Publisher Note (Tentang Penulis)
This edition included a publisher’s note in Mandarin. For this digital restoration, this page has been translated into Indonesian Enhanced Spelling.
Penulis: Sobron Aidit
Penerjemah: Li Xu
Sobron Aidit adalah penyair dan penulis kontemporer Indonesia. Beliau lahir di Belitung, kepada sebuah keluarga buruh, pada 2 Juli 1934. Ayahnya sempat memimpin pergerakan melawan Belanda. Aidit mulai menulis sejak sekolah dasar, saat masih berumur 13 tahun. Karya cerpen dan puisinya pertama kali muncul di majalah “Tempo” dari Medan. Puisi yang beliau tulis amat banyak, tetapi pembaca umumnya berpendapat bahwa cerpen Aidit lebih baik daripada puisinya.
Basimah, novela ini, memenangkan kusala novela terbaik dari koran Renmin Ribao pada tahun 1961. Novela ini bercerita tentang perjuangan seorang martir perempuan bernama Basimah melawan Belanda, yang digambarkan melalui sudut pandang seorang anak kecil. Penulisannya jelas, sederhana, namun bertenaga; Aidit memiliki bakat yang amat jelas.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
TAHUN 1946. Dikampung kami penduduk sudah mulai terbagi, jaitu kaum jang tidak mau bekerdjasama dengan Belanda, dan kaum jang berpihak dan bekerdjasama dengan Belanda. Djumlahnja lebih banjak adalah dipihak Belanda dan kaum ini hidupnja sangat senang, tjukup makanan, pakaian, dan kemewahan-kemewahan jang tjukup mengilerkan kaum republiken jang kurang kuat pendiriannja. Betapa tidak, kaum jang republiken jang mesti tjari makan sendiri ditengah lautan bekot membekot, bentji membentji, hina menghina, dan penuh kemelaratan, tapi keluarga kaum jang bekerdjasama dengan Belanda kebandjiran beras, barang² kalengan seperti susu, corned beef, mentega, ikan kaleng dan terigu, serta segala matjam seperti roti Eropah.
Peropaganda-pun mengiringi pembagian itu dengan sembojan Holland tolong Indonesia. Dipasar, ditengah keramaian, dan ditempat pembagian distribusi makanan dan pakaian untuk pegawai² jang bekerdjasama dengan Belanda, selalu ada sembojan itu: Holland tolong Indonesia, satu perkataan jang memedihkan kaum republiken. Waktu itu ajahku termasuk kaum republiken dan anti Belanda. Karena itu pula kehidupan kami: melarat, penuh edjekan jang dilemparkan oleh kaum pro-Belanda; djuga dari pihak pro-Belanda dari keluarga ibuku, dan kami mesti tjari sendiri membanting tulang ditengah lautan kemewahan mereka jang senang mengedjek, menghina: — „Apalah artinja mau melawan Belanda, kita jang lemah tak berdaja ini. Apalah tjukupnja hanja dengan tidak mau bekerdjasama dengan Belanda, hanja menjiksa diri sendiri”, demikianlah keluh orang banjak, orang² jang bekerdjasama dengan Belanda dan orang jang bersimpati dengan mereka.
Tapi ajah terus mendjadi kaum republiken. Ajah membuat sungkur sendiri (sungkur itu ialah sematjam djala, jang didorong dengan dua buah batang bambu, alat menangkap ikan dilaut, sungai). Pergi kelaut djam 18.00 pulang djam 03.00 atau djam 04.00 dan membawa ikan, udang. Ikan dan udang inilah didjual untuk beli beras. Kadang-kadang aku dan adikku mendjualnja kepasar, kadang² tak perlu kepasar, orang² datang kerumah kami dan memilih sendiri ikan², udang² itu. Setiap hari pekerdjaan itu dilakukan.
Dirumah kami kadang² tempat pertemuan kaum republiken, beberapa orang kawan ajah jang kukenal. Pembitjaraan mereka tidak begitu djelas, tapi kadang² suaranja keras, berdebat, kadang² diam dan bisik-bisik pelan². Kemudian pulang satu², datang lagi jang lain, pulang lagi, datang lagi, debat lagi, pelan², bisik²; bubar; itu sadja. Kadang² ajah membawa koran, menundjukkan koran itu pada kawannja : — „Lihat ini, di Djawa sudah lama mulai, Sumatera mulai, Sulawesi kemaren dulu, Makasar” — katanja.
