Baca EPUB: Arkeologi dan Tradisi Keilmuan di Prancis

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
HASSAN MUARIF AMBARY
Arkeologi dan Tradisi Keilmuan di Prancis
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Hassan Muarif Ambary dikenal sebagai salah satu arsitek utama dari kerja sama Indonesia Prancis, dan atas jasa itu dianugerahkan pada tahun 1996 penghargaan “Chevalier des Arts des Lettres” oleh Menteri Kebudayaan Prancis.

Lahir di Kuningan, Jawa Barat, pada tanggal 13 Mei 1939, Hassan Muarif Ambary mengikuti pendidikan di Jurusan Arkeologi di UI dan mendapat gelar sarjana pada tahun 1987. Pendidikan pascasarjana ditempuhnya dengan suatu beasiswa dari pemerintah Prancis di EHESS, Paris, di mana dia meraih gelar doktor di bawah bimbingan almarhum Prof. Denys Lombard.

Hassan Muarif Ambary adalah seorang arkeolog dan sejarawan Islam terkemuka dan terkenal dengan penelitian yang dilakukan dan dipimpinnya di berbagai daerah di Indonesia. Selain meneliti, dia juga menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), dan mengajar pada strata 3 arkeologi di beberapa lembaga pendidikan tinggi: IAIN Syarif Hidayatullah, UI dan UGM.

Selain sebagai penulis sejumlah artikel ilmiah, dia dikenal sebagai anggota tim penulis buku Sejarah Indonesia jilid III (1970-1975) dan buku Sejarah Umat Islam Indonesia.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Pengenalan Awal Tentang Prancis (1957 – 1981)

Waktu saya masih duduk di bangku sekolah, tidak terbayangkan sedikit pun dalam benak saya bahwa saya akan mendapat kesempatan bermukim di Prancis.

Sejak duduk di bangku SMP, saya menyenangi mata pelajaran Sejarah Kebudayaan. Di kelas 3 SMP ada jurusan Sosial-Budaya dan jurusan Pasti Alam. Karena kemampuan matematik kurang, maka saya memilih jurusan Budaya yang sangat sarat dengan pelajaran sastra, sejarah, dan kebudayaan.

Begitu juga jurusan yang saya pilih untuk melanjutkan studi adalah SMA bagian A (Budaya) di Bandung. Ketika harus memilih bahasa, saya memilih Prancis karena sejak SMP saya senang membaca Sejarah Revolusi Prancis.

Setelah lulus SMA (tahun 1960), saya melamar ke Fakultas Hukum Unpad dan ke jurusan Ilmu Purbakala di FSUI Jakarta. Saya diterima di keduanya, namun saya memilih FSUI karena memang lebih berminat belajar arkeologi daripada hukum.

Selama mengikuti perkuliahan di Jurusan Arkeologi, saya mendapat pelajaran tambahan bahasa Prancis. Bahan bacaan tentang arkeologi Asia Tenggara, bahkan tentang arkeologi Indonesia pun banyak yang ditulis dalam bahasa Prancis. Melalui tulisan-tulisan ahli-ahli Asia Tenggara dari Prancis seperti H. Parmentier, G. Coedès, L. C. Damais, Denys Lombard, dll, saya dapat memahami bahasa Prancis secara pasif.

Setelah lulus FSUI pada bulan April 1967, saya melamar di Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (LPPN) dan diangkat sebagai pegawai negeri pada bulan Oktober berikutnya. Saya ditempatkan di bidang Arkeologi Islam sebagai asisten Pak Uka Tjandrasasmita. Waktu itu baru kami berdualah yang bekerja di bidang itu.

Untuk memperluas pengalaman, tahun 1974, oleh Pak Uka saya diberi kesempatan mengikuti Seminar Sejarah IAHA (International Association of Historians of Asia) di Yogyakarta dan membuat makalah tentang berdirinya kota Jayakarta. Di Yogyakarta inilah saya pertama kali berkenalan dengan Dr. Denys Lombard.

Tahun 1975, LPPN dikembangkan menjadi dua Lembaga, yakni Direktorat Sejarah dan Purbakala (kini Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala), yang menangani pelestarian peninggalan sejarah dan purbakala, dan Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional (kini Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, atau Puslit Arkenas) yang menangani penelitian.

