Publisher Note
Tulisan ini merupakan Bab 18 dari buku yang ditulis oleh Jusuf Wibisono berjudul Bertamasya di Belakang Tabir Besi. Buku tersebut berisi pandangan mata Jusuf Wibisono saat mengunjungi negara-negara Blok Timur tahun 1950-an. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang tahun 1953. Kemudian, edisi keduanya terbit tahun 1981 oleh penerbit yang sama.
Kami mendapatkan buku ini dari koleksinya Bang Anton, pemilik Perpustakaan Batu Api di Jatinangor.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
PADA sore yang sudah dijanjikan, saudara Semaun datang menjemput kita. Rencana buat itu sore ialah melihat Metro atau kereta listrik di bawah tanah dan Cultuur Park Gorki.
Tidak jauh dari hotel kita, ada station Metro. Tandanya tiap-tiap Metro ialah huruf M. besar di muka gedung di atas tempat masuk, yang kalau malam merupakan huruf M. merah. Metro di Moskow belum begitu lama dibuatnya.
Dimulai dibikin pada tahun 1936. Sesudah perang dunia kedua ini, ditambah lagi dengan jalan baru yang kurang lebih 15 KM. panjangnya.
Letaknya di bawah tanah, yang paling dangkal 15 dan yang paling dalam 80 meter. Turun ke bawah dan naik ke atas, memakai tangga yang berputar terus, sehingga para penumpang tidak usah menggerakkan badan untuk sampai ke tempatnya yang dituju. Yang tidak sabar dengan berdiri saja dimasing-masing tempatnya ditangga, berjalan juga meskipun tangga itu sendiri sudah berputar agak cepat.
Untuk masuk ke dalam Metro, orang harus membayar setengah rubel, jadi kira-kira 50 sen Belanda dan dia boleh naik kereta ke semua jurusan sekenyangnya.
Sampai di bawah, saya tidak tahu lagi mana utara atau selatan, mana barat atau timur. Kita menyerahkan diri saja kepada saudara Semaun. Memang banyak sekali yang menggunakan Metro. Di sini nampak lagi apa yang sudah lebih dulu menarik perhatian saya, yaitu bahwa banyak orang yang jalannya tergesa-gesa: laki-laki perempuan, tua-muda, mereka itu rupa-rupanya mengejar tempo. Saya tidak menanyakan kepada saudara Semaun apakah sebabnya. Cuma saya kira-kira sendiri tentunya orang-orang itu bekerja pada paberik-paberik atau perusahaan-perusahaan dimana pekerja-pekerja diatur keras untuk datang atau pergi pada waktu yang sudah ditentukan dengan tepat. Tidak boleh waktu terbuang percuma.
Sebagai maklum, di Sovyet Uni dipakai sistim “stukloon” juga dalam perusahaan-perusahaan. Makin banyak barang-barang seorang pekerja bisa bikin dalam waktu yang tertentu, makin banyak dia terima upah. Umumnya pekerja-pekerja yang bekerja atas sistim upah itu, ingin membuat barang sebanyak-banyaknya supaya dapat upah setinggi-tingginya. Keinginan ini mendorong mereka bekerja secepat-cepatnya, dan segiat-giatnya. Lama-kelamaan urat-syaraf tentu terganggu sehingga pekerja-pekerja kelihatannya zenuwachtig. Saya lalu ingat ceriteranya bekas Ambasador Belanda di Rusia, Dr Visser, di Den Haag, tentang soal stukloon di Sovyet Uni.
Dia sendiri pernah dapat kesempatan untuk melihat-lihat beberapa pabrik di Moskow. Para pekerja yang bekerja menurut sistim upah stukloon, ada yang sudah begitu terganggu urat syarafnya, sehingga gerak badan dan tangannya mirip seperti yang digambarkan oleh raja lucon film, Charly Chaplin, dalam filmnya “Charly Chaplin in modern times”.
Saya pikir, mungkin orang-orang yang jalannya cepat-cepat itu, pekerja-pekerja dalam perusahaan-perusahaan yang memakai peraturan stukloon.
