Baca EPUB: Anak Perawan Disarang Penjamun

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
SOETAN TAKDIR ALISJAHBANA
Anak Perawan Disarang Penjamun
Kacabenggala Editions

Publisher Note (Pengantar)

Tjerita ini disiapkan dalam tahun 1932 dan sudah dimuat sebagai feuilleton dalam madjalah Penindjauan jang terbit tahun itu.

Ketika seorang teman mengadjak saja menerbitkannja kembali sebagai buku, sesungguhnja lama saja sangsi; sebab delapan tahun jang lalu bukanlah waktu jang pendek bagi saja: kegembiraan perasaan dan keberanian fantasi muda remadja telah banjak berkurang, diganti oleh timbang dan tenggang. Kalau saja sekarang membatja kitab ini, banjaklah keritik saja atasnja: tentang tjeritanja, tentang pembagiannja, tentang susunannja, tentang bahasanja.

Tetapi setelah saja timbang-timbang, bahwa mesti bagaimana sekalipun kedjamnja saja mengeritiknja, masih ada djuga bagiannja, jang hingga sekarang masih menggetarkan hati saja, maka saja putuskanlah menerbitkannja lagi.

Kepada handai tolan saja harap maaf saja surut kembali ini. Sekarang belum ada kesempatan untuk menulis roman baru.

Agustus 1940.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

I

MATAHARI bersinar dihutan.

Onggokan tjahaja lulus ditjelah-tjelah daun jang rapat dan bermain-main ditanah jang lembab kehitam-hitaman, amat gelisah.

Binatang-binatang hutan rupanja melepaskan lelahnja pada tengah hari tepat. Angin berdesir-desir berembus dipohon dan disana sini gugur selara jang kering, setelah beberapa lamanja melajang diudara ditiup angin.

Djauh hampir-hampir tiada kedengaran berbunji kokok ajam beroga, njaring dan merdu ditengah kesunjian rimba belantara. Selainnja aman dan hening.

Ditengah rimba jang lebat itu mengalir sebuah anak air, djernih dan deras diantara batu jang besar2. Sebelah hilir, sungai ketjil itu melintas tebing dan disana ia djatuh ber-derai2 sebagai petjahan katja, sambil menjerakkan bunji jang gemuruh.

Sebelah hulu, pohon amat rapat dan disitulah berdiri sebuah ponok. Dari djauh ia tiada kelihatan, karena tersembunji ditengah pohon jang rimbun. Atapnja tersembunji diantara dahan kaju dan dindingnja jang kelabu kehidjau-hidjauan, jang hampir tiada tampak ditengah pohon-pohon rimba itu, terbuat dari pada susunan kaju sebesar lengan jang lurus-lurus. Ramuannja sekaliannja kukuh, seolah-olah ia tempat orang mempertahankan diri; tiangnja jang kasar-kasar itu setinggi manusia.

Didalam pondok itu tidur terlintang lima orang laki-laki, sekaliannja kukuh-besar, lebih dari manusia biasa. Kelima-limanja tiada berbadju, hanja memakai setjamping kain sampai hingga pinggang. Dari badan mereka mengalir peluh amat banjak, sebab hari itu tiada terkata-kata panasnja.

Sekonjong-konjong djatuh sepotong ranting keatas atap rumah itu. Ranting itu berguling-guling dan djatuh ketanah.

Seolah-olah berpesawat laki-laki berlima itu serempak melompat bangun, masing-masing memandang kepada temannja: mereka terkedjut mendengar bunji ranting djatuh itu. Rupanja dalam kehidupan mereka setiap hari tiap-tiap bunji, tiap-tiap derak atau derik ada artinja dan harus diperhatikan.

Sesungguhnja mereka itu sekawan penjamun. Tiap-tiap saudagar dan orang berharta jang lalu diantara Lahat dan tanah Pasemah, tidak pernah dibiarkan mereka berdjalan dengan sentosa. Orang perdjalanan itu diperiksa dan sekalian jang berharga padanja dirampas mereka.

Sering pula terdjadi perkelahian jang hebat antara penjamun dan jang disamun dan ketika jang demikian atjap kali terdjadi pembunuhan jang ngeri, sebabnja dalam perdjuangan itu tiada kasihan-mengasihani. Kalau terlampau banjak musuh itu dan lengkap pula sendjatanja, maka undurlah kawan penjamun itu, lari sedapat-dapatnja kehutan memperlindungkan diri. Bukan sekali dua mereka luka dan ada kalanja seakan-akan remuklah mereka rasanja kena tikam dan pukul. Tetapi senantiasa mereka mentjoba melarikan dirinja, sebab dari pada tertangkap, lebih sukalah radja-radja kesunjian itu mati dihutan, tiada dilihat seorang djuapun.

Dahulu mereka itu bukan berlima, tetapi bertudjuh sekawan.

Dalam pertempuran jang hebat dengan serdadu dikaki pegunungan, tewas dua orang teman mereka kena peluru senapan.

„Apakah jang berbunji itu, Medasing?” bisik suara keparau-parauan.

Laki-laki jang kukuh sekali diantara orang berlima itu menoleh kedjurusan suara itu, seraja berkata: „Tak tahu aku!”

Kelima-limanja berdiri dengan tjermat dan seorang dari pada mereka mengambil tombaknja jang terletak bersusun dengan tombak jang lain ditepi pondok itu.

Seorangpun tiada bertjakap sepatah djua.

Mata penjamun berlima itu bersinar-sinar. Perlahan-lahan seorang dari pada mereka mengeluarkan kepalanja dari pondok memandang kepohon-pohon jang berdiri sekeliling. Mata dan telinganja awas sekaliannja, seakan-akan tiap-tiap sa’at ia akan menangkis serangan jang hebat.

„Apakah itu tadi?” keluar dari mulut Medasing pula, kesal dan sebal, dan bunji ia mengadu gerahamnja menjatakan bagaimana panas hatinja terganggu dari tidurnja.

„Baiklah kita lihat djahanam mana bermaksud mengganggu kita,” udjarnja lagi. „Amat, pergilah engkau sebentar turun kebawah melihat apa jang mengedjutkan kita tadi”.

Lelaki jang memegang tombak itu muda dan sigap, turun dengan tiada membantah sedikit djuapun. Dan sebenarnjalah dalam pergaulan penjamun-penjamun itu tak pernah timbul perbantahan. Apa jang dikatakan oleh kepalanja, diturut seperti sesuatu jang harus, jang tiada mungkin dielakkan.

Amat pergi memeriksa hutan jang berkeliling itu, tiada gentar sedikit djuapun. Tidak, mereka tak tahu akan takut dan tjemas!

Beberapa lama antaranja ia naik kembali dan berkata:

„Tak ada sesuatu apa! Boleh djadi jang mengedjutkan kita tadi bunji ranting.”

Iapun meletakkan tombaknja sambil mengeluh, masing-masing merebahkan dirinja pula.

„Djahanam benar,” kata Medasing dengan geramnja.

Medasing ialah kepala penjamun berlima itu; kata orang ia kebal, tahan besi dan ada padanja ilmu halimun untuk melenjapkan diri.

Ia berasal dari sebuah dusun jang ketjil, djauh sebelah selatan tanah Pasemah. Dahulu dusun itu ternama kajanja dan pada suatu ketika ia diserangi oleh sekawan penjamun, gagah perkasa. Sekalian penduduk itu melarikan dirinja masing-masing mendjaga diri sendiri supaja djangan dimusnahkan oleh kumpulan perampok jang kedjam itu.

Maka amat mudahlah manusia jang buas-buas itu mengambil harta dusun jang kaja itu, karena sekalian penduduknja telah lari berhombalang, tak tentu kemana perginja. Sekalian rumah habis mereka bakar, seakan-akan hendak memuaskan keganasan hati mereka.

Tetapi ketika mereka berhenti seketika melihat kelidah api jang dahsjat itu berdentam-dentam dan berdetus-detus mendjilat rumah, berbunjilah sekonjong-konjong suara seorang anak berteriak.

Tiada berapa lama antaranja keluar diantara rumah jang njala itu seorang budak, berlari-lari karena ketakutan. Rupanja ketika sekalian isi dusun melarikan dirinja ia tertinggal seorang diri dan karena takut dibinasakan, bersembunjilah ia disuatu tempat jang terlindung.

Karena api jang tiada tahu iba-kasihan itu telah mendjalar pula kesana, terpaksalah ia keluar.

Dengan segera ia ditangkap oleh seorang dari pada penjamun itu dan melihat matanja jang kemerah-merahan penuh kebuasan dan badannja jang sigap, kukuh dan kuat iapun diamlah, tak berani membuka mulut karena takutnja tiada ter-kata2. Ketika itu sangkanja akan sudahlah hidupnja.

Ia dibawa oleh penjamun itu kehutan, ketempat kediaman mereka. Berhari-hari ia berdjalan mengikutkan kawan penjamun jang baru merampok itu, badannja lebih lesu tetapi kalau ia memperlihatkan kepajahannja, maka iapun, dihela, diseret oleh penjamun jang buas itu, sehingga badannja gores-gores dan luka-luka.

Kesudahannja, setelah beberapa hari didjalan tibalah ia ditengah hutan jang lebat, ia tak tahu dimana.

Ketika itu umurnja tudjuh tahun dan sedjak masa itu iapun mendjadi sebagian dari kawan perampok jang angkaramurka itu. Penjamun jang membawanja itu senantiasa mendjaganja dengan keras dan kedjam dan kesalahannja jang ketjil sekalipun atjap menjebabkan ia disiksa, seakan-akan hendak dibunuh lakunja.

Dengan hal jang sedemikian besarlah ia didalam hutan jang sunji ditengah perampok itu. Penghidupannja jang berat menjebabkan ia biasa akan sengsara dan kuat bekerdja. Udara hutan jang segar seakan-akan menjuburkan badannja. Lambat laun ia mendjadi seorang budjang jang kukuh dan bidang dan masa itulah ia mulai pula menurut pergi menjamun. Sekali ini dusun anu diserang, sudah itu dusun jang lain pula, djauh dari sana. Sering ia mengikut mengadang orang dalam perdjalanan hendak merampas wang dan harga bendanja.

Lama-kelamaan, oleh karena tak lain jang dilihat dan didengarnja, tak lain pula kerdjanja, maka ia pun mendjadi seorang penjamun sedjati pula. Pekerdjaan menjamun jang mula-mula amat ngeri pada matanja, kesudahannja mendjadi biasa dan matilah perlahan-lahan hasrat didalam hatinja untuk meninggalkan penghidupan jang tiada halal itu. Lambat laun iapun mendjadi kedjam dan ganas, seperti sekalian penunggu hutan jang dahsjat itu.

Ketika itulah ia makin lama makin dihormati kawan-kawannja, karena badannja teguh, pikirannja tadjam dan ia pandai berdjuang dan berani, seakan-akan badan dan njawanja tiada berharga sedikit djuapun baginja.

Sekali peristiwa mereka dapat menjamun harta amat banjak. Emas, intan-permata dan wang tiada terhitung-hitung mereka peroleh. Ketika hendak membagi perbendaharaan jang banjak itu, timbullah perselisihan jang hebat. Kawan penjamun itupun berpetjah dualah dan dalam perkelahian antara kedua belah pihaknja menanglah pihak Medasing dan penjamun jang melarikannja dahulu dan jang lambat laun telah dianggapnja seperti ajahnja. Pihak jang lain lari tak tentu arahnja.

Maka harta jang banjak itu tinggallah pada mereka bertudjuh dan dibaginja sesamanja. Beberapa tahun lamanja berpentjarlah kawan penjamun itu. Masing-masing pergi kenegeri akan menghabiskan perolehannja jang banjak itu.

Ketika itu Medasing dengan bapak angkatnja pergi mengembara dari sebuah dusun kedusun jang lain. Sekali dalam perdjalanan mereka jang tak tentu arahnja itu mereka tiba di Palembang dan disanalah orang berdua itu tinggal beberapa lamanja.

Wang mereka jang banjak itupun lambat laun habis dan ketika itu seakan-akan berdebar kembali darah penjamun jang selama itu berhenti mengalir, hilang rupanja. Orang berdua beranak itupun meninggalkan Palembang, pulang kembali kehutan jang sunji senjap dan tiada didiami manusia.

Tetapi apakah dapat dikerdjakan mereka berdua?

Maka bermaksudlah mereka pergi menuntut ilmu jang gaib2. Didusun Endikat mereka bersua dengan seorang tua jang termasjhur karena sihirnja. Disana mereka beladjar beberapa bulan dan ketika masaklah perguruan mereka maka orang tua itu memberi petua pergi bertarak kegunung Dempo. Disanalah chabarnja konon tempat djin dan iblis jang dapat memberi manusia kesaktian jang luar biasa.

Orang berdua beranak itupun pergi kesana. Berhari-hari mereka berdjalan, kadang-kadang bermalam didusun, kadang2 dihutan belantara jang sunji senjap. Mendaki gunung Dempo, gunung hantu-iblis itupun berapa banjak memakan waktu. Hutan dan padang, tebing dan ngarai mereka lalui, tetapi tiada seketjap djuapun mereka berputus asa.

Kesudahannja tibalah mereka dipuntjak gunung sakti itu. Kesegenap pendjuru pemandangan ditutup oleh kabut jang tebal dan dibawah, amat dalamnja, tiada putus-putus berkepul-kepul uap belerang alamat gunung berapi jang keramat itu belum reda adanja.

Dipuntjak, ditepi kepundan jang ngeri itu, bertjerailah orang berdua beranak itu; sebabnja masing-masing harus mentjahari tempat bertarak sendiri.

Medasing masuk kedalam kepundan. Tiba seperdua ia bertemu dengan gua jang terlindung; disanalah ia bertapa.

Tudjuh hari tudjuh malam ia tak meninggalkan tempat itu. Kabarnja konon bermatjam hantu, setan, raksasa dan machluk jang ngeri jang lain, datang mengudji keberanian dan kejakinan hatinja. Pada hari jang penghabisan ia dikundjungi oleh seorang peri, jang amat tjantik, jang memberinja bermatjam-matjam kesaktian.

Bapak angkatnja rupanja sia-sia bertarak itu, sebab ia tak bersua suatu machluk apapun.

Dari gunung jang bertuah itu mereka pergi kenegeri Bandar; disitulah mereka bertemu dengan teman-temannja jang berlima. Teman-temannja itupun rupanja telah habis wangnja dan dengan hal jang demikian bermaksudlah mereka bersama-sama menjamun pula.

Kini telah tiga tahun lamanja mereka itu mendjadi orang hutan kembali.

Sedjak ajah angkatnja dan seorang teman jang lain mati didalam perdjuangan dikaki pegunungan, Medasing mendjadi kepala perampok berlima itu dan menilik pada ilmu jang diperolehnja seperti jang ditjeritakannja pada temannja dan kekukuhan badannja, telah patutlah ia mendjadi kepala djabal-djabalan itu.

„Sungguh djahanam benar,” kata Sohan, seorang dari penjamun jang berbaring ditepi sebelah kiri.

Jang dua orang lagi, Sanip dan Tusin, telah tertidur pulas.

Semalam-malaman mereka berlima berdjaga-djaga ditengah hutan, dilembah Endikat, hendak merampok saudagar Hadji Sahak jang baru pulang dari Palembang mendjual lima puluh ekor kerbau, tetapi sia-sia belaka, karena rupanja ia bermalam didusun Bandar.

Mata-mata mereka di Lahat rupanja salah mendengar berita perdjalanan Hadji Sahak itu dan oleh sebab itulah djerih mereka semalam-malaman itu tiada berdjasa sedikit djuapun. Malam ini saudagar jang kaja raja itu tentu akan bermalam dihutan dekat lembah sungai Lematang, sebab lepas ia dari tangan mereka, sebabnja dirimba jang lebat itu takkan ada orang jang dapat menolongnja.

Tengah malam kelak mereka akan pergi kesana dan sebab itulah sekarang mereka terus tidur.

„Mengapakah mataku tak hendak terpitjing lagi,” kata Amat, „djangan2 ada benar sesuatu bahaja jang mengantjam kita.”

„Ah, bahaja apa pula,” udjar Medasing. „Lihatlah Sanip dan Tusin, telah hilang-lenjap kelangit jang ketudjuh. Bunji mereka mendengkur tak bedanja dengan bunji babi jang kelaparan.”

Sunji-senjap pula beberapa lamanja dipondok jang tersembunji ditengah hutan itu. Masing-masing rupanja mentjoba memitjingkan matanja.

Diluar angin berdesir-desir dipohon kaju, seakan-akan lagu jang gandjil untuk menidurkan radja rimba berlima sekawan itu.

Tetapi orang itu tak djuga hendak tidur.

Sekonjong-konjong Medasing bangun kembali sambil berkata dengan sebalnja: „Akupun tak hendak tidur, mengapakah ini?”

„Ja, barangkali karena telah teringat-ingat sadja akan kekajaan saudagar Hadji Sahak,” sahut Sohan sekonjong-konjong dengan lutju. Iapun tak pula hendak tertidur rupanja dan ketika itupun ia duduk.

Medasing dan Sohan berdiri, turun kebawah, diturut oleh Amat dari belakang. Sebentar berderak-derak pondok jang tegap itu karena langkah mereka.

Ketiga-tiganja berembuk akan pergi menangkap ikan; Amat mengambil sebuah bakul jang hitam kena asap dari bawah pondok dan merekapun pergi kehilir menurut anak air. Pada suatu tempat turunlah ketiga-tiganja keair.

Disana sungai ketjil itu bertjabang dua dan dihilir sedikit lagi kedua tjabang jang ketjil itu bertemu pula mendjadi satu.

Orang bertiga itu mulailah membendung sebuah tjabang anak air itu dengan batu dan kaju, sehingga kesudahannja sekalian air sungai ketjil itu mengalir menurut tjabang jang tiada berbendung; tjabang jang berbendung itu perlahan-lahan mendjadi kering, hanja ditengah-tengahnja tinggal sebuah paluh jang besar.

Maka direntjah merekalah paluh itu, sehingga airnja mendjadi keruh. Sekalian kaju, ranting dan sarap dibuangkan ketepi. Beberapa lama antaranja, kelihatanlah beberapa ekor ikan menjembulkan kepalanja dimuka air dan bertambah lama bertambah banjaklah tampak jang serupa itu: ikan dipaluh itu mabuk karena direntjah oleh penjamun bertiga itu.

Bakul jang dibawa mereka makin lama makin banjaklah berisi ikan, putih berkilat-kilat dan tiada berhenti meleting-leting.

Setengah setengah penuh bakul itu, maka keluarlah mereka dari paluh itu. Bendung tjabang air itu, dirusakkan kembali dan airpun mengalirlah sebagai biasa. Mereka pergi mandi membersihkan dirinja ditempat air jang dalam dan djernih.

Tiba dipondok, mereka menghidupkan api untuk mendjerangkan nasi dan membakar ikan jang baru ditangkap. Asap berkepul-kepul membubung keatas melalui tjelah daun kaju jang rapat. Dikeliling api itu duduklah ketiga penjamun itu bertjakap-tjakap, bersenda gurau.

Didekat pondok dan terutama sekali dekat mereka menghidupkan api amat banjak tulang dan bekas kulit binatang. Untuk makan sehari-hari penjamun-penjamun itu sering pergi berburu rusa, napuh dan binatang hutan jang lain. Waktu perburuan itu bagi mereka seolah-olah waktu mentjobakan kekuatan dan sendjata. Sering mereka bertemu dengan harimau dan dalam perkelahian dengan binatang jang buas itu, senantiasalah mereka beroleh kemenangan dengan mudahnja.

Tetapi tiada selalu mereka dapat lauk dari hutan jang besar itu. Ada pula masanja mereka pergi ketepi dusun menangkap ajam, kambing, bahkan sekali-kali sapi atau kerbau untuk dibawa kepondok akan dimakan bersama-sama.

Tengah nasi terdjerang, Medasing naik keatas pondok dan tiada berapa lama antaranja turun kembali membawa tombak dan sebuah pestol tua. Amat dan Sohan segera mengambil sendjatanja pula dan merekapun mulailah membersihkan sendjatanja masing-masing.

Tiada berapa lama antaranja turun pula Sanip dan Tusin sambil menguap, menggeliat dan menggosok mata.

Maka sekonjong-konjong berkata Sanip: „Sial benar kita malam tadi, menunggu selama itu, tetapi tiada djuga sampai. Djangan2 malam ini kita tiada pula bertemu dengan mereka.”

„Kalau malam ini sia-sia djuga pekerdjaan kita,” kata Medasing sambil membesarkan matanja, „Samad akan aku adjar, supaja kita djangan dipermain-mainkan sadja. Kalau ia tak sanggup memberi kabar jang benar, lebih baiklah kita djangan bersangkut paut dengan dia.”

Samad ialah mata-mata mereka di Lahat jang senantiasa memberi kabar kepada mereka apabila ada orang jang banjak membawa wang dan harta akan lalu. Dan ia djugalah jang mendjualkan sekalian perolehan mereka serta membelikan makanan dan keperluan jang lain.

„Ah, tidak!” kata Sanip mentjampuri pertjakapan itu. „Kita tidak boleh amat lekas marah padanja, sebenarnja amat pajah mengetahui sekaliannja itu!”

„Lagi pula,” udjar Tusin, „kalau kita marah padanja pastilah ia mendjadi musuh kita. Dan kalau diberi tahukannja tempat kita ini kepada kompeni, maka kita akan binasa.”

Medasing mengangkat tangannja seketika dan sendjatanja disusunnja ditanah; maka berkatalah ia sambil memandang berganti-ganti kepada sekalian teman-temannja itu: „Takutkah kita dibuat serupa itu? Boleh kubakar rumahnja di Pulau Pinang dan kubunuh sekalian anak isterinja.”

Ketika itu kepala djabalan itu memukulkan tangannja ketanah dan matanja mengedjap-ngedjap, seakan-akan marah ia mendengar kata temannja jang tiada disetudjuinja itu…„Pada kompeni?! Apa jang kita takutkan kepadanja? Ia takkan dapat mentjahari tempat kita, selama masih Medasing namaku. Pagi lusa dapat kita pindah dari sini ketempat jang lebih tersembunji, lebih sulit ditjari.”

Sekalian penjamun jang lain melihat kepadanja. Teman-temannja sekaliannja tahu, bahwa kadang-kadang agak sombong bunji tjakap kepalanja itu. Tetapi hal itu tiada terasa benar kepada mereka, sebab menilik kepada badannja, kepada ilmunja, Medasing sebenarnja bukan manusia biasa.

Sekonjong-konjong kedengaran diantara pohon-pohon kaju disekeliling mereka bunji orang melangkah dan tiada berapa lama antaranja, tampillah kemuka seorang laki-laki memikul keruntung dibelakangnja. Laki-laki itu besar kukuh pula seperti penjamun-penjamun berlima itu dan dibahunja disandangnja sebuah senapang lantak jang tua.

„Ah, Samad,” kata djabal-djabalan itu serempak dan sekaliannja melihat kepada jang baru datang itu dengan berseri-seri karena kegirangan.

„Lekas engkau datang sekali ini,” kata Tusin.

„Aku berangkatpun masih pagi-pagi benar tadi!” keluar dari mulut Samad berat dan parau dan matanja melihat berganti-ganti kepada kawan penjamun itu, liar loba. Ketika itu djuga ia menunduk akan duduk dimuka teman-temannja. Amat dan Sohan bergesa-gesa mendekat kepadanja menjambut keruntung jang berat itu.

„Aduh!” keluh laki-laki jang baru tiba itu dan iapun berguling ditanah. Dari badannja mengalir peluh amat banjak, seakan-akan badannja itu penuh mata air jang ketjil-ketjil.

Penjamun jang berlima itu mengelilingi keruntung jang dibawa Samad dan Tusinpun mulailah mengeluarkan isinja satu-persatu, sambil diamat-amati oleh jang lain dengan teliti.

Berturut-turut keluar tembakau dan daun nipah, ikan kering dan sekarung ketjil beras. Tusin segera membagikan daun nipah dan tembakau dan sesudah itu sekaliannja dibawa Sohan dan Tusin naik keatas pondok.

„Pajah sadja kami malam tadi menanti!” kata Medasing, sebagai orang jang kesal, karena pekerdjaannja tiada berhasil.

„Ah, mengapa begitu? Djadi salah sangkaku?” tanja Samad dengan ketjewa, sebab dari rumah telah diharap-harapkannja akan mendapat bagiannja dari barang samunan. „Menurut perhitunganku ia sampai dilembah Endikat waktu sendja…, tetapi rupanja masih siang, sehingga dapat berdjalan terus ke Bandar. Kalau begitu malam ini tentu ia bermalam dilembah Lematang.”

„Adakah engkau lihat berapa orang jang mengiringkannja?”

Samad mengangkat bahunja jang basah oleh peluh itu dan iapun duduklah sambil berkata: „Itu tak tahu benar aku tetapi tentu sekurang-kurangnja lima orang, laki-laki dan perempuan.”

„Mereka tentu banjak membawa sendjata?!” udjar Sohan setengah bertanja.

„Pada pikiranku tak mungkin tidak,” kata Somad, „orang jang baru pulang dari mendjual kerbau berpuluh-puluh tentu tiada sia-sia.”

Medasing mengangguk-anggukkan kepalanja seakan-akan dimukanja terbajang perdjuangan malam kelak. Sekonjong-konjong iapun menunduk dan diraihnja tombaknja; berapa lamanja diamat-amatinja sendjata itu dari udjung sampai keudjung, seperti ketika itu ia bertanja kepadanja, tjakapkah ia berlawanan dengan Hadji Sahak dan pengiringnja itu. Sesudah itu, beberapa lama ia tiada bergerak-gerak dan tiba-tiba iapun berdirilah menudju kepondok membawa tombak dan pestolnja akan disimpan.

Tiada berapa lama antaranja makanlah mereka berenam tiada berapa djauh dari api.

Setelah makan minum, maka masing-masing mengeluarkan daun nipah dengan tembakaunja. Asap tiada berhenti-hentilah berkepul dari mulut masing-masing dan pertjakapan merekapun bertambah lama bertambah riuh.

II

DIHUTAN jang lebat itu bertambah lama bertambah gelap. Sekalian bajang-bajang mendjadi satu, mula-mula kekabur-kaburan dan kesudahannja hitam-legam.

Dalam malam gelap gulita tampaklah sekalian pohon sebagai suatu pergumulan raksasa jang maha hebat. Masing-masing menolak hendak merobohkan jang lain, mentjekau kekiri kekanan seperti hendak mentjekik dan membunuh.

Tetapi meskipun bagaimana hebatnja mereka berseregang dan bersetumpu, meskipun bagaimana ngeri rupanja jang satu hendak memusnahkan jang lain, tak suatu sorak, bahkan suatu keluhpun jang kedengaran, seolah-olah kegumuruhan peperangan itu hilang lenjap mendjadi satu dengan gelap gulita jang penuh rahasia.

Dari tanah membubung uap jang lembab dan kehangat-hangatan, amat bersepadanan dengan perdjuangan pohon-pohon jang sunji itu.

Kelima penjamun itu turun perlahan-lahan dari pondok mereka, masing-masing membawa sendjata. Lembing ditangan dan parang dipinggang. Lain dari pada itu Medasing membawa pestol tuanja.

Hanja Samad tinggal tiada mengikut.

Dimuka sekali berdjalan Amat dengan sebuah suluh daun lalang jang diikat, ditangan kanan. Tjahaja merah jang bergerak-gerak itu menjinari muka mereka, amat gandjil rupanja.

Sebentar-sebentar berdetar bunji kaki memindjak ranting jang kering dan sering pula kedengaran desir-desir ular atau binatang ketjil jang lain mendjauhkan diri melihat tjahaja suluh masuk semak jang gelap.

Orang berlim aitu sesungguhnjalah radja belukar, tak suatu apa djuapun dari segala penduduk hutan jang luas ini berani mengalangi; sekaliannja lari, takut melihat mereka seperti gelap gulita rimba itu lenjap sedjurus oleh tjahaja suluh.

Djalan jang ditempuh penjamun berlima itu amat sempit, daun pohon dan perdu bertemu dan sebentar-sebentar berdesau-desau bunjinja dilanggar mereka. Sekali-sekali mereka menjuruk, berdjalan membungkuk dibawah semak jang rapat jang bertemu diatas kepala mereka sebagai atap jang rendah dan lengkung.

Demikianlah beberapa lamanja mereka berdjalan, berbelok-belok, membungkuk dibawah dahan dan daun jang selamanja, meretas ranting jang bertemu, dan achirnja sampailah mereka pada suatu tempat jang lapang, suatu padang lalang.

Seketika radja-radja rimba itu berhenti melihat kekiri dan kekanan. Amat dan Tusin meraba-raba kaki dan tangannja jang digaris oleh ranting.

Medasing memandang kelangit jang penuh bertaburkan bintang. Seketika pula ia memandang kerimba jang baru ditinggalkan. Sekalian pohon jang besar dan rimbun2 itu rupanja mendjadi satu, sekelompok hitam, tiada bergaris dan tiada berwarna.

Merekapun terus pula berdjalan dipadang lalang jang setinggi lutut; daun jang tadjam-tadjam itu berkuak dan berdesir-desir bunjinja.

Tiada berapa lamanja habis pula padang lalang itu dan kelima penjamun itu masuk hutan gelap jang lain. Dikepala mereka lenjap pula langit jang bertaburkan bintang, bergantikan susunan dahan dan daun jang rapat.

Tetapi tiba dibalik sebuah pohon jang besar mereka terhenti mendengar ngaum harimau dan pada saat itu djuga berderak-derak bunji ranting, tiada berapa djauh dari mereka; kelima-limanja mengangkat lembing menantikan binatang jang buas itu.

Beberapa lamanja tak suatu apapun jang kedengaran, rupanja penghuni rimba itu mendjauhkan diri, ngeri bertentangan dengan kawan penjamun itu.

Merekapun berdjalan pula, tiada bertjakap-tjakap. Tjahaja suluh bertambah lama bertambah kabur, sehingga sinarnja jang merah kekuning-kuningan itu hampir hilang ditengah kelam hutan. Amatpun melonggarkan ikatan suluh daun lalangnja dan setelah ditunggitkannja sedjurus, maka teranglah kembali hutan sekeliling mereka.

Pada suatu tempat batang kaju itu bertambah djarang pula. Dari djauh kedengaran menderau-derau air mengalir, alamat mereka sudah sampai dekat sebuah anak air. Tiada berapa lama antaranja hilanglah kembali lapisan daun, dahan dan batang dirimba jang rapat dan hutan itu dengan diganti oleh langit jang lengkung sebagai tudung dan penuh dengan bintang jang berkelip-kelipan amat permainja. Hanja djauh disebelah timur kelihatan tumpukan awan jang gelap.

Mereka sedjurus melalui semak jang rendah, lembab karena uap anak sungai jang tiada berapa djauh mengalir dari sana. Sudah itu merekapun merentjah air jang dangkal dan berbatu-batu, sampai sehingga lutut.

Sesungguhnja amat djauh perdjalanan mereka. Ditengah-tengah hutan sengadja mereka berbelok dan berputar-putar, supaja pajah orang mengetahui tempat jang mereka lalu. Tadi sengadja mereka meninggalkan rimba, menempuh padang lalang, dan sekarangpun sengadja mereka merentjah anak air jang dangkal dan deras, semata-mata hendak melenjapkan djedjak kaki, supaja tiada seorang djuapun dapat menjusul dipondok ditengah rimba jang lebat itu.

Setelah beberapa lamanja berdjalan dianak air, mereka menepi keseberangnja dan ketika merekapun lenjap pula kehutan jang rapat dan gelap dengan suluh mereka.

