Publisher Note
Naskah drama satu babak ini pertama kali dimuat dalam majalah Indonesia, No. 9 Th. II pada bulan September 1951.
File hasil scan naskah ini merupakan koleksi pribadi Muhammad Reza Magistra.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
PERISTIWA INI TERDJADI PADA SUATU MALAM dalam tahun 1951 didepan kedai-kopi kepunjaan seorang perempuan tjantik bernama Mira.
Jang dimaksudkan dengan kedai-kopi kepunjaan Mira itu sebenarnja serambi-muka dari rumah Mira jang dibangun djadi kedai-kopi. Dan rumah Mira itu rumah-bambu, ketjil tapi masih baru, letaknja menghadap kedjalan, didirikan diatas bekas runtuhan rumah-batu jang hantjur oleh peperangan.
Entah kapan rumah itu didirkan disana, entah mulai kapan pula serambi-muka rumah itu dibangun djadi kedai-kopi. Tapi jang sudah pasti, kedai-kopi Mira itu seperti djuga kedai-kedai-kopi jang lain, selain dialati oleh perabotan-perabotan jang bersangkutan dengan keperluan pendjualan kopi, disana djuga ada disediakan barang-barang dagangan jang sudah basa didjual dikedai-kopi. Ada kueh-kueh, ada limun, ada sigaret, geretan dan sebagainja. Dan seperti djuga kedai-kedai kopi jang lain, didepan kedai-kopi Mira itupun ada bangku pandjang tempat duduk para pembeli, dan antara ruangan kedai dan bangku pandjang itu teralang oleh medja dan rak-dagangan setinggi dada—dan tidak ada pintu.
MALAM itu pukul 9 lebih. Mira jang tjantik nampak duduk dibelakang dagangan, dibawah lampu-listrik, hanja kelihatan dari dada keatas. Ibunja, perempuan sudah berusia landjut, ada diluar ruangan kedai asik menjapu-njapu halaman kedai. Dan didepan kedai, diatas bangku duduk seorang laki-laki masih muda, menghadapi gelas kopi diatas medja.
Laki-laki tu menghabiskan kopinja seraja katanja:
„Berapa, Mira?”
„Tiga talen,” djawab Mira.
„Kembali setalen,” kata laki-laki itu pula seraja menjerahkan uang.
Tapi Mira tidak mengasih uang-pengembalian. Setelah menerima uang dari laki-laki, ia terdiam sadja.
„Mana kembaliannja?” tanja laki-laki.
„Bah!” djawab Mira.
„Lho, setalen ja setalen.”
„Tapi engkau lama terlalu lama duduk,” kata Mira lagi. „Terlalu lama melihat wadjahku.”
„Melihat wadjahmu mesti bajar? Terlalu!”
„Mengapa terlalu?” balas Mira pula. „Toh isterimu dirumah tidak setjantik aku.”
Laki-laki itu kebingungan. Tapi achirnja ia bangkit berdiri seraja katanja:
„Ja, apa boleh buat.”
Dan dengan tidak berkata lagi ia terus berdjalan meninggalkan kedai, pergi kearah kanan.
“LAKI-LAKI berabe!” kata Mira setelah laki-laki itu djauh berdjalan. „Setalen sadja dihitung.”
„Maklum sekarang sudah bulan tua, Mira,” kata ibunja. „Sudah tiga malam berturut-turut kita kekurangan pembeli. Rupanja orang sudah pada kehabisan duit.”
Dan setelah berkata demikian, orang tua itu terus melihat kearah djauh kesebelah kiri.
„Heh, sepi sadja,” udjarnja lagi. „Kulihat hanja ada seorang laki-laki jang berdjalan menudju kesini.”
Tapi tiba-tiba a terkedjut. Dan katanja tergopoh-gopoh:
„Mira! Orang itu kiranja den Awal.”
Dan mendengar nama itu, Mira jang duduk dibelakang dagangan terkedjut pula. Tergopoh-gopoh ia meninggalkan tempat duduknja, membungkuk-bungkuk memasuki pintu kedalam rumah jang ada disampingnja sebelah kiri, seraja katanja kepada ibunja:
„Katakan sadja saja pergi ketoko!”
LAKI-LAKI jang bernama Awal itu berumur antara 27 dan 30 tahun. Badanja kurus, rambutnja gondrong tidak dipelihara. Dan ia datang kedepan kedai dengan langkah lesu terhujung-hujung. Berat bunji suaranja jang diperdengarkan didepan ibu mira:
„Mira ada, bu?”
„Ketoko, den,” djawab ibu Mira, „entah akan membeli apa.”
„Sudah lama?”
„Lama djua.”
Awal jang berbadan kurus itu lesu duduk diatas bangku. Duduk membelakangi dagangan. Kemudian memperdengarkan lagi suaranja jang berat:
„Kapan anak ibu itu berhenti mempertahankan?”
„Mempertahankan…?” tanja ibu Mira.
„Mau disebut apa lagi, kalau selama saja sakit, meskipun berkali-kali saja mengirim surat kesini minta supaja Mira sudi menengok saja kerumah, tapi dia tak pernah datang?”
„Dia banjak urusan, den.”
„Banjak urusan?! Hm ja, sekarang saja memaksa diri datang disini, dia tidak ada.”
Ibu Mira tidak mendjawab lagi. Diam-diam ia memasuki pintu disamping rumah sebelah kiri, tak lama kemudian keluar dari pintu jang tadi dimasuki Mira, ada didalam ruangan kedai.
Dari dalam kedai ia bertanja:
„Kopi-susu, den?”
„Biar, tak usah.”
Sedjurus lamanja ibu Mira terdiam membelakangi kepada Awal. Ahirnja diam-diam ia menghampiri radio jang ditaruh tidak djauh dari pintu kedalam rumah dan terus diam-diam menjetel radio itu.
Sebentar kemudian radiopun berbunji, memetjah kesunjian, mendengungkan suara perempuan njaring-lantang:
…dari itu, adalah sudah mendjadi kewadjiban kita kaum wanita, supaja dizaman sekarang in, setelah kita banjak kehilangan sebagai akibat peperangan, kita kaum wanita mesti lebih giat berdjuang berdampingan dengan kaum laki-laki guna membangun masjarakat damai ditanahair kita Indonesia jang indah dan molek ini. Marilah kita menjingsingkan lengan-badju kita…
Hanja sampai itu sadja radio berbunji. Sebab Awal jang duduk merenung-terhujung tiba-tiba bangkit berdiri seraja berkata katanja dengan tangan terkepal:
„Tutup radio itu, bu!”
„Menga…mengapa, den?” ibu Mira bertanja sambil menurut.
„Omongkosong semuanja djuga!” djawabnja, „Omongan badut. Hh, berdjuang berdampingan—tanahair jang indah dan molek! Enak sadja bitjara. Dia sendiri tak akan tahu apa jang dikatakannja. Asal sadja berbunji.”
Tapi setelah meluapkan kata-kata itu, kembali ia duduk terhujung.
„Be…betul, den, tidak akan minum?” tanja ibu Mira.
„Saja mau bitjara dengan Mira, bu,” djawabnja.
„Tapi barangkali akan lama djuga dia pergi. Tidak, dapatkah ibu menolong menjampaikan pesan aden kepadanja?”
„Saja mau bitjara dengan Mira sendiri,” djawabnja lagi. „Lain, lain dari omongan oranglain jang akan saja katakan padanja.”
„Tapi, den, Mira…anak ibu itu manusia biasa sadja. Djangan aden mengharapkan jang bukan-bukan dari dia.”
