawab. Kami bertiga telah mengambil keputusan untuk mencegah peristiwa itu, maka kami pun pergi untuk mencegat barisan demonstrasi manusia itu. Tetapi ketika kami bertemu dengan barisan itu, hati kami menjadi kecut, karena melihat anggota-anggota barisan yang bersenjata lengkap itu seperti orang gila. Menjerit-jerit, melompat-lompat sambil berteriak- teriak seperti orang tidak sadar. Orang yang seperti itu tentu tidak dapat dicegah secara mendadak. Kalau dikerasi akibatnya akan terjadi pertum- pahan darah. Dengan kecewa kami menekan perasaan hati, dan kami pun mundur ke kaki lima sebuah kedai, sambil berdoa agar hal itu cepat berakhir. Aku hanya memandang kepada orang ternama itu, tubuhnya tidak seberapa besar dan tidak pernah bekerja berat pula, tetapi beban yang dibawanya itu cukup besar. Ia sudah tertatih-tatih berjalan, tersandung- sandung dan nampak sekali sudah lemah. Dia tidak berani berhenti atau melepaskan bebannya itu, karena kalau dia berbuat demikian, ia akan dipukul. Kami semua khawatir kalau-kalau mereka itu melakukan sesuatu tindakan kejam terhadap orang-orang itu. Kami hanya berdoa agar apa yang pernah kami dengar di tempat lain itu, akan berlakų pula di Langsa, yaitu setelah puas mereka mengaraknya, lalu diserahkannya kembali kepada polisi. Akhirnya orang-orang itu pun diserahkan kembali kepada polisi dan para 'pahlawan moral' itu pun pulang ke rumahnya masing-masing. Orang-orang yang menjadi korban aku suruh dibebaskan oleh pegawai polisi. Malam itu sesuai dengan mufakat kami bertiga, maka kami panggil orang yang menjadi kepala dalam perarakan itu. Riwayat hidupnya pun tidak baik pula, dulunya ia terkenal sebagai seorang yang nakal juga. Ia telah kami beri 'ceramah' dengan sekeras-kerasnya, sehingga ia minta maaf dan berjanji akan meminta maaf kepada orang-orang yang telah disiksanya lahir dan batinnya itu. Biar bagaimanapun tindakan mereka itu ada juga hikmatnya. Orang-orang yang ingin berbuat jahat secara terang-terangan sudah tidak ada PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH — 13
lagi. Perempuan-perempuan jahat yang mendengar nama kota Langsa akan menghindarkan diri jauh-jauh. Sedang orang Cina yang ingin mengambil perempuan Indonesia sebagai simpanannya, lebih dulu meminta nasihat polisi atau kantor kewedanaan. Tetapi bagiku semua itu merupakan satu pengalaman yang tak dapat kulupakan seumur hidup. Sampai ketika aku menulis kisah ini, di ruang mataku masih terbayang wajah orang-orang itu, masih tampak padaku 'anggota-anggota' Mujahiddin yang seperti orang gila berteriak-teriak dan memukul-mukul genderang tanpa irama itu. Yang menjadi tanda tanya kepadaku, apakah mereka itu sudah bersih benar dari segala kesalahan moral seperti itu? Inilah yang terus-menerus aku ragukan!
Meskipun kesan-kesan pedih bekas peninggalan kesengsaraan hidup dalam zaman Jepang itu masih terasa, namun semangat kemerdekaan yang tertanam dalam hati setiap rakyat Indonesia tak pernah pudar. Semangat itu ibarat'api di dalam sekam yang setiap waktu dapat ditiup untuk hidup semarak, membakar apa saja yang datang mendekatinya. Barangkali bagi kami di wilayah Langsa dapat juga membanggakan- nya dengan beberapa pucuk karabin yang kuambil dari Jepang sebagai modal perjuangan. Tetapi di beberapa tempat modal perjuangannya tidak lebih dari bambu runcing, kelewang berkarat, pedang Jepang, keris dan sebagainya. Sebenarnya senjata-senjata ini hanyalah merupa- kan syarat belaka, sedangkan yang menjadi tenaga pendorongnya ialah semangat ingin merdeka, ingin bebas lepas dari kuku penjajahan. Tiga ratus tahun lebih Indonesia dijajah oleh Belanda dan tiga tahun setengah pula Jepang menjalankan kekuasaan kuku besinya. Penderitaan ini sudah cukup. Bangsa Indonesia tidak saja dirampas hak-hak lahirnya tetapi juga batinnya ditindas, sehingga ia menjadi bangsa yang paling miskin lahir dan batin. Pekikan merdeka yang diteriakkan dari Lapangan Ikada Jakarta dalam bulan Agustus 1945 itu telah memberi harapan baru untuk hidup sebagai manusia, telah memberi tenaga untuk memulihkan semangat yang telah lemah, untuk tegak sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa-bangsa lain di dalam dunia ini. Pekikan merdeka itu telah membangunkan seluruh rakyat, memberontak membebaskan diri- nya dari rantai belenggu penjajahan. Dari Sabang sampai ke Merauke, pekikan merdeka telah bergema serentak, menggoncangkan sendi ang- gota rakyat Belanda yang semula akan datang melanjutkan pemerasan- nya. Setiap rakyat Indonesia tidak pernah bertanya tentang di mana kapal perang, di mana meriam penangkis kapal udara, di mana senapan dan sebagainya. Tetapi mereka serentak bangun dan bertanyadi manamusuh
yang akan digempur. Dengan apa? tanya kita. Dengan ludah, dengan gigi. Dengan ludah tujuh puluh juta rakyat Indonesia, negeri Belanda dapat ditenggelamkan. Dengan gigitan sepuluh orang bagi tiap-tiap satu orang Belanda, dapat mematikan. Kita tidak ada makanan? Tanya kita lagi kepadanya. Kita tidak perlu keju, kita tidak perlu mentega, pada kita ada pucuk ubi, ada kelapa, ada jagung, dan semua ini dapat meng- hidupkan kita. Setiap orang tua dan muda, laki-laki dan perempuan ingin maju ke garis depan untuk menentang Belanda dan kaki-tangan- nya. Agak heran juga kita memikirkannya, bagaimana keadaan kehidupan pada waktu itu yang sebenarnya. Dalam zaman Jepang yang baru lalu; hampir setiap hari orang-orang sibuk menyelundupkan beras dari satu daerah ke daerah lain karena kekurangan beras. Tetapi setelah merdeka, penyelundupan yang serupa itu sudah dilupakan begitu saja, tidak seorang pun yang pernah bertanya atau berteriak-teriak di mana beras dan sebagainya. Apakah ini hikmat merdeka? Setiap rakyat bulat tekadnya bahwa merdeka yang dikehendaki oleh- nya tidak kurang dari seratus persen, tanpa tawar-menawar lagi. Agak gempar juga sejenak, ketika dari pusat diterima kabar tentang perjanjian Linggarjati yang dibuat antara Indonesia dan Belanda dan ditandatangani di Jakarta pada 25 Maret 1947 telah mengurangi tuntutan seratus persen itu. Hari itu banyak pemuda-pemuda rakyat yang datang kepadaku meminta keterangan mengapa kemerdekaan kita sudah kurang nilainya? Agak sukar juga aku menjawabnya, aku sendiri tidak mengetahui bagaimana kedudukan yang sebenarnya persetujuan yang telah dibuat dengan bantuan Lord Killearn itu. Tetapi sebagai kepala pemerintah di kewedanaan aku mesti tunduk kepada perintah dari pusat, aku mesti mempertahankan kebijaksanaan yang dibuat oleh pemerintah. Hampir saja harga diriku jatuh di mata umum karena persetujuan itu, sebab selama ini aku selalu meneriakkan di hadapan khalayak ramai, "kita Pada bulan Juli tahun 1947 Belanda telah melancarkan agresi militer- nya yang pertama dan persetujuan itu mereka batalkan. Semangat rakyat kembali meluap-luap dán dengan mudah pula kami membakar- nya, karena kami mendapat bahan baru, bahwa Belanda bercabang li- dahnya, Belanda tidak dapat dipercaya dan kita gempur habis-habisan. Tetapi biar bagaimanapun semangat rakyat itu akan menurun juga apabila telah sampai ke puncaknya. Semangat berkorban sudah mulai dinodai oleh pemimpin-pemimpin gadungan yang pandai menangguk di
air keruh. Kalau dulu semua senjata yang dapat dirampas dari Belanda diserahkan dengan ikhlas kepada negara, tetapi kemudian orang sudah mulai menjualnya dengan harga yang mahal. Dalam satu-satu penyer- buan, yang mula-mula sekali orang cari ialah barang-barang rampasan. Walaupun orang yang rakus seperti ini tidak banyak, tetapi mereka itu telah menodai perjuangan suci. Mereka menjadi sumber perselisihan an- tara seorang dengan yang lain, mereka menjadi pusat kecurigaan. Barangkali juga, kekalahan pihak Republik dalam masa yang akhir- akhir ini karena kesucian perjuangan sudah mulai ternoda. Belanda mendapat daerah kekuasaannya semakin luas, kota-kota yang besar ham- pir seluruhnya telah jatuh ke tangan mereka. Hanya daerah pedalaman yang di luar kota saja yang dikuasai oleh Republik Indonesia. Tetapi dalam perjuangan menentang penjajahan seperti ini, semangat agamalah yang paling utuh mengikat rakyat seluruhnya. Daerah-daerah yang berpegang kuat dengan agama Islam sangat sukar dimasuki Belanda. Di daerah Aceh hanya Sabang saja yang dapat diduduki, daerah Banten hanya Jakarta, Bogor dan Bandung saja yang diduduki, pedalaman Sulawesi tetap dalam tangan Republik Indonesia. Barangkali juga Belanda telah jera dengan pengalamannya pada masa lampau. Mereka dapat menyerang Aceh dan menduduki semua kota-kota yang besar dalam tempo tujuh hari paling lama, tetapi mereka tidak sanggup memikul korban untuk kemenangan gemilang dalam satu minggu itu. Orang-orang Moro di Filipina ialah orang-orang yang paling lama ber- tahan menentang Spanyol dan Amerika, karena mereka orang Islam, seperti orang-orang Aceh, orang-orang Banten dan orang-orang Bugis dan Banjar yang dengan gigih melawan Belanda karena mereka kuat memegang agama. Pelajaran yang pahit ini menjadi peringatan kepada Belanda. Meskipun daerah Republik Indonesia menjadi semakin kecil, tetapi semangat rakyat umum tetap utuh, Belanda tahu bahwa mereka sudah mesti meninggalkan Indonesia. Akhirnya dengan perantaraan Komisi Jasa-Jasa Baik satu persetujuan baru telah dibuat di atas kapal pengang- kut Amerika yang bernama Renville pada tanggal 17 Januari 1948. Persetujuan itu telah mewujudkan persetujuan politik dan gencatan senjata serta perjanjian-perjanjian mengenai pembentukan Indonesia Serikat.
32 Ketika keadaan pemerintahan di Langsa berjalan dengan lancar dan teratur, maka aku pun meminta cuti untuk pulang ke Tanah Melayu. Pada masa itu belum ada paspor. Lalu kubuatkan surat keterangan untuk diriku sendiri. Kebetulan Tgk. Ismail Usman, Soeroso dan Gatot juga ingin ikut bersama-sama. Dengan sebuah motorboat, masinisnya seorang temanku dari Kumpulan Sahabat dulu, kami pun berangkat meninggalkan Kuala Langsa menuju ke Pulau Pinang. Pada.waktu itu, walaupun motorboat, tongkang dan kadang-kadang kapal kecil selalu bolak-balik membawa dagangan dari Aceh ke Tanah Melayu, tetapi kapal-kapal perang Belanda selalu saja mencegatnya di tengah-tengah Selat Melaka. Hanya nasiblah kalau di antaranya ada yang kena tangkap dan ditarik ke Belawan. Pelayaran kami berlangsung dengan selamat. Dua puluh jam kemu- dian kami pun mendarat di Pulau Pinang tanpa sesuatu pemeriksaan apa pun. Kami dibawa oleh masinis motorboat itu menumpang di rumahnya.! Besoknya aku pun kembali ke Kedah. Banyak sekali perubahan yang terjadi selama aku meninggalkan kampungku itu. Ucapan yang pertama yang kudengar dari mulut ibuku, ketika ia berjumpa denganku di belakang kedai kami ialah, 'Amboi, sat sangat hang pi'2. Setitik air mata kegembiraan tergenang di pelupuk matanya. Aku juga hampir menangis. Aku terkenang ucapan itu ditujukan kepadaku ketika akù akan pergi ke Yan beberapa tahun dulu. Karena menyangka aku akan kembali besoknya, maka ia menyuruh aku membeli asam sunti dan diberikannya'kepadaku uang sebanyak lima puluh sen. Dua malam di rumah aku pun pergi ke Alur Star untuk menemui kawan-kawan lama. Aku bertemu dengan Khir Johari, Senu A. Rah- man, Ahmad Jamil, Azhari Taib, Aziz Zain, Wan Ahmad dan lain-lain. Mereka semuanya giat dalam gerakan Seberkas3. Kebetulan dua hari
- Kisah lanjut dalam "Kurir-kurir Kemerdekaan," Balai Pustaka, 1988
- Dialek Kedah yang maksudnya: 'Amboi, sebentarnya kau pergi?
- Sebuah partai politik di Kedah.
kemudian süatu persidangan agung partai-partai politik Melayų akan diadakan di Johor 'Baru, Persidangan agung yang telah melahirkan UMNO itu. Dari Pulau Pinang kami berempat berangkat ke Ipoh bersama-sama dengan Ahmad Noor Abdul Shukor yang pada waktu itu menjadi pemimpin majalah Semboyan Baru di Pulau Pinang. Di Ipoh kami telah disambut oleh A. Rahman Rahim dan ketika akan berangkat meninggal- kan Stasiun Ipoh aku sempat bertemu dengan Aminuddin Baki yang kebetulan baru dilantik menjadi ketua Permi.1. Di Kuala Lumpur kami berteınu dengan Dr. Burhanuddin di markas PKMM2 di Batu Road dan kami dibawa menginap di sebuah rumah pe- sanggerahan 'Merdeka' di Jalan Perkins. Di sana kami makan dan minum bersama-sama dengan Ahmad Boestamam, Ishak Haji Muham- mad yang menjadi pemimpin harian Suluh Malaya dan majalah Pelita Malaya. Soeroso dan Gatot tinggal di Kuala Lumpur, sementara aku dan Tgk. Ismail berangkat ke Johor Baru, karena aku akan bertemu untuk per- tama kalinya dengan Kumasi Dainuri, salah seorang sahabat penaku se- jak dari Warta Malaya dulu. Hampir saja kami berselisih jalan. Tetapi naluri mengatakan bahwa kami sedang saling mencari satu sama lain, lalu secara kebetulan bertemu di Jalan Ibrahim, dari situ kami berangkat ke rumahnya di Teluk Kerang. Semalam di situ kembali lagi ke Kuala Lumpur dan kemudian ke Pulau Pinang. Waktu akan kembali ke Aceh, Abdullah Singgora dan Ahmad Kamal Ariffin ikut bersama-sama. Mereka naik sebuah tongkang bersama dengan beberapa orang romusya Indonesia dari Siam.3 Kami pulang dengan sebuah motorboat lain, tetapi kami sampai lebih lambat daripada mereka itu karena kerusakan mesinnya di tengah laut. Sepeninggalku di kota Langsa sedang berlangsung suatu Kongres Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) seluruh Sumatera. Wakil dari tiap- tiap negeri telah berkumpul di kota itu dan pada malam ketika kami sampai itu suatu rapat umum sebagai penutup Kongres akan diadakan. Melihat aku telah kembali, panitia Kongres lalu menunjuk aku menjadi pemimpin rapat umum itu. Biarpun kutolak, namun dengan paksa mereka meminta aku supaya menerimanya.
- Persatuan pelajar-pelajar Melayu Ipoh
- Partai Kebangsaan Melayu Malaya (Malay Nationalist Party of Malaya)
- Baca kisah yang lebih rinci dalam Kurir-Kurir Kemerdekaan, Balai Pustaka, Jakarta
1988.
Rapat umum itu telah berlangsung dengan meriah sekali. Beribu-ribu orang telah memenuhi tanah lapang di depan stasiun itu untuk mendengar wakil dari tiap-tiap negeri memberikan wejangannya. Para romusya yang datang dari Pulau Pinang itu kami tempatkan di Kantor Penerangan bersama Abdullah Singgora, Soeroso dan Gatot. Semeńtara Ahmad Kamal Ariffin, karena ia meminta menjadi ajudanku selama di Langsa, tinggal bersama aku di rumah kami di depan stasiun Langsa. Pegawai Kantor penerangan selama bekerja itu tak pernah menerima gaji. Setiap bulan kami mengadakan sandiwara untuk mencari uang bagi membiayai belanja hidupnya. Dengan uang hasil pertunjukan sandiwara itu kami belikan beras, ikan dan seorang sedikit uang saku. Semuanya merasa puas dengan cara yang demikian dan mereka bekerja dengan semangat yang luar biasa. Untuk belanja orang romusya dan kedua orang pemuda Melayu yang ikut bersama kami itu berangkat ke Jawa, kami adakan pertunjukan sandiwara lagi. Dari uang karcis dan penjualan bunga secára lelang kami dapat mengumpulkan uang cukup untuk mereka itu berangkat sampai ke tempat tujuannya. Kebetulan T. Yakoeb, seorang anak oleebalangcut dari Aloe Lho dan Taib Effendy dari Kotaraja bersama dengan Wahab serta seorang temannya ikut serta dalam rombongan itu ke Jawa. Mereka ingin melanjutkan pelajarannya di Universitas Gajah Mada. Zakaria adik Ghazali Idris juga kusuruh ikut bersama-sama. Beberapa hari sebelum mereka berangkat aku menyuruh Nordin, salah seorang pegawai Kantor Polisi Langsa berangkat ke Lukup, sebuah distrik di pedalaman yang termasuk dalam daerahku, untuk melihat obat-obatan yang kabarnya banyak sekali ditinggalkan oleh orang-orang Jepang. Obat-obatan itu mereka tinggalkan sebagai per- siapan peperangan gerilya yang akan mereka lakukan, seperti yang telah kuceritakan pada permulaan kisah ini. Nordin kembali ke Langsa membuat laporan, di dalam laporannya itu dia sebutkan bahwa dalam perjalanan pulang (pulang dan pergi ke tempat itu dengan berjalan kaki melintasi hutan, sungai dan gunung) ia telah bertemu dengan beberapa orang tentara dari TNI (Tentara Nasional Indo- nesia) Bireuen, yang kabarnya juga akan pergi mengambil obat-obatan itu. Waktu Nordin sampai di Peureulak, ia telah ditahan dan diperiksa, kemudian dibebaskan kembali ke Langsa. Tengah hari aku mendapat kabar bahwa Husin Joesoef panglima TNI Divisi Gajah I ada di Langsa, maka aku pun pergi mencarinya bersama
dr. Bagiastra untuk meminta keterangan dan menanyakan sebab-musabab Nordin ditahan. Kami berjumpa dengannya di bengkel karena dia menunggu orang-orang memperbaiki mobilnya. "Saya mau bicara sedikit dengan Tengku," kataku kepadanya. Dia seperti tidak acuh akan kedatangan kami itu. Dia terus berdiri dengan sebelah kakinya menginjak bemper mobilnya. "Saya tidak mau dengar," jawabnya dengan kasar. "Boleh pergi mengadu ke mana saja, walaupun ke Yogyakarta saya tidak takut." Mendengar itu aku dan dr. Bagiastra pun meninggalkan tempat itu. Aku sangka perkara itu selesai sampai di situ saja, sebab aku juga tidak mengadu ke mana-mana. Husin Joesoef ini dulunya seorang pekerja di kilang padi A. Wahab di Langsa. Ia masuk Giyu-Gun dalam zaman Jepang, kemudian menjadi anggota Tentara Keamanan Rakyat, dengan pangkat kapten. Ketika Tengku Husin Al Mudjahid mengadakan revolusi sosial, dia ikut dalam rombongan Tengku Husin Al Mudjahid itu menyerbu ke Kotaraja dan menangkap Sjamaun Gaharu yang ketika itu menjadi panglima Tentara Keamanan Rakyat seluruh Aceh dengan pangkat kolonel. Sama dengan Tengku Husin Al Mudjahid yang mengambil pangkat Jenderal Mayor Tituler dari Teuku Nyak Arif, maka ia pun mengambil alih pangkat kolonel dari Sjamaun Gaharu. Tengku Husin Al Mudjahid melantiknya menjadi kolonel dan panglima TKR untuk Aceh. Ia ber- perawakan besar, tinggi, mukanya bopeng dan rambutnya kaku bagai jarum. Dulu pegawai-pegawai bengkel itu pernah mengadu kepadaku, bahwa mereka selalu diperintah oleh tentara untuk bekerja sampai jauh malam tanpa istirahat sedikit jua. Aku mengetahui hal ini dan menurut pen- dapatku sangat tidak baik, tidak saja bagi kesehatan para pekerja itu tetapi juga bagi perjuangan. Kalau dalam keadaan normal mereka di- suruh bekerja tanpa henti-hentinya, mungkin dalam masa darurat mereka itu tidak dapat bekerja lagi. Mereka sakit ataupun minggat begitu saja. Kutulislah sepucuk surat memberitahukan hal itu kepada Bupati
T. Ali dengan usul agar kepada para pekerja itu diberi waktu istirahat dan cuti. Rupanya salah satu salinan surat itu telah diberikan kepada Husin Joesoef, untuk perhatiannya.
