Baca EPUB: apa-siapa-pramoedya-ananta-toer

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
HERMAN PRATIKTO
Apa & Siapa Pramoedya Ananta Toer
Kacabenggala Editions

Publisher Note

Artikel ini dimuat dalam majalah Minggu Pagi, edisi No. 14 Th. VIII yang terbit pada 19 Juni 1955.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.



SUKA MAKAN SAMBAL — PENGGUGAT SOSIAL JANG ISTIMEWA — BIKIN GEGER MANUSIA DJAKARTA — SATRU TITIEN SUMARNI — PERNAH DITANGKAP PULISI SUSILA.

Pramoedya memang dojan sambal. Dirumah makan sambal. Dirumah makan minta sambal. Kalau mertamu, jang ditanjakan buat pertama kalinja, sambal matjam apa. Sebab menurut pengalamannja, banjak matjam sambal di Djawa ini. Di Djawa urut pantai, sambalnja mentah. Lombok (tjabe), trasi, garam, terus dilembutkan sama berambang. Kalau sambal dari Jogja atau Solo, sambalnja digoreng. Kalau sambal Djakarta, rasanja asin dan ketjut. Tetapi semuanja ini, dia suka. Tidak peduli sambal Semarang, atau sambal Jogja atau sambal Djakarta. Asal namanja sambal, dia dojan makan. Makannja giat, tjekatan karena sambal itu pula. Dan apabila sudah kenjang, barulah ia merasakan panasnja sambal. Sambil kepedesan ia bilang: „Nah, lihat sadja mulutku!—betapa buas manusia ini. Kalau sutradara film sanggup meng-close-up mulut-mulut manusia jang lagi meretakkan daging, menelan nasi, menggagapi sambal, nampak sekali kebuasan dan keganasan manusia„. Kemudian dia tertawa. Tertawanja ketjil beruntun-runtun tinggi merendah. Memang ada keistimewaan lagu tertawanja. Siapa jang mendengar tertawanja djadi tresno. Djadi sajang. Djadi tjinta. Hal ini banjak buktinja. Kalau dia lagi mentjari hutan dan diselingi tertawa, sungguh2 dan melutju disana-sini, pastilah berhatsil. Gunung Agung, berhatsil. Kawan-kawan, sana-sini, semua berhatsil. Bahkan waktu di Negeri Belanda, dia berhatsil mendapat pindjaman. Dia memang pernah ke Negeri Belanda dua tahun jang lalu, atas beaja Sticusa. Sembilan bulan lamanja. Tetapi baru tudjuh bulan, ia pulang. Tidak kerasan katanja. Disana terlalu banjak gadis2 jang keramahan. Dia berani bilang, bahwa 90% tidak ada gadis jang utuh. Ketjuali daerah Katholiek di Zuid Nederland. Gadis2 kalau sudah duduk di H.B.S. boleh disangsikan. Lapangan2 terbuka, kalau malam berubah mendjadi parade dari hati kehati. Begitulah dia bilang. Sampai sekarang tidak habis-habis herannja, mengapa disalah suatu kompleks di Negeri itu, ada perempuan2 jang menawarkan diri di etalage2. Perempuan2 itu pada berdiri dietalage seperti sebuah reklame. Dia tidak mengerti. Dan tidak habis2 herannja. Suatu kali ia duduk sendirian disebuah taman. Ada gadis duduk pula disitu. Ia ingin. Tanja ini itu. Achirnja kena. Tetapi ia tak djadi, karena gadis itu sakit. Ia ketakutan dan pergi tersipu-sipu. Semuanja ini menjebabkan ia tak kerasan. Tetapi menurut Asrul Sani jang dikala itu melawat ke Nederland djuga, bilang: „Wah—Pram terlalu berperasaan. Dia begitu rindu kepada tanah air. Gambar almarhum bapaknja tiap hari dihadapi, dan menangislah dia. Perasaannja terlalu halus”.

