' SENI PATUNG BATAK DAN NIAS
SENI PATUNG
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN
SENI PA TUNG BA TAK DAN NIAS
/
Oleh
M.SALEHBA.
PROYEK MEDIA KEBUDA YAAN JAKARTA DIREKTORATJENDERALKEBUDAYAAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDA YAAN .i
1980/1981
KATA PENGANTAR
Salah satu kegiatan Proyek Media Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudarv,an tahun 1980/1981 adalah penulisan Pustaka Wisata Budaya. Penulisan Pustaka Wisata Budaya tersebut bertujuan : ' ·
I. Merekam dan menyebar luaskan informasi tentang aneka ragam kebudayaan Indonesia, khususnya yang menampilkan aspek wisata buday.a;
2. Meningkatkan perhatian, minat, dan apresiasi masyarakat ter hadap obyek atau sesuatu yang mempunyai potensi sebagai obyek wisata budaya. Penerbitan Buku Pustaka Wisata Budaya ini adalah masih jauh dari kesempurnaan, maka dengan rendah hati kami harapkan koreksi serta perbaikan-perbaikan dari masyarakat pembaca. Pada kesempatan ini pula kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan, penyelesaian, sampai dapat diterbitkaimya buku ini. Mudah-mudahan dengan diterbitkannya "Pustaka Wisata Budaya" ini dapat bermanfaat dan membantu peningkatan informasi kebudayaan.
Proyek Media Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
iii
DAFfARISI
Halaman Judul.................................. Kata Pengantar......... ..... ...................... Daftar Isi......................... ...............
Pendahuluan.., ......... ·.........................
BAB I. Seni patung Batak........................
A. LATAR BELAKANGSEJARAH......... I. Asal mula kehadiran patung. ,_.........
2. Kesenian megalit....................
3. Pengaruh kebudayaan asing
di daerah Batak dan Nias; .......,.....
B. ARKE OLOGI........................
1. Mata pencaharian...................
2. Bangunan tempat tinggal..............
3. Kepercayaan.......................
C. Perkembangan Seni Patung
di daerah Batak dan Nias................
Patung arwah nenek moyang...........
2. Patung penolak bala/pengawal kampung..
Patung kuburan.....................
- Patung tongkat Tanggal Panaluan.......
D. LATAR BELAKANG SEJARAH
TONGKAT TUNGGAL PANALU AN......
BAB II. Arti seni patung dalam kehidupan masyarakat
Batak..................................
A. PERANAN SENIMAN PEMATUNG DALAM
KEHIDUPAN SENI PATUNG BATAK.....
Menunjukkan rasa mampu atau penon-
jolan prestasi .......................Sebagai manifestasi daya cipta ..........
B. FUNGSI SENI PATUNG :BATAK .........1. Memantulkan pengertian simbolis magis ..
a. Ulu Paung ................ .. · .....
b. Patung pemberi berkat .............
c. Pa tung lam bang kejantanan ..........
2. Fungsi sosial .......................
Media pemujaan ..................
halaman
i iii· v 1
5 5 5 18
20 25 28 29 31
33 36 39 43 47
60 65 68 68 70 71 71 72 ! ·I 72.i
J
·1
v.
/,
| Halaman Judul | i | |
|---|---|---|
| Kata Pengantar | iii | |
| Pendahuluan | Seni patung Batak . . A. LATAR BELAKANG SEJARAH 2. Kesenian megalit. 3. Pengaruh kebudayaan asing di daerah Batak dan Nias . . B. ARKEOLOGI. 1. Mata pencaharian | 1 18 20 28 |
h. Peranan patun untuk upacara pengo- batan tradisional..................
C. GAY A SENI PA TUNG PRIMITIF BATAK
MENURUT DAERAHNYA .............,
- Seni pa tung primitif Batak Toba........
- Seni patung primitif daerah Simalungun.. 84
- Seni patung primitif Pakpak Dairi....... 85
Seni patung primitif Karo............. 88 ·
a. Patung tutup perminaken........... 88
b. Patung pagar jabu................. 91
c. Patung tongkat TunggalPanaluan..... 93
d. Patung tongkat malaikat............ 95
e. Patung pulu baleng................ 97
D. MEDIA BAHAN DAN PROSES PEMBUATAN PATUNG................... 98
E. PERANAN SENIMAN .... ........... .'. 100
J3AB III
·T openg................ .............. 102Pengertian seni topeng................ 1 03
- Asal mula topeng Batak............... 103
a. Seni topeng di daerah Simalungun..... I 05
b. Seni topeng di daerah Tapanuli....... 110
c. Seni topeng di daerah Pakpak Dairi.... 116
d. Seni topeng di daerah Karo.......... 116 - Fungsi topeng...................... 138
- Pengolahan mutu artistik/p_ola peng-
garapan. _. .......... ....... ,...... 140
-Sarana pendukung................. 140 -Bahan, alat, dan proses pembuatan topeng Ba tak..................... 140 BAB IV Seni patung Nias......................... 143 Latar belakang sejarah................... 145
A. Letak geografis.................... 145
B. Perkembangan seni patung Nias .. :....... 146
C. Kesenian megalit.................... 152
D. Kedudukan seni patung Nias............ 159
Fungsi patung Nias....................... 168
Gaya seni patung Nias ...................... / 177
Bahan/proses pem buatan pa tung Nias ._.......... 182
Peranan seniruan .........; .......,....... 182
vi
-
BAB V
| Kesimpulan dan saran-saran. | 185 |
|---|---|
| Daftar bacaan........................... | 188 |
| Lampiran: Curriculum Vitae .... :............. | 189 |
, ....•-.... _.......
-oOo.:...
vii
/, .;!·... ' ' '-' l) ..-
PENDAHULUAN
Sejak zaman bahari Indonesia mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan. Proses ini disebabkan Indonesia telah mengadakan hubungan dagang dengan daerah-daerah lain di luar Indonesia. Hubungan ini· juga akhirnya membawa Indonesia ke arah pandangan hindup yang baru. Pandangan hidup baru ini bukan berarti pengganti pa .dangan hidup yang lama secara kese luruhan melainkan tetap merupakan kelaajutan tingkat kemajuan pe radabart.
Perpaduan antara dasar hidup yang lama dengan dasar hidup yang baru yang meliputi asas hidup lingkungan dan masyarakat yang lebih luas itu membawa Indonesia ke tingkat peradaban yang berkepri badian.
Peristiwa tata cara hidup yang baru ini bukan hanya pada suatu tempat (daerah) saja, melainkan meliputi seluruh tanah air. Kejadian kejadian pada Iilasa lampau tersurat dalam sejarah. Justru itu, sejarah · perlu dipelajari dalam arti ka ta bukan hanya mengenal masa lam pau, tetapi sebagai bahan perbandingan dengan nilai peri kehidupan pada masa kini. Berbicara tentang masalah yang berkenaan dengan sejarah ke budayaan maka mau tidak mau kita hams juga membicarakan ten tang manusianya, sebab sejarah itu menyangkut manusia sebagai pelakunya, yang meliputi tata hidup (adat-istiadat) dan peninggalan benda-benda seni dan latar bela.kang sejarah terwujq.dnya benda benda kesenian itu. • Bangsa Indonesia memiliki aneka ragam kehidupan kebudayaan, adat-istiadat dan sifat-sifat tradisional yang terus hidup sampai ma sa kini. Hal seperti ini masih dapat ditemukan dan terpelihara sampai sekarang. Kita masih dapat menyaksikan upacara perkawinan adat Batak Tapanuli 'Batak Karo. Adat Batak Tapanuli Adat Batak Karo Adat Batak Dairi/Pakpak Adat Batak Angkola/Mandailing Adat Batak Nias, dan Adat Melayu.
..
Demikian juga upacara adat tradisional lainnya seperti mem buka ladang, membangun dan memasuki rutnah baru, upacara pe nguburan, dan lain-lain. Dibubungkan dengan basil karya seni rupa temyata adat-isti- - menampakkan pengaruhnya yang sangat.kuat. lni da adat itu juga pat dilihat dari basil seni rupa di daerah-daerah (Indonesia) terhadap kepercayaan masyarakat. Sebagai contoh motif ukiran cacak dalam seni bangunan rumah adat Batak Toba Simalungun, Pakpak Dairi,. Karo, Mandailing dan rumah adat Nias. Demikian juga dengan motif ukiran kepada kerbau, kuda, dan· gajah masih dapat kita jumpai pa da seni bangunan rumah-rumah adat di daerah lain di Indonesia.. Pabatan-pahatan batu sebagai perlambang kepercayaan pada nenek moyang yang telah diukir oleh seniman pada zamanya masih banyak bertebaran hampir di setiap daerah di pelosok tanah air. Dilihat dari sudut daya kreativitas bangsa Indonesia, aneka ragam kehidupan dan kebudayaan yang penulis kemukakan di atas adalah merupakan bagian kekayaan kebudayaan bangsa Indonesia. Dilihat dari segi identitas bangsa Indonesia di tengah-tengah pergaul an bangsa-bangsa di dunia, maka aneka ragam adat-istiadat basil kar ya seni dan bentuk budaya tradisional di atas merupakan tipe dan co rak kepribadian bangsa Indonesia. Hal ini tentunya dapat kita terima bahwa semua. itu adalah warisan luhur dari nenek moyang kita. Pemikir-pemikir kita pada masa yang Iampau telah menunjukkan ketangguhannya melalui buk ti-bukti dari warisan yang mereka tinggalkan. Hal yang sedeinikian itulah akhimya penulis merasa tertarik untuk mengungkapkan sa lah satu bagian dari hasil seni rupa· yakni seni patung yang meliputi daerah: •
.Batak Toba Batak Simalungun Batak Pakpak Dairi Batak Angkola/Mandailing Ba tak Karo, dan Batak Nias.
Di lain hal kesenian adalah salah satu unsur yang penting da lam pembinaan bangsa. Oleh karenanya wajib dikembangkan agar dapat dihayati oleh masyarakat yang akan datang (generasi pene rus) dengan usaha pengolahannya. Kita sama mengetahui bahwa ciri-
ciri bangsa Indonesia pada u.mumnya didasari oleh perasaan dan ujud pernyataan seni dengan segala jenis dan coraknya yang aneka ragam itu menjadi kebanggaan-bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu keseniah mernpunyai peranan penting sebagai media komunikasi antar bangsa di samping usaha pencapaian rasa indah bagi pembina an kepribadian bangsa, sebagaimana yang tertuang. dalam GBHN yang pada pokoknya menetapkan bahwa segala usaha p.embinaan dan peitgembangan kebudayaan nasional diarahkan pada usaha-usaha yang memperkuat kepribadh1 bangsa, kebanggan nasional, dan ke satuan nasional.
Kesenian
Kesenian mempunyai arti luas, sebab kesenian mencakup segala yang berhubungan dengan keindahan yang menjadi salah satu kebu tuhan dan tata hidup manusia itu sendiri. Kesenian pada dasarnya dibagi atas 4 golongan, yakni:
| 1. | Seni rupa | 1.1. | Seni rupa murni, |
|---|---|---|---|
| 1.2. 1.3. | Seni rupa pakai, Seni bangunan. | ||
| 2. | . Seni suara | 2.1. 2.2. Instrumental. | Vokal, |
| 3. | Seni gerak | 3 .1. 3 .2. 3 .3. Seni pencak dan lain-lain. | Seni drama. Seni tari. |
| 4. | Seni sastra Dari pembagian | 4.1. 4.2. kesenian | Prosa, Puisi. yang telah |
diuraikan di atas makin jelas bagi kita bahwa kesenian itu cukup luas, namun sebenarnya ada lah merupakan bagian dari kebudayaan itu sendiri.
Kebudayaan
Uraian tentang kebudayaan dalam bahasa Indonesia sudah ter· simpul dalam makna kata itu sendiri, yaitu budi dan daya. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta. Budi mengandung makna yang be.r asaskan persaudaraan dan perikemanusiaan dalam arti kesopanan dan adat lembaga yang baik. Daya mengandung sifat perjuangan yang mencakup kekuatan tenaga manusia yakni kekuatan otak, kekuatan hati, kekuatan jasmani dan rohani, kepandaian, dan ilmu untuk men-
capai sesuatu maksud. Jika, kita padukan kedua makna itu dapatlah diartikan budi ialah semangat dan daya ialah kekuatan yang)lleliputi rohaniah dan jasmanish. Dengan demikian tersimpullah J:>ahwa ke budayaan pada hakikatnya adalah segala usaha dan daya cipta ma nusia yang menyanglcut aspek 'kehidupan bangsa yang meliputi ber bagai aspekriya. Ked a· asas itu akhimya oleh nenek moyang kita pada zaman dahulu dipakai untuk mencapai kebahagiaan bersama dalam hidup sepergaulan, senegeri dan lebih Juas Jagi senusantara, dan akhirnya kedua asas itu diberi bingkai yang kukuh dengan slo gan Bhineka TunggaJ Ika.
Tiap ciptaan seni agakah dia tergolong pada seni rupa, seni sua ra, seni gerak, dan seni sastra adalah basil budaya manusia pada ma sanya. Untuk memahaminya haruslah kita mengetahui dan mempe lajari kebudayaan itu sendiri secara lengkap dan utuh. Seni juga mengalami pertumbuhan dan perkembangan, oleh karenanya seni menurut pertumbuhannya mempunyai sejarah ter sendiri. Untuk meinperkenalkan kemudian mengutarakan pertum buhan dan perkembangan kesenian itu diperlukan penelitian. Dalam meneliti suatu hasil kesenian mau tidak mau kita harus juga mempe lajari sejarah kesenian itu. Sejarah kesenian bukan semata pengeta huan yang harus mengadakan determinasi dan klassifikasi melain kan untuk menghantarkan kita ke dalam pengertian untuk dapat ' menghargai seni secara menyeluruh.
Karena kesenian itu mempunyai cabang yang cukup luas seper ti yang telah dikemukakan terdahulu tentu cabang-cabang dari se jarah kesenian itu cukup luas pula untuk dibicarakan. Dalam tulisan ini penulis hanya membatasi diri pada pembica raan seni rupa bahkan lebih khusus lagi. yakni seni patung Batak dan Nias dalam berbagai aspeknya, dan latar belakang sejarahnya serta peranan sosialnya dalam kehidupan masyarakat pendukungnya.
Kemudian, karena seni topeng pada kehidupan masa lampau pada-hakikatnya tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan masyara katnya. Serta betapa pula luas variasi jenis topeng di daerah Suma tera Utara. Oleh karena pada buku ini pun penulis mencoba memba has secara singkat karya seni topeng dalam berbagai aspeknya. Akhirnya apa yang penulis harapkan dari semua pihak demi pelestarian dan pembinaan seni patung Batak dan Nias, penulis ke mukakan pada bab terakhir.
'v --,,.
BABI SENI PA TUNG BAT AIC
A. Latar, Belakang Sejarah
I. Asal Mula Kehadiran Patung. Sejarah seni patung Batak awal kehadirannya sudah ada sejak zamat prasejarah, dari masa ·kum sampai masa akhir Mesolithikum pada lebih kurang 4000 tahun yang lalu. Menurut mitologi dijelaskan bahwa kehadiran seni patung di daerah Batak pada mulanya bersum ber dari kisah dua orang bersaudara kembar, seorang putra dan seorang putri dari perka winan Boru Daek Parujar yang turun dari kayangan dengan si Raja Odap-Odap. Kedua putra dan putri itu masing-masing diberi nama Ihat Manusia (putra) dan si Boru Ihat manusia (putri). kemudian kedua bersaudara ini mengadakan hubungan (kawin sumbang) dan melahirkan seorang putra yang diberi n_ama si Raja Batak kawin dan memperoleh dua orang putra yang masing-masing diberi nama Guru Hatiabulan dan Raja Isumbaon. Kedua putra itu masing-masing mempunyai keahlian di bidang ketabiban, ilmu silat, ilmu sihir, hukum pemerintah, ilmu bercocok tanam, ilmu ukir/pahat. Mungkinkah merafui keahlian salah satu dari kedua tokoh di atas, menghasilkan ukiran yang terdapat pada tongkat Tung gal Penaluan. Kemungkinan-kemungkinan masih dapat kita teri ma jika dihubungkan dengan silsilah keturunan di atas sebagai awal kehadiran dari suku Batak, sesuai dengan apa yang diung kapkan oleh Batara Sangti lewat tulisannya tentang latar bel-
kang sejarah kebudayaan Batak yang penulis kutip atanra lain:
" ... yaitu putra dan putri Dewi Siboru Daek/Dayang Parujar yang bernama Siraja Ihat · Manusia dan Siboru lhat Manusia (lhat = pusat/ asal) sesuai dengan terombo". l) Diukir dan ditulis dalam tongkat mukjizat/ malaika t/ sihir Tunggal Panaluan sebagai salah satu unsur asli sejarah Batak" l.) Melihat bentuknya Tunggal Pana-. luan menyerupai sebuah tongkat pen uh dengan ukiran ben tuk manu sia dan hewan dari pangkal sam pai ke ujung secara berjenjang yang yang terbuat dari bahan kayu pan jangnya lebih kurang dua meter. Ditinjau dari sudut sejarah tongkat Tunggal Panaluan dikalangan orang orang Batak memiliki art! pen ting karena tongkat itu mengan dung mukjizat dan mempunyai ke kuatan gaib di samping memberi arti yang simbolis .tentang tata krama kekeluargaan, dalihan nato lu marga dan lajn sebagainya. Pengertian simbolis yang terkan dung pada tongkat Tunggal Pana-Gambar 1. luan secara terperinci Batara1 Sangti (Ompu Buntilan) menjelaskan kembali dalam tulisannya sebagai berikut:
".... Tunggal Panaluan selain berarti, Pancang Tunggal juga berarti penunjuk jalan tunggal, bagi Ketuhanan, Perikemanusia an, Kesusilaan, Falsafah Hidup dan Hukum. Jadi ada lima buah unsur sejarah dan kebudayaan Batak yang dianggap asli dan tak dapat dimungkiri yakni:
1). Batara Sangti (Ompu Buntilan), Sejarah Batak Penerbit Karl Sianipar Company, Balige Sumatra Utara, hal. 364.
l .Tunggal Panaluan, 2. Bendera Gaja, Dompak, 3. Singa Rumah Batak, 4. Bakkara dan 5. Dalihan natolu".2)
Bertolak dari arti simbolis yang terkandung pada tongkat Tunggal Panaluan seperti diuraikan di atas, maka jelaslah bahwa tongkat Tunggal Panaluan itu mengandung arti dan nilai luhur, sehingga merupakan suatu kewajiban untuk dipelihara }Jagi kalangan masyarakat Batak. Selanjutnya penulis berkesimpulan sementara bahwa Tongkat Tunggal Panaluan seperti yang te lah diuraikan- di atas boleh jadi adalah awal dari kehadiran seni pahat di daerah Batak. Namun demikian kesimpulan yang penulis ambit masih perlu pengkajian dan penelitian yang lebih mendalam teruta ma tentang hakikat dari kisah tongkat Tunggal Panaluan itu oleh para sarjana dan para peneliti. Dari kepercayaan lain menyatakan, bahwa kehadiran seni patung di daerah Batang pada mulanya dibuat sebagai media untung mengadakan hubungan antara manusia dengan sesuatu yang lebih tinggi. Hubungan ini pulalah yang menyebabkan adanya rasa Ketuhanan dan akhirnya. menjelma menjadi bentuk agama yang pertama, yang lazimnya disebut kepercayaan.
Untuk mengadakan hubungan dengan yang lebih tinggi, salah satu pelaksanaannya adalah dengan mengadakan kurban atau sesajen dengan maksud agar dapat perlindungan dari para dewa, terlepas dari gangguan kekejaman alam gaib dan roh-roh jahat. Dasar kehidupan inilah akhirnya yang menjadi pokok ke percayaan animisme atau dengan kata lain kepercayaan kepada roh-roh nenek mo·ang yang sampai sekarang sebagian masih melekat di kalangan masyarakat Batak. Kegiatan-kegiatan yang · serupa sampai sekarang masih dapat kita saksikan pada setiap upacara-upacara · tradisional seperti meminta hujan dan turun ke sawah.
- Bentuk ataupun corak patung pada zaman prasejarah
mengarah kepada bentuk-bentuk yang manakutkan, seolah olali. mempunyai kekuatan magis atau kekuatan yang luar biasa. Dengan keterangan di atas jelaslah bahwa seni patung pada za man prasejarah adalah bersifat ritual magis, di samping dipakai
2). Ibid, hal. 364.
sebagai simbol atau perlambang tertentu. Dengan demikian la hirlah bermacam-macam bentuk patung nenek moyang pada tempat-tempat tertentu di daerah Batak.
| Gambar 2. | Gambar 3 |
|---|---|
| Gajah doinpak | Gajah dompak |
| Dilihat dari dep | Dilihat dari belakang |
Dua uah patung batu Gajah dompak kelihatan artistik dekoratit. Patung ini terletak di halaman pin tu masuk ke kampung guna mence· gah adanya maksud-maksud jahat dari orang-orang yang datang tan pa diundang. Lebih dan itu patung itu juga berfungsi sebagai pengusir roh-roh jahat sesuai dengan kepercayaan nenek moyang suku Batak. Motif-motif hiasan yang terlihat dari bahagian belakang, seolah-olah pengawal yang sedang berjaga-jaga.
Garn bar 4
Patung kuburan dari batu, tampak dari pandangan depan dipahat se derhana namun mampu menampil kan ekspresi perwatakan (Tapanuli).
Gambar 5 Patung nenek moyang dari kayu, dengan sikap duduk dan ekspresi wajah yang magis (Tapanuli).
Gambar 7 Patung nenek moyang dari kayu: Dengan bentuk yang sedethana,z. dengan sikap kaku, dapat meman
Gambar 6. carkan expresi magis.
Patung "tarumpet" (terompet), dari kayu besi, berasal dari Batak. Me lalui ubun-ubun diberi berlubang tembus sampai kebagian bawah, se bagaimana trompet yang dapat di tiup. Katanya suara trompet ini dapat didengar sampai beberapa kilometer (melalui tenaga dalam). Fung:;inya adalah memberi kabar apabila ada gangguan-gangguan yang datang da ri luar kampung.
Menurut kepercayaan amm1sme bahwa setiap makhluk yang hidup akan mati kemudian hidup kembali (reinkarnasi). Pada akhirnya tim bul pengertian oleh manusia purba pada za mannya, bahwa rahasia dibalik kematian setiap makhluk yang hidup, jiwa dan rohnya tetap abadi dan akan kembali lagi ke tempat asal dari sisa jasmaninya. Hal inilah yang mewajibkan manusia membuat suatu bangunan sebagai tempat tinggal yang tetap bagi manusia yang mati itu. Bangunan-bangunan (peku buran) adalah permulaan dari perumahan ciewa, di samping patung-patung sebagai tempat bersemayam roh-roh manusia
Gambar 8 Patung nenek moyang (Simalu ngun) dari batu. Patung ini disebut juga Patung Penghulu Balang. Wa laupun dengan pahatan yang sangat sederhana, malah hanya berupa sen tuhan datar, mampu mengekspesi kan wajah sebagai mana fungsinya sebagai patung penjaga kampung.
yang mati, atau penjelmanaan kembali dari roh-roh nenek moyang yang dianggap sakti. Peninggalan-peninggalan semacam ini masih dapat kita jumpai di beberapa daerah di Toba dan di daerah-daerah lain seperti Simalungun, Dairi, dan Karo. Pekuburan-pekuburan yang dapat kita lihat seprti di Tomok dan daerah-daerah lain disekitar pulau Samosir bentuknya menyeru pai perahu yang dalam bahasa Batak di sebut Solu Bolon. Sesuai dengan kepercayaannya, patung ini melambangkan ken daraan menuju nirwana. Perlambang lain adalah sebagai rumah tempat tinggal yang baru bagi roh-roh.
Makam Raja Ujung Barita Sidabutar Keturunan Raja Pertama.
Peti batu makamnya berbentuk patung dengan wajahnya terlihat pada hiasan bagian depan, sedang pada bagian belakang berupa patung perwujudan wajah dari kekasihnya Gadis Anting Malela Boru Sinaga. Wujud patung yang hanya berupa wajah, lebih bersifat symbolis, tidak digarap secara realistis. Bila diperhatikan mata, hidung serta mulut yang tersenyum, menunjukkan watak raja yang bijaksana, waspada, peka dalam menanggapi hal yang baik dan buruk, sedangkan rambut yang panjang melambangkan sumber kekuatan.
gambar 9 Kuburan batu Raja Ujung Sidabutar.
Betapa terampilnya nenek moyang suku Batak dapat ter
| lihat pada pahatan | kuburan | tersebut | di atas. | Ekspresi wajah | |||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| pada patung divisualisasikannya seolah-olah seorang yang penuh dengan ambisi kekuasaan, di samping was pada dan bijaksana. Katanya, menurut pesannya, wajahnya yang | menggambarkan | ||||||
| telah dibentuk | menjadi | patung harus | dilumuri | dengan | darah | ||
| musuhnya | yang | kalah | di medan perang. Hal ini menandakan | ||||
| bahwa | raja itu adalah seorang | panglima | perang | yang | berani. |
lihat pada pahatan kuburan tersebut di atas. Ekspresi wajah
Gambar IO. Gambar 11. pada batu kuburan bagian depan dan belakang.
| pada batu kuburan bagian depan dan belakang. | ||
|---|---|---|
| . | perwatakan yang berbeda. Pada patung bagian | |
| depan | sebuah patung pria | |
| Dalam perwuj | dan wajah yang penuh harap, sedang pada pa | |
| da patung bag1an belakang memberikan kesan seorang wanita | ||
| yang suka memberikan harapan-harapan hampa. |
Seki/as Sejarah Kuburan Raja Okusan Bun tu Sidabutar dan Raja Ujung Barita Sidabutar.
Raja Okusan Buntu Sidabutar adalah raja yang pertama memerintah di Simalungun yang meninggal lebih kurang 450 tahun yang silam. Pada masa pemerintahannya kerajaan aman, tenteram dan sejahtera. Suatu bukti bahwa raja lebih menguta makan kepentingan negerinya. Seisi negeri pada masa itu masih menganut kepercayaan animisme. ewaKm raJa masih hidup, raja berpesan kepada keluarga besar istananya setelah meninggal, mayatnya kelak agar ditem patkan ke dalam sebuah batu berlubang supaya jangan sampai bersentuhan dengan tanah. Sebelum raja mangkat telah diper siapkan batu yang sesuai dengan pesan raja, kemudian tatkala baginda mangkat may..atnya langsung dimasukkan ke dalam ba tu itu.
Dari peninggalan ini dapat kita ketahui bahwa raja sewaktu mangkat telah berusia lanjut ("Sarima Tua"). Selain dimasuk kan ke dalam batu berlubang, raja juga berpesan agar di atas kuburannya ditempatkan dua batang pohon beringin yang ber nama Hariara, yang kini tampil sebagai simbol orang Batak. Raja II bernama Raja Ujung Barita Sidabutar, cucu dari raja per tama. Makamnya di sebelah kanan makam kakeknya dan beliau merupakan raja yang sangat perkasa. Sebelum mangkat Raja Ujung Barita Sidabutar telah menyuruh ahli pahat untuk mema hatkan wajahnya di peti batu kuburannya beserta wajah dari be kas kekasihnya Gadis Anting Malela Boru Sinaga. Raja ini meng anut kepercayaan Parmalem yang berarti orang yang selalu ber buat baik. Parmalem berasal dari kata malem beratti baik dan awalan par bertindak sebagai pelaku. Terbetik hikayat, Raja Ujung Barita Sidabutar pernah bertunangan dengan seorang gadis tercantik di pulau Samosir bernama Gadis Anting Malela Boru Sinaga yang kini patungnya terpahat di atas kuburan batu raja bagian belakang.
Gadis tiu sedemikian cantiknya sehingga banyak raja yang ingin mempersuntingn a. Tetapi diantara raja-raja, hanya raja Ujung Barita Sidabutar yang beruntung mendapat tempat di hatinya.
Selama sepuluh tahun mereka memadu kasih, namun se telah tiba saatnya melangsungkan pemikahan, dimana peralat an pesta dan para tamu telah berdatangan, mendadak pula si gadis idaman mengingkari janji dengan membatalkan perkawin an tanpa sebab. Menerima hal sedemikian, raja menjadi sangat terkesiap, sangat malu dan merasa di hina, sehingga menimbul kan rasa dendam di hatinya terhadap gadis itu. Daripada jatuh ketangan orang lain lebih baik gadis itu dibunuh saja dengan ca ra membuat jundion (r· a) dengan jalan guna-guna. Dalam ke adaan gila, akhirnya gadis lari ke hutan dengan tak tentu tujuan, sehingga matinyapun tidak diketahui dan dimana kuburannya. Kejadian ini merupakan pelajaran yang tak boleh ditiru oleh keluarga raja, dan terbukti hingga saat ini tidak ada satupun diantara keluarga raja yang mengingkari janji apabila telah diper tunangkan, kecuali bila pihak laki-laki yang mengingkarinya. Namun dcmikian sebagai tanda cinta kasih raja kepada ga dis Anting Malela Boru Sinaga, di samping sebagai peringatan bagi keluarga raja, maka dipahatlah wajah gadis itu di peti batu kuburannya, sebagaimana bunyi sebuah pantun-
Masa ke timun bertambah lada. Hatiku rindu apa obatnya. Biar kupahat romah wajahnya. Biar ada peringatan bagi keluarga.
Karena gadis yang dicintainya telah mengingkari janji, maka raja memutuskan untuk mengawini gadis Onan Runggu yang bertempat tinggal kira-kira empat puluh kilo meter disebelah selatan Tomok.
Selain berhasil di bidang pemerintahan, raja juga memm jukkan kejayaannya di bidang·pertahanan. Beliau sebagai pang lima perang telah .berhasil menumpas musuh-musuh yang me nyerang kerajaannya. Sewaktu pemerintahannya, pemah dise rang oleh musuh dari seg1tnap penjuru kerajaan, baik d dalam. .,iaupun dari luar pulau Samosir, sehingga raja terpaksa memin ta bantuan dari kerajaan Aceh yang pada saat itu telah men_g anut agama Islam. Kerajaan Aceh pun mengutus Panglima Tengku Moemahad Said.
Setelah perang usai, dimana Raja Ujung Barita Sidabutar menang, panglima perang Aceh itu kembali ke kerajaannya de ngan selamat. Untuk mengenang jasa panglima Aceh itu, maka dibuatlah patungnya di pulau Samosir.
Walaupun Raja Ujung Barita Sidabutar senantiasa menang dalam setiap peperangan, namun raja tetap belum merasa puas. Untuk itu sebelum mangkat, beliau berpesan kepada keluarga nya agar wajahnya yang dipahat di atas peti batu dHumuri de ngan darah lawan yang kalah di medan pertempuran. Pesan raja dilaksanakan dengan patuh, dimana setiap la wan yang kalah, ditangkap hidup-hidup dan disembelih, darahnya diambil kemudian dicampur dengan cat pulo batu (merupakan sejenis batu yang telah ditumbuk menjadi pepung) untuk kemu dian dilumurkan ke wajah patung raja. Hingga kini wajah patung masih berwarna kemerah-merah an walaupun telah beratusratus tahun umurnya.
Selain dari pada darah lawan, juga dagingnya diambil dicincang-cincang, kemudian dicampur dengan daging kerbau atau babi untuk dimakan bersama-sama dengan prajurit-pra jurit yang berperang agar menjadi garang dan lebih berani di medan pertempuran. Mungkin dari sinilah timbulnya istilah "Batak makan orang".
Saat raja meninggal dibuat upacara adat kematian dengan mengadakan pesta tujuh hari tujuh mala'm diiringi gondang Ba tak dengan hidangan berpuluh-puluh ekor kerbau dan babi sebagai tanda pesta keagungan. Pengganti raja berikutnya adalah Ompu Solompon Sida butar yang telah menganut agama Kristen; sehingga makamnya tidak lagi ditempatkan di dalam batu yang berlubang, melain kan dikubur di dalam tanah.
Bila kita memperhatikan berbagai ukuran kuburan, akan terlihat kuburan batu kecil dalam bentuk sebangun. Banyak orang menyangka bahwa kuburan ini merupakan kuburan anak raja. Padahal sebenarnya adalah makam orang dewasa dari go longan pejabat, hulubalang raja, anak boru, dan ada pula dian taranya bermarga Silalahi Harianja.
Menurut sejarahnya mayat hulubalang raja, sebelum dima sukkan ke kuburan batu, harus terlebih dahulu dikubur di ta nah, kemudian dibongkar kembali untuk mengambil tulang belulangnya, baru diletakkan ke dalam kuburan batu kecil.
Gambar 12 Perhatikan bebernpa buah kuburan batu di daerah Tomok.
Patung-patung yang terdapat pada saat sekarang, yang ter dapat di daerah Batak pada umumnya, hanya dipakai sebagai peringatan, bukan lagi sebagai pemujaan seperti lazimnya da lam kepercayaan nenek moyang pada zaman dahulu. Patung-patung peninggalan pada zaman pra-sejarah yang menggambarkan tentng nenek moyang sesuai dengan keper cayaan animisme, tidak banyak lagi kita jumpai. Seandainyapun ada patung-patung itu hanya duplikat dari patung-patung yang lama, atau patung-patung yang lama, atau patung-patung dari bahan yang tahan lama seperti patung-patung peninggalan dari jejak kultur Megalitik yang sampai sekarang masih banyak ber tebaran di daerah Batak khususnya di pulau Samosir, yakni di sekitar desa Limbong di kaki gunung Pusuk Bukit, Tomok dan Ambarite.
- Kesinian mega/it Kesenian Megalitik yang terdapat di daerah Batak meru pakan kesenian yang terpenting dalam kebudayaan sebelum sejarah. Peninggalan-peninggalan kesenian Megalitik yang terbuat dari batu mempunyai hubungan dengan kepercayaan di samping penghormatan bagi orang-orang yang sudah mati. Sebagian pe ninggalan masih utuh dan terpelihara baik. Namun banyak yang sudah rusak atau punah ditelan oleh zaman. Kedatangan kebu dayaan Megalitik ke Indonesia kemungkinan dibagi atas dua ge lombang, yang pertama terjadi pada zaman Neolithicum, dan menyebar hampir di seluruh pelosok tanah air, seperti di Batak, Nias, Pasemah, Toraja, Sulawesi Tengah dan Bali. Di daerah Batak di sekitar pinggiran pantai Danau Toba dan Nias peninggalan-peninggalan kebudayaan Megalitik sampai saat ini masih banyak kita jumpai misalnya hatu berdiri (men hir) dan batu-batu yang disusun berupa meja (dolmen) dan
.kursi yang dipakai sebagai tempat pertemuan.
