Baca PDF (OCR): Sisa Kertas #3 – Industrialisasi (Maret 2018)

20 halaman · 20 halaman diproses dengan OCR· 32498 ms

Daftar isi
  1. SISA #3
  2. KERTAS
  3. KABUPA
  4. Perjalanan Panjang Industrialisasi di Sidoarjo sejak 1835
  5. Jalan Keluar (Paragraf Sambat)
  6. Dosen,Pakar sejarah hingga Mahasiswa yang hampir terperosok dalam lubang tai
  7. poster gigs. Terus terang kami cukup kwalahan dan kerepotan membagi waktu
  8. dicetak. Maka kurang ajar jika kalian hendak membandingkannya dengan editorial
  9. kami mengingatkan kalo itu bisa meninggalkan luka dalam yang menganga
  10. mencari jalan keluar dari derasnya arus ke-tergesa-an hidup yang semakin
  11. DARI AGRIKULTUR KE MANUFAKTUR:
  12. Perjalanan Panjang Industrialisasi di Sidoarjo Sejak 1835
  13. Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar merupakan daerah basis agrikultur lagi, tetapi
  14. DEKLARASIUNTUK
  15. PEMBANGKANGAN
  16. II. Dunia Spektakular: Perbudakan Sukarela
  17. menciptakan komoditas, bekerja keras dengan upah tak seberapa, lalu pulang untuk
  18. Padahal komoditas itulah yang nyatanya menyita kebebasan dan waktu luang yang kita
  19. Para budak menghuni dunianya sendiri serupa penjara, sebuah tempat dimana
  20. pencitraan—sebuah imaji tentang keamanan, kenyamanan, kemudahan ataupun
  21. pada hal tersebut, dan mereka akan memilih siapapun calon perwakilan yang paling sering
  22. melibatkan diri secara langsung ke dalam proses penghancuran sekaligus penciptaan
  23. Momen-momen terindah dari kehidupan para budak telah terlepas sebegitu mudahnya dari
  24. genggaman, bahkan semenjak melangkah keluar dari pagar rumah, kepatuhan tak
  25. Pertimbangkan bahwa hirarki sosial telah mengerdilkan kapasitas kita untuk membangun
  26. kepala. Apalagi yang tersisa untuk perjuangan pembebasan bersama orang-orang yang
  27. Karenanya, pembangkangan harus dimulai dengan menghancurkan belenggu pada diri kita
  28. SATIRE
  29. Sidoarjo
  30. Review Film:
  31. ÁDA APA DENGAN CINTÁ 2
  32. Cinta2
  33. CINTA
  34. PAS LAGI
  35. SUMPEK
  36. Nama: Diran
  37. Jenis kelamin
  38. Tempat TgH ahir
  39. DESA PROVI KOT 716538016 RT/RWAlamat : Peleran KECAM
  40. SuperMagic
  41. TUHAN TIDAK MAKAN IKAN
  42. Review Buku
  43. TUHAN
  44. Gigs: Taman Bermain
  45. Skip!
  46. TEKA
  47. TEKI SATIR
  48. JAWABAN
  49. ZINE EDISI KEDUA
  50. Diksi
  51. Embongan
  52. Bencana Akibat Keserakahan Korporasi Yang Kini Menjadi Tempat Rekreasi
  53. PENGEBORAN
  54. LECEO
  55. MOH..
  56. SAYANG
  57. XLIHAT SINI
  58. KILL YOUR
  59. SISA KERTAS ZINE

SISA #3

KERTAS

KABUPA

*DARI AGRIKULTUR KE MANUFAKTUR:

Perjalanan Panjang Industrialisasi di Sidoarjo sejak 1835

*BENCANA AKIBAT KESERAKAHAN KORPORASI YANG KINI MENJADI TEMPAT REKREASI ...dan masih banyak lagi tulisan dan karya kawan kawan lainnya

  • EDREA

    Jalan Keluar (Paragraf Sambat)

Mungkin tidak banyak yang bisa saya katakan untuk edisi kali ini. Tapi kali ini kami merasa cukup spesial karena berhasil menodong beberapa kawan untuk ikut mengisi halaman di zine ini. Mereka dari latar belakang yang berbeda, mulai dari

Dosen,Pakar sejarah hingga Mahasiswa yang hampir terperosok dalam lubang tai

sejarah. Untuk golongan yang disebut terakhir, saya kenal cukup baik dengan mereka. Ya, mereka lah sebenarnya yang menodong saya dan beberapa kawan untuk ikut mengisi zine dan segera merampungkannya sebelum April tiba.

