Baca EPUB: Anak Desa

1 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

SUGIARTI SISWADI
Anak Desa
Kacabenggala Editions

Publisher Note

This edition does not include a publisher’s note. For this digital restoration, this page is repurposed to acknowledge those whose efforts made its preservation possible.

This digital edition owes its existence to the preservation efforts of the Universitas Indonesia Library, as many of Lekra’s works were lost, burned, or poorly preserved over time.

An accessible web version of this book, optimized for readability and research, is available on ilalang.drepram.com.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

bagian 1

ENTAH karena besi laras bedil, atau karena pipinja jang panas membara, rasa dingin jang sangat, membangunkannja dari kelelapan jang tidak terbatas lamanja. Ia buka matanja, dan ia merasa berada ditempat jang tidak dikenalnja. Tangan kanannja masih sadja terus memeluk karabennja erat². Dan samar² ia ingat antara ada dan tiada, bahwa telah berkali-kali ada orang² berusaha melepaskan karaben itu dari pelukannja dan berkali-kali itu pula ia mempertahankannja, dengan memeluk lebih kentjang dan menindihnja dengan dua belah lutunja. Dalam keadaan setengah mimpi ia masih ingat pesan pak Witojo, komandan bataljon bahwa : „Bagi pradjurit sendjata adalah sebagian dari njawanja, bahkan sebagian dari namanja. Orang masih boleh kehilangan njawanja tetapi djangan sampai orang kehilangan namanja. Karena itu biar bagaimana, sendjata tidak boleh lepas atau hilang. Sendjata harus tetap berada ditangan.”

Ia mengeluh perlahan-lahan, karena rasa njeri pada tangan kanannja. Sesosok tubuh jang samar² mendekatinja, mungkin karena mendengar erangnja, mentjoba sekali lagi mengambil karaben dari tangannja. Paidjo mengumpulkan kekuatannja dan dengan menggertakkan gigi, ia tindih karaben dengan tubuhnja dan ia peluk lebih erat lagi. Dirasanja matanja panas karena menahan marah, ia mendesis : „Djangan berani tjoba lagi, bangsat. Tidak akan aku lepaskan karaben ini”. Kemudian tabir hitam kelam menutup mukanja, ia tengelam dalam laut hitam jang tidak ada dasarnja.

Ia teringat masa ketjilnja. Terajun-ajun, terbuai-buai seperti dahulu dipunggung kerbaunja, satu²nja kekajaan jang pernah dimilikinja. Ia terkantuk-kantuk dipunggung kerbau, dan tiba² bunji jang menggemuruh mengagetkan kerbaunja jang seperti kemasukan setan lari kentjang² mengempaskan Paidjo ketjil ditanah. Kerbau itu gila dikedjutkan oleh truck jang menderu-deru di-djalan desanja. Ia terhampar pingsan dipinggir djalan, baru sadar kembali setelah diusung kerumah. Ibunja meramukan obat²an Djawa dan ajahnja mengurut kakinja. Ketika matanja dibuka hanja satu jang ditanjakan : „Kemana si Paing pak ?” (Paing nama kerbaunja). Ia merasa sangat bahagia, ketika didengarnja, bahwa si Paing selamat tidak kurang satu apa.

Tetapi saat jang bahagia itu Paing pulang kembali kekandang tidak berusia lama. Beberapa bulan kemudian ia dan ajahnja menggiring Paing kepasar, mendjualnja karena tidak ada pilihan lain. Djepang datang dan djedjaknja jang berdarah terasa didesanja. Ia pulang kembali kedusun, dengan hati luka, tanpa Paing. Ajahnja telah menukarkan Paing dengan beberapa lembar karung, beberapa kilo beras, beberapa liter djagung dan beberapa karung gaplek. Paidjo menukar tjelana kiper hitamnja dengan tjelana karung; adiknja, si Ijah berkain karung; ajahnja bertjelana karung; emaknja berkain karung; hanja si baji berpopok serpihan kain² tua.........

Tetangga²nja beruntun mati karena busung beri². Ajahnja membeli njawa keluarganja dengan mendjadi romusha. Dan Paidjo tidak pernah bertemu lagi sedjak itu. Ajahnja mati.