Malam itu kami mengadakan satu rapat umum untuk míenerangkan tentang obligasi yang baru saja keluar perintahnya dari Jakarta. Di an- tara para pembicaraannya adalah aku. Aku diminta menjadi pembicara yang terakhir. Para hadirin dalam rapat itu adalah seluruh bangsa yang ada di kota Langsa. Panggung bioskop Dai Toa Eigakan itu penuh sesak, sehingga melimpah sampai ke luar. Waktu aku berbicara itu, kulihat banyak sekali polisi tentara yang mondar-mandir di dekat pintu panggung itu. Pada beberapa pintu berdiri satu atau dua orang polisi tentara. Salah seorang daripadanya kukenal baik, karena ia pernah menjadi kopral dalam polisi dan bekerja di bawahku. Aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Kadang-kadang perasaan itu kutekankan dengan mengalihkan pikiran kepada perkara-perkara lain. Mereka datang mengawal rapat itu, kataku dalam hati. Dan aku terus juga berbicara sampai selesai. Setelah selesai pembicaraanku, dan karena aku pula pembicara yang terakhir, maka para hadirin pun pulang ke rumahnya masing-masing. Aku, dr. Bagiastra dan beberapa orang lagi menunggu orang-orang keluar dari panggung itu, karena kami perlu mengatur orang-orang yang akan mengurus dan membawa pulang barang-barang yang diambil dari luar, seperti meja, mikrofon, podium dan sebagainya. Dr. Bagiastra pulang lebih dahulu bersama istrinya karena rumah mereka hanya terletak di seberang jalan saja. Pak Karim Duriat meng- ajak aku pulang, tetapi aku masih menunggu kawan-kawan yang lain yang datang bersama-sama tadi. Kemudian kamł pun berjalan perlahan- lahan keluar dari panggung itu, istriku juga ikut dalam rombongan itu. Di sebelah Langsa Klub, yang sekarang bernama Gedung Nasional, Arbi, salah seorang polisi tentara datang mendekati aku dan memberi hormat.
"Tuan," katanya, setelah hormatnya itu kubalas. "Mayor Cut Rahman meminta Tuan datang ke markas polisi tentara sekarang ini." "Ada apa?" tanyaku penuh keheranan. Karena belum pernah aku dipanggil mendadak seperti itu apalagi sudah larut malam. "Saya tidak tahu," jawabnya. "Tetapi katanya perlu sekali dan Tuan mesti datang tak dapat tidak." "Baiklah!" ujarku dan aku pun menyuruh istriku pulang lebih dahulu. Ahmad Kamal Ariff karena tinggal di rumahku ikut pulang ber- sama istriku. Markas Polisi Tentara itu dulunya rumah Wedana Teuku Alibasjah, terletak tepat di muka Balai Penerangan. Aku pun membelok menuju ke rumah itu dan terus masuk. Banyak juga anggota tentara yang sedang duduk-duduk di ruangan tamu rumah itu, mereka semua lengkap dengan seragam dan senjatanya. .Aku tidak berapa menghiraukan, karena meņurut pikiranku sudah sepantasnya di situ ada tentara. Arbi membawa aku ke kamar tempat Mayor Cut Rahman menunggu. la mengetuk pintu kamar itu dan kemudian terus masuk. Aku mengikut dı belakangnya. "Perintah telah dijalankan," kata Arbi seraya mengangkat tangan kanan memberi hormat kepada mayor yang duduk pada sebuah kursi memandang tepat ke mukaku tanpa bergerak. "Tuan Abdullah, silakan duduk," katanya dengan dingin menyuruh aku duduk pada sebuah kursi di hadapannya. Aku pun menarik kursi itu lalu duduk. "Mengapa saya dipanggil?" tanyaku kepadanya dengan tak sabar. "Apakah Tuan Abdullah tidak tahu bahwa sekarang negara dalam staat van orloogl?" tanyanya kembali. "Saya tidak tahu," jawabku. "Tahukah Tuan Abdullah bahwa apabila negara dalam keadaan staat van orloog semua kekuasaan ada dalam tangan militer?', "Saya tahu," jawabku lagi tanpa mengerti akan tujuan percakapan- nya. "Karena sekarang Negara Republik Indonesia dalam keadaan staat van orloog, maka militer telah mengambil alih semua kekuasaan walaupun pemerintahan sipil juga," katanya seterusnya. Dan aku termangu-mangu mendengar ucapannya itu."Sekarang, saya atas nama Panglima Tentara Nasional Indonesia Divisi Gajah 1, dengan ini menahan Tuan Abdullah."
- Negara dalam keadaan perang
"Apa sebabnya saya ditahan?" tanyaku dengan berang dan bangun dari tempat dudukku. Dari luar masuk dua orang tentara dengan mengarahkan moncong senapannya kepadaku. Aku tahu mereka itu mean business, apabila saja diperintah oleh tuannya. Aku lalu duduk kembali dan dengan lembut bertanya, "Apa sebab saya ditahan?" Mayor Cut Rahman yang dari tadi tidak bergerak dari kursinya itu berkata, "Hal itu akan dapat Tuan Abdullah ketahui sendiri di Bireuen nanti, karena malam ini juga Tuan Abdullah diperintah bawa ke Bireuen." Mendengar ucapannya itu bukan main panas hatiku, tetapi tak ada gunanya aku membantahnya. Lalu dengan diplomasi aku minta izin kepadanya untuk pulang ke rumah mengambil pakaian untuk salinan. Dia mengizinkan aku pulang tetapi dengan dikawal empat orang polisi militer orang Ambon. Walaupun rumahku tidak jauh dari markas itu, tetapi dia menyuruh kami naik mobil. Waktu sampai di rumah, istriku masih belum tidur, Mereka sedang duduk-duduk di beranda rumah menunggu aku kembali. Ketika mereka melihat aku pulang dengan dikawal polisi militer yang bersenjata lengkap itu, mereka pun sudah dapat menduga apa yang terjadi. "Jangan gempar," kataku menasihati istriku dan kutarik tangannya masuk ke dalam. "Saya ditahan, tetapi saya telah minta izin untuk pulang mengambil pakaian. Tolong ambilkan pakaian dan masukan ke dalam sebuah tas. Pergilah uruskan segera dan jangan banyak bicara." Istriku kulihat mau menangis, tetapi karena ia melihat aku begitu tenang, maka ditahannya air matanya dan ia terus mengemasi barang-barang yang kuminta. Waktu ia menyerahkan barang-barang itu dengan berbisik kukatakan kepadanya."Pistolku, surat-surat penting dari Jawa sembunyikan, jangan biarkan mereka itu menggeledahnya. Kira-kira dua hari lagi saya akan kembali." "Sudah siap Tuan?" tanya salah seorang pengawalku itu. Mereka tidak masuk ke dalam kamar, hanya menunggu di luar saja. "Sudah," ujarku. Kulihat Ahmad Kamal Ariff gelisah saja, dia sebentar berdiri dan sebentar duduk. Sedangkan istriku tak dapat berkata apa- apa. Dia hanya memandang dengan mata melompong dan hampir menangis. "Kalau sudah marilah kita berangkat,"' katanya. Aku pun berpamitan kepada istriku dan Ahmad Kamal Ariff yang sedang gelisah resah itu. Kami kembali lagi ke markas polisi militer. Aku masuk ke dalam kamar tempat Mayor Cut Rahman duduk.
"Bolehkan saya salat isya sebentar?" tanyaku kepadanya.
"Boleh,"jawabnya ringkas. "Salatlah di luar itu." Setelah selesai aku salat, maka ia pun memberi perintah kepada empat orang polisi militer yang mengawal aku ke rumah tadi, membawa aku ke Bireuen malam itu juga dan menyerahkan kepada Panglima TNI Kolonel Husin Joesoef. Waktu kami meninggalkan Langsa hari sudah hampir jam satu pagi. Kendaraan yang membawa aku itu sebuah mobil Ford tua, tetapi masih baik. Supirnya juga seorang Ambon, ia melarikan mobil itu dengan ken- cang sekali. Aku tahu mengapa para pengawalku itu terdiri dari orang-orang Ambon. Dalam soal yang seperti ini, soal yang di dalamnya ada terlibat orang-orang Aceh, terutama seperti aku, maka orang-orang Ambon saja yang dapat dipercaya kesetiaannya. Aku tahu kalau sékira- nya aku mencoba melarikan diri dari jagaan mereka ini, mereka tidak segan untuk menembaknya. Tetapi untuk apa aku mesti melarikan diri? Kira-kira jam setengah tujuh pagi kami pun sampai di Bireuen. Aku terus di bawa ke rumah Kolonel Husin Joesoef. Beberapa orang tentara yang sedang mengawal rumah itu telah memeriksa kami. Setelah mereka merasa puas lalu diizinkan berhenti di depan rumah itu. Aku turun ber- diri di samping mobil, untuk melepaskan kejang dan capek. Tetapi aku tidak dizinkan masuk dan duduk walaupun di beranda depan rumah itu saja. Aku dan pengiringku itu menunggu sampai jam setengah delapan. Jangankan muka Husin Joesoef, bayangannya saja tidak kelihatan. Aku telah merencanakan dalam kepalaku, apa-apa yang akan kukatakan kepadanya terhadap perbuatannya yang menahan aku seperti itu. Hampir jam delapan datanglah Mayor Bachtiar ke rumah kolonel itu, aku kenal baik dengannya waktu dia di Langsa dulu, walaupun sekali kami pernah berselisih faham. Setelah sejurus lamanya ia masuk ke dalam rumah kolonel itu, ia pun keluar dan mengajak aku ke rumahnya. Karena letak rumahnya tidak jauh, maka kami pun berjalan kaki saja. Orang-orang yang mengawal aku tadi telah pergi entah ke mana, setelah mereka itu menyerahkan aku kepada Mayor Bachtiar. Di rumah Mayor Bachtiar aku diberi sarapan, setelah itu aku pun berkata, "Saya mau bertemu dengan Kolonel Husin Joesoef.", "Dia tidak mau bertemu dengan Tuan Abdullah." "Jadi mau diapakannya saya ini?" "Tuan Abdullah akan diserahkan kepada Jaksa Tentara, karena Tuan Abdullah dituduh mencoba mensabotase pekerjaan militer."
"Apa? Nonsen!" "Itu tentulah Tuan Abdullah dapat menerangkan kepada jaksa itu nanti." "Jadi di mana Jaksa Militer yang mau memeriksa saya itu?" "Sudah dipanggil dari Kotaraja. Buat sementara Tuan Abdullah ditahan di Hotel Melati." "Kalau begitu antarkan saya ke hotel itu sekarang juga, saya sudah terlalu letih. Saya mau mandi dan tidur sebentar." "Tunggu sebentar. Saya,akan antarkan," katanya. Aku ditempatkan di Hotel Melati dalam sebuah kamar dengan seorang letnan muda tentara yang baru pulang dari Yogyakarta. Ia anak Takengon. Kepadaku cuma dipesankan tidak boleh meninggalkan kota Bireuen tanpa pengetahuan Kolonel Husin Joesoef. Selain itu, aku boleh pergi ke mana saja dalam kota itu. Makan dan minum boleh diminta dari hotel itu dan semuanya atas tanggungan TNI. Setelah mandi dan makan pagi, aku menelepon Dokter Bagiastra di Langsa yang mengatakan aku dalam selamat. Ruparlya penahanan yang dilakukan kepadaku itu telah menimbulkan kegemparan hebat di kota Langsa. Apabila keberangkatan kami'itu terlambat satu jam saja, mungkin terjadi pertempuran antara rakyat dengan tentara. Orang-. orang kampung di sepanjang jalan dari Langsa ke Peureulak telah ke luar membuat halangan-halangan di jalan raya. Tiap-tiap kendaraan yang lewat mereka periksa dengan teliti, malah kereta api pagi yang berangkat dari Langsa pun telah ditahan sampai tiga jam lamanya di Peureulak. Orang-orang kampung menyuruh semua penumpang turun .dan setiap orang diperiksa kalau-kalau mereka mengetahui aku ada di-. sembunyikan dalam kereta api itu. Penjagaan ini dilakukan sampai dr. Bagiastra menerima telepon dari aku. Setelah itu Tgk. Ismail Usman pula berbicara, mereka ingin mengetahui apakah aku ditahan, dipukul atau diapakan lagi. Mereka menyuruh aku bersabar, karena mereka akan datang mengambil kalau pihak tentara tidak menyerahkan aku kembali dengan tidak kurang suatu apa pun dalam tempo 24 jam. Mereka akan datang dengan baik-baik maupun dengan kekerasan. Itulan sebabnya maka Kolonel Husin Joesoef tidak mau berjumpa dengan aku dan aku diberi layanan yang begitu baik. Sebab dia telah merasa bahwa tindakannya itu salah alamat. Aku hanya mengira-ngira jam saja. Orang-orang Langsa memberi ultimatum mulai pagi itu sampai pagi berikutnya, maka habislah tempo ultimatum itu. Kadang-kadang risau juga hatiku, karena aku seorang,
mungkin terjadi pertumpahan darah yang sia-sia. Tetapi bila mengingat perbuatan yang sewenang-wenang yang dilakukan terhadapku oleh Mayor Cut Rahman yang mengatakan negara dalam keadaan perang itu, geram pula hatiku. Persetan dengan mereka semua! Menurut cerita Tgk. Ismail, setelah aku dibawa ke markas polisi militer, Kamal Ariff terus mengambil sepeda dan pergi mencarinya di toko. Kamal Ariff mengatakan kepadanya bahwa aku telah ditangkap oleh polisi militer. Lama baru Tgk. Ismail percaya, sebab dia tahu betul aku baru saja pulang dari rapat umum obligasi. Setelah keterangan Kamal Ariff itu dibuktikan dengan berbagai pertanyaan, barulah ia ke luar dan mengumpulkan orang-orang Masyumi. Ia salah seorang ketua yang berpengaruh. Orang-orang Mujahiddin, yaitu Laskar Rakyat Masyumi telah ke luar beramai-ramai lengkap dengan alat senjatanya, dibantu oleh orang-orang kampung. Di daerah Langsa kebanyakan rakyat menjadi anggota Masyumi, kecuali buruh-buruh kebun yang menjadi anggota persatuan buruh dan orang-orang kota yang menjadi anggota PNI. Namun dalam perkara yang seperti ini, semua partai politik bekerja sama bersusun bahu. Seluruh rakyat Langsa menjadi gempar karena aku telah diculik di tengah malam oleh tentara. Pagi-pagi sekali setelah sarapan aku menerima tamu. Ia adalah Ismail Mangki, kawanku yang sama-sama dari Malaya dan yang pernah men- : jadi ajudan Gubernur Sumatera. Ia sekarang menjadi letnan TNI setelah pulang dari Medan. Orangnya kurus kecil, kulitnya hitam, dan sangat pandai berbicara. "Itulah kau, sudah bekerja baik-baik, sengaja mencari susah," katanya coba memberi nasihat kepadaku. "Apakah kau datang ini untuk memberi nasihat kepadaku?" tanyaku kembali kepadanya. "Kalau kau mau memberi nasihat kepadaku, aku tidak mau mendengarnya. Kalau kau pentingkan pangkatmu itu, maka kau jagalah pangkat itu. Soal aku jangan kau risaukan. Aku tak penting dengan pangkat ini semua." "Oh, tidak! Tidak!" ujarnya. "Saya tidak bermaksud memberi 99 nasihat. Tetapi "Sudah Ismail," kataku memotong pembicaraannya itu."Tidak ada tetapi lagi. Kalau kau masih mau berbicara dengan aku lagi, bicaralah tentang hal yang laín. Sebentar lagi orang-orang Langsa akan sampai kemari untuk mengambil aku." Dia terdiam sejurus lamanya. Setelah itu dia pun meminta diri. Aku tidak tahu apa yang mesti kukerjakan dalam waktu menunggu
itu. Kupandang sekeliling, tetapi tidak ada seorang pun polisi militer yang menjaga aku. Dalam hotel itu kebanyakan hanya anggota-anggota militer saja. Orang preman hampir tidak ada. Karena tidak ada orang yang mengawal aku, maka aku pun memanggil pelayan hotel itu. "Jam berapa makan siang?" "Jam satu, Tuan!" ujar pelayan itu. "Terima kasih," kataku, lalu bangun dan berjalan ke luar meninggal- kan hotel itu. Mula-mula aku pergi mencari Mohd. Salleh yang bersama- sama dengan aku pulang dari Malaya dulu. Kudengar kabarnya dia telah bekerja menjadi pengurus panggung bioskop Garmuk Singh di Bireuen. Setelah bertanya di beberapa tempat, aku pun sampailah ke rumah- nya. Perpisahan kami selama tiga tahun itu ternyata merubah banyak hal. Pertemuan itu tidak begitu menarik lagi dan aku pun tidak lama di situ lalu pulang kembali ke hotel. Sementara menunggu waktu makan siang aku masuk ke dalam kamar dan berbaring-baring. Letnan A. Rahman, demikian nama teman sekamarku yang baru datang dari Yogyakarta itu, banyak sekali membawa buku-buku. Aku ambil sebuah majalah bulanan terbitan Yogyakarta dan kubalik-balik halamannya. Mataku tertuju kepada sebuah artikel tentang ramalan Djojobojo atau Ronggowarsito. Karena aku tertarik pada hal-hal yang mistik maka kubacalah artikel itu dengan penuh perhatian. Menurut ramalan Djojobojo itu, di Indonesia pada suatu zaman nanti akan datang orang kulit kuning, mata sipit dan pendek, mereka akan berkuasa kira-kira setahun jagung. Sesudah zaman itu akan datang zaman gila, pada zaman itu barangsiapa tidak ikut gila maka ia akan digilas oleh masa. Sesudah zaman gila, akan datang pula zaman getuk, ketika itu orang tidak payah bekerja lagi, pagi-pagi akan terhidang getuk. Menurut tafsiran penulis artikel itu, orang pendek berkulit kuning dan bermata sipit itu ialah orang-orang Jepang. Mereka memerintah Indonesia setahun jagung. Zaman gila ialah zaman kemerdekaan. Aku setuju sekali dengan pendapat yang mengatakan bahwa barangsiapa tidak ikut gila, maka ia akan digilas oleh masa. Aku renungkan diriku sendiri, aku tidak ikut gila, aku mau melakukan semua perkara menurut peraturan, maka sekarang aku telah digilas oleh masa. Kawanku Zainul, orang Sabang yang tinggal di Medan itu, menyimpan janggut, memakai seragam hijau pusaka serdadu Belanda, memakai pistol dan mengguna- kan mobil serobotan, ikut dalam revolusi sosial kini menjadi orang ter- nama. Ketika mengingat ini semua tiba-tiba saja lapang dadaku, bagai-
kan beban yang terletak di atasnya selama ini telah dibuang. Aku'pun tiba-tiba saja menjadi berani menghadapi apa saja yang akan terjadi. Setelah makan siang aku keluar lagi dari hotel untuk mengunjungi rumah Bapak Marzuki, Tuan Haji Abu Bakar. Tuan Haji Abu Bakar ini ialah seorang keturunan Turki, kabarnya datuknya ialah salah seorang Turki yang dihadiahkan oleh Sultan Turki kepada Sultan Aceh melalui utusan yang membawa pulang meriam lada secupak itu. Sampai sekarang ia tidak makan nasi, biar betapa pun sukarnya, tetap memakan roti dan susu saja. Aku dan Marzuki anaknya adalah kawan baik, dan kedatanganku mereka sambut dengan gembira. Sampai sore baru aku pulang ke hotel. Berita-berita dari Langsa belum ada. Malam itu Tgk. Ismail menelepon aku. Ia mengatakan bahwa Kolonel Husin Joesoef telah memberi jaminan bahwa aku akan dibebaskan dan akan dipulangkan ke Langsa. Tetapi sebelum itu atas permintaan Resi- den Aceh, aku diminta datang ke Kotaraja dulu. Walaupun demikian aku tidak merasa gundah lagi, karena hatiku benar-benar telah terhibur oleh ramalan Djojobojo yang kubaca tengah hari tadi. Besoknya datanglah seorang Jaksa Tentara dari Kotaraja. Dengan segan-segan dia datang bertanya kepadaku. "Tuankah, Tuan Abdullah dari Langsa?" "Benar,"jawabku."Ada apa?" "Saya Amir, Jaksa Tentara dari Kotaraja. Saya diperintahkan oleh Tuan Hassanuddin untuk membawa Tuan ke Kotaraja hari ini. Dapat- kah kita berangkat kira-kira lepas makan nanti?" "Boleh," ujarku. Lalu kutanyakan kepadanya untuk apa ia datang ke Bireuen. Apakah hanya untuk mengawal aku ke Kotaraja saja ataupun ada hal-hal lain. Menurut ceritanya, dan dia mengeluarkan sebuah telegram yang di- kirim oleh Husin Joesoef kepada Jaksa Tentara, dia mendapat perintah dari Tuan Hassanuddin, untuk membawa aku ke Kotaraja. Mula-mula Tuan Hassanuddin menyuruh ia memeriksa aku di Bireuen saja ber- dasarkan tuduhan yang dibuat oleh Panglima TNI Divisi Gajah I itu. Tetapi Amir menolak, setelah diketahuinya aku pernah menjadi kepala polisi waktu Jepang dan kemudian wedana pula. Amir ini pun pernah menjadi pegawai polisi di Idi sebelum aku menjadi Keibuho. Dia menyatakan tidak sanggup karena walaupun sekarang dia menjadi pegawai kejaksaan tentara tetapi pangkatnya masih rendah, dia segan memeriksa aku yang lebih tinggi pangkatku daripadanya, tidak saja sekarang tetapi dulu juga. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH — 14
Telegram Kolonel Husin Joesoef itu berbunyi: Abdullah wedana Langsa telah ditangkap dan dibawa ke Bireuen dicurigai melakukan subversip terhadap kekuatan tentara. dr. Bagi- astra juga ikut terlibat dan kalau perlu akan ditahan. Geli hatiku membaca tuduhan itu. Sekarang jelaslah sudah bahwa pokok perkaranya berasal daripada obat yang di Lukup itu dan kemu- dian dari suratku kepada Bupati Langsa tentang pengaduan pekerja- pekerja bengkel. Petang itu juga kami berangkat ke Kotaraja. Kira-kira jam 2.00 pagi barulah kami sampai. "Di mana Tuan Abdullah mau menginap?" tanya Tuan Hassanuddin. "Di mana saja," kataku dengan mata yang sudah amat berat. "Saya pikir lebih baik di hotel saja, jangan sampai orang menyangka saya ikut sekongkol dengan Tuan Abdullah nanti. Ibu si Makmur. (istrinya) meminta Tuan Abdullah tinggal di rumah saja." "Biarlah saya tinggal di hotel. Saya tidak mau Tuan Hassanuddin ter- seret-seret dalam perkara ini,"kataku dan aku pun ditumpangkan di Aceh Hotel. Rupanya perkaraku masih belum selesai. Janji yang dikatakan oleh Husin Joesoef kepada Tengku Ismail itu hanyalah sebagai dalih untuk menghindari jangan sampai orang-orang Langsa datang menyerbu ke Bireuen. Pagi berikutnya Tuan Hassanuddin memberitahu kepadaku bahwa aku mesti diperiksa juga dan perkaraku itu akan diajukan ke mahkamah tentara. Tetapi Tuan Hassanuddin tidak mau melakukan pemeriksaan itu. "Ini mesin tik dan kertas," katanya. "Tuan Abdullah buatlah proses-perbal sendiri." "Benar-benarkah saya akan dihadapkan ke mahkamah tentara?" kataku kepada Tuan Hassanuddin. "Begitulah instruksi yang kami terima dari Bireuen," jawabnya. "Kalau begitu baiklah," kataku. Kuambil kertas dan mulailah aku membuat proses-perbal sendiri. Pada penutup proses-perbal itu kutulis: Permintaan saya sekiranya saya bersalah sebaiknya ditembak saja dan jangan dihukum penjara. Kalau saya dipenjara berarti kesempatan kepada saya untuk membalas dendam masih terbuka dan kalau kesempatan itu masih ada maka siapa saja yang membuat tuduhan palsu ini akan saya balas juga.
