Publisher Note
Naskah drama ini diterbitkan oleh Badan Penerbit “Tini” tahun 1958.
Halaman 16-17 naskah drama ini kemungkinan terpotong atau terdapat kesalahan scan dalam file-nya. Sehingga tidak bisa ditampilkan.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Ini surat tentang kekalahan; kekalahan seorang manusia biasa jang selalu rindu pada kemenangan. Dan sekali ini memang benar: ia kekalahan mutlak! Kekalahan biasa diiringi segala edjekan. Kali inipun edjekan itu bertubi-tubi dilemparkan kepundakku; edjekan lawan-lawan, dan kawan-kawan jang sebenarnja lawan…..
Oi, kawan, masih kau ingat ingat kawan-kawan beradu tjepat menghindarkan diri dari persahabatan demi kekalahan berdiri diambang pintu. Muka manis persahabatan jang begitu mesra, berobah sadja mendjadi kemuraman dan kebentjian. Dan itu semuanja dilemparkan; mungkin tanda terima kasih atau setia kawan, ataupun sengadja hendak hendak menimpakan tangga pada jang djatuh. Oi, kawan, lupa kau bahwa badja tak pernah terlahir tanpa pukul-pukulan keras. Kau jang mengedjek, kau jang lari ketika badai mengamuk, kau jang menjingkir pada kekalahan: aku akan mendjadi badja! Kekalahan sekali ini adalah mahaguru jang didatangkan apa jang disebut Tuhan. Aku lantas dihadapan pada suatu penjaringan: saringan kawan dan lawan. Bersukur aku, bahwa diantara lawan banjak djuga kawan setia: jang bersedia menerima edjek dan pukulan, jang begitu menjakiti hati, begitu memekakkan telinga, begitu membekukan perasaan. Satu diantaranja Kaulah sahabat, kaulah kawan. Mari kita djadi badja pada kekalahan ini. Sekali kita pasti menang: dan kalau menang, mari kita palingkan muka dari muka-muka dan suara memudji, dan mari kita tenang mengenang segala edjekan. Supaja kita mendjadi badja, supaja kita mendjadi manusia berharga diri.
senantiasa sahabatmu,
bachtiarsiagian
Nizmah
Radda
Tini
Tandjung
Thahir.
pantaitjermin, 28 September 1958.
Lakon terdjadi ketika pasangsurut, waktu laut tenang dan anginpun mati, didekat sebuah perkampungan nelajan. Ditengah2 lumpur ada bekas benteng dan beberapa buah sampan tertambat. Ditengah laut ada tiang2 djermal, seperti pagarbesi laiknja. MAJANG, seorang wanitamuda jang baru nikah, duduk dipunggung benteng itu, bertopangdagu memandang lumpur didepannja. Djari2nja masih berbekas merah patjar tanda baru menikah, tapi pakaiannja sederhana, bahkan ada bekas2 tampalan. Sebentar2 ia memandang ketengah laut, lalu keangkasa pula, ke-elang jang berkulik melajang2. Sedjurus kemudian muntjul PAK ANGGAH, ajahnja. Dengan langkah tertahan2 karena ketuaan, ia mendekati Majang. Dipandanginja Majang lama2 lalu iapun berkata dengan suara duka.