Sinar jang terang menjilaukan mengangkatnja dari laut jang hitam tidak berudjung. Ia membuka matanja. Ternjata ia dibuai-buai diatas truck jang kentjang berlari, dan sekarang berhenti didepan bangunan jang putih bersih. Paidjo masih memeluk karabennja, didorong dalam usungan melewat gang-gang pandjang litjin berbau lisol. Seorang dokter jang nampak ketjapean membuka selimut Paidjo jang penuh darah.

„Kenapa tidak kalian angkat karaben itu,” katanja pada pradjurit² jang mengantar.

„Kami telah tjoba berkali-kali, tetapi ia memeluknja erat²”.

Dokter membuka selimutnja, daging tangan kanan Paidjo jang hantjur hampir menempel dengan karaben jang mendjadi panas karena suhu badannja. Dokter meraba laras karaben, mentjoba melepaskannja, tetapi Paidjo jang setengah sadar menjambarnja dengan bentakan.

„Djangan kau tjoba² ambil karabenku. Lebih baik aku mati dari pada melepaskannja. Setan !” Ia tenggelam lagi dalam lautan jang kelam.

bagian 2

Suntik morphine telah mebebaskannja dari kenjerian jang tidak tertahan. Perlahan-lahan rasa sesak didada menghilang, dan ia dibuai mimpi jang indah. Tetapi mimpi indah itu datang bertumpuk-tumpuk, bersusun-susun, adn ia selalu melihat dirinja sendiri dalam tumpukan bersama-sama dengan banjak manusia. Orang² jang bersorak, bendera jang naik, berkibar-kibar ditiup angin, ia berbaris mengenakan seragam hidjaunja jang baru, adiknja si Ijah jang kawin, Sumi patjarnja dari dinas kesehatan jang tersenjum-senjum manis, dan pak Witojo jang tampan, jang agak timpang sedang mengurusnja. Teori gerilja, pengalaman² long march Tentara Merah Tiongkok dan ilmu perang lainnja. Pak Witojo djuga telah membukakan dunia jang lain dalam fikiran Paidjo. Ia mengerti mengapa ajahnja harus mati sebagai romusha didjaman Djepang.

„Fasisme adalah diktatur terror terang²an dari kaum kapitalis monopoli,” begitu keterangan pak Wit. „Fasisme telah melemparkan selubung demokrasi dari kediktaturan burdjuis. Fasisme adalah militerisme biadab untuk menjelamatkan kehantjuran modal monopoli.”

Pak Witojo djuga mengadjarkan hari depan umat manusia. Komunsime. Demikianlah, Paidjo mendjadi pradjurit jang tahu untuk apa peluru ditembakkan, dan kemana laras diatjungkan. Untuk hari depan umat manusia. Ketjintaannja kepada Paing, kerbaunja, pada masa kanak²nja, tjinta pertamanja, sekarang mendapat bentuk jang djelas. Ia tjinta, sangat tjinta kepada ideologi jang dianutnja. Dirasanja, dunia mendjadi lebih mudah difahaminja, dan sinar matahari semakin hangat dan tjemerlang.

Dimana pak Witojo sekarang ?

bagian 3

Hari mulanja mendjadi pradjurit tidak banjak berbeda dengan kawan²nja. Mengepit bungkusan badjunja jang sudah usang dan membawa surat mandat dari markas ketjamatan ia melaporkan diri dimarkas kabupaten. Tanpa banjak kesulitan ia diterima mendjadi anggota laskar Pesindo.

Ia ingat, waktu pertama kali memegang sendjata. Hari itu, sambil berdjalan pintjang ia mengikuti barisan kelapangan utara kota. Boroknja jang menahun jang setengah membusuk diatas mata kakinja jang kanan merojak lagi. Pak Wit tengah menerangkan rahasia karaben Djepang, pak Sud membongkar P.M., dan Pardi mentjoba vickers. ia duduk agak djauh, dibawah pohon munggur. Kakinja jang pekongan mendenjut-denjut.

„Lihat, begini tjara mengokang. Tarik keras² kebawah sampai habis, bidik, sekarang tarik pelatuk kuat-kuat.” Darrrrrr ! ! ! !

