Baca PDF (OCR): Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia-Belanda dan Indonesia 1764-1962

677 halaman · teks PDF berhasil diekstrak tanpa OCR· 12191 ms

Daftar isi
  1. MASON BEBAS DAN
  2. MASYARAKAT DI HIND lA BELAND A
  3. DAN INDONESIA 1764-1962
  4. ~~NK"'"'
  5. : =c:~or,. ~ =~~ ~ =~ ~o;~
  6. MASON BEBAS DAN MASYARAKAT 01 HIND lA BELAND A
  7. DAN INDONESIA 1764-1962
  8. Dr. Th. Stevens
  9. L4. PUSTAKA SINAR HARAPAN ~ Jakarta, 2004
  10. di !Jlindia-:Jlelanda du1u dcut di !huhur£Ma.
  11. PENERBIT ....................................................................... xi
  12. KATA PENGANTAR ............................................................... XV
  13. PERTANGGUNGJAWABAN ............................................... xvii
  14. III ZAMAN 13ERKEMBANGNYA TAREKAT
  15. MASON BEBAS (V RIJMETSELARIJ) 01
  16. BAB IV TAREKAT MASON DAN PERJUANGAN UNTUK
  17. PENERBIT
  18. r. Taufik Abdullah, ahli sejarah ternama, senng
  19. bergurau bahwa ada History (sejarah) dan ada lebih
  20. D banyak lagi His Story (cerita:nya). Karni ingin
  21. meneruskan gurauan ini dengan berkata bahwa ada Sejarah
  22. Dr. Stevens menguraikan sejarah suatu tarekat yang khu-
  23. Indonesia. Pergerakan ini kemudian dibubarkan oleh
  24. kan bahwa ia akan mernainkan peranan penting dalam
  25. Timur)" menyatakan pada tahun 1869:
  26. Provinsi dan penelirian Majalah Masonik Hindia.
  27. Tarekat Mason Be bas, VTijmetselarij ... lahir dalam
  28. Den Haag dan Leiden, 1905
  29. d.nnya sendlri dan "hanya menunggu" untuk dibebaskan.
  30. :ara berpil bE~emangan dengan paksaan dari setiap bentuk pemikiran _;...tii. Hal itu telah menyebabkan Mason Bebas tidak pernah -p:u ikut serta dalam usaha mendapat kekuasaan, denga.n ~entukan blok-blok kekuasaan. _lfanusia mempunyai kemampuan dan hak untuk mem- ~ suatu kesadaran norma sendiri. Dalam Tarekat Ma-Bebas ini merupakansuatu hal yangpasti diketahut suatu diberikan kepada diri sendirl. "Pugas ini- rnencari l Kemudian penulis membahas gagasan "Kesenian Kerajaan", sifat da1·i loge-loge a tau '' tern pat kerja'' di mana para Mason Be bas bcrtemu dan Anggaran DasaT Tarekat. Kutipan berikut ini adalah ten tang "pekerjnan di loge-loge dan lujuan yang hendak dicapaL" "Dalam hubungan loge, kerju sama diarahkan supaya orang saling mendukung dalam pekerjaan terhadap batLI kasar, supaya ornng bersikap sabar satu sama lain, supaya oran g bersedla melakukan apa saj Tldak ada tinjauan yang dapat lebih baik mengungkapkan apa yang menjadi tujuan Tare kat Mason Bebas daripada teks Anggaran Dasar yang telah disebut sebelumnya. Kalau ell sini elise but Anggaran Dasar, maka yang selalu dimaksudkan ialah rumusan yang ditentukan pada tahun 1917 dan, terlcpas dari beberapa perubahan yang tidak penting, masih tetap berlaku. Tentang asas-asas yang dimuat dalam Anggaran Dasar, Akkerman berkata: "Dalam Anggaran Dasarnya Tarekat Mason Bebas antara lain mencantumkan bahwa sebagai dasar ditetapkan pengakuan tentang nilai tinggi kepribadian man usia- hak setiap orang untuk secara mandiri mencari kebenaran-tanggung jawab moral tcrhadap perilaku diri sendiri-kesamaan dalam wujud semua manusia-Tarekat umum derru kesejahteraan masyarakat." Pada akhir uraiannya penulis rnenyarnpaikan rumusan singkat beri_kut ten tang tujuan umum: 1 'Tarekat Mason Bebas rnengupayakan perkembangan harmonis manusia dan umat man usia". Dalam AnggaTan Dasar sendiri pertanyaan a pa sebenarnya Tarekat Mason Bebas itu diajukan juga kepada Tarekat. lh1 dilakul ANGGARAN DASAR BAGI TAREKAT MASON BEBAS
  31. KETENTUAN-KETENTUAN UMUM
  32. Ma9onniek Tijdschrift (Majalah Masonik Umum),
  33. van een "Toto/(' (Kesan-kesan
  34. men gangkat seorang koresponden yang akan memelihara
  35. SERATUS T AHUN PERTAMA :
  36. 1764 ~ K.L. 1870
  37. P meliputi bukan hanya kepulauan Nusantaramelainkan
  38. Pendirian "La Choisie" disebut oleh De Geus sebagai
  39. kecenderungan rnodemisasi itu menyebabkan kebudayaan
  40. Tahun 1767 pada umumnya dianggap scbagai awal
  41. hadap perselisihan-perselisihan yang disebabkan oleh perbe-
  42. Hubungan timbal balik dengan Tarel Schutte 1974, 197 Hageman 1866, 128 fdem, 137 SERATUS TAl-TUN PERTAMA: 1764-K-L. 1870 Belanda, setelah pelantikan resmi pada tgl. 5 Mei 1772 oleh Abraham van der Weyden sebagai "Wakil dan Penjabat sementara Suhu Agtmg Nasional untuk Hindia Timur", praktis mencapai titik nol, sebab "tidak ada prakarsa dari Loge Agung atau Suhu Agung di Holland terhadap loge-loge di 29 Hi.ndia Timur dan begitupun sebaliknyaJ/_ Hageman berpendapat bahwa sifathubungan antara negara induk dan negeri jajahan pada zaman Kompeni menghalangi hubungan yang mendalam an tara Loge Agt..mg dan loge-loge di Hindia Timur. Heren Zeventien ("Tuan-tuan Tujuhbelas", dew an yang menentukan haluan Kompeni) menolak setiap campur tangan dengan Hindia Tirnur di luar sepengetahuan mereka_ Hageman juga merasa bahwa monopoli Kompeni menciptakan "larangan, kecurigaan dan keengganan". Kecurigaan terhadap pengaruh dari luar dapat dilihat umpamanya dari adanya sensor atas buku-buku, di mana penyusunan daftar buku seluruhnya berganttmg pada pendapat gubernur jenderal Sah1-satunya percetakan di Batavia berada di bawah pengawasan polisi Belanda. Begitu kurangnya perlengkapan percetakan sehingga pada tahun 1780 tidak ada cukup huruf untuk menerbitkan Verhandelingen (Tulisan-tulisan) Perhimpunan Batavia tahun 30 itu. Kecurigaan dari pihak pimpinan Kompeni rupanya menjadi alasan mengapa Loge Agung menghindar dari setiap "kegiatan'' dengan I-I india Timur_ Mungkin i tu juga sebabnya mengapa bantara-bantara Hindia Timur waktu itu tidak terwakili di Loge Agung. Hageman, yang telah meneliti persoalan ini dengan saksama dari berbagai segi, tidak dapat memastikan apakah kerenggangan itu sudah terjadi sebelum tahun 1833_ Sebab, pada taln.m itu Penning Nieuwland, anggota loge 29_ Idem, 140 Idem, 145 (Persahabatan) di Surabaya, ditolak masuk ke Majelis Tahunan. 31 Hageman menyatalSlatrm-Generaal (DPR). Baru di Majelis Tahunan pada tahun 1844 diterima usul bantara Amsterdam "La Bien Aimee (Jiwa yang Baik)" agar kepada loge-loge di Hindia Timur dan Bar at diberi wewenang untuk mengirim utusan ke Majelis Tahunan, yang mengikuti perundingan-perundingan atas dasa1 persamaan dengan utusan-utusan dari loge-loge Belanda. Oengan diperlengkapi surat tugas, para utusan juga memiliki hak suara yang biasa. Sebagai akibat peraturan bant itu, anggota loge daJ.i Serna rang, C. E. van Goor sebagai wakil suatuloge Hindia w1tuk pertama kalinya pada tahun 1846 dapat rnengikuti pertemuan Majelis Tahunan. 33 Hubungan yang sulit antara negara induk dan negcri jajahan dapat kita temukan kembali dalam pengangkatan Nicolaas Engelhard, seorang tokoh terkemuka di hierarki kepegawaian Hindia Timur, sebagni Wakil Suhu Agung. Oleh karena pulusnya perhubungan dengan Eropa, Hindia Timur harus mengatur dirinya sendiri dan itu berlaku juga tmtuk Tarekat Mason Bebas. Seorang wakil suhu agtmg yang setia kepada pemerintah pada rnasa pergolakan patriotik merupakansekutu yang clihargai oleh pernerintah Hindia Belanda, di m ana setelah Bataafse revolutie (revolusi Batavia) juga tidak perlu dikhawatirkan bahwa Hindia Timur mungkin Van Dijck 1917, 220 Hageman 1866,142 Van Dijck 1917, 229-231 SERATUSTAHUN P E.R1AMA: 1764 - K.L. 1870 akan memisahkan diri. Engelhard pada zaman pemerin tah.an Daendels juga menentang penganth Perancis yang semakin besar, dan lebih cendemng untuk bekerja sama dengan pihak Inggris. Kedua penguasa itu di kemudian hari masih sering akan cekcok. Sekarang akan dibicarakan enam bantara yang didirikan an tara tahun 1767 dan 1859, pertama-tama "La Fidele SincerHe (Kesetiaan yang Ikhlas)'' yang mula-mula mengadakan pertemuan-pertemuan di losmen "Heerenlogement". Namun pada tahun-tahun 1770-1773 rumah tin ggal anggota H. C. de Lopez dapat digtmakan. Pada tahun 1770 untuk pertama kalinya dirayakan pesta St. Jans, yang sudah dimuJai pada pu.kul sembilan pagi, dan setelah itu sejak pukul 12 siang diadakan bantara meja. Acara selanjutnya meliputi sebuah konser dali pukul enam yang dituhtp dengan pesta dansa. Dari hal yang terakhir ini temyata bahwa ada wanita-wanita yang hadir. Pada pukul sepuluhrnalarn dinyalakan kembang a pi, dan acara diakhiri dengan "kerja meja" yang baru. Komentar Hageman berbtmyi, " Para BB (Bruder) Batavia pada hari-hari itu sepertinya tidal< kenallelah".;w Sekitar tahun 1772, ban tara ini terlibat dalam usaha untuk mendirikan loge juga di Sumatra. Dari Padang para mason be bas Fran~ois van Kerchem, saudagar mud a dan administratur; jacob Sam Del de Raef, pernegang bukukhusus upah dan Anthonij Johnnnes Leu£tink, pemegang buku, mengirim permohonan l Hageman 1866, 114 Padang benar-benar 35 pernah ada. Juga Resoluticn vnn de Groote Loge 1756-1798 (Resolus.i-resolusi Ban tara Agung 1756-1798) yang diterbitkan 36 oleh Boerenbeker sama sekali tidal< menyinggung hal itu. Rupanya usaha pendirian ini hanya terbatas pad a suatu percobaan saja. Kemudian, pada tahun 1794 dari Padang datang lagi usaha baru, dan kepada kedua loge di Batavia dikirim surat pcrmohonan agar boleh didirikan suatu loge. Namun 37 usal1a kcdua ini juga tidak berhasil. Pada akhir pemerintahan Vander Parra rupanya ada pclu- nakan dalarn sikap terhadap Tarekat Mason Bebas, sebab pada tahun 1773 bantara boleh menempati sebuah gcdung di Jalan Amanusgracht. Gedung itu digunal Jabatan ketua sejak tahun 1781 hampir lebih dari seperempat a bad, dengan beberapa selang wakh1 saja, dipegang oleh Nicolaas Maas. Maas seorang pengacara dan kernudian panitera a tau pegawai pengadilan. Nama Maas juga pertama disebut dalam daftar anggota yang disusun Schutte berdasarl 1 Daftar Anggota 'La Fidele S incerih~" Nic. Maas pengacara, panitera Wesselman pembantu letnan kavaleri Balmain kapten warga kota C.F. Reimer mayor zeni J. C.J. 35. Jdem, 74-75 36. Boerenbeker 1979 37. De Geus 1917, 180 38. Schutte 1974, 197-198 5ERATUS TAHUN PERTA.\1A : 1764-K.L. 1870 J. van der Linden
  43. C. de
  44. 0. de Freyn
  45. J.B. Decker dokter kepala Rumah SakH
  46. J. van de Bogaard
  47. p -r. v. Giitzlaff perwira
  48. Silenlio el vide
  49. Suhu Agung menyetujui penyusunan badan pengurus
  50. nur JenderaJ WillemAlting dan anggota-anggota pemeri.ntah-
  51. semula. Pcristiwa-peristiwa politik di Eropa mempunyai
  52. J.P. Roos
  53. Di tahun-tahun pertama HD e Vriendschap" tidak banyak
  54. lnstitutOrang Buta dan Tuli di Amsterdam.
  55. Dari hasil pembicaraan temyata bahwa para anggota
  56. Vander Linden memang berpendapat bahwa de1apan pu-
  57. pembelian gedung baru sangat memberatkan anggota-
  58. 1870- 1890
  59. Tinjauan sejarah
  60. P ribu kilometer. Dengan sendirinya akibatnya besar bagi
  61. Di samping gambaran itu sebaiknya diberikan garnbaran
  62. Pengarang :ini selanjutnya rnenulis bahwa peluang rnereka
  63. -----------
  64. MASON BEBAS (VRIJMETSELARIJ)
  65. DI HINDIA BELANDA 1890-1930
  66. Tmjauan Sejarah
  67. ada akhir abad ke-19 Hindia Timur ti.daklah memberi
  68. Pbukan saja dari laporan-laporan resmi, tetapi juga dari
  69. Untuk menjalankan tugas-tugas baru tersebut, aparat
  70. besar dari mereka adalah turunan Indo-Eropa.
  71. pada zaman itu, dan tentang perl .umya di masa depan, dapat kita ketahui dari suatu artikel kiriman yang dimuat dengan nada sehtju yang jelas dari redaksi atas jsinya. 17 Artikel kiriman itu diberi judul "Pnnggilm1 -.ita di Hindia" dan mengajukan pertanyaan: Apa yang dapat d.ibuat oleh pihak Nederland untuk membangunkan rakyat dari perasaan tidak peduli, dan langkah-langkah apa yang !:.'erlu diambilnya agar rakyat dipersiapkan kepada hidupyang .ebih bail<. Penjajahan kolonial, menu rut penulis, te!ah mena1<- .ukkan rakyat dan menciptakan ketergantungan sehingga ndak mampu lagi menentukan nasibnya sendiri. Katanya: "Penjajahan dan penaklukan! Saya teringafkembali kepada tahun-tahLm silam, suatu masa pencucuran darah dan kesengsaraan, suatu masa pencbuclidayaan tanaman secara paksa dan perpajakan. Penakluk yang tidak pernah puas dengan uang, dan rakyat yang menderita dengan sabar." ( ... ) "Be rtahun-tahun tekanan berat paksaan dan ketidakpedulian, telah menjauhkan orang priburni dari takclirnya yang sebenarnya. Kesemuanya telal1 menciptakru1 sifat-sifat buruk padanya: kepasrahan yang berlebihan dan tidak adanya cinta lerhadap kebenaran." Penulis artikel kiriman itu tidak menyinggung sampai sejauh mana kesalahan orang Belanda dan penjajah-penjajah ~'·ang lampau, namun kemudian menye1ukan: "Hai kamu yang tahu ten tang siluasi penduduk Jawa-aku panggH kalian sebagai saksi atas ucapanku, bahwa orang pribumi di bawah pimpinan atasannya, kepala desanya, mandumya, sama saja seperti mayat. Aku berseru kepada- mu pegawai negeri dan karyawan swasta, agar mengakui bahwa dari semua yang dimilikinya ia menyeral1kan upeti kepada kepaJanya. Sudah banyak yang diperbaiki dalam hal ini-hanya sebagai pengecualian dan secara sembunyi- 17. Idem th. 1, 74-80 FI'AREKAT M ASON BEBAS 1890- 1930 sembunyi pegawai negeri pribuml mengambil dari rakyat apa yang bukan haknya, hanya jarang ada pengusaha industri yang tidak yakin bahwa martabat dan kepentiJ1g- annya sendiri menuntutsupaya memberikan kcpadarakyat apa yang hak mereka". Menurutpenulis, waktunya belum tiba untuk mcrnbiarkan bangsa dan negeri ih1 mencntukan nasibnya sendiri, dan apa yang selalu dikemukakan untuk mengesahkan kchadiran Belnnda juga dikemukakan di sini: " Kalau kekuasaan Bela11da besok meninggalkan Jawa, dn- larn sekejap Jawa akan menjadi contoh w ilayah yang diabaikan, jalan-jalan dilumbtthi rumput, jembatan-jcmbatan ambruk, kampung-kampung menjadi sekumpulan gubuk-gubuk yang misJ...in, hutan-hutan rusak, keamanan lenyap; rakyat diperbuda k oleh banmg siapa saja dan dirarnpoki oleh orang tidak dikenal". Agar rakyat menjadi sadar akan situasinya dan tercipta prasyarat yang memungkinkan ada perbaikan, maka belajar membaca dan menu lis merupakan hal yang sangat penting. Di samping itu dirasa perlu untuk menyebarkan buku-buku dengan keterangan yang bermanfaat bagi masyarakat. Ban yak juga dapat dicapai melalui pergaulan dengan "saudara berkulit cokelat". Namun jangansampai kita yang turun ke tingkat- nya, mclainkan kita harus mcncoba mengentaskannya ke ketingkat kita. Setiap orang yang menginjakkan kakinya di tanah Hindia harus dijiwai keinginan kuat rneninggalkan jejaknyai dengan kesadaran bahwa ia sebagai orang Kristen, sebagai orang Eropa, sebagai penguasa, telah diberikan tugas yang mulia untuk membuat orang lain lebih baik. Perlakukanlah orang priburni pertama-tama sebagai rnanusla, tw1jukkan marta bar manusianya, bangkitkanlah melalui percakapan Anda gagasan-gagasan pada dirinya yang mungkin sedang tidur." "Mari kita semua t~ekerja sama dengan baik untuk mengupayakan dinyalakan- nya terang yang lebih baik un tuk saudara berkulit cokelat, yang Jibebankan kcpada kita oleh panggilan kita sebagai Mason Bebas." Apa yang pada tahun 1895 merupakan pokok terpenting Jalam lndisch Mn9011niek Tijdschrift juga mend a pat perhatian !"CSar pada Kongres Masonik Kedua pad a bulan Mei 1902. Pertemuan-pertemuan itu dimaksudkan tmtuk memperkuat hu- hungan loge-loge satu sama lain melaJui pembicaraan dari po- -i tu, yang berlangsung di Yogya, ketua loge .\lataram, P.A Einthoven, menandaskan bagaimana Tarekat ~Iason Bebas di Hindia selama tahun-tahun terakhir telah me:ngalami pcrgeseran daJam pokok yang djperhatikan. "Kalau sebelumnya asas filantropis yang dominan, sekarang gagasan etika dan perkembangan yang diutamakan, dan dibicarakan masalah-masalah di bidangsosial dan ketatanegaraan". 18 Di antara banyak pembicara yang menekankan hal
  72. dan dialah yang memimpin perternuan yang pertama. Suatu
  73. _____ ZAMA:'>! BE.RKEMBANGNYA T AREKAT MASON BEBAS 1890- 1930
  74. mang bukan suatu badan tersendiri, mel ainkan suatu
  75. Pada pertemuan-pertemuan Loge Agung Provinsial
  76. r li III
  77. 14 34
  78. suatu tugas yang harus dijalankan untuk kaum pribumi
  79. dengan tujuan politis.
  80. Namun mengenai perkembangan dalam bidang budi
  81. Perawatan Ora1tg Buta
  82. Pemeliharamz A uak Yatim Piatu
  83. P erpustak.acm Rakyat
  84. kalau pun ada, iurannya kecil saja, sedangkan buku-buku
  85. Pendidilcnn kejuruan bagi perempuan
  86. bagi anak-anak laki-laki
  87. Pendidikan Mettettgah
  88. Tempat-tempat Peristirahatan
  89. Anak-a11ak Muda yang Ditelantnrknn
  90. Wisma-wismn Militer
  91. Hubungan antara loge ''Mataram" dan Yogya dari para
  92. Makna karangan-karangan Pocrbo bagi penyebaran
  93. Gedenkboek besar tcntang Tarekllt ynng diterbitkan pada
  94. 'Tengelolaan kolonial menjadi masalah pendidikan menu-
  95. akhirnya Poerbo menyatakan:
  96. _____ Z~A.J\1 BtRKEMBANGNYA T AREKAT MAsoN BEB.A.S1890 -1930
  97. Untuk menjelaskan hal yang spesifik dalam perilaku
  98. MASON DAN PERJUANGAN
  99. UNTUK KESINAMBUNGAN HIDUP
  100. 1930-1962
  101. Tinjauan scjarah
  102. Aberawal pada tahun 1929. Runtuhnya perekonomi-
  103. Europees Verbond (Perserikatan Indo-Eropa)" tetap merupakan
  104. Bagi rakyat, lenyapnya orang-orang Belanda merupakan
  105. mampu mengatur kaum pemuda militan, yang sudah
  106. Pertarna-tama kita memperhatikan pendirian loge "De
  107. I. M.T. kemudian membuka kolom-kolomnya bagi para
  108. Kemudian ia mcnyampaikan pendapatnya:
  109. Sumatra Bode dinmat sebuah pidato dari De Bree,
  110. Pad a pembicaraan penutupan diutarakan harapan semoga
  111. dengan dipulihkannya ketenteraman, kehidupan loge akan
  112. mernperoleh rangsangan yang baru. Kemudian Wakil Suhu
  113. Agung berbicara kepada pendahulunya, Van Ophuysen,
  114. Jepang menyerang Pearl Harbor pada tanggal 7 Desem-
  115. Pada tanggal16 Desember Wakil Suhu Agung menyam-
  116. paikan pesan Pebangkita.n Semangat kepada pengurus loge-
  117. loge. Ia mendesak agar semua pekerjaan, sebagai dukungan
  118. dalam masa pencobaan, dilanjutkan sedapat-dapatnya.
  119. Oengan langkanya sumber~sumber tertulis, maka wawan-
  120. cara-wawancara historis dan kenang-kenangan yang dicatat
  121. merupakan bahan-bahan yang dapat mengisi kekurangan itu.
  122. ___ TAREKAT MASo::-: DM>: PERJUANGAN UNTUK KastNA.r..iBUNGAN Hmul'
  123. JW datang ke Hindia pada tahun 1945sebagaiseorangten-
  124. Pengurus "De Beproeving" tersusun sebagai bcrikut:
  125. dapat dipastikan sudah rneninggal, namun dikhawatirkan
  126. Tegal merayakan usia setengah abadnya. Dalam hubung itu
  127. sebagairnana biasanya disampaikan suatu ringkasan sejarah.
  128. Kata-kata penutup dari pembawa pengantar bahwa: "Saya
  129. bangga menyebut laki-laki ini sebagai sahabat dan sesama
  130. anggota", menunjukkan bahwa rasa Tarekat antara orang
  131. 8. Perkembangan sejak tahun 1945.
  132. Menuju hubungan-hubungan baru
  133. digunakan oleh pasukan Inggris, sehingga perlu dicari pe-
  134. Loge Semarang "La Constante et Fidele" tidak mengala-
  135. nntuk memberi peringatan agar jangan bertindak ter-
  136. lewat tetapi juga tentang pengharapan
  137. Zuiderkruis selalu dikunjWlgi oleh cu-
  138. kup ban yak anggota.
  139. Carpentier Alting berhubung dengan meningkatnya suhu
  140. politik, dalam edisi I.M.T. bulan Januari, rnenyarnpaikan pe-
  141. Dalarn usul-usul Pengurus Besar Provinsial yang disebut
  142. dapat membangkitkan "separatisme". Ia lebih suka kalau se-
  143. ru Indonesia, Carpentier Alting
  144. J.J. Grotenl1Uis
  145. Suhu Kehorrnatan loge. Adanya
  146. 9. Berdirinya "Majelis Tahunan Indonesia"
  147. Melihat bahwa rencana untuk menarik lebih banyak
  148. Menurut Tjondronegoro orang [ndonesia dengan sendi-
  149. Untuk nwmberiknn pcnj~los,m ,Jtilli hut1r •lP,l'JHJo "LPp,e
  150. -l' rati~ml!'' -Unlllk -.cmcntara waktu bt'batknya wlt.sp bJlta~ diizm- l..an
  151. -Seti3p anggota harus dapat mengungkaplo;an pil.irannya
  152. dalJm t>ahasa y<~ng palin~ dekat di hatinya.
  153. CX•-,uill JIW g,t.ul untuk ~ho~p bah,:tSa, selama gagas.1n Tarckat bdal
  154. a. Pcrlu diamlnll.mgl...th-langkah agar para anggnta uldonl..'-
  155. sia. jtk.l dil..chl..'ndakt dilpal memakilt baha~<~nya scndtn
  156. b Kt'mun~J..Jn.m-l..cmungkman itu perlu dtumumi...Jn ruga
  157. dt lu.t r Ta""•l..at
  158. D.1l.m1 pt.>rtukar,m pil..tran )'ilng menyu~ul, cmpal orang
  159. iU1S);OIJ m~.?ng.•mbtl bag1an, di man.l dil..cmul.ak,m pokok-
  160. pol.;ol..l'l•rikutmt. Dtlogl' Semar<~ng ada mayontas yang lldak
  161. mcmr>!rm•"·•'·'hi..Jn ~mo~k.lliln bah.J'W yang ~rbcda-bcda,
  162. Suutu llmggak ~j.lr.ah d.il.lm PI\'"'-"' r•,ortumbuhJn ffil'OII •
  163. Nli M'll th 5. Y
  164. di BelamJa mt>ngakm
  165. hati bersedia untuk mendukung pcndinan suatu Loge
  166. ,'\gunR lndt>n•'!>la.'" Dcngan pemyalaan itu Tart•k;~t Masan
  167. Bebas memru.uki tahun pertama kt.>ml.'rdl?kaan lndonc~aa.
  168. Dalam pada atu sudah dapatdiperkirakan hahwa ~b..tgai
  169. akJbat dari perubahan hubunggan·hubungan l'l(llitik,l>anyak
  170. Dengan memperhatikan asal-usuJ Tarekat, maka pada
  171. Idem ah
  172. Agama Wahlllfl,,.pm Pl!rtemuanmaru~ll •h ·
  173. Pcngurus Bcsar ProvinsaaJ k.adang·kadang dlhadap-
  174. kan pada dalema yong :.uUtsehubungan dengan perkcmbang-
  175. langkilh dan T'l!ngurus Bes<~r l'roviru.iJI mr c:ukup nu.~
  176. '' a PBP mmglwrapk.ln p.·mydlaan a.sas telap dlhurm.ltl yang
  177. Kottven Suhu yang disclenggarakan pada tanggall6
  178. golongan-golongan lain dan masih tctap terasing
  179. Butir agenda bl!rikutnya menyangkut penyebaran il')..b·
  180. lul lt.l~ru lh 52, 1\13
  181. juga Majelis Tahunan Provinsial pada lah\an 1951 telah
  182. 13 Aprill952 di Bandung. kehadir wa makna terscndin. Pada Loge Agung Terbuka yang mendahului MaJCib Tahun.m Provinsial, ia diterima dengan :.egala kehormatan o;cbagai waW dari pe.rkumpulan ''Purwa·Dil~l na" Carpl.'ntier Alling menyatalan kcgcmbiraannya bahwa untuk perlamo kahnya dalam sejarab suatu perkumpulnn Indonesia diwakill dalam suatu Majelis Tahunan Provinsial, dM ia mengucapi(nn hnrapan.nya semoga Socparto dan JJ1ggota- nngguln lulnnyn n1engalami banyak keberh.a:.JL,ut. p,)dO Ra- po~t Un1un1 yong menyusul, sebelas IOfll.! dlw.1klh, d1 mana Swpo~th> nll!njndi utusan loge "De VncndMhap~ dari Surabaya, dan Ul!m Bwan Tjie sebagai wakll Pl.!rkumpulan Indonesia "Purwa-Oaksina" Rapat dibuka oleh Carpenuer t\lling dcngan menyinggung
  183. keadaan yang mengkhawatirkatl saJt itu, yang terutama ber-
  184. langsung di bidang k~pe"!,'UI'W>llll Mengenai nasib Tarekat
  185. Mason Bebas setelah penyt.>rahan kedaulalan, ada alasan un-
  186. tuk merasa optinus c.lengan Stkap hati-hati. Walaupun ada
  187. sikap agak menJauh c.lan pihak pemerintah dan masyarakat,
  188. or ant~ l<.uran11 terhadapnya. Sebag.u ,llih.mnya dikcmuka-
  189. i\ngKota Pcngllnls 8.?sai Pro,·m~•al Sosrohnthkusumo Ie-
  190. Iah menyatakan matnya untuk melelak~Jn fabutnnnya l>l!ll!·
  191. lah hamp•r eb<.'las tahun memangkunyo rermuhonannya
  192. Pertemuan penerangan dnrt "l'urwa-Dak:.ma" pada t.mg-
  193. SuhuAgung R.A.A. Sumitro Kolopaking
  194. 10. Peresmian ''Majelis Tahunan Indonesia''
  195. R.M. Soebali
  196. A.M. Hermanus
  197. F.G. Deibel
  198. 67 10 52
  199. RINGKASAN
  200. TOost-htdische Compagnie (Kompeni) di Asia didirikan
  201. namun di Guinea Baru bagian Barat (Papua) keberadaannya
  202. AND SOCIETY IN
  203. THE DUTCH EAST INDIES AND
  204. INDONESIA 1764 1962
  205. Tblishment of Freemasonry in the Netherlands in 1735.
  206. a new en-
  207. TI1e first Indonesians applied for membership about 1870.
  208. J.M. van Beusechem
  209. 'De Ster in het Oosten' di Batavia (1837)
  210. 1875 21
  211. 1876 21
  212. 1877 43
  213. 1878 43
  214. 1879 38
  215. 1880 33
  216. 1881 33
  217. 1882 33
  218. 1883 44
  219. 1884 38
  220. 1885 48
  221. 1886 48
  222. 1887 52
  223. 1888 56
  224. 1889 61
  225. 1890-
  226. 1891 45
  227. 1892 44
  228. 1893 51
  229. 1894 50
  230. 1895 35
  231. 1896 38
  232. 1919 35
  233. 1920 39
  234. 1921 36
  235. 1922 32
  236. 1923 38
  237. 1924 35
  238. 1925 34
  239. 1926 31
  240. 1927 28
  241. 1928 24
  242. 1929 35
  243. 1930 35
  244. 1931 43
  245. 1932 34
  246. 1933 36
  247. 1934 37
  248. 1935 37
  249. 1936 35
  250. 1937 36
  251. 1938 27
  252. 1939 24
  253. 1940 26
  254. 1875 73
  255. 1876 73
  256. 1877 63
  257. 1878 63
  258. 1879 60
  259. 1880 56
  260. 1881 58
  261. 1882 59
  262. 1883 57
  263. 1884 61
  264. 1885 64
  265. 1886 54
  266. 1887 52
  267. 1888 71
  268. 1889 70
  269. 1890-
  270. 1891 50
  271. 1892 46
  272. 1893 50
  273. 1894 43
  274. 1895 43
  275. 1896 52
  276. 1920 64
  277. 1921 77
  278. 1922 77
  279. 1923 72
  280. 1924 69
  281. 1925 69
  282. 1926 64
  283. 1927 55
  284. 1928 67
  285. 1929 68
  286. 1930 69
  287. 1931 59
  288. 1932 54
  289. 1933 55
  290. 1934 42
  291. 1935 47
  292. 1936 50
  293. 1937 43
  294. 1938 52
  295. 1939 45
  296. 1940 48
  297. 1872 19
  298. 1873-
  299. 1874 30
  300. 1875 30
  301. 1886 26
  302. 1887 14
  303. 1888 14
  304. 1889 14
  305. Frederic Royal' di Solo (1872)
  306. 1880 28
  307. 1881 45
  308. 1882 39
  309. 1883 39
  310. 1884 42
  311. 1885 31
  312. 1886 19
  313. 1887 40
  314. 1888 30
  315. 1889 35
  316. 1890-
  317. 1891 21
  318. 1892 28
  319. 1893 34
  320. 1894 31
  321. 1895 30
  322. 1896 31
  323. 1897 28
  324. 1898 32
  325. 1899 34
  326. 1900 26
  327. 1922 19
  328. 1923 16
  329. 1924 19
  330. 1925 19
  331. 1926 17
  332. 1927 20
  333. 1928 20
  334. 1929 21
  335. 1930 21
  336. 1931-
  337. 1932 14
  338. 1933 19
  339. 1934 12
  340. 1935 12
  341. 1936 11
  342. 1937 12
  343. 1938 10
  344. 1939 12
  345. 1940 14
  346. 1924 44
  347. 1925 53
  348. 1926 57
  349. 1927 38
  350. 1928 38
  351. 1929 21
  352. 1930 26
  353. 1931 25
  354. 1933 26
  355. 1934 27
  356. 1935 25
  357. 1936 22
  358. 1937 20
  359. 1938 21
  360. 1939 18
  361. 1940 18
  362. 1890-
  363. 1891 37
  364. 1892 45
  365. 1893 46
  366. 1894 44
  367. 1895 44
  368. 1896 25
  369. 1897 38
  370. 1898 36
  371. 1899 36
  372. 1900 36
  373. 1901 40
  374. 1902 32
  375. 1903 32
  376. 1904 42
  377. 1905-
  378. 1906 31
  379. 1907 22
  380. 1908 48
  381. 1909 47
  382. 1910 48
  383. 1934 84
  384. 1935 81
  385. 1936 77
  386. L937 84
  387. 1938 79
  388. 1939 75
  389. 1940 79
  390. 'Tidar' di Magelnng (1891)
  391. -- --
  392. 14. 'St.]an' di Bandung (1896)
  393. 1898 1913
  394. 'De Dagernad' rli Kediri (1918)
  395. 38--
  396. 24. 'De Hoeksteen' di Soekaboemi (1933)
  397. mengikuti kuliah dalam mata pelajaran kimia dan
  398. (Groningen, 1960).
  399. Bogar 1891-1951 (Bogor,
  400. 5799) (Surabaya, 1866).
  401. Nederlnndsch gezag in Oost-
  402. !Jzdie Gld. XI) ('s-Gravenhage/Amsterdam 1883).
  403. NAMA-NAMA
  404. L.J.L 460, 463, 510,
  405. H.J. van, 74, 121,
  406. J. va
  407. J. C. G., 244
  408. J.J., 494
  409. J. W., 494
  410. J .] ., 460, 465
  411. Jutting, Th., 131
  412. J .]., 422, 423, 424, 586
  413. J.A. van, 51
  414. J .,
  415. J .F., 111
  416. this reasons. rules!!! purposes of any the
  417. informational nor e-book accepting & this of
  418. means attempts series
  419. educational for the document to
  420. commercial this Digitised
  421. Neither permitted are
  422. Downloading

Sarif Bastaman Saleh, lahir di sekitar tahun 181 0 di Semarang dan meninggal tahun 1880 di Bogor. Pelukis termasyur ini dianggap sebagai anggota Tare kat Mason orang Indonesia yang pertama. Pendidikannya diperoleh di Eropa tetapi kebanyakan hidupnya ia berkarya di Indonesia. Ia boleh dianggap sebagai pembangun jembatan antara dua kebu dayaan."

MASON BEBAS DAN
MASYARAKAT DI HIND lA BELAND A
DAN INDONESIA 1764-1962

~~NK"'"'

8~~* !N" I! CAUTJONill ~181

: =c:~or,. ~ =~~ ~ =~ ~o;~

"' an..;;,:.-:scA'li"'ri~~ ':!.~>Oil

PROPR IETARY RANK

MASON BEBAS DAN MASYARAKAT 01 HIND lA BELAND A

DAN INDONESIA 1764-1962

Dr. Th. Stevens

L4. PUSTAKA SINAR HARAPAN ~ Jakarta, 2004

milde possible with the financial support of lhe Foundation for the Production and Translation of Dutch Literature, Amsterdam Penerbitan ini dimungkinkan oleh pendanaan Yayasan Produksi dari Penterjemahan Sasb·a Belanda, Amsterdam

TAREKAT MASON BEBAS DAN MASYARAI

Judul Asli: Vrijmetselarij en samenleving irl Nederl ands-Tnclit~ en Indonesie 1764-1962 HiJversum: Uitgeverij Verloren, 1994 Pericles Katoppo, M.A., Penerjemah Toenggoel P. Siagian, M.S., M.Ed., Editor Akhir

ISBN 979- 4'16- 804 - 1

04 I SEJ I 01 Desajn Sampul: Grafindo Pettata Lelak: A. Herda

Hak Cipta dilindungi Undang-Ltndang Diterbitkan olch Pus taka Sinar Harapan, anggota lkapi, Jakarta

Cetakan Pertama, Maret 2004 Dicetak oleh Surya Multi Crafika

iv

di !Jlindia-:Jlelanda du1u dcut di !huhur£Ma.

v

Drs. J.D. van Rossum, Grandmaster of the Order of Freemasons in the Netherlands Drs. E.P. K waadgras, Cur a tor of the Collections of the Order Mr. P.S. Peeters, Founder of lhe International Organization for Graphic Training Co-operation Dr. J.A Faber, Professor Emeritus of Economic and Social History, the University of Amsterdam Dr. lr. P. Richardus, Chief-Scientist in Agriculture, the University of Wageningen, Retired Drs. R.N. Voorneman, Historian I Editor Dr. D.W.L. van Son, Teacher Oassical Greek and Roman Languages, Retired Dr. Ir. J.J. Verstappen, Director Human Resources of Shell International, Retired Mr. A. de Heus, Creative Director

vi

PENERBIT ....................................................................... xi

Toenggoel P Singian M.S.; M.Ed.

KATA PENGANTAR ............................................................... XV

Drs.]. Diederik vnn Rossum Suhu Agung Tareknt Mason Bebas di bnwnh Timur Besat Belandn

PERTANGGUNGJAWABAN ............................................... xvii

PENGANTAR .............................................................................. 1

  1. Apakah Tarekat Mason Bebas (Vrijmetselarij) itu? Tujuan universal dan tahun-tahtm pertama
    organisasi Tarekat Mason Bebas di Nederland ................ 1

  2. Loge-loge Beland a tertua di Asia dan htiliungan
    mereka dengan Tarekat di Nederland ............................. 13

  3. Tarekat Mason Bebas dan ciri-ciri masyarakat
    Hindia Belanda yang beragam .......................................... 19

  4. Selayang pandang pcnulisan sejarah masonik
    di Hindia Belanda ....................................... : ........................ 33

vii

  1. Sekelumit ten tang tempat Tarekat Mason Bebas
    Hindi a Beland a dalJm penulisan sejarah umum ........... 42

BAB I SERATUS TAHUN PERTAMA: 1764 - K.L. 1870.49

  1. Hindia Belanda pada hari-hari terakhir Kompeni (1760-1800) dan di bawah negara
    Nederland ............................................................. 49
    Sekilas tinjauan sejarah ....................................... 49

  2. Keberadaan singkat loge ''La 01oisie" di
    13atavia (1764-1766) .............................................. 56

  3. Landasan Tarekat Mason Bebas di Hindia 13elanda Menguat. Loge-loge di Batavia ''La Fidele Sincerite" (1767) dan "La
    Vertueuse" (1769) ................................................. 65

  4. Loge "La Constante et Fidele" di
    Semarang (1801) ................................................. 109

  5. Loge "De Vriendschap" di Surabaya (1809). 120

  6. Peleburan Loge-loge di Batavia kc dalam
    Loge Baru "De Ster in het Oosten" (1837) ..... 128

  7. Loge ''Mata Hari'' di Padang (J 858) ................ 133
    BAB II TRANSISI KE Z AMAN BARU 1870-1890 ........... 139

  8. Tahap pendahuluan menuju Hindia Belanda
    yang modern ....................................................... 139
    Tinjauan sejarah ................................................. J 39

  9. Pertumbuhan Tarekat Mason Bebas
    (Vrijmetselarij) yang dipercepat ...................... 149

  10. Kegiatan-kegiatan paling dini derni
    kepentingan masyarakat ................................... 156

  11. A5. Carpentier Alting sebagai mata rantai
    penghubung dengan zaman baru ................... 161

viij

III ZAMAN 13ERKEMBANGNYA TAREKAT
MASON BEBAS (V RIJMETSELARIJ) 01

HlNDIA BELAND A 1890-1930 ........................... 189

  1. Berakhirnya zaman keterpurukan ekonomi. Pendapat-pendapat baru tentang pemerintahan kolonial dan munculnya kelompok-kelompok dcngan kepentingan-kepentingan tertentu ... 189
    Tinjauan sejarah ................................................. 189

  2. A.S. Carpentier Alting dan sernangat baru .... 205

  3. Pcndirian lndisciT Maronniek Tijdschrift (Majalah Masonik Hindia) dan "Loge Agung Provinsial Hindia Belanda". Ketegangan
    dalam hubungan dengan Nederland ............. 219

  4. Pertumbuhan terus dari jumlah loge dan
    jumlah anggota. Profesi-profesi mereka ......... 246

  5. Tarekat Mason Bebas (Vrijmetselarij) dan masyarakat. Upaya untuk mernperbaiki kedudukan orang Indo-Eropa di
    masyarakat .......................................................... 252

  6. Orang-orang Indonesia rnulai mengarnbil
    bagian dalarn Tarekat ........................................ 299

  7. Kaum Mason Bebas (Vrijmetselarij) ten tang
    rnasa depan masyarakat Hindia Belanda ....... 332

BAB IV TAREKAT MASON DAN PERJUANGAN UNTUK

KESINAMBUNGAN HIDUP 1930-1962 ............ 363

  1. Krisis ekonomi, perang, usaha-usaha
    pemulihan dan konsolidasi Republik ............. 363
    Tinjauan sejarah ................................................. 363

  2. Tarekat Mason Bebas (Vrijrnetselarij) eli H india Belanda semasa penmcingan hubungan-
    hubungan pada tahun tigapuluhan ................ 378

  3. Tarekat, Loge-loge dan anggota-anggota
    menurut jumlah .................................................. 386

ix

  1. Tarekat Mason Bebas (Vrijrnetselarij) dan
    rnasalah pengangguran ..................................... 391

  2. Kaurn Mason Bebas (Vrijmetselarij), ekstremisme politik Belanda dan sosialisme
    nasional pada tahun tigapuluhan ................... 398

  3. Hubungan tegang antara Tarekat Mason Bebas (Vrijmetsela rij) di Nederland
    dan Hindia Beland a ........................................... 416

  4. Tare kat dan kaum Mason Bebas (Vrijmetselarij) semasa pendudukan Jepang dan permulaan
    baru pada tahun 1945 ........................................ 425

  5. Perkembangan sejak tahun 1945. Menuju
    hubungan-hubungan baru ............................... 454

  6. Berclirinya ''Majelis Tahunan Indonesia'' ....... 510

  7. Peresmian
    11
    Majelis Tahunan Indonesia" ....... 553

  8. Tarekat Mason Be bas (Vrijrnetselarij) di
    Indonesia berakhir ............................................. 560

BAB V RINGKASAN ........................................................... 567

SUMMARY [Ikhtisar dalam bah a sa Inggris] ..................... 577

LAMPlRAN-LAMPIRAN ...................................................... 585

KEPUSTAKAAN ..................................................................... 615

lNDEKS NAMA-NAMA ........................................................ 623

PENERBIT
r. Taufik Abdullah, ahli sejarah ternama, senng
bergurau bahwa ada History (sejarah) dan ada lebih

D banyak lagi His Story (cerita:nya). Karni ingin

meneruskan gurauan ini dengan berkata bahwa ada Sejarah

dan ada sejnrnh. Yakni ada Sejnrnh Utama yang mengkisahkan pergolakan dan gerakan fokaJ dari sesuatu masyarakat tetapi ada juga sejarah snmpingan yang seakan terpendam dan memang tidak begitu penting pada umumnya namun, pada tempatnya sendiri, memainka.n peranan besar dan mempunyai dampak mendalam pada para pclaku dan sekitarnya.

Dr. Stevens menguraikan sejarah suatu tarekat yang khu-

sus terdiri dari pria, ya.ng berkedudukan map an, pad a jaman 1-iindia Belanda dan beberapa tahun sesudah kemerdekaan. Pada awalnya pergerakan ini hanya beranggotakan pria Eropa, terutama Belanda, dan di kemudian harinya mulailah orang Indonesia masuk-kebanyakannya dari kaum ningrat. Menjelang akhir sejarahnya, tarekat inimenjadi suatu tarekat

xi

PENERBIT

Indonesia. Pergerakan ini kemudian dibubarkan oleh

Soekamo dan kemudian tidal< pemah timbullagi di indonesia-padahal organisasi yang dibubarkan bersamaan seperti the Rotary Club telah bangkit kern bali. Hal ini tidaklah menjadi soal bagi penerbitan buku ini karena Pus taka Sinar Harapan terutama tertarik pada aspek sosial-historis dari tarekat ini di Indonesia.

Ada tiga hal yang menarik dari sejarah organisasi ini. Yang pertama ialah tarekat ini tidak pernah berakar di bumi Indonesia padahal banyak pemimpin Indonesia sebelum Perang Dunia II menjadi anggota malah memegang posisi pimpinan dan banyak pula kaitannya dengan gerakan kemerdekaan dini. Yang kedua ialah bahwa walaupun ban yak anggotanya memegang jabatan ku.nci baik di pihak Beland a maupun di pihak Indonesia, pada umurnnya para anggota tarekal ini tidak dapat berpengaruh di kubnnya masing masing apalagi berperan dalam konllik Indonesia-Belanda. Yang ketiga ialah melalui banyak pekerjaan pelayanan masyarakat terutama melalui sekolah sekolahnya yang bermutu tinggi telal1 terbentuk-mungkin juga dengan tidak sengaja- kavvula mud a yang nantinya menjadi sebagian dari elite Indonesia modern.

Bnku ini merupakan langkah pertama dari Penerbit Pustaka Sinar Harapan untuk memajukan sejnrnh sampingnn Indonesia. Dalamseri ini yang terutama akan ditampilkan ialah karya-karya mengenai jaman kolonial modem-katakanlah an tara tahun1860 sampai norma1isasi hubu.ngan setelah Irian Jaya. Penulis yang ditonjolkan bukan saja terdiri dari penulis BeJanda, yang digolongkan sebagai penulis Belanda ialah semuanya yang memakai bahasa Belanda, dan penulis lrtdonesia tetapi juga penulis lainnya di luar ke dua golongan ini.

xu

Pustaka Sinar Harapan berharap menerbitkan buku-buku mcngenai sejarah sesuatu daerah ataupun sejarah; dari organisasi masyarakat; keluarga; biografi, sejar·ah dan budaya pcrkapalan, dari perusahaan perkebunan serta keluarga-kcluarga yang mcnjalankannya; kemiliteran; kepolisian; pamong praja-Binnenlands Bestuur; kepanduan; golongan Tionghoa; pendidikan; budaya campuran; dan sebagainya; baik yang dih.dis dengan kacamata Belanda maupun sudut pan dang lainnya. Mungkin karya-karya seperti ini dapat memperkaya khasanah kita dan membantu kita untuk lebih mengerti keselLtnli1an sejarah kita.

Toenggoel P. Siagian M.S.; M.Ed. Direktur- P.ustnkn Sinnr Hnrnpnn

sesuaht dogma atau ajaran mengenai perbedaan latar belakang kemasyarakatan, budaya ataupun agama maka timbul suatu semangat toleransi dan kerja sama. Tujuan akhir dari pergerakan ini ialah tercapainya suatu du.nia eli mana setiap orang, mendapat tern pat yang layak. Cara pendekatan ini juga lebih rnerang- sang kemajemukan daripada suatu keseragarnan man usia dan budaya. Rumah pertemuan Mason Bebas me.mpersatukan

XV

KATA PENGANTAR

anggota anggotanya dalam suatu usaha pencapaian kebersamaan manusia. Bolehlah dianggap bahwa sekiranya mereka bukan anggota, mereka tidak akan begitu mudah dapat saling bertemu apalagi rnenghorrnati satu pada yang lain. Buku ini membicaTalini menjelaskan berapa banyaknya lembaga masyarakat- ter- utama sekolah sekolah- tetapj juga usaha usaha lainnya bagi kemajuan manusia telah timbul dari hati sanubari tarekat ini. Mungkin jantung-hati setiap masyarakat adalah satu tern pat di mana semua perbedaan budaya, ras atauptm agama dapat berh1mbuh menjadi satu kaidah pokok yakni cinta pada sesama man usia dan ciptaan yang Mahakuasa. Pad a sa at ini bagaimana masyarakat pembaca Indonesia menerima buku ini belum lagi dapat terbayang. Narnun, kalau saya renungkan berapa banyak orang yang bekerja keras demi terbitnya terjemahan buku ini rnaka, menurutsaya, hanyalahrasa cinta yru1g mendorong mereka. Cinta yang, berkali kali, ditujukan pada negeri dan bangsa. Rasa Cinra ini pulaJah yang saya sarnpaikan kepada setiap orang yang membuka buku ini.

Drs. J. Died erik van Rossum Suhu Agung Tnrekat Mason Bebns di uawah Timur Besar Belandn

xvi

Penelitian selama ini ditujukan terutama pada bidangpolitik, rnili- ter dan ekonom.i, sedangkan segi-segi sosial dari sejarah Hindia Belanda huang diperhatikan. AJtli sosiologi Van Doom menekankan bahwa para peneliti Belanda pada zaman kolonialisme memang mempunyai perhatian untuk banyak hal, namun rnereka hampir-hampir tidal< memperhatikan sejarah segm.en penduduk Belanda sendiri. Di kemudian hari, pada dekade-dekade pertama setelah dekolonisasi, seakan ada tabu atas perha tian historis terhadap Hinclia Beland a, dan para peneliti lebih sibuk dengan sejarah penduduk Indonesia. Pada kenyataannya, bam pada tahap yang relatif masih baru, tercipta ruang 1.mtuk mengkaji sejarah orang-orang Belanda.

xvii

Sebaliknya, justru orang asing yang meletakkan landasan bagi suatu pandangan baru terhadap masyarakat kolonial. Hanya pene1itian yang berkesinambungan yang dapat menghasilkan pengetahuan yang diperlukan untuk menembus rnasuk ke dalam dri-ciri khas masyarakat tersebut dan-dalarn hal ini -untuk meneliti dalam perspekti£ yang luas munculnya organisasi-organisasi dan perhimpunan-perhimpunan kemasyarakatan seperti Tarekat Mason Bebas. Kajian-kajian yang tersedia di mana ada acuan kepada Tarekat Mason Be bas Hindia Belanda semen tara itu memmjukkan bahwa maknanya bagi masyarakat Hindia Belanda juga diakui oleh pihak-pihak yang bukan Mason Bebas. Antara lain suatu bunga rampai mengungkapkan bahwa loge-loge di Batavia memainkan peranan penting dalam kehidupan kebttdayaan ibu kota. Beberapa penulis khususnya memu1jul< pad a pengaruh kaum Mason Bebas atas pendirian Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Perhimpunan Kesenian dan Timu Pengetahuan Batavia) yang kesohor. Sedangkan penulis lain menggarisbawahi sumbangan kaum Mason Be bas di bidang kesenian dan pendidikan. Kemudian penga1uh Tarekat Mason Bebas atas emansipasi segmen penduduk Indo-Eropa telah mendapat perhatian, dan tidaklah terlupakan bahwa rnereka juga memplmyai pengaruh dalam gerakan nasional Indonesia. Kaum Mason Bebas sudah pad a tahap dini mengadakan hubungan dengan salah satu organisasi politik Indonesia yang pertama, yang bemama "Budi Utomo". Juga di bidang perorangan pengaruh kaum Mason Bebas telah membawa dampak, umpamanya mel a lui sokongan keuangan bagi mahasiswa-mahasiwa Indonesia yang berbal

xvili

a, sebaiknya memberikan batas-ba tas yang jelas pada bidang penelitiannya sebe1umnya. Kekurangan-kekurangan yang telah disinyalir dalam sejarah sosial Hindia Belanda pada umumnya, sejarah Tarekat Mason Bebas pada khususnya, menyebabkan bahwa penyusunannya terpaksa dilakul

Penelitian ini juga berarti suatu tantangan, cu kup kuat untuk tidak menghindati masalah-masalal1 terse but. Namun masih ada iaktor yang lebih bersifa t pribad i. Sewaktu say a mengadakan penelitian mengenai sejarah sejumlah fasilitas perkotaan diJawa di bawah pemerintahan kolonial Belanda, ternyata bahwa informasi mengenai beberapa badan kemasyarakatan yang ada pada .zaman i tu, tidak dapat ditemukan dalam arsip pemerintah. Dari hal itu timbul kcsan bahwa kehidupan khalayak ramai di kota untuk sebagian tersembunyi bagi kalangan pegawai. Pada tahap itu dari penelitian saya, saya kebetulan mendapat suatu naskah tebal berisikan banyak

xix

b~rbagai kegiatan di bidang kemasyarakatan yang sampai saat itu sulit clilacak. Naskah itu adalah Gedenkboek der Vnjmetselnrij in Nederlnndsch Oost-lndie 1767-1917 (Buku Peringatan Tare.kat Mason Bebas di Hinclia. Belanda 1767-1917), yang menurut tulisan di kaki halaman telah diterbitkan oleh tiga loge tertua di Jawa. Penemuan tersebut merupaldi mana ia bekerja. Dengan demikian muncul pertanyaan yang menav.ran, apa yang telah terjadi sclama masa dua ratus tal1un dengan keseluruhan ide-ide yang menjadi landasan Tarekat Mason Bcbas-suatu produk dari Pencerahan Eropa Baratdari abad ke-18- dalam l

Berpindah dari pendekatan formal ke segi Tarekat Mason Bebas yang lebih sehari-hari~ awal penelitian ini bertolak dati pertanyaan: dengan cara apakah kaum Mason Bebas di Hindia

  • dikatakan secara sederhana -menjadi lebih mudah dihuni atau dihayati. Dalam hubungan ini perlu segera dijelaskan sifat rnasyarakat di mana kegiatan Tarekat Mason Bebas harus diternpatkan. Di sitti langsung muncul persoalan bahwa untuk tug as itu, seperti telah dikemukakan sebelumnya, sebenarnya pengetahuan kami terlalu sedikit. Kalau kita mulai dengan menggambarkan masyarakat Indonesia, maka tidak satupun istilah -umpamanaya fedodal, birokratis-patrlmonial, despotil<-timur a tau istilah lain apapun-dapat menjelaskan jenis dunia yang seperti apa yang dihadapi orang Belanda ketika, setelah paruh pertama a bad ke-18, rnereka rnendirikan loge-loge pertama di Jawa. Apalagi istilah yang dapat membantu kita untuk mengenal perkembangan intern di dalam masyarakat tersebut. Dalam kajian-kajian ilrniah memang telah dilcu/tuurstelsel (undang-undang pembudidayaan tanaman) terjadilal1 hubungan-hubungan yang lebih intensif, walaupun menurut ukuran-u.kuran yang berlaku di kernudian hari masih sangat terbatas. Narnun menjelang akhir abad itu, para pegawai

"objek" pengurusan pemerintahan, dan gejala itu dimulai pada awal abad ke-20.

Sewaktu aparat pemerintahan kolonial semakin menembus lapisan pribumi, dunia-dunia berbagai segmen penduduk masih berjalan secara terpisal1. Sebagian besar orang Belanda tinggal di kota-kota besar, di mana inlander (orang priburni) hanya dikenal sebagai pembantu rumah tangga atau penjaja berbagai barang. Dengan diberlakukannya apa yang dinamakan "politik etika" sekitar tahun 1900, terjadilah pen1bahan dalam kebijakan yang bertujuan mempersiapkan penduduk Indonesia untuk suatu kehidupan yang merdeka. Pemerintah kolonial menerima tanggungjawab tidak hanya tmtuk golongan penduduk Eropa, tetapi pada prinsipnya juga untuk orang Indonesia. Namun itu terutama menyangkut lapisan atas penduduk, khalayak ramai pada kenyataa:nnya tidak banyak merasakannya. Ini dapat dipexjelas dengan meninjau hasil dari kebijakan pendiclikan: walaupun jumlah murid orang Indonesia yang memperoleh pendidikan dari tahm1 1900 sampai tahun 1940 menanjak tajam, gejala butahtrruf masih me- rajalela.

Di jajal1an Hindia Belanda sekitar tal1un 1900 terdapat dua segmen penduduk yang menurut pandangan sekarang rusebut sebagai golongan terkebelakang: segmen penduduk orang Indo-Eropa, yang terutama tinggal eli kota-kota, dan yang sebagian besar hid up pada tingkat sosial-ekonomi yang rendah1dan segmen penduduk pribumi Indonesia yang men- carinafkah disektor agraria. Kedua kelompok inisecara nyata mengalarni kemunduran ekonomi, dimana bail< faktor struk-

xxii

dati sm;nber-sumber pencarian nafkah. Faktor keadaan pasar diciptal

Dapat dipastikan bahwa pemerintah di Batavia sepanjang a bad ke-19 tidak pernah berusaha kuat demi l

Sejak sa at itu cam pur tangan pemerintah terutama merambat ke arah penduduk Indonesia. "Pengentasan'' ke tingkat perkembangan yang lebih tinggi mengakibatkan bahwa tindakan-tindakan terarah diambil di bidang pertanian, pendidikan, perawatan medis penduduk, prasarana~ dan pengkre- ditan. Hasil-hasil yang dicapai dengan kebijakan ini mungkin hanya sederhana, namun betapa pun juga hal itu berrnuara pada terciptanya golongan berpendidikan yang menuntut agar diberikan peke~aan yang dibayar lebih baik di pemerintahan. Dengan demikian mereka menjadi saingan kuat dari

xxiii

ll1donesia yang mengecap pendidikan Belanda, jush·u didorong oleh pendidikan itu ke arah gagasan negara Indonesia yang merdeka.

Di sini juga tempatnya untuk membicarakan tentang terciptanya gerakan nasional Indonesia, yang tampil tidak lama setelah tahun 1900 dalam bentuk terorganisasi. Yang mencolok ialah bahwa pada waktu itu dari pihak Indonesia terjadi perhatian yang semakin besar untuk Tarekat Mason Bebas. Jatuh bcrsamaannya kedua hal ini adalah sesuatu yang men arik perhatian, sebab pada tahap clini tokoh-tokoh dari kalangan elit pribumi tua memegang pimpinan dari gerakan nasional. Kalau mula-mula yang menarik mereka ialah terutama masalah pencerahan-penyadaran kembali ten tang nilai-nilai tradisional yang sudah terdesak di bawah tekanan pengaruh Kristen-Barat yang meningkat -dan kalau pada awalanya cakrawalanya terbatas pada wilayah pusat di Jawa, maka di kemudian hari perhatian makin tertuju ke Indonesia yang baru dan merdeka, yang untuk semen tara rnasih terikat dengan Nederland dalam satu atau lain bentuk.

Prasejarahnya mulai di Jawa pada tahun 1908 ketika atas prakarsa mahasiswa-mahasiswa Jawa di Batnvinse Artsenschool (Sekolah Kedokteran Batavia) didhikan perkumpulan "Budi Utomo". Para mahasiswa terutama berasal dari keluarga-keluarga bupati yang terikat dengan keraton raja-raja di Jawa Tengah. Di lingkungan Budi Utomo sedang digumuli suatu

xxiv

bagi kelanjutan gerakan nasional dan bagi Tarekat Mason Bebas.

Bukan hanya gerakan nasional, melainkan juga negara kolonial dan negara yang akan datang merupakan pokok pernbicaraan penting di dalam kehidupan loge-loge. Contoh yang menyolok adalah pidato-pidato Mason Bebas H.J. van Mook pada masa rnudanya di awal tahun duapuluhan di loge Jogya "Mataram". Pidato-pidato Van Mook diperhatikan dengan baik, walaupun ia sendiri merasa bahwa gagasan-gagasannya masih kurang matang. Terna-terna seperti rasa hormat untuk orang Jawa dan kebudayaannya, dan usaha menuju suatu jenis masyarakat di mana ada tern pat bagi setiap penduduk Hindia Belanda dibahas di situ, sama seperti dikernukakannya dua puluh tahtm kemudian pada waktu ia sudah seorang negarawan.

Hubungan antara Tarekat Mason Bebas dengan gerakan nasional mencapai titik puncaknya -setelah suatu proses pematangan yang berlangsung beberapa dekade-ketika pada pertengahan tahun limapuluhan Tarekat Mason Bebas Indonesia menjadi suatu Kuasa Agung rnasonik. Sebagai "Timur Agung Indonesia" a tau "Majelis Tahrman Indonesia' diharap-

XXV

kan bahwa ia akan mernainkan peranan penting dalam

Indonesia yang baru. Bahwa hal itu tidak terjadi clisebabkan oleh ketegangan-ketegangan politik di negeri itu, sehingga sebagai akibatnya pada tahun 1961 Tarekat Mason Bebas Indonesia yang terorganisasi tarnat riwayatnya.

Setelah memmjukkan batasan bidang penelitian, maka pertanyaan kedua perlu dihadapi, yakni mengenaj bahan yang perlu diperiksa untuk pengkajian pokok ini. Kami beruntung karena arsip dan perpustakaan Tarekat memiliki banyaksekali bahon yang menarik untuk penulisan sejarah. Sepanjang masa banyak bahan dari Hindia Belanda dibawa ke Nederland, sedangkan pada tahap terakhir Tarekat Mason Bebas Hindia Belanda, ban yak berkas dipindahkan ke Nederland. Koleksi naskah masonik Hindia membuka peluang pengkajian yang ban yak, dan persoalannya hanyalah bah wa pemeriksaan yang saksam a dari bahan-bahan tersebut melampaui tenaga seorang peneliti perorangan dalam kurun waktu yang tersedia. J a eli data yang cligunakan dalam penelitian ini bukan bersifat primer melainkan sekunder. Artinya bahan-bahan itu m e rupakan bah an tertulis dalam ben tuk buku-buku peringatan dan terbitan-terbitan lainnya. Di antaranya yang terpenting ialah lndisch Mnqon niek Tijdschrift (Majalah Masonik Hindia, selanjutnya disebut "T.M.T. " a tau sebagai penyebutan sumber uiMT"). Majalah ini terbit selama lebih dari setengah. abad dan ternyata benar-benar merupakansuatusumber mendasar 1mtuk penyusunan kembali perkembangan-perkembangan eli dalam Tarekat Mason Bebas Hindia Belanda. Di dalamnya juga terdapat banyak laporan tentang apa yang dahulu telal1 berlangsung. Mempelajari J.M.T. dipermudah oleh dua indeks yang disusun Vermaat dan Lowensteijn. Dalam penelitian ini juga telah digunakan data dari su atu kucsioner yang diadakan pada tahun 1987 di antara k.l. dua

xxvi

di Hindia Belanda. Penting juga bila ditinjau dari beberapa sudut adalah percakapan-percakapan yang diadakan pada tahun-tahun yang silam dengan orang-orang yang rnengisi kuesioner. Tanpa pengertian yang dihasilkan rneJalui percakapan-percakapan tersebut, kajian ini rnungkin akan lain arahnya.

Dari pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan, jelas bahwa buku i:ni diharapkan bukan saja akan mencapai kawn Mason Bebas yang menaruh minat, melainkan pil1ak-pihak lain yang pada umumnya rnenaruh perhahan atas sejarah Hindia Belanda. Oleh karena itu dengan sendilinya banyak yang harus dijelc1skan dan diterangkan yang buat kaurn Mason Bebas sudah jelas. Sebagai penjelasan dapat dikatakan bahwa Tnrekat Mason Bebas, atau selengkapnya "Tarekat Kaum Mason Bebas di bawah Majelis Tahunan Nederland" merupakan perhimpunan loge-loge yang i:ndependen, yang dahulu juga mcliputi loge-loge di Hindia Beland a. Loge-loge a tau "tempat-tempat kerja" ini merupakan pusat-pusat pekerjaan masonik. Gagasan Tarekat Mason Bebas sendiri perlu dijelaskan. Dalam Pengantar ini perlu diterangkan kepada pembaca urn urn bahwa Tare kat Mason Be bas bukanlah suatu organisasi yang secara ketat dipimpin dari atas, melainkan merupakan suatu perhimpunan yang anggota-anggotanya menggabungkan diri berdasarkan sejumlah asas pokok yang lcrbentuk oleh tradisi.

Jadi loge-loge memiliki kemerdekaan yang besar. Di dalamnya berlaku beberapa peraturan yang mengaturperilaku, namun dalam hal menghayati jiwa Tarekat Mason Bebas, maka yang diutamakan ialah tafsiran pribadi dari para anggota secara perorangan. Bagi scorang Mason Bebas usaha untuk mengenal diri sendiri merupakan hal paling pokok, dan

xxvii

11 seauton ( Kenalilah dirimu sendiri") - yang dikutip dari kuil Apolo eli Delfi -memiliki makna istimewa. Berpangkal pada pengenalan akan diri sendiri tanggungjawab pribadi perlu dikembangkan dan pengertiar\ bahwa manusia tidak hidup bagi dirinya sendiri, melainkan bahwa ia harus menyumbang terhadap kebahagiaan umat manusia. Membaca kata-kata yang luhur ini, pembaca harus mencoba memindahkan dirinya ke zaman ketika tradisi dari Tarekat Mason Bebas yang ada sekarang ini memperoleh bentukny~ yaitu awal abad kc-18.

Pengaruh Pencerahan, dengan gagasannya tentang "pe- nyempumaan" manusia, hidup tentS dalam Tarekat Mason Bebas. Dari revolusi Perancis kemudian diambil alih pengertian tentang "Tare kat" dan rlpersamaan", dan dapat ditambahkan bahwa bagi seorang Mason Bebas hal-halitupada kenyataannya jatuh bersamaan, sebab bagi dia semua man usia" da- 11 lam wujudnya sam a (memang berbeda, namun sama dalam nilai) dan terikat sah1 sa rna lain "dalam Tarekat". Di kalangan mereka, para Mason Bebas sating menyapa dengan Bruder a tau "Saudara".

Kalau pekerjaan denti kepentingan masyarakat di dalam Tarekat Mason Bebas Hindia Belanda mula-mula ditujukan untuk memenuh.i kebutuhan langsu.ng dian tara orang-orang rrriskin ban gsa Eropa, sejak paruh kedua abad ke-19 telah dilakukan prakarsa-prakarsa denga.n tujuan yang lebih Ianggeng, seperti pend irian badan-badan di bidang pendidikan, pembinaan dan perkembangan. Tare kat Mason Bebas HindiaBclan- da pada suatu saat, ketika pernerintah Hdak menganggap kegiatan-kegiatan itu sebagai tugasnya, malahan rnendapat nama di bidang masyarakat. Itu temyata umpama.nya dari teks Encyclopa.edie van Nederlnndsc/7-Indie (Ensiklopedi Hindia Bclanda), di mana dikatakan bahwa ada "beberapa badan yang

xxvili

tunum, unhtk memajukan peradaban dan pencerahan", yang telah didirikan oleh loge-loge Tarekat Mason Bebas.

Untuk mencegah terjadinya salah pengertian, perlu diutarakan bahwa Tarekat Mason Be bas janganlah dianggap terutama sebagai suatu badan yang menangani masalah sosial. Seorang Mason Be bas, bila eli tanya ten tang maksud tujuan yang hendak clicapainya, pada umumnya akan menjawab bahwa ia berusaha "menjadi manusia yang lebih batk" dan bahwa ia menganggap sebagai tugasnya untuk memberikan sumbangsih terhadap perbaikan kehidupan masyarakat. Kemudian pada urnumnya ia akan merujttk kepada Anggaran Dasar Tarekat Mason Bebas, eli mana tujuan-tujuanuya diuraikan. Fasal kedua (butir 1) Anggaran Dasar terse but berbicara tentang ... melaksanakan "seni hidup yang tertinggi" atau usaha terus-menerus untuk mengembangkan sifat-sifat roh dan jiwa, yang dapat mengangkat man usia dan umat manusia kc tingkat rohani dan moral yang lebih tinggi ... Tare kat selalu menekankan tanggungjawab pribadi dari seorang Mason Bebas. Diutamakan upaya untuk mengembangkan manusia dan umat manusia secara harmonis dan dari ban yak segi, namun metode apa yang cliterapkan hampir-hampir tidak dapat dilukiskan bagi orang bukan-Mason Bebas tanpa memasuki bidang ajru·an khusus yang hanya dikenal oleh anggota Mason Bebas.

Pertemuan-pertemuan masonik bertujuan untuk memajukan perkembangan kepribadian scseorang. Pertemuan-pertemuan tersebut bersifat tertutup dan berlangsw1g menun1t peraturan-peraturan tetap, yang bertujuan agar para hadirin memperdalam pengertian mereka. Ada perberbedaan dalam frekuensi dan isi acaranya, dahulu kala pertemuan-pertemuan masonik biasanya diadakan sekali sebulan dan diadakan untuk memperkenalkan Tarekat kepada calon-calon anggota,

xxix

atau untuk menaikkan derajat yang sudah pada tingkat murid ke tingkat gezel (anggota). Kalau langkah itu sudah dilakukan, maka pad a tahap berikutnya anggota ditingkatkan ke Mason Be bas ahli. Peristiwa-peristiwa itu berlangsung secara khldmat di ruangan yang disebut Rumah Pemujaan Masonik.

Pertemuan-pertemuan di rumah pemujaan a tau ''Loge Terbuka" dewasa ini merupakan bagian yang khidmat dari kehidupan loge dan para anggota perlu berpakaian sepatutnya_ Sebaliknya para anggota juga berkumpul dalam pertemuan-pertemuan biasa a tau "kompariti" yang diadakan di apa yang disebut "Pelataran Depan". Dalam pertemuan-pertemuan biasa suatu wejangan atau ''benda bangunan" yang disampaikan oleh salah seorang anggota loge merupakan mata acara utama. Benda-benda bangunanini yang dalam perputaran jaman sudah meliputi bidang yang san gat luas, juga mempunyai tujuan pembinaan dalam arti masonik. Lambat laun terjadilah kebiasaan untuk menyajikan berbagai pokok dalam bentuk benda bangtman kepada para anggota loge. Pokok-pokok dari wejangan tersebut dapat terdiri dari pokok falsafah, kemasyarakatan, kesenian a tau pun politik urn urn. Namun yang terakhir ini hanya dengan syarat, yang djnyatakan secara tegas, bahwa pernbicara jangan memberi alasan untuk terjadinya perselisihan yang dapat membahayakan persatuan dalarn loge. Sejumlah benda bangunan ini dari tahun ke tal1un telah dimuat di

I.M.T., suatu kumpulan dengan pokok-pokok yang beragam yang menunjukkan apa yang menjadi perhatian dalam setiap kurun waktu. Dapat ditambahkan bahwa suatu benda bangunan biasanya diikuti oleh suatu pertukaran pikiran terbuka di mana setiap anggota dapat ikut serta. Mengenai nilai benda-benda bangunan itu, tidak banyak yang dapat dikatakan, namun dapat dibayangkan bahwa pembinaan yang diharapkan daripadanya tidak hanya bersifat falsafah-masonik.
XXX

lain juga mempunyai :urtgsi pembinaan di dalam suatu dunia di mana tidak ada !\esempatan lain untuk bertukar pikiran.

Masih ada satu hal yang memerlukan perhatian, yakni tentang status sosial para anggota. Kita dapatmemastikan bahwa para Mason Bebas Hindia Belanda sampai pada abad ke duapuluh berasal dari lapisan teratas masyarakat. Namun persoalan tidak sesederhana itu, sebab pad a akhir a bad ke-18 di Batavia ada dua loge, di mana yang pertama memptmyai anggota-anggota dari lapisan atas masyarakat, sedangkan yang kedua memiliki anggota-anggota dengan kedudukan tang lebih rendah. Bagaimana keadaan itu dapat disesuaikan dengan prinsip persamaan rnasonik, merupakan persoalan :ersendiri. Rupanya loge-loge ini mengikuti susunan hierarki Jari masyarakat kolonial, di mana umtan pangkatdi masyara- 1 Jt menentukan dengan ketat siapa bergaul dengan -siapa. "~dua loge Batavia itu mpanya merupakan pencerminan dari. rr.asyarakat berkelas di mana mereka menjadi anggota. Mena- nk bahwa di kemudian hari ada pembicaraan ten tang "loge t eias". Pada tahun 1837 kedua loge-terpaksa karen a menyu- ':'l!tnya keanggotaan-memutuskan untuk melebur, tetapi apa- sah sejak itu tidak lagi diadakan pembedaan sosial an tara ang- ~ma-anggota perorangan dari loge ini?·Tentu akan menarik untukmemeril

Pada umumnya sampaj jauh di abad ke-19 yang dominan ::aiahgolongan pegawai tinggi, administratur perkebuna:n a tau :t.:rwira. Kemudian muncuL para profesional dengcm pendi- .:hkan tinggi, sedangkan menjelang pecahnya Perang Dunia n wakil-wakil kelas menengah pun menjadi anggota. Dalam

  • .:d ini seakan Tarekat Mason Be bas mengikuti perkembangan
    xxxi
  1. Komu-
    nitas orang Eropa pada waktu itu sudah menjadi lebih "demokratis" dibanding dengan keadaan pada tahun 1900.

Kedudukan yang ditempati orang-orang Mason Bebas secara perorangan pada umumnya cukup tinggi, sedangkan jumlah Mason Bebas sepanjang masa sebenarnya hanya kecil saja. Pada sekitar tahun 1900 keanggotaan berjumlah 500 Jiwa, dan pada awal tahun tigapuluhan jumlahnya meningkat menjadi 1400 ji wa. Dalam hal ini dapat dicatat bahwa jumlah seluruh komunitas Eropa bertambah dengan perbandingan yang sama. Mengingat jumlah-jumlah tersebut, wajar kalau pengaruh Tarekat Mason Bebas di Indonesia hanya terbatas pula.

Akhirnya sepatah l

Gagasan Tare kat, seperti telah kami kemukakan, mempakan bagian hakiki dari Tarekat Mason Bebas, namun apa artinya itu bagi penyebaran Tarekat Mason Bebas di antara orang Indonesia? Pembedaan oleh karena asal-usul tidak boleh memainkan peranan, bahkan ditolak, dan pembicara pada pesta satu a bad loge Batavia "De Ster in het Oosten (Bin -

xxxii

Timur)" menyatakan pada tahun 1869:

"Asimilasi berbagal ras di Timur, [yaitu Batavia, St.], supaya semua menjadi saudara, adalah pekerjaan yang harus dilakukan oleh para Mason Bebas."

Perlu dinyatakan bahwa hasilnya mengecewakan. Bahkan pad a tahun 1940 pnn jwnlah orang Indonesia hanya merupakan bagian kecil dari jurnlah selunlh anggota. Di sam ping rnasalah keanggotaan orang Indonesia, juga timbul pertanyaan tentang sikap yang harus diambil Mason Bebas Belanda terhadap penduduk Indonesia. Setelah pada akh.ir tahun 1920, juga karena pengaruh munculnya gerakan nasionalis, te1iadi perundngan dalam hubungan berbagai segmen pend uduk sattt sama lain, pada tahun 1929 dalam I.M.T. dinyatakan:

" ... nada dan sikap hidup dari komunitas Eropa di Hindia Beland a menunjukkan gejala del usi ras; gejala itu tidak menguntungkan kepentingan mana pun, bahkan hubungan kerja sama dan kepercayaan yang baik malahan menjadi rusak."

Itu sebabnya, demikian ditandaskan penulis kepada pembaca-pembacanya, perlu direnungkan lebih banyak di loge-loge bagaimana "masalah yang membakar" dalam masyarakat itu perlu ditangani.

"Tarekat Mason Bebas dan Negeri Tumpangan kita bersama-sama menyodorkan pertanyaan kepada kita: Bagaimana sikap kita terhadap penduduk pribumi?"

Hampir dua puluh tahun kemudian, di tengah proses de- ko1onisasi, seorang Mason Bebas asal Indonesia sekali lagi mengemukakan betapa perlunya kerja sama:

"Jalan menuju masyarakat yang )ebih baik, di mana persamaan dalam wujud semua orang benar-benar diprak-

xxxiii

tikkan dan di mana Timur dan Barat dapat sating bertemu dt RantCit Persaudarailn Tarekat, masih panjang dan sulit, namun tujuannya bcgitu indah sehingga tidak mungkin kita tidak mau menempuh jalan itu."

Dapat d1simpulkan bahwa pcrkembangan Tarekat Mason Bebas Hindia Bclimda sehubungan dcngan evolusi masyarakat di Hindi a Belanda mcrupakan tema utama buku ini. Perhatian akan ditujukan terutama kepada pcrtanyaan: sampai sebagaimana jauh kaum Mason Bebas telah memberikan sumbangsih tcrhadap usaha mcmperbaiki masyarakat, terutama segmcn orang Eropa dari masyarakat tersebut. Kemudian akan dibahas kcanggotaaJ\ kaum Mason Bebas Indonesia dan berdirinya suatu Tarekat Mnson Bebas Indonesia yang independen.

Dalam Bab Pertamn dibahas periode sampai kira-kira tahun 1870 yang juga meliputi tahun-tahun ketika Kompeni (VOC) mengcloln hunian-hunian Belanda di Asia, 1764-1800. Sctelah suatu masa transisi yang singkat di Jaw a diberlakukan apa yang disebut culluurstelsel (undang-undang pembudidayaan tanaman) yang dalam garis besarnya dipertahankan sampai tahun 1870. ltu merupakan masa waktu segmen penduduk Belanda masih terbatas jumlahnya dan pemerintahan kolonial memainkan peran yang dominan. Sekitar tahun 1870 sudah ada beberapa loge di jawa dan pulau-puJau di luamya, namun jumlah anggotanya tidak banyak dan kegiatan "keluar" bel urn mencolok. Bagi Tarckat Mason Be bas tahun-tahun 1870-1890 merupakan ancang-ancang mcnuju perkembangan besar yang kemudian akan berlangsung.

Pada Bab Kedua dibahas tentang kemajuan, yang jatuh bersamaan dengan pemberlakuan dan perluasan produksi dengan cara perkebunan bebas di Jawa dan sete1ah ''pembukaan'' juga di daerah yang disebut "daerah-daerah luar". Berkat

xxxiv

Provinsi dan penelirian Majalah Masonik Hindia.

Zaman baru dan ekspansi yang setelah pemulihan ekonomi sekitar tal1un 1900 terjacli eli berbagai bidang, juga merupakan zaman perkernbangan dati kehidupan masonik eli Hinclia Belanda. Bab Ketiga membahas berbagai aspek, mulai dari tindakan il.miah dari loge-loge sampai kepada masl:tknya anggota-angota Indonesia. Bab ini, baik dari segi isi maupun pan- 'angnya, merupakan bagian utama buku ini. }umlal1 anggota bertambah dengan pesat, dan jumlah loge pun mencapai ang- ~a tertingginya. Sekitar tal1un 1930 di hampir semua kota besar di Indonesia terdapat sebuah loge, yang teiikat dengan masyaral

Bab Keempat dan yang terakhir mengupas periode 1930- :962, yakni zaman krisis ekonomi, perang dan pemulihan, di-. ·uti dengan keterpurul:.;aha perluasan Tarekat Mason Be bas dian tara orang IndoneSia, namun ketegangan politik pada waktu itu tidaklah menye- c!iakan tanah persemaian yang subnr. Bul

XXXV

akhir keterangan pengantar ini, perlu ditandaskan bahwa beberapa pembaca mungkin tidak sepaham dcngan saya tentang semua penggambaran dan kesimpulan. Bahan sumber dari buku-buku peringatan, majalah-majalah, pertanyaan-pertanyaan dan wawanca ra-wawancara hanya mencer- rninkan pendapat sekelompok kecil Mason Bebas secara perorangan. Sulit dipastikan sejauh mana pendapat mereka representatif bagi keseluruhan Tarekat Mason Bebas Hindia Belanda. Pertama-tama bukan karena -seperti telah dikemukakan sebelumnya -Tarekat Mason Bcbas bukannya satu. Saya selalu berpendapal bahwa sederetan redaktur l.M.T.- sumber dari sebagian besar data- mengemul

Buku ini tidak akan terwujud tanpa bantuan dan dorongan yang saya peroleh dari berbagai pihak. Untuk itu pertama-tama saya ingin rnengucap terima kasih kepada anggota-anggota Komisi Pendampin~ yang sejak semula menduktu'tg saya dengan pelbagai nasihat membangtm yang kritis dan dengan menunjukkan kesabaran yang besar. Tanpa mau mengurangi peran orang lain, selanjutnya saya ingin rnengucap terima kasih kepada Tuan-tuan Poerbodipoero dan K Hylkema yang melakukan pekerjaan membosankan yakni

XXXVI

Saya mendapat banyak dukungan dari Mr. A. Holle yang merupakan seorang mentor yang simpati.k, dan dari banyak orang lain yang mernmjuk jalan kepada saya di bidang yang tidak saya kenal. Pada akhirnya saya berterima kasih juga kepada kaum Mason Bebas Indonesia dengan siapa saya telah bertukar pikiran. Saya rnenyimpan kenangan indah dari pertemuan-pertemuan itu.

Dengan sendirinya seluruh kekurangan menjadi tanggung rawab saya. Saya terbuka bagi kornentar yang luitis, sebab pekeijaannya pasti belum selesai. Tetapi bagaimana pun bunyi kritik itu nanti, pembaca dapat meyakini bahwa saya secara ~erius berusaha menerangkan Tarekat Mason Bebas di Hindia Belanda dengan berbagai cara.

Tarekat Mason Be bas, VTijmetselarij ... lahir dalam

bentuknya yang sekarang di Inggris pad a tahun 1717 melalui penggabungan em pat loge menjadi satu loge agung. Gerakan !tu telah menyebal' ke selun1h dunia. Mercka menghindar.i setiap perurnusan ajaran a gam a, namun bekerja demi kemuliaan Jtrrubangun TertinggiAlam Semesta. Mereka menerima sebagai asas dasar pengakuan nilai tinggi kepribadian manusia~ hak setiap orang UJltuk secara mandiri mencari kebenaran, :anggung jawab moral manusia untuk perilakunya, kesamaan wujud dari semua orang, persaudaraan umum man usia, tugas setiap orang untuk mengabdi untuk kesejahteraan masyarakat. Dengan lambang-lambang dan ritus rahasia, yang dasarnya dibentuk oleh gagasan bahwa umat man usia merupakan rumah pemujaan di mana manusia menjadi baht bangtman maupun pembangun, Mason Bebas melakukan pekerjaan rurnah pemujaannya: yakni peresmian anggota baru, kenaikan tingkat, pesta tahtman (Santo Yan) dan peke1jaan pelataran-depannya: pertemuan-pertemuan dengan pe.mbahasan we-

xxxvii

jangan-wejangan ("benda-benda bangunan") mengenai pokok-pokok yang bersifat religius-falsafah, kemasyaraJ

VISUM, Elseviers Moderne Gezins-encyclopeclie (Ensiklopedi Keluarga Modern Elsevier), Jilid VITI, Amsterdam dan Brussel, 1967

Tare kat M ason Be bas D i Hindi a Belanda ... Setelah pembentukan Loge Agung Nederland pada tahun 1756, segera sesudahnya di Hindia Timur ditemukan tanda-tanda yang mengarah kepada dibentuknya kehidupan Loge kaum Mason Be bas ( ... ) Tarekat Mason Be bas eli .Hindia Timur selal u, tetapi khususnya pada tahun-tahun belakangan ini, berusaha mendirikan -secara langsung a tau tidak langsung -badan-

xxxviii

yang bermanfaat bagi umurn, untuk rnemajukan reradaban dan pencerahan, dalam bentuk dana studi, sekolah-sekolah industri dan kejuruan, taman kanak-kanak, .espendidikan, perpustakaan rakyat, ceramah-ceramah untuk ;>emuda-pemudi, dana bantuan pakaian sekolah dan dana oantuan makanan. Lagipula Kaum Mason Bebas, dengan bantuan dan kerja sama dengan sebagian besar orang bukan Ma- .. ::m Be bas, telah membangun bank-bank pembantu.

Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie, Jilid IV,

Den Haag dan Leiden, 1905

xxxix

Suatu ringkasan ten tang apa yang ditulis W.J.M Akkermans mengenai pokok ini da1arn cara populer, mungkin dapat mem- ~rikan gambaransebagai pengantar. 1 Narnun pembaca perlu ar ~<:at bahwa teibitan dari kaum mason mengenai asas-asas Tarekat mereka selalu harus dianggap sebagai ungkapan pendapat-pendapat perorangan sehingga hdak dapat dinyatakan oer.aku secara umum.

Akkermans mulai tinjauannya dengan menyimpulkan ti- lli..-atik tolak:

· Kkermans 1989, 2-3

Dalam Tarekat Mason Bebas nilai tinggi kepnbadian manusia berada di latar depan. Manusia sebagai individu dalam pemikiran masonik ditcmpatkan secara sentral. Pekerjaan, pekerjaan rohanl, dalam Tarekat Mason Bebas diarahkan pada penemuan wujud diri sendiri. Erat berhubw1gan dengan ini, asas-asasnya be1tujuan memajukan apa yang dapat mempersalukan manusia dan melenyapkan apa yang dapat memisahkan manusia. Menurut tradlsi yang sangat kuno, sebuah loge Mnson Bebas merupakan pusat pemersatuan manusia yang kalau tidal< akan terus saling terpisah. Dengan mengolah dirinya sendiri, berupaya menjadi ''manusia yang lebih baik", berusaha mencapai Tarekat semua manusia, Mason Bebas membangun kehidupan bersnma~ kehidupan masyarakat. Gambaran ideal ini dalam Tarekat Mason Bebas disebut: "dibangunny(l rumt1h pemujaan umal manusia".

Dalam gambaran tentang manusia yang dibuat kaum Mason Bcbfts1gagasan "batt1 kasar" memainkan peranan pentmg. ltuJC'lh yang dikupas dalam tinjauan berikut:

Dalam pernyataan asas-asas dari Tarekat Mason Bebas di bawah Mnjelis Tahunan Nederland, ditetapkon bahwa Tare kat Mason Bebas bekerja dengan caranya sendiri dcngan simbol-simbol dan ritus. Ritusnya dapat dilukiskan sebagai tindakan yang seluruhnya simbolis daJ\ bersifat upacara, yang ditempatkan dalam hubungan yang bermakna bagi mereka yang mengalarninya. Suatu gambaran dar! ritus adalah bahwa manusia secara simbolis dilihat s~bagai batu kasar. Tugas yang diberikan Mason Bebas kepada dirinya sendiri adalah bahwa batu kasar ini-jati dirinya sendiri-dikerjakan menjadi bentuk yang mumi, batu kubus. Suatu bentuk dengan ukuran-ukuran mutni dan dengan bidang-bidang yang berdiri tegak lurus satu sama lain. Batu kubus inilah yang harus pas dalam pembangunan, dalam arti kiasan; karya bangunan rohani, rumah pemujaan yang hendak dibangun kaum Mason Bebas bagi dirinya dan bagi umat manusia.

dirinya sendiri, manusia dapat rne:nja- .:!ikan dirmya cocok untuk "dipakai dalam pembangtman

m.mah pemujaan". Batu kasar diri sendiri harus dibuat cocok jcngan batu-batu lain, dengan sesama manusia. Tidak satu ~ .1tn pun yang sama bentuknya dengan batu-batu lain, tetapi mua batu sama nilainya. Dengan demikian Mason Bebas .mcngerjakan dirinya sendiri dan dunia, lingkungannyai ·~ngan demikian ia menyumbang pada penyelesaian rumah pt:mujaan dari umat manusia. Titik tolak dari dunia pemikiran ini adalah bahwa tidak •rang manusia pun sempurna. Dcngan mengolah dirmya _ ~Jiri, manusia dapat menjadi "manusia yang lebih baik". Cta-citanya, kubus yang murni, tersembunyi dalam wujud

d.nnya sendlri dan "hanya menunggu" untuk dibebaskan.

Oi samping itu manusia mempunyai kemampuan rnere- :wm pengalaman dan pengetahuan, dan man usia dcngan de-

m.Ucandapat melanjutkan dari titik dimana generasi-generasi ::,c:"t~lumnya mengakhiri karya rnereka. Man usia dapat mena- n~ ?dajaran dari pengalaman sendiri dan juga darl pemiJ

:ara berpil

bE~emangan dengan paksaan dari setiap bentuk pemikiran _;...tii. Hal itu telah menyebabkan Mason Bebas tidak pernah -p:u ikut serta dalam usaha mendapat kekuasaan, denga.n ~entukan blok-blok kekuasaan.

_lfanusia mempunyai kemampuan dan hak untuk mem- ~ suatu kesadaran norma sendiri. Dalam Tarekat Ma-Bebas ini merupakansuatu hal yangpasti diketahut suatu

diberikan kepada diri sendirl. "Pugas ini- rnencari l

Kemudian penulis membahas gagasan "Kesenian Kerajaan", sifat da1·i loge-loge a tau '' tern pat kerja'' di mana para Mason Be bas bcrtemu dan Anggaran DasaT Tarekat. Kutipan berikut ini adalah ten tang "pekerjnan di loge-loge dan lujuan yang hendak dicapaL"

"Dalam hubungan loge, kerju sama diarahkan supaya orang saling mendukung dalam pekerjaan terhadap batLI kasar, supaya ornng bersikap sabar satu sama lain, supaya oran g bersedla melakukan apa saj

Tldak ada tinjauan yang dapat lebih baik mengungkapkan apa yang menjadi tujuan Tare kat Mason Bebas daripada teks Anggaran Dasar yang telah disebut sebelumnya. Kalau ell sini elise but Anggaran Dasar, maka yang selalu dimaksudkan ialah rumusan yang ditentukan pada tahun 1917 dan, terlcpas dari beberapa perubahan yang tidak penting, masih tetap berlaku. Tentang asas-asas yang dimuat dalam Anggaran Dasar, Akkerman berkata:

"Dalam Anggaran Dasarnya Tarekat Mason Bebas antara lain mencantumkan bahwa sebagai dasar ditetapkan pengakuan tentang nilai tinggi kepribadian man usia- hak setiap orang untuk secara mandiri mencari kebenaran-tanggung jawab moral tcrhadap perilaku diri sendiri-kesamaan dalam wujud semua manusia-Tarekat umum

derru kesejahteraan masyarakat."

Pada akhir uraiannya penulis rnenyarnpaikan rumusan singkat beri_kut ten tang tujuan umum: 1 'Tarekat Mason Bebas rnengupayakan perkembangan harmonis manusia dan umat man usia".

Dalam AnggaTan Dasar sendiri pertanyaan a pa sebenarnya Tarekat Mason Bebas itu diajukan juga kepada Tarekat. lh1 dilakul

ANGGARAN DASAR BAGI TAREKAT MASON BEBAS

DI BAWAH MAJELIS TAHUNAN NEDERLAND

BABI

KETENTUAN-KETENTUAN UMUM

Fasal2

  1. Tarekat Mason Bebas adalah pandangan hidup jiwa yang timbu1 dari dorongan batin, yang mengtmgkapkan dirinya dalam upaya berkesinarnbtmgan tmtuk mengernbangkan semua sifat roh dan hati nurani, yang dapat mengangkat rnanusia dan umat rnanusia ke tingkat susila dan moral yang lebih tinggi. Ia diterapkan dalam pelaksanaan seni hidup yang paling tinggi.
  2. Tarekat, yang merupakan bagian merdeka dari persekuhl- an kaum :rvrason Be bas yang terse bar di seluruh permukaan dunia, mempunyai h1juan unhlk menjadi titik pusat bersama unhlk pelaksanaan seni hid up ini dan berusaha menuju perkembangan man usia dan urn at manusia yang harmonis dan beragam segi.
  3. Anggaran Dasar Tarekat, edisi 1962

pengakuan dari: -tingginya nilai kepribadian manusia; -hak setiap orang 1.mtuk secara mandiri mencari kcbe- naran; -tanggung jawab moraJ man usia atas perilakunya; -persamaan dalam wujud semua manusia; -tarekat umum semua man usia; -kewajiban setiap orang untuk berbal

Tujuan universal tersebut eli Hinclia Belanda a.l. disebarkan melalui buku jubilcum yang diterbitkan olch Tare kat Mason Bebas Hinelia Beland<~ pada tahun 1917 berkenaan dengan ulang tahun ke-scratus lima puluh. Pada kesempatan itu teks dari Fasal2 tidak hanya diterbitkan dalam bahasa-bahasa Barat, melainkan juga dalam bahasa Melayu, Jawa dan Tionghoa. Teks Jawa juga dicetak dalam aksaranya sendiri. Para penyusun buku peringatan rupanya ingin menyatakan bahwa Tare kat Mason Be bas tidak men genal batas, dan bahwa pintu pun terbuka bagi orang-orang Indonesia dan Tionghoa-lndonesia yang berminat. Teta pi juga orang-orang Indonesia dan Tionghoa-Indonesia yang mengerjakan terjemahannya-orang-orang yang mempunyai kedudukan terkemuka eli dunia-dengan itu telah mcnyatakan sifatuniversal dari Tarekat.

Sebelum kita dapat beralih kepada pembicaraan tentang Tarekat Mason Bebas di Hinclia Beland ~ perlu diperhatikan dahulu permulaan Tarekat Mason Bebas di Negeri Belanda, sebagai pangkal dari gerakan masonik Bclanda eli luar negeri. Namun dalam hal ini kita menghadapi masalah, sebab arsip

suat.1 dolAnnales dan mungkin telah disusun oleh Louis Dagran. Bocrcnbeker, yang telah mempelajari per- siapnn publikasisumber dalam sejarah "Loge Besar", meragukan apakah dokumen Dagran itu dapat diandalkan. 3 Oleh karena itu kita sebaiknya bersikap hati-hati terhadap informasi tentang waktu itu. Sebab itu, kami akan mernperhatikan interpretasi Boerenbeker mcngenai data yang ada itu. Selanjutnya suatu terbitan ma.sonik lainnya dengan keterangan tentang periodc awal; atlas berga mbar kultur-historis De beoefening der Koni11klijke Kunst i11 Nerler/and 4 (Pelaksanaan Seni Kerajaan di Nedel'land).

Dagran dalam periode pertama itu, tak disangsikan lagi memainkan peranan pcnting. la anggota dari loge pertama di Den Haag yang didirikan pada tahun 1734 dengan nama "Loge de Grand Maih-e des Provinces Unies et de Ia Generalite (Loge Suhu Agung Provinsi-provinsi Serikat dan Negeri-negeri Umum)." Yangmencolok di sini ialah ikatan dcngan Perancis, sebab bukan saja para pendiri mempunyai nama-nama Perancis, tetapi loge itu juga menerima pengakuan legal masoniknya melalui suatu surat konstitusi Perancis (setahun kemudian disusul oleh surat konstitusi dari Loge Agung di London). Lowensteijn menduga bahwa pada tahuu 1734 di Leeuwarden telah didirikan sebuah loge dengan nama 'De Friesche Loge', namun tidak ada keterangan lain tentangnya. 5

Pada tahun 1735 Loge Den Haag tersebut memperoleh stahts Loge Agung, dengan bendal1ara jenderaJ dari Pangeran Oranye sebagai Suhu Agung. Pada tahun iru didirikan loge

  1. Boerenbeker 1979, XID -1. De beoefening der Koninklijke Kunst in Nederland 1971
  2. Lowensteijn 1961, 1

kedua eli Den Haag, yang dinamakan "LeV eritable Zele (Pandangan jauh yang Sejati)." Dagran menjadi salah seorang pencliri serta ketua dari loge tersebut. Namun juga pad a tahtm 1735 Tarekat Mason Bebas Belanda clitimpa larangan dari Staten van Holland en Westfriesland (DPR Holland dan Friesland Barat). Alasan tmtuk itu adalah hubungan dekat dari kaum Mason Bebas terkemuka dengan partai dari Pangeran Willem rv-waktu iht adalalh peri ode kedua tanpa wali negeri (stadhouder). Dalam suah1 penelitian baru-baru ini tentang persoalan terse but, ternyata ada motif-motif lainnya juga. 6

Dibutuhkan wakh1 k.l. sepuluh tahun sebelum kegiatan loge dapat dilanjutkan. Radermacher rnasih tetap Suhu Agtmg, dengan Dagran sebagai Wakil Suhu Agtmg [seorang pejabat yang menjabat sebagai wakilnya, St.]. Yang disebut terakh.i.r ini telah mernbuka kedua loge itu setelah larangan clicabut. Pada waktu Radermacher meninggal pada tahun 1748, J.G. baron van Wassenaar menjadi Suhu Agtmg yang baru, dan ia memegang jabatan terse but sampai tahun 1752. Lowongan yang dengan demikian terjadi baru terisi pada tahtm 1756. Dengan terpilihnya A.N. baron van Aerssen van Beyeren sebagai Suhu Agtmg dan Carel baron van Boetzelaer sebagai wakilnya, Tarekat Mason Be bas memperoleh landasan yangkokoh.

Ten tang susunan sosial dan sifat dari Tareka t Mason Be bas Belanda pada abad ke-18, Boerenbeker mengatakan bahwa anggota-anggotanya pada waktu itu berasal dari kaum ningrat, para bupati dan tokoh-tokohmasyarakat, dan bahwa pihak militer diwakili dengan bail<. Sarna dengan kaurn Mason Bebas dari Benua Eropa, mereka cendenmg rnernbawa gaya hid up mereka juga ke dalarn loge-loge. Berbeda dengan

  1. Bouman 1988, 143-152

Raya, mereka suka hal-hal rahasia dan bersikap agak bercanda terhadap bentuk-bentuk keupacaraan yang telah ditentukan. Boerenbekcr merumuskannya sebagai berikut '' di Benua [Eropa], orang dengan sernangat tinggi melakukan penelitian pribadi dari nilai-nilai batin yang tertanam dalam metoda Seni Kerajaan, di mana unsur permainan hadir begitu menonjol. Di benua, mereka tidak terikat dengan tradisi yang telah terbentuk selama berabad-abad di loge-loge pertu kangan di Inggris. Sebab itu mereka dapat seluruhnya terjun ke da1am bentuk yang ditawarkan, suatu bentuk yang membuka kemungkinan tmtuk memainkan permainan serba tahu dengan sentuhan ningrat secara serius dan dengan pengabdian." 7 Ciri-ciri ini dapat ditemukan kembali dalam status Suhu Agung di negeri kita, dan dengan cara pejabat tersebut menampilkan peranannya. Bukanlah kebetulan bahwa para Suhu Agung di abad ke-18 selalu berasal dari lingkungan ningrat.

Pada umumnya pendirian loge Agtmg dianggap terjadi pada tanggal 26 Desember, yakni hari di mana wakil-wakil dari 11 loge yang disebut "loges Fondatrices (Loge-loge Pendiri)'' berkumpul di Den Haag. Namun pendapat bahwa pada waktu itu masatahnya adalah pemilihan Suhu Agung yang baru dan bahwa Loge Agung pada kenyataannya mentpakan penerus dari loge yang didirikan tahun 1735, ada benarnya juga. Salah saht tindakan pe1tama dari loge Agtmg adalah penugasankepadaj.P.J. duBois untuk menerjemahkan ConstUutions dari Mason Bebas Skotlandia James Anderson dengan judul terjemahan Verbinte1zissen en wet ten deeser Mnnt- sclmppije (Ikatan dan hukurn Perhimpunan i:ni). P ada kenya- raannya DuBois melakukan lebih dari itu. Ia merancang sebuah Kitab Undang-undang untuk Tarekat Mason Bebas

-Boerenbeker 1979, ·xv

Nederland, di mana ia memang bertolak dari karya Anderson, tetapi eli pihak lain juga memperhitungkan pendapat-pendapat dj Belanda serta sistem hukurn yang berlaku di Belanda. K.itab Undang-undang dari Du Bois yang selesai pada tahun 1761 telah sangat mempengaruhi organisasi dan cara kerja Tarekat Mason Bebas Nederland. Untuk pertumbuhan menuju jatidiri sendiri, penting agar Kuasa Agung Belanda menjad.i mandiri pada tahun 1770, terlepas dari Inggris, yang sampai tahun itu mempakan induknya.

Tare kat Mason Be bas dipenga.Tuhi suasana zaman ituf dan Bocrenbeker mengatakan organisasi i tu menjadi ''pembawa dan penyebar pil

Peralihan dari suatu perkumpulan kaum ningrat ke suatu perkumpulan eli mana unsur warga biasa menjad.i rnayoritas, dicerrninkan dalam perundang-undangan Tarekat. Perbandingan antara Kitab Undang-tmdang Du Bois dengan karya yang diselesaikan pad a tahun 1801 dari J. A. de Mist, Wetboek voor de Broederschnp der Vrij-Metselaaren in de Bntnafsche Republiek en derzelver Colonien en Landen (Kitab Undang-undang untuk TarekatKaum Mason Bebas di Republik Batavia danJajahan- jajahan serta Negeri-negerinya), menurut Boerenbeker menunjukkan betapa besar perundang-llndangan masonik ber-

  1. Idem, xxii

Unsur ningrat suasana ringan telah digeser oleh sifat warga-serius yang sejak saat itu menjadi sifat khas Tarekat Mason Bebas Nederland.

Kalau. Kitab Undang-undang berlakujuga bagi persekutuan kaum Mason Be bas di "Jajahan-jajahan serta Negeri-negeri Republik Batavia", maka Resolutie-Boek (Buku Resolusi) dari Loge Agung yang diterbitkan Boerenbeker mengenai tahun-tahun 1756-1781 memuat keputusan-keputusan bcrkaitan dengan loge-loge di Beland a dan ''Pemukiman Penduduk J ajah- an''. Sudah sejak agak dini, sewaktu Loge Agung pad a 23 Desember 1739, telah diambil keputusan untuk mengangkat Jacob Larwood van Scheevikhaven rnenjadi "Suhu Agung f'rovinsial atas Hindia Belanda". 9 Sebelum keputusan pengangkatan dike1uarkan, telah dilakukan pembayaran uang yang cukup besar, sebab Van Sd1eevikhaven telah men transfer jumlah uang sebesar 100 dukat, sebagai "Dongratuit" [semacam uangpengakuan, St.]. Yang dimaksud denganHindia Belanda adalah seluruh daerah di Asia di mana VOC rnempunyai pemukiman. Suatu loge di Jaw a menuntt buku resolusi itu baru ada pada tahun 1764. 10

Pada tahun 1770, seperti telah dikatakan sebelumnya, Loge Agung Jnggris memberikan pengakuan kepada loge di Beland a sebagai "Loge Agung Nasional Provinsi-provinsi Serikat, Negeri-negeri urn urn dan jajahan-jajahannya." Pada waktu itu wilayah hukum masonik Inggris rneliputi scluruh dunia, kecuali wilayah-wilayah di mana beroperasi loge-loge agung lain yang diakuinya. Wilayah dari Loge Agung Belanda jatuh bersarnaan dengan wilayah kekuasaan Negara Nederland, dan sebenarnya wilayah Kompeni tidak termasuk di dalamnya, sebab ban1 masuk menjadi bagian Negara Nederland pad a tahtm1800.

  1. Idem, 21
  2. Idem, 74

Sebagai penutup dari fase awal Tarel<:at Mason Bebas Belanda, akan diberikan gambaran tentang cara bagaimana perternuan-pertemuan loge diselenggarakan pada abad ke-

  1. Gambaran ini didasarkan atas Culhwrhistorischeplatenntlns vnn de Nederlandse Vrijmetselarij (Atlas Bergambar ku ltur- historis tentang Tarekat Mason Bebas Belanda),
    11 dan dimaksudkan tmtuk memberikan gambaran kepada pembaca apa yang terjacli eli loge-loge itu. Para pengarang atlas terse but berpendapat bahwa ada persamaan yang kuat dengan apa yang clipraktikkan di Inggris. Di lain pihak dapat diperkirakan bahwa jalannya upacara di loge Hindia pada zaman itu tidak banyak berbeda. Pertemuan-pertemuan biasanya diadakan di hotel-hotel sederhana a tau losmen-losmen, di mana pengurus hotel a tau losmen bersangkutan yang melakukan tugas "pela- ya n" diwajibkan untuk tutup mulut.

''Setiap loge bulanan dibuka dengan suahtupacara singkat, di mana dibacakan notulen pertemuan sebclumnya dan disahkan. Kemudian diselesaikan masalah-masalah mmal1 tangga, dibacakan dan clibahas papan-papan gambar [sebutan untuk surat masonik, St.) yang masuk, dan dipungut suara tentang penerimaan caJon-caJon anggota, dan mungkin juga dari pengunjung-pengunjung. Kal<1u sudah selesai dengan acara rumah tangga ini, maka pengunjung-pengunjung-kalau ada-dipersilakan masuk dan disambut. Kemudian para caJon dilantik-biasanya dua atau lebih sckaligus-dan sctelah mereka "sccukupnya melakukan percobaan ketangkasan", seperti disebut oleh notulen, maka sesuai kebiasaan mereka diterima. Kemudian p embicara menjelaskan lukisan. Ini diikuti dengan "pelatihan dalam pekerjaan biasa", yakni diajukannya pertanyaan-pertanyaan katekhismus kolom dem.i kolom, di mana setiap orang secara bergilir rnenjawab satu pertanyaan atau lebih. Dengan cara ini orang secara lambat laun akan

  1. De beoefening der Koninklijke Kunst, 25-26

Setelah para anggota berlatih dcngan cara ini, para pengunjung diantar keluar dengan khidmad. Kemudian meoyusul suatu acara rumah tangga kedua, di mana dibicarakan apakah para anggota yang mau meninggalkan loge akan diberikan paten atau tidak. Paspor masonik seperti itu tidak diberikaJl sebelum semua kewajiban kontribusi bulanan dilunasi. Kadang-kadru1g )uga terjadi bahwa alasan yang diberikan untuk permintaan supaya d iberhentikan dan diberikan paten temyata kurang dapal diterima, dan oleh sebab ilu tidak diberikan paten, u mpamanya selama ya ng bersangkutanmasih harus menyelesaikan tugasnya cti loge. Dalam pembicaraan rumah langga ini juga ditetapkan tujuan untuk uang yang dikumpulkan dalam pertemua11 itu; scringkali uang itu diperuntukkan sebagai bantuan kepada orang-orang yang memiliki paten dan surat rekomendasi yang baik dan memohon bantu an kepada loge. Setelah acara rumah tangga itu selesai, loge ditutup dengan upacara singkat. O rang-orang tidak langsung pergi, melainkan bcrkumpu1 di loge meja, yang juga dibuka dan ditutup dengan up

  1. Loge-loge Belanda tertua dl Asia dan hubungan mereka dengan Tarekat di Nederland Menurut A.S. Carpentier Alting sudah sejak. sebelum 1756 "sudah ada banyak Mason Bebas di Hindia Ti.mur (Indonesia)"~ 12 sedangkan loge tertua di bawah kekuasaan seorang Suhu Agung Belanda di Asia adalah loge¹¹Salomon ''. Loge itu
  2. Carpentier Alting 1884, 284

Surat Konstitusi memang benar-bcnar telah diberikan. 1 ~ Berkat Hageman, menjadi jelas bahwa berdirinya loge "Salomon" berhubungan dengan ekspedisi militer yang pad a tahun 1759 dikirim dari Batavia untuk melindungi mili.k Kompeni dj pesisir Benggala dari pihak lnggris. Gugus perang Be Ianda waktu itu terdiri dari tujuh ratus orang dan di antara mereka terdapat nakhoda Jacobus Larwood van Schcevikhaven. Seperti telah dikemukakan, rnenumt keputusan Loge Agung pada akhir tahun itu, sebagai anggota loge Amsterdam "Concordia Vincit Arumos" ia telah diangkat menjadi ''Utusan" atau "Suhu Agung Provinsi atas Hindia Belanda." Dia rupanya juga pendiri dari loge "Salomon". 1 s Mendal1ului berdirinya loge-loge di Batavia pada tahun 1764 dan 1767, akan dibicarakan dulu kehidupan masonik di pernu- kiman-pemukiman yang dimiliki Kompeni eli luar Hindia (Indonesia), yaitu pusat-pusat perdagangan di Sri Lanka dan di pesisir India.

Di bawah George Steendekker, yang juga nakhoda sama seperti Scheevikhaven dan juga penggantinya sebagai Suhu Agung Provinsi pada tahun-tahun 1770-1773, pada tahun 1770 didirikan loge "De Getrouwigheid (Kesetiaan)" di Kolombo, dan pada tahun 1770 loge "D'Opregtheid (Kejujuran)" juga di Sri Lanka. Pad a tahun itu juga di Tanjung H arapan Baik di Aftika, yang sejak dahulu merupakan tempat pembekalan bagi kapal-kapal Kompeni, didirikan loge "De Goede Hoop (Harapan Baik)". Setahun kemudian eli Negapatnam, di pesisir Koromandel di India, didirikan loge "De Langgewenschte

  1. Hageman 1866, 48
  2. Boerenbeker 1979, 21 dan 266
  3. Hageman 1866, 6

Sudah Lama Diharapkanys. Akhirnya, pada tahun 1775 didirikan loge "St. Jean de la Concorde" di kota llougly di daerah Suratte, India. Bahwa tidak banyak diketahui ten tang loge-loge tersebut, mungkin disebabkan oleh karena pada akhir abad ke-18 semua milik Kompeni di India dire but pihak Inggris. Dalam keadaan sepertiitu, kegiatan, loge-loge itu ter- hentikan atau diambil alih pihak Inggris dan diberikan nama yang lain.

Seperti telah dikemukakan sebelumnya, utusan-utusan dari loge-loge yang berldia berkorban banyak untuk jabatan yang tinggi itu, yang men- jadinyata dari jumJah uang banyak yang clibayarkannya kepada kas Loge Agung tersebut. Hageman menyebut profesi Van Scheevikhaven sebagai ''komandan kapal" dan dalam jabatan seperti itu ia rupanya beke~a untuk Kom.peni. Namanya timbullagi pada tahun 1759 juga sebagai salah seorang pemo- hon surat konstitusi untuk loge "Salomon" di Tandalga, Beng- galaY

Buku Hageman tentang periode awal Tarekat Mason Bebas Belanda di luar Nederland memuat suatu bab ten tang "utusan-utusan superior'' dari Loge Agung, a tau tepatnya dari "Kemaster-agLmgan Holland", sebab instansi itulah yang membcrikan kuasa provinsial atas bagian timur dan barat Hindia mel a lui "pendelegasian dan representasi". Menu rut per-

  1. Boerenbeker 1979, 21
  2. Lowenstein 1961, 129

aturan-peraturan baru tahun 1760, pengangkatan, pendelegasian dan pengutusan untuk "wilayah-wilayah jauh" masih tetap merupakan prerogatif Suhu Agung Holland. 18

Pcnetapan seorang Suhu Agung Provinsial atas Hindi a Beland a menimbulkan pertanyaan, wilayah-wilayah mana saja yang termasuk di bawahnya. Dalam kenyataannya, wilayahnya sangat kecil, sebab hanya meliputi wilayah loge ''Salomon". Keadaan itu dapat dibandingkan dengan keadaan di Belanda pada tahun 1735 ketika J,C. Radermacher menjadi Suhu Agung dari satu-sahmya loge Belanda, yang diberi nama keren ''Loge du Grand Maitre des Provinces Unies et de la Generalite (Loge Suhu Agung Provinsi-provinsi Serikat dan Negeri-negeri Umum)." Gelar-gelar menterengjuga tidak kurang di Asia, sebab di tahun 1765 loge "Salomon'' dibentuk sebagaJ "Loge Agung Provinsialuntuk Benggala, Hindustan, Persia, dan pesisir-pesisir Koromandel serta Malabar, dan juga pulau Sri Lanka." 19

Setelah Van Scheevikhaven, masih dua orang Belanda di Asia menjadi wakil dari Suhu Agung Holland, yakni George Stcendekker, yang tercatat dalam buku Hageman sebagai Wakil Suhu Agung Nasional, dan Abraham van der Weyden. Steendekker dan Van der Wcyden seakan diangkat secara ad hoc, dengan tugas untuk memberikan konstih1Si kepada suatu loge tertentu di Hindia. Misi itu mercka terima berkat kenyataan bahwa mereka memang harus ke Hindia berhubung dengan pekerjaan mereka. Peresmian loge-loge "La Vertueuse (Kesucian)'' dan "La Fidele Sincerite (Kesctiaan Ikhlas)'' memang terjadi sewaktu kehadiran mereka. Tidak ada lagi wakil-wakil lain yang diangkat, dan memang dapat dimengerti,

  1. Hageman 1866, 17.
  2. Lowensteijn 1961, 129

1801 tidak ada lagi penambahan loge baru di Hindia. Resolusi-resolusi Loge Agung tidak menyebut lagi ten tang jab a tan wakil Suhu Agung sampai terjadinya pertemuan Majelis Tahtman Republik Batavia pada tahun 1799. Tahun itu merupakan awal suatu fase baru dalam sejarah Tarekat Mason Bebas Hindia, dan dalam hubungan masonik-organisatoris an tara Belanda dan Hindia.

Untuk dapat menjawab pertanyaan mengapa di Den Haag diambillangkah seperti itu, maka penting diketahui situasi pada saat itu di Eropa. Oleh karena adanya persekutuan Pe-- rancis-Belanda melawan Inggris, maka hubungan ke seberang I au tan rnenjadi sang at sulit. Wilayah-wilayah kolonial Beland a hants men gurus diri sendiri, dan ha 1 yang sama dapat dikatakan tentang Tarekat Mason Bebas di Hindia. Mungkin juga bijaksana untuk menjadikan Tarekat Mason Bebas Hindia lebih mandiri, mengingat bahwa ada kemungkinan wilayah itu jatuh ke tangan musuh. Selama berlangsungnya Majelis Tahunan tersebut, diumurnkan pengangkatan "Wakil Suhu Agung atas bagian-bagian tirnur dan barat H.india Batavia", 20 dan yang dipllih ialah Nicolaas Engelhard.

Engelhard, direktur dan gubemur pesisir timur taut Jawa, merupakan tokoh yang san gat berpengaruh dalam hierarki dan berkedudukan di Sernarang. Berdasarkan instruksi kepadanya pada tahLm 1798 oleh "Suhu Agung Nasional dan Pejabat-pejabat Besar Tarel

  1. Boerenbeker 1991, 3

Tan~ knt Mason Bebas Hindia dan hal itu selalu dipertahankan. Pembawahan itu mempunyai arti rangkap, sebab di dalam Tarekat, loge-loge Hindia tidak sam a kedudukannya seperti loge-loge Be1anda. Mereka bukan saja tidak mempunyai hak suara di Majelis Tahunan [Sidang urn urn tahunan dari pengutUs besar dan utusan-utusan berbagai loge. St.l malahan mereka tidak diperbolehkan untuk cliwakili orang lain. J.H. Carpentier Alting di kemudian hari membandingkan soal tidak ada suaranya jajahan l-lindia Belanda secara politis dengan keadaan Tarekat Mason Bcbas Hindia, dan mcnyindir bahwa kaum Mason Be bas Beland a pad a umumnya memptmyai prasangka yang sama terhadap kaurn Mason Bebas Hindia seperti prasangka di Belanda pada umumnya terhadap orang-orang Belanda di jajahan-jajahan. 21 Setelah pada tahun 1837 hal itu dipersoalkan oleh loge-loge di Amsterdam, baru pada tahun 1844 diberi hak kepada loge-loge di seberang lautan untuk cliwakili oleh suatu loge Belanda dalam penyelenggaraan Majelis Tahunan.

Dalarn pembawahan organisatoris tidak terjadi perubahan setelah pad a tahun 1899 didirikan Loge Agung Provinsial untuk Hindia Belanda. Loge Agung ini tidak mernpunyai status Lain kecuali mempersatukan loge-loge Hindia, sebab ia tidak pemah mernpunyai kedudukan mandiri. Walauptm sc1ama abad keduapuluh keinginan atas kemerdekaan Tarekat Mason ·Bebas sering disuarakan, dan ketegangan-ketegangan kadang-kadang memuncak, sarnpai akhir Tarekat Mason Bebas Belanda di Indonesia kesatuan itu tetap dipertahankan.

  1. IMT th 12, 107

gejaiCI kultur Eropa Barat dan sebagai perhimpunan yang sebagian besar anggota-anggotanya orang Belanda, dengan masyarakat kolonial di Hindia yang majemuk? "Majemuk" artinya bahwa masyarakat dibentuk oleh orang-orang dengan latar belakang etnis yang beragam, ''kolonial", sebab ada kelompok dominan ya ng terdiri dari orang-orang Belanda. Dengan sendirinya kedudukan dari Tarelcolour bar terhadap orang-orang Indonesia, scdanglshnde bar memisahkan orang kulit putih dari orang-orang Belanda berkulit berwarna.22

Titik pangkal dari tinjauan ini adalah sajal< termasyhur karangan Mason Be bas Rudyard Kipling, dari "Ballad of East and West". Oh, East is East, mui West is West, and never the twain shall meet, Till Enrth and Sklj stand presently at God's grent judgement seat,

  1. Van der Veur 1961, 93

p~~,~~

But there is neitlwr East nor West, Border, 110r Breed, nor Bi1·tlz, When two strong rnen sta11d face to fact! Though t.hey come from the end of earth

Terjernahan bebas ke dalam bahasa Indonesia oleh 23, Toenggoci P. Siagian. berbunyi 0, Timur tetnplnh 'Timur, dan Barn/ letrrplah Barnt, Tnk pernah kedurmya nwngkin berfen1111 Sampni tibn hari di mann Bumi dan Lnngit me11glwdrtp Kursi Pe~tgadilan Allah; Tapi tidak ada nrtinya Timur rztnupun Bnrat, Balas, asnl ntnupun usul Kalau d11a lelald kuat berdtri saling berhndapnn Walaupun mereka datang dan ujung dunia yn.ng bertentangan.

Masalahnya disimpulkan di sini: memang ada perbedaan- perbedaannyata dalam batas, ras, dankelahiran, namun hal-hal itu tidaklah perlu menjadi halangan untuk pengertian dan kerja sama. Sepertinya Kipling dengan pesan ini ingin mengubah sikap orang-orang sezamannya, yang Iebih condong memegang pendapat yang bertentangan dari yang diaJlutnya. la sudah terbiasa dengan masyarakat majemuk di India lnggris, dan pendapat seperti yang terungkap dari sajak itu, mungkin merupakan akibat dari pengalamannya yang diperolehnya di dunia itu.

Suatu pertanyaan yang menarik adalah sampai sebagaimana jauh terciptanya credo Kipling dipengaruhi Tarekat Mason Bebas di India Inggris, di mana loge pertama sudah didirikan pada tahun 1730. Bukan saja credo itu memenuhi asas-asas Tare kat Mason Be bas, tetapi juga pral

  1. Dibelandakan secara bebas oleh anggota Mason I~tswaart di AMT th 31, 409
Ma9onniek Tijdschrift (Majalah Masonik Umum),

De Boer menyampaikan kata-kata Kipling sendiri: ''Albal- lade tersebut, Kipling rnasih akan rnemperlihatkan dalam beberapa karya sastra lainnya bahwa ia seorang Mason Bebas. 24

Bahwa visi Kipling dapat ditemukan lagi dalam ide persamaan masonik telah ditegaskan pada tahun 1947, ketika dorongan menuju hubLmgan-hubungan baru muncul di mana-mana di dunia kolonial. Hal itu terjadi dalam sebuah artikel dalam Indisch Ma9onniek Tijdschrift (Majalah Masonik Hindi a), di mana penulis menunjuk pada usaha Kipling sebagai sastra- wan unt:uk mewujudkan pendekatan antara Timur dan Barat.25 Narnun kita perlu bersikap hati-hati rnengenai hal ini. Walaupun mernang cita-cita Kipling adalah untuk rnendekat- kan perorangan-perorangan yang beritikad baik, namun hal itu baginya tidak mempunyai konsekuensi untuk hubungan politil< yang lain, yang didasarkan atas persamaan antara negeri jajahan dan negara induk. Itulah zarnan ketika white man's burden-yaitu tugas untuk rnembawa sesama rnanusja yang berkulit berwama, kepada tmgkat peradaban yang lebih tinggi -masih menekan berat pada pundak kolonisator lnggris.

Perlu juga dijaga terhadap idealisme berlebihan, seperti dinyatakan seorang Mason Bebas India yang dimuat pada tahun 1973 dalam Newsletter dari Grand Lodge (Loge Agtmg) India, d1 mana diuraikan 250 tahun sejarah masonik di India.

  1. Idem, 408 -409
  2. TMT th 49, 75

Tcmyata bahwa pada tahun 1775 orang India pertama menjadi anggota Tarekat1yaitu anak lelaki tertua dari Nabob [gelar dari pejabat tinggi pribumi, St] dari Karnatik. Dalam suatu ringkasan untuk Algemeen Ma9omziek Tijdschrift Venema me- nuli.s bahwa orang-orang India jelas tidak clidorong menjadi anggota. Malahan di loge-loge yang ada rupanya terdapat suasana sedemikian ntpa, sehingga para anggota fndia tergerak untuk mendirikan loge-loge baru yang tent tam a dimaksudkan untuk bangsa mereka sendi.ri. Dengan cara itu pada tahun 1883 elidirikan "Coronation Lodge''. Suatu perkembangan yang nyata dalam Tarekat Mason Bebas di India baru terjadi setelah pada tahun 1961 didirikan " Grand Lodge of India''. Sejak tahun itu terjadi pertumbuhan pesat sehingga pada tahun 1970 sudah ada enam puluh loge dengan k.l. 3500 anggota.26

SeteJah fakta-fakta yang nyata ini, kelihatannya lebih baik untuk mengatakan bahwa Kipling secara romantis ingin mengungkapkan suaht impian, eli mana upaya menuju Tarekat umum man usia merupakan suatu gagasan yang menarik. Dalam hal itu perlu diingat bahwa waktu itu ada perasaan superior yang umum pada orang Barat.

Penting untuk bertanya dengan cara apa kaum Mason Bebas Nederland menggambarkan penyebaran Tarekat dan kerja sama a tara Timur dan Barat sebagai titik tolak masonik dalam hubungan Belanda Hindia.

Sebelum hal ini dibicarakan1perlu dikatakan sesuatu dahu- 1u mengenai pendapatyang terdapat eli fase dini da1i Tarel

  1. AMT th. 27, 391

Inggris Raya danlrlandia pada awal a bad ke-18, tidak dapat diliayangkan adanya Tarekat Mason Bebas. 27 Pengaruh lnggris a,L kelihatan dari The Old Charges yang berasal dari tahun 1723, : ang juga tersebar di Belanda. Terbitan tersebut mentpakan ~:umpulan perahuan, mula-mula hanya climaksudkan untuk dtgunakan di loge-loge di London. Salah satu peraluran ialal1 ahwa para anggota di luar loge harus menghindari tcrjadinya ~ertikaian kata tentang agama, kebangsaan dan politik. eraturanini rupanya berhubtmgan dengan keributan dalam =tege1i dari zaman Cromwell, dan perbedaan pendapat yang ::1iam mengenai soal agama pada zaman Reformasi.

Gagasan ten tang Tarekat universal, salah satu saka guru .Jari Tarekat Mason Bebas, meminta para anggota untuk meng- ... payakan apa yang mempersatukan manusia dan meng- hmdari apa yang membawa perpecahan. Konsekuensinya .alah sikap toleransi dan rasa hormat terhadap pendapat orang lain. Sebab itu memperuncing perbedaan pendapat ~ntang soal agama, tidak dibenarkan berdasarkan ala san itu. Icntunya juga di negara Belanda ditekankan kepada kaum Jason Bebas supaya menghormati pendapat orang lain, dan rnengusahakan suatu Tarekat yang mempersatukan semua. r~raturan-peratura.n tersebut yang terdapat dalam versi ~ d.hasa Belanda dari The Old Charges, bertolak dari gagasan rahwa kaum Mason Bebas terhisab pada "semua bangsa, ~gat, kekerabatan dan bahasa", dan bahwa Tarekat Mason 3ebas harus menjadi sumber dari persahabatan yang setia ~.mara orang, yang kalau tidak begitu akan tetap terpisah satu ~a lain. Ungkapan "semua bangsa, logat, kekerabatan dan _:lhasa" juga ditemukan dalam surat-surat konstitusi yang ·eluarkan atas nama Suhu Agung Tarekat Nederland pada

..,-Zeijlemaker 1972,13

pendirian loge baru di Hindia. Sebagai contoh dapat digunakan surat konstitusi Suhu Agung Nederland Van Boetzelaer tahun 1769, yang dikeluarkan untuk loge Batavia La Verhtese. 211 Dari dokumen tersebut temyata bahwa salah satu tugas sang Suhu Agung adalah untuk memajukan Tarekat Mason Bebas bukan hanya eli negara sendiri, meJainkan menyebarkannya ke seluruh dunia. Teks yang menyebut hal itu adalah sebagni berikut:

" Begitulah sesuai dengan Kewajiban yang dibebankan kepada kami, untuk memberitahu tentang Terang, yang kami beruntung telah terima, juga kepada orang lain, ya bahkan sampai ke ujttng dunia yang dikenal dan dengan demikian menyebarkan pengetahuan kami yang luhur di tengah-tengal1 bangsa-bangsa, bahasa-bahasa dan negara-negara ... "

Sekitar tal1un 1770 penyebaran Tarekat Mason Bebas di wilayah Kompeni rupanya merupakan sesuatu yang telah diprogramkan. Pertanyaannya sekarang ialah kapan usaha-usaha pertama dilakukan untuk melaksanakan kewajiban itu terhadap penduduk non-Eropa, dan apa hasilnya.

Untuk menjelaskan, eli dunia yang seperti apa Tarckal Mason Bebas masuk di Hindia, perlu dikatakan sesuatu mengenai keadaan setempat dan hubungan an tara segmen-segmen penduduk yang berlainan itu di tempat-tempat di mana loge-loge pertama didirikan. Mula-mula loge-loge ini hanya ditemukan eli kota-kota dagang yang besar di pesisir, yaitu Batavia, Semarang, Surabaya dan Padang. Di kota-kota tersebut unsur Eropa mempunyai posisi yang kuat. Setelah beberapa waktu, jumlah orang Eropa bertambah dan membangun komunitas yang tertutup di mana para anggotanya

  1. Buku Peringatan 1767-1917, 161

tingkt1t pemerintahan, dan dibatasi pad a wakil-wakil dari kaum elit setempat. Hubungan yang pribadi an tara orang Eropa dan non-Eropa terjadi di keluarga-keluarga di mana lakj-laki dan perempuan orang Indonesia bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Di kota-kota yang !ebih kecil eli pedalaman, di mana jumlah orang Bclanda jauh lebth kecil, pengaruh mereka terhadap lingkungan sekitamya pun tidak besar, dan hubungan-hubungan te~alin secara lebih langsung dan pada tingkat yang bcrbeda. Oleh karena sering adak mengenal lingkungannya, orang-orang Belanda yang kebanyakan merupakan pegawai pcmerintah, administratu r perkcbunan, atau tentara, harus lebih mengandalkan tokoh-tokoh dari masyarakat Indonesia. Kontak-kontak yang dengan dernikian terjadi. membantumengurangi nntangan-nntangan yang ada, dan bahkan rnenghasilkan rasa honnat dan penghargaan satu sama lain. Hubungan-hubtmgan pribadi yang dengan demikian tetjalin merupakan alasan mengapa anggota-anggota Tare kat Mason Bebas orang IndonesiCl pertama ndak muncul di kota-kota pesisir melainkan di pusat-pusat di pedalaman.

Seperti telah dikemukakan sebelumnya, loge-loge tcrtua di wilayah kekuasaan Beland a tidak didirikan di Hindi a TimUJ melainkan di tempat lain di Asia. Terutama di apa yang disebut "kantor-kantor luar" Kumpeni, orang-orang Belanda bersama orang Eropa berkebangsaan lainnya merupakan suatu komunitas tertutup tersendiri di tengah-tengah dunia Timur. Di tempaHempat seperti itu memang ada inti tetap pegawaj Kompeni, namun sebagian besar terdiri dari pcnduduk yang berpindah, scbagru akibat dari mutasi-mutasi yang terus-menerus terjadi. Loge-loge di tempat-tcmpat itu terdiri dari anggota-anggota orang Eropa yang tidak tetap, semuanya pegawru Kompeni.

Batavia berbeda dengan pemukiman VOC di Asialainnya karena sudah satu setengah abad lamanya kota itu mempu- nyaikontingen Eropa yang besar. Mutasi-mutasi yang ditem- pat lain begitu mengganggu tetapi di Batavia tidak begitu mempengaruhi kehidupan loge. Yang menarik ialah bahwa generasi-gcnerasi pertama kaum Mason Bcbas di Hindia men1pakan bagian dari kaum elit komunitas Eropa, dengan unsur kuat dari kelompok ycmg cUsebut "tamu tua". Mereka adalah orang-orang yang sudah lama bekerja di Kompcni, dcu1 karena begitu lama tinggal di Asia, telah terlepas-akar dengan tanah airnya sendiri. Mereka kadang-kadang sudah rnengum- pulkan harta yang besar, tinggal di rumah-rumah dengan pekarangan dan tanah yang luas di luar Batavia dan hidup sebagai ''tuan besar". Oleh karena menikah dengan perempuan Indonesia, a tau perempuan Indo, mereka semakin lerasing dari cara keh.idupan tanah airnya yang lama. Corak itu tampak lebih kuat lagi pada generasi-generasi berikut, yang memperoleh pendidikan dari para pembantu rumah tangga orang Indonesia. Di sekolah-sekolah di Batavia ya.r1gjumlahnya sedikit saja, bahasa Belanda terdesak, sama halnya seperti pengajaran agama. Para guru dan pendeta rnenghadapi khalayak ya.rtg hampir-hampir bdak lagi mengerti bahasa Belanda. Bahasa pergaulan adalah dialek Batavia tercampur dengan kata Portugis dan Melayu.

Oleh karena adanya arus pegawai baru dari Nederland, keseimbangan tertentu dapat dijaga yang namun berubah karena pecahnya perang. Pada Perang Inggris ke-4 (1780-84) dan pad a tahun-tahun setelah 1795, hubungan dengan Eropa menjadi lebih sulit sehingga arus pegawai baru VOC pun tcrhcnti. Sebagai akibatnya pada akhir a bad itu unsur Hindia semakin kuat. Begitu kuat pengaruh kebudayaan sekitamya, sehingga dunia kolonial di Batavia mengalami proses ''hindia- nisasi", yang juga berpengaruh terhadap kehidupan loge.

;ipa yang disebut "kebudayaan rnestizd' frnestizo: keturunan seorang ayah kulit putih dan seorang ibu kulit berwa.Ina, St)*. Tanda pengenal kebudayaan Batavia bukanlah bersifat Indo- 'tt?sia maupun Belanda, rnelainkan suatu bentuk carnpuran rlengan sifatnya sendiri. Budaya ini buka11 hanya gejala a bad •. ~18, melainkan tetap bertahan dalam garis besarnya di ~mudian hari. Serangan terhadap kebudayaan ini mula-mula dllancarkan pacta abad ke-19, namun pada mulanya hanya ::1enca pai sedikit hasil. Sam pai seki tar tah un 1900 pen getah u- .an bahasa Belanda begitu kurang sehingga dua pertiga dnri umlah anak yang diterirna untuk pend.idikan dasar tidak rr.encapai standar. Juga dalam gaya hidup, unsur-Ltnsur Hindta dipertahankan dan setelah Perang Dunia Kedua pun seba- ;ian penting penduduk Hindia Beland a berakar dalam kebudayaan Asia, dernikian disimpulkan suatu komisi pemerintah. : ~embali ke titik tolak, perlu dilacak dengan cara bagaimana- :..ah Tarekat Mason Bebas, yang berasal dati Eropa dan sebagai perhimptman rohani dipengaruhi pikiran maju Pencerahan 3bad ke-18, di wilayah Hindi a Belanda berhasil mendapat ang- ?ota-anggota non-Eropa. Masuknya orang-orang Indo-Eropa :-emang dipermudah oleh sifat campuran dati loge-loge yang 1da. Kebudayaan Hindia memungkinkan bahwa pendatang- ~datang baru, yang juga disebut "baren" (da1·i kata baru) ltau "totok" segera terintegrasi ke dalam loge-loge diHindia. Sekitar tahun 1870, ketika perrnintaan akan pegawai Eropa makin meningkat oleh karena perluasan kegiatan ekonorni, .:ian oleh karena perhubungan yang lebih baik dengan Belan-

  • Editor Indonesia: meztizo ialah suatu bentuk kebudayaan yang jelas berdiri sendiri walaupun mengambil unsur-unsur baik dari pihak Eropa maupun dari pihak setempat. Jadi ada saja budaya mestizo di Afrika, di Amerika Tengah atau Selatan ataupun di Asia.

wanita-wanita Eropa semakin banyak datang ke Hindia, proses eropanisasi dari komunHas kolonial pun mulai berjalan. SusLman dan sifat loge-loge Hindia pun berubah sebagai akibatnya, walaupun unsur-unsur spesifiklfudia tetap bertal1an. Tekanan kebudayaan dari Beland a yang semakin bert am bah malahan rnengakibatkan terjadinya reaksi penolakan, seperti

a.l. terungkap dari diskusi tentang posisi mandiri Tarekat M ason Bebas Hindia pada rnasa sekitar pergantian abad. Suah.t situasi yang bnn1 sam a sekali tercipta ketika muncul anggota-anggota orang Indonesia (dan Tionghoa) di loge-loge. Pakaian tradisional dari kaum elit Jawa, penggunaanAlquran sebagai Kitab Suci pada pertemuan-pertemuan formal di Rumal1 Pemujnan, kebiasaan makan dan minum yang berlainan dll m emberikan wajah baru kcpada kegiatan-kegiatan loge. Juga wejangan orang Indonesia, sering ten tang pokok-pokok yang barn bagi a nggota Eropa, telah memberikan wa rna khas pada kornpariti, sama seperti temu muka yang sa.ntai antara para anggota seusainya pertemuan. Tidak menjadi soal bahwa jumlahnya h anya kccil; sifat eksklusif Eropa telah ditcmbus sehingga terjadi situasi yang baru sama sekali. Pcrtanyaan kapankah orang-orang Indonesia pertama menjadi anggota Tarekat tidaklal1 mudah dijawab. Apal 1880) yang dilantik pada tahun 1836 di loge di Den Haag " Eendracht Maakt Macht (Bersatu Kita Kuat)"
29 ? Di Jawa sendiri Abdul Rachman, keturunan dari Sultan Pontianak, yang dilantik pada tahun 1844 eli loge di Surabaya " De Vriendschap (Pcrsahnbatan)", mungkin yangpertama. 30 Yang pasti ialal1 bahwa pada tgl. 26 Juni 1852 seorang bukan-Eropa

  1. Thoth th 39, 33-35
  2. Vander Yeur 1976, 14

''La Constante ct Fidele'' sebagai murid, yang bemama Aquasie Boachi, dan discbut Pangeran Ashanti.3 1 Tidak banyak diketahui tentang dirinya, kccuali bahwa ia berasal dari Pesisir Emas di Afrika yang pada awal a bad ke-19 merupakan gudang prajurit untu k clikilim kc Hindia Timur. Oi Semarang ada suatu kontingen prajurit Afrika yang mentpakan bagian dari garnistm, dan walaupun tidak dikctahui apakah Aquasie Boa chi salah satu dari mereka, menarik pcrhatian bahwa justru di loge Sernarang itulah ia ditcrima. Bertahun- l·ahwl kcmudian ia menjadi pendiri-bersama dari peihirnpumm masonik di Bogar, pendahululoge "Excelsior" di mana ia menjadi ketua pada tahun 1885. Kedudukan tinggi pangeran Afrika ini menarik perhatian, dan mestinya memberikan gengsi kepadanya di luar loge.

Suatu "terobosan'' yang nyata baru terjadi pada tahun 1871, ketika Panger an A rio Soeryodilogo (1835-1900) menjadi 1 anggota Joge ' Matru·am" di Yogyakarta, suatu loge yang didirikan pada tahun sebclunmya. 32 Nama Hu diambil dari nama kerajaan Jawa Tengah yang pada awal abad kc-17 berperang melawan Kompeni. Pernilihan nama i tu agak menarik. Pada tahun 18781 pangeran itu menggantikan kakaknya sebagai kepala keluarga Paku AJam yang memerintah, dan ia diberi gelar Paku Alam V. Sebagai salah satu dari em pat penguasa tradisional diJawa Tengah ia mempunyui pre1:>tise ti.nggi dan dapat dipastikan bahwa keanggotaannya padu Tarekat Mason Bebas memudahkan keanggotaan bagi penguasa-penguasa Jawa laiimya. Yang menarik ialah bahwa putra-putranya juga menjadi anggota Tare kat Mason Bebas, seperti Pangeran Adipati Aria Notokusuma, yangmenggantikan ayahnya pada tahun 1901 sebagai Palm Alarn VI, Pangeran A rio Notodircjo

31 .. Buku Peringatan 1767-1917, 361

  1. rMT lh 42, 270-273

[antara 1901-1906 wali dari anak yang kemudian menjadi Paku Alam VTI, St.] danPangeran A rio Kusumo Yudo yang kemudian menjadi anggota dari Rand vnn Judie (Dewan Hindia). Terakhir, cucunya Paku Alam VTI, yang antara tahun 1908 dan 1938 menjadi kepala keluarga Paku Alam. Foto-foto dari orang-orang terkemuka Mason Bebas ini dimuat dalam B11ku Peringntnn 1767-1917. 33 Kedudukan tinggi para Mason Bebas Indonesia ini merupakan sesuatu yang luar biasa, namun juga anggota-anggota Indonesia lainnya dari Tarekat mempunyai kedudukan yang penting dalam masyarakat. Hal ini akan dibicarakan lebih lanjut.

Yang mcnjadi pertanyaan sekarang ialah bagaimana pendapat kaum Mason Bebas Belanda dari zarnan Kipling ten tang hubungan Timur-Barat dan ten tang keanggotaan orang Indonesia di Tarekat. Setelah pergantian abad, banyak tuJisan dalam I.M.T. membahas penerimaan orang Indonesia, namun pada zaman sebelurnnya hal itu jauhlebih sedikit dibicarakan. Walaupun begitu, ada sumber agak dini yang menarik membahas pokok ini. Malahan sumber ini dapat disebut sebagai suatu pembelaan untuk menggerakkan kaum Mason Bebas supaya berupaya mewujudkan suatu masyarakat yang terintegrasi di Hind ia, di mana semua su ku di Nusantara dapat mempunyai tempal yang terhormat. Pirnpinan dari proses harus dipegang orang Belanda, dan terutama oleh kaum Masort Be bas. Sumber terse but be rasa! dari tal1Un 1869 dan merupakan teks pidato pesta yang disarnpaikan Mr. H.O. van der Linden, Pembicara [pejabat selama perternuan loge, St.] dari loge "De Ster in het Oosten (Bin tang Timur)" ten tang a bad yang lalu. Vander Lindenrnenganggapnya sebagai tantangan pada zamannya untuk rnewujudkan suatu masyarakat

  1. Buku Peringatan 1767-1917, halaman 301

peranan besar kepada kaum Mason Bebas dari Timur dan Barat. Setelah menunjuk kepada contoh yang baik dari orang lnggris di India, Vander Linden dengan berapi-api mendesak agar orang Jawa dHerima juga. Logeharusikut bekerja supaya perbedaan "antara ras atau warna kulit, kelahiran atau tingkat" dapat dilenyapkan. Singkatnya, di depan Tarekat tcrbentang bidang kerja yang luas, dan adalah tugasnya untuk menunjttk jalan kepada penduduknegeri menuju masa dcpan di mana diskriminasi ras telah dilarang."J 4

Tentang keanggotaan orangTionghoa ada jugasumbernya. Sebngai orang Tionghoa pertama pada tahun 1871, jugn di .rloge Mataram", diterima Ko HoSing (1825-1900). 35 Lal1ir di Jawa, ia tidak menguasai bahasa Belanda, namun itu tidak menjadi soal. Sebaliknya lima belas tahun sebelumnya, pcmilik pabrik gut a dan letnan orang Tionghoa [suatu pangkat yang diberikan pemerintah Belanda kepada kepala-kepala distrik Tionghoa di kota-kota, St.] di Surabaya, The Bun Keh, ditolak keanggotaannya dj loge "De Vriendschap" oleh karena alasan bahasa. Ko dianggap sebagai orang modern, orang pcrtama yang mengirim puh·a-putranya -termasuk M.A. Ko, yang kemudian menjadi Mason Bebas-ke sekolah dasar berbahasa Belanda. Ana.kitu juga menjadi anggota dariloge "Mataram", dan pada tahtm 1913 ia memberi pidato di loge terse but yang begitu dihargai sehingga dimasukkan ke dalam Buku Per- hJgntan 1767-1917. Pidatonya mengupns berbagai adat kebiasaan di lingkungan Tionghoa diJawa dan mpanya dimaksudkan untuk mcmberikan penjelasan ten tang pokok itu kepada orang Belanda. Dalam Buku Peringntnn, baik ayah maupun anal< diperlal-ukan dengan penuh honnat oleh redaksi.

  1. Vander Linden 1870, passim (di beberapa tempat)
  2. Vander Veur 1976, 15
van een "Toto/(' (Kesan-kesan

seorang Totok). Van Maurik melukiskannya sebagaj orang yang berbicara bahasa Belanda dengan sempuma, yang clidi- dik pada sekolah yang biasa, dan merupakan "orang yang cerdas.~ terpelajar, ahli bangtman dan kontraktor". Bersama seorang yang bemarna "Heremans", Van Maurik mengadakan perjalanan keliling diJawa, dan sewaktu mereka sedang rna~ kan malam eli sebuah hotel di Jogya, mereka berbincang-bincang dengan seorang wanita yang kebetulan hadir. 36 Setelah mereka menceritakan bah wa pad a siang hari rnereJ

... Kami melakukan perjalanan yang menyenru1gkan ke sana
denga11 Ko-mo-an ( ... ) seora11g ahli bangunan Tionghoa ...,
seorang yang ramah dan suka bercerita, yang men genal baik zaman kuno Hindu. "Ternan sekolah dari Tuan?" - Ya, sejak satu atau dua hari. Ah, Van Maurik tolong berika:n fotonya dulu-para penulis ini orang-orang yang sulit dalam perjalanan, Nyonya ( ... ) Ia mendesak supaya foto Ko -moan, yang diberikan l.

  1. Van Maurik 1897, 305-307

mason?" ... Tidak Nyonya, say a mala han tidak tahu apa-apa tentangnya sampai lima hari yang lalu (diceritakan ten tang kendaraan yang mengalami kerusakan, dj mana Ko datang membantu). "Dan bagaimanan Anda tahu d ia seorang Mason Bebas?" ... Ia memakai sebuah charivari (meterai) masonik pada rantai arloj inya. Saya memperkenalkan diri, dan dalam lima menit kami dt1duk di kendaraanseperti saudara-bersallda..ra. Ia membawa kami ke tempat tujuan kami.

Harus diakui, kutipan di atas tidak dapat dibandingkan dengan Kipling. Namun ia mernberikan kesan tentang pcrgaulan yang tidal< kaku an tara seorang pengusaha impor Eropa dan seorang kontraktor Tionghoa yang mengenal benda- bcnda kuno di J awa. Sewaktu Van Maurik rnenjelaskan kepada khalayak non-Mason Bebas bahwa Tarekat Mason Bebas merupakan suatu Tarekat, "yang terdapat di antara semua man usia di semua benua", iamelanjutkan bahwasatu-satunya syarat penerimaan ialah tingkat pendidikan tertentu, dan kemudian ditandaskannya bahwa rintangan-rintangan rasial tidak memainkan peranan bagi seorang Mason Bebas, dan bahwa pcngertian yang baik dengan orang bukan-Eropa pada tingkatTarekat Mason Bebas sangat mungkin berlangswtg.

Pada waktu soal penerimaan orang-orang Indonesia dianggap sebagaj scsuatu yang san gat diperlukan oleh Vander Linden untuk masa depan Tarckat dan untuk pembangunan masyarakat, dan Van Maurik menganggap soa1 lumrah kalau di Jawa ada Mason Bebas Tionghoa, pertumbuhan keanggotaan yang bukan-Eropa masih sangat kecil. Sebab-sebab yang memainkan peranan dalam hal itu, akan dibahas kcmudian.

  1. Selayang pandang penulisan sejarah masonik diHindia Belanda Sewaktu kaum Mason Bebas Hindia sering mempunyai per-

hatian besar untuk sejarah logenya sendiri -karya-ka1ya bangunan, sumbangan tulisan untuk ltutisch Mafonniek Tijdschrift (Majalah Masonik Hinclia) dan buku-bLtku peringatan menunjukkan hal itu dengan jelas -dapat dicatat bahwa perkembangan Tarekat Mason Bebas Hinclia secara keseluru.han hampir-hampir tidak mendapat perhatian. Mungkin hal itu me.nje- laskan mengapa artikel dalam Vripnetselm·ij i11 Nederlnnds-lndie (Tarekat Mason Bebas di .Hinclia Belanda) - yang pada tahun 1989 dimuat dalam Algemeen Mnfon.n.iek Tijdschrijt (Majalah Masonik Umum)- diberikan judul keci1 Een terrein.verkenning (Peninjauan lapangan). 37 Apa yang juga menarik perhatian ialah bahwa kebekuan sejarah terus berlanjut, juga setelah pacta awal tahun enampuluhan keberadaan Tarekat Mason Be bas yang terorganisasi di Indonesia telah berakhir. Namun masanya kelihatannya sudal1 tepal untuk merenungkan dua a bad sejarah masonik, tetapi sumbangan-sumbangan hanya terba- tat; pad a bebe.rapa artike.l pendek dalarn AM T., termasuk suatu seruan supaya dimulai dengan penulisan sejarah tersebut. 38

T i.dak mudah unluk mcncari tahu mengapa penclitian atas sejarah sendiri tidak dilakLtkan secara mendalam. Apakah ada kekuranganorang ahli dalam bidang tersebut, ataukah pengkajian bahan sumber dihalangi masalah-masalah? Apakah diperlukan l<.ajian-kajian penyimpnlan? Bagaimana pun juga, kekosongan itu bukan clisebabkan karen a kurangnya dorongan untuk me1aksanakan tugas penelitian tersebut. Bertahun-ta.hun Jamanya, umparnanya, De Visser Smits-yang me.nye- but sejarah sebagai "pondasi w1tuk semua pengertian terhadap pembangunan dan perubahan manusia dan umat manusia sepanjang a bad" - terus-menerus rnengemukakan hal itu. Untuk dia, refleksi terhadap perkembangan Tarekat Mason

  1. AMT th 49, 223-225
  2. Idem th 16, 298-300

Pertanyaan sering diajukan apakah gerakan itu cocok untuk ditulis sejarahnya. ltu pernah ctikemukakan, umpamanya, da1am suatu artikel oleh J.H. Carpentier Alting -yang kemudian menjadi Suhu Agung Tarekat- berkenaa n dcngan peringa tan 150 tahun Majelis Tahunan Nederland. 40 Setelah penulis memberikan sejarah singkat ten tang Tare kat di Beland a dan Hindia, ia memberi komentartentang apa yang discbutnya "sejarah batin Tarekat Mason Bebas". O leh karcna aspck ini pada umumnya me- nyinggtmg sejarah masonik, maka scbaiknya kata-kata Carpentier Alting dikutip di sini. Ia menjelaskan masalahnya sebagai beriku t:

"Sekarang sebenamya kami ingin bcrplnclnh ke uraian tentang sejarah intern Tarekat Hindia Timur ... ya ng cocok untuk penulisan sejarah. Oleh karena ia tidok memiliki kecocokan tersebut, maka sebaiknya juga tidak di laksanakan ( ... )Ada sejarah yang tidak dapatdinyarnkan da lam tanggal-tanggal tahun dan angka-angka, yang tidak dapat dibuktikan oleh dokumen-dokumen, yang tidak terdirl atas scrang- kaian fakta dan peristiwa. BergitulaJ1 halnya dengan sctiap sejarah yang berlangsung di benak dan batin man usia. Kalau kami ingin melukiskan sejarah batin Tarekat, rnaka kita harus menyebul berapa besar jurnlahnya orang-orang di dalam Tarekot yang kehidupan rohani terbangun, betapa di loge-loge kami tidak hanya ada percakapan dan perbincangan, namun lebih ban yak lagi yang dipikirkan dan dirasakan; kami malahan harus menggambarkan berapa banyak pembangunan rohani secara langsung dan tidak langsung telah dipancarkan dan Tarekat ke masyarakat duniawi. Semuanya itu tidak tcrlukiskan."

  1. BdT th 33, 189-193
  2. Idem th 12, 101-110

1.1ntuk mengetahui pengarnh yang keluar dari Ta-
rekat Mason Bebas. Bahkan pengarang-pengarang bukan masonik pun kelihatannya tidak mengalami masalah, seperti yang dapat dilihat dalam alinea berikut, 1.mtuk mengembalikan tindakan kaum Mason Be bas demi kepentingan rnasyarakat kepada alam pikiran masonik

Suatu ringkasan tentang apa selama ini telah dibuat di dalam Tarekat di Hindia rnengenai penulisan sejarah sendiri -kalau sejarah adalah cara bagaimana suatu kebudayaan mempertanggungjawabl

Sebagai yang pertarna, dapat disebut karya ]. Hageman ]Cz yang diterbitkan pada tahun 1866. Bukunya setebal huang lebih 170 halaman dan be~udul Geschiedenis der Vrijmetselary in de oostelijke en zuidelijke deelen des aardbols (eerste tijdvak) (Sejarah Tarekat Mason Bebas eli bagi.an timtu dan selatan bu- mi [masa tahap pertama]), dan diterbitkan oleh penerbitThie- me Kolff & Co. di Surabaya. Penulis membicarakan periode sampru tahun 1799 sedangkan tentang lingkup geografis ternyata ia hanya rnembicarakan loge-loge di wilayah Kompeni (VOC). Tidak pasti, apal

  1. Idem th33,189-191

itu, yakni Gubernur Jenderal Baron Sloet van de Beele, telah memberikan persetujuan atas penerbitannya. Ternyata juga bahwa karya itu bukan hanya tmh1k kalangan sendiri, melai.nkan juga untuk pihak-pi.hak yang secara umum menaruh perhatian. Visser Smits mengatakan bahwa keterbukaan itu sesuatu yang mengherankan, sebab buku iht menurut pendapan1ya memuat ban yak "keterangan yang tidak menyenangkan". Buku ih1 tidaklah suah1 sukses bagi penerbitnya, sebab oleh karena kurangnya perhatian, maka terbitan itu dihentikan. Walauptm begitu, penerbitG.C.T. van Dorp & Co. di Semarang, yang juga menerbitkan Majalah Masonik Hindia, pada tahun 1927menyatakan kesediaannya untuk mencetak ulang. De Visser Smits melanjutkan bahwa dalam arsip clite- mukan suatu naskah yang menarik yang dapat diperti.mbang- kan 1mtuk diterbitkan. Yang dima.ksudkannya ialah suatu karangan dari tangan Mason Be bas Jeremias Schill di Batavia. Walaupun tidak pemah diterbitkan, naskah itu bermaniaat juga, sebab eli dalam penyusunanbuku peringatan tahun 1917 naskal1 itu sering clijadikan acuan. Karya Schill ban yak ditemukan dalam daftar pustaka yang dilampirkan pada buku peringatan yang diterbitkan oleh loge "De Ster in hetOosten (Bintang Tirntu)". .P Ternyata bahwa sudah pada tahtm 1843 ia membuat suatu rancangan untuk suatu Gedenlc-Boek voor de fnvasche B1'0ederschap der Orde van. Vrij Metselnren (Buku Peringatan untuk Tarekat jawa dari Tarekat Mason Bebas). Sepuluh tahun kemudian di bawah redalBijdrage tot de Geschiedenis der Vrij-Metselarij op Java (Sumbangan terhadap Sejarah Tarekat Ylason Bebas di Jawa). Dari daftar pustaka pada buku peringatan tal1un 1937 ternyata bahwa terbitan Hageman tahtm

-!2. Gedenkboek 1937, 108

1866 mcrupakan suatu ringkasan dari beberapa artiket yang sebeJumnya dimuat daJam Nederlandsch fanrboekjevoor Vrijmetselnren (Buku Tahunan Belanda tmtuk Kaum Mason Bebas).

Salah satu kajian tertua yang tidak hanya rnenggambarkan satu loge, adalah sejarah dari loge-loge pertama di Batavia oleh A. Pierens. Ia meninjaunya dalam suatu artikel yang dimuat di lndisch Mn9onniek Tijrl.schrift (Majalah Masonik Hinctia) tahun 1902-1903." 3

Dalam pada itu sudah jelas bahwa di kalangan Mason Bebas ada keengganan untuk rnernbeberkan di depan umum keterangan-keterangan yang bcrhubungan dengan Tarekat Mason Be bas dalam bentuk terbitan. Hanya scbagai pengecualian dapat ditemukan penggambaran "dari dalarn" tentang perkara-perkara yang bcrlangsw1g di dalam loge-loge secara tertutup. Salah satu contoh adaJah kisah Q.M.R. Verhuell dalam Gedenkschriften (Tulisan-tulisan kenangan) mengenai pelantikan derajat pertamanya di loge " De Vriendschap" di Surabaya.t-~ Suatu contoh lain ialah bukn yang sudah disebut sebelumnya dari ~tfason Bebas Justus van Maurik yang waktu itu san gat populer, lndrukken van een 'Tofok', Jndische ~VPen en schet- sen (Kesan-kesan seorang "Totok", type dan skctsa Hindia).