Awal mengangkat kepala, tegak memandang ibu Mira. Dan katanja:
„Siapa pula jang mengharapkan jang bukan-bukan? Saja tidak mengharapkan jang bukan-bukan dari Mira. Harapan saja dari Mira adalah harapan laki-laki sewadjarnja jang menginginkan supaja perempuan itu djadi kawan-hidup laki-laki. Itulah harapan saja. Dan harapan itu tidak bukan-bukan.”
„Maksud ibu, den,” kata ibu Mira lagi, „Mira itu bukan perempuan terpeladjar. Dia hanja tukang-kopi.”
Lagi sekali Awal jang berbadan kurus itu tegak memandang ibu Mira. Dan katanja:
„Apa arti terpeladjar dizaman edan seperti sekarang ini? Sangka ibu perempuan jang tadi berpidato diradio itu terpeladjar? Perempuan bitjara asal berbunji? Orang-orang sematjam itulah jang menguasai masjarakat kita sekarang—orang-orang jang merasa diri ada datas jang lain, tak tahu djiwanja sendiri kering dangkal, dunianja sendiri sempit. Lebih sempit dari kedai-kopi!”
Ibu Mira tidak berkata lagi.
DUA orang laki-laki datang dari kanan; kedua-duanja berumur lebih dari 30 tahun. Jang seorang berbadan besar-tinggi dan memakai badju biru. Dan jang seorang lagi, jang badannja agak pendek memakai badju putih. Mereka datang kedepan kedai dengan langkah ringan. Dan ringan pula suara jang diperdengarkan Si Badju Biru:
„Mana Mira, bu?”
„Ketoko,” djawab ibu Mira.
„Ah,” kata si Badju Putih, „kalau tidak ada Mira, kurang senang kita minum disini.”
„Biar,” susul Si Badju Biru lagi. „Kita tunggu sampai dia datang.”
Dan mereka lalu duduk tidak djauh dari Awal. Duduk menghadapi dagangan. Tapi Awal jang didekati, setelah memperhatikan gerak-gerik jang baru datang, terus sadja bangkit berdiri dan melangkah akan pergi.
„Kemana, den?” tanja ibu Mira. „Duduk-duduk dulu.”
„Biar, bu,” djawabnja pendek seraja terus berdjalan kearah kanan, tidak menoleh lagi kebelakang.
Langkahnja jang terhujung-hujung dipandang oleh Si Badju Biru. Dan djika jang dipandang sudah djauh berdjalan, berkata jang memandang itu kepada kawannja:
„Mengapa dia ketjut?”
„Seperti marah kepada kita,” djawab Si Badju Putih.
„Dia orang terpeladjar,” kata ibu Mira.
„Tapi nampaknja seperti orang tidak waras otak,” sambung Si Badju Biru. „Ja, dizaman setelah peperangan sekarang ini banjak sekali orang tidak waras otak.”
„Kalau tak salah,” kata Si Badju Putih, „dia sering datang disini.”
TIBA-TIBA Mira jang tadi masuk kedalam rumah, tampil dari pintu. Tampil dengan perkataan:
„Sudah! Djangan membitjarakan dia.”
„Lho, engkau ada, Mira?” kata Si Badju Biru. „Hampir sadja aku pertjaja bahwa kau pergi ketoko.” Dan sambungnja diarahkan kepada kawannja. „Tahu kau sekarang, bahwa Mira pergi ketoko bukan untuk kita, tapi hanja untuk pemuda jang tidak waras otaknja tu?”
„Ja,” djawab Si Badju Putih, „kasihan—sungguh kasihan dengan pemuda jang sial itu.”
„Aku bilang,” kata Mira seraja duduk lagi dibelakang dagangan, „djangan membitjarakan dia.”
„Katakanlah, Mira,” balas Si Badju Biru, „bahwa bagimu kami lebih berarti dari pemuda itu.”
„Apa jang lebih berarti? Kalian datang disini untuk membeli dagangan jang kudjual. Dan itu mesti kuladeni sebagaimana mestinja orang dagang, mentjari duit. Tapi pemuda itu…”
„Pemuda itu bagaimana?” tanja Si Badju Putih.
„Itu urusan aku dand ia. Kalian djangan turut-tjampur. Kalau mau minum, lekas katakan! Kopi-pait, mainis, atau pakai susu?”
Si Badju Biru jang sudah ringan berkata djadi ringan tertawa. Dan katanja:
„Dengar bagaimana gagahnja kekasih kita ini berkata! Dan inilah jang menjenangkan kita duduk disini, bukan? Sampai larut malam, senang kita nongkrong disini.”
„Lekas katakan!” kata Mira. „Kopi-pait? Manis? Atau pakai susu?”
Tertawa pula Si Badju Putih seraja katanja:
„Oh! Dia menjerang terus”.
Dan Si Badju Biru jang sudah tertawa melebarkan tawanja:
„Tapi kita djangan kalah. Minta kopi-susu! Biar taripnja dinaikkan, kita tak akan mundur.”
„Dua-duanja kopi-susu?” tanja ibu Mira.
„Tentu sadja, bu. Masakan beda!” djawab Si Badju Putih.
Dan sambungnja lagi diarahkan kepada Mira: „Mengapa radionja tidak disetel, Mira? Biar kita lebih senang duduk disini.”
„Bah!” djawab Mira. „Hanja pidato omongkosong melulu.”
„Biar setel sadja.”
„Tak usah,” kata Si Badju Biru, „tak usah dengar radio. Lihat Mira sadja sudah puas.”
PADA saat itu, dikala ibu Mira menjodorkan gelas kopi-susu kedepan Si Badju Biru dan kawannja, lewat kedepan kedai dari kanan seorang laki-laki dan seorang perempuan berpakaian bagus-bagus. Jang perempuan berdjalan dimuka dan jang laki-laki berdjalan dibelakangnja. Tapi didepan kedai jang laki-laki melambatkan langkah, memandang kepada Mira jang duduk dibelakang dagangannja. Dan ia memandang terlalu lama; demikian lama sehingga perempuan jang diiringkannja berkata kepadanja seraja menarik tangannja:
„Ajoh!”
Jang diperintah menurut, mempertjepat langkah. Tapi jang memerintah terus melihat Mira, dan setelah lama melihat terus meludah.
„Hei!” teriak Mira. „Apa arti ludah itu? Takut suamimu direbut?”
Meludah lagi perempuan jang sudah meludah itu. Dan katanja:
„Memangnja?”
Tapi setelah mengatakan itu tjepat ia berdjalan mendjauh.
„Pengetjut!” teriak Mira. Dan ia terus menjemburkan air. Dan tambahnja lagi setelah ternjata semburan itu tak berhasil. „Mengapa kau tidak protes kepada mojangmu jang melahirkan kau tidak lebih tjantik dari aku?”
Si Badju Biru enak tertawa. Katanja:
„Engkau djuga pengetjut, Mira! Mengapa perempuan itu tidak kaukedjar?”
„Hm,” djawab Mira, „memangnja mesti meributkan laki-laki begitu matjam?”
„Ada-ada sadja Mira ini” kata Si Badju Putih. „Baiknja kita tidak sampai melihat darah.”
„Siapa tahu,” balas Si Badju Biru, „antara suam-isteri itu sesampainja dirumah keluar darah.”
„Untung sadja kita belum kawin,” kata Si Badju Putih lagi.
„Katakanlah masih budjang,” kata Mira, „Hanja orang edan jang mau pertjaja.”
Tertawa lagi Si Badju Biru seraja katanja:
„Kau tidak pertjaja, Mira, bahwa kami belum kawin?”
„Hm, apa pertjaja? Mesti aku pertjaja kepada omongan orang jang ngomong lantaran ada aku?”
„Apa Mira?” tanja Si Badju Putih. „Apa maksud perkataanmu?”
„Kalau tidak mengerti, sudah!”