Saya harus berpisah dengan Pak Uka karena beliau diangkat menjadi Direktur Sejarah dan Purbakala, sedangkan saya menggantikan kedudukan beliau sebagai Kepala Bidang Arkeologi Islam pada Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional (PUSPAN).

Tahun 1976, PUSPAN menjalin kerja sama formal dengan EFEO (École français d’Extrême-Orient) untuk kajian filologi, epigrafi, arsitektur, dan arkeologi secara umum. Melalui kerja sama PUSPAN-EFEO ini saya mengenal dengan baik para peneliti Prancis yang bernaung di bawah EFEO, bahkan kami sering bekerja bersama dalam penelitian. Beberapa ahli dari EFEO yang saya kenal baik adalah Prof. Dr. Denys Lombard, Dr. H. Chambert-Loir, Dr. J. Dumarcay, Dr. Claude Guillot, Dr. Viviane Sukanda-Tessier, dan Dr. P. Y. Manguin.

Bermukim di Prancis (1981 – 1984)

Kesempatan untuk mengunjungi Prancis datang melalui program SPAFA (Seameo Project on Archaeology and Fine Arts) yang berkedudukan di Bangkok. Pemerintah Prancis sebagai mitra SEAMEO memberikan sejumlah fellowship kepada para peneliti anggota SPAFA untuk berkunjung ke Prancis.

Pada bulan Juli 1981, saya terseleksi untuk ke Prancis selama enam bulan. Penanggung jawab kunjungan saya adalah Prof. Denys Lombard, yang waktu itu menjabat Directeur d’Etudes untuk Program Studi Indonesia di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS), Paris. Prof. Denys Lombard mempersiapkan program untuk saya, yang antara lain meninjau dan mengunjungi museum, laboratorium arkeologi, dan lembaga-lembaga pendidikan yang berkaitan dengan sejarah dan arkeologi yang ada di berbagai perguruan tinggi di Prancis.

Ketika berangkat ke Paris pada tanggal 20 Juli 1981, saya diliputi rasa waswas karena kemampuan bahasa Prancis saya baru sampai tahap membaca. Saya juga merasa sebagai orang kampung yang akan menuju kota besar.

Ketika tiba di Aéroport Charles de Gaulle di Paris, saya dijemput oleh teman lama Mang Abay (Subarna). Dengan bus kota, saya dan Abay menuju Gare du Nord di pusat kota Paris dan kemudian naik kereta api bawah tanah menuju rumah Abay yang terletak di Rue de Bellefond. Baru kali itulah saya naik métro dan baru kali itulah saya menggunakan karcis yang semuanya diatur dengan mesin otomatis. Untunglah saya didampingi oleh Abay. Kalau pergi ke mana-mana di kota Paris, yang menurut saya waktu itu sangat rumit sistem transportasinya, saya minta ditemani Abay. Hari berikutnya, saya berangkat ke Vichy yang kira-kira 300 km ke arah selatan untuk belajar bahasa Prancis selama dua bulan. Ke Vichy pun saya minta agar Abay menemui karena masih belum mampu “berjalan sendiri”.

Saya belajar bahasa Prancis selama dua bulan di CAVILAM (Centre Audio-Visuel de Langue Moderne). Saya baru berpisah dengan Abay setelah di Vichy saya bertemu para karyasiswa Indonesia dari berbagai bidang studi. Kami, orang-orang Indonesia, membentuk “kampung Melayu” dengan menyewa sebuah rumah yang memiliki delapan kamar yang tiap kamar dihuni oleh dua orang, sehingga total kami “orang Melayu” dalam rumah itu ada 16 orang. Kami sepakat bahwa tiap dua orang secara bergilir harus masak untuk seluruh penghuni rumah, yang uang belanjanya dikumpulkan secara kolektif dan menu makanannya disepakati dulu. Dengan teman-teman lain orang Indonesia yang waktu itu di Vichy berjumlah sekitar 60 orang, kami saling memberi informasi tentang jenis-jenis makanan yang ada di pasar yang “sesuai” dengan selera lidah kami. Salah satu informasi yang kami terima adalah bawah di salah satu supermarket dijual ikan teri. Kami berbondong-bondong ke sana dan dalam waktu singkat semua habis dibeli oleh orang Indonesia. Ada juga teman yang sial mencarinya. Ternyata dia tidak tahu bahwa ikan teri itu harus dicari di bagian makanan hewan karena dimaksud sebagai makanan kucing.