Burung² terbang terkedjut. Seorang-seorang mentjoba menembakkan karaben, melajani P.M. dan membidik dengan pistol. Hanja Paidjo jang menonton dibawah pohon munggur.

„Djo, sini,” teriak pak Wit. „Korengmu dikaki, bukan ? Tanganmu masih bisa pegang karaben. Sini tjoba”.

Terpintjang-pintjang menahan rasa sakit jang menghentak-hentak ia menudju ketengah lapangan. Ditimangnja karaben jang telah kehitaman kajunja. Ia mulai mengokang. Keringat mengutjur, keras djuga dan ia agak gugup.

„Terus Djo, terus tarik. Bidik. Tarik pelatuk.”

„Tarik kuat-kuat”.

Karena keberatan, popor karaben dikebit diketiaknja. Sambil kertak gigi ia tarik pelatuk. Darrrr ! ! ! Paidjo terhujung kaget mendengar letusan itu. Kawan² menertawakan.

„Kembang katjang kembang kedele, sikil pintjang akeh bubule,” Witojo bersenandung. „Aku djuga pintjang lo Djo. Entah karena dimakan bubul, entah karena digergadji Djepang dulu.” Kaki Witojo pintjang karena siksaan Djepang.

Ketika teman²nja berlatih merangkak, Paidjo memahirkan menembak. Dengan sarung kumalnja jang direntakan didinding belakang markas diberi lingkaran² sasaran bidik, ia berlatih tiap² hari. Karena tekunnja, bersamaan dengan sembuhnja borok ia telah djadi pembidik ulung.

Ia berangkat kemedan perang Semarang.

Regu beregu mereka berbaris ditengah kota menudju stasiun. Pasukannja bukan pasukan jang mentereng, seragam hidjaunja sudah usang, dan tidak semua bersepatu. Tetapi persendjataannja lengkap. Paidjo telandjang kaki, menjandang ransel, dipinggangnja bergantung dua granat tangan, berdjalan diekor barisan.

Banjak jang diangankannja tentang medan perang. Mestinja seperti medan dalam film Partisan jang gegap-gempita jang dahsjat. Tetapi pengalaman pertamanja mengetjewakan. Selama setengah bulan hanja terdjadi satu kali kontak sendjata. Kedua belah fihak tidak mempergunakan sendjata berat. Tembakan meletus sekali-sekali. Waktu itu orang² Pemerintah sdeang berunding di Linggardjati, medan perang sepi. Tetapi digaris belakang, medan mendjadi sangat panas. Partai² politik saling hantam, dan laskar²nja pun ikut berhantam.

Digaris belakang Paidjo pernah mengepung markas barisan kere. Barisan kere jang liar ganas itu mentjulik anggota dapur umum, bedil hampir sadja bitjara menjelesaikan pentjulikan itu.

Mula² Paidjo terpesona djuga oleh orang² barisan kere itu. Mereka pernah mengadakan demonstrasi. Pengemis² Pasar Legi, Pasar Pon, dengan badju tjompang-tjamping, diseling dengan puluhan tukang tjopet dan tukang kepruk berbaris keliling kota dengan membawa sembojan-sembojan galak. „Barisan kere, barisan supra revolusioner.” „Barisan kere pembela sedjati rakjat murba djelata”. „Hidup barisan kere, barisan radikal revolusioner kiri.”

Pak Witojo mendjelaskan pada kursus berikutnja, bahwa : „Peradaban dunia dibangun oleh tangan rakjat pekerdja. Tidak pernah sedjarah berkembang diatas tangan orang² jang tidak bekerdja, kaum pelatjur, pengemis, tukang tjopet, tukang kepruk dan maling. Mereka itu sampah² jang dilemparkan oleh kapitalisme. Hanja sosialisme dan komunisme akan mendjamin kerdja untuk semua orang dan makan untuk semua orang. Ini pemetjahan satu²nja bagi mereka, sampah² jang tidak bekerdja. Ini obat jang mudjarab bagi bisul masjarakat jang mendenjut-denjut, jang menambah rasa sakit”.

