Publisher Note
Tulisan ini dimuat di Majalah Kebudajaan Indonesia edisi No. 10 Tahun IV pada bulan Oktober 1953.
Tulisan ini berasal dari koleksi pribadi Muhammad Reza Magistra.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
NAMA-NAMA TEMPAT banjak djuga jang mengandung sedjarah dan sedjarah tsb. mentjerminkan susunan masarakat dan keadaan bangsa dimasalampau. Sebagai iseng-iseng ada djuga keinginannja menjelidiki itu.
Begitulah ketika baru2 ini diadakan penjelidikan lalulintas di Djakarta dan djalan jang teramai ternjatalah Djalan Gadjah Mada dan Hajam Wuruk. Dimulut rakjat keduanja masih disebut Molenplit Wes (Molenvliet West) dan Molenplit Os (Molenvliet Oost) nama-nama jang kemudian ini masih lebih dikenal oleh tukang-tukang betja. Mengapa disebut Molenvliet?
Tentu tuan ingin mengetahui sedjarahnja?
Pada tahun 1648 kapitan Tionghoa Bing Ham dengan sokongan V.O.C. (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) menggali solokan (gracht) jang disebut Solokan Bing Ham. Dikanan-kirinja ditanam tebu dan didirikanlah kilang tebu (suikermolen). Karenanja djalanan dari Harmoni hingga ke Gelodok disebut Molenvliet.
Untuk djasa-djasanja pada tahun 1693 Bing Ham dihadiahi sebidang luas tanah sepandjang solokan jang digalinja. Diatas tanah itu didirikannjalah: Kampung Bali, Kampung Djawa, Kampung Bugis dan Kampung Pekodjan, masing-masing kebanjakan ditinggali oleh orang-orang Bali, Djawa, Bugis dan Kodja. Memang pada masa itu satu-satu suku ada kampungnja sendiri, karena di Djatinegara ada pula kampung Melaju dan didekat Rawa Mangun ada Kampung Ambon.
Molenvliet berachir di Gelodok jang berasal dari nama orang Bali kapten Tjitra Glidok. Etimologi (pertumbuhan kata) Glidok ini menimbulkan kiratabasa beberapa orang jang mengatakan bahwa Gelodok timbul dari kata meng-gelodok, onomatopé (tiruanbunji) air jang bertumbuk pada batu karena katanja dikali Tjiliwung ada sebuah batu besar ditempat Tanahlapang Gelodok sekarang. Dari Gelodok menudju ke Pasar Ikan tuan melalui Pintu Besar tempat “Keng Po” dan “Harian Rakjat” ditjetak dan berkantor. Pintu Besar itu berasal dari terdjemahan Grote Poort jang disebut djuga Nieuwe Poort dan didirikan pada tahun 1631. Hampir tiap nama Belanda seperti ada tara (ekwivalensi) Melajunja. Begitulah Tanah Tinggi adalah terdjemahan Amstelveen. Gunung Sari (bukan Gunung Sahari!), adalah tara Melaju dari Pavlijoenveld, didirikan oleh Gubernur djenderal Van Hoorn pada tahun 1664. Pendjaringan adalah tara Melaju dari Konijnegracht.
Dari Pintu Besar ada djalan ke Timur jang disebut Pinangsia. Nama itu adalah étimologi-rakjat dari financiën karena nama djalan tersebut adalah Financiënstraat. Pinangsia itu terus menudju ke Petjakulit (dari: Petjahkulit), tempat Peter Elberfeld, seorang Indo keturunan Djerman, pada tahun 1722 dihukum-mati dengan lengan dan kakinja ditarik oleh empat ekor kuda jang ditjambuk keberbagai djurusan (gevierendeeld).
Djika terus dari Pintu Besar tuan naik trem ke Utara tuan akan sampai ke Pasar Ikan atau dimulut rakjat masih djuga disebut Kota Inten, karena disana terdapat empat buah benteng jang sekarang telah terpendam, bernama Diamant, Safier, Robijn dan Parel.