Semangat sekaligus antusiasme mereka untuk berkegiatan dan berkarya saya rasa sangat patut dihargai. Mengingat kami juga sedang dalam persiapan acara pemeran

poster gigs. Terus terang kami cukup kwalahan dan kerepotan membagi waktu

antara tugas kerja, tugas kuliah, jam kencan, latihan band dan gigs yang membuat kami harus rela mengurangi jatah waktu tidur kami 2-3 minggu ini. Sehabis isya' hingga sepertiga malam pada rentang waktu tersebut kami harus siap berjibaku dengan kertas, print, mesin fotocopy, kardus bekas, cat, lampu trotoar, lampu pameran dll. Bahkan tulisan ini baru saya kirim beberapa jam sebelum zine ini

dicetak. Maka kurang ajar jika kalian hendak membandingkannya dengan editorial

yang elegan dari jurnalis sekaliber Goenawan Muhammad apalagi menyejajarkan dengan zine se-kickass Aksara Merdeka (yang sekarang jadi bacaan favorit teman-teman saya dan penulisnya mengirim tulisan untuk edisi ini di detik-detik akhir. Jancuknya bukan maen) #jembvt

Tapi tenang saja, kami tidak sedang terburu-buru ataupun mengejar angka. Teman

kami mengingatkan kalo itu bisa meninggalkan luka dalam yang menganga

bernama penyesalan. Kami hanya mencoba membendung semangat dan gairah,

mencari jalan keluar dari derasnya arus ke-tergesa-an hidup yang semakin

brengsek dan mendesak ini. Belum waktunya kami menepi!

Oke! Selesai sudah. Sampai juma di edisi selanjutnya. Siapkan amunisimu mulai dari sekarang, karena SisaKertas edisi 4 akan bertemakan Alkohol. Salam Waras!

Kontibutor pada zine ini: Ronal, Erwin, Deff, Sadam, Edrea, Kab, Rere.

OTW

DARI AGRIKULTUR KE MANUFAKTUR:

Perjalanan Panjang Industrialisasi di Sidoarjo Sejak 1835

  • RONAL RIDO'I Sebagai orang Sidoarjo, banyak kita dengar dan lihat penggunaan kata "delta” untuk menjelaskan berbagai hal di daerah ini. Mulai dari Gelora Delta (stadion), Delta Surya (Rumah Sakit),[Delta Mania (supporter sepak bola), hingga Delta Sari Baru (perumahan di Kec. Waru), dan sebenarnya masih banyak lagi yang lainnya. Mengapa bisa demikian? Jika dilihat dari realitas historis dan ekologisnya, memang Sidoarjo merupakan sebuah daerah subur yang terletak di antara dua sungai besar, yaitu Sungai Mas dan Sungai Porong. Hal ini yang kemudian membuat daerah ini dikenal sebagai Kota Delta. Sehingga, kata “delta” sudah menjadi branding kota dan seringkali digunakan untuk menamai apapun yang berhubungan dengan Sidoarjo. Hingga akhir abad ke-18 kawasan delta masih tergolong daerah yang belum mengalami industrialisasi. Daerah ini sangat subur dengan persediaan air yang melimpah, dan sangat cocok untuk pengembangan sector agrikultur, baik itu dalam bidangpertanian maupun pertambakan. Bahkan, jauh sebelum itu
    F.A. Sutjipto dalam Kota-kota Pantai di Sekitar Selat Madura (Abad XVII sampai Medio Abad XIX) menyatakan bahwa Sidoarjo merupakan basis pertanian dan pertambakan sejak pertengahan abad ke-17. Daerah ini merupakan lumbung padi dan juga terkenal dengan hasil tambaknya. Pertanian dan pertambakan kemudian terus berlangsung hingga saat ini. Bahkan mengilhami ikon Kabupaten Sidoarjo saat ini, yang terdiri dari tumbuhan padi dan tebu, serta ikan bandeng dan udang.
    Dekade ketiga abad ke-19 pemerintah colonial mulai menjadikan Sidoarjo sebagai kawasan industri gula. Hal ini disebabkan oleh potensi daerah yang cukup bagus dan cocok untuk perkebunan tebu. Maka dari itu, sejak 1835 pabrik gula pertama di Sidoarjo berdiri dan menandai proses manufakturisasi hingga saat ini. Bedanya, jika pada awalnya industry manufaktur hanya focus pada produksi gula, maka sejaktahun 1950-an hingga sekarang industri manufaktur sudah melirik bidang lainnya. Seperti industri berat,

pertambangan, kimia, aneka industri, industri kecil (kerajinan rakyat), dan lain sebagainya. Bahkan, proses manufakturisasi di Sidoarjo telah dilirik oleh banyak investor dari luar negeri. Salah satu contoh yaitu PT. ECCO Indonesia yang merupakan pabrik sepatu dengan penanaman modal dari Denmark. Hingga November 2016, sensus ekonomi

menunjukkan data realisasi investasi Kesimpulannya, saat ini Sidoarjo sudah bukan

Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar merupakan daerah basis agrikultur lagi, tetapi

Rp. 1.880 triliun yang menyerap 3.589sudah menjadi basis industry manufaktur. Akhirnya, menjadi sebuah paradox ketika ikon tenaga kerja pada 26 unit usaha. oleh Pertumbuhan tersebut didukung Kabupaten Sidoarjo saat ini melambangkan dan perkembangan infrastruktur jalan agrikulturistik. Padahal sector tersebut sudah jaminan keaamanan investasi asingtergeser dan dimanufakturisasi oleh para maupun dalam negeri di Sidoarjo (JawaPos,pemilik modal. 17 Februari 2017). *Penulis merupakan Dosen di Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. industrialisasi telah Email: [email protected]. Kenyataannya, mengubah citra Sidoarjo dari daerah dengan sektor pengembangan agrikultur menjadi kawasan manufaktur terbesar di JawaTimur. Hal itu dibuktikan dengan pendapatan asli daerah Sidoarjo dari sector industri tahun 2016 yang mencapai lebih dari 58 Trilyun. Sedangkan, pendapatan asli daerah dari sector pertanian, kehutanan, dan perikanan hanya 2,6 Trilyun (sumber: Sensus Ekonomi 2016).