Pada tahun 1917 diterbitkan karya monumental yang alGedenkboek 1767-1917 (Bu!cu Peringatnn 1767-1917), yang juga mempakan acuan yang sangat berharga buat setiap studi tentang Tare kat Mason Bebas. l. M.T. dalam terbitannya bulan Oktober tahun 1916 telah memberitahukan bahwa di loge "La Constante et Fidele (Selamanya Setia)" di Semarang telah ti.m- bul gagasan untuk menerbitkanbuku peringatan sehubungan

  1. IMT th 8, 308-326
  2. DeGraaf1973, 8-9

150 tahun dariloge tertua di Hindia terse but. Buku ini harus memberikan gambaran yang selengkap mungkin dari peke!jaan masonik selama 150 tahun di Hindia. Setelah loge-loge "De Ster in het Oosten" (Batavia) dan "De Vriendschap" (Surabaya) mendukungpra- karsa terse but segera pekerjaan itu dirnulru. Semua pengurus loge ditulisi sur at dengan permohonan memberikan bantuan- nya, sedangkan sejumlah ahli diundang untuk memberikan sumba:ngan pikiran. Hasilnya adalah suatu produk dari hampir 700 halaman, dilengkapi dengan ban yak foto dan gambar dan diterbitkan dengansampul kulit. Tirasnya mula-mula direncanakan sebesar 400, namtm pada kenyataannya mencapai 700 eksemplar. Harga buku ditetapkan sebesar sepuluh gulden, sedangkan penerbitnya adalah Van Dotp & Co. yang ter- l

Sepuluh tahun kemudian sekali lagi diambillangkah yang penting unh1k secara serius rnelakukan penulisan sejarah. Pada tahun 1927 Pengurus Besar Tarekat di Belanda memben tuk 45 sebuah "Komisi Sejarah", yang beranggotakan tujuh orang. De Visser Smits menjadi anggota dari komisi ini juga, sedangkan bobotnya diperbesar dengan diangkatnya seorang sekretaris "jabatan", suatu fungsi yang dijalankan oleh petugas arsip dan pustakawan Tarekat. Dalarn komentan1ya tentang pernbentul

  1. IMT th 33. 189-193

PENGANTA!l

ya "penuus, yang m ungkin bukan seorang Mason Be bas, ahli sejarah, dapat mcnempatkan semuanya itu di tengah semun peristi wa masyarakat besar, dan mcmbandingkannya dengan peristiwa-peristiwa itu, di mana organisasi masonik tertenhl telah bckerja. sehingga mereka dapat menyusun sejara h berdasarkan keterangan-ketcrangan itu.'' Namun penyusLman sebuah buku yang enak dibaca tentang sejarah Tarekat Mason Bebas bukanlah pckerjaan mudah. Pertama-tama perhatian hcuus dipusatkan pada pengumpulan sumber-sumbcr pokok, dansetelnh itu baru dapatdilaku.kan pcnulisan sejarah.

Namun ternyata mengenai pokok ini terdapat pendapat yang berbeda-bcda, scbnb di dalam uraian tugas komisi juga dimasukkan penerbitan karangan-karangan historis. Pcnerbit- an itu scharusnya di lakukan melalui Mededeelingen (Pemberitahuan-pernberitahuan) yang diterbitkan secara teratur. Namtm, De Visser Smits bcrpendapatbahwahanya artikel yangbermu- tu bnggi akan climuat dalan1 Mededeelingen. Banyak karya pemikiran dengan latar belal

Suatu prakarsa barudalam bidang sejarah dilakukan pada pertemuan tahunan Loge Agung Provinsial tahun 1927, ketika

"suatulVrijmetselarij, Geschiedenis, Mnntschnppelijke beteekenis en Doel (Tarekat Mason Bebas, Sejarah, Arti untuk Masyarakat dan Tujuan), yang berbeda dengan terbitan yubileum tahUJ11917, juga dipenmtukkan bagi orang luar yangmemptmyai perhatian. Buku itu memuat tinjauan-tinjauan yang menarik tentang berdirinya Tarekat Mason Be bas dan ten tang kegiatan-kegiatan yang telal1 dilakukan dari tahtmke talmn. Untuk penulisan sejarah buku itu tetap rnernptmyai nilainya, sebab oleh karcna banyaknya sumbangan tulisan, ia dapat menciptakan suah.l pengertian yang baik tentang posisi Tarekat pacta akhir tahLm duapuluhan. Sesuatu dengan makna khusus adalah hasil kuesioner yang diisi oleh 600 dari 1500 anggota, dan yang memberikan banyak inforrnasi tentang kedudukan para anggota di dalam masyarakat Hindia.

Mendapat angin oleh keberhasilan terbitan ini, pengurus Loge Agtmg Provinsial pada tahtm 1933 mengambil prakarsa untuk membentuk suatu komisi sejarah. Rupanya mereka mengikuti contoh dari tal1un 1927. Sekali lagi muncul nama De Visser Smits, yang bersama-sama dengan Dr. V.I. van de Wall, yang juga telah melakukan beberapa kajian historis, diangkat menjadi anggota. Komisi hmh.tk meneliti sejarah Tarekat Mason Bebas Hindia1dan membuat laporan secara teratur mengenai pokok tersebut. Juga dipertirnbangkan tmtuk mempersiapkan penerbitan buku yang baru. Dalam usul badan pengurus juga dikatakan bahwa setiap loge harus

men gangkat seorang koresponden yang akan memelihara

kontak dengan komisiY'

Namun prakarsa ini pun tidak bertahan lama. Sebab, pelacakan dalam I.M. T. tidak rnenghasilkan apa-apa. Tidak adanya kemajuan rupanya disebabkan oleh masalah-masalah aktual yang besar yang clihadapi Tare kat pada tahun tigapuluhan.

Publikasi terakhir terjadi berkenaan dengan pesta abad loge "De Ster in hetOostenu, pada tahun 1937. Loge ini mencr- bitkan sebuah buku peringatan yang juga memperhatikan loge-loge dari mana ia berasal pad a tahun 1837. Judulnya 100 Taren Mat; (onnieke) Arbeid in het Licht van de Ster in !let Oostert 1837 - 19 augustus - 1937 (100Tahtm Pekerjaan Mas(onik) dalam Terang Bin tang Timur 1837-19 Agustus 1937). juga buku ini memuat bahan historis yang rnenarik, dan juga telal1 ditam bah sebuah daftar dengan nama-nam a semua Wakil Suhu Agung yang berftmgsi an tara 1837 dan 1937. Juga daftar pus taka yang dilampirkan menarik perhatian sebab ada beberapa terbitan tak dikenal yang disebu t di dalamnya. Oengan terbitnya buku peringatan Batavia, yakni sumbangan substansial terakhir dari kaum Mason Bebas terhadap penulisan sejarah masonik 47, maka tlnjauan ini dapat diakhiri. Atlas bergambar tentang Tarekat Mason Bebas Nederland yang diterbitkan pada tahun 1971 hanya memuat dua sumbangan tulisan singkat ten tang Hindia Belanda.

  1. Sekelumit ten tang tern pat Tare kat Mason Be b as Hindi a Belanda dalam p enulisan sejarah umum Pada tahun 1976 Paul van der Veur menerbitkan suatu ringkasan sejarah Tarekat Mason Bebas di Hindia Belanda dan In-
  2. IMT th 38, 662
  3. AMT th 16, 299

sumbei-Sumbernya itu hampir semuanya dokumen-dokumen masonik. Penulis resensi untuk A.M.T memberikan penilaian bagus atas karya Van der Veur, dan menyebutnya sebagai suatu nilai tam bah bagi perpustakaan Tarekat. 48

Bahkan suatu orientasi singkat tentang literatur historis menguatkan kesimpulan Vander Veur, dan dapat dipastikan bahwa situasinya dari tahtm ke tahw1 tidaklah mengalami perbaikan yang berarti. Tarekat Mason Bebas hanya disebut dalam sedikit terbitan saja, dan itu pun sering hanya sarnbil lalu, seperti nyata dari bLU1ga rampai berikut ini.

Cukup ban yak perhatian ditujukan terl1adap Radermacher, yakni pendiri Tarekat Mason Bebas eli Jawa, dan juga pendiri Perhimpunan Batavia untuk Kesenian dan llmu Pengetahuan. Pada tahun 1921 S. Kalffrnenulis sebuah artikel panjang lebar ten tang karier Radermacher eli Hind ia, yang dimuat di Kolonianl Tijdschrijt (Majalah Kolonia1) dengan judul Een baanbreker in de Raad van lnrlie (Seorang PembukaJalan di Dewan Hinclia). Kalff mernujinya sebagai "seorang perintis yang rajin di padang gurun kehidupan intelektual eli Hindia" dan sebagai orang "yang menempatkan dirinya sebagai ujung tombak dari sekelompok kecil'intelekrua]', orang-orang yang berkeinginan untuk mendirikan sebuah mazbah untuk kesenian dan ilrnu pengetahuan eli suatt1 masyarakat yang hanya terarah kepada

  1. AMT th 31, 234

kepentingan dagang dan keuntungan materiil." Kalff tidak merasa heran bahwa Radermacher juga terlibat dalam "pc- 11 wujudan loge Tarekat Mason Bebas yang pertama di Batavia • tH Pada tahun 1973 oleh Lian The dan Van dcr Veur diterbitkan sebuah kajian tentang sejarah Perhimpunan Batavia dan Verhande/ingen (tulisan-tulisan) dari lembaga te.rsebut dan di dalamnya juga disebut bahwa Radermacher adalah seorang 50 Mason Bcbas. Baru-baru irn Zuiderweg melukiskan Rader- machersebagai "seorang ilmuwan yangterkemuka di Batavia", yang pada tahun 1764 terlibat dalam pendirian loge Hindia yang pertama "La Choisie" dan di kemudian hari menjadi 51 ketua loge "La Vertueuse".

Schutte dalam disertasinya tentang Patriot-patriot Bclanda dan wilayah-wilayah jajahan, juga membahas peri ode paling dini loge-loge Hindia di abad kc-18. Pengarang di situ mcna- nyakan pengaruh apa yang telah diberikan kaum Mason Bcbas Batavia terhadap politik kolonial ~ru.nan itu, dan ternyata di an tara kaLm1 Mason Be bas ada yang menentang dan ada yang 52 menyetujui pembaruan-pembaruan kolonial. Tare kat Mason Bebas pada penghujung a bad ke-18 juga mendapat perhatian dalam buku Jean Gelman Taylor. Penulis, seorang wan ita yang telah meneliti masyarakat kolonial Batavia, menyadari arti Tarekat Mason Bebas bagi kehidupan sosi£ll-k~budayaan di 53 kota itu.

Ten tang awal abad ke-19, sejarawat1 DeGraaf telah menu lis sebuah artikel dalam majalah ora!lg Indo di Belanda Tong Tong dengan banyak sekali keterangan tentang perwira angkatan

  1. Kalf£ 1921, 474
  2. Lian The dan Van der Yeur 1973, 1
  3. Zuiderweg 1991, 167
  4. Schutte 1974, 192-201
  5. Gelman Taylor 1988,116-120

Verhuell, dengan judu1 Verhuell wordtvnjmelselnnr (Verhuell menjadi Mason Bebas).>~

Untuk periodc di kemudian hari, buku itu menarik oleh karena sejarawan literahu Termorshuizen telah menu! is sesuatu tentang wartawan dan pengarang roman Hindia, P.A. Daum (1850-1898). Oleh pengarang ini clisinggung Tarekat Mason Bebas di Semarang, sejauh Daum [bukan seorang Mason Be bas, St] scbaga i redak~tr surat kabar Sermu:ang De Loco- motief(Lokomotif) mempunyai urusan dengannya. Daum mempakan seorang dengan pikiran bebas dan penilaian k1itis tentang politik kolonial. Terrnorshuizen menyebut tentang perhatiannya dalam soal perpw:;takaan rakyat dl Semarang, "De Verlichting (Pencerahan)", yang didirikan oleh loge setempat "La Constante ct Fidele". Daum merekomendasikan perpustakaon ini dengan sepenuh hatinya dalam surat kabarnya dan l!lemuji tujuan "untuk menyebarkan bacaa.n yang baik dan dapat dipercaya di kalangan pcnduduk Eropa (yang bermukim di Hindia)''. Sebagai rekomendasi tambuhan, ia mengemukakan bahwa perpusta1

Beberapa tahun kemudian Daum terlibat Iagi dengan suah.t lembaga masonilc di Semarang, yaitu Dana Stt1di "Midden-Java (Jawa Tengah)". Pada tahun 1883 ia menjacli anggota pengurus dana tersebut dan dua tahun kemudian malahan menjacti wakil ketua. Rupanya kedudul

  1. DeGraaf 1973, 8-9
  2. Termorshuizen 1983, 146

prestise yang besar, sehingga Termorshuizen menganggap hal itu sebagai penguatan kesimpulannya bahwa Daum dalam kehidupan sosial-budaya Semarang merupakan orang yang terkemuka. Mengenai dana studi, Termorshuizen mengutip Daum sendiri, yang dalam surat kabarnya yang baru Het Jndisch Vader/and (Tanah Air Hindia) melukiskan tujuan dana itu sebagai berikut: "menyokong murid-murid dari keluarga miskin yang memptmyai bakat bagus, dalam studi mereka d i Hogere Burger School* di Serna rang". Daum berkali-kali menyerukan agar pembaca-pembaca surat kabamya memberi sumbangan keuangan kepada dana tersebut yang tenttama dimaksudkan untuk membantu anak-anak dari kalangan Indo-Eropa yang miskin. Bertahun-tahtm kemudian, ketika ia merenungkan posisi sosial golongan Indo-Eropa, ia masih akan menyebut arti dari dana studi Semarang itu. 56

Mengenai kepedulian loge-loge terhadap kebutuhan masyarakat, Kalff menyebutnya ketika ia membicarakan gejala pemiskinan orang Eropa di Hindia. Kalf£ menyatakan bahwa "loge-loge rnasonik" berada di garis de pan di dalarn memberikan bantuan kepada saudara-saudara sebangsa yang ktuang beruntung dan bahwa mereka "pasti telah melakukan banyak".57 Beberapa tahtm kemudian pegawai tinggi Hindia, Mansvelt menulis dalarn suatu kajlan ten tang golongan lndo-Eropa, bahwa '1oge" telahmemajukan " persaudaraan" dian-tara golongan ini dengan orang Belanda impor, dan juga membantu "asirnilasi" mereka ke dalam komunitas Eropa. 58

Scjarawan Amerika, Van NieJ, yang melakukan penelitian

  • Editor Indonesia: Sekolah bergengsi dan bemutu tinggi setingkat denganSMU
  1. Idem, 271
  2. Kalif 1922, 582
  3. Mansvelt 1932, 299

Eropa.la berkesimpulan bahwa "Tare kat Mason Bebasu terutama di awal abad ke-20 telah memberikan pengcuuh yang positif terhadap pembentukan kaum elit )awa. 59 Naeff rnelanjutkan pend a pat ini dengan mcnunjuk pad a popularitas Tarekat Mason Bebas di kalangan pcjabat ningrat tinggi Jawa. Naeff menulis bahwa Tarekat Mason Bebas rnenekankan "persamaan prinsipilsemua orang'' dan sifat toleransi, dan dilanjutkannya, "Darihal itu mungkin dapatdijelaskan popularitas besaryang dinikmati Tare kat Mason Bebas bukan hanya di kalangan orang Eropa, melainkan juga di kalangan pejabat ningrat Jawa yang berpendidikan tinggi" .ro

Sebuah buku dari De Loos-Haaxrnan menuJis ten tang arti Tarekat Mason Be bas tmtuk kehidupan kebudayaan di Batavia sebclum perang. Ia menulis bukanhanya tentang surnbangsih kaum M ason Bebas pada pendirian Perhimpunan Kesenian Batavia, namun juga tentang arti yang mcrcka miliki di kalangan perkumpulan kesenian Hindia Belanda. Perkwnpulan-perkumpulan itu didirikan sekitar tahun 1900 dan bertujuan lmtuk membawa kesenian dan kebudayaan lebih dekat kepada rakyat. 61

Tinjauan singkat ini dapat dilcngkapi dengan dua acuan kepada tulisan-htlisanlndonesia. I'ada tahtm 1976 guru besar Resink menulis ten tang gerakan nasionalis dini "Budi Utomo"

  1. Van Niel 19601passim
  2. Naeff 1978, 133
  3. De Loos-Haaxman 1972, 70 -71

PENGA.'I!TAR

dan ten tang keterlibatan kaum Mason Be bas Indonesia terkemuka dengan organisasi tersebut. "Tarekat Mason Bebas", demikian Resink, ''melalui perantaraan para pangeran Paku Alam", memberikan bantuan kepada "Budi Utomo". Loge Jogya "Mataram" iasebutsebagai suah1lembaga yang berbakti dan pantas dihormati. 62

Dalam suatu terbitan tentang kota Sema1·ang, publisis Amen Budiman akhirnya menyatakan bahwa tujuan loge setempat "La Constante et Fidele" adalah untuk "Mencapai emansipasi dan kebebasan manusiawi". 63

  1. Resink 1976, 465-466
  2. Budiman 1979, 75
SERATUS T AHUN PERTAMA :
1764 ~ K.L. 1870

1. Hindia Belanda pada hari-hari terakhir Kompeni (1760-
1800) dan di bawah negara Nederland. Sekilas tinjauan sejarah. erdagangan dari "Kom peni Terpuji", sebagairnana VOC disebu t pad a masa jayanya, di abad ke-17 dan 18

P meliputi bukan hanya kepulauan Nusantaramelainkan

juga beberapa bagian wilayah pesisir Asia-melalui ban yak perwakilan niaga dan pemukiman. Namun rnasa kejayaan Kompeni yang pernah disegani sebagai Adi Daya ekonorni mulai menurun sebagai akibat kian berkembangnya posisi Inggris sebagai pesaing kuat. Posisi Inggris sebagai Adi Daya tumbuh ketika berl

SERATUS T MJUN PERTAMA : 1764-K.L. 1 870

Perang tahun 1780 merupakan pukulan berat bagi VOC hingga mcmaksanya untuk meminta penangguhan pembayaran di tahun berikutnya. Dengan cara itu, pihak Kompeni memperpanjang usianya untuk menu hlp utang terkonsolidasi yang pada ta.htm 1795 berjumla.h 120 juta gulden. Namtm kcadaan tidak tertolong lagi kal'ena pihak Kompeni bangkrut hingga negara Nederland rnengambil alilt semua hak miliknya. Sejak saat itu mulai berkembang babak baru dalam sejarah kolonialisme Belanda. Negara mulai mengelola scmua peninggalan milik bekas VOC di Asia. Sungguhpun demikian, kesemua peninggalan koloni yang pernah dimiliki dan dikelola oleh negara tidaklah banyak lagi, sebab dominasinya di Benua Asia kian pupus. Bahkan juga bebcrapa kepulauan di gugusan Nusantara yang mulanya menjadi pusat kekuasaan Belanda lambat-laun dilikuidasi pihak Inggris. Pada tahun 18111nggris merebut Pulau Jaw a yang kemudian mengalami alih pemerintahan di bawah kcpemirnpinan Letnan GubemurThomas Raffles.

Gambaran di atas dimaksudkan untuk menerangkan perkembangan pengaruh Belanda di Asia melalui suatu proses yangjatuh bersamaan dengan munculnya Tarekat Mason Bebas di sana. Untuk menjelaskan dalam suasana yang bagaimana Tarekat Mason Be bas terbentuk, perlu digambarkan tentang iklim kebudayaan eli Batavia, pusat kekuasaan administrasi pemerintahan Belanda. Kajian-kajian ten tang periode itu berdasarkan keterangan-keterangan biografi tentang penguasa-penguasa tertinggi dari zaman itu ditulis oleh sejarawan kolonia1, Stapel. 1

Loji atau Rumah Pertemuan pertama kalinya di dirikan di Batavia saat jabatan gubernur jenderal dipegang oleh Petrus

  1. Stapel1941, 63-71

van der Parra (1761-1775). Dimasa kepemimpinannya, ia digarnbarkan sebagai seorang tokoh yang tidak begitu rerpuji karena dinilai bertindak sebagai seorang penguasa mutlak. Ia mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang di- berinya banyak kernudahan tetapi ia terutarna mernperkaya irinya sendiri. Tetapi kalangan pendeta eli Batavia yang kaku ~rpegang kepada ajaran agarna, mendapat perlakuan yang t-aik di bawah pemerintahannya sehingga bukannya kebetul-Jn bahwa rnereka rnemuji kepemimpinannya sebagai penguasa teladan.

Keadaan pemerintahan VOC di Batavia juga tidak membaik di bawah penggantinya, Jeremias van Riemsdijk (1775- : -:77). Pemerintal1an ini digambarkan sangat oligarkis, dengan ~aya hidup serba mewah sehingga sering dikecam; di pekarangan belakang dari kecliamannya yang m irip istana kerajaan terdapat pemondokan untuk dua rahJs budak lelaki dan pe- :empuan yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga baginya. Van Riemsdijk kepala dari keluarga yang besar, dan pada \raktu kernatiannya ia juga meninggalkan harta yang besar.

Stapel memberikan penilaian yang jauh lebih positif tentang kepernimpinan Reynier de Klerk (1777-1780), sebab di bawah pemerintahannya angin segar mengembus di Batavia :·ang sejak lama subur dengan budaya korupsi. Berbeda de- :lgan Vander Parra dan Van Riemsdijk, de Klerk disebut sebagai orang yang jujur, rendah hati, dan pekerja keras. De Klerk berusaha memperbaiki sistem penclidikan; ia mendirikan sebuah sekolah untuk anak perempuan dan juga membuka pendidikan untuk penerjemal"l. Yang juga menonjol cli masa pemerintahan De Klerk ialah terbentuknya Perhimpunan Batavia yang bertujuan untuk mengernbangkan kesenian dan ilmu pengetahuan yang juga berada di bawah pimpinannya.

Titil< nadir dari fase akhir kejatuhan Kom peni terjadi di

PERTAMA: 1764-K.L. 1870

masa pemerintahan Will em Alnold Alting yang berkuasa cukup lama (1780-1796). Stapel menyebutkan masa pemerintahannya sebagai salah satu "masa yang paling menyedihkan dalam sejarah I-lindia Timw·", eli mana tidak suatu ptm perbaikan dilakukan untuk menghentikan kemerosotan sosial. Ada usa ha un tuk mempcrbaiki citra VOC pad a masa pemerintahan Gubemur]enderal Petrus Gerardus van Overstraten (1796-1801). Olch Stapel, 1a digambarkan sebagai "seorang pekerja keras dan jujur", yang berusal1a kuat unhtk melawan penyalahgunaan kekuasaan dan koJUpsi di kalangan pegawai negeri orang Belanda. 'fetapi Overstraten tidak dapat menghentikan kemerosotan sosial, dnn di bawah pemerintahannya Kompeni pun tamat riwayatnya.

Pengalihan ke pemerintahan negara Nederland mulanya hanya formalitas, dan baru dilaksanakan dcngan sestmgguh- nya pada masa pemerintahan Daendels (1808-1811). Orang kuat ini diangkat dengan tugas utama untuk mempertahankan Jawa bagi Kerajaan Perancis-pada waktu itu Belanda secara politik dan militer bersekuht dengan negara i tu. Daendels melakukan reorganisasi angkatan perang,memodemisasi pemerintahan dalam negeri, namun olch karena singkatnya waktu pemerintaharmya, ia tida.k dapat melakukan semu

Perdarnaian di Eropa pulli1 setelah Perang Napoleon berakhir pada tahun 1815. Sebagian bcsar wilayah yang pernah

Jenderat yang bertujuan untuk memulihkan pemerintahan Belanda di wilayah itu. Pihak pemerintah di negeri induk in gin mencrapkan kebijakan baru yang meningga1kan sis tern budaya paksa yang lazim di masa pemerintahan VOC. Piltak pemerintah Hindia Belanda diberi tugasmengga1iskan kebijakan yang lebih liberal-humanistis yang mulai berkembang saat itu. Tilnbul pe,ndapal yang baru yang berpendapat bahwa pemerintah pusat (eli Den Haag) berhak atas sebagian hasil usaha di I-Iindia Belanda, namun hal itu tidak boleh merugikan pendudul< pribumi.

Dengan titik tolak itu tersentuhlah dilema moral ten tang kolonialisme Belanda, yang sejak awal abad ke-19 dihadapi oleh pemerintah. Zamankepentingan Belanda yang tak terbatas sudah berla1u seperti dinyatakan dalam peraturan pemerintah tahun 1818 (pasa177), "Dalam memberlalculfuurste/se/ (undang-tmdang pembudidayaan tanaman), pada awal tahun-tahun 1830-1870 sangat be!'tolak-belakang dcngan ahuan sebenarnya, tidaklaJ1 mengutangi prinsip bah wa rakyat harus diperlakukan secara adil. Bertahun kemudian, pegawai ncgeri Eduard Douwes Dekker, ber- pegangpada jiwa pasC\1 ini tmtuk membuka kedok pemerasan pemerintal1 kolonial terhadap penduduk di daerah Lebak.

Di masa sebelum pemberlakuan Cltltuu.rstelsel pada tahun 1830, pemerintah Hindia Belanda mulanya mengutamakan

  1. Oranje 1936, 241

kepentingan rakyat. Pemerintah menjalankan garis haluan ekonomi-liberal yang tidak begitu menekan, namun kurang membcrikan keuntungan kepada Belanda. Pernerintah pusat di negerl Belanda yang sedang bergumul dengan masalah keuangan tidak dapat menerima keadaan ini dan tidak lama kemudian timbullah perubahan kebijakan. Dalam usaha mencari berbagai sumber pemasukan yang baru, kelihatannya pemecahannya hanya dapat datang dari Hindia. Pecahnya pemberontakan di Belgia pada tahun 1830 dan pernbiayaan tentara bertahun-tahun lamanya telah kian menipiskan ke-uangan kas negara yang sangat memberatkan, Pentingny a Hindi a Belanda sekali lagi menjadi nyata.

Pihak pemerintah Belanda rnemutu.skan untuk menjalankan suatu bentuk eksploatasi agraria yang sangat mirip dengan apa yang dilakukan pad a zaman VOC, dan mulai saat itupun orang berbicara ten tang cultuurstelsel a tau "sistem pembudidayaan tanaman yang diperkenalkan atas perintah penguasa tertinggi", Konsepini dirancangoleh Van den Bo~ch yang menghasilkan jutaan gulden seperti telah diperkirakan semula dan Hindia Belanda sekali lagi menjadi milik yang sangat menguntungkan. Metode yang diterapkan menyebabkan penduduk hid up dalam keadaan setengah perbudakan, Mereka wajib menanam tanaman yang di paksakan pernerintah dalam jumlah yang makin lama makin besar. Semen tara itu imbal jasa yang diperoleh penduduk sangat kecil. Kecer· dikan cultuurstelsel itu terletak dalarn cara memakai para pemegang kekuasaan tradisionalr para kepala rakyat, yang dibayar dengan baik unhtk jasa mereka. Dengan sistem paksaan ini, Jawa telahmenghasilkan begitu ban yak keuntungan untuk kepentingan Belanda, sehingga]awa di.sebutjuga pelampung yang menyelamatkan Nederland dari bahaya tenggelam. Sekitar tahun 1865 sisa dari anggaran Hindia, yang disebut

berjumlah kira-kira sama besamya dengan sepertiga dari seluruh pemasukan kas Belanda. Pengeluaran untuk Hindia dipenggal sedemikian rupa, sehingga untuk 1 'memajukan' 1 penduduk hampir-hampir tidak ada uang. Walaupun banyak kecaman, dan banyak orang sadar betapa tidak adilnya tekanan pajak yang begitu tinggi, hal-hal itu tidak berpengaruh terhadap kebijakan yang dijalankan.

Komunitas kolonial pada zaman culhmrstelsel bersifat birokratis. Ungkapan ''pada :mulanya adalah pegawai negeri" betul-betul diterapkan. Hanya sedikit saja yang menjalankan profesi bebas, dan kedatangan orang-orang baru diamati dengan ketat. Di J awa gerak be bas diba tasi, tidal< ada kebebasan pers, begitu juga tidak ada kebebasan berhimpun ataupun mengadakan rapat. Yang ada hanyalah suatu kornuni tas yang dikekang, dengan jumlah warga yang sedil

Yang dimaksudkan dengan istilah Hindi a Belanda selama tujuh puluh lima tahtm pertama abad ke-19 adalah Pulau Jawa. Produk-produk dari Jawa -sepertikopi, gula, dan teh-yang mtmcul di pasar dunia dan hanya eli Jawa kepentingan Belanda tcrpusat. Pemerintahan kolonial hanya satu kali mengalami ujian bcrat, yaitu pada waktu berlangsungnya PerangJawa (1825-1830), yangmemakan korban puluhanribu orang, dan yang menancapkan di benak penduduk bahwa mereka tldak dapat melawan kekuasaan Belanda. Ole.h karena cultllurstelsel membutuhkan perhatian penuh pemerintah di Batavia, maka pulau-pulau di luar Jawa tidal< diganggu. Untuk \vilayah-wilayah itu berlaku: semakin tidak terdengar,

SERATUS TAHl!N PERTA.-.lA : 1764- K.L. 1870

sernakin baik. Belanda tidak memiliki sumber keuangan mauptm sumber daya manusia untuk melebarkan pengaruhnya ke sana. Keadaan ini baru berubah pada tahun 1870, suatu tahun yang dalam ban yak hal menandakan penutupan suatu ktmm waktu.

Meninjau kembali penode itu, dapat dikatakan bahwa pada akhir hayat Kompeni telah timbul kesadaran bahwa rak- yat pribumi berhak untuk diperlakukan secara adil. Kctika masalah keuangan negara menjadi terlalu berat untuk Pernerintah Belanda, pemetintah mencari jalan keluar dengan mem- berlakukan sis tern kerja paksa. Untuk Beland a memang sesuatu yang menglliltungkan, namun LU1htk rakyat di bebcrapa tern pat akibat langStmgnya mentpakan ben can a. Jawa menjadi satu perkebunan yang besar, dan kaum elit tradisional Jawa ikut memperoleh keuntungan besar. Oleh karena melayani Belanda, mal

  1. Keberadaan singkat loge "la Choisie'' di Batavia (1764-
    1766)
    Dalam uraian ten tang loji Beland a yang pertama d i Asia telah dikemukakan bahwa di Hindia Timur sebelum talnm 1756 juga sudah cukup banyak kalangan penganut mason bebas yang menetap, walaupun hal itu tidal< me.ngakiba tkan terbentuknya sebuahkele:mbagaan. Bahwa akhirnya ban tara ini bcrdiri di Batavia, menurut Hageman disebabkan olch kehadiran anggota mason bebas Inggris.

  2. H ageman 1866, 9

Timw·, Vander Veur menyatakan bahwa sebagai loge pertama di tanah Jawa telah didirikan "La Choisie (Terpilih)" di Batavia pada tahun 1762 atas prakarsa J.C.M. Radermacher (1741-1780). Dia adalah anak dariJoan Camelis Radermacher, yang telah disebut sebelumnya, yakni Su.hu Agung pertama dari Tarekat di Nederland. Radermacher Jr. pada waktu itu baru berusia 21 tahun, namtm dalam komunitas Batavia rupanya ia sudah menduduki posisi penting. Tidak dapat dilacal< sampai sebagaimana jauh pengaruh keluarga di Nederland telah membantunya dalam l1al ini. Namun mempunyai ayah yang menjabat sebagai bendahara jenderal dari Stndhouder atau wali negeri, dan sc- ot·ang pam an sebagai penguasa Kompeni, tentu ada dampak- nya di Batavia pada zaman itu. Di Hindia ia menikah dengan anak perempuan scorru1g man tan anggota Raad van Indie (Dewan Hindia), dan itupun membantunya untuk diterima di kalangan elit Batavia. Pada waktu pendirian " La Choisie", Ra- dennacher bcrpangkat saudagar tinggi dan memegangjabat- an syahbandar Batavia yang merupakan pekerjaan yang ber- pcnghasilan baik. Tidak ada kesepakatan ten tang kapan lembaga ini sebenarnya didirikan. Para sejarawan Vander Veur dan Gelman Taylor berpegang pada lahun 1762, sedangkan literatur masonik menyebut tahun 1764. Memang pada tahun 1764 pada pertemuan tahtman loge Belanda, yakni yang disebut Majelis Tahunan, telah diumumkan konstitusi [pendirian legal, St. J dari ban tara " La Choisie", namtm pendiriannya yang sebenarnya dapatsaja telah terjadidua tahun sebelumnya. Pada tahun 1763 Radermacher pulang cuti di Belanda dan-pertanda bagaimana tingginya anggapan mengenai dirinya- ia langsung diberikan jabatan penting dalam pengurus Tarekat. Pada

SEitATUS TAHUN PERTAMA : 1764-K.L. 1870

Majelis Tahunan tahun 1764 dalam usia 23 tahun, ia bertindak scbagai sekretatis agung [sekretaris dari pen gurus besar. St]. Meman g masuk akal bahwa Radermacher sendiri yang pad a waktu itu menyusun konstitusi "La Choisie".

Setelah loge tersebut resmi didirikan secara sah, te~adilah situasi berikut: Pengurus masonik di Asia dibagi antara loge "Salomon" di Benggala dan "La Choisie'' di Batavia. Yang satu mengurLts bagian barat dari wilayah dimana Belanda mempunyai pengaruh, dan yang lainnya men gurus bagian timur dari wilayah tersebut. Untuk perl

"Suatu ku tip an ten tang pembagian keprovinsian atas Hindia Belanda. Bahwa wilayah Timur di bawah Batavia dan wilayah Barat di bawah Benggala merupakan wilaya h yang sangat luas dan terpisah satu dengan yang Jain maka masing-masing menjalankan kekuasaan tertinggi secara tersendiri, dengan ketentuan bahwa jabatan ini dilekatkan pad a bad an loge, dan bukan pada pribadi dari Suhu sebagai oknum, sejauh ia berfungsi menurut syarat-syarat dan kewajiban-kewajibanseperti yang diuraikan dalam akta ini. Loge SALOMON, mencakup wilayah selain kerajaan Mon-

  1. IMT th 45, 5

Persia, juga Pesisir Koromandel dan Malabar dan juga Pulau Ceylon sebagaimana loge LA CHOISIE membawahi Jawa, Sumatra, MalakaJ Makassar, Ternate, Amboina, Banda dJI.. "

Me.narik kiranya andaikata kita dapat mengetahui reaksi-reaksi yang ti.mbul dengan berdirinya loge mason bebas pertama di Batavia. Iklim rohani pada zaman Gubernur Jenderal Vander Parra sudah disebut sebelumnya. Mason bebas A. de Geus telah menunjuk pada kekuasaan yang dimiliki gereja Gereformeerd dan pendeta-pendetanya yang kolot pada waktu itu di Batavia dan d ukungan yang mereka peroleh dari Vander Parra. Aliran rohani lain kecuali gereja resmi, tidak. diperbolehkan, sedangkan suasana urn urn adalah "kekerdilan 11 dan kepicikcu1. • Jumlah warga yang sedikit serta isolasi kornunitas Eropa tidak membantu menciptakan keterbukaan. Betapa kecilnya komunitas tersebut dapat dilil1at dari taksiran kependudukan waktu itu. Batavia pada saat itu berpenduduk 5 sekitar 15.000 jiwa, dan orang Eropa belum sampai 1.300 jiwa.

Pendirian "La Choisie" disebut oleh De Geus sebagai

tindakan moral yang berani dan-dilihat dalam konteks masa itu-dapat dimengerti bal1wa pertemuan-pertemuan pertama 6 berlangsung dalarn suasana sangat ral1asia. Hageman meng- ambiJ beberapa kutipan yang menarik dari catatan sejarah ten tang loge-loge Batavia dari tahun 1864. Catatan ini menunjukkan bahwa pendirian "La Choisie" memang merupakan tindakan berani "sebab pada waktu itu mereka yang me- rnegang kendali pemerintahan di wilayal1 ini-sama seperti penguasa dj negeri induk-bersikap sangat bermusuhan terhadap Tarekat Mason Bebas, terutama para rohaniwan selalu

  1. DeJonge 1883 jld XI, 69
  2. De Geus 1917,135

SERATUS T AHUN PERTA.'viA! 1764-K.L. 1870

menggunakan pengarulmya, yang seting sangat besar, unhtk menggambarkan mereka yang menycbut dirinya 'anak-anak terang', sebagai ' makhluk-makhluk berbahaya bagi negara dan gcreJa'." 7

Sejarawan Gelman Taylor memandang kelahiran Tarekat Mason Bebas Hi.ndia dari sudut pan dang yang berlainan samct sekali.K la meneliti penciptaan dan perkemba11gan kebudayaan mestizo Hindi a dan memastikan bahwa kebudayaan itu pada pertengahan abad ke-18 mencC~pai masa kedewasaannya. Pegawai Kompeni orang Belmada yang bekerja di Hindia Timtu, karena tinggal begitulama di situ dan karenm pergaulannya dengan penduduk setempat yang mestizo-berdarah campuran-diserap ke dalam kebudayaan ih1 sehingga ia semakin terasing dari latar belakang Eropanya. "Penghindia- an" dari Iapisan atas orang laki-laki Eropa-perempuan Eropa sampai jauh di abad ke-19 jru·ang ada -dipercepat lagi oleh perkawinan dengan anak perempuan dari keluarga-keluarga Indo yang berpengaruh dan kaya. Diserap ke dalam jaringan itu, kaum Jelaki Belanda mengambil alih adat-istiadat negeri ihl dan berubah secara berangsur-angsur dari "baar" [darf baru=orang baru. St] menjadi "orang lama". Suasana kebudayaan ini dilukiskan sebagai berikut oleh Gelman Taylor:

"BertentaJ1 gan dengan sifat Calvinis, sifat hid up hernat dari warga menengah Be Ianda, terdapat kemewahan kaum mestizo( ... ) pengeluaran pada skala bescu, pentingnya penampilan lahir. Kaum elit Indo tinggal di vi Ia-vila yang luas dan t(!rbuka, dan makanannya di samping makanan Belanda juga meliputi makanan Indonesia termasuk nasi Banyak anggotanya ( ... ) tidak berpendidikan. Mereka berbicara dalam bahasa Melayu dan Portugis dan tidak berminat

  1. Hageman1866, 38
  2. Gelman Taylor 1988, 106 dsl

penulis~penulis sasn·a. Dalam seni hias, mereka senang dengan uklran kayu, mereka mendLrikan orkes-orkes para budak, mengundang ronggeng-ronggeng (penari- penari perempuan. St.], dan menyele.nggarakan pertu11jukan wayang Indonesia dan Tionghoa. Pertunju kan-pertunjukan dan bentuk-bentuk kesenian yang dinikmati kaum elit kolonial, maslh merupakan bagiru1 dari kebudayaru1 pelayan-pelayan mereka, ya.k.ni orang-orang Asia."

Pada saat bentuk peradaban itu mencapai semacam kema- tangan, dernikian menurut penulisnya, mulailah serangan pertama dari pihal< Eropa. Di bawah Gubernur Jenderal Van Imhoff (1743-1750), perubahan yang sedang terjadi di Eropa1 juga mulai berdampak di Hindia. Zaman pandangan baru rnengenai kerohanian dan ilmu pengetahuan alam mulai merekah. Di. sam ping itu, di Beland a mulai terse bar pemikiran bahwa sudah waktunya pemerintahan oligarkis di Hindia berubah. Van lmhoff, dalam pandangan Gelman Taylor, merupakan wakil dari suatu kesadaran Eropa yang baru, yang ingin lebih berperan aktif dalam urusan dalam negeri di Jawa. Van Imhoff berusaha unhtk mengubah koloni niaga ih1 menjadi koloni bagi pemukiman melalui kolonisasi warga-warga Beland a yang menetap. Untuk mecapai h1juan ini dibuatlah rencana untuk menggerakkan petani-petani Belanda supaya membuka usaha di Jawa. Agar orang-orang Belanda tertarik w1tuk menetap, Van Imhoff mengadakan pelbagai pembaruan. Ia me.ndirikan surat kabar Batavia yang pertama, ia meng- mus pernbukaan kantor pos, mendirikan lembaga pendidikan untuk pendeta, bank peminjaman dan suatu sekolah pelayaran laut. Posisi gereja Gereforrneerd yang tak tertandingi itu digoyahkannya dengan memberikan kebebasan gerak kepada jemaat Lutheran, sehingga mereka dapat membangtm gereja mereka sendiri.

Yang disoroti Gelman Taylor dalam hal ini ialah bahwa

PERTAMA: 1764-K. t .. 1870

kecenderungan rnodemisasi itu menyebabkan kebudayaan

Hindia Timur itu lambat laun terdesak. Van Imhoff sendiri tidak segera mengalami kebcrhasilan1 sebab perlawanan kcbudayaan mestizo temyata ulet. Namun, lambat latm, langkall-langkah baru yang diarnbil menggeroti budaya ini. Suatu contoh adalah pertarungan antara kecendenmgan warga Beland a yang sederl1ana dan hemat, dengan kemewahan yang berkelimpahan di kalangan pegawai tinggi Indo. Pada waktu pemerintahan Jacob Mossel (1750-1761), pengganti Van Imhoff, dikeluarkan "Reglement ter beteuge1ing van pracht en praal (Peraturan pengekangan kegemerlapan dan kemewahan)", di mana diuraikan secara rinci berapa banyak budak, kuda, dan kendaraan boleh dimiliki setiap orang. Juga dikeluarkan peraturan mengenai pakaian, perhiasan, dan bahkan sarnpai jumlah tongkat yang boleh dimiliki seseorang menurut pangkatnya dalam jenjang Kompeni.

Lalu, apa saja pera n Tarekat Mason Be bas dalam pandang- anGelman Taylor1 di dalammasyarakatHindia? Ia mengatakan bahwa keanggotaan pada suatu loge di akhir a bad ke-18 di Batavia merupakan contoh dari "perilaldi lingkungan 9 asing yang masih rnereka in gat dari tanah airJ/. Namw1 yang paling menarik bagi penuJis adalah bahwa anggota-anggota Belanda dari loge-loge itu tidal< seluruhnya dapat menjauh dari dunia sekeliling mereka.

  1. Idem, 118

keanggolaaan menunjukkan bahwa kecuali orang Bclanda, ada juga orang Indo-Eropa, orang Creel. Mereka kcbanyakan adalah turunan orang-orang kaya, dan bagi mereka keanggotaan Tarekat Mason Bebas merupakan tanda bahwa mereka termasuk golongan Eropa, mengidenti- fikasi diri dengan nilai-nilainya, dan secaralahjriah menolak kebudayaan mestizo ( ... ) Sekarang dapatsaja orang mengemukakan bahwa upacara-upacara ( ... ) TarekatMason Bebas mernang menarik, dibandlng dengan rilual ketat Calvinisme Belanda, terutama bagi merckn yang Jahir di Hindia Timur. Tetapi walaupun aspek-aspek mislik dari Tarekat Mason Bebas mungkin sekali merupakan sumber daya tarik, tanda jatidlri Bropa yang diberikan oleh keanggotaan bantara, yang mempunyai arti lebih besar, mengingat bahwa banyak dari anggota bantara yang lahir di Asia adalah pegawai-pegawai negeri.

Menurut Gelman Taylor, Tarekat Mason Bebas di Batavia membe1i kesempatan melalui hubungan pribadi dengan para penguasa untuk "memancing promosi" dan ia memberil

Berkat keterangan tentang anggota-anggota pertama "La Choise", kita mengetahtd nama-nama dari tiga belas mason be bas Hindia yang semula. Keterangan ini diperoleh dari dua buah sumber. Pertama-tama dari pemberitahuan Lowensteijn, berdasarkan konsep surat konstitusi tertanggal 23 desember 1764, di mana dikatakan bahwa oleh Jacob Comelis Mattheus Radermacher, atas nama Claude Lubke (atau Leupken), Verijssel, Brahe, Engelstroom, Van Elst, VanderVoort, Gobi us,

5 ERAT1JS TAHtJJIO P ERTAMA; 1764-K.L. 1870

Marchart dan Ras, telah diminta konstitusi loge tersebut. 10 Sumber kedua adalah salinan dari surat yang bera sal dari tahun 1766 sebagai penga.ntar dari suatu laporan ten tang loge tersebut, yang dikirim kepada Pengurus 1:3esar di Belanda. Surat itu ditandatangani oleh P.G. vanderVoort, C.A. (van) Leupken, Alex Cornabe, H.A. Rossel dan R. van Elst. Di samping itu L.van Heijs juga tmut mengambil bagian. Dalam keh_i-dupan sehari-hari ia ada.lah pemilik losmen "Stads-Hcrberg" tern pat pertemuan loge itu dania dHantik sebagai "Saudara-Pelayan'' sehingga ia diwajibkan merahasiakan semuanya. 11 Sebenamya, dapat ditambahkan bahwa losmen itu bukanlah tempat yang netral, melainkan suatu alamat di mana orang asingwajib menginap setibanya di Batavia. Maksudnya ialah bahwa dengan cara itu mereka dapat diawasi oleh pemerintah dengan lebihmuda.l1. Pemilik losmen harus mcmbuat 1aporan tentang orang-orang yang dicudgainya yang menginap di tempatnya. Dengan mengadakan pertemuan di 1osmen Stads-Herberg, ban tara terse but dapat mengh indari kecu r1gaan adanya kornplotan, sedangkan pemerintah dikelabui sebab pemilik losrnen dija.dikan anggota loge tersebut. Pendekatan seperti itu sering dilakukan juga di luar Hindia.

Umur "La Choisie" yang singkat itu mungkin alasan mengapa begitu sedikit diketahui tentangnya. Menuntt laporan yang disebut sebelumnya, loge itu masih ada pada tahun 1766, sedangkan Hageman berpendapat bahwa sebelumnya atau pada tahun 1767loge tersebut telah mengakhiri kegiatannya. De Visser Smits mengemukakan bahwa scmua kcgiatan tclah terhenti sebelum loge tersebut menerima surat konstitusi pada tahun 1770, dan dengan iht boleh dikatakan bahwa secal'a

  1. Lowensteijn 19611
  2. Gedenkboek 1917, 156

12 "La Choisie" malahan tidak pemah ada. Hageman tidak mengetahui pasti sebab-sebab lenyapnya bantara ini. :'\Jamun ia sebut adanya prasangka, kecurigaan dan mungkin larangan dari pihak pemerintah. Keberangkatan anggota-anggota a tau kendornya semangat mungkin juga rnemainkan 13 peran. Tetapi, mungkin alasan sebcnarnya adalah keHdal<- hadiran Radermacher yang mempu.nyai kemampuan untuk mcngumpulkan orang-orang dari berbagai kedudukan yang bcrbeda. Pendapat ini diperkuat oleh timbulnya dua ban tara baru tidak lama kemudian. Status sosial yang sangat berbeda dari para anggota loge-loge itu, telah mendapat ban yak perhatian dalam literatur masonik.

  1. Landasan Tarekat Mason Bebas di Hindia Belanda menguat. Loge-loge eli Batavia "La Fidele Sincerite" (1767) dan "la Vertueuse" (1769) Kalaupun "La Choisie" hanya singkat hidupnya, sebaliknya Tarekat Mason Bebns sendiri ternyata penuh gairah hid up schingga pada bulan November 1767 di Batavia muncul sebuah loge baru dengan nama "La Fidele Sincerite (Kesetiaan yang Ikhlas)". Pada tahun 1769 sebuah ban tara kedua didirikan eli Batavia, "La Vertucuse".
    Tahun 1767 pada umumnya dianggap scbagai awal

kehadiran Tarekat Mason Bebas yang terorganisir di Jawa-bandingkan judul Gedenkboek vnn de Vrijmelselnrij in Nederlnndsch Oost-[ndie (Buku Pcringatan Tarekat Mason Be bas eli Hindia Belanda) -namun cara kerjanya tidak sclalu konsisten. De Visser Smits telah mengisyaratkan bahwa "La Choisie" dalam arti formal mala han tidak pemal1 ada, sebab

  1. De Visser Smits 1921, 460
  2. Hageman 1866,41

1764-J<.L. 1870

loge itu menerima surat konstitusinya setelah ia "almarhum". Namun"La Fidele Sincerite" baru menerima surat konstitusi 14 yang definitif pada tanggal 20 September 1771, dan dengan demikian tahtm1771 itulah yang harus dijadikan tahun awal. Tahun 1762 juga dapat dijadikan tahun awal, sebab awal sebenarnya dari "La Choisie" adalah tahun 1762. Persoalan ini tidal< lagi akan disinggung, dan penanggalan yang lazim akan diterima untuk seterusnya.

Hageman memastikan bahwa Radermacher, yang pada permulaan kelihatannya rnenjadi titik pusat semua kegiatan, bam kembali dari Nederland pada bulan Agustus 1767, sehingga tidak mtlngkin ia terlibat dalam pend irian "La Fidele 15 Sincerite", di mana De Geus memberitahukan bahwa rapat pendirian loge bantara itu sudah diadakan pada bulan Juli 16

  1. Langkah-langkah pertama untuk mendirikan ban tara ban.1 tclah dilakukan oleh lima orang mason bebas, yaitu Johan Ulrich Sd1neider., Paulus Rohrbom, Jan Marten Reemer, Jacob
    17 van der Wijck danArnoldus Musquetier. Schneider, seorang perwira Jerman yang bekerja untuk Kompeni, menjadi ketua yang pertama. Oleh karena sebagian besar anggota yang 1 masuk ke bantara ini berasal dari "La Choisie", s maka "La Fidele Sincerite'' dapat disebut sebagai penerus "La Choisie".

Pada sUtat konstitusi yang definitif dari "La Fidele Sincerite" masih disebut dua belas nama lain, yaitu H.l. Dischet~ Ch.L. Colmond, Joh. Jaggie, V.J. tcr Hertbrugge, Joh. Gabr. van Gehren, J. van Eysdenl Joh. Christ. Baltz Reemer, Jac Saml. de

  1. Lowensteijn I 961, 27
  2. Hageman, 1866, 42
  3. De Ceus 1917, 157
  4. Hageman '1866, 42-43
  5. De Visser Smits 1931, 155

Van Stamhorst dan Arn. 19 Boone. H ageman mengatakan bahwa telah dilakukan peresrnian yang khidmat dari "La Fidele Sinceritt~" oleh Abraham van der Weyden, Wakil Suhu Agung Provinsial, dan peristiwa itu berlangsung di losmen "Heerenlogement" di Batavia, 11 suatu gedung eli mana " La Chois.ie juga suka mengadakan perternuan. Wama loge itu adalah biru sehingga loge itu juga sering clisebut "bantara bim", yang membedakannya dari ''bantara kuning" atau "La Vertueuse (Kebajikan)", yang didirikan tidak lama kemudian.

Pada tahun 1768 mpanya dilakukan persiapan untuk men- cfuikan loge kedua, sebab pada tgl. 21 Januari 1769 sebelas orang mason bebas di Batavia mengajukan permohonan memperoleh surat konstitusi w1tuk loge "La Vertueuse". Yang menarik ialah bahwa permohonan itu sudah disetujui dalam waktu setengah tahun, dan peresmiannya pun dilakukan 20 dalam waktu setahun.

Dilihat sepintas, kelihatannya tidak ada alasan untuk mendirikan dua loge.]1m1lah orang Eropa di Batavia masih sangat terbatas dan berj1.unlah tidak lebih dari 1.300 jiwa, seperti telah dikemukakan sebelumnya. Hageman berpendapat bahwa di loge "La fidele Sincerite" terdapat perbedaan sosial yang tidak terjembatani, dan berkesimpulan bahwa cita-cita masonik tentang kebersamaan belurn begitu berkembang sehingga perbedaan status di rnasyarakat Batavia rnasa itu tidak dapat diatasi. Pieren, yang telah meneliti sejarah awal dari "La Fidele SinceritE~", rnemberikan penjelasan berikut ini, "waktu untuk hadirnya satu Loge saja di sini rupanya bel urn rna tang, gagasan ten tang persatuan dan kerja sama kalah ter-

  1. Lowensteijn 1961, 27
  2. Idem, 25

T AI!lJN P ERTAMA: 176-1-K.L. 1870

hadap perselisihan-perselisihan yang disebabkan oleh perbe-

daan status dan ajaran agama". 21 Akhimya De Visser Smits menyebut ''La Fidele Sincerite" sebagai suatu "loge untuk orang-orang yang kurang berada", scdangkan "La Vertueuse" mcmpunyai anggota-anggota dari kalangan berada. Ta tam-bahkan, ''benar-benar merupakan suatu perbedaan yang kurang masonik". 22

Menarik untuk menyimak komentar lainnya dari Pi.eren, yaitu bahwa ada juga perbcdaan ten tang "ajaran agama". De Visser Smits dalam hal ini mcngemukakan bahwa Radermacher bentrok dengan para pendeta gereja Gercforrneerd dengan pendapat ortodoks mereka. 23 Radermacher sendiri seorang Lutheran dan denominasi itu baru di bawah pemerintahan yang luwes dari Gubernur jenderal Van lmhoff (1743- '50) memperoleh hak yang sam a. Tidak tertutup kemungkinan bahwa para pendeta Gereformeerd, yang di bawah pemerintahan Gubemur jenderal Van der Parra mengalami "zaman cmas", telah menentang ajaran dari kaum Lutheran dan bahwa akibatnya juga du·asakan eli dalam ban tara "l.a Fidele".

''La Fidele Sincerite" rupanya merupakan suatu perkumpulan "demokratis'' yang terdiri dari ten tara dan orang asing, pclaut dan warga "burger''/~ di mana loge Hu juga pemah 1 disebut sebagai 'tempat pelarian" bagi ten tara, pelaut, orang "mardika" lketurunan jauh dari budak-budak yang dibebaskan, St] dan orang asing. 25 Juga pada peri ode yang lebih kemudian, status sosial yang rendah dari para anggota ditekankan. Sejarawan5chutte berpendapat bahwa pada penghuj1.mg a bad

  1. Pieren 1903, 310-311
  2. De Visser Smits 1921, 460
  3. fdem, 461
  4. Hageman 1866, 45
  5. De Visser Smits 1931, 155

mereka t~rutama terditi atas pegawai VOC tingkat menengal1 kebawah, seperti perwira angkatan !aut dan angkatan darat. 26 Walaupun begitu, unsur "demokratis" di loge ini janganlah dilebih-lebihkan, sebab di antaTa 1790 dan 1797 jabatan kctua berruruHurut dipegang oleh Willem Otristoffel Eggert, akuntan jenderal dari Kompeni; Carel Knuvel/ notariSi dan Nicola as Maas, pemilik tanah luas dan seorang penguasa Batavia. 27 Namun bila dibanding dengan stahts sosial ketua-ketua ''La Vertueuse" pad a peri ode yang sam a, ada perbcdaan besar. Pada tahun 1790 P.G. van Overstraten, pada waktu itu Raad-extrnordinair (anggota istimewa Dewan) dan sejak 1796 gubernur jenderal, diganti oleh Jan Reynier Coortsen, saudagar tinggi pertarna dari Knsteel [Pma, pusat administratif dan niaga dari Kompeni, St.). Coortsen digantikan oleh Pietcr van de Weert, sekretaris pemerintah dan penasihat luar biasa, sedangkan sejak 1796 jabatan ketua dipcgang Nlcolaas Engelhard. Engelhard pada tahLm 1801 menjadi Gubemur Pesisir Timur Laut Jaw a, salah satu jabatan terlinggi di Hi ndia Timur. 28

Untuk para mason bebas seperti Van Stockurn, Hasselaar dan Musquetier, perbedaan tingkat sosial terasa begitu berat sehi:ngga mereka meninggalkan ''La Fidele Sincerih~'' dan berpindah ke ''La Vertueuse". Hendrik van Stockum waktu itu berpangkat saudagar tinggi dan di kemuctian hari diangkat menjadi direktur jenderal, sedangkan J.G.D. Hasselaar menjadi administratur gudang gandum, yang dianggap jabatan yang sangat menguntungkan. Hasselaar merupakan ketua pertama ''La Vertueuse"

Hubungan timbal balik dengan Tarel
  1. Schutte 1974, 197
  2. Hageman 1866, 128
  3. fdem, 137

SERATUS TAl-TUN PERTAMA: 1764-K-L. 1870

Belanda, setelah pelantikan resmi pada tgl. 5 Mei 1772 oleh Abraham van der Weyden sebagai "Wakil dan Penjabat sementara Suhu Agtmg Nasional untuk Hindia Timur", praktis mencapai titik nol, sebab "tidak ada prakarsa dari Loge Agung atau Suhu Agung di Holland terhadap loge-loge di 29 Hi.ndia Timur dan begitupun sebaliknyaJ/_ Hageman berpendapat bahwa sifathubungan antara negara induk dan negeri jajahan pada zaman Kompeni menghalangi hubungan yang mendalam an tara Loge Agt..mg dan loge-loge di Hindia Timur. Heren Zeventien ("Tuan-tuan Tujuhbelas", dew an yang menentukan haluan Kompeni) menolak setiap campur tangan dengan Hindia Tirnur di luar sepengetahuan mereka_ Hageman juga merasa bahwa monopoli Kompeni menciptakan "larangan, kecurigaan dan keengganan". Kecurigaan terhadap pengaruh dari luar dapat dilihat umpamanya dari adanya sensor atas buku-buku, di mana penyusunan daftar buku seluruhnya berganttmg pada pendapat gubernur jenderal Sah1-satunya percetakan di Batavia berada di bawah pengawasan polisi Belanda. Begitu kurangnya perlengkapan percetakan sehingga pada tahun 1780 tidak ada cukup huruf untuk menerbitkan Verhandelingen (Tulisan-tulisan) Perhimpunan Batavia tahun 30 itu.

Kecurigaan dari pihak pimpinan Kompeni rupanya menjadi alasan mengapa Loge Agung menghindar dari setiap "kegiatan'' dengan I-I india Timur_ Mungkin i tu juga sebabnya mengapa bantara-bantara Hindia Timur waktu itu tidak terwakili di Loge Agung. Hageman, yang telah meneliti persoalan ini dengan saksama dari berbagai segi, tidak dapat memastikan apakah kerenggangan itu sudah terjadi sebelum tahun 1833_ Sebab, pada taln.m itu Penning Nieuwland, anggota loge

29_ Idem, 140

  1. Idem, 145

(Persahabatan) di Surabaya, ditolak masuk ke Majelis Tahunan. 31 Hageman menyatalSlatrm-Generaal (DPR). Baru di Majelis Tahunan pada tahun 1844 diterima usul bantara Amsterdam "La Bien Aimee (Jiwa yang Baik)" agar kepada loge-loge di Hindia Timur dan Bar at diberi wewenang untuk mengirim utusan ke Majelis Tahunan, yang mengikuti perundingan-perundingan atas dasa1 persamaan dengan utusan-utusan dari loge-loge Belanda. Oengan diperlengkapi surat tugas, para utusan juga memiliki hak suara yang biasa. Sebagai akibat peraturan bant itu, anggota loge daJ.i Serna rang,

C. E. van Goor sebagai wakil suatuloge Hindia w1tuk pertama kalinya pada tahun 1846 dapat rnengikuti pertemuan Majelis Tahunan. 33
Hubungan yang sulit antara negara induk dan negcri jajahan dapat kita temukan kembali dalam pengangkatan Nicolaas Engelhard, seorang tokoh terkemuka di hierarki kepegawaian Hindia Timur, sebagni Wakil Suhu Agung. Oleh karena pulusnya perhubungan dengan Eropa, Hindia Timur harus mengatur dirinya sendiri dan itu berlaku juga tmtuk Tarekat Mason Bebas. Seorang wakil suhu agtmg yang setia kepada pemerintah pada rnasa pergolakan patriotik merupakansekutu yang clihargai oleh pernerintah Hindia Belanda, di m ana setelah Bataafse revolutie (revolusi Batavia) juga tidak perlu dikhawatirkan bahwa Hindia Timur mungkin

  1. Van Dijck 1917, 220
  2. Hageman 1866,142
  3. Van Dijck 1917, 229-231

SERATUSTAHUN P E.R1AMA: 1764 - K.L. 1870

akan memisahkan diri. Engelhard pada zaman pemerin tah.an Daendels juga menentang penganth Perancis yang semakin besar, dan lebih cendemng untuk bekerja sama dengan pihak Inggris. Kedua penguasa itu di kemudian hari masih sering akan cekcok.

Sekarang akan dibicarakan enam bantara yang didirikan an tara tahun 1767 dan 1859, pertama-tama "La Fidele SincerHe (Kesetiaan yang Ikhlas)'' yang mula-mula mengadakan pertemuan-pertemuan di losmen "Heerenlogement". Namun pada tahun-tahun 1770-1773 rumah tin ggal anggota H. C. de Lopez dapat digtmakan. Pada tahun 1770 untuk pertama kalinya dirayakan pesta St. Jans, yang sudah dimuJai pada pu.kul sembilan pagi, dan setelah itu sejak pukul 12 siang diadakan bantara meja. Acara selanjutnya meliputi sebuah konser dali pukul enam yang dituhtp dengan pesta dansa. Dari hal yang terakhir ini temyata bahwa ada wanita-wanita yang hadir. Pada pukul sepuluhrnalarn dinyalakan kembang a pi, dan acara diakhiri dengan "kerja meja" yang baru. Komentar Hageman berbtmyi, " Para BB (Bruder) Batavia pada hari-hari itu sepertinya tidal< kenallelah".;w

Sekitar tahun 1772, ban tara ini terlibat dalam usaha untuk mendirikan loge juga di Sumatra. Dari Padang para mason be bas Fran~ois van Kerchem, saudagar mud a dan administratur; jacob Sam Del de Raef, pernegang bukukhusus upah dan Anthonij Johnnnes Leu£tink, pemegang buku, mengirim permohonan l

  1. Hageman 1866, 114

Padang benar-benar 35 pernah ada. Juga Resoluticn vnn de Groote Loge 1756-1798 (Resolus.i-resolusi Ban tara Agung 1756-1798) yang diterbitkan 36 oleh Boerenbeker sama sekali tidal< menyinggung hal itu. Rupanya usaha pendirian ini hanya terbatas pad a suatu percobaan saja. Kemudian, pada tahun 1794 dari Padang datang lagi usaha baru, dan kepada kedua loge di Batavia dikirim surat pcrmohonan agar boleh didirikan suatu loge. Namun 37 usal1a kcdua ini juga tidak berhasil.

Pada akhir pemerintahan Vander Parra rupanya ada pclu- nakan dalarn sikap terhadap Tarekat Mason Bebas, sebab pada tahun 1773 bantara boleh menempati sebuah gcdung di Jalan Amanusgracht. Gedung itu digunal

Jabatan ketua sejak tahun 1781 hampir lebih dari seperempat a bad, dengan beberapa selang wakh1 saja, dipegang oleh Nicolaas Maas. Maas seorang pengacara dan kernudian panitera a tau pegawai pengadilan. Nama Maas juga pertama disebut dalam daftar anggota yang disusun Schutte berdasarl

1 Daftar Anggota 'La Fidele S incerih~"

Nic. Maas pengacara, panitera
Wesselman pembantu letnan kavaleri
Balmain kapten warga kota
C.F. Reimer mayor zeni

J.
C.J.
35. Jdem, 74-75
36. Boerenbeker 1979
37. De Geus 1917, 180
38. Schutte 1974, 197-198

5ERATUS TAHUN PERTA.\1A : 1764-K.L. 1870

J. van der Linden

H. Keetelaar

J.H. Schenk lelnan infanteri
D. te Boekhorst praktisi
Wardenaar Koning juru tulis
van Cattenburgh saudagar rnuda
G.F. Winkelmans man tan saudagar muda
Stokman juru tulis di sekretarial
de Freyn warga bebas dan kapten kapal (schipper)
idem
P.H. Filtz penvira
B. Sterck kolonel angkatan laut
Wegner perwira
Stave H. Mulder anggota dewan perkara kecil di pengadilan
Sidcrius mayor-dokler
Di thmar Smit jurutulis kepala dari dewan
kota
P.A. de Win kepala dewan perwalian

J.J.

C. de

H.J.
J.H.
J.

0. de Freyn

J.
J.
pengadjlan

G. Linke
P. Kamphuys-Reklinghuyse

J.B. Decker dokter kepala Rumah SakH

Dalam, inspektur kusta

P.P. Engert
B. van der Gunst

J. van de Bogaard

Arn. Rogge Vis kolonel angkatan laut Mr. J.C. Sd1ultz pengacara, man tan dewan kota

p -r. v. Giitzlaff perwira
Mr. P. Mounier anggota Dewan Justisi
].S. Verspey k saudagar muda
]. Kraay kolonel angkatan laut
C. Cantebeen asisten anggota Dewan Justisi, dokter kepala
Mr. Schwartze pustakawan-arkivaris dari
van de Senden P.B. van Lierde Cloprogge mavor-dokter Sekretariat umum
W.]. Andriesse letnan kolonel
S. de Sandolroy perwira
D. van Son saudagar muda

J.G.
Juga di sini dapat dilihat bahwa kedudukan sosial para anggota, sejauh dapat ditentukan dari pekerjaan yang dican- htmkan, pada umumnya lebih rendah daripada para anggota di ban tara "La Vertueuse". Namun "La Fidcle Sinc~rite'' mempunyai jumJah anggota yang lebih banyak, yakni 48 anggota, dibanding dengan "La Vertueuse" yang mempunyai 36 anggota. Namun para petinggi-petinggi yang memegang jabatan kedua loge itu, menurut De Geus, tidal< mengganggu sifat demokratisnya. Sifat itu rnenurutnya juga nyata dari loge adopsi atau loge wanHa yang sering dilangsungkan dan di mana para istri anggota disapa sebagai ''YangTercinta". Pada 39 akhir pertemuan malam biasanya diadakan acara dansa. Namun yang diragukan apakah penyelenggaraan suatu loge adopsi merupakan tmgkapan dernokrasi, sebab pertemuan-pertemuan seperti itu juga diadakan oleh ''La Vertueuse" bahkan sejak tahun 1773. Pieren rnenyebutnya sebagai loge

  1. De Geus 1917, 159

1764- K.l. 1870

adopsi, padahal pertemuan itu hanya merupakan acara di mana para istri dari anggota-anggota ikut hadir. Para "suster" a tau saudari pad a kesempatan itu dikalungi dengan pita kuning, yaitu warna khas ban tara tersebut, denganhiasanmaso- nik. Para istri kemudian disambut dengan suatu pidato yang "hangat''. 40

Pada awal abad ke-19 pertemuan-pertemuan scperti itu sering d iadakan di ''La Fidele Sincerite", eli mana bukan han ya para anggota loge yang lain diundang, tetapi juga para istli dan anak perempuan mereka. Undangan dan program telah diperoleh oleh Pieren dari arsip, sehingga segi pergaulan kehidupan ban tara "La Fidele Sincerite" dapat ditinjau: 11 Undangan kepada pengurus dan anggota "La Verrueuse" berbunyi sebagai berikut:

Silenlio el vide

Kepnda Yang Sangnt Oitern11gt Su.lw A~rzmg Johnn Hendrik Hoffo dnn Pnrn smtdnra pengurus set·ta n11ggotn ynng Bekerja menurtt t sem/1uym1 rfnri [loge] In Vertuettse

Suhu yrmg sn11gnt diternngi, dnn sesnmn snwfnrn ynng dihormnti,

Atas na111n [bnntnm} "In F.S. II kepnrln Andn ynng snngat diternngi rfnn kepnrfn senwn Saudnra diberitnhukrm bnhwn pndn hnrl Jwuat ynng akt111 dntnn~, tnnggnl 23 x kesebelns * 5804 akmt diadnkan fbmttnm] ndopsi di "In FS. II Pnrn snttdnrn dnn snudari dengnn ramnh diundnng untuk meme- rinllkml "In F.S." dnlam kegintannya padn jnm petnng ymtg kltid- mnt itu drmgn11 ke!tadirnnnyn. Pnrn snrufrm boleh (jika dtkehendnki) membnwn serta annk-nnnk

40. Pieren 1903, 313
41. Pieren 1902, 267-271

sudah 11/Cilcnpni 14 talw n. "La F.S." berbnhngin ntas knsihAndn ynng snngnf rliternngi ihl.

Sesnma smtdara Andtr yang snngnl pntuh Atas nama [loge] yang disebat di atns [tnnda tangan tirlak terbacn, St]

Upacara yang panjang yang disusLm untuk hari itu meliputi 27 butir, sebagai berikut: " Proyek Upacara untuk penyelenggaraan loge adopsi di Iogie (loji) yang bekerja dengan nama 'Ia F.S.' Pasal 1 Pada pukul enam sore Loge harus tera ng benderang baik Juar mapun daJam, sebab pada jam itu para saudara dan saudari akan disambut Pasal2 Akan ada dua belas pengatur upacara (MC) yang akan dipilih dari kedua loge oleh Suhu Agung. Pasal 3 Para saudara MC djwajibkan hadir di Loge pada sore lersebut, pada pukul setengah enam, guna menge1wasi supaya semuanya beres pada pukul enam. Pasal4 Kereta-kereta semuanya akan masu k melalui gerbang besar, lalu melintasi jembatan kayu menuju ke halaman yang sudah disediakan dj samping clan kcmudian mejjn tasi jembatan bambu, kembali ke jalan raya.

N.B. Untuk maksud itu, Mnndadoor (mandor) akan siap untuk menunjuk jalan kepada para kusir.
Pasal 5 Lantai ruang depan, para saudari akan diterima dan ditempatkan di sana, akan ditt1tupi dengan permadani besar dari ban tara.

N.B. Dengan sebanyak mungkin mernperhatikan kepang- ka tan masonik.

SI!RAT1JS T AHUN P ERTAMA : 1764 - K.L 1870

Pasal 6 Lantai rucmg daJam juga akan ditutupi permadani, p(!neri- maan para saudara eli pandu oleh seorang MC yang juga akan menunjuk tempat duduk rnereka masing-masing. Pasal7 Peneri.maan para undangan dan prosesi menuju ke bantrHa akan di iringi dengan penyajian Aria masonik. Pasal8 Dalam pada itu akan dihidangkan makanan keci1 dan minuman kepada para saudara dan saudari yang hadir. Pasa1 9 Pada pukullujuh para saudara akan mengenakan pakaian terindah (pakaian upacara), yang akan diberit<~hukan oleh para MC kepada para saudara dengan seman. - Saudara-saudara berpakaianlal1! PasallO Sete]ah para saudara berpakaian, maka Suhu Agung dari 'La Fidele Since rit<~' akan memimpin prosesi, mengantar suster Holle menuju rumah pemujaan dun mempersilakannya duduk di sebelah kanan takhta. Pasalll Begitu juga Suhu Agtmg Holle akan mengantar suster Maas, dan mempersilakannya duduk di sebelah kiri takhta, setelah itu saudara Holle akan ducluk di takhta, di sebelah kanan Suhu Agung. Lalu menyusul Maih·es-pnsses (mantan anggota pengurus) dengan para isteri, mereka ditempatkan sating berhadapan dan diatLtr oleh dua MC yang ada di bantara unluk menunjuk tempat duduk para anggota yang datang.

N.B. DengansekaH lagi memperhatikan seba.nyak mungkin kepangkatan masonik.
Pasal12 BiJa temyata tempat duduk kurang, maka para saudara harus puas dengan menempatkan dirinya eli belakang kuTsi para saudari. Begitu juga para saudara dari "L.F.S." harus memperhatikan kenyamanan para saudara dari "I.a Ve rtueuse".

Perlu diingat bahwa mereka tamu. Pasa113 Para pengawas harus berada di tempat mereka masing-masing, supaya begitu palu dipukuJkan oleh Suhu mereka dapatmenjawab, sehingga perinlah-perintahnya dilaksanakan dengan sepatu tnya. Pasall4 Juga bendahara dan sekretaris harus duduk di tempatnya yang sesuai dengan kebiasaan, agar Loge kelihatan lebih tcl'pandang. Pasa115 Setelah semua duduk di lempatnya, acarn Loge dimulai dengan pidato pembukaan. Pasal16 Setelah itu, dua bait akan dinynnyikan dari Buku Nyanyian.

N.B. Sebaiknya dnlnm bahasa N erierduitscfJ (Belanda), lagu dipilih oleh satu atau lebih m1 ggota yang bersedia mtmtim-pin Capel (orkes), dan bila perlu diiringi musik yn ng bersuara pelan.
Pasal 17 SeteJah itu Orator mcmbr1wakan pidato, dan yang ingin dapatjuga berbicara untuk mcnyatakan ses.ualu yang sesuai. Pasal 18 Setelahitu acara ban tara akan diakhiri dengan menyanyikan suatu bait lagu. Pasa l 19 Setelah acara berakhir, sewaktu kaum wanita duduk, S uhu Agung 'L.F. S.' membu ka acara dansa dengan suster pertama "La Vertueuse" dengan tarian Menuet. Pasal20 Para saudara Ekonome harus mengurus agar makanan tersedia di meja pada pukul setengah sebelas, dan kalau sudah siap Suhu Agung harus diberitahu, dan kemudian para saudara MC akan memberitahukan kepadn para bntder bahwa jamuannya siap.

Agung duduk di tengah sating berhadapan. Pasal22 Para saudara pengawas berpencar, rnasing-masing eli salah satu sudut meja, dengan membawa sebuah Daftar Kondist *(toast-*ucapan selamat), dan pada ketokan palu dari Suhu Agung, mcrckJ mcngatur gil iran penyampaian Kondisi itu. Pasal23 Selama makan tidal< Akan ada nyanyian dan juga tidak ada kondisi yong diucapkan. Para MC harus memperhatikan hal tersebut, dan bila para Sauclara dan Saudari menyelesaikan makan malamnya, maka para MC mcrnberitnhukan hal tukepadaSuhu Aglmg, yang dengan mengetuk palurnenandakan bahwahidangan lli:lrus dittngkal dari meja dnn dibalas oleJ1 para saudara pengawas dcngan kctu kan palu pula. Dalam padt1 itu para bmrfer dan suster-bila dikehendaki-de1pat bcrdiri clnri mejo makan. Kalau makanan desert (hidcmgan kecil sesudah makanan tl tama) sudah siap, Su.hu akan mcngetuk palunya, yang dibalas juga, dan semuanya duduk kcmbali dl sekeliling meja. Pasal24 KepClda para MC di sekeliling meja-meja akan diserahkan Daftar Kondisi agar kondisi tersebut diumumkan secara pantns. l'asal 25 Pcmimpin Kapel harus menyusun daftardari lagu-lagu yang akan dinyanyikan, namun sedapat mungkin yang dalam bahasa Nctfertfuitsc/1, dan diiring1 musik yang pelan; -namun para saudara dan saudari bebas untukmemperdengar- kan scsuatu, asal hal itu diberitahu kepada para MC, yang kemudian akan menyampaikannya kepada kedua Suhu Agung dan para pengawas. Pasal26 Jika Pemimpin Kapel memulaisuatu lagu maka para hadirin bertindak seperti biasanya.

"suatu perkembangan yang berasal dari Perancis". Namun di Hindia Timur, lanjutnya, acara demikian lebih merupakan kegemerlapan lahi.riah saja, "hanya suatu pesta dengannuansamasonikyang dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan". 42

Memang istilah loge adopsi digunakan, namun upacara-upacara tersebut tidak dapat disamakan dengan loge-loge adopsi di mana kaum perempuan diperlakukan atas dasar persamaan. Terhadap praktik-praktik seperti di atas berulang kali- dan pada Majelis Tahtman tahw1l8l2 secara definitif-telal1 diajukan keberatan.~ 3 PersoaJan apakah perempuan boleh masuk a tau tidak dalam Tarekat yang maskulin itu selama sejarah Tarekat Mason Bebas merupakan suatu pokok yang terus saja muncul.

Pada tahtm 1815 bantara pindah alamat ke]alan Tijgers- gracht* yang clisediakan secara gratis o1eh seorang mason bebas, Will em van Riemsdijk, seorang tuan tanah. Alasan perpindahan diberitahukan kepada Wakil Suhu Agung Nicolaas Engelhard sebagai berikut:

"Dari para suhu dan anggota loge 'La Fidele Sincerire'

*]1. Poskota
42. Hageman 1866, 158
43. Boerenbeker 1991. XIV-XV!

5ERATUS TAJ-IUN PERTAMA: 1764-K.L. 1H7Q

Kepada Wakil Suhu Agtmg Yang Sangat Diterangi N. Engelhard.

W. KS.
H. Z.V. Saudara Yang Sangat Diterangi Kami beruntung bersama ini memberitahukan kepada Saudara Y.S.D. bahwa para Suhu dan anggota-anggota loge "La Fidele Sincerite" setelah mempertimbangkan keadaan gedung bantara di Amanusgracht yang memprihatinkan-serta sulitnya jarak dan jalan ke sana-menganggap bijaksana untuk memindahkan Loge ke sisi timur Tijgergracht di Batavia.
B.P. dan anggotR Loge merasa terhormat, sesuai pasal2 bah 6 Kltab Besar Undang-undang, memberitahukan hal ini kepada Y.S.O. - sedangkan nama dan Couleur (wama) yang di bawahnya sclama ini karni lakukan kegiatan-tidal< berubah-dan upacara perpindahan ini akan berlangsung pada hari Kamis, yang akan datang pad a 4-+ dari 2a * dari tahun
1815. Dengan menghaturkan segala sejahtera dan berkat kami merasa terhormat berada di bawah perlindungan
Y.S.O.'' Perpindahan pada tahun 1815 berlangsung di bawah
pemerintahan Inggris yang berkuasa scjak mereka merebut PuJau}awa. Ketua Pengurus adalah Thomas Stamford Raffles yang pada tahun 1813 dilantik sebagai mason bebas eli ban tara "Virtutis et Artis Amici". "'Virtus" merupakan suatu bantara semen tara di perkebunan Pondok Cede di Bog or. Perkebunan itu dimjliki Wakil Suhu Agung Nicolaas Engelhard. Di situ Raffles dinaikkan pangkat menjadi ahli (gezel), dan hanya sebulan kemudian dinaikkan menjadi meester (su.hu) di loge "De Vriendschap"' di Surabaya. 44 }adi tidak menghcrankan bahwa pindahnya bantara "La Fidele Sincerite"' dilakukan dalam prosesi umum dan dengan memamerkan kehadiralUlya

  1. Pieren 1903, 319-320

St.] Heukevlucht dengan harga delapan ribu mat Spanyol. Gedung itu sampai tahun 1837 menjadi tern pat pertemuan loge.

Sekarang perhatian diberikan kepada loge kedua dj Bata- 1 via ' La Vertueuse". PeTmohonan untuk konstitusi yang sah yang disusun pada tgl. 21 Januari 1769, clitandatangani oleh Petrus van der Vorm (anggota Dewan Justisi), J.GD. Hasselaar, Anthony van Helsdingen (saudagar tinggi dan anggota dewan pengurus [heemrand]), Lie ve Nicolaas Maybaum atau Meyboom (saudagar), Arnold us Musquetier, Jacobus Camelis van der Veen (kapten tenta1·a), Adriaan Boesses (sekTetaris dari pengurus perbendal1araan), Hendrik van Stockum, George Christoffel Hartz (nakhoda), Pieter Camelis Cras (pengacara) 45 dan Floris Foeyt Guru tuJis di sekretariat). Setelah menerima persetujuan semen tara, pada tanggal 24 Desember 1769 dilakukan peresmia1.1 secara khldmat. Sumber-sumber lain menyebut tanggal24 Mei 1770 sebagai hari peresmian. .;q Oleh karena hubungan antara Loge Agung Belanda dengan loge-loge di Hindia Timur sebelumnya telah dibicarakan, sekarang berdasarkan surat konstitusi "La Vertueuse", hubungan tersebut dapat ditinjau lebih lanjut. Surat itu dirnuat dalam Gedenkboek van 1917 (Buku Peringatan tahun 1917), sebagai salinan suatu tembusan yang pada waktu itu terdapat dalam arsip loge "De 47 Ster in het Oosten" (Bintang di Timur).

Surat konstitusi, yang dikeJuarkan ketika Van Boetzelaar

  1. Lowensteijn 1961, 25
  2. Idem, 26
  3. De Geus 1917, 160-161

PERTAMA: 1764- K_L-1870

menjadi ketua pengurus, mulai dengan merujuk kepada permohonan sejumlah mason be bas agar menerima konsti tusi ynng sah dengan maksud mendirikan di Batavia "suatuloge yang teratur, yang dihisabkan pada Tarekat Negeri ini, dafl diterima sebagai Anggota Loge Agtmg Nasional". Apa yang menyusul kemudian menunjukkan dengan jelas bahwa pe~ ngurus Ban tara Agung di Be Ianda, dalam hal ini Suhu Agung Van Boetzelaar, menganggapnya sebagai tugasnya untuk menyebarkan Tarckat Mason Bebas ke seluruh dunia. Oleh karena kata-kata yang kira-kira sama juga terdapat dalam surat konstitusi yang dikirim N icolaas Engelhard pada tahun 1801 kcpada ban tara Semarang "La Constante et Fidele",.JS isi surat itu rupanya sudah merupakan rumusan standar.

Suhu Agung menyetujui penyusunan badan pengurus

yang diusulkan, dan ketua Vander Vorm diberikan wewenang untuk menghimpun para anggota dalam suatu ban tara yang sah dan terahtr, dan mendirikannya dengan nama "LaVer- tueuse". Kepada ketua ditugaskan untuk mengirim 1aporan tentang pertemuan pendirian, dan mengirim sumbangan tahunan kepada Loge Agung. Setiap tahun juga hams dikirim sebuah laporan singkat tentangjurnlah anggota, tempat-tempat di mana diadakan pertemuan, dan bahkan juga tentang waktu pertemuan itu dilangsungkan. Juga perlu dllapor nama-nama anggota bam dan kernajuan masonik serta kenaikan pangkat masonik.

Untuk menetapkan hubungan an tara "La Vertueuse" dengan Loge Agung, d iberikan petunjuk agar" ... dengan segala perhatian, ketekunan dan kerajinan memperhatikan bahwa bukan hanya Peraturan dan Perintah lama dari Tarekat, namun juga yang akan kami a tau pengganti kami kirim dari wak-

  1. Van Dijck 1917,209-210

ke waktu kepada Loge tersebut, harus diil

Lebih banyak yang diketahl1i tentang "La Vertueuse" daripada apa yang sebelurnnya telah diceritakan tentang ban tara Batavia lainnya. Yang selalu IT\enarik perhatian ialah bahwa kedua bantara tersebut sejak semula terlibat dalam suatu pertengkaran yang tidak henti-hentinyamengenai hak sulung, sampai Majelis Tuhunan tahun 1854 mengambll 49 keputusan memberikanhak itu kepada "La fidele Sincerite". Walaupw1 begitu, tTtereka suka juga bekerja sama. Umpamanya, sejak tahun 1782 mereka bcrkumpul bcrsama di gedung di Amanusgracht*, sedangkan bantara-bantara hasil adopsj dari "La Fidele Sinceri h~", yang telah disebut sebelumn ya, juga dihadiri anggota-anggota kedua loge.

Kalan " La Verhteuse" mula-mula mengadakan pertemuan di rumah tinggal pribadi, dan setelah Hu di berbagai rumah dari para anggotanya/ maka pada tahun 1780 Daniel Kreysman menyediakan rumahnya di Molenvliet**untuk loge tersebut. Dari zaman itu berasal pemberitahuan ten tang peraturan-peraturan rurnah tangga dalam gedung ban tara, yang memperlihatkan bagaimana satu dan lainnya berlangsung dalam pertemuan-pertemuan pertama '/La Vertueuse". Beberapa ungkapan juga memberikan pandangan atas kehidupan sosial waktu itu, termasuk pemilikan budak oleh mason be bas. 50 Ke- dengararmya aneh bahwa gagasan "persamaan dalam wujud" sebagai asas masonik pada waktu ihl rupanya tidak dirasa bertentangan dengan pemilikan budak sebagai pelayan priba-

**)I.* Kopi I Jl. Bandengan ** Jl. Cajah Mada /Hayam Wuruk

  1. De Ceus 1917, 158·159
  2. Pieren 1902, 220-222

1764-K.L. 1870

eli. Bahkan pada awal abad ke-19, di bawah rezim liberal dari Vander Capellen, bentuk perbudakan itu masih dikenal.

''Bagian bawah rumah hanya akan digunakansebagai ruang pertemuan, dan ruangan atas serta kamar geJap harus tetap ditutup. Perlemuan-pertemuan dapat diadakan berdasarkan persetujuan sekali seminggu, Kamls malam, dihadiri oleh seberapa banyak anggota yang maui aku katakan berdasarkan persetujuan sebab kalatl temyata bahwa ada keinginan untuk menambahnya dan ka!au ada dasar untuk menganggap akan berhasil, maka pertemuan selalu dapat digandakan- pada waktunya hal itu dapat diputuskan. Tidak seorang pun, siapa pun namanya atau apapun pangkatnya, ka lau bukan seorang Mason, akan diizinkan hadir dalam pertemuan-pertemuan ini atau diperbolehkan diajak serta oleh salah seorang anggota. Namun para anggota boleh membawa satu ata u lebih orang Mason, dan yang oleh Anggota-anggota lain dari Logie (Loji) kami akan diterima sebagai saudara. Da!am pertemuan-pertemuan itu perlu d.iperlihatknn perilaku yang tepat dan benar, yang sesuai dengan tabiat seorang metselnnr (mason) sejati yang sudah mendarah daging. Untuk menghindari se1nua yang menyerupai keadaan di losmen atau bar, maka semua ongkos pertemuan, harus dibayar dari kas Loji. Namun agar kas i.nl sanggup membiayai ongkos dan agar pertemuan dapat diadakan dalam suasana yang cocok-perlu ditetapkan sebagai berikut:

I. agar setiap anggota Loji menaikkan iuran bulanannya hanya dengan setengah rd. (rijksdanlder=ri.nggit) sebulan, yang darinya akan dibayarkan min yak lampu seperlunya dan kenaikan upah pengawas Loji, yang d.isebut nurndndoor, yang tugasnya -wa laupun setiap anggota dapat dilayani oleh hambanya ya ng dibawa sertanya-adalah untuk menyalakan lampu, menyiapkan kopi dan

menyiapkan susu, dan yang penambahannya aku tetapkan sebesar rds. (ringgit-ringgit) 10 scbulan, yaitu rds. 2,24 untuk susu, rds. 2.24unruk minyak lampu dan rds. 5 untuk peke~aan tambahannya.

  1. agar setiap anggota yang datang kc tempat pcrtemuan membayar rds.- 40 (empat puluh sen).
  2. agar setiap anggota yang mcmbawa seorang br. (bntrler) dari Loji lain, membayar untuk tatmmya juga rds.-40.
  3. agar pembayaran itu \angsung dilakukan pada waktu tiba, dimasukkan ke dalam suatu peti kecil yang disediakan untuk itu, yang ditempatkan di tcngah ntangan, di atasmeja yang di atasnya juga sudah disiapkan Unta dan tabung pasir, serta secarik kertas dan pena-pena. Setiap anggota yang datang ke tempat perhimpunan membu· buhkan namanya eli atasnya dengan tanda tangan, dan juga memperkenalkan anggota dt~ri Loji yang lain yang mungkin dibawa olehnya.
  4. Peti kecil dan kertas yang ditandatangani akan berada di bawah penjagaan mnndndoor tersebutyang setiap kali pada hari pertama bulan baru harus membawanya kepada saudara Bendahara yang akan mengeluarkan uangnya, menghitungnya, dan mencocokkannya dengan tanda-tanda tangan pad a kertas, dan pad a waktu d ilang- sungkan Loji melaporkan hasi\ peke~aannya kepada anggota-anggota yang berhimpun.
  5. Anggur, bir, lilin, minuman keras, pipa, kartu, kopi dan teh, yang digunakan dalam pertemuan-pertemuan ini, akan diambil dari Persediaan Umum Loji, sehingga Mandndoor tidak perlu mengurus yang lain kecuali min yak dan susu- dan untuk pekerjaannya itu ia setiap bulan dibayarkan rds. 5-sedangkan para pecandu pipa ternbakauharusmembawa tembakaunyasendiri. Alasan mengapa aku menetapkan pembayaran 40 sts. (sen) untuksetiap anggota dan juga untuk penyertanya adalah sebagai berikut: Aku beranggapan bahwa jarang atau tidak pernah kurang dari tiga orang datang ke tempat perhimpunan, dan mereka memerlukan:

1764-

SERATUS T AHUN PERTA.'vfA : K.L. 1870
2 Jilin 2 botol anggu r 6 pipa seluruhnya berjumlah rds. rds. - 15

-40 1 pak kartu 8 -4

2:3

dan yang dibayar ketiga saudara ini 2 · 24

Sehingga masih sisa untuk teh, kopi, minuman keras dan pipa Rds.- 21 (du<~puluh satu sen).

Kalau ornng yang berkumpul berjumlah sembilan orang, maka pasti mereka akan meningkatkan pemasukan tetapi bukan konsumsinya, sebab untuk 9 orang yang berkumpul hanya untuk menghabiskan waktu dengan orang lain, jnrang lerjadi bahwJ bersama-sama mereka menghabiskan 12 botol minuman-dan kalaupun itu dilakukan, dan uang masuk yang dibayar 9 orang itu masih selalu akan sisa rds. 1 : 5: melebihi biaya konsumsi. Betapa pun akt1 boleh membanggakan diri bahwa pengaturan ini dari perhjmpunan Mason tidak akan menemw banyak keberatan, maka saya beranggapan bahwa makan sup sekarang sudah umum, namun beberapa lmtder yang belum makan malam akan berlanya kepadaku, kemana pada pukul setengah sepuluh malam kami dapat pergi secara pan las untuk makan malam? Aku merasa sulit untuk menjawab pertanyaan ini dengan baik-kebebasan pilihan selalu dipegang dan dic.intai umat man usia, dan oleh karen a itu aka merasa bahwa hal itu dibiarkan terserah kepada anggota yang sudah menikah dan yang lainnya, yang suka makan malam, untuk mengajak beberapa dari para anggota, atau dari orang-orang yang berhimpun yang datang bersa- mn-samanya ke tempal perhimpunan, untuk mengajak mereka ke rumahnya, -sedangkanbagi mereka yang tidak mau, dapat disediakan makan maJam sederhana dengan udang atau ham dingin, snlnde dan ikan goreng, atau sand- wich dan lain-lain oleh pelayan-pelayan, yang menyiapkan

dHakukan pembayaran tersendiri unt-uk hal tersebul-sedangkan dapur dan perabot makan Loji yang disimpannya, dapat digunakan untuk maksud tersebul."

Setelah tahun-tahun pertama yang sulit, suasana rohani menjadi jauh lebih menguntungkan untuk menjalankan TarekatMason Bebassehinggasikaphati-hati dari pe1iode awal dapat agak clikendorkan. Menurut perkataan Hageman, "dua puluh tahun lamanya semua tindakan pencegahan dilakukan supaya jangan menyinggung perasaan dunia luar". 51 Oleh karena keadaan sudah berubah, sekarang dapat dipikirkan untuk mempunyai gedung sendiri, sehingga dengan dernikian Tarekat Mason Bebas dapattJmpil di depan umum. Walaupun begitu, pada paruh kedua tahun delapanpuluhan (a bad ke-18) tidak berarti bal1wa sikap hati-hati ditinggalkan, dan keharusan "supaya jangan menyinggung perasaan" tetap berlaku.

Kebutuhan akan suatu Iokasi baru bagi loge juga muncul karena sebagian besar anggota tinggal di wilayah selatan a tau tenggara di luar kota a tau bahkan lebih jauh Iagi. Oleh karena anggota-anggota tersebut ternyata memiliki dana yang dibutuhkan, rencana yang clibuat oleh Van Overstraten berhasil dilakukan. Di bawah kepemimpinannya sebagai ketua, jumlah uang sebesar dua belas ribu rijksdaalder (ringgit) terkumpul untuk membangun sebuah gedung loge sendiri di tempat di mana sebelumnya berdiri Rumah Sakit Mora. Pembangunan gedung loge clilakukan di ba wah pimpinan mason be bas Heilman, yang dalam kegiatan sehari-hari bekerja sebagai kepala dari bengkel batu dan pahat batu Kompeni.

Pada tgl. 18 Januari batu pertama diletal

  1. Hageman 1866, 116

P"RTAMA : 1764-K.L. 1870

nur JenderaJ WillemAlting dan anggota-anggota pemeri.ntah-

an lailmya, juga oleh banyak tokoh lainnya. Pembukaan gedung loge yang dihadiri oleh pejabat-pejabat tinggi, telah meJenyapkan perasaan khawatir terakhir dan dalam hal itupun tahun 1786 dapat disebut sebagai suatu tonggak sejarah.. Mungkin suatu kejutan bagi dWlia luartmtuk melihat betapa besamya jumlah mason bebas di kalangan pejabat tinggi. Kecuali yang disebut di atas, hadir juga misalnya wakil Kompeni di Benggala, lsaak Titsingh, dan kepala pcrdagangan di Jepang, Hendrik Caspar Romberg. Kedua tokoh yang disebut terakhir inimenunjukkan bahwa merekamason bebas dengan mengirim hadiah-hadiah untuk gcdung loge yang barn. 52 Juga dapat dilaporkan bahwa pelu.kis Perancis Piron pada tahun 1794 membuat lukisan-lukisan pada tembok Rumah Pemujaan dengan gambar-gambar sirnbolis. Sejarawan kebudayaan De Loos-Haaxman mengatakan bahwa Piron memang pada tahun 1794-'95 berada di Batavia, di mana ia terkenal sebagai 53 pelukis bunga, tanaman dan pemandangan alam.

Yang menarik ialah bahwa dari gambar-gambar yang dibuat oleh Piron, dapat disimpulkan sesuattt tentang sifat Ta1·ekat Mason Bebas waktu itu. Piron rnembuat dua belas gam bar yang dilukiskannya pada kan vas dan yang kernudian dipindahkan ke gedung bantara ''De Ster in het Oosten". Menurut suatu laporan, gambar-gambar itu masih di situ pad a tahun 1865.~ Gambar-gambar itu masing-masing melukiskan "hikmat, kekuatan, keindahan, kebajikan, amal, persatuan, kehati-hatian, pengharapan, keadilan, kedamaian, kebenaran 55 dan sifat berdiam diri''.

  1. Idem, 110
  2. De Loos-Haaxman 1968, 18
  3. Hageman 1866, 120
  4. Pieren 1902,316
P.G. van Overstraten ketua, sekretaris Gubemur
Jenderal
Frans Hakker pengawas pertama dan saudagar muda
Dirk van Hogendorp pengawas kedua dan saudagar
mud a
Philippus d'Elwijk sekretaris dan saudagar
Daniel Kreysman arkivaris dan nakhoda kapaJ
Johan Hendrik Holle pengatur upacara (me) dan saudagar muda
Gerlag C.J. van Massau fiskal (pegawai pengadilan)
Samuel van Hoesen saudagar muda
Nicolaus Engelhard saudagar
Jan Reynier Coortsen Jan Frederik baron van saudagar tinggi
Rheede tot den Parkeler Abraham Catharinus Senn saudagar tinggi
van Basel saudagar rnuda
Jacob Abegg warga
Albertus W.AF. van Idsinga komisaris bank
Willem A Willems saudagar
Adriaan Boesses saudagar tinggi
Johannes N. Bestbier notaris
Johannes Siberg anggota Raad van Ind1e
Leendert RoUf saudagar tinggi
Hendrik Caspar Romberg saudagar tinggi
Gottfried Chr. Fetmenger saudagar muda
Jacob Hacker saudagar muda

T AHUN P ERTAMA: 1764-K. J.. 1870

H endrik Isaac Guitard saudagar
Ignatius Aanzorgh dokter
Willem Garrison pemegang bu ku
Johrumes M.M. Schmidt mayor artileri

Modal mereka pada waktu meninggal jatul1 ke tangan loge sehingga gedung itu pacta tahun 1803 sudah bebas utang sam a 56 sekali. Kemurahan itu tidak hanya terbatas pada pengumpulan dana untuk gedung loge, namtm nyata juga pada waktu pengumpulan dana untuk rnembantu janda-janda dan yatim piatu. Hageman menyebut tahun 1786 sebagai tahun pertama hal itu dilakukan secara teratur. Dapat diperkirakan pengumpulan itu dilakukan untuk memmjang keluarga yang ditinggalkan anggota-anggota ban tara yang meninggaL

Berkat sumbangan Pieren terhadap penulisan sejarah bantara-bantaralama di Batavia, dapatjuga diberitahukan tentang peristiwa dan perkembangan pada tahtm-tahun yang pertama.57 la rnernpelajari notulen laporan loge dan menemukan catatan bulan Juli 1768, yang menyatakan bahwa anggota yang absen harus membayar denda sebesar lima ringgit~ di mana hanya keadaan sakit a tau undangan dari gubernw· jenderal atau direktur jenderal, atau pekerjaan untuk Kornpeni yang tidak dapat ditunda dapat dijadikan alasan untuk tidak hadir. Ketika pada tahun 1772 Van der Weyden menjadi penjabat sementara Wal

  1. Idem, 314
  2. Idem, 312 dst

"La 1 Vertueuse' seperti sudah beberapa kali di paparkan sebe]umnya, ternyata dari daftar nama yang disebut di atas, tidaklah mengherankan bahwa Radermacher pun menjadi anggota, dan pada tahun 1779-1780 menjadi ketua dari bantara ini. 58 Sekembalinya dari negeri Belanda pada tahun 1767 di maJ1a ia meraih gelar doktor dalam ilmu hukum, Radermacher diangkat menjadi baljmv (pegawai pengadilan) Batavia. Kalff dalam tulisannya yang sudah disebut sebelumnya Een baanbreker in de Rnad van Indifi5 9 (Seorang Pembuka Jalan eli Dewan Hindia), mengatakan bahwa di sam ping menjadi pegawai pengadilan, ia juga menjadi anggota majelis gereja di jemaat Lutheran di Batavia. Perlu diingat bahwa pada waktu itu anggota-anggota gereja tersebut mengalami diskriminasi di negeri Belanda. Untuk karier Radermacher di Hindia, aga- manya bukan suatu hindaran. Pada tahun 1776 ia menjadi Penasihat luar biasa dan kemudian Ketua Schepenbank (Dewan Kota) di Batavia, kolonel dari pertahanan kota, presiden-kurator atas sekolah-sekolah di Batavia dan komisaris atas Bovenlanden (daerah eli sebelal1 selatan Batavia). Pada tahun 1781, akhirnya, ia mend a pat posisi terhormat sebagai anggota biasa dari Raad van Indie. Sebagai kornisaris Bovenlanden ia mengadakan beberapa kunjungan inspeksi, Catatan-catatan yang di- buatnya tentang kunjungan-kunjungannya itu di kemudian hari diterbitkan dalam Tijdschrift voor Nederlandsch Indie (Majalah untukHindia Belanda). 60 Kunjtmgan-kunjungan inspel

  1. De Visser Smits 1921, 460
    59. Kalf£ 1921, 462-483
  2. TNT th 1856, jd IT, 161-180

P ERTA.\oiA : 1764-K.L. 1870

yang dimuat dalam Verhandelingen (tulisan-tulisan) Perhimpunan Batavia.

Radem1acher merupakan bapak spiritual dari Perhimpunan Batavia. Bahwa ia mempunyai perhatian tcr·hadap pendidikan dan pengembangan, sudah jelas dengan diterimanya 1 jabatan ketua dari 'Kolese Kurator dan Sarjana untuk sekolah-sekolah kota dan sekolah-sekolah lain'' di Batavia. Ia diangkat pada jabatan ini dengan surat keputusan Pemerintah Hindi a. Di negeri Belanda, Lembaga Belanda untuk Timu Pengetahuan pada musim semi tahun 1777 mendirikan suatu bagian, yakni "Cabang Ekonomi". Bagian itu sekal igus dimaksudkan untuk memajukan perdagangan dengan wilayah-wilayah jajahan. Reinier de KJerk, mula-mula direktur jenderal, namun sejak Oktober 1777 kepala pemerintahan Hindia, dan Radermacher dihubungi untuk berlindak sebagai pengurus cabang Hindia. Langkah pertama ini segcra diikuti langkah kedua, sebab pad a tgl. 24 April1778 didirikan suatu lembaga Hindia tersendiri, yang disebut Perhin1punan Batavia untul< Dmu Pengetahuan dan Kesenian. Tujuan perhimpunan tersebut adalah untuk bekerja lrDemi Manfaat Umum''. Kegiatan itu dijalankan dengan penuh semangat, sehingga pertemuan pendirian dihadiri sejumlah besar tokoh masyarakat Hindia, dan segera ban yak pejabat tinggi dan tokoh-tokoh dunia swasta mcnjadi anggota perhimpunan tersebut. Tern pat di mana rapat umum pertama organisasi baru ini dilangsungkan, yakni di l

premi untuk sayembara- sayembara, dania menutupi defisit-defisit yang dialami per- hlmpunan itu.la juga menyumbangkan ban yak tulisan tmtuk \b-hnndelingen dari perhirnpunan yang mulai terbit pada tahtm

  1. Antara talnm itu dan tahun 1786 ia mcnyumbangkan tidak kurang dari lima belas artikel. Untuk perhimpunan, yang mempakan badan ilmiah Eropa pertama eli bUilli Asia, tak dapat disangsikan lagi Radermacher merupakan poros yang menggerakkan semua. Radermacher sebagai mason bebas dapat dikenal melalui artikelnya yang diterbitkan pada tahun 1784 "Tentang hu- kumanmati dan penyiksaan" di mana ia menentang hukuman mati. Sebagai presiden dari Schepenbank di Batavia ia pasti bercerita berdasarkan pengalaman sendiri ketika ia rnenulis, ''Ah, kalau aku boleh mengalami zaman di mana hukuman matihanya untuk pembunuh umum, penyiksaan hanya untuk kejahatan pengkhianatan terhadap negru·a yang menyebabkan negara itu hancur.u Dengan pendapatnya itu, ia jelas bukan anak zamannya, menurut penulis biografinya ia jauh lebih
    61 maju dari orang-orang sezamannya.

Perhimpunan tersebut berhasil menarik ban yak orang, termasuk sejumlah besar mason be bas. Vander Veur mengatakan untuk tahun-tahun pertama jumlah anggotanya sebanyak 180 orang, termasuk 103 orang yang tinggal di Batavia, dan dari kelompok terakhir itu kira-kira sepertiga adalah mason 62 bebas. Hageman malahan lebih teliti lagi, pada tahun 1781 ada 34 orang mason bebas dian tara 109 anggota perhimpunan,63 sedangkan De Geus, yang membatasi dirinya pada para

61 Kalff 1921, 473

62.. Van der Veur 1973, 3
63. Hageman 1866,102

1764 • K.t.. 1870

pendiri, berpendapat bahwa kebanyakan merupakan anggota dari salah satu loge di Batavia. 64

Usaha supaya perhimpunan menjadi alatuntuk kemajuan ekonomi dan sosial segera menjadi jelas dari Programma perhimpunan. Tujuan utama ialah melakukan penelitian atas semua hal yang memajukan pertanian, pemiagaan dan kesejahteraan khususnya di Hindi a. Juga nomor pertama dari Verhandelingen mengutarnakan tujuan itu; dan memuat suatu daftar pertanyaan yang panjang tentang hal-hal seperti pertanian, industri, perikanan, teknik, tetapi juga ten tang ilmu kedokteran dan sastra. Selanjutnya perhimpunan menyelenggarakan banyak sayernbara, dengan hadiah untuk hasil-hasil terbaik yang masuk Selama masa hidupnya yang panjang, perhimpunan telah memberikan sumbangan banyak untuk kehidupancendekiawan dan ilmiah di Hindia, dan kemudian rneninggalkan kepada Republik Indonesia sebuah museum yang bagus dan koleksi benda-benda kesenian historis.

Dengan kembaJinya Radermacher kc negeri Beland a pad a tahun 1783, tahap pertama berakhir dan untuk sementara waktu perkembangan pun berhentL Baru pada akhir abad ke- 19 mulai peri ode baru yang memberikan perhimpunan terse- butsuatu kedudukan terkernuka sebagai lembaga ilmiah. Jasa Radermacher selalu dijunjung tinggi oleh orang-orang sezamannya dan oleh penulis-penulis di kemudian hari.

Ketnbali ke rangkaian peristiwa di loge ''La Vertueuse" - dapat dilihat bahwa keadaan zaman benar-benar mempunyai dampak atas kegiatcm-kegiatan. Perang Inggris Keempat (1780-'84) merupakan pos kerugian yang berat bagi perdagangan kolonial, sedangkan hubungan persekutuan dengan Perancis jelas tidak mernbantu untuk mernbuat Inggris senang

  1. De Geus 1917, 164

Selama waktu yang cukup lama "La Vertueuse" berhasil menjaga hubungan dengan tujuhloge Belanda di luar Hindia. Pieren mengatakan bahwa "ada rasa persahtan yang kuat di antara Loge-loge iht sehin gga mereka saling menerirna anggota dengan kehangat- 65 an yang istimewa". Namun hal itu berakhir pada sekitar tahun 1800.

Pergolakan politik yang terjadi pada akhir abad ke-18 di Eropa bukanlah tanpa dampak di Hinclia. Hageman mem- muskannya sebagai beri.kut, "sejak revolusi, yang pecah pad a tahun 1789 di Perancis, merebak ke selumh dunia, banyak hal terganggu -jadi juga pekerjaan perdamaian". Sejak tahtm 1791, lanjutnya, "awan di dunia luar juga merarnbat ke per-

k.-umpulan-perkumpulan kaum lelaki, yang segera kehilangan hubungan satu sama lain oleh karena perselisihan-perselisihan
66 di bidang kenegaraan''. Seperti telah sering dikemukakan sebelumnya, kerukunan antara loge-loge di Bataviarnasih kurang baik, dan pada wakh.1 itu bahkan bertambah buruk lagi. Hanya pada kesempatan pulangnya ke tanah air man tan ketua ''La Fidele Sincerite", dan juga anggota Dewan Hindia, Jan Greeve, semua anggota masih satu kali berl

Pada waktu itu juga muncul keinginan di Batavia unh1k mendirikan di Hindia suatu Loge Agung Provinsial. Pem1o- honannya diajukan oleh loge ''La Vertueuse" kcpada Majelis Tahunan, namtm tidak diterima. Surat permohonan "La Vertueuse" tersebut tertanggal3 April1797 dan baru dibalas pada

  1. Pieren 1903, 314
  2. Hageman 1H66, 129

SERATUS TAJTUN PERTAMA: 1764 -K.t..1870

tangga11 Desember 1798 oleh Suhu Agung dengan penje1asan mengapa permohonan itu tidak dapat disetujui. Namun mereka menyetujui untuk rnengangkat seorang Waki1 Suhu Agung untuk Hindia Belanda, dan N. Engelhard -ketua "La Vertueusc" dan mungkin sekali motor di balik gagasan pc.mbcntukan suatu Loge Agung Provinsial-diangkat nntul< memegang jabatan itu. Engelhard dilengkapi dengan sualu instruksiyangjuga tertanggal1 Desember 1798. Yangmenarik ialah bahwn sudah ditcntukan sebelumnya bahwa pengganti Engelhard juga harus berasal dari "La Vcrtueuse"Y Jabatan Wakil Suhu Agung diberi dasar masonik-yuridis dalam Wetboek voor de Btoederschnp der Vry-Mefselnren in de Bataafsche Repnllliek, en rferzelvet Ol'lderhoonge Colonien en Landen (Kitab Undang-undang untuk Tarekat Mason Bebas di Republik Bataaf, dan negeri jajahan scrta wilayah yang dibawahinya). Kitab undang-undang tersebut, yang juga diterbitkan pada tahun 1798, menentukan daiam pasal 32 bahwa harus ada seorang Wakil Suhu Agung Nasional ''atas scmua bagian Timur dan Barat dari Hindia Bataaf". Melihat situasi politil< di Eropa yang dengan cepat berubah, Loge J\gu ng men gang- gap bijaksana untuk mendclegasikan kekuasaan masonik. Sang Wakil dapatmengambil keputusan secara mandiri tanpa perantaraan Suhu Agung di Belanda. Dan memang keharusan itu ada, mengingat blokade perairan H.india oleh pil1ak tng- gris. Dalam situasi seperti itu, tidak mtmgkin dapat diadakan komunikasi yang terahu· dengan negeri induk. Namun walaupun surat kepulusan pengangkatan sudah dikeluarkan pada tahun 1798, baru pada tgl. 27 Desember 1800 di.langsungkan pclantikan Engelhard.

Be tapa sulit pun keadaannya,loge tetap melakukan kegiatan a maL Bukan hanya para janda dan yatim piatu yang diban-

  1. Boerenbek~r 1991. 3

tetapi ketika diadakan seruan kepada anggota-anggota di Hindi a supaya menolong penduduk Holland Utara menyusul kerusakan yang diakibatkan serangan orang-orang Rusia pada tahun 1799, jumlah sebesar 1000 ringgit dapat dikumpulkan. Beberapa tahun kemudian mereka mengumpuJkan lagi hampir dua ribu ringgituntuk para korban kecelakaan kapal mesiu di Leidcn.

Tal1tm-tal1un pcralihan menuju ke abad ke-19 bagi Tarekat Mason Be bas di Hindia mempakan suahJ. periode yang istimewa, sekurang-kurangnya karena begitu banyak tokoh terkemuka masyarakat menjadi anggotanya. Namun bersamaan dengan itu Hindia Belanda mengalami suatu kemerosotan ekonomi yang tidak dapat dihentikan. Memang tahun-tahun antara 1790 dan 1816 belum cukup diteliti, tetapi gambaran umum tidaklah menggcmbirakan. Untuk negeri Belanda titik nadir tercapai pad a tahun 1811, ketika Jawa sebagai benteng kolonial terakhir jatuh ke tangan rnusuh.

Di kalangan pemerintahan Batavia kebangkrutan Kompeni pada tahun 1800 telah melemparkan bayangannya jauh ke depan. Tidak ada seorang ptm yang mempunyai garnbaran yangjelas bagaimana semua urusan harus dijalankan supaya kernbali mencatat keuntungan. Masalah distribusi barang, sebagai akibat keadaan perang di Eropa, rnenyebabkan tcrjadinya tumpukan persediaan produk kolonial yang besar, harga jual yang merosot dan berkurangnya penghasilan tmtuk pemerintah dan rakyat. Itulah yang menjadi sebab utama, di samping melemahnya posisi Republik Bataaf, mengapa setelah tahun 1790 kekuasaan kolonial Belanda di Nusantara merosot begitu cepat. Melihat keadaan iht; tidaklah rnenghe- rankan bahwa juga Tarekat Mason Bebas Hindia, setelah permulaannya yang baik pada tahltn enampuluhan abad ke- 18, tidak dapat mempertahankan diri pada tingkat yang

SsR,\ Tus rAJ ruN PmTAMA : 1764 -K.L. 1870

semula. Pcristiwa-peristiwa politik di Eropa mempunyai

akibat besar atas posisi negeri Belanda. Pertama-tama terjadi keberangkatan stadhouder (wali negeri) Willem V ke Inggris dan penciptaan Republik Bataaf. Setelah tahun 1806 berturut- turut tcrjadi penciptaan Kerajaan Holland, penggabungan dengan Perancis, dan pada lahun 1813 pemulihan kemerdekaan. Selama waktu itu Hindia seakan-akan harus mengurus d irinya sendiri, di mana pemerjntah harus menentukan sen- did garis haluannya, dan itu juga berlaku bagi Tarekat Mason Bebas Hindia.

Dalam keadaan kacau pada tahun-tahun sekitar 1800, Engelhard sebagai Wakil Suhu Agung rnerupakan andalan yang kokoh, dan ia telah berusaha menjalaJ1kan tugasnya sebaik mungkin. Bagaimana pun juga ia melakukannya secara serius. Sebagai seorang pegawai pemerintahan kolonial yang seluruhnya dibina menu rut tradisi Kompeni, ia merasa sangat cocok menghadapi keadaan itt.. Dari anggota Dewan Hindia, kemudian Direktur Jcnderal dan sejak tahun 1801 Gubernur dcm Direktur dari PesisirTimur LautJawa, ia telah memegang semua jabatan tinggi, kecuali jabatan Gubernur jenderal. Ia berusaha mali-matian agar Jawa, dengan pemeliharaan semua lcmbaga lamanya, dapat melalui masa yang sulit itu dengan aman. Sikap yang sama diperlihatkannya juga di dalam menjalankan fungsinya sebagaj Waki1 Suhu Agun& seperti umparnanya terlihat ketika ia menentang Baron van Rheede tot den Parkeler dalam peranannya untuk mendirikan ban tara "La Constante et Fidelt~" di Semarang. Juga terhadap beberapa langkah reformasi oleh Gubernur Jenderal Daendels yang masih segar-segar datang dari negeri Belanda, ia melakukan pcrlawanan secara konsekuen. Tjdaklah mengherankan bahwa Engelhard menentang juga ketika di an tara para anggota "La Vertueuse" timbul suara-suara untuk memilih seorang

ketua. 68 Oleh karena jabatan ketua telah digabungkan dengan fungsi Wakil Suhu Agung, maka ada bahaya besar bahwa dengan cara itu jabatan Wakil Suhu Agung jatuh ke tangan Inggris. Untuk mencegah hal itu, Engelhard sekali lagi bcrsedia untuk dipilih kembali.

Hageman telah rnenunjukkan bahwa sudah sejak tahun 1787 terjadi kemunduran dalam jumlah anggota bantara-bantara Batavia. Kalau pada tahun itu masih ada 75 anggota yang aktif, maka pada tahun 1790 jumlah itu menu run sampai 65, dan pada tahun 1795bahkan sampai47. 69 Pada tahun 1798 peke1jaan di loge-loge itu malahan harus dihentikan untuk semen tara waktu. Kegentingan rnasa itu juga telah menyebabkan bahwa di Republik Bataaf (Belanda) dari 1794 sampai 1797 tidak d iselenggarakan Loge Agung? 0

Dengan diangkatnya Gubernur jenderal Herman Willem Dacndels mulailah suatu periode baru, yang walaupun singkat, tidak bcgitu baik bagi Tarekat Mason Bebas. Daendels, dengan sikapnya yang keras dan serne.na-me.na- walaupun beberapa tindakannya positif maksudnya- l'elah rnembangkitkan banyak perlawanan. Penilaian tentang Dacndels sebagai mason bebas juga kurang bagus. Ia dilantik d i loge Kampen "Le Pro- fond Silence", dan memm.1 t De Visser Smits, di Jawa ia menjalankan tindakan teror terhadap para anggota tarekat. Untuk orang seperti Daendels hanya ada kawan a tau lawan, dan juga di dalam kegiatan politil

  1. Douglas 1917, 455
  2. Hageman 1866, 156
  3. Idem, 149

SERATUS TAl-fUN P!!RTAMA: 1764- K. L. 1870

De Visser Smits, yang telah mempelajari figur Daendels, menyebut tahun-tahun pemerintahan Daendels (1808-1811) sebagai suatu ''zaman yang mengkhawatirkan bagi Tarekat Mason Be bas eli Jawa". 71 I a menekanl

Setelah pil1ak lnggris rnerebut Pulau Jawa, loge-loge Batavia membuka kernbali pintu mereka. Lord Minto, Gubernur

7 1. De Visser Smits 1931, 156-158

serta Jcnderal Gillespie, panglima pasukanh1ggris di jaw a, beberapa lW.]. Cranssen dan F. van Boeckholtz. Namun juga ten tang periode pemerintahan Inggris tidal< banyak dapat diceritakan. Di Wcltevredcn (Gambir) pacta waktu ih1 ada sebual1 ban tara yang beranggotakan perwira-perwira Ingg1is dan bernama "The Flora Lodge". Oleh karena ban tara tersebut tidak didirikan sccara sa.h, maka keanggotaan seorang anggota "La Vertueuse" dica- but sebab ia telal1 melanggar larangan kunjungan ke loge itu.

Setelah pemulihan hubungan politik di Eropa pad a zaman pasca-Napolcon, pada bulan Agustus 1816pemerintahan Belanda diJawa dipulihkan kembali. Penyerahan formaldilaku- kan oleh suatu Komisi Jenderal, suatu komisi beranggotakan tiga orang, di antaranya mason bebas Mr. C.Th. Elout. Ten tang kegiatan masonik Elout diketahui bahwa ketika ia dikiri.m pada tahun 1808 ke Hindi a Timur sebagai anggota Komisi-Jenderal yang ada wakh1 itu, ia diberikan tugas oleh Majelis Tahunan untuk melakukan inspeksi atas loge-loge di sana.n

"La Vertueuse" pacta tahun 1816 mengadakan suaht pertemuan khusus sebagai perpisahan dengan para mason bebas InggrisJ dan temyata bahwa pada tahun-tahun yang silam telal1 berkembang saling pengertian yang baik. Menurut Pieren jelas bahwa Tarekat Mason Bebas "bukan hanya menghargai semua lapisan dan pekerjaan, melainkan juga semua bangsa."

  1. Boerenbeker 1991, 147
  2. Pieren 1903, 319

SE RATUS TAHUN PERTAMA : 1764-T<.L. 1870

Setelah tahun 1816, "La Vertueuse'' mengalami perluasan sedikit karena anggota-anggota bantara "De Militaire Broe- derschap (Tarekat Militer)" yang tidak mempunyai tempat kedudukan yang tetap dan yang dipimpin Letnan Kolonel

O.G. Veltmans Muntinghe, memutuskan berjalan bersama dengan "La Vertueusen. Beberapa waktu kernuctian loge ten tara tersebu t malaJ1an melebur sam a sekali dengan "La Vertueuse". Bagi Engelhard yang sudah berusia lanjut, pada tahun 1822 tiba waktunya untuk kembali ke negeri Belanda. Setahun sebelumnya ia telah menyerahkan jabatannya sebagai Wakil Suhu Agung kepada H endrik Merkus de Kock, letnan gubernur jenderal dan panglirna ten tara Hindla Belanda. De Kock mula-mula dipiilll sebagai Ketua "La Vertueuse'', dan setelal1 itu Engelhard menyerahkan jabatannya yang tinggi itu kepadanya,sarnbil menunggu persetujuan Majelis Tahunan. PQlantikan resmi De Kock kemudian dilangsungkan oleh Mr. Maw·isse, Ketua "La fidele Sincerite" di hadapan para anggota kedua ban tara Batavia tersebut. De Kock tidak dapat melakukan ban yak dalam fungsinya i tu, sebab dengan pecahnya perang di )awa Tengah ia segera harus berangkat dari Batavia. Man tan Ketua "La Vertueuse" Van Beusechem mengambil alih tugasnya pada waktu itu. Apa yang berlaku pada tahun-tahun s].C. Goldman dan banyak yang lain. Namun tidak dapat dikatakan bahwa ada kehidupan 1oge yang ceria. Oleh karena keadaan keuangan kolonial yang buruk sebagai akibat harga pasar komoditas

Tengah, perlu diadakan penghematan di segala bidang.

Penghematan itu tidak hanya terjadi di sektor umum, melainkan juga di sektor swasta, dan sebagai akibatnya pemasukan loge-loge sangat berkurang. Sebagai akibat keadaan itu pada tahun 1827 diputuskan untuk mcmuunkan jumlah iuran, dan juga untuk melakukan penghematan atas pengeluaran "La Vertueuse". luran bulanan biasa diturunkan darisembilan gulden menjadilima gulden; uang masuk anggota d.itetapkan sebesar lima puluh guJden dan sumbangan untuk "kotak orang miskin" sebesar dua be las gulden. 7 ~ Walaupunkila tidak begitu tahu daya beli gulden di Hindia Timlll' pada zaman iht, rasanya angka-angka itu masih mewakili jumlah-jumlah yang besar. Pemuunan iuran bulanan dengan hampir setengah jumlahnya benar-benar merupakan tindakan penciutan.

Di samping masalah keuangan, "La Vertueuse" masih menghadapi masalah lain, yaitu mulai bobroknya gedung loge yang dibangun pada tahtm 1786. Rencananya adalah untuk membongkar habis seluruh gedt.mg itu dan membangunnya di ternpat yang lain. Pada bulan Mei 1829 rnuJai diadakan perundingan-perundingan, dan temyata pemerintah Hindia bersedia menjual sebidang tanah kepada loge dengan harga yang wajar. Letak persil itu sangat baik, dekat dengan istana Gubemur Jenderal di Weltevreden dan pada jalan besar, yang kemudian disebut'1alan Vrijmetselaars" -sekarangjalan Budi Utomo. Pada bulan Oktober tahun itu, pemerintah Hindia Belanda bahkan memutuskan untuk menyediakan tanah itu secara cuma-cuma untuk loge tersebut, dengan syarat bahwa harus dibangun gedung di atasnya. Bagi loge, itu merupakan

  1. Pieren 1902, 272

PER lAMA : 1764 - K.l •. 1870

peluang yang dipe.rgunakan dengan sebaik-bai knya. Sebab, bukan saja gedung yang lama sudah tidal< memenuhi syarat, tetapi juga para anggota harus membuang banyak waktu untuk pergi ke gedtmg bantara yang lama, o1eh karena telah te1jadi perubahan dalam pemilihan daerah tcmpnt tinggal. Setelah pe.rundingan panjang lebar, para angota mengambil keputusan untuk membangtm gednng bant, waJaupun ada rasa menyesal atas hilangnya "salah satu gedung masonik teJ.indah di bawah Majelis Tahunan Holland". Kepada anggota loge J. Tromp, insinyur kepala dinas pekerjaan umum dan gedLmg-gedung negeri, diminta untuk membual rencana pembangunan. Empat bulan kemudian ia menyerahkan rcncananya. Tromp telah merancang sebuah gedung yang luas, selebar k.l. 20 meter dan sepanjang 27 meter, serta terdiri atas tiga ruangan besar dan enam kamar. Salah satu ruangan besar dimaksudkan sebagai ruangan singgasana, dan atapnya menjulang di atas atap-atap lainnya schingga cahaya datang dari atas. Biayanya diperkirakan sebesar f 12.000,- dan mula-mula kclihatannya ada cukup sumber dana. Wakil Suhu Agung De Kock telah memberi sebesar f 4.000,- sedangkan tujuh anggota lainnya mengumpulkan jumlah f 4.750.

Pada pembicaraan awal tentang pembangunan sebuah Rumah Pemujaan yang baru, ada upaya-upaya untuk melenyapkan perpecahan yang lama di Batavia, narnun temyata masalah kesulungan rnasih tetap merupakan suatu masalah yang tal< dapat diatasi. Juga usul "La Fidele Sincerite" nntuk keluar dari jalan buntu dengan rnembubarkan kedua loge dan kemudian menghimpun semua anggota dalam suatu loge yang baru, tidal< dlterima. Akhimya dibentuk suatu komisi untuk mempclajari seluruh masalahnya, namun komisi itupun tidak berhasil.

PeJetakan batu pertama gedung baru itu dilakukan pada

1830 dan didahului suatu pertemuan di is tan a gubernurjenderal di Weltevreden, dekattempatdi mana loge ban1 itu akan dibangtm. Kebetulan tcpat sebulan sebelumnya pemerintahan Komisaris Jenderal Du Bus de Gisignies diganti oleh pemerintahan Gubernur Jenderal J. van den Bosch. Diketahui bahwa bcliau pad amasa baktinya yang pertama di Hindia, pada tahun 1812 dilantik di Surabaya sebagai murid. Yang menarik adalah bal1wa dalam surat-menyurat pribadi pada tahun 1834-1840 antara Men·teri Koloni Van den Bosch dan. Gubernw· Jenderal D.]. de Eerens, yang merupakan Suhu Kehormatan ban tara "De Ster in het Oosten", sama sekali tidak ada petunjuk bahwa mereka merupakan anggota Tarekat. 75

Sebagai penghuni Istana, Van den Bosch secara formal menjadi tuan rumah drui para haditin yang pada malam 15 Februm:i 1830 berkumpul untuk upacara itu. Dari program upacara yang dimuat dalam Gecl.enkboek (Buku Peringatan) ban tara "De Ster in het Oosten", peristiwa malam itu masih dapat diikuti sekarang. 76 Menjelang pukul enam sore, wakil 11 ketua dan para anggota La Vertueuse" men yambut ketua dan anggota-anggota "La Fidele Sinceritl~'' dan para undangan lainnya di salah satu ruangan is tan a. Kaum mason bebas yang bukan anggota loge-loge Batavia telah diundang melalui suatu iklan di surat kabar ]avnsche Courant untuk ikut serta dalarn upacara. Setelah semuanya hadir, suatu utusan dari pengurus rnenuju ke kediarnan Wakil Suhu Agung De Kock di Rijswijk untuk rnemohmmya supaya datang ke Istana juga. Di sana ia disambut oleh para hadirin, dan kemudian bergeraklah prosesi, didahului oleh "dua saudara pelayani korps rnusik; dua murid dengan batu di atas tandu; seorang tukang bangtman dengan bak kapur; seorang ahli dengan sendok adukan, pas

  1. Gerretson dan Coolhaas 1960
    76. Gedenkboek 1837-1937, 97-100

TAHON PERTAMA: 1764-K.L. 1870

air, tali pengukur di atas ban tal kuning; seorang ahli dengan panji loge "La Vertueuse." Semua pergi ke lokasi pembangunan dan membuat suatu lingkaran yang besar~ sedangkan suatu lingkaran lain dibuat oleh para "pelayan" dengan obor di tangan masing-masing mengelilingi lingkaran pertama untuk menerangi tindakan khusus Wakil Suhu Agung. Sendok adukan, pas air, dan tali pengukur diserahkan kepadanya, bak kapur diangkat sarnpai dekatnya, dan batu, yaitu sebuah ashlar (freestone) berbentuk segitiga beda isi, dipersembahkan kepadanya oleh dua murid. Setelah upacara selesai, para had i- rin kembali ke Istana, dan acara malam itu ditutup dengan suatu kunjtmgan ke gedung ban tara yang lama w1tuk berpisah dengan tempat yang penuh dengan kenangan itu.

Menarik juga untuk mengetahui siapa orang yang berhasil meJTtbujuk pemerintah Hindia Timur agarupacara peletakan batu pertama dimulai dari Istana, dan siapa orang yang berhasil menggerakkan pemerintah untuk menghibahkan bidang tanah yang bernilai tinggi itu kepada ban tara "LaVer- tueuse". Pada tahun 1829, ketika keputusan ten tang hal itu cliambit Du Bus de Gisignies masih memegang jabatan, sedangkan Wakil Suhu Agung dan panglima tentara De Kock bertindak sebagai letnan gubernur jenderal. Mungkin de Kock, yang secara de.finitii mengakhiri Perang Jawa pada tahun 1830.

Dalam rencana pembangunan baru itu ikut diperhitungkan bahwa bahan bongldi atas bahan

namun semuanya dalam keadaan rusak, sehingga dari sisa-sisa itu tidak dapat dibaca ten tang kegiatan-kegiatan para pendahulu, dan hanya terbaca tahunnya 1786 yang dipahat pada batu ashlar".n Batu itu dipindahkan ke gedung loge yang baru, dan di sana disimpan eli bawah mazbah di tengah Rum a h Pemujaan. Oi kemudian hari, pad a tahW11856, pada pernbangunan apa yang disebut gedung loge kedua, batu itu dipasang kembali, tetapi kali ini di atasnya dipasang suatu lempeng peringatan. Suaht foto yang dibuat di kemudian hari dari batu dan lempeng peringatan itu, tertanggal 19x10* 5856, dimuat dalam Gedenkboek (Buku Pe.ringatan) dari ban tara ''De Ster in het Oosten". Pad a waktu pernbangunan, bantara tersebut dapat rnenggunakan fasilitas bantara yang lain itu, di mana tidak lama kemudian diadakan perpisahan dengan De Kock, yang pulang ke negeri Belanda untuk seterusnya, setelah tinggal di Hindiahampir seperempatabad lamanya.

Pada tgl. 27 Juni berkenaan dengan pesta St. Jans, Rumah Pemujaan bam diresmikan, dan upacaranya dihadiri olehMr. tsaak Bousquet, mason bebas dan anggota Dewan Hindia Timur. "La Vertueuse" rnemiliki gedung yang terhormat dan representatif, walaupun loge itu sendiri ternyata tidak dalarn keadaan makmur. Hal ini akan dibahas nanti, namun sekarang perlu diperhatikan pendirian ban tara pertama di luar Batavia. Pendiriannya diprakarsai oleh Wakil Suhu Agw1g Engell1ard pada akhir abad ke-18, dengan dukungan dari anggota-anggota "La Vertueuse".

4.. Loge " La Constante et Fidele" di Semarang (1801) Walauptm pada waktu pend irian bantara Batavia "La Choisie"
77. Pieren 1902, 276

SfRATUSTAHUN PnRTAMA: 1764- K. L.1870

sudah ada mason-mason bebas di Semarang, pusat pemerintahan dan perdagangan eli Jawa Tengah, sejarah Tarekat Mason Bebas yang terorganisir di sana baru dirnuJai pada tahun 1798. 78 Pada tahun itu suatu rornbongan pegawai pemerintah di bawah pimpinan Komisaris Jenderal Mr. S.C. Nedcrburgh mengadakan perjalanan dinas ke pusat pemerintahan daerah Pesisir Timur Laut Jawa, yang temyata tidak tanpa aldbat bagi kaum mason bebas. Semen tara itu Tarekat Mason Be bas sudah mem pun yai anggota-anggota di kalangan pemerintahan tertinggi I-lindia Timur, sehingga tidak mengherankan bahwa di atas kapal "De Hertog van Bnmswijk", yaitu kapal yang membawa rombongan daJam perjaJanan dinas, terdapat pula sejumlah mason bebas. Persiapan-persiapan yang dilakukan Nicolaas Engelhard sebagai ketua loge "La Vertueuse" untuk mendirikan sebual1 bantara yang am bulan, yang berpindah-pindah, ternyata berhasil dan pada awaJ tahtm itu loge sementara "De Goede Hoop (Harapan. Baik)" didirikan. Loge-loge yang ambulan pada waktu itu sering rnuncuJ di atas kapal-1

a.l. Joseph Bassothiel, Johannes Weydig, Johannes Hendrik Kistler, Johan Frederik George Heyser, dan juga ternyata dari notulen bahwa loge tersebut telah mengadakan du a pertemuan di Semarang, selain di Surabaya. Sebagai ketua bertindak saudagar tinggi Willem Jacob Cranssen, anggota
78. De Visser Smits 1931, 163
79. ldem, 163

"La Vertueuse''. !Ylenuntt Schutte, Cranssen merttpakan salah satu pengikut setia dari Nederburgh, dan dialah yang membujuk komisaris jenderal tersebut untuk menjadi mason bebas.~

Di Semarang, anggota-anggota "De Goede Hoop" diterima di rumal1 J .F. baron van Rheede tot den Parkeler, yang sudah bertahun-tahun menjadi anggota Tarekat. Van Rheede sebelum itu lama tinggal di Batavia, eli mana ia menjadi anggota ''La Vertueuse". De Visser Smits telah melukiskan kar:iemya eli Kompeni, yang dimulainya pada tahun 1776 dengan pengangkatan sebagai asisten saudagar muda. Dua puluh tahun kemudian ia telah menjadi Raad-extraordinair (anggota istimewa Dewan) dan Gubemur serta Direktur Pesisir Timur Laut Jawa. Van Rheede memegang jabatan itu sampai tal1un 1801, dan setelah itu Nicolaas Engelhard, Wakil Suhu Agung untuk Hindia Belanda, menggantikannya. Bahwa Tarekat .Mason Bebas sudah masuk ke dalam kalangan teratas aparat pemerintal1an dapat dilihat dari kenyataan bahwa pen-dahuhmya, P.G. van Oversh·atcn juga merupakan anggota Tarekat. 81

Setibanya di Semarang, ban tara "De Goede Hoop" mengadakan pertemuan pertama pada tgl. 8 Mei 1798, dan di st~m ping Cranssen, juga hadir Francois van Boekholtz, ].F. Prediger, .\llatthijs Waterloo, J.W.B. Wardenaar, Pieter Philip du Puy, Van Rheede tot den Parkeler, Ludwig, Johannes Rubenkoning, Welters dan Filz. Sebagai pengunjtmg-pengunjung dari loge lain juga diterima Von Gutzlaff, Johan Marlin Canzleiter, Huibert Palm, Jan Cornelis Baane dan Carel von Wollzogen. Ternyata pada hari itu telah dilantik empat calon masuk ke

  1. Schutte 1974, 200 8'1. De Visser Smits 1931, 317-335

SERATUS TA!rUN PF.RTAMA: 1764-K.L. 1870

dalam Tarekat, yaitu Christiaan Godlieb Fisscher, Johannes Knops, Abraham van Luchtenburgh dan Jacobus Middelkoop.

Walaupun Van Rheede memainkan peranan besar di dalam pendirian ban tara di Semarang, dari pemberitahuan-pemberitahuan tentang pendirian loge itu tarnpak bahwa ia tidak lepas dari perasaan tinggi hati. Mula-mula semuanya berjalan sesuai rencana. Dalam rumah dinasnya yang sangat luas, "Zigtrijk" yang juga disebut "Het Pavilioen", Van Rheede menyiapkan satu ruanga n sebagai ruangan loge, sehingga pertemuan-pertemuan masonik dapat diselenggarakan di tempat yang cocok. Setelah pekerjaan persia pan selesai, pacta tanggal 15 Juli tahun itu diajukan permohonan surat konstitusi untuk bantara tersebut, yang akan dinamakan "La Constante et Fidele", kepada Suhu Agung di negeri Belanda. Setelah lama menunggu balasan, pada tanggal 28 Februari 1799 dikirim suratpermohonankedua. Namun atassurat keduainipun loge tidak menerima balasan. Resolusi-resolusi Bantara Agung yang berhubungan dengan rapat pada tahun 1802 menyebut adanya dua surat permohonan tersebut. Dalam resolusi itu dikatakan:

"Telah ditedma dua Surat dari beberapa Saudara di Semcmmg di PesisirTimur Laut]awa, tertgl. Hari ke-15 bulan ke-9 tahun 1798, dan tertgl. Hari ke-28 buJan ke-2 tahun 1799, yang memberital'lUkan bahwa mereka di bawah ketua Saudara }.F. van Rheede tot den Parkeler telah membentuk 11 suatuloge dengan nama La Constante et Fidele", dan telah memilih warna Biru Muda dan putih sebagai warnanya, disertai juga daftar para pengurus dan anggotanya dan telah ditransfer jumlah uang sebesar f 900,- kecuali masih kurang *£2001 -*untuk Se rtifikat, Kitab Undang-undang dan buku-buku nyanyian ya ng diperlukan, mereka memohon dan mengirimkan permohonan yang wajar, agar diberikan Konstitusi; mengenai hal ini Suhu Agung yang sangat

Batavia". 82

Suhu Agung Nasional Isaac van Teylingen sesuai peratur- ankemuclian memerintahkan Wakil Suhu Agtmg Engelhard eli Batavia untuk memberikan konstitusi tersebut. Namun bukan Engelhard sendiri yang melaksanakannya, sebab ia menugaskan Francois van Boeckholtz untuk melakukannya. Tidak dijelaskan mengapa bukan Engelhard sendiri yang pergi ke Semarang. Apakah sisa-sisa pertikaian lama masih mem- bara? Pentugasan kepada Van Boeckholtz, anggota "La Constante et Fidele" yang ketuanya adalah Van Rheede [Boeckholtz mernpunyai pangkat masonik "Elude Quinze" sedangkan Van Rheede mempunyai pangkat yang lebih tinggi "Chevalier de L'Orient", St.}, merupakan pelecehan. Di samping itu Van Rheede sebagai gubemur lebih tinggi dari Van Boeckholtz yang hanya residen dari Surakarta. Dalarn suasana masyarakat Hindia Timur yang peka-prestise, masuk akal kalau Van Rheede tidak mau dilantik oleh Van Boeckholtz. Ada kesan bah wa ketegangan di bidang pribadi merupakan sebab adanya masalah antara Engelhard dan Van Rheede. Apakah pengangkatan Engelhard sebagai Wakil Suhu Agung menjadi sebab sehingga Van Rheede berusaha melewatinya ketika mengajukan permohonan konstitusi bagi loge "miliknya" itu? Atau apakah di Semarang orang belum tabu ten tang pengang- ka tan Engelhard?

Pad a tgl. 10 Mei 1801 Engelhard secara resmi memberikan 5urat konstitusi, di mana ia mengacu kepada permohonan yang diajukan kepadanya oleh Van Rheede cs, tertangggal20 November 1800. Dari ketujuh belas orang yang menandata-

  1. Boerenbeker 1991, 58-59

S~:RATUS TAHUN P ERTA.\IIA: 1764- K.l. 1870

ngani permohonan itu, pekerj aan dan fungsinya diketahui, yakni sebagai berikut:flj

Johan Frederik baron van Rheede tot den Parkeler G ubernLLr

Francois van Boeckhol tz Residen Surakarta
Johan Martin Cantzleiter Saudagar
Johannes Rubenkoning Fiskal (pegawai Pengadilan)
Carel von Wolzogen Letnan Kolonel
joseph Bassothiel Kapten-letnan (Letkol Pelaut)
Abraham van Lugtenburg Saudagar
Jacobus Albertus van Middelkoop Sekretaris polisi
Johan Hendrik Wilhelm Ludwig Kapten
August Philip Michelis idem
Huibert Palm Johannes Weydig Saudagar muda
Johannes Hendrik Kistler idem
Johan Frederik George Heyser idem
Matthys Waterloo Residen Yogyakarta
Johannes Knops Dokter bedah
Christi aan Gotlieb Fisscher Mayor-administratur

idem

Sebagai reaksi atas tugas yang diberikan Engelhard kepada Van Boeckholtz, Rheede membubarkan bantara itu. Surat konstitusi dikembalikan, buku-buku nyanyian, kitabundang- undang, semuanya dikirirn kembali. Dari suatu hilisan De Visser Smits, yang telah memeriksa perkara ini, ternyata bahwa uang kas bantara telah dibagi-bagikan kepada orang miskin, perkakas-perkakas masonik telah diambil alih o1eh

  1. Van Dijck 1917, 210-211

ctibagi-bagikan.B-l Untuk Van Rheede, yang kemudian diangkat menjadi anggota Dewan Hindia dan berpindah ke jakarta, diadakan perpisahan, dan pada bulan Juli 1801 ia diganti oleh Nicolaas Engelhard. De Visser Smits memberikan penilaian berikut ini ten tang peristiwa tersebut, ''Peristiwa ini memberikan gambaran tentang Tare kat dari segi yang paling picik, dan sebagai ilustrasi dari ketidaksempumaan dan kesalahan manusiawi yang besar dalam upaya mencapai cita-cita yang paling luhur, halaman ini tidak boleh dibiarkan tidak tertulis." Berkat terbitan Boe- renbekerbanl-baru ini, kita tahu lebih banyak mengenailatar belakangnya. Dari resolusi-resolusi Loge Agung ternyata bahwa telah masnk surat ... "dari para Anggota yang bergabung dalam Ban tara "La Con stante et Fidele" di Semarang di Pesisjr Timur Laut Jawa tertanggal Hari ke-28 bulan ketiga TahLtn Terang 5801, dcngan lampiran banyak bahan: yang menyatakan bahwa oleh karen a telah terjadi perselisihan berkenaan dengan Peresmian Loge mereka, rnaka mereka membubarkan Loge tersebut, dan menunggu putusan PetugasAgung tentang keluhan mereka terhadap tingkah laku wakil SuhuAgw1g atas India Batavia (Hindia Belanda), Saudara N. Engelhard. Ba.hwa segera diputuskan oleh Pctugas Agung untuk menyalin surat dan bahan-bahan tersebut dan menyampaikannya kepada Wakil Suhu Agung Engelhard tersebut, namun dalam pada itu beliau memberitahu telah mengirim kepada Suhu Agung suatu Surat dari Wakil Suhu Agung tersebutyang dituJis pada 29]uli 1802 di Batavia, sehingga Wakil Suhu Agung tersebut sudah membuat laporan panjang Iebar yang telah dikirimnya pada bulan Juli 1801 mengenaj keadaan Loge di India (Hindia Timur) dalamkedudu.kannya yang tinggi kepada SuhuAgung Nasional, di mana perselisihan-perselisihan tersebut telah

84 De Visser Smits 1931, 164-165

SERATVS TAHUN PFRTAMA : 1764-K.L. 1870

diberitahukannya, dan bahwa "ada harapan, menyelesaikan perkara ini secara baik-baik."

"Bahwa laporan panjang Iebar itu tidak pemah dilerima oleh Suhu Agung dan Opsir-opsir Agung, se hingga sangat mungkin hi lang, sehingga Suhu Agung Nasional Menyetujui agar Saudara Engelhard secepatnya diberi tahu untuk membuat salinan yang wajar darinya dan mengi rimnya kemari."

Setelah Joge ditutup, Engelhard menghukum sejumlah anggota dengan mengucilkan mereka dari semua peketjaan masonik. Van Rheede mcnurut De Visser Smits adalah satu-satunya orang yang menyampaikan keluhannya kepada Suhu Agung di Nederland. Tidak lama kcmudian, pada tanggal 7 Juli 1805, ketika Van Rheede meninggal dan setelah sejumlah anggota yan g membangkang ditegur keras olch Engelhard, ia meresmikan loge itu lagi. Masih ada tujuh anggota yang membangkang, dan sebagai akibatnya mereka dikucilkan sampai tahun 1812. 85

Pada talmn 1806 kelihatannya bahwa masa lah-masalah dengan bantara Semarang untuk semen tara waktu telah diselesaikan, tetapi biarpun bcgitu, anggota J. Schmaltz "oleh karena sifatnya yang pembangkang dan perilakunya yang menggelisahkan" dianggap "tidak wajar" dan dikeluarkan dari Tarekat. Bantara itu sendiri ditegur supaya selanjutnya merna- turn peraturan Tarekat secara kctat. 86 Namw1 pertikaian di sekitar "La Constan te et Fidele" masih bel urn berakhir, sebab pada tahun 1813 Engelhard kembali menutup bantara tersebut. Tni berhubungan dengan kehadiran Letnan Cubemur Raffles di pesta St. Jans. Namun sebenamya bukan kehadiran

  1. Idem, 166
  2. Boerenbeker 1991. 153-154

Suhu Agung Engelhard dan Parve di Batavia. Kedua orang itu menasihatkan agar d.icapai penyelesaian damai, namun hal itu tidak diterirna oleh Lamberger dan kawan-kawan. Karen a itu Engelhard dan Parve memutuskan untuk menutup saja loge tersebut. Para anggota "La Constante et Fidele" tidak menggubris keputusan penutupan itu dan tetap melanjutkan kegiatan-kegiatannya, dan sekarang berada di bawah kepimpinan Lam berger yang

d.ipilih secara tidak sah. Peristiwa itu memberikan gambaran tentang hubungan-hubungan pada masa itu. Setelah ketua yang sah, Johannes Knops, meninggaJ pada tahun 1814, Lamberger secara resmi menggantikannya dan sepertinya masalahnya sudah selesai. Biarpun keadaannya rumit, keanggotaan loge tersebut menunjukkan perkembangan yang baik, sebab jika pada tahun 1798 dimulai dengan 17 anggota, pad a tal1un 1801 jumlahnya 26 orang/ pada tahun 1805 susu t
87 menjad.i 12 orang, tetapi pada tahun· 1814 nail< menjadi 40. Xamun hubungan dengan Majelis Tahunan bel urn juga tanpa masalah sama sekali, sebab ternyata bahwa penyetoran-penyetoran wajib ke Nederland tidak dilakukan sampai tahun 88 :823, yakni tahun pulangnya Engelhard ke Belanda.

Dengan kehadiran Ph.H. baron van La wick van Pabst pada tahun 1822, mulailah suatu fase yang lebih tenang dalam kehidupan "La Constante et Fidele". Malahan mungkin kehidupan masonik terlalu tenang, namun hal itu dapat diterangkan dengan pecahnya Perang Jawa pada taht.m 1825 yang

-. De Visser Smits 1931, 166-167

c. Van DiJck 1917, 211

TAHUN PERTAYIA : 1764- K.t..1870

berlangsung sampai tahun 1830 dan eli mana Semarang memainkan peranan pen tin g. Menurut De Visser Smits, kehidupan loge di bawah pim pin an Van La wick, yang dengan selingan pendek memegang jabatan ketua sampai tahun 1843, tidak mencapai banyak hasil. Mungkin itu disebabkan karena .ia selalu memegang jabatan pemerintahan di luar Semarang. Tetapi mungk:in juga pengetahuan kita terlalu sedik:it ten tang kehidupan loge waktu itu oleh karena hilangnya arsip pada 89 tahtm 1829, Sur at konstitusi baru juga berasal dal'i tahtm1829 dan diserahkan oleh Wakil Suhu Agung De Kock pada kunjungannya ke Semarang.

Berakhirnya PerangJawa membuka peluang untuk mern- bangkitkan kegiatan "La Constante et Fidele". Sebab itu Van Lawick, yang sementara itu sudah tinggal lagi di Semarang, memanggil para anggota untuk suatu pertemuan eli "balai" loge terse but di Societeit ''De Vereenig:ing". Dalam laporan tentang pertemuan itu diberitahukan bahwa pada kenyataannya terjaeli pendirian baru, sebab 34 anggota baru "masuk 90 ke loge itu". Van Lawick diangkat kembali sebagai ketua. Berkat piagam yang dibuat pada tahun 1829, nama-nama dil

  1. Ibid.
  2. Idem, 21·1

eli "La Constante et Fidhle" dapat dilihat juga pada penyelenggaraan pesta St. Jan pada tahun 1837, eli mana a.l. diadakan prosesi besar-besaran disertai korps musik dan pernbawa-pembawa obor. Oleh karena pertambahan jumlah anggota, terasa kebutuhan akan suatu gedung loge tersendiri, namun baru pada tahun 1845 dapat ditempati gedung bantara sendiri eli Boebaan, di pusat kota pada jalan menuju Ambarawa.

Upacara pernbukaan dihadiri oleh wakilloge-loge lain dan sejumlah besar mason bebas dari luar ban tara, serta dimeriah- kan oleh suatu pidato dari ketua A.H. Oignett, presiden "Weeskamer" (Lembaga Pengurus Milik Yatim Piatu) Semarang. Pad a kesempatan itu Clignett memberikan tinjauan atas sejarah bantarai eli mana ia mengemukakan bahwa sejak tahun 1829 -sejak tahun i tu arsipnya lengkap -telah diterirna ke dalam loge tersebu t kurang lebih 150 anggota ba.ru, a tau rata-rata sepuluh setahtm. Jumlah anggota pad a tahtm 1843 adalah lima puluh orang. 91 Pada peri ode itu loge memberikan jumlah-jumlah uang yang besar untuk tujuan amal, namun tidal< ada peh.mjuk unh1k tujuan apa tepatnya uang itu diberikan. Bantuan sekadarnya diberikan kalau terjadi musibah besar, namun kebanyakan diberikan Lmtuk amal perorangan, seperti sokongan bagi keluarga yang ditinggalkan oleh anggota-anggota loge yang meninggal dunia. Pekerjaan kemasyarakatan yang sebenamya masih harus elibangun dari bawah, demikian Van Dijck, "Kedermawanan dan bantuan kepada orang miskin ( ... ) untuk waktu yang lama merupakan jalan uta rna bagi persekutuan mason bebas untuk bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat". Pada waktu anggota-anggota bantara bergerak untuk mendirikan lembaga-lembaga demi ke-

  1. Idem, 225-230

SERATUS TAHUN PEin AMA: 1764- K.l-.1870

pentingan umum-yang pertama adalah pendirian "Burgerschool (sekolah umum)" pada tahun 1867 untuk pendidikan dasar dan pendidikan lanjutan -maka zaman baru mulai merekah dan akan dibahas dalam bab berikut.

  1. Loge "De Vriendschap" di Surabaya (1809) Kalau kunjungan rombongan mason bebas, yang sebagai loge am bulan "De Goede Hoop" pada tahun 1798 pergi ke Semaran& telal1 menyebabkan didirikannya suaht loge, maka haJ it.u tidak terjadi eli Surabaya. Memang diadakan pertemuan-pertemuan, dengan pelantikan calon-calon serta kenaikan pangkat menjadi gezel (ahli), nannm kegiatan itu tidak bermuara pada pembentukan suaht bantara setempat. Setahtm kemudian diadakan lagi pertemuan-pertemuan masonik di Surabaya, pad a sa at itu berkenaan dengan kunjungan sebuah armada Perancis. Kurang 1ebih dua puluh pelaut, di bawah pimpinan kapten Bruneau dan disponsori loge''La Vertueuse" selama tiga hari bertemu dalam sebuah loge "provisoire (sementara)", dan pada walI a memberitakan bahwa pada kesempatan itu telah dikumpulkan sejumlah uang tmtuk "rekan-rekan se-alam'' dan uang itu diserahkan kepada "La Vertueuse".
    92

Bahwa tidak ada hasil tetap dad l

  1. Hageman 1866, 138-140

1808 menghapus Pemerintah Pesisir Timur Laut Jawa dan membentuk perfektur lresidensi, St.] Surabaya. Pemin- dahan sejumJah besar pegawai negeri dan pembangtman sebuah pelabuhan perang menyebabkan jumlah orang Belanda bertambah dengan pesat, dan sebagai akibatnya pada tahun 1809 dapat didirikan sebuah bantara. J.A. van Middelkoop, yang pindah dari Semarang dan diangkat olch Dacndels sebagai kepala pemerintahan setempat, memainkan peranan penting dalam pendiriannya. Van Middelkoop sebclumnya sudah ikut mendirikan "La Constante et Fidele" sehingga memiliki pengalaman yang diperlukan ketika ia men gun dang para mason bebas di Surabaya ke rumahnya untuk membicarakan pendirian sebuah loge yang baru. Hampir dua puluh mason bebas terlibat dalam persiapan pendirian, dan nama-nama berikut ini dicantumkan pada surat permohonan bagi suatu surat konstitusi yang clikirim kepada Wakil Suhu Agung Engelhard. MelaJui penelitian yang dilakukan De Geus dan De Visser Smits, diketahui pekerjaan apa yang dilakukan orang-orang itu, sehingga kita dapat rnemperoleh garnbaran tentang kedudukan mereka dalam masyarakat Surabaya_ Jelas te.rlihat sifat militer dari loge terse but yang diberi nama "De Yriends- chap (Persahabatan)". Warnanya, hijau laut, menunjuk kepada laut dan angkatan laut. 93

Daftar nama pendiri bantara "D e Vriendschap"

Jakobus Albertus residen Sudut Timur Jawa
van Middelkoop
Hendrik Jacob van Cattenburgh presiden Dewan Justisi
Hendrik Andreas van den Broek fiskal dan oditur-militer
Pieter Jansen kapten-letnan angkatan

!aut koloniaJ

  1. De Geus dan De Visser Smits 1931. 164

SERATUS TAilUN PERTAMA: 1764-K.L. 1870

] acobus de Bruin anggota Dewan Justisi dan
notaris
Gerhard Arnold Reinking letnan kolonel
Hermanus Christiaan Cornelius mayor zeni
Johan Anthony Zwikkert Nicolas Dominique Chevreus anggota Dewan Justisi
le Grevisse kolonel
Claas Meiners anggota Dewan Justisi dan dokter
Nicolaas van Meeverden mayor-dokter di rumah sakit
Johannes de Frees kapten dan direktur bengkel konstruksi
Jacob Rijk kapten
Louis Constantijn Pielat Nama-nama tersebut di atas dicanturnkan pada surat kons- titusi tertanggal 28 September 1809, sedangkan lima orattg lainnya juga terlibat dalarn pendirian loge ittt.\1 mereka adalah: saud agar
.!. Snck komisaris-jenderal untuk angkatan lau t kornisaris muda
J.P. van ' t Wou t sekretaris polisi
C.F. Gaupp brigadir jenderal dan panglima Jawa Timur
/. van Ostheim mayor

4 Nama-nama

H.J

J.P. Roos

Pelantikan resmi bantara ''De Vriendschap" dilakukan pada tgl. 27 Agustus 1810 di bawah pimpinan seorang utuscu1 Wakil Suhu Agung Engelhard, yairu K. Heynis Pieterszoon. Loge pada waktu itu belttm memiliki gedungnya sendiri dan oleh karena itu upacara diadakan di gedung yang disewa

  1. Lowensteijn 1961, 60

Oleh karena pertambahan keanggotaan yang pesat, terasa kebutuhan untuk memiliki gedung sendi.ri. Hal itu dapat terwujud, dengan meninggalnya Van Cattenburgh, yang menjadi ketua setelah Van Middelkoop kern bali ke Sernarang, eli mana jandanyamenghibahkan sebidang tanah dari warisan suaminya kepadaloge. Pada tahun 1812 sudah dapat dilakukan upacara peletakan bah1 pertama untuk suatu gedung yang dirancang mason bebas dan arsitek Wardenaar. Setahun kemudian ged1.mg itu diresrnikan. Di ged1.mg itulah letnan kolonel zeni (waktu itu) Joharu1es van den Bosch, perancang dari t:llltuurstelsel (undang-undang pembudidayaan tanaman) yangdiberla1

Di tahun-tahun pertama HD e Vriendschap" tidak banyak

masalah yang bera:rti. Pendiriannya berlangsung tanpa kesu- !itan, gedung sencliri mudah diperoleh, dan jumlah serta rnutu para anggota bukanlall sesuatu yang memprihatinkan. Namun di kemudian hari terjadi ketegangan dengan Bantara Agung di Belanda, dan pengurus menolal< memenuhi kewa- iiban iurannya. Soal ini akan dibahas nanti.

