Publisher Note
Artikel ini dimuat dalam Harian Rakjat, edisi 7 Maret 1957.
Oleh Umi Sardjono (dimuat di Harian Rakjat edisi 7 Maret 1957).
Digitizer Note
This digital edition is a faithful typeset of the printed text, preserving the original layout, spelling, punctuation, and front matter as closely as possible.
All original rights remain with their respective publishers and translators. Where copyright has expired or the material falls under fair use for preservation, the text is reproduced for historical study.
The Kacabenggala Editions are non-commercial and undertaken for study and admiration, shared purely for archival and educational purposes, without commercial intent.
Sedjarah perdjuangan emansipasi wanita adalah sedjarah perdjuangan anti perbudakan, anti pengekangan, dan anti diskriminasi.
Tapi selain itu sedjarah emansipasi adalah djuga sedjarah kepahlawanan. Tjita2 kaum wanita untuk membela demokrasi dan perdamaian adalah adil. Artinja sadja setiap tjalon luhur-adil, tidak selamnja lurus dan lempang.
Keadilan dan keagungan wanita terletak pada kehalusan perasaan dan kebesaran djiwanja. Inilah dorongan supaja kaum wanita dalam melangkah madju tetap ulet. Sebab untuk mentjapai kebebasannja, untuk mendjamin hari depan anak kita, daja djuang wanita harus dikembangkan.
Apakah peladjaran jang kita peroleh dalam memperingati Hari Wanita Internasional? Tidak lalu ketjuali tradisi keuletan dan keteguhan dari para pedjuang wanita di berbagai negeri dalam mentajapai kemenangan untuk hak2nja, perdamaian dan demokrasi. Tradisi tersebut kini diwarisi oleh Gabungan Wanita Demokratis Sedunia, penerus dari gerakan wanita Internaional jang lahir pada tahun 1910. Peranan dari tokoh2 Kongres Internasional ke-I seperti Clara Zetkin, Rosa Luxemburg, Louise Zlets dan Nadezoa Krupskaya pada tahun2 berikutnja diakui oleh kaum wanita. Tidak sedikit mereka memberikan pimpinan sehingga tertjapai kemenangan kaum wanita dalam menuntut dibolehkannja kaum wanita ikut memilih dalam pemilihan2 umum.
Besar peranan tokoh2 Clara dan Rosa Luxemburg ketika dengan ketetapan hati mulai menggerakkan kampanje menentang persiapan perang dunia.
Madjalah “die Glelchheit” (persamaan) jang terbit di Djerman ketika itu mendjadi pembawa suara sutji kaum wanita jang menentang usaha2 mempersiapkan perang dunia ke-I, membangkitkan gerakan wanita hingga makin mendjadi dunia. Sekarang gerakan wanita internasional sudah mendjadi besar dan kuat dan berdirinja GWDS jang berusia lebih dari 10 tahun.
Di seluruh dunia kaum wanita buruh, wanita tani, njonja rumah, dan wanita intelektuil merasa lega karena sudah mendapatkan pedoman untuk memperdjuangkan pelaksanaan hak2nja, dengan keluarnja Deklarasi Hak2 wanita sebagai djiwa 8 Maret.
Bagi kita kaum wanita Indonesia Hari 8 Maret harus kita djadikan peristiwa untuk menantjapkan tonggak peringatan menilai sampai di mana hasil2 jang sudah ditjapai oleh perdjuangan kaum wanita, dan tugas apa jang membentang di hadapan kita pada waktu2 jad.
Revolusi Rakjat Agustus 1945 telah membawa kemenangan bagi kaum wanita. Undang2 Dasar sementara R.I djuga sekarang ini memuat fatsal2 jang mendiskriminasikan kaum wanita. Undang2 pemilihan umum mendjamin persamaan hak pilih, dan Undang2 kerdja tahun 48 memuat antara lain perlindungan bagi buruh2 wanita sekalipun prakteknja masih djauh dari pada memuaskan.