PAK ANGGAH | : | (sambil memandang kelaut, lalu ke Majang) Entah sedjauh mana sudah air menjurut, kau disini-sini djuga Majang. |
MAJANG | : | (menoleh pak Anggah lalu memandang ketengah laut). |
PAK ANGGAH | : | (mengharap, mendekati) Pulanglah Majang. Djika retak mau bertemu, ditjelah bumi bisa berdjumpa |
SUTAN | : | (diam lalu tunduk menjapu airmatanja). |
PAK ANGGAH | : | (seraja memandang kelaut) Laut djuga jang melimpah terus. Air mata ’kan kering sendiri, Majang, Apa gunanja dibawa menangis. Doakan sadjalah. Tuhan tau segala tjerita….. |
MAJANG | : | (pilu memandang ajahnja) Airmata inilah do’a restuku, ajah. Tak sepatahkata lagi terutjap utk pengobat pedihhati. |
PAK ANGGAH | : | (membudjuk) Kalau begitu, pulanglah. Dirumah kau tangisi. |
MAJANG | : | (mengingat, membajangkan) Dirumah hanja ada tiang membisu, dan harumbunga jang sudah laju. Aku tak sanggup, aku tak sanggup. Bunga rampai diudjung bantal seperti pisau mengiris hati, ajah. Biarlah kutunggu dia disini….. |
PAK ANGGAH | : | (pilu) Majang………. |
MAJANG | : | (tjerah, mengharap) Kalau dia pulang bersama pasang, tentu bulanpun terbit dipenghudjungmalam, ajah. Oi, alangkah indahnja rumahkita ajah….. |
PAK ANGGAH | : | (kesal, pilu) Kau seperti elang diseret angin, Majang. Kemana imanmu, nak? |
(TERDENGAR KULIK ELANG SAJUP2)
MAJANG | : | Tjobalah ajah dengarkan. Bukankah itu senandong dari laut? |
PAK ANGGAH | : | Itu kulik elang, Majang. |
MAJANG | : | Elang? |
PAK ANGGAH | : | Ija, elang? |
MAJANG | : | Kulik elang sepilu itu? |
PAK ANGGAH | : | (kesal) Matilah ajah, kalau si Majang lupa di-elang. Marilah pulang, nak. |
MAJANG | : | (setelah mendengarkan sesuatu) Ajah….. |
PAK ANGGAH | : | Ajolah pulang, Majang. |
MAJANG | : | Pulang? Ah, tjobalah aja dengarkan. |
PAK ANGGAH | : | (mendengarkan, lalu heran) Apa? |
MAJANG | : | (mendengarkan) Tidakkah ajah dengar abang memanggilku? |
PAK ANGGAH | : | (terbelalak) Astagfirullah….. Itu suara ombak ditengah, Majang….. |
MAJANG | : | Suara ombak? |
PAK ANGGAH | : | Ija, suara ombak. |
MAJANG | : | Semesra itu, jah? |
PAK ANGGAH | : | (kesal) Matilahajah Majang, djika mesra ombak mengalih kemudi. Marilah pulang, Majang. |
MAJANG | : | (seperti tak memahami) Pulang…..? |
PAK ANGGAH | : | Ija, pulang. Sudah dua malam kau tak makan2 dan tak pulang. |
MAJANG | : | Aku menunggu dia pulang, jah. Bukankah ajah mengadjar setia? |
PAK ANGGAH | : | (seperti bingung) Nanti kau sakit. |
MAJANG | : | Kinipun sakit menunggu pasang, ajah. Dan ombak hanja mengantar buih. |
PAK ANGGAH | : | Ja Allah. Mengutjaplah Majang….. |
MAJANG | : | Tapi itulah senantiasa senandongku, ajah. Seperti ajah adjarkan, seperti ajah harapkan….. |
PAK ANGGAH | : | Astagfirullah….. Djadi kau tak mau pulang, Majang? |
MAJANG | : | Mau ajah, djika suamiku pulang beserta pasang….. Aku mesti setia selalu. |
PAK ANGGAH | : | Bukan itu kesetiaan jang kuadjarkan, Majang. Kau seperti membunuh diri….. |
MAJANG | : | Ajah mengadjarku setia dan harus memegang djandji….. Dari tepi air ini dia bertolak ajah, ditepi air ini dia kunanti. Bagiku itulah kesetiaan. Kutunggu dia sampai pulang….. |
PAK ANGGAH | : | Kalau dia tak pulang-pulang…..? |
MAJANG | : | (seperti siuman) Tak pulang? Adakah kepergian jang tak pulang? |
PAK ANGGAH | : | Hanja pulang tanpa kepergian jang tak ada, Majang. |
MAJANG | : | (berpikir) Tak pulang?
Suamiku tak pulang? |
PAK ANGGAH | : | Majang, marilah pulang….. |
MAJANG | : | (memandang kelaut, tak sepatahpun berkata). |
PAK ANGGAH | : | (bingung) Majang…..! |
PAK ANGGAH | : | Kau tak gentar seandainja badai mengamuk? |
MAJANG | : | Gentar ajah, tapi rinduku ini terlalu besar. |
PAK ANGGAH | : | Tak takutkah kau pada malam begitu kelam? |
MAJANG | : | Takut ajah, tapi hati masih setia….. |
PAK ANGGAH | : | (kesal) Djadi…..? |
MAJANG | : | Dia ‘kan pulang bersama
pasang, ajah. |
PAK ANGGAH | : | (marah) Kau gila, Majang! |
MAJANG | : | Adakah tjinta gila, ajah….. |
PAK ANGGAH | : | (kesal, tambah marah) Gila,
gila….. |
MAJANG | : | (pilu memandangi ajahnja, lalu menjapu airmata). |
PAK ANGGAH | : | Astagfirullah….. Kau sesat,
Majang….. |
PAK ANGGAH BERLALU MENUDJU ARAH TEMPATNJA DATANG TADI. DATUKMUDA, SEORANGTUA MUNTJUL TERGESA-GESA DENGAN SIKAP ANGKUH IA BITJARA:
DATUKMUDA | : | (angkuh) Djangan kau gila
mewakili badai, Anggah. Apa
perlunja kau berteriak begitu.
