Baca EPUB: aidit-membela-pantjasila

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Table of Contents
  2. Table of Contents
PARTAI KOMUNIS INDONESIA
Aidit Membela Pantjasila
Kacabenggala Editions

Publisher Note (Sekedar Pengantar)

Achir2 ini udara persatuan nasional revolusioner jang berporoskan Nasakom telah diratjuni oleh kegiatan-kegiatan koran2 kontra-revolusioner diibukota jang menjebarkan berita2 bohong.

Kali ini jang didjadikan „kambing hitam” jalah djawaban Menko/Wakil Ketua MPRS dan Ketua CC PKI, D.N. Aidit, didepan Pendidikan Kader Revolusi (Pekarev) tertanggal 16 Oktober 1964 mengenai Pantjasila. Serangan itu dimulai dengan podjok Berita Indonesia tertanggal 17 Oktober 1964, dan disusul oleh pers2 kontra-revolusioner lainnja. Mereka menggunakan tjara2 jang lazim dipakai oleh pers kuning dulu, seperti „Abadi”, „Indonesia Raya”, „Pedoman”, „Nusantara” dll.; jaitu pemalsuan, pemutarbalikan, insinuasi, pengadu-dombaan, dsbnja.

Letak persoalannja jang sesungguhnja sudah djelas dengan diumumkannja 2 transkrip jang memuat djawaban D.N. Aidit jang diutjapkan pada tanggal 16 dan 19 Oktober 1964 oleh Pendidikan Kader Revolusi.

Dengan maksud meninggikan kewaspadaan Rakjat terhadap praktek2 kontra-revolusi dibidang pers, untuk lebih mendjelaskan penerimaan PKI terhadap Pantjasila dan dengan demikian lebih memperkokoh persatuan nasional revolusioner jang berporoskan Nasakom, maka kami terbitkan brosur ketjil Aidit membela Pantjasila ini.

Bahan2nja diambil dari Harian Rakjat (HR), dan terdiri dari Surat terbuka D.N. Aidit kepada harian „Revolusioner” (HR, 23 Oktober 1964), 2 editorial HR tanggal 28 dan 30 Oktober 1964 dan 2 transkrip djawaban D.N. Aidit jang diumumkan oleh Pekarev dan jang dimuat dalam Harian Rakjat tanggal 30 Oktober 1964.

Semoga penerbitan ini bisa bermanfaat bagi para kader revolusioner chususnja dan bagi kaum Pantjasilais dan Manipolis sedjati umumnja.

Penerbit

Djakarta, 5 Nopember 1964.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

HARIAN „REVOLUSIONER” SUB-VERSIF, PENGCHIANAT DAN KONTRA-REVOLUSIONER!

Berhubung dengan tadjuk rentjana Harian „Revolusioner” tanggal 20 Oktober 1964 memuat fitnahan2 terhadap dirinja, Menko/Wakil Ketua MPRS, D.N. Aidit jang sedang berada di Bandung untuk Sidang2 Gabungan MPRS telah mengirimkan surat terbuka kepada Redaksi Harian „Revolusioner” jang lengkapnja sbb.:

Dalam Harian „Revolusioner” tanggal 20 Oktober 1964 saja membatja tadjuk rentjana jang antara lain berbunji sbb.: „Setjara tegas dan gamblang Menko/Wk. Ketua MPRS (dalam tadjuk rentjana itu djelas jang dimaksud saja — DNA) dalam tjeramahnja di Kursus Kader Revolusi Angkatan Dwikora telah mengatakan bahwa bila kita (Indonesia) telah mentjapai tarap hidup adil makmur dan telah sampai pada sosialisme Indonesia, maka kita tak membutuhkan lagi PANTJASILA”. Selandjutnja : „Kita katakan sadja setjara terang-terangan bahwa utjapan itu merupakan satu pengchianatan terhadap kejakinan 103 djuta Rakjat Indonesia …”.

Saja tidak heran bahwa Harian „Revolusioner” jang selama ini saja anggap harian subversif menulis hal jang demikian itu. Memang untuk hal jang demikian itulah Harian „Revolusioner” muntjul di-tengah2 masjarakat Indonesia.

Djadi, saja menulis surat ini tidak dengan harapan watak subversif Harian „Revolusioner” akan berubah, tetapi se-mata2 untuk membersihkan udara dari kabut ratjun jang telah ditebarkan olehnja. Keterangan saja jalah sbb.:

Pertama, jang saja katakan dalam kuliah dihadapan Pendidikan Kader Revolusi Angkatan Dwikora di Bank Indonesia, Djakarta, djustru kebalikan daripada apa jang ditulis oleh tadjuk rentjana Harian „Revolusioner”. Dalam rangka mendjawab salahsebuah pertanjaan, djustru saja mengatakan bahwa didalam masjarakat Sosialis, tahap kedua daripada revolusi Indonesia, Pantjasila sebagai alat pemersatu kita butuhkan, karena pada waktu itu djuga kita memerlukan persatuan. Sajapun dalam salahsatu kuliah pernah mengatakan, bahwa Pantjasila adalah Dasar Negara Republik Indonesia, karena Pantjasila dapat mempersatukan Rakjat Indonesia jang terdiri dari banjak agama, filsafat, adjaran, sukubangsa, dsb.

Kedua, pidato saja di-tape dan didengar oleh ratusan peserta Pendidikan Kader Revolusi jang bisa didjadikan saksi bahwa saja tidak mengutjapkan sesuatu jang mirip dengan apa jang ditulis dalam tadjuk rentjana Harian „Revolusioner”.

Saja mengharap Harian „Revolusioner” dan semua koran jang sudah mengutip tadjuk rentjana Harian „Revolusioner” memuat surat terbuka saja ini.