DARI kanan datang seorang anak laki-laki kira-kira berumur 13 tahun. Langkahnja tegas. Dan utjapannja jang diarahkan kepada Mira tegas pula bunjinja:
„Nona Mira?”
„Benar,” djawab Mira.
Anak laki-laki itu mengundjukkan setjarik kertas seraja katanja:
„In surat.”
„Dari siapa?”
„Dari tuan jang tadi datang disini.”
„Dimana dia sekarang?”
„Disana, menunggu digardu.”
Mira tidak bertanja-tanja lagi. Setjarik kertas jang diundjukkan anak laki-laki itu diterimanja. Terus dibatja tulisannja.
Sedang Mira membatja, bertanja Si Badju Biru kepada anak laki-laki:
„Disuruh oleh tuan jang badannja kurus, rambutnja gondrong?”
„Benar.” Djawabnja.
„Tjelaka tigabelas!” kata Si Badju Biru seraja tertawa. „Bohongnja ketahuan djuga.” Dan tambahnja diarahkan kepada Mira: „Dia tentu marah, Mira.”
Tapi Mira jang asik membatja, tidak membalas.
„Bagaimana, bu,” kata Si Badju Biru kepada ibu Mira, „kalau sudah ketahuan bohong?”
„Orang tua seperti ibu ini,” djawab ibu Mira, „tidak tahu apa-apa.”
„Ja, orang tua djangan dibawa-bawa,” kata Si Badju Putih seraja mereguk isi gelas jang dihadapi. Dan ia, sepert djuga kawannja, terus memperhatikan Mira membatja surat.
Hanja sebentar Mira membatja surat.
„Katakan sadja padanja, bahwa saja tak dapat meninggalkan kewadjiban disini. Lebih baik dia sadja jang datang kemari.”
„Baik,” djawab anak laki-laki seraja melangkah akan pergi.
„Katakan, saja menunggu, ja?”
„Ja.”
Dan anak laki-laki itu terus berdjalan kekanan. Langkahnja tegas seperti ketika ia datang kedepan kedai.
SETELAH anak laki-laki djauh berdjalan, bertanja Si Badju Biru kepada Mira:
„Apa isi suratnja, Mira?”
„Itu urusanku,” djawab Mira.
Si Badju Biru jang sudah sering tertawa, lagi sekali tertawa. Kemudian ia mendekati kawannja dan terus berbisik ditelinga kawannja.
„Berbisik apa?” tanja Mira.
„Itu urusanku,” djawab Si Badju Biru. Dan ia tertawa lagi. Dan kawanjapun tertawa. Terkekeh-kekeh mereka tertawa.
Tiba-tiba Si Badju Putih menundjuk-nundjuk kearah djauh kesebelah kiri seraja katanja:
„Lihat, Mira! Itu apa?”
Mira jang duduk dibelakang dagangan melengong melihat kearah jang ditundjuk Si Badju Putih. Lalai ia akan surat ditangan, tak tahu bahwa surat akan direbut Si Badju Putih. Dan setjepat Si Badju Putih merebut surat dari tangan Mira setjepat itu pula ia melemparkan surat kepada kawannja.
„Kurangadjar kau!” teriak Mira. Dan ia mentjoba memukul kepala Si Badju Putih. Tapi lantaran terhalang oleh medja dan rak-dagangan, pukulannja tidak kena.
Si Badju Biru jang tertawa-tawa mendapat surat, gembira membatja isinja:
„Mira! Meskipun kau barusan mendustai aku, tapi djiwamu dan duniamu bagiku tetap merupakan soal. — Oh, djiwamu, duniamu! Betul-betul orang ni sudah tidak waras otaknja.”
„Djadi Mira ini mempunjai dunia?” kata Si Badju Putih. Dan ia menggeleng-gelengkan kepala.
„Sudah!” teriak Mira.
Tapi Si Badju Biru tak mengatjuhkan teriakan Mira. Ia membatja lagi:
„Kau bagiku tetap bukan tukang-kopi.”
„Lho” sela Si Badju Putih. „Kalau bukan tukang-kopi, apa?”
„Dengar dulu! Dengar dulu!” kata Si Badju Biru. Dan ia membatja lagi:
„Karena itu aku ingin bitjara dengan kau berdua. Djangan ditempatmu, sebab ada…He, kita disebut badut-badut! Apa maksudnja?”
„Sudah!” teriak Mira.
Tapi Si Badju Biru melandjutkan membatja:
„Dapatkah sekarang djuga kau meninggalkan tempatmu barang sebentar? Aku menunggu digardu.”
Sampai itu berhenti ia membatja. Katanja seraja menjerahkan surat kepada Mira:
„Dan sekarang dia boleh menunggu, ja Mira? Menunggu sampai kami jang disebut badut-badut ini pada pergi dari sini.”
„Tapi kami tak akan pergi,” kata Si Badju Putih.
„Kalian kurangadjar!” kata Mira. „Biadab!”
„Katakan padanja, Mira,” udjar Si Badju Biru lagi, „bahwa dizaman sekarang ini sudah bukan waktunja lagi untuk memupuk perasaan rindu-dendam seperti dizaman sebelum perang.”
„Sekarang zaman serba tjepat,” kata Si Badju Putih. „Kalau tidak tjepat, tidak akan kebagian. Dan kalau tidak kebagian sekarang, kapan lagi? Bajangkan perang dunia ketiga sudah dekat.”
„Bah!” bantah Mira. „Kau tahu apa tentang perang dunia ketiga? Djangan kau bitjara tentang perkara jang kau sendiri tidak tahu!”
„Aku tidak tahu?” balas Si Badju Putih lagi. „Oh, gampang sadja kau menuduh. Buat apa orangtuaku dulu membajar uangsekolah supaja aku sekarang pandai membatja koran?”
„Hm, kau pertjaja pada koran?”
„Lantas? Dizaman sekarang ini, siapa jang tidak membatja koran, ketinggalan!”
„Patut!”
„Patut apa?”
„Patut kau ketinggalanm sebab kau dikelabui koran!”
„Lho…”
„Sudah, sudahm djangan bitjara,” kata Si Badju Biru seraja memandang kekanan. „Itu tuan jang menjebut kita badut-badut menudju kesini.”
Dan ia lalu pura-pura minum. Dan kawanjapun pura-pura minum.
LAMA dulu sebelum Awal jang berbadan kurus itu tampil lagi dari kanan dengan langkah lesu terhujung-hujung. Sampai didepan kedai, ia tidak terus mendekati bangku. Setelah Mira jang duduk dibelakang dagangan berkata:
„Silakan duduk, mas,” baru ia duduk diatas bangku. Duduk membelakangi dagangan.
„Kopi, mas?” tanja Mira.
„Ja,” djawabnja.
„Kopi untuk tuan Awal, bu!” kata Mira kepada ibunja.
„Pakai susu, den?” tanja ibu Mira.
„Ja, pakai susu.”
Tiba-tiba, setelah ibu Mira menjodorkan gelas kopi-susu kedekat Awal, berkata Si Badju Biru diarahkan kepada Mira:
„Mira! Meskipun kau barusan mendustai aku, tapi djiwamu dan duniamu bagiku tetap merupakan soal.”
Awal jang duduk membelakangi dagangan mendadak tegak. Tegak memandang Si Badju Biru. Tapi jang dipandang pura-pura tidak tahu dipandang. Dengan suara njaring berkata lagi ia seraja menghadapkan muka kepada Mira:
„Kau bagiku bukan tukang-kopi, Mira. Dan aku ingin bitjara berdua dengan kau. Djangan ditempatmu, sebab ada badut-badut. Karena itu…”
„Sudah!” tukas Awal.
„Bitjara pada siapa, bung?” tanja Si Badju Biru.
„Kau bitjara pada siapa?” balas Awal dengan dada naik-turun.