Setelah peristiwa pentjulikan itu, ditambah dengan pokal mereka jang menggedor milik rakjat, mentjuri dan merampok dimedan perang, mengintimidasi, Paidjo djadi membentji barisan kere. Menulang sumsum.

Tetapi Paidjo mengalami perang jang dahsjat djuga achirnja, ketika demarkasi djebol dan Linggardjati dirobek-robek. Sebagai penembak ulung ia berada dilini pertama. Medan perang gegap gempita. Mendjelang tengah hari, Belanda menembakkan mortir seperti hudjan.

„Mundur, mundur,” perintah Witojo. Pasukan ditarik mundur. Tetapi Paidjo seperti kemasukan setan. Ia malah madju mendekati garis musuh. Dengan P.M. diseret ia merangkak madju, dibawah asap mortir, menghindari daerah ledakan. Paidjo kenal dari pengalaman bahwa setelah tembakan mortir, Belanda akan menjerbu. Paidjo dan Parman mendekam diparit depan gedung roboh.

„Djibaku Djo.”

„Djibaku Man.”

Sepi mortir, tank musuh menderu madju, memuntahkan tembakan senapan mesin tanpa sasaran.

„Sabar dulu, Man. Tunggu.”

„Serang,” perintah Paidjo. Parman melemparkan granat² tangan dan Paidjo memuntahkan peluru. Segera mereka disapu dengan senapan mesin, tetapi tank itu hanja berputar-putar sadja, tidak djadi madju. Mungkin dikiranja masih ada sepeleton tentara Republik jang menghantamnja dari lambung kanan. Tank mundur, Paidjo dan Parman tidak tahu mengapa mereka masih hidup. Parit itu gugur menimbuni mereka, hanja kepalanja tersembul.

Ketika sendja telah turun, mereka merangkak pulang kembali, berputar-putar mentjari tempat kedudukan pasukannja jang baru. Pak Wit menjambutnja dengan marah.

„Kalian memang setan. Setan. Mau mati konjol ? Kau kira kau punja njawa rangkap ha ? Lutjuti sendjatanja, masukkan sel.”

Esok paginja, pasukan menjeberangi kali mundur empat kilometer, P.M. Paidjo ditarik diganti dengan seputjuk karaben Djepang. Ia sangat mendongkol. Tetapi dengan karaben itu, malam berikutnja ia dapat tugas kembali kekubu jang lama, mengambil barang² jang tertinggal. Lutjunja, ia mendjadi sangat sajang pada karabennja. Ia diadjar untuk teliti dan saksama, tidak sembarangan membuang peluru, dan baru menembak apabila pasti kena sasaran.

bagian 4

Dokter datang lagi menengoknja. Paidjo membuka matanja dan menatapnja tadjam-tadjam.

„Tangan kanan hantjur, kaki putus, banjak kehilangan darah. Sebagai dokter aku tidak mengizinkan dia ditawan diluar rumah sakit.”

„Bangsat ini punja njawa rangkap,” sebuah suara terdengar. Paidjo mengenalnja. Itu dia, komandan pasukan kere. „Dokter, kalau tawanan penting ini hilang, ......... hmmm. Dia musuh negara. Dokter jang tanggung.”

Dengan kasar, musuh besarnja ini membuka selimut kaki Paidjo dan menggeram. Paidjo menutup mata.

Dokter memberi lagi suntikan morphine, dan ia hanjut tenggelam dalam lautan hitam tanpa sakit dan njeri. Kemudian muntjul bajangan² jang mengerikan, setan² jang buntung kaki, buntung tangan, tanpa kepala. Machluk² jang menodong dengan pistol, ber-tumpuk² menjeringai. Machluk² itu membentuk diri dalam wadjah jang samar telah dikenalnja, itu Alip laskar pentjil dari Srambatan, itu Tohimin, bandit Senden, itu Martijo barisan kere jang kaja raja......... Nampak stelling² ditengah kota Solo, opsir² pendatang jang mentereng djalan² ditengah kota dengan pistol segede kaki gadjah.