Karena tadjuk rentjana berbisa dari Harian „Revolusioner” tersebut sudah meratjuni udara kerdjasama dalam kegotong-rojongan nasional berporoskan Nasakom, sajapun mengharap pertolongan koran2 lain untuk memuat surat terbuka ini, untuk mana saja mengutjapkan diperbanjak terimakasih sebelumnja.

Saja tidak merasa perlu mengembalikan tuduhan „pengchianatan” kepada Harian „Revolusioner” berhubung dengan pemutarbalikan utjapan saja, karena sebelum itupun Harian „Revolusioner” sudah pengchianat.

Saja hanja mengharap kewaspadaan dari jang berwadjib.

Sajang perkataan „Revolusioner” digunakan untuk keperluan subversif, pengchianatan dan kontra-revolusi !

(Harian Rakjat, Djum’at 23 Oktober 1964)

RAKJAT INDONESIA BELUM LUPA SIAPA2 JANG SESUNGGUHNJA ANTI PANTJASILA

Bahwa dibelakang heboh2 Pantjasila ada kaum subversif dan kontra-revolusi sudah djelas, seperti sudah kita kupas kemarin. Kaum imperialis dan „Malaysia” nampaknja sudah „zeker” bahwa situasi sudah mulai ditjiptakan untuk suatu red-drive (pengedjaran terhadap kaum Komunis). Bekas anggota2 partai2 terlarang sudah pada bermuntjulan dibeberapa kampung di Djakarta, menjeringai menampakkan muka2 bengisnja. Memang ini satu blessing in disguise, mereka bermuntjulan sebelum waktunja. Mereka jang tadinja sembunji2, dengan digendangi oleh koran2 kontra-revolusioner pada keluar dan telandjang bulat dihadapan Rakjat di-kampung2.

Tapi kita sedar, sekalipun kali ini heboh2 Pantjasila mungkin segera berhenti, lain kali dia pasti akan muntjul lagi, selama di Indonesia masih ada kaum subversi dan kontra-revolusi. Pantjasila akan tetap mereka permainkan. Oleh karena itu kewaspadaan Rakjat harus terus dipertadjam. Ini tidak sulit, karena Rakjat Indonesia belum lupa siapa2 dan golongan2 apa jang menentang Pantjasila ketika sidang2 Konstituante. Bukan hanja Masjumi sadja, tapi ada golongan jang sekarang pura2 membela Pantjasila.

Harian „Berita Indonesia”, salahsatu biangkeladi dari heboh2 ini, jang terkenal sebagai pembawa suara Partai Murba tentunja belum lupa apa jang dikatakan oleh djurubitjara Partai Murba dalam salahsatu sidang Konstituante, jaitu antara lain sbb.: „Sdr.2 jth. Soewirjo dari PNI dan Ir. Sakirman dari PKI saking antusiasnja membela Pantjasila, dengan tidak memberi analisa mengenai Revolusi Indonesia, dengan gegabah mengambil kesimpulan bahwa Pantjasila tjiptaan atau hasil penggalian Bung Karno harus tetap mendjadi Dasar Negara, dan oleh karenanja wadjib kita pertahankan, djika perlu tanpa perubahan” (Buku „Tentang Dasar Negara Republik Indonesia Dalam Konstituante”, Djilid I halaman 377). Selandjutnja Partai Murba mengusulkan : „Sosial-Ekonomi sebagai Dasar Negara” (Buku sda hal. 382). Djadi, inilah tampangnja mereka jang sekarang pura2 bela Pantjasila.

Kita sangat sesalkan bahwa „Duta Masjarakat” (NU) dan djuga beberapa tokoh NU ikut ambilbagian dalam heboh2 Pantjasila. Padahal kita belum lupa apa jang diutjapkan oleh djurubitjara2 NU dalam sidang2 Konstituante ketika itu (lihat Buku sda, antara lain Djilid I hal. 406, Djilid II hal. 118, Djilid III hal. 147, Djilid III hal. 347). Kita sengadja tidak mengutip supaja tidak terlalu mengingatkan kepada keadaan ketika itu.

Sikap seseorang atau sesuatu golongan ketika sidang2 Konstituante adalah sikap jang seharusnja didjadikan ukuran, karena pada waktu itu Pantjasila berada dalam bahaja, dalam antjaman Masjumi dan DI-TII.

Tentu orang bisa berkata: jang sudah sudahlah, jang penting sekarang. Baik, kitapun mementingkan jang sekarang. Tetapi dalam mementingkan jang sekarang, kita tetap pada jang asli, jaitu bahwa perasan daripada perasan Pantjasila jalah gotongrojong, bahwa Pantjasila adalah „alat pemersatu untuk diatasnja kita letakkan Negara Republik Indonesia” (buku Tjamkan Pantjasila hal. 37).

Ada orang jang berkata, bahwa Bung Aidit „hanja” mau menerima Pantjasila sebagai alat pemersatu dan tidak mau menerimanja sebagai satu weltanschauung, satu dasar daripada Negara RI. Mengemukakan soalnja setjara demikian adalah keliru karena memberi kesan se-akan2 Pantjasila sebagai Weltanschauung dan Pantjasila sebagai alat pemersatu merupakan dua atribut jang berdiri sendiri2, padahal Bung Karno djelasdjemelas mengatakan bahwa Pantjasila diambil sebagai Dasar Negara dan Weltanschauung djustru karena ia adalah alat pemersatu. Demikian kata Bung Karno : „Dasar negara jang kita butuhkan pertama : harus satu dasar jang dapat mempersatukan. Kedua, satu dasar jang memberi arah bagi kehidupan negara kita itu” (buku Tjamkan Pantjasila, hal. 69).

Ja, demikianlah kalau mau setjara tenang mempersoalkannja.