Keterangan ini bisa diterima. Memang achirnja Pram bilang, aku rindu kepada tanah air. Tidak ada seindah tanah airnja. Kalau orang berada diluar negeri, barulah diketahui, bahwa Indonesia ini adalah sorga. Hanja orang2nja jang bermalas2an. Dan lagi, orang jang pernah keluar negeri, akan mentjintai tanah airnja dengan kesadaran jang mendalam.

***

Pram, memang tidak punja bapak lagi. Tidak punja ibu. Bapaknja, meninggal pada tahun-tahun pendudukan Belanda. Ibunja meninggal di Djaman Djepang. Djadi dia anak jatim piatu. Saudaranja semua enam. Tudjuh dengan dia. Dan dia jang tertua. Dus jang harus menanggung djawabkan semua. Sekarang adiknja telah besar-besar. Sudah bisa tjari makan. Saudara2 perempuannja sudah pada kawin. Jang lelaki sudah bagus sekolahnja. Prawito sudah kerdja. Kusalah Subagyo Toer sudah tamat S.M.A. Si Tjoes jang paling ketjil, sudah duduk pula di S.M.A. Dan lainnja jang perempuan seperti diterangkan diatas, sudah kawin. Djadi sudah beres. Dia boleh berlega hati. Boleh menikmati hatsil kerdjanja. Tak usah dipotong2 lagi, buat beaja2 ini itu.

Kini umurnja sudah 30 tahun. Sebab dia lahir pada tg. 6 Pebruari 1925, dikota ketjil Blora.

Bapaknja seorang guru sekolah partikelir Budi-Utomo. Ia seorang pergerakan jang konsekwen sedjak djaman Belanda. Kepala sekolah partikelir jang didirikan dalam perang dunia pertama. Mendirikan gerakan kepanduan, mendirikan koperasi, bank rakjat dan disamping itu memberikan kursus politik, ekonomi dan pengetahuan umum dirumahnja sendiri. Dan ajah ini pulalah jang tahan empat hari empat malam tidak beralih duduknja kalau lagi main kartu. Pram dulu seperti ibunja tidak senang kepada kebiasaan bapaknja ini. Tetapi sekarang ia tjukup mengerti. Bapaknja butuh hiburan karena usaha2nja banjak digagalkan oleh pemerintah kolonial. Sekolah dibikin lumpuh. Buku2 peladjaran dibeslah. Guru2 dilarang mengadjar. Anak2 pegawai Goebernemen dilarang sekolah diperguruan partikelir. Bank rakjat dirintangi bekerdja. Dan sebagainja. Dan sebagainja. Tetapi bapaknja seorang nasionalis tulen. Seorang nasionalis jang achirnja ketjewa diwaktu Djepang, dimana pada mula-mula mengharapkan perbaikan dari mereka. Diwaktu revolusi ia tetap setia kepada pemerintah, tatkala Blora beberapa waktu diduduki oleh pasukan merah. Ia menanggung akibatnja pula. Ia dipendjarakan. Ia didjalankan dari Blora ke Rembang, tatkala dalam sakit. Achirnja, bapak ini meninggal oleh akibat2 penjiksaan.

Semuanja ini merumun dalam kepala Pram. Dalam tudjuh tjerita pendeknja jang pertama „Tjerita dari Blora”—ia melukiskan masjarakat waktu djaman kolonial. Djaman pergerakan dan kemadjuan masjarakat sebelum perang. Mitsalnja dalam tjerita „Kemudian lahirlah dia”. Dan dalam tjerita „Dia jang menjerah” terasa sekali Pram menggugat. Gugatan sosial jg lahir dari perasaan keadilan dan kemanusiaan adalah kekuatan Pram jang istimewa. Lihat sadja, dalam „Keluarga Gerilja”, „Subuh”. Ia menggugat terhadap kemiskinan, kebodohan, pergundikan dan pelatjuran karena kemiskinan. Dan keadilan dan kemanusiaan itu baginja lebih penting dari segala-gala, djuga dari bentukan-bentukan dan dogma2 ideologi. Pram selalu mengampuni bangsanja jg mendjadi pengchianat karena kebodohan dan kemiskinan. Kutukan „tudjuh turunan” bagi dia dianggap suatu perbuatan jg tolol, sebab diukur dengan akal budi apakah hak manusia untuk menghukum machluk jang tidak bersalah?