Kursi batu menurut kepercayaan masyarakat waktu itu adalah tempat dewa-dewa, dan juga dipakai sebagai tempat penghormatan kepada arwah-arwah leluhur mereka. Sebab peng hormatan kepada. leluhur dianggap sangat penting. Tempat ini tidak boleh diduduki orang, terkecuali oleh raja-raja adat sebab raja adat dianggap sebagai wakil dari leluhur. Oleh karenanya ·mereka diperkenangkap duduk diatas kursi batu itu.
Gelombang ke dua terjadi pada zaman perunggu. Bukti bukti peninggalannya masih dapat kita lihat di Tomok terle tak di pinggiran pantai pulau Samosir berupa peti mayat (keran da batu) yang terbuat dari batu lengkap dengan tutupnya. Selain itu sejumlah keranda lengkap yang tersebar di daerah pe dalaman pulau Samosir menurut informan yang dihubungi masih banyak. Sayangnya daerah-daerah itu seperti di Lum bang, Suhi-Suhi, Lontung, Pansur, Banjar Pasir, dan Huta Ri hit sukar untuk dilalui kendaraan. Keranda seperti yang terdapat di desa Tomok (lihat ha laman 13) pemahatnya sangat kreatif, sekalipun bentuknya masih mencerminkan corak dari hasil-hasil pola pemikiran se niman primitif, namun hasil konsepsinya yang ditinggalkan pe nuh dengan keindahan serta memberi kesan yang mengagum kan sampai saat ini. Betapa tidak, jika kita kembali menang gapinya bahwa hasil karya dari nenek moyang kita pada zaman dahulu memberi kesan dan tanggapan yang cukup menarik ba gi ahli kebudayaan. Kesan•ke'san yang cukup mengagumkan dari hasil karya para seniman yang terpecah di desa Siduldul, Lumban Panga loan, Lumbanraja dan Hutagurgur serta sejumlah sarcophagus yang terdapat di desa Pangambatan, "antara lain apa yang dikata
kan Dr. Schnitger : .... This image is one of greatest and noblest
works of art ever produced ini Sumatra" 3 ). Dari ungkapan di atas dapatlah diketahui betapa para se niman kita pada zaman dahulu telah menunjukkan kebolehan nya di bidang seni pahat. Di daerah Nias menurut penelitian para ahli purbakala dari Jepang mengatakan bahwa hasil seni patung yang masih terda pat sekarang berusia lebih kurang 2,5 sampai 5000 tahun Sebe lum Masehi. Patung-patung ini masih dapat kita lihat di desa Orahili di Kecamatan Gomo, desa Bawomataluo di Kecamatan Teluk Dalam dan lain-lain. Peninggalan-peninggalan hasil seni patung tersebut di atas seperti di daerah Nias dapat kita Iibat di halaman-halaman rumah pengetua adat dan patung-patung ini masih terpelihara baik, sekalipun diantaranya ban yak yang telah- rusak.
3). Dada Meuraxa, Sejarah Kebudayaan Sumatra, Penerbit Firma Hasrnar, tahun 1974, hal. 28'.
- Pengaruh Kebudayaan Asing di Daerah Batak dan Nias. Untuk mengenal nilai budaya serangkaian dengan hasil kesenian tradisional dalam seni patung yang terdapat di daerah Nias dan Batak, kita akan menjumpai kesamaan-kesamaan mo tif (bentuk) dengan hasil kesenian dari negara-negara tetangga seperti Ceylon, India, Cina, Madagaskar, kesenian Maori dari New Zealand, Mesir, dan Afrika. Kita dapat melihat betapa tingginya hasil kesenian Mesir kuno, demikian juga hasil kesenian di India, Cina, dan seni pa tung Purbawi di Afrika. Kita dapat pula melihat hasil kesenian yang serupa di daerah Batak dan Nias. Kemungkinan-kemungkinan itu boleh jadi disebabkan pa da zaman Bahari yang lampau perahu-perahu bercadik huatan Barus, dan perahu Bugis yang boboknya mencapai puluhan ton telah lalu lalang ke benua Asia, Australia, Afrika, dan Ta nah Arab membawa kapur barns dan rempah-rempah sebagai bahan dagangan. Bukti kesamaan motif (bentuk) kesenian ini dapat kita lihat pada patung-patung kuburan yang didudukkan di atas kursi di sepanjang jalan raya mulai dari daerah Simalungun sam pai di perbatasan Ka bupaten Tapanuli Tengah, demikian juga gaya ornamen rumah adat (singa-singa, gaja, dompak) di Tapa nuli mempunyai kesamaan dengan ornamen suku Maori di New Zealand. Kesamaan-kesamaan bentuk patung ornamen dapat kita lihat pada beberara gambar berikut:
Gambar 13
Gorga Batak. Dekorasi benttik keseluruhan maupun ukiran yang terpahat kelihatan memadu dengan patung singa-singa. Dilihat dari susunanannya jelas adanya kesamaan dengan hiasan rumah tradisio nal suku Maori di New Zealand. Apakah hasil ukiran dan patung pa da contoh gambar di atas merupakan pengaruh kebudayaan luar, masih diperlukan penelitian lebih lanjut. Namun jika kita perliati kan detail omamen yang menghiasinya jelas adanya pengaruh kebu dayaan Donpon.
Gambar di bawah ini dapat dilibat adanya kesamaan ben tuk dari basil seni patung Batak (Karo) dengan basil seni pa tung Afrika.
Gambar 14
Patung menunggang Kuda (Karo) ko leksi Pak Milo dari keterangan yang diperoleh patung ini cukup tua usia nya. Gambar 15 Patung penunggang Kuda
Jean Laude, The Arti of Black Africa hal. 129, koleksi M. Grianle, difoto oleh Mardy KS
Gambar 16
Patung yang ditempelkan pada
| dinding rumah adat tradisional | Gambar 17 | ||
|---|---|---|---|
| Nias. (Koleksi penulis). | Saltshaker. Ivory 16 th. or 17 | ||
| ch. century. | Benin, | Negeria. | |
| British Museum. London Pho to by | the museum. | Dikutip | |
| dari The ka hal. 5. | Arts of | Black Afri |
dinding rumah adat tradisional Gambar 17
Gambar 18. Maha. Tabung tempat ramuan obat. Tabung ini juga dulunya diper gunakan sebagai tempat mesiu model senapang kuno.
Gambar 19.
Horn. Ivory. 17 th. centry. West Coast of Afrika Illustration in Thea trum ( 1619) by Michael Pretorius. Dikutp dari The Arts of Black Afrika, hal. 5.
Demikianlah patung-patung ataupun area yang pada mu lanya didasari oleh paham-paham kepercayaan (animisme) ak hirnya mengalami pembaharuan sesuai dengan perkembangan zaman. Namun demikian, perbedaan dan persamaan terhadap hasil-hasil kesenian oleh pengaruh kebudayaan yang datang dari luar akibat pergaulan antar bangsa, pengalaman-penga]aman dengan data-data peninggalan kesenian khususnya seni patung di daerah Batak dan Nias, sudah memberi wama yang cukup jelas bahwa basil kesenian dengan bukti-bukti yang masih ada, suku Batak dan Nias telah memberi corak kekhususan (kepri badiannya) seperti karya-karya seni patung Bali,Toraja, dan As mat dan daerah lainnya.
B. Arkeologi. Peninggalan dari benda-benda bersejarah di Sumatera Utara me nunjukkan bahwa penduduk yang tertua mempunyai ciri-ciri Austro Melanenosoid, sesuai dengan jenis-jenis artefak yang diketemukan. Penyebaran penduduk ini berlangsung pada masa prasejarah yakni pada zaman mesolithikum (zaman batu tengah), kebagian Timur In donesia sampai ke pulau Irian, sedang ke bagian Barat jejak-jejaknya terdapat di Sumatera Utara dan Semenanjung Melayu. Tempat ting gal mereka di dalam gua-gua (Aris sous roche) dan di daerah muara
- sunga1 dekat pantai. Peralatan yang mereka pakai terdiri dari bilah kasar, tulang, tanduk, dan kerang. Penduduk tertua yakni ·orang orang Austro Melanesoid sangat gemar makan klerang, seolah-olah kerang adalah makanan.utama mereka pada zamannya. Kulit kerang yang merupakan sisa makanan akhirnya menjadi bukit kerang, sebagai bukti peninggalan ini masih banyak kita temu kan di beberapa tempat di Sumatra Utara. Timbunan sampah dari si sa makanan ini oleh para ahli sejarah kepurbakalaan disebut Kjok ken modinger (sampah dapur).
Lebih kurang pada i.h. '.WOO Sebelum Masehi, barulah datang su ku melayu Tua (Proto Melayu). Kira-kira th. I 000 Sebelum Masehi disusul oleh suku Melayu Muda (Deutro .Me.layu). Menurut penelitian beberapa ahli diantaranya dalam monografi sejar'1h dan budaya Ors. EK Siahaan, Prof Keren, dan Von Heine Geldem, pehciti..!:.! :isJi itu · berasal dari dataran Asia dan termasuk salah satu cabangras Mongoloid.
Dari proto dan Dutro Melayu inilah kemudian lahir suku-suku bang$a yang mendiami Sumatera Utara yakni suku Batak, Melayu dan Nias.;
Dit!njau dari segi penyebarannya dan letak daerahnya suku-suku Batak dibagi pula atas:
Suku Batak Toba mendiami tepi Selatan Danau Toba yakni pada dataran tinggi Toba, Humbang Silindung dan pulau Sa mosir; Suku Batak Simalungun mendiami tepi Timur Danau Toba yak ni Kabupaten Simalungun; Suku Batak Dairi mendiami tepi Barat Danau Toba yakni Ka Bupaten Dairi yang dikenal sebagai suku Pakpak; Suku Batak Karo mendiami tepi Utara Danau Toba di sekitar daerah Kabupaten Karo sekarang; Suku Batak Mandailing mendiami sebelah Selatan Danau Toba di sekitar Kabupaten Tapanuli Selatan; dan Suku Nias mendiami pulau Nias yang terletak di Samudra In donesia bagian Barat. Daerah pemukiman Suku Batak juga meliputi daerah pegunung an Bukit Barisan yang berpusat di Danau Toba berbatasan sebelah Utara dengan daerah Aceh, sebelah Timur dengan tanah Melayu, sebelah Selatan dengan Minangkabau, dan sebelah Barat dengan Sa m11dera Indonesia. Pendapat tersebut di atas oleh Batara Sangti dirumuskan lebih terperinci sebagai berikut: "Daerah Batak sebelum penjajahan Belanda bernama "Negeri Toba" yang merdeka dan berdaulat, meliputi daerah pegunung an Bukit Barisan yang beribu kota di Bakkara. Berbatas di se belas Utara dengan Negeri Aceh (sesudah lahir Kesultanan Aceh pada tahun 1513), sebelah Timur dengan Tanah Melayu yang terletak di pantai Selat Malaka, seoelah Selatan dengan Negeri Pagarruyung/Minangkabau {s-esudah datang Adityawarman) dan sebelah Barat dengrf Laut.an Hindia. Rajanya ialah dinasti Tuan Sori Mngaraja, Maharaja Diraja Negeri Aru/Haru yang beralih menjadi Negeri Toba. Berleluhur satu yakni Siraja Batak. Ber bahasa dan bersurat/aksara Batak Toba. Beradat-istiadat yakni adat dan kebudayaan yang bersendi pada pola Dalihan Natolu.
SUMATERA UTARA
Rantau Prapat
Padang Sidempuan
Berbendera satu yakni bendera "Putih Merah" yang berlambang Matahari dan bulan mengapit kepala Gajah Dompak (Gajah Pahlawan)"4 ). Pendapat di atas kiranya memberi arah pikiran kepada kita bahwa Negeri Toba yakni di Bakkara terdapat desa-desa yang tertua. Dari desa inilah akhirnya orang-orang Batak itu menyebar mendiami daerah di sekeliling danau Toba.
Beberapa ahli sejarah lainnya, seperti Bapak Burhanuddin Pi liang menguatkan pendapat tersebut diatas, bahwa disekitar danau Toba terdapat gunung Pusuk Buhit. Menurut kepercayaan orang Batak dari gunung Pusuk Buhit itulah tempat asal mula nenek moyang orang Batak yang disebut dalam istilah Batak Mula Jadi Na Bolon. Namun demikian pendapat itu masih perlu di kaji untuk dike tahui kebenarannya secara ilmiah. Alasan ini justru masih ada juga yang berpendapat bahwa suku' yang lebih tua berasal dari suku Dairi yang bermukim di pegunungan Pakpak, kemudian pergi ke Pusuk Buhit. Dilihat dari letak geografis kemungkinan yang tiba dari dara tan Asia ke Indonesia bahagian Barat melalui Bandar Tua Barus le bih kurang 3000 tahun yang lalu, untuk tiba di Pusuk Buhit mungkin terlebih dahulu harus melintasi pegunungan Pakpak/Dairi. Bekas bekas kedatangan mereka masih terdapat di hutan Dairi antara lain bekas tapak kaki manusia pada zamannya yang lebih besar dari be kas tapak kaki manusia sekarang. Sekali lagi masih perlu adanya pe
n.elitian lebih mendalam.
1. Mata Pencaharian. Mata pencaliarian penduduk pada zaman prasejarah ialah berburu, menangkap ikan, mengambil kerang, dan mengum pulkan buah-buahan yang dapat dimakan. Berhubung persedia an makanan untuk kebutuhan1 hidup tidak selalu ada pada sua" tu tempat, penduduk pada zaman prasejarah selalu mengem bara dari suatu daerah ke daerah yang .baru. Alat-alat yang me reka pakai terdiri dari kapak genggam yang terbuat dari batu kali, kapak pendek bentuknya seperti lingkaran, dan batu peng giling. Didorong oleh tingkat peradaban yang makin maju alat alat yang sangat sederhana itu akhirnya semakin mengalami
Lebih kurang 2000 tahun Sebelum Masehi,
4). Batara Sangti (Ompu Buntilan), Opcit hal. 27. 28
datanglah pendatang-pendatang baru dari daratan Asia Teng gara peradabannya lebih maju dari tingkat peradaban pendu duk setempat. Penduduk baru ini telah mengenal cara bercocok tanam, berternak, dan menangkap ikan dengan mempergunakan. alat-alat yang lebih sempurna. Penduduk baru ini juga telah da pat menentukan bila datangnya musim hujan dan musim kema rau untuk menentukan waktu yang tepat turun ke ladang atau menangkap ikan.
Pertambahan pend· .duk baru ini makin lama makin ber tambah banyak tentu saja kebutuhan hidup mereka makin ber tambah pula, sedang tanah perladangannya tidak sesubur seper ti semula. Akhirnya mereka terpaksa mencari daerah baru yang lebih subur untuk bercocok tanam. Melalui alur sungai mereka berlayar, akhirnya tiba di kaki bukit barisan, daerah yang cukup subur sebagai daerah gunung api. Tepatnya tempat itu berada di sekitar Danau Toba. Di tempat itu akhirnya mereka mendi rikan gubuk tempat berlindung menghindarkan diri dari keke jaman alam yang selalu mengancam mereka. Lebih kurang tahun 1000 Sebelum Masehi menyusul pula pendatang-pendatang baru yang juga berasal dari daratan Asia Tenggara. Mereka tergolong kepada Deutro Melayu (Melayu Muda). Pen datang-pendatang baru ini telah mengenal bagaimana cara-cara bercocok tanam yang lebih sempurna, demikian juga cara-cara berternak seperti berternak babi, kerbau, dan ayam. Di lain hal mereka juga sudah dapat membuat peralatan rumah tangga seperti membuat periuk dari tanah liat dan lain sebagainya.
Kulit kayu dan kulit binatang telah dapat pula diolah un tuk pakaian sebagai alat pelindung badan dari serangan cuaca dan udara yang buruk.
- Bangu.nan Tempat Tinggal. Bangunan sebagai tempat tinggal pada mulanya masih sa ngat sederhana, yang penting bagi mereka asal dapat terhindar dari gangguan alam dan binatang buas. Tingkat kebudayaan mereka kian lama kian bertambah maju. Tentu saja kebutuhan rumah tangga, kebutuhan hidup dan lain sebagainya semakin meningkat pula, yang mengharus-
kan mereka berusaha sekeras mungkin untuk memenuhi kebu tuhan hidupnya itu. Demikianlah akhirnya mereka mulai tertarik pada kein dahan. Perhiasan dan lain-lain sebagainya, mulai merasa dibu tuhkan dalam hidupnya, di samping makanan. Para tukang ru mah telah dapat menyesuaikan dengan kondisi daerahnya ba han..:bahan yang diperhitungkan bisa tahan untuk jangka be berapa tahun. Hal yang lebih penting lagi mereka telah pufa mengenal dunia lain melalui perdagangan antar daer11 '.lan bangsa yang mengakibatkan terjadinya tukar-menukar kebuda yaan, sehingga tercipta bangunan-bangunan baru dan peralatan lainnya yang lebih sempurna. Rasa keindahan kiranya melekat di hati mereka, awal yang merupakan dari lahirnya ragam hias yang sampai sekarang tersemat pada dinding rumah adat tradi sional yang menyebar di daerah-daerah lain di pelosok tanah air.
Hal yang serupa juga banyak kita jumpai pada pekuburan lama yang sisa-sisanya masih dapat kita lihat sampai saat ini, selain hiasan juga kita temukan bentuk-bentuk patung yang me rupakan penjelmaan bagi roh nenek moyang.
Lebih lanjut hal yang berkenaan dengan tingkat kehidupan masyarakat pada zaman prasejarah seperti yang penulis urai kan di atas, Sarjana Austria yang kenamaan, Robert von Heine Geldern dari buku Bunga Rampai Sejarah Budaya Indonesia karangan Prof. Dr. R.M. Sutjipto Wirjosuparto I menjelaskan le bih terperinci lagi antara lain:
" ... Mereka menanam padi, memiliki alat pemotong padi dapat membuat minuman keras yang diambil dari beras atau djawawut, memelihara babi dan kerbau un tuk keperluan per sajian dan binatang-binatang lainnya, mereka dapat membuat benda-benda pecah belah dari tanah, membuat pakaian dari kayu,mendirikan rumah yang berbentuk persegi panjang. yang ditempatkan diatas tiang, menjalankan pemotongan kepala musuh untuk keperluan keagamaan, mendirikan bangunan Megalithic yang dibuat dari bahan-bahan batu resar untuk
5). Prof. Dr. R.M. Sutjipto Wirjosuparto, Bunga Rampai Sejarah Budaya Indonesia, Pe nerbit Djambatan, Jakarta, tahun 1964, hal. 2.
keperluan upacara agama atau pemujaan kepada arwah nenek moyang dan akhimya mereka mengenal suatu jenis kese nian" s ).
Kendatipun tingkat kehidupan masyarakat pada zaman prasejarah masih dalam tarap primitif namun masyarakat telah menunjukkan rasa mampu dalam arti telah dapat menyelaras kan kehidupannya dengan kondisi yang ada. Demikian pula hal nya dengan nenek moyang suku Batak pada zaman prasejarah telah mampu membem1hi hidupnya ke jenjang yang lebih baik jika dibandingkan dengan zaman-zaman sebelumnya.
Dari rumah sebagai tempat tinggal yang mereka bangun bersama kemudian berkembang menjadi sebuah desa. Melalui desa ini pulalah akhirnya mereka memiliki pemerintahan guna mengatur masyarakat, mengatur adat-istiadat dibawah hukum hukum adat yang mereka junjung tinggi. Hukum adat bukan ha nya dipakai sebagai hukum dalam hubungan satu dengan lain nya tetapi hukum adat juga mengatur tentang cara hidup ber masyarakat, hidup berkeluarga, dan bersaudara dalam arti yang lebih luas.
- Kepercayaan. Dalihan Natolu yang merupakan pedoman tata cara hidup bermasyarakat bagi orang-orang iiatak, yang juga merupakan kesimpulan dari tiga masalah, kepercayaan dan adat-istiadat.
M. Hutasoit pensiunan Kepala Seksi Kebudayaan Tapanuli
Utara mengatakan, bahwa masyarakat Batak zaman dahulu mempercayai Tuhan Yang Maha Agung yang dinamai Ompu Tuan Mula Jadi .Na Bolon (Tuhan= Debata). Sebagai Tuhan dari dunia atas ia disebut Tuan Bubi Na Bolon, Sedangkan Tuhan dari Dunia Tengah disebut Ompu Silaon Na Bolon, dan sebagai Tuhan dari dunia .bawah disebut Tuan Pane Na Bolon. Oleh orang Batak Karo menyebutnya Dibata ldatas, Dibata ltengah dan Dibata Intenih. Lengkapnya menurut kepercayaan Batak selain dari tiga Dibata ( Tuhan) seperti yang diuraikan di atas masih ada lagi Dibata yang lain kekuasaannya sebagai penghu bung dari ke tiga Dibata itu, diberi nama Tuan Pane Na Bolon yakni Tuhan antara lautan dan kilat. Sedang meu.urut keperca-, yaan Batak Karo disebut Sinarmatahari atau Tuhan yang be · rada di antara matahari terbit dan matahari terbenam.
Dari segi adat, kemudian dihubungkan dengan pertalian kekeluargaan dan kekerabatan. Dalihan Na Tolu memegang po sisi yang sangat penting. Dalihan Na Tolu tidak hanya dimiliki oleh masyarakat Batak Toba tetapi oleh semua suku-suku Batak yang disadari justru suku-suku Batak itu merupakan serumpun jua adanya. Dalihan Na Tolu pada suku Batak Toba: Dongan Sabutuha, Boru, dan Hula-hula. Dalihan Na Tolu pada suku Batak Karo (Sangkep nggeluh):
Kalimbubu, Sembuyak, dan Anak Beru. Dalihan Na Tolu pada suku Mandailing: Kahanggi, Anak Boru, dan Mora. Dalihan Na Tolu pada suku Simalungun: Senina, Anak Boru, dan Ton dong. Dalihan Na Tolu pada suku Batak Dairi: Dengan sebeltek, Berru, dan Kula-kula.
| Demikianlah mengenai | kebudayaan nenek | moyang | suku | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Batak pada waktu itu | dan | membudaya terus sampai saat ini | |||||
| terutama utamanya kebudayaan kerohanian dan kebudayaan kemasyara katan. | dari | segi adat-istiadat | (hukum | adat) | yang | unggul, | |
| Di ornamen mah adat tradisional mereka serta, seni patung sebagai perlam bang arwah nenek moyang, masih dap.at kita lihat sampai saat ini tentunya dalam | bidang bangunan (ragani hias)yang terpahat pada dinding-dinding ru | bentuk yang telah mengalami perubahan. | dengan | hiasannya yang meliputi |
Kendatipun demikian lewat uraian-uraian di atas kiranya masih diperlukan penelitian yang lebih mendalam sebab hasil hasil kesenian pada masa prasejarah memegang peranan penting di dalam kehidupan manusia pada zamanya baik kepentingan sosiakian .tata krama adat-istiadat bagi lingkungan masyarakat nya.
C. Perkembangan Seni Patung di Daerah Batak dan Nias. Berbicara tentang kesenian tentunya banyak masalah yang hams dikemukakan karena kesenian mempunyai cabang yang luas, yang penggolongannya meliputi seni mpa, seni suara, seni gerak dan seni sastara. Dalam tulisan ini penulis akan menguraikan di daerah Batak. Seni patung seperti yang penulis utarakan di atas dalam pem caraannya tidak terbatas sampai pada segi kepercayaan saja, tetapi lebih luas lagi dalam beberapa seginya, antara lain segi adat-istiadat, segi estetisnya. Sesungguhnya mengungkapkan nilai dan arti serta fungsi dari suatu hal karya seni bukanlah hal yang mudah, apalagi nilai karya seni patung yang ditinjau dari segi adat-istiadat dan keper cayaan. Hal itu justm tinjauannya tidak cukup hanya sekedar mena tap pada bagian fisik dari kehadiran patung, atau sekedar melihat komposisi bentuk dan wama yang memantulkan nilai keindahan. Akan tetapi tuntutan tinjauan yang mendalam hams pula dilakukan, sampai pada tingkat motivasi atau dorongan-dorongan yang menye babkan terwujudnya suatu karya seni, seperti seni patung yang ter dapat di daerah Batak. Berbicara tentang adat yang telah membudaya di kalangan orang-orang Batak kemudian dihubungkan dengan seni patung tra disional, yang menurut adat adalah suatu kehamsan. Meskipun ke lihatannya seakan-akan merupakan embel-embel saja atau jika dipan dang melalui akal mempakan ha! yang sepele, namun adat tidak memperhitungkan suka atau tidak suka, menerima atau tidak mene rima. Jika wama putih yang mesti diselamatkan kata adat, maka putihlah yang hams diguratkan. Jika kata pengetua adat, lakukan ini supaya tidak sumbang, dan diterima pula oleh semua, maka harus lah dilakukan dengan setepat-tepatnya. Demikianlah prinsip adat yang ketat pada masa itu sangat menentukan dalam mewujudkan suatu karya seni, apakah seni pa tung, seni bangunan adat tradisional, seni tari, dan lain sebagainya.
33
Kepala kerbau sebagai lambang kesuburan yang ditempatkan pada bangunan rumah, ukiran cecak, dan jenis hewan lainnya yang ter dapat pada dinding-dinding rumah adat yang terpadu dengan ragam hias yang penuh dengan makna perlambangan. Sitillasi ukiran bina tang singa-singa, jaga dompak, yang terdapat pada rumah adat Ba tak Toba merupakan faktor utama yang melandasi sikap masyara kat Batak cinta dan setia akan kesenian tradisionalnya.
Dari hasil kreativitas yang diwarisk;m nenek moyang suku Ba tak terutama dalam seni patung dan seni ukir yang terpahat pada setiap rumah adat tradisional kiranya telah memiliki kesamaan pe mantulan fungsi baik dari kehidupan siymbolis artistik dan magis yang menyatu dengan lainnya yang didasari oleh falsafah kehidup an suku itu sendiri.
Gambar 20.
Contoh perpaduan motif hiasan dengan patung Ulupaung (gorgo singa-singa lambang keperkasaan. Gerakan Garis-garis yang ritmis dengan pola sulur-suluran memberikan kesan yang artistik. Pada ba gian lain kita melihat hiasan dengan pola geometris (ipon-ipon,gigi gigi). Bentuk ini diletakkan pada dinding bagian atas pintu masuk, fungsinya sebagai pelindung atas keselamatan keluarga sipenghuni rumah.
Kreativitas yang penulis maksudkan di atas bukan berpusat pada suatu daerah saja (Batak Tapanuli) tetapi menyeluruh pada setiap daerah yang tergolong suku Batak diantaranya suku Batak Si malungun, suku Batak Karo, suku Batak Angkola, suku Batak Pak pak Dairi, dan beberapa daerah lainnya terma.<>uk di Nias. Oleh ka rena seni patung Nias cukup luas untuk dibicarakan, maka pada bab ini penulis sengaja tidak menyinggung tentang perkembangan seni patung Nias selengkapnya, sebab khusus seni patung Nias akan di tulis pada bab berikutnya.
Patung-patung Prasejarah dilihat dari bentuk dan kegunaannya yang terdapat di daerah Batak.
- Patung Arwah Nenek Moyang. Perwujudan bentuknya terdiri dari berbagai gaya lokal. Terbuat dari bahan kayu dan batu sedemikian rupa diciptakan dengan berba gai macam gaya menurut-tmah ekspressi pemahatnya. Bentuk wajah mengikuti konsep ide yang menyeramkan, melahrkan bentuk magis. Tujuan kehadiran patung itu bagi kepercayaan suku Batak pada ma sa itu adalah sebagai alat pemujaan sesuai dengan kepercayaan ani misme dan perwujudan roh-roh nenek moyang yang dianggap sakti.
Gambar 21.
| Patung | arwah | nenek moyang | |
|---|---|---|---|
| suku | Batak dari | kayu | besi. |
| Dilihat nya kesamaan dengan patung nenek moyang suku Nias, de ngan. sikap duduk penonjolan alat kelamin, | dari bentuknya, dan cara meme | ada | |
| gang | mangkok. | Hanya | motif |
| perhiasan | yang | berbeda, seba | |
| gaimana | umumnya | ciri | pa |
| tung | Batak biasa | dipahatkan | |
| motif cecak bang penolak bala. | atau | kadal, | lam |
| Patung | arwah nenek moyang | ||
|---|---|---|---|
| suku | Nias | dari batu | apung. |
| Dilihat | dari | be:r;ituknya | tam |
| pak | kepolosan-kepolosannya, | ||
| patung laki-laki dibuat sebagai lambang kejan | tanpa busana | ||
| tanan. | Bentuk | susu | yang ter |
| buka lam bangkan kesuburan. | pada | i hakikatnya me |
Bagi suku Batak susu melambangkan keibuan (wanit'a parson duk bolon), pengasih dan penyayang.
Gambar 23. Patung arwah nenek moyang suku Karo (dari batu apung). Patung ini digelari patung Pulu Baleng,· berfungsi sebagai pe ngawal dari gangguan-gangguan jahat yang datangnya dari luar desa.
·
| Pa tung | arwah nenek moyang | ||
|---|---|---|---|
| suku Pakpak (dari batu padas). | |||
| Pada sebuah pahatan yang sederha na, namun memberi arti cukup | patung ini kita melihat | ||
| dalam | lewat kepercayaan ne | ||
| nek moyang | pada | zamannya. | |
| Bentuk | hidung. dipahat | me | |
| nyatu | dengan | rambut | yang |
| panjang, sedang, lambang kekuatan, se | lambang | kekuatan, | |
| dang | kuda | sebagai | binatang |
| tunggangan an menuju nirwana. | sebagai | kendara |
Gambar 24.
- Patung Penolak Bala atau Pengawal Kampung. Pada zaman prasejarah kita temukan aneka bentuk seni patung yang fungsinya sebagai penolak bala, atau sebagai media komuni kasi dengan alam gaib. Patung-patung nenek moyang yang diang gap se bagai penyelamat sesuai dengan kepercayaan dipuja dan di hormati. Patung-patung berbentuk polos, sederhana, namun ungka pannya cukup memberikan kesan yang kuat. Patung menurut keper cayaan mereka diciptakan sebagai pencerminan kembali dari kehi dupan jiwa manusia atau dengan kata lain sebagai perwujudan ne nek moyang, para leluhur yang mempunyai kekuatan gaib yang da pa t melindungi mereka dari gangguan roh jahat atau gangguan-gang guan lain yang datang dari luar. Bentuk patung penolak bela mempunyai nama berbeda-beda menurut daerahnya masing-ma8ing. Batak Toba menyebutnya jang gol, singa-singa atau jaga dompak. Di daerah Simalungun dinamai bohi-bohi. Patung lain yang fungsinya hampir betsamaan disebut pa tung Penghulu Balang. Oleh masyarakat Karo dinamai Pulu Balang. (sebagai glossery). Patung palu Balang boleh jadi diartikan patung yang fungsinya dapat menjaga/melindungi warganya di kampung dari gangguan-gang guan jahat yang datangnya dari luar batas wilayah. Di daerah Karo selain patung Pengulu Balang, ada juga patung Pagar Jab.u, yang fungsinya juga sebagai penolak bala.
Gambar 25 Pagar Jabu Pagar = pelindung (melindungi).
=
| jabu | rumah. | ||
|---|---|---|---|
| Pagar jabu | boleh | ||
| roh-roh jahat. dibentuk dengan sentuhan ukiran nenek moyang yang cermat. tif. Pada gambar, jelas bahwa pemahatnya mengekspresikan perwa | Pahatan patung ini sangat rumit, namun tetap bergaya primi | Bahan patung ini terdiri dari tanduk kambing hutan, | |
| takan yang | mengandung nilai magis. Jenis patung pagar jabu | ||
| juga | dipakai | untuk tempat obat |
diartikan melindungi rnmah dan gangguar.
1m dafi:. berbagai macam penyakit.
Gambar 26 Janggl. Patung penunggang kuda, dari kayu. Padanya terdapat nilai-nilai yang bersifat magis sesuai dengan ungsinya yang dapat memberi kan keselamatan. Bentuk patung kelihatan penonjolan khusus gaya Batak Toba. Terna patung kelihatan orang sedang menunggang kuda di mana ke empat kaki kuda menopang di atas kepala manusia yang sedang du duk. Menurut pemiliknya patung ini mengandung berbagai aspek k hidupan sosial dan religi yang tinggi, sebab patung ini adalah jiwa yang dapat memberikan keselamatan lahir batin (Koleksi Burhanud din Piliang).
Gambar 27
Patung Penghulu Balang (Simalungun)
Patung Penghulu Balang jaya Batak Simalungun yang dapat di selamatkan dari kepunahannya. Patung ini sekarang tersimpan di Museum Simalungun (Pematang Siantar). Terna patung, seorang sedang memangku dua orang anak, menggambarkan kasih sayang.
dua orang anak, menggambarkan kasih sayang.
Perwujudan patung ini perlambang seorang tokoh yang berji wa adil dipahat pada batu besar sebagai teladan bagi generasi pene rusnya. Fungsi patung adalah penolak bala, dan pelindung warga nya dari roh-roh jahat yang datang dari luar kampung.
- Patung Kuburan. Hampir di setiap desa di daerah Batak Toba terdapat patung dan monumen. Di desa lainnya seperti di daerah Simalungun. Dairi, Karo, Angkola Mandailing, dan Nias, agak jarang jika dibandingkan dengan di daerah Batak Toba. Kemungkinan disebabkan oleh biaya pem bangunan sebuah patung/monumen terlalu mahal. Berlainan halnya dengan suku Batak Toba, mendirikan patung/monumen sebagai pemghormatan terhadap nenek moyang adalah menjadi kewajiban bagi setiap keturunannya dan sudah menjadi suatu kebudayaan bagi suku Batak Toba umumnya. Hal ini sejalan dengan apa yang ditulis oleh Batara Sangti (Ompu Buntilan) lewat bukunya (Sejarah Batak): " ... untuk menghormati ibu-bapak, telah menjadi kebudayaan tinggi suku Batk sejak dahulu kala hingga kini, baik di waktu hidup maupun setelah mati". 6) Oleh karenanya tidaklah mengherankan kita jika di setiap desa di daerah Batak Karo menemukan berbagai bentuk patung/monumen pada kuburan yang dibangun oleh setiap suku (marga) sebagai pe ringatan terhadap nenek moyang mereka yang telah menurunkan generasi sebagai penerus keturunan suku (marga) asalnya.