Tiap-tiap ranting, tiap-tiap tjabang jang ketjil dielakkan dengan saksama, sekaliannja terang tampak kepada mereka.

Malam itu bertambah pula sunjinja. Segera akan turun hudjan topan jang lebat jang akan menggulung seluruh rimba itu dalam kesibukan dan kegemuruhan jang tiada berhingga.

Lambat laun tiadalah berapa djauh lagi mereka dari pondok jang ditudjui. Atapnja jang tinggi telah tampak kekabur-kaburan dalam kelam itu.

Mereka terus kemuka, bertambah lama bertambah dekat dan langkah merekapun bertambah teliti, seakan-akan belum tjukup lagi teliti awas mereka berdjalan itu.

Sekarang hanja beberapa langkah lagi djaraknja mereka dari tebing diatas djalan. Medasing menegakkan dirinja sambil mengawasi kemuka dan iapun berdiri tiada bergerak-gerak sebagai pohon diantara pohon-pohon jang lain. Oleh isjarat jang lebih terang dari perkataan itu madju sekalian temannja sedjadjar dengan dia.

Segera mereka mengubah pegangan tombaknja, sebaik-baiknja untuk memakainja.

Tak berapa lama lagi akan berlangsung perdjuangan jang hebat, darah akan tumpah mengalir…Sedjurus gemetar penjamun-penjamun itu, meskipun itulah pekerdjaan mereka; merampok, membunuh, kedjam dan ganas.

Diantara daun kaju tampak kepada mereka tebing itu turun kebawah. Dikakinja tegak pondok, sunji-mati, tak sedikit djuapun kentara, bahwa ia melindungi manusia jang hidup, pandai bergerak dan bersuara. Dibawahnja kedengaran sebentar-sebentar sapi mendengus dan binatang-binatang itupun kelihatan kekabur-kaburan dalam sinar bara jang kusam. Dari tjelah-tjelah dinding pondok keluar tjahaja jang kuning-merah, tetapi tiada berapa djauh sinar jang halus itu hilang lenjap dibalut oleh kelam jang maha kuasa. Dikeliling pondok itu tertegak pedati, ketiganja sunji dan sepi pula.

Medasing menembusi gelap malam itu dengan matanja jang tadjam dan seketika sesudah itu ia memberi isjarat kepada teman-temannja jang menjerupai hantu hitam dalam gulita jang tebal itu. Keempatnja segera mengerti maksud kepalanja: Amat dan Sohan akan menjelesaikan jang dibawah dan Medasing dengan Tusin dan Sanip akan menjerbu keatas, menjudahkan segala jang ada disana.

Pekerdjaan telah dibagi dan sekarang hanja ditunggu waktu melangsungkannja. Itupun segera akan tiba. Mereka berlima berdiri sedjurus tiada bergerak-gerak memasang telinga dan mata sedjelas-djelasnja menantikan saat jang baik.

Maka madjulah pula mereka beberapa langkah, dan sekarang mereka berdiri ditepi tebing, seluruh pikiran mereka terarah kepada pekerdjaan jang akan dilangsungkan kepada orang jang tidur lelap tiada berapa djauh dari mereka.

Perlahan-lahan mereka duduk dan sudah itu beringsut sedjengkal-sedjengkal kebawah, kedekat pondok dibawah tebing.

Sapi berdengus-dengus pula oleh kepanasan, entah oleh menerima gerak.

Kesudahannja, setelah beberapa saat lamanja, sampailah mereka dibawah. Sekarang tak ada jang dinanti lagi, telah tibalah saatnja melenjapkan segala teliti dan awas akan menjerang.

Tiap-tiap detik tiada ternilai harganja, pada saat jang ketjil itu sekarang bergantung perdjuangan itu hebat atau tiada berbahaja atau mudah.

Lekas dan hampir tiada berbunji masing-masing pergi ketempat jang telah ditetapkan baginja dan sekedjap sesudah itu kedengaran rentak, pukulan, pula.

Medasing telah tiba diatas pondok, diiringkan oleh temannja berdua; ketika ia masuk, Hadji Sahak terkedjut mendengar bunji orang melangkah ditangga jang berbuai-buai dan dilantai bambu jang berderak-derak. Segera ia melompat terduduk, dan pada saat itu djug atiba ditangan kirinja mata tombak jang tadjam, berderis menembus badjunja, mengupasi daging sampai ketulang. Iapun berteriak karena terperandjat, tak tahu apa jang terdjadi atas dirinja. Tangan kirinja jang luka itu meraba kebawah bantal mengambil keris, tetapi saat itu djuga tangan jang kena tombak itu pedih, tiada dapat digerakkan. Bertambah kuat ia berteriak sambil mentjapaikan tangan kanannja ketempat sendjata itu. Tetapi pada saat itu djuga tiba pukulan jang kedua, lebih tepat, lebih dalam dari jang mula, jang rupanja terlangsung dalam kegopohan. Lembing jang tadjam, jang tak tahu iba-kasihan itu masuk dirusuk, terus mendalam dan sekonjong-konjong ia ditarik, diikuti oleh darah jang laksana disemburkan. Laki-laki jang telah duduk itu berguling kembali, tiada berdaja. Suaranja berteriak membelah telinga, diiringi oleh seru dan pekik dua orang perempuan minta pertolongan.

Pondok itu berojak, berguntjang-guntjang seakan-akan hendak rubuh pada ketika itu djuga oleh langkah, pukulan dan rentak.

Pelita damar telah padam, terbalik oleh gerak Medasing membuat tombaknja dan didalam itupun gelap gulitalah.

Bunji teriak dari atas ditambahi pula oleh suara jang kuat dan putus-putus dari bawah, dan dalam gelap gulita dan kesunjian hutan segala teriak manusia jang dahsjat itu seolah-olah suara hantu-iblis jang tiada kelihatan, jang dari djauh dibalas dan didjawab oleh suara lain, gaung kembali dari pohon jang rapat.

Diatas teratak segera Medasing dengan teman-temannja berdua berkuasa, sebab disana hanja tidur Hadji Sahak dengan isterinja dan seorang anaknja jang perawan. Hadji Sahak tiada berdaja lagi kena lembing, sehingga tak adalah lagi jang berbahaja diatas itu bagi mereka.

Perempuan dua beranak jang terus berteriak itu sekonjong-konjong dihardik oleh Medasing dengan suaranja jang besar dan kasar; ketakutan, terdiamlah mereka; kini dipondok itu hanja kedengaran sedu-sedu orang menangis, disela-sela oleh keluh kesakitan jang putus-putus.

Sedjurus terang pula dipondok itu, karena Medasing mengukis api mentjahari pelita akan dipasang. Pada ketika itu djua kedengaran pula perempuan berdua itu berteriak, halus dan tadjam membelah kesunjian malam.

Ketika kepala penjamun itu menegakkan pelita jang terbalik hendak memasangnja, ketika itu berdiri perempuan isteri Hadji Sahak mendekati suaminja.

Iapun melolong sekuat-kuatnja karena dalam tjahaja api itu tampak kepadanja darah mengalir, berdesus-desus dari rusuk dan lengan suaminja, amat ngeri rupanja. Hampir ia djatuh, tiada berdaja melihat darah sebanjak itu, tetapi tiba2 terlondjak badannja jang telah lemah, tjondong akan terdohok itu, seakan-akan pada saat itu masuk sesuatu tenaga jang maha dahsjat kedalamnja: ia akan membalas perbuatan jang kedjam itu.

Mukanja berkerut, mendjadi buas, matanja bertjahaja-tjahaja penuh bentji dan dendam dan sebagai harimau jang berhari-hari tiada makan, menerpalah perempuan jang setengah umur itu kepada Medasing, kepada tiga penjamung jang lengkap dengan sendjata itu dengan tiada berkeris, tiada bersendjata.

Sedjurus jang amat pendek…laki-laki jang besar bidang itu terperandjat, tertegun seakan-akan sekonjong-konjong terpaku kelantai, melihat kebuasan perempuan dihadapannja.

Hilang terperandjatnja, ia madju kemuka dan dengan sekedjap perempuan jang kemasukan sehingga lupa akan dirinja itupun tertangkap, meski bagaimana sekalipun ia melawan, membanting-banting, menerdjang-nerdjang dan menangkis-nangkis. Lawannja terlalu kuat, terlalu kuasa dan kesudahannja hilang sekalian tenaganja dan iapun djatuh lemah, tiada ingatkan diri.

Disudut pondok bergelung seorang gadis, seperti ulat jang hina, jang ketakutan, tiada bergerak, tiada tergerakkan diri oleh tjemas jang tiada terkata-kata. Suaranja tiada terkeluarkan lagi melihat penjamun jang buas, jang tiada sedikit djuapun menaruh iba kasihan itu.

Perdjuangan diatas pondok telah selesai, kawan penjamun telah berkuasa sebenar-benarnja atas segalanja.

Sesungguhnja mudah dan lekas sekalian pekerdjaan mereka, tetapi dibawah perkelahian lebih berat, perlawanan lebih kuat dan disanapun lebih banjak darah mengalir.

Sohan tersadai ditanah pada tiang pondok, tiada bergerak-gerak dan didadanja tertanam sebilah keris itu masuk kedaging mengalir darah, tiada berhenti-henti, seakan-akan air jang keluar dari mata air jang hidup.

Ia ditudjah oleh seorang anak pedati. Ketika ia tiba dimuka gerobak melihat kedalam, rupanja orang didalamnja telah bangun, telah mentjapai kerisnja mendengar bunji tangga berbuai-buai. Dan dari dalam tempat jang kelam dibawah kadjang itu, dapatlah ia menikam penjamun jang sedang mentjari-tjari, mengamat-amati itu dengan mudahnja. Sesudah itu ia keluar berteriak-teriak dalam kelam malam itu.

Dipedati jang lain Amat dapat mendahului musuhnja dengan lembingnja jang tadjam, karena anak pedati itu tidur lelap sehingga ia tiada dapat membalas sedikit djuapun. Sedjurus terdengar bunji orang terpekik dituruti oleh bunji beladak jang makin lama makin lemah dan kesudahannja hilanh tiada terdengar. Sunji kembali dalam pedati itu, seperti tak ada jang terdjadi, seperti sekaliannja tiada berubah sebagai sebelum datang penjamun itu.

Digerobak jang ketiga menggelompar seorang laki-laki membawa kerisnja keluar, tak tahu kain badju, karena terperandjat mendengar bunji orang berteriak. Iapun terlepas dari bahaja maut sebab lekas terbangun. Mula-mula ia tak tahu apa jang terdjadi, karena musuh dan teman sekaliannja kabur-hitam belaka. Tetapi mendengar teriak, sedu, dan keluh jang sampai ketelinganja njatalah kepadanja, bahwa mereka diserang oleh sekawan penjamun. Segera dapat ia mengatur pikirannja, pun pemandangan dan pendengarannja bertambah terang dan dapatlah ia membedakan teman dengan musuh.

Ketika itulah mulai hebat perdjuangan dibawah pondok: Amat jang bersendjata lembing melawan dua orang, tukang pedati bersendjata keris.

Penjamun itu mengangkat tangannja mengajun tombak dan sedikit berdesau bunji benda jang tadjam itu menudju seorang dari pada anak pedati. Kain berderis-deris dan berdetar bunji sendjata pembunuh jang buas itu beradu dengan benda jang keras…Ditelinga sampai bunji orang mengeluh, mengaduh karena tombak jang tadjam itu telah mengerdjakan pekerdjaannja jang ngeri.

Tangan kiri anak pedati jang mentjoba menangkisnja terkelopak, terkupas dagingnja sampai ketulang dan benda jang tadjam itu terus pula menjisir rusuknja menembusi badju menarik daging sekerat.

Pedih dan silu sampai kedjantung, dan dalam gelap gulita itu tiada kelihatan, hanja terasa darah mengalir.

Tetapi pada saat Amat dengan segala tenaganja menusukkan tombaknja kepada musuhnja, ia merasa silu dibelakangnja, tak tentu apa konon menjebabkan. Iapun berbalik dan ketika itu kaku-gandjil terasa kepadanja dibelakang dekat pangkal lengannja…… Dari belakang ia ditikam oleh anak pedati jang lain dengan kerisnja, bertubi-tubi, tetapi tak satu djuapun jang berbahaja, jang dapat menewaskan dirinja ketika itu.

Demikianlah perkelahian antara penjamun dengan orang jang disamun, ketika sekonjong-konjong turun hudjan jang lebat sebagai ditjurahkan dari langit. Kilat serang-menjerang membelah gelap gulita, sehingga beberapa kali terang-tjuatja seluruh hutan, seluruh medan perdjuangan ditepi djalan itu. halilintar menderu-deru, dahsjat dan ngeri, seakan-akan hendak memusnahkan bumi, menghantjur-remukkan sekalian manusia jang hidup dan tiada tahu akan harga hidupnja itu.

Dari bawah Amat berteriak minta bantu kepada temannja diatas pondok; tak berapa lama antaranja turunlah Tusin dan Sanip. Anak pedati berdua itu melarikan dirinja ditengah hutan lebat, tak tentu kemana arahnnja dalam gelap-gulita, sebab sekarang musuh mereka telah terlampau kuat…

III

SOHAN terlentang ditanah dekat sebuah tiang, berlumur dengan darah jang keluar dari luka didadanja, ditikam anak pedati. Hudjan tiada berhenti-henti menimpanja, tetapi ia tiada bergerak-gerak, sebab tiada bernjawa lagi.

Tak seorang djuapun diantara kawan penjamun itu jang mengindahkannja. Setelah kedua anak pedati lenjap kedalam hudjan dan gelap gulita, Tusin dan Sanip naik pula keatas akan memeriksa kekajaan saudagar Hadji Sahak.

Amat pergi melindungkan dirinja pada hudjan dibawah pondok, dekat sapi tertambat; dibelakangnja tak berhenti henti darah mengalir dan sekarang barulah ia insaf sebenar-benarnja akan apa jang terdjadi atas dirinja: luka mulai sakit dan pedih rasanja.

Sementara itu Medasing, Tusin dan Sanip mengerdjakan pekerdjaan mereka diatas pondok. Beberapa kali mereka mentjoba memasang pelita, tetapi senantiasa sia-sia belaka. Angin mengembusnja pula, se-olah2 iapun turut dalam pertempuran itu menjebelah kepihak saudagar Hadji Sahak jang tiada berdaja lagi. Diluar bertjiut-tjiut dan berdesut-desut ia membuai pohon jang besar-besar dan berabad-abad usianja, seperti tak dapat menahan amarahnja atas perbuatan kawan penjamun jang kedjam itu. Sekali-kali teratak ketjil dan ringan itupun diojak dan diguntjangnja serupa hendak roboh.

Achirnja terpasang djualah pelita damar ditempat jang terlindung dari pada angin dalam pondok itu. Dalam tjahajanja jang bertambah lama bertambah besar, tampaklah Hadji Sahak mandi darah; isterinja tiada bergerak-gerak dan anaknja jang perawan bergelung disudut dekat pertemuan dinding menjembunjikan muka, menanti apa jang akan terdjadi atas dirinja.

Segera penjamun bertiga itu mulai memeriksa, mengatjau tempat tidur dan beberapa bungkusan. Saku dan pinggang Hadji Sahak mereka raba dengan saksama, demikian djuga leher dan lengan isterinja akan mengambil gelang dan kalung. Maka banjaklah jang mereka perolah dan merekapun mulai pula memetjahkan peti kaju jang tiga buah didalam pondok itu. Disanapun mereka dapat beberapa perhiasan jang mahal-mahal harganja. Dari salah sebuah peti itu mereka mengeluarkan sebuah peti ketjil dari pada besi. Benda itupun mereka ambil dan akan dibuka kelak dipondok, ditempat kediaman mereka.

Dalam memeriksa saudagar Hadji Sahak laki isteri dan barang-barangnja, lupa mereka, bahwa disudut pondok itu ada bergelung seorang manusia, perawan muda remadja sedang tjemas dan ketakutan.

Setelah selesai sekaliannja, seketika penjamun bertiga itu mengamat-amati Hadji Sahak laki isteri. Kedua-duanja tiada bergerak-gerak: seorang berlumur darah dan seorang lagi putjat seperti majat pingsan tiada chabarkan diri.

Merekapun turun kebawah memeriksa pedati. Ditangga sekonjong-konjong datang sepotong kaju sebesar lengan, tiba mengenai lengan kiri Tusin dengan kuatnja. Laki-laki itu berteriak karena kesakitan dan sesaat sesudah itu ia terdjatuh kebawah, karena rupanja tiada dapat menderita kesakitan tangan kirinja jang patah itu. Beberapa kali lagi kaju serupa itu datang berulang, ada jang mengenai pondok sehingga rumah ketjil itu berguntjang dan ada pula jang terus mengenai sapi jang berguling dengan tenaganja.

Medasing menggertakkan giginja, menjumpah-memaki karena ia tiada dapat membalas, menghantjur-remukkan orang jang berani mengusiknja itu, karena mereka disembunjikan dan dilindungi oleh hudjan dan gelap gulita.

Sementara itu penjamun berdua itu tiba dibawah dan segera memasang suluh jang dibawanja. Sekarang mulailah mereka memeriksa segala gerobak, tetapi diantara tiga itu hanja sebuah jang berisi barang, jang boleh djadi ada harganja, ialah sebuah peti kaju jang besar dan berat. Segera benda itu dikeluarkan mereka.

Dari luar, dari gelap gulita tiada djuga putus-putusnja datang batu dan kaju mengundjungi mereka dengan kuatnja, sehingga sekali-kali pondok atau gerobak hendak roboh lakunja; tetapi mereka tak pernah kena lagi, sebab terlindung oleh gerobak.

Peti itupun segera diungkit dengan lembing dan didalamnja hanja didapati badju dan beberapa helai kain jang baru. Bagi penjamun jang senantiasa tinggal dihutan, sekaliannja itu tak ada gunanja, tetapi meskipun demikian Medasing mengambil beberap helai dan disuruhnja pegang oleh Sanip jang membawa segala barang berharga jang mereka dapati diatas.

Sekarang telah selesailah sekaliannja dan mereka akan kembali selekas-lekasnja ketempat mereka dalam hudjan lebat.

Sementara itu lantai ponodk telah njala dimakan api pelita jang mereka tinggalkan, bertambah lama bertambah besar; tetapi penjamun-penjamun itu tiada mengindahkannja.

Mereka pergi mendapatkan temannja satu-persatu. Sohan dilihat mereka telah mati terhantar ditanah. Amat terduduk dibawah pondok; ia masih kuat dan dapat berdjalan rupanja. Setelah dikebat Medasing belakang temannja jang malang itu dengan kain, pergila hemreka mendapatkan Tusin jang patah tangan kirinja kena lempar. Iapun telah segar kembali, rupanja tjatjatnja tiada hebat benar, sehingga telah dapat berdjalan pula.

Sekarang mereka akan pulang.

Tetapi sekonjong-konjong terdengar kepada mereka bunji manusia berteriak, halus dan njaring, dari dalam pondok jang terus djuga njala itu.

„Bukankah mereka tadi bertiga dalam pondok itu?” kata Sanip.

„Rasanja ada lagi seorang perempuan,” djawab raksasa penjamun jang kuat dan sigap itu; „lupa kita tadi memeriksanja, boleh djadi banjak djuga barang-barang jang berharga padanja.”

Sebagai kilat naiklah ia keatas pondok. Api telah mendjalar mendekati Hadji Sahak laki isteri.

Melihat api itu rupanja perempuan muda itu sangat tjemas, sehingga ia berdiri dan berteriak minta tolong.

Memandang perawan remadja itu, Medasing radja penjamun jang tak tahu iba-kasihan usahkan kasih-sajang itu, terhenti sedjurus tak dapat madju melangkah, laksana orang jang kena pesona.

Sinar kemerah-merahan djatuh kemuka gadis jang kuning djelita itu, sehingga hampir menjerupai lojang jang baharu digosok. Rambutnja jang lebat, sebagai terurai kemuka melampaui bahunja dan sebahagian kebelakang sampai kebalik lututnja. Oleh tjemas hatinja melihat api itu mendjalar hendak membakar ajahnja jang diatara hidup dan mati dan bundanja jang tiada chabarkan diri, keraslah rupa pandangan matanja. Alisnja mendjadi regang dan bulu matanja lurus menghadap kebawah sebagai bulu landak jang keras dan tadjam.

Gadis muda itu terkedjut mendengar bunji orang naik tangga; matanja jang indah seakan-akan terbelalak melihat penjamun jang kedjam jang telah membinasakan ajah bundanja. Iapun berteriak mendjatuhkan dirinja, tiada bergaja karena ketakutan jang amat sangat.

Medasing, perampok jang telah masak dalam pekerdjaannja, jang telah berpuluh kali berhadapan dengan musuh sama-sama lengkap bersendjata dengan gagah beraninja, sekali ini entah apa sebabnja, sekedjap tak tahu apa jang hendak dikerdjakannja. Lena dan lalai langkahnja, seakan-akan hilang pikirannja,…laki-laki jang seribu satu akalnja itu.

Tetapi…Sekonjong-konjong dalam kehilangan akal, dalam gopohnja itu, bersinar sesuatu dikepalanja: ia akan melarikan gadis itu.

Ketika itu tiba-tiba langkahnja jang lemah berubah mendjadi pasti dan kukuh. Iapun mendekati perawan itu dan dipegangnja tangannja jang bergelung dilantai pelupuh dikaki ajah bundanja, bukan hendak merampas kalungnja, bukan hendak mematahkan gelangnja…tetapi hendak membawa ia turun, lari.

Perawan itu berteriak sekuat-kuatnja dan memberatkan badannja, tetapi laki-laki jang berurat kawat dan bertulang besi itu dengan mudah menghelanja kearah pintu.

Tiba ditangga laki-laki jang kukuh-kuasa itu berhenti sebentar, seakan-akan tiba-tiba ketika itu masuk kekalbunja sesuatu jang selama ini tiada ada padanja. Iapun berputar menghampiri api jang makin lama makin dekat mendjalar hendak memusnahkan orang dua laki isteri jang tiada bergaja itu.

Api itu dipadamkannja, bukan karena kasihan, tetapi oleh sesuatu gerak jang gaib, tak tentu asalnja.

Gelaplah kembali dalam pondok itu, lebih gelap dari diluar ditengah rimba.

Hudjan dan topan telah berkurang dan langit jang telah mentjurahkan segala air jang dikandungnja itu membentanglah diatas segala pohon jang tinggi-tinggi djernih kekabur-kaburan.

Penjamun jang berempati itupun berdjalan kembali, membawa sekalian perolehannja. Dibelakang mereka tertinggal tempat keganasan itu, sunji-senjap.

Medasing berdjalan dibelakang sekali menarik perawan jang sebentar-sebentar berteriak mengeraskan diri, memukul dan bersetumpu hendak melawan. Achirnja laki-laki jang berbidang itu mengangkat badan jang ramping, jang tak hendak menurut itu dan didukungnja seperti ia memikul sesuatu jang ringan, tiada bernjawa.

Sekalian penjamun itu terus berdjalan melalui hutan dan semak jang basah, tiada teringat sedikit djuapun akan teman dan musuhnja jang tinggal.

Tiba dianak air mereka berhenti seketika melepaskan penat dan sudah itu mereka meneruskan perdjalanan melalui rimba belantara jang gelap. Perawan itu senantiasa djua menangis tersedu-sedu, kadang-kadang meratap, berteriak dengan segala tenaganja. Tetapi sekaliannja itu tiada berhasil; lagipun dihadapan maut tak lemah hati djabal-djabalan itu, apa pula mendengar tangis dan ratap!

Kesudahannja penat sendiri perempuan itu berteriak dan membantah dan iapun menurutlah berdjalan ditarik oleh penjamun itu, sebagai benda jang tiada berperasaan, tiada berpikiran dan tiada berkemauan. Lenjap dari kenangannja ajah-bundanja, air matanja tak dapat keluar lagi seakan-akan kering lakunja.

Parak siang, ketika disebelah timur mulai keungu-unguan tibalah mereka dipondoknja. Medasing mengangkat perempuan jang dibawanja itu keatas dan direbahkannja dilantai, perempuan jang sedjak beberapa lamanja tiada insaf akan dirinja, jang se-olah2 berdjalan dalam tidur itu, segera terlelap, karena letih lesu lahir dan batin.

Pun penjamun-penjamun itu segera merebahkan dirinja, sebab masing-masing penat oleh perdjuangan dan perdjalanan jang djauh.

IV

LANGIT disebelah timur bertambah terang. Tjahaja ungu-suram bertambah lama bertambah kuning rupanja dan kesudahannja timbul dibalik awan emas jang bersusun matahari, mula-mula sepotong, sebelah dan kesudahannja bulat sebagai bulan digambar-gambaran, berseri-seri laksana orang tersenjum memandang kedunia.

Dirimba jang lebat itu mula-mula ramai bunji unggas jang baru bangun dari tidur, sekali-sekali kedengaran bunji ngaum harimau atau teriak kidjang sajup-sajup, dari tempat jang amat djauhnja.

Tetapi makin tinggi matahari ditepi langit, makin berkuranglah gemuruh itu.

Sinar surja jang mula-mula hanja menjepuh puntjak-puntjak pohon, kini mulailah perlahan-lahan turun bertambah lama bertambah rendah, sehingga disana sini sampai ketanah, kesudut janng tersembunji dibalik daun jang rapat, bertelau-telau rupanja.

Pada pagi jang permai itu pondok penjamun-penjamun itu sunji, aman dan sentosa, seakan-akan ia sebagian dari pada rimba jang indah, aman dan sentosa itu.

Keempat penjamun itu tidur lelap, semalam-malaman mereka memeras tenaga dan pada waktu mengumpulkan kekuatan jang baru, mereka selalu mati, tiada insaf akan sesuatu apa djuapun. Dari belakang Amat jang luka keluar darah mengalir kelantai, tetapi kini darah dilantai itu telah hampir kering. Tangan Tusin jang kena lempar telah bengkak dan terletak terpapar dilantai.

Disudut, djauh sedikit dari laki-laki berempat itu, tertidur seorang perawan, berbadju kurung biru dan memakai kain tenun jang kasar; iapun amat letih rupanja.

Disudut jang lain tidur Samad jang semalam-malaman tinggal dipondok.

Lambat laun haripun mendjelang tengah hari dan dirimba itu bertiup angin perlahan-lahan.

Dua ekor tjetjak berkedjar-kedjaran didinding, rupanja ada sesuatu jang direbutkannja. Jang seekor lari keatap diturut oleh jang lain dan sekonjong-konjong berderai daun lalang tua tempat ia bergantung dan iapun djatuh kebawah…menimpa perawan jang tidur lelap itu pada mukanja.

Badan jang bergelung menghadap kedinding itu sedjurus bergerak-terlondjak, kaki dan tangannja mengais-ngais. Perawan itu terbangun, membuka matanja mentjahari apa jang terasa berdjalan dipipinja. Tetapi tjetjak jang djenaka itu telah lenjap, tiada tentu lagi dimana tempatnja.

Dibelalaknja matanja sebesar-besarnja, karena heran ia melihat sekelilingnja. Tiba-tiba lemah seluruh badannja, karena tiada terkira-kira sedih hatinja: teringatlah kepadanja, bahwa ia sekarang telah mendjadi orang tawanan dan dimukanjapun terbajang-bajang kedjadian malam tadi. Tampak kepadanja darah mengalir dari badan ajahnja dan bagaimana bundanja jang dikasihinja itu dipegang ditulakkan oleh penjamun jang ganas itu. Iapun teringat pula apa jang terdjadi atas dirinja sendiri. Bagaimana ganas dan kasarnja ia ditarik-tarik, dipaksa mengikut!

Maka tersedu-sedulah ia; kalau diturutkannja hatinja hendak ia meraung sekuat-kuatnja, tetapi ia takut djabalan jang tidur itu terbangun, datang, memaksa ia menutup mulut.

Gemetar dan menggigil pula badannja memikirkan tangan mereka jang kasar dan rupa mereka jang buas. Sekarang ia terserah kepada mereka, tiada dapat berbuat suatu apapun.

Beberapa lamanja ia menangis, tiba-tiba bangkit dihatinja hasrat hendak keluar, akan melepaskan dirinja dari lingkungan jang ketjil itu. Perlahan-lahan iapun duduklah, melihat kekiri kekanan. Tampak kepadanja penjamun jang berempat itu tidur lelap; dihatinja bangkit suatu perasaan bentji dan djidjik. Ketika itu hendak ia rasanja menjerang mereka, membunuh sekaliannja akan membalaskan perbuatan mereka atas ajah bundanja. Tiada berapa djauh dari padanja terletak sebuah lembing dan iapun mengulurkan tangan akan mengambilnja. Tetapi saat itu djuga ditariknja kembali tangannja itu; meremang bulu kuduknja melihat darah berlumur pada tangkai dan mata lembing itu. Selangkah-selangkah, amat hati-hati, penuh djidjik dan bentji pada manusia-binatang itu, berdjalanlah ia kearah tangga.

Tetapi meskipun bagaimana perlahannja ia berdjalan, lantai teratak itu berderik-derik djuga dan ketika ia tiba dekat pintu akan turun ketangga, ketika itu Samad terdjaga, sebab telah puas ia tidur semalam-malaman.

Mula-mula ia tiada pertjaja akan matanja melihat bajang-bajang perempuan itu bergerak-berdjalan, kabur, tiada berapa djauh dari padanja; ketika keempat penjamun itu kembali parak siang tadi, ia terbangun. Digosoknja matanja dan diamatinja benar-benar, maka njatalah kepadanja, bahwa tak salah lagi pandangannja itu. Didalam hatinja bangkit heran jang tiada terkata-kata.

Perempuan itu dibiarkannja dahulu turun, tetapi ketika telah tiba dibawah bangunlah ia dengan segera dan dari balik pintu tampak kepadanja perempuan itu bertambah lama bertambah djauh. Sekali dua kali ia memaling kebelakang, dan sudah itu ia terus berdjalan masuk hutan, diantara batang kaju, sehingga tiada kelihatan.

Gadis itu sampailah ditepi anak air. Maka lapanglah kembali rasa hatinja. Setelah habis ia membersihkan dirinja pada air jang bening itu, pergilah ia duduk diatas sebuah batu jang besar.

Sinar matahari, jang djatuh lulus diantara tjelah daun bermain dikepalanja, dirambutnja jang lebat terurai. Air jang tinggal melekat diudjung rambut, dikening dan dibalik telinganja, bersinar-sinar laksana permata jang baru diasah. Pada waktu ia duduk diatas batu disinari oleh tjahaja matahari jang gilang-gemilang pada saat ia memandang keair dengan mukanja jang djernih dan matanja jang saju-laju itu, tak bedanja ia dengan seorang peri penunggu hutan jang tiada terkira tjantiknja, dikelilingi oleh daun jang hidjau, sinar samsju jang berkilau-kilauan, dilagukan dengan lagu jang merdu oleh anak air jang mengalir berpendar-pendar.

Ketika itu teringat pula akan kemalangannja: Apakah kesudahannja kelak? Djauh dari ajah bundanja, djauh dari kaum kerabatnja, ditengah penjamun, tiada berteman, seorang diri? Ngeri ia memikirkan djabalan jang kasar dan kedjam-kedjam itu!

Apakah gerangan maksud mereka melarikannja?

Sekonjong-konjong iapun berdiri dan dengan air mata berlinang-linang teruslah ia berdjalan, tak tentu arahnja, menurutkan kakinja.

Baginja lebih baiklah lagi ia mati.

Bertambah lama bertambah djauhlah ia masuk hutan. Tiap-tiap sudut dirimba jang besar itu lebih baik baginja, dari pondok tempat penjamun, algodjo dirinja, algodjo ajah-bundanja itu.