Kemudian turunlah hudjan bintang² jang tjemerlang, jang bersinar sinar, hidjau muda, biru muda, kuning muda, merah muda. Lalu barisan jang pandjang, pandjang. Itulah demontrasi perkasa dulu itu, menentang rasionalisasi Hatta. Semua pasukan, resmi atau tidak resmi, keluar berbaris. Meriam diseret ditengah djalan, senapang mesin dipasang dikap truck, dan ia sendiri menanggul karaben kesajangannja, bersabuk granat tangan. Barisan itu pandjang, pandjang sekali, kemudian mendjauh, mendjauh memasuki taman jang indah.

Tiba² ia tersentak. Kupingnja mendengung. Sebua hletusan dahsjat menghapus barisan pandjang itu. Ia pingsan, semua mengabur-mengabur......... Ia sadar kembali dan sekarang ia sedang tegak berkawal. Suasana hening sepi, ia melihat wadjah² jang putjat seperti lilin, wadjah jang ramah, jang baik jang sangat ditjintainja. Wadjah itu berbaring ditempat tidur jang indah, dikelilingi bunga aneka warna. Dipinggir kiri, ajahnja telandjang dada, dan bekas² tjambukan merah berdjalur-djalur. Ditengah, wadjah......... pak Tarto......... dan disebelahnja pak Witojo jang muda tampan. Pak Tarto memakai sarung dan pijama, badannja djernih seperti katja, dan ia dapat menembus kebelakang......... itu dia Pak Tarto tersungkur dipinggir djalan, sebutir peluru menembus punggungnja dimalam sepi, dan seorang pedjalan menjandung djenazahnja. Pedjalan itu memekik, dan pekik itu bersambung-sambung dengan dahsjat peluru berdesing diudara dan tjambukan djatuh bertubi-tubi. Markasnja digempur dengan mortir, oleh itu...... dia kenal betul. Orang² dari barisan kere, pemimpin barisan murba djelata jang kaja raja menundjuk-nundjuk dengan djarinja, dan serdadu berkulit tjoklat seperti dia sendiri membalikkan laras senapang kearah dadanja. Dibelakangnja, kelihatan serdadu² Belanda dari atas tanknja bertepuk-tepuk dan bersorak-sorak : „Betul, betul, tumpas sadja, tumpas sadja orang komunis.........” „Ja, ja, ja,......... tumpas sadja orang² merah.” Si Belanda dan si sawo-matang mengangkat tangannja, ......... tangan itu berlumur darah.

Wadjah lilin jang ditjintainja lalu naik, naik kelangit, dan tangan berlumur darah itu menggapai-gapai, memekik-mekik.

Tiba² ia tersadar, sadar betul² dan air matanja membasahi pipinja. Hilang sudah rasa njeri, Ia, Paidjo, anak desa jang telah bangkit mengibarkan Sang Merah Putih dan menegakkan Pandji Merah. Kini ia hampir tumbang, tetapi bendera itu tetap tegak.

Adjaran pak Witojo menerangi relung hatinja, dan membentanglah djurang jang tidak terdjembatani, diseberang sini orang² revolusioner sedjati, diseberang sana orang² kontra revolusi jang haus darah. Diseberang sana mereka berebut bangkai seperti serigala, dan ia melihat seorang² sahabatnja gugur.

Markasnja hantjur dalam pertempuran jang mendadak dan tidak seimbang. Serdadu² Hatta mengobrak-abrik kotanja.

„Hantjurkan orang komunis,” lolong serdadu² itu, jang lengkap dengan sendjata² mengkilap buatan Amerika.

Kolonel Sutarto sudah gugur diterror sebagai awal tjeritera sedih, dan puluhan perwira lenjap sebagai babak pertama tragedi. Ia, si Paidjo, melengkapi babak² berikutnja, babak darama berdarah, tjeritera tentang serigala² politik jang naik panggung kekuasaan.

„Pak Wit, pak Witojo,” bisiknja. Seluruh usia remadjanja terikat erat dengan Witojo, komandannja, bapaknja, gurunja dan kawannja. Pasukan Witojo undur keselatan, kedaerah Wonogiri. Betapa beratnja berlawan setelah tersergap, betul² tersergap.

„Long march ke Madiun pak,” usul pasukannja.

