Baca EPUB: Abu

3 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

SOBRON AIDIT
Abu
Kacabenggala Editions

Publisher Note

This edition does not include a publisher’s note. For this digital restoration, this page is repurposed to acknowledge those whose efforts made its preservation possible.

Abu adalah novelet pertama dari Derap Revolusi, kumpulan novelet dan cerpen yang diterbitkan Lembaga Kebudajaan Rakjat pada tahun 1962. Diketik sepenuhnya oleh Wamela Nugyadanti.

Digitizer Note

This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.

All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.

The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.

BAGIAN I

NAMA SEBENARNJA BUKAN ABU, TAPI ABUBAKAR. Orang² memanggilnja Abu. Orangnja sudah agak tua bagi anak² muda. Tapi masih muda bagi orang² tua, sebab umurnja memang tanggung. Baru 38 tahun kata orang² tua. Sudah 38 tahun kata anak² muda. Badannja kekar, kuat, otot²-nja timbul, tidak begitu tinggi, sekali-kali bukanlah pendek. Jang terang, tidak kurus, berisi penuh, tanda radjin bekerdja.

Ibu bapanja sudah meninggal, saudara²nja masih ada, tapi tak seorang diantara mereka itu mau memperdulikan tjara hidupnya, bahkan ada saudaranja jang tak mau mengakuinja saudara. Tapi Abu tak ambil perduli akan sikap itu. Dia tak pernah menjandarkan hidup pada saudara²nja, tidak pernah minta² pada saudara²nja. Dia hidup diantara orang² kampung, hidup antara Rakjat. Tidak pernah menjakiti hati orang, bahkan selalu menjenangi dan membahagiakan orang. Dan jang mendjadikan orang² selalu senang ialah, pertama : dia selalu berwadjah terbuka, tersenjum manis, kadang² terlihat gigimasnja agak merah bertjampur kekuningan. Dalam keadaan apapun dia tersenjum, baik diperolok-olokkan maupun sewaktu dimarahi, dihina, ditjatji, disindir. Orang² jang memarahinja, menjindir, menghina, sebenarnja dalam kesadaran, mereka sajang, menjajanginja.

Kedua : dia ini sangat radjin bekerdja. Disuruh apa sadja mau, asal mungkin dikerdjakan. Orang² lain tak mungkin mengerdjakannja, tapi kadang² Abu mungkin mengerdjakannja, dan pekerdjaan itu selesai dengan baik. Dua hal ini mendjadikan dia tokoh jang paling terkenal dalam sebuah kota kabupaten itu. Ditambah lagi bahwa dia ini : tidak menjadari diri, tidak bisa membawa diri, paling kuat makan, makannja luar biasa banjaknya sesuai dengan bekerdjanja luar biasa radjin dan kuatnja. Dikata tolol, sebenarnja dia tidak tolol, tjukup sampai kelas lima SR waktu djaman pendjadjahan Belanda dulu. Dikata gila lebih salah lagi, dia samasekali tidak gila. Jang benar ialah dia ini tokoh paling terkenal dengan watak dan sifat²nja jang asli, wadjar tidak dibuat-buat.

Orang² tua memanggilnja Abu, tapi anak² ketjil jang berumur enam tudjuh tahupun atau anak² muda jang berumur belasan tahun tetap memanggilnja Abu, tidak „paman” misalnja, apalagi „bapak”. Dia tak punja nama kehormatan, tapi tjukup dikenal oleh semua orang sekabupaten, dari Rakjat jang tak punja pekerdjaan tertentu sampai bupati. Tentang pekerdjaannja? Nah, inilah jang hebatnja. Hari ini dia disuruh membersihkan kakus dirumah pak agen polisi Mahdum, memindahkan isinja jang sudah penuh. Upahnja boleh makan siang dan makan malam sebanjak-banjaknya dirumah itu, dan dengan beberapa rupiah sadja, tjukup untuk merokok sehari penuh. Keesokannja dia disuruh menjabit rumput jang sudah agak tinggi dihalaman rumah pak lurah. Kemarennja lagi dia mengerdjakan : menumbuk padi dirumah pak Salim, seorang pegawai kantor kehutanan. Tiga hari jang lalu dia mengambil air seharian untuk orang kenduri dirumah seseorang. Dulupun pernah dia bekerdja sampai lima hari penuh dirumah pak Hasan jang akan mengawinkan anaknja si Halimah gadis semampai tinggi dengan mandor djalan.

Suatu waktu, dia menudju kepasar untuk sekedar djalan² sadja. Kebetulan lewat rumah Entjik Siti. Dan Entjik Siti ini sedang hamil dan mengidam. Entjik Siti memanggil : „Bu, sini, tolong petikkan mangga itu”, sambil Entjik Siti menundjuk kesebuah mangga muda, jang hanja satu²nja berajun diranting hidup yang agak ketinggian kira² 20 meter. „Tadi sudah dipeletik1 dari anak², tetapi terlalu tinggi, tidak kena². Kemaren sudah dilempari Ali, tapi tidak kena² djuga. Naikilah baik²”.

Abu melihat Entjik Siti jang sedang hamil ini, lalu tidak ragu², membuka badjunja dan tjelana pandjangnja, tinggal lagi tjelana kolor jang hitam-legam itu. Dia naiki pohon mangga jang buahnnja tinggal satu²nja itu, berajun ditiup angin lemah. Suami Entjik Siti dikantor, tidak bisa naik seperti Abu, sebab pegawai kantoran, lagi pula memang tidak bisa mandjat² pohon. Tidak sampai sepuluh menit, buah mangga hidjau muda itu djatuh dekat tangga rumah Entjik Siti. Tiga detik kemudian buah itu dipegang Entjik Siti untuk dikupasnja, dimakan dengan tjabe tjampur ketjap. Sepuluh menit sesudah Abu turun, dia telah menghabiskan nasi dingin sepiring penuh dengan lauk ikan asin belanak jang digoreng kemaren paginja. Sudah itu dia mengantongi uang sesuku, tanda terimakasih Entjik Siti. Lalu pergi lagi meneruskan tudjuannya kepasar. Belum lagi sampai kepasar, sewaktu lewat dirumah pak Hamid, seorang pedagang ikan, isterinja memanggil: „Bu, sini, singgah dulu. Tolong petikkan aku kelapa itu”, sambil menundjuk kelanggar2 kelapa jang tidak begitu tinggi, tapi miring bengkok seperti orang zaikerei sewaktu djaman Djepang menjembah matahari terbit.

„Aku mau menjajur nangka muda pakai santan. Kelapa sudah habis. Tolonglah sekali ini”.

Abu sambil tersenjum melihat kearah kelapa jang kehitam-hitaman itu, rupanja belum mau djatuh djuga. Melihat Abu tersenjum, istri pak Hamid tambah memperbaiki senjum minta pertolongan : „Habis dari pasar nanti, kau boleh makan sini siang nanti, lalu tolong aku menggiling beras, untuk tepung buat kue serabi untuk sederkah malam Djumaat nanti”.

Giliran keduakalinja Abu menanggalkan badju dan tjelana pandjangnya. Menaiki pohon kelapa miring dan bengkok itu, tjepat tangkas. Belum lagi empat menit, berdebuk bunji kelapa itu, kemudian berdebuk lagi. Sebuah kelapa tua, dan sebuah kelapa muda. Sesampainja dibawah, tjengar-tengir sambil menggaruk kepala dan telinga jang tidak gatal, dia berkata sambil tersenjum :

„Bi, aku ingin minum air kelapa muda. Kupetik satu, haus sekali, sudah lama tak merasai air kelapa muda”.

„Kau ini terlalu, Bu, ada² sadja. Seperti orang ngidam. Kupaslah! Ambil parang didapur!”

Abu menudju kedapur. Sambil lalu tertjium bau sambal bawang goreng jang tadjam merangsang. Abu membuka sebuah kuali ketjil jang sedang terdjerang ditungku. Dimasukkannja telundjuknja, ditjatupnja, pedas manis menggoda perut. Sudah itu baru dia mengambil parang. Tidak hanja air kelapa muda itu jang dia minum, tapi isinja jang lemak empuk dihabiskannja dengan lahap sekali.

Baru sadja Abu mau bangkit, lalu bibi Nur istri pak Hamid itu berkata : „Djangan hanja jang muda sadja, Bu, jang tua itu tolong djuga kaukupaskan. Aa, ini parut”, sambil mengundjukkan parut. kelapa itu dikupas, lalu diparut. Sudah selesai, dibuat santan. Baru sadja Abu mau bangkit……… , „Bu, tolong timbakan aku air! Pergi kesumur, isi baik, nanti sore akan banyak orang ambil wudhu”.

Dengan tersenjum manis, Abu menudju kesumur. Tidak pandjang tjingtjong dan dengan diiringi kulum mulut gigimasnja, dia mengerdjakan permintaan itu. Lebih enampuluhenam timba, baik itu penuh.

„Bu, begini sadja, Bu, aku akan senang sekali kalau kau bantu aku membelah kaju rambutan didepan itu. Dapurku kehabisan kaju bakar. Tolonglah sore ini kami akan kedatangan tamu agak banjak. Mau, kan”, kata bibi Nur tersenjum mengharap. Senjum itu dibalas Abu :

“Wah tak djadi kepasar ini. Padahal sudah djandji tadi. Djangan² dia pulang lagi heh, hehh, heeh………”

“Siapa sih Bu jang kaudjandjikan? Tunangan? Alah, sore nantilah!”

Seperti biasa Abu tersenjum manis. Tidak tempo lagi, dia mengambil kapak dan menudju kebatang rambutan jang sudah lama tergelar didepan pintu dapur. Kemudian membelah kaju itu mendjadi potong²an kaju bakar. Kira² tiga djam selesailah dua onggokan besar kaju api. Dengan mandi keringat bersimbah peluh menganak sungai, Abu menjusun kaju² itu dibawah dapur. Pendeknja, sesudah kerdja selesai, Abu akan menerima bagiannja, makan. Siang itu Abu makan dirumah bibi Nur. Bersama pak Hamid dan istrinja, Abu makan lahap sekali. Kerdja keras, badan sehat, nafsu makan kuat, persediaan banjak, apa lagi. Pak Hamid dan istrinja dengan senang meladeni Abu.

„Tambah lagi, Bu, nasinja”, kata pak Hamid sambil membubuhi piring Abu jang sudah agak kosong. „Ini tambah lagi, biar kenjang, agar lekas besar……… hah, hah……..”.

Abu makan tiga piring penuh. Minum dua gelas teh, lantas menjandarkan tubuhnja ketiang dekat podjok dinding, sambil berkata puas :

„Kalau aku kawin nanti, pak Hamid akan menjumbang apa?”

„Pasti kalau hanja dua tiga ekor ajam, pasti, Bu! Pertjajalah”.

Abu tersenjum untuk kesekian kalinja.

„Bila, Bu? Apa sudah dekat waktunja? Anak siapa sih, Bu?”

„Ah, masak tidak tahu, anak pak mantri Usman. Mantri kehutanan itu, si Aini Nuraini.”

Lalu meledaklah tertawa pak Hamid dengan istrinja. Mereka kenal mantri Usman, mantri kehutanan. Pak mantri itu punja anak lima orang. Tiga gadis. Jang satu berumur kira² sembilanbelas, adiknja berumur tudjuhbelas dan adiknja lagi berumur limabelas. Jang bernama Nur ini paling tjantik. Bunga mawar hidup dikota kabupaten itu. Sudah banjak orang melamarnja, tapi belum diberikan pak mantri, selain Nur sendiri belum menjetudjui barisan antri pelamar²nja. Berapa tentara knil sering² datang bergantian bila sore², omong² dengan pak mantri dan jang penting kadang² dengan Nuraini atau dengan adiknja Mala jang berumur tudjuhbelas. Tapi omong² itu hanja begitu sadja. Bila diadjak pergi, kedua saudara itu selalu menolak dengan alasan-alasan jang bisa diterima akal serta dengan tjara menolaknya jang sangat sopan. Aini dan Mala memang belum mempunjai pilihan masing². Abu memang sering bekerdja dirumah pak mantri, menimba air, mentjangkul solokan di belakang rumah pak mantri, kadang² djuga menambal atap rumah jang botjor, memompakan sepeda Aini dan Mala. Abu pusat kegembiraan anak² gadis itu. Aini sering omong² dengan Abu. Pernah Abu mengatakan pada Aini, bahwa dia baru² ini bekerdja dirumah pak Wedana. Pak Wedana punja anak gadis tjanjik, umurnja delapanbelas tahun. Dan ketika Abu bertjerita tentang gadis ini, pertjakapan itu semakin seru dan lantjar. Aini dan Mala berkikikan tertawa. Kata Abu, mungkin gadis Wedana itu tjinta padanja. Waktu ditanjakan apakah Abu sudah menjatakan tjintanya pada Misnah gadis itu. Abu mendjawab, belum. Lagi pula tak perlu dinjatakan. Tjinta itu akan lebih baik bila dirasakan sadja dulu. Dan tak mungkin Misnah tak mau padanja. Sedangkan Misnah sangat ramahtamah pada Abu. Sering menjuruh menjemirkan sepatu, memetikkan buah djambu. Bahkan Wedana sering menjuruh Abu menginap dirumah itu didalam gudang disamping garasi mobilnja. Mendengar ini, Aini dan Mala tertawa kegelian.

„Nah, Bu, habis makan istirahat sebentar, lantas tolong menggilingkan beras untuk membuat serabi. Kami mau sederkah malam Djumaat nanti petang. habis menggiling beras, boleh ngopi. Pendekja kau baru malam nantilah boleh pulang. Kami butuh tenagamu hari ini. Soal Aini anak pak Usman itu, besok² kan masih ada. Kalau dia setia mustahil dia akan membohongi djanjimu. Dia kan tjinta. Kalian sama bertjinta, kan?”

„Rasanya sih memang begitu”.

„Nah, apalagi kalau begitu, beres sudah. Pendeknja kalau sudah dekat waktunja beritahu aku dan bibimu, agar kami menjediakan sumbangan² ajam, sajuran, minjak kelapa, ikan, dan matjam² keperluan hari perkawinanmu”.

Sesudah mengutjapkan ini, pak Hamid melirik istrinja dan mereka tersenjum. Abu sendiri mendengar utjapan ini seperempat diawang-awang senangnja. Sambil tersenjum dia menggapai rokok kawung pak Hamid, lalu merokok.

Kemudian berkipas dengan kertas koran berkas pembungkus tembakau. Menjedot rokok itu nikmat², mengeluarkan dari hidung lalu menjedot lagi mengeluarkannja dari mulut, sambil memontjongkan mulutnja. Asap itu dikeluarkannja dengan teratur. Keluar dari mulutnja bulat² seperti tjintjin besar, seperti gelindingan sepeda.

„Nah pak Hamid, lihat itu, bulan tidak? Pandai tidak?”

Pak Hamid melihat bundaran asap itu bulat² seperti gelang besar.

„Tentu sadja, Bu. Kau kan segala bisa, namanja djuga Abu. Abubakar jang membuat Aburokok bulat². Kalau tak pandai itu sadja, bukan Abu namanja.”

“Berkali-kali Abu menjedot dan membuat gelindingan bulat dengan asap rokoknja. Setiap kali dia tersenjum karena selalu berhasil, bulat, bergelinding, mendjauh, lalu petjah.

Pak Hamid dan istrinja memperhatikan dengan senang dan senjum² geli melihat kelakuan Abu jang sangat wadjar dan tak kaku². Dua batang terus²an dia merokok dan membuat gelindingan asap bulat² seperti tjintjin jang besar. Bukan main dia senangnja, tersenjum lagi, senjum manis, selalu berhasil. Mukanja berseri, merah sehat gembira.

Tidak usah diperintah lagi, Abu menudju kedapur. Menanjakan apa jang mesti dikerdjakannya lebih dulu. Beras dua bakul besar, masuk kisaran sedikit demi sedikit, kisaran itu diputar, mengalir larutan tepung tjair. Dua djam pekerjaan itu selesai. Pak Hamid dan istrinja betul² merasa ketolongan dengan adanja Abu sehari suntuk bekerdja keras tanpa perasaan tersembunji. Semua pekerjaan dikerdjakan dengan baik. Mengahdapi magrib rumah pak Hamid sudah penuh tamu² untuk bersembahjang bersama dan membatja doa selamat. Sudah itu sadjian makanan dihidangkan, serabi berkuah.

Diruang tengah untuk orang² tua, agak kedapur untuk orang² muda, orang² jang sudah punja anak istri dan kebanjakan sebaja dengan Abu. Abu berhak duduk diruangan ini. Tapi dia duduk, agak dipodjok, tersendiri, karena dia dianggap orang rumah.

Beberapa orang mengadjak Abu bertjakap-tjakap. Dan tjakapnya ini selalu menjenangi dirinja sendiri atau untuk menjenangi orang lain dengan mengorbankan Abu, djadi olok²an. Abu seperti biasa tenang, menguasai diri, wadjar dan senjum. Dua tiga orang anak muda saling melirik Abu, dihadapannja penuh serabi agak kehangusan dan sepiring penuh kuah santan berguladjawa.

Abu akan menghabiskan tidak kurang dari 17 buah serabi jang sebagian besar agak kehangusan, karena membuatnja tidak mendjaga apinja setjara baik.

„Wah, Bu, kau bertempur keras dengan serabi hitam ke-Abu²-an. Entah di mana akan kautaruhkan tumpukan serabi itu”.

„Tahu bereslah. Boleh lihat, tidak bajar, kalau mau pasti aku beri kalau hanja dua tiga buah”.