Sekonjong-konjong ia terhenti berdjalan karena dimukanja terdengar kepadanja bunji daun kering berdesir-desir. Tiada terkata-kata terperandjatnja dan saat itu djua insaflah ia akan dirinja. Dimukanja, tiada berapa djauh dari padanja mendjalar seekor ular jang besar, perlahan-lahan, seakan-akan tak ada jang ditjemaskannja. Badannja jang berkilat-berwarna-warna dan sangat pandjang itu pada suatu tempat gembung, sebab rupanja penunggu belukar jang ngeri itu baru menelan mangsanja.

Perawan jang terkedjut itu surut beberapa langkah dan binatang jang berat-kenjang itu mendjalar perlahan-lahan terus kedalam belukar.

Sekalian keberaniannja hilang lenjap, ia tak hendak terus berdjalan lagi: apa jang terdjadi atas dirinja akan ditahankannja. Iapun melihat kekiri kekanan dan kesudahannja pulang kembali sepuluh dua puluh langkah kebawah pohon jang besar, ditempat jang lapang dan bersih. Disanalah ia duduk diakar kaju dan dalam hatinja akan tinggallah ia disana menantikan putus djiawanja oleh kelaparan atau dimakan binatang buas.

Tawakkalnja itu sedjurus rupanja mengamankan perasaan dikalbunja, tetapi setelah beberapa lamanja ia duduk itu teringat pula ia akan nasib jang menimpa dirinja dan ajah-bundanja.

Setelah perawan itu hilang dari pandangan matanja, berbaliklah Samad melihat kepada temannja jang masih tidur njenjak. Ketika itu kelihatan kepadanja, bahwa kawan penjamun itu hanya berempat.

Kemanakah pergi Sohan?

Tetapi ia tiada dapat terus menurutkan pikirannja, sebab ketika itu djuga matanja tertarik oleh belakang Amat jang merah berlumur darah. Maka iapun datang mendekat dan luka jang besar dekat tulang belikat Amat itu diamat-amatinja. Sungguh tak ketjil luka itu dan menilik kepada tempatnja takkan mudah sembuhnja. Pastilah bukan sedikit kesakitan jang dideritanja dan hanjalah oleh keletihan badannja jang amat sangat, maka ia dapat tertidur.

Sudah itu dilihatnja pula penjamun jang lain berganti-ganti. Tangan kiri Tusin jang bengkak dan kebiru-biruan rupanja disiasatinja beberapa lamanja.

Ketika itu tahulah ia, bahwa hebat perdjuangan malam tadi dan iapun jakin dalam hatinja, bahwa Sohan tidak boleh tiwas dalam pertempuran itu.

Dari penjamun berempat jang tidur lelap itu ia mengamat-amati penjamun jang terserak dikaki mereka: beberapa bungkusan dan sebuah peti ketjil. Tetapi ketika ia membungkuk membalik-balik bungkusan akan melihat isinja, tiba-tiba ia teringat pula akan perawan jang nampak kepadanja tadi. Lalu ditinggalkannja sekalian bungkusan itu menudju kepintu terus kebawah.

Ditanah segera ia melihat kesekelilingnja mentjahari anak gadis itu. Tetapi taklah seorang djuga jang nampak kepadanja dan iapun melangkah kearah anak air menurut djalan jang ditempuh oleh orang jang ditjaharinja.

Ditepi anak air tak seorang djuapun jang ditemuinja: sekaliannja aman dan sentosa, seperti tak pernah seorang djuapun datang sampai kesana. Hanja beberapa buah batu basah alamat ada sesuatu, entah machluk apa, jang belum selang beberapa lama merentjah air. Tetapi lain dari pada itu taklah ada suatu tanda djuapun jang dapat menundjukkan kepadanja djalan jang ditempuh oleh perempuan itu.

„Kemanakah perginja dan alangkah beraninja seorang diri masuk kedalam rimba jang lebat ini?” pikirnja.

Maka sekedjap bangkitlah pula sangkaan dalam hatinja, bahwa jang dilihatnja tadi itu tak benar, bahwa ia telah diperdajakan matanja: Dari mana pulakah datang seorang perempuan dalam pondok penjamun itu?

Ketika itu bangkitlah takutnja, sebab ia teringat akan setan-iblis, penunggu hutan jang sering didengar tjeritanja, tetapi belum pernah ditemuinja selama ia selalu berulang-ulang masuk rimba seorang diri.

Tetapi perasaan takut segera pula dienjahkannja, oleh kepertjajaan jang pasti, bahwa ia tak mungkin terketjoh oleh matanja, bahwa perempuan jang dilihatnja tadi itu sesungguh-sungguhnja ada.

Dan oleh karena itu berdjalanlah ia masuk rimba melalui antara pohon dan semak, tak berhenti-henti mentjahari perempuan jang telah dilihatnja itu.

Lamalah ia berdjalan tak djua bersua. Tetapi ketika ia hendak pulang kepondok melalui pohon jang besar, lapang tidak ditumbuhi semak dibawahnja, nampaklah kepadanja perempuan itu sedang duduk termenung, mentjungkil-tjungkil kulit pohon itu dengan djarinja.

Samad berhenti mengamat-amatinja dari djauh, seakan-akan ia masih belum djuga dapat pertjaja benar akan apa jang dilihatnja itu. Tetapi setelah beberapa lamanja datanglah ia mendekat seraja berkata: „Hai gadis, apakah kerdjamu disini?”

Perawan itu terlondjak-terperandjat seraja menoleh kepadanja: tetapi setelah njata kepadanja, bahwa jang berdiri dihadapannja itu manusia dan bukan pula penjamun jang ditakutinja, maka bangkitlah berani hatinja dan iapun memandang kepada laki-laki itu. Tetapi dalam pada itu ia tiada djuga mendjawab.

Samadpun beberapa lamanja terdiam, seperti ada sesuatu jang datang diingatannja. Melihat kepada muka gadis jang putih kemerah-merahan itu dan menilik kepada perawakan badannja, rasa-rasa ia telah pernah bersua dengan dia dan seketika ditjobanja mengingatkan dimana dan apabila ia bersua itu. Tetapi usahanja itu sia-sia belaka, sebab ingatannja terlampau djauh terpendam, sehingga tak dapat ditimbulkannja waktu itu.

Lalu iapun bertanja pula: „Dari manakah engkau datang kemari?”…

Setelah njata kepadanja, bahwa pertanjaannja itu tiada djuga berdjawab, berkatalah pula ia: „Anak siapakah engkau dan apakah sebabnja maka datang kemari?”

Sekonjong-konjong, laksana pertanjaan itu membangkitkan sekalian ingatannja jang pilu, gadis itupun tersedu-sedu, tak dapat ditahannja dan air matanja bertjutjuran melalui pipinja, djatuh menghitamkan badjunja jang biru.

Bertambah heran Samad melihat gadis itu dan iapun mendekat beberapa langkah lagi sambil mengamat-amatinja. Dalam hatinja diakuinja, djarang ia bertemu dengan perempuan jang setjantik itu. Pada mukanja jang kusam kemerah-merahan, terlukis alis jang hitam lebat. Bulu matanja jang lentik mengelilingi matanja jang besar dan pudar, laksana pagar jang indah jang mengelilingi tasik jang djernih dan dalam. Dari tepi kedua mata itu membukit hidungnja jang tak terlampau tinggi dan tak pula terlampau rendah. Diatas bibirnja jang tipis-terkatub melembah orangnja, njata kelihatan, tetapi tiada mengusik mata. Dan dagu jang melengkung dibawah bibirnja agak berkerut membajangkan kesedihan hatinja, menjudahkan potongan muka jang pandjang tetapi berisi itu dengan sempurna.

„Dari manakah engkau dan siapakah namamu?” udjar Samad pula mengulang pertanjaannja sambil mendesak.

Sebagai kilat, amat tjepatnja perawan itu meniarap dikakinja seraja berkata tersedu-seduh: „Tolonglah aku, lepaskan aku dari sarang penjamun ini. Bawalah aku kepada ajah-bundaku!”

Dan mendengar itu timbullah sekali dihati Samad ingatan akan anak Hadji Sahak jang termasjhur indahnja diseluruh Pagar Alam. Lalu berkatalah ia dengan takdjubnja: „Engkau Saju, anak Hadji Sahak? Mengapa engkau sampai kemari?”

Putus-putus, sepatah-sepatah, disilih oleh sedu dan tangis didengarlah oleh Samad kissah perdjuangan jang hebat semalam. Sementara ia membiarkan Saju bertjerita, pikirannja tiada berhenti barang sekedjap djuapun dan matanja tiada dipisah-pisahkannja dari gadis jang tjantik itu.

Ketika selesailah tjerita Saju, kejakinannja telah pasti: Perawan jang setjantik itu takkan dibiarkannja ditengah kawan penjamun. Dengan segala usahanja akan ditjobanja membawanja ketempat jang lain.

Sambil menunduk membelai-belai rambut gadis itu, berkatalah ia dengan suara jang lemah-lembut, penuh kasih mesra: „Diamlah Saju, aku akan menolongmu.” Sedjurus antaranja berdirilah ia, seraja berkata pula: „Tunggulah seketika disini!”

Iapun menudju kepondok tempat kawan penjamun jang pada sangkanja masih tidur lelap.

V

SAMBIL berdjalan menudju kepondok, Samad tidak berhenti-henti memikirkan maksud jang timbul dihatinja, sedjak mendengar tjerita Saju dan permintaannja akan pertolongan.

Didusun Pulau Pinang ia telah beristeri dan mempunjai dua orang anak. Tetapi hal itu tidaklah dapat menahan timbul tjinta-berahinja kepada Saju jang amat tjantik terpandang kepada matanja.

Dalam hatinja telah direka-rekanja akan membawanja kedaerah Kikim, supaja ia tidak dapat bersua kembali dengan orang tuanja dan disana ia akan mendjadi isterinja. Maksudnja itu rupanja tidak sedikit djuapun menjalahkan perasaannja. Dari pada gadis itu terserah kepada kawan penjamun, pada pikirnja, baiklah ia sendiri melarikannja ketempat jang lain.

Dan sekarang ia kembali kepondok akan mendjemput keruntungnja; apabila temannja berempat itu masih tidur akan diambilnja barang-barang rampasan jang terserak dikaki mereka. Pastilah akan besar hati Saju melihat hak-milik orang tuanja itu kembali.

Hari itu djuga maksudnja akan meninggalkan rimba itu.

Sesungguhnja ada djuga teringat kepadanja, bahwa oleh perbuatannja itu ia akan bermusuhan dengan kawan penjamun jang ditakuti orang diseluruh tanah Pasemah. Tetapi perasaan takut itu segera dilenjapkannja: untuk memperoleh gadis jang semolek itu, apa sekalipun hendak ditentangnja.

Dari bahwa tidak kedengaran suatu suara djaupun dalam pondok. Besarlah hati Samad, sebab pada sangkanja pastilah akan sampai maksudnja sekali ini. Perlahan-lahan ia naik tangga kaju bulat jang kukuh itu; tiba diatas perlahan-lahan pula ia mendekati keruntungnja, tetapi meskipun bagaimana hemat dan tjermatnja ia berdjalan, ketika itu Medasing membuka matanja, menggeliat sambil mengeluh.

Oleh karena telah pasti kejakinannja bahwa sekalian jang direka-rekanja itu akan terlangsung dengan mudahnja, sedjurus terperandjat djuga ia melihat Medasing bangun. Tetapi pikirannja jang tadjam segera dapat mentjahari djalan dan seperti tak ada sedikit djuapun jang tersimpan didalam hatinja berkatalah ia: „Banjak djuga rupanja jang diperoleh malam tadi, Medasing?”

Medasing duduk perlahan-lahan dan seraja melihat kepada bungkusan jang terserak dikakinja, keluarlah dari mulutnja parau-bergumam: „Entahlah, inilah sekaliannja!”

Sambil menggarut lehernja dengan tangan kanannja iapun beringsut mendekati bungkusan itu. Kaki Sanip ditariknja beberapa kali, sehingga ia terbangun. Sementara itupun, Amat dan Tusin telah membuka matanja, tetapi mereka tiadalah berdaja duduk oleh hidapannja masing-masing.

Maka mereka bertigapun membuka bungkusan satu-persatu matjam-matjamlah keluar dari dalamnja: kalung, tjintjin, gelang dari pada emas dan perhiasan lain. Pundi-pundi jang diambil Medasing dari saku Hadji Sahak semalam banjak berisi wang. Achir sekali dibukalah peti ketjil dengan sebuah parang. Samad dan Sanip datang mengerumuni, tak seorang djuapun dari pada mereka hendak terkemudian melihat isinja.

Medasing mendjulurkan kakinja dilantai; dengan tangan kirinja dipegangnja peti jang terletak diatas pahanja itu sekuat-kuatnja seraja berkata, tak mengharapkan djawab: „Apa pula isinja ini?”

Sambil menggigit bibir dan merenggangkan leher diangkatnja parang dengan tangan kanan dan ia mulailah mengungkit peti jang terkuntji dengan kura2 itu. Kaleng peti itu berdentang-dentang dipaksa oleh tenaga Medasing jang tak dapat dilawan, sekonjong-konjong terdengar bunji berdetar dan benda itupun terbukalah. Didalamnja terdapat beberapa wang mas, seperangkat kalung dan lima buah tjintjin mas jang baru. Rupanja sekaliannja baru diberi di Palembang.

Beberapa lamanja mereka bertiga melihat perhiasan jang berharga dan berkilau-kilauan rupanja itu. Maka Medasing memberikan sebagian dari pada wang dan perhiasan kepada Samad, sebab sebagaimana biasa ia akan pulang ke Lahat hari itu djuga.

Tiada berapa lama antaranja duduklah mereka bertiga dibawah pondok berdekat-dekatan diatas sepotong kaju menghadapi api, sambil bertjakap-tjakap; mereka masak nasi dan membakar ikan kering. Asap jang tebal membubung, berpentjar melanggar lantai pondok dan sebagian dari padanja masuk kedalam, terus naik keatap melalui tjelah-tjelah daun jang rimbun. Dalam pondok kabut rupanja dan Amat dan Tusin taklah bedanja dengan ikan disalai. Tetapi ketika itu tak ada tempat jang lain untuk menghidupkan api, sekeliling ponodk basah belaka oleh hudjan semalam.

Sekonjong-konjong dalam pertjakapan mereka bertiga itu berkatalah Sanip: „Rasanja Medasing, engkau ada membawa seorang perempuan. Kemanakah ia sekarang? Sedjak tadi aku tiada melihatnja.”

Mendengar itu sekedjap heran rupanja radja penjamun itu: telah lupa selupa-lupanjalah ia akan perbuatan semalam. Maka dikerutkannja sedjurus keningnja, seakan-akan mengenangkan sesuatu jang sajup-sajup teringat kepadanja, lalu katanja: „Ja sebenarnja ada, tetapi kemanakah ia sekarang?”…

Iapun diam memandang sekelilingnja keantara pohon-pohon rimba itu.

„Ah, ia telah lari,” kata Sanip pula.

„Rasanja tidak mungkin,” djawabnja perlahan-lahan.

„Betapakah ia dapat mentjari djalan dari rimba ini? Tetapi baik djugalah aku lihat sebentar!”

Iapun tegak sambil melihat dengan siasat kearah anak sungai; sedjurus antaranja iapun menudju kesana. Sambil berdjalan tidak sesaat djuapun pikirannja berpisah dari perawan itu, tetapi meski demikian tiada sedikit djuapun ia insaf akan jang menggerakkannja mentjari gadis itu.

Terdjauh dari pergaulan manusia, hidup diudara hutan jang bersih dan sehat, dan senantiasa terlengah oleh penghidupan jang dahsjat dan berbahaja, seolah-olah tertidur dikalbunja perasaan alam asli jang teruntuk bagi segala jang hidup untuk mempertahankan kehidupan djenisnja. Segala kodrat dan sipatnja terarah pada pekerdjaan jang sedjak muda dilangsungkannja dan jang dalam bertahun-tahun itu telah tumbuh-teranjam dengan segala sjarat hidupnja.

Dalam penghidupannja sebagai radja-rimba seakan-akan tak adalah lagi didunia ini pekerdjaan jang lain jang mungkin dilangsungkannja.

Segala tenaga dan ketjakapannja lahir dan batin terpakai untuk pekerdjaan jang sesungguhnja menghendaki seluruh kekuatan dan pikirannja itu. Dan oleh karena itulah segala dasar sifat jang lain, jang terbawa oleh segala manusia sedjak lahirnja dalam penghidupannja jang ganas itu, bertambah lama bertambah lenjap, seolah-olah tak pernah terbawa olehnja turun kedunia.

Hukum alam, kelebihan sesuatu biasanja berarti kekurangannja jang lain!

Sebagai penjamun sedjati jang tak pernah bergaul dengan manusia, tak pernah timbul dihatinja keinginan segala manusia menetapkan keturunan penjambung hidupnja…

Ketika ia melihat perawan dalam pondok itu, tjantik disinari api jang bernjala-njala, masuk kehatinja suatu gerak, mendjelma sajup-sajup dari tempat jang amat djauhnja, sebagai sesuatu kenangan tiba-tiba kepada dengungan suara jang telah lama lenjap dari ingatan.

Dan sekarangpun ia mengangkat kakinja mentjari perempuan itu didorong oleh sesuatu gerak jang tiada njata, menurut perasaan jang tiada diketahuinja.

Demikianlah ia berdjalan diantara pohon, bertambah lama bertambah dekat ketepi anak air. Sementara itu ia tiada berhenti-henti melihat kekiri kekanan, kalau-kalau tampak orang jang ditjarinja itu. Tiba ditepi sungai ketjil jang mengalir menderu berbuih-buih diantara batu, ia memandang kehilir dan kehulu. Tetapi sedjauh-djauh memandang tak suatu apa djuapun kelihatan kepadanja.

Dimukanja, dibalik batu tempat air berpusar-pusar seakan-akan hendak terbenam kebawah, bermain berenang-renang beberapa ekor anak ikan, tiada tjemas dan takut sedikit djuapun. Matahari jang mulai tjondong bersinar keair, lembut tiada menjilaukan mata, sehingga anak ikan itu amat terang tampaknja. Sedjurus jang pendek tertanam matanja pada machluk jang riang-djelita itu, seakan-akan hati penjamun jang besar dan buas itu ketika itu tertarik dan tertambat pada permainan machluk jang ketjil, jang tak sampai seperempat besar kelingkingnja.

Tetapi segera ia berbalik dan melajangkan matanja kehutan jang rimbun.

„Kemanakah perginja?” pikirnja. Ia tak pertjaja, bahwa perempuan jang serapuh itu berani melarikan dirinja ditengah rimba jang sunji dan djauh dari dunia itu.

Ia terus djua berdjalan diantara pohon-pohon, tiada terpikir, tetapi terang mengingatkan orang jang ditjarinja. Maka dengan tiada diketahuinja lambat laun masuk kekalbunja suatu perasaan jang hampir menjerupai tjemas, kalau-kalau perawan itu hilang tak ditemuinja lagi.

Bertambah lama bertambah djauhlah ia dari tepi anak air, berdjalan berputar-putar diantara pohon jang besar-besar. Sebentar ia menjuruk dibawah semak jang rapat, ditempat lain ia melintasi tanah jang kuning-hitam, tiada ditumbuhi suatu apapun, penuh oleh daun jang kering.

Kesudahannja telah djauh benar ia dari pondoknja; djarang ia menempuh bahagian hutan itu. Ketika itu tergerak hatinja akan pulang kembali, karena ada sesuatu perasaan jang mengatakan kepadanja, bahwa orang jang ditjarinja itu tak ada disana. Iapun berbalik terus memintas kearah pondoknja jang tersembunji. Tetapi perempuan itu tiada djua lenjap dari ingatannja dan makin lama seakan-akan makin pasti dihatinja, bahwa ia tak boleh tidak, mesti mendapat perempuan itu kembali.

Sekarang ia berdjalan melalui semak-semak pula diantara pohon jang besar-besar. Kadang-kadang ia harus menundukkan kepalanja melalui belukar ketjil jang bertemu dan bertaup daun dan rantingnja, sehingga mendjadi suatu lubang tembusan jang pandjang ditengah-tengah hutan itu; kadang-kadang pula ia harus berpirau, karena dimukanja melintang semak jang rapat, katjau-balau dan penuh dililiti oleh rotan dan tumbuh-tumbuhan mendjalar jang berduri.

Seketika ia tiba pada suatu tempat jang lapang jang dilindungi oleh sebatan pohon jang besar. Semak dan belukar rupanja tak dapat tumbuh disana, karena raksasa rimba itu tidak membiarkan tumbuhan jang lain mendekatinja: tjahaja matahari tak lulus kebawah, ditahannja dengan pajung daun-daunan jang rapat.

Medasing melihat kemukanja, kebawah pohon jang hidup itu dan dari balik pokok kaju jang besar dan kelabu itu tampak kepadanja kaki mendjulur.

Seketika itu djuga mukanja mendjadi terang karena pasti kejakinannja bahwa jang ditjarinja itu telah bersua. Perlahan-lahan ia madju berpirau, supaja dapat mendekati perempuan itu dari muka. Tetapi ketika telah njata kelihatan kepadanja orang jang ditjarinja itu, terhentilah ia sesaat seolah-olah kakinja sekonjong-konjong tertahan, terpaku ditanah jang djarang ditumbuhi rumput itu.

Dimukanja tampaklah kepadanja perempuan itu…bukan seperti malam tadi ketika ia melarikannja, waktu itu ia berdiri dimuka manusia jang bukan manusia.

Seperti perempuan itu bersandar dipondok kaju jang berlumut dilindungi oleh daun jang rapat, jang lemah lembut berdesir-desir, ia sebagian dari kesunjian hutan, aman-sentosa, tak diusik dan tak terusik.

Kelopak matanja bertemu, lembut tiada terpaksa sedikit djuapun, sehingga matanja jang tertutup itu mendjadi suatu garis hitam jang sempurna, dimuka jang seperti batu pualam jang kuning kemerah-merahan. Rambutnja jang hitam, badjunja jang biru dan kainnja jang putih-kekelabu-kelabuanm tiada sedikit djuapun berlawanan dengan warna kelabu kulit kaju jang berlumut tempat ia bersandar dan warna hidjau-djernih rumput dan daun dirimba sekelilingnja.

Sebenarnja tak djanggal sedikit djuapun ia tidur, tiada insaf akan suatu apa djuapun ditengah hutan jang sunji senjap itu, malahan waktu itu laksana ada sesuatu jang gaib menjelubunginja, membangkitkan perasaan, bahwa segala jang tumbuh dan hidup dalam lingkungan semak-semak jang hidjau itu, semata-mata bagi kehormatan belaka: bunga pelbagai warna jang menjembulkan dirinja dari susunan daun, burung sekawan jang bernjanji dimuka sarangnja pada suatu dahan, riang melagukan suaranja dalam kesunjian hutan, dan angin Timur jang menerbangkan bau-bauan dari tempat jang djauh-djauh.

Sesungguhnjalah ketika itu ia dewi penghuni dan pelindung hutan dalam balutan djasad manusia jang rapuh dan lemah.

Medasing masih djuga berdiri, tepekur melihat dewi hutan itu dan semangat kebaktian dan kehormatan jang bersimaharadjalela, tiada terlihat tiada terdengar dan tiada teraba ketika itu, masuk kekalbu laki-laki, radja hutan jang gagah dan buas itu.

Penjamun jang ganas, jang tak tahu iba-kasihan itu sekali ini tiada membantah, tiada melawan mengakui kelebihan machluk jang lemah dimukanja, meskipun seumur hidupnja belum pernah ia takluk, belum pernah gentar sekalipun menghadapi musuh apa sekalipun. Dalam kekuatannja itu lemah dirinja, dalam kekuasaannja ia takluk diri hati ketjilnja…oleh sesuatu jang gaib, jang telah menjelapi kalbunja dengan tiada diketahuinja.

Oleh sebab itulah ia terhenti, tiada dapat madju kemuka, seolah-olah takut ia mengganggu kesenangan machluk jang tidur dimukanja itu.

Tetapi semuanja itu hanja sedjurus belaka. Hanja seketika sadja Medasing dapat dikuasai oleh hatinja, jang telah takluk pada sesuatu jang gaib, jang lebih kuasa dari padanja itu.

Perlahan-lahan bangkit keinsafannja sebagai penjamun, sebagai seseorang jang tahu bahwa daging dan tulangnja kuat dan kuasa dan perasaan hormat jang sedjurus mendjelma dihatinuraninja itu lenjap pula rupanja.

Rupanja, sebabnja tiap-tiap guris disanubari itu—bagaimana sekalipun ketjil dan dangkalnja—lebih tahan dan kekal dari luka didaging, meski dalam sekalipun…

Ringan kembali rasa kakinja dan didorong oleh keinsafan, bahwa ia kuat-kuasa, melangkahlah ia kemuka mendekati perempuan jang tidur jang sedikitpun tiada insaf akan dirinja itu. Bunji rumput berdesir-desir dipidjak oleh kaki Medasing jang besar-kasar dan dewi jang tidur itu membuka matanja perlahan-lahan, laksana bunji mawar kembang ditjium sinar pagi kuning-djelita. Tetapi sekonjong-konjong badan jang lena-tersandar itu bergelung, laksana ulat jang ketakutan dan muka jang djernih itu mengeruh-memutjat. Ketika itu tiba-tiba lenjap dewi hutan jang tjantik dan senji berubah mendjadi manusia, perempuan biasa kembali, jang membangkitkan pilu dan sedih, sangat tjemas rupanja. Dan saat itu djuga serempak, seolah-olah oleh sesuatu mentera jang sakti, hutan permai jang teduh itu berubah pula mendjadi rimba biasa, rimba jang terdjadi dari pohon, rumput dan tumbuh-tumbuhan jang lain.

Lenjap, lenjap pemandangan jang asjik itu dan seluruh rimba itu mendjadi rimba sebagai tiap-tiap rimba jang lain.

„Engkau hendak lari?” keluar dari mulut Medasing dan suaranja gemetar, seakan-akan ada sesuatu jang membantah suaranja keluar sekasar itu. Ketika itu menjeringai mulutnja dan matanja jang tadjam dan kemerah-merahan rupanja itu berpisah-pisahan dari tubuhnja jang kuat kebadan perawan jang lemah itu, laksana hendak berkata: tiada insafkah engkau bahwa engkau takkan dapat melepaskan dirimu dari genggamanku?

Perawan itu menggelungkan badannja bertambah ketjil dan mukanja ditutupi dengan kedua belah tangannja, karena takut ia melihat muka penjamun jang buas itu. Iapun mulailah menangis tersedu-sedu.

Sekonjong-konjong terasa kepadanja tangan kanannja dipegang dengan kasar oleh tangan jang besar dan kuat dan iapun berteriaklah sekuat-kuatnja „Aduh! tolong!” seperti seseorang jang dipalu.

Dari djauh berbalik bunji gema mendengung-dengung, laksana suara rimba jang kasihan melihat perawan jang malang itu.

Tetapi bagi Medasing teriak serupa itu tak ada gunanja, sebabnja ketika itu ia telah penjamun kembali, penjamun jang tahu akan tenaga dan kekuatan badannja. Perempuan jang ringan itu ditariknja sehingga tertegak dan terus diseretnja terdjadjar-djadjar melalui semak2, kearah pondoknja.

VI

SAMAD berdjalan seorang diri ditengah hutan. Tali keruntung jang lebar terletak pada keningnja, longgar bergerak-gerak, sebab keruntung jang besar itu hampir tak ada isinja. Mukanja menunduk ketanah, tiada menoleh kekiri kekanan dan matanja jang besar terbuka itu memandang, tetapi tak melihat. Hutan besar jang dilaluinja seperti tak ada baginja, sebab pikirannja tak berpisah-pisah dari Saju jang tak dapat dilarikannja.

Sedjak ia melihat Medasing terbangun dari tidurnja, sangatlah ketjewa hatinja. Selama membuka bungkusan dan peti selama memasak makanan, perasaan itu tak sekedjap djuapun meninggalkannja lagi. Ia tak banjak bertjakap-tjakap dengan Medasing dan Sanip dan selalu ditjarinja kerdja, supaja perubahan pekerdjaannja itu djangan kentara kepada mereka.

Mula-mula belumlah putus benar harapannja akan dapat melarikan Saju hari itu djuga, sebab sangkanja Medasing takkan dapat mentjari perawan itu. Tetapi ketika dari djauh kedengaran kepadanja Saju berteriak minta tolong, segera diambilnja keruntung dengan barang perhiasan dan wang jang telah diuntukkan baginja, lalu iapun bertolaklah. Sanip jang tak mengerti melihat perbuatannja itu, menahannja mengadjak ia makan dahulu, sebab nasi telah masak. Tetapi Samad mendjawab mengatakan hari telah hampir petang, ia harus lekas sampai dirumah, sebab dinantikan orang ia harus…entah apa lagi, karena suaranja digumamnja, tidak terang kedengaran. Dan sebelum Sanip dapat berkata lagi, ia telah lenjap diantara pohon-pohon.

Oleh karena gagal maksudnja, ia tak hendak menghadapi Saju. Apakah kata perempuan itu kelak kepadanja, tak menepati djandji dan membiarkan ia ditarik dan diseret oleh penjamun itu? Hatinja jang serong, jang hendak dibajangkannja lurus itu, tjemas akan terbukti keserongannja dan sebab itu ia tiada berani bertemu muka dengan gadis itu, ia takut dikatakan sekongkol dengan kawan penjamun.

Demikianlah sepandjang djalan Samad tak berhenti-henti mentjari akal, bagaimana nanti ia akan menerangkan kepada Saju, apa sebabnja maka ia tiada kembali menemuinja dibawah pohon akan memulangkannja kepada orang tuanja. Ia belum putus asa, perawan tjantik jang telah pertjaja kepadanja itu, tiada akan mudah dilepaskannja. Sekarang ia harus berusaha, supaja gadis itu tetap pertjaja kepadanja.

Sendja hari ia tiba didusun Pulau Pinang. Dari djauh kelihatan kepadanja anaknja jang berdua itu bermain-main dihadapan rumah. Jang bungsu Minam, seorang perempuan ketjil, mentjuil kakaknja menundjukkan laki-laki jang datang menudju mereka. Aming melihat sebentar, tetapi segera mereka berdua terus bermain, tak mempedulikan orang itu. Bukankah laki2 itu sering datang kerumah mereka? Apakah bedanja datangnja sekali ini dengan datangnja senantiasa?

Anak-anak sering amat dalam perasaannja, sangat lekas merasai, ia dihargai orang atau tidak.

Dan dirumah jang ditudjui oleh Samad itu, kanak-kanak itu hanja tahu akan bundanja jang bersama-sama hidup dengan mereka setiap hari, kadang-kadang disawah, tak berapa djauh dari sungai Lematang dan apabila habis pekerdjaan menuai, dirumah mereka jang ketjil. Bunda itulah bagi mereka ibu dan ajah, jang mengasuh, mendjaga dan memberi makan, tempat mereka mentjurahkan sedih dan riang.

Laki-laki jang sering datang berulang itu bagi mereka sesuatu jang kebetulan, jang tak tentu tempatnja dalam lingkungan pikiran dan perasaan mereka.

Mengapa ia datang dan mengapa pula ia pergi, betapa penghidupannja dan apa perhubungannja, sekaliannja amat kabur tergambar dihati mereka. Tetapi dalam pada itu adalah sesuatu perasaan jang melindungi kalbu mereka jang bersih, dan itulah menjebabkan mereka mendjauhi laki-laki jang tidak menarik minat mereka itu.

Samad tak pernah beramah-ramahan dengan anaknja. Dalam pemandangannjapun mereka kebetulan dilahirkan oleh perempuan jang kebetulan mendjadi isterinja.