Suatu deskripsi yang menarik dari suasana pada tahun-tahun itu di "De Vriendschap" te1ah diberilschout-bij-nacht (k.l. lal

  1. De Bode 1909, 503

S !::RATUS TAHUN PERTAMA : 1764-K.L. 1870

muda) Q.M.R. Verhuell. Dalam memoires-nya ia menulis banyak tentang masa tahun 1818 ketika ia berada di Surabaya. Sejarawan H.J. de Graaf te)ah menulis sebuah artikel berdasarkan uraian terse but dengan ban yak keterangan rind mengenai cara ia dilantik di ban tara " De Vriendschap''. 96 De Graaf men ulis sebagai bcrikut:

"Dalam memoirs-nya Verhuell menulis bagaimana hal itu berlangsung. Pada suaht 'gentleman's dinner ' dirumah Residen baron A.M.Th. de Salis di Simpang, menurut Verhuell suasana- nya 'sangat kasar dan tidal< terkendali'. Walaupun begitu, VerhueU eli lingkungan itu sudah sering kali diajak untuk menjadi mason bebas. Ia mula-mula hanya mencemoohkan hal itu dan mengejek ' rahasia-rahasia Tarekat itu dan tes-tes yang menggelikan yangharus dilampauiseorangpendatang bam'. Namun ketika ia balik diejek, bahwa ' semuanya itu hanya kedok untuk menyembunyikan ketakutannya', ejekan itu membuat Verhuell marah sekali. 'Belum pemah ada orang yang mengatakan aku penakut", serunya, 'dan sekarang aku tantang kalian semua apakah kalian dapat menakutkan aku dengan cobaan-cobaanmuJ Aku menjadi mason bebas, semakin cepat semakin baik.' Tan tang ani tu diterima baik oleh bantara, sebab beberapa hari kemudian ia diundang untuk datang ke ban tara Tare kat Mason Be bas pada jam tertentu dan dengan mernakai kostum yangtelah ditctapkan sebelumnya. Pada hari dan jam yang ditentukan sebuah kendaraan menjernputnya1 dania pergi loval yang ditopang pilar-pilar, sedangkan di kanan-khinya terdapat bangunan-bangunan sam ping yang anggun.

  1. De Graaf 19731

pengalamannya malam itu ridak boleh ia catat di memoir-nya wa]auptm hanya dimaksudkan untuk digunakan secara pribadi, namun ia menulis bahwa w1tuk waktu yang lama ia digiring keliling dalam keadaan mata ditutupi kain sehingga tidak bisa meliliat apa-apa. Hal i tu men yebabkan ia menjaeli san gat letih dan berkeringat. Ia sampai 'basah kuyup' karenanya, namun kalau ia ditanya bagaimana keadaannya, 1a seJalu menjawab, 'Baik sekali, dan Anda telah mengatur agar aku tidak kepanasan dengan menjaga bahwa tidak sehe-Iai benang ptm di pakaianku yang kering'. 'Pada akhimya, setelah melampaui berbagai tes yang aneh', ia menyimpulkan dari 'suara red up ban yak orang dan bunyi suara sepatuku yang bergema' bahwa ia berada di dalam suatu ruangan besar. Namun ia harus mengakui, 'walaupun tidak sekali pun aku mengeluh, aku merasa tidak enak badan dan sangat mengharapkan berakhirnya perjalanan keliling ini'. Ia harus berhenti, dan sewaktu musik dimainkan, kain penutup mata dilepas- kan. Lalu ia memandang sebuah ' Rumah Pemujaan yang indal1 dengan tiang-tiang gaya korinti'. Lotengnya berwarna biru dengan bintang-bintang emas, seperti yang sampai sekarang dapat dilihat eli loge Tarekat Mason Bebas di Den Haag [yang dimaksudkan ialah gedung di Fluwelen Burgwal eli Den Haag yang sejak tahun 1993 tidak lagi digunakan, St.]. Diapit oleh kandil-kandillampu, Verhuell berdiri di hadapan takhta 'Suhu Loge' yang berkilauan karena cenninan a pi. Para anggota berdiri sekelilingnya dalam lingkaran luas dengan pedang terhunus, Mereka memakai tanda-tanda Tarekat, yaitu bintang-bintang, pita-pita, suatu sn11toir [ikat leher, St.], sehelai schootsvel (sehelai kain a tau kulit yang menutupi bagian de pan tukang sewaktu bekerja) yang dibordir. Semua ujung pedang diarahkan kepada Verhuell. Oleh karena ia berjam-jam lamanya berada dalarn kegelapan1mula-mula ia tidak tahan memandang cahaya yang terang, dan ia bahkan hampir-

PERT AMA; 1764-K.L. 1870

hampir tidak dapat berdiri lagi. Para penggiringnya, 'Freres terribles (Saudara-saudara yang mengerikan)', yang selunthnya berpakaian hi tam dengan to pi lebar dan jubah hi tam panjang, menawarkannya segelas anggur clicampur air. Beberapa waktu kemudian ia berjabat tangan dengan semua sebagai Mason Bebas dan Anggota, dan dibetikan diploma, sehelai schootsvel, suatu segitiga perak pada pita hijau-hijau adalah warna loge "De Vriendschap" -suatu snutoir dan sepasang sarung tangan putih.

Pada perjamuan Anggota yang mengikuti pelantikan iht, Verhuell diberitahu bahwa ia 'telah bertindak sebagai mason bebas yang terhormat'. Sebelttmn ya ia telah menyuruh supaya dikirim sepasang pakaian kering dari rumah agar dapat menggantikan pakaiaru1ya. Bukan hanya suhu Smabaya yang tinggi, tetapi juga ketegangan yang besar telah menyebabkan ia begih1 banyak mengeluarkan keringat, walauptm ia telah menghadapi keadaan-keadaan yang lebih genting ... ".

Penulisan sejarah loge "De Vriendschap" juga mendapat perhatian dalam karya bangunan yang pada tahun 1909 - pada kesempatan pesta abad-disampaikan oleh pembicara 97 loge, F.J. de Bode. Ia mengernukakan bahwa pada tahun-tallun pertama setelah pendirian loge, hubungan dengan negeri Belanda san gat jarang. Mungkin hubungan internasional loge itu, yang dimungkinkan oleh karena Surabaya merupakan kota pelabuhan, agak memberikan kompensasi terhadap hal itu, sebab, secara mengherankan, loge ih.1 memiliki tiga orang ahli pidato, satu untuk bahasa Bclanda, satu untuk bal1asa Inggris, dan satu untuk bahasa Perancis. Nuansa intemasional juga kelihatan dari pemberian bantuan unh.tk para korban kebakaran di Paramaribo pad a tahun 1822, dan

  1. De Bode 1909, 505
lnstitutOrang Buta dan Tuli di Amsterdam.

Sebelumnya telah disebut masalah yang menyangkut perwakilan loge-loge Hindia di Majelis Tahunan tahun 1832 Loge "De Vriendschap" tcrutama sangat tcrkcna sebab utus- annyalah, Penning Nieuwland, yang mcngalami pelecehan di situ dania meninggalkan pertemuan dengan protes. Pertikai- annya berlangsung begitu sengit sehingga loge itu mengancam tidak akan melunasi tangguhan iuran dan juga tidak akan mengirim sumbangan-sumbangan ke kas Loge Agung. Keberadaan loge ini pada abad ke-19 lidak ditandai peristiwa-peristiwa yang luar biasa. Sehubungan dengan Perang Aceh, nama anggota loge Von Bultzingslowen disebut dengan rasa hormat, bukan karen a tindakan dj medan perang, melainkan karena caranya ia menjalankan jabatannya sebagai komisaris Palang Merah, sehingga di Surabaya ia dihormati dengan sebuah momunen. "Diam-diam namun kuaV' demikianlah ditulis De Bode, '1oge kami bekerja terns, mcmbeti dengan tangan yang murah kepada yang membutuhkan, tetapi juga bekerja keras di bidang sosial. Loge itu mendorong pendirian berbagai perkumpulan, yang temtama bermanfaat bagi sesarna rnanusia yang kurang benmtung, serta mendukung perkumpulan-pcrkumpulan itu dengan kuat. Malahan sedemikian rupa sehingga tidak selalu sepadan dengan kekuatan kcuangan loge iht, scbagai akibatnya sebagian besar tanah loge, yang dahulunya mcliputi sampru Embong Malang, harus dijual."

Bentuk-bentuk ban1 bantuan kepada masyarakat dan pcrkembangan rakyat di mana loge "De Vriendschap" berkc- cimpung, dinyatakan dengan pendirian ~uaht Perpustakaan RakyaL pada tahun 1879. Setelah tahun itu scjumlah besar lembaga lainnya didirikan. Hal itu akan dibahas lebih lanjut dalam Bab II.

SERATUS TAHUN PERTAMA; 1764-K.L, 1870

  1. Peleburan Loge· loge di Batavia ke dalam Loge baru "De Ster in het Oosten" (1837) Sebelumnya telah diterangkan bahwa usaha mempersatukan loge "La Fidele Sinceritl~" dan loge "La Vertueuse" pad a tahun 1829 tidak berhasil. Setelah saat itu keharusan untuk bergabung menjadi semakin kuat dan sebagai akibat langlIa memptmyai prestise begitu besar di kalangan mason be bas sehingga ia berhasil di mana orang lain gagal. Van Sevenhoven mulai dengan mengundang para anggota loge-loge di Batavia untuk bertu- kal' pikiran. Kemudian ia menyusun suatu rencana supaya persatuan itu dapat di wujudkan. Teks da1i undangan terse but, yang dimuat dalam buku peringatan De Ster in het Ooster1 tahun 1937, menyatakan dengan tegas bahwa penangguhan lebih lama lagi akan berakibat buruk sekali. Van Sevenhoven juga menandaskan bahwa pelaksanaan kegiatan Tarekat Mason Bebas di ibu kota Hindia Belanda sudah merosot sebagai akibat berkurangnya jurnlah anggota serta menurunnya kesejahteraan para anggota. Keadaan keuangan yang buruk yang sedang dialami "La Vertueuse" dihubungkan olehnya dengan Perang Jawa yang sangat ban yak memakan biaya itu. Di sam ping itu perlu dlsesali hilangnya sejumlah besar anggota, termasuk ketua ''La Vertueuse" serta Wakil Suhu Agung, yakni Letnan Gubernur Jenderal D e Kock yang pulang ke negeri Belanda. Tentang "La Fidele Sincerite", Van Seven-

me11,jadi rintangan yang l

Beberapa hari setelah tmdangan Van Sevenhoven diteJ.ima, para anggota "La Fidele Sincerite" diundang oleh badan pengun1snya untuk pembicaraan pendahuluan di kalangan mereka sendiri untuk menentukan posisi yang akan diambil oleh loge itu. Ketua J. Schill dalam rapat itu mengemukakan bal1wa pad a tahun-tahun belakangan telah timhttl sikap acuh yang untuk sebagian disebabkan oleh letak gedung yang kurang .mcnguntungkan itu. Ia mengakui bahwa pertemuan-pertemuan seringdihadiri oleh sedikit anggotasaja. Salah satu ketm nmgan da ri penggabungan dengan loge lainnya itu ada- lab bal1wa dengan penggtmaan gedtmg loge11ya yang terletak di pusat, di Weltevreden, kehadiran anggota-anggota akan membaik. Namtm ada pokok lain yang perlu diselesaikan dahulu, dan itl1 menyangkut keadaanl

$ £RA1'U$ T AHl;N P ERTA>'v!A : 1764-K.L. 1870

syarat-syarat penggabungan. Ini sangat peka, bukan saja mereka diminta untuk secara sukarela membubarkan loge mereka yang mempunyai tradisi yangpanjang tetapi hubungan dengan loge yang akan berg a bung selama bcrpuluh-puluh tahtm telah bentlang kali mengalami ketegangan.

Dari hasil pembicaraan temyata bahwa para anggota

menghendaki suatu loge yang baru, dengan semboyru1 dan warna sendiri, dan bahwa kedua loge akan rnemiku.l biaya pendirian loge baru itu secara sarna rata. Para anggota ''La Fidele Sincente" juga bersedia agar penghasilan dari penjualan gedung serta perabotnya digunakan untuk mernbiayai loge baru tersebut. Beberapa anggota mernang merasa agak kurang enak bahwa loge mereka yang keuangannya sehat itu harus memikul utang dari loge yang lain, dan mereka mencoba mencegahnya melalui peraturan-peraturan khusus. Setelah penmdingan yangpanjang lebar, kedua loge akhimya menye- pakati syarat-syaratumurn, sehingga pada tgl.19Agustus surat konstitusi dapat diberikan kepada "De Ster in het Oosten". Ditentukan bah.wa loge ini al

Dengan jumlah anggota hampir 90 orang pada tah1.m 1837, sejarah loge "De Ster in het Oosten" tidaklah dimulai dengan begitu spektakuler.9S Kebanyakan penulis tentang periode antara tahun 1837-1870 hanya membatasi diri kepada hal-hal urnum. Umparnanya, diberitakan tentang suatu loge perka- bungan berkenaan dengan meninggalnya Suhu Kehormatan "De Ster in het Oosten", Gubernur Jenderal yang tidak begitu dikenaJ, D.J. de Eerens pada tgl. 18 April1840, Juga diperingati

  1. De Geus 1917, 171

].C. Goldman, man tan wakil ketua Dewan Hinclia dan pada usia 75 tahun anggota yang tertua di Jawa. Pada tahun 1844 dilangsungkan pesta tiga perempat abad Tarekat Mason Bebas di Hindia, dan untuk peristiwa itu loge-loge di di Semarang dan Surabaya diundang. Verslag der Feestviering (Laporan Perayaan Pesta) telah diterbitkan dalam bentuk brosur, dan memberikan gambaran yang menarik tentang cara pest a itu berlangstmg pad a zaman i tu. Pad a laporan i tu dilampirkan daftar anggota dari tahun 1844 dengan pencantuman jenis-jenis pekerjaan rnereka. Mason bebas pada waktu itu masih tetap pegawai tinggi negeri, ten tara atau bekerja di pengadilan. Seorang dokter, dua apoteker, seorang guru dan seorang pendcta rnelengkapi keanggotaan yang berjurnlah kira-kira 70 orang. Pendetanya adalah Th. Jutting yang rneme- gang jabatan ahli pidato loge tersebut, dan yang profesinya dicantumkan sebagai uguru pada Jemaat Lutheran".

Suah.1 aspek yang menarik adalah usia keanggotaan rata-rata loge itu. Ternyata logenya masih muda: pada tahun jubileum 1844 ada sepuluh anggota yang dilantik1pad a tahLm 1843 tujuh orang, pada tahtm 1842 delapan1pada tahtu1 1841 juga dclapan, pada tahun 1840 em pat. Dapat dipastikan bal1wa lebih dari setengah anggota-anggota masuk ke dalam loge kurang dari lima tahlm yang lalu. Sampai sebagaimana jauh "De Ster in het Oosten" merupakan pe.ngecualian dalam hal ini dan apakah gejala itu berlangsLmg terus pada tahun-tahun setelalmya, harus diteliti lebih lanjut.

Gedung loge yang sejak tahun 1830 sudah digunakan oleh "La Vertueuse" ternyata pada tahun 1855 sudal1 begitu bobrok sehingga diputuskan untuk membongkarnya dan membangun gedung yang baru sebagai gantinya. Untuk pendana- annya, diadakan seruan kepada semua mason bebas di Hindia -pada waktu itu jumlahnya hampir 500 orang -untuk

P ERTAMA: 1764 -K.L. 1870

mengambil bagian dalam peminjaman nang £40.000,- dengan bunga sebesar 4 persen. Pinjaman itu yang terd iri dad obligasi- obligasi sebesar seratus gulden, terkumpul sepenuhnya, sehingga segera setelah gedung Jama dirobohkan, gedung bam pun mulai dibangun. Di bawah pimpinan perwira zeni D. Maarschalk, pekerjaan pembangunan berjalan lancar dan pada tgl. 26 April1858 gedung loge ynng baru dapatdiresmi- kan.

De Geus menyatakan bal1wa loge tersebut setelah tahun 1860 mengalami masa kemerosotan, suatu gejala yang juga dicatat oleh beberapa orang yang hidup zaman itu. Namun dari terbitan H.O. van der Linden pada kesempatan pesta a bad yang diadakan oleh "De Ster in hel Oosten", ternyata ada kekuatan-kekuatan yang sedang bekerja demi perbaikan. A bad yang b aru, demikian Van der Linden dalam pidatonya, memerlukan suatu cara kerja yang sesuai dengan tuntutan zaman dania berharap bahwa melalui pidato pestanya yang direvisi, ia dapat rnemberikan surnbangan terhadap perbaikan 99 kehidupan loge. Setelah suatu ringkasan sejarah sc.ratus tahun pertama, penulis bel'tanya apa yang akan terjadi cti masa depan, dan tugas apa yang dapat dilakukan Tarekat Mason Bebas. Ia mengingatkan bahwa loge itu sudah membentuk banyak dana amal dan lembaga-lembaga, dan bahwa sudal1 banyak sekali upaya dilakukan demi perbaikan masyarakat. Kemudian ia mengisahkan peristiwa-peristiwa yang dialami " Perhimpunan demi Manfaat Umum" di Hlndia dan kecilnya hasil yang telah tercapai. Narnun tidak perlu berkecil hati. Rasa acuh harus dilawan, dan ia mengutip perkataan Wakil Suhu Agung yang bcrbicara sebelumnya di pesta abad itu:

" Berapa juta orang, semuanya saudara kita, anak-anakAl-

  1. Van der Linden 1870

masili diselubungi kegelapan.Jutaan orang, sampai di lingkungan dekat kita, dikuasai ol~h takhyul, prasangka, ketidakpercayaan, ketida kta- huan, kefasikan, dosa! Dan kalau kita renungkan itu, maka pekerjaan kita yang sudah dilakukan selarna seratus tahun yang Jampau kelil1atannya begitu kecil, tetapi bagaimana pun juga dalam ban yak hal telah membawa sedikit kesejahteraan. Tetapi bagaimana dapat kita insafi sepenuhnya betapa besar dan mulia tugas kita, kaum mason bebas1eli wilayal1 ini, bagaimana kita merasakan dalam benak dan hati1bahwa pekerjaan Tarekat Mason Bebas masih jauh dari selesai, dan bukan seperti yang dianggap sementara pihak. Bagaimana sehu"llh diri kita diresapi o1eh tingginya nilai kewajiban kita yang, agar semua kita sesuai kemarnpuannya, ikut bekerja mcnjalankan tugas yang berat ini."

Vander Linden memang berpendapat bahwa de1apan pu-

luh anggota loge i tu, dan kurang dari em pat ratus mason be bas pada saat itu di seluruh Hindia hanya dapat memberikan sumbangsih yang kecil. Namun berupaya itu sendiri juga penting, dan ia mengakhiri kata-katanya dengan suatu seruan:100 ''Mari kita berusaha menemukan cita-cita kita, dan kemudian mengaralu

  1. Loge "Mata Hari" di Padang (1858) Setelah loge "De Vriendschap" didirikan di Surabaya, diperlu- kru1 hampir setengah a bad sebelum ada loge Hindia yang baru.
  2. Idem, 79

SERATUS TAI;UN PERTAMA : 1764 -K.L. 1870

Yang istimewa dari loge di Padang itu ialah bahwa ia merupakan loge pertama yang didirikan di luar Jawa. Namun namanya juga menarik perhatiani setelah em pat loge dengan nama bahasa Pe.rancis dan dua dengan nama Belanda, loge Padang mer:upakan yang pertarna yang diberi nama Indonesia: ''Mata Hari".

Sebc.lumnya telah diberitahu tcntang usaha pada tahun 1772 dan 1794 unhtk mendirikan loge eli Padang. Usaha-usaha itu tidak be.rhasil, mungkin kare.na Padang, yang terletak di pe.sisir barat Sumatra, pada waktu itu tidak mempunyai banyak penduduk orang Belanda. Keadaannya masihsama pada akhir abad ke-19. Se.lama abad ke-19, kota itu berkembang sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan yang penting, dan juga terdapat garnistm serta dewan justisi di l

Dalam mendirikan loge itu, Jacob van Vollenhoven me.- mainkan peranan penting, dan di rumahnyalah delapan orang mason bebas berkumpul pada tgl. 11 Desember 1857 unh1k menelusuri kemungkinan me.ndirikan sebuah loge di kota itu. Para had.irin segera sepakat, dan memilih pengurus sementarar dengan Van Vollenhoven sebagai ketua. Persoalan yang penting adalah di mana loge itu akan berkumpul. Menu-

  1. Geden.kboek M(ltn H(lri 1934, 11

itu "terutama mengingat ketenangan pendudu.k pribumf'. 102 Apa maknanya ucapan ini, tidak lagi dapat diketahui. Bagaimana ptm juga dua orang anggota diminta untu.k memberikan nasibat ten tang persoalan terse but, Rupanya hal itu tidak menimbulkan masalah, sebab hal tidak lagi disebut-sebut. Kemudian badan pengurus rnengajukan permohonan pernberian surat konstitusi kepada Wakil Suhu Agtmg tmtuk Hindia Belanda. Surat permohonan itu ditandatangani selain oleh Van Vollenhoven, juga oleh Coopmans, Daansen, Van Geelen, Ravenswaay, Fleur, Townsend dan Andree Wiltens. Pada tgl. 10 Juli 1858 diberikan keputusan yang positif, namw1 oleh karena perhubtmgan yang buruk pada masa itu, surat konstitusi baru tiba di loge pada tgl. 31 Januari 1859. Biaya yang harus dibayarkan kepada Loge Agtmg di Nederland berjumlah f 100.

luran bulanan ditetapkan sebesar f 3. Tawaran seorang anggota untuk menyediakan sebidang tanah tmtuk pembangunan gedung loge tidak dapat diterima oleh karena tidak adanya dana. Untuk sementara waktu disewa sebuah gedung, yang ditata kembali untuk pemakaian loge dan dilcngkapi dengan hal-hal yang diperlukan, yang didatangkan dari Eropa. Biaya pembelian dibayar melalui pinjaman bebas bunga yang diberil

Tanggall

  1. Idem, 4

T AIIUN PERTAMA: 1764-K.L. 1870

W. Townsend dan F.P.J. Fleur yang khusus ditunjuk untuk itu. Wichers padakesempatan itu diangkat sebagai "Penjabat Wakil Suhu Agung Nasional Tarekat Kaum Mason Bebas untuk bagian Timur dan Barat dari Hindla Belanda". Ten tang keanggotaan loge itu pad a periode pcrtama dapat disampaikan beberapa keterangan sebagai bcrikut. Pertama-tama, agak mahal untuk menjadi anggota loge "Mala Hari". Kalau kita tahu bahwa biaya sewa gedung loge adalah sebesar f 40 sebulan, maka seorang anggota harus membayar hampir f 90 pada waktu masuk sedangkan kenaikan pangkat berharga f 40 dan pengangkatan ke tingkat suhu f 95. Prosedur menjadi anggota be~alan lancar, sebab pada prinsipnya hanya dlbutuhkan em pat belas hari untuk itu. Kenaikan pangkat dan pengangkatan ke tingkat suhu juga berjalan cukup lancar, sebab tingkat suhu dapat diperoleh dua bulan setelah pelantikan sebagai murid. Sebagai akibatnya, caJon mason bebas harus bersiap-siap untuk mengeluarkan biaya f 225 dalam waktu singkat. Kadang terjadi juga bahwa seorang anggota keluar dari loge oleh karena soal keuangan.
103 Hal itu dirnung- kinkan oleh karena pada waktu jtu tidak dianggap rnutlak perlu rnenjadi anggota loge, dan istilah untukitu adalah "mason be bas dalam per an tau an".

Dari loge ''Mata Hari'' pad a peri ode awal dapat diberitahukan bahwa para anggotanya scnang mengadakan pesta-pesta dan perjamuan-perjamuan yang besar. Pelukisan ten tang pesta-pesta St. Jan mengatakan bahwa pesta-pesta itu ''sangat meriah dan ditandai oleh persaudaraan yang sejati". Pad a saat itu djadakan makan malam yang mahal di mana anggur dinti- num dengan bebasnya. Pada pesta tgl. 14 Mei 1859, umpamanya, para hadirin rnenghabiskan 72 botol anggur. Kehadiran

  1. Idem, 10

Padang dan penerangan pesta yang dipasang, membantu memeriahkan suasana. Namun mereka tidak hanya memikirkan kesenangan diri sendiri, sebab me- nunlt notulen selalu disediakan jumlah-jumlah uang yang ban yak untuk apa yang disebut "kas orang miskin". Para anggota menyumbang kepada kas itu melalui penyetoran wajib, urnpamanya didenda karena absen. Juga pad a waktu menjadi anggota, penyetoran kepada kas orang miskin diharuskan.

Loge terse but pada tahlm-tahun pertama selalu berpindah-pindah gedung, sampai pad a tahun 1866 dapat dibeli gedung sendiri di Jalan Balakang Tangsi. Untuk menjadikan gedtmg itu cocok bagi maksud-maksud loge, maka diperlukan renovasi, dan untuk 111embiayainya, anggota Lie Saaij memberikan bantuan. Dia adalah anggota Tionghoa yang pertama diterima dan ia juga bagian dari angkatan pertama yang, pada tahun 1859, diterima sebagai anggota di loge. Sepuluh tahun kemudian ia diikuti oleh Lie Khong Teck. San gat mencolok, bahwa keanggotaan bagi orang Tionghoa dan juga bagi orang Indonesia di "Mata Hari" hampir selalu meiUpakan suatu pengecualian.

Walaupun loge sudah mempunyai gedung sendiri pada tahtm 1866, lmtuk semen tara gedung iht belum dapat digtmakan, sebab disewakan kepada Dewan]ustisi. Namun setelah dua tahun gedtmg itu dikosongkan1dan pekerjaan renovasi pun dapat dimulai dan selesai pada akhir tahun 1868. Sejak saat itu, sampai tahun 1931, ketika gedtmg yang baru dan modem mulaidigtmakan, loge Mata Harirnengadakan pertemuan di situ.

Awal tahun-tahun tujuhpuluhan abad ke-19 merupakan titik terendah bagi kehidupan loge it'lL Bukan saja jumlah anggota tinggal tiga belas orang, disebabkan banyaknya mutasi-mutasi, tetapi be ban keuangan yang dipikulloge oleh karen a

$t:;RATUSTAHUN PERTA.\ilA : 1764- K.L.1870

pembelian gedung baru sangat memberatkan anggota-

anggota yang masih tetsisa. Sehubungan dengan itu, pada tgl. 13 Maret 1873 malahan diusulkan untuk menutup loge tersebut.104 Namun tidak lama setelah itu keadaan membaik, dan pada tahun 1876 jumlah anggota sudah naik menjadi 39 orang. Pada waktu itu mulai juga suatu periode baru dalam sejarah loge dalam hal kegiatannya keluar. Pada tahtm 1876 didirikan Perpustakaan Rakyat, suatu lembaga yang bertahan selama lima puluh tahun. Dua tahun kemudian, atas prakarsa loge itu didirikan "Padangsche Spaarbank" (Bank Tabungan Padang).

  1. Idem, 11
1870- 1890

1. Tahap pendahuluan menuju Hindia Belanda yang mo~ dem.

Tinjauan sejarah

embukaan Terusan Suez pad a tahun 1869 memper-pendek jarak aJltara Eropa dan Asia Tenggara beberapa

P ribu kilometer. Dengan sendirinya akibatnya besar bagi

pelayaran Belanda ke wilayah Timur. Dalam beberapa tahtm tercipta perhubtmgan yang cepat antara Amsterdam dan Rotterdam dengan Batavia. Lagipula pelayaran dengan kapal layar diganti dengan pelayaran kapal api, yang bukan saja menyebabkan tunmnya biaya muatan tetapi juga terciptanya perhubungan yang lebih teratur. Lalu lintas penumpang pun bertambah: dan rute pelayaran yang lebih pendek dan kenyamanan yang lebih besar menyebabkan pelayaran tidak begitu menyusahkan lagi. Ak.Ibatnya bail< terhadap kesediaan untuk menerima pekerjaan eli Hindia Timur yang jauh itu.

]39

T RANSISl KE Z AMAN BARu 1870- 1890

Walaupun tidak ada angka-angka yang pasti, diperkirakan bahwajumlah orang Eropa yangmenetap diJawa pada tahun 1860 sebanyak 44.000 jiwa, dan pada tahtm 1900 mencapai

91.000 jiwa.
1

Berkat pethubtmgan yang Iebih baik, juga lebih banyak ban yak waruta mengadakan petjalanan itu yang menycbabkan terciptan ya keluarga Eropa modern dan terciptanya kehtd up- an sosial yang lebih bernuansa "Eropa". Kebudayaan ''bujang'' sebagai ciri-ciri khas komunitas orang Barat di Hindia yang lama, lambat latm mulai lenyap dengan datangnya wanita-wanita Eropa. Proses terse but berlangsung secara berangsur-angsur. Baru setelal1 tahun 1920 kehidupan di l

Narnun pada tahun-tahun terakhir abad kc-19, komunitas di Hindia tersebut tetap rnemperlihatkan ciri-ciri komunitas pionir kaum lelaki, di mana selir atau nyni mempunyai kedudukan yang tetap. Mengenai aspek ini pengarang Rob Nieuwenhuys telah menerbitkan beberapa publikasi. Bu.ku- buku fotonya seperti Tempo Doeloe dan Konzen en blijven (Datang dan tinggal) telah rncmbcrikan sumbangsih yang besar terhadap penggambaran komLUtitas tersebut.' 2 Para pegawai negeri dan perwi ra yn11g berangkat ke Hindi a Timur pada umumnya berstatus bujangan, sebab kedatangan pasangan yang menikah sangat dibatasi oleh peraturan-peraturan. Hal itu berlaku juga di sektor swasta. Sifat campuran dari komunitas Hindia Timur dengan jelas dapat dilil1at dari foto-foto keluarga dari zarnan itu: orang-orang Indo-Eropa berkulit cokelat sering tampak di dalarnnya.

Tahun-tahun setelah tahun 1870 juga berdampak tethadap

  1. Van Doorn 1985, 140
  2. Nieuwenhuys 1961 dan 1982

Perundang-undangan baru dalam bidang agraria, yang pada tahun-tahun itu diterbitkan setelah pertimbangan panjang lebar, menentukan penghapusan secara berangsur-angsur dari cultuurstelsel tundang-undang pembudidayaan tanaman), dan membuka peluang bagi pengusaha swasta untnk mendirikan perusahaan pertaniannya sendiri. Ada dua cara untuk memperoleh tanah: atau mendapatkan tanah. yang tak dikelola atas dasar erjpacht (sewa tanah, dengan hak yang dapat diwariskan), atau menyewa tanah yang sudah digunakan rakyat. Cara yang kedua ini dilaku.kan dengan jalan perjanjian jangka pendek. Para pengusaha pertanian Belanda yang pada masa itu tampil ke depan dilukiskan secara rinci oleh HeUa Haassc dalam no- velnya Heren vnn de thee (Tuan-tuan perkebunan Teh). Mercka adalah orang-orang tipe patriark, yang dengan kekuatan sendiri membangun perusahaan-perusahaan besar dari bawah, dan memberikan lapangan pekerjaan kepada ribuan orang. Kecuali di Periangan, tern pat pengisal1an novel itu, terdapat juga pengusaha-pengusaha perkebunan seperti itu di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun para pengusaha perkebunan yang mandiri tersebut pada u.mumnya tidak dapat bertahan lama. Keadaan ekonomi kolonia1 yang mengalami ban yak up- nnd-dowll menyebabkan ban yak pengusaha tersebut bangkrut, dan setelah itu suatu lembaga pemberi kredit mengambil alih usahanya. Dalam perjalanan abad ke-20, ekonomi Hindia Timur semakin lama semakin ditandai oleh konsentrasi perusahaan-perusahaan ke dalam konglomerat-konglomerat yang besar. Pengusaha mandiri diganti oleh menejer atau adminisl:mtew~ biasanya dipekerjakan o1eh kantor-kantor pusat di Amsterdam a tau Den Haag. Di Sumatra dan daerah-daerah lainnya, di mana perkembangan ekonomi ban1 dimulai belakangan, type menejer pun langsung muncu1.

TRANS!SI KE ZAMAN BARU 1870-1890

Undang-undang baru, sam a seperti yang lama, dengan tegas menutup kemw1gkinan penjualan tanah-tanah pertanian orang pribumi, sehingga sebagai akibatnya tidak terjadi pemilikan tanah luas di mana pun. Pemerintah daJarn rnasa liberal inipun tetap merupakan faktor penting: Hak guna erfpacht harus diajukan kepada pemerintah, dan sewa tanah rakyat jangka pendek perlu didaftarkan pad a pemerintah setempat. Juga ada batas minimum tmtuk upah peke1ja dan sewa tanah. Pengawasan seperti itu menyebabkan bahwa aparat birokrasi pun bertambah besar. Sejak tahun sembilan puluhan di abad ke- 19, tugas-tugas pemerintah bertambah ban yak, dan perldi abad ke-20. Hindia Belanda tetap rnerupakan negera pegawai negeri. 3

Perkembangan ekonomi pada puluhan tahun terakhir abad ke-19 dimajukan dengan pembangunan jaringan jalan dan rel kereta api, dan dengan modernisasi pelahuhan-pelabuhan. Batavia mendapat hubungan kereta a pi dengan Buitenzorg (Bogor), sedangkan kota pelabuhan Semarang dihubungkan dengan daerah pedalaman Jawa Tengah yang penting. Lebih banyak rei dibangun sehh1gga akhimya Pulau Jawa memperoleh ja1·ingan rel kereta a pi yang luas. Juga di Sumatra, terutarna di daerah Pesisir Timur, dibangun prasarana yang Iuas.

Pelaksanaannya dikerjakan oleh Dinas Pekerjaan Urnurn, yang juga berusaha memperbaiki produktivitas pertanian pangan rnelalui pembangtman jru·ingan irigasi. Biaya besar yang dibutuhkan untuk itu dibebankan kepada anggaran Hindia Belanda, dan merupakan salah satu sebab mengapa pemerintah mengalarni keadaan keuangan yang sulit, terutama pada tahLm delapan puluhan di abad ke-19.

  1. Van Doom 1982, 2

perkembangan masa depan wilayah jajahan itu1 penting untuk melepaskan kebijakan tidak carnpur tangan rerhadap daeruh-dacruh eli lunr Jawa. Pcrhatian yang dipcrli- natkan pihak luar negeri terhadap Hindia Tirnur, dan kel

n.ya, namun menuntut pengakuan atas kekuasaan tertinggi Raja Belanda. Tetapi tidak sernua penguasa bersedia untuk runduk begitu saja. Banyak ekspedisi militer perlu dikirirn pada tahun-tahun ihl untuk rne11undukkan raja-raja yang membangkang.
4

Varian Belanda dari irnperialisme Eropa yang pada waktu itu melanda Afrika dan Asia, terutarna dikaitkan dengan Pe- :ang Aceh. Perang itu pecah pada tahun 1873, dan baru bet-akhir setelah puluhan tahun. Akibat langsung perang itu sangat berat bagi kedua pihak. Wilayahnya sebagian besar hancur, dan di kedua pihak jatuh banyak sekali korban. Bagi Hindia Timur pengiriman dan pemeliharaan suaht tentara ekspedisi yang besar merupakan pengurasan keuangan, sedangkan di kalangan Tentara Hindia Belanda pun banyak yang luka dan tewas. 5 Perang Aceh tidal

Harapan~harapan di bidang keuangan-ekonomi pada tahun 1870, ternyata tidak mernpunyai dasar. Bukan saja terlalu

~. Van Goor 1987, 9-17

5. Van 't Veer 1969

BARU 1870- 1890

sedikit pengusaha yang be rani mengambil risiko, tetap1 juga sui it untuk mendapatkan modal yang cukup. Masalah-masalah lain yang dihadapi adalah munculnya wabah-wabah pad a tanaman-tanaman, dan harga pasar yang tidak stabil.

Bukan hanya di bidang ekonomi, tetapi juga di bidang-bidang lain terdapat suasana pesimis yang diperkuat oleh Perang Aceh dan ekspedisi-ekspedisi yang mahaJ yang sering dikirim ke daerah lain. Dalam keadaan seperti itu, sejak tahun 1875 tidak lagi tercatat saldo menguntungkan seperti pada masa scbelumnya. Satu-sah.mya daerah yang mengalami perkembangan tanpa gangguan terdapat eli luar Jawa. Di Deli, Sumatra, sejak munculnya Nienfwys pada tahun 1863, mulai dihasilkan tembakau yang ternyata sangat menguntungkan. Medan menjadi ibu kota wilayah itu dan dalam sekejap berkembang menjadi kota yang modern. Ketika kemudian wilayah itujuga menghasilkan karet terbentuklah di situ apa yang disebut iklim "Amerika di Timur", yang menjadi model bagi kewiraswastaan Barat yang berhasil. Di daerah lain di Hindia Timur, kelcsuan ekonomi baru diatasi pad a pertengahan tahun sembilanpuluhan abad ke-19. Garis menanjak baru ditembus pada tahun tigapuluhan abad berikutnya. Perang di Aceh yang berlangsung sampai di a bad ke-20 menyebabkan bahwa ten tara kolonial harus terus-menerus ditambah untuk mengisi kekosongan, serta juga diperluas. Dengan demikian unsur militer dalam komunitas I-lindia Timur menjadi penting. Kenyataan bahwa antara 1899 dan 1916 tiga gubemur jenderal mempunyai Jatar belakang militer, menunjukkan bahwa unsur tersebut semakin penting. 6

Ada tulisan-tulisan yangmcnunjukkan bahwa gaya hid up penduduk orang Eropa, yang dalam literatur biasanya hanya

  1. Stapel1941, 115-119

pacta waktu itu sedang mengalami perubahan-perubahan yang besar. TuJisan di bawah ini melukiskan gaya hid up penduduk orang Eropa lapisan atas. 7

Gaya hid up orang-orang Eropa di Hindia Timur berbeda dengan gayn hid up orang-orang Eropa di negeri induk. Mereka tinggal di rumah-rumah yang terbuka dan berventilasi baik, biasanya dibangun berjarak jauh satu sam a lain, dan dilengkapi dengan serambi depan, tengah dan belakang dengan kamar-karnar tidur dan kamar-kamar duduk di sebelah rnenye- belah, dan di pekarangan belakang ada dua baris gedung tarn- bahan yang clihubungkan dengan gedung ind uk oleh suatu gang yang beratap. Gedung-gedung tarnbal1an itu terdiri dari karnar-karnar pernbantu, gudang-gudang, kamar mandi dan kamar kcci.l, mangan kereta dan kandang kuda. Rwnah-rumah yang lebih besar mempunyai dua serarnbi dalam dan serambi belakang, dan kadang-kadang bertingkat namun tipe yang umum adalah seperti yang dilukiskan di sini. Dinding-dinding diplcster putih, baik bagian luar maupun bagian dalam, di bagian bawah biasanya dilengkapi dengan pinggiran hi tam dari ter arang. Lantai-lantai terbuat dari marmcr, dari batu-batu biru a tau merah a tau dari semen portland abu- abu atau berwama, dan biasanya dialas dengan tikar-tikar rotan. Masuknya sinar matahari dicegah dengan tudtmg jendela, terpal a tau krei [ semacam gorden gulung dati bambu, St.] Pekarangan depan, tangga, dan seringjuga serambi depan dihiasi dengan pot-pot bunga berdiri yang besar yang dikapur putih atau merah muda.

Pakaian se.hari-hari kaum lelaki biasanya terdiri dari celana panjang putih dan jas pendek, pada umumnya model Atilla

-Encyclopaedie van Nederlandsch-fndie, Edisi Pertama, Jld.T, 513

THJ\NSISI KE ZAMAN BARU 1870-1890

atau jas hitam kecil (colbert) dari bahan mohair atau lustre, dengan topi helm a tau tudung buatan pribumi; kaurn wanita mernakai sarung kebaya atau pakaian Barat yang umum. Pakaian malarn tidak berbeda dengan yangdi Eropa, di mana jas hi tam panjang memainkan peranan utama. Sebagai tt1tup kepala pada malam hari digunakan topi rendah berwarna hi~ tam. Topi tinggi Eropa di Hindia Timur hanya dipakai oleh pejabat-pejabat tinggi, pegawai-pegawai tinggi, perwira-perwira tinggi, tokoh-tokoh dari d unia niaga. Orang-orang dengan status lebih rendah tidak pernah memakai topi-topi tinggi tersebut.

ini-

Pada umumnya orang-orang Eropa sekarang berbeda
dengan dua ptLluh tahun yang lampau up tenang dan
tcnteram. Di Hindia Timur mereka sangat keras,

-hid beke~a mungkin lebih keras dnripada di negeri induk. Para pegawai negeri sudah berada di belakang meja kerjanya pada pukul delapan pagi dan akan bekerja sampai pukul tiga sore; dan yang ingin maju dengan tekun, rajin dan ulet tidak akan pulang sebelum pukul lima atau enam, dan malahan masih akan beke~a di rumah pad a malam hari. Orang-orang yang beke~a di bidang perdagangan pergi ke kota pukul sembilan pagi, dan tinggal di sana sampai sekitar pukul lima atau enam sore. Di pabrik-pabrik gula dan di onderneming perkebunan orang bckerja terus pada saat-saat sibuk, hampir-hampir tanpa istirahat, dan sering mereka bekerja siang dan mal am. Tidur sore yang tradisional tidaklah begitu umum seperti yang diduga di Eropa.Juga kebiasaan minum sloki dan main karht secara berlebihan, yang dahulu mewpakan kebiasaan kesohor di Hindia, sekarang sudah jarang dilakukan. Mereka hidup secara wajar dan Lenang, bangun pagi-pagi (pukuJ enam) dan pergi lidur bukan larut malam (pukul 11). Kadahg sekali kebiasaan itu terganggu karena pesta atau pcrayaan. Kebersihan badan dcm makana.n Jebih diperhatikan daripada di Eropa: orang Eropa (di Hindia) mandi dua kali sehari, makan sarapan yang berat dengan daging dan telur, pukul salu siang makan "njsttnjel",

'146

tehf dan pada pukul delapan atau sembilan maJam makan hidangan masakan Eropa yang lengkap.

Di samping gambaran itu sebaiknya diberikan garnbaran

tentang kedudukan lapisan bawah masyarakat dari segmen penduduk Eropa yang sama itu. Memang sering diberikan kesan seakan-akan orang Belanda berkulit cokelat itu setara dengan orang kulit putil1, tctapi pelukisan itu tidak benar. Di sam ping sekelompok kecil orang Indo yang secara sosial dapat bersaing dengan orang kulit putih, kelompok yang lebih besar harus hid up secara sederhana.

Dcngan bertarnbahnya Lt.nsur kulit putih atau "totok"f di dalam komunitas Hindia Timur terjadi pernisahan yang makin kuat antara totok dan Indo. Nieuwenhuys memastikan bahwa orang Indo hid up sebagai warga kelas dua dan diabaikan oleh pemerintah Hindia Belanda. 8 Perlu keberanian pada pihak orang Belanda kulit putih untuk melangga.r kode sosial terse but dan langsung berhubtmgan dengan kaum Indo yang miskin dan terhina itu. Nieuwenhuys bukan tanpa alasan menyebut mereka ''golongan paria" yang tidal< diperhatikan oleh siapa pun. Gambaran yang ia berikan tentang mereka adalal1 sebagai berikut:

''Sejarah kaum Indo, apa yang disebut "blasteran Eropa'' seperti yang mereka mula-mula disebut secara resmi, sepanjang abad ke-19 merupakan sejaraJ1 penderitaan. Ditekan secara sadar ke tingkat sosial yang rendah, tanpa peluang mengembangkan diri, dan disebu t oleh orang Eropa sebagai orang-orang yang tidak becus dengan nada yang menyakitkan, maka tidak bisa tidak, golongan ini merasa

  • Nieuwenhuys 1982, 155

T RA...:S!Sl K E Z A.\1A!\i B ARU 1870 - 1890

dirinya sebagai golongan paria yang penuh dengan rasa dendam. Memang ada beberapa bentuk protes secara sporadis, namun pada umumnya ' orang Indo itu berdiam diri, ia pasrah. Kedudukannyasamasaja seperti sebelumnya. Pemerintah tidak berbuatsesuatu apapun.' Dengan perluasan peluang pendidikan pada akhir abad ke-19, memang ada sekelompok kecil yang mengapung ke atas, tetapi keadaan laplsan bawah yang luas itu tetap buruk, bukan hanya sepanjang abad ke-19 melainkan juga sesudahnya.

Sebagian besar golongan Indo-Eropa merupakan kelompok melarat, yaitu sejumlah besar orang-orang penganggm dan tunawisma, yang pergi mengemis, yang menyelundup opium, atau membentuk gerombolan yang pergi mencuri di kruTtpw1g-ka111puug, rnerampok orang, dan memaki orang Eropa. Keadaan sulit di kalangan orang Indo sudah menjadi sang at parah pada tahun-tahun krisis 80-an dan 90- an a bad ke-19. Pemuda dan pemudi Indo pergi bekerja pada keluarga Eropa sebagai pembantu rumah tangga, jongos dan babu, dengan upah yang kecil Gadis-gadis harus secepab1ya dinikahkan pada usia tiga be las a tau empat belas tahun ( ... ) Para pemuda kalau beruntung dapat menjadi juru tulis a tau tenaga adrninistrasi ( ... ) Keberadaan sebagai juru tulis itu telah mempengaruhi hidup kami: karni penurut dan suka mengalah. ''

Pengarang :ini selanjutnya rnenulis bahwa peluang rnereka

eli pasar tenaga kerja hanya kecil sebab kurang rnenguasai bahasa Belanda, suatu bahasa yang tidak mereka pahami dengan baik, sebab ibu mereka memakai salah satu bahasa daerah atau bahasa Melayu yang sederhana. Dari suatu penelitian yang diadakan oleh Perhimpunan Guru-guru Hindi a Belanda, temyata bahwa dari semua anak Eropa yang masuk sekolah dasar, 41 persen sama sekali tidak tahu bahasa Belanda, dan 29 prosen hanya mengetahuinya sedikit. Angka-angka itu mencerminkan suatu situasi tanpa harapan yang rupanya sulit sekali diubah. Seluruh harapan ditujukan pada perbaikan mengusasai bahasa Belanda. Perluasan pendidikan,

tersebut, kelihatannya rnerupakan jawaban yang terbaik.

  1. Pertumbuhan Persaudaraan Mason Be bas (Vrijm etselarij) yang dipercepat Oleh karena peralihan ke produksi yang berorientasi kepada ondememing ternyata tidak berjalan secepat dari yang diharapkan semula, banjir orang baru dari Nederland, yang juga disebut "perluasan tmsuJ Eropa", masih bel urn terwujud. Penge- rualian merupakan Jawa Tengah, di mana sejak awal a bad para raja yangsemi-merdeka telal1 memberikan hak-hak gun a usaha di bidang pertanian dan di mana telah tercipta suatu sektor ekspor yang luas yang dipimpin orang Eropa. Sebagai akibatnya, jumlah orang Eropa di daerah itu secara relatif cukup ban yak. Pendirian loge " Mataram" di Yogya pada tahun 1870, loge " Princes Frederik der Nederlanden" di Rem bang pad a tahun 1871 dan "L'Union Fr<:!deric Royal" di Surakarta setahunkemu- dian, tidak terlepas dari kehadiran sejumlah besar pengusaha di bidang pertanian. Baru dcngan perluasan kegiatan ekonorni dan militerpada tahun-tahun delapan puluhan dan sernbilan puluhan, terjadilah pertumbuhan pesat penduduk Eropa di tempat-tempat lain, dan dengan demikian peluang meningkatkan jumlah anggota Persaudaraan Tarekat. Bahwa hal itu mernang terjadi, tercermin dari pendirian loge-loge "Prins Frederik" di Kota Raja, dl Aceh pada tahtm 1880. "Veritas'' eli Probolinggo, dan "Arbeld Adelt'' di Makassar, kedua-d uanya pada tahun 1892, dan "Deli" diMedan pada tahun 1888. Peristiwa berdirinya loge-loge tersebut pada tahun-tahun antara 1870 dan 1890 sebagai penambahan atas empat loge sebelumnya, berdasarkan berita-berita dalam Gedenkboek (Buku Peringatan) tahun 1917 dan terbitan Lowensteijn, akan disampaikan di bawal1 ini tanpa penyebutan sumber.

ThANStSt Kr ZAMAN BARu 1870- 1890

Mulai dengan yang tertua, nama "Mataram" diambil daTi nama kerajaan yang sampai tahun 1755 meliputi sebagian besar Pulau Jawa, dan kemudian oleh pemerintah Belanda dipecah menjadi kesultanan Yogya dan Surakarta. Pemilihan nama itu menunjukkan bahwa para mason bebas di Yogya sadar akan masa lampau Jawa yang besar. Setahun setelah peresmian loge itu, pada tahun 1871 Pangeran Aria Soerjodilogo (1835-1900), keturunan dari sultan-sultan Mataram, mast:tk menjadi anggota loge tersebut suatu tindakan yang untuk kedudukan loge itu khususnya dan Persaudaraan Mason Bebas di Hindia pada umumnya, mempunyai arli yang san gat penting. Pada tahun 1878 sebagai Paku Alam V, ia menjadi kepala dari keluarga raja yang memerintah atas salah satu Vorstenland (N egeri Sultan) di Jawa.

Di antara para pengambil prakarsa adaseorangTionghoa, Lie Thiam l(jem, sedangkan pad a tahun 1871 seorang Tionghoa lainnya, Ko HoSing (1825-1900) diterima sebagaianggota. Ko rupanya seorang yang modem, ia orang Tionghoa pertama yang mengirim anak-anak lelakinya ke Europese lagere school (sekoJah dasar dengan medium bahasa Be Ianda).

Hubungan-hubungan di Yogya rupanya berbeda sekah dengan yang terdapat di kota seperti Batavia, di mana unsur Eropa yang dominan. Yogya, eli sam ping menjadi kedudukan kesultanan Paku Alam, terutama merupakan tempat tinggal keturunan Sultan Hamengku Buwono. Lagipu la kota itu merupakan pusat kebudayaan jawa.

Pada akhir a bad ke-19 di kota itu be1mukim kira-kira dua ribu orang Eropa, tetapi loge rnernperoleh a:nggota-anggotanya juga dari para pengusaha pertan.ian yang ti.nggal di tempat lain. Suatu ciri -ciri khas loge "Mataram" adalah bahwa di dalamnya diternukan ban yak nama-nama Hindia kuno, seperti Weijnschenk, Raaff, Soesman, dan Monod de Froideville.

a, yang pada awal abad te1ah menyewa pertanahan luas dan telah mengalami sukses di da1am mengembangkannya. Menarik ialah bahwa gedung yang dipakai loge nntuk pertemuan-pertemuan disewa dari sultan Yogya. Juga hal itu dapat dianggap ~cbagai tanda bahwa antara loge dan para sultan terdapat hubungan yang khusus.

''Mataram" segera mengambil inisiatif untuk mendirikan beberapa lembaga pelayanan masyarakat sepcrti Perpustakaan Rakyat pada tahun 1878, yang ditcmpatkan di salah satu ruangan gedung loge. Beberapa tahun kemudian didirikan sekolah gerak badan, yang hanya singkat hidupnya. Juga di bidang pendidikan, loge telah menjalankan berbagai upaya, sebab di bawah pimpinam1ya pada tahun 1885 didirikan "sekolal1-sckolah Frobel Yogya", sedangkan pada tahtm 1887 dibuka suatu kursus ilmu perniagaan dan suatu "kursus pendidikan Ianjutan W1tlLk pemudi-pemud i". Juga dibentuk suatu dana untuk pakaian sckolah.

Tentang loge "Prins Frederik der Nederlanden'' yang didirikan pada tanggal 12 April1871, tidal< banyak diketahui. Setelah tiga betas orang mason bebas mengajukan surat perrnohonan untuk mendirikan loge tersebut di Rembang, yang terletak di pesisir utara Jawa, dan peresmian dilakukan, tidak ban yak lagi yang terdengar. Rupanya kegiatan-kegiatan dihentikan tidak lama sesudah itu.

Nasib lebih baik dialami loge ''L'Union Frederic Royal" vang didiril

Tr~ANsrsT KE ZA.'viA:-1 BARU 1870- 1890

Batavia. Namun tidak ada tanda-tanda bahwa ada hubungan antara para mason bebas dengan Susuhunan, penguasa kesul tan an itu. Loge tersebut lama sekali dipimpin oleh }hr.

W.W. van Nispen, yang juga ketua dari "Perkumpulan Penye- wa Tanah Solo". Para anggota mula-mula berkumpul di sebuah hotel, dan kemud ian di sebuah rumah tinggal yang d ise- diakan untuk maksud tersebut. Pada tallUn 1884 loge dapat berpindah ke gedungnya sendiri. Perkembangan buruk dalam bidang ekspor produk pertanian mempunyai dampak terhadap loge itu, pada tahun 1879 hampir-hampir saja kegiatan loge harus dihentikan, sedangkan krisis pada tahun 1884 benar-benar merupakan pukulan berat bagi loge tersebut. Dalam periode ini juga di sini telah didirikan beberapa !em- bag a masonik, antara lain "Verzorgingsgesticht", kemudian disebut "Asrama untuk anak-anak lelaki dan perempuan". Hubungan antara loge dengan ondcmeming-onderneming pertanian di daerah itu dinyatakan dengan pembentukan suatu lembaga yang tugasnya adalah pemondokan anak-anak pegawai onderneming yang hendak sekolah di Solo. Loge tersebut mengelola asrama yang dibuka pada tahun 1881.
11 Suatu badan kedua yang didirikan loge adalah 0e Solosche Frobelschool'' yang mulai beroperasi pada tahun 1887.

Loge terakhir yang didirikan sebelum tahun 1890 di jawa adalah "Veritas" di Probolinggo, Jawa Timur. Mendahului pendiriannya, dibentuk sebuah perkumpulan masonik dengan nama "Trouw moet Blijken (Kesetiaan harus Dibuktikan)". Peresmian loge tersebut diadakan pad a tanggal 9 Desember 1882. Jumlah anggota di loge itu se1alu terbatas, walaupun dimulai dengan empat belas orang anggota yang dianggap awal yang wajar. Masalahnya adalah jarak jauh antara tempat tinggal para anggota dengan loge itu. Pada tahun 1885 loge dapat menempati gedungnya sendiri. Juga

clidirikan sejumfah badan masonik, seperti sebuah sekolah Frobel, sebuah Perpustakaan Rakyat, dan Dana Pakaian Sekolah. Di sam ping itu didirikan sebuah Bank Tabungan, suntu kursus memegang buku, sebuah dana penclidikan dan sebuah dana tunjangan bagi jcmda dan yatim dari para mason bebas dan orang lain yar1g meninggal dunia. Dana tunjangan itu tidak bertal1an lama.

Dengan loge "Prins Frederik" yang diresmikan Lmtuk sementara pada tanggal 11 Januari 1880, kita memasuki wilayah eli luar Jawa, yakni Sumatra Utara. Sudah sejak tahun 1877 di ibu kota, Kota Raja, oleh sekitar dua puluh mason bebas didirikan perkumpulan "Na Duisternis Licht (Setclah Kegelapan Terang)", yang kemudian dibcri nama baru "Prins Alexander". Perkumpulan iht tidak lama sctclahnya sudah memiliki gedtmgnya sendiri, berkat perantarnan Gubernur Aceh, juga seorang mason bebas, jenderal Karel van der Heyden. Waktu iht sedang berkecamuk Perang Aceh yang menjelaskan kehacliran begitu ban yak tentara.

Bahwa loge tersebut mernenuhi suatu kebuluhan, dapal dili11at dad jumlah anggota yang besar yang sudah tercapai pada tahtm 1880: kira-kira enam puluh orang, sebagian besar dati kalangan perwira militer. Konsekuensinya dapat dilihat pada tahun 1878, kctika suah1 rapat dari apa yang wal'tu itu masih merupakan perkumpulan masonik, hams ditangguh- kan uleh karena sebagian besar anggota sedang iku t serta Jalam suatu ekspedisimiliter. Olehkarena tidal< ada inti tetap dari anggota-angguta yang mcnetap di sana, tidaklah mudah untuk mengisi semua jabatan pengurus. Lagipula keanggotaannya turun naik dengan tajam oleh karena mutasi-mutasi ~rang ~cring tcrjadi.

Loge tersebut mcndapat pengakuan pada tahtm 1888 sebagai badan hukum. Dalam anggaran dasamya clicanhllllkan se-

l53

ZA\fA.'J BARU 1870- 1890

bagai tujuan: "mengembangkan pcrudaban moral dan intclek- tual dan memajukan perbuatan amal di Aceh Besar". Untuk tujuan kedua itu, didirikan "Kosthuis-cn Schoolkleerenfonds (Dana Rumah Kos dan Pakaian Sekolah)". Tugas pertama adalah pemberian bantuan kepada "banyak sekali anal< dari Tentara orang Eropa dan Ambon (yang) berjalan tanpa busana". Ketika ternyata bahwa seju mlah besar anak, yang tinggal eli pos-pos militer eli pedalamrm, sama sekali tidak menerima pendidikan apa pun, da1arn kerja sama dengan pihak-pihak bukan mason be bas clibangun sebuah rumah kos di Kota RaJa, di mana sejumlah dari mereka diw·us. Dengan cara itu terbuka kern Lmg- kinan unhtkmengambil bagian dalam pendidikansetcmpat.

O lch karena sejurnlah anggota sering absen, setelah tahun 1884-sua tu mas a peningkatan kegia tan militer-loge mengalami kesulitan. Sekitar tahun 1890 jumlah mason bebas tingkat suhll yang hadir di loge begitu sedikit sehingga tidak dapat diterima anggota baru atas alasan formal. Keadaan itu berlangstmg tents beberapa waktu lamanya, sehingga keberlangsungan loge Hu dikhawatirkan.

Juga di pulau Sulawesi pada waktu itu ada sebuah loge, yakni eli Makassar, di mana pada tanggal 24 J uni tahun 1882 Wakil Suhu Agung dan anggota Rand vnn /1/(fie (Dewan Hindia), Mr. T.H. DerKinderen, melantikbadan pengtlruslogc "Arbeit Adelt (Pekerjaan Meluhurkan)". Mula-mula logenya kecil saja, dan sering diganggu oleh mutasi-mutasi. Sarna seperti d i Aceh, kegiatan loge dimajukan karena adanyn seorang pcngurus mason bebas dengan kedudukan tinggi di masyarakat. Dia adalah S.C. Tromp, Gubernu r SLtlawesi. Tidak lama kemudic-m ia diberikan jabatan wakil dari Wakil Suhu Agung, suatu pengangkatan yang mungkin disebabkan komunikasi yang sukar dengan ibu kota.

l54

"Arbeit Adelt'' telah bcrusaha demi kemajuan pendiclikan setempat, dan pad a bulan September 1882loge mengambil keputusan untuk mendirikan sekolah dasar dengan tambahan sekolah gam bar. Sekolah yang dikelola loge tersebut Jimulai dengan dua puluh orang murid. SekolahHu bertujuan mendidik mereka untuk pekerjaan adminish·atif dan teknis. Di sini juga dibangtm sebuah sckolah Frobel Warga kota Ma- ~assar dilibatkan dalam pcrsiapannya, dan karena itu dapat uga dikumpulkan uang yang diperlukan. Setelah tahun pela- aran dimulai padn tnhun1888, sekolah itu memulaikan suatu dana pakaian sekolah. Maksudnya ialah agar anak-anak dari

K.alangan yang kurang berada dapat datang ke sekolah dengnn pakaian yang bail<. Suatu tujuan sampingan adalah agar anak- ,mak itu dapat mengikuti pelajaran dengan pakaian kering pada musim hujan.
9 Dua kali setahun diadakan pembagian. Ketika dana itu setelah beberapa tahun telah membuktikan kesanggupannya Lmtuk hidup terus, diputuskan untuk me- nyerahkcumya kepada pihak lain. Dengan komunHas di Ma- assar pada umumnya dipelihara hubungan yang baik. Kctika perpustakaan rakyat setempat yang diurus Gereja Protestan rerancam tutup, diadakan seruan kepada loge untuk mengam- oilalihnya. "Arbeid Adelt'' menyanggupinya dan menyedia~ :an nmngan dalam gedtmg loge untuk perpustakaan itu.

Loge terakhir yang akan ditinjau di sini iaJah loge "Deli", di Medan di Pesisir Timur Sumatra. Loge itu diresmikan pad a rnnggal 20 Oktober tahun 1888, setelah permohonan akan konstitusi yang sah ditandatangani pada tanggal 20 Maret rahun 1887. Kontak pertama di antara kaum mason bebas di ~ ledan dilakukan dengan cara yang kurang ortodoks, yaitu dengan suatu iklan di Deli Cournnt.

"' Gedenkboek 19]7, 341

TRA~SISl K E ZAMAN BARU 1870- 1890

Loge tersebut melakukan start yang menarik dengan menolak seora11g cal on ketunman Tionghoa. Hal itu dilakukan atas dasar pertirnbangan bahwa orang Tionghoa tidak meme- nulu syarat menjadi anggotaTarekat, oleh karena "pendidikan merekahams dianggap terlalurendah tmtuk dapM mcnjalankan pekerjaan-pekerjaan". 10 Kalan mula-mula loge menyewa gedtmg, milik orang'l'ionghoa Lim Tek Swie, maka pad a tahun 1892loge berhasil membeli gedtmg di Jalan Serdcmg. Kegiatan lain tahun itu adalah surnbangan keuangan untuk pendirian "Deli Spaarbank (Bank Tabungan Deli)". Dalam bad an pen gurus "Ondersteuningsfonds (Dana Tunjangan)" yang baru cliben- tuk di Medan, terdapat beberapa anggota loge. Upaya w1tttk mendhikan sebuah sekolah Frobel di Medan mula-mula tidak mencapai basil. Masalah-masalah keuangan merupakan rintangan, sehingga juga rencana-rencana lain tidak dapat cli-wujudkan. Namun loge tidak kekurangan anggota baru, walaupLm padamulanya dikeluhl

  1. Kegiatan-kegiatan paling dini demi kepen tingan ma- sy arakat Perbuatan amal, yang sejak dahulu kala mempakan sifat baik rnasonik, pada beberapa puluh tahun te.rakhir abad ke-19 berubah bentuknyu menjadi bantuan kernanusiaan. Bukan hanya pembagian sedckah ya ng merupakan kewajiban kaum mason bebas, namun juga diusahal< an un tuk mengambil langkah-langkah agar "para penerima'' climandirikan Lmtuk memperbaiki nasibnya.
  2. Gedenkboek 1917, 345
  3. Gedenkboek 1917,349

ba- dan pelayanan masyarakat tidak untuk suatu organisasi di Hindia, melainkan unhtk Instituul' voor 011denvijs nnn D01..1en r?ll Blinden (lnstitut Pendidikan untul< Orang Tuli dan Buta) yangdidirikan pada lahtm 1843 olehkaum mas011 bebasAms- terdarn. Suatu hibah dari loge "De Ster in het Oosten" pada tahtm1848 telah membantu tmtuk mendidik orang buta dewasa sehingga dapat melakukan pekerjaan yang berfaedah. 12

Sumbangan-sumbanga11 yang diberikan oleh loge-loge untuk pembinaan dan pengembangan lapisan-lapisan luas penduduk Indo-Eropa akan dibahas mengenai tiga bidang, yaitu sumbangan untuk perpustakaan, pendidikan dan pernberian pinjaman. Hal terakhir menyangkut pinjaman sementara kepada orang-orang yang mengalami kesulitan keuangan untuk semen tara waktu sehingga ada bahaya jatuh ke dalam tangan rentenir.

Kegiatan-kegiatan pertama di bidang pencerdasan penduduk bermuara pada pendirian perpustakaan-perpustakaan. Loge-loge itu rupanya menganggap suatu kehormatan unhlk membangun dan mengelola perpustakaan-perpustakaan demi kepentingan korntmitas setempat. Prakarsanya diambiJ pada tahun 1864. oleh loge Batavia, yang menyediakan ruangan yang diperlukan di dalam gedungnya. Buku-buku diperoleh melalui hibah dan pembelian. Pada tahun 1879 perpustakaan itu memiliki hampir tiga ribu judul. Pembaca-pcmbaca terutama terdieri dari ten tara garnisun. Di Semarang pada tahun 1875 clidirikan sebuah perpustakaan rakyat yang memakai nama yang cocok "De Verlichting (Pencerahan)''. Perpustakaan itu terutama dimaksudkan bagi orang-orang Eropa yang "karen a kurang pendapatan" dan tinggal terisolasi

12. De Visser Smits dan Vermaa t 1931, 186

Tt(A\:Slst K E z.~\P.:>.: BARlJ 1870- 1S9u

di pedal a man, tidak sanggup memperoleh literatur yang baik. Dengan menyediakan buku-buku secara cuma-cuma, para pemprakarsa ingin mencegah bah·wa mereka "menjadi tum- pul secara rohani". Logt! di Padang menyusul dcngan mendirikan perpustakaan yangserupa pada tahun 1877. Kemudian sejumlah lain menyusul, sehingga akhimya di sebagian besar kota di ]awa ada pcrpustakaan rakyat yang dikclola loge-loge

Salah satu bidang penting kegiatan masonik adalah pendidikan Frobel, yang scbclumnya tclah disinggung beberapa kali. Urusan dengan pcndidikan Frobel melangkah bcgitu jauh sehingga pada tahun 1879 di Batavin c.lidirikan :>uah.t "Vcrccni- ging tot Voorbereidend Ondcrricht in Ncdcrlandsch Jndic (PerkumpuJan untuk J>engajaran Persiapan di Hindia Belanda)", di mana WakiJ Suhu Agung Mr. T.H. Der Kindcren menjadi salah scorang pcngambil prakarsa. Tujuan perkumpulan itu adalah Lmluk tcrutama menolong anak-anak Indo-Eropa, yang menurut sualu sural edaran yang bcrnsal dari tahun pendirian tersebut "biasnnya ~ama !:>Ckali tidak mcndapal pendidikan di rumah, dan tidak ada pcluang mengembangkan diri pad a tahun-tahun dini anak-anak". 13

Yang menarik ialah bahwa jnsa loge-loge tersebut diakui juga oleh pihak-pihak bukan mason bebas.•~ Sctelah suatu usaha pertama di Batavia pada tahun 1850 gaga!, maka prakarsa loge " La Constante et Fidele" di Semarang berhasil. Sampai tahun 1890 sembilan sckolah seperti itu didirikcm oleh loge-loge. Pad a tahun 1867 loge Serna rang mcndirikan sebuah "Burgerschoo/ (sckolah umum)", suntu sckolah untuk pendidikan dasar dan lanjutan. Maksudnya ialah untuk memulai suatu bentuk pendidikan lanjutan sambil mcnunggu dibuka-

  1. Gedenkboek 1917,379
  2. Encyclopaedic van Nederlands-lndie. Edisi pt? rtama, Jld UJ, 79

oleh pemer.intah. Narnun sekolah itu tidal< hidup lama. Walauptm Suhu Agung diNe- derland, yakni Pangeran Frederik der Nederlanden membantu dengan hibah yang besar, sekolah ih.l sudah hams clih.1tup ::;etelah beberapa tahtm. Di samping itu loge "La Constante et Fidele" masih mencoba mendirikan suatu sekolah tmht.k gadis-gadis (meisjesschool). Untuk maksud tersebut loge itu menyediakan dana, serta memberi jarrdnan keuangan untuk tahun-tahun pertama. Namtm tidak ada laporan di mana pun, bahwa pencliTian sekolah itu benar-be.nar clilakukan. Yang berhasil adalah kegiatan-kegiatan untuk mendorong pemerintah membuka sebuah Hogere Burgerschool (HBS) negeri di Sernarang. Dalam hal ini terutama ketua loge, C.E. van Kesteren teJal1 banyal< bcrusaha. Pada tahtm 1876 sekolal1 I-IDS itu dibuka, suatu badan yang mempunyai makna besar bagi penduduk orang Eropa di SemarangY Juga eli Semarang, sebuah sekolah penjahit (nanischool) dibuka di mana gadis-gaclis dapat bela jar un tuk menjadi penjallit pakaia.n. Maksudnya ialah agar mereka eli kemudian hari dapat mempunyai sumber penghasilan sendiri.

Di Batavia pada tahtm 1865 loge mendirikan sebuah sekolah pertukangan (ambachtssclwol). Sekolah itu mula-mula mendidik kader teknis tmtuk pabrik-pabrik gula, namu.n di kemudian hari jumlah mata pelajarannya diperluas. Setelah beberapa tahun, sekolall itu diserahkan kepada pemerintah, dan diberi nama "Kon.ingin Will1elmina School". Hal yang sama terjadi di Stuabaya, di mana pada tahun 1883 dibuka sekolah yang sempa. Setelah diserahkan kepada pemerintah, kurikulumnya diperluas, dan sekolah itu di.narnakan ''Koningin Emma School." Pendidikan kejuruan dibuka juga di

  1. Gedenkboek 1917, 244-251

TRANSIST KE ZA~A:\' BARL 1870-1890

Yogya, di mana pada tahun 1887 dimulai suatu kursus niaga, yang dimaksudkan untuk memberi penclidikan nntuk tugas-tugas administratif.

Suatu bidang lain di mana anggota-anggota Persaudaraan Tare kat berusaha menerapkan asas-asas Persaudaraan Mason Bebas adalah dalam hal pembetian pinjaman kepada orang-orang yang mengalami kesulitan keuangan. Tahun-tahun delapanpuluhan di Hindia benar-benar merupakan masa malaise, di mana banyak perusahaan bangkrut, dan pemerintah rnelakukan penghematan pengeluaran. Juga secara perorangan, banyak orang mengalami masalah keuangan, dan bagi merekalah ''bank-bank pembantu" dimaksudkan. Jugn ada bank-bank untuk para penabung kecil yang didirikan oleh "Maatschappij tot Nut van 't Algemeen (Pcrkumpulan demi Faedah Umum)", suatu perkumpulan yang juga diclirikan berkat usaha para mason bebas. Yang tertua adalah bank tabungan Nuts di Surabaya yang berasal d a ri tah un 1833 dan waktu i tu didirikan juga oleh karen a kaum mason bebas ikut mcngusahakannya. Loge Surabaya "De Vriendschap" menycdiakan ruangan untuk itu. Di Semarang diditil

"Bank-bank pembantu" tcrsebut merupakan lembaga-lembaga kredit, yang bergerak di bidang pernberian pinjaman jangka pendck kepada pcrorangan. Juga di sini loge "De Vriendschap" mengambil p rakarsa dengan mendirikan "Soerabaiasche Hulpbank" pada tahun 1884. Dua tahun kemudian loge "De Ster in het Oosten" mernbuka "Batavias- che Hulpbank", yang modalnya telah dikumpulkan oleh anggota-anggota loge. Peraturan-peraturannya mencgaskan bahwa ada hubw1gan dekat antara bank pembantu dan loge.

l60

"agar orang-orang, yang mengalami kesulitan keuangan dan pantas dibet.i bantuan, dijauhkan dari tangan para rentenir." Bagaimana caranya, dapat dilukiskan dengan suatu kasus yang menyangkut seorang klien wanita yang harus membayar kepada seorang Tionghoa bunga sebesar f 187 setahun untuk pinjaman sebcsar f 100, namtul memperoleh syarat yang jauh lebih lunak ketika ia mohon pinja.man dari bank, dan hanya membayar bunga 1& dan biaya setahun selurui1J1ya sebesar f 7.

"Padangsche Hulpbank'' juga berasal dari tal1un 1887 dan bank itu pun din1aksudkan bagi orang-orang yang untuk sementara sedang mengalami kesulitan keuangan. Dcngan rasa puas telah dapat dipastikan setelah beberapa tahun, 17 bahwa bank pembantu tersebutrnemenuhi suatu kebutuhan. Banyak orang kecil yang kalau tidak ditolong akan jaht.h. ke tangan para rentenir, telah diberi bantuan olch hulpbnnk. Uang yang c:lip:i.njamkan d:i.kembal:i.kan secara cukup teratur, dan hanya sed:i.kit sekali piutang yang perlu diputihkan.

  1. A.S. Carpen tier Alting sebagai mata rantai penghubung dengan zaman baru Pertambahan jumlah loge pada masa ih1 dan kegiatannya ke1uar, menunjukkan pesatnya pertumbuhan Tarekat Mason Bebas waktu. Walaupw1 begiht., beberapa orang masih belum puas dengan hasil yang dicapai. Di dalam ti:njauan kembali ke m asa tal1un sembilan puluhan, J.H.Carpentier Alting, yang kemudian menjadi Suhu Agung Persaudaraan Tarekat diNe- derland, mengemukakanJ "Sesuah1 yang kita mil:i.ki sckarang, wakh1 ih1 tidak ada, yaitu hidup yang ceria, kesadaran akan
  2. Tdem, 247
  3. Tdem, 291

Tf

kebersamaan, terutama kesadaran bahwa di Hindia perlu ctipenuhi suatu panggilan yang besar." Dalam penilaiannya yang krltis terhadap peri ode itu, ia mencapai kesirnpulan sebagai berikut: ltl

"Mereka menjalani jalan-jalan yang sudah begitu lama dijalani, tnnpa bnnyak semangat, tanpa diresapi pengertian tentang apa yang dapAt dan harus dilakukan Tarekat Mason Bebas. Pekerjaan para mason bebas di dalam gedung loge-loge -lanpa menyinggung pekerjaan rih1al -terdin dari pembicaraan soal-soal rumah tangga saja, scdangkan pekerja

Pada masa pertumbuhan ke hubungan-hubLmga11 bant, Ds. A.S. Carpentier Alting, yakni ayahJ.H. Carpentier Alting/ telnh memainkan pcranan yang sangat penting. Dalam bab berikut akan dibahas kariemya di Hindia di kemudian hari. Di sin I hanya akan diberikan tinjauan dari periodc pertama.

Albertus Samuel, laJ1ir pada tahun 1837, dan memulai pendidikan teologianya pada tahun 1856 di Leiden. Di antara tahtm 1862 dan 1865, yaitu tahunkeberangkatannya ke Hindia Timur, ia an tara lain bekerja di Dokkum dan Hoorn sebagai pendeta Gereja Hervormd. Di Dokkum ia menjadi salah seorang pendiri loge "Excelsior", sedangkru1 di Hoorn ia men- 11 jadi anggota loge ''West-Friesland'.!>1 Pada waktu itu Carpentier Alti.ngjuga menjadi redaktur majalahMn~onniek Weekblad (Mingguru1 Masonik). PengaJaman yang diperolehnya waktu itu sangat berfaedah ketika ru H.india ia mendirikan Indisch Ma~onniek Tijdschrijt (Majalah Masonik Hindia). Pada tahun 1884 diterbitkan karyanya Woordenboek voor Vrijmetse-

  1. Idem, 460
  2. Lowensteijn 1961, 85 dan 73

(Kamus untuk Kaum Mason Be bas) yang menjadi sebuah karya referensi masonik yang sering cligunakan. Lalu ia berangkat ke I Iindia pad a usia 48 tahun. Tidak ban yak diketal1ui ten tang motifnya untuk pergi ke Hindia. Diperkirakan bahwa ketegangan di bidang keagamaan telah memainkan peranan dalam hal ini. Carpentier Alting rupanya telah menyerempet pendapat ortodoks yang berlaku kuat di Gerejanya. Sebagai pendiri cabang Hindia dari Nederlnrtdse Prolestnntenbond (Pcrserikatan Protcstan Nederland), ia menjadi pelopor aliran pemikiran yang tidak terikat ajaran gcreja. Di samping itu mungkin ia juga tergcrak oleh kenyataan bahwa dt Hindia banyak pekerjaan penting dapat dikerjakan.

Daerah pelayanan pertama bag1 Carpentier Alting adalah Kota Padan~ eli pantaj barat Sumatra, di mana ia segera masuk menjadi anggota dari loge seternpat, '1vlata Hari". Selama lima tahun ia tinggal di Padang, ia menjadi pembicara dan Ketua loge tersebut, dania ikut berperan di dalam mcndirikan dua badan masonik. Yang pertama mcnunjukkan kepedulian terhadap para yatim piatu di Padang dan diberi nama " Perkumpulan Pengurusan Yatim Piah1". Yang kedua adalah sekolah Frobel ru Padang yang clibuka pada tahun 1889. Sekolah itu pada tahap awal selunthnya dibiayai kaum mason bebas, sedangkan loge "Mata Hari" menyediakan ruangan yang dibutuhkan. Namun kegiatannya di Padang berakhh pada tahun 1890, oleh karena ia dipindahkan ke Buitenzorg (Bogor) di Jawa.

Di Buitenzorg pada tahun 1890 belum ada loge, yang ada adalah suatu perkumpulan masonik yang bernama "13ogor". Yang menjadi anggota perkumpulan itu a.l. Dr. Melchior freub, direktur Kebun Raya, dan pangeran Afrika Aquasie Boachi (a tau A. Quasi! Biad1i). Pada tahun 1891 perkumpulan itu diubah mcnjadi suaht loge, dengan nama "Excelsior".

KE Z A:\IA \: BARL' 1870 - 1890

Carpentier Alting merupakan salah satu pendirinya, dan nama iht sama dcngan loge yang di Dokkum, yang juga ikut didirikan olehnya. Perkumpulan "Bogor" dikunjLmginya pertama kali pada bulan Juli 1890, dan semangat yang dibangkitkan melalui kepemimpinannya, segera menarik perhatian.:!O

Juga di Buitenzorg Carpentier Alti.ng mengarnbil banyf1k prakarsa. Talllm itu juga c!iperolch koleksi buku lengkap sehingga dapat scgera didirikan scbuah perpustakaan rakyat. Atas usulnya juga segera dibentul< sebuah dana pakaian. Ia sendiri ikut mengambil bagian secara pribadi Ji dalarn membagi-bagi paknian. Pengurus "Bogor'' kemudian berhasil membeli sebidang tan a h .. dan $eOrang anggota perkumpulan kemudian merancang sebuah gedung. Pcrsiapannya dilakukan dengan cepat, sehingga pernbanguniln gedung ituptm selesai pada bllian April1891, dan peresmian gedung segera dapat dilakukan. Pada kesempatan itu Carpentier Alting memberikan pidato yang san gat berkcsan. Laporan berkata: 21

"Su hu kami yang terhormat mengejutkan kami dengan sebunh karya bangw1an ycmg bcgituindah dan disampaikan dengan begitu bersemt~ngal sehingga ban yak Saud a ra, ycmg sudah lama menjad i anggota Tarekat kita, harus mengakui belum pernah mengalami hal seperti itu sebclurnnya. Banyak di antara anggota terbuka matanya malam itu, seakan-akan pertama kCllinya m ereka melihat terang, dan banyak dari kami baru menyadari saat itu betapa besar kerugian mereka o leh karena w1tuk semen tara waktu telah menjauhkan d iri dari kegiatan tarekal"

Perhtmpulan "Bogor" da1am waktu singkat mengalamt pertumbuhan pesat, sehingga tiga belas orang mason bebas pacta tanggal27 Apri11890 mengajukan permohonan untuk

  1. Gcdenkboek 1917, 354
  2. Idem, 355

konstitusi. Lebil1 dad setahun kemudian, pad a tanggal16 November 1891, loge "Excelsior" diresmikan .secara khidmat. Pada tahun yang sama juga didirikan sebuah bank pembantu" sebagai bad an yang didirikan "Excelsior", sedangkan tidak lama kemudian suatu J/Wisma untuk Anak- 3nak Gadis" dibangw1 untul< memberikan pemondokan bagi lnak-anak perempuan dari karyawan-karyawan yang bekerja dl pedalaman dan yang ingin sekolah di Buitenzorg. Di halaman loge tersebut juga ctiberi tempat tmtuk suatusekolah frobel, sedangkan gedtmgnya didanai melalui penyelenggaraan suatu lotere.

Pada tahtm1895 Carpentier Alting diangkat menjadi pen- ieta di Semarang, sehingga ia harus meninggalkan loge di Buitenzorg. Pada wakhl acara perpisahan, nyata jelas penghargaan para anggota "Excelsior'/ baginya. Namun baru di :3emarang dan di Batavia ia berkembang dan menjadi salah satu mason bebas paling penting dari zamannya.

DAN GEDUNU-

-----------

Pangeran Ario Notodirodjo/ 1858-1917. Masuk keanggotaan loge Mataram pada tahun 1887 dan memegang berbagai jabatan kepengurusan. Ia ketua Boedi Oetomo antara tahun 1911-1914. Pada tahun 1913 ia mendirikan Sarekat Islam Cabang Yogya yang banyak beranggotakan elite]awa. Notodirodjo seorang yang disegani dan dianggap sebagai pendekar pergerakan rakyat Jawa.

Pendeta Albertus Samuel Carpentier Alting (1837 -1915). Pendiri dari Majalah Mason Hindia dan Loge Agung Provinsial Hindia Belanda. Wakil Suhu Agung untuk Hindia Belanda.

ALBUM MANUSLt.., PER1STIWA DAN GEOUNC

Dirk de Visser Smits, 1881-1976. Guru pendidikan menengah, redaktur Indisch Ma~onniek Tijdschrift (Majalah Mason H.india) dan anggota kehormatan dari Pengurus Provinsial. Foto ini berasal dari tahun 1956.

Raden Adipati TirLo Koesoemo. Bupati Karanganyar. Anggota Loge Mataram sejak tahun

  1. Ketua pertama Boedi Oetomo. Pada kongres ke dua Boedi Oetomo, yang diadakan dj gedung loge Matararn, ia mengusulkan pemakaian Bahasa Melayu, mendahului Sumpah Pemuda dengan kira-kira dua puluh tahun.

Mh'IUSIA, PERISTIWA DAN GEOUN.>.------------

A.H. van Ophuysen S.H. (1883-
1956). Notaris dan anggota Dewan Kota Batavia. Salah seorang pendiri dari Indo Europees Verbond-Ikatan Indo Eropa. Wakil Suhu Agung untuk Indonesia.
Mas Boediardjo, Anggota Mason Boediardjo menjadi sekretaris pada pengurus Boedi Oetomo, sekitar 1916 ia masih memegang jabatan di kepengurusan. Antara tahun 1916-1922 ia menjabat sebagai inspektur pembantu dari apa yang dinamakan Pendidikan Pribumi (111lnnds Ondenvijs).

l.:Sl.A, PERJSTIWA DAN GEDUNG
Haden Mas Toomenggoen Ario Koesoemo Yoedha, 1882-1955, putra

d.-.ri P.-.koc Alam V. Menjadi anggota loge Mataram pada tahun 1909 dan bcrkali kali memegang jabatan kepenguru-.an. Pada tahun 1930 menjadi Anggota Pengurus Pusat.
Koesoemo Yocdha berpakaian Jawa.

DAN GwUN...,__ __________ _

Dr. Radjiman eli masa mudanya.

Dr. Radjiman Wediodipoera (Wedioningrat), 1879-1952. Antara tahun 1906 dan 1936 dokter pada kraton Solo. Sarjana dan penulis mengenai falsafah budaya. Pejabat Ketua Boedi Oetomo 1914-1915. Pada tahw1 1945 memainkan peranan penting sebagai ketua dari Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Bersama Soekamo dan Hatta pergi menemui Marskal Terauchi4 • I dalam pembicaraan Kemerdekaan Indonesia.

MANus!A, PERISTlWA DAN GroUNG

Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo, Bogor, 1908. Dalam tahw11952 menjadi anggota dari loge Indonesia Purwo-Daksina. Ia menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara R.I. Soekanto menjadi Suhu Agung (Ketua Umum) dari Timur Agung Indonesia atau Federasi Nasional Mason. Ia juga menjabat sebagai ketua dari Yayasan Raden Saleh yang merupakan penerusan dari Carpentier AJting Stichting.

DAN GEDUNI..>------------

Loge Prins Frederik di Kota Raja -Banda Aceh merupakan loge perwira yang tidak mengherankan mengingat Perang Aceh masib berkecamuk. Di latar belakang terlihat gambar dari pemberi nama yakni Pangeran Frederi.k, bekas Suhu Agung di Be.landa. Foto ini berasal dari tahun 1908.

An tara para Sultan J ogya dan loge Mataram selalu terjalin hubungan yang erat. Gedung loge yang terletak din. Malioboro dipinjam pakai dcui Sultan. Dalam tal1un 1925 Yang Mulia Hamengkoe Boewono VTII dari Yogya berkunjung ke loge 'Mataram'.

tahun 1925, Loge Mataram pergi berpiknik ke Candi Borobudur salah satu contoh peradaban tinggi Jawa. Ke enam dari kiri Huib van Mook yang kemudian menjadi Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Pengurus, anggota dan undangan loge SerajoedaJ-Lembah Serayu bergambar bersama. Loge ini berdiri di Purwokerto dan banyak anggotanya berbangsa Indonesia. Duduk di sebelah kiri sekali R.A.S. Soemitro Kolopaking Poerbonegoro, yang nantinya menjacli Suhu Agung Pertama dari Tarekat Mason Indonesia. Foto ini berasaJ dari tahun 1933.

DAN GEOUN...,_ __________ _

Foto k1udmat dari tahtm 1934. Di belakang meja pengurus dari loge

Mataram duduk anggota bersukuJawa yakni YangMulia PakuAlam VJII, Pangeran Soe~oatmodjo, Raden Soedjono Tirtokoesoemo dan

R.M.AA. Tjokroadikoesoemo.
Perayaan hari Sint Jan eli loge Mataram, 1934. Gelas diangkat untuk menghormati dan memohon berkat bagi Yang Mulia Sultan Yogya, "kepada siapa loge Mataram ban yak berhutang budi." Dari foto ini jelas peran serta dari anggota bangsawan Jawa: Pangeran Adipati Soerjoatmodjo (Patih di vvilayah Paku Alarn), Raden Kamil (anggota Volksraad 1918-1924), Soedjono Tirtokoesoemo (pente~emah dan kemudian patih di Blora).

,n.LBUM MANUSIA, PERJSTIWA DAN GEOUNG

Ir. C.M.R Davidson, Suhu Agung dari Taiekat Mason yang bekerja di bawah Timur Agung Belanda, dan R.A.S. Soemitro Kolopaking Poeibonegoro, Suhu Agtmg dari Timur Agung Indonesia, 7 April1955.

Pada tanggal7 April1955lahirlah Tare kat Mason Indonesia. Upacara peresmian pengurus baru.

baru, 7 April1955.

Soemitro Kolopak:ing Poerbonegoro setelah pengukuhannya sebagaj Suhu Agung Timur Agung Indonesia mengucapkan terima kasih untuk cindera mata yang diterimanya dari Tarekat Mason Belanda.

DAN GEDUNG

Soemitro Kolopaking Poerbonegoro dan rekan-rekannya pamitan dari Pengurus Provinsial.

Tarekat Mason Indonesia berdiri, Suhu Agung Indonesia memberi kata sambutan.

DAN GEDUNu_ _ _________ _

Salah seorang anggota Mason tertua, Sosrohadikoesoemo, mengucap selamat kepada Suhu Agung yang baru, Soemitro Kolopaking.

' JI, (

Anggota Indonesia dan Belanda dalam suasana persaudaraan.

Para anggota Belanda mencermati uraian Sosrohadikoesoemo.

Dengan masuknya tentara Jepang, berhe.ntilah kegiatan tarekat Mason. Cukilan kayu yang dibuat oleh seorang anggota Mason yang ditawan Jepang.

MANUSIA, PERISTIWA DAN GEDUN"'------------

Cu.kilan kayu memperingati hari St. Jan, hari besar Tarekat Mason, karya seorang tawanan perang.

Pada awal tahun 1937, Suhu Agung Belanda, H. van Tongeren, mengadakan kunjungan keliling ke loge-loge di Hindia. Gambar kunjungan ke loge De Hoeksteen-Batu Kunci di Sukabumi. Muka-muka yang tegang berhubungan dengan ma.ksud kunjungan van Tongeren ke Hindia yakni menca.ri penyelesaian bagi perbedaan paham antara Pengurus Pusat di Belanda dan Pengurus Provinsial di Hindia. Duduk sebelah k.iri: H. van Tongeren, sebelah kanan: A. I. A. van Unen.

MANUSTA, PERISTIWA DA.l\f GEDUNG

Gedung loge Prins Frederik di Kota Radja-Banda Aceh yang mulai dipakai pada tahun 1878.

Gedung loge di Kota Radja-Banda Aceh. Foto Tahun 1940.

DAN G EDUNV------------

Gedung loge "De Sterin het Oosten"-Bin tang Timur diJakarta Pusat. Dulunya jalan di mana gedung ini berdiri bemama Vrijmetselaars weg, sekarang JL Budi Utomo. Gedung ini dipakai sebagai loge an tara tahun 1854 dan 193-!.

Foto mutakhir dari gedung yang sama yang sekarang dlpakal sebagai

kantor dari perusahaan Kimia Farma.

BUM MANUSIA, PERI5ITWA DAN GEDUNG

Pada tahun 1934, gedung baru loge Bintang Ti.mur siap dan be mama Adhuc Stat. Perancangnya ialah lr. N.E. Burkoven Jaspers. Terletak di ujung Jl Teuku Umar, gedung ini merupakan titi.k penting dalam perencanaan wilayah Menteng tempo dulu. Mutu arsitekturalnya banyak diperdebatkan dan surat kabar de lndisd1e Comant heran bahwa Panitia Keindahan Kota tidak mempunyai keberatan terhadap suatu gedung 'yang menguasai pemandangan dalam ruang yang begitu besar dan malah mendomi.nasi lingkup yang sangat Juas, sedangkan bentuknya demikian biasa, tanpa kepribadian, dtra rasa ataupun pandangan mengenai tugasnya yang mulia'. Ki.nj gedung ini ditempati oleh Bappenas.

Gedung loge Mata Hari, Padang, yang mulai dipakai pada tahun 1931 menggunakan gaya arsitektm setempat.

MANUSIA, PER1S11WA DAN GEDUN.....__ ______ _ ___ _

Gedw1g loge Mata Hari, Padang, ketika dipakai sebagai gedung pemancar RRl pada tahun limapuluhan.

Di mana kesahlan a tau loge terbentuk, di sana juga didirikan gedW"'Ig pertemuan atau gedW"'Ig loge. Di Medan berdiri loge 'Deli' yang gedungnya masih bernapaskan suasana Tempo Doeloe.

DAN GEOUNG

Gedung loge Deli yang baru menunjukkan gaya arsitektur yang sarna sekali berbeda dari pendahulunya. Garnbar pintu utama.

Loge Deli yang baru.

DAN GEOUNG~-----------

Gedung loge 'De Vriendschap'- Persahabatan di Surabaya pada tahun-tahun kemudian. Kejayaan lama gedung loge in.i, sudah hi lang sama sekali.

Interior ruang pemujaan di loge Arbeid Adelt-Ke~a Memuliakan di Makasar.

DAN G EOUNG

Ruang pemujaan yang sangat sederhana di loge Palembang.

MASON BEBAS (VRIJMETSELARIJ)
DI HINDIA BELANDA 1890-1930
  1. Berakhirnya zaman keterpurukan ekonomi. Pendapat~ pendapat baru tentang pemerintahan kolonial dan munculnya kelompok-kelompok dengan kepentingan-kepentingan tertentu
    Tmjauan Sejarah
ada akhir abad ke-19 Hindia Timur ti.daklah memberi

kesan sebagai negeri yang sedang maju. Hal itu terlihat

Pbukan saja dari laporan-laporan resmi, tetapi juga dari

J.Sah-kisal1 perjalanan dari zaman itu. Yang paling keras ada- h Veth, dalam bukunya yang tersohor Het Leven in Nerler-
1 ·:.isch-Indie (Kehidupan di Hindia Belandat. Hindi a Bclan- -=a bagi penulis tersebutmentpakan ''inkarnasi kemelru:atan. Dua be las tahun yang aku jalani dalam pembuangan, bagiku ~aikan dua bel as mimpi yang mengerikan". Veth tidak suka

\eth 1900, 1

kepada Hindia, tetapi situasi yang ditemukannya di situ memang bukanJah sesuatu yang menycnangkan. Tenttama oleh karena krisis industri gula -yakni pclampung yang mcnycbabkan Hindia tidak lenggclam waktu itu -maka kehidupan bagi sebagian bcsar komunitas Eropa di situ tidaklah mudah. Kerniskinan berbentuk sopan, itulah yang terdapat di mana-mana, dan ban yak orang mcmpunyai utang- u tang yang besar. Di masa de pan pun, tidak kcuhatan peluang bagi perbaikan.

Wartawan Hindia Timur Mr. P. Brooshooft, yang dalam terbitan-terbitannya tcmtama dengan gamblangmenelanjangi kewajiban upcti kcpada negeri induk. meminta perhatian lerhadap keadaan ekonomi yang buruk. la tidak hanya membatasi diri pada segmen penduduk Eropa tetapi juga menelaah keadaan orang pribumi yang harus memikul beban 2 berat. Istilah "maluise (sepi dagang)" kedengaran di mana-mana pada waktu itu, dan dalam beberapa terbitan malahan disebut bahwa telah terjadi kcadaan rawan pangan sctcmpat. Anggota DPR Belanda dari partai SOAP (Sociaal Dcmokrntis- che Arbeiders Partij -Partai Buruh Sosial Demokralis) dan anggota Tarekat, Ir. Van Kol, di Jawa Tengah dipcrhadapkan di Jawa Tengah dengan daerah-daerah yang benar-bcnar mcrupakan daerah yang disergap oleh musibah dania melihat di sana "kelaparan, kemelaratan dan kesengsaraan yang hany~ 3 dapat dilukiskan oleh seorang seperti Dante".

Keadaan buruk itu an tara lain disebabkan oleh masa krisis yang dihadapi Hindia Timur sebagai negeri pengekspor bahan-bahan mentah. Harga-harga di pasar dunia tertahan lama sekaJi hingga pacta tingkat paling rendah yang memaksa

  1. Locher-Scholten 1981, 23 dan 28 3 Van Kol1903, 4

yang menekan ih1 diperparah dengan !

Kalan untuk keadaan buruk dalam sektor ekspor dapat

d.iternukan alasan konjungter, maka suatu penjelasan bagi kemerosotan standar kehidupan umu.m dapat ditemukan dalam faktor-falTroonrerle (pidato teerajaan berkenaan dengan pembukaan sidang DPR Beland a) pad a tahun 1901 yang sering d ikutip i.tu, menandaskan bah wa kebijaka.n pemerintahharus diresapi dengan kesadaran bahwa "ederland perlu rnemenuhi suatu panggilan moral terhadap

Z AMAN BFRKEMilANCI.'YA T AREKAT M ... so:-: B EBAS 1890-1930

penduduk Hindia Timur. Adalah menarik bahwa Ratu pada pernbukaan tahun parlementer itu rnenyatakan bahwa keadaan di Hindia Timur tidak berjalan semestinya, dan bahwa terutama penduduk pribumi yang mengalami kesulitan. Namun bagi orang dalam, apa yang dikatakan iht bukan sesuatu yang baru, sebab dua tahun sebelumnya pengacara 1-lindia Timur Mr. C.Th. van Deventer telah menerbitkan artikelnya yang kesohor Een Eereschuld ("Utang lhtdi'') di mana ia mcnyerukan agar Hindia Timur yang telah jatuh miskin itu patut ditolong. Pihak-pil'tak lain telah lama memmjuk pad a akibat burul< dari kebijakan. ''saldo me.nguntungkan", yang telah dipertahonkan bertahun-tahun lamC~nya, di mana saldo-saldo kelebihan dari anggaran Hindia Timur selalu diJ<-irim ke Belanda. Oleh karena pengurasan tems-menerus, di Hindia Timur tidak pernah terjadi pemupul

Situasi kesejahteraan penduduk priburni sekitar tahun 1900 sudah begi tu buruk, sehingga pcmcrintah Hindia Belanda tidak lagi dapat menutup mata atas hal tersebut. Penguasa-penguasa setempat telah mengirim laporan-laporan yang menggelisahkan ke Batavia, dan berita-berita b1.truk juga tern bus sampai ke Be1anda. Tcrpengaruh oleh laporan-laporan seperti itu, akhirnya di Be Ianda timbul pendapat bahwa negeri itu hams menolong Hindia Tirnur: dengan uang, dengan gagasan-gagasan baru dan dengan tenaga-tenaga yang terdidik baik di berbagai bidang yang harus dikerahkan ke sana. Yang rnenarik ialah bahwa setelah sikap pasif Belanda teratasi, pendekatan yang ban.1 itu memperolch dukungan dari semua partai politik dan dari ban yak golongan masyarakat.

Tahun 1901 menjadi titik awal dari kebijakan kolonial yang baru. Namun itu tidal< seluruhnya benar, sebab sebelum tahun

di Hindia Timur sudah mulai dilakulVerenigde Oost-hzrlische Compagnie atau Komperu dalam el

Untuk menjalankan tugas-tugas baru tersebut, aparat

pemerintahan perlu diperkuat, dan setelah hal itu dilakukan, pihak pemerintah semakin giat mcmperhatikan tm.tsan penduduk pribumi. Akibatnya ialah perluasan lebih lanjut dari birokrasi. Pengurusan yang bertambah di pihak pemerintal1 itu, tergantung sampai sebagaimana ja u h kekuasaan kolonial dapat diberlakukan eli sesuatu daerah dan car a pelaksanaan-

Z AMAN B ERKeMDANCNYA TARE KAT MASON BEBAS 1890 - 193{)

nya juga berbeda-beda. Di Jawa sistem pemungutan pajak dimodernisasi. Penduduk pribumi sejak saat itu harus meme- nu.hi kewajiban l

Perubahan lain adalah bahwa dunia usaha harus Iangsung rnengadakan konb:ak dengan penduduk untuk memperoleh tanah dan tenaga ke1ja. Kontrak-kontrak itu harus diajukan kepada pemerintah setempat untuk disetujui, dan kemudian pelaksanaannya dipantau pemcrintah. Dengan demikian pemcrintah setempat harus memiliki pengetahuan yang luas tentang hubungan-hubtmgan setempat. Dalam kaitan ini kajian terhadap hak-hak atas tanah dilakukan. Akibatnya pemerintah semakin mengenal adat-istiadat desa. Juga langkah-langkah pertama di bidang pemeliharaan kesehatan, pendidikan dan pengadilan menyebabkan bahwa pemerintaJ1 sernakin campur tangan d<1larn kehidupan rakyat. Campur tangan pemerintah kolonial menjangkau semakin jauh, yang diperkuat lagi oleh pembangunan sarana dan prasarana Ialu lintas modern.

''Pembukaan lahan" juga berbentukmenempatkansecara nyata ratusan raja dan penguasa yang tersebar di scluruh Nusantara, yang selama itu masih merniliki kedudukan yang cukup merdeka, di bawah kekuasaan pemcrintab pusat. Sampaj sekitar tahun 1870 kekuasaan efektif Belanda hanya

pad a Pulau jawa. Di samping itu, Beland a menguasai beberapa titik topang di beberapa wilayah di Sumatra, Sulawesi dan Maluku, biasanya tidak lebih dari enldave, titik pijak, dalam dunia pribumi. Belanda menurut pendapal umum, cukup sibuk dcngan urusan tersebut, dan perluasan kekuasaan lebih lanjut melampaui kekuatan yang ada. Namun pada tahun 1870 pemerintah di Batavia mulai meninggalkan idi Nusantara supaya berada di bawah pemetintahannya ynng cfcl"Korte Vetklaring (Pernyataan Singkat)", di mana para raja dan kepala-kepala suku lainnya ditaklukkan ke bawah kekuasaan Ratu, dan diharuskan melakukan kewajiban-kewajiban yang digariskan. Namtm di dalam wilayahnya sendiri para raja mempertahankan kedudukan yang cukup merdeka, yang dihormati oleh wakil-wakil pemerintahan Belanda. Dari kum pulan berbagai macam daerah yang langsung diperintah dan kesulta.nan-kesultanan yang senu-merdekn itu, pada awal abad ke-20,lahirlah negara Hindia Belanda yang menjacli dasar Indonesia yang sekarang. Namtm perampungan wilayah negara kolonial terse but tidak dicapai tanpa perlawanan; yang tcrkenal adalah Perang Aceh dan serangkaian peran_g di daerah-daerah lainnya.

Juga di bidang ekonomi mtmcnl suatu periode baru pada masa sekitar pertukaran abad. Pemulihan konjungter intemasional menyebabkan permintaan yang lebih besar terhadap produk-produk Hindia, suatu permintaan yang pada garis besarnya bertahan sampai sekitar tahun 1930. Volume ekspor setiap tahun mcningkat, sedangkanharga bertahan pada ting- katyang tinggi. Tahun-tahun 1900-1930 merupakan titik pLm- cak dari kegiatan ekonorni, yang hanya diselingi oleh penurt.m-

BERKI;MBANCNYA T AREKAT M>\SON BEBAS 1890- 1930

an singkat pada tahun 1920-'21. Ekspansi kehidupan sel

Pcrkembangan yang menarik ten tang jumlah, penyebaran dan kedudukan segmcn penduduk Belanda juga terjadi dalam peri ode tersebut. Memang angka statistil< yang tersedia adalah ten tang segmen "orang Eropa" dalam arti yang luas-kira-kira sepuluh persen bLtkan keh.mman Belanda-namun kecenderungan umum memmjukkan perh.1mbuhan yang kuat. Angka-angka di bawah ini menunj ukkan hal itu: 5

Jawa Luar Jawa Jumlah
1890 45738 11950 57688
1900 62477 13356 75833
1905 64718 15216 79934
1920 33319 31713 166032
1930 188590 44635 233225

Angka-angka resmi juga menunjukkan bahwa orang-orang Belanda setelah pergantian abad terutama pergi ke kota-kota. Di situ juga tercipta wilayah wilayah kota yang pemah dibandingkan dengan "Bussttm atau Blaricum pada musim panas", namun acta juga distrik-distrik yang lebih sederhana. Kemudian ada juga orang-orang Belanda yang tinggal di daerah pinggiran kota a tau di kamptmg-kampung dalam kota.

  1. C reLttzberg 1979, 21 dan 57
  2. Boomgaard clan Cooszen 1991, 133, 236 dan 245
besar dari mereka adalah turunan Indo-Eropa.

""emisahan ruang ini merupakan suaht fenomena bam yang :ru~nggaTisbawahi perbedaan-perbedaan di dalam segmen ':'enduduk Belanda.

Juga pertambahan jumlah orang Belanda yang tinggal eli .. ota-kota untuk periode tahun 1890-1930 dapat diperlihatkan .iengan angka dari tiga kota diJawa, dan tiga kota eli luarnya.

Batavia Surabaya Semarang
1890 10793 8241 5159
1920 36912 21065 14835
1930 38048 29776 17686
Medan Makassar Padang
1890 259 838 1618
1920 3128 2742 1979
1930 4293 3447 2592

Pertambal1an yang cepat rupanya berhubw1gan dengan _?erluasan lapangan pekerjaan, baik eli sektor bisnis maupun ~ bidang pemerintal1cll1. Sua tu hal lain yang rnenarik perha tian adalal1 bahwa segmen penduduk yangmemegangprofesi sebagian besar merupakan pegawai negeri. Persentase orang Belanda yang bekerja sebagai pegawai negeri memang secara relatifberkurang; kalau pada tahtm 1860 kira-kira 80% bekerja sebagai pegawai negeri, maka pada tahun 1930 jtmuahnya telah huun menjadi 30%. Yang juga menarik perhatian adalah mutu yang meningkat dari penclidikan penduduk yang berprofesi. Sebelum tahun 1900 masih banyak petualang dan pengadu nasib datang ke Hlndia dari Eropa, tetapi setelah Itu tipe ini semakin berkurang. Berpendidikan bail< malahan dijadikan syarat penting1mtuk memperoleh pekerjaan. Yang mencolok adalah jumlah besar orang Belanda dengan pendi-

BERKEMBANCNYA TAREKi\T MASO:-J BEBAS1890- 1930

dikan tinggi: pacta tahtm 1930 ada 1378 insinyur, 1267 dokter, dan sekitar seribu ahli hukum. Penambahan jumlah insinyur yang beketja di Hindia Timur meningkat. Kalau beberapa waktu sebelum tahttn 1900 ada 218 insinyur, maka jumlahnya pada tahun 1908 sudah meningkat menjadi 387, sehingga antara tahun itu dan tahLm 1930 bertambah lagi dengan seribu insinyur. Begitu pula jumlah dokter bertambah ban yak pada tahun-tahun sebelum 19301dari kira-kira 800 pada tahun 1923 menjadi 1267 pada tahun 1930 scperti sudah disebut di atas. 6 Data tersebutdilengkapi dengan angka-angka tentang katcgo- ri pendidikan lainnya, seperti Iulusan St!kolah-sekolah tckn'ik menengah, sekolah-sekolah niaga dan lain-lain. jadi gambaran tentang Hindia Belanda pada masa 1930 dapat dilukiskan sebagai ncgeri dengru1 segmen penduduk Belanda berprofesi yang berpendidikan tinggi.

Pertanyaan yang perlu dibahas sekarang adalah: apakah tujuan Belanda dcngan kebijakan kolonialnya yang baru itu? Oalam literatm lama scring digtmakan istilah rlunl mnndnte a tau mandat rangkap, yang berarti bahwa tug as sua tu negara kolonial juga meliputi pembangunan wilayah yang dikuasai- nya. Tugas itu dalam konteks Belanda dituangkan dalam bentuk apa yang disebut "ethische politiek (kebijakan etis)''. Locher-Scholten menunuskan kebijakan itu sebagai berikut: 11 Kebijakan yang diarahl

Jadi tujuan akhir kebijakan Belanda actalah pemerintahan sendiri untuk Hindia Timur, walaupun hanya sedikit orang

  1. Van Doom 1985, 148
  2. Locher-Scholten 1981, 201

gambaran yang kongkret tentang hal itu. Kepemimpinan Beland a-d isebut juga "perwalian" - bagaimana ~un dipertahankan sampai "murid" dapat berdiri di atas kaki- !'}'a sendiri. Kapan perwalian itu dapat diakhiri, tidak disebut .. ,alaupun bagaimana pun juga masih diperlukan waktu sela- !'!'la ban yak generasi.

Pada tahun-tahun sebelu.m 1930, A.D.A. de Kat Angelino ~elah mengurailStnntkundig beleid en beshwrszorg in Nederlandsch -lndie Kebijakan ketatanegaraan dan pengunLSan pernerintah di rtindia Belanda), De Kat Angelino menguraikan panjang Iebar :entang apa yang disebutnya "politik sintese intensif", yaitu ~perlindungan" dan ''ketahanan" kebudayaan dan kekhasan rakyat Indonesia, yang dapat d i 1 akukan mel a lui "d iferensiasi :nenurut kcbutuhan". la menyebut tugas kolonial sebagai sintese-kebudayaan" atau pe.rdamaian antara dtmia Timw· dan dunia Barat. Tugas itu menurut penulis menjadi bagian dari "mission sncree de civilisation (tugas suci peradaban)" yang diemban semua bangsa maju, dan bertujuan untuk "mener- tibkan seluruh umat manusia untuk perjalanan bersama menuju ke atas". 8 Di samping retorika yang luhur itu, muncul kajian-kajian yang lain yang selalu mengemukakan bahwa Hindi a hal'us dipersiapkan unhtk kemerdekaannya yang akan datang melalui jalan perkembangan secara berangsur-angsur. Akan terdpta suatu masyarakat di mana setiap golongan etnis yang berbeda itu dapat memberikan sumbangsih; dan memang diperkirakan bahwa unsur Indonesia akan semakin tampil ke depan dan bahwa kaum pribumi berpendidikan Barat akan mema.inkan fungsi yang penting.

S. De Kat Angelino 1929, 1, 47

Z AMAN BERKEMBANCt>:YA T ARI!KAT MASON Bli BAS 1890 - 1930

Sampaj saat itu hanya visi pihak Belanda tentang masa depan Hindia yang dibicarakan. Namun ternyata bahwa menjelang akhir abad ke-19 juga pihak-pihak lain mulai berbicara dalam debal politil<. itu. Peran utama pihak Belanda dengan itu makin tidak dianggap sebagai sesuaht yang harus diterima begiht saja, dan berbagai pendapat yang berbeda pun bermunculan. Sewaktu beberapa orang masih melanjutkan usaha untukmelakukan kerja sama antara berbagai pihak, ada orang lain yang tidak melihat ban yak manfaat dari usaha seperti itu. Pihak lain lagi melangkah lebih jauh dan l1lengan- jurkan suatu konfrontasL Yang pertama-tama mcnyusun dirinya sebagai suatu kelompok adalah orang Indo-Eropa, kemudian orang Indonesia, dan jauh kemudian orang Belanda. Suatu tinjauan singkat dari dua gerakan pertama yang menghendaki emansipasi memmjukkan bahwa peristiwa "kebangkitan Asia dari tidur" telah berlangsung agak cepat di Hindia.

Orang-orang Indo-Eropa, seperti telah diuraikan dalam bab sebelumnya, menempati kcdudukan rendah di masyarakat kolonial. Walaupun mereka menurut undang-undang disamakan dengan orang-orang Belanda kulit putih, kedudukalt sosial mereka Iuar biasa buruknya. Sebagian yang san gat besar hams hid up secara melarat, dan oleh karena buruknya fasilitas pendidikan di I-Iindia, tidak ada kemungkinan perbaikan nasib bagi mereka. Hanya sedikit dari mcrcka yang berhasil memperoleh kedudukan tinggi di jajaran pegawai negeri, sedangkan peluang berkarier di sektor swasta juga san gat kecil. Baru ketika tersedia lebih banyak sekolah setelah tahun 1860, mulai ada pcmbahan namtm hanya golongan kecil yang berhasil memanfaatkan peJuangyang baru. Dibatasi oleh. penclidikan rendah sehingga tidak cukup siap untuk bersaing dengan tenaga-tenaga yang datang darj Belanda, maka bagi orang Indo hanya tersisa pekerjaan-pekerjaan yang paling

Situasi menjadi lcbih buruk ketika pada dua puluh lima tahun terakhir abad ke-19 keadaan malaise meluas, dan merekalah orang-orang pertama yang kehilangan pekerjaan. Pengangguran begih.t cepat menyebar luas, sehingga dikatakan bahwa masalah turunan Indo dengan cepat bertambah parah. Untuk menghadapi kehancuran yang mengancam, di kalangan tunman Indo terbentuk pcrkumpulan-perkurnpulan rang ingin memajukan emansipasi "orang Indo kecil": pada taht.m 1898 didjrikan "Indische Bond (Perscrikatan Hindia)" dan pad a tahun 1907 perkumpulan "lnsulinde (Nusantara)". Keduanya ternyata memcnuhi dan menjadi suatu kebutuhan, sebab dcngan cepat kcanggotaan merekn meluas. Namun scJa- ma undang-undang melarang dijalankannya kebijakan partai, tidak ada program tuntutan-tuntutan politik. Pcrkumpulan-perkumpulan ih.1 tidak benar-benar radikal; mereka temtama mengusal'!akan "suatu tempat di bawah matahari Hindia Timur".

Juga di kalangan orang Indonesia, wnktu itu mempakan saat didirikannya organisasi-organisasi dengan tujuan kemasyarakatan. Pad a tahun 1906 di lingkungan mahasiswa "Dokter Djawa School" di Batavia, di mana hanya orang Indonesia boleh masuk, tercetus gagasan Lmtuk mendirikan dana studi bagisesama mahasiswa Indonesia. Dua tahun kemudian didirikan dj sini perkurnpulan "Budi Utomo'', yang rnengutama- kan usaha untuk memajukan kesadaran nasional. Perkumpulan itu merupakan pertanda bahwa juga di kalangan Indonesia sedang direnungkan masa depan politik negeri itu. Lebih banyak pendukung diperoleh gerakan "Sarekat Islam" yang diclirikan pada tahun 1912. "Sarekat Islam" merupakan organisasi yang berbeda sekali dari ''Budi Utomo". Organisasi ini muncul dari lingkungan pedagang batik Jawa, yang terlibat dalam pertarungan dengan pesaing-pesaing pedagang Tiong-

ZAMAN BERK!::MBANCNYA TAREKAT MAsoN BEBAS 1890-1930

hoa. Dalam beberapa tahun gerakan itu rnenjadisuatu organisasi rnassa yang rnulai mengajukan tuntutan- ttmtutan politik.''

Dalarn reaksinya terhadap munculnya organisasi-organisasi tersebut, mula-mula pemcrintah Hindia Belanda bersikap rnenahan diri. Hal itu dianggap sebagai pertanda bahwa masyarakat mulai memperlihatkan kernatangan tertentu, dan pemerintah bermaksud mernberikan kesempatan kepada proses it'u dalam rangka perkembangan cvolusioneryang sedang dirancangkan. Narnun pemerintah bcrsikap berbeda sama sekali terhadap "Indisch.e Partij", suatt1 organisasi yang diprakarsai pada tahun 1912 oleh E.F.E. Douwes Dekker, seorang turunan Indo dan kernenakan dari Multatuli. Di bawah pimpinan suatu n· isula, yang terdili atas Douwes Dekker dan dua orang Indonesia, partai itu membayangkan suaru Hindia Timur yang mcrdeka, lepas dari Belanda. Yang dikehendaki oleh Douwes Dekker adalah suatu negara yang dipimpin oleh kaum Indo-Eropa. Ketika partai mulai menjalankan sua ttl haluan anti-Belanda, pemerintah segera tun.m tangcu1, dan para pemimpinnya diasingkan ke Nederland. Hidupnya yang singkat mencegah "lndische Pnrtij" memperoleh banyak pendukung. Sebagai pengungkapan suatu aliran di dalam go Iongan Indo-Eropa yang berscdia beke~a sama dengan orang Tndonesia, tetapi tidak dengan orang Belanda kulit putih, partai itu 1Upanya mempunya i pend irian yang terlalu ekstrirn untuk dapat berhasil. }umlal1 orang Indonesia yang menjadi anggota ternya ta juga kecil.

Lebih bermakna bagikaum Indo-Eropa adalah "Indo-Euro - pees Verbond (Perserikatan Indo-Eropa)" yang didirikan oleh bcbcrapa tokoh lndo-Eropa. I.E.V. terutama hendak mernpersatukan lapisan masyarakat tcngah dari penduduk

  1. Korver 1982

sinya yang baru saja diperolehnya iht, oleh karen a munculnya rang-orang Indonesia berpcnd idikan Barat. Penyediaan ::1sUitas pendidikan yang lebih baik rnenyebabkan bahwa mereka pun dimungkinkan untuk melamar pekerjaan-peker- \ilan yang sampai sa at itu banya disediakan bagi orang Eropa. ltV mengutamakan pengurusan kepentingan kaum Indo, dan dalam hal ittt dapat dibandingkan dengan Sarekat Islam yang :iisebut sebelumnya. Namun lEV juga berusaha mernupuk Femsaan harga diri pacta para anggotanya melalui terbitan- :erbitan dan pertemuan-pertemuan umum. Perserikatan itu ~dak pemah menjadi partai politik, dan kesetiaan utamanya diberil

Di pihak Indonesia sedang terjadi perkernbangan-perkembangan pada pertengahan tahun-tahun duapuluhan yang menjurus ke berbagai arah. Beberapa organisasi rnasih berpe- ~ang kepada gagasan kerja sama, sedangkan yang lain meno- laknya dengan keras. Pada tahtm 1926 eli Nederland didirikan Nederlnndsch-Indonesisch Verbond " yang mengupayakan pemahamam yang lebih baik antara yang satu dengan yang

i ' Van der Veur 1961, 97

lainnya, penghargaan dan saling pengertian antara orang Be Ianda dan Indonesia. 11 Perserikatan itu dengansegera mempersatukan sejumlah besar orang Indonesia yang sedang belajar di Belanda, namun kebanyakan anggota rnasih tetap orang Belanda. Sifat bangsawan tampak dari tokoh pelindtmg- nya, Pangeran Soetjocliningrat dari Yogya, sedangkan dua anggota bad an pen gums orang Indonesia adalah Raden Mas Noto Suroto dan Raden Mas Sudpto. N.I.V juga terdiri daTi suatu kelompok "Indonesia" dan suatu kelompok "Nederland". Dari pernyataan asas dan htjuan kelompok yang pertama, ternyata htjuannya tidak menentang kepentingan Belanda. Mereka in gin rnewujudkan persatuan ban gsa melalui kcrja sama, dan kalau rnereka menyebut diri nasionalis hal itu tid a k berkaitan dengan ras melainkan didasarkan atas cinta terhadap tanah ail'. Kewarganegaraan Indonesia akan terbuka bagi orang lndo-Eropa, Indo-Tionghoa, "dan semua yang merasa mcnjadi pribumi di Indonesia" . 1l Perserika tan itu tidak hid up lama dan pada tahun 1932 sudah tidak ada apa-apanya lagi.

Ada arah yang berbeda sekali di dalam gerakan nasional yakni kelompok yang mulai mengorientasikan diri terhadap masa depan tanpa Belanda. Kongres Pemuda Nasionallndo- nesia yang dilangsungkan di Batavia pada tahun 1926 juga berbicara tentang Satu Nusa, Saht Bangsa dan Saht Bahasa. Pacta tahun yang sarna pecah pemberontakan di Banten di dekat Batavia, dan juga di Sumatra Barat. Pemerintah kolonial memukul kembali dengan keras dan mendirikan kamp-kamp intern.iran di Guinea Baru (Papua). Di Boven Digul banyak kaum nasionalis ditahan tanpa adanya proses pengadilan dan tanpa adanya harapan pembebasan. Kamp itu telah mempunyai makna simbolis, zaman kehidupan bersama secara damai

  1. Poeze 1986, 196
  2. Noto Suroto 1931, 109

tidak kenai mundur, dan gerakan nasionalis haluan kiri, telah dimu- 1ai.

  1. A.S. Carpentier Alting dan semangat baru Dala.m bab sebelumnya telah disinggung tentang jasa-jasa Carpentier Alting di dalam membar1gt.m sebuah Tarekat Kaum Mason yang lebih disesuaikan dengan zaman ba1u. Pembahasan tentang kegiatannya berakhir dengan pemindahannya sebagai pendeta ke Semarang pada tahtm 1895. Sekarang akan ditinjau kegiatannya sejak tahun itu sampai saat ia pulang ke ~ederland sepuluh tahtm kernudian. Dari Carpentier Alting dapat dikatakan bahwa bukan saja ia m.erniliki enersi yang luar biasa besamya, tetapi juga bahwa pada saatyang tcpat ia dapat mengambil keputusa.n yangjitu. Ia sangatyakin bahwa sebagai seorang Mason Bebas, ia perlu memberikan sumbangan demi kemajuan masyarakat, dan kalau ditinjau dalam kehidupannya dapat dikatakan bahwa ia telah berhasil mencapai banyak hal. Tetapi makna pekerjaannya tidak dikurangi sedikit ptm kalau dikatakan bahwa pekerjaannya tidak mungkin dilakukan tanpa dukungan banyal< sekali Mason Be bas lainnya. Mw1gkin jasa terbesamya adalah]Troonrede tahun 1901. Bukankah kesejahteraan rakyat dan membongkar tembok-tembok di antara kelompok-kelompok

ZAMAN BERKEMBANGNV;\ T AREKAT MAS0:-1 BEBAS 1890 - 193(1

yang berlainan dalam suatu masyarakat mempakan tujuan Tarekat? ''Panggilan moral terhadap rakyal Hinclia Timur'', yang harus menjadi garis haluan kebijakan pemerintah, sepertinya menuju ke arah yang sama. Bahwa kegiatan untuk masyarakat yang dilakukan oleh loge-loge Hindia Timur menjadi bagian dati suatu an1s yang lcbih luas, menjelaskan mengapa tercatat begitu ban yak keberhasilan. Juga, ca ra loge-loge Hu berusaha mewujudkan cita-cita mereka itu, telah clilakukan secara khas.

Tidak lama setelah Carpentier Alting tiba eli Semarang, semangat baru dinyatakannya secara khas dalam pend irian Tndisch Mafonnie!c Tijdschrift (Majalah Masonik Hindia) yang edisi pert a many a terbit pad a tanggal 1 Oktober 1895. Dimaksudkan untuk menyediakan suatu fomm bersama bagi para anggota Tarekat yang tersebar eli seluruh Nusantara dan mengangkat kehidupan masonikke tingkat yang lebih linggi, majalah itu memberi banyak bantuan dalam menyalurkan semangat ke arah yang tepat dan pengembangan yang lebih lanjut Mungkin majalah itu tidak akan terbit kalau saja tidak ada kerja sama tanpa imbalan dari para pemilik badan penerbit di Semarang yang tcrke.nal, G.C.T. van Dorp & Co, ya.kni para Mason Bebas VanEck dan Krayenbrink. 13 Namun peranan Carpentier Alting meru palOverdenkingen ap nlnf07miek gebied (Renungan-renungan di bidang masonik).

  1. Gedenkboek]917, 259

;:-e,ndapat-pendapat masoniknya, kalau kita ingin mengenal dt!ngan baik suara bant eli kalangan Tarekat Mason Bebas Hindia, maka edisi-edisi bulanan I.M.T. itu sangat diperlukan. Mengenai makna majalah tersebut bagi Tarekat Mason Be bas Htndia, nanti akan dibicarakan lebih lanjut.

Dalam suatu ringkasan ten tang kegiatan-kegiatan Carpentier Alting scjak tal1un 1895, tidak boleh dilupakan bahwa dialah yang memberi dorongan bagi terbentuknya ''Loge Frovinsial Hindia Beland~" pada taJ1un 1899. Kedua ciptaan .tu climaksudkan untuk membangun kerja sama yang lebih t~:llk an tara loge-loge, dan bahwa ada kebutuhan yang mende- !'ak dnpat dilihat dari tinjauan berikut yang ctitulis oleh A. 14 .an Witzenburg, yang kemudian menjadi redaktur l.M.T.:

"Mcrupakan kcnyatailn bilhwa dahulu di Hindia Timur memang ada loge-loge, bahwa ada pemimpin umum, Wakil Suhu Agun~ namun lidak ada pemikiran bagi persatuan. Otonomi loge-loge itu begitu kuat schingga setiap tempat kerja bcnar-bcnar melakukan apa yang dikehendakinya, dan kurang peduli tcrhadap adanya Pcngurus Besar a tau Majelis Tahunan, dan cukup sering dilakukan tindakan yang tidak sepantasnya dilakukan sebuah loge. Masth bertahun-tahun lamanya kita mendengar tentang pcsta-pcsta St. Jan yang jenaka dan perjamuan-pcrjamuan se telah resepsi, tentang penerimaan ke dalam Loge yang scmestinya tidak pernah dlperbolehkan. Kita tidak mcmpunyni pandangan yang tinggi tentang kehidupaJl loge di Hindia. Di dalam segala hal sama sekali tidak ada ikatan an tnra Tempat-tempat Kerja dan para anggota."

Yang menarik ialah bahwa Carpentier Alting, walaupun ~lbuk demi kepentingan Tarckat Mason Bebas Hindia secara

4 rMT th.20, 289

BERKF.MBAI'\Gl\'YA TAREKAT MASON BEllAS 1890 -1930

"nasional", tetap memperhatikan pekerjaan untuk masyarakat di lingkungan sekitarnya. Oi Semarang dalam waktu singkat ia menjadi kehta dari loge "La Constante et Fidele" dan eli situ ia juga ikut mendirikan ''Wisma Militer". Di tern pat ini prajurit-prajurit menemukan tempat di mana mereka dnpat bersantai, metTibaca buku atau mcnulis stuat ke rumah. Pemakaian alkohol dilarang, namun terlepas dari itu mereka tidal< diganggu dengan peraturan-perahtran yang ketat. Juga djdirikan "Pensimwat voor Schoolgnrl/lde Meisfes" (Sekolah dcngan asrama unhtk anak-anal< perempuan yang bcrseko-Jah), schingga anak-anak percmpuan d ari ten tara, pengusaha pertanian, dan orang-orang lain yang tinggal di pedalaman di sekitnr Semarang, mendapal kesempatan ur.tuk JT\emper- oleh pendidikan d i kota. Lembaga ketiga yang n1 elayani ma- syaraknt yang ikut clidirikan Carpentier Alting adalah perkumpulan yang bertujuan menampung para narapidana orang Ero pdari penjara, dan membantu mercl

Perlu dikatakan sesuatu tentang motif yang melandasi pend irian majalah lndisch Mn~o11niek Tijdsclmft yang didirikan Carpentier AJting,. Dalam artikel pembukaan "Tujuan Kita" diuraikan ten tang rugas yang dicmban Tarekat tersebut pada waktu itu. 16

"Di tengah-tengah kekacauan berbahasa yang mengherankan sekarang ini, ia (Tarekat] harus membangkitkan dan memelihara kehidupan manusia-murni yang tertinggi; ia

  1. Gedenkbock 1917,259
  2. IMT th.l, 1

depan'. Dunia sedang mencari suatu bentuk kehidupan baru yang lebih linggi. Tuduhan yang pemah dilontarkan terhadap zaman jni seluruhnya sah: orang- orcmg sezaman k1la memang masih idealis, namun mereka tidak mempunyai ideal".

Penulis melanjutkan bahwa jantung kehidupan masonik masih berdcnyut dengan lemah. Itu disebabkan karena keba-. yal

" Dan ada ratusan masalah serius di bidang sosial dan falsafah, yang harus kita bicarakan, ditinjau dari suclut pandang kita Ketidakpcdulian l1arus dilawan: hid up muda, segar han.1s dibangkitkan".

Kemudian pertanyaan diajukan apakah 1.mt-uk mencapai mjuan tersebut diperlukan suatu majalah masonik Hindin van.g khusus. Sebab tulisan-tulisan (dari negeri) Belanda me- nynjikan tinjauan-tinjauan menarik yang juga dapat berfaedah bagi para Mason Be bas di Hindia Timur. Namun bagi Carpen- 'ier Altingjelas bahwa di Hindia Tin1u1· ada tern pat bagi suatu fo rum tersendiri, suatu htik pertemuan bagi mereka yang mgin bertukar pikiran ten tang pokok-pokok yang terutama penting bagi Hindia Tirnu r. Lagipula beberapa pokok dalam majalah-majalah Belanda kurang mencuik bagi para anggota Tarekat di Hindia Timur.

"Kami menyebul saja sesuaht: masnlah sosial besar yang menggoncangkE~n dunia di sini mempunyai arti yang berbeda sekali daripada di Eropa, masalah itu menampakkan dil'inya di sini. dalam bentuk yang berbeda sekali. Hakyat pekerjn yang besar juml<:~hnya di seberang lautan, tidak ada di sini, atau hampir tidak ada; tetapi di sini kita tinggal di

B ERKEMilANCl\'VA TAREKAT MASON BEBAS1890 -1930

tengah-tengah banyak sekaH orang Ero-Asia dengan kebutuhan-kcbutuhan mereka yang khas, yang nasibnya harus diperbaiki, dan masa depannya harus dibuat lcbih cerah; di lengah jutaan orang pribumi -sesama manusia kita-yang harus dibawa kepada hidup yang berharga dan melaluinya kepada kebahagiaan hidup. Dan di bidang ini sajav bagi Tarekat Mason Bebas yang praktis: terbukn sebuah ladang kerja yang besar dan membahngiakan".

Menurut Carpentier Alting bagi para anggota Tarekat ada ban yak pekerjaan. Baik orang lndo-Eropa maupun orang Indonesia boleh meminta perhatian dan dukungan dari kaum Mason Bebas. Pada akhir uraiannya, penulis membicarakan sifat khusus komunitas Eropa di Hindia,-Timur yang katanya sangat matcrialistis dan kasar, dan tidak menghargai nilaj- nilai lebih ti11ggi dari peradaban Barat.

"Ada sesuatu yang spesifik Hindia yang pcrlu knmj sebut. Kita hidup di sini -leblh daripada di Eropa -untuk kepentingan 1nateriil melulu. ltu bukan tuduhan. Tidak, kita mengertinya letak persoalan sepenuhnya. Berulang kali keluhan disampaikan: kita kehlJangan begitu ban yak di sinj dalam bidang pemikiran, literatur dan kesenian. J~di ada perasaan kehilangan. Dan memang begitu. 'Penyair dnlnm diri kita' mundur, mundur jauh; setiap kali bayangannya diselubungi oleh uap-uap yang nnik dnri kcsehari-harian yang dangkal".

Art·ikel pembukaan IMT tcrsebut menunjukkan bahwa Carpentier Alting mempunyai harapan tinggi bagi masa depan. Ia berbicara bagaikan seorang ''nabi", yang melihat Tare kat Mason Be bas sebagai suatu Tare kat dengan panggilan yangjelas di dunia. "Kami percaya dan yakinakan masa depan dari tujuan yang menjadi panggilan kami, sebab kami percaya bahwa Tarekat dt.mia moral tidak dapat digugat."

Pcndapat yang dipcgcmg Carpentier Alting ten tang situasi

pada zaman itu, dan tentang perl

.umya di masa depan, dapat kita ketahui dari suatu artikel kiriman yang dimuat dengan nada sehtju yang jelas dari redaksi atas jsinya. 17 Artikel kiriman itu diberi judul "Pnnggilm1 -.ita di Hindia" dan mengajukan pertanyaan: Apa yang dapat

d.ibuat oleh pihak Nederland untuk membangunkan rakyat dari perasaan tidak peduli, dan langkah-langkah apa yang !:.'erlu diambilnya agar rakyat dipersiapkan kepada hidupyang .ebih bail<. Penjajahan kolonial, menu rut penulis, te!ah mena1<- .ukkan rakyat dan menciptakan ketergantungan sehingga ndak mampu lagi menentukan nasibnya sendiri. Katanya: "Penjajahan dan penaklukan! Saya teringafkembali kepada tahun-tahLm silam, suatu masa pencucuran darah dan kesengsaraan, suatu masa pencbuclidayaan tanaman secara paksa dan perpajakan. Penakluk yang tidak pernah puas dengan uang, dan rakyat yang menderita dengan sabar." ( ... ) "Be rtahun-tahun tekanan berat paksaan dan ketidakpedulian, telah menjauhkan orang priburni dari takclirnya yang sebenarnya. Kesemuanya telal1 menciptakru1 sifat-sifat buruk padanya: kepasrahan yang berlebihan dan tidak adanya cinta lerhadap kebenaran." Penulis artikel kiriman itu tidak menyinggung sampai sejauh mana kesalahan orang Belanda dan penjajah-penjajah ~'·ang lampau, namun kemudian menye1ukan: "Hai kamu yang tahu ten tang siluasi penduduk Jawa-aku panggH kalian sebagai saksi atas ucapanku, bahwa orang pribumi di bawah pimpinan atasannya, kepala desanya, mandumya, sama saja seperti mayat. Aku berseru kepada- mu pegawai negeri dan karyawan swasta, agar mengakui bahwa dari semua yang dimilikinya ia menyeral1kan upeti kepada kepaJanya. Sudah banyak yang diperbaiki dalam hal ini-hanya sebagai pengecualian dan secara sembunyi-
17. Idem th. 1, 74-80

FI'AREKAT M ASON BEBAS 1890- 1930

sembunyi pegawai negeri pribuml mengambil dari rakyat apa yang bukan haknya, hanya jarang ada pengusaha industri yang tidak yakin bahwa martabat dan kepentiJ1g- annya sendiri menuntutsupaya memberikan kcpadarakyat apa yang hak mereka".

Menurutpenulis, waktunya belum tiba untuk mcrnbiarkan bangsa dan negeri ih1 mencntukan nasibnya sendiri, dan apa yang selalu dikemukakan untuk mengesahkan kchadiran Belnnda juga dikemukakan di sini:

" Kalau kekuasaan Bela11da besok meninggalkan Jawa, dn- larn sekejap Jawa akan menjadi contoh w ilayah yang diabaikan, jalan-jalan dilumbtthi rumput, jembatan-jcmbatan ambruk, kampung-kampung menjadi sekumpulan gubuk-gubuk yang misJ...in, hutan-hutan rusak, keamanan lenyap; rakyat diperbuda k oleh banmg siapa saja dan dirarnpoki oleh orang tidak dikenal".

Agar rakyat menjadi sadar akan situasinya dan tercipta prasyarat yang memungkinkan ada perbaikan, maka belajar membaca dan menu lis merupakan hal yang sangat penting. Di samping itu dirasa perlu untuk menyebarkan buku-buku dengan keterangan yang bermanfaat bagi masyarakat. Ban yak juga dapat dicapai melalui pergaulan dengan "saudara berkulit cokelat". Namun jangansampai kita yang turun ke tingkat- nya, mclainkan kita harus mcncoba mengentaskannya ke ketingkat kita.

Setiap orang yang menginjakkan kakinya di tanah Hindia harus dijiwai keinginan kuat rneninggalkan jejaknyai dengan kesadaran bahwa ia sebagai orang Kristen, sebagai orang Eropa, sebagai penguasa, telah diberikan tugas yang mulia untuk membuat orang lain lebih baik. Perlakukanlah orang priburni pertama-tama sebagai rnanusla, tw1jukkan marta bar manusianya, bangkitkanlah melalui percakapan Anda gagasan-gagasan pada dirinya yang mungkin sedang tidur."

"Mari kita semua t~ekerja sama dengan baik untuk mengupayakan dinyalakan- nya terang yang lebih baik un tuk saudara berkulit cokelat, yang Jibebankan kcpada kita oleh panggilan kita sebagai Mason Bebas."

Apa yang pada tahun 1895 merupakan pokok terpenting Jalam lndisch Mn9011niek Tijdschrift juga mend a pat perhatian !"CSar pada Kongres Masonik Kedua pad a bulan Mei 1902. Pertemuan-pertemuan itu dimaksudkan tmtuk memperkuat hu- hungan loge-loge satu sama lain melaJui pembicaraan dari po- -i tu, yang berlangsung di Yogya, ketua loge .\lataram, P.A Einthoven, menandaskan bagaimana Tarekat ~Iason Bebas di Hindia selama tahun-tahun terakhir telah me:ngalami pcrgeseran daJam pokok yang djperhatikan. "Kalau sebelumnya asas filantropis yang dominan, sekarang gagasan etika dan perkembangan yang diutamakan, dan dibicarakan masalah-masalah di bidangsosial dan ketatanegaraan". 18

Di antara banyak pembicara yang menekankan hal

terscbut, terdapatjuga Mason Bebas dari Yogya Th.G.J. Resink, yang dalam sumbangsihnya an tara lai.n memohon perhatian bagi pendapat bahwa pendidikan rakyat harus berjalan bersama dengan perbaikan kcadaan ekonorni. 19 Resink, yang 11 di kongres itu berbicara sebagaj utusan loge Mata Hari" di Padan!St mernberil

"Pendidlkan rakyat adalah bagus. Namun apa artinya bagi orang-orang yang secara sosial kmang be run tung, kalau itu tidak disertai ulu ran tang an un tuk mengurangi kesengsaraan mate rill mercka, memperbaiki kedudukansosial mereka;

  1. Congresverslag Djokja 1902, 6 9 ldem 1902, 88-89

ZAMAN BERKEMBA:-:CNYA T AREKAT MASON 6EBAS 1890 - 1930

apa artinya pendidikan rakyat kalau tidak disertai dengan pekerjaan untuk memperoleh perbaikan nasib secara materi, kaJau kepada orang-orang yang berkekurangan ini, yang berkeinginnn namun tidak mampu, tidak diberikan jalan untuk mempcrbaiki nasib; apa artinya, kalau mereka yang berkekurangan dnl

Dan gambaran yangdilukiskan Resinl< dapat disimpulkan bahwa kongres bersikap scrius terhadap apa yang disebut "kesejahternan rendah", seperti telah dikemukakan Pemerintah seta hun sebelumnya melalui Troonrede. Di sam ping ana !isis ten tang sebnb-sebab perkembangan negatif eli bidang kesejahteraan, pembicara juga menyampaikan sejumlah usul dem.t perbaikan. Reaksi-reaksi di kongres itu seluruhnya positif. Ke- tua Einthoven mcngemukakan bahwa para hadirin "dengan persetujuan dan kcbahagiaan besar" telah mendengar usaha "Mata Hari" dania minta kepada Resink mcnyampaikan terima kasihnya kepada loge tersebut.

Kongres di Yogya ada pokok lain yang dibicarakan dan Carpentier Alting juga memainkan peran. Ia berbicara rentang pend irian sebuah "pensionnnt" (asrama sekolah), yang digabung dengan sekolah pendidikan dasar yang diperlu.as untuk anak-anak perernpuan di Batavia. 20 Gagasan pendirian sekolah itu timbul di loge "Ster in het Oosten" dan teJah disetujui sejumlah orang bukan Mason Bebas. Di sini kita rnelihat Tarekat Mason Bebas pada masa sekitar tahun 1900 dari sudutpandangyang berbcda. Alasan langsung adalahrencana penutupan H. B.S. (sekolah menengah wnum) Batavia dengan pendidikan tiga tahun untuk perempuan, sehingga sebagai akibatnya orang-orang tua hZtrus mengirim anak-anakperem- puan mereka ke salal1 saht sekolah beraliran agama. Banyak .Mason Bebas yang merupakan orang tua dari anak-anak, menganggap tidak adanya sekolah dcngan pendidikannetral merupakan suatu kekurangan. "Keberatan kami adalah bahwa anak-anak kami, bahkan anak-anak gadis kami, yang akan rnenjadi ibu-ibu di rnasa mend a tang dari angkatan yang muncul setelah kami, akan dididik di sana menurut suatu pandangan yang bertentangan seluruhnya dengan pandangan kami." Juga orang-orang bukan Mason Bebas me rasa tersen- tak, yang nyata dari kegiatan pengumpulan dana yang diper- 1ukan supaya sekolah itu dapat betjalan sebagai lembaga swasta; bagian terbesar modal yang diperlul

TidaJ< lama setelah KongTes Masonik tersebut berlangsung, sekolah itupun dibuka. Sekolah itu berbentuk H.B.S. tiga tahun, dan di sarnpingnya ada sebuah pensionnat a tau sekolal"l kos. Dimulai dengan sepuluh guru dan 32 murid, sekolah itu

  1. Idem 1902, 92-93

ZA..\1AN 6 ERKEMl3ANGNYA T AREKAT MASON BEBAS 1890- 1930

memerlukan subsidi pemerintah, dan itupun diperoleh tidak lama sctclah sckolah dibuka. Dengan demikian sekolah itu bagi komunitas Hindia T imur diakui. Untuk menghormati semua usaha A.S. Carpentier Alting atas pendirian sekolah itu, maka yayasan yang mengelola sekolah itu cliberi nama "Carpentier Alting Stichting". Tentang makna selanjutnya yayasan itu, ya ng bertumbuh menjacli badan pendidikan swasta terbesar di Hindi a, akan dibahas kemud.ian.

Dalam tahun-tahun itu Carpentier Alting masih menjalankan tugas penting lain, yaitu sebagai anggota komisi kemelaratan. Komisi ini diangkatoleh pemerintah Hinclia Belanda, komisi itu bertugas untu.k meneliti sebab-musabab kemiskinan yang terus saja meluas di kalangan Tndo-Eropa. Komisi itu menyampaikan beberapa rekomendasi untuk memperbaiki keadaan. Laporannya yang dibuat pada tahun 1902 memuat keterangan menarik, dan masih tetap merupakan sumber penting rnengenai masalahitu. Perhatian Carpentier Alting- dan banyak Mason Bebas lainnya -tentang nasib banyak orang Indo, san gat berbeda dengan sikap kebanyakan orang Belanda di Hindia. Van der Veur dalam bukunya tentang keadaan sosial-politik orang lndo-Eropa, mengatakan 11 "As far as the well-to-do Dutch citizens were concerned, they lrnd no contact whatever with. this group of 'degenerated' Dutchmen '' (Bagi warga Belanda yang mampu, merel"out- law", yang men1pakan "i'lllpoverished antluneducnted descendants

  1. Vander Veur 1955, 96

individttnls whose D11ly gift from Westem civi- lization wns tlznt of some ·European ' clznrncferislics mzd a 'European' nanze" (keturunan miskin dan tanpa pendidiknn dari serdadu-serdadu dan orang-orang lainnya, yang satu-satunya hadiah dari peradaban Barat adalah beberapa dli-ciri 'Eropa· dan sebuah nama 'Eropa'."). Orang-orang Mason Be bas secara perorangan dan loge-loge di I-Iindia patut dipuji karena mereka mempedulikan golongan itu dan mereka bentpaya untuk memperbaiki nasib mcrcka. A.S. Carpentier Alting telah memperlihatkan perhatiannya dengan pcrbuatan yang nyata.

Setelah hidup yang sibuk, Carpentier Altingmerasa bahwa pada tahun 1905 sudah tiba saatnya untul< kembau l<.e negeri Belanda. Berkenaan dengan keberangkatannya itu, dalam suatu pertemuan di Batavia dipersembahkan padanya suatu hacliah atas nama semua Mason Bebas di Hindia. Hadiah itu berupa album fmmat besar dengan foto-foto dari gedung-gedung masonil< dan dari ban yak anggota Tare kat. Oleh karena album itu san gat mungkin sudah hilang, ia aka.n digambarkan eli sini menurut teks dalam lndisch MnfOnnii!k Tijdschrift. 22 Suhu Agung yang al

''Kulit albwn itu merupakan produk kerajinan tangan Yogya dan terbuat dad belud ru biru; padn bagian depan dicantumkan monogram dari A.S. Carpentier Alting dalam bordiran emas yang redup dan yang mengkilap. Oi bagian belakang, dibubuhkan dengan cara yang sama, terdapat kata-kata: 'Finis coronnt opus'. Album itu diletakkan dalam suatu kotak yang indah, berbentuk buku, terbuat dari kayu sono, dengan pinggiran dari kayu areng, semuanya baik di depan maupun di belakang, pada punggung dan pada

  1. IMT th 10, 474

ZA.'MN BERKE.V!BA~GNYA T A!lEKAT M ASON BEBAS 1890-] 930

pinggir diisi dengan ukiran yang bag us, yang menggambarkan motif-motif dari rnitologi Jawa, di antaranya burung Garuda dan ular Nag

Beberapa hari setelah pertemuan perpisahan, Carpentier Alling meninggalkan Hindia Timur. Bahwa ia tidak kehilangan sedikit pun dari jiwa perjuangan dan semangatnya ternyata dari tulisan-tulisan yang dik.irimnya dari Nederland kepada redaksi Tndisch Maromriek Tijdschr~fr dan yang dimuat pada paruh kedua tahun 1905.

Carpentier Alting menetap di Den Haag dan meninggal d1 sana pada tahtm1915. Dalam I.M.T. ia diperingan dengan suatu artikeJ yang penuh emosi dituJis oleh salah satu penggantinya sebagai redaktur, yaitu Van Witzenburg. Terutama penyatuan loge-loge di Hindia ke dalam Loge Agung ProvinsiaJ ditandainya sebagai hasil usahanya. Namun ada juga suatu kritlk, sebab walauptm almarhum telah rnencapai hasil yang luar biasa besamya, Van Witzenburg memmjuk kepada suatu aspek da1i tabiatnya yang kadang-kadangmenyebabkan bahwa hal-hal tidak be1jalan sesuai yang diharapkan. Aspeknya itu adalah idcalisme besar dan harapan terlalu ti.nggi yang ditaruhnya pada sesama manusia.

''Hampir dengan kepercayaan seorang anak, ia pcrcayn pada ban yak orang yang menj

Padahal ia lupa bahwn antusiasme pada orang lain scring tidak lebih dari api yang hanya sebentar saja menyala". 23

  1. Pendirian lndisch Ma~omtiek Tijdsclzrift (Majalah Masonik Hindia) dan "Loge Agung Provinsial Hindia Belanda". Ketegangan dalam h ubungan dengan Nederland. Dalam uJasan tentang kegiatan AS. Carpentier Alting, telah disebut ten tang pendirian lndisch Ma~o11niek Tijdschrift dan Loge Agung Provinsial. Mengingat pentingnya kcdua lembaga tersebut bagi perkembangan Tarekat Mason Bebas Hindia, maka perlu untuk memb~basnya lebil1 lanjut. Dalam hal ini tidak selalu dapat dielnkkan untuk melanggaT kronologi keja- dlan. Persoalan yang hendak clibahas adalah seberapa jauh majalah I.M.T. dan Loge AgLmg itu memainkan peranan dalam proses pcmanclirian Tarekat Mason Bebas Hlndia, dorongan untuk menjalankan haluan sendiri telah menyebabkan bahwa ketegangan dengan Tarekat Nederland yang sudah ada sejEI k dahultt, akhin1ya timbul ke permukaan. KaJau hubungan tcgang pada masa 1890-1930 masih dalam batas-batas kewajar- anJ maka pada tahun 1935 pecah suatu kon£W< yang mendalam. Bab berikut akan rnembahas lebih lanjut mengenai ben- h·okan ih.t serta akibatnya. Sejarah I.M.T. dirnulai pada tahun 1895 dan berakhir dengan penuh.tpannya pada tahun 1956 atau1957, ketikaMedede- lingenMnd (Majalah Pemberitahuan) berhenti diterbitkan. Disel ingi masa per an& rnajalah itu selama lebih dari setengah abad menjalankan fungsinya sebagai forum penyaluran pend a pat, dan dalam tahun 1932 malahan dipuh.tskan bahwa
    I.M.T. mcnjadi corong resmi Loge AgLmg Provinsial. Sejak
  2. Idem th. 20, 289-292

ZAM.\ N BERK.E.\IIl!ANG:-JYA T AREKAT MASON BEBAS 1890-1930

semula pendirinya, A.S. Carpentier Alti:ng, mcmpunyai tujuan agar majalah itu memperkuat kerja sama antara loge-loge Hindi a satu sama lain dan memupuk rasa kebersamaan an tara para anggotanya. Satu-satunya kontak antaTa para anggota sampai waktu itu hanyalah dilakukan oleh mereka yang oleh karena jabatan a tau pekerjaannya dipindahkan ke kota lain, kemudian mengajukan pcrmohonan untuk ditcrima di loge 24 baru. Kalau di tempat yang baru itu tidal< ada loge- dan itu sering tcrjadi, men gin gat luasnya kcpulauan Hindia Timur-maka orang scpcrti itulangsu11g kehilangan hubtmgan dengan Tarekat. Perkiraan pada tahun 1900 menunjukkan bahwa "anggota-anggota dalam perantauan" mcncapai. jum1ah ratusan jiwa, a tau kurang lebil1sepertiga darl seluruh anggota. Tokoh yang mungkin dapat mcnjaga hublmgnn anggota-anggota satu sama lain adalah Wakil Suhu Agung di Batavja. Namtm dikeluhkan, terutama di lunr Jawa, bahwa hubungan seperti itu hanya sedikit saja dirasakan. Loge-loge sebelum tahtm 1895 memang telah digambarkan sebagai kesahtan-kesatuan yang tidak mempunyai hubtmgan satu sama lain dalam masyarakat Hindia. Untul< memecahkan isolasi tersebut, suatt1 majalah dapat mempererat hubungan-hubungan an tara loge-loge. Seperti dinyatakan oleh Carpentier Alting:

"loge-loge kHa selama ini berjnlan sendiri di jalan. Memang tidak b1sa lain. Pertemua.n-pertemuan-seperti di Eropa- di mana pa 1·a anggota dari berbagai daerah bertemu untuk berd iskusi, sa ling bertukar pendapat, sama-sama membuat rencana tentang pekerjaan yang harus dilnkukan, di sini lidak mungkin diadakan. Oleh karena itu san gat di perlt1kan suatu titik persatuan; dan itulah yang kami ingin sediakan 25 bagi semua dalam majalah ini'' .

  1. Gedenkboek 'l917, 460
  2. Lv1T !h.l, 2

unhtk menjalankan h1gas tersebut. DiBelandaiasudah pernah menjadi redakhu Mar;onniek Weekblad (Mingguan JYfason1k) dan begitu tiba di Padang ia sudah mulai memikirkan rencana mernbuat hal seperti iru di I-I india. Namun eli kota pelayanan- nya yang pertama itu rencananya belum dapat terwujud. Loge-loge telah ditulisi untuk meyakinkanmengenai gagasan tersebut, namtm reaksinya mengccewakan. Unhtk suatu loge kecil seperti yang di Padang mungkin usaha seperti itu terlalu berat; sedangkan loge-loge lain mundur karena biaya yang besar yang diperlukan unhtk menerbitkan majalah seperti iht. Segi keuangan juga tidal< dapat diabaikan. Ketika para Mason Bebas Van Eck dan Kraijenbrink, para pemilik badan penerbit Van Dorp & Co., mendtlkung rencana itu, dari segi keuangan rencana terbitannya rampung. Narnun kemudian ternyata bahwa perusal1aan penerbit itu sering harus menombok keuangan majalah tersebut.

Sekitar tahun 1895 sihtasinya sudah jauh lebih baik. Ketika

d.itanyakan apakah ada yang berminat, hampir selalu tanggap-annya positi£. Dalarn wakh1 singkat beberapa ratus pe1anggan mendaftarkan diri, sehingga edisi pcrtama dapat segera terbit. Dengan jumlall anggota 567 orang, bukan perrnulaan yang buntk. Majalah ihl beruntung bahwa penclirinya bertindak sebagai redakhu selama sepuluh tahun. Di bawah kepepimpin- annyq rnajalah itu berkembang, seperti dimaksudnya, menjadi forum Tarekat Mason Bebas Hindia Timur. Artikel-artikel utarna biasanya ditangani oleh redaktur sendiri, sehingga tidak dapat dimtmgkiri bahwa ia memberi wama khas pada majale1h itu. Berita-berita dari dalam dan luar negeri memberitahukan kepada pcmbaca-pembaca apa yang sedang te1jadi di dtuua masonik. Loge-loge hlrut menyumbang rnengirim berita-

ZA\IAS B tRKF.I\IIlAl\:CWA TAREKAT MASON BEBAS 1890-1930

berita mengisi rnajalah itu, termasuk kirirnan buku-buku ban.1, sedangkan rubrik "artikel rnasuk" rnemberikan kesernpatan kepada anggota-anggota untuk mengernbangkan gagasan-gagasan barn a tau rnenyampaikan tanggapan rnereka. Wama yang dikernbangkan I.M.T. selarna bertahun-tahun penerbit- annyasebagai corongTarekat Mason Bebas telah digambarkan sebagai berikut oleh Carpentier Alting:

"Majalah ini, khususnya ditulis oleh dan untuk kaum Mason Bebas-sebab hanya daJam lingkungan Tarekat orang bisa berbicara dengan bebas, tanpa ragu-ragu, tanpa me- nahan scsuatu -selalu dijaga untuk tidakmemberikan angm kepada pendapat seakan Tarekat Mason Bebas hanya rnerupakan sesuatu yang bermanfaat dan bermakna bagi orang dalam; semua yang dapat memberi kesan seakan Tarek(l! (ldalah suatu 'misteri' -yang akan menempatkan- nya di luar dunia kehidupan yang nyata-telah dijauhkan olch majalnh ini. Sebaliknva, nilai dan makna besarTarckat, mcnurut pendapat redaksi yang bergantian, selalu adalah bahwa Tarekat itu berdiri di tengah kehidupan dun.ia; T.:lre- kat Mason Bebas akhimya adalah pengLmgkapan tertinggi kehidupan umal manusia. Oleh karena ih.1 tidak ada satu persoalan pun, yang bergerak di masyarakat di luar Rumah Pemujaan, yang pada dasarnya tidak coco k unh.1k dibal1as dalam majalah 1ni "'~

IMT selalu berpegang pad a garis itu, juga ketika berada eli bawah para pengganti J .H. Carpentier Al ting, yakni Th.G.G. Valette, A. van Witzenburg dan D. de Visser Smits. Juga suatu keberuntungan bahwa redaksi untuk waktu yang larna terus berada di satu tangan yang sama sehingga kontinuitasnya terjaga. Hanya pada periodc tahun ·1937-42 rcdaksi dijalankan tiga orang. Pada bulan Scptcmb~r 1932, majalah itu mernperoleh stahts "Organ Loge Agung I'rovinsial Hindi a Belanda'' dan sejak ih1 diki_d m ke seluruh anggota yung bcrjumlah 1.400

  1. Idem th. 50, 376

Agtmg Provinsial, dan keadaan itu bertahan sampai terbitan terakhir.