Seorang jang sering² melihat Abu bila ada pesta², perdjamuan², menegur : „Abu ini selalu ada ditempat orang jang mengadakan sedekah². Mau mentjari Abu, gampang, dimana ada orang pesta disana ada Abu. Dimana ada keramaian makan², disana tentu ada Abu. Abu selalu ada ditempat jang ada makanan.”

Sudah itu orang² lainnja tersenjum, ketawa agak ramai.

„Memang Abu ini kesohor. Kesohor kuat makan, kesohor bertjinta, kesohor mendatangi rumah sedekah orang, dimana ada pesta, perajaan dengan makan², disana ada Abu, itu pasti.”

Abu melirik, orang jang mempertjakapkannja itu. Dia kenal orang ini, memang paling senang mengedjeknya bila ditengah umum.

„Ja, tapi aku kerdja, tidak minta². Aku kuat makan, itu hakku, kan jang punja rela memberikan, aku senang menerima. Jang pasti aku mentjari kerdja, bukan dipanggil untuk menghabiskan sederkah orang seperti kau misalnja”, demikian Abu menangkis sambil tersenjum.

„Tapi kau dipanggil atau tidak, pasti ada ditempat keramaian makan”.

„Bedanya aku bekerdja dulu baru makan, kau makan dulu baru melutju menghina orang, tanpa kerdja”.

“Dan kau makan bukan orang seperti orang lain. Kau makan seperti badak. Mengisi perut karung”.

Orang² tertawa mendengar kelutjuan ini.

„Kuat kerdja, kuat makan. Djangan kuat makan tidak kerdja, sudah tidak kerdja, mengharapkan sedekah orang, lalu menghina orang lain. Itu lebih djelek daripada orang jang kuat makan kuat kerdja. Jang terang, aku tidak pernah menanjakan makan, tapi mula² menanjakan kerdja, dan jang penting aku tak pernah menjakitkan hati orang lain. Kedatanganku dimana-mana tak pernah mengharapkan makan tanpa kerdja. Tak pernah mengharapkan sedekah orang, menunggu-nunggu dirumah kalau² ada panggilan sedekah. Aku bekerdja dulu baru diberi makan. Soal makanku banjak, karea kerdjaku banjak, lagi pula orang jang punja rumah rela memberikan. Pasal serabi ini, inipun tak mungkin kau mau, serabi kehangusan”.

„Tapi kau bukan makan, kau mengisi, mengisi kerandjang karet”.

Orang² lain tertawa lebar.

„Itu aku tidak malu, aku akan malu kalau menghina orang untuk menggembirakan diri sendiri. Tidak bisa senang, tidak bisa hidup aman kalau tidak menghina orang lain. Dan aku akan lebih malu kalau datang kerumah orang hanja menerima makan, tanpa kerdja, hanja menanti panggilan sedekah orang”.

Mendengar utjapan ini orang muda itu mendjadi merah agak keketjutan, kelihatan warna merahnja naik, sampai muka. Tapi Abu tenang² sadja, meskipun orang lain tertawa, tertawa untuk orang muda itu atau tertawa untuk dirinja sendiri. Abu tidak begitu mengerti. Asal ada serangan, dia akan djawab. Abu tahu bahwa orang muda itu dimana-mana selalu mempermainkannja. Edjekan selalu diterimanja. Tapi harus pada tempatnja, dan harus punya batas².

„Hari minggu depan ini bakal mentjari makan kemana lagi, Bu? Kabarnja di Perawas ada orang menjelamati anak”.

„Dan kau akan tinggal dirumah sadja menunggu panggilan kalau² ada orang sedekah, kalau² ada orang mengadjak kondangan, makan tanpa kerdja. Bagiku lebih hina dari mengemis”.

„Aku jang kerdja keras, tapi kau jang makan tanpa kerdja. Pak Hamid djadi saksi”.

„Kau pandai omong, Bu, mulutmu jang bau itu tidak hanja makan rupanja, tapi djuga omong. Hanja sadja djangan dekat² kalau omong sama orang, tak tahan baunja, lagi pula kau suka bikin hudjan rintik²”.

„Busuk mulut agak lebih baik, daripada busuk hati, busuk maksud”.

„Siapa jang busuk hati jang kaumaksudkan?”.

„Siapa lagi kalau bukan kau dan kau jang mulai”.

„Djangan keterlaluan, tanganku tjukup gatal untuk mengempeskan karung karetmu”, kata orang muda itu sambil kegugupan menahan marahnja. Orang² lain senjum² ketjil, lalu diam, dan menanti reda.

„Baiknja diingat-ingat kalau akan marah didjawab orang, djanganlah mempermainkan orang”, kata Abu sambil tersenjum menang.

Sesudah itu pertengkaran ketjil ini tidak lama, karena orang muda itu dibisiki agar djangan meladeni orang seperti Abu, rugi katanja. Abu sendiri tidak apa², tidak tersimpan dalam hati. Habis makan, kerdja lagi.

Orang² sudah pulang, dia sendiri sibuk menolong mentjutji piring, gelas, membenahi segala jang perlu diselesaikan malam itu djuga. Pekerdjaan apa sadja dia kerdjakan, pekerdjaan kelaki-lakian atau pekerdjaan jang biasanja dikerdjakan wanita².

Sampai djam sebelas malam barulah Abu pulang kerumahnja jang ketjil, rumah jang dibuat oleh tangannja sendiri. Rumah ini terletak agak djauh kekampung. Abu tinggal sendiri, betul² sendiri, tidak punja peliharaan ajam, atau kutjing atau andjing. Dia sendiri. Rumahnja ini kadang²pun ditinggalkannja dalam kesendirian, tanpa ada penghuninja. Sebab Abu sering tidak pulang, diadjak orang menginap dirumahnja berhubung ada pekerdjaan penting jang harus diselesaikan setjepat mungkin. Kalau diadjak orang menginap, tentu sadja Abu tidak tidur ditempat tidur jang wadjar, tapi didapur, digudang, bersama sepeda², mobil atau diemper rumah. Tjukup asal ada tikar buat alas. Lalu dia bisa merebahkan diri sambil ngorok sampai pagi. Bila dia tidur diatas tilam dia akan ngorok, tapi bila dia tidur diatas lantai papan ataupun lantai ubin, diapun akan ngorok djuga. Dia bisa tidur njenjak dalam keadaan apapun djuga. Begitu sehat dan gembira.

BAGIAN II

DIKAMPUNG ABU, ARTINJA DITANAH KELAHIRAN Abu, adalah sebuah pulau jang tidak begitu besar. Sebuah kabupaten jang lebarnja 90 kilometer dari barat sampai ketimur dan 90 kilometer dari selatan sampai keutara, djadi pulau itu agak bulat, atau seakan-akan persegi empat. Kalau diterakan disebuah peta, maka peta itu seperti kepala orang.

Penduduknja hanja sebanjak 90.000 orang, paling banjakpun sampai 100.000 orang. Kalau orang mau tahu persis maka baiklah dituliskan disini, bahwa tempat Abu tinggal itu adalah sebuah pulau jang menghasilkan timah, namanja pulau Belitung. Dipulau ini, penduduknja sangat ramah-tamah, tidak ada pengemis, tidak ada tjopet, tidak ada kedjahatan jang begitu berarti. Penuh rasa kekeluargaan.

Penduduknja tidak begitu kaja. Akan tetapi jang pasti, tidaklah begitu miskin. Tidak ada orang jang sampai tidur dibawah djembatan, atau peminta-minta. Dikota jang bernama Tandjungpandan, biasa hampir semua sepeda tidak berkuntji. Orang tidak memerlukan kuntji sepeda. Antara satu rumah kesatu rumah, orangnja kenal mengenal bahkan bersahabat baik. Dan itulah pula sebabnja Abu mendjadi terkenal, karena Abu senang bekerdja, senang disuruh, senang bergaul, meskipun barangkali tidak semua orang jang Abu kenal akan senang pada diri Abu. Tapi Abu tidak perduli. Bila orang itu dikenalnja agak baik, artinja pernah sempat mengenal Abu, maka orang itu akan ditegurnja setjara tidak main² menurut perasaannja. Tidak perduli siapa. Dan pada biasanja kalau orang itupun kenal Abu, orang itu akan mendjawab pula setjara baik atau mengedjek.

Waktu sore² tidak djarang Abu bertemu dengan pak demang jang pada waktu sekarang ini disebut bupati. Pak bupati berdjalan kaki menudju lapangan tenis jang tidak begitu djauh dari rumahnja.

„Pergi main tenis nih pak,” kata Abu. „Kok tidak pakai mobil?”

„Alah begini dekat”, djawab pak bupati.

„Bapak tidak pantas kalau tidak pakai mobil, lain saja biasa djalan kaki.”

„Beladjar tjapek”, kata pak bupati sambil njengir².

„Beladjar djadi Rakjat”.

„Saja kan sudah djadi Rakjat”.

„Tapi belum beladjar djadi Rakjat,” kata Abu senjum.

„Heh…… heeh…… heh”, hanja itu dijawab pak bupati, sudah itu selesai sadja. Bupati meneruskan perdjalanannja, tanpa mengesankan siapa tadi jang menegurnja.

Orang jang biasa mempermainkan Abu, atau bergurau, Abu-pun tidak akan segan² akan membalas pergurauan itu. Apakah orang itu akan marah atau akan sakit hati, itu tidak begitu mendjadi perhatiannja benar. Asal ada pergurauan akan dibalasnja dengan pergurauan djuga.

Pada dasarnja orang² tak usah merasa sakit hati, sebab keadaannja memang benar demikian, lagipula untuk apa mesti sakit hati kalau hanja dengan Abu sadja, orang jang begitu baik, begitu wadjar dan begitu menurut kata orang. Tjontohnja pernah seorang wanita jang sudah beranak sembilan, bergurau dengan Abu :

„Lagi² kau lewat dimuka rumahku, Bu, mau muntah aku melihat kau ini. Belum ada pekerdjaan dirumahku. Anakku jang perempuan jang berumur 11 tahun itu belum boleh kuberikan untukmu.”

„Aku bukan mentjari pekerdjaan, tapi mau melihat kalau² tambut itu sudah meletus”, kata Abu mendjukan matanja kepada wanita jang sedang hamil tua itu.

Wanita itu bukannja marah malah ketawa kegelian.

„Itu tandanja orang, bersuami, beristri, beranak, tidak seperti kau sampai sekarang membudjang tua, entah apa jang ditunggu. Bidadari dari langit!”

„Menunggu Zubaidah anakmu itu”.

„Dia sudah ada jang punja”.

„Begitu ketjil sudah ada jang punja? Betul² akan seperti kau djuga.”

„Mengapa seperti aku? Aku mengapa?”

„Pekerdjaanmu tidak lain, bunting, beranak, bunting lagi, beranak lagi, bunting lagi dan beranak lagi, begitu terus²an. Aku ingin melihat kau tidak bunting selama empat lima bulan”.

„Kau iri? Kalau kau iri, tjarilah tjepat², djangan sampai sudah hampir masuk lobang kubur, baru mau berumah tangga”.

Mendengar utjapan ini, Abu hanja tertawa tidak bersuara. Wanita itupun tertawa djuga merasa kena atas utjapan Abu.

Pada lain waktu Abu bertemu dengan pak inspektur polisi Sudarmo. Polisi ini sering djuga menjuruh Abu mengetjat, mengapur dinding rumahnja. Selain itu polisi inipun sering bergurau dengan Abu.

Suatu petang pak polisi pulang dari menonton bola di padang bal Kampungparit. Kelihatan pak polisi itu agak tergesa-gesa.

„Wah, bapak, tjepat pak, nanti bapak ditinggalkan ibu kalau lama² didjalanan”.

Waktu polisi itu melihat, tampak Abu dengan mukanja jang berseri. Si polisi hanja mengulum senjum sadja, mau mendjawab tak ada jang mesti didjawab.

Dia hanja bisa membajangkan bahwa Abu itu kuat kerdja, kuat makan, dan djadi olok²an orang.

Bila ada orang tak tahu diri, lalu dikataka „betul² seperti Abu kau ini”, tapi bila seseorang melihat orang jang bekerdja begitu kuat dan gesit, dikatakan djuga „betul² kau ini bekerdja seperti Abu”. Sajangnja, utjapan jang belakangan inilah jang kurang diutjapkan orang.

Orang jang tahu Abu, tak perlu marah dan sakit hati serta bentji, tapi akan lebih tjerdiklah bila menggunakan tenaganja jang kuat gesit itu, dan golongan jang disebutkan inilah jang agak banjak.

BAGIAN III

DIKOTA KABUPATEN ITU, KEAMANAN DAPAT DI-katakan baik sekali, sehingga sangat mengurangi pekerdjaan polisi dan tentara. Kadang² polisi dan tentara itu jang malah tidak bikin aman, sering marah² dan bertengkar dengan penduduk, berlagak seenaknja. Kata orang kampung „kebelandaan”, Suka memerintah, membentak, dan mengambil hak milik penduduk sesukanja. Golongan ini memang tak banjak, tapi tjukup menjeramkan penduduk jang baik dan sopan² itu.

Golongan tentara diseluruh pulau itu paling banjak 200 orang, dan kebanjakan tentara hitam, knil dan beberapa puluh tentara belanda totok. Pekerdjaannja bukan sebagai tentara, tidak berperang, tidak mempertahankan, tidak menjerang, tidak membangun apalagi memperbaiki. Djalan², menggoda gadis² manis, mengambil, memetik, apa jang mau mereka perbuat lantas djadi. Tapi penduduk bersabar sadja.

Beberapa orang tentara sering² kerumah keluarga jang mempunjai gadis jang manis. Ibu bapa gadis itu menerima tamunja setjara sopan. Makin sopan orang² tua itu, makin sering tentara² datang. Makin berani. Mengadjak nonton, djalan², pulang terlambat, malam sekali. Empat lima bulan, kelihatan perut si gadis bertambah besar. Sebentar terdjadi ribut² antara si anak dan orang tua. Tidak sampai sebulan, pesta perkawinan dilangsungkan. Empat lima bulan sesudah itu, penganten tadi melahirkan. Bajinja kadang² hitam betul² atau putih seperti orang bulai, bermata biru.

Tapi baru sadja si wanita melahirkan, suaminja sudah meninggalkan keluarganja. Tugas baru memanggil. Menumpas pembrontak tentara Sukarno di Lampung, atau di Palembang atau di Djawa. Membasmi pembrontak republik, kata mereka. Tentara² jang dikirimkan itu tidak pulang, dan datang lagi gantinja jang baru, banjak sekali, seram², kedjam² menakutkan. Mereka berbuat seperti apa jang diperbuat kawan²nja dulu, dan kadang² mereka tambah apa yang sudah terdjadi. Tapi penduduk bersabar, dan hanja bersabar, dan hanja bersabar inilah jang mereka bisa.

Pengganti kepala tentara dikota kabupaten itu, adalah seorang letnan knil. Orangnja besar tinggi, berkumis agak keputihan warna kulitnja. Lengannja besar, mendjeludjur tangan sampai kepangal djarinja penuh ditumbuhi bulu. Bila tertawa kelihatan gigi masputihnja disebelah kiri bawah. Kata orang jang sudah mengenalnja, dia ini kedjam sekali. Letnan Hendrik namanja.

Tempat tinggalnja bekas rumah asisten residen waktu djaman pendjadjahan. Rumah ini besar sekali. Dibagian belakangnja ada lagi dua buah garasi dan bagian tengahnja sebuah los jang besar, entah untuk apa dulunja. Garasi dan los tengah ini ditempati anak buahnja. Rumah itu selalu ramai, dan ribut bila letnan tidak dikamarnja, akan tetapi selalu sepi bila letnan ada dikamar kerdja atau kamar tidurnja.

Orang² kampung jang lewat didepan rumah besar itu, akan selalu melihat kearah kamar kerdja atau kamar tidur letnan. Orang² mau melihat, betapa rupanja. Tapi bila letnan kebetulan ada dikamar, dan setjara biasa melihat kedepan, orang² lekas memutar kepalanja kearah lain. Mereka ingin melihat, tapi takut.

Mereka ingin melihat, tapi sewaktu letnan tidak melihat mereka. Tidak djauh dari rumah itu, kira² seratus meter, banjak rumah² gedung jang didiami pedjabat² pemerintah, seperti rumah Demang (Bupati), rumah kepala kantor pegadaian jang kantornja selalu sepi, rumah mantri garam, pak Wedana, kepala polisi kota, dll.

Memang enak berdjalan-djalan sore didepan rumah² jang bagus berhalaman rumput hidjau jang menghadap kelaut. Penghuni² rumahpun duduk² menghadapi kopi dan batjaan² ringan, sedang didjalanan orang² berdjalan menikmati udara sore ditepi laut.

Kira² djam 7 petang, sewaktu lampu² listrik sudah semestinja menjala, hanja dirumah letnan-lah jang tampak gelap. Barangkali memang orangnja tidak ada dirumah. Karena itu orang² asik memandang rumah besar itu. Tapi sewaktu keriutan bunji rem djip jang diparkir dihalaman rumah, tampak keluar si letnan dengan mukanja menghadap kedjalan, lantas sadja orang² memalingkan kepalanja kearah orang lain. Letnan masuk. Tapi lampu tetap gelap. Ada bunji barang² petjah, dan djatuhan kerosi. Letnan marah² mentjari lampu. Tahu² daun pintu dibanting keras sehingga katjanja hampir runtuh. Letnan keluar berdjalan bergegas tjepat sekali. Tampaknja menudju rumah pak Demang. Orang² jang melihat dari djauh ingin lebih dekat, apa jang akan terdjadi. Letnan mendatangi rumah pak demang. Kebetulan demang sedang membatja-batja dengan istrinja duduk² diruang depan. Begitu letnan sudah sampai, tampak demang berdiri.