Dalam penghidupannja sebagai mata-mata penjamun jang beredar dari suatu tempat ketempat jang lain, ia perlu sekali2 berhenti melepaskan lelahnja. Dalam berhenti melepaskan lelahnja ia hendak melepaskan suatu hasrat dan demikianlah ia beristeri.

Ketika Samad naik tangga mendjengukkan kepalanja kedalam rumah ketjil itu, perempuan jang sedang duduk bertenun didalamnja, mengangkat kepala melihat kepadanja.

„Baru datangkah engkau?” keluar dari mulutnja, seperti air mengalir, tak tentu gembira dan ketjewa.

Samad menggumam beberapa perkataan dan ia pergi kesudut meletakkan keruntungnja. Perempuan itu terus djua bekerdja menjudahkan kain, sebab baginja, kedua anaknja harus tjukup pakaiannja.

VII

DITENGAH negeri Pagar Alam ada sebuah rumah jang lebih indah dan kukuh dari rumah sekelilingnja. Dari djalan rumah itu disembunjikan oleh pohon puding merah-kekuningan dan beberapa pohon sauh jang lebat buahnja. Tiba dipekarangannja barulah dapat melihat keserambinja: Tangga jang lebar2 anaknja itu agak terlampau tjuram naik dari bawah. Kiri kanannja ada terali tempat berpegang, jang berukir dan terbuat dari pada kaju jang indah. Demikian djuga terali serambi rumah jang lapang itu.

Pada pagi itu duduk disudut serambi itu bersandar pada dinding seorang perempuan, bertelukung memegang sebuah tasbih. Mulutnja tidak berhenti-henti bergerak membatja-batja dan pada waktu jang tetap antaranja bergerak djarinja memisahkan buah tasbih jang hitam itu. Tetapi pada matanja jang tiada berpisah-pisah memandang kesuatu tudjuan, njatalah, bahwa ia tiada berapa insaf akan perbuatannja.

Sesungguhnja nji Hadji Andun, isteri mendiang saudagar Hadji Sahak sedang memikirkan sesuatu jang sulit.

Telah genaplah sebulan lamanja, sedjak suaminja mati dibunuh penjamun dilembah Lematang pada malam hudjan ribut. Keesokan harinja ia meneruskan perdjalanan ke Pagar Alam bersama-sama kedua anak pedati jang dapat melepaskan dirinja dari bahaja maut, membawa djenazah suaminja. Sehari sesudah itu dapatlah suaminja itu dikuburkan dengan sepertinja dimakam kaum-kerabat dinegeri tempat lahirnja itu.

Sedjak hari itu berhari-hari tak tentu perasaan dan pikirannja nji Hadji Andun oleh kedukaan mengenangkan kehilangan suami dan anak tunggalnja jang ditjintainja.

Tiap-tiap hari ia melihat-lihat dan mendengar-dengar menantikan Saju, seolah-olah ia belum dapat pertjaja, bahwa anaknja itu sesungguhnja telah hilang. Suara orang lalu lintas didjalan sering disangkanja suara anaknja itu dan bergesa-gesa ia pergi keluar hendak menjambutnja. Tak terkata-katalah ketjewanja apabila ternjata kepadanja, bahwa salah pendengarannja.

Oleh karena sangat sungguh ia berharap, sekaliannja terubah menurut kehendak angan-angannja. Perempuan jang datang menudju dari djauh dikatakannja Saju; kadang-kadang ia telah berdiri dan turun kebawah akan menjongsongnja.

Tiap-tiap malam kalau sekalian rumah telah tertutup dan dusun Pagar Alam jang ketjil itu telah mendjadi sunji-senjap, barulah ia masuk kedalam akan merebahkan diri. Ditempat tidur ia amat gelisah membalik-balik, matanja tak hendak terpitjing. Tiap-tiap bunji jang sampai kepadanja didengarnja baik-baik. Seringlah ia duduk ditempat perbaringannja mendengar bunji orang berdjalan ditengah djalan dalam sepi malam itu. Diusahakannja menangkap bunji langkah jang terdengar kepadanja itu satu-persatu. Makin dekat bunji itu makin besarlah minatnja dan telinganjapun dilekatkannja kepada dinding, supaja lebih njata lagi terdengar kepadanja. Kalau bunji itu dekat benar, berdebar-debarlah hatinja dan kadang-kadang ia hendak berdiri menudju kepintu. Tetapi segera datang pula ketjewanja, sebab langkah jang mendekat itu mendjauh pula sampai hilang lenjap dalam kesunjian malam. Dan badannja dibantingkannjalah keatas kasur, tersedu-sedu beberapa lamanja sampai terdengar pula kepadanja jang lain jang menarik minatnja.

Demikianlah berulang-ulang sampai badannja mendjadi letih dan ia tak dapat berpikir dan mengharap lagi; maka tertidurlah ia tiada chabarkan diri sampai waktu subuh. Oleh sebab telah biasa sedjak dari mudanja, terbangunlah ia akan sembahjang, meski bagaimana sekalipun lesu badannja. Dan sedjak sembahjang subuh itu ia tak dapat memintjingkan matanja lagi sampai hari siang. Do’a jang dibatja-batjanja untuk menanti pagi biasanja hanjalah tinggal dibibir, tak meresap kedalam kalbunja.

Demikian djugalah pagi-pagi ini. Tetapi hanjalah badannja sekarang ini kekatjauan hatinja menantikan anaknja kembali itu telah ditambahi pula oleh pajahnja ia memikirkan suatu soal jang sulit, jang baru kemarin datang menambah sesak dadanja.

Waktu ia bersama-sama dengan suami dan anaknja pergi ke Palembang mendjual kerbau dahulu, mereka membawa lebih dari tiga puluh ekor kerbau kepunjaan orang lain dinegeri Pagar Alam dan beberapa dusun sekitarnja. Kerbau itu dititipkan kepada mereka mendjualkannja dan sepertiga dari pada harganja, ialah untuk mereka.

Ketika mereka disamun orang dilembah Lematang, hilanglah sekalian wang, bahkan barang jang mereka bawa dari rumah dan dibeli di Palembangpun djatuh ketangan kawan penjamun itu.

Sebulan lamanja tak seorang djuapun datang meminta harga kerbaunja, sebab segala orang tahu, bahwa Hadji Andun sedang berdukatjita. Tetapi kemarin ia dikundjungi dua tiga orang jang mulai mengangin-anginkan wang jang harus mereka terima. Dikatakannja terus-terang kepada mereka, bahwa wang itu habis dirampas penjamun dan bahwa ia tiada berwang lagi. Mereka disuruhnja datang waktu jang lain, sebab katanja hatinja masih katjau-balau oleh kehilangan suami dan anaknja.

Tetapi sedjak mereka itu pulang, hati nji Hadji Andun bertambah katjau. Sekarang ia harus pula memikirkan betapa djalannja mentjari wang pengganti harga kerbau orang sebanjak itu; sebab lambat laun tentu mesti harus djuga dibajar.

Itulah jang dimenungkannja sambil menggerak-gerakkan bibir, tak insaf apa jang dibatja dan menghitung buah tasbih, tak tentu djumlah jang dihitung.

Hari makin tinggi djua.

Dari dalam datang Sima, seorang perawan ketjil, anak angkatnja, mengadjak ia makan, sebab sadjian telah selesai. Terperandjatlah nji Andun melihat matahari lebih tinggi dan telekung dibadannja belum ditukar, lalu ia masuk berpakaian. Waktu makan bersama-sama dengan anak angkatnja itu tidak banjak katanja; Simapun jang tahu, bahwa nji Hadji Andun masih bersedih hati, tak membuka mulutnja bila tak perlu.

Dalam waktu kesusahan ini sesungguhnja ia mendjadi tangan kanan dirumah, sekaliannja boleh dikatakan terserah kepadanja. Dan dengan tiada setahunnja lambat laun perawan ketjil jang ramping, pandjang mukanja dan agak hitam warnanja itu telah mengisi sebahagian besar tempat jang terluang dalam hati nji Hadji Andun, sedjak suaminja dan Saju tak ada lagi. Meskipun tak banjak katanja, karena tak ada jang terkatakan olehnja, sebab hatinja sendiri sedih oleh kehilangan ajah dan saudara kandungnja, tetapi perbuatannja dan tingkah lakunja dapatlah sekadarnja mendjadi hiburan bagi nji Hadji Andun dalam kedukaannja jang pajah terhibur itu.

Betapa keadaannja agaknja bila gadis ketjil itu tak ada, atau lebih lagi, bila ia mengikut ke Palembang dahulu, sehingga dirampas pula oleh penjamun dari padanja pada malam jang ngeri itu?

Masih ketjil benar, belum tjukup enam tahun usianja, ketika bundanja jang tak banjak mempunjai kaum kerabat meninggal. Besarlah hati ajahnja, jang hilang akal memikirkan apa jang hendak dibuatnja dengan anaknja itu, ketika nji Hadji Andun jang berharap beroleh anak seorang lagi, datang kepadanja meminta anak itu. Ketika itu Saju telah tudjuh tahun usianja; samalah mereka berdua besar seperti dua orang bersaudara jang kasih mengasihi. Dan diminta nji Hadji Andun suami isteripun achirnja tak berapa banjaknja lagi bedanja Sima dengan Saju, anak kandungnja itu.

Setelah habis makan nji Hadji Andun berkata kepada Sima, bahwa ia hendak kerumah Bedul, kakaknja, sebab ada suatu jang perlu. Maka turunlah ia melangkah ketjil-ketjil, bergesa-gesa ditangga jang tjuram itu. Sepandjang djalan ia tiada melihat kekiri kekanan, tiada menjapa-njapa orag, sebab pikirannja tenggelam memikirkan betapa ia akan membajar wang harga kerbau orang jang lebih dari tiga puluh ekor itu.

Tetapi hampir dihadapan tiap-tiap rumah ia disapa orang, sebab dinegeri ketjil itu, siapakah jang tiada kenal kepadanja? Ada jang menanjakan kemana ia hendak pergi pagi-pagi itu, ada jang mengadjak ia singgah dirumahnja sebentar. Sekaliannja lemah lembut dan baik-hati, kadang-kadang terbajang perasaan kasihan jang tulus dalam suara mereka.

Bagi nji Hadji Andun perkataan jang diutjapkan dengan ichlas itu sebagai pisau jang diiriskan pada kalbunja. Ia tak kuasa mendjawab! Ada jang pura-pura tak didengarnja, berdjalan terus tiada menoleh-noleh. Dan dibelakangnja kedengaran kepadanja orang itu berkata perlahan-lahan: „Kasihan melihatnja!”

Utjapan jang perlahan-lahan jang bukan teruntuk bagi telinganja itu, menusuk djiwanja, menginsafkan akan kemalangannja jang tiada berhingga. Ada pula kalanja dipaksanja dirinja menoleh kepada orang jang menjapanja itu dan iapun tersenjum menjeringai melihat kepada orang itu untuk menjembunjikan kesedihan hati jang tak dapat disembunjikan.

Mak Djenariah, sahabat karibnja jang agak tua daripadanja, datang menemuinja didjalan besar.

„Adik dari mana? Marilah singgah dirumah sebentar!”

Sambil berkata itu ia datang mendekati nji Hadji Andun dan lemah-lembut dipegangnja tangan kiri perempuan itu dengan tangan kanannja, sedang tangan kirinja perlahan-lahan menepuk-membelai belakang sahabatnja itu, iba melihat kemalangannja.

„Ah, djanganlah dahulu,” djawab nji Hadji Andun, mendesak suaranja jang parau keluar dari kerongkongannja jang merasa tersumbat. „Aku hendak lekas,” dan utjapan jang sampai tak kedengaran itu menjerupai permohonan jang sangat.

Mak Djenariah melepaskan tangannja dan membiarkannja sahabatnja itu berdjalan terus. Beberapa ia melihat dari belakang kepada badan jang ramping, jang menunduk tergesa-gesa berdjalan dalam bungkusan badju jang biru tua.

„Tak bersuami, tak beranak lagi,” kata hatinja mengerti dan iba-kasihan.

Sepuluh lima belas rumah lagi antaranja nji Hadji Andun berbelok kekiri, sebab disitulah tinggal saudaranja jang hanja seorang itu.

Bedul bukan orang berada, rumah ketjil dan buruk, tidak beruang-ruang: bertangga kaju jang tidak bertanah, beratap daun lalang, berlantai bambu dibelah.

Kepada adiknja itu sedjak dari dahulu ia sangat kasih dan chidmat, bukan semata-mata oleh ia adiknja jang tunggal, tetapi, bahkan sekali oleh karena adiknja jang perempuan itu amat besar pengaruhnja atas dirinja, sebab akalnja lebih pandjang, ketjakapannja lebih besar. Dan meskipun Bedul telah berumah sendiri, dalam beberapa hal hidupnja masih bergantung kepada adiknja jang terhitung orang berada itu.

Sesungguhnja ia mempunjai ladang, tetapi oleh karena tenaganja tak seberapa, hasilnja tak tjukup untuk penghidupannja, meskipun ia hanja berdua dengan isterinja, tiada beranak seorang djuapun.

Ketika nji Hadji Andun tiba dirumah kakaknja itu, Bedul baru hendak pergi keladang besar. Badannja jang ketjil, jang ditutupi pakaian kojak-kojak, telah menjandang keruntung jang berisi makanan tengah hari dan beberapa keperluan jang lain.

„Kakak sudah hendak pergi keladang? Tunggulah sebentar dahulu!” kata nji Hadji Andun, sambil naik tangga jang amat bersahadja.

Melihat adiknja itu Bedul meletakkan keruntung dan duduk pula. Sementara itu nji Hadji Andun telah tiba diatas.

„Petang kemarin beberapa orang datang kepadaku meminta wang harga kerbaunja jang kami djualkan di Palembang dahulu,” katanja tergopoh-gopoh, tetapi terhenti seketika, seakan-akan ada sesuatu jang menjekang dikerongkongannja. Mulutnja bergerak terus keleher meneguk dan sudah itu katanja pula, amat tjepat: „Bagaimanakah aku akan menggantinja, dimanakah aku harus mentjari wang sebanjak itu, apakah jang ada padaku sekarang, betapakah djadiku kesudahannja kelak?”

Dan sambil menangis tersedu-sedu menutup mukanja dengan kedua tangannja, mengeluh ia: „Aduh, alangkah malang nasibku ini! Kakak, tolonglah aku, apa jang harus kuperbuat?”

Bedul tak berhenti-henti mengamat-amati adiknja itu, tak tentu pikirannja dan tak tentu apa jang hendak dikatakannja. Melihat adiknja tiba-tiba seperti orang putus harapan itu, hilang sekali akalnja; gelisah tak tentu apa jang hendak dikerdjakannja, di-pegang2nja dagunja dengan tangannja jang kasar, jang mulai lisut sedikit-sedikit. Hatinja keras hendak mengatakan sesuatu, tetapi makin dikeraskan dan dipaksanja dirinja makin katjau balau pikirannja.

Achirnja dapat djugalah ia mengeluarkan: „Siapakah jang datang kepadamu meminta harga kerbaunja itu?”

Diantara sedu dan tangis jang tertahan-tahan nji Hadji Andun mendjawab, putus2 menjebut beberapa nama orang. Bedul mendengar hati2, seolah-olah nama orang itu akan memberi akal kepadanja menjelesaikan soal jang sulit itu. Tetapi sampai adiknja itu diam dan hanja kedengaran sedu-sedunja, pikiran masih tersumbat djuga.

„Tjobalah pikirkan bagaimana aku dapat mengganti sekaliannja itu. Dimanakah aku harus mentjari wang? Apakah jang ada padaku lagi sekarang ini?”

Setelah habis perkataannja itu, tiba-tiba bertambah kuat sedunnja, laksana datang pula membadai sedih hatinja dari dalam kalbunja.

Dari dapur masuk isteri Bedul, seorang perempuan kurus, berpakaian kumal lebih tua rupanja dari suaminja. Langkahnja perlahan benar diatas lantai jang berderik-derik itu dan ketika dilihatnja iparnja, duduk menangis dihadapan suaminja, lebih perlahan lagi ia surut lenjap kedapur, sebab segan mengusik iparnja jang senantiasa dihormatinja itu.

„Apakah jang ada padaku sekarang jang dapat kupakai untuk pengganti wang mereka? Apakah dajaku perempuan jang lemah, jang tiada dapat berbuat suatu apa?”

Ia tak dapat lagi menahan sedunja dan mulai menggerung, menunduk, menjembunjikan mukanja pada tepi badjunja jang basah oleh air mata.

„Tiga puluh ekor kerbau,”…kata Bedul, tak tentu makna dan maksudnja.

Sedjurus sudah itu diulanginja pula perkataan itu, seolah-olah ditjobanja menginsafkan beberapa banjaknja harga tiga puluh ekor kerbau. Tetapi perbuatan itu tidaklah sedikit djuga membantunja menjelesaikan soal jang muskil itu. Iapun diam pula melihat kepada nji Hadji Andun jang tak kundjung2 reda menangis. Maka makin gelisah duduknja dan makin hilanglah akalnja, oleh karena ia memaksa dirinja berpikir dan mengatakan sesuatu untuk penghibur hati adiknja jang minta pertolongan kepadanja.

Tiba-tiba dengan tiada setahunja terlompat dari mulutnja: „Tetapi rumahmu bukankah…?”

Belum lagi habis perkataannja terperandjatlah ia melihat nji Hadji Andun sekonjong-konjong putjat dan menggigil mendengar perkataan „rumah” itu.

„Rumahku, rumahku!…” katanja beberap akali dan seraja mengangkat mukanja jang basah oleh air mata itu, lebih kuatlah ia menangis.

Sesungguhnja telah lama terbajang-bajang kepadanja, bahwa kesukaran jang mengharu-birukan pikiran dan hatinja itu hanja akan dilenjapkan dengan kesukaran jang lain pula.

Dan mendengar perkataan rumah itu se-akan2 se-konjong2 timbul dengan se-njata2nja dan seganas-ganasnja dimata hatinja, jang selama ini hanja terasa kepadanja dengan tiada bentuk dan rupanja.

Rumahnja jang didiaminja sedjak mulai bersuami! Tempat lahir Saju, anaknja jang hanja seorang itu! Sudahlah suaminja mati dibunuh orang, tidak berdosa! Sudahlah anaknja, darah dagingnja, lenjap dilarikan orang, tak tentu kemana perginja dan betapa keadaannja!

Seumur hidupnja seterusnja ia akan hidup sebatang kara, tertjerai dari sekalian jang rapat kepadanja dan jang ditjintainja dengan seluruh djiwanja!

Besarlah pertjobaan jang menimpa dirinja! Ia takkan dapat hidup berbahagia lagi dan sekarang tempat kenang-kenangan kepada masa jang berbahagia dalam hidupnja itupun tak dapat dipertahankannja.

„Rumahku, rumahku!” katanja pula, menangis hampir-hampir berteriak, seakan-akan ia hendak mempertahankan, menggenggam rumahnja itu dengan segala tenaganja, tak hendak menjerahkannja kepada siapa sekalipun. Sebab dalam hati ketjilnja ia insaf seinsaf-insafnja, bahwa lepas rumahnja dari tangannja akan berarti hilang sekalian kesenangan hidupnja didunia ini, sampai kesisanja dan bekasnja jang penghabisan. Dan dari dasar kalbunja datang nafsu hendak melawan seperti seorang jang lemas terbenam dalam air mengais-ngaiskan tangannja berpegang pada sepotong kaju ketjil jang takkand apat merapungkannja kembali.

„Apakah lagi jang akan tinggal padaku, baiklah sekali orang mengambil njawaku, supaja habis terhenti sekaliannja,” ratap-tangisnja selaku orang jang putus asa melawan sesuatu jang bukan lawannja.

„Kemanakah aku akan pergi? Kakak katakanlah kepadaku! Apakah gunanja aku hidup lagi?”

Melihat adiknja bertambah hebat menangis oleh perkataannja itu, makin hilanglah akal Bedul. Sesak napasnja memikirkan betapa djalan meredakannja.

Beberapa lamanja ia termangu-mangu melihat nji Hadji Andun jang mengangkat dan menunduklah kepalanj sambil menangis tida terhenti-henti.

Tiba-tiba tak tentu sebab dan maksudnja berdirilah Bedul dan pergi kedapur. Maka lapanglah sedjurus hatinja. Didapur ia berdjalan hilir mudik, tak melihat isterinja jang sedang mendjerang air panas; perempuan jang pendiam itupun tak berkata apa-apa, seolah-olah tiada kelihatan kepadanja suaminja itu.

Setelah beberapa lama antaranja didekatinja isterinja dan ditjeritakannja berbisik-bisik kesukaran adiknja itu kepadanja. Isterinja mengangkat air panas jang didjerangkannja itu dan sudah itu pergilah mereka bersama-sama mendekati nji Hadji Andun jang belum djuga berhenti menangis.

Isteri Bedul membelai-belai belakang iparnja jang muda dari padanja itu dan perlahan-lahan katanja: „Apakah jang adik tangiskan? Djika telah demikian tertulis apa jang hendak kita katakan. Sabarlah, siapa tahu, barangkali ada karunia jang teruntuk bagimu dibalik itu. Adik djagalah iman!”

„Pikirlah oleh kakak, apa lagi jang tinggal padaku,” keluh nji Hadji Andun, tiada memperdulikan perkataan jang diutjapkan kepadanja itu.

„Sebenarnja kita malang benar, tetapi apakah jang hendak kita katakan. Baiklah kita menjerah sadja kepada jang lebih kuasa dari kita.”

„Kemanakah aku harus pergi dan siapakah akan menghidupkan aku?”…

Isteri Bedul diam pula sedjurus. Hampir ia mendjawab mengadjak iparnja itu tinggal bersama-sama dengan dia, tetapi segera timbul pikirannja jang mengatakan, bahwa tak patut ia mengutjapkan jang demikian. Masakan nji Hadji Andun jang terhitung orang berada itu akan mungkin datang hidup pada mereka. Bukankah mereka suami isteri senantiasa bergantung kepadanja, hidup atas kasihannja dengan suaminja? Mungkinkah ia sekarang akan bergantung kepada mereka? Sesungguhnja telah banjak pertjobaan jang telah datang menimpa iparnja jang malang itu, tetapi meskipun demikian belum dapat memikirkan, bahwa iparnja itu telah djatuh benar, sehingga sekaliannja telah terbalik.

Lamalah nji Hadji Andun menangis tersedan-sedan, dihadapi oleh orang dua laki-isteri itu. Tetapi mereka tak djua dapat djalan jang lain untuk mengganti harga kerbau orang itu.

Demikianlah tengah hari nji Hadji Andun pulang kerumahnja, tak tentu perasaan, putus asa. Mukanja bakup dan badannja lemah tiada terkata-kata.

Setiba dirumah ia masuk ketempat tidur. Iapun hanjut pula ditarik arus perasan dan pikirannja. Terasa lagi kepadanja pertjeraian jang akan datang, jang tak dapat dielakkan lagi dengan rumah jang telah bertahun-tahun, lebih seumur anaknja tempat kediamannja dengan orang jang ditjintainja. Datang pulalah perasaan keinsafan akan kelemahan, tak dapat berbuat suatu apa, menjajat hatinja jang dalam sebulan sadja banjak, terlampau banjak lukanja.

Dengan tiada setahunja mudjurlah ia tertidur oleh karena amat letih lahir dan batin. Dalam tidut jang njenjak, jang telah berhari-hari tak ditemuinja itu, ia serasa-rasa djatuh kedalam djurang jang amat dalam dan gelap.

Dan sia-sialah tangannja jang lemah itu menggapai-gapai hendak bergantung.

VIII

TANGAN Tusin jang patah dilempar anak pedati pada pertempuran dilembah sungai Lematang lebih dari dua bulan jang telah lalu telah sembuh sesembuh-sembuhnja dan sekarang ia telah dapat hidup seperti biasa bersama-sama dengan temannja jang lain.

Sebaliknja Amat jang luka beberapa liang dibelakangnja kena tikam, bertambah hebat penjakitnja. Telah bermatjam-matjam obat jang dapat ditjari dihutan itu, ditjobakan untuk menjembuhkannja, tetapi sia-sia belaka. Lukanja bertambah membusuk dan mendalam.

Demikianlah pada suatu hari ketika penjamun-penjamun itu bangun didapatinja temannja itu tiada bernjawa lagi. Tak seorang djuapun melihat ia memutuskan njawa, tetapi tak seorang djuapun diantara mereka jang heran atau sedih melihat ia telah mati itu. Bahkan dalam hal ini bagi mereka sesungguhnja lebih baik lagi temannja itu mati dari pada lebih lama mendjadi beban mereka.

Majat diangkat mereka bersama-sama kesuatu djurang, djauh dihilir air mantjur disana diletakkan mereka sarang djiwa manusia itu dengan tiada memakai upatjara sedikit djuapun. Kepada binatang rimba, ketjil dan besar, terserah sekarang menjelesaikan pekerdjaan itu.

Maka habislah perhubungan penjamun-penjamun itu dengan Amat. Tetapi dengan mengantarkan majatnja ketempat jang djauh itu, belumlah habis segala pekerdjaan jang berhubungan dengan kedjadian itu.

Amat telah mati, sarang djiwanja tak berguna lagi dan tak usah dipedulikan. Tiap-tiap jang tampak itu tak ada jang dapat mengusik mereka. Atas dunia jang dapat dipegang, dilihat dan didengar mereka radja; radja seluas-luasnja, karena mereka pertjaja, bahwa tak adalah jang dapat mengalahkan mereka.

Tetapi dibalik dunia jang dapat dipegang, dilihat dan didengar itu ada dunia jang lain, jang tak dapat dipegang, tak dapat dilihat dan tak dapat pula didengar. Dunia itu hidup dikepala dan dihati mereka. Dan sebaliknja dari dunia jang pertama, mereka takut, tak dapat bertentangan dengan machluk dunia jang kedua, jang hidup dalam pikiran dan kepertjajaan.

Dan oleh karena itulah mereka tidak berani lagi tinggal dipondok itu.

Demikianlah pagi-pagi, sehari sesudah itu ketiga berteman itu berdjalan mentjari tempat jang baik untuk mendirikan pondok jang baru.

Ketika itu tinggallah Saju seorang dirinja dipondok, termenung sambil mendjuntaikan kaki ditangga.

Dalam waktu jang achir ini agak tenang sedikit hatinja. Perasaan duka dan putus-asa jang selama ini memenuhi kalbunja telah berkurang dan sebagai gantinja telah tiba tawakal, sehingga berkuranglah penderitaannja.

Asal ia tak diusik oleh penjamun-penjamun itu, untuk sementara ia takkan berusaha melarikan dirinja, sebab ia tahu, bahwa hal itu akan sia-sia belaka ditengah hutan jang tak tentu berapa djauhnja dari dunia jang didiami manusia.

Dan menilik kepada kelakuan mereka sedjak hari jang pertama ia tiba dihutan itu, tiada usahlah ia takut. Medasing jang melarikannja dahulu djarang mendekatinja, usahkan menegurnja. Rupanja ada sesuatu jang senantiasa memenuhi hatinja dengan perasaan hormat terhadap kepada machluk jang lemah itu.

Sesungguhnja ada sesuatu ada perawan itu jang menjebabkan ia terpelihara dari marabahaja. Ketika ia tertidur dipangkal kaju dahulu telah terbukti, bahwa ada kelebihannja atas Medasing, sehingga sesaat radja penjamun itu tertegun melihatnja, tak tentu apa jang hendak diperbuatnja. Demikian djugalah dengan Sanip dan Tusin.

Hanja Samad jang telah dua kali datang berulang mengundjungi penjamun-penjamun ditengah rimba itu agak lain rupanja terhadap perawan itu. Oleh karena hidupnja setiap hari ditengah manusia ditempat jang lain, oleh karena ia lebih tahu tentang seluk-beluk penghidupan manusia dari penghuni rimba jang boleh dikatakan besar ditengah pohon-pohon itu, tak dapatlah tumbuh perasaan chidmat dalam hatinja, meski bagaimana sekalipun tinggi gengsi perempuan itu.

Dan diantara mereka sekalian Samadlah jang ditakuti Saju.

Mula-mula ia bertemu dengan dia dibawah pohon jang rindang dahulu sesungguhnja dialah jang diharapkannja akan melepaskan dirinja dari sarang penjamun itu. Untung dan nasibnja hendak diserahkanja kepadanja, sebab waktu itu tiadalah sedikit tersangka kepadanja, bahwa iapun sebahagian dari kawan penjamun itu.

Tak putus-putus harapannja menantikan ia datang kembali akan melarikannja dari genggaman penjamun itu kerumah ajah bundanja. Tetapi letihlah ia berharap-harap, sehingga achirnja ia tertidur, tiada chabarkan diri dibawah pohon jang besar itu. Dan ketika ia terbangun, melihat Medasing dekatnja menghela dan menjeretnja dengan tiada menaruh iba-kasihan, bangkitlah dari dalam kalbunja perasaan bentji dan dendam jang tak ada bandingnja. Tetapi entah apa sebabnja tiada terhadap kepada Medasing. Hatinja jang ketjewa memberontak hendak membalas dan dalam kegusarannja jang bertjampur putus-asa itu, tertudjulah dendam dan bentjinja kepada orang jang membangkitkan, tetapi tiada memenuhi harapan dalam kalbunja.

Dan berhari-hari sesudah itu insaflah ia akan kelemahan hatinja, waktu ia meminta pertolongan, sehingga dibiarkannja ia membelai-belai rambutnja. Senantiasa apabila ia teringat kepadanja masih terasalah olehnja tangannja jang kedji, ngeri melekap pada rambutnja.

Pasti kejakinan didalam hatinja, bahwa Samad telah menipunja dan menundjukkan tempatnja ditengah rimba kepada kepala penjamun itu.

Kejakinan itu bertambahlah pasti ketika beberapa minggu sesudah itu Samad datang keponodk beberapa hari lamanja membawa makanan jang lezat-lezat: ia sebahagian dari kawan penjamun dan tak boleh dipertjajai sedikit djuapun.

Waktu itu pulalah bangkit disisi bentji dan dendam didalam hatinja perasaan takut. Samad senantiasa melihat kepadanja; lagi pula njata benar ia selalu mentjari-tjari djalan akan bertjakap, akan beramah-ramahan dengan dia. Senjumnja jang gandjil dan pandangan matanja jang tadjam, sedjak dari semula tak dipertjajainja dan kalau Medasing dengan Sanip dan Tusin pergi, sehingga kebetulan tinggal mereka berdua sadja dipondok, amatlah ketjut hatinja.

Sesungguhnjalah benar sangkaannja itu. Pada suatu hari waktu ia datang membersihkan badannja datanglah sekonjong-konjong laki-laki jang menakutkannja itu dari belukar ditepi anak air menudju kepadanja. Saat itu tak terkata-kata terperandjatnja dan dengan sengadja berteriaklah ia. Tetapi suaranja hilang ditengah rimba sunji seperti suara burung kuau, tiada berbalas, lenjap mendjadi satu dengan kesunjian. Dengan segala tenaganja dikeraskannja hatinja dan ditjobanja menentangnja, tetapi ia terpaksa menundukkan mukanja.

Mulut laki-laki itu menggerenjot-tersenjum, seraja berkata dengan suara lemah-lembut: „Mengapakah engaku terkedjut? Aku takkan mengusikmu. Engkau tak usah takut kepadaku, sebab aku tiada seperti orang jang lain itu.”

Ia terus mentjuji muka sambil menunduk keair, putjat tiada berdarah oleh ketakutan. Sementara itu laki-laki itu memandang kepadanja dengan tiada memisah-misahkan mata sekedjap djuapun.