Kita mulai dengan stasion buatan sebelum perang. Karena saya sendiri belum pernah lihat Metro di lain-lain ibukota di Eropah-Barat, maka saya tidak dapat membuat perbandingan. Menurut ceriteranya saudara Semaun yang katanya sudah pernah di Belin, London dan Paris, Metro di Moskow adalah lebih bersih, tidak diperjelek dengan gambar-gambaran atau tulisan reklame dari macam-macam perusahaan. Memang demikian keadaannya, kata lain-lain teman seperti saudara-saudara Suyono dan Yamin yang sudah pernah menyaksikan sendiri di Paris atau di London.
Pegawai-pegawai Metro di Moskow ini, mulai di atas tanah sampai sep-sep stasion dan motoris-motoris di bawah tanah, boleh dikatakan hampir semua terdiri dari kaum wanita. Kebanyakan sekali wanita-wanita muda. Uniform para sep, berupa rok serta jas biru hitam dan pet merah. Satu-satunya senjata yang mereka pegang, ialah alat untuk memberi tanda berangkat kereta, seperti sep-sep stasion di negara kita pakai juga.
Tiap-tiap lima menit ada kereta datang dan pergi, jadi kita tidak usah menunggu lama. Kereta-kereta semua bersih rupanya, longgar, cukup berhawa dan terang, sehingga saya tidak merasa sesak walaupun penuh penumpang. Orang-orang keluar masuk kereta dengan tertib, tidak serobot-serobotan. Menurut penglihatan saya, bukan karena mereka tidak kuatir tidak akan dapat tempat, melainkan karena warga-warga negara Sovyet Uni di Moskow, seperti yang sudah saya katakan lebih dulu, memang sudah cukup meresap rasa disiplin dan tertibnya, sehingga mereka dimana perlu bisa mengatur diri sendiri.
Kelas-kelasan sudah tentu tidak ada dalam kereta-kereta itu, karena semua penumpang-penumpang bayarnya sama, yaitu ½ rubel buat naik sampai sejemunya. Buat anak-anak sekolah, ditiap-tiap kereta itu disediakan ruangan tersendiri, tetapi kalau kebetulan kosong, juga ditempati oleh lain-lain penumpang.
Kita ada kira-kira satu jam dalam Metro, tidak saja naik turun kereta, tetapi juga naik turun dari stasion yang satu ke stasion yang lain, karena jalannya kereta kepelbagai jurusan tidak sedalam letaknya.
Rupanya jalan yang terbaru yang dibuat sesudah perang dunia ke-II ini, letaknya yang paling dalam.
Stasion-stasion pada jalan baru ini, memang bagus rupanya. Dinding dan lantai terdiri dari marmer putih. Ada stasion yang dindingnya dihiasi dengan seni pahat, yang gambar-gambarnya melukiskan sejarah perjoangan rakyat Rusia sejak revolusi Bolsjewik.
Lampu-lampu kroon listrik indah-indah yang susunannya beraneka warna, memberi sinar seperti siang hari. Bangku-bangku yang disediakan untuk para penumpang yang menunggu, dibuat dari marmer putih pula, sedang tempat duduknya lembut yang ditutup dengan beludru merah tua. Ada pula stasion dindingnya diperbagus dengan garis-garis berkembang warna emas.
Saudara Palar yang sudah lihat stasion-stasion di bawah tanah di lain-lain ibukota, mengakui bahwa Metro baru di Moskow adalah yang paling bagus. Ternyata bahwa Pemerintah Sovyet senang juga melihat buatan-buatan kesenian, elok yang sedap dalam pemandangan mata. Rupanya kemewahan ini dianggap sebagai kemewahan yang dapat dipertanggung jawabkan di negara sosialis.
