Publisher Note
Cerita pendek ini dimuat pertama kali dalam Mimbar Indonesia Th. II No. 46, 10 Nopember 1948. Cerita pendek ini juga dihimpun dalam buku yang disunting H. B. Jassin berjudul “Gema Tanah Air”.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Engkau lihatlah malam jang membajangkan-diri diluar katja djendela itu. Gelap. Senang hatiku berada dalam kamar ini, terang, djauh dari kebutaan dan aku dapat tertawa sebanjak-banjaknja dengan tidak usah takut akan kesesatan djalan. Tapi bagaimanapun djuga gelap itu membuat kita ingin-tahu. Apakah jang disembunjikannja dan apakah sendjatanja. Apakah dia memberikan mereka jang bermuka riang dan berbidji mata senantiasa tersenjum masuk kedalam kuasanja dengan tidak beroleh tjatjat sedikit djuapun. Menurut kiraanku engkau akan takut djuga sedikit melihat kegelapan itu. Sebetulnja ia masih belum gelap benar, masih terlampau terang untuk suatu kisah jang berat. Ada sebuah tjeritaku untukmu. Barangkali engkau tiada akan begitu suka mendengarkannja, tetapi apa boleh buat, aku harus mentjeriterakannja kepadamu. Tjerita ini ialah tjerita seorang jang tak punja rumah, seorang peradjurit jang tidak punja pasukan.
Lebih baik kau minum kopimu itu dahulu selama ia masih panas. Dan pergilah engkau dahulu kebelakang, karena ibumu memanggil. Sementara itu dapat daku berpikir.
Nah! Beberapa waktu jang lalu datang seorang sahabat lama—ia adalah seorang mahasiswa—kerumahku. Kami sudah lama benar tidak bertemu. Dahulu kami sekolah bersama-sama dan diam sekamar. Djadi banjak sedikitnja bolehlah kukatakan: aku kenal kepadanja. Beberapa tahun telah lewat, dan sekarang ia tampil didepanku. Sangkaku aku akan menemui seorang sahabat jang betul-betul kukenal dengan mukanja jang riang dan bidji matanja jang senantiasa tersenjum. Tetapi wadjahnja telah berobah sama sekali; sedangkan matanja lebih terkatup sedikit dari mata jang kukenal.
Hanja—tiba-tiba ia telah berada ditengah-tengah kamar, seolah-olah tadinja, ia adalah machluk gaib dan sekarang merupa diri. Aku berdiri, tetapi tidak berkata sepatahpun karena terpesona. Tua ia kelihatannja, lebih tua dari aku, sedangkan aku tahu benar, bahwa kami sebaja. Pakaiannja bersih dan dengan tjelananja jang sempit ia lebih tinggi kelihatannja.
Matanja menatap mataku, kelihatannja seperti hendak menangis, tetapi pipinja bergerak, berkerut dan kemudian terbajang suatu senjuman hendak djadi—suatu bajangan jang kelihatannja tidak perduli dan mengedjek—; bajangan jang sudah-hampir-hampir-tak-kelihatan itu hilang kembali. Dari bibirnja keluar: „Haris!” —memanggil namaku. Suara itu seolah-olah suatu genangan air-mata jang berkumpul disudut mata, kemudian bersama-sama keluar, mengalir dipipi, makin lama makin tipis, sehingga waktu ia sampai kedagu untuk djatuh kebumi, ia tidak tjukup besar lagi, untuk mendjadi sebuah tetes—tidak lebih dari lelehan sadja.
„Engkau!” djawabku dengan suara jang hampir-hampir menjerupai suatu teriakan—tanganku tidak kugerakkan. Segala jang harus keluar pada beberapa menit jang lalu hendak kukeluarkan dengan sekaligus dalam satu detik—aku hanja sampai pada perkataan „engkau”. Tetapi ia maklum sudah akan isi perkataan jang sepatah itu—ia tahu, bahwa ia bertemu kembali dengan seorang sahabat lama. dibibirnja kelihatan kembali suatu senjuman mengedjek, sekali ini lebih djelas. Tidak ia heran mengapa aku tidak memberikan tanganku untuk bersalam dengannja, atau memukul-mukul bahunja, atau menanja atau berteriak kegirangan. Ia merasa bahwa kami telah sama-sama tjukup pengalaman untuk tidak bersalam seperti biasa dilakukan orang.