Aku tidak tahu apa itu, dan aku tak begitu ambil perhatian. Jang penting bagiku sekolah, habis sekolah mengadji, habis mengadji sama teman teman sebaja, ngobrol disurau, melempari andjing Belanda beramai-ramai. Kalau malam sesudah mengadji djam 20.00 atau 21.00, lalu ramai² dengan kawan² sebaja ngobrol ditengah djalan dengan tidak usah takut ditubruk mobil, sebab kampung kami djarang ada mobil, paling² mobil Belanda, sedan, atau truk militer jang mengangkut beras, sepeda, terigu, barang² kalengan untuk kaum co. Kadang² djuga sendjata untuk dibawa kegudang sendjata, disimpan baik-baik dan dikeluarkan bila militer-militer Belanda perlu sendjata untuk membunuh, bertempur dipulau lain, di Sumatera, Lampung, Palembang atau dipulau mana sadja. Pulau kami aman ketika itu, rakjatnja baik² menurut Belanda, tidak ada pemberontakan, tidak ada jang mau melawan Belanda, kaum republiken boleh banjak toch mereka menjiksa diri, lama² djuga tertarik bekerdja sama Belanda; demikianlah pendapat Belanda. Belitung, suatu pulau jang aman, tenteram, dingin seperti timah dingin, demikian kata Belanda. Mereka belum mendapati timah sewaktu masih tjair - panas membara - lengket.
SEHABIS mengadji kami duduk² ditengah djalan. Kami djuga mempunjai golongan anak² kaum non, anak² sekolah di SR bukan di HIS. Kadang² kami berdebat djuga, siapa jang akan menang; Belanda atau Indonesia dan Indonesia itu maksudnja Sukarno, pihak republik. Tapi perdebatan itu selesai dengan baik, sebab sama² sependapat : pihak republik pasti menang, kata ayah kami masing-masing dan kami anaknja jakin, tapi tidak bisa menerangkan apa sebabnja pasti menang, hanja mengerti dan merasakan. Sudah itu djalan lagi. Dan pada achirnja ada maksud mengintip. Mengintip rumah seorang djanda. Djanda itu Basimah namanja. Seorang djanda jang tidak begitu baik namanja dikalangan orang² kampung, Basimah pernah melahirkan anak tanpa suami jang terang dan anak itu meninggal sewaktu umur dua hari. Kedjadian itu tiga tahun jang lalu, tapi orang² tidak lupa, meskipun Basimah sendiri sudah lupa.
Djanda Basimah belum begitu tua, tidak begitu tjantik, hidup sendirian. Mentjari sendiri, berdjadja (berdjualan kue) berkeliling. Katanja achir² ini djualannja sangat laku bila dibawa ketangsi Belanda dan asrama, Belanda senang dengan nagasari, kelepun, onde², ketan. Belanda² itu sebenarnja Belanda hitam, lebih hitam dari kulitku. Belanda jang putih djarang² kelihatan. Paling² hanja memerintah, tundjuk ini tundjuk itu, teriak sini teriak sana dan Belanda hitam mengerdjakannja.
Achir² ini di rumah Basimah sering kami lihat ada orang masuk; diam² laki² masuk kedalam. Tidak lama keluar dan ada lagi jang lain masuk, setengah djam keluar lagi. Kemudian datang lagi dua tiga orang, pulang, datang lagi jang lain, pulang, terus sampai djauh malam. Inilah jang ingin kami intip. Hebat Basimah ini, pikir kami anak² jang sudah agak dewasa.
— , Basimah ini memang luar biasa, bisa menampung 8 atau 9 orang laki² dalam beberapa djam" — kata Ali kawan kami jang terbesar.
— „Rupanja Basimah ini tidak hanja berdjualan djadja, tapi djuga daging mentah ” — kata Djamal kawan kami jang senang ngomong kotor. Dan kami tertawa ramai-ramai.
— „Sekarang sadja, mumpung laki²nja masih didalam ”, — kata Djuki. Dan kami beramai-ramai pergi menudju kerumah Basimah. Badanku dingin² panas, agak gemetar, tapi senang, enak. Malam gelap, kampung kami belum ada listerik. Kami berdjalan tanpa bitjara. Djamal didepan, kemudian Ali, Djuki, Razak, Denan, aku dan Saman. Dekat rumah Basimah, kami lebih berhati-hati, dan berdjingkat-djingkat.