Disebelah Barat Kali Besar terdapat Roa Malaka (dulu: Maleise Gracht, kemudian Malakse straat), tempat tinggal orang-orang Portugis dari Malaka setelah pada tgl. 14 Djanuari 1641 Malaka diserang Belanda. Djalan Tiang Bendera didekatnja mengingatkan kita kepada bekas rumah kapitan Tionghoa, dimana sedjak tahun 1680 pada tgl. 1 tiap bulan Masihi dikérék bendera sebagai tanda, bahwa orang-orang Tionghoa mesti datang membajar padjak-kepala, sewarumah dsb. Pada tahun 1743 gubernur-djendral Gustaaf Willem Baron van Imhoff mendjual bekas rumah itu jang telah separuh terbakar kepada seorang kapitan Tionghoa; kampung disitu hingga kini tetap disebut Kampung Tiang Bendera.
Didekat tempat pelelangan ikan ada tempat djiarah jang disebut Luar Batang, kerantjuan dari kata luar benteng, kuburan jang dianggap keramat daripada Sajid Husain bin Abubakar Alaidrus jang menurut „Bataviaasch Courant tgl. 12 Mei 1827 mati pada kira-kira tahun 1796. (Menurut kepertjajaan sebagian penduduk Djakarta, ketika majat Sajid Husain akan diusung tiba-tiba ia telah tak ada, telah keluar dari kerandanja, didalam basa Djakarta: kurungbatang; dari situ nama „Luar Batang”).
Diudjung Pasar Ikan barangkali tuan masih ingat sebelum perang ada restoran „Zeezicht” jang didjaman Djepang dibaptiskan mendjadi „Sitindjaulaut”. Sebelum perang itu adalah tempat romantik remadja, apalagi dimalam purnama: disana di-“tarik suara” lagu kerontjong „Terang Bulan”. Tempat itu disebut Kapal Rusak karena ada sebuah kapal besar terdampar. Sajang ditempat itu kini hanja ada reruntuk belaka.
Kembali ke Gelodok. Djika tuan belok kekiri, menudju ke Utara-Baratlaut tuan sampai kebagian kota pusat kehidupan tionghoa jang disebut Pantjoran. Kebanjakan jang berdagang dan berdiam disana orang Tionghoa. Mengapa bernama Pantjoran? Dulu disana Waterpoort, tempat pintuair dan sekaligus pula tempat pengambilan airminum. Saluran-air disana duapuluh lima tahun jang lampau masih ada.
Dari Pantjoran djika tuan berdjalan terus tuan akan sampai ke Kali Besar, kemuara Tjiliwung, kota asal Djakarta, tempat V.O.C. mula-mula membuat lodji pada tahun 1611. Djika sebelum sampai ke Kali Besar tuan belok kekiri tuan sampai ke Pintu Ketjil, tempat pusat perdagangan hasilbumi besar-besaran, tempat importeur-importeur tekstil. Pintu Ketjil dulu nama Melaju dari Diespoort jang didirikan tahun 1631. Sedjadjar dengan Pintu Ketjil terdapat Pasar Pagi, rupanja dulu hanja dibuka diwaktu pagi. Didekatnja terdapat Kongsi Besar tempat rumahgadai jang dimulut rakjat Djakarta disebut djuga kongsi. Antara Pantjoran dan Pintu Ketjil kali membelok ke Barat. Ditepi kali itu terletak Toko Tiga dan diseberangnja Belandongan, tempat Pak Wongso alias Wijnhamer membuka rumahmiskin. Belandongan berasal dari kata Djawa belandong, artinja penebang kaju. Belandongan dulu tempat penimbunan kaju.
Angké berasal dari kata Sangsekerta an-kai jang berarti: dalamnja tak terduga. Kp. Gusti didekat Angké didirikan oleh Gusti Ketut Badulu dari Bali.
Djika tuan berdjalan antara Harmoni dan Gelodok mula-mula tuan mendjumpai kampung Kerukut. Mungkin dulu disana banjak kerukut (Djawa: krokot) atau gélang, sematjam tanaman jang banjak tumbuh sendiri dipekarangan dan kalau njonja pandai menumisnja tentu akan sedap sekali tuan makan. Kampung Krukut itu dulu terkenal sebagai kampung orang-orang Bali, tapi sekarang terkenal sebagai kampung orang-orang Arab.