6). Batara Shangti (Ompu Buntilan) op. cit, hal. 14 lampiran III.
43
Gambar 29
Raja Djuara Monang Siahaan.
Pinintan Uli Batu Bara.
Gambar 30
Guru Mangalaham Niaji Si Buea B.N. Boru Sirait.
Gambar 31.
Patung Tuan Sihubil ini adalah asaL keturunan marga Tampubolon.
Gambar32.
Patung/Tugu Raja Hutajulu. ·
Gambar 33
Patung Ompu Raja Ujung Sunge Tambunan
Patung dengan gaja naturalis. Pada tangan kanan memegang sebuah tongkat (Tukkot), sedang pada tangan kiri mengapit sebuah pedang keturunan (Pisohalngan) dan kuping sebelah kanan dipasang anting-anting (Sibong). Pergelangan tangan memakai gelang (golang), sedang pada leher nya mengenakan rante (horung-horung). Ulos Napinucuaan disan dangkan pada bahu sebelah kanan. Kain batak yang dipakai pemahat nya dengan juraian kainnya menampilkan sebuah patung yang ber bobot.
- Patung Tongkat Tunggal Panaluan Tongkat Tunggal Panaluan atau disebut juga tongkat Malaikat oleh suku Batak, ditafsirkan sebagai tongkat yang dapat memberi kan sinar terang yang menggembirakan, sebab tongkat itu dapat di pergunakan sebagai penakluk kejahatan. Lengkapnya mukjizat yang terkandung pada tongkat Tunggal Panaluan, penulis mengutip tulisan Batara Sangti lewat bukunya Sejarah Batak atanr!l lain: "Memang ada lagi pekerjaan·pekerjaan yang ditugaskan kepa da tunggal panaluari itu. Doa-doa memohon anuger1h anak-anak yang bahagia, hasrat untuk diberitahukan hasil bakal usaha, dan pekerjaannya yang khas pada pesta musim panen tentunya tidak boleh ketinggalan untuk disebutkan". 7) Jika diafsirkan tulisan tersebut di atas dapatlah diambil kesim pulan bahwa tongkat Tunggal Panaluan dapat memberi arti terhadap kehidupan dan kematian dalam arti buruk dan baik, dan Jain-lain yang dianggap ada hubungannya dengan tongkat Tunggal Panaluan yang sakti itu seperti: meminta hujan jika musim kemarau panjang dan kebalikannya menghentikan/memindahkan hujan jika diperlu kan pada upacara-upacara adat dan lain sebagainya. Tongkat Tunggal Panaluan dimiliki oleh semua suku Batak dengan motif yang berbeda-beda, tetapi mempunyai tujuan yang sama yakni sebagai penakluk kejahatan.
D. Latar Belakang Sejarah Tongkat Tunggal Panaluan di Daerah Batak Tapanuli. Untuk melengkap asal mula sejarah, kehadiran tongkat Tung gal Panaluan, penulis kutipkan selengkapnya tulisan Batara Sangti (Ompu Buntilan) sebagai berikut: "Di Sidogordogor Pangururan di Pulau Samosir di teluk perpi sahan antara darat dan air/danau (inhaam) hidup seorang pria bernama Guru Hatiabulan. Beliau adalah seorang Sibaso (pen deta) nama Datu Arak ni Pane. Istrinya bernama Nan Sindak Panaluan. Mereka sudah lama kawin sebelum perempuan ini hamil. Sesudah perempuan ini hamil maka luar biasa lamanya barulah anak itu lahir. Semua penduduk kampung itu meng anggap keadaan itu suatu hal yang gaib.
7).Batara Shangti, Op. cit., hal. :> 73.
47
Gambar 34.
Tongkat Tunggal Panaluan Batak.
Gambar.35
Detail
Pada waktu itu terjadi bala kelaparan di negeri itu. Karena ti dak tertahankan teriknya dan kerak tanah menutupi kubangan kubangan dan rawa-rawa. Disebabkan kemarau yang berkepan jangan ini, maka kita raja-raja -Bi us (K epala persatuan pemujaan roh roh) menjadi risau. Maka ia pergi menjumpai Guru Hatiabulan dan mengatakan kepadanya: "Kiranya adalah bijaksana bila kita mencari sebabnya dan mengajak kepada Debata Dewa yang adil mengapa musim kemarau dan bala kelaparan ini berkepanjangan begitu lama. Keadaan serupa ini belum pernah terjadi. Latu raja Bius mengatakan: "Semua orang heran mengapa istrimu itu begitu lama hamil. Para bidan menerangkan bahwa kehamilan itu telah terlalu lama". Ka rena perkataan-perkataan ini maka timbul pertengkaran akan tetapi tidak ada yang cedera atau mati.
Dalam pada itu perempuan itu melahirkan anak kembar, se orang anak lelaki dan seorang anak perempuan (Toba = marpohas). Seketika itu juga sesudah anak-anak itu lahir terus-terusan turun hu jan lebat. Semua tanam-tanaman di ladang dan di hutan bertumbuh an dan alam nampak segar dan hijau kembali.
Lalu Guru Hatiabulan memotong seekor lembu menenteram kan/ mendamaikan kekuasaan-kekuasaan jahat itu. la mengundang semua pengetua-pengetua dan kepala-kepala kepada perjamuan itu dimana nama anak-anak itu akan diumumkan. Putra itu diberi na ma Si Aji Donda Hatahutan dan putri itu Si Boru Tapina ·uasan. Habis pesta itu menasihatkan supaya anak-anak itu jangan kiranya bersama-sama diasuh. Yang satu kiranya dibawa kebarat yang lai ke timµr sebab kelahiran kembar, istimewa yang berlainan jenis adalah satu masalah yang sangat tidak baik menurut faham tua. Tetapi Guru Hatiabulan tidak mengindahkan nasihat arif bijaksana dari pengetua pengetua dan kepala-kepala itu. Lama berlamaan, akan tetapi maka terbuktilah bahwa orang-orang arif bijaksanaitu benar adanya. Guru Hatiabulan mendirikan gubug kecil di gunung suci Pusut Buhit ke mana dia membawa anak-anaknya itu. Seekor anjing harus menjaga mereka dan setiap Guru Hatiabulan membawa makanan mereka. Setelah anak-ailak itu menjadi dewasa maka putri/gadis itu ketika berjalan-jalan kebetulan melihat sebuah pohon bernama piu-piu tanggule atau hau todatoda yang batangnya peiluh dengan duri-duri panjang. Pohon itu mempunyai buah yang mulai masak dan manis Si Boru Tapina Uasan kepingin makan buah-
buahan itu dan karena itu ia memanjat pohon itu. la memetik be berapa buah dan memakannya. Akan tetapi seketika itu juga ia di telan oleh pohon itu dan menjadi satu dengan pohon itu. Hanya ke palanya masih kelihatan. Saudaranya menunggu sampai sore dalam kebimbangan mengenai nasib saudarinya itu dan kemudian pergi ke hutan untuk memeriksanya dimana dia memanggil-manggil na manya d.engan suara nyaring. Dekat pohon itu panggilannya disa hut oleh putri/ gadis itu dan sesudah ia dekat putri/gadis itu menga takan padanya bagaimana ia seolah-olah telah ditelan pohon itu. Si Aji Donda Hatahutan memanjat pohon itu akan tetapi ia juga dihi sap hingga meresap dan bersatu dengan pohon itu. Keduanya mere ka itu menjerit-jerit untuk minta tolong, akan tetapi suara mereka itu hilang dalam gelap gulita itu.
Besok pagi berikutnya anjing mereka datang berlari-lari. Bina tang itu meloncat ke pohon itu dan anjing itu juga ditelan kayu itu dan hanya kepalanya saja yang tinggal kelihatan. Guru Hatiabulan sebagaimana biasa datang mernbawa makanan untuk anak-anaknya itu. Ketika ia sudah tidak melihat mereka itu maka ia rnengikuti jejak kaki putrinya itu dan sesudahnya sampai ke pohon itu dimana. ia melihat hanya kepala anak-ariaknya dan kepala anjing itu. la sa ngat bersusah hati. Kernudian Guru Hatiabulan pergi rnencari seorang tukang sihir dan menemui seorang bemama Datu Permanuk Koling. Datu itu datang ke pohon itu disertai dengan banyak orang dari tempat jauh dan dekat, karena kejadian itu telah ketahuan dimana-manapun. Sepe rangkatan alat gung dijeput dan Datu itu memulai pekerjaanya. la menggemakan doa-doa mantra untuk mengusir roh-roh itu dengan baik dan membuat apa saja yang dapat mematahkan sihir itu. Setelah upacara yang diperlukan selesai ia memanjat pohon itu. Akan tetapi ia juga di telan. Dengan hati bingung Guru Hatiabulan dan para pemotong .kembali ke rumah mereka. M'ereka tidak putus asa, akan tetapi pergi dan men cari seorang Datu yang lain. Seorang ahli/tukang sihir, agung dite mukan nama Marangin Bosi atau Datu Mallatang Malliting. Orang ini pergi ke pohon itu akan tetapi dite_lan juga. Kini Datu boru Si Baso Bolon datang di pohon itu. la ditelan juga. Begitu juga terjadi t'!S diri Datu Horbo Marpaung dan Datu Si Aji Bahir a tau Joma So Begu yang separuh manusia separuh S"'tan. Seekor ulat telah terte- · lah pula.
Guru Hatiabulan telah kehabisan akal. la telah banyak menge luarkan uang untuk Datu-Datu keperluan gendang dan kurban un. tuk roh-roh. Apa saja diminta dia bayar dengan hati rela, tetapi ki ni putus asa. Beberapa hari kemudian seorang Datu Parupausa Gin jang datang memperkenalkan dirinya. la menerangkan dengan pasti, bahwa ia dapat melepaskan orang-orang itu. Guru Hatiabulan mem percayai Datu itu dan memberikan semua yang ia minta. Datu itu menerangkan, bahwa mereka harus memperkurban kepada semua roh-roh. Roh-roh dari daraL11, roh-roh dari roh-roh dari hutan dan yang lain-lain semuanya. Sesudah itu orang itu akan di lepaskan. Guru Hatiabulan menyediakan kurban itu sesuai dengan petunjuk datu itu. Kemudian mereka pergi ke pohon itu memasang semua ilmu sihir yang diketahuinya, ia memotong pohon itu. Sesu dah pohon itu roboh semua kepala-kepala manusia itu sekonyong konyong lenyap, juga kepala dari anjing dan ular itu. Semua orang menjadi bingung, akan tetapi datu itu bilang supaya Guru Hatiabulan memotongi pohon dan mengukit di kayu gambaran dari orang yang telah lenyap itu. Demikianlah jadi diperbuat. la memotongi batang pohon itu dan mengukir pada satu tongkat gambaran dari lima orang lelaki, dua orang perempuan, seekor anjing dan seekor binatang la ta.
Sesudah memperoleh sembilan gambaran sedemikian ini mereka semuanya kembali ke kampung. Sesudah mereka sampai di situ ma ka dibunyikanlah gung, sedang seekor lembu dipotong demi kehor matan dari yang diperlihatkan dengan gambar-gambar itu. Tongkat itu disandarkan ke muka suatu lumbung padi lalu Guru Hatiabulan menari. Kemudian itu Datu Parpausa Ginjang menarikan suatu tari keberahi an, dengan jalan ini ia membuat dirinya kesurupan dengan roh-roh dari yang tertelan itu. Sesudah ia disurupi oleh roh-roh ini mereka itu memulai berbicara melalui dia. Mereka itu adalah roh-roh dari:
- Si Aji Donda Hatahutan;
- Si Boru Ta pi Na Uasan;
- Datu Pula Paijang Na Uli, Si Panjarbulan Simelbuselbus;
- Si Sanggar Meoleol;
- Si Sanggar Meoleol;
- Dasi Mangambat, Si Upar Mangalela; dan
- Bari ta Songkar Pangururan.
51
Mereka mengatakan: "O, Bapak Pengukir, Bapak telah mengu kir gambaran kami dan kami mempunyai mata, akan tetapi tidak da pat melihat kami mempunyai mulut, akan tetapi tidak dapat berbi cara, kami mempunyai kuping, akan tetapi tidak dapat mendengar, kami mempunyai tangan akan tetapi tidak dapat memegang. Kami mengutuk Bapak Pengukir," Datu itu menjawab "Jangan kutuk saya, akan tetapi pisau inilah, karena jika tidak dengan itu saya tidak da pat mengukir gambaranmu';. Pisau itu menjawab: "Jangan kutuk sa ya, akan tetapi tukang besi itulah, karena jika ia tidak menempa saya, saya tidak akan pernah menjadi sebilah pisau. "Tukang pandai besi berkata: "Jangan kutuk saya, akan tetapi pengembus/puputan itu lah, karena jika tidak dengan tiupannya saya tidak akan dapat me nempah sesuatu apa". Pengembus/puputan berkata: "Jangan kutuk saya akan tetapi Guru Hatiabulanlah, sebab jika ia tidak memerin. tahkan bertindak seperti yang kami perbuat, kami tidak akan pemah melakukan pekerjaan ini". Sepanjang mengenai guru Hatiabulan roh itu kembali berbicara dari mulut tukang sihir itu: "Saya kutuk kamu Bapak dan juga kamu Ibu yang melahirkan saya," setelah Guru Hatiabulan mendengar ini ia menjawab: "Jangan kutuk saya, akan tetapi kutuklah dirimu sen diri. Kau yang telah terjerumus/jatuh kedalam lubang, kau yang di bunuh dengan lembing dan kamu yang tidak mempunyai keterunan". Lalu roh itu berkata: "Jikalau begitu semestinya, Bapak pergunakan lah saya.dari sekarang sebagai:
- Penangkal pad a musim hujan;
- Pemanggil hujan pada musim kemarau;
- · Penasehat dalam pemerintahan dalam negeri;
4.. Teman seperjuangan dalam peperangan; dan
5.. Sumber penyebab dalam kebusukan/kerusakan dalam penyakit dan kematian dan dalam pada itu daya kekuatan untuk menyu sut pencuri dan perampok." Sesudah ini upacara berakhir se mua pergi mengikuti jalan masing-masing. 8) fada uraian terdahulµ telah disebutkan bahwa suku Batak itu serumpun adanya. Maksudnya bahwa kepercayaan, adat-istiadat pada umumnya mempunyai kesamaan satu dengan lainnya. Demikiap juga tentang tongkat mukjizat Tunggal Panaluan. Hampir setiap suku me- ·s). Batara Shangti Op. Cit., hal. 365, 366, 36 7, 368. 52
milikinya sekalipun motif/bentuk serta kisah kehadirannya berbe da-beda n.amun fung)i dan hakikatnya sama yakni memberi arti terhadap kehidupan dan kematian dalam arti nasib buruk dan nasib baik. Menurut beberapa orang pengetua adat yang kami hubungi kehadiran tongkat Panaluan di daerah Karo· pada: mulanya berasal dari manusia juga adanya. Di daerah Karo kita dapati dua buah tong kat masing-masing mempunyai mukjizat yakni tongkat Panaluan disebut oleh suku Karo tongkat diberu (perempuan) sedang tongkat malaikat disebut pula tongkat dilaki (jantan). Kedua tongkat itu ma sing-masing mempunyai keunikan bentuk, tergambar mulai dari pang kal sampai keujung secara berjenjang, terdapat berbagai macam per wujudan bentuk manusia dan binatang. Dari kedua tongkat itu kita dapat melihat adanya nilai-nilai fun!1$ional, sangat menentukan se bagai penakluk dari gangguan-gangguan jahat di samping pemberi harapan baik.
Kehadiran Tongkat Panaluan dari daerah Batak Karo tidak sama dengan kehadiran Tongkat Panaluan seperti yang terdapat di daerah Batak Toba, baik bentuk · ataupun motif ukiran yang terdapat pada tongkat itu.
Motif ukiran pada Tongkat Batak Toba terdiri dari Hrna orang laki-laki, dua orang perempuan, seekor anjing dan seekor ular. Se dang motif pada Tongkat Panaluan Batak Karo terdiri dari sebelas orang manusia tujuh ekor anjing, seekor lipan, seekor kepiting, seekor bunglon, seekor alajengkin, seekor kodok dan seekor kuda.
Gambar36
Patung tongkat Tunggal Pa naluan dan tongkat Malai kat. (Batak Karo) Ciri-ciri khas tongkat yang terdapat di daerah Karo ke Gambar 37 lihatannya pada pangkal
| lihatannya | pada | pangkal | Gambar benkut dapat dili | |||
|---|---|---|---|---|---|---|
| tongkat sebelah atas,berupa | hat | dua jenis tongkat | dio | |||
| seorang | yang | sedang | me | lah lewat media kayu besi. | ||
| nunggang | seekor | binatang. | Patung tumpang tindih diwujudkan dengan keseragaman bentuk dan dengan komposisi yang har monis. | yang gaya khas Batak | ber Karo |
dipahat
Kalau kita teliti detail patung-patung yang diperlatkan pada tongkat itu, kita temukan elemen-elemen estetika serta bentuk-ben tuk yang individualitas universal.
Gambar 38
Tongkat gaya Batak Simalung Gambar 39 un bentuknya tidak lebih dari Bentuk sederhana warna hitam ya g kita lihat pada pada pa
| ya g kita lihat pada | ada pa | ||
|---|---|---|---|
| tung terdapat di Museum Simalung un di Pematang Siantar. Detail | Penghulu | Balang | yang |
| patung | dipahat | dalam posisi | |
| jongkok orang anak, jelas menandakan | sambil memeluk dua | ||
| pada dalah perlambqng kasih sayang, | tongkat ini fungsinya a |
terasa memancarkan unsur-un sur magis. Susunan figur-figur pada tongkat ini memperlihat
| pada tongkat ini memperlihat | ||
|---|---|---|
| kan | adanya kesamaan dengan | |
| tongkat tunggal panuluan Ba | ||
| tak dan Karo; dengan adanya | ||
| motif | binatang | menyusui ter |
| pahat, | sekalipun | dengan gaya |
| agar berbeda. |
Gambar40 Tongkat gaya Nias. Figus yang terdapat tera sa adanya perbedaan de ngan tongka t yang terda pa t di daerah Batak. Mo tif hewani, sejenis bina
| tif hewani, sejenis | bina | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| tang | mamalia | mahkluk | Gambar 41 | ||
| yang hidup di pohon (pri | T ongkat | Pakpak | Dairi. | ||
| mat). | Jenis binatang | ini | Hubungan | antar | motif |
| disebut dalam bahasa Ni | motifnya sangat sederha | ||||
| as "Bae". | Terlihat | pula | na, namun karakter figur | ||
| motif manusia yang diu | manusia | pada | pangkal | ||
| capkan ke dalam monyet | tongkat masih terasa ada | ||||
| (bae) yang sedang dirang | nya kekuatan yang tidak | ||||
| kul kedua tangan dan ka | tergoyahkan sebagai pan | ||||
| kinya, membawa kita ke | caran akan fungsi tongkat | ||||
| pada gaya seni nenek mo yang. | terse but. |
BAB II ARTI SENI PA TUNG DALAM KEfilDUPAN MASY ARAKAT BATAK
Pada lebih kurang 3000 tahun yang lalu Sarjana lpes berkebang saan Belanda menyatakan bahwa Tanah Batak sudah dikenal, secara luas disebabkan Bandar Tua Barus pada waktu itu berfungsi sebagai pusat perdagangan (Kapur Barus) antara benua Asia, Afrika, dan Ero pah Barat. Juga daerah ini dikenal, karena memiliki aneka ragam keseruan tradisional, masih hidup baik sampai saat ini.
Rumah adat tradisional dengan aneka ragam ornamen yang me warnai bangunan rumah sebagai peninggalan sejarah membuat kita selalu terpesona akan keahlian yang dimiliki ahli bangunan serta pengukirnya. Lebih daripada itu bangunan atau yang menjulang da lam susunan balok-balok merupakan bukti pula. betapa tingginya jangkauan ilmu bangunan nenek moyang suku Batak.,
Bersamaan dengan itu kita masih dapat pula melihat seni tra disional lainnya seperti seni patung, seni tenun, anyaman.
Demikianlah kehadiran seni patung primitip selain ritual magis jpga memiliki arti simbolis dan perlambang. Sikap Budaya masyara kat Batak, terhadap seni patung sebagai hasil karya budaya,, sampai dewasa ini masih dapat kita lihat. Diantaranya upacara pengobatan tradisional, Kesenian rakyat seperti si Gale-Gale di Tapanuli, Tembut tembut di Karo dan kesenian di lain-lain daerah yang termasuk da lam rumpun suku Batak. Sikap budaya yang sedemikian itu kemudian dihubungkan dengan aliran kepercayaan seperti yang dianut oleh nenek moyang, H:,ilta masih melekat pada sebagian suku-suku Batak. Terbukti sam pai dewasa ini sikairsikap budaya seperti yang diuraikan di atas oleh masyarakat yang tinggal jauh dipedalaman, masih dipegang teguh. Cara-upacara tradisional seperti mperumah tendi, nguncang kuta, ngarkari, ngulak, masih bisa diadakan. Kemudian dihubungkan de ngan seni patung dengan berbagai macam perwujudan bentuk, ter nyata dalam upacara ersilihi (upacara pengobatan tradisional) sampai sekarang masih terdapat di berbagai daerah. Dengan demikian jelas lah betapa tingginya pandangan mereka terhadap nilai seni patung dalam berbagai seginya. Namun bagi daerah yang telah menganut agama Islam dan Kristen kelihatanriya mereka cukup fanatik, sehing ga patung yang pada mulanya dipuja sebagai penghormatan terha-
dap nenek moyang, banyak yang dimusnahkan diantaranya patung patung peninggalan nenek moyang di daerah Angkola (Tapanulis Selatan). Bagi daerah-daerah yang lebih maju cara berfikirnya sekali pun mereka telah memeluk agama baru, seperti di daerah Tapanuli (Batak Toba) berlainan halnya. Pemujaan terhadap nenek moyang dalam arti menghormati arwah leluhurnya, seni patung yang dibuat sebagai perlambang masih terus berkembang. Ini semua masih dapat kita lihat bertebaran di sepanjang jalan antara derah Simalungun sampai di perbatasan daerah Tapnuli Tengah yang dibuat sedemikian rupa selain sebagai peringatan juga sebagai alat dekorasi dengan mengabaikan fungsi aslinya yakni sebagai alat pemujaan.
Roh nenek moyang dianggap sebagai roh yang baik, oleh kare nanya dipuja dan dihormati. Oleh karena nenek myang dianggap sebagai awal pelaksana adat dap tradisi (dalihan na tolu) dimana adat dan tradisi ini dipakai oleh semua rumpun suku Batak, maka upacara tradisional seperti meminta hujan, turun kesawah, membuat dan me masuki rumah baru dan lain sebagainya sampai sekarang masih dila kukannya. Pelaksanaan upacara inilah yang menyebabkan kebudaya an tradisional suku Batak sukar pupusnya sekalipun ajaran agama ba ru cukup kuat untuk membendungnya. Dengan demikian usaha ma syarakat yang fanatik disebabkan oleh ajaran agama untuk memus nahkan seni patung baik seni patung peninggalan nenek moyang dan sni patung peninggalan budaya megalit yang ada di sekitar pulau Samosir, Nias, dan beberapa daerah lainnya agak terhalang. Akhirnya patung-patung peninggalan prasejarah yang masih tinggal menjadi saksi hasil kesenian primitif. Lebih dari pada itu patung-patung pri mitif bercorak monumental sebagai hasil konsepsi yang tidak hanya mengandung nilai-nilai estetis, bahkan sampai kepada bentuk yang in dividualitas universal yang dapat memberikan hubungan sosial terha dapa kehidupan dan perwatakan seni yang tidak akan lapuk sepan- · jang zaman.
Paduan motif antropormofis dan zoomorfis pada patung-patung primitif Batak merupakan ciri khas yang tersendiri, yang ditata se cara serasi. Patung-patung sejenis ini masih banyak terse bar di daerah pedalaman pulau Samosisr, di hutan-hutan Pakpak Dairi dan di be beberapa daerah lain di" Sumatera Utara. Dari sekian banyak patung patung yang diperkirakan masih ada, hanya sebagian yang baru dike temukan sedang yang lain sudah .banyak yang punah, terlebih patung patung yang terbuat dari bahan kayu. Terutama miste_ri patung pe-
ninggalan prasejarah banyak yang masih belum terungkapkan. Para ahli waris yang dapat diharapkan sebagai "penterjemah" akan nilai tidak mungkin diperoleh. Kalaupun ada mereka umumnya tidak ber gairah untuk membicarakan tentang makna patung-patung nenek mo yang mereka pada masa yang lampau.
Lain dari pada itu orang-ottang yang berbakat pengukir sendiri kurang bergairah untuk kembali berkarya patung. hal ini disebabkan penghasilan sebagai seorang pengukir tradisional jauh lebih rendah dari penghasilan seorang pedagang rendahan atau sebagai penjual rokok dikaki lima.
Akhirnya patung-patung peninggalan karya seniman masa lalu tidak lebih dari pada sekedar warisan belaka. Keadaan ini sangat men cemaskan bagi kelangsungan kehidupan seni patung di daerah Batak. Karenanya perlu usaha untuk melestarikan kembali seni patung tra disional daerah, dengan mendorong para seniman patung di pedala man untuk kembali berkarya dengan memberikan bantuan peralatan, bahan dan usaha pemasarannya dengan harga yang pantas.
Masyarakat digugah untuk menghargai karya seni khususnya seni patung. Tidak lagi sebagai media pemujaan leluhur, tetapi seba gai benda pajangan. Kehidupan wisata bisa dijadikan motivasi dalam pem binaannya.
A. Peranan Seniman Pematung dalam Kehidupan Seni Patung Batak. Setelah kita mengkaji nilai magis dan artistik patung Batak, sadarlah kita betapa besar peranan Seniman pematung sebagai mah luk pencipta karya seni itu. Beberapa peranan meteka dapat dicatat sebagai berikut:
1. Menunjukkan rasa mampu atau penonjolan prestasi di bidang keunggulan seni pada zamannya.
2. Memanifestasikan daya cipta dalam bidang kebudayaan;
3. Meman arkan nilai keindahan dan praktis; dan
4. Menunjukkan rasa mampu menentang zaman atau tak usang diterapkan pada konstruksi-konstruksi bangunan di sepanjang zaman.
59
- Menunjukkan rasa mampu atau penonjolan,prestasi. Dalam hubungan ini, perhatikanlah ,kembali berbagai gambar, yang dilampirkan pada halaman terdahulu. Pada setiap patung sekali pun bentuk dan coraknya sangat primitip, tetapi padanya masih ter dapat elemen-elemen yang cukup artistik dan dapat memberikan ide terhadap bentuk-bentuk seni yang esensial. Dari kemampuan senimannya dilihat dari banyaknya patung patung yang terdapat di daerah Batak, jelas menunjukkan bahwa ke-
·. mampuan membentuk, mengukir/memahat patut dibanggakan untuk mewakili daerah sebagai hasil kebudayaan yang mampu, memberi arti · terhadap perkembangan sejarah kebudayaan bagi suku Batak pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya.
Dilihat dari segi gaya yang diungkapkan oleh pemahatnya seper ti tongkat Tunggal Panaluan, jelas untuk mewujudkannya dibutuh kan keahlian di dalam mengatur perbandingan bobot bahan sehingga keseimbangan dan kemantapan antara bahan dan bentuk (proporsi), terdapat keselarasan perwujudan yang ekspresif, sederhana dalam gaya, primitif-magis guna mencapai suasana yang keramat. · Diukur dari segi waktu dan kecermatan bekerja, patung dengan aneka gaya dan bentuk yang terdapat di daerah Batak tentunya akan memakan waktu yang relatif lama dan meminta ketekunan dan ke telatenan bekerja, terlebih lagi dengan hasil seni patung megalita seperti patung kuburan yang terdapat di daerah Tomok dan patung patung batu lainnya di daerah Bawomataluo, desa Orakili di Keca matan Gomo dan lain-lain. Hasil-hasil seni patung itu tidak lain merupakan bagian keme nangan, kebanggaan serta rasa unggul dari prestasi (1'asil kerja) yang tekun a tau semacam perasaan dan 'semangat tidak mau kalah dengan ketotripok lain. Atau untuk masa yang jauh, mereka ingin menon jolkan dan mendapat kesan serta penilaian dari generasi masa kini. Lihatlah nenek moyang kita ternyata cukup berkemapuan dalam berkarya, khususnya di bidang seni patung. Karena sejarah menggam barkan keseluruhan perbuatan manusia pada waktu yang lampau, kami mencoba menggambarkan kembali tentang sikap dan peranan nenek moyang terhadap seni patung, yang pengungkapannya lewat ·media batu dan kayu $edemikian rupa diujudkan kembali "kehidup arya an;, nenek moyangnya untuk dipuja dan dihormati. Beberapa mereka dalam berbagai gayanya, yang merupakan bukti keseniman. .an mereka, dapat disajikan beberapa dibawiahini.
Gambar44 Patung Batak Toba
Patung menunggang kerbau.
Patung berbentuk sylendris yang berukura kecil kelihat an ekspresi wajah seseorang yang penuh ·wibawa. Pang kal hidungnya dipahat me nyatu dengan kening sedang mulutiiya dibentuk melebar kekiri dan kekanan; pandang annya tajam kedepan. Sikap patung tergambar khas gaya Batak.
Gambar 45 Patung menunggang kuda.
Motif khas patung Batak seperti ditunjukkan lewat bentuk bina tang cecak atau kadal yang diletakkan pada bahagian kepala. Jenis binatang ini tidak hanya terdapat pada patung saja, tetapi dipergu nakan juga sebagai hiasan pada rumah adat tradisionil sopo dan lain-lain. Pengungkapannya · masih dilekati gaya patung primitif yang memberikan sihp sosial terhadap kehidupan manusia, sesuai dengan funinya sebagai lambang kekuatan dan pelindung manusia dari mara bahaya. Sedang konsep estetikanya adalah gabungan empat figur yang dipahat menyatu dalam komposisi yang serasi.. Funi patung ini adalah sebagai penutup tempayan atau guci tempat obat. Detail patung yang dipahat kerawangan tampak figur-figumya pa da bagian-bagian tertentu dikerjakan dalam bentuk plastik relif se perti tangan dan kaki makin mengecil pada ba an tubuh kuda den gan garis-garis sudutnya yang tegas. Ekor kadal dibentuk menyatu dengan ekor kuda sedemikian rupa sehingga tercipta rongga-rongga yang mempertegas bentuk patung tiga dimensional. Di daerah Angkola bentuk patung yang menyerupai patung menunggang kuda diberi nama Si pangan anak si pangan Boru. Di Indonesia/can artinya Si pemakan anak (laki-laki dan si pemakan anak-anak (perempuan).
Gambar46
Dijelaskan bahwa patung. itu· adalah lambang keadilan. Ide itu ke mungkinan diambil dari bentuk patungnya, dimana seekor kuda di gambarkan sedang memakan manusia, sedang dibagian lain seorang manusia didudukan pada bagian kepala dan seorang lagi pada bagian pinggul. Dramatisasi dari beberapa mahluk yang diilhami dalam bentuk patung memberi arti, yang salah harus dibinasakan· sedang yang benar dljunJung tinggi. Seda,ng menurut hemat kami patung itu boleh juga diartikan sesuai dengan fungsinya (penutup tempat obat). Didasari dengan kepercayaan (ritual) dimana ramuan obat itu dapat memberi penawar terhadap segala penyaikit, baik · penyakit dari luar dan penyakit dari dalam.
Kerbau ataupun kuda yang sela lu menyertai pada setiap patung Batak adalah kendaraan perlam bang menuju nirwana sesuai de ngan kepercayaan suku Batak.
| ngan | kepercayaan | suku | Batak. |
|---|---|---|---|
| Secara itu adalah muran hidup. Bentuk patung pada gam | simbolis perlambang di samping teman dalam | jenis | binatang kemak |
| bar menunjukkan karakter tang kehidupan suku Batak. | ten |
Gambar 47 Patung Batak Karo
| Patung | pada gambar | ini | diben |
|---|---|---|---|
| tuk dalam tung wanita | posisi tanpa busana, dua | jongkok. | Pa |
| buah sebagai sedang pada patung lainnya tam pat wujud seorang tua dalam po | payudara perlambang kesuburan; | tampak | jelas, |
| sisi duduk, yang ditumpangkan yang memberi pemimpin | lengan adat yang | dan pada bijaksana. | tangan lutut seorang |
kesan
Gambar48
| Patung | (Raja dan | Permaisuri | |
|---|---|---|---|
| nya dalam kan gaya t\lhta kerajaan. Corak patung ini mengingatkan kita akan gaya se | posisi seorang raja duduk di | duduk | bagai |
| ni patung | purbawi | Mesir | Kuno |
| di zamanya tung yang diolah melalui media batu dengan pahatan sederhana, namun kelihatan artistik dan har monis. | Firaun. | Detail | pa |
)
Gambar 49 Seni Patung Nias
- Sebagai manifestasi daya cipta. Kepuasan ungkapan rohani adalah puncak dari kebudayaan Timur. Sebaliknya ungkapan lahiriah yang melimpah adalah purn;:ak kebudayaan Barat. Sampai dipenghujung abad XX ini masih terasa bahwa Timur masih tetap dilekati oleh kebanggan dan kepuasan keunggulan rohaniah. Hal ini tergambar dan memantul di dalam hasil daya cipta atau kebudayaannya. Sedangkan pendekatan aspek ke duniawian atau kebendaan, baru beranjak setelah terjadinya setuhan dengan kebudayaan Barat. Sifat itu dapat terlihat pada ungkapan berbagai karya seni, terutama dalam seni patung. Stilasi dan makna perlambangan dalam corak yang primitif, selalu muncul dalam pahatan patung timur. Ia hanya dapat dihayati dengan pendekatan rohaniah apabila kita ingin mengerti dan memahami sampai pada tingkat dan isi yang ha kiki, dari karya-karya patung Batak dan Nias. Demikianlah· ciri-ciri utama hasil kebudayaan nenek moyang kita pada umumnya.