Berkerut kening Tuan Hassanuddin membaca 'permintaanku' itu. Dia tahu bahwa aku tidak bersalah dalam soal ini, itulah sebabnya maka dia tidak mau melakukan pemeriksaan itu dan dia tahu bahwa kalau aku nanti dihukum maka hukuman itu hanyalah karena tekanan-tekanan dari pihak orang yang sekarang sedang memegang kekuasaan. Bagai- mana dengan kejujuran 'permintaanku' itu? Tuan Hassanuddin tahu, bahwa bukan aku yang akan membalas dendam itu, tetapi ada orang lain yang akan melakukannya malah sebelum aku dibebaskan dari penjara. Perkara ini menjadi soal yang rumit. Malam itu tiba-tiba saja, Ass. Residen, T. Mohd. Amin datang meng- ambil aku dari Aceh Hotel. Dibawanya aku dengan mobilnya berputar-putar di Kotaraja, kemudian ke tepi pantai di Oleelhe. Dalam waktu berputar-putar itu secara tidak langsung dia menge- mukakan jasa-jasa baiknya untuk mendamaikan aku dengan Kolonel Husin Joesoef. "Maukah Tuan Abdullah diangkat menjadi Patih di Kabupaten Sigli?" dia bertanya setelah dilihatnya panas hatiku sudah mulai reda sedikit.
"Apakah ini suatu perintah?" aku bertanya kembali. "Kalau suatu
perintah dan saya sebagai pegawai pemerintah maka sudah tentu saya terpaksa mematuhinya, tetapi kalau sebagai satu bujukan saya menolak,
dan lebih baik saya diberhentikan saja."
"Suatu perintah," jawabnya. T. Amin ini sangat licik orangnya. Walaupun dia tidak bersekolah tinggi tetapi cara berpikir dan bertindak- nya sangat licin. Dia seorang bangsawan tetapi sejak dulu telah mening- galkan kebangsawanannya itu dan menceburkan dirinya dalam per- juangan para ulama. Dengan kekuatan para ulamalah maka sekarang dia menjadi Ass. Residen membantu Teuku Mohd. Daoedsjah. "Kalau perintah apa boleh buat," jawabku sambil mengeluh. "Kalau begitu, soal Tuan Abdullah dengan Kolonel Husin Joesoef itu lupakan saja. Anggaplah seperti tidak pernah terjadi." Karena itu pulalah maka besoknya aku dilepaskan pulang ke Langsa untuk menyiapkan segala sesuatu yang perlu dan kemudian pindah ke Sigli. Kepadaku diberikan sebuah mobil untuk kendaraan pulang. Waktu sampai di Sigli aku singgah menemui Bupati Tgk. A. Wahab dan kuceritakan kepadanya bahwa aku telah dipindahkan ke Sigli untuk menjadi Patih. "Saya tidak mau terima," jawabnya. "Tuan Abdullah jangan pindah kemari. Kalau Tuan Abdullah pindah berarti Tuan Abdullah memang
benar-benar bersalah dalam hal ini dan Tuan Abdullah sudah kalah dalam perjuangan." Dia bicara dengan muka yang serius dan aku tahu akan kejujurannya. Tgk. A. Wahab ialah seorang ulama juga seorang orang kuat dalam Poesa. Ia sangat disegani karena ketegasannya dalam bertindak dan ucapannya itu kupegang dengan sungguh-sungguh. Aku tidak akan pin- dah ke Sigli! Rakyat. Langsa menyambut kepulanganku dengan meriah sekali. Mereka gembira melihat aku kembali dengan sehat walafiat dan tak kurang suatu apa. Aku juga bergembira karena telah berada kembali di tengah-tengah mereka yang sayang kepadaku. Untuk menyatakan rasa syukur bahwa aku telah selamat, hampir setiap hari diadakan kenduri oleh kepala-kepala kampung. Setiap tem- pat yang kukunjungi banyak yang bertanya tentang perlakuan yang ku- terima dari pihak tentara selama aku ditahan. Setelah kuceritakan. bahwa aku bebas sebebasnya maka mereka pun merasa lega. Satu-satunya yang terasa sebagai satu kehilangan ketika aku kembali itu, ialah keberangkatan rombongan romusya, Abdullah Singgora, Kamal Ariff, Gatot Iskandar, Soeroso, T. Jacoeb, Zakaria, Talib Effen- dy dan Wahab, serta kawannya tak sempat berjumpa dengan aku. Mereka berangkat sewaktu aku dibawa ke Kotaraja. Biar bagaimanapun aku merasa puas karena kepada mereka telah kami berikan persediaan yang cukup. Kepulanganku ke Langsa tidak begitu menyenangkan hati Bupati
T. Mohd. Ali. Aku sudah tentu tidak dapat bekerja kalau sekiranya tidak ada kerja sama daripadanya. Namun demikian aku berusaha juga untuk memajukan daerah Langsa yang di bawah pengawasanku itu. Kubangun irigasi untuk sawah-sawah atas bantuan Bapak Sjamsuddin MS., meng- adákan gotong royong memperbaiki jalan-jalan raya, membangkitkan semangat rakyat di kampung-kampung, mengatur urusan pendidikan, mengawasi barang-barang keluar-masuk, menyediakan bantuan untuk pertahanan di garis depan. Tetapi segala tindakanku itu selalu saja mendapat halangan dari
T. Mohd. Ali, dan kadang-kadang hal yang seharusnya menjadi tugasku diambil-alih olehnya: Akhirnya aku pun mengambil keputusan meminta berhenti dari jabatan wedana itu. Permintaan itu telah ditolak, karena waktu diketahui oleh penduduk Langsa akan maksudku itu maka mereka telah membuat surat permohonan beramai-ramai, meminta supaya aku tetap menjadi Wedana Langsa dan mereka tidak akan menerima wedana lain yang dikirim ke situ.
Setelah permintaanku itu ditolak, maka aku pun mengambil jalan lain pula. Dengan diam-diam aku menumpang sebuah motorboat yang berangkat ke Pulau Pinang dan terus menghilangkan diri.
dengan sábueh vsungan yang dimasukkan di antara dadanya dap tengan kaki yang terikal ing sepenti orang.membawa blns Unmungigh keaka a Feoku Tab. adá Tegku s Daceasjah yang michjadi wedema di Seuhajeln keberelan nclhalnya, ia lalu menclepon memberltamukan kepada para pengikut Huuln AfMudjahid. Para pen- 969 9m06266q60264ama406109860 696h649aa Rega0 bPa65 0mmmaUP T 6828w186 ba7m32 m8bbm02kja990.b18e g0628654 96390580agb0o k868mb9 b.k6 8wm5m ghaCba9ha.1gma1029am1649bm.29q 8wbdm9k 210168m8qm619920890a62km8va87me866954v90044aw abe9 ibimaoekesd dalEaosakaaT migmbb abmobnaxidbgo osuaki zumkggodmabm8 gcq labaqobam m2 r0ammnkm Mener bertabanana seringkah peraimrtawakcenadst mob gmas lmbmamgm cudan: baman s 60aagmbqm8b=md09 30kmana0glmg mwa0dval Gamgaqga imjaba meogatur paukan-paan dar- g Nnkv 2m800 abkaaka kegm0 kb amk.720e ajoh lba(a5mn a0akn sg06inb bjazdave9simigabot lmlmqamr aza/bammgnemk abgbawaibej0om hanbabkeb0 ammim6cignoao2u naudaado0 oekad.aimusaa njasm igifoqdavagogaimamoekiemagemo jqstst pumak mg0kieyoon alvne Roiaoimakbma aaigga at b, mnrt ca tny bdoed mabaqsbbme baaao09 idn8 2aaavaamak aoopammmeg Bga mmaom.aaqme geavadrsbuadaad gnaurioudletaibaea sendei, lasgekagnmommambgimv aaao abs Nebi dabue mab gnain 18bia04 e7 e6bluduhmaiec Meqkaa gmse gmggnasosbangedoummegmlhabromklabFenbz sedaa 2aodemuguchagnsbkungkabgeaik samghner 04yyMgbleGbabmh bi diomabm9q gmsoug8e2cabpm6 ah .n0b=daior msnedsiaq iotnoM EsaW legado2 taxgnslb stuq dalr mib nsb.sald. Bu Bsse. araffpa denoa ludau
Tiga bulan lamanya aku di Pulau Pinang, tiba-tiba pada suatu hari muncul Tgk. Ismail Usman. Mula-mula kedatangannya itu kuanggap sebagai seorang pedagang saja, tetapi kemudian ternyata bahwa dia membawa pesan dari orang-orang Langsa yang meminta aku kembali. Pada waktu itu perjuangan telah semakin hebat. Pertempuran antara pasukan Republik Indonesia dengan Tentara Nica telah berkecamuk di mana-mana. Di Selat Melaka kapal-kapal perang Belanda mengganas dengan hebatnya. Tgk. Ismail membangkitkan semangatku dengan' cerita tentang kawan-kawanku yang telah menjadi korban dalam perjuangan. Ia sangat pandai memikat hatiku, sehingga waktu ia mau pulang kembali ke Langsa aku juga ikut bersama-sama. Hatiku menjadi lega sekali karena di Langsa telah ada orang yang menjadi wedana menggantikan tempatku. Tetapi ia baru saja datang setelah tiga bulan lebih jabatan itu kosong. Walaupun aku tidak mem- punyai tugas tertentu, tetapi orang ramai terutama pegawai polisi masih saja datang meminta nasihat dan meminta aku untuk menyelesaikan segala sesuatu yang menyulitkan mereka. Kawan-kawanku di Kantor Penerangan pun sudah'pindah bekerja di tempat lain. Kantor Penerangan itu tinggal bagai sebuah rumah kosong saja, dijaga oleh seorang tukang kebun. Buku-buku sudah banyak yang hilang dan sudah tidak ada orang yang mengunjunginya lagi. Dalam waktu itulah aku diajak oleh Tgk. Husin Al Mudjahid ikut serta dalam rombongannya. Sebagai seorang yang senang akan pe- tualangan, maka ajakannya itu kuterima dengan tangan terbuka. Husin Al Mudjahid ini telah diakui sebagai Mayor Jenderal Tituler, yaitu pangkat yang diambilnya dari Teuku Nyak Arif dulu. Kepadanya telah diberikan segala kemudahan sebagai seorang pembesar militer biasa dan dia telah pula diangkat sebagai Wakil Menteri Pertahanan. untuk daerah Aceh.
Ketika aku di Pulau Pinang, menurut cerita, Tgk. Husin Al Mudjahid ini telah diculik oleh sekumpulan opsir tentara dari golongan bangsawan. Kabarnya ia telah dibawa dengan mobil dari Kotaraja ke Seulimeum. Di Seulimeum kaki dan tangannya telah diikat dan dibawa dengan sebuah usungan yang dimasukkan di antara dadanya dan tangan kaki yang terikat itu seperti orang membawa binatang buruan. Untunglah ketika itu Teuku Taib, adik Teuku Mohd. Daoedsjah yang menjadi wedana di Seulimeum kebetulan melihatnya, ia lalu menelepon memberitahukan kepada para pengikut Husin Al Mudjahid. Para pen- culik itu telah ditangkap dan dilucuti pangkatnya dari tentara dan ada pula yang telah dihukum. Teuku Taib berasal dari Idi satu kampung dengan Husin Al Mudjahid, walaupun ia seorang bangsawan tetapi karena satu kampung maka-ia dan keluarganya tidak digilas oleh roda revolusi sosial yang dipimpin oleh Husin Al Mudjahid dulu. Kebanyakan orang yang ikut dalam rombongan Tgk. Husin Al Mudjahid ini ialah orang-orangnya yang dulu juga. Sebagai Wakil Menteri Pertahanan ia seringkali pergi melawat ke tempat-tempat militer bahkan sampai ke garis depan. Pada ketika itu di sekitar Medan sedang terjadi pertempuran hebat antara Tentara Indonesia dengan Tentara Nica. Garis depan Tentara Indonesia di sebelah utara ialah Binjai. Kepala yang mengatur pasukan-pasukan dari Aceh yang berjuang di'Binjei itu ialah Nukum yang sekarang berpangkat kapten.1 Dia telah membuat meriam sendiri dan dengan meriam itulah mereka menembak Belanda setiap hari. Dalam pasukan Indonesia ada juga orang-orang Jepang, di antara- nya yang sangat banyak memegang peranan penting ialah Tuan Korewa, dulunya kepala Tokobetsutai di Aceh. Ia terkenal sebagai seorang yang sangat bengis, menurut cerita telah banyak kepala orang yang dipotong- nya di medan perang Negeri Cina dan juga di Indonesia. Waktu orang-orang Jepang meninggalkan Aceh, dia memilih untuk tidak ikut serta dan dalam pertempuran dengan Belanda dia memimpin satu pasukan sendiri, laskar dari Pemuda Pesindo. Pada suatu hari rombongan Husin Al Mudjahid telah melawat ke Binjei. Dalam perjalanan itu dia menggunakan sebuah mobil Ford sedan yang memakai bendera kuning dan sebuah truk yang membawa tentara pengawalnya. Dalam mobil sedan itu selain dia yang duduk di belakang, terdapatlah Syed Ahmad Dahlan dan Abu Bakar. Aku duduk di depan bersama dengan supirnya. Waktu di Langsa rombongan itu
- Baca Pasukan Meriam Nukum Sanany, Bulan Bintang, Jakarta, 1985
telah ditambah dengan sebuah mobil lagi yang dimiliki oleh A. Rahman, pengurus Tambang Minyak. Tengku Husin Al Mudjahid membawa A. Rahman dari Tambang Minyak karena A. Rahman itu dapat menyediakan uang belanja. Sebagai kepala pertambangan maka di mana saja dia dapat meminjam uang. Kebanyakan pegawai pada waktu itu tidak ada yang mendapat gaji. Di mana sampai di sana pula makan dan menginap. Barang-barang yang diperlukan diambil saja dari toko-toko dengan menyerahkan sehelai 'bon' tanda diterima dan kapan akan dibayar harganya, wallahu alam. Toko-toko terutama toko Cina terpaksa melayani bon-bon itu dan terserah mereka pulalah bagaimana caranya unt'k menagih harga barang-barangnya itu. Ada terdengar berita bah wa tongkang dan motor- boat yang berangkat ke Pulau Pinang yang membawa barang-barang dagangan selalu dicegat oleh bajak-bajak laut. Setelah barang-barang muatan itu dipindahkan ke dalam motorboatnya maka kepada pedagang- pedagang yang dibajak itu mereka berikan 'bon-bon' tersebut. Walaupun Tengku Husin Al Mudjahid itu telah menjadi orang besar tetapi dia selalu bergurau dengan orang-orang yang dijumpainya, terutama dengan anggota-anggota tentara yang jaga di sepanjang jalan. Dia selalu memberikan rokok kepada mereka yang sedang kedinginan menjaga di jalan raya itu. Kami menginap satu malam di Binjei. Tengku Husin ikut tidur bersama tentara di sebuah asrama, ikut makan bersama dan ikut memberikan semangat kepada mereka itu, yang kebanyakan terdiri dari orang-orang kampung yang ingin mengambil bagian dalam membunuh Belanda. Kota Binjei pada waktu itu penuh dengan laskar rakyat dan tentara yang datang dari daerah Aceh. Setiap hari mereka itu bergiliran menyerbu Belanda di kota Medan. Biasanya penyerbuan itu dilakukan pada malam hari, waktu siang mereka mundur ke Binjei. Mereka begitu berani. Dengan pedang saja mereka sanggup menyerbu sampai ke Petisah, sebuah kampung di depan pintu gerbang tangsi Belanda. Demikianlah pertempuran itu berlangsung tanpa berhenti- henti. Tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang, tetapi Belanda semakin terdesak. Tengku Husin Al Mudjahid bermaksud akan meneruskan perjalanan- nya ke Pematang Siantar dan kemudian menghadiri persidangan militer di Perapat. Perjalanan ke Pematang Siantar pada waktu itu hanyalah
melalui Jalan Gebang-Pancur Batu saja, sebab kota Medan seluruhnya telah diduduki Belanda. Pusat pemerintahan Republik Indonesia daerah Sumatera yang dulunya di Medan telah mengungsi ke Pematang Siantar semuanya. Tidak saja pemerintahan sipil dan tentara juga kaum saudagar, para penduduk yang memihak Republik. Satu-satunya orang Republiken yang masih tetap bertahan di Medan ialah Mr. Mohd. Joesoef, Wali Kota Medan. Beliau tetap tinggal di rumahnya dan tetap mengibarkan bendera sang saka walaupun setiap saat diancam oleh kaum ekstremis Nica. Perjalanan ke Pematang Siantar itu tidak dapat dilakukan pada siang hari, karena waktu itu biasanya menjadi saat yang baik bagi pihak Belanda berkeliaran mencari kubu-kubu Tentara Republik. Oleh sebab itu kira-kira jam tujuh malam, apabila hari telah cukup gelap berangkat- lah sebuah konvoi ýang panjang, yang terdiri dari kendaraan milik militer dan preman, truk yang membawa perbekalan dan dagangan, bergerak perlahan-lahan tanpa lampu di sepanjang Jalan Gebang-Pancur Batu itu. Karena berjalan di dalam gelap seperti itu, maka lebih cepat orang yang berjalan kaki daripada orang yang bermobil. Pada suatu waktu, ketika mobil yang kami tumpangi berhampiran dengan Pekan Gebang, Belanda tiba-tiba melepaskan api penyuluh ke udara. Api yang terbang naik nampaknya terlalu dekat sekali. Lama ter- apung-apung di angkasa, sehingga terang-benderang seluruh alam di se- kitarnya seperti waktu bulan purnama penuh. "Alah Mak," seru supir mobil, dan mobil itu pun terhenti mendadak. Pelepasan api penyuluh ke udara itu dilakukan oleh Belanda karena mereka melihat lampu mobil dari salah sebuah truk di belakang kami. Semua orang lalu menuduh bahwa yang memasang lampu itu ialah kaki tangan Nica. Tengku Raden salah seorang pengikut rombongan Husin Al Mudjahid yang naik truk di belakang kami melompat turun dan menuju ke arah truk yang memasang lampu itu. Dia mencaci-maki dengan seribu macam bahasa. Tengku Raden ialah salah seorang algojo yang telah banyak menyembelih manusia dalam revolusi sosial dulu. Setelah lampu penyuluh itu hilang maka kedengaranlah rentetan senapan mesin dan diselingi bunyi tembakan meriam. Aku tidak dapat menduga di mana tempatnya, tetapi dalam kesunyian malam itu bunyi-bunyi maut itu kurasa amat dekat sekali. Semua kendaraan sudah tidak bergerak lagi. Semua orang diam di dalam mobilnya, begitulah menurut sangkaku! Tetapi ketika aku yang
sejak tadi berpaling ke kiri melihat ke arah lampu yang dilepaskan Belanda itu, memalingkan muka ke sebelah kanan untuk melihat teman- temanku yang tak terdengar suaranya bahkan bunyi napasnya, barulah kuketahui bahwa tak seorang pun lagi yang ada di dalam mobil itu. Aku tinggal sendirian saja! Aku turun dan pergi ke sebelah kanan, di dalam gelap itu kupanggil nama kawan-kawanku itu dengan perlahan-lahan. "Tengku! Tengku!" seruku memanggil Tengku Husin Al Mudjahid. Lama diam. Lalu kuulangi lagi memanggil namanya. "Di sini saya," terdengar suaranya dari arah serumpun bambu di seberang parit. Aku meraba-raba mencari jalan, lalu tersepak tubuh manusia yang sedang menelungkup di dalam parit kecil yang tidak berair itu. "Aduh!" pekik orang itu. "Siapa ini?" tanyaku dan tunduk merabanya. "Saya," jawabnya. Kiranya dia temanku semobil yang memakai pistol besar di pinggangnya. Tubuhnya gemetar dan dia sedang membaca ayat-ayat suci.
