Baca EPUB: buih-dan-kasih

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
BACHTIAR SIAGIAN
Buih dan Kasih
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Naskah drama ini diterbitkan oleh Badan Penerbit “Tini” tahun 1958.

Halaman 16-17 naskah drama ini kemungkinan terpotong atau terdapat kesalahan scan dalam file-nya. Sehingga tidak bisa ditampilkan.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Surat Kekalahan untuk Sahabat

Ini surat tentang kekalahan; kekalahan seorang manusia biasa jang selalu rindu pada kemenangan. Dan sekali ini memang benar: ia kekalahan mutlak! Kekalahan biasa diiringi segala edjekan. Kali inipun edjekan itu bertubi-tubi dilemparkan kepundakku; edjekan lawan-lawan, dan kawan-kawan jang sebenarnja lawan…..

Oi, kawan, masih kau ingat ingat kawan-kawan beradu tjepat menghindarkan diri dari persahabatan demi kekalahan berdiri diambang pintu. Muka manis persahabatan jang begitu mesra, berobah sadja mendjadi kemuraman dan kebentjian. Dan itu semuanja dilemparkan; mungkin tanda terima kasih atau setia kawan, ataupun sengadja hendak hendak menimpakan tangga pada jang djatuh. Oi, kawan, lupa kau bahwa badja tak pernah terlahir tanpa pukul-pukulan keras. Kau jang mengedjek, kau jang lari ketika badai mengamuk, kau jang menjingkir pada kekalahan: aku akan mendjadi badja! Kekalahan sekali ini adalah mahaguru jang didatangkan apa jang disebut Tuhan. Aku lantas dihadapan pada suatu penjaringan: saringan kawan dan lawan. Bersukur aku, bahwa diantara lawan banjak djuga kawan setia: jang bersedia menerima edjek dan pukulan, jang begitu menjakiti hati, begitu memekakkan telinga, begitu membekukan perasaan. Satu diantaranja Kaulah sahabat, kaulah kawan. Mari kita djadi badja pada kekalahan ini. Sekali kita pasti menang: dan kalau menang, mari kita palingkan muka dari muka-muka dan suara memudji, dan mari kita tenang mengenang segala edjekan. Supaja kita mendjadi badja, supaja kita mendjadi manusia berharga diri.

senantiasa sahabatmu,

bachtiarsiagian

Nizmah

Radda

Tini

Tandjung

Thahir.

pantaitjermin, 28 September 1958.

„Buih dan Kasih”

Lakon terdjadi ketika pasangsurut, waktu laut tenang dan anginpun mati, didekat sebuah perkampungan nelajan. Ditengah2 lumpur ada bekas benteng dan beberapa buah sampan tertambat. Ditengah laut ada tiang2 djermal, seperti pagarbesi laiknja. MAJANG, seorang wanitamuda jang baru nikah, duduk dipunggung benteng itu, bertopangdagu memandang lumpur didepannja. Djari2nja masih berbekas merah patjar tanda baru menikah, tapi pakaiannja sederhana, bahkan ada bekas2 tampalan. Sebentar2 ia memandang ketengah laut, lalu keangkasa pula, ke-elang jang berkulik melajang2. Sedjurus kemudian muntjul PAK ANGGAH, ajahnja. Dengan langkah tertahan2 karena ketuaan, ia mendekati Majang. Dipandanginja Majang lama2 lalu iapun berkata dengan suara duka.

PAK ANGGAH

:

(sambil memandang kelaut, lalu ke Majang) Entah sedjauh mana sudah air menjurut, kau disini-sini djuga Majang.

MAJANG

:

(menoleh pak Anggah lalu memandang ketengah laut).

PAK ANGGAH

:

(mengharap, mendekati) Pulanglah Majang. Djika retak mau bertemu, ditjelah bumi bisa berdjumpa

SUTAN

:

(diam lalu tunduk menjapu airmatanja).

PAK ANGGAH

:

(seraja memandang kelaut) Laut djuga jang melimpah terus. Air mata ’kan kering sendiri, Majang, Apa gunanja dibawa menangis. Doakan sadjalah. Tuhan tau segala tjerita…..

MAJANG

:

(pilu memandang ajahnja) Airmata inilah do’a restuku, ajah. Tak sepatahkata lagi terutjap utk pengobat pedihhati.

PAK ANGGAH

:

(membudjuk) Kalau begitu, pulanglah. Dirumah kau tangisi.

MAJANG

:

(mengingat, membajangkan) Dirumah hanja ada tiang membisu, dan harumbunga jang sudah laju. Aku tak sanggup, aku tak sanggup. Bunga rampai diudjung bantal seperti pisau mengiris hati, ajah. Biarlah kutunggu dia disini…..

