Baca EPUB: afrika-asia-setelah-1955

1 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

AMAK SJARIFFUDIN
Afrika-Asia Setelah 1955
Kacabenggala Editions

Publisher Note

This edition does not include a publisher’s note. For this digital restoration, this page is repurposed to acknowledge those whose efforts made its preservation possible.

Artikel ini diterbitkan di majalah Sketsmasa tahun 1965 dalam edisi No. 9, Th. VIII. Majalah Sketmasa terbit pertama kali pada 1 Oktober 1957, diinisiasi oleh Suripto dan Sugiri.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

Tiga pokok perdjoangan jg. harus terwudjdkan dari tudjuan utama pertemuan besar jg. mewudjudkan „Semangat Bandung”. Kenjataan jang bagaimanakah telah dibawa oleh Dasa Sila Bandung bagi AA dan Dunia?


Sebagian dari bendera para peserta KAA I di Bandung th. 1955 nampak berkibar dilapangan terbang Bandung. Semangat jg. dipantjarkan dari negara2 itu besar pengaruhnja kepada AA dan dunia.


Didalam menjambut „Hari Anti-Kolonialisme”, Dr. H. Roeslan Abdulgani jang dulu mendjabat sebagai Sekdjen Konperensi AA ke I di Bandung, menjatakan dalam bahasa Inggeris untuk Radio Moskow antaralain: „Sedjak Asia dan Afrika berhubungan dengan Eropah tiga atau empat abad jg. lalu, rakjatnja kehilangan kemerdekaan dan perkembangan (kemadjuan)nja sebagai akibat dari perbuatan imperialisme dan kolonialisme Eropah”. Dan kemudian ditambahkannja: „Hal itulah jang membuat mereka menentang imperialisme dan kolonialisme, membebaskan diri dari dominasi kolonial dan membuat pola perdjalanan hidup mereka sendiri. Mereka merasa pentingnja membangkitkan kembali kebesaran dan kekuatan jang mereka ketahui dimasa lampau, dan sadar sepenuhnja akan peranan mereka dimasa sekarang, dan peranan jang akan dipunjai dimasa depannja…”

PERANAN ASIA-AFRIKA

Hampir semua orang kulit putih merasa memiliki supremasi (keunggulan) jang lebih tinggi dibandingkan dengan orang2 jang berkulit tidak putih. Mereka tidak mau tahu tentang kebesaran masalalu bangsa2 bukan kulitputih. Mereka dilahirkan dan dibesarkan dialam kedjajaan bangsa2 Barat jang dapat mentjipta alat2 modern, dan hampir semua negara2 Barat mempunjai daerah-djadjahan. Dan mereka merasa sebagai „madjikan” jang mempunjai budak2 di Afrika dan Asia ini.

Kedaan jang sedemikian inilah menjebabkan daja pikir mereka diselimuti merasa lebih pandai dan lebih tinggi deradjatnja dibandingkan dengan orang2 Asia-Afrika.

Pikiran jang sedemikian ini terlebih2 lagi terasa kuat sekali dimasa sebelum petjahnja Perang Dunia II, dimana kebesaran itu bisa dikata masih mentjapai puntjaknja, meskipun jg. tahu tentang perdjalanan politik mengetahui, bahwa bangsa2 Afrika dan Asia terutama mulai bangkit dengan organisasi2 ataupun partai2.

Tidaklah mengherankan, ketika tiba2 sadja mereka dikedjutkan oleh kelandjutan Perangdunia kedua ketika Djepang menjerang mereka dan mengusir kekuatan mereka dalam dua tiga bulan sadja! Mereka terkedjut, mengapa pangkalan terkuat di Pearl Harbour (Hawaii) bisa diserang oleh Djepang dan dilumpuhkan dlm. Beberapa djam sadja!

Mengapa pertahanan Hongkong runtuh dengan tjepat, mengapa Singapore jang dibanggakan kekuatannja bisa runtuh, mengapa pertahanan di Indonesia berantakan!

Kini terbukalah djaman baru buat orang2 kulit putih, bahwa bangsa2 jang tidak berkulit putih ternjata sanggup menguasai daerahnja masing2.

Peranan jang dipegang oleh orang2 Afrika-Asia jang muntjul setjara serentak ini kelihatan djelas sekali ketika Perangdunia II itu selesai.

Terasa sekali, bahwa negara2 Barat—Eropah terutama—ternjata harus banjak bergantung kepada sumber peghasilan daerah2 AA. Mulai dari hasil bumi sampaipun hasil tambang. Mulai dari kebutuhan bahan2 mentah untuk diolah mereka sampaipun kepada pendjualan produksi barang djadi mereka kedaerah AA.