„Aku bitjara pada Mira. Betul tidak, Mira? Kutunggu engkau digardu, ja Mira?”
Awal bangkit berdiri. Sebentar ia memandang Mira. Kemudian memandang Si Badju Biru. Dan katanja:
„Perlu apa kau mentjampuri surat oranglain? Perlu apa?”
„He,” djawab Si Badju Biru. „Saudara marah pada siapa?”
„Kau buat apa mentjampuri urusan oranglain?” balas Awal lagi dengan suara lengking-gemetar.
„Mentjampuri apa? Gampang sadja marah pada orang. Pakai otak jang sehat, dong. Djangan gampang berkata. Dan gampang sadja menjebut badut segala matjam pada oranglain.”
„Memang kau badut!” djawab Awal lagi dengan tangan terkepal.
„Kau bukan manusia!”
Si Badju Biru berdiri, „Gila kau!” katanja. „Gampang sadja menjebut bukan manusia padaku.”
Awal jang sudah mengepalkan tangan tidak berkata lagi. Terus sadja ia menjerbu, menindjukan kepalan tangannja kepada Si Badju Biru. Tetapi Si Badju Biru jang berbadan besar tinggi—djauh lebih besar dari badan Awal—tjepat menangkis dan terus membalas dengan mengasih pukulan sengit. Sekali—dua kali—tiga kali ia melepaskan pukulannja. Dan Awal jang berbadan kurus itupun tak sanggup menahan serangan pembalasan. Djatuh ia, tersungkur ketanah.
„Terus hadjar!” kata Si Badju Putih.
„Sudah!” teriak Mira.
Tapi Si Badju Biru tak mengindahkan teriakan Mira. Ia mengangkat kaki akan mengindjak badan Awal.
„Sudah!” teriak Mira lagi. Dan ia tjepat mengambil gelas kopi-susu Si Badju Biru. Dan katanja lagi seraja menjemburkan isi gelas kebadan Si Badju Biru: „Kau memang kurangadjar! Ajoh nja!”
Kemudian kepada Si Badju Putih:
„Kau djuga pergi! Lekas!”
„Lho?!” kata Si Badju Putih.
„Pergi!” teriak Mira. „Kalau tidak…” Dan ia tjepat mengambil gelas kopi-susu Si Badju Putih, terus bergerak akan menjemburkan isinja.
„Mira!” kata Si Badju Putih. „Kau mau mengusir langganan?”
„Djangan banjak bitjara!” djawab Mira. „Ajoh pergi!”
„Kami mungkin tak akan kesini lagi.”
„Masabodoh. Ajoh pergi! Pergi!”
„Gara-gara ini, nih!” kata Si Badju Biru seraja menjepak badan Awal. Dan sambungnja diarahkan kepada kawannja: „Biar, kita pergi sadja. Mari!”
Dan ia bersama kawannja terus berdjalan kearah kanan dengan tak meninggalkan lagi sepatah kata.
SEPENINGGAL kedua laki-laki itu, berkata Mira kepada ibunja jang ketjemasan:
„Bangunkan dia, bu!”
Ibu Mira tak membantah lagi; ia memasuki pintu kedalam rumah, tak lama kemudian keluar dari pintu disamping rumah ada diluar ruangan kedai, terus mendapatkan Awal jang terlena ditanah.
„Den,” katanja seraja menggontjang-gontjang badan Awal. „eling, den…”
Bertatih-tatih Awal jang berbadan kurus itu bangkit berdiri. Tapi setelah berdiri, ia terus memandang Mira jang duduk dibelakang dagangan. Memandang dengan pandangan ngeri.
„Sampai hati kau membiarkan aku dihina orang dihadapanmu?” katanja.
Dan lantaran Mira jang duduk dibelakang dagangan tidak mendjawab, berkata lagi ia dengan suara mengeras:
„Kau kedjam! Tak sedikit djuga kau merasakan perasaanku. Tak sedikit djuga. Sudah tjukup tadi mempermainkan aku dengan mendusta, sekarang kau senang, ja, melihat aku dihina orang setelah kepertjajaanku kaurusakkan didepan orang lain”
Tapi Mira jang duduk dibelakang dagangan tidak mendjawab. Dan lantaran Mira tidak mendjawab, Awal jang berbadan kurus itu menghampiri seraja katanja lagi:
„Mira! Kau senang melihat aku dipukuli orang? Melihat aku dihina sambil tetap duduk ditempatmu?”
Dan lantaran Mira jang duduk dibelakang dagangannja tetap tidak mendjawab, Awal kian dekat menghampiri seraja katanja lagi:
„Mira! Untuk itukah kau menjuruh aku datang disini? Untuk merusakkan kepertjajaanku?”
Tapi Mira tidak pula bersuara.
„Mira!” teriak Awal lagi.
„Duduk, mas,” djawab Mira „djangan bitjara.”
„Tidak! Aku ingin mendengar djawaban. Untuk apa kau permainkan aku, mendustai aku, membikin aku dihina orang? Untuk apa?”
Dan lantaran Mira jang duduk dibelakang dagangan terdiam lagi tidak memperdengarkan suara, Awal terus sadja mendjangkau leher Mira dari depan dagangan seraja katanja:
„Kau rupanja senang, ja, melihat aku mati untukmu?”
„Den, eling, den…” udjar ibu Mira tjemas.
Tapi Awal tak melepaskan pegangan. Ia berkata lagi:
„Kau senang membikin aku djadi kurban ketjantikanmu?”
Ibu Mira djadi kebingungan. Achirnja ia melolong sekuat tenaga:
„To…tolong!”
Perlahan-lahan Awal melepaskan tjekikan. Tangannja gemetar. Kemudian lesu ia mendjatuhkan badan diatas bangku. Katanja dengan suara berat-sajup-sajup:
„Ja, didalam aku gelisah, kau…kau tetap tenang…”
PADA saat itu ibu Mira masuk lagi kedalam ruangan kedai, datang tergopoh-gopoh dari kiri dua orang pemuda. Kedua-duanja berumur dibawah 20 tahun. Tergopoh-gopoh pula pemuda jang berdjalan dimuka melahirkan pertanjaan:
„Ada apa?”
„Mengapa?” djawab Mira. „Disini tidak ada apa-apa.”
„Lho!” kata pemuda jang seorang lagi. „Tadi ada jang minta tolong.”
„Tidak. Tidak ada apa-apa,” djawab Mira. Dan tambahnja dengan suara berlainan: „Kalau mau minum, silakan duduk.”
Pemuda-pemuda itu saling pandang. Pemuda jang berdjalan dimuka tadi bertanja kepada kawannja:
„Minum kita?”
Tapi kawannja mendjawab dengan menundjukkan isarat tak punja uang. Dan katanja kepada Mira:
„Biar, lain kali sadja.”
Dan mereka lalu mengajun kaki kearah kiri. Tapi baru tiga langkah, pemuda jang berdjalan dimuka tadi berhenti berdjalan, menoleh lagi kebelakang. Dan katanja kepada kawannja:
„Padahal akan senang kalau kita minum disini.”
„Mengapa pula tidak?” balas Mira. „Silakan duduk!”
„Lain kali sadja kami datang lagi disini,” djawab pemuda jang seorang lagi. Dan ia terus mengadjak kawannja berdjalan meninggalkan kedai.
SETELAH pemuda-pemuda itu tidak ada, Awal jang duduk membelakangi dagangan berkata dengan suaranja jang berat:
„Mira, kau…kau memaafkan aku?”
„Djangan bitjara, mas,” djawab Mira. „Itu kopi-susu dingin!”
„Kau…kularang aku bitjara,” kata Awal lagi. „Tapi oranglain kau beri hati supaja bitjara.”