— „Masih ada", -bisik Djamal.
— „Pelan², awas ranting kering” —. Daun² kering dan ranting kering berbunji agak keras. Dari djauh andjing melolong. Kemudian bunji andjing berkelahi. Bunji itu menjenangkan, agar kami lebih bebas bergerak- tanpa bunji indjakan. Sampai kedinding rumah Basimah. Kelihatan sebuah pelita. Tapi orang² laki² tidak kelihatan. Kedengaran bunji suara jang tidak djelas, hampir bisik². Kami masing² mentjari lobang atau sela² dinding jang agak lebar. Kudapati lobang jang agak besar. Kelihatan sedikit Basimah sedang duduk, dan seorang laki² lagi. Tampaknja orang laki² itu aku kenal. Tapi belum berani kupastikan siapa dia. Mirip pak Kadir, seorang kawan ajahku kaum republiken. Tapi lekas² sangkaan itu kubuang. Tak mungkin pak Kadir. Pak Kadir sering kerumah dan bitjara dengan ajah. Pak Kadir baik hati dan tetap pendiriannja. Tidak, tidak mungkin pak Kadir pikirku. Djamal mendekati aku, didorongnja aku agak kepinggir, dia merampas lobang intaianku. Lama dia melihat kedalam, dan kedengaran bunji nafasnja turun naik.
— „Seperti pak Kadir" -bisiknja.
— „Bukan" -.
— „Tjoba kau lihat, mirip pak Kadir. Persis" -.
— „Aku sudah lihat lama, bukan pak Kadir, orang lain " — djawabku.
Kemudian kedengaran suara tak begitu djelas, tenang, bisik², pelan². Lama² kami agak bosan menunggu, tak ada apa², tak ada bunji randjang, tak ada bunji jang kami tunggu². Lalu kami meninggalkan rumah itu. Berkumpul lagi ditengah djalan, duduk ngobrol.
— „Kita terlambat" - kata Djamal.
— „Barangkali mereka sudah selesai" - kata Ali.
— „Kau sih jang salah, tadi kuadjak lebih siangan." -
Dan dari djauh kedengaran lontjeng ditangsi berdentang sepuluh kali. Suara suara kami sudah djarang². Kemudian lelah, ngantuk, diam menguap.
— „Pulang ah" - kata Ali.
— „Ja ah" -, Djamal bangkit.
Dan kami pulang. Kudapati ibu sedang menganjam tikar. Demikianlah kami. Ajah menjungkur, ibu menganjam tikar, aku berdjualan ikan, udang, atau kadang² tikar. Begitu terus. Siang kawan-kawan ajah berkumpul, ngobrol, kadang² berbitjara bersemangat. Datang pak Kadir. Ku amat-amati. Jah memang, orang jang dirumah Basimah dulu seperti pak Kadir. Tapi bukan pak Kadir, pasti bukan ! Aku melawan pikiran itu.
SUATU MALAM, kami ingin mengintip lagi. Kami lihat dari djauh Basimah membukakan pintu. Masuk seorang, kemudian dibelakangnja ada dua orang laki² lagi. Pintu ditutup. Kami memperhatikan dari djauh. Tidak tahu siapa. Tapi apalagi kalau bukan mau berbuat buruk, begitu pikirku.
Kami pergi mendekati rumah djanda itu. Seperti biasa kami berdjingkat, takut kalau kalau kedengaran dari dalam. Semakin dekat lobang pengintip, djalan darah semakin kuat. Aku merasa panas dingin, gemetar, tapi enak, dan kadang² djalan darah deras sekali, rangsang membangkitkan nafsu. Hampir dekat lobang dan sela² dinding. seekor katak melompat dan kena betisku. Aku terkedjut, lalu berteriak keras: „Aduh apa itu, ular!".
Dan aku menggeleparkan kaki. Suara itu tjukup keras kedengaran kedalam. Dua orang kawan mengindjak ranting kering dan suaranja men djadi². Seorang lari, disusul seorang lagi.
— „Siapa itu." — seru suara dari dalam. — „Mau apa kalian"—, kemudian pintu dibuka. Kami lari tjepat. Bersembunji dibalik pohon. Gelap sekali. Kami dapat melihat dari djauih, ada sinar lampu dari pintu. Aku bersembunji dibalik pohon kelapa, agak dibelakang dapur rumah djanda itu.