„Berita Indonesia” kemarin menulis tadjuk rentjana dengan kepala „Mudah Dipetjahkan”. Memang mudah, kalau BI tidak merenggut utjapan Bung Aidit dari pidato keseluruhannja, dan tidak menerima laporan „spontan” dari orang2 jang melanggar ketentuan Badan Pelaksana Pekarev. Dan akan lebih mudah lagi, bahkan tidak akan mendjadi soal samasekali djika tidak ada kontra-revolusi dan subversi.

Pendeknja, ingatan Rakjat Indonesia tadjam dan notulen Konstituante masih belum dimakan tikus semua. Rakjat Indonesia belum lupa siapa2 jang sesungguhnja anti-Pantjasila.

(Editorial HR, Rabu, 28 Oktober 1964).

ACHIRI „HEBOH PANTJASILA”, PERKUAT PERSATUAN NASIONAL DENGAN TERUS MENGGANJANG KONTRA-REVOLUSI DAN SUBVERSI!

Jang berwadjib telah sampai kepada kesimpulan bahwa „heboh Pantjasila” oleh kaum kontra-revolusioner sudah sampai pada titik jang membahajakan negara, dan oleh karena itu telah memerintahkan diachirinja „polemik Pantjasila”. Kita menjetudjui, karena memang kita tidak pernah menginginkan polemik tentang Pantjasila. Pantjasila bukan untuk dipolemikkan, bukan untuk diseminarkan, bukan untuk diperdebatkan dan samasekali bukan untuk dihebohkan, tetapi untuk diamalkan. Inilah pendirian kita.

Soalnja sekarang sudah djelas bagi chalajak ramai. Pengumuman Badan Pelaksana Pekarev dan apalagi pemuatan in extenso pidato Bung Aidit tanggal 16 dan 19 Oktober 1964 dalam harian kita hari ini telah mengungkapkan bahwa :

Pertama, tuduhan bahwa Bung Aidit mengutjapkan dalam Sosialisme Indonesia sudah tidak diperlukan lagi Pantjasila, adalah isapan-djempol belaka.

Kedua, tuduhan bahwa Bung Aidit mengutjapkan Pantjasila hanja sebagai alat pemersatu djuga isapan-djempol belaka.

Ketiga, keterangan Bung Aidit tanggal 19 Oktober 1964 dimuka Pekarev bahwa podjok „Berita Indonesia” tanggal 17 Oktober 1964 merenggut samasekali dari uraian keseluruhannja, adalah sepenuhnja benar (disamping kutipan BI tidak persis).

Keempat, bahwa Bung Aidit dalam pidatonja tanggal 19 Oktober samasekali bukan merevisi pidato tanggal 16 Oktober, tetapi mendjelaskan jang sudah djelas dalam pidato tanggal 16 Oktober itu, sehingga djuga omong-kosonglah apa jang dikatakan „slip of the tongue” itu.

Kelima, bahwa terbukti baik dari pidatonja jang tanggal 16 maupun jang tanggal 19 Oktober Bung Aidit telah tampil membela Pantjasila dengan gigih setjara ilmiah, logis dan dialektis, sehingga dengan demikian pengertian Rakjat Indonesia tentang Pantjasila mendjadi lebih diperdalam.

Semuanja ini membuktikan bahwa „heboh Pantjasila” oleh koran2, organisasi2 dan tokoh2 kontra-revolusioner selama 12 hari ini samasekali tidak ada hubungan seudjung rambutpun dengan pembelaan terhadap Pantjasila. Jang djelas jalah bahwa dengan „heboh Pantjasila” kaum kontra-revolusioner telah menjebar ratjun-perpetjahan dikalangan Rakjat, telah mendjadikan Pantjasila sebagai alat pemetjah-belah — bertentangan dengan adjaran Presiden Sukarno tentang „Pantjasila sebagai alat pemersatu” dan dengan wedjangan Presiden Sukarno tentang „Pantjasila dan progresivisme”, dan sekaligus djuga telah menelandjangi dirinja dengan tidak tanggung2.

Djadi, djelas bukan soal Pantjasila, tapi kontra-revolusi dan subversi kasih lihat giginja jang ompong. Hal ini djelas dari pemutar-balikan jang sengadja mereka lakukan, terutama oleh editorial „Revolusioner” tanggal 20 Oktober 1964 jang telah dibantah dengan surat-terbuka oleh Bung Aidit. Sampai saat terachir mereka masih mau menipu, seperti pemberitaan harian „Warta Berita” tanggal 29 Oktober mengenai keterangan Badan Pelaksana Pekarev. Mereka samasekali menggelapkan berita „Antara” jang memuat bantahan BP Pekarev mengenai pemutar-balikan oleh editorial harian „Revolusioner” tanggal 20 Oktober dan oleh mereka jang memfitnah bahwa Bung Aidit pernah mengutjapkan Pantjasila hanja sebagai alat pemersatu.

„Heboh Pantjasila” djelas hubungannja dengan meningkatnja kegiatan kontra-revolusi dan subversi seperti jang disinjalir oleh KOTRAR. Kata2 jang mereka gunakan adalah kata2 jang membakar dan menghasut untuk bertindak setjara fisik. Mereka menggunakan kata2 seperti : „gantung”, „talkinkan”, „badjingan”, „maling”, „djahanam”, „monjet”, dsb. Untuk apa ini semua ? Djelas, untuk apa jang mereka katakan „kita harus rame2 patah tjengke mengerojoknja” (podjok „Revolusioner” jang dikutip „Berita Indonesia” tanggal 26 Oktober 1964). Semuanja ini bersambung dengan berita2 radio2 imperialis jang menggambarkan akan adanja coup d’etat di Indonesia dan berita sumber2 imperialis jang mengatakan bahwa Bung Karno akan meletakkan djabatan sebagai Presiden RI. Terang bahwa bukan hanja kata2 jang mereka pergunakan bertentangan dengan Pantjasila, tidak pantas diutjapkan oleh Pantjasilais, tetapi djuga terang bahwa mereka sepenuhnja bermain dengan kartu musuh Rakjat Indonesia, kartu „Malaysia”, kartu imperialis2 Inggeris dan Amerika Serikat jang ada dibelakang „Malaysia”.