PAK ANGGAH

:

(pilu) Majang……….

MAJANG

:

(tjerah, mengharap) Kalau dia pulang bersama pasang, tentu bulanpun terbit dipenghudjungmalam, ajah. Oi, alangkah indahnja rumahkita ajah…..

PAK ANGGAH

:

(kesal, pilu) Kau seperti elang diseret angin, Majang. Kemana imanmu, nak?

(TERDENGAR KULIK ELANG SAJUP2)

MAJANG

:

Tjobalah ajah dengarkan. Bukankah itu senandong dari laut?

PAK ANGGAH

:

Itu kulik elang, Majang.

MAJANG

:

Elang?

PAK ANGGAH

:

Ija, elang?

MAJANG

:

Kulik elang sepilu itu?

PAK ANGGAH

:

(kesal) Matilah ajah, kalau si Majang lupa di-elang. Marilah pulang, nak.

MAJANG

:

(setelah mendengarkan sesuatu) Ajah…..

PAK ANGGAH

:

Ajolah pulang, Majang.

MAJANG

:

Pulang? Ah, tjobalah aja dengarkan.

PAK ANGGAH

:

(mendengarkan, lalu heran) Apa?

MAJANG

:

(mendengarkan) Tidakkah ajah dengar abang memanggilku?

PAK ANGGAH

:

(terbelalak) Astagfirullah….. Itu suara ombak ditengah, Majang…..

MAJANG

:

Suara ombak?

PAK ANGGAH

:

Ija, suara ombak.

MAJANG

:

Semesra itu, jah?

PAK ANGGAH

:

(kesal) Matilahajah Majang, djika mesra ombak mengalih kemudi. Marilah pulang, Majang.

MAJANG

:

(seperti tak memahami) Pulang…..?

PAK ANGGAH

:

Ija, pulang. Sudah dua malam kau tak makan2 dan tak pulang.

MAJANG

:

Aku menunggu dia pulang, jah. Bukankah ajah mengadjar setia?

PAK ANGGAH

:

(seperti bingung) Nanti kau sakit.

MAJANG

:

Kinipun sakit menunggu pasang, ajah. Dan ombak hanja mengantar buih.

PAK ANGGAH

:

Ja Allah. Mengutjaplah Majang…..

MAJANG

:

Tapi itulah senantiasa senandongku, ajah. Seperti ajah adjarkan, seperti ajah harapkan…..

PAK ANGGAH

:

Astagfirullah….. Djadi kau tak mau pulang, Majang?

MAJANG

:

Mau ajah, djika suamiku pulang beserta pasang….. Aku mesti setia selalu.

PAK ANGGAH

:

Bukan itu kesetiaan jang kuadjarkan, Majang. Kau seperti membunuh diri…..

MAJANG

:

Ajah mengadjarku setia dan harus memegang djandji….. Dari tepi air ini dia bertolak ajah, ditepi air ini dia kunanti. Bagiku itulah kesetiaan. Kutunggu dia sampai pulang…..

PAK ANGGAH

:

Kalau dia tak pulang-pulang…..?

MAJANG

:

(seperti siuman) Tak pulang? Adakah kepergian jang tak pulang?

PAK ANGGAH

:

Hanja pulang tanpa kepergian jang tak ada, Majang.

MAJANG

:

(berpikir) Tak pulang? Suamiku tak pulang?

(berpikir) Tapi kami sudah berdjandji…..

Mungkinkah…..?

PAK ANGGAH

:

Majang, marilah pulang…..

MAJANG

:

(memandang kelaut, tak sepatahpun berkata).

PAK ANGGAH

:

(bingung) Majang…..!

PAK ANGGAH

:

Kau tak gentar seandainja badai mengamuk?

MAJANG

:

Gentar ajah, tapi rinduku ini terlalu besar.

PAK ANGGAH

:

Tak takutkah kau pada malam begitu kelam?

MAJANG

:

Takut ajah, tapi hati masih setia…..

PAK ANGGAH

:

(kesal) Djadi…..?

MAJANG

:

Dia ‘kan pulang bersama pasang, ajah.

Biarlah aku menanti…..

PAK ANGGAH

:

(marah) Kau gila, Majang!

MAJANG

:

Adakah tjinta gila, ajah…..

PAK ANGGAH

:

(kesal, tambah marah) Gila, gila…..

Suamimu sudah lama mati…..

Kau dengar itu: suamimu sudah mati…..

Terpaksa kusebut lagi, terpaksa. Gila…..!

MAJANG

:

(pilu memandangi ajahnja, lalu menjapu airmata).

PAK ANGGAH

:

Astagfirullah….. Kau sesat, Majang…..

(berteriak) Oi, orang sekampung…..

Oi, orang sekampung.

Apa djadinja anakku ini….. Oi, orang sekampung!