— „Apa heh, mau apa. Menggangga kesenangan orang sadja! Dasar anak² tidak ada kerdjaan" - gerutu suara Basimah.
Tidak berapa lama pintu ditutup lagi. Kaimi satu² menudju kedjalan, berkumpul. Tidak bitjara. Antjaman Basimah tjukup mejakinkan. Achir² ini memang dia sering berdjadja ketangsi militer Belanda dan keasrama jang tak djauh dari gudang mesiu. Dia banjak kenal militer, kue²nja disenangi militer, ketangsi polisi banjak kenal polisi. Aku djadi takut.
— „Apa jang dia bilang tadi" — kata Razak.
— „Alah, itu kan hanja antjaman, agar kita taakut dan tak akan mengintip, djadi dia senang berbuat maksiat itu tanpa kita mengganggu" — kata Ali.
— „Kotor kampung kita ini. Mau seperti dulu Basimah ini."
— „Belum tjukup djadi pembitjaraan orang²"—Kutu seseorang.
Sudah itu kami tidak ngomong lagi. Lari pulangi. Malam besoknja kami mengintip. Dari djauh kami lihat seorang laki² masuk kerumah djanda itu. Beberapa menit datang lagi seorang, dan diiringi laki² lagi. Kami hanja melihat dari djauh. Hati ingin mengintip, tapi agak takut. Apalagi mendengar antjaman malam kemarinnja.
— „Tentu jang masuk itu polisi”— kataku.
— „Ja, satunja lagi militer Belanda", — kata Saman kawanku jang karib.
— „Ach bohong, setahuku belum ada militer dan polisi masuk kerumah itu, paling² orang kampung lain atau kampung ini djuga jang kurang hiburan" — kata Ali.
— „Jang bininja djelek" — kata Djamal, kemudian dia landjutkan: „Basimah ini kan kelas murahan, lagi tidak tjantik, lagi tuan militer dan polisi mainnja jang kelas lumajan. Basimah ini kelas pitjisan, kelas rongsokan, kelas musium !" . Kami tertawa ramai. Lalu ngobrol lagi. Hari makin malam. Lontjeng ditangsi kedengaran sepuluh kali. Kami pulang satu². Dua tiga malam kami tidak mengintip, perai.
Dari djauh tetap kami awasi rumah djanda itu. Pintu dibuka, laki² masuk ; buka lagi, pulang, datang jang lain. Kami tidak tahu siapa jang datang. Gelap, sembunji - sembunji dan penuh rahasia.
MALAM ITU habis mengadji. Ajah sudah pergi kelaut. Aku turun menudju kedjalan tempat kami berkumpul. Sudah ada kawan², tiga orang. Datang lagi seorang. Jang besar antara kami hanja Djamal. Ali tak datang. Kami ngobrol lagi.
— „Mengintip kita malam ini" — kata Djamal.
— „Kukira sudah boleh, Basimah tentu sudah lupa jang dulu itu" —
— „Mari kita” — kata Djamal sambil bangkit dan berdjalan dimuka kami. Kami menudju kerumah djanda itu. Pelan² dan hati². Aku lebih berhati-hati. Sebab dulu karena akulah pengintipan djadi gagal. Sekarang aku tak takut lagi. Paling² hanja katak. Aku djadi lebih berani. Kami semakin mendekat. Tentu sadja aku sudah hafal dimana lobang dulu. Sebelun diserobot kawan lain, aku lebih dulu mendekati lobang itu dan menguasainja. Mula² kelihatan Basimah. Basimah sedang duduk ditikar. Dan dihadapannja samar² seorang laki² jang seperti pak Kadir dulu. Disebelahnja ada laki² lagi. Kedengaran mereka bertjakap, tapi tidak djelas, hanja suara jang pelan². Ditengah·tengah ada pelita. Orang jang mirip pak Kadir itu duduk bergerak-gerak, kemudian pindah tempat dan kelihatanlah laki² disebelahnja itu. Tiba² mataku djadi begitu tadjam. Kutatap dengap tepat, dan mataku djadi galak, menjelidik.