Selama belajar di CAVILAM, di dalam kelas kami diharuskan menggunakan bahasa Prancis saja. Siapa pun yang bertegur sapa dalam bahasanya sendiri didenda 5 Franc. Saya sempat kena denda 5 Franc. Saat beristirahat kami bersama-sama guru turun ke kafe, dan minuman dibayar oleh uang denda itu. di warung kopi pun kami “dibimbing” oleh guru kami untuk terus berbahasa Prancis. Hasilnya ternyata cukup baik. Setelah dua bulan dengan 25 jam setiap minggu, alhamdulillah ketika kembali ke Paris saya sudah dapat berkomunikasi secara lisan maupun tertulis dalam bahasa Prancis. Saya menguji kemampuan itu dengan menulis surat kepada Denys Lombard, dan dia membalas bahwa dia heran dan senang saya sudah bisa berkomunikasi secara tertulis dengannya.

Selama di Paris saya didampingi oleh Dr. J. Dumarcay ketika berkunjung ke berbagai lembaga ilmiah di sekitar Paris, di antaranya ke museum dan ke laboratorium konservasi batu di Champ-sur-Marne. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah perkuliahan yang diselenggarakan oleh Pak Lombard dan kolega-koleganya yang mengajarkan bidang studi Asia Timur, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Saya mengikuti program perkuliahan FRAMO (Formation à la Recherche sur l’Asie Méridionale et Orientale), yakni program perkuliahan untuk sejarah Asia Timur dan Asia Selatan. Untuk sejarah Cina saya mengikuti kuliah Dr. Cartier dan untuk Asia Selatan, khususnya India, saya mengikuti kuliah Dr. Reiniche.

Yang paling sering saya ikuti adalah kuliah-kuliah tentang Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang diberikan oleh kelompok Pak Lombard, yaitu Pak Lombard sendiri, Prof. Labrousse, Dr. M. Bonneff, dsb. Tentang metode arkeologi dan kajian hasil penelitian saya mengikuti kuliah Prof. P. Courbin. Di tempat kuliah Prof. Courbin ini saya berkumpul dengan teman-teman dari berbagai negara yang perhatian studinya pun berbeda-beda. Di antara mereka ada yang mendalami studi tentang Yunani Kuno, Peru, Timur Tengah, dsb.

Prof. Courbin sendiri mempunyai program penelitian di situs Ras-el-Bassit di Irak, dan hasil penelitiannya juga sering dijadikan bahan perkuliahan. Ia sering memberi kuliah tentang perkembangan studi dan metode arkeologi, di antaranya ia membahas di kelas kami masalah new archaeology yang kini dikembangkan di Amerika Serikat, sedangkan di Prancis sistem yang dikembangkan lebih “klasik”.

Saya senang sekali mendapat tambahan perkuliahan itu, walaupun kehadiran saya sebenarnya berstatus sebagai “anak bawang” karena saya adalah pengunjung biasa, bukan mahasiswa resmi.

Karena saya rajin ikut kuliah Pak Lombard, beliau menawarkan agar saya mengikuti program doktor. Namun saya harus kembali ke tanah air pada akhir Desember 1981, karena sebagai pegawai negeri saya harus taat pada syarat izin kepergian. Sebelum kembali ke tanah air, saya sempat membicarakan dengan Pak Lombard bahasan disertasi saya nanti. Saya mengemukakan saya ingin membuat kajian tentang kota-kota Islam di Indonesia. Beliau berpendapat bahwa data yang terkumpul selama ini belum mencukupi dan menganjurkan agar saya mengumpulkan bahan-bahan tentang situs pemakaman Islam di Indonesia yang menurut pendapat beliau datanya sudah jauh lebih lengkap.