„Seh kamu demang, kepala ini kota, ja, kenapa lampu mati dirumah saja. Apa kamu tidak urus untuk rumah militer keradjaan? Apa kamu tidak lihat itu rumah gelap samasekali, buta kamu!”

Tampak demang agak kebingungan dan melepaskan korannja dengan tangan gemetar.

„Ja, barangkali disentralnja jang salah, tuan”.

„Saja tidak perduli sentral atau apa, tapi kamu tidak urus untuk rumah militer. Ati², kamu bisa dianggap mata²”.

Gemetarlah demang mendengar mata² ini. Utjapan jang banjak makan korban.

„Ja, tuan, saja akan periksa sentral sekarang. Saja pergi sekarang”.

„Dalam setengah djam kamu tidak urus, saja jang urus kamu, mengerti. Kepala kota apa kamu orang! Hollan tulung kamu, kamu bikin susah!”

Tjepat sekali demang mengendarai mobilnja menudju sentral listrik dengan tubuhnja jang gemuk dan gemetar.

Letnan kembali kerumahnja, tapi tidak terus masuk, menunggu sambil melihat djam tangan.

Orang² didjalan jang melihat kedjadian ini, memikir dalam². Belum pernah terdjadi demang dibentak militer setjara itu. Dan belum pernah demang demikian ketakutan. Dulu pernah waktu Djepang, tapi tidak dibentak hanja djemur sampai lima djam. Dan pada waktu itu adalah biasa terdjadi pendjemuran, dan penggamparan terhadap siapa sadja. Hampir semua orang, djadi tak heran lagi. Apa sama militer Belanda dan militer Djepang? Jang tadinja orang² menjangka militer Belanda akan lebih baik dari militer Djepang. Orang² mulai berpikir tentang militer. Militer lebih kuasa dari pedjabat manapun jang tidak militer. Seorang pedjabat tertinggi sebuah kota kabupaten, dibentak, diantjam oleh seorang militer jang pangkatnja letnan.

Lebih setengah djam, lampu menjala. Letnan masuk kerumahnja. Beberapa menit kemudian sebuah mobil didepan rumah letnan. Letnan keluar mendatangi.

„Ada apa demang. Mau apa kamu orang?”

„Saja ingin lihat tuan, apa lampu sudah menjala?”

„Ja, pigi pulang. Lain kali atur keperluan militer jang baik”.

Sudah itu demang menudju rumahnja sesudah beliau merasa perlu melaporkan kepada militer.

Sesampai dirumahnja, istri pak demang terus mendekati dan menanjakan segala sesuatu. Abu jang ketika itu sedjak dari pagi sudah bekerdja mentjabuti rumput dan mengisi bak mandi serta membelah kaju dirumah pak Demang, turut mendengarkan bentakan tadi dan turut pula ingin tahu.

„Mengapa letnan tadi, pak?”

„Ajoh, mau apa kamu ingin tahhu, sana, sana, kerdja. Bersihkan mobil tjepat, aku mau keluar kota besok, pergi tjepat!”

Abu pergi dengan tersenjum dan melakukan tugasnja sebagaimana mestinja. Malam djam sebelas baru Abu selesai mengerdjakan perdjaan luar rumah, dan sesusah menghabiskan empat piring nasi tjampur kerak dan bekas ampas ikan goreng dan mengantongi beberapa rupiah, Abu permisi pulang sesudah dipesan oleh pak Demang agar dalam empat lima hari ini, Abu bekerdja dirumah pak Demang sadja.

Dua hari sesudah kedjadian itu, suatu pagi Abu disuruh bu Demang pergi membeli sajur kepasar. Djarak pasar dan rumah pak Demang memang tak djauh, hanja setengah kilometer. Dipasar penuh tentara belanda dan orang belanda totok, rupanja baru datang tadi malam. Ditengah pasar, ada gedung² jang tinggi dua tingkat, dari atasnja terutulis diatas kain blatju dengan batjaan „Holan tolong Indonesia”, dibawahnja orang² berebutan roti kerin, jang dinamai orang kampung roti gaben. Roti itu dihamburkan dari atas, dan beberapa kaleng-bekasnja turut terdjatuh, menimpa orang² jang dibawah. Dua tiga orang berteriak. Darah keluar dari kepala. Tapi pembagian terus berdjalan, perebutan terus ramai. Didekatnja beberapa orang belanda melihat dengan bertolak pinggang kegirangan melihat kelakuan orang² jang berebut roti itu. Mereka tertawa.

Abu hanja melihat dari djauh. Beberapa tentara masuk toko orang Tionghoa, memperhatikan isi² toko. Mereka tertarik pada sebuah kaleng katjang goreng, tanpa melihat kekiri kekanan, mereka ambil kaleng itu dan membagikan isinja. Orang Tionghoa jang punja hanja tersenjum asam. Dua tiga orang jang bersendjata lengkap dengan bajonet terhunus, memperhatikan dagangan buah²an. Terhampar diatas tikar, pisang ambon dan pisang radja dan papaja jang disebut orang kampung „katis”. Mereka mengambil buah²an itu dan menepuk punggung orang jang berdjualan itu dengan „ramah-tamah” dan mengadjak orang² itu tertawa dan omong². Tentara² itu bertjerita bahwa mereka baru sadja kembali dari pertempuran melawan pemberontak tentara Sukarno, perampok² dari Djawa jang ada di Batavia. Mereka bertjerita dan orang jang punja dagangan itu medengarkannja dengan asik dan ketakutan.

„Di Batavia kita orang banjak bunuh tentara Sukarno, tentara merah putih. Saja punja dia orang punja kuping, sudah saja tembak, saja potong dia orang punja kuping”, kata seorang militer indo.

„Ini dia orang punja kuping”, tentara itu mengeluarkan sebuah bungkusan dalam ranselnja. dan memperlihatkan sesuatu barang. Benarlah dua buah daun kuping manusia jang sudah agak kekeringan dan kemerahan bekas darah. Orang² memperhatikan dengan tjemas dan kengerian. Pada sebuah bungkusan lagi dikeluarkan sepotong kelingking djari kaki manusia, dan beberapa buah kuku. Koleksi militer belanda jang agak lengkap. Militer² itu tertawa terbahak² kegirangan. Orang² ngeri ketakutan.

Abu jang dari tadi memperhatikan agak djauh, dipanggil militer itu.

„Sini, kamu orang lihat ini. Tjoba kamu lihat, orangnja pandjang atau gemuk”, sambil militer itu mengeluarkan sepasang daun kuping lagi.

„Ajo sini, lihat, kita orang punja menang, tentara keradjaan baik² sama orang ja. Lihat diatas itu”, sambil menundjuk keatas tulisan „Holan tulung Indonesia”.

Abu mendekat. Terasa kengerian dan bulu halusnja berdiri. Pelan² dia undur dan mentjari keluar dari kerumunan orang², Orang² sudah agak sepi, militer² itupun pergi pula. Jang punja dagangan mengharap bajaran buah²an jang dimakan dan jang dibawa dimasukkan kedalam ransel, tapi si pedagang boleh tersenjum pahit. Militer² itu dengan bebas berkeliaran seperti rampok masuk kota jang sudah dikuasainja. Dengan sendjata lengkap, mereka tersenjum, bertjerita, tertawa dan memperlihatkan koleksi hasil pembunuhan, rambut, daun kuping, kuku djari jang sudah dikeringkan.

Lekas² Abu kembali. Sewaktu Abu tepat sampai didepan rumah letnan Hendrik, kira² seratus meter lagi akan sampai kerumah demang, dia tiba² dipanggil oleh seorang militer. Rupanja militer itu si letnan sendiri. Abu pernah melihat orangnja sewaktu letnan itu memukul seorang pedagang ikan jang mahal harganja, dan membajar ikan itu dengan harga sangat rendah, baru sadja sipendjual mau menolak uang itu, …… „tar, pak, puk” tangan letnan melajang dimuka dan kepala pedagang. Pedagang terdjatuh kesakitan, letnan pergi.

„Hai, sini dulu. Tolong saja, ja, kamu orang pigi kekantor polisi antar ini surat. Saja punja orang keluar semua. Kamu tolong saja”.

„Saja mengantarkan sajuran ini dulu, tuan, lantas saja kembali tjepat”.

„ Nee, nee, ini sangat perlu keperluan tempat tinggal tentara keradjaan jang baru datang tadi malam. Ini antar dulu, tjepat. Kamu punja sajur bole tinggal sini dulu. Nah, pigi tjepat. Kamu tahu, toh kantor polisi sana”.

“Ja, saja tahu, tuan, kantor polisi dekat benteng. Tapi saja takut.”

Tidak perlu itu, bilang dari saja letnan Hendrik, ini ada tjap”. Militer itu memperlihatkan tjap suratnja. Abu tak berani menolak. Diletakkanja sajur²an dan pembelandjaannja. Dia sendiri pergi kekantor polisi mengantarkan surat itu berdjalan kaki, jang kira² sekilometer djauhnja.

Rupanja letnan begitu besar kepertjajaannja terhadap penduduk pulau itu, sehingga surat² dinaspun dapat ditipkan pada sembarangan orang. Pulau jang aman, tidak ada perlawanan, tidak ada pengatjauan, tidak seperti pulau lain, seperti Djawa, Sumatra dll.

Kira² satu djam Abu kembali, sesudah ditanjai lama oleh polisi setempat. Sebab polisi merasa heran, seorang Abu mengantarkan surat dinas itu. Benar bahwa polisi setempat sudah lama bertugas dipulau itu, sudah puluhan tahun, tapi militer² terus bergantian, dan baru inilah surat dinas tidak diantarkan melali pegawai resmi. Keheranan ini mendjadikan Abu lama ditanjai.

Seperti biasa Abu memang mengenal polisi² sini, sehingga Abu berani bergurau.

„En, bagaimana, sudah sampai. Bole pigi pulang, ja”.

„Ja, tuan”, djawab Abu ketjut.

„Dimana kamu orang tinggal, en siapa nama”.

„Saja bekerdja dirumah pak Demang, tuan, dan nama saja Abu”.

„O, demang kepala kota jang botak gendut. En, kamu punja nama Abu, abu apa. Abu api, abu bakar, abu dapur”, kata letnan agak sedikit ramah-tamah.

Mendengar ini Abu merasa ada keramahan pada dirinja, lalu dia berani senjum.

„Abu sadja, tuan, Abu sadja”, kata Abu, dan dilandjutkannja :

„Tapi boleh djuga disebut Abubakar”.

„Bagus, ja, sekarang kamu bole pulang, bawa kamu punja sajuran itu”.

Segera Abu mengambil sajuran dan menuju pulang. Sedangkan hari sudah djauh siang. Tentu sadja sampai dirumah Abu ditanjai ber-tubi² dan dimarahi.

Akan tetapi setelah mendengar tjerita Abu dipasar dan tentang letnan menjuruh mengantar surat itu, kemarahan bu demang mendjadi kurang.

Beliau teringat tentang suaminja jang tidak kuasa lagi.

BAGIAN IV

MILITER BELANDA MERASA AMAN SEKALI BERADA dipulau itu. Mereka bisa beristirahat seenaknja. Penduduknja baik, tidak pendendam menurut pendapat mereka dan pro belanda menurut pikiran mereka. Makanan banjak, dan jang paling penting bagi mereka, gadisnja banjak, djanda djuga banjak, djanda² bekas militer kawan² mereka dulu.

Betapa mudah memikat gadis. Dengan makanan kaleng, mentega, kedju, roti, pakaian, perhiasan jang berasal dari rampokan di Djawa, mereka dapati gadis² itu atau dapati kegadisannja meskipun tak usah menidurinja terus²an setjara terikat, tak usah menikahinja.

Sungguh sorga, makanan ambil, pindjam, petik, miliki dan tanpa ada ekor dibelakang. Betul² penduduk baik² dan menolong tentara keradjaan.

Memang ada penduduk jang membatja koran, dan mengetahui tentang revolusi, perlawanan, pembrontakan, dipulau lain. Tapi mereka tak berpikir sampai kesana. Tentang merdeka, tentang bebas dari penindasan, mereka sedikit² memahaminja setjara takut². Tapi hal ini tak mendjadi persoalan pokok. Dapat makan, dapat pakaian, habis. Karena itu pula militer² itupun tambah berani membentak, memaksa, mengambil, memetik, merampas, menampar, memukul. Keadaan tenang² sadja, penduduk baik² sadja.

Perkawinan tentara dengan wanita² biasa jang manis dan jang masih gadis, jang sudah djanda, jang sedang hamil akibat perkosaan, pemaksaan, berdjalan lantjar. Djanda² tambah banjak, gadis² tambah sedikit, anak² jang kehilangan bapak dalam pengertian ditinggalkan hidup² bertambah banjak pula. Orang² tua jang malu karena anak²nja bunting sebelum menikah, bertambah sedikit, sebab banjak orang² tua jang mestinja malu, dan karena terlalu banjak jang termasuk golongan ini, djadi keadaan mendjadi berobah. Mereka tak malu lagi, hal jang biasa sadja.

Hanja pemuda²lah jang sakit hati, terutama pemuda pernah sir²an dengan gadis² itu jang pada beberapa bulan kemudian, perubahan datang, datang militer belanda, hilanglah gadis² mereka. Sakit hati tinggal sakit hati, keadaan terus berdjalan. Tenang, aman, adem.

Perbuatan buruk militer semakin banjak. Dendam penduduk semakin tersuruk-dalam terlipat-bungkus rapi terikat, tapi djuga bertambah besar dan hidup sesuai dengan perkembangan buruk militer belanda.

Apa jang ditakutkan militer, pemuda² kampungnja paling² hanja pandai bermain bola, mantjing ikan, main tjampak. Apalagi pemuda jang seperti Abu itu, jang hanja tahu hidup untuk sehari ke sehari, kerdja-makan-kerdja lagi dan seterusnja.

O, ja, Abu sekarang sudah bekerdja dirumah letnan Hendrik. Pekerdjaannja sebagai biasa Abu dulu, pekerdjaan apa sadja asal jang mungkin dikerdjakannja. Mengepel, menjapu, membersihkan mobil, mentjutji piring, apa sadja.

Tentu sadja dia lebih sibuk dari dulu², sebab pekerdjaannja memang banyjak. Dari pagi sampai malam, kadang² djam sembilan barulah dia pulang kegubuknja jang ketjil tersuruk dikampung. Persoalan gadji tak dihiraukannja benar. Dia banjak membawa makanan, beras, barang² kalengan, kain² dan lainnja. Makannja bertambah banjak, sebab kadang² dia makan ditangsi atau kadang² diasrama militer. Pekerdjaannnja selain mengurus rumah letnan, kadang² djuga mengantarkan surat² seperti dulu. Kadang² Abu merasa dirinja djuga seperti militer itu. hanja dia tidak berpakaian dinas. Tapi dia bekerdja dalam lingkungan militer, asrama, tangsi, gudang jang berisi, beras, amunisi, sendjata jang kadang² belum lagi lagi dua tiga minggu sudah diangkat lagi kepelabuhan buat dikirim kefront pertempuran melawan tentara RI. Karena pekerdjaan jang menjibukkan ini, Abu agak kehilangan humor jang ber-lebih²-an. Kesungguhannja sudah agak timbul, walaupun sangat sedikit.

Jang menjenangkannja ialah, adakalanja letnan itu sangat senang bergurau dengan Abu. Letnan senang dengan Abu, karena Abu radjin bekerdja, gesit dan kuat bagaikan empat lima orang tenaga manusia biasa.

Oleh karena pekerdjaannja ini membikin Abu lebih banjak tahu akan militer, wataknja, tabiatnja, kebiasaannja. Seperti letnan. Letnan adalah seorang jang pemarah, tapi senang bergurau kalau sedang sepi² dan tenang². Letnan kedjam, tapi kadang² baik djuga. Hampir setiap hari letnan menampar bawahannja, memukul orang² jang berdjualan jang meletakkan harga sangat mahal menurut letnan. Memukul penduduk jang terlambat memindjamkan tenaganja untuk membangun bangsal persediaan makanan dan sendjata.

Tidak hanja penduduk² lain, Abu-pun sudah pernah mengalami gamparannja. Waktu itu pagi² hari minggu. Abu terlambat masuk, sedangkan net tenis belum dipasang. Sewaktu letnan turun kelapangan jang letaknja hanja duapuluh meter dari rumahnja, dan dilihatnja net belum dipasang, sedangkan lawan²nja bermain sudah menunggu.

Begitu Abu masuk, letnan memanggil dengan suara jang dalam.

„Sini dulu Abu. Mengapa terlambat datang, net belum ditarok, ja. Kamu orang malas, tidur² sadja!”

Abu agak tenang mendjawab :

„Semalam saja agak terlambat pulang, Tuan, saja nonton tjampak1 1sematjam tarian ronggeng atau doger, djoget. Orang jang menari harus membajar. Harus pandai berpantun, menjanji. Perkakas musik-nja hanja sebuah biola, gung dan tawak (gendang). di Air Raja”.

„Ja, ja, sini dulu. Lain kali djangan terlambat lagi, ja”...... dan pak, puk, pang…… tangan letnan melajang dimuka Abu. Abu terhujung agak kepinggir, tapi tidak djatuh. Abu hanja kalah tinggi, badannja lebih kekar dari letnan. Dia biasaa mengangkat seratus kilogram dalam minggu² ini dan mengangkat ber-peti² pelor jang hampir seratus kilo beratnja sewaktu ditangsi.

Anehnja, sewaktu sore² letnan itu sudah berbaik lagi menegur Abu. Abu sudah barang tentu merasa njaman perasaannja

„Seh, Abu, tjarikan saja perempuan, ja, jang manis tentu”.