65
Gambar 50. Bentuk patung pada gambar ini jika diperhatikan jelas senimannya menyesuaikan bentuk dengan batang pohon yang silendris. Bentuk monumental yang ditampilkan dalam patung ini dicapai dengan
| monumental | yang | ditampilkan | dalam | patung | ini | dicapai |
|---|---|---|---|---|---|---|
| sikap dan penyelesaian patung yang sederhana. Ekspresi wajah me | ||||||
| lahirkan motif-motif yang simbolistis. | makna | simbolik | magis, | ditambah | dengan | mengambil |
Aneka gaya kita temukan pada patung Batak. Pada patung ini kita melihat sikap duduk di mana kedua tangannya ditum pukkan pada bagian dada. Oleh suku Batak Karo dis.ebut pusuh (jantung), dengan mata nya dalam keadaan terpejam. Serta rambutnya yang keri ting. Sikap patung seperti ini diberi gelar patung penenung (patung yang dapat memberi firasat terhadap firasat baik dan buruk.
Gambar 51.
Gambar 52.
Sebuah patung Nias,melukiskan orang yang sedang bertapa disebuah gua dikaw leh tiga lasara sejenis binatang buas. Patung batu yang berusia tua mi kelihatan magis, barangkali karena patung ini pada mulanya dipuj!l dan dihormati sesuai dengan kepercayaan suku Nias pada waktu itu. Ekspresi wajahnya dengan sedikit tersenyum dan mata terkatup menunjuklaµt ketenangan seseorang pertapa.
B. Fungsi Seni Patung Batak. Menjelajahi kehidupan seni patung Batak sepanjang masa, da pat rlikaji berbagai fungsi dari kehadiran patung di kalangan masya-
· rakat Batak.
- Memantulkan pengertian simbolis magis. Mengungkap yang tersirat dibalik yang tersurat bukanlah hal yang mudah. Yang paling kena untuk mengungkapkan arti simbolis dari hasil seni patung yang terdapat di daerah Batak pada umumnya setidaknya kita harus menyelami budaya, adat dan kepercayaan suku Batak. Ketidak mudahan mengungkap kan nilai yang terkandung pada hasil seni patung primitif se bagai hasil kebudayaan suku Batak, seorang ahli Barat Van Der Hoop, mengatakan antara lain : "Sejarah kebudayaan, pengetahuan tentang yang lampau tidak hanya untuk diingat atau dituruti, tetapi juga untuk menunjukkan jalan dan memberi semal}gat kepada kita da lam menciptakan hari sekarang yang lebih bagus dan hari be sok yang sempuma ".9) Jika, hendak diselidiki arti itu, maka kita harus mencarinya kembali jauh dalam sejarah dan malahan sampai pada prase jarah. Dengan tulisan tersebut di atas maka jelaslah bahwa setiap bentuk materil di dalam suatu hasil karya patung yang terda pat di daerah Batak pada umumnya mengandung arti tersen diri (khusus), apakah arti realis, simbolis atau yang lebih kom pleks dari itu.Sebab setiap patung yang terdapat didaerahBatak dari semula dinyatakan adanya arti dan nilai luhur yang ter sembunyi. Bakan pula sedikit jumlah patung yang terdapat di daerah Batak dan Nias, baik yang baru maupun lama dengan corak dan gayanya yang berbeda-beda, dan tidak mustahil pu la bahwa keseluruhan dari jenis patung itu mempunyai nilai dan arti yang symbolis tersendiri. Gajah dompak, singe-singe sekalipun diungkapkan dalam bentuk dua demonsion namun. A.N.J. Tahun Van Der Hoop. lndonesisch· Siermotieven U.V. v/p. A.C.
Nix & Co, 9 ). Bandung, 1949, hal. 17.
dia kelihatan artistik, dekoratf dan mengandung makna sym bolis magis sebagai penolak dari roh-roh yang datang dari lu ar.
| Demikianlah | juga | dengan | patung-patung | lain seperti | patung | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| pulu balang, makna yang sama. Dari hasil-hasil wawancara penulis dengan para pengetua adat | patung | pagar | jabu | dan lain-lain | mengandung | |
| diperoleh seni patung yang terdapat di daerah Batak yang memang temya ta pada Beberapa jenis patung tersebut | keterangan-keterangan setiap ungkapan mengandung | mengenai makna simbolis magis. dapat ditampilkan | nilai dan | makna disini. |
Demikianlah juga dengan patung-patung lain seperti patung
Gambar 53
a. Ulu Paung.
Motif Ulu Paung pada gambar di atas; tampak artistik dalam gaya de koratif. Dilihat clari bentuknya, termasuk hiasan raksasa, setengah manusia dan setengah hewan. Motif ukiran ini diletakkan pada din ding atas pintu yang simetris. Jika diperhatikan, jelas akan mem berikan gambara bahwa bentuk Ulu Paung, merupakan stilasi ke pala manusia bertanduk, sejalan dengan fungsinya, sebagai per lambang keperkasaan untuk melindungi penghuni rumah dari gang guan roh-roh jahat.
Patung ini terdiri dari sebuah patung induk dan dua patung lainnya dipahat lebih kecil dari patung induk. Sikap patung kedua belah tangannya diletak kan di atas kepala patung yang kecil sedemikian rupa sehingga memberi makna tersendiri. Menurut keterangan, fung$i patung ini adalah ma masu-masu artinya patung pemberi berkat. Pada bagian kepala di pahatkan se ekor kadal (cecak) mengandung makna/arti tertinggi bagi suku Batak, yang G am b ar 54 .. ·
1.
b. Patung pemberi. berkat.disebut Boros pa ti, artmya pe m d ung dari perbuatan/ gangguan jahat yang datangnya dari luar.
Gambar 55
c. Patung lambang kejantanan (Adu Jatua) didesa Hilisimaetano.
Memperhatikan gambar disebelah, kembali kita melihat kesederhana an pahatan dengan sikap yang sama seperti gaya patung lainnya, funi patung sebagai lambang kejantanan, dapat terasa lewat alat ke lamin yang ditonjolkan.
- Fung.si Sosial.
- Media pemujaan. Kekuatan ekspresi magis dan makna-maksa simbolis dari
berbagai motif tampil pada setiap patung tradisional, jelas terdapat unsur pengahayatan kepercayaan. Demikian pula se ni patung yang terdapat di daerah Batak sesuai dengan keper cayaan yang dianut di daerah Batak sesuai dengan kepercaya an yang dianut oleh masyarakat, mempunyai peranan sosial yang penting. Pada masa prasejarah (seni patung) yang teda pat di daerah Batak dari Nias pada umumnya kelahirannya ber tolak dari masalah kehidupan manusia yang dikaitkan dengan unsur-unsur kepercayaan yang melandasi berbagai aspek kehi dupannya. Oleh karenanya patung yang terdapat pada masyarakat Ba tak pada umumnya dibuat bukan semata-mata untuk ke senangan pengungkapan rasa seninya. Tetapi justru timbul dari dorongan sesuatu yang berkaitan dengan kepercayaan, tentang ketinggian martabat dari nenek moyang yang dipan dang sebagai juru selamat. Gangguan alam, peperangan antar suku dan lain sebagainya, memaksa mereka mencari perlindungan ·kepada roh-roh ne nek moyang yang diwujudkan lewat pahatan berupa patung-pa tung. Pemujaan terhadap nenek moyang seperti yang diuraikan di atas adalah satu segi kehidupan masyarakat prasejarah yang timbul dengan kuat di kalangan masyarakat Batak dan Nias. Sekalipun pada zaman sekarang masyaraklat Batak dan Nias te lah menganut Agama Islam dan Kristen, namun bekas-bekas kepercayaan animistis masih terasa di kalangan masyarakat Ba tak dan Nias. Berarti kebudayaan prasejarah tetap memper tahankan eksistensinya terhadap desakan atau pengaruh yang datangnya dari luar. Salah satu contohnya adalah patung singa-singa, gajah dompak pada rumah tradisional Batak To ba; kuda-kuda pada rumah tradisional Karo; bohi-bohi pada ru mah adat Simalungun, Uting-uting pada rumah adat Mandai ling, sampai pada gaya arsitektur masa kini. Patung permi nakan untuk penawar orang sakit. Patung pagar jabu dan lain-lain, sampai sekarang masih dipakai oleh masyarakat Batak Karo.
b'. Peranan Patung dalam Upacara Pengobatan Tradisional.
Pengobatan tradisional pada masyarakat Batak sampai se karang masih banyak diperaktekkan, terlebih di pedesaan, dengan melalui mantera-mantera ataupun upacara khusus. Seperti apa yang kami lihat di tanah Karo, yakni pengobat an tradisional melalui upacara khusus yang masih diprak tekkan di kalangan masyrakatnya, upacara pengobatan ini dalam bahasa K11ro disebut ersi/ihi. Pada pelaksanaan upacara rn1 terdapal sebuah patting yang dalam bahasa Batak Karo disebut gana-gana, yang dalam wujudnya benar benar menyerupai wajah manusia. Menurut kepercayaan masyarakat Karo, di atas permukaan bumi ini ada roh-roh jahat yang bergentayangan, yang mengganggu kehidupan manusia. Roh-roh inilah yang menyebabkan sukar menyem buhkan seseorang yang menderita penyakit, sebab semangat a tau tendi si sakit disandera oleh roh jahat itu. Untuk mengembalikan semangat sisakit agar lekas sembuh dibuatlah upacara ersilihi, dengan menghadirkan tiga orang guru dukun yang masing-masing mempunyai keahlian tersen diri untuk dimintai pertolongannya antara lain: -guru per mang-mang ahli dalam mantera-mantera. -guru per dewel-dewel, guru sierkata kerahongna artinya guru yang dapat bicara melalui lehernya, yang dapat lang sung berdialog dengan roh-roh jahat. -guru si dua lapis pengenin matana artinya guru yang dapat melihat di luar kemampuan penglihatan orang biasa.
Untuk mengembalikan semangat sisakit pada pengobatan tradisional itu, patung mempunyai fung5i sosial yang sangat penting. Patung itu adalah sebagai pengganti sisakit untuk dikorbankan pada roh jahat. Melalui perantaraan guru/dukun, patung berikut sesajen sesuai dengan permintaan roh jahat, yang dilambangkan sebagai pengganti semangat/tendi si sakit, maka patung itu dibawa ke sungai kemudian dihanyutkan oleh guru/dukun itu, atau diletakkan dipersimpangan jalan. Mantera pengiring upacara ersilihi itu adalah sebagai berikut:
0, nini enda gancih si Ane ndai ula nai kam ertunggu tunggu, ula nai er idau-idau, engg_o seh ken kami pemindon ndu e.
Artinya dalam bahasa Indonesia:
Oh, roh-roh halus yang bergentayangan yang menuntut pengganti roh si Anu, jangan lagi engkau menunggu-nung gu (menanti-nanti) sudah kami kabulkan permintaan itu.
Upacara ersilihi biasanya dilaksanakan dengan diiringi musik tradisional (keteng-keteng dan baluat), dengan dibarengi oleh mantera yang dibawakan oleh guru/dukun.
- Mengandung nilai estetis (keindahan). Penghayatan para seniman masa lalu akan bentuk, serta kepeka an pada nilai-nilai garis dengan landasan sikap dan ekspresi wa jah dapat melahirkan karya-karya bermiltu, sebagaimana yang selalu terpahat pada setiap patung dan motif-motif hiasan. Memang kadang-kadang kita berpikir, apakah benar para seni man masa lalu telah mc,,niliki kesadaran keindahan yang begitu tinggi. Tidakkan kelahiran karya-karya itu semata-mata di do rong oleh aspek simbolisme saja, dimana keindahan lahir hanya dari instink keindahan. Sulit disimpulkan, mengingat hampir keseluruhan karya yang tertinggal memiliki mutu seni yang tinggi di samping kandung an nilai simbolis magisnya. Deformasi dan itilasi bentuk yang pada umumnya terdapat pada seni primitif serta simbol-simbol yang terkandung di da lamnya, kenyataannya sekarang banyak memberi sumber ins pirasi kepada para seniman modem yang perkembangannya begitu pesat di abad XX sekarang ini. Kemungkinan-kemungkinan ini boleh jadi disebabkan seni primitif itu mengandung nilai-nilai estetis universal.
Gambar 56 Motif hiasan dan patung yang dibuat sebagai tiang penyangga, memberi arti yang tersendiri pada bangunan rumah tempat
| memberi | arti yang | tersendiri | pada | bangunan rumah tempat |
|---|---|---|---|---|
| tinggal seperti pada gambar di atas. Patung yang dibentuk ber | ||||
| tumpang tindih secara berjenjang dari bawah ke atas kelihatan | ||||
| artistik dekoratif. Betapa bentuk patung lama1. mengilhami pa | ||||
| seniman bangunan modern. | dan | arsitek massa | kini; | yang |
ra ditampilkan pada
4. Tidak usang untuk diterapkan pada konstruksi bangunan
sepanjang zaman.
Ada pendapat bahwa kebudayaan Nasional adalah paduan dari
| puncak-puncak | kebudayaan | daerah. | Atau ada yang berpenda |
|---|---|---|---|
| pat bahwa kebudayaan asing yang mengandung unsur yang da | |||
| pat dicerna | dan melebur | dengan | kebudayaan Nasional dapat |
| diterima | untuk memperkaya | dalam | rangka pertumbuhan dan |
perkembangan kebudayaan Nasional. Seni patung sebagai bagian dari karya seni Nasional juga terli hat di dalam proses pertumbuhan dan perkembangan kebuda yaan Nasional, dan temyata seni patung mampu tampil dalam dunianya yang baru.
Dalam abad XX ini bangunan-bangunan baik bentuk dan gaya nya mengalami kemajuan dan memberi corak tersendiri sebagai basil kreativitas pada arsitek masa kini, bentuk arsitektural ma sa Jampau (tradisional) masih mampu memberi ilham pada bangunan-bangunan masa kim, terlepas dari kemantapan nilai artistiknya dan fung5ionalnya. Sebagai contoh kita dapat me lihat bangunan kantor DRPD Tkt. I Sumatera Utara yang ter letak di jalan Imam Bonjol, Gedung Museum K.anwil Jeparte men Pend.idikan dan Kebudayaan Propinsi Sumatera Utara di Jalan Gedung Arca, Hotel T.D. Pardede di jalan Imam Bonjol, Juga kita dapati di beberapa daerah lain,seperti bangunan uta ma Taman Budaya di Bali, bangunan Taman Mini di Jakarta dan lain-lain. Temyata dia tidak kaku,bahkan menambah ke harmonisan dan· man tap disamping membantu dekorasi bangun an itu. Berdasarkan kenyataan itu penulis berpendapat bahwa seni patung masa lalu yang terdapat pada bangunan masa kini akan tetap memperindah penampilan bangunan modern. Dengan kata lain bMwa seni patung tradisional sekalipun dengan co rak/gaya primitifnya tidak ketinggalan zaman dan masih dite rima terus sepanjang zaman.
C. Gaya Seni Pa tung Primitif Batak Menurut Daerahnya. Di penghujung abad XX ini keserrian tradisional Batak khusus nya seni patung tidak begitu banyak dibicarakan. Hal itu disebabkan patung-patung hasil karya peninggalan nenek moyang banyak yang sudah punah di samping senimannya sendiri tidak kreatif lagi. B oleh jadi disebabkan di daerah Batak pada umumnya sudah banyak yang memeluk agama Islam dan Kristen, sedang agama permalim awal dari anutan suku Batak sudah jarang menganutnya, akibatnya dide sak oleh agama baru itu. Kemungkinan-kemungkinan lain boleh jadi penilaian terhadap kesenian rakyat tradisional dianggap sudah tidak sesuai lagi dalam lingkungan masyarakat Batak yang hidup di alam modern sekarang ini. Di lain hal khusus seni patung dianggap suatu hambatan pula bagi perkembangan agama Islam dan Kristen, sebab patung-pa tung yang masih ada dapat menyebabkan timbulnya kembali pemu jaan terhadap nenek moyang. Oleh karenanya patung-patung peninggalan nenek moyang awal lari pemujaan terhadap yang lebih tinggi banyak yang dimusnah- kan. Kendatipun demikian bagi suku Batak yang masih fanatik ter hadap leluhurnya, seni patung berkembang terus, justeru menampil kan kembali leluhur nenek moyang, baik berupa patung atau tugu yang tetap dianggap sebagai suatu pekerjaan yang sangat mulia. Penampilan patung-patung masa kini sebagai lambang perwu judan kembali rupa nenek moyang, bentuk dan gayanya lebih meng rah kepada gaya naturalis. Sedang patung yang bergaya primitif ke hadirannya hanya pada waktu dibutuhkan, misalnya dalam mengisi upacara-upacara adat tampa fungsi yang asli, seperti misalnya pe riampilart sigale-gale pada upacara penyambutan hari-hari besar Nasional dan iain-lain. Kebudayaan daerah dengan segala jenis corak dan gaya itu tam pak mempunyai ciri-ciri khas yang membedakan satu daerah siiku dengan yang lain. Ciri-ciri khas yang dimiliki oleh daerah dimana suku-suku Batak itu berada, kiranya sejak dahulu berkembang seba gaimana yang kita lihat dan hayati sekarang ini yakni patung-patung dari sisa-sisa peninggalan karya seni rupa nenek moyang. Kehadiran patung primitif tersebut itu memberikan mspirasi
pada pematung modern dalam usaha pencarian pribadinya.
Dapat kita catat beberapa gaya patung primitif dari beberapa daerah se bagai berikut:
- Patung primitif Batak Toba. Yang dimaksud dengan suku Batak Toba adalah masyarakat Toba yang tinggal menetap sebagai penduduk asli di sekitar Danau Toba. Daerah ini dikenal sebagai salah satu pusat berkembangnya seni primitif. Gaya seni patung primitif, sebagaimana umumnya ada lah sebagai peninalan hasil karya seniman masa lalu yang lebih ter ikat pada aspek symbolisnya daripada kaidah-kaidah keindahan. Patung-patung primitif yang terdapat di daerah Batak Toba pada umumnya berbentuk lsilindris dalam berbagai ukuran menurut fung;;i yang dipersiapkan. Pada bagian-bagian lain seperti patung patung batu yang terdapat di desa Ambarita Sialalangan kelihatan bentuknya sudah mengarah kepada corak realistis, dlam ungkapan nya yang sangat sederhana tetapi penuh ekspresi. Ciri-ciri khas yang terdapat pada patung primitif Batak Toba, pada umumnya dalam pengambilan motif, yang memadu wujud antropomorphis dan zoomorphis yang diungkapkan oleh pemahatnya sebagai perlambang roh nenek moyang. Terdapat beberapa sikap patung, yang boleh dikatakan khas sikap patung Batak. Antara lain patung menggang binatang kerbau atau kuda. Patung dalam sikap jongkok dengan kedua belah tangan memeluk lutut, atau diletakkan pada bagian perut. Patung dengan sikap tegak dengan ekspresi wajah yang penuh wibawa dan memberi kesan tentang kekerasan watak dan kekuasaan serta ketegangan emo si. Patung-patung batu hasil peninggalan kebudayaan megalit yang terdapat di desa Tomok dan Ambarita, diwujudkan sebagai orang yang sedang menghadapkan dirinya kepada kekuasaan yang lebih tinggi seperti patung· upacara Horbo lele yang terdapat di desa To mok.
Gambar 57
| Gambar | horbo | dari batu | dalam |
|---|---|---|---|
| seekor hewan, dengan garapan yang sangat sederhana. |
Gambar 57 adalah patung horbo/kerbau dari batu dalam bentuk
Gambar 58 Sekolompok patung penabuh dengan dua buah patung raja dan per maisuri, sedang menyaksikan upacara horbo lele. (gbr. 58).
Gambar 59 Geatbar 59 adalah patung orang yang sedang memohon. Biasa sete lah selesai upacara lalu berwujud kepada kekuasaan yang lebih tinggi untuk mohon perlindungan dan kesejahteraan. Gaya meng¥3h natu ralis.
Gambar 60 Pada gambar 60 kita melihat sikap duduk sebagai raja dan permai surinya dalam sikap duduk, sedang bermohon sembari menghadap kan diri kepada leluhur yang menguasai alam semesta.
Jenis-jenis lainnya seperti singa-singa dan Gajah Dompak, yang ba nyak terdapat pada rumah adat tradisional Batak Toba nampak sifat tiga dimensionalnya (patung yang ditempelkan pada dinding). Kedua jenis patung ini mempunyai fungsi yang sama, yakni secara simbolis melambangkan raja yang pemurah. Dalam bahasa Batak Toba par bahul-bahul na bolon.
Hiasan ini juga berfungsi sebagai penjaga serta penolak bala. Melihat bentuknya, patung singa-singa menggambarkan watak wa jah seorang manusia yang berwibawa, dalam karakter yang optimis sesuai dengan konsepsi senimannya, di samping membantu seni ukir arsitektural pada rumah adat Batak. Secara keseluruhan patung si nga-singa dan patung Gajah Dompak merupakan hasil seni yang meliputi nilai-nilai simbolisk magis.
Gambar 61 Singa-singa (Batak Tapanuli). Arti patung ini adalah berwibawa (kharisma). Bentuk wajah manusia raksasa terpadu dengan aneka ragam hias mewujudkan dekorasi yang kompleks.
- Patung Primitif Daerah Simalungun. Di daerah Simalungun seni patung tidak begitu menonjol jika dibandingkan dengan seni patung yang terdapat di daerah Batak To bak. Patung-patung sebagai peninggalan karya nenek moyang kini banyak yang sudah mengalami kepunahan. Peninggalan-peninggalan nya yang tercatat hanya patung yang terdapat pada museum Si malungun di Pematang Siantar (patung l>enghulu Balang). Bentuk dan gayanya sangat sederhana sesuai dengan kemampu an bahan yang ada sehingga pengolahannya terbatas, namun secara keseluruhan merupakan buah intuisi perwlijudan patung yang dapat memberi pengharapan terlepas dari segala gangguan roh-roh jahat. Pemahatnya jelas menghadirkan ungkapan ekspresi wajah dalam per watakan yang dinamis kaya dan anggun dalam tatapan motif pa tung primitif tradisional. Bentuk }\eseluruhan patung memberi gambaran perpaduan nyata antara agresivitas yang keras tentang motif dan wa tak sesuai dengan fungsinya yakni patung Penghulu Balang berfungsi sebagai patung penjaga kampung. Sikap patung digambarkan dalam posisi duduk dan kedua le ngannya diletakkan di atas paha di samping ada juga kedua lengan nya ditumpukkan pada dada sedang pandangan matanya tajam ke depan. Di bahagian lain kita melihat jenis patung yang berfungsi sebagai penutup tempat ramuan obat. Disini kita melihat adanya nilai-nilai selain yang fungsional terdapat nilai magis dengan corak dan gaya ekspresif dekoratif.. Posisi tubuh digambarkan dalam keadaan duduk sedang posisi tangan dibuat dalam sikap bermohon agar ramuan obat dapat mem berikan penawar begi setiap orang yang ·mempergunakannya.
Gambar 62 Patung penutup ramuan obat (Simalungun), Patung dalam pos1s1 duduk melalui media kayu besi tangan dan kaki kelihatan terpotong.
- Seni Patung Primitif Pakpak Dairi. Seni patung primitif yang terdapat di daerah Batak seperti yang telah diuraikan terdahulu pada umumnya mempunyai kesa maan bentuk antara satu daerah dengan daerah lainnya, hal ini di sebabkan suku-suku Batak itu serumpun adanya. Demikian juga halnya dengan seni patung primitif Pakpak Dai ri mempunyai kesamaan bantuk dan gaya dengan patung-patung yang terdapat di daerah Simalungan, Karo dan daerah-daerah lain. Dari pengamatan terlihat,bahwa Seni patung yang terdapatdi daerah Simalungun dan Karo banyak dipengaruhi oleh gaya seni patung Pakpak Dairi. Rupanya pengaruh ini dibawa oleh Raja Pakpak Pitu Sidalanen (Raja Pakpak tujuh seperjalanan). Menurut legenda ketujuh raja itu masing-masing mempunyai keahlian (mukjizat) dan sangat berpengaruh. Oleh sebab itu ke tujuh raja itu sangat disegani oleh masyarakat Batak.
Ditilik dari letak geografis kemudian dihubungkan pula dengan pendatang-pendata g dari luar, melalui Bandar Tua Barus yang dike nal banyak memb wa pengaruh kebudayaan Hindu, terlebih dahulu I hams melalui Pak ak Dairi kemudian menyebar ke daerah Simalungun dan Karo, d ada juga yang melalui Dolok Sanggul, Parlilitan hingga ke daerah atak Toba. Kemungkinan ini boleh jadi pengaruh bentuk ataupun aya seni pa tung itu bermula dari gaya .pa tung Pak pak Dairi. Namu demikian hal ini masih perlu diselidiki kebenaran nya oleh ahli ( enulis) berikutnya. Patung-patung primitif seperti patung hewan ( ajah) yang terdapat di daerah Pakpak Dairi berfung si sebagai penja a kampung dengan tujuan yang sama seperti patung Penghulu Bala g yang terdapat di daerah Simalungun dan Karo, kendatipun be tuk dan gayanya berbeda. Patung ini ditempatkan pada pintu ge bang masuk kehalaman kampung bertujuan sebagai penangkal ba setiap orang yang ingin mengganggu atau berbuat jahat, di sam ing berfungsi pula sebagai tempat penyimpanan abu jenazah. Hal tu mengingatkan kita adanya pengaruh kebudayaan Hindu di dae ah Pakpak Dairi.
Penga h ini juga terlihat pada patung orang menunggang ga jah yang te dapat di depan Gedung Nasional di Sidikalang. Pada/mulanya jenis patung itu hanya dimiliki oleh Marga Ta no, lazim disebut Raja atau pengetua adat, justru gajah, kuda dan kerbau dianggap sebagai lambang kenderaan roh nenek moyang ke sorga, di samping lam bang ke suburan.
Analisis gaya pada patung primitif Pakpak Dairi, patung dibuat dalam sikap duduk, dan kedua tangannya diletakkan di atas kedua lutut, ada juga yang dibuat menyilang di bagian dada. Bentuk ma ta diukir secara sirkular pada bidang muka yang datar dengan ta tapan tajam kedepan kelihatan tampang wajah yang menakutkan. Pangkal hidung dipahat seadanya, kedua dan telinga dibuat kecil namun peka terhadap jenis suara sesuai dengan fungsinya sebagai patung penjaga kampung. Menurut kepercayaan manusia. purba se tiap suara atau gerak orang yang mencurigakan datang berkunjung ke kampung itu, maka patung itu memberitahukan penduduk agar siaga dan waspada. Patung-patung peninggalan kultur megalit di daerah Pakpak Dai ri masih banyak dijumpai, hanya sayangnya patung itu tidak terpe lihara baik, akhimya banyak yang rusak, sedang usaha-usaha untuk
mengumpulkan patung-patung oleh badan resmi sampai sekarang belum mendapat gambran yang positif. Di kalangan seniman dan ilmuwan tentu tidak menghendaki kepunahan dari sesuatu yang er harga dalam hal ini seni patung peninggalan nenek moyang sebagai warisan budaya bangsa.
Keadaan yang mengkhawatirkan ini kiranya sudah selayaknya menjadi pemikirah bagi pemerintah di samping pemikiran lain untuk menggalakkan kembali kesnian tradisional dan memberikan kegai rahan bagi senimannya untuk kembali ke profesinya semula, yakni sebagai seniman pengukir tradisional.
Gambar63 5isa peninggalan patung nenek moyang Pakpak Dairi (patung me nunggang kuda).
- Seni patung Primitif Karo. Kabupaten Karo di Sumatera Utara tidak hanya dikenal dengan udaranya yang segar, bunga dan hasil bumi lainnya, tetapi juga di kenal justru kaya akan hasil karya seni rupa seperti: arsitektur ru mah adat tradisional dengan aneka ragam corak, tenunan, anyaman, dan seni patung primitif. Patung-patung yang terdapat di daerah Karo dilihat dari bentuk dan gayanya dibagi atas:
a. patung tutup perminaken,
b. pa tung pagar jabu,
c. patung tongkat Tunggal Panaluan,
d. patung tongkat Malaikat, dan
e. patung pulu baleng. Patung terbuat dari bahan batu, kayu dan tanduk.
a. Patung Tutup Perminaken. Gaya seni patung primitif Karo umumnya tidak terikat ke pada proporsi anatomi seperti lazimnya patung-patung na turalis yang pernah kita lihar ciri-cirinya pada setiap patung primitip Karo. Figur manusianya digambarkan sedang menunggang kuda atau kerbau. Proporsi wajah kelihatan kaku namun domi nan dengan garis-garis sudutnya yang tegas seuai dengan konstruksi patungnya. Dagunya dibubuhi jenggot mencuat tajam keluar, hidungnya agak lancip kedepan dengan pangkal hidung menyatu dengan kening. Mulut tertutup rapat dicukil melebar dan memberi kan penggayaan ekspresi wajah yang penuh wibawa ditandai pula dengan pandangan mata tajam kedepan. Pangkal lengan rapat dengan bahagian tubuh dan tangan sejajar kedepan me megang tandtik hewan sebagai tunggangan, sedang bahagian kaki digambarkan makin mengecil kebawah menyatu dengan tubuh hewan yang ditunggangi sehingga kelihatan ketidak seimbangan antara bahagian tubuh dan kepala. Namun kese muanya ini memberi kesan tentang kekerasan watak. Bentuk hewan sebagai alat tunggangan digambarkan menyerupai sphinx (patung berkepala manusia berbadan hewan).
88
Apakah pa tung ini menerima pengaruh ··dari kesenian Mesir kuno. ·
Bentuk patung dipahat tidak terlampau besar cukup sebagai penutup tempat ramuan obat dengan perhitungan bobot dan penyesuaian konstruksi tabung (kendi). Jenis patung ini dinamai patung tutup perminaken. Patung yang berfung.5i sebagai tanda kehadir-w nenek moyang yang dapat memberi keselamatan atau dengan kata lain dapat memberikan pena war penangkal terhadap orang-orang yang mendapat penya kit.
•
- :·t
Gambar 64 Patung tutup perminaken ' lengkap dengan tempat ramuan obat yan81tebuat" dari tanduk.
Gambar 65
Patung tutup perminaken (tutup ramuan obat penawar).
Pada patung ini terdapat selain funinya sebagai penutup obat juga terkandung sifat-sifat magis, relegius, eksresif, d koratif.
b. Patung Pagar Jabu. Patung pagar jabu funinya bersamaan dengan patung per minaken, dipahat lebih mendetail dengan stilasi yang mem beri kesan kecermatan pemahatnya. Jelasnya estetis yang mencerminkan ketangguhan seniman pemahatnya yang meng ekspos tentang ekspresi individual yang mengagumkan. Bentuk ragam hias dan beberapa atribut yang menyertai patung ini tidak bisa dipandang sepele justru pada patung ini diperlukan kecermatan dan ketelitian kerja yang tangguh. Figur patung yang terdapat pada pagar jabu (patung penang kal) .terdiri dari dua media bahan yaitu bahan kayu dan bahan tanduk. Oleh pemahatnya dipahat untuk memvisualisasikan ekspresi wajah yang memberi kesan optimis tangguh meng hadapi segala tantangan dalam pola primitif yang agak meng arah kepada bentuk proporsional. Bahan kayu yang sifatnya silendris diukir dengan ungkapan ekspresi yang plastis, membutuhkan keahlian serta kehalusan perasaan estetis yang mendalam di samping mewujudkan antropomorphis dan zoomorphis dengan gaya ekspressif dinamis dalam tatapan motif-motif tradisioriaJ. Detail patung dibuat secara piramidal berjenjang dari atas kebawah, dapat dilihat ukiran seekor burung dalam posisi gaya yang sedang hinggap dengan ekomya mencuat keatas kemudian melengkung dan menindih bagian kepala burung sedemikian rupa digambarkan lewat dekorasi omamen mo tif sulur. Berurut kebawah kita melihat pula sebuah patung wanita duduk di atas kepala (patung induk) dalam posisi tangan meminta restu keberkatan. Patung induk digambarkan se dang menunggang seekor hewan seperti patung yang terda pat pada tutup perminaken, hanya kerjanya lebih mende tail dengan memberi omamen pada dasar patung. Dari pan-
| dangan profil pada | bagian belakang terdapat relief ornamen | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| berongg;;t | dibuat | menyatu | dengan | lainnya, | sehingga |
| memberi adalah bersifat magis dan sakral, ekspresif dekoratif. | kesan | artistik, | denga.n nilai-nilai | yang | fungsional |
figur
Gambar 66
a. Tutup tabung.
b. Tabung tempat penyimpan ramuan obat ..
c. Patung Tongkat TunggaJ Panaluan Karo (tongkat guru)
| Tongkat | tunggal panaluan | yang | terdapat | di | |
|---|---|---|---|---|---|
| daerah | Karo, | mempunyai | keunikan | tersen | |
| diri, | berbeda | dengan | tongkat | tunggal pana | |
| luan pangkal | yang terdapat bagian atas sampai ke bawah secara | di daerah | Toba. | Dari | |
| berjenjang | diukir | bentuk | antropomorfis dan | ||
| zoomorfis. | Pemaduan | figus yang | berlainan | ||
| Jems | sebagai | ekspresi | seniman | pengukimya, | |
| jelas | mewujudkan | bentuk dekorasi yang | in | ||
| dah, | selain dari | pada | itu senimannya | juga | |
| memberikan orang-orang Batak zaman dahulu. | gambaran | karakter | kehidupan | ||
| Melihat | dari | bentuknya | tongkat | tunggal pa | |
| naluan tidak | hanya berfungsi praktis, | lebih | |||
| dari | itu juga | mengandung nilai-nilai simbo | |||
| lis magis. | Variasi | yang dekoratif dari perpa | |||
| duan antara figur sebelas atas dengan figur bagian | aneka | figur-figur | sebagai | komposisi | |
| bawah | sedemikian | rupa | diolah | sehingga ter | |
| jadi | suatu penyatuan bentuk yang | estetis. | |||
| Hal· inilah | yang | membuat | kita | kagum atas | |
| prestasi justru penataan dari berbagai figur dengan ung kapan ' saan estetis yang lua dan dalam. | yang plastis yang kompleks diperlukan pen- | dicapai | oleh | pengukimya, | |
| Detail | patung | yang terdiri dari sebelas figur | |||
| manusia, | dari | bagian | atas hingga | di | perte-· |
| ngahan | tOngkat | bentuknya | tidak dipahat | ||
| secara pada suatu keluarga yang dihimpun oleh adat yang kuat (daliha na tolu), sehingga terwujud | anatomis | namun | memberi | kesan | ke |
| suatu siapapun. | kesatuan | yang | tak tergoyahkan | oleh |
·
Gambar67
Patung-patung yang dibuat dari cabang kayu tenggolan (ka yu besi) mulai dari pangkal diukir sampai kebawah digambar kan lewat pahatan plastis tanpa proporsi anatOmis. Patung induk pada pangkal tongkat diukir manusia sedang menung gang hewan motif raksasa adalah buah intuisi jiwa pemahat nya yang mengekspresikan seorang raja sedang menunggang kuda. Perbandingan kepala dengan bentuk tlibuh yang ker dil kelihatan agak lucu, namun kesan kewibawaan terasa pada pandangan matanya yang tajam kedepan .. Pada bagiari kepala yang polos kita dapati benjolan, fungsinya dipakai untuk pengikat ijuk atau bulu ayam jago, sebagai pengganti rambut, sewaktu tongkat itu dipakai pada upacara-upacara adat.