Sekembali di Indonesia pada akhir tahun, saya mengajukan permohonan resmi kepada Kedutaan Besar Republik Prancis di Jakarta untuk mendapat beasiswa program doktor, dan ternyata saya diterima sebagai kandidat program doktor di EHESS Paris dengan beasiswa sementara untuk 2 tahun (1982-1984), sehingga pada akhir bulan Oktober 1928 saya kembali ke Paris untuk melanjutkan studi tersebut.

Saya mendapat tempat tinggal di Cité Universitaire di Antony yang letaknya di luar kota Paris (zone 3). Dari Antony ke Paris terdapat kereta api reguler RER B, yang ditempuh dalam waktu 30-40 menit saja. Saya senang sekali tinggal di asrama mahasiswa Antony ini karena tempatnya nyaman dan suasana pergaulan pun menyenangkan.

Penghuni asrama di Antony seluruhnya adalah mahasiswa yang berasal berbagai negara. Ternyata sudah banyak mahasiswa asal Indonesia; sebagaimana biasa, kami bergabung dalam paguyuban “Kampung Melayu Antony”. Tempat tinggalnya dibagi dua blok, yaitu blok untuk penghuni “bujangan” (kami sering menamakan diri “bujang lokal”, karena anak dan istri ditinggal di tanah air) dan blok untuk penghuni yang sudah berkeluarga.

Keberuntungan yang lain adalah kedudukan Bapak Benny Hoed sebagai atase kebudayaan KBRI Paris. Saya telah kenal baik dengan Mas Benny karena beliau adalah satu almamater (UI) dan sama-sama tinggal di Kampus UI Rawamangun. Karena kebaikan hatinya, saya sering memperoleh ordernya untuk menyusun laporan, membuat katalog tesis-tesis S3 yang dideposit di perpustakaan KBRI, dan juga menyusun katalog koleksi buku-buku koleksi KBRI. Saya diberi “honor” 25 Franc setiap jam. Melihat bahwa di dalam seminggu saya bekerja sekitar 20 sampai 25 jam, maka tambahan “uang saku” saya setiap minggu adalah 500 – 600 Franc dan sebulan 2000 – 2400 Franc. Sebagai perbandingan, beasiswa kami sebulan sebesar 2000 Franc. Maka hasil kerja lembur ini cukup menunjang isi kantong saya, dan uang hasil kerja lembur ini saya tabung.

Kegiatan saya yang lain adalah mengikuti kesenian KBRI. Yang mengkoordinir kegiatan kesenian adalah Sdr. Putera, lulusan Sekolah Karawitan Denpasar. Dia dibantu oleh Mas Rahayu Supanggah, seorang dosen STSI Surakarta yang sedang menempuh studi doktor di Paris di bawah bimbingan musikologis Jacques Brunet. Mas Supanggah inilah yang mengajarkan kami karawitan Sunda, Jawa, dan Bali. Di dalam grup KBRI itu, saya dijadikan tukang pukul gong, dan berkat latihan keras, saya cepat menjadi mahir di dalam cara main gong Bali, Jawa, maupun Sunda. Berkat kemahiran itu, saya sempat berlanglang buana mengikuti tim kesenian KBRI Paris ke Valbonne, Nice, Marseille, bahkan sampai ke Tunisia. Setiap “manggung” kami diberikan uang saku sampai $150 oleh KBRI!

Salah satu kegiatan saya yang lainnya ialah mengikuti acara pengajian di KBRI. Duta besar sendiri, yaitu Bapak Prof. Barli Halim (kini almarhum) sering memimpin diskusi dengan acuan pada al-Qur’an. Masalah yang dibahas berkaitan dengan muammalat, fiqih, dsb.

Saya pun ikut “membina” mesjid KBRI dengan sesekali menjadi khatib sembahyang jumat serta menyusun jadawal para khatib untuk sholat jumat di KBRI Paris. Berkat pergaulan tersebut, saya sering mendapat undangan makan dan resepsi dari staf KBRI. Dapat undangan berarti di asrama tidak usah masak!

Hal-hal seperti itu tidak berarti saya mengabaikan studi. Saya tetap mengikuti berbagai kuliah dan seminar dan belajar sampai larut malam.