Humaniteit! Inilah jg mendjadi pegangan Pram. Perikemanusiaan berada diatas segala. Tentu sadja, pendirian Pram tidak selamanja disetudjui oleh kawan2nja. Ini ternjata, bahwa baru2 ini dia bikin geger manusia2 Djakarta. Geger2, karena ungkapan pikiran Pram disymposion Fakultet Sastera. Dia bilang: pengarang sekarang dianggap sebagai domba perahan.

Memang benar. Kebanjakan orang tidak tahu penghidupan pengarang jang tergantung kepada hatsil tulisannja. Disana dipotong padjak, disini djuga. Disitu djuga. Kalau padjak2 itu dikumpulkan, samalah halnja memeras keringatnja. Dikiranja orang mendapat honorarium itu sama dgn orang mendapat uang lotre. Uang lotre. Uang hadiah. Djadi boleh dipotong. Djadi tidak apa2 kalau dikurangi. Kawan situ minta, kawan jg memberi uang minta. Honorarium ‘kan uang hadiah? Honorarium ‘kan uang extra? Tidak tahu, kalau seorang pengarang kempas-kempis maju mati.


Pram waktu nikah dengan isterinja jang baru


Dia memberi tjontoh. Dia tidak bekerdja. Hidupnja melulu mengarang. Sebab ia mau konsekwen seperti bapaknja. Tulis dimadjalah sana, tulis dimadjalah sini; tulis disitu. Semua memotong 3 prosen, 3 prosen. Sedang sebuah tulisan hanja Rp. 75,-. Buat menghidupi keuarga harus tersedia uang begroting paling enteng di Djakarta Rp. 750,-. Djadi bikin sepuluh tulisan. Disana sini memotong 3%. Dus djumlah potongan 30%.

Karena itu dia djengkel. Karena dia menjesali pemerintah jang tak mau tahu tentang penghidupan seorang pengarang. Kalau seorang pegawai kerdja 8 djam satu hari. Kalau seorang pegawai djam dua pulang; Pengarang tidak. Kadang2 dia banting tulang sampai 24 djam. 26 djam. Lihat sadja Hemingway. Ia kerdja 38 djam untuk menjelesaikan sebuah karangan. Tetapi diluar negeri nasib pengarang agak mendingan. Kalau sekali ditjetak, oplaagnja ratusan ribu. Tapi disini hanja 5000 buah. Ini sadja bertahun-tahun baru habis. Tjoba, mana tulisan Pram jang pernah mengulangi tjetakan kedua? Tidak ada. Tidak ada. Tapi padjak djalan terus. Menggoroki disana-sini. Menjembelih disana-sini. Pernah kedjadian, salah sebuah madjalah mengumumkan: Pram mau menulis tjerita film. Dan esoknja, dia mengungsi. Takut kepada keganasan tukang2 padjak.

Memang Pram pernah menulis tjerita untuk film. Satu namanja: Inilah tjinta. Djatuh kepada Djokolelono (bukan Djokolelono M.P.!) Dan sebuah lagi: Midah simanis bergigi emas, kepada Titien Sumarni Motion Picture. Scenarionja dibuat oleh Herman Pratikto.

