Publisher Note
Artikel ini pertama kali dimuat pada 14 Desember 1952 dalam majalah Siasat, No. 291, Th. VI. Salinan artikel ini berasal dari lampiran skripsi yang ditulis Fransiska Domas Ngantini di Universitas Sanata Dharma tahun 1999.
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Sebelum dimulai mentjoba memberi djawab dari pada pertanjaan ini, perlu diberi batas jg. tentu lebih dahulu: bentuk roman tidak bisa didjadikan ukuran mutlak untuk menilai suatu angkatan kesusasteraan. Belum adanja bentuk roman atau kurangnja bentuk itu, ini bukan alasan untuk menjatakan kekurangan atau kelemahannja. Pada achir2nja orang tidak bisa menuntut suatu bentuk tertentu pada suatu angkatan. Ini urusan si seniman sendiri jang merdeka memilih bentuknja. Lagi pula siapa bisa kasih djaminan bentuk itu tidak akan hilang dari pasar kesusasteraan?
Tapi soalnja mendjadi lain sama sekali kalau pada kita sudah ada terasa kebutuhannja.
Namun oleh kalangan tua bentuk roman itu dengan njata2 sudah dipakai sebagai alasan menjerang penulis2 tjerita-pendek atau novelle. Sebagai suatu sambutan atas tantangan ini Pramudja Ananta Toer keluar dengan „Keluarga Gurilla” dan paling achir M. Lubis dengan „Djalan tak ada Udjung”. Apakah kedua buku ini jang lebih dari tjerita pendek sudah dapat memenuhi sjarat roman, perbandingan untuk ini tidak bisa diketemukan pada kalangan tua itu sendiri. Ukuran harus ditjari diluar rumah kita sendiri. Sebab selagi pena menulis, ditangan kiri kita genggam pustaka luar negeri.
Baik, baik, kita bisa tolak tukang tugah bentuk roman itu sebagai kerewelan si botjah jg. tjerewet dan kita usir dia dengan kisah lama: „bahwa kita anak resah, getaran jang diterima setiap hari terlalu banjak dan semua harus mendapat bentuk. Napas kita pendek selaras sebagai anak zaman, tapi pukulan kita dalam2. Ketenangan kaum tua tidak ada lagi pada kami, dimana menulis bisa dilakukan bersama meneguk kopi susu kantor. Mengarang pada kami bukan lagi barang lux…”, tapi sekembalinja kita dikamar, kita terhenjak pada soal jang keluar dari djantung hati sendiri: Apa alasan untuk membela diri sebagai sastrawan. Tidakkah sebenarnja sudah lama kita tinggalkan lapangan ini dengan diam jang misterius?
Bukankah dari mulut kita sendiri keluar pernjataan, bahwa kita tidak lagi menjala? Dan ini berarti kita sudah kehilangan anasir pokok untuk dapat menghasilkan barang kesenian? Mana bisa kita berbitjara lagi tentang kesibukan kita, sedang diri kita sendiri diam, kawan terpaku dan jang lain pada menjingkir keluar negeri? Tidakkah lebih baik kita terima itu sebagai tantangan untuk hidup baru?
Kepertjajaan jang dahulu sangat mudah kita peroleh dari masjarakat, sehingga mudah djuga kita main radja2an, sekarang sudah berubah mendjadi dua mata jang ajak dan tjuriga menusukkan tanja: bagaimana kita mengarang roman?
Apa pada kita ada suatu sistim? Atau apakah belum sampainja kita pada roman karena kekurangan pada materie beheersing (kekurangan dalam kemampuan menguasai bahan2 jg. mau diolah), kekurangan pengetahuan psychologie? Kalau dalam keadaan terlesu semuanja ini kita djawab dengan „ja”, kita lantas disuruh beli buku sekolah untuk mentjari dasar2 ilmu pengetahuan. Mana lagi kemegahan kita dahulu selagi tiap redaksi madjalah mendekati dengan seram dan takut?
Terhadap ini kita djuga sudah punja djawab jg. sudah kita klisekkan: kita bukan anakpanggung jg. bertahta diselera publik. Sedang sementara itu ketjekatan tehnik wartawan sudah tjukup untuk membikin kita tidak laku lagi.
Sebab kata2 jg. kita pakai tidak tjukup kuat untuk mendukung apa jang kita inginkan.
Apa sebab kita belum mengarang roman? Kita bukan lagi penulis tjerita pendek jg. bisa mengarang roman. Kewadjiban kita sudah terpetjah belah antara mentjari nafkah dan mendjaga keketjilan diri takut dikalahkan dengan tukang zat jg. sudah mampu beli radio untuk anak bini.
Pekerdjaan kita bukan lagi menulis tjerita pendek, tapi me-rewrite karangan2 untuk medja-redaksi.
Bung, kita tidak lagi hidup sebagai sastrawan dipermulaan revolusi. Kita sudah ikut terdjerumus dalam kelemahan masjarakat kita sendiri. ***