Antara Kerukut dan Gelodok terdapat Gg. Kelenteng, disebelah Balai Perdagangan Tionghoa (Chinese Chamber of Commerce). Disana dulu terdapat sebuah kuil Tionghoa atau kelenténg. Gg. Kelenteng terusnja ke Kampung Pekapuran, dulu tempat pembakaran kapur.
Mari kita kembali ke Harmoni. Sebelah Barat Harmoni terdapat Petodjo, dulu kepunjaan komandan (petudju) Jonker, seorang kapten suku Ambon. Berbitjara tentang kapten Jongker Pedjongkoran di Tandjung Periuk-pun berasal dari nama Jonker karena tanah itu dulu kepunjaannja.
Dari Harmoni kedjurusan Tanah Abang (= tanah merah) tuan mendjumpai Laan Trivelli (Djalan Tanah Abang Dua), Laan de Riemer (Tanah Abang Tiga) dan Laan de Bruinkops (Tanah Abang Empat) dan Laan Thomas (Tanah Abang Lima). Nama lama djalan-djalan tsb. djauh lebih dikenal oleh rakjat dan Laan Trivelli disebut Gang Terpéli, Laan de Bruinskop disebut Gang Beréngkok (malahan ada: Kampung Beréngkok). Nama-nama tempat jang berasal dari nama-nama orang amat banjak dan tidak selalu orang-orangnja penting.
Diantara Gang Thomas dan Djatibaru ada Kebon Djahé, dulu memang benar bekas kebun djahé atau halia (Belanda: gember). Berbitjara tentang Kebon Djahé, banjak lagi di Djakarta nama-nama tempat memakai kata „Kebon” seperti Kebon Sirih; Kebon Djeruk, Kebon Kelapa dan Kebon Sajur (tiga-tiganja didekat Sawah Besar); Kebon Pala, Kebon Sereh dan Kebon Nanas di Djatinegara; Kebon Katjang, Kebon Melati dan Kebon Pala di Tanah Abang; Kebon Singkong di Petodjo dan Kebon Torong didekat Gelodok. Ditempat itu masing-masing dulu banjak tanaman-tanaman jang bersangkutan; di Kebon Sajur, Gang Toapekong hingga kini masih ditanam sajur-majur.
Nama-nama tempat lain berdasarkan nama buah-buahan adalah Pisangan di Djatinegara, Petunduan di Palmerah, Pedurenan didekat Pasar Minggu, Gang Ketapang, Mangga Besar, Asem Reges dan Mangga Dua di Djakarta-Kota; Gg. Kwini, Gg. Setjang, Kamp. Ketapang dan Gg. Bungur di Senen. (Nama-nama tsb. telah sedjak beratus-ratus tahun ada dan karenanja terletak berpentjaran, tidak berkelompok. Nama buah-buahan dan bunga-bungaan dsb. jang berkelompok-kelompok memang sengadja dibikin baru-baru ini sadja oleh Stadsgemeente Batavia atau oleh Kotapradja Djakarta-Raja).
Sawah Besar disebut demikian karena disana batas kota dan terdapat pesawahan luas. Sawah Besar Buddingh dulu tanah kepunjaan tuan Buddingh. Didekat Sawah Besar ada daerah jang impopuler, daerah „militer dilarang masuk”, namanja Kaligot, dulu bekas kali jang sekarang telah mendjadi got. Didekat Sawah Besar pula terdapat Gg. Sumantri dan Gg. Toa Hong. Rupanja Sumantri dan Toa Hong dulu memiliki tanah itu. Gg. Mesigit jang djuga terletak didekatnja mendapat namanja dari sebuah mesdjid tertua di Djakarta jang kini masih berdiri ditepi djalan raja Hajam Wuruk.
Didekat Sawah Besar terletak Petjenongan, dulu disebut Drosserspad, adalah tempat mentjénéng, ialah meregang, mementang atau menarik.
Batutulis dekat Petjenongan dulu ada batutulisnja jang kemudian entah dipindahkan kemana.
