Baca EPUB: bung-karno-sebagai-ahli-sedjarah

32 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
SUMARDJO
Bung Karno sebagai Ahli Sedjarah
Kacabenggala Editions

Publisher Note

(Pengantar)

Rentjana menjusun risalah ini didorong oleh akan dianugerahkannja Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Sedjarah kepada Bung Karno oleh Universitas Padjadjaran Bandung tanggal 23 Desember 1964. Risalah ketjil „BUNG KARNO SEBAGAI AHLI SEDJARAH” ini tidak dimaksudkan untuk didjadikan biografi Bung Karno sebagai sedjarawan. Ia bermaksud untuk menundjukkan bahwa Bung Karno benar2 ahli sedjarah, sesuai dengan pendapat2 jang terdapat dikalangan dunia pengetahuan.

Dalam usaha menjusun risalah ini penulis tidak menempuh metode wawantjara, artinja penuis tidak menghubungi tokoh jang langsung berhubungan dengan objek pembahasannja. Hanja tulisan2 Bung Karnolah jang diteropongnja, dengan bersendjatakan sekedar pengetahuan jang dikuasai penulis.

Dalam memaparkan pendiriannja didalam risalah ini, penulis mulai dengan menguraikan arti Ilmu Sedjarah setjara singkat; sesudah itu akan didjelaskan apakah jang dinamakan Ahli Sedjarah itu; untuk kemudian memberikan ulasan2 terhadap karja2 Bung Karno jang penting2 dipandang dari segi Ilmu Sedjarah; dan pada achirnja penulis akan menutup uraiannja dengan kesimpulan2, bahwa memang Bung Karno itu seorang Ahli Sedjarah jang ulung.

Achirulkata, penulis menandaskan disini bahwa tiap tulisan adalah pengakuan dari pada jang menulisnja. Apa2 jang baik dan apa2 jang buruk didalam tulisan itu, sekaligus menundjukkan kebaikan/keburukan penulisnja. Maka dari itu, bila ada kesalahan2 jang terdapat didalam risalah ini, sebelumnja penulis minta maaf dan sanggup menerima sanggahan2 konstruktif dari manapun asal datangnja.

Djakarta, Desember 1964

Soemardjo

(Risalah ini diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1964, kemudian diedarkan oleh Lembaga Sedjarah dan Antropologi Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudajaan bersama Pengurus Besar Front Nasional. Gambar kulit sampulnya merupakan karya Baharudin).



Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

ILMU SEDJARAH SELAJANG PANDANG

Sedjarah mempunjai arti kompleks, mempunjai arti rangkap. Sebagai akibatnja, tidaklah mudah untuk mendjelaskannja didalam satu dua kalimat.

Ada jang menamakan Sedjarah itu kedjadian, chususnja kedjadian jang berhubungan dengan perbuatan — manusia. Sedjarah djuga berarti masa lampau manusia jang berisikan kedjadian2 jang menjangkut perbuatan manusia. Arti Sedjarah selandjutnja ialah bagian dari masa lampau itu. kemudian ada jang mengartikan Sedjarah itu sebagai tjeritera mengenai masa lampau manusia. Achirnja Sedjarahpun berarti ilmu jang mempeladjari masa lampau manusia dalam segala perbuatan atau pengalamannja.1

Untuk mendapatkan gambaran jang lebih djelas apakah Sedjarah itu, dibawah ini kita dalami satu demi satu arti2 Sedjarah jang telah kita sebut diatas ini.

PERTAMA. Sedjarah adalah kedjadian, Sedjarah adalah fakta. Fakta dalam arti apa jang benar2 terdjadi. Tetapi jang dinamakan fakta bukan hanja kedjadian jang dapat ditangkap oleh pantjaindera kita sadja. Apa jang pernah dipikirkan, ditjita-tjitakan ataupun ditakuti bisa digolongkan kedalam fakta djuga.

Fakta atau peristiwa ada jang tunggal dan ada jang rangkap. Dengan tjontoh jang bersahadja seorang sardjana Sedjarah mengatakan, bahwa makan itupun merupakan fakta rangkap jang terdiri dari fakta2 tunggal tangan mengulur, makanan diambil dengan menggunakan djari dan senduk dari piring untuk kemudian dimasukkan kedalam mulut dan seterusnja.2

Bung Karno memberikan tjontoh jang lebih djelas lagi. Beliau mengatakan, bahwa situasi revolusioner di Indonesia—Agustus 1945—tidakk mungkin ada, bila tidak ada gerakan2 jang menggempur imperialisme didunia internasional. Sebaliknja Revolusi Indonesia turut menjumbang terhadap usaha2 gerakan2 anti-imperialis itu.3

Karena Sedjarah itu terutama membahas perbuatan2 manusia,4 maka tidak terhitunglah djumlah fakta2 jang pernah terdjadi. Kita harus memilih, kita harus mengadakan seleksi diantara fakta2 itu mana jang akan kita pergunakan untuk menjusun tjeritera Sedjarah kita. Djadi, fakta2 jang kita djumpai didalam buku2 Sedjarah adalah fakta2 jang telah dipilih. Fakta2 jang telah dipilih itu adalah fakta2 penting, menurut pandangan serta pendirian jang menjusun tjeritera Sedjarah jang bersangkutan.

Fakta2 jang terdjadi diwaktu jang telah lampau itu banjak jang „hilang”, banjak jang lalu tanpa meninggalkan kesan, bila tidak ada jang „menampungnja”. Dan, alat penampung jang terbaik diwaktu-waktu jang sudah ialah tulisan. Berlandaskan pendapat dimuka ini, tulisan menduduki tempat jang penting dalam Ilmu Sedjarah. Sebagai buktinja, pembagian masa silam Zaman Pra-Sedjarah (belum ada tulisan) dan Zaman Sedjarah (telah ada tulisan) menundjukkan betapa pentingnja fungsi tulisan bagi I. Sedjarah. Djuga sebagai akibatnja, apakah dapat dipisahkan kesusasteraan dari I. Sedjarah?5

Karena Sedjarah itu fakta, maka harus dan sudah mendjadi kewadjiban bagi seorang ahli Sedjarah untuk menguasai dan mengetahui sebanjak mungkin fakta2. Tentunja dalam batas2 pembagian kerdja keahlian Sedjarah sesuai dengan zaman sekarang ini.