„Saja sendiri tidak tahu, tuan, saja sendiri belum pernah dapat, tuan”.

„Ja, tapi kamu orang tahu, perempuan² manis banjak disini.”

„Perempuan kampung djelek, tuan, seperti orang utan semua……heh……heh……”

„Ja, asal bisa untuk saja sadja tidak apa”.

„Untuk tuan, tentu jang manis², disini jang manis² tidak ada”.

„Tidak apa, asal tidak sangat djelek. Toch tidak untuk selamanja. Saja mau pakai kalau saja lagi mau. Abu mengerti toch?”

„Ja, saja mengerti, tuan. Tapi untuk tuan, mestinja orang belanda djuga. Sama² bagus, sama² besar”, kata Abu sambil tersenjum se-olah² saja punja maksud, saja hanja mau pakai sadja”.

„Ja, tuan, saja mengerti, tapi untuk tuan tidak ada jang baik, tidak ada jang sesuai dnegan tuan. Perempuan sini tidak tjantik”.

Lama Abu ber-tjakap² dengan letnan, sehingga letnan agak lupa bahwa dia adalah letnan. Namun bagi letnan, Abu kadang² sangat menjenangkan, mukanja berseri merah dan selalu senjum, radjin bekerdja, kuat. Karena melihat tenaga pisik dan airmuka jang terbuka inilah, maka letnan itu tertarik pada Abu, dan memintanja pada pak demang agar Abu bekerdja dirumahnja sadja, sewaktu letnan melihat Abu ketika dia datang berkali² kerumah pak demang untuk membentak demang buat minta tenaga sukarela jang akan dipergunakan untuk membuat bangsal, asrama, lobang² ditangsi. Ternjata Abu memang menjenangkan dan bersikap hormat dan sangat tunduk. Gampang diadjak bitjara, lebih gampang lagi bila disuruh bekerdja.

Kerdja berat serta minta kesungguhan inilah jang membuat Abu belakangan ini agak kurang mendatangi rumah² orang kenduri perkawinan, menjelamati anak. Kalau tidak karena kesibukan kerdja berat ini, Abu tak pernah absen mendatangi kenduri², pesta² orang, menawarkan tenaga kerdjanja. Dia minta pekerdjaan apa sadja. Orang² pasti akan merasa suatu karunia besar bila banjak pekerdjaan, dan tahu² Abu datang. Orang selalu senang. Kadang² Abu djadi mainan, jadi persenda gurauan, edjekan, namun Abu senjum. Habis bekerdja, lalu makan dengan lahap, tidak perduli ditonton orang. Dia ditonton bukan karena lutju, tapi sungguh menjenangkan bila orang melihat dia makan, penuh nafsu, gairah dan kuat. Orang jang kurang nafsu makan, tentu akan sangat iri melihat suapan Abu jang besar dan penuh selera. Sebab itu bagi sebagian orang memang amat menjenangkan melihat Abu makan. Orang² jang merasa ketolongan karena djasa tenaga kerdja Abu, tidak segan² menjerahkan makanan jang mestinja buat empat orang, tapi untuk Abu sendiri. Karena itu pula Abu terkenal. Dimana ada pesta, kenduri, keramaian² disana ada Abu. Dia bekerdja bagaikan kuda, dia makan bagaikan badak, dia tersenjum bagaikan kanak² jang tak punja dosa.

Tapi setelah dia bekerdja dirumah letnan Hendrik, ada beberapa pesta dan kenduri serta keramaian jang tak dapat didatanginja. Kadang² terasa dia ingin berhenti sadja dari pekerdjaan jang memang membosankan itu, tapi takut mengatakannja pada letnan. Apalagi letnan menjukainja dan mempertjajainja. Bekerdja berat tanpa hari minggu.

Orang² kampung jang tahu betul Abu, selalu bertanjakan Abu dalam hatinja bila menghadiri pesta ataupun kenduri dan keramaian, mengapa Abu tak nampak. Mereka kehilangan. Tidak ada lelutjon, tidak ada jang mesti ditonton pada waktu makan. Ada jang menafsirkan Abu sudah djadi njonja letnan, njonja laki², ada jang menafsirkan sudah djadi mata² belanda, djadi militer jang berpakaian sipil.

Siapa jang kebetulan bertemu dengan Abu, dan kenal serta bergurau, selalu mengadjak Abu ber-tjakap² walaupun pertjakapan itu tidak bermaksud apa². Seperti baru² ini sewaktu Abu pulang dari tangsi menudju rumah letnan, dia bertemu dengan Mardjuki, seorang jang kenal Abu sedjak masa ketjilnja. Mardjuki tiba² sadja mengedjar Abu dan bersama berdjalan :

„Ha, Abu, darimana sadja ini. Lama kau tak kelihatan. Kau tambah gemuk”.

„Aku sudah bekerdja tetap, dirumah letnan Hendrik, diketentaraan”.

„Tentunja kau makmur djadi djongos belanda”.

„Sekarang djadi djongos, siapa tahu nanti djadi tuan”, kata Abu senjum.

„Potonganmu djadi tuan? Kalau kau djadi tuan, siapa lagi jang akan djadi djongos. Betul² kau mimpi, Bu”.

„Kalau aku djadi tuan, tidak ada jang djadi djongos lagi, semua sudah djadi tuan, kau djuga sudah djadi tuan, atau kita ini djongos semua, atau tuan semua”, kata Abu dengan lutjunja.

„Kau sekarang ini djadi djongos atau djadi njonja letnan galak itu?”

„Djadi semuanja”.

„Asal tidak djadi gila”, kata Mardjuki. Belum sempat Abu mendjawab, Mardjuki sudah melandjutkan :

„Orang² kehilangan kau Bu. Tidak ada lagi jang biasanja menghadiri pesta. Tidak ada lagi jang menonton adu makan”.

„Tidak ada lagi jang menonton adu kerdja”, kata Abu dengan sertamerta.

„Masih seperti dulu² djuga kau ini. Apa sadja kerdjamu dirumah letnan itu. Kerdja sih boleh, asal djangan sampai djadi andjing belanda.”

„Tidak ada djadi andjing, asal andjing itu menggigit tuannja sendiri”.

„Djadi kalau begitu kau ini andjing jang berbahaja”.

„Umpamanja andjing jang berbahaja tentu sudah menggigit tuannja”.

„Tidak ada potongan. Paling² andjing penurut, kekenjangan, penakut”.

„Mudah²an begitu…… heh…… heh, heh……” kata Abu meringis.

Kemudian pertjakapan hilang begitu sadja. Masing² meneruskan maksudnja sendiri².

Tidak hanja Mardjuki, hampir setiap orang bila bertemu dengan Abu, tidak menjia-njiakan kesempatan untuk bertanja ini itu, bergurau, mengedjek, mentjatji. Abu akan selalu mendjawab biasa, lutju, tadjam, bergurau djuga. Hanja dalam satu hal Abu tetap tampak, dalam keadaan apapun, utjapannja selalu diiringi senjum terbuka. Senjum Abu.

Sebagian orang keheran-heranan, menjangka Abu sudah ikut militer belanda, tukang tjarikan perempuan buat militer², mata² dan lain² tafsiran.

Tapi Abu tetap biasa, terbuka, senjum, dan tidak nampak apa² jang tersembunji. Dia merasa, berperasaan, tapi orang lain tak mungkin dapat merasakannja kalau orang itu sendiri tidak dekat dengan Abu betul². Ah, siapa pulang jang mau dekat abu, orang terhina menurut sebagian orang.

Abu pulang dari pekerdjaannja selalu malam² hari. Kadang² sudah djam sepuluh baru dia sampai dirumahnja. Rumahnja ini ketjil, pondok, dan tersuruk disebuah kampung jang sunji kira² empat kilometer dari kota tempat pekerdjaannja. Rumah buatan tangannja sendiri. Biasanja rumah ini hanja untuk tidur, tidak untuk masak², sebab dia selalu dapat makan dari orang² kampung, dan sekarang ini dari tempat pekerdjaannja, rumah letnan, asrama.

Seminggu jang lalu, ada seorang laki² jang berumur kira² 33 tahun. Orang ini dikenal Abu sebagai bajangan dirinja sendiri. Pekerdjaannja jang tetap tidak ada. Setahu Abu handja djadi guru pemberantasan buta-huruf. Dia ini datang pada Abu, bermohon untuk dapat diadjak tinggal bersama Abu. Abu sebagai orang jang baik hati, setelah mendengar tjerita orang itu jang datang dari djauh, tak punja pekerdjaan jang tetap, kebaikan hati serta perasaan kemanusiaannja mendjadi lebih tebal dan iba jang sangat dalam. Kontan Abu menerimanja untuk tinggal bersama. Malah ada keheranan pada Abu, mengapa orang ini berlapang hati benar mau tinggal bersama Abu orang jang tidak terhormat seperti orang lain. Abu mengenal orang ini orang jang tak punja rumah, tak punja keluarga. Namanja Bakri. Kampung Bakri djauh dari kota kabupaten itu. Dia berasal dari Kelapa Kampit sebuah kota ketjamatan jang djauhnja 60 kilometer dari kota kabupaten.

Pada malam² hari, Bakri inilah djadi perintang sepi bila Abu pulang, kawan ber-tjakap². Kalau dulu biasanja Abu setelah pulang dari pekerdjaanja sertibanja dirumah terus sadja dia merebahkan badannja lalu tidur. Tapi sekarang ini Abu punja kawan. Mereka berdua selalu bertjakap². Dari pertjakapan jang wadjar ini, membuat Abu sangat senang pada Bakri. Orangnja baik. Banjak bertanjakan ini itu dan mengenai diri Abu, tentang pekerdjaannja, tentang sesuatu.

Abu merasa diperhatikan. Dan jang lebih² lagi, adalah hal ini. Sewaktu Abu pulang, bakri didapatinja sudah menjediakan kopi dua tjangkir, dan rokok kretek kesenangan Abu. Mereka minum kopi, merokok dan ngobrol. Abu tidak berpikir dimana Bakri dapat uang, untuk membeli kopi, gula, rokok. Semua orang tentu punja uang asal bekerdja, ini dalil Abu, betapapun sedikitnja uang itu.

Bakri senang ber-tjakap² dengan Abu. Tapi Abu-pun lebih senang mendengarkan Bakri. Banjak Abu mendengarkan hal² jang belum pernah didengarnja. Bakri menerangkan, Abu menanjakan lagi. Semakin Bakri banjak bertjakap, semakin Abu berani bertanja ini itu. Abu merasa dihormati Bakri sebagai manusia jang selajaknja diberi penghormatan pada soal² tertentu. Sajang sekali, persahabatan mereka ini hanja malam sadja, sebab pagi² mereka harus berpisah untuk mengerdjakan tugas masing² dalam pekerdjaan.

Pagi² Abu sudah berangkat, dan Bakri-pun pergi entah kemana, mengadjar buta-huruf barangkali, atau apa sadja jang dapat dikerdjakan, seperti djuga Abu. Tentu sadja Bakri tidak terkenal seperti Abu. Tidak sekuat Abu bila bekerdja, tidak sekuat Abu bila makan.

Tapi bagi Abu, Bakri adalah manusia jang tahu akan Abu, kenal kehidupan Abu. Bakri banjak menanjakan Abu, tapi Abu sangat sedikit menanjakan tentang pribadi bakri. Barangkali itu tidak perlu bagi dirinja. Jang perlu perhatian Bakri pada Abu sangat dalam menurut perasaan Abu sendiri. Persahabatan jang sebenarnja, sehari kesehari semakin berkembang. Karena ini pula, Abu merasa selalu ingin pulang bila hari sudah agak sore, dan bila pekerdjaan tidak begitu banjak. Tapi dia takut mengatakannja dan tak mungkin, sebab dia harus tunggu letnan sampai datang dari inspeksi ke-kota², kelurahan² lain.

Bila pekerdjaannja sudah selesai, hampir seperti ber-lari² andjing, Abu menudju kerumahnja.

Adakalanja didapatinja Bakri dengan seorang laki ². Tapi laki² itu segera pulang sewaktu Abu datang. Kata Bakri, jang tadi adalah muridnja, murid buta-huruf, sekarang sudah hampir bisa membatja. Ketika Abu bertanja mengapa begitu tjepat pulang, Bakri mengatakan dia banjak pekerdjaan dirumah, menganjam atap rumbia, itulah pekerdjaannja.

Kadang² ada djuga laki² lain lagi dua atau tiga orang, tapi selalu segera pulang setelah Abu datang. Mereka murid² Bakri, anak² muda dan orang² jang sebaja Abu atau agak lebih tua jang buta-huruf tentunja. Orang² ini hormat² sekali, tidak seperti penduduk kota jang selalu mengedjek mempermainkannja. Selalu Abu menanjakan, mengapa bertamu begitu singkat. Tapi Bakri selalu mengatakan memang mereka sudah dari tadi mau pulang. Barangkali mereka banjak pekerdjaan lainnja, begitu kata Bakri. Atau malu pada Abu karena baru beladjar huruf itu, demikian dalam hati Abu. Itulah susahnja kalau orang dalam zaman ini masih buta-huruf, pikirnja.

BAGIAN V

WAKTU ABU SEDANG MENGEPEL RUMAH DEPAN rumah letnan, tiba² bunji tjiutan djip dan sebuah truk penuh berisi militer dan orang² preman berhenti dihalaman rumah itu. Waktu itu kira² djam sepuluh pagi. Abu sendiri merasa heran, begini hari tapi letnan sudah datang, biasanja sore² atau malam². Letnan turun dari djip. Dan isi truk itu turun pula, militer² dan kira² sepuluh orang preman jang diikat tangannja bersama². Abu memperhatikan dengan teliti. Orang kampung preman itu dibawa kelos tengah rumah ber-sama². Satu dua orang agak dikenal Abu. Tampaknja orang² dari Air Raja, sebuah kampung kelurahan jang djauhnja kira² sembilan kilometer dari kota kabupaten itu.

Beberapa militer bersendjata dengan bajonet terhunus menggiring membawanja agak menjudut. Dua tiga orang diantara mereka memakai ikat kepala. Tapi ikat kepala itu segera ditanggalkan militer jang didekatnja.

„Kamu orang pembrontak, ja! Andjing Sukarno, keparat. Ajo, bilang mana kawan²mu jang lain. Djawab!” Disertai dengan itu tamparan tindju bertubi melajang serentak mengenai beberapa kepala. Belum beberapa detik, melajang udjung tumit sepatu jang berdjeridiji paku mengenai perut orang itu. Beberapa diantaranja rebah. Tapi segera letnan tjampur tangan, membangunkan orang² jang rebah tadi, didirikannja.

„Mana kawan² kamu orang lainnja. Ajo, bilang, mampus kowe nanti!”, bersamaan dengan itu terbang sebuah kepalan berat letnan mengenai sebuah muka jang agak menondjol keluar. Orang itu djatuh lagi, dan keluar darah dari mulutnja. Beberapa militer berbuat sama, dengan letnannja. Seorang militer jang berkumis lemat agak kehitaman :

„Kamu tidak tahu, tidak mau bilang, kalau kena ini lantas bilang ja, bangsat!” Serentak dengan itu sebuah kepalan bulat menudju perut seseorang dan kedengaran buni „hemp” rebahlah sesosok tubuh, tapi segera didirikan lagi. Setjepat kilat melajang tindju menudju hidung, rebah keubin, titik darah beberapa tetes. Sudah sepuluh orang dipukuli oleh duapuluhdua orang datang letnan menudju keseorang jang agak besar :

„Kamu pelopor, ja!”, letnan itu mengeluarkan sesuatu dari kantongnja rupanja sebuah lentjana merah putih dari kain keras-tebal.

„Kamu orang, pelopor tentara Sukarno, ja? Makan ini, ajo, makan!”

Tapi orang itu diam sadja. Sekali lagi letnan memegang kepala orang itu, tangan kiri memegang dagu, agar letaknja gampang dipukul, dan tangan kanan membidik se-kuat²-nja, lalu……pang”. Rebahlah tubuh jang tadinja memang sudah kuju lemas, dipukuli, dengan tangan diikat kebelakang. Darah mengalir, tapi segera dibangkitkan. Militer lainnja bergiliran melajangkan tindju dan paku udjung sepatu botnja kearah. Sekarang dua buah tangan dan dua buah kaki sama² main, ber-tubi² menudju ke-masing² muka, kepala perut. „Bak……buk……pang……hemp”, berbunji berdebuk kearah muka dan perut tawanan itu. Tidak ada suara jang menangis atau meminta sesuatu, tetapi kedengaran rintihan sakit. Dan hanja tubuh berdjatuhan jang tak berdaja. Sedang tali pengikat, kini ditambah lagi, kaki² mereka diikat dengan tali kuat tadjam oleh serat² kukuh. Tubuh² itu masing² bertalian satu sama lainnja, tapi tak sesosok tubuh dapat bangkit berdiri. Semunja tergeletak diatas ubin jang disana sininja, sudah diliarin dengan darah jang agak kekentalan.

Beberapa orang militer belanda sudah pergi dari los tengah. Letnan keluar, agaknja menudju tangsi, sebab begitu tjepat mengendarai djip dengan beberapa orang. Militer lainnja pergi keruang belakang, kekamar tidurnja jang memang satu komplek dengan rumah letnan. Tubuh itu dibiarkan tergeletak. Rupanja tidak dikuatirkan kalau² orang itu akan lari. Kepertjajaan militer tadi sudah tjukup kuat dengan lunglainja tubuh² tawanan itu. Mereka tidak mungkin lari, sebab mereka diikat kaki tangannja jang bertalians atu sama lain, dan dalam komplek rumah militer pula.