— „Astagafirullah, laki² itu ajahku, jah pasti ajahku, aku kenal betul ” —bisikku pada diri sendiri. Berkali-kali bola mataku meluntjur dari kaki sampai kekepalanja. Rambut pendek, lengan badju pandjang, tangannja, mukanja, tak salah lagi ajahku. Denjut darahku djadi bertambah deras, berdentang, dada turun naik, perasaan marah, berkobar terbakar. Begitu mengchianat ajahku ini. Orang tua tak tahu malu, sudah punja isteri, sudah punja anak, hampir² punja tjutju masih djuga hidung belang dan njeleweng. Satu²nja pengchianatan jang paling besar terhadap ibu. Rasa marahku tak dapat memaafkan kesaahan ajah ini. Aku djadi gemetar, marah, bentji, sedih, malu, satu pengchianatan terhadap ibu. Lagi² kupandangi, tidak, tidak salah itu adalah ajah. Lihat dia membuka sesuatu, kertas, lebar, menundjuk dikertas itu, apalagi kalau bukan uang barangkali, membajar djanda terkutuk itu. Aku tidak mau melihat kedjahatan ini, pantas sadja pak Kadir sering² kerumah, djangan-djangan membitjarakan djanda rongsokan itu, dan ajah terseret.
Lekas² aku pulang sendiri. Lobang itu kutinggakan. Ach betapa malu bila lobang itu didapati anak² lain dan anak² itu melihat didalamnja ada ajah. Kuambil sebuah batu, dan djauh sambil berlari kulempar rumah haramdjadah itu. Kedengaran indjakan kaki anak² berlari dan sajup kedengaran bunji suara marah² menggerutu. Aku berlari menudju rumah, akan kuadukan kepada ibu, biar ibu menghadjar ajah. Biar apa djuga jang akan terdjadi, perkelahian, pertumpahan darah, tjerai sekalipun, tapi pengchianatan tak boleh terdjadi. Sampai dirumah aku naik menudju kamar jang biasa ajah tutup dan kerdja sendirian didalamnja. Betul, didalam kamar masih ada sungkur, djadi ajah tak kelaut, tak mentjari uang tapi kerumah djanda pendjual kue, kue daging itu. Aku dapati ibu sedang mendjerang kawah untuk persiapan ketan jang mesti kudjual besok. Nafasku turun naik, sesak penuh kemarahan. Melihat aku gelisah tak keruan ini, ibu djadi tjuriga. Bertambah tjuriga setelah aku mengikuti ibu terus, kedapur ketengah rumah, keluar mengambil air, kedapur lagi, ketengah rumah.
— „Mengapa kau ? dikedjar orang? kau berkelahi? "
— „Tidak, tidak apa², tapi ................."—
— „Ada apa ................ kau putjat" — kata ibu. Dan aku tak tahan lagi. Ini suatu pengchianatan jang tak ada taranja, dan mesti dihamparkan dihadapan ibu.
Ibuku, wanita tua jang setia, djudjur dan sabar.
— „Sini mak," — kataku.
— „Ada apa² tentang ajah. Sini duduk! " — Aku pimpin tangan ibu ketengah rumah dan duduk dekat pelita. Dadaku turun naik, gemetar marah, sedih malu.
— „Ajah kemana mak? "
— „Ajahmu kelaut kan"
— „Tidak, tidak kelaut. Bohong! " — Dan aku tak sabar lagi. Sudah biasa, kami anak²nja selalu berterus terang, tak ada rahasia, bebas, tapi penuh hormat.
— „Ajah bukan kelaut. Ada disana."
— „Habis kalau tak kelaut kemana? Dia kan sudah turun sebelum kau turun habis mengadji tadi." —
— „Ajah ada dirūmah Basimah! " — kataku dengan gagah
dan marah.
— „Kerumah Basimah? Dari mana kau tahu dia ada di sana" —
— „Aku mengintip kesana ; ajah ada disana, pak Kadir pun ada djuga" —
— „Mengapa kau kesana? Bukannja melantjarkan pengadjianmu; berdjemaah sembahjang? " —
— „Aku sering mengintip dengan kawan². Rumah Basimah sering ađa laki² masuk. Sekarang ajah ada disana." —
— „Biarkan dia. Nanti mak bereskan. Tapi mengapa kau mesti mengintip, biarkan urusan orang lain, perduli apa, djangan lagi! " —
Mendengar kata² ibu ini, betul² aku djadi lebih heran. Mengapa ibu tidak marah seperti aku marah pada ajah. Pengaduanku tidak berhasil. Tapi tentu nanti ada apa² antara ibu dan ajah, sebab tadi ada perkataan „bereskan" .