KEDUA. Sedjarah djuga berarti masa lalu atau masa lampau manusia dalam segala perbuatan/pengalamannja. Masa lampau manusia itu pandjang (1 djuta tahun?)6 , serta tiap saat diisi dengan kedjadian2. Bahan2 jang berupa kedjadian2 itu sepandjang umur manusia itu harus dipeladjari.

Untuk dapat dipeladjari dengan mudah dan baik diperlukan suatu tjara, suatu sistim. Salah satu sistim untuk mempeladjari masa lampau manusia itu ialah, dengan djalan membagi-bagi masa lampau itu didalam zaman2 jang lebih ketjil. Pembagian itu kita namakan Pembabakan atau Periodisasi. Bentuk dari pada pembabakan itupun ditentukan oleh pendirian atau pandangan ahli Sedjarah jang mengolahnja. Pembabakan jang tradisionil—menurut pandangan Barat—jang kita dapati dalam sebagian besar buku2 Sedjarah Dunia ialah:

I Pra Sedjarah

II Sedjarah: 1. Zaman Purbakala

2. Zaman Abad-Abad Pertengahan

3. Zaman Baru

4. Zaman Modern7

Periodisasi jang pada waktu ini djuga umum dipakai didalam buku2 Sedjarah Dunia, ialah jang diambil dari Marxisme, jaitu:

1.
Djaman Komune Primitif
2.
Djaman Perbudakan
3.
Djaman Feodalisme
4.
Djaman Kapitalisme
5.
Djaman Sosialisme.8

Djuga didalam penulisan2 Sedjarah Indonesia banjak terdapat beraneka bentuk pembabakan. Banjak bentuk pembabakan jang belum berani melepaskan dirinja dari pada bentuk pembabakan kolonial. Diantara bentuk2 pembabakan Sedjarah Indonesia, kita dapati tjiptaan almarhum Prof Muh Yamin S.H.:

1.
Prasedjarah Indonesia.
2.
Proto-Sedjarah Indonesia.
3.
Babakan Kebangsaan.
4.
Babakan pertemuan bangsa2 di Indonesia, dan
5.
Babakan Abad Proklamasi.9

Pembabakan dimuka ini oleh pentjiptanja sendiri diberi nama Pantjawarsa. Bung Karnopun telah memikirkan dan mengemukakan pembabakan untuk Sedjarah Kebangsaan kita, akan tetapi berhubung dengan susunan dan maksud risalah ini, akan diuraikan dalam bab tersendiri.

Karena Sedjarah itu djuga berarti masa lampau, masa lampau itu harus kita hitung. Perhitungan waktu itu merupakan bagian tersendiri dari Ilmu Sedjarah jang kita sebut Ilmu Tarich atau kronologi.

KETIGA. Sedjarah djuga berarti tjerita tentang masa lampau manusia dalam segala perbuatannja. Tjerita itu boleh setjra lisan, boleh tertulis. Karena sifatnja sebagai tjeritera, sifat Ilmu Sedjarah lalu sangat bergantung kepada siapa jang mentjeriterakannja. Tidak pernah dua karangan sedjarah dapat sama, walaupun djudulnja sama. Sifat2 pribadi seseorang, pengalamannja, pergaulan dan ideologinja, kekajaan pengetahuannja, suasana waktu dan tempatnja semua itu mempunjai pengaruh terhadap tulisan maupun tjeriteranja.

Dengan demikian, djauhlah sifat Sedjarah sebagai tjeritera dari objektivitas jang ditjita2kan oleh ilmu pengetahuan. Apakah memang tidak ada objektivitas didalam penulisan/tjeritera Sedjrah? Objektivitas ada didalam Sedjarah. Objektivitas itu adalah fairplay.10 Terutama penguraian fakta2nja.

KEEMPAT. Sedjarah djuga berarti ilmu jang mempeladjari masa lampau manusia dalam segala pengalamannja. Apakah jang disebut ilmu itu? Ilmu adalah pikiran2 atau kesan2 jang disusun setjara teratur mengenai sesuatu untuk mendapatkan kebenaran tentang sesuatu itu.11 Dengan perkataan lain dan lebih terperintji, ilmu itu adalah:

1.
Kesan2/pikiran2/pengetahuan, jang
2.
Terususn setjara teratur/sistimatis dengan sistim,
3.
Mengenai sesuatu, djadi ada objeknja,
4.
Tudjuannja mendapatkan kebenaran mengenai objek penjelidikannja itu.

Bilamana kita melihat tentang tjiri2 ilmu dimuka ini dan melihat pula kepada Sedjarah, maka Sedjarahpun termasuk ilmu. Sedjarah adalah hasil pengamatan jang berupa pengetahuan dan kesan2.12 Pengetahuan Sedjarah itu djuga diatur menurut sistim2, misalnja pembabakan dan Kronolografi13 . Kedjadian2 dimasa lampau, adalah objeknja, serta kebenaran2 tentang kedjadian2 didalam masa lampau itu adalah jang ditjarinja.