Tjerita ini pernah bikin geger antara Pram dan penulis scenarionja. Kesalahannja kepada Titien Sumarni. Titien bilang: tjerita harganja Rp. 7.500. Dan scenario Rp. 6000,-. Tapi setelah djadi, Titien bilang: tjerita harganja Rp. 1500,- dan scenario Rp. 6000,-. Wah tjelaka. Sedang mereka berdua sudah ambil persekot Rp. 4000,-. Mau tidak mau mereka menjerah. Habis mereka lebih miskin daripada Titien. Mau dikembalikan tidak kuat. Uang sudah habis. Ini sebabnja Pram satru sama Titien. Sebab jang kedua perkara motor sepeda. Djuga menimpa orang berdua itu.

Pram mau beli sepeda motor. Titien punja baru, Herman Pratikto jang membelikan. Tapi tidak tahu, kalau sepeda motor Titien sebenarnja tidak djalan. Habis kedua2nja tidak punja pengertian tentang motor. Achirnja kedua2nja sama maki2 sadja. Dan Titien kegirangan karena untungnja.

Kasihan djuga dia. Habis, orang baru senang2nja beli sepeda motor. Baru mandja2nja. Tapi jang dibeli sepeda rusak. Maki2 dia. Menjumpah. Dan dia satru lagi.

***

Sekolah Pram tidak tinggi. Hanja sampai di Sekolah Taman Dewasa. Kemudian melontjat kesekolah teknik radio. Kursus stenografie. Setelah itu djadi wartawan Domei. Mondar-mandir kesana kemari. Tulis tjerita. Tapi tidak dapat dimuat. Kurang baik. Tata-bahasanja kurang sempurna. Tapi njatanja, sekarang tidak ada salahnja. Seorang kawan bilang. Dulu disekolah kita diberi peladjaran: padang itu penuh semak2 belukar. Tapi Pram pakai bahasa jang enak dan hidup: petang itu penuh semak membelukar. Tjoba dimana letak kesalahannja? Bahasanja benar. Bahkan hidup dan padat. Kalau orang mempergunakan kalimat berhelai-helai tentang sesuatu masalah, dia hanja satu kalimat sadja. Tjontohnja jang gampang. Seorang hendak menganalisa perkara agama. Bahwa agama ini begitu. Bahwa agama itu begini. Bahwa agama itu—bahwa agama ini—. Tapi dia tjukup satu baris sadja jang tjukup pendek. Katanja: Ah—agama jang banjak djandji.

Lihatlah padatnja, kalau dia hendak melukiskan rasa ketjewa. Lihatlah hebatnja kalau dia lagi menggugat. Waktu hendak melukiskan keadaan jang tidak tertahankan, ia tjukup memakai dialoog jang pendek: Biarlah semua itu terdjadi. Kita harus bisa menghilangkan diri. Kita anggap sadja diri kita ini tak ada. Dan semua akan berdjalan dengan lantjar.—(dari „Dia jang menjerah”).

Dan waktu memilih kalimat perdjuangan sengit antara badjingan dan jang baik, dimana jang baik tidak kuasa untuk menaklukan ia bilang:

Biarlah badjingan2 tetap djadi badjingan. Biarlah jang baik tetap baik. Kita berlima menjerah kepada keadaan. Ja, kita menjerah. Dan tiada gunanja lagi kita memberontak (dari „Dia jang menjerah”).

Terasa sekali kehebatannja. Terasa sekali kepadatannja. Mendirikan bulu roma. Mengerikan. Seolah2 dibelakang perkataannja ada beraneka perasaan jang merajup. Memang kehebatan dialoog dan kalimat Pram tidak ada taranja. Tidak ada bandingannja. Dalam sepuluh tahun lagi, barangkali belum ada jang kuasa menandingi.

Kalau Pram melukiskan alam lain lagi dengan apa jg. pernah kita batja: Air hanja beberapa desimeter sadja ditempat2 dangkal. Tapi bila hudjan mulai turun, dan gunung2 dihutan diliputi mendung, dan matahari tak djuga muntjul dalam empatpuluh atau limapuluh djam air jang kehidjau2an itu berubah rupa kuning, tebal, mengandung lumpur. (dari „Jang sudah hilang”).