"Mengapa Saudara gemetar?" tanyaku seraya memegang tubuhnya
kuat-kuat.
"Saya tidak tahu kalau kita akan masuk ke dalam bahaya ini. Kalau
saya mati apa yang akan terjadi kepada anak-anak saya?" katanya meratap.
"Ah, nonsen," kataku."Kita bukan masuk ke dalam daerah medan
pertempuran dan kalau belum ajal apakah kita akan mati?" "Ya," jawabnya. "Tetapi mengapa saya ikut kemari?" "Sudahlah. Marilah naik ke dalam mobil." Kutarik tangannya, tetapi dia memberatkan dirinya. "Ini ambil,"kata kawanku itu. Aku menyentuh barang yang mau diberikannya itu. Rupanya ia menyerahkan pistolnya kepadaku. "Mengapa diserahkan kepada saya?" tanyaku dengan keheranan. "Saya tidak mau," jawabnya, "Ambillah!" Kuambil pistol itu dan aku terus melompat mencari Tengku Husin Al Mudjahid. Dia dan Tengku Raden duduk berlindung di balik rumpun bambu. Tak jauh dari situ ada sekumpulan orang lain yang tak dapat kulihat dengan jelas di dalam gelap itu. Kira-kira dua jam lebih barulah semua orang kembali menaiki ken- daraannya dan mulai menghidupkan mesin kendaraan-kendaraan itu. Setelah itu mulailah bergerak perlahan-lahan, bagai semut tanpa ber- lampu.
Setelah melewati Pekan Gebang barulah perjalanan itu dapat diper- cepat sedikit dan walaupun demikian hampir waktu.subuh baru kami sampai di Pancur Batu. Perjalanan itu memakan waktu begitu lama, karena sebentar-sebentar berhenti diperiksa oleh TNI yang membuat hambatan di jalan raya. Setiap orang diperiksa surat keterangannya dan kalau dicurigai ditahan. Pada salah satu jalan yang menuju ke Tebingtinggi, segerombolan Laskar Rakyat yang terdiri dari orang-orang Batak Karo telah menahan mobil kami. Hampir kesemua mereka itu memakai senapan rifle yang mereka rampas dari Tentara Nica. Kami menghentikan mobil itu, kami sangka tentulah mereka akan menghormati bendera kuning yang ber- kibar di hadapannya, tetapi ternyata mereka itu tidak sedikit pun meng- hiraukan bendera itu, mereka berebut menaiki mobil dan truk kami. Penumpang dalam kendaraan kami telah penuh dan tidak mungkin menambah orang baru lagi. Tetapi mereka sama sekali tidak mengerti, mereka bergantungan di mana saja yang dapat dicapai tangan dan ada pula yang sudah duduk di atas mesinnya. Kapten Daud Malim yang menaiki truk di belakang kami dan Tengku Raden telah turun dari kendaraannya, dan mulai menggunakan kekeras- an. Mereka ditempeleng dan disepak satu per satu, sebab tidak mau mengerti. Aku melihat perbuatan kawan-kawan itu dengan perasaan bimbang, sebab gerombolan itu semuanya membawa senjata. Kalau salah seorang di antaranya mulai menggunakan senjatanya, maka tentulah akan terjadi satu pertempuran kecil dan sudah pastilah kami yang akan kalah karena kami tidak banyak yang bersenjata. Untungnya mereka itu menerima perlakuan itu dengan tersenyum yang menyeringai. Mereka yang belum sempat ditarik turun telah lebih dulu melompat ke bawah dan kami pun meneruskan perjalanan sambil melambai-lambaikan tangan kepada mereka yang tinggal itu. Dalam perjalanan ke Tebingtinggi, A. Rahman telah pindah ke mobil kami. Sedangkan A. Bakar pindah ke mobilnya. "Apakah saya ini tidak perlu memakai pangkat, Tengku?"tiba-tiba
A. Rahman bertanya kepada Tengku Husin Al Mudjahid sebelum kami sampai di Tebingtinggi. "Perlukah Tuan memakai pangkat?" Tengku Husin bertanya balik. "Perlu," jawab A. Rahman dengan bersungguh-sungguh. "Kita ini rombongan Kementerian Pertahanan, sudah tentu anggota-anggota dalam rombongan ini mempunyai pangkat dalam militer." "Pangkat apa yang Tuan mau?" "Tengku pikir pangkat apa yang layak untuk saya?"
"Kapten?"tanya Tengku Husin. "Kapten"A. Rahman diam sebentar. "'Baiklah, tetapi kalau boleh biarlah saya mendapat pangkat mayor, karena di sini telah ada Kapten Daud Malim." "Boleh!" jawab Tengku Husin dengan ketawa sinis. Aku yang men- dengar percakapan itu juga ikut ketawa di dalam hati. Aku kenal benar dengan A. Rahman ini sejak aku menjadi wedana dulu. Dan tidak heran mengapa dia meminta pangkat itu. Waktu sampai di Tebingtinggi kami berhenti di rumah seorang kenalan dari Aceh. Sementara menunggu makan beberapa orang kawan telah ke luar berkeliling di pekan kecil itu. Tebingtinggi pada waktu itu dapat dikatakan menjadi pusat Laskar Rakyat PNI yang dikepalai oleh MS Omar atau Surapati, pengarang dan tokoh politik yang terkenal itu. Kami juga pernah mengunjungi markas mereka di salah sebuah per- kebunan yang besar tak jauh dari kota Medan. Menjelang makan, kembalilah kawan-kawan itu semuanya. A. Rahman Tambang Minyak kembali dengan pakaian' militer yang lengkap, pada epolet di bahunya terpampang bintang mayor, memakai kasut. pacuk dan di depan mobilnya berkibar-kibar bendera biru. Dia juga membawa pulang tanda pangkat mayor jenderal yang ditempahnya khusus untuk Tgk. Husin Al Mudjahid. Malam itu kami diundang makan oleh Pak Hasjim, Komisaris Polisi dari Aceh yang sekarang tinggal di Tebingtinggi, bertugas sebagai kepala bagian perbekalan kepolisian. Setelah makan kami pun berangkat ke Pematang Siantar. Oleh sebab Pematang Siantar menjadi pusat pemerintahan Republik Indoresia untuk daerah Sumatera, maka jalan-jalan masuk ke kota itu tclah dijaga dengan rapi oleh berbagai Laskar Rakyat dan tentara sendiri. Pemeriksaan-pemeriksaan telah menyebabkan perjalanan yang beberapa kilo- meter itu menjadi lambat sedemikian rupa. Hampir menjelang sübuh barulah kami sampai di kota itu dan langsung saja mencari warung kopi.
A. Rahman, yang telah menjadi Mayor A. Rahman sudah pernah
beberapa kali datang ke Siantar ini, maka ia pun membawa kami ke sebuah warung nasi kecil milik orang Aceh. Di situlah kämi makan dan minum selama kami berada di kota itu.
Orang-orang dari Aceh banyak juga yang sudah pindah ke Pematang
Siantar ini, di antaranya kawan baikku Tuan Abdoessoeki dan keluarga- nya, Nordin pegawai polisi yangpernah ditahan, oleh Kolonel Husin Joesoef, sekarang ini menjadi polisi tentara dan tinggal dengan istrinya di sebuah hotel.
Waktu menjejakkan kaki di kota Siantar aku teringat kepada Ientje, perempuan Indo yang menjadi mata-mata yang telah mati dibunuh oleh Kempeitai di Langsa. Aku pun berniat akan mencari kaum keluarga atau kenalannya, tetapi niatku itu telah kubatalkan ketika kudengar kabar bahwa Hotel Siantar telah tidak ada lagi, sudah habis menjadi puing dimakan api. Menurut cerita, ketika terjadi pertempuran kecil-kecilan antara Tentara Republik dengan Tentara Nica di Pematang Siantar, seorang kaki- tangan Nica yang telah dapat meloloskan diri dari kepungan tentara rakyat telah melarikan diri menuju ke hotel itu. Anggota tentara rakyat telah mengejarnya, tetapi ketika sampai di belakang hotel itu ia tiba-tiba saja menghilang bagai 'invisible man'. Orang-orang yang mengejarnya mencari di segenap pelosok tetapi tidak juga berjumpa. Timbullah curiga di dalam hati mereka bahwa di hotel itu ada tempat rahasia, tetapi entah di mana. Mulailah mereka membuat persiapan guna mencari tempat rahasia itu dan jalan yang paling mudah ialah membakar hotel itu seluruhnya. Hotel itu pun dibakar. Setelah api menjilat kian-kemari, maka tiba-tiba dari tempat yang'tidak di sangka-sangka, terbuka sebuah pintu rahasia dan orang-orang yang berkulit sawo matang pun menyerbu ke luar untuk menghadapi moncong senapan. Di antara mereka ada pula orang kulit putih, laki-laki dan perempuan. Setelah api padam, dan dari dalam bumi itu sudah tidak ada orang yang ke luar lagi, maka mulailah lubang rahasia itu diperiksa. Sebuah bilik di bawah tanah yang besar dan lengkap dengan alat-alat radio (menerima dan mengirim), juga menyimpan barang-barang_makanan di dalam kaleng untuk persediaan bertahun-tahun lamanya terdapat di bawah kolong hotel itu. Kiranya di situlah pusat gerakan rahasia anti Tentara Jepang dan anti Republik Indonesia bertempat tinggal. Mendengar cerita itu, maka dapat kuambil kesimpulan bahwa Ientje memang benar mata-mata Belanda. Dan misteri yang pernah dikemuka- kan oleh Tuan Ikeda kepadaku, ketika terjadi penembakan ke atas Subhas Chandra Bose yang sedang berpidato di rumah Gubernur Jepang di Medan itu pun terjawab sudah. Dari situlah Tentara Sekutu menerima berita tentang semua gerakan Tentara Jepang. Kemudian timbul pulalah keraguan dalam hatiku tentan'g pastor Methodis yang pernah ditangkap
oleh Tuan Ikeda dulu, apakah tidak mungkin dia juga mata-mata Belan-
da? Setelah makan pagi di warung itu, kami pun dibawa oleh Tengku Husin ke sebuah perkebunan yang letaknya tidak jauh dari kota
Pematang Siantar itu. Di perkebunan itulah letaknya kantor dan rumah kediaman Kolonel Hassan Kasim yang menjadi wakil Menteri Pertahan- an untuk Sumatera. Kami para pengiring Tgk. Husin Al Mudjahid lalu di tempatkan di sebuah rumah, sedangkan Tengku Husin sesuai dengan kedudukannya menjadi tamu Kolonel Hassan Kasim. Selama mengikuti rombongan ini, banyak pengalaman baru yang kuperoleh. Di antaranya ialah tidur dan makan tidak teratur, mandi kadang-kadang seminggu sekali, pakaian tidak pernah berganti dan waktu di perkebunan ini pula tidur hanya ber- bantalkan lengan saja. Suatu perkara yang sangat aku khawatirkan selama tinggal di perkebunan ini, ialah aku seringkali tidur di sebelah Tengku Raden. Aku selalu takut kepadanya karena dia pernah menjadi algojo. Kadang-kadang sebelum tidur dia menceritakan kepadaku bagaimana dia membunuh orang-orang yang dianggapnya kaki-tangan musuh. Ada di antara mereka itu yang disembelihnya seperti menyembelih kambing, ada yang ditembak di kepalanya dengan pistol, dan ada pula yang dicekik leher- nya. Aku selalu memperhatikan tangannya ketika sedang makan. Tangannya itu selalu saja gemetar. Matanya juga kuperhatikan, karena ada yang mengatakan kepadaku bahwa orang yang membunuh orang itu matanya merah seperti biji saga, memang benar matanya selalu merah, seperti orang sakit mata. Yang menambahkan takut hatiku ialah ia sangat gemar makan sirih, mulutnya selalu mengunyah sirih dan bibir- nya di bawah misai yang pendek dan kejur itu selalu saja merah. Siang dan malam, walaupun dalam waktu dingin (Pematang Siantar termasuk salah sebuah kota yang berhawa dingin) dia selalu saja berkeringat. Aku khawatir kalau dia mengigau membunuh orang dan aku dicekiknya. Apalagi dia selalu bercakap-cakap di dalam tidurnya. Tugas kami yang tertentu tidak ada. Aku juga tidak mengetahui apa pula tugas Tengku Husin Al Mudjahid itu. Setiap pagi kami pergi ke pekan dan sarapan di warung orang Aceh itu, Mayor A. Rahman yang membayarnya. Kalau kehabisan uang dia lalu meminta pada tempat- tempat penjualan minyak. Pernah sekali kami mengadakan pertemuan dengan Gubernur Teuku Mohd. Hassan di rumahnya. Beliau masih tenang seperti dulu juga. Kabarnya di Pematang Siantar ini seringkali beliau diancam oleh ber- bagai golongan, pernah suatu waktu segolongan orang Batak menyerang rumahnya dan merusak kaca-kaca jendela. Serangan itu mendapat balasan dari orang-orang Aceh. Kabarnya ketika serangan itu terjadi,
Teuku Mohd. Hassan sedang salat dan dia terus saja salat ketika orang-orang ribut di luar. Pada suatu hari secara kebetulan aku bertemu dengan Emma, anak gadis yang pernah bekerja di Langsa dalam masa pemerintahan Jepang dulu. Aku terperanjat melihat ia tiba-tiba saja ada di Pematang Siantar, karena menurut berita yang kuketahui ia sudah lama meninggalkan
Langsa dan kembali ke kampungnya bersama bapak saudaranya.
Emma meninggalkan Langsa dengan tergesa-gesa. Ia didesak oleh keluarganya untuk menghindarkan dirinya dari seorang pemuda Aceh. Setelah Jepang menyerah, Emma membuat hubungan dengan pemuda Aceh itu, anak angkat seorang hartawan. Mereka saling menyintai dan hampir seluruh penduduk kota Langsa mengetahui tentang perhubungan mereka itu. Pemuda itu walaupun masih muda, telah mendapat kedudukan yang baik dalam salah sebuah kantor pemerintah. Penghasilannya cukup lumayan, karena selain dari gaji dia juga membuat perusahaan untuk menambah mata pencariannya Untuk Emma dia belikan radio, sepeda yang pada waktu itu merupakan barang-barang luks yang sangat jarang dimiliki oleh orang biasa. Setelah hubungan mereka itu berjalan beberapa bulan lamanya maka pada suatu hari kami bermufakat untuk meminang Emma dari keluarganya. Aku tidak turut dalam utusan itu, tetapi seorang guru sekolah telah kami tunjuk sebagai wakil. Sekembalinya utusan itu kami mendapat kabar, bahwa keluarga Emma meminta waktu beberapa hari untuk bermufakat lebih dulu. Kami pun menerima penangguhan itu dengan hati yang ikhlas. Tetapi dalam waktu menunggu itu ada berita-berita angin yang mengatakan bahwa mereka tidak rela anaknya kawin dengan orang Aceh. Beberapa orang teman telah menyelidiki tentang kebenaran berita itu dan pihak yang menjadi utusan itu pun berusaha untuk mendapat jawaban. Ma- langnya, kami disuruh tunggu dari sehari ke sehari sampai sebulan sudah.
Waktu itu aku masih menjadi Wedana Langsa, sebagai wedana aku
mendapat beberapa kemudahan dalam menghubungi rakyat di daerah
itu. Pada suatu hari kupanggillah Emma ke kantorku dan dengan terus
terang kutanya kepadanya.
"Betulkah kau cinta pada Agam?" tanyaku.
'"Betul, Bang," jawabnya dengan tenang.
"Tidak main-main?"
"Sekarang bagaimana, ibumu tidak suka kau kawin dengan dia?" "Saya mau lari, biar bagaimanapun kami harus kawin juga." "Baiklah, kalau sudah demikian nanti saya atur. Tetapi kau mesti berani melakukannya. Berjanji?" "Saya berjanji," Katanya lalu bangun dari tempat duduknya. Sebelum dia sampai ke pintu, ia berpaling dan berkata. "Abang mesti tolong kami." "Insya Allah," jawabku. Tetapi kemudian rencanaku itu tidak dapat dilaksanakan. Agam tidak mau."Saya sebagai anak orang baik-baik, tidak mau berbuat yang men- cemarkan nama saya dan nama keluarga saya. Kalau mau kawin saya mau melakukannya menurut peraturan yang biasa, semua keluarga datang, kenduri, bersanding dan sebagainya." Padahal pada waktu itu aku mempunyai dua gagasan. Salah satunya dapat juga dilakukan menurut kemauan Agam itu, cuma jalannya sedikit berbeda. Tetapi kedua-duanya ditolak oleh Agam. Sejak itu mereka pun mulai merenggangkan diri. Sesekali ketika aku berkunjung ke rumah Emma kulihat ia selalu dalam duka cita. Keriangan sudah tidak ada lagi pada wajahnya, sinar matanya juga sudah tidak sesegar seperti dulu lagi, kuyu dan muram. Pada suatu hari seorang hartawan dari Medan telah datang ke Langsa, entah dari siapa dia mengetahui tentang Emma ini, maka mulailah ia memberikan uang buat derma kepada berbagai badan amal, di antara- nya kepada Badan Amal sebuah sekolah swasta yang diketuai oleh bapak Emma. Bapak Emma begitu tertarik kepadanya, maka hartawan itu diundangnýa ke rumahnya dan di sana bertemulah ia dengan gadis yang malang itu. Berita ini kami ketahui dari Emma yang datang kepadaku dengan sembunyi-sembunyi. Dia minta supaya Agam mengubah sikapnya dan membawanya lari. Dalam waktu Agam sedang dalam keraguan itu, ibu- bapak Emma telah mencium berita itu, kebetulan pula paman Emma baru saja sampai dari kampungnya, maka dengan diam-diam Emma disuruh meninggalkan Langsa. Hanya kepadaku saja Emma berpamitan. Di hari ia berangkat itu aku tidak dapat melihatnya, karena aku sendiri telah diculik tentara dan dibawa ke Bireuen. Pertemuan kami di Pematang Siantar itu lebih menyedihkan lagi. Emma menceritakan bahwa sudah hampir enam bulan mereka terlantar di kota itu. Bukan karena tidak ada hubungan dengan kampungnya
tetapi karena pamannya tidak mau berangkat, karena kesukaran tempat tinggal, mereka menumpang pada sebuah hotel. Dia menceritakan hal itu kepadaku dengan air mata yang bercucuran. "Jadi masih jugakah kau tinggal bersama-sama dengannya?" tanyaku.
"Tidak lagi, saya menumpang di rumah seorang kenalan."