Setelah penerbitan lndisch Mnfonniek Tijdschrift terjamin keberlangstmgannya, Carpentier Alting mengarahkan perhatiannya pad a terwujudnya suatu keinginan kedua. Kalau pada persiapan penerbitan I.M.T. h1juannyaadalah tmtukmemper- kuat rasa kebcrsamuan, pada masa eli mana Tarekat Mason Bebas mu1ai lebih inte:nsif memperhatikan masyarakat maka kebuhthan juga meningkat tmtuk mengaitkan loge-loge de- nganlebihkuatpada mientasi yang baru itu. Pengalaman telah mengajar bahwa prakarsa-prakarsa dari loge-loge sering berlawanan tujuan, atau mereka bekerja tanpa yang satu mengetahui pekerjaan yang lainnya. Suatu koordinasi yang baikmemerlukan suatu pengaruran yang dapat mencegah hal seperti itu di masa depan. Suatu faktoryangikutmemainkan peran ialah bahwa gereja-gereja pada zaman itu mulai rnengintensifkan tugas kemasyarakatan mereka. Terutama sekolah-sekolah biara pada zaman ltu sangat diperluas, yang sering membuat gusar unsur-unsur komunitas Eropa yang berpilIndisch Mnfomziek Tzjdsclznftpada waktu itumemuat banyak artikel yang berjuang melawan "pemaksaan dogmatisn Gereja Gereformeerd atau "ultramontanisme" Gereja Roma Katolik. 27 Dalam artlkel-artikel Carpentier Alting, ia menyatakan kekhawatirannya bahwa ortodoksi akan mengancam keb11ineldi Tweede Kamer (DPR Belanda) pada tahtm 1912, di mana dil

  1. ldem th. 38, 1

ZAMAN BERJ;.EMBANCNYt\ T i\RBKAT MASON BEBAS 1890- 1930

"Pembangunan dan subsidi kepada sekolah-sekolah zcnding yang tents dilakuknn hanya mengakibatkan rasa geUsah dan den dam yang terp12nd\forslenlnnden (Negeri-negeri Sultan) yang dahulunya begitu tenteram sekarang sedang ditimbun b«han-bahan bakar berbahaya. Mcnanggulangi bahaya ini sebelum lcrlambat, menu rut saya merupakan tugas utama dari orang-orang yang berpikiran bebas, yang kebijakan pendidikannya di Hmdia ternyata telah menjamin adanya kerukunan beragama dan yang selarus dengan keinginan mayoritas orang lua pribumi". 2 ~

Untuk itu perlu organisasi diperkuat agar gagasan pembentukan Loge Agung Provinsialuntuk Hindia Bclanda mendapat dukungan. Peranan yang dimainkan Carpentier Alting dalam pcmbentukannya mendapat pc.rhatian dan tercatat daIam literatur masonik yang memungkinkan kita merekons- truksi pembenh1kannya. 29

Walaupun sejak pertengahan tahun delapan puluhan abad ke-19 telah terungkap keinginan agar loge-loge bersatu menjadi lebih d~kat, ternyata cinta akan kernerdekaan yang lama masih begitu kental schingga untuk semen tara waktu tidak dapat diperbuat apa-apa. Langkah-langkah konkret pertama kemudian dilakukan oleh loge 11 Prins Frederik" di Kota Raja, ibu kota Aceh yang jauh. Alasannya sangat praktis, suatu loge yang tidak disebut namanya, pada pendirian suatu badan amal telah menyanggupi kewajiban-kewajiban keuangan yang ternyata melampaui kemampuannya. Kepada loge-loge yang lain kemudian clirninta untuk mendukung proyek itu dan juga membantu secara keuangan. Keadaan seperti ini sering juga terjadi dan jika proyeknya mempunyai makna yang lebih luas dari sekadar kepentingan lokaJ saja maka memang dipandang Ia yak jika loge-loge yang lain juga ikut membantu. Cara kerja

  1. De Bruin dan Puchinger 1985, 53-55
  2. Gedenkboek 1917, 107 dan seterusnya.

itu, di mana setiap loge bertindak atas prakarsa sendirL kadang-kadang menimbulkan kekecewaan seh1ngga beberapa 30 rene ana gagal terlakscma oleh karen a persia pan yang buntk.

Dalam suatu s1.uat kepada Wakil Sulm Agung tertanggal 15 Maret 1896, badan pengurus loge "Prins Frederik" menguraikan masalah tersebut danmenyampaikan usul agar pada pendirian suah1 badan amal, kalau perlu diminta dahulu nasihat kepada Wakil Suhu Agung. Persetujuannya kemudian dapat dianggap sebagai prasyarat unhtk meminta supaya loge-loge lain ikut mendanainya. Yang agaknya terlalu maju adalah bagian dari usuJ agaT Wakil Suhu Agung kalau perlu dapat mewajibkan loge-loge lain mentransfer jumlal1 uang yang ditetapkan bagi suatu proyek yang tidak hanya melayani 3 kebutuhan setempat melangkah agak terlalu jauh. "~ 11 Bagi Wakil Suhu Agtmg G. A. Scherer, surat dari loge Prins Frederik" merupakan alasan tmtuk mengundang wakil-wal

Sementara iht H.J. Meertens menjadi Wa1

  1. IMT th.2, 346-348
  2. Gedenkboek 1917,108
  3. IMT th.2, 29
    J?5

B ERKE .. '\I BANG~YA T A!(EKAT 1ASO:-.. BEBAS 1890 - 1930

dan dialah yang memimpin perternuan yang pertama. Suatu

laporan panjang lebar tentang pertemuan itu dimuat dalam

I.M.TY Carpentier Alting bukan saja hadir sebagai redaktur,
11 tetapi juga sebagai utusan loge La Constantc et Fidcle". Di sam ping itu ia juga mewakili loge "Mata Hari" dari Padang. Mengenai usulloge "Pdns Frederik", dalam pertemuan itu diputuskan sebagai berikut: Di antara para peserta ternyata banyak keberatan terhadap apa yang dianggap sebagai pelanggaran terhadap otonomi loge-loge yang telah ditetapkan dalam anggaran dasar. Keberatan itu bermuara pad

Para utusan loge-loge itu rnengadakan pertemuan lagi tiga bulan kemudian. Perternuan itu diadakan di Solo, ] awa Tengah, scperti yang diingini Carpentier Alting. Saat itu diadakan pcmtmgutan suara atas usul yang disusun pada pertcmuan sebelumnya. Dengan delapan suara setuju, memang

  1. Idem th. 2, 344-393

unhtk pendi1ian suatu Loge Agung Provinsial, namun lima loge rupanya begiht mencintai kemerdekaannya sehingga memberi suara tidak setuju. Namllil keputusannya telah diambil. Suaht kornisi yang terdiri atas tiga orang dibentuk-salah seorang anggotanya adalah Carpentier Alting-unruk menyusun anggaran dasarnya. "Konsep Peraturan-peraturan w1tuk Loge Agung ProvinsiaJ unhtk Hindia BelandaJ/ dimuat dalam T.M.T agar sebanyak mungkin pern- 34 baca dapat menilainya. Setelah mempelajari semua tanggapan yang masuk, komisi tersebut kemudian mengi.rim konsep yang diperbaiki kepada semua loge, dan konsep ittt juga 35 d:imuat dalam I.M.T. Juga cliajukan pertanyaan kepada loge-loge itu apakah mereka bersedia masukke dalam Loge Agtmg Provinsial atas dasar konsep baru itu. Terutama artikel yang mengatur kegiatan-kegiatan Loge Agtmg, mengalami banyak serangan dalam diskusi yang menyusul.

Setelah persiapan-persiapannya rampung, maka pada tanggal13 Oktober 1898, di bawah pimpinan penjabat Wakil Suhu Agtmg H.J. W. van Lawick van Pabst, cliadakan lagi pertemuan antara loge-loge itu di Batavia tmtuk membicarakan konsep peraturan-peraturan. Hasilllya ialah bahwa pertemuan itu menetapkan peraturan-perahrran iht dengan suara mayoritas yang terbesar. Pcngecualiannya adalah loge "De Vriendschap" di Surabaya, yang menolak setiap usaha mengw:angi kemerdekaann ya.

Langkah berikut adalah tmhtk mengirim sua hi perrnohonan resmi untuk menclliikan suatu Loge Agung Provinsial bagi Hindi a Belanda kepada Pen gurus Besar Tareka t di Den Haag, bersama-sama dengan konsep peraturan-peraturan. Dalam

  1. idem th. 3, 133-139
  2. Idem th. 3, 415-417

_____ ZAMA:'>! BE.RKEMBANGNYA T AREKAT MASON BEBAS 1890- 1930

laporan tentang hal itu, yang ditulis oleh Carpentier Al ting, di.nyatakan kepuasan atas hasil yang dicapai, walaupun ia menyesalkan bal1wa loge "De Vriendschap" tetap menolak tmtuk masuk. Loge yang barn didirikan "Humani tas" telah menyatakan simpatinya dengan pendirian Loge Agung, namun oleh karena alasan formal masih menjadi penonton. Dalam laporannya, Carpentier Alting menyatakan bahwa alasan mengapa perlu persatuan yang lebih erat di dalarn tubuh Tarekat Mason Bebas adalah ancan1an "ultramasonis- me" dan "konfesionalisme Protestan" terhadap kehidupan 36 publil< dalam negeri jajahan itu. Kaum Mason Bebas, demikianlah Carpentier Alting, "sekarang harus memilih bercliri di pihak mana dalam pertarungan an tara kekuasaan dan kemcrdekaan, perkembangan harmonis dan pemaksaan rohani, pemujaan benda dan idealisme murni".

Setelal1 keputusan pada tanggal13 Oktober 1898, peraturan-peraturan diajukan l

"Semoga pagi hari telah tiba yang menerangi hidup baru Tarekat Mason Bebas Hindia. Kehidupan masonik semakin bergairah, di mana-mana di Nusantara kita. Seakan-akan para anggota mengerti bahwa mereka sedang menjalan.kan misi di dunia kita ini. Dan benar! Lebih daripada eli Eropa, di sini tanahladang sudah siap, di mana asas-asas kita dapat 37 disebarkan".

Al

  1. Idem th. 4, 281-282
  2. Idem th. 4, 500

dati Loge Agung Provinsial terselenggara. Upacara itu dipimpin oleh Carpentier Alting yang semen tara 1h.1 tclah diangkat menjadi Wakil Suhu Agung. Pemberitahuan dilakukan tentang kcpu tu.san Majelis Tahunan yang menye- mjui pend irian Loge Agung Provinsial, dan setelah itu kegiatan-kegiatan dapat dimulai. Kemudian para hadirin mendengar suaht pidato yang meninjau kcmbali proses pendirian Loge Agw1g Provinsial, sedangkan Carpentier Alting secara tcrharu menyatakan bahwa kc1ja sama an tara loge-loge mewpakan suatu keharusan yang mendesak mengingat begitu banyak pekerjaan penting yang perlu dike~akan. la mulai dengan melukiskan keadaan :taman itu dan masalah-masalah akhtal yang dihodapinya, kemudian dilanjutkannya:

''Malam ini mcrupakan malam yang serius, dan dapat men- j;:~di malam penting dalam sejurah Tarekat Mason Bebas Hindia Timur. Pernah ada waktu di mana loge-loge kita tidak tahu a tau sedikit sajJ tahu tcntang pekerjaan masing-masing; sekarang masa isolasi sudah berlalu. Dan kekuatan kita bukanlah terletak dalam 'kelerpisnhan, melainkan di dalam persatuan. Siapa yang mengerti tentang tanda-tandn zaman, pasti akan merasakannya: Bagi kita, sekarang hari sudah larut siang. Waktu sudah sangat mendesak. Kekuatan yang mau merebut kemerdekaan kita, setiap hari semakin kuat, kekuatan yang mau membawa anak-anak kita di bawah kekuasaan imam-imam, dan yang merelakan semua cara untuk mencapai tujuannya yang tidak sud itu. Dalam menghadapi bahaya im hanyalah persatuan yang dapat rnenghasilkan kekuatan. Namun musuh-mustlh lain mengelilingi kita. Ketidaktahuan dian tara orang ban yak itu sru1gat besar, dan sangatlah mengkhawatirkan sikap acuh mereka terhadap masalah-masalah hid up yang besar, yang muncul dalam hati semua orang yang berpikir dan yang tidak membuat mereka tenang sebelum mereka mendapat ja wabrumya. Kekurangan intelektual dan materiil mengelilingi kita dari segala segi; kita juga yang hams menjadi penyelamat-penyelamat dari orang-orang yang membutuhkan pertolongan itt1.

BERKt.MllANC:'I:YA TAREKAT MASON BEllAS 1890 - 1930

Masa ini sangnt serius. Akhir abad ini sedang mengalami goncangan hebat. " 38

Pada akhir pidatonya, ia menguraikan apa yang harus dilakukan oleh kaum Mason Bebas:

"Saya harus mengulangi. Waktu sudah sangat mendesak. Tarekat Kaurn Mason Bebas berdiri tegak di antara perserikataJ1 dan perkumpulan yang lain; mereka telah membela hak hidup kita. Seakan-akan kita ha rus mengemis agar ditoleransi. Kita, yang berhak berada di btll'is dcp1u1 di dalam pertarw1gan sesehari, kita ya ngharus membawa panji dari humanitassejati. Karena hal itu tidak dimengerti, maka mereka yang berbakat dan berpcngaruh ragu-ragu untuk datang bergabun& dan banyak yang sebenarnya sudah mempakan bagian dari barisan kita, seri ng masih jauh dari kita. Saya tidak dapat mcnyembunyikannya, masih ada kelesuan dan keletihan di banyak Tempat Ke rja, masih saja dicari pekerjaan yang bukan khas pekerjaan kita saja dan yang dapat juga dengan dilakukan pihak lain sama baiknya atau malahan lebih baik lagi. Tetapi kita, janganJJh kita mengeluh. Juga di negeri ini telah dibangkitkan hid up baru. Kata-kata "hai bangunlah engkau ynng tidur'' telah diserukan. HaJi ini menyaksikan tentang hidup baru itu; bahwa seruan pad a pagi hari itu sudah didengaJ dibuktikan oleh malam ini. Saudara-saudara! Mari bekerja!"

Kegiatan pertama Loge Agung Provinsial akan disoroti dari lebih dekat agar dapat diperoleh gambaran tentang hal-hal yang dihadapi Tarekat Mason Bebas di bawah pimpinan Carpentier Alting pad a a wal a bad ke-20. Untuk itu, rapat-rapat tahunan yang diadakan dari tahun 1899 sampai tahun 1905 akan diikuti. Segera pacta hari pertama setelah pendirian sudah diadakan rapat pertama pada tanggai 26 Desember

  1. Sejumlah besar butir agenda dibicarakan, di ITtana
  2. Idem th. 5, 194-195
  3. Idem th. 5, 243-244

loge-loge, tetapi juga perkumpulan-perkumpulan masonik ke dalam Loge Agung Provinsial. Juga usul agar loge-loge Hindia Timur in gin dipertimbangkan kalau ada lowongan-lowongan dalam Pengurus Besar di Nederland1disetujui dengan suara banyak. Begittt juga suatu mosi dengan permintaan ngar Pengurus Besar mengambillangkah-langkah tmtttk mcmajukan ket;a sarna antara loge-loge satu sama lain dan kerja sarna antara loge-loge dru·i Timur-Majelis Tahunan yang lain.

Tidak lama setelah itu, pada tangga1 24 dan 25 Maret dilangsungkan rapatumumkedua, dimana ditetapkan peraturan tata tertib dan anggaran untuk tahun berikut, sedangkan iuran loge-loge ditcntukan berdasarkan suatu jumlah tetap per anggota. Laporan Carpentier Alting terutama memberitakan tentang suatu usul untuk "rnengubah dan mena_hapus pasal-pasal dari Anggaran Dasar dan Peraturan yang meng- 110 urajkan kegiatan dan wewe.nang Loge Agung Provinsial.~ Oleh karena ini merupakan persoalan yang menyangkut hubungan antara Loge Agung Provinsia1 dan Pengurus Besar, maka hal itt1 akan dibahas lebih dahulu.

Semuanya berkisar pada masalah status Loge Agung Provinsial. Menurut peraturan1hanya Pen gurus Besar dan loge-loge tersendiri yang dapat mengajukan usul-usul untul< dibahas di Majelis Tahunan. Unttlk mengatasi masalab tersebut disetujui bahwa kalau ada perkara yang muncul, maka salah satu loge al

  1. Idem th. 5, 370-371

U'viAN BERKE1VfBANGNYA T AREKAT MASO:-.J BEBAS 1890-1930

mang bukan suatu badan tersendiri, mel ainkan suatu

kesatuan abstraksi dad loge-loge.

Pada pertemuan-pertemuan Loge Agung Provinsial

akhirnya diambil keputusan untuk mengadakan pertemuan berikut di ]a wa Tengah, dan pilil1cumya jatuh pada Semaran& di mana loge ''La Constante et Fidele'' pada tah1-m itu merayakan pesta seabadnya. 'Pada tanggal 11 dan 12 Mei 1901 Loge Agtmg Provinsial mengadakan pertemuan, dan para pescrta merasa senang ketika ternyata utusan-utusan "De Vriendschap" juga hadir dalam pertemuan tersebut. Keberatan-kebe- ra tan terhadap keanggotaa11loge itu yang sebelumnya diutarakan rupanya sudah teratasi, dan baru sekarang benar-benar ada persatuan di antara loge-loge di Hindia Timur. DaJam acara pertemuan tertera usullmtuk mengt1bah anggaran dasar, yang pelaksanaannya akan mempunyai dampak besar terJmdap hubungan dengan Majelis Tahunan Nederland.

Apa persoalannya? Dua tahun sebelumnya Majelis Tahlm- an memang telah menyetuju i peraturan pelaksanaan anggaran dasar Loge Agung Provinsial, namw1 deuga11]Jerubahan-perubahan sedemikian rupa sehingga posisi dan wewenang Loge Agung Provinsial dirongrong. Kalau mula-mula maksudnya bahwa pada pertemuan-pertemuan talmnan akan dibahas sural: penjelasan untuk Majelis Tahuna11 (rapattahunan di Belanda, Ed.) agar dapat memberikan nasihat sebelumnya kepada loge-loger maka sekarang wewenang itu tidal< lagi dimiliki Loge Agung Provinsial. Lagipula Pen gurus Besar ( di Bclanda, Ed.) teJah memberitahukan bahwa surat penje1asan tidak boleh dibahas di sana. Bagi para anggota dj Hindja perubahan itu menimbulkan kekecewaan besar, seperti yangter- nyata dari suatu surat edaran yang dikirim kepada loge-loge pad a bulan Agttshts 1901. Dengan pent bah an yang diadakan itu, demikian bunyi tcksnya, maka Loge Agung Provinsial

menjadi suatu pertemuan informal yang tidak berarti, tanpa manfaat yang penting. Loge Agung itu tidak pernah akan menjadi apa yang semestinya ia menjadi, dan apa yang selalo dimaksudkan oleh pendiri~pendirinya: suatu perkumpulan, suatu titik pusat, di mana pcrra Mason Bcbas Hindia Timur dan tempat-tempat kerja Hindia Timur dapat membicarakan kepentingan-kepentingannya sendiri yang paling tinggi dan juga kepentingan-kepentingan Tare kat''. 41

Kekecewaan terhadap keputusan yang diambil di Belanda itu begitu besar sehingga pertanyacm dikernukakan:

"Apaknh hal itu dapat diserasikandengan kepercayaan dan rasa hormal, yang juga patut diberikan oleh Majelis Tal·mnan kepada kaum pria bebas, yang memiliki pendidikan dan pet·adaban, yang telah mereka kerahkan untuk memajukan tujuan Tarekal Mason Bebas ( ... ) sehingga mereka itu dilarang, bu kan untuk mengadakan pengaturan atau mengambil kepu tusan ten tang kepentingan-kepentingan itu, melainkru1llnluk berbicara sendiri len tang hal-hal itu, hanya karena pengatunm atau keputusan itu diserahkan kepada Majelis Tahunan?"

Setahun kemudian tercapai pengattuan baru di mana wewenang Loge Agung Provinsial ditetapkan secara mernuaskan bagi Tare kat Mason Bebas Hinctia Timur. Pada Majelis TahLm- 11 an yang diadakan pada bulan Juni 1902, log~ 0e Ster in het Oosten," juga atas nama loge-loge lalnnya dj l-linclia, rnengemukakan suatu usul yang kemucUan diterima, dan yang diru- muskansbb:

''Loge-loge di luar Kerajaon [Nederland] di Eropa bebas Lmtuk berhimpun dalam suatu Loge Agung Provinsial untuk mengurus kepentingan yang bersifat kerumahtanggaan, membicarakan kcpentingan umum Tarekat d;m untuk

  1. Gedenkboek 1917, 119

z.~.\1AN Bc.RKt:MMNcNvA TAREKAT MASO~ BEaAs 1890 - 1930
memajukan persatuan. Loge Agw1g Provinsia l tidak boleh mengambil keputusan tentang pokok-pokok a tau masalah-masalah, yang penga tu ran atau keputus(lnnya telah diserahkan kepada Majelis Tahunan atau Pengurus Besar."

Dengan demikian hubungan an tara Loge Agung Provinsial dengan Pengurus Besar, dan dengcm Majelis Tahunan telah ditetapkan, namun belum diattu secara definit:if. Malahan pada rapat tahun 1905 suatu usul beredar di mana ditmgkapkan keinginan unhtk me.ndirikan suatu Majelis Tahunan Hindia Timur yang merdeka. Waktu iht usul tersebut tidak dibahas, narnun soal itu menimbulkan pergolakan besar.

Tarekat Mason Bebas Hindia Timur mulai bersiap-siap rnenga L-ur dirinya sesuai pendapatnya sendi.ri, dan oleh karen a itu hubungannya dengan " Den Haag" menjadi semakin sulit. Oalam hal itu, menari k u ntuk mengada kan perbandingan d c- ngan situasi yang ada, di mana orang-orang Belanda di Hindi a Timur juga tidak mcmpunyai pengaruh apa-apa terhadap susunan Stnten-Genernnl (DPR Belanda). Usaha untuk memperoleh sedikit kemerdekaan politik bagi Hindia Timur mendapat padanannya di Tarekat Mason Bebas Hindia. Keinginan untuk diwakili di Majelis Tahunan dan penggarisan lVerenigde Oost-lndische Cornpngnie (Kompeni) kekuasaan tertinggi diberikan kepada suah1 jabatan yang ditempatkan jauh di depan, yakni gubernur jenderal. Kewenangannya telah dituangkan dalam instruksi-instruksi, dan hal yang sama berlaku juga bagi pihak-pihak yang bertindak eli Hindia Timur atas nama Suhu Agung. H ageman merumuskannya pada abad ke-18 sebagai berikut:

"KekuasAan tinggi, dari mann asal, pelaksanaan dan perluasan di Hindia Timur muncul dan bermuara, menu rut

jabatan Suhu Agung di Belanda_ Kekuasaan tinggi itulah melalui pendelegasian dan perwakilan memberikan kekuasaan provinsialuntuk bagian TimLu dan Barat dari Hindia Timur kepada para Anggota yang berangkat ke sana". 42

Juga selama abad ke-19 tidak banyak yan g berubah. Memang ada wakil dari loge-loge HindiC1 Timur di pertemuan Majelis Tahunan tahtm 1833, namun ia tidal< memainkan peranan penting di dalamnya. 43 Suatu terobosan terjadi pada tahun 1844 berkat usaha dua loge Amsterdam.+1 Prasejarahnya cukup menarik sehingga akan diuraikan secara singkat di bawah ini.

Oleh karena mereka dibawahi oleh Majelis Tahunan Nederland/ loge-loge Hindia Timur setiap tahun menerima undangan formal untuk mengirirn utusan ke Majelis Tahunan. Ternyata bahwa beberapa loge, dengan menunjuk wakil-wakil di Nederland, memang ingin rnenggunakan hak mereka itu. Pada tahtm 1840 loge "De Ster in het Oosten" di Nederland diwakili oleh F.L. Willekes Macdonald, anggota "Vicit Vim Virtus" di Haarlem. Willekes Macdonald bekerja dengan mstruksi yang telah disusun oleh loge Batavia, dan mengikuti pola itu loge Surabaya "De Vriendschap" mengatur wakilnya juga. Mercka bcrhasil meminta De Lange, seorang anggota loge Alkmaar "De Noordster" untuk mewakili mereka. Namun ketika kedua wakil tersebut menyatakan akan menggunakan undangan itu, ada usaha-usaha untuk merintangi kehadiran mereka. Akhirnya cticapai suatu kompromi. Willekes Macdonald dan De Lange diizinkan hadir di Majelis Tahunan, namun bukan sebagai wakil-wakil kedua loge Hindia Timur

  1. Hageman 1866,16
  2. Idem 1866, 141-142
  3. lMT th. 37, 146

BERKHIBANGNYA T .. \RfKAT MASON BEB.-'.S 1890 - 1930

tersebut, melainkan sebagai wakilloge mereka sendiri. Menurut penulis artikel dari mana 1di seberang lautan dapat dilakukan. Ketika dikemukakan bnhwa beberapa syarat-syarat tertentu perlu dulu dipenuhi, "De Vriendschap" membalas dengan pedas. Kalau, menmut pendapat loge ini, hak perwakilan diganggu-gugat, maka ia akan mengambil kepuh.tsan Ltnhtk tidak lagi bekerja di bawnh Majelis Tahunan Nederland dan akan mengirirn kembali surat konstitusi kepada Waki l Suhu Agung Nasional. Langkah itu, menurutsuah1 dokumen dalarn arsip loge tersebut, tidak hanya dibenarkan, malaha11 disambut dengan baik oleh para anggota loge yang bersangkutan. Malahan loge itu hdak bersikap negatif terhadap gagasan mendirikan suatu Majclis Talmnan di Jawa. Pendirian yang dipcgang secarc1 umum pada tahw1 1842 dilukiskan dalam 1 scbuah surat dari " De Vr·iendsd1ap' kepada De Lange.

"Kami lidak akan menyangkal bahwa kami akan merasa snngat bahagia kalau perkara diselesaikan sesuai keinginan kami, dan kami terus bekerja di bawah Majelis Tahuni'ln Nedcdand1namun kami tidak akan mw1dur, oleh karcna pengurusan perkara ini yang bel'larut-larut, oleh karena kami sering berhubungan denga n anggota-anggota dari banyak bangsa, dan oleh karena pengertian-pengertian sebagai warga dt..mia, maka kami sudah bcgitu lama terbiasa dengan kemungkinan pernisahan dari Majelis Tahunan Nederland yang menginjak-i:njak hak kami dan melecehkan kami dengan menolak wakiJ kami setelah meminta karni mengutus wakil, maka terhadap pewujudan pemisahaJ\ itu, kami benar-benar sama sekali tidak akan mundur".

Mengenai perwakilan Majelis Tahunan Nederland di Hindia Timur, tidak ada yang lidak jelas. Wal

Tarekat Mason Bebas Hindia Timur". Dalam penulisan sejarah oleh Hageman yang meliputi periode sampai tahun 1866, tidak ada lagi rujukan lain tentang hubungan antara Belanda dan Hindia.

Perubahan-perubahan penting dalam organisasi Tarekat Ylason Bebas di Hindia Timur baru tcrjadi menjelang akhir a bad ke-19, dengan didirikannya "Loge Agung Provinsial Hindia Beland a". Namun pada tahun delapan puluhan di abad itu telah terjadi sesuatu yang menw1jukkan adanya dorongan bagi pembaruan. Pad.:~ tahun 1886 suatu komisi dari loge "De Ster in het Oosten" menyusun suatu laporan yang bersama-sama dengan konsep anggaran dasar dan peraturan rumah tanggn dikirim kepada loge-loge. Maksudnya adalah w1tuk meminta perhatian terhadapsuatu pentbahan dalam hubungan dengan Belanda, suatu peru bah an yang menjurus kcpada kcmcrdekaan yang lebih besnr. Olch loge " La Constante el Fidcle" di Scmarang pada tahun yang sama disusun suatu dokumcn dengan nada yang sama. 4 s

Mengenni pcriode tersebut, redaktur J.M.T., yaitu A. van Witzenburg telah memberitahu beberapa hal. Sekitar tahun 1800, demikian Van Wrtzenburg, Wakil Suhu Agung hanya mempunyai hubungan yang sedikit dengan loge-loge. Kegiatannya hanya tcrbatns pada penyampaian pemberitahuan-pemberitahuan dan penerimaan surat-surat. Memang ada juga usaha untuk bergerak berdasarkan anggaran dasar dan peraturnn rumah tangga, namun sampai seberapa jauh peraturan-peraturan itu diikuti, tidak ada yang mengambil pusing. Kalau Wakil Suhu Agung sudah huang mengetahui keadaan, apalagi Pengums Besar di Den Haag yang bahkan sam a sekali tidak tahu ten tang apa yang sedang berlangsung.

  1. Idem th. ·ll, 162

ZA.,\1AN BERKEMBANG!\IYA T AR EKAT MASON BEBAS 1890-1930

Loge-loge diselenggarakan dengan kemerdekaan penuh, dan juga dian tara merekasenclirihanyasedikit terjaelikontak satu sama lain.

Kalau penerbitan LM.T. rnerupakan langkah pertama menuju persa tuan yang lebih de kat, maka pend.irian Loge Agung Provlnsial merupakan langkah kedua. Walaupun ada loge yang sangat berpegang pada otonorni mereka, dalam waktu yang singkat semuanyaloge telah bergabung. Karena memang tidak mernptmyai kekuasaan yang luas, maka rnenurut Van Witzenburg, Pengurus Pusat tidak bersedia untuk melepaskan sedikitpun dari kekuasaan mereka dan Loge Agung Provinsial terpaksa pasif saja. Pad a awal rnasa jabatan dari mr. }.C. Pott sebagai Wakil Suhu Agung ia mengWigkapkan keinginannya w1h1k membuat Loge Agung Provinsial suatu badan yang Jebih berke- kuatan.46·

Dari gambaran di atas jelas bahwa gagasan untuk menjadikan Tarekat Mason Be bas di Hindi a suatu organisasi yang merdeka memang mempunyai pendukung-pendukung namun tidak mempunyai suara terbanyak. Juga penulis dokumen dari loge Sernarang yang disebut di atas, F. Gustdorf kurang berhasil. Setelah itu ia masih menulis bagaimana ia pada kongres eli Solo pada tahtm 1897, eli mana utusan-utusan berbagai loge memutuskan mendirikan Loge Agung Provinsial, oleh karena pertimbangan tal

  1. Idem, th. 19, 49-55 4,.7. Idem th. 10, 188-193
    ....._/

nrahan Pcngurus Besar. Setiap perubahan keciJ terhadap peraturan rumah tangga, demikian mereka tandaskan, perlu persctujuan Pen gurus Besar.

Namun tidak lama setelah tahun 1900, gagasan dari tahun delapan pulul1an dan sembilan puluJ1an untuk mendirikan suatu Loge Agung Hi.ndia Timur yang merdeka, mulai mendapat pcrhatian Jagi. Pada tahun 1904 bahkan sampai terjadj diskusi dalam I. M. T. yang dimotori oleh GLtstdorf yang sudah mempcrdengarkan suaranya pada tahun 1886 dan 1897, dan ban yak sudut pandang yang menarik diuraikan di dalamnya. Disampaikan sebagaikarya bangLLnan dalam "L'Union Frederic Royal" di Solo, teks Gustdorf itu dimuat dalam I.M.T. Kebe- ratannya terutama berkisar pada pokok bahwa Nederland kurang memperhatikan Hindia Timur, dan ia berpendapat bahwa perbedaan-perbedaan mendasar antara lndischmnn (orang Hindia) dan orang Belanda menghalangi suatu pengertian yang bail< antara kedua belah pihak.

Kemudian penulis menyampaikan pendapatnya bahwa orang Hindia Timur mempunyai sikap hid up yang lebih kos- mopolitan1 lebih energik/ mempunyai pandangan yang lebih luas, dan mereka dengan lebih mudah menyclesaikan perbcdaan kepercayaan dan perbedaan pendapat ketimbang orang Belanda yang dari kecil sudah bersikap kaktL Begitu juga praktik masonik dikedua negeri itu berbeda. Akhimya ia mengutarakan keluhannya bahwa Mason Bebas Belanda tidak peduli terhadap keinginan akan kemerdekaan yang Iebi11 besar di 11 Hindia/ dan juga terhadap keinginannya terhadap penghapusan status ketidak-dewasaannya". Orang Hindia, demikian dilanjutkan Gustdorf, '~erpendapat bahwa ia dapat mengw1..1s urusam1ya sendiri sama baiknya, bahkan lebih baik." Dalam rapat Loge Agung Provinsial yang terakhir, demikian penulis

AREJ

menyimpulkan uraiannya, telah disampaikan keinginan supaya ada "pengurusan sencliri dan merdeka dari Kemasonan Hindi a kami, di bawah pimpinan yang d ipilih sendiri, !:,ingkat- nya suatu Loge Agung Hindia". 4!1

Dian tara pihak-pihak yang bereaksi atas artikel Gustdor£ terdapat G.N. van Alphen de Veer dari loge "Mata Hari" d1 Padang. Setelahmengemukakan bahwa gagasan tentangsuatu Majelis Tahunan yang merdeka scdang sibuk dibicarakan di loge-loge di Hindia Timur, ia mcnentangnya karena dua scbab. Pertmna-tarna, karen a anggota l-lindia tidak dapat berdikari, melihat "keadaan ktuang dewasa" mereka. Kedun, menurutnya, Majelis Tahtman pasti tidak mau bekerja sama, "ya, bahkan ia akanmencegah terjadinya pemisahan kepemimpin· an yang dapat menimbulkan kecurigaan di kalangan pcmerintah. Pemisahan itu dapat menjadi pertanda akan terjadinya pembebasan, yang sangat ditakutkan, dari wilayah-wilayah ini!" 49 Dikaitkannya usaha kalangan anggota Mason Bebas Hindia untuk mencapai kemerdekaan organisatoris dengan kemcrdekaan politik bagi wilayah jajahan memerlukan perhatian yang 1ebih lanjut.

Pencntang kedua terhadap gagasan kcmerdekaan ialah G. dari Makassar. 50 Usaha pemerdekaan i11i menurutnya timbul dari semangat zaman. Orang tidak lagi suka betialan dituntun. "Jaman cuma mcnurut saja sudah lewat, kemerdekaan mereka. Ke1as pekerja di Eropa, wanita diseluruh dunia" semnanya bcrjuang demi cita cita mereka. Untuk G., usaha nntuk mencapai kemerdekaan dan kewenangan yanglebih luas bagi Wakil Suhu Agung atapun Loge Agtmg Provinsial pad a hakikatnya tidaklah salah, namun hal itu hams terjadi dengan persetujuan

  1. Idem th. 9, 538-545
  2. Idem th. 10, 35-39 SO. Idem th. 1 0, 81-84

Agtmg. Juga peserta ketlga dalam pertukanm pikiran itu, J.E. Herman de Groot dari loge "De Vriendsd1ap" di Surabaya, tidaksetuju dengan kemerdckaan. Sinyalemen Gustdorf ten tang terjadinya ketidakpedulian dan adanya kelesuan dalam kehidupan loge, menurutn ya tidak discbabkan oleh silLa menge- mukal

Juga loge Semarang "La Constante et Fidele" i.kut dalam debat tersebut. Di tahun delapan puluhan loge itu memang melakukan pembelaan terhadap pemisahan, tetapi sekarang di tahun 1904, siruasinya berbeda: tidak dapat ditemukan bukti bahwa Tarekat Mason Bebas di Hindia dikekang oleh

  1. Idem lh. 10, 84-88

8ERKEMBA~CI\'YA T ARI-:KAT MASO~ 8E.BAS 1890- 1930

Belanda. Pertanyaannya adalah bagaimana penelimaan para anggota yang pulang ke Nederland kalau Hindia Timur memisahkan diri. Apakah mereka akan menjadi orang asing di negeri sencliri? Bagi loge ini persoalannya jelas: mereka ingin tetap bersatu dengan tanah air, dan menjadi bagian dari Majelis Tahunan Nederland. Akhirnya masih ada reaksi dari loge "Tidar" di Ma gelang. Juga di sini dikcmukakan bahwa tidak ada alasan bagi pemisahan; tetap bergabung dengan Majelis Tahunan merupakan pilihan terbaik untuk pcrkembangan Tarekat Mason Bebas eli Hindia Timur. 52

Cukup menarik untuk mengadakan perbandingan pada titik ini dengan perkembangan yang pada saat itu terjadi dalam bidang pemerintahan dalam negeri. Atas dasar Undang-undang Desentralisasi tuhun 1903, di kota-kota besar eli Hindia terbentuk pemerintahan kotaprnja yang-dengan ber-cermin pada Nederland-dipimpin oleh dewan yang dipilih secara periodik. Pada tahun-tahun kemudian, pernerintahan kotapraja tersebut dikepalai seorang walikota, dengan beberapa wethottder (pembantu walikota) yang diberi berbagaj tugas pemerintahan. Pemeri11tahan kotapraja juga diberikan sedikit kemerdekaan keuangan dan dapat mengadakan pinjaman untuk mendanai proyek-proyek besar. Begitu p ula Dewan pemerintahan Batavia memberi peluang bagi pendudul< setempat. Apalagi semakin banyak wetltauder orang Indonesia dan Tionghoa dan tidak lama sebehm1 pecahnya Perang Dunia Kedua pada tahun 1942, diangkat walikota orang Indonesia pertama. Terdapat kesan bahwCl beberapa Mason Bebas telah melirik dengan satu mata ke ru·ah desentralisasi pemc.rintahan. lni diperkuat lVolksranrl (Dewan Rakyat), suatu bad an yang di masa depan mestinya bcrkembang menjadi parlemen penuh.

  1. Idem th. !0, 156-159 dan 193-199

baru tetiadi pada tahun 1911, kali ini berkaitan dengan kedudukan Wakil Suhu Agung, Mr. J .G. Pott yang sebagai anggota Rnnd vm1 lndiii (Dewan Hindia) mempakan tokoh berpengaruh, yang dilantik pada tahun itu. Keti.ka ia merasakan bahwa jabatan ketua terlalu berat, ctiputuskan supaya ia dibantu oleh seorang sekretaris. Wakil Suhu Agung yang baru diangkat itu juga mcrasa sulit untuk hanya menjadi wakil Badan Pengurus Besar. Pada perpisah- annya di tahun 1913, ia mengungkapkan bahwa ada pihak-pihak yang in gin memberikan isi lebih besar pad a jabatannya daripada sekadar kepala administratif di bawah Pengums Besar, dan ingin memperluasnya menjadi pemirnpin Tarekal Mason Bebas Hindia Timur. Keingi.nan w1tu.k membentu.k pimpinan sentral yang kuatmakin menjuat, dan dalam Majelis Tahtman Provinsial bulan Desember 1914, diambil keputusan ke aral1 itu. Peraturan ten tang Wakil Suhu Agung diu bah sedemikian rupa sehingga dibentuk badan pengurus dengan lima kepala dan seorang pembantu Wakil Suhu Agung-yang akan ditunjuk oleh Pengurus Besar dari antara nama-nama pada suatu daftar nominasi-seorang sekretari.s, seorang bendahara dan seorang anggota biasa. Anggota-angota pengurus yang disebut terakhir itu akan berbakti selama enam tahun agar dapat terjaga kontinuitas yang cukup lama. Keputusan itu diambil dengan alasan bahwa Hindia Belanda memerlukan suatu "Badan Penguru5 Besar ProYinsial" yang "memberikan pirnpinan, yang rnendorong, yang membawa kesatuan, yang mampu mengumpulkan pasu.kan, yangmemimpinnya supaya tujuan tercapai, yang menciptakan persatuan yang menuju pad a kekuatan". 53

Diskusi-diskusi yang diadakan pada tahun 1886,1897 dan

53 Ged~nkboek 1917. 132-133

2-!3

BERKI::~l!IANGNYA T AREKAT M.Aso~ BEBAS 1890- 193()

1904 tentangpertanyaan apakah Hindi a Timur harus mcnyatakan diri sebagai suatu Loge Agung merdeka, pada tahun 1913 mendapat dorongan yang baru dalam perundingan tentang pembentukan suatu ''Perhimpunan loge-loge Jawa Tengah". Utusan-utusan darienam loge berbicara tentangkebu- tuhan akan kerja sama lebih balk an tara satu sama lain. Menurut mereka, para anggota mcrasa lebih sebngai anggota loge dan bukan scbagai anggota Tare kat, oJeh karena tidak berfung- sinya Loge Agung Provinsial. Mereka harapkan bahwa dengan adanya suaht Perhimpunan Loge-loge, akan ada persatuan yang lebih kol< oh. 54 Sebagai ketua rapat bertindak J.C.G. Gaster, anggota dari loge tuan rumah "ConstC'lnte et Fidele''. Yang menarik bahwa justru tiga anggota dari loge ini yang mengecam dengan kata-kata keras Loge Agung Provinsial, dan Pengurus Besar serta Maje.lis Tahunan Nederland, yaittl loge yang sama yang pada tahLm 1904 mcmbela stahts-quo. Van Witzenburg mengatakan bahwa Loge Agung Provinsial "sudah usang". Kalau dari Wakil Suhu Agung yang sedang berfungsi dapat diharapkan ''pengarahan'' untt:tk pckerjaan, maka bukan begitu halnya dengan para pendahulunya. Pembicara kedua adalah Gaster, dan ia merumuskan masalahnya agak berbcda, "Para mn9on Hindia sudah tidak perlu berada di bawah perwalian Majelis Tahunan Nederland, sebab sekarang mereka sudah dewasa. A.dalah soal hidup-mati bagi loge-loge H india untuk memperoleh l

  1. IMT th 19, 327 dsl.

narmm Hindia Timur perlu d.iberi lebih banya.k kebebasan. Ia menyatakan bahwa Loge Agung Provinsial itu adalah suatu badar1 yang mati, tanpa wewcnang sedikit pun, sebab ''Baik Loge-loge maupw1 Pengurus Bcsar Majelis Tahunan sama sekali tida.k terikat dengan apa yang diatur oleh apa yang disebut Loge Agtmg Provinsial ( ... ) J Llga Wa.kil Suhu Agung tidak mcmpunyai kekuasaan yang mestinya melekatpada jabatannya". Dan ia menutup dengan pernyataan bahwa ia tidak memperkirakan Nederland dalam waktu dekat akan memberikan kemerdekaan lebih besar kepada Hindia. Namun pembentukan suatu Perhimpunan Loge-loge di Jawa Tengah berarti suatu langkah maju.

Juga pada dekade berikutnya suelr£1-suara terus terdengar menuntut kemerdekaan yang lebih besar. Dalam tulisannya Ma~onnieke Snanzhoriglmd (Kebersamaan Masonik), J. Stigter menyampaikan pembelaan bagi suatu MajeHs Tahunan Hindia yang tersendiri. 55 Ia meninjal.l perkembangannya dari suatu perspektif historis dan mengar1ggap artikel pertama Carpentier Alting dalam I.M.T. Sluit de gelederen (Rapatkan barisan) sebagai suatu serua..n perjuangan. Berdirinya Loge Agung Pro- vi.nsial pad a tahun 1899 telah memperkuat rasa kebersamaan dan keterikatan a..ntara loge-loge, yang dengan itu "memperoleh sifat khas Hindia" dan yang sekarang men1pakan suatu .nuansa khas dari jiwa Mason Be bas Belanda yang asli". Stigter menutup tulisannya dengankata-kata, "Adalah sesuai dengan perkembangan alami, bi1a pada tahun 1924 pada peringatan 25 tahun eksistensi Loge Agll1g Provinsial, diputuskar1 tmtuk mendirikan suatu MajelisTahunan Hindia Belnnda (sendiri).''

  1. Idem th. 28, 368-37-t

BERKEMBANGNYA TAREKA' J' M ASON BEBAS 1890-1930

Mendahului situasi yang bcrkembang pada tahun-tahun sesudah itu, dapat dikatakan sekarang bahwa suatu Pengurus Besar Provinsial tersendiri sejak semula akan memperkuat kecenderungan untuk menjadikan Tarekat Mason Bebas lebih merdeka.Hal itudiperkuatketikakomunitasHindialebih tegas menentang dominasi dari negeri induk. Pada tahun-tahun tiga ptLluhan tcrjadi konflik yang serius an tara pengurus-pcngurus Tarekat M ason Be bas di Hindia dengan yang di Belanda.

  1. Pertumbuhan terns dari jumlah loge dan jumlah anggota. Profesi-profesi mereka Garis menanjak ynng kelihatan pad a periode tahun 1870-1890, juga berlanjut pada tahun-tahun sctclah 1890, dan akibatnya loge-loge masih bertambah dengan scbelas buah, di sam ping tuju.h yang sudah ada. Yang menarik ialah bahwa semuanya didirikan di Jawa, jadi gerak kehidupan masonik secara kuat diara.hkan ke pulau itu. Juga jumJah anggota pada periode ini bertambah ban yak. Kalau pada tahun l891 Tarekat memptmyai 525 anggota, me- nurutpcnghitungan pada tahun 1929 jumlahnya sudah mencapai 1.392 jiwa. Namun angka-angka ini mengandw1g suatu persoalan dalam menghitung jumlnh anggota-anggota loge yangsebenarnya. Ternyata bahwa sebelum tahun 1917banyak anggota yang "karena sering dimutasi, telah tersebar dalam perantauan" dan tidak lagi mcnda£tarkan diri pada loge yang bar·u. Menurut suatu suratkeputusan tahun iht, setiap anggottl Tarekat mulai saat itu hams terdaftar pada salah sahi loge, dan sebagai akibatnya jumlah anggota terdafta r serta-merta bertambah dengan lebih dari tiga ratus orang : dari 752 jiwa pada tahun 1916 meningkat menjadi 1.089 jiwa dua tahun kernudian. Biarptm pendaftaran ulang i tu ikut diperhitungkan, jumlah anggota rnasih bertambah dua kali lipat.

tinjauan dari loge-loge yang didirikan sebclum tahun 1930 menunjukkan bahv·la Tarekat Mason Bebas sementara itu sudah tersebar ke sebagian besar kota-kota eli Jawa. Loge-loge banl didirikan eli pusat-pusat pemerintahanJ seperti Buitenzorg (Boger) dan Bandung, atau di tempat-tempat pemusatan ten tara, seperti Malang dan Salatiga. Peranan Batavia semakin penting tercermin dengan didirikannya dua loge baru dl sana. Loge-loge baru lainnya clidiJ.ikan dj Tegal, Malang, Blitar, Kediri, dan Jembcr. Tidal< disangsikanJ bahwa perkembangan ekonomi yang membawa akibat bahwa di pedalaman telah di bangun banyak perusahaan pertanian telah memacu perken1bangan keanggotan ini Dari sebelas loge ban1, lima diclirikan sebelum tahun 1900: " Excelsior'' di Buitenzorg, dan "Tidar" di Magclang (kcdua-dunnya pada tahun 1891), "St. jan" di Bandung dan "Fratemitas" di Salatiga (kedua-duanya pada tahun 1896) serta "Humanitas" di Tegal (1898). Setelah tahtm 1900 berturut-tun1t didirikan loge-loge ''Malang" di Ylalang (190n " Blitar" di Blitar (1906), "Kediri" di Kediri dan "Het Zuiderkruis (Rasi Pari)" di Batavia (kedua-duanya pada taltun 1918) dan "De Broederketen (Rantai Anggota)" juga di Batavia (1919) dan akhirnya"De Driehoek (Segitiga)" eli Jember (1926). 56

Tidak begitu mudah untul< menentukan perkembangan mmlal1 anggota selama periode itu. Ada banyak data yang fragmentaris, namtm data yang meliputi seluruh peri ode ter- 3ebut sarnpai sekarang belum ada. Berkat penelitian yang baru-baru ini diadnkan oleh K. Hylkema dalam buku-buku kcanggotaan loge-loge Hindia, dimw1gkinkan tmtuk mend a- pat gambaran yang lebih baik tentang jumlah anggota loge-loge Hindia, dengan memperhitungkan kemtmgkinan te1iadi-

  1. Low1•nsteijn 1961, passim

ZAMAN BERKEN!BANGNYA T AREKAT MASON BEBAS 1890 - 1930

nya penggambaran salah, seperti telah disinyalir sebelumnya.57 Agar ti.dakrnenyusahkan pernbaca dengan deretan angka-angka, data ten tang loge-loge tersencliri telah dikumpulkan menjacli satu tabel. Ada tahun-tahtm eli mana tidal< ada angka-angka yang disebabkan oleh kelalaian beberapa pengurus loge. Un tuk mengikuti perkembangan pad a setiap loge tersen- dirL silakan lihat Larnpiran II.

Perkembangan jumlah keanggotaan Tarekat eli Hindia Belanda antara tahun 1891 dan 1939

Tahun Jumlah Tahun Jumlah Tahun JumlahI

1891 535 1905 tidak ada data 1919 tidak ada data
1892 554 1906 659 1920 1246
1893 569 1907 618 1921 1383
1894 528 1908 646 1922 1418
1895 545 1909 662 1923 1509
1896 573 1910 687 1924
1897 678 1911 654 1925 1425
1898 687 1912 691 1926 1411
1899 720 1913 684 1927 1330
1900 714 1914 707 1928 1432
1901 737 1915 727 1929 1392
1902 785 1916 752
1903 755 1917 tidak ada data
1904 692 1918 1089

142 0

Dari tabel ini jelas bahwa tidak ada perturnbuhan yang berkesinambtmgan. Setelah pertumbuhan cepat an tara tahun-tahun 1891 dan 1902 terjacli konsolidasi sampai sekitar tahun

  1. Bant setelah tahtm 1918 ada lagi peri ode perhtrnbuhan. di mana tahun 1923 merupakan puncaknya. Kemudian
  2. Dokumen-dokumen K. Hylkema berada di Pe.rpustakaan Tarekat di Den Haag.

Suaht cara lain untuk memandang Tarekat Mason Bcbas adalah dari perspcktif profesi para anggotanya. Hylkema juga telah berjasa dengan meneliti profesi anggota melalui buku-buku kcanggotaan loge-loge. Ia tiba pada rekonstruksi yang berikut dcngan mernakai penggolangan yang lazim dipakai. Data yang dikumpulkannya didasarkan atas keanggotaan loge '' De Ster in het Oostcn" (Batavia), pada tahun 1862 dan loge "La Constance et Fidele" (Semarang) dan "DcVricndschap" (Soerabaja).

I, Anggota loge 'De Ster in het Oosten" II, 'La Constante et Fidele" - dan III, ' De Vriendschap" menurut profesi mereka pada akhir a bad ke-19.

r li III
Pemerintahan 5 27
Militer 24 6 6
Perkebunan 5 6 31
Perbankan dan asuransi 2 1 2
Lalu lintas dan pelayaran 18 1 11
Perdagangan 28
Golongan mencngah 13 5 8
P rofesi bebas 17 8 8
Swasta 3
Pensiunan 1 2 4
Pendidikan 13 9 5
Berbagai profesi 10 5
173 58
14 34

-4

-

ZAMAI'\ BERJ

Susunan kependudukan dari tiga kota besar di Pulau Jawa tercermin dalam pcmbagian profesi anggota-anggota loge. Di Batavia unsur pegawai dan militer menduduki posisi kuat; di Semarang keanggotaan loge ban yak dari sektorniaga, perkebunan, dan profesi bebas, sedangkan di Surabaya anggota-anggota datang dari dunia perdagangan, perkebunan dan kepegawaian. Perbedaan susunan loge-loge tersebut pasti akan berpengaruh terhadap "wama" kehidupan loge setempat.

Pertanyaan ten tang keadaan profesi dan fungsi yang dipegang kaum Mason Bebas pada akhir periode tersebut, dapat juga dijawab berkat penelitian yang diadakan H ylkema. Pada tahun 1928, yakni tahun "normal" terakhir sebelum terjad.i- nya krisis dunia, para anggota berprofesi sebagai berikut:

Kegiatan profesi dari 1383 Mason Be bas di Hindi a Beland~ pada tahun 1928 dan pembagian menurut persentase:

1928 %
Pemerintahan 291 21,1
Militer 125 9,0
Perkcbunan 191 13,8
Industri 43 3,1
Bank dan Asuransi 40 2,9
Lalu lintas dan pelayaran, PTf 86 6,2
Perdagangan 149 10,8
Golongan menengah 37 2,7
Profesi bebas 99 7,2
Swasta 94 6,8
Pensiunan 95 6,8
Pendidikan 124 9,0
Berbagai profesi 19 1,4

Jadi ternyata kaum Mason Bcbas pada tahun 1928 diwakili dalam semua golongan, dengan jumlal1 bcsar di sektor peme-

militer, dan pendidikan. DaJam hal ini garnbarannya cocok dengan pendapat Van Doom, yakni ballwa Hindia Belanda zaman itu tetap mempertahankan sifatnya sebagai negara pegawai. 58 Suatu kesimpulan lain dari Van Doom, yaitu bahwa tingkat pendidikan orang Belanda yang beke1ja di Hindia itu sangat tinggi, diperkuat oleh data dati kaurn Mason Bebas Hindia Timur. 59 Sungguh menarik u.ntuk mencari tahu perubahan-perubahan yang terjadi dalam profc- si-profesi yang dipegang kaum Mason Bebas dengan berjalannya waktu. Namun masalahnya adaJah bahwa dari peng-golongan yang clipakai tidak selalu dapat diketahui kelompok-kelompok mana saja yang termasuk golongan pemerintahan. De Visser Smits, yang tidak memberitahu sumber datanya, memperkirakan segmen pegawai dan perwira pada tahun 1858 meliputi 35,8%, diband.ing dengan golongan swasta yang berjumlah 64,2%. Pada se.kitar tahun 19301menurut clia, kedua kelompok itu sudah seimbang jumlahnyal sehingga dapat dikatakan bahwa dengan be~alannya waktu terjadi penambahan relatif dan absolut pada unsur kepegawaian. 60

Tentang Iaporan akhir tahun duapuluhan, daftar profesi yang disusun De Visser Smits berdasarkan kuesioner yang diadakan pada waktu itu1memberikan banyak keterangan. Daftar itu meliputi 110 profesi, mulai dari Direktur Departe- mcn [kurang lebih sarna dengan jabatan menteri di Nederland, St.] sampai pemilik warung, a tau dari pelu.kis kesenian sampai perwira tinggi. Untuk tinjauan Iengkap profesi-profesi, W1at Lampiran ill.

Kuesioner tersebut tidak hanya memperlihatkan profesi-profesi mana yang ditekuni anggota-anggota Tarekat, tetapi

58. Van Doom 1982, 2
59. Idem 1985, 148
60. De Visser Smits 1931, 200

Z A.>1AN BERKEI\ffiANGNYA T AREKA1 M AS0;\1 B EBAS 1890 - 1930

juga ken tara darinya bahwa di bidang sosial mereka memainkan peran yang aktif. Dengan menggabungkan jawaban-jawaban atas pertanyaan ten tang kcanggotaan dalam organisasi-organisasi masyarakat, De Visser Smits menernukan bahwa enam ratus orang Mason Bebas yang ditanyai, sernuanya menjadi anggota dari seluruhnya 3.878 organisasi dan perkumpulan, yang berarti rata-rata setiap anggota menjadi anggota juga di enam organisasi. Lagi pula temyata rnereka rne- megang sejumlah besar jabatan pengurus. Di antara organisasi-organisasi itu ada serikat bumh, perkumpulan ilmiah, perkumpulan olahraga dan rekreasi, dan perhimpunan amal. De Visser Smits memberikan komentar, kalau dahulu setiap loge bertindak keluar sebagai suatu badan, "sekarang ini sebaiknya para anggota sendiri mencari tahu apa yang dapat dilakuka.I1 kaum Mason Bebas dalam bidang pekerjaan ekstra untuk masyarakat atas keinginan sendiri". 61

Sesuai dengan individualisasi yang makin meningkat dalam masyarakat Hindia modern, maka usaha Tarekat untuk mempcrbaiki tingkat moral dan materiil mereka bukan 1agi w·usan loge-loge, melainka.I1 dari anggota-anggotanya secara individual

  1. Tarekat Mason Bebas (Vrijmetselarij) dan masyarakat. Upaya untuk memperbaiki kedudukan orang Indo-Eropa eli masyarakat Anggaran Dasar dari Tarekat, dalam berbagai rumusan yang disusun dengan berjalannya wakht, dengan jelas menegaskan bagaimana kaum Mason Bebas harus berperilaku dalam masyarakat di mana mereka berada. Dalam pasal kcdua dari Anggaran Dasar tahun 1917,
  2. Jdem 1931, 205

Bebas1seperti telah dikatakan dalam Pengantar buku ini sebelumnya, disebut sebagai "arah jiwa yang lahlr dari dorongan batin yang cliungkapkan dalam usaha berkesinambungan tmtuk mengembangkan sifat-sifat roh dan jiwa, yang dapat rnengangkat man usia dan umat man usia ke ting- 1 katrohani dan moral yang lebih tinggi.' Selanjutnya pasalitu berbicara tentang "pengakuan atas hak semua orang untuk 62 berbakti demi kesejahteraan masyarakat".

Oleh karena itu bagi anggota-anggota Tarekat, persoalan kesejaJ1teraan masyarakat merupakan pokok perhatian yang 1 pen tin g. Terkait dengan gagasanmasonik ten tang ' persamaan sernua orang dalam wujud", maka kegiatan para Mason Bebas juga harus meliputi selurul1 masyarakat. Namun perta- 11 tlyaan muncut bagaimana kitamengartikankonsep masyarakat" dalam konteks Hindia Belanda. Siapa yang menjadi bagian darinya, dan siapa dengan jelas tidak termasuk eli dalamnya? Masyarakat kolonial Hindia Belanda di masa modern memberikan kesan sebagai suatu produk artifisial, basil dari usaha golongan elit Belanda unhtk mendptakan kondisi setempat yang secocok mungkin dengan tujuan politik dan ekonomi seperti yang dikehendaki negeri induk. Dan juga kalau kemudian kepentingan rakyat mulai lebih diutamakan1rnaka kepentingan itupun selalu dide£inisikan menurut pendapat Beland a.

Pada titik ptmcak pemerintahan koloniat di lingkungan pemerintahan berlaku visi utama bahwa Nederland cliberikan tug as oleh sejarah untuk menyiapkan rakyat Nusantara bagi suah.1 masa depan di mana mereka dapat meneiltLtkan nasib- 63 nya sendiri. Dalam proses "perkembangan evolusioner dari

  1. Gedenkboek 1917, 2
  2. De Kat Angelino 1929, T, 1-29

ZAMAK BERKEM BANGNYA T AREKAT MAso,-.; B F.aAS 1890 ·1930

bawah'', pihak Belanda telah menentukan bagi dirinya peran-peran kepemimpinan. Sebab, siapakah yang dapat lcbih baik melakukannya, siapa yang ptmya iktikad baik seperti mereka? Lagipula, siapa yang benar-benar mcngenal negeri itu, dan tahu persis masalah-masalah yang dihadapi rakyat pribumi? Pihak yang memandang dunia Hindla sepcrti itu, tentu memsa yakin bahwa pihaknya itulah yang harus menjadi titik pusat dari pembangunan. Kalau orang Belanda menjadi bagian paling dinamis dari masyaral

Bcrtentangan dengan gagasan-gagasan tinggi di kalangan pemerintahan, kenyataan schari-harisangat berbeda. Sedangkan orang Belanda yang memikirkan masa depan pun, tidak ada satu dari rnereka yang beranggapan bahwa orang pribumi hams diberikan peranan pen tin g. Menu rut pcndapat sebagian besar dari rnereka, rakyat pribumi -kaum inlander-bel urn siap untuk diberikan jabatan yang bertanggung jawab, dan masih diperlukan ban yak generasi sebelum hal itu terwujud. Malahan ada yang menyangsikan apakah rakyat priburni pernah akan siap. Sebab itu usaha resmi itu hanya mendapat respons yang kecil di kalangan atas kornunitas orang Eropa, apalagi rnengenai keinginan mewujudkan integrasi dalam suatu masyarakat jenis baru. Sebagian besar orang Eropa di Hindia Timur hanya mempunyai sedikit perhatian terhadap

eli luar lingkungannya sendiri dan selarna abad ke-20 tidak ada perbaikan pandangan. Munculn ya partai-partai nasional Indonesia rnerupakan tantangan terhadap tatanan kolonial dan menimbulkan pengerasan sikap dalam hubungan antara satu sama lain. Golongan-golongan yang berbagai ragam itu mengunci diri dalam organisasi dan par- tainya sendiri, dan sama sekali tidak ada dialog tentang masa de pan bersama.6-1 Proses segmentasi-istilah dari Van Doorn

  • tidak dapat dibalik dan tidak memberi peluang bagi suahl masa depan di bawah pimpinan Belanda. Sejauh di Hindia Timur yang modern dapat dipakai kata 'de' Nederlanders (orang-orang Belanda "itu"), maka selalu hants diperhihmgkan pembedaan ke dalam tiga golongan. Sekitar tahun 1930 ada mayoritas orang Indo-Eropa6$, dan di samping ihl ada segolongan orang Beland a kulit putih yang kadang-kadang sudah tinggal di Hinclia Timur bergenerasi lamanya, yang disebut blijvers (para penetap). Kemudian ada juga pnra trekkers (para perantau), orang-orang yang datang ke Hindia Timur untuk menjabat suatu fungsi yang seusai masa dinas mereka pada umumnya ptuang ke negeri Beland a. Oleh karena golongan terakhir ini yang dominan dalam kchidupan publik, tidaklah mengherankan kalau pengalaman dan pendapat mereka, karier mereka di pemerintahan atau di dtmia bisnis, memperoleh perhatian yang terbesar.
    66

Penekanan besar yang diberikan kepada golongan tersebut, berarti bahwa kurang diberikan perhatian kepada golongan-golongan yang lain, dan bahwa k.ritik dirisendiri, yang juga timbul, menggambarkan kornunitas Eropa secara keseluruhan sebagai kampungan, kasar, egois, dan materialistis, serta orang

  1. Van Doorn 1983, t
  2. Van der Veur 1955, '26
  3. Van Helsdingen 19-!1, 2745. Idem 19-16, 188-267

B ERKF.MBANGi,'YA T AREKAT MASON B EBAS 1890 - 1930

Eropa seperti makhluk yang arogan, yang bertindak dengan perasaan superior dalam pergaulannya dengan rakyat Indonesia.67

Seberapa jauh penggambaran iht benar, bahkan apakah ada kebenarannya, masih perlu dipertanyakan. Untuk sementara, kita beranggapan bahwa komunitas orang Eropa digarnbarkan secara sepihak saja. Nyatanya, para lnkker yang disebut di atas tidal< hanya dipimpin oleh kepentingan keuangan, sedangkan para blijvers tidak di sangsikan lagi rnemp1myai hubungan yang Iebih dekatdengan penduduk Indonesia (dan Tionghoa). Itu berlaku lebih kuat lagi bagi go Iongan Indo-Eropa, walauptm masih harus dibedakan antara sub-golongan, serta kurun wakht. Menarik ialah bahwa golongan lndo-Eropa ini hanya diberi sedil

Kedudukan sosial yang terjepit dari sebagian besar orang

  1. Veth 1901, 2
  2. Drooglever 1991, 33

1900 mulai semakin diperhatikan oleh pemerintah dan warga-warga orang Eropa. "Masalah Indo" dibahas dalam berbagai tinjauan pada zaman itu dan mernperlihatkan berbagai aspeknya. Kehidupan melarat orang Indo bukan hanya menggoyahkan status prestise orang Eropa yang telah dipupuk dengan saksama, namun juga posisi orang Beland a dianggap dapat dibahayakan kalau orang Indo yang melarat itu dapat bergabung dengan gerakan rakyat pribumi. 69 Namun rnemang ada sejurnlah orang Belanda yang benar-benar mempedulikan mereka. Idealismc kasih manusia yang muncul di Belanda dan Hindia pada masa sekitar pergantian a bad, berjuang t.mtuk mencegah te1jadinya apa yang dilihat sebagai kept.mahan suatu segmen penduduk.

Sejajar dengan gagasan-gagasan baru di bidang pemerintahan kolonial, yang pelaksanaannya dibatasi oleh sumber keuangan yang ada, kita lihat juga bagairnana asas-asas masonik yang luhur dihambat pelaksanaannya oleh keterbatasan kemampuan anggota-anggota Tarekat. Apakah yang dapat dilakukan para anggota, yang jumlahnya pada titik puncak keanggotaan pada tahun 1923 mencapai hanya kurang dari seribu lima ratus orang, di tengah-tengah penduduk yang berjumlah sekitar 55 juta jiwa? Ketegangan antara sumber-sumber yang tersedia dan kebutuhan-kebutuhan yang ada, menyebabkan bahwa perlu diadakan seleksi, dan menarik un tuk melihat alasan-alasan apa yang dikemukakan di dalam mclakukan pemilihan itu.

Pertanyaan apa arti kegiatan kaum Mason Bebas demi manfaat masyarakat, dapat dibatasi pada suatu kelompok sasaran yang nyata: loge-loge mulai mengerahkan sumber-sumber mereka yang relatif sangat terbatas untuk menolong

  1. Passeur 1980, 8-l

ZAMAX BERl(EM8ANCNYi\ TAIH!KJ\1' MASON BEBAS1890-1930

orang Indo-Eropa, sebab loge-loge itu merasa ikut bertanggung jawab atas nasib mereka. Orang-orang Indonesia memang tidak seluruhnya jatuh di luar perhatian loge-loge- ada us aha tmtuk memperbaiki pendidikan, dan juga dibentuk dana-dana stucli bagi pemuda yang berpotensi- namun hal itu dilakukan secara sangat tcrbatas.

Agar dapat menilru dengan baik masalah pemberian bantuan, perlu dipelajari hubungan an tara Tare kat, pemerintahau kolonial dan dunia usaha Barat. Sebab, beberapa Mason Bebas memegang fungsi politik atau memptmyai jabatan tinggi di pemerintahan, bcrpangkat tinggi di kalangan militer, atau mempunyai kedudukan puncak di dunia usaha. Suatu i.ndjka- si diberikan oleh fungsi-fungsi sosial dari para Wakil Suhu Agung sejak tahun 1798. 70 Yang lain mempunyai profesi be bas atau kedudukan yang lebih rendah dalam pemerintahan, namun bagaimana pun juga mereka bergantung pada pcluang-pcluang yang diberikan oleh tatanan koloniaL Dlpcrtahankan- nya struktur kolonial yang ada, pasti menguntungkan kepentingan mereka juga. lni kelihatannya bertentangan dengan upaya kelompok-kelompok bawah untuk memperoleh kedudukan sosial yang lebih bail<, namun tidnk menutup pintu terhadapnya. Perkataan sakti "pcrkembangan evolusioner" memberikan ruang terhadap pendapat bahwa pada akhirnya bukan saja orang-orang Indonesia akan mengambil alil1 kedudukan orang-orang Belanda tetapi juga bahwa yang d iscbut terakhir itu masih tmtuk waktu yang lama dapat melanjutkan pekerjaan mereka. Suatu pertanyaan lain ialah, sampai seberapa jauh kaum Mason Bebas dapat menerima suatu rezim yang-seperti telah dikemukakan sebelurnnya-menempatkan rakyat Hindi a- Belanda di bawah kepentingan

  1. LampiTan f

Hmdia pad a kira-kira tahun 1900 ada atiran yang in gin memperoleh kemerdekaan yang lebih besar dari Tarekat di Nederland. Suatu kecenderw1gan yang sebanding akan muncul pada tahun tiga puluhan. Walaupun secara umum mereka setia terhadap kekuasaan yang ada, terdapat ban yak contoh tentang loge-loge dan perorangan-perorangan yang berdasarkan tafsiran mereka atas asas-asas masonik, telah mencntang pendapat-pendapat rcsmi.

Umpamanya, ada pertcntangan an tara Tare kat Mason Bebas dan pemerintah Hindia Belanda mengenai cara memajukan pendidikan kepada orang Indonesia. Oi Yogya telah didirikan "Hollandsch-Inlandsche Schoolverceniging (Perkumpulan Sekolah Belanda-Pribumi)" pada tahun 1912 di bawah pimpinan Pangeran Notodirodjo untuk menangani pendidikan neh·al dan bukan Kristen. Sesuatu yang belum pcmah terjadi pula adalah bahwa badan pengumsnya sebagian besar terctiri dari orang Indonesia. Prakarsa atas pembentukan perkumpulan sekolah tersebut didukungoleh Sultan Yogya, yang menyediakan sejumlah besar dana untuk pcmbangtman sekolah untuk laki-laki dan sekolah untuk perempuan. Juga para anggota loge ".tvfataram" bergiat supaya usaha itu berhasil dan tidak lama kemudian sekolah itu sudah mernpunyai lebih dari ratusan murid.rt Sernentara Gubernur Jenderal Idenburg, seorang penduktmg kuat pendidikan Kristen dan yang khawatir terhadap gerakan Islam-nasionalis yang sedang muncul, memberikan reaksinya. Pada bulan Juni 1912 ia menu lis surat kepada menteri wilayah jajahan di Belanda, "Adalah kenyataan bahwa di antara kaum cendekiawan pribumi -yang keluar

  1. Gedenkboek 1917, 309-310

BERKEMBANGNYA TN{EKAT M ASON 13EBAS 1890-1930

dari loge-loge MasonBebas-sedang muncul ger·akan menentang pendidikan Kristen dan mendukung pendidikan neh·al". Idenburg berpendapat bahwa loge-loge memikul tanggtmg jawab be rat bagi "ketenteraman" pendudu k Islam, dan sebuah majalah Kristen di Hindia Timur ma1ahan menuduh bahwa loge-loge sedang menghasut "kaum cendekiawan pribumi" :n

Suatu contoh lain dari pendapat yang menentang pandangan umtun adalah bagairnana loge "De Vriendschap" eli Surabaya melawan para penguasa di Surabaya dengan tidak ikut serta dalam perayaan rcsmi-dengan gapura-gapura dan hiasan-hiasan lainnya -tmtuJ<. menyambut "para pahlawan dari Aceh".

"Pada tahun 1874 usuluntuk ikutserta dalam penghormatan kepada pejuang-pejuang (yang melawan) Aceh ditolak, dan ketua loge "De Vriendschap" mengusulkan supaya sebaiknya dipcrtimbangkan pemberian penghormatan kepada 1\1an Gunther von Bultzinglowen, wakil Palang Merah yang terhormal, yang-mengutip kata-kata pembicnra sendiri -''Lelah mempraktikkan budi luhur yang lebih dU1argai Loge daripada ketenaran di medan perang". 73

Bahwa upaya menuju masyarakat yang manusiawi dapat mengakibatkan pertentangan dengan dunia usaha Belanda, dijelaskan dalam pidato yang disampaikan pada tahun 1903 di loge yang sama, "De Vriendschap". Pembicara berpendapat bahwa kaum Mason Bebas harus memiliki keberanian moraJ w1h.tk mendekati kehidupan di Hind.ia Timur dari sudutpan- dang yang kritis, supaya:

"melil1at kehidupan di sekitar kita dengan mata yang kritis ( ... ) bagaimana setiap tahun ribuan orang Jr~wa meninggalkan desa mereka dan pergi ke lcltlah seberang sebagai kuli

  1. Vander WaJ 1963, 215-21 6
  2. Gedenkboek 1917, 278

nilai 300% ataupw1 lebih tinggi lagi dari modal aslinya tetapi di mana kuli kontrak Jawa bekerja sepuluh jam a tau- pun sering lebih lagi untuk mendapat upah yang belum cukup untuk melawan lapru· ( ... ) atau ke wilayaJ1 Sumatra lainnya, Kalimanatan a tau Sulawesei di mana pembayaran- nya memang tidak begihl buruk namun di mana sebagian besar ku li kontrakru1 Jawa meninggal karena kebersihan yang 1..-urang tepat diterapkan atau bahkan diabaikan, a tau terjangkit malaria atau beri-beri sedemikian rupa sehingga mereka tidak lagi mempunyai nilai sebagai pekerja. Melihat, begitu ban yak yang pergi dan begitu sedikit yang kernbali, bukan karena banyak yang mencapai kemakmuran sehingga menetap di sana, melainkan karena begitu bru1yak yang telah meninggal." 74

Iklim jiwa di Tarekat Mason Bebas Hindia Timur pada sekitar pergantian a bad terjermin dari kenyataan bahwa bukan saja anggota suatu loge Hindia Timur yakni Ir. H.H. van Kol, menjacti salah satu dari sembilan pencliri SOAP, * tetapi bahwa juga Mason Bebas S.D. Reeser, pejuang sosial-demokrat yang gigih, diberi manga11 dalam I.M.T. unhtk memuat suatu artikel yang berjudul Socinal-democrntie en Vrijmetselarij (Sosial-demokrasi dan Tarekat Mason Bebas). 75

Masih ada lagi pertanyaan, mengapa bukan pemerintah melainkan badan-badan swasta-seperti loge-loge-yang memikirkan masalah-masalah sosial? Jawabannya ialah bahwa pemerintah pada abad ke-19 tidal< menganggap tugas sosialnya seluas tugas pemerintah masa kini yang bergeral<- dalam alam negara kesejahteraan (verzorgingsstaat). Pemerin-

  • SOAP -Sociaal Democrat:ische Arbeiders Partij -Partai Buruh Sosial Demokrat
  1. IMT th.9, 447
  2. Idem th. 9, 326-333

TAREKAT M ASO:-J B EBAS 1890 - 1930

tah duku hanya bersedia memberi bantuan dalam bentuk subsidi kecil dalam kasus-kasus yang muncul, sedangkan prakarsanya biasanya datang dari badan-badan swasta atau dari warga-warga secara perorangan. Subsidi juga mcmbcri kemungkinan bagi pcngawasansehingga perkembangan yang kurang scsuai dapat d.itindak.

Perlu juga di sinj rubicarakan keterlibatan kaum Mason Bebas dengan masalah Indo. Contoh pertama ialah panti yang didirikan di Batavia pada tahun 1854 bagi anak-anak keturunan Eropa yang terlantar dan untuk "mendidik mereka agar menjadi warga yang berguna" _7b Panti ini bernama " Djnti- gesficht" dan tidak begitu menghiraukan Jatar belakang para asuhannya. Keterangan serta tujuan mengenai lembaga ini menunjukkan keterlibatan kaum Mason Bcbas di dalamnya. Adanya anak yatim piatu keturunan lndo-Eropa merupakan gejala yang pada abad ke-18 sudah membutuhkan penanganan dan perhatian. Anak-anak prajurit ini kadang-kadang hidup berkelana dan merampok di mana-mana. Pemerintah memberikan subsidi kepada wisma-wisma seperti itu untukmengura11gi angka kej8hatan. Wisma-wisma itu ada di ban yak tempat,umpan1cmya di Semanmg di mana loge setempat sejak awal sudah mempedulikan anak-anak yatim-piatu itu. Beberapa anggota loge Semarang duduk sebagai anggota pengurus wisma itu untuk waktu yang lama.

Pada akhir abad ke-19, sumber-sumber dengan tegas menyatakan bahwa nasib "orang lndo kccil" sangat memprihatinkan. Bersama itu, selal u ditandaskan bahwa di masa-masa lampau mereka tidak dipertimbangkan untuk peke~aan-pe kerjaan scbagai pegawai negeri; hanya kalau ada kekurangan orang Belanda kulit putih, baru ada harapan bagi mereka

  1. Encydopaedie van Nederlandsch-lndie, edisi 1, II, 41 0

baik. Tentunya selalu ada pengecualian, umpamanya di luar Jawa ka1·ena orang-orang Belanda yang datang dari Eropa tidak begitu suka menetap eli sana. Ada juga beberapa keluarga di Batavia yang oleh kebijakan pernikahan atau warisan mempunyai harta. Dl )awa Tengah sejak awal a bad ke-19 terdapat golongan bangsawan tuan tanah Indo yang sangat makmur. Pengecualian itu tidak mengurangi kenyataan bahwa sebagian besar orang Indo-Eropa selalu hidup dalam keadaan melarat. Pada akhir abad ke-19 situasinya malah sudah sangat gawat. Salah satu penjelasannya, adalah bahwa kaumindo-Eropa tidak diberikan peluang untuk mernbangun hid up yang layak. Pendidikan di Hind ia Ti mur, yang rnungkin dapat membuka jalan bagi karier administratif, lama sekali tidal< ada apa-apanya. Oleh karena peraturan-peraturan yang rnembatasi pemilikan tanah, maka mereka1sebagai orang bukan pribumi, tidak dapat memiliki tanah sedangl

Bertambah banyaknya jumlah orang Indo yang rnelarat tak terlepas dari mnlnise ekonomi yang diderita I !india Timur. Di sam ping itu anak-anak prajurit Indo bertambah ban yak sebagai akibat perluasan angkatan bersenjata oleh karena perang di Aceh dan di daerah lain. Akibatnya ialah penguasa-penguasa setempat berbicara ten tang "masalah Indo yang semakin

Bf.RKEMI.lANGNYA T AREJ

gawat", dan sah.t-satunya tindakan tmtuk rnengatasinya rupanya hanyalah larnngan pergaulan dengan wanita-wanita Indonesia. Juga dianjw-kan agar para prajurit seusai rnasa dinas mereka, dikernbalikan ke BeJanda agar mereka tidak menghasilkan keturunan yang hanya membebankan pemerintah Hindia Belanda. Juga ada suara-suara agar status juridis orang Belanda diperketat. Namun perundang-undangan malahan bergerak ke arah bcrbcda, danmemperluas kemungkinan bagi kewarganegaraan Belanda: undang-undang tahun 1892 menetapkan bah wa barangsiapa mempunyai ayah orang Belanda, secara otomatis menjadi orang Belanda juga. Dengan ketentuan tersebut, pemerintah menerima tanggt.mg jawab bagi kesejahteraan orang-orang Bclanda lndo-Eropa.

Sekital' tahun 1900 situasinya sudah bcgitu buruk sehingga pemerintah sekali lagi membentuk sebuah komisi penelitian yang hams membuat laporan ten tang sebab-sebab gejaJa kemiskinan dan menyarnpaikan rekomendasi demi perbaikan. Salah satu anggota komisi adalah Wakil Suhu Agung Tare kat di Hindia, A.S. Carpentier Alting. Laporan yang panjang lebar ini rnemangmenunjukkan gawatnya situasi, namun dari kesemua rekomendasinya tidak banya~ yang dilaksanakan.77 Ketika tidal< lama kemudian keadaan ekonomi membaik, tcrjadi permintaan besar bagi tenaga kerja dan perkembangan iht melenyapkan banyak masalah.

Kita kernbali ke awal tahun tujuh puluhan abad ke-19 kctika kegiatan masonik pertama untuk orang-orang Indo rnulai dijalan kan dan eli mana pendirian sekolah-sekolah persiapan pendidikan dasar mengambil tempat yang khusus. Berkat bahan keterangan yang tersedia, hal ini dapat dibahas

  1. Rapport der Pauperisme-Commissie (Laporan Komisi Pemiskinan), dibentuk melalui pasal2 Keputusan P~!merintah tertgl. 29 Juni 1902 no.9, Batavia, 1903

pakaian sekolah dan makanan dj sekolah akan dibicarakan.

Dana pakaian sekolah yang tertua rupanya cUdllikan pada tahun 1876 di Semarang. Tujuannya ialah untuk membantu anak-anak dari h.mman "orang-orang Eropa berkekurangan" yang tidak dapat bcrsekolah di sekolah umwn setempat kare- n a tidak rnempunyai pakaian yang layak. Namun pada awal tahun delapan puluhan kegiatan harus dihentikan, mungkin karena alasan kcuangan. Pad a tahun 1884 didirikan dana baru dengan tujuan yang Jebih luas. Sekarang juga disediakan makanan serta cliberikan bentuk bantuan lainnya. Kegiatan-kegiatan itu dilukiskan dalam Gerlenkboek (B uku Peringatan) tahun 1917 dan dalam publikasi De Visser Smits dari tahun 1931 dan dari situ ternyata bahwa kepala sekolah, Den H a- mer, dan inspekturpendidikan, Roskopff, kedua-duanyaang- gota "La Constante et Fidele", menangani penyelenggaraan pemberian makan di sekolah dan sebagai akiba.tnya prestasi murid eli sekolah pun menjadi jauh Iebih baik. Juga diterang- ka.n bahwa sebagian dari anak-anak sckolah adalah kcturunan Afrika, anak-anak dari prajurit-prajurit yang ditempatkan di sana yang berdinas di angkatan bersenjata Hindia dan ber- asal dari daerah Pantai Barat Af1ika yang sampai talmn 1873 merupakan jajaJ1an Bclanda. Masalah makanan ternyata buka.n hanya soal uang, kadang-kadang orang tua tidak sadar bal1wa makanan yang baik diperlukan dan bahwa pemberian uang jajan untuk membeli permen di wanmg di pinggir jalan bukanlah cara yang tepat.

Setelah loge Semarang, ada yang lain yang ikut rnendirikan dana pakaian sekolah. Pada tahun 1880 sebual1 dana didj-rikan di Yogya, dan di sini pun prakarsanya datang dari seorang guru. Dalam beberapa tahun ada empat belas dana se-

BEBAS 1890-1930

perti itu, yang tcrsebar di kota-kota terpenting eli Hinelia Belanda. Di Batavia sebuah dana didirikan pada tahun 1889, kemudian dipcrsatukan dengan dana "Kindervoeding (Pemberian makanan kepada anak-anak)". Lembaga itu didirikan pada tahun 1902 dan disusun secan~ besar-besaran. Badan Pengurusnya terdir.i atas sepuluh orang anggota, dan setengah dari mereka merupal

Suatu aspek penting dari pekerjaan sosial pada tahun-tahun itu adalah pendirian sekolah-sekolah pra pendidikan re.n- dah. Sekolah-sekolah ini atau "Kindergarten" bekerja menurut program pembelajaran yang disusun oleh ahli pendidikan Jerman Frobel, eli mana terutama kegiatan mandiri anak-anak dimajukan. Dalam sihtasi di r-undia ternyata prinsip-prinsip Frobel sangat cocok untuk mengejar ketinggalan dalam bahasa Belanda di kalangan rnurid-mmid Indo-Eropa. Dibesarkan oleh seorang ibu Indonesia a tau Indo-Eropa, pengetahuan bahasa Belanda rnereka scring bcgitu buruk schingga anak-anak itu hampir-hampir tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah. Sebagai akibatnya mereka mencapai hasil-hasil buruk di sekolah, yang menutup pintu ke jenjang jabatan dengan gaji yang bctik dan menyebabkan bahwa usaha memperbaiki kedudukan sosial melalui penelielikan yang lebih bail<, sering hanya merupakan suatu ilusi.

Menarik untuk melihat betapa banyak pekerjaan dilakukan oleh kamn Mason Bebas untuk memulaikan pendidikan frobel dan mengcmbangkannya selanjutnya Setelah beberapa tahun, hampir semua Joge mempw1yai sekolah Frobel yang dikelolanya, sedangkan pemerintah Hinelia sarna sekali tidak mengambil Iangkah ke arah tersebut dan lama sekali bahkan

1.mtuk memberi subsidi kepada sekolah-sekolah
yang didirikan pihak swasta.

Tentang makna dari sekolah Frobel bngi emansipasi penduduk Jndo-Eropa, Encyclopaedie vrm Nederlandsch -Indie pada sekitar tahun 1900 menyatakan sbb:

11 Pend idikan Lni terutama pentlng di HLndia Bclanda, sebab di samping pendidikan anak-anak kedl secara umum, la dimaksudkan untuk memperbaiki pengetahuan mereka dalam bahasa Belanda, selUn.gga mereka siap mengikuti pendidikan dasar yang biasa sejak awal. Ban yak a.nak berdarah campura.n hid up dalam suatu lingkungan yang hampir seluruhnya pribumi. dan hanya memakai bahasa Melayu rendal1 sebelum mereka bersekolah, bahkan banyak anak-anak Eropa mumi pada tahun-tahun dininyn hanya sedikil mengetahui bahasa Belanda dan dalam hal ini keadaan mereka tidak lebih baik dari a11ak-anak yang discbut pertama itu. Pendidikan persiapan berusaha untuk mengatasi kekurangan ir'li." 76

Sekolah Frobel pertama didirikan di Batavia pada tahun 1850 namun tidak lama kemudian hams ditutup karena masalah keuangan. Pada tahun 1877 sekolah seperti itu, yang dicliri.kan atas prakarsa loge "La Constante el Fidele", berhasil di Semarang dan sejak tahun itu penyelenggaraan sekolah lainnya mulai bcrhasil. C. E. van Kesteren, pemimpin redaksi surat kabar setempat De Locomohef, yang dikenal sebagai surat kabar yang progresif-liberaJ, mempunyai peranserta yang penting dalam pendirian sekolah sekolah ini. Van Kesteren mempunyai pendapat yang tegas mengenai tugas Beland a di Hindia Timur. "Suatu peningkatan yang luas dan sehat dari kemakmuran di Hindia Timnr menguntungkan perdagangan dan industri Belanda, danlebih dari ihl, usaha itu merupakan

  1. Encyclopaedic van Nederlandsch-lndie, edisi pertama, m, 79

TAREKAT M ASON BEBAS 1890 · l930

suatu tugas yang harus dijalankan untuk kaum pribumi

79 wilayah jajahan ini". Sebagai ketua "La Cons tan teet Fidele", ia juga giat bekerja untuk mendirikan sebuah H. B.S. (Hogere Burgerschool = sekolah menengah umum) seternpa t, yang juga didirikan pada tahun-tahLm itu. Ten tang makna khusus pendidikan Frobel bagi pcnduduk Indo-Eropa, De Visser Smits sebagai seorang pcndidik mcngatakan:

"Dahulu kala, ketikn keadaan higienis sangat buruk, sering para ibu tidak mampu memberikan perhatian seperlunya kepada artak-anakn.ya yang kecil. Lagipula anak-anak kecil menganggap pekarangan-pekaraJ"' gan yang luas di Hindia Timur sebagai sualtl daerah eksplorasi di mana mereka dapat bela jar banyak kecuali belajar berkonsentrasi dengan sepenuh perhati

Juga di dalam kajian Van der Veur ten tang sejarah orang Indo-Eropa di Hindia Belanda, banyak perhatian diberikan kepada masalah bahasa. Sebelum awal a bad ke-20, demikian penulis itu, bahasa Melayu merupakan bahasa pertama yang 81 dikenal oleh sebagian besar orang Indo-Eropa. Bahasa Bclanda di kemudian hari pm1 merupakan bahasa yang artifisial dan bahasa buk u bagi sebagian besar tunman Indo-Eropa, terutama untuk '1apisan-lapisan rendah". Perbedaan sosial digarisba wahi dengan kuat oleh bahasa ''petjol! ", suatu bahasa campuran an tara bahasa Melayu dan bal1asa Be Ianda.

  1. Termorshuizen 1988, 85
  2. De Visser Smits 1931, 188
  3. Vander Veur 1955, 115-116

Gedenkboek tahun 1917 melapor bahwa pada tahun 1875 di loge "La Constante et Fidele" digodok rencana untuk pendirian sekolahitu. Modal bagi pendiriannya diperoleh mclalu.i penyelenggaraan suatu lotere yang tclah disetujui pemerintah. Hasilnya adalah sebesar f (gulden)

60.000, - yang dirasakan bclum cukup untuk dapat menyelenggarakan suatu sekolah dengan 50 orang murid. Sebab itu luge membentuk suatu komisi yang harus memberikan usul-usul untul< memperoleh kekurangan dana tersebut. Komisi itu menyampaiknn laporannya dalam waktu singkat, dan dari notulen loge, yang diketuai Van Kesteren yang telah disebut sebelumnya, dikutip petikan di bawah ini yang berbicara ten tang keterikatan Tare kat Mason Bebas dengan masyarakat setempat: "Komisi merasu bahwa perlu diselidiki sampai sebagaimana jauh dapat diharapkan du kungan dari pen dud uk Semarang. Untuk itu anggota menghubungi beberapa penduduk Semarang yang berkecukupan. Para anggota itu menguraikan rencana kami serta memberitahukan sumber-sumber keuangan yang tersedia di pihak kami, d:m memintn pend a pat para hadirin dalam pertemuan itu apakah mend irikan sekolah taman kanak-kanak itu sekaran g juga sambil mengharapkan dukungan di kemudian hari dapat dipertanggungjawabkan. Semuanya berpendapa t bah wa sekolah i tu ha rus segera didirikan dan para anggota yang hadir menjamin bahwa mereka akan memberikan dukw1gan. Sebagai bukli dukungan, segera djsanggupi jumlah uang yang besar agar kami terbantu dalam mengambillangkilh-langknh pcrtama untu k mendatangkan orang-orang yang cocok dari Belanda, dan membantu di dalam pembelian perabot sekolah. Yn, jumlah uang itu mencapai angka yang tinggi, sebesar f 50.000 kctika para anggota Kornisi pun ikutserta dan menyerahkan daftar tanda-tang sumbangan bersama laporannya. Dcngan sorakan gembira laporan Komisi itu diterima dan disetujui dan dengan suara bulat diputuskan untuk segera maj u

ZAMAN BERKEMBA!'\CNYA TARfiKATMASON BEllAS 1890-1930

dengan cepat, sedangkan salah satu anggotn yang hadir masih menyanggupi sumbangan sebesar f 500 yang akan disetor begitu gcdungnya berdiri". 112

Sekolah itu ternyata memenuhi ban yak kebutuhan sehingga ban yak murid tcrpaksa ditolak. Walaupun ada kemurahan hati yang timbul pada awal pckerjaan akhirnya temyata bahwa penghasilan tidak dapat menutupi kebutuhan. Karena Hu maka pada taJ1tm 1892 diadakan lagi suatu Jotere yang menghasilkan £30.000. Lalu clidirikan sebuah sekolah Frobel yang kedua dengan tujuan "membuka pintu khususnya bagi anak-anak yang tidal< dan yang kurangmampu''. Perubahan-perubahan berikut kemuclian clilaksanakan: dari sebagian penghasilan dari lotere itu clibelikan sebuaJ1 rumah-tinggal yang luas di daerah elit, "Bojong" di Semarang. Rumah itu ditata-ulang menjadi gedung seko1ah, dan anak-anak yang mcmbayar uang sekolah ditempatkan cU situ. Sekolah ini dibuka pada tahtm 1893. Gedung sekolah di Boebaan, yang terletak di pusat kota yang lama, kemudian disediakan untuk murid-murid yang tidak membayar a tau hanya sedikit membayar uang sekolah. Apakah ini suatu pemisaJ1an golongan, atau ada pertimbangan-pertimbangRn lain? Bagaimana pun juga, oleh karena subsidi yang rendah, ditolaknya kenaikan uang sekolah, dan tidak diizinJdl Klaten.

  1. Gedenkboek 1917, 254-255

tang keadaan eli Serna rang itu. Namun juga di tempat-tempat lain didirikan sekolah-sekolah Frobel, bukan hanya di Pulau Jawa. Dari suatu tinjauan ternyata bahwa dengan be~alannya waktu, telah didirikan sekolah-sckolah Frobel di tempat-tempat berikut ini: 83

1875 Semarang
1879 Batavia
1885 Yogyakarta, dua sekolah
J 887 Surakarta dan Mage lang
1888 Buitcnzorg
1889 Padang dan Probolinggo
1892 Scmarang, sekolah ked ua
1897 Tegal
1898 Bandung dan Menado
1899 Kota Raja
1900 Malang
1903 Malang, sekolah kedua
1905 Bandtmg, sekolah kedua
1907 Blitar
1908 Surabaya
1909 Padang, Magelang sekolah kedua dan Medan, tvlakassar dan Kediri
1926 Malang sekolah kedua

Bahwa sekolah Frobel mewujudkan suatu cita-cita Mason Bebas, kentara dari ban yak acuan rinci sejak nomor pertama dalam Indisch Mn~onniek Tijdsclrrift. Banyak yang dapat dipelajari dari majalah itumengenai pokok-pokok yang pada waktu itu menjadi perhatian komunitas orang Eropa di Hindia Beland a dan yang mclibatkan kaum Mason Be bas serta loge-loge mereka. Tentang sekolah Frobel di Padang, pada tahun

  1. De VisserSmits 1931, 188

1895 d.ikatakan bahwa sekolah itu harus bersaing ketat dengan sekolah Frobel Katolik setempat yang selalu me.narik banyak anak dari lapisan rendah. Hal itu disebut sebagai scsuatu yang menggelisahkan. "Justmkalangan yang kurang terpelajar pertama-tama memerlukan pendidikan menurut jiwa kita, dan di rurnah dari lapisan bawah, justru bagi anak-anak begitu sedikit dilakukan. Apakah di sini juga keuangan memainkan peranan utama? Tetapi kalau begitu kita semuaharus bersedia un tuk melind ungi justru orang-orang yang berkekurangan". 84 ] uga Gedenkboek dali loge "Mata H

Bahwa sekolah kami di Padang mula-mula mengalami keadaan sulit, kentara dari suattt berita dalam I.M.T. tal·u.m 1898 bahwa loge Sei!)arang bersedia menyokong dengan dana yang akan dikirim setiap bulan. Rcdaktur majalah itu sangat

  1. IMT th. 1, 67
  2. Gedenkboek "Mata Hari" 1934, 28-29

ini.u "Sekolah itu san gat ditcn- tang oleh kaum rohaniawan; di sini kita semua hams bekerja sa rna agar lembnga loge yang begitu bermanfaat dapat hidup tents". Sekolah itu mulai mendapat jumlah murid yang banyak. Pada permulaan, di tahun 1889 ada 35 murid dan beberapa bulan kemudian sudah 51. Berkat berbagai sumbangan, biaya-biaya dapat ditutup, namtm sampai tahun 1907 - ketika pernerintah pertama kali memberikan subsidi-sekolah itu mengalami keadaan yang sulit. Pada tahtm1909, di sarnping suatu kelas untuk murid-murid Eropa, juga didirikan kelas tersendiri untuk anak-anak Indonesia, dan pada tahun 1934 sekolah itu mempunyai 20 murid Eropa dan 33 murid Tndonesia dan Tionghoa. Suatu pergeseran yang menarik, yang memperlihatkan bahwa pendidikan Frobel juga bcrhasil di luar segmen penduduk orang Eropa.

Kesadaran bahwa Tarekat Mason Bebas dengan penyelenggaraan pendidikan Frobel un tuk urn urn sedang berjuang demi ''kemajuan", dikumandangkan juga kelika diminta bantuan bagi sekolah seperti itu eli Menado, Sulawesi Utara. "Orang-orang kita, yang disana benar-benar berada di pos gatis depan, hams berjuang keras dalam suatu perjuangan mel a wan para anggota dan suster rohani yang dari mana-mana masuk ke daerah yang selama ini tenteram. Semua Mason Bebas harus memberikan duktmgan kepada anggota-anggota yang memang tidak terikat dalam hubungan suatu loge [Menado tidak mempunyai logenya sendiri, St.] namun di sana benar-benar menunaikan tugas mereka" .f!il Perasaan itu diungkapkan dengan lebih kuat dalam suatu berita yan dimuat dalam T.M.T. pada tahun 1900 dan yang membicarakan sekolah Frobel di Malang. Begitu rencana pendirian suatu sekolah urn urn Frobel

  1. IMT th.3, 278
  2. Idem th. 4, 358

U\1AN BERKEMBANGNYA T AREKAT MASO" BEBAS 1890 - 193l

diumumkan, demikian majalah itu, para ultramontanis mencoba mencegahnya dengan segera mendirikan sekolah yang serupa. Berkat pengorbanan pribadi yang besar dari para Mason Bebas setempat dan oleh karena duktmgan "dari banyak warga kota yang berpengaruh" sekolah itu dapat didirikan juga. Pemberitahuan itu dimuat dengan perasaan puas yang besar, "juga sebagai bukti dari kekuatan yang diperlihatkan kaum Mason Bebas di Malang terhadap kaum uJh·amontanis yang terus maju merebut lal1an. Sekmang-kurangnya anak-anak kecil itu ditarik keluar dari kekuasaan para romo. Kam:i sangat berharap bahwa para anggota memperoleh dukrmgan kuat oleh semua pihak yang rnengasihi kebebasan hati sanubari".88

Kalau penyelenggaraan pendidikan Frobel bertahun-tahun lamanya menekankan emansipasi sosial kaum Indo-Eropa, makamulaisekltar tahun 1900suatu tujuan rohani yang leb:ih diutamakan, di mana dianggap penting agar melalui pendidikan yangnetral secara agama, dilakukan perlawanan terhadap pengaruh yang makln besar dari pihak ortodoks-konfesional. Bukan saja "ofensif kaum ultramontanis" yang telah disebut sebelumnya, yang hendak dilawan, tetapi juga perluasan pcsat dari pendidil

  1. IdQm th. 5, 560

suatu pokok yang terus-mcnerus mendapat perhatian gubernur jenderal, namun dalam hal persia pan pendidikan dasar, pemerintah sangat lalai. Selanjutnya Einthoven mengecam pemerintah Hindia Belanda karena menurub1ya pemerintah telal1 menyerahkan pendidikan kc tangan " kaum rohaniawan".

" kaum klcrikal yang memiliki sumber uang yar'lg besar dan tenCiga kerja yang murah, telah mengC~mbil untung dari keadaan yang malang dan me nyedihkan ini, yang sebenarnya dapat berbeda sama sekali ka lau saja harta yang dihasilkan Hindia Timur selama pemerintahan Belanda yitu, digunakan secara lebih baik, ( ... ) jawa sebentar lagi akan diliputi s uatu jaringan sekolah-sekolah biara sepert:i suatu sarang laba-lnba ( ... ) Jawa yang di masa lampau begitu tidak terikat pada aja ran-ajaran sekarang dengan langkah yang pasti menuju nasib yang telah dialami begitu ban yak jajahan di seberang lautan, di mana kaum klerikalis memainkan peranan ya ng dominan dan di mana mereka telah memenjarakan rakyat Eropa dalam suatu kerangkeng dogma dan paksaan hati sanubari1yang dirantai a tau dikunci oleh sekelompok imam dan Tare kat-Tarekal rohani". 89

Pada tahun 1905 dikemukakan bahwa anggaran negara untuk tahun itu sekali lagi tidak menyediakan dana uang untuk memberikan subsidi bagi pendidikan Frobel. Rupanya diharapkan bahwa pihak pemerintah akan rnelakukannya. Harapan i.ni temyata tidak terkabul dan timbul bahaya bahwa sekolah-sekolah itu harus ditutup sehlngga perlu diarnbil langkah-langah dengan segera. Sebab itu redaksi I.M.T. menyerukankepada para anggota untuk membantu sekolah-

  1. Idem th.9, 311-312

ZA.\'!AN B ERKEMBANCNYA TAREKAT MASON B I!BAS 1890 - 1930

sekolah tersebut dengan pemberian dana, namun masih 90 menjadi pertanyaan apakah bantuan itu memadai? Suatu kemungkinan lain untuk memperkuat sumber keuangan adalah dengan membuka pintu bagi anak-anak dari orang rna bukan-Eropa. Dan dengan itu kita menyaksikan suatu aspek lainnya dari pendidikan Frobel, yakni pcnerimaan anak-anak Indonesia dan Tionghoa.

Aspek itu telah dikemukakan dalarn suatu surat edaran yang disusun oleh A.S. Carpentier Alting, yang pada waktu itu Wakil Suhu Agung. Surat edaran itu ditujukan kepada badan-badan pengurus loge-loge dan sckolah-sekolal1 Frobel yang mereka bawaru. Setelah menunjuk kepada kcadaan darurat yang terjadi, dianjurkan kemungkinan untuk membuka pintu juga bagi anak-anak dari "orang-orang pribumi yang bail<" dan orang-orang Tionghoa, untuk meningkatkan penghasilan sekolnh-sekolah. Terhadap keberatan bahwa pihak bukan-Eropa digunakan unhtk menjamin keberlangsungan sekolah-sekolah, Carpentier Alting membela diri dengan mengatakan bahwa kalau sekolah Frobel terbuka bagi semua, semua yang menggunaka1u1ya akan membayar unh.tl< satu 91 sama lain: "rnereka bagi kita, dan kita bagi mereka". Surat edaran itu mcncantumkan beberapa pandangan yang menarik di mana tampak bahwa bukan hanya unsur keuangan yang memainkan peranan:

"Sudah diketnhui umum bahwa di kabngan orang pribLml.i yang baik dan orang-orang Timu rAsing, yaknj orang Tionghoa, ada keinginan yang semakin kuat agar anak-anak mereka menerima pendidiknn Eropa. Kalau keinginan iht ingin diwujudkan, maka sekolah Frobel pun harus menyiapkan anak-anak itu agardapat mengikuti pendidikan seperti yang

  1. Idem th.lO, 264-265
  2. Idem th.lO, 264-265

dini dan mereka harus dibawa ke lingkLmgan di mana mereka dapal mengerti juga pandangan hidu.p kita. Kalau sekolah-sekolah Frobel kim juga dibuka bagi anak-anak yang termaksud di atas, maka suatu kebutuhan yang mendesakakan terpenuhi, dan merekaikut bekerja dengan gial, jug<~ di dalam memperkuat kesadaran Bcl;mda."

jadi banyak dapat diharapkan dari usul untuk membuka pintu sekolah lebar-lebar. Keberatan orang tua Eropa bahwa anak-anak mereka akan kurang baik bela jar bahasa Belanda, dapat diatasi dengan menetapkan jam-jam les yang berbeda. Dalam bidang itu temyata sudah diperoleh pengalaman yang baik.

Sebagai suatu keuntungan dapat juga ditekankan bahwa "keinginan umum yang semakin nyata, agar Kaum Pribumi dan Orang Asing Timur dapat berhubungan lebih dekat dcngan pihak Belanda, dengan itu dapat diberi dukungan, sehingga dengan demikain akan ada masa depan baru bagi kehidupan Belanda di sekolah-sekolah di Hindia Belanda".

Agaknya pembicaraan meluncur terla1u jauh l

Hal ih1 an tara lain tetjadi dengan "sekolah-sekolah Frobel Yogya" yang selama dua puluh tahun dikelo](l oleh loge

Z AMAN B F.RKE.M13ANGNYA T ARI!KA1' MASON BEBAS 1890- 1930

"Mataram", dan menjaeli rnandiri pada tahun 1905. Namun loge tersebut selalu mengangkat mayoritas anggota badan pengurus, sesuai ketentuan dalarn anggaran dasar. 92

Sewaktu di kalangan kaum Mason Bebas diusahakan perbaikan nasib orang-orang lndo-Eropa, di dalarn lingkungan itu sendiri mucnul suatu gerakan unhtk memperbaiki kedudukan mereka di masyarakat. Setelah gerakan pada tahun 1848 di Batavia yang hanya bcrlangsung sebentar itu, di mana dilakukan protes terhadap pengucilan orang-orang lndo-Eropa dari jabatan-jabatan eli kepegawaian negcri, secara berangsur-angsur telah terjaeli perubahan mcnuju perbaikan nasib berkat perbaikan dalam bidang pendidikan dan karena adanya kebijakan pengangkatan pegawaj negeri yang lebih Iu- wes namtm unluk semen tara hanya segolongan ked] saja yang menikmatinya. Kuesioner yang disebut sebelumnya tentang pemiskinan, yang diadakan eli Batavia pad a tahun 1872, telah menunjukkan hal itu dengan jelas.

Pada tahun-tahun itu, orang-orang mulai mcnyadari bahwa jurang antara orang Belanda kulit putih dan orang Belanda kulit berwarna menjacli semakin lebar, dan bah wa jumlah orang rniskin cli kalangan orang Indo-Eropa semakin bertarnbah. Kern a juan segelintir kecil orang Indo-Eropa yang berpendidikan tinggi, perlu dinilai dcngan memperhatikan Jatar belakang tersebut. Rasa tidak puas terdapat di mana-mana dan menyebabkan mereka berusaha menerobos sikap pasif yang tradisional. Sebuah perkumpulan didi.rikan, di mana wartawan Andriesse memainkan peranan penting dan yang berhasil untuk menarik ratusan pendukung dalam waktu singkat. Kalaupun perkumpLtlan itu tidak sampai menjadi suatu partai potitik, penyebabnya ialah perundang-

  1. Gedenkboek 1917, 306-307
dengan tujuan politis.

" Indischc Bond" lahir pada tahun 1898 scbagai organisasi pertama yang memperjuangkan kepentingan golongan lndo-Eropa. Perserikatan ini mendapat persetujuan pemerintah Hindia Belanda dan langsung berhasil dan memperoleh sejumlah besar anggota. Dalarn programnya antara lain dicantumkan usaha memajukan kemungkinan-kemungkinan kelangsungan hid up dalam bidang pertanian keciJ, dan perbaikan sistem pendidikan, agar dengan cara itu pun peluang mendapat pekerjaan diperbesar. Rupanya "Indische Bond" tidak begitu berhasil, dan oleh karena pertikaian di kalangan sendiri maka perserikatan itu p Lm akhirnya bubar. Namun secara menarik, pada tahun 1900 dalam l.M.T. dimuat sebuah artikcl yang meminta perhatian bagi perjuangan perserikatan itu. Penulisnya adaJah seorang tokoh di kalangan kaum Mason Bebas, yaitu A. van Witzenburg_ anggota loge Semarang ''La Constante et Fidele" dan kemudian redaktur l.M.T.

Van Witzenburgmemberitahu kepada para pembaca bahwa ctia sendiri bukan anggota perserikatan tersebut namun memperoleh keterangannya dari ketua cabang Semarang. 93 Artikel itu bermaksud untuk mengulas perjuangan "1ndische Bond" dan untuk menarik perhatian kaum Mason Bebas terhadapnya. Melalui komentar Van Witzcnburg dan tanggapan yang diterimanya, terungkap earn para Mason Bebas mengadakan reaksi terhadap proses kebangunan kesadanm diri di kalangan lndo-Eropa. la menegaskan, sedikit banyak untuk melegakan hati, bahwa perserikatan i tu memandang masa depan sebagai suatu keadaan di mana ber1angsung hubung-

  1. IMT th. 5, 383-385

l3 ERKEM11ANGNYA T ARI':KAT M I\ 50N BEBAS 1890- 193t

an tetap antara Nederland dan Hindia Timur walaupun memang ada kcluhan tentang cara Hindia Belanda diperintah oleh ncgeri induknya. Mcnw·ut anggaran dasar, htjuan perserikatan itu adalah untuk memberikan dukungan matcriil dan rohani kepada para warga komunitas ornng Eropa yang m embutuhkannya. Ayat 3 menyebut cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut: memulai penerbitan berkala scndiri, percetakan sendiri, toko-toko sendiri dan pemajuan usaha pertanian kecil.

Van Witzenburg mengamati bahwa di masyarakat maje- rnuk dulu yang terutama mengecap keuntungan adalah mang Belanda yang hanya semen tara bermukim eli H india Lagipula, ban yak sekali yang berbeda an tara masyarakat Hindi a dan masyarakat di Nederland.~ dan kepentingan kedua wilayah itu tidak selalu selaras. Sebab itu ia serukan agar Hindia Timur belajar mengenali kepentingannya sendiri dan mengembangkannya. Hubungan sosial yang buruk di wilayah jajahan menyebabkan terdapat "standar moral yang rendah''. Masyarakat Hindia modern, di mana unsur lndo-Eropa semakin tampil ke depan, harus diperbaiki dan warga-warganya yang kurang mampu hams dipersiapkan untuk menghadapi suatu perjuangan hidup yang akan semakin berat di tahun-tahun berikutnya. Lama sekali kemiskinan mereka terselubtm~ tetapi sekarang hal itu sudah menjadi nyata dan menampakkan diri sebagai masalah yang berat. Sebagai sebab utama. Witzenburg menyebut keengganan untuk melakukan pekerjaan kotor-tangan. Di masa lampau hal itu bukan masalah besar sebab jurnlah mereka masih relati£ sedikit, dan ada banyak kesempatan kerja yang lowong. Penulis menyatakan bahwa pernerintahlah yang bertanggtmg jawab atas perturnbuhan pesat lapisan bawah segmen penduduk lndo-Eropa: yaitu anak-anak prajurit, hasil dari hubungan dengan

Pemilikan tanah menu rut perundang-undangan tidak dii7.inkan untuk orang bukan pribumi, sehingga mereka praktis tidak dapat bercocok tanam. Perdagangan dan pertukangan scmakin menjadi kawasan orang Cina dan Asrab swehingga di bidang inipun mereka tidak dapat bergerak. Satu-satunya bidang yang terbuka bagi mereka ialah bidang-bidang yang menuntut pendidikan yang bermutu dan dalam hal ini mere- kapun berkekurangan. Van Witzenburg kemudian juga menunjuk kepada kendala psikologis yang beranggapan bahwa pekerjaan tangan berada dibawah martabat.

Menurut Penulis, "Jndische Bond'' berusaha untuk men- cipatakan suatu perombakan mental di antara komunitas Indo-Eropa: dengan pendidikan yang lebih diarahkan kepada praktik: pertanian dan hortikultura, kejuruan dan perdagangan harus dijadikan lebih menarik. Di Hindia Timur harus dibuka sckolah pelayaran dan suatu akademi pendidikan perwira untuk angkatan darat, sedangkan pendjdikan pegawai bagi aparat pemerintal1an Hindja Belanda harus ditangani sendiri. Tentang tujuan-tujuan perserikatan itu, penulis mempunyai pandangan positif. Namun ia tidak mau menjadi anggota, sebab penyelesaian masalah kemiskinan hanya dapat dicapai dengan meningkatkan kemakmuran seantero- nya. Kalau laba tidak lagi dikirim ke luar-negeri dan uang pensiun dibayarkan di Hindia Belanda, maka modal akan tetap ada di dalam negeri. Sebagai keberatan kedua, ia kemukakan bahwa perserikatan tersebut tidak mengusahakan suatu reformasi dari masyarakat, sehingga penyakitnya tidak disem- buhkan. Kemalasan dian tara warganya san gat besar, dan me-

ZAMAN B ERKEMMNGNYA T ARET

reka ingin dibantu oleh perserikatan itu. Namun, dernikian penulis, perbaikan hanya mungkin kalau tercipta kesadaran bahwa hanya melalui usaha sendiri sesuatu dapat tercapai.

Dalam suatu surat kiriman dari Solo timbul reaksi tajam atas tulisan Van Witzenburg. 94 ''I< ita, kaum Mason Bebas, wajib [kLLrsif, St.] menurut saya untuk membantu Indische Bond dengan kata dan perbuatan, sebab Perserikatan itu dalam mot~ tony a mengatakan: ' memajukan kepen tingan rakyat' ." Penulis menyampaikan seman agar perserikatan itu dibantu "supaya suatu waktu kelak di masyarakat Hindia masalah kemelaratan merupakan ingatan dari masa lampau dan sebagai gantinya muncul kemakrnuran rakyat." Tidak lama kcmudian ada su.mbangan lain dalam I.M.T., di mana penulis mengatakan telah menjadi anggota perserikatan itu dan tidak mengerti mengapa Witzenburg tidak menjadi anggota sedangkan ia mendukung tujuannya. Indische Bond merupakan suatu perkumpulan yang akseptabel, yang tidak mengusahakan suatu revolusi. Tidak dapat dimungkiri bahwa eli kalangan orang indo terdapat ban yak kesengsaraan, demikian dikatakannya, sebab itu, biarJah kaurn Mason Bebas menjadi anggota dari perserikatan itu. Bukankah beke~a demi pembangunan mempakan suatu tugas utama kaum Mason Bcbas?Q 5

Kalau perserikatan tersebut terutama merupakan suatu organisasi yang mengupayakan kernajuan anggota-anggotanya di bidang sosial-ekonomi, maka pada bulan Desember 1912 di Hindia tmtuk pertama kalinya didirikan. sebuah partai politik. Partai itu, yang terbuka bagi semua orang yang tinggal di Hindia, bemama "Indische Pnrhj" dan kctuanya adalah E. F. E. Douwes Dekker yang telah disebut sebelumya. Sifat multi-etnis

  1. Idem th. 5, 439-440
  2. Idem th. 5, 478-479
    282.

itu digarisbawahi keanggotaan dua anggota orang Indonesia yang terkemuka. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat dan Dr. Tjipto Mangunkusumo. Tujuannya benar-benar revolusioner, sebab partai tersebut mendukung terciptanya suatu negara Hindia yang merdeka dari Nederland. Keanggotaan partai terutama diperoleh di antara orang Indo-Eropa (5.500) dan orang Indonesia (1.500), sedangkan Belanda totok dan orang Tionghoa tidak menjadi anggota Douwes Dekker me-- miliki beberapa pendapat yang tidak ortodoks dan yang radikal: ia yakin bahwa orang Indo-Eropa lebih unggul dari orang kulit putih, dan bal1wa mereka sebagai "orang Timur" lebih dekat pada orang Indonesia daripada terhadap orang Belanda, dan karena itu merekalah yang harus memimpin dalam gerakan nasional. Radikalisme di kalangan pimpinan dan susunan keanggotaan, yang dapat digolongkan sebagai golongan menengah bawah dan setengal1 proletariat, mendapat reaksi keras dari pemerintahan Belanda, yang segera mengasingkan ke tiga pemimpin terasnya dari Hindi a.

Tidak mengherankan bahwa kaum Mason Bebas menolak garis haluan lndische Partij yang tidak evolusioner. Ketika pemerintah berdasarkan pasallll menolak memberikan status badan hukum kepada partai tersebut, keputusan itu mendapat dukungan penuh dari J.H. Carpentier Alting. 96 Ia berpendapat bahwa Douwes Dekker bermaksud mempertajam pertentangan-pertentangan dalam masyarallndische Partij berhubung dengan keputusan pemerintah untuk menyi.ngkirkan pucuk pimpinannya dari Hindia. Namun dalam kata-kata Carpentier Altingmasih ter-

  1. ldem th. 18, 176

T AREKAT M.J\SON BEB."'S 1890 -1930

cermin pengertian sedikit, berbeda dengan pers Eropa yang dengan keras menentang Douwes Dekker dkk Sebagai seorang ahli hukum, ia mengemukakan bahwa alasan pembuangan mereka bersifat politis dan tidak membuat rnereka penjahat-penjahat. Setelah kegagalan lnrlisd-ze Pnrtij, baru pada tahun 1919 ada organisasi baru yang mernbela orang Indo-Eropa: "Indo-Europees Verbond: (I.E.V.). Perserikatan ini nanti masih akan d ibahas.

Masalah kaurn Indo dan standar hidup mereka yang rendah dalam tahun-tahun itu, juga menarik perhatian dari mason-Mason Bebas secara perorangan. Di loge "Mataram",].E. Herman de Groot memberi ceramah tentang "Kemiskinan Rakyat", yang dirnuat dalam I.M.T. pada tahun 1901. 97 Alasan bagi tinjauannya itu adalah suatu artikcl dalam surat kabar Semnrnngse Cournnt dari tanggal 30 Juni 1900, yang menyatakan bahwa gejala kemelaratan sudah mencapai ukuran yang sangat besar. De Groot menyatakan bahwa Hlantropi yang telal1 diusahakan selama itu tidak benar-benar mernba- wa suah.1 penyelesaian. Dalam memandang gejala jtu, ia berkesimpulan bahwa diperlukan perubahan-perubahan yang radikal. Ban gsa Beland a, "yang telah rnengambil Lmhmg besar dari Hindia Tirnur'', harus mengakui bahwa mereka ber- 1 tanggung jawab terhadap Hindia ' sebagai suatu ras". Jalan terbaik untukmengatasi gejala kemiskinan jtu, menurutpenulis, adalal1 dengan mengajar lapisan bawah orang Eropa bagaimana rnereka dapat mencari uang. Bagi orang yang tidak pernah mengecap pendidikan lain, maka pcndidikan kejuruan harus diwajibkan. Orang-orang totok yang jatuh miskin-nt- panya yang dimaksudkan De Groot ialah prajurit-prajurit yang seusai masa dinasnya tetap tinggal di Hindia Timur

  1. Idem lh. 6, 31-37

Indo yang miskin, ia menganggap "mentalitas" mereka sebagai rintangan yang besar. Tingkat intelektual mereka terlalu rendah sehingga tidak dapat memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Lagipula orang Indo tidak memiliki rasa tanggungjawab terhadap tugas dan ia tidak mempunyai gambaran tentang " rumah tangga sebagai suatu kesatuan utuh yang tertib" dan juga tidak ten tang masyarakat di mana ia hidup. Namun De Groot tidak menganggap kekurangan-kekurangan tcrscbut sebagai "suatu kekurangan ras" melainkan sesuatu yang disebabkan oleh kekurangan pendidikan, schlngga tercipta " pcrorangan-perorangan tanpa rasa tanggung jawab". De Groot berkesimpulan bahwa pemerintah dalam batas-batas tertentu harus memaksa orang miskin Indo untuk melakukan pekerjaan kasar dengan tangan.

Pada tahun 1906 J.H. Carpentier Alting mcnulis suatu artikel dalam I.M.T. di mana dimasukkannya kesimpulan-kesimpulan Komisi Kemiskinan dari tahun 1902.'lll Penulis memberikan suatu analisis yang jernih di mana dengan jelas dapat dikenali gagasan-gagasan kaum Mason Be bas. J.H. Carpentier Alting menandaskan bahwa rekomendasi-rekomedasi Komisi untuk mencapai perbaikan tidaklah memadai, dan ia kemudian bertanya apa yang dapat dilakukan oleh kaum Mason Bebas untuk "pengentasan komunitas Indo-Eropa". Kalau sudah menjadi tugas kaum Mason Bebas untuk ikut bekerja dalam "pembangunan masyarakat manusia", maka masyarakat Indo-Eropalah yang terletak paling dekat. Perlu 11 diinga t bahwa orang Indo-Eropa, ''sinyo" atau 0rang kulit berwama", merupakan bagian terbesar dari golongan orang Eropa. Pertanyaannya adalah, sebagaimana jauh perbeda-

  1. Idem th. 11, 477-4 87

M ASON B EBAS 1890-1930

annya dengan orang Eropa kulitputih1 dan Carpentier Alting pertama-tama menekankan bahwa yang mengikat orang kulit cokelat dengan orang kulit putih, ialah pendidikan formal, makanan, pengajaran oleh orang tua dan tara£ hidup yang sama, dan ia juga berpendapal bahwa "percampuran darah" tidaklah dapat menjelaskan semua perbedaan. Bukan wama kulit yang menentukan perbedaan-perbedaan, melainkan bermacam faktor lainnya. Orang-orang lndo-Eropa, menuru t- nya, rnerupakan "seluruh golongan orang Eropa, yang karen a telah rnenetap bertahun-tahw1 di Hindia, biasanya telal1 bergenerasi lamanya, Inma-kelamaan kehilangan hubungan dengan Eropa dan dengan orang-orang yang lahir di Eropa, yang memang berasal dari keturunan Eropa namLm tidak memptmyai hubungan keluarga atau pribadi ctengan Eropa. Berangsur-angsur mereka telah berubah menjadi suatu bagian terpisah dari komunitas orang Eropa, terpisah dalam ban yak hat dan "scpertinya sering agak bersikap bermusuhan terhadap orang-orang yang meru pakan asaJ mereka". "Siapa yang memperhatikan masyarakatkita sckarang," demikian Carpentier Alting lanjutkan, " mengetahui bahwa hampir dalam semua hal mereka berada pada tingkat yang lebih rendah dari warga-warga komunitas orang Eropa lainnya. ' Lemah dalam bidang ekonomi', mereka jatuh miskin, dan generasi demi 1 generasimundur ke ' kampung : hanya beberapa saja yang secara alamiah lebih energik yang sanggup tmtuk bertahan di 1uar lingkungan j tu/ dan berhasil maju serta naik pad a tangga sosial, sedangkan rnayoritas dari mereka sedang menuju kebi- nasaan yang pasti".

Setelah menggambarkan situasinya seperti itu, penulis menambahkan bahwa ban yak di antara rnerekamemang te1ah mengecap pendidikan sekolah dasar, namun llngkungan sosiaJ menyebabkan bahwa buah-buall pendidikan itu segera

"yang tidak membawa sesuatu apapun yang menyenangkan bagi mereka". Carpentier Alting menyebut terjadinya suatu proses degenerasi yang mengakibatkan bahwa masyarakat orang Indo-Eropa akan musnah. Sudal1 waktunya untuk membunyikan tanda bahaya, sebab keadaannya jauh lebih parah daripada yang diduga kebanyakan orang. Kaum Indo-Eropa sebagai kelompok tidaklah turun ke dunia pribumi, sebab orang pribumi itu "secara keseluruhan berdiri pad a tingkat peradaban, perkcmbangan dan moralitas yang lebih tinggi, dan orang pribumi pun memandang rendah orang lndo-Eropa".

Apa yang dapat diperbuat daJam situasi tersebut oleh kaum Mason Be bas? Carpentier Alting scndiri tidak mempunyai jawaban yang "sudah jadi", dan meminta semua sesama Mason Be bas untuk memikirkannya. Namun jelas bahwa perhatian serius terhadap masalah Indo baru timbul pada masa-masa belaJ

BEltKE.'viBANCNYA T AI!EKAT MAsoN BE BAS 1890 - 1930

cara itu adakernungkinan bahwa "pada waktunya, walaupun setelah bertahun-tahun lamanya dan rnelalui ban yak generasi, mengentaskan seluruh masyarakat Indo-Eropa dari kejatuh- annya". Yang menarik ialah bahwa ia tidak mempertimbangkan kernungkinan bah wa kaum Indo atas prakarsa sendiri dapat berbuat sesuatu untuk memperbaiki situasi. Indisdu Borrd baginya malahan sama sekali tidal< masuk perhltu.ngan. Apakah bagi dia orang Indo sudah tenggelam begltu dalam sehingga tidak dapat diharapkan sesuatu dari didnya sendiri?

Setahun kemudian T.M.T. sekali lagi membahas masalah Indo, kali ini bcrkaitan dengan pidato H.J.G. Janssen van Raay dj Batavia pada bulan September talmn 1906. 99 Janssen merujuk kepada artikel Carpentier Alting yang discbut di atas, sedangl

Judu] pidato Janssen van Raay sendiri mengandtmg suatu program, yaitu "Perkembangan ekonomi, rohani, dan moral dari masyarakat Indo-Eropa". Agar pertukaran pikiran dapat disalurkan ke alur yang bail<, ia menge.mukakan sejumlah asas, dan kemudian menunjukkan bagaimana ketiga butir pokok dapat dilaksanakan. Sebagai titik tolak; pembicara mengemukakan bahwa orang-orang lndo-Eropa merupakan orang Belanda dan bahwa dipeliharakannya suatu ikatan yang kokoh dengan negeri induk merupakan sesuatu yang san gat perlu. Hal itu menyiratkan bahwa diHindia Timur pendidikan Belanda hams dapat diikuti. Di lain pihak perlu disadari

  1. Idem th. 12, 29-34

dengan kepentingan rakyat pribumi. Janssen van Raay kemudian mengemukakan pendapatnya bahwa orang Indo-Eropa dan orang pribumi tidak boleh dipisahkan saht sama lain secara rasial, paling-paling atas dasar perbedaan sosial. Di sini ken tara jelas asas masonik agar kedua golongan dipersatukan.

Agar dapat tercapai kemajuan sosial bagi kaum lndo-Eropa, pertama-tama keadaan ekonomi dan perkembangan intelektual perlu diperbaiki, dan dengan sendirinya kemajuan moral pun akan menyusul. Bahwa orang Indo-Eropa t.idak memiliki sifat-sifat moral, memnut Janssen van Raay, itu ternyata da1i "kebanggaan yang tidak pad a tempatnya terhadap nama orang Eropa, yang dimiliki orang lndo-Eropa yang paling miskin dan tidak berpendidikan pun, dan yang membuatnya congkak dan membutakannya terhadap keperluan untuk bekerja dan berusaha". Kemajuan ekonomi terutama harus dicapai melalui kooperasi-kooperasi. Bentuk produksi tersebut dianjurkannya juga untuk h1juan yang lain, yaitu diba- ngunkannya rasa tanggung jawab. Janssen berpendapat bahwa pendidikan di Hindia-yang harus meliputi semua tahap dari tingkat persia pan sarnpai tingkat pendidikan tinggi- ha- ms memainkan peranan yang sangat penting. Yang terutama ialah bahwa sistem pendidikan itu harus mernperhitungkan kebutuhan-kebutuhan yang ada di Hindia Timur.

Namun mengenai perkembangan dalam bidang budi

pekerti orang Indo-Eropa, ada dilema. Di satu pihak Janssen berpendapat bahwa perkembangan moral harus didasarkan atas asas kemandirian individual dan masyarakat "dengan mengikatkan diri pada suku bangsa Belanda", namun di lain pihak hal itu tidak boleh bertentangan dengan adat di kalangan rakyat pribumi. Ditinjau seperti itu, perkembangan

ZAMA.'II B ERKEM BANGNYA T AR EK AT MAsci': B ESAS 1890- 1930

moral eli wilayah jajahan itu akan menuju ke arah perluasan model Eropa secara kontinu ke semua lapisan penduduk Hindia Belanda. Dengan kata-kata Janssen van Raay sendiri, perkembangan moral merupakan "hubungan an tara Nederland, yang memimpin dan mengendalikan perkembangan Hi.ndia Timur, dengan rakyat-rakyat di Hi.ndia Timur, dan orang Indo-Eropa telah memilih tanah aimya yang kedua di tengah- tengahnya."

Kita perlu memperhatikan scbentar hal yang terakhir ini. Sebab, yang di.kemukakan di sini oleh Janssen van Raay adalah bahwa perbaikan posisi sosial orang lndo-Eropa bukan hanya dimaksudkan demi dirinya sendiri, melainkan juga untuk mempersiapkannya bagi suatu tugas yang istimewa: yakn i menjalankan suatu fungsi pcngantara an tara Nederland sebagai negara kolonial dan suku-suku bangsa di seluruh kepulauan Indonesia. Ia harus djdidik, menurut perkataan Janssen van Raay, "untuk mengambil tempat di Masyarakat Hindia Timur, bekerja sebagai pembawa peradaban Eropa".

la tidak memungkiri bahwa masih banyak yang harus terjadi sebelum kaum Indo-Eropasiap menjalankan tugasnya itu. Tidak adanya budaya menabung, umpamanya, syarat pertama untuk mencapai perhtmbuhan modal dan dengan demikjan kemandirian, merupakan suatu rintangan yang berat. Namun pihak pemerintah, terutama kotapraja, dapat menlliltut agar pendidikan di.sesuaikan dengan kebutuhan yang nyata. Pengajaran bahasa harus memainkan peranan yang sangat penting, pertama-tama bahasa Belanda supaya mereka dapat ikut serta dalam pembentukan opini tentang berbagai perkara politik. Agar dapat bergaul dengan rakyat pribumi, bahasa Melayu harus diajarkan juga, narnun bukan "bahasa Melayu campuran yang sangat tidak beradab", melainkan bahasa Melayu yang beradab. Juga pengetahuan

dikenat Kurangnya pendidikan menimbulkan ketidakpuasan. Ia juga menganggap ekskursi-ekskursi ke dunia usaha sebagai sesuatu yang banyak manfaatnya. Dengan cara itu dapat dibangkitkan perhatian "terhadap pekerjaan yang terhormat dan menarik dan untuk memupuk prinsip-prinsip yang bail< untuk masa depan mereka di masyarakat sebagai warga Hlndia". Janssen van Raay merasa bahwa kurangnya perhatian terhadap pekerjaan kantor untuk tenaga berpendidikan rendah, dan pekerjaan lainnya dengan pembayaran rendah dapat juga diatasi dengan cara itu.

Setelah menyampaikan penduian Janssen van Raay secara garis besar, sekarang diberikan komentar yang dikemukakan

J.H. Carpentier Alting dalam l.M.T.
100 la rnenegaskan bahwa tujuan pemerintah adalah dipeliharanya suatu ikatan yang kuat dengan Belanda. Namun itu bukan semata-mata demi kepentingan Belanda saja. Lebih dari itu, tujuannya adaJah pembangtman masyarakatHindia Timuryang terpaldi Belanda yang kurang sanggup memenuhi kebutuhan dari masyuarakat yang bermukim di sini.

Dari pembicaraan selanjutnya timbul dua gagasan. Menurut yang satu, semuanya yang dilakaukan bagi golongan Indo tidak ada maknanya karena pada dasamya mereka merupakan "suatu ras yang akan hilang tenggelam sendiri". Satu-

  1. Idem th. 12, 76-79

BERJ-.'EMB A!\lG!I.'YA TARilKAT M ASON BEBAS 1890- 1930

satunya hal yang perlu diupayakan adalah mencegah meluas- nya lebih lanjut jumlah orang lndo yang miskin. Sebagai obat- nya diusulkan supaya orang-orang Eropa dilarang untuk ber- gauJ dengan perempuan-perempuan Indonesia. Kaum pria harus menyadari "bahwa bercampur dengan inlander tidak sesuai dengan martabat orang Eropa". Pend irian terse butter- nyata hanya ctipegang oleh suatu minoritas yang kecil; sedangkan kebanyakan orang mempunyai penilaian yang positif. Me- 11 mang ada alasan untuk merasa pesimis, namun bila kita ber- 11 kata begitu", demikianlah Carpentier Alting, maka orang lndo-Eropa dilecehkan." "Tidakseorangpun mcmpunyai hak untuk melakukan generalisasi dan dengan de1nik.ian merasa perkaranya sclesai. Penting untuk belajar mengenallatar belakangnya yang menycbabkan begiht ban yak orang jatuh rniskin". Carpentier Alting menutup sumbangsihnya dcngan komentar bahwa dalam anggapannya dedikasi terhadap pengentasan masalah orang-orang Indo-Eropa yang melarat itu mempakan tugas kaum Mason Bebas, sualu pendirian yang disetujui oleh sebagian besar orang yang hadir.

Setelah menerangkan sikap sehubungan dcngan masalah Indo pada umurnnya dan pendidikan Frobel pada khususnya, maka berdasarkan suatu terbitan masonik dari tahun 1930, akan diberikan suatu tinjauan dari kegiatan-kegiatan lain di bidang kemasyarakatan yang telah dilakukan oleh loge-loge.1 01 Walaupun tidal< selaJu demikian halnya, namun sebagian besar kegiatan ilu tidak perlu disangsikan lagi telah bermanfaat bagi orang-orang lndo-Eropa. Dalam tinjauan berikut ini, apa yang disebut sekolah-sekolal1 dasar netral tidak dibicarakan. Loge-loge dan kaum Mason Bebas secara perorangan telah rnernpunyai ancUI besar di dalam pendirian

  1. De Visser Smits 1930, 185-195

dasar, narnun dari awal selalu ada orang-orang dari luarTarekat yang ikut terlibat. Memang pengaruh loge-loge dapat dilihat di da1am pengangkatan anggota-anggota. badan pen gurus dari perkumpulan-perkumpulan sekolah yang menurut anggaran dasar harus berasal dari loge setempat.

Perawatan Ora1tg Buta

Pada tahun 1884 eli Semarang dibentuk sebuah dana untuk membantu orang-orang tuli-bisu dan orang-orang buta. Lembaga orang buta di Bandung telah disokong oleh beberapa loge. Kolekte tahunan di Hindia Timur untuk orang buta telah diorganisasikan juga oleh kaum Mason Be bas.

Pemeliharamz A uak Yatim Piatu

Sejak tahun 188t loge eli Surabaya memberikan subsidi kepada "Jongellsweesinrichting (wisma anak laki-laki yatim piatu)" dan kepada wisma anak yatim piatu Protestan. Pada tahun 1886, loge di Padang mendirikan "Perkumpulan bagi Pemeliharan Anak Yatim Piatu". Lembaga anak yatim piatu Protestan eli Magelang yang dipimpin Pa van der Steur disc- kong secara keuangan oleh loge-loge dan ban yak Mason Bebas. Juga "Wisma Anak Yati.m Piatu" Protestan di Semarang disokong oleh loge setempat. Mason-Mason Bebas juga selalu terdapat dian tara anggota badan pengurusnya.

P erpustak.acm Rakyat

" Memajukan perkembangan umum di l

BERKEMBANGNYA TAREKAT MAsoN BEBAS 1890-1930

kalau pun ada, iurannya kecil saja, sedangkan buku-buku

biasanya diperoleh melalui pembelian a tau hibah oleh anggota-anggota loge a tau orang-orang lain. Di Semarang pada tahtm 1875 dibuka perpustakaan yang disebu t ''De Verhchting (Pencerahan)" dan yang pada tahtm 1917 ditempatkan di Per- pustal

tahun 1878 di Yogya talu.m 1895 di Menado
tahun 1879 di Surabaya tah w1 1897 di Tegal
tahun 1882 di Salatiga tahun 1899 di Medan
tahun 1889 di Probolinggo tahun 1902 di Ambon
tal1un 1890 di Buitenzorg tahun 1902 di Malang
tahun 1891 di Bandtmg tahun 1908 di Magelang
tahun 1892 di Menado tahun 1907 di Blitar
Pendidilcnn kejuruan bagi perempuan

Pendidikan in.i terutama diarahkan pada pengajaran kerja tangan, menjahit kostum dan sebagainya. Pertama-tama dimaksudkan agar perempuan diberi peluang di kemud ian hari untuk mencari nafkah sendiri, ada juga tujuan lain yal

bagi anak-anak laki-laki

Juga dalam pendidikan kcpada anak-anak lelaki mula-mula perlu diatasi kesulitan-kesulitan yang besar, sebab juga di an tara mereka kerja tangan tidaklah populer. Walaupun begitu, loge-loge berpendapat bahwa pendidikan kejuruan akan membuka peluang-peluang baru bagi kaum lndo-Eropa untuk mendapat peketjaan dengan upah yang lebih baik di dunia usaha maupun di kalangan pemerintahan. Dalam hal itu mereka memang bcrhasil dan banyak tenaga teknisi telah dipersiapkannya, yangsebagai pengawas a tau pekerja terlatih dapat mencapai taraf kehidupan yang baik. Loge Batavia mendirikan sekolah pertama dari jenis itu pada tahw1 1865. Diubah menjadi sekolah kejuruan, sekolah itu kemudian diserahkan kepada pemerintah pada tahun 1901 dan diperluas menjadi " Ko11ingin Willtelmhtn School ". Di Makassar pada tahun 1887 didirikan sebuah sckolah teknik dcngan tambahan sebuah sekolah gam bar. Setahun kemudian Surabaya menyusul dengan sebuah sekolah kejuruan yang pada tahun 1912 diserahkan kepada pemerintah. Setelah diperluas, sekolah itu dinamakan ''Koningin Emma School". Pada tahun 19011oge di Bandung mendirikan sebuah sekolah pendidikan untuk pengawas. Kecuali pendidikan tcknis, beberapa loge juga mernbuka kursus-kursus perniagaan sebagai tambahan pada pendidikan sekolah dasar. Pada tahun 1897 pendidikan seperti itu dibuka oleh loge Yogya, dan pada tahun 1898 loge Semarang dan loge Probolinggo pun menyusul.

Pendidikan Mettettgah

jenis pendidikan seperti ini bagi loge-loge selalu merupakan suatu pokok yang sangat istimewa. Perkembangan pendidikan umum yang buruk sebagai akibat kelalaian dari pihak pemerintah, mendorong pihak Roma Katolik memberikan perhati-

ZAMAN BERkEMBANGNYA T AREKAT MAsoN B EBAS 1890 - 1930

an khusus terutarna terhadap pendiclikan lanjutan. Loge-loge dan Mason-mason Bebas secara perorangan berhasil mengajak orang-orang bukan Mason Bebas untuk rnembuka sekolah-sekolah yang netral dalamhal agama. Pad a tahun 1867 dibuka sebuah sekolah t.mtuk anak-anak lelaki di Semarang, yang kernudian berkembangmenjadi H.B.S. setempat. Pada tahun 1868 didirikan sekolah pendidikan eli Batavia bagi mereka yang ingin menempuh apa yang disebut ujian kecil pegawai negeri. Pada tal1nn 1872 eli Surabaya dibuka sekolah untuk anak-anak perempuan yangpada tahun 1883 diubah menjadi "Particuliere Meisjesschool (Sekolah Swasta untuk Anak-anak Gadis)" dan di kemudian hari berkernbang menjadi sebuah komunitas sekolah dengan ratusan murid. Juga didirikan sebuah sekolah untuk anak-anak lelaki yang kernudian clike- nal sebagai "Instituut Buys''. Pada tahtm 1885 di Yogya didirikan sebuah sekolah lanjutan bagi anak-anak perempuan.

Setelah tahnn 1900 di bidang pendidikan dicapai keberhasilan-keberhasilan yang baru. Terutama sekolah unhtk anak-anak perempuan yang didirikan di Batavia pada tahun 1902, dengan sebuah sekolah H.B.S. (Hogere Burgerschool = sekolah menengah umum) tiga-tahtm pada tingkatan bawah, yang di kemudian hari berkembang menjadi komunitas sekolah "Carpentier Alting Stichting", merupakan suah1 prakarsa loge yang penting. Bersama-sama dengan "Particuliere Meisjesschool11 di Surabaya, Carpentier Alting Stichting dapat dianggap sebagai mahkota Tarekat dalam bidangilrnu pendidikan di Hindia Belanda. Pada tahtm 1915 di Malang dibuka "Neu- trale Normaalschool (Sekolah Netral Pendid:ikan Guru)", di Semarang sebuah sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs = Sekolah Pendidikan Rendal1 yang Lebih Diper- luasyakni SLTP), sedangkan di Medan pada tahun 1925 didirikan sebuah sekolah menengah.

Maksud dari dana-dana tersebut adalah untuk memungkinkan murid-murid berbakat dari orang tua yang tidal< mampu untuk mengikuti pelajaran eli sekolah menengah. Dana pertama d.idirikan di Semarang pada tahtm 1878. Dana tersebut kemudian diu bah menjadi "St·udiefonds Midden java (Dana Studi Jawa Tengah)". Pada tahun 1881Ioge di Su1·abaya mendirikan sebuah dana berkaitan dengan sekolah H.B.S. di kota itu, sedangkan di Batavia pada tahun 1885 didirikan dana seperti itu juga. Yogya menyusul pad a tahun 1904 dan Surabaya pad a tahtm 1913 dengan "Korzingin Emmn Schoo!fonds". Terakhh~ pada tahun 1917 di Yogya ctidirikan sebuah dana untuk mu- 1 rid-murid ' Algemene Middelbnre School (SLTA)".

Asrama-asrama

Oleh karena sekolah-sekolah hanya terdapat di kota-kota besar eli Hindia Belanda, perlu dipersiapkan fasilitas agar murid-murid di pedalaman pun dapat mengikuti pcndidikan. Kadang-kadang ada kemungkinan mmah kos, tetapi lebih sering diperlukan sebuah asrama. Lembaga-lembaga seperti itu didirikan eli Surakarta, Batavia, Surabaya, Buitenzorg. Kota Raja, Bandung, Jember, dan Brastagi (Sumatra Utara).

Tempat-tempat Peristirahatan

Beberapa loge juga mendirikan tempat-tempat liburan dan pemulihan bagi anak-anak kota yang lemah. Tempat-tempat itu terletak di daerah pegunLmgan dengan iklimnya yang sejuk, dan sering merupakan tern pat istirahat bagi anak-anak dari kota-kota yang iklimnya panas. Terutama tempat pemulihan di Sukabumi, yang didirikan dan dikelola oleh loge di Batavia, bertahun-ta11Un lamanya telah membantu memulihkan anak-anak kota yang pucat-pucat. Semarang dan Sura-

Bt!H KCMHANGNYA TAREKAT MASON BEBAS 1890 · 1930

baya juga mendirikan lcmbaga seperti itu, scrta juga Padang, Tegal dan Deli.

Anak-a11ak Muda yang Ditelantnrknn

Pembinaan anak-anak muda yang lelah berurusan dengan pengadiJan, merupakan bidang ke~a perkumpulan "Pro Juventute". Kebanyakan kota besar di Hindia Timur mempunyai cabang setempat yang mandiri dan perkumpulan tersebut. Tidak Jama setelah pcnduriannya di ncgeri Belanda pada tahun 1895, I. M.T. menunjukkan perhatiannya dengan seruan agar juga d i Hindia dimulai pelayanan yang sama. Mr. W. Sonneveld, dircktur [sepadan dengan jabatan menteri, St.] Departemen Kehakiman dan Wakil Suhu Agung Tarekat, n1engambil prakarsa untuk mendirikr1n cabang pertama di Hindia, dan juga sctelah itu lbanyak Mason Bebas mcmbcri- kan tenaganya unh.1k membina para pelanggar hukum yang muda itu. Terutama loge-loge diMedan dan Bandung sangat terlibat dalam peke~aan ini.

Wisma-wismn Militer

Serdadu yang biasa dari ten tara Hindi a Beland a berada dalam keadaan yang sangat terisolasi dari masyarakat Hindia. Bukan hanya sewaktu mengiku ti ekspedisi militer, tetapi JUga sewaktu menjadi anggota gamisun ia harus bergantung pada dirinya sendiri dan pada rekan-rekannya. Oleh karena penduduk kota pada umumnya memandangnya dengan sebelah mata, ada kebutuhan besar bagi suatu lingkungan yangmem- berikannya kcnyamanan, di mana dihidangkan minuman non-alkohol dan di mana ada kesempatan untuk membaca a tau menulissurat. Pada tahun 1895, loge di Semarang mendirikan balai "Onze Woning (Tempat Tinggal KitaY' untuk memenuhi kebutuhan prajurit-prajurit dari gamisun setempat.

Suxabaya dan Yogya, Makassar, Surakarta, Cimahl dan terakhir, pada tahun 1925, kota Malang.

Dari berbagai badan di mana loge-loge dan anggota-anggota perorangan ikut terlibat, berikut ini diberikan daftar singkat: perkumpulan-perkumpulan untuk bantuan medis dan apotek bagi orang-orang yang tidak mampu, untuk re- habilitasi narapidana yang dibebaskan, dana pemakaman, pe.rkmnpulan tmtuk perumahan rakyat, Univcrsilas Rakyat Bandtmg, biro tenaga ke~a di Medan, dana Krakatau bugi para korban letusan gunung api pada tahun 1883, obat-obatan bagi kaum Boer di Transvaal.

  1. Orang-orang Indonesia muJai mcngarnbil bagian daJam Tare kat Walaupun unsur Beland a dalam Tarekat Mason Bebas selalu dominan, dalam perjalanan waktu abad keduapuluh, jumlah orang lndonesia berangsur-angsur bertambah dan sebagai akibatnya tepat sebelum pendudukanJepang ada kurang lebih lima puluh orang Indonesia yang menjadi anggota. Namun itu berarti bahwa mereka hanya merupakan empatpersen dari jumlah anggota. Di sam ping itu masih ada kira-kira lima belas orang Tionghoa yang menjadi anggota, namun mereka tidak akan dibicarakan di sini. Keanggotaan orang-orang Indonesia menimbulkan beberapa pertanyaan. Pertama-tama, apa yang membuatnya menarik bagi mereka sehingga mereka mau mengarnbil bagian dalam suatu Tare kat yang memang disebut universal namun yang diresapi dengan nilai-nilai kebudayaan Barat, dan yang didominasi orang Belanda? Pertanyaan lain ialah pendapat di pihak orang Belanda tentang keanggotaan orang Indonesia, dan bagaimana mereka memandang kebudayaannya. Oleh kaum Mason Bebas Belanda -memandang kembali ke

BliRKEMBANG~l'A T AREKAT MASON B EBAS 1890 - 1930

masa lampau di Hindi a -sering ditekankan bahwa pekerjaan di dalam loge memungkinkan untuk bergaul dengan orang Indonesia atas dasar persamaan, dan sebagai akibatnya mereka dapat saling mengenallebih baik daripada yang dimungkinkan di luar lingkungan Tarekat Mason Be bas. Sejauh sumber-sumber memungkinkan, pokok ini pun akan dibicarakan, walaupun disayangkan bahwa dari pihak Indonesia sedikit saja tersedia informasi mengenai pokok tersebut.

Siapa orang Indonesia Mason Bebas pertama, tidaklah mungkin ditentukan lagi. Beberapa orang menyebut pelukis Jawa termasyhur Raden Saleh (k.l. tahun 1810-1880), yang pada tahun 1836 dilantik sebagai murid Mason Bebas. 102 Namun peristiwa tersebut tidak terjadi di suatu loge di Hindia Belanda, melainkan di Den Haag, di mana ia telah menetap pada waktu itu. Loge "Eendracht Maakt Mache' te1ah menerimanya dalam barisan mereka, namun tidak sesuatu pun diketahui dari kegiatannya sebagai Mason Be bas. Hal yang sama berlaku juga untuk masa setelah ia kembali di Jawa, di mana ia melapor di loge "De Ster in het Oosten''.

Nama kedua yang disebut berkenaan dengan hal ini adalah Abdu1 Rachman, seorang buyut dari Sultan Pontianak. la menjadi anggota pada tahun 1844 dari loge Surabaya ''De Vriendschap", dan Gedenkboek tahtm 1917 memberitahukan bahwa ia anggota Muslim pertama dari Tarekat. 103 Juga disebut-sebut nama seora11g su1tan dari Kutai yang bersama dengan pu tran ya dan em pat pangeran me:nJadi anggota. Kapan hal itu tepatnya terjadi, tidak diberitahukan. 1 w Yang dapat dipastikan adalal1 bahwa bupati Surabaya, RA. Pandji Tjokronegoro, terdaftar sebagai anggota, sebab pada tahun 1908

  1. Thoth, Tijclschrift voor Vrijmetselaren 1988, I, 33-35
  2. Gedenkboek 191 7 268
  3. IMT th. 56, 49

50 tahunnya sebagai seorang Mason 105 Bebas. Kalau loge ''De Vriendschap" kelihatannya ditakdir- kan sebagai loge bagi Mason-mason Bebas Indonesia, tidak lama kemudian loge iht dilampaui dalam hal itu oleh loge "Mataram" yang diclirikan pada tahun 1870 di jan tung Pulau Jawa dan di pusat kcbudayaan Jawa. Namun dari sekitar tiga puluh orang Mason Bebas yang pada tahun 1869 mengambil prakarsa untuk mendirikan loge terse but, bel urn ada satu pun 106 orang lndonesia. Namun keterangan itu belum lengkap kalau tidak diberitahukan bahwa seorang anggota keturunan raja Paku A lam, yakn.i Pangeran Soerjodilogo, sudah menjadi anggota loge tersebut sejak tal1un 1871. Tidak disangsikan bahwa langkal1 itu telal1 clipersiapkan dengan baik, dan bahwa ketunman raja lainnya d.i Yogya, Hamengku Buwono, diberitahukan sebelumnya. Bahkan peresmian loge "Mataram" cli- langsungka.n dalam suatu gedung yang oleh sultan yang me- meriJltah waktu itu. Hamengku Buwono VI, disewakan kepada loge tersebut. Untuk kebaikannya itu, Suhu Agung Nederland waktu itu, Pangeran Frederik, menyampaikan teri- 11l7 rna kasih kepada sultan dalam sebuah surat pribadi. Gedung loge ihl terletak di jalan utama Yogya, "Malioboro" [pada zaman Raffles diubal1 namanya menurut Duke of Marlbo- rough, St.], suatu jalan yang menuju ke keraton sultan. Setelah sultan meninggal pada tahtm 1877, pengganti-penggantinya selalu menghormati keputusannya dan gedung itu sampai pendudukan Jepang merupakan pusat kegiatan rnasonik. Hubungan istimewa anta1·a loge itu dengan kedua ke1uarga Taja cliungkapkan pada tahun 1925ketika Hamengku Buwono VIII mengadakan kunjungan rcsmi ke "Mataram". Dari ktm-

105 Vander Veur 1976, 15

  1. Lowensteijn 1961, 80
  2. lMT th. 56, 49

UMAN BERKEMBANGNYA TAREKAT MASON 8EBAS 1890- 1930

jungan itu telah ctibuat foto, di mana eli samping sultan juga tampak tuan nunahnya, Pangeran Paku Alam VII.

Hubungan erat dengan keluarga Paku Alam banyak pengaruhnya terhadap sifat loge "Mataram". Hubungan itu dimulai, seperti telah dikatakan sebelum.nya, dengan keanggotaan Pangeran Soejodilogo pada tahun 1871 dan diperkuat pada ta.hun 1878 ketika dia sebagai Paku Alam V menjadi Kepala Keluarga Paku A lam, juga saudara lelakinya, Pangeran Ario Notodirodjo, yang an tara tahun 1901 dan 1906 menjadi wali dari Paku Alam Vll yang waktu itu belum akil balig namun kemudian menjadi sultan, dan menjadi terkenal sebagai seorang pemimpin dari gerakan nasional yang dini, menjadi anggota loge "Mataram". Akhirnya juga putra dan cucu Paku A lam~ yaitu PakuAlam VI dan PakuAlam VII, menjadi anggota loge tersebut. Potret-potret dari empat Mason Bebas terkemuka itu diberi tempat kehormatan dalam Gedenkboek 108 tahun 1917.

Terutama bagi Paku Alam VII, lengkapnya Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati A rio Paku A lam VII, keanggotaan dalam Tarekat mernptmyai makna lebih dari sekadar arti simbolis. Sejak masuk menjadi anggota pada tahun 1909 sampai ia meninggal pada tahtm 1938 ia telah memegang sejumlah besar jabatan dalam logenya, di samping menjadi anggota badan pengurus perkumpulan kaum Mason Bebas, "Scholen voor Neutranl Onderwijsvoor Inlanders (Sekolah-sekolah 109 bagi Pendidikan Netral tmtuk Orang Pribumi)". Juga di luar loge ia berjasa, seperti terlli1at dari tanda-tanda penghormatan tinggi yang dianugerahkan kepadanya. Ia memperoleh penghormatan "Commnndeur in de Orde vnn Ornnje-Nassau" dan

  1. Gedenkboek 1917, di hadapan 301
  2. IMT th. 36.725

Ordevan de Nederlandse Leeuw". Di sam ping itu ia berpangkat kolonel titu ler dalam Ten tara Hindia Belanda, dan seragam upacaranya sering dipakainya. Penulis karangan In Memoriam yang dimua t dalam I.M. T. tahun 1938, memuji kese- riusan pangeran ini di dalam menerapkan gagasan-gagasan sebagai seorang Mason Bebas dalam masyarakat di mana ia berada, dan menulis ''hanya mereka yang mengenal hubungan-hubungan dalarn dunia pribumi, yang akan menghargai 1111 sikap masoniknya itu • o

Kedudukan khusus yang ditcmpati kota Yogya dan logenya dalam Tarekat Mason Bebas digarisbawal1i oleh suatu keputusan dari Majelis Tahtman Provinsial taliLtn 1930, di mana diputuskan bahwa berbagai benda dari Tarekat di Yogya akan dikumpulkan untu k suatu museum yang akan didirikan di situ. Juga usul agar perternuan-pertemuan tahunan dari Majelis Tahunan selanjuh1ya dilangsunglDi latar belakang keputusan tahun 1930 terletak kebutuhan untuk lebih menekankan unsur Indonesia dalam Tarekat Mason Bebas Hindia, dan tidak sulit untuk rnengerti mengapa peran ini diberikan kepada "Mataram". Dalarn hubungan itu, seorang utusan di Majelis Tahunan tahun 1930 menegaskan kewajiban-kewajiban yang diem ban kaurn Mason Be bas Hindia terhadap negeri tem pat tinggalnya~ dan dengan demikian juga terhadap Tarekat Mason Bebas Indonesia.

"Tare kat Mason Be bas horus berakar di Hindia Beland a, dan tidak sepcrti sekarang hanya diselenggarakan oleh kaum perantau lyaitu orang Belanda kulit putih, St.]. Di Jawa

  1. Idem th. 42, 270-273

ZAMAN BERKEMBANGN YA TAREKAT MAsoN Bt;BAS 1890-1930

Tengahlah, di de kat monumen-monumen kebudayaan yang besar dan di tengah upper ten masyarakatJawa, harus terdpta dan berhmiliuh pusatnya." 111

Pada persiapan Majelis Tahtman tahun 1931, De Visser Smits berbicara tentang ''perjalanan para utusan ke kota kesultanan yang h.ta, di mana ki ta di gedtmg-gedung loge Ma ta- ram dapat menyaksikan pusat Tarekat Mason Bebas Hindi a Belanda," dania mengungkapkan harapannya bahwa ini akan menjadi "suah.t pusat kekuatan yang tidak dapat tidak harus ada, dari mana datang sesuatu, lalu kemudian bertambah banyak, dan akhirnya ban yak sekali yang akan menyebar keluar ke seluruh kepulauan ini". 112 Dalam Timur Tengah itu sendiri, Wakil Suhu Agung Ir. Wouter Cool dalam pidato pembukaannya menyebut Yogya sebagai "sebuah sel yang dalam perjaJanan waktu akan matang dan akan berkembang biak menjadi kamar dan kompleks rumah pemujaan ( ... ) dengan jumlah terbesar anggota dari kebangsaan pribumi".m

Menarik Lmtuk mengikuti bahwa pada tahtm-tahun itu orang menaruh harapan besar terhadap loge Yogya tersebut. Agar dapat diperoleh pcngertian yang baik, perlu dikupas arti dari nama loge, yang tidak tanpa alas an dinamakan "Mataram". Nama ilu menunjuk kepada suatu kerajaan yang telah memainkan peranan sangat penting dalam sejarah Jawa. Mataram di zaman modern merupakan kerajaan besar yang meliputi hampir seluruh Pulau Jawa, yang pada abad ke-17 dengan penuh semangat menentang orang Belanda. Setelah perang yang lama, kerajaan itu akhirnya lVorstenlnnden (negeri-ncgeri sultan): Yogyakarta di bawah

  1. Idem th. 35, 422-424
  2. Idem th. 36, 351
  3. Idem th. 36, 460-461

Surakarta di bawah seorang susuh unan. Pada zaman pemerintahan lnggris di bawah Raffles, di dalam kesultanan Yogya dibentuk sebuah daerah merdeka yang diperintah seorang pangeran, yang disebut Paku Alam. Setelah "Perang Jawa" yang berakhir pada tahun 1830, bagian-bagian besar dari kesultanan terscbut dipisahkan dan ditambahkan pada wiJayaJ1 pemerintahan Hindia Belanda. Kalau dari segi wilayah tidak ban yak yang sisa dari kejayaan masa lampau, di dalan1 tatanan negara kolonial wilayah-wilayah Kerajaan Mataram yang lama memiliki status scmi-merdeka, dan para sultan selalu diperlakukan dengan penuh hormat. Tetapi justru di wilayah-wilayah yang diberi nama baru Vorstenlnnden itu pada awal abad ke-20 muncul tanda-tanda pertama tentang "kebangunan" nasional. Pencerahan kultural dan politik, secara paradoksaJ dimulai di lingkungan keraton, dan terutarna Yogya yang mcmainkan peranan penting dalam hal ini.