Agak kebawah kita melihat enam buah relif manusia meling kar, menopang patung induk, melambangkan kecintaan rak yat terhadap rajanya. Sikap patung diukir dalam posisi du duk. Lebih kebawah terdapat dua buah patung bertolak be lakang dipahat simetris posisi tangan digambarkan sedang memohon restu, dan kedua siku ditumpukan pada paha. Tipe dan tema yang sama pada patung ini terdapat pada ba gian bawahnya.
Di sini pemahatnya menggambarkan kepribadian perwatakan yang membawa perasaan hormat. Ketangguhan mengolah dan pengaturan komposisi patung-patung mini yang terda pat pada tongkat tunggal panaluan merupakan bukti betapa tinggi jangkauan ilmu ukir nenek moyang kita pada masa yang lalu. Selanjutnya mari kita menatap dekorasi peleng kap ukiran ornament bercorak zoomorfis, secara berjenjang kebawah terdapat ekor anjing, ekor lipan, kepiting, bunglon, ekor kalajengking dan ekor kodok.
Dari seluruh hewan-hewan yang menyertai tongkat tunggal panaluan itu merupakan perlambang di samping penghargaan dibata i teroh (Tuhan di bawah) menurut konsep sirienek moyang kita zaman dahulu. Fungsi ideal, keseluruhan ukiran yang terdapat pada tongkat tunggal panaluan menurut keper cayaan animis adalah sebagai pengusir roh-roh jahat (setan) lewat acara nguncang kuta, ngarkari, ngulak dan lain-lain.
Lebih dari pada itu tongkat tunggal panaluan juga memiliki nilai-nilaispiritual yang berhu bungan dengan hara pan terka bulnya cita-cita seperti meminta hujan di waktu musim ke-_ marau, di samping nilai-nilai estetika pada variasi hiasan beru pa fragmen dari pengalaman. hidup lingkungan yang dise matkan pada tongkat tunggal panaluan itu.
d. Patung Tongkat Malaikat Melihat bentuk dan motif hiasan yang diabadikan pada tong kat Malaikat lebih sederhana dibandingkan dengan tongkat tunggal panaluan. Mukjizat tongkat Malaikat menurut keper cayaan suku Batak Karo lebih tinggi dari tongkat-tongkat lainnya, justru tongkat ini tidak sembarang orang yang me milikinya. Tongkat ini juga tidak boleh dipakai di daerah yang digenangi air... Dalam bahasa Karo disebut tanah matai. Kepercayaan
m1 sampai sekarang masih melekat di kalangan orang.:-Orang Karo, terlebih bagi masyarakatnya yang masih tinggal di pede8aan, oleh karena orang Karo beranggapan bahwa tongkat malaikat mempunyai kekuatan magis, sakral, ·disamping mempunyai nilai-nilai funional seperti nguncang kuta ngarkari, ngulak dan lain-lain melalui upacara-upacara ritual dengan iringan gendang dan tari.
Detail patung tongkat Malaikat. -
Patung induk pada pangkal tongkat, bentuknya sama dengan patung tongkat tunggal panaluan, dan patung tutup perminaken, hanya pada tong kat ini kita melihat dua figur sebagai tambahan yang ditempatkan pada bagian depan dan bela kang hewan, dimaksudkan sebagai pengawal patung induk. Posisi kedua patung mini ini diukir dalam sikap duduk, sedang kedua tangan digmbarkan se dang mengadakan penyembahan terhadap sesua tu yang lebih tinggi, namun memiliki perwatak an seni yang dalam. Variasi hiasan di bagian ba wah patung induk terdapat sembilan ukiran relief manusia. Motif relief kelihatan sama de .. ngan kedua figur manusia yang terdapat pada ... · patung induk tapi berbeda dalam variasi.
Seandainya diperhatikan secara teliti, terdapat ·, .. : kesan yang menggambarkan tentang kekerasan
.......watak namun berfuni terhadap kehidupan
manusia sesuai dengan kepercayaan yang di anut.
Gambar68
Garn bar 68 llustrasi tari tongkat di kampung Lingga Kabanjahe Tanah Karo.
e. Patung Pulu Baleng. Ditilik dari fungsi pa tung pulu baleng yang terdapat di daerah Karo sama dengan patung penghulu baleng yang terdapat di daerah Simalungun dan Pakpak Dairi. Patung penghulu baleng mempunyai fungsi sosial yang tinggi bagi kepercayaan suku-suku Batak pada umumnya, oleh karena patung penghu lu baleng dapat memberikan bantuan dalam situasi kritis seperti gangguan oleh orang yang ingin berbuat jahat. Kare nanya patung sangat dihormati dan dikeramatkan. Sikap pa tung dipahat dalam posisi duduk, kedua tangannya memeluk kedua lutut yang tegak. Pandangan mata tajam ke depan, sedang pangkal hidung · dipahat menyatu dengan kening. Mulut dicukil sedikit terbuka, sehingga gigi yang diukir rata kelihatan jelas. Pada bagian bawah patung terdapat tujuh pa tung tengkorak manusia, dibuat sebagai penopang patung in duk. Patung penghulu baleng yang terdapat di daerah Karo selain terbuat dari bahan batu ada juga dibuat dari bahan kayu sedemikian rupa dipahat dengan ungkapan plastis yang kompleks. Jenis patung ini umumnya diberi warna
hitam sehingga memberi kesan magis terhadap ekspresi wajah yang menyeramkan, namun lebih dari pada itu ia juga memiliki nilai estetis terhadap perwatakan seni yang meling ku pinya.
Gambar 69 Pa tung nenek moyang Penghulu baleng Karo.
D. Media bahan dan Proses pembuatan Patung. Bahan pada patung-aptung yang terdapat di daerah Batak umumnya terbuat dari bahan kayu dan batu. Jenis kayµ yang dipakai adalah jenis kayu yang keras namun mudah dipahat, disebut kayu tenggolan (kayu besl). Peralatan yang dipakai untuk mengelola kayu-kayu itu sangat sederhana. Yakni kapak, parang, pisau, dan pahat, dibentuk oleh pandai besi disesuaikan dengan keinginan pemahatnya, sedang alat untuk penghalus dipergunakan tulang dan taring babi hutan.
98
Alat-alat yang bentuknya masih primitif seperti kapak batu yang dipakai oleh nenek moyang, umumnya tidak dikete temukan lagi, namun hasil peninggalan kultur megalit yang bertebaran di Tapanuli Utara, Simalungun, Pakpak Dairi, Karo, Angkola dan di beberapa daerah lainnya. Sejak semula, telah diuraikan bahwa suku-suku Batak umumnya percaya akan adanya roh-roh di segala tempat. Demikian pula pada kayu dan batu. Karenanya bahan-bahan kayu dan batu terse but umumnya sebelum diproses, terlebih dahulu diadakan upacara ritual sesuai anutan kepercayaan seperti yang diurai kan di atas. Terlebih apabila patung yang akan dibuat adalah patung yang menggambarkan nenek moyang. Oleh karenanya tidak aneh bahwa untuk memperoses sebuah patung mema kan waktu yang cukup lama, sebab mulai menebang sampai kepada memproses, pengadaan tukang (pemahat) tetap dilak sanakan menurut adat.
Menurut kepercayaan pemahatnya diberikan persyaratan persyaratan berupa sesajen di samping upah-upah (dipasu pasu) menurut adat dengan maksud agar pemahatnya mempe roleh kekuatan lahir dan batin baik waktu dimulai sampai ke pada akhir pembuatan.
Dengan demikian jelaslah untuk mengerjakan sebuah patung memerlukan pembiayaan yang sangat besar pula, terlebih lebih biaya pada waktu pesta penyelesaian dan perestnian patung itu. Biaya yang lebih besar dilakukan dikala memang gil roh nenek moyang untuk ditempatkan pada tubuh patung itu. Acara ini menurut lazimnya diadakan tujuh hari tujuh malam dengan mengadakan pesta tetabuhan dan mengorban kan berpuluh ekor babi ataupun kerbau. Disaat pesta inilah patung-patung itu disucikan dalam arti roh nenek moyang dimasukkan kedalam tubuh patung itu.
Bahan wama. Berdasarkan data dokumentatif penjelasan-penjelasan pandai ukir, bahan-bahan warna yang dipergunakan adalah warna hitam, putih dan inerah serta beberapa bahan warna lainnya seperti warna kuning, hijau yang lazim dipakai pada ornamen-ornamen Karo yang justru banyak mempergunakan warna-wama tersebut di atas.
Bahan warna tersebut itu pada mulanya diperoleh dari bahan bahan alam yang diproses secara tradisional yang kemudian secara berjenjang diwariskan turun temurun. Warna hitam dibuat dari bahan arang, sedang warna putih dibuat dari tulang atau kapur; warna merah dibuat dari bahan tanah dan tumbuh-tumbuhan ( kulit kayu ). Selain dari bahan itu untuk mem peroleh warna merah menurut orang-orang tua yang banyak menge tahui tentang masa Iampau, ada juga yang dibuat dari darah manusia (tawanan perang kerajaan), seperti halnya contoh patung raja Sida butar di Tomok. Pada saat belakangan ini bahan-bahan warna seperti di atas kini tidak dipergunakan lagi oleh para seniman pemahat Batak. Me reka lebih banyak memakai cat-cat hasil buatan industri.
Fung"Si warna selain sebagai pengawet dari istetis, juga tidak lepas dari aspek perlambangannya. Oleh karena kebanyakan pandai ukir di daerah Batak mentamsilkan arti dan makna wama-wama itu antara lain:
warna hitam melambangkan kemagisan penuh misterius, warna putih melambangkan kesucian hati, warna merah melam bangkan gagah, berani dan penuh semangat, wama hijau melambangkan kesuburan, dan warna kuning melambangkan keagungan.
Selain warna untuk mempoles patung agar kelihatan mengkifat dipak.ai minyak kemiri, sebagai hasil alam yang banyak terdapat di daerah Batak pada umumnya.
E. Peranan Senirnan. Seniman ukir (pemahat) oleh Masyarakat Batak digelar pandai, seperti pandai rumah, pandai emas, dan pandai ukir. Karya-karyanya sangat dihargai, oleh karenanya setiap pandai kedudukannya setingkat dengan pengetua-pengetua adat. Ia sangat dihargai dengan kedudukannya sebagai pemberi warisan seni bagi keturunanya. \la dianggap memiliki rahasia misterius, ia memiliki kemampuan ekspresi keindahan, kaya akan imaginasi yang kesemua nya ini tidak dimiliki oleh sembarang orang. Oleh karenanyalah
K.eahlian yang dimilikinya itu membuat dia disegani sama halnya dengar keseganan rakyat terhadap rajanya. Seorang pandai setiap
tenaganya dibutuhkan, dia mempunyai hak kuasa penuh atas karya yang diciptakannya, terlebih-lebih apabila pandai itu mempunyai
| yang | diciptakannya, | terlebih-lebih | apabila | pandai itu | mempunyai | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| funi selain sebagai seniman juga sebagai guru atau datu. Oleh ma | ||||||
| syarakat Batak Karo seniman seperti ini disebut guru mbelin (guru | ||||||
| besar). | Oleh karena | seni | patung | bagi masyarakat. | primitif | Batak |
| mempunyai seperti pa pentingnya peranan dan kedudukan seniman di dalam masyara kat di waktu itu. | kepentingan makan, rumah tempat tinggal, pakaian, maka jelaslah beta | tersendiri, | disamping | kepentingan | hidup | |
| Lebih puan ekspresi lebihan imaginasi yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dengan kemam | dari dan | pada itu para seniman dianggap keindahan yang mengagumkan, mempunyai ke | memiliki kemam | |||
| puannya, seniman ditengah-tengah masyarakat sangat dihormati. | membuat | orang | menjadi | terpesona; | karenanya | peranan |
BAB III TOPENG
Pandangan hidup sebagai gaktor utama yang melandasi sikap masyarakat Batak yakni setia kepada tata krama tradisional, setia dan taat kepada adat istiadat ( dalihan na tolu), setia dan hormat kepada nenek moyang. Kesetiaan inilah yang menyebabkan kebuda yaan masyarakat Batak itu pada umumnya tetap langgeng sampai saat sekarang.
Pada setiap upacara adat kepercayaan tradisional masih tetap menyertainya, seperti upacara turun kesawah, upacara memanggil hujan, dan memasuki rumah baru. Dalam hal ini, topeng selamanya tidak pemah tertinggal dalam setiap l,lpacara. Topeng adalah salah satu bagian dari seni patung dan mempu nyai kebutuhan spiritual sebagai sarana kepercayaan kepada nenek moyang. Oleh karenanya topeng-topeng itu selalu menyertainya pa da upacara-upacara adat. Kalau pada seni pa tung seperti contoh gam bar-gambar yang diterakan pada buku ini adalah gambaran tentang nenek moyang atau para leluhur yang mempunyai kekuatan magis, maka topeng-topeng itu juga mengandung nilai simbolis. Topeng yang terdapat di daerah Batak Karo disebut gundala-gundala sedang di daerah Simalungun huda-huda. Oleh masyarakat Pakpak Dairi disebut mangkuda-mangkuda .. Topeng itu ditampilkan pada upacara memanggil hujan di samping sebagai hiburan raja-raja, baik yang ma sih hidup atau yang sudah mati, terlebih-lebih oleh masyarakat Ba tak, raja dianggap sebagai pelindung kerajaan. Penampilan topeng-topeng baik topeng yang terdapat di daerah Batak Karo, daerah Simalungun, di daerah Tapanuli dan daerah Pakpak Dairi yang masih ada, cenderung kepada bentuk-bentuk teater seperti tari topeng yang kita dapati di daerah Jawa, Bali, dan Madura, yang menggambarkan tentang falsafah kehidupan se cara estetis dengan iringan musik dan lagu. Berhubung topeng-topeng yang terdapat di daerah Batak suQ.ah sangat Jangka, namun masih perlu dilestarikan, akan diuraikan secara ringkas dalam beberapa seginya. Betapa sebenarnya peran topeng di tengah-tengah masyarakat Batak, kiranya bisa dijadikan bandingan dengan peranan tooeng di beberapa daerah lainnya di Indonesia.
- Pengertian seni topeng Menurut bentuk dan kegunaannya topeng adalah alat yang dipa kai sebagai penutup muka sedemikian rupa dibentuk menyerupai muka manusia atau binatang. Istilah ini sudah umum diketahui orang, hanya bentuk dan mo tifnya yang berbeda. Di daerah Batak seni topeng yang masih ada lia nya terdapat di daerah yakni di daerah Simalungun, Tapanuli, Pak pak Dairi dan Kar9. Jika diperhatikan bentuk ataupun motifnya topeng yang terdapat di emp::it dae_rah itu antara satu daerah dengan daerah lainnya mempunyai perbedaan baik bentuk ataupun funi kegunaannya di sa mping beberapa segi kesamaannya. Bentuk seni topeng yang terdapat di daerah Batak pada umum nya berbentuk patung kepala manusia, hanya pada bahagian tengah dibuat berongga cukup untuk disarungkan pada kepala manusia bias a. Jenis pertokohannya tidak sebanyak seperti corak topeng yang terdapat di pulau Jawa. Bali dan Madura. Demikianlah pengertian seni topeng yang terdapat di daerah Batak adalah alat penutup muka yang menyerupai manusia atau bi natang digunakan untuk memanggil roh nenek moyang yang digam barkan dalam ujud topeng. Dengan demikian kehadiran topeng jelas bahwa pada mulanya dibuat sebagai penghormatan terhadap nenek moyang di samping dipakai pada upcara-upacara adat dan kematian.
- Asal mula topeng Batak. Kehadiran seni topeng di daerah Batak usianya belum menca pai ratusan tahun bahkan seni topeng (gundala-dundala) di daerah Karo dikenal pertama kalinya pada tahun 1905. Hal ini diceritakan oleh Almarhum Pirei Depari kepada pewancara Sdr. J. Tarigan yang penulis hubungi. Seperti yang telah diuraikan terdahulu bahwa topeng yang ada di daerah· Simalungun, Tapanuli, Pakpak Dairi dan Karo bentuk dan coraknya berbeda. Oleh karenanya perlu diungkapkan tentang la ta belakang sejarah kehadirannya ... · Topeng yang .terdapat di dae rah Simalungun, Tapanuli, Pakpak Dairi Karo sama halnya dengan topeng-topeng yang terdapat di daerah-daerah lain di Indonesia menurut kami kesemuanya berasal dari pengaruh kebudayaan Cina.
103
Penegasan dari yang telah dibicarakan di atas kita lihat pada kutipan di bawah ini:
" ... bahwa kebudayaan Chelon atau perunggu dibawa orang dari dataran Asia ke kepulauan Indonesia pada lebih kurang 500 Sebelum Masehi. Teori ini dapat dibuktikan penemuan-penemu an di daerah Teluk Tonkin di Dongson menunjukkan persama annya dengan masa itu di Indonesia. Bahkan kemudian zaman Chelcolith di sini sering disebut pula Zaman Dongson.
Tentang keseniannya, di zaman ini seni hias tampak maju sekali. Benda yang dibuat masa itu umumnya selalu dikenakan perhias an perhiasan, bahkan artur pada nekara atau moko perhiasan mana hampir memenuhi bidangnya.
Mesti saja beberapa motif perhiasan yang khas zaman Dongson tampil ke depan turut memperkaya seni hias Indonesia."10) p,engaruln kebudayaan yang datang dari luar di samping kebudayaan Dongson yang datang ke Indonesia jelasnya turut membantu memperkaya seni rupa Indonesia. Demikian halnya dengan seni to peng yang ada di Indonesia.
Barongsai yang sering diperagakan pada setiap acara tahun baru Cina, juga mem bawa pengaruh kepada perk em bangan seni topeng di wilayah tanah air. Penegasan selanjutnya terdapat pada kutipan di bawah ini: "Mengenai hiasan kodok/topeng yang temyata motif ini terda pat hampir pada semua bangsa dimasa prasejarah, maka topeng ini kadang digambarkan hanya sepasang mata. Hal ini mungkin karena menganggap bahwa mata mempunyai daya sakti/magis yang paling banyak" .11)
10). Drs. J. Manurung, Diktat Apresiasi Seni hal. 17 IKIP, Medan.
11). Ibid, hal. 18.
Uraian pada kutipan di atas memperjelaskan kembali tentang uraian-uraian yang terdahulu bahwa seni topeng yang terdapat di daerah Simalungun, Tapanuli, Pakpak Dairi dan Karo mempunyai daya· magis, sekalipun bentuk a tau pun coraknya berbeda-beda.
Di lain hal perlu dicatat bahwa proses perbedaan bentuk itu ter jadi akibat proses perkembangan kebudayaan yang terus mendesak hingga di penghujung abad XX sekarang ini. Dari awal tulisan ini kami telah kemukakan bahwa fungsi seni rupa (seni patung) yang terdapat di daerah Batak dan Nias mem punyai peranan yang sangat fundamental, demikian juga halnya de ngan seni topeng itu sendiri. Ditinjau dari kehadiran seni topeng di daerah Batak jelas ber asal dari kebudayaan Dongson. Pengaruh dari kebudayaan ini akhir nya memberi wama kepada kebudayaan Batak umumnya. Di daerah Batak Tapanuli bukti peninggalannya masih dapat kita lihat pada omamen-ornamen yang bertaburan pada dinding-dinding rumah adat tradisional, hanya seni topeng di daerah tersebut tidak berkembang seperti halnya seni topeng yang terdapat di daerah Simalungun dan Karo. Untuk membicarakan perkembangan seni topeng selanjutnya kami awali dengan seni topeng yang terdapat di daerah Simalungun, sebagai awal dari kehadiran seni topeng di daerah Batak.
a. Seni Topeng di daerah Simalungun. Topeng yang terdapat di Simalungun mulanya diawali pada za man kekuasaan raja-raja Simalungun. Disebabkan oleh mangkatnya putra tunggal raja, suasana kerajaan diliputi kesedihan terlebih-le bih bagi permaisuri raja (puang bolon). Penderitaan yang dialami · raja membuat kekhawatiran sehJruh keluarga dan rakyat negeri, sampai kepelosok Pakkalan Bolon daerah tempat pengambilan nira (bargot). Oleh keluarga istana berusaha untuk menghibur raja nemun usaha itu sia-sia. Akhimya timbul ide, untuk mengadakan sebuah pertunjukkan dengan lakon yang lucu di hadapan baginda raja yakni tari topeng. Bahannya terdiri dari pelepah bambu yang dibentuk menyeru pai tampang manusia yang lucu, bahkan ada juga yang membuatnya
dengan pelepah enau. Penyajiannya dilakonkan dengan gerakan-ge rakan tari yang sangat lucu. Usaha ini kiranya dapat menghibur raja dan permaisuri (Puang bolon). Terakhir tarian-tarian ini menjadi kesenian rakyat yang diberi nama tari huda-huda.
Demikianlah topeng-topeng yrng pada mulanya dibuat dengan sangat bersahaja itu, akhimya dibuat dengan bahan kayu yang tahan lama, diukir dengan pewamaan sedemikian rupa sehingga kelihatan agak lucu. Menurut data dokumentatif topeng-topeng yang terdapat di daerah Simalungun inilah sebagai awal dari kehadiran topeng topeng yang terdapat di daerah Batak pada umumnya
Gaya Seni Topeng Simalungun.
Topeng Simalungun terdiri dari empat jenis saja, sesuai dengan tokoh yang melakonkannya, yakni sebuah topeng wanita dan dua buah topeng pria serta sebuah topeng burung. Bentuknya mencer minkan sikap suku Batak Simalungun secara estetis dalam bentuk wajah yang bujur telur, cukup untuk penutup muka. Sikap karak teristik gaya topeng Simalungun dapat dilihat dari polesan wama, se demikian rupa sehingga tampak romantik.·Pada topeng tidak digam barkan wajah-wajah seran atau menakutkan seperti topeng-topeng Batak lainnya, sesuai dengan fungsinya yakni topeng yang diperge larkan untuk menghibur raja yang ditimpa musibah. Namun demi kian bentuk topeng dilihat secara frontal termasuk seni plastik yang tergolong kepada kesenian rakyat dengan gaya lokal yang tetap terpelihara. Ciri-ciri lain dari gaya seni topeng Simalungun dapat pula dill-
- hat dari ekspresi wajahnya yang cukup berendah hati, tidak dinamik namun memberi kesa'n optimisme ekspresif dan mempesona. Selain dari pada itu topeng 'sebagai bentuk teater tradisional mendapat tempat di hari rakyat dengangayanya yang spesi_fik serta mampu me nyampaikan kesan tentang hasil kesenian yang sifatnya tradisional itu sebagai hasil kesenian rakyat di forum nasional.
106
Gambar.70 Seperangkatan topeng-topeng Simalungun setelah mendapat penga ruh ke arah konsepsi topeng masa kini. Topeng diukir dari bahan kayu lunak, tampak ekspresif dekoratif dengan hiasan-hiasan lainnya ditempelkan serat nanas dan ijuk yang dapat memberi kesan natu ralistis. ·
Topeng Simalungun I detail wajah tampak sebuah eksp resi raut muka memberikan
| kesan-kesan | kegembiraan. | ||
|---|---|---|---|
| Bentuk natural, proporsi anatomis, s.esuai dengan wajah manu sia biasa. Ini dapat kita lihat letak susunan mata, hidung, mulut dan telinga serta ram | topeng ini tampak | ||
| but, | kumis, | dan | jenggot |
| yang | ditempelkan | denagn |
ijuk secara aplikatif. (Keterangan gb. 71)
Gambar7I
Topeng Simalungun II. Eks presi wajah seirama dengan karakter yang sedang mem bujuk untuk tidak memikir kan le.bih dalam atas musi bah yang dideritanya. Sebab yang hilang dan pergi tidak akan kembali, sesuai dengan konsep lakon topeng itu. (Keterangan gb. 72) Gambar 72
Topeng Simalungun III Dua buah ilustrasi pada hala man ini, kita melihat materi yang lebih lengkap. Kain me rah yang dibuat sebagai keru dung kepala memberi perlam bang dan makna yang tinggi. Warna merah denga variasi t
| peng | secara | menyeluruh. | Se |
|---|---|---|---|
| dang | makna symbolis warna | ||
| merah | itu | sendiri bagi | suku |
| Batak umumnya selain bang keberanian, juga mencer | Iam | ||
| minkan suku-suku Batak pada umum | karakter/perwatakan | ||
| nya. | (Keterangan gb. 73) |
Gambar 73
Topeng Simalungun IV
| Topeng | yang | dilengkapi | |
|---|---|---|---|
| dengan (aplikatif) ijuk enau sebagai rambut, tergambar apa yang | Qtemberi tempelan | ||
| diilhami | oleh | pembuatnya | |
| yakni ekspresi yang berbeda dise suaikan denga lakon topeng | form muka | dengan | |
| sebagai | teater | rakyat, | di |
| samping | funinya | sebagai |
sarana tarian menghibur raja dari duka nestapa. (Keterangan gb. 74) Gambar 74
Gambar 75, Topeng Burung pada ilustrasi gambar ini dibuat sebagai pelengkap tari huda-huda. Bahannya dibuat asli dari paruh burung enggang yang diikat pada sebatang kayu sedemikian rupa dibalut dengan kain merah sebagai lambang keberanian. Mabie/ design yang diikatkan pada paruh dan kepala memberi arti tersendiri pula sesuai dengan makna yang terkandung pada warna-warna yang diterakan. Secara universal warna-warna itu memberi arti dan perlambang ter sendiri yakni: merah lambang keberanian; putih lambang ketulusan hati, sedang warna hitam lambang magis, relegius.
b. Seni Topeng di Daerah Tapanuli
' Seni topeng yang terdapat di daerah Tapanuli semula berasal dari sebuah legenda berkisar.tahun 1906, yakni tentang kisah seorang ibu yang kematian putranya yang tercinta. dari legenda ini jelas adanya kesamaan dengan kehadiran seni topeng di daerah Sima lungun; Justru kehadiran topeng itu semata-mata untuk menghibur para musibah yang ditinggalkan oleh seseorang yang sangat dikasihi.
Topeng-topeng yang terdapat di daerah Batak Tapanuli umum nya dibuat sepasang yakni Topeng pria dan topeng wanita, dengan ukuran sekedar cukup untuk penutup muka.
Topeng ini dipergelarkan lewat tarian-tarian dengan -iringan tetabuhan Batak tanpa dialog yang khusus, namun memberi kesan yang dapat menggembirakan bagi yang ditimpa musibah. Dari kenyataan sejarah perkembangan topeng-topeng itu tidak berkembang seperti topeng (tembut-tembut) yang terdapatidi daerah Karo.
Topeng si Gale-Gale: Adalah sebuah kayu yang dibentuk sedemikian rupa menyeru pai manusia dilengkapi dengan kostum tradisional batak. Boneka/patung si Gale-Gale jika diperhatikan bentuknya sama dengan topeng biasa, hanya pada boneka/patung· si Gale-Gale diberi kerangka yang dibalut dengan kostum yang lengkap kemudian pada bahagian-bahagian tertentu diberi bertali untuk dapat digerak gerakkan menuruti irama tetabuhan yang dikendalikan oleh seorang dalang. Dengan demikian si Gale-Gale sama dengan Teater Boneka (Puppet theater). Si Gale-Gale dalam bahasa Indonesia diartikan lemah lembut, namun dapat mempesona. Sejarah kehadirannya dibuat sebagai peng hibur seorang ibu yang kematian putra satu-satunya yang telah me ningkat remaja. Dalam hal ini sang ibu benar-benar mengalami duka nestapa yang sangat dalam, sehari-harian putranya yang ia cintai itu diratapinya. Sebagaimana lazimnya seseorang yang telah meninggal harus dikebumikan, namun putra yang menjadi idaman hatinya itu tidak diperkenankan untuk
Akhirnya oleh seorang pandai (pengukir) berusaha membuat sebuah patung (boneka) kayu yang menyerupai wajah"putra sang ibu yang ditimpa kemalangan itu sebagaimana bentuk patung (boneka) · si gale-gale. Sewaktu si ibu dalam keadaan tidak sadar, mayat itu di-
11 l
gantikan dengan patung yang dibuatnya. Kemudian mayat itu diam bil lalu dikuburkan. Setelah sang ibu sadar kembali dinyatakan bah wa putra yang dikasihinya telah beranur sembuh ..
Demikianlah akhirnya hal kejadian itu tersiar keberbagai desa, bahwa putra sang ibu yang dicintainya itu sudah hidup kembali, kendatipun mayat itu masih dalam keadaan lemah.
Penjelasan ini kiranya sama dengan arti si gale-gale seperti yang diuraikan terdahulu yakni si lemah lembut. Akhirnya legenda rakyat masyarakat Batak itu berubah menjadi teater rakyat yang cukup digemari oleh semua masyarakat Batak, pacia umumnya.
Legenda tentang si gale-gale menurut perkiraan masyarakat Batak yang penulis peroleh dari informan menyatakan bahwa keha dirannya bersamaan dengan seni topeng yang terdapat di daerah itu. Oleh karenanya legenda itu tidak diketemukan di dalam hika yat-hikayat lama suku Batak Toba ataupun pustaka Batak. Daerah asal terjadinya si gale-gale bermula terdapat di Toba Holbung di sekitar Soposurung Balige Tapanuli Utara, kemudian menyebar ke daerah Samosir dengan sebutan Raja Mangulape.
Upacara si Gale-Gale sebenarnya tidak menjadi kebiasaaan di daerah-daerah lain di Tapanuli, tetapi berhubung permainan (lakon) si gale-gale sudah sangat populer akhirnya si galegale menjadi salah satu bagian dari kebudayaan masyarakat Batak.
Funi si gale-gale bagi masyrakat Batak Toba dibuat sebagai pengisi upacara adat kematian, memanggil roh nenek moyang, de ngan tujuan memuliakan roh-roh nenek moyang yang dianggap baik. Setelah masuknya agama Kristen upacara si gale-gale dilarang karena si gale-gale dianggap sebagai bagian dari kepercayaan animisme, oleh karenanya pada saat sekarang seandainya si gale-gale dipagelar kan· funinya terlepas dari aslinya yakni hanya sebagai hiburan atau tontonan biasa.
Sarana Pendukung
Upacara si gale-gale dipertunjukkan di halaman rumah orang yang ditimpa kemalangan, dilengkapi dengan peralatan gondang yang dibuat sebagai musik pengiring. Patung (boneka) si gale-gale itu didi rikan di sebuah peti empat persegi panjang dengan memakai roda
guna memudahkan membawa ketempat mana akan dipertunjukkan. Pada bahagian peti yang menghubungkan bagian anggota patung si gale-gale dibuat tali-tali yang fungsinya sebagai alat menggerak-ge rakkan patung (boneka) itu dengan cara tarik ulur. Gerakan-gerakannya disesuaikan dengan irama gondang, sede mikian rupa kelihatan seolah-olah gerakan manusia biasa.
| Topeng | Batak Tapanuli ( ano | ||
|---|---|---|---|
| nim). | Bentuk | topeng dengan | |
| elemen-elemen tampilkan kita teringat kepada motif hiasan totem dari ( Afri ka dan Irian Jaya), yang mem beri kesan dinamik dan mena | garis | yang | |
| kutkan. | (Keterangan | gb. 76) |
di
Gambar 76
Topeng pada gambar berikut kita melihat penampilan wajah yang lebih ekspresif kaku namun ber wibawa. (Keterangan gb. 77)
Gambar 77
Dua buah topeng Ba tak (tapanuli), buatan nya lebih halus dengan gaya naturalis anato mis. Eksresi wajah mengarah padaekspresi manusia biasa. (Keterangan gb. 78)
Gambar 78
Topeng sigale-gale versi Batak Si malungun. Bentuk topeng ini bersamaan
| Bentuk | topeng | ini | bersamaan |
|---|---|---|---|
| motif dengan topeng si gale-gale | |||
| versi | Batak | Toba. Hanya dalam | |
| kostum disesuaikan dengan kostum pakai an daerah masing-masing. Detail lisasikan dapat orang lain.1 (Keterangan | kita wajah tempramen wajah yang memberikan kegembiraan | melihat tampak memvisua | perbedaan gb. 79) |
Gambar 79
Topeng si gale-gale versi Batak Toba pada elustrasi ini tergam bar sifat-sifat lain selain fung sional tampak sifat magis, eks presif dekoratif. Gambar 80 (Keterangan gb. 80)
c. Seni Topeng di Daerah Pakpak Dairi Di daerah Pakpak Dairi seni topeng tidak berapa berkembang ji ka dibandingkan dengan seni topeng di Simalungun di Karo. Keha dirannya diperkirakan sekitar abad XIX. Fungsi topeng dipertunjukkan untuk keperluan upacara ritual di samping upacara khusus sebagai hiburan raja-raja. Pada zaman dahulu pertunjukan tari topeng dipakai juga pada upacara kematian dan penobatan raja disamping sebagai pen'olak bala. Hal itu dapat disaksikan dari pakaian dan perlengkapan yang disebut KatumJ:mt atau sejenis topeng yang bermuka ramah dan bijaksana. Jelasnya fungsi topeng yang terdapat di daerah Pakpak Dairi lebih mengarah kepada ritual magis.
d. Seni Topeng di Daerah Karo Seni topeng (gundala-gundala) seperti yang dimukakan sebe lumnya usianya lebih muda jika dibandingkan dengan seni topeng di daerah Simalungun dan Pakpak Daari. Daerah-daerah di Kabupaten Karo topeng masih banyak dapat kita temui. Oleh karenanya seni topeng yang terdapat di daerah Batak umumnya, sebagai contoh diambil Tanah Karo justru potensi seni topeng sampai saat ini masih banyak, kendatipun kegunaanya sudah terlepas dari fungsi semula. Desa-desa di Karo yang masih memiliki topeng tradisional diantaranya: desa Sukanalu, desa Juma Padang, desa Guru Singa, desa Siberaya, desa Kubu Colia, dan desa Lingga. Seni topeng yang terdapat di daerah Karo diperuntukan bagi keperluan pertunjukan hari-hari besar Nasional di samping keper luan upacara-upacara adat dan tontonan rakyat yang bersifat pen didikan.