Daulat masih belum berkisar:
aku penghulu disini….. |
PAK ANGGAH | : | (tersinggung tapi
menahanhati) |
DATUKMUDA | : | Ijah. Kena hantu agaknja? Makanja? |
PAK ANGGAH | : | Tidak! |
DATUKMUDA | : | Minum? |
PAK ANGGAH | : | Tidak! |
DATUKMUDA | : | Ijah. Djadi….. |
PAK ANGGAH | : | Entahlah, tuk. Tak sekeras
itupun karang dilaut….. |
DATUKMUDA | : | (tersinggung) Masih datukmuda penghulu disini, Anggah. Hanja mulutku mengutjap perintah. |
PAK ANGGAH TERTUNDJUK BINGUNG. TAMPAK IA BERUSAHA MENGUASAI PERASAANNJA.
PAK ANGGAH | : | Tidakkah ada lagi hak kami bitjara, datukmuda? |
DATUKMUDA | : | (sombong) Putih kataku putih. Djangan kau terlupa! |
PAK ANGGAH PERGI. DATUKMUDA MENDEKATI MAJANG
DATUKMUDA | : | Majang….. |
MAJANG | : | (menoleh lalu berpaling lesu tak menjahut). |
DATUKMUDA | : | (menjindir) Apa guna menanti angin, Majang, djika lajar tak ada lagi. Umur muda djangan tersia….. |
MAJANG | : | (tegas tapi lesu) Biarkanlah aku sendiri, datukmuda. |
DATUKMUDA | : | (mengedjek, menjindir) Hm….. Tak kan kehulu air hanjut, Majang. Bukan satu teluk dilaut. Apa guna membuang umur, menanti jang tak akan datang….. |
MAJANG | : | Biarpun kami orang bawahan, ajah mengadjar kami setia, datuk. |
DATUKMUDA | : | Lakimu tak akan pulang lagi, Majang. Sia2 mendjaring angin. |
MAJANG | : | (marah) Kalaupun dia tak akan pulang, tak akan datuk kupilih ganti. |
DATUKMUDA | : | Kau tak akan lupa: aku penghulu dikampung ini….. Djangan menjesal kemudian, Majang. |
MAJANG | : | (gelak terkekeh-kekeh) Menjesal? |
DATUKMUDA | : | (marah) Tentu. Djangan kau sampai meludah kelangit. |
MAJANG | : | (tenang) Datuk tak menjesal? |
DATUKMUDA TERTEGUN. DIWADJAHNJA TERBAJANG HARAPAN, DIDEKATINJA MAJANG DENGAN NAFSU JANG BERKOBAR-KOBAR, SEOLAH2 HENDAK BERLUTUT IA DIDEPAN WANITAMUDA ITU.
DATUKMUDA | : | Demi Allah, aku tak menjesal….. Untukmu boleh kukeringkan teluk. Aku tak akan menjesal, demi Allah…..! |
MAJANG | : | (memandang kelaut) Datuk kelak akan menjesal…..! |
DATUKMUDA | : | Ja Allah, tidak Majang. |
MAJANG | : | Datukmuda jang senantiasa berkata: aku penghulu disini. Tidakkah datuk menjesal berkata sehina itu dihadapanku? |
DATUKMUDA | : | (marah) Tjelaka. Jang kumaksud: aku tak menjesal mengawinimu….. |
MAJANG | : | Selagi ombak mengedjar pantai, tidaklah elang pindah kegunung, datukmuda jang tua. |
DATUKMUDA | : | Kau mau menghadang kuasaku, Majang? |
MAJANG | : | Sekedar setia pada suami, datuk. |
DATUKMUDA | : | Tjelaka kau gila. Lakimu
sudah mati. |
MAJANG | : | Kalaupun ia benar mati datuk. Majatnja kutunggu diantar pasang. |
MAJANG MENJAPU AIRMATA. DATUK DIKEDJUTI SUARA DARI LAUT.