Kalau kita sekarang menjetudjui penghentian „polemik Pantjasila” adalah untuk mendjaga supaja Rakjat tidak kena ratjun petjah-belah mereka jang bermain dengan kartu musuh. Djadi, samasekali bukan untuk bersatu dengan kontra-revolusi dan subversi jang telah membikin „heboh Pantjasila” itu. Ini harus djelas . Djanganlah dengan dalih „demi persatuan nasional revolusioner” merangkul kaum kontra-revolusioner. Harus djelas mana kawan dan mana lawan ! Ini soal prinsip. Mengenai prinsip, seperti dikatakan oleh Pd. Presiden Dr. Subandrio, tidak boleh dibidjaksanakan, dan dengan kaum kanan tidak boleh ada kompromi. Dengan semangat inilah kita menjetudjui diachirinja „heboh Pantjasila”.

Kegiatan2 kontra-revolusioner selama 12 hari ini telah membukakan mata Rakjat Indonesia, bahwa musuh dalam selimut masih terus mengintip. Mereka sangat nekad. Makin banjak kekalahan2 jang mereka derita, makin terdjepit mereka, makin serampangan dan makin terbuka kedok mereka. Djustru keserampangannjalah jang akan mengachiri riwajat mereka. Rakjat Indonesia jang kegotong-rojongan nasionalnja makin terkonsolidasi, jang poros Nasakomnja semakin meresap di-hati Rakjat, jang alat2 keamanan dan pertahanan negaranja makin terkonsolidasi baik dibidang mental maupun materiil, tidak akan mundur sedjengkalpun dari tempat kemadjuan jang sudah ditjapai selama ini.

Sebaliknja, Rakjat Indonesia akan madju terus, pantang mundur, dengan tekad jang sama ketika mereka menumpas kolonialisme Belanda, „PRRI-Permesta”, DI-TII, dan sekarang mengganjang „Malaysia”.

Kita achiri „heboh Pantjasila”, kita perkuat persatuan nasional revolusioner berporoskan Nasakom dengan terus mengganjang kontra-revolusi dan subversi.

(Editorial HR, Djum’at, 30 Oktober 1964).

TRANSKRIP: SEBAGIAN DARI KULIAH J.M. D.N. AIDIT DIDEPAN PESERTA PENDIDIKAN KADER REVOLUSI ANGKATAN „DWIKORA” DENGAN POKOK „MEMBANGUN DUNIA KEMBALI” TGL. 16 OKTOBER 1964 HARI DJUM’AT MALAM DJAM 20.00 - 22.00 DI AULA BANK INDONESIA

Kemudian ada pertanjaan: „Jang hebat dari konsepsi Bung Karno dibidang dalam Negeri adalah konsepsi NASAKOM sedang dalam bidang Luar Negeri adalah konsepsi NEFO kontra OLDEFO. Ini sudah djelas, bagaimana pendapat Pak Aidit kalau kita sebutkan jang paling hebat jang telah ditjetuskan oleh Bung Karno sebagai penggali Pantjasila, adalah sebagai Dasar Negara”

Para saudara, ingat apa jang saja katakan, salahsatu, salahsatu genialitet dalam soal dalam negeri saja katakan NASAKOM. Salahsatu genialitet dalam soal Luar Negeri jalah NEFO kontra OLDEFO. Kenapa saja menjebut NASAKOM, karena NASAKOM ini lahirnja tahun ’26, satu tjiptaan Bung Karno jang lahir lebih dahulu. Bahwa Pantjasila adalah genialitet, adalah betul, makaitu saja mengatakan waktu itu salahsatu daripada genialitet2 Bung Karno.

Kemudian, pertanjaan : „Pertanjaan kaum Komunis internasional pada PKI: mengapa sehingga PKI menerima gagasan NEFO? Bung Aidit mendjawab, bahwa djustru karena Lenin pernah berkata bahwa ’Hei Nasion2 tertindas seluruh dunia, bersatulah !’. Mengapa djawabannja tidak objektif, tidak objektif sebab PKI berdiri dibumi Indonesia dan berfalsafah Pantjasila, mengapa tidak seharusnja didjawab bahwa gagasan NEFO merupakan gagasan Revolusi Indonesia jang Universil. Dus tuntutan daripada Pantjasila itu sendiri”

Para Saudara. Saudara bertanja kepada saja sebagai Komunis, bukan. Saja harus memberikan djawabannja sebagai Komunis. Itulah buat saja, Komunis. Ada agama, ada nasionalis. Nah, saja dalam memberikan alasan2 persetudjuan tentu sebagai Komunis jang memegang Marxisme-Leninisme. Itu saja kira tidak asing, bahwa saja adalah dari partai jang berdasarkan Marxisme-Leninisme. Dalam saja menjetudjui dan saja tidak menjetudjui ini, saja kemukakan pendapat2 saja sebagai seorang Komunis. Itu saja kira bukan hal jang aneh, sebab kita akui adanja aliran Komunisme itu. Kita akui adanja aliran agama itu, kita akui aliran nasionalisme dinegeri kita, saja kira itu sudah djadi pengakuan semua.