PAK ANGGAH BERLALU MENUDJU ARAH TEMPATNJA DATANG TADI. DATUKMUDA, SEORANGTUA MUNTJUL TERGESA-GESA DENGAN SIKAP ANGKUH IA BITJARA:

DATUKMUDA

:

(angkuh) Djangan kau gila mewakili badai, Anggah. Apa perlunja kau berteriak begitu. Daulat masih belum berkisar: aku penghulu disini…..

Tak mungkin si Anggah lupa…..

PAK ANGGAH

:

(tersinggung tapi menahanhati)

Tidaklah kami melupa kiblat datukmuda…..

Tapi duka tidak tertahan….. Si Majang sudah tak mau pulang. Dua hari duamalam dia disitu terus…..

Tak tau kami lagi apa tangkalnja…..

DATUKMUDA

:

Ijah. Kena hantu agaknja? Makanja?

PAK ANGGAH

:

Tidak!

DATUKMUDA

:

Minum?

PAK ANGGAH

:

Tidak!

DATUKMUDA

:

Ijah. Djadi…..

PAK ANGGAH

:

Entahlah, tuk. Tak sekeras itupun karang dilaut…..

(berteriak lagi) Oi, orang sekampung…..

DATUKMUDA

:

(tersinggung) Masih datukmuda penghulu disini, Anggah. Hanja mulutku mengutjap perintah.

PAK ANGGAH TERTUNDJUK BINGUNG. TAMPAK IA BERUSAHA MENGUASAI PERASAANNJA.

PAK ANGGAH

:

Tidakkah ada lagi hak kami bitjara, datukmuda?

DATUKMUDA

:

(sombong) Putih kataku putih. Djangan kau terlupa!

PAK ANGGAH PERGI. DATUKMUDA MENDEKATI MAJANG

DATUKMUDA

:

Majang…..

MAJANG

:

(menoleh lalu berpaling lesu tak menjahut).

DATUKMUDA

:

(menjindir) Apa guna menanti angin, Majang, djika lajar tak ada lagi. Umur muda djangan tersia…..

MAJANG

:

(tegas tapi lesu) Biarkanlah aku sendiri, datukmuda.

DATUKMUDA

:

(mengedjek, menjindir) Hm….. Tak kan kehulu air hanjut, Majang. Bukan satu teluk dilaut. Apa guna membuang umur, menanti jang tak akan datang…..

MAJANG

:

Biarpun kami orang bawahan, ajah mengadjar kami setia, datuk.

DATUKMUDA

:

Lakimu tak akan pulang lagi, Majang. Sia2 mendjaring angin.

MAJANG

:

(marah) Kalaupun dia tak akan pulang, tak akan datuk kupilih ganti.

DATUKMUDA

:

Kau tak akan lupa: aku penghulu dikampung ini….. Djangan menjesal kemudian, Majang.

MAJANG

:

(gelak terkekeh-kekeh) Menjesal?

DATUKMUDA

:

(marah) Tentu. Djangan kau sampai meludah kelangit.

MAJANG

:

(tenang) Datuk tak menjesal?

DATUKMUDA TERTEGUN. DIWADJAHNJA TERBAJANG HARAPAN, DIDEKATINJA MAJANG DENGAN NAFSU JANG BERKOBAR-KOBAR, SEOLAH2 HENDAK BERLUTUT IA DIDEPAN WANITAMUDA ITU.

DATUKMUDA

:

Demi Allah, aku tak menjesal….. Untukmu boleh kukeringkan teluk. Aku tak akan menjesal, demi Allah…..!

MAJANG

:

(memandang kelaut) Datuk kelak akan menjesal…..!

DATUKMUDA

:

Ja Allah, tidak Majang.

MAJANG

:

Datukmuda jang senantiasa berkata: aku penghulu disini. Tidakkah datuk menjesal berkata sehina itu dihadapanku?

DATUKMUDA

:

(marah) Tjelaka. Jang kumaksud: aku tak menjesal mengawinimu…..

MAJANG

:

Selagi ombak mengedjar pantai, tidaklah elang pindah kegunung, datukmuda jang tua.

DATUKMUDA

:

Kau mau menghadang kuasaku, Majang?

MAJANG

:

Sekedar setia pada suami, datuk.

DATUKMUDA

:

Tjelaka kau gila. Lakimu sudah mati.

Itulah kalau melanggar daulat penghulu…..

Laut tenang membawa tjelaka….. Ia sudah mati ditelan badai.

MAJANG

:

Kalaupun ia benar mati datuk. Majatnja kutunggu diantar pasang.

MAJANG MENJAPU AIRMATA. DATUK DIKEDJUTI SUARA DARI LAUT.