Aku pergi kekamar tidur. Dari djauh kedengaran lontjeng sepuluh kali ditangsi militer Belanda. Tak lama sudah itu kedengaran bunji langkah orang, langkah ajah naik tangga. Kedengaran menudju ruang tengah. Aku mendekatkan telinga kedinding. Bunji ajah bitjara dengan ibu. Tak djelas. Tapi tenang, satu² suara ibu lebih tenang. Tidak terdjadi apa². Aku menanti. Tak ada pertengkaran. Kemudian suara itu hilang. Ajah masuk kamar. Ibu meneruskan djahitan. Aku Bertambah heran. Barangkali besok pagi ada apa², sebab ibu tak mau bertengkar tengah malam, kalau² kedengaran tetangga.
Besok pagi aku lekas² bangun. Kudapatkan ajah sudah duduk² diruang makan. Kulihat dia sedang membatja. Aku bentji melihatnja. Tak didengarnja langkahku melewati ruang makan itu. Tapi sampai aku pergi berdjualan kue, sebelüm sekolah tak ada apa². Aku pulang kerumah, tak ada pertengkaran. Pergi kesekolah, lantas pulang, ajah ada dirumah, sedang omong² dengan ibu tenang sekali. Hari itu tak ada apa². Tak ada perkelahian. Pengaduanku tak berhasil.
"KAU djangan ke-mana² lagi bila malam hari" — kata ajah "Habis mengadji, lalu beladjar dirumah. Batja² buku" ajah tahu bahwa aku sanang membatja tjerita², dongeng², sjair Aku diam. Malam itu aku tersiksa. Malam itu ajah keluar lagi tidak kelaut, sebab sungkurnja tetap ada sadja dikamar kerdjanja. Kemana lagi kalau bukan kerumah Basimah berangkali.
Dua malam, tiga malam, aku tersiksa. Dan ajah selalu keluar malam tapi bukan kelaut. Ibu tenang² sadja. Aku tidak mengerti. Mau bertanja segan, sudah sadja, toch ibu sudah kuberi tahu, bukan salahku. Hanja sekarang aku djadi tersiksa. Rumah kami penuh rahasia menurutku. Bila siang² aku bertemu dengan kawan²ku, terasa mereka mengedjek dan mempermainkan bola matanja. Barangkali mereka sudah tahu ajah sering² kerumah Basimah. Aku tak perduli dan aku mendjauhkan diri dari mereka. Malam menguntji diri, siang menjendiri. Kawan² ajah masih seperti biasa, sering datang, bitjara² pelan², keras, berdebat, tenang bersemangat lalu pulang, datang lagi jang lain, berulang begitu terus.
MALAM itu aku masuk kamar, membatja. Kudengar ajah melangkahkan kaki, dan kudengar pula beliau bitjara dengan ibu, tenang; dan kudengar langkah ibu mengantarkan ajah sampai tangga, lalu hilang suaranja. Ibu masuk kembali membuka kamarku.
"Kau beladjar? Habis beladjar lekas tidur!" — kata ibu. Aku tidak mendjawab. Ibu masuk kembali. Tapi keinginan untuk keluar menemui kawan², tambah mendesak. Ingin mengintip rumah djanda Basimah. Tapi lama² keinginan itu bertambah kurang. Mata djadi pedas dan ngantuk. Menguap dua tiga kali. Merebahkan diri dan enak sekali, mengudjurkan badan jang penat. Dari djauh terdengar lontjeng sepuluh kali. Lontjeng ditangsi militer Belanda. Biasanja hari begitu kami bersiap pulang dari mengintip. Sekarang aku telentang dipembaringan. Kira² lima menit sesudah lontjeng, tiba² terdengar bunji letusan jang hebat, menggegar bumi. Dar, der, dur.........tang, tet tet.......... tet .......... ted .......... pandjang sekali. Kemudian bunji letusan bom jang dahsjat sehingga rumah terasa bergegar. Aku bangun dan bangkit, lekas membuka pintu, keluar. Dalam gelap itu kelihatan tjahaja api membubung keatas dan suara menggelegar keras, sehingga daun djendela terdengar ber-derak².
Disana-sini terdengar bunji rentetan senapang dan berondongan senapang mesin. Kadang² kedengaran letusan senapang satu², hilang satu² lagi; hilang dan kebakaran, api menjembur keatas, mendjulang. Langit mendjadi terang dan kebakaran terlihat arah tempat tangsi militer Belanda dan gudang sendjata Belanda dikampung Baroh kira² satu setengah kilometer dari rumah kami. Kudengar ibu keluar.