"Sudah berapa lama?" "Sudah dua bulan. Abang usahakanlah supaya saya dapat pulang ke Langsa ataupun terus ke kampung. Tetapi saya lebih suka ke kampung kembali karena di sana saya dapat melupakan kisah-kisah pédih masa lalu?" Agak sukar juga aku menjanjikan kepadanya. Aku sendiri tidak lagi mempunyai kekuasaan seperti di Langsa dulu, dan orang-orang yang kukenal di Pematang Siantar ini pun adalah orang biasa saja, yang tidak dapat memberikan suatu pertolongan. Namun demikian untuk menye- dapkan hatinya aku berjanji juga. Kejadian ini sangat berkesan dalam hatiku. Berhari-hari lamanya aku berpikir tentang nasib gadis-gadis yang cantik serupa itu. Biasanya gadis-gadis yang cantik selalu saja malang hidupnya. Kecantikan yang diberikan Allah kepada mereka sebagai anugerah yang sangat mulia bukannya membawa kebahagiaan tetapi membawa kemalangan dan penderitaan. Dengan Emma ini sudah dua orang gadis cantik yang kukenal yang menjadi korban kecantikannya. Setelah beberapa hari di Pematang Siantar, pada suatu hari Tengku Husin mengajak kami berangkat ke Tanjungbalai, Asahan. Maksud ke- berangkatan itu pun kami tidak tahu juga, tetapi karena diajaknya maka pergilah kami ke sana dengan mengambil jalan lewat Tebingtinggi. Aku memang ingin sekali melihat pekan Tanjungbalai itu, karena di situlah mula-mula aku ditahan waktu datang dari Malaya dulu. Aku ingin melihat bagaimana jadinya tempat-tempat yang pernah kukenal itu. Kami menginap di sebuah hotel dan hotel itu telah dijaga oleh polisi tentára, bagai menjaga keselamatan seorang mayor jenderal. Malam itu satu pertemuan telah diadakan di antara orang-orang terkemuka dari kalangan militer dan sipil serta pemimpin-pemimpin kaum di kota itu. Selain daripada mengelu-elukan Tengku Husin Al Mudjahid, juga untuk mendengar penerangan-penerangan tentang tugas dan kewajiban tiap- tiap rakyat dalam perjuangan menentang Belanda. Selama perjalanan ini, itulah kali pertama kulihat Tengku Husin diberi penghormatan sedemikian rupa. Benar-benar ia dihormati sebagai pembesar negara. Senang juga hati kami yang menjadi pengiringnya itu. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH — 15
Aku tidur satu kamar dengannya. Sebelum tidur aku coba memancing cerita tentang perkawinannya dengan anak Raja Karang itu. Terperanjat aku mendengar pengakuannya bahwa dulunya ia juga berasal dari keturunan bangsawan Asahan. Aku tahu bahwa kadang- kadang pengakuannya itu hanya sebagai olok-olok saja, sebab dia sangat suka berolok-olok seperti itu. Tetapi siapa tahu, boleh jadi juga dia mau membela dirinya karena kawin dengan anak gadis feodal. Kami hanya satu malam saja di Tanjungbalai. Besoknya kembali lagi ke Pematang Siantar, karena kami harus berada di Perapat pada ujung minggu. Semalam di Pematang Siantar, tengah hari besoknya terus berangkat pula ke Perapat. Di pertengahan jalan kami bertemu dengan Mayor Jenderal Suhardjo, panglima TNI untuk Sumatera. Ketika dia melihat bendera yang ada di depan mobil Tengku Husin Al Mudjahid itu, ia pun ikut berhenti. Agaknya dia merasa heran, mengapa ada orang lain yang memakai bendera kuning. Sebelum itu Tengku Husin bertanya kepadaku, "Apa yang mesti saya lakukan?" "Tengku mesti turun dan beri hormat kepadanya," jawabku dan menyuruh ia turun menyongsong Mayor Jenderal Suhardjo yang sedang berjalan menuju mobil kami. Ia pun turun dan dengan kaki terkangkang, mengangkat tangan memberi hormat kepada mayor jenderal itu. Seumur hidupnya, barangkali itulah kali pertama dia memberi hormat secara militer. Aku merasa geli melihat caranya berdiri itu. Hormatnya dibalas oleh mayor jenderal itu dan aku tidak tahu bagaimana pula pikirannya sendiri. Setelah mereka bercakap-cakap sejurus lamanya, maka masing-masing lalu meneruskan perjalanan. Sebenarnya aku tidak berapa tertarik kepada persidangan militer itu, sebab selain daripada aku tidak dapat turut serta di dalamnya, aku tidak tahu juga apa yang akan dibicarakan. Aku datang ke Perapat karena tertarik dengan danaunya yang indah. Itulah kali kedua aku menyaksikan keindahan danau itu. Waktu memasuki daerah militer kami telah diperiksa dengan teliti oleh polisi militer. Perapat pada waktu itu telah menjadi tempat tinggal pembesar-pembesar militer. Di sanalah pula tempat tinggalnya Kolonel Abdullah Kartakesuma, kepala inteligen yang tidak saja mengawasi seluruh Sumatera tetapi juga sampai ke Tanah Melayu. Beberapa orang pemuda Melayu telah bertemu dengan aku di situ di antaranya Baharum Basyar orang PKMM.
Kami semua dibawa ke sebuah rumah tempat beristirahat. Tak lama kemudian datanglah seorang tentara yang berpangkat kapten menanya- kan pangkat kami masing-masing. "Saudara ini berpangkat apa dalam militer?" tanyanya. Aku diam terkulat-kulat, tidak tahu apa yang mesti kujawabkan. Aku memandang kepada Tengku Husin Al Mudjahid untuk meminta bantu- annya tetapi dia tersenyum menyeringai melihat kepadaku. "Sebenarnya saya belum mempunyai pangkat," jawabku mencari jalan ke luar. "Tetapi di sini Saudara harus memberitahu kedudukan Saudara untuk memudahkan kami menyediakan tempat tinggal." "Apa ya?" kataku ragu-ragu. "Kapten? Mayor?" "Mayor sajalah," kata kapten itu menolong. "Ya, mayor sajalah," kataku. Aku teringat ketika aku menjadi wedana dulu pun pangkatku itu sama dengan mayor dalam militer. Setelah ditulis namaku. Lalu ia pun membagi-bagikan tempat untuk kami menginap menurut pangkat itu. Tengku Husin Al Mudjahid men- dapat tempat yang istimewa untuk seorang jenderal. Kami yang berpangkat mayor ditempatkan di rumah Kolonel Mohd. Insja, orang Aceh yang dulunya pernah menjadi Komisaris Polisi di Palembang. Mereka yang berpangkat kapten dan letnan di rumah seorang kapten lain pula. Karena rumah Mohd. Insja terletak di pinggir danau, maka giranglah hatiku karena dapat menikmati keindahan danau itu dari dekat. Aku tidak ke mana-mana lagi, kecuali pada waktu makan saja. Malam pertama kami makan bersama-sama dengan Mayor Jenderal Suhardjo di tempat kediamannya. Aku duduk di sebelah Tengku Husin Al Mudjahid, di depan kami duduk mayor jenderal itu. Ketika menyuap nasi, aku merasa menggigit sesuatu yang keras. Pasir, kata hatiku. Tetapi mengapa banyak sekali. Aku gigit sedikit. Berkere- kup bunyinya. Aku coba mengunyah perlahan-lahan, tetapi kerong- konganku sudah tidak mau menerimanya lagi. Aku memandang kepada Kapten Daud Malim, ia juga memandang kepadaku. Aku melirik kepada Tengku Husin Al Mudjahid, dia juga melirik kepadaku. Hanya aku merasa beruntung sedikit, nasi di dalam piringku itu tidak berapa banyak. Kutimbun nasi yang ada itu dengan sayur dan ikan dengan demikian dapatlah aku mendorong nasi itu ke dalam perutku. Selesai makan diadakan pula pidato. Pada waktu orang berpidato itu aku berbisik kepada Tengku Husin Al Mudjahid, "Mengapa dalam nasi itu ada pasir?
"Bukan pasir," katanya."Obat!" "Obat?"aku heran. Dia tersenyum. Dan aku pun tersenyum pula. Ketika sampai di rumah perasaan ingin tahu sudah tidak dapat ku- tahan lagi, lalu aku pun bertanya kepada Kolonel Mohd. Insja.
"Saya rasa nasi tadi bagai berpasir," kataku. "Apakah Tuan tidak
merasa?" "Memang berpasir," jawabnya. "Bapak Suhardjo marah sekali
kepada tukang masaknya."
Mengapa sampai berpasir begitu?" tanyaku lagi ingin tahu. "Itu beras dari sini, Orang-orang di Perapat ini menjemur padinya di tepi jalan raya. Pasir-pasir yang beterbangan ketika mobil lewat bercam-
pur dengan padi itu dan kemudian mereka tumbuk."
Aku tersenyum karena teringat kata-kata Tengku Husin Al Mudjahid. "Kenapa Tuan Abdullah tersenyum?" Mohd. Insja bertanya ketika dia melihat aku tersenyum tiba-tiba. "Saya teringat kepada Tengku Husin Al Mudjahid," jawabku. "Dia telan juga nasi itu, karena katanya yang berkerekup itu ialah obat." Semua yang mendengar ketawa terkekeh. Dua hari lamanya persidangan itu berlangsung. Kabarnya suasana persidangan itu tegang sekali. Dr. Nainggolan telah membuat kecaman hebat terhadap kebijaksanaan pemerintahan sipil dan militer Republik Indonesia. Dr. Nainggolan mempunyai pengikut banyak juga, tetapi ada juga orang yang menyangsikan kejujurannya. Memang pada waktu itu sangat sukar untuk membuktikan sikap seseorang, lebih-lebih lagi kalau tidak ikut-ikutan gila! Dari Perapat kami terus saja pulang ke Pematang Siantar. Selama menunggu waktu berangkat kembali ke Aceh, aku menggunakan kesem-
patan mengunjungi beberapa orang teman lama. Aku mendatangi
rumah M. Ghanie untuk bertemu dengan Maydin, kemudian kucari Ida Irawati, Tuan Abdoessoeki dan Tuan Sunardi, seorang utusan dari Jawa
yang memimpin Kantor Urusan Pemuda. Beliau pernah tinggal di Aceh
dan ikut menyaksikan dari dekat pertempuran melawan Cumbok, dari Aceh beliau terus ke Pematang Siantar. "Apa pekerjaan Tuan Abdullah sekarang?" dia bertanya kepadaku ketika mula-mula bertemu. "Tidak ada, cuma ikut rombongan mayor jenderal saja." "Mengapa tidak mau memegang sesuatu jabatan. Kita sekarang me-
merlukan pemuda-pemuda yang aktif."
"Saya tidak tahu apa yang mesti saya kerjakan?" "Mengapa tidak mau menjadi Pamongpraja kembali, bupati misal- nya." "Di Aceh tidak mungkin." "Di tempat lain, kalau mau saya uruskan. Bagaimana kalau di Jambi?" Aku langsung tertarik mendengar nama tempat itu. Sebagai seorang yang suka merantau, aku sangat ingin mengunjungi tempat-tempat yang jauh. "Mungkinkah?" tanyaku dengan penuh minat. "Tinggalkan alamat kepada saya, nanti akan saya urus," katanya. Berita ini tidak kusampaikan kepada kawan-kawanku. Tidak seorang pun di antara mereka yang mengetahui bahwa aku sudah mengambil keputusan akan meninggalkan Aceh. Malangnya ketika sampai di Langsa aku tidak memberitahukan hal ini kepada dr. Bagiastra, sedangkan alamatnya pula yang aku pergunakan. Aku terus mengikut rombongan Tengku Husin Al Mudjahid itu sampai ke Kotaraja dan tinggal bersamanya di Neuseu. Pada suatu hari T. Mohd. Amin, Ass. Residen Aceh memanggil aku ke kantornya. "Apa pekerjaan Tuan Abdullah sekarang?"ia bertanya. "Tidak ada,"jawabku. "Kita di Aceh memerlukan beberapa orang pegawai polisi apakah Tuan Abdullah tidak bermaksud masuk polisi kembali?" "Tidak, Ampun." "Mengapa, ada suatu rencana lain?" "Saya bermaksud akan bekerja di luar daerah Aceh kalau boleh." "Itu tidak baik. Saya pikir lebih baik Tuan Abdullah bekerja di sini kembali ke dalam dinas polisi. Kita sangat kekurangan orang dan kami tidak akan melepaskan Tuan Abdullah pergi ke luar daerah." Aku diam tidak berkata-kata. Sudah lama benar aku bebas tanpa sesuatu tugas kewajiban, ini yang terpikir olehku. Berapa lama lagi aku mesti bersikap yang serupa ini, sedangkan orang lain semuanya berjuang untuk menegakkan negara dalam segala lapangan. Berapa lama lagi aku mesti menunggu berita dari Sunardi? "Kalau saya memasuki kepolisian bilakah agaknya saya mulai meme- gang tugas?" aku bertanya setelah dalam hatiku kuambil keputusan. "Mulai bulan ini juga. Dulu apa pangkat Tuan Abdullah dalam kepolisian?"
"Keibu. Inspektur." "Bagaimana kalau pangkat itu juga?" Inspektur Kelas II?" "Itu terserah. Bagi saya pangkat itu tidak menjadi soal." Itulah mulanya maka aku kembali masuk ke kepolisian. Aku sama sekali tidak sadar bahwa T. Mohd. Amin memanggil aku ke kantornya itu karena telegram yang diterimanya dari Residen Jambi yang meminta bantuan pemerintah di Aceh untuk menghubungi aku supaya berangkat segera ke Pekan Baru. Hal ini kuketahui ketika aku bertemu dengan dr. Bagiastra yang men- ceritakan bahwa dia menerima telegram dari Jambi yang dialamatkan kepadaku. Telegram itu diserahkannya kepada Residen Aceh. Aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Aku terus saja bekerja dalam badan kepolisian pusat di bagian dinas rahasia, sebagai timbalan kepada Komisaris Muda Saoni yang menjadi ketua dinas tersebut. Di Kotaraja aku bertemu kembali dengan kawan-kawan lama: Ghazali Yunus yang bekerja sebagai ketua bagian penyiaran Radio RI di Kantor Penerangan Daerah Aceh; Amelz, pemimpin harian Semangat Merdeka; Abdullah Ariff, pengarang di Semangat Merdeka dan Bustamam Melayu. Selain menjadi pegawai polisi yang memegang segala soal rahasia di daerah Aceh, aku juga ikut aktif dalam gerakan pemuda, gerakan politik. Meskipun aku sebagai pegawai keamanan tidak dibenarkan turut campur dalam politik tetapi aku tidak mengindahkan itu semua. Seringkali aku menulis artikel-artikel dalam surat-surat kabar, kadang- kadang mengecam dinas kepolisian itu sendiri.aue sb Dalam kalangan pemuda, Ghazali Yunus dan aku, seringkali meng- ambil peranan penting. Kami memimpin rapat-rapat umum, kami ikut mengurus kongres partai-partai politik, ikut bersandiwara, pergi ber- pidato ke berbagai tempat di daerah Aceh, ikut dalam gerakan pemuda-pemuda Cina dan India. Pada hari kemerdekaan India kami berdua ikut menjadi anggota panitia penyelenggara merayakan hari kebangsaan India. Orang-orang India tidak begitu banyak di Kotaraja dan orang India yang ada itu pun kebanyakan orang India yang menjaga lembu, tukang pangkas dan pekedai-pekedai kecil. Satu-satunya orang India yang gesit dalam pergerakan ialah Jagir Singh seorang Sikh yang berniaga kecil-kecilan. Dalam panitia itu Jagir Singh menjadi ketuanya. Kami meminjam Taman Pelipur untuk dijadikan tempat pertemuan. Surat-surat undang-
an kami kirim kepada pembesar-pembesar negeri, militer, ketua-ketua golongan dan pemimpin-pemimpin rakyat. Tetapi kira-kira lima menit sebelum pukul delapan malam, ketika perayaan itu akan dimulai, Jagir Singh belum juga muncul. Kami semua gelisah benar, apalagi Residen Aceh sendiri telah tiba, sedangkan kursi ketua di sebelahnya masih kosong. Beberapa orang kawan telah pergi mencari Jagir Singh ke rumahnya. Dengan tercungap-cungap mereka kembali memberitahukan bahwa Jagir Singh tidak pulang sejak pagi tadi. Ke mana? Apakah ia sudah diculik? Tiba-tiba satu menit sebelum pukul delapan, masuk seorang peranak- an India dan terus menuju ke tempat duduk di sebelah Residen Aceh. Kami sudah hendak menariknya ke luar, karena kami menyangka orang itu salah alamat. Tetapi tiba-tiba aku mengenalinya. Ia Jagir Singh yang sudah mencukur jambangnya dan membuang serbannya! Sampai akhir upacara banyak orang yang tidak mengenalinya, bahkan Residen Aceh juga tidak mengetahui yang di sebelahnya itu Jagir Singh. la menyangka orang India itu wakil yang khusus didatangkan dari Medan. Tuan Saoni kemudian bertanya kepadaku siapa orang India itu, ia tidak mengenali Jagir Singh yang tercatat dalam catatannya sebagai orang yang dicurigai!
Kolonel Mohd. Insja dari Perapat telah kembali ke dalam kepolisian. Ia ditunjuk sebagai Kepala Kantor Kepolisian Daerah Aceh dengan pangkat Komisaris Besar. Meskipun keadaan Kotaraja dan sekitarnya aman dan tenteram, tetapi pihak kepolisian tidak pernah lalai dalam tugasnya menjaga keamanan. Pegawai-pegawai dari Kantor Pusat dan dari Kantor Wilayah selalu siap dengan perondaan. Kadang-kadang Belanda memperlihatkan kekuatan- nya dengan mendatangkan kapal perang di Kuala Aceh, tetapi Belanda tidak berani kehilangan tongkat dua kali! Mereka tidak berani mendarat di Aceh. Mereka hanya memamerkan kapal perang di Kuala Aceh dan kapal terbangnya melayang-layang di atas angkasa Kotaraja. Pulau Sabang pada waktu itu di bawah kekuasaan Belanda. Hanya itulah bumi Aceh yang dikuasai penjajah. Keadaan politik di daerah Aceh sangat buruk. Walaupun kelihatannya sangat tenang, ibarat air di permukaan tasik yang dalam, namun di bawahnya arus berputar dengan derasnya. Pertentangan antara kaum ulama dengan kaum oleebalang masih belum habis. Sisa-sisa oleebalang yang masih ada, masih saja berusaha untuk menghancurkan kaum ulama yang sedang memegang tampuk kekuasaan pemerintahan. Dalam usaha ini mereka tidak segan untuk mengadakan hubungan dengan Belanda. Tengku Daud Beureueh ulama Aceh dan pejuang yang kenamaan itu telah ditunjuk sebagai Gubernur Militer Daerah Aceh. Residen Aceh takluk di bawah kekuasaannya. Sebagai penasihatnya yang utama ialah
T. Mohd. Amin, Ali Hasjmy dan ulama-ulama Poesa lainnya. Laporan-laporan yang kami terima di Kantor Polisi Pusat tentang kegiatan-kegiatan di antara dua golongan ini amat mengkhawatirkan, tetapi keadaan masih dapat dijaga dengan baik. Kecuali hal-hal politik ini, keadaan keamanan di seluruh Aceh memuaskan sekali. Pencurian hampir tidak ada, walaupun kebanyakan rakyat masih dalam keadaan
sulit terutama soal makanan. Soal pakaian hampir dapat diatasi dengan adanya perhubungan yang langsung antara Tanah Melayu dengan Aceh. Malah orang-orang dari Sumatera Timur juga datang ke Aceh untuk membeli barang-barang dari luar negeri dengan harga yang lebih murah. Tugasku yang paling besar selama aku kembali bekerja dalam dinas kepolisian ini, ialah memeriksa kembali semua tahanan politik dalam revolusi sosial dulu, yang masih ditahan beratus-ratus orang banyaknya, dalam berbagai tempat tahanan. Mula-mula sekali aku berangkat ke Kotabakti, dulunya Lamlo, di situ ada sebuah penjara yang sedang saja besarnya. Di dalam penjara itu ada kira-kira seratus orang tahanan politik, laki-laki dan perempuan, yang kebanyakan terdiri dari kaum bangsawan. Mula-mula aku memeriksa keadaan penjara itu. Sungguh menyedihkan. Dalam satu kamar yang sempit ditempatkan dua sampai tiga orang, lebih-lebih menyedihkan ialah tempat kurungan orang perempuan. Meskipun tempat mereka itu dibatasi dengan pagar berduri, tetapi karena tempatnya kecil dan orangnya banyak, maka aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau aku dikurung seperti itu. Aku memberitahukan mereka itu, bahwa kedatanganku ke situ ialah untuk memeriksa tiap-tiap seorang daripadanya. Hasil pemeriksaanku itu akan kusampaikan kepada pihak atasan dengan anjuranku sendiri, menurut keadaan tiap-tiap orang itu. Kalau mereka membantu aku dalam pemeriksaan ini, maka ada kemungkinan mereka dibebaskan. Kebanyakan orang tahanan di situ berasal dari Aceh Timur, dan mereka mengenal aku dengan baik. Jadi semuanya berjanji akan memberikan kerja sama kepadaku dengan sebaik-baiknya. Heran juga, semua orang tahanan itu telah dapat kuperiksa dalam waktu dua belas jam dengan tidak berhenti-berhenti. Malam itu, di rumah Kepala Polisi Sigli, aku telah menyiapkan laporan lengkap ten- tang orang-orang tahanan itu dan menurut kesimpulanku, mereka itu semuanya sudah patut dibebaskan. Selesai laporan itu, aku pun berangkat ke Takengon untuk mengada- kan pemeriksaan pada sebuah tempat tahanan di salah sebuah gunung arah ke Jalan Belangkejeren. Sudah sore benar kami berangkat dari Bireuen. Kira-kira tengah malam barulah kami sampai ke kota dingin di tepi Laut Tawar itu. Hawanya sejuk sekali dan aku sudah tidak tahan lagi, apalagi aku masih saja memakai seragam polisi, walaupun agak tebal tetapi tidak dapat menghindari udara dingin yang sudah menusuk sampai ke tulang sumsum.