Kerékot dekat Sawah Besar berarti tumbuh melekat atau *bengkok-bengkok8 dan dikatakan tentang djari dsb.
Pintu Besi disebelah Timurnja dulu adalah batas kota dan disana ada pintunja, terbuat dari besi. Sedangkan Bungur Besar sekarang dulu bernama Defensielijn van den Bosch, karena merupakan garis pertahanan jang dibuat oleh Van den Bosch.
Nama-nama lain jang sekarang masih ada antara lain: Pedjagalan dan Pagerman di Djakarta-Kota dan Rawa Bangke di Djatinegara. Pedjagalan dulu tempat djagal, sedangkan Pegerman berasal dari kata germa (Djawa modern: germo) kepala rumah tempat menandak, mengibing, biasanja sekaligus pula rumah-pelatjuran. Rawa Bangké disebut demikian ditempat tsb. dulu ada rawa jang penuh majat akibat pertempuran serdadu-serdadu Belanda dan Inggris (1811). Gang Toapekong didekat Sawah Besar ada rumah Toapekongnja. Djalan Dokter Wahidin, disebelah parlement, masih dikenal dengan nama lama Sipayersweg, dulu tempat tangsi kaum sepoy (istilah di India) dari kata Parsi spahi, artinja: serdadu. Djika tuan dari Djalan Dokter Wahidin menudju ke Barat arah kesetasion Gambir tuan akan lewat Pedjambon, dulu bekas kebun djambu, tempat Kementerian Luarnegeri sekarang dan Volksraad dulu; djuga dikenal sebagai tempattinggal Nji Dasimah. Berbitjara tentang Nji Dasimah tuan mungkin teringat akan Bang Kuasa jang tinggal di Kwitang. Kwitang asalnja dari kawitan (ka-awit-an) atau permulaan pembukaan suatu kampung baru. Dari Kwitang ke Menteng telah dekat dan akan tjukup berdjalan kaki lima menit. Menteng berasal dari nama seorang Makassar; Daeng Menteng. Gondangdia didekat Menteng tidak djelas asalnja, tapi gondang artinja sedjenis siput dan sematjam buah. Demikian pula Tjikini tidak djelas asalnja: kini-kini berarti sipasin. Djalan Raden Saleh berasal dari nama Rd. Saleh Sjarif Boestama, pelukis besar Indonesia, jang bekas rumahnja dipakai rumahsakit Tjikini sekarang. Diseberang Djl. Rd. Saleh ada Gg. Sentiong, djelas asalnja karena masih ada sentiong-(kuburan Tionghoa)-nja. Djalan Raja Kramat disebut demikian karena disana terletak kuburan Dalem Reksa Menggala alias Bagus Kasim wakilradja (vazal) Sunda Kalapa ketika keradjaan Padjadjaran, jang bélot dan jang kemudian mendjadi wakilradja Djakarta jang pertama dibawah keradjaan Banten. Kuburan tsb. didjadikan tempat berdjiarah karana dianggap keramat atau kudus.
Paseban berasal dari kata pa-seba-an, tempat menghadap dan mengantarkan persembahan. Belum djelas asal sedjarah perkataan itu, apakah benar-benar disana dulu ada paseban. Tapi Mataraman djelaslah adalah tempat kediaman orang-orang berasal dari Mataram, sedangkan Gg. Beluntas dulu banjak pohon beluntasnja. Pegangsaan tidak djelas berasal dari tempat penggembalaan ataupun pemeliharaan gangsa (angsa) ataukah nama sematjam alat tabuh-tabuhan gamelan. Manggarai dulu adalah sebagian daripada kp. Mataraman dan merupakan tempat kediaman orang-orang jang berasal dari Flores. (Manggarai adalah nama tempat dibagian Barat Pulau Flores).