DARI LAUT MENDATANG SEBUAH SAMPAN, SEORANG LAKI2 KURUS TAK BERBADJU BERTERIAK.
KEMBARA | : | Oi….. |
DATUKMUDA | : | (merasa tersinggung) Siapa pula batanghanjut itu? Seenaknja sadja membuka mulut. |
LAKI2 SAMPAI DIPANTAI, LALU MENDEKATI DATUKMUDA.
KEMBARA | : | Apa nama pulau ini, orangtua. |
DATUKMUDA | : | (sombong, angkuh) Datukmuda namaku. Penghulu aku disini! |
KEMBARA | : | (tak atjuh) Aku menanjakan pulau ini. |
DATUKMUDA | : | Dan kudjawab setjara adat jang berlaku. Aku penghulu disini! |
KEMBARA | : | (mendekati) Hm. Sudah kudengar! |
DATUKMUDA | : | Darimana kau datang, orangmuda? |
KEMBARA | : | Dari daerah kekuasaanku: aku penghulu disitu! |
DATUKMUDA | : | Dari pulau karang? |
KEMBARA | : | Tidak. |
DATUKMUDA | : | Pulaubatu? |
KEMBARA | : | Bukan. |
DATUKMUDA | : | Mana daerah kuasamu, orangmuda? |
KEMBARA | : | (menundjuk kesampannja) Itu, diperahuku! |
DATUKMUDA | : | (marah) Djangan kau memperolok2kan aku. Penghulu aku disini. |
KEMBARA | : | (tenang) Dan aku diperahuku. Mengapa datuk harus marah? |
DATUKMUDA | : | (sombong) Kuperingatkan kau, disini aku kuasa. Putih kataku putih. |
KEMBARA | : | (mengolok) Adakah surutpasang datuk perintah? Alangkah besar kuasa datuk. (gelak terkekeh-kekeh). |
DATUKMUDA | : | (menggelisah). |
KEMBARA | : | (berteriak ketengahlaut) Ooi, segala jang ada dilaut….. Kau dengar ini: datukmuda jang kuasa mengatur surut dan pasang….. |
DATUKMUDA MARAH LALU PERGI. MAJANG GELAK TERKEKEH-KEKEH. KEMBARA JANG MENDENGAR GELAK ITU MENOLEH KEMAJANG LALU MENDEKATINJA….. SESUDAH DEKAT, KEMBARA BERTERIAK PULA KEARAH DATUKMUDA PERGI TADI, TAPI DATUKMUDA SUDAH MENGHILANG…..
KEMBARA | : | Ooi, datuk jang kuasa….. Kau djuga jang menguasai bidadari ini? |
MAJANG | : | (diam, tak mengatjuhkan Kembara jang mendekatinja). |
KEMBARA | : | (menakdjubi) Kau jang selantang itu gelak tadi, semuram ini dipandang mata….. Apa jang kau nantikan, adik? |
MAJANG | : | (berpaling) Darimana tuan datang, maka sampai kelumpur ini? |
KEMBARA | : | Djauh aku datang adik, mentjari tjari pulau kasih….. Kau seperti menghitung ombak dik. Siapa gerangan jang belum datang? |
MAJANG | : | Suamiku tak pulang-pulang….. Aku menantikannja disini! |
KEMBARA | : | (gelak) Aku tertjari-tjari. Kau ternanti-nanti. Si-datukmuda punja kuasa…..Hm….. |
MAJANG | : | Datukmuda orang pendendam, tuan. Tuan bisa nanti tjelaka. |
KEMBARA | : | (tak mengatjuhkan) Biasa
aku diombakbesar, adik. Jang
berdesir djuga menarik hati….. |
MAJANG | : | (seperti mengagumi Kembara, tapi tak berkata sepatahpun) |
KEMBARA | : | Apa pula jang diburu lakimu,
sampai kau sepi sendiri? |
MAJANG | : | Dia mentjari mutiara, lalu
hilang didalam badai….. |
KEMBARA | : | Tjinta selalu bawa belenggu,
adik….. |
MAJANG MENJAPU AIRMATANJA. KEMBARA MENOLEH KEARAH DATUKMUDA PERGI TADI KARENA ADA SUARA ORANG MENDATANG. PAK ANGGAH DATANG DENGAN 2 ORANG TUA LAINNJA…..