Saya menyelesaikan DEA (Diplôme d’Etudes Approfondies) dalam waktu delapan bulan saja (Oktober 1982 – Mei 1983). Dengan berpedoman pada peribahasa, “sambil merangkuh dayung dua tiga pulau terlampaui”, memoir DEA itu saya jadikan bahagian dasr dari tesis doktoral saya. Pada libur semester akhir (Juni 1983 – Oktober 1983) saya kembali ke tanah air untuk menengok keluarga dan mengumpulkan data tambahan bagi tesis saya.

Sekembalinya di Paris saya berkonsultasi secara rutin dengan Denys Lombard dan pada awal bulan April 1984, tesis saya rampung ditulis dengan judul “L’Art Funéraire Musulman en Indonésie des Origines au XIXéme Siècle”. Hari-hari berikutnya diisi pengetikan dan penyuntingan naskah. Bulan April 1984, istri saya datang ke Paris—hasil tabungan kerja lembur dan main gong.

Kehadiran istri saya di Paris sangat membantu karena saya tidak usah masak sendiri lagi. Istri saya juga ikut membantu menyunting naskah tesis saya, termasuk mengoreksi teks-teks bahasa Arab. Kebetulan dia lulusan madrasah.

Pada akhir April 1984, naskah tesis saya didaftarkan resmi untuk diujikan. Saya harus mengantarkannya sendiri kepada penguji. Ketika tanggal ditentukan, satu bulan kemudian, ternyata tepat menjelang Hari Raya Idul Fitri. Maka istri saya memilih pulang ke Indonesia duluan. Dia ingat pada keempat anak kami yang ditinggal di Jakarta. Bagaimana Hari Raya Idul Fitri mereka kalau tanpa ayah ibunya?

Ujian tesis saya dilaksanakan di ruang sidang EHESS Paris di Boulevard Raspail. Persidangan cukup meriah. Selain duta besar Prof. Barli Hakim, hadir pula wakilnya Bapak Kusnadi dan atase kebudayaan KBRI Den Haag Bapak Benny Hoed. Bahkan pegawai-pegawai penerangan KBRI melakukan peliputan video, yang ternyata ditayangkan di TVRI beberapa waktu kemudian. Beliau-beliau ini sengaja datang sebagai penggembira karena saya sudah dianggap sebagai “kiayi” di kalangan jamaah majlis taklim KBRI Paris.

Alhamdulillah, setelah lebih dari tiga jam saya digojlok oleh para dewan juri, saya berhasil mengatasinya dengan hasil “sangat baik” (Très Bien).

Sebelum pulang ke tanah air di akhir Mei 1984 saya diminta untuk menjadi imam sholat Idul Fitri di KBRI Paris di Rue Cortambert dan permintaan tersebut saya penuhi dengan senang hati. Yang bertindak sebagai khatib pada sholat tersebut adalah Bapak Prof. Dr. Achyani (alm.), duta besar RI untuk Unesco Paris.

Setelah semua urusan selesai termasuk penyerahan ijazah doktor yang dapat saya terima sebelum pulang, saya kembali ke Jakarta pada awal Juni 1984. Seluruh progam studi, dari jatah yang disediakan dua tahun, dapat saya selesaikan dalam waktu delapan belas bulan saja (Oktober 1982 s.d. Juni 1984), sehingga masih tersisa jatah waktu enam bulan. Ketika saya pamitan dengan Denys Lombard, beliau menawarkan saya “berjalan-jalan” ke Spanyol, Portugal, dan Italia, tapi tawaran tersebut tidak saya terima karena tugas di tanah air telah menunggu dan saya kangen kepada keluarga yang ditinggalkan.