Sebenarnja aku jang heran, heran pada diriku sendiri.
Tidak seorangpun diantara kami jang memulai pertjakapan. Lagi pula dari mana akan kami mulai. Apakah dunia kami sama. Apakah istilah-istilah akan kami keluarkan kelak sama arti dan tafsirnja. Pada saat itu tidak ada djawaban jang dapat memusnakan kesangsian ini, karena antara kami tergantung kesenjapan jang tebal.
Untuk menghilangkan rasa maluku—ja, aku malu karena aku tidak dapat menjambut dengan muka jang djernih, tertawaan, kekaguman atau pun jang lain-lain—lalu kuputar knop radio. Seorang penjanji melagukan sebuah lagu Djerman dengan motif Rusia. Aku jakin, bahwa tidak seorangpun diantara kami jang mendengarkan lagu itu dengan sunggh hati. Masing-masing asik dengan fikirannja. Tiba-tiba ia membesarkan matanja jang separuh terkatup, lalu memandang dengan nanap kepada lampu hidjau jang ada diradio. Kedua tangannja menekan kesandaran kursi dan duduknja separuh terangkat, seolah-olah ia hendak melompat kemuka. Bibirnja terbuka dan dari mulutnja keluar perkataan seperti djatuh-djatuh titik hudjan jang berangkat reda:
„Saja ingin tahu apa jang dianggap hidup oleh mereka jang mengembara sekarang ini dipadang saldju di Siberia.”
Kemudian ia memandang kepadaku. Matanja tidak begitu gelap lagi kelihatannja dan sikapnja jang tadi agak tertekan sekarang kendur dan ia bersandar sambil bernafas dengan dalam. Seolah-olah ada orang jang mengangkat batu besar jang menekan dadaku—aku bernafas dengan lega.
Sekarang kelihatannja ada tali jang menghubungkan dunia kami jang belum tentu serba-serupa itu.
„Kalau aku tidak salah hitung, maka engkau sekarang adalah seolah mahasiswa dan duduk ditingkat terachir,” kataku dengan tekanan suara sebaik-baiknja. Rasa-rasanja diwadjahku ada kelihatan tarikan-tarikan jang menjatakan, bahwa aku menaruh perhatian terhadap dirinja.
Ia mengangkat kelopak matanja perlahan-lahan, tetapi tidak seperti angkatan kelopak mata orang jang rindu dendam. Diantara ganggang kedua lipatan kulit itu, kelihatan mata jang penat memandang kepadaku dengan sinar aku tidak-pertjaja-engkau-ada-minat-padaku. Dan dimulutnja kelihatan senyum jang menjakitkan hati—pahit. Hatiku bertanja: diam, diam, diam? Apakah ia akan tetap tinggal diam? Dan kalau ia diam, akan bekukah pertjakapan kami malam ini?
„Hn!” katanja—kedengarannja seperti bernafas. Lalu ia berdiri dengan tangan dikantong. Beberapa kali ia mundar-mandir dekatku. Radio masih berbunji. Seolah-olah suara jang keluar dari radio itu menggetarkan kekudusan jang ada diantara kami. Kekudusan jang disebabkan pertjobaanku untuk melempar tali penghubung dunia kami.
Ia duduk kembali dikursinja.
„Mahasiswa, aku benar, tetapi apakah saja duduk ditingkat terachir dari suatu perguruan, entahlah. Barangkali djuga tidak akan pernah.
Ia membungkuk kedepan—bangkit sedikit—lalu ia bertekan dengan sikunja diatas medja. Dagunja ditaruhnja diatas telapak tangannja dan bibirnja tersenjum pahit kembali—dari mulutnja keluar perlahan-lahan.
„Sang-ka-mu mu-dah?” Lalu dia bersandar kembali. Sambil mengeluh dia berkata:
„Guru-guru besar itu tidak dapat memberikan apa-apa kepada saja. Sedangkan jang saja kehendaki dari mereka sebetulnja amat banjak.”