„Mereka pembeli dagangan, mas. Dan antara kita tak ada jang mesti dibitjarakan.”
Awal menegakkan kepala, memandang Mira. „Tak ada jang mesti dibitjarakan?” tanjanja. „Kuanggap antara kita tak ada jang mesti dibitjarakan?”
„Antara kita tidak untuk dibitjarakan. Tapi untuk dirasakan.”
„Hm, djawabanmu djawaban manusia-dewi,” kata Awal lagi seraja bangkit berdiri. „Tapi sampai mana kau merasakan perasaanku? Aku gelisah, kau tak mau tahu. Aku sakit, kau tak atjuh. Aku dihina, kau diam melihat. Tidak! Kau tidak merasakan perasaanku. Kau menutup hatimu.”
„Mas, pintu hati hanja dapat dibuka oleh hati. Dan hati saja sudah terbuka.”
„Terbuka untuk mempermainkan hatiku.”
„Itu menurut rasamu. Menurut rasaku, aku tak mempermainkan.”
„Kau tak merasakan rasaku!”
„Itu menurut rasamu.”
Duduk lagi Awal jang berdiri itu. Duduk dengan kepala tertunduk. Dan udjarnja dengan suara seperti bitjara pada diri sendiri:
„Hm ja, soal antara kita ialah kau bukan aku dan aku bukan kau. Tapi salahkah aku, kalau aku mau merasakan kau djadi aku?”
„Itu kopi-susu dingin, mas,” kata Mira.
„Biar!” balas Awal lagi seraja tegak. „Aku mesti bitjara padamu. Selama kau bukan aku, aku mesti bitjara padamu—bitjara sampai antara kita tak ada soal.”
„Antara kita sudah tak ada soal. Apa pula jang mesti dipersoalkan?”
„Kau belum menentramkan hatiku.”
„Itu menurut hatimu.”
„Kau belum memberi ketegasan!”
„Itu menurut pendapatmu. Bagiku semuanja sudah tegas.”
DARI kanan datang seorang laki-laki tua, berumur lebih-kurang 58 tahun, berbadju kampret dan bersarung palekat. Dan melihat kedatangan orang tua itu, Mira jang duduk dibelakang dagangan gembira menjambut:
„Ah, bapak! Silakan duduk.”
„Sepi sekali malam ini, Mira,” kata jang datang.
„Orang rupanja sudah pada bosan datang disini.”
„Masakan bosan? Siapa pula jang bosan datang disini!” balas orang tua itu pula seraja duduk diatas bangku. Dan sambungnja dengan muka dihadapkan kepada Awal: „Bukan bosan, tapi sudah bulan tua, ja anak muda?”
„Kopi, pak?” tanja Mira.
„Djangan, djangan,” djawabnja tjepat. „Teh-pait sadja. Kalau minum kopi, nanti bisa tidak tidur. Dan djika dirumah tidak bisa tidur, berat.”
„Mengapa berat?”
„Kalau rumah jang kudiami sekarang sebesar rumahku sebelum peperangan dulu, tak apa aku membuka mata dirumah pada malam hari, sebab pemandangan tidak sempit. Tapi rumahku sekarang, hm, namanja sadja sudah bukan rumah, hanja tjukup untuk tidur.”
„Tapi dizaman sekarang ini sudah umum begiitu,” kata ibu Mira seraja menjodorkan gelas teh-pait.
„Ja, siapa jang dulu rumahnja gedung, sekarang belum tentu bisa diam lagi dalam gedung. Dan diatas runtuhan gedung—seperti rumahmu ini, Mira—hanja bisa didirikan rumah-bambu. Tapi bagaimanapun djuga, dengan adanja kedai-kopimu disini, engkau membuat djasa banjak.”
„Mengapa?” tanja Mira.
„Orang-orang jang merasa tak betah diam dirumah itu, dimalam hari terpaksa keluar rumah. Dan disini bisa duduk-duduk sambil bitjara-bitjara melupakan kerudetan. Betul, tiidak anak muda?”
Awal tegak, memandang kepada jang mengadjak bitjara. Dan katanja:
„Tidak. Tidak betul.”
„Lho, apa tidak betulnja?”
„Bapak seperti orang banjak, datang disini untuk melupakan kerudetan?”
„Ja, begitulah.”
„Djadi bapak ini seorang badut?”
„Badut?”
„Ja, badut. Tukang-omongkosong. Bukan manusia.”
„Bapak…bapak kurang mengerti.”
„Tentu sadja tak akan mengerti. Kalau mengerti, tak akan saja sebut badut. Tapi orang sematjam bapak ini, dizaman sekarang ini banjak. Kalau mereka bitjara, asal sadja berbunji. Disini, dikedai-kopi bitjara mereka asal menimbulkan rasa suka bagi dirinja sendiri dan bagi jang dibawa bitjara. Tapi orang jang bukan badut, tentu akan menganggap Mira bukan sebagai pengusir kerudetan.”
„Djadi…djadi bagaimana mestinja kita menganggap Mira?”
„Itu terserah.”
Orang tua itu terdiam sebentar. Setelah menghirup teh-pait sereguk, ia berkata lagi:
„Bapak ini sudah tua, anak-muda, sudah banjak mengalami pertukaran zaman. Dan menurut pengalaman bapak, bagaimanapun djuga keadaan zaman, tapi achir-achirnja dalam hal menempatkan perempuan bagi laki-laki, tak ada jang lebih sempurna seperti dizaman kebesaran Nabi Muhammad.”
Tiba-tiba Awal bangkit berdiri seraja katanja:
„Zaman kebesaran Nabi Muhammad! Hh, enak sadja bitjara seperti pernah hidup dizaman itu. Djustru perkataan sematjam itulah jang mesti dibrantas, perkataan asal dikatakan. Pak! Dengan omongan bapak itu djelas bahwa bapak seorang badut, berarti tak ada gunanja bitjara dengan saja!”
Dan sehabis mengatakan itu, ia melangkah berdjalan kearah kiri.
SEDJURUS lamanja orang tua itu terdiam sadja. Terdiam keheranan. Achirnja ia berkata:
„Siapa sih pemuda itu, Mira? Nampaknja dia pintar, tapi…”
„Hm, ja,” tukas Mira. „ hanja saja jang tahu siapa dia.”
„Dan kaupermainkan dia!”
„Siapa bilang?”
„Sebenarnja aku tadi mendengar pertjakapan kamu berdua. Dan aku bertanja-tanja apakah kamu sedang berkasih-kasihan atau sedang bertjakaran? Tapi jang sudah pasti, pemuda itu nampaknja sudah kehilangan pegangan.”
„Memang, dia sudah lama merindukan manusia.”
„Merindukan manusia? Apa maksudmu?”
„Dizaman sekarang ini, dimana ada manusia?”
„Memang, Mira, sebagai orang tua, hidup dizaman setelah peperangan sekarang ini akupun sering bertanja-tanja: apakah dunia sekarang sudah akan kiamat? Dimana-mana terdjadi kekatjauan, dimana-mana terdjadi penggedoran, perampokan, pembunuhan, seolah-olah sudah tak ada lagi tjinta diantara sesama manusia. Antara kita dan kita saling tjurigai, sedang para pemimpin duniapun pada berteriak mengandjurkan damai tapi sambil bersedia-sedia akan perang lagi. Ini semuanja menimbulkan kegelisahan. Dan kegelisahan ini kurasakan pula. Tapi bagaimanapun djuga, sebagai orang tua aku masih ada pegangan. Dan pegangan itu ialah pegangan kita bersama, jaitu kepertjajaan kepada Tuhan jang lebih berkuasa dari manusia. Akan tetapi pemuda itu nampaknja sudah kehilangan pegangan samasekali. Dan itu sangat berbahaja.”