DARI LAUT MENDATANG SEBUAH SAMPAN, SEORANG LAKI2 KURUS TAK BERBADJU BERTERIAK.

KEMBARA

:

Oi…..

DATUKMUDA

:

(merasa tersinggung) Siapa pula batanghanjut itu? Seenaknja sadja membuka mulut.

LAKI2 SAMPAI DIPANTAI, LALU MENDEKATI DATUKMUDA.

KEMBARA

:

Apa nama pulau ini, orangtua.

DATUKMUDA

:

(sombong, angkuh) Datukmuda namaku. Penghulu aku disini!

KEMBARA

:

(tak atjuh) Aku menanjakan pulau ini.

DATUKMUDA

:

Dan kudjawab setjara adat jang berlaku. Aku penghulu disini!

KEMBARA

:

(mendekati) Hm. Sudah kudengar!

DATUKMUDA

:

Darimana kau datang, orangmuda?

KEMBARA

:

Dari daerah kekuasaanku: aku penghulu disitu!

DATUKMUDA

:

Dari pulau karang?

KEMBARA

:

Tidak.

DATUKMUDA

:

Pulaubatu?

KEMBARA

:

Bukan.

DATUKMUDA

:

Mana daerah kuasamu, orangmuda?

KEMBARA

:

(menundjuk kesampannja) Itu, diperahuku!

DATUKMUDA

:

(marah) Djangan kau memperolok2kan aku. Penghulu aku disini.

KEMBARA

:

(tenang) Dan aku diperahuku. Mengapa datuk harus marah?

DATUKMUDA

:

(sombong) Kuperingatkan kau, disini aku kuasa. Putih kataku putih.

KEMBARA

:

(mengolok) Adakah surutpasang datuk perintah? Alangkah besar kuasa datuk. (gelak terkekeh-kekeh).

DATUKMUDA

:

(menggelisah).

KEMBARA

:

(berteriak ketengahlaut) Ooi, segala jang ada dilaut….. Kau dengar ini: datukmuda jang kuasa mengatur surut dan pasang…..

DATUKMUDA MARAH LALU PERGI. MAJANG GELAK TERKEKEH-KEKEH. KEMBARA JANG MENDENGAR GELAK ITU MENOLEH KEMAJANG LALU MENDEKATINJA….. SESUDAH DEKAT, KEMBARA BERTERIAK PULA KEARAH DATUKMUDA PERGI TADI, TAPI DATUKMUDA SUDAH MENGHILANG…..

KEMBARA

:

Ooi, datuk jang kuasa….. Kau djuga jang menguasai bidadari ini?

MAJANG

:

(diam, tak mengatjuhkan Kembara jang mendekatinja).

KEMBARA

:

(menakdjubi) Kau jang selantang itu gelak tadi, semuram ini dipandang mata….. Apa jang kau nantikan, adik?

MAJANG

:

(berpaling) Darimana tuan datang, maka sampai kelumpur ini?

KEMBARA

:

Djauh aku datang adik, mentjari tjari pulau kasih….. Kau seperti menghitung ombak dik. Siapa gerangan jang belum datang?

MAJANG

:

Suamiku tak pulang-pulang….. Aku menantikannja disini!

KEMBARA

:

(gelak) Aku tertjari-tjari. Kau ternanti-nanti. Si-datukmuda punja kuasa…..Hm…..

MAJANG

:

Datukmuda orang pendendam, tuan. Tuan bisa nanti tjelaka.

KEMBARA

:

(tak mengatjuhkan) Biasa aku diombakbesar, adik. Jang berdesir djuga menarik hati…..

Sungguhmati, tak ada lagi kebebasan dimana-mana.

MAJANG

:

(seperti mengagumi Kembara, tapi tak berkata sepatahpun)

KEMBARA

:

Apa pula jang diburu lakimu, sampai kau sepi sendiri?

(terkedjut melihat tangan Majang merah berpatjar) Ha, kau kiranja pengantinbaru…..

MAJANG

:

Dia mentjari mutiara, lalu hilang didalam badai…..

Dia pergi waktu pasangnaik dan bulan mendaki langit…..

Ah, semesra itu masa berpisah…..

KEMBARA

:

Tjinta selalu bawa belenggu, adik…..

Seperti penghulu mabuk dirinja…..

MAJANG MENJAPU AIRMATANJA. KEMBARA MENOLEH KEARAH DATUKMUDA PERGI TADI KARENA ADA SUARA ORANG MENDATANG. PAK ANGGAH DATANG DENGAN 2 ORANG TUA LAINNJA…..

PAK ANGGAH

:

(tertegun, memandang kearah Kembara) Siapa kau, anakmuda?

KEMBARA

:

(tak mendjawab, lalu bertanja pada Majang) Tak ada anakmuda dipulau ini, adik?