„Tangsi militer dan gudang sendjata, mak" — kataku.
„Ajo masuk tidur! Naik lekas, masuk kerumah."
„Mak, ajah kemana?"
„Biarkan dia, mudah²an tak ada apa²" — Ibu memimpin aku keruang tengah dan memeluk aku. Dan aku djadi takut, tjemas, bimbang, ada apa² ini.
„Berdoalah agar ajahmu selamat."
„Mengapa ajah, mak?"
„Tidak apa², sebentar lagi djuga kembali. Tidurlah!" Aku tak bisa tidur. Bunji dentuman, letusan sudah agak djarang².
Djauh malam sekali kudengar ajah datang, dan masuk lalu bitjara pelan-pelan dengan ibu. Kemudian suara itu lenjap. Pagi² kudapati ajah sudah tak ada lagi dirumah. Beliau sudah
pergi.
"Kemana ajah, mak ? "
"Dia pergi. Kau habis sekolah djangan ke-mana² lagi. Tinggal dirumah sadja. Nanti malam ajahmu datang."
Malamnja kutunggu, tapi ajah belum djuga datang. Sampai djam sepuluh ajah belum datang djuga. Beberapa lama kemudian kudengar langkah orang. Langkah ajah masuk keruang tengah. Bitjara dengan ibu. Aku bangkit dan mendapatkan ajah, lekas² ajah ngomong: — „Kau belum tidur? Tidurlah sudah malam. Kau radjin² beladjar ja! Ajah pergi lagi. Besok lusa ajah datang. Baik² tinggal dengan emakmu" —. Belum sempat aku mau berkata, ajah sudah turun dan pergi lagi. Kami antarkan sampai djalan depan rumah. Besoknja. malam kudengar lagi ajah datang, tapi sebentar sekali dan pergi lagi. Dan lima hari sesudah kedjadian itu, satu kedjadian jang tak dapat dilupakan orang kampungku. Tiga truk militer Belanda datang kekampung kami lengkap dengan sendjata berat. Mereka menudju rumah Basimah. Rumah djanda itu dikepung dan dikelilingi barisan bersendjata, sesudah dibongkar, pintu dan djendelanja, mereka mengadakan penggeledahan. Sudah itu rumah itu dibakar, api mendjilat habis, terdengar bunji letupan api makan kaju²an dan bambu. Orang² kampung kami melihat sadja dari djauh. Beberapa orang jang ditjurigai ditangkap, dan umumnja orang² republiken. Waktu itu siang djam 12.00. Sorenja barulah diketahui, rumah Basimah dibakar militer Belanda karena rumah itu markas gerilja jang sudah lama ditjium Belanda tapi belum diketahui dimana pastinja, tempat pertemuan kaum gerilja pelawan Belanda jang baru² ini meledakkan gudang sendjata dan menghantjurkan asrama tentara Belanda. Basimah sendiri tidak diketahui dimana dia, apa sudah ditangkap atau dibunuh, tidak seorangpun dikampung kami jang mengetahuinja. Dua hari sesudah pembakaran itu, ajah belum djuga pulang. Hari ketiganja rumah kami didatangi militer Belanda dua truk berisi penuh tentara Nica. Semua lemari, latji², dan loteng diperiksa. Beberapa surat² dan buku² dibawa serta. Aku dan ibu melihat sadja dengan rasa tjemas. Ibu agak putjat dan beliau memeluk badanku. Sesudah tanja², dan ibu mendjawab seperlunja, mereka pergi. Beberapa hari rumah kami diawasi oleh polisi, militer, kemudian oleh resersi, dan resersi ini adalah keluarga ibu sendiri. Mereka me-lihat² dari djauh. Ajah tidak pernah datang. Seminggu kemudian ada jang mengabarkan beberapa orang ditangkap dan ditembak Belanda ataranja Basimah.
KAMI kebingungan apakah ada ajah diantara mereka, tertangkap dan dibunuh. Tapi kebingungan segera lenjap setelah seorang nelajan kawan ajah datang membawa ikan dan membawa surat dari ajah. Antara lain surat itu berbunji begini:
„Agar kau radjin² Beladjar. Sesudah tammat SR segeralah berangkat ke Djakarta. Ajah menudju Tjirebon dan akan berangkat ke Jogja, disana menggabungkan diri. Kau dan emakmu dan adikmu agar selalu tenteram, djangan malas mentjari makan, tolong emakmu mentjari kehidupan untuk kalian. Seorang pendjual djadja Basimah jang rumahnja sering kau intip adalah pahlawan sedjati, setia dan tabah mendjalankan tugas."