Dan, bilamana pendirian2 jang madju mengatakan, bahwa ilmu itu untuk diabdikan bagi keluhuran ummat manusia, maka Ilmu Sedjarah djuga memberikan sumbangannja jang tidak sedikit kearah itu. marilah kita kutipkan pendapat George Macaulay Trevelyan sardjana Sedjarah jang kenamaan itu:

„In de opvoedingt en het kweeken van idealen voor het heden en toekomst, is kennis van de idealen van het verleden een voorname bron van inspiratie”.14

Dalam menelaah masa lampau manusia itu, Ilmu Sedjarah mempergunakan perubahan2 sebagai alat peneropong.15 Perubahan2 itu terutama jang mendjadi pembahasan ahli2 Sedjarah. Maka dari itu, bila ada bangsa jang mempunjai tjara2 hidup itu2 djuga (artinja tidak tampak adanja perubahan), bangsa sematjam itu dinamakan bangsa jang a-historisch (a = tidak, historie = sedjarah).16

Tetapi, Sedjarah tidak hanja mentjari dan membahas perubahan2. Sedjarah djuga mentjari apa2 jang bersifat langgeng, apa2 jang mempunjai kelangsungan. Maka ada orang jang mengatakan, bahwa History is a continuity.17 Continuity tersebut bukanlah kelangsungan jang statis, tetapi kelangsungan jang dinamis kelangsungan jang tumbuh dan madju.18

Kalau kita berketjimpung didalam Ilmu Sedjarah, pada hakekatnja hanja ada 2 bagian pokok dari padanja, jaitu:

a.
Penjelidikan atau penelitian Sedjarah, dan
b.
Tjeritera atau penulisan Sedjarah.

Tidak mungkin ada tjeritera/penulisan Sedjarah, bila tidak didahului dengan penjelidikan/penelitian Sedjarah. Tetapi penjelidikan Sedjarah sebagai suatu disiplin jang teratur baru dilaksanakan kira2 sedjak 200 tahun jang lalu (achir abad ke-18).19

Untuk dapat mengadakan penjelidikan Sedjarah, tidak tjukup kalau orang hanja tahu banjak fakta sadja. Ilmu2 Pembantu dan ilmu2 jang berdekatan dengan Sedjarah sangat diperlukan dalam mengadakan penjelidikan Sedjarah.20 Lebih baik lagi bila si penjelidik itu dapat sedikit banjak membatja bahasa dan tulisan.

Untuk dapat mengadakan penulisan Sedjarahpun ada sjarat2nja pula. Mengenai tidak mudahnja dalam membuat risalah udjian dapat kita tanjakan kepada mahasiswa2 Sedjarah pada waktu menghadapi udjiannja.21

Dimuka kita telah mengambil kesimpulan bahwa Sedjarah itu ilmu. Karenanja Sedjarah itu memiliki sistim. Sistim disitu djuga boleh dinamakan sistim berpikir atau tjara berpikir. Maka dari itu, bila kita beladjar Sedjarah, diantaranja kita djuga beladjar tentang „tjara berpikir menurut Sedjarah” atau historisch denken.22

Tjontoh2 dari pada berpikir historis itu, diantaranja dapat kita sebut disini:

1.
Bahwa tiap fakta didalam Sedjarah itu berbeda satu daripada jang lain. Tidak pernah ada satu fakta jang sama seluruhnja dengan fakta lain. Namun demikian diantara sifat2 fakta ada jang bersamaan satu dengan jang lain. maka dari itu, ada diantara ahli2 Sedjarah jang berpendirian bahwa Sedjarah itu berulang kembali.23
2.
Bahwa tiap fakta itu berhubungan dengan fakta jang lain. tanpa perhubungan antara fakta2 Sedjarah, bukan Sedjarah. Kalau kita hanja tahu banjak fakta sadja dan tidak tahu bagaimana menghubungkan fakta2 itu satu terhadap jang lain, paling djauh kita hanja bisa disebut ahli fakta2 dan bukan ahli Sedjarah.24
3.
Seperti telah dikatakan dimuka Sedjarah itu perubahan, gerak dan kemadjuan. Sudah barang tentu gedjala2 itu ada hukum atau ada dalil-nja. Pada dewasa ini dalil2 pertumbuhan jang sering dibahas orang adalah Marxisme.25

Perlu ditambahkan disini bahwa dengan adanja dalil2 itu, kedudukan Sedjarah sebagai ilmu semakin kokoh.26

Achirnja, sampailah kita kepada pertanjaan apakah gunanja kita mempeladjari Sedjarah? Dengan beberapa variasi2 kita dapat mendjawab pertanjaan itu. Tetapi pada pokoknja, tiap tjabang ilmu pengetahuan diolah manusia karena kebutuhan manusia, untuk memudahkan hidup manusia.27

Bertrand Russell mengatakan, bahwa ada Sedjarah dalam arti luas dan dalam arti sempit, masing2 mempunjai nilai jang berbeda-beda. Sedjarah dalam arti luas membantu kita mengetahui bagaimana dunia bertumbuh sampai mendjadi seperti sekarang ini; sedangkan Sedjarah dalam arti sempit membantu kita mengenal tokoh2 wanita dan laki2 dan karena itu memadjukan pengetahuan kita tentang sifat-sifat manusia.28

A.L. Rowse mengatakan: „…Tidak, didalam Sedjarah tidak hanja terdapat satu rentjana atau satu irama sadja. Akan tetapi banjak terdapat rentjana2, irama2, pola2, bahkan ulangan2, sehingga memungkinkan kepada kita untuk mengadakan generalisasi2 dan mengambil peladjaran dari padanja…“29 Dan, tidak ketjil artinja bila kita tambahkan disini pendapat Bacon jang berbunji:”Histories make men wise”.30

APAKAH AHLI SEDJARAH ITU?

Pertanjaan jang dipakai sebagai djudul bab ini sebenarnja mudah didjawab. Setjara formil dan positif/kongkrit jang dinamakan ahli Sedjarah ialah seseorang jang telah menamatkan dirinja dari lembaga pendidikan tinggi djurusan Sedjarah. Tetapi, disamping ada ahli2 Sedjarah jang mendapatkan kwalitasnja setjara formil, ada djuga ahli2 Sedjarah lainnja. Ada seorang guru besar Belanda jang mengatakan bahwa „De Geschiedenis… van alle wetenschappen degene de het minst technische scholing vereist en daarom nog steeds met succes door leken-dilettanten beofend wordt”.1 1Periksa LOCHER dimuka.

artinja: „Sedjarah itu… diantara ilmu pengetahuan, paling tidak memerlukan pendidikan teknis dan karenanja sampai sekarang dapat dipeladjari dengan hasil baik oleh orang awam jang gemar akan ilmu itu”. Ahli Sedjarah „lain” itu memperoleh pengakuan dari masjarakat dengan menempuh djalan sendiri. Djalan sendiri jang pada hakekatnja tidak djauh berbeda dari pendidikan Sedjarah setjara formil itu. Marilah hal itu kita soroti dengan agak mendalam.