„Ja, ke Madiun, bergabung dengan induk pasukan. Mundur sambil menghantam.” Tetapi digunung kapur jang tandus itu mereka terkepung dan tidak mungkin lolos lagi.

Pada pagi² jang sedih, jang teram-temaram, pak Wit digiring ketempat hukum-tembak dilaksanakan. Paidjo dengan beberapa kawannja jang berhasil meloloskan diri pagi itu kembali lagi kedesa, bertjampur dengan Rakjat. Penduduk mengitari lapangan ketjil didepan kantor ketjamatan. Witojo berdjalan tampan dan gagah menudju pohon beringin tua. Tangannja diikat kebelekang. Ia telandjang dada. Bekas² siksaan masih mengutjurkan darah. Dibawah pohon menganga lubang jang sudah berisi beberapa majat. Anak buahnja. Ia menolak ditutup mata.

„Sebelum mati, aku mengadjukan permintaan terachir. Izinkanlah aku mengutjapkan sepatah dua patah kata.”

Regu penembak menurunkan laras bedilnja. Bedil² itu buatan Amerika.

„Aku suka menjanji. Aku ingin menjanji untuk terachir kali.” Suasana hening. Pak Witojo mengangkat mukanja, jang masih muda, jang tampan.

„Aku orang komunis. Dan orang komunis tidak pernah takut mati, meskipun ia mentjintai hidup. Untuk tjita²ku, kemerdekaan Indonesia dan Komunisme aku serahkan djiwa ragaku.” Ia berhenti sebentar. „Saudara-saudara, waspadalah. Sedjarah achirnja akan mengudji siapa benar siapa salah. Siapa pedjuang siapa pengchianat hidup Rakjat Indonesia jang kutjintai. Hidup Partai Komunis Indonesia”.

......Bangunlah kaum jang terhina,
bangunlah kaum jang lapar.
Kehendak sutji dalam dunia.
S’nantiasa tambah besar.........,
......... Sarekat Internasionale
pasti didunia.........

Lagu itu belum hilang dari bibirnja, ketika salvo meledak, dan Witojo gugur kebumi. Orang² menundukkan kepala.........

Tiba², Paidjo menjerbu ketengah dan meledakkan granat²nja jang terachir. Kemudian ia tidak tahu apa jang terdjadi, dan tersungkur memeluk karabennja, tembakan djatuh seperti hudjan.........

„Hidup Partai Komunis Indonesia”. Paidjo berteriak lantang. Tangan kirinja jang utuh melemparkan selimutnja.

Pintu terbuka, beberapa orang pengawal bersendjata masuk dan menghardiknja keras².

„Andjing kau ja, andjing komunis.”

„Merdeka ! Merdeka ! Hidup Partai Komunis Indonesia !” Paidjo berteriak lantang : „Bangunlah kaum jang terhina, bangunlah kaum jang lapar.”

„Tutup mulutmu, babi. Andjing.” Tindju menghudjani mukanja jang tjekung. Dokter masuk dan menjisihkan serdadu² jang kalap itu.

„Kalian menghinaku, menghinaku. Dia pasienku. Kenapa kamu berani memukulnja ?”

Seorang serdadu meludah.

„Djawab. Mengapa kalian memukulinja ? Ia sakit keras, luka parah.”

„Dia andjing komunis,” serdadu itu meludah lagi.

„Dan kau ?” tantang Paidjo berani. „Aku bangga mendjadi komunis. Untuk itu aku djadi pradjurit, dan menahan serangan Belanda. Untuk itu aku kibarkan Sang Merah Putih dengan njawaku. Aku bersihkan Tanahairku dari bangsat² pengchianat seperti kalian.” Ia berhenti terengah-engah. „Aku tahu untuk apa aku hidup, dan untuk apa aku mati.”

Seseorang mengeluarkan pistol.

„Merdeka. Merdeka. Hidup Komunisme.”

Tembakan meledak, menggetarkan dinding² rumah sakit. Anak desa itu telah pergi, menjusul orang² jang ditjintainja. Dokter menutup majat Paidjo, air matanja berlinang-linang. Lagi, seorang pahlawan telah pergi. Pahlawan sedjati.