116
Selain upacara itu topeng juga dipertunjukkan untuk upacara penolak bala, upacara penanaman benih, penyambutan 1tamu agung, bagian dari tari dengan iringan gendang tradisional Karo. Pertunjuk kan tari topeng tradisional Karo dilakonkan oleh para pemainnya dengan gaya komedi tanpa dialog.
Pertunjukkan topeng,1 dimainkan oleh lima orang yang berperan sebagai:
raj a/ panglima,. permaisuri (kemberahen), putri raja (anak perempuan), menantu (kaila), dan musuh (burung si gurda-gurdi).
Gambar 8,t. Seperangkatan topeng basil karya Pa Trupung, ekspresi wajah dari ke empat macam topeng kelihatan berbeda satu dengan yang lain disesuaikan dengan lakon cerita yang dibawakan, namun jika di perhatikan detail wajah pada topeng itu jelas senimannya meng ekspresikan raut muka penuh dengan ambisi terhadap kemenangan untuk menaklukan musuhnya si gurda-gurdi.
Selain fungsi dari yang telah diuraikan di atas, seni topeng tra disional:Karo juga mempunyai fungsi simbolik (perlambang) tersen diri diantara topeng-topeng tradisional Batak lainnya.
Dari hasil ciptaan Pa Trupung yang terkenal dengan seni topeng seberaya, kita dapati beberapa fungsi yang mengandung pengertian simbolik, seperti yang terdapat pada topeng raja (panglima). Wama hitam yang disapukan pada wajah topeng merupakan ma nifestasi yang memberikan kesan magis dan menakutkan, sedang pa da bahagian gigi yang ompong dengan alis, kumis, dan jenggot yang memutih adalah simbul ketuaan.
Sapuan warna kuning pada wajah topeng wanita dan perhiasan seperti anting-anting serta gigi yang kelihatan masih sempuma adalah lambang kecantikan dari seorang wanita.
Patung burung si gurda-gurdi (burung enggang) pelengkap dari topeng-topeng di atas adalah lambang kejahatan, dan secara tuntas harus dimusnahkan. Topeng-topeng yang fungsinya sebagai simbol (perlambang) tentang kehidupan (kritik sosial) banyak diungkapkan lewat tari topeng karya Karim Ginting. Jelasnya topeng-topeng buat an Karim Ginting lebih banyak mengantarkan kita kepada dunia pen didikan, moral yang tinggi yang harus diteladani baik anak-anak, re maja dan dewasa.
Gaya Seni Topeng Tradisionil Karo
Topeng dalam istilah Karo disebut gundala-gundala. Topeng ini memiliki gaya (tipe) yang berbeda-beda, walaupun pada garis be sarnya mempunyai bentuk dan ujud yang sama. Dari keseluruhan topeng-topeng yang diketemukan, ditilik dari bentuk dan gayanya dapat dibedakan atas lima macam. Perbedaan dari ke lima mcam bentuk ini didasari oleh daerah dari mana topeng itu diketemukan.
- Caya ( tipe) seni topen_g di desa Lingga.
... Ciri yang menyolok dari topeng ini dapat kita lihat pada ben tuk wajah yang persegi. Kedua rahang kiri dan kanan sudutnya naik lurus ke atas, bertemu pada bagian kepala yang diiris hori sontal sedemikian rupa dengan sudut depan terdapat sapuan sapuan lengkung sehingga tidak terdapat pinggiran-pinggiran yang tajam.
Batang hidung kelihatan seolah-olah menyatu dengan kening, mata dibentuk agak natural dengan biji mata yang ditembuk (dilobang) berfungsi untuk tempat melihat. Sekeliling mata di cat hitam membentuk elips sehingga memberi kesan yang me nyeramkan. Mulut dicukil lurus agak membuka dan melebar kesamping sehingga kelihatan bentuk gigi yang dipahat rata, disebut dalam bahasa Karo gigi kiker. Dagu dipahat segi sehing ga kelihatan segi dengan sudut-sudut yang tumpul. Materi to peng terdiri dari dua macam bentuk dengan ekspresi wajaij yang berbeda, disesuaikan menurut peran (lakon) topeng yang di pagelarkan ..
GAY A TOPENG LINGGA.
Gambar 82a Tampak Depan
Garn bar .82i b Tampak samping
Gambar 83 a Gambar 83 b Tampak depan Tampak1samping
- Caya Seni Topeng Seberaya Karya Pa Terupung
| Gambar | 84 | ||
|---|---|---|---|
| Topeng hitam. | |||
| Topeng ini dipagelarkan sebagai peran raja | |||
| guru lanjut usia. Rambut, alis, kumis, dan jenggot ditempel dengan bulu kambing putih, sedang giginya dibuat ompong. Ekspresi wajah mem | mbelin. | ||
| beri dengan jiwa nervus dan ketegangan emosi yang kuat. | kesan kekerasan watak (solide) | dan kekuasaan "power |
1.
(panglima), datu· atau Bentuk topeng digambarkan seorang raja yang sudah
full"
Gambar 85 Topeng Kemberahen (Permaisuri Raja)
2.
Gaya pada topeng ini memperli hatkan ekspresi wajah yang lemah lembut, luwes dalam sikap, dan periang. Putri yang ditokohkan pada topeng inidilengkapi dengan perhiasan anting-anting (kudung. kudung) sehinggakelihatanmanis tampan sebagai putri raja. (Keterangan gb. 86)
Pada topeng ini kita melihat ekspresi wajah digambarkan oleh pemahatnya karakter to koh seorang wanita sebagai maisuri raja yang berbudi lu hur. la mangagumi suaiminya sebagai panglima yang dapat menaklukan seekor burung yang ganas namun dapat diji nakkan, kendatipun akhirnya burung yang menjadi kesayang an putrinya terpaksa dibunuh nya, karena putri raja yang-sangat disayanginya nanar menjadi mangsa burung yang ganas itu. (Keterangan gb. 85)
Gambar 86 3: Patung Putri Raja
| Pada | topeng | ini kita | melihat |
|---|---|---|---|
| per.watakan1 seorang | laki-laki, | ||
| patuh raja. Ekspresi wajah topeng ke | dan | setia pada | titah |
| lihatan penuh keteoangan mun berwi.bawa. | 'na | ||
| ' (Keterangan | gb. 87) |
Gambar 87
- Topeng Kaila (menantu raja) Menurut leganda Karo. burung ini adalah burun,g raksasa pemakan manusia Bentuk paruhnya menye ru pai paruh burung raksa sa, dengan ekor yang cu ku p panjang. Burung ini dalam lakon dapat dige rakkan oleh pelakonnya sendiri. (Keterangan gb. 88)
Gambar 88 Pa tung burung ( manok si gurda-gurdi).
Gambar 89 Bagian-bagian lain selain topeng sebagai penutup muka, terdapat patung tangan yang terbuat dari bahan kayu denganposisi jari di bentuk lurus.
Garn bar 90
Jika diperhatikan bentuk/ corak topeng (gundala-gundala) yang ter dapat di daerah Karo, umumnya mengarah pada corak dekoratif. Daya cipta serta variasi pemahatnya menyederhanakan bentuk se demikian rupa digayakan tanpa mengubah pola dasamya, dan peng ambilan gambar ditonjolkan kearah keutuhan motif.
Gambar 91
Tari gundala-gundala (tari topeng) dipagelarkan di tengah-tengah masyarakat dalam menyambut hari kemerdekaan 17-8-1945.
- Gaya Seni Topeng di Desa Kubu Colia (Kabanjahe) Seni topeng di desa Kubu Colia Karya Pa Milo, ciri-cirinya ber bentuk bujur telur terdiri dari topeng pria dan topeng wanita. Pada topeng ini mulai dari kepala sampai kebagian dagu secara keseluruh an terdapat sapuan-sapuan lengkung yang artistik, dalam perwujud an seni topeng plastik. Ekspresi wajah tergambar pada pewarnaan topeng di sam ping perwatakan lewat mata, hidung dan mulut yang dipahat melebar pada bagian kiri dan kanan, sehingga susunan gigi jelas terlihat. Pada topeng pria diberi warna dasar hitam, kemudian warna putih dibuat pada alis, kumis, dan jenggot ditempel secara aplikatif dengan bulu beidar (sejenis kambing hitam), sehingga pada topeng itu memberi warna karakter seorang tokoh ksatria, disamping kesera man wajah dan kewibawaan. Bentuk dagu dibuat memanjang keba wah hingga kebagian dada, seolah-olah seperti lebah bergantung.
Simbolisme warna hitam pada topeng buatan Pak Milo mem punyai nilai dan makna yang tinggi, karena sesuai dengan ujud to peng itu, dimana kaitannya mempunyai hubungan dengan kehidup an manusia yang ketergantungan hidupnya pasrah kepada kemurah an dari sesuatu yang lebih tinggi yakni yang dapat memberi sumber air pada waktu kemarau panjang.
Tokoh lain kita melihat topeng wanita (istri raja) dengan sa puan warna dasar kuning, alis dicat hitam melengkung dengan ta
| puan warna | dasar | kuning, alis dicat hitam melengkung dengan ta | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| tapan mata bar seorang wanita cantik. | yang mempesona, | sehingga ekspresi wajahnya tergam | ||||
| Sesuai kuasaannya ia mudah untuk mendapat permaisuri (istri) gadis-gadis yang masih muda belia. Dilihat dari segi seni plastik topeng buatan Pak Milo mempu | dengan | kedudukan raja | dasar | ke | ||
| nyai nilai daerah | estetis Karo pada umumnya, justru topeng-topengnya sudah leb1h | tersendiri | dari beberapa topeng yang terdapat | i | ||
| banyak | mengarah | kepada | cita rasa seni abad | ini. (lihat | gambar). |
zaman dahulu, atas
?
| Bentuk' | topeng | hitam divisuali | |
|---|---|---|---|
| sasikan oleh senimannya kepada | |||
| karakter | (tokoh) | seorang | raja. |
| Detail | topeng | kelihatan | tata |
| pan mata dang alisnya ga tampak wajah yang menakut | tajam dicat putih sehing | kedepan | se |
| kan sesuai | dengan | fungsi | to |
| peng, | kumis ditempelkan | (apli- | |
| . kasif) | dengan bulu | kambing hi | |
| tam, dagunya wah seolah-olah peng yang dekoratip. (Keterangan gb. 92) | memanjang | bagai motif to | keba |
Gambar 92 Ilustrasipatung karya Pak Milo
Topeng berikut diberi warna ku-' ning (Lambang keagungan sela
| ning | (Lambang | keagungan sela | |
|---|---|---|---|
| ras dengan gai puteri raja). Detail topeng di beri hiasan (anting-anting) sedang | kedudukannya | seba | |
| bentuk dibuat mengarah kepada seni na | wajah | oleh senimannya | |
| turalis, ekspresi, magis. (Keterangan gb. 93) | dalam | unsur | dekoratif, |
Gambar 93
- Ga ya Seni Topeng Desa Barus Jahe. Bentuk lain yang hampir bersamaan dengan topeng buatan Pak Milo namun lebih mengarah kepada bentuk naturalis, adalah to peng yang dibuat oleh Pakih Barus. Topeng karya Pakih Barus tidak diberi warna sebagaimana lazimnya topeng-topeng yang biasa dilihat. Selain rautan-rautan yang cukup halus pemahatnya menonjolkan tek tur bahan (kayu) sebagai warna. Ekspresi wajah oleh pemahatnya dibentuk sedemikian rupa tanpa mengubah keaslian ekspresi wajah manusia biasa.
Garn bar 94 a Gambar 94 b Tampak depan · Tampak samping llustrasi topeng karya Pakih Barus, dibuat sebagai duplikat topeng topeng yang terdahulu, dengan melpaskan fungsi aslinya yakni ri tual magis. Topeng ini hanya dibuat sebagai dekorasi disamping me lestarikan kedudukan seni topeng Batak Karo di tengah-tengah seni topeng Nusantara.
Gambar195 Tampak bawah
Gay.1 Seni Topeng Jarang uda Berastagi Ua1i hasil observasi berdasarkan data dokumentatif perwajahan seni topeng hasil karya Karim Ginting fungsinya khusus yakni sebagai pelengkap peran tentang cerita rakyat dalam penampilan kesenian Karo (teater rakyat). ·
Lakon topeng dipagelarkan secara humor, namun bertujuan kepada pendidikan, dan sindiran-sindiran ironis, tingkah laku yang kurang senonoh yang sering terjadi di kalangan masyarakat, sombong, ang kuh dan lain sebagainya. Kelompok topeng terdiri dari :
Ale-Ale Jombo Jenis topeng ini dipagelarkan lewat peran yang berpembawaan (lakon) lucu.
Mata hihim Jenis topeng yang bentuk matanya me nonjol (melotot), peran. yang berpem bawaan (lakon) orang yang sombong.
| Kera simodong-modong | Jenis | topeng | yang | menyerupai | wajah | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| kera | berperan | sebagai | tukang | ngintip. | ||
| Propusaga | Jenis hutan damai. | topeng (mawas) | yang berperan | menyerupai | orang sebagai juru | |
| Impal Ale-ale Jombo Bentuk | atau gaya topeng karya Karim Ginting mengarah segi | Jenis (pacar) ale-ale Jombo. | topeng | wanita | sebagai | partner |
| empat dan sesuai dengan sifat dan karakter menurut peran yang dilakon kan. | yang agak | dengan proporsi | wajah | yang berbe | ||
| Tehnik | pemakaian | topeng | sama | dengan | pemakaian | topeng |
| tradisional | Simalungun | yakni | sekedar | diikatkan | dibahagian wajah, | |
| sedangkan | topeng-topeng | lain | seperti | topeng | karya | Pak Ndokar, |
| Pak Milo, | dan Pokih | Barus pemakaiannya | disarungkan | di kepala. |
memendek
Gambar 96
Seperangkat topeng hasil ciptaan Karim Ginting. Bentuk toptmgnya membawa kita kembali ke alam primitif. Diukir seadanya namun mempunyai fungsi yang kuat dan sangat menentukan sebagai peleng kap lakon cerita yang dibawakan.
Gambar 97
Propusaga digambarkap. dalam peran (lakon) orang yang selalu meng inginkan perdamaian, sesuai dengan cerita topeng yang disuguhkan dalam judul: Kacingangngang Kacimbuah tarum Erngangngang luah yang artinya kira-kira pertengkaran yang tidak membawa hasil. Oleh karenanya untuk mengetengahi hal itu diperlukan lakon penegak kebenaran.
| Kera | Simondong-mondong | (mo | ||
|---|---|---|---|---|
| nyet yang kusut pikiran). Topeng | ||||
| divisualisasikan oleh senimannya | ||||
| sebagai | lakon | tukang ngintip. | ||
| Pengolahan disain tampak seder | ||||
| hana namun memberi kesan kca | ||||
| rah sesuai tatapan seni primitif. (Keterangan gb. 98) | ekspresi | wajah | yang | kusut. |
Gambar 98 a.
| Mata | hihim (mata | melotot) |
|---|---|---|
| Bentuk topeng (wajah) diolah | ||
| mendekati bentuk proporsi a | ||
| natomis, sekalipun | disana-sini | |
| kita masih sur dekoratif, ekspresif. Lakon (peran) topeng gambaran sese | melihat | unsur-un |
| orang domba sehingga menimbulkan | yang suka | mengadu |
| perselihan (Keterangan gb. 9 | dan | pertengkaran. |
J, Gambar 98b,
Ak-Ale Jambo. ropeng ini d1ilhami oleh penc1,. 1ariya sebagai lakon (peran) sc11 ra11g yang penuh humor (!11.-:-.. •
| penuh | humor (!11.-:- | ||
|---|---|---|---|
| Namun nHmgerti mcngenai masalaL | demi.kian | ia | ma:,1> |
| dupan | kem;musiaan. | Benn..<- | c |
| hatannya mitif. sungguhpun konsep pe•• | rnasih | terasa giya | |
| lahannya topcng naturalis. (Keterangan gb. 99) | bertol ak dalam ben |
I» :i, ·.
Gambar 99
lmpal Ale-Ale Jambo (kekasih/ pacar Ale-Ale Jambo) l.akon to peng ini adalah pendamping ke kasihnya (Ale-Ale Jambo), sea rah sehaluan dalam ide dan pen dapat dalam menyelesaikan per-• masalahan. Diilhami oleh pen ciptanya peran topeng ini seba gai cermin, kedudukan perada ban seorang wanita, dipahat se derhana tanpa meninggalkan unsur-unsur dekoratiC sebagai pola seni prirnitif. (Keterangan gb. I 00)' GambarIOO
| Bentuk | topeng | diungkapkan |
|---|---|---|
| secara impresif nya kedalam pola primitif. Ku lit kambing hitam, dibuat se cara aplikatif membentuk ram but mata dicukil terbelalak, se | oleh seniman | |
| hingga | topeng | kelihatan |
| .raim pat memberi inspirasi gaya ke arah bentuk topeng yang ideal. (Keterangan gb. 1 O l ) | menakutkan. | Namun da |
| Sebagai | seorang | seniman | yang | kreatif, | Karim | Ginting masih |
|---|---|---|---|---|---|---|
| terus | menciptakan | topeng-topeng | barunya, ini | berarti | terciptanya | |
| pula sebuah yang dibuat empat buah ilustrasi yang diterakan pada halaman beri kut ini, yang bertujuan untuk pendidikan. Konsepsi topeng oleh senimannya | lakon Karim Ginting lebih banyak | cerita | yang disesuaikan | menggambarkan cerita-cerita | dengan | bentuk topeng |
| deformasi topeng-topengnya ia juga membuat topeng manusia raksasa dengan penonjolan gigi-gigi yang dibuat bertaring dikomposisikan dengan to peng manusia yang tampaknya lebih naturalis, sedemikian rupa me | bentuk | hewani; | monyet, | babi, | dan sebagai | melengkapi |
| nunjukkan simbolis. | hasil | kreatifitas | seni disamping | mempunyai | arti yang |
se
·
Gambar 101
| Topeng | pada ilustrasi gambar | ||
|---|---|---|---|
| berikut porsi anatomis yang realis, ke | ini diolah tanpa pro | ||
| lihatan | mata | dibentuk | |
| menyatu | dengan | hidung. mu | |
| lut yang menonjolkan bentuk gigi yang | cukup lebar | dengan | |
| menerawang membuat kelihatan angker. Pengungkap | topeng | ||
| an maupun | ide. memberikan | ||
| inspirasi | gaya kepad | bentuk | |
| seni | yangesensial | St'rta | arti |
| yang | cukup dalam. | e"uai | de |
| ngan | lakon toren)! | y;ing | di |
| perankan | (Kett'rangan gh I 02) |
yang
.
Gambad02
Pada gambar berikut ini ke lihatan oleh seni seniman
| lihatan | oleh | seni seniman | |
|---|---|---|---|
| nya 1 perribent topeng yang | |||
| naturalis ainatomis | dengan | ||
| propoi stillasi bentuk.1 Diilhami oleh | yang1 lengkap tanpa | ||
| penciptanya se bagai'lakonl | o | ||
| rang | yang dapat m.emberi | ||
| kan arah pikiran sebagai | ma | ||
| nusia | terhadap | yang | lebih |
| tinggi, | serta | keakraban | hi |
| dup antara manusia dan | ma | ||
| nusia. | (Keterangan gb. 103) |
l
Gambar 103
Gambarl04
Topeng pada ilustrasi gambar ini lain halnya. Bahan (media) aplikatif, ijuk, · benang plastik, pengolahan ekspresi wajah yang digayakan
| ijuk, | benang | plastik, | pengolahan | ekspresi | wajah | yang | digayakan | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| kedalam bentuk manusia hewan, berperan sebagai seorang yang suka | ||||||||
| mengadudombakan terhadap orang lain. Form yang dieksploatir kedalam bentuk topeng ini, tidak meniru sifat-sifat yang kurang baik itu. Dari data-data gambar yang ada jelas kita melihat bahwa seni topeng yang diketemukan di daerah Karo, bentuknya sama, terkecuali seni | serta lakon yang diperankan senimannya mengajak kita unt | sesamanya, | berambisi, | egoistis | tanpa | perduli | ||
| topeng | hasil | karya | Karim | Ginting, | baik | fungsi dan | kegunaannya. |
Pada uraian ter,dahulu, dijelaskan bahwa seni topeng dipakai sebagai persembahan guna menghormati nenek moyang, disamping tujuan lain guna tercapainya cita-cita seperti meminta hujan pada musim kemarau. Upacara ritual seperti yang diuraikan di aatas umumnya dita rikan dengan iringan gendang dan sarunai juga dinyanyikan lewat syair dan lagu sebagai beriku t ·
Tembut-tembut Pak Ndokar Mbiar aku matana Matana si pinggan-pinggan Dibata udan ko wari. terjemahan: Topeng-topeng Pa' Ndokar Taku t aku melihat ma tan ya Yang melotot seperti pinggan 0 Tuhan turunkanlah hujan.
Dengan demikian topeng-topeng yang telah diuraikan, memi liki sifat perwatakan menurut peran yang dibawakan oleh jenis to peng itu, sehingga lakon (cerita) itu tergambar melalui ekspresi wajah topeng-topeng yang ditampilkan seperti wajah yang manis, yang gagah, sedih, dan menyeramkan.
Bagian lain jika diartikan bait terakhir nyanyian dalam memin ta hujan, jelas bahwa topeng adalah salah satu bagian dari keperca yaan sesuai dengan fungsinya semula yang bersifat relegius, atau me dia untuk melaksanakan ritus pemujaan terhadap nenek moyang disamping sarana untuk upacara kematian. Pertunjukkan topeng sebagai teater tradisional karya Karim Ginting, justru tema yang diketengahkan banyak hubungannya dalam mencapai kesempurnaan hidup, sampai sekarang masih tetap dipertahankan sebagai salah satu hasil kesenian tradisional Karo. Akhirnya teater topeng itu menjadi pertunjukkan rakyat yang sa ngat populer, mulai dari desa sampai kekota-kota. ·
Funi Topeng
Seni topeng digolongkan kepada seni plastik, diciptakan sebagai sarana pemujaan· terhadap nenek moyang berdasarkan kepercayaan masyarakat Batak pada masa yang lalu.
"Jadi topeng adalah salah satu alat (media) untuk memanggil roh nenek moyang yang digambarkan dalam ujud topeng ter sebut. Memang menghormati nenek moyang yang dianggap se bagai suatu kepercayaan yang benar dan mumi. Jadi dengan demikian sudah dapat kita rasakan bahwa adanya topeng itu mula-mula pada upacara kamatian"l 2) Dilihat dari bentuknya topeng Batak selain mempunyai nilai estetis juga mempunyai ciri yang tersendiri jika dibandingkan dengan topeng-topeng lain di Indonesia. Hal ini jelas terlihat dari bentuk dan gaya pada topeng (tem but) yang terdapat di daerah Karo.
Di segi lain seperti yang telah dikemukakan terdahulu bahwa pandangan hidup yang utama yang melandasi sikap masyarakat Ba tak, menunjukkan kesetiaan akan adat dan tradisi disamping keper cayaan di dalam mengisi kebutuhan spriritual, antara lain sarana pada waktu melakukan ritus keagamaan (kepercayaan) terhadap ritus ne nek moyang, dan sarana-sarana lain seperti pendidikan dan etika kehidupan. Hal inilah yang menyebabkan bahwa fungsi topeng Ba tak pada umumnya mengandung fungsi magis dan religius, lebih dari pada itu fungsi topeng itu dianggap sebagai alat yang dapat mem beri keberkatan dan pelindung kerajaan. Kesenian tradisional masya rakat Batak yang terdiri dari berbagai suku terutama di daerah pede saan, seni topeng sebagai warisan leluhur nenek moyang tidak hanya dipakai sebagai ritus keagamaan, tetapi dibuat juga sebagai gambaran kehadiran nenek moyang, disamping alat (sarana) pemanggil roh roh leluhur yang dianggap sakti dikala masyarakat (penduduk) di pedesaan itu ditimpa malapetaka seperti kemarau yang panjang yang dapat memusnahkan hasil pertanian, penyakit, dan kematian.
12). Kuswadji Kawindra Susanto dan Rachmadi RS, Sekelumit Sejarah Topertg Indone sia,. Topeng-topeng Klasik Indonesia, Panitia Topeng Klasik Indonesia, Art Gallery Seni Sono, Yogyakarta, 20 - 31 Mai 1970, halaman 7.
Jadi, jelaslah bahwa fungsi topeng Batak jangkauannya cukup luas, tidak terbatas pada ritus keagamaan (kepercayaan) saja, namun topeng itu sendiri dibuat sebagai benda keramat yang harus 'dipeli hara. Oleh karenanya tari topeng pada masa yang lalu tidak sem barang dipagelarkan, tetapi tari topeng itu ditarikan pada acara acara tertentu (khusus). Hal yang sama menurut uraian di atas dapat dilihat pada kutip an di ha wah ini :
"Karena maksud-maksud akan pengharapan kesejahteraan, ke makmuran, terhindarnya dari penjamuran, terhindarnya dari penyakit, kepercayaan hal kematian dan kembalinya roh yang meninggal ketengah masyarakat, penghormatan pada cikal bakal dan lain-lain yang sejenis, maka seni rakyat itu lahir atas dorong an metafisik yang kompleks dan atas dasar kesadaran kolektif. Demikianlah kreasinya bersifat sakral" .13)
Penjelasan lain dapat pula kita lihat dalam kutipan berikut ini:
"Dalam melakukan upacara-upacara, kesenian memainkan pe ranan penting dan banyak dapat orang ikut dalam kesenian itu, kesenian seperti ini dapat disebut kesenian rakyat. Ciri-cirinya ialah, bahwa nilai-nilai yang terjalin dalam kesenian rakyat itu merupakan refleksi dari pada cara hidup sehari-hari atau bersumber kepada mitor-mitos"l4)
Demikianlah akhimya kesenian topeng itu berkembang secara evolusi berkat pengaiuh yang terjadi secara ekstemal dan internal di tengah-tengah kehidupan masyarakat Batak pada limumnya. Dasar ini pulalah akhimya bentuk topeng yang divisualisasikan oleh seni mannya lewat seni ukir berfungsi simbolis magis.
13). Sudaryono, Dn., Sarana-sarana Memeliharan· Dan Melindungi Seni Rakyat Indonesia Pidato pada upacara Dies Natalis ke 21 STSRI, ASRI Yogyakarta, Januari 1971ha'.. la man4.
14). A.W. Turnip, Ors., Primitive Art IKIP, Medan, 1976/1977, halaman 12
Pengolahan Mutu Artistik/Pola Penggarapan. Pengolahan mutu artistik melalui pergelaran (pementasan) di buat di alam terbuka "open teater", dilaksanakan secara sederhana tanpa embel-embel dekorasi. Penyajiannya diselenggarakan di ha dapan umum dengan serentak yang diatur sedemikian rupa adegan demi adegan tanpa dialog. Sarana pendukung
Pergelaran seni topeng (tembut-tembut) di daerah Karo dima inkan (dilakonkan) langsung oleh manusia dengan cara ditarikan.
Property yang digunakan adalah topeng motif antropormofis dan motif zoomorfis diukir secara dekoratif oleh pemahatnya yang ter diri dari: topeng hitam (topeng raja atau penglima), topeng wanita {permaisuri raja), topeng putri raja, topeng laki-laki (menantu raja), dan topeng burung (berperan sebagai musuh).
Property yang lain ialah seperangkat kostum dan gendang yang · disebut gendang Hrna sidalanen yang terdiri dari: Sarunai gendang gendang penganak gung penganaki (gung kecil) canang. _ Lagu pengiring untuk pertunjukkan tari topeng di daerah Karo terdiri dari: Lagu persentabin (tari persembahan untuk roh leluhur nenek moyang). lagu persembahan kepada pengetua adat/rja adat. lagu perang-perang lagu tak tergut lagu perang tua-tua (lagu penutup)
Bahan, alat dan proses pembuatan topeng Batak
Dilihat dari basilnya seni topeng Batak baban-baban yang dipa kai terdiri dari bahan kayu yang keras disebut .kayu sangketten. Un tuk pembuatan parub burung (burung si gurda-gurdi) dibuat dengan baban kayu yang sama, sedang kerangka (badan burung) muat untuk satu orang terbuat dari baban bambu, kemudian kerangka tersebut ditutup dengan kain dan diberi boneka yang terdiri dari baban ijuk.
Proses pembuatannya, terdiri dari kayu bulat diukir dengan kebutuban, kemudian pada bagian dalam dibuat berlubang muat untuk kepala orang. Setelab di disain kayu tersebut dipabat (ditatab) sedemikian rupa sebingga berbentuk wajab manusia. Tebal topeng di buat setipis mungkin sebingga tidak terlalu berat.
Pada uraian-uraian yang kami kemukakan pada Bab III ini yakni seni topeng, baik fungsi dan tujuannya, maka dibawab ini penulis berkesimpulan sebagai berikut:
- Seni topeng dapat digolongkan kepada seni plastis diciptakan sedemikian rupa sebagi sarana pemujaan terbadap rob-rob nenek moyang yang· dapat memberikan keberkatan seperti meminta bujan dikala musim kemarauyang panjang;
- Seni topeng dibuat sebagai sarana pelengkap seni tari tradisio nal Batak dalam upacara-upacara: Kematian, Hiburan rakyat, Penyambutan orang-orang terkemuka, dan Menyambut bari-bari besar Nasional. disamping dibuat sebagai alat dekorasi dan basil kerajinan untuk konsumsi wisatawan-wisatawan dalam dan luar negeri (wisata wan asing),
- Seni topeng dipe1·gelarkan sebagai bahan apresiasi tentang ke bidupan masyarakat zaman dahulu yang umumnya menganut agama (kepercayaan) animisme,
- Seni. topeng sebagai seni tradisional masyarakat Batak kbu susnya, masyarakat Indonesia umumnya turut mempengarubi wisatawan untuk lebih mengenal seni tradisional suku-suku di Indonesia,dan
- Seni topeng termasuk basil kesenian daerab yang menjadi da sar kebudzy.aan nasional.
141
Selanjutnya kehidupan seni topeng Batak pada umumnya pa da tahun terakhir ini fungsinya tidak seperti pada aslinya.
Topeng dipergelarkan hanya sebegai hiburan untuk keperluan upacara-upacara hari besar nasional seperti menyambut 17 Agustus, serta upacara-upacara lain yang tidak ada hubungannya dengan ritus keagamaan (kepercayaan). Hal ini justru diakibatkan oleh berkem bangnya pengaruh agama Islam dan Kristen yang menjadi anutan uta ma dalam kehidupan masyarakat Batak.
Demikian akhirnya fungsi topeng secara umum dibuat hanya sebagai alat untuk melengkapi seni tari sebagai hiburan rakyat, lebih dari pada itu topeng dibuat sebagai alat dekorasi (hiasan di dinding). ,,
iBAB IV SENI PA TUNG NIAS
Di samping seni gaya Batak yang meliputi beberapai gaya pula, maka di daerah wilayah Sumatera Utara terdapat pula satu daerah gaya seni yang lain, yang kita dengan gaya seni Nias. Seni patung dan seni hias, adalah bidang seni yang akan diuraikan.
Adapun data-datanya berdasarkan observasi di desa Boronadu, desa Orahili kecamatan Gomo, desa Bawomataluo, desa Hilisimatano kecamatan Teluk Dalam dan Gunung Sitoli sekitanya dibuat sebagai sampel dalam tulisan ini. Kami menyadari bahwa uraian yang ringkas ini belumlah dapat mengungkapkan semua aspek latar belakang sejarah dan makna yang terkandung di dalamnya yang meliputi hasil-hasil seni rupa secara menyeluruh. Hal itu disebabkan karena cabang-cabang seni rupa itu sendiri cukup luas. Di lain hal banyaknya kesukaran-kesukaran yang diha dapi di dalam proses pengumpulan data. Kesukaran-kesukaran mana antara lain:
Medan yang harus ditempuh agak sulit, sedang sumber data tentang hasil-hasil seni rupa seni patung, berada di daerah Gomo dan desa-desa lain di sekitarnya, dengan jarak tempuh· sekitar satu hari jalan kaki.
Orang-orang tua atau pemahat yang dipandang banyak menge tahui tentang seni patung yang merupakan tumpuan untuk memperoleh data jumlahnya tidak banyak.
Meskipun demikian kami mencoba untuk menyusunnya sebagai melengkapi perkembangan seni patung yang terdapat di daerah Su matera Utara, justru karena dia memiliki gaya tersendiri pula. Harapan kami uraian ini kiranya dapat menambah perbendaha raan ilmu pengetahuan tentang pertumbuhan seni rupa khususnya seni patung Nias di samping perbandingan terhadap hasil-hasil seni patung lainnya yang terdapat di daerah Sumatera Utara.
Gambar 105;
Patung peninggalan budaya megalit yang masih dapat diselamatkan dari kepunahannya.
Latar Belakang Sejarah
A. Letak Geografis Pulau Nias letaknya berdekatan dengan daratan Sumatra lebih kurang delapan puluh dari pantai Sibolga dengan ibu kotanya Gu nung Sitoli. Pulau ini adalah pulau ' :mg terbesar diantara lebih kurang 130 pulau kecil di sekitarnya, luas keselurnhan lebih kurang 5625 Km2 tergabung dalam .satu kabupaten yakni kabupaten Nias dengan tiga bela.;; kecamatan.