PAK ANGGAH

:

(berdjalan mendekati).

MAJANG

:

Jang muda2 pergi djauh, atau mati ditelan badai, tuan!

KEMBARA

:

Pantas adik disiksa harapan…..

(pada pak Anggah) Ah, Bapa penguasa pulautua…..

PAK ANGGAH

:

(pada Majang) Majang….. Ajo, pulang!

KEMBARA

:

(tertjengang).

MAJANG

:

Biarlah Majang tetap setia, ajah. Biarlah Majang memegang djandji…..

PAK ANGGAH

:

Djangan kau menambah bala, anak. Suamimu tak akan pulang lagi.

MAJANG

:

Mengapa tidak?

PAK ANGGAH

:

Bukankah dia sudah mati, Majang.

MAJANG

:

(berpikir) Mati?

PAK ANGGAH

:

Ja, mati.

MAJANG

:

(pada Kembara) Adakah tjinta mengenal mati, tuan?

PAK ANGGAH

:

(kesal) Astagfirullah….. Sesat sudah anakku ini….. Ajolah pulang, nak. Atau kau mau dipaksa?

KEMBARA

:

(gelak mengedjek) Ooi, orang2tua jang mau memaksa….. Dia ini bukan hakmu lagi…..

PAK ANGGAH

:

(marah) Aku ajahnja…..

KEMBARA

:

(berteriak) Oooi, segala isi dunia. Kau dengar itu, Orang2 tua tak tau pada zamannja…..

PAK ANGGAH

:

(marah) Si Majang hakku!

KEMBARA

:

(gelak mengedjek, berteriak lagi) Oooi, segala isi lautan. Kau dengar itu: tjinta diri jang tak berbatas…..

Oi, ajah jang merampas segala tjinta. Teriakkanlah: aku berkuasa pada anakku, seperti sidatuk menguasai dunia…..

Hm. Taulah aku sekarang, apa nama pulau ini.

MAJANG

:

(tertarik pada sikap Kembara) Pulau apa, tuanmuda?

KEMBARA

:

(gelak mengedjek) Pulau segala kerdil…..

Sidjanda mati dikekerdilan tjinta.

Siajah mati pada kerinduan haknja.

Sidatuk gila karena kuasa.

Hidup disini seperti buih. Begitu diantar ombak, begitu lenjap dipasir….. Hm. pulau kerdil…..

SERAJA MENGACHIRI KATANJA KEMBARA BERDJALAN MENUDJU PERAHUNJA. MAJANG TURUN DARI BENTENG LALU MENGHAMPIRINJA.

MAJANG

:

Tuan hendak kemana?

KEMBARA

:

Kemanalagi selain menudju kebebasan dan hargadiri.

MAJANG

:

Perahu tuan seketjil itu?

KEMBARA

:

Tapi dia punja kemudi: mata njalang dan hati lapang.

MAJANG

:

(berpikir, tertunduk) Maukah tuan membawa pesan?

KEMBARA

:

Pesan?

MAJANG

:

Ija. Entah bertemu dengan kasihku, ataupun bangkainja dalam gelombang…..

Katakanlah aku setia selalu, menanti2 dia pulang.

KEMBARA

:

Pesan sekerdil itu? Kaupun seperti datuk jang mabuk kuasa. Hm…..

MAJANG

:

Adakah kekerdilan pada tjinta, tuan?

KEMBARA

:

Jang menunggu adalah tjinta. Jang berdjuang adalah kasih, adik.

MAJANG MENJAPU AIRMATANJA. DATANG DATUKMUDA DENGAN SEORANG PAHLAWANNJA.

MAJANG

:

(setelah melihat datukmuda) Tjepatlah pergi, tuan…..

Datukmuda datang membalas dendam.

KEMBARA

:

(tenang) Biarpun seketjil itu perahu bebasku, adik. Tiadalah sekerdil jang kau sangka, hati didalam.

DATUKMUDA

:

(marah) Hei orangmuda jang sombong…..

Kau ingat2lah: aku penghulu dikampung ini. Putih kataku putih…..

KEMBARA

:

(tenang) Kau dengar itu, adikmanis.

Putih katanja putih. Adakah jang melebihi kekerdilan begini?

MAJANG

:

(tjemas) Djanganlah tuan mentjari bala. Tjepatlah pergi!

KEMBARA

:

Tjuma tjinta dibawa berlari adik. Tapi kasih adalah djoang, dan djoanglah hargadiri…..

DATUKMUDA

:

Menjesal kau nanti orangmuda…..

KEMBARA

:

Hanja buih jang lenjap dipasir, datuk.

Silakanlah djika datuk mau membunuhku…..

TIBA2 MAJANG BERLUTUT DIHADAPAN DATUK…..