Kalau kita peladjari kurikulum2 dari pada lembaga2 pendidikan tinggi djurusan Sedjarah, baik dinegeri kita maupun dinegeri2 asing, maka inti pendidikan membentuk ahli2 Sedjarah itu terdiri dari 3 hal, jaitu:

1.
Menanamkan penguasaan fakta2 Sedjarah setjara luas dan dalam.
2.
Memberikan kemampuan dan kemahiran dalam mengadakan penjelidikan Sedjarah.
3.
Memberikan kemampuan dan kemahiran mengadakan penulisan Sedjarah.

Untuk menguasai fakta2 Sedjarah setjara luas dan dalam, mahasiswa diwadjibkan mempeladjari historiografi (sebagai tjontoh sederhana kita ambil sadja Sedjarah Indonesia, Sedjarah Asia Tenggara, Sedjarah Tiongkok, Sedjarah Eropah dan seterusnja) dan bagian2 Ilmu Sedjarah (seperti Sedjarah Kebudajaan, Sedjarah Perekonomian, Sedjarah Politik dan seterusnja). Djuga dengan diberikannja mata-peladjaran2 seperti Filsafat dan Teori Sedjarah, bukan sadja pengetahuan tentang Ilmu Sedjarah semakin dikenal oleh mahasiswa, tetapi djuga pengetahuan tentang seluk beluk kedjadian fakta didalam Sedjarah mendjadi lebih djelas. Untuk menguasai fakta2, peristiwa2 ataupun hal2, biasanja djuga diandjurkan supaja mahasiswa membatja surat2 kabar, madjalah2 dan berkala2 lainnja setjara teratur.

Dimasjarakat ramai, orang sudah dikenal atau dipandang sebagai ahli Sedjarah kalau orang itu mengetahui banjak kedjadian atau peristiwa dalam Sedjarah. Kebiasaan itu sebenarnja kurang tepat. Untuk dinamakan sebagai ahli Sedjarah, memang kekajaan pengetahuan akan kedjadian2 merupakan sjarat penting akan tetapi bukan sjarat satu2nja.

Sesudah mahasiswa banjak mengenal fakta2 serta hakekatnja, kepada mereka itu djuga diberi kemampuan2 untuk mengadakan penjelidikan Sedjarah. Disamping harus menguasai ilmu2 pembantu dan ilmu-ilmu jang berdekatan dengan Ilmu Sedjarah, kepada mereka djuga diberi petundjuk2 dan latihan2 chusus untuk kemampuan2 itu. Penjelidikan bukan sadja berarti menjaksikan setjara langsung sumber2 Sedjarah ditempat terdapatnja (fieldresearch), tetapi djuga mentjarinja dalam perpustakaan2 (libraryresearch) dimuseum-museum (jang biasanja dipakai untuk menjimpan benda2 bersedjarah) dan dengan mengadakan wawantjara2 (terutama kalau mengadakan penjelidikan Sedjarah jang paling achir).

Betapa pentingnja hasil penjelidikan Sedjarah, tidak perlu diuraikan disini. Hasil penjelidikan itu disamping menambah fakta, dapat menggugurkan teori2 dalam Ilmu Sedjarah jang telah ada dan dapat dipakai untuk menjusun teori2 baru bukan sadja untuk Ilmu Sedjarah akan tetapi djuga untuk ilmu2 kemasjarakatan lainnja.

Selandjutnja, pada achir pendidikan mahasiswa berkewadjiban untuk menjusun risalah udjian. Risalah udjian itu lebih populer bernama skripsi (jang tidak lain berarti tulisan) atau paper (= kertas). Membuat skripsi atau paper—seperti telah diketahui namanja—bertudjuan memberi kemahiran kepada mahasiswa untuk menjusun penulisan Sedjarah. Penulisan itu tidak sadja menundjukkan kekajaan pengetahuan dan hasil penjelidikan Sedjarah dari pada jang menjusunnja, akan tetapi lebih2 untuk melatih jang menjusunnja memiliki djalan berpikir ilmiah jang baik dan menjatakan pikirannja dalam tulisan setjara tepat atau eksak.

Dengan menamatkan dirinja beladjar dalam lembaga pendidikan tinggi djurusan Sedjarah berarti bahwa ahli Sedjarah itu telah menguasai fakta2 Sedjarah jang luas dan mendalam, mampu mengadakan penjelidikan2 dan telah pula membuktikan pernah menjusun penulisan Sedjarah. Dengan menempuh djalan sendiri, jang tidak terdidik setjara formilpun dapat mendjadi ahli Sedjarah asalkan 3 sjarat untuk djadi ahli Sedjarah diatas dapat dipenuhi.

TJATATAN TENTANG BEBERAPA KARJA BUNG KARNO

INDONESIA MENGGUGAT

Karja Bung Karno ini berupa pidato pembelaan beliau tatkala dihadapkan hakim kolonal di Bandung pada achir tahun 1930. Naskahnja disusun dalam pendjara, 1 1Periksa NOTOSOETARDJO H.A. Bung Karno dihadapan Pengadilan Kolonial hal. XXXV. dan merupakan karja politik, atau lebih tepat dokumen politik menentang kolonialisme dan imperialisme.2 2Periksa Indonesia Menggugat terbitan „S.K. Seno” 1951 hal. 7. Djadi karja tersebut bukanlah karja Ilmu Sedjarah.