I. Kecataman Gomo
2. Kecamatan Gunung Sitoli
3. Kecamatan Mandrehe
4. Kecamatan Gido
5. KecamatanTeluk Dalam
6. Kecamatan Tuhembanuan
7. Kecamatan Pulau-pulau Batu
8. Kecamatan Idanogawo
9. Kecamatan Sirombu
| 10. | Kecamatan Lolowau | |
|---|---|---|
| 11. | Kecamatan Alasa | |
| 12. | Kecatamatan Lahusa | |
| 13. administratif Nias penduduknya 417 .108 jiwa (sensus penduduk 197 5). | Kecamatan Lahewa. Pulau Nias termasuk lingkungan daerah Sumatra Utara, secara Letak | pulaunya memanjang sejajar dengan pulau Sumatra pe |
| nuh rendah yang membuj_ur dari tenggara ke arah Barat Laut diapit oleh pegunungan yang tingginya lebih kurang enam puluh meter dari per mukaan laut. | dengan Puncak tertinggi adalah Lolomatua lebih kurang 886 m. Iklim | bukit-bukit |
| daerahny'a | keJ:>anyakan dipengaruhi oleh iklim tropis dengan angin |
merupakan kabupaten tersendiri dengan jtlmlah
yang tidak terlampau tinggi dan dataran
lautnya. Sekalipun Nias berada di daerah tropis suhu udaranya tidak ter lampau panas (tertinggi lebih kurang 30° C dan terendah 17° C).
145.
Di sepanjang daerah pantai banyak ditumbuhi kelapa, sedan pada dataran tinggi masih banyak hutan-hutan yang belum dihuni oleh masyarakat setempat. Komunikasi antar kampung di daerah pedalaman masih sangat sulit, oleh karenanya sangat sukar dilalui oleh kendaraan, sebagai misal dari daerah Lahusa ke Gomo, sampai saat ini hubungan antar desa harus ditempuh dengan berjalan kaki. Namun demikian pulau yang terpencil itu mempunyai kekayaan so sial seperti hasil bumi dan kebudayaan dan seni rupa peninggalan prasejarah yakni patung-patung megalit yang bertebaran di desa Bo ronadu, desa Orahili di kecamatan Gomo, desa Bawomataluo, desa Hilesematano di kecamatan Teluk Dalam dan desa-desa lain di seki tarnya.
B. Perkembangan Seni Patung Nias Kebudayaan suku-suku di Indonesia sudah ada sejak kepulauan ·Indonesia didiami oleh manusia Indonesia, sedang kesenian, baru ada disekitar tahun dua ribu sebelum masehi setelah datangnya bangsa Austronesia ke Indonesia. Semua suku-suku yang mendiami wilayah Indonesia pada za man itu percaya akan adanya roh-roh (animisme) dan memuja ke kuatan gaib (dinamisme). Kekuatan gaib yang mengganggu harus dimusnahkan sedang yang menguntungkan dipuja dan dihonnati. Sebagai media pemujaan lazimnya dibuat patung-patung yang merupakan alat komunikasi terhadap yang lebih tinggi · itu sesuai dengan anutan kepercayaan masyarakat primitif, sebab lewat bentuk-bentuk patung itu roh ne nek moyang kembaJi menjelma. Dikarenakan setiap pemujaan dila kukan bersamaan oleh masyarakat maka diadakanlah upacara-upa cara ritual lengkap dengan tarian-tarian diiringi oleh bunyi tatabuhan. Keadaan ini berlangsung sampai abad XVII setelah datangnya suku suku lain seperti Minangkabau dan Aceh yang membawa pengaruh agama Islam. Pada abad XIX mis si Kristen mulai berpengaruh pula di daerah Nias. Pengaruh agama ini membuat kesenian rakyat setempat, khusus seni patung mengalami kemunduran, sebab seni patung dianggap se bagai penghambat bagi berkembangnya agama di daerah itu. Akhirnya patung-patung batu peninggalan kulkur megalit serta patung-patung kayu yang dibuat sebagai kultus terhadap nenek mo-
yang banyak dimusnahkan, kalaupun ada hanya di beberapa desa seperti yang penulis kemukakan terdahulu. Sisa-sisa patung yang ada sekarang seperti di desa Boronadu, desa Orahili di Kecamatan Garno Desa Bawomataluo di kecamatan Teluk dalam sebagian masih terpelihara baik, dan kini dibuat sebagai bukti dari peninggalan masa prasejarah, disamping sebagai alat de korasi, terlepas dari fungsi aslinya, yakni terhadap Roh nenek moyang. Untunglah di penghujung abad yang XX ini pemerintah mulai memperhatikan akan kemerosotan patung Nias yang mempunyai keunikan tersendiri itu, disamping patung-patung yang terdapat di daerah lain di Sumatra Utara. Langkah-langkah yang diambil pemerintah untuk ini mengada kan registrasi tentang seni patung Nias disamping menghimbau kem bali para seniman pemahat untuk menghidupkan kembali seni pa tung Nias yang hampir punah itu. Dengan demikian secara lambat laun seni patung Nias itu mun cul kembali, hal ini dapat kita buktikan dengan terpanjangnya se ni patung Nias di setiap toko-toko suvenir. Di stand Medan Fair, kita dapat pula menyaksikan karya karya baru menurut gaya daerahnya, seperti Nias bagian Utara dan Nias bagian selatan yang justru mempunyai ciri-ciri tersendiri pula. Keadaan yang pada mulanya sangat mencemaskan itu akhirnya kem bali lega.
Pada pameran seni patung Indonesia di Jakarta yang baru dilak sanakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Me dia Kebudayaan Jakarta 1980/ 1981, patung Nias turut serta dian tara patung-patung tradisional kerakyatan dan kontemporer hasil karya seniman se Indonesia. Di lain hal Departemen yang serupa, pernah mengadakan stu di perbandingan seni patung kerakyatan (primitit) di Taman Ismail Marzuki di Jakarta 1981, seni patung Nias juga ambil bagian. Pera gaan dan pemajangan beberapa buah patung Nias menjadi perhatian yang serius oleh setiap pengunjung. Bukti-bukti kenyataan, seperti yang kami kemukakan dapat kita lihat · pada ilustrasi di bawah ini.
Gambar 106
Nias
| Bentuk | seni | patung | bagian selatan pada ilustrasi gambar diil |
|---|---|---|---|
| hami 11ya dibubuhi dengan garis-garis ritmis yang mempesona. Namun de mikian sifat patung ini tidak melepaskan ciri-ciri khas patung tradi sional Nias sebagai seni primitif keraky:itan. | oleh pemahatnya dalam corak |
dekoratif, atribut dan busana -
Gambar 107 Dari kedua ·patung pada gambar ini terdapat perbe daan atribut yang disemat kan dikepala, satu dipasang dibagian belakang dan yang satu lagi dipasang pada ba gian depan. Perbedaan lain posisi patung Nias bagian utara umumnya
Berikut ini ilustrasi yang diterang kan yakni seni patung Nias bagian Utara. Patung ini diolah oleh seni mannya melalui media kayu (kayu besi) menggambarkan karakter seo rang raja denga permaisurinya. (Keterangan gb. 107)
| dipahat | tegak, | sedang | pa |
|---|---|---|---|
| tung-patung di Nias bagian selatan keba | yang | terdapat | |
| nyakan kok atau duduk disamping penonjolan alat kelaminnya | dalam | posisi jong | |
| (patung | telanjang) | yang | |
| menjadi man senimannya,sedang pa tung Nias bagian utara diben | sumber | pengilha | |
| tuk lengkap disamping omame/ perhiasan | dengan busana yang | mewai:!1ai | yang |
busana itu,(Ketera:ngan gb.l 08) Gambar l08
Patung si ulu sawali di desa Orahili ke camatan Gomo. pada patung ini kita melihat benda bendayang digenggam seperti pedang dan tombak.' Benda itu tentunya mengandung mak sud tertentu, antara lain lambang pres tasi raja dimasa hidupnya selain seba gai raja juga panglima perang. Patung ini. se_ngaja diletakkan diruang perte muI\disamping pa tung, kita jugadapat melihat jenis binatang seperti ayam,. ·buaya dalam bentuk plastik (relief) dibuat sbagai perlambang kebijaksana an lraja. (Keterangan gb. 109)
·Gambar 109
Ilustarsi pada gambar berikut (patung Si- ulu sawali) dibentuk tampa busana, namun atribut yang melambangkan se orang raja tetap dipasang.Perwujudan patung ini dibuat sebagai saksi tentang kejantanan seorang raja. Dari sumber ya'!g layak dipercayamenjelaskan, ke ,muliaan dan prestasi ,_seorang raja di nilai selain bijaksaua adil, berperasaan I sosial yang tinggi, jµga keturunan yang banyak. (Keterangan gb. 110) Gambar·l 10
1.50
· Falsafah Batak dalam hal ini lebih jelas lagi: maranak sapulu pi tu, marboru sapulu onom. Artinya;_ berketurunan tujuh belas putra dan enam belas putri. Detail patung dibentuk dalam sikap duduk menggambarkan tokoh penting dalam masyarakat.
Gambar 111
Osa-osa Duplikat patung yang dipahat mini melaui media kayu menurut in forman yang dihubungi, dahulu dipergunakan pada upacara terten tu (menyambut kebesaran raja), sedemikian rupa dipagelarkan de ngan cara dipikul kemudian ditarikan berama-ramai. Osa-osa ini juga menurut imforman lain.yang dihubungi F. Harefa ex Kasi Pensiunan Kepala Seksi Kebudayaan Kabupaten Nias menjelaskan: ·
Selain upacara kebesaran raja, juga digunakan waktu upacara memin dahkan tulang belulang leluhur raja yang telah disucikan kemudian disimpan di dalam guci 1(tempayan)I untuk disemayamkan pada tem pa t yang baru.
Lebih dari pada itu pa tung ( osa-osa) dipakai juga pada waktu-waktu kritis misalnya, timbulnya wabah penyakit yang dapat menular.
Gambar 112 Guci tempat tulang belulang sedang di sampingnya tempat tuak (minuman raja)
Dari beberapa ilustrasi, yakni gambaran patung-patung Nias yang dibubuhkan pada halaman demi halaman, kita optimis ijahwa per kembangan seni patung Nias untuk masa-masa mendatang akan me nemui prospek yang menggembirakan. Kepastian ini akan menjadi kenyataan apbila perhatian kita (para se niman di daerah )) selain mencintai seni nenek moyang ingin pula menghidupkan kembali seni patung Nias yang langka itu.
C. Kesenian Mega/it Peninggalan kebudayaan yang menggunakan batu-batu besar untuk tujuan sakral, disamping alat sebagai pemujaan terp.adap roh nenek moyang seperti menhir (batu tegak) dalam bahasa ''Nias dise but bahu, bukti peninggalannya dapaf kita lihat pada gambar di ba wah ini.
Gambar 113
Detail menhir (batu tegak) di desa Orahili (kecamatan Gomo) pada puncaknya kita melihat bentuk burung enggang (fofo gogowaya) burung yang mulia, dibentuk dalam posisi hinggap Burung ini divaria sikan memakai kalung yang biasa dipakai oleh raj a/ pengetua adat, tujuannya adalah lam bang kedudukan tertinggi raja (pengetua adat). Letak menhir berada di halaman rumah Si Ulu (Si Ulu Sawali) di buat sebagai tanda ketulusan hati bagi siapa saja yang datang ke tempat itu.
BenWk batu tegak di desa Bawomataluo (kecamatan Teluk Dalam) dua batu bulat pada puncaknya dibuat khusus tempat roh nenek moyang bersemayam. Fungsi lain sama dengan menhir yang terdapat di desa Orahili, hanya gaya yang berbeda, namun kedua ba tu tegak itu memberikan kesan kepada kita tentang ketangguhan ne-
nek moyang suku Nias dalam mencipta sesuatu yang dapat diwaris kan dari generasi-generasi. Di sampingnya terdapat batu tegak yang lebih rendah khusus untuk tempat pemenggalan kepala manusia. Dari informan yang layak dipercaya (pengetua adat) yang di hubungi menjelaskan menhir (batu tegak) seperti yang terlihat pa da ilustrasi gambar, dahulu setiap tahunnya dilaburi darah manu sia. Untuk ini dibuat upacara yang meriah deng?.!1 mengorbankan beratus ekor babi.
Peninggalan-peninggalan lain seperti meja batu (dolmen) dipa hat menyerupai lingkaran dengan ketebalan 10 sampai dengan 15 cm dengan garis menengahnya 1 Y2 lebih kurang ditempatkan men datar di atas batu-batu lain sebagai penyangga.
Gambar 114
Dolmen di desa Orahili dipakai untuk tempat sesajen, tempat pemu jaan terhadap roh nenek moyang di samping berfung$i sebagai tem pat duduk dan menari pada waktu diadakan upacara adat. Diberi
| pat duduk | dan | menari pada waktu diadakan upacara adat. | Diberi | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| ukiran | stilhasi | jenis | zoomorfis | kedalam corak dekoratif, ekspresif. | |||
| Suku | Nias menyebutnya | osa-osa. | Bentuk | kepala | raksasa | (lasara) | |
| melambangkan kekuasaan tertinggi. Motif lasara juga dipasang menonjol pada din ding pengapit rumah menandakan lambang kebesaran bagi sipemi liknya. | dewa | pembina | (nenek | moyang) | yang mempunyai |
| Peninggalan | kesenian | megalit | |
|---|---|---|---|
| yang ilustrasi ini dibuat sebagai ke bu tuhan praktis dipergunakan | dapat | disaksikan | pada |
| dalam | upacara | ritual. | Disam |
Gambar 115
Seorang penari sedang mera gakan tari Fanarigawowo ter golong tari tradisional yang diwariskan oleh nenek moyang secara turun menurun ditarik an di atas dolmen yang ber: - bentuk lingkaran, dekorasi di belakangnya kita melihat men-. hir berdiri megah sedang di a tasnya dipasang burung eng gang (foto gogowaya). (Keterangan gb. 116)
ping dolmen kita melihat tiga buah lasara menyatu pada bi dang dasar empat persegi pan- jang berfungsi sebagai tempat duduk dan tegak sewaktu raja mem beri pengarahan dan bim bingan terhadap rakyatnya. (Keterangan gb. 115)
Gambar 116
| Pa tung | osa-osa di desa Lahu | ||
|---|---|---|---|
| sa. | Detail | patung | osa-osa |
| diPngkapkan | dalam | bentuk | |
| tia ciipahat lebar dengan lidah di | deminsional, | mulutnya | |
| julurkan | kedepan, sedang hi | ||
| dungnya tuk hidung manusia biasa. Ba | divisualisasikan ben | ||
| gi n kepala dan ekor | dipisah | ||
| oleh | lingkaran | yang | difungsi |
| kan buak 'ekspresi yang diolah me lalui medis batu kedalam gay:: primitif magis, religius, men cerminkan bahwa peranan ne | sebagai | tempat | duduk, |
| nek moyang dahulu dapat memberikan ins | suku Nias zaman | ||
| pirasi kini. (Keterangan gb. 117) | bagi seni modem masa |
:{
Gambar 117
| Osa-osa | (di desa | Orahili) |
|---|---|---|
| dengan | tiga lasara yang di | |
| pasang | pada dasar empat | |
| persegi | panjang. | Kelihatan |
| lebih yang dipahat yang di pahat menyatu melalui media ba | unik, selain | bentuk |
| tu, | dengan | perhitungan |
| yang duduk, dan fungsi, gerakan-gerakan | sukup untuk dari hasil kegunaan | tempat |
| bentuk pelak jika kita mengagumi | yang | ritmis, tidak |
| nya terdapat pada osa-osa seperti yang kita lihat pada ilustrasi | tiga buah | lasara yang |
| gambar tingkat golongan suku Nias yakni si Ulu Balo Silla, dan | menandakan | pula |
| Banua Sato. (Keterangan gb. 118) | . |
Gambar 118
Gambar 119
Dolmen yang terdapat di desa Bawomataluo ( kecamatan Teluk Da lam) bentuknya empat persegi panjang dihiasi dengan relief. Orna men stilasi motif tumbuh-tumbuhan tampak artistik dan mengagum kan dari hasil pahatan dan ungkapan ekspresi senimannya melalui media batu hitam, dengan peralatan yang relatif sederhana. Plastik relif dipadu antara motif tumbuh-tumbuhan, binatang laut dan manusia yang dibelenggu, adalah buah ekspresi pemahatnya yang menggambarkan secara simbolis kekuasaan dan keperkasaan raja sebagai panglima. Juga berfun!!$i sebagai tempat duduk raja (pengetua adat) pada wak tu diadakan upacara-upacara penting.
Gambar 12Qi
Motif hiasan (ornamen) sulur-suluran yang melengkapi dolmen seper ti terlihat pada gambar disebut dalam bahasa Nias magai, artinya lam bang hubungan persaudaraan (famili). Dari peninggalan-peninggalan kesenian megalit (seni primitif) suku Nias seperti yang telah diuraikan berikut ilustrasi yang dite rakan pada bah ini, baik fungsi atau kegunaannya, secara tidak lang sung kita memperoleh informasi tentang pola kehidupan masyara kat primitif dan esensi kehidupan sosialnya. · Kepercayaan terhadap roh nenek moyang yang menjadi sikap hidup yang fundamental, kepercayaan. akan adanya kekuatan gaib, je.la8 bahwa benda-benda bersejarah seperti patung, menhir, dolmen, dan lain sebagainya fungsinya magis, religius. Kenyata:an-kenyataan it dijelaskan oleh seorang penulis kena maan, Herbert Kuhn, sebagai kesenian percobaan menggambarkan perhubungan gaib antara lahir dan batin antara yang fana dan yang kekal. Menurut hemat kami penjelasan Herbert Kuhn di atas sinkron dengan kehadiran kesenian primitif yang terdapat di daerah Nias, barangkali juga dengan daerah-daerah lain di seluruh pelosok tanah air.
Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa kehadiran ke senian (seni patung) ditilik dari bukti-bukti peninggalan kesenian megalit kemudian dihubungkan dengan ciri dap perilaku masyara katnya adlah sebagai berikut:
I. Seni primitf Nias sudah ada sejak masa prasejarah,
2. Kepercayaan masyarakat primitif Nias pada umumnya mem- percayai adanya roh-roh halus (kepercayaan animisme ),
3. Percaya adanya kekuatan gaib (dinamisme),
4. Jalan pikirannya masih belum mempunyai logika (irrasional),
5. Seni-seni yang dihasilkan umumnya bersifat simbolistis,
6. Secara visuel seni yang dihasilkan masih sanngat sederhana, dan
7. Ditilik dari fungsi dan kegunaannya patung-patung Nias dipuja dan dihormati.
D. Kedudukan Seni Patung Nias. Dari informasi yang kami peroleh lewat responden dan penge tua adat, patung yang mewarnai exterior rumah adat tradisional Nias, mempunyai peranan sosial yang tinggi. Dengan demikian patung (ar ea peninggalan nenek moyang) yang terdapat di daerah Nias mengan dung arti dan fungsi tersendiri (khusus). Oleh karenanya suku Nias sampai sekarang tetap mempertahankan ekstensi terhadap corak/ga ya seni patungnya dari pengaruh lain, justru patung-patung Nias se
| perti yang | kita lihat pada illustrasi yang diterakan pada buku ini | |
|---|---|---|
| mempunyai pengaruh alat yang dipakai. | ciri-ciri | yang tersendiri. Kemungkinan |
| Patung | Nias dibentuk | lebih |
| nya banyak | ditemukan dalam interior rumah-rumah adat tradisio |
ini boleh jadi
banyak berukuran mini. Oleh katena
nal, berarti patung-aptung Nias tidak berdiri bebas di alam terbuka seperti hal patung Batak. Selain patung-patung plastis, kita dapat melihat ukiran manusia pada tiang-tiang dan dindmg rumah, baik dalam bentuk plastis (relieO atau patung utuh. Patung-patung yang berfungsi sebagai penyangga tiang atau yang merupakan dekor pada rumah-rumah adat yang terdapat di daerah Nias, menunjukkan ciri-ciri yang tersendiri pula dari bebera pa rumah adat tradisional yang ada di Sumatra Utara.
Gambar 121
Patung ataupun relief sebagai dekorasi interior rumah adat tra sional Nias, hanya terdapat pada rumah yang dihuni oleh raja atau pengetua adat.
Dari hasil penelitian diperoleh beberapa keterangan yang cu kup jelas untuk dijadikan data misalnya tiang penyanggah balok (tiang tarunahe).
Tiang tarunahe, sejenis tiang yang berukir dalam bentuk tiga dimensi. Istilah lain dalam bahasa Nias disebut kholo-kholo artinya tanda kebesaran raja. Tiang ini diletakkan pada tiang utama ruang bahagian muka. · Kayu (ranting) yang mencuat keluar dipahat sedemikian rupa menggambarkan tangan manusia yang sedang memberi hormat ja habu, dalam bahasa Batak disebut horas, sedang dalani bahasa Indonesia diartikan selamat sejahteralah kamu sekalian.
Salam hormat itu sudah menjadi tradisj bagi suku Nias pada umumnya.
Uraian ini memperjelas kembali betapa besar fungsi tiang itu, selain sebagai perlambang, terasa membawa perasaan hormat.
Dari informan yang dihubungi fungsi tangan yang dipahatkan pada tiang dulunya dibuat sebagai sangkutan tengkorak manusia yang ditaklukkan. Maksudnya agar rumah (tiang) tetap kukuh. Bentuk tiang seperti pada gambar hanya dimiliki oleh raja (pengetua adat).
Bentuk tiang tarunahe (tiang penyanggah balok)
Gambar 122 Tiang tarunahe di desa Orihili kecamatan Gomo
Gambar 123
Tiang tarunahe di desa Bawomataluo kecamatan Teluk Dalam. Perpaduan ornamen geometris dan roset k.elihatan artistik, dekora tif.
Detail tiang pada gambar kelihatan ukiran tangan yang sedang memberi hormat, sebagaimana cara memberi hormat orang-orang Jerman pada perang dunia II, sedang pada bagian lain kita melihat berbagai ukiran sebagai penambah dekorasi.
Contoh ilustrasi di atas dapat disimpulkan bahwa seni ukir Nias tergolong seni ukir arsitektural. Untuk lengkapnya lewat tulis an ini kami mencoba menguraikan secara terperinci contoh-contoh seni ukir (hiasan) yang terdapat disetiap rumah tradisional Nias yang terdapat di desa Orahili dan rumah adat tradisional di desa Bawoma taluo. Seni Bias pada Rumah adat Tradisional Nias di Desa Orahili
Hiasan sebagai alat dekorasi pada rumah adat tradisional Nias, di setiap desa masing-masing mempunyai ciri dan keunikan tersen diri.
Pada gambar di bawah ini terdapat gambar stillasi motif hewan dengan penggayaan bentuk dekoratif ekspresif. Pada bagian dadanya diukir patung motif manusia gaya_primitif (patung nenek moyang).
Menurut kepercayaan Nias patung itu adalah patung dewa yang memberi berkat, patung ini disebut dalam bahasa Nias bawolawole. Dari sumber yang layak dijelaskan bila keluarga yang empunya ru mah akan mengadakan pesta perkawinan, untuk mendapat keber katan, keluarga yang mempunyai hajat (pesta) harus didudukkan di bawah patung itu. Patung Bawulawole (pemberi berkat)
Gambar 124· Profit patung Bawuiawole.
Gambar1125 Patung dilihat dari: bawah Patung gambar di atas. fungs1eya sama dengan tiang tarunahe (fung;i praktis), yakni ebagai penopang tiang-tiang lainnya (pemi kul). Bentuk patung diungkapbn ecara impresif dalam pola-pola primitif, namun dapat memberikan inspirasi gaya kearah bentuk patung modern yang cukup ideal. Jika kita perhatikan detail patung ini jelas senimannya memvisualisasikan gaya burung elang yang sedang terbang sedemikian rupa diciptakan lewat stillasi bentuk zoo morfis dalam motif manusia raksasa.
.163
Pada bagian dadanya diukir gambar seorang·manusia dalam ben tuk relief timbul sebagai penjelmaan kembali nenek moyang yang dianggap pemberi keberkatari sesuai kepercayaan masyarakat Nias pada zamannya.
Pada bagian lain, kita melihat motif hiasan buaya (nio buaya) diukir dalam bentuk plastis relief dengan fungsi yang sama seperti di atas yakni tiang penopang balok. Hiasan ini disebut dalam bahasa Nias buaya anaa artinya buaya mas. Motif buaya digambarkan da lam dua jenis yang berbeda:
a. Motif buaya yang lidahnya bercabang dua, dan
b. Motif buaya yang ekornya bercabang dua. Kedua motif hiasan itu mengandung makna yang berbeda pula. Motif hiasan buaya yang lidahnya bercabang dua ditamsilkan lewat puisi Nias seperti tersebut di bawah ini: Sigelu zohuna-huna boroa zi dua razi lela. Sarani faewere-were, dua ni faza wozawa. artinya: Ternggiling itulah yang bersisik, buayalah yang berlidah dua. Satu yang diminyaki-minyaki yang lain digantung-gantung kan. Ditilik dari arti tersebut di atas memang sukar untuk dicerna kan begitu saja, namun demikian dapat juga diartikan jika kita me ngaitkan dengan makna motif hiasan buaya yang ekornya bercabang dua yakni sebagai berikut:
a. melambangkan raja (pengetua adat) yang mempunyai sifat sifat sosial yang tinggi, dan
b. melambangkan sifat-sifat keadilan raja _dalam memutuskan se suatu perkara bagi siapa saja yang melanggar hukum (hukum adat) yang sudah diputuskan bersama oleh beberapa pengetua adat.
Gambar)126-
Dengan demikian maka dapatlah diartikan buaya yang lidahnya ber- cabangdua dapat diartikan yakni perlambang tentang upacara (titah) raja yang bijaksna, sedangkan buaya yang ekomya bercabang dua merupakan perlambang tentang seorang raja yang bersifat adil. Motif ukiran ini ada juga yang diabstraksikan lewat papan penga pit dinding bagian.luar. Ujung papan bagian depan dibuat mencuat keluar seolah-olah tampak seekor buaya yang sedang mengangakan mulutnya, disebut dalam bahasa Nias sikholi artinya lambang ke kuasaan serta keperkasaan raja. Motif ukiran ini hanya ada pada ru mah yang dihuni oleh raja atau para bangsawan, sedang rumah adat lain yang dihuni masyarakat yang lebih rendah derajatnya tidak per nah diketemukan. Ukiran-ukiran lain yang fungsinya sebagai lambang prestasi keagungan raja dapat dilihat pada gambar ukiran ayam (ayam jago). Motif ini ada yang diukir dalam. bentuk relief dan ada juga dipahat dalam bentuk patung.
Jenis motif ini di sebut Simiwo bahili-hili dano artinya ayam ja go berkokok di atas bukit. Makna motif ukiran ini mengandung ar ti yang simbolis yakni Raja yang berhhati bapak.
Gambar.127
Seni Hias pada Rumah Adat Tradisional Nias di Desa Bawomataluo Hiasan-hiasan yang terdapat di desa Bawomatah.10 kecamatan Teluk Dalam, kelihatan lebih unit lagi karena rumah adat yang ter dapat di de:Sa itu masih utuh, sekalipun usianya menurut orang orang tua yang telah berusia lanjut menjelaskan bahwa rumah adat yang masih da sekarang ini usianya sudah mencapai lebih kurang. tiga ratus tahun. Oleh karenanya seni ukir arsitektural yang terdapat pada rumah adat tradisional di desa Bawomataluo dipandang memadai sebagai data tentang kebolehan nenek moyang suku Nias pada masa yang lampau. Hasil ukiran dari peninggalan nenek moyang yang berusia lanjut seperti pada illustrasi di bawah ini penting juga dibicarakan melalui bah ini, berhubung seni ukir yang terdapat pada rumah adat tradisio nal di desa Bawomataluo diukir dalam bentuk relief timbul yang tebalnya cukup menonjol dari dinding papan, sehingga kelihatan se olah-olah bentuk tiga dimensi yang utuh.
166'
Gambar 128
Sejenis tiang tarunahe (tiang penyangga) yang terdapat di desa Ba womataluo tampak artistik. Jenis ukiran yang dipahat oleh seniman nya terasa adanya pengaruh kebudayaan Dongson.
Gambar 129
Ilustrasi seni ukir arsitektural rumah adat tradisional di desa Bawo mataluo Kecamatan Teluk Dalam, (foto koleksi Burhan Piliang). Seperti pada gambar disebut naha nadu difungsikan : Kursi pertama, dibuat untuk tempat patung nenek moyang. Kursi kedua, dibuat untuk tempat patung si pemilik rumah.
Dari kedua buah kursi itu dibentuk dari batang pohon yang utuh lewat tatahan yang cukup cermat untuk memperoleh bentuk, sela in difungsikan sebagai dinding, juga plastis relief yang dipahat kera wangan dibuat sebagai simbol (perlambang) tahta kerajaan raja. Dua buah payung yang diterakan dibuat pula sebagai lambang pengayom agar raja selalu mendapat perlindungan serta rahmat dari leluhur nya. Sepasang hiasan disebut dalam bahasa Nias masi-masi dipasang pada bagian kiri dan kanan kursi adalah simbol kasih sayang raja terhadap rakyatnya, sedang kotak (tempat perhiasan) diletakkan di atas kursi tanda raja sebagai pewaris dari raja-raja sesudahnya. Dari uraian-uraian yang telah dikemukakan di atas jelaslah bahwa seni primitif yang meliputi seni patung, seni ukir arsitektural yang terdapat pada rumah adat tradisional, kedua-duanya terujud. justru didorong oleh perasaan yang berhu bungan dengan mas al ah kehidupan (ritual), disamping kemampuan teknis dan keterampilan senimannya dalam mengolah bentuk dengan menyesuaikan materi bahan sebagai sumber alam lingkungan untuk mencapai tujuan yang magis, religius.
Fungsi Patung Nias. Secara umum pada beberapa contoh foto gambar tentang pa tung Nias, makna yang terkandung di dalamnya lebih banyak dibu at sebagai simbol pribadi raja (raja adat). Patung-patung yang dimintai bantuannya didalam situasi kri tis atau upacara-upacara penting seperti penolak bala, menyembuh kan orang sakit, turun kesawan, dan menangkap ikan yang men cakup masalah kehidupan tidak seberapa jika dibandingkan dengan patung-patung yang terdapat di daerah Batak. Sebagai contoh uin pamanya upacara ersilihi (pengobatan tradisional) di daerah dima na patung memegang peranan, hal yang serupa di daerah Nias tidak dijumpai tag!." Sebagai penggantinya dibuatlah ramuan-ramuan di tambah dengan mantera-mantera agar ramuan obat itu mujarab (menyembuhkan).
Patung-patung yang sifatnya sakral. baik patung yang dipaha.t melalui media batu atau kayu, di muka telah kami kemukakan bah wa patung-patung itu sudah banyak yang dimusnahkan, justru pa tung-patung bertentangan dengan ajaran agama yang mercka anut seperti ajaran agama Islam dan Kristen. Kefanatikan akan ajaran agama itu, membuat sejarah baru akan perkembangan seni patung Nias. Jelasnya seni patung meng alami kemerosotan total. Di lain hal banyak senimannya mengun durkan diri dari dunianya sebagai seorang pemahat, ia takut kalau dituduh kafir. Gelar-gelar kehormatan yang dahulu diterimanya pupus sama sekali dan akhirnya kejayaan seni patung Nias itu kini tinggal nostalgianya saja. Hal yang sama juga terjadi pada pandai rumah sebab mereka juga turut terlibat dalam ukiran y:mg difunikan sebagai alat pe mujaan oleh ncnek moyangnya.
Kalaupun seni patung Nias pada akhir-akhir ini banyak ber munculan kebanyakan dipahat oleh orang lain (bukan suku Nias). Senimannya yang terkenal banyak memproduksi patung-patung Nias belakangan ini, adalah Pokih Barus berasal dari daerah Karo.
Berbicara masalah funi dan kedudukan patung Nias jelas bah wa seniman itu tidak banyak mengetahui jika dibandingkan dengan asli seniman daerah itu sendiri.
Hal inilah yang menyebabkan kesukaran bagi penulis untuk mengungkapkan secara menyeluruh tentang funi dan makna yang terkandung pada seni patung Nias, selai11 dari pada tiu orang-orang yang dipandang banyak mengetahui lf•ntang Jatar belakang sejarah patung Nias itu (informan) keha, ak:,n mereka tutup mulut untuk memberi penjelasan secant 1 npe" nci dan men detail. sedang menu rut hemat kami masih banyak ya11g perlu dikmukakan·terutama pa tung-patung yang erat hubunrann· ;• dengan masalah kehidupan ritual nenek moyang pada zamanny:1. Di lain hnl scnimannv;1-.111, : t;dak menampakkan kegairahan untuk kembali mrmbuat '"·:11 :"1g .. tdisonal/kerakyatan, tetapi me reka lebih menyenangi men1.id1 pet.m• a tau sebagai nelayan.
Menuruiinforman y;in!). kam• l,i.bungi, Herambowo Tafonao, salah seorang seniman yang dtk". a1 hanyak membuat patung dup likat nenek moyang suku Nias zaman dahuh mengatakan: sejak ber-
lakunya undang-undang kerajaan dimana undang-undang raja sebagai
| undang-undang | yang | tertinggi, | kemudian | klasifikasi | masyarakat |
|---|---|---|---|---|---|
| terbagi pula atas beberapa golongan. | |||||
| Si Ulu Sawali | golongan raja-raja adat. | ||||
| Si Ulu | golongan keturunan bangsawan. | ||||
| Balo Silla | golongan menteri (kepala desa). | ||||
| Si ila | golongan orang kebanyakan diangkat oleh Si Ulu. | ||||
| Sato | golongan masyarakat biasa. | ||||
| Maka | bentuk patung | Nias | menurut | tahapan | masyarakatnya |
: _
dibedakan menurut golongannya. Barangkali hal ini pulalah yang membuat jenis patung yang me lambangkan tokoh seorang raja (raja adat) tidak boleh ada kesa maan raja deri.gan patung-patung yang lain. Selanjutnya informan itu menjelaskan kembali tentang status seniman, setiap dimintai ban tuannya untuk membuat sebuah patung yang difungsikan sebagai perlambang (patung raja), setelah selesai seniman (pemahatnya) diberi sanksi untuk tidak membuat patung yang serupa, apabila hal ini dilakukan juga maka pemahatnya dibunuh. Peraturan ini tidak · berlaku hanya pada seniman pemahat, tetapi hal yang serupa juga berlaku bagi seorang pandai rumah (tukang). Rumah dengan sega la variasinya tidak boleh ditiru oleh rumah-rumah yang lain. Dari penjelasan informan di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa tin dakan raja terse but membuat berkurangnya kreativitas para seniman, hal itu disebabkan keterbatasan disain-disain barn yang seyogiyanya dapat memperkaya corak seni patung Nias itu sendiri. Dari hasil observasi berdasarkan data dokumentatif dan wawan- -cara kami dengan beberapa informan di atas kami kembali berpen dapat bahwa patung-patung yang diketemukan sebagai benda sejarah fung;;i atau kedudukan patung itu belum dapat dijadikan kesimpul an sebab menurut hemat kami masih banyak yang dirahasiakan baik fungsi praktis atau lebih dari pada itu, yakni fungsi spiritual, magis, religius.