„Apakah gerangan engkau takutkan?” katanja pula melihat perawan itu putjat dan tiada berani lagi melihat kepadanja. „Aku tiada seperti orang jang lain itu, tiada tahu akan iba kasihan…”

Sedjurus diam pula ia dan sudah itu sambungnja dengan suara jang halus: „Alangkah lekas engkau berubah! Bukankah dahulu aku berdjanjdi akan menolongmu, membawa engkau kepada orang tuamu?”

Ketika itu bertambah takut Saju dan bergesa-gesa dibersihkannja mukanja.

„Waktu itu aku tak dapat melarikanmu, sebab mereka telahbangun! Tidak, aku tidak lupa akan djandjiku. Selama masih ada djiwaku, aku pasti akan menolongmu…… Mengapakah engkau diam djuga, katakanlah apa salahku kepadamu…”

Dalam pada itu selesailah Saju membersihkan dirinja dan segera ia naik kedarat, tergopoh-gopoh menudju kepondok. Seketika masih terdengar kepadanja suara manis dibuat-buat memanggil namanja, menjuruh ia menanti. Tetapi tiada diindahkannja sedikit djuapun dan ketika ia tiba dipondok baru senang hatinja, seolah-olah ia terlepas dari bahaja maut.

Tidak, tidak ia pertjaja kepada laki-lakai dan hendaknja djanganlah ia bersua lagi saat jang serupa itu.

Waktu ia duduk termenung diatas tangga itu, maka entah ap sebabnja, ia teringat akan harta-benda jang dapat disamun djabalan itu dari ajah budanja; bahwa wang sebahagian besar telah dibelandjakan, bahwa gelang dan barang-barang emas jang lain telah dibawa Samad ke Lahat akan didjual.

Apakah lagi jang tinggal? Iapun berdirilah masuk kedalam. Tetapi tiba ditempat tidur penjamun-penjamun itu terperandjatlah ia melihat kaju lantai pondok itu merah bekas darah.

Tiba-tiba dinginlah badannja dan mukanja putih tiada berdarah sedikit djuapun. Saat itu teringat ia akan teman penjamun jang baru mati. Rasa-rasa tampak kepadanja mukanja jang kebiru-biruan dan badannja jang kaku, ketika ia diantarkan oleh Medasing, Sanip dan Tusin kehutan dihilir sungai. Iapun ngerilah memikirkan hal itu dan hampir ia rebah oleh tiada bergaja lagi.

Sekonjong-konjong dalam ketakutan jang tiada berhingga itu terdengarlah kepadanja tangga berderak-derak. Ketika itu menggigillah seluruh badannja jang dingin itu, sebab pada sangkanja tentulah hantu si mati jang naik mengundjunginnja itu. Ditjobanja berteriak minta tolong, tetapi suaranja tak keluar, seakan-akan dikerongkongannja ada sesuatu jang tersempal. Ia tiada berani berbalik melihat ketangga, sebab takut akan memandang hantu jang ngeri, jang terbajang-bajang dipikirannja.

Tiba-tiba seakan-akan hendak mengatasi ketakutannja, kedengaran kepadanja: „Mengapakah engkau Saju terpantjang selaku kaku ini?”

Sekedjap tertahan djantungnja berdebar dan darahnja terhenti laksana mendjadi beku seluruh tubuhnja. Tetapi waktu itu djuga dari belakangnja kedengaran pula kepadanja: „Hai Saju, apa djuga kerdjamu itu?”

Iapun membelokkan mukanja dan tampaklah kepadanja Samad naik kepondok.

„Mengapakah engkau seperti orang ketakutan ini?” kata Samad sebab sangkanja Saju takut melihat kedatangannja. „Takutkah engkau melihat aku? Aku tidak akan mengusikmu!”

Jang penghabisan ini dikatakannja dengan senjum dan suara lemah-lembut, seolah-olah hendak memikat hati perawan itu.

Saju belum djua mendjawab, belum djua terdjawab pertanjaan itu. Kepalanja ditundukkannja kelantai mentjoba meredakan hatinja sereda-redanja dan mengumpulkan pikirannja kembali. Perlahan-lahan teringatlah ia akan pertemuannja dengan laki-laki itu disungai beberapa hari jang telah lalu dan bangkit pula dihatinja perasaan bentji dan tjemas sebagai sediakala.

Apakah maknanja ia datang sekonjong-konjong itu? Tentu ada djua maksudnja jang kurang baik!

„Adikku, siapakah mengusikmu dan mengapakah engkau serupa ini?” udjar Samad pula dengan suara penuh kasih-mesra.

Saju mual mendengar ia menjebut „adikku” itu.

Diberanikannja hatinja dan perlahan-lahan ditentangnja laki-laki itu dengan pandangan jang angkara. Tetapi Samad rupanja tiada mengindahkan pandangan matanja itu, bahkan iapun melihat kepada Saju dengan se-njata2nja, sehingga kesudahannja perawan itu terpaksa pula menundukkan kepalanja.

„Aduh, adikku Saju, mengapa serupa itu benar? Djawab perkataan kakakmu ini! Aku sengadja datang kemari akan menolongmu, akan melepaskanmu dari tangan djahanam-djahanam penjamun itu. Sedih hatiku melihat keadaan adikku serupa ini diperbuat oleh orang jang ganas-ganas itu. Ibu bapak adikku telah disamun dan disiksa mereka, apakah jang adikku nanti djua disarang penjamun jang tiada berhati dan berdjantung manusia sedikit djuapun? Sedih hatiku memikirkannja dan sekarang aku hendak menolong adikku, maupun dengan njawaku sekalipun, asal adikku terlepas dari genggaman manusia jang buas-buas itu. Djadi djanganlah takut lagi akan daku, karena maksudku baik semata-mata.”

Sedjurus sebenarnja terkena hati Saju oleh perkataannja itu, tetapi bukan oleh manis bunjinja, semata-mata oleh karena seketika bangkit bentjinja kepada penjamun-penjamun itu oleh ingatan kepada perbuatan mereka terhadap kepada ajah bundanja dan dirinja sendiri.

Tetapi oleh karena sedjak semula ada sesuatu dihatinja jang mengatakan kepadanja, bahwa laki-laki itu tak boleh dipertjajainja, maka dengan tiada setahunnja terpikirlah kepadanja akan kechianatan dan kedjahatan perbuatan Samad itu terhadap kepada teman-temannja. Apakah gunanja ia membongkar-bongkar sekaliannja itu, apakah maksudnja ia memburukkan penjamun-penjamun itu pada hal mereka itu temannja?

Maka insaflah ia rendah dan ketjil perbuatan Samad mendjahatkan kawannja sendiri dan keinsafan itu membesarkan dan menguatkan kejakinan jang telah lama ada padanja, jakni, bahwa ia tidak boleh pertjaja kepada laki-laki jang bertjakap manis itu.

Sementara ia memikirkan sekaliannja itu, diamlah ia tiada bergerak-gerak menundukkan kepalanja. Beberapa langkah dimukanja berdiri Samad memandang kepadanja, seakan-akan hendak ditelannja bulat-bulat perawan jang sutji dan molek itu.

Setelah beberapa lamanja ia menanti, tiada djua beroleh djawab, berkatalah pula ia dengan suara jang lemah lembut: „Mengapakah engkau masih diam djua? Tidakkah engkau pertjaja akan perkataanku? Demi Allah aku akan menolongmu, melepaskan dari sarang penjamun ini. Nanti engkau kubawa kembali kepada ajah bundamu. Sebenarnja kasihan aku melihatmu dihutan ini, ditengah manusia jang buas-buas selaku binatang. Pertjajalah, aku takkan berbuat djahat atau aniaja atas dirimu!”

Saju diam djua, tiada bergerak-gerak mendengarkan sekalian perkataannja itu, seakan-akan suara jang lemah-lembut itu tiba dibatu jang keras, jang tiada berperasaan sedikit djuapun.

Setelah ditunggunja sedjurus lamanja, berkatalah ia giat dan gairah, laksana kesal hatinja perkataannja tiada didjawab: „Saju, adikku, tiada engkau pertjaja akan perkataanku? Belumkah tjukup lagi sumpahku itu bagimu? Demi Allah kataku, takkan selamat hidupku kalau aku berdusta!”

Sebagai seseorang jang dari ketjilnja diadjar mengerdjakan dan menghormati suruhan agama, pedih hati perawan itu mendengar laki-laki itu bersumpah, sebab telah pasti dihatinja, bahwa bagaimana sekalipun, perkataan Samad tiada boleh dipertjaja, bahwa sekaliannja itu, sampai kesumpahnja, tak lain dari pada penutup sesuatu jang rendah, jang tak dikatakannja.

Samad heran memikirkan pekerti perawan itu. Kemarin setelah mengantarkan majat Amat dikatakannja kepada teman-temannja, bahwa ia kembali ke Lahat akan mendengar-dengar orang jang akan lalu didaerah itu. Tetapi sengadja ia bersembunji dihutan akan kembali bertemu membudjuk Saju, sebab ia tahu, bahwa hari ini penjamun bertiga itu akan membuat pondok baru ditempat jang lain.

Sekedjap terkilat dihatinja hendak melarikan gadis itu dengan kekerasan. Siapakah akan tahu ia melarikannja dan siapakah jang akan menghalangi ia mengerdjakan itu dalam hutan jang sunji senjap?

Dengan tiada sengadja ia telah terlangkah selangkah kemuka mendekati perawan itu. Tetapi segera ia tertegak pula, sebab Saju mengangkat kepalanja sambil berkata: „Ah, tunggulah dahulu, sekarang aku belum dapat memutuskannja, karena pikiranku penuh sesak, belum tentu sedikit djuapun.”

Setelah habis katanja, gadis itupun surut beberapa langkah, sehingga ia tiada berapa djaraknja lagi dari dinding.

Mendengar perkataan itu berubahlah pikiran Samad. Sekarang terasa kepadanja, bahwa kalau dipakainja kekerasan, tentu banjak djuga kesukaran jang akan ditemuinja. Baiklah ia sabar menanti dahulu, bukan satu itu sadja djalan jang boleh ditempuhnja akan mendapat gadis jang tjantik itu. Segera ia berkata pula dengan suaranja sebagai sediakalah: „Nah sudahlah, aku akan meneruskan perjalananku ke Lahat. Tjobalah tenangkan hatimu dan pikirlah baik-baik kataku tadi.”

Setelah memandang sekali lagi kepada wadjah perawan jang tjantik itu, iapun turunlah perlahan-lahan dari pondok dan terus berdjalan hilang-lenjap diantara pohon-pohon kaju jang rapat.

Dengan tiada memandang kekiri kekanan perawan itu melangkah pula kepintu. Dekat tangga ia berhenti sebentar melihat kepohon-pohon kaju dan kearah anak air dan tidak berapa lama antaranja iapun turun kebawah.

Alangkah riangnja terasa kepadanja dirinja ketika itu? Darah setumpuk ditengah-tengah pondok itu tiada lagi teringat kepadanja. Udara pagi jang sedjuk dan djernih amat segar rasanja masuk kedalam dadanja.

Matahari telah agak tinggi dan sinarnja jang riang permai telah menembusi susunan daun jang tebal. Ketika itu terasa kepadanja, seolah-olah kesunjian hutan jang sunji itu sengadja diturunkan Allah baginja akan mengobati hatinja jang luka.

Iapun melangkah riang-riangan keanak air akan mandi.

Pada pagi itu ialah pertama kali indah sebenar-benarnja, indah terasa kepadanja seluruh hutan itu. Beberapa lamanja ia berdiri ditepi anak air melihat kepada air jang berbusa-busa dan berbuih-buih mengalir mengelilingi batu sambil menderu perlahan-lahan, seakan-akan suatu njanji jang tiada berhingga merdunja.

Maka ditanggalkannja badjunja dan dengan kain sehingga diatas dada ia melangkah perlahan-lahan keatas beberapa buah batu ditepi sungai ketjil itu. Tjahaja matahari bermain dibahu dan dilehernja jang kuning keputih-putihan dan ketika itu sesungguhnja ia menjerupai peri atau dewi jang turun bermain-main, bersiram ditengah hutan jang sunji senjap pada anak air jang djernih.

Sedjurus ditjetjahkannja udjung kakinja kedalam air, tetapi segera ditariknja kembali: seluruh badannja terkedjut merasai air jang dingin itu.

Iapun memandang keair dan mulutnja jang ketjil dan indah itu bergerak, tersenjum amat manisnja. Lupa ia akan sekalian kemalangannja, lupa ia akan ajah bundanja jang pada waktu itu tak tentu tempat dan keadaannja. Ketika itu riang dan riang seluruh tubuh dan hatinja oleh perasaan segera akan segar dan sedjuk dalam air jang djernih itu.

Sekonjong-konjong, seolah-olah pada saat itu tiba-tiba datang menggelora diseluruh badannja perasaan gembira, melompatlah ia kedalam air dan barang jang tjair dan bening itu meretjik keputih-putihan kesegenap pendjuru. Batu-batu ditepi sungai ketjil itu basah oleh riak jang menggulung bertalu-talu. Sedjurus lamanja katjau berombak-ombak anak air ketjil itu laksana diusik oleh sesuatu jang besar, buas dan ganas. Sedjurus jang pendek! Sebab segera ia kembali sebagaimana biasa. Dan perawan jang ketjil molek itupun merendamkan tubuhnja jang muda-remadja dalam air jang sedjuk itu.

Dan ketika ia beberapa lama sesudah itu pulang kepondok dengan kainnja jang basah, tiada terkira girang dan besar hatinja, seolah-olah tiap detik terasa kepadanja darahnja mengalir didalam badannja, berombak-ombak, tak dapat ditahan seperti anak air, jang baru menjegarkan badannja.

Setelah ditukarnja kainnja, diambilnjalah beberapa helai kain jang lain, dibelitkannja dibadannja, sehingga menutup seluruh tubuhnja sebagai telekung. Iapun sembahjanglah untuk pertama kali dihutan, disarang penjamun itu.

Sebagai seorang anak jang taat beribadat dari ketjil, segala kewadjiban agama itu telah mendjadi darah dagingnja. Dan sekarangpun dalam perasingannja ditengah hutan, djauh dari kaum kerabatnja dan segala manusia, taklah ia hendak meninggalkan pekerdjaan jang dianggapnja kewadjiban jang pertama.

Pada penghabisan sembahjang bermohonlah ia kehadirat Allah seru sekalian alam, moga-moga lekaslah ia terlepas dari azab sengasara dan terpeliharalah ia hendaknja dari segala bentjana dan malapetaka. Pun tak lupa ia minta kepada Tuhan jang kasih sajang akan hamabnja rahmat dan bahagia atas bundanja jang ditjintainja.

Dan setelah selesai, sekaliannja itu, maka turunlah ia dari pondok. Sekarang reda dan aman hatinja, tak usah ia tjemas karena ia pasti akan mendapat perlindungan dari sesuatu jang gaib dan maha kuasa.

Sekeliling pondok ditjarinja ranting dan dionggokannja pada suatu tempat jang kering. Disanalah dihidupkannja api dan tiada berapa lama antaranja membubunglah asap alamat ia sedang memasak.

Hari itu pertama kali ia menjediakan makanan bagi kawan penjamun dan dengan hal jang demikian mulailah ia menjelakan dirinja dipenghidupan radja-radja rimba jang kukuh dan kuasa, buas dan ganas, jang sangat berlawanan dengan badannja jang lemah dan pekertinja jang lembut.

Persaudaraan dan kekariban antara kekuasaan dengan kelemahan antara kekerasan dengan kelembutan, antara penjamun dengan mangsanja…

IX

MEREKA telah pindah kepondok baru, jang terletak dibahagian lain rimba jang lebat itu.

Penghidupan penjamun-penjamun itu telah kembali pula sebagaimana biasa. Siang hari sering mereka ber-djalan2 dan sekali2 sampailah mereka dekat kampung atau dusun. Tetapi tak pernahlah mereka datang kedekat dusun tempat orang kenal kepada mereka. Biasanja mereka pergi ketempat jang djauh2 dan disana ditjoba mereka berkenalan dengan orang, kalau2 dapat mereka tahu siapa jang kaja didusun itu, siapa jang akan berdjalan ketempat lain membawa wang dan harta benda jang banjak.

Petang-petang, kalau mereka pulang dari perdjalanan serupa itu, sering mereka memabwa sajur-sajuran jang dapat dipetik didjalan. Kadang-kadang mereka membawa ajam jang dapat ditjuri atau kambing jang ditangkap ditengah padang. Sekaliannja itu dimasak oleh Saju bagi mereka. Ia tahu, bahwa sekaliannja diperoleh dengan djalan jang tidak halal, tetapi apakah dajanja, supaja djangan mati kelaparan?

Dalam pada itu iapun tak pernah lupa waktu sembahjangnja bermohon kepada Tuhan serta sekalian alam mengampunkan sekalian dosanja; sebagai seorang perempuan jang lemah tak dapatlah ia berbuat lain dari pada itu.

Dalam ber-bulan2 itu makin lama makin biasalah terasa kepadanja penghidupan ditengah radja2 hutan dan kesunjian itu. Lambat laun sesungguhnja dengan tiada diketahuinja dianggapnja dirinja sebahagian dari kawan penjamun itu.

Pagi-pagi ia memasak air panas dan menjediakan kopi. Apabila Medasing, Sanip dan Tusin berdjalan, ia mentjahari kaju api dan disusunnja baik-baik dibawah pondok. Ada pula masanja ia menangkap ikan dianak air; sehelai kain djarang jang terbawa oleh penjamun itu dahulu, ketika mereka menjamun ajah bundanja, dibuatnja tangguk.

Setiap hari ada sadja daun-daun jang dapat ditjaharinja dirimba untuk makanan mereka. Tengah hari dan petang biasanja ia masak nasi dan menggulai.

Dalam pada itu hati-perempuannja jang suka akan keindahan senantiasa menggerakkan tangannja memperbaiki pondok tempat kediaman mereka.

Penjamun-penjamun itu telah mendirikannja kukuh dan kuat dari ramuan jang sekukuh dan sekuat-kuatnja terdapat dirimba itu. Dan ia dengan tangannja jang halus berusaha sedapat-dapatnja melenjapkan kekasaran jang terlekat pada segala perbuatan laki2 jang kasar2 itu. Ditarah dan dihaluskannja sekalian ramuan jang tertarah dan terhaluskan oleh tenaga perempuan. Ikatan dan simpulan jang menjekang mata seboleh-bolehnja dilenjapkannja; sedikit2 ditambah dan dikuranginja, sehingga pondok tempat tidur dan berhenti melepaskan lelah itu agak menjerupai ponodk tempat kediaman manusia jang mempunjai perasaan tentang indah dan buruk.

Sementara itu bagi dirinja sendiri didalam pondok itu dibuatnja sebuah ruang, agar ia terpisah dari laki-laki bertiga itu.

Oleh pekerdjaan jang tak habis-habis, jang tiap-tiap hari tetap memakai tenaga dan minatnja agak terlengahlah hatinja.

Tambahan pula pekerti kawan penjamun jang tertib dan chidmat terhadap kepadanja, tak sedikit djuapun membangkitkan dukatjitanja atau menjukarkan hidupnja dan demikianlah dalam persaingannja ditengah manusia jang ganas dan kedjam itu, tak terasa benar keapdanja, kemalangannja. Hanja sekali-sekali ia teringat akan ajah bundanja, tetapi ingatan jang datang mendjelma kedalam kalbunja itu dapat djuga didesaknja keluar dengan kejakinannja jang pasti dan bertambah lama bertambah pasti, bahwa sekali tak boleh tidak ia akan kembali kedusun tempat lahirnja.

Demikian hari bertukar hari, minggu mendjelang bulan dan penghidupan dipergaulan ketjil jang gandjil ditengah rimba jang sunji-senjap itu tak banjak berubah.

X

SAMAD telah lama tiada membudjuk Saju lagi. Beberapa lama sesudah pindah kepondok baru itu dahulu ada sekali lagi ia bertjakap dengan Saju mengadjak perawan itu lari dari pondok tempat penjamun itu. Tetapi ketika itu Saju tak djuga memberi djawab jang pasti kepadanja. Sekedjap timbul pula dihatinja niat hendak melarikan gadis itu dengan kekerasan, tetapi maksud itu dapat djuga dipadamkannja. Sebab kalau terlangsung demikian pastilah selama-lamanja ia akan mendjadi seterunja dan itupun sedapat-dapatnja hendak didjaganja.

Maka sedjak itulah rupanja ia berputar haluan. Ia takkan membudjuk perawan itu lagi lari bersama-sama meninggalkan hutan itu; pun ingatan akan kekerasan dilenjapkannja.

Tetapi dalam pada itu ia tak sekali-kali berputus-asa. Berhari-hari ia memikirkan betapa djalannja, agar maksudnja itu dapat tertjapai dengan tiada membangkitkan sangsi dan tjenderung gadis itu sedikit djuapun. Hendaknja dapat perawan jang tjantik itu terserah kepadanja sebagai pertemuan untung, sebagai sesuatu jang telah sepatutnja demikian oleh karena tak dapat dielakkan. Muslihatnja jang kedji tak boleh diketahui oleh Saju, sebab dalam keinsjafan akan kerendahan budinja insaf ia seinsaf-insafnja, bahwa ia harus berusaha supaja gadis itu tiada dapat melihat kedasar sanubarinja seperti dasar sanubarinja itu sebenar-benarnja.

Sebagai suatu gerak terasa kepadanja, bahwa perawan jang sutji itu mempunjai ukuran sendiri tentang segala sesuatu dan oleh karena lemahnja tempat ia berdiri ia tiada berani memperlihatkan ukurannja jang hanja teruntuk bagi dirinja sendiri itu.

Ular berbelit-belit dan menggelung ditempat jang gelap, menjembunjikan belangnja pada sinar matahari jang tadjam!

Seperti sediakala sampai beberapa hari ia pergi ke Lahat atau ke Pagar Alam akan mendengar orang jang hendak berangkat membawa wang dan harta.

Pada suatu hari ia pergi pula ke Lahat. Disana didengarnja berita, bahwa dua hari lagi akan bertolak beberapa buah gerobak ke Pagar Alam membawa makanan, alat sendjata dan keperluan jang lain. Gerobak itu akan diiringkan oleh sepasukan serdadu, sebab sekalian jang dibawanja ialah untuk keperluan militer didarah Pasemah.

Mendengar chabar itu terpikir sekali kepadanja sebuah akal jang pasti segera akan menjampaikan tjita-tjita jang telah lama diidamkannja itu. Setelah ditimbangnja masak-masak, pergilah ia keesokan harinja bergesa-gesa kerimba tempat pondok itu. Sehari-harian itu tiada ber-henti2 ia berdjalan dan pada petang hari sampai pulalah ia pada kawan-kawannja. Ditjeritakannjalah, bahwa keesokan harinja akan bertolak dari Lahat seorang Pasemah jang kaja dirantau orang dan sekarang hendak pulang ketempat lahirnja bersua dengan sanak saudaranja. Tentu ia banjak membawa wang dan harta benda kaum keluarganja.

Waktu itu sesungguhnja telah lama kawan penjamun itu tiada beroleh sesuatu. Rampasan jang terachir telah habis, sehingga telah sepatutnja sekarang mereka pergi merampok pula.

Ketika itu djuga diputuskan akan berangkat pergi kelembah Endikat mengadang orang kaja itu.

Tetapi siapakah jang harus pergi? Dua daripada mereka telah mati dan sekarang hanja tinggal mereka bertiga sadja lagi. Medasing jang telah masak-mangsai menjamun tentu atak takut atau gentar sedikit djuapun, tetapi meskipun demikian lengang djua terasa kepadanja akan merampok bertiga dan sebab itu keluarlah dari mulutnja dengan tiada sengadja: „Engkau Samad, tentu pergi bersama-sama dengan kami.”

Sebentar Samad terperandjat mendengar perkataan Medasing itu, sebab tak pernah terpikir kepadanja, bahwa ia akan harus mengikut pula pergi menjamun. Maka sekedjap jang amat pendeknja tjemaslah ia, tetapi oleh karena ia tak hendak memperlihatkan ketjut hatinja dan oleh karena ketika itu ia tak dapat mentjari alasan untuk mengelakkan diri, berkatalah ia tegas-tepat: „Ja, tentu, aku akan mengikut pula.”

XI

MATAHARI baru terpuruk disebelah Barat dan gelap baru terentang, sehingga belumlah rapat benar; disana-sini masih kelihatan bekas tjahaja siang menjerupai kekabur-kaburan.

Maka turunlah Medasing, Tusin dan Sanip diiringkan oleh Samad dari pondok ditengah hutan itu, lengkap dengan sendjata masing-masing.

Saju segera menutup pondok. Meskipun telah beberapa kali ia tinggal seorang diri ditengah rimba jang lebat itum takutnja belum djuga lenjap-lenjap. Pintu dan djendela dikuntjinja erat-erat dan iapun pergilah merebahkan dirinja ditempat tidur jang teruntuk baginja.

Dalam gelap gelita malam penjamun itu berdjalan dengan tiada bertjakap-tjakap, seolah-olah bisu keempatnja. Samad berdjalan dibelakang sekali, sebab ia belum pernah menurut pergi menjamun sekali djuapun.

Sedjak meninggalkan pondok hatinja berdebar-debar, tak senang sedikit djuapun dan bertambah lama berdjalan bertambah ketjutnja. Langkahnja sedikitpun tiada pasti seperti teman-temannja jang biasa bermalam-malam mengembara ditengah rimba. Sekali-sekali ia terlanggar kaju atau ranting dan iapun hampir djatuh.

Sementara itu ia tiada berhenti-henti berpikir mentjari akal akan melepaskan dirinja dari bahaja jang mengantjamnja. Dimatanja selalu terbajang-bajang perdjuangan jang segera akan terlangsung dengan serdadu jang lengkap alat-sendjata. Lambat laun bangkitlah sesalnja atas maksudnja jang djahat akan membinasakan teman-temannja, sebab sekarang njata kepadanja, bahwa lubang jang digalinja untuk orang lain itu mendjadi tempat ia turut terkubur.

Maka setelah beberapa lamanja berdjalan timbullah dihatinja sesuatu pikiran jang akan dapat melepaskan dirinja dari bahaja jang telah ditjarinja sendiri itu. Kalau sudah dekat tempat jang hendak diserang kelak ia akan tinggal dibelakang dan kalau telah berlangsung perdjuangan dengan serdadu-serdadu itu ia akan mendjauhkan dirinja. Biarlah orang bertiga itu terus berkelahi, biarlah mereka mati dimusnahkan bedil, asal ia terpelihara. Bukankah pada hakekatnja itulah maksudnja jang sebenar-benarnja? Bukankah dari semula ditjarinja djalan akan membinasakan mereka bertiga, supaja ia dapat berkuasa atas Saju, perawan jang djelita itu?

Pikiran itu menguatkan badannja kembali. Lenjaplah tjemasnja dan harapan segera akan berkuasa atas perawan jang telah lama diidamkannja itu, menggirangkan hatinja pula.

Sementara itu mereka terus djuga berdjalan; kadang-kadang mereka mendaki bukit tetapi ada pula masanja mereka menurun lembah jang dalam, melalui anak sungai jang deras mengalir diantara batu jang besar-besar.

Sekali mereka berhenti ditepi air hendak mengeringkan peluh sambil mendinginkan badan pada air jang sedjuk. Setelah badan mereka segar kembali, teruslah mereka berdjalan tiada bertjakap-tjakap sepatah djuapun.

Dengan hal jang demikian lambat laun dekatlah mereka pada tempat jang ditudjui. Dimuka membentang ngarai jang dalam dan gelap, meskipun dilangit bulan bertjahaja-tjahaja amat indahnja. Itulah lembah Endikat jang harus dilalui sekalian orang jang hendak pergi ketanah Pasemah. Djauh dibawah didalam lembah jang ngerti itu mengalir sungai Endikat jang ketjil dan amat derasnja. Diatas anak air pegunungan jang menderu-deru itu lalu djalan raja jang menghubungkan negeri Lahat dan dataran tinggi Pasemah. Ditepi djalan dibawah sebatang pohon jang rindang dan amat besar, berdiri sebuah rumah penginapan.

Penjamun berempat itu mulailah turun perlahan-lahan kedalam lembah diantara pohon-pohon jang rapat. Medasing, Sanip dan Tusin berdjalan dimuka, gagah berani sebagai sediakala. Tetapi Samad mulai tjemas, sebab ia takut maksudnja hendak melarikan dirinja itu sia-sia kelak.

Dalam pada itu mereka telah sampai dekat pohon kaju jang besar dan rindang itu. Bulan menjembunjikan dirinja dibalik gumpal awan, laksana tak hendak mempersaksikan pekerdjaan penjamun-penjamun itu.

Tiba dibalik pohon mereka berhenti sedjurus memandang kepada pondok dan gerobak jang tersusun tiada berapa djauh dari padanja. Tak terkata-kata Medasing, Tusin dan Sanip melihat gerobak jang banjak itu, sebab sangkanja mereka pastilah tidak boleh tidak orang jang dibawanja kaja raja. Lekas mereka turun kebalik pohon. Medasing akan naik berdua dengan Tusin keatas dan Samad dengan Sanip akan menjelesaikan apa jang menghalangi dibawah.

Hal itu sangat membesarkan hati Samad, sebab kalau demikian tentulah Medasing dan Tusin jang pertama sekali akan mendjadi korban. Itulah sebenarnja jang ditjita-tjitakannja, sebab pada Sanip jang muda itu ia tiada takut sedikit djuapun.

Tetapi ketika mereka hendak menjerang teratak itu terlangsung suatu jang selama Medasing mendjadi penjamun tak pernah terdjadi.

Ia terpidjak sebuah ranting kaju jang besar. Kaju itu patah berderak-derak dan saat itu djuga kedengaran bunji langkah orang diatas pondok dituruti oleh suara jang kasar beberapa kali. Penjamun bertiga itu terkedjut dan Samad jang dari semula berdiri melihat dari belakang pohon kaju jang besar, melarikan dirinja.

Seorang laki-laki jang kukuh, jang tak tidur, mendjaga teman-temannja, mengeluarkan kepalanja dari pondok seraja menjiapkan sendjata apinja untuk memusnahkan binatang atau manusia jang telah berani mendekati tempat perhentian mereka.

Maka tampaklah kepadanja tiada berapa djauh dari pondok itu bajang-bajang manusia. Dengan tiada berpikir pandjang lagi diangkatnja senapannja dan diatjukannja kepada bajang-bajang jang diantara kelihatan dengan tiada itu.

Ditengah-tengah hutan jang sunji senjap itu berdentim letusan, terdengar berpal-pal djauhnja, mengedjutkan sekalian binatang rimba. Sekedjap jang tak terkira pendeknja terang dimuka pondok oleh api jang keluar dari mulut sendjata itu. Tetapi setelah habis letusan dan setelah lenjap tjahaja jang laksana kilat itu, maka malam jang kelam itu bertambah kelam rupanja oleh asap. Serdadu itupun taklah dapat melihat jang ditembaknja.

Mendengar bunji senapang sekonjong-konjong seperti hendak memetjahkan anak telinga, berpentjarlah, mereka berempat masing-masing menurut arahnja sendiri dengan tak memikirkan teman-temannja.

Ketika itu djuga Tusin merasa sesuatu jang gandjil, jang seumur hidupnja belum pernah terasa kepadanja. Rusuknja silu, seolah-olah diraih oleh sesuatu jang gandjil dan sementara itu ia terus djua berlari, bertambah kuat, se-akan2 perasaan silu itu suatu tjambuk jang mengerahkan ia lekas berlari.