Akan tetapi bilamana kita teliti tjara2 penguraian beberapa bab didalamnja, seperti bab Imperialisme dan Kapitalisme dan bab Imperialisme di Indonesia, tjara2 penguraian itu mengikuti pula uraian Sedjarah.3 3Bandingkan tulisan2 BARTSTRA DR. J.S. Geschiedenis van het Moderne Imperialisme tjet. III Haarlem 1948, dan Hobson J.A. The Evolution of Modern Capitalism tjet. XII London New York 1954. Kalau kita periksa kutipan2 dan sumber2 jang disebut—jang djumlah keseluruhannja tidak kurang dari 150—kita harus menarik kesimpulan betapa luas pengetahuan penjusun karja itu mengenai fakta2.4 4Periksa lampiran risalah ini.

Kemudian, bilamana kita telaah kesimpulan2 jang diambil seperti timbulnja Perang Pacific5 5Periksa Indonesia Menggugat dimuka hal. 154 dan seterusnja. , maka hal itu bukan sadja membuktikan bahwa pengetahuan penjusun karja itu mengenai ilmu pengetahuan sosial sangat mendalam,6 6Didalam Indonesia Mengugat dimuka Bung Karno mengatakan bahwa beliau lebih dari 10 tahun mempeladjari buku-buku sosial, mempeladjari ilmu pengetahuan sosial (hal. 167). akan tetapi penguasaan dalil2 dalam Ilmu Sedjarah oleh penjusun boleh dikatakan sempurna.

Karja tersebut terdiri dari 183 halaman tjetak dan 6 bab termasuk pendahuluannja.

MENTJAPAI INDONESIA MERDEKA

Risalah Mentjapai Indonesia Merdeka terdiri dari 84 halaman tjetak dan uraiannja dibagi dalam 10 bagian7 7Jang dipergunakan dalam uraian ini adalah „M.I.M” Penerbitan Chusus No. 84 Deppen R.I. . Bung Karno menjusunnja di Pangalengan jang terletak disebelah Selatan Bandung dalam bulan Maret 1933. Karja ini bukan pula karja Ilmu Sedjarah, melainkan buku pendidikan politik.8 8Periksa „M.I.M.” dimuka jang bunjinja: “….. susunlah pergerakanmu menurut garis2 jang saja guratkan didalam risalah ini”. (hal. 83-84). Djumlah kutipan2 dan sumber-sumber jang disebut tidak banjak.9 9Periksa lampiran. Ada hal2 jang sudah diuraikan didalam Indonesia Menggugat disinggung kembali dalam risalah ini. Uraian2 jang menundjukkan penarikan pengalaman dan Sedjarah—melalui batjaan2—sangat tadjam dan kena. Dengan mengambil kata2 Bernheim, uraian dalam risalah ini sangat pragmatis.10 10Pragmatis disini berarti mentjari peladjaran2 dari kedjadian2 dalam Sedjarah.

LAHIRNJA PANTJASILA

Risalah ini sebenarnja bukan tulisan, melainkan suatu laporan stenografis pidato Bung Karno di Pedjambon Djakarta, dimuka sidang Badan Penjelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan pada tanggal 1 Djuni 1945.11 11Periksa Tubapi hal. 11-12, terbitan D.P.A. Pidato itu diutjapkan begitu sadja, tanpa dipersiapkan setjara tertulis terlebih dahulu. Pidato tersebut menundjukkan siapa sebenarnja Bung Karno itu; wat hij is, meneruskan pendapat Jean Jaurès12 12Periksa Dibawah Bendera Revolusi tjet. I, hal. 614. , djelas tertjermin didalam Lahirnja Pantjasila itu.

Pengalaman dan pembaktian diri didalam perdjuangan, batjaan2 jang telah mengendap, perenungan jang mendalam mengenai djalinan antara pengalaman dan batjaan itu, melahirkan suatu pendirian jang diuraikan setjara djernih, djelas dan jakin. Suatu pendirian jang kemudian diterima oleh seluruh bangsa Indonesia.

Walaupun buku ini bukan buku Sedjarah—dengan kutipan2 dan sumber2 jang bersahadja—„Lahirnja Pantjasila” adalah buku jang ber-Sedjarah dan jang dapat digolongkan kedalam “books that changed the world”.

SARINAH!

Buku ini disusun Bung Karno dalam bulan Nopember 1947 di Jogjakarta. Baik dalam tjetakan jang ke-II maupun jang ke-III—jang kita pergunakan dalam pembahasan ini—tidak terdapat daftar kepustakaan maupun daftar isi. Akan tetapi kutipan2, tokoh2 dan sumber2 jang disebut dalam buku itu, menundjukkan betapa luas pengetahuan dan pandangan jang menjusunnja.13 13Periksa lampiran.

Seperti djuga Mentjapai Indonesia Merdeka, buku inipun bersifat pendidikan politik, tetapi jang chusus ditudjukan bagi wanita.14 14Perika Kata Pendahuluan dalam Sarinah. Melihat kepada sistematik susunan buku ini, buku ini tidak boleh tidak harus kita golongkan kedalam karja Sedjarah.15 15Sistematik ataupun pembagian bab2 dalam Sarinah itu ialah:

Soal Perempuan.

Laki-laki dan perempuan.

Dari gua kekota.

Matriarchat dan Patriarchat.

Wanita bergerak.

Sarinah dalam perdjuangan Republik Indonesia. Dalam menguraikan tjara2 atau bagaimana bangsa kita harus berdjuang, Bung Karno djuga menundjukkan beberapa dalil Sedjarah.16 16Periksa bab VI Sarinah jang djuga telah disinggung dalam halaman 2 risalah ini. Dalam menguraikan pertumbuhan kedudukan wanita, Bung Karno banjak menjinggung hal2 dalam bidang Antropologi kebudajaan.17 17Periksa bab2 III dan IV dalam Sarinah. Kita telah tahu betapa dekatnja Antropologi Kebudajaan itu dengan Ilmu Sedjarah,18 18Periksa halaman 6 karangan ini tentang ilmu2 jang berdekatan dengan Ilmu Sedjarah. dan tjara Bung Karno itu banjak diapaki oleh ahli2 Sedjarah dalam menjusun tjeritera Sedjarahnja.19 19Periksa JACOBS dan STERN General Anthropology tjet. ke-v 1955 hal. 276-277.