Abu merasa kengerian djuga. Baru sekali ini dia melihat setjara terang²an militer memukuli tawanannja. Memukul orang jang tidak mungkin lagi melawan, tindju, djatuh, didirikan lagi, tindju lagi, terdjang dengan sepatu bot jang tjukup berat dan menjeramkan. Darah keluar terus pelan² dan lambat. Abu memberanikan dirinja mendekat. Sekarang baru tampak benar² bahwa orang² itu tidak sadja hidungnja jang berdarah, mulutnja, tapi djuga dari dua buah lubang telinganja mengalir pelan² darah jang agak kehitaman. Dibalikkannja tubuh² itu dengan muka mengarah keatas. Sekarang tampak muka² itu jang hampir² segi empat, tulang mukanja jang menondjol keluar, pipinja jang kukuh tanda kekuatan pendirian² mereka.

Abu kembali kebelakang. Tidak beberapa lama Abu kembali lagi dengan membawa setjerek air teh dan beberapa tjangkir. Setelah orang² itu agak sadar, seorang demi seorang tawanan itu diminuminja air. Tampak mereka benar² kehausan dan rasa sakit jang amat sangat. Sehingga Abu sendiri merasakan kesakitan djuga. Darah sudah mengental, ubin sudah bertjat darah tampaknja. Kedengaran sebuah mobil berhenti didepan. Tjepat² Abu mengumpulkan tjangkir dan lekas² membawa tjangkir itu keluar. Tapi terlambat. Djalan keluar dari los tengah itu harus melalui djalan jang tampak dari luaran. Tampak letnan sekilas memperhatikan dirinja.

„Hei, Abu, apa itu. Kamu kasi dia air, ja? Biar dia mampus. Sini kamu! Kamu bisa disangka mata², mengarti! Djangan bantu pembrontak² itu, ja!”. Serentak dengan itu letnan mengajunkan tamparnja kearah muka Abu. „Pang” melajang diatas dagu Abu. Tjerek dan tjangkir kaleng itu berdjatuhan. Abu sedikit terhujung miring. Dan terus mengumpulkan benda² jang berdjatuhan tadi.

„Kamu mengerti, dia orang semua pelopor, tentara Sukarno. Dia orang jang punja merahputih. Harus tembak mati semua. Ati², ja, kalau kamu kasi air, kamu bisa disangka mata², dan dapat hukum tembak, mengarti!”.

„Mereka haus, tuan”.

„Biar sadja mati seperti andjing, tidak guna bagi keradjaan, pengatjau sadja”.

Abu diam sadja dan terus menudju kebelakang, lalu bekerdja seperti biasa.

Tidak lama kemudian dia dipanggil. Letnan menjuruh ketangsi membawa surat untuk diberikan kepada pendjaga.

****

Dunia Abu adalah bila malam hari, dimana dia bisa mentjerikan segala sesuatu kepada kawannja Bakri. Begitulah, malam itu djam sembilan Abu pulang kerumahnja. Didapatinja Bakri dengan seorang jang belum dikenalnja. Seperti biasa, orang itu segera pulang setelah Abu duduk. Murid Bakri jang sudah pandai membatja, kata Bakri jang sedari tadi asik bertjakap dan mentjerikan tentang kedjadian tadi. Tapi seperti biasa sifat² Bakri jang selalu tenang, Bakri menjodorkan rokok kretek.

„Merokok dulu, Bu, ini rokok baru dibeli muridku jang tadi itu.”

„Senang kretek djuga rupanja orang itu”.

Senang sekali, apalagi jang banjak tjengkehnja. Sekarang orang² banjak senang rokok kretek”.

„Tapi jang sebangsa kita ini sadja jang senang rokok kretek itu”.

„Tidak, tidak hanja kita. Belandapun kadang² senang”.

„Apa betul”, kata Abu tidak pertjaja. „Kan, ada tjengkehnja, masa’ belanda mau bau tjengkeh jang begitu tadjam”, kata Abu lagi.

„Belanda kemari malah ingin tjengkeh, sampai tigasratuslimapuluh tahun mereka mendjadjah”.

Abu tidak mengerti, apa itu mendjajah. Sewaktu Abu menanjakan ini, seperti biasa Bakri menerangkan dengan sabar. Dan Abu baru tahu dari pengetahuannja jang sedikit itu, kini mendjadi bertambah. Pandjang lebar Bakri menerangkan sesuatu. Dengan berhati² serta dengan penuh kesungguhan, Bakri menerangkan. Bakri selalu berbitjara menarik sekali. Sehingga pada malam itu hampir² sadja Abu lupa mentjerikan peristiwa siangnja tadi. Setelah dari awal sampai achil ditjerikan Abu, Bakripun mentjerikan pula sedikit kedjadian jang didengarnja dari orang² dan murid²nja tadi siang.

„Aku hanja dengar dari murid²ku, Bu, dan dari orang² kampung tadi siang. Tadi malam kira² djam sebelas malam sewaktu truk militer belanda melewati kampung Air Raja, setjara mendadak robohlah sebatang keret besar menimpa tepat truk jang sedang lewat itu. Isi truk berhamburan, truk terbaik dan terbakar. Sembilan orang militer mati. Tadi pagi diselidiki betul², bahwa pohon karet itu sengadja direbahkan pada waktu truk mau lewat. Rupanja memang sudah direntjanakan. Djadi tinggal merebahkannja sadja. Kampung Air Raja diperiksa. Ternjata ada beberapa orang pemuda jang kedapatan menjimpan merahputih dan mentjurigakan belanda. Mereka ditangkap, dipukuli dan ditawan. Mereka itulah jang kaulihat tadi siang”.

Waktu Abu menanjakan apakah mereka turut? Bakri mendjawab, bahwa mereka turut serta dalam pekerdjaan itu. Mereka orang² berani, orang² djujur, orang² setia. Abu lalu berpikir dalam² tentang mereka ini. Lalu dia menanjakan sesuatu, dan sesuatu itu selalu dihubungkan lagi dengan sesuatu lainnja oleh Bakri. Pandjang lebar lagi Bakri memaparkan. Abu senang mendengar Bakri, keterangan, nasehat². Dia sekarang merasa bahwa Bakri betul² orang baik, jang selalu djudjur bertajakap dan berbuat untuk dirinja. Bakri memang sungguh² memperhatikan dan memperdulikan diri Abu, hal itu benar² dapat dirasakannja. Abu merasa Bakri adalah abangnja djuga adiknja, ajahnja, keluarganja jang terdekat. Bakrilah orang jang sebenar²nja orang, menurut Abu. Waktu Abu menanjakan sesuatu jang tak dapat didjawabnja sendiri, Bakri menerangkan. Dan keterangan itu sangat masuk akal. Betul² hebat Bakri ini, pikir Abu, segala sesuatu bisa didjawab. Abu bertjerita bahwa letnan itu orangnja galak, berani, kedja. Orang² takut padanja. Seram sekali.

Dengan keterangan Abu ini, Bakri mulai menerangkan mengapa djadi begitu.

„Sebab dia pakai pakaian militer, pakai tanda pangkat dan pakai sendjata”, kata Bakri.

„Tjoba kalau kita lihat bila dia sedang mandi dilaut, atau kekamar mandi, atau sedang tidur jang tidak berpakaian militer, pasti dia tidak seram. Dia sama dengan kita, tidak galak, tidak berani, tidak kedjam. Kita ini takut kalau hanja dia berpakaian militer dan bersendjata. Orang² tak takut padamu. Tapi tjobalah kau pergi ketempat lain, dan berpakaian militer, tentu penduduk disitu akan sangat takut padamu, apalagi kau pura² galak, kedjam dan menjeramkan. Tapi barangkali kalau ada orang² jang betul berani padamu, walaupun kau berpakaian militer, barangkali kau djuga akan takut pada orang² itu. Djadi kita takut itu karena dia berpakaian lengkap militer. Dan karena kita amat takut, maka dia amat berani. Kalau betul² kita berani, diapun akan mundur keberaniannja sebab ada persaingan keberanian. Tjobalah kau perhatikan. Apa bedanja dia dnegan si Udin tukang pandjat kelapa itu, misalnja, sewaktu sama² sedang mandi atau sewaktu sama² djalan„ dengan berpakaian preman. Sama sadja. Tapi tjobalah si Udin itu diberi berpakaian militer lengkap, tentu dia akan lebih hebat. Orang² akan takut, dia akan tambah berani, barangkali djuga dia akan mendjadi seram dan kedjam. Djadi kita takut itu karena dia berpakaian militer lengkap. Dan dia berkuasa. Kalau kaupun berkuasa, kau pasti akan berani, apalagi kalau kau tidak baik menggunakan kekuasaan itu, tentu kau akan djadi kedjam seram, dan tukang makan Rakjat. Ditakuti Rakjat. Tapi ingat, ditakuti, dalam hatinja dibentji bukan disenangi, bukan ditjintai.

Kau pilih mana, ditakuti atau ditjintai-disenangi?”.

„Tentu sadja disenangi!”, djawab Abu tidak ragu².

„Untuk itu perbuatan harus baik, djujdur, adil, setia tidak mementingkan diri sendiri, berbuat jang berguna bagi Rakjat. Akan tetapi kalau militer kolonial itu, bagaimanapun mereka tidak akan disenangi Rakjat. Kau tahu, bukan, namanja militer kolonial, perbuatannja dididik setjara kolonial pula”.

Abu merenung dalam. Dia menekankan kebenaran kata² Bakri.

„Sekiranja dia bukan militer, tidak kuasa, tidak ada sendjata, dan kau dipaksa mesti berkelahi dengan dia, dan jang memaksanja itu orang jang lebih berkuasa lagi, serta dengan perdjandjian sesudah perkelahian itu tidak akan dituntut apa², tidak ada antjaman² lagi. Djadi artinja seperti kau berkelahi dengan orang biasa sadja, dan kau harus berkelahi dengan dia sewaktu dia tidak berpakaian militer seperti sekarng ini, berarti tidak kau menghadapinja, berkelahi?”

Abu berpikir lama dan merenung djauh. Rupanja dia mengetjamkan pendiriannja.

„Sekiranja dia bukan militer, aku terpaksa mesti berkelahi, aku berani melawan dia”.

„Nah itulah, djadi kau takut padanja karena dia militer. Apa itu militer? Karena pakaian semata², karena pangkat, karena sendjata. Kalau dia orang biasa kau tak takut padanja. Kapan dia mendjadi orang biasa, tidak berpakaian militer, kapan dia tampaknja seperti djadi orang biasa seperti kita ini. Tentu sadja sewaktu dia tidak berpakaian militer. Kapan itu? Sewaktu dia kekamar mandi, sewaktu dia tidur, baring menanggalkan badju kemiliterannja. Tampaknja dia seperti kita² ini. Dan pada waktu itulah kau tak takut padanja, ja, tidak?”.

„Ja”, djawab Abu, „waktu dia pergi mandi, tidur, kekamar ketjil, waktu baru bangun tidur, tampaknja dia biasa sadja dan tidak seram”.

„Waktu itulah kau tak takut padanja. Artinja tidak seperti dia berpakaian militer. Waktu itulah kau merasa berani, bukan?”

„Djadi”, sambung Bakri, „ternjata kita ini takut sama pakaian, takut sama pangkat. Tapi sebenarnja samasekali tak takut pada orangja”.

Bakri diam sedjenak. Abu merenung djauh. Lama malam itu mereka ber-tjakap². Tentang semua soal jang ditanjakan Abu, selalu didjawab Bakri setjara memuaskan Abu. Sama-sekali abu tak merasa djemu ataupun lelah mendengarkan pertjakapan itu. Abu bertambah mengerti, tambah banjak jang dia ingin tahu. Berapa baiknja bila semua orang seperti Bakri ini, pikir Abu. Sabar, tidak pernah menjakiti hati, radjin menerangkan agar orang tahu segala. Abu bertambah menjajangi Bakri. Bakri sudah merupakan sebagian hidupnja.

Sajangnja dunia Abu hanja bila sudah malam hari. Sebab malam²lah Abu merasa senang dan merasa sebagai manusia jang diperhatikan setjara ichlas dan djudjur. Memang banjak orang memperhatikan Abu, tapi perhatian itu hanja sampai terbatas pada tenaga Abu sadja, tenaga kerdjanja. Tidak seperti Bakri mengadjari setjara djudjur, menerangkan, kasih penuh perhatian dengan mendalam. Selalu ambil perhatian. Selalu menanjakan diri Abu. Bagaimana tadi, apa jang dikerdjakan hari ini, lelah tidak. Apa sebab djadi begitu, mengapa hal ini djadi begini, itulah maka hal itu djadi demikian. Dan segala sesuatu bisa didjawab Bakri setjara djelas.

Keesokan harinja Abu diberi tugas bekerdja ditangsi, memasukkan peti peluru dan peti² amunisi kegudang jang ada ditangsi. Tangsi itu letaknja agak tinggi membukit. Dan dibawah bukit itu jang mengarah kesebelah barat, mengalir sungai kelaut. Nama sungai itu sungai Tjerutjuk, sungai jang membelah kota Tandjungpandan ibukota kabupaten itu. Bila sore² hari banjak sekali perahu² nelajang jang menudju kelaut, memutih tampak lajar²nja dari djauh ditimpa sinar matahari. Orang² diatas tangsi dapat melihat djelas kearah bawah, kelaut dan keseberang laut jang ditumbuhi hutan² bakau. Kelihatan djuga pasar jang ramai bila pagi² sewaktu orang banjak berbelandja.

Dalam tangsi itu tjukup besar, tjukup luas untuk menjimpan rubuan peti peluru dan amunisi. Letaknja sangat baik sekali. Ditengahnja ada pelataran untuk rapat² penting militer. Waktu pagi² Abu tiba ketempat itu. Sepuluh orang tawanan kemarin bersusun duduk menghadap kepodjok dengan ikatan kaki tangan mereka jang saling berhubungan. Tentu sadja mereka tak bisa bergerak leluasa. Ikatan itu sangat terik. Lagi pula tenaga mereka sudah habis. Abu hanja melihat dari djarak, sepuluh duapuluh meter. Mereka tampak lemas², tapi matanja tetap bertjahaja.

Kira² djam sebelas pagi datang letnan dan beberapa belas orang militer. Mereka rupanja berapat sebentar, dan lalu pergi mengusur perkara tawanannja. Dua orang militer mendjaga dipodjok kiri, dua orang dipodjok kanan, dua orang dibelakang serta dua orang lagi didepan. Ikatan tawanan itu dilepaskan. Satu² mereka ditanjai. Letnan sendiri jang memeriksa.

„Kamu orang harus tahu sebab², ja, harus tahu dimana kamu punja kawan² pigi sembunji. Kalau kamu orang tidak djawab, kamu orang kita kirim kehadapan Tuhan, mengerti?”

Letnan menarik ikat pinggang tawanan jang dianggap kepala tawanan itu.

„Kamu makan ini”, sambil letnan menjorongkan tangannja jang memegang sebuah lentjana merahputih dari kain keras.

„Pelopor, ja, kamu orang pelopor tentara. Godverdomme! Melawan militer keradjaan. Ajo, ini makan, kiriman dari Sukarno ja!”

Tangan letnan mendorongkan kearah mulutja. Disumpalkannja benda keras itu kearah mulut tawanan. Dan tiba² tjepat sekali bersarang sebuah kepalan tindju dari tangan jang berbulu kasar menudju muka tawanan. „Buk”......sekali pukul rebah. Tawanan lainnja menjusul. Militer² jang berdiri dekat mendjangkau kepala, rambut, tawanan² itu, menghudjaninja dengan tindju sekuat²nja.

„Saja kasi tempo. Kamu orang tidak djawab, dimana lagi kamu punja kawan² pelopor, dalam setengah djam tidak djawab, saja tembak mampus kamu. Lekas kasi djawaban! Dimana kamu punja kawan² en siapa kamu punja kepala ini perkumpulan pelopor jang berani sama militer keradjaan”.

Letnan dan militer lainnja membiarkan tawanan² itu. Tapi mereka diam² sadja. Tidak ada keinginan untuk bitjara ataupun minta sesuatu. Mereka tidak berunding, mereka diam.

Letnan dan militer² lainnjapun diam pula masing² dengan suasananja sendiri².

Abu bekerdja terus, mengawasi setjara takut². Tapi ketakutannja agak berkurang dari kemarin. Tadi Abu mendengar antjaman itu, djelas sekali. Dalam setengah djam mereka akan ditembak bila tidak mendjelaskan dimana kawan²nja. Dimana mereka akan ditembak, disitu djuga? Atau ditempat jang tertutup, atau hanja antjaman semata² agar tawanan itu mengaku untuk memberi keterangan? Abu bertanja pada dirinja sendiri.

Semua njawa menanti, degupan djantung memukul keras. Setengah djam lewat sedikit.

„En, kamu orang punja waktu sudah sampai, ja, sini kamu punja kepala pelopor”.

Jang dianggap kepala pelopor itu dibawa madju oleh seorang militer jang berbadan tinggi, berkumis dengan tangannja jang berbulu.

„Dekat sini”, sambil tangan letnan mendjangkau perut tawanan itu.

„Siapa lagi kamu orang punja kepala pelopor, heh ! Ajo, bilang ! Kamu tidak bilang saja pasang kamu punja kepala, tahu ! Ajo, bilang !”.

Letnan itu menggontjangkan perut tawanan itu dan menamparnja dengan keras.

„Bilang tjepat, siapa kamu punja kepala pelopor, mana kamu punja kawan² lain. Bilang! Ajo, bilang babi! Monjet kamu!”