Demikianlah surat itu. Dan kehidupan kami berdjalan seperti biasa. Berdjualan kue, ketan, goreng pisang, tikar. Kami lebih terasing meskipun dikampung sendiri. Orang² jang bekerdjasama dengan Belanda semakin sedikit dan berubah mendjadi republiken. Tiga bulan kemudian datang seorang nelajan kawan ajah dan membawa surat. Ajah sudah di Jogja menggabungkan diri, sudah bertemu dengan anak²nja jang sudah lebih delapan tahun ditanah Djawa. Jang tertua aktip dalam persiapan proklamasi kemerdekaan dulu sewaktu di Djakarta. Dan lima tahun kemudian ajah datang dari Djawa. Kedjadian jang penting ialah: Akupun waktu itu pulang liburan dari Djakarta melihat ibu dan kampungku, dan bukan itu jang penting. Jang penting ialah: kami memindahkan tulang² majat pahlawan jang meledakkan gudang mesiu, senjdata, militer Belanda 5 tahun jang lalu, menjapu bersih asrama tentara Belanda jang menjebabkan kerugian jang berat. Tulang tulang pahlawan itu dipindahkan kemakam pahlawan jang baru dibuat. Pahlawan sebanjak 50 orang. Jang paling terhormat diletakkan ditengah-tengah: makam itu makam pahlawan Basimah. Pada penutupan, ajah berkata: bahwa Basimah adalah seorang wanita pedjuang, gerilja jang paling djudjur, setia dan tabah, disiplin, tekun, setia mendjalankan tugas. Hendaknja djiwa kita meneruskan djiwa Basimah, djiwa pahlawan. Basimah jang dulunja pernah orang² sangka sudah terlempar dari masarakat, ternjata dengan kesedaran dengan pengertian jang dalam, adalah pedjuang tanah air. Bahwa Basimah pernah melakukan kesalahan achlak, tidaklah dapat didjadikan ukuran untuk selamanja. Segala itu berobah, berobah ke jang baik. Basimah pernah disangka mendjadi pendjual badan, tapi orang jang menjangka pendjual badan itu, adalah orang² jang tidak sedar sudah mendjual kehormatan dirinja dalam pengabdiannja pada imperialis Belanda. Dan banjak lagi kata² jang mengenangkan djasa-djasa Basimah serta pahlawan lainnja. Aku sendiri terkenang 5 tahun jang lalu : sewaktu ajah membuka kertas dirumah Basimah dulu, jang kusangka uang, duit pembajar badan Basimah, adalah peta jang menundjukkan djalan menudju ketempat-tempat jang penting gudang mesiu dan asrama itu. Betapa besarnja dosaku pada Basimah jang sudah menjangka begitu djauh tentang achlaknja. Ternyata achlak Basimah setelah diselidiki adalah achlak pahlawan, dan pak Kadir dulu itulah penghubung ajah dengan gerilja² lainnya, gerakan² dibawah tanah.
Sudah itu terasa betapa ketjil dan sedikitnja sumbanganku untuk revolusi. Aku masih berhutang, berhutang pada revolusi, ini harus kubajar.
SAMPAI sekarang, bila aku pulang kekampungku, tak lupa aku sengadja lewat makam taman pahlawan itu, dan mataku terpantjang pada tembok nisan jang litjin manis terpelihara, bertulisan : Basimah. Aku terdiam tertegun dan menjesal : mengapa waktu itu aku masih begitu ketjil. 1964 umutku baru mendjelang duabelas tahun, belum bisa berbuat banjak untuk revolusi, selain mengantarkan surat² rahasia jang penting untuk kawan² ajah jang sama² bergerak dibawah tanah, surat mana aku sendir tidak tahu bahwa surat itu adalah surat penting. Pikiranku hanja satu : tiap malam mengintip kerumah Basimah. Kini tak perlu mengintip, dia ada ditengah djiwa revolusi, terang membara. Bekas rumahnja sudah tumbuh subur serumpun pisang. Nama penghuninja ditengah-tengah makam² pahlawan tempat jang pali terhormat bagi patriot untuk pengorbananja jang sudah abadi, dan tulisan itu dengan tulisan merah saga menantang: B A S I M A H.