Sekarang kita ke Tandjung Periuk. Nama Tg. Periuk sendiri terdjemahan: Potterbakkershoek. Kp. Kodja telah djelas tempat-tinggal orang-orang Kodja. Tjelintjing, dulu disana banjak tjelintjing atau belimbing bulu jang biasa dipakai untuk penjedapkan gulai. Didekat Tjelintjing dan Sunter ada Kampung Kebantenan, dulu tanah itu kepunjaan Pangeran Aria Purbaja dari Banten dan rupanja ketika itu disana banjak orang Banten. Perdjongkoran iatas telah diterangkan artinja, ialah tanah Kapten Jonker, seorang Ambon pemberani jang sangat berdjasa kepada V.O.C., tapi pada tahun 1689 mati dibunuh karena kedapatan hendak mempersiapkan pemberontakan. Kp. Embrat asalnja dari Heemraad.
Antara Tg. Periuk dan Pasar Ikan terdapat Kampung Djapad, asalnja dari Jagpad atau djalan perburuan. Diseberang Kp. Djapad terdapat Kp. Bandan, tempat kampung orang-orang Banda jang diangkut J.P. Coen setelah pembasmian Banda pada tahun 1621. Antjol atau antjul artinja air mandek, air tidak mengalir.
Tanggerang berasal dari kata tanggeran, artinja: pedukuhan, tempat kediaman. Mauk dari Tanggerang ke Barat-laut berasal dari nama seorang peranakan Tionghoa djuara pentja jang bernama Ma Oek.
Kebajoran dulunja tanah kepunjaan kapten Bajor, seorang dari Bali. Demikian pula Kemanggisan berasal dari nama kapten Manggis jang djuga dari Bali. Kemajoran artinja tanah kepunjaan major, ialah major De St. Martin, jang membelinja pada tahun 1695. Didekat Kemajoran Kepuh berasal dari nama sebangsa pohon kaju (Steroulia foetida). Gempol artinja mendjuti dan menjembelih dengan segera.
Depok disebelah Selatan Djakarta pada djalan keretaapi Djakarta-Bogor berarti pertapaan. Patung Malela didekat Depok berasal dari nama orang Banda, ialah Gara Malela dan parung berarti bagian sungai jang dapat diarungi (diseberangi; dikerobok, b. Djkt).
Kp. Pekajon, batas Kotapradja Djakarta pada djalan menudju ke Bogor berasal dari pe-kaju-an, tempat mentjapai kaju. Ragunan sebelah Barat Pasarminggu berasal dari nama Pangeran Wiraguna seorang Belanda bernama Cardeel alias Hendrik Laurents van Steenwijk jang setelah melarikan diri dari Belanda disekitar tahun 1700 mendjadi pangeran di Banten.
Kampung Melaju di Djatinegara berasal dari kapten Wan Abdul Abgus, anak kapten Entji Bagus, seorang Melaju jang berasal dari Patani. Tjawang berasal dari nama letnan Entji Awang, seorang Melaju pula orang sebawahan kapten Abdul Bagus, Kp. Bali Mataraman (Bali Mester) adalah perkampungan Ida Gede Babandan dengan 700 orang anakbuahnja.
Nama Pasarminggu berasal dari kebiasaan berpasar seminggu sekali pada hari Minggu. Analog dengan itu didekat Kebajoran terletak Pasar Djumahat dan didekatnja pula Pasar Selasa. Antara Pekajon dan Tjibinong terletak Pasar Rebo. Dipusat kota terletak Pasar Senen jang didirikan pada tahun 1750 oleh landdrost Vinck. Pasar Baru berbitjara dengan sendirinja. Pasar Rumput di Djalan Sultan Agung tempat mendjual rumput untuk kuda gerobak-gerobak dan delman-delman jang banjak berhenti disitu. Pasar Boplo di Gondangdia berasal dari kata bouwploeg.
Bekasih sangat mungkin berasal dari barangkasih, barang kesajangan, tanah terachir Pangeran Aria Purbaja dari Banten, setelah ia djatuh miskin pada tahun 1707.
Bahan:
- 1.
- Berbagai djilid dan jaargang Tijdschrift voor d Taal-, Land- en Volkenkunde van Ned. Ind.
- 2.
- Dr. F. De Haan, Oud Batavia, twede druk (1935).
- 3.
- Jaarverslag van den Topografische dienst van Nederlandsch-Indië over 1916.
- 4.
- Ir. S. J. Rutgers, Indonesië deel I (1937).
- 5.
- Beberapa interview.