Letnan dengan mukanja jang merah bengis membentak. Kemarahannja sudah sampai puntjak.

„Ajo, bilang! Siapa? Dimana? Ajo, bilang!”.

Serentak dengan itu sebuah kepalan melajang kemuka tawanan itu. Militer lainnja siap memetikkan pelatuk senapangnja bila perlu setjara tiba².

„Ajo, bilang!”

Sekali lagi letnan menampar. Tapi tawanan itu diam sadja. Darah dari hidung dan mulutnja lagi² keluar agak deras. Letnan mengeluarkan revolvernja dan mengatjungkannja kearah tawanan.

„Ajo, bilang, babi, bangsat !”

„Aku bukan babi, kau jang bangsat badjingan, andjing nica”, tawanan itu setengah berteriak. Sekarang betul² letnan terkedjut mendengar kata² jang tak disangkanja ini, dengan serta merta pula letnan mendorongkan tubuh tawanan itu agak djauh kepinggir jang menghadap kearah jang tak ada orangnja. Tapi tawanan itu dengan tenaganja jang masih tinggal mendjepakkan kearah dua pangkal paha letnan. Serentak dengan itu terdengar bunji tiga tembakan melepas mengenai tawanan itu. Darah keluar dari dada dan perut. Sesosok tubuh rebah. Mati, hilang njawa gerilja jang tak bernama. Tawanan lainnja tidak bisa berbuat sesuatu. Montjong senapang mengarah kedada dan kepala tawanan lainnja.

Segera letnan memerintahkan :

„Saja kasi ingat sama kamu orang sekalian. Lekas djawab, siapa kamu punja kepala pelopor ini gerakan. Dimana kamu punja kawan² lain. Tidak djawab dalam tiga menit, kamu orang saja bikin seperti itu bangkai”, telundjuk letnan menundjuk tubuh jang mati tadi. Tiga menit memang tak menundjuk tubuh jang mati tadi. Tiga menit memang tak lama. Tawanan² itu hanja diam sadja. Tidak ada perundingan². Tapi mata masing² menghormat ketubuh jang rebah disirami darah.

Letnan memerintahkan membawa mereka kedinding batu tebal benteng tangsi itu jang dibawahnja tampak laut kemilai disinari tjahaja matahari. Tawanan² disuruh melihat kearah laut. Tapi tidak seorang jang mau menurut perintah. Achirnja letnan memerintahkan membidikkan senapangnja. Tudjuhbelas montjong senapang menudju kesembilan tawanan itu. Siap untuk dilepaskan. Seorang tawanan menjanjikan lagu Indonesia Raja. Suara putus², dan bertepatan dengan itu „tar, tar, tar……menggaum. Tawanan itu rebah. Belum lagi militer lainnja diperintah oleh letnan untuk melepaskan tembakan, letnan sendiri sudah mendahului menembakkan revolvernja. Militer lainnja turut menembak tawanan² itu. Suara letusan dan pekik „merdeka” berstau mendjadi suara jang dahsjat. Tangsi jang tinggi itu menggaung mengembalikan suara letusan. Sembilan njawa mati ditembus peluru. Letnan merasa puas. Militer² lainnja semakin mengagumi letnan.

Letnan tahu akan hal ini. Dia semakin puas.

Abu menjaksikan dengan matakepala sendiri. Terasa ngeri dan takut. Tapi belum hilang rasa takutnja, dia sudah dipanggil :

„Abu, kumpulkan itu bangkai², buang diitu sungai biar dimakan buaja². Lekas!”

Kemudian letnan pergi dan militer jang mengikutinja tadi itu turut pula menjertai letnan. Delapan belas dengan letnan turun dari tangsi menudju kebawah.

Seperginja letnan, Abu tidak membuang majat² itu, tapi mengumpulkannja dan segera dia menghadap kepala djaga buat minta keringanan agar tidak dia jang membuang majat² itu. Kepala djaga tidak berani memutuskan. Tapi Abu tetap tidak mau membuangkan majat jang hampir kaku kedjang. Sampai tiga djam kemudian letnan datang lagi.

Abu dipanggil. Letnan minta pertanggung-djawab, mengapa majat² itu belum djuga dibuangkan. Tapi Abu mendjawab setjara tenang, bahwa dia tidak berani membuang majat manusia begitu sadja. Betul² aneh bagi Abu. Letnan tidak marah pada Abu. Letnan memerintahkan agar majat² itu dikumpulkan dan dibawa kepasar buat dipertontonkan kepada Rakjat. Beberapa orang militer diperintahkan oleh letnan untuk memasukkan majat² dan membawanja kepasar.

Tidak sampai setengah djam Rakjat dapat mempersaksikan tontonan itu. Orang² kampung bahkan seluruh Rakjat dapat melihat majat² itu digeletakkan ditengah pasar tempat jang biasanja untuk orang berdjualan bila waktu sudah djam enam sore, menggelar tikar ditengah pasar itu. Kini majat² itu dihampar ditengah pasar. Dipertontonkan.

Darah dan lalat saling bergumpal. Beberapa orang militer di-sudut² mengawasi dengan montjong senapang dan karaben. Sampai sore djam lima seorangpun tak ada jang berani memindahkan majat² itu. Rakjat melihat dengan rasa kasihan, bentji, sedih, dendam djeritan bersatu dalam satu pikiran dan perasaan. Rakjat tidak menonton seperti apa jang diharapkan oleh letnan. Tapi setelah melihat majat², mereka pergi tjepat². Berdiri disudut² jang agak djauh dari majat² itu. Tapi Rakjat tahu dimana mereka harus berdiri.

Setelah hampir djam enam, datanglah sebuah truk militer mendjemput pengawal majat², dan kini setelah tidak ada jang mentjurigai, tidak ada jang mengawasi lagi, ramai² Rakjat mengambil majat² itu . Tanpa suara, tanpa ribut², mereka mengangkat tubuh² jang hampir busuk itu. Hampir semua penduduk kota mengantarkan tubuh² jang tak bernjawa itu untuk dikuburkan bersama². Mengantar kekubur setjara diam, bekerdja setjara tenang, tapi penuh pengertian. Kini tak ada hukum keluarga, untuk menguburkan setjara sendiri², tapi setjara bersama, berkabung untuk penduduk kota. Sampai tengah malam Rakjat masih berada dikuburan.

Bersamaan dengan itu, beberapa rumah dikampung. Air Raja mendjadi korban api, militer membakar rumah² keluarga jang bersangkut paut dengan majat² tadi. Rumah pamannja, kakeknja, saudaranja, musnah dilanda api.

BAGIAN VI

SETIBANJA ABU DIRUMAH, DIA TJERITAKAN KE-djadian itu pada Bakri. Dengan penuh perhatian Bakri menerima laporan Abu. Bakri menanjakan kedjadian itu dengan teliti, dan Abu mendjawab seperti apa jang memang terdjadi. Malam itu mereka bertjakap² sampai djauh malam. Tidak hanja satu soal. Dari soal kedjadian satu kesoal kedjadian lainnja. Tjerita begini membuat pengetahuan Abu bertambah dalam. Rasa kagumnja pada Bakri bertambah kukuh. Bakri menerangkan bahwa itulah watak² militer imperialis. Sebentar Abu termenung. Dia bertanja apa itu imperialis. Bakri menerangkan dengan pandjang berisi. Imperialis harus dihabiskan. Bila tidak dihabiskan, mereka akan menghabiskan kita sendiri. Mereka akan lebih kedjam, lebih kurangadjar. Kita beladjar menghabiskan mereka dari mereka sendiri, tapi tidak dari tjara kekedjamannja.

Untuk seketika, Abu bertanja keheran-heranan. Bagaimana itu akan terdjadi.

Sekarang Bakri merasa sudah sampai waktunjua untuk mengisi manusia Abu ini pada puntjak maksudnja.

„Kita mesti betul² bersatu ber-sama² menghabiskan kaum imperialis ini. Dengan rasa setiakawan jang tak ada bandingnja, djudjur, kukuh, bagaimanapun kekuatan mereka akan dapat dihantjurkan. Kau menjaksikan, bukan, kedjadian jang baru² ini kaulihat, pembunuhan terhadap sepuluh orang dari kampung Air Raja baru² ini. Mereka ditanja, siapa kepala barisan mereka, di-mana² kawan² mereka. Dan apa djawab mereka? Meskipun mereka tahu, paham, tapi mereka mengorbankan njawa mereka. Teguh, kuat tak terkalahkan. Semangat badja, semangat jang tak mungkin dipunjai kaum imperialis. Begitu mereka bekerdja, kuat rapat”.

Mendengar utjapan ini Abu merenung dalam. Djauh dan berpikiran bulat. Waktu Abu menanjakan bagaimana tjara menghabiskan mereka dan bila waktu untuk itu. Bakri mendjawab :

„Sekarang² djuga, pada masa² ini. Serahkan pada kawan² kita bersama”.

Abu merenung lagi. Tiba² airmukanja bersih berseri. Rupanja dia seding berpikir keras. Baru Abu mau berkata, Bakri sudah tjepat mendahului :

„Soal² ini bukan soal main², ini soal djiwa. Mati habis, terbangkai seperti kawan² kita baru² ini. Badan kita lenjap, tapi tjita² kita terus ada dan semakin kukuh kuat. Kurang hati² berarti memotong kepala sendiri. Kalau sudah sampai berpikir dan memutskan ingin berbakti untuk negara dan bangsa, terutama untuk Rakjat jang tertindas, itu berarti penjerahan djiwaraga setjara ichlas rela se-sungguh²nja. Kita memang, merdeka atau mati. Jang sudah terang sebelum mati, kita mesti merasai penghinaan dan siksaan ajng bisa dilakukan militer belanda itu. Itu sudah pasti seandainja kita tertangkap”.

„Ja, ja, seperti orang² itu”, kata Abu menambahi.

„Bukankah aku tak seorang?”

„Sudah tentu, sudah tentu, kita punja banjak kawan”.

Banjak sekali jang Abu dapat malam itu. Sungguh dia sudah merasa mendjadi manusia jang benar² berguna, berada dalam lingkunagan orang² jang baik, sopan, teladan hidup. Alangkah djauhnja mereka itu bila dibandingkan dengan orang² jang dulu suka mengedjeknja, pikir Abu. Orang² itukah jang dimaksudkan Bakri, atau murid²nja itu? Abu tak berani menanjakan pada waktu itu. Jang penting baginja Bakri ada padanja, orang jang selama belakang²an ini sangat berkesan dalam hidupnja. Orang jang betul² manusia, manusia jang manusia. Dan dalam lingkungan inilah kelak Abu akan dibawa oleh kawannja Bakri ini.

Sedjak kedjadian sabotase ketjil terhadap militer belanda baru² itu, penduduk kota dan umumnja sebgaian Rakjat sudah mulai membitjarakan satu bentuk ketjil perdjuangan. Mereka sudah menjebut² merahputih, bung Karno, merdeka, dan sudah membitjarakan banjak soal² tentang revolusi di daerah lain, seperti di Djawa, Sumatra, dan kepulauan lainnja lagi. Membitjarakan tjara perlawanan. Tapi pada pihak lain tidak sedikit dari penduduk kota ber-dujun² minta kerdja pada belanda. Betapa halnja kalau orang² jang tak kuat iman perdjuangannja melihat pembagian distribusi jang berupa barang² kalengan seperti mentega, ikan kaleng, daging rupa barang² kalengan seperti mentega, ikan kaleng, daging kaleng, roti, kedju, tekstil, beras putih dan lainnja lagi. Pegawai² jang betul bekerdja mengabdi pada belanda, adalah orang² jang membuka toko² ketjil dirumahnja. Mereka punja banjak bahan², barang makanan jang mewah. Dapat pembagian mobil, radio, dan rumahnja terang benderang, aliran listrik sampai kerumah mereka.

Hampir seluruh aparat pemerintah adalah dikuasai badan dagang belanda setjara partikelir. Dipulau itu badan dagang atau kantor jang paling besar ialah G.M.B. (Gemeenschappe Maatschappij Billiton) sebuah perkongsian penggalian timah di Belitung. Tilpun ada pada G.M.B., listrik apa pada G.M.B., rumahsakit jang terlengkap dan terbesar ada pada G.M.B., pengangkutan, bensin dan segala bagian vital lainnja ada pada G.M.B. Dan disinilah tempat orang jang mengabdi untuk belanda atau tempat mentjari kerdja ingin hidup biasa berserah pada belanda. Bahan² dan barang² jang diberikan belanda pada pegawainja ini sangat mewah dan banjak. Tahun 1946 merupakan permulaan sorga bagi pegawai belanda.

Tapi pada pihak lain jang kelihatannja dari luar sangat ketjil, masih ada tenaga revolusioner menentang pendjadjahan. Tenaga ini akan lebih njata berada diluar kota, didesa, di-pinggir² kota dan pada kelurahan². Permulaan pembrontakan perlawanan bersendjata di Belitung terutama sekali dari kamppung jang djauh dari kota. Dan sedjak kedjadian pertama, ada lagi beberapa perlawanan bersendjata di kampung² ajng agak djauh letaknja dari kota.

Sebuah kampung jang bernama Air Seru 12 kilometer dari Tandjungpandan, sebagian dari rumah² Rakjat dibakar habis oleh militer belanda. Sebelum pembakaran itu, sebelas orang militer belanda jang bersendjata lengkap, hilang lenjap tidak kembali keposnja. Mereka „disiapkan” Rakjat sejtara serentak dengan sendjata tadjam. Rakjat menjiapkan mereka dengan lemparan pisau dan tombak beratjun. Pisau² dan tombak ini memang tidak begitu bersuara, akan tetapi bisa tertantjap dari djarak sepuluh duapuluh meter. Punggung² dan dada², terbuka petjah.

Tapi tidak sampai duapuluhempat djam, kampung itu habis dibakar, terutama rumah² Rakjat jang ditjurigai. Duapuluh orang ditangkap, disiksa dan beberapa orang mati sebelum dibunuh setjara resmi. Seperti biasa majat² mereka dipertontonkan didepan umum dengan dikawal militer bersendjata lengkap, sampai majat² itu busuk berbau, barulah mereka tinggalkan. Pada waktu itulah majat² itu diserbu Rakjat untuk dikuburkan setjara terhormat. Dengan mulut² jang diam tapi penuh pengertian. Rakjat pergi kekuburuan jang digali bersama. Pada waktu itulah kesetiakawanan Rakjat sangat tampak. Terutama Rakjat jang tak termasuk pengabdi belanda. Mereka sambil lalu mendemonstrasikan barisan kesetiakawanannja.

Merahputih kadang² sudah tampak pada tiang² jang rumahnja tak didiami oleh penduduk lagi. Merahputih ada pada tiang listrik, pada pohon ketapang besar, pada djembatan. Militer belanda tukang ambil tidak tahu siapa jang tukang pasang. Jang pasti tentu ada dan tidak sendiri². Jang ditjurigai, ditangkap, disiksa, tjatjat atau mati sebelum waktunja.

Tulisan berbatjaan „ Sekali merdeka tetap merdeka” atau „Habiskan militer belanda, sikat bersih imperialis belanda”, atau „Siapa penghianat akan lebih berat hukumannja dari imperialis sendiri”, dan tulisan² ini terdapat didinding bioskop, digardu pendjagaan kampung, ditembok gedung², ditembok gudang² G.M.B.

Militer belanda kerdja keras. Menangkapi, menjiksa, membakar dan membunuh. Militer² baru berdatangan lagi, ditambah. Tidak tahu, penambahan jang sudah dihabiskan kaum gerilja atau penambahan biasa. Tapi pimpinan masih tetap ditangan letnan Hendrik. Belanda² pekerdja G.M.B., staf dan kepala² bagiannja semakin banjak membawa keluarganja meskipun mereka merasa tidak semakin aman. Pengabdi² belanda sudah selalu menerima surat² antjaman dari entah siapa jang isinja menasehatkan agar tidak begitu „banjak menguntungkan” belanda dengan nasehat „bekerdjalah berdasarkan mentjari makan” bukan bekerdja untuk lebih banjak menguntungkan belanda. Pegawai² dan pengabdi belanda jang paling setia, sudah berkurang rasa kesetiaannja. Mereka sendiri merasa agak tidak tenteram. Penangkapan berdjalan terus.

Beberapa kampung dan desa² ketjil mengalami penggerebekan, pembakaran². Tapi dikota sendiri belanda berusaha keras menarik pengabdi² belanda. Pembagian roti² gaben, roti² biskuit sisa² perang dunia kedua, dibagikan pada Rakjat. Pada papan nama tempat pembagian itu selalu bertulisan „Holan tulung Indonesia” dan „Hadiah dari militer keradjaan”. Pembagian itu berdjalan tidak lagi sebagaimana mestinja. Masih banjak bersisa. Rakjat tak begitu menghiraukan lagi. Tidak ada lagi barisan² jang berebut-rebutan, dengan dipodjok sana-sini siap beberapa orang belanda memotret jang kemudian potret² itu dikirimkan kekantor propaganda belanda atau pada „Pandji Rakjat” surat kabar di Djakarta untuk disirkan kebaikan belanda itu, menolong rakjat jang kelaparan, kata mereka.

Pusat² pembagian itu sepi kaku. Tidak dapat sambutan. Orang² jang tidak mau bekerdja sama belanda mendjadi tjatjatan belanda, mereka dimata-matai. Beberapa orang jang betul² tidak mau bekerdja sama belanda berusaha mentjari djalan keluar, mentjari penghidupan kelaut atau ke udik² berdagang ketjil atau menangkap ikan. Mereka tak dapat pembagian beras, tak dapat tekstil, tak dapat apa². Jang mereka dapat hanja boikot disana-sini, terutama dari belanda dan dari pegawai² pengabdi belanda. Kelebihan mereka, mereka ditjintai Rakjat jang merasa tindasan², tindakan² berlanda. Akan tetapi mereka jang menipu Rakjat akan lekas ketahuan. Waktu itu Rakjat tjepat, berpikir. Mereka telah terlatih dalam membedakan mana lawan mana kawan.