PAK ANGGAH | : | (tertegun, memandang kearah Kembara) Siapa kau, anakmuda? |
KEMBARA | : | (tak mendjawab, lalu bertanja pada Majang) Tak ada anakmuda dipulau ini, adik? |
PAK ANGGAH | : | (berdjalan mendekati). |
MAJANG | : | Jang muda2 pergi djauh, atau mati ditelan badai, tuan! |
KEMBARA | : | Pantas adik disiksa
harapan….. |
PAK ANGGAH | : | (pada Majang) Majang….. Ajo, pulang! |
KEMBARA | : | (tertjengang). |
MAJANG | : | Biarlah Majang tetap setia, ajah. Biarlah Majang memegang djandji….. |
PAK ANGGAH | : | Djangan kau menambah bala, anak. Suamimu tak akan pulang lagi. |
MAJANG | : | Mengapa tidak? |
PAK ANGGAH | : | Bukankah dia sudah mati, Majang. |
MAJANG | : | (berpikir) Mati? |
PAK ANGGAH | : | Ja, mati. |
MAJANG | : | (pada Kembara) Adakah tjinta mengenal mati, tuan? |
PAK ANGGAH | : | (kesal) Astagfirullah….. Sesat sudah anakku ini….. Ajolah pulang, nak. Atau kau mau dipaksa? |
KEMBARA | : | (gelak mengedjek) Ooi, orang2tua jang mau memaksa….. Dia ini bukan hakmu lagi….. |
PAK ANGGAH | : | (marah) Aku ajahnja….. |
KEMBARA | : | (berteriak) Oooi, segala isi dunia. Kau dengar itu, Orang2 tua tak tau pada zamannja….. |
PAK ANGGAH | : | (marah) Si Majang hakku! |
KEMBARA | : | (gelak mengedjek, berteriak
lagi) Oooi, segala isi lautan.
Kau dengar itu: tjinta diri
jang tak berbatas….. |
MAJANG | : | (tertarik pada sikap Kembara) Pulau apa, tuanmuda? |
KEMBARA | : | (gelak mengedjek) Pulau
segala kerdil….. |
SERAJA MENGACHIRI KATANJA KEMBARA BERDJALAN MENUDJU PERAHUNJA. MAJANG TURUN DARI BENTENG LALU MENGHAMPIRINJA.
MAJANG | : | Tuan hendak kemana? |
KEMBARA | : | Kemanalagi selain menudju kebebasan dan hargadiri. |
MAJANG | : | Perahu tuan seketjil itu? |
KEMBARA | : | Tapi dia punja kemudi: mata njalang dan hati lapang. |
MAJANG | : | (berpikir, tertunduk) Maukah tuan membawa pesan? |
KEMBARA | : | Pesan? |
MAJANG | : | Ija. Entah bertemu dengan
kasihku, ataupun bangkainja
dalam gelombang….. |
KEMBARA | : | Pesan sekerdil itu? Kaupun seperti datuk jang mabuk kuasa. Hm….. |
MAJANG | : | Adakah kekerdilan pada tjinta, tuan? |
KEMBARA | : | Jang menunggu adalah tjinta. Jang berdjuang adalah kasih, adik. |
MAJANG MENJAPU AIRMATANJA. DATANG DATUKMUDA DENGAN SEORANG PAHLAWANNJA.
MAJANG | : | (setelah melihat datukmuda)
Tjepatlah pergi, tuan….. |
KEMBARA | : | (tenang) Biarpun seketjil itu perahu bebasku, adik. Tiadalah sekerdil jang kau sangka, hati didalam. |
DATUKMUDA | : | (marah) Hei orangmuda jang
sombong….. |
KEMBARA | : | (tenang) Kau dengar itu,
adikmanis. |
MAJANG | : | (tjemas) Djanganlah tuan mentjari bala. Tjepatlah pergi! |
KEMBARA | : | Tjuma tjinta dibawa berlari adik. Tapi kasih adalah djoang, dan djoanglah hargadiri….. |
DATUKMUDA | : | Menjesal kau nanti orangmuda….. |
KEMBARA | : | Hanja buih jang lenjap
dipasir, datuk. |
TIBA2 MAJANG BERLUTUT DIHADAPAN DATUK…..
MAJANG | : | Djangan datukmuda, djangan….. Biarkan dia pergi djauh-djauh. |
KEMBARA | : | (sedih) Oi, wanitamuda. Djangan djual hargadiri untuk sekedar kehidupan tiada berarti. |
KEMBARA MEMBUNGKUK UNTUK MENGANGKAT MAJANG. TIBA2 PAHLAWAN DATUKMUDA MENIKAMNJA DARI BELAKANG. SEBUAH KERIS TERPATJAK DIBELAKANGNJA. KEMBARA MENGERANG, MAJANG MENDJERIT….. KEMBARA MASIH BISA BERDIRI.