Dengan tubuh menggigil aku mengetuk pintu rumah Kepala Polisi Takengon. Dia menyumpah-nyumpah, karena dibangunkan di tengah malam buta yang dingin itu. ssm Oh, Tuan Abdullah," serunya."Saya sangka tidak datang lagi sebab sudah jauh malam. Silakan masuk, jangan berdiri di luar di dalam 810152 dingin itu.q a Gigiku menggelatuk. Aku tidak dapat berkata-kata lagi, karena terlalu dingin. 'Saya mau tidur,"kataku.'Mana tempat tidur saya?'slu Kebetulan Kepala Polisi itu hanya seorang diri saja di rumah itu. Istrinya belum datang, karena dia pun baru saja pindah dari Bireuen. "Di sini," katanya menunjuk tempat tidurnya.b "Tuan tidur di mana?" tanyaku keheranan. "Di sini juga," katanya dengan ketawa. "Tuan Abdullah tidak akan dapat tidur sendirian." Aku tidak menunggu lagi, lalu merebahkan diri di atas tempat tidur tanpa menukar pakaian. Ia tidur di sebelahku. Aku menggigil terus seperti orang demam malaria. "Apa ini, macam anak kecil saja?" kawanku itu mengusik aku yang sedang kedinginan. UOU Dia lalu mengangkat tilam dan diletakkannya di atas badanku, kemudian dia tidur di atasnya. Aku terus menggigil juga. Aku tidak tahu kapan aku tertidur, tetapi subuh-subuh lagi aku telah terbangun.1 Kawanku masih tidur juga. Aku terus ke kamar mandi, untuk mandi menghilangkan dingin. Seorang perempuan, istri seorang pegawai polisi yang tinggal di belakang rumah itu melihat aku masuk ke kamar mandi itu dengan tanda tanya. Tetapi aku terus masuk ke dalamnya. Mula-mula kucecah- kan tanganku ke dalam bak air. Airnya dingin seperti es. Cepat-cepat kutarik tanganku itu. Bagaimana aku akan mandi dengan air dingin seperti es ini? Pikir hatiku. Tetapi aku mesti menghilangkan dingin ini. Menurut petuah orang tua-tua, begini caranya kalau kita berada di tempat yang dingin. Bismillahi rahmanirrahim ... kuciduk air satu gayung penuh dan terus kusiram ke atas tubuhku. Aduh, 'sejuknya! Serasa darah dalam tubuhku sudah beku semuanya. Kupijit-pijit daging tanganku, daging pahaku, kugoyang-goyang kakiku supaya darah itu jalan kembali. Kemudian kuberanikan diriku menyiram satu gayung lagi. Itu sajalah yang dapat kulakukan dan cepat-cepat kulap badanku dengan handuk.
Memang sudah berkurang dinginnya. Kira-kira jam tujuh pagi aku sudah dapat berjalan-jalan di sekitar kota itu dengan baju biasa. Kota Takengon memang tinggi dari permukaan laut. Laut Tawarnya walaupun tidak sebesar dan seindah Danau Toba tetapi tidak pula kalah dengan pemandangan alamnya yang dikelilingi gunung yang tinggi, yang menjadi tulang belakang Pulau Sumatera. Kotanya kecil dan tidak di- perindah seperti Brastagi. Bangunan-bangunan yang menarik tidak banyak, hotel-hotel yang besar juga tidak ada. Mungkin karena"per- jalanannya yang sukar dan jalannya mati hanya sampai di situ saja, kecuali kalau jalan ke Belangkejeran dan Kotacane itu sudah selesai nanti. Pagi itu juga aku mencari rumah Tuan Hassanuddin yang sudah pin- dah ke situ, demikian juga Osman Keibuho di Langsa dulu yang dipin- dahkan ke Takengon sebab mendapat penyakit paru-paru. Obat orang yang sakit paru-paru sangat sukar pada waktu itu, jadi mereka terpaksa tinggal di tempat dingin serupa ini untuk beberapa bulan lamanya. Osman dan Hassanuddin kulihat sudah gemuk betul. Mereka juga mengatakan kepadaku, "Kalau satu bulan Tuan tinggal di sini tentu Tuan juga akan gemuk seperti kami." Ucapan mereka itu kemudian dapat kubuktikan dengan selera makan- ku. Pagi itu saja aku makan nasi sampai dua kali tambah, walaupun lauknya hanya sambal dengan kubis mentah. Di sekitar kota Takengon penuh dengan ladang-ladang kubis dan cili besar. Di mana saja kita memandang, hijau dan hijau saja, diselingi oleh bunga yang berwarna- warni. Hari itu juga aku bertemu dengan kawan-kawan yang menjadi pengurus perkebunan teh. Kebetulan pula Alimuddin pengurus perkebunan di Langsa datang ke Takengon. Maka aku pun ikut dengan mereka itu melawat ke perkebunan teh dan kopi. Salah sebuah perkebunan teh itu ialah yang paling besar, yang pèrnah kukunjungi. Memang pada zaman Belanda dulu kebanyakan teh dan kopi dihasilkan dari Takengon. Di bagian sebelah atas, yaitu ke arah Jalan Belangkejeren terdapat kebun damar, terpentin. Setelah satu hari aku di kota itu besoknya dengan menumpang mobil kepala polisi, aku berangkat ke tempat tahanan yang kedua besarnya di daerah Aceh. Tempat itu sungguh jauh dari kota, dikelilingi hutan rimba yang besar. Orang-orang tahanan itu ditempatkan di sebuah bangsal panjang, dulunya bangsal tempat menyimpan terpentin yang sudah dipetikan.
Orang-orang tahanan di tempat ini ialah orang-orang yang dianggap berat kesalahannya. Mereka kebanyakan terdiri dari kaum bangsawan. Salah seorang di antaranya ialah Teuku Alibasjah, kawanku yang sama- sama dari Malaya dan Teuku Nyak Arif. Mereka semuanya berjumlah enam puluh orang. Hanya kira-kira tiga jam saja selesailah pemeriksaan yang kulakukan kepada mereka itu. Karena hari sudah hampir malam, maka kami tídak dapat kembali ke Takengon lagi. Kira-kira sepuluh kilometer dari situ ke atas sedikit ada sebuah bungalow kepunyaan Belan- da kebun terpentin. Ke sanalah kami berangkat. Kami sampai kira-kira menjelang waktu magrib dan walaupun sudah terasa dinginnya, namun aku terus saja mandi sedikit. Bungalow itu masih baik lagi, segala perabot di dalamnya masih seperti dulu juga. Satu keluarga orang Jawa menjaganya. Mereka dan beberapa orang kuli dengan keluarganya masing-masing, masih terus bekerja menghasilkan terpentin. Perkebunan itu juga berada di bawah pengawasan Dinas Perkebunan Republik Indonesia. Sebulan sekali pengurus dari Takengon datang membawa barang-barang catuan dan mengambil hasil-hasil yang sudah disediakan. Tempát itu sungguh tinggi dari permukaan laut. Besok paginya, ketika kami dalam perjalanan pulang, pada suatu puncak gunung, kami dapat melihat dengan jelas Selat Melaka dan mungkin Lautan Hindia juga dapat dilihat kalau menggunakan teropong.
Aku merasa senang yang amat sangat, karena berdasarkan pemeriksaan dan usulan-usulan yang kusampaikan kepada Residen Aceh, sebagian besar daripada tahanan politik itu telah dibebaskan. Ada di antara yang dibebaskan itu tidak kembali lagi ke kampungnya karena menurut nasihat yang kami berikan kepada mereka, tetapi ada pula yang keras kepala mau térus menetap di kampung asalnya. Di antara yang dibebaskan termasuk Teuku Alibasjah Langsa. Sebagai salah seorang yang bertanggung jawab dalam bagian Penyeli- dik Aliran Masyarakat (PAM) dan banyak memegang berkas-berkas rahasia, maka tugasku tidaklah pernah ringan. Ada-ada saja yang mesti kuhadapi, terutama sekali dengan orang-orang yang ditangkap oleh kantor polisi di kewedanaan-kewedanaan, yang didakwa menjadi kaki-tangan musuh. Dakwaan kaki-tangan musuh amat mudah dikenakan kepada setiap orang, asal padanya terdapat sesuatu benda yang ganjil. Seorang Cina pernah ditangkap karena pada bajunya terdapat warna merah-putih-biru. Seorang pedagang Aceh telah disita berpeti-peti korek api yang baru diimpornya dari Pulau Pinang karena ada tanda V pada kotak korek api itu. Semua perkara ini akan sampai kepadaku dan akulah yang harus mengambil keputusan apakah tuduhan itu benar atau tidak. Soal tanda ini sudah banyak memakan korban manusia. Ketika Belanda melakukan aksi militernya di Medan dulu, banyak di antara pen- duduk Medan yang telah melarikan diri, mengungsi ke pedalaman. Tentara rakyat yang mengawal di perbatasan daerah Republik telah melakukan pemeriksaan yang sangat ketat dán teliti terhadap tiap-tiap orang pelarian itu, karena telah kedapatan ada kaki-tangan Belanda yang mem- boncengi mereka. Tentara rakyat di bagian pedalaman Tanah Karo yang paling terkenal keras tindakannya. Tidak saja pakaian dan barang-barang yang dibawa para pelarian diperiksa, tetapi juga seluruh kulit tubuh mereka diteliti
kalau-kalau ada tanda yang mencurigakan. Kabarnya ada yang meng- gosok-gosok di pergelangan tangan atau pada tempat di dekat leher, sehingga timbul warna merah dan biru, apabila warna ini telah timbul maka bercerailah kepala dengan tubuhnya! Syukurlah hal yang serupa ini belum pernah terjadi di daerah Aceh. Kami dapat berbangga karena daerah inilah satu-satunya yang cukup aman. Walaupun rakyat hidup dalam kesempitan karena bekas kemiskin- an yang ditinggalkan Jepang belum lagi pulih, tetapi tidaklah ada orang yang melakukan kejahatan-kejahatan seperti mencuri dan sebagainya. Semangat rakyat sungguh luar biasa. Ke mana saja kita pergi akan terlihat semangat yang berkobar-kobar. Mereka tidak saja ingin bertem- pur di garis depan, tetapi di garis belakang pun mereka giat membantu perjuangan dengan tanaman-tanaman padi, ubi dan sebagainya. Bahan- bahan ini sebagian besar dikirimkan untuk membantu pejuang-pejuang di front. Kalau kita bepergian dari Kotaraja ke Aceh Timur maka setiap pekan kecil akan kita temui hambatan di jalan raya yang dikawal oleh orang-orang kampung. Mereka biasanya memakai parang, pedang, kelewang dan ada pula di beberapa tempat memakai senapan. Senapan hasil ram- pasan dari Tentara Jepang ini tidak pernah diminta oleh pemerintah. Setiap orang yang akan melewati tempat penjagaan itu, haruslah memper- lihatkan surat jalan yang dikeluarkan oleh Residen, kalau tidak dia ter- paksa ditahan ataupun disuruh balik kembali ke tempat asalnya. Satu kejadian lucu pernah terjadi kepada kami mengenai surat jalan ini. Dalam suatu perjalanan melawat ke daerah, aku telah diajak oleh Residen Aceh untuk menjadi pengiringnya. Aku duduk di depan ber- sama-sama dengan supirnya. Waktu kami sampai di sebuah kampung di Aceh Pidie, kami telah ditahan oleh pengawal kampung di situ, yang memasang hambatan jalan raya dengan menggunakan sebatang kayu sebesar paha, melintang di tengah-tengah jalan. Seorang tua yang tegap dan besar tubuhnya, misainya panjang dan melentik seperti tanduk kerbau di antara hidung dan bibir atasnya mendekati kami. la membawa sebilah kelewang Belanda. "Surat," katanya dengan kasar, sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil surat itu. Selama ini kami tak pernah dimintai surat apapun juga oleh pengawal-pengawal di tempat hambatan jalan raya yang telah kami lalui, sebab mereka mengenali Residen Aceh. Kadang-kadang mereka mengenali aku
atau sekurang-kurangnya mereka percaya ketika kami katakan yang duduk di belakang itu ialah Residen itu sendiri.slatre sleb quuo en "Surat apa?"tanyaku dalam bahasa Aceh. "Surat Residen,"jawabnya ringkas. "Yang duduk di belakang ini ialah Residen itu sendiri, jadi tidaklah perlu surat lagi,"kataku hampir ketawa karena lucu. amiged Tetapi dia tidak peduli, walaupun dia menundukkan kepalanya melihat sekilas kepada Residen yang duduk di belakang itu. "Residen juga mésti memakai surat," katanya kemudian dan tangan- nya terus diulurkan kepada Residen itu pula. Kami sadar sekiranya tidak ada surat, sudah tentu kami tidak bisa berlalu dari tempat itu. Residen memandang kepadaku dan berkata, "Tuan Abdullah, katakan kepadanya saya ini Residen dan tidak perlu mentbawa surat lagi." Kami bicara dalam bahasa Indonesia, karena kebanyakan orang-orang kampung di Aceh tidak faham dengan bahasa tersebut dan orang yang bicara dengan bahasa Indonesia bagi mereka ialah orang-orang terpelajar seperti anggapan kita terhadap orang-orang yang tahu ber- bahasa Inggrìs atau Belanda. "Ampun terpaksa tunjukkan surat apa saja," kataku. "Tidak adakah surat-surat kiriman atau sebagainya?" Residen terus meraba-raba sakunya, dan kebetulan ada sepucuk surat kiriman yang baru diterimanya sebelum berangkat tadi. Dikeluarkan isinya dan diserahkan kepada orang tua itu. Ia menyambut surat itu dan dibawanya ke dekat obor damar di tepi jalan. Dipegangnya surat itu di dekat obor dan kemudian dilipatnya dengan baik-baik dan diserahkan kembali kepada Residen."Jalan!" katanya. Serentak dengan itu kayu penghalang itu pun diangkat oleh teman- temannya yang berdiri di kiri-kanan jalan. Kami semua sudah tidak dapat menahan geli hati lagi, lalu gelak terbahak-bahak, setelah mobil kami jauh dari tempat itu. Kejadian itu telah menyebabkan Residen Aceh mengeluarkan perintah baru tentang tujuan dan cara-cara pengawalan di jalan raya! Setelah Belanda melancarkan gerakan-gerakan aksi polisi, maka gerakan keamanan di daerah-daerah pun diperkuat dan diperketat sedemikian rupa.Meskipun aku seorang pegawai polisi, sebagai pemuda yang ikut dalam gemblengan Pesindo aku harus pergi memberi pene- rangan ke daerah-daerah. Pada suatu waktu aku, Ghazali Yunus, Bustamam dan Ibnu Abas mengadakan kunjungan di pantai timur Aceh. Pada beberapa kota kecil
.239
kami memberi penerangan tentang arti dan tujuan kemerdekaan. Biasanya cukup dalam perjalanan saja kami pikirkan apa yang akan kami bicarakan dalam rapat-rapat umum itu nanti. Pembicaraan itu biasanya dilakukan tergantung kepada keadaan tempat yang kami datangi. Di Meureudu aku telah mendapat gagasan baru tentang Pancasila. Entah bagaimana aku telah dapat membandingkan Pancasila itu dengan rukun Islam yang lima — Ketuhanan Yang Maha Esa dengan Kalimah Syahadat, Kebangsaan dengan Salat, Kemanusiaan dengan Puasa, Keadilan Sosial dengan Zakat Fitrah dan Demokrasi dengan Naik Haji. Sedangkan Ghazali mendapat satu gagasan baru juga tentang isme-isme — romantisme, patriotisme dan sebagainya. Ibnu Abas selalu bersyair
dalam tiap-tiap rapat. Ia terkenal sebagai seorang pujangga baru Aceh
yang sangat mahir bersajak dan bersyair dalam bahasa Aceh secara spontan.
Dalam bulan puasa tahun itu kami menerima kabar yang mengejut- kan. Di Trienggading sebuah pekan yang tak jauh dari Meureudu telah terjadi satu pembunuhan dahsyat. Seorang perempuan bangsawan istri seorang bekas oleebalang yang telah mati dibunuh dalam revolusi sosial telah dibunuh pula dengan kejamnya ketika ia sedang berbuka puasa. Itulah pembunuhan yang pertama yang pernah. dilakukan terhadap orang bangsawan setelah revolusi sosial dulu. Setelah menerima laporan polisi di Meureudu tentang kejadian ini, kami, di Kantor Polisi Pusat telah menduga bahwa kejadian yang serupa itu akan berulang lagi di daerah itu, karena di daerah Meureudulah yang masih banyak kaum bangsawan. Mereka yang dibebaskan dari tahanan tidak mau pindah ke tempat lain. Sebab mereka tahu bahwa rakyat di daerah itu masih meng- hormatinya, walaupun kekuasaannya sudah tidak ada lagi. Waktu di Meureudu dulu aku kebetulan pernah melihat seorang bangsawan telah dicium tangannya oleh seorang rakyat ketika bangsawan itu berjalan-jalan di pasar. Memang agak sukar juga untuk membuang kebiasaan yang sudah berakar berumbi beratus-ratus tahun lamanya itu, meskipun pada waktu itu rakyat itu sendiri mengetahui dengan jelás bahwa orang bangsawan itu sudah tidak mempunyai kekuasaan lagi. Golongan yang sedang memegang tampuk pemerintahan sekarang umumnya terdiri dari orang-orang Poesa ataupun penyokong-penyo- kongnya. Ada di antara penyokong-penyokong Poesa itu hanya ikut- ikutan saja, untuk mencari pangkat ataupun pengaruh. Biasanya orang-orang yang seperti inilah yang mengeruhkan keadaan, tidak saja di Aceh tetapi juga di mana-mana. Mereka seringkali bertindak tanpa bertang- gung jawab dan tindakannya itu meninggalkan akibat yang tidak baik kepada orang-orang yang benar-benar jujur dalam cita-citanya. Orang-orang ini yang sedang memegang kekuasaan tidak suka melihat orang-orang bangsawan itu masih juga dihormati rakyat. Dengan cara baik PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH — 16
ataupun dengan cara kasar, kebiasaan itu mesti dihapuskan dan salah satu cara ialah menyingkirkan orang-orang bangsawan itu dari muka bumi ini. Dugaan kami akhirnya terbukti benar, karena tak lama kemudian kami menerima laporan baru bahwa pada salah satu tempat di Meureudu telah dijumpai mayat seorang bangsawan yang telah ditanam tubuhnya saja sedangkan kakinya masih terjungkit ke luar. Waktu diperiksa ternyata bahwa bangsawan itu tak lain daripada orang yang pernah kulihat ketika tangannya dicium oleh rakyat tidak lama dulu. Sebagai sebuah instansi pemerintah yang menjaga keamanan dalam negeri, hal sepertí ini tentu tidak dapat dibiarkan terjadi dengan leluasa, tanpa sesuatu tindakan balasan. Tetapi kami dari pihak kepolisian juga menyadari bahwa pembunuhan politik yang serupa ini tentu mendapat 'backing' dari pihak atasan, yang memegang tampuk kekuasaan. Kalau kami mengambil tindakan menyelidiki ataupun menangkap orang-orang yang bersalah, maka kami bukan saja menghadapi orang yang bersalah itu tetapi juga pihak atasan yang berkuaşa. Jika kami diamkan saja, maka kami sudah melalaikan tugas yang diberikan kepada kami oleh negara.g0 Akhirnya Kepala Polisi telah mengambil keputusan untuk menyelidiki latarbelakang kedua pembunuhan yang telah terjadi itu. Orang yang akan melakukan penyelidikan itu ialah aku, yang menurut pandangan- nya dapat diterima oleh ketiga belah pihak, yang masih mempunyai nama baik di kalangan rakyat, pamongpraja dan orang feodal. Aku di- tugaskan segera berangkat ke Meureudu. Aku tidak tahu bagaimana keputusan Kepala Polisi itu dapat diketa- hui oleh Ass. Residen T. Mohd. Amin, karena pada pętang itu aku telah dipanggil ke rumahnya. "Tuan Abdullah akan pergi ke Meureudu besok?" tanya T. Mohd. Amin ketika aku sampai di rumahnya. "Benar, Ampun,"jawabku. "Ikut saja bersama-sama saya. Saya juga mau ke Sigli." "Bagus sekali, Ampun." "Tetapi, berhati-hatilah sedikit dalam menyelidiki perkara pembunuhan itu. Yang sebenarnya tak perlu diselidiki lagi, saya sudah tahu." la memberi nasihat kepadaku. Setelah itu aku pun minta permisi pulang. Pagi-pagi besoknya aku pun ikut bersama-sama T. Mohd. Amin ke Sigli. A. Hasjmy juga ikut serta. Sampai di Sigli aku berpisah dan karena Meureudu termasuk dalam wilayah Sigli, maka aku lebih dulu melapor-HEA IO MAAX30REM3X AWITIR3
kan diriku kepada Kepala Polisi Sigli. Malam itu aku menginap di rumahnya. Pagi berikutnya barulah aku berangkat seorang diri ke Meureudu dengan menumpang'kereta api. Di stasiun Kepala Polisi Meureudu télah menunggu kedatanganku. Aku dibawa ke rumahnya, karena di situlah tempat aku menumpang selama aku tinggal di pekan tersebut. Pekan Meureudu ialah sebuah pekan kecil yang terletak di tepi Selat Melaka. Kebanyakan penduduknya terdiri dari kaum nelayan dan petani. Pada zaman Belanda Meureudu terkenal sebagai salah satu daerah yang panas sehingga di situ didirikan sebuah benteng yang kuat dan Tentara-tentara Belanda di tempatkan sampai Jepang menduduki Indonesia. Kepala Polisi Meureudu telah memberikan laporan-laporan yang leng- kap kepadaku tentang kedua pembunuhan itu. Pembunuhan di Trienggading, menurut laporannya, diduga dilakukan oleh salah seorang orang terkemuka di tempat itu atau kalaupun pembunuhan itu tidak dilakukannya sendiri tetapi sekurang-kurangnya ia turut terlibat. Dalam masa revolusi sosial dulu, orang terkemuka tersebut memegang peranan penting di Trienggading. Ia menangkap orang-orang feodal dan merampas harta bendanya. Sebagian dari barang-barang rampasan itu menurut laporan digunakannya dengan terang-terang di depan istri orang yang sudah dibunuhnya. Petang kejadian itu, istri oleebalang itu sedang berbuka puasa di penanggah rumah bersama-sama dengan orang gajinya. Beberapa orang telah masuk dari pintu samping dan menarik tangan perempuan itu turun dari pelantar penanggah itu. Perempuan itu berbadan gemuk, jadi agak susah orang-orang itu menariknya. la menjerit-jerit dan mener- jang, menggigit dan memukul-mukul dengan tangannya, tetapi mereka menariknya lebih kuat, sehingga biar bagaimanapun juga ia melawan, namun ia diseret juga ke tepi pantai. Keesokan paginya aku dibawa oleh Kepala Polisi itu untuk melihat dari dekat tempat kejadian itu. Kami mengikuti bekas perempuan itu diseret, bekasnya sudah tidak begitu jelas lagi, tetapi gambaran jalan yang ditempuh oleh para algojo itu ternyata menyeberangi kuala Sungai Trienggading, sehingga jejaknya hilang sampai di situ. Mayat perempuan ini dijumpai dua hari kemudian, ketika dihempas ombak ke atas pasir. Menurut penyelidikan yang kulakukan kepada beberapa orang yang mengetahui tentang perempuan itu, dan juga kepada orang-orang gaji serta keluarganya, maka ternyata ia seorang yang lancang mulut.