Dalam kesibukan penangkapan² dan pasang surutnja perdjuangan, Abu masih tetap bekerdja pada letnan Hendrik. Abu mendjadi biasa dengan mempersaksikan tindakan kekedjaman militer belanda, terutama madjikannja sendiri. Dia telah terlatih melihat darah, pukulan jang maut, kutjuran darah dari hidung, mulut dan telinga. Bahkwan tidak djarang dia mempersaksikan hilangnja sebuah njawa oleh tembusan peluru dan kerasnja udjung sepatu berdjeriji tadjam. Tidak semua itu tidak mengerikan Abu lagi. Dia hanja djidjik dan bentji serta dendam.

Letnan bersikap biasa pada Abu. Apa jang mesti disikapkan pada orang jang begitu tolol seperti Abu itu. Orang jang hanja tahu kerdja, tahu makan, begitu patuh, demikian pendapat letnan. Lagi pula lenan itu pernah mendengar bahwa Abu adalah seorang jang agak kurang beres otaknja. Banjak orang mengatakan bahwa Abu itu setengah sinting. Letnan djelas sekali pernah mendengar utjapan dari mulut kemulut. Namun bagi letnan, Abu adalah tenaga raksasa kerdja. Kuat, gesit, tidak pernah mengeluh serta patuh. Betapa besar djiwa budaknja, letnan dapat memperhatikan ini. Karena itu letnan sajang pada Abu. Dia tak banjak ngomong lagi. Letnan sibuk, Abu sibuk.

Penduduk kota ada jang keheran-heranan melihat sikap Abu. Seorang jang dianggap dungu tapi pintar djuga menggunakan kesempatan mengabdi pada belanda, karena itu orang² menganggap Abu, bahwa Abu telah kaja, makmur, dan lagi Abu telah agak gemuk. Tentu sadja, ditempat militer itu, makan, sekali lagi makan, betapa orang membajangkan kuatnja Abu makan ditempat gudang makanan. Umpan belanda mengena pada Abu. Belanda menggunakan Abu sebagai empat orang tenaga kerdja dengan gadji untuk seseorang, ialah Abu sendiri. Menghemat uang, akan tetapi mendapat tenaga kerdja jang luar biasa. Akan hal abu memang ada perubahan. Dia sudah ber-sungguh². Tapi dalam pertajakapan dia tetap tadjam, menangkis dan jang tak boleh dilupakan ialah senjumnja, senjum Abu. Barangkali djuga dalam senjum itu ada apa²nja, tapi hal itu tak perlu diperhatikan. Abu tetap Abu bagi penduduk dan bagi letnan. Abupun memang merasa demikian, dia tak beruabh dalam pandangan penduduk dan letnan, tapi dia merasa sangat sungguh² bila berhadapan dan bila dalam bimbingan Bakri. Bakri seorang manusia jang manusia. Bukan orang jang hanja orang. Banjak orang jang bukan manusia, tapi hanja orang. Bernjawa, bernafas tapi tak berdjiwa. Bagi Abu, Bakri adalah manusia jang manusia dan djiwa jang ber-djiwa².

Dua hari jang lalu Abu sangat sibuknja. Dirumah letnan orang pengabdi belanda dan belanda²nja sendiri ber-pesta². Ramai sekali, makan² sampai puas, minum² sampai mabuk, bersenda gurau sampai berlupa. Berdansa sampai puntjak kedansaan. Pada waktu itu letnan merajakan kenaikan pangkatnja. Utusan dari Batavia lima hari jang lalu tiba di Tandjungpandan ini untuk mengenakan tanda pangkat letnan dengan menggantinja dengan pangkat kapten. Tepat pada tanggal 31 Agustus berkenaan dengan hari ulangtahun Ibusuri ratu di Nederland, letnan mendapat surat keputusan jang isinja menjatakan mendapat kenaikan pangkat inilah jang membikin Abu luar biasa sibuknja. Persiapan² perajaan, makanan, minuman, dansa. Tentu sadja sebelum upatjara bebas dimulai, upatjara jang keramat, dimana semua hadirin tegak lurus dengan pikiran tertudju pada kesatuan pereasaan buat kebaktian keradjaan, lagu Wilhelmus mendengung lemah berirama tenang, ter-iba². Sesudah itu pidato². Dan sesudah itulah atjara bebas, deringan peraduan tjangkir, seloki dan seretan sepatu jang mengajunkan langkah dansa wals. Pertukaran wanita satu kepria lainnja. Staf pegawai belanda totok, belanda indo dan belanda penduduk asli jang kebelandaan, hiruk pikuk masing² menundjukkan kepandaiannja bergaul. Mula² etiket masih berdjalan. Kemudian kebebasan dalam wiski dan brendi mulai membebaskan kekangan etiket jang bergaja Peranjtis itu. Ada duatiga pasang pria wanita setjara diam² menudju kebelakang, ruangan jang tanpa lampu.

Malam itu betapa lelahnja Abu memborong pekerdjaan laki² dan pekerdjaan wanita. Hanja tenaganja setjara diam² bertambah kuat, sebab kerdja keras. Makanan tjukup banjak, namun melelahkan djuga.

Keesokan harinja letnan telah berganti badju dan tanda pangkat. Mukanja ber-seri². Sering tersenjum, senjum gigi-mas putihnja. Lain dengan Abu, senjum maskekuningan dan senjum ke-Abu-an.

Kapten pagi² telah menudju ketangsi memeriksa barang² dan bahan keperluan perang. Terutama bahan² jang datang dua hari jang lalu bersamaan dengan kedatangan militer² baru dari „Java” terutama dari „Buitenzorg” dan „Batavia” sendiri. Rupanja sudah ada angin² kenaikan pangkat itu, dan bersamaan dengan itu pula tenaga² perang serta perlengkapan perang mendjadi bertambah pula.

Ketika itu dua orang tawanan jang kemarin sorenja dipukuli setengah mati, dan ditjabuti kuku djarinja jang lalu disirami alkohol dan dibakar, kini didekati akpten.

„He, kamu sersan, buka ini tali, lepaskan tjepat. Antarkan dia orang pulang. Pigi bawa kedia orang punja kampung”.

Suruhan itu mengerdjakan perintah. Ikatan itu dibuka. Tapi tubuh² itu sudah begitu lemah.

„Dia orang dapat kembalu kampung, prijs dari militer keradjaan buat 31 Agustus. Dia orang boleh bebas, bole pulang. Tanda saja kapten, dia orang bole bebas”.

Serentak dengan itu, dua orang suruhan mengangkat tubuh jang sudah lemah tak berdaja. Kedua tubuh itu diangkat dengan keras dan sentakan jang mengedjutkan. Baru mau diangkatkan keatas truk, keduanja menghembuskan nafas penghabisan. Dua orang itu melaporkan pada kapten. Kapten hanja tertawa sadja. Agaknja kapten masih mabuk. Mabuk minum atau mabuk segala.

„Buangkan sadja diitu sungai”, tundjuk si kapten kebawah benteng jang tjuram menudju sungai itu. Dengan tangkas kedua militer tadi mengangkat kedua tubuh kuju itu dan melemparkannja kebawah. Sedjurus terdengar „bur……buh”. Dua tubuh mentjemplung kebawah sana. Kedua militer itu menepukkan kedua tangannja. Dua sosok tubuh jang djauh dibawah sana mula² mengapung pelan menudju laut. Diatas tangsi berbunji lontjeng sepuluh kali.

****

Seperti biasa waktu Abu pulang pulang kerumahnja, didapatinja beberapa orang tamu. Tamu Bakri. Aneh, sekali ini tamu² itu hanja bertiga sadja. Bakri sendiri belum datang. Tamu² itu hormat sekali. Bersalaman dengan Abu sertja bertjakap² setjara sopan. Baru sekali inilah Abu merasa orang menjalami dirinja jang hina dina ini. Alangkah baik²nja mereka ini. Senjum dan berkelakar dengan mesranja. Abu lupa bahwa tamu² itu memang baru dikenalnja. Tapi pertjakapan lantjar sekali. Tidak berapa lama antaranja datanglah Bakri dengan tiga orang lagi. Tamu² itu baru dikenal Abu. Seorang bekas mantri kehutanan jang tidak bekerdja lagi sampai sekarang sedjak kedatangan belanda. Seorang lagi bekas agen polisi jang tak lagi djadi polisi. Seorang lagi adalah wanita. Wanita ini dikenal Abu sebagai djanda jang baru² ini pernah djuga dilihatnja datang keasrama berdjualan kue². Pernah djuga berdjualan kue kerumah kapten sewaktu kapten masih mendjadi letnan. Abu kenal pada wanita ini, jang rumahnja di Pangkallalang. Seorang jang tak begitu baik namanja. Tinggal sendirian, setengah tua. Barangkali djuga seumur dengan Abu.

Hanja djanda ini mentjari uangnja sendiri, tidak dirinja jang hanja mendjual tenanga. Djanda ini sering berdjualan goreng pisang, naga sari, onde² dan djadja jang enak². Laku sekali. Banjak uangnja tentu. Apalagi militer² sangat senang djadja djanda itu.

Rumah Abu jang ketjil itu penuh manusia. Tamu² tadi membawa beberapa bungkusan. Belum lagi Abu merasa puas ber-tjakap², tamu itu sudah minta diri. Dan semuanja pergi, ketjuali bungkusan jang mereka bawa tadi, ditinggalkan begitu sadja dibawah kolong tempat tidur jang beralaskan tanah. Waktu tamu² itu pergi, Abu merasa lebih lega lagi. Dia bertanjakan siapa² itu. Bakri mendjawab, itulah kawan²nja jang baik² serta teguh dan kukuh pendiriannja. Mereka kelihatannja lemah², tidak gagah², tapi matanja berkatja dan senjum berharapan.

Bakri mengambil sebuah bungkusan itu. Dan diangkatnja ketempat tidur, lalu membukanja. Setumpukan plakat merah putih dan selebaran jang bertulisa „Imperialis belanda kita hantjurkan sekarang djuga” „Pengchianat bangsa harus dimusnahkan dari buminja sendiri” Republik Indonesia pasti memang, ikuti djedjak pahlawan² Republik Indonesia jang telah mengorbankan njawanja untuk negara”, „Pasukan Republik Indonesia segera akan menang, berdjuang terus sampai titik darah penghabisan, merdeka atau mati”.

Waktu Abu melihat tulisan² ini matanja terbelalak. Dengan hati² Bakri melihat kepintu, dan menjilangkan telundjukan ditengah mulutnja. Abu diam.

„Inilah jang kaulihat di-pasar² dan tembok dinding gudang G.M.B. itu”, kata Bakri agak berhati².

„Dan ini baru datang tadi pagi dari Tjerebon melalui Sidjuk”.

Sidjuk ialah sebuah kota pelabuhan ketjil jang djauhnja dari ibukota kira² 39 kilometer.

„Sebuah perahu Bugis dari Tjerebon beserta kawan² kita dan perlengkapan jang kita perlukan”.

Abu merasa panas dingin. gembira, naik² bulu halusnja. Kemudian suara mereka bisik² pelan sekali. Abu merasa bersemangat. Tapi segera Bakri memperingatkan.

„Kerdja ini bukan main², Abu, kerdja ini kerdja djiaw. Kita mati atau menang. Kurang hati² bisa djiwa melajang, dipenggal mati seperti ajam ditubruk mobil, begitulah diperlakukan belanda atau siksaan baru jang belum mereka temukan”.

„Aku mengerti. Aku mau ngomong sekarang sjuga. Sini!”, kata Abu sambil memegang tangan Bakri. Bakri menurutkan mereka duduk ditempat tidur.

„Ada jang mau kubitjarakan. Penting sekali. Aku mau berhenti bekerdja dari kapten itu. Mulai besok. Kau setudju, kan? Aku mau menggabungkan diri dengan kawan² kita jang sering kemari itu”.

Bakri diam sadja. Dia tidak lekas mendjawab, hanja memainkan senjumnja. Abupun turut senjum. Sekarang mereka keduanja senjum dalam dan berisi.

„Aku sudah bosan bekerdja disana. Jang kulihat, kudengar hanja pukulan, siksaan, darah, dan mati. Kematian, kematian jang kulihat, hanja itu sadja. Aku tak tahan lagi melihat tindakan kapten baru itu”.

Bakri belum mendjawab. Rupanja sukar untuk dia mendjawab desakan Abu.

„Itu pula jang hendak kupertajakapkan padamu, Abu. Soal itulah”.

„Ja, tepat sekali, aku setudju sekarang djuga berhenti atau besoklah”, djawab Abu gembira.

„Tapi lain pendapatku. Sungguh lain. Hanja kau tak boleh ketjewa, tidak boleh. Dari kaulah jang kami harapkan”.

„Tentu, apa sadja jang dibebankan padaku akan kupikul. Aku betul insaf sadar, aku sungguh ingin berkorban”.

„Kalau begitu turutlah nasehatku, ini djuga nasehat kawan² kita jang memikirkan kau”.

„Apa nasehat itu, aku akan turuti. Aku djuga barisan kalian”.

„Abu, sekali lagi kukatakan. Kita bukan main² dengan ini. Ini soal njawa kita, kurang hati² kau mati dan kita semua mati”, kata Bakri.

„Kau belum mengerti, Abu”.

„Itu aku mengerti. Itulah sebabnja aku mesti berhenti itu. Aku segera menggabungkan diri pada kalian. Dengan insaf dan kekukuhan”.

„Kau belum djuga mengerti, Abu. Permintaanku, kau tak boleh berhenti dari pekerdjaan itu. Kau harus terus bekerdja pada kapten itu, harus terus”.

Sekarang baru Abu betul² tidak mengerti. Dia terhenjak kebingunan.

„Kaulah orang jang dipertjajai kapten. Kau banjak mengetahui segala. Gunakan kepertjajaan itu, gunakan kesempatan itu. Kawan²mu telah semakin banjak. Kau betul² tidak sendiri. Kau pertjaja padaku, bukan? Pertjaja pada keteguhan, kebaktian kesetiaan kawan²mu, kesetiaanku padamu, seperti aku pertjaja pada kesetiaanmu. Tidak akan kau kudekati kalau aku tak pertjaja padamu. Aku senasib dengan kau, aku seperasaan dengan kau, kita ini seperasaan, sependapat, sehati dan setudjuan. Karena itu, kau berarti aku, aku berarti kau”.

Bakri terus menerangkan sampai kesoal jang betul² tak terpetjahkan oleh Abu. Abu mendengarkan. Kepertjajaan Abu bertambah menebal lagi. Abu mendengarkan. Kepertjajaan Abu bertambah menebal lagi. Abu meresapi kata² Bakri dengan penuh kesungguhan dan kedjudjuran. Bakri kian lama kian mendapati Abu. Abu betul² termakan semua saran² Bakri. Tidak, tidak hanja saran, lama kelamaan betul² Bakripun merasai bahwa Abu memang sungguh manusia jang baik. Dapat dipertjajai, dapat dibentuk, dapat diisi. Setia dan kukuh. Abu hanja hina dimata orang jang tak mengerti persoalan. Abu adalah manusia jang dapat menggunakan pikirannja, perasaannja, bila sadja sungguh² dibimbing. Hal ini dapat dirasakan Bakri. Betapa Bakri menerima banjak informasi perlengkapan belanda dari Abu. Sungguh tak sia² kedatangannja dulu „menjerahkan diri” minta diadjak tinggal tinggal bersama². Abu menerima dengan tangan terbuka. Sekarang rentjana itu terasa sudah dimuka bajangannja.

Malam itu pekerdjaan Bakri jang luas dibentangkan setjara menjeluruh. Pekerdjaan jang selandjutnja. Dan achirnja Abu dapat dijakinkan dengan baik, dijakinkan dengan pengertian jang terdalam. Sampai² Abu sendiri dapat lebih menguasai dirinja. Kejakinannja bahkan dapat terkontol dalam ruang kejakinan kawan²nja jang lain. Hal itu sudah tjukup. Pengalaman menundjukkan Abu berkata selalu dengan hatinja, tidak hanja dengan mulutja, seperti dia sering senjum dengan hatinja. Dengan kata² jang djujdur, bukti² jang dilihat Abu sendiri, pengertian politik jang ditanamkan Bakri mendjadi bertambah teguh. Abu bertambah kuat, bertambah kukuh dan setia. Dia tidak hanja tahu, untuk apa guna dan akibat jang akan diperbuat itu. Buat siapa dan untuk siapa benar achirnja.

Lama Bakri dan Abu saling bersoal djawab pada malam itu.

Kentongan pendjagaan kampung berbunji dua kali.

BAGIAN VII

MILITER² BELANDA SEMAKIN BANJAK BERDA-tangan dari Djawa. Sekaerang sepulau itu tidak kurang dari tiga empat ratus orang. Mereka berkeliaran. Sudah biasa pada perbuatan² jang dialami penduduk. Mereka mengambil, memetik, memperkosa. Perkawinan gadis dengan militer tidak lagi begitu populer seperti mereka baru datang. Tidak djarang diantaranja kawin lagi dengan djanda bekas kawan² mereka itu. Djanda² itu ambil oper dari militer satu kemiliter lainnja. Wanita² jang berwatak keras, akan menolak dengan tjara apapun, atas semua tjara jang dilakukan militer itu untuk membudjuk wanita² tadi. Kemenangan akan terdapat pada satu pihak. Wanita tetap utuh atau dia kawin serta terbuang dari pemuda² kampung itu. Militer² dapat bertindak apa jang mereka mau. Tapi segera sesudah itu berdatangan surat antjaman. Lalu mereka digelisahkan oleh surat² antjaman itu. Mereka tidak lagi merasa aman seperti kawan² mereka jang mula² datang dulu.