Namun demikian oleh karena patung-patung Nias lebih banyak diketemukan di dalam interior baik patung utuh atau patung yang di fungsikan sebagai penyangga balok (seni patung arsitektural), dan gambar-gambar plastik relief yang terdapat di desa Orahili dan desa Bawomataluo yang mewarnai rumah adat tradisional, dari kenyataan
itu dapatlah dikatakan funi patung Nias itu tidak lebih dari suatu dekorasi yang melambangkan status (kedudukan) raja di samping funi praktis.
Selanjutnya menurut hemat kami boleh jadi pula patung atau plastik relif yang ada pada bangunan rumah (interior), patung, dol man atau menhir yang berada di halaman rumah (eksterior), meng gambarkan awal dari pada jiwa masyarakat Nias itu dibentuk, diatur dan dilindungi oleh raja sebagai pengetua adat.
Hal ini tidak-hanya berlaku pada masa-masa lalu, tetapi sam pai sekarang masalah yang berhtibungan dengan tata krama (adat istiadat) masih melekat dengan baik, sekalipun mereka (suku Nias) sudah lama menanggalkan funi yang sifatnya magis, religius, dan sakral itu.
Gambar 130
Pandangan frontal patung nenek moyang suku Nias, dipahat horison tal. Menurut informan yang dihubungi menjelaskan usianya sudah mencapai lebih kurang dua ribu tahun. Funi patung ini dianggap sakral oleh masyarakat Nias pada zamannya dan sekarang patung itu hanya dibuat sebagai bukti dari sisa-sisa warisan patung peningga lan nenek moyang pada masa prasejarah.
;. _. .,,. -"". '. '.
Gambar 131
Patung nenek moyang (adu zatua) berasal dari Gunung Sitoli (Nias · Utara) dipahat melalui media batu tanpa busana dengan menguta makan penonjolan alat kelamin, adalah illusi yang pada hakikatnya melambangkan sumber kesuburan serta perlambang tentang kejan
| melambangkan | sumber | kesuburan | serta perlambang tentang kejan | ||
|---|---|---|---|---|---|
| tanan seorang pria. | patung, wajahnya dibentuk membulat, | ||||
| bagaikan kedudukanny:i pasangkan r 1da leher patung | ekspresi wajah sebagai seorang jantan yang satria. Kalung yang di | seseorang (nifulo-fulo) merupakan ciri-ciri khas | yang | berambisi, | sesuai dengan |
| patung (ra.ia ad:,t' Ptn\"•"··ci·, puja dan diJ-i;y ,, 1ti. | '..•n pertanda p.ttung ini adalah t1:ntar | bahwa | patung | itu adalah .enek moyang yang di | patung |
Detail
Nia.-raja
Gambar 132 ·4
')' - Ilustrasi pada gambar berikut iµi patuqg ·Jlooek ·m·1yang pe.-• · .. ninggalan prasejarah yang
. :i"
Gambar 133
Patung pada gambar berikut diekspresikan melalui media batu. Fungsi dan kedudukan nya sama dengan gambar terdahulu, hanya dalam sikap yang berbeda. Bentuk patung lebih mengarah pada ben tuk patung naturalis, namun nnsur-unsur dekoratifnya masih jelas kebhatan. Detail patung dipahat dalam posis! duduk sikap lutut yang tegak dimanfaatkan sehagai pe rnangku capah (mangkok bat«) sed;:ingkan kedua lengannya digambarkan dalam sikap memegang.
Patung nenek moyang dipahat melalui me· dia kayu yang silindris pada ilustrasi ini
| dia kayu yang | silindris pada ilustrasi ini | |||
|---|---|---|---|---|
| tampak lebih ekspresif sesuai dengan co | ||||
| rak patungnya yang primitif, magis. Detail | ||||
| pa tung pada bagian kepala yang culas dipa | ||||
| sang atribut | yang dibentuk vertikal keli | |||
| hatan | seolah-olah | bagaikan | orang | yang |
| sedang | menjunjung | sesuatu. Pangkal | hi | |
| dung | yang kecil menyatu o"ngan kening | |||
| sedang | bagian | mata | dicukil | seadanya |
| berbentuk | elips | tampak pandangannya | ||
| tajam kedepan. | Ujung telinga | bagian | ba | |
| wah dipahat | hingga | sampai | kebahagian | |
| bahu | diinterpretasikan telinga yang peka | |||
| terhadap yang kelihatan seperti sebatang rotan yang | pendengaran. | Bagian | tangan | |
| dilengkungkan | dipahat | menyatu | dengan | |
| bagian lebih dari sebuah relief, namun patung ini | tu buh sehingga | kelihatan | tidak | |
| memberi | kesan | tentang kekerasan watak | ||
| sesuai | dengan | fungsi | patungnya | yang |
| primitif | magis, | religius. | Pada bagian lain | |
| kita melihat | sikap patung | yang | duduk | |
| adalah ciri patung | yang spesifik (patung | |||
| Nias). | Kaki oleh | pemahatnya dibentuk | ||
| makin | mengecil | kebawah, terasa bahwa | ||
| demikianlah nenek moyang suku Nias pada masa yang lampau sebagai konsep seni yang individu al. | hasil | warisan | kesenirupaan |
Gambar 134
v .. ,;,
, ... rd.
Gambar 135 (Foto coleksi Burhan Piliang).
Patung nenek moyang (talinga woli-woli) di desa Bawomataluo ke camatan Teluk Dalam. Perwujudan patung ini menggambarkan ten tang raja adat, dipahat melalui bahan kayu fakini (sejenis kayu besi) diungkapkan secara impresif kedalam bentuk pa tung primitif. Bentuk patung diilhami oleh pemahatnya sikap seorang yang sedang duduk, dengan posisi tangan diletakkan di atas lutut yang tegak. ·Detail pa tung_ dapat dilihat pada jenggot yang dibentuk terurai, kumis yang melintang serta mulut dipahat menonjol dengan tatapan mata tajam kedepan, dimaksudkan oleh pemahatnya seorang pengetua adat yang bijaksana, arif dan penuh kasih sayang. Hal ini ditandai dengan atribut yang dipasang di bahagian kepala disebut dalam bahasa Nias masi-masi ( simbol kasih sayang ).
| Dari | beberapa contoh ilustrasi gambar (patung) yang diterap | ||
|---|---|---|---|
| kan pada bab ini, pokok uraian kami tentang fungsi patung tersebut | |||
| antara lain: | Berfungsi suku Nias di bidang seni pahat. Berfungsi sebagai media pemujaan pada waktu sebelum suku Ni as menganut ajaran agama Islam dan Kristen. Berfungsi sebagai tanda (simbol) tentang kedudukan raja (raja adat). Berfungsi | menunjukkan memanifestasikan daya cipta | prestasi dibidang kebudayaan. |
kemampuan nenek moyang
Gaya Seni Patung Nias
Di muka telah diuraikan bahwa ujud patung yang terdapat di daerah Nias, selain dilandasi oleh kepercayaan (spiritual), patung juga diujudkan sebagai simbol keagungan raja, disamping bentuk seni yang mempunyai nilai-nilai estetis.
Kehadiran seni patung Nias dan perkembangannya sejak bebe rapa abad yang lalu sampai saat sekarang ini tampak bentuk dan gayanya dipengaruhi oleh corak monumental dengan ciri-ciri peng gambaran tokoh-tokoh nenek moyang dan kecenderungan bentuk tang mengandung nilai-nilai simbolis, sedang pada bahagian lain kita 1uga melihat adanya pengaruh dongson.
Ciri-ciri karakteristik dan gaya yang khas sebagai hasil seni rupa daerah (Nias) mempertegas identitas suku Nias di bidang seni patung sebagai hasil seni rupa daerah di Sumatra Otara, sedang ga ya ataupun corak seperti yang dikemukakan di atas spesifik seni patung Nias turut memberi wama serta memperkaya perbenda haraan seni rupa nusantara. Aneka gaya dan bentuk yang diterakan sebagai ilustrasi pada bab ini merupakan data pula tentang pi;estasi yang dimiliki nenek moyang Nias pada zamannya prestasi yang dimiliki nenek moyang Nias pada zamannya, sebagai pencipta seni di bidang seni pahat. Penonjolan-penonjolan bentuk yang merupakan ciri khas seni patung Nias itu dapat kita lihat pada penonjolan alat kelamin, susu yang dibentuk telanjang, kalung yang dipasang menonjol pada ba hagian dada dan atribut-atribut yang dikenakan pada baf,ian kepala
seolah-olah seperti patung purbawi di zaman Mesir kuno. Dengan demikian maka patung-patung yang kita ketemukan jelas bahwa fungsinya tidak saja ditujukan sebagai penjelmaan roh nenek mo yang atau sebagai keyakinan akan kepercayaan (spiritual) namun lebih dari pada itu patung Nias juga dibuat sebagai penonjolan pres tise raja sebagai kepala adat. Atribut-atribut jenis binatang seperti kadal atau cecak yang dipasang pada bahagian tubuh patung atau binatang lain sejenisnya (kita tidak menjumpainya pada patung Nias). Kalaupun ada cecak yang dipasang pada dinding-dinding rumah seperti yang kita lihat sekarang ini, dimana dibuat sebagai simbol kehadiran nenek moyang adalah akibat pengaruh baru yang datang .dari negeri seberang yakni negri tetangga yang terdekat.
Gambar 136
Kembali berbicara tentang seni patung. Kalau kita perhatikan bentuknya (seni patung Nias) sebagai peninggalan kebudayaan me galit kelihatannya tidak lebih sebagai segumpal batu yang ditatah dalam bentuk relief (seni dua demensional) justru keutuhan bentuk batunya masih jelas kelihatan. Kendatipun demikian dari sudut gaya patung-patung Nias peninggalan kultur megalit tampak dinamis ekspresif magis. Berbicara tentang kebudayaan megalit oleh sarja na Barat kenamaan Heine Geldem membaginya atas dua masa (pe riode). Demikian pula halnya dengan kebudayan megalit yang terdapat di daerah Nias.
Kebudayaan megalit pertama ditandai dengan menhir dan dol men seperti ilustrasi yang diterakan pada bab ini. Kebudayaan me galit kedua ditandai pula dengan area-area batu yang banyak terda pat di desa Bronadu, Orahili di Keeamatan Gomo dan desa Bawoma t1luo, Hilisimatano di keeamatan Teluk Dalam. Pada masa sejarah, pertumbuhan seni patung Nias tampak le bih maju kaya dengan eorak dan gaya, terlebih setelah mereka me ngenal alat-alat praktis yang dibutuhkan dalam mengolah bahan batu dan kayu. Pengaruh alat terhadap bentuk yang terdapat pada seni patung Nias jelas oleh kebiasaan pemahatnya ditujukan kepada bentuk (ga ya) tentang karakter seorang raja sedemikian rupa untuk dipuja dan dihormati, disamping kebutuhan praktis "applied art " seperti pa tung-patung yang dibuat sebagai penyanggah tiang, yang kita temu kan di desa Orahili dan Bawomataluo. Melihat media bahan dengan alat yang dipakai (pisau, parang) terdapat hbungan yang akrab, dan dari hasil-hasil maksimal yang dieapai dapat kita lihat pada eontoh ilustrasi di bawah ini.
Gambar 137
Patung si ulu sawali patung ini ditranfor patung pemberi berkat. Di lihat dari gayanya tampak pada patung ini pemahatnya menyesuai kan batang pohon dengan alat. Batang pohon yang besar diilhami oleh senimannya; karakter seorang raja (pengetua adat) sedang me megang cawan (tempat air) dibuatagai kebutuhan spiritual un tuk dipakai pada upacara tepung tawar (upah-upah). Sikap meme gang kita melihat lengan dan tangan dipahat kerawangan, sedang po sisi patungnya divisualisasikan dalam sikap duduk. Alat kelamin dipasang jelas pada patung menunjukkan ciri khas yang ditemui pada patung Nias. Embel-embel lain yang menggam barkan tentang seorang raja dapat dilihat pada kalung yang dipasang, sedang atribut pada bahagian kepala diterakan dengan memberinya
ornamen (hiasan) berukir. Bentuk-bentuk lain seperti daun telinga yang dipahat lebar (simistris) turut diperkenalkan pada patung ini sehingga cenderung kepada bentuk patung dekoratif, namun sesuai dengan gaya dan fungsinya. Polesan-polesan warna kini banyak kita temui pada patung Nias, hal ini kemungkinan akibat pengaruh dari luar. Namun me nurut hemat kami polesan-polesan warna itu tidak perlu justru mem buat patung tidak lebih dari sebuah boneka, sedang kita (pengamat) menghendaki akan keaslian seni patung itu sendiri. Memang perkem bangan sejarah selalu memLawa pengaruh terhadap konsep bentuk, hal ini bisa diakibatkan oleh pergaulan atau orang lain yang me nyelusup membawa pengaruh terhadap kesenian asli tradisional, atau akibat peralatan baru yang dibawa dari luar, atau dan lain se bagainya, sehingga mengakibatkan pengaruh terhadap karya yang di hasilkan. Untuk melestarikan kekhasan seni patung tradisional (Nias), yang memang sudah dikenal melalui karya-karya yang berkwalitas indah dengan nilai-nilai yang estetis ekspresif sebagai .\consep seni yang cukup kuat kiranya perlu untuk dipertahankan. Sikap ataupun gaya pada seni patung Nias di muka telah diurai kan, pada umumnya dibuat dalam sikap duduk sedang kedua lutut dibuat tegak, tangan ditumpukan pada kedua lutut atau memegang sesuatu.
Patung yang ditempa dalam sikap berdiri menurut pemahat nya datang kemudian setelah mendapat pengaruh dari luar, sedang menurut hemat kami hal tersebut sebenarnya justru disebabkan oleh faktor alam dimana masyarakat Nias itu berada. Penjelasan pendapat di atas dapat kita lihat pada kutipan di bawah ini. "Ma syarakat primitif yang menetap di daerah pedalaman umpamanya yang sehari-hari melihat pohon dan gunung yang menjulang tinggi akan cenderung menciptakan po la pa tung vertikal" .15). Analisa kami dalam hal ini sependapat dengan tulisan tersebut di atas, mengingat akan konsepsi seni patung Nias menurut perkem bangannya jelas menampakkan hasil-hasil konsepsi patung yang di buat tegak (vertikal), sekalipun posisi patungnya dibuat dalam si kap duduk.
15). But Muchtar, Beberapa Catatan Tentang Patung Primitif, Departemen Seni Rupa, ITB, hal. 5, tahun 1981.
181
f Bahan/Proses Pembuatan Patung Nias. Untuk mengenali bentuk dan wujud sebuah patung tepatnya jika kita memulainya awal dari proses pengambilan bahan sampai kepada terwujudnya sebuah benda (patung) dari hasil olah seni pemahatnya. Awai kehairannya, dari kenyataan sejarah semula ter bentuknya sebuah patung dibuat dari tumpukan-tumpukan batu yang divisualisasikan wujud dari nenek moyang sedemikian rupa dengan dasar kepercayaan bahwa tumpukan-tumpukan batu itu dibuat menjadi sakral, yang hubungannya erat sekali dengan kepen tingan-kepentingan religie masyarakat.
Kenyataan tersebut di atas dapat kita lihat pada kutipan di bawah ini:
Karena maksud-maksud akan penghargaan kesejahteraan, ke kemakmuran, terhindarnya dari penjamuran, terhindarnya dari penyakit, kepercayaan hal kematian dan kembalinya roh yang meninggal ke tengah masyarakat, penghormatan pada ci kal bakal dan lain-lain yang sejenis maka seni rakyat itu lahir atas dorongan metafisik dan emosionalyang kompleks dan atas dasar kesadaran koliktif. Demikian kreasinya bersifat sacrat 16)
Demikianlah tumpukan-tumpukan batu tersebut secara evo- lusi, berkembang terus, sehingga tumpukan-tumpukan batu itu ber robah menjadi sebuah patung yang memberi rupa (bentuk) wajah manusia dan binatang. Oleh pengaruh yang terjadi secara external dan internal bentuk patung sesuai dengan perkembangannya dari wujud sakral beralih kepada bentuk-bentuk yang simbolis, magis idioplastis (non realis) dan seni pakai yang sesuai menurut fungsinya. Dari awal telah kami kemukakan, bahwa masyarakat prasejarah bahkan ada sampai pada sejarah, percaya akan adanya makhluk makhluk yang bergentayangan dimana-mana, ada di atas batu, pada pepohonan dan lain-lain sebagainya. Dihubungkan dengan proses pembuatan patung dimana roh-roh itu nantinya ditempatkan, maka
Sarana-sarana Memelihara Dan Melindungi Seni Rakyat Indone
| Pidato | pada upacara | Dies Natalis Ke | 21 STSRI, |
|---|---|---|---|
| halaman 4. |
16). Gudaryono, Drs.,
sia, Yogyakarta, Januari 1971,
sebelum diproses media (bahan) yang akan dipergunakan harus ter lebih dahulu diadakan upacara ritual berupa mantera-mantera atau doa, dengan tujuan agar patung sebagai penjelmaan kembali. roh nenek moyang, dapat memberikan keberkatan. Hal tersebut di atas sifatnya universal, karena demikian adanya, oleh masyarakat primi tif dari berbagai bangsa (suku) yang landasan berfikirnya relatif sama. Patung-patung Nias seperti yang 1dta. lihat pada ilustrasi gam bar, senimannya ,cenderung menciptakan gambar patung-patung de ngan pola-pola organik (rnanus.ia, binatang) dari bahan batu dan kayu, tentunya bahan-bahan tersebut diproses oleh senimannya sehingga terwujudnya bentuk patung sesuai dengan yang diingin ka n oleh yang berkenan memintanya, dalam hal ini adalah raja atau pengetua adat seperti yang telah diuraikan terdahulu. Memproses patung misalnya, patung arwah nenek moyang (raja .atau pengetua adat yang terdahulu, memakan waktu yang relatif cu kup lama pula. Betapa tidak, justru dari awal pengambilan bahan sampai kepada akan memprosesnya (konsep bentuk) upacara-upacara ritual tetap berdampingan lahir batin untuk pemahatnya harus di korbankan sampai beratus ekor babi. Lebih darf pada itu setelah patung selesai (upacara pemindah an roh nenek moyang) pada patung itu dibuat upacara yang sama dengan mengadakan pesta meriah dengan tari-tarian yang diiringi tabuhan. Peranan Seniman Di muka telah disinggung bahwa seni patung Nias kini lebih banyak diolah oleh seniman lain ('bukan sniman daerah). Alasan alasannya disebabkan takut dituduh kilfir clan lain &.ebagainya. Apa kah alasan-alasan ini akan berkelanjutan terus. .atau kembali berkarya menghidupkan seni patung Nias sebagai hasil kesenian daerah atau menyerah mempertahankan alasan-alasan tersebut di atas, dalam hal · ini kita masih menantikannya. Menurut hemat kami, kemudian dihubungkan oleh himbauan himbaua_n pemerintah, sikap bangsa yang pantang menyerah, serta para humanis dan pencinta seni, harga diri para seniman perlakuan ataupun alasan-alasan tersebut seyogyanya tidak terjadi bagi para seniman Nias. Kalau toh ini akan terjadi juga, maka para seniman alcan berkabung untuk menyatakan diri bahwa Indonesia sudah ke hilangan sesuatu yang paling berharga.
Seni patung sebagai cabang seni yang merupakan kebutuhan ro hani yang pantas untuk dinikmati, sewajarnya mulai dari sekarang para seniman Nias yang justru mampu bercipta karya kembali mem benahi diri untuk bergabung atau dengan kata lain kembali kegelang gangnya untuk mencipta dan menghidupkan seni patung Nias. Untuk ini pamong-pamong daerah cq Bidang kesenian kiranya perlu me naggapi apa yang sudah dicanangkan Pemerintah di bidang pengem bangan industri parawisata, dimana kesenian daerah adalah sumber utama disamping keindahan alamnya. Sejarah kesenian Indonesia sudah mencatat bahwa di daerah san (Toraja), kesenian prasejarah masih berkembang terns. Jelasnya dia tidak mandek ditengah jalan, sebagai contoh seni hiasnya. Seka lipun daerah itu dilibatkan oleh berbagai pengaruh seperti masuknya Islam, kemudian misi Kristen yang mendampinginya, dilanjutkan oleh pengaruh Barat sesudahnya, namun kesenian prasejarah ber jalan terns dan tetap mempertahankan eksistensinya bahwa Toraja memiliki sesuatu yang berharga yakni warisan budaya nenek moyang. Apa kabar dengan Nias? Kami merasa dengan uraian-uraian yang te lah dikemukakan di atas, kiranya, selagi mumpung masih bisa, pe ranan seniman yang hampir langka itu ditempatkan kembali kepro fesinya, tentunya dalam hal ini sebagai seniman yang kreatif guna melestarikan kembali kesenian Nias dalam hal ini seni rupa dan ca bang-cabangnya. Yahobu.
BAB V Kesimpulan clan Saran-saran
Sudah sejak masa prasejarah suku Batak dan Nias melakukan pembibitan bagi kelahiran seni patung. Kekhususan seni patung dari tiap daerah tergambar dari ilustrasi yang tertera pada bab-bab yang terdahulu. Keunikan seni pahat arsitektural yang terdapat pada kayu dan batu padas, singkatnya dari kehidupan budaya yang subur yang di tautkan pula oleh adat istiadat dalihan na tofu, kaitannya erat se kali dengan penyelenggaraan berbagai bentuk upacara keagamaan (kepercayaan). Maka tidak heran jika seni pahat arsitektural/patung sampai sekarang masih terns berkembang diantaranya patung-patung kuburan yang ditumbuhkan atas dasar gaya tradisionil naif dekoratif.
Dengan masuknya anatomi realistis dan pengaruh perkem bangan seni patung modern, seni patung yang bertolak dari seni pa tung tradisional (kerakyatan) kini berada pada saat-saat yang kritis. Jika hal ini dibiarkan maka akan terkikislah seni patung tradisionil daerah, dan bagi masyarakat Sumatera Utara khususnya Indonesia akan kehilangan sesuatu yang berharga yakni warisan leluhur yang di banggakan itu, sedang pemahat-pemahatnya yang masih ada masih menginginkan tempat yang layak ditengah-tengah perkembangan seni modern masa kini. Dihubungkan dengan arus wisatawan dalam dan luar negeri, dimana mereka lebih akrab dengan kesenian tradisional disamping keindahan alamnya, kekhasan akan !il seni tradisional menjadi ob jek yang lebih diutamakan, sedangkan pemahat (senimannya) ber diam diri disebabkan bahan dan alat sebagai modal utamanya serta penempatan yang layak dari hasil karyanya belum menjadi pemi kiran yang serius. Melalui bab ini, didasari dengan. uraian-uraian terdahulu kami mengambil kesimpulan serta saran-saran sebagai berikut.
I. Kesimpulan. Seni patung Batak yang meliputi daerah suku Batak Toba, Ba tak Simalungun, Batak Karo, Pakpak Dairi, Batak Angkola dan Nias dari hasil pengumpulan data dapat disimpulkan sebagai berikut:
- Dari sejumlab basil pemotretan patung-patung yang diperoleb terdapat empat daerab yang masib lengkap, diantaranya, Batak Toba, Simalungun, Karo dan Nias, sedang daerab-daerab lain seperti Pakpak Dairi dan Batak Agnkola sudab banyak yang pu nab ditelan ol eb zaman.
- Usaba masyarakat sampai saat ini untuk mempertabankan ben tuk patung-patung tradisional, hampir sudah tidak ada lagi. Hal ini nyata terlihat dari basil-basil baik yang bersifat duplikat oleb pemabat-pemabatnya (menyerupai bentuk aslinya) sudab jarang kita ketemukan.
- Seni patung dan seni ukir yang terdapat di daerab Nias tidak banyak diperoleb, baik yang terdapat pada rumab adat tradisio nal maupun di alam terbuka, bal ini disebabkan basil-basil seni ukir dan seni · patung yang diciptakan oleb senimannya me nurut perundang-undangan raja adat tidak boleb ditiru oleb orang lain.
- Patung kayu sebagai basil peninggalan pahatan nenek moyang sudab banyak yang mendekati kebancuran disebabkan kurang nya pemelibaraan. Gejala-gejala kepunaban ini dapat terlihat pada peninggalan-peninggalan yang masib ada yang pada saat ini dijadikan baban souvenir. Patung-patung batµ (patung-patung peninggalan megalit yang terdapat di daerab Batak Toba dan Nias umumnya dibiarkan begitu saja tampa pemelibaraan.
- Ahli pabat khususnya (pematung) tidak berkembang karena minat untuk memproduksi patung-patung yang sifatnya tradi sional tidak begitu menarik. Hal ini disebabkan penghasilan yang diperolebnya tidak seimbang dengan kebutubannya.
- Dari sejumlab patung-patung yang terdokumenter dapat mem buktikan babwa di daerah Sumatera Utara masib terlibat po tensi yang kuat dibidang kebudayaan sebagai unsur kepribadi an nasional. Hal ini dapat dirasakan pada pengertian simbolis, dan pengertian magis yang terkandung di dalamnya serta nilai nilai estetis dari basil peninggalan patung tradisional yang masih ada.
- Melalui data yang diperoleb sebagi:m besar masih dalam penak siran, oleb karenanya sangat sulit untuk menentukan persen t3Se dan lokasi kebudayaan secara umum.
II. Saran-Saran.
Dari c.lata-data yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian, maka perlu uisampaikan beberapa saran sebagai berikut:
l. Perlu uiadakan pembinaan Jan pengembangan kebudayaan yang bersifat tradisional, Justru hasil kebudayaan trac.lisional
itu dapat dianggap sebagai unsur kepribadian nasional.
- Untuk melestarikan kebudayaan yang sifatnya tradisional se bagai unsur kepribadian nasional dapat dilakukan dengan cara:
2.1. Memberikan semangat dan rangsangan kepada masyarakat untuk memelihara benda-benda hasil peninggalan kebu dayaan nenek moyang.
2.2. Menghidupkan kembali sejauh adanya kemungkinan-ke mungkinan bagi daerah-daerah yang masih memungkinkan berkembangnya hasil-hasil kebudayaan tradisional.
2.3. Pcrlu diadakan pemugaran terhadap patung-patung pening galan hasil karya nenek moyang yang dianggap bernilai seperti patung kuburan dan patung-patung megalit yang sampai sekarang masih ada ditemukan seperti di daerah Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Karo, Pakpak Dairi, Batak Angkola dan Nias.
2.4. Daerah-daerah yang masih mempunyai potensi kebudaya an tradisional perlu di inventarisasi, guna memudahkan kelancaran promosi pariwisata disamping sarana jalan per lu pula diperhatikan. - Cuna membina .dan mengembangkan kebudayaan tradisional terhadap senimannya perlu disarankan agar dapat memproduk si kembali hasil-hasil patung tradisional sebagai kebutuhan kepariwisataan.
- Adanya sebuah museum dipandang sangat penting; guna meng ungkapkan secara visual kekayaan kebudayaan daerah. Di da lam museum itulah dihimpun kembali semua jenis dan nilai nilai patung tradisional sebagai salah satu cara pengawetan ke budayaan yang artistik itu.
- Untuk merangsang minat para pemahat yang mempunyai ke ahlian di bidang seni patung tradisional perlu diberikan bim bingan disamping sarana penunjang antara lain modal, alat alat dan media bahan lainnya.
DAFTAR BACAAN
- Sutjipto Wirjo. Suparto. R.M., Prof. Dr. "Bunga Rampai Sejarah Budaya Indonesia. Jakarta 1964"
- Wojowasito, S., Ors. "Sejarah Kebudayaan Indonesia I, II Jakarta-Yogyakarta 1957."
- Sangti Batara, "Sejarah Batak. Balige, 1977".
- Meuraxa Dada, "Sejarah Kebudayaan Sumatera. Medan, 1974".
- Laude Jean, "The Arts of Black Afrika, University of Califor nia Pr ess Berkelay Los Angels London. translated by Jean De cock.
- Arifin Hasan Nul., "Ikhtisar Sejarah Kebudayaan Indonesia Pustaka Antara. Jakarta 1950".
- Tambun, M., "Adat Istiadat Karo, Medan 1966".
- Singarimbun M., "Seribu Perumpamaan Karo 1960".
Van der Hoop. A. N. J. Tahun a' Tahun., Indonesisch Siermo tiven., d/h, Nix & Co, Bandung 1949.
I 0. Turnip. W. A, Drs. "Primitive Art, IKIP Medan 1976.Ginting Mordiyan. Drs., Situmorang Oloan, Drs., "Suatu Peneli tian terhadap bentuk dan fungsi Seni Topeng tradisionil di dae rah Karo. FKSS-IKIP Medanl980 - 1981".
- Koentjaraningrat., "Beberapa pokok Antropologi Sosial, P. T. Dian Rakyat, Pustaka Universitas No. 8, 1977".
- Sudarso SP. MA. ed., "Topeng-topeng Klasik Indonesia, Art Gallery Sini Sano", Yogyakarta 1970.
- Muhtar Bud. Drs., "Beberapa catatan tentang Patung PrimitiF' Seni Rupa ITB, 1981.
- Read Herbert. "The meaning of Art" Penguin Book Tahun
1959. - Manurung. J. Drs. "Dektat Apresiasi Seni'' IKIP Medan 1976.
188
Lampiran I CURRICULUM VITAE
Na ma Muhammad Saleh. Tanggal/tem pat lahir 12-10-1936, Serang Jawa Barat. Pendidikan Sarjana Muda Jurusan Seni Ru pa.
Kegiatan:
A. Bidang Kesenian 1952 - 1959- Aktif di bidang drama, disamping
sebagai aktor juga sebagai penulis naskah drama RRI di Medan. Prestasi yang dicapai-Peran pembantu utama terbaik Fes tival Drama Pertama Tingkat Pro pinsi Sumatra Utara. -Pemenang deklamator pertama ber turut-turut tahun 1955, 1956, 1957, 1958, tingkat Sumatra Utara.
Pengalaman: 1955 sampai dengan 1957- Aktif dibidang musik kroncong dan hiburan.
189·
l 956 sampai dengan sekarang-Aktip dibidang Seni Rupa. -1956 Pameran lukisan tunggal pada
| sekolah | Guru | B di Pancur | Batu. | |
|---|---|---|---|---|
| -1958 | Pameran lukisan bersama de | |||
| ngan. Medan. | Pelukis | Sekar | Gunung | di |
| -1960 lukisan bersama seniman Medan. -1967 | s/d 1965 membuat | sering dengan Monument Jende | Pameran seniman | |
| ral Sekar Gunung di Medan. | anumerta | A. Yani | bersama | |
| -Membuat | tugu | Letnan | Sujono | di |
| Bandar Betsy nung. | bersama | Sekar | Gu | |
| -1968 IKIP Negeri Medan. -1969 di Medan. | Pameran Membuat Tugu | lukisan | tunggal Medan Area | di |
| -Membuat | monument | May. | Jen. | |
| DJ. | Panjaitan | bersama | Drs. | B. |
| Sirait Simanjuntak di Balige. | Ng. Bana | Malaiela, Eddy | ||
| - 1970 | Pameran | tunggal | di Guest | |
| House William Sick di Medan. | Mobil | Oil, sponsor | Jack | |
| -1971 da sponsor Jack William Sick .. | Pameran | tunggal | di Kana | |
| -1971 | Pameran | tunggal | di Guest | |
| House nya. | Mobil | Oil yang | ke-2 | kali |
| - 1972 | Membuat | tugu | Perjuangan | |
| bersama buk Pakam. | Ng. | Bana Meliala | di Lu |
sekolah Guru B di Pancur Batu.
·
·
B. Karya Tulis. 1. Mari berkarya (Diktat)
Bahan penataran guru-guru SLTP/ SLTA se Sumatra Utara. Bimbingan Teori dan Praktek bid. studi Kese nian sub. bid. studi Seni Rupa SLTP/ SLTA (2 jilid).
- Melola hasil alam sekitar (Diktat)
- Seni Ru pa (buku):
- Kerajinan Bambu (buku)
-Pameran lukisan bersama Seniman Medan, pembukaan Jakarta Fair I di Jakarta.
- I 973 Membuat tugu Perjuangan di Padang Sidempuan. -1975 Membuat patung Dr. F.L. Tobing di Sibolga. -1976 Pameran lukisan bersama di Jakarta, Penyelenggara Direktor Pembinaan Kesenian Jakarta. -Pameran lukisan 3 Kota. Medan, Padang, Palembang di Medan. -Pameran bersama delapan Propin si di Palembang. -1981 Juara II lomba lukis antar seniman se Sumatra Utara.
Bahan penataran guru SD se Sumatra Utara, Bimbingan Teory & Praktek Keterampilan kerajinan untuk SD. Bahan pelajaran Sub. Bidang studi Seni Rupa untuk SLTA (2 jilid).
Bahan pelajaran keterampilan untuk
C)LTP & SLTA.
191
Peranan Seni Ru pa didalam "Peng hijauan Kota" (Kertas Kerja)
Bahan Seminar pada Fakultas Per tanian USU di Medan (mendapat piagam penghargaan).Perkembangan Se ni Rupa anak di Sumatra Utara (kertas kerja)
- Seni Patung (Diktat)
- Seni Keramik (Diktat)
- Seni Kerajinan (Diktat)
- Seni Pa tung Nias (Kertas Kerja)
Bahan ceraJllah di Jakarta.
Bahan penataran Kasi Kebudayaan se Sumatra Utara.
Bahan penataran Penilik Kebudayaan se Sumatra Utara.
idem.
Bahan Ceramah Studi Perbandingan Seni Patung Kerakyatan (primitiO di Jakarta.
Bahan Ceramah Studi perbandingan. Perkembangan Seni Rupa anak-anak se daerah Sumatera Utara di Sumatra Utara.
- "Seni Rupa Anak-Anak" 1 2. Ragam hias Karo ditengah-tengah ragam hias Indo nesia (Paper)
192
Bahan Senimar Seniman Seni Rupa Sumatra Utara Penyelenggara Bid. Ke senian Kanwil Dep. P & K Sumatra Utara.