Dengan terang-terangan ia memaki orang yang pada anggapannya mem- bunuh suaminya, kalau ia bertemu dengan orang-orang itu di mana saja. Malam ketika ia diseret itu pun, menurut orang gajinya, ia mendengar perempuan itu memaki-maki,"Celaka kau! Belum cukup kaubunuh suamiku, kaurampas hartaku, sekarang kau mau bunuh aku pula!'m Suara pekikan dan jeritannya itu, menurut orang gajinya, terdengar sayup-sayup, semakin lama semakin jauh dari rumah itu dan itulah salah satu bukti bahwa ia dibunuh bukan di dekat rumah itu. Petang itu aku sengaja pergi berbuka puasa di sebuah surau yang
letaknya tidak jauh dari tempat terjadinya pembunuhan terhadap bang-
sawan di Meureudu itu. Orang-orang di situ mengetahui bahwa aku adalah salah seorang pegawai polisi dari Kotaraja dan datang ke situ untuk mengadakan penyelidikan tentang pembunuhan. Setelah berbuka dan salat magrib, kami pun ngobrol-ngobrol tentang berbagai hal. Aku memperhatikan setiap orang yang ada di dalam surau kecil itu. Mereka ada dua belas orang semuanya. Satu dua orang kulihat agak gelisah dan tergagap waktu bicara. Aku tidak mencurigainya karena kegelisahan boleh saja timbul akibat berbagai hal. Boleh jadi karena aku orang luar dan pegawai pemerintah pula, boleh jadi juga karena dia khawatir kalau-kalau aku akan menjadi korban orang yang memang benar-benar menjadi pembunuh. Mereka itu terus kudekati. Aku ajak bercakap-cakap dengan menun- jukkan sikap yang ramah, aku bertanya berbagai hal tentang keadaan di kampung itu, kemudian tentang keadaan dirinya dan kehidupannya. Aku tidak diizinkan pulang oleh orang-orang di surau itu sehingga selesai salat tarawih di sebuah masjid yang letaknya kira-kira satu kilometer dari tempat itu. Agar jangan mencurigakan aku pun mengikuti mereka itu. Kami semua berjalan kaki dan dalam perjalanan itu kami melintasi kuburan tempat mayat orang bangsawan itu dikuburkan. "Di sinilah ia dikuburkan," salah seorang dalam rombongan kami itu berkata. Aku berpaling melihat ke arah yang ditunjuknya. Satu tanah tinggi, berpasir yang ditumbuhi pohon senduduk. Samar-samar dalam
sinar bulan purnama yang sedang naik itu kulihat tanah merah, jelas
tidak ditumbuhi rumput. "Mengapa tidak ditanam dengan betul-betul?" tanya seorang.
"Sengaja supaya diketahui orang," jawab orang yang pertama
berkata itu, seperti ia menceritakan hal yang biasa saja. Aku menjadi gelisah. Apakah mereka ini sengaja? Mau memerangkap aku dengan ceritanya tentang pembunuhan itu? Tetapi mengapa? Aku percaya pembunuhan itu mesti ada mótifnya, dan tak mungkin orang
yang bicara itu, yang hanya seorang nelayan atau petani biasa, akan
membunuh tanpa sesuatu tujuan yang tertentu. Tujuan politik tentu tidak masuk akal. Diupah? Itu mungkin. Aku pura-pura tidak menghiraukan percakapan mereka itu, tetapi terus berjaļan menuju ke masjid. Waktu kami sampai di situ orang baru saja azan isya. Dalam masjid itu kulihat Wedana Meureudu, Patih dan Camatnya sudah sampai lebih dulu. Selesai salat tarawih diadakan pula jamuan nasi minyak dan membaca Alquran.
Hampir jam dua pagi barulah kami pulang ke Meureudu. Aku dibon-
cengi Patih, karena badannya lebih tegap. Perjalanan dengan sepeda melalui kampung-kampung yang sedang bermandikan cahaya bulan itu sangat indah dan nyaman sekali rasanya. Aku hampir tidak percaya bahwa dalam ketenangan alam seperti itu dapat menimbulkan kejadian ngeri. Kami melalui jalan landskap, jalan kampung. Dan lewat di depan rumah salah seorang bangsawan yang juga baru dibebaskan dari tahanan.
"Feodal ini juga mesti dibunuh," tiba-tiba Patih yang membonceng
aku itu berkata, setelah dia menunjukkan rumah feodal itu kepadaku. Aku diam tidak berkata apa-apa karena dalam soal seperti ini lebih baik aku tidak ikut memberi komentar. "Beberapa malam yang lalu kami telah datang untuk menculiknya, tetapi dia tidak pernah keluar waktu malam," katanya. "Besok kita coba sekali lagi." Tersirap darah dalam tubuhku ketika mendengar perkataan 'kita' itu. Sudah tentu aku pun akan diseret serta dalam petualangan mereka ini dan kalau benar demikian apa yang akan terjadi kepada diriku sebagai seorang pegawai polisi yang datang ke situ untuk menyelidiki pembunuhan, turut ambil bagian dalam pembunuhan pula? Otakku bekerja keras untuk mencari jalan bagaimana caranya untuk menghindarkan kejadian itu ataupun sekurang-kurangnya aku tidak akan ikut serta malam besok Aku sudah mengambil keputusan akan pulang ke Sigli, tetapi keputus- anku itu telah gagal karena malam itu aku tidak diizinkan pulang ke rumah Kepala Polisi. Siang besoknya barang-barangku telah diangkut dari rumah polisi itu ke rumah wedana tempat tinggalku yang baru. Malam berikutnya kami pergi berbuka puasa di sebuah masjid yang lain pula, tak jauh dari rumah feodal yang mau diculik itu. Kali ini rom- bongan kami bertambah beberapa orang lagi, tiap-tiap orang membawa PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH - 17
rencong dan ada pula yang membawa tali. Aku sudah serba salah dan akhirnya aku hanya dapat menyerah diri kepada Allah saja, sebab di situlah satu-satunya tempat yang masih terbuka bagiku untuk meminta perlindungan! Bulan sangat terang. Sejak magrib tadi di kaki langit sebelah timur mengambang bulan purnama sebagai sebuah bola api lembut yang besar. Barangkali juga salatku malam itu tidak sah. Hatiku terlalu rusuh untuk memusatkan perhatian kepada apa yang dibaca imam dan kepada apa yang aku baca sendiri. Kulihat mereka yang bersamaku riang gembira saja, mereka menceritakan begitu leluasa hal-hal penculikan yang telah mereka lakukan dan yang akan mereka lakukan. Mereka sedikit pun tidak segan kepadaku yang orang luar, apalagi seorang pegawai polisi! Ketika tiba waktu pulang, aku terasa bagai tak kuat untuk mendayung sepedaku. Segenap sendi anggotaku terasa lemah dan tak berdaya. Aku tahu bahwa perasaan ini semua, ialah karena angan-anganku terhadap apa yang akan terjadi. Aku telah membuat gambaran sendiri dalam otakku yang membebani perasaanku itu. Di depan rumah feodal itu mereka membuat stelling. Ada yang di belakang rumah dan ada yang di depan. Mereka semuanya siap sedia dengan tugasnya masing-masing. Wedana Meureudu dan aku tidak disuruh ikut serta, kami disuruh berdiri jauh-jauh di dekat jembatan. Patih telah maju ke depan tangga. Hatiku berdebar-debar takut dan ngeri. Pintu rumah itu diketuk. Lama baru pintunya dibuka dan di muka pintu menjenguk seseorang dengan mengulurkan pelita minyak, yang apinya meliuk-liuk hampir padam ditiup angin. "Siapa?" terdengar suara orang perempuan yang menyapa Patih itu. "Kami mau bertemu dengan Teuku ... Apakah dia ada di rumah?" "Tidak ada. la pergi ke Sigli petang tadi dan belum pulang." Hatiku menjadi lega mendengar percakapan perempuan itu. Aku meminta kepada Allah semoga benar-benar seperti apa yang dikatakan perempuan itu, dan aku berdoa dengan diam-diam semoga Patih itu tidak naik ke atas rumah tersebut.
Lama kemudian barulah Patih itu meminta diri dari depan tangga itu
dan berbalik mendapatkan kami. Setelah semuanya berkumpul, lalu pulang ke Meureudu. Tidak seorang pun yang berkata-kata selama dalam perjalanan itu. Agaknya untuk menghiburkan hatiku, yang dari tadi tidak berkata apa-apa itu, wedana mencoba menunjuk ke arah leretan Bukit Barisan yang samar-samar kelihatan jauh di sebelah timur dalam cahaya bulan itu.
"Di sana ada sebuah air terjun yang besar,"katanya. "Kalau Tuan Abdullah ada waktu kita pergi ke sana nanti." Bibirku yang masih kering itu kujilat-jilat, sebelum dapat kujawab perkataannya itu."Air terjun itu mengalir ke sungai mana?" "Oleeglee,"jawabnya ringkas. "Bagus sekali," sahutku. "Saya belum pernah melihat air terjun yang besar." "Air terjun ini besar sekali. Kalau siang kita dapat melihat dengan jelas dari sini." Aku tidak menjawab lagi. Tetapi mendayung sepedaku dengan cepat, mengejar kawan-kawan lain yang sudah jauh di depan. Wedana itu juga berusaha untuk bergandeng dengan aku. Aku sudah mendapat laporan yang lengkap tentang pembunuhan yang terjadi di kedua tempat di Meureudu itu, dan tentang motif yang menjadi latar belakang pembunuhan tersebut. Kepala Polisi Daerah telah memerintahkan aku kembali segera ke Kotaraja membawa laporan-laporan itu. Sesampainya aku di Kotaraja, Kepala Polisi Daerah amat terperanjat ketika membaca laporan yang telah kubuat. Kepala Polisi Daerah ini walaupun orang Aceh, tetapi ia sudah lama meninggalkan daerah ini, ia tidak mengetahui bagaimana keadaan politik dalam zaman Jepang dan kemudian dalam zaman merdeka. Ketika aku mula-mula kembali ke dalam dinas kepolisian itu, pernah kubayangkan kepadanya tentang situasi politik di daerah Aceh. Pada waktu itu kami sedang mengadakan ronda malam di dalam kota, kami duduk di bangku panjang di dalam táman di depan Masjid Raya sampai jam tiga pagi. Sekarang ini apa yang pernah kuceritakan kepadanya itu telah menjadi satu kenyataan dan kalau hal ini dibiarkan terjadi tanpa sesuatu tindakan balasan, maka polisi sudah tidak ada artinya lagi. "Apa yang mesti kita lakukan sekarang ini?" ia bertanya kepadaku dengan perasaan putus asa. "Cuma ada dua jalan saja," jawabku. "Pertama, Tuan berikan kepada saya polisi bersenjata kira-kira lima puluh orang, kita tangkap orang yang telah melakukan pembunuhan itu. Tetapi ini berarti kita akan menghadapi tantangan yang hebat, ini merupakan satu ujian kepada kita sebagai hamba hukum. Kalau kita menang, kedudukan kita sebagai polisi dapat dipertahankan, tetapi kalau kita kalah habislah kita. Kedua, kita biarkan saja." "Beranikah Tuan Abdullah melakukan yang serupa itu?" "Kalau Tuan izinkan saya berani,"jawabku dengan nekad.
"Tetapi bukankah lebih baik kita mengambil jalan tengah," katanya kemudian."Kita singkirkan orang-orang feodal yang masih ada di sana dan dengan demikian kita telah mencegah pembunuhan itu berulang lagi. Orang yang telah melakukan kesalahan itu kita biarkan dulu sam- pai keadaan mengizinkan kita untuk mengambil tindakan. Saya pikir dalam keadaan sekarang ini kita menggunakan taktik bermain layang- layang. Waktu angin kencang kita ulurkan talinya dan waktu angin reda kita tarik talinya itu. Kalau kita melawan angin alamat kita akan binasa." Itulah pertama kali aku mendengar filsafatnya dan rupanya filsafat itu mempunyai pengaruh yang sangat besar artinya dalam hidupku di kemudian hari.
"Kalau begitu, orang-orang dalam daftar saya ini mesti kita bawa
dengan segera ke Kotaraja atau ke mana sája asal jauh dari Meureudu," kataku. "Saya khawatir kalau-kalau mereka itu sekarang sudah pula menemui ajalnya."
"Besok Tuan Abdullah berangkat lagi ke Meureudu dan bawa orang-
orang ini kemari lebih dulu. Malam ini saya perintahkan Kepala Polisi Meureudu mengumpulkan mereka itu." Sekali lagi aku ke Meureudu. Rupanya tindakan kami ini mendapat sambutan baik dari mereka yang tidak berapa senang dengan adanya sisa-sisa feodal itu. Dalam perjalanan ke Kotaraja, kami mendapat sebuah gerbong kereta api istimewa. Aku duduk agak jauh dari orang-orang yang kubawa itu, tetapi cukup dekat untuk mendengar pembicaraan antara mereka. Alangkah terperanjatnya aku ketika mendengar apa yang sedang diperbincangkan mereka. Aku menjadi ragu, apakah tindakanku ini benar?
Dari pembicaraannya kuketahui bahwa mereka sudah lama mengada-
kan hubungan dengan Belanda. Mereka pernah mengirimkan utusannya
ke Medar dan Sabang. Tetapi karena Belanda sendiri ragu-ragu untuk
datang ke Aceh karena pengalamannya dalam peperangan di masa lam pau, maka mereka ini sekarang hanya menunggu bantuan yang dijanji- kan itu. Aku mendengar dengan jelas sekali bahwa salah seorang dari golongan mereka telah melarikan diri dengan sampan ke Sabang beberapa waktu yang lalu. Hal ini memang sudah diketahui oleh kami pihak polisi, tetapi beritanya tidak sejelas yang kudengar sekarang ini. Tidaklah heran mengapa orang-orang di Meureudu itu sangat marah kepada mereka. Aku sekarang khawatir kalau-kalau perbuatan kami
menyingkirkan orang-orang ini menimbulkan kecurigaan bagi orang-orang di pihak sana itu, dikira melindungi kaki-tangan musuh dan kami akan dianggapnya musuh pula. Aku menghibur hatiku dengan mengata- kan bahwa sekurang-kurangnya kami berusaha untuk menghindarkan pertumpahan darah lebih banyak lagi. Di Kotaraja mereka itu ditempatkan di Kantor Polisi Wilayah. Beberapa orang feodal dan orang-orang yang dicurigai di sekitar Kotaraja telah ditangkap juga dan ditahan di kantor polisi itu. Mereka semuanya dikurung pada suatu tempat dan seminggu sekali diizinkan ke luar ke pasar dengan diiringi oleh polisi. Aku mendapat tugas untuk berangkat ke Aceh Utara guna menyusun bagian PAM di berbagai kantor polisi wilayah. Kebanyakan pegawai polisi yang bertugas di dalam bagian ini tidak berpengalaman, yang men- jadi kepalanya biasanya orang yang dulunya pernah bertugas dalam Tokko-Kwa Jepang. Sistem dan cara-cara Jepang masih saja dijalankan. Dalam perjalanan inilah aku mendapat kabar dari Kotaraja, bahwa beberapa orang tahanan di Kantor Polisi Wilayah Kotaraja itu telah diculik oleh sekumpulan orang-orang yang memakai topeng gas pada suatu malam bulan terang. Pegawai-pegawai polisi yang bertugas pada malam itu telah diikat kaki dan tangannya. Orang-orang yang telah hilang dari tahanan itu tidak diketahui di mana rimbanya. Apakah masih hidup ataupun sudah mati. Kepala Polisi Daerah telah memerin- tahkan supaya aku segera kembali ke Kotaraja. Peristiwa penculikan itu telah didiamkan begitu saja, aku tidak mengetahui apa sebab-musababnya maka tidak dilakukan pengusutan baik oleh Kantor Polisi Wilayah maupun oleh Kantor Polisi Pusat. Dan orang yang hilang itu pun hilanglah!
Tuan Saoni telah berangkat ke P. Berandan. Selama peninggalannya ia menyerahkan tanggung jawab bagian rahasia di kantor itu kepadaku. Tetapi di luar pengetahuanku ia juga meminta supaya Pak Arshad, seorang pegawai polisi yang tertua untuk melihat-lihat pekerjaanku. Aku tidak tahu hal ini. Di Kantor Polisi Pusat ini hanya aku seorang yang selalu memakai seragam sedikit berlainan daripada pegawai polisi yang lain. Aku tidak suka celana penunggang kuda yang umumnya menjadi pakaian resmi seluruh pegawai polisi. Waktu membuat seragam ini aku sengaja menyuruh tukang jahit membuat celana biasa. Perbuatanku ini mula- mula mendapat tantangan hebat dari pegawai-pegawai yang lain, malah telah juga diadukan kepada Kepala Polisi Daerah, karena dianggap melanggar disiplin dinas. Alasanku memang telah kusiapkan. Dan akhir- nya Kepala Polisi Daerah juga ikut membuat celana seperti celanaku itu dan ikut memakai dasi seperti yang biasa kulakukan setiap hari. Biasanya kira-kira jam sebelas pagi aku mendapat panggilan lewat telepon dari Ghazali Yunus yang bekerja di Kantor Penerangan. Setiap hari pada waktu itu kami pergi minum di Taman Pelipur yang terletak berdampingan dengan kantornya. Beberapa orang anak gadis yang bekerja di kantor sekitar Taman Pelipur itu telah siap menunggu kami, dan biasanya merekalah yang selalu mentraktir kami berdua. Mereka sangat suka kepada kami, karena kami orang dari Tanah Melayu! Sekembalinya dari minum inilah aku melihat berkas-berkas surat yang ada di atas mejaku telah tidak ada lagi. Aku bertanya kepada seorang pembantu tentang berkas-berkas tersebut. "Pak Arshad datang mengambilnya tadi,"jawabnya. "Apa sebab dia mengambilnya? Mengapa diizinkan dia mengambilnya?" "Katanya Tuan Saoni menyuruhnya untuk memeriksa," jawab pem- bantuku itu dengan gugup.
"Suruh ia bawa kembali berkas-berkas itu dalam waktu lima menit, kalau tidak dia akan saya masukkan dalam kurungan. Saya tidak peduli siapa dia." Pembantuku itu pun pergi dengan segera. Sebentar kemudian ia pun kembali dengan membawa berkas-berkas itu semuanya. Ketika aku sedang memeriksa satu per satu berkas-berkas itu takut kalau-kalau ada yang hilang, Pak Arshad pun datang. "Bapak disuruh oleh Tuan Saoni," katanya sebagai usaha mau membersihkan dirinya. Panas hatiku belum lagi reda. Aku pun berteriak kepadanya. "Bapak ingin masuk kurungan? Bapak tahu berkas-berkas apa ini?" "Bapak minta maaf," jawabnya gemetar. "Bapak tidak tahu." "Bapak tidak tahu? Lain kali bapak mesti tahu saya bukan anak kemarin dulu. Saya tahu tanggung jawab saya, Bapak boleh bilang sama Saoni itu, pergi persetan dengan dia!" Orang tua itu pun ke luar. Sebenarnya ia lebih tinggi pangkatnya daripadaku. Aku merasa menyesal telah naik darah yang seperti itu. Pak Arshad sebenarnya tidak bersalah, ia seorang tua yang baik. Sudah hampir tiga puluh tahun ia dalam dinas kepolisian. Tetapi aku sedang panas, aku merasa tersinggung sekali dengan sikap tidak percaya yang dibuat oleh Tuan Saoni itu. Rupanya berita itu sampai juga ke telinga Tuan Saoni ketika ia kembali dari perjalanan dinasnya. Ia lalu mengusulkan kepada Kepala Polisi Daerah meminta seorang yang lebih tinggi pangkatnya daripadaku dan lebih lama dalam kepolisian untuk menjadi wakilnya. Kepala Polisi Daerah telah menunjuk Tuan Amiruddin yang kubawa lari dari Kotacane dulu. Sebagai seorang pegawai aku patuh menerima perintahnya, asal saja perintah itu benar dan jujur. Tetapi untuk menggunakan aku sebagai alat, maaf saja! Pada suatu hari Kepala Polisi Daerah menyuruh ia membuat laporan bulanan tentang segala hal yang mengenai politik, ekonomi, sosial dan sebagainya, meliputi seluruh Aceh. Biasanya laporan ini kubuat untuk Tuan Saoni atas namanya, dan aku yang menandatangani. Tetapi oleh Amiruddin disuruhnya aku membuat laporan itu untuknya. Aku menolak dengan alasan aku banyak kerja. Rupanya ia mengadu kepada Kepala Polisi Daerah bahwa aku keras kepala, tidak mau menurut perintahnya. Kepala Polisi Daerah memanggil aku dan menanyakan tentang hal itu.