Betapa kerasnja Pram melukiskan keganasan alam. Ia tidak pernah pertjaja kepada alam. Bahwasanja alam itu tjantik. Bahwasannja alam itu indah. Lemah gemulai. Damai. Tidak! ia tidak pertjaja. Dibalik kedamaian. Dibalik ketjantikan ada antjaman jang bakal mendatang. Dan pembatja jang lagi dibawa kepada keindahan alam tiba2 disentakkan oleh kengerian dan kehebatan alam. Ia mengingatkan. Ia memberi nasehat, bahwa dalam hidup ini tiap orang berkelahi terus-menerus melawan kesengitan.

Tjara Pram lagi jang lain dari jang lain, kalau lagi melukiskan ketjantikan gadis. Katanja: Ia baji djuga dulu. Lambat-laun ia djadi besar, djadi perawan jang tjantik pada perasaannja sendiri. Ia tahu benar kalau dirinja perawan, sekalipun ia tak tahu samasekali bahwa dalam hati para pemuda jang menaruh minat padanja ada terdapat kesangsian tentang keperawanannja (dari „Hadiah kawin”).

Pada setiap kali, lukisan Pram pasti merupakan kontras dari kalimat2 pertama. Ia tidak membiarkan pembatjanja mengelamun membohongi pembatjanja. Apa jang dikatakan adalah djudjur. Diusahakan kebenarannja. Dan memang Pram terkenal kedjudjurannja.

Jaya-Post kagum. Bahrum Rangkuti kagum. Dr. Teeuw kagum. Dokter Belanda inilah jang mengusulkan supaja Pram diakui sebagai pengarang Internasional waktu ada kongres bahasa di Medan. Dimana-mana dokter ini bilang begitu.

Tulisan Pram dimuat untuk pertama kali oleh usaha Prof. Reesink. Diselundupkan dari pendjara. Dimuat. Achirnja mendapat pengakuan sebagai hatsil sastera Indonesia jang tidak memalukan, kalau dipamerkan diluar negeri. Pengakuan ini, katanja ada alamatnja pula.

Malam sebelum mendapat pengakuan dia mimpi. Katanja dia terbuntjang oleh sinar surja dan dibanding dibawah artja ditepi pantai. Ia geragapan bangun. Sebagai orang Djawa, ia masih ada bekas2 kepertjajaan perkara mimpi. Hari dan pasarannja dihitung-hitung. Tapi ia tetap tidak mengerti. Sewaktu ia mendengar kabar tentang pengakuan itu, barulah dimengerti. Mimpi itu, mimpi baik.

Mimpi itu datang dipendjara. Sewaktu ia dihukum dua tahun. Karena dia orang Republik. Karena dia seorang Letnan koresponden perang. Karena dia melawan kehendak Belanda. Dihukum dia pada waktu terpetjahnja aksi Belanda kesatu. Dipindah dari pendjara sini kesana. Dari Tjipinang ke Bukitduri. Dari Bukitduri ke pulau Edam. Pulau jg penuh ular. Pulau jang penuh tengkorak diwaktu djaman Djepang. Kadang ia merasa irihati kalau melihat noniek2 Belanda pada roman2an ditengah laut. Ditepi pantai. Dan semuanja ini dikembalikan dalam buah karangannja jang djadi buah pembitjaraan. Jakni: „Mereka jang dilumpuhkan”.

Prof. Dr. A. Teeuw bilang: Saja anggap, bahwa Pramoedya Ananta Toer hingga sekarang adalah pengarang prosa terpenting jang terdapat dalam kesusasteraan Indonesia. Kehebatan, kedjudjuran dan kemadjenunannja mengarang buku2 itu, menghilangkan ke ragu2an saja.

Memang benar. Memang betul. Memang tidak salah. Pram tidak bisa meninggalkan kemadjenunan menulis. Ia sering bilang: aku jakinkan diriku sendiri, bahwa aku ini adalah penulis.