MAJANG

:

Djangan datukmuda, djangan….. Biarkan dia pergi djauh-djauh.

KEMBARA

:

(sedih) Oi, wanitamuda. Djangan djual hargadiri untuk sekedar kehidupan tiada berarti.

KEMBARA MEMBUNGKUK UNTUK MENGANGKAT MAJANG. TIBA2 PAHLAWAN DATUKMUDA MENIKAMNJA DARI BELAKANG. SEBUAH KERIS TERPATJAK DIBELAKANGNJA. KEMBARA MENGERANG, MAJANG MENDJERIT….. KEMBARA MASIH BISA BERDIRI.

KEMBARA

:

(menahan sakit) Kau lihat ini, manis….. Pahlawan menikam dari belakang. Tapi aku tiadakan mati, aku tiadakan mati…..

MAJANG

:

(marah) Tjis, datukmuda jang mabuk kuasa. Hanja menikam dari belakang…..

KEMBARA

:

(berdjalan terhojong2 kearah perahunja).

MAJANG

:

(memburunja) Mau kemana tuan. Biar kutjari penawarnja.

KEMBARA

:

Ketjil perahuku adik, tak seketjil itu hati didalam…..

MAJANG

:

Apa jang bisa kulakukan, abang.

KEMBARA

:

Tolonglah lihat darahku itu, adik. Apakah dia masih merah.

MAJANG

:

Merah abang….. Semerah langitsendja!

KEMBARA

:

Hanja itu tandamata, adik. Dari kasih jang berdjuang…

Kau tunggulah pasang datang, entah tjintamu masih pulang.

MAJANG

:

Sudah kau rekahkan belenggu dari tanganku, tuan.

KEMBARA BERDJALAN TERUS DIBIMBING MAJANG KEPERAHUNJA. IA TERLENTANG DISITU. MAJANG NAIK KEPERAHU. LALU BERKATA:

MAJANG

:

Oi, segala jang membelenggu hidup ini…..

Oi, segala jang mabuk dirisendiri…..

Oi, segala orangtua jang disakiti kehilangan.

Oi, segala budak jang membusungkan dada…..

Mari kita berpisah pada air sesurut ini…..

PAK ANGGAH

:

Majang, djangan kau tinggalkan kami…..

MAJANG

:

Sudah lama kita berpisah ajah…..

Tapi tiada pernah kita sadari…..

Aku menanti pasang, ajang menjuruh pulang…..

DATUKMUDA

:

Kuperingatkan kau Majang: aku penghulu dikampung ini.

[Sayangnya, lanjutan naskah ini, dari halaman 16-17, tidak ada di dalam file scan aslinya].

buat alibasjah,

dilapangan hidjau dia biasa berdiri, tuan.

dan masadepan ditangannja.

Sekali ini dia djatuh bersama kami.

bukan didaerah perdjuangannja.

dilapangan hidjau dia biasa berdiri

dipantai kalah dia mentjari

kalah kami ditanggungnja

semua edjekan ditampungnja.

kalah kita sekali ini ali

pada daerah pantai jang kering

pada badja kita mengachiri

dan kesetiaan tak pernah terasing.

ali jang ikut kalah

kita tak akan menjerah

buat jang menang sementara!

Kali ini kau menang tuan, dan kami kalah begitu hina.

Boleh sepuashati tuan teriakkan: hei penipu dan perampas kesenangan.

Dan kami tak akan lari. Kami bukakan hati jang berdarah ini untuk dera

nista jang tuan lemparkan. Teriakkanlah sepuashati apa jang menjenangkan

hati tuan. Tidak tuan, kami tak akan menetaskan airmata untuk Tuan

Tidak tuan, demi Alah tidak!

Kalaupun ada genangan airmata dipelupuknja, taklah ia untukmu, tuan,

tapi untuk sahabat2 kami jang begitu gagah lari meninggalkan kami.

Badai sekali ini banjak bawa tjerita.

Taulah kami sekarang bagaimana mentjari pelaut,

Taulah kami kini bagaimana mentjari sahabat.

Pelaut baik ditemui dilaut jang mengganas,

Sahabat setia ditjari masa duka.

Dan kami tak akan menangisi kekalahan, tuan

Hidup adalah djoang dan djoanglah hargadiri

Kali ini kami tau tuan, dan sekali ini tuan mengedjek kami

Tapi kami ini pelaut2 tiada mengenal ampun

Kami ini pedjoang2 tiada kenal kemunduran

Sekali kami akan bikin sedjarah

Sekali kami memindahkan tepian

Sekali kami akan menitikkan airmata pengchianat2,

Karena kami badja jang dibadjakan dalam api.