PENEMUAN KEMBALI REVOLUSI KITA (MANIFESTO POLITIK R.I.)

Seperti kita semua telah ketahui, Penemuan Kembali Revolusi Kita jang kemudian disebut Manifesto Politik Republik Indonesia itu, adalah pidato tahunan P.J.M. Presiden Soekarno tanggal 17 Agustus 1959. Karja Bung Karno inipun merupakan penggalian pengalaman dari Sedjarah, tepatnja dari Sedjarah bangsa dan negara kita sedjak Proklamasi 17-8-1945.20 20Perika Penerbitan Chusus Deppen no. 76 „Manipol R.I. 17-8-1945” hal. 11.

Kalimat jang berbunji:

Manifesto Politik adalah Dokumen Revolusi Indonesia jang monumental dan jang bersedjarah, hasil penarikan peladjaran-peladjaran jang pandai dari pengalaman-pengalaman jang pahit selama 14 tahun Revolusi. Demikian pula pengamatan Bung Karno sedjak tahun 1933 djelas tergores dalam Manipol tersebut.21 21Periksa hal 28 Penerbitan Chusus tersebut diatas. Djuga tentang tidak terpisahkannja Revolusi Indonesia dengan Revolusi Ummat Manusia (periksa Sarinah jang telah kita singgung pada halaman 1-2 dimuka) terlihat kembali dalam istilah The Social Conscience of Man.22 22Ibid. hal. 40 dan berikutnja.

Betapa tepatnja pengamatan2 Bung Karno dalam Manipol itu, ternjata antara lain didalam diselesaikannja soal2 berat jang dihadapi negara kita, seperti soal Irian Barat dan soal keamanan.

BUNG KARNO AHLI SEDJARAH

Sampailah kita sekarang kepada persoalan jang sebenarnja dalam risalah ini, jakni apakah benar Bung Karno itu seorang ahli Sedjarah.

Didalam bab II dimuka telah diambil kesimpulan, bahwa ahli Sedjarah itu ialah seseorang jang mengetahui fakta2 Sedjarah lebih banjak dari orang kebanjakan, jang mampu mengadakan penjelidikan Sedjarah, dan telah membuktikan pernah mengadakan penulisan Sedjarah.

Saja rasa, tidak ada orang jang berani menjangkal bahwa Bung Karno banjak tahu, termasuk banjak tahu Sedjarah dalam arti mengetahui banjak kedjadian2, peristiwa2 dan soal2nja. Dalam lampiran risalah ini—jang berisi asal kutipan2, tokoh2 dan sumber2—kita dapat menjaksikan sendiri betapa banjak jang diketahui oleh Bung Karno. Itu baru diambil dari 4 karja beliau, jaitu Indonesia Menggugat, Mentjapai Indonesia Merdeka, Lahirnja Pantjasila dan Sarinah. Dan, jang dikemukakan oleh Bung Karno dalam karja2 tersebut bukanlah seluruh pengetahuan jang beliau kuasai. Seorang mahasiswa Ilmu Sedjarah mana tidak akan terpesona, bila Bung Karno mengemukakan dialog beliau dengan George Washington, Thomsa Jefferson, William Pitt, Sidney dan Beatrice Webb, Karl Liebknecht, Wilhelm Liebknecht, Ferdinand Lasalle, Rosa Luxemburg, Vera Figner, Karl Marx, Friedrich Engels, Garibaldi, Guiseppe Mazini, Kemal Attaturk, Sun Yat Sen, Plekhanov, Swertlovsk, Jose Rizal, Y. Merkado, Aguinaldo, Ho Chi Minh, Jean Jaurès, Talleyrand, Aristide Briand, Poincaré, Hitler dan Gandhi.1 1Periksa Penerbitan Chusus Deppen no. 235 Kumpulan ilmu pengetahuan untuk Pembangunan, pidato Bung Karno 29 September 1962, hal. 20-22.

Kalau kita periksa Dibawah Bendera Revolusi soal2 jang dibitjarakan begitu luas mulai dari Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme hingga imperialis Djingis Khan dan soal2 pendidikan. Dan, kalau kita ingin mengetahui bagaimana Bung Karno melihat kedjadian2, peristiwa2 dan kebesaran2 masa lampau, diantaranja kita dapat melihatnja pada tulisan Mendjadi goeroe dimasa Kebangoenan pada halaman2 620-626 Dibawah Bendera Revolusi.

Pengetahuan beliau tentang Sedjarah Indonesia, diantaranja dapat kita lihat didalam Indonesia Menggugat2 2Periksa II dan III Indonesia Menggugat dimuka. dan Sarinah3 3Periksa Sarinah dimuka. hal. 61, 93, dan hab VI. . Didalam mengamati madju mundurnja bangsa Indonesia, didalam Indonesia Menggugat itu Bung Karno mentjetuskan suatu periodisasi baru. Periodisasi Sedjarah Indonesia jang menjimpang sama sekali dari periodisasi kolonial. Suatu periodisasi jang menanamkan kepertjajaan akan datangnja djaman gemilang bagi bangsa Indonesia. Periodisasi itu bentuknja adalah:

1.
Hari dulu jang indah.
2.
Hari sekarang jang gelap.
3.
Hari kemudian jang berseri-seri.4 4Periksa Penerbitan Chusus Deppen no. 235 Kumpulan ilmu pengetahuan untuk Pembangunan, pidato Bung Karno 28 September 1962, hal. 20-22.

Dalam menguraikan Sedjarah Pergerakan Nasional-pun Bung Karno menjusun suatu periodisasi tersendiri, dalam bentuk:

1.
Zaman Perintis.
2.
Zaman Penegas.
3.
Zaman Pentjoba.
4.
Zaman Pendobrak.
5.
Zaman Pelaksana.5 5Periksa YAMIN PROF. MR. Pembahasan U.U.D. R.I. hal. 22.