Sesudah keluar dari Metro, kita diadjak menuju ke Cultuur Park Gorki, tempat istirahat dan suka-ria anak-anak dan orang-orang dewasa. Letaknya di tepi sungai Moskow dan di sebelah sungai ini, Park itu panjangnya ada kurang lebih 7 km. Jadi cukup luas untuk melelahkan kaki. Di situ dibuat juga kolam besar dimana anak-anak bisa berdayung. Di antara permainan-permainan anak-anak yang istimewa ialah mainan kapal terbang-terbangan, yang maksudnya menimbulkan keinginan pemuda-pemudi menjadi juru terbang, membuat mereka air-minded. Ada dua macam mainan kapal terbang ini. Yang satu, kapal terbangnya hanya berputar dalam lingkaran vertikal, saja, jadi kalau dia sampai di puncak, penumpang-penumpangnya terbalik sama sekali sehingga kepalanya ada di bawah.
Yang lain, meminta lebih keberanian dari penumpang-penumpangnya. Sebab tidak saja pesawatnya berputar dalam lingkaran vertikal, tetapi berputar juga sekitar asnya sendiri. Jadi dalam pesawatnya sendiri, penumpang-penumpang sudah diputar-balik, ditambah pesawat ini bergerak dalam lingkaran vertikal. Kalau tidak kuat dan sehat badannya, pemuda-pemudi yang menumpang permainan ini, tentunya akan sangat pusing kepalanya.
Di Park ini diadakan pula balai perpustakaan dan tempat membaca, dan balai buat main catur. Di sana sini ada kios dimana orang bisa beli buku-buku atau majalah-majalah. Bangku-bangku istirahat ada tersebar di seluruh Park, ada yang di pinggir jalan, ada juga yang agak idyllisch di tengah-tengah tumbuh-tumbuhan. Barangkali istimewa disediakan untuk para pemuda dan pemudi.
Pada suatu tempat ada tulisan dengan huruf-huruf besar dari lampu-lampu listrik yang dalam bahasa Indonesianya: “Kita menuju masyarakat komunis.” Saudara Semaun memberi penerangan tentang maksud kalimat itu, yang kebetulan saya sedikit-sedikit sudah tahu. Menurut uraiannya Lenin, masyarakat Komunis akan dilaksanakan dalam dua tingkat masa yaitu, tingkat sosialis dan kemudian tingkat Komunis. Ketika Stalin mengumumkan berlakunya Undang-undang Dasar Sovyet Uni baru dalam tahun 1936, dia mengatakan bahwa tingkat sosialis sudah selesai, dan sekarang kita menginjak tingkat Komunis. Produksi barang-barang akan diperhebat, sehingga cukup banyak untuk memberi gaji atau upah kepada para warga-negara “sesuai dengan keperluannya,” jadi tidak lagi hanya “sesuai dengan kerjanya” saja seperti dalam tingkat sosialis.
Dari Park Gorki situ kita pulang melalui jembatan sungai Moskow. Jembatan ini betul bukan yang terbesar di dunia, akan tetapi cukup imposant karena lebar, panjang dan tingginya konstruksi baja ini.
Saudara Semaun menceritakan bahwa jembatan ini adalah hasil dari pada salah satu rencana lima tahun.
Sesudah melewati jembatan ini, kita masuk lagi kedalam Metro, menuju ke hotel kita. Keluar dari Metro dekat hotel kita, saya diajak saudara Semaun masuk salah satu toko makanan, untuk menyaksikan sendiri bahwa sekarang sudah tidak ada lagi pembatasan membeli barang makanan yang penting seperti roti dan lain-lain. Toko memang penuh dengan orang-orang yang hendak membeli keperluannya. Pelayan-pelayan hampir semua terdiri dari kaum wanita. Saudara Semaun membeli delapan potong roti dengan daging rebus buat kita semua. Saya minta dibelinya roti itu, tidak karena saya ingin mencoba enaknya, Cuma ingin melihat sendiri apakah saudara Semaun belinya dengan bon distribusi atau tidak. Ternyata memang penjualan bebas. Apakah penjualan bebas itu hanya di Moskow dan kota kota besar saja, ataukah di seluruh Sovyet Uni, itu saya tidak menanyakan, karena saya pikir bahwa saya pun tidak akan dapat mencocokkan dengan keadaan sebetulnya, bagaimanapun juga keterangan yang saudara Semaun akan berikan.