Baca EPUB: bola-lampu

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
ASRUL SANI
Bola Lampu
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Cerita pendek ini dimuat pertama kali dalam majalah Siasat Th. II No. 55, 21 Maret 1948. Cerita pendek ini juga dihimpun dalam buku yang disunting H. B. Jassin berjudul “Gema Tanah Air”.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Beberapa waktu jang lalu seorang sahabat mentjeritakan tjerita sebagai berikut kepada saja:

Pernah sekali saja memperoleh penjakit tjinta-lampu dan tjinta-matahari. Tjinta-matahari ini tidak berapa lama, hanja seminggu, jaitu semasih saja masih bekerdja antara pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore. Kalau pukul 1 memperoleh waktu beristirahat seperti untuk makan tengah hari, terlebih dahulu saja memandang mengap-mengap kelangit seperti ikan didaratan, baru saja pergi makan. Penjakit tjinta ini demikian mendalamnja, sehingga sesudah seminggu saja tidak tahan lagi, lalu minta berhenti. Sekarang saja mengeluh kepanasan kalau berdjalan dalam tjahaja matahari. Lagi pula ia tidak memberi akibat apa-apa kepada diri saja.

Penjakit tjinta-lampu saja lebih berat. Dan daja tidak menjangka-njangka bahwa ia akan berkesudahan dengan ketjewa, geram, malu, angan-angan dan tjerita ini. Begini djalannja.

Saja tinggal pada suatu keluarga orang baik-baik jang bertjita-tjita masuk surga dan jang suka menolong orang supaja mendapat balasan djasa. Karena baiknja mereka ini, maka saja telah dianggap anggota keluarga—moga-moga Tuhan merahmati mereka dengan djalan memberi mereka rumah jang besar, lebih banjak kursi dan medja, tempat tidur dan sebagainja. Nah, karena saja telah masuk anggota keluarga, sudah tentu sadja saja harus ikut sakit senang.

Sekali datang seorang anak muda hendak membajar makan. Ia adalah suatu tjelaka buat saja. Karena anak muda ini—ia pariente—memerlukam lampu untuk „melantjung” dan untuk „tidur” (ia tidak memerlukan lampu antara pukul 6 dan pukul 12 malam). Akibatnja ialah, lampu jang ada di dalam kamar saja, harus diperketjil, diperketjil lagi, hingga djadinja terlalu amat ketjil. Sudah itu timbul pula sematjam kemauan jang tidak tertahan-tahan: hendak membatja, hendak menulis, hendak mengarang, pendeknja hendak segala-galanja, asal sadja untuk itu diperlukan lampu jang terang. Nah, sedjak itulah saja mendapat penjakit tjinta-lampu. Ada-ada sadja.

Waktu itu, kalau saja melihat lampu terang, terus timbul rasa sentimentil, saju-saju sedikit, agak-agak rindu dendam dalam hati saja. Kepada orang saja tanyakan, kalau-kalau mereka ada mempunai lampu jang terang dirumah. Kalau didjawabnja „ada”, saja terus iri hati. Inilah orang jang paling berbahagia. Saja maklum apa sebabnja orang-orang jang tinggal didjalan Madura misalnja berbahagia besar kelihatannja. Semata-mata karena mempunjai lampu jang terang, paling kurang 60 lilin Filsafat hidup saja berputar sekeliling lampu. Lampu mengenakkan makan, menjehatkan otak dan barangkali djuga memperenak tidur.

Dalam pada itu saja berkenalan dengan seorang gadis jang baik, jang tjantik dan jang menurut sahabat saja, tidak begitu „dingin”. Perkenalan ini baik djalannja, sehingga saja berdjandji akan datang sekali-kali kerumahnja.

Rumahnja baik, lampunja besar, hingga saja katakan kepadanja, bahwa saja iri hati benar melihat kebahagiannja. Lalu ia bertanja „mengapa begitu benar”. Saja katakan, bahwa saja tidak mempunjai lampu sebesar punja mereka. Ajahnja berkata:

„Datang-datanglah kemari kalau begitu. Disini lampu tjukup terang.”

Sesudah itu saja datang sekali seminggu ke sana, kemudian dua kali seminggu. Gadis itu makin lama makin tjantik kelihatannja, makin banjak aksi, makin „panas”. Saja makin kerap kali datang, sampai tiap malam. Setiap datang saja membawa buku untuk dibatja—sampai sekarang belum djuga tamat-tamatnja. Achirnja saja rasa, bahwa saja datang kerumah itu bukan karena hendak melihat lampu terang. Saja datang karena dia ada disitu. Tetapi namun begitu, setiap saja datang, saja berkata:

„Ah, alangkah senangnja hati, djika mempunjai lampu seterang itu.”

Ia tersenjum mendengar perkataan saja. Apa maksudnja, entahlah!

Penjakit saja tidak hilang. Dahulu daja berpenjakit „tjinta-lampu”, sekarang nama penjakit saja tjinta „bola-lampu”.

Suatu kali saja mendapat kiriman dari gadis sahabt saja itu. bungkusannja besar dan bagus dan disampingnja ada lagi seputjuk surat bersampul biru. Waktu bungkusan itu saja buka, saja temui didalamnja bola lampu 60 lilin. Hilang akal saja melihat bola lampu itu. apa maksudnja?

Dalam suratnja tertulis: „Sahabat, senang benar hati saja, dapat mengirim engkau bola lampu ini.”

Sekarang saja tahu maksudnja. Mereka disana telah bosan melihat tampang saja jang datang setiap malam. Sekarang dikirimkannja bola-lampu, supaya saja djangan lagi „rindu lampu”. Sebetulnja kalimat itu harus berbunji:

„Sahabat, senang benar hati saja dapat mengirim engkau bola lampu ini, sehingga engkau tidak punja alasan lagi untuk mengatakan „senang hati melihat lampu” dan mulai saat ini tidak usah lagi engkau datang-datang”. Nah, ini dia. Tjelaka tiga belas telah datang.

Semendjak itu tidak pernah lagi saja datang kerumah gadis itu. Kamar saja tetap gelap. Bola jang 60 lilin itu tidak djuga saja pasang, karena djumlah watt untuk menghidupkannja tidak tjukup.

Demikianlah, karena tak ada lampu, saja beroleh penjakit tjinta-lampu. Lalu saja beroleh kiriman bola-lampu. Karena kiriman ini saja kehilangan „bola-lampu” jang lain, jang menurut pikiran saja tidak akan kurang dari 200 lilin tjahajanja. Dalam tjahaja jang sebesar ini rasanja akan dapat saja mengarang sebuah tjerita jang 300 halaman tebalnja.