DEKLARASIUNTUK

PEMBANGKANGAN

ERWIN DEWANTORO. Pegiat Aliansi Literasi Surabaya, dan zine Aksara Merdeka e-mail: [email protected]

I. Potret Peradaban: Dominasi dan Keterasingan

"The world is a dangerous place, Elliot, not because of those who do evil, but because of those who look on and do nothing." Mr. Robot

Kita hidup di jaman modern, dan tampaknya tak ada lagi yang bisa menandingi kedigdayaan Amerika Serikat—tanah kebebasan bagi para pemimpi dan pemberani. Tetapi apa yang menyebabkan kredo "American dream” secara fundamental berbeda dari setiap masyarakat yang telah eksis sebelum kita? Jawabannya adalah konsumerisme massa, atau sering disebut komodifikasi.

Sederhananya, komodifikasi adalah proses yang menjadikan segala sesuatu sebagai sebuah komoditas—produk barang/jasa yang dapat diperjualbelikan. Meskipun transaksi pasar dan uang telah berjalan sejak ratusan tahun yang lalu, tetapi selalu hanya didominasi segelintir orang dari keseluruhan tatanan masyarakat. Bahkan hingga abad ini, dimana sistem ekonomi pasar dibangun dari pilar-pilar yang terdiri atas segala aspek kehidupan manusia. Sekarang, ditunjang dengan berbagai inovasi teknologi, seringkali tak ada lagi hubungan yang nyata antara produksi suatu barang dengan kegunaannya. Sebab tujuannya hanya satu, akumulasi laba bagi pemodal. Apakah sebuah produk benar-benar dibutuhkan atau tidak? Sesungguhnya kita tahu jawabannya, tetapi selama sistem ini terus saja rakus mengeruk laba, transaksi jual-beli akan selalu dikaitkan dengan alasan kontribusi sebuah produk bagi peningkatan ekonomi sosial masyarakat.

Bahkan, realita berjalan lebih buruk dari kengerian yang dapat kita bayangkan.

Demi menciptakan produk yang harus laku dijual, kita dipaksa menjadi komoditas. Didoktrin sejak dini, dipupuk dengan ilusi, dicetak secara massal lalu dikompetisikan demi penawaran tertinggi. Tentu saja, pekerjaan yang layak membutuhkan investasi pendidikan yang juga tidak murah. Itulah mengapa pendidikan hari ini lebih berfungsi sebagai 'industri manufaktur' dalam menghasilkan robot-robot pekerja yang siap menerima perintah tanpa perlu banyak mempertanyakan apapun yang terjadi di dalam lanskap hidup keseharian.

II. Dunia Spektakular: Perbudakan Sukarela

"The truth is like poetry, and most people fucking hate poetry." Michael Lewis

Sebagaimana yang kita alami, perbudakan hari ini disepakati, dijalani, dan sama sekali tidak dianggap sebagai sebuah problem nyata, sehingga nyaris tidak pernah dikritisi, oleh diri kita, budak-budak yang berkeliaran di segala penjuru bumi. Kita memulai hari dengan

menciptakan komoditas, bekerja keras dengan upah tak seberapa, lalu pulang untuk

berbelanja, dan komoditas yang kita beli hanya berakhir sebagai tumpukan barang bekas.

Padahal komoditas itulah yang nyatanya menyita kebebasan dan waktu luang yang kita

miliki. Alih-alih meminimalkan, semakin tua kita malah semakin memperbesar eksploitasi dan alienasi terhadap diri kita sendiri. Semakin hari kita semakin memupuk kemalangan di atas bangkai ketidakpedulian. Setiap hasrat dan aspirasi yang kita miliki harus tergilas oleh roda-roda perbudakan yang kita rakit sendiri.

Di dalam benak para budak, pemenuhan kebutuhan hidup adalah jalan mutlak menuju kebahagiaan. Sayangnya, kebutuhan-kebutuhan baru terus saja diproduksi, lalu didistribusikan dalam sekejap, dikonsumsi, dan dengan cepat pula mengubah relasi antar manusia, dan pada akhirnya segala sesuatu yang kita miliki akan memiliki kita.