Dalam menindjau perdjalanan Sedjarah sedjak meletusnja Revolusi 17 Agustus 1945, Bung Karnopun membagi djalannja Revolusi kita itu dalam periode2 seperti:

1.
1945-1950 : Periode Revolusi Fisik.
2.
1950-1955 : Periode Survival.
3.
1956- : Periode Revolusi sosial-ekonomis.6 6Periksa Manipol dimuka hal. 288.

Perlu djuga diketahui bahwa Bung Karno sering mengemukakan dalil2 Sedjarah didalam karja2nja. Diantara dalil2 itu sudah ada pula kita singgung dimuka. Tetapi jang harus kita kemukakan disini adalah tentang persatuan. Persatuan merupakan kebenaran abadi dalam Sedjarah ummat manusia dalam usaha memperbaiki dirinja. Untuk merebut kemerdekaan, menghantam imperialisme dan menjusun kehidupan lebih baik. Persatuan, sekali lagi persatuan jang diperlukan. Dalam Dibawah Bendera Revolusi Bung Karno mengutip de Lamennais dalam menggalang Persatuan. Dalam tulisan Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme Persatuan pula jang ditudju. Dalam Lahirnja Pantjasila alat Pemersatu pula jang diandjurkan beliau.

Bila kita lihat kepada kenjataan2 diatas ini, maka perhatian Bung Karno terhadap Ilmu Sedjarah itu luar biasa.

Sekarang soal penjelidikan dan penulisan Sedjarah. Dimuka pada tjatatan halaman 6, Jan Romein tidak memisahkan penulisan dari penjelidikan Sedjarah. Djadi setjara otomatis daat disimpulkan, bahwa siapa menulis (dalam hal ini karja Sedjarah) dia tentu terlebih dahulu sudah mengadakan penjelidikan. Dengan membatja buku „Sarinah” sadja, kita mengetahui bahwa Bung Karno telah mengadakan penjelidikan kepustakaan (libraryresearch). Melihat pula kepada perdjuangan Bung Karno dalam masa pendjadjahan, pengalaman perdjuangan tersebut tentu banjak menjumbang sifat kebenaran apa jang beliau tulis. Dengan demikian, pengalaman perdjuangan tersebut dapat kita samakan dengan fieldresearch jang harus diadakan oleh sardjana2 jang sedang menjusun risalah udjiannja. Barangkali pengalaman perdjuangan itu lebih ampuh sifatnja dari pada fieldresearch jang dikatakan tadi.

Sedikit tentang kebenaran dalam penulisan Sedjarah. Frederick J. Teggart mengatakan, bahwa „Onze conceptie van het geheel (der geschiedenis) moet voortkomen uit onze levensfilosofie. Het historisch verleden bevordelen wij niet op grond van war er werkelijk gebeurd is’, maar tenslotte op de basis van onze persoonlijke speculaties omtrent de toekomst en de bestemming van het menselijk geslacht”.7 7Kutipan ini diambil dari JAN ROMEIN Tussen Vrees en Vrijheid hal. 21. Artinja:

„Konsepsi kita mengenai keseluruhan Sedjarah harus keluar dari filsafat hidup kita. Masa lampau Sedjarah itu tidak kita nilai dengan dasar apa jang sebenarnja terdjadi; akan tetapi dengan dasar pandangan kita mengenai hari depan dan achir ummat manusia”

Kembali tentang Sarinah—setelah kita kutipkan hal dimuka ini—menundjukkan ketepatan Bung Karno dalam sifat2 penulisan Sedjarah.

Kemudian tentang ilmu2 pembantu dan ilmu2 jang berdekatan dengan Ilmu Sedjarah. Dimuka pada halaman 6 telah disinggung betapa pentingnja bahasa dan ilmu2 itu bagi Ilmu Sedjarah, terutama dalam bidang penjelidikannja. Bahwa Bung Karno menguasai beberapa bahasa asing dengan fasih adalah rahasia umum.8 8Periksa a.l. LOUIS FISCHER The Story of Indonesia hal. 171 dimana dikatakan bahwa bahasa Djerman Bung Karno adalah perfect. Djuga telah kita ketahui bahwa didalam Indonesia Menggugat Bung Karno telah lama mempeladjari ilmu2 sosial. Penguasaan ilmu2 sosial itu berarti penguasaan Ilmu Sedjarah ditambah dengan ilmu2 jang berdekatan dengan Ilmu Sedjarah itu.9 9Periksa E.N.S.I.E. III tentang Sociale Wetenschappen hal. 8.

Dengan madjunja Ilmu Pengetahuan—jang didalamnja mengandung arti madjunja Ilmu Sedjarah—terdjadilah pembagian kerdja (differensiasi) dan pengchususan (spesialisme). Dilingkungan Ilmu Sedjarah hal itu berarti bahwa Ilmu Sedjarah setjara umum lalu terbagi-bagi mendjadi bagian2 jang lebih ketjil (seperti Sedjarah Kebudajaan, Sedjarah Politik, Sedjarah Perekonomian, dan seterusnja) dan spesialisme menjebabkan orang tidak dapat memiliki keahlian menjeluruh tentang Sedjarah (karena Ilmu Sedjarah jang mendjadi terlalu luas).10 10Bandingkan LOCHER dimuka.

Karena spesialisme ini, ada sardjana Sedjarah jang mahir tentang Sedjarah Purbakala dan Pertengahan akan tetapi tidak begitu paham tentang Sedjarah Modern, tjontohnja Huizinga.11 11Periksa JAN ROMEIN Huizinga als Historicus dalam Tussen Vrees en Vrijheid.

Dengan differensiasi dan spesialisme itu berarti djuga, bahwa penguasaan Ilmu2 Pembantu dapat dikurangi menurut perhatian jang ditempuh. Seorang ahli Sedjarah Sosial misalnja kurang memerlukan Palaeografi atau Sfragistik, atau Epigrafik jang terlampau mendalam. Akan tetapi, ahli Sedjarah Sosial itu tetap dinamakan Ahli Sedjarah.