Tradisi Keilmuan di Prancis

Prancis dan khususnya kota Paris adalah surganya para seniman dan budayawan. Hal ini didukung oleh iklim kebebasan berkreasi, penghargaan masyarakat yang tinggi terhadap karya seni budaya, serta fasilitas yang memadai. Dunia arkeologi pun merupakan surga yang mengasyikkan. Peninggalan arkeologi bertebaran di seantero negeri Prancis dan koleksi-koleksi meliputi seluruh dunia. Kota Prancis sendiri adalah laboratorium terbuka untuk mempelajari karya-karya budaya dari semua bangsa di dunia. Hal-hal itu adalah warisan dari sejarah Prancis sebagai bekas negara adidaya yang pernah “menjajah” sebagian dari benua Afrika dan Asia, dan bahkan Oceania. Di berbagai museum kita dapat menyaksikan aneka ragam peninggalan budaya Mesir kuno, mulai dari obelisk sampai ke mummy, patung, dan karya budaya Mesir kuno lainnya. Karya-karya seni Islam Timur Tengah juga tersimpan dengan mengah di berbagai museum di Paris maupun di tempat lainnya seperti Museum Keramik di Sèvres dan Musée Guimet. Karya-karya tersebut antara lain berupa arabesk, mozaik, gelas-gelas kaca, keramik, dan karya-karya kaligrafi.

Karya-karya seni Hindu-Buddha yang berasal dari berbagai penjuru Asia, mulai dari karya seni arca Buddha Ghandara yang bergaya Greco-Buddha sampai ke karya seni arca Buddha dari masa Gupta India dan karya seni arca Asia Tenggara seperti Khmer (Kamboja), Thailand, Burma, dan Indonesia, terpampang dengan megah di Musée Guimet. Menurut pendapat saya, salah satu tempat penyimpanan dan pameran koleksi seni arca Hindu-Buddha yang terbaik di dunia adalah Musée Guimet.

Untuk karya seni klasik Eropa dari masa prasejarah hingga zaman Renaissance, kita juga dapat melihat masterpiecenya di sini. Di museum arkeologi Saint Germain-en-Laye, kita dapat menyaksikan seni lukis gua yang tertua di dunia yang berasal dari situs Dordogne, 30.000-20.000 tahun yang lalu, berupa lukisan dalam gua (abris sous roche) sampai artefak-artefak zaman neolitik yang berasal dari berbagai tempat di Eropa. Museum prasejarah di Tautavel, Perpignan juga dapat disebut sebagai museum prasejarah terbaik di Eropa. Museum tersebut dibangun “in situ”, berarti semua benda yang dipamerkan ditemukan di situ juga.

Di Museum Louvre, kita dapat melihat koleksi karya-karya agung zaman klasik Eropa, termasuk lukisan Mona Lisa karya Leonardo da Vinci.

Naskah-naskah dan dokumen berharga, berbentuk lontar, kertas, dan bahan-bahan lainnya yang berasal dari Asia dan Afrika, tersimpan di Arsip Nasional, Perpustakaan Nasional, lembaga-lembaga penelitian seperti EFEO, dsb, sedangkan beberapa fosil manusia purba dapat kita lihat di Musée de L’Homme.

Salah satu unsur penunjang untuk menambah ilmu pengetahuan bagi para mahasiswa adalah tersedianya perpustakaan yang baik. Di Paris terdapat perpustakaan yang bukan saja koleksinya baik dan banyak tapi juga tempatnya nyaman dan terbuka bagi pengunjung hingga larut malam. Dapat disebut di sini misalnya Perpustakaan Nasional, serta perpustakaan Universitas Sorbonne, Musée de l’Homme, EFEO, INALCO, Archipel, dsb. Ruang baca di perpustakaan seperti di Universitas Sorbonne dibuka sampai jam 23.00-24.00.

Satu hal lagi yang menarik perhatian saya ialah pergaulan antara guru dan murid (mahasiswa dan dosen) yang terjalin sangat baik dan sangat terbuka, seperti berteman saja. Kepada guru pembimbing kita dapat berkonsultasi secara teratur dengan perjanjian yang disepakati. Hubungan yang baik antara guru dan murid inilah juga yang menjadi faktor penunjang dalam memperoleh kemudahan para karyasiswa agar dapat menyelesaikan studi dengan baik. Pendek kata dengan melihat segala fasilitas yang ada seperti disebutkan di atas, yakni: museum, laboratorium, perpustakaan, dan sistem konsultasi yang teratur antara mahasiswa dan dosen menjadikan sistem pendidikan yang sangat efisien, sehingga karyasiswa asing dapat menyelesaikan studinya dengan hasil baik dan tepat waktu.