„Jang saja maui ialah hidup. Untuk itu saja turun dari perguruan jang satu ke perguruan jang lain. Mereka tidak dapat memberikan apa-apa kepada saja. Jang mereka berikan ialah hukum-hukum, hukum-hukum jang mesti saja hafal luar kepala. Apa jang mula-mulanja bergerak, ada ditangan dan dikaki mereka, sekarang beku dikepala. Uraiannja bagus, terang, seperti kita menguraikan tulang-belulang kuda, mulai dari tulang kepala, leher, punggung, dada, kaki. Semuanja akan djelas, bahkan suatu lobang ketjil dimana suatu urat nadi mungkin lewat, tidak dilupakan. Tetapi apa gunanja tulang-belulang mati itu bagi saja. Sekiranja tulang-belulang jang telah tjerai-berai itu saja pasang-pasangkan kembali, saja beri berurat-daging, urat darah—apakah ia akan merupakan hidup? Tidak, sahabat! Ia hanja akan memperlihatkan seekor kuda.”
Ia diam. Suatu senjuman jang pahit terbajang kembali dimulutnja. Kemudian sudut-sudut bibirnja menarik keluar, kumisnja turun kebawah dan ia seolah-olah menekan fikiran dan otaknja dengan tenaga jang terdapat dilangit-langit mulutnja. Tenaga ini menjesak hati. Ia tersenjum mengedjek kembali.
„Ia, kuda—seperti jang dapat saja lihat setiap hari.”
„Barangkali saja terlampau banjak membitjarakan hidup. Tetapi hanja itu jang dapat saja jakin. Sungguhpun begitu saja tidak tahu bagaimana bentuk dan tjoraknja. Sedangkan saja senantiasa berada dalam ketakutan. Saja takut, bahwa saja akan ditjeraikan orang dengan hidup itu. hanja dalamnja saja dapat diam, hanja itu jang dapat saja anggap rumah saja. Saja harus memperolehnja selekas mungkin, djika saja tidak ingin tumpas tidak keruan. Tetapi saja tidak tahu—saja tidak tahu apa dan bagaimana sebenarnja dia. Orang mengatakan, bahwa diperguruan kita dapat meminta ilmu kita kehendaki. Saja pergi kesana. Saja mendjadi mahasiswa. Tetapi tahukah engkau apa jang diberikan mereka kepada saja? Kalau mereka tidak memberikan aturan-aturan, mereka memberikan pelbagai doa. Saja tahu pada saat itu, bahwa saja telah salah datang. Bahwa saja sesat. Saja masih dapat pindah. Tetapi akibatnja sama sadja. Dimana mana saja adalah orang sesat. Rumah itu tidak djuga kelihatan. Tidak kelihatan, tahukah engkau?”
Suaranja mengeras dan mukanja makin gelap sedangkan matanja lebih tekatup kelihatannja. Ia memandang kepadaku seperti orang jang minta tolong. Ia melandjutkan:
„Tetapi saja tetap djadi mahasiswa. Ah, ja, setiap orang sebenarnja harus bergerak seperti seorang mahasiswa. Tetapi sampai sekarang perguruan tinggi untuk mahasiswa ini belum terbuka. Ia boleh terkatung-katung dengan kejakinannja, ia boleh terkatung-katung dengan kerinduannja hendak mempunjai rumah.”
Kutunggu sampai habis benar utjapannja. Setelah njata, bahwa ia tidak hendak berkata apa-apa lagi, maka kataku dengan sangsi-sangi:
„Perjajakah engkau kepada kasih?”
Kiraku ia akan melompat seperti seekor harimau atau ia membeku sama sekali, mendengar utjapan itu. Tetapi dimulutnja terbajang kembali senjuman jang menjakitkan hati itu dan aku ditentangnja dengan tjahaja mata jang berisi rasa kasihan. Kasihankah ia kepadaku karena aku telah mengutjapkan perkataan „kasih” itu? Ia berkata:
„Kasih? Engkau tanjakanlah kepada laki-laki dan perempuan jang sama-sama menjapu didjalan besar itu. Nanti akan mereka katakan, bahwa mereka kenal dan pertjaja dengan engkau. Tetapi sementara itu hargamu akan ditaksi-taksir mereka, lalu engkau didjualnja kepada siapa sadja jang mau membeli.”