Tuan teriakkan sekarang: hei semua penipu

Dingin airludah tuan dipipi kami

Tapi kami tak meneteskan airmata

Oi, tuan jang menang sementara

Si-saleh djurupotret kurus tiada bertenaga: dia kawan kami.

Si-eddy jang begitu ketjil, sigordon jang begitu muda, sitahir jang begitu

tenang, sitedja jang terbungkuk2, si-tini kenalan baru, si-mady jang

hitam berhati putih, si-andjas dari glumpang-dua, simaradjo dari tanahbatak:

ini semua kami dari daerah kekalahan, tapi setia selalu dan pedjoang

tak mengenal undur.

Djangan tuan harapkan airmata kami, kami pelaut biasa diombakbesar.

Kini tuan menang, nanti kami menang.

Sekarang tuan tertawa, tapi nanti kami tak akan tertawa pada kemenangan,

karena kami tau arti kekalahan.

Kini kami kalah, tapi djangan harapkan air mata kini kami kalah, sekali

kami pasti menang. Dan djangan tuan natikan edjekan dari kami, karena

ludah tuan masih disimpan dalam hati.

Kami adalah kami jang mengerti kekalahan.

Kami adalah kami jang mengerti kemenangan.

Kami badja.

Dari lautan api.

Daerah kekalahan 5.30 w su.

tjatatan buat nis dan radda,

kau tangisi semalam hari2 kekalahanmu, dik.

dan airmata begitu menjajat hatiku

kau tangisi masa2 kehinaan, dik

dan airmata meremukkan jang ada.

Oi, adikku sajang,

Kali ini kita kalah, adik.

kali ini lumpur dilempar kekaki kita begitu dahsjat.

bisa kurasakan apa jang remuk dalam hatimu

bisa kurasakan apa jang hantjur pada harapanmu, dik.

Tapi abang hanja manusia jang biasa jang begitu terbatas

pada harapan, begitu terbatas pada kesanggupan

Aku ini hanja darah dan daging.

aku ini hanja manusia jang tunduk pada lingkungan,

dan lingkungan membikinku kalah: kalah dari semua kekalahan.

nis dan raidda!

abang tak akan menangisi kekalahan, dik

seperti abang tak pernah menepukdada kemenangan

abang tak akan menghindar dari kenistaan

seperti abang tak mabuk dari sandjungan

kaupun tau, kaupun faham.

nis dan radda jang baik,

Abang kalah dikedjolakan harapan jang begitu memuntjak.

kita kalah dikerangsangan laut jang begitu menggelora

Kekalahan ini tak bisa lagi ditangisi, adik

Ia terlalu besar

terlalu menjakitkan hati.

Airmata jang kau serahkan

seperti airmataku sendiri begitu membandjir

begitu muram kau kupandang

begitu muram hati sendiri.

Ini semua tjerita duka

tentang kalah dan penghinaan

Tapi dia bikin kita djadi badja

tiada menghindari kekalahan.

buat tahir, kardi dan mangatur,

kawan,

aku ini anak batak

bukan dari kedai tuak

pernah kutulis tentang siberis

dan katarina jang mabuk tjinta.

aku ini hanja aku jang mengenal kasih dengan segala korban.

dan surat ini si-nis menuliskannja, aku mengutjapkannja

dari hati untuk hatimu

oi, kawan setia

sendja ini begitu menjiksa

tapi sahabat masih ada: siedy, imran, saleh, nis dan radda

Ini artinja badja dari segala badja jang ada

dan gunung mana jang tak akan kutembus dengan segala hati jang menjala.

kawan

12 botol bir sudah kuminum

minum kekalahan, minum penderitaan

tanpa kisah tentang kemegahan

tanpa kisah tentang kemenangan

Kau djangan ketjilhati kawan

Hidup bukan seperti ombak

Hidup bukan seperti buih

Hidup adalah kesanggupan menghidupkan orang lain

Hidup adalah pengorbanan

dan kasih takpernah meminta tawa

Kau kardi, mangatur dan tahir

jang begitu setia memikul segenap djandji

pada djalan berkilometer jang begitu menjakitkan hati

Kau adalah aku

Kau adalah kita

12 botol bir sudah kuminum

12 kenangan diambangpintu.

kau sahabat

kau pedjoang

kita pasti menang

sahabat pada malam2 sepi

buat radda jang bertemu sesaat,

aku tau

kau anakbatak

bukan dari kedaituak

aku tua, sajang

asalmu parahiangan

tapi bukan dewi kehajangan

kita ini sama2 dari gunung

tau toba dan tangkubanprahu

kita ini anak djaman

dari djeritan perdjuangan.

radda,

kita bertemu pada masa kekalahan

kita bertemu pada masa kekalahan

tapi ini tanda menang

antara kita berdua

antara jang berdjuang.