Demikian pula, bila Bung Karno karena bidang perdjuangannja jakni politik dikatakan mendjadi ahli Sedjarah Politik, maka beliaupun tetap ahli Sedjarah dan tidak memerlukan penguasaan terhadap Ilmu2 Pembantu jang sifatnja terlalu djauh dari Sedjarah Politik itu.

Achirulkata bisa ditambahkan disini bahwa Bung Karno itu bukan sadja ahli Sedjarah jang berpengetahuan jang sangat luas, akan tetapi djuga pentjipta ide2 baru, nilai2 baru jang sangat tinggi mutunja.

Akan tetapi, verdienste atau djasa Bung Karno jang terbesar didalam Ilmu Sedjarah setjara luas adalah perbuatan Bung Karno sebagai Proklamator Kemerdekaan, suatu perbuatan besar, walaupun Bung Karno sendiri dalam hal itu sering menamakan diri hanja hoofdverpleger,.12 12Periksa TAVIP. Suatu perbuatan berdasarkan pengamatan Sedjarah jang sedalam-dalamnja, kalau kita memahami karja2 Bung Karno sebelumnja.


1Periksa LOCHER. Geschiedenis dalam Encylopedisch Handboek v/h Moderne Denken. hal. 27 dan berikutnja.


2Bandingkan DE HAAN DR J.G. Theorie der Geschiedschrijving dalam Scientia II halaman 1-2.


3Periksa SOEKARNO IR. DR., Sarinah tjetakan II hal. 306.


4Bandingkan COLLINGWOOD, dalam Everyman’s Encylopedia VI hal. 497 tjet. IV.


5Bandingkan TREVELYAN G.M., Wat is het nut der Geschiedenis dalam Nieuwe Geillustreerd Wereld Geschiedenis, hal. 8.


6Periksa MONTAGU ASHLEY, Man, his first million years, hal. 58-59.


7Bandingkan SMIT dan SNELLER, Leerboek der Algemene Geschiedenis dan Blonk Romein Leerboek der Algemene en Vaderlandse Geschiedenis.


8Bandingkan SOPHIAN WALUJO DRS. Sedjarah Dunia I.


9Periksa risalah YAMIN PROF. MR. H. Pantjawarsa.


10Periksa LOCHER dimuka.


11Bandingkan SUPARDO SH cs Manusia dan Masjarakat Baru Indonesia hal. 43.


12Menurut Everyman’s Encylopedia kata Historia (Sedjarah) berarti apa jang kita ketahui sebagai hasil penelitian.


13Chronografie = daftar kedjadian2 jang disusun menurut waktu.


14Artinja: Didalam pendidikan dan mempertumbuhkan tjita2 untuk hari ini dan masa depan, maka pengetahuan tentang tjita-tjita jang berasal dari masa lampau merupakan sumber ilham jang paling penting.


15Periksa KUYPERS Cultuur en Geschiedenisfilosofie dalam Ensie I halaman 152.


16Bandingkan FISCHER Ethnologie dalam Scientie II hal. 135-136.


17Periksa Resopim, pidato PJM Presiden 17-8-1961.


18Bandingkan KUYPERS dimuka.


19Periksa LOCHER dimuka.


20Ilmu2 Pembantu Sedjarah antara lain adalah Palaeografi (tentang tulisan2 purbakala), Diplomatik (tentang surat2 penting), Sfragistik (tentang materai2), Epigrafik (tentang prasasti2), Numusmatik (tentang mata uang), Metrologi (ilmu tera), Kronologi (I. Tarich), Genealogi (tentang silsilah2), Heraldik (tentang sendjata dan tanda2) dan Statistik.

Sebagai tjontoh daripada ilmu2 jang berdekatan dengan ilmu Sedjarah dapat disebutkan disini: Ilmu politik, Tata Negara, Ekonomi, Ilmu Bumi, Sosiologi, Ilmu Hukum, Filsafat, Antropologi, Ilmu Purbakala, Pengetahuan adat istiadat dan Ilmu Djiwa.


21JAN ROMEIN didalam bukunja In de Hof der Historie tidak memisahkan penulisan Sedjarah dari penjelidikan Sedjarah (periksa halaman 89 buku tsb). Walaupun demikian ada baiknja untuk dikutip disini:

Kita harus memilih djudul apa jang kita tulis

Sesudah itu kita harus memperbandingkan djudul itu dengan tulisan2 jang pernah disusun mengenai soal itu.

Kemudian kita mentjari sumber2nja (heuristik).

Lalu kita kumpulkan sumber2 jang langsung dapat kita gunakan.

Untuk dinilai setjara kritis.

Dan menjingkirkan bila ada jang tidak perlu.

Selandjutnja membagi beban2 jang akan kita susun itu.

Untuk mengatur susunan jang akan ditulis.

Barulah penulisan dapat dimulai, untuk diachiri dengan membuat tjatatan2, pengantar dan daftar lainnja.


22Periksa KUYPERS dalam „E.N.S.I.E.T.” halam 164 dan ROWSE The Use of History halaman 114-155.


23Periksa JAN ROMEIN In de Hof der Historie hal. 95.


24Bandingkan KUYPERS dimuka halaman 152.


25Baik dalam tulisan KUYPERS dimuka, maupun ROWSE ataupun J.C. DE HAAN selalu dibahas tentang Marxisme terutama dalam pembitjaraan tentang kemadjuan dalam Sedjarah. Seorang Negarawan jang banjak karja2nja dalam bidang Sedjarah seperti Nehrupun menjinggung Marxisme dalam bukunja Discovery of India:

“A Study of Marx and Lenin produced a powerfull effect on my mind and help me to see history and current affairs in a new light. The long chain of History and of social development appeared to have some meaning, some sequence and the future lost some of its obscurity” (halaman 15).


26Bandingkan VAN DEN BERG Wetenschapsleer dalam E.N.S.I.E. I hal. 128.


27Periksa JAN ROMEIN In de Hof der Historie hal. 68.


28Periksa RUSSEL BERTRAND On Understanding History, hal. 10.


29Periksa ROWSE A.L. The Use of History halaman 21.


30Ibid. hal. 22.