Untuk uraian kita, yang penting ialah bahwa bah\·Va anggota-anggota Indonesia dari Tarekat tidak ketinggalan. Gerakan " Budi Utomo" yang didirikan pada tahun 1908, memiliki sebagai ketua 11 Pangeran Notodirodjo, yang telah disebut sebelumnya sebagai wali dari Paku Alam VU sewaktu yang disebut terakhir ini bel urn akil balig, dan yang JUga merupakan anggota loge " Mataram". Kita akan melangkah terlalu jauh kalau menelusuri secara lebih mendalam hubungan anta- raJoge "Mataram" dan gcrakan kcbangunan nasionaJ dan kultural di Vorstenlnnden, yang dapat di teliti dari arsip Paku Alam. Ada cukup petunjuk yang menguatkan pendapat bahwa lingkungan keraton pada sekitar tahun 1900 sudah menyadari bahwa kemandekan dan kemerosotan yang umum terdapat itu, hanya dapat diu bah menjadi peri ode pcrkembangan yang baru melaJui modernisasi masyarakat. Mereka memberikan

8ERKEM13ANGNYA TAREK.AT MASON BEBAS 1890 -1930

penilaian tinggi terhadap pendidikan Barat, kerja sama dengan pihak Belanda di berbagai bidan& dan penguasaan bahasa Belanda yang baik agar mendapat akses terhadap Dunia Ba ru. Betapa besamya kebutuhan itu tampak dari jumlah murid yang berasal dari kalangan ban gsa wan yang mendaftarkan diri untuk pendidikan Eropa oi sekolah dasar dan menengah. Di sam ping itu pendidikan universitas di Bclanda pun mulai diikuti. Tatkala jurang an tara kaum elit kolonial Belanda dan dunia pribumi kelihatannya nyaris tidak terjembatani, para bangsawan Indonesia yang tergabung dalam Tarekat Mason Be bas menggunakan peluang ini untuk mengadakan kontak informal dan memupuk pengertian terhadap upaya menuju Indonesia yang baru. Di lain pihak, kehidupan loge memberikan kesempatan untuk dapat mengenal orang Belanda dan pendirian-pendirian "modern" mereka.

Bahwa perhatian bagi pendidikan Barat sekitar tal1un 1900 juga besar di kalangan lain di jawa, nyata dari surat-surat putri Bupati Jepara, Raden Ajeng Kartini. Ia seakan cliresapi oleh ide bahwa jawa hanya dapat mengejal' ketinggalannya dalam kerja sama dengan Belanda. Judul dari terbitan kumpulan surat-surah1ya Door Duisternis tof Licht (Habis Gelnp Terbitln/1 Terang), yang didominasi nada penuh harapan, mencerminkan dengan baik jiwa pad a masa sekitar tahun 1900.l 14

Hubungan antara loge ''Mataram" dan Yogya dari para

sultan itu rnasih digarisbawahi oleh logo yang digunakan dan yang juga dipancangkan di atas pintu gerbang masuk ke gedung loge tersebut: suatu segitiga samasisi, dengan di dalamnya bulan sabit dan bin tang bersudut lima. Lnmbang masonik ini juga banyak digtmakan dalam dunia Islam, yang meru-

'114. Door duistemis tot lichl, Gedachten van Raden Adjeng Kartini (' s Gravenhage, 1911)

Suatu koneksi lainnya adalah pribadi dari dokter Isaac Groneman (1823-1912), dokter pribadi sultan dan pad a tahun 1869 salah seorang pendiri loge terse but

Ketika "Mataram" pada tahun 1895 merayakan peringatan peraknya, LM.T. memuat laporan di mana Yogya digambarkan sebagai "ibu kota yang ramah dari kerajaan yang kuno". Nada laporan itu memmjukkan rasa hormat yang besar terhadap h·adisi-tradisi lama yang sepertinya telah dipindahkan dari keraton ke loge. 115 Rasa hormat sepertiitu ditunjukkan juga terhadap lingkungan di mana loge itu bekerja, dalam laporan tentang pesta setengah abad yang diadakan pada tahun 1920. Penulis terkesan oleh "jiwa dari peradaban Timur kuno itu", yang telah meresapi Tarekat Mason Bebas di sini. 116 Perayaan jubileum kemudian diberikan nuansa khusus dengan perjamuan pesta yang dipersembahkan oleh Pangeran Soerjodilogo di dalam keratonnya. Suatu petikan dari laporan itu sekali lagi memperlihatkanbahwa ada ikatan yang kuat dengan kebudayaan Jawa:

"Saudara Soerjodilogo telah menyediakan istananya seluruhnya untuk loge dan perlu dikatakan bahwa Tarekat sangat menghargai hal itu, sebab kalau tidak, maka tidak mungkin mempersatukan suatu rombongan yang begitu besar untuk menghadiri suatu perjamuan dengan can yang nyaman ( ... ) Sebelum para tamu duduk, mereka mendapat kesempatan menikmati kesenian Timur dan Barat. Musik gamelan lebih indah daripada yang pernah kam.i dengar sebelumnya dan di lingkungan mumi Timur itu membangkitkan dalam d.iri kami suatu perasaan yang kuat dan sulit dilukiskan tentang Jiwa Timur. Suatu adegan wayang yang

  1. IMT th. 1, 117
  2. Idem th, 25, 301-306

8ERKEMBANGNYA TA1~EKAT MAsoN BEB AS 1890- 1930

singkat, yang digelarkan oleh pa11geran-pangeran Paku Alam, sangat membantu untuk memperkuat kesan yang dilukiskan di atas. Pakaian yang rapi dari para pemain wayang yang muda-muda, letapi lebih lagi, permainan rnereka, telah mencerminkan dengan sangat baik suasana dan karakter dari lingkungan tersebut ( ... ) Pada akhir malam yang sangat indah ini, kami untuk kedua kalinya terkesan dengan pengaturan mobil yang luar biasa baiknya. Sebuah mobil dengan bendera putih dan pita merah dapat dianggap oleh setiap tamu sebagaj miUknya."

Menyusul perayaan jubileum itu, sehari kemudian dilang- s1.mgkan pertemuan tahunan Loge Agung Provinsial. Para Mason Be bas yang berkumpul pada malam hari disuguhkat1 perhmjukan wayang wong yang juga dipersembahkan oleh Pangeran Soerjodilogo. Laporan dan komentar dalam I.M.T. menceritakan tentangkesan yang sangat kuat yang diperoleh para Mason Bebas Belanda ten tang pertunjukan itu. Di samping itu, penting juga komentar yang ditambahkan, m yang menguraikan tentang tujuan masonik yang tersirat dalam pertunjukan itu:

"Orang Barat yang pergi ke Tirnur untuk mernperoleh pekerjaan di Tr!stllinde (kepuJauan Indonesia) yang indah, dan menghayati hidupnya di sana, tidak pernah akanmenemu- kan tanah aimya di sana kalau ia tidak mencoba berasimi- lasi dengan jiwa kebudayaan Timur. fa akan rnenganggap dua puluh tahun dari hidupnya-tahun-tahun yang terbaik -hilang bcgitu saja, dan pada akhir rnasa akan kembali ke negeri induknya lanpa benar-benar pernah hid up, lalu juga tidak tertutup kemungkinan bahwa dunia Barat pun sudah tidak dapal berkata apa -apa kepadanya. Masih ada sisi lain dari persoalan ini, yakni bahwa barang siapa yang bekerja di Hindia, tidak mungkin dapat meresapi apa-apa mengenai negeri dan rakyalnya dan tidak dapat menghasilkan peker-

  1. Idem th. 25, 331-333

berusaha untuk meresap1 dunia Timur dalam kebudayaannya, dalam hikmatnya dan dalam hidup sifatnya dan kemanusiaannya. Barangsiapa yang membawa keinginan itu daJam dirinya, dan dapat hadir di pertunjukan wayang yang digelar di istana Paku Alam, telah mengambil Jangkah besar ke aral1 yang benar."

Penulis laporan I.M.T. itu merasa senang, bahwa cara pe- mentasan kebudayaan tradisionaJ Jawa itu telah berhasil mengungkapkan tujuan masonik, sebab

"kemenangan akhir dari ya ng balk, untuk penulis lakon merupakan ungkapan dar! k0percayaannya yang kokoh terhadap kekuatan dari yang baik itu untuk mendorong manusia dan umat manusia ke arah, dalam artian rohani, yang menuju ke atas. Namun Atjuno tidak mencapai tujuan itu sebelum suatu masa rna was diri yM\g lama, suatu masa pertobatan dan mendalami akan dirinya sendiri. Memang, ia secara manusiawi merasa kecil hati kelika mula-mula yang jahat itu berhasil, tetapi di dalam kesunyian ia menemukan kembali dirinya sendiri dan bersama cita-citanya, semangatnya bangkit kembali dania bertahan terus sampai kemenangan dipe~uangkan".

Dalam penggambaran pertunjukan wayang itu menekankan kepada kecocokan yang ditemukan dalam asas-asas Tarekat Mason Bebas dan kebudayaan keraton Hi.ndu-Jawa, scperti telah disampaikan secara htrun-temurun dalam ke- stlltanan Paku Alam, suatu pokok yang mestinya dikaji lebih mendalam daripada yang dapat dilakukan dalam penelitian i:ni. Suatu pertanyaan lain yang harus diajukan berkaHan dengan hal ini adalah ten tang cara penghayatan Tarekat Mason Be bas oleh a nggota-anggota Indonesia dari Tare kat ini. Makna apa dimiliki upacara-upacara, lambang-lambang dan h·a- disi-traidisi bagi mereka yang berasal dari suaht peradaban yang sangat berbeda dari sesama anggotanya orang Belan-

Zru\1AN BBRKEMBANGNYA T AREKAT MASON BEBAS 1890 - 1930

da? Suatu kajian yang sistematis dari wejangan-wejangan yang dihasilkan anggota-anggota Indonesia -dalam bentuk penerbitan di I.M. T. a tau disimpan dalam arsip loge-dapat memberi penjelasan mengenai hal tersebut. Namun hal itu pun akan membutuhkan penelitian yang mendalam. Tetapi kalau kita ingin tahu peranan apa yang telah climainkan Tarekat Mason Bebas bagi anggota-anggota kaum elit Jawa ini, maka sebaiknya kita ikuti sejumlah dari mereka dalam penampilan mereka di depan umum. Hal itu memang hanya akan memberikan kesan yang global, namun dapat digtmakan sebagai dorongan pertama bagi penelitian lebih lanjut.

Pangeran Ario Notodirodjo, putra dari Pangeran Adipati Paku Alam V, yang sebelum ini telah disebut sebagai salah seorang penggerak dari gerakan nasional, dengan figurnya itu seakan-akan mengundang orang untuk mempelajari hubungan antara gerakan nasional, kaum elit Jawa dan Tarekat Mason Bebas. Lahir pada tahun 1858, ia rnenjadi anggota loge "Mataram" pada tahun 1887 dan selama tiga puluh tahun ia sebagai bagian dari loge itu menduduki berbagai jabatan pengurus. Sebagai tanda penghargaan, pada tahtm 1909 ia dianugerahkan keanggotaan kehormatan dari loge ''Mataram". Ia juga terpandang di luar lingkungan itu, sebab ia meiupakan Perwira dalam Tarekat Oranje Nassau dan mayor tituler di staf urn urn ten tara Hindia. Setelah ia meninggal pada tahun 1917, ia climakamkan dengan upacara kebesaran militer, dihadiri oleh putra mahkota kesultanan Yogya bersama stafnya dan utusan dari susuhunan Surakarta, residen Yogya dan pegawai-pegawai pemerintahan lainnya serta banyak sal1abat dan relasi orang Eropa. Di antara karangan bunga terdapat satu dari perkumpulan ' Budi Utorno", di mana ia pernah rnenjadi ketua. Sebagai wakil dari loge ''Matararn"; Ko Mo An, seorang anggota keturunan Tionghoa, menyampaikan

perpisahan, di mana ia menyebut almarhurn sebagai permata Tarekat. 118

Pentingnya Notodirodjo bagi gerakan nasional Indonesia dapat dilihat ketika ia sebagai ketua "Budi Utomo" pad a tahun 1913 mendirikan cabang Yogya dari "Sarekat Islam''. Perserikatan itu, berbeda dengan ''Budi Utomo'', bukanlah perkumpulan kaum bangsawan melainkan suatu organisasi dengan pendukung luas di kalangan penduduk Jawa. Di Yogya dalam waktu singkat organisasi itu sudah mempunyai 650 anggota, yang di antaranya 100 orang berasal dari kalangan keraton Paku AJam. Yang lebih menarik ialah bahwa setengah dari jumlah anggota pengurus berasal dari kalangan itu juga. 119 Memang jelas terlihat ada court connection dengan "Sarekat Islam". Fakta ini menarik karena ia bukan saja mengungkapkan peranan kaurn elit Jawa dalam gerakan nasional yang dini tetapi ia juga penting untuk mmperoleh pengertian mengenai hubtmgan antara wakil-wakil kaum elit ini dengan Tarekat Mason Be bas. Prakarsa Pangeran Notodirodjo sehubungan dcngan "Sarekat Islam" diikuti oleh sejumlah besru· saudara-sau- daranya. Apakah hal itu terjadi secaraspontan, ataukah mereka didorong oleh suatu "perintah halus" dari seorang yang berpangkat dan berkedudukan Icbih tinggi dari mereka?

Sekitar tahun 1900 suara-suara mulai terdengar yang menunjukkan bertambhanya kesadaran atas kemerosotan negeri i ht, dan juga dari usaha-usaha untuk mengadakan pembaruan di dalam masyarakat Jawa di bawah pimpinan suatu golongan elit yang dimodernisasikan. Dalarn perspektif itulah kita harus memandang fungsi dari keanggotaan Tarekat. Apa yang berlaku bagi "Sarekat Islam" agaknya berlaku juga

  1. Idem th. 22, 179-180
  2. Larson 1987, 44

bagi Tarekat: keempat sultan yang memegang kuasa dati Keraton Paku Alarn yang menjadi anggota ''Mataram" semuanya dikenal sebagai tokoh-tokoh progresif yang ingin mentrans- formasikan rakyat Jawa yang tradisional menjadi suatu suku bangsa modem. Mereka menggariskan suatu kebijakan perkembangan secara berangsur-angsur dan ingin rneman- faatkan peluang-peluang baru yang sepertinya diberikan rezim kolonial sejak tahun 1900. Bukankah pemerintah Hindia Belanda dengan "ethisclte politiek''-nya sedang mengambil haluan untuk pengembangan negeri dan rakyatnya ke arah pemerintahan sendiri, dan bukankah penguatan serta modernisasi unsur pribumi dengan demikian menjadi suatu syarat yang mutlak? Pada tahun-tahun sekitar pergantian abad dalam hal ini sepertinya sejumlah garis sedang menuju ke titik yang sam a. Suatu golongan elit bangsawan Jawa yang sedang berusaha mengadakan pembaruan dalam masyarakat yang dalam hal itu memperoleh dukungan pemerintah kolonial. Suatu pembaruan yang mengikuti jalan evolusioner dan diadakan dalam kerja sam a yang baik dengan pihak Beland a. Pengharapan yang tinggi ini tercermin, seperU dikatakan sebelumnya, dalam surat-surat Raden Ajeng Kartini, putri bupati Jawa yang sangat terpelajar, yang dikirimnya kepada sahabat-sahabatnya, orang-orang Belanda. Bahwa dari pihak Jawa mereka terutama ingin belajar dari Belanda, terbukti denganadanya sejumlah pemudaJawa dari golonganelityang menuntut pendidikan di universitas di negeri Belanda.

Mengenai Notodirodjo sendiri, ia memberikan contoh dengan mengirim empat anak Ielakinya ke Belanda untuk studi. Sejarawan Poezememasti.kan bahwa anggota-anggota Keluarga Paku Alam bahkan diwakili dcngan kuat di antara kontingen mahasiswa Indonesia yang belajar di sa.na. Selanjut-

  1. Poeze 1986, 37

1 Paku Alam V sebagai 'seorang raja yang sangat maju", yang jauh lebih maju dari zamannya dan yang pad a tahun 1890 mengirim anak lclakinya Raden Mas Kusumo Yudho (1882-1955) ke Belanda. Poeze malahan mengambil kesimpulan bahwa ilham untuk itu perlu dicari dalam Tarekat Mason Bebas. Diketahui dari Kusumo Yudho bahwa ia sebagai ana k berusia de Iapan tahtm pergi ke Nijmegen di mana ia belajar di lagere school (sekolah dasar) dan H. B.S. Pada tahun 1900 ia belajar kedokteran di Universiteit van Amsterdam namtm setelah dua tahun ia harus memutuskan studinya berhubung dengan .kematian kakaknya Paku Alam VI, sehingga ia harus kembali ke Yogya. Tetapi tidak lama kemudian ia sudah kern bali di Belanda di mana ia mengikuti ujian besar pegawai negeri. Fasseur mengatakan bahwa ia kemudian ditempatkan oleh Gubernur Jenderal Van Heutz sebagai ns- pirant-controleur di Pemerintahan Dalam Negeri Belanda, namun keputusan tersebut tidal< sesuai dengan kebijakan kementerian wilayah jajahan, dan langsung dibatalkan. 121 Betapa pentingnya putra keluarga raja dari Yogya inl sebagai seorang pegawai pernerintah dan Mason Bebas menjadi jelas dari kariemya yang gemilang yang dimulainya di badan per- kreditan Hindia; ia kemudian menjadi Bupati Ponorogo dan anggota Volksraad (Dewan Rakyat), pada tahun 1930 ia rneng- akhirinya dengan keanggotaan di Rand van lndie (Dewan Hindia) yang prestisius itu. Juga di Tare kat, Kusumo Yudho rnencapai kedudukan tinggi sebab setelah dilantik di loge "Mataram" pada tahun 1909, maka pada tahun 1930- tahun yang sa rna waktu ia diangkat menjadi anggota *Rand van Tndie-*sebagai Pangeran Ario Adipati Kusurno Yudho ia menjadi anggota Pengurus Besar Provinsial.

  1. Fasseur 1993, 384
  2. Arsjp Tarekat di Den Haag, Daftar Anggota Loge Agung Provinsial Hindia Belanda 1942

2AMA-' BERKEMBAI\GNYA T AREKA T MASON BE BAS 1890 - 1930

Seorang Mason Bebas asal Jawa dengan kedudukan eli masyarakat yang tidak setinggi itu adalah Raden Sujono Tir- tokusnmo yang menjadi anggota loge "Mataram" pada tahun 1925, di mana ia mendaftarkan profesinya sebagai penerjemah ke da]am bahasa Jawa. Bersama dcngan Paku Alam VII semasa remaja, ia belajar di H. B.S. di Semarang dan di kemudian hari menjadi patih [penguasa, tingkat di bawah bupati, St.l Wonosobo dan Blora. Ia seorang yang menarik dan d.ikatakan tentangnya bahwa ia ''dapatmerasa seperti orang Timur maupun orang Barat", dan secara blak-blakan menyampaikan pendapatnya. Raden Sujono memilik.i pengetahuan yang luas, dikenal oleh rakyat, dan merupakan seorang penasihat yang baik.rn Beberapa dari wejangannya, di mana ia meminta perhatian untuk pendapat dari pihak Indonesia tentang Tarekat Mason Bebas, telah ctimuat dalam l.M.T. Pada tahun 1930 ia menulis sebuah artikel dengan judul De mm;onnerie onder de Javnnen (Kemasonikan di kalangan orang Jawa), yang mengakibatkan pertukaran pikiran yang ramai, diikuti balk oleh orang Belanda maupun orang Indonesia. 124 Dari penelitiannya itu ia temukan bahwa pada tahw1 1928 selunthnya hanya 43 orang Jawa yang menjadi Mason Bebas. Em pat dari m ereka keturunan raja, dua puluh merupakan pegawai pemerintah orang Indonesia, sepuluh mempunyai jabatan yang biasanya ctiduduki orang Eropa, dan tujuh bcrprofcsi sebagai dokter atau dokter hewan. Penulis menunjukkan bahwa semuanya oleh karena pekerjaannya mempunyai hubungan langsung dengan orang Belanda dan bahwa mcreka dalam kedudukan itu telah rnengenal orang Belanda dengan baik. Ia telah memperl1atikan bahwa hubungan satu sama lain antara penguasa orang Eropa dan penguasa orang Indonesia

  1. IMT th. 48, 376
  2. Idem th. 36, 384-390

be~alan dcngan santai, namun dengan perjalanan waktu telah terjadi jurang an tara mereka. Ia beranggapan bahwa hal itu terjadi karena perkembangan politik di As ia pada wal

Sujono Tirtokusumo memandang sebagai kewajiban setiap orang Mason Bebas untuk menembus dunia persamaan semua manusia. Bagi Mason Bebas Jawa terbentang sebagai suatu ladang pekerjaan yang lebih luas daripada bagi Mason Bebas lainnya, demikian pendapatnya, oleh karena mereka setiap hari bergaul dengan kcdua segmen penduduk. Namtm sayang, kata Sujono, bahwa mereka tidak begitu akti£ seperti

ZAMAN B&RKEMBANGNYA T AREJ

yang diharapkan. Ia percaya bahwa orang Javva terbuka bagi gagasan Tarekat Mason Be bas, namun, ia bertanya, mengapa baru begitu sedikit yang menemukan jalan ke loge? Alasan yang penting, menurut Sujono, terletak pada sikap orang Belanda di masa lampau: Tarekatumum semua manusia di abad yang lalu tidak diterapkan terhadap penduduk pribumi. Orang-orang Jawa, oleh karena sudah lama sekali tidal< merdeka, hanya mengalami pertumbuhan rohani yang terbatas saja. Namun penyebaran peradaban Barat telah menjadi titik balik dan terutama "pegawai negeri Jawa melalui pendidikan yang dinil

Dalam pertukaran pikiran yang terjadi ten tang hubungan an tara orang kulit putih dan orang kulit cokelat terbenhlk dua kelompok. Kelompok pertama rnerasa bahwa hubungan telah meluas dan bahwa mutunya pun telal1 membaik. "Dahulu orang main karht bersama'', demikian Th.G.J. Resink yang Jahir di Hindia, "namun sekarang orang membicarakan pokok-pokok yang bernilai kultural". Seorang Belanda 1ainnya menyokong pendapah1ya, namun juga merasa bahwa sudah lebih sulit rnengadakan kontak yang bail<. Ia pernah diejek orang Indonesia karena berusaha mcmbuat hubtmgan baru. Kelompok lainnya terdiri dari dua orang Mason Bebas Indonesia yang malahan mencatat terjaclinya kemerosotan dalam hubungan an tara kedua pihak. Raden Kamil, seorang rnantan anggota Volksraad, menunjuk pada dua bentuk kemerosotan, dan menegaskan bahwa pertukaran pikiran an-

itu tidak ada kcengganan untuk mengecam para anggota Bclanda, tetapi mereka juga tidak segan mengecam orang-orangnya sendiri.

"Kepala-kepala inlander semuanya mengira mereka adalah dewa-dewa. Mereka minta disebul 'Gusti', dan istri mereka harus dipanggil 'Gusti Putri'. Apakah mengherank;m bahwa o rang Eropa menuntut penghormatan yang sama? Oalam hal ini mereka telah banyak mencontohi kepala-kepaJa i11lnnder. Juga para saudara yang di negeri Beland a bersikap berbeda, di sini membusungkan tlada mereka."

Pendapat seorang Mason Bcbas jawa lerkemuka dapat diperoleh dari Raden Mas Adipati Ario Poerbo Hadiningrat, yang pada awal abad ke-20 memangku jabatan bupati Semarang dan Salatiga. Sctclah ia meninggal, pada tal'lltn 1928, oleh Paku A lam VII diterbitkan sebuah buku kecil dengan sampul bermotif batik dengan judul Wat ik nls fnvnnn voor geest en gemoed in de Vrijmetselnrij hell gevonden (Apa yang kutemukan sebagai orang]awa untuk roh dan jiwa dalam Tarekat Mason Bebas). Buku itu diterbitkan atas perintah Loge Agung Provinsial dan dimaksudkan untuk pcmbaca khalayak umurnY 5 Di sam ping em pat l

125 Poerbo Hadiningr<~t 1928

Jawa. Juga penting adalah bahwa diberikan uraian tentang tempat dan fungsi Tarekat Mason Bcbas dalam proses pembentukan suatu masyarakat yang baru. judul-judul empat karangan itu cukup bermakna:

-Evolusi rn asyarakat jawa dan Tarekat Mason Bebas -Asas-asas Tarekat Mason Bebas, pekerjaan perorangan dan pekerjaan kemasyarakatan -Tarekat Bebas sehubungan dengan ali ran kerohanian lainnya -Apa yang kuternukan sebagai orang Jawa untuk roh dan jiwa dalam Tarekat Mason Bebas

Makna karangan-karangan Pocrbo bagi penyebaran

Tarekat Mason Bebas di kaJan gan rakyat jawa dinilai sangat tinggi oleh Tarekat. Hal itu terlihal dari kenyataan bahwa karangan-karangan itu sebelum diterbitkan pada tahun 1928, sudah dimuat dalam T.M.T. Yang menarik juga ialah bahwa aktualitasnya dalam keadaan yang berbeda setelah tahun 1945, rupanya masih berlaku1sebab karangan-karangan itu dimuat lagi dalam majalah tersebut pacta tahun 1946-'47.

Pribadi Poerbo Hadiningrat dapat lia bekerja sebagai seorang jurutulis yang sederhana pada sebuah l

Constante et Fidele" di Semarang. Selanjutnya kita tahu bahwa ia mempunyai seorang istri dan seorang anak laki-laki.

Gedenkboek besar tcntang Tarekllt ynng diterbitkan pada

tahun 1917 dibu.ka dengan pasal kedua dari Anggaran Dasar baru yang baru saja diberlakukan, dnn dimulai dengan pertanyaan: Apakah Tarekat Mason Bcbas itu? Untuk menekankan sifat intetnasional dari Tarekat, teks dite~emahkan ke dalam banyak bahasa, dan di samping bahnsa Melayu dan Tionghoa juga ke dalam bahasa Jawa. Dalan1 usaha untuk "mempopulerkan'' Tarekat Mason Bcbas di Jawa, hal itu pas- ti meru pakan peristiwa yang penting. Poerbo menjamin kete- patan terjemahannya. Poerbo sadar bahwa bahasa Belanda merupakan suatu rintangan, mungkin juga dalam arti psikologis, dan walaupun orang-orang Jawa lainnya tidak mau melangkah begitu jauh, ia mendukung setiap usaha tmtuk menditikan loge-loge di mana bahasa Jawa nantinya merupakan bahasa pergaulan.

Pad a tahun 1931 De Visser Smits da1am karyanya ten tang Tarekat Mason Bebas memasukkan satu bab dengan judul Vrijmetselarij onder de Inlzeemschen (Tarekat Mason Bebas di kalangan Orang Pribumi), dan di dalamnya ia memuji Poerbo yang pada waktu itu sudah meninggal, sebagai orang yang paling ulet berusaha supaya orang-orang sebangsanya dapat mengena1 Tarekat Mason Bebas lebih baik. Penulis menunjuk kepada Kongres Masonik yang diadakan pada tahtm 1919 di Semarang dan di mana Poerbo menyampaikan pembelaan yang kuat ke arah tersebut. Sebelum kongres berlangstmg, Poerbo melakukan sesuaht yang unik dengan memberikan ceramah-ceramah untuk kaum pria Jawa bersama istri-istri mereka. Prakarsa Poerbo mendapat ban yak dukungan, hingga dibenhtk suatu komisi Belanda-lndonesia tmtuk membantunya dalam peketjaannya. Komisi terse but menyusun daftar

3'19

MASON BEBAS 1890- 1930

pertanyaan yang diajukan kepada sejumlah orang Jawa yang diseleksi dengan tujuan- rumusannya adalah dari De Visser 1 Smits-untuk mencari tahu 'apakah asas-asas Tarekat berk- erabat dengan jiwa Orang Timur pada umunmya dan jiwa orang]awa pada khususnya, agar dapat dinilai apakah penyebaran asas-asas tersebut mernpunyai makna di dalam pengentasan penduduk pribumi dalam arti rohanY',

Lima pertanyaan diajukan, dan jawaban-jawaban yang diterima atasnya telah diringkaskan oleh penulis. Ia memberikan gambaran sebagai berikut:

"Salah seorang penjawab secara panjang Jeba1· menunjukkan bahwa yang baik dalam Tru·ekat Mason Bebas juga terdapat dalam agama Islam, sehingga menurut pendapatnya bagi orang yang benar-benar Muslim tidak ada doronga11 tmtuk menjadi anggota TarekatTru·ekat Mason Bebas. Yang lain mengajukan pertanyaan balik, umpamanya tentang pendiriCJn Tarekat, tentang ajara11 Buddha dan tentang hak menentukan nasib sendiri da1·i semua bangsa. Beberapa orang berpendapat bahwa asas-asas masonik dapat menyurnbang ban yak dalam usaha pengentasan orang Jawa dalam arti rohani. Seorang penjawab yang berpendapat bahwa Tarekat dapat bermanfaat juga bagi kehidupan rohani orang Jawa menarik suatu paralel antara asas-asas Tarekat dan Alquran. Kecaman juga clilancarka11, antara lain tentang kerahasiaan dan praklik-praktik rahasia dan selanjutnya tentang penetapan uang masuk yang tinggi. Tetapi ada orang lain lagi memberikan penjelasan tentru1g 'rumah se- tan', ya.knlsebutru1 bagi loge di kalangan rakyat dan beranggapan bahwa istilah ilu merupakan pengrusakan dari istilah 'mmal1pmnnngsitan', yaitu rumah perenungan. Beberapa penjawab mengutarakan keragu-raguannya tenta11g melu- asnya Tarekat Mason Bebas di kalangm1 ora11g Jawa. Jawab dari seorang priayi Sunda sangat penting. Pada umumnya hanya sedik:it sekali orang Sunda menjadi anggota Tarekat. Hal itu rupanya berkaitan dengan kenyataan bahwa orang Sunda adalah orang Islam yang taat. Sebagai jawabannya

Muslim." 126

Tidak banyak yang diketahui apapun kelanjutan dari pertanyaan-pertanyaan itu. Jawaban-jawabannya juga tidak menimbulkan optimisme yangberlebihan. Sesuai dengan pendapat t.tmum pada masa itu, dibutuhkan waktu puluhan tahtm dalam soal pengarnbilalihan gagasan-gagasan yang baru, bukan hanya beberapa tahtm. Juga Poerbo berharap ban yak dari jiwa baru yang mulai meliputi kalangan pemerintahan Belanda, dan dengan diperkenalkannya langkah-Jangkah reformasi, demikian Poerbo, "al

"Orang asing, yang telah diterima oleh orang Jawa sebagai sahabatnya, menjadi penjajahnya, yang rnemaksakan agama baru kepadanya daJl yang merongrong perilaku dan

  1. De Visser Smits 1931, 222-223
  2. Poerbo Hadiningrat 1928, 42

MASON BEBAS 1890 - 1930

kchidupan keluarganya, serta jugn jiwanya. Sislem kasta yang sudah mendarah daging bagi orang Hindu, dengan penyembahannya terhodap kekuasaan, mendapat tanah persemaian yang baik daJam jiwa Jawa. Dengan peneri- maannya terhadap keadaan ilu, ia meletakkan gandar perbudakan pada pundaknya, yang sampai sekarang masih lelap berada di silll ". ll3

Nnmun dengan datangnya Islam, ban yak hal betubah dan "rakyat jawa oleh Islam ditunnm selangkah maju menuju gagasan persamaan man usia satu sa rna lain". Lebih kemudian, orang Belanda tiba dan tingkah laku mereka tidak berlalu begitu saja dalam pandangan orang jawa.

"Perbedaan antara Orang Timur dan Orang Barat paling tajan1 ditonjolkan daJam perbedaan antara orang jawa dengan kelasi Belanda dan urm'lg yang diterima Kompeni sebagai serdadu. Seot·ang "wu11g Kompeni" bagi orang Jawa menjadi penjelmaan kckasaran dan keulelal"l, kckuatan tak terkendali dan tanpa kekang. Orang Belandi'l lidak datang dengan usaha yang lcbih tinggi."

Setelah "eksploitasi oleh pemcrintah pada abad kedela- pan belas dan oleh Cttlhwrstelsel (undang-undang pembudidayaan tanaman) pada abad kesembilan belas", akhimya tiba masa yang lebih baik.

'Tengelolaan kolonial menjadi masalah pendidikan menu-

ju kemerdekaan dari wilayah-wilayah yang ditaklukkan. Sistem pompa isap dan tekan ( ... ) harus diakhiri. Kapal yang berlayar ke Hindia Timur mengibarkan bendera humanitas dan mengambil haluan etika. Gagasan agung tentang persamaan sosial, yang pecah di Eropa dan membawa pergolakan, revolusi dan perjuangan, akan dipindahkan kc Jnwa secara damai".

  1. Idem 1928, 11

sekitar tahun 1900 disambut oleh Poerbo, "akhirnya gagasan persamaan manusia mcncapai kemenangan jllga bagi kami orang-orangjawa". Juga dengan ide-ide demokrasi, yang secara berangsur-angsur menetcs mnsuk kc negeri ini, ia sepenuhnya setuju. Dalam suatu pidato yang clisampaikannya dalam bahasa Jawa bagi orang-orang bu kan Mason Bebas, ia menguraikan arti apa yang ada pada Tarekat Mason Bebas bagi perkembangan negeri itu menuju kemcrdckaan yang Iebih besar:

Hidup baru telah bangun di negeri-negcri inL Bunyi baru kedengaTan. Suatu dorongan batin telah lahir menuju perkembangan ( ... ) Bahwa perkembangan seharusnya jangan berjalan sepihak, bahwa bukan hanya siJat intelektual tela- pi juga sifat moral, karakter, yang harus dipupuk, tentu haduin akan setuju dengan saya tentang itu. Roh dan jiwa, aka! dan hati, kedua-duanya harus ikut di dalam pemeliharaan sifat-sifat mereka yang baik. Dengan demikian akan bekembang dalam manusia, dalam pribadi, sifat-sifat yang pantas untuk hidup yang telah ditanamkan di dalam dirinya oleh jiwJ Rakyat. Memperbaiki manusia, membantunya untuk melangkah maju pada jalan perkembangan jiwa dan moral, berarti mengentaskan umat manusia ke tingkat yang lebih tinggi. ltu sebabnya seorang Mason Bebas akan mulai dengan dirinya sendiri, dengan kepribadiannya sendiri dan melalui dirinya ia bekerja untuk mengentaskan umat man usia. jadi pekerjaan kaum Mason Bebas pertama-tama bersifat perorangan ( ... ) Di samping itu ia juga mempunyai tugas di masyarakat. Setumpuk batu yang berbentuk ba- gttS, cocok tmtuk membangun gedung, namun mereka bukan suatu gedung. Bah1-batu itu harus bersama-sama dibawa kc dalam suatu hubungan satu sama lain memrrut rencana pembangunan tertentu dan menurut hukum simetri dan gaya ber\lt, keindnhan dan keefektifan.ltulah tugas kemasyarakatan scorang nw~on'. 12'll

  1. Idem 1928, 56-57 dan I 00
akhirnya Poerbo menyatakan:

Dalam asas-asas moral [dari Tarekat Mason Bebas, St.) yJng sama di semua negara dan bangsa, dan gagasan tentang kasih Tarekat, toleransi. sating mengupayakan yang bail<, dan seterusnya, kita temukan sokongan kuat dan titik-titik temu dengan dunia Barat, berjalan bersama secara damai dan mengangkat kita ke taraf intelektual dan rohani masyara.kat Barat, melalui pendidikan humaniter."

Juga di luar Ungkungan Tarekat Mason Bebas pendapat-pendapat Poerbo mendapat perhatian. Vander Veur melapor ten tang visinya dalam hubungan an tara Tarekat Mason Bebas dengan masyarakat dania menyebut Poerbo sebagai seorang rasul yang kuat dan yakin dari Tarekat Mason Be bas dian tara orangJawa. 130 Lebih bermakna lagi adalah memoirdari mantan penguasa W.Ph. Coolhaas, eli mana ia menceritakan tentang kontak-kontak yang diadakannya sebagai pegawai yang mud a dengan pangkat kontroleur pada tahun 1926 dcngan bupati tersebut. 131 Yang mcnarik ialah bahwa Coolhaas walaupun sering berbicara secara mendalam dengan Poerbo, hanya dapat rnenduga bahwa ia seorang Mason Be bas. Apakah ia rnemang tidak mau mengatakanJ1ya, ataukah termasuk tatakrama untuk tidak rnelibatkan orang Belanda dalam hal seperti itu?

Pertemuannya berlangsung tidak lama setelah Poerbo dan istrinya kembali dari Eropa, di mana rnereka mencari peng- hiburan menyusul kernatian satu-satunya anak lelaki me1·eka. Menurut Coolhaas, Poerbo rnerupakan salah sah1 orang Indonesia pertama yang pernah duduk di bangku H.B.S. In berbicara bahasa Belanda dengan fasih, tetapi menurut perkataannya sendiri ia kurang yakin ten tang dirinya sendiri

  1. Vander Veur 1976, 19
  2. Coolhaas 1985, 77-83

KeW1atan jelas bahwa Coolhaas terkesan dengan sosok Poerbo, seorang bangsawan cetakan lama, ketunman dari keluarga terpand ang yang sudah sejak satt1 setengah a bad yang lalu memerintah atas Kabupaten Semarang. Itu juga menentukan pendirian politiknya, menurut Coolhaas, sebab "dalam dirinya ia sangat kuat dipengaruhi oleh lingkungan ningrat, ia menjadi bagian daripadanya, ia seorang lelaki dengan pand angan hid up yang konserva ti£". I tu tidak berarti bahwa ia begitu saja menolak hal-hal yang baru, namtm hal-hal itu per] u disesuaikan dalam kerangka yang ada, sehingga melaluinya dapat diciptakan suatu masyarakat yang lebih baik secara berangsur-angsur.

Dari mulut Poerbo, Coolhaas mencatat bahwa ikatan ko- 1onia l dengan Beland a yang ada, lama-kelamaan hants dig anti dengan suatu negara Indonesia yang merdeka. Namun itu masih akan memakan waktu bertahun-tahtm lamanya, dan hal itu masuk akal. Bukan kurangnya pemimpin yang menjadi persoalan, melainkan kenyataan bahwa golongan elit Indonesia dalam hatinya yakin bahwa rakyatitu ada bagi mereka dan bukanseba1iknya. Gagasan tentangpersarnaanmanu- sia rupanya belum berakar di hati mereka. Yang rnengheran- kan Coolhaas ialah bahwa Poerbo malahan mempunyai pandangan yang lebih positif tentang pegawai negeri orang Eropa dengan segala sifat burger-nya yang baik. Warga menengah (b11.rgerij) menurut dia secara rohani merupakan bagian terbaik dari suatu bangsa. Suatu keuntungan lain dari "rnentalitas Belanda" adalah juga keinginan para pegawai negeri untuk rnelanjutkan apa yang telah tumbuh secara historis. Oleh karena alasan itu, Poerbo beranggapan bahwa mereka adalah orang yang tepat sekali untuk tugas rnereka, namtm ia ktuang puas dengan pegawai negeri Belanda keht-

TARE KAT MASON 13EBAS 1890- l930

runan Indo. Pada umumnya sang bupati memang mempunyai pendapat yang tegas mengenai berbagai segmen penduduk. Sementara ia bersikap begitu positif terhadap orang Belanda, sikapnya berbeda sama sekali terhadap orang Indo. Bukan bahwa ia akan menolak orang karena wama kulitnya, tetapi ia merasa mereka ktuang cocok, sebab kebanya kan wanita Indonesia yang mau hid up bersama dcngan lelaki Eropa merupakan "perernpuan jalan" dan "semakin dekat leJuhur perempuan Indonesia itu, semakin kuat noda itu pada kctu- runannya". Bagi Coolhaas komentar itu merupakan alasan unhtk mendalami pokok itu, dania menu lis "Celakanya, atasan langsLmgku adalah seorang Indo, yang keturunannya diketahui sang bupati. Ia tidak rnempunyai persoalan dengannyu secara pribadi, namun merasa tidak tepat bahwa orang itu mewakili pemerintah Belanda eli kabupatennya". Poerbo sama sekali tidak merasa bahwa dia di bawal1 orang iht, dan oleh karena itu ia rnerasa -menurut Coolhaas-bahwa ia sebe-Lulnya ynng lebih baik untuk menjabat sebagai asisten-residen.

Pada kesempatan sebe1umnya, yakni perayaan jubileum tiga puluh tahun sebagai pegawai negeri pada tahun 1921, Poerbo sudah menyarnpaikan pendapatnya secara blak-blakan ten tang para pegawai negeii orang Belanda. Dalam suatu pesan kepada residen, ia mengatakan bahwa pada waktu ia menerima jabatannya ia bertekad unh1k menjalankan pekerjaannya dengan penuh dedikasi, dan kemudian ia lanjutkan:

"banyak hal tclah terjadi sejak itu. Banyak pegawai Eropa yang saya lihat datang dan pergi, semuanya dengan pengertian dan pendapatnya sendiri tentang pelaksanaan tugasnya. Juga kekuasaan tertinggi sering berpindah tangan, dan ganli haluan. Betapa suJitnya bagi kami, orang Jawa, untuk tanggap lcrhadap tingkah laku orang Eropa yang cepat berubah, dan menyesuaikannya dalam pekerjaan kami, tidak selalu dimengerti. Dan itu menyebabkan

dapat diatasi oleh karena ternyata kita beriktikad baik. Namun hal itu tidak dapat dicegah, dengan adanya perbcdaaJ'l perilaku dan kebangsaan". 132

Sebagai penutup, suatu kutipan dari memoir Coolhaas yang mencerminkan semacam rasa mendua-hati terhadap masa depan, suatu perasaan yang dikuatkan oleh karakter kaum intclckL-ual baru Indonesia yang mw1cul pada tahun-tahun itu.

"Pada prinsipnya, sang bupati menyambut baik, sebagai orang yang berwawasan maju, bahwa pendidikan tinggi dibuka bagi orang-orang sebangsanya. Kedudukan mereka di masyarakat dengan demikian akan mcnjadi jauh lebih baik, mereka dapat menduduki jabatan-jabatan yn ng sekarang masih dipegnng orang Eropa. Dengan demikian mereka dapat mempersiapkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Namun dalam kchidupan. yang nyata, orang-orang muda itu sangnt mengecewakannya. Sejauh mereka telah rnemmtut pelajaran di lembaga-lembaga pendidikan tinggi di Belanda, mereka biasanya tercemar dengan pendapat-pendapat ekstrim kiri, yang ditentangnya. Mereka menjadi terasing dari kebudayaan Jaw.a mereka sendiri, dan-sesuatu yang menyentuhnya secant p ribadi- mereka menyerang korps (pegawai negeri), yang begitu d.ibanggakannya dan di mana ia sendui menjadi

Sebagai sumbangsih terakhir dari pihak Indonesia tentang hubLmgan terhadap Tarekat Mason Bebas, perhatikan visi Raden Sumen.t, dokter d.i Rumah Sakit Jiwa di Surakarta dan dari R aden Adipan Surjo. Sumeru telah mengadakan penelitian te r-

  1. IMT th. 26, 399-400

ZAMAN 8 eRKEM1lANGN't'A TAREKAT MASO:-\ B EBAS !890 -1930

hadap pertanyaan mengapa tidak Iebih ban yak orang sebangsanya menemukan jalan ke Tarekat Mason Bebas dania memberil

Dengan membagi anggota-anggota Tarekat orang Indonesia ke dalam em pat golongan, terbentuklah gam bar berikut dari kedudukan mereka terhadap orang Belanda:

  1. Anggota-anggota keluarga kerajaan Mereka merupakan orang-orang sangat terkemuka di Vorstell - lnnrlen yang sering bergaul dengan orang Eropa dan dengan dernikian juga dengan kaum Mason Bebas orang Eropa. Nlela- lui relasi-relasi mereka, dan oleh karena adanya loge-loge di kota-kota itu, mereka tahu ten tang usaha dan kegiatan Tare kat Mason Bebas. Bahwa hanya begitu scdikit orang Indonesia menjadi Mason Bebas di kota-kota itu, disebabkan oleh karena kurangnya pengetahuan bahasa Belanda mereka. Lagipula, "adat menyebabkan bahwa orang-orang berpenclidikan tinggi merasa sulit menghampiri orang-orang berpangkat tinggi, sehingga mereka tidak bebas".
  2. Bupati-bupati dan putra-putra bupati Pada mereka dapat dilihat pengamh dari memelihara hubungan dengan para mn~on Eropa. Dalam kedudukan mereka, mereka diperlakukan dengan rasa hormat dan mereka bebas me.nyampaikan pendapat mereka.
  3. Dokter-dokter O rang-orang yang sering bergaul dengan orang Eropa, oleh
  4. Idem th, 34, 258-260

mempunyai kesempatan Lmtuk bergaul dengan para Mason Bebas, bebas untuk menyampaikan pendapatnya. Beberapa calon anggota merasa khawatir bahwa syarat untuk masuk ke Tarekat terlalu berat.

Dengan perkataan lain, jalan menuju Tarekat Mason Be bas dihalangi oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  1. Kurangnya pergaulan dengan kaum Mason Bebas, dan dengan demikian kurang pengetahuan ten tang wujud dan maksud Tarekat.
  2. Takut terhadap orang Eropa.
  3. Merasa diri kurang berpendidikan.
  4. Keadaan zaman dan politik pad a saat itu.
  5. Khawatir akan syarat-syarat yang be rat.
  6. Khawatir akan penilaian yang keras.
  7. Kurang mampu secara keuangan. Artikel kedua yang akan ditinjau di sini adalal1 dari tangan Raden Ario Adipati Surjo, yang berjudul Vrijmetselarij en Inlandsche Wereld (Tarekat Mason l3ebas dan Dunia Pribumi). Tinjauan ini menarik, sebab di sini dibahas hubtmgan antara Tarekat Mason Bebas dengan gerakan nasional modern dari Soekarno.
    134

Su.rjo mengingatkan bahwa pada sekitar tahun 1920 sudah ada sejumlah brosur beredar di masyarakat Indonesia de.n- gan tujuan agar Tarekat Mason Bebas lebih dikenal, namun

  1. Idem th. 34, 253-257

Z AMAN BERK£Ml3A:-ICNYA Tt\RF.KAT MASO~ BEBA.S 1890 - 1930

setelah itu kegiatan di bidang penerangan terhenti. Suatu pokok penting dalam usaha membuat Tare kat Mason Bcbas lebih di kenal di kalangan orang lndoinesia, berkaitan dengan Islam scbagai agama terbesar di Indonesia. Surjo mengutip dengan nada setuju kata-kata Poerbo bahwa dari agama lslam tidak ada halangan untuk n1engambil alih asas-asas Tarekat Mason Bebas, dan ia menulis "pernyataan itu yang didasarkan atas pengujian dan pengalaman, mendapat dukungan sepenuhnya d<~ri para saudara pribumi namtm juga dari orang duniawi !orang bukan Mason Bcbas, St.] dengan siapa melalui kontak pl'ibadi tclah saya bicarakan pokok tersebut untuk mencari tahu pendapat mcrcka",

Surjo sclanjutnya berpcndapat bahwa kebudayaan Jawa memiliki berbagai tmsur yang menguntungkan bagi penyebaran Tarckat Mason Be bas. Dan walaupun pad a sa at itu jumlah anggota orang Indonesia hanya kecil, hal itu tidak membuatnya pesimis.la sendiri berpendapat bahwa ''banyal< tokoh orang Jawa" kalau dilihat dari sikap rohaninya, akan sangat coco!< masuk ke dalam 1arekat Mason Bcbas yang terorgani- sasikan.

Kemudian Surjo mengemukakan suatu masalah hakiki, suatu persoalan yang dianggapnya sebagai pcrsoalan zaman itu, yaitu "Apa yang dapat diperoleh dcngan penyebaran gagasan-gagasan masonik di dtmia pribumi". Setelah menunjukkan bahwa masih bel urn lama berse1ang ketika peradaban Barat melalui pendidikan dan pengajaran tclah "mengangl

Surjo pertama-tama pemisahan itu harus dibatalkan. Pcrtanyaan, apa yang dapat dicapai dengan penyebaran Tare kat Mason Bebas dian tara orang Indonesia, telah memperoleh aktualitas yang besar dengan munculnya gerakan nasionalis modem. Tugas apn yang dilihat oleh Mason Bebas dan bupati Surjo bagi Tarckat?

"Masih silau oleh cahaya terang suatu kebudayaan yar'g baru, maka pemudn-pcmuda }ilwn, yang akan merupakan inti dari suatu bangsa masa depan, belum dapat melihat refleksi kenyataan. Tingkah lakunya sebagai pclopor- pelopor gerakan yang mud a usia itu, jelas bukanlah scsuatu yang dapat dinilai tinggi, dan dapat dibandingkan dengan orang yang masih sedang mencari-cari, seperti orang yang meraba-raba sedang merindukan suatu tempat berpijak untuk cita-cita dan keinginannya. Tempat berpijak dari kenyataan seperti yang digambarkan oleh Tarekat kita, tidak mereka miliki. Tidak mengherankan bahwa sikap banyak pelopor gerakan bila diteliti lebih jauh, temyala ragu-rng u. Sejtlmlah besa r perkumpulan tumbul1 setiap hari sepcrti jamur, di samping yang berorientasi agama, ada )rang politis atau ekonomis, namun semuanya di bawah slogan nasionalisme. Sejalan dengan sikap orang Barat terhadap rakyat Jawa, maka begitulah haluan dari jiwa yang dominan dian tara sejumlah yang sangat kecil namun yang tidak dapat disepelekan, dari rakyat itu, suatu jiwa yang sekarang, sa yang sekali, dapat disebut nnti-Bnrat. Ada dorongan menuju pekerjaan bersama, menuju kerja sama, menuju persatuan guna mewujudkan dta-cita di bawah pimpinan kelompok kecil itu. Namun kelompok kecil ini masih muda, be- tum mengenal dirinya sendiri, apalagi mengenal rakyatnya sendiri, yang ia rasa mendukungnya. Tetapi jangan lupa bah"''a kelompok kecil ini terus.-menerus berkembang biak dan sedang melalui suatu tahapan belajaryang, bergantung pad a keadaan, dapat mematangkannya untuk berbalik arah dari upaya pengembangan manusia dan umat manusia secara beragam dan harmonis. Berikanlah arah yang lain kepada haluan ini sebelum terlambat dan scbelum pertentangan di masyarakat kita semakin meruncing. Menunjukrnere-

ZAMAN BERKEMBANCNYA T AREKAT ~l.;_.--o:-; B EBAS l890- 1930

ka kepada jalan yang menuju Persntunn yang Lebih Tinggi merupakan kewajiban setiap mn~on yang memaksa saya untuk berseru kepada para saudara pribumi, yang akan menggunakan perkakas ke~a mereka untllk tugas yang indah dan yang meliputi banyak segi."

Pad a akhirnya Surjo menghadapi pertanyaan, dengan ca ra bagaimana asas-asas masonik dapat diperkenalkan ke dalam "Masyarakat Pribumi". Dalam hal itu ia menganggap bahwa alat terpenting adalah penerangan, dalam bentuk ceramah dan dalam lingkungan terhttup. Para Mason Bebas Indonesia harus memikul tugas itu, dan Surjo berharap bah'"'a pad a gilirannya orang-orang yang diberi penerangan akan menerus-kannya kcpada rekan-rekan dan orang-orang lain, supaya pada akhirnya para pemimpin muda dari gerakan nasional yang disebul sebelumnya dapat dicapai dengan asas-asas masonik. Walaupun bersikap positif, SUljO tidak mengharapkan bahwa dalam jangka pendek akan dicapai ban yak hasil. Walaupun begitu, ia melihat peluang bagi suatu proses seca ra berangsur-angsur untuk membentuk kernbali masyarakat. Surjo menyarnpaikan pendapatnya it'll pada tahun 1928, yakni garis pisah antara dua zaman.

  1. Kaum MasonBebas (Vrijmetselarij), ten tang masa depan masyarakat Hindia Belanda Gerakan nasionaL indonesia sejak awal tahun-tahun dua puluhan telah berkembang rnenjadi suatu kekuatan yang berarti, dan gerakan itu mulai semakin menekan rezim kolonial. Pemerintah Hindia yang mula-mula menyambut emansipasi penduduk pribumi sebagai reaksi positif atas kebijakan pembangunannya, mulai mengambil langkah-langkah represi£ sebagai akibat desakan partai oposisi (d i Belanda). Juga sebagian dari komunitas Belanda, yang selalu enggan berpoli-tik, mulai menentang gerakan nasionaL Sebagai akibatnya

Prosesnya berjalan begitu cepat sehingga rnenjelang tahun 1930, sikap menerirna tatanan yang ada tanpa keberatan apapun, telah bembah menjadi sikap yang secara kritis menilai asas-asas masyarakat kolonial.

Dalam penulisan sejarah Hindia Bela:nda, dilukiskan sebuah situasi tentang polarisasi politik yang pada tahun-tahun tiga puluhan mengakibatkan bahwa orientasi politiJ< kelompok-kelompok besar orang Belanda beralih ke haluan kanan. Pergeseran itu terlihat dengan dukungan yang besar untuk organisasi-organisasi seperti Vaderlandse Club (Klub Tanah Air) dan N.S.B. (Gerakan Nasional Sosialis) Hlndia. Vnderlnndse Club merupakan partai orang-orang Belanda kulit putih, yang mengutamakan dipertahankannya status-quo, sedangkan

N.S.B. dengan program nasional sosialisnya rnerupakan pen- d ukung pernerin tal1an Beland a yang kuat dan tidak rnau tahu tentang konsesi-konsesi kepada kaum nasionalis Indonesia. Di pihaklain dari medan kekuatan politik itu pada awal tahun-tahLm tiga puluhan bergeral< sekelompok kecil kaum intelektual dan pegawai ncgeri yang telah berhimpun di sekitar majalah De Shrw (Dorongan). Namun menghadapi pendukung yang berjumlah besar dari kedua partal tersebut, De Stmu hanya merupakan mi.noritas kecil, yang secara politik tidak sanggup mernbelikan imbangan sedikit pun. Pertanyaan dapat diajukan, apakah dan sebagaimana jauh garnbaran urnum konservatismepolitik pada akhirtahtm dua puluhan, berlaku juga bagi para anggota Tarekat. Dalam hal itu perlu diingatkan tentang hubungan yang kw·ang bail< antara Tarekat Mason Bebas dan politik. Pada tahun 1930 De Visser Smits menggambarkan hubungan itu selun.tlu1ya sesuai pendapat yang sejak lama sudah menjacli milik umum, sebagai berikut:

Z t\lvtnN B CRKEMBANGII:YA T AREKAT NiASON BEBAS 1890 - 1930

.. Tarekat itu sendiri lidak ikut dalam politik, sekurang-kurangnya tidak pantas melakukannya, yang tidak menutup kcmungkinan bahwa para Mason Bebas secara perorangan dapat menjadi anggota salah satu partai. Namun setiap orang dalam hal itu bebas sarna sekali". m

Sebagai penjelasan atas bagian terakhir dari pe.tnyataan- nya, De Visser Smits menunjuk kepada hasil kuesioner yang diadakan beberapa waktu sebelum tahun 1930. Dari hasilnya temyata bahwa dari 600 orang responden, 17-± orang tergabung pada salah satu partai politik. Dari preferensi yang dinyatakan, menjadi jelas terhadap partai yang paling menarik bagi para Mason Bebas. 136

Yang menarik ialah bahwa " Inrlo-Europees Verbond" dan "Politiek-Economische Bond " terwakili dengan baik di antara kaum Mason Bebas. l. E.V. bukanlah benar-benar suatu partai politi.k, melainkan suatu organisasi bagi lapisan menengah dan bawah di kalangan orang lndo-Eropa. Didirikan pada tahun 1919 tmtuk mengimbangi orang-orang Indonesia berpendidikan tinggi yang waktu itu muncul di pasar ke1ja, di mana-mana didirikan cabang-cabang setempat yang terutama men gurus persekolahan dan pembangunan. 137 Sebagai juru bicara suatu kelompok besar orang Indo-Eropa-dengan hampir

15.000 anggota, Verbond pada tahun 1930 mempakan organisasi orang Eropa terbesar-organisasi itu membangun tems atas dasar-dasar yang sudah diletakkan pada masa pergantian abad dan di mana loge-loge telah memainkan peranan yang penting. Sejumlah Mason Bebas menjadi anggota Badan Pengurus I. E.V sejak organisasi itu didirikan, termasuk Mr. A. H. van Ophuysen, yang kemudian menjadi Wakil Suhu Agtmg
135. De Visser Smits 1931,203
136. Idem 1931, 204
137. Hogevest 1984. 33-49

Pada tahun 1921 ia malahan menjacli ketua LE.V. 138

Poliriek-Economisclte Bond, menurut De Visser Smits, lama sekali merupakan satu-satunya partai yang "mengusahakan ketja sama antara orang kulit putih dan orang kulit cokelat, yang merupakan suatu asas masonik yang sejati", namun pad a tal1t1n 1930 tujuan itu ditinggalkan, yang disebut suatu "gejala rcaksi yang rnengecewakan". Mengenai latar belakang dari pcrubahan itu, Drooglever menyatakan bahwa P.E.B. sesuai pemyataan asas tujuannya, ingin bekerja melalui jalan yang terlib demi kemajuan ekonomi dan sosial dari semua segmen masyarakat. Dalam soal politik, usal1a diarahkan kepada pemcrintahan sendiri atas dasar demokrasi yang luas, dengan n1cmpertahankan ikatan dengan negeri induk. 139 ''Asas sejati masonik" yang menurut De Visser Smits terwujud dalam

P.E.B. mula-mula mcndapat dukungan di parlemen dini rlindia, yakni Volksrnnd, dan di antara tahun 1921 dan 1927 Bond tersebut mcmpunyai 16 kursi dari total 48 kursi. Dari tahun 1927 sampai dengan tahun 1931 P.E.B. memiliki 18 kursi dari jumlal1 totalnyn yang pada waktru itu sudah 60 kursi. Dapat diperkirakan balnva para Mason Bebas terutama memberikan suara mercka untuk P.E.B. Namun pada pemilihan tahun 193], P.E.B. hanya memperolch 4 kursi dan sudah tidak ber- pengatuh.140 Apakah kemunduran itu sebagai akibat dari "gejala reaksi yang mengecewakan" yang dimaksudkan De Visser Smits? Sejak semula fraksi P.E.B., sesuai dengan titik tolak partai yang mengusahakan kerja sam a an tara orang kulit putih dan orang kulit cokelat, terdiri atas anggota-anggota orang Belanda, Indonesia, dan Tionghoa. Kedua golongan terakhir mala-
138. Van der Veur 1955, 228
139. Drooglever 1980, 20
140. Vander Wall965, 691-693

ZAMAN BERKF.MBANGNYA TAJ{Ef

han merupakan mayoritas. Namun dengan mtmculnya Vaderlandse Club, partai itu terpecah menjadi dLta. Banyak anggota menurut seorangjuru bicara partai telah memilih supaya ada kerja sama dengan Vaderlnndse Club. Sebagai akibatnya para pendukungoranglndonesia meninggalkan F.E.B. sehingga fungsinya sebagai jcmbatan antara orang Indonesia dan Belanda pun terputus. 141 Pada pernilihan tahun 1931 partai itu kehilangan juga sebagian besar dori pendukung orang Belandanya.

Pendukung bagi I.E.V. dan P.E.B. di kalangan Mason Bebas pad a tahun 1930 masih san gat besar, sebab di an tara orang-orang yang menyatakan menjadi anggo ta suatu partai po1itik, termasuk juga orang-orang dcngan dwi-keanggotaan, ternyata 70% menjadi anggota salah satu dari kedua partai itu. Bagaimana mengenai keanggotaan Vnderlandse Club yang masih muda itu? Tidak lama setelah dibentu.k, partai itu menarik banyak perhatian dengan programnya yangradi.kal,!alu pertanyaannya adalah sampai sebagaimana jauh jejak-jejak- nya dapat ditemukan di kalangan Mason Bebas. Memang ada perhatian, tetapi tidak begitu besar. Hanya sembilan belas orang Mason Be bas menya takan menjadi anggota hanya dari Vnderlandse Club, sedangkan enam lainnya juga anggota dari

l.E.V. dan P.E.B. Dari jumJ ah 174 orang, temyata jumlah Mason Bebas yang memberikan preferensi kepada Vaderlnnrise Club tidaklah besar.
142

Kalau anggota-anggota Tare kat pada tahun 1930 sebagiart besar menyatakan menentang kecenderungan terjadinya polarisasi dalam masyarakat Hindia, maka bagi pengurus Loge Agung Provinsial, Vaderlandsd1e Club merupal

  1. Drooglever 1980, 38
  2. De Visser Smits 1931,204

11 pada wakht lahirnya sama sekali tidak didirikan atas asas masonik". Mula-mula ketja sama dan Tarekat sama sekali tidak dihargai. Sebaliknya, mereka bermaksud membentuk suatu front kulit putih untuk "menguasai pihal<-pihak lain", demik.ian ditulis De Visser Smits. Walaupun kadang-kadang terdengar suara yang tebih lunak, bagi dia sama sekali tidak pasti apakah partai tersebut bert>cdia bekerja sarna dengan partai-partai yang lebih moderat.

Kerja sama dalam usaha pembangunan negeti dan bangsa sccara serasi, itulah yang selalu merupakan bagian dari usaha Tarekat. Upaya itu tidak hanya hidup di han orang-orang Be Ianda, namun juga dan terutama di hati anggota-anggota orang Indonesia. Pada tahun dua puluhan masih ada ide bahwa modernisasi masyarakat dan penyelesnian masalah-masalah yang dihadapi Hindia hanya dapat dicapai melalui kerja sama. Gagasan ini nyata bukan saja dari keanggotaan orang Indonesia di Volksraad yang meliputi banyak Mason Bebas, namun juga dari penampilan di depan umurn oleh Mason Bebas terkemuka Poerbo Hadiningrat, bupati Semarang. Di atas telah disinggungtentang ceramal1-ceramah yang diberikannya kepada orang-orang sebangsanya untuk memperkenalkan mereka dengan Tarekat Mason Be bas dan di mana ia menegaskan bahwa masyar·akat masa depan akan didasarkan atas gagasan persarnaan man usia, sehingga sisa dari zaman feodal hams dilenyapkan. Masyarakat bam akan didasarkan pad a sokogum kemerdekaan dan persamaan manusia dan dengan demikian bersifat demokratis. Poerbo beranggapan bahwa rakyat lndonesia akan sangat mernbutuhkan bantuan Beland a dalam hal itu. Pad a transformasi rohani yang dibutuhkan untuk itu, harta pernikiran Tare kat Mason Bebas dapat memainkan fungsi yang pen tin g.

Juga dar·i pihak Belanda pada awal tahun dua puluhan

ditegaskan pentingnya makna Tarekat ihttmhtk mode.rnisasi masyarakat dan agak mengejutkan untuk menyadari bahwa seorang pembela yang fasih untuk gagasan tersebut adalah

H.J. van Mook, waktu itu anggota loge ''Matararn" di Yogya, dan yang di kemudian hari rnenjadi letnan gubemur jendcr- al. Van Mook yang muda, lahir pada tahun 1894, pada tahun 1922 berbicara kepada sesama anggotanya dengan sebuah wejangan yang berjudul Holla11der en Jnvnan (Orang Be Ian da dan Orang Jawa), yang dianggap cukup berbobot unhtk dimuat dalam LM.T. Dua tahun kemudian sebuah ceramahnya yang lain ten tang nasionalisme, juga dimuat dan mend a pat perhati- anluas. Kalau dalam uraian sebelumnya telah dikemukakan bahwa mayoritas Mason Bebas pada tahun-tahun dua puluhan pada umumnya berpijak pada suatu pendirian yang maju dan moderat dalarn hal poli tik kolonial, maka berdasarkan perkembangan pembentukan opini dari seseorang seperti Van Mook, dapat diterangkan dengan betapa tajamnya pada masa itu para Mason Bebas memikirkan masalah-masalah yang besar yang mw1cul waktu itu. Berikut kedua ceramahnya akan disoroti namun sebelumnya harus dijelaskan ten tang lingkungan eli mana ia dibesarkan. Melihat ketidak-tahuan para sejarawan tentang aspek ini dari orang yang kemudian menjadi seorang negarawan perhatian ini dapat juga merupakan sumbangsih terhadap historiografi dekolonisasi. Tcmtunya perhatian terhadap pendirian Van Mook jangan dianggap sebagai isyarat bahwa pendiriannya itu mewakili pendirian Tare kat Mason Bebas Hindia. Dian tara anggota-anggota Tarekat pasti akan ada pendapat-pendapat perorangan yang lain. Namun dengan mempelajari I.M.T., dapat dikatakan bahwa maksud dari ceramah-ceramah Van Mook rupanya diterima oleh sebagian besar kaum Mason Bebas.

tua di mana Van Mook dibesarkan, dapat dikatakan bahwa Tarekat Mason Bebas memainkan peranan yang sangat pcnting. Ayahnya, A.A.M. van Mook menjadi anggota Pengurus Besar Tan:!kat di Hindi a. Juga ibu- nya, C.R van Mook-Bouwman, mcnaruh simpati besar terhadap Tarckat Mason Bebas yang temyata dari karangan-karangan dari tangannya yang dimuat di dalam l.M.T. dan dari In Mernorinm yang dimuat dalam majalah itu untuknya. Ayah van Mook sangat ctihormati di lingkungan kaum Mason Bebas, yang nyata dari gelar kehormatan yang dipakai kalau mereka berbica ra tentangnya. Ta disebut kin:i, yang dalam bahasa Jawa dapat menandakan orang bijaksana. 1

Kedtta orang tuanya datang ke Hindia sebagai gu ru dan mempcroleh pekerjaan di Semarang, tempat lahirnya anak lelak:i mereka Huib pacta tanggal30 Mei tahun 1894. Di kota itu Huib belajar di sekolah dasar, namun karena ayalmya di- pindallkan ke Surabaya di mana ia telah mencrima peke1jaan untuk mengajar di sekolah H. B.S., keluru·ga itu pindall ke Jaw a Timur pad a tahun 1900. Sejarawan sayap kiri, Annie Romein-Versdloor, juga menjadi murid di sekolah itu. Ia menggambarkan guru Van Mook di kemudian ha ri sebagai orang yang bukannya tidal< simpatik tetapi ia lebih terkesan dengan guru ekonominya, S.D. Reeser, salah satu orang sosial-demokrat Hindia yang paling pertama, dan juga seorang Mason Bebas. 1<\11

Baru berusia 17 tahun, Van Mook mud a mengam.billang- kah-langkahnya yang pertama ke arah Tarekal Mason Bebas ketika ia pad a tal1un 1911 ia elite rima sebagai "Loufton " di loge ''De Vriendschap''. Ia memang belum anggota penuh, kedudu- karu1ya lebih sebagai calon anggota. Perhatiannya yang dini

  1. IMT th. 30, 517-519
  2. Romein-Verschoor 1972, I, 55-56

Z AMAN BF.Rt

itu tentu tidak terlepas dari dorongan kedua orang tuanya dan dapat dibayangkan bagaimana pemuda yang ingin belajar itu meresapi semua gagasan masonik ke dalam benakn- ya. Setahun kemudian, pada tahun 1912, Van Mook untuk pertarna kalinya berangkat ke Belanda, untuk belajar ilmu kimia di Amsterdam dan di Delft. Ia tidak berhasil dalam ilmu kimia dan beberapa talmnkemudian ia sudal1 kembali di Hindia. Narntm perhatiannya bagi kehidupan Mason justru bertambah dan pad a tahtm 1915 ia melapor pad a loge "De Vriendschap" di Surabaya. Seperti biasanya, permintaan keanggotaannya diperiksa dengan seksarna dan hasilnya ialah bahwa ia dianjurkan unhtk menunggu beberapa waktu lagi se- hubung dengan umumya yang masih muda. Tidak lama kemudian ia berangkat kembali ke Nederland, dan kali ini dengan tujuan tmtu.k bel ajar indologie [ suatu studi akademis yang mempersiapkan orang w1tuk pe.kerjaan di pemerintahan Hindia, St.] di Leiden.

Di lingkungan Leiden, Van Mook merasa sangat cocok, dengan guru-guru besar seperti Snouck Hurgronje, Van Vollenhoven dan Carpentier Alting. Yang disebut terakhir itu baru saja kembali dari Batavia di mana ia menyiapkan suatu per- ahlran negara Hindia Belanda yang dibaharui. Sebagai Mason Be bas, eli Hindia ia memegang jabatan Wa.kil Suhu Agtmg, yang untuk Van Mook tentunya suatu tambahan yang menarik. Sejarawan Yong Mtm Cheong mengatakan bahwa ketiga guru besar itu memptmyai pengaruh besar terhadap Van Mook, dan menulis "di samping pola sosial Hindia Timur dengan bangsa yang multi-etnis, cita-cita ten tang perbaikan dan akhlmya kemerdekaan masyarakat itu mulai mendapat tempat dalam pemikiran Van Mook".

  1. Yong Mun Cheong 1982, 10

han ya bela jar. I a menjadi ketua dari perkwnpu.lan mahasiswa indologi dan mengor- ganisasikan kongres bersama pertama dari mahasiswa-mahasiswa Belanda, Indonesia dan Tionghoa, dl mana huang lebih 200 orang utusan berkumpul. 146 Tujuan pertemuan itu adalal1 agar para mahasiswa bisa Iebih saling mengenal serta untuk memupu.k salingpengcrtian, supaya -seperti dirurnus- kan Poeze- "di Hindia Timur nantinya diciptakan kerja sama yang serasi". Dalam pidato pembukaannya Van Mook menyerukan adanya kerja sama di dalam pembangunan Hindia Timur. Menurut fasseur pada waktu itu ia melakukan suatu 11 "pengakuan iman yang menarik dan mengaku berpegang pada polWk etis ''di mana sudah rnenjadi kcyakinannya bah- wadi masa depan Indonesia akan seluruhnya memperoleh kemerdekaannya, di bawah suatu kekuasaan negara yang disusun dari rakyat, jadi terutama dari orang-orang lndonesia". 147 Dalam suatu kata pengantar yang kernudian diadakan di kongres itu, ia memberi.kan penghargaan yang positi£ terhadap kekuasaan kolonial yang terutarna di puluhan tahun terak11ir telahmengupayakan emansipasi penduduk. Namun di tal1un-tahun yang akan datan& Belanda masih memikul tugas untuk mempersiapkan rakyat terhadap status itu dalam suatu proses yang dijalankan secara berangsur-angsur. Ia tidak mengharapkan banyak dari suatu parlemen dan mewpakan penduktmg dari pembentukan badan-badan pemerintal1an setempat. Sesuai suasana di kongres, para peserta Indonesia, biarpun adanya pernyataan maksud dari Van Mook, tidal< begitu antusias terhadap cetak birunya ten tang sua hi masyarakat Indonesia yang baru. Utusan Gunawan Mangunkusumo me- 1akukan reaksi dengan tajam, yang menunjukkan bahwa

  1. Poeze 1986, t27-128 14 7, Fasseur 1993, 446

M ASON BEBAS 1890- 1930

pendirian-pendirian berbeda itu masih jauh terpisah satu dari yang lainn ya.

" Pembawa Pengantar telah mene mpatkan diri pada pendirian penguasa, dania membela sesuatu yang jahat. Ia menerima sebagai fakta apa yang dalam pandangannya benar. Penjajahan Hindia Belanda dianggap sebagai perbuatan baik, yang dijajah clianggap sebagai orang yang kemampuannya di bawah si penjajah". 148

Pada tahun 1918 Van Mook kembali ke Hindia Timur untuk beketja eli pemerintahan umum di Semarang, kota kela- hirannya. Ia hams menangani masalah di bidang penyediaan pangan yang menccburkannya ke dalam aktualitas. Pada bulan Juli 1921, ia berusaha lagi untuk diterima ke dalam Tarckat dan kali ini ia berhasil sebab loge Semarang ''La Constante et Fidele" berseelia menerimanya. Namun pada saat yang sama ia dipindahkan ke Yogya, dan oleh karena itu ia melapor diri eli loge setempat ''Mataram". Pad a tanggal 8 Oktober 1921 akhimya ia diterima". 149

Di Yogya, Van Mook diternpatkan di Dinas untuk Reformasi Pertanahan, Organisasi agraria yang sudah ada sejak lama di lingkungan kesultanan yang perlu disesuaikan dan Van Mook dengan penuh enh.1siasme menceburkan dirinya ke dalam tugasnya yang ban.L Inilah tahtm-talum dengan perubahan cepat dan modernisasi di ban yak bidang, di mana diletakkan dasar bagi partisipasi politik yang lebih besar dari rakyat Hindia Timur. Volksraad, suatu badan politik yang dimaksudkan untuk dikembangkan menjadi parlemen penuh, pad a tahtm 1918 untuk pertama kalinya mengadakan sidang, dan kota-kota besar d1 Hindia Tirnur-setelah berlakunya

  1. Poeze 1986, 128
  2. Arsip Tarekat eli Den Haag, administrasi anggota

1903 - diberikan tanggung jawab pemcrintahan sendiri. Di Volksrnad orang-orang Belanda, lndonesia dan Tionghoa mengambil bagian dalam proses poUtik pada tingkat nasionali di kota-kota, di mana dibentuk dewan-dewan walikota dan pembantu walikota dan dewan-dewan kotapraja, hal itu terjadi pada tingkat setempat. Dewan-dewan itu mempunyai sustman campuran dan terdiri atas anggota-anggota yang diangkat dan anggota-anggota yang dipilih. Untuk kclompok yang disebut terakhir ini harus diadakan pemilihan. Para wakil rakyat orang Indonesia dan Tionghoa dengan dernikian mendapat pengalaman dalam cara pemerintahan modem. Sebagai pelajaran tambahan, mereka juga belajar batas-batas dari kewenangan mereka. "Perkembangan politik dari bawah" yang menjadi tujuan pemerintah Hindia Timur, tentunya dimajukan dengan berdirinya partai-partai politik, sehingga di situpun bentuk-bentuk organisasi modem diterapkan.

Oleh karena kemungkinan-kemungkinan yang lebih luas di bidang politik maka pada tahun dua puluhan banyak partai muncuJ yang di kemudian hari akan mernainkan peranan menentukan dalam proses kemerdekaan. Juga serikat-serikat buruh pada tahun-tahun itu untuk pertama kalinya memperdengarkan suara mereka. Krisis pada tahun 1921 menyebabkan terjadinya kemerosotan dalam syarat-syarat kerja, dan hal itu disusul oleh pemogokan di lingkungan jawatan kereta api, di pelabuhan Semarang, di Dinas Rumah Gadai dan tempat-ternpat Jain. Dalam tahun-tahun terdengar sinyal-sinyal perlawanan per tam a terhadap tatanan kekuasaan yang ada, yang dibunyikan oleh organisasi-organisasi modern dan pemimpin-pemimpin yang berpcndidikan.

Di Yogya perkurnpulan "Budi Utomo" muJai rnempunyai arti, namun bagaimana pun juga massa orang banyak lebih

tertarik dengan "Sarekat Islam" yang didirikan pada tahun

  1. Seperti telah dikemukakan di atas, orang-orang di lingkungan keraton dan bangsawan-bangsawan mula-muJa memptmyai banyak pengaruh dalam kedua organisasi it'll, namun mercka tidak dapat mencegah bahwa setelah beberapa waktu ada aliran yang lebih radikal yang muJai menentukan haluan. Jad.i_ bersamaan dengan saat Van Mook di loge ''Mataram" menarik perhatian dengan karya-wejangannya, berlangsung pula pergeseran-pergeseran penting dalam masyarakat Hindia Timur. Di kalangan rakyat Indonesia mulai bertumbuh suatu perasaan -walaupun mula-mula masih samar-samar -bahwa ada masa depan barn yang sedang menunggu. Bagaimana bentuk masa depon itu, waktu itu hanya seclikit saja yang dapat rnembayangkan dengan jelas. Bagi orang-orang Belanda~ yang kedudukannya bagaimana pun juga akan terganggu dalam hubungan-hubungan yang baru itu, yang penting adalah untuk melakukan orientasi kembali. Namun opini publik sepertinya tak tergoyahkan dalarn keyakinannya bahwa peranan negeri Belanda dan orang Belanda pad a puJuhan tahun yang pertama masih akan berlanjut terus. Van Mook patut dipuji sebab pada 'vaktu itu pun ia sudah dapat melihat garis-garis besar suatu Hindia Timur yang baru. Pujian sentpa patut diberi.kan juga kepada
    I.M.T. yang menyediakan ruang di manaia dapat membeber- kan gagasan-gagasannya. Pertanyaan yang dapat diajukan adalah: Apa pengaruh dari lingkungan di mana orang-orang seperti Van Mook telah dibesarkan, di dalam pembentukan pendapat-pendapat kolonial-progresif mereka. Sa yang, para penulis biografinya dalam hal ini tidak memberikan banyak penjelasan. Koch, seorang sosial-demokrat dari Hindia Timur yang mengenal Van Mook secara pribadi, melukiskannya secara sangat

"Sang ayahmerupakanseorangtokoh penuh kekuatan, dan begitu juga anaknya. Berperawakan kuat dengan bahu yang lurus, ia mirip dengan pemimpin suatu tim rugby; wajah- nya mencerminkan tekad untuk -kalau perlu -memaksa dengan cara-cara keras agar apa yang diyakininyasebagai benar juga terjadi. Perhatiannya, kegiatannya, dan kekuatannya untuk berbuat sesuatu, luar biasa besarnya, dan ada hubungan erat antara tinjauan, pcrtimbangan dan tindakan".lso

Sejarawan Yong Mun Cheong hanya menunjukkan bahwa orang tua Van Mook datang ke Hindia Timur sebagai gtuuJ bahwa mereka mencintai negeri itu dan keduanya meninggal di situ. Ikatan dengan Hindia Timur berlaku juga bagi wanita yang dinikahi Van Mook pada tahun 1918. Dia juga lahir dari orang tua Beland a yang datang ke Hindia Timur untuk bekerja dan juga meninggal di situ. Van Mook menganggap Hindia Timur sebagai tanah aimya dan tidak pernall bermaksud untuk menetap seterusnya di negeri Belanda. 151 Berhubtmg ter- batasnya literatur mengenai pokok ini, akan digali dari sumber yang lain untuk mengetahui latar belakang Van Mook.

Untuk mendapat suatu kesan- dan tidak lebih dari itu-telah dicari kisah kehidupan seseorang yang sebanding, dengan lingktmgan yang teiikat dengan Indonesia. Berkat suatu terbitan ten tang suatu keluarga Yogya yang berasal dari Belanda, dapat diadakan perbandingan secara global. Keluarga itu adalah keluarga Resink, yang tinggal di Yogya selama tiga generasi dan di antara mereka ada beberapa Mason Bebas.

  1. Koch 1960, 41
  2. Yong Mun Cheong 1982,8

_____ Z~A.J\1 BtRKEMBANGNYA T AREKAT MAsoN BEB.A.S1890 -1930

Walaupun perlu diingat bahwa keluarga ini secara sosial berada pada tingkat yang lebih tinggi dari keluarga Van Mook, perbandingan ini agaknya sah untuk dapat mengenal lebih dekat dunia Mason Bebas di Hindia. Gambaran berikut ini disusun berdasarkan keterangan yang diperoleh melalui suatu wawancara 151 yang digabung dengan keterangan dalam l.M.T.

Yang penting ialah bahwa juga pad a keluarga Resink unsur Hindia Timur tampil kuat ke depan dan bahwa Tarekat Mason Be bas juga memainkan per an. Bukan hanya orang tuanya, tetapi juga tiga dari neneknya lahir di Hinclia, dan ikatan dengan Tarekat Mason Bebas sudah terbentuk scjak tahun 1870, ketika Albertus Resink menjadi anggota dari loge "Mataram". Bahkan pada tahun 1877-1880 dan 1890-1893 ia menjadi ketlta loge tersebut. Selanjutnya pada tahun 1889 ia merupakan salah seorang pendld dari perkurnpulan yang juga disebut ''Mataram'', yang mempedulikan keluarga yang ditinggalkan oleh Mason-Mason Bebas yang telah meninggal dunia. la begitu berjasa, sehingga pihak loge memberikan kepadanya tanda penghormatan. Pada tahtm 1894 ia berangkat ke Nederland dan menjadi anggota loge Haarlem ''Vicit Vim Virtus".

Generasi berikutnya adalah Mason Bebas Thomas Gertru- dis Johan Resink Lahir pada tahw1 1870, ia menjadi anggota loge "Mataram" pada ta11l.m 1897, sedangkanistrinya, Anna Ja- coba Wilkens., yang dinikahinya pada tahun 1900, juga tertarik kepada Tarekat Mason Bebas dan rnenjadi anggota Tarekat campu ran. D i sini juga ada persamaan dengan keluarga Van Mock, sebab juga Nyonya van Mock menjadi anggota Tarcl

  1. Snoek 1987, 12-1 9

Bebas, dan dalam hal itu juga menyebut nama abangnya yang tertua, J.A. Resink yang lahir pad a tahun 1900, dan yang menjacli anggota "La Constante et Fidele" di Semarang. Ia sendiri juga menjadi anggota, namun kemudian ia "pergi ke perantauan" menurut kata-katanya sendiri.

Wawancara itu membcrikan keterangan selanjutnya tentang suatu lingkungan beradab dari orang-orang berada yang terrnasuk lapisan atas masyarakat. Ayahnya merupakan wakil utama dari suatu perusal1aan gula yang menjamin penghasilan yang besar. Dengan selera tentang kesenian yang dikembangkan dengan baik, rnaka pcndirian-pendirian orang tuanya ittt adalah liberal-progresif, dengan panda:ngan terbuka terhadap pcrubahan-perubahan politik yang sudah mulai berlangsung pada masa kehidupan mcrcka. Rumah yang luas di Yogya telah dibangun di bawah pimpinan Cuypers, murid dari Berlage, dan sama sekali tidak memiHki suasana "tempo dulu". Nyonyn Resink memiliki sebuah piano besar dan repertoire musiknya meliputi Handel sampai Grieg. Ten tang hal itu G.J. Resink memberikan komentar, "sesuatu yang pada tal1W11914 tidak begitukonservatif". Tetapi, !anjutnya, "aku kmang-lebih secara tidak sadar telah mendengar gamelan dariduakampung". Nyonya Resinkjuga telah mengumpulkan koleksi luas benda-benda kesenian Jawa, terdiri dari patung-pah.mg perunggu Hindu, piring-piring persembahan, dan lain-lain, dan dari etnografika. Koleksi itu agak terkenal dan dikunjtmgi banyak tamu dari dalam dan luar negeri. Di samping itu di rumahnya ada juga lukisan-lukisan dari Aliran Den Haag.

Unsur-unsur Beland a dan Jawa selalu tam pi! ke depan dalam pendidikan G.J. Resink sedangkan trnsm· "Hindia Timur" yang d)anggap rendah selalu dihindari. Jadi ia diberikan les gamelan dan piano, namW1 keroncong diharamkan; ia harus

BERKEMBANGNYA TAREKAT MAsoN BEBAS 1890- 1930

berbicara bahasa Belanda dan Jawa yang baik, tetapi sama sekali tidak boleh "berbicara Indisch". Cerita-cerita Indian dan cerita-cerita di mana orang kulit berwarna dibnnuh, Hdnk boleh; namun legenda-legenda Yunani dan Romawi, cerita-cerita Hindu, Buddhis dan Jawa, bolelz. Mereka mengunjungi pertunjukan sandiwara Belanda dan juga pertunjukan wayang, tetapi tidak pernah men on ton sandiwara rakyat Hindi a Timur. Dalam pergaulannya dengan ternan-ternan, jelas dipatok pem-batasan. Jadi, ia tidak boleh menjadi anggota pndvinder (pra-muka) "sebab engkau akan masukke lingkungan yang berbicara bahasa Belanda dengan buruk ( ... )Dan anak-anak dari "lingkungan itu" - aku masih mendengar orang tuaku mengatakannya-menembak burnng-burung kecil dengan sena- pan angin. Hal itu tidnk pantas."

Terutama dalam soal makanan ada pemisahan ketat antara apa yang boleh dan tidak bole h. Pada pagi hari dihidangkan sarapan Belanda, siang hari rijsttafel, kadang-kadang dengan varian yang sangat bernuansa Jawa, atau juga kadang-kadang menu Tionghoa yang sederhana, pada malam hari makanan Eropa,lima hidangan, atauhanyaHollandse pot. Tetapi tidak pernah, tidak akan pernah jajan "dari jalan". Hal itu benar-benar tidak boleh. Itu "membahayakan nyawa, kampungan. Hal itu tidak pantas kaulakukan".

Mengenai orang tuanya dan hubungan mereka dengan Hindia Belanda yang lama, G.J. mengamati bahwa bagi mereka masa itu sudal1 berlalu sudah sejak tabtm 1910. Perubahan yang terjadi berhubungan dengan kekuatan kebudayaan Vor- stenlanden dan juga kenyataan bal1wa Yogya pada tahun 1918 mempcroleh beberapa seko1ah menengal1 Belanda dengan sejumlah besar tenaga Belanda berpendidikan al

ia belajar eli "sekolah dasar dengan Alkitab'', kemudian MULO Kristen, lalu Algemene M;ddelbare School (SLTA). Di sekolah itu Rcs.ink berhubungan dengan 80% murid Indonesia. Dan kalau orang tuanya belurn rnenjadi penganut resmi sebelurnnya, maka mereka mulai menganut paham "etika" di bawah Gubemur Jcnderal Van Limburg Stirurn, dengan pernahaman terhadap status Hindia Belanda sebagai "domi- nion" (nega ra anggota dengan pemerintahan sendiri dalam kerangka suatu persemakmuran)1yang pada waktu itu menurut G.J. merupakan pemikiran yang maju. Pend irian itu, menurut dia, sangat bertcntangan dengan sikap konservatif orang Belanda, yang malahan bertambah kuat dengan bertumbuh- nya nasionalisrne Indonesia. Sejalan-sesuai dengan posisi orang tuanya dalam debat-debat politik sebelum perang, G.J. dengan sadar setelah penyerahan kedaulatan pad a tahun 1949 memilih kewarganegaraan Indonesia.

Kembali ke Van Mook dan pendapat-pendapatnya yang disampaikannya dalam dua wejangan yang dimuat dalam

I.M.T., ternyata pendapat-pendapatnya itu merupakan lanjutan yang logis dari apa yang telah diucapkannya di Nederland pada tahtm 1917. Dalarn wejangannya Hollander en Javaan yang dibawakannya di loge ''Mataram" pada tanggal 28 Oktober tahun 1922, ia menganggap sebagai kewajiban pertama seorang Mason Bebas w1tuk mengakui persamaan nilai orang Jawa (dengan orang Belanda) sebagai manusia.
153 Hanya atas dasar pengakuan itu, dapat diusahakan perkembangan rakyat terse but secara berhasil.

Van Mook mulai dengan mengatakan bahwa masa pertama setibanya kern bali di Hindia Timur, digunakannya untuk mempelajari fakta-fakta dan keadaan-keadaan realita llingga

l53. fMT th. 28, 469-478

ZAMAN BERKEMBANGNYA TAREKAT MAsoN BEBAs 1890-1930

ia memutuskan untuk mengarnbil kesimpulan hanya setelah dengan tenang mengolah semua pengalaman banmya. Pada waktu rnenyiapkan wejangan itu, ia rnenyadari be tapa ban yak seginya dan betapa peka pokok yang hendak dibahasnya itu, dania berharap pendengamya rnau berlapang-hati. Oleh karena sifat pekerjaannya sehari-hari [ di Din as untuk Reformasi Pertanahan di Yogya, St.] dan melalui pergaulan dengan orang-orang Jawa terpelajar, ia sadar bahwa terdapat salah pengertian yang serius di antara kedua segrnen penduduk (Belanda dan Jawa) "tentang sifat dan maksud masing-masing, yang menghalangi suatu pembangunan yang sehat''.

Tidal< perlu dikatakan, demikian Van Mook, bahwa ia sebagai Mason Bebas tidak dapat membayangkan hubungan yang lain antara orang Indonesia dan orang Belanda selain yang berdasarkan ''saling membantu rnenuju ke htm1arlitas" dan bahwa penjajahan oleh satu pihak dan keadaa.n dijajal1 di pihak lainnya tidak pemah dapat merupakan tujuan. Selanjutnya akan rnerupakan salah pengertia.n yang fatal bila dianggap bahwa orar1g Asia secara hakiki beTbeda da1i orang Barat. ltu merupakan suatu ide paksaan, yang merupakan suatu rintangan terhadap setiap usaha unh1k salingmengerti dan saling menghargai. Dalam usaha menggali sikap tmtul< berpendirian, Van Mook menggali dari pengalamannya sendiri ketika ia bertanya kepada para pendengarnya:

"Aku tidak tahu apakah kalian pernah mencoba mengamati secara objekti£ dan sadar, seorang Jawa dan seorang Belanda yang sedang berbincang-bincang, sebagai dua pribadi yang sedang berusaha untuk sating berhubw1.gan. Kalau pernah, pasti kalian me1ihat betapa besarnya kekacauan yang disebabkan oleh prasangka, pendapat dan sikap kon- vensional, tidak atau salal1 mengerti satu sama lain, yang meliputi kedua pihak, seh.ingga hanya suara yang tembus dan setiap pemikiran tertahan.)".

1 Ylook melihat bahwa gagasan orang jawa ' pada hakekatnya lain" juga mengarah pada pendapat bahwa ia "pada hakikatnya kurang". Unluk men yo kong pend irian itu1 be.rbagai apa yang discbut bukti dikemukakan yang pada hakikatnya tidak lain daripada "tindakan dan ucapan yang dicabut dari konteksnya yang sebenarnya". Biarpun ada hasil kajian-kajian ilrniah, dan pengalaman guru-guru, demikian dilanjutkai·mya, momok dari orang Timtu yang misterius tents saja menghantui. Dan karen a orang Eropa bcrpendapat bahwa orang Indonesia tidak dapat ''dimengerti", ia tidak berusaha sedikit pun untuk belajar mengenalnya. Akibat dari sikap itu selaltt adalah terusnya timbul salah pengertian yang baru, yang kemuclian digunakan lagi sebagai "bukti" ten tang sifat-sifat yang inferior dari ras yang lain itu. Van Mook kemudian memberi contoh untuk menunjukkan bahwa cara orang Jawa bereaksi terhadap pertanyaan orang luar yang menyangkut kepentingan pribadinya, tidak berbeda dengan cara seorang petani di Achterhoek* melakukannya.

Untuk menjelaskan hal yang spesifik dalam perilaku

orang Jawa, Van Mook mengemukakan beberapa faktor, tcr-masttk susunan masyarakat pribumi. Ada yang mengatakan, demikian Van Mook, bahwa setiap orang Jawa adalah atasan dari orang Jawa lain dan bawahan dari orang jawa ketiga. Subordinasi bedipat ganda itu, yang kita hampir-hampir tidak dapat bayangkan, mempunyai pengamh besar terhadap kebebasan pengungkapan pikiran dan kespontanan mengeritik satu sama lain.

Sebagai faktor kedua, ia menyebut tidak adanya opini publik, dan tidak adanya kontrol satu sama lain eli luar sua-

  • Editor Indonesia: Wilayah bagian Tenggara Belanda yang dianggap agak "kampungan" oleh \vilayah yang lebih "maju" namun orangAch- terhoek justru menganggap dirinya normal dan tidak mengada-ada.

T ARBKA'i M ASON B EaAS 1890 - 1930

sana desa. Itulah yang mengakibatkan bahwa orangjawa hampir-hampir tidak mernberikan reaksi terhadap ketidakadilan yang dilakukan terhadap orang di luar lingkungan hidupnya yang langsung. Sikap ini tidak ada hubungam1ya dengan ke- lambanan "alamiahnya", melainkan berhubungan dengan kenyataan bahwa ia bukan apa-apa di luar desanya. "Semua hal istin1ewa yang dilakukannya di luar desanya, hanya dapat membawa kesengsaraan oleh karena campur tangan orang-orang eli atasnya, panggilan untuk menghadap pamongpraja yang betkuasa a tau polisi yangmenakutkan". Namun dalam komunitas kota, orang Jawa berani menyampaikan pendapatnya secara terbuka. Penilaian yang tepat dan keberanian berbicara, sering tidal< tertangkap oleh kebanyakan orang Belanda dan mereka mengira bahwa perkembangan yang bergerak sekarang di antara orang Jawa hanya menuju kepada "kebiasaan berteriak dengan tidak terkendali", yang 1 merupakan tanda dari 'keinginan akan kemerdekaan yang dikipas-kipas, dan yang berakar pada ketakutan yang tersembunyi".

Di bagian akhir ceramahnya Van Mook membahas sifat-sifat kurang baik yang katanya dimiliki orang Jawa. Orang Belanda dengan cepat menuduh bahwa mereka suka berbo- hong, tidak mempunyai kepedulian, tidak jujur. Dan juga bahwa mereka begitu rnudah percaya, tidak bersikap kritis, senang bersekongkol dan macam-macam hallainnya. I a menjelaskan bahwa untuk semua sifat itu ada penjelasannya, namun tidak mau membicarakannya terlalu lama, sebab:

"Kewajiban masonik kita adalah bukan untuk bertitik tolak dan berakh.ir pada perbedaan antara orang Belanda dan rakyat negeri ini di dalam hubungan kita denga.n mereka, melainka.n mengakui persamaan manus:ia, yang merupakan salah salu asas dari Anggaran Dasar Tarekat kita. Tugas kita adalah untuk berjuang melawan khayalan seakan-akan kita

berbeda atau lebih balk daripada meTeka, dan berusaha memulihkan kepercayaan mereka terhadap iktikad baik kita, di mana orang-orang kita sebangsa atau orang-orang Jawa telah menggerogoti kepercayaan itu".

Van Mook mengakhiri dengan menyimpulkan bahwa kaum Mason Bebas mempunyai kewajiban untuk rnenolong rakyat dalarn perkembangannya sebagai orang-orang merdeka. Mengenal dan menghargai takyat, mempakan prasyarat utama. Orang-orang Jawa harus didekati sebagai orang-orang dewasa dan bukan sebagai anak-anak, seperti yang sering terjadi, atau sebagai murid-murid "terhadap siapa kita rnengambil hak wali untuk menceramahi mereka". Yang penting ialah bahwa kita menganggap mereka sebagai sesama kita dan "ingin membagi dengan merekakelebihan kekayaan dan pengalarnan kita".

Di sinilah ternpatnya untuk rnelihat bagairnana Mason-mason Bebas lainnya pada awal tal1tm dua puluhan menilai masa depan masyarakat Hindia Tirnur dan peranan ''Sarekat Islam" -gerakan nasional terpenting pada saat itu-sebelum melanjutkan lagi ulasan tentang Van Mook. Dari tinjauan-tinjauan yang dirnuat dalam edisi-edisi l.M.T.dari tal1Un 1921 dan 1922, telah dipilih dua karangan, satu dari seorang Belanda dan satu dari seorang Indonesia. Pada tanggaJ 15 Juli 1921, J.J.B. Ostmeier rnenyarnpaikan sebuah wejangan di loge Bandung "St. Jan" dengan judul De Javaan en zijn evol"utie (Orang J awa dan evolus- inyaV54 sedangkan pada tanggal 21 Desember tahun 1922, Raden Kamit ajun-inspelVolksraad, berbicara di hadapan suatu pertemuan bersama dari tiga loge Batavia. Judul wejangannya berbunyi De Sari kat lslam.

  1. Idem Lh. 27, 162-186
  2. Idem th. 28, 343-352

Z AMA:-1 BERKEMBA:-\G i''YA TAREKATMAS0:-.1 BEBAS1890-1930

Ostmeier yang mula-mula berbicara, menyatakan bahwa eli kalangan rakyat sedang berlangsung suatu evolusi rohani, moral dan sosial. Memberikan penilaian yang man tap tidaklah rnudah, sebab baik pendukung maupun penentang, kedua-duanya suka membesar-besarkan persoalan, baik dalam arti positif rnauplm arti negati£. Ada hal jahat yang terse- lubw1g, yakni bahwa kendali dari gerakan pertarna yang benar-benar berasal dari rakyat, telah jatuh ke tangan pemimpin-pemimpin yang terpengaruh oleh gerakan komlmisme Barat, yang menghendaki suatu revolusi yang kcras dan yang bermaksud menghancurkan kapitalisme. Ia juga memmjuk kepada beberapa kerusuhan kecil yang terjacli di beberapa ternpat yang masih dapat dipadamkan. Namun kalau revolusi berhasil, rakyatlah yang akan menjadi korban, dan kemudian ia menyatakan:

"Maka massa rakyat Jawa yang berjumlah jutaim ih.1, yang sudah terbiasa dengan keteraturan selama berabad-abad, dan belum terlepas dari kebergantungan yang sama Jamanya, pasli akan melakukan hal-hal yang menge rikan, yang -mengingat sifat kejam orang Timur-akan jauh Jebih mengerikan daripada apa yang terjadi selama Revolusi Perancis atau dalam proses pembinasaan diri dari Rusia yang sedang berlangsung."

Ostmeier berpendapat bal1wa pemerintah Hindia Be1anda bersalah karena terlalu bersikap lunak terhadap para pemimpin "yang tidak bertanggung jawab" dari "Sarikat Islam", dan menyampaikan nasihat agar soaJ itu ditangani dengan keras, sebelum "rakyat Jawa menjacli liar dalam keselu- ruhannya". Pembicara masih mau melangkah lebih jauh dan dalam suatu kongres dari organisasi itu ingin berkata begini kepada para pemimp-innya:

nenek moyang kita berpijak pada pendirian bahwa oleh karena mereka mempunyai kekuatan lebih besar, memiliki peradaban lebih tinggi, merupakan ras yang lebih unggul, rnaka rnereka mempunyai hak Lmtuk campur tangan dalarn eksistensi bangsa kalian, penjajahan rakyat kalian; namun kami dari masa kini telah sadar bahwa di sam ping hak yang sudah ada ~tu, kaml bcrkewajiban Lmtuk memberikan setiap aJat kepada rakyat yang dijajah itu yang dapat membantu mereka Wltuk memperoleh kembali kemerdekaan yang terhormat, meraih kembali kedudukan suatu bangsa yang merdeka yang tclah sirna itu''.

Dalarn lanjutan dari pidato khayalan Ostmeier, ia menekankan bahwa masa penghisapan ekonomis dan pemcrasan oleh para pengausa telah berlalu dan bahwa rakyat dapat mentmtut hak hukurnnya. Kalau dulu pendidikan, dalam macam apapun juga tidak ada, maka sekarang pendictikan rakyat sudah daJam jangkauan ban yak orang "ya malah anda dapat menaikkan diri ke tingkat intelcktual setinggi yang terbaik dari ras kami kalau saja Anda mau berjuang".

Dalam pidato Ostmeier kepada anggota-anggota "Sarekat Islam", secara blak-blakan kedengaran ndngium (pepatah) dari haluan etika, terutama dalam kata-kata berikut ini:

"Kami sudah lama tidak lagi menganggap diri sebagai tuan-tuan yang mutlak dari Anda, melainkan hanya sebagai wali Anda, yang tidak mengharapl

Sadar bahwa ada bahaya perkataarmya akan rutafsirkan sebagai reaksioner, Ostmeier masih menandaskan bahwa campur tangan yang keras melawan ekses-ekses suatu gerakan rakyat yang mengacaukan tatanan sosial, hanya dimaksud-

8ER!(EMBANCNYA T AREKAr MASON BEBAS 1890 - 1930

kan sebagai koreksi terhadap ekses-ekses dari suatu perkembangan yang pada haki katnya sehat. " Kemudian,'' ditambah-kannya, "Kalian akan menyadari bahwa tindakan cam pur tangan ini adalah demi kepentingan rakyat."

Wejangan Raden Kamil, yang diucapkannya di Batavia pada tanggal 21 December 1922, sangat berbeda kalibernya. Sebagai pengantar, ketua menjelaskan bahwa rnaksudnya adalah untukrnengadakan ceramah-cerarnah dari waktu ke waktu tentang aliran -aliran pent:ing dalam masyarakat pribumi. Semula Tn. Dwiyosuwoyo, sekretaris Sultan Yogya dan anggota dari Volksrnnd 1..mtuk "Budi Utomo" akan memberikan ceramah tentang tujuandan usaha perkumpulan tersebut. Na~ mun karena Dwiyosuwoyo berhalangan, Raden Karnil menawarkan diri untuk berbicara mengenai pokok tersebut. Malam itu ia berbicara ten tang ''Sarikat Islam", yaitu organisasi pribumi yang terbesar. Namun sebelumnya ia ingin menjelaskan posisinya terhadap pemerintahan Belanda dan untuk itu ia mengutip dari pidato yang disampaikannya di Volksrnnd pad a tahun 1919 dan yang masih tetap merupakan pendiriannya. Secara ringkas, uraia1mya adalah sebagai berikut:

Rakyat Jawa belum memiliki sifat-sifat yang diperlukan untuk dapat melakukan pernbangunan intelektual dan

e.konomi. Dari segi materiil, sebagian besar dari rakyat hanya mengalami sedikit kemajuan. Yang juga tidak ada adalah industri pabrik, ondememing pertanian dan gula, penggiling- an padi,lembaga-lembaga keuangan, perusahaan-perusahaan niaga, toko-toko dan hotel-hotel pribumi. Orang Jawa itu kurang gesit dan peduli, dan belum sampai pada tara£ sehingga 11 dapa t menjadi peserta yang sa dar dari negara J awa yang akan datang". Kamil melanjutkan dcngan menjelaskan bahwa Hindia merupakan suatu konglomerat dengan berbagai macam suku bangsa, dengan kepentingan yang berbeda-beda, clan

"yang dibenci" itulah yang membuat kepulauan ini mcnjadi satu kesatuan.

Apa yang akan terjadi, ia bertanya, kalau pihak Bclanda mundur dari Indonesia? Suaht negara kuat laumya akan menggantikan Be Ianda, a tau kalau tidak, Hindia al

"Kemerdekaan dan kebebasan merupakan pcrkara-perkara indah, namun bukan bebas dari Belanda, yang pemerintahnya terutama di puluhan tahun terakhir telah menunjukkan bahwa ia tidak akan menyia-nyiakan cara-cara apapun untuk membcrikan kesempatan kepada rakyat Hindia untu k berkembang secara inte lektual dan ekonomis".

Kamil dalarn pidatonya di Volksraad pada tahun 1919, melihat suatu masa depan tanpa penjajah dan rakyat yang dijajah, di mana Belanda dan Indonesia mcrupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, deml keuntungan kedua-duanya. Ia kemudian menutup dengan suatu pemyataan yang menarik, di mana ia mcngatakan merasa aman di bawah kekuasaan Belanda, dan jutaan orang bersama dia. Menurut laporan dalam I.M.T. katanya ia dengan senang hati menyatakan:

" terima kasihnya terhadap pemerintah Belanda dengan mengucapkan keinginannya yang kuat bahwa kekuasaan Belanda akan bertambah kuat dan megah, dan mampu menghadapl setiap gangguan dari luar, dengan bantuan suatu milisi pribumi dan seluruh rakyat dan agar kekuasaan Belanda itu dapat dengan kuat mempertahankan dirinya di Insulinde (kepulauan Indonesia) yang indah sampai selarnanya".

Setelah ia memperkenalkan gagasannya dengan cara ih.t kepada ketiga loge itu, Raden Kamil mulai dengan wejangannya tentang "Sarekat lslam'' Asal-usul dari perkumpulan itu

ZAi\llAN 8ERKJ::MBANGNYA TAREKAT MASO~ BEBAS 1890 -1930

terletak dalam posisi saing yang kuat daii orang Tionghoa dalam perdagangan-antara di bidang tekstit alasan dari revolusi di Tiongkok pada tahLm 1911, yang menimbulkan kesadaran lebih tinggi di kalangan orang Tionghoa di Jawa, yang pada gilirannya menyebabkan tetjadinya kerusuhan-kerusuhan anti-Tionghoa dian tara orang}awa. Kamil kemudian memberikan laporan tentang kemajuan perku.mpulan itu dan ia mengingatkan bahwa pemerintahan Hindia Belanda mernberikan status badan hukum kepada pcrkumpulan tersebutpada tahun 1913, walaupun hanya kepada cabang-cabang seternpat. Langkah pemerintah itu mungkin diilhami oleh kata-kata perdamaian dari Raden Umar Said Tjokroaminoto, kctua cabang Surabaya. Dalam suah.1 rapat umum, katanya ia mengatakan;

"Kalau kita ditindas, kita harus minta tolong kepada Gubernur JenderaL Kita setia terhadap pemerintah dan kita puas terhadap pemerintahan Be Ianda Tidak1ah benar bahwa kami mau menghasut Sttpaya terjadi kekacauan, tidak benar bal1wa kami ingin berkelahj. Siapa yang mengatakan itu atau berpikir begitu, bukanlah orC~ng yang waras. Itu tidak mau kami lakukan, tidak, seribu kali tidak".

Jugadalam kongTes nasional pertama pada tahu.n 1916, di bawah pimpinan Tjokroaminoto, nadanya masih bernuansa perdamaian. Slogannya adalah "Bersama-sama denga.n Pemerintah", dan diadakan seruan agar orang mentaati hukum dan mengusahakan kemajuan dengan cara yang cocok dan yang diperbolehkan. Menurut Kamil "Sarekat Islam" sarnpai pada waktu itu merupakan "pengungkapan penyadaran diri yang loyal dari rakyat", terlepas dari adanya beberapa gejala sampingan bernada negatif. Hal itu berubah oleh karena pengaruh gerakan-gerakan revolusioner di Eropa, terutama di Rusia. Kamil telah mengemukakan bahwa sebagian dari ''Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (Perkumpulan Sosial Demokrat Hindia)", ternyata peka terhadap sentimen revo-

"Sarekat Islam" revo1us1 tersebut memperoleh pendukung-pendukungnya. Untuk men- cegal' terjadinya perpecahan, pengurus yang masih tetap moderat itu mengubah taktiknya. Nadanya menjadi lebih tajam, dan juga di bawah pengaruh oposisi di dalam tubuh- nya sendiri, kebijakan p1.m dipertajam. Dalarn kongres pada tahtm 1918, dituntut pelal

Walaupun gerakan itu berkembang ke arah yang salah menurut Karnil, ia merasa gerakan itu telah mencapai ''banyak hal yang baik" l.mtuk kalangan priburni, dania rnengutip dengan nada setuju perkataan Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum yang di samping aspek buruk juga telah menemukan aspek baik:

"yang disambut dan yang sangat diperlukan demi pembangunan negeri ini ( ... ) Pemerintah, terutama pemerintah dalam negeri, harus dapat mernbedakan~ dengan rasa keadilan yang tajam, agar jangan terjadi bal1wa dalam melawan unsur-unsur yang jahat, yang baik juga dilawan".

Kita akan melanjutkan lagi di sini dengan Van Mook, dm1 temtarna rnen1perhatikan wejangannya pada tahun 1924untuk lingkungan loge di Jawa Tengah, yang rnembahas gejala nasionalisme di Hindia Belanda dan dimuat dalam I.M.T. edisi tahun itu. Mengenai pokok tersebut sebenarnya ia telah

  1. Idem th. 30, 104-116

0 menyarnpaikan cerarnah di loge "Mataram, walaupun agak berbeda, dan yang dicantumkan dalam laporan tiga bulanan loge itu. Di Yogya, Van Mook menandaskan:

"Nasionalisme adalah sesuatu yang universal. Kita, yang merupakan suah,l bangsa yang kecil, dapat menguatkan kebanggaan nasional kita dengan mengupayakan segala yang indah dan dengan menegakkan keadilan. Nasionalisme di Hindia sering dipandang enteng, bahkan dilecehkan. Dasar dari sebab-sebab yang mengakibatkan rakyat Hindia mendirikan perkumpulan-perkumpulan di bidang politik dan ekonomi, eli bidang kesenian dan pengetahuan Hindia yang spesifik, adalah nasionalisme, in casu perlawanan terhadap yang asing. Kita, orang-orang Belanda, janganlah memaksakan pendirian-pendirian kita kepada rakyat pribumi. Nasionalisme dalam perjaJanan waktu akan semakin diarahkan terhadap kepentingan segmen-segmen penduduk yang lebih besar, untu.k rnemperjuangkan kepentingan umum".

Ternyata bahwa pendapat Van Mook diterima baik di kalangan loge. Setelah memberikan ringkasannya, laporan itu diakhirj dengan kornentar bahwa seusai ceramahnya, "terjadi pertukaran pikiran yang ceria, dalam suasana Tarekat", dan setelah itu diucapkan terima kasih kepada pembawa pengantar itu.

Bahwa Van Mook sekali lagi dapat menyampaikan pemikirannya tentang nasionalisme beberapa bulan kemudian kepada kaum Mason Bebas, namun sekarang diternpatkan dalam kerangka umum, menunjukkan bahwa pendapat-pendapatnya telah menarik perhatian. Sidang pendengarnya kali ini terdiri dari anggota-anggota lima loge yang bersama-sarna membentuk perserikatan loge-loge Jawa Tengah dan yang waktu itu mengadakan pertemuan di Salatiga. Laporan tentang pertemuan itu mengatakan bahwa ceramahnya di-

pada I.M.T. untuk dimuat. 157

"Nasionalisme", demikianlah Van Mook dalam kata-kata pembukaannya, merupnkan suatu pokok yang bila dibahas secara "duniawi" [di luar loge, St.], dapat menyebabkan terjadinya perbedaan-perbedaan pendapat yang tajam dan juga debatpolitik. Namun kalau "ditinjau dalam suasana Tarekat, yang dapat dianggap hadir di sini, hanya akan membawa kepada keinsafan yang lebih mendalam dari kewajiban-kewajiban yang berat yang telah kita pikul dengan rela, ketika kita datang mengeluk pintu untuk menmima terang itu". Scbagai btik tolak, ia menyebut kecendenmgan man usia untuk mcngambil nasibnya dalam tangannya sendiri, dan pemcrintahan sendiri merupakan salah satu dorongan terkuat dalam watak manusia. Setelah membicarakan sejcnak sejarah nasionalisme di dunia Barat, ia melanjutkan dengan nasionalisme di India lnggris dan pcranan Tagore serta Gandhi. Van Mook sadar akan paradoks yang ada dalam nasionalisme, yang di satu pihak dapat menuju ke pembentukan kekuasaan yang murni dengan mengorbankan rakyat lain, namun di lain pihak ia dapat membangkitkan kekuatan-kekuatan positif di kalangan suatu rakyat.

Pergumulan batin tentang masalah apakah seseorang harus mengikub nasionalisme yang telah diarahkan ke haluan yang salah, atau mengikuti suara hati sanubari di dalam diri sendiri juga diungkapkan dalam epos Ramayana. Setelah van Mook menunjukkan, berdasarkan epos tersebut, betapa sukamya untuk membuat suatu pilihan yang tepat ia lalu mengutarakan dilemanya bertalian dengan nasionalisme

  1. Idem th. 30, 39

BERKEM BANC)II\A TAREKAT M.'\50~ 6EBAS 1890-1930

di Hindia Be Ianda. Kalau nasionalisme ditujukan w1tuk mencapai suatu tujuan yang lebih mumi daripada kekuasaan materi saja, maka usaha ini "akan memperoleh kemuliaan karena oknum dalam kesendiriannya tidak mungkin sanggup melakukannya" Oil em a batin yang mungkin pecah dalam diri seorang oknum menyebabkan van Mook mengucapkan ka ta kata berat berikut:

"Sebab itu kita harus insaf, bahwa kita, betapa pun kila dalam keadaan darurat dan tanpa berpikir panjang akan mengikuti bangsa kita, juga ke arah kegagalan, kalau ketenteraman telah dipulihkan kembali. Maka kita harus mengangkat perkakas lagi, yang mungkin telah kita Iepas- kan unluk mengangkat pedang; dan bahwa kita di suatu negeri seperti Hi.ndia, di ma11a kita, melalui kekuasaan pe- mersatu kita untuk mengatasi perpecahan setempat, telah menyebabkan nasionalisme itu dilahirkan, kitn harus bertanya secara serius dengan hati sanubari yang jernih, peluang-peluang apa yang telah kita berikan ba gi nasionalisme yang muda itu".

Van Mook menutup wejangannya dengan menegaskan bahwa kaum Mason Bebas mengemban tugas untuk rnem- birnbing nasionalisme menuju pcrwujudan cita -cita yang luhur dari humanitas. Usaha pencarian kaum Mason Bcbas jadinya tidak hanya diarahkan ''bagaimana mcmpersatukan man usia, tetapi juga kepada bagaimana mempcrsa tu kan bangsa-bangsa''.

MASON DAN PERJUANGAN
UNTUK KESINAMBUNGAN HIDUP
1930-1962
  1. Krisis ekonomi, p erang, usaha-usaha pemulih an dan konsolidasi Republik
    Tinjauan scjarah

da ban yak alas an untuk menganggap bahwa lase terakhir kehadiran pihak Belanda di bumi Nusantara

Aberawal pada tahun 1929. Runtuhnya perekonomi-

an dtmia keuangan setelah bursa ambmk eli New York, mengakibatkan terjadinya serangkaian perkembangan yang akhirnya telah rnengubah dunia secara mendasar. Depresi telah menyebabkan tetjaclinya pengangguran besar-besaran di selunlh dunia Bar at dan menimbulkan frustrasi serta ekstremisme politik.

Penyebab dari akibat-akibat krisis itu terhadap Hindia Timur, sampai sekarang belum cliteliti secara mendaJam. Baudet dan Fasseur menunjukkan bal1wa produksi ekspor negeri ini terpukul oleh kejatuhan harga yang tajam, hingga menga-

___ T AREKAT M ASON D AN P ERJUA.'IGAN U NTU K K ESI!\'AMHUNCAN H JOL'l'

caukan kehidupan ekonomi dan sangat menurunkan tingkat 1 kesejahteraan rakyat. H al yang baru adalah bahwa bukan hanya rakyat Indonesia yang menderita akibat keterpurukan ekonomi, tetapi juga segmen pcnduduk Eropa terpukul oleh penurunan penghasilan dan malah oleh pengangguran. Persoalan pengangguran menjadi masalah struktural ketika tcr-nyata bahwa walaupun terjadi pemulihan ekonomi pada sekitar tahun 1936, tidak kelihatan adanya kemungkinan untuk 2 memperbaiki peluang-peluang di bidang lapangan ketia. Literatur buku-buku novel Hinctia Timur dari tahun-tahun itu memperlihatkan bahwa kehidupan banyak orang Belanda sudah kacau, dan harapan untuk masa depan mclenyap. Sejumlah besar orang Belanda "irnpor" yang diberhentikan dari pekerjaannya oleh perusal1aan-perusahaan swast~ pulang ke Nederland dan, kalau ada, yang tinggal hantS mengurangi pengeluaran-pengeluaran mereka ekstra ketat. Namun di dalam komunitas Eropa, pukulan terberat diderita oleh golongan lndo-Eropa yang selalu berada dalam posisi yang ren- tan bahaya. Kekhawatiran yang lama terhadap kemungkinan "jatuh kembali ke tingkat kampung'' bagi ban yak orang menjadi kenyataan.

Penelitian historis ini telah memmjukkan bahwa di kalangan orang Eropa yang diutamakan adalah kesinambungan hidup, walaupun gambaran yang dilukiskan oleh Du Perron ten tang suatu komunitas Eropa yang ctirasuk oleh mentali tas NSB (Gerakan Nasional Sosialis), terlalu berat sebelah untuk dapat dipercaya. Suatu penjelasan tentang konservatisme yang semakin kuat posisinya hants dikaitkan dengan kekuatan yang semakin besar daTi gerakan nasionalisme Indonesia dan tuntutan-tuntutan yang mulai dilancarkan. Di pihak Be-

  1. Baudet dan Fasseur 1977, 336
  2. Boeke 1940, 152

"kaum inlander" masih jauh belum siap dan kehadiran orang Belanda untuk pembangumm rakyat dan negerinya masih sangat diperlukan, tetap saja dipertahankan. Pada sekitar tahun 1935 tidak banyak lagi orang Belanda yang masih menganut kcbijakan ten tang pelepasan perwalian. Bahkan sebaliknya yanbg trerjadi. Kekhawatiran bahwa kedudukan mereka akan dirongrong terus, menyebabkan bahwa ban yak orang Belanda rnenaruh kepercayaan kepada partai-partai yang in gin mempertahankan status quo. Banyak yang bcrpendapat bahwa pemerintah Hin- dia Belanda dengan "inlrmder-politiek"-nya telah melangkah terlalu jauh. Mayoritas orang Belanda tidak mau atau tidak dapat menerima konsekuensi dari hubungan-h ubungan yang bembah, dan pengungkapannya dapat dilihat pada cara pers Hindia Belanda yang menulis ten tang gerakan nasionalisme dan pengikut-pengikutnya dengan nada yang meremeh. Reaksi terhadap pemberontakan di Jawa Barat pada tahun 1926 sangat bermakna, seperti halnya juga dengan reaksi terhadap pernberontakan di kapal penjelajah "Zeven Provincien" pada awal tahun 1933. Di samping itu, kegiatan yang lebih intensif dari Polih'eke InlichHngen Dienst (Dinas Intel Politik), serta penanganan yang keras di kamp Boven Digoel di Papua

  • di mana ratusan tahanan politik ditahan tanpa proses pengadilan apapun-menunjukkan dengan jelas bahwa ketakutan terhadap nasionalisme juga dirasakan secara mendalam di kalangan pemerintah. Eksistensi yang menjadi tidak menentu, menyebabkan timbulnya gerakan perlawanan di kalangan orang Eropa Orang-orang yang sebelumnya secara tradisional tidak pemah ikut cam pur dalarn poli tik, sekarang berbondong-bondong masuk ke partai-partai seperti "Vaderlandse Oub" dan ''NSB" Hindi a Belanda. Di posisi tengah dalam dunia politik, "Indo

TAREKAT MAsoN DAN PERIUAN GAN UNTUK KESINAMBill;GAN Hint.,

Europees Verbond (Perserikatan Indo-Eropa)" tetap merupakan

faktor yang perlu diperhitungkan, walaupun bekas dari upaya membangun suatu masyarakat Hindia Timur yang terintegrasi sudah tidak kelihatan lagi. Menghadapi kekuatan-kekuatan yang memperjuangkan kesinambungan hidup, hanya terdapat kekuatan-kekuatan lemah untuk mengimbangi- nya. Salah satunya adalah kelompok yang berhlmpmt di sekitar majalah De Stmu, yang memperdengarkan suara progresif moderat, dan mendulumg suatu kebijakan emansipasi yang akan bermuara pada suatu republik persemakmuran (gemenebest) l-lindia Timur yang merdeka. 3 Namun kerja sama dengan orang Indonesia sudah menjadi tcma yang tidak populer. Juga sebagai perorangan, antara orang Indonesia dan orang Belanda hampir-hampir sudah tidak ada titik temu: color-bar rnenjadi suatu rintangan yang hampir-hompir tidak dapat diatasi. Ketika pada tahun 1940 diterbitkan majalah kebudayaan yang baru De Fnkkel (Obor), dengan karangan· karangan dari penulis-penulis Belanda dan Indonesia, kombi- nasi itu di dunia Hindia Belanda merupakan sesuatu yang luarbiasa.

TahLm-tahun tiga puluhan tidak hanya menyaksiknn suatu pengerasan secara internal, tetapi juga hubungan dengan Nederland mengalami tekanan. Dari sudut pandang Hindia Belanda, seakan-akan Belanda secara sepihak ingin menyerahkan semua akibat dari krisis itu kepada negeri jajahannya itu. Yang terutama membangkitkan kemarahan di Hindia Timur ialah kebijaksanaan mempertahankan standar emas. Kurs gulden menyebabkan harga-harga produk ekspor tinggi sehingga mempersulit persaingan dengan luar negeri. Akibatnya ialah bahwa Hindia Timur, yang menanggtmg utang

  1. Locher-Scholten 1981, 118

ncgeli yang besm~ rnenjadi terbeban dengan bunga yang tinggi. Apa yang untuk para investor Belanda merupakan suatu kcuntungan, telah rnenjadi suatu rnirnpi buruk bagi pemerintah Hindia Belanda. Keluhan kedua adalah bahwa Nederland merangsang ekspor produk-produk seperti tekstil melalui subsidi-subsidi. Demi kepentingan Nederland, impor tekstil rntu·ah dari jepang diperketat perahtrannya, yang juga rnerugikan pihak konsumen di Hindia Timur.

Agar kebijakan itu dijalankan dengan ketat, Jonkheer B.C. de Jonge yang sangat konservatif dikirim ke Hindia Timur sebagai gubemur jenderal. DeJonge rnemang berhasil unhtk mengurangi pengeluaran-pengeluaran secara drastis, dan ia juga menunjukkan keistimcwaaannya dalam menjalankan politik dalam negeri yang sangat kaku. Menurut d ia, posisi Belanda l'idak tergoyahkan1dan ia berpendirian bahwa Belanda di abad-abad yang akan datang masih tetap dapat memainkan peranan. Oleh karena Dejong bersedia menerima kunjungan kehormatan pemimpin NSB, Mussert, yang pada tahun 1935 sedang mengadakan perjalanan keliling di Hindia Timur, maka kcyakinan bahwa tidak dapat diharapkan perubahan politlk selama masa pemcrintahannya pun diperkuat.

Di kalangan pemerintah di Belanda sudah Sarna sekali tidak ada tempat lagi bagi kebijakan refonnasi. Pada tahtm 1938 kabinet Belanda malahan menolak permintaan Volksrnad (Dewan Rakyat) agarmenyelenggarakankonferensi yang akan merancang usul-usul untuk memberikan kepada Hindia Timur sedikit tingkat kemerdekaan. Permintaan iht didasarkan pada suatu petisi yang telah diterima baik oleh mayoritas anggota Volksrnnd. Biarpun begiht, mosi Soetardjo tidak di- tanggapi secara scrius oleh Den Haag. Bagi orang-orang Indonesia, juga dian tara yang paling modcrat pun, sudah jelas

TAREKAT M ASON DAN PERJUANGAN UNTUK KESrN~BLNGA~ HrouT-

bahwa tidak dapat diharapkan apa-apa dari Nederland yang seperti itu. Namun sampai pada tahun 1940 dari pihak moderat masih datang isyarat pendekatan, dengan usul agar bersama-sama mengambil tindakan terhadap agresi Jepang yang sedang mengancam. Sebagai syarat diminta agar Volksrnad: dijadikan parlemen yang lengkap. Usul ih1pun juga tidak di- tanggapi. Ketika pecah perang dengan Jepan& ternyata Hindia Be Ianda tidak mampu m engadakan perlawanan yang berarti. Hind.ia Belanda hanya mengandalkan angkatan perang kolonial yang terdiri dari beberapa puluh ribu tentara, dan tidak dapat mengharapkan bantuan dari rakyat, apalagi ban .. tuan dari gerakan nasional.

Setelah serangan terhadap Pearl Harbor pada tanggal 7 Desember 1941, Hindia BeJandalangsung terlibat dalam peperangan sebagai akibat pernyataan perang pemerintah BeJanda dalam pengasingan di London. Tidak ban yak perlawanan diberikan, dan pad a tangga18 Maret pemerintah Hindi a Belanda melakukan kapitulasi. )epang menjadi penguasa dan dapat menjalankan rencana-rencananya tanpa halangan. Mula-mula tawanan ten tara Hindia Beland a dimasukkan ke dalam kamp-kamp tawanan peran& dan seteJah itu menyusul orang Belanda golongan sipil. Di Jawa dilakukan pengecualian bagi orang lndo-Eropa, namun di luar Jawa mereka dimasukkan ke dalam kamp-kamp interniran. Dari hampir tiga ratus ribu orang Belanda pada tahtm 1940, akhimya hampir setengahnya di-intemir.

Tujuan Jepang pertama-tama adalah agar Hindia Timur yang kaya bahan mentah itu ditaklukkan dan dijadikan sebagai bagian dari "Wilayah Kemakmuran Bersama Asia Besar" yang diimpikannya. Agar Hindia Timur dapat dikerahkan ke dalamnya~ perlu dilenyapkan setiap kenangan ter- hadapmasa lampau Belanda. Dibawah pimpinan}epangyang

baik, negeri Hindia Timur mulai dapat menentukan masa depannya sendiri, dan untuk mencapai tujuan tersebut para penguasa ban1 merancang program untuk memo- bilisasi dan mengindoktrinasi massa rakyat jelata. Untuk per- tam a kalinya dalam sejarah modem diadakan seruan kcpada ratusan ribu orang, terutama kaum muda untuk berjuang bagi suatu cita-cita yang luhur. Mereka diberitahu bahwa trntuk tujuan itu mereka harus menjalankan kehidupan penuh pengorbanan. Lalu diperke.nalkan pendisiplinan yang tiada taranya. Memang jepang mempunyai tujuan-tujuannya sendiri, ini menjadi semakin nyata sewaktu berjalannya pendudukan Namun yang pcnting adalah bahwa pihak Jepang telah meletakkan dasar bagi Indonesia yang baru. Program mem- persenjatakan penduduk, yang pada tahun 1940 ditolak ole.h pihak Belanda, dijalankan secara saksama dan efisien. Dari korps-korps mil iter dan para-militer yang dibe.ntuk itu, muncul kesatuan-kesatuan tern pur yang setelah tahun 1945 mengangkat senjata me La wan pihak Belanda yang datang kembali.

Bagi kedudukan Belanda dan rakyat Hindia Timw·, pendudukan Jepang rnerupakan suatu malapetaka. Dalam hati orang-orang Indonesia ditanamkan bahwa masa kolonial sudah berakhir secara definitif, dan bahwa Jepang yang menjadi pemimpin Asia. Seluruh kehidupan publik mengalami perubahan samasekali: bahasa Belanda dilarang, nama-nama jalan diganti, tulisan di papan-papan dihilangkan, sekolah-sekolah ditutup, surat kabar dan majalah dilarang terbit. Sebaliknya, bahasa Jepang menjadi rnata pelajaran yang diwajibkan di sekolah, tarikh Jepang diberlakukan me.nggantikan tarikh Masehi, dan hari-hari besar yang ada diganti dengan hari-hari besar yang baru. Terutama hari ulang tahun Kaisar Jepang dirayakan secara besar-besaran.

Bagi rakyat, lenyapnya orang-orang Belanda merupakan

AREKAT MASON DAN PERJUANGAN U N1 UK K£StN.~\fBUNGA:-.o' H rour>

suatu hal yang mengesankan. Kalaupun sebelumnya kcdudukan mereka kclihatannya tak tergoyahkan sekarang mereka benar-benar menghilang dari pandangan. Pad a bulan September tahun 1943, kurang lebih seratus lima puluh ribu orang Beland a totok di-internir, tcrmasuk kira-kira empat puluh ribu tentara tawanan perang. Di kamp-kamp tawanan, mereka mengalami perlakuan yang san gat kejam. Oleh karena situasi pangan yang gawat, angka-angka kematian pun melonjak tinggi, dan orang-orang yang bertahan sampai akhi r perang semuanya berada dalam keadaan sekarat. Terhadap orang-orangsipil lndo-Eropa yang tinggal di luar kamp-kamp, orang-orang Jepang bertindak sama kcjamnya. Keadaan mereka sering tidak lebih baik daripada keadaan orang-orang di dalam kamp, sebab tanpa penghasilan dan perlindungan, maka mereka menderita kelaparan dan keadaan tidak am an. Tentang nasib rakyat Indonesia, kami memang kluang keterangan, namun dapat dipastil,an baJ1wa mereka pun rnengalami banyak penderitaan. Negeri itu dikerahkan tmtuk rnendukung usa ha perang, dan perlengkapan mahal serta sebagian besar bahan mentah serta beras diangkut ke Jepang. Pada waktu pcrang berakhir, keadaan pangansudah sangat gawat, dan berbagai bahan kebutuhan hidup sudah rnenghilang. Yang jelas ialah bahwa pendudukan Jepang telah mengakibatkan kematian jutaan orang Indonesia, termasuk para pc- kerja rodi yang dipekerjakan pad a proyek-proyek yang besar dan yang diperlakukan secara tidak manusiawi.

Tetapi betapa berat pun nasib rakyat, bagi jalannya proses pembebasan politik, yang penting adaJah bahwa di kalangan luas rnasyarakat Indonesia telah tercipta semangat baru: Indonesia Merdeka bukan lagi suatu angan-angan yang tak tercapai. Se1ain dalam kesatuan-kesatuan militer, di mana puluhan ribu orang belajar menggunakan senjata dan diperkenal-

yang keras, orang-orang Indonesia dalarn dunia usaha dan dalam pemerintahan mendapat kesempatan untuk memperoleh pengalaman, yang dahuhmya tidal< diberil

Di sini kita tiba pada pertanyaan tentang perspektif nasionalis terhadap pendudukan Jepang. Kebanyakan pcnulis berpendapat bahwa para pemimpin gerakan nasional telah memperhitungkan bahwa Jepang tidak akan menang. Si.kap Amerika yang secara tradisional anti-kolonial diperhati.kan dengan baik, serta juga Piagam Atlantik, serta gagasan tentang hak menentukan nasib diri sendiri dari setiap bangsa. Tentang pihak Jepang, telah diutarakan bahwa Jepang menggunakan Indonesia, dan seba liknya ... Indonesia menggtmakan Jepang. Pemerintah Jepang, sewaktu keadaan perang mulai berbalik, mula-mula menjanji.kan kemerdekaan pada tingkat tertentu untuk masa depan, dan pada al

ARF.KAT M ASON D AN PI'~UA:-.ICAN UNTUX KES1NAMBUNGAN HIDUP

pa ha1i kemudian diadakan pertemuan an tara tiga pemimpin Indonesia dengan Marsekal Terauchi di Dalat (1ndo Cina), di mana diumumkan penyerahan kekuasaan. Setelah itu peristiwa-peristiwa berjalan dengan tempo yang cepat. Setelah ketiga pemimpin Indonesia kern bali ke Jakarta pada tanggal 14Agustus, sehari sesudahnya Jepang melakukan kapitulasi, dan dua hari kemudian Republik Indonesia diproklamasikan.

Bagi rakyat, harapan pun bnngkit bagi suatu masa yang lebih baik, walauptln tidak seorang pun ciapat membayangkan bagaimana nantinya keadaan cii rnasa depan yang dekat. Yang penting adalah posisi apa yang akan diambil pihak Belanda, yang tidak tahu bahwa telah terjadi perubahan-perubahan mcndasar sclama masa pendudukan Jepang. Di benak hampir semua orang Beland a, masalahnya sederhana saja: alur pemeri11tahan yang terputus pada bulan Maret 1942 harus dilanjutkan lagi. Pertama-tama harus ada pemuill1an kekuasaan Hindia Belanda, dan kembali ke hubungan "normal", setelah ih.1 dapat diadakan pembicaraan.

Pada masa yang bergejolak setelah kapitulasi )epang, Proklamasi RepubHk Indonesia merupakan suatu peristiwa yang maknanya hanya secara lam bat laun meresap ke dalam kesadaran publik. Di bawah pimpinan Soekarno dan Hatta, didirikan sebunh negara yang menganggap dirinya sebagai pengganti secara hukum dari Hindia Belanda. Di berbagai tempat para pendukw1g Republik mengambil inisiati£ dan dengan demikian melakukan tugas yang sebenarnya dimak- suclkan untuk pasukan sekutu Inggris. Lahirnya Republik terjadi dalam keadaan islimewa:]epang yang kalal1, yang telah menarik mundur pasukan-pasukannya ke kamp-kamp tentara, kemudian membentuk kesatuan-kesatuan polisi dengan mengerahkan orang Lndonesia untuk menjaga keamanan umum. Pasukan-pasukan Inggris yang mendarat pada bulan

berbuat apa-apa. Lagipula, di antaranya terdapat suatu kontingen besar pasul

Dalam keadaan seperti itu -istilah urnumnya "kekosongan kekuasaan'' -para pendukung Republik berhasil untuk menegak.kan kekuasaan. Di ibu kota Batavia, yang diberi nama Jakarta, instalasi-instalasi vital diambil alih, termasuk stasiun radio yang menjadi suatu faktor rnahapenting di dalam penyebaran revolusi. Kckuatan Republik diungkapkan pada tanggal19 September, ketika suatu massa yang luar biasa besarnya berkumpul di "Medan Merdeka", yang sebelumnya disebut Koningsplein. Walaupun ada larangan dari pihak]epang, rapat raksasa itu terus dilangstmgkan, dan semangat massa semakin berkobar ketika Soekarno mulai berbicara. Walaupun di bawah ancaman pameran kekuatan Jepang, Presiden Soekarno berhasil rnembubarkan pertemuan secara damai. Oleh karena sukses penampilannya, prestise Republik meningkat dan revolusi mulai rnenjalar juga ke daerah-daerah d:i luar Jawa. Namun pada miggu-minggu pertama, Jakarta

VNTUK KESINAMBL~GAN HroUP

merupakan pusat perhatian. Pada akhir bulan September seorang Indonesia diangkat sebagai kepala pemerintal1an kotapraja dan, walaupun bertentangan dengan perjanjian yang telah dibuat, tetap ia diakui oleh pihak Jepang.

Langkah-langkah pertama dari pihak Belanda untuk menyusun suatu pemcrintahan semcntara, telah dipersiapkan di kamp-kamp: Mr. H.J. Spit, wakil ketua Rand van Tndie scbelum perang, diserahkan pimpinan, namun ia dibatasi dalam tindakannya oleh ins truksi-instruksi Sekutu. Orang-orang Belanda tidak boleh meninggalkan kamp-kamp dan harus mengakui tanggungjawab formal jepang. Kedatangan Letnan Gubernur Jenderal Van Mook pada tanggal 1 Oktober, mengubah ban yak hal dan pembangunan kembali rnulai dapat dilaksanakan oleh pemerintahan setempat. Oalam fase pertama itu, Van Mook masil1 mengira bahwa ia tidak perlu menghadapi Republik secara serius. Menurut perkataannya yang sering dikutip, sepuluh kapa1 bermuatan pangan dan tckstil sudal1 cukup untuk membuat revolusi terembus hilang djbawa angin.

Siruasinya menjadi rumit ketika di kota yang samar selain pemerintahan Sukamo dan Hatta, pemerintahan Belanda juga berkedudukan di situ. Namun olell karenakehadiran koman- do militer lnggris, mang gcrak kedua pemerintahan itu sangat terbatas. Pihak Inggris berada dalam posisi yang sulit untuk melaksanakan tugas yang diberikan Sekutu kepada mereka. Walaupun pada prinsipnya berpibak dengan Belanda, mereka beranggapan bahwa pihak Belanda kurang memiliki kehalusan untuk dapat menyelesaikan masalah yang timbul itu dengan baik. Khawatir untuk clilibatkan dalam suatu perang kolonial yang dapat berlangsung Iama1pihak Inggris bersedia untuk memberi tempat kepada para pemimpin Republik. Hanya para pemimpin ini yang rupa-

mampu mengatur kaum pemuda militan, yang sudah

mulai merampok dan menyerang orang Belanda di dalam dan di luar kamp-kamp. Inilah salah satu alasan mengapa Inggris ndak terang-terangan berpihak kcpada Belanda. Bagi pihak Belanda, yang selalu menyandung-nyandungkan sekutu mereka itu, hal itu merupakan pengalaman yang pahit.

Van Mook segera menyadari bahwa dalam keadaan seperti itu, pembicaraan dengan wakil-wakil Rcpublik tidak terhin-Jarkan dan dalam tiga minggu setelah kcdatang.:~nnya ia sudah mengadakan kontak-kontak pertama dcngan Soekarno. \'an Mook dalam hal itu bertindak seluruhnya alas prakarsa ~ndiri, sebab di kubu Belanda tindakan itu tidak disetujui >lch semua pihak. Namun ia merasa bahwa ia didukung oleh pemyataan Ratu Wilhelmina pada tanggal7 Desember 1942, di mana Ratu menyatakan bahwa setelah perang, status politik akan diubal1. Van Mook kemudian menyampaikan usul agar Republik dimasukkan ke dalam Kerajaan Belanda dalam hubungan federal. Bagi para pemimpin Indonesia, hal itu ternyata bukan suatu konstruksi yang dapat diterima. Mcreka menghendaki agar Republik diakui sebagai negara yang merdeka.

Untuk dapat mengikuti proses dekolonisasi adalah pen-ling untuk menangkap visi apa yang selaJu menjadi titik tolak Van Mook. Siapa saja yang telah mengikuti perkembangan dari pendapat-pendapat politiknya dalam periode sebelum masa pendudukan]epang, akan terkesan dengan kesinambungan gagasan-gagasannya itu. Dr. P.J. Koets, tangan kanan Van Mook, di kemudian hari masih menjelaskannya sebagai berikut:-t

-t Van Esterik dan Van Twist 1980, 33

TAREKAT MAsoN DAN PERJUANGAN UNTUK K ESJ~AMUUNCAN li!Dt.1'

"Hal yang tragis pada diri Van Mook adalah bahwa tanah aimya adalah Hinclia Timur. Juga, bahwa ia ingin membangunnya menjacli suatu persemakmuran (gemenebest) modem, di mana semua orang yang mempunyai akar-akarnya di Indonesia, pertama-tama orang Indonesia, tetapi juga orang Tionghoa, orang Arab, orang Indo-Eropa, orang Belanda pun yang ingin tinggal di situ dan menjadikannya tanah air mereka, semuanya akan merasa nyaman, di rumah send.iri, di situ."

Periode empat tahun yang dicatat dalam buku-buku sejarah sebagai proses dekolonisasi Indonesia yangsulit, menunjukkan bahwa Belanda secara berangsur menyadari bahwa orang-orang Indonesia tidak mau menerima sesuatu yang kurang daripada kemerdekaan. Selama pihak Inggris melarang Belanda untuk mendaratkan pasukan-pasukannya, Belanda tidak mempunyai kekuatan untuk memaksakan kehendaknya. Baru setelah berangkatnya tentara Inggris, yang dimulai pada bulan Februati 1946, timbul kemungkinan tmtuk mendaratkan pasukan-pasukan Belanda. Pada bulan Maret tercapai persetujuan semen tara, di mana pihak Belanda mengakui kekuasaan de facto Republik atas Jawa dan Sumatra. Bagi Van Mook posisi itu dapat diterima, tetapi tidak begitu bagi pemerintah di Belanda. Pada akhir tahun 1946 kelihatannya seolah telah tercapai suatu terobosan: pad a persetujuan Linggajati disepakati bahwa Republik akan menjadi negara bagian dalam Republik Indonesia Serikat, yang tergabung dengan Nederland dalam suatu Uni. Sebagai tanggal pemberlakuan- nya disebut 1 Januari 1949.

Namw1 persetujuan yang dicapai di meja perundingan dibatalkan di Nederland oleh Tweede Kamer (parlemen), yang begitu banyak mengamandemen konsep perjanjiannya sehingga tidak lagi dapat diterima oleh pihak Republik. Dengan

kekerasan silih berganti. Kedua "aksi polisionil" mendapat pro- res intemasional, disusul dengan cam pur tangan Perserikatan Bangsa-bangsa dan tekanan Amerika Serilsecurihj risk. Oleh karena telah terbentuk pemerintahan Komunis di Tiongkok, perlu dicegah penyebaran komunis- me ke Indonesia yang akan menjadikannya scmakin radikal.

Pada musim panas tahun 1949 kedua pihak akhirnya dapat bertemu di Den Haag dalam suatu konferensi Meja Bunda1·. Tercapailah persetujuan, dan pada tanggal27 Desember 1949 dilakukan penyerahan kedaulatan, dan Republik menjadi bagian dari Uni Nederland-Indonesia. Masih tinggal satu halangan di mana belum tercapai kescpakatan, yaitu tentang posisi Guinea Baru (Papua). Selama tahun lima puluhan wilayah ih1 merupakan rintangan pertama yang mencegah terjadinya hubungan normal. Oleh karena Nederland tetap menolak unruk menyerahkan Irian Barat, maka pada tahtm 1957-58 diadakan nasionalisasi besar-besaran dari perusahaan-perusahaan Belanda, dan puluhan ribu orang Belanda terakhir ptm dikeluarkan daTi indonesia.

Adegan terakhir dirnainkan pada tahun 1961-'62. Indonesia mempersiapkan suatu armada invasi dan mengancam akan melakukan aksi bersenjata. Sekali lagi Amerika cam pur tangan, dan sekali lagi Belanda harus tunduk. Pada tanggal 15 Agustus 1962 persetujuannya ditandatangani Setelah suatu masa interim dari Perserikatan Bangsa-bangsa, pada tanggal 1 Mei 1963, kekuasaan diserahkan. Dengan demikian satu-satunya sisa wilayah tropis Bclanda menjadi bagian dari Indonesia.

MAsoN DAN P ER)UANGAN UNTUKKEsJNAM8liNCAN HlDUP

  1. Tarekat Mason Be bas (Vrijmetselarij) di Hindia Belanda semasa peruncingan hubungan-hubungan pada tahun ti gapuluhan Da lam Bab ill dikatakan bahwa periodc setelah pergantian abad rnerupakan rnasa perkembangan Tarckat Mason Bebas di Hindia. Perkembangan itu jatuh bersamaan dengan zaman kolonialisme modem yang pada waktu itu mengalami ekspan- sinya yang terbesar. Juga telah disebut tentcmg bertarnbahnya tugas-tugas pernerintah dan perluasan besar yang dialami dunia usaha Barat. Negara kolonial yang rncndapat bentuknya pada akh.ir tahun-tal1un dua puluhan, rnemperoleh rnonumennya dalam karya tlilis tiga jilid dari De Kat Angelino Stnatkundig beleid en bestuurszorg in Nerlerlanrlsch-lndie (Ke- bjjakan ketatanegaraan dan pengurusan pemerintah di Hindia Belanda). Penulisnya, yang tidal< lama kemudian diangkat menjadi direktur [menteri, St.] Departcmen Pendidikan, dengan penuh antusiasme menyatakan bahwa bagi orang-orang Beland a masih terbuka lapangan kerja yang luas. Karya yang diterbitkan dengan biaya mahal itu dapat juga disebut sebagai suatu monumen dari suatlt ilusi yang rapuh, suatl1 khayalan yang tenggelam pada tahun 1942. Suatu pembenar- an bahwa impian kolonial itu hidup terns, ditemukan dalam perkataan Gubernur Jenderal DeJonge pad a tahun1936 yang sering dikutip: "Saya merasa bahwa setclah kita bekerja selama tiga ratus tahun di Hindia Timur, masih perlu ditambah tiga ratus tahun Jagi sebelum Hindia Timur mungkin siap untuk suatu bentuk kemerdekaan".
    5 Kelekatan pad a tugas yang diberikan pad a diri sendiri masih nyata juga pad a masa sctelah Perang Dunia Kcdua, kehka buku-buku seperti Daar werd wnt groats ven·icht (Telah dibuat sesuatu yang besar di

  2. De )ong XI a (bagian pertama) 1984, 349

Hecht verbonden in lief en leed (Terikat erat dalam suka dan duka), mendapat perhatian publik yang besar.

Narnun gagasan pembangunan dalam praktiknya sudah sejak sekitar tahun 1930 mengalami gangguan. Betapa baik pun maksud rencana-rencana yang dibuat demi perbaikan nasib rakyat Indonesia, temyata rencana-rencana itu tidak memadai unhlk menyelesaikan masalal1-masalah yang ada, sedangkan penolakan semakin meningkat terhadap patema-Hsme yang meliputi pelaksanaan rencana-rencana tersebut. Dian tara kaum cendekiawan muda, yang walaupun berpendidikan bail< hampir-hampir tidal< mendapat kesempatan :nengembangkan bakatnya, beredar pertanyaan tentang le- gitimasi sis tern kolonial, dan suatu pengerasan pendirian pun rerjadi. Pada tahun dua puluhan, selain partai Komtmis (PKl) dan partai Nasionalis (PNI) dari Soekamo, mtmcul sederetan organisasi politik yang lain, yang tidak lagi melihat keunhmg- m untuk bekerja sama dengan pihak Belanda dan yang mu- :aimenjalankan konfrontasi. Pemimpin-pemimpin mereka bukan lagi berasal dari kaum ningrat, melainkan merupakan pemimpin-pemimpin type yang baru, yang menyerang tatanan negara kolonial dengan pendirian dan tindakan yang radikal. Dalarn perjalanan waktu, juga dalam lingkungan yang selama itu selalu percaya pada asas kerja sama, kepemimpinan Belanda semakin kurang diterima sebagai sesuatu yang dengan sendirinya benar.

Juga di segmen Eropa dari rnasyarakat muncul oposisi. Mereka menentang kebijakan pernerintah yang disebutnya ryper-etisch, yang menyebabkan jumlah orang Indonesia dalam jabatan-jabatan pemerintah meningkat dengan tajam. Dari suatu penelitian pada tahun 1941 mernang temyata bahwa peningkatan itu menyangkut jabatan-jabatan rendah dan

AREI

menengah, 6 tetapi di komunitas Eropa ada kekhawatiran bahwa jabatan-jabatan tinggipun akan diambil alih. Di samping itu semakm banyak orang Indonesia duduk dalam dewan-dewan pemerintahan umum, seperti di dewan-dewan kotJ dan provinsi. Perlawanan benar-benar timbul terhadap rencana memperluas peran serta orang Indonesia dalam susunan Volksrnad, sedangkan perasaan bahwa scgmen penduduk Eropa akan tergencet mendapat ekspresi dalam pembentukan Vnderlaudse Cl11b.

Masalah-masalah bcrkenaan dengan perubahan cepat dalam masyarakat Hindia Timur tidaklah berlalu tanpa bekas eli kalangan kaum Mason Bebas. Dalam l.M.T. dari tahun 1931 dirnuat sebuah sumbangsih dari J.F.A.M. Koning, yang bcrjudul Onze grotzdslagen en de Nederlandsch-Indische Maatschappij (Asas-asas kita dan Masyarakat Hindia Belanda), yang berasal dari suatu ceramah pengantar yang telah diberikannya atas permintaan Wakil Suhu Agung pada Musyawarah Provinsial yang diadakan setiap tahun? Dilihat dari latar belakang tersebut~ dapat ditarik kesimpulan bahwa maksud dan pendapat-pendapat Koning diterima baik oleh sebagian besar kaum Mason Bebas. Titik tolak bagi Koning adalal1 pertanyaan bagaimana asas-asas Tarekat Mason Be bas dapat disebarkan dan diterapkan dalam masyarakat Hindia Timur. la menyatakan bal1wa dta-dta tentang kemerdekaan, persarnaan, dan Tarekat umum belun1 dipraktikkan di mana pun juga dania bertanya apakah asas-asas itu mempunyai peluang untuk berhasil dalam masyarakat seperti yang ada pada waktu itu di Hindia Timur. Koning tiba pada kesimpulan berikut:

"Sampai lima be las atau dua puluh tahun yang lalu, kelompok Barat dan Indo-Eropa memegang pimpinan dalam

  1. Laporan Komisi Visman 1941, 1,56
  2. IMT th. 36, 509-517

"hak menentukan nasib sendiri". Upaya ini, yang menuru t pend a pat saya san gat masuk akal, telah rnenimbulkan kegelisahan di semua segmen penduduk, dan rneng- al

Penulis beranggapan bahwa kaum Mason Bebas mempunyai tugas untuk mernperbaiki hubungan-hubungan dengan masyarakat Hinctia Timur melalui perluasan toleransi dan rasa r rmat. Namun, dengan cara kerja Tarekat Mason Be bas yang ~karang, katanya, tidak rnungkin akan ada pengant.h yang ~rorganisasi. Hampir semua orang berpendapat bahwa den- ::-an cara kerja yang sekarang hanya sedikit yang dapat terca- ?ai. Sebagian dari para anggota Tarekat sudah pasrah ter- nadap situasi ini, sedangkan sebagian lainnya sedang men- ..:ari cara-cara unhtk memperbesar dampak baik yang dihasi 1- kan pekerjaan masonik. Koning menghisabkan dirinya pada li.clompok terakhir dan kemudian melancarkan sejumlah ~gasan. Salah satu di antaranya adalah unhtk mengusahakan agar Tarekat itu lebih dikenal orang ban yak. Dalarn pencrang- .ln kepada orang Eropa, terutama tema toleransi yang harus dJtonjolkan. Selanjutnya ia menyarankan agar pcnerangan

MAsoN DAN P ERJUANGAN UNTUK KtstNAMDUNGAN Hrour

kepada orang-orang Indonesia yang berminat dilakukan oleh anggota-anggota Indonesia dari Tarekat, dengan alasan bahwa suatu ceramah oleh seorang Eropa tidak ban yak bermanfaat oleh karena "sikap curiga an tara Timur dan Barat yang maki:n bertambah". Juga perl u diadakan seleksi dari pengunjtmg-pengt.mjung dalam pertemuan-pertemuan penerangan. Hanya orang-orang "dengan gagasan evolusioner mengcnai perh1mbuhan Masyarakat dan yang memegang posisi eli Masyarakat yang cukup berarti, yang dipercayai oleh lingkungannya", itulah yang patut dit.mdang.

Suatu pokok menarik lainnya yang dibahas Koning dalam artikelnya adalah pekerjaan sosial para anggota. Dahulu, demikia.n katanya, tugas Tarekat terutama terlctak eli bidang bantuan materiil dan rohani. Namt.m oleh karena sekarang sebagian besar dari peketjaan tersebut sudal1 diarnbil a.lil1 o1eh pernerintah, lahan kerja ini telah sangat rnenciut. Dalam keadaan sepcrti itu, dapat dipertimbangkan usaha-usaha untuk merangsang perkernbangan rohani, dan juga dapat diberi lebih banyak waktu untuk membicarakan masalah-masalah ketatanegaraan. Oalam hal iht ia sekali menunjuk kepada situasi aktual, di mana:

"alur garis yang dilalui masyarakat yang sedang berkembang, yang juga di!alui masyarakat Hindia Belanda yang tnakin berkembang itu, hanya dan melulu digariskan oleh lernbaga:lembaga kenegaraan. Di negeri ini oleh Volksrnad, Dewan-dewan Provinsial, Kabupaten, Kotapraja, Dewan-dewan Kebudayaan dan dewan-dewan setempat, dll. Volksraad sebentar lagi akan mendapat mayoritas orang pribumi, dewan-dewan kabupaten sudah di dominasi unsur pribumi; di dewan-dewan provinsi dan kotapraja lerus rnenerus dirasakan desakan kuat menuju perluasan keanggotaan non-Barat. Jadi jalannya perkembangan masyarakat kita akan semakin dipengaruhi oleh warga-warga Timur- nya."

]Utkan, maka di dalam loge-loge juga akan ada lebih ban yak perhatian terhadap urusan-urusan kenegaraan dan "di pihak lain akan jauh lebih ban yak orangpribumi, termasuk saudara saudara pribumi, yang duduk di badan-badan otonom". Menyimpulkan sumbangsih Koning, dapat dikatakan bahwa ia menganggap banglGtnya gerakan nasional sebagai suatu tantangan. Justru bagi kaum Mason Bebas ada tugas untuk tidak memperbesar pertentangan-pcrtcntangan yang ada. Sewak~ tt1 gerakan nasional Indonesia mulai sa dar akan hak-haknya# di kalangan komunitas Eropa terbit dorongan untuk melindungi kepentingan-kepentingan mereka melalui pembentukan partai dan konsentrasi kekuasaan. Namtm kaum Mason Bebas justru hcuus berusaha menjembatani pertcntangan-pertentangan antar-kelompok yang semakin menmcing itu.