Dan disinilah betulnja Pantjasila sebagai alat pemersatu. Sebab kalau sudah „satu” semuanja para Saudara, Pantjasila ndak perlu lagi. Sebab Pantjasila alat pemersatu, bukan ! Kalau sudah „satu” semuanja apa jang kita persatukan lagi. Djustru kita ber-beda2 perlunja Pantjasila itu. Ada Nas, ada A ada Kom, perlu Pantjasila itu sebagai alat pemersatu. Kalau sudah „satu”, apalagi jang akan dipersatukan. Djuga Bhinneka Tunggal Ika, harus kita pegang teguh, ber-beda2 tapi satu djua. Ber-beda2, ada Nas, ada A, ada Kom, tapi kita satu djua, ada alat pemersatu kita, Pantjasila kita, NASAKOM kita, MANIPOL kita. Ini, saja kira, sebagai peserta2 dalam persatuan NASAKOM, masing2 fihak mengakui adanja berbagai-bagai aliran itu. Dan djangan lupa, Bung Karno sendiripun adalah memegang djuga adjaran Marxisme. Malah beliau pernah mengatakan bahwa Marhaenisme adalah pentrapan daripada Marxisme di Indonesia, sesuai dengan kondisi2 Indonesia.

Djadi kenapa kalau saja memberi alasan dari segi Marxis keliru ? Saja tidak mengerti, bukan. Bung Karno sendiri mentrapkan Marxisme di Indonesia, sehingga Marhaenisme, Manipol beliau katakan dari satu kandang. Beliau katakan, saja masih ingat.

Kemudian, kawan2 kita dari golongan Islam tentu memberikan persetudjuan mereka atas segala jang sudah kita setudjui sekarang atas pengertiannja sebagai orang Islam. Djuga sdr.2 kita dari Katholik, djuga sdr.2 kita dari Budha, dari Protestan, memberikan alasan2 kenapa mereka setudju mengenai berbagai hal itu dari dia punja pendapat. Kita ada filsafat, Pantjasila, filsafat persatuan buat kita semua, itu betul. Sebab masing2 kita adalah mempunjai pendirian2 dan kita bersatu pada satu platform jang sama. Baik berupa Pantjasila, berupa NASAKOM maupun berupa MANIPOL.

(Harian Rakjat, Djum’at, 30 Oktober 1964)

TRANSKRIP: KULIAH/TANJA-DJAWAB/PENDJELASAN J.M. MENKO D.N. AIDIT DIMUKA PESERTA PENDIDIKAN KADER REVOLUSI ANGKATAN DWIKORA TANGGAL 19 OKTOBER 1964

Para Sdr. Kuliah saja tentang Manipol sebetulnja sudah selesai. Sekarang saja akan mendjawab pertanjaan2 jang tjukup banjak. Djadi, sebagaimana Sdr.2 ketahui, kuliah tentang MDK (Membangun Dunia Kembali) sudah selesai dan sudah saja tutup, dan djuga kuliah tentang Manipol-Usdek. Pada kesempatan ini, selain daripada mendjawab pertanjaan2, saja djuga akan menutup kedua-dua kuliah itu pada achir kuliah saja nanti dengan menjatakan harapan2 kepada para Kader Revolusi.

Sdr2. Baiklah sekarang kita mulai dengan mendjawab pertanjaan2 jang ada hubungannja dengan soal jang remeh, jaitu podjok disebuah surat-kabar. Djadi ada pertanjaan2 jang menjambung dengan podjok surat-kabar ini. Para Sdr., dalam podjok „Berita Indonesia” tanggal 17 Oktober — tentu tanggal 17 Oktober itu kebetulan sadja — itu ada podjok jang berbunji begini : „Mendjawab salahsatu pertanjaan dalam kursus Kader Revolusi semalam, Aidit menerangkan sbb, saja kutip : ’Kalau kita sudah bersatu Pantjasila tidak diperlukan lagi, sebab Pantjasila adalah alat pemersatu. Pantjasila sebagai filsafat persatuan, tetapi masing2 golongan sudah punja faham sendiri”. Itu saja kutip, kalimat jang saja batjakan tadi. Saja tidak tahu persis apakah begini utjapan saja. Tetapi seandainja begini para Sdr., seandainja begini, ambillah begini, pemuatan jang demikian ini bisa menimbulkan salah paham, sebab dilepaskan dari hubungan keseluruhan. Dengan dilepaskannja dari hubungan keseluruhan, pembatja bisa salah tangkap. Padahal Sdr.2 tentunja belum lupa bahwa saja menerangkan soal ini ada hubungannja dengan sebuah pertanjaan, dan saja akan terangkan itu pertanjaan apa.

Pertanjaan itu datangnja dari peserta nomor 111 kelompok 31, jang pokoknja, isi pokok dari pertanjaan itu para Sdr., tidak membenarkan saja menerima gagasan NEFO kontra OLDEFO dilihat dari segi Marxisme-Leninisme. Sebab saja terangkan pada waktu itu begini, kalau Sdr. masih ingat : bahwa saja bisa dengan sepenuh hati menerima gagasan NEFO kontra OLDEFO, sekalipun ada kawan2 saja kaum Komunis diluar negeri menjalahkan saja. Masih ingat barangkali, kalau ada terang ingatan. Sebab kaum Komunis dari luar negeri itu mengatakan begini : Ini perumusan keliru, NEFO — OLDEFO, seharusnja „Kaum buruh semua negeri bersatulah !” Itu jang seharusnja saja terima, atau kaum Komunis Indonesia terima. Saja bilang tidak. Ada utjapan Lenin jang mengatakan „Kaum buruh semua negeri dan nasion2 tertindas, bersatulah !”

Inilah landasan teorinja saja sebagai Marxis-Leninis menerima gagasan NEFO — OLDEFO itu, sebab dalam kalimat „Kaum buruh semua negeri dan nasion2 tertindas bersatulah !”, ini berarti bersatulah seluruh kekuatan NEFO. Djadi, saja menerima ini dengan segala pengertian, dengan segala kejakinan, bahwa saja menerima seudjung rambutpun tidak bertentangan dengan adjaran jang saja anut, Marxisme-Leninisme.