Para budak menghuni dunianya sendiri serupa penjara, sebuah tempat dimana

ketertindasan adalah harga mati. Ruang-ruang yang tersisa dikapitalisasi, dikapling dan didesain sedemikian rupa untuk mengubah segala sesuatunya ke dalam

pencitraan—sebuah imaji tentang keamanan, kenyamanan, kemudahan ataupun

kebebasan—yang ironisnya, berkubang di tengah kesenjangan. Sebab setiap inci tanah di dunia ini adalah milik negara dan kapital. Perampasan adalah keniscayaan, perlawanan adalah kejahatan.

IlI. Balada Distopia: Manipulasi Politik dan Negara

"Our first work must be the annihilation of everything as it now exist." Mikhail Bakunin

Politik praktis, dalam komando partai-partai politik yang manipulatif, tak ubahnya komoditas serupa hal-hal yang dijabarkan sebelumnya. Pemilihan umum, mulai dari level nasional hingga daerah, dipasarkan layaknya produk kosmetik, elektronik, dan sebagainya. Tentu saja setiap orang, tak terkecuali para budak, tahu bahwa iklan-iklan politik komersial adalah kebohongan rutin yang terus menerus direproduksi. Mengapa seperti itu? Mengapa politik terlihat tidak jauh berbeda? Karena orang-orang hanya mencurahkan sedikit perhatiannya

pada hal tersebut, dan mereka akan memilih siapapun calon perwakilan yang paling sering

muncul dan terlihat lebih baik di berbagai pemberitaan media massa.

Perlindungan, atau hukum, yang disediakan oleh institusi-institusi negara sama sekali tidak memadai. Keadilan memiliki label harga, sehingga kesengsaraan adalah satu-satunya yang dimiliki para budak. Potensi dan kekuatan masing-masing individu akan direduksi ke dalam sebuah arena jual-beli untuk membayar hakim atau pengacara. Para budak yang miskin, lemah, dan tidak berdaya, adalah kelompok paling bawah dalam hirarki pelayanan hukum yang ada. Di bawah kondisi tersebut, potensi swadaya komunitas akan lebih disibukkan pada persoalan pemenuhan kemampuan finansial untuk membiayai institusi pengadilan, bukan untuk merebut kembali hidup yang telah dirampas.

Satu-satunya bagian dari hidup yang benar-benar selalu dipertimbangkan dari semua rutinitas keseharian adalah keluarga. Jaman dulu, keluarga adalah sebuah pondasi fundamental dari tatanan masyarakat. Saat ini, keluarga adalah pengingkaran dari

masyarakat—keluarga adalah tempat dimana kita dapat melarikan diri dari kekacauan dunia di sekeliling kita, keluarga adalah tempat dimana kita dapat meluapkan kekecewaan pada orang yang kita cintai tanpa perlu menciptakan perubahan nyata dalam relasi sosial. Maka tak perlu heran mengapa banyak politikus-politikus konservatif sangat mencintai keluarga mereka, sehingga mampu mengutamakan kepentingan keluarga di atas kepentingan masyarakat, dan akhirnya mendorong praktek-praktek korup tiada henti. Sejujurnya, tidak ada seorang pun yang dapat merepresentasikan ketertarikan yang kita miliki—kita hanya akan mendapatkan kekuatan dengan melakukan sesuatu, dan

melibatkan diri secara langsung ke dalam proses penghancuran sekaligus penciptaan

kembali tatanan yang kita hidupi.

IV. Mempersenjatai Utopia: Dunia Tanpa Budak dan Majikan

"Rather be forgotten than remembered for giving in." Refused

Momen-momen terindah dari kehidupan para budak telah terlepas sebegitu mudahnya dari

genggaman, bahkan semenjak melangkah keluar dari pagar rumah, kepatuhan tak

ubahnya seragam sosial yang siap dikenakan setiap saat. Para budak mengutuk dan mengeluh, namun ia tetap saja mematuhi sang majikan, hanya karena ia merasa harus melakukan itu. Para budak mematuhi kekuatan hukum dan ketertiban, ia mematuhi semua kekuatan yang telah eksis hari ini, karena ia tidak tahu apa yang lebih baik dari semua yang telah ia jalani. Tidak ada yang lebih menakutkan para budak daripada sebuah pembangkangan, karena hal ini dapat meruntuhkan kemapanan semu yang ia miliki. Bagaikan anak-anak yang panik ketika kehilangan tuntunan orang tuanya, para budak akan merasakan ketakutan luar biasa jika sistem dominasi yang menciptakan dirinya ini telah melenyap.

Para budak selalu diyakinkan bahwa tidak ada alternatif lain terhadap nilai-nilai maupun aturan-aturan yang berlaku hari ini. Imajinasi tanpa batas, utopia paling liar, impian atas dunia yang berbeda telah dianggap sebagai kejahatan terkutuk oleh seluruh entitas kekuasaan.

Tidak ada yang lebih gila daripada sistem saat ini.

Pertimbangkan bahwa kapitalisme, negara dan seperangkat institusinya telah eksis sedemikian lama tanpa terus menerus dipertanyakan. Padahal dominasinya membuat hidup kita hanya sekadar berhenti pada bagaimana upaya bertahan hidup dalam mekanisme untung-rugi. Apalagi yang tersisa untuk merayakan hidup penuh gairah dan kegembiraan?