Di Jatar belakang pembelaan Koning terbentang kenyataan yang menyeramkan bahwa masyarakat kolonial sedang dalam proses perpecahan, menjadi partai-partai yang saling mcnen- rang. Pergaulan antara kulit putih dan kulit cokelat tinggal impian saja, dan sewal

Kalau Vaderlandse Club menjadi ke1ompok pcnekan terpent- .ng dari orang-orang Belanda totok, maka pad a sekitar tahun 1934 muncul "Nnlionanl-Socinlislische Ber.oeging (NSB)'' Hinclia Belanda. Yang menaril< ialah bal1wa partai itu mendapat ban- :~ak pendukung di kalangan Indo-Eropa, dan pada tahun 1935 rumlah mereka mencapai 3.500 anggotadari keseluruhan anggota 5.000 orang. Keanggotaan mereka agak sulit diJaraskan dengan ideologi bangsa Aria yang dianut gerakan nasional ~sjalis, namun menunjukkan betapa sulit hubungan-hubungan sosial pada zaman itu. Ditambah dengan kurang lebih

AREKAr MAsoN D AN PERJUANCAN U/I.TVK KestNAMBUNCAN Hrnu:r

9.000 anggota dari Vnderlandse Club pada rink puncak-nya, perkernbangan ini merupakan jumlah yang menggelisahkan ban yak orang Mason Bebas. Menurutoposisi yang konservati( pada tahun 1933 sudah jelas ke mana inlnndersbeleid dan "sikap lemah pemerintahn akan bermuara, ketika di kapal angkatan laut "De Zeven Provincien" pecah pemberontakan yang terutama melibatkan awak kapal orang Indonesia. Sarna spektakulernya adalah demonstrasi umum besar yang diadakan oleh pcgawai-pegawai negeri di Batavia pada wakhl itu. Slogan-slogan yang
11 dibawa, scpcrti Pemerintah membuat pegawai mau beron- tak", menunjukkan bahwa rasa ketidakpuasan sudah menjalar ke mana-mana. Walaupun kedua letupan kegelisahan rnasyarakat dipicu oleh serangkaian pernotongan terhadap upal1 dan gaji, namun benhtk yang diambil oleh ketidakpuas- anitu, dengan jelas mencerminkan kecenderungan polarisasi yang sedang berlangsung dalam masyarakat. Dalam hubungan ini sepertinya sesuatu yang hampir merupakan perlam- bang bahwa majalah yangsering melemparkan kritik, De Stuw sudah harus gulung tikar setelah beberapa ta htm. 8 Didirikan pada tahun 1930 sebagai organ ''Perkwnpulan untuk memajukan pembangunan masyarakat dan ketatanegaraan Hindia Belanda", majalah itu mengambil tcmpat tersendiri dalam spektrum politik. Redaksinya terdiri dari tokoh-tokoh terkemuka di dunia pemerintahan dan ilmu pengetal1uan, yang walaupunmenghadapi tekanan, tetap berpcgang pada prinsip-prinsipnya. Namun pada tal1un 1934 terpaksa dipuhts- kan untuk menutup majalah itu. Katanya, pengaruh De Stt1w hanya terbatas saja, namun sebagai suatu kekuatan yang melawan arus, pengaruhnya tidak dapat dianggap remeh. Stuw-

  1. Locher-Scholten 1981, 144

pembentukan suatu persemakmuran (gemenebest) Hindia Timur yang tetap terikat dengan Belanda; suatu cita-cita yang sudah tidal< menarik lagi bagi orang-orang Indonesia yang beror- ganisasi secara politik. Dengan penutupan majalah itu, lenyap suara terakhir di publik yang mendesak terjadinya kerja sama. Bahwa orang-orang Be1anda dan orang-orang Indonesia sekitar tahun 1930 sudah jauh terpisah satu sama lain, merupakan juga pendapat dari Mason Bebas A. de Geus yang merasa bahwa orang-orang BelandCI di Batavia pada waktu itu "sudah tidak lagi hidup dengan, bahkan tidak lagi hidup di samping, orang-orang Pribumi". 9

Juga De Visser Smits mengtmgkapkan rasa jengkelnya ter- hadapiklim sosial di Hinctia, ketika pada tahun 1930 ia menulis suatu tinjauan dalam I.M.T. dengan judul Het land onzer inwoning (Negeri tern pat tinggal kita). 10 I a me rasa murung karena adanya kasus-kasus mengcnai "kebendan dan prasangka ras" di lingkW1gannya, dania menulis sebagai berikut:

"Seorang pemuda orang Belanda yang kekar, berusia 22 tahun da11 baru saja "diimpor" dari Belanda, dengan gembira datang menceritakan kepadaku pengalamannya yang perta:ma. Seorang inlander dengan sepah~ mengkilap berani berjalan di jal.u1 suatu onderneming dan bermaksud melewati administt:atur dan dua pegawai muda, tern1 asuk nara- sumberku. Mercka pun bertindtlk. [n/mufer iht dihajar, sepatu-sepatu cticopot dengan keras dari kakinya dan dilem- par ke aral1 saudara kulit cokelat itu yang lari terbirit-birit. Ternan mudak'U membantu di dalam penghajaran itu seraya disaksikan oleh kepalanye1 yang menyetujLti tindakan ini. Ia merasa pekerjaan memperadabkan itu sangat indal1. Kami

9_ IMT th. 36, 93

  1. Idem th.35, 1-6

TAREKAT MASoN DAN Pr;NJUANGAN UNTUKKESINAMBUNGAN H.lour

menyampaikan pendapat kami, namun adat ondemerning sudah berakar. Masalahnya adalah soal 'sepatu', saudara berwarna kulit cokelat itu seharusnya melewati petinggin- ya dengan kaki telanjang",

  1. Tarekat, loge-loge dan anggota-anggota menurut jumlah Perkembangan yang pesat dari Tare kat pad a pergantian abad dapat juga dilihat dari pertumbuhannya dalam angka. Berdasarkan angka-angka yang ada, dapat dipastikan bahwa pertumbuhan jumlah anggota pada umumnya berlanjut terus sampai paruh pertama tahw1-tahun dua puluhan. Namun kalau kita tinjau angka-angka dari tahun-tahun belakangan, maka menjadi jelas bahwa penurunan sudah mulai terjacli pada awal tahun-tahun tiga puluhan. Penurunan jumlah anggota berlangsung antara tahun 1930 dan 1940 secara berangsur-angsur, tetapi waktu kegiatan dilanjutkan lagi setelah pendudukan Jcpang, temyata Tarekat telah diperlemah oleh peperangan. Di kota-kota besar kegiatan-ldi tempat-tempat itupun peke1jaan semakin sulit dilakukan. Mula-mula pendirian loge-loge dan Musyawarah Indonesia sedikit mengimbangi penurw1an keanggotaan, namtm oleh karena tindakan pihak penguasa, perkembangan tersebut tidak dapat cli1anjutkan. Mengingat pentingnya loge-loge dan Musyawarah Indonesia, pokok itu akan dibahas secara tersendiri. Setelah em pat loge baru didirikan pada awal tahun-tahun tiga puluhan, loge-loge di Hindia Timur selurulmya berjumlah 25 buah. lnilah jtmuah terbesar yang pemah tercapai. Setelah perang, di Jakarta masih ctidirikan lagi loge "De Witte Roos (Mawar Putih)" r yang berdiri sampai tahtm 1959.
    Pertarna-tama kita memperhatikan pendirian loge "De

"Palembang", "De Hoeksteen (Batu Penjuru)" di Sukabumi dan loge "Serajoedal (Lembah Serayu)'' di Purwokerto, Jawa Tengah. Dan akhirnya akan dibicarakan loge "De Witte Roos" dari tahtm 1948.

Pada tanggall9 September 1931 dilakukan peresmian loge "De Broedertrouw", sebagai anak dari loge "Sint Jan", yang pada saat itu merupakan loge terbesar di Hindia dengan lebih dari 200 anggota. Upacaranya dilangsnngkan di Rurnah Pemujaan "St. Jan" dan di hadapan WakiJ Suhu Agtmg serta anggota-anggota lain dari Pengurus Besar Provinsial. Berdirinya loge itu rupanya tidak hanya disebabkan adanya kebutuhan beberapa orang Mason Bebas untuk berkumpul dalam lingkungan yang 1ebih kecil. Dari laporan tentang pendirian loge ih1 nyata bahwa para pengambil prakarsa menghendaki suatu pendekatan lain dari Tarekat Mason Bebas. Namun tidak ielas apa pendekatan barn itu sebenarnya. 11 Loge itu bertumbuh dengan baik tetapi tidak bertahan hid up oleh karena pecahnya perang. Setahun kemudian, pada tanggal 2 Agustus 1932 diresmikan di Palembang loge dengan nama yang sarna dengan kota itu. Didahului oleh perkumpulan "Palembang" yang berdiri pada tahun 1930, peresmian loge inipun dihadiri oleh Wakil Suhu Agung dan anggota-anggota Badan Pengurus Besar Provinsial. 12 Dalarn pidato pembukaannya, ketua menegaskan tujuan-tujuan etika Tarekat. Usaha yang dilakukan, dalam periode seperti itu, bukan pertama-tama untuk meningkatkan jumlah anggota. Juga loge "Palembang" mempunyai hubungan yang khusus dengan loge lain. Sebab, ternyata loge Batavia ''De Ster in het Oosten" ban yak sumbangsihnya dalam pembentukan loge "Palembang". Loge ini juga

  1. Idem th. 37. 3-6
  2. Idem th. 37, -164

MAsoN DAN PERIUANGAN UNTUK K~;;sJNAMBUNGAN HlnUP

mengalami perhtmbuhan yang baik, sehingga pada tahun 1940 saja jumlah anggotanya sudah bertambah dua kali lipat.

Loge ketiga yang lahir pada tahun-tahun ini adalah "De Hoeksteen" di Sukabumi di dacrah Priangan. Pacta tahun 1907 sudah ada perkurnpulan masonik yang dinamakan "Fiut Lux". Sejurnlah Mason Bebas dari sekitar Sukaburni berkumpul secara teratur, namun oleh karena keberangkatan seorang pro-motor yang aktif, pertemuan-pertemuan itu terhenti. Tetapi perkurnpulan itu tetap ada dan pada tahun 1926 rnemper- olch pengakuan. Pada tahun 1932 para Mason Bebas di Sukaburni melangkah lebih jauh dan menyampaikan permohonan untuk menjadi loge" dengan lingkungan kerja yang terbatas". Sctelah persetujuan diterima, peresmian loge "De Hoeksteen" diadakan pada tanggal4 Maret 1933. Dihadiri sekitar seratus Mason Bebas dari loge-loge lain dan di bawah pimpinan penjabat Wakil Suhu Agung peresmian itu dilangsungkan. Ketua yang baru saja dilantikitu dalam pidato pembukaannya memberitahukan bahwa ''De Hoeksteen'' telah dimulai dalam keadaan yang sulit, dan khususnya ia sebut "situasi yang kurang mengw1tungkan di Eropa". 13

"Pad amasa ini yang penuh kepriha tina n dan kesengsaraan, di mana kami dengan cemas merasakan kelahiran suatu tatanan dunia yang baru, kita manusia memerlukan suatu tempat yang tenang dan tenteram, suatu tempat untuk me- renung. Hanya melalui pertobatan yang m~ndalam, dapat kita menggali kekuatan dalam pergumulan unluk hidup dan untuk dapat memuUhkan kembali kepercayaan kita kepada sesarna manusia".

Keadaan yang suram tidak mengizinkan untuk menyajikan "makanan anggota" yang terkenal kepada para tarnu. Sebab itu hanya dihidangkan makanan kecil. Loge itu berha-

  1. Idem th. 38, 490-493

1940 jumlah anggota tctap berada pada tingkat yang sama.

Sebagai loge keempat pada tangga14Juni 1933 telah diresmikan loge "Serajoedal'' di mana sekali lagi suatu utusan besar dari Badan Pengurus Besar hadir. 14 Juga eli sini perkumpulan-perkumpulan Mason Bebas tclah bckerja sebelum adanya suatu loge Perkumpulan terakhir berasal dati tahun 1926 dan bertahan terns sampai "Serajoedal" didirikan. Loge itu selama persiapan telah mendapat banyak bantuan dari loge "Mataram" di Yogya Nama loge baru itu olch kctua dalam pidato pcmbukaannya dihubungkan dengan kata bahasa Jawa kuno "serayu", yang berarti "mengupayakan keindahan''. Ia juga membandingkan nama itu dengan sungai yang mempunyai nama yang sama di daerah itu, yang bagaikan aliran yang membangkitkan hid up dapat menyiarkan terang dari loge itu. Untuk perkembangan selanjutnya, bukanlah tanpa arti bahwa salah seorang pendiri loge itu adalah RAA. Sumitro Kolopaking Purbonegoro, yang harnpir seperempat abad kemudi- iln menjadi Suhu Agung pcrtama dari Loge Agung Indonesia.

Loge Belanda terakhir yang didirikan di Jawa adalah ''De Witte Roos", yang didirikan di Jakarta dan diresmikan pada tanggal20 November 1948 oleh Wakil Suhu Agung dan dihadiri oleh ban yak sekali orang. Pembentukan loge ini merupakan peristiwa istimewa dan membawa secercahharapan. Jurnlah anggota sampai saat terakhir tetap konstan. Loge itu masih mempunyai lima puluh anggota ketika kegiatan harus dihentikan pada tanggal14 Januari 1958 sebagai akibat tindakan-tindakan anti-Belanda. 15

1-t Idem th. 38, 686

  1. Lowcnsteijn 1961, 134

AREI

Dalam usaha menjawab pertanyaan bagaimana perkembangan Tarekat ditinjau dari segi keanggotaannya, kita menghadapi rnasalah bahwa kalau untuk masa sebelum 1940 itu angka-angka lengkap, maka tidak begitu halnya setelah tahun

  1. 16 Setelah peran& baru pada tahun 1947 ada data lagi, namun sesudah itu timbullagi kekosongan-kekosongan catatan. Jumlah-ju.mlah total diperoleh dengan menjumlahkan anggota-anggota yang terdaftar pada loge-loge. Untuk tal1un-tahun sctelah tahun 1945 angka-angka dicatat setiap tiga tahtm, dan kalau tidak ada angka untuk tahun tertenh.1, maka telah diarnbil sebagai dasar data dari setahun sebelumnya a tau setahun kemudian. Perkembangan j umlah anggota Tarekat eli Hinclia Belanda sejak tahun 1930
1930 1402 1938 1276
1931 1360 1939 1261
1932 1379 1940 1223
1933 1360 1947 403
1934 1369 1950 641
1935 1348 1953 474
1936 l321 1956 346
1937 1305 1959 206

Gambaran tmmm adalah bahwa penurunan jumlah anggota terjadi sejak 1930 dcngan san gat berangsur-angsur. Setelah pendudukan Jepang, mula-mula te1jadi sedikit penambahan yang kemudian disusul oleh suatu kemerosotan yang tajam. Sayang sekali, oleh karena tidak ada keterangan de- mografis yang pasti, tidak dapat ditentukan apakah kemunduran itu be1jalan paralel dengan berkurangnya penduduk pria orang Belanda pada umumnya.

  1. Bandingkan angka-angka di Lampiran lll-25

akhir eksistensinya tetap hid up, terutama di kota-kota besar. Hal itu menjadi jelas kalau angka-angka itu disusun menurut kota, dan jumlah anggota dari ke tiga loge Jakarta digabungkan. Di ibu kota pada waktu itu terdapat kira-kira setengah jumlah seluruh anggota.

Perkembangan jumlah anggota Tarekat sejak tahun 1947, menurut kota tempat tinggal

1947 1950 1953 1956 1959
Jakarta 201 280 219 167 79
Ban dung 75 121 91 58 40
Surabaya 63 90 54 36 39
Me dan 13 50 51 34 14
Serna rang 12 36 22 17 16
Makassar 31 42 11 9
Palembang 8 13 20 11
Bogar 8 14 13 5 3

4 -

Kern bali ke tahun-tahun tiga puluhan, seruan minta tolong berikut ini, yang dikutip dari I.M.T. edisi 1933-' 34, 17 menunjukkan betapa lini, menyebabkan rnereka sangat membutuhkan pertolongan ... "

  1. Tare kat Mason Be bas (Vrijmetselarij) dan masalah pengangguran Literatur jenis novel dengan cara yang khusus rnemperlihatkan bahwa krisis ekonomi yang terjadi pad a tahun-tahun tiga puluhan telah sangat mempengaruhi kehidupan pribadi
  2. IMT th. 39, 575

PERJUANGAN UJ\'TUK KEsiNAMB UNGA:-: Hrom•

orang-orang Belanda yang tinggal di Hindia. Buku Menschen in malaise (Manusia-manusia dalam Depresi) dari P. Korthuys menggambarkan situasi akibat pen unman penghasilan suatu keluarga Be Ianda yang akhirnya terpaksa pulang kern bali ke negeli Beland a. Dalam Indische getz], Hollrmdsche bnkens (Pasang smut Hindia, Rambu-rambu Bclanda), Voortland dan De Keizer me.nceritakan bagaimana seol'ang karyawan yang diberhentikan dari pekerjaan di perusahaan gula, menge1jakan segala sesuatu agar dapat bertahan hid up, scdangkan penulis Hindia terkenal, Beb Vuyk, dalam buku D11izenci eilnnden (Seribu pulau) mengisahkan bagaimana hid up tokoh utama dalam bukunya itu terancam oleh situasi ekonomi yang merosot.

Da1·i edisi-edisi I.M.T. ternyata bahwa perhatian bagi akibat-a.kibat pengangguran di kalangan orang Eropa sudah ada sejak sebelum tahun tiga puluhan. Sudah pada tahun 1904 majalah itumengutarakan bahwa banyak orang mcnjadi penganggur oleh karcna pihak pemerintah, sektor niaga, dan industri mulai menuntut pendidikan yang lebih t:inggi dan keteram- pilan yang lebih besar darikaryawan-karyawannya. 18 Di mana-mana di Hindia Timur tercipta proletariat orang Eropa yang sulit mendapat pekerjaan. Sela:in bahaya yang ditimbulkan sihtasi iht bagi "keamanan dan ketertiban umum", hal itu berarti bahwa tenaga-tenaga produktif hilang bagi masyarakat. Oleh karena dengan sumber-sumber yang ada ndak ban yak dapat diperbuat maka pcnyelesaiannya, menurut penulis ar- til

  1. Idem th. 9, 481-484

Untuk rnenolong penganggur-penganggm orang Eropa, beberapa waktu sebelurn tahun 1904 eli Batavia telah dibentuk suatu komisi yang diketuai residen setempat. Di antara anggota-anggotanya terdapat tujuh orang Mason Bebas, termasuk Wakil Suhu Agung AS. Carpentier Alting dan C. Rog~ ge, yang bertindak sebagai sekretaris. Terhadap pertanyaan bagairnana bantuan itu sebaiknya diberikan, rupanya tidak ada jawaban yang jelas. Mungkin itu juga sebabnya mengapa orang-orang yang menaruh rninat diajak unh1k menyampaikan saran-saran. Bagaimana pun juga, bantuan harus berarti bahwa dapat diciptakan peketjaan-pekerjaan yang langgeng. Tidak jelas apa yang tetjadi dengan komisi itu, dan juga I.MT. diam mengenai hal tersebut. Pemulihan konjungtur yang mulai pad a sekita.r tahun 1905, mungkin rnenjelaskan mengapa tidak ada acuan-acuan lain lagi. Sekitar tahun 1921 terjadi lagi krisis penjualan produk untuk sernentara waktu, yang mcngakibntknn masn yang sulit nrunun yang dnpnt diatilBi dengan segera. Sejak tahun 1930 pecah lagi suah1 masa krisis, kali ini disertai penganggtu·an tanpa taranya. Sebagai akibatnya juga segrnen penduduk orang Eropa terpukul dengan hebat. Nada keprihatinan yang tiap kali disuarakan I.M.T. menunjukkan bah wa bukan hanya lapisan ba wah, tetapi juga lapisan menengah dan atas dari kornunitas Eropa mengalami masa yang sulit. Bagaimana keterkaitannya dengan para penn- lis di I.M.T., akan diuraikan lebih lanjut.

Be1ita pertama dalam majalah itu rnenyangkut suatu lap oran ten tang suah1 wejangan yang pada tanggal24 September 1931 disampaikan di loge De Ster in het Oosten. Pembicara menjelaskan bahwa pengangguran di kalangan orang Eropa masih terns meluas. Untung sementara ih1 telah didirikan suatu

MASON DAN PERJUANGAN U NTUK KESJNAMBUNGAN Hrour

organisasi di Batavia yang ingin memberikan bantuan. Pembicara di loge itu, Buys, berseru agar para korban dibanht secara keuangan, dan seruannya itu mendapat sambutan. Juga diputuskan untuk lebih memberikan publisitas terhadap masalah pengangguran rnela1ul majalah pemberitahuan loge-loge Batavia itu. 19

Beberapa minggu kemudian di logeitu juga diberi perhatian terhadap masalah pengangguran di Eropa. Laporannya rnenyebut ten tang suaht presentasi oleh Willemsen yang ber- bicata mengenai suatu kongres yang baru saja diselenggarakan di Eropa, di mana utusan-utusan dari ban yak negara telah memberikan pandangan mereka. Persoalan yang dibicarakan ialah bagaimana membantu rnengatasi kesengsaraan di kalangan kaurn penganggur. Yangmenarik ialah bahwa pernbicara mernberi perhatian besar terhadap apa yang dikemukakan oleh pihak Rusia. Bagi dia soalnya adalah mendapatkan orang-orang beriktikad baik, yang bersedia memikirkan penyelesaian-penyelesaian yang mungkin. 2 o

Juga di luar Batavia pokok itu rnenarik perhatian loge-loge lain. Pada tanggal16 Desernber tahun 1931 Luy~ens berbicara di loge ''Excelsior" di Buitenzorg, dengan bertitik tolak pada ceramah Buys di Batavia. Menu rut pembicara terse but, sebab-sebab gejala itu harus dipelajari dahulu sebelum dapat diarn- billangkah-langkah untuk mengatasinya. Ia berpikir bahwa pertama-tama harus diusahakan unhtk membentuk kesempatan bekerja dan hanya kalau itu tidak rnungkin, bant diberikan bantuan keuangan. Dalam pengantamya itu, ia rneng- gugah para pendengamya un tuk menjalankan tug as rnasonik- nya dalarn hal ini.

  1. Idernth.37, 87
  2. Idem th. 37, 174-175

"Excelsior" adalah untuk mengumpulkan uang secara sukarela bagi "Panitia Pemberian Bantuan kepada Kaum Penganggur Krisis" setempat. Sebagian dari uang terkurnpul dimaksudkan juga bagi para penganggur akibat krisis ekonomi di antara anggota-anggota Tarekat, sekurang-kurangnya kalau temyata bahwa mereka pun rnemerlukan bantuan.

Pada kesempatan itu diberitahukan bahwa ada rencana-rencana di pihak "Badan Pengurus Besar Provinsial" untuk mengadakan kuesioner tcntang pengangguran di kalangan anggota Tarekat.

Pada awal talnm 1933, De Visser Smits sebagai pimpinan redaksi l.M.T. menyapa para pembacanya dengan sebuah artikel dengan judul Werkloosheid. Aile broeders moeten nrbeidsbe- middelend optreden (Pengangguran. Semua anggota harus bertindak sebagai pengantara peketjaan). Penulis rupanya khawatir melihat perkembangan-perkembangan terakhir dan mengajukan pertanyaan "apakah pemutusan hubungan kerja, uang tunggu dll. akan semakin keras suaranya?" Ia membuka artikelnya dengan suatu cri de coeur Ueritan hati): "Han- tu pengangguran bergentayangan, juga di Hindi a Tinnrr yang 21 ceria". Ia mengingatkan bahwa menganggur dulu di Hindia Timtrr, ketika keadaan ekonomi lebih baik, sebagai suatu noda. Temyata sekarang bagi tenaga-tenaga yang terampil pun sulit mendapat pekerjaan yang cocok. Dalam pada itu keadaan ini juga sudah mewabah ke anggota-anggota Tarekat.

De Visser Smits kemudian menunjuk kepada aktualitas "Kewajiban-kewajiban Lama" dari tahun 1723, yang seperti telah dikatakan sebelumnya merupakan ringkasan dari peraturan-peraturan dangaris-garjs pedoman. Menurut peratur-

  1. Idem th. 38, 298-301

M ASON D Ar-: PFRJUA~CAN Ur-.'TUx Kf.si.XA.\1 BtmGA.'J Hmur

an, seorang anggota Tarekat harus membantu anggota lain yang sedang dalam kesulitan. Sangat tepat peraturan yang berbunyi: " Engkau harus memberikan dia pekerjaan selama beberapa haria tau memberikan rekomendasi pekerjaan kepadanya". Penulis selanjutnya menegaskan bahwa hanya mereka yang memang mempunyai kemampuan dalam hal ini yang harus bertindak "sebagai pengantara pekerjaan". Melalui penghitungan yang sederhana, ia mendapat angka kira-kira 175 anggota yang mcnganggur yangmembutuhkan bantuan. la k~mudian menghimbau para anggota penganggur tersebut untuk mengisi sebuah forrnulir dengan data pribadi dan mengirimnya ke redaksi. Melalui publikasi data tersebut, mungkin ada peluang bagi mereka untuk bekerja. Yang lain-lain diminta untuk membantu dengan ikut mencari lowongan-lowongan pekerjaan bagi orang-orang yang kurang ben.m- tung itu. Untuk rnembantu mereka sccara finansial, sudah mulai dipersiapkan pembentukan sebuah panitia bantuan masonik.

I. M.T. kemudian membuka kolom-kolomnya bagi para

pencari kerja, yang dapat memberitahukan keadaan pribadi mereka serta jenis pekcrjaan yang mereka cari dalam suatu rubrik ''Pengantara pekcrjaan oleh dan untuk Kaum Mason Bebas di .Hindia Bclanda". Namun tidak dapat dilacak lagi sebagairnana jauh cara i tu cfektif. Ada nama yang lama sekali muncul di daftar, sedangkan ada yang menghilang dengan cepat. Namun apakah Ltu disebabkan karena rnereka mendapat pekerjaan, pulang kc Nederland atau karena ada yang minla dico rct namanya berhubung tidak rnendapat jaw a ban, tidaklah jelas.

Dengan rneninjau edisi-edisi IM.T. se1ama beberapa tahun dan mencatat data tentang anggota-anggota Tarekat yang menganggur, dapat dibuat gambaran yang jelas tentang tipe

ketja pada masa itu. Apabila tiga puluh enam Mason Be bas pencari kerja, yang datanya sebanding_ diteliti lebih Jan- jut, temyata umur mereka terbentang mulai dari usia 26 tahun sampai 57 tahun. Mereka sebagian besar lahir di Nederland,. terutama memperoleh pendidikan teknis menengah atau tinggi dan kebanyakan bekerja di pemsahaan gula. Pada umumnya mereka merniliki fungsi kepemimpinan di situ. Data rinci ten tang setiap pencari ke1ja telah dimuat dalam lampiran IV.

Di sam ping upaya memberikan pekerjaan yang cocok bagi anggota-anggota Tarekat yang sudah mcnjadi penganggur, juga diusahakan untuk mengurnpulkan dana penanggulang- an keadaan krisjs. Dalam I.M.T secara teratur diadakan seruan untuk mendukung "Dana Bantuan Sentral" atau "Dana Krisis", dan kalau ditinjau sumbangan-sumbangan yang dipertanggungjawabkan, rupanya jumlah uang yang terkumpul bukan kecil. Dana itu dike lola oleh Loge Agung Provinsiat yang juga bertanggung jawab atas pembagian uang.

Sewaktu krisis itu berkepanjangan, perhatian di kolom-kolom I.M.T. menmun. Walaupun mulai tetjadi pemulil1an secara hati-hati di bidang usaha, keadaan yan.g raw an memang be1um berlalu. Suatu artikel panjang pada tahun 1938 mengemukakan hal-hal berikut: 22

'' Para Bendahara dari loge-loge dapat menceritakan kisah-kisah drama tis tentang kesengsaraan terselubung yang tidak kunjung surut. Di terlalu banyak kalangan swasta dan juga anggota tarekat kaum dana-dana cadangan sudah terkuras habis. Bantuan yang diberikan bertahun-tahun lamanya sekarang tidak lagi datang, sebab para pemberi sendiri sudah mengalami kemunduran dalam bidang keuangan dan dengan dernikian di pengurus-pengurus loge masih terns masuk sederetan permohonan untuk bantuan. Ada

  1. Idem th. 43,645-652

TAREKAT MASON DA.'\1 P ERJUANCAN U!'-nUK KESJNAMBUNGAN HIDUP

juga kesatuan mason yang sudah tidak bisa memberi apa-apa oleh karena keadaan keuanganan lognrn sudah teramat kecil untuk dapat menjalankan kegiatan yang normal. Dl daerah-daerah perkebunan, pada masa yang baik telnh dibangun gedung-gedung yang berharga tinggi, leta pi pad a waktu itu pengumpulan uang dalam jumlah yang cukup besar hanyalah untuk mengadakan pertemuan ramai pada malam hari. Tidak terpikir akan suatu masa depan yang suram, dan masalah-masalah penghapusan nilai buku dan pemeliharaan sama sekali bukan merupakan masalah. Namun semuanya berjalan lain, dan sekarang pengurus-pengurus pusing kepala untuk merawat gedung-gedung dengan kas yang kosong. Kosong juga, sebab krisis telah menyebabkan banyak anggota tidak lagi sanggup membayar iuran. Bad an Pengurus Besar Provinsial telah melakukan sedapat-dapatnya, dan masih melakukan sedapat-dapatnya, namun pertanyaannya adalah sampai sebagaimana jauh dapat dipertanggungjawabkan untuk terus memberikan bantuan, kalau sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa keadaan normal akan kembali "

  1. Kaum Mason Bebas (Vrijmetselarij), ekstremisme politik Belanda dan sosialisme nasional pada tahun tigapul uhan Masyarakat Hindia Belanda dalam periode sebelum perang dunia kedua ditandai oleh perhatian yang makin meningkat terhadap dunia politik. Im tidak hanya berlaku bagi orang Indonesia, tetapi juga bagi komunitas orang Belanda yang secara tradisional tidak berpolitik. Kebanyakan sejarawan menekankan bah"va politisasi eli kalangan orang Belanda telah mengakibatkan suatu " pergeseran ke kanan". Drooglever menunjukkan bahwa Vaderlandse Club sebagai suatu partai konservatif memperoleh banyak dukungan di kalangan orang Beland a "impor ". Tidak lama setelah didirikan, gerakan itu mempunyai sekitar 9.000 anggota, yang merupakan sepertiga dari jumlah orang totok dewasa. Penulis kemudian menarik kesirnpulan bahwa partai tersebut merupakan per-

dari reaksi lapisan atas masyarakat kolonial terhadap bangkitnya nasionalisme Indonesia. Tetapi, demikian ditam- bahkannya, reaksi itu juga ditujukan terhadap kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang ingin memperhitungkan na- 23 sionalisme itu.

Kebijakan pemerintah pada tahun-tahun tiga puluhan se- mal

Juga "N.S.B." Hindia dengan scgera memperoleh dukungan besar. Anggota-anggotanya-seperti telah dikatakan sebelumnya -berasal bukan hanya dari kelompok orang Belanda 'impor", namun juga dalam jumlah besar dari kalangan lndo-Eropa. Pada titik puncaknya ''N.S.B." memiliki sekitar 5.000 anggota dan simpatisan, termasuk di antaranya 3.500 orang 24 lndo-Eropa. Mungkin penjelasannya ialah bahwa mereka bergabung karena bangkitnya nasionalisme Indonesia justru merupakan ancaman bagi mereka, dan Vnderlandse Club sebagai partai orang totok tidaklal'l banyak artinya bagi mereka.

Melihat ketegangan-ketegangan besar yang ada dalam masyarakat, rnenjadi pertanyaan bagairnana Tarekat Mason Be bas dengan asas-asas kerja sama dan Tarekatnya dapat ber-

  1. Drooglever 1980, 341
  2. Van Geelkerken 1943, 205

AREKAT M ASON DAN PERJUANGAN UNiUK KESINA.'A!IUNCAN HTDUP

tahan dalam situasi seperti itu. A tau apakah 1 'pergescran ke kanan" berlaku juga bagi anggota-anggota Tarekat?

Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat diperoleh dengan menelusuri hal-hal yang dibicarakan dalam lingkungan tertutup loge tentang partai-partai tersebut dan kemudian dimuat dalam l.M T., dan juga bahan apa saja yang dirnuat dalam majalah itu terlepas dari itu. Dalarn hal itu perlu dikemukakan dua komentar, pertmna-tnma hanya bahan-bahan yang dianggap cocok oleh redaksi yang dinmat dalam majalah itu. Kedua, sejak bulan Oktober 1932 majalah itu terbit sebagai corotzg dari Loge Agung Provinsial, dan itu berarti bahwa tanggung jawab terhadap isinya tidak hanya dipikul oleh redaksi saja.

Dengan demikian isi dari I.M.T. menjadi lebih dari sekadar endapan pendapat-pendapat kaum Mason Bebas secara pribadi. Akhimya perlu diingat bahwa kebanyakan komentar berasal dari awal tahun-tahun tiga puluhan, ketika orang hampir-hampir belum tahu apa maknanya gerakan nasional sosialisme dalam praktik.

Pertama-tama, perlu diungkapkan beberapa kata dahulu ten tang Vaderlandse Club. Drooglever beTpendapat bahwa pa r- tai itu representatif bagi lapisan atas orang Eropa dan agaknya menarik juga untuk mengkaji apakah gambaran yang sama juga terdapat di Tarekat Mason Bebas Hindia di mana lapisan atas juga diwakili dengan kuat. Kemudian akan dibahas opini-opini yang dimuat dalam l.M.T. berkaitan dengan "N.S. B. " Hindia Timur.

Pada paruh pertama tahtm 1930, dalam suatu "konven (pertemuan) Suhu" di Semarang, dibicarakan ten tang pend irian Vaderlandse Club. Pertanyaan dikemukakan apa yang dapat dilakukan Tarekat Mason Bebas guna "menjembatani jurang yang telah terjadi antara ras-ras yang berbeda di negeri ini".

VC disebut maka dengan kata-kata yang tidak mLmgkin dapat disalahartikan diberitahukan bahwa visi masyarakatnya tidak sesuai dengan asas-asas masonik. 25 Pada tahun yang sama,

I.M.T. memberikan komentar atas suatu berita dalam surat kabar tentang suatu pertemuan kaum Mason Bebas di mana katanya telah dibicarakan hubungan-hubLmgan mal)yarakat yang aktual dan cara bagaimana kaum Mason Bebas dapat menyatakan asas-asas mereka. Dalnm surat kabar diberikan kesan seakan-akan loge-loge akan bekcrja sama dalam suatu rencana yang telah diprakarsai Vaderlnrzdse Club. De Visser Smits dengan keras menentang insinuasi itu,u. dan mengu-Janginya lagi di kemuclian hari.
27

"Ketika partai termaksud diberikan nam«nya, dalam suatu upacara yang berlangsung agak ribut, di mana musik gembira terus-menerus melen.gking dan lagu indah dari Mamlx van St. Aldegonde* ( ... ) terancam akan turun martabat ke tingkat lagu klub, pada waktu itulah terbentuk front kulit putih, dan kerja sama dengan saudara-saudara berkulit cokelat tidak lagi dihargai".

Bagi De Visser Smits sikap VC itu merupakan suatu "ke- ngerian", dania mendasari pendapatnya itu sebagai berikut:

"rTarekat] mempersatukan orang kulit putih dan orang ku- lil cokelat, para penganut pikiran bebas dan orang-orang yang berwawasan gereja, tokoh-tokoh masyarakat dan orang-orang sederhana, orang-orang dengan keyakinan politik yang sangat berbeda-beda ( ... )dan oleh karena itu

  • Editor Indonesia: Maksudnya Iagu kebangsaan Belanda yang digubah oleh Mamix van St Aldegonde. :!5. IMT th. 35, 547 !6. Idem th. 36, 143-144 dan 237 ~7. Idem th. 37, 355-356

T AREKAT MASON DAN PERJUANGAN UNTUK KESfNAMBUNGAN Hmup

seorang Mason Bebas yang menjunjung gagasa.n Tarekat di pa.njinya (. ,. ) tidak dapat menjadi pejuang bagi kepentinga.n sesua tu ketompok".

Pendirian itu didukung oleh hasil kuesioner tahun 1930 yang telah disebut sebelumnya, yang menghasilkan en amra- tus reaksi, dan dari hasilnya ternyata bahwa dari 174 kasus di mana ada kaitan dengan keanggotaan suatu partai politik, 25 kali Vaderlandsche Club disebut. Di antara mereka ada enam orang yang juga anggota dari organisasi yang lebih rnoderat seperti LE.V. dan Politiek Economische Bond (P. E.B.). Dengan kata lain, tidak sampai em pat persen dari respond en menjadi anggota VC. Pend a pat Drooglever bahwa partai iht mentpakan perwujudan dari reaksi lapisan atas masyarakat kolonial terhadap bangkitnya nasionalisrne Indonesia, dengan dernikian tidak dikukuhkan. Mengingat bahwa nasional sosialisme rnerupakan ancaman terhadap kebebasan berpendapat, masuk akal bahwa jumlah reaksi di I.M.T. terhadap nasional so- sialisrne lebih banyak ketimbang reaksi terhadap Vaderlnndse Club. Pertama kali bahwa terna nasional sosialisme dibicarakan setelah Hitler mulai berkuasa adalah pada akhir bulan Maret 1933 di loge Ban dung "Sin t Jan". 28 Yang menjadi pencetusnya ialah suatu artikel dalam salah satu surat kabar ~Iindia di mana pokok iht dikemukakan. Pertanyaan diajukan apakah tidak perlu diadakan "aksi masonik" terhadap gerakan iht, oleh karena gerakan itu menghalangi kebebasan mengungkapkan isi hati sanubari. Narnunrnenurut laporan yang dimuat I.M.T., dalam debat yang panja:ng lebar ald1imya ditentukan posisi dengan kata-kata yang bernuansa. "Banyak hal yang telah dinyatakan dalam pelbagai bentuk fasismen, demikian dinyatakan, "merupakan sesuatu yang pantas ditolak", Narnun yang terutama menarik perhatian adalah persoalan akibat

  1. ldem th. 38, 642

"N.S.B.", akanditekankan dahulu bayangan umum mengenai hubungan dengan partai politik. Redaktur De Visser Smits menyirnpulkan pendapat umurn pada akhir tahun 1932 sebagai berikut: 29

"Setiap Mason Bebas tanpa keraguan sedikit pun bebas dalnm seal agama, poHtik dan kebangsaan, dan khususnya dalam pergaulannya di masyarakat. N amun barangsiapa mau bekcrja demi Tarekat umat man usia, harus mencari apa ynng mempersatukan manusia dan bangsa-bangsa, dan akan merasakan bahwa hal itu sulit ditemukan di bidang agama, dan di bidang kebangsaan, dan pasti tidak ditemukan di bidang politik".

Kemudian ia mcnyampaikan pendapatnya:

"Tarekat tidak mengakui aliran polilik mana pun sebagai miliknya, dan tidak mempunyai kontak dengan partai politik mana pun, baik secarc\ langsung maupun secara tidak langsung".

Tarnpilnya Hi tier di tarnpuk kekuasaan di Jerman temyata rnenjadi sinyal yang mengakibatkan mengalimya sejumlah besar tanggapan. Terutama sepanjang tahun 1933, kolorn- kolom I.M.T. diisi dengan Linjauan-Unjauan dan laporan-laporan dari loge-loge tentang hal ini. Olch karena sifat baru dari gejala itu, dan ekses-ekses kekerasan sebagai akibat kebencian terhadap orang Yahudi, munculnya azisme di Jer-

29. Idem th. 38, 223-224

TAREKAT MAsoN DAN PERJUANGAN UNTUK KESI:NAMBUNCAN HroUP

man membawa kesan yang mendalam. Biarpun begitu, ada juga suara-suara lain yang kedengaran, dan kita akan rnelangkah terlalu jauh kalau disimpulkan bahwa semua anggota Tarekat di Hinctia pada prinsipnyamenolaknasional sosialisme. Umpamanya, seorang pembawa pidato pengantar dalam suatu pertemuan loge "De Hoeksteen" di Sukabumi pada tanggal26 Maret 1936 menegaskan bahwa ''N.S.B." dan Tarekat Mason Bebas pada hakikatnya tidak berbeda dalam soal titik to1aknya. Partai itu pun, dernikian si pembicara, berkeinginan "[untuk menjadi] suatu gerakan yang didasarkan atas landasan religius, yang berh1juan Lmtuk mengentaskanmanu- sia dan uma t man usia ke tingkat rohani dan moral tertinggi". Selanjub1ya pembicara tersebut berpendapat bahwa kedua organisasi itu mem:iliki pendapat-pendapat yang sama ten- 30 tang "pribadi, kepribadian, dan kebebasan pribadi".

Keanekaragaman pendapat dengan jelas ditampilkan dalam suatu artikel yang dimuat dalam I.M.T. tiga tahtm sebelumnya Pada bulan April tahun 1933, ].]. Ochse menulis suatu artikel yang mendapat perhatian besar redaksi dan yang berjudul Jodenvervolging! De menschelijkheid bedreigt (Penganiayaan Orang Yahudi! Kemanusiaan terancam). Reaksi-reaksi terhadap artikelitu menandakan suasana pada wakh.1 itu dengan baik. Penulis menunjuk kepada ''tindakan-tindakan yang memalukan bagi manusia" yang dilakukan terhadap orang-orang Yahudi di}erman, dan dalam suatu seruan ia mengaju- 31 kan pertanyaan berikut ini kepada para pembaca I.M.T. :

"Mengapakah Tarekat kita tidak mengeluarkan suatu protes keras, sedangkan protes seperti i tu selaras dengan asas-asasnya. Di manakah k:ita sekarang, dan di rnanakah kita berdiri? Mana penerapan praktis dari dta-cita simbolis kita?

  1. Idem th. 41, 425
    ..

  2. Idem th. 38, 451

Yahudi bu.kan manusia, atau apakah kita masih terlalu kristiani untuk berani memberi jawaban kepada pihak luar juga atas pertanyaan hangat yang sejak dahulu diajukan: Siapakah engkau? Di sini menurut pendapat kami ada tugas yangsedangditunggu untukdikerjakanBadanPengu- rus Besar dan Badan Pengurus Besar Provinsial".

Dalam komentar yang pertama, redaksi menunjuk kepada surat-surat masuk ten tang "Masalah Orang Yahudi di Jerman", dan meminta para penulis bersabar menunggu jawaban yang akan dibe1ikan pada bulan]LmP 2 Jawaban itu memang keluar dalam bentuk suatu sumbangsih yang panjang, dengan judul ]odenvervolging (Penganiayaan Orang Yahudi). 33 Tulisan itu dimulai dengan penegasan kuat bahwa redaksi sehaluan dengan artikel Ochse. Dari snrat-surat beberapa anggota, yang ketunman Jerman, ternyata baltwa mereka merasa tersiltggtmg dengan perkataan bahwa di Jerman dilakukan " tindakan-tindakan yangmemalukan bagi manusia" terhadap orang-orang Yahudi, sebanding dengan pembantaian-pembantaian di Rusia pada akhir abad ke-19. Redaksi menganggap bahwa demi keadilan pendapat dari para anggota itu perlu juga disampaikan. Setelah mempertimbangkan satu dan 1ainnya, redaksi juga berpendapat bahwa perbandingan itu tidak kena, dan redaksi juga merasa bahwa syarat-syarat untuk melancarkan prates a tas nama Tarekat tidak terpenuhi. Redaksj tidak bersedia untuk benar-benar menentukan posisinya, dan menulis:

"Kami sekarang mengakhiri pokok ini dan menutup per- hlkaran pendapat. Mungkin eli kemudian hari akan timbuJ

  1. Idem th. 38, 564
  2. Idem th. 38, 643-646

MAsoN DAN PERJUANGAN U N'fUl< KES1NAMBUNGAN HIDUl'

keterangan yang lebih banyak dan lebih jelas tentang masalah tersebut yang penting untuk seluruh umat manusia".

Ada man£aatnya kalau kita berhenti sejenak pada pendapat para penulis, mengingat baru pertama kali ini masalah tersebut dibahas secara rinci. Pertama-tama pendapat dari

E.F.W. Viefhaus, yang merasa bahwa d:i Jerman sama sekali tidak ada pembantaian, walaupun ia mengakui telah terjadi ekses-ekses yang disesalkan. Bagaimana caranya pemerintal1 negara itu ingin "membetulkan hubungannya" dengan para warga Yahudinya, merupakan persoalan dalam negerinya. Selanjutnya ia menunjukkan bahwa resim nasional sosialis ingin mewujudkan suatu tujuan yang besar. Ia sepenuhnya bersimpati dengan perjuangan pemerintahnya itu, walaupun disayangkan bahwa akan jatuh korban-korban yang tidak berdosa. Penulis surat kedua, yang bemama Weski, merasa bahwa ada kampanye pemfitnahan yang tercela: sembilan puluh persen dari berita-berita ten tang ekses-ekses hanya dusta be-Taka. "Orang Yahudi yang berpikiran baik dapat hid up diJer- man sama tenteramnya seperti orang Jerman". Weski secara pribadi mempunyai pengalaman bail< dengan orang Yahudi, dan menghargai ban yak anggota Tarekat ketunrnan Yahudi, narnun perlu diingat bahwa ada banyak perbedaan antara orang Yahudi Jerman dan orang YaJmdi Belanda. Bila kedua golongan itu dibandingkan, kata penulis, maka akan nyata bahwa orang Yahudi Jerman itu lebih buruk sifatnya, dania menyebut mereka sebagai ''kesialan negeri Jerman". Sebagai penjelasan, ia kemukakan bahwa sejak berakhirnya Perang Dunia Pettama, orang Yahudi dalarn jumlah yang besar berbondong-bondong pergi ke Jerman yang sedang dalatn keadaan terpuruk, dan mereka mala han diberikan perlakuan prioritas utama di dalam hal pentmjukan tempat tinggal.

fesL seperti dokter, hanya khusus melayani go Iongan mereka sendiri saja. Tidaklah heran bahwa di sana sini timbul perasaan "bend orang Yahudi", namun bahwa hal itu "akan menjutus kepada penganiayaan umum orang Yahudi", tentu tidak seorang ptm akan percaya. ''Jiwa bangsa Jerman tidak akan mengizinkan, apalagi melakukan tindakan tidak adil, namun sudah waktunyakaum Nazi dengan tegas membersih- kan kandang-kanda.ng 'ALLgias' (melambangkan tempat yang sangat kotor) yang bernuansa Komunis itu. Semoga seluruh dunia mengikuti contoh itu''.

Sebagai penulis terakhir, W.E.J. Burmeister menyampaikan pendapatnya. la mengakui dan menyesalkan bahwa di Jerman banyak orang menderita di bawah kekuasaan nasional sosialisme. Namun perlu diingat bahwa orang-orang Yahudi Jerman di Berlin sernuanya berasal dari Eropa Timur. Menurutpenulis, perlu dibuat bendungnn guna menghentikan arus itu. Seluruh Eropa nantinya akan berterima kasih atas hal itu.

Bagaimana reaksi redaksi terhadap semua tuduhan itu? Ditegaskan bahwa berita-berita yang ada hanya memw1gkinkan suatu kesimpulan sementara. Dapat dipastikan bahwa orang-orang Yahudi pada waktu ih..t sedang mengalami masa yang sulit, ''termasuk segmen penduduk Yahudi Jerman yang sudah bergenerasi lamanya menetap di negara itu sehingga dapat dianggap sudah dinasionalisir. Dan secara masonik, adalah hal terbaik kalau perasaan simpati kita secara manusiawi pada masa yang sulitini ditujukankepada mereka". Di lain pihak, redaksi tidak melihat adanya alasan untuk mengadakan perbandingan, seperti yang dilaku kan Ochse, dengan pembantaian di Rusia. Bahwa di Jerman tidak terjadi hal seperti itu, disimpulkan oleh redaktur "berdasarkan surat-menyurat pribadi dengan orang-orang Jerman, yaitu saudara-

AREKAT MAsoN DAN PERJUANGAN UNTUK KESJNAMBUNGAJ'J Hmur

saudara melalui pemikahan, serta keterangan lisan dari saksi-saksi mata dan berita-berita pers yangmemperlihatkan dengan jelas, sejela.s terang siang hari, bah wa tidak ada, dan tidak mtmgkin akan ada, pembantaian orang Yahudi di bawah disi- plin umum yang ketat dari resim Nasional Sosialis Jerman".

Sebagian besar dari pemberitaan tentang masalah tersebut mentpakan reaksi-reaksi terhadap serangan dari pihak nasional sosialis atas sifat Tarekat yang dikatakan " tidak nasional", dan terhadap komentar bahwa Tarekat mempakan "suatu negara di dalam negara". Ketika dalam surat kabar Deli-Courant dari tanggal5 April1933 dimuat beri.ta tentang suatu rapat di mana Tarekat Mason Bebas digambarkan sebagai suatu perkumpulan yang berbahaya bagi negara, surat kabar itu bersuara berpihak pada Tarekat dengan menyatakan bahwa Tarekat Mason selalu bersifat non-politik. Sikap nasionalis kentara juga, menurut surat kabar tersebut, dati posisi yang dipegang Pangeran Frederik untuk wal

Juga di pesisir barat Sumatra, totalitarisme yang mulai bangkit itu rnendapat perhatian dari para Mason Bebas. Dalam

  1. Idem th. 38, 658-659
Sumatra Bode dinmat sebuah pidato dari De Bree,

pemimpin gerakan fasis eli Hinelia; sedangkan diskusi tentangnya dalam loge ''Mata Hari" di Padang, pad a bulan April tahun 1933 menyebabkan bahwa beberapa orang in gin bertindak. Namun pen gurus loge mengulur waktu dengan rnengu- mumkan bahwa pada Musyawarah Provinsial yang akan datan& akan diajukan berbagai usul untuk bertindak terhadap serangan-serangan yang dilancarkan terhadap Tarekat oleh k'alangan fasis dan nasional sosialis. Bagaimana pLm juga, loge "Mata Hari" rnemutuskan untuk segera memberitahu Pengurus Besar Provinsial tentang maksud-maksudnya itu. 35

Perhatian terhadap hal itu ternyata terdapat juga di loge 'Ster in het Oosten" eli Batavia, eli mana pada tanggal 3 April 1933 pokok "Fasisme dan aliran serupa dan ajarru.1-ajarannya"

d.tbicarakan. Di Buitenzorg seminggu kemudian ternyata lebih dari sekadar perhatian yang diberikan, dan para anggota loge Excelsior" disuguhkan sebuah wcjangan oleh Bensernann. Yang menarik ialal1 bahwa redaksi dalam laporannya ten tang pe.rtemuan itu menggunakan ungkapan "yang katanya peng- :IDiayaan orang Yahudi". Mengenai isi ungkapan itu, Mason Bebas Bensemann be1pendapat bahwa "aksi" terhadap orang \ahudi tidak digerakkan oleh motivasi agama ataupun ras, melainkan bahwa butir-butir berikut ini mernainkan peranan: "parasitisme orang Yahudi terhadap sisa penduduk, fakta bahwa sebagian besar orang Yahudi adalah Sosial-demokrat a tau Komunis dan eli samping itu juga intemasionalis, dan dengan demikian tidak memiliki atau sedikit saja memiliki kecintaan terhadap tanah air; kenyataan bahwa sebagian terbesar orang Yahudi mengelak melakukan wajib militer dengan segala macam cara pad a masa Perang Dunia yang besar ketika Jerman berada dalam bahaya". ~ Idem th. 38, 669-670

MASON D AN P'E RJU,\ NCA N U NTUK KESINAM ilU~GAN HIDUI'

Dalam laporan itu disebut juga bahwa pembicara " menc- guhkan satu dan lainnya dengan bahan-bahan bukli". Pemyataan penutupannya bahwa protcs olch Pcngurus BesarTarekat a tau loge-loge tcrsendiri tindakan "yang jahat" dimasukkan dalam laporan tanpa komentar, dengan catatan bahwa cera-mahnya itu disusul dcngan debat yang ramai mengenai "tinjauan kritis" pembicara. Sebagian besar dari para hadirin setuju dcngan pcmbicara. 36

Namun suara yang sangat berbcda datang dari perkumpulan Mason Bebas ''Madioen'', di mana Ch.l. Charlouis pada tanggal7 /\pril1933 menjadi pembicara. la memprotes penganiayaan orang Yahucli d.i}erman, dania merujuk kepada seruan Mason Bebas Ochse yang tclah clisebut sebelumnya. Ia juga mengutip penulis-penulis lain "serta juga buku terkenal Adolf Hitler Mein Kampf (Perjuanganku)". Anggota-anggota "Madioen" memutuskan untuk melayangkan stuat protes kepada pengurus loge "De Dageraad (Fajar)" yang membawahi perkumpulan itu.l 7 Tetapi " Dageraad" juga menunjukkan perhatian terhadap penganiayaan-penganiayaan itu. Pada tanggal12 Juni anggota Holi membacakan sebuah artikel dari surat kabar Niemue Rotterdnmsche Courm1t yang menyiratkan bahwa Suhu Agung Tarekat telah ikut menandatangani sebuah surat protes terhadap penganiayaan-penganiayaan dt Jerman. Bagi seorang anggota lain dari loge "De Dageraad'', hal itu menjad.i alasan untuk mengusulkan agar atas nama loge disampaikan mosi kepada ''Pengurus Besar Provinsial'' untuk memprotes "tindakan-tindakan tidak manusiawi dari pemerintah Jerman". 38

Bukan hanya terhadap orang-orang Yahudi dan partai-par-

  1. Idem lh. 38, 673-674
  2. Idem th. 38, 707
  3. Idem th. 38, 777
    41 0

politik haluan kiri pihak totaliterisme meningkatkan tekan-annya dari tahun ke tahun, tetapi serangan-serangan terhadap Tarekat Mason Bebas juga berjalan terus dan bukan hanya dj Jerman. Di banyak negara Eropa dengan munculnya partai-partai nasionaJ sosialis dan fasis, bahaya bagi Tarekat Mason Bebas meningkat. Begitu juga di Belanda, di mana pemimpi.n ·N.S.B. " Rost van Tonningen pada tahun 1938 menyatakan Tarekat sebagai "salah satu lembaga dari neraka yang harus dibasmi''. 39 Bahwa "N.S.B. " Hindia Bclanda setclah tahun-tahun awal mengurangi scrangannya terhadap Tarekat dapat dimengerti, sebab gerakan itu berusaha scbanyak mungkin memelihara persatuan komunitas orang Belanda.

Selain scrangan-serangan dari luar, Tarekat di Hindia Timur juga harus hati-hati terhadap masalah-masalah internal yang muncul oleh karena seorang anggota Tarekat juga mcnjadi anggota organisasi nasional sosialis atau fasis. Apa vang harus diperbuat dengan seorang Mason Bebas yang dengan tindakannya melanggar asas masonik ten tang ketaatan kepada undang-undang negara? Sebab, menurut Anggaran Dasar Tarekat, ketaatan itu tercantum dalam pasa13, butir 4. Apakah orang seperti itu harus dikeluarkan dad Tare kat a tau apakah langkah seperti itu justru bertentangan dcngan gagasan ten tang Tarekat? Unhlk mengatasi dilema seperti i tu, kumpulan peraturan tentang perilaku yang berasal dari tal1w.1 1723, Kewnjiban-kewajibnn Lamn, mcmberikan pemecahan:

"KaJau kadang-kadang seorang anggota menjadi pemberon- tak terhadap Negara, maka ia tidak boleh diperkuat dalam perl.awanatmya, melainkan kita harus merasa kasihan kepadanya seperti kepadaseseorang yang malang. Dan kalau tidak dapal dibuktikan bahwa ia melakukan kejahatan yang lain, dan walaupun Tare kat yang setia harus dan akan men-

  1. Idem th. 44, 211

MAsoN DAN PERJUAN GAN UNTUK KESINA.MBU NG AN HIDUI'

yalahkannya atas pemberontakannya, dan walaupun Tarekat tidak pemah dan tidak akan memberi pemikiran ataupun alasan kepada pemerintah untuk melakukan tindakan polltis yang berlebihan, ia tidak dapat dikeluarkan dari Loge, dan hubungannya dengan Loge itu tidak dapat ctiganggu gugat'',

Butir ten tang ketaatan kepada undang-undang negara sejak tahun 1933 memperoleh aktualitas istimewa oleh karena ancarnan akan adanya pemerintahan nasional sosia1is di Nederland dan di Hindia. Ternyata soal tafsiran atas ketaatan itu mengandung berbagai aspek, dan mengcnai hal itu ada berbagai macam pendapat yang berbeda-beda. Dalam majalah-majalah masonik dari masa itu, masalah-masalah itu ctiberi perhatian besar, dan untuk mengakhiri semua salah pengertian maka Suhu Agung Tarekat pada tahun 1933 menyampaikan pemyataan yang dikeluarkan pada Musyawarah tahun itu. 40 Dalam pcrnyataan itu diterangkan bahwa seorang calon yang ingin menjadi anggota harus tunduk kepada peraturan-peraturan Tarekat yang berlaku, dengan demikian tersirat bahwa dengan menerima Anggaran Dasar Tarekat, ia juga tunduk kepada tuntutan Tarekat supaya rnematuhi undang-undang negara. Barangsiapa yang tidak bersedia mematuhi undang-undang negara, dengan demikian tidak akan diterima. Argumen yang rupanya dikemukakan beberapa orang, bahwa penolakan keanggotaan berdasarkan hal tersebut berarti melanggar asas-asas yang "rnenuntut rasa hormat bagi keyakinan yang ikhlas dari setiap orang'', ditolak oleh Suhu Agung dalam pemyataannya itu.

Suatu pertanyaan lain ~enyangkut soal tentang apa yang harus dilakukan kalau siste~ pemerintahan diganti, sesuatu yang pada waktu itu merupakan sesuatu yang bukan musta-

  1. Idem th. 38, 737-738

Suhu Agung menegaskan bahwa pada saatmengangkatjanji, maka yang dipikirkan adalah "undang- undangyang berlaku waktu itu, dan tuntutan bahwa kita akan menjauhkan diri dari perlawanan tidak sah terhadap undang-undang itu dan undang-undang lain yang ditetapkan eli bawah tatanan negara seperti yang kita miliki". Suatu pertanyaan yang berkaitan adalah: Apa yang harus dilakukan kalau sea- rang anggota karena perubahan pendirian atau karena perubahan tatanan negara, tidak lagi merasa telikat kepada peraturan-peraturan yang diterimanya dahu.lu? Jawabannya ialah bahwa seseorang dalam kedua hal itu harus memutuskan untuk dirinya sendiri apakah pendiriannya itu sesuai dengan keanggotaannya di Tarekat. Tanggung jawab pribadi yang dipikul setiap anggota, dengan demikian sekali lagi digarisbawahi, di mana Tarekat harus dapat menerima bahwa beberapa anggota mempunyai pendapat-pendapat yang menyeleweng terhadap tatanan hukum. Ten tang batas-batas toleransi terhadap pendirian-pendirian menyeleweng, pemyataan itu terpaksa hanya berbicara secara samar-samar. Tindakan baru dilakukan "kalau perilaku yang bersangkutan memberikan alasan tmtuk itu".

Semua ketentuan itu dimaksudkan sebagai persiapan bagi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada tahun-tahun itu. Namun tidak dapat clilacak lagi sebagaimana jauh ketentuan-ketentuan itu pernah diterapkan terhadap anggota Tarekat di Hindia Timur.

Kalau sampaisaatini hampir seluruhnya gerakan totaliter ditinjau dari sudut pan dang defensi£, sekarang akan dibahas pendekatan yang lebih akti£ yang telah digunakan beberapa loge di Hindia Timur. Termasuk dalam kerangka itu adalah pertemuan-pertemuan umum di mana asas-asas Tarekat dibentangkan. Laporan-laporan yang dimuat dalam surat-

TAREKAT MAsoN DAN PEI\IUANCAN UI\'TL"K KEst:-.JAMBUNGAN Hmur

surat kabar mengenai peristiwa-peristiwa itu, membantu menyebar-luaskan informasi mengenai Tare kat. De Visser Smits umpamanya berbicara di Madiun pada bulan Mei 1933, di mana ia memberikan pe1·hatian terhadap asas-asas Tarekat. Menmut pemberitaan lndiscl7e Courant De Visser Smits ban y- ak berbicara tentang keterkaitan Mason Bebas dengan pertanyaan-pertanyaan terhadap soal-soal agama, dan hubungannya dengan ras-ras serta bangsa-bangsa lain. Nilai tinggi dari kepribadian man usia dalam hal itu selalu muncul kembali sebagai suatu patokan, sama seperti " persamaan semua orang dalarn wujudnya". Pada akhirannya, hubungan antara Tarekat dengan Wangsa Oranye juga dibicarakan. Tarekat, demikian De Visser Smits, berfungsi sebagai suatu pcrkumpulan yang seluru.hnya rnerdeka di dalam batas-batas Kerajaan Belanda, namun juga merasa terikat dalam satu persaudaraan intemasional dengan semua orang. 41

Melihat situasi yang sangat sulit pada waktu itu, maka suatu tuntutan yang mendesak adalah bahwa lawan-lawan dari totalitarisme berhenti menyerang satu sama lain, terma- su.k scrangan-serangan Gereja Roma Katolik terhadap Tare kat. Badan Pengurus Besar Tarekat pada tanggal 19 November 1938 mengirim surat terbuka kepada para uskup eli Nederland ten tang perpecahan yang semakin menjacli-jadi di dalam masyarakat yang ditandai dengan tuduhan-tuduhan serta kebencian terhadap ras-ras dan golongan-golongan lain.

Akhirnya, sejauh menyangkut Tarekat di Hindia Timm·, tidak dapat disangkal bahwa pendukung-pendukung nasionaJ sosialisme juga terdapat di dalamnya. Narnun seberapa jauh gagasan-gagasan totaliter itu sudah rnasuk, sulit w1tuk ditentukan. Kesan yang timbul ialah bahwa prinsip masonik

4 L Idem th. 38, 690

humanitas telah dapat dipertahankan dengan baik, walaupun ten tang kebalikannya ada juga contoh-contohnya. Bahwa dwi-keanggotaan dapat mengakibatkan situasi yang aneh dapat dilihat dari keterangan seorang Mason Bebas her-usia lanjut dari tahun 1987 ten tang suatu pcristiwa ya ng terjadi sekitar tahun 1936: 42

11 Waktu itu aku tT\enghadlri pemakaman seorang anggota, anggota Loge 'St. Jan' yang juga anggota ' N.S.B.', pada satu sisi kubur para anggota loge berdiri dengan sikap setia, dan di sisi lainnya terdapat para anggota berseragam 'N.S.B.' dengan sikap salam Mussert' ."

Juga kutipan berikut ini, yang diambil dari catatan-catatan yang san gat pribadi dari seorang anggota Tarekat berpangkat tinggi, menunju.kkan bahwa juga para anggota di Batavia dan Malang tidaldah bebas dari rasa simpati kepada gerakan totaliter. Setelah m.enceritakan bahwa pada buJanJanuari 1943 para tawanan perang di Singapura telah mendirikan suatu '1oge lapangan", informan meneruskan sebagai bcrikut:

Di loge lapangan itu dua anggota dilantik sedangka11 tiga anggota lainnya yang oleh karena bersi mpati kepada 'N.S.B.' pada bulan Mei 1940 keluar dari Tare kat, diterima oleh kami. Saya sendiri seorang penentang kuat dari ideologi-ideologi 'N.S.B.', yang menurut saya tidal< cocok dengan asas-asas Tarekat Mason Bebas. Pada lahun 1935/36 saya satu-satunya anggota dalam loge ''De Ster in het Oosten" yang memberi suara tidak setuju kalau ada caJon anggota yang juga seorang 'NSB'. Pada hari-hari emosional di bulan Mei 1940, setiap anggota 'NSB' di Malang harus dlkeluarkan dan Tare kat. Saya waktu itu membela mereka, dan hampir-hampir saja saya juga dikeluarkan dari Tarekat'

~2. Kuesioner dian tara mantan-mantan anggota dari loge-loge Hindi a,

  1. Arsip Tarekat di Den Haag.

T..o.REI 6. Hubungan tegang antara Tarekat Mason Bebas (Vrijmetselarij) di Nederland dan di Hindia Belanda Pada bulan Januari 1937, J.M.T. mengumumkan bahwa redak· tur majalah tersebut telah mcmutuskan untuk meletakkan jabatannya. Scbagai penjelasan ditambahkan "sebagai akibat perbedaan pendapat antara Pengurus Besar Tarekat dengan Pengurus Besar Provinsial di Hindia Belanda".n Berita itu menggelisahkan, sebab redaktur tcrmaksud adalah Dr. D. de Visser Smits, seorang anggota Tarekat yang terkemLlka dan penuh dedikasi. Dalam alasannya dikatakan ada perbedaan pendapat an tara pengurus-pengurus di Den Haag dan Batavia, dan dalam kaitan itu berita sebulan kemudian tentang berhentinya Wakil Suhu Agung Mr. A. H. van Ophuysen, dan deputinya H.l. Maurer, tidaklah datang scbagai kejutan.
44

Bagaimana pun juga berita itu, dan be rita terkait ten tang tiba- nya Suhu Agw1g H. van Tongeren di Hindia Tirnur, pasti telah mcyakinkan para pcmbaca f.M.T. bahwa d1 dalam tubuh Tarekal tclah pecah konflik yang serius.

Agar mengetahui lebih baik Jatar belakang peristiwa ini, yang tidak ada presedennya dalam sejarah Musyawarah Nederland, kita dapat menyimak berita-berita dnlam l.M.T. serta juga catatan-catatan yang dibuat Suhu Agung tentangnya. Catatan-catatan itu menyangkut komentar terhadap berbagai macam korespondensi yang dimuat dalam suatu bun del yang telah d1susun sendiri oleh Van Tongeren. Judul bundel itu adalah Brjdrage tof de geschiedenis der Orde van Vrijmetselaren onder het Crootooste11 der Nederlanden in de jnren 1933-1936 (Sumbangan terhadap sejarah Tarekat Kaum Mason Bebas di bawah Musyawarah Nederland pada tahun1933-1936) dan pada

  1. 1MT th. 42, 219
  2. IMT th. 42,238-239

45 300 eksemplar. Visi Van Tongeren ten tang hubungan dengan Loge Agtmg Provinsjal dapat dibaca dengan baik melalui komentar-komentar pada margin.

Yang menarik dalarn bentrokan pendapat ini ialah karena ia merupakan bagian dari suatu medan ketegangan yang jauh lebih luas, yang sudah lama terdapat dalarn hubungan an tara Belanda dan Hindi a, namun yang terutama rntmculke permukaan pada tahun-tal1un tiga puluhan. Di berbagai bidan& se- pe.rh di bidang polihk dan ekonomi, misi dan zending, kecenderungan muncul 1.mtuk melonggarkan hubtmgan dengan Belanda, untuk seakan-akan melepaskan diri dari cengkerarn- an negeri induk.

Masih ada faktor lain, yaitu akibat-akibat dmi "kebijakan pelepasan kewalian" yang dijalankan Belanda sejak saat per- ganhan abad, tidak dapat dibatasi hanya pada penyerahan kewenangan dalam bidang pernerintahan kepada orang-orang Indonesia. Komunitas orang Belanda di Hindia, yang yakin bahwa mereka sangat diperlukan, menunhtt bagi dirinya posisi kepemimpinan, suatu posisi yang mentpakan pengakuan terhadap prestasi-prestasi yang telah tercapai demi kebaikan negeri dan rakyatnya. Namun pendapat tersebut be.rtentangan dengan kebijakan pemerintah di Den Haag, yang pada tahun-tahtm tiga puluhan-terutama sebagai akibat situasi ekonomi yang buruk di Nederland -lebih cenderung mem perketat kekang pemerintahan dmipada melong- garkannya. Yang menyebabkan perasaan kura.ng enak eli Hindia. adala.h ba.hwa ''Den Haag" rupanya tidak memperhittmg- kan kebutuhan-kebutuhan Hindia yang spesifik, dan mala.h- an sepertinya. mengambil haluan untuk kembali ke hubung-

  1. Perpustakaan Tarekat di Den Haag

AREKAT MASON DAl\ PERJUru'lo!GAN Uf\'TUK KE511'vuvtBUNGAN HlDVP

an-hubungan yang diperketat. Tetap berpegang pada gulden "yang kuat"', dipromosikannya impor barang-barang industri Bclanda dan penghematan yang amat ketat terhadap pengeluaran pemerintal1an Hindia Belanda, menirnbulkan kesan di Hindia bahwa kepentingan negeri itu sekali lagi dikor- bankan demi kepentingan negeri induk.

Dalam hubungan an tara Pen gurus Besar Tarekat di Nederland dan ''Pengurus Besar Provinsial", dapat juga dibicarakan ten tang medan ketegangan antaJa "Den Haag" dan "Batavia" Ketegangan tersebut terungkap pada akhir abad ke-19, S(:)perti telah ditunjukkan sebelumnya pada pembahasan tentang berdirinya Loge Agung Provinsial Hubtmgan bertingkat itu memang dalam petjalanan wa.ktu agak kehilangan ketaja- mannya, namun dalam garis besarnya tetap ada. Tetapi pada tahun 1930, kemnngkinan bagi tindakan lebih bebas bertambah bcsar. Hal itu terutama berkat pimpinan Wakil Suhu Agung waktu itu, lr. Wouter Cool. Tidak heran bahwa pada Musyawarah Provinsial tahun 1931, ia disanjung-sanjLmg. Pengganti CooL Mr. H.A. van Ophuysen menyatakan kcpuas- annya karena Cool telah mengubah Loge Agung Provinsial "dari suatu bagian administratif dari Tarekat yang kurang diberikan kewenangan, menjadi suatu persekutuan yang mandiri yang diakui mempunyai kepentingan sendiri, pendapat sendiri, dan sumbcr-sumber sendiri", 16

Walaupun begitu, Van Ophuysen mpanya tidak merasa tenang ten tang hal itu, sebab ia mendesak Cool supaya tetap membela kepentingan Hindia Timur sepulangnya beliau ke Nederland: 17 Apakah Van Ophuysen dalam penghargaannya ten tang hubungan-hubungan yang berubah telah terlalu ber-

  1. IMT th. 36, 236
  2. Idem th. 36, 458

dan apakah karena wishful thinhng telah menge- labui dirinya sendiri? Pertanyaan itu muncul ke permukaan dalam kaitannya dcnganmasalah-masalah dengan Nederland di komudian hari yang bersumber pada penilaian yang salah te.rhadap kemerdekaan Hindia. Kelihatannya bahwa Van Ophuysen, orang Belanda yang lahir di Hindia, salah raba ketika ia menuntut bagi Batavia suatu posisi tersendiri.

Dari surat-menyurat yang dikumpulkan Van Tongeren, mcnjadi je1as bahwa dia-yang sejak tahun 1929 menjadi Suhu Agung Tarekat -sudah sejak awal tahun 1933 berpendapat bahwa kaum Mason Bebas di Hindia Timur kurang me- mah.thi peraturan-peraturan yang berlaku. Ia juga mempunyai banyak kritik terhadap isi J.M.T., dan jclasLah mengapa De Visser Smits scbagai redaktur penanggung jawab hampir bersamaan wakh.mya dengan Van Ophuyse.n dan Maurer angkat kaki. Juga kritik dari pihak Belanda mungkin menje.laskan mengapa sejak tahun 1932 majalah tersebut menjadi corong resmi Loge Agung Provinsial. Dengan cara itu Pen gurus Besar di Hindia mer1w1jukkan merel

Dari korespondensi antara "Den Haag'' dan "Batavia", tidak dapat diambil kesimpulan lain kecuali bahwa hubungan setelah tahun 1933 ditandai oleh saling menghakimi, saling menyalahkan, dan saling mengecam. Reaksi-reaksi dari Van Tongeren selanjutnya menunjukkan bahwa ia menjadi san gat emosional terhadap apa yang dianggapnya penyelewengan terhadap kekuasaan Tarekat di Nederland. Tetapi Van Tongeren agaknya suka melebih-lebih kan. Umpamanya, ia beranggapan bahwa "Pcngurus Besar Provinsial"bertanggungjawab atas mcrosotnya jumlah anggota yang dipertentangkannya dengan kenaikan jumlah anggota di Belanda. Temyata, jumlah anggota itu sangat sedikit berkurangnya, dan komentar- komentamya kepada "Pengurus Besar Provinsial" mengenai

itu rupanya tidak selalu tepat. Van Ophuysen menyang- gah tuduhan itu ketika pada tangga115 Januari 1936 ia menulis surat ke Belanda: 48

"Siluasi pada masa ini, sekurang-kurangnya di Hindia, sangat su lit. Cabang Hindi a dari Tare kat, biarpun menghadapi kesulitan-kesulitan itu, adanya eksodus massal dari Hindia, dan pembersihan internal, secara numerik tetap mempertahankan tingkat keanggotaannya, yang membawa kepuasan tersendiri".

Dengan faktor terakhir, Van Ophuysen mcmasukkan suatu butir ke dalam diskusi, yang sayangnya tidak dapat ditclusu- ri Iebih lanjut. Kata-kata "pembersihan internal" menunjukkan bahwa ada unsur-unsur "tidak bersih" yang tidak layak mend a pat tern pat dalam Tarekat. Tetapi Van Ophuysen tidak memberi keterangan lebih lanjut, dan kare.na itu hanyalah dapat diduga bahwa yang climaksudkan adalah anggota-anggota yang te.rang-terangan pendukung nasionaJ sosialisme.

Kalau keberadaan suatu Loge Agtmg Provinsial di Hindia Timur sudah merupakan faktor dalam bentrokan antara pendirian-pendirian berbeda, maka suatu Loge Agtmg Hindia Timur yang in gin menempuh jalan menuju ke.merde.kaan, pasti akan menghadapi perlawanan di Belanda. Juga di Hindia Timur sendiri ada pend a pat berbeda-beda ten tang ke.mer- dekaan itu, seperti temyata dari surat yang dikirirn kepada Van Tongeren dari Hindia Tirnur dan yang digunakannya sebagai bahan bukti bahwa mereka sudah salah jalan di sana. Hal itu berkaitan dengan suatu catatan dari pengurus loge ''La Constante et FideJe" di Semarang dari bulan Februari 1936, yang didahului suatu pengantaT yang dimaksudkan untuk menjelaskan latar belakang perkembangan situasi:

  1. Van Tongeren, Bijdrage, surat 15-1-'36
  2. Idem, surat 13-2-'36

Anda tahu dari pengalaman bahwa bagi orang yang telah lama tinggal di Hindia, hubungan rohani dengan Belanda telah sangat berkurcmg dan sebaliknya. P roses tersebut pada tahun-tahun belakangan ini menjad i san gat dipertajam dan dipercepal. Indisch111nn (O rang Hindia) yang telah mengalami sendiri penyesuaian cepat yang dilakukan pihak Pemerintah dan khalayak ramai terhadap situasi ekonomi yang berubah, memandang dengan kesal tempo yang lambat di Belanda, sebab ia mungkin lupa betapa jauh lebih rumitnya struktur masyarakat di Eropa. Di lain pihak l

Kernudian surat itu menyinggung soal pelonggaran ikatan ekonomi an tara negeri jajahan dengan negeri induk, yang clisertai lagi dengan rnelernahnya ikatan satu sama lain di bidang kebudayaan. Gejala itu juga berpengaruh terhadap hubungan masonik dan rnerupakan bahaya besar bagi kesatuan Tare kat:

" Melemahnya ikatan ini telah mengak:ibatkan bahwa di banyak Loge Hindia Timur terjadi arus kuat untuk pemisah- ar\ dengar1 Beland a, suatu arus yang tidak disadari oleh banyak anggota di loge-loge. Kami khawatir bahwa kalau ants ini tidak dibend ung pada waktunya, para pendukung pemisahan ini memang dalam waktu singkat akan mewakili mayoritas bf:!sar dari Loge-loge Hindia Timur. Kam.i ma.lahan berpendapat bahwa pengurus-pengurus, namun belum para anggota, pada umumnya sudah berpihak pada aliran ini."

Tidak mungkin untuk membahas semua pokok perselisihan yang muncul dalam surat-menyurat. Namun ada tema yang selalu muncul dari pihak l-I.india Timur adalah bahwa

_ __ TAREKAT M ASO" D A" PI!.l\JIJt\NGAN Ui'

di Belanda orang kurang memperhatikan masalah-masalah spesifik di wilayah jajahan itu dan hanya memandangnya dengan kaca rnata Beland a, scdangkan di Beland a orang berpendapat bahwa Hindia Timur terla1u sering mengikuti jalannya sendiri tanpa memperhatikan pcraturan-peraturan yang ada. Sengitnya debat iht menunjukkan bahwa yang dipersoalkan adalah rnasalah-rnasalah prinsipil, tetapi karen a tidak satu pun dari kedua pihak itu mau mengalah, tidak ada pendekatan satu sam a lain. Lalu sang Suhu Agung-ternyata atas undangan Van Ophuysen-mernutuskan untuk datang sendiri ke Hindia Timur guna mencoba menjernbatani perbedaan-perbcdaan itu. Pada akhir tahun 1936 Van Tongeren tiba di Hindia Timur, dania kecewa karena ternyata Van Ophuysen dan Mauser tidak mau menunggu kedatangannya dan telah meletakkan jabatan mereka. Karena itu rnereka tidak haclir pada upacara penyambutan di Tanjung Priok. Sebagai pengganti semen tara bertindak Ir. J .Ph. van Batenburg dan Jenderal

J.J. Pesman. Dalam pada itu, lowongan eli I.M.T. telah diisi, dan redaksi diambil alih oleh sebuah komisi. Suhu Agung dalam bulan-bulan yang menyusul mengt-m- jungi sejum1ah besar loge-loge untuk memberikan penjelasan tentang rnasalah-masalah yang timbul dan t.mtuk mencoba agar para anggota Tare kat mcngikuti garis haluan Tarekat lagi. Sementara itu ia berunding dengan anggota-anggota dari ''Pen gurus Besar Provinsial" yang baru, sedangkan dalam apa yang "konven (pertemuan) para Suhu" pada tanggal 31 januari 1937 diberikan uraian ten tang apa yang telah dibicarakan dalam Badan Pengurus pada minggu-minggu belakangan itu. "Pengurus Besar Provinsial" yang baru dalam Musyawarah yang diadakan pada tanggal26 dan 27 Maret di Batavia, telah mengt-ttarakan persoalan-persoalan dan memberikan

Suhu Agung yang baru, ternyata dari jawaban yang masuk atas pertanyaan keliling, bahwa Prof. Dr. Jb. Zcylemaker, guru besar di Sekolah Tinggi Hukum di Batavia, mcrupakan fa- vorit untuk menggantikan Van Ophuysen dan ia menerima suara terbanyak. Namun justru nama Jenderal J.]. Pesman cliajukan untuk nominasi, bertentangan sama sekali dengan pemyataan sebelumnya dari Van Tongeren bahwa nominasi menu1·ut pungutan suara baginya merupakan mandat yang mengikat. Walaupun begitu Pesman clinyatakan telah diangkat, dan dilantik dalam suatu upacara oleh Van Tongeren. Yang disebut pertama itu kcmudian memimph1 rapat Loge Agung Provinsial, dan dalam pidato pembukaannya dijelas- kannya bal'lwa "masalah Belanda-.Hindia" sudah setahm1 sebelumnya ditempatkan eli agenda, namun waktu itu telah diputuskan untuk tidak membicarakan butir tersebut mcnunggu kedatangan Suhu Agung yang telah diumumkan itu.

Jalannya persidangan seputar konsep Undang-undang Tarekat, yang mencakup sebagian besar dari pembicaraan, menunjukkan bahwa suasana pada Musyawarah Provinsial mula-mula masih sangat tegang. Dalam konsep dari Zeylemaker telal1 dimasukkan hubungan dengan pil1ak Belanda, posisi I.M.T. dan suatu pengaturan keuangan. Kedua usul pertama diambil a1ih oleh "Penguru s Besar Provinsial" dan tanpa kesulitan cliterima oleh rapat. Namun usul ketiga, tentang pengaturan keuangan, Lidak dapat diterima oleh Pengurus Besar. Biarpun begitu, usul itu dikemukakan kepada para utusan, yang menerimanya dengan suara terbanyak Juga dengan cara lain para wakilloge-loge memperlihatkan bahwa mereka tidak mengalal'l begitu saja. Salah satu utusan, dari Sint 1 an, menyesalkan bahwa dalam laporan sa rna sekali tidak

50. IMT th. 42, 331-346

A!

disebut jasa-jasa yang luar biasa baiknya yang telah diberikan oleh Van Ophuysen dan De Visser Smits kepada Tarekat. Prof. Zeylemaker, utusan dari "De Ster in het Oosten", menyalahkan "Pengurus Besar Provinsial" karena tidak berbuat sesuatu pun dalam periode yang silam untuk mencari penyelesaian. Dalam kritiknya Zeylemaker menyerang juga Suhu Agung Van Tongeren, dan mengecam dengan pedas Witboek (Buku Putih), yakni Bijdrage dari tahun 1936 yang telah disu- sunnya itu dan yangtelah disebut di atas. Pernbicara memastikan bahwa tidak seluruh korespondensi dimasukkan secara lengkap dan menganggap penyebaran buku itu sebagai langkah keliru yang serius. Lagipula ditimbulkan kesan seakan-akan buku itu suatu penulisan sejarah, padahal dalam pandangannya ia lebih merupakan upaya pcmbenaran sikap Suhu Agung. Zeylernaker meminta kepada Van Tongeren untuk membinasakan semua eksemplar, namun ia tidak bersedia melakukannya. Seorang utusan lainnya menanyakan keputusan apa diambil berkaitan dengan eksemplar-eksemplar yang ada eli Hindia tertapi Wakil Suhu Agung Pesman memberikan jawaban mengelak.

Pad a pembicaraan penutupan diutarakan harapan semoga
dengan dipulihkannya ketenteraman, kehidupan loge akan
mernperoleh rangsangan yang baru. Kemudian Wakil Suhu
Agung berbicara kepada pendahulunya, Van Ophuysen,

sekarang utusan dati loge "De Ster in het Oosten". la mengucapkan terima kasih atas pekerjaannya selama bertahun-tahun dalam pelayanan kepada Tarekat, dan hal itu disambut hadirin dengan tepuk tangan yang lama dan meriah. Setelah juga Suhu Agung menyampaikan sepatah kata penutup, Pesman mengucapkan selamat jalan kepadanya dan menyampaikan harapannya bahwa akan "tercapai kerja sama yang erat dengan Belanda". Musyawarah Provinsial ditutup dengan dua

Suhu Agung berkata pad a Musya wa- rah tahun 1938, "Hubungan dengan pihak Belanda pada tahun yang silam berjalan tanpa hambatan apaptm". 51

7. Orde dan kaum Mason Bebas (Vrijmetselarij), semasa pendudukan Jepang dan permulaan baru pada tahun 1945 Sejarah Tarekat Mason Be bas selama Perang Dunia Kedua di Asia dalam tinjauan sejarah dari Vander Veur dilukiskan secara gamblang olehnya, namun terdapat banyak kekurangan dalam tinjauan itu dad segi penuturan peristiwa.
52 Penulis tidak melangkah lebih jauh selain rnengatakan, "The japanese occupation resulted in the closing of all lodges and the internment of most of its Dutch nnd Chinese members" (Pendudukan Jepang mengakibatkan clitutupnya semua loge dan di-intemirnya kebanyakan anggota Belanda dan Tionghoanya). Juga sejarah umum dalam soal pendudukan Jepang tidak memberikan banyak informasi yang dapat digunakan sebagai bahan untuk bab ini. Walauptm begituJ berdasarkan data yang diperoleh dari kuesioner yang cliadakan pada tahun 1987 yang die- darkan kepada para mantan-anggota dari loge-loge di Hindia dan dari berita-berita dalam I.M.T. edisi-edisi setelall perang ada juga yang dapat disampaikan mengenai periode yang telah membawa dampak yang begitu besar terhadap Tarekat dan anggota-anggotanya.

Banyak artikel dalam I.M.T. dari tahun-tahun menjelang tahun 1942 menunjukkan keprihatinan terhadap situasi poli-

  1. Idem th. 43, 552
  2. Van der Veur 1975, 25

MASON DAN PERJUANGAN u l\'1UK K E.STNA?> IBUNCAN Hrour

tik di Eropa pada zaman itu. Lagipula di beberapa negara totaliter dikeluarkan larangan terhadap Tarekat Mason Be· bas, sedangkan kebebasan rohani pun di beberapa negara demokratismengalami tekanan. Seperti telah terungkap pada alinea sebelumnya~ Tarekat di Hindia Belanda mengalami berbagai kesulitan, walaupun sebabnya terletak di bidang yang lain. Namun kelihatannya bahwa pada tahun-tahun tiga puluhan terjadi lebih ban yak kesuJitan daripada yang terungkap dalam I.M.T. Hal ini ternyata dalam edisi I.M.T. bulan Oktober 1939 ketika disimpulkan bahwa Tarekat dalam perjuangan zaman telah menghadapi suatu ujian api.SJ Juga dikeJuh- kan tentang kemerosotan jumlah anggota. Beberapa penulis dalam majalah itu menghubtmgkan perkcn1bangan tersebut dengan a pa yang mereka anggap sebagai sifat Tarekat yang sudah tidak menarik lagi.

Keluhan itu dijadikan alasan bagi C.P. Voute untuk mcnja- jarkan angka-angka, dan untuk mengetahui sampai sebagaimana jauh suara-suara pesimis itu dapat dibenarkan. 54 Namun penelitian Voute menunjukkan bahwa Tare kat tetap me· narik bagi kaum muda. Dalam periode 1929-'39 usia rata-rata dari calon-calon anggota adalah 37 tahun, sedangkan pada tahun 1938 sepertujuh jumlah anggota berusia di bawah tiga puluh tahun. Ternyata pula bahwa hampir-hampir tidak dapat dikatakan ada pcnurw1cu1 dalam jumlah anggota; anggota pada tanggal30 Juni 1938 berjumlah 1 .290, sedangkan tepat satu tahun kemudian jumlahnya 1.283. Dalam periode yang sama, sebagai akibat keadaan ckonorni, 53 anggota kernbali ke negeri Be Ianda. Oleh karena itu menurut Voute tidaklah dapat dikatal

  1. L\1T th, 45, 84-85
  2. fdem th. 45, 6-12

terakhir sebelum pecah perang, yakni pada tangga130 Juni 1941, memberikan jumlah anggota sebanyak 1.255 orang, dan dengan dcmikian, bagaimana pLm juga, 55 kecenderungan penurunan ringan masih tetap berlanjut.

Tahun 1940 disambut oleh I.M.T. dengan peringatan terhadap kemerosotan kehidupan rohani sebagai akibat berita buruk setiap hari, dan dengan seruan untuk melawannya. Walaupun tahun itu dimulai dengan perspekti£ yang suram, para anggota harus menyadari bahwa "Terang'' yang tetap bertahan berabad-abad Iamanya, "juga dalam masa depan akan abadi". Terutama dewasa ini penting untuk bertindak 50 secara perorangan. Namun berita-berita tidaklah bertambah baik, invasi Jerman, mengungsinya rah1 dan pemerintah ke London, dan akibat langsung dari pendudukan Jerman bagi Tarekat Mason Bebas di Belanda diikuti terus-menerus di Hindi a dan rnembawa kesan yang mendalam. Sesuai dengan tindakan pemerintah Hindia terhadap anggota-anggota "N.S.B." yang bekerja di kalangan pemerintahan, pada tanggal 2 Juni 1940 keanggotaan Tarekat mereka juga dicabut. Tidak ada berita dari Belanda yang lebih menggelisahkan dalam I.M.T. daTipada larangan terhadap Tarekat oleh pemerintah pendudukan Jerman, di-internimya anggota-anggota dalam kamp-kamp konsentrasi dan disitanya gedung-gedung dan inventaris loge-loge.u Rasa keputusasaan bertambah lagi

  1. Idem th. 47, 35
  2. Idem th. 45, 303
  3. Idem th. 46, 664-667

Suhu Agung Tarekat, Van Tongeren, yang belum begitu lama berselang te1ah datang ke Hindia Timur, meninggal di kamp konsentrasi Sachsenhausen. Di- intemirnya Van Tongeren dimaksudkan sebagai pembalasan terhadap langkah-langkah pemerintah Hinclia I3elanda terhadap orang-orang Jerman yang tinggal di negeri itu. Ketika bcrita ten tang meninggalnya Van Tongeren sampai di Hindia Timur, ia cliperingati oleh Wakil Suhu Agung J.E. Jasper dengan perkataan yang penuh emosi. 58

Tidak dapat dielakkan bahwa kehidupan masonik pun akan mengalami akjbat dari keadaan yang buruk. Sebab itu, tahun kerja 1941-'42 dibuka oleh Jasper dengan nada pesimis, karena situasi umum "j uga telah membawa ketegangan dan kegelisahan dalarn kehidupan loge di H.inclia Belanda". 59 Sekali lagi ditunjukkan masalah-masalah masa yang baru berlalu, tetapi juga pembersihan dan pemulihan, sehingga arus yang terganggu sebentar telah kembali ke alur yang benar. Kata-kata ini rupanya menyinggung soal pengeluaran anggota-anggota "N.S.B.'' dari Tarekat.

Pada bulan November tahun 1941 Wakil Suhu Agung mengadakan kunjungan keliling ke Jawa Tengah di mana ia mengunjungi lima loge. Selama perjalanan itu ia mengadakan ceramah-cerarnah tentang Tarekat Mason Bebas pada orang-orang yang tertarik, namun yang dianggapnya lebih penting adalah mengadakan kontak dengan anggota-anggota loge sebagai wakil dari ''Pengurus Besar Provinsial". Dikemudian hari, perjalanan itu dianggap sebagai penutup dari Tarekat Mason Bebas zaman sebelum perang, masil1 satu kali lagi Wakil Suhu Agung bertemu dengan anggota-anggota loge dalarn suasana bebas. Yang menarik ialah bahwa dalam lapor-

  1. ldem th. 46, 519-526
  2. Idem th. 46, 657-658

eli Tcgal untuk Ratu Wilhelmina dan pimpinan pemerintah h1ggris, Winston Churchill. 60

Jepang menyerang Pearl Harbor pada tanggal 7 Desem-

ber 1941, dan pecahlah perang di Pasifik. Pemerintah Belanda di London -sekutu dari Amerika, Jnggris dan Australia -segera mcmyatakan perang kepada Jepang. Hindia BeJanda akan segera menjadi medan peperangan dan mempersiapkan diri untuk hal tersebut. Pada tanggal14 Desember anggota-anggota loge-loge di Batavia mengadakan pertemuan istimewa untuk membicarakan masa depan yang dekat. 61 Ketua loge "De Ster in het Oosten" memberikan amanat kepada anggota-anggota yang datang dalam jumlah besar dan menekankan bahwa para anggota sekarang harus mengandalkan kekuatan batinnya masing-masing:

''Negeri kita memanggil untuk mengangkat senjata dan berperang. Kita tidak ingin mencabut nyawa orang lain, namun oleh karena kita sekarang dipaksa melakukannya, maka kita menyadarl bahwa tugas kita adalah tmtuk mentaati, sebab nilai lerbesar dari manusia dan masyarakat sedang di pertaruhkan."

Pada tanggal16 Desember Wakil Suhu Agung menyam-
paikan pesan Pebangkita.n Semangat kepada pengurus loge-
loge. Ia mendesak agar semua pekerjaan, sebagai dukungan
dalam masa pencobaan, dilanjutkan sedapat-dapatnya.

62 Pertemuan-pertemuan dimungkinkan oleh karena kumpulan tertutup seperti yang diadakan oleh loge-loge, tidak terkena

  1. Idem th. 46, 519-526
  2. Idem th. 47, 272
  3. Idem th. 47, 270-271

AREKAT MASON DAN PERJUANGAN U:--'TUl< KESJI'AMI!Ul':CJ\N H10ur

Iarangan-larangan yang dikeluarkan pemerintah. Kewajiban pertama yang sekarang harus dilakukan oleh para anggota adalah kewajiban warga terhadap negara. Sebab, perjuangan su pay a terang dan kebebasan me nang a tas kegcla pan dan paksaan dalam masa sulit scperti ini harus diutamakan.

Pada masa itu ketua loge "Sin t Jan" di Bandung, ].H. Uhl, rnengirim pesan kepada anggota-anggota loge tersebut. Dalam pesannya ia mcnghimbau para anggota agar menghadapi ancaman perang, sedangkan pertcmuan-pertemucm terah.u untuk sementara waktu tidak dapat diselenggarakan. Pcngurus telah rnenyediakan gedung loge bagi Palang Merah, yang menempatkan bagian adrninistrasinya di gedungitu. Kepada para anggota ditekankansupaya jangan memandangentcng musuh; peperangan yang mungkin akan memakan waktu lama, memerlukan pengerahan seluruh tenaga yang ada, tetapi jangan seorang pun meragukan tercapainya kemenangan akhir. o3

Edisi bulan Januari dari I.M.T. hampir seluruhnya berisikan berita dan artikel berkaitan dengan perang. Dalam pesan tahun barw1ya untuk tahun 1942, Jaspers mengingatkan para anggota Tarekat bahwa negara sedang berada dalam situasi yang gawat. Ia berseru agar semua anggota tetap waspada dan mempersiapkan diri menghadapi cobaan-cobaan berat. Yang penting sekarang ialah bekerja dengan penuh dedikasi demi kesejahteraan masyarakat. Apapun yang akan terjadi dengan Tarekat Mason Bebas, wujudnya tidak mungkin hilang, dan ia mengakhiri dengan seruan supaya semuanya menerima kewajiban masonik dengan penuh semangat.~'>~

Pada tanggal 9 Januari 1942 pekerjaan masonik di Bandtmg untuk sesaat dimulai lagi dengan suatu pertemuan di

  1. Jdem th. 47, 285-288
  2. Tdem th. 47, 266-269

an" di Batavia, Palembang, Kcdiri, Malang, Semarang, Bandung, Buitenzorg, Yogya, Solo dan Surabaya.6<1 Oleh karena mobilisasi umum, ban yak anggota telah pergi ke tern pat lain, sedangkan yang loin dikerahkan untuk penjagaan kota, penangkis serangan udara atau bantuan polisi. Selalu ditekankan agar pekerjaan loge yang biasa, dilanjutkan sebaik mung kin. Dalam kebanyakan hal pertemuan-pertemuan berhasil diadakan lagi sejak pertengahan bulan Januari.

Suatu praka 1·sa istimewa pad a mas a i tu adalah permo- henan dari Wakil Suhu Agung jasper kepada badan-badan pengurus loge agar memberikan sumbangan bagi suatu rub- 67 rik baru dalam I.M.T. Dalam rubrik itu akan dimuat apa yang terjadi "di kalangan para anggota dan di lingkungan mereka". Dipikirkan adanya

" reaksi-reaksi terhadap munculnya dan berkembang:nya situasi perang di berbagai lapisan masyarakat dan segmen penduduk di kota dan di pedesaan, di ondememing di gunung; bukti-bukti keseliaan dan kasih; perasaan persatuan, kewas- padaan atau keteledoran, pendapat-pendapat tentang ancaman bahaya, ketenteraman atau kegelisahan, perhalian atau ketidakpedulian untu k peristiwa-peristiwa dan lain-lain'',

Se1anjutnya dibayangkan akan adanya rubrik di mana pe-

  1. Idem th. 47, -106-409
  2. Idem th. 47, 325-340 67, Idem th. 47,341-343

TAREKAT MASON DAN P£r

ngalaman-pengalaman para anggota dalam dinas militer a tau- pun sipil dapat dimuat. Akan ada manfaatnya, kata Jaspers, kalau pengalaman-pengalaman ini disebarluaskan. Apapun yang terjadi dengan rencana ini, tidak ban yak informasi diperolehnya sebab perang dengan cepat berakhir. Namun redaksi pun tidak tahu bahwa perang akan berakhir begitu cepat, sebab pada bulan Januari 1942, redaksi masih beranggapan bahwa majalah itu masih akan terbit beberapa waktu lamanya. Pengurus-pengurus harus menekankan kepada para anggota supaya mengirim sumbangan-sumbangan mereka sebelum tanggal10 setiap bulan. jasperssampaisaatterakhir berusahasupaya para anggota Tarekat dapat menyadari betapa gentingnya keadaan. Namun ia bukannya tidak sadar terhadap tindak-tanduk Jepang kalau mereka menang. Surohadikusumo, anggota dalam Pen gurus Besar, di kemudian hari dalam suatu laporan tentang peri ode pendudukan, mengatakan bahwa Jasper pada bulan Februari 1942 menugaskannya agar matnjs cetakan dari suatu artikel anti-Jepang yang ditulisnya dan dimaksudkan untuk edisi bulan Maret l.M.T. dibinasakan. 68 Untun& demikian Surohadikusumo, tugas itu dapatdilakukannya.

''Andaikata tidak terlaksana, maka semua anggota Hindia aka.n mengalarni perla.kuan khusus, sebab a.rtikel termaksud sama sekali tidak menyenangkan bagi penyerang mau- p un bagi pemerintahnya".

Peristiwa-peristiwa militer pada masa itu silih berganti dengan cepat. Tidak lama se_zelah pendaratan pertama pasukan Jepang di Jawa pada tanggal 28 Februari, pertempuran dihentikan dan pada tanggal8 Maret ten tara Hindia Belanda menyerah tanpa syarat eli Kalijati. Malam panjang pendudukan Jepang pun dimulai.

  1. Idem th. 49, 323

ten tang kehidupan sehari-hari padamasaitu, masih saja belurn lengkap, walaupun telah diterbitkan berbagai terbitan tentangpe- rang di Pasifik pad a tal1un-tahun belakangan ini. Apalagi risa-Iah pemgalaman ratusan anggota Tarekat yang dilanda oleh musibah perang. Yang mencolok ialah bahwa tidak ada satu kajian pun terbit mengenai pokok ini. Apakah kekosongan ini berkaitan dengan kecenderungan orang-orang yang bertahan hid up selama pendudukan Jepang itu untuk tidak menggembar-gemborkan pengalaman mereka? Oi negara yang berusaha mengatasi keped.ihan perang yang dialamin ya sendiri, tidak ada banyak perhatian terhadap kisah orang-orang dari Hindia Timur dan mereka juga bungkam saja. Suatu contoh bagaimana pengalaman dari masa pendudukan jepang itu dipendamkan dapat dilihat dari buku kecil peringatan loge "Excelsior " di Bogor pada tahun 1951. 69 Dilaporkan bahwa invasi Jepang telah mengakhiri pekerjaan loge dan bahwa baru pada bulan Mei tahtm 1947 sejumlah kecil anggota mulai menjalankan kegiatan lagi. "Gedung kami masih utu.h, narnun ruangan Rumah Pemujaan rnengalami kerusakan berat dan sama sekali tidak dapat dipakai lagi<'.

Oengan langkanya sumber~sumber tertulis, maka wawan-
cara-wawancara historis dan kenang-kenangan yang dicatat
merupakan bahan-bahan yang dapat mengisi kekurangan itu.

Salah satu hasil dari kuesioner tahun 1987 adalah bahwa beberapa mantan anggota dari loge-loge Hindia Timur telah mencatat kenang-kenangan perang mereka di at as kertas dan dengan demikian tersimpan keterangan yang penting. 70 Dalam salah satu kasus malal1 timbul kesempatan untuk mem- perbandingkan keterangan tersebut dengan suatu terbitan

  1. Loge 'Excelsior' Bogar, 1891-1951, 23
  2. f::nquete 1987. Arsip Tarekat di Den Haag

T AREKAT MAseK D. .;..'\' PERJUAl'I:GAJ'I: UNTUJ< K ES!NAMBI_INGAN HID UP

tertulis. Berdasarkan suatu ringkasan dari kisah-kisah para anggota Tarekat yang pemah di-internir, terciptalah suatu lukisan tentang apa yang sebenarnya terjadi di kamp-kamp interniran. [Demi kerahasiaan, nama-nama para jurubicara telah disfgkatkan, St.]

VDB berusia 20 tahun pada waktu ia tiba di Hindia pada tahun 1930. la ditempatkan sebagai tenaga staf di "Nederlnndsch Jndische Escompto Maatschappij (Bank Escompto r I mula-mula di Batavia dan kemudian di Medan dan kota-kot:a 1-lin-dia lainnya. Pada tahun 1935 ia dilantik di loge "Deli" diMedan, dan karena sering dipindahkan ia setiap kali mendaftarkan diri di loge-loge lain. Pada tahun 1943 ia di-intemir di Pekalongan bersama dengan Kernkamp, ketua logenya waktu itu, yaitu loge "HLmlanitas", bersama anggota-anggota Mahler, Van Dort, Dikschei, Stolz, dan Tollens sebagai sesama tawanan. Seingat VDB, em pat orang yang elise but terakhir, men1nggal dalam tawanan. Ia memberitakan bahwa Ket·n-kamp pernah diambil dari selnya dan diperiksa oleh Kenzpetai [polisi rahasia Jepang, St.] tcntang keterkaitannya dengan Tarekat Mason Bebas.

la ditahan sampai bulan Januari 1944 di lembaga pemasya- rakatan setempat, dan kemudian dipindahkan ke kamp besar di Cimahi di mana ia ditempatkan di kamp IV dan IX. Ketika ada pengumuman lowongan, VDB melapor kerja di rumah sakit yang ditempatkan eli gedung rumah sakit tentara setempat yang lama. Di situ kondisi hidup baginya jauh lebih baik dari sebelumnya. Pekerjaan di rumah sakit memberikan banyak kepuasan dan menyebabkan bahwa ia dapat bertemu dengan Mason-mason Be bas yang lain. Kutipan berikut ini telah diambil secara harfiah dari kisah pengalaman VDB:

Tidak lama kemudian terbina hubungan dengan anggota-anggota. Pertemuan-pertemuan selalu dipimpin oleh

v.d. Plaats, y<~ng bekerja di rumah sakH sebagai ahJi
rontgen. Br. Weimer, yang lama tinggal dan bekerja di Batavia, dengan banyak kontak di seluruh Nusantaia, bekerja di bagian administrasi. Ia mcmberitahu para anggota yang bekerja di rumah sakit kalau ada pasien Mason Bebas yang di-opname, supaya kami dJpat mengadakan kontak dan bila mungkin -dengan sedikit kemampuan yang kami punyai -memberikan pertolongan sedapatnya. Suatu kunjungan ke pasien seperti itu sudah merupnkan dukungan. Nama-nama dari beberapa anggota yang juga bekerja di rumah sakit sudah tidak saya ingat lagi. Dcngan Br. C.L. Arnold, yang dirawat di rumah sakit sebagai pasien, saya tetap masih mcmpunyai hubLmgan. Br. Vander Plaals dan br. Weimer sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu. Namun mereka bcrtahan hid up selama masa dalam k<~mp. AdJ juga be- beropn anggota lnggris. Saya rasa mereka anggota "Loge Java". Saya mengingat nama-nama br. Bennet dan br. Ridley. ~r. Mr. Zeylinga untuk beberapa waktu lamanya menjadi pasien kami dan pernah memberikan ccramah pengantar. Saya bekerja di rumah sakit scbagai mandor cuci dan pengangku t sampah. Pad a kira-krra tanggal27 Oktober 1944 saya diperintahkan untuk membawa orang-orang ya ug meninggal ke pemakaman Leuwigaja. Pekerjaan itu terdiri dari pemetian, persiapan untuk diangkut dengan braJ1knr dan, dengan bantuan orang lain, pengusungan ke tempnl pemakaman. Sejak saat saya ltarus menjalankan pckcrjaan itu, sudah terjadi kebiasaan tmtuk mengadakan perpisahan secara masonik dengan anggota-anggota yang meninggaJ. Pimpinan dalam hal ilu sclalu di tangan Vander Plaats. Saya dengan mud;lh dapat mengaturnya sebab saya yan g mengurus rumah mayat dan memegang kuncinya (rupanya saya memberikan kesan kepada orang Jepang bahwa saya dapat dipercaya, sehingga mereka membiarkan saya melakukan apa saja tanpa adanya pengawasan).

Anggota pertama yang harus saya antar pergi adalah K. Booberg (1894- 29 Oktober 1944). Anggota ini meninggal tidak lama setelah di-opnamc d1 rumaJ1 sakH. Katanya telah dianiaya oleh 'Kempetni'. Mcnurut calatan-catatan saya yang lama, kami telah berpisah dengan anggota-anggota

MAsoN DAN PERJUANGAN UNTU1< KEstNAMBUNCAN HlouP

berikut ini: Alders (1889 - 29 Agustus 1945), De Booij (1889- 17 Mei 1944; tidak ada upacara di sekeliling petinya), Van den Belt (1883- 30 Juli 1944; tidak ada upacara di sekeliling petinya), Van den Broek (1890- 4 Desember 1944), Brinck (1888- 6 Juli 1945), Boelman (1893- 23 September 1945), Van Dam (1894-9 Juni 1945), Flothuis (1898 -13 April1944), De Flines (1893-1 September 1945), JuiHen (1869 -31 Oktober 1944; diragukan apakah ia Mason Bebas), J.E. jasper {1874- 25 Maret 1945 - Wkl. Suhu Ag.), Jansse (1892- 10 April1945), Langenberg (1896- 22 Februari 1945), Van Ou- werkerk (1894- 11 April 1944; tidak ada upacara di sekeliling petinya), Oostingh (1881-4 November 1944), Oosterop (1895- 24 Januari 1945), Otto (1894- 8 Maret 1945; co- mafon), HH. Proper (1890- 6 Mei 1945), dan T.C. Proper (1892-18 Agustus 1945), Rothwell (1898-14 Maret 1945), Stolz (1900-13 Juni 1945), Verwoerd (1890-12 September 1945; diragukan apakah ia Mason Bebas), Zwart (1885 -11 Februari 1945) dan Zerb (1893 - 3 Agustus 1945).

Pada akhir bulan September a tau awal Oktober saya mengakhiri pekerjaan saya di rumah sakit Saya pergj ke istri dan anak-anak saya di Batavia.lstri saya waktu itu terbaring sakit keras di rumah sakit Carolus. Di seberang rumah sakit itu, saya untuk beberapa bulan lamanya membantu br. Denker mendirikan suatu panti asuhan, di mana anak-anak yang berasaJ dari kamp-kamp penahanan perempuan ditampung. Mereka adalah anak-anak yatim piatu dan anak-anak yatim. Lama-kelamaan saya kembali ke pekerjaan saya yang biasa sebagai karyawan bank".

C.L. Arnold yang disebut dalam tulisan di atas pada tang-
gal22 Juni 1946 mengadakan ceramah di logenya "De Ster in het Oosten" di Batavia, di mana ia membenarkanketerangan yang diberikan oleh VDB, dan juga menyampaikan keterangan lainnya yang penting untuk pengetahuan kita ten tang masa itu. Berikut ini diberikan bagian dari ceramahnya yang cocok dengan keterangan dari VDB:

  1. IMT th. 48, 53-56

seneliri beruntung karena sebagian besar dari masa pengintemeran saya jalankan di rumah sakit eli Cimahi, di mana karni di bawah pimpinan anggota karni, Prof. Van der Plaats bertemu secara teratur. Berkat dia, maka kaml dapat merayakan Sylvester dan St. Jan bersama sekitar 20 orang anggota dalam suatu loge yang sempuma, yang lengkap dengan potret Ibu Negara karni. Para anggota kita eli sana, yang dalam keadaan yang begitu menyengsarakan, tanpa suatu sapaan kasih atau dukungan dari sesarnanya, harus meninggalkan perkakas-perkakasnya untuk memasuki alam baka, berkat bantuan dan kerja sama anggota kita v.d. Blom telah diberikan penghormatan terak.hir."

Juga Mason Be bas Mahler yang dikurung di penjara Pekalongan dan yang disebut VDB, sesama anggota di loge Tegal ''Humanitas", masih mengenang masa itu. Mahler menulis "Dari tempat kerja kita, yakni loge "Hurnanitas" di Tegal, kebanyakan anggota dikurung selama satu periode-sebagai penjahat-penjahat tersendiri- di penjara eli Pekalongan. Jadi, sebagai Mason-mason Be bas. Setelah itu rnereka dipindahkan ke Ci-mahi dan digabungkan dengan kelornpok-keJompok lainn.

JVL adalah anggota "De Hoeksteen" di Sukabumi sejak tahun 1935 dan bekerja sebagai insinyur elektro-teknik di Jawa Barat. Di tumah sakit di Cirnahi ia menjadi asisten dari br. Van der Plaats. Ruangan rontgen digtmakan sebagai Rumah PemuJaan.

"Di rumah sakit di Gmahi banyak anggota menlnggal didalam kesatuan rantai anggota. Kami menyelenggarakan upacara ritual di Rumah Pemujaan. Pertemuan-pertemuan mengesankan di Rumah Pemujaan di dalam tahanan telah memberikankekuatan kepada karni untuk bertahan terus".

Berikut ini sebuah pernberitahuan dari EAJ, yang mengatakan bahwa di rumah sakit di Gmahi diadakan pertemuan-perternuan masonik di bawah pimpinan Prof. Vander Plaats.

suattt ruangan periksa. Di pintu ditaruh papan dengan huruf-hu- rufJepang "Penyakit Menular". RAJ (sic, Penerjemah) mQilg- akhiri sumbangsihnya dengan pemyataan bahwa mcreka tidak pernah diganggu oleh orang jepang.

CHvdB melapor hal-hal yang sangat berbeda mengenai perang. Sebagai polisi ia telah menempuh ujian penterjemah bahasaJepang dan menjadi letnan ajudan dari pengawal kotLJ Batavia. VDB menulis:

Orang-orang Jepang setahu saya tidak terlau paham tentang Tarekat Mason Bebas dan juga tidak melakukan sesuatu yang perlu dicatat. Br. Jasper, gubemur Jawa Tengah, pemah memberitahukan kepada saya bahwa ia pada awaJ pendudukan Jepang telah dipanggil pihak penguasa untuk rnenjelaskan segala sesuatu tentang Tarekat Mason Bebas. Ia telah melakukannya sebaik mungk:in dan kemudiru1 tidak pemah Iagi mendengar apa-apa. Apakah para Mason Bebas memainkan peranan yang khas sclama periode penahanan dalam kamp-kamp, sebclumnya atau sesudahnya? Saya kira tidak, sama saja seperti organisasi-organisasi lain yang serupa. kecuali ada beberapa anggota yang dari porsi makanannya yang kecil masih membaginya dengan sesama anggota:nya yang sakit. Scbagai satu-satunya penerjemah di kamp dengan sepuluh ribu tawanan dari segala bangsa, saya dapatmemperoleh gambaran ten tang apa yang terjadi di antara para mternirru1. Prinsip yang berlaku ialah setiap orang urus dirinya sendiri, dan Tuhan mengurus kita semua. Ada empat hal yang menguasru orang-orang dalam kamp: makanan, kapan orang Amerika datang, bagaimana saya dapat keluar dari sini hidup-hidup, dan bagairnana nasib istri dan anak-anak saya. Ada beberapa tawanan yang selalu memberikan sernangat kepada yang Lain-lain1tetapi di semua kelompok selalu ada oragng seperti ini ( ... )Menjelang akhir perang, saya diberi perintal1 oleh pihakJepang supaya mengumpulkan semua orang Yahudi, Mason Bebas dan lain-lrun, pegawaj-pegawai tinggi, dan pemuka-pemu-

Saya sendiri melapor diri juga, narnun kapten mengatakan saya bukan seorang Mason Bebas dan dengan demikian saya tidak ikut dipindahkan.

Menurut desas-desus, orang-orang Jepang sedang memba- ngtln kubu-kubu pertahanan dekat Bandung dan orang-orang yang disebut di atas itu akan dibawa serta untuk dijadikan sandera. Ketika perang berakhir, kami dengan sejumlah kecil mason yang ters isa menggambarkan sebaik mungkin sebuah Rumah Pemujaan pada lantai salah satu gedung dan menyelenggarakan pertemuan masonik pertama kami di si tu. Suatu peristiwa yang tidak pemah akan terlupakan ... Saya mendapat kehormatan yang perlu diragukan, untuk terlibat dalam semua hal, sebelum, sementara, dan sesudah pendudukan Jepang. Saya pernah semang polisi, komandan pengawal kota Sukabumi, penerjcmah, perwira penghubung di kalangan Inggris di Bandung, pemimpin tim interogasi untt1k melacak penjahat-penjahat perang dan fungsi-fungsi lain. Sebenarnya, porsi yang agak berlebihan".

0, perwira eli KNIL, dan pada tahtm 1941 anggota loge "'Excelsior" di Bogar, melapor bahwa di kamp tawanan perang di Bandtmg cuk-up sering diadakan pertemuan-pertemuan masonik secara rahasia, yang dipimpin oleh seorang anggota, perwira kesehatan. Hal itu dilakukan da1am suatu barak, di mana digambarkan sebuah kcrangka manusia pad a papan tulis sebagai kamuflase hljuan pertemuan itu, siapa tahu ada kontrole pah·oli-pah·oli Jepang.

JE, anggota dari loge "De Ster in het Oosten", tiba pada rahttn 1941 di Sumatra Timur dan menyimpan kenangan in- dab te1·hadap loge-loge lapangan di kamp IT dari kereta api Pakan Baru. Loge-loge lapangan itu dip imp in an tara lain oleh saudara Kolhom Visser, yang bersama seorang anggota lainnya memberikan instruksi-instruksi dan ceramah-ceramah.

TARE KAT MASON DAN PERJUANGA:"II UNTUK KESNAMBU~GAN HIDUP

" Pertemuan-pertemuan itu tidak diganggu oleh pihak Jepang, tetapi memang diselenggarakan secara diam-diam. Apakah mereka tahu, saya sendiri tidak tahu."

TLG, yang lahir pada tahun 1896, sarnpai dengan tahun 1941 menjadi anggota loge "Palembang". Pada tanggal 15 Pebruari 1942, Palembong jatuh ke tangan Jepang. Ia ditang- kap pihak Jepang sebagai tawanan perang. la juga dimasukkan ke dalam penjara, sebab orang Jepang rnenganggapnya sangat berbahaya. Atas pertanyaan mana rna sa hldupnya yang paling penting, jawabnya pemenjaraan di Sukamiskin ru Bandung. Waktu itu ia dikurung tersendiri, menunggu pengha- kimannya. Buku-buku tidak diberikan. Pada waktu itu setiap hari ia mengucapkan dan merenungkan secara bergantian tara£ satu, dua dan tiga dari loge terbuka, yang ritualnya sudah dihafalnya luar kepala.

TLG, anggota loge Sint Jan di Bandung, bekerja di bidang pcndidikan ketika ia pada tanggaJ 5 Desember 1941 direkrut sebagai landstormer (infantri). Komandan kompinya adalah saudara Kapten T. van Vloten, dania menjadi jumtulis di biro- nya. Kompi kedua dipimpin oleh Kapten K. Schouten.

Pada tanggal 8 Maret 1942 kami semua menjacli tawanan pcrang, mula-mula di Bandung, kemudian di Cilacap dan seterusnya. Selama tahun-tahun peperangan berlangsung, kami tetap mempunyai kontak Tarekat. Dalam situasi sebagai tawanan perang, para anggota di mana mungkin mengadakan pertemuan dalam bentuk "terselubung". T iap kali diadakan di tempal seorang saudara perwira, yang langsung mengubah pembicaraan, umpamanya ten tang " tugas-tugas wajib bergiJir" di karnp, begitu seorang Jepang muncuJ. Dengan cara itu saudara Karel Schouten menyampaikan suatu wejangan di Cilacap, dengan judul Pmerimnnn: memelihara pengertian dan kekuatan untuk dapat melanjutkan hidup. Yang sangat islimewa adalah St. jan Musim Panas di Cimahi, yang tentangnya telah ditulis beberapa

Wouler Reuhl dan Frits de jong masih saya miliki, tetapi ada yang Jain dalam arsip Tarekat.

Pada tahun 1943 saya bcrada di dua kamp Iapangan ler-bang dekat Palembang. Di situ kami sering berkumpul di barak perwtra. Sah.1 dua kali juga dengan peminat-peminal yang juga mcrupakan lnwanan di kamp. Pada tanggal 5 Mei 1945 kami dipindahkan ke penjara Changhi di Singapura, di mana juga terdapat banyak anggota Inggris, Australia, dan satu atau dun anggota Amcrika. Beberapa hari setelah tanggal15 Aguslus J945 dindakan perlemuan di kamp guna merayakan "pembebasan" (wa laupun kami belum dapat keluar). Pertemuan ilu diselenggarakan di suatu ruangan yang dikelilingi pagar, sebagai suatu Loge Terbuka di bawah pimpinan para anggota Inggl"is. Dari para anggota Belanda di sana tclal1 saya catal nama-nnma mereka pada sepucuk kertas, yang di kemudian hari saya berikan kepada seorang anggota Pengurus Besar di Leiden, yang katanya akan menyimpannya dalam arsip Tarekat."

HFG, lahir pada tahun 1894 dan anggota loge "Mataram" di Yogya sejak tahun 1929, seorang kapten di KNIL ketika pecah perang.

Oi kamp-kamp tawanan perang di Birma don Thnil.:~nd, saya sempCit melakukCin sedikit pekcrjaan yang pantas bagi s~ orang Mason Bebas. Pertemuan-pertemuan diadakan tanpa ritual atau lambang atau wejangan. Hanya anggota ber- kumpLtl saja, sudah memberikan banyak kekuatan untuk dapat bertahan. Ennm orang "duniawi" telah dapat saya tun-jukkan jalan kc Pintu Gerbang Rumah Pemujaan. Setahu saya, tiga dari m~reka telah mengetuk pintu, dan diperbolehkan masuk".

KK merupakan anggota dari loge "Malang" ketika pecah perang. Dari bulan Mei 1943 sampai bulan Agustus 1945 ia bekerja di Siam di din as intelijen, penerimaan radio dan penyediaan batere, dan )uga menjadi penerjemah serta anggota Polisi

___ TAREKAT MASo::-: DM>: PERJUANGAN UNTUK KastNA.r..iBUNGAN Hmul'

Militer. Sebagian besar dari masa perang di.habiskannya di luar Hindia Timur. Di Siam ia beketia bersama dengan a I mar- hum br. Jan Heck, yang setelah perang menjadi dokter he wan di Haarlem.

HJVO, lahir pada tahun 1894 dan ketika pecah perang merupakan anggota "De Ster in hct Oosten": " pengalaman-pengalarnan sehubungan dengan Tarekat Mason Bebas selama masa pendudukan jepang tidak dapat saya ingat lagi".

lS mempakan anggota dari loge ''La Constante et Fidele" di Serna rang pada waktu pecah perang:

"Di kamp intemiran orang sipil di Gubeng (Su rabaya) hebe- rap a kali diadakan ''kompariti". Br. Zeylemaker mentpakan pendorong dalam hal itu. Kami suka duduk daJam lingkaran di udara terbuka. Salah seorang anggota bertugas menjaga dan memberikan isyarat begitu ia melihat seorang Jepang datang. DaJam haJ itu, kami segera akan duduk daJam lingkaran-lingkaran kecil dan berbicara mengenai soaJ sehari-hari. Para anggota Van der Heyden (meninggaJ di kamp), Kolhorn V'ISSer dan saya juga membicarakan apa yang harus dilakukan seusainya perang untuk membangun Tarekat kembali. Br. Kolhom Visser yang berperawakan sangat kecil namun dapat menulis dengan bagus, membuat catatan-catatan pad a potongan-potongan kertas, yang disembunyikan- nya di dalam bantaJnya. Catatan-catatan itu diolah oleh br. Jiskoot dalarn penulisan sebuah brosur (yang ada atau paling sedik:it pernah berada di perpustakaan Tarekat)".

WV anggota loge "Sint Jan" di Bandung sejak tahun 1940 dan berprofesi planter di suatu perkebunan teh:

"Sebagai suatu pengalaman luar biasa tersimpan dalam ingatan saya perayaan Musim Panas St.Jan pada bulan Juni 1942 di kamp Jepang di Batalyon Infanteri ke-4 dan ke-9 dj Cimahi. Itu terjadi di suatu bangsal di kamp dan saya diberi tugas sebagai penjaga luar. Begitu seorang pengawal Jepang muncul, saya 1angsung harus memberitahu. Selain itu per-

di kemudian hari merampas mawar Hu dari saya ketika dilakukan pemeriksaan badan. Tetapi mungkin masih ada anggota yang menyimpannya".

Sumbangsih berikut ini juga menceritakan pengalaman di kamp Cimahi, yang dikutip darisuatu wejangan anonim yang tidak diterbitkan:

"Mula-mula kami -walaupun banyak di antara karni eli- masukkan ke dalam kamp a tau penjara untuk alasan lain-Udaklah begitu diganggu sebagai Mason Bebas. Narnun pada bulan Agustus 1943, ketika eli Jawa Tengah praktis semua orang Eropa ditahan dalam kamp-kamp, kampanye lerhadap kami dirnulai. Di penjara di Pekalongan, saya dan br. Van der BJorn, bendal1ara loge kami, seorang anggota yang dl dalam dan eli luar kamp banyak rnelakukan pekerjaan berperi kemanusiaan yang indah, di-interogasi terus-menerus. Orang-orang Jepang tidak tahu apa-apa tentang Tarekat Mason Bebas dan sebenarnya juga tidak begitu per- duli. Rupanya mereka bertindak atas dasar instruksi Jerman ( ... ) Pada awal bulru1 Agustus kami dipindahkan ke Cirnahi, pada akhirnya di kamp Baros, karnp dari para ' super-jahat', di mana dikumpulkan sebagian besar Mason Bebas Hindia. Di kamp IV kami cukup lama mengadakan pertemuan-pertemuan mingguan dengan suatu kelompok ' Hu- martitas' yang keciJ, namun akhirnya dihentikan atas perrnintaan beberapa anggota yang merasa terlalu banyak bahayanya. Di Baros kami memperingati 'St. Jan' dalam lingkungan kecil orang-orang kurnuh di bawah sinar bulan purnarna di suatu ladang ubi di antara barak-barak".

JW datang ke Hindia pada tahun 1945sebagaiseorangten-

tara dan tahun itu juga dilantik di loge lapangan "De Beproe- vi.ng". W. merupakan seorang ahli ilmu jiwa dan pada waktu itu berpangkat kapten.

Al~EKAT MAsoN DA:-< PERJUANCAN UNTUK KESI"!':A~su~CA'Ii Hrour

''Saya tahu bahwa orang-orang Jepang terpesona dengan gedung 'AdJmc Stat' dan oleh karena itu mereka memaksa beberapa orang yang dikenal sebagai Mason Bebas untuk keluar dari kamp konsentrasi dan pergi bersama mereka ke gedung Hu dan membukanya bagi mereka. Mereka rnelihat Mezbah dan bertanya apa itu. Secara jujur diberikan penjelasan kepada mercka. Penvira pemimpin rombongan itu memberi salam membungkuk yang dalam, kernudian meninggalkan loge dengan cara berjalan mundur, takut sekali bahwa ia akan dihulu1m Dewa-dewanya karena telah men- gotori tcmpat suci".

Di samping kesaksian-kesaksian ten tang pengalaman- pcngalaman pribadi, ada juga keterangan ten tang loge-loge dan gcdung-gedung loge. Loge "Mataram" di Yogya, umpamanya, pada tanggallS Desember 1941 merencanakansuatu ceramah yang akan dibawakan oleh Wakil Suhu Agtmg Jasper ketika pecah pcrang. Langsung kegiatan-kcgiatan dihcntikan, namun dilanjutkan dengan cara yang tidak formal pada hari Minggu pagi. Mereka tetap mengadakan pertemuan-perte- .muan di gcdung yang dipinjam-pakai dari para sultan Yogya. Juga Hamengku Buwono IX, yangmemainkan pcranan penting di dalam peristiwa 1ahirnya Republik, dan di kemudian hari menjadi WakilPresidenRepublik lndonesia,membiarkan "Mataram" menggtmakan gedung itu tanpa gangguan. Menumt keterangan dari Prior, seorang anggota loge, pada awal masa pendudukan Jepang pen gurus loge telah menyimpan barang-barang berharga loge itu dalam ruang am an bank, narnun per- cumasebaborang-orangJepangmenjarahisiruangitu.GedLmg itu mereka kosongkan, kumpulan buku-buku disita, isi museum dirampok, dan juga perabot dengan emblem loge hilang len yap. Setelah perang, perabot terse but ditemukan kembali di berbagai tempat. Yang menarik adalah keterangan dari Prior bahwa sultan menggunakan gedung loge sebagai perkantoran untuk mencegah digunakannya gedw1g ituoleh pihak]cpang.

11 Neutrnle Onderwijs Stichting (Yayasan Pendidikan Netral)" diserahkan kepada R.A. Notonegoro dan anggota-anggota badan pengurus orang Indonesia lainnya. Sebagai akibatnya maka sekolah-sekolah yayasan tersebut selama perang dapat dibuka sebagaimana biasanya. 72

Mengenai hal-ihwal loge ''Humanitas" di Tegal, sebuah wejangan anonim yang tidak diterbitkan memberikan keterangan sebagai beriku t. Ketika an cam an pi.hak Jepang semakin mendekat:

"kami putuskaJl Ltntuk mengepak potret-potret dan arsip kami dalam peti-peti dan menyimpannya di tempat yru1g aman, menurut perasaan kami, di onderneming saudara Bennebroek Everts di wilayah pegunungan dekat Bum.iayu. Di sana, jauh di pedalaman, demikian dipikirkan, musuh pasti tidak pemah akan sampai, walaupun untuk sementara waktu mereka mungkin berhasil menyerbu dan merebut wilayah pesisir. Peti-peti pertama memang tiba di situ, tetapi serbuan musuh berjalan begitu cepat dan kekacauan umum begitu besar sehingga peti-peti yang berisikan arsip-arsip tertinggal eli gudang barang di stasiun. Luk:isan-lukisan loge terakhir kali saya lihat dalam keadaan tergulung di kantor dari ... [tidak terbaca, St.] yang telah djangkat menjadi walikota Tegal oleh pihak Jepang. Tarekat Mason Bebas dinyatakan dilarang dan gedungnya pun ditutup. Tidak lama kemudian gedung itu dipakai oleh pengadilan negeri, dan anehnya ketua pengadilan, Mr. Zainal, memimpin persidangan pengadilan sambil duduk di atas Takhta, dengan Mata yang Maha Uhat eli atas kepalanya dan zodjak eli sekeliting- nya pada tembok-tembok ( ... ) Beruntung Rumah Pemujaan kami tidak digunakan untuk tujuan yang lebih buruk. Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan gedung itu eli kemudian hari. Saudara Van To1, yang tahun lalu berada di Tegal,

-1. fdem th. -!9, 268-270

TAREKAT MAsoN DAN PERJUANGAN UNTUKKESINAMBUNCAN HtoiJl

menulis kepada saya bahwa gedung itu praktis masih utuh seluruhnya walaupun inventarisnya hilang dan gedung-gedung samping digunakan sebagai kandang babi. Di Rumah Pemujaan hanya pinggiran bergigi telaJ1 dikeluarkan dengan kasar dari lantai dan kemudian ditutup dengan semen. Rupanya ada 'pemburu-pcmburu harta' yang beroperasi di situ .. Barisan kami rnengalami pukulan berat. Sejauh saya tahu, tiga betas anggota dan mantan anggota darl tcmpat ke~a kami pergi ke A.B. [artinya, meninggal, St.] selama atau sebagai akibat masa sengsara itu."

Juga ada Iaporan yang panjnng lcbar tentang keadaan gedung loge "Deli" di Medan, dan ten tang sikap orang Jepang terhadap anggota-anggota loge. Pada musim semi tahw1 1946,

W.S.B. Klooster mencatat hal-hal yang berikut tentangnya:
73

"Gedung loge kami di Jalan Serdang di Medan dari luar kelihatan kumuh dan di dalamnya semuanya telah di- bongkar, atau tepatnyn: dijarah habis oleh para penguasa pendudukan Jepang (setelah itu kaum nasionalis Indonesia menyitanya, n.amun tidak lama selelahnya mereka harus menyerahkannya kepada pasukan India lnggris, yang sekarang menggunakannya). Da.ri milik kami praktis tidak ada yang sisa; kadang-kadang masih muncul sesuatu dari lempaHempal di kota yang tak disangka sama sekali: sehelai schootsvel (kain atau kuUt yang menutupi bagian depan tukang sewaktu bekerja) yang tua, Alkitab kami, pedang-pedang, beberapa permata, sejumJah kecil buku-buku".

Pelukisan ten tang loge ''Deli" dilanjutkan sebagai berikut:

"Tidak lama setelah dimulainya pendudukan pada tahun 1942, pihak Jepang menyita gedung loge kami untuk mendirikan sebuah biro penyidikan sidik ja.ri, yang mula-mula masih berada di bawah pirnpinan Belanda. Kepala biro itu seorang anggota, sehingga pada waktu itu sekaligus masih ada pengawasan terhadap gedung itu dan pera.botnya. Ang-

  1. Idem th. 48, 27-29

Pemujaan ctitutup dan untuk sementara tidak disentuh. Namun tidak lama kemuclian orang-orang Belanda yang rnasih rneme- gangjabatan d iberhenti.kan dan ctimasukkan ke kamp-kamp interniran bersama denga.n yang lain-lainnya. (. 0 0) Di kamp-kamp, kontak dengan para anggota dipelihara sebaik mungkin dalam pertemuan-pertemuan antara mereka sendiri yang sering harus diadakan secara rahasia dengan alasan bahwa mereka berkumpuJ untuk mengikuti kursuso. 0 tata buku. Sebab, pemimpin perkumpulan masonik di kamp kami adalah seorang akuntan, anggota Pakvis. Namun orang Jepang selalu mengganggu kami. Beberapa bulan setelah penginterniran, beberapa anggota dijernput dari kamp dan dibawa ke Kempetai yang kesohor ( ... )Para anggota karni cli-interogasi oleh seorang Rusia, sekurang-kurangnya seorang yang mengaku dirinya orang Rusia (mungkin dia seorang Jerman) dan yang sudah bertahun-tal1un bekerja di salal1 satu hotel eli Medan sebagai pemain musik. Orang in.i mengaku bahwa selama itu ia telah memata-matai kehidupan masonik di Sumatra Timur dan sekarang harus menulis 1aporan tentang kegiatan Tarekat Mason Bebas d.i Pasifik untuk pemerintah Jepang di Tokio! Orang-orang Jepang yang hadir dalam interogasi itu hampir-hampir tidak ikut cam pur dalam kasus ini dan baru bertindak kalau ada lagi yang harus d.ipukul. Interogasi itu dilakukan menu rut metode Nazi yang terkenal, dan tuduhan-tuduhan lama dilanca.rkan kembali, ba.hwa Tarekat Mason Bebas merupakan organisasi rahasia Yahudi untuk merongrong kehidupan politik yang sehat dll., dll. ( ... )Para anggota yang harus menjalankan interogasi itu mengalami saat-saat yang sulit dan di antara jam-jam interogasi mereka dikmung dalam semacam kerangkeng d.i belakang gedung H.V.Ao [Hanclels Verenigi11g Amsterdam (Kongsi Dagang Amsterdam)1St.], cU mana hampir-hampir orang tidak bisa duduk jongkok pun, begitu kecil ruangnya bagi semua, dan makanan pttn hanya diberikan sedikit sekali. Namun setelall sekitar empat belas hari, orang Jepang kehilangan perhatiannya terhadap kasus itu. Dalam pada itu mereka tela.h memer1ksa seluruh arsip loge, tetapi dengan sendirinya tidak dapat menemukan sesuatu pun yang mencu.rigakan. Akhirnya pari! ang-

T AREKAT MAsoN DAN PERJUANGAN UNTUK KESINA..'iBUNGAN HroUP

gota yang clitahan itu dikembalikan ke kamp setelah mereka menandatangani suatu perjanjian bahwa mereka tidak akan membuat propaganda untuk Tarekat Mason Be bas''.

Penulis darj uraian di atas, Klooster, selanjutnyamemberi- tahukan bahwa pertemuan-pertemuan masonik di kamp-kamp selalu dapat berlangsung. Pesta St. Jan bahkan dapat dirayakan dengan sedikitupacara, walaupun perjamuan para anggota rnenjadi semakin sederhana. Tetapi para "anggota- penyelundup" selalu saja menemukan cara supaya ada hidangan. Ada perhatian terhadap Tarekat Mason Bebas di kamp-kamp, terutama di kalangan kaummuda dan oleh kare- naitu dalam lingktmgan tertutup diberikan ceramah-ceramah penerangan. Juga dibentuk klub-klub studi di mana direntmg- kan mas a depan. Walaupun rnenderita kesengsaraan di kamp-kamp, menu rut Klooster ada juga sukacita dalam kehidupan rohani dan semangat bagi pembangtman yang akan datang menurut cita-cita rnasonik. Tentu hal itu tidak berlaku bagi sernua anggota. Namun jiwa tolong-menolongitu kuat, seperti ternyata dari ' dana kecil obat-obatan', untuk mernbe1i obat-obatan sehingga ada yang selamat oleh karenanya.

Sejumlah anggota meninggal dalam kamp. Bagi mereka selalu diusahakan pemakaman gaya masonik. Bahkan sarung tangan putih diletakkan di atas peti (ada seorang anggota yang kebetulan rnemilikinya), bersarna sebuah jangka dan sebuah alat kayu pernbuat sudut yang kasar yang dibuat di tempat itu. Mereka sendiri mengusung yang rneninggal ke kuburan.

Juga di luar kamp-kamp temyata para anggota berjasa. Beberapa anggota rnengarnbil bagian secara aktii dalam gerakan bawah tanah yang selama beberapa waktu berjuangrne- lawan pihak Jepang di Sumatra Timur. Salah satu dari rnereka adalal1 K ten Velde, pemimpin dari gerakan bawah tanah di Deli yang harus membayar kegiatannya itu dengan nyawa-

mana yang terakhir ini mengatakan, 'Begini, saya bukan hanya menganggap pekerjaan i.ni sebagai kewajiban terhadap Ratu dan Negara, tetapi juga suatu kewajiban sebagai seorang Mason Be bas".

Sekarang sepatah kata ten tang loge lapangan "De Beproeving". Berkat tinjauan dari C. B. Sibenius Trip, yang disampaikannya pada peringatan ulang tahw1 pertama loge tersebut, terungkap sedikit keterangan. 74

Loge itu didirikan di kamp Baros di Cimahi, "di mana semua interniran sipil yang super-jahat dikumpulkan, termasuk tentunya para Mason Bebas". Di kamp itu ada selGtar tiga ratus orang Mason Bebas yang ditahan; dari 25loge yang ada 21 diwakili di situ. Inilah alasan mengapa Cimal1i begitu sering disebut dalam laporan-laporan para anggota.

Berdasarkan data dalam kajian Van Veld en ten tang kamp-kamp sipit ini rupanya kamp Baros IT yang berdiri dari bulan Oktober taJ1un 1943 sa.mpai bulan Oktober taJ\Un 1945. Mula-mula kamp itu dihuni oleh kaum lelaki dari kamp-kamp Bandung, di kemudian hari ditambah dengan "tokoh-tokoh" dan 1175 0rang-orang Yahudi.

Setelah meninggalnya Wakil Suhu Agung Jasper pada tanggal12 Maret 1945, Zeylemaker atas pemU.ntaan wakil-wakilloge-loge bertindak sebagai penjabat Wakil Suhu Agung. Pada awal bulan Juni diadakan pembicaraan-pembicaraan untuk mempersiapkan perayaan St. Jan. Juga akan didirikan sebuah "loge lapangan''. Namun ada keberatan-keberatan untuk mengadakan perayaan secara besar-besaran. Sebab itu

-4. Idem th. 48, 71-73 "75. Van Velden 1985, 535

TAREKP.T M ASON DAx P ERJ\h\NCA.-..: UNTUK KEStNAi\1B UNGAN HroUP

diputuskan untuk merayakannya dalam kelompok-kelompok kecil saja. Itu juga bcrarti bahwa sebuah loge lapangan belum dapat didirikan. Setelah itu tujuh orang anggota mengambil prakarsa untuk mendirikannya. Mclihat situasi lingkungan kerja loge itu, atas usul Zeylemaker loge itu dibcri nama yang sesuai keadaan, ''De Beproeving (PencobaanY'. Dengan berdirinya loge itu -konstitutisnya diadakan pada tanggal 27 Juli 1945 -tercapailah maksud untuk mempunyai landasan yang dapat dipakai untuk membangun organisasi yang baru 6 seusai perang.7

Pengurus "De Beproeving" tersusun sebagai bcrikut:
Nama Jabatan
Dari l oge
Siberius Trip Suhu Ketua
Verhagen Metma.n WakjJ Suhu Pengawas Pertarna Palembang
Drukkcr Pengawas Kedua
Blankert Malang
Koneman Sekretaris De Ster in het Oosten
Buys Penjaga St.

De Ster in hct Oosten

Kcmkamp Humanitas De Vriendschap Ahli Pidato

Jan

Salah satu langkaJ1 pertama dari "loge lapangan" ih1 adalah penyelenggaraan suaht pertemuan perkenalan yang cliadakan pada tanggal13 Agustus, bersama-sama dengan beberapa anggota dari loge-loge Belanda dan dengan anggota-anggota yang sebelumnya telah dilantil< di penjara Sukamiskin. Setelah kapitulasi, pad a tanggal 23 Agustus diadakan suahl pertemuan eli mana ketua secara khidmat dilantik oleh Zeylemaker. Suahl hal kecil dapat dilapol'kan juga, yakni bahwa ketujuh belas Mason Be bas berkebangsaan Inggris semuanya mendaftarkan diri w1tuk menjadi anggota "De Beproe-

  1. lMT th. 48, 71

Ketika Sltuast larnbat laun menjadi agak normal, loge rtu dipindahkan ke Batavia. Sibenius Trip menyerahkan jabatan ketua kepada Z.H. Carpentier Alting dan pad a pertengahan bulan November tahun 1945 dapat diadakan pertemuan lagi di Batavia. "De Beproeving" tidak lama kemudian diisti- rahatkan, untuk memberi tempat kepada ketign loge yang rudah bekerja di Batavia sejak sebelum perang, yakni "De Stcr in het Oosten", ''Het Zuiderkru.is", dan "De Broederketcn".

" Loge Terbuka" pertama yang diadaknn setelah per.:mg merupakan sesuatu yangistimewa. Sudah pada tanggal7 September 1945 ada anggota-anggota yang bcrkumpul untuk :ncngadakan suatu *"Rcrnembrnnce Lodge"-*Pertcmuan per-mgatan, yang diadakan di Jakarta di kamp tawanan perang Cycle Cnmp di bnwah pirnpinan Z.H Carpentier Alting. 77 Un- dangannya dicantumkan pada sepotong kertas scdcrhana berukuran 9x14 em, dan ditujukan kepada "Freemasons from all pnrts of tlte world (Kaum Mason Be bas dari seluruh penju ru dunia)". Lagu-lagu kebangsaan diperdengarkan, kernudian dikenangkan para anggota yang meninggal pada masa perang. Carpentier AlHng dalam pidatonya berbicara kepada _ uatu sidang pcndengar yang internasional. Mung kin saat \'ang paling mengesankan adalah saat ctibentuk rantai Tarekat, lambang dari keterikatan para Mason Bebas satu sama lain. 1ang sa rna mengharukan adalalh pertemuan pada tanggal 24 Februari 1946, ketika di Rumah Pemujaan Besar dari gedung 1oge "Adhuc Stat" diadakan pertemuan peringatan guna mengenangkan para anggota yang gugur. Pada upacara ih.1 d!undang juga para janda dan anak yatim yang sudah agak besar dari para anggota yang sudah mcninggaJ itu. 78 Suatu daftar nama yang panjang dibacakan dari orang-orang yang

-:-. Idem th. 48, 71 -s. Tdem th. 48, 5

MASON DAN PERJUAl'VGAN UNTUK K ESINAMBUNGAN Hmur

dapat dipastikan sudah rneninggal, namun dikhawatirkan

bahwa jumlah yang sebenarnya masih lebih ban yak. Upacara itu sekali lagi dipimpin oleh Carpentier Alting, seda11gkan sarnbutan diberikan oleh H.M.J. Hart. Pada penutupan, seorang janda dari salah satu anggota yang meninggal, menyampaikan ucapan terima kasih.

Di dalam memperhatikan pengalaman-pengalaman kaum Mason Bebas Beland a pada waktu pendudukan Jepang, tidak boleh dilupakan bahwa juga bagi orang-orang Indonesia keanggotaan di daJam Tarekat membawa risiko yang besar. Mengenai hal itu perlu ada tambahan terhadap kutipan dari Vander Veur pada awal bab ini. I a lalai menyebut nama-nama orang Indonesia. Walaupun tidak banyak diketahui tentang hal itu, berkat penerbitan buku harian pegawai Bclanda, Mr.Dr. L.F. Jansen yang dipeliharanya selama masa pendudukan jcpang di Batavia, kita tahu bahwa pada pertengahan tahun 1943 perlu d ikhawatirkan juga nasib para Mason Bcbas orang Indonesia. Jansen dalam kaitan ini menyebut nama 79 Soerachman. Soerachman ini, yang nama lengkapnya lr. R.M.P. Soerachman Tjokrodisoeria, sebelurn perang merupakan pegawai tinggi di Departemen Urusan Ekonomi.

Berkat surnbangsih Sosrohadikusumo Belevenissen tijdens de oorlog (Pengalaman-pengalaman selama perang), kita tahu 80 sesuatu tentang nasib kaum Mason Bebas orang Indonesia. Sosrohadikusurno menulis bahwa ia sebagai anggota loge "De Ster in het Oosten" pada rnalam dari tanggal 28 ke 29 Februa- ri 1942 bersama-sama dengan anggota-anggota pemcrintahan Hindia meninggalkan Batavia dan pergi ke Bandung. Di sana ia diberikan sebuah kamar di hotel oleh pemerintah. Sete-

  1. Knaap 1988, 222
  2. IMT th. 49,322-323

tinggal di Bandung sampai pertengahan bulan Mei, dan setelah itu ia kembali ke kota kediamannya, Salatiga, di Jawa Tengah. Di sana ia diawasi dengan ketat oleh "Kempetai", sehingga tidak mungkin untuk mengadakan kontak dengan ketua dari loge setcmpat. Ia juga mengatakan bahwa pada akhir bulan Oktober 1941 namanya, bersama dengan nama Mason Bcbas Mr. Dr. Ngabehi Subroto -pada waktu itu walikota Buitcnzorg-dan nama Mason Bebas R. Adipati Aria Suriamihardja, yang wakh.t itu bupati Karawang, disiarkan olch Radio Tokio dan ketiga-ti- ganya dianggap bersikap anti-Jepang.

Pada langgal 29 April 1942 polisi mencminya eli Batavia, sebab mereka tidak tahu ia sedang bcrada di Bandung, dan pad a tanggal17 Mei "Kempetai" menycrbu masuk ke alamat- nya di Bandung itu. Pada saat itu ia sedang menginap di ru- mahMason Bebas Kamarga (pada tahun 1940 pegawai tinggi di Pekerjaan Umum di Batavia), namun ia sudah meninggalkan alamat itu pada tangga114 Mei. Kamarga scgera memberitahu kepadanya tcntang penggeledahan tempat tinggalnya, sehingga ia dapat mempersiapkan diri terhadap hal-hal buruk sclanjutnya. Di Salatiga ia kebetulan mendapat buku notulen dari loge "Fraternitas", yang segera dibakar olehnya. Untung saja, sebab beberapa hari kemudian Politieke Tnlich- tingen Dienst (Dinas Intelijen Politik) datang berkunjung ke rumahnya [PID Hindia Beland a sudah d iambil alih oleh orang Indonesia, St.] dan menyita semua buku masonik yang ada di rumahnya. Namun suatu tip dari anak perempuannya pada bulan Juni tahun 1945, bahwa ia mau ditahan oleh karena keanggotaannya di Tarekat dan juga di "Rotary Club", ternyata tidak beralasan. Berikut menyusullagi keterangan tentang posisi sulit para Mason Bebas orang Indonesia sebagai akibat situasi perang: Pada tahun 1948 loge "Humanitas'' di

AREKAT MASON DAN PERJUANCAN U NTUK K£SINAMOLNGAN HIDUT'

Tegal merayakan usia setengah abadnya. Dalam hubung itu
sebagairnana biasanya disampaikan suatu ringkasan sejarah.

Teks tertulis dari ceramah itu memuat suatu alinea di mana disebut kegiatan seorang Mason Bebas Indonesia:ll 1

"yang walaupun didesak atasan-atasannya, tidak pernah tergoda rnelakukan perbuatan yang tidak sc!Ltruhnya dapat dipertanggungjawabkannya sebagai seorang Mason Bebas. Sewaktu saya untuk sementara berada d.lluar tahanan penjara di Pekalongan, dan tidak mau mengunjunginya di rumahnya supaya tidak menimbulkan persoalan baginya, ia mengirim pesan kepada saya. Dan keti ka saya menerangkan alasan saya kepadan ya, ia menjawab, "tidak seorang pw1 pernah menghalangi saya mengulurkan tnngan kepa· da sahabat-sahabat saya dan menerima mereka di rumah saya. Juga Nippon tidak akan mengubahnya".

Kata-kata penutup dari pembawa pengantar bahwa: "Saya
bangga menyebut laki-laki ini sebagai sahabat dan sesama
anggota", menunjukkan bahwa rasa Tarekat antara orang

Beland a dan orang Indonesia tetap hidup di dalam keadaan perang.

8. Perkembangan sejak tahun 1945.

Pertemuan yang khidmat pad a tanggal24 Februari 1946 merupakan suatu upacara penghormatan dan sekaligus perpisahan dengan anggota-anggota yang meninggal selama perang. Namun bukanlah waktunya untuk lama-lama merem.mgkan kehilangan yang diderita itu. Proklamasi Republik Indonesia menciptakan suatu situasi yang memaksa orang untuk menjadi sadar akan dirinya dan memandang masa depart yang hampir tidak seorang pun siap menghadapinya. Pandangan

  1. Enquele 1987. Ars1p Tarekat di Den Haag

antara orang Bclanda adalah bahwa kalau kcka- cauan yang sedang berkecamuk di mana-mana sudah dikendalikan, maka tentu semuanya akan berjalan lagi seperti dahulu. Namun di kalangan pemerintah Hindia Belanda sudah jelas bahwa mereka halUS berunding dengan para pemimpin gerakan nasional. Titik tolaknya adalah pidato Ratu pada tanggal7 Desembet~ yang telah membuka jalan bagi suatu bentuk kerja sam a eli bidang politik.

Namun pernulihan kcamanan dan ketertiban seperti ya11g dikehcndaki pihak Beland a, bclum dapat dilakukan. Di bagian timur Nusantara, kcsatuan-kesatuan Sekutu dengan cepat telah mclucuti senjata pasukan Jepang, membebaskan orang-orang Belanda dan mendirilDi satu dua enklave di pesisir utara Jawa pasukan Sekutt1 baru mendarat pada akhir bulan September 19-!5. Di hampir semua tempat lainnya, pcndukllllg-penduk'Uilg Republik yang baru iht telah mcngambil alih kekuasaan. Kesatuan-kesatuan tern- pur Republik, yang tenttama terdjri atas pemuda-pemuda, mulai bertindak keras terhadap wakil-wakil tatanan kolon.ial. Orang-orang Belanda yang dibebaskan atau lari dari kamp-kamp, dan juga mereka yang seharusnya menempatkan dirinya di bawah perlindw1gan pihakJepang, berada dalam situasi yang sangat berbahaya. Di luar Batavia/Jakarta, keadaan tidal< aman tersebar begitu luas sehingga kehidupan umum baru, lama, secara berangsur-angsur, mulai berjalan kembali.

Gambaran tentang Indonesia pada tahun 1945 adalah suatu negara yang mengalami kerusakan, dengan penduduk yang kekurangan makanan. Tidak mungkin hubungan-hubungan normal dapat dikembalil

TAREKAT MASON DAN PERJUANGAN UNTUK KESINA.\1Bm

yang juga mengalam.i kehancuran yang be rat, tidak dapat cti-harapkan bantuan materiil. Sihtasi politik tidak jelas, sebab di sam ping partai-partai nasionalis yang lama, di mana-mana munruJ kelompok-kelornpok yang baru yang in gin berkuasa. Namun dalam satt1 hal mereka semua sepakat, tujuan mereka terutama difokuskan kepada penguatan dan pengakuan negara yang baru. Tetapi ada perbedaan dalam metode .m- tuk mencapai tujuan tersebut. Perbedaan-pcrbedaan itu menyangkut soal sampai taraf mana masih dikehendaki kerja sama dengan pihak Belanda, dan jangka waktu di mana Belanda harus menyerahkan posisinya. Oleh karena kcpakarannya, orang-orang Belanda terutama di bidang ekonomi masih dapat menyumbangkan tenaganya. Namun di kubu Republik pada umumnya terdapat keyakinan bahwa kehadlran pihak Belanda bagaimanapun juga hanyalah bersifat semen tara.

Oleh karena mereka begitu lama terisolasi, kebanyakan orang Beland a hampir-hampir tidak dapat menangkap bah-wa telah terjadi perubahan mendasar dalam masyarakat Indonesia. Baru saja terbangun dari mimpi buruk pendudukan Jepang, rnereka langsung diperhadapkan dengan kckuatan dari para pejuang revolusioner. Juga Letnan Gubernur Jenderal Van Mook terperanjat oleh suasana bermusuhan yang ditemukannya pada awal bulan Oktober di Bataviaflakarta. Kedudukan apapun yang akan ditempati orang-orang Be Ian-da dalam Indonesia baru, mereka semuanya yakin bahwa mereka sangat diperlukan di dalam pembangunan kembali negeri ih1, dan di rna sa mendatang pun masih akan memainkan peranan.

Kesadaran untuk men yam bung kern bali benang yang terputus dengan kedatangan pihak Jepang, hid up juga di kalangan redaksi I.M.T. yang pada tanggall Juli 1946 menerbitkan edisi pertama pasca-perang. Edisi ini bertahun terbitan ke-

sedangkan edisi terakhir yang terbit sebelum perang mempakan tahun terbitan ke-47. Tetapi secara isi, majalah itu sudah benar-benar bemapaskan zaman yang baru. "Pengurus Besar provinsial'' dalamsalah satu artikelnya yang pertama meminta perhatian para anggota terhadap gambaran masa depan yang berubah, yang merupakan suatu tantangan bagi Tarekat. Yang dibutuhkan bukanlah pemulihan dari apa yang dihan- curkan di peri ode yang lampau, melainkan suatu pembangun- nn banL, dan untuk itu perlu dipikirkan pcmecahan-pcmecahan yang kreatif:Sl

"Apakah dunia yang lalu begitu indah, sehingga membangunnya kembali merupakan suatu cita-cila? Apakah kita, kaum Mason Bebas, boleh merasa puas dengan pemulihan gambar yartg ada dahulu? Mernbangun kembali, pasti! Apa ya ng baik dan yang tenggelam dalam kekacauan boleh, bahkan harus, dibangun kembali dan tugas kita pun adalah untuk ikut bekerja ke arah itu. Narnun di samping itu yang lebih indah pun harus bangkit, yang mengilhamkan hikmat dan mewujudkan kekuatan".

Kira-kira pada waktu bersamaan dengan terbitnya I.M.T., di Sulawesi diselenggarakan "Konferensi Malina", di mana wakil-wakil dari pemerintah Hindia Belanda bertemu dengan utusan-utusan dari wilayah-wilayah non-Republik untuk berbicara ten tang Indonesia di masa depan dalam hubungan federasi. Van Mook, sebagai kepala pemerintahan, mempunyai andil besar d i dalam pengembangan gagasan federasi, dan sudah sejak sebelum perang ia sebagai Mason Bebas berpendapat ke arah itu. Memang setelah perang ia bukan lagi bagian dari Tarekat namun visi yang disampaikannya di 83 Malina digarisbawahi dan diambil alih oleh redaksi I.M.T.:

  1. IMT th.4 8, 3
  2. ldem th. 48, 44

AREKAT MASON DAN PERJ UANCAN UNTUK KESI!I:AMBt.'NCAl\' H tDUP

''Yang pasti akan ada orang-oraJ\g yi'lng tidak belajar ;Jpa- apa dari kejadian-kejadian di sekitar mereka, namun sebagian terbesar sudaJ'l menyadari dan akan scmakin menyadari bahwa untuk pembangunan negeri iru secara harmonis dan cepat, semua pihak harus bekerja sama. Saya ingin rnelakukan seruan kepada sernua orang setanal1 Jir saya supaya menggambaJkan dan menghayati hubungan-hubungan yang baru itu'',

Dalam edisi bulan September J 946, ucaprm Van Mook dalam ''Konferensi Malino" dikutip kembali. Hal itu dilakukan kali ini dalam rangka mcndukung tinjauan redaktur ke- palaJ 01.I. Char louis, tentang pokok toleransi. Di sam ping itu Van Mook menekankan perlunya kcbijaksanaan di pihak pemerintah agar proses itu dapat berjalan dengan baik: 84

"Juga oleh karena alasan itu, penting sekali bahwa kita bekerja bersama di sini daJam semangat sating rnengerti dan bersikap toleran sahr dengan yang lainnya, sebab hal-hal itu diperlukan di dalam membangun sebuah negara, di mana setiap orang mem.punyai tempatnya, dan dapatmerasa a man. Semakin banyak perbedaan pendapat yang mem- pengnruhi jalannya proses itu, semakin kual diperlukan pengertian dari atas untuk menghindari bahwa orang-orang dilanggar hak-haknya".

Melalui penelitian tentang dekolonisasi, maka gambaran tentang proses-proses yang bermuara kepada kemerdekaan Indonesia sudah lebih jelas. Sa yang sekali pengetahuan kita jauh lebih kecil ten tang dasawarsa dian tara akhir tahun 1949 dan akhir tahun lima puluhan, ketika perusahaan-perusahaan Belanda yang besar dinasionalisasi dan kelompok-kelompok orang Belanda yang terakhir dipaksa meninggalkan negara

  1. idem th. 48, 87

ke hubungan-hubungan bant yang terjadi di Tarekat Mason Bebas, kita hams meninjaunya tanpa dukungan literatur hist01is.