Epilog

Saya kembali ke tanah air bulan Juni 1984 dan bekerja kembali di lembaga di mana saya ditempa dan dibesarkan, yaitu Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang dipimpin oleh Prof. Dr. R. P. Soejono.

Waktu saya kembali ternyata saya adalah doktor lulusan luar negeri yang pertama di bidang arkeologi. Mengingat lulusan yang bergelar doktor masih sedikit, maka Prof. Dr. R. P. Soejono selaku Ketua Umum IAAI (Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia) mengajak saya dan kolega-kolega yang sudah bergelar doktor untuk membentuk Komisi Asistensi Program Doktor IAAI (KAPDI). KAPDI resmi dibentuk pada bulan September 1984 dengan anggota terdiri dari Prof. Dr. R. P. Soejono (ketua), Prof. Dr. R. Soekmono (wakil ketua), Dr. Nurhadi Magetsari (sekretaris I), Dr. Hasan Muarif Ambary (sekretaris II) dan Dr. Ayatrohaedi (bendahara). Waktu itu hanya mereka itulah anggota IAAI yang bergelar doktor. Tugas utama dari komisi ini adalah menjaring teman-teman anggota IAAI untuk “dibimbing” dan “digiring” ke arah program doktor, dan jika sudah memadai akan segera dimasukkan secara resmi ke program doktor di perguruan tinggi (UI dan UGM). Sekitar 25 orang anggota IAAI mendaftarkan diri untuk “digodok” oleh KAPDI. Mereka adalah peneliti, pejabat Ditjen Kebudayaan, dan pengajar perguruan tinggi dari Jakarta, Yogyakarta, Denpasar, dan Ujungpandang.

Beberapa tahun kemudian, baik di UI maupun di UGM, melalui program pascasarjana, dibuka secara resmi program doktor untuk bidang studi arkeologi, dan para peserta bimbingan KAPDI yang sudah mapan “disalurkan” secara resmi ke program pascasarjana.

Syukur alhamdulillah sekitar 75% dari mereka yang mendaftar ke KAPDI untuk dibimbing kini sudah menyelesaikan studi doktornya.

Dalam perjenjangan jabatan struktural, saya mendapat kehormatan menjadi Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada bulan Agustus 1987, menggantikan Prof. Dr. R. P. Soejono.

Salah satu tugas yang menurut saya perlu diprioritaskan di Puslit Arkenas adalah pengembangan jenjang akademik staf peneliti dengan mengajak para peneliti muda mengikuti jenjang pendidikan S2 dan S3 di dalam dan di luar negeri. Berkat dorongan Prof. H. de. Lumley, Dr. François dan Dr. Anne-Marie Sempeah dari Institut de Paléontologie Humaine serta Prof. Denys Lombard dari EHESS/EFEO, beberapa peneliti muda Puslit Arkenas dapat mengikuti program doktor di Prancis. Mereka adalah Tony Djubiantono, Harry Truman Simanjuntak, Hari Widianto, Ali Fadillah, dan Nina Setiani.

Suatu kehormatan terbesar diberikan oleh pemerintah Prancis kepada saya berupa penganugrahan bintang jasa “Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres” oleh Kementerian Kebudayaan Prancis pada 2 April 1994. Penyematan bintang kehormatan tersebut dilakukan oleh duta besar Prancis Mr. Thierry de Beaucé pada tanggal 18 Oktober 1996 bertepatan dengan acara penutupan Kongres Alumni Prancis yang pertama di Convention Center.

Tidak terbayangkan sebelumnya bahwa saya akan memperoleh kehormatan dan penghargaan yang tinggi tersebut, sebab saya merasa bahwa tugas-tugas yang saya laksanakan adalah dalam kapasitas biasa-biasa saja.

Saya akhiri tulisan ini dengan ucapan rasa syukur yang saya sampaikan kepada Tuhan yang Maha Esa yang dengan karunia dan ridhanya saya diberi kehormatan dan kesempatan menimba ilmu pengetahuan di Prancis. Saya juga menyampaikan rasa terima kasih pada guru saya Prof. Denys Lombard yang telah memberi bekal ilmu pengetahuan yang sangat berharga selama saya berada di Prancis.

November 1997.