Ia bangkit dari kursinja lau berdjalan mundar-mandir, kemudian ia bersandar keterali beranda. Aku tahu, bahwa arus perkataannja itu belum selesai. Sebab itu kutunggu. Ia memandang dengan nanap kedepan. Tiba-tiba ia mengangkat kepalanja dan berkata dengan gagah—suaranja melengking:
„Saja tidak pertjaja kepada kasih—mereka tidak—engkaupun tidak. Sangkamu benarkah ia ada? Hn! Apa jang kita sebutkan kasih sekarang ini, kita sebutkan bukan karena pertjaja padanja, bukan karena ia adalah suatu kejakinan, tetapi hanja karena ia adalah suatu kebiasaan. Kebiasaan dari orang baik2, orang jang sopan santun. Orang jang pertjaja kepada Tuhan, dengan persangkaan, bahwa ia dengan kepertjajaannja itu akan beroleh lebih banjak kursi, medja, atau pembagian mentega untuk membuat kueh pada hari Lebaran. Saja belum termasuk golongan mereka. Saja mengerti golongan ini besar—ah, bagi saja terlampau amat besar.”
„Itu makannja saja tidak suka kepada orang jang menjebut-njebut kasih. Sekali di D. pernah saja berkenalan dengan seorang njonja—sangka saja ia masuk orang baik-baik, kalau melihat raut mukanja—disebuah hotel. Saja datang kesana berpakaian pereman, berambut pendek dan djanggut terpelihara. Diantara opsir-opsir jang berambut pandjang, berdjanggut tak terpelihara serta pakaian jang lusuh, saja agak luar-biasa kelihatannja. Seperti saja katakan tadi, ia adalah orang baik-baik—artinja: orang baik-baik jang biasa engkau temui dalam kitab kamusmu. Kamarnja ada disebelah kamar saja. Jang pertama-tama dilihatnja, ialah pakaian dan perawakanku jang agak terpelihara itu. „Tuan bukan opsir”, katanja. Lalu saja tjeritakan, bahwa saja bukan seorang opsir tetapi seorang mahasiswa.
Ia bertanja apa jang sedang saja peladjari, lalu saja djawab dengan: filsafat. Ia diam sebentar. Kamudia ia bertjeritera tentang Krishnamurti. Pengetahuan saja tentang Krishnamurti tidak banjak, lagi pula adjaran itu tidak menarik perhatian saja. Sungguhpun demikian saja dengarkan djuga. Ia berbitjara tentang dosa, kebaikan, kasih antara sesama manusia dan bagaimana segala nafsu jang tidak benar dapat diberi kepuasan dengan kebutuhan-kebutuhan djiwa. Tentang hubungan antara manusia dan dasar-dasarnja ia berbitjara pandjang lebar. Dosa, katanja telah memperoleh hukumannja didunia ini, ia tidak membiarkan kita tenang. Manusia tidak sama dengan hewan, katanja,”
„Nyonja jakin akan kebenaran itu?” tanja saja. „Ja” katanja. „dengan kejakinan ini saja telah memperoleh djalan saja dan telah dapat melalui zaman pantjaroba jang sesulit-sulitnja. Demikian djuga suami saja.” Saja tak berkata apa-apa dan dalam hati saja, saja iri hati melihat njonja ini. Tetapi malamnja……”
Ia terdiam kembali. Dari matanja kelihatan suatu sinar kebentjian, mulutnja bergerak dan dibibirnja kelihatan kembali bajangan senjuman jang pahit itu. Aku seolah-olah tidak dapat menahan hatiku untuk berkata „dan malamnja…” tetapi tenagaku tak sanggup untuk mengungkai kesunjian jang dikehendakinja itu. Aku masih ditentangnja. Apakah fikirannja? Malukah ia karena pengalamannja? Dengan tidak sadar kupindahkan tanganku ke atas tangan-tangan kursi, seakan-akan ia tadinja salah tempat.