KEMBARA | : | (menahan sakit) Kau lihat ini, manis….. Pahlawan menikam dari belakang. Tapi aku tiadakan mati, aku tiadakan mati….. |
MAJANG | : | (marah) Tjis, datukmuda jang mabuk kuasa. Hanja menikam dari belakang….. |
KEMBARA | : | (berdjalan terhojong2 kearah perahunja). |
MAJANG | : | (memburunja) Mau kemana tuan. Biar kutjari penawarnja. |
KEMBARA | : | Ketjil perahuku adik, tak seketjil itu hati didalam….. |
MAJANG | : | Apa jang bisa kulakukan, abang. |
KEMBARA | : | Tolonglah lihat darahku itu, adik. Apakah dia masih merah. |
MAJANG | : | Merah abang….. Semerah langitsendja! |
KEMBARA | : | Hanja itu tandamata, adik.
Dari kasih jang berdjuang… |
MAJANG | : | Sudah kau rekahkan belenggu dari tanganku, tuan. |
KEMBARA BERDJALAN TERUS DIBIMBING MAJANG KEPERAHUNJA. IA TERLENTANG DISITU. MAJANG NAIK KEPERAHU. LALU BERKATA:
MAJANG | : | Oi, segala jang membelenggu
hidup ini….. |
PAK ANGGAH | : | Majang, djangan kau tinggalkan kami….. |
MAJANG | : | Sudah lama kita berpisah
ajah….. |
DATUKMUDA | : | Kuperingatkan kau Majang: aku penghulu dikampung ini. |
[Sayangnya, lanjutan naskah ini, dari halaman 16-17, tidak ada di dalam file scan aslinya].
buat alibasjah,
-
dilapangan hidjau dia biasa berdiri, tuan.
dan masadepan ditangannja.
Sekali ini dia djatuh bersama kami.
bukan didaerah perdjuangannja.
dilapangan hidjau dia biasa berdiri
dipantai kalah dia mentjari
kalah kami ditanggungnja
semua edjekan ditampungnja.
kalah kita sekali ini ali
pada daerah pantai jang kering
pada badja kita mengachiri
dan kesetiaan tak pernah terasing.
ali jang ikut kalah
kita tak akan menjerah
buat jang menang sementara!
-
Kali ini kau menang tuan, dan kami kalah begitu hina.
Boleh sepuashati tuan teriakkan: hei penipu dan perampas kesenangan.
Dan kami tak akan lari. Kami bukakan hati jang berdarah ini untuk dera
nista jang tuan lemparkan. Teriakkanlah sepuashati apa jang menjenangkan
hati tuan. Tidak tuan, kami tak akan menetaskan airmata untuk Tuan
Tidak tuan, demi Alah tidak!
Kalaupun ada genangan airmata dipelupuknja, taklah ia untukmu, tuan,
tapi untuk sahabat2 kami jang begitu gagah lari meninggalkan kami.
Badai sekali ini banjak bawa tjerita.
Taulah kami sekarang bagaimana mentjari pelaut,
Taulah kami kini bagaimana mentjari sahabat.
Pelaut baik ditemui dilaut jang mengganas,
Sahabat setia ditjari masa duka.
Dan kami tak akan menangisi kekalahan, tuan
Hidup adalah djoang dan djoanglah hargadiri
Kali ini kami tau tuan, dan sekali ini tuan mengedjek kami
Tapi kami ini pelaut2 tiada mengenal ampun
Kami ini pedjoang2 tiada kenal kemunduran
Sekali kami akan bikin sedjarah
Sekali kami memindahkan tepian
Sekali kami akan menitikkan airmata pengchianat2,
Karena kami badja jang dibadjakan dalam api.
Tuan teriakkan sekarang: hei semua penipu
Dingin airludah tuan dipipi kami
Tapi kami tak meneteskan airmata
Oi, tuan jang menang sementara
Si-saleh djurupotret kurus tiada bertenaga: dia kawan kami.
Si-eddy jang begitu ketjil, sigordon jang begitu muda, sitahir jang begitu
tenang, sitedja jang terbungkuk2, si-tini kenalan baru, si-mady jang
hitam berhati putih, si-andjas dari glumpang-dua, simaradjo dari tanahbatak:
ini semua kami dari daerah kekalahan, tapi setia selalu dan pedjoang
tak mengenal undur.