„Tapi dia masih ada pegangan.”
„Apa?”
„Dia pertjaja pada saja.”
„Tapi…tapi kaupermainkan dia?”
„Siapa bilang?”
„Kau tjinta padanja?”
„Hm, apa tjinta?”
Orang tua menghela nafas. Setelah mereguk isi gelas sampai habis ia berkata lagi:
„Kau ini memang orang aneh djuga, Mira. Ja, entah barangkali aku ini sudah terlalu tua, orang-orang muda dizaman sekarang ini bagiku banjak jang aneh. Tapi sudahlah! Aku tak akan lama mengganggu.”
Dan ia bangkit berdiri, menjerahkan uang.
„Mengganggu apa?” tanja Mira. „Duduk-duduk dulu.”
„Aku tak akan membiarkan pemuda itu terlalu lama menunggu kesempatan untuk dapat bitjara lagi dengan kau.”
„Pertjaja bapak, bahwa dia akan datang lagi disini?”
„Aku sudah tua, Mira. Dan meskipun aku bukan pemuda dizaman sekarang, tapi akupun pernah merasakan apa jang dirasakan pemuda itu.”
Dan setelah berkata demikian, orang tua itu terus berdjalan kekanan.
BEBERAPA saat lamanja didepan kedai itu sunji sadja. Mira jang duduk dibelakang dagangan tetap duduk menghitung uang. Dan ibunja, setelah membersihkan gelas bekas teh-pait, terus duduk-ngantuk.
Tiba-tiba ibu Mira memperdengarkan suara:
„Kalau terus sepi begini, aku djadi ngantuk, Mira”
„Kalau sudah mau tidur, tidurlah,” djawab Mira. „Toh sekarang sudah malam, tak akan datang lagi banjak tamu.”
Ibu Mira tidak berkata lagi. Diam-diam ia memasuki pintu kedalam rumah dan terus tak muntjul lagi.
LONTJENG dikedjauhan terdengar berbunji sepuluh kali. Dan sebentar setelah terdengar suara lontjeng penghabisan, datang dari kiri Awal dengan langkahnja jang terhujung-hujung seperti tadi. Dan seperti tadi sadja, sesampai didepan kedai lama dulu baru ia duduk diatas bangku. Duduk membelakangi dagangan.
„Ganti kopi-susunja, mas?” tanja Mira.
„Biar, tak usah,” djawabnja.
„Minumlah, supaja badan mas segar.”
„Hm,” djawabnja lagi, „kau merisaukan badanku, tapi rohaniku tak kauatjuhkan.”
„Sebab badan lebih njata.”
„Tapi hanja badut-badut jang matanja terbatas kepada djasmani.”
„Maksud mas djasmani tidak penting?”
„Datangku kesini untuk mempersoalkan djiwa kita, Mira. Itulah soal kita.”
„Tapi sudah bilang, antara kita sudah tak ada soal.”
„Kau belum tahu keinginanku.”
„Saja sudah tahu.”
„Kalau sudah tahu, tentu kau sekarang mau meninggalkan kedai.”
„Itu tak perlu. Lagi pula saja tak dapat meninggalkan kewadjiban.”
Sebentar Awal tegak memandang Mira, menghela nafas sekali, kemudian menundukkan kepala lagi. Lama dulu sebelum ia memperdengarkan lagi suara:
„Mira, kau tahu bahwa selain dari kau, orang banjak itu bagiku tak ada artinja.”
„Saja tukang-kopi, mas.”
„Tapi kau dengan djiwamu lain dari jang lain.”
„Sudah mas. Ini kedai-kopi. Dan itu orang-orang menudju kesini.”
JANG datang itu dua orang laki-laki: kedua-duanja sebaja dengan Awal, datang dari sebelah kanan. Laki-laki jang berdjalan dimuka bertjelana pendek dan mendjindjing kodak. Dan jang seorang lagi memakai katjamata, tangannja memegang map tempat surat-surat.
Masih djauh mereka kedepan kedai, Mira jang duduk dibelakang dagangan sudah menjambut:
„Selamat malam, djurupotret!”
„Selamat malam, Mira,” djawab laki-laki jang mendjindjing kodak.
„Bagaimana? Sudah selesai dengan potretku?”
„Sudah, sudah,” djawab Si Tjelana Pendek lagi seraja duduk diatas bangku. „Ini ada saja bawa. Tapi saja perkenalkan dulu kawan saja ini. Dia wartawan.”
Dan ia menundjuk kepada kawannja. Dan kawannja jang disebut wartawan itu manggut pada Mira. Dan Mira jang duduk dibelakang dagangan membalas manggut seraja katanja:
„Silakan duduk.”
„Terimakasih,” djawab Si Katjamata. Dan iapun terus duduk disamping kawannja.
Laki-laki jang disebut djurupotret mengeluarkan potret dari kantong-badjunja. Kemudian ia menjerahkan potret itu pada Mira. Dan katanja setelah Mira melihat-lihat potret:
„Bagaimana? Puas kau dengan potretmu?”
„Hm ja,” djawab Mira. „Ini untukku?”
„Boleh kausimpan. Aku bikin banjak. Dan satu diantaranja sudah diminta kawan saja ini.”
„Untuk apa?”
„Dalam minggu ini djuga,” djawab Si Katjamata, „mungkin nona akan melihat potret nona itu dalam madjalah jang saja pimpin.”
„Apa saja sudah sepenting itu?”
„Mengapa tidak?” djawab Si Katjamata lagi.
„Tapi saja lihat, koran-koran dan madjalah-madjalah dizaman sekarang lebih mementingkan potret-potret orang resmi daripada misalnja potret seorang rakjat biasa jang tjatjat badannja oleh ketjelakaan, lebih mementingkan potret pembesar-pembesar, opsir-opsir, pemimpin-pemimpin pulitik jang diinterpiu…”
„Sekalipun omongan mereka ketika diinterpiu, asal sadja ngomong,” sambung Awal jang sedjak tadi diam mendengarkan, „asal sadja mengisi halaman koran.”
Si Katjamata memandang kepada Awal. Demikian djuga kawannja. Tapi Si Katjamata tak lama kemudian menghadapkan lagi muka kepada Mira seraja katanja:
„Dari itu, madjalah jang saja pimpin itu akan memuat potret nona, potret rakjat djelata.”
„Tapi apa kepentingannja potret saja dimuat?” tanja Mira.
„Oh!” djawab Si Tjelana Pendek. „Belum kau sadar, Mira, bahwa kau tjantik?”
„Bahwa aku tjantik, aku lebih tahu dari siapapun djuga.”
„Dan kau sudah tahu pula, Mira,” kata Awal, „bahwa djika seseorang dizaman sekarang ini minta sesuatu padamu, itu adalah untuk kepentingan orang itu. Untuk itulah potretmu akan dimuat dalam madjalah.”
Lagi sekali Si Katjamata menoleh kepada Awal. Katanja:
„Maaf, saudara. Kita belum berkenalan.”
„Dengan mendengar omongan saudara, saja sudah mengenal djiwa saudara,” djawab Awal. „Dan itu bagi saja sudah tjukup, lebih tjukup daripada mengenal nama atau djabatan.”
„Saudara!” kata Si Katjamata. „Saja rasa dizaman sekarang ini sudah bukan waktunja lagi untuk menempatkan diri sebagai dewa; sudah bukan waktunja lagi bitjara dengan menggunakan kata-kata jang tidak mudah dipahami orang.”
„Siapa pula jang menempatkan diri sebagai dewa?” balas Awal lagi. „Kalau perkataan saja tidak dimengerti orang, bukan saja jang menempatkan diri sebagai dewa, tapi orang itu mesti disesalkan djiwanja. Tapi dimasarakat kita sekarang, orang-orang jang kering dan dengkal djiwanja itu banjak. Banjak sekali!”