Keadaan jang sedemikian ini—jakni perobahan djalannja sedjarah dan terasa tergentjetnja hasil2 jang pernah diperasnja dari bumi Afrika-Asia—membawa banjak tokoh2 pemerintahan negara2 Barat berusaha sekuat tenaga untuk tidak melepaskan apa jang pernah didapat mereka dengan hasil jg. besar itu.

API KESADARAN UNTUK MERDEKA


Meskipun telah lewat masa 10 tahun sedjak tahun 1955 itu, tetapi dibeberapa bumi AA masih terdjadi kekedjaman2 tentara asing dan boneka2nja. Nampak tentara boneka Tshombe (Kongo) memburu-buru rakjat jang tidak senang kepadanja dikota Leopoldville.


Peladjaran jang pernah diterimanja dengan pahit sekali dari bangsa2 pendjadjah itu membuat bangsa Asia dan Afrika bergerak kearah kesadaran sepenuhnja akan perlunja mereka tjepat2 memerdekakan diri.

Api kemerdekaan itu mendjalar pertama2 di Asia, dengan petjahnja Revolusi Indonesia pada 17 Agustus 1945, beberapa hari setelah diumumkannja Perangdunia II selesai.

Kebangkitan matjam inilah jang mau tidak mau bisa dianggap sebagai pelopor dari bangkitnja seluruh bangsa2 bekas tertindas di Asia dan Afrika, dan mendjalar dengan tjepatnja. Dorongan untuk merdeka itu didjalankan mereka dengan berbagai djalan. Djalan perdjoangan berdarah, perdjoangan parlementer dan diplomasi, serta tidak luput pula perdjoangan mereka itu didukung oleh negara2 atau bangsa2 lainnja jang telah merdeka. Baik didukung melalui organisasi dunia seperti PBB, maupun langsung menjuarakan melalui kesatuan2 atau gabungan2 kekuatan antara negara2 jang merdeka itu.

Salah satu jang paling djelas dari daja pendorong untuk menudju kemerdekaan dan kedaulatan matjam itu, jalah melalui gabungan dan kebulatan tekad didalam Konperensi Asia-Afrika ke I di Bandung th 1955. Tjetusannja jang njata jalah melalui „Dasasila”-nja.

Salah satu bukti sadja nampak njata, ketika KAA-I diadakan, maka 29 negara2 AA menghadirinja. Kemudian dari hasil KAA itu, berkat dorongan semangat Dasasila Bandung tadi, maka 36 negara AA lagi mendjadi merdeka.

Mengapa mereka dapat bergabung djadi satu kekuatan, dan berusaha memberi bantuan sekuat tenaga untuk membebaskan negara2 AA lainnja jang tertindas?

Menlu Pakistan, Zulfikar Ali Bhutto, jang duduk sebagai ketua delegasi dalam menghadiri Musjawarah Menteri2 A.A pada April 1964 jang lalu antaralain menjatakan sbb: “Not with standing certain differences between themselves, they were able, on the basis of their common experience of colonial rule and its evil legacies, and also of their shared aspirations for the future, to devise a frame work of Asian-African co-operation…” (Dengan mengabaikan perbedaan tertentu diantara mereka sendiri, mereka sanggup, berdasar pada pengalaman jang sama disebabkan kekuasaan kolonial dan perbuatan djahatnja, dan mereka djuga bersama2 ikut memiliki aspriasi2 untuk masadepannja, untuk membentuk suatu kerangka kerdjasama Asia-Afrika…).

Kesadaran2 matjam jang diungkapkan oleh Menlu Pakistan itulah menjebabkan mengapa negara2 Asia dan Afrika—meski mereka ada jg bersengketa sesama AA-nja sendiri karena beberapa perbedaan faham atau bekas2 perbuatan pihak kolonialis/imperialis—telah dapat menjatukan faham prinsip demi kepentingan kemerdekaan, kedaulatan dan perdamaian dunia.

MASA DEPAN JG. MENGCHAWATIRKAN NEKOLIM


Pada AA tahun 1955, dimana 29 negara ikut serta dalam kebulatan tekad dalam KAA I tahun 1955. (Lihat tanda-tanda/angka-angka). Tetapi daerah itu bertambah luas sekarang dengan negara2 Afrika jang baru, untuk turut dalam KAA I.