Djangan tuan harapkan airmata kami, kami pelaut biasa diombakbesar.
Kini tuan menang, nanti kami menang.
Sekarang tuan tertawa, tapi nanti kami tak akan tertawa pada kemenangan,
karena kami tau arti kekalahan.
Kini kami kalah, tapi djangan harapkan air mata kini kami kalah, sekali
kami pasti menang. Dan djangan tuan natikan edjekan dari kami, karena
ludah tuan masih disimpan dalam hati.
Kami adalah kami jang mengerti kekalahan.
Kami adalah kami jang mengerti kemenangan.
Kami badja.
Dari lautan api.
Daerah kekalahan 5.30 w su.
tjatatan buat nis dan radda,
-
kau tangisi semalam hari2 kekalahanmu, dik.
dan airmata begitu menjajat hatiku
kau tangisi masa2 kehinaan, dik
dan airmata meremukkan jang ada.
Oi, adikku sajang,
Kali ini kita kalah, adik.
kali ini lumpur dilempar kekaki kita begitu dahsjat.
bisa kurasakan apa jang remuk dalam hatimu
bisa kurasakan apa jang hantjur pada harapanmu, dik.
Tapi abang hanja manusia jang biasa jang begitu terbatas
pada harapan, begitu terbatas pada kesanggupan
Aku ini hanja darah dan daging.
aku ini hanja manusia jang tunduk pada lingkungan,
dan lingkungan membikinku kalah: kalah dari semua kekalahan.
nis dan raidda!
abang tak akan menangisi kekalahan, dik
seperti abang tak pernah menepukdada kemenangan
abang tak akan menghindar dari kenistaan
seperti abang tak mabuk dari sandjungan
kaupun tau, kaupun faham.
nis dan radda jang baik,
Abang kalah dikedjolakan harapan jang begitu memuntjak.
kita kalah dikerangsangan laut jang begitu menggelora
Kekalahan ini tak bisa lagi ditangisi, adik
Ia terlalu besar
terlalu menjakitkan hati.
Airmata jang kau serahkan
seperti airmataku sendiri begitu membandjir
begitu muram kau kupandang
begitu muram hati sendiri.
Ini semua tjerita duka
tentang kalah dan penghinaan
Tapi dia bikin kita djadi badja
tiada menghindari kekalahan.
buat tahir, kardi dan mangatur,
-
kawan,
aku ini anak batak
bukan dari kedai tuak
pernah kutulis tentang siberis
dan katarina jang mabuk tjinta.
aku ini hanja aku jang mengenal kasih dengan segala korban.
dan surat ini si-nis menuliskannja, aku mengutjapkannja
dari hati untuk hatimu
oi, kawan setia
sendja ini begitu menjiksa
tapi sahabat masih ada: siedy, imran, saleh, nis dan radda
Ini artinja badja dari segala badja jang ada
dan gunung mana jang tak akan kutembus dengan segala hati jang menjala.
kawan
12 botol bir sudah kuminum
minum kekalahan, minum penderitaan
tanpa kisah tentang kemegahan
tanpa kisah tentang kemenangan
Kau djangan ketjilhati kawan
Hidup bukan seperti ombak
Hidup bukan seperti buih
Hidup adalah kesanggupan menghidupkan orang lain
Hidup adalah pengorbanan
dan kasih takpernah meminta tawa
Kau kardi, mangatur dan tahir
jang begitu setia memikul segenap djandji
pada djalan berkilometer jang begitu menjakitkan hati
Kau adalah aku
Kau adalah kita
12 botol bir sudah kuminum
12 kenangan diambangpintu.
kau sahabat
kau pedjoang
kita pasti menang
sahabat pada malam2 sepi
buat radda jang bertemu sesaat,
-
aku tau
kau anakbatak
bukan dari kedaituak
aku tua, sajang
asalmu parahiangan
tapi bukan dewi kehajangan
kita ini sama2 dari gunung
tau toba dan tangkubanprahu
kita ini anak djaman
dari djeritan perdjuangan.
radda,
kita bertemu pada masa kekalahan
kita bertemu pada masa kekalahan
tapi ini tanda menang
antara kita berdua
antara jang berdjuang.
si maung-maung ditarutung
tangkubanprahu Periangan
Biar mati digantung
Sekali pesta kemenangan.
buat dirisendiri,
-
kita ini sebenarnja berdua:
kekalahan dan kemenangan
kita ini sebenarnja tunggal
kekalahan dan kemenangan
sekali aku melihat mata begitu saju
sekali aku melihat mata begitu membeku
sekali ini mulut begitu membisu
sekali hati djadi batu
Didjalan begitu sempit bau keringat
kau seperti mau kupeluk erat-erat
didjalan jang begitu menjakitkanhati
kau mau kubawa bersama mati.
kawan,
kita ini sebenarnja berdua
duka dan tawa
kita ini sebenarnja berdua
lumpur dan batu
tapi kita tetap satu:
kalah dan kemenangan.