Suasana politik sudah lebih berat memihak ke Republik Indonesia. Tenaga² revolusioner sudah lebih berani dan lebih padu. Pengabdi² belanda tidak lagi setjara terang²an mendjilat belanda. Mereka sudah lebih litjin.

Tersembunji. Ada jang takut², tapi tidak berani membelakangi madjikannja. Golongan inilah jang paling sulit keadaannja. Tidak berbakti kepada belanda berarti dapat dianggap belanda sebagai musuh dan mata². Memihak Republik sudah terlalu banjak dosanja, sudah terlalu banjak djiwa² melajang karena dichianatinja. Lain halnja dnegan orang² jang bekerdja se-mata² mentjari makan, betapapun mereka sama² tidak setia pada Republik.

Akan hal Abu tetap sebagai pendjilat belanda, mata² militer belanda bagi penduduk² jang berada dalam lingkungan pro Republik tapi tidak terang²an berdjuang untuk Republik Indonesia. Mereka ini tentu sadja sebagai penonton revolusi. Penonton² revolusi ini sangat sering bersalahan menafsirkan situasi revolusi. Karena itu Abu lebih ditakuti. Mereka tetap menganggap Abu adalah mata² belanda. Mereka tidak berani lagi main² dengan Abu. Takut kalau² diadukan Abu pada madjikannja jang terkenal kedjam itu. Sungguh keserasian. Abu jang terkenal kuat makan disamping kuat bekerdja, mendjadi pelajan kapten jang terkenal pula sebagai pembunuh jang kedjam. Sama² terkenal. Hal ini bagi Abu menguntungkan djuga. Serasi sekali, seperti tjembul dapat tutupnja. Tapi namun bagi Abu tak memusingkan amat.

Bakri lebih mengisi kehidupannja dengan segala kedjudjurannja : Senasib seperasaan, itu pengakuan Bakri sendiri. Bagi Abu pengakuan itu berarti martabat kemanusiannja sah sudah diperhatikan. Dia baru merasai bahwa banjak manusia jang tidak benar. Tapi banjak pula manusia jang memikirkan nasib² seperti sebangsanja. Dia mendapatkan dunia baru antara kawan²nja jang baru² ini diperkenalkan Bakri. Manusia jang begitu baik, begitu sopan.

Pagi itu Abu pergi bekerdja dengan rasa gembira. Gembira bergelora. Tapi kadang² terasa djuga keketjutan, untungnja rasa itu hanja sebentar sadja. Rasa gelora lebih dirasakannja. Aku djuga manusia jang mengerti kemanusiaan, bentji pada penindasan, pada pendjadjahan, pikirnja. Alangkah kerdilnja djiwa orang jang mau sadja ditindas setjara rela dan tulus. Barangkali orang jang begini tidak banjak. Andaikata banjak apa djadinja dunia ini. Bahkan lama² orang begini tidak akan ada lagi, tidak adakan ada, sebab mereka tidak sudi penindasan karena itu mereka melawan memberontak sepeti kata Bakri, dan betapa benarnja perkataan Bakri.

Bakri menerangkan bahwa di Djawa sudah hampir sebagian besar daerah mendjadi daerah kekuasaan Republik Indonesia. Dan Abu sendiri membatja koran² jang dibawa Bakri, mendengar tjerita² kawan²nja jang baru datang dari Tjerebon.

Pagi itu Abu sibuk. Kapten sedjak pagi tadi sudah pergi ketangsi dan membawa tawanan lagi sebanjak lima orang. Apakah orang ini bersalah atau tidak bukanlah persoalan. Pukuli dulu, siksa, kalau perlu matikan dulu baru selidiki persoalannja. Kalau mereka mati dan diselidiki ternjata tidak bersalah, maka apa boleh buat sudah terlandjur. Hanja itu sadja jang bisa diperbuat tentara belanda itu.

Tawanan lima orang itu rupanja buruh² kapal keruk timah jang mengandjurkan pemogokan. Buruh² sering dipukuli, dipetjat atau dipendjara bila ada tanda² malas bekerdja. Dituduh mata² Republik Indonesia jang mau membumi hanguskan kapal keruk.

Tawanan tadi dibawa ketangsi entah untuk diapakan nasibnja. Jang terang mereka takkan lekas kembali. Ada kemungkinan mereka akan lekas kembali kepangkuan tuhannja.

Abu tak hirau lagi akan hal itu. Dia sudah biasa mengalami kedjadian jang matjam manapun bentuknja. Melihat mempersaksikan bahkan merasakan pukulan² bila pekerdjaannja tak bersesuaian dengan kaptennja.

Sekarang masing² dengan tugas. Abu bekerdja dengan baik. Tentu sadja kapten senang, meskipun ada pekerdjaan Abu jang tak memuaskan. Akan tetapi perasaan kekedjamannja lebih menguasai dirinja, sehingga pukulan² tangannja sering melekat kemuka Abu. Pada sebenarnja pekerdjaan itu sangat baik bila dibandingkan dengan pekerdjaan orang lain.

Dalam hati kapten, hanja makanlah jang menguasai kepribadian Abu ini. Ditangsi sini makanlah se-kenjang²-nja, sisa banjak jang berlebih.

Hari itu Abu bekerdja lebih baik, lebih sungguh² dan lebih radjin. Sehingga sewaktu kapten datang dari inspeksinja ke Manggar, Dendang dan kota² ketjil lainnja jang djauhnja sembilanpuluh kilometer dari Tandjungpandan, Abu masih ada ditempat pekerdjaannja. Hari sudah pukul sembilan malam. Akan tetapi Abu masih ada ditempatnja. Bukan main senang hati kapten melihat kesetiaan Abu ini. Begitu lelah, kapten masih sempat berkata.

„Seh Abu, kamu orang belum pulang, ja. Kalau sudah malam, kerdja sudah selesai kamu orang boleh pulang”.

„Saja takut kalau² tuan tidak pulang. Saja kira tuan takkan pulang, kalau ada apa² didjalan tentu saja akan susah djuga. Sama siapa jang harus ikut. Saja takut tidak dapat pekerdjaan”.

„O bagus ja, djangan takut. Keradjaan masih tetap baik sama orang Indonesia, Abu. Lihat sadja hollan selalu tulung Indonesia. Hanja Indonesia selalu bikin susah keradjaan”.

„Ja, heh……heh”, sambil Abu senjum² ketjil.

Kapten terus sadja kekamar. Rupanja dia lelah sungguh. Abu memperhatikan. Dia keruang tengah lagi. Kapten kembali menudju kamar mandi. Rupanja dia hanja mentjutji muka. Sudah itu masuk lagi kekamarnja. Waktu itulah Abu melihat kapten bertjelana pendek dan tanpa badju. Tidak begitu seram. Teringat Abu perkataan Bakri dulu.

Kapten tidak menudju kemedja makan, terus sadja menudju kamar tidurnja. Betapa lelahnja barangkali. Abu masih tetap diam. Kadang² dia menudju kamar tengah dan melihat djam. Hari sudah hampir djam sepuluh. Abu tampak gelisah. Tapi dia mentjoba menenangkan dirinja. Pintu kamar kapten memang djarang dikuntji. Dengan lampu jang agak kegelapan kapten merebahkan diri karena kelelahan.

Abu masih tetap djalan hilir mudik, keruang tengah dan los tengah. Djalan Abu kedengaran dari kapten, dari kamar tidurnja :

„Seh, Abu, kamu orang belum pulang, tungga apa lagi?”.

„Apa tuan tidak akan makan? Saja menunggu tuan selesai makan dulu. Tuan belum makan”.

Mendengar ini kapten dari kamar tidurnja tertawa :

„Kamu orang hanja ingat makan sadja, Abu. Kamu boleh makan itu makanan. Saja sudah makan. Bole kamu bawa pulang”.

„Terimakasih, tuan”.

Sesudah itu Abu membenahi piring mangkuk. Sengadja diperlamanja kerdja ini. Waktu berdjalan terus. Kapten tidak bersuara lagi. Abu pergi kedapur, membenahi dapur, membersihkan alat² dapur. Djam dikamar ditengah berdjalan berdetak. Sepi mentjekik. Hanja bunji djam itulah jang njata memetjahkan kesunjian kamar itu. Abu bersidjingkat menudju kamar tengah. Beberapa menit lagi djam akan berbunji sepuluh kali. Biasanja pada djam begitulah pergantian pendjagaan dipos tangsi tang tinggi membukit itu. Abu djadi agak ngelamun. Dulu Bakri pernah mengatakan bahwa jang kita takuti pada militer itu sebenarnja hanjalah pakaiannja sadja, tanda pangkatnja. Bila seseorang tak berpakaian militer lagi, sama dengan orang² lain jang bukan militer, maka ketakutan kita akan berkurang. Dan militer itu akan tampak tidak lagi menjeramkan. Dia kita takuti karena kita memang takut, dan dia tambah berani kalau kita takut.

Abu tersentak dibangunkan bunji lontjeng sepuluh kali oleh lontjeng tangsi. Abu agak segera mendekati kamar tidur kapten. Tampak kapten tidur mengahdap kedinding tidak melihat Abu. Sesuatu jang dibawa Abu tersembunji didalam kantongnja. Dia terus masuk dan pelan² menguntji pintu dari dalam. Baru sadja kuntji itu selesai diputarkan dia agak terkedjut…… „dar…… dar²…… pang…… pang…… blang……” pandjang sekali bunji petjahan arah ditangsi. Bunji itu lama djuga dan terus-menerus. Kapten lekas terbangun. Abu mengangkatkan sesuatu. Tapi segera kapten dengan perasaan kemiliterannja menangkap sesuatu itu. Sebilah belati dielakkan kapten, dan belati itu terpelanting djauh. Kapten dengan tjelana tidurnja lekas menudju kekantong tjelananja jang tergantung diatas daun pintu. Maksudnja mengambil revolver. Tapi Abu dengan ketangkasan jang ada padanja mendorongkan tangannja jang kasar itu. Kapten terhujung. Tidak ada suara jang berbunji dari kedua mulut orang itu. Abu telah kehilangan sifat ke Abuannja. Dia berwadjah merah padam, merah bentji dan dendam. Dendam bersarang pada dirinja. Begitu kapten terhujung dan terbaring, badan kapten lekas ditindihnja. Abu jang berat tegap, tjukup kuat menghimpit kapten. Tapi kapten lebih berpengalaman dalam berkelahi. Kaki kapten menerpa muka Abu. Abu terserembab. Kapten bangkit dan berlari menudju kantong tjelananja. Lekas² Abu menangkap kakinja. Kapten terdjatuh. Serentak dengan itu bunji senapang dan petjahan granat sudah ber-menit² diarah tangsi. Sirene tanda bahaja telah mengaum. Rentetan senapang mesin dengan teratur meningkahi bunji² itu. Karaben mitraljur itu tentu balas terhadap kawan² Abu.

Pergumulan Abu terus berdjalan. Beberapa truk melintas didepan rumah kapten dan bunji suara sepatu bot berat jang banjak sekali. Abu dengan tenaga raksasa empat orangnja jang kuat kukuh tegap menindih kapten. Kapten agak sedikit kehilangan tenaga. Tapi kepandaiannja berkelahi membantu melajani tenaga Abu jang raksasa itu. Pergumulan diubin antuk mengantuk kepala. Tapi tak seorangpun jang bersuara. Dendam Abu telah mendalam. Dia berkelahi dengan perasaannja dengan dendamnja atas kawan²nja aras orang² jang disebutkan Bakri. Nafasnja sudah mulai terengah². Tapi kaptenpun bukan orang jang biasa bekerdja lama dan kuat. Mereka keduanja berguling² diubin. Tubuh kapten mengenai kaki sebuah filter jang terletak dipodjok kamar itu. Melihat kesempatan itu Abu lebih mendorongkan badan kapten itu. Kaki filter itu bergojang keras dan rebah djatuh menimpa badan kedua mereka. Setjepat kilat sewaktu Abu diatas dan kapten dibawah, filter jang sudah agak kekosongan itu jang beratnja tidak kurang sepuluh kilogram diangkat Abu. Dan filter itu terangkat leluasa. Dan…… bam…… bam, filter nitu terdjatuh kekepala kapten. Kapten tiada sedar akan dirinja lagi. Kesempatan itu tidak di-sia²kan Abu. Ber-kali² filter itu diangkatnja dan diarahkannja kekepala kapten. Darah keluar mengutjur deras sekali. Abu sudah betul² mengeluarkan dendamnja. Tjepat² dia bangkit dan mengambil sesuatu dalam kantong tjelana kapten. Lekas² dia membuka djendela kamar itu jang menghadap kelapangan tenis, dia terdjun meninggalkan tubuh madjikannja jang tak bernjawa lagi.

Gelap sekali. Dia berlari, berlari menggabungkan diri. Bunji letusan sudah hampir seperempat djam, tapi belum ada tanda reda²nja. Abu berlari, berlari terus menudju letusan dan rentetan itu. Dia tahu persembunjian kawan²nja. Waktu dia membelok kearah barat, beberapa sosok tampak dibawah tjahaja api peluru. Dan……tar…….tar……, sesosok tubuh telentang hilang njawa. Bunji letusan masih mendjalar dan langsung kekota. Sekarang pertempuran sudah bersegi banjak. Tidak lagi ditangsi, tapi sudah mendjalar kekota dan dimana sadja. Hampir satu djam, barulah bunji² itu mulai berangsur hilang. Dan sekarang tampak tjahaja api. Tangsi kebakaran, benteng dan asrama didjilat api jang ganas. Api menggantikan letusan peluru dan mesiu. Mengganas, berkobar seperti semangat gerilja² ketika itu. Pembakaran peledakan berlangsung sampai mendjelang pagi jang dimulai mendjelang tengah malam. Manusia berlarian, peluru beterbangan. Tapi peluru² itu takkan kehilangan arah, peluru² itu mestilah kearah musuh dan musuh itu adalah belanda.

Keeseokan harinja penduduk mendjadi gempar. Tangsi diatas bukit habis terbakar. Asrama hilang lenjap oleh api dan ledakan gudang bersendjata. Ratusan rumah penduduk jang tak bersalah habis dibumihanguskan oleh belanda jang kehilangan akal tak dapat mentjari siapa jang memelopori perlawanan itu, tak ada pimpinan. Jang dapat mereka kerdjakan hanjalah bakar, tembak, bunuh.

Kapten jang terkenal kedjam mati terkapar petjah kepala dikamarnja sendiri. Setelah agak siang barulah ketahuan. Belanda kehilangan 120 militernja. Penduduk jang tertembak mati tidak terhitung dengan pasti. Akan tetapi gerilja² jang memakai tanda² pengenal, hilang 87 orang. Oleh belanda majat² jang dapat diketemukan olehnja itu dikumpulkan. Dan seperti biasa dipertontonkan ditengah pasar. Majat² itu didjedjer ditengah seperti menjusun djualan ikan. Majat² itu didjaga dengan karaben mitraljur dari empat djurusan. Serentak dengan itu ada pembagian distribusi tjuma², roti, beras, barang² kalengan dan tekstil pada penduduk. Tempat pembagian itu ada 20 meter djauhnja dari majat² itu dan diatasnja bertulisan „Holan tulung Indonesia”. Tempat pembagian itu sepi, tak seorang jang menudju kepembagian jang sekarang dilajani belanda² asli. Penduduk lebih banjak mengarahkan perhatiannja ke majat² itu. Setelah hampir busuk dan setelah banjak mengerumuninja barulah militer belanda itu meninggalkannja. Rakjat berlarian mendatanginja dan mentjaritjari mengenali tubuh² itu. Beberapa orang akan mengambil keluarga dan kawan²nja. Tapi oleh beberapa orang jang berpengaruh tak seorangpun jang diperkenankan menanam majat itu setjara sendiri².

Diantara majat² itu orang mengenali majat Abu. Abu raksasa kerdja pahlawan jang membunuh kapten jang sangat ditakuti oleh penduduk. Kini kapten itu lebih dulu berpamitan dengan dunia daripada Abu sendiri. Abu masih dapat memenangkan beberapa menit, sesudah membunuh kapten, dia sendiri tertembak.

Beberapa penduduk menjangsikan kematian Abu. Tapi orang² jang mengetahui persoalan sebenarnja serta gerilja² jang masih hidup dapat membuktikan kerdja Abu jang sangat rahasia serta teliti.

Orang² akan melihat pula majat seorang wanita jang mukanja hampir samasekali rusak serta perutnja jang terurai berserakan. Dialah wanita kerumah Abu jang terachir. Sudah itu majat Bakri.

Hari penguburan majat² itu sangat dimuliakan Rakjat. Ber-dujun² Rakjat dari kota² ketjil dan dari luar kota mengantarkan majat² itu, majat Abu, Bakri dan kawan²nja. Pada penguburan itu tampak demang, wedana, lurah² dan semua orang pedjabat² penting jang ada dikota. Merahputih menghiasi pekuburan dengan dekor² dua warna. Dipihak sini orang² menguburkan majat² pahlawan. Dipihak sana berdentuman bunji salvo kehormatan militer belanda untuk mengiringi penguburan kapten Hendrik dan militer² bawahannja. Berkabung untuk seluruh penduduk kota. Rakjat dengan pahlawan²nja, belanda dengan militer sewaannja.


1dikatapel.


2tangkai buah kelapa.