Sebentar Si Katjamata memandang kepada kawannja. Dan djika kawannja sudah membalas memandang kepadanja, berkata lagi ia diarahkan kepada Mira:
„Bagaimana, nona? Setudju, kalau potret nona itu dimuat dalam madjalah saja?”
„Berapa akan saja dibajar?” balas Mira.
„Lho!” kata Si Tjelana Pendek. „Bukan kau mesti minta dibajar, Mira, tapi kau mesti berterimakasih.”
„Tapi dimisalkan saja mesti membajar.” kata Si Katjamata, „berapa nona minta?”
„Seribu rupiah!”
Si Katjamata tertawa, „Nona,” katanja, „dimana didunia ini ada madjalah jang pernah membajar seribu rupiah untuk pemasangan sebuah potret? Bahkan bintang-bintang pilem jang sudah mashur, banjak jang menjerahkan potretnja kepada madjalah dengan begitu sadja.”
„Tapi saja buka bintang-pilem. Dan tak mau disamakand engan bintang-pilem.”
„Dari itu…,” sela Si Tjelana Pendek.
„Dari saja minta dibajar mahal!” kata Mira.
„Begini sadja, nona,” kata Si Katjamata. „Harap nona tahu bahwa madjalah jang saja pimpin itu madjalah kepunjaan bangsa sendiri. Kalau nona sudah sadar atas panggilan zaman dan insaf atas kewadjiban sebagai bangsa, apa salahnja kita bekerdja bersama-sama, untuk bangsa dan untuk tanahair jang kita tjintai…”
„Bekerdja bersama-sama! Tanahair jang kita tjntai!” kata Awal saraja bangkit berdiri. „Ajoh! Apa lagi? Mengapa tidak dikatakan pula bahwa tanahair itu indah dan molek? Biar lebih enak dikatakannja!”
„Saja tidak bitjara pada saudara,” kata Si Katjamata.
„Atas nama Mira saja minta supaja saudara bitjara jang benar, bitjara sebagai manusia, djangan asal sadja berbunji,” balas Awal lagi dengan dada naik-turun. „Betul disini kedai-kopi. Tapi lihat! Orang jang duduk dibelakang dagangan itu manusia. Manusia! Bukan boneka atau kerandjang sampah jang boleh dilempari kata-kata asal dikatakan!”
„Siapa pula jang menjamakan nona ini dengan kerandjang sampah?”
„Siapa pula? Hh, bahwa omongan sendiri keluar dari djiwa jang pitjik sudah tidak disadari! Sangkamu apa jang kaukatakan tadi itu tidak merupakan omongkosong bagi pihak jang mendengar? Sangkamu orang jang kauadjak bitjara itu mempunjai dunia jang sama dengan duniamu—duniamu jang sempit-pitjik, asal ngomong?”
Sekali lagi Si Katjamata memandang kepada kawannja. Sekali ini, setelah kawannja membalas memandang kepadanja, terus sadja ia bangkit berdiri seraja katanja kepada Mira:
„Nona, biar lain kali sadja datang lagi.”
„Tidak akan minum dulu?” tanya Mira.
„Biar, terimakasih,” djawabnja. Dan ia terus berisarat kepada kawannja, mengadjak pergi meninggalkan kedai.
Kawannja bangkit berdiri. Dan katanja seraja berdjalan kearah kanan mengiringkan jang mengadjak:
„Selamat malam, sampai ketemu lagi, Mira.”
„Selamat malam,” djawab Mira.
“HM,” kata Awal setelah tinggal berdua, „badut-badut melulu jang datang disini.”
„Dari itu,” djawab Mira, „mas lebih baik tinggal diam dirumah. Disini kedai-kopi.”
„Tapi selama kau tak dapat kubawa, aku tak akan pergi.”
„Itu menjiksa diri sendiri. Nanti mas kedinginan.”
„Apa arti diri sendiri, djika ada diri lain tempat menjerahkan kepertjajaan?”
„Tapi dizaman sekarang, mas, kita mesti pertjaja diri sendiri, djangan pertjaja oranglain.”
„Mira! Masarakat kita sekarang banjak badutnja adalah karena orang tak mau menjerahkan kepertjajaan pada oranglain. Tapi aku, selama perempuan dilahirkan kedunia untuk djadi kawan-hidup laki-laki, selama itu aku harus dan mesti menjerahkan kepertjajaan pada oranglain jang akan kudjadikan kawan-hidupku. Dan bagiku sekarang sudah djelas, bahwa kau dengan duniamu jang tidak sempit adalah manusia jang kutjari-tjari selama ini.”
„Saja tukang-kopi, mas!”
„Kau dengan djiwamu jang tinggi-dalam adalah keindahan surga jang kumimpikan dan kepahitan dunia jang kurasakan. Kaulah wanita utama.”
„Hm, kau memudji! Tapi siapa mau pertjaja bahwa didunia sekarang ini ada manusia jang lebih mentjintai oranglain daripada mentjintai dirinja sendiri?”
„Siapa pula jang pertjaja? Engkau tidak. Akupun tidak. Tapi untukmu, aku akan mentjoba.”
„Tapi sekarang mas lebih baik pulang. Ibu saja sudah tidur. Dan sebentar lagi kedai ini akan ditutup.”
„Kalau kedai ditutup, kau akan kubawa. Dan kalau kau tak dapat dibawa, aku akan ikut ditutup didalam kedai.”
„Itu tak bisa djadi.”
„Kalau begitu, kedai ini djngan ditutup!”
„Djadi mas akan menjiksa oranglain? Menjiksa saja? Itukah pertjobaan mas didalam hendak menundjukkan bahwa mas lebih mentjintai oranglain daripada mentjintai diri sendiri?”
Awal tidak mendjawab. Dan lantaran Awal tidak mendjawab, Mira jang duduk dibelakang dagangan berkata lagi:
„Itukah tandanja mas tjinta? Tandanja mas berlainan dari orang-orang jang mas sendiri namakan badut?”
Dan lantaran Awal jang duduk membelakangi dagangan tidak djuga menjahut, menjambung lagi Mira dengan suara lebih tegas:
„Saja tahu, mas, saja tahu bahwa perkataan jang akan saja katakan ini bagimu tadjam, lebih tadjam daripada diam saja selama ini. Tapi saja terpaksa mengatakannja. Tidak lain supaja mas tahu bagaimana anggapan saja terhadap mas.”
Dan ia memandang lagi kepada Awal. Dan djika Awal jang dipandang tetap terdiam tidak bergerak-gerak, berkata lagi ia dengan suara tetap:
„Mas, apa jang kaulakukan selama ini dihadapanku bagiku lebih membadut daripada kelakuan orang-orang jang kau sendiri namakan badut. Kau mentjela djiwa oranglain, tapi kau sendiri merangkak-rangkak dibawah kaki mereka. Kau badut besar. Akibat peperangan kau sudah kehilangan pegangan, kehilangan kepertjajaan pada diri sendiri. Padahal dizaman setelah peperangan sekarang, bagi kita tidak ada jang mesti dipertjaja selain dari diri sendiri. Tidak ada. Sungguh tidak ada!”
Awal masih sadja terdiam tidak bergerak-gerak. Tapi tiba-tiba ia tersenjum. Tersenjum pahit. Dan katanja:
„Kalau itu jang kaukatakan, keindahan surga jang kumimpikan tinggal tetap impian, dan kau bagiku adalah kepahitan dunia belaka.”
Dan ia terus bangkit berdiri seraja katanja lagi:
„Selamat tinggal, Mira!”
„Mengapa selamat tinggal?” tanja Mira.
„Aku tak akan datang lagi kehadapanmu. Dan tidak kehadapan siapapun djuga.”