Pertimbangkan bahwa hirarki sosial telah mengerdilkan kapasitas kita untuk membangun

komunitas mandiri yang terjalin melalui relasi-relasi sehat dan dinamis tanpa ketertundukan. Semenjak kebahagiaan adalah adopsi dari gaya hidup di televisi, semenjak imajinasi adalah kurikulum yang ditanamkan di sekolah, semenjak kemanusiaan adalah berbagi sedikit uang kepada sesama, maka kita telah menciptakan tragedi sejak di dalam

kepala. Apalagi yang tersisa untuk perjuangan pembebasan bersama orang-orang yang

kita cintai?

Karenanya, pembangkangan harus dimulai dengan menghancurkan belenggu pada diri kita

sendiri.

7 teka- teki 6

SATIRE

510 8

2 4 9 11

14 12 15 16

13 JULIANSADAM

MENURUN:

  1. Aku mencintai takdir karena aku adalah takdir
  2. Paham yang menolak otoritas negara
    MENDATAR:

  3. Band Emotive Hardcore Sidoarjo

  4. Inkubator istimewa dalam menjaga
    dengan single “innermost” kehangatan di sekitar janin

  5. Bencana lumpur akibat
    3.Pesan yg bertujuan untuk
    keserakahan eksploitasi gas alam memengaruhi opini masyarakat

Sidoarjo

  1. Sex lubang pantat
  2. Besar, maha
  3. Buang buang waktu tapi nikmat
  4. Khayalan tingkat tinggi
    sembari merokok dan ngobrol

  5. Profesi penting yang dihilangkan

  6. Algojo PKI pada film Jagal
    secara sistematis

  7. Sebutan media alternatif yg sedang

  8. Sikap saling menghormati
    kamu baca ini

  9. Bintang arsenal asal jerman

Review Film:

ÁDA APA DENGAN CINTÁ 2

  • DEFF a.k.a SOBEX
    Setelah 14 tahun lamanya akhirnya film “Ada Apa Dengan Cinta? 2” (AADC 2) dibuat kembali masih dengan pemeran utama yang sama yaitu Rangga(Nicholas Saputra) dan Cinta(Dian Sastro) dan formasi pemeran lain nya yaitu sahabat-sahabat dari Cinta(Dian Sastro) tak juga berganti wajah yaitu Milly(Sissy Priscillia),Karmen (Adinia Wirasti), dan Maura(Titi Kamal) kecuali Alya (Ladya Cheryl) yang tidak hadir di film ini. Yah ini dia salah satu film drama romance tanah air kesukaan saya,karena “Ada Apa Dengan Cinta? 1” merupakan film yang pertama kali saya tonton di bioskop pada tahun 2002. Film ini adalah salah satu film yang saya tunggu-tunggu karena rasa penasaran saya bagaimana kelanjutan asmara antara Cinta dan Rangga? Ketika di film pertama Cinta harus rela ditinggal oleh Rangga yang pindah ke New York bersama ayahnya.

Berawal dari reunianCinta dengan sahabat-sahabatnya di galeri seni punya cinta,lalu mereka ternyata sudah mempunyai ide atau rencana buat liburan ke jogja tanpa ada pasangan atau laki nya masing-masing. Yah di sekuel ini Cinta dan sudah mempunyai tunangan sahabat-sahabat cinta sudah mempunyai suami masing-masing kecuali karmen yang ditinggal oleh suaminya. Dan setelah itu menceritakan Rangga yang hidup di New York, bekerja sebagai pemilik kedai kopi yang telah dia buat Kemunculan bersama teman nya. seorang perempuan di kedai kopi yang ternyata adik tiri nya bernama Sukma membuat dan Rangga kaget bertanya-tanya, dan menjadi salah satu alasan buat Rangga pulang ke Indonesia untuk menjumpai ibunya di Jogja. Jadi secara tidak sengaja mereka berdua akan

A FILM BY RIRI RIZA Ada apa dengan

Cinta2

tetapi berjumpadi Jogja dengan konteks sealami mungkin agar pertemuan tersebut ttidak terkesan dibuat-buat. Tujuan Rangga pulang ke Indonesiaselainmenemui iibunya adalah untuk mencari Cinta di Jakarta,tetapi Rangga tidak menjumpai Cinta di Jakarta dan dia memutuskan untuk langsung berangkat ke Jogja. Pertemuan mereka berdua di Jogja memang gampang ditebak tetapi yang berhasil menghadirkan kejutan adalah petualangan mereka dalam sehari semalam. Yah inti dari film ini adalah interaksi seharisemalam, dibalut dengan berkunjung ke tempat wisata Candi, sesi ngobrol penjelasan kenapa Rangga meninggalkan Cinta selama bertahun-tahun, lalu makan malam, melihat pentas seni, nongkrong di