Anggota-anggota Tarekat selama masa penahanannya pasti sering merenungkan apa yang akan terjadi dengan Tarekat Mason Be bas setelah perang. Terutama di mana kaum Mason Bebas di-internir secara kelompok, mercka tentu telah membicarakannya. Hal itu terjadi, umpamanya, di kamp "Ngawi" di Jawa Tengah, dan di kamp "Cimahl' di dekat Bandung. Juga di Olacap dan Palembang telah berlan gstmg pembicaraan-pembicaraan seperti itu, namun sedikit saja yang tcrcatat. Di Cimahi, di mana kira-kira tiga ratus orang Mason Bebas dikumpulkan, pembicaraan-pembicaraan itu malahan menyebabkan didirikannya suatu loge jenis khusus, yaHu loge lapangan "De Beprocving". Arti dari loge tersebut malahan menjadi lcbih besar kalau diingat bahwa loge itulah yang memberikan dorongan menuju pemulihan kehidupnn masonik setelah berakhirnya perang. 85

Di sam ping situasi politik yang tidak menentu, dorongan akan pembaharuan dalam Tarekat juga meminta banyak perhatian. Seperti lazimnya setelah setiap masa perang, baik di Hindia Timurmaupundi Nederland muncul berbagai pendirian yang menghendaki modernisasi dan penyesuaian terhadap situasi yang bcrubah. Setelah suatu permu1aan yang ramai, para Mason Bebas kembali ke urusan sehari-hari dan

  • Editor Indonesia: Contoh kepustakaan dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia mcngenai peri ode ini umpamanya Ruth McVey, Herbert Feith, The Decline of Constitutional Demoo·acy in Indonesia, (Ithaca: Cornell University Press, 19) atau Bondan Kanumoyoso, Nasionalisasi Perusahaan Belanda di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,
    1994), dan banyak lagi karya lainnya.
  1. Idem th. 48, 71 -72

M ASON D AN P ERJUANGAN U Nn.:K K ES rNAMBUNG AN Hmur

yang sisa hanyalah perubahan-perubahan kecil yang tidak mengganggu keseluruhan yang besar.

Dalam suatu karangan yang panjang dari tangan anggota " Pengurus Besar Provinsial" J.J. Jiskoot, yang berjudul Nieu- we Richt!ijnen voor de Vrijmetselnrij (Garis-garis Pedoman yang Baru bagi Tarckat Mason Bebas), pada bulan Juli 1946 debat pLm segera dibuka. Redaksi menjelaskan bahwa a.rtikel itu merupa.kan suaht revisi da.ri ceramah-ceramah yang sebelumnya diberikan Jiskoot dalam loge "De Beproeving" tentang pokok tersebut. Penulis, yang dalam artikelnya itu membongkar ban yak hal, menyerukan dengan kuat supaya diadakan reformasi. Banyak reaksi yang diterima, dan di antaranya ada yang dimuat. Scbagai akibatnya, suatu komisi studi didirikan untuk lebih 1anjut menguraikan ''Garis-garis Pedoman" yang diberikan Jiskoot.

Pada musim panas tahun 1946 Jiskoot berangkat kc negeri Bela.nda, di mana ia mengadakan pembica.raan dengan Suhu Agung Tarekat, Mr. L.J.f. Caron. Dari lapora.n mengenai pertemuan itu dalam I.M.T. menjadi jelas bahwa buka.nhanya di Hinclia, tetapi juga di Belanda masalah pembaruan sedang dipikirkan. Atas usul loge Leiden "La Vertu" clibentuklah suatu komisi untuk menyusun suatu laporan "ten tang fungsi Tarekat Mason Bebas sebagai aliran rohani dan tugas Tarekat Nederland beserta anggota-anggota perora.ngannya dalam masyarakat ma.sa kini". 86 Sebaga.i sumbangan !-lind ia terhadap pekerjaa.n kornisi tersebut kepada loge-loge di Belanda diki- rimkan sejumla.h besar brosur Richtlljnen dj mana di sarnping ceramah Jiskoot juga dimuat tanggapan-tanggapan para Mason Bebas Hindia 1a.innya. 87

  1. Idem th. 48, 65
  2. Idem th. 48, 21

diindonesia yang berubah itu mendapat perhatian besar. Pada bulan Agustus 1946 pemirnpi.n redaksi 01arlouis dalam suatu artikel yang menarik menandaskan bahwa bagi kaum Mason Bebas sudah menjadi panggilan, rnisi dan kewajiban pertama Lttltuk mendekati orang-orang Indonesia, yang mereka anggap "sernua sebagai manusia yang sarna harkatnya [dan] membawa mereka lebih clckat pacta cita-cita kita yang luhur itu". Walaupun dalam hal itu tidak diperoleh banyak hasil di masa lampau yang dekat, di masa depan akan ada perubahan. Sebab, demikian dikatakan Charlouis: 88

"hanya sedikit bangsa yang dikaruniai bcgitu banya.k sifat yang dibuluhkan untuk mewujudkan Tarekat yang sejati, seperti ban gsa Indonesia".

Pada akhir tahun itu Wakil Suhu Agtmg Z.H. Carpentier Al ting berangkat ke Belanda, di mana ia mcnyampaikan laporan kepada Badan Pcngurus Besar ten tang situasi Tarekat Mason Be bas di Hindi a sejak akhir perang.&9 Dengan misinya itu Carpentier Alting berharap dapat menerangkan bahwa Hindia berada pada arnbang pintu perkembangan-pcrkembangan besar, dan dalam hal itu Tarekat Mason Bebas dapat memai.nkan peranan penting. 90

Sebelumnya, anggota kehormatan Pcngurus Besar, A.F.L Faubel, tokoh yang terpandang dalam Tarekat, telah menang- gapisecara positif artikel pemimpin redaksi I.M.T. yangdengan judul Onze Groote Tnak (Tngas Kita yang Besar), dirnuat dalam edisi bulan November 1946. Artikelitu berakhir dengan kesimpulan bahwa gagasan indal1 tentang persamaan dan tentang persaudaraan semua man usia pad a umumnya, memang sudah

  1. Idem th. 48, 37
  2. Idem th. 48, 193
  3. Idem th. 48, 225

TJ\REKAT MASON DAN PERJUANGAN Ul\IUI< KESJNA.'-'fBUNGAX HmUP

lama diakui dengan mulut, namun dalam praktiknya tidak begitu diterapkankepada orang Indonesia. Sekarangmasalahnya bagaimana memperbaiki kelalaian iht dan menunjuk jalan kepada mereka. 91 Bagi Faubel, Tarekat bel urn pemah mempunyai "htgas n yata yang langsung" seperti sekarang ini. "Tarekat Mason Be bas justru sekarang ini per1u", dicanagkan sebagai sem- boyansaatitu, dan juga dikatakan, "Pikirankita tentangnilai lu- hu r kepribadian manusia, persamaan wujud dati semua manusia, dan Tarekat yang mcngikatscmua orang di atas pemisahan-pemisahan ras, agama, dan kebangsaan, harus bergema eli kalangan orang Indonesia yang berpendidikan".'ll

Dalam pada itu redaksi l.M.T. telah melakukan satu dan lain hal agar Tare kat Mason Bebas dapat lcbih terbuka untuk menerima orang indonesia. Dalam tahun terbitan pertama dimuat lima sumbangsih dari Mason-mason Bebas orang Indonesia yang sebenarnya sudah dimuat dalam majalah itu beberapa tahun sebelumnya. Untuk menggarisbawahi arti yang sudah dimiliki Tarekat Mason Bebas di lndonesia, juga diingatkan bal1wa dua orang Mason Bcbas menjadi anggota kabinet pemerintah Indonesia. 93 Loge "Deli" selanjutnya melaporkan bahwa dokter Tengku Mansur, seorang Indonesia yang sudah menjadi anggota loge itu sejak sebelum perang, pada bulan Mei 1946 dinaikkan ke tingkat suhu.'J,I Keanggotaan Mansur, nasionalis yang kokoh yang nantinya menjadi ''wali negara" [gubemur1St.] Sumatra Timur, menuntt rcdaksi menunjukkan bahwa nasionalisme Indonesia modem dan Tarekat Mason Bebas memang dapat berjalan bersama.

Bagian ini dapat ditutup dengan laporan tentang pembica-

  1. ldem th. 48, 134
  2. Idem th. 48, 227
  3. ldem th. 48, 22
  4. Idem th. 48, 255

Pen gurus Besar. Suhu Agung Caron merupakan orang yang menjunjung tinggi tradisi masonik dan bukanlah orang yang menganut pembaharuan. Ia mendesak Carpentier Alting supaya "politik" jangan dimasukkan ke dalam loge-loge. Biarpun begitu, ia bersikap terbuka juga terhadap zaman baru. Laporan tentang pembicaraan-pembicaraan itu antara lain mengatakan mengenai hal itu: 95

"}alan yang harus ditempuh Tarekat Mason Bebas di Hindia Timur merupakan suatu pokok pembicaraan yang panjang. Br. Carpentier /\lting menguraikan bahwa gagasan Tarekat Mason Bebas pasti akan menemukan tanah persemaian dalam hati ribuan orang Indonesia, asal saja disampaikan dengan wajar. Br. Caron memberikan kuasa penuh kepada Wakil Suhu Agung untuk membimbing proses ini sesuai dengan keadaan. Dibicarakan tentang kemungkinan adanya Loge-loge Indonesia tersendiri. Juga pendiriannya menjadi wewenang Pengurus Besar Provinsial".

Peralihan dari "Loge Agung Provinsial untuk Hindia Belanda" ke "Loge Agung Provinsial tmtuk Indonesia", yang akhimya diberi nama bam ''Loge Agung Provinsial tmh1k Asia Tenggara", merupakan pokol< dari isi bab ini selanjutnya.

I.M.T., yang masih tetap merupakan corong resmi "Loge
Agung Provinsial Hindia Belanda di bawah Musyawarah ~ederland", pada tahnn 1948 memuat pemberitaan tentang Musyawarah Provinsial tahnn itu, di mana dimasuk.kan laporan tentang Rapat Umum Loge Agung Provinsial pertama setelah perang pada tanggal 26-28 Maret 1948, serta juga laporan dari Pengu rus Besar ProvinsiaJ Tarekat mengenai periode 15 Agustus 1945-1 Maret 1948. Pemberitaan yang pan-

  1. Idem th. 48, 21
  2. Idem th. 49, lamp., 9 dan seterusnya.

MAsoN DAN P ERJUANCAN U NTUKKESJNAMBUNGAN Hroup

jang lebar itu memungkinkan untuk menentukan bagaimana Tarekatmengatasi pencobaan-pencobaan eli masa perang, dan juga bagaimana mereka menggambarkan tugas masa depan eli Hindia. Berikut dengan bantuan laporan-laporan dari tahun-tahun kemudian, akan dibahas posisi Tarekat di Indonesia yang berubah dengan kecepatan tinggi.

Gambaran yang mnnettl dari pertemuan-pertemuan pasca-perang yang pertama memperlihatkan bahwa pada paruh pertama tahun 1948, delapan dari 25 loge yang ada sebelum perang sudan bekerja kembali Jumlah total anggota pada waktu itu sebanyak 450 jiwa, yang disebut rendah, namun clibancling dengan keadaan pada bulan Agustus 1945 telah mengalami kenaikan yang tidak kecil. Sudah delapan tahtm yang berlalu sejak Musyawarah Provinsial terakhir pada dilangsungkan pada tahtm 1940 dan kaiena iht para utusan sangat gembira untuk dapat saling bertemu lagi setelah waktu yang begitu lama. Rumah Pemujaan penuh sesakpada waliniu( dania mengakhiri dengan mengatakan, "Kalau ki ta berhasil di clalam memmaikan tugasini1maka pulLman ribu akan datang kepada kita dan mereka akan merupakan anggota-anggota yang bail<. Dan bersama mereka kita dengan senang hati akan membentuk rantai anggota".

Besar Provinsial'J yang terdiri atas anggota-anggota Mr. Z.H. Carpentier Alting, Dr. S.W. de Wolff, Dr. D. de Visser Smits, W.H,T. van Heiden, H.J. Knotnerus, Raden Ngabehi Sosrohadikusumo, J.J. Jiskoot dan Ch.I. Charlouis, kemudian menyampaikan laporan tentang periode setelah kapitulasi Jepang. Revolusi nasional digambarkan sebagai "pergolakan yang dialami daerah-daerah ini sebagai akibat pendudukan LJepang, St.]". Biarpun adanya situasi tidak am an yang diakibatkannya, kehidupan loge di Batavia yang dipersiapkan di kamp-karnp interniran itu, telah berkembang lagi. Segera rnenyusulloge-loge di Sernarang, Sura bay a, Bandung, Makassar, Medan dan Bogor. Juga diupayal

Dalam laporan itu kemudian disinggtmgtentangpengala- man dua yayasan, "Stichting Logegebouw Batavia (Yayasan Gedung Loge Batavia)" yang mengelola gedung "Adhuc Stat'", dan "Cru-pentier Alting Stichting (Yayasan Carpentier Alting)". Kalau sebelumnya yayasan itu seluruhnya merupakan suatu bad an masonik, maka sekarang pun badan pengurusnya sebagian besar terdiri dari anggota-anggota Tarekat. Secara singkatsekali diberitahu tentangCASbahwa sekolah dasarnya sudah seluruhnya berfungsi lagi, seperti juga sekolah menengah:nya yang terdiri dari bagian HBS dan Gymnasium. Berkat Gedenkboek (Buku Peringatan) yang diterbitkan pada tahun 1992, kita tahu sedikit lebih ban yak tentang tahun-tahun pertama setelah perang. Temyata bahwa pengttrus sudah mengadakan pertemuan pada bulan November 1945 untuk rnengadakan pembicaraan. Semua gedung sekolah pada waktu itu

AREKAT MAsoN OA.'J P ERJUMGAN U11.'TUK K E:>"1NA.\1Blll'\GAJ\; HroUP

digunakan oleh pasukan Inggris, sehingga perlu dicari pe-

mecahan darurat. Pemecahannya memang ditemukan; sejak tahun 1945 sebuah sekolah dibuka eli salah satu ruangan ge- 11 11 dung loge Adhuc Stat, dan sebuah sekolah lainnya yang dibuka pad a tanggal ~ Desember tahun i tu eli Hotel "Des Iri- des". Pada tahun 1950 sekolah menengah "Bataviaas Lyceum" dapat dibuka kern bali dengan 250 orang murid, sedangkan pada akhir tahun sekolah itu jumlahnya sudah rnenjadi 400 murid. Sekolah rendah "Nassauschool" dapat dibuka pada tanggal1 Oktober 1946, dengan 350 orang murid. Beberapa bulan setelah Musyawarah Provinsial tahun 1948 kom- plek Koningsplein Oost no. 14 tersedia kern bali bagi yayasan yang menempatkan di sana Bataviaas Lyceum yang telah diubah namanya menjadi CAS-Lyceum.

Mendalmlui beberapa perkembangan sesudahnya, ternyata bahwa oleh karena usaha besar dari badan pengurus, "Carpentier Altier Stichting" pada tal1un 1952 mempunyai lebih dari 1.500 murid, terbagi dalam Lyceum dengan Mid- delbare Meisjes School (sekolah menengah unhlk perempuan), sebuah Uitgebreid Lager Onderwijs (seko1ah menengah pertama) dan tiga sekolah dasar. 97

Sebagian besar dari pelaporan pada tahun 194:8 meliputi keadaan lager-loge sejak berakhimya perang. Dalam hubungan ini, perhatian khusus diberikan kepada loge lapangan De Beproeving. Loge pertama yang memberikan laporan ten tang periode itu adalah "De Ster in het Oosten" di Batavia. Pertambahan temyata begitu besar pada satu setengah tahun yang pertama, sehingga loge yang pada awal kegiatannya mempunyai 125 anggota, pada tanggall April1948 sudah memiliki lebih dari 200 anggota. Di antaranya terdapat 41 calon

  1. Terugblik Scholen CAS 1938-1992, 19-20

didirikan suatu loge yang baru. Walaupun ada sejumlah masalah praktis, pelapor di Musyawarah merasa bahwa di masa depan yang dekat "tidak disangsikan lagi'' akan ada loge Batavia yang ketiga. Ta mengaitkan hal itu dengan rencana untuk mendirikan suatu loge yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Memang pada tahun itu di Batavia didirikan sebuah loge pada tanggal 31 Agustus 1948, yang diberi nama "De Witte Roos (Mawar Putih)". Namun loge itu bukan loge Indonesia. Bahkan di antara para pcndiri tidak ada satu pun anggota orang Jndonesia. 95

Loge Semarang "La Constante et Fidele" tidak mengala-

mi awal yang begitu mul'us. Gedung loge masih dipakai pihal< ten tara, sehingga pertemuan pemujaan diadakan di suatu ruangan dari loge Teosofi, sedangkan pertemuan biasa diadakan di suatu bangsal Palang Merah. Jumlah anggota pada bulan Apdl 1948 hanyalah 20 orang, sedangkan di periode yang lewat hanya dua caJon anggota diterima. Di atas kertas ada dua lembaga loge, yaitu ''Schoolvereniging (Perkumpulan Sekolah)" dan ''Schoolkleding-, voeding- en ondersteuningsjonds (Dana Pakaian, Ma kanan dan Sokongan Sekolah)'', namun tidak dikembangkan sesuatu kegiatan. Utusan loge tersebut di Musyawarah hanya dapat melapor bahwa sejak berakhirnya perang, di Semarang keadaannya "sangat sepi di bidang masonik". Sedikitnya jurnlah anggota telah mengakibatkan munculnya suasana pesimis, dan timbul rencana untu k menjual gedung loge yang besar dan mencari gedtmg yang lebih kecil. Bagi Wakil Suhu Agungpemberitahuanitumerupakan

  1. Lowensteijn 1961, 134
nntuk memberi peringatan agar jangan bertindak ter-

buru-buru. Ia berharap bahwa di gedung yang membangkitkan rasa hormat itu, Terang akan segcra bersinar dengan kuat.

Begitu juga loge "Excelsior eli Bogar tidak dapa t memberitakan sesuatu yang menggembirakan. Hanya ada sepuluh orang anggota, namun iktikad baik mereka tidak perlu diragukan. Pad a waktu pendudukan Jepang, ban yak yang dihan- curkan, dan sudah tidak ada sisa apa-apa dari "Dana studi" dan "Perkumpulan anti-rentenir" yang ada dahulu. Hak milik loge, seperti gedung sekolah Frobel dan gedung "Notaris de Graafstichting'' masih berdiri, dan penyewaannya memberikan penghasilan yang baik untuk kas loge. Dalam pada ittt untuk "Buitenzorgse School" dan "Notaris De Grnajstichting" telah diangkat badan-badan pengurus yang baru.

Loge "De Vriendschap" eli Surabaya juga mengalami kesulitan-kesulitan. Pada masa pertama sesudah pendudukan Jepang, gedung loge masih dipakai oleh Palang Merah. Situasi politik tidak memungkinkan untuk mengadakan pertemuan-pcrtemuan secara terattu. Namun pada tahun 1947 keadaan membaik, dan pada bulan Juni tahun itu, gedung loge dapat dibuka kembali. Sejak saat itu dua belas orang calon anggota telah dilantik dan jumlah total anggota naik dari lima belas menjadi 63 orang. Pengurus loge bemsaha sebaik-baiknya agar dana-dana dan badan-badan yang lama dapat diak- tifkan kembali, namun memperkirakan bahwa masih akan ada banyak masalah. Walaupun begitu, utt1san loge itu menga- khlli laporannya dengan nada yang positif.

Ten tang loge Makassar '~rbeid Adelt" diberikan laporan yangmenarik, dengan sejumlah peristiwa yang berbeda daripada siruasi eli Jawa. Umpamanya, pihak Jepang selama perang bersikap jauh Jebih !unak terhadap Tarekat Mason Bebas. Di karnp interniran sipil setcmpat ma.lahan dapat diada-

"St. Jan", namun bunga-bunga itu tidak lewat pos 1aga tentaraJepang karena dipakai untuk menghiasi mcjanya. Di kamp di Pare-pare mereka mula-mula bertemu eli suatu ruangan kecil, namun kemudian, ketika jumlah para anggota mcningkat rnenjadi 22 orang, mereka mengadakan pertemuan di udara terbuka Pertemuan-pertemuan itu dihadiri juga oleh interniran orang Inggris1yang berasal dari Pulau Christmas. Pada umumnya tentara Jepang tidak mengganggu mereka, namun pada tahun 1944 mereka mengadakan penyelidikan terhadap Tarekat Mason Bcbas. Juga ketua loge lama sekali

d.i-interogasi selama perang, namun tanpa akibat yang buruk. Pada bulan Agustus 1945, ten tara pembebasan pun datang di Sulawesi, dan pada tanggal4 Desember dapat diadakan kompariti pertama di gedung loge sendiri. Sebelumnya mereka bertemu di tempat kediaman ketua waktu itu. Ketika seorang ·enderal dari pasukan Australia yang ada di sana, yang juga seoran g Mason Bebas, mendengar dari orang-orang Australia lainnya bahwa gedw1g loge dipakai sebagai balai perwira, gedLtng itu segera dikembalikan kepada loge. Gedungnya ternyata masih utuh, termasuk sebagian dari arsipnya. Bahkan Alkitab pw1 dikembalikan "dalam keadaan rapi uleh seorang pcrwira Jepang, waJaupun agak kusam karena sering dibaca". PakaianMason Bebas, pcrkakas, dan juga buku-buku perpustakaan dikembalikan dalam keadaan cukup balk. Walaupun oleh karena banyaknya perpindahan terjadi banyak perubahan keanggotaan, ju mlah anggota bertahan pad a angka sekitar liga puluh orang. Dalam peri ode yang ban1 saja berakhir, enam caJon anggota dilantik sedangkan enam lainnya rnengajukan permohonan untuk menjadi anggota. Beberapa dana dan yayasanloge telah ditutup, namtm sekolah
469_

TAREKAT MASON D AN PERJUANGA:-.1 U muK KESIN,\Mlll'NGAN H1our•

taman kanak-kanak telah dibuka kcmbali dan juga ada maksud untuk membuka kembali sckolah Frobel.

Juga di kalangan anggota loge "Sint Jan" di Bandung ada rasa optimis yang hati-hati. Keadaan keuangan cukup sehal·, dan juga jumJah anggota 71 orang tidaklah mengccewakan. Antara bulan Juli 1947 dan bulan Maret 1948 telah diterima tujuh cal on anggota. Dari em pat sekolah yang d ikelola '' Ban- doengse Schoolvereniging" tiga telah dibuka kembali dengan jumlah murid seJuruhnya 850 anak-anak. Namun gedung-gedungnya berada dalam keadaan yang tak terums. Badan-badan lain yang dikeJola loge terse but sebelum perang, sudah ditutup atau belum siap untuk dibuka kern bali.

Ten tang loge "Deli" di Medan, tidal< ban yak dapat dilaporkan pada Musyawaral1, selain bahwa ada 28 anggota dan bahwa segera akan dikirim sebuah laporan tahunan.

Akhimya loge "Zuiderkruis" di Batavia memberitahu bahwa kegiatan-kegiatan teJah dimulai kern bali pada bulan Oktober 1946 dengan kurang lebih 20 anggota. Tidak lama kemudl- an jumlah anggotanya menjadi 30 orang, sedangkan pada bulan Juli 1947loge tersebut sudah mempunyai 42 anggota. Di sam ping itu sejumlah calon anggota sedang menunggu untuk diterima. Loge tersebut memberikan perhatian khusus kepada "Perkumpulan untuk mendirikan dan memelihara sekolah-sekolah untuk pendidikan persiapan bagi anak-anak''.

Musyawarah yang diadakan pada tahun 1947 telah memilih suatu "Pengurus Besar Provinsial" yang baru. Loa SekHie, dan Wisaksono Wirjodihardjo serta Sosrohadikusumo yang terpilih kemb~ merupakan anggota-anggota bukan Belanda. Laporan tentang Musyawarah Provinsial pada tahun 1949, yang diadakan di Bandung antara tanggal 15 dan 17 April, memang menyebut adanya kesulitan-kesulitan dalam masa

lewat tetapi juga tentang pengharapan

terhadap masa depan: 99

"Setelah masa gelap berlalu, setelah jurang-jurang yang kita pandang dengan rasa cemas sehingga kadang-kadang kita me rasa pusing, setelah ketidakterhll1ggaan yang kita bel ajar kenai sebagai realitas, yang di rnasa lampau kita pasti ragu- kan bahwa hal itu ada, [maka kebersamaan telah membuat] kita bebas untuk sesaat dari obsesi masa yang bergejolak ini, yang begitu mencekam dan membuat kita bimbang terhadap semua yang pernah kita sebut benar dan indah".

Di Rapat Umu.m sepuluh loge diwak:ili serta juga perkumpulan Mason Be bas "Cheribon". Jumlah anggota Tarekat pada tahun yang silam telah meningkat lagi dan pada tanggal 31 Desember 1948 berjumlah 582 jiwa. 100 Dari laporan-laporan loge-loge secara tersendiri terbentuklah gambaran berikut tentang perkembangan-perkembangan pada tahun yang silam.

"Ster in het Oosten" memberikan tinjauan singkat dimana peristiwa yang terpenting adalah lahimya loge bam "De Witte Roos" pada tahun 1948 sebagai sempalan dari loge itu. Sejumlah besar anggota pindah ke loge yang ba ru i tu, namun penerimaan anggota-anggota baru dapat mengimbangi penurunan ini. Penambahan sebelas anggota baru merupakan jum- lan yang kurang dari tahun sebelumnya, ketika banyak dilakukan kegiatan penerangan.

"La Cons tan teet Fidele" di Serna rang pad a tanggal1 Maret 1949 mempunyai tiga puluh anggota, bertambah dengan sembilan orang dibanding dengan keadaan tahun lalu. Yang menari.k adalah mutasi-mutasi, 14 anggota baru berasal dari loge-loge lain, sedangkan 8 anggota pindah keloge lain. Yang ter-

ao. IMT th. 50, 319

  1. Idem th. 50, 325

AREKAT MASON DAN P ERJUANGAN U NTUK KESTNA..fBUNGAi\f HlD!JP

akhir itu berhubungan dengan "terbukanya daerah-daerah 1 baru di Jaw a Tengah '. Artinya kekuasaan Belanda sekali lagi ditegakkan dan dikonsolidasikan di sana. Pada umumnya banyak anggota terhalang dari kunjungan ke loge secara aktif oleh karena kesibukan di bidang profes.inya. Namun ada sating pengertian yang sangat baik dan ada tanda-tanda yang menunjukkan adanya kegiatan perekrutan yang meningkat. Gedung loge di Semarang masih tetap dipakai oleh pengadilan militer. Kalau gedung itu tersedia lagi1maka penataannya kembali akan memakan biaya tinggi. Pertanyaannya adalah apakah gedung yang luas itu perlu dipertahankan a tau tidak. Dari tiga dana loge yang disebut dalam laporan loge tersebut, hanya "Perkumpulan Sekolah di Semarang" yang masih aktif: sekolah dasarnya mempunyai lebih dari 300 murid, sekolah menengah lebih dari 100, sedangkan HBS mempu- 1 nyai lebih dari 50 murid, 'Dana Pakaian, Makanan dan Sokongan Sekolah" akan segera ditutup, sedangkan sedang dicari jalan untuk rnenggabung dana "Sekolah-sekolah Frobel Semarang" dengan "Perkumpulan Sekolah" yang disebut sebelumnya.

Loge ''De Vriendschap" di Surabaya juga mengalami pertumbuhan jumlah anggota yang baik, dari 64 menjadi 79 orang. Juga di sini dialami ban yak sekali mutasi: 17 anggota datang dari loge-loge lain, sedangkan empat anggota pindall ke tern pat lain. Gedung loge yang lama dapat direnovasi dan dimodcmisasi berkat lembaga "Bouwfonds (Dana Pembangunan)". "Soerabajase School-Vereniging (S.S.V.), suatu badan dari loge tersebut, pada tahun pelaporan sudah sama aktifnya seperti sebelum tahun 1942. Ada wakil-wakil dari perkumpulan itu di Belanda dan di Batavia, dan melalui kerja sam a dengan "Vereniging tot Bevordering van het Openbaar en Bijzonder Neutranl Onderwijs (Perkumpulan untuk Memajukan Pendi-

Umum dan Luar Biasa)" yang baru saja didirikan, dapat direkrut tenaga baru dari negeri Beland a. Perkumpulan itu mengelola tiga sekolah menengah, satu sekolah dasar dan sebuah sekolah Frobel, yang semuanya menempati gedung-gedungnya sendiri. Oleh karena masalah dalam bidang personalia, ternyata belum dimungkinkan untuk membuka kern bali "Simpang School" yang lama.

Loge "Arbeit Adelt" di Makassar juga mengalami perlam- bahan jumlah anggota, yang pada akhir tahun 1948 berjumlah 39 orang. Juga eli sini ada banyak anggota yang pjndah dan ada yang tiba dari tern pat lain, namun keanggotaan bertumbuh terutama dengan diterimanya sembilan caJon anggota ban.1. Gedung loge, yang masih menunjukkan tanda-tanda pendudukan Jepang, perlu direnovasi. Kehidupan loge sangat aktif, sedangkan situasi keuangannya cukup baik. Tentang badan-badan loge itu, hanya dapat dilaporkan bahwa "Schoolvereniging" lmtuk pendidikan sekolah dasar sedang mengalami perkembangan yang bagus.

Tcntang loge " Deli" di Medan tidak ban yak lagi yang dapat dilaporkan kecuali bahwa kesibukan besar dari sekretaris telah menghalangi pengiriman laporan tahunan tepat waktu. Di sam ping itu para peserta rapat diingatkan bahwa loge itu mengaJami keadaan yang sangat sulit.

Loge "Excelsior" di Bogar pada tahun yang silam dalam soal keanggotaan terpaku pad a angka 14. Baclan-badan loge itu seperti "Notaris de Graafstichting", "BuitenzorgseSchool", "Klecling- en Voedingsfonds (Dana Pakaian dan Makanan)" dan "Buitenzorgse Hulpbank (Bank pembantu Bogar)" mengalami berbagai persoa !an yang belum dapat dipecahkan. Ada rencana untuk merenovasi Rumah Pemujaan.

Tinjauan dari kegiatan loge ''Sint Jan" di Bandung menun-

ARE.KAT MASoN DAN PERJUANGAN U NTUK KESJNAliiB UNGAN Hmur

jukkan bahwa loge itu telah mengalami pertumbuhan yang sangat baik, yaitu dari 70 rnenjadi 109 anggota. Di antaranya ada 19 anggota di tingkat tukang dan tingkat murid sehingga ada banyak muka baru. Oleh karena ada yang tinggal di tempat lain, jumlah anggota aktif tidak lebih dari 70 orang. Mengingat hal itu, dapat dikatakan bahwa persentase kehadiran masih cukup tinggi Lagipula banyak calon anggota barn telah mendaftarkan diri. Keadaan keuangannya sehat, namun mengingat situasinya, rnaka perlu diadakan penghematan. "Perpustakaan Umum" rnasih dikelola organisasi yang lain, sama seperti "Perkumpulan Pro Juventute". Di "Perkumpu1an Anti-rentenir'' dan 1 'PerkumpulanReklasering Netral" kegiatan belurn rnelangkah lebih jauh daripada penyusunan kembali arsip. "Dana Pakaian dan Makanan Sekolah" memiliki dana yang cukup besar, namun kegiatan-kegiatrumya bel urn dimulai.

Sukses terbesar dicapai di bidang pendidikan. "Bandoeng- sche Schoolvereniging (B.S.V.)" unh1k pendidikan k11usus netral mengelola tiga sekolah dasar dengan jtmllah m urid seluruhnya 1.000 orang dan tiga sekolah menengah dengan leb:ih dari 250 mw:id. Ten tang dna sekolah Frobel yang ada, dengan kira-kira 100 rnmid, dikatakan bahwa sekolah-sekolal1 itu rnungkin akan ditutup. Akhimya ada berita bahwa apa yang disebut Plantersschool (Sekolah bagi anak-ru1ak Perkebunan) di Penga-lengan ingin bergabung dengan Perkurnpulan Sekolah.

Loge Batavia "Het Zuiderkruis" mengalami pertumbuhru1 anggota dari 44 orang menjadi 50 oran8t dan hal itu rnern- bantu rnemupuk "suatu kehidupan loge yang gernbira". Loge tersebut memperingati hari ulang tahun ketiga puluhnya, suatu peristiwa yang dirayakan secara sederhana. Rumah sakit terkenal di Batavia "RS Cikini" pad a kesempatan itu menerima sumbangan keuangan. Loge terse but dalam laporannya tidak menyebut adanya 1embaga-lembaga sosialnya sendiri.

Zuiderkruis selalu dikunjWlgi oleh cu-
kup ban yak anggota.

Loge "Palembang" pada bulan November 1948 dapat menyelenggarakan lagi pertcmuannya untuk pertama kali dengan delapan orang anggota. Ten tang gedung loge dikatakan bahwa 'keadaannya memprihatinkan". Sambi! menunggu renovasi, pertemuan-pertemuan diadakan di rumah anggota-anggota dan diharapkan bahwa kalau gedung sudah selesai direnovasi, makadapatdilantiklagicalon-calonanggotabaru.

"De Witte Roos" yang pada tanggal 20 November 1948 telah diresmikan secara khidmat, pacta akhir bulan Oktober mempunyai 45 anggota, di antaranya 16 dengan tingkat tukang dan murid. Pada tanggall Maret 1949 jumlah anggotanya sudal1 mencapai 57 orang, sedangkan en am calon anggota telah mendaftarkan diri. Tidak ban yak hal lain dapat di- lapor ten tang loge tersebut, kecuali bahwa pertemuan-pertemuannya dihadiri oleh ban yak pengunjung dari loge-loge lain.

Tentang perkumpuJan "01eribon" tidal< ada yang dapat dilaporkan oleh karena tidak dibuat laporan tahunan.

Dalam rubrik ''Usul-usul dari Pen gums Besar Provinsial" di mana ada mjukan kepada Konven Sul1u pertama setelah perang, yang diadakan pada tanggal18 Desember 1948 di Batavia, Wakil Suhu Agung Carpentier Alting kembali memunculkan suatu persoalan yang sudah pemal1 membangkitkan kel1ebohan. 101 Hal itu berkaitan dengan suatu ucapan yang agaknya bermuatan politik yang tidak diterima dengan baik oleh beberapa anggota orang Indonesia. Apakah yang terjadi sesungguhnya?

Setelah Wakil Suhu Agung membuka Konven Suhu

  1. Idem th. 50, .344

MASON DAN PERJUANGAN UNTUK KESINAMBUNGAN HIDUJ>

Provinsial pada sore hari tanggal 18 Desember, sewaktu sedang berlangstmg pembicaraan-pembicaraan, datang berita bahwa pemerintah Hindia telah memutuskan melancarkan "aksi pembersihan [aksi polisionil kedua, St.], dan bahwa berhubung dengan itu jam malam clirnajukan". Laporan tentang Konven Suhu mengatakan, 102 "Juga sekarang peristiwa-peristiwa telah melemparkan bayangannya ke depan, dan beberapa peserta merasa lcbih baik pulang secepat mungkin". Pada penutupan pertemuan itu, de.mik.ian laporan itu, Carpentier Alting menyatakan harapannya agar para Mason Be bas dalam hari-hari mendatang akan bertindak secara pantas, dan memberikan d ukungan kepada Pemerintah". 103 Bagi orang Indonesia Raden Prawoto Soemodilogo kata-kata terakhir itu merupakan alasan tmtuk menyampaikan tanggapan tertulis kepada lM.T. Dengan judul1kijmetselnrij en Politiek (Tarekat Mason Bebas dan Politik), suratnya dimuat dan kemudian dibubuhi komentar ole.h Ch.l. Charlou.is. Prawoto menu.lis: 1

o. 1
"Dengan pernyataan bahwa l

  1. Idem th. 50, 197
  2. Idem th. 50,206
  3. ldem th. 50, 263-264

iht tidak berarti bahwa ia mendukung politik Pemerintah Belanda.

Justru sebagai Mason Bebas dan bukan sebagai seorang politisi, saya merasa harus mengemukakan bahwa ucapan Konven Suhu Prov. menurut hemat saya kurang tepat, agar ada kejelasan dalam masalah yang bagi saya sangat peka ini".

Menarik bahwa Prawoto menyebut diri.nya seorang Mason Bebas walaupun sejak tahw1 1931 secara formal ia bukan lagj bagian dari Tarekat. Hal itu ternyata dari suatu berita dalam LM.T. dari bulan Agustus 1949, di mana dikatakan bal1wa ia telall mcngajukan permohonan untuk diterima kembali ke da- 1tli lam Tarekat. Walaupun begitu, redaktur Cha1·louis me:nyam- 11 paikan jawaban sebagai berikut kepada anggota" Prawoto:

"Kami bcrterima kasih kepada Sdr. Prawoto atas tanggap-annya; bukan hanya bahwa dengan demikian ia menunjukkan dari jarak Jauh masih h.idup erat dengan kita dan menjunjung tinggi asas-asas kita, tetapi juga karena ia memungkinkan kami untuk meluruskan suatu salah pengertian. Sdr. P rawoto memang mempunyai alasan untuk mem.inta penjelasan dari kami. Biarlah kami mengatakannya secara terang-terallgan: perumusan yang kami berikan pada kata-kata penutup Yang Oiterangi [yaitu Carpentier Alting, St.] ternyata kurang serasi. Sewaktu berdiri di tanda-Mr., kami mendengar Y.O., dan kami tidak berani menjamin bubwa perkataan penutup yang menghebohkan memang bQnar begitu disampaikan kata demi kata. Kami hanya mempunya:i kepastian tentang ' maksud' [kata diberi spasi, St.] Y.D., dan itulah yang penting!

Jadi apa yang dikatakan Y.O. dapat kami rumuskan sebagru berikut: 'Saya percaya bahwa juga para anggota yang tidak

· 15. Idem th. 51, 33

PER]UAi\lGAN Ul\'TUK KESINAMBUNCAN HID\JP

setuju dengan politik Pemerintah akan berperilaku secara pantas di hari-hari mendatang!

Namun bahkan juga terhadap kata-kata Y.D. seperti temmat dalam T.M.T. sulit cliberikan arti lain kecuali kalau orang beranggapan bahwa kaum Mason Bebas mempunyai kecenderungan revolusioner."

Carpentier Alting berhubung dengan meningkatnya suhu
politik, dalam edisi I.M.T. bulan Januari, rnenyarnpaikan pe-

san khusus kepada sernua Mason Bcbas di Indonesia. Kutipan berikut menarik: 106

''Kita harus membuktikan tal1Un ini bahwa TarekafMason Bebas benar-benar merupakan kekuatan yang mengikat sanggup membawa TJrekat sejati kepada semua penduduk r'legeri ini. Suatu tugas indah menunggu kita, sekarang di mana sebagai akibat pergolakan politik telah te~ndi salah pengertian. Tarekat Mason Bcbas sanggup mengat<~kan kepada kita semua bahwa kalau gagasan bahwa semua orang itu bersaudara dalam satu rumah dapat diterima dengan baik, maka senwa perselisihan dan hubungan retak akan Jenyap".

Dalarn usul-usul Pengurus Besar Provinsial yang disebut

sebelumnya, yang menjadi titik tolak tinjauan ini, Wakil Suhu Agung sekali lagi menyinggungperistiwa yang laluitu. Jatuh- nya penyelenggaraan Konven Suhu bersamaan dengan aksi polisionil kedua, menyebabkan wakil-wakil dari sejurnlah besar loge-loge dari luar Batavia tidak dapat hadir, dan walaupun merupakan "kebiasaan yang baik untuk tidal< membahas masalah politik dalam lingkungan masonik, hal itu telah rnenghamskan disinggungnya situasi politil< pada sa at itu. Agar loge-loge dapat secepatnya diberi informasi, maka "di dalam penyusunan laporan telah diusal1akan untuk melaku-

1 06. Idem th. 50, 193

mungkin". Sarna sek~ tidak ada maksud bahwa Pengurus Besar mau memaksakan kehendaknya kepada loge-loge. 107

Tidak dap~t dihindari kesan bahwa anggota Indonesia tersebut mtmgkin tidak puas dengan jawaban atas surat kiri- 11 mannya itu. Ungkapan memberikan dukungan kepada Pemerintah" sangat tidak dipikirkan dengan baik, namun kata-kata itu menggambarkan posisi keberadaan Tarekat Mason Bebas. Ketegangan politik semakin meningkat dan bukanlah tugas yang mudah memperdamaikan pendirian-pendirian di dalam lingkungan para anggota. Suatu pokok lain yang dikemukakan dalam Rapat Umum Musyawarah Provinsial berkaitan dengan penelitian R.M.T.S. Tjondro Negoro, anggota Komisi Penasihat Tarekat, atas kemungkinan clibentuknya loge-loge yang rnenggunakan bahasa indonesia sebagai bahasa pengantar. 108 Tjondro Negoro telah diminta Pengunls Besar Provinsial unhlk rnelakukan tugas tersebut, dan setclah ia me1akukan orientasi eli Semarang, daerah kabupatennya sendiri, ia melaku kan perjalanan keliling Indonesia. Dalam rangka itu diktmjunginya Bali dan kemudian Minahasa, Sulawesi Selatan, Surabaya, Batavia, Bandllng dan akhirnya ~1edan dan sekitamya. Berdasarkan keterangan yang dikumpulkannya, Tjondro Negoro berkesimpulan bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional sudah tersebar ke ban yak daerah, dan oleh karena iht sebaiknya ritual diterjemahkan ke da1am bal1asa Indonesia. Anggota dari loge "Arbeid Adelt" di Makassar, Polak, bersediamelakukannya.

Biarptm begitu, Tjondro Ncgoro tidaklah mend uktmg pendirian loge-loge dengan bahasa tersendiri, oleh karena halitu

  1. Idem th. 50, 344-345
  2. ldem th. 50, 349

MASON DAN' PERJUANGAN U NTU K KESINAMBUNCA. HlDUP

dapat membangkitkan "separatisme". Ia lebih suka kalau se-

tiap orang diizinkan mengungkapkan dirinya dalam bahasa- nya sendiri, yang mungkin sekali berarti bahwa bahasa Indonesia dan rnungkin juga bahasa Jawa dan Sunda akan digunakan. Tjondro Negoro juga rnenyarankan agar diumumkan kepada dt.mia luar bahwa tidak lagi semata-mata bahasa Bclanda yang rnenjadi bahasa pengantar Tarekat Mason Be bas.

Dalam diskusi, seorang anggota "La Constante et Fidele" di Semarang mengemukakan bahwa dalam logenya ada dua pendapat. Mayoritas menganggap bahwa bukanlah masalah kalau dalam suatu loge dipakai beberapa bahasa, sedangkan suatu minoritas meminta agar didirikan "loge-loge murni Indonesia" dl samping loge-loge berbahasa Belanda yang ada. Namw1 semua mendukung agar "mengumpulkan sebanyak mungkin orang Indonesia dengan pikiran dan pera saan yang sam a seperti kita". Utusan dari loge "Arbeid Adelt" di Makassar menyampaikan pendapat logenya, bahwa masih terlalu dini untuk mendirikan loge-loge bahasa tersendiri. Melihat perkembangan yang dialami bahasa Indonesia, ada baiknya kalau loge-loge mu1ai membuat rencana ke arah itu.

Orang Indonesia yang menjadi anggota· Pengurus Besar, Raden Ngabehi Sosrohadikusumo, kemudian mengemuka kan pendapatnya bahwa jumlah orang Indonesia yang cocok be- lumlah begitu ban yak dan bahwa mereka terutama terdapat eli lingkungan yang bersedia bekerja sama dengan pihak Belanda. Namun, demikian katanya, "K.ita akan menyebarkan asas-asas masonik sebanyak mungkin dan dengan ilu tidak hanya berusaha mencapai go Iongan yang berbahasa Belanda".

Pada akhir pembicaraan Wakil Suhu Agung menyimpul~ kan bahwa dalam persoalan ini janganlah diambil keputusan tergesa-gesa Sangat bermakna bahwa ia sendiri meragukan apakah antara para anggota di Hlndia ada kemungkinan ter-

ru Indonesia, Carpentier Alting

mcrasa cukup optimis dan ucapannya yang berikut mengingatkan kepada pengharapan-pengharapan yang tinggj yang dimilikinya scjak tahun 1946. Tetapi ia juga menunjukkan kepercayaan yang teguh pad a masa de pan ketika ia me.ngatakan pada tanggal16 April1949, "Kalau ketenterman sudah dipu- 109 lihkan, kita pasti akan kebanjiran anggota-anggota bant".

Mulai bulan Mei 1949 nama majalah diubah menjodi Mn - ~onniek Tijdschrtft voor Indonesie, orgnan van de Provincinle Groof- loge voor lncfonesie (Majalah Masonik untuk Indonesia, terbitan dari Loge Agung Provinsial untuk Indonesia). Dengan demikian scpertinya kalangan Mason Be bas sudah mendahului perubahan-pembahan di bidang kc.!tatanegaraan yang pada tahun 1949 dengan jelas akan terjadi. Menarik dalam hubungan ini adalah audicnsi yang diberikan kepada suatu delegasi Pengunas Besax Provinsial oleh Perwakih:m Tinggi Mahkota, Dr. A.H.J. Lovink pada tanggall1 Agustus 1949. Anggota-anggota delegasi tersebut adalah Ca rpentier Alting, Dr. I. H.M.J. Hart, M. Wisaksono Wirjodihardjo, dara Loa Sek Hie. Tujuan kunjungan itu aqalah untuk menerangkan bahwa "kaum lelaki dari semua bangsa dapat diterima dalam Tarekat kita". Carpentier menyatakan bahwa Tarekat Mason Bebas dcmgan senang hati "ingin mcncmukan su ah.t ikatan antara Nederland dan Indonesia''. Perwakilan Tinggi Mahkota me_nghar- gai usaha itu, namun memberikan nasihat agar menghindari ~gala sesuatu yang berbau sebagai propaganda bagi kepen- 11 0 :mgan Belanda". Em pat bulan kemudian, pada tanggaJ 21 Descmber 1949, Pen gurus Besar Provinsial mengirim telegram ilcapanselamat kepada lr. Soekamo, Presiden Republik Indo-

109 Idem th. 50, 351 1!0. Tdem th. 51, 33

M ASON D AN P ERJU ANCAN U NiUK KESI NAMBUNGAN Hrour

nesia Serikat (RIS), dan kepada Drs. Hatta, perdana menteri. Hatta juga membalas dengan sebuah telegram, di mana ia menyatakan terima kasihnya, juga atas nama anggota-anggota kabinet lainnya, atas ucapan selamat dan atas "penegasan bahwa salah satu sila Pancasila di Undang-undang Dasar kami tentang ke.manusiaan, seluru.hnyamendapatresonansinya dalam asas-asas Tarekat Mason Bebas". Telegram kepada Presiden berbunyi: 111

"Berhubung dengan pengangkatan Yang Mulia sebagai presiden pertama Republik Indonesia Serikat, Tarekat Tarekat Mason Bebas denga.n segala hormat mengucap selamat kepada Yang Mulia, dan menegaskan kcpada Anda bahwa tujuan-tujuan RIS untuk melayani kemanusiaan, seluruhnya mendapat resonansi dalam asas-asas Tarekat Ma-son Be bas".

Pada Musyawarah Provinsial talllln 1951, hadir utusan- 11 utusan dari 10 loge, yaitu dari: "De Ster in het Oosten, "La Constante et Fidele/J, "De Vriendschap", "Arbeid Adclt", ''Deli", "Excelsior", "Sint Jan", "Het Zuiderknti.s", "Palembang", ''De Witte Roos" dan akhimya perkumpulan masonik ''De Hoeksteen" dari Sukabumi. 112 Walaupun jumlal1 loge-loge yang terwakili selama tahun pelaporan dapat dipertahankan pada tingkat yang sama, namun kemerosotan jumlah anggota mulai tampak. Kalau pada tanggal 1 Maret 1950 jumlahnya masih 665 jiwa, setahun kemudian jumlahnya sudah menurun menjadi 552 jiwa. Perlu juga dicatat bahwa pada saat itu hanya 375 anggota berada di Indonesia.

Dalam kata pembukaannya kepada rap at urn urn, Carpentier Alting menandaskan bahwa kemerosotan itu telah meng-

  1. Idem th. 51, 187
  2. Idem th 52, 213 dan seterusnya.

telah menciut itu, demikian kata Wakil Suhu Agung, rnenuntut bahwa loge-loge harus bergabung dan harus diperkuat, sebab hanya dengan cara itu kita akan berhasil"menuntun Tarekat Mason Bebas cti Indonesia rnelalui ombak yang gemuruh menuju ke pelabuhan yang aman".

Dua hal akan disoroti lebih Ian jut, yaitu usulloge ''De Ster in het Oosten" untuk mernbentuk suatu Kuasa Agung Indonesia tersendiri yangmerdeka, dan laporan loge-loge tentm1g tahun yang lampau.

Secararingkas usul iturnenggariskan bahwa Loge Agtmg Provinsial akan rnendukung setiap prakarsa dari anggota-anggota orang lndonesianya untuk rnembentuk suatu Kuasa Agung Indonesia yang merdeka dan yang diakui. Dalarn hal ih1 Loge Agung dalarn bentuknya yang ada akan dipertahan- km1, sedangkan anggota-anggota yang ingin masuk ke dalam Kuasa Agung yang baru, dapat mempertahankan keanggotaan mereka selama suatu masa transisi. Menurut penjelasan, kemerdekaan politik negeri itu telah memunculkan pertanyaan apakah bukan sudah wakhmya tmh1k mengubah Loge Agung Provinsial ke dalam suah1 Kuasa Agt.mg Indonesia. Namun "ketidakjelasan zarnan" rnerupakm1 faktoryang memberatkan, sedangkan beberapa anggota memptmyai keberatan prinsipil terhadap perubal1an seperti itu. Hal itu dapat mengakibatkan perpecahan dalam keanggotaan yang sudah rnerosot itu, yang akan berarti mernperlemah lebih Ian- jut Tarekat Mason Bebas. Dalam diskusi dikemukakan bahwa banyak orang Indonesia enggan untuk masuk menjadi anggota, sebab loge-loge ih1 terlalu bernapaskan Belanda. Penyebaran Tarekat Mason Bebas di m1tara orang-orang Indonesia mengharuskan adanyaloge-loge Indonesia tersendiri. Kemudian suatu aspek dikemukakan yang belum pernah

TARfKAT MASON DAN PE:RTUANGA N UNTUK KESfNA\1BUNCAN HIDUP

ditekankan seperti itu1namun yang mendapat aktualitas besar dalam keadaan itu. Utusan dari loge 'rOe Vriendschap" menyebut "rasa nasional" sebagai tanda khas Tarekat Mason 1 Bcbas dan melanjutkan, 'Tanda itu tidak dapat kita tinggal- kan. Kita harus mempm1yai Tarekat Mason Bebas Belanda. Para anggota Indonesia harus mengambil prakarsa sendiri untuk membentuk suatu loge, hal itu saya W1at sebagai kon- 1 sekuensi dari penyerahan kedaulatan' • Utusan dari "Constante et Fidele" mengemukakan bahwa para anggota orang Indonesia dari logenya tidak menghendaki pembentukan suatu Kuasa Agung merdeka tersendiri. Jumlah anggotanya terlalu kecil untuk itu, bahkan loge Indonesia ptm masih di luar jangkauan oleh karena alasan itu. Kemudian anggota Komisi Penasihat Pengurus Besar Provinsial, T r. Liem Bwan Tjic, mengangkat bicara. Tugas Komisi adalah untuk memberikan nasihat kepada Pengurus Besar ten tang berbagai hal yang menyangkutTarekat dan di dalamnya termasuk masalah "mcnyebarkan gagasan masonik di Indonesia, terutama bcrkaitan dengan para warga negeri inY'. Liem mengemu kal

1950 sampai dengan akhir Februari 1951 menghasilldi luar Jakarta. Dalam periode yang lampau enam anggota baru diterima. Ten tang kcmajuan lembaga-lembaga loge, situasinya kurang menguntungkan. "Kamp liburan anak-anak dan Dana Sokongan De Ster", "Dana Makanan Anak-anak" dan ''Dana Studi" telal1 dinonaktifkan, hanya mengenai ''Bataviase Cre- dietbank" perkembangannya positif. Lembaga itu telah clibuka kembali pada semester pertama tahun 1947, dan pada tahtm 1949 serta 1950 peminjarnan-peminjaman meningkat dengan cepat. Prospeknya dianggap baik dan pengurus baru dalam waktu dekat akan menyampaikan Iaporan keuangan.

"La Constante et Fidele" di Serna rang terpaku pada keanggotaan 36 orang, dan di antaranya 15 tinggal di luar negeri dan mungkin sekali tidak akan kembali. Dua caJon anggota telah dilantik, sedangkan dalam waktu dckat diharapkan masih akan ada satu pelantikan. Dikernbalika.nnya sebagian dari Rumah Pemujaan memungkinkan untuk mengadakan pertemuan-pertemuan resmi di tempat itu lagi, sedangkan kompariti biasa tidak lagi perlu diadakan di Hotcl"Du Pavillion". Sisa dari gedw1g loge disewakan kepada pengadilan, yang membayar uang sewa yang cukup besar sehingga tersedia jumlah uang yang banyak bagi renovasi Rumah Pemu- jacm. Pembelian perabot dan inventaris telah menyebabkan pengeluaran yang cukup besar. Loge memiliki sebagaj "hak

MASON DAN PF.RJUANGAN UNTUK KESLNAMBUNGAN HtDUP

milik yang tidak diberatkan" persil "Pendrikan" (Prins Hendrik Laan) no. 49 dan 51, bersama gedung loge dan rumah tinggal. Milik itu ditaksir bernilai f 300.000. Tahun yang akan datang dihadapi dengan penuh keyakinan sebab keadaan keuangan di atas kertas kelihatannya sehat.

Loge "De Vriendschap" di Surabaya pada tahun pelaporan itu mengalami kemerosotan tajam dalam jumlah anggotanya, yakni dari 98 menjadi 52 orang. Hanya dua anggota bam dilantik. Pindahnya anggota-anggotanya ke tempat-tempat lain menimbulkan masalah bagi loge tersebut. Badan pengurus Surnbainsche Schoolvereniging yang sebagian anggotanya merupakan anggota loge, bekerja keras agar sekolah-sekolahnya dapat bertahan terus. Penclidikan yang diberikan adalah apa yang disebut pendidikan Belanda konkordan~ yang selunthnya bersambung pada penclidikan di negeri Belanda. Dalam hal itu timbul masalah. Para anggota loge dalam badan pcngurus perkumpulan sekolah itu ingin berpegang teguh pada prinsip bahwa penclidikan djberikan "kepada semua pihak yang merasa membutuhkannya, tanpa memandang orientasi politik atau agama mereka, tanpa memandang kebangsaan atau rasnya". Oleh karena anggota-anggota pengurus yang lain tidak mau menjunjung tinggi prinsip terse but, para anggota yang mewakili loge dalam badan pengurus mempertimbangkan apakah kehadiran mereka dalam badan pengmus masih dapat dipertanggungjawabkan. Bahwa mereka berhasil dengan pendirian mereka itu tercermin dari bagian dalam laporan yang berakhir sebagai berikut: "Para anggota [badan pengurus] non-loge terbuka bag1 masalah prinsipil tersebut''.

Laporan ten tang perkumpulan sekolah terse but menying· gungjuga hubungan dengan pihak penguasa Indonesia, yang disebut "san gat bersahabat". Pengecualiannya adalah ten tara RJ. yang masih menduduki salah satu gedung sekolah namun

Untungsekolah Darmo mendapat tempat di Susteran Ursula, dan pada umumnya hubungan dengan para suster clipelihara dengan baik.

"A rbeid Adelt'' di Makassar menyatakan telah melampaui suatu tahun yang sangat tidak tenang; insiden-insiden seternpat telah menyebabkan bahwa kompariti-kompariti yang di- jadwalkan tidak selalu dapat berlangsung. Juga rnereka terpaksa mengadakan pertemuan pada hari-hari Minggu pagi untuk waktu tertentu, berhubung adanya jam malam dan keadaan yang tidak aman. Olch karena ban yak yang pulang ke negeri Belanda, loge tersebut sangat terpukul sehingga pada urnumnya hanya beberapa anggota yang rnuncul. Walaupun ada dua calon anggota yang dilantik, tidak ada lagi calon-calon baru yang mendaftarkan diri. Keadaan keuangan loge itu cukup memuaskan, namun lernbaga-lembaga yang dikelolanya sudah tidak berfungsi lagi.

Loge "Deli" mempcrlihatkan bahwa kegiatan-kegiatan-walaupun pada tingkat yang Iebih rendah-masih tetap berlangsung. Selama tahun 1950 telah dilakukan lima pelanti.- kan1 sedangkan kompariti-kompariti rata-rata dihadiri oleh sekitar lima belas anggota. Ban yak wejangan dihasilkan, dan Jabatan-jabatan badan pengmus seluruhnya terisi. Namun di loge inipun dihadapi masalah yang disebabkan mutasi-mutasi yang ban yak

"Excelsior" di Bogor pada tahun 1950 memiliki 16 anggota, dan dua kali diadakan pe.lantikan, seda11gkan dua caJon telah mengajukan permohonanmasuk menjadi anggota. Mengenai dua dana loge, "Buitenzorgs Studiefonds '', dan "Buiten- :orgs Schoolklerenfonds" tidal< banyak dapat dilaporkan. Kedua-duanya masih memiliki sumber ke.uangan yang lebih dari rukup. Juga loge itu sendiri dari segi keuangan tidak mempunyai masalah. Oleh karena pemilikan gedung HBS dan ge-

AHEKAT MAsoN DAN PERJUANGAN UNTuK KESINAMBUNGAN Hrour

dung-gedung serta tanah-tanah loge, menurut neraca pada akhir tahtm 1950, loge memiliki modal yang cukup besar.

Loge Bandung "Sint Jan" dari segi jumlah anggota pada tahun 1950 masih merupakan loge kedua terbesar di Indonesia. Dimulai dengan 12.5 anggota, loge itu menutup tahtm pelaporan dengan 100 anggota, di antaranya25 anggota pada tahap murid atau tal1ap tukang. Ada empat pe1antikan, sedangkan enam caJon telah mengajukan permohonan untuk diterima. Sepanjang tahun telah dihasilkan sejumlah besar wejangan, sedangkan banyak juga diadakan kebaktian di Rumah Pemujaan. Juga di sini situasi aktual memperlihatkan pengaruhnya, keadaan tidak aman menyebabkan bahwa sejumlah anggota terhalang mengunjtmgi loge, sedangkan keberangkatan anggota-anggota ke negeri Beland a menurunkan j"umlah anggota. Lebih dari lima puluh anggota sudah berada di luaT negeri atau siap berangkat. Walaupun keanggotaan badan pengurus masih lengkap, banyaknya mutasi menyebabkan bahwa hal itu sulit dipertahankan. Lembaga-lembaga loge terse but mengalami keadaan kembang kempis.

"Het Zuiderkntis" di}akarta juga kehilangan ban yak anggotanya, yaitu dari 56 anggota turun menjadi 39. Walaupun begitu, loge itu pada awal tahtm 1951 mempunyai tujuh murid sedangkan lima calon sedang menunggu pelantikannya. Ketika karya-karya wejangan ditinjau, tampak bahwa loge tersebut san gat memperhatikan situasi aktual dalam masyarakat Indonesia dan posisi kaum Mason Be bas di dalamnya. Dari segi keuangan loge tersebut tidak memptmyai masalah.

Loge "Pal em bang" pada tahun 1950 dapat menggtmakan lagi sebuah "Rumal1 Pemujaan" sendiri1berkat bantuan keuangan dari luar. "Palembang" merupakan saht-satunya loge yang pada tahtm itu mengalami pertambahan anggota1 walaupun angka-angkanya tidak seberapa. Sisa laporan ittt

"De Witte Roos" di Jakarta tidaklah mengalami tahun yang buruk pada tahun 1950. Anggota-anggotanya tetap berjumJah 65 orang. Telah diadakan lima pelantikan, sedangkan sebelas cal on telah mendaftarkan diri. Mengenai kunjungan ke loge, dilaporkan bahwa kira-kira setengah dari jumlah anggota yang memenuhi syarat mempakan pengunjung-pengunjtmg yang setia. Bad an pengurus loge bukanlah tidak puas dengan kegiatan-kegiatan pada tahun yang lampau, namun memberikan catatan bahwa kepergian begitu banyak anggotanya yang setia ke Nederland telah membangkitkan kekhawatiran. Mereka mengandalkan kaum muda "yang nantinya akan dan harus mengambil alil1 tugas ini. Bahwa di antara mereka belum ada orang Indonesia, sangat kami sesalkan. Di masa depan akan tergantung kepada mereka khususnya untuk menjaga tetap menyalanya lampu Masonik". Laporan itu melanjutkan: ''Seperti telah diajarkan sejarah, hal ituhanyalah akan menguntungkan Indonesia yang sekarang telah merdeka''.

Mengenai perkumpulan kaum Mason Bebas ''De Hoeksteen" di Sukabumi yang didirikan pad a tanggall Oktober 1950 dan terdiri atas lima anggota, laporannya sangat singkat. Oleh karena perginya hampir semua anggota, perkumpulan itu sudah siap-siap gulung tikar.

Pada MajelisTahunan ProvinsiaJ tahun 1952 yang diselenggarakan di Band1.mg terjadilah terobosan yang sudah lama ditunggu-hmggu dalam bentuk kehadiran utusan "Perkumpulan Masonik Indonesia, Purwa Daksina Jakarta". Kalau

  1. Idem th. 53, 236 dsl.

AREKAT MAsoN DAN PERJUANGAN UNTUK l

dikatakan bahi'\ra itu merupakan kehadiran formal, makaung- kapan itu agak lemah sebab semua peserta terkesan dengan momen historis ketika Raden Soeprapto disambut di Rumah Pemujaan dengan pemberian kehormatan masonik pada pembukaan Loge Agung. Disambut oleh Wakil Suhu Agung Carpentier Alting dengan ucapan selamat datang, Soeparto pun merasakan suasana khidmat saat itu, sebab untuk pertama kali dalam sejarah Tarekat Mason Bebas ada perkumpulan lndonesia yang secara resmi hadil'. Selama rapat umum, Wakil Suhu Agung menyinggung hal itu lagi ketika ia mengcnang bagaimana pada bulan Desember 1951 perkumpulan itu didirikan. "Hubungan", katanya selanjutnya, "dengan para saudara Indonesia kita sangat baik." la yakin bahwa pendirian perkumpulan itu merupakan jaminan bahwa Terang akan terus bemyala di bagian dunia ini.

Setelah laporan-laporan tahunan loge-loge dibacakan, Liern Bwan Tjie rnengangkat bicara. Liem menggunakan kesempatan untuk memberitahukan para mason bebas Belanda ten tang pendirian perkumpulan "Purwa Daksina", kemudian ia menyampailMn9onniek Tijdschrift voor Indonesiii berbunyi sebagai berikut:

"Kemerosotan tajam dalam jumlah para saudara Bclanda di Indonesia telah membuat para anggota Indonesia khawatir tentang nasib kehidupan masonik di wilayah ini. Dalam hal inj mereka sadar bahwa kelangsw1gan kehidupan masonik di negara ini hanyalah dJmungkinkan kalau ada loge-loge Indonesia di mana bahasa pengantarnya akan memungkinkan pengikutsertaan serta pengertian yang lebih besa r terhadap kehidupan loge. Sudah sejak beberapa tahun yang lalu kami mempunyai rencana mendirikan suatu loge Indonesia. Banyak sekali masalah, salah satu yang bukan terkecil adalah penerjemahan ritual-ritual yang telah mcng- hambat pendirian tersebut. Pada akhimya kami putuskan

mendirikannya tanpa menunggu hasil terjemahan ritual-ritual tersebut. Ritual harus berkembangsejalan dengan pekerjaankami di tempat-tempat kerja. Setelal1 pembentukan loge-loge Indonesia, kami harap dapat tercapai pembentukan suatu Kuasa Agt.mg Indonesia. Banyaknya rnasalah telal1 rnemaksa kami untuk bergerak dengan hati -hati. Kita harus memurnikan tujuan-tujuan kita, dan agar semua orang yakin bahwa upaya kami diarahkan pada penyebaran asas-asas kita di masyarakat Indonesia, kami telah mendirikan sebuah perkumpulan Indonesia, dengan pengurus yang seluruhnya orang lJ1donesia, di mana fungsi-hmgsi terpenting dlpegang oleh anggota-anggota dru1 di mana beberapa anggota Tionghoa bertindak sebagai pelengkap. Para anggota terpenting yang telah rnernpelopori pemben- tukannya adalah aJmarhum Gondokusumo, Sewaka, Wisaksono, Surnitro Kolopakjng, SLu·achman, Hudioro, Soerjo, Liem King Tjiau w, Loa Sek Hie, dan Liem Bwan Tjie. Sejumlah tiga puluh saudara selama dua pertemuan telah mendaftarkan diri sebagai anggota. Kami mengharapkan juga sebagian besar lainnya akan masuk ke dalam Purwa Daksina, ataumenclirikru1 perkumpulan-perkumpulan loge yang lain, atau pun loge-loge di Indonesia. Kepada para wakil yang hadir dl sini dari berbagai loge bersama ini saya menyampaikan permohonan agar di tempat-tempat kerjanya memberikan semua informasi yang dikehendaki tentang pendirian Purwa Daksina dan maksud tujuamtya. Juga daJam cerarnah-ceramah tmtuk orang-orang awam (bukan mason bebas) diharapkan dapat diberi penjelasan ten·tang hal ini kalau dirasakart perlu. Kesadaran bahwa para saudara Belanda di Indonesia dan terutama Arada, Y.D. Mr. [yang dimaksudkan adaJah Wakil Suhu Agung, St.], berdiri men- dampingi kami daJam satu barisan, te1ah sangat rnenguat- kan karni, dru1 untuk itu karni sangat bl?rterima kasill''. 114

Liem Bwan Tjie mengakhiri pidatonya dengan menyampaikan harapan semoga kaum mason be bas Indonesia berha- siltmtuk:

  1. Idem th. 53, 230-231

AREKAT MAsoN DAN PERJUANCAN UNTUK KEsrNAMUUNCAN HrouP

"m embawa terus obor masonik, hadiah terindah ini dari para saudara Belanda kepada Indonesia, di dalam kehjdup- an Indonesia".

Dalarn laporan tahunan Pen gurus Besar Provinsial sekalf Iagi disinggung ten tang pend.irian " Purwa Daksina". Dikata-kan bahwa Mr.Dr. Gondokusurno mcmegang pimpinan di dalam pendiriannya dan direncanakan untuk kemudian mendirikan suatu Loge Indonesia dan lebih kemudian lagi suatu Kuasa Agung Indonesia. Dengan meninggalnya pada tanggal6 Maret 1952, Gondokusumo "ma~on yang sejati dan tulus ini" tidak lagi dapat menyaksikan puncak dari prakarsa ini.ns Gerakan yang pada tahun 1952 masih tampil dengan ragu-ragu, dalam waktu singkatmendapatbentuknya dalam pendirian empat loge Indonesia baru di kota-kota besar di }awa. Puncak dari upaya mewujudkan suatu Tarekat Mason Bebas Indonesia yang merdeka berlangsung pada tahun 1955, dcngan beniirinya Majelis Tahunan Indonesia.

Akhirnya perlu dilukiskan fase terakhir Tarekat Mason Be bas I-findia Belanda, suatu fase yang langsung berhubungan dengan ketegangan-ketegangan yang memuncak pada tahw1-tahun lima puluhan an tara Indonesia dan Belanda. Tekanan terhadap kehidupan masonik yang diakibatkannya telah membawa ketidakpastian dan kegelisahan, dan banyak mulai bertanya apa yang akan terjadi di masa depan yang dekat. Merosotnya jumlah anggota sebagai akibat keberangkatan ke Belanda telah membahayakan kelangsungan kehidupan Ioge-1oge. Sa at akhir pun tiba pada tahun 1960 ketika atas perintah pemerintah Indonesia pekerjaan terakhir hams dihentikan.

  1. ld em th. 53, 240

demi kepen- tinganmasyarakat Indonesia-situasi di Semarang akan disoroti, dan juga akan dibcrikan perhatian kepada usaha untuk mendirikan suatu lembaga pendidikan niaga sctempat. Setelah itu akan dibicarakan bagairnana yayasan pendidikan di ibu kota yang terkenal"Carpentier Alting Stichting" setelah percu1g telah dihidupkan kembali oleh para saudar di Jakarta.

Loge ''La Constante et Fidele" yang sejak awal abad ke-19 menempati posisi terhonnat di masyarakat Semaran~ pada lahun 1956-'57 masih memiliki sekitar tiga puluh anggota yang semuanya bermukim di Indonesia. Berkat data dalam Maronniek Tijdschrift dan Medede/ingenblnd ya ng dahulunya bemarna I.M.T., dan dengan bantuan bahan yang diberikan seorang anggota, 116 akan dikatakan sesuatu dahulu tentang loge itu, dan kemudian dibicarakan pendirian "Akademi Pendidikan Usahawan".

Siapa-siapa yang menjadi anggota loge-loge di Semarang pada fase terakhir, dapat ditentukan berdasarkan data yang ada. Juga Ul1tuk sebagian besar dapat ditentukan fungsi a tau profesimereka. Berdasarkan daftar di bawah ini yang meliputi tahun 1956-'57, dapat djperlihatkan bahwa di antaranya ada beberapa wakil dunia usaha Barat, orang-orang yang sebagai akibat nasionalisasi pada akhir tahun 1957- awal1958 telah meninggalkan Indonesia. Daftar ini juga memperlihatkan bahwa dengan adanya kehadiran anggota-anggota orang Indonesia, sepertinya ada jaminan bahwa pekerjaan akan berlcu1g- sw1g terus setelah orang-orang Beland a pergi.

  1. Arsip Tarekat d i Den Haag, Kole.ksi ].W. van Balkum

TARF.KAT MAsoN DAN PERJUANGAN UNTUK K ESL"A.\IIBU!\:GAN Hmv?

Daftar anggota ''La Constante et Fidele" 1956-'57

j.W. van Salkum Dr. C.H.J. Brockel mann ]. Bruyn
F.G. Deibel
M. Dijkers
H. van Eck KG. Gerritsen

J.J. Grotenl1Uis

P. Hammacher HanTjwanHo Dr. Ing. J.W. Hoekstra
M. van den H om
D. de }ong jr.
F.G. de Kat
W.H. de Keizer
W.A.C. van den Kieboom Dr. G. Mas!
B.J. Poederoyen
R.M. Poerbosoed ibjo
R.TA. Probonegoro
M.J. van Rijswijk
L.E.S. Sesseler Joh. A. Smit
R.T. Soedjono
Agen Perusahaan Niaga

N.Y. Jacobson van den Berg & Co Bakteriolog, Rumah Sakit Umum Pusat Semarang Kepala bagian teknis
N.Y. Vorstenlandse Cultuurmaat- schappijen Wakil Algemeen Bouwsyndicaat di Semarang Direktur Perusahaan Gas "Overzcesche Gas en Eledriciteits Maatsd1appij (OGEM) Agen Perusahaan Niaga Madailte Watson & Co. Administratu r ondemenUn.g karet Manager perkebunan Karyawan Bataafse Petroleum Maatschappij-BPM Arsitek dan Pemborong
Kl~in Jabatan tidak disebut Jabatan tidak disebut Jabatan tidak disebut Jabatan tidak rusebut Kepala bagian teknis British American Tobacco Company Ajun-administratur onderneming Direktur Telefunken-Indonesia Karyawan N. V. Jacobson van den Berg& Co. Karyawan onderneming Man tan bupati Karyawan Nederlandsche Handelmaatsdtappij (NHM) Jabatan tidak disebut Pemegang prokurasi, Borneo Sumatra H andelmaatschappij (Borsumij) Mantan bupati

anggota "La Constante et Fidele" 1956-'57

R. Said Soenarjo Dokter
R.T. Soeprapto Man tan bupat:i
W.O. Veltkamp Jabatan tidak disebut
P. Vierhout Apoteker Dr. R. Atmadi Wreksoatmodjo Dokter, Rumah Sakit Umum Pusal
E.F. Zikel Dokter Menurut laporan loge tersebut untuk periode 1 Maret 1957
- 20 Februari 1958, pada waktu itu masih tersisa 23 anggota. Namun sejumlah tertentu sudah meninggalkan Indonesia. Walaupun masanya sulit, loge tetap mempunyai daya tarik, sebab secara relatif ada sejumlah besar anggota bant. Loge pad a waktu itu pad a umumnya rnengadakan perternuan sekali setiap em pat belas hari. Ketja sama dengan loge Indonesia setem pat "B hakti"- yang nantinya dibicarakan lebih lanjut-disebu t sebagai san gat baik. Sejumlah anggotanya juga anggota "La Constante et Fidele". Keuntungannya ialah bahwa dengan cara itu selalu ada cukup ban yak anggota untuk menghadiri pertemuan-pertemuan formal kedua loge itu. Adanya dua loge yang hid up berdampingan juga diberikan perhatian oleh Mnfonniek Tijdschrift. Pada bulan Januari 1956 majalah itu membahas suatu wejangan yang disampaikan Soeprapto, yang berjudul Afwijkende rneningen (Pendapat-pendapat yang Berbeda).
117 Pembicara menekankan dalam ceramahnya pada pertemuan yang diselenggarakan oleh "Bhakti", bahwa Tarekat Kaum Mason Bebas yang mempersatukan para lelaki dari berbagai kebangsaan, kewarganegaraan, agama dan ras, berkat asas-asasnya yang luhur selalu dapat rnelewati masa-rnasa yang sulit dengan baik. Dengan

  1. lMT t1'1. 57,288-289

MAsoN DAN PERJUANCAN UNTlJI< KESINA.,1BUNCAN HtDUP

asas etis itu sebagai titik tolak, demikian dilanjutkcumya, juga di masa depan pertentangan-pertentangan akan dapat diper- damaikan.

Dalam edisi Fcbruari dilaporkan tentang dua pertemuan. Dalam pertemuan pertama yang dihadiri kumpulan kecil anggota, seorang caJon dilantik. Di ruang besar Rumah Pemujaan, demikian laporan itu, masa lampau seakan mendesak hadir waktu ratltSan orang anggota bcrkumpul di situ. Loge-loge Semarang juga merayakan bersama pesta Sylvester, dan jalannya perayaan dapat diikuti dari pelukisan berikut ''Kebaktian di Rumah Pcmujaan diselcnggarakan oleh ' Bhakti' dan dipimpin ketuanya, Soedjono. Para istri anggota-anggota 'Bhakti' telah menghi asi ruangan dcngan btmga-bunga. Kehadiran di perayaan itu, termasuk kaum wanita, untuk ukuran Serna rang san.gat bcsar, yakni 34 orang. Suatu makna kh usus diberikan pada peristiwa itu dengan kehadiran Suhu Agung Tarekat [ndonesia, Sumitro Kolopakins- ber- sama ish·inya. Setelah pertemuan di Rumah Pemujaan para peserta pergi ke Hotel"Du Pavillion". Perjamuan makan, yang diutus oleh anggota-anggota loge "La Constante et Fidele", dilangsungkan dalam suasana santai dengan ban yak pidato. Juga Suhu Agung ll1 donesia memberikan sumbangsihnya, demikian laporan ih..J katakan, dengan menyampaikan beberapa pengalamannya secara jenaka. Benar-benar perlstiwa itu 11 8 menjadi " perpisahan yang bail< dengan tahun 1955".

Mededelingenblad edisi bulanMej-Juni 1957 masih memuat suatu berita yangmenyatakan bahwa kerja sama dengan loge Indonesia ''Bhakti'' berjalan dengan baik. Pada bulan November 1956, loge tersebut menerima Wakil Suhu Agtmg A. Holle berkenaan dengan pengentasan anggota Raden Ngabehi Sos-

  1. ldem th. 57, 261
Suhu Kehorrnatan loge. Adanya

beberapa cal on yang rnendaftarkan diri di loge itu, memberikan pengharapan bagi keberlangsungan hidup loge, walaupun perginya beberapa anggota lain telah menimbulkan kekhawatiran. Jurnlah anggota yang bermukim eli Indonesia hanya tinggal17 orang. Dengan rneninggalnya "Saudara Sos", sebutan akrab bagi anggota kehormatan Pengurus Besar Provinsial, pada tanggal13 Agustus 1957, rupanya "La Constante et Fidele" sudah menemui ajalnya. Dalarn edisi bulan Oktober Mededelingenblnd, yang mernuat laporan ten tang pemal

Juga pada pendirian ''Universitas Djojobojo", yang dianggap sebagai cikal bakal Universitas Diponegoro yang ada sekarang, para mason bebas Belanda dan Indonesia bekerja sam a. Sebagai pendiri disebut Dr. Raden Atmadi Wreksonegoro, anggota dari kedua loge itu dan dokter-direktur dari Cen- traal Burgerlijke Ziekeninrichting, yangsekarang disebutRumah Sakit Umum Pusat Semarang. Di samping itu Wreksonegoro juga anggota D.P.R. Indonesia dan mempunyai relasi dengan ''Ford Foundation" Amerika. Lembaga ini bersedia rnernberi- kan sumbangan keuangan. Kecuali Wreksonegoro, mantan bupati dan mason bebas Raden Tumenggung Suprapto memainkan peranan penting di dalam pendirian universitas itu.

Suatu bagian ekonomi niaga akan dikaitkan pada universitas itu, yang persiapannya menurut Mededelingenblad pada tahun 1956 sudah melangkah jauh. Menurut majalahitu, pada bulan September tahun itu sejumlah anggota dari kedua loge hadir pada pernbukaan resmi bagian itu, yang dinamakan

  1. MB th2, 38

ARElD AN PERJUANGAN Ul\111Jl( K ESINAMBUNGAN HtDUI•

"Akademi Pendiclikan Usahawan". Pada tanggaJ 7 Januari 1957 kuliah pun mulai diberikan. Bagi Semarang sebagai pusat niaga, pendidikan seperti itu mempunyai arti yang besar. Dengan perginya tenaga-tenaga pimpinan kernbali ke Nederland, kekurangan manager pada tingkat tinggi sangat dirasakan, dan pendirian suatu jw·usan pendidikan baru pasti rnemenuhi suatu kebutuhan yang serius.

Selain para mason bebas Indonesia yang disebut di atas, anggota-anggota loge Belanda pun telah rnemberikan sumbangan terhadap "Akademi" itu. Dr. G. Mosl mengajar mata pelajaran ilmu jiwa perusahaan, J.W. van Balkum mengajar ilmu statistik, dan istri dokter E.F. Zikel, Ny. Dr. C.). Zikel-Picard mengajar bah a sa lnggris. Namun oleh karena perkembangan situasi, tidak ada kcterangan lain mengenai eksperi- men ini dan ketika pada tanggal 17 Maret 1958 laporan tahunan terakhir dari 11 La Constante et Fidele" dilerbitkan, disampai.kan pengharapan semoga pihak Indonesia mampu mengambil aJih tugas orang-orang Belanda itu.

Smnbangan tenaga untuk pendidikan niaga yang terputus, menghadapi perkembangan yang sam a seperti akhir yang rnendekat dari Tare kat Mason Be bas Hindi a Timur pada umumnya, seperti dikatakan dalam laporan terakhi_r dari Sernarang itu: 120

"Keadaan yang tidak pasti pada bu.Jan-bulan terakhir telah memaksa banyak Anggota Belanda menyatakan selamat tinggal selamanya kepada Indonesia, dan dengan demikian juga kepada tern pat kerja kita. Yang pasti di bulan-bulan mendatang lebil1 banyak lagi Saudara meninggalkan kami, namun kami rnasih tetap rnemandang ke masa depan dengan penuh kepercayaan. Kalau Loge kami terpaksa me-

  1. Laporan tahunan loge "La Constante et Fidede''. t\rsip Tarekat dJ Den Haag. KoleksiJ.W. van Balkum.

terang'.

Sebagai contoh kedua dari pekerjaan yang dilanjutkan di dalam keadaan yang sulit, dapat disebut nasib dari perkumpulan sekolah "Carpentier Alting Stichting". Setelah trraian pendek ten tang sejarah yang mendahuluinya, situasi setelah pendudukan Jepang akan disoroti dan terutama usaha-usaha w1tuk mernpertahankan sekolah-sekolah itu bagi Indonesia yang baru.

Pendirian sekolah HBS Perempuan tiga-tahun di Batavia pada tahun 1902 merupakan suatu prakrasa yang bersi£at istimewa. Bukan fakta pendirian yang menarik perhatian di sini, sebab di bidang pendidikan kaum mason bebas sudah mencapai banyak hal sebelumnya. Tetapi di sini terlibat prinsip-prinsip yang mempersatukan pendukung-pendukung dari sistem pendidikan yang bersifat netral-agama dalam perlawanan mereka terhadap pernerintah I-lindia, dan di mana loge "De Ster in het Oosten" dan terutama A.S. Carpentier Alting memainkan peranan penting.

Tidak lama setelah tahun 1900, pemerintah Hindia Belan- d a mengumumkan bahwa dalam rangka penghematan, sekolah menengah pemerintah untuk perernpuan akan ditutup. Sebagai akibat tindakan itu, murid-murid hanya dapat menuntut pelajaran di sekolah-sekolah konfesional. Sejumlah besar orang tua pad a waktu itu mendukLtng rencana Carpentier Alting untuk mendirikan send.iri suatu sekolah dengan pend.idikan luar biasa yang bersifat netral. Rencana itu meliputi pendirian suatu pendidikan tingkat bawah tiga tahWl dan pendidikan tingkat atas dua tahun. Pendidikan lanjutan dibagi lagi menjadi dua jurusan, yang pertama mendidik tenaga untuk akte pendidikan dasar, dan yang kedua untuk ke-

MAsoN DAN PERJUANGAN U NTUK KESINAM"BUNGAN HroUP

wenangan memberikan les dalam bahasa-bahasa modem, sastra dan mata pelajaran yang terkait. Semu a rnurid juga diberikan pelajaran dalam mata pelajaran kesenian seperti musik, bemyanyi, melukis, membuat model dari lilin, dan lain-lain. Carpentier Alting juga mernpunyai maksud dalarn bidang emansipasi dengan sekolah itu; ia ingin agar wanita-wanita rnuda diberi kesernpatan mengembangkan dirinya di rnasyarakat.

Setelah suatu permulaan yang sederhana, lembaga itu dalam perjalanan waktu bertumbuh menjadi suah.l komunitas sekolal1. Termasuk di dalarnnya suatu sekolah dengan as- ram a sehingga anak-anak dari luar Batavia pun dapat belajar di sana. Perluasannya kemudian juga meliputi anal< laki-laki. Dalarn pada itu, oleh karena sejarah sekolah-sekolah Carpentier Alting Stichting telah dikenal secara luas melalui buku-buku peringatan dari perkurnpulan CAS-Reii.nisten, maka cukup di sini menunjuk ke terbitan-terbitan ih.l. Juga digunakan informasi yang diberikan Mr. A. Holle dan K. Lewin, yang sebagai anggota-anggota Tare kat mempunyai hubungan yang dekat dengan CAS.

Sejarah CAS sejak tahun 1945 menunjukkan bahwa para pengurus maupun para guru bekerja de11gan penuh semangat untuk mengembalikan sekolah itu ke posisinya yang sebelumnya. Bahwa telah tiba suatu masa baru, kelihatan dari makin bertambahnya jumlah murid Indonesia dan Tionghoa yang masuk ke sekolah itu. Ketika hubungan an tara hldone- sia dan Belanda pada akhir tahun-tahun lima puluhan mengalarni tekanan kuat, dan sernakin ban yak orang Belanda memutuskan untuk meninggalkan negeri itu, jumlah murid Belanda berkurang dengan cepat. Pengurus yayasan tersebut dalam keadaan iht memutuskan un tuk menyerahkan sekolah itu kepada suatu yayasan baru, yaitu "Yayasan Raden Saleh".

keputusan yang tampaknya telah di1akukan sesuai jiwa pencliri-pendiri sekolah ihl.

Bahwa "Carpentier Alting Stichting" pada tahun-tahtm sebelum Pcrang Ounia Kedua merupakan suah1lembaga yang besar, dapat dilihat dari situasi beberapa waktu sebelum invasi Jepang. Sekolah itu mempunyai sejurnlah 1.160 murld, yang tersebar di bagian-bagian lyceum, HBS untuk laki-laki, HBS untuk perempuan, sekolah pendidikan guru, pendidik- anlanjutan, sekolah dasar untuk laki-laki dan perempuan dan akhi1·nya sekolah dasar unh1k perempuan. 121

Setelah kapihuasi pada bulan Maret 1942, diambil kepu-tusan untuk menutup sekolah-sekolah itu. Itu berlangstmg selama tiga setengah tahun, dansesudah pihakjepangmenye- rah pun masih diperlukan waktu sebelum dapat dimulai usaha pemulihan. Banyak tenaga guru mengalam.i tekanan akibat penderitaan di kamp-kamp tawanan perang dan kamp-kamp interniran jepang, dan juga anak-anak pada umumnya masih dalam keadaan kurang sehat. Kebanyakan dari mereka telah rnengalami kemunduran pesat dalam perkembangan mcntalnya dan untuk mengatasi hal itu bahan pelajaran diberikan dalam bentuk "pengajaran pemulihan" seca ra cepat. Tidak lama kemuclian dibentuk lagi direksi yang dipimpin sekali lagi oleh seorang tw·unru1 Carpentier Altlng, yakni Mr. Z.H. Carpentier Alting. Dia adalah Wakil Suhu Agung Tarekat eli Hindia Timur sehingga hubungan an tara sekolah itu dengan Tarekat Mason Bebas dipulihkan kembali Pada bulan Maret diadakan permulaan baru dengan dua sekolal1 dasar dan sebuah lyceum. Oleh karena kompleks persellyceum tmtuk semen tara waktu ditempatkan di sekolah "Ligth-

  1. lMT th. 56, 198

MASON DAN PERJUANGAN UI'-'TUK KESIN,i_\ABUNGAJ'\; HIDUP

art". Menurut kenangan rektor W. Ruys, gedung itu dijarah sampai kosong sama sekali. Tidak ada perabot sekolah, dan alat-alat pembelajaran pun tidak ada. Narnun seorang guru dari sekolal1 itu, yakni seorang letnan dua yang belu.m dide-mobilisasi, berhasil untuk melacak berbagai barang ru mana-mana yang diangkutnya kern bali dengan truk-truk ten tara ke sekolah itu. Baru pada bulan Agustus 1948 keadaan cu.kup normal sehingga ruang-tuang sekolah di Medan Merdeka dapat diternpati lagi. Kemudian di situ ditempatkan Lyce1111t, yang terdiri atas HBS A dan B, dan Gymnasium A dan B. Sesuatu yang baru adalah dibukanya sekolah MULO. Di samping itu ada juga sekolah-sekolah dasar, sekolah "Ligthart" dan sekolah "Nassau" Y 2 Yang menarik ialah bahwa biarpun adanya berbagai masalah, sekolah itu mengalami pertumbuhan yang pesat, pada sekitar tahun 1954 suatu rekor jumlah murid mendaftarkan diri dan dengan 1.610 mm·id, sekolah itu lebih besar daripada kapan pun sebelumnya.

Juga sekolah dengan asrama, yang rupanya masih memenuhi suatu kebutuhan, dapat dibuka kernbali pintunya. Hal itu te~adi pada tanggal1 Agustus 1949, dengan kapasitas 32 tempat Permohonan-permohonan datang dari banyak daerah dan dari semua segmen penduduk. Sebelurn dijadikan layak huni lagi, gedung-gedung itu -yang telah dilalaikan dan dijarah habis-harus "dibebaskan, dibuang kotorannya, direparasi dan ditata kern bali". Hasil dari peke~aan itu adalah bahwa gedung-gedung itu akhirnya ditata kern bali secara "sederhana, nyaman dan sesuai tujuannya". 123 Suatu penggambaran ten tang asrama seko1ah itu, dan ten~ang peraturan-peraturan yang harus dipatuhi anak-anak gadis, mernberikan lukisan zaman pasca-perang berikut ini:

  1. Sluyter 1977, 159-160
  2. MTI, th. 51, 36-37

gadis, semuanya dilengkapi dengan 2 wastafcl, suatu cermin besar, dan seperangkat tempat duduk (sofa, rneja, dua kursi duduk) yang terbuat dari rotan. Setiap anak perempuan mendapat ternpat tidur dan lemari pakaian. Makanan disantap bersama di ruang makan yang luas. Suatu lapangan tenis dan suatu ruangan rekreasi yang ditata seperti rumah tinggal (dengan perangkat-pere~ngkat tempat duduk yang nyaman, bangku-bangku dan lampu-lampu) memberikan tempat santai bagi para gadis pada waktu bebas. Dapur, kamar-kamar mancli dan kamar-kamar kecil yang tersendiri, semuanya mernenuhi semua syarat kebersihan. Para gadis diperbolehkan keluar~ asal diketahui sebelumnya oleh direk- tris. Dengan pcrsetujuan orang tua, dapat diberikan 1zin untuk menginap di luar pada akhir pekan eli rumah saudara atau kenalan, dan untuk menonton di bioskop.

Penyerahan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949 menghadapkan yayasan pada masalah-masalah baru. Perhml- buhan yang dialami tidak mungkin dicapai tanpa dukungan finansial dan organisatoris dari dunia usaha Barat dan dari pemerintah Beland a, ditambah dengan sikap berkemauan baik yang diperlihatkan pemerintah Indonesia terhadap cara pendidikan ini. Jadi untuk keuangannya, yayasan bergantung pada subsidi pemerintah, pemberian pihak swasta dan sumbangan para murid. Kalau sikap pemerintaltlndoncsia disebut "berkemauan baik", masuk akal bahwa pemerintah ini juga mulai mengajukan syarat-syarat. Di anta.ranya termasuk pengajaran bahasa Indonesia sebagai suatu mata pelajaran wajib. 124

Oleh karena subs·idi Belanda dan hibah-hibah pihak swasta sejak tahun 1950 tidak diberikan lagi, perlu dicari sumber-sumber pemasukan yang baru. )alan keluar diberikan oleh

  1. Sluylel' 1977, 161

MASON DAN PE!{jUANCAN UNTUK KESINAMBUNGAN HtDUP

"Stichting voor Nederlands Onderwijs in Jndonesie (S.N.O. = Yayasan untuk Pendidikan Belanda di Indonesia). Yayasan ini didirikan oleh dunia usaha-yang tergabung dalam "Onder- nemersuond voor lndonesie (Perserikatan Pengusaha untuk Indonesia)" -dalam konsultasi dengan pemerintah Belanda dan bertujuan memberikan subsidi kepada perkumpulan-perkumpulan pendidikan dasar danlanjutan, termasuk CAS. Dengan uang ini dapat dilakukan renovasi gedung-gedung, pcndidikan diperluas, dan dibangun gedung-gedung tempat tinggal tmtuk tenaga guru.

Timbul masalah untu k memperoleh tenaga pengajar yang sesuai. Peperangan telah merenggut nyawa banya.k dosen lama. Penggantian tenaga kelihatannya tidak mudah. Sebab situasi di Indonesia setelah perang tidaklah mcmberikan perspektif berkarier yang baik bagi tenaga-tcnaga gu1·u dari Belanda, sedangkan di Belanda sendiri ada permintaan besar akan tenaga-tenaga pendidik. Namun dengan bantuan S.N.O. dapat diisi kebutuhan terbesar dalam bidang ini.

Yubileum 50 tahun CAS dirayakan pada akhir bulan No .. vember tahun 1952. Direksi mengadakan resepsi yang sederhana, di mana nada ketidakpastian terhadap masa de pan juga hadir. Sebagai artikel peringatan Mn~onniek Tijdschrift voor 11l- donesie, yang sebeJumnya dikenal sebagai LM.T., memuat suatu sumbangan dari Z. H. Carpentier Alting, yang teksnya diambil dari programa pesta sekolah itu. Carpentier Alting menunjuk dengan rasa puas kepada semangat kerja yang baik yang selalu tampak dalam pekerjaan. Sekolah itu dilandaskan pada asas kebebasan rohani dan terikat oleh kesadaran bahwa manusia bertanggung jawab dalam suatu masyarakat manusia. Carpentier Alting, yang bersyukur bahwa pada masa sekarang pendidikan dapat terus dilanjutkan dalam jiwa CAS, berharap bahwa di masa depan pun gagasan itu tetap melan-

Sluyter menyatakan bahwa masa depan de kat dari sekolah itu pada tahun 1952 past:i bukan tanpa perspektif. Bahkan masih dibuka sebuah Midde/bare Meisjesschool (MMS = Sekolah Menengah untuk Perempuan), dan juga di- tarnbahkan beberapa kelas sekolah Frobel. JumJah total mu- zid rnasih tetap bertumbuh dengan baik Pada tahun 1957 masih ada lebih dari 1.600 murid. "di antaranya ban yak berkc- bangsaan Indonesia dan Tionghoa". 126

Namtm bagaimana pun juga, ternyata iklim politik bukanlah tanpa dampak terhadap sekolah itu. Bagi Wakil Suhu Agung Mr. A. Holle, hal itu merupakan alasan untuk mengadakan seruan kepada semua mason bebas pada akhir tahun 1954 agar mau mengerahkan tenaganya sekali lagi untuk CAS. Ia meminta mereka agar jangan memandang l

Sejarah CAS putus secara tiba-tiba akibat "Konfrontasi Irian Barae', dan disusul oleh kebijakan anti-~elanda dari pernerintah Sukarno yang menyebabkan orang-orang Belanda terakhir yang masih ada pun angkat kaki. Akhir datang begitu tiba-tiba, sehingga sernua rencana untuk rnembangun aula dan ntangan-ruangan kelas baru untuk Lyceum, yang rancang- annya selesai pada tahun 1957, t:idak dapat dilaksanakan. Pada tahun yang sama pemerintah mengumurnkan bahwa murid-murid warga negara Indonesia sejak mulai tahun 1958 tidak lagi boleh mengikuti pendidikan di sekolah-sekolah ''asing".

  1. MTI th. 54, 129
  2. Sluyter 1977, 161
  3. MTI th. 56, 200

TAREKAT MASON DAN PERJUA NGAN UNTUK KESlNAMJ3UNGAN HroLr

Pada waktu itu pasti sudah tidak banyak lagi murid Eropa. Suatu kenangan dari seora:ng siswi berusia 17 tahun pada MMS dari fase terakrur CAS, memmjukkan bahwa hampir semua calon untuk ujian akhir pada bulan Mei 1958 lahir di Indonesia. 126

Dalam keadaan seperti itu, Ketua Badcm Pengurus, Mr. A. Holle, rncngambil keputusan tepat yang seluruhnya sesuai dengan jiwa Tarekat Mason Bebas, mengajak sejumlah orang Indonesia tcrkemuka agar mengantbil alih Badan PengUius CAS. Sluyter melukiskan penyerahan ini dikuatkan oleh suatu catatan dari Holle mcngenai jalannya proses itu pad a tanggal 3 Juli 1958.

Dalan1 suatu rapat pcngurus, di mana diundang juga sejumlah orang bukan-anggota yang berkepentingan, Holle memberitahukan bahwa pengurus telah memutuskan untuk mengundang orang-orang Indonesia yang hadir, yang mason-mason bebas, untuk menjadi anggota badan pengurus. Setelah itu para anggota BP dengan kcwarganegaraan Belanda mcngakhiri keanggotaa.nnya. Sebagai ketua BP CAS, dan juga Wakil Suhu Agung, Holle menyerahkan jabatan ketua pen gurus lengkap dengan palu ketua kepada Raden Soekanto Tjok- rocliatmodjo. Seorang notaris Indonesia kemudian membacakan suatu akte dalam bah as a Belanda dan bahasa lndonesia, di mana nama yayasan itu diubah menjadi "Yayasan Raden Saleh'', yaitu nama pelul

Susunan pengurus Indonesia yang baru itu rnenunjukkan bahwa dari pihak Indonesia ada kesungguhan UI1l:uk mcm-

  1. Gedenkboek CAS 1977, 209

ctiberikannya di hadapan pengmus lama dan baru, ia menyatakan pengharapan semoga di hari-hari mendatang yang penuh gejolak, cara bagaimana obor diteruskan-dalam suasana persahabatan dan kepercayaan -akan menjadi contoh bagi banyak orang. Menurut Sluyter, Soekanto kemudian mengatakan bahwa dia dan te- man-temannya bertekad untuk memelihara pendidikan netral dan bebas, juga dalam keadaan yang baru itu. "Juga akan dipertahankan (menurut Sluyter) suatu bagian unh.tk pendidikan konkordan Belanda, asal saja diizinkan dan selama ada kebutuhan untuk itu".1 29

Suatu kepuh.tsan berikutnya adalah untuk menempatkan bagian untuk pendidikan konkordan [pendidikan yang setara dengan pendidikan di Nederland, St.] di bawah suatu yayasan yang baru, yang diketuai K. Lewin. Melalui langkah itu, maka pendidikaJl dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar masih dimungkinkan di Lyceum, di sekolah ULO (setingkat SM P). dan di sekolah dasar.

Salah satu bukti tertulis terakhir ten tang adanya bagian bahasa Belanda di sekolah itu adalah suahl buku nyanyian sederhana yang disusun oleh sekolah dasar Belanda dari Yayasan Raden Saleh pada kesempatan pesta Sinterklaas pada tanggal 5 Desember 1959. Dari buku nyanyian itu ternyata bahwa pada saat itu sekolah dasarnya masih mempunyai enam kelas.

Pemerintahan Soekarno pada tanggal 27 Februari 1961, menjadikan Tarekat Mason Bebas Indonesia sebagai organisasi

  1. Sluyter 1977, 163

TAREKATMASON DAN PERJUANGAN Ul\lTUK l

terlarang1berarti semua kegiatan "Yayasan Raden Saleh'' harus dihentikan. Pada tanggal 12 Juni 1962, pemerintah menyuruh pengosongan seluruh kompleks di Medan Merdeka Ti.mur, 130 menurut Holle dengan maksud menjadikannya suatu kompleks tentara. Sebagai ahli hukum, ia menganggap alasan penyitaan milik terse but sebagai cacat hukum. Sebab, milik itu tclah diserahkan dengan akte notaris ke tangan pihak Indonesia.

Sekarang ini di Nederland yayasan CAS-Reiinisten masih mengenangkan sekolah itu, dan ketika pada tanggal3 September 1977 diadalGerlenkboek 1902-1977 (Buku Peringatan 1902-1977) yang dilengkapi dengan suatu buku foto sehingga memberikan gambaran visual atas berbagai aspek l

Sejarah sekolah ih1 di bawah pimpinan lndonesia hanya berlangsung singkat. Yayasan Indonesia tersebut mengambil alil1 anggaran dasar CAS yang secara harfiah, tcrmasuk peraturan bahwa mayoritas anggota pengurus hants mentpakan orang mason bebas. Anggota-anggota pengums baru terutama berasal dari loge Jakarta ''Pmwa Oaksina''. Ketua pengu-

  1. Gedenkboek 1977, 27
  2. Gedenkboek CAS 1977. 47

Sumitro Kolopaking dan R. Soerjo memangku jabatan wakil-wakil ketua. M. Soendoro, yang memegang jabatan Sekretaris Agung Loge Agung Indonesia, dijadikan sekretaris sedangkan bendaharanya adalal1 Drs. Tjoa Soe Tjong, Bendahara Agung dari Loge Agung Indonesia. Di samping itu Badan Pengurus ittt masih mempunyai sembilan anggota biasa. Berkat terbitan Satu Tnhwz Pendidiknn Nnsionnl]njasan Raden Saleh pada bulan Juli 1959, tersimpan kenangan mengenai sekolah itu selama tahun pelaporan1958-'59. 132 Yayasan itu pada waktu itu mcmgelola dua sekolah dasar, kedua-duanya dengan bagian taman kanak-kanak, dan dua sekolah menengah, yaitu sebuah SM P dan sebuah SMA. Dari tinjauan tersebut temyata bahwa pada tahun itu hanya tinggal sedikit murid Belanda pada sekolah il:u, sedangkan sebagian besar adalah orang Indonesia.

Seluruhnya, pada tahun 1958-'59 sekitar 450 rnurid mengikuti pendidikan di situ, dan dari rnereka kira-kira 85 orang mempunyai nama keluarga Beland a. Anak-anak itu terutama terdapat di sekolah dasar, sedangkan di sekolah menengah mcreka merupakan minoritas kecil.

Dengan catatan di atas, kita tiba pada akhir tinjauan kita. Selama ada CAS dan pencntsnya, selalu diusahakan untuk menerapkan pendirian masonik tentang manusia dan masyarakat. Usaha ini terhenti oleh karena perkembangan politik pada awal tahun-tahun enam puluhan. Di Jakarta masa kini dapat disaksikan bahwa di tempat sekolah-sekolah Carpentier Alting dal1tt1tt, di K.mzin.gspleill Oost (sekarang Medan Merdeka Timur) tcrdapat Iembaga dengan pendidikan Ianjutan. Namun sekolah ini tidak ada kaitannya dengan landasan semula.

  1. Kolek.si K Lewin, milik pribadi

TAREKAT MASON D AN PERfUANGAN U!'II'TUK K ESINAM11UNGAN Hrour

9. Berdirinya "Majelis Tahunan Indonesia"

Dari pembicaraan-pembicaraan yang diadakan Wakil Suhu Agung, Z.H. Carpentier Alting, dengan Pengurus Besar eli Den Haag, teJah dihasilkan pendirian bersarna bahwa posisi yang akan datang dari Tarekat eli Indonesia mengharuskan prakarsa-prakarsa baru. Bagi Suhu Agung Belanda, Mr. Dr. L.].J. Caron, penting bahwa loge tidak boleh arnbil bagian daJarn "politik", sedangkan Carpentier Alting menyatakan harapannya bahwa '' gagasan kaum mason bebas pasti akan mendapat tanah persemaian dalam hati ribuan orang Indonesia". 133 Berhubtmg dengan situasi yang tidal< menentu, dan keharusan tmtuk menjalankan suatu politik dekolonisasi, seruan Caron mernang bijaksana. Juga harapan Carpentier Alting bahwa waktunya sudah datang untuk menyebarkan gagasan Tarekat Mason Bebas di lapisan-lapisan luas bangsa Indonesia) adalah sesuatu yang rnenarik perhatian.

Suatu syarat penting untuk penyebaran Tarekat Mason Bebas adaJah bahwa loge-loge han..1s m embuka pintunya lebili.lebar untuk orang-orang indonesia daripada yang dilakukan dahulu. Bagai.mana satu dan lainnya harus dijaJankan, masih belum jelas, dan oleh karena itu Suhu Agtmg Caron rnemberikan kuasa penuh kepada Wakil Suhu Agung Carpentier AJting untuk bertindak sesuai keadaan. Keadaan di mana Tarekat pada saat itu bekerja di Hindia selaJu berubah dengan cepat, dan itu menjeJaskan pemberian kuasa penuh tersebut. Dari negeri Belanda, perubahan-perubahan itu lebih sulit diikuti, sedangkan Badan Pengunts rupanya yakin bahwa urusan Tarekat Mason Bebas eli Hindia akan cliJaksa- nakan dengan hikmat yang dibutuhkan. Sehubungan dengan

  1. IMT th. 48, 291

Pen gurus Besar juga menentukan bahwa Pengurus Besar Provinsial diberikan wewenang untuk membentuk loge-loge seperti ih1. Pada akhir kunjungannya ke negeri Belanda, Wakil Suhu Agungmenyatakan bahwa ada ban yak goodwill bagi Tare kat Mason Be bas Hindia dan bahwa eli Belanda mereka mengagumi tindakan-tindakan para mason bebas selama dan sesudah pendudukan Jepang. Juga diperoleh kesan bahwa "kejadian-kejadian di Hindia Timur" diikuti dengan penuh perhatian di Belanda, dan bahwamere- ka bersedia memberikan bantuan yang diperlukan kepada Tarekat Mason Bebas di sana.

Dibukanya kemungkinan untuk mendirikan loge-loge tersendiri untuk orang-orang Indonesia, memberikan arti yang khusus kepada pembicaraan-pembicaraan di Den Haag. Memang gagasan untuk mendirikan loge-loge yang menggtmakan bahasa Jawa atau Indonesia sebagai bahasa pengantar sudah dibicarakan pada masa sebelum perang namun pada waktu itu ditolak karena dianggap ktuang praktis. Bahwa sekarang kedua Badan Pengurus mau mengizinkannya, menunjukkan bahwa mereka sadar akan perubahan-perubahan mendalam yang telah terjadi.

Pendapat baru ih.t berjalan sejajar dengan pendirian pemerintah Belanda berkaitan dengan rnasa depan Hindia Belanda di bidang politik. Setelah pembicaraan selama satu tahun dengan Republil<, maka pada tanggallS November 1946 disepakatiPerjanjian Linggajati. Menurut ketentuan-ketentuan perjanjian iru, Republik diakui sebagai negara bagian dari Republil< I11donesia Serikat, yang pada gilirannya dimasukkan ke dalam suatu Uni dengan Nederland. Seperti diketahui, konsep perjanjian iru rnengalami perdebatan sengit di parle-

AH8KAT MASON DAN PERJUANGAN UNTUK KES!NAMBUNCAN I iiDUP

men Belanda dan diperlukan tindakan drastis untuk mcmperoleh persetujuan dari kedua dewan perwakilan rakyat Dari data yang tersedia, ternyata Pengurus Besar di Nederland mempunyai gagasan yang sebanding dengan Linggajati. Loge-loge Lndonesia yang baru bersama-sama dcngan loge-loge Belanda yang adaJ akan rnenjadi bagian dori suatu Loge Agung Belanda-lndonesia campuran, yang berada di bawah Majelis Tahunan Nederland. Terhadap suatu konsekuensi ekstrirn adanya suatu Loge Agung Indonesia yang merdeka, belum terpikir di kalangan Belanda. Jadi pcrluasan Tarekat Mason Bebas di kalangan orang Indonesia, dan dimungkin- kannya pendirian loge-loge Indonesia dengan kemerdekaan terbatas, itulah yang menjadi tujuan Tarekat di Hindia Timur yang telah bcmgkit kembali itu. Suhu Agung Caron, seorang dengan pengalarnan pemerintahan kolonial yang luas sebagai rnantan gubernur Maluku, pastilah bukan pendukung suatu politi.k dekolonisasi yang ccpat. Namun tidak perlu merasa heran bahwa ia menduktmg ide pendirian loge-loge Indonesia secara tersendiri. Sebab, ''pembangunan dari bawah" dan desentralisasi pemerintahan sudal1 menjadi bagian dari kebijakan kolonial sejak awal abad kedua puluh dan djjalankan dengan tegas oleh Van Mook setelah tahun 1945. Hubungan an tara Pengurus Besar di Belanda dan di Hindia Timur, dan perkembangan yang direncanakan di sana, pada kenyataannya merupakan pencerminan dari apa yang sedang berlangsung secara luas dalarn bidang pemerintahan kolonial. Bahwa unsur keluwesan tidaklal1 absen, dibuktikan oleh contoh yang diberikan anggota kehormatan Pengurus Besar, A.W.L. Faubel yang sudah berusia lanjut itu. Oleh karena karier mi- liternya, ia berakar di HJ.ndia Timur, namun ia sangat sadar bahwa Tarekat Mason Bebas perlu berorientasi pada keadaan yang berubah di Indonesia yang baru.

eli antara orang-orang Indonesia yang berpendidikan, tirnbul suatu masalah. Kalau keanggotaan tidak lagi dibatasi hanya kepada elite pemerintal1an Jawa yang tradisiona1, hal itu akan menandakan suatu terobosan dalam sifat dan susunan Tarekat Mason Bebas Indonesia. Bagaimana reaksinya kalau ada anggota-anggota diterima berasal dari lapisan rendah masyarakat? Berkaitan dengan itu, timbul pertanyaan, yaitu bagaimana keadaannya dengan keanggotaan wakil-wakil golongan elit Jawa pada sekitar tahun 1946? Walaupun tidak ada angka-angka tepat ten tang periode setelah perang usai, agaknya jumlah mereka sejak awal tahtm 1942 berkurang dengan tajam. Meliliat posisi yang goncang dari aparat pernerintahan n·adisional di Indonesia pada zaman revolusi, tidaklah dapat diharapkan bahwa dari kalangan ih1 akan ada ban yak anggota baru. Lagipula, kekuatan perekrutan seperti apa dimiliki anggota-anggota seperti itu? Kalau upaya memperoleh lebili banyak anggota orang Indonesia itu berhasil, maka suatu perpisahan yang tegas dengan masa lamp au tidaklah dapat dicegah.

Sekarang dua hal perlu disoroti dari lebih dekat. Pertama-tama, langkah-langkall apa saja yang telal1 diambil untuk memajukan penerimaan anggota-anggota orang Indonesia, dan berkaitan dengan ih1, reaksi apa saja telah ditimbulkan usaha terse but di kalangan kaum mason bebas Hindia Belanda?

Dalarn I.M.T. telah seringdiusahakan untuk menerangkan Tarekat Mason Be bas bagi orang-orang Indonesia. Dalam hal itu telah digunakan artikel-artikel yang telah dirnuat sebelumnya dari tangan orang Indonesia. Majalah itu juga berusaha rnenimbulkan pengertian di kalangan pembacanya bagi latar belakang gerakan nasionalis modern. Antara lain telah diterbitkan dalam edisi bulan Agustus 1947 suatu sumbangan

TAREKAT M ASON DAN PRRJUANGAN Ul\ITUK KESINAMBUKGA.'' H1our

dari anggota Indonesia, Ir. j.A. Manusama. 1 :;.~ la menjelaskan bahwa mungkin saja menjalin hubungan kerja sama yang baik dengan Sutan Syahrir, seorang nasionalis rnoderat yang pad a saat itu merupakan orang berpengaruh dalarn kehidupan politik Indonesia, d an pemimpin dari aliran yang lebih rnoderat. Penulis menggambarkan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia sebagai scsuatu yang seluruhnya sah. "Dorongan kemerdekaan", demikian Manusama, "adalah akibat dari proses penyadaran diri, baik dari pribadi maupun rnassa, dan dari lahirnya golongan cendekiawan proletariat yang ingin memutuskan hubungan dengan sistem feodal dan yang menolak memberikan penghormatan kepada kaum bangsawan." Di bawah pendudukan Jepang, keyakinan bertambah bahwa orang Indonesia dapat mengatur diri sendiri. Janganlah terlalu mengandalkan aspek-aspek lahiriah perjuangan itu, kata Manusama kepada para pembaca. Yang benar-benar terjadi adalah bahwa pihak Timur sedang menyusun kekuatan untu.k rnenghadapi pihak Barat, dan bahwa orang Timur ingin mengembangkan gaya hidupnya sendiri. Penulis mempunyai harapan tinggi, dan bahkan melihat persamaan an tara pendiriannya sebagai mason be bas dan pendirian poU- tisi Syahrir. Manusama berusaha menegaskan bahwa "jalan menuju masyarakat yang lebih baik -di mana persamaan wujud dari semua man usia benar-benar dipraktikkan dan di mana Timur dan Barat dapat saling bertemu dalam Rantai Tarekat -masih panjang dan sulit, namun htjuannya adalah begitu indah sehingga jalan ihl harus ditapak", rnaka Syahrir, menurut Manusama pada waktu penandatanganan Perjanjian Linggajati, menu lis:

"Di Indonesia kami menyalakan obor, rnasihkecil, obor kemanusiaan dan akal schat. Ma rilah kit a berjaga supaya obor

  1. Idem th. 49, 38-43

Terang Tareka t yang abadi".

Kalau para pemimpin politlk Indonesia memberikan dlri- nya dibimbing terang itu, demikian nada artikel Manusama, maka suatu tugas bant dengan sendirinya akan dlsodorkan kepada Tarekat Mason Bebas: yaitu mcmbedkan sumbangsih terhadap pembangunan suatu masyarakat yang dilandaskan atas asas-asas kemanusiaan. Tinjauan De Visser Smits, anggota kehormatan Pengurus, diresapi dengan pengharapan yang sama pada bulan September 1947, tentang masa depan Tarekat. Indonesia pada saat itu disebutnya sebagai lautan a pi yang menyala-nyala, dan bagi Tarekat Mason Bebas wakt.-unya sudah mendesak. Pertanyaannya adalah, apa yang masih dapat diubah ke arah yang baik, scbab sccara jujur harus dikatakan, demikian De Visser Smits, bahwa kita harus mengakui dengan perasaan malu bahwa Tarekat Mason Bebas di sini dalam keberadaannya selama dua abad tidak benar-benar berakar. Sekarang kita harus putuskan, sewaktu berdiri di tangga kapal dan siap berangkat, bagaimana semua usaha dapat "diarahkan supaya pikiran rnasonik tentang Tarekat dapat berakar di Indonesia dan kultus universal kita dapat dijalankan ( ... ) oleh ras-ras dan golongan-golongan diNusantara".

Bagi De Visser Smits persoalannya bukanlah apakah kelalaian itu dapat diluruskan. Tarekat Mason Be bas di Indonesia dalam hal itu hams menernpuh jalannya sendiri dan mencoba dengan suatu barisan kaum anggota yang kuat, "di mana orang-orang Indonesia akan merupakan mayoritas" r rnenjun- jung tinggi terang Tarekat. Namun para anggota Belanda harus memperhitungkan perubahan-perubahan politik yang luar biasa hebatnya yang telah berlangsung belakangan inl. Dan siapa yang belum menerima perubahan-perubahan ini

MASON DAN PERJUANGAN UNTU K K i:!Sl~AMBUi\:<:;AN H!DUI'

dalam akhlaknya mungkin akan merasa terpukul dengan yang berikut "Kolonialisme telah ditelan selamanya oleh masa lampau". Namun sekarang timbul pertanyaan, bagaimana dengan "para kolonis masa lampau" dan terutama dengan para mason bebas eli antara mercka, apakah gagasan-gagasan kolonial itu telahmerekasingkirkan selamanya drui jiwa dan pikiran mereka? Sebab, itu juga merupakan suatu tuntutan yang tidak dapat ditolak, untuk menghilangkan rintangan-rintangan dari jiwa dan pil

Ada baiknya untuk merenungkan apa yang dikemukakan De Visser SmHs. Apakah jumJah anggota Indonesia yang ter- laJu serukit di masa lampau merupakan akibat dari terlalu banyaknya "gagasan-gagasan kolonial dalarn jiwa dan pikiran" di kalangan kaum mason bebas Belanda? Uraian itu menyinggung suatu masalah lainnya, yakni kesetiaan para anggota Tarckat terhadap Keluarga Kerajaan Oranye dan pemerintah Belanda. Perasaan Oranye, menurut De Visser Smits, akan mempunyai nilai ill luar pengertian ketatanegaraan dan politik untuk menjalankan Tarekat Mason Bcbas di wilayah ini. 135 Progresivitas dan tradisi (termasuk kecintaan tcrhadap Oranyc) disebut-sebut sebagai kata-kata sandi untuk masa depan Tarekat, namun pertanyaannya adalah apakah yang terakhir iht berlaku juga bagi golongan besar orang Indonesia yang kedatangannya dinanti-nantikan dengan penuh harapan. Apakah OTang-orang Indonesia yang mengharapkan suatu negara merdeka tanpa perwalian Belanda, akan disarn- but di dalam barisan Tarekat? Dapatkah Tarekat mengharap-

  1. Idem th. 40, 74-77

lmkum negara, kalau yang dimaksud adalah hukum-hukum negeri Belanda? Dan apakah lagu kebangsaan Wilhelnws, "Den Vnderlmzd getrouwe blijf ik tot in den dood (Kepada tanah air aku tetap setia sampai matiyr dapat dinyanyikan dengan penuh semangat oleh mercka?

Kita sekarang akan membahas usaha-usaha Tarekat untuk memberikan penerangan kepada khalayak ramai ten tang tujuan-tujLLannya. Salah satu pertemuan umum pertama dengan maksud itu diselenggarakan oleh ''De Ster in het Oosten" pada tanggal 15 Juni 1947. Dalam pertemuan itu dLta ratus orang peminat mendengar ceramah dari De Visser Smits, yang memberikan uraian tentang apa yang n'lenjadi tujuan Tarclpara pendengar ada juga orang Indonesia dan apakah dari antara mereka ada yang menjadi anggota baru. Suatu pertemuan yang serupa diselenggarakan di Bandung pada tanggal 29 Januari 1948, di mana loge "Sint Jan" menerima kira-kira tiga ratus orang peminat, dan di mana De Visser Smits sekali lagi m enyampaikan pidato.

Pada tanggal30 Oktober 1947, Tarekat diberikan kesempatan untuk menyiarkan tujuan-tujuannya m elalui Radio Batavia. Sekali lagi De Visser Smits menjalankan tugas itu. Pokok amanatnya pada waktu itu adalah ' 1 Cagasan Tarekal dalam Tatekat Kaum Mason Bebas". Dengan pesannya itu w1tuk pcrtama kalinya dicapai publik yang luas. Pembicara menjelaskan apa tujuan-tujuan ih1, dan kemudian menegaskan bahwa dilarang keras untuk melakukan kegiatan politik di

  1. Idem th. 49, 217-219

AREKAT MAsoN DA:'I! PERJVM:CA.'I U:-.rruK KF.st~AMBUNGAN Hlouv

dalam Tarekat. Di dalam ulasannya itu ia menekankan kerja sama tanpa mernandang 1atar-latar belakang yang berbeda-beda dari orang-orang. Gnta kasih terhadap sesama manusia dapat dipraktikkan dengan perbuatan-perbuatan yang dilandasi kasih terhadap sesarna. 137 Rujukan kepada ucapan Suhu Agung Pangeran Frederik pada tahun 18711bahwa perselisihan an tara bangsa-bangsa harus diselesaikan melalui cara damai dan bukan me.lalui kekerasan, mempunyai nilai aktual. Apa dampak dari siaran ini sulit dilacak, tetapi yang penting adalah bahwa penyiaran gagasan-gagasan masonik telah dilakukan secara aktif.

Berhubtmg dengan pertcmuan Loge Agung Provinsial dari 26-28 Maret 1948, dalam l.M.T. dimuat pemberitahuan tentang susunan Pen gurus Besar Provinsial. Temyata bahwa dati dua belas anggota ada dua orang Indonesia dan satu orang ketwunan Tionghoa, yakni Raden Ngabehi Sosrohadikusumo,

M. Wisaksono Wirjodihardjo dan Loa Sek Hie.
138

Melihat bahwa rencana untuk menarik lebih banyak

orang Indonesia ke dalam Tarekat tidak dijalankan dengan giat pada tahun 1947 dan sebagian besar tahun 1948, I.M.T. melaporkan pada bulan September 1948 bahwa Pengums Besar Provinsial memberikan tugas kepada Soetioso Tjondronegoro dari Semarang untuk mempersiapkan organisasi loge-loge di bawah Majelis Tahtman Nederland dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. 139 Mengenai mason bebas Indonesia ini kita diberi lebih banyak keterangan dalam Iaporan tentang pertemuan yang diadakannya berkenaan dengan pengangkatannya sebagai bupati. 1 .w Adalah menarik

  1. ldem th. 49, 166-168
  2. Idem th. 49, 291
  3. Idem th. 50, 65
  4. Idem th. 50, 71-73

Perlu diingat bahwa satu dan lain hal terjadi pada tanggal 19 Agustus 1948, lebih dari setahun sebelum penyerahan kedaulatan.

Atas pcrmintaan Pengurus Besar Provinsiat Sosro mcng- ucapkan selamat kepada sang bupati, dan kemudian menyatakan bahwa tugas seorang bupati pada masa ini telah menjadi sangat berat. Tujuan utama setiap pemerintahan, juga di tingkat kabupaten, adalah agar semua segmen penduduk, tanpa membedakan antara ras, warna kulit, dan agama, bekerja sama secara damai satu sama lain. Wakil Pengurus Besar Provinsial mclanjutkan pidatonya dcngan suatu visi yang me.narik tentang masalah-masalah politik pad a masa itu:

"Dala.m suatu masa yang bergejolak dan menarik sepertl yang kita alami ini, di mana kekacauan akal tanpa berhadapan dengan pengaluran olch a kat di mana ribuan hati telah menjadi pahit akibat berbagai peristiwa, di mana pengertian-pengertian yang benar dan pendapat-pendapat sehal terancam lenyap, bagi orang-orang dengan posisi memimpin tidaklah mudah menyelesaikan masalah-masalah fundamental yang diakibatkan oleh kehancuran perang dan masa pasca-perang. Lagipula jangan kita abaikan kenyataan bahwa kita sekarang hidup dalam zaman di mana kebangunan nasional bangsa-bangsa Asia memi.nta perhatian kita sepenuhnya. Ten1 tama mereka yang memegang jaba- fan penting, apakah di kalangan pemerintahan atau di kalangan swasta, n1 empunyai kewajiban untuk bena r-benar memperhitungkan di dalam menjalankan tugasnya, baik sebagai manusia maupun sebagai pemimpin, bahwa kita di Indonesia sekarang hidup di suattt negara di mana bagian cendekiawan dari bangsa pribuml sebagai akibat dari kcbangunan itu justru berada pad a fase remaja dari nasional-

'J'AJ{F.KAT MAsoN DAN PERJUANGAN UNTUK KESINA.Iv!BLINGAN HtDUP

isme itu. Namun unhtnglah Yang Mahakuasa, A.B.T.A.S. (Ahli Bangunan Tertinggi Alam Semesta) telah mengaru- niakan kepada Nederland seorang Pemimpin wa.nita yang sebagai keturunan sejati Pater Patriae, telah mengirim berita kepada duma yang dapat klta anggap sebagai titik terang dalam dunia Indonesia kita yang gelap ini".

Yang ctimaksudkan Sosro di sini adalah pidato terkenal pada tanggal 7 Desember 1942. Janji Wilhelmina mcnyirat- kan bahwa setelah perang akan diadakan suatu konfercnsi d.i mana akan dibicarakan suatu posisi yang lebih merdel

''Saudara Tjondronegoro, dikelahui secara umum bahwa anok-anak bangsa yang bekerja sama dengan pihak Belanda sekarang, oleh saudara-saudara seba.ngsa yang seluruhnya dikendalikan oleh sentimennya, dianggap sebagai 'pengkhianat'. Sebab itu diperJukan l

Dalam pidato ucapan terima kasihnya, bupati itu menyinggung soal pe1aksanaan tugasnya dalam sualu dunia penuh pergolakan. Di dalam menjalankan jab a tan bupati, persoalannya adalah kepentingan sosia1 penduduk. Di luar batas-batas itu, zaman sekarang hams dianggap oleh semua golongan penduduk sebagai zaman yang san gat penting, sebab:

k:ita, anak-anak bangsa, diberikan kesempatan untuk memimpin rakyat secara mandiri dan membimbing mcreka kc tingkat kesejnhteraan yang tertinggi, ketahanan fisik dan terutama psikis serta ke~a sama dengan Pemerintah Federal Indonesia yang akan datang".

rinya mempunyai cita-cita untuk memerintah bangsa dan negaranya sendiri, dan rnembinanya rnenuju kernerdekaan. Kalau semua bt!kcrja, dan rnelakukan tugas mereka dalam kcrja sarna satu sa rna lain, dengan menccgah semua tindakan yang tidak dapat dipertnnggungjawabkan, yang hanya ber- snmber pada sentimen, rnaka tujuan itu akan tercapai. Bupati mcnutup pidatonya dengan harapan agar "tujuan bersama yang telah kita tetapkan, dapat dicapai dalam suatu suasana yang semakin tertib dan aman".

Kecuali kedua mason bebas Indonesia terkemuka itu, dapat disebut juga Mr. T. Dzulkarnain, Tengku Dr. Mansur, dan

M. Wisaksono Wirjodihardjo.H
1 juga bagi ketiga orang ini, kerja sama dengan pihak Belanda merupakan landasan bagi pembangtman Indonesia sebagai ban gsa yang merdeka. Pad a musirn panas tahun 1948 rnereka berada di negeri Belanda dalam rangka menghadiri yubileum pemerintahan Ratu Wilhelmina, dan juga untuk mengadakan pembicaraan dengan pemerintah Belanda. Pacta bulan Desember 1948, seorangpe- jabat tinggi Indonesia masttk ke dalam Tarekat: Sultan Hamid Alkadri, yang terkenal dengan sebutan Sultan Hamid II dari Pontianak.N 2 Orang-orang Indonesia ini diill1ami oleh cita-cita yang terbentuk pada suatu masa ketika kemerdekaan Indonesia masih sulit dibayangkan. Tetapi apakah pendapat-pendapat ten tang pembangunan secara berangsur-angsurdan

  1. Idem th. 50, 98
  2. Idem th. 50, 220

AREKAT MAsoN DA.'I PERJUANGAI\1 UNruJ< K ESL\JA.\fBLT:!GA:-: Hmul'

perundingan harmonis sudah menjadirnilik umum eli kalangan lapisan luas masyarakat Indonesia? Siapakah orang-orang Indonesia itu yang dari kalangan Tare kat Mason Bebas dapat menarik ribunn anggota baru menurut Wakil Suhu Agung Carpentier Alling pada tal1un 1946? Pertanyaannya adalah apakah penyebaran gagasan masonik di antara suku-suku bangsa indonesia dengan bantuan loge-loge yang memakai bahasa Indonesia sebagai bal1asa pcngantar dan yang bekerja sesuai konstitusi Belanda eli bawah Majelis Tahunan Nederland, seperti dirumuskan pada bulan Oktober 1948, 143 masih mernpunyai peluang untuk berhasil di suatu negara yang sedang siap untuk menentukan masa depannya sendiri. Dalam edisi bulan November majalal1 I.M.T. diberitakan bahwa saudcu:a Tjondronegoro atas permintaan Pengurus Besar Provinsial mengadakan perjalanan keliling di seluruh Indonesia untuk mencari tahu pendapat di kalangan masyarakat. Tjondronegoro menulis dalam suatu laporcm semen tara/ bahwa ia telah rnengadakan kontak dengan ''cendekiawan-cendekiawan Indonesia yang bersikap baikn dan bahwa percakapan-percakapan itu akan menjadi dasar untuk laporannya. 1-l-l

Hasil dari penelitian Tjondronegoro belurn diketahui ketika I.M.T. edisi bulan Desember 1948 memuat "Pemberitahuan" Pengurus Besar Provinsial yang dipaparkan secara mencolok, yang mengumumkan bahwa akan dimulai penyebaran lektur rnasonik yang cocok dalam bahasa Jawa, Sunda, Indonesia, dan apa yang clisebut bahasa Melayu PasarY.:; Seleksi artikel-artikel yang akan cliterjemahkan itu terdiri dari sekitar 20 surnbangan yang sebelumnya telah diterbitkan da.lam

I.M.T. Hanya empat artikel eli antaranya ditulis oleh orang
143. Idem th. 50, 98-99
144. Idem th. 50, 131
145. Idem th. 50, 161

dan yang menarik di antara penulisnya ialah Purbo Hadiningrat. Tulisan-tulisan Purbo bermutu tinggi namLm berasal dari periode sebelum bangkitnya gerakan nasionalis modem. Kesan apa akan diberikan tinjauan-tinjauan itu kepada generasi rnuda tahtm1945?

Pada Konven Suhu Provinsial yang pertama diadakan setelah perang pada tanggal18 Desember 1948, juga dibicarakan persoalan loge-loge berbahasa Indonesia. Pada konven suhu tersebut, yakni suah1 pertemuan tahunan di mana Pengurus Besar Provinsial dan ketua-ketua loge membicarakan berbagai hal yang menyangkut kepentingan masonik, disampaikan hasil-hasil pertama dari penelitian Tjondronegoro yang sedang berlangsung itu. Hasil-hasil itu mcnguatkan pendapat-pendapat tentang pend irian loge-loge dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantamya. Temyata tidak satu pun dari parahadirin mempermasalahkan perkembangan itu.

Juga pada buhr agenda "ceramah-ceramah umum" dibicarakan persoalan keanggotaan orang-orang Indonesia. Oiten- tu.l

Harnpir dua setengah tal1un diperlukan unh1k pekerjaan persiapan sebelum masalah loge-loge dengan bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar yang disampaikan kepada utusan-utusan logepada Majelis Tahunan Provinsial. Hal ilu terjadi pada bulan April1948 dan laporan me~

  1. Idem th. SO, 200-201

itu telah dii11Uill dalam I.~ I. r ~dbJ bulan 1114!1 19 19 yan~t pada waktu itu sudah berubah nam.myil menpd1 .fa~m nieJ. Tit,tsdrrrft CIWT /m1oii~Sir r ~lul.li :..1.11 itu Jllg;l JUJ "Penguru~ fk>.;ar Tard.at Kaum Milson 11t'h,1' dt lntlnnl"-la", \C·

d.1ngkrm l.op,e 1\gung Provinsiallhlengk.•r• t!cng.,n kat,l kl\la "Tndonl'Sia d1 hawah Ma1ells Ti!hunun \l'dl•rlnnd"

Untuk nwmberiknn pcnj~los,m ,Jtilli hut1r •lP,l'JHJo "LPp,e

loge dcnp,un bahasa lndonesin ~cbugnt 11nhnq,, rcn);,ll1tilr", maka Pcngurus Besa r l 'rovlnsinl telnh mcnp,undnn~ l)on- droncgoro untuk m<'nyompnikanlnporan tcnti111)iiJ'Cnl!hhan- nyn. Sctclah mcn~adakan perplanan kelihng. di milna dJkun- jungi kotil·kola Jokartil, Bamlung. Scmarang d,m Surabaya di Jawa, dan di sam ping itu JUga Bah, Minaha,,,, "iuiJwc~i 5cla- tan dan Pesisir T1mur Sumatra, TJOndronegoro ml•mp<>rolch gambnran tcntang seberapa jauh bahasa lndnneSHI tclah bcrkembang sebagai bdhasa pcrgaulan BcrdJ'-lrkan hal1tu, pclnpor bl•rpcntli!pat bahwa bnhilbJ tcrscbul ,·,x·uJ,. untuk dJ· pDI..ni dl l ugi!-IU~I!. Namun kalnu pNkarany" hcnda!.. dilihat d~lam kcron~~;ka ynng lebih besar, m.Jkll pPnd,,p.:~t-pemJap~t bo?ril..u t b.:muan)"l m ungkin;

P.1da sant in! loge-loge bahasa ud.lJ.. tepa! waktunya.

-l'

rati~ml!'' -Unlllk -.cmcntara waktu bt'batknya wlt.sp bJlta~ diizm-

l..an

-Seti3p anggota harus dapat mengungkaplo;an pil.irannya
dalJm t>ahasa y<~ng palin~ dekat di hatinya.
CX•-,uill JIW
g,t.ul untuk ~ho~p bah,:tSa, selama gagas.1n Tarckat bdal
1 ~rg.1nggu
147, ld~rn th 'k1,3-lii-JSI
a. Pcrlu diamlnll.mgl...th-langkah agar para anggnta uldonl..'-
sia. jtk.l dil..chl..'ndakt dilpal memakilt baha~<~nya scndtn
b Kt'mun~J..Jn.m-l..cmungkman itu perlu dtumumi...Jn ruga
dt lu.t r Ta""•l..at
D.1l.m1 pt.>rtukar,m pil..tran )'ilng menyu~ul, cmpal orang
iU1S);OIJ m~.?ng.•mbtl bag1an, di man.l dil..cmul.ak,m pokok-
pol.;ol..l'l•rikutmt. Dtlogl' Semar<~ng ada mayontas yang lldak
mcmr>!rm•"·•'·'hi..Jn ~mo~k.lliln bah.J'W yang ~rbcda-bcda,

!>,lh.ha dJn N!rtJnya .tpakah ttdal.. leb1h b;nk untu~-lanR~ung ffil'ndinl.an logl!-log-.- rang mum1 meng· ~o~unak.lll b.lhJ'J lm.lont.>stJ :.Jj:l. !:iebat>, bulank.lh IUJUJI1Jlya
mt.•ngumpulf...lll ..... b.:~ny.:~l.. mungkin oran~-arang lnc.lun'-"'ia
dcng.ln g.tgJsan·K·'~'·"' ma.,.,mk7 loge M!tka<.s.ar m~.ora~

b.thwa l>dum w.tklun~·a mcndtnl..an l<>gt."-lu~ den~ b.1ha'>J · b,thil'J lcN:111Jm, 'l'IIIUJII\'J mll!>ih dJiam kl•adt~.Jn pt?rkcm
b.IJIJ:;.m, dom Jll);.t uluMJ\ 1lan loge Bogor tid.tk nwndukung-
ll\'01. Ang~tul.ll'cnguru~ & .... u So~roh.tdik~umu 1ugo~ n~o·nra

t.sl.;o~n bo~hwll OJnm;ol.l 'iutgt:uta bJru unruk ~·mcntarJ ho311ya o~k.m b ..., .• ,.,, d.:~ri t;oll'nt;.ln png N!ri<.'<.lt.l bcl..el'}d "-~"'" dt'- ng;m ••rang 8d.mda. 1'.1dll.ll..hir tint3u.ln •hnJJuan tiU. UI'J"'ll· uer 1\lung menyimruU.In h~'il J"·mbkar.lan. Ia bcrsiJ.:ar penuh h.ar01r.1n, ..tan ~ra'OI b.lhw.:~ p.nl.l "al.tunya banyalo; orang lndon~osi.1 <1k.1n m.1u mcnj.lllt an!Qi~VIII T.1rek.11,

Suutu llmggak ~j.lr.ah d.il.lm PI\'"'-"' r•,ortumbuhJn ffil'OII •

JU W.Jlu I u~t> !\gun~ lndon~ia yJng m~rdd:a allal.lh pet· 'li.'IUJUiln ~ l,lJl'h~ T;thunun d~.?ngJn tl!k.-. ~myalil.m .~~.\~ TJ I\•kat yang dtbuJt JJI.101 bah.!'.~ lndonc:.i.J. li.•k:i ltu lt•f,lh dt~~un ul~!h ,Su,n.,ho~dJI.;uwm•• c.f,lllllin.•m:anal.an untul.. dtll•rbttko1n

52>

kan a~il'·obmyatlan juga tent:ang "pt.>rsoal..m lndone!>ia rcngu- rus Besllr PmvmsiaJ tidak mau mcm.bulu bidang pohlll.., dan oleh karen an) .1 telllh mencari suatu p;~rumusan yang net rill, dJ mana hilk bangs;~ Indonesia unru.. ml'nentukan nasibnyn !K!ndl ri memang diakul Penjelasan lcbih la njut tenlang masalah-masalah ell Indonesia dlberikan ok• h se

Nli M'll th 5. Y

521•

di BelamJa mt>ngakm

h;tksellap banwa untuk membangun suatu kt>beradaan yang merdeka.'' ' ..pay a Tarekat Mason Bebsia untul.. mcmbo1· Jlb'lln Jo?mbalan an tara Beli!Ilda dengan lndone:.ia Juga menta· di pukok pembicarai!Jl dalam pertemuc1n p;~da tilnggal II Agustus 1949, antara delegasi Pensurus Bcsar

s~unan Pen gums Be~ Pcovmsl.l.l dan KomtSI r,•n.l'•that. yang dllaporkan uleh M.T I pada bulan September 1949 ada lah sedemikian mpa sehmgga dJ kedua ll.ldJn m.t-.n~t·ma· 1 sing ada dua orang Indonesia dan salu or.mg Ti1'nghoo ' 1 llu· kanlah tanpa makna bahwa dalam cd•si bulan Nnn>mbl-r !'WI dimuat :.uatu sumb;~ng!>ll1 panja.ng lentang Islam Scjar.lh. .lSa!>·il!>JS. tbn ~raturan·peraluran ~m\tanya d1ur.:ukan, IIC· dangkan d• b.1gian alhtr d1baha., lcnl;;tn~t gJ!;

149 IJ.,mth •1, 10 150 ltl~on lh ~I. n lSI td,•m th ~~ 59-tJIJ

tcgang dt lndonesta y.mg mayontas penduduknya beragama islam itu. dapat dtper- tanyakan apa dampak sumbangan ull

Pad.:~ tanggal 27 Desernber 1949 ui !stan., Ker.a1aan ch Dam Amsterdam berlangsung p.:>namJ.ltanganan f"!I'Sl'llltU•III dJ mana kcdaulatan at.1s Indonesia diserahkan kt.>pada Republik lnduncs~<.1 Serikat Kcputusan itu juK·' mcmpunyat akibat yang besar bagi ·rare kat Mason Beb.1~ ch lnclonC<;i:t ~jak .s:~at itu io bcrnda di wil<~ya h kekuasilan Rcpubllk lndont">Jol Scrikat dan h ~ rus potuh kcpada hukum-hukum neg.1ro ttu. Scmmg· gu sebclumnyil, pada tanggal21 IA'$Crnbo?r, Waksl Suhu \1!\mg Carpentier Altmg telah mengtrim tdt!gram ucapan ~elamat kepaJa lr. S

152, idem lh !it, lfl7

52S

hati bersedia untuk mendukung pcndinan suatu Loge
,'\gunR lndt>n•'!>la.'" Dcngan pemyalaan itu Tart•k;~t Masan
Bebas memru.uki tahun pertama kt.>ml.'rdl?kaan lndonc~aa.

Satuasi pohlik yang haru merupak.In 11lasnn bilgi Mr. /1.. Holle, kctua loge ''De Ster in het Oostcn", untuk nwny.,mpnl- kan perkntaan berik11 l kepada para anggota IOj:W: " Klta sekarang menjodi pcndudLLk suatu Ncgara Beadaulilt, d;u1 di atas wllayahnya klta sebagnJ warga-wa •·ga suntLancgarl1 yang ber· sahablll. mcnjadJ lamu", Mengenai milsa dcpnn Tan~kat MD · son Bebas secMa yuridis tidak ada masnl,ah: Po!>,tllS-20 dori rancangan Undang-Undang Dasar negara ina mcnjamin, cle- mikian ketua, ''bahwa terhadap 'IMekat dan il!>

Dalam pada atu sudah dapatdiperkirakan hahwa ~b..tgai
akJbat dari perubahan hubunggan·hubungan l'l(llitik,l>anyak

orang Beland a-terutama pegawai dan tentara-akan merung- galkan Indonesia. Pada tanggal 2 lanuara 1950 l'en~urus Besar di Nederland mengirim sebuah telegram J,.c lndonesaa dengan p

Dengan memperhatikan asal-usuJ Tarekat, maka pada

tanggal 4 Februari 1950 diusulkan oleh loge "Jiet Zuideck-

Idem

153. lh. 31,188
151 ld~mah. 51, 233
155. l5b. Idem lh 51. 223 51,218
Idem ah

Konven Suhu dl Jakilrta ag..1r dibuat rencana- rcncana konkreit unhlk mcnyc~>Uiukan organisasi dengatl struktur pohnk baru di lndon~ia Penguru~ Besar Pro\'U\Sial meruJUk kcpada sural edaran yang dasebut sebelumnya dan menambahkan bahwa pend1rian s ualu Loge Agung lndonesaa yang merdeka memang harus dimarukan, namun jumlah angguta orang Indonesia bel urn mem~dai jumlahnya. Untuk menamboh juan lah anggota, Pengurus Bcsar mengusulkan agar orang-orang lndonesaa ditcl"ima di loge-loge yang ada, agardidirikan loge-loge yang terutama mcmpunyal angg

Dalam hal ini, anlan akhir til hun 19-16 hinggn bulan Fcbruari 19'50 bdak diperoleh banyal.. kcma1uan. !o..Lmju ngan kehormatan suana delegasi Pengwm lksar Provtnsial- lerdiri atas Wal..il Suhu Agung Carpentier Allmjt. dcputmya II.M.J Hart dan anggota-anggota Wi~ksono Wirj..xlihardjo d.m Loa Sek J-lic-mcncmui Pll!Sldt!n Reput>hlo. po~d.l langgal 3 M..~rct 1950, dtmak:.udkan untuk mt.'mpt•rlo.c-nalkan Tarckat secara f>';mi kepada kepa.la n~ara dan untuk menJclaslo.an IUfuan dan usah~ T;arekal MasOn Behas. Utu!>an dibt.'nl..1n b.anyak \vaktu dan scuso.i pcrtl'ffiuan, dclcg.tsi mt.'nyatilkan kepuasan- ny ... D • .llam M.TI dimUltt !tHL• dan rl,mbong,,,, ll'r:K·btat.!<1

Agama Wahlllfl,,.pm Pl!rtemuanmaru~ll •h ·

rnl!m~nkan

m.1J..,udl.:an untul.. penJda...an II!Otang rard .. lt
M.I! yam~ INII!ga~• pul.tn~ d,~
k~..an Pih<~k pe!Juiln~an

lk'bas d.m unluk nwmt-cnkan jawaban alas rcrt.1nyiJ· ,ln·pertanyaan mungkan dtajukan. ngan bah\.1 menlcri mcnghargat m:bOnak

Pcngurus Bcsar ProvinsaaJ k.adang·kadang dlhadap-
kan pada dalema yong :.uUtsehubungan dengan perkcmbang-

an hubungan pohtlk an tara lndoni!Sia dan B.!laml11. d:~pat di- lihal dan cara PBP ml!lal..ukan reaksi ut<~' J.lhnnvd pt!run· dmgan tcnt:~n~ ""'', depan CuiJlea B.uu (Papua) P.Jda tanggal I Oc..,.;omk>t:r. <:a~ntier AJting mcn~anm ld• gram kt!pa·

d.! SuhuAgung •h Nl>derland, da mana ~ngurus l:k.'S.lr Provm- "•aJ nwnyalakan kekhawattrannya ala~ hill-hal yang mungkm t<1rjadi •l!bag.li aktbat perudmgan-perundangan itu Suhu A '1.m0 d~:ng.1n .,.,ruan terhadap !..cm.mw.iaan damanta untuk 0 ml!nyi!mpatkan kepada ~merintah Bclanda kcyakman ITare- katJ ag.tr pl!rundangan-penmding.m dtlakukan "d3lam )~!· m,tnjl;.ll yang tctap ml!nJamm dtpchh,uanya dan dtperdalilm ny.1 kcrJ.l ~.1mo1 an tar;~ orang-orang Bdanda dan or.tnl-oro~ng lndon~a·"

langkilh dan T'l!ngurus Bes<~r l'roviru.iJI mr c:ukup nu.~

nAn I., Juga l.arenA dalam telL-gram diklltakan ~belmnny;~l-tJh

'' a PBP mmglwrapk.ln p.·mydlaan a.sas telap dlhurm.ltl yang

melarang Cllmpur tan~an dr bidang potillk oleh I o~rckat Juga menarik bahwa mNcla llt.lak memakai l!.lliJh (..;umea Baru melainkan nama lndon~ra ''!nan•. Oi !Oi!mpmg rtu langkah tersebut ma~th hl.'rclo.or di Majeli5 Tahunan rronn~ial pada 23 Mar.:t 1951, ke11l..ilutusan loge ''Ot> Vnl!nd~hap~ menya· lakan kcki!I.I!W•hlOOYD tcntangapa yang dtkat.lk.lnny., sebagni

ISS td~mlh ~ IH

Provinsial diminta untuk memerintahkan Pengurus Besar Provmsial supaya di masa depan menjauhlan din dan cam pur tangan dalam politik yang mcnyangkut kcdua negara Wt!lauplii\ usul ftu dapar dlpcrkirakan akan mendapat Jukungan, titlal dl- adakan pemungutan suara atasny

Kottven Suhu yang disclenggarakan pada tanggall6

Desembcr 1950 dikuasai oleh suasano kckhaw<~tiran alas keaclaott k~an ggotaan. Setelah perkcml•angan yang bogus tidnk lama st•tclah perang berakhir, mako sck;uang, menurul Carpentier Alti ng, oleh karena banyaknya anggota yang pulang, ~-ulillii\tuk menjaga agarap1 telilp menyala. Dial..·ui bahwa usaha mendapalkan lebih banyal.. orang Indonesia masuk ke Tare kat, belum berhasil ban yak. Masanya sulil oleh kare11a pergolakan politik, namun tahun depan, "kaJau keadaan sudah lenang'', akan diadakdn pertcmuan·pl'rtemuan penerangan yang IJ1U5US dipentntt•kkan bagi <•rang LndnMsia. '"

Konvcn Suhu pada ta.lHLn 1950, yang sebap;ian besar wr,1ktunya dlgun

  1. Idem Ul.52.. 220·221 J60, ldPmlh 52. 11>6
golongan-golongan lain dan masih tctap terasing

dati merclnnn n rhmgan masyill'akat lndon1.'~1;1 dib11has lebih Jan- jut, juga dalam upaya m1tuk memastll..;m l

T.vck~ l di bumj Indonesia. Namun d~ri pembiCMilan-pembi- c;'lraJn dalam Konven SuJ1u liclak muncul suatu pendapat yang jel.'lS. Dianggilp bahwa bl.'lum waktunya untuk meodin- kan l(lgt!-IOge lndonl'Sia maupun Loge Ag\tng IJ1dones~a

Butir agenda bl!rikutnya menyangkut penyebaran il')..b·

asas mawm.k d1 lndonl'Sia. Mengcnai hal ini pun hdak l,,,_ nyak terdapat hal-hal konktet yang dapal dJiaporkan. !lcjak berakh•mya ~rang telah banyak hal dibicarakao don cht1'· nungkan, l~lilpl belun1 banyak yang tampak di (LI,H. Agar Tarck21l dnpnt dlkenal lebih t>aik, ruberikan b~·ru.,~.H Sfll'oln, sept.>rtl pr~mbentul<.1n suatu komisi penerangnn Y•"tg kit usus, ~Jencrjema h nu ll.'klur masonik ke dalam ltah.1sa lmloncsiJ, pcnyt• le11Jo\f1Jraan ceramah di radio (lleh st'Orang o;~nggota In· donesiil dolam ua hasanya sendiri penycdi.l.lr runnsan di gedun~·j;cdung loge sebagai ruangan stud1 ll.tn perluasan po?k•·riJ.m ..ostal di kaJangan penduduk. Md1hal ~gitu kecil- 11} o1 h.:uapan d1 J...aJangan kaum mason lx!b.1s ll11landa, komentar onng Indonesia Soedjono tidakl.1h mE>nghcr.:tnkan. Pada tanggal 15 Januari 1951 ia menga1.1k.1n bahwa hasil dari usaha-usah.; untuk menan"korang Indonesia t1daklru1 besar: Loge- tngl..! Indonesia mungkin akan terbentuk, n;~mun ticlak dalmn n1as:1 depan yang dekat. 1' 1

lul lt.l~ru lh 52, 1\13

ten tang jumlah pengunjung png begi· tu sedikit, dibcrikan dal01m suatu sumbangan dt \l T.l bulan Maret 1951. 161 Semua pcrtakapan umtang pendinan loge-loge Indonesia atau sualu Mnjelis Tahunan lndonesta dtsebul sia· sia, selama orang Indonesia ..cndU'i- dan pria)'l ternnggl sam pill juru tulis lerendah dt kabupaten- ltdak saling mengang· gar saudara. Sesuat ad at, seorang l:ndonesta biasa tid ilk bcril ni memasuki tempat tinggal Bupull dn 11 itu berlaku juga bagi loge-loge. Bagi penulisJ1ya ya ng unmg Beland a, orang-orang Belanda harus mengambil prakarsa ''dcngan maksud untu!. mendidik mereka SLt paya saling nwndL•kJt ( 1 dan kalau w:.J..tun)'il sudalt datang, kaJau mereka mgtn terbang keluar bersama unluk membangun sarangnra ~endin. maka kita bukan honya dengan sepenuh hati ikut bergcmbtra dengan mereka, lei apt jUga akan terns mengulurkan Iangan klta sebagat pendamping mereka dalam pembangunan tlu, sampai mereka sudah dapat mandiri. berdiri di alas kat..! stmdm, dan melalmkan pelt~rjJannya". Bagi seorang pcnilai di kemud1an hBJl; sulit membaynngkan bahwa kata-katn it\J dlhJtis pada tanggall2 Desembcr l950 di Jakarta.

Yang lcbih up lo d11te adatah ceramah di loge Batavia ''I let Zuitlcrkruis" di mana diminta perhalian unr.1k Jatar belakang gcjalo gerombolan di Iawll.' .. KcJ'.Id.t para anggota loge ih.t dikcmukakan bahwa bentuk M-gelisahan sosial itu berhubu- flf\311 dengan gejala kemtsllnan vant; menjalar ke mana-mana SCJilk masa pendudukan Jepang Akibatnya adalah dipertaJam- nya pcrlx..Uaan-perbedaan, schingga berbagai gagasan peng· harapan ke~lamatan bertumhuh sub1tr llanya pada jangka panjang dapat diharapkan adanya pPrbaikan, dan pembicara berharap bahwa pemimp fn·pemimpin baru Indonesia akan

161 ldwm I h. 521199-200

  1. I.J~m til 52, 2(1~

yang telah dlpertimbangkan dengan baik mengenai hal itu.

juga Majelis Tahunan Provinsial pada lah\an 1951 telah

membicarakan dengan panjang Iebar masalah ke,mggotaan orang-orang Indonesia, tanpa adanya pandang<~n-pandangan baru yang mLtncul. Pemikiran untuk mcngubo:th Loge Agttng Provlnslal setelah kemerdekaan Indonesia menjadi suatu Kuasa Agung yang me.rdeka terlepas dati Belanda, seteJah diskusl pm,Jang Iebar tidal< mendapat ~;uaro lc.rbMyak. Juga beberapa orang Indoncsi<~ ber;;~nggappn bahwa suatu K\1asa AgLU1g yang merdeka bukantah sesuatu yang dikehendaki. Anggola orang Tionghoa Lie.m Bwan Tjie melihat masalah-masalah lain. Indonesiamengalami masa peruedaan ras, dan sebagai suatu perkumpulan luar negeri Tarekat Mason Bebas menghOJdJpi risiko besar. Sebagai suatu p4!rkumpulan d,!lam neg~ri bal1t1yanya okan lebih kecil Walaupun begitu, utusan lersebul tidak mau menjadi pembangkang dania mt!nduhmg usul mayoritas.