si maung-maung ditarutung

tangkubanprahu Periangan

Biar mati digantung

Sekali pesta kemenangan.

buat dirisendiri,

kita ini sebenarnja berdua:

kekalahan dan kemenangan

kita ini sebenarnja tunggal

kekalahan dan kemenangan

sekali aku melihat mata begitu saju

sekali aku melihat mata begitu membeku

sekali ini mulut begitu membisu

sekali hati djadi batu

Didjalan begitu sempit bau keringat

kau seperti mau kupeluk erat-erat

didjalan jang begitu menjakitkanhati

kau mau kubawa bersama mati.

kawan,

kita ini sebenarnja berdua

duka dan tawa

kita ini sebenarnja berdua

lumpur dan batu

tapi kita tetap satu:

kalah dan kemenangan.

Dimatamu kudjenguk segala isi dunia

kau begitu tenang seperti tak ada jang terdjadi

kuteriakkan apa jang sedang terasa

dan kau sipu2 sendiri

oi, diri jang begitu hina

jang mabuk pada tjinta dan kemegahan

rasakan segala nista

dipintu kekalahan

buat mady,

hitam kulit tubuhmu

sebiru langit hati didalam,

selunglai itu tubuhmu

sebadja itu setia didalam

mady jang begitu kusajangi

kalah sekali ini kawan

begitu membekukan semua perasaan

kalah sekali ini kawan

merampas semua kehormatan

si-Idjah datang mengharap-harap

dan kau djalan megap-megap.

semua harapan djadi hampa.

ombak pasang datang menerpa

oi, mady jang baikhati

sekali kita mati

sekali kita mendjadi

buat tukangsusu jang baikhati

sebesar itu tubuhmu

sebesar itu hatimu

dan lembu jang begitu banjak dalam kandangmu,

lebih berharga dari kawanku,

oi, benggali dari sungai gangga

sebesar iskandar zulkarnaen kau kiranja

jang menjusupkan tjinta pada kesepian dunia

jang mengisi kehausan pada batas jang menjiksa

sebesar itu tubuhmu

sebesar itu hatimu

dan lembu jang begitu banjak dalam kandangmu

lebih berharga dari kawanku

segelas tehpanas

bikin hatiku tambah keras

buat chairul chen,

20 batang rokok admiral kau tjarikan

dan aku tergeletak dirumah benggali

kau tempuh itu djalan berdebu

karna setia pada diri.

kau djalani semua malu

karna kau mau memberi

20 batang admiral jang busuk

bikin hati selalu rukuk

pada kesetiaan dan ketabahan

buat gordon

kau njanjikan tau-toba, kawan

seperti pesanan si-singamangaradja

kau njanjikan asing-sing-so

seperti si-sitor dipulo bato

kau jang semuda itu

setua itu dalam tindakan

kau jang sebaik itu

tak mengenal kekalahan

kita kalah sekali ini

ini langkah mula mentjari

kita djatuh sekali ini

tapi kita tak akan mati

habis jang mau kubilang

buat tjut ratni,

kau tahankan segala lapar dan derita

untuk kami jang kau kenal sementara

Tapi ini bikin kita semua

djadi badja menguasai dunia

kau bungkus nasi untukku, kawan

dalam taspandan jang begitu indah

kau bawakan nasi untukku, kawan

pada kesetiaan jang tak patah

buat nung,

pada djarak sebegini djauh, nung

ada dara2 begitu manis

pada pasir tempat djatuh nung

ada bekas2 tangis

oi, ibu dari semua harapan

jang menjusun djari pada subuh pagi

Semua habis

Semua kikis

pada djarak sebegini djauh, nung

ada dara2 begini manis

pada pasir tempat djatuh, nung

sedjarah mulai ditulis

achijar

sahala

biar

membadja

buat jang setia,

kita pentjari mutiara

sekali ditelan gelombang

begitu deras

begitu ganas

kita bukan pentjari korang

jang mengkais disurut pasang

kita bukan pemburu kidjang

Menunggu matari pulang

kita pentjari mutiara

pengharung pasang dan gelombang

kita membawa bara

bukan pentjari korang

dukatjerita dalam bara

dari djauh ombak kemari

terdampar diri disiksa begini.

dibawah kaki seorang bupati

pelukis membangun

istana katja dalam pigura

sekerat hatinja ditjamar melajang

sebelah tjintanja terhundjam kekarang.

antara bupati dan pelukis laut

dipisahkan nilai memberi udjut.

tapi

berita istana tenggelam kedasar laut

belum punja arti pasang surut

dan kelesuan menjiksa tidak berandjak

djadi tanda setiakerdja jang bergolak.

kita pimpin indahnaga

kehausan dunia kekeringan kita!

p. tjermin 28.9.58 ahmady hamid.