Tiba-tiba dimuka sebuah tebing gelaplah penglihatan dan iapun berhentilah sedjurus, meraba rusuknja. Darah mentjoret keluar, tak tertahan-tahan. Njatalah luka dan keinsafan akan itu melemahkan badannja. Iapun rebahlah dan terguling-guling kebawah tebing jang gelap.

Samad jang lebih dahulu lari dari teman-temannja segera pula berhenti, ketika njata kepadanja, bahwa ia takkan mungkin lagi kena tembak, karena dilindungi oleh daun jang rapat. Maka perlahan-lahan berbaliklah ia akan melihat akibat tembakan itu.

Sementara itu bulan jang tadi menjembunjikan dirinja telah keluar kembali dari balik mega jang tebal dilangit dan dengan sinarnja jang pernah bertjahajalah ia diseluruh hutan jang sunji senjap itu. Dari dalam bajang-bajang semak tempat ia bersembunji itu tampaklah kepadanja beberapa orang laki-laki keluar dari pondok dan gerobak, lengkap dengan senapang dan kelewang, melihat kekiri dan kekanan mentjari orang jang telah mengusik kesenangan mereka. Ketika itu teranglah kepada Samad, bahwa maksudnja tiada sampai, letusan senapang itu tak membinasakan seorangpun. Bukankah kalau ada jang kena segera majatnja djatuh ketangan serdadu dan anak gerobak itu?

Maka sangatlah ketjewa hatinja! Apakah jang akan dikerdjakannja sekarang? Kalau ia mentjari teman-temannja pula, pastilah mereka akan marah kepadanja, karena sekarang telah kelihatan rahasianja, telah njata sekalian maksudnja jang djahat. Hatinja jang busuk menjebabkan timbul sangkaan, bahwa kepastian dihatinja, bahwa Medasing, Tusin dan Sanip tahu akan maksudnja jang tidak baik itu. Oleh sebab itu tak berani ia memperlihatkan maksudnja pada mereka.

Tetapi Medasing jang menjembunjikan dirinja dengan tak mengetahui dimana temannja jang lain, heran mendengar bunji letusan jang sangat keras itu. Letusan demikian tak mungkin bunji senapang jang biasa didengarnja. Tetapi ia ingat pula akan kata Samad, bahwa orang jang hendak mereka samun itu sangat kaja. Dan mungkinkah ia mempunjai senapang demikian? Amat pajahlah ia memikirkan hal itu dan perlahan-lahan iapun mendekat kembali kepondok jang diterangi oleh tjahaja bulan jang baru keluar dari balik mega jang tebal. Dalam bajang-bajang pohon kaju jang besar itu tampak kepadanja beberapa orang serdadu jang memegang senapang serta beberapa orang anak pedati. Ketika itu bertambahlah herannja. Alangkah kajanja orang itu, sehingga ia diiringkan oleh serdadu? Dalam pada itu geramlah ia memikirkan tak dapat menjampaikan maksudnja oleh karena serdadu jang lengkap bersendjata itu.

Dalam memikirkan sekaliannja itu ia berdjalan djua dan sekonjong-konjong bertemulah ia dengan Sanip jang rupanja belum lenjap terkedjutnja mendengar letusan jang hebat itu. Beberapa lamanja mereka tak bertjakap-tjakap, masing-masing memandang penuh keheranan. Dalam gelap gulita itu berbisiklah Medasing: „Engkau lihatlah serdadu itu? Manakah orangnja?”

Sanip mengangkat bahunja sambil menggelengkan kepalanja seraja berkata: „Entah!”

Orang berdua itupun berdjalan perlahan-lahan diantara semak-semak mentjahari Samad dan Tusin. Tetapi meskipun bagaimana mereka mentjahari, tak djua bersua, sehingga achirnja, telah parak siang, mereka pulang berdua kepondoknja.

Sedjak masa itu tak pernahlah mereka bertemu dengan Samad dan Tusin lagi. Kadang-kadang terbit sangkaan dalam hati mereka bahwa kedua-duanja telah mati, kena tembak letusan dengan majat mereka? Dan lagi pula bukanlah terang benar kelihatan, bahwa Samad dahulu sekali melarikan dirinja?

Mereka ta insaf sedikit djuapun, bahwa bukan perkara mati, bukan perkara kena tembak, jang menjebabkan Samad tak pernah kembali lagi kepondok itu. Adalah sesuatu jang tersembunji bagi mereka, oleh karena dalam penghidupan mereka jang gandjil terasing dari manusia itu, tak dapatlah mereka mengadji dan menjelami batin sesamanja, jang lebih banjak relung dan tjelahnja dari kalbu mereka, radja rimba jang gagah perkasa.

XII

DIUDJUNG sebelah barat dusun Pagar Alam rumah bertambah djarang. Kebun jang mengelilingi tiap-tiap rumah bertambah luas, dan rumahnjapun makin ketjil, makin menjerupai pondok diladang.

Dimana-mana pohon kopi jang baru setinggi pinggang manusia amat indah naiknja. Diantara daun hidjau-tua jang lebar-lebar dan rapat, teronggok bunga jang putih-halus, menjebarkan bau harum-manis kesegenap pendjuru. Disana-sini diantra daun jang rapat tersusun itu telah mulai kelihatan putik jang mula-mula, hidjau-muda diapit oleh bunga jang laju.

Djauh sedikit lagi dari kebun kopi jang subur-subur itu membentang rimba, mula-mula menjerupai semak jang rendah, tetapi makin lama makin tinggi dan rapat pohonnja. Pada permulaan rimba itu berdiri sebuah pondok ketjil, dikeliling oleh batang ubi kaju setinggi lutut, kubis jang baru bertunas dan anak kopi jang baru dua helai daunnja.

Dalam pondok jang ketjil itulah diam nji Hadji Andun, isteri mendiang Hadji Sahak jang semasa hidupnja masuk orang jang terpandang didusun Pagar Alam.

Benarlah jang ditjemas-tjemaskannja itu tak dapat dielakkannja lagi!

Tak ada lagi djalan baginja untuk menolong dirinja. Rumahnja telah didjualkannja untuk mengganti wang harga tiga puluh ekor kerbau orang jang lenjap ditangannja, dirampas penjamun jang tiada menaruh iba-kasihan. Harta bendanja jang lainpun harus dilepaskannja, oleh karena wang harga rumah itu tak tjukup untuk mengganti sekaliannja itu.

Dan sekarang ia diam diudjung dusun, tak berharta-bermilik, kehilangan anak dan suami, dengan hati jang remuk.

Kakaknja Bedul suami isteri mengadjak ia diam bersama-sama dengan mereka dalam rumah mereka jang ketjil.

Ketika itu tak sekedjap djuapun ia sangsi: ia tak dapat hidup bergantung pada kakaknja jang dahulu hidup atas kemurahan hatinja. Dalam kemalangannja tiada berhingga itu, sekedjap masih bersinar djuga dalam hatinja perasaan akan harga dirinja.

Tetapi bukanlah ia hanja tak hendak diam pada kakaknja itu sadja; adjakan kerabatnja jang lain serta sahabatnja jang banjak berutang budi kepadanja ditolaknja belaka.

Dia jang selama ini disegani dan dihormati orang, tak dapat hidup dari pada iba-kasihan! Dan sebab itu dimintanja kepada Bedul menolong membuatkan baginja sebuah pondok djauh diudjung dusun terpentjil dari sekalian kerabat dan kenalannja.

Kesanalah ia pindah bersama-sama dengan Sima, anak angkatnja jang amat setia kepadanja itu, tak usah dilihat dan dikasihani oleh siapa sekalian.

Mereka berdua beranak bekerdja penuh kegembiraan, supaja djangan bergantung kepada orang lain: Dalam sinar perasaan akan harga diri sendiri itu, sesungguhnja beberapa lamanja perempuan jang malam itu dapat tenaganja jang dahulu kembali. Bersama-sama dengan Sima berhari-hari ia merambah dan menebas, tak tahu pajah atau letih. Tunggal digali dan tanah dipangkur; kekuatan mereka menjamai kekuatan laki-laki. Segera tiba waktu bertanam; sebahagian dari tanah sekitar pondok itu mereka tanami dengan ubi kaju dan kubis dan sebahagia lagi dengan kopi.

Sekalian pekerdjaan jang berat telah selesai, mereka dapatlah melepaskan lelah menantikan usaha mereka berbuah.

Tetapi ketika itulah nji Hadji Andun tertulak kembali kedalam djurang jang ngeri tempat ia sedjak beberapa lama terrempas. Njatalah, bahwa kegiatan jang timbul oleh karena ia tak hendak hidup dari pada belas kasihan orang itu tak dapat membangkitkan tenaga jang kekal.

Waktu ia berhenti bekerdja menantikan tanamannja besar mulailah ia diharu kembali oleh pikirannja.

Tiap-tiap hari ia duduk dimuka pintu pondok ketjil itu memegang djahitan. Dalam pekerdjaan jang sentosa dan tak banjak memakai tenaga dan minat itu, perlahan-lahan bangkit dan mengembang kembali kesedihan jang telah terdesak didalam djiwanja oleh kegembiraan bekerdja untuk membebaskan hidupnja dari bantuan siapa sekalipun. Makin sehari makin terlepas ia dari pesona keangkuhan hatinja.

Waktu mendjahit itu dengan tiada diketahui tangannja bertambah lama bertambah lena. Dengan tiada diketahuinja makin terpisah hatinja dari djahitannja, sehingga pada suatu hari terhentilah ia dalam bekerdja itu; matanja memandang, tak bergerak-gerak ketempat jang amat djauh, melalui semak dan hutan ketepi langit. Tak suatu apa djuapun jang kelihatan kepadanja!

Mula-mula kabur tapi bertambah njata, terasa kepadanja kemalangan dirinja kembali. Seperti bajang-bajang dalam tjahaja jang kusam timbul dihadapannja ingatan kepada suaminja dan anaknja, amat djauh rasanja. Tetapi telah bangkit sekali kenang-kenangan itu tak dapat dilenjapkan lagi dan teruslah ia terbajang-bajang dalam kalbunja bertambah terang dan menjenak.

Tiap-tiap hari kembali pula ingatan itu, garis dan tjoraknja makin njata dan pasti.

Perempuan jang malang itu telah tenggelam pula dalam lautan kenang-kenangannja sendiri. Berhari-hari ia termenung memegang djahitan ditangan; tiap-tiap hari ia teringat akan suaminja jang dibunuh orang, amat kedjamnja; tiada putus-putus datang mendesaknja pertanjaan, apakah djadinja Saju, anaknja jang amat disajanginja itu?

Maka lambat laun habislah kegembiraannja, badannja letih lesu sepandjang hari. Djahitannja dibengkalaikannja dan dimana ia duduk termenung sekali.

Tiap-tiap hari berdjam-djam lamanja ia melihat kesuatu tempat, tiada bergerak-gerak menurutkan angan-angannja. Matanja jang tadjam dan dalam itu mendjadi keputih-putihan dan pandangannja tak tentu maknanja. Ia amat sedikit bertjakap-tjakap dan apabila Sima bertanja sesuatu kepadanja, terkedjutlah ia melihat sebagai orang jang keheranan.

Malam hari ditempat tidur amat pajah ia memitjingkan mata. Saju tak lenjap-lenjap lagi dari angan-angannja: Terlihat-lihat kepadanja masa ketjil anaknja jang amat ditjintai itu! Terasa lagi kepadanja ia memangkunja, ketika ia masih hidup berbahagia bersama-sama dengan suaminja pada waktu permulaan perkawinan mereka! Sekali-sekali seakan-akan terdengar kepadanja suara Saju jang halus dan merdu memanggilnja. Dan apabila letih djaga itu, maka tertidurlah ia selaku orang mati oleh keletihan batin jang tiada berhingga.

Demikianlah berhari-hari dan bertambah lama bertambah hebatlah penjakit didalam kalbunja itu.

Sekalian perubahan bunda angkatnja itu tiada luput kepada Sima. Bermatjam-matjam daja-upaja akan membesarkan hati orang jang dikasihinja itu. Diadjaknja ia bertjakap-tjakap agar pikirannja terpaling dari pada jang menjusahkan hatinja. Tetapi usahanja itu tak pernah berhasil; apa sekalipun diutjapkannja tiada menelap membangkitkan minat nji Hadji Andun dan meski bagaimana sekalipun gembira ia berkata-kata, achirnja ia terpaksa terdiam menghadapi patng batu jang tiada dapat digerakkan.

Pelbagai matjam makanan jang mungkin dibuatnja disadjikannja, tetapi nji Hadji Andun tak pernah bangkit seleranja: suapnja tetap sebagai orang jang djidjik menghadapi makanan.

Pun beberapa orang dukun telah dipanggilnja untuk mengobati hati bundanja itu, tetapi itupun tiada berhasil.

Hari terus bertukar hari dan perubahan batin perempuan jang malang itu makin sehari mengesan pada badan dan air mukanja. Ia bertambah kurus, wadjahnja putjat dan matanja seolah-olah ditutup oleh katja jang kabur. Kesehatannjapun bertambah kurang: sendi tulangnja sakit-sakit dan sekali-sekali keluar dari mulutnja batuk jang berat dan dalam, mengguntjang dadanja jang kosong dan lisut.

Ada kalanja ia tidak tertegakkan badannja dan sehari-harian terbaringlah ia ditempat tidurnja dalam pondok.

Lain dari pada perubahan badannja mulai agak njata pula kelihatan perubahan pikirannja. Sedang lahirnja ia bertambah lama bertambah lemah, dalam kalbunja sekalian jang terbajang-bajang dalam angan-angannja itu makin terang pasti. Wadjah anaknja dan kelakuan serta perbuatannja setiap hari, sekaliannja seolah-olah nampak kepadanja dan ada kalanja terasa benar olehnja ia hidup seperti dahulu dirumahnja sendiri dengan suami dan anaknja itu. Dalam kesadaran jang demikian sering ia berkata-kata dengan dirinja sendiri, dan baharulah ia insaf akan dirinja apabila Sima menegurnja: maka mengutjaplah ia beberapa kali. Tetapi tak berapa lama antaranja ia telah lanjut pula dalam arus angan-angannja jang tak dapat dilawannja lagi itu.

Ibadatnja jang dahulu tak pernah tinggal, makin terabai dan demikian pulalah lenjap tempat bergantungnja jang achir sekali. Bertambah lama bertambah dalam ia terbenam dalam lumpur kenang-kenangannja, jang mematikan segala harapannja, menjumbat pikirannja, melemahkan badannja dan menjesakkan dadanja.

XIII

SUNJI bertambah sunji dalam pondok tempat penjamun itu, mereka jang dahulu berlima sekarang hanja tinggal berdua lagi.

Pada suatu hari Medasing dan Sanip pergi berburu beberapa djauh, masing-masing menjandang tombak dan pada pinggang mereka terbuai-buai parang dalam sarung kajunja.

Saju tinggal sendiri dipondok. Dalam waktu jang achir ini perasaannja bertambah lapang. Pertama-tama orang jang tak dipertjajainja jang telah beberapa kali mengadjak ia lari, tak pernah datang2 lagi. Tetapi lain dari pada itu didalam sanubarinja ada suatu perasaan jang senantiasa menggembirakan hatinja. Sekalian pekerdjaan dikerdjakannja dengan riang dan suka, malahan sekali-kali, kalau ia sedang seorang diri, keluar dari mulutnja suara perlahan-lahan, menjanjikan lagu jang teringat kepadanja dari masa ketjilnja.

Dalam waktu jang achir ini agak sering pula ia teringat akan ajah bundanja, tetapi meskipun demikian hatinja tak sedih, sebab ingatannja itu amatlah djauh bedanja dari dahulu; bukan pertjeraian dengan orang jang ditjintainja itu jang nampak kepadanja, tetapi mukanja terbajang-bajang pertemuan jang menurut kejakinannja jang pasti, segera akan mendjelma.

Kedua penjamun jang pergi berburu itupun pagi itu sangat girang. Dalam perdjalanan mereka diantara semak-semak jang masih basah oleh embun tak putus-putus mereka berolok-olok, bersenda-gurau, seakan-akan tjahaja matahari jang baru naik disebelah Timur diantara pohon-pohon hutan terus-menerus bersinar kedalam hati mereka.

Setelah beberapa lama berdjalan tiada berhenti-hentinja tibalah mereka disuatu tempat jang agak lapang. Pohon kaju jang besar-besar berkuak dan diantaranja tumbuh lalang, disana-sini disela oleh tumbuh-tumbuhan rendah jang lain. Djauh sedikit lagi bertemu pula pohon-pohon itu dan diantara kumpulan pohon kedua belah pihaknja itu terluang kosong enam tudjuh langkah lebarnja, laksana suatu gerbang jang kiri-kanannja dipagari oleh batang kaju jang hidjau permai. Dari gerbang itu dapatlah orang melihat terus ketanah jang berbukit-bukit, sedjauh-djauh mata memandang penuh ditumbuhi oleh lalang muda jang tiada terkata-kata indahnja.

Rupanja dekat gerbang itu terhentilah rimba-belukar, disambut oleh padang lalang jang tiada terhingga lebarnja dari bukit terus kebukit jang lain.

Pada malam hari sekalian penduduk rimba itu berkumpul dipadang lalang. Rusa dan kidjang pergi makan putjuk-putjuk jang lazat rasanja dan harimau pergi kesana untuk mentjahari kidjang jang pergi mengenjangkan perutnja. Dan pada siang hari penunggu rimba itu pulang kerimba melalui gerbang itu untuk menjembunjikan diri sampai matahari terbenam.

Medasing dan Sanip beberapa lamanja berdiri dibawah sepohon kaju ditepi tanah lapang ketjil jang dilingkungi oleh pohon-pohon itu.

Semalam rupanja hari hudjan, sebab disana-sini pada tempat jang ditumbuhi oleh lalang, tanah kelihatan masih basah dan lunak. Tiap-tiap jang demikian diamat-amati oleh orang berdua itu, sebab mereka mentjari-mentjari djedjak rusa atau kidjang.

Beberapa lamanja mereka berdjalan pula menunduk ketanah. Sekonjong-konjong berhentilah Sanip mengamat-amati beberapa garis jang tak djauh dari kakinja. Tampaklah kepadanja beberapa djedjak dan sambil menundjuk berbisiklah ia kepada Medasing: „Lihatlah nenek, si tua.”

Setelah beberapa lamanja mereka melihat bekas kaki binatang jang buas itu, teruslah mereka berdjalan, tak putus-putus memandang ketanah.

Sepuluh lima bela langkah dari tempat itu mereka berhenti pula, sebab oleh Medasing kelihatan djedjak jang telah lama ditjarinja. Ditanah itu teranglah nampak bekas belah kuku binatang dan melihat kepada besarnja pastilah kejakinan mereka, bahwa djedjak itu djedjak rusa. Bekas kaki itu sekaliannja menudju kehutan diantara pohon kaju jang tak ditumbuhi suatu apapun, sehingga amat mudah mereka menurutnja.

Kadang-kadang djalan jang ditempuh mereka itu sempit dan dahan dan daun kaju tak berapa tingginja dari tanah. Ada pula masanja djalan itu lapang, sehingga mereka senang lalu, se-olah2 didjalan jang sengadja dibuat untuk manusia.

Demikian orang berdua itu berdjalan perlahan-lahan, senantiasa melihat ketanah dengan tiada bertjakap-tjakap. Djedjak binatang jang dituruti mereka itu tak putus2 menudju ketanah rimba jang makin banjak turun naiknja: ada ketikanja mereka lalu ditepi djurang dan ada pula waktunja menurun benar kedalam lembah atau mendaki keatas bukit.

Setelah beberapa lamanja tibalah orang berdua itu pada tempat jang berumput-rumput. Djedjak itu sekonjong-konjong hilang. Sebagai orang jang sering berburu dan paham akan pekerti tiap-tiap binatang, tahulah mereka, bahwa tempat rusa itu tentu tak berapa djauh dari sana. Sebab apa bila rusa itu dekat pada tempat ia bersembunji, biasanja melompatlah ia beberapa kali, sehingga manusia atau binatang jang menurutnja kehilangan djedjak.

Medasing dan Sanip surut beberapa langkah memandang kesekelilingnja. Empat lima puluh langkah dari pada mereka tampak kepada mereka semak jang rapat. Menurut dugaan mereka tak dapat tidak rusa jang ditjari itu menjembunjikan dirinja ditempat itu. Maka sedjurus diamlah mereka melihat dari mana angin bertiup, sebabnja untuk mendekati tempat persembunjian rusa itu mereka tak boleh datang dari arah angin. Kalau binatang itu tertjium bau manusia segera ia akan larai sebelum dapat didekati.

Segera njatalah kepada mereka, bahwa tempat mereka berdiri, itu telah benarlah. Perlahan-lahan, sambil membungkuk-bungkuki merekapun madju kemuka seraja mengangkat tombak, siap akan melemparkannja. Maka mereka jang tak berpisah-pisah dari semak jang tiada berapa djauh lagi diantaranja itu, bersinar-sinar.

Setelah dekat orang berdua itupun bertjerailah, Medasing pergi kesebelah kiri dan Sanip kesebelah kanan. Masing-masing memandang ketengah-tengah semak itu diantara tjelah daun beberapa perdu jang amat rapat.

Sekonjong-konjong berdengung udara, dituruti oleh bunji sesuatu jang keras tiba ditanah dan pada saat itu djuga keluar dari belukar jang rapat itu seekor rusa jang besar, tanduknja bertjabang-tjabang, melompat berlari amat tjepatnja.

Dari luar semak itu tampak kepada Medasing binatang itu mengangkat kepalanja hendak lari. Rupanja, meskipun bagaimana perlahannja mendekat, kedengaran djuga kepadanja sehingga ia hendak melarikan diri. Tetapi Medasing tak menunggu sedikit djuapun lagi, dilemparkannja tombaknja ke arah binatang jang telah bersiap itu…… Tetapi malang, tombak itu tak tepat menudjui jang dikehendakinja, hanja menjisir dikulit perutnja dan sebagai kilat melompatlah rusa itu keluar berlari diantara pohon-pohon.

Sanip tak sempat lagi menombakkan lembingnja; oleh tjepatnja binatang itu melompat keluar ia terkedjut sedjurus, sehingga tak sempat memakai sendjatanja.

Orang berdua itupun berlarilah sekuat-kuatnja mengedjar rusa itu, Sanip dengan tombak dan Medasing hanja dengan parangnja jang tergantung disisinja sebelah kiri.

Oleh karena tanduknja jang rangga, rusa itu tak dapat berlari sekuat-kuatnja dalam hutan itu, sehingga orang berdua itu tak dapat djauh ketinggalan dibelakangnja. Beberapa lamanja mereka berlomba-lomba mengedjarnja, makin lama berlari makin dekatlah mereka; rupanja rusa itu amat pajah melarikan dirinja, sebab tanduknja jang bertjabang-tjabang itu tiada berhenti-henti tersangkut.

Pada suatu saat telah dekat benar Medasing dan Sanip pada rusa itu. Kedua-duanja amat gembira dan girang, rasa-rasa binatang liar itu telah ditangan mereka. Seorangpun tak memikirkan bahaja atau apa sekalipun. Tetapi sekonjong-konjong ketika Sanip mengatjukan tombaknja, nampaklah kepadanja rusa itu lenjap kebawah diantara semak jang rapat. Melihat itu sangatlah heran hatinja dan ditjobanja menahan larinja, tetapi…sia-sia, sebab oleh kepertjajaannja ia tak dapat berhenti lagi dan…turut pula terdjerumus kedalam djurang jang dalam, diturut oleh Medasing.

Sedjurus kedengaran suara mereka berteriak dan bunji mereka terdjerumus disemak didalam djurang itu. Sudah itu kembali pula sunji senjap dikeliling mereka.

Medasing jang mula-mula tak tahu apa jang terdjadi atas dirinja, mentjoba dengan segala tenaganja akan mengangkat badannja dan ketika itu terasalah kepalanja sakit jang tiada berhingga pada tangannja. Rupanja oleh djatuh itu patah siku kanannja dan oleh kesakitan itu baharulah ia insaf akan apa jang terdjadi atas dirinja. Sedjurus jang pendek gelap pemandangannja dan badannjapun hampir pula rebah kembali ketanah, tetapi pada saat itu djuga geram hatinja, bangkit kebuasan penjamunnja dan dengan melondjak terduduk pulalah ia. Tangannja jang sakit itu ditarikkannja dan ditjobanja meluruskannja, tetapi meski bagaimana sekalipun diadunja gerahamnja dan dikeraskannja lehernja, sakit jang dideritanja itu lebih keras dan buas dari hatinja jang tak tahu iba-kasihan, tak tahu sakit silu. Dalam perdjuangan hatinja jang keras dengan kesakitan pertama kalilah ia seumur hidupnja mengaduh.

Beberapa lamanja ia tiada bergerak-gerak, melawan kesakitan sikunja jang sampai terus kesumsumnja. Lambat laun teranglah pemandangannja; makin lama makin njata kepadanja apa jang terdjadi atas dirinja. Iapun memandanglah perlahan-lahan kesekelilingnja dan dengan tiada disengadjakannja kelihatan kepadanja disisi kirinja Sanip tak bergerak-gerak. Tombaknja jang tadjam itu menembusi dadanja dan sementara itu tak putus-putus darah mengalir dari belakangnja, tempat tombak itu keluar dari badannja.

Mula-mula ia tak dapat ia pertjaja akan apa jang terdjadi atas diri temannja itu; disangkanja bahwa sekaliannja itu penglihatan matanja belaka, disebabkan oleh tangannja jang sakit. Maka digosoknjalah matanja dengan tangan kirinja beberapa kali, tetapi meskipun demikian pemandangannja itu tiada berubah.

Ketika itu lupa ia akan tangannja jang patah itu; matanja tak dipisah-pisahkannja dari temannja.

Perlahan-lahan digerakkannja badannja ia menghadap kepada Sanip. Sekarang pertjajalah ia akan matanja dan apa jang dilihatnja. Rupanja waktu djatuhnja tadi, oleh sesuatu hal jang tak dapat dikira-kira, tombak jang dipegangnja itu terbelok, sehingga matanja menghadap keatas menjambut badannja jang berat, sehingga terus-menerus melalui djantungnja.

Medasing mengulurkan tangan kirinja kepada temannja itu dan ditjobanja menolakkannja, supaja ia menghadap kepadanja. Mula-mula usahanja itu sia-sia, tetapi setelah ia berkuat sedikit berbaliklah Sanip dan ketika itu tampaklah kepadanja, bahwa matanja telah kabur, tak bersinar lagi, Sanip telah mati.

Sedjurus lamanja Medasing terpekur, tak bergerak-gerak sedikit djuapun. Ketika itulah sebenarnja pertama kali ia heran melihat majat manusia. Dan dengan tiada diketahuinja pada saat itu menjelip suatu perasaan kedalam kalbunja jang selama ini keras mati sebagai batu. Dalam kesunjian alam jang djernih itu terasa kepadanja dengan tiada insaf sedikit djuapun, betapa repas dan rapuhnja hidup manusia. Bukankah sedjurus jang telah lalu temannja itu masih melompat dan berlari, giat dan gembira, laksana hidup didunia ini tak sudah-sudahnja. Dan sekarang badannja jang riang dan ringan itu telah kaku dan keras, tak bergerak-gerak lagi selama-lamanja.

Sesuatu berubah dalam hatinja, laksana tasik jang teduh dibalik gunung pada suatu ketika beriak-riak oleh angin jang bertiup dari tjelah-tjelah batu dan tebing jang tinggi-tinggi. Dan riak-riak jang lemah lembut itu tiba dibatu hatinja, seolah-olah gelas jang keras tetapi bening sekonjong-konjong lembab dan kabur oleh uap jang tak tentu dari mana tibanja.

Selama ini mati itu baginja sesuatu jang biasa, jang tak ada gandjilnja, sehingga tiap-tiap kali ia membunuh orang itu tak pernah terasa kepadanja ngeri atau sedih sedikit djuapun. Tetapi sekali ini lain halnja. Kepadanja tampak, bahwa mati itu menghentikan, memutuskan sesuatu kehidupan jang riang dan gembira, jang bertahun-tahun hidup bersama-sama dengan dia, keinsafan inilah membangunkan dihati sanubarinja perasaan jang belum pernah dirasainja.

Dalam tepekur itu sekonjong-konjong ia terkedjut karena tangannja mendenjut, sangat sakit, seolah-olah akan putus lakunja ditarik orang. Dan…iapun ingat pula akan keadaannja. Perasaan jang sajup-sajup terasa itu hilang melajang diangkasa bertambah lama bertambah djauh, ditiup oleh angin jang deras.

Maka terpikirlah kepadanja, bahwa tak ada gunanja lagi ia tinggal lama-lama ditempat itu. Sanip telah berpulang dan ia takkan hidup lagi…

Dengan hal jang demikian memandanglah ia keatas tebing jang beberapa kali manusia tingginja. Ketika itu ia ingat segala jang dikerdjakannja sebelum terdjadi malapetaka itu dan iapun berpalinglah mentjahari rusa jang membawanja kedalam djurang itu. Maka tampaklah kepadanja dimukanja pohon-pohon kaju jang ketjil berkuak, menundjukkan tempat lalu binatang hutan itu, tak tentu kemana perginja.

Ingatan kepada rusa itu segera hilang dan ketika itu terpikirlah kepadanja, betapa djalannja akan naik keatas akan pulang kepondok. Iapun memandanglah kepada tebing jang tiada berapa djauh dari padanja itu. Dengan tangan kirinja ia berpegang pada serumpun ketjil jang tumbuh ditepinja tetapi ketika ia mengangkat tangan kanannja hendak memegang rumpun jang lain agar dapat terus memandjat keatas ketika itulah terasa kepadanja sakit tiada berhingga. Iapun surut pula beberapa langkah dan dengan hal jang demikian njatalah kepadanja, bahwa dengan djalan serupa itu tak mungkin ia dapat keluar dari djurang jang dalam itu.

Maka memandanglah pula ia kesekelilingnja dan disebelah kiri tampak kepadanja pohon-pohon itu kurang rapat. Dengan tak berpikir pandjang lagi ia berdjalan kedjurusan itu. Beberapa lamanja ia tiba ditepi anak air ketjil jang berbatu-batu dan mengalir amat derasnja. Sedjurus ia berhenti disana membersihkan badannja dan sudah itu terus pula berdjalan kesebelah hilir mentjahari tempat jang rendah agar dapat naik keatas tebing.

Demikianlah ia terus pulang kepondoknja.

XIV

HARI telah lewat tengah hari ketika Medasing tiba kembali dipondok. Saju duduk dimuka pintu diatas tangga, sehingga dari djauh tampak kepadanja laki-laki itu datang. Setelah Medasing tiada berapa djauh lagi djaraknja, kelihatanlah kepadanja, bahwa orang jang kukuh dan kuat itu tiada seperti sediakala. Djalannja lambat dan tangan kanannja tak bergerak-gerak tergantung disisinja, seolah-olah ia tak berkuasa atas anggota badannja jang sebelah itu. Lagi pula tampak kepada perawan itu mukanja garis-garis.

Ketika Medasing dua tiga puluh langkah lagi dari pondok masuklah Saju kedalam; sebagaimana biasa setiap hari, sekali inipun diperlihatkannja, bahwa ia tak hendak hidup berdjinak-djinakan dengan orang jang melarikannja itu. Didalam ia pergi kesudut tempat tidurnja jang terpisah.

Tak berapa lama antaranja kedengaran kepadanja bunji langkah dekat tangga dan sedjurus sesudah itu terdengar pula bunji orang mendaki tangga. Tetapi sekonjong-konjong sampai ketelinganja suatu bunji jang gandjil, seolah-olah ada suatu jang djatuh. Sekedjap terperandjatlah ia, tetapi segera pula ia biasa kembali. Beberapa saat lamanja sunji-senjap pula seluruh pondok itu…tetapi tiba-tiba kedengaran kepadanja bunji orang mengaduh. Ketika itu djuga dengan tiada diketahuinja ia telah berdiri menudju kepintu. Dibawah dimuka tangga pondok tampak kepadanja Medasing, penjamun jang gagah berani itu, terlentang tak bergerak-gerak dan matanja tertutup selaku orang jang tidur njenjak.