Kenjataan bangkitnja Afrika-Asia setelah tahun 1955, jakni setelah penjelenggaraan KAA ke-I itu, mau tidak mau membuat gentar negara2 jang tidak menginginkan kebangkitan matjam itu. Menakutkan negara2 pendjadjah maupun negara imperialis. Mereka memandang masa depan mereka jang suram, disebabkan sumber2 penghasilan bahan mentah dari bumi AA akan kering kerontang buat mereka. Dan mereka terpaksa mendapatkan dengan djalan jang sulit, dengan djalan membeli harga jang ditetapkan oleh bangsa AA, serta mau tidak mau membawa akibat produksi barang2 mereka, sebagai salah satu djalan mendjalankan imperialismenja, mendjadi susut hebat.

Buat bangsa AA sendiri tidaklah berarti, bahwa menjatukan dirinja itu berarti „menutup dirinja sendiri terhadap hubungan dengan bangsa2 lain”, atau menutup hubungan dengan negara2 bekas pendjadjah itu. Hubungan itu tetap ada, dengan dasar sama deradjad. Tetapi bagaimanapun djuga pada prinsipnja tidak bisa melepaskan tudjuan pokok dari kehendak bangsa AA, jakni lenjapnja kolonialisme dan imperialisme dunia ini.

Didalam pidato penutupan Sidang Musjawarah Menteri2 Afrika-Asia, Ketua Sidang Dr. Subandrio antaralain mengutjapkan konklusi dari aspirasi bangsa2 atau negara2 jang tergabung dari kelompok AA itu: „Saja katakan bahwa ini bukan sebagai seorang chauvinis, seorang chauvinis Afrika atau seorang chauvinis Asia, tetapi hal itu disebabkan kita harus merobah kedudukan hubungan internasional kita, hubungan internasional dimana negara2 dan bangsa2 dapat madju mengeksploitasi bangsa lainnja. Dimana djuga terdapat solidaritas dimasa lampau, kerdjasama kuat dimasa itu, tetapi kerdjasama dan solidaritas kuat untuk mengeksploitasi bangsa lainnja, jang mana (tindakan itu) disebut imperialisme. Disana terdapat solidaritas diantara negara2 untuk memiliki daerah orang lain, untuk mengeksploitasi bangsa lain, untuk untuk mengeksploitasi daerah orang lain. Tetapi disana tidak ada solidaritas diantara negara2 jang diexploitir…”

Dari sinilah dapat diambil kesimpulan pokok, apa sebab bangsa2 AA merasa perlu mengadakan kerdjasama dan solidaritas, mengadakan penjatuan kekuatan untuk mengangkat deradjad dirinja sendiri dan tetap mengadakan hubungan dengan negara2 diluar AA dengan ukuran sama deradjad, serta bertekad menghantjurkan usaha atau niat kolonial maupun imperialisme, dalam bentuk apapun atau dari negara manapun djuga.

Tekad matjam ini jang mengchawatirkan kaum nekolim.

TIGA POKOK DIPERDJOANGKAN

Peranan jg dibawa oleh bangsa2 dan negara2 merdeka di Afrika-Asia jang mulai nampak sedjak KAA-I ditahun 1955, sampaipun didalam Musjawarah2 di Kolombo untuk membitjarakan masalah dunia dan sengketa India-Pakistan dan India-RRT, kemudian konperensi Non Blok di Kairo, lalu Musjawarah Menteri2 Afrika-Asia di Djakarta untuk membitjarakan KAA-II, sampaipun penjelenggaraan KAA-II dalam waktu dekat ini, serta perdjoangan2 diplomasi jang pernah dilantjarkan disidang2 Perserikatan Bangsa2, dan rentjana untuk mendjadi pelopor dalam Conference of The New Emerging Forces (Conefo) dll, semua itu merupakan usaha realisasi dari tiga pokok jang diperdjoangkan oleh bangsa2 Afrika-Asia. Jakni oleh mereka jang tjinta kemerdekaan, kedaulatan dan perdamaian dunia.

Tiga pokok jang mendjiwai semangat KAA itu jalah:

1.
melandjutkan perdjoangan menudju kenjataan (kedaulatan) penuh dari kemerdekaan nasional (bangsa2 AA);
2.
mengisi kemerdekaan jang sesuai dengan gedjolak dan memenuhi kehendak dari aspirasi nasional (bangsa AA);
3.
untuk memastikan persamaan deradjad setiap bangsa dengan tingkat kedudukan dan prosedur hubungan internasional pada saat sekarang ini.

Untuk mendjalankan tiga tudjuan pokok jang demikian ini tidak gampang. Sebab meskipun hanja tiga pokok utama, tetapi djustru disitulah letak jang tidak dikehendaki oleh kaum nekolim. Dan djustru sebab itu pula, mengapa mereka berusaha untuk menggagalkan atau menghalang2i usaha2 pertemuan atau kebulatan tekad bangsa AA. Djustru itulah mereka mentjoba merintangi seperti pelaksanaan KAA-II ini!***