di kedai kopi, dan berkunjung ke tempat wisata terakhir. Memang pertemuan mereka tidak bermula dengan baik, awalnya Cinta yang marah banget sama Rangga lalu akhirnya mereka berdua mencoba berdamai dan mulai mencoba mengerti satu sama lain. Interaksi sehari semalam ini semuanya dikemas secara baik dan menarik oleh Mira Lesmana dan Riri Riza. Karakter yang mereka berdua mainkan terasa sangat alami, Rangga yang masih dingin, misterius, dan tetap dengan sinisme nya masih menjadi ciri khasnya tetapi dengan kedewasaan membuat dia lebih rasional dalam mengelola konflik dengan Cinta. Yang menjadi favorit saya di film ini adalah AADC 2 tetap dengan bahasa dan puisinya, seakan itu menjadi suatu ciri khas dari adanya film ini dan inilah alasan mengapa film ini tidak bisa disebut sekelas FTV. Pada akhir cerita Rangga dan Cinta berpisah setelah Cinta tidak mau diajak balikan dan beralasan bahwa dia berada diambang-ambang pernikahan, tetapi tak bisa dipungkiri bahwa Cinta masih sayang sama Rangga. Setelah satu purnama berlalu Rangga balik ke New York menjalani rutinitas nya lagi sebagai pemilik kedai kopi,lalu tiba-tiba Cinta datang ke New York dan menjelaskan bahwa dia sayang banget sama Rangga.

Yah happy ending dari film ini bernuansa sangat romantis,meskipun tak ada kelanjutan dari kisah cinta dan rangga setelah mereka balikan. Memang sangat disayangkan, tetapi saya tetap menjadikan film ini menjadi film drama romance tanah air terbaik dan terfavorit. Mungkin jika ada yang belum menonton film ini silahkan menonton streaming di internet dengan versi HD yang pasti atau membeli CD nya ditoko-toko CD terdekat.

CINTA

PAS LAGI

SUMPEK

NIK

Nama: Diran

Jenis kelamin

Tempat TgH ahir

DESA PROVI KOT 716538016 RT/RWAlamat : Peleran KECAM

Tissue

Man

SuperMagic

TUHAN TIDAK MAKAN IKAN

Review Buku

  • EDREA
    Beberapa hari yang lalu seorang kawan menandai saya dalam sebuah foto buku di pesbuk. Dalam foto tersebut disertakan pula caption bernada 'menantang' agar saya ikut serta mengunggah buku favorit tanpa penjelasan atau alasan apapun dan menandai kawan lain yang akan saya 'tantang' layaknya pesan berantai. Dan saya putuskan untuk mengunggah foto dari buku yang sedang saya baca, "Tuhan tidak makan ikan". Awalnya saya mengira bahwa buku ini berisi tentang cerita-cerita pencarian Tuhan, tentang bagaimana memaknai ataupun Sang Ada terselip narasi-narasi besar filsuf dari Nietzsche hingga Sartre dengan bahasa yang lebih mudah dipahami bagi awam seperti saya. Ternyata salah besar. Buku ini berisi cerita-cerita sederhana yang punya selera humor yang baik. Tuhan Tidak Makan Ikan, GUNAWAN TRI ATMODJO Kalender Undangan Nikah & puisi, Imam Ketiga, dan Cabe-Cabean Berkalung Tasbih adalah beberapa bagian favorit saya. Selanjutnya silahkan baca sendiri. Oh..ya, saya sarankan dari untukmulai membaca halaman 30. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Triyanto Triwikromo selaku pengisi kata pengantar, -meskipun saya tidak kenal- tulisan anda menarik,

TUHAN

analisa yang Bagus sekali, hanya saja saya merasa porsi kata tidak makan ikandan cerita lainnya itu pengantar 10 halaman berlebihan. saya itu Bagi semacam upaya membongkar trik sulap seorang magician. Menjelaskan banyak hal yang membuat isi buku itu sendiri jadi membosankan dan biasa saja. Tapi tidak mengapa, hal itu termaafkan karena sang penulis, sodara Gunawan cukup berhasil membuat syaraf ketawa saya bekerja ekstra