„Malam itu,” —ia menjambung pembitjaraannja—, „malam itu saja pulang pukul 11. Saja temui njonja itu masih ada didepan kamarnja. Saja diundangnja untuk duduk bersama-sama. Karena sangka saja „ia sebentar lagi akan tidur”, saja terima undangannja itu. Ia mulai berbitjara lagi tentang kebersihan bathin manusia dan sebagainja. Saja bertanja kepada diri saja sendiri mengapa ia berbitjara tentang itu. Ia masuk kamar lalu keluar berpakaian tidur, lalu berbitjara kembali. Entah apa sebabnja, timbullah perasaan dalam hati saja yang mengatakan, bahwa ia sendiri tidak pertjaja apa jang dikatakannja. Ia tidak pertjaja.
Ia berhenti sebentar. Aku memandang kepada tangannja jang dikepalkannja dan diregangnja. Ia melihat pandanganku itu, dan seakan-akan ia takut aku akan mengetahui perasaan hatinja, tangannja itu dimasukkannja kedalam kantong tjelananja. Demikian ia berdiri tegak lurus dan melihat kepada kolam jang ada diluar kamar. Tiba-tiba:
„Ia tidak pertjaja. Dan saja berkata: „Malam ini saja tidur dikamar njonja.” Perempuan itu berdiri dan masuk kamar. Lutju pengalaman ini. Nanti saja akan melihat mulut jang menjebut-njebut utjapan Krishnamurti berobah mendjadi suatu mulut-tak-djadi, mulut serigala.”
„Besoknja saja pindah hotel. Engkau tahu, bahwa kedjadian sesaat mungkin mempunjai pengaruh kepada pikiran kita. sekarang saja bentji kepada orang jang seperti ini. Tjelakanja setiap hari saja bertemu dengan dia. Sehingga saja takut, saja tidak berani lagi bersahabat dengan siapapun djuga. Saja tjari orang jang tidak seperti jang saja kenali, jang tidak akan membitjarakan kasih dan lain-lain, jang akan menaksir saja pada kegiatan dan kesanggupan saja. Saja tidak usah takut, bahwa saja akan menghormatjinja pada suatu hari, sehingga saja tidak akan tertipu. Orang-orang ini akan memberikan segala-galanja kepada saja, barangkali djuga hatinja, tetapi fikirannja tidak.”
Seolah-olah segala arus perkataannja telah selesai, ia melurus-luruskan seterika tjelananja lalu bersiap untuk berdiri.
„Saja akan pergi”, katanja.
„Kalau engkau perlu rumah…—kataku—tapi achir kalimat itu membeku pada senjuman mengedjek jang terbajang dibibirnja.
„Machluk jang sehina-hinanja pun mempunjai hak untuk beroleh atap diatas kepalanja….”
Ia terdiam. Ia dan aku. sangkaku tidak ada jang akan dapat kami bitjarakan lagi. Karena tiada ada lagi kata jang akan beroleh tampat. Engkaupun barangkali, djika keadaanmu seperti keadaanku pada saat itu, tidak akan dapat berkata apa-apa lagi.
Ja, ja, aku dapat melihat pada matamu jang belum berpengalaman itu suatu utjapan: kisahmu belum selesai, tinggallah ia dirumahmu, bagaimanakah nasibnja. Ah, barangkali djuga engkau menghendaki suatu „happy end” seperti jang biasa diperlihatkan oleh roman-roman murah. Sajang sekali ini bukan roman. Tapi bagaimanapun djuga aku akan mentjoba mengabulkan permintaanmu itu.
Tidak, ia tidak tinggal dirumahku, karena achirnja ia tahu, bahwa akupu tidak punja rumah dan mesti kudirikan pula terlebih dahulu. Sebab itu ia pergi. Tetapi, satu hal aku tahu. Bahwa ia sekarang telah memperoleh suatu kepertjajaan. Sekarang ia pertjaja pada kasih jang tadi ditindakkannja. Ja, ia pertjaja pada kasih, ini aku tahu benar, karena….karena….karena mahasiswa itu ialah aku sendiri.”
„Selamat malam!”