Nah, penanja ini berpendapat sebaiknja saja djawab tidak dengan utjapan Lenin itu, atau bisa djuga, seharusnja saja djawab tidak dengan menggunakan utjapan Lenin, akan tetapi saja djawab dengan mengatakan bahwa — jah — berdasarkan Pantjasila saja menerima gagasan2 NEFO — OLDEFO. Tentu ini bisa djuga. Saja tidak berkeberatan. Tetapi saja sebagai Marxis mendjawab seorang Komunis, tentu akan pakai alasan jang mudah dia mengerti, para Sdr. Djadi bukan tidak bisa didjawab : ja, karena filsafat pemersatu kami di Indonesia adalah Pantjasila, dari segi Pantjasila saja bisa menerima gagasan2 NEFO — OLDEFO. Tetapi djangan lupa, saja menerima Pantjasila-pun dari segi Marxis-Leninis. Kan saja sudah terangkan filsafat Komunis, djustru dari segi materialisme dialektis saja menerima Pantja Sila itu. Oleh karena itu saja bisa menerimanja dengan segala kejakinan, tidak sekedar ikut2an sadja atau sekedar, itu, ja, terpaksa. Tidak ! Karena filsafat materialisme dialektis, sebagaimana sudah saja uraikan, djustru dengan jakin saja menerima Pantjasila itu.

Djadi para Sdr., baiklah saja uraikan lebih landjut, karena djuga ada pertanjaan lain. Pantjasila sebagai alat pemersatu, Pantjasila sebagai dasar negara. Dan Pantjasila sebagai dasar negara itu, karena ia bisa mempersatukan seluruh bangsa kita jang terdiri daripada banjak aliran agama dan terdiri daripada banjak aliran filsafat dinegeri kita. Dengan dasar negara kita, Pantjasila, kita mempersatukan seluruhnja itu didalam kita punja negara.

Djadi, menurut fikiran saja begini. Saja dalam hal ini berbitjara terus-terang, supaja tahu, bagaimana pendirian golongan Komunis sebagai dasar untuk kerdjasama atau untuk mengeritiknja. Tapi ketahuilah bahwa Pantjasila menurut fikiran saja adalah filsafat pemersatu, tetapi bukan satu’nja filsafat. Dus, Pantjasila adalah filsafat pemersatu, tapi bukan satu’nja filsafat di Indonesia. Ada filsafat kaum Katholik di Indonesia, ada filsafat umat Islam di Indonesia, ada filsafat umat Budha di Indonesia, ada filsafat kaum Protestan di Indonesia, ada filsafat kaum Komunis di Indonesia, ada filsafat kaum Ilmu Klenik di Indonesia, ada filsafat kaum Mistik di Indonesia. Matjam2 filsafat. Dus Pantjasila adalah filsafat pemersatu, tapi bukan satu’nja filsafat. Dus, dengan demikian tidak berarti bahwa dengan menerima Pantjasila lantas tidak boleh lagi ada filsafat Katholik, tidak boleh lagi filsafat Budha, tidak boleh lagi filsafat Ilmu Klenik, tidak boleh lagi filsafat Komunis. Bukan demikian, menurut penangkapan saja. Dan kalau dibatja, djuga tulisan Bung Karno, saja persilahkan membatjanja dalam buku „Tjamkan Pantjasila” misalnja, terang sekali waktu beliau menerangkan tentang „grootste gemene deler” dan „kleinste gemene veelvoud”. Beliau mempersatukan jang bisa dipersatukan, sehingga pada umumnja, inilah, Pantjasila, ini, sebagai „grootste gemene deler dan kleinste gemene veelvoud”. Itu bisa dibatja dalam „Tjamkan Pantjasila” halaman 81 dan halaman 91. Sebagaimana halnja MANIPOL djuga. Manipol adalah program bersama. Dan batja dalam Manipol, disana dikatakan bahwa tiap2 orang, tiap2 partai, tiap2 organisasi boleh mempunjai programnja sendiri2. Akan tetapi semua harus menerima dan melaksanakan Manipol sebagai program Revolusi kita semua. Malahan harus diadjarkan sedjak sekolah dasar sampai sekolah tinggi itu Manipol. Tetapi tiap2 orang, tiap2 organisasi, tiap2 partai boleh mempunjai programnja sendiri, tetapi semua harus menerima dan melaksanakan Manipol sebagai program Revolusi.

Menurut pendapat saja, tiap2 aliran, Agama jang terdiri daripada aliran2 lagi, Komunis, Nasionalis, boleh mempunjai filsafat dan adjaran masing2, akan tetapi semua harus menerima Pantjasila, dengan selandjutnja Nasakomnja, dengan selandjutnja Manipolnja, Pantja Program Front Nasionalnja, itu tidak terpisah. Itu menurut pandangan saja, Saudara2.

Saja sudah djelaskan bahwa saja djustru dengan kejakinan penuh menerima Pantjasila. Dan saja kira, kawan2 kita dari golongan agama djuga dengan sepenuhnja menerima Pantjasila. Kalau saja mengatakan saja bisa sepenuhnja menerima Pantjasila dilihat dari segi Marxis-Leninis, kawan2 Islam dilihat dari segi filsafat Agama Islam, kawan2 Protestan dilihat dari segi filsafat Agama Protestan, kawan2 Budha dilihat dari segi filsafat Budha, kawan2 kita jang menganut Ilmu Klenik, ia menerima Pantjasila dilihat dari filsafat Ilmu Klenik itu, dan lain2. Djadi saja kira biasa, para Saudara, misalnja, seorang tokoh Islam menerima gagasan2 Bung Karno, biasa mereka mensitir ajat Qur’an atau Hadhis untuk membenarkan penerimaannja. Apakah salah itu, dilihat dari segi agamanja, ajat Qur’annja dan Hadhisnja, maka NEFO — OLDEFO, misalnja, begini keterangannja. Saja kira baik, dan saja kira baik sekali. Djuga misalnja seorang, tidak terbaca sendiri dan pada pokoknja menjetudjui Pantjasila. Jang penting bagi kita bahwa semua menjetudjui Pantjasila. Dus tidaklah, dengan menerima Pantjasila, lantas dibungkem tiap2 golongan itu berbitjara tentang adjarannja masing2, saja kira tidak begitu. Saja kira.