Melihat itu sedjurus lamanja seolah-olah berhenti darahnja mengalir didalam badannja, karena terperandjat amat sangat…Mengapakah gerangan Medasing? Dimanakah Sanip kawannja berdjalan bersama-sama tadi?…Apakah akan dikerdjakannja?

Beberapa lamanja tak tentu pikiran perawan itu; bermatjam-matjam pertanjaan mendesak kedalam hatinja.

Tetapi achirnja insaflah ia, bahwa ia harus berusaha selekas-lekasnja menolong laki-laki itu, sebagai kilat turunlah ia kebawah. Dalam sekedjap ia telah berdiri disamping laki-laki jang terlentang itu, tak tahu apa jang akan dikerdjakannja. Tetapi seakan-akan saat itu masuk kehatinja sesuatu ilham, dengan tjepat ditjobanja mengangkat badan jang tiada bergerak-gerak dan litjin oleh keringat itu. Tetapi bagaimana sekalipun ia berusaha, perbuatannja itu tak berhasil, sebab tenaganja tak tjukup mengangkat badan jang djauh lebih besar dan berat dari badannja sendiri.

Sementara itu Medasing tak djua bergerak-gerak, rupanja ia pingsan. Ketika naik tangga tadi tak tentu lagi perasaannja oleh letihnja dan oleh sikunja jang amat sakit, dan dengan tiada dapat ditahannja iapun terempaslah kebawah. Tangannja jang patah terbanting dan terimpit oleh badannja dan oleh sakit jang tiada berhingga iapun tiada chabarkan diri.

Mudjurlah Saju ingat, bahwa orang jang pingsan harus dibangunkan dengan air. Segera ia naik kepondok mengambil gerigik untuk mendjemput air dianak sungai. Kepala dan dada laki-laki itu diusap dan dibasahkannja beberapa kali.

Selama ia mengerdjakan pekerdjaan itu, taklah ia ingat akan suatu apa. Jang tampak dimukanja hanjalah laki-laki jang pingsan, jang segera harus ditolongnja. Sebabnja, kalau laki-laki itu mati apakah djadinja, seorang diri ditengah rimba jang lebat dan sunji senjap?

Beberapa lamanja ia membasahi kepala dan badan laki-laki itu, maka lambat laun Medasingpun membukakan matanja. Ia telah siuman kembali. Dan ketika ia memandang kepada Saju, ketika itulah pertama kali perawan itu berpandangan dengan penjamun itu. Entah, oleh malu, entah oleh takutnja, lekas dibuangnja mukanja memandang ketempat lain.

Medasing memberi isjarat mengatakan ia haus, segera Saju membawa gerigik jang berisi air itu kemulutnja, sehingga ia dapat minum sepuas-puasnja. Perlahan-lahan kembalilah pula tenaga laki-laki itu sehingga ia dapat berdiri. Tetapi ketika itu tangannja lebih sakit dari semula, waktu ia baharu djatuh didjurang. Akan naik pondok itupun Saju harus menolongnja, supaja ia djangan terempas pula.

Sedjak hari itu penjamun jang gagah perkasa itu tak meninggalkan tempat tidurnja dan badannja hangat beruap-uap. Sebentar-sebentar ia selaku orang jang tak mengetahui, bertjakap-tjakap tak tentu udjung-pangkalnja, tetapi terutama sekali tentang penjamunannja jang ngeri-ngeri.

Beberapa hari demikianlah halnja dan dalam masa itu Saju tak terkira-kira takutnja. Bagaimanakah halnja, kalau penjamun itu mati? Apakah akan dikerdjakannja seorang diri dengan majatnja dan kemanakah ia harus melarikan diri dalam hutan jang lebat, jang tiada diketahuinja letaknja itu?

Tetapi manusia itu machluk jang mudah membiasakan dirinja dan demikian pulalah segera hilang tjanggung Saju. Sebagai seorang jang lahir dan hidup dipangkuan agama, tawakallah ia akan nasibnja, badan dan njawanja diserahkannja kepada Allah jang Mahakuasa.

Beberapa hari sesudah itu ia telah berusaha menolong penjamun, jang oleh perdjalanan nasib jang sangat gandjil, telah mendjadi kawannja itu. Dibelukar tiada djauh dari teratak dikumpulkannja teruk kaju dan sekaliannja ditumbuknja lumat-lumat. Dan daun jang telah ditumbuk itu dibalutkannja pada siku Medasing jang patah dan telah mendjadi bengkak.

Demikianlah setiap hari, demam Medasing makin berkurang dan sakit tangannja telah surut, meskipun bengkaknja belum berubah.

Oleh sebab tiap-tiap hari merawati penjamun itu, lambat laun hilang takut Saju kepadanja. Demikianlah pada suatu hari diberanikannja hatinja bertanja kepada Medasing, dimana Sanip ditinggalkannja. Ketika itulah didengarnja tjerita perburuan jang sial itu dari mula sampai achirnja.

Beras dan lauk-pauk jang ada pada mereka tak seberapa lagi sedjak Samad tak memperlihatkan dirinja dan dalam beberapa hari jang achir ini makanan jang sedikit itu bertambah susut pula. Saju tahu akan hal itu dan tiap-tiap kali kalau ia melihat beras itu tak seberapa lagi tinggalnja pula, supaja djangan mati kelaparan ditengah hutan itu. Medasing telah tetap tak dapat mentjahari makanan untuk beberapa lamanja, sebab tangan kanannja jang patah belum djuga sembuh dan dapat dipakainja. Maka timbullah dihati perawan itu lambat laun suatu pikiran, mula-mula kabur dan tak njata, tetapi bertambah lama bertambah pasti dan terang.

Kalau ditinggalkannja Medasing seorang diri dirimba itu, sebenarnja tak seorang djuapun dapat mengalanginja. Tetapi apakah jang terdjadi atas dirinja, sebab ia tiada tahu djalan sedikit djuapun dalam hutan jang lebat itu. Tentu achirnja ia akan dimusnahkan oleh binatang hutan atau mati kelaparan seorang diri didalam sunji-senjap.

Lagi pula tak sampai hatinja hendak meninggalkan Medasing sakit, tiada berdaja seorang diri dirimba itu. Meskipun laki-laki itulah pangkal kemelaratannja, meskipun kepala penjamun jang buas itulah jang menganiaja ajah bundanja, sehingga tak tentu apa djadi mereka sekarang ini, dalam penghidupannja jang aman ditengah-tengah rimba diantgara penjamun-penjamun jang tak mengusiknja itu, dengan tiada setahunnja tumbuh dikalbunja mereka. Bukan dalam perbuatan mereka jang buas, tetapi dalam perasaan hidup, terasing dari manusia jang lain djauh terpentjil ditengah rimba!

Lambat laun terpikir kepadanja akan mengadjak Medasing meninggalkan pondok ditengah hutan itu, kembali kedusun, agar djangan mati tak keruan karena kelaparan.

Makin sehari makin pastilah pikirannja itu dan pada suatu hari berkatalah ia: “Beras dan lauk-pauk kita bertambah lama bertambah sedikit dan empat lima hari ini ia pasti akan habis!”

Sebentar terbelalak mata Medasing mendengar perkataan itu. Selama ini tak pernah ia mengingatkan jang demikian. Pada mulanja tampaklah bahwa ketika itu sangat sebal hatinja, tak dapat berbuat suatu apa.

Saju mengerling sebentar kepada singa jang tertambat itu melihat perkataannja. Setelah tampak kepadanja perubahan muka Medasing, diamlah ia tiada meneruskan maksudnja, sebab njata kepadanja saat itu tak baik untuk membuka bitjara.

Sehari lalu pula ditengah hutan jang sunji-senjap itu, Saju menjimpan maksudnja didalam hatinja, tetapi keinginan hendak mengatakan jang terkandung didalam kalbunja itu mendesak-desak lebih kuat dari sediakala.

Didalam hatinja terpikir kepadanja, betapakah baiknja kalau ia dapat menggerakkan hati penjamun itu pulang bersama-sama dengan dia ke Pagar Alam, kerumah ajah bundanja. Dengan djalan jang serupa itu akan terlepaslah ia dari kesunjian ditengah hutan jang djauh dari tempat kediaman manusia itu.

Maka ketika ia mendjadikan makan Medasing hari itu berkatalah pula ia dengan lemah-lembut, bahwa beras telah berkurang pula dan hanja tjukup lagi untuk dua-tiga hari.

Radja hutan itupun mengerutkan keningnja, membelalakkan matanja pula dan dengan segala tenaganja itupun berdirilah. Sebenarnja dalam beberapa hari jang achir ini demamnja telah hampir lenjap, meskipun tangannja jang sakit itu masih bengkak. Beberapa kali ia berdjalan pulang balik diatas teratak kaju itu. Achirnja ia duduk sambil menggetap geraham. Rupanja sangat kesal hatinja memikirkan keadaan dirinja dan keadaan makanan jang hampir habis itu.

Maka tiba-tiba keluarlah dari mulutnja, parau dan hampir tak kedengaran, karena ditahan rupanja: “Dimanakah mentjari beras ditengah rimba ini?”

Pada suaranja njata kedengaran betapa panas hatinja memikirkan kelemahannja masa itu dan dimukanja jang kasar tampak dibawah telinganja urat meregang, laksana ombak jang menggulung lakunja. Sambil mendepakkan lidah direbahkannja pula badannja dengan geram.

Saju tak putus-putus mengamat-amatinja. Sedjurus ketjut hatinja melihat perangai kepala penjamun jang gandjil itu, tetapi setelah ia merebahkan dirinja bangkit pula beraninja.

Kalau tak sekarang apabila pulakah ia akan mengeluarkan sekalian isi sanubarinja, apalagi kalau dipikirkan, bahwa dalam dua tiga hari mereka akan keputusan makanan.

Maka udjarnja pula menjambung kata jang mula-mula: „Baiklah kita meninggalkan hutan ini, kembali ke Pagar Alam kalau tidak pastilah kita mati kelaparan.”

Sambil berkata, dengan tiada terasa kepadanja, mengalirlah dipipinja jang halus air mata tak berhenti-henti. Dari matanja air jang djernih itu menjisi hidung sampai kebibir dan ketika terasa kepadanja suatu jang asin, barulah ia insaf, bahwa ia menangis.

Rupanja telah lama ada sesuatu jang tersembunji dalam hatinja, tertutup oleh perasaan jang tak tentu, jang sekali ini keluar mendjelma mendjadi air mata dan dengan hal jang demikian terbukalah kembali jang selama ini tak kelihatan dikandungnja. Ketika itulah insaf pula ia akan kemalangan dirinja, terasing dari kaum-kerabat ditengah hutan. Maka bangkit pilunja, seakan-akan pada saat itu kedengaran kepadanja sajup-sajup suara segala orang jang mengelilinginja dari ketjilnja.

Ditundukkannja mukanja dan perlahan-lahan ia berbelok kearah lain. Dengan tiada setahunja ia berdjalan menudju tangga tiada mengeluarkan sepatah kata djuapun. Didalam pondok itu amat sempit terasa kepadanja, sehingga sesak napasnja mengandung kenang-kenangan jang memenuhi kalbu dan pikirannja. Iapun turun kebawah dan seolah-olah ia suatu pesawat jang telah diputar dan ditetapkan tudjuannja, melangkahlah ia terus kearah anak air jang tiada berapa djauh dari pondoknja. Dan laksana sekaliannja telah ditetapkan dan dipastikan dari semula, tiba-tiba ia berhenti ditepi anak air itu sambil memandang kebelakang.

Sekaliannja itu dikerdjakannja dengan tiada setahuna.

Waktu itu sebenarnjalah ia menjerupai sesuatu jang tiada berdjiwa, jang didjalankan oleh buatan jang tak pandai berpikir dan merasa. Hatinja, seluruh djiwanja djauh, tak terkira-kira djauhnja melajang ketempat jang hanja hidup dikenang-kenangkannja.

Setelah beberapa lamanja berdiri itu ia melangkah kesebuah batu, tak berapa djauh dari padanja. Iapun duduklah pula memandang kebawah, keair jang berputar-putar mengalir mengelilingi batu.

Ketika itu matahari mulai rendah disebelah barat dan pohon-pohon ditepi sungai itu selaku disepuh puntjaknja. Sekaliannja bertjermin diari jang gelisah, laksana hendak melihat bajang-bajang emas urai dipuntjaknja.

Dibawah pohon gandjil rupanja, seakan-akan sekaliannja itu menjembunjikan sesuatu rahasia jang makin lama makin kabur, diselubungi oleh kain jang tak tentu tjorak-warnanja, tetapi tak dapat disangkal adanja.

Sinar matahari jang kuning-djuita, jang menurunkan silap tjahajanja dari pohon-pohon jang tinggi kekepala perawan jang termenung ditepi anak air itu, sehingga air mata jang tiada diketahuinja mengalir dipipinja, berkilau-kilauan rupanja, sinar matahari itulah dapat menembusi daun jang rapat dan suatu kumpulan jang ketjil masuk kepondok jang sunji-senjap ditengah hutan itu melalui atapnja, sehingga dindingnja tampak sebuah bundaran ketjil jang bertjahaja-tjahaja seolah-olah ialah harus mempersaksikan betapa halnja radja hutan, jang telah bermusim-musim mendjadi temannja dalam kesunjian alam jang tiada berhingga itu.

Sangat heran Medasing melihat perangai gadis jang gandjil itu dan demikianlah ia termenung memikirkannja, sementara matahari dibarat turun tiada berhenti-henti, makin lama makin rendah.

Selama ini tak pernah ia memikirkan keadaan perawan jang dilarikannja itu. Betapa pulakah mungkin terluang dihatinja sudut untuk menimbang dan merasa akan nasib orang lain?

Baginja hidup maknanja perdjuangan dan dalam perdjuangan itu ia harus mendjaga dan memelihara dirinja sendiri.

Air mata?

Dalam penghidupan jang ganas lambat laun telah mendjadi kejakinan jang pasti kepadanja, bahwa air mata ialah sesuatu jang telah semestinja ada dipihak musuhnja berhubung dengan perbuatannja.

Tetapi alangkah lainnja air mata jang dilihatnja sekali ini? Dalam perasaan dan pengalamannja air mata itu hanjalah mungkin timbul disebabkan kesakitan badan, sebab badan itulah jang biasa disakitinja. Tetapi dari manakah datangnja kesakitan pada perawan itu sekali ini?

Demikianlah penjamun itu termenung dipembaringannja, memikirkan soal jang biasa sebisa-bisanja, tetapi sulit dan gandjil dalam penghidupannja jang terasing itu.

Matahri bertambah lama bertambah rendah djua. Hanja dahan-dahan jang tertinggi benar masih kena sinarnja jang permai. Dibawah, diantara pohon-pohon jang rapat telah kegelap-gelapan seolah-olah ketika itu sekalian jang rendah ditanah diwarnai oleh tangan jang gaib dengan kelabu kehitam-hitaman.

Dari djauh sekali-sekali kedengaran sajup-sajup bunji teriak, tak tentu dari mana dan dari siapa, hanja sebagai teriak penghabisan dari hari jang akan lenjap.

Dipondok itu termenung seorang laki-laki dan ditepi sungai duduk seorang perempuan muda terpekur, menurutkan pikiran dan kenang-kenangan pelbagai ragam. Kedua-duanja mendengar suara sanubarinja, hanja akibatnja berlainan:

Jang kukuh-kuasa mendjadi lemah dalam kekukuhan dan kekuasaannja dan jang lemah mendjadi kukuh-kuasa dalam kelamahannja……

Perlahan-lahan turun malam dengan sajapnja jang kelabu-lembajung meliputi seluruh hutan jang hidjau itu mendjadi hitam, tak tentu tjoraknja.

XV

SEMALAM-MALAMAN itu Medasing hampir tak memitjingkan matanja sekedjap djuapun oleh karena banjak jang mendesak pikiran dan hatinja.

Penghidupan sebagai penjamun dan pembunuh manusia sebagai radja belukar dan kesunjian terbajang-bajang jang dimukanja dari mula sampai kepada jang terkemudian, ketika badannja sendiri ditimpa marabahaja, sehingga ia, radja penjamun jang kuat dan gagah berani, hidup terserah kepada belas-kasihan seorang perempuan jang lemah.

Achirnja mesti diakuinja dalam hatinja, bahwa penghidupan lama itu tak dapat diteruskan lagi.

Dan dalam perdjuangan batinnja jang hebat itu perlahan-lahan timbullah didlam kalbunja segala sifat asli manusia jang bertahun-tahun terdesak dan selaku mati oleh pergaulan dan penghidupannja. Perlahan-lahan dengan tiada insafnja, bangkitlah hasratnja akan penghidupan jang aman dan sentosa.

Utjapan Saju mengadjak ia pulang kedusun tempat pergaulan manusia, tak dapat dienjahkannja lagi dari pikirannja dan ketika ditengah hutan jang sepi itu berbunji suara burung jang pertama memaklumkan siang, telah lenjap ragu dan sangsi alam sanubarinja: ia akan meninggalkan rimba jang bertahun-tahun mendjadi tempat kediamannja seperti segala binatang buas dan penghuni rimba jang lain.

Demikian parak siang Medasing meninggalkan tempat pembaringannja membangunkan Saju. Kepada perawan itu dikatakannja, bahwa mereka pagi-pagi itu djuga akan berangkat pergi ke Pagar Alam.

Dan setelah berkemas dan membersihkan badan, berdjalanlah orang berdua itu beriring-iring; Saju dimuka membawa sebuah bungkusan ketjil, Medasing dibelakang membawa lembing ditangan kirinja. Tangan kanannja jang sakit tergantung disisi badannja, belum djuga dapat digerakkannja sekehendak hatinja.

Hutan jang mereka lalui bertambah lama bertambah trang. Pohon jang besar-besar bertambah lama bertambah njata: satu persatu melepaskan dirinja dari selubung jang kabur-hitam.

Ketika mereka keluar rimba melintasi padang, tampaklah kepada mereka matahari baharu timbul, amat djauh dibalik bukit jang biru-kelabu. Pada ketika itu sesungguhnja terasa kepada Saju dan Medasing laksana mereka menudju keterang tjuatja, meninggalkan gelap-gulita dibelakang untuk selama-lamanja. Dan sinar matahari jang pagi-pagi itu merah-kuning rupanja, bagi mereka seakan-akan lambang petundjuk kearah penghidupan jang aman dan sentosa, damai dan rukun jang telah lama menanti.

Segar dan ringan langkah mereka mendaki dan menurun, menjeberang sungai dan meretas rimba dan beberapa lama antaranja sampailah didjalan pedati jang menudju ke Pagar Alam.

Sehari-harian mereka berdjalan, hanja sekali-kali berhenti pada tempat jang teduh ditepi djalan.

Dan ketika matahari telah hampir terpuruk dibalik pegunungan jang hening dan sunji, musafir berdua itu masuk didusun jang ditudjunja.

Nampak lagi kepada Saju djalan kerumah tempat kediamannja sedjak ketjilnja. Telah lebih setahun lamanja sekaliannja itu tak dilihatnja.

Tetapi alangkah pendek terasa kepadanja waktu jang baharu silam itu; suatu mimpi jang ngeri.

Lapanglah dadanja dan ringan dan segar kembali langkahnja meskipun sedjauh itu jang didjalaninja hari itu.

Dari djauh kelihatan kepadanja rumah ajah-bundanja, lebih indah dan lebih kukuh dari rumah sekitarnja. Maka besarlah hatinja tiada terkata-kata dan langkahnja bertambah lama bertambah tjepat, sehingga Medasing tertinggal djauh dibelakang.

Tangga jang tinggi dan tjuram itu dilompat-lompatinja dan dalam sekedjap ia telah berdiri diatas rumah. Tetapi tiba-tiba diatas ia tertegun sedjurus, sebab dihadapannja berdiri seorang laki-laki, bukan ajahnja, tak dikenalinja.

„Dimanakah ajahku?” katanja tergesa-gesa. Laki-laki itu memandang kepadanja, heran melihat gadis jang tak malu sedikit djuapun itu.

„Ajahmu?…Tak tahu aku! Siapa namanja?”

Berapa lamanja Saju diam, mentjari perkataan. Tetapi tiba-tiba seperti tiada tahan menant lagi, katanja: „Hadji Sahak!”

“Hadji Sahak? Bukankah Hadji Sahak telah mati?”

„Telah mati,” kata Saju pula, seakan-akan hendak merasakan makna perkataan itu. tetapi pada waktu itu ia masih terlampau gembira akan insaf sebenar-benarnja akan jang terdengar kepadanja itu. Dengan tak berpikir pandjang lagi tanjanja pula:

„Rumah siapakah ini? Bukankah rumah Hadji Sahak?”

„Dahulu, tetapi sekarang rumahku,” djawab laki-laki itu agak angkuh.

„Ah, bukan rumah ajahku lagi ini?”

„Sekarang aku jang empunja!” djawab laki-laki itu pula menekan perkataan Saju, seolah-olah tak hendak memandjangkan bitjara.

Beberapa lamanja Saju terpaku bersandar pada terali tangga rumah jang tinggi dan suram itu, seakan-akan ia tiada pertjaja akan djawab jang pasti-pendek jang didengarnja.

Tetapi achirnja ia turun djua, tak insaf kemana tudjuan dibawa kakinja. Belum dapat ia memikirkan betapa rumah itu mungkin mendjadi rumah orang lain. Tetapi sesungguhnja tak ada sedikit djuapun isinja jang menjerupai isi rumah ajah bundanja dahulu.

Maka teruslah ia berdjalan, masih heran mendengar djawab laki-laki jang gandjil itu.

Sedjurus lamanja bertemulah ia dengan seorang perempuan tua, lalu bertanja: „Dimanakah rumah Hadji Sahak, nenek?”

„Hadji Sahak? Aku tiada kenal akan Hadji Sahak!”

„Hadji Sahak, orang negeri ini jang berdagang di Palembang dahulu!”

„Bukankah Hadji Sahak itu sudah mati?”

Tersiraplah darahnja mendengar itu. Sekonjong-konjong teresap kedalam hatinja makna perkataan jang tiada dapat diinsafkannja itu.

Djadi ajahnja telah mati, telah berpulang. Maka putjatlah mukanja dan sesak dadanja, tetapi saat itu djuga ia teringat akan bundanja, lalu bertanja:

„Dan isterinja, nji Hadji Andun, dimanakah sekarang?”

„Isterinja tinggal diudjung djalan ini! Berdjalan terus, djauh dipondok penghabisan sebelah kiri.”

Saju tiada dapat menahan hatinja lagi dan dengan tiada berkata sepatah djuapun, usahakan mengutjapkan terima kasih, berlarilah ia sepandjang djalan pada sendja raja itu.

Sedjurus lamanja perempuan tua itu mengamat-amati gadis muda jang amat gandjil bertanjakan. Hadji Sahak jang telah lebih dari setahun mati disamun orang dilembah Lematang. Rasa-rasa ada ia bersua dengan gadis itu dahulu, tetapi entah dimana dan pabila, tak dapat lagi dikenangkan oleh ingatannja jang telah berat dan kaku. Djauh, dalam tjahaja sendja jang kabur lenjaplah bajang perempuan muda itu dari pandangannja.

Terus, terus Saju bergesa-gesa kepondok ketjil, tempat bundanja jang telah sekian lamanja tak dilihatnja. Djauh dibelakangnja berdjalan Medasing, tak tentu perasaan dan pikiran mengikuti perawan jang mendudu, didorong oleh sesuatu kekuatan jang gaib.

XVI

NJI HADJI ANDUN tak dapat ditolong lagi; lahir dan batin ia hanja tinggal sisa manusia.

Telah beberapa lama ia tidak berdaja lagi turun kebawah, sehari-harian ia tidur terlentang ditempat tidur dan djika sekali-kali hendak duduk haruslah ia dibantu oleh Sima. Badannja kurus, kulit bergelambir melekat pada tulang. Diseluruh kaki dan tangannja bersilang-silang urat kebiru-biruan dan disana sini berbajang tulang djarinja dibalik kulit jang putih putjat.

Mukanja jang berisi dan indah, bentuknja dahulu telah berbukit dan berlembah-lembah: tjekung kiri kanan mulut dan mendjorok kemuka bersendi-sendi pada tulang pipi dibawah mata.

Matanja terpuruk kedalam, dilingkungi oleh lingkaran jang kebiru-biruan. Pada muka jang ketjil-lisut itu adalah mata sepasang itu terlampau besar rupanja. Tjahajanjapun telah berubah dari dahulu, tak tenang, kekabur-kaburan lagi membajangkan keteduhan hatinja menurutkan sajap angan-angan mendekati suami dan anaknja jang ditjintainja: bersinar-sinar memandang kesekelilingnja, penuh kegembiraan batin jang menjerupai kebuasan.

Makin lemah tenaganja dan makin pajah ia menggerakkan dirinja, makin djalanglah rupa matanja. Adalah laksana rindu dan hasrat kepada orang berdua jang ditjintainja, jang tak dapat disampaikannja itu, lambat laun dalam sanubarinja jang remuk oleh kedukaan, berubah mendjadi sebangsa amarah jang tak tentu kemana tudjunja.

Djarang benar ia termenung memandang kesuatu tempat menurut kenang-kenangannja sebagai sediakala. Hatinja telah lampau letih, segala perasaannja mendjadi kabur, tak puas serta gembira-sebal, tak tentu arahnja.

Dan kalau sekali-sekali ia termenung djua, maka tak boleh tidak achirnja ia berteriak dengan suara jang parau memanggil Sima, selaku orang jang tiba-tiba kemasukan:

„Sima, Sima lekaslah, lihatlah Saju datang! Sambutlah lekas anakku itu!”

Sima, anak gadis jang penuh kasih sajang kepada perempuan, tempat ia berutang budi itu, tergesa-gesa turun kebawah, seolah-olah sesungguhnja kakak angkatnja itu pulang kembali.

Perlahan-lahan redalah nji Hadji Andun dengan sendiri, chajal anaknja jang kelihatan kepadanja dalam angan-angan itu lenjap pula, tak tentu kemana perginja. Sima naiklah pula keatas kedalam pondok menghadapi orang jang dikasihinja itu.

Sesungguhnjalah bunda angkatanja itu tak pernah diabaikannja. Siang malam ia berdjaga-djaga disisinja. Badannja sendiri telah kurus-melandjai oleh karena tak tentu tidur dan makan. Rumah dan kebun sekelilingnja terbengkalai, tak sempat diselenggarakannja. Kubis jang telah mulai mengembang daunnja hilang-lenjap ditengah rumput dan tumbuh-tumbuhan jang lain dan batang kopi jang dengan susah pajah ditanam dahulu tak banjaklah tinggal sisanja lagi. Sekitar pondok itu telah menghutan pula, seperti kebun jang telah lama ditinggalkan manusia.

Beberapa hari jang achir ini penjakit nji Hadji Andun bertambah pajah; batuknja makin mendalam, sekali-sekali ia meludahkan dahak bertjampur darah. Malam-malam badannja hangat dan iapun mengigau, berkata-kata tak tentu. Tetapi meskipun demikian terutama sekalilah disebutnja nama Saju.

Berangsur-angsur berkurang liar matanja; sinarnja jang gembira buaspun telah lenjap, berubah mendjadi kusam-luju seperti katja kena uap.

Perubahan itu amat mentjemaskan hati Sima; bangkit was-wasnja seakan-akan ada suatu gerak jang tiada baik terasa kepadanja. Tak sampai lagi hatinja mendjaga perempuan jang sakit itu seorang diri.

Demikianlah pada suatu hari, ketika bundanja itu tertidur, ia turun perlahan-lahan pergi kerumah Bedul dua suami-isteri mengadjak mereka menemaninja mendjaga dipondok ketjil, djauh didujung dusun itu.

Sedjak hari itu dapatlah ia melepaskan lelah sedikit, berganti-ganti dengan mereka menghadapi orang sakit jang ditjintainja itu.

Hari itu Bedul pergi keladang: isterinja pulang kerumah, sebab ada pekerdjaan jang harus diselesaikannja.

Sehari-harian nji Hadji Andun tidur njenjak diatas tikar kumal disisi dinding.

Melihat bundanja demikian, Sima turun perlahan-lahan. Tiba dibawah ia melihat-lihat sekeliling pondok; tiba-tiba bangkit ingin hatinja mentjabut ubi kaju untuk direbus.

Petang hari ketika Bedul dan isterinja kembali, pekerdjaannja telah selesai pula. Setelah membersihkan dirinja iapun duduk menghadapi bundanja jang ketika itu baru bangun, bersama-sama orang dua suami isteri itu.

Meskipun selama itu ia tidur, nji Hadji Andun letih rupanja. Tak bergerak-gerak terlentanglah ia ditempat tidurnja dan matanja jang laju itu tak dipisah-pisahkannja dari kasau pondok jang melintang diatasnja.

Badannja agak panas dan bertambah lama panasnja itu rupannja bertambah djua.

Ketika matahari hampir mentjetjah kaki gunung Dempo disebelah Barat, nji Hadji Andun mulai gelisah. Beberapa kali ia membalik kekiri kekanan, seakan-akan ada jang menjekang dibawah tempat tidurnja.

Setelah beberapa lama antanja memandanglah ia kepada Sima dengan matanja jang kabur, penuh kasih mesra. Heran gadis itu melihat bundanja, sebab telah lama ia tiada memandanginja demikian. Perlahan-lahan, hampir tak kedengaran keluar dari mulutnja putus-putus: „Tolonglah…Bawa aku kepintu…”

Sekedjap ia menggerakkan tangannja hendak mengusap dadanja seakan-akan ada jang tersangkut disana, lalu katanja pula: „Panas benar badanku…Biarlah aku melihat keluar…”

Mendengar itu Sima memandang kepada Bedul dengan isterinja.

Meskipun sendja telah turun, nji Hadji Andun diangkat orang bertiga itu djuga kemuka pintu, seakan-akan pada waktu itu tak akan seorang djuapun diantara mereka jang berani menjangkal permintaannja.

Perempuan jang malang itu melihatlah keluar, laksana ia untuk penghabisan hendak meresapkan sanubarinja akan keindahan alam didataran tinggi tanah Pasemah pada sendjakala itu.

Sebahagian dari matahari telah hilang dibalik gunung Dempo. Bahagianja jang lain masih kelihatan njiru emas jang kuning berkilau-kilauan, melajangkan sinarnja melalui hutan dan pandangan kepuntjak bukit dan gunung.

Awan tipis jang menjelubungi puntjak gunung Dempo jang tinggi itu mulai mendjauh, sehingga kelihatanlah ia sebagai sesuatu jang mahaperkasa, tegap dan padu. Dipuntjaknja warna biru-kelabu itu perlahan-lahan berubah mendjadi ungu dan achirnja kemerah-merahan sebagai bara jang belum padam.

Setelah beberapa lamanja memandang tak berpisah-pisah kearah susunan rona sekeliling gunung raksasa itu, maka berbalik pula nji Hadji Andun menghadapi orang jang bertiga jang duduk disisinja. Lemah lembut seperti orang jang minta dipertjajai, keluarlah dari mulutnja: „Sima, engkau…tak pertjaja, bahwa Saju akan pulang?”

Tetapi diam pula seperti mengumpulkan kekuatan dan matanja memandang tak terkira amat djauhnja.