Gigs: Taman Bermain

*tulisan ini pernah dimuat di zine Do It Together

  • EDREA Bukan perkara mudah ternyata bertemunya berbagai ide dan energi para pelaku ataupun merangkai kalimat untuk penggiat skena. Kegiatan berbasis gotong royong yang menjadikannya sebuah tulisan. ngga' melulu tentang perhitungan untung rugi ataupun Saya selalu merasa gagalsekedar jual beli, tapi juga membawa passion dalam akhir-akhir ini untuk kembali aktif berkarya (musik,artwork,literasi) ataupun semangat menulis dan melanjutkan terbitan kemandirian. Disana kalian bisa langsung menyaksikan zine yang saat ini mandek hanya secara live band-band yang tampil. Dengan mendatangi beberpa edisi saja. Sampai sebuah gigs, juga merupakan salah satu cara termudah akhirnya, semalam seseorang memberikan apresiasi terhadap pergerakan skena musik meminta(kalo tidak boleh arus bawah sekaligus turut berpartisipasi langsung untuk dibilang menyudutkan) saya menghidupi wadah berkreasi &berekspresi kita. Dari situ untuk ikut menyumbang tulisan terjalin interaksi yang intim se-intim mantanmu dengan yang sebenernya dari bulan pacar barunya dan tidak ada batasan antara penonton kemarin sudah mengajak saya dengan playernya. untuk terlibat menjadi kontributor di zine yang sekaligus menjadi Dari sebuah gigs, saya mendapati banyak pelajaran dan tema acara tanggal 22 Juli ini, pengalaman berharga. Selain mengenal banyak kawan 'Do it Together#2. dan berjejaring, dari sana lah saya mulai mengenal zine.
    Untuk kemudian menjadi jendela yang mengizinkan saya Jadi, pertamasayahendakmenyaksikan sosok lain dari punk. Jika sebelumnya saya mengigatkan kepada para mendapati punk(ataupun subkultur/budaya perlawanan pembaca Setia zine DIT, sejenis) dalambentuk yang sangar; rambut bahwasannya saya tidak mohawk/gondrong warna-warni, jaket spike, celana memiliki basic sebagai penulis belel,mulut bau arak,sepatu boot dan dengerin musik yang cakap dan pandai ngebut, kali itu juga ia menuntun saya ke ladang wawasan merangkai kata menjadi tulisan untuk melihat cakrawala berpikir yang lebih luas dan kritis. yang layak baca nan syarat makna. Hanya berisi hal-hal Seperti halnya DIT, gigs kolektif yang diselenggarakan sepele dan klise. Jadi ketika kawan-kawan di Surabaya dan sudah kali kedua gigs ini kalian mulai membaca dan terlaksana. Merupakan konsep yang menarik, karena mempertanyakan kredibilitas saya sebagai penulis, maka tinggalkan halaman ini segera.

Skip!

Bukan bermaksud mengkultuskan kegiatan ini, tapi memang rasanya gigs merupakan ritual wajib yang harus dijalani jika ingin disebut sebagai-seorang penganut subkultur/counter culture yang kaffah. Karena gigs adalah salah satu pestaperayaandari

tidak hanya pertunjukkan musik. Tapi juga "untuk memajukan kesejahteraan umum, berusaha menyampaikan pesan bahwa mencerdaskankehidupan bangsa", siapapun bisa berbagi banyak hal. Salahataupunpunya visi-misi yang revolusioner, satunyamelalui donasi yang akan terlebih lagi mengemban tugas sebagai diserahkan ke beberapa panti asuhan dan martir yang ingin merubah dunia. Ya, orang-orang yang membutuhkan. Bisa terkecuali kamu memang ingin ditemukan berupa uang, baju bekas layak pakai petugas bangsal rumah sakit jiwa dalam ataupun buku. Saya bersyukur karena bisa kondisi tak sadarkan diri sambil coli. turut terlibat di pagelaran seperti ini.Mengerikan bukan? Maksud saya, tidak Dimana saat ini banyak keyboard warrior perlu ada yang merasa dipaksa apalagi yang cuman berkoar-koar di medsos memaksa, upaya untuk mendominasi satu kemudian kembali menarik selimut sama lainnya. Sudah seharusnya memang tidurnya,hashtag-hashtag banal yang tak ruang-ruang seperti ini harus steril dari berwujud jadi tindakan nyata. Masih ada perintah dogmatik atasan/senior atau pemuda-pemudi yang peduli terhadap isu siapapun yang hanya memberikanmu soisal di sekitarnya pengalaman traumatis dan rasa frustasi. Gigs bisa jadi taman bermain bagi siapa saja Yang terakhir dan perlu digarisbawahi, yang memiliki semangat berbagi. lya, saya tidak berusaha menciptakan rumus se-sederhana itu. Jadi, faedah gigs mana bagaimana seharusnya memaknai gigs. lagi yang akan kamu dustakan, mblo? Haa.. Kalo toh pun ada yang menganggap gigs sebagai sarana eskapisme dari keseharian yang membosankan ataupun hiburan *Ditulis berdasar riset kecil-kecilan melalui setelah terbebas dari jerat disiplin pemilik wawancara beberapa kawan, sembari modal, silahkan saja. Bebas. Bukanlah halmelamun membayangkan ajakan kencan yang patut dipermaslahkan. Karena Chelsea Islan. memang tidak semua orang seserius potongan pembukaan UUD yang berbunyi

TEKA

TEKI SATIR

JAWABAN

ZINE EDISI KEDUA

MENDATAR MENURUN

  1. FASIS / RASIS
  2. JANCOK
  3. KOMUNIS
  4. KLISTORIS (seharusnya “klitoris” namun karena
    5.OTORITER
    creator sedang teler saat mikir, jadi kelebihan satu

  5. MARIJUANA
    huruf, maafkeun ya. haha)

6.SOLUSI
7. TAEK

Diksi

Embongan

Jangan datang dulu, aku masih kacau.

Malam jumat sunnah rosul bercinta, berhubung gak ada yang di cinta, mabuk saja.

orang cerdas membangun jembatan, orang bodoh membangun batasan, orang gila bangunnya sore.

Untuk apa memusingkan fatwa haram atau tidaknya alkohol saat "orang Tua"masih menganjurkan arak beras 1-2 sloki setiap habis makan.