Malahan kita akan senang, kalau tiap2 aliran, tiap2 golongan itu bisa menerima Pantjasila atas dasar diapunja filsafat, untuk menerima filsafat persatuan. Memang Pantjasila itu adalah satu filsafat, satu filsafat persatuan, sebagai dasar negara kita, jang ia bisa mendjadi dasar negara karena ia merupakan filsafat persatuan.

Hanja para Saudara, hanja kalau kita mengakui dan mengerti adanja ber-bagai2 aliran itu, berbagai aliran agama dan aliran2 filsafat lainnja, hanja kalau demikian itu kita bisa mempersatukan. Kalau tidak mengerti ini, tidak mengakui adanja, ndak bisa mempersatukan. Hanja kalau kita memahami betul bahwa itu ada, dan mengerti, kita bisa mempersatukan. Tetapi kalau kita anggap remeh tentang ber-bagai2 filsafat jang hidup dinegeri kita, djangan bitjara tentang soal mempersatukan, tidak bisa mempersatukannja. Bung Karno bisa menemukan Pantjasila itu, jalah karena beliau mempeladjari dengan baik ber-matjam2 filsafat itu. Islamisme beliau peladjari dengan baik, Katholisisme beliau peladjari dengan baik, Protestantisme, Budhisme, Marxisme, beliau peladjari dengan baik; kemudian bisa. Tapi mengakui adanja dulu, malahan menurut fikiran saja, mengakui pentingnja adanja itu, baru bisa kita mempersatukan. Tetapi kalau sudah meremehkan, apalagi menjakiti hati penganut dari filsafat2 itu, tidak bisa mempersatukan. Sebab, menurut fikiran saja, filsafat Pantjasila djuga tidak bisa dipisahkan dengan satu filsafat daripada Empu Tantular, tentang Bhinneka Tunggal Ika, „Unity in Diversity”. Unity in Diversity, berbeda2 tetapi satu djua. Berbeda-beda tapi satu djua, dan ini dialektis, berbeda-beda tetapi satu djua. Djelas, sepenuhnja dialektis. Maka itu saja betul2 kagum kepada genialitet daripada Empu Tantular, bahwa kita punja Datuk dulu, sudah begitu lamanja, tetapi beliau bisa memikir setjara dialektis. Bhinneka Tunggal Ika, jalah dalam istilah Marxisnja, dalam istilah Marxisnja jalah „Unity in Diversity”, berbeda2 tetapi satu djua. Demikian djuga mengenai Pantjasila, menurut fikiran saja.

Para Saudara. Saja sudah menerangkan bahwa saja tidak setudju penghapusan, bukan hanja daripada filsafat2 tetapi djuga dari partai2, sampai ketahap kedua dan seterusnja. Selagi dibutuhkan oleh kita bersama, ini perlu ada. Sebab saja berpendapat, selama masih ada perbedaan antara kita, itu Bhinneka Tunggal Ika tetap berlaku, Pantjasila tetap berlaku. Dan saja berpendapat perbedaannja adalah langgeng. Perbedaan bahwa akan lama dan mungkin akan seterusnja saja tidak tahu, ribuan tahun lagi, bahwa ada Islam, ada Katholik, ada Protestan, ada Komunis, ada Nasionalis. Selama masih ada perbedaan ini, dan saja berpendapat langgeng, perlu ada filsafat pemersatu itu, perlu adanja Pantjasila sebagai alat pemersatu.

Dus saja rasa, saja berpendapat, perbedaan itu langgeng, oleh karena itu saja berpendapat djuga Pantjasila itu langgeng. Kan sudah saja sebutkan djuga dalam uraian saja disini, sehingga saja katakan, waktu ada pertanjaan : apakah sesudah tahap pertama djuga diperlukan Pantjasila, Nasakom? Djuga saja katakan : djuga diperlukan partai2. Kan, saja kira, terang sudah. Tetapi kalau dibatja itu podjok, itu memang bisa salah tangkap orang, sebab dilepaskan daripada keterangan2 jang saja berikan sebelumnja. Dan tidak diketahui dalam hubungan apa saja memberi keterangan itu.

Djadi mereka jang tidak suka, menurut faham saja, mereka jang tidak suka melihat seorang menindjau sesuatu dari disamping dari segi filsafat Pantjasila, dari filsafatnja masing2, menurut fikiran saja, ini bertentangan dengan Pantjasila, sebab tidak mengakui adanja filsafat2 jang lain, tidak mengakui adanja filsafat2 jang lain. Sedang menurut fikiran saja, sebagai Pantjasilais, kita harus menerima, mengakui adanja filsafat2 jang lain, malah mengakui pentingnja filsafat2 jang lain. Akan tetapi semua filsafat2 jang lain itu, faham2 jang lain, adjaran2 jang lain, menerima Pantjasila sebagai milik kita bersama.

Dus sekali lagi, kalau kita tidak mau ambil pusing terhadap adanja ber-matjam2 filsafat dan adjaran2 dinegeri kita ini, kita tidak bisa mendjadi Pantjasilais jang baik, karena kita tidak menilai, tidak menghargai adjaran2 dan filsafat2 jang lain. Dengan sendirinja orang2 jang tidak dinilai dan tidak dihargai itu, merasa tersinggung perasaannja. Bagaimana kita mau mempersatukannja?