Orang tak habis2 memudji kehebatan bukunja „Keluarga gerilja”, sekalipun ada diantara para mahasiswa jang berkebaratan. Pram mempunjai sifat seorang reporter jang baik. Bukunja merupakan penjaksian serta djeritan2 manusia ditengah2 kekatjauan dan kekedjaman. Batjalah kembali! Telanlah kalimatnja sebaris dan sebaris. Akan terasa keagungannja.

Memang ada jang bilang: Pram menggunakan bahasa bombas. Bahasa jang membusung. Lihat sadja kalau dia menulis aspek-aspek. Dengar sadja tjeramahnja disymposion Fakultet Sastera.

Ini tidak betul. Atau mungkin setengah betul. Tapi dibalik itu semua, sebenarnja kalimatnja mewakili sesuatu perasaan tertentu. Dia bilang: aku selalu mengarah-arah ke pada dialoog dan prosa dalam wajang. Alangkah hebatnja pertjakapan2 wajang. Alangkah kuatnja.

„Madjuo! Dak sabetake ku wandamu ing pertabang, go grog balungmu! (Madjulah! Aku patahkan badanmu pada landasan batang pohonan, akan retaklah balungmu!)” Ini tjontohnja. Lagi: nepak dirgantoro, rikat kadi tatit. (Terbang seperti kilat tjepatnja). Begitulah katanja. Perkataannja ini dapat dibuktikan djuga kalau dia mengarah2 kepada dialoog dan prosa wajang. Saja kutipkan dari tjerita pendeknja „Jang sudah hilang”:

Tjerita nji Kin jang ta’ kurang2 menarik ialah tentang machluk setengah dewa atau setengah djin jang berkeliaran dimalam dan disianghari dikala manusia kosong dari segala perhatian. Iapun dapat bertjerita tentang awan jang berarak—ia mendongeng sebuah petikan dari Ramajana—dan dibalik awan itu pula Dasamuka jang mentjuri Sita berkelahi melawan Djataju jg menghalang-halangi pentjurian itu. Dan ia mendongeng sambil memandangi awan putih diatas.

Begitulah. Dan terasa sekali kegagahan prosa itu. prosa dan dialoog wajang memang hebat. Memang kuat. Baik wajang Sunda, Bali atau Djawa. Pendek, menarik, indah, kuat dan hebat. Ia sering bilang. Ia sering memakai.

***

Pram sudah mempunjai anak tiga. Perempuan semua. Ia mentjintai anaknja seperti bapak2 lainnja. Kadang2 diantara kesedihannja dia membanggakan diri: biarlah. Aku tidak punja apa2. Tapi bukuku kelak akan mendjadi pusakaku.

Isterinja jang pertama gagah—anak Djakarta aseli. Aku katakan isteri pertama, karena baru2 ini mereka bertjerai. Jah, njata sekali bahwa keadaan jang tenteram ini tidak ada kekekalan. Semua berubah. Jang damai djadi geger. Jang bersatu djadi berpisah. Jang tjantik djadi kirut mirut. Jang gagah djadi bongkok pada achirnja. Dan kini ia kawin lagi dengan anak Djakarta pula. Diharapkan mudah-mudahan perkawinannja ini bahagia sungguh, seperti jang diidam-idamkan.

Nama sebetulnja adalah Pramoedyo. Panggilannja (ditengah2 keluarga) Moek. Tapi sekarang nama ajahnja Toer, dirangkapnja. Djadi Pramoedya ananta (anak) Toer. Pinter djuga ia pilih nama. Nama itu sedap bunjinja. Kuat lagi.