Naiklah darahku sekali lagi. Waktu kembali ke kamarku aku terus menyerang Tuan Amiruddin.
"Tuan Amiruddin," kataku dengan berang. "Saya tidak suka orang
yang suka mengadu-adu. Saya tidak suka orang yang mengampu. Kalau Tuan Amiruddin gila pangkat, Tuan boleh mendapat pangkat itu dengan jujur dan bukan dengan memeras tenaga orang lain."
"Siapa gila pangkat?" dia membalas serangan itu. "Saya sudah lama
menjadi pegawai polisi. Tuan Abdullah masih mentah sudah mau berlagak sombong." "Tuan Amiruddin," kataku dengan berang. "Mengapa tidak buat sendiri laporan itu? Mengapa menyuruh saya? Mengapa mengadu kepada KPD? Nah, ambil ini semua." Kucampakkan semua berkas di atas meja itu ke arahnya. "Ambil ini semua. Saya tidak inginkan kerja ini, sekarang saya berhenti, tau!" Dia takut melihat perbuatanku itu. Aku terus ke luar dan masuk ke bilik KPD. "Saya mau berhenti," kataku kepada KPD. Dia tercengang melihat kelakuanku itu. "Ada apa ini? Ada apa?"
"Tuan boleh tanya kepada anak mas Tuan itu," jawabku. "Saya mau
berhenti."
"Tunggu dulu,"jawabnya. Lalu ia memanggil Tuan Amiruddin.
Itulah baru aku melihat Tuan Amiruddin itu gemetar ketakutan. Aku terus berdiam diri ketika KPD menanyakan kepadanya tentang sebab- musabab keributan itu. Tuan Saoni juga dipanggil dan dia juga tergagap-gagap menjawab segala pertanyaan KPD. Akhirnya aku diper- bantukan di KPD sambil merangkap Kepala Polisi Sabang. Aku bebas dari tugas di PAM. Gajiku sebagai Inspektur Kl. II ialah dua ratus tujuh puluh lima rupiah uang Jepang. Tetapi yang biasa dibayar ialah dua ratus enam puluh lima saja, sementara sepuluh rupiah lagi dibayar dengan Urip (Uang Republik Indonesia Propinsi) yang kemudian jadi Urida (Uang Republik Indonesia Daerah Aceh). Nilai sepuluh rupiahnya itu sama dengan tiga ratus rupiah Jepang.
Setiap hari gaji, hanya sepuluh rupiah Urida itulah saja yang
kuterima, sedangkan uang Jepang selebihnya dibelikan kopi dan goreng pisang oleh pegawai perempuan yang bekerja di bagian keuangan. Aku hanya menandatangani bahwa gaji itu sudah diterima. Cara-cara pembayaran gaji dalam zaman ini agak ganjil juga. Setiap kantor menerima semacam cek dari kantor keuangan dan cek ini kemu-
dian dijual kepada saudagar-saudagar dengan potongan komisi untuk yang memberikan uang tunai dan juga komisi untuk orang-orang yang menukarnya. Kalau dua ratus ribu rupiah harga cek itu, maka kepada saudagar dijual dengan harga seratus delapan puluh lima ribu. Saudagar-saudagar menggunakan cek ini untuk membayar biaya barang- barang eksportnya ataupun untuk membeli karet dari pekebun-pekebun. pekebun. Keadaan penghidupan agak sukar juga terutama bagi pegawai negeri yang seringkali tidak pernah teratur menerima gaji, apalagi gajinya itu tidak pula mencukupi. Untungnya kebanyakan pegawai itu mendapat kiriman beras dari kampungnya. Aku mendapat kiriman beras dari Sigli, walaupun tidak mencukupi tetapi dapat juga membantu. Memang kalau dikaji dalam-dalam, agak heran juga kita memikirkan bagaimana orang-orang dapat hidup pada waktu itu. Kadang-kadang aku di rumah tidak punya sebutir beras pun, namun demikian soal beras ini tidak menjadi masalah pokok dalam hidup kami. Ada saja jalannya agar kami bisa mendapat makan. Jam bekerja di semua kantor pemerintah ialah dari jam setengah delapan pagi sampai jam dua sore pada tiap-tiap hari, kecuali hari Jumat sampai jam sebelas dan hari Sabtu sampai jam dua belas. Kebiasaan ini merupakan tradisi yang ditinggalkan penjajah Belanda, walaupun dalam zaman Jepang telah pernah diubah mengikuti waktu kerja pagi dan sore. Pada suatu tengah hari aku pulang ke rumah setelah habis kerja dengan satu masalah besar yang mengganggu otakku. Dari mana aku mesti mendapat nasi untuk tengah hari itu buat kami berdua? Beras tidak ada dan uang juga tidak ada. Tetapi waktu aku sampaj di rumah dan belum sempat aku membuka baju, Cheng Hong salah seorang temanku telah datang dengan mem- bawa empat bungkus nasi yang dibelinya dari Pasar Aceh, tak jauh dari rumah kami. Kami bertiga makan bersama-sama, dalam hati aku meng- ucap syukur kepada Allah dengan diam-diam! Cheng Hong ini ialah pemuda Cina yang telah mengungsi ke Aceh dari Pangkalan Berandan. Istrinya berasal dari Kuala Lumpur. Ia dan istrinya dulunya bekerja sebagai guru. Agaknya karena sudah lama bergaul dengan orang-orang Indonesia, maka bahasa Indonesianya fasih seperti orang Indonesia, hormat dan santun seperti orang Indonesia juga. Dengan beberapa orang Cina lainnya aku menjadi kawan baik, bahkan melebihi saudara kandung.
Waktu baru-baru aku pindah ke Kotaraja, aku menumpang di rumah Pak Baharuddin seorang Inspektur Polisi Kl. I. Bapak Lian Sahar pelukis Indonesia yang sekarang menetap di Yogyakarta. Kami mendapat sebuah kamar di rumahnya, dan soal berkongsi tempat tinggal bukan lagi satu perkara yang ganjil dalam zaman itu, karena rumah amat kurang. Pada masa itu harga beras sudah melambung tinggi, lebih-lebih lagi kalau ada kapal terbang Belanda lewat di angkasa Kotaraja ataupun ada berita bahwa kapal perang Belanda berlabuh di Laut Aceh. Pihak kepoli- sian tidak dapat mengontrol harga beras ini, kalau dikontrol juga maka beras itu akan hilang dari pasar. Beberapa orang pemuda telah mengambil inisiatif untuk mengancain orang-orang yang menangguk di air keruh seperti itu. Waktu malam hari mereka menempel poster-poster di berbagai tempat yang penting di Kotaraja. Poster-poster itu berisi ancaman-ancaman yang bakal dilaku- kan kalau sekiranya perbuatan yang seperti itu diteruskan juga. Di bawah poster-poster itu ditandatangani dengan nama 'Banteng Hitam' dan memakai tanda kepala banteng pula. Malam pertama siaran itu ditemukan, aku telah diperintahkan oleh Tuan Mohd. Insja untuk menyelidikinya dan menangkap orang-orang yang bertindak liar serupa itu. "Tetapi mereka bertindak untuk kepentingan negara," kataku membela gerakan Banteng Hitam yang belum kuketahui itu. "Namun demikian negara ini negara hukum," jawab KPD. "Tin- dakan mereka walaupun benar tetapi mengeruhkan suasana." Aku pun mulai menyiasat. Belum lagi aku menemui bukti-bukti dan pusat gerakan itu, malam berikutnya telah ke luar lagi siaran-siaran yang lebih hebat, malah di depan rumahku sendiri mereka tempelkan poster-poster itu. Setelah itu aku segera dapat mencium jejaknya: seorang pegawai polisi,
Ghazali Yunus dan Joni Siregar yang membuat siaran-siaran itu. Aku tidak menangkap mereka, tetapi ikut menggabungkan diri membuat siaran-siaran yang lebih hebat lagi. Di pintu Dewan Perwakilan kami tempelkan, sehingga Dewan Perwakilan itu tidak jadi mengadakan sidangnya; di rumah Kepala Polisi Wilayah kami tempelkan, sehingga Kepala Polisi itu XB10 merah padam mukanya menahan marah. Tuan Mohd. Insja memanggil aku ke kamarnya. "Tuan Abdullah mesti tangkap segera orang-orang yang bertanggung jawab dalam gerakan liar ini. Mereka sudah keterlaluan sampai di rumah Kepala Polisi juga mereka berani menempelkan poster." "Baik Tuan," kataku dan pada malam itu di pintu rumahnya juga kami tempelkan poster. Di istana Residen juga kami tempel poster. Semua orang telah mulai gempar dengan gerakan gelap ini. Orang-orang bertanya-tanya: bagaimana rumah Residen dan KPD dapat ditem- peli poster, sedangkan di sana ada pegawai polisi yang mengawalnya? E Sekarang ini dalam barisan Banteng Hitam telah ada beberapa orang pegawai polisi. Selain daripada aku ikut pula Inspektur Poniman dari Mobile Brigade dan dari pegawai-pegawai rendahan ada beberapa orang lagi. Kepala Polisi Daerah bukan main marahnya, tetapi dia tidak berdaya untuk berbuat apa-apa karena aku dan Poniman telah menggunting dalam lipatan. Pada suatu malam secara kebetulan aku dan Poniman mendapat gilir- an ronda di pos pengawalan polisi di dalam kota. Sebelum berangkat kami lebih dulu menulis beberapa buah poster-poster'atas nama Banteng Hitam. Biasanya dalam masa ronda seperti ini kami menggunakan sepeda, di dalam tas sepeda itu kami bawa cat, gum dan poster-poster. Waktu aku memasuki gardu polisi yang dijaga, Poniman bekerja menempel poster-poster itu dan waktu Poniman memeriksa gardu aku pula menggantikannya. Di Jalan Setoei, kami menempel poster itu pada sebuah kedai. Kami tidak melihat tak jauh dari tempat itu ada seorang jaga sedang tidur di dalam sebuah gerbong kereta api kosong. Entah bagaimana orang itu telah mencabar kami, kami pun melarikan diri seorang ke barat dan seorang ke timur. Orang itu tidak akan mengenali kami karena dalam masa menempel poster seperti itu kami memakai saputangan di muka. Itulah pertama kali orang melihat kami dari dekat! Pada suatu malam yang lain pula, aku, Ghazali Yunus, Joni Siregar telah menempel poster itu di depan Chung Hwa Chung Hui di Peuna- yong. Besok paginya Kapten Cina di Kotaraja telah menyerahkan uang
sebagai derma beberapa puluh ribu banyaknya kepada Residen Aceh. Malam itu kami tempel lagi dan besoknya diserahkan lagi uang sebagai tambahan derma yang pertama. Akhirnya Banteng Hitam telah menjadi satu macam legenda di dalam kalangan penduduk-penduduk Kotaraja. Apa saja tindakan atau ucapan yang dilontarkan oleh orang yang menunjukkan sikap anti-Republik, dengan segera pula ia menerima surat ancaman. Tiap orang telah mulai curiga, walaupun kepada istri atau suaminya sendiri, teman sekerja dengan teman sekerja. Malah ada seorang teruna dari Sekolah Mene- ngah telah menulis surat kepada seorang anak gadis yang tidak mau mencintainya, dengan mengatakan bahwa ia adalah Banteng Hitam! Setelah beberapa bulan lamanya kami menguasai Kotaraja, maka pada suatu hari kami pun membuat pengumuman dalam surat kabar Semangat Merdeka bahwa mulai saat itu kami menarik diri buat semen- tara tetapi kami akan muncul lagi sekiranya pengkhianat-pengkhianat tanah air dan pengacau-pengacau ekonomi coba mengeruhkan suasana.
Keadaanku sekarang sudah terasa terjepit benar. Aku merasa keselamatan diriku selalu saja terancam. Tetapi aku tidak dapat memastikan dari mana ancaman itu datang. Hanya aku mengira-ngira saja bahwa karéna aku terlalu banyak mengetahui tentang keburukan politik beberapa orang terkemuka, maka mungkin pada satu saat nanti aku akan dilenyapkan dari muka bumi ini. Perasaan ini timbul ketika aku mengunjungi rumah seorang teman. Entah bagaimana dalam percakapan itu, tiba-tiba saja timbul perkara orang-orang yang diculik dari Kantor Polisi Wilayah dulu. "Mereka sudah dikirim ke Sabang," kata kawanku itu dengan senyum sinis. "Dan orang yang terlalu banyak mengetahui pun akan dikirim ke Sabang juga." Kepada siapa dia menunjukkan ucapannya itu? Aku yakin tentu kepada diriku. Karena tiba-tiba saja ucapan yang tidak berhubungan dengan pembicaraan sebelumnya itu ke luar. Aku merasa bersyukur juga sebab karena lidahnya terseleo itu, aku telah mengetahui tempat tegakku yang sebenarnya. Sekali lagi aku bermufakat dengan istriku. Ia kukirimkan kembali ke Langsa dan aku pun mencari jalan bagaimana cara aku dapat melepas- kan diri dari Kotaraja itu bahkaņ dari daerah Aceh. Biasanya setiap malam aku pergi ke Radio RI di Kantor Penerangan. Di sana kami ikut membuat berbagai siaran, walaupun siaran itu hanya dapat didengar di sekitar Kotaraja saja. Kami membentuk sebuah badan drama radio yang diberi nama LOGIKA. Jangan terperanjat kalau ke- panjangan dari huruf-huruf potong itu agak ganjil sedikit. Maksudnya tidak sedikit pun ada sangkut-pautnya dengan logik, tetapi di luar dari-pada logik sama sekali. (L)embaga (O)rang-orang (G)ila (K)otaraja
(A)ceh, itulah kepanjangannya. Anggota-anggota badan ini terdiri dari dua orang Cina, seorang India Sikh, empat orang Indonesia, dua di an- taranya datang dari Malaya,
Di Kotaraja pada waktu itu berlaku jam malam. Dari pukul sebelas sampai jam enam pagi. Tetapi kawan-kawanku seperti Ghazali Yunus suka sekali melanggar jam malam ini. Dia duduk bercakap-cakap sampai jam satu dan dua pagi dan untuk mengantarnya pulang, dimintanya aku ikut bersama-sama dengannya. Maka aku pun terpaksalah ikut mengiring mereka itu dari satu rumah ke rumah lain. Sekarang ketika keadaan diriku sudah tidak aman lagi, aku jarang ke luar malam-malam. Untuk menemaniku di ruah aku mengajak seorang kopral polisi yang bekerja bersama aku di bagian PAM. Sebabnya aku memerlukan teman, karena pada suatu malam ketika hujan lebat turun, sebuah mobil yang tidak memakai nomor pelat berhenti selang satu rumah di depan rumahku di Spoordijk. Seorang yang memakai mantel hujan, turun dan mengetuk pintu rumah itu, memanggil-manggil namaku. Aku melihat kejadian ini bersama kopral yang kebetulan datang ber- tamu. Karena hujan terlalu lebat, semua rumah telah menutup tingkap dan pintunya. Dia memanggil-manggil namaku. Ketika tuan rumah itu mengatakan rumahku di sebelah, mereka terus meminta maaf dan ber- lalu dari situ. Mengapa mereka tidak datang ke rumahku sesudah itu? Mobil tidak banyak di Aceh pada waktu itu. Orang yang bermobil dapat dihitung dengan jari. Aku telah dapat mengingat mobil itu walau- pun hanya sekali lihat saja di dalam hujan lebat itu dan syak wasangka di dalam hatiku kini semakin kuat, bahwa aku akan dikirim ke Sabang. Bukan Sabang yang sebenarnya tetapi ke dalam Krueung Raja, yang air- nya mengalir ke kuala tentunya 'ke Sabang. Aku pesankan kepada kopral temanku, yang sejak itu telah tinggal bersamaku, bahwa kalau ada orang yang datang mengetuk pintu rumah itu malam-malam. Jangan tanya lagi, tembak lebih dulu! Inilah satu ke- untunganku-dalam hidup ini, ketika dalam keadaan yang sukar seperti itu ada saja yang mau menyabung nyawanya. Dalam masa aku mencari-cari jalan untuk meninggalkan Kotaraja itu, maka keadaan di luar negeri pun semakin hebat pula, suara-suara anti-Republik semakin ląntang. Uang palsu pun semakin banyak dibawa masuk ke Aceh dari Tanah Melayu, propaganda-propaganda yang dilan- carkan Belanda pun semakin hebat. Entah bagaimana pada suatu hari Tuan Mohd. Insja telah mengusulkan kepadaku agar aku pergi ke Pulau Pinang untuk meninjau keadaan di sana. Kalau sekiranya aku mengang- gap penting tinggal di sana maka dia akan mengizinkan aku untuk bekerja di luar negeri. Hal ini kemudian mendapat persetujuan dari Residen Aceh.
Selang beberapa hari kemudian dengan diam-diam aku pun meninggalkan Kotaraja menuju ke Langsa untuk mencari kapal buat menyebe- rang ke Tanah Melayu. Malangnya di Langsa tidak ada kapal yang berani masuk pada waktu itu, karena blokade Belanda terlalu kuat tak jauh dari Telaga Tujuh. Aku kemudian mendapat kabar bahwa di Idi ada sebuah motorboat dari Pulau Pinang yang akan berangkat dalam beberapa hari itu, maka dengan segera aku mengucapkan selamat tinggal kepada keluargaku di Langsa dan berangkat ke Idi. Setelah dua hari dua malam menunggu
waktu yang baik, maka pada malam yang ketiga barulah motorboat itu
berangkat meninggalkan Kuala Idi menuju ke Pulau Pinang. Aku pun meninggalkan daerah Aceh dengan segala peristiwanya!
g0imm.mug.up|aimaibamib.eanab.0pibamamadcagspdadi98s 0dm1baa|m801am 8 vdenabogabienaib avngnalbubvel-dpnek1 pa ababd n400ga9radmdaabaib1 ib.avded.18aaagabam aaibumox w2A
c dn g pe ruz u mmmne
d p n- mengatakanumabka isebeleh, mercketer meminta mf danber talu dari st. Mengape mereka dek datan ke rumah sesuda u? Mobł ddak basyak d Ach pada waku ia. Crang yang berpebl dapa ungeenen ja ah dapai meuginga mo waa dam ba k smo k baa a akakm ke aa Bua Sb yang nay a kdala ug Re yag Ako pakar kepada kopal tmak, yg k eh a, du a untungendam ap i keka daám kedan yg ukar se # D a Repubik seman luan ape pab pes seak banak diawa masuk ke Acch dari tanah Mfehyu, prepaganda-probaganda yang dlan. carka Belanda pu semakia bebat. Fana bagamana poda seate ban Pinang enuk mehipjen e peng g d aa mka da kan mngkao a Seker Ja di lar beger, Het iai kemudian mendapat peretujuan dar Residen
3.
0bblbtih
ABDULLAH HUSSAIN lahir di Kedah, Malaysia. Bapaknya berasal dari Kàmpung Aree, Sigli, Aceh Pidie. Abdullah mendapat pendidikan awal di Sekolah Melayu Sungai Limau, kampung kelahirannya dan kemudian ke sekolah Ing- geris Anglo-Chinese School di Alur Setar tetapi tidak selesai. Menjelang Perang Dunia Kedua pernah menjadi magang di suratkabar Sahabat dan Saudara di Pulau Pinang. Kira-kira sebulan sesudah penyerangan Tentara Jepang ke Kedah dari jurusan Thailand, Abdullah dengan empat orang teman telah menggabungkan diri dalam Fujiwara Kikan di bawah pimpinan Iwaichi Fujiwara, semacam kolonne kelima yang disebarkan ke Sumatera dan Jawa sebelum penyerangan fisik dilaku- kan. Abdullah dan semua kawan-kawannya yang dikirimkan ke Sumatera telah ditangkap oleh Tentara Belanda dan ditahan di Medan. Mereka kemudian dibe- baskan oleh Tentara Jepang. Sejak itu Abdullah telah diambil bertugas sebagai sa- lah seorang pegawai Pemerintahan Tentara Jepang di Aceh. Kisah di dalam, Peris- tiwa Kemerdekaan di Aceh, ini bermula ketika Abdullah menjabat Kepala Polisi Langsa menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia. Abdullah kini bertugas di Negara Brunei Darussalam sebagai Ketua Bahagian Pembinaan dan Pengem- bangan Sastera, Dewan Bahasa dan Pustaka. Novelnya Intan telah diterbitkan oleh Pustaka Jaya, Jakarta (1982) dan pernah dijadikan filem dengan judul Intan. Berduri.
BP-1.0018—89 ISBN 979 — 407 — 263 — X