Ya, semakin banyak yang kau lihat semakin sedikit yang kau tahu.

Apa aku boleh melapak CD dan zine di pesta pernikahanmu?

"Menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin berakhir dengan pensiun tidak seberapa". Selamat beranjak tua dan menyebalkan. Mampus kau di koyak jam kerja!

Bencana Akibat Keserakahan Korporasi Yang Kini Menjadi Tempat Rekreasi

  • JULIANSADAM
Selepas isya’ malam minggu ditengah tersebut akan digunakan sebagai peternakan
semakin padatnya kota Sidoarjo dampak ayam, bukan untuk eksploitasi gas alam,
masif pembangunan mall mall baru dan pribadi yang tak terbendung, di sudut awalnya kehadiran Lapindo brantas sempat
tempat kami biasa menghabiskan waktu brantas terus berupaya, segala cara dilakukan
cukup menarik untuk menjadi bahasan bantuan
kami pada malam itu yakni ironi kota yang Mahmudatul Fatchiyah, Lapindo brantas
kebanggaan menjelma menjadi tempatwisata lapindo dari Zine Komik: 11 Tahun kota Delta. dimana alam merupakan akibat dari kegagalan

hasrat untuk mengonsumsi kendaraan ditolak warga dua desa yaitu desa Siring dan Jatirejo kecamatan Porong, tetapi Lapindo

untuk sekedar ngobrol dan menikmati untuk mendapatkan tanah bakal lokasi rokok juga alcohol, muncul topik yang eksploitasi gas sampai akhirnya dengan kepaladesa Renokenongo,

menyedihkan (atau sempurna?) tentang berhasil mendapatkan tanah di wilayah desa bencana Lumpur lapindo yang kini Renokenongo dengan harga berkisar antara Rp.60.000 sampai Rp.125.000. Lapindo Sebelum brantas berhasil menguasai tanah dan menceritakan ironi ini, sedikit saya rekap mulailah eksploitasi itu, penambangan yang narasi asal muasal terjadinya lumpur menjadi awal petaka.

Lumpur Lapindo. Pada Maret 2006 proyek Pada 30 Mei 2006, Kompas mengangkat besar besaran antek antek Aburizal ini barita kebocoran sumur gas itu di halaman diawali dengan kebohongan pada Nasional. Semburan lumpur panas dan gas masyarakat perusahaan mengatakan pada warga bahwa lokasi Operator dalammengatasi underground

masyarakat kami jauh lebih suka dengan hal blowout (ledakan bawah tanah), menutup semburan diupayakan, tetapi tak ada hasilnya, hal yang dikemas dengan simbol simbol bencana ini dijadikan komoditi bagi segelintir palsu macam penghargaan "taek asu" ini berambisiakan tahta orang yang ketimbang berpikir kritis. Dan dengan kepemerintahan mulai dari calon bupati sampai harapan semoga kami yang masih bisa legislatif dengan melontarkan banyak janji menjaga kewarasan (atau pura pura waras) janji yang menyatakan akan menyelesaikan ini bisa semakin giat melancarkan aksi dan masalah semburan lumpur, dan diperkeruh membangkitkan kesadaran. Ameen. Hhee. kelakuan aparatdesa yang berusaha menengguk untung ditengah kepanikan warga menjadi makelar berkas. dengan

Kini, setelah lebih dari satu dekade berlalu, bencana akibat serakahnya korporasi itu

PENGEBORAN

menjelma menjadi tempat rekreasi, bahkan BARU meraih juara tiga dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia Award (APIA) 2017 dan diterima langsung oleh Bupati Sidoarjo Saiful Ilah yang mengatakan bahwa dengan adanya event ini memberikan informasi ke semua masyarakat bahwa Lusi atau Lumpur Sidoarjo bukan lagi hal yang menakutkan. Setelah mengetahui hal ini sontak saya bersama kawan kawan menghardik dengan nada bicara politisi saat berdebat, "penghargaan macam apa ini?!" bisa bisanya sebuah bencana yang diawali dengan dusta keserakahan korporasi dinobatkan dengan penghargaan ini, padahal ini bagaikan bom waktu bagi Sidoarjo dimana sampai saat ini lumpur itu masih menyembur dan tak pernah berhenti, hanya tanggul yang semakin ditinggikan, juga bagaimana dengan dampak sosial-ekologis disekitar lokasi lumpur? Bagaimana pencemaran kali Porong? Bagaimana pertanggungjawaban ganti rugi BBA yang belum juga kelar? Bagaimana rencana rencana pengeboran selanjutnya yang masih

LECEO

saja digagas oleh Lapindo brantas? Bagaimana
ini...? Bagaimana itu...? Ah.. lalu obrolan
kami yang cukup berapi api diiringi gelas per gelas anggur merah dan bir dingin saat itu berakhir dengan rasan rasan paras manis wanita wanita yang sering berfoto bersama sang Bupati dan "sambatan" bahwa memang

MOH..

SAYANG

XLIHAT SINI

OO0 小 建

KILL YOUR

SISA KERTAS ZINE