Sedjak ketjil, memang dia gemar menulis. Pada tahun 1942, bukunja terbit. Buku kanak2: Maka runtuhlah Madjapahit. Dan sekarnag bukunja jang paling banjak djumlahnja. Disamping menterdjemahkan buku Tolstoi, John Steinbeck, buku2 Keristen. Apa sadja, djadilah. Asal dapat memberinja makan. Mengharap pemerintah seperti jang diharapkan, tidak djuga-djuga ada. Menterdjemahkan sadja. Asalkan halal.

Pram seorang peramah. Tertawa mengandung tresno. Suaranja ketjil seperti klarinet. Banjak kawannja. Lutju. Tingkah lakunja lintjah. Perawakannja sedang. Tidak tinggi, tidak pendek. Tidak gemuk, tidak kurus. Sedang. Tjukupan. Pengalamannja rupa2. Bisa nukang (tukang kaju). Bisa bikin dapur. Bisa bikin medja kursi. Bisa bikin tjelana. Tjelana anak2nja, dia semua jang bikin. Medja kursi, dapur, dia sendiri jang bikin. Ini sportnja satu-satunja. Sport otaknja—schaak. Pinter schaak dia. Oomnja, ahli schaak. Pernah dikerubut sepuluh orang, masih menang djuga.

Pram kalau lagi schaak tidak mau kalah. Kalau kalah, satu malam tidak bisa tidur. Esoknja nantang lagi sampai menang. Begitu djuga,kalau naik sepeda motornja Sparta. Tidak mau kalah. Kalau didahului orang, panas hatinja. Ia kedjar terus sampai sepedanja pontang-panting. Sampai ia pernah tergelintjir ditengah perempatan Harmoni. Sampai jang dibontjengkan kakinja masuk betjak. Sampai siterinja menutup mata. Memang dia tidak mau kalah. Inilah sifatnja. Dalam kesusasteraan tidak mau kalah pula. Hanja dalam rumah, menurut pengakuannja sendiri, kalah dari isterinja. Djadi hambanja. Lekas berkobar kalau dibakar isterinja. Terus melabrak. Tanpa pikir siapa lawannja. Tanpa pikir, apa akibatnja nanti.

Suatu kali ia pernah bontjengkan seorang wanita ke Tjilintjing pada sendjahari. Karena Tjilintjing tempat jang tidak beres, ia ditangkap pulisi susila. Tjilaka, pikirnja. Kedjadian ini dikabarkan kepada kawan-kawannja. Tapi djangan bilang-bilang isterinja. Nanti bikin neraka sadja. Dimakinja pantai Djakarta itu. dikutuk tiada habis-habisnja.

Sewaktu ia kawin, ia kangen anaknja. Anaknja ditjuri dari isterinja jang dulu. Isterinja terus melabrak dia. Kebetulan dia tidak ada dirumah. Anaknja dibawa kembali. Dan mesin tiknja dibawa. Dia minta ampun. Minta ampun. Gimana, kalau seorang penulis kehilangan mesin ketik. Aduh! Aduh!

Seterusnja penulis tidak tahu, bagaimana kabarnja tentang mesin tiknja. Apa dia beli lagi. Apa dia minta kembali. Apa dia damai. Tapi belakangan hari ini, isterinja memberi kabar kepada penulis. Aku tidak pedulikan Pram lagi. Aku sudah kerdja di N.V. anu.

Selamat! Selamat! Selamat pulalah Pram! Mudah-mudahan perkawinannja mendapat bahagia!

Pram memang lutju. Kalau dia lagi sebal, memang dia bisa bikin gara-gara. Bisa bikin geger.

Inilah Pram! Inilah Pramoedya Ananta Toer sebagai penulis dan sebagai manusia. Sebagai manusia, ia lutju, perasa, suka menangis. Sebagai penulis dia tidak terlawan kehebatannja. Ia kehilangan mesin tik, tapi masih punja sepeda motor Sparta. Mondar-mandir setiap hari. Kesana kemari. Hilir mudik. Tjari makan. Kapankah pemerintah memperhatikan nasib penulis2 seperti dia?

H.P.