PJda Konven Stthu pada tanggal 15 Desember 1951 akhi_rn-ya l'llmpak Landa-tanda pertamamenuju loge-loge terse.ncU.ri, bahkan Kuasa AgLmg tersendiri. Mason bebas GondokusLuno. menteri pertaniar1 dalam pemerintahan Indonesia, hadir di konven sebagat tamu Pengurus Besar Provinsial dan dari dialah para hadirin mendengar keterangan terakhir. Sebagai butir kedua pad a agenda itu adalah masalah sikap yang harus diambil terhad,,p suatu Kuasa Agl!Jlg IJtdnncsta d! masa depan. Setclnh S1•ah1 pcngantar oleh Komisi Penasihat, di mana dibl!ritahukan bahwa sedang dilakukan upaya rr\endirikan suatu K\lasa Ag\lng Tndonesia, Gondokusumo dipersiJak"n bicarn. !a memberitahukan bahwa anggota-anggota ornnp, I ndonesi;1 telal1 memiuta kcpadanya dan kepada sautlara Scw<~ka supaya menjacU pern.imptn mercka. Oleh

lama l..~mu dt.m mt:nin~~..tl dunia, dan ru dalilm ,,, ,\Jmll'n/1!11 dari Raden Sot!partu tcrnyJta bahwa pendtrilln pukumpu!Jn mao,on bebas termillo.sud. dl.'ngan nama ·rurwa D.lk.,ma I Alfa dan Otm.~ ga, St. I• tl'l.lh l'!rlang:.ung pada t1n~gal 13 Dc~mber 1952 Namanya yang -.·lcngkapnya berbunyi '' flint.mg Purwa·Dak- ~u•a• berartt lunt..mg dt tenggara dan lo.>lah diusulkan oleh Si.~rohadii..U!>umo Nama itu bagi pa1a ma'IJn bel-as lndone- ~i.t mcmpunyai maknil "Kesadaran akan lwtuhanJn•. 1!r- kumpulan ttu didirik.Jn oleh 21 orang an!;gota. uengan Gondoku,umo 'ebagai ketua. Den~an anggota angf;ola yang ber- ol!Hll dan Jakarta. B<>gor, Bandung.Sem.trang. Yo~;r·•l.arta, Solo

t.l.ln Surabaya, hampir :'4'1uruh Jawa dtwaktli r,•ndtnannya l>erl.1n~~ung di rumah :.cM.lng tokoh lndonc~ia lainnva. lr. St~~.·ralhman Soeparto m,•nt?rnn~kan mengapa 1-.•v,~tu ~ ktl dil.l·tahuttentang GondokU!>umn, yan~ pada wJ.u.u tahun 193-1 m:~~uk k~ dalam Tarekal. c;,,mpa• mvas1 Jepang pada lilhun 19-12, tannggota loge ''Ttdar dt \1J.gelang. dan setelah tlu kl·adaan hdak memung~nk.ut ... mcn~ef)akan ~1-.Cl)il

1 b4 ld"m I h. ~ 173
lfl'> ldf"m th 53, 1!17-lts:|

S36

13 Aprill952 di Bandung. kehadir

wa makna terscndin. Pada Loge Agung Terbuka yang mendahului MaJCib Tahun.m Provinsial, ia diterima dengan :.egala kehormatan o;cbagai waW dari pe.rkumpulan ''Purwa·Dil~l na" Carpl.'ntier Alling menyatalan kcgcmbiraannya bahwa untuk perlamo kahnya dalam sejarab suatu perkumpulnn Indonesia diwakill dalam suatu Majelis Tahunan Provinsial, dM ia mengucapi(nn hnrapan.nya semoga Socparto dan JJ1ggota- nngguln lulnnyn n1engalami banyak keberh.a:.JL,ut. p,)dO Ra- po~t Un1un1 yong menyusul, sebelas IOfll.! dlw.1klh, d1 mana Swpo~th> nll!njndi utusan loge "De VncndMhap~ dari Surabaya, dan Ul!m Bwan Tjie sebagai wakll Pl.!rkumpulan Indonesia "Purwa-Oaksina"

Rapat dibuka oleh Carpenuer t\lling dcngan menyinggung
keadaan yang mengkhawatirkatl saJt itu, yang terutama ber-
langsung di bidang k~pe"!,'UI'W>llll Mengenai nasib Tarekat
Mason Bebas setelah penyt.>rahan kedaulalan, ada alasan un-
tuk merasa optinus c.lengan Stkap hati-hati. Walaupun ada
sikap agak menJauh c.lan pihak pemerintah dan masyarakat,

yang alosannya jugn haru!> dicari di c.lalarn Tarekat Mason Bebas itu sendi ri, ,ldil juga perhatian ter:hadap Tnrekat. Pl!ndi-rian "Purwn-Daksina" merupakan suatu tnnggalo. sejarah, dan hubungan deng.m anggota-anggota orang lndones1a S<~ngat baik. Rupanya di kalangan anggota Beland a dar! Tarek.lt masih ada s;~lah pcngerti= tentang kebcrad:~an cuatu Jl"rl .. umpulan ma~onik Indonesia, sebab Carpenhcr Alhng merasa perlu m('lamanya" bahwa Pengurus BL-sar utidak menolak" ~rkumpulan itu. Rumusan yang hati-hati ini dibuat oleh Wakil Suhu Agung~ hubungan dengan kepulangan anggola-anggota orang Bclanda ya ng lak hentinya di mana 1a melihat pendJ t·ian suatu loge Indonesia sebagai suatu jaminan lt!thadap keberlangsur.gan

}tlml., h anggota pada tanggal 1 Maret 1952 ad.dah sebanyak SlO t1rang (di antaranya 157 orang berada di !u:lr nrgcrl), dibanding dengan 552 (177 di luar negl!ri) se- t!lhu n sebclum ny.1.1~<>

Dalam kescmp:~ ta nmcmbe•ikan laporan-laporan tahunan, Liem Bwan 1'jic untuk rneny;tmpaikan bebempa penJelasan mengenal perl, umpulnn " Purwa Dal.slna".' ... Sudah beber.:t- pa tahun adJ rencana untuk mcmbenltlk sebuah loge lnd,1- nesia, namun oleh karena berbagai hal, sepert1 sulitnya menerjemahkan ritual, sampai ~ekarang belum jugadnpat dibentuk. Dengan sangat berkurangnya jumlah anggota or.mg Belanda, dikha\1\'tlt:ii:kan bah'va mul\1 kehidupan masonik ber- atl~ dalam bahaya. sebab itu dirasak;m bahw·a ticlak dap:~t eli pe.rtanggungjawabkan untuk mensngguhkan pembentukM loge lndonesralebih lama lagi. Untuk menyebarkan il!>a!i-aSds masonik dl kalang<~n masyarakat perlu adanya loge-loge Indonesia dengan pen gurus yang muml Indonesia. Perkumpu· tan m asonik yang hams dianggap sebagai perlntis. sudah mempunyai sekilar tiga puluh anggota, sedangkan dihar.lp- kan bahwa k-ebanyak-a.n anggota orang lndone:.ia mau masuk perkumpulan itu_ a tau kalau mungJ..in perkumpulan lain. Sebagai pendiri-pendiri disebut sepuluh anggota Indonesia (dan Tionghoa) beri.kut ini: Gandokusu.mo, Sewaka. Wisaksono. Sumitro Kolopaking. Surachman, Hudioro, Soorjo. Liem King Tjiauw, Loa Sek Hie, dan Liem Bwan Tjie. t'\ama-nama tersebut, kecuali nama Liem King Tjiauw, terlera jugll pada daftar Yilllg disusun Vander Veur tentang tahun-tahun 1922-1940. Llma dari tujuh orang Indonesia berasal dati pamongpraja bangsawan yang trad.isional, suatu gejala yang masih akan ldta temukan dalam loge-loge yang didin'kan kemodi:an. Se-

11>6. ltiWI th. 53, 241 11•1 ldt'm th, :-3, 2.37

kita tldak meJU1at dt untM.t p.UJ fl\'Jiulrl uJru,,lulleu ~parto (5urJbaya), dan Rauen Ngabelu SosrohJdlkusumu (Sl'marang) Y.m~ tcrakhtr im mt•mang disl•hut ulch I icm Bwan Tjtc. D.1lam penych;~ran Tarcl..ilt Ma...nn !Jch;~~ dt J,,w,l rcngah y;:mg dih.:~rapk3n i~u. Sosro mc~hnyil dol poll ntl.'ml'l\•rl kan bonyak bantua n. Kcmudian pcmbrcara bcrharnp bahWB t~cdung log\' dl Scmarong dapat tUp~rL.1htmkan unh.tk T;m•kat Mosun Hubos. 1',1do ll khi r Majcli.s 'lahumm1p.1r.1 anr,gota yong hod lr ml! ngirim tclcgrum kcp.1dn flrcsidcn S~korno. dlmana clisampnikon rnsll hprmilt yang ikhlils h.cpndonyo 1 '"

Kt>adoa •1 Tnrcka t dl Indonesia tli~lf1!\IW"P, (tlch ':>uhu Agung poda Mojclb Tahunan di Bl!landa pad a t.mAAt~ll4 juni

  1. Ia mcny«:!butnya scbagai mt!!nprihatinlo.an, dan kcmcrv- sotan sampai 401! ;~nggota menimbulkan penany.1an padJ dr- rinya apakah Loge Agung Proviru.ral masih mcmpunrar alaJ.- an untuk hrdup. Namun bagi Suhu Agung )Cl bahw<~ lndonesi~ sendirilah yang harus me.mutuskannya ~ndirr.' .. Bahwa di dolam Tarckat di lndoncsiJ tclah timbul ~i.'h.·~angan, tcrnyut~ dan pemberitahuan yang dibcrik.m C,uhu A~ung dr Nederland, Jr. C.M.R Davtdsun, poda bulan S!!ptcmhur 1952 yang dimuat dalam M.T.IY"
    11 Scbelumnya. W<~lo.il Suhu Agung Carpentrl'r Alling dalam suatu suratedaran kepada loge-log .. menyatilkan niatnycrapa log..-lndon;,.~ ) .mg berpcndapat bahwa biarpun jasa-j~anra 1"-w..Jr, sudah walo.tuny<~ orang lam melanjutkan pekerj<~annya Namun Pe-- ngurus Bcsar J>rovmsiaJ mendesal.. Carpentier AJbng agac t'Clap ml•ndudulo.i jabatannya. Wakil Suhu Agung mcncrima

  2. ldt•mlh 53.231 lt•IJ Idem th S I, 7
    171) ldun th t; I, ~(>

penninlaan mereka, dan mengambil keputu~an unluk tCl<~p memegang jabatannya dan "mewakili Pen gurus Besar dJ lndones.ta dengan cara terhormat namun kuat• Apakah tidal.. ada keb1jakan yang kuat, ataukah tt>lah terjad1 pers.!li.sih- an pcndupat tentang garis haluan yang harus diikuti? Atas usul CMpcuUer Alting. kemudian Mr. A. Holle diangkat se- bagal Deputl Wakil Suhu Agung. Davidson mengak.hiri surat edarannya kepada loge-loge dan anggota·nnggota di l.n donesia dengan scruan agar memberi dukunga11 yang kuat kepada Carpentier AJUng dan Holle dalam luflil.S mcreka yang berat itu. Dalam halltu "mereka hanya hilrus dibimbing oleh kasih mereka bagi 1iue.kat Mason Bebns, supaya Tarekat kita juga d.i lndonesh1 sekali lagi dapat memasuk.1 periode pe.rke.m- bangan baru ".

Perkembangan baru sepertinya akan d1mulai ketika sembilan mason bebas Indonesia ingin mendirikan suatu loge baru Jengan nama terkenal "Purwa-Daksina" S.-kretaris Agung di Den Haag mengumumkan permohonan itu pnda tanggal 17Juli 1952. Dari pengumuman itu diketahui bnhwa prakaJ"- sanyil diambil olch Sumitro Kolopaking. Soerjo, Wlsnksono Wirjodihardjo, Soebali, Hoedlom Sontoyudo, Sutisno, l, hun Bwan 'rjlc, Liern King Tjiauw dan l.iem Mo Djan.

fi))t.l alasan diberikan dal~ pe.rmohonan itu:

I. Kepada orang Indonesia yang hdak menguasai bah01sa Beland"- dibenkan kesemp.1tan untuk menerima ThranA masonik
1. Menyebarko:tn lebih jauh Terang m.l~11nlk di antara orang lndonesm dengan caranya yang khils.
3. Dengan elemikinn menjaga terus mcny.llilnya rerang ma· sonik di ncgura im.

ada keberatan-keberatan lerhadap pennohonan itu, yang m~nclapat dukungan Pengurus Besar Provinsial, maka keberatan itu harus disampaikan sesuai dengan pasal-pasal berSangkutan dalam Anggaran Dasar Tarekal, dalam jangka waktu dua bulan. Kalau tidak.ada, demikian suratedaran itu diakhin, dianggap bahwa Majelis Tahunan telah memutuskan untuk mendirikannya.m

Pada tanggal18 Oktober ~952 Surat Konstitusi untuk loge "Purwa-Daksina" ditandatangani oleh Suhu Agung dan Pengurus Besar di Belanda, kemudian pada langgal 31 Oktober dalam Sllatu sidang resmi Pengurus Besar Provinsial. dilakukan penyerahan surat itu kepada ketua loge. Sumitro Kolopakmg. Hal itu berlangsung di •Ridderznal (Ruang Ksatriar gedung farekat "Adhuc Stat" di Jakarta, dillddiri oleh Pengu- nt5 Besar Provinsial, Komisi Penasihat, dan sepuluh anggota pengurus dan anggota biasa loge itu. Adanya perhatian internasional dibuktikan dengan kehadiran wakil · o istrid Grand Lodge of the Middle East ". Pertemuan itu sebagai 5\latu peristiwa bersejarah berlangsung dalam suasana khusus yang benar-benar dirasakan oleh para hadirin. Namun jtmllall orang Indonesia tidaklah besar, apalagi kalau dibanding dengan jumlah besar yang hadir pada pendirian perkumpulan masonik sebelumnya. Diberitalmkan bahwa peresmian loge itu secara klud- mat akan diadakan pada tanggal29 November. m

Bahwa juga dalam loge-loge·Betanda orang-orang Indonesia tetap berperan secara aktif dapat dilihat dan laporan pertemuan loge "De Vnendschap" di Surabaya pada tanggal 73 23 Oktober 1952 ' Ketua, Raden Soeparto, memberikan ce-

  1. IJemlh 54 78
  2. Idem th. 5-l, l~ d~ll 138 173 h.l" m th. 54. 1-la-149
    :Hl

tang ''Pancasila" yangmerupakan landasan filsafah RepubUk., Di depan jumlah hadirin yang besar. Soeparto menguraikan arti dari masing-masi11g si.la, yangmenun1tnya diresapi oleh jiwa masonik. Pengal<:uan akan Ketuhanan yang Mal1a Bsa, siJa pertama, berar ti bahwa .negara menyerah kan penggamba.rannya kepacta warga-warganya. Un tuk sila ketiga berJaln1 bahwa kesadaran nasional harus diemban oleh "saudara sedunia", yakniTarekal semuamanusia. Bagi pen1· bicara, itu berarti juga pengakuan ten tang persamaan dalam wujud dari semua manusia. Ceramah ih.t diikul:i dengan pe- nuJl perhatian oleh p;~ra hadirln. Lo,iliib banyak ceramah.-re- ramah seperti itu pasti a !

TiJik puncak pertemuan taJ1un 1952 ber- samaan dengan maulid Nabi Muhamrrmd, dan bahwa nama loge, selrun berarti "tenggara " juga berarti "sadar, menjadi sadar". 114 Laporan tenlang peresruian yang ditulis Soerjo dalarn M.1~L bulan Desember 1952, yang dimuat baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa BeJanda1memberitakan tentang hadial1-badiah yang d1terima loge baru ltu. Ada beT-

  1. lnem th. 54. 155-156

.t.ln JU~a sebuah Alquran vang diterbitlan tbl.tm OOtsl lu\ ha.h.th Jan loge "!:imtlan• d1 Bandung.""'

T1dak lJillil !> loi'W tcr;,•but memutu~kan untuk mengad.lkan ~un,un~an kepJdil l.epJla ne),laril untuk memb4mtahukannva tentang kebC'rada:~n Tan.~ 1-.Jt Ma~n Be bas Indonesia. Pad a tanggal 13 j.1nuari perkmu • an ltu b~.>rlangsung. dan paJa anggota ~X'n~urus mo:mb.:Jw.J pul,mg kt:'«lll balm'uppir-ltll scbJga1 .mggota Sa~'iln~ laporan ltu htl.lk mcm~ ntahuk.m .lpil j.lwaban yang dWcnkan."' Pad a laii~}',Jl4 Ft!l•· ruilri di;u.Ukan audu:.n~1 pada Wakil Prcsiden Dr.>. l1.1tU Ia mengatuL..an t>;;~rapa J'('l'tany.Jan tcntang ruanp. ltnt•kup I iiNkal St!baga• ~"I''Jasan atas po:ng~unJJn bal\a:..1l11tlvne ~•a .;cbaga• baha~a pt•nsantar diteran)l.l.,ln b.1hwa tliJU·'" uta ma T:1n.•kal adalah pen\d•Man cbib·il.,,b ft~n.•k.ltl\l,h

Dal,lm 1<-onven Suhu padtJianggall31A~·miX'r I 9~2. suatu burn piltLl ilgenda dimasul..l..an oleh ''Pun\'il·IJJ!<-,ma'', yatt\t pokol.. tl.'ntang cvmmah-cer

d.lpat t.l•undantt h.ltiir K~mu .. han IJ menyinggung h•11· '>t!kuen~llln.mstal ,Jan ~t>ilnggotJan "''-•'nr,1n~ ~rta h ~u ~;, ·
r.1n \ ang t.unbul I..Jn:na ada .lflggol.l tm,:~;aJ di Jemp.11 h•m pal d1 mana tid.tk 175. "'~"' il l,~~. 159-lt>.'i 176 ltlt•llt Ill, r, I 236-2."\S tn '"""' '" 1 ·""·3t;-

bahwa di !nd(lnesi.l jug.~ dJjalankan aksi menentang Tarekat Mason Beba!> M!hangga pcrlu adanya penerangan yang terarah. Ten tang aspek l..euangan ditegaskan bahwa soal turan tidak pemah harus di.i.ldalr.Jn keberalan terhadap diteramanvil anggota baru.

Perl~ lebih lanjut:darikeh1d~apan IOgl! Indonesia diumumkan pada bulan Januari 1953, ketika ketua Soeparto dalam logenya HDe Vriendschap" menyampaikan n1alnya untuk mendirikan sebuah petkumpulan masonik dl Surabaya JUga.'" Namun pad a tanggal 28 Maret 1953 Bandung temyata mcndahuluinya, ketika di sana dlresmikan loge "Dharma". Dade pan 55 orang mason bebos, Scwaka dllantik oleh Wakll Suhu A Kung w Rumah Pemuja.m loge "Smt janH, dan selelah itu bndan pengurus pun wlanhk IU~il Ol!ngilll demikian di negarJ llu Ielah ada dua loge yang mumi Indonesia.""

)oda da M11jelis Tahunan Provinsial dar! l,,nggal 3sampai 5 April 1953 du..a loge Indonesia mengirin1 lllla~onnya. sedangkan Soepa rto sebagai ketua "De VriendNch t1 p" h.1dir mewakili loge tersebut. "Purwa-Da.ksina" mcn);utus R,,dcn Soerjo, sedangkan "Dharn1J" mengutus Sewal

Kedua loge berusia mudil ma uengan scndinnya bdum dapat melapor banyak pat.IJ Majelis Tahunan inl. "Dharmn" baru l~~ia semmggu dan HPun\fa-Daksina" empnt bul.m. Loge terakhir mi telah merencanakan suatu ceramah bag! pcminat- pcmm.tl pada tanggaJ 6 Mei. Namun pada bulan-bulan pertama tidal.. oda alasan unhtk bergembm,, ~ebab remyata perha-

178, lclcm th. 54. 234 17':1. l d~m ch 54. 271-274

or ant~ l<.uran11 terhadapnya. Sebag.u ,llih.mnya dikcmuka-

~an m~lah transpor dan JUg

i\ngKota Pcngllnls 8.?sai Pro,·m~•al Sosrohnthkusumo Ie-
Iah menyatakan matnya untuk melelak~Jn fabutnnnya l>l!ll!·
lah hamp•r eb<.'las tahun memangkunyo rermuhonannya

disetutu•. .l.ln~tel.1h ttu sebagai pt!ngJ ku n n ut.l~ IMil·lilSilllya yang bany.1k. ,,, dlongkat sebaFiai nnggotn kl!horm,,l,m PBJl Sebagai pCil!;Y,illlllny.t, Sosro St'lld.iri menr;u ~ltlk;~n Sun\ilru Kolopakmg, kl•tutl "Purwa-IJaksina". Seba~ili ~uatu h.11 khusus, dapat dibcrllohuk,m selanjutnya bahwa Maji!h'> lahunJn Provinsial dilutup dcng;w suatu c~ran1ah dari •lnt:gota l'ur· wa-Dak~ina", R.M C... Sugontlo, dcngan JUdul "Islam liJn Tarck.tt Mason Bebos" 1

Pertemuan penerangan dnrt "l'urwa-Dak:.ma" pada t.mg-

s·•l6 M ei 1953 dip1mpm oh:h «;umttro Kolopaking, dan di~ IL!ngg,uakan dengan bahasal.ndollc:.i.l ~bJgJI bahas.1 pengilll·

t.n. Scjumlah besar pemmat mcndcng;n ur.u.1n tentilllg Jatar bclaka11~ l UJUlln dan wujud T;uekat M.1sun lk'hds, dJn perte- muJn 1tu dap.11 ~.ll~cbut bcrhasil. Laporan,ingk.tl tlal.tm M.T.l h:n t.IOJ-,"11Y" telah tlimunt dalam kedua bahasa ••• Kt!rJJ ~.llna .mtura liga loge yang ada d i Jat...tna dcngan "Punva-D.Jksin.l" jug:l memperoleh bentuk konkr.•t mdalu1 pertemuan·perll'lllUan bersama Dalam rcrtul.;aran ptkiran setelah suatu teramah. mereka saling belilJJr v1 1 m.mng-ma- smg, sedanj.1kan b.1~1.1n non-formal pad a akhtr "'-'hap ~rtl' muan memberik.ln J..escmpabn bagi hubungan yang lt:bih bersifat pribadi Oalanl mgatan banyak anggota Bo:land.1 m.JU- pun lndoni!Sla ~r~.-:1kapan-percakapan itu merupakan ... u.,n• kekuatan 1mbangan terhadap hubungan-hubungan yilng TSO ld~on lh. S.l. 340-349
161. ldt'l11 th. 5·1, 426

TMEKAT MASON DAN P ERJUANGAN Ur-..'TUl< KES!NAMBUNGAN HIDUP

tegangdalam potitik sehari-hari: ''walaupunkamisering tidak sependapat daJam soal-soal politik, eli dalam loge kami dapat saling berternu''.

Penting bagi masa depan loge "Purwa-D aksina" adalah pengumuman dalam edisi bulan September M.T.L bahwa Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo, lahir di Bogar pada tanggal 7 Juni 1908, dan dengan pekerjaan "Kepala Kepolisian Negara", telah mendaftarkan diri sebagai calon anggota.182 Soekanto sebagai SuhuAgu.ng Majc1is Tahunan Indonesia di masa depan masih akan mernainkan pcranan pe.n ting.

Pada masa itu Tarekat juga menderita kehilangan-kehilangan. Mason bebas yang bcrpcngaruh, Dr. Tengktt Manso- er, anggota loge "Deli" dan mantan Wali Negara [Gubemur, St.] Sumatra Tirnur, serta pendiri Univcrsitns Medan, meninggal pada bulan Oktober 1953, 183 sedangkan juga pad a masa itu Wakil Suhu Agung Carpentier Alting mengambil keputusan untuk mundur dari jabatannya yang telah dipegangnya sejak tanggal 24 Oktober 1946. Sambi! menunggu pernbicaraan lebih lanjut dengan kedua loge Indonesia, sebagai pengganti semen tara ditunjuk Mr. A. Holle.H 14 Pada tanggal3 Desember tal1tm itu juga, ia dilantik sebagai Wakil Suhu Agung, dan Loa Sek Hie diangkat sebagai Deputi Wakil Suhu Agung.

Dalam pada itu suatu langkah maju baru telah ctilakukan di Semarang, di mana enam orang mason bebas Indonesia dan dua orang mason bebas Belanda, yaitu Soedjono, Soeprapto, Sosrohadikusumo, Sarwoko Mangunkusumo, Achmad Probonegoro, Purbosudibjo, Deibel dan Zikel telah mengajukan permohonan kepada Pengurus Besar untuk menclirikan

  1. Idem th. 55, 78
  2. fdem th. 55, 88
  3. fdem th. 55, 87

185 "Bhakti". M.T.I. telah memberikan laporan tentang peresmian yang khidmat dari loge Uti pada tanggal 16 juni 1954, sedangkan pidato ketua Soedjono dimuat dala.m dua 186 bahasa. Dalarn perjamuan makan setelahnya di Hotel Du Pavilion, di pusat kota Serna rang, para istri ikut hadir. Suasana Tarekat di antara para hadirin, demikian laporan itu, berbeda sekali dengan suasana tegang yang menyebabkan hubungan di luar loge-loge rnenjadi begitu sulit. Loge yang baru didirikan itu harus menjalankan tugas yang penting. Sebab, dari elialah harus rnuncul pertumbuhan Tarekat Mason Bebas di Jawa Tengah. Dalam pidatonya Soedjono menegaskan bahwa Tarekat harus rnenjalankan suatu tugas yang mulia dalam masyarakat Indonesia: masalahnya adalah untuk mempersatu!kan orang-orang dengan pendirian-pendirian yang berbeda di bidang politik dan agama dalam satu Tare kat. Ia juga minta agar diarnbil sikap yang lebih aktif daripada sebelumnya eli dalarn menyebarkan asas-asas masonik.

Loge Indonesia keempat muncul tidak lama kemudian ketika tujuh anggota eli Surabaya menyatakan niatnya meneli- rikan loge "Pamitran [Persahabatan, dalam analogi dengan loge Beland a yang ada, St.]". Mereka adalah Raden Soeparto, Mas Marjitno, Raden M.M. Mangkuwinoto, Dr. A Nawir, Sie 187 Wie Ho, Th.R. W. Vermeulen dan A.M. Hermanus.

Bagi Tarekat Mason Bebas Indonesia, tanggal8 Januari 1954 menjadi hari yang penting. Sebab, pada hari itu berlangsung pelantikan murid pertama dari calon Indonesia pertama di loge Indonesia pertama. Hal yang luar biasa juga adalah bahwa ritual dilakukan dalam bahasa Indonesia, sedangkan upacara iht diiringi oleh rekaman musik gamelan. Kira-kira lima

  1. Idem th. 55, 175
  2. Idem th. 56, 2-6
  3. Idem th. 55, 21 6

MASON DAN PER)UANGAN UNTUK K ESINAMBUNGAN HmUP

puluh anggota menghadiri upacara pelantikan R.S. Soekanto Tjokrodiatmodjo yang disebut sebelumnya itu, dan semuanya pasti mempunyai kenangan khusus mengenai "debut''

-. 188 ffil. Oleh karena hubungan yang sulit antara Belanda dan Indonesia, hubw1gan antara orang-orang Belanda dan orang-orang Indonesia ptm terus-menerus mengalami ujian. Dalam situasi seperti itu, Suhu Agung Davidson pada tanggal 16 April1954 rnenyampaikan arnanat kepada kaum mason bebas di Indonesia. Ia berseru kepada mereka supaya setia kepada cita-cita Tarekat dan supaya memberikan sumbangsih terhadap peredaan ketegangan. Selanjutnya ia menyatakan kcgembiraannya bahwa dalam pada itu sudah empat loge Indonesia didirikan. Penyebaran gagasan-gagasan masonik kepada rakyat Indonesia pasti akan membantu mendptakan saling pengertian yang Iebih ba.ik Pengums Besar mendukung sepenuhnya niat pihak Indonesia untuk mendirikan suatu Kuasa Agung sendiri, dan mengharapkan bahwa banyal< hal
189 yang bnik akan diakibatkan oleh karenanya.

M.T.I. memberikan laporan lengkap tentang peresmian
khidmat loge "Pamitran" di Surabaya pada tanggal 18 Mei 190

  1. Soeparto sebagai ketua memberikan pidato yang menyatakan bahwa keputusan tmtuk pendirian suatu loge pada prinsipnya telah diambil pada tanggal29 Janurui oleh sembilan belas mason bebas. Masalahnya waktu itu adalah bahwa "dari pihak tc.rtcntu" diajul
  2. ldem th. 55, 249-250
  3. ldem th. 55, 289

"De Vriendschap" hadir juga sebagai anggota luar biasa. Rupanya masalah dwi-keanggotaan sudah diselesaikan. Walaupun masanya sulit, pembicara tidak merasa pesimis: kelihatannya sedang terjadi perubahan dalam kehidupan rohani masyarakat Indonesia, dengan kebutuhan yang meningkat akan pendalaman batin. Lagipula dunia luar telah memberikan reaksi positil atas pendirian loge-loge.

Pada pertengahan tahtm 1954 persiapan untuk mendirikan suaru Loge Agung Indonesia tersendiri sud ah maju begitu jauh, sehingga Wakil Suhu Agung Mr. A. Holle, pada bulan Juni 1954 pada awal tahtm kerja yang baru dapat mengumumkan bahwa satu dan lainnya segera dapat dilaksanal

  1. Idem th. 55, 394-401
  2. Idem th. 56,1
  3. ldemth.56, 101

1'AREl< AT MASON DAN P E!tJUANGAN UNTUK KESINANHl UNGAN HJDUl'

pat tinggal di Jakarta. Pada tanggal 30 Juni diadakan pertemuan susulan di Jakarta, dengan hasil bahwa Pengurus akan terdiri atas anggota-anggota berikut:

SuhuAgung R.A.A. Sumitro Kolopaking

Ptubonegoro Wakil Suhu Agung R Soerjo Pengawas Agung Pertama R. Soeparto Pengawas Agung Kedua R.T. Soedjono Ahli Pidato Agung M. Sewaka Sekretaris Agt.mg R.M. G. Soegondo Wakil Sekretaris Agung Loa Sek H ie Bendahara Agung Tjoa Soe Tjong Wakil Bendahara Agung Siem Soe Ho

Perrnohonan akan pengakuan atas suatu Kuasa Agung Indonesia yang merdeka1yang ditujukan kepada Majelis Tahunan Nederland, kemudian diajukan kepada Pengurus Besar Tarekat Nederland. Dalam surat pengantar diberikan penjelasan terhadap permohonan itu, dan dikatakan motif utarna untuk mendirikannya adalah keyakinan "bahwa penyebaran cita-cita masonik dian tara pendudukhanyalah akan memberikan hasil yang baik bila digt.makan bahasa nasion a!".

Pengurus Besar mernberikan rekomendasi agar " Loge Agung Majelis Tahunan Indonesia" diakui dan agar diberi wewenang kepada Suhu Agung untuk melantik Loge Agung itu. Dengan pemberitahuan ten tang pelantikan Kuasa Agung Indonesia pada tangga17 April1955, Wakil SuhuAgung Holle 193 membuka edisi pertama M.T.l. dari tahun 1955. Upacara pelantikan akan dipimpin oleh Suhu Agung yang akan tiba

  1. ldem th. 56, 203

pemilihan tanggal, ada pertimbangan-pertimbangan tertentu. Hari Kam1s, 7 April, "Malam Jumat", bagi para anggota Indonesia merupakan waktu yang cocok, dan juga saat yang baik sehubungan dengan bulan puasa Islam yang akan dimulai, serta juga Konferensi Afro-Asia yang besar, yang akan berlangstmg di Bandung.

Berhubung dengan upacara pclantikan, persiapan-persiapan pun dimulai nntuk suatu program yang besar. Akan ada loge sambutan untuk SuhuAgung pad a tanggal6April, suatu rapat luar biasa dari Majelis Tahunan Provinsial pada tanggal 7 A priJ, sedangkan pada malam harinya aka11 d ilakukan pelantikan khidmat "Majelis Tahunan Indonesia''. Hari berikutnya akan diadakan rapat Majelis Talnman Provinsial. Kegiatan-kegiatan akan ditutup pada malam 8 April dengan suatu resepsi di Gedung Tarekat "Adhuc Stat" untuk memberikan kesempatan kepada Kuasa Agung Indonesia untuk rnem- perkenalkan diri kcpada masyarakat. 19-l

Majalah lndisch Mnwnniek Tijdschrift yang sejak bulan Mei 1949 bemama Mnfonniek Tijdschrift voor Indonesie mulai tahw1 kerja 1955-1956 sekall lagi akan berubah namanya. Mulai edisi pertama tahun 1956, majalah itu akan bernama: Ma~onniek Tijdschrift. Orgaan der Provincinle Grootloge van Zuid-Oost-Azie (Majalah Masonik. Organ Loge Agung Provinsial Asia Tenggara). Perubahan-perubahan sejarah yang besar kadang-kadang dapat dibaca dalam hal-hal kecil. Edisi nomor 10 Tahun 56 (April 1955) memberikan laporan lengkap tentang peristiwa-peristiwa luar biasa yang terjadi pada awal bulan itu, sedangkan nomor 11 dan 12, selain konsekrasi "Majelis Tahunan

  1. Idem th. 56,249-250

AR6KAT MASON D AN PE.RJUANGAN UNTUK KESINAMBUNGAN HID\JT'

Indonesia" menceritakan juga pe~alanan Suhu Agung. Edisi-edisi ini, yang dimasukkan ke dalam suatu terbitan tersendiri, merupakan yang terakhir yang diterbitkan sebagai Mar;on.- niek Tijdschrift voor lndonesie.

Konsekrasi yang khidmat dar! "Majelis Tahunan Indonesia" dilu.kiskan dalam suatu paragraf tersendiri. Bagian ini sekarang akan ditutup dengan ringkasan singkat dari kegiatan-kegiatan keempat loge Indonesia dalam periode yang mendahului pembentukan Kuasa Agung Indonesia.

Loge Jakarta "Purwa-Daksina" pad a akhir bulan Februari 1955 mempunyai 34 anggota biasa dan 10 anggota luar biasa. Pengurus mengadakan rapat sekali sebulan, dan loge pun bertemu setiap bulan. Kalau kehadiran pada mulanya hanya sediki t di at as setengah jumlah anggota yang ada, pada bulan-bulan belakangan keadaannya membaik. Dua calon dapat dilantik sedangkan tiga permohonan sedang dalam proses. Selanjutnya lima pertemuan penerangan telah menarik perhatian cukup bcsa r. Suatu masalah yang suU t adalah pemakaian bahasa Indonesia pada pertemuan-pcrtemuan biasa dan di Rumah Pemujaan. Ritual-ritual yang sementara itu sudah diterjemahkan, temyata cu.kup bai.k. Perhatian dari pihak Belanda terhadap pekerjaan di Rumah Pemujaan sangat dihargaj oleh anggota-anggota indonesia loge itu.

Di Bandung ada loge "Dharma", dan loge itu memulai tahun kerja dengan sembilan anggota biasa dan enam anggota luar biasa. Dua anggota baru dilantik sebagai murid, sedangkan seorang anggota ketiga datang memper.kuat barisan. Loge bertemu dua kali sebulan dalam gedung loge "SintJan''. Pada kesempatan perayaan Idul Fitri anggota-anggota kedua loge diundang ke rumah ketua Sewaka.

Laporan tahunan loge "Bhakti" di Semarang meliputi bu-

Oleh karena sedikit jumlahnya anggota, hal·hal bel urn berjalan seperti yang diharapkan. Semua suhu memegang suatu fungsi dalam pengurus. Seorang anggota, Dr. Pe.rmadi, meninggal dunia, sedangkan dua ahli mcmperoleh derajat suhu. Ada kerja sama yang sangat balk dengan loge Semarang " La Constante et Fidele", balk di dalam pertemuan biasa maupun dalam pertemuan di Rumah Pemujaan. Dengan masuknya tujuh anggotanya sebagai anggota luar biasa, kerja sama lebib diperkuat lagi.

Juga loge "Pamitran" di Surabaya belurn mempunyai banyak anggota: delapan orang, di antaranya dua rnurid. Dua cal on d iha rapkan segera dapat masuk. Kerja sarna dengan loge "De Vriendschap" sangat baik. Hampir semua anggotanya (dua puluh o·rang) menjacli anggota luar biasa. Pertemuan-pertemuan bulanan rata-rata dihadiri sembilan belas orang dan ceramah-ceramah selalu diberikan oleh anggota-anggota sendiri. Sementara itu loge itu dengan. keputusan Menteri Kehakiman telah menjadi badan hukum. Sekretaris loge menggal'isbawahi pad a akhir laporannya sekali lagi hubungan yang baik dengnn anggota-anggota orang Belanda dari loge "De Vriendschap''.

10. Peresmian ''Majelis Tahunan Indonesia''

Tidak lama setclah be.rakhir perang, diperlukan tindakan-tindakan luar biasa untuk mengamankan posisi masa depan Tarekat di Indonesia yang sedang rnengalami pembahan yang cepat itu. Pengurus Besar di Nederland tidak ragu-ragu untu.k membuka peluang bagi pembentukan loge-loge Indonesia tersendiri. Harapan pembentukan loge sendiri hid up di anta.ra orang-orang Indonesia yang sudah menjacli anggota Ta.rekat. Lagipula cliharapkan bahwa akan lebih mudah orang-orang Indonesia mengalir masuk menjadi anggota.

PERJUANGAN U NTVK KESrNAMBUNCA:'\ H1o ur

Perkembangan-perkembangan di Indonesia merdeka se-- telah tahun 1950 telah memperkuat keharusan untuk mem- perbanyak keanggotaan di kalangan orang Indonesia, dan atas prakarsa orang-orang Indonesia pada awal tahun-tahun limo puluhan telah didirikan empatloge Indonesia. Untuk sementara mereka masih berada dibawah Loge Agung Provinsial, namun kcinginan 1.mtuk berdikari dalam hal inipt.m begitu kuat sehingga segera dipertimbangkan untuk mendirikan suatu Majelis Tahunan Indonesia sendiri. Pada awal tahun 1955 Wakil Suhu Agung Mr. Holle mengumumkan bahwa persiapan untuk pend irian Majelis Tahunan Indonesia sudah begitu maju sehinggu dapat dilakukan pelantikan. Upacaranya diadakan pada tanggal 7 April dan akan dipimpin olch Suhu Agung Be Ianda, lr. C.M.R. Davidson. Mengenai kejadian-kejadian seputar upacara pelantikan terse but, M.T.I. telah rnelaporkannya secara panjang lebar, sehingga dimungkinkan untuk mengi.kuti satu dan lainnya. 1Y5

Setibanya di Kemayoran, bandar udara Jakarta waktu itu, pada tanggal 7 April, Suhu Agung disambut oleh Mr. Holle, Wakil Suhu Agung, dan oleh Sumitro Kolopaking, yang akan menjadi Suhu Agung Tarekat Indonesia. Dua hari kemudian di Gedung Tarekat cliselengga1·akan apa yang disebut loge penyambutan, di mana juga hadir wakil-wakil dari Kuasa-kuasa Agt.mg luar negeri. Para anggota mendengar pesan-pesan, rnu.la-mttla dari H olle dan kemudian dari Davidson/ dan setelahnya anggota orang Indonesia dari Pengt.trus Bcsar ProvinsiaL R. Soeparto, menyampaikan amanatnya. Soeparto berbicara tentang suatu tema yang cocok, dengan judul De Stad die moet worden gebou.wd (Kota yang harus dibangt.m). 196

  1. De consecratie van Majelis Tahunan Indonesia 1955
  2. Idem, 47-54

suatu tinjauan historis yang singkat, pembicara kemudian meninjau perkembangan-perkembangan yang terjadi sete]ah penyerahan kedaulatan, Mula-mula, demikian Soeparto, tampak seperti akibat-akibatnya tidaklah besar bagi Tarekat Mason Bebas, namun sctelah satu tahun semakin banyak anggota Belanda meninggalkan Indonesia. Para anggota Indonesia merasa was-was melihat keberangkatan ini. Apakah mereka harus pasrah saja melihat "bahwa barang yang terindah, terluhur, terbaik yang dibawa dari pantai-pantai yang jauh kemari, begitu saja akan pad am seperti lilin d:i waktu malam?" Tetapi untung, kata Soeparto, sementara itu telah dibangun em pat loge Indonesia dengan dukungan Pen gurus Besar dan Pengurus Besar Provinsia1 yang akan menjadi dasar bagi pembentukan Majelis Tahtman.

Badan-badan pen gurus keem pat loge Indonesia pada waktu itu tersusun sebagai berikut:

" Purwa-Daksina" di Jakarta: Ketua: R.A.A. Sumitro Kolopaking Purbonegoro

R. Soerjo

R.M. Soebali

Ir. Hudioro Sontoyudo

R.M.G. Sugondo
Drs. Liem Mo Djan SiemSoe Ho

''Dharma" di Bandung: K~tua: M. Sewaka

R. Sutedjo
Ang Goan Hoat Liauw Kok Liong HwanHayKie

f.Th. Herfkens

TARI!KAT MASON DAN PERJUANGAN UNTUK K ESINAM13UNGAN Hlt)UI'

''Pamitran" di Smabaya: Ketua: R. Soeparto

J.Th. Vermeulen
M. Marjitno Sie Wie Hoo

A.M. Hermanus

"Bhakti" di Semarang: Ketua: R.T. Soedjono

R.T. Soeprapto
R.Ng. Sosrohadikusumo Achmad Probonegoro Sarwoko Mangunkusumo

F.G. Deibel

Kemudian Soeparto berbicara tentang masa depan, yang katanya akan sangat sulit. Tugas Tarekat harus dirumuskan sesuai dengan kenyataan yang aktual, dan itu berarti bahwa masa lampau han ya secara terbatas saja dapat dipakai sebagai pedoman. Tarekat Mason Bebas sedang dihadapkan kepada pilihan-pilihan penting, sedangkan masyarakat sedang mengalami pergolakan dan di mana-mana ada kecenderungan untuk membelakangi pihak Barat.

"Kita hidup dj zaman yang gawat. Dunia sedang dalarn kcadaan peleburan. Dalam lebih dari satu hal masa ini adalah masa transisi, suatu peralihan ke citra masa yang bam, suatu periode di mana kita berdiri sekaligus di penghancur- an masa lampau dan pembangunan kembali yang segera dari suatu sekarang yang baru, suatu hari lain dari besok''.

Soeparto mengakhiri pidatonya dengan mencgaskan bahwa pembangunan "Kota yang baru" bagi Tare kat Mason Bebas me.rupakan tugas pertama dan utama. Kemudian Wakil Suhu Agung berbicara. Mr. Holle langsungiberbicara kepada

Kolopaking dan membandingkan posisinya seperti seorang ayah yang melihat anak lelaki tertuanya meninggalkan rumah dan masih satu kali berbicara kepadanya. Ia menunjuk kepada bahaya-bahaya yang mengancam Tarekat yang bam itu. Dunia luar akan mau mernpersulit pckerjaan dan mengganggu persatuan. Mungkin mereka mau memak- sanya untuk memakai baju suatu agama atau membatasi kebebasan berpikir. Holle memberikan nasihat baik kepada Sumitro: "Jangan takut, juga kalau kehidu.pan yang penuh de- ngansegala bahayanya langsung menyerbu Anda begitu Anda masuk ke dalam dunia 11 •

Salah satu titik puncak pada hari -had itu adalah Majelis Tahunan yang bertemu pada tanggal 7 April. Ketika Suhu Agung Davidson masuk ke ruang pertemuan, sudah hadir para utusan empat belas loge Belanda dan Indonesia dan sejumlah besar pengunjung. Atas permintaannya, Wakil Suhu Agung membacakan suatu Proklamasi yang clisusun dalam bahasa Indonesio, di mana diumumkan bahwa pada malam itu akan dilakukan pelantikan "Majelis Tahunan Indonesia". Kemudian para ketua loge-loge Indonesia menyerahkan surat-surat konstitusi yang diterbitkan oleh Pengurus Besar, dan anggota-anggota Indonesia dari Pengurus Besar Provinsial, yakni Sosrohadikusurno, Sumitro Kolopaking, Loa Sek Hje dan Soeparto meletakkan jabatannya. Sebagai tanda penghargaan yang tinggi bagi segala pekerjaan yang telah dilakukan Sosrohadikusumo derni Tarekat, Suhu Agung mengangkat Sosro sebagai anggota kehormatan Pengw·us Besar Provinsial.

Kisah tentang upacara khidrnat ini tidak l~ngkap kalau tidak disebut ten tang perasaan-perasaan yang saling bertentangan yang dibangkitkan oleh kejadian-kejadian itu di hati parahadirin. Seraya menyadari bahwa peristiwa-peristiwa itu tidak terhindarkan, ban yak orang merenungkan perpisahan

D AN PBRJVANGAN UNTUI< K ESINAMBUNCAN HtoUP

dengan para saudara Indonesia. Namun penyerahan hadiah-hadiah membantu untuk mcngurangi ketegangan. 1-Iadiah- hadiah tersebut terdiri dari hadiah-hadiah spesifik masonik, dan hadiah-hadiah lainnya, termasuk sejumlah uang sebanyak Rp. 35.000 yang langsung diserah-tcrimakan; uang modal sebesar Rp. 215.000 yang akan dibayarkan dalam cicilan; seluruh modal dari "Dana Studi Masonik" sebesar Rp. 400.000 dan kemudian andil dalam "Stichting Ordegebouw Djakarta (Yayasan Gedung Tare kat Jakarta)". 197

Atas permintaan Suhu Agung Indonesia, Davidson mengembalikan sw·at-surat konstitusi yang bam diserahkan itu kepada para ketua loge. Sebagai kenangan atas hari di mana kami, demikian Sumitro, meninggalkan "Rumah Masonik Orang Tua kami", surat-surat itu dibawa serta pada waktu me- runggalkan RumahPemujaan. Para mason bebas Belanda yang tertinggal kemudian mengisi jabatan-jabatan yang lowong dalam Pengurus Besar Provinsial. Suhu Agung juga mengingatkan bahwa "Majelis Tahunan Indonesia" mempunyai sifat suatu Kuasa Agung asing bagi para anggota Belanda yang hadir dan ada peraturan-peraturan tertentu yang berlaku. An tara lain, untuk keanggotaan timbal balik pada prinsipnya perlu izin dari Pengurus-Pengurus Besar yang bersangkutan.

Setelah perpisahan resmi berlangsung, acara berikutnya adalah Loge Pelantikan, yang diadakan pada malam hari di Gedung Tarekat. Pelantikan Loge Agung yang baru itu dilakukan menurut suatu ritual yang panjang dan yang disesuaikan, yang ditandai oleh suatu nuansa yang khas. Ketika Sumitro Kolopaking maju ke depan ''Mezbah Kebenaran", Pemimpin Upacara Agung Provinsial pergi berdiri di sampingnya dan menyerahkan kepadanya di atas suatu ban tal beledru biru se-

  1. Idem, 68

kitab sud umat Islam, yang di dalam Terang Besarnya Loge Agung akan melakukan pekerjaannya. Setelah Suhu Agung Davidson melantik Surnitro sebagai Suhu Agung dari loge "Majelis Tahunan Indonesia" dan rnemasang padanya atribut jabatannya, ia membawanya ke Takhta dan menyerahkan kepadanya "Godam Kekuasaan" dan "Pedang Keadilan", Dengan demikian Suhu Agung yang baru itu dilantik. Sementara itu Suhu Agw1g Belanda diam-diam rnengambil ternpat di "Timur Laut" dan sejak saat itu pimpinan berada di tangan Sulm Agung Indonesia, yang melanjutkan upacara hampir seluruhnya dalam bahasa Indonesia. Pada akhir upacara, Suhu Agung berbicara kepada para saudara yang berkumpul itu dan rnengucap terima kasih kepada Majelis Tahunan Nederland atas bantuan yang diberikan dari semula.

Pada waktu perjamuan makan para saudara seusainya upacara, Suhu Agung Davidson setelah bersulang atas Loge Agung yang bant itu, rnasih sekali lagi berbicara kepada para mason be bas Indonesia yang berkumpul di situ. Davidson menegaskan bahwa merekamemangharusmenjadi warga-warga yang setia dari negaranya sendiri, dan bahwa mereka harus bekerja demi kesejahteraan para saudara, demi berkat rakyat Indonesia dan demi kemakmuran negeri itu, tetapi mereka juga warga-warga dunia. Juga kalau Kuasa Agung Indonesia akan bekerja dalam bahasa yang lain, dan rneliputi orang-orang dari ras dan agama yang lain daripada Loge Agung induk, maka Suhu Agtmg berharap agar cita-cita Tarekat Mason Be bas ten tang Tarekat semua manusia dapat tetap terpelihara, Mengenai ikatan dengan Tarekat Mason Bebas Belanda, sebagai larnbang dari hubungan yang baik maka Suhu Agung Sumitro ditmdang rnenjadi wakilnya di Loge Agtmg Indonesia. Perjamuan makan para saudara untuk menghmmati Kuasa Agung yang baru itu ditutup dengan pembacaan telegram-

MAsoN DAN PERJUANGAN UNTUK KESIJ\1A.\iBUNGAN HmuP

telegram kepada Presiden Republik Indonesia dan kepada Ratu Nederland serta dengan acara bersulang.

Upacara-upacara diakhiri keesokanharinya, Jumat8Aprit dengan suatu resepsi yang diberikan Pengurus Besar "Majelis Tahunan Indonesia". Gedtmg Tare kat untuk peristiwa itu telah dihiasi secara khusus dan didatangi kurang lebih dua ratus tamu, termasuk wakil-wakil dari Presiden dan Wakil Presiden R.I., dari Komisaris Tinggi Belanda, sedangkan kepala-kepala staf dari ketiga cabang angkatan bersenjata hadir sendiri. 198 Ban yak pula tokoh pemerintahan lainnya hadi1~ dan juga wakil-wakil dal'i dunia usaha. Beberapa tamu Indonesia membawa serta istrinya berpakaian traclisiona1 sehingga memberi. warna khus1..1s pada malam itu. Pidato-pidato dari kedua Suhu Agung mempakan bagian resmi dari mal am itu, di mana Davidson men.ggunakan kesempatan di depan para tamu Indonesia untuk menekankan kerja sama yang baik an- taxa kedua KuasaAgung.

Dengan latar belakang ketegangan politik yang ada, bagiart dari pidatonya di mana ia berseru supaya menghargai agama a tau keyakinan hid up orang lain, mempunyai mal

  1. Tarekat Mason Bebas (Vrijmetselarij) di Indonesia berakhir Pertemuan Majelis Tahtman Provinsial tahun 1957, yang diadakan pada tanggal18 dan 19 April, temyata merupakan yang
  2. Jdem, 109

memperW1atkan kemerosotan lebih lanjut dalam soal jumlah 199 anggota. Beberapa bulan kemudian terbit juga daftar anggota terakhir dari Loge Agung Provinsial. Dari situ menjadi jelas juga bahwa bagian besar dari anggota-anggota yang masih tinggal, bel urn lama menjadi anggota. Biarpun Tarekat menghadapi masalah-masalah berat, ia tetap masih mempunyai daya tarik.

Bagaimana pun juga, jumlah anggota dari delapan loge yang masih ada, terlepas dari " De Ster in het Oosten", sudah mencapai ti tik yang rawan. Tabel berikut ini memperlihatkan jumlah anggota nominal pada tgl 1 Juli 1957, yang dirinci 200 menu nat derajat mtuid, tukang dan suhu.

Ju mlnh nnggotn ill

I II
"De Ster in het Oostcn" 5
La Constante et Fidclc" 5
''De Vriendschap" 6
"Arbeid Adelt" 1
"Deli" "Pal em bang" "Sint Jan" 8 1
" De Witte Roos" 5 5
67 10 52

11 21]15 28 3 19 3-3 32 23 20 5 2 13 30 2 1 27 32 22 233 34 26 173

Ki.st:~h ten tang fase akhir Tarekat Mason Bebas Hindia dapat diceritakan dengan singkat, bila clisesuaikan dengan sejarah sengketa Belanda-Indonesia tentang Irian Barat. Pada tahun 1957 di Indonesia terjadi aksi-aksi massal melawan perusahaan-perusahaan Belanda, demikian catatan sederhana

  1. MB th 1, 119-130
  2. Daftar anggota Loge Agung Provinsial1957 Arsip Tarekat di Den Haag

·r AREKAT MASON DAN PERJ UANGAN UNTUK K ESr~AMBUNGAll/ Htour

seorang sejarawan, dan dikcluarkan larangan untuk mencetak terbitan-terbitan dalam bahasa Belanda. Kecuali itu, lima puluh ribu orang Belanda harus meninggalkan Indonesia. Pada akhir tahun 1957 semua perusahaan Belanda ditempatkan di bawah pengawasan negara, setahun kemudian perusahaan-pcrusahaan itu dinasionalisasi. Suatu eksodus orang Belanda pun terjadi. Pada tahun 1960 Indonesia memutuskan hubungan politi.k. Dengan demikian berakhirlah sisa-sisa terakJ1ir penganth kolonial Belanda. 201

Bagi Tarekat Mason Bebas Hindia perkembangan itu berarti bahwa loge aktif terakhir -"De Ster in het Oosten" di Jakarta-harus mengakhiri kegiatannya pada tanggal 23 Juni 1960, dan setelah itu dipersembahkan kepada "Wakil Lmtuk Asia Tenggara dari Majelis Tahtman Nederland'' suatu pertemuan perpisahan. Sebagai kuasa usaha dari Pengums Besar Tarekat di Nederland, K Lewin mendengar sambutan-sambutan dari anggota-anggota pengunts loge "Purwa-Daksina'' dan kemudian juga dari Wakil Suhu Agung Loge Agung Indonesia. Suatu peristiwa yang sangat berkesan bagi para hadirin. Pada tahtm 1961 K. Lewin menulis beberapa sumbangan yang dimuat dalam Algemeen Mafattniek Tijdschrift (Majalah Masonik Umum) di Belanda, dan dari karangan-karanganHu dapat disusun kembali kejadian-kejadian pada fase tcrakhir. Di dalamnya disinggung juga persoalan hak milik Tarekat. Dalam rangka politik konfrontasi terhadap Belanda oleh pemerintah Indonesia, pada tahtm 1958 semua perusahaan dan hak milik Belanda disita, dan pertanyaan mtmcul apa yang akan terjadi de.ngan hak milik Tarekat dalam keadaan seperti itu. Mula-mula rnereka tidak khawatir terhadap penyitaan, sebab hak milik yuridis dari Gcdung Loge "Adhuc Stat" di Jakarta berada di tangan yayasan yang mempunyai nama yang

  1. Van Goor 1987, 116

kat akan luput dan oleh karen a itu pad a tahun 1960 ctiputuskan untuk menyerahkan semua barang tidak bergc- 202 rak secara resmi kepada Kuasa Agw1g Indonesia.

Tidak lama kemudian, pada tanggal 27 Februari 1961, sebuah keputusan Prcsiden R.I. memaksa Tarekat Mason Bebas Indonesia untuk menghentikan kegiatannya. Sebagai alasan cliberikan bahwa asas dan tujuan tidak sesuai dengan identi- 203 tas nasional Indonesia. Bukan hanya Tarekat Mason Be bas, tetapi sejumlah perkumpulan lainnya terkena juga oleh larangan itu, seperti Rotary, Mom/ Re-nrmnme11t, dan Perkumpulan Rosicrucian. Dengan menyatakan bahwa Tarekat Mason Bebas Indonesia clilarang, maka hak miliknya pun akhirnya jatuh juga ke tangan pemerintah. Sudah beberapa tahun scbclumnya t,erbitan Mededelingenblad harus ruakhiri. Rcdaksi pada waktu ih.t mcmuat suah.1 sajak perpisahan yang juga cocok untul< akhi r Tarekat Mason Bebas Indonesia yang terorganisir. Judulnyn The Builders dan 204 mengajak para pembaca w1tuk mclakukan mawas diri. I watched them teari11g n building down A gang of men in busy town; With a Jw-heave-ho, and a lusty yell, They swung a beam, and tile side-wall Jell. lnsked the foreman, "Are these tnen skilled, As the men you'd hired 1jyou had to build?" l-ie grroe a laugh, and said, "No, indeed! Just comnzon labour is all [need. l can easily wreck in a day or two

  1. AMT th. 15, 482-483
  2. Idem th. 15, 265
  3. MB lh. 2, 39

AREl

What builders have taken a year to do". And I thought to myself as 1 went my way, Which of these roles have I tried to play? Am I a builder, who works with care, Measuring life by the rule and square? Am I shaping my deed to a well-made plan, Patiently doing the best I can? Or am I a wrecker, who walks the town, Content with the labour of tearing down?

Kulihat mereka meruntuhkan gedung Sekelompok man usia di kota yang sibuk; Dengan gerak serempak, dan sorak gentbira, Diayunkan balok dan dinding pun tak tersisa Ku tanya pada mandor "Apakah mereka cekatan, andnikan disewa untuk meraga?'' Ia tertawa dan berkata "Ya1tidak tentunya pekerja biasa pun dapat melakukan Aku dapat membongkar sehari dun Yang pembangun dirtklt berjangka setahun ". Aku berpikir seraya menjauh, peranan apa kimnya Jcu pegang? Apakah aku pembangun cermat, Mengukltr hid up dengan mistar dan siku? Apaka.h dayaku mengikuti rencana cita, Sabar melakukan yang terbaik ku bisa? Ataukah aht tukang bongknr di kota, Puas dengan menghancurkan yang Ada?'~~- 1 Namun kejadian-kejadian pada tahun 1960- 61 belum berarti akhir yang definitif. Di Hollandia, di Guinea Baru Belanda (Papua), pada tahun 1960 malahan masih didirikan suatu 11 loge yang baru, dengan nama yang tidak asing lagi De Ster in het Oosten". Tetapi hidupnya tidak lama, sebab setelal1

  • Terjemahan be bas oleh Toenggoel P. Siagian.

Setelah perternuan pertama pada tanggal 12 Februari 1959, para saudara memutuskan untuk mengirim permohonan pendirian loge ke Den Haag. Prakarsanya diambil tujuh orang mason bebas, yang nama-namanya clisebut oleh 205 Lowensteijn. Salah seorang pemerakarsa, M.P.C. Laban, berkisah tentang loge ini dikemudian hari di loge "Ultrajecti~ na",21)6 Utrechtse.

Laban menerangkan bahwa loge ini telah beke~a dengan berhasil. Tujuh orang yang memulaikannya bertumbuh menjadi 42 orang, sedangkan dalam waktu singkat keberadaannya itu, telah diterima 30 orang mu1id. Laban melukiskan loge ini sebagai loge yang memiliki "spontanitas yang menghangatkan hati". Juga ada "suasana pernbajak laut''. Salah satu pendirinya adalah kontraktor L.H. Schulze yang berusia 80 tahun, yang sudah tinggal di pulau itu sejak tahun 1909 dan yang berhasil memperoleh inventaris yang tepat.

Gedung loge pertama rnemiliki ruangan-ruangan yang diperlukan, walaupun dengan ukuran-ukurannya terbatas. Tidak ada penerangan Listrik, sehingga mereka harus bekerja dengan Win dan lampu minyak. Temyata lilin merupakan barang yang jarang dan harus diimpor dari Hong Kong. Mutu air diragukan sehingga banyak pelantikan dilakukan tanpa air. Setelah beberapa wa ktu loge diternpatkan di suatu bunga- low yang disewa.

Juga tidal< mudah untuk memperoleh pakaian yang cocok, oleh karena itu celana panjang dan kemeja putih dinyatakan sebagai pakaian standar. "Satu-satunya jacket", demiki-

  1. Lowensteijn 1961, 155
  2. Notulen loge "Ultrajectina" Utrecht, 27 Sepl. 1963, di arsip loge.

1\REKAT MASON DAN PEJWANCAN UNTUK KE.SlNAi'vfBUNGAN HIOUP

an Laban, "dimiliki oleh sekretaris Pemerintah". Selanjutnya ban yak atribut tidak ada, dan dcngan kreativitas besar dirancang penggantinya. Lukisan umparnanya dibuat oleh seorang marinir Roma Katolik yang cekatan.

Konstitusi yang khidmat loge tersebut dilangsungkan di bawah pimpinan J .A. van Reyn dan dengan jumlah orang yang sedikit sekali. Oleh karena itu berbagai fungsi dijalankan secara bergilir dan seorang anggota bcrtindak sebagai utusan Pengurus Besar. Untuk mengumumkan pendirian loge itu, dipasang iklan di surat kabar setempat, dan sebagai hasilnya ada beberapa pendaftaran yang masuk. Juga djadakan suatu pertemuan perkenalan. "Mereka tidak pernah bersikap rahasia/' kata Laban, "semua orang tahu dalam komunitas kecil itu di mana Loge itu dan siapa-siapa anggotanya".

Oleh karena sedikitnya pengalaman masonik dari kebanyakan anggotanya-ketua sendiri selain pada waktu pelantikannya tidak pemah lagi menghadiri pertemuan di Rumah Pemujaan-semuanya bersifat improvisasi. Juga tidak ada perpustakaan, sehingga karya-karya bangunan tidak selalu mencapai tingkat yang diharapkan. Suatu pokok penting adalah rnasalah penerimaan orang-orang lelaki dari penduduk Papua setempat. Menurut Laban loge dalam hal itu "rnenahan diri", sebab orang-orang Papua, kalau rnereka baru saja masuk Kristen, "akan rnenjadi bingung dengan Tarekat Mason Bebas". Oleh karena loge akhimya harus ditutup, rnereka merasa beruntung bahwa mereka tidak menerima orang Papua.

Mengenai bantuan yang diberikan kaum mason bebas Australia kepada keluarga-keluarga para saudara Belanda ketika mereka dengan tergesa-gesa harus meninggalkan wilayah itu melalui apa yang pada waktu itu merupakan bagian Australia dari pulau itu, Laban memberikan pujian sebesar-besarnya. "Pada saat itu/' tulisnya, ''kami merasakan sesuatu dari ikatan Tarekat yang meliputi seluruh dunia".

RINGKASAN

idak lama sctelah Persaud a raan Mason Be bas yang ter organisasi masuk ke negeri Belanda, juga eli wilayah

TOost-htdische Compagnie (Kompeni) di Asia didirikan

loge-loge pertama. Mula-mula hanya di daratan Asia, kernudian juga di Pulau jawa, sedangkan baru pada sekitar tahw1 1860 loge pertama di Sumatra didirikan. Loge di Batavia hanya singkat hidupnya tetapi tidak lama kemudian dapat diletakkan landasan yang lebil1langgeng. Loge-loge ''La Fidcde Sin- C(hitc" dan "La Vertueuse" (1767 -1769) clidirikan pad a awal suatu ktu'tm waktu yang berlangstmg selama hampir dua a bad, sewaktu Persaudaraan Mason Bebas bergerak d i wi !a- yah Hinclia Belanda dan kemudian Indonesia.

Pad amasa jayanya ''Tarekat Kaum Mason Bebas di bawah Timur Agung Nederland" di Hindia Belanda mempunyai sekitar 1.500 anggota, tcrbagi dalam 25 bentara. Pada tahun-tahun lima puluhan, ketika kehadiran orang Belanda di Indonesia merdeka mend a pat tekanan, jumlah anggota dengan cepat merosot. Semua kegiatan berakhir pada tahun 1961,

namun di Guinea Baru bagian Barat (Papua) keberadaannya

masih dapat diperpanjang satu tahun lagi.

Kajian ini dimaksudkan untuk melacak interaksi antara Tarekat Mason Bebas dengan masyarakat Hindia Timur. Harus diingat bahwa walaupun keanggotaan memang sejak semula sudah terbuka bagi orang Indonesia dan orang Tionghoa, kchidupan loge hanya berlangsung di dnlnm dunia orang Eropa. Kegiatan keluar terutama tampak dalam bentuk bantuan yang diberikan kepada golongan Indo-Eropa yang kesusah- an. Kebanyakannya, masyarakat mengenaJ Tarekat karena gedung-gedung yang dibangun di hampir setiap kota di Jawa.

Penulisan buku ini semata-mata didorong oleh rasa ingin-tahu yang dipicu oleh "penemuan" bahwa di Hindi a Beland a tempo dulu terdapat berbagai lembaga kcmasyarakatan yang tidak a tau hampir tidak disebut dalam sumber historis yang biasa. Suatu ringkasan singkat dalam Enctjclopaedie van Nederlandsch Indie hanya mengangkat ujung dari tabir, sedangkan pelacakan terhadap sumber-sumber akhirnya menuju kepada karya monumental tentang Tarekat Mason Bebas di Hindia-Belanda, tahun 1767-1917 (Gedenkboek vnn de Vrijmetselnrij in Nederlandsch Oost-lndie 1767-1917) yang dapat disimak di "Koninklijk Instituut voor de Tropen (Institut Kerajaan untuk Daerah Tropis)" di Amsterdam.

Rangsangan terkuat bagi penelitian ini diberikan oleh lndisch Ma~on.niek Tijdschnft dan penerusnya. Didirikan pada tahun 1895, majalah itu mencerminkan 60 tahun sejarah masonik. Oleh karena majalah itu juga menerima surnbangan-sumbangan yang mempunyai makna sejarah maka penulisan sejarah Persaudaraan Mason Bebas dapat dilakukan dengan pandangan "dari dalam". Di samping itu dapat dipakai juga buku-buku peringatan dari masing masing loge-loge. Data dari kuesioner yang diselenggarakan pada tahun 1987 eli

meleng- kapi bahan untuk periode terakhir yang kurang diliput oleh data tertulis. Kuesioner itu. selanjutnya menunjukkan bagaimana keanggotaan Tarekat di Hindia dihayati oleh anggota-anggota secara perorangan. Pendekatan yang dipakai di sini ialah penilitian dari sumber sumber sekunder ataupun bah an tercetak karena keadaan umum dari penulisan sejarah masonik Seandainya bah an bahan dari arsip Tare kat di Den Haag juga dipakai, pasti bobotnya akan san gat terlihat. Sa yang, karena berbagai alasan hal itu tidal< dllakukan.

Uraian ten tang dua abad sejarah masonik di daerah tropis merupal<.an tujuan utama penelitian ini. Pertanyaan utama yang selalu menjadi landasan adalah: apakah dampak gagasan-gagasan masonik-yang merupakan produk Pencerahan di Eropa pada abad ke-18 -serta tindakan-tindakan kaum mason bebas yang bekerja di loge-loge pada kehidupan sesehari di Hindia. Di samping jtu kenyataan yang menarik bahwa pad a tahtm 1955 telah didil·ikan suatu Tarekat Tarekat Mason Bebas Indonesia yang merdeka, menimbulkan pertanyaan bagaimana dan sejauh mana alam pikiran masonik diterima eli kalangan orang Indonesia.

Bab Pengantar mengurail

Memang penelitian penjajakan mengenai sejarah Mason Bebas banyak diadakan tetapi perlu juga diutarakan bahwa

serius oleh kalangan Mason Bebas sendiri sangat terbatas .. Juga kalangan bukan mason be bas, dengan sedikit pengecualian, hampir-hampir tidak menyentuh pokok ini.

Kisah ten tang dua abad Persaudaraan Mason Bebas telah dibeberkan dalam empat bab, di mana setiap bab dirnulai de11gan tinjauan perkembangan sejarah yang lebih umum dalam periode yang bersangkutan. Bab pertama membahas seratus tahun pertama dan be~alan sampai sekitar tahun 1870. Loge-loge tertua didirikan pada hari-hari terakhir kekuasaan Kompeni dan dalam suatu iklim rohani yang jelas "tidak bersahabat" bagi perkumpulan-perkumpulan seperti Tarekat Mason Bebas. Ketika suasana membaik pada sekitar tahun 1770, para anggota dapat tampil secara terbul"Bntnvinnsch Genootschnp voor Kunsten en Wetenschnppen (Perhimpunan Batavia untuk Kesenian dan llmu Pengetahuan)". Berdasarkan suatu teks yang tersimpan dengan baik mengenai suatu upacara loge, diperoleh gambaran ten tang kebiasaan-kebiasaan loge pada zarnan itu. Kalau Tarekatrnula-mula hanya terkonsentra- si di Batavia, maka pada awal a bad ke-19 kehidupan loge juga rntmcul di Semarang dan Surabaya. Bagi Batavia tahw1 1837 merupakan momen yang penting sebab pada saat itu kedua loge yang ada mengambil keputusan tmtuk bergabtmg dalam satu loge yang baru. Loge baru "Ster in /Iet Oosten (Bintang Timur)'' selalu menernpati posisi yang penting dalam Tarekat Mason Be bas di Hindia Belanda. Pada tahun 1858 terbentuklah loge pertama di luar Jawa. Di Padang, Sumatra Barat, didirikan loge "Mata Hari"i untuk pertarna kalinya juga sebuah loge diberi nama Melayu.

Dalarn Bab II diberikan tinjauan ten tang perkembangan-

1870-1890 yang dapat dianggap sebagai masa selingan. Masa i tu merupakan masa ancang-ancang menuju .H.india yang modern, di mana komunitas kolonial mendapat warna Eropa yang kuat. Sikap segmen penduduk Eropa juga bembah, dalam arti bahwa mulai muncul kesadaran atas situasi sosial-ekonomi yang buruk yang dialami sebagian orang lndo-Eropa, dan bahwa diperlukan langkah-langkah terarah guna mengatasinya.

Juga karena meningkatnya arus orang Belanda yang datang dari negeri induk, ju.mlah anggota Tarekat naik dengan pesat. Dengan perluasan kekuasaan kolonial, dan dengan semakin banyaknya orang Belanda yang bermukim di luar kota-kota besaT, maka di tempat-tempat kccil pun tercipta pusat-pusat kegiatan masonik. Pada tahun-tahtm itu daJam tubuh Persaudaraan Mason Bebas Hindia terjadi gerakan pembaruan, di mana Pendeta A.S. Carpentier AI ting memainkan peranan kunci. Tidaklah berlebihan kalau Carpentier Alti..ng disebut sebagai mata rantai penghubtmg an tara Tarekat Mason Bebas yang "lama" dan yang "baru" di Hindia.

Bab III mentmjukkan bahwa masa perkembangan Tarekat Mason Bebas jatuh bersamaan dengan ekspansi negara kolonial. Inilah zaman pertumbuhan penduduk yang pesat, kegiatan-kegiatan ekonomi yang baru, dan perluasan teritorial. Juga ada semangat baru dalam Tarekat. Carpentier Alting mengarnbil prakarsa penerbitan suatu majalah yang dimaksudkan untuk: menghubungkan para anggota yang tersebar. Sebagai redaktur ia juga mendapat suatu forum untuk menyebarkan gagasan-gagasannya. Juga pada pendirian " Loge Agung Provinsial Hindia Belanda" Carpentier Alting memain-kan peranan penting. Loge Agung itu mendptakan suatu kebersamaan yang lebih besar di antara loge-loge setempat yang sebelumnya bekerja secara sendiri-sendiri.

suah.t Persaudaraan Mason Be bas Hinclia yang tersendiri, menyebabkan timbulnya suara-suara untuk melonggarkan ikatan dengan pihak Negeri Belanda. Pertumbuhan dari jumla:h loge pada masa ini terus berlanjut dan juga jurnla:h anggota bertambah. Profesi dari anggota-anggota zaman itu diketahui dan ternyata mereka bekerja di segala bidang. Yang menarik ialah jumlah besar yang ber- kiprah di bidang pendidikan.

Setelah dorongan pertama pada periode sebelumnya, pekerjaan sosial dari loge-loge setelah tahun 1890 berjalan dengan baik. Semboyan "Beke~a demi kesejahteraan masyarakat" - yang namun selalu diartikan sebagai demi segrnen pen- dudttl< Indo Eropa -menjacli landasan tmtuk pembentukan perpustakaan-perpustakaan rakyat, panti-panti asuhan, balai- baJai prajurit, sekolah-sekolah dan lain-lain. Terutama di hi- dang pendidikan, anggota-anggota baik secara perorangan maupun dalam kesatuan loge-loge menunjukkan kegiatannya. Demi cmansipasi penduduk lndo-Eropa, pentingtmhtk mendirikan sekolah-sekolah Frobel di ban yak tern pat yang berh.tju- an mengatasi kurangnya pengetahuan bahasa Belanda di kalangan anak-anak. Sebagai perpanjangan dari usaha di bidang pendidikan, muncul dana-dana penyediaan pakaian sekolah danmakanansekolah, yang juga dimaksudkan bagi anak-anak dari kalangan orang rndo Eropa yang kurang mampu.

Suatu aspek yang sangat menarik dari Persaudaraan Mason Bebas di Hindia Timur adalah keanggotaan orang-orang Indonesia, yang dirnulal pad a sekitar tal1Un 1870. Yang menarik dalam hal ini ialah peran serta anggota-anggota keluarga Paku Alam. Sejumlah wakil dari keluarga yang terkenal progresif tersebutjuga memainkan peranan pada tahap dini gerakan emansipasi Indonesia. Bagi para per intis ini, keanggotaan di Tarekat Mason Bebas membuka peluang untuk bergaul

Upaya yang sering diadakan untuk memperluas keanggotaan orang Indonesia tidak pemah ban yak membuahkan hasil. Mungkin status ningrat dari kebanyakan anggota orang Indonesia telah merupakan halangan bagi kaum lelaki yang berasal dari keluarga-keluarga yang lebih sederhana. Dalam kaitan ini sangat menarik untuk membaca tulisan-tu.lisan dari bupati Semarang Poerbo Hadiningrat, yang berusaha untuk menurunkan ambang penerimaan bagi saudara-saudara sebangsanya, dan yang selalu menggarisbawahi makna Tarekat Mason Bebas bagi Indonesia yang sedang berkembang itu.

Ketika pada tahun-tahun duapuluhan a bad ke-20 menjadi jclas bahwa orang-orang Indonesia akan semakin menduduki tempat yang penting dalam masyarakat yang akan datang, maka dalam kolom-kolom Indisch Mafonniek Tijdschrift (Maja.lah Masonik Hndia) dan dalam loge-loge mulai timbul perhatian terhadap cara bagaimana orang Belanda harus melakukan reaksi atas proses itu. Berpihak secara terang-terangan tidaklah dilakukan, sebab cara itu bukanlah jalan yang ditempuh Tarekat. Memang beberapa mason bebasmenyata- kan bahwa mereka mendukung kerja sama yang melangkah jaul1., agar negeri itu dipersiapkan untuk dibimbing pada jalan menuju masa depan baru secara bertahap. Pengakuan pada prinsip adanya hak memerintah di.ri sendiri bukanlah sesuatu yang diterima umum di kalangan orang Belanda. Karena itu ceramah-ceramah seperti yang disampaikan Van Mook muda pada awal tahun-tahun dua puluhan di depan para anggota loge Yogya "Mataram", sangat menarik perhatian. Van Mook

menganggap bahwa nasionalisme indonesia pada waktu itu pun merupakan kekuatan positif dan ia menyeru.kan agar masa depan disambut dengan pandangan terbuka.

Peri ode tera.khir dalam sejarah Persaudaraan Mason Bebas telah dibentuk oleh tahun-tahtm setelah 1930 yang penuh gejolak. Krisis ekonomi menghantam Hindia dcngan keras dan mengakibatkan bukan hanya kemerosotan materiil namun juga bertajamnya hubungan-hubungan politik. Perang dengan Jepang mengakibatkan banya.k korban dan merupakan langkah lcbih dekat ke akhir kolonialisme Belanda. Pacta tgl. 17 Agustus 1945 diproklamirkan Republik Indonesia yang menuntut l

Susana umum disekilar tahun tigapuluhan tidak membantu perkembangan Tare kat. Keadaan ini juga tidak membuat hubungan denganPengurus Besar di Belanda bertambah baik malah menimbul.kkan ketengangan yang mcruncing. Dorongan pertumbuhan pun len yap. Hal iht disebabkan bukan hanya oleh karena kemerosotan keadaan ekonomi, pada umumnya iklim pada tahtm-tahtm tiga puluhan memang tidal< menyediakan tanah persemaian yang subur. Namun dapat ditegaskan bah wa kaum Mason Bebas tidak begitu ren- tan terhadap pengaruh aliran radikalkanan diband:ingdengan mayoritas warga komunitas Eropa.

Sebagai akibat dari pendudukan Jepang, Indisch Mnfonnezk Tijdst:hrift dihenti.kan terbitannya. Bagi kajian ini haJ itu merupakan suatu hambatan oleh karena keterangan mengenai periode ini sulit dilaca.k. Kebanyakan data mengenai masa

khusus disusun oleh orang-orang bersangkutan.

Yang juga menarik adalah scm an gat para anggota Tarekat pada tahun 1945 ketika mereka melanjutkan pekerjaan mereka. Pada saat itu ada harapan tinggi ten tang penyebaran Tarekat Mason Bebas di kalangan penduduk Indonesia. Namun ternyata harapan itu tidakberdasar dan baru pada awal tahun-tahun lima puluhan did.irikan loge-loge indonesia yang mandiri. Dengan pendirian "Timur Agung Indonesia'' pada tahun 1956, pekerjaan Tarekat Mason Bebas Hi.ndia mencapai puncaknya. Tarekat Mason Indonesia tidak banyak berpeluang untuk berkembang, sebab setcJah beberapa tahun saja kegiatan mereka terpaksa dihentikan

Mengenai masa depan Persaudaraan Mason Bebas Hindi a Timur di Indonesia setelah perang, mula-mula memang ada suasana optimis. Walaupun masa pendudukan te1ah menipiskan barisan, di kota-kota besar kehidupan loge dimulaikan lagi dan banyak anggota baru yang masuk. Juga di bidang sosial kegiatan dikembangkan: Sekolah-sekolah dari Carpentier Alting Stichting diJakarta dikunjungi banyak murid dan pad a sa at terakhir pun masih didirikan sebuah sekolah niaga di Scmarang di mana anggota-anggota Tarekat orang Indonesia dan Belanda ikut dalam peketjaan persiapan pend.irian- nva.

Yang juga menarik adalah semangat para anggota Tare kat pacta tal1un 1945 ketika mereka melanjutkan pekerjaan mereka. Mula-mula memang ada suasana optimis. Walaupun masa pendudukan telah menipiskan barisan, di kota-kota besar kehidupan loge dimulaikan lagi dan banyak anggota baru yang masuk. Juga eli bidang sosial kegiatan dikembangkan:

Sekolah-sekolah dari Carpentier Alting Stichting di Jakarta dikunjungi ban yak murid dan pada saat terakhir pun masih didirikan sebuah sekolah niaga di Semarang di mana anggota-anggota Tarekal orang Indonesia dan Belanda ikut dalam pekerjaan persiapan pendiriannya.

Pada sa at itu ada harapan tinggi ten tang penyebaran Tare-- kat Mason Bebas di kalangan penduduk Indonesia. Namun temyata harapan itu tidak berdasar dan ban1 pada awal tahun-tahun lima puluhan didirikan loge-loge Indonesia yang mandiri. Dengan pendirian 11 Timur Agung Indonesia" pada tahun 1956, pel

Dengan semakinmemburuknya hubungan politik, air pasang berbalil< melawan Tarekat: semakin banyak anggota pulang ke Nederland, dan semakin sulit untuk melanjutkan kehidupan loge. Tarekat Mason Indonesia juga tidak ban yak berpeluang untuk berkembang, sebab sctclah beberapa tahlm saja kegiatan mereka terpaksa dihentikan Dengan bubarnya loge '' De Ster in het Oosten" di Guinea Baru, yang diganti narnanya menjadi Irian Barat, berakhirlah Persaudaraan Mason Bebas terorganisasi di wilayah kekuasaan Indonesia.

AND SOCIETY IN
THE DUTCH EAST INDIES AND
INDONESIA 1764 1962

he first lodges in the Asian regions of the (Dutch) East India Company were founded shortly after the esta-

Tblishment of Freemasonry in the Netherlands in 1735.

At first on the Asian continent, afterwards also on Java. However the first lodge on Sumatra was constituted not earlier than about 1860. The first lodge in Batavia had just a brief existence, but soon a more permanent foundation was laid. The constitution of the lodges 'La Fidele Sil1cerite' and 'La Vertueuse' (1767 and 1769) formed the start of a period of almost two centuries of Freemasonry in the Dutch East Indies and Indonesia.

In its heyday the Grand Lodge of the Netherlands counted about 1500 members in the Dutch East Indies spread over 25 lodges. This number dropped rapidly when the presence of Dutch nationals came tmder pressure in an independent Indonesia. The end came in 1961, except on West New Guinea, where one lodge could continue to work for another year

Chinese from the very beginning, life in the Lodges at least in the early years was exclusively European. Public activities found expression above all in social assistance to the neglected group of Eurasians. To lhe general publk the Order is mostly known for lodge buildings erected in almost every town on Java.

The d iscovcry that numerous social institutions, which had existed in the former Dutch East Indies, are hardly mentioned in contemporary historical works has led to the inception of this book. A short Summary in the Encyclopaedia of the Netherlands Indies shed some light. Fmther research led to the monumental memorial volume of Freemasonry in the Netherlands East Indies (Gedenkboek vnn de Vrijmetselnrij in Nederlandsch Oost h1die) 1767 1917, in the library of the Royal Tropicallnstitute in Amsterdam.

The basic source of the research is the Indisch Mn~onniek Tijdscltrift, the Masonic periodical of the East Indies, and its suc- cessors. This periodical was first published in 1895 and re- flected about sixty years of Masonic history. It was therefore possible to deal with the historiography' from within'. In addition use could be made of anniversary reports of separnte lodges. Data from a survey conducted in 1987 among former members of Indian lodges provided a greatly required supple- ment to the last period about which there is little written infor- mation was available. This survey also darifies individual ex- peliences as members of the Order in the East Indies. Masonic histoxy was pursued mainly on the base of secondary printed source material. Undoubtedly the use of the records o£ the ar- chives of the Order in The Hague would have led to greater depth but that approach had not been possible at the time.

centuries of Masonic history under the tropical sun formed the main objective of the research. The principal question is always: what were the effects on every-day life in the East Indies of Masonic ideas (virtually the product of the 18th century European Enlightenment) and of the activities of the individual masons working in lodges. ln addition, the establishment in 1955 of an independent Indonesian Grand Lodge posed the question whether and to which extend the Masonic philosophy had found acceptance with Indonesians.

The introductonJ chapter gives an elucidation of the prin- ciples and the objectives of Freemasonry. From the very beginning the first Dutch lodge in Asia held a subor-dinate position to the Order in the Netherlands -a relationship that though always tacitly recognized, still often fiercely contested. The specific character of the society gave a special local color to Freemasonry, causing irritation and friction between 'Batavia' and The H ague'.

Little research had been done on the history of Freemasonry in the East Indies-with few exceptions non-masons had not touched the subject. The number of sh1dies done by Masons was also limited.

The story of two lnmdred years of Freemasonry is spread over four chapters, each starting with a more general historical exposition of the period concerned.

Chapter f covers the fust hundred years until circa 1870. The oldest lodges were constituted in the declining years of the East India Company in a spiritual climate distinctly un- friendly to societies such as tl1e Masonic Order. However, members could openly present themselves as the circum- stances improved about 1770. The first mem-bers came from

was well known as the founder of the Batavian Society of Arts and Sciences (Bataviaasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen). A well-preserved text of a lodge ceremony gives an insight into lodge customs at that time. Initially the Order was concentrated in Batavia, but lodge activities started in Semarang and Surabaya in the beginning of the 19th century. The year 1837 was important to Batavia as the two exist- ing lodges decided to tmite. The new lodge was named 'Stcr in het Oosten' (Star of the East). It wottld play a prominent role in the masonry of the East Indies. TI1c first lodge outside java named 'Mata Hari' was fo unded in Padang on the West Coast of Sumatra in 1858. lt was also the first lodge with a Malay name.

Chapter II gives a review of the developments in the period 1870 1980, which should be considered as an interlude period. This time leads gradually to the modern Indies, the colonial society bearing a more and more European imprint. The attitude of the European population changed in the sense that awareness was rising that many Eurasians were poor and that their conditions requiTed focused measures.

Membership of the Order rose considerably also because of an increased influx of Dutch people. The e>-'Pansion of the colonial authority and the accompanying move towards smaller townships spurred the spread of nuclei Masonic activities. In these years a revival started in the Indies masonry, the principal role being played by AS. Carpentier Alting. It is no exag- geration to consider Carpentier Alting as the connecting link between the 'old' and the 'new' Masonry in the East Indies.

Chapter ill shows that the heyday of Freemasonry coin- cided with the expansion of colonial government. It was a time of strong population growth, new economic activities

a new en-

thusiasm within the Order. Carpentier Alting took the initia- tive to publish a periodical that would tie the dispersed members together. ln so doing he a lso obtained a platform to dis-seminate his opinions. He also played an important role in the formation of the Provincial Grand Lodge of the Netherlands Indies. This Grand Lodge brought a strong corporate sense among the independently operating local lodges.

The sense of belonging to a separate indian Freemasonry led to the upsurge of voices to loosen ties with the Netherlands. In this time, the number of lodges and of members con- tinued to increase. The occupations of the members are known nnd though it appears that they represent all fields it is re- markable that large numbers are in the teaching profession.

The welfare work of the lodges proceeded properly after the first impulse during the period before 1890. Community charity always restricted to Eurasian-took the form of free libraries, orphanages, military homes, schools etc. Many members either as individuals or as lodges were active in educa- tion. In many places the establishment of kindergartens was of particular significance for the emancipation of Eurasians. The schools were directed at improving the children's com- mand of the Dutch language. Funds were also raised to pro-vide children, especially whose parents were without means, with school clothes and food.

TI1e first Indonesians applied for membership about 1870.

The presence of fndonesians is one of the more interesting aspects of the membership and in this respect the participation of the members of the House of Paku Alam deserves close attention. Several members of this fami ly-well known for their progressive ideas played a role in the early stages of the emancipation movement. Membership in t:he Order offered

su~

the opportunity to associate with the Dutch informally. By participating in the activities of the lodge and by serving on committees they became conversant with modem corporate life.

However, Indonesian participation remained restricted in numbers and attempts to increase interest had little effect. Presumably the aristocratic status of most of the Indonesian members stymied people of lesser descent. The writings of Purbo H adiningrat, regent of Serna rang, are fascinating read- ing in this respect. He went to much trouble to ease entrance for his fellow countrymen and always emphasized the significance of Freemasonry for the development of Indonesia.

When it became clear in the Nine-teen-twenties that Indonesians would gradually take up more important positions in the society to come, the columns of the Masonic periodical of the [ndies and the lodges began to pay attention how Dutch nationals should react to this process. The Order could, of course, not publicly state a preference. However, some masons were in favor of a more intense cooperation in order to prepare the country gradually for a new future. The recogni- tion of the fundamental right of home rule was not a common view among the Dutch. Therefore, the lectures held in the Twenties for the members of the Jogyakarta lodge 'Mataram' by the youthful Van Mook deserves extra attention. Even at that time, Van Mook considered Indonesian nationalism as a positive force and he pleaded for a more open-minded view of the future.

The last period (01apter IV) in the history of Freemasonry in the East Indies covers the stirring times after 1930. The economic crisis stmck the Indies extremely hard and led not only to an economic recession but also to a heightened polariza- tion of political divergence. The Japanese war claimed count-

the whole ten'itory. Attempts by the Netherlands at restoration and reconstruction had to be post- poned. Diplomatic talks, interspersed by military actions, was not able to maintain the Dutch position. In 1949 the Netherlands resigned to the inevitable.

The general situation after 1930 was not conducive for the Order. Relations with the Board in the Netherlands were de- teriorating and even led to severe tensions. There was no growth because the general situation was also not favorable in those years. At issue was not just the worsening economy even though it should be mentioned that Freemasons have been Jess susceptible of right wing radical tendencies than the majority of the European community.

With the start of the Japanese occupation, the Masonic periodical ceased obligation. Consequently, data about this period is quite scarce and hampers research. Most data about this period were obtained from the 1987 survey, personal com- pilatioru of those in concern, in whicl1 many interesting aspects of this period surfaced.

The members of the Order resumed their activities with remaikable enthusiasm and there was a great optimism about the future of Freemasoruy in a post-war Indonesia. Great ex- pectations were abound regarding the propagation of Freemasonry among Indonesians. These hopes appeared to be ill based and it was even not until the fifties that Indonesian lodges were established. The crowning work of Freemasonry in the East Indies was the establishment of the Grand Lodge of Indonesia 'Timur Agtmg Indonesia' in 1955. The Indonesian Order did not have the opportunity to grow as the Soekarno government soon abolished it.

The Japanese occupation had caused a vacuum, but the work of the lodges picked up again in the larger cities and there were many new members. There was also a renewed spirit towards community services. The schools of the Carpentier Alting Foundation in Jakarta (formerly Batavia) enjoyed a large attendance. In the waning years, a business school was established in Semarang through the cooperation of Indonesian and Dutch members of the Order.

The steadily rising anti-Dutch atmosphere had a detrimen- tal effect on the Order. More and more members repatriated to the Netherlands and made it difficult to maintain lodge life. Finally in 1962 the lodge 'Star of the East' on New Guinea (which was renamed Irian Barat) had to close down. It was the end of organized Freemasonry on Indonesian territory.

I

Daftar nama para Wakil Suhu Agung untuk Hindi a Belanda dan jabatan-jabatan terpentingnya

1798-1823 N. Engelhard Direktur Jenderal Hlndia Beland a
dan Gubernur serta Direl
1823-18.31 1831-1839 H. Merkus de Kock Letnan Gubemur jenderal dan Pangl.irna Tentara Hind.ia-Belanda Anggota Dewan Hindia
1839-1846 Scholten van Presiden dari kedua Pengadilan
Oud-Haarlem Tinggi Hindia Belanda
1846 Presiden Dewan Yust.isi di Batavia
1846-1862 C. HuJtman Presiden Pengadilan Tinggi Hindia Beland a
1862-1867 L.A. W.J. baron Sloet v.d. Beele Gubemur Jendera1 Hindia Belanda
1867-1887 T.H. der Kinderen Anggota Dewan Hindia
1887-1890 T.Henny Pengacara negara
1890-1894 M. Willemenstijn Kolonel-intendan KepaJa Te:ntara Hindia Belanda
1894-1896 T. Henny (masa jabatan kedua)

J.I. van Sevenhoven
C.J.

J.M. van Beusechem
1896-1898 H J. Meertens Notaris
1898-1899 GA. Scherer Anggota Dewan Hind•.l
1899-1900 H.j. van Lawick van Let nan Kolonel Tentara f !india
Pabst Bdanda
1900-1905 A.S. Carpentier Alting Pend eta
1905- 1910 Th.G.C. Valette Guru Gymnasium Willem Ill
1910-191 1 H.C. Kronouer Kolonl!l Tentara Hinclia Belanda
1911-1913 j.G. Poll Anggota Dewan Hinia
1913-1915 A.F.L. Faubel Koloncl·lntendan Ten tara Hindia Belanda
1915-1917 G. And r~ de Ia Porte Anggota D~wan Hmdia
1917-1919 W. Sonneveld Anggota Dewan Hindia
1919·1921 J.H. Carpentier Alting Anggota Dewan Hlndia
1921-1925 J.H. Delgorge Direktur Re~ie (monopoli) Opium
1925- 1931 WoulerCool Ketua Dewan Direksi Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda
1931 -1937 A.J.H. van Ophuyscn Notaris
j 937-1940 }.]. Pesman Kolonel Tentara Hindia Belanda
1940-1945 ].F. Jasper Gubernur Yogyakarta

Se1ama periode interim 1945-1946 kcdudukannyadijabat oleh Prof. Mr. Jb. Zeylemaker dan C. B. Sibcnius Trip.

1946-1954 Z.H. Carpentier Alting Pcngacaru
1954-1957 A. Holle Pegawai Tinggi di Kementerian Kehakilna11
1958 W.Th.E.TI101l Direktur General Electric Co. Tnc. of Java lpejabill, St.)

Pada tahun 1959 K. Lewin-administratur dari Carpen- licr Alting Stichting-bertindak sebagai Utusan dari Pengurus Besar. Setelah keberangkatannya pada tahun 1960, jabatan itu ditiadakan.

Perkembangan jumlah anggota Loge-loge Hindia menurut Onderzoek in de ledenboekjes der Indische Loges (Penelitian dalam buku-buku keanggotaan loge-loge Hindia) oleh K. Hylkema. angka tidak dicantumkm1, bcrarti tidak ada data yang

]ika
1.
1846 77 1885 151 1921 253
1847 70 1886 151 1922 259
1848 74 1887 145 1923 254
1849 68 1888 129 1924 235
1850 60 1889 128 1925 235
1851 49 1890 - 1926 224

tersedia. Naskah Hylkema sekarang terdapat dalam perpustakaan Kuasa Agung di Den Haag.

'De Ster in het Oosten' di Batavia (1837)
1855 71 1894 94 1930 210
1856 74 1895 99 1931 189
1857 71 1896 115 1932 184
1858 78 1897 147 1933 170
1859 93 1898 131 1934 178
1860 106 1899 111 1935 181
1861 100 1900 108 1936 177
1862 110 1901 111 1937 185
- 1902 104 1938 182
1867 87 1903 101 1939 158
1868 87 1904 94 1940 163
1869 84 1905 94 - -
1870 1906 96 1947 159
1871 78 1907 99 1948 200
1872 86 1908 108 1949 156
1873 91 1909 118 1950 164
1874 92 1910 112 1951 136
1875 96 1911 108 1952 137
1876 - 1912 126 1953 129
1877 96 1913 136 195 4 129
1878 96 1914 129 1955 84
1879 114 1915 127 1956 110
1880 140 1916 131 1957 106
1881 140 1917 170 1958 106
1882 138 1918 190 1959 79
1883 173 1919 212 - -
1884 158 1920 253 -

-

-

-

Constante et Fidele' di Semanmg (1801)

1875 60 1876 73 1877- 1878 60 1879 55 1880 47 1881 57 1882 52 1883 56 1884 57 1885 57 1886 57 1887 55 1888 54 1889 60 1890- 1891 56 1892 52 1893 51 1894 53 1895 52 1896 66 1897 72 1898 66 1899 68 1900 69 1901 72

1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928

68 53 48 55 58 67 66 66 59 57 59 45 46 59 60 58 77 82 79 91 98 103 101 101 80 81 97

1929 97 1930 94 1931 100 1932 92 1933 95 1934 75 1935 75 1936 63 1937 67 1938 72 1939 77 1940 76 -- 1947 12 1948 20 19149 30 1950 36 1951 36 1952 25 1953 22 1954 22 1955 21 1956 17 1957 22 1958 22 1959 16 --

  1. 'De Vriendschap' di Soerabnjn (1809)
    1847 39 1848 40 1849 36 1850 44 1851 42 1852 35 1853 42 1854 48 1855 54 1856 57 1857 61 -- 1860 59 1861 102 1862 83 -- 1867 76 1868 66 -- 1872 47 1873 so 1874 69 1875 78 1876 78 1877 100 1878 100 1879 101 1880 92 1881 92 1882 92 1883 92

1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917

114 105 102 - 97 102 102 110 109 114 127 122 132 134 134 119 100 114 114 100 94 111 109 116 134 140 123 122 110 107 91

1921 191 1922 190 1923 190 1924 167 1925 167 1926 170 1927 147 1928 160 1929 145 1930 150 1931 158 1932 169 1933 159 1934 166 1935 168 1936 163 1937 153 1938 144 1939 146 1940 146 -- 1948 63 1949 79 1950 90 1951 52 1952 69 1953- 1954 54 1955 50 1956 36 1957 39


Hm•i' di Padang (1858)

1875 21
1876 21
1877 43
1878 43
1879 38
1880 33
1881 33
1882 33
1883 44
1884 38
1885 48
1886 48
1887 52
1888 56
1889 61
1890-
1891 45
1892 44
1893 51
1894 50
1895 35
1896 38

1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918

38 41 44 46 45 46 44 44 47 45 40 41 41 42 36 32 30 29 29 28 33 33

1919 35
1920 39
1921 36
1922 32
1923 38
1924 35
1925 34
1926 31
1927 28
1928 24
1929 35
1930 35
1931 43
1932 34
1933 36
1934 37
1935 37
1936 35
1937 36
1938 27
1939 24
1940 26
1875 73
1876 73
1877 63
1878 63
1879 60
1880 56
1881 58
1882 59
1883 57
1884 61
1885 64
1886 54
1887 52
1888 71
1889 70
1890-
1891 50
1892 46
1893 50
1894 43
1895 43
1896 52

1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919

67 60 63 60 58 59 53 56 54 42 42 36 38 41 40 35 45 50 45 40 52 66

1920 64
1921 77
1922 77
1923 72
1924 69
1925 69
1926 64
1927 55
1928 67
1929 68
1930 69
1931 59
1932 54
1933 55
1934 42
1935 47
1936 50
1937 43
1938 52
1939 45
1940 48

1872 19
1873-
1874 30
1875 30

1879 1880 1881 1882

37 24 24 24

1886 26
1887 14
1888 14
1889 14

-

--

6. 'Princes Frederik der Nederlnnden' di Rembnng (1871)

Frederic Royal' di Solo (1872)

1874 72 1875 72 1876 72 1877 72 1878 72 1879 71 1880 53 1881 53 1882 47 1883-47 1884 49 1885 25 1886 44 1887 43 1888 34 1889 34 1890- 1891 43 1892 48 1893 45 1894 41 1895 41 1896 48

1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919

62 73 75 79 77 74 71 46 45 44 38 38 42 45 43 36 42 40 41 40 40 49 50

1920 53 1921 48 1922 54 1923 55 1924 56 1925 56 1926 61 1927 50 1928 48 1929 45 1930 47 1931 48 1932 43 1933 40 1934 31 1935 26 1936 29 1937 26 1938 24 1939 25 1940 24 -- --

8. 'Prins Frederik ' di Kota Raja (1880)

1880 28
1881 45
1882 39
1883 39
1884 42
1885 31
1886 19
1887 40
1888 30
1889 35
1890-
1891 21
1892 28
1893 34
1894 31
1895 30
1896 31
1897 28
1898 32
1899 34
1900 26

1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 19 '10 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921

34 29 25 17 11 16 24 24 24 32 29 19 12 17 17 21 25 19 21 23 22

1922 19
1923 16
1924 19
1925 19
1926 17
1927 20
1928 20
1929 21
1930 21
1931-
1932 14
1933 19
1934 12
1935 12
1936 11
1937 12
1938 10
1939 12
1940 14

di Makassnr (1882) 1884 27 1885 25 1886 22 1887 21 1888 22 1889 26 1890- 1891 21 1892 23 1893 30 1894 26 1895 24 1896 19 1897 18 1898 19 1899 23 1900 23 1901 31 1902 26 1903 25 1904 22 1905 19 1906 20 1907 19

1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931

23 18 21 21 23 28 28 28 21 21 21 20 24 25 27 33 37 37 31 45 48 46 52 40

1932 44 1933 42 1934 44 1935 45 1936 43 1937 38 1938 43 1939 52 1940 51 -- 1947 31 1948 30 1949 39 1950 42 1951 29 1952 18 1953 11 1954 11 1955 10 1956 9 1957 6 1958 6 1959 4 --

'Veritas' di Probolinggo (1882) 1884 26 1885 24 1886 28 1887 24 1888 19 1889 16 1890- 1891 17 1892 18 1894- -- 1902 39 1903 41 1904 37 1905 46 1906 40

1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 191 4 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923

32 28 28 26 23 26 18 23 25 18 30 32 32 36 36 35

1924 44
1925 53
1926 57
1927 38
1928 38
1929 21
1930 26
1931 25
1933 26
1934 27
1935 25
1936 22
1937 20
1938 21
1939 18
1940 18
1890-
1891 37
1892 45
1893 46
1894 44
1895 44
1896 25
1897 38
1898 36
1899 36
1900 36
1901 40
1902 32
1903 32
1904 42
1905-
1906 31
1907 22
1908 48
1909 47
1910 48

1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932

56 66 67 70 69 - 72 75 77 85 97 79 95 92 104 101 106 108 114 95 91

1934 84
1935 81
1936 77
L937 84
1938 79
1939 75
1940 79

-- 1947 13 1948 28 1949 51 1950 50 1951 55 1952 42 1953 51 1954 53 1955 41 1956 34 1957 38 1958 38 1959 14

  1. 'Excelsior' di Buitenzorg (1891)
    1892 31 1893 41 1894 36 1895 39 1896 37 1897 40 1898 47 1899 46 1900 37 1901 32 1902 34 1903 38 1904 37 1905 31 1906 29 1907 21 1908 15 1909 21 1910 20 1911 21 1912 20

1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933

21 23 24 26 24 33 - 43 48 52 51 51 51 50 47 53 53 61 62 61 62

1934 50 1935 47 1936 46 1937 50 1938 41 1939 38 1940 36 -- 1947 8 1948 10 1949 15 1950 14 1951 16 1952 "[6 1953 13 1954 8 1955 8 1956 5 1957 3 1958 3 1959 3

'Tidar' di Magelnng (1891)
1895 28 1911 17
1896 28 1912 20
1897 18 1913 15
1898 15 1914 23
1899 19 1915 24
1900 16 1916 20
1901 24 1917 21
1902 24 1918 36
1903 29 1919 36
1904 21 1920 39
1905 22 1921 36
1906 23 1922 40
1907 21 1923 40
1908 16 1924 34
1909 13 1925 34
1910 12 1926 33
1927 48
1928 43
1929 41
1930 41
1931 33
1932 35
1933 31
1934 23
1935 24
1936 23
1937 25
1938 27
1939 19
1940 22

-- --

14. 'St.]an' di Bandung (1896)
1898 20 1917 65 1936 192
1899 30 1918 140 1937 196
1900 42 1919 153 1938 202
1901 69 1920 141 1939 189
1902 69 1921 190 1940 193
1903 67 1922 180 - -
1904 58 1923 180 1948 75
1905 42 1924 202 1949 109
1906 37 1925 202 1950 121
1907 43 1926 216 1951 100
1908 39 1927 230 1952 91
1909 40 1928 240 1953 91
1910 55 1929 238 1954 63
1911 40 1930 218 1955 58
1912 38 1931 213 1956 58
1913 38 1932 207 1957 40
1914 42 1933 197 1958 40
1915 46 1934 191 - -
191 6 55 1935 186 -

-

  1. 'Fraternitas' di Salatiga (1896)
1897 14 1912 4 1927 18
10 4 1928 16
1899 15 1914 6 1929 12
1900 10 1915 6 1930 12
1901 8 1916 6 1931 16
1902 7 1917 8 1932 13
1903 9 1918 20 1933 14
1904 9 1919 21 1934 11
1905 14 1920 21 1935 10
1906 16 1921 18 1936 8
1907 14 1922 17 1937 8
1908 12 1923 17 1938 10
1909 8 1924 17 1939 9
1910 8 1925 17 1940
1911 6 1926 18 -
1898 1913
  • -

1900 25 1901- 1902 31 1903 33 1904 22 1905 27 1906 29 1907 24 1908 25 1909 24 191 0 25 1911 25

1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926

1

1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924

33 34 34 40 37 35 34 36 34 36 36 35

1930 43 1931 42 1932 43 1933 35 1934 36 1935 37 1936 35 1937 36 1938 37 1939 41 1940 45 --

1902 25 1903 29 1904 28 1905 21 1906 21 1907 18 1908 19 1909 19 1910 20 1911 11

31 34 34 62 69 72 85 78 88 96

1928 90 1929 86 1930 71 1931 69 1932 84 1933 103 1934 102 1935 104 1936 99 1937 94

  1. 'Mnlnng di Mnlnng (1901)

LMW~

18. 'Blitnr' di Blitnr (1906)

1908 12 1919
1909 8 1920
1910 8 1921
1911 10 1922
1912 10 1923
1913 11 1924
1914 9 1925
1915 10 1926
1916 10 1927
1917 13 1928
1918 13 1929
15 1930 2
26 1931 2
10 1932 7
10 1933 10
13 1934 10
8 1935 13
8 1936 10
8 1937 10
2 1938 10
2 1939 10
2 1940 8

19. 'Het Zuiderkmis 'di Bntnvin (1918)

1918 51 1929
1919 58 1930
1920 55 1931
1921 58 1932
1922 69 1933
1923 70 1934
1924 77 1935
1925 77 1936
1926 72 1937
1927 45 1938
1928 43 1939
45 1940 49
4.7
53 1947 42
56 1948 44
47 1949 50
54 1950 55
50 1951 39
55 1952 39
52 1953 32
45 1954 31
49 - -

--

'De Dagernad' rli Kediri (1918)
1919 25 1927
1920 24 1928
1921 23 1929
1922 - 1930
1923 20 1931
1924 20 1932
1925 20 1933
1926 26 -r934
22 1935 32
26 1936 28
31 1937 28
33 1938 31
34 1939 29
38 1940 28
35 - -
38--
  1. 'De Broederketen' di Bntnvin (1919)
1921 27 1928
1922 29 1929
1923 21 1930
1924 21 1931
1925 21 1932
1926 21 1933
1927 36 1934
30 1935 32
32 1936 36
34 1937 29
37 1938 27
36 1939 24
41 1940 26
36 -

-

  1. 'Pnlembang' di Palembang (1932)
1933 13 1940
1934 21 -
1935 25 1950
1936 23 1951
1937 22 1952
1938 24 1953
1939 31 1954
24 1955 19
- 1956 20
8 1957 19
15 1958 19
15 1959 11
13 -
14 -
  • -

20 1935 19 1939 19 1936 23 1940 14 1937 22--

24. 'De Hoeksteen' di Soekaboemi (1933)

1934 28 1938 28 1935 31 1939 34 1936 32 1940 30 1937 30--

  1. 'De Witte Roos' di Djakarta (1948) 1950 61 1954 55 1951 65 1955 55 1952 61 1956 57 1953 58 1957 53

usaha, profesi, jabatan dan kedudukan yang dipegang kaum mason bcbas [k.l. tahun 1930]1

administratur Dcpartemen anggota firma perusahaan niaga
ad mjnist ratur kepala anggota firma perusahaan pertanian
administratur perbankan anggota pemenntah
administratur perkebunan apoteker
administratur arkivaris
agen arsitek
agen kepala asisten apoteker
pelayaran bupati
agen perbankan cal on notaris
agen perusahaan niaga direktur bank
ahli bangun direktur berbagai perusahaan
ahli hewan direktur berbagai sekolah
ahli hortikulutura direktur departemen
ahli mesin direktur laboratorium ilmiah direktur lembaga ilmiah
ahli tumbuh-tumbuhan direktur lembaga pendidikan
akuntan direktur panti asuhan

perusah;:~an niaga

;:~gen

ahli pertanian

  1. D. De Visser Smits, Vrijmetselarij. Gescltiedenis, mantschappelijke beteekenis en doel. fBatavia, 1931J, hlm 200-202.

direktur perusahaan niaga direktur rumah sakit dircktur rumah sakitjiwa direktur stasiun pcrcobaan dokter dokter gigi dokter hewan dokter Hindi a (indisch arts) guru gurubesar insinyur

i.nsinyur kepala
i.nspektur kepala inspektur perusahaan pemerintah inspektur perusahaan swasta jaksa karyawan perusal1aan niago kepala pengeboran kepaJa se.kolah komisaris besar polisi komisaris p<>lisi komisaris polisi luar (di luar perkotaan) komisioner kontraktor korektor rnakelar mualim nakhoda no tar is observator observator kepaJa pabri.kan patih pedagang pem1ata peg a wai daerah pegawai kotapraja
pegawai pemerintah pegawai pengadilan pegawai perkebunan pegawai tinggi daerilh pegawai tinggi Departemen pegawai tinggi Kotapraja pelukis seni pemain musik pembesar Negeri SultaJ\ pembuat arloji pemegang buku pemegang prokurasi penasihat Pemerintah penasihat perkebLman penceta.k buku pend eta penerjemah pengacara pengawas pengawas rei kereta api pengelola hotel pengelola toko pengukur tanah penili.k hutan penilik hutan kepala perwira kesehatan penvira laut pen

Ordo yang mencari pekerjaan, disusun dari cdisi-edisi Indisch Mn~on11iek Tijdschrift selama beberapa tahun, sekitar tahun 1935.

  1. 58 tahun, lahir di Vreeswijk, tinggaJ di Surabaya, sejak tahun 1930 tanpa pekerjaan, sebelumnya bekerja secara mandiri d1 industri gula dalam perancangan dan pema- sangan jalan-jalan ret dalam pembangunan ntmah sederhana. Pendtdikan ~ruLO dan jurusan pembangunan, tidak menlkah, dengan senang hati bersedia menerima pekcrjaan apaptm.
  2. 32 tahun, lahir di Amsterdam, tinggaJ di Tanjung Pandan Biliton, pcmutusan hubungan kerja akan berlaku pada akhir bulan April 1933, sebagai ahti kimia telah bekerja secara mandiri untuk pcnclitian bijih, tapi juga di laboratorium kedokteran. I-T. B.S. 3 tahw1 dan Sekola11 Pelayaran, mualim 3 pelayaran besar, asisten apoteker, diploma analis kimia, pernah bekerja di berbagai bidang. Di Delft telah
mengikuti kuliah dalam mata pelajaran kimia dan

mineralogi. Merasa dirinya paling cocok untuk pekerjaan eli laboratoriu m perusahaan di mana dilakukan beragam penelitian. Mcnikah, Hdak punya anak. Oengan tunjangan-tunjangan telah menerima penghasilan f 600- snmpai f 800 sebuJan. Diberhentikan karcna penciutan perusahaan, dan bersedm menerima pekerjaan dcngan gaji yang lebih rendah.

  1. 57 tahun, lahir di Surabaya, tinggal di Bandung. Pada tahun 1931 berhenti sebagai administrattu· suatu pabril< gul~ seraya menunggu jabatan superintcndan yang tidak jadi oleh karena perubahan konjungtu r. Pendidikan HBS, pcn didildi pelabuhan. Menikah dan mempunyai satu anak.
  2. 50 tahun, lahir di Gombong, tinggal di Bandung. bekerja sebagai karyawan di berbagai pabrik gula, diberhentikan oleh karena penutupan pabrik pada akhir Maret 1932 dengan uang tunggu selama enam bulan. Sekolah masinis di Hellevoetsluis, masinis dan masinis kepala, diploma C, pelayaran besar, ahli mesin, ahll tehnik serba bisa, tahu adminish·asi, se11ang dengan pekerjaan sosial, terutama di lembaga pendidikan dan perawatan. Menikah dan mempunyai 2 anak. :J. 37 tahun, lahir di Wcltevreden, kaTyawan pertama dalam suatu pabrik gula, akan diberhentikan pada tanggal 1 Maret 1933 dan mempunyai uang tunggu sampai bulan September 1933. Pabriknya akan d.itutup. Ujian akhir HBS

Sekolah gula di Surabaya, ujian sindikat di Surabaya, diplomasebagai perwira cadangan di Harderwijk. Dapat me.lakukan korespondensi dengan baik, rncmpu- nyai latar be.lakang administrasi, akan menetap di Batu dan kalau perlu mencari pekerjaan rendah di sana.

  1. Seorang bruder menawarkan diri sebagai servant atau penjaga loge. Mendapat pensiun dari pemerintah Hind in Belanda, dengan pensiun dini. Ha1us menyelesaikan p~n didikan anak-anaknya dan akan puas dengan tuJljangan kecil. Keterangan lebih lanjut dapat disusulkan.
  2. 41 tahun, lahir di Middelburg, pengelola hotel. Pad a bulan )anuari tahun 1933 diberhentikan, pemilik mengelola hotelnya sendiri. Pendidikan MULO, sanggup rnengelola sendiri sebuah hotel, juga secara administratif. Tidak menikah. Sertilikat-sertilikat yang baik.
  3. 57 tahun, lahir eli Hannover, arsitektur dan konstruksi, telah membangun sebuah gedung loge. Diberhentikan pad a bulan Januari 1933. Sekolah menengah Jerman, juga mahir dalam pekerjaan administrasi. Menikah dan tidak punya anak.
  4. 37 tahun, lahir di Mojokerto, tinggal di Malang, diberhentikan pada akhir tahun 1932. Sampai bulan Juli 1933 mendapat gaji cuti, sekolah niaga me.nengal1 eli Den Haag. Sekolah tinggi di Rotterdam, menguasai bahasa Melayu, bahasa Jawa dan. bahasa Stmda. Mempunyai dasar tata buku, mengetahui motor dan mobil, dapat juga sebagai montir. Menikah dan tidak pu.nya anak.
  5. 27 tahun, tinggal di Kuningan. PHKmulai 1 Mei yang akan datang sebagai planter dalam teh dan kina. Administratur, perwira cadangan infanteri. Keahlian dalam soal be.kerja dengan murah. Menikah dan mempunyai tiga anak.

  6. 36 tahtm, lahir di Salatiga, tinggal eli Stuabaya. Diberhentikan pada akhir tahun 1933, uang tunggu sarnpai akhir jtmi 1934. Pengetahuan umum tentang perbankan dan administrasi. Diploma akhir sekolah niaga umum di Amsterdam. Menikah dan tidak punya anak.

  7. 34 tahun, lahir di Willemstad, Cura\'(iO, tinggal di Barat. Diberhentikan pada tanggall Januari 1933. Uang tunggu akan berakhir pada tanggall Juli 1934. Hogere hm1delsschoo/ dan Hnnde/s Hogeschool (sekolah niaga lanjutan dansekolah tinggi niaga), cocok untuk pekerjaan jurnalistik, planter dan untuk administrasi. Menikah dan mempunyai dua anak.
  8. 37 tahun, lahir di Weltevreden. Diberhentikan pada akhir bulan)uli 1932. Sebelas tahun di perusahaan niaga teknik dan sembilan tahun di perusahaan listrik. Tahu administrasi, ilmu nilai barang dagangan teknis, diploma Tatn Buku B. Menil
  9. 34 tahw1, lahir di Amsterdam, tinggal di Balapulang. Diberhentikan pada tanggall Desember 1933, bekerja di industri gula, diploma Sekolah Mencngah Teknik di Amsterdam untuk pembuatan alat kerja, clektro-teknik dan teknik gula. Menikah dan tidal< punya anak.
  10. 47 tal1un, lalur di Ango-Ango (Kongo Belgia), tinggal di Malang. Pendidikan sekolah dasar di Zwolle dan Tilburg, HBS di Tilburg, sekolah industri gula di Amsterdam. Ujian sindikat gula di Surabaya.~ sebelumnya bckerja sebagni karyawan kebtm di pabrik gula dan sebagai ahli kimia pada suatu pabrik gula umbi beetwortel di Nederland. Serti£i- kat-sertifikat dan surat-surat pujian yang ptima. MenikaJ1 dan mempunyai sah1 anak.
  11. 40 tahun,lahlr di Pretoria, tinggaJ di Malang. Diberhenti-

ttmggu. Sebelumnya bekerja sebagai karyawan kcbun di pabtik gula. Telah menekuni usaha asuransi dan beketja sebagai pros- pektor, penghasilan sangat minim. Pendidikan: sampai kelas 4 HBS.~ Diploma A dan B Sekolah CuJa dan Diploma Sindikat. Mengenal usaha gula dan administrasi. Menikah dan tidak punya anak.

  1. 47 tahun, lahir di Kresna (Austria), sejak tahun 1928 dina- turalisasi sebagai warga negara Belanda. Pendidikan gymnasium, diploma insi:nyur pennesinan. Sebelumnya bekerja sebagai kepala pengangkutan pabrik gula, diberhentikan mulai 15 April1932 dengan pemberian uang tunggu tidak wajib yang mungkin sekali akan dihentikan akhir tahun 1933. Pengetahuan jurusan yang khusus: dinas traksi dan bengkel kereta a pi, organisasi perusahaan dari transportasi pabrik gula. Mengutamakan pengajaran dalam bidang iJmu alam, ilmu pasti, dan ilmu rnekanika. Menguasai bahasa Belanda sepenuhnya. Menikah dan punya dua anak.
  2. 31 tahun, Jahir di Amsterdam, alamat semen tara Batavia-
    C. (Pusat). Penclidikan MULO dan diploma Jerman dan lnggris serta stenografi. Selama 17 tahun berturuHurut bekerja di pcrusahaan yang sam a, termasuk em pat tahun di kantor pusat di Amsterdam. Pada tahun 1927 diberikan kepadanya prokurasi urn urn, sejak tahlll11930 ditugaskan mengelola kantor di wilayah luar. Alasan pemberhentian adalah penciutan perusahaan yang terpaksa diadakan, penutupan kantor-kantor. Mempunyai pengetahuan umurn tentang urusan irnpor ekspor dan mempunyai pengalaman sangat baik dalam bidang administrasi dan organisasi. Surat pujian prima. Menikah, tidak punya anak.

  3. 38 tahun, lahlr eli Nieuwer Amstet tinggal di Batavia-C. Pendidikan MULO dan diploma Sekolah Menengah Pertanian Kolonial di Deventer. Sebelumnya bekerja eli perkebunan, diberhentikan oleh karena penutupan perkebunan tersebut. Mempunyai pengetahuan umum yang luas, juga tahu bidang administrasi. Referensi san gat baik. Menikah, istri sedang hamil dengan anak kedua.

  4. 45 tahun, lahir di Surabaya, tinggal di Batavia-C. Sejak bulan Ol
  5. 38 tahun, lahir di Amsterdam, tinggal di Surabaya. Sebelumnya bekerja sebagai kepala yang mandiri di bidang ekspor, pengapalan, korespondensi. Sampai tanggal 1 Oktober 1933 bekerja di sekretariat Arme11zorg (yayasan yang mempedulikan orang miskin). Tidak mcnikah.
  6. 33 tahun, lahir di Surabaya. Bekerja sebagai karyawan-kebun di pabrik gula, diberhentikan mulai tanggall April 1934, tidak ada uang tunggu. Pendidikan HBS, kemudian Sekolah Mcnengah Teknik. Diploma Bondsuikerschool (sekolah perserikatan gula) di Surabaya. Mengetahui se- luk-beluk usaha gula, terbiasa dengan pekcrjaan administrasi. Menikah, satu anak.
  7. 33 tahun1lahir di Fort de Kock. Diploma akhir Sekolah Niaga Umum di Rotterdam. Pemah bekerja di berbagai bank besaT di Nederland dan di Hindi a. Terbiasa beke1ia secara mandiri, mempunyai pengetahuan baik tentang adminisb·asi dan tata buku. Berhub1.mg ditutupnya perusahaan, dibcrhentikan dengan hormat pad a akhir tahun
    1934.
  8. Seorang murid mason bebas yang muda mencari peker-

HBS 5 tahun Sekolah Gula di Amsterdam, dan diploma praktik tata buku.

  1. 44 tahun, lahir di Zutphen, HBS 3 tahun, Sekolah Menengah Hortikultura di Frederiksoord, Sekolah Gula, ujian sindikat. Menikah, e.mpat anak.
  2. 46 tahun, lahir di Breda, ti:nggal di Semarang, Sekolah Ma- sinls di Amsterdam. Pengalaman dalam gula dan perkebunan gtmung. Menjadi kepala pengawas pada pem- berantasan wabah. Tidak menikah.
  3. 40 tahun, lahir di Oosterwolde, HBS 5 tahun Semua tingkat dari pelayaran besar. Pengetahuan tentang administrasi dan tata buku. Sejak bulan Juli 1934 tidak mempunyai peketjaan. Menikah, tidak punya anak.
  4. 46 tahun, lahir di Oud-Beierland, tinggal di Surabaya. Selama sebeJas tahun terakhir bekerja sebagai pemegang buku kepala di pemsahaan konh·al
  5. 32 tahun, dua tahun MTS (sekolah teknil< mcnengah) Haarlem. Praktik di bidang teknik di Werkspoor (bcngkel kereta a pi), teknik mobil, masinis penyulingan min yak dan dua tal1Un menjadi kepala perusahaan di sana. Menikah, satu anak.
  6. 36 tahun, lahir di Bolsward, HBS 3 tahun, MTS Dordrccht, bagian industri gula. Sebelumnya bekerja sebagai ahli kimia di indush·i gula, kepala pabrik dan karyawan kcbun. Mencari pekerjaan sebagai planter. Menikah, tanpa anak.
  7. 45 tahun, HBSS tahtm, Sekolah Gula diAmsterdam. Praktik kimia, gula bict dan tebu, transpor dan produk-produk susu. Mengetahui administrasi modern, tata bukt1 ganda

dan mekanis, korcspondensi niaga bahasa Perancis, Jerman, lnggris dan Melnyu. Mcnikah, dan mempunyai tiga anak.

  1. 33 tahun, lahir di Cimahi, tinggal di Bandw1g. HBS 5 tahun. Bckerja di badnn-badan pcmerintah di bidang administrasi. Mengctahui usaha asuransi, sedang studi untuk ujian notaris. Mencrima setiap pckerjaan.
  2. 30 tahun, lahir di 's-Hertogcnbosch, tinggal di Batavia-C. MULO, kursus hortikultura di Rotterdam, scbagai planter tahu tcntang karet, kina dan teh. Dapatjuga mcngc1jakan pekc~aan administrasi.
  3. 26 tahun, MTS, praktik di zeni di Nederland, perusnhaan jalan rel trem dan P.T.T. di Hindia. Tidak menikah.
  4. 32 tahun, lnhir di Batavia. Diploma akhir Sekolah Niaga Tinggi di Amsterdam, doktor dalam ilmu perniagaan. Tidal< menikah.
  5. 35 tahun, lahjr di Zurich (Swiss). Pendidikan ahli elektro-teknik, sudah tinggal di H india selama 15 tahun. Praktik dalam karet dan kopi. Pcgawai teknik semen tara di P.TT. Setelah masa dinas dclapan tahun diberhcntikan oleh karena penghcmatan. Pcngetahuan tentang mesm uap, motor dan mobil, referensi yang baik.
  6. 37 tahun,lahir di Boyolali. HBS 5 tahun, diploma insinyur sipil Delft, diploma leknik gula MTS Amsterdam, diploma penyerahan oktrooi Den Haag. Spesialisasi: mikrobiologi. Praktik kimia gula biet dan tebu. Sebelumnya bekerja sebagai kepala fabrikasi dan ahli kimia kebun. Mengetahui administrasi, bahasa Melayu dan bahasa Jawa. Menikah.

Akkem1ans, W.J.M., Vrijmetselarij. Een levenshouding (Lelystad

1989) (AO-reeks no. 2286).
Baudet, H. dan C. Fasseur, ' Koloniale bedrijvigheid', dalam:

J.H. van Stuijvenberg (red.), De economische geschieden.is van Nederland (Groningen 1977).
Beoefening (De) der Koninklijke Kunst in Nederland. Een cultuurge- schiedkundige platenntlas der Vrijmetselarij in Nederland ('s-Gravenhage: Stichting Ritus en Tempelbouw,

1971).
Bode, F.J. de, 'Feestrede ter gelege.nheid van het 100-ja.rig be- staan van de loge 'De Vriendschap", l11disch Ma9onniek Tijdschrift, 14, 1909. Boeke, J.H., Tnrlische economie. De theorie der lndische economie Old. I) (Haarlem, 1940). Boerenbeker, E.A., De Resolutien van de Groote Loge 1756 - 1798). Dengan pengantar dan catatan ('s-Gravenhage: Stichting llitus en Tempelbouw, 1979).

P dan A.J. Goossen, Changing Economy in Indonesia. A selection of stastitical so11rce material Jrorn the early 19 1 h cent11ry up to 1949. Population Trends 1795-1942 (vol. 11) (The Hague, 1991). Bouman, M., ' H et verbod op de vrijmetselarij in 1735. Een herzienc analyse van de moticven', Skript Historisch tijdsc/mft 10 no. 3 (1988). Bruin, J. de en G. Puchingcr, Briefwisseling Kuyper-ldenburg. Ver- zogd, ingeleid en toegelicht (Franeker, 1985). Budiman, A., Semarmzg]m.oita. Semnrang tempo doeloe. Semnrnng masa kini dalam rekammz kamera (Semarang, 1979). Bijdrage tot de gesclziedenis rfer Orde van Vrijmetselnren o11rler her Graotoosterz der Nerlerlmzden in de jare11 1933-1936 (Amsterdam, 1936). CLlrpenticr Alting, A.S., Woordenboek voor vrijmetselnren (t.tmp.,

1884). Versing van lui IndiscJz 111nfOTI11iek Congres, diadakan eli sebelah timur]ogyakarta pada tgl. 12 dan 13 Mei 1902 (Jogya, 1902).
Coolhaas, W.Ph., Confroleur 8.8. Herinneringen vm1 een jong bestllursambtennar m Nerlerlands-lndie (Utrecht, 1985). Crcutzberg, P., Omnging Economy in Indonesia. A selection of sta- tisficnl source mal erial from tTze early 19' 1' cenhwy. National Income, vol. 5, (The Hague, 1979). Doom, ].A.A. van, 111e Engineers and the Colonral System. Techno- era lie tendencies in the Dutch Enst Indies (Ro tterdam,

1982).
Doorn, ].A.A. van, A Divided Socieh;. Segmentation and Medintio11 in Lnle-Colonial Indonesia (Rotterdam, 1983). Doom, ].A.A. van, 'De Nederlandse samenleving in Inclie, dalam: F.L. van Holthoon (red.), De Nerlerlnndse snmenlev- ing sinds 1815. Wording e11 samenhrmg (Assen/Maas- tricht, 1985).

"Werkplaatsen in ruste', dalam: Gedenkboek van de Vrijmetsclnrij in Nederltmdsch Oost-lndie 1767- 1917 (Semarang, dst. k.l. 1917). Drooglcvcr, PJ., De Vnderlnndsche Club 1929-1942. Totoks en de lndische politiek (Franeker, 1980). Drooglever, PJ., 'Koloniaal beleid en lndische samenleving tot 1942', dalam: P.J. DroogJever (red.), lndisch intennezo. Geschiedenis -van de Nederlnnders in lndonesie (Amsterdam, 1991). Dijck, ].Z. van, 'De loge "La Constante et Fidele'', dalam: Gedenkboek vnt1 de Vrijmetselnrij in Nederlandsd1 Oost-Jndie 1767 -1917 (Serna rang, d.l.J., k.l. 1917). Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie Eerste uitgavc ('s- Cravenhage/Leiden k.l. 1900). Esterik, Chrs. En K. van Twist, Dnnr werd wnt grootsd1 ven·idtl. Of hoc 17et Koninkrijk der Nederlnnden zijn grootsle kolome verloor (Weesp, 1980). Fasseur, C (red.), Geld en geweten. Ee11 bunrlel opstellen over nnrler- ltnlve eeuw Nederlnnds bestwn· in rle lndonesische nrchipel. Het I ijdvak tussen 1901, jld. 2, (Den Haag, 1980). Fasseur, C., De fnrlologen. Ambtenaren voor de Oost 1825- 1950 (Amsterdam, 1993). Cedenkboek vnn de Vrij111 etselnrij in Nederlnndsc/1 Oost-lnrlie 1767 - 1917 (Semarang!Soerabaja/'s-Gravenhage, k.l. 1917). (Diterbitkan oleh tiga loge tertua di Jawa). Gedenkboek der loge 'Mnlnng' (Malru.1g, 1933) (Diterbitkan bcrkenaan dcngan peresmian penggunaan gedung loge yang baru). Gedenkboek vnn de loge 'Mntn Hnri' in het Oosten vnn Padnng 1859- 1934 (Padang, 1934) (Diterbitkan berhubtmg dengan pcringatan Hill ke-75). Gedenkboek vnn de loge 'De Ster in her Oosten '. 7 00 jnren Mnc. Arbeid in het Licht van de Ster in het Ooslc:n 1837-1937 (Batavia, 1937).

1951). luas).

(Groningen, 1960).
Bogar 1891-1951 (Bogor,

Geelkerken, C. van, \loor volk en vader/and. Tien jaren strijd van de Nntional-Socinlistiche Beweging der Nederlanden1931-14 december 1941 (t.tmp.1943) (cetakan kedua yang diper-

Gelman Taylor, J., Smeltkroes Batavia. Europeanen en Eurnziaten in de Nederlnndse vestigingen in Azie (Groningen 1988). Gerretson, F. C. en W.Ph. Coolhaas (red.), Pnrticuliere briefwisseling tussen]. vnn den Bosch en D.]. de Eerens 1834-1840

Geus, A de, 'Geschiedenis van de Vrijmetselarij in Batavia', in: Gedenlcboek van de Vrijmetselarij in Nederlnndsclr Oost-lndie 1767 - 1917 (Semarang, d.l.l., k.1. 1917). Geus, A. de en D. de Visser Smits, 'Beknopte geschiedenis der Vrijmetselarij in Nederlands Oost-Indie, dalam:

D. de Visser Smits (red), Vrijmetselnrij. Geschiedenis, maatschappelijke beteekenis en doe! (Batavia, 1931).
Goor, J. van, Indie/Indonesie. Vnn kolonie tot natie ('s-Gravenhage,

1987).
Graaf, H.J. de, 'Verhuell wordt vrijmetselaar', Tong Tong 7, no. 18 (1973). Grondwet voor de Orde van Vnjmetsclaren onder het Grootoostm der Nede?'landen (DHetapkan 1 Maret 1917, dicetak ulang dengan pembahan pada tahun 1962). Hageman, J.JCz., Gesch.iedenis der vrijmetselnrij in de oostelijke en

2.11idelijke deelen des anrdbols (Eerste tijdvak, loopende tot

5799) (Surabaya, 1866).

Helsdingen, W.H. van dkk., Dnar weni wat groats verricht. Nede-~· landsch-Indie in de XXste eemo (Amsterdam, 1941). Hoogevest, W.M. van, 'Om een eigen plaats onder de Indisd1e zon. Het doel en streven vanhet h1do-Europeesch Verbond', ]ambntmz, Tijdschrift voor de geschiedenis vnn Indonesie, 2 no. 3 (1984).

Nederlnndsch gezag in Oost-
!Jzdie Gld. XI) ('s-Gravenhage/Amsterdam 1883).

Kalff, S., 'Een baanbrekcr in den Raad van Jndic, lnrlisch Mafonniek Tijdschrift 26 (1921). Kalff, S., 'E mopeesch pattperisrne in Indie, Kolonianl Tijdschrift XI, (1922). Kat Angelino, A.D.A. de, Stantkrmdig beleid en best1111rszorg irz Nederlnndsch-Indie (2 jld.) ('s-Gravenhage, 1929- '30). Knaap, C.J. (red.), In deze halve gevnngenis. Oagboek van mr dr. L.F. fmiSeJI, Bntavin!Djnknrta 1942-1945 (Franekcr, 1988). Koch, D.M.C., Bntig slot. Figuren uil hel oude Indie (AmstcrdJn1,

1960).
Kol, H. van, Uitonze kalonien. Uitvoerig reisverlwal (Leiden, 1903). Korver, APE., Snrfknt lslnm1912- 1916. Opkomst, bloei en stmc- hmr vnn lndo11esiif's eerste massa bc.nveging (Ams terdam,

1982).
Larson, G. D., Prelude to RL'Volution, Pnlnces and polities i11 Surakar- tn 1912-1942 (Dordrecht1(dll.) (1987). Linden, H.O. van der, FeestRede rtitgesproken in de loge 'De Ster in Het Oosten ', op 27 November 1869 (Batavia, 1870). Locher-Scholten, E., Ethiek i11 frngmenten. Vijf studies over kolo- ninnl denken en doe~z van Nederlanders in de hufoni!Sische nrchipe/1877 - 1942 (Utrecht, 1981 ). Loos-Haaxman, J. de, Verlaat rnpport In die. Drie eerrwen 1vesterse sc/zilders, tekenaars, gmfici, zilversmeden en J,:unstijveren in Nederlands-Irzdie ('s-Gravenhage, 1968). Loos-Haaxrnan, J. de, Verlnnt rapport lndie.llomnuzge nan een ver- stild verledell (Franeker, 1972). Lowensteijn, G.F.E.W., Ujst vnn lages 'lDelke o11dcr hel Grootooste11 der Nederlnnden en loges, welke onder bllilenlmtdse Groot- mndzten op Nederlnnds gebied werken of gewerkt hebben (Den Haag, 1961 ). Mansvelt, W.M.F., 'De positie der lndo-Europenne11', Koloninle St11dien (Amsterdam, 1897).

Naeff, F., Het nnnzien Vntl Nerlerlnnds Indie. Herinneringen nnn een kolon inl ver/edm (Amsterdam, 1978). Niel, R. van, The Emergence of the Modem Indonesian Elite (fhe Hague, 1960). Nieuwenhuys, R., Tempo doeloe. Fotogrnfische doCHnzenten uit lief oude lndie 1870- 1914 (Amsterdam, 1961). Nieuwenhuys, R., Ko111e11 e11 blijven. Tempo doeloe, een verzonken were/d. Fotogrnfisclle docwnenten uit het oude lndie 1870- 1920 (Amsterdam, 1982). No to Soeroto, Van overheersclting nnnr ze~fregeering, een stnntkundig stelsel voor lndonesie op nristo-democrntischen ground- sing (z.pl. 1931). Oranjc, D,J.P., Het beleid rler Commissie-Gt!Heranl. De uihaerking der beginselen van 1815 in het Regeeriugs Reglement van 1818 (U trecht, 1936). Oude Pliclt/e/1 (De), (The Old Charges) ('s-Gravenhage, 1946). Pie ren, A., 'Bijdrage tot de geschiedenis der loges 'La Vertueuse' en 'La Fidele Sincerite te Batavia, welke loges in 1837 7kh vereenigden onder den naam 'De Ster in het Oosten', lndische Mafonnuiek Tijdschrift, 7, 1902. Pieren, A, ' Mededeelingen uit de geschiedenjs der eertijds te Batavia gevestigde loges', lndisch Ma~onniek Tijdschrift 7, l903. Poerbo Hadiningrat, R.M.A.A., Waf ik als }tnmnn voor geest en gcmoed in de Vrijmetselnrij heb gevonden. Uit rle nngelate11 pnpieren, verznmeld en llitgegeven door R.A.A. Pnkoe Alnm (Buitcnzorg, kl. 1928). Radermacher, J.C.M., 'Hoe 't er vroeger in de Bataviaasche Bovenlandcn en de Preanger-Rengentschappcn uitzag', Tijdschrift voor Nederlands Indie 8, jld. 2, 1856. Resink, G.L 'Boedi Oetomo' in Vorstenlandse omgeving', Bij- tirngen tot de Tnnl, l..nnrl- ell Volkenlamde 132, no. 4, 1976. Romein-Verschoor, A., Omzien in venuonrlering Herinnen·ngen, pd. I (Amsterdam, 1972).

H.A., In hetland van de overheerser. Indonesiers in Nederland 1600 - 1950, jld. 1, (Lei den, 1986).
Schutte, G.]., De Nederlandse patriotten en de kolonien. Een onderzoek naar hun denkbeelden en optreden 1770-1800 (Utrecht, 1974). Snoek, K., ' De vrede van aan veel deel te hebben, heel aileen te staan. Een vraaggesprek met de dichter. G.J. Resink,' Het Oog in het Zeil, 6, 1987. Stapel, F.W., De gouverneurs-generaal van Nederlnndsch -Indie in woord en lJeeld (Den Haag, 1941). Termorshuizen, G., PA. Dnum. Journalist en romancier van tempo doeloe (Amsterdam, 1988). Terugblik 1938 - 1992 en de renies in Nederland van de scholen van de Carpentier Alting Stichting te Batavia-jakarta (t.tmp.,

1992).
Veer, P van 't, De Atjehoorlog (Amsterdam, 1969). Verslag der feeslviering van het 75-jarig grondwettig bestnan der Vrijmetselnrij te Batavia, gehouden in de loge 'De Ster in het Oosten', op den 16denNovember 1844 (Batavia, 1844). Veth, B., Het Leven in Nederlandsch-Jndie (Amsterdam, 1901). Veur, P.W. van dcr, In troduct-ion t·o n Socio-Political Study of the Eurasinnsofindonesin (Ithaca: Cornell Univ. Press,1955). Veur, P.W. van der, ' De Indo-Eurepeaan. Probleern en uitdag- ing', dalam: H. Baudet dan I.J. Brugrnans (red.), Bnlans van beleid. Terztgblik ap de laatste halve eeuw Nederlnrzdsch-Tndie (Asse.n, 1961). Vem~ P. W. van der, Freemasonry in Indonesia from Radermacher to Soekanto 1762-1961 (Athens, Ohjo: Univ. of Ohio Press, 1976). Veur, PW. van der dan Lian The, The'Verhnndelingen van het Bntnvinnsch Genootschnp '. An annotated analysis (Athens, Ohlo: Univ. of Ohio Press, 1973). Visser Smits, D. de, 'Wie is de grondlegger der vrijmetselarij op Java?', Jndisch Mn~onniek Tijdschrift, 26, 1921.

Visser Smits, D. de, 'Hetland onzer inwoning', Tndisclz MnfOil- niek Tijdsdirift, 35, 1929. Visser Smits, D. de (red.), Vrijmetselnrij. Geschiedenis, mantscllnp- pelijke betekeenis en doe/ (Batavia, 1931). Visser Smits, D. de dan j.A.J. Vermaat, 'Maatschappelijk werk der Orde van Vrijmetselaren', dalam: D. de Visse r Smils (red.), Vrijmetselarij. Geschiedenis, maatsclwppel!jke beteekenis en doel (Batavia, 1931). Wal, S.L. van der, Het ondenuijsbeleid in Nederlnnds-I11die 1900-

1940. Een brounenpublicatie (Groningen, l963).
Wal, S.L., van de1~ De Volksrnnd en rle staatkzmdige ontwikkeling van Nederlands -lndii!. Ce11 bronuenpub/ikatie Tweede shtk 1927-1942 (Groningen, 1965). Yong .Nlun Cheong, H.J. van Mook and Indonesimt lndepl'ndece. A st11dy of his role in DutcJz-Tnrlcmesian relations 1945-48 (The Hague, 1982). Zeijlemaker, Jb.Jz.n., De Vrijmetselarij Ontleerl ('s-Gravenhage: Stid1ting Fama Fraternitas, 1972). Zuiderweg,A.,'jacobus Comelis Mattheus Radermacker (1741 -1783). Een notabel wetenschapper tc Batavia', ln- d isd1e Letteren, tit 6, no. 4, l 991.

NAMA-NAMA

Belt, van den, 436 A Bennebroek Everts, 445

Bennebroek Everts, 445
Aanzorgh1 l.l 92 Bennet, br., 435
Abegg, J., 91 Bensemann, 409
Aerssen Beyercn, baron A.N. Bestbler J.N., 67
vnn,8 Beusechcm,
Alders,436 Blankert 450
Alphen de Veer, G.N. vnn, 240 Blom, H.S. van der, 437, 443
Alting, W.A.,52, 90 Boeckholtz, P. van, 103,113,114.
Anderson, J ., 9 Boekhorst, D. te, 74
Andre de Ia Porte, G.l 586 Boehnan, 436
Andree, Wiltens, 135 Boetzelaer, baron C. van, 8, 24
Andriesse, W.J., 75, 278 Bogaard, van de, 74
Ang Goan Hoat, 555 Bois, du, 9
Aquasie Boachi, 163,29 Boo berg, K, 435
Arnold, C.L., 435,436 Boone, A., 67 Bousq11et, I., 104, 109
Ba lkum, J .W. van1 498 13ow ier, 104
Balmain, C.j., 73 Bree, de, 409
Bassothiel, Brinck, 436
Batenburg, Ir. J.Ph. van, 422

1 J .M. van, 104, 585 1

J.
J.P.J.
Bosch, J. van den, 54, 107, I 23 B

Br<1he, 63

J., 110,114

NAMA-NAMA

Broek, H.A. van den, 121, 436 D Bruin, J. de, 122

Bruin, de, 122
Bnmeau, 120 Daansen, 135
Bruyn, J., 494 Daendels, H.W., 52, 72,100, 101,
Bultzingli:.iwen, G. von, 260 102, 121, 124
Burmeister, W.E.J., 407 Dagran, L., 7, 8
Bus de Gisignies, du, 107, 108 Dam, van, 436
Buys, 296,394 Davidson, ir. C.M.R., 176, 539. 540, 548, 554,557,558 Decker, J.B., 74 Deibel, F. G., 494,546,556
Cantebeen, C., 75 Del gorge, 586
Cantzleiter,j.M.,ll4 Denker,436
Capelien, baron G.A.G.Ph. van Deventer, rnr. C.Th. van, 192
der,86 Dijkers, M., 494
Caron, rnr. Diksd1ei, 434
512 Carpentier AJting, A.S., 13, 161, Disdler, H.I., 66
162, 167, 205, 206, 207, 208, Doom, C.H. van, xvii, 251, 255
217, 219, 220, 276, 393, 499, Dort, van, 434
571, 575, 580, 586 Douwes Dekker, dr. E.F.E., 53,
Carpentier Alting, J.H., 18, 35, 202,203,282,283
161,162,222,283,291 Drukker, 450
Carpentier Alting, Z.H.,451,461, Dwiyosuwoyo, Tn. 356
465,501,504,510,586 Catten bmgh, 123 Charlouis, Ch.I., 410, 458, 461, Dzulkarnain, mr. T., 521
465,476,477 Eck, H. van, 206, 221, 494
Oignett, A.H., 119 Eerens, D.J. de, 107, 13'1
Colmond, Ch.L.,66 Eggert, W. Chr., 69
Cool, ir. Wouter, 40,304,418,586 EinU1oven, F.A., 213, 214, 274
Coolhaas, W. Ph., 324, 325, 326, Eko Winangun, 218
327 Elout, mT. C. Th., 103,104
Coopmans, 135 Elst, R. van, 64
Coortsen, J.R., 69, 91 Elwijk, Ph. D., 91
Comabe, A, 64 Cornelius, H. Ou-., 122 Engelhard, N., 17, 58, 69, 71, 81,
Cranssen, W.J., 103,110,111 Engelstroom, 63
Cras, P.C., 83 Engert, P.P., 74 E ysden, n, 66

c

J.H.,

L.J.L 460, 463, 510,

Dithmar Smit 74

H.J. van, 74, 121,

E

82, 84, 91, 98

J. va

H

J.,

Hacker, 91
Hakker, F., 91 Hamengku Buwono, 150,301 I lamengku Buwono IX, 444
F.P.J., 135, 136 Hamengku Buwono VI, 301
Flines, de, 436 Hamengku Buwono VITI, 301
FJothuis, 436 Hamer, den, 265
Foeyt, F., 83 Hamid Alkadri (Sultan Hamid £1),521
Prins., 149, 151, 159,592 HanUl)~cher, P., 494
Frees, de, 122 I lan Tjwan Ho, 494
Freyn, de, 74 Handke,21S
Freyn, de, 74 Hart, dr. ir. H.M.J., 452, 481, 530 Hartz, G. Chr., 83 Hasselaar, J.G.D., 69, 83 Hatta, drs., 171,372,482,528,543
Garrison, W., 92 I leek, 442
Gaster, Heiden, W.J-LT., 465
Gaupp, C.F., 122 Heijs, L. van, 64
Geelen, van, 135 Heilman,89
Gehren, van, 66 Helsdingcn, A. van, 83
Gerritsen, K.G., 494 H enny, T.,585
Geus, A. de, 59, 66, 75, 95, 121, Herfkens, Th., 555
385 Herman de Groot, J.F.., 241, 2R4
Gillespie, R.R., 103 Herman us, A.M., 547, 556
Gobius,63 Hermanus, C.C., 122
Goldman, J.C., 104, 131 Hertbrugge, V.j. ter, 66
Gondokusumo, m.r. dr., 491, 492, Heukevlucht, 83 Heyden, K. van der, 153, 442
Goor, C.E. van, 71 Heynis, K. Pzn., 122
Greeve,J., 97 H eyser,J.F.G., 110,114
Groneman, l., 307 Hoedioro Sontoyudo, ir., 540
Grotenhuis, Hoekstra Klein, dr. in g.
Guitard, H.I., 92 Hoesen, S. van, 91
Gunst, B. van der, 74 Hogendorp, D. van, 91
Gustdorf, F., 238, 239, 240, 241 Holle, .H., 91
GiitzJaff, von, 75, 111 Holle, mr., A., xxxvii, 78, 496, 500, 505,506,529,540,546,549 Horn, M. van den, 494 Hultman, C., 585

Frederik der N ederlandcn,

J.
J.
0.
G

J.,

J. C. G., 244

J,

J.
535,536,538

J.J., 494
J. W., 494

J

J.H.

biDEKS NA.\1A-NAMA

Hwan Hay Kie,555 Klerk, R. de, 51, 94
Hylkema, K., xxxvi, 247, 250 Klooster~ Knops, J,, 112, 114, 117 Knuvel, C., 69 W.S.B., -146, 448, 449
Idenbt~rg, Ko MoAn, 32, 310 Kocl1, D.M.G., 344
Idsinga, van, 91 Kock, H.M. de, 585
Imhoff, van, 61, 62, 68 Kocts, dr. P.j ., 375 Kol, lr. H. H. van, 261 Kol, I r·. van, 190
Jaggie, J., 66 Kolhorn Visser, 439, 442
Jansen, mr. dr. L.F., 452 Konema n, 450
Jansen, P., 121 Koning, .F.A.M., 380, 382
Jansse,436 Kraay, L 75
Janssen van Raay, H.).G., 288, Krayenbrink, 206
289, 290, 291 Kreysrnan, D., 85, 91
Jaspe.t•, J.E., 428A29, 430, 431 Kronouer, H.C., 586
436,586, Kusumo Yudo, P.A .. 30
Jiskoot, Jong, F. de, 441 Kutai, Sultan vru1, 300 Laban, M.P. C., 565, 566
Jullicn, 436 Lambcrge~·, Lamberger, W., 117 Lange, de, 235, 236 Langet1berg,436 M., 117
Kamarga, 453 La wick van Pabst, baron Ph_ H.,
Karnil, R., 175,316,353,356, 357 van,117,227
Ka.mphuys-Rekllnghuyse, P., 74 Lewin, K., 500, 507,562
Kartini, R.A., 306, 312 Liauw Kok Liong, 555
Keetelaar, H., 74 I ie Khong Tec.k, 137
Keizer, W.H. de, 392, 494 Lie Saaij, 137
Kernkamp, 434, 450 Lie Thiam Kiern, 150
Kesteren. C. E. vru1, 159, 267 Liem Bwan Tjie, ir., 484, 490,491,
Kieboom, W.A.C. van den, 494 535,537, 538,540
Kinderen, mr. T.H. der, 154, 158, Liem King Tjjauw, 49 1, 538, 540 Liem Mo Djan, drs., 540, 555
Kipling, Rudyard, 19, 20,21,22 L!erde Ooprogge, P.B. van, 75
Kistler,J.H., 110,114 Limburg Sth·um, mr. G.J., 349,
359

I

A.W.F., 259
J

J

1432,

J .] ., 460, 465

jongjr, D.de, 494 L Jonge, Jonkheer B.C., de 367, 378

Jutting, Th., 131

K

1 Leuft-ink, A.J., 72 358

H.O. van der, 30, 31,
33 Linke, G., 74 Loa Sek Hie, 470, 4811491, 518, 530,538,546,550,557 Lovink, dr.A.H.J.,481, '527 Lubke (Leupken), C./., 63 Ludwig,J.H.W., 111,114 Lugtenburg, A. van, 114

M Maas, N., 69, 73178 Mahler,434,437 Mangkuwinoto, R.M.M., 547 MangLmkusumo, d1·. Tjipto, 283 Mangwlkusumo, Gunawan, 341 Mangunkusumo, Sarwoko, 546 Mansur, dr. Tengku, 462, 521 Manusama, ir. J.A., 514, 515 March art, 64 Marjib10, M., 547, 556 Massau, G.C.J. van, 91 Maurer,419 Maurer, H.I., 416 Maurik, J. van, 32, 33, 38 Maurisse, P.S., 102,104 Maybaum, (Meybaum), L.N.,83 Meertens, H,J ., 225,586

Meeverden,N. van,122 111
Michelis, A. Ph., 114
Minto, Lord, 102 Paku Alam VI, 29, 302, 313 Paku Alam VII,30, 302,305,314,

Meiners, C., 122

Middelkoop, J.M. van, 112, 114, 121, 123

Mist, J.A. de, 10 Monad de Froideville, 150 Mook,A.A.M.van,339 Mook,H.J. van,xxv, 174,338 Mook-Bouwman, C.R. van, 339 MosL Dr. G., 494, 498

Meunier, mr. P., 75 Mulder, H., 74 Muntinghe, mr. H.W., 123 Musquetier, A., 66, 69, 83 Mussert, 367, 415

N Natawijogja, R., 544 Nawi1~ dr. A.,547 Nederburgh, mr. S.C., 110, 111 Nispen,Jhr. W.W. van, 152 Notodirodjo, P.A., 167, 259, 302r 305, 310, 311, 312 Notokusuma, P.A.A., 29 Notonegoro, R.A., 445

0 OdlSe, ].]., 404, 405,407,410 Oosterop, 436 Oostingh, 436 Ophuysen, mr. A.H. van, 169, 416, 418; 419, 420, 42 2, 424, 586 Ostheim, A. van, 122 Ostmeier, J.J.B., 353,354,355 Otto,436 Ou werker, van, 436 Overstraten, P.G. van, 52, 69, 91,

p Paku Alam V, 29, 150, 302, 310, 313

Paku A lam VITI, 175 Pakvis, 447 Palm, H., 111, 114

Parra, P .A. van der, 51, 59, 73 Resink, .A., 347
Parve, 117 Resink, Th. G.]., 316,346,347
Penning Nieuwland, 70, 127 Resink-Wilkens, MW.A.J.M.,47
Permadi, dr., 553 Resink-Wilkens, MW. A.J.W., 213
Perron, E. Du, 364 Reuhl, W., 441
Pesman, Pielat, L.C., 122 Reyn, J Rh.eede tot den Parkeler, bar on, .A. van, 565
Piron, 90, 108 ].F. van,91,100,111, 112,114
Plaats, prof. dr. van der, 435, 437 Ridley,435
Poederoyen, B.J., 494 Riemsdijk,
Poerbo Hacliningrat, R.M.A.A., Riemsdijk, W. van, 81
317, 318, 337, 573 llijk, 122
Poerbosoedibjo, R.M., 494 Rijswijk, M.J. van, 107, 494
Pott, mr. J.G., 208,238, 243, 586 Rogge, C., 393
Prawoto Soemodilogo, R., 476 Rogge Vis, A., 74
Prediger, Rohrborn, P., 66
P rior, 444 Rolff, L., 91
Probonegoro, R.T.A., 494, 556 Romberg, H.C., 90, 91
Proper, H.H.,436 Roos, j.F., 122
Proper, T.C., 436 Roskopff, 265 Rosse!, H.A., 64 Rost van Tonningen, M.M.,411 Rothwell, 436 Rubenkoning,J., 111,114
Raaf, de, 67 Rachman, Abdul, 300 Raden Saleh, 28, 172, 300, 500, 509 Ruys, W., 502
Radermacher, J.C.M., 8, 1 6,43, 57, 63,66,94,570,580 Sack, Salis, baron A.M. Th. de, 124 122
Rae£, ).5. de, 72 Sando I roy, S. de, 75
Raffles, T.S., 50, 52, 82, 103, 117, Scheevikhaven,J. Larwood van,
301,305 11, 14, 15, 16
Ras, xvi Schenk, J.H., 74
Ravenswaay, 135 Reemer, Chr. B., 66 Scherer, G.A., 225
Reemer, J.M.,66 Schmaltz, J., 116
Reese, S.D., 261 Schmidt, .M.M., 92
Reeser, S.D., 339 Schneider, J.U.,66
Reimer, C.F., 73 Scholten van Oud-Haarlern,
Reinkin, G.A., 122 van,585
Res ink, A., 346 Scholten-Locher, 198

J

J .]., 422, 423, 424, 586
J.A. van, 51
J .,
J .F., 111

Puy, P.P. du, 111

R

s

H.J .A.,
Schill. ] ., 37, 129

J

C.J.

K., 440
Schult-z, Mr.J.C., 74 Schwartze van de Senden, Mr. }.G., 75 Senn, A. C., 91 Sesseler, L.E.S., 494 Sevenhoven. J.I. van, 104, 128, 585 Sewaka, 491, 535, 538, 544, 550, 552,555 Sibenius Trip, C. B., 449, 451, 586 Siberg, J., 91 Siderius, J ., 74 Sie Wie Ho, 547, 556 Siem Soe Ho, 550, 555 Sloet van de Beele, baron, 37 Sluyter, I., 505, 507 SnouckHurgronje, 340 Soebal i, R.M ., 540, 555 Soedjono, RT., 175,494,496,533, 546, 550, 556 Soegondo, R.M.G., 550 Soekanto Tjokrodiatmodjo, R.S., 172, 506,509,546,548 Soekarno, irv xii, 171, 329, 371, 375, 379, 481, 507, 528, 583 Soenarjo, R.S,. 495 Soendoro, M., 509 Soeparto, R., 490, 536, 539, 541, 544, 547, 548, 550, 554, 556, 557 Soeprapto, R.T., 490, 495, 497, 546,556 Soerachman Tjokrodisoeria, ir.

R.M.P.,452
Soerjaning;ra•t, RM. Soewardi, 233 Soerjo, R., 491,509, 538', 540,542, 543, 544, 550, 555 Soerjoatmodjo, P.A., 175 Soerjodilogo, P.A., 150, 301, 308 Soerjodiningrat, P., 204

Soesman, 150 Son, D. van., 75 Sonneveld, mr. W., 298, 586 Sosrohad!kusumo, R. Ngb., 452, 464, 465, 470, 480, 518, 525, 536,539, 542,55~557 Spit, mr. H.J., 374 Stamhorst, Y. van, 67 Stave,]., 74 Steendekker, G., 14, 16 Sterck, 6., 74 Steux, P. van der, 293 Stigter, J., 245 Stockum, H. van, 69, 83 Stokman, J.Y...I., 74 Stolz, 434, 436 Subroto, Mr. Dr. Ngb., 453 Sujono Tirtokusumo, R., 314, 315 Sumeru, R., 327 Sumitro Kolopaking Purbonegoro, R.A.A., 389, 555 Surlpto, R.M.,204 Sutedjo, R., 555 Sutisno, 540

T Teylingen, I. van; 113 The Bun Keh, 31 Thon, W. Th. E., 586 Titsingh, I., 90 Tjoa Soe Tjong, drs., 509, 550 Tjokroadikoesoemo, R.M.A.A., 175 ljokroarrtinoto, R.U.S., 358 Tjokronegoro, R.A. Pandjl, 300 Tjond ronegoro, RJvi. T.S., 518, 520,521, 522,523,524 To!, van, 445 ToUens,434 Tongeren, H. van, 181, 416,417, 419,420,422,423,424r428

Townsend, 135, 136 Treub, dr. M., 163 Tromp, J., 106 Tromp, S.C., 154

u Uhl, J.H, 430 Uncn,A.I.A. van, 181

v Valettc, Th. G.G., 222,586 Veen, J.C. van der,83, 85 Velde, K. ten, 448 Veltkamp, W.D., 495 Veltmans MLlntinghe, O.G., 104 Verhagen Melman, 450 Verhuell, Q.M.R., 38, 45,124,126 Verijssel, 63 Vermeulen, J.Th.,556 Vermeulen, Th. R.W., 547 Verspeyk, J.S., 75 Verwoerd, 436 Viefhaus, E.F.W., 406 Visser J w·gens, M ., 75 Visser Smits, dr. D., xxxii, 34, 36, 37, 39, 64, 65, 68, 101J111I 114, 118, 121, 168, 222, 251, 252, 265, 268, 304, 319, 333, 335, 385, 395, 401, 403, 424, 465,515 Vlolen, T. van, 440 Vollenhoven, J. van, 134,340 Voort, van der, 63 Von~ P. va:n der, 83, 84 Voute, C.P.,426

w Waal, }.H. de, 37 Wall, Dr. V.I. van de, 41

1ND£K5 NA..IA-NA:VIA

Wardenaar, J .J ., 74 Wardenaa!',j.W.B.,lll Wassenaar, baron }.G. vall, 8 Waterloo, M., 111, 114 Wee rC P. van de, 69 Wegner, 74 Weimer, Br., 435 Welters, 111 Weski,406 Wesselman,)., 73 Weyden, A. van der, 16, 67, 70, 92 Weydig,}., 110, 114 Wichers, A .J ., 136 Wijck, J. van der, 66 Willekes Macdonald, r.L., 235 Willemenstijn, M.,585 Willems, W.A., 91 Willemsen, 394 Win, P.A. de, 74 Winkelrnans, G.F., 74 Wisaksono Wirjodihardjo, M. 470,481,518,521,530,540 Witzenbur& A van, 20712 18, 222, 237, 238, 244, 279, 280, 281,282 Wolff, dr. S.W. de, 465 Woll ~ogen, C. van, 111 Woul, J.F. Vall, 122 Wreksonegoro, dr. R. Almadi, 497

z Zainat 445 Ze.rb,436 Zeylemaker, prof. dr. Jb., 423, 424, 442, 449,450,586 Zeylinga, nrr., 435 Zikel, E. F., 498,546 Zikel -Picard, 498 Zwikkert, }.A., 122

only. works

this reasons. rules!!! purposes of any the

by printing

informational nor e-book accepting & this of

means attempts series

educational for the document to

commercial this Digitised

Neither permitted are

Downloading