Di samping itu djuga wanita Indonesia telah tidak sedikit memberikan sumbangannja untuk memadjukan kehidupan sosial kita. Wanita2 jang mendjadi ahli2 hukum, jang mendjadi dokter boleh dikatakan lumajan, jang mendjabat insinjur dan penerbang djuga sudah ada sekalipun belum sampai mentjapai djumlah puluhan. Djika tidak ada persamaan hak memilih akan sukarlah kiranja wanita2 dapat duduk dalam Dewan2 Perwakilan Rakjat. Tetapi di Indonesia sehabis pemilihan umum jang lalu telah terpilih 18 orang wanita mendjadi anggota parlemen dan 33 wanita duduk di Konstituante. Sedang dalam DPRD2 wanita2 tidak ditinggalkan, misalnja Gerwani jang duduk di DPRD tidak kurang dari 59. Segenap perdjuangan ini berhasil dengan baik karena didjiwai oleh ide 8 Maret.
Sedjadjar dengan kemenangan2 itu, puluhan ribu ibu2 menderita kelaparan di daerah2 hongerudim, jang semuanja mengharapkan agar kesedihan ini segera dapat diachiri.
Untung bahwa dengan tidak terlambat Presiden Sukarno sudah memadjukan tindakan jang sungguh2 memetjah suasana kesunjian dan kepatahan djiwa dengan mengumumkan konsespsinja jaitu pembentukan Dewan Nasional dan kabinet gotong-rojong.
Wanita menjambut dengan perasaan terharu, gembira, dan bangga. Karena lama benar kaum ibu sudah rindu pada perdamaian nasional dan mengharapkan keadilan untuk tak berpihak dan memilih bulu. Tidak ada djasa agung daripada menjelamatkan kemerdekaan dan persatuan bangsa dan menumbangkan purbasangka dan fitnah jang sengadja ditusuk-tusukan. Kaum wanita sebagai pendukung asli daripada rasa kemanusiaan mengharapkan supaja sesuai dengan djiwa 8 Maret tetap berpedoman kepada kebidjaksanaan, toleransi, dan persatuan serta membuang sentimen jang tidak wadjar.
8 Maret menjerukan persatuan dan melawan perpetjahan. Sebab satu2nja fihak jang paling mendapat keuntungan dengan adanja perpetjahan adalah kaum imperialis jang aktif mempersiapkan perang. Bahaja intervensi asing SEATO terasa makin mendekat dan akibat pertjobaan ledakan bom atom di Pulau Christmos akan kita rasakan langsung akibatnja.
Sebagai ibu kita harus selalu waspada dan menentang usaha2 jang memetjah belah kesatuan serta keutuhan, memetjah djiwa 8 Maret.
Ingatlah kepada anak2 kita jang kini merindukan kebahagiaan, dan hanja merasa bahagia apabila mereka berhasil dapat menjumbangkan tenaganja untuk membangun tanah air esok hari. Tapi dengan usaha perpetjahan ini, kaum intervensionis sudah mengintjarkan peluru2nja untuk menembus dada anak2 kita jang tak berdosa seiring dengan djiwa 8 Maret. Bantulah gerakan menentang pertjobaan bom H di Pulau Christmast. Para ibu harus membantu serta mendukung petisi wanita2 dari Komite Ibu Permanen ke PBB jang djuga mengadjukan tuntutan2 serupa itu.
Solidariteit wanita Indonesia jang paling berharga bagi kaum wanita di negeri2 A.A adalah djika kita bertindak tegas keluar mengutuk djiwa doktrin Eisenhower, di Indonesia melalui SEATO-nja mentjegah usaha intervensi Amerika, dan ke dalam kita melaksanakan konsepsi Bung Karno seutuhnja.
Hari ini kaum wanita sedunia menjanjikan lagu kebahagiaan kehidupan jang djaja dan bukannja lagu tangis dan lara.
8 Maret adalah tanggal dengan persatuan perdamaian nasional, keadilan dan seiring dengan Konsepsi Presiden Sukarno.
Hidup 8 Maret!