„Hm, kau mau bunuh diri! Mengapa kau tidak berani membunuh aku?”
„Sebab aku manusia, dan bukan badut!”
Tapi Mira jang akan ditinggalkan tjepat menjusul:
„Nanti dulu! Aku belum habis bitjara.”
„Sudah, Mira! Kita sudah kebanjakan bitjara, sudah kebanjakan menghambur-hamburkan kata. Dan bagiku sudah djelas: selama kau bukan aku, tak mungkin kau merasakan aku; selama duniamu bukan duniaku, tak mungkin kau mengetahui apa jang tersimpan dilubuk-hatiku. Tadinja aku pertjaja bahwa didalam aku merasakan kesebalan hidup dizaman sekarang, didalam aku melihat orang-orang sudah pada membadut, sudah pada kering dan dangkal djiwanja sebagai akibat peperangan, aku akan masih mendjumpai tjinta dalam hatimu. Tjinta manusia, jang merasakan perasaan jang ditjintai. Tapi tjinta sematjam itu ternjata tidak ada dalam hati siapapun djuga. Tidak ada didalam hati manusia dizaman sekarang. Djuga tidak dalam hatimu!”
Dan sehabis mengatakan itu, ia melangkah lagi. Melangkah akan meninggalkan kedai.
Tapi Mira jang akan ditinggalkan tjepat menjusul:
„Kalau kau bunuh diri, akupun bunuh diri!”
Berhenti lagi Awal berdjalan. Dan tanjanja seraja menoleh:
„Mengapa?”
„Aku tjinta padamu,” djawab Mira. Dan tambahnja seraja menjapu-njapu mata: „Tjinta dengan segenap djiwa rohaniku.”
Dan lantaran Awal tidak mendjawab, ditambahkannja lagi dengan suara tegas:
„Aku tjinta padamu. Tapi aku tidak pertjaja tjintamu padaku akan melebihi tjintamu pada diri sendri. Tidak! Aku tidak pertjaja.”
Awal jang akan meninggalkan kedai djadi bimbang. Tapi achirnja ia menghampiri lagi Mira. Dan katanja:
„Djadi kau masih djuga menuduh aku badut? Menuduh aku sama dengan orang banjak jang suka omongkosong dihadapanmu?”
„Kalau kau tjinta padaku,” djawab Mira, „bunuh aku! Bunuh dengan segenap tjintamu.”
„Gila kau! Aku tjinta padamu karena ada tjita-tjita, karena menginginkan hidup-bersama.”
„Tidak! Kau dan aku mesti mati. Mati-bersama. Sebab aku tidak pertjaja kau dan aku bisa hidup-bersama. Aku tidak pertjaja tjintamu padaku akan melebihi tjintamu pada dirimu sendiri.”
Awal terdiam. Bingung ia. Tapi tiba-tiba ia berkata lagi dengan suara menurun:
„Mira. Mari kita tinggalkan kedai ini. Kita bitjara dialam luas, dibawah tjahaja bintang.”
„Bitjara dibawah tjahaja bintang memang nikmat.” djawab Mira.
„Ja, mari kita pergi.”
„Tapi saja tak dapat meninggalkan kewadjiban sebagai tukang-kopi.”
Mendadak tegak lagi Awal jang sudah mengendurkan suara itu. Tegak dengan tangan terkepal. Dan katanja dengan suara mengeras:
„Mira! Mengapa kau terikat benar oleh kedaimu ini? Mesti kuhantjurkan kedai ini untuk membuktikan bahwa kau bagiku bukan tukang-kopi?”
„Hm,” djawab Mira, „aku tidak pertjaja tjintamu padaku akan bisa menimbulkan kesanggupan menghantjurkan kedai. Kedaiku ini duniaku. Dan kedaiku ini kuat. Sedang tenaga-djasmanimu lemah.”
„Katakanlah, Mira, bahwa kau mau kubawa hanja djika kedai ini kubongkar!”
„Kau tak akan mempunjai tenaga sampai kesana. Dan djika kau mengatakan sanggup membawa aku dari sini dengan membongkar kedai ini, itu hanja omongkosong belaka. Omongkosong seperti orang banjak.”
„Kau tidak pertjaja?”
„Bagiku tetap, tak ada jang mesti dipertjaja selain dari diri sendiri!”
Awal tidak membalas lagi. Tangannja jang sudah dikepalkan terus sadja didjangkaukan kepada stoples-stoples diatas rak dihadapan Mira. Kemudian stoples-stoples itu diambil dari tempatnja diturunkan ketanah.
Tapi sebelum semua stoples pindah dari rak ketanah, nafasnja sudah megap-megap.
„Kau tjape, mas,” kata Mira.
„Biar,” djawabnja. Dan ia terus menurun-nurunkan setiap barang jang ada diatas rak-dagangan. Dan keringatnja keluar.
„Sudah, mas,” kata Mira.
„Tidak,” djawabnja. Dan ia terus mengeluarkan tenaga. Dan terus mengeluarkan tenaga.
„Sudah, mas, sudah,” kata Mira lagi seraja menjapu-njapu mata.
„Kau bagiku bukan tukang-kopi. Kau mesti kubawa,” djawabnja. Dan dengan tangan jang sudah gemetar dan badan sudah bermandikan keringat ia terus berusaha membongkar medja dan rak-dagangan.
Achirnja medja dan rak-dagangan jang dihadapi Mira itu dapat diangkat-dibongkar. Tapi jang membongkarnja djatuh. Tangannja berdarah. Dan djika ia bangkit lagi, sempojongan ia berdiri. Dan nafasnja pendek-pendek.
„Ma…Mari, Mira,” katanja megap-mega, „ki…kita pergi.”
Mira bangkit berdir, terus berdjalan keluar kedai, mendapatkan Awal. Berdjalan dengan menggunakan kruk pada kedua ketiaknja.
Dan melihat itu, Awal jang sudah bernafas pendek-pendek itu mundur. Tangannja jang berdarah meraba kepalanja. Matanja jang berkeringan dikedip-kedipkan.
„Oh…,” katanja hampir tidak kedengaran. Dan ia mundur lagi. Mundur dengan langkah sempojongan akan djatuh.
„Ja, mas,” kata Mira seraja menjapu-njapu airmata dipipi, „inilah kenjataanku. Kakiku dua-duanja buntung. Buntung karena peperangan. Tapi lantaran inilah, mas, lantaran keatas aku tjantik dan kebawah aku tjatjat, aku bagimu merupakan keindahan surga jang kaumimpikan dan kepahitan dunia jang kaurasakan—merupakan wanita utama. Tapi sekarang…”
Awal jang berbadan kurus itu mundur lagi. Dan mundur lagi. Tangannja jang gemetar-berdarah diatjukan. Mulutnja menganga.
„Mi…,” katanja hampir tidak kedengaran.
Tapi tiba-tiba suaranja terus memekik:
„Mi…Miraaaaa!”
Dan setelah mengutjapkan kalimat itu, ia djatuh tertelungkup.
Segera Mira mendapatkan. Badan Awal jang kurus itu dirangkul. Dan katanja seraja mengisak:
„Aku tahu, mas, aku tahu bahwa kau tak akan dapat mentjapai tjita-tjitamu. Tapi kau bagiku, mas, kau bagiku adalah satu-satunja laki-laki jang mesti kumuliakan. Kau dengan kedjudjuranmu sudah menumbuhkan tjinta dan menimbulkan kepertjajaan baru dalam hatiku…”
Dan setelah itu, didepan kedai-kopi jang sudah rusak berantakan itupun terus sunji. Jang kedengaran hanja isakan Mira. Seolah-olah isakan itu minta didengar kesegenap pendjuru dunia.
Djakarta, Djuni 1951.