Djadi, pertama-tama, menghargai dulu. Ja, saja mau bersatu dengan golongan agama. Tidak lain djalannja saja harus menghargai dulu golongan itu. Tanpa menghargai kita tidak bisa mentjapai persatuan. Djuga kalau orang mau membikin Nasakom, tanpa menghargai Komunis, tidak bisa mentjapai Nasakom, tanpa menghargai Nasionalis tidak bisa mentjapai Nasakom. Tidak bisa ! Mesti pertama2 mengakui adanja, tidak tjukup itu, menghargai adanja, mengerti adanja, menganggap penting adanja. Dus mereka jang mengungkiri, kenjataan adanja perbedaan2, mengungkiri kenjataan perbedaan dalam filsafat dan adjaran2, dalam isme2, dan mau membikin Pantjasila sebagai satu-satunja filsafat setjara artificial, setjara di-bikin2, sebetulnja mereka mau membunuh Pantjasila.

Sekali lagi saja ulangi, supaja djangan salah tangkap. Sebab suka disalah tangkap, itu ! Mereka jang mengungkiri kenjataan adanja perbedaan2 dalam filsafat, dalam isme2, dalam adjaran2, dan mau membikin Pantjasila sebagai satu2nja filsafat, dus jang lain tidak boleh, jang lain dilarang, sebenarnja, dengan setjara berbuat di-bikin2, artificial, kunstmatig itu, orang itu mau membunuh Pantjasila. Pantjasila ada karena ada perbedaan2 jang harus dipersatukan, dan saja berpendapat perbedaan itu adalah langgeng. Djadi bukan saja jang mau menghapuskan Pantjasila sebagai alat pemersatu, tetapi mereka jang mau setjara artificial, setjara di-bikin2 dan menganggap adjaran keagamaan, adjaran Marxisme sebagai tidak ada, ini jang mau menghapuskan Pantjasila. Saja menerima kelanggengan Pantjasila, karena saja menerima keabadian perbedaan. Bukan perbedaan dalam Manipol, karena mengenai Manipol tidak ada perbedaan, satu mengenai Manipol. Tetapi mengenai filsafat, mengenai adjaran. Saja berpendapat, bahwa adjaran2 keagamaan maupun adjaran kemasjarakatan, itu akan lama saudara2, malah saja katakan langgeng.

Djadi, demikianlah saja punja keterangan, saja kira sudah djelas bukan ? Saja kira ! Kalau belum djelas, ja nggak tahu lagi saja.

Djadi, kalau filsafat jang sudah, kalau filsafat2, ber-bagai2 filsafat, — sudah menerima Pantjasila — misalnja filsafat keagamaan, Marxis — sebagai alat pemersatu, kalau filsafat2 itu dilarang dengan alasan Pantjasila, maka Pantjasila sudah tidak ada artinja lagi. Kalau sudah melarang filsafat2 jang lain, bukan lagi alat pemersatu, tetapi sudah mendjadi alat penindas. Dus, kalau dengan alasan Pantjasila, filsafat2 lain dilarang, ini„ Pantjasila bukan lagi alat pemersatu tetapi alat penindas. Dan saja tidak mau mendjadikan Pantjasila alat penindas. Saja tidak setudju Pantjasila didjadikan alat penindas. Sampai mati saja akan bela Pantjasila sebagai alat pemersatu. Saja djuga berpesan kepada generasi jang akan datang supaja membela Pantjasila sebagai alat pemersatu.

Nah, saja kira djelas para saudara. Djadi, sekali lagi, tanpa mengakui adanja ber-bagai2 filsafat, baik filsafat keagamaan maupun filsafat kemasjarakatan, dan tanpa memberi arti penting kepada filsafat2 ini, tidak bisa kita melaksanakan Pantjasila sebaik-baiknja. Dan menurut pendapat saja, para saudara, Pantjasilais membutuhkan lebar dada. Dada jang lebar. Orang sempit dada, tidak bisa mendjadi Pantjasilais. Sempit dada, nafasnja sesek. Lihat Bung Karno, seorang Muslim, Muslim, dapat bintang tertinggi dari Paus, oleh Paus. Hebat nggak itu, seorang Muslim dapat bintang tertinggi dari Sri Paus, bersahabat akrab dengan Sovjet, dapat sendjata, ja, ini mesti lebar dada. Pidatonja di Kairo dipudji setinggi langit oleh Tiongkok, RRT. Tjoba ja, Muslim, dapat bintang tertinggi dari Paus, bersahabat akrab dengan Sovjet, dapat sendjata, pidatonja di Kairo dipudji setinggi langit oleh RRT. Nah, lihat, bagaimana hebat-nja ini. Lebar dada, para saudara, kalau mau djadi Pantjasilais. Tetapi kalau sempit, mengurung diri sebagai katak dibawah tempurung, tidak bisa mendjadi Pantjasilais. Didalam negeri, lihat Bung Karno, seorang Muslim, ada kongres Partai Katholik, pidato disana. Kepada Kristen, kepada umat Budha sangat bersahabat, di kongres PKI bitjara djuga, „go ahead PKI”, katanja dalam kongres jang belakangan ini. Nah, ini kalau mau djadi Pantjasilais. Lebar dada, tidak sesek. Djadi, sedikit sadja mengandung phobi, gagal mendjadi Pantjasilais. Nah, itulah sedikit keterangan saja, mudah2an dengan ini perdebatan diantara sementara Kader Revolusi, bisa di-bikin terang.

(Harian Rakjat, Djum’at, 30 Oktober 1964).