Gadis jang ketjil ramping itu melihat kepadanja, sebentar bimbang apa jang hendak didjawab, laksana perkataan jang bersahadja kekanak-kanakan itu, tiba-tiba menjerbu kepadanja, meremukkan hatinja. Sekedjap ia berdjuang melawan dukatjitanja, dan iba-mesra djawabja: „Masakan aku tidak pertjaja!” …tetapi suaranja menggetar sesaat, mengutjapkan perkataan jang berlawanan dengan kata hatinja itu.

Tetapi dengung suaranja belum keluar-melenjap dari pondok itu, ketika dari bawah kedengaran bunji langkah manusia tergopoh-gopoh dan sekedjap jang amat pendeknja tangga kaju bergojang membuai pondok ketjil itu…dihadapan mereka menjembul kepala Saju, kusut-mangsai, sesak napas…

Dari sisi pondok itu sekonjong-konjong ia melompati beberapa buah anak tangga…, Sima dan isteri Bedul berteriak, terkedjut, mundur menumpang badan kebelakang; nji Hadji Andun menggigil dari kepala sampai kekaki, matanja membelalak memutih.

Tetapi segera keluar dari mulut Bedul, heran tak pertjaja: „Saju!?”

Sedjurus antaranja Saju telah naik keatas pondok, maka ramailah bunji sedu orang meratap bertangis-tangis, sedih oleh kegirangan pertemuan jang penuh kesedihan.

XVII

IA TAK DAPAT lagi menemui pagi-pagi.

Kegirangan jang datang sekonjong-konjong itu terlampau hebat bagi badannja jang telah tiba watas tenaganja.

Tetapi sebelum ia menutup matanja untuk selama-lamanja, ia telah mengetjap kenikmatan pertemuan dengan bidji matanja, jang dinantikan dan dihasratkannja dengan seluruh djiwanja, sehingga merusakkan dirinja, rohani dan djasmani.

Telah sampai jang telah diharap-harapkannja!

Chajal pertemuan dengan anak tunggalnja itu menghilang sendiri dan iapun dapat menudju keachirat menurut langkah karib hidupnja dengan hati tenang dan perasaan jang puas.

Aman dan sentosa seperti diluar alam pada waktu hampir parak siang itu, hajatnja bertjerai dengan bungkusan badannja jang fana, dihadapi oleh sekalian orang jang mentjintainja.

Dan pada waktu sunji senjap, ketika segala machluk laksana menahan nafasnja, Medasing perlahan-lahan mendjauhkan diri dari orang jang terseduh-sedu menangis amat sedihnja itu, turun kebawah menghilangkan badannja dalam gelap-gulita.

Berpuluh kali ia telah menghadapi orang memutus njawa…luka, berlumur darah, hantjur-remuk badannja, berteriak-teriak…Tetapi belum pernah sesesak itu dadanja, ketika ia melihat perempuan, kulit melekat pada daging itu, mengembuskan napasnja jang penghabisan, tak bergerak, tak berbunji, lemah-lembut seperti kanak-kanak jang terlelap.

Djauh didalam hatinja menjajat dan membakar keinsafan akan dosa jang tak ada bandingannja!

Beberapa lama ia berdiri dihadapan pondok itu, tak bergerak-gerak. Disebelah timur membajang tjahaja ungur-kabur antara nampak dan tiada. Iapun memandang kepada utusan siang itu.

Perasaan jang tak tentu meresap kedalam kalbunja, membangkitkan harapan jang sajup-sajup akan penghidupan jang baharu.

Perlahan-lahan tjahaja dipinggir langit itu mengembang dan berbajang kesebelah barat, tempat gunung Dempo mengatasi seluruh daerah itu, hitam dan padu pada kesunjian penghabisan malam jang dingin meresap ketulang.

Sekedjap laki-laki jang kukuh-bidang itu melengos kepada gunung jang sakti itu dan matanja dilajangkan kesekelilingnja teratak, jang masih kabur kelihatan, melepaskan diri dari pelukan malam: tunggul dan ranting ubi kaju, rumput jang mendesak-menjembunjikan kubis, beberapa anak kopi jang kurus…Dan selebihnja rimba dan semak.

Pada pertukaran malam mendjadi siang, gelap-gulita didesak oleh terangnja-tjuatja itu, bangkit didalam hatinja keinsafan akan kewadjiban terserah kepadanja.

XVIII

TIGA PULUH pedati menurun tebing jang tjuram melalui liku djalan. Roda jang besar dan berlumpur-lumpur terhambung-hambung, berdegar-degur diatas tanah jang berbatu-batu, dalam aturan roda jang dalam. Sapi jang keletihan berbusa-busa mulutnja, mengangkatkan kepala mengangguk-angguk, bersetumpu dengan kukunja jang berbelah ditanah dan batu, menahan dorong pedati jang berat dari belakang.

Tiga puluh anak pedati berlari-lari ketjil, menahan sapi dan gerobak, supaja djangan terdohok dan terdorong dalam djurang jang dalam dihadapan kelok patah siku.

Gemuruh degar-degur roda dan pedati serta dengus sapi jang beruap-uap, ditambah pula oleh suara tiga puluh manusia mendjuah dan mendjarangkan, menahan dan melambatkan tiga puluh binatang berlari, menurun menudju kebawah, ketempat jang rendah, tak berapa djauh dari djurang lembah Lematang. Dan sampai-sampai djauh ditengah rimba kedengaran pada sendja-kala itu bunji kelintang njaring dan redup, silih berganti.

Dibalik kelok jang ngeri, djalan jang tjuram itu bertambah lama bertambah datar, hingga tiba pada rumah ketjil dan balai, jang baharu dibuat, penuh berhiaskan gabah-gabah daun pelbagai djenis, seolah-olah tempat mengadakan alat perkawinan.

Mendengar gemuruh bunji tiga puluh pedati datang mendekat, keluar dari dalam rumah ketjil dan balai itu beberapa orang laki-laki dan perempuan, menudju kedjalan. Sebabnja sesungguhnja mereka tinggal dipondok itu menanti kedatangan gerobak-gerobak jang membawa pasirah Pagar Alam jang baru pulang dari Mekah.

Siapakah jang tidak tahu akan pasirah Karim jang ramah-tamah kepada segala orang, baik kaja maupun miskin? Jang telah bertahun-tahun memerintah di Pagar Alam dan sekitarnja, senantiasa memikirkan nasib rakjat jang terserah kepadanja, sebagai seorang bapa jang bersedih hati apabila anaknja bersedih hati, dan bersukatjita apabila anaknja bersukatjita.

Tak seorang djuapun jang datang kepadanja minta petuah dan pertolongan jang kembali dengan hampa tangan. Dalam segala hal akalnja jang pandjang dan hatinja jang penjajang dapat mentjahari menolong dan membesarkan hati.

Demikianlah ia sangat ditjintai anak buahnja.

Dan isterinja jang dikenal oleh hampir segala penduduk Pasemah sampai berpal-pal djauhnja dari Pagar Alam! Iapun tak kurang kasih sajang kepada anak buah! Kepada tiap-tiap orang ada sadja jang dikatakannja jang membesarkan hati dan bagi tiap-tiap orang laksana ada disediakannja perkataan jang halus dan senjum jang lemah-lembut, jang terang membajangkan kalbunja jang lapang dan penjajang.

Kalau ada sesuatu jang terdjadi di Pagar Alam, ia tak pernah ketinggalan: pada perkawinan, pada kematian, waktu baik, waktu buruk, ia senantiasa mengepalai segala perbuatan anak buahnja. Dan kalau ada kesusahan taklah ia memandang siang atau malam, dekat atau djauh, asal sebenar-benarnja orang perlu akan bantuan tangan dan hatinja jang pemurah dan pengasih.

Dua tahun jang telah lalu dua suami isteri jang sangat dikasihi oleh rakjatnja itu naik hadji anak beranak menjampaikan suruhan agama. Dua tahun lamanja tanah Pasemah seakan-akan sarang unggas jang tertinggal dan dua tahun pula lamanja rakjat Pasemah dengan hasrat menantikan pesirah mereka.

Dan sekarang, waktu pesirah Karim dengan anak isterinja kembali pula, mereka hendak memperlihatkan tjinta dan terima kasih mereka kepada kepala mereka jang sekian lamanja meninggalkan mereka itu.

Di Pagar Alam orang asjik menghiasi rumah pesirah Karim dan dari beberapa dusun sekitarnja orang berkumpul akan mengadakan peralatan jang amat besar: ada jang membawa ajam, ada jang membawa kambing dan ada pula jang membawa beras, orang akan bersuka-sukaan menundjukkan kegirangan hati.

Lain dari pada itu sampai berpal-pal sepandjang djalan dari Pagar Alam penuh berhiaskan daun dan lain-lain. Tiga puluh pedati sengadja pergi ke Lahat untuk mendjemput dan dibeberapa tempat ditengah djalan didirikan tempat perhentian, lengkap dengan ajapan dan santapan. Tetapi diantara sekaliannja itu tempat perhentian dilembah Lematanglah jang terbesar dan indah. Sebuah rumah ketjil tempat kediaman dan sebuah balai jang besar, sekaliannja dari pada bambu dan penuh dihiasi oleh berbagai djenis daun jang disusun dan disemat amat permai. Dan persediaan tjukup untuk lima puluh orang sehari semalam!

Tiba dihadapan balai dan rumah ketjil berhentilah ketiga puluh pedati itu. Anak pedati masing-masing menanggalkan sapinja. Orang jang keluar dari balai bergesa-gesa pergi menudju kepedati jang ketiga, jang lebih besar, lapang dan indah dari jang lain. Dari dalam pedati itu keluar seorang laki-laki jang besar badannja, memakai djubah putih berenda hitam dan serban berbintik keputih-putihan, diikuti oleh seorang perempuan jang berpakaian hadji sampai tertutup mukanja. Itulah pesirah Karim suami isteri.

Laki-laki perempuan jang mendekati pedati itu berganti-ganti mentjium tangan orang berdua suami-isteri itu.

Dari pedati jang keempat disambut orang seorang anak laki-laki jang berumur enam tahun dan seorang anak perempuan jang berumur sepuluh tahun, ke-dua2nja anak pesirah Karim jang mengikuti ajah bundanja pergi ketanah sutji.

Mereka berempat itu perlahan-lahan dibawah orang kerumah ketjil jang tersedia bagi mereka. Sesudah itu orang lain pergi duduk dibalai diatas permadani dan tikar jang telah dihamparkan menanti pesirah Karim bertukar pakaian dan menjegarkan badan.

Tak beberapa lama antaranja datanglah pula ia kebalai menemui anak buahnja, sedang isterinja tinggal dirumah ketjil bertjakap-tjakap dengan beberapa orang perempuan jang mengikuti menjongsong sampai ketengah hutan jang lebat itu.

Maka pada permulaan malam itu ramailah pertjakapan dalam balai ditengah rimba itu. Pesirah Karim mentjeritakan pengalaman dan penglihatannja didjalan dan dinegeri asing; sering pula ia bertanjakan keadaan anak buahnja sepeninggalnja dan senantiasa giranglah ia rupanja, kalau ditjeritakan kepadanja kemakmuran anak buahnja dalam dua tahun jang silam itu tentang hasil padi jang baik, tentang perkawinan, kelahiran dan sebagainja.

Sementara itu, dibawah orang terus bermasak-masak dan menjediakan makanan bagi sekaliannja. Siang tadi dipotong seekor kerbau untuk mendjamu sekalian jang hadir.

Malam itu pertama kali pesirah Karim jang mendjadi kepala anak buahnja dalam segala urusan dunia, mendjadi pemuka mereka pula berbakti kepada Allah. Pada sembahjang magrib dan isja orang banjak meminta supaja ia mendjadi imam; karena orang meminta sungguh-sungguh pesirah Karim tak dapat menolak.

Dan setelah habis sembahjang isja, sebelum makan, orang mendoa selamat, mengutjapkan sjukur kepada Tuhan semesta alam telah bersua kembali dengan kepala jang mereka tjintai itu.

Habis makan masih beberapa lama orang bertjakap-tjakap dibalai. Tetapi lambat-laun seorang-seorang anak pedati mengundurkan diri mentjahari tempat merebahkan diri, ada jang oleh karena letih perdjalanan sehari-harian dan ada pula jang oleh karena mengingatkan, bahwa pesirah Karim pasti hendak melepaskan lelahnja. Achirnja pesirah Karim pulang kerumah ketjil tempat anak isterinja, diiringkan oleh pembarap dan peroatin jang mendjemput sampai kelembah Lematang.

Diberanda rumah ketjil tak beberapa djauh dari balai itu duduklah dilantai, diatas permadani, laki-laki bertiga itu menghadapi pelita damar jang sebentar-sebentar harus dikikis agar apinja jang padam. Bermatjam-matjamlah jang hendak diketahui pesirah Karim tentang anak buahnja dan negerinja sepeninggalnja.

Tetapi suara meskipun makin lama makin perlahan-lahan dan kuap jang seorang biasanja lekas dibalas oleh jang lain. Didalam tak kedengaran lagi suara manusia. Sekalianja telah merebahkan diri pada malam jang dingin ditengah pengunungan itu.

Dibawah, dipedati jang tiga puluh, telah lelap anak pedati, tak memikir dan mengingatkan suatu apa. Dalam sunji-senjap malam jang aman dan sentosa itu, sekali-kali terdengar bunji keruh dan dengkur, naik turun, laksana menurut suatu aturan. Dan kadang-kadang kedengaran bunji seorang keluar dari pedati pergi menudju sapinja jang tertambat tak berapa djauh dari sana, memindahkannja ketempat jang lain, agar dapat binatang itu makan sekenjang-kenjangnja untuk perdjalanan keesokan harinja.

Telah djauh malam pembarap dan peroatinpun bermohon mengundurkan diri. Esok dan lusa masih pandjang waktu untuk mentjeritakan segala jang perlu kepada mereka jang baru datang itu.

Setelah mereka turun akan mentjahari tempat memitjingkan mata dibalai, berdirilah pula pesirah Karim mengeluh kepenatan duduk. Sekedjap lamanja ia melihat kekiri kekanan diberanda jang ketjil itu. Iapun berdjalan beberapa langkah dan dari atas tangga ia memandang kebawah, kearah orang bertiga jang kabur-kelihatan berdjalan dalam bajang-bajang pedati menudju kebalai. Dan melihat sapi dan pedati sebelah hilir jang kabur-terang dalam tjahaja bulan jang diliputi awan-tipis, bangkit dalam hatinja keinginan hendak melihat anak buahnja tidur. Maka dengan tak berpikir sekedjap djuapun lagi, turunlah ia kebawah, seolah-olah tak ada kantuknja dan tak sedikit djuapun lelah badannja.

Perlahan-lahan ia berdjalan disisi susunan jang tiga puluh itu. Dimuka tiap-tiap gerobak ia berhenti sebentar melihat kedalamm ketempat berbaring anak pedati didalam kelam. Hampir sekaliannja lelap tidurnja dalam udara jang djernih pada malam jang terang-sabak itu.

Setelah didjalaninja sebahagian jang besar dari tiga puluh pedati itu, ia terus menudju kelalang rendah, tak berapa djauh dari tepi djalan, tempat sapi makan. Beberapa lamanja ia tegak terpaku melihat sekalian hewan itu tak berhenti-henti berderis-deris dan berderus-derus menarik lalang muda dengan lidahnja, seakan-akan seumur hidupnja baharu sekali itulah ia melihat sapi makan lalang. Dan bunji kelintang jang banjak itu bagi telinganja djauh lebih merdu dari sediakala laksana bunji kaju dan jang berulang-ulang itu dinjaringkan oleh kesunjian jang bersimaharadjalela dikeradjaan tumbuh-tumbuhan ditengah pegunungan itu. Dihampirinja seekor sapi jang telah beberapa lama diamat-amatinja; punggung binatang itu ditepuk-tepuknja perlahan-lahan dengan tangannja jang lebar. Sapi jang besar itu berhenti makan dan mengangkat kepalanja sambil mendengus-dengus, seolah-olah ada jang tertjium kepadanja.

Pesirah Karim berdetjap-detjap mengerutkan bibirnja dan tangan kanannja jang tak berhenti-henti menepuk-membelai, dipindahkannja keleher sapi jang lebar dan halus seperti beledu. Dari mulutnja keluar lemah-lembut „Kuning, Kuning!”

Sapi jang mengerti itu memandang kepadanja, sebab ia ingat kembali akan suara jang selama itu tak didengarnja. Maka digosokkannja lehernja pada tangan pesirah Karim dengan mandjanja.

Dari sapinja itu pesirah Karim berdjalan perlahan-lahan menudju kebalai jang ketika itu telah gelap oleh sebab pelita jang terletak ditengah-tengahnja hampir padam. Lantai bambu jang beralaskan tikar itu berderit-derita diindjaknja, tetapi ketika ia ingat, bahwa dibalai itu tempat anak buahnja tidur, ditahannjalah langkahnja, sebab ia tidak hendak membangunkan mereka. Mula-mula sekali dikikisnja pelita damar jang hampir padam itu dan tak berapa lama antaranja balai itu terang pula.

Disudut tak berapa djauh dari padanja kelihatan beberapa orang tidur tak tentu arahnja. Perlahan-lahan pesirah Karim menudju kepada mereka. Beberapa lama ia mengamat-amati orang jang tidur lelap itu. Dalam hatinja diusahakannja mengenalinja satu-persatu dan giranglah perasaannja ketika ia dapat kenal kembali akan mereka dan dapat pula menghubungkannja dalam susunan pergaulan jang diperintahinja dua tahun jang telah lalu: Ali, anak orang tua jang tinggal dekat kalangan, Jusuf, suami Djanawar jang tinggal antara dua rumah dari rumahnja, demikianlah seterusnja. Dan dalam hatinja terbajang dusun tempat kediamannja dan anak buahnja, seperti ditinggalkannja dahulu.

Ketika ia tiba diluar kembali, beberapa lamanja ia berdiri disisi balai memandang sekelilingnja dalam tjahaja jang baru keluar dari selubung awan.

Tetapi…apakah itu jang bergerak perlahan-lahan antara kelihatan dengan tiada dalam tempat jang gelap didjalan kearah Pagar Alam, tak berapa djauh dari balai?

Pesirah Karim menadjamkan matanja melihat bajang-bajang jang menjerupai manusia itu dan tiada setahunja ia sudah mendekat beberapa langkah.

„Siapa?” katanja menjegak sekonjong-konjong, sebab dalam hatinja bangkit sangkaan jang tak baik. Siapa pulakah jang menjelinap ditempat jang gelap pada tengah malam jang sepi itu?

Tetapi belum datang berbalas gaung suaranja dari rimba jang lebat pada tebing sekeliling lembah, tiba-tiba bajang-bajang jang kabur itu djatuh meniarap dikakinja. Terkedjut surut ia selangkah, tetapi segera ia mendekati pula, setelah terdengar kepadanja suara jang lemah, mengharap iba: „Ampunkan aku! Bukan orang djahat!”

Pesirah Karim menunduk mengangkat menegekkan laki-laki jang menjembah kakinja itu dan dibawanja kehadapan balai, ketjahaja-pelita damar jang sedang berkelip-kelip. Maka kelihatanlah kepadanja laki-laki itu: berkain dari pinggang sampai kelutut, tak berbadju. Badannja jang agak tinggi itu kurus-lisut, tulang rusuknja tersusun mengalur-alur dadanja dan mukanja putjat berkerut-kerut. Tetapi dalam tjahaja merah-kabur itu terang kelihatan, bahwa usianja belum tua: rambutnja masih hitam, mulutnja terperenjup oleh tiada bergigi, sangat berlawanan dengan rupa badannja dan tjahaja mukanja jang laju-lesu.

„Engkau dari mana?” tanja pesirah Karim, mula-mula kuat hampir menghardik, tetapi segera menahan suara oleh karena ingat, bahwa sekalian orang sekelilingnja tidur lelap!

„Aku seorang musafir hendak pulang kedusun Pulau Pinang.”

„Dari mana engkau tengah malam ini?” tanja pesirah Karim pula sambil menilik laki-laki itu dengan siasat. Ada sesuatu jang rasa-rasa dikenalinja, tetapi pada saat itu tak insaf ia apa jang menarik hatinja pada laki-laki jang gandjil itu. „Aku tadi dari Pagar Alam, berdjalan perlahan-lahan tetapi telah lama benar aku merantau, tidak pulang-pulang.”

„Dan sekarang ini…?”

„Sekarang aku minta dikasihi menumpang menginap disini.”

Dan perkataan jang diutjapkannja penghabisan itu, hampir tak kedengaran, lena-letih membajangkan kelelahan badan dan hatinja.

Pesirah Karim terdiam pula melihat laki-laki itu dari kaki sampai kekepalanja.

Tidak, orang jang selisut dan selesu itu takkan dapat berbuat djahat dan ingatan jang bukan-bukan itu dilenjapkannja dari dalam hatinja.

„Tjarilah sendiri tempat bagimu dibalai ini!” katanja dan setelah melengos penghabisan iapun berbelok melangkah meninggalkan laki-laki itu menudju kedjalan.

Dimukanja diseberang djalan membudjur djurang sungai Lematang, gelap dan penuh rahasia dalam malam jang sunji senjap. Bunji derus air jang naik dari dasarnja jang tak kelihatan dan tak dapat dilihat, laksana suara jang gaib, jang datang dari tempat jang gaib, membangkitkan perasaan jang djauh-sajup bagi siapa jang mendengar.

Diseberang djurang jang hitam melintang itu memagar tebing gunung jang hitam pula. Puntjaknja jang hitam itu berkelok-kelok seperti bentangan gulungan kertas hitam jang miring digunting, tak tentu aturan bentuknja. Dibalik tebing hitam itu membentang langit jang kelabu-djernih, penuh bertahtakan bintang berkelip-kelipan, penaka beribu-ribu kunang-kunang jang terbang amat djauhnja. Awan halus jang bersambung-sambung dan senantiasa berubah rupa, berarak perlahan-lahan dri bulan jang seperdua penuh, menudju kebalik pagar hitam, jang seolah-olah tersandar pada tepi langit.

Pemandangan jang dahsjat ditengah rimba pada tengah malam jang sunji itu meresap kedalam hatinja, membangkitkan perasaan jang gandjil dan sajup-sajup dari dasar relung kalbunja jang tersembunji, membubung-halus laksana uap embun jang tiada teraba, tiada kelihatan pada pagi hari, apa bila sinar matahari belum memantjarkan panasnja.

Dua tahun lamanja ia dinegeri orang, melihat bermatjam tamasja dan kegandjilan jang belum pernah ditemuinja seumur hidupnja. Djaranglah ia teringat akan tanah airnja ditengah pegunungan itu, oleh karena berdjenis-djenis pemandangan jang baru mendesak kedalam djiwanja.

Tetapi sekarang, pulang kembali didaerah tempat penghidupannja jang lama dan tempat rakjat jang terserah kepadanja, insaflah ia oleh perbandingan jang tak sengadja terlangsung didalam sanubarinja, akan tali jang mengikatnja kepada hutan dan padang, gunung dan lurah jang melukisi tanah airnja.

Setelah beberapa lamanja tak bergerak-gerak, memandang kedjurang, kegunung dan kelangit dihadapnnja, menolehlah ia kebelakang, ketebing jang tjuram, jang rendah sedikit dari kepalanja. Maka kelihatanlah kepadanja diantara bajang-bajang pohon jang setinggi manusia itu tjahaja bulan menembusi susunan daun, turun kebawah menusuk gelap-gulita. Dan diatas daun dan dahan bersimaharadjalela sinar bulan, tak terusik, tak terganggu, diseluruh hutan jang tiada berwatas.

Maka melihat sinar bulan bermain-main dibawah, diantara dan ditas pohon-pohon jang setinggi manusia itu, uap kenang-kenangan jang halus, jang membubung dari dasar tjelah-tjelah sanubarinja, makin terang dan berupa makin mendesak dan menjenak.

Dan nampaklah oleh mata djiwanja diantara pohon-pohon itu gambar dirinja sendiri, buas dan ganas, hendak menjerang, memukul dan membunuh.

Berpuluh djiwa manusia telah dipunahkannja, dihentikannja keras dan kedjam, pada permulaan, pada pertengahan dan pada penghabisan perdjalanannja didunia ini. Tua dan muda, ketika itu baginja tak ada bedanja, asal dapat ia memuaskan nafsunja akan kekajaan dan harta.

Maka kelihatanlah kepadanja sekalian temannja satu-persatu: Amat, Sohan, Tusin, Sanip dan Samad.

Sekedjap terhenti pikirannja pada kenangan kepada temannja jang achir itu. Samad…Samad…Rupanja terbajang didalam hatinja…… Kemanakah perginja dahulu?…Alangkah banjak persamaan air mukanja dengan laki-laki jang kurus-lisut, jang baharu dilihatnja itu…

Iapun hampir berbalik kembali hendak menemuinja dibalai!

Tetapi laksana bandjir jang tiada dapat ditahan-tahan mendorong kedalam hatinja ingatan akan perdjuangan jang hebat empat lima belas tahun jang telah lalu, ketika ia dengan teman-temannja menjamun saudagar Hadji Sahak jang baharu pulang dari mendjual kerbaunja di Palembang. Dan bajang2 Samadpun hilanglah dari matanja!

Nampaklah terang dan njata dihadapannja pondok tempat saudagar itu bermalam anak-beranak. Betapa ia dengan teman2nja menjerang pondok dan gerobak, betapa ia menikamkan lembingnja kebadan orang jang tiada berdosa itu dan betapa ia membantingkan perempuan isteri Hadji Sahak jang hendak menolong suaminja. Dan anak perawan jang ditarik dan diseretnja melalui semak dan rimba dengan tak menaruh iba-kasihan kepondok jang djauh tersembunji ditengah hutan.

Sekaliannja djelas nampak kepadanja seolah-olah terlangsung pada saat itu djuga.

Maka hantjur-remuk rasa hatinja dan dengan tak berpikir sesaat djuapun berbeloklah ia, berdjalan melangkah besar-besar menudju kerumah tempat tidur anak-isterinja.

Tangga kaju jang tinggi-tinggi berderak-derak dinaikinja dalam dua tiga langkah sadja. Pelita damar jang hampir padam terletak diberanda, tidak dipedulikannja sedikit djua pun. Segera dibukanja pintu menudju keruang tempat tidur anak-isterinja. Maka dihadapannja kelihatanlah kepadanja orang jang ditjintainja itu, tidur njenjak, tiada insaf akan suatu apa. Laksana oleh suatu kekuasaan jang gaib dan mahakuasa, tertegunlah ia memandang kepada mereka; kalbunja jang penuh sesak itupun redalah. Orang jang tidur lelap dihadapannja itu, hilanglah dari pemandangannja. Dan sebagai gantinja kelihatanlah kepadanja perawan jang sutji, jang mendjaga selama ia sakit ditengah rimba. Jang dalam kelemahannja dapat menguasai badannja jang kuat-kasar dan nafsunja jang kedjam-kedji. Jang memimpinnja dari hutan belantara jang lebat kedusun tempat kediaman manusia. Dan jang achirnja menanam didalam kalbunja segala perasaan jang mulia dan sutji jang hilang-lenjap dari djiwanja oleh penghidupannja dan pergaulannja sebagai penjamun.

Dan setelah hidupnja terikat oleh tali djasa dan budi pada hidup perawan itu!

Tenaganja jang pajah ditjahari bandingannja tak pernah meninggalkan badannja. Dimana-mana ia ditakuti orang oleh kekuatannja jang lebih dari manusia biasa. Dan tenaganja itu serta pikirannja jang tadjamlah jang mendjadikan ia kaja dan hartawan ditengah pergaulan manusia. Sebab tanah Pasemah jang subur itu pengasih penjajang kepada sekalian manusia jang kuat, radjin bekerdja dan berakal.

Tetapi bukan kekuatannja jang ditakuti orang, bukan pikirannja jang tadjam dan bukanlah kekajaannja jang banjak jang menjebabkan orang senegerinja, sampai-sampai djauh dibahagian Pasemah jang lain, hormat, malu dan segan kepadanja, jang menjebabkan ia berbahagia dalam hidupnja.

Dan ketaatan akan ibadat, sipat pengasih dan pemurah dan budi jang halus, jang meninggikan deradjat ditengah manusia dan menetapkan tempat jang terpilih diachirat jang esa, sekaliannja Sajulah jang membangkitkan didalam djiwanja. Sebab lain dari pada segala jang gana itu ada jang lebih berharga, jang tiada turut berkubur dengan bungkusan hajat.

Maka pada tengah malam jang sunji-senjap itu, laki-laki jang kuat dan besar itu meniarap mentjium kedua anaknja berganti-ganti dan sebelum ia merebahkan dirinja akan memitjingkan mata, ia menengadah keatas, mendoa sedjurus, mengutjapkan sjukur atas tuntunan Ilahi jang berkah dan rahim atas hidupnja.

XIX

KEESOKAN harinja kedua-duanja berangkat meninggalkan lembah Lematang. Seorang kearah Selatan dan seorang kearah Utara.

Tetapi sebelum berangkat itu mereka telah bersua sebagai sahabat seperti empat lima belas tahun jang telah lalu.

Samad mentjeritakan kemelaratan dan kesengsaraannja dalam pengembaraan sedjak pertjeraian pada malam perampokan jang sial itu. Malang datang menimpa malang, segala jang dipegangnja tak mendjadi dan sekalian usahanja tiada berhasil. Djauh perdjalanannja dan banjak negeri jang telah dikundjunginja, tetapi dimana-mana sial jang ditemuinja.

Tetapi dalam mentjeritakan nasibnja jang sedih sesedih-sedihnja itu, tiada terbuka sedikit djuapun rahasia pengembaraannja jang gandjil itu: apa sebabnja ia tak kembali kepondok ditengah hutan, mengapa ia meninggalkan tanah Pasemah, pergi mengedari rantau orang.

Banjaklah sudah jang dialami dan dideritanja, tetapi meskipun demikian perasaan keinsafan akan dosa jang menjala-njala membakar didalam djiwanja, tak kundjung-kundjung lenjap. Kemana-mana ia pergi ia diturutinja dan didorong-dihalaunja, terus, terus mengembara, tak berhenti-henti: pulang kembali ketanah Pasemah berarti berhadapan dengan Medasing dan teman-temannja, jang menurut kejakinannja jang pasti, telah insaf akan tipu-dajanja jang rendah.

Sampai suatu masa! Ketika tenaganja telah berkurang, ketika sekalian harapannja akan bahagia telah tumpas-lepas. Dalam kelemahannja jang terang-terasa kepadanja itu, bangkit disudut djiwanja, djauh dinegeri orang, perasaan rindu-sendu hendak pulang melihat anak-isterinja jang dahulu tak pernah diatjuhkannja…

Pesirah Karim mengadjaknja membawa anak-isterinja mengikutnja ke Pagar Alam. Disana ia akan dapat hidup aman-sentosa sampai hari tuanja.

Tetapi Samad tetap menolak adjakan itu, dan ketika pesirah Karim bertanja kepadanja apa sebabnja, ia tak dapat, tak mungkin dapat mendjawab.

Jang telah lima belas tahun dikuntji-matinja dalam djiwanja pasti tak mungkin dikeluarkannja dalam sekedjap!

Tidak, tidak, ia takkan dapat hidup dekat pesirah Karim suami isteri, seperti gelap-gulita tak dapat bersanding dengan terang-tjuatja.

Demikianlah mereka bertolak sama-sama meninggalkan lembah Lematang, masing-masing menurut arahnja!

Tetapi seorang dimertju kebesaran dan kemuliaan hidup manusia, diiringkan oleh berpuluh-puluh orang, penuh kegirangan dan bahagia dan jang seorang lagi lemah-letih, hina-miskin dan sebatang kara menudju harapan jang tak dapat diharapkan.-