Dimatamu kudjenguk segala isi dunia
kau begitu tenang seperti tak ada jang terdjadi
kuteriakkan apa jang sedang terasa
dan kau sipu2 sendiri
oi, diri jang begitu hina
jang mabuk pada tjinta dan kemegahan
rasakan segala nista
dipintu kekalahan
buat mady,
-
hitam kulit tubuhmu
sebiru langit hati didalam,
selunglai itu tubuhmu
sebadja itu setia didalam
mady jang begitu kusajangi
kalah sekali ini kawan
begitu membekukan semua perasaan
kalah sekali ini kawan
merampas semua kehormatan
si-Idjah datang mengharap-harap
dan kau djalan megap-megap.
semua harapan djadi hampa.
ombak pasang datang menerpa
oi, mady jang baikhati
sekali kita mati
sekali kita mendjadi
buat tukangsusu jang baikhati
-
sebesar itu tubuhmu
sebesar itu hatimu
dan lembu jang begitu banjak dalam kandangmu,
lebih berharga dari kawanku,
oi, benggali dari sungai gangga
sebesar iskandar zulkarnaen kau kiranja
jang menjusupkan tjinta pada kesepian dunia
jang mengisi kehausan pada batas jang menjiksa
sebesar itu tubuhmu
sebesar itu hatimu
dan lembu jang begitu banjak dalam kandangmu
lebih berharga dari kawanku
segelas tehpanas
bikin hatiku tambah keras
buat chairul chen,
-
20 batang rokok admiral kau tjarikan
dan aku tergeletak dirumah benggali
kau tempuh itu djalan berdebu
karna setia pada diri.
kau djalani semua malu
karna kau mau memberi
20 batang admiral jang busuk
bikin hati selalu rukuk
pada kesetiaan dan ketabahan
buat gordon
-
kau njanjikan tau-toba, kawan
seperti pesanan si-singamangaradja
kau njanjikan asing-sing-so
seperti si-sitor dipulo bato
kau jang semuda itu
setua itu dalam tindakan
kau jang sebaik itu
tak mengenal kekalahan
kita kalah sekali ini
ini langkah mula mentjari
kita djatuh sekali ini
tapi kita tak akan mati
habis jang mau kubilang
buat tjut ratni,
-
kau tahankan segala lapar dan derita
untuk kami jang kau kenal sementara
Tapi ini bikin kita semua
djadi badja menguasai dunia
kau bungkus nasi untukku, kawan
dalam taspandan jang begitu indah
kau bawakan nasi untukku, kawan
pada kesetiaan jang tak patah
buat nung,
-
pada djarak sebegini djauh, nung
ada dara2 begitu manis
pada pasir tempat djatuh nung
ada bekas2 tangis
oi, ibu dari semua harapan
jang menjusun djari pada subuh pagi
Semua habis
Semua kikis
pada djarak sebegini djauh, nung
ada dara2 begini manis
pada pasir tempat djatuh, nung
sedjarah mulai ditulis
achijar
sahala
biar
membadja
buat jang setia,
-
kita pentjari mutiara
sekali ditelan gelombang
begitu deras
begitu ganas
kita bukan pentjari korang
jang mengkais disurut pasang
kita bukan pemburu kidjang
Menunggu matari pulang
kita pentjari mutiara
pengharung pasang dan gelombang
kita membawa bara
bukan pentjari korang
dukatjerita dalam bara
-
dari djauh ombak kemari
terdampar diri disiksa begini.
dibawah kaki seorang bupati
pelukis membangun
istana katja dalam pigura
sekerat hatinja ditjamar melajang
sebelah tjintanja terhundjam kekarang.
antara bupati dan pelukis laut
dipisahkan nilai memberi udjut.
tapi
berita istana tenggelam kedasar laut
belum punja arti pasang surut
dan kelesuan menjiksa tidak berandjak
djadi tanda setiakerdja jang bergolak.
kita pimpin indahnaga
kehausan dunia kekeringan kita!
p. tjermin 28.9.58 ahmady hamid.