-sr-\| DALAM PERJALANAN SEJARAH : Abad Ke-13 Sampai Awal Abad Ke-16
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN DIREKTORAT SE3ARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI SEJARAH NASIONAL JAKARTA
0138 7859
1238gb55×
Milik Depdikbud Tidak diperdagangkan
PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH : Abad Ke-13 Sampai Awal Abad Ke-16
Oleh : Muhammad Gade Ismaü Penyunting : Susanto Zuhdi
Koreksi Naskah : Soejanto
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAA N DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI SEJARAH NASIONAL JAKARTA
obqC id
: HAAAL NAJALA MAJAI AZA ar-e bsdA lswA isqms -e bsdA
0910 liomel sbeO bemumeduM g anibuyasg ibuS 07mez02 rlakzel4 sono3 0116|900
HUN NI AAN KIAYAOUBX JAROL TAROTR JANGINIGART IAJIM MAC HARAL32 TAROTX3RIC A RL G IR YOA ATRAXAL
PASAI DALA M PERJALANAN SEJARAH : Abad Ke-13 Sampai Awal Abad Ke-16 Oleh; Muhammad Gade Ismail Penyunting: Susanto Zuhdi Koreksi Naskah : Soejanto Hak Cipta Dilindungi Oleh Undang-Undang Diterbitkan oleh : Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional Jakarta 1993 Edisi 1993 Dicetak oleh : CV. MANGGALA BHAXTI, Jakarta-Indonesia
- b:HA KR
al-ea beda lewa ieqmme
9aml abaD bammafu .rfelO ibáu omane=8mmva99 ae
gnabrU-gnebnU dotO igmobmibC etqiO XsH
murxoC nab cehsiaoval xsvor9 dslo nsdtidatia
lmnoizak4 rfsut E001 ahalal E0Q1 izib3 OMAMVOrratslo catoid
SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL KEBUDAYAAN
Karya-karya sejarah dengan pelbagai aspek yang dikaji dan ditulis melalui Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional (IDSN) dimaksudkan untuk disebarluaskan ke tengah- tengah masyarakat. Adapun tujuannya ialah untuk memberikan bahan informasi kesejarahan kepada masyarakat. Dengan demikian diharapkan masyarakat akan memperoleh serta dapat menambah pengetahuannya tentang sejarah, baik yang menyang- kut akumulasi fakta maupun proses terjadinya peristiwa. Di samping itu para pembaca juga akan memperoleh nilai-nilai yang terungkap dari rangkaian peristiwa yang digambarkan dalam karya-karya sejarah itu.
Kami menyadari bahwa buku karya-karya Proyek IDSN ini tentu tidak luput dari pelbagai kelemahan bahkan mungkin kesalahan-kesalahan. Namun demikian kami ingin meyakinkan kepada pembaca bahwa kelemahan atau kesalahan itu pastilah tidak disengaja.
Berdasarkan keterangan di atas kami sangat berterima kasih kepada pembaca jika sekiranya bersedia untuk memberikan kritik-kritik terhadap karya-karya Proyek IDSN ini. Kritik-kritik itu pasti akan sangat berguna bagi perbaikan dari karya-karya proyek ini di kemudian hari.
in
Kepada penulis yang telah menyelesaikan tugasnya dan kepada semua pihak yang ikut serta, baik langsung maupun tidak langsung. dalam mewujudkan karya-karya Proyek IDSN ini sebagaimana adanya di tangan pembaca, kami sampaikan terima kasih.
Direktur Jenderal Kebudayaan
Prof. Dr. Edi Sedyawati NIP 130 202 962
iv
PENGANTAR
Buku PAS AI DALA M PERJALANAN SEJARAH: Abad Ke-13 Sampai Awal Abad Ke-16 merupakan salah satu hasil pelaksanaan kegiatan penelitian Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisi- onal Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1992/ 1993
Buku ini memuat uraian tentang Pasai pada awal abad ke-13 sampai awal abad ke-16 baik mengenai letak geografisnya, kedudukannya dalam jaringan perdagangan antarbangsa maupun peranannya sebagai pusat persebaran agama Islam di kawasan Selat Malaka.
Penelitian dan penulisan Pasai Dalam Perjalanan Sejarah dimaksudkan untuk melengkapi penulisan tentang bandar- bandar pelabuhan di jalur sutra yang telah diterbitkan oleh Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. Dengan diterbitkannya buku ini diharapkan dapat memper- kaya khasanah kesejarahan dan memberikan informasi yang memadai bagi masyarakat peminatnya serta memberi petunjuk bagi kajian selanjutnya. Jakarta, Juli 1993 Pemimpin Proyek Inventarisasi dan Dokumea-tasi Sejarah Nasional
Sri Sutjiatiningsih NIP. 130 422 397
v
BAFHAOMBTens Rebudavemn U L VIL M L hs 0762 dgte molegonom 2k2 bel/ogh inqa2 81-97 n 1oe e bd g no
90 aalaM 1a2 dezas2 danehis meaa me meunoa neb meiom9 sbne aaaas maiunaq kqeagnokom lutmu cabualamib dsko aad deist gay anoa maiai ib nadaisq ebaed
avntvjnslea naiel iged
PENGANTAR
Laporan penelitian ini, yang diberi judul "PASAI DALA M PERJALANAN SEJARAH: Abad Ke-13 Sampai Awal Abad ke-16" disusun untuk dapat mengungkapkan kembali sejarah Pasai sebagai salah satu bandar perdagangan pada route perdagangan sutera; karena itu penulisan ini lebih menitikberatkan pada peranan Pasai dalam jaringan perdagangan antarbangsa.
Sebagai salah satu pusat persebaran agama Islam di Asia Tenggara, pembahasan Pasai dikaitkan dengan aktivitas perdagangan yang berlangsung di kawasan Selat Malaka. Dengan demikian zona kawasan Selat Malaka dipandang sebagai satu kesatuan, di mana Pasai berada dalam sistem tersebut.
Bahan-bahan atau sumber-sumber yang dipergunakan untuk menulis sejarah Pasai ini masih bertumpu pada sumber-sumber yang telah dipakai oleh penulis-penulis sebelumnya. Hanya sedikit sumber-sumber yang bant, itu pun sekunder, namun suatu analisis baru diperkenalkan di sini.
Penulisan ini terlaksana berkat bantuan dana dari Proyek IDSN, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Untuk itu sudah pada tempatnya diucapkan terima kasih.
Penulis
vii
EAA MA1AG LA2A9° lubo hodib smeV .mi nab8oaaq miogsI denaa dmaa mgelguagdom fosb lutmu muzi .1-ax 1 o bq mq and ee daa igedo ie
mainomd measg i seaue nne
428adm1ae 0830a94b794 869ui mak6b i8a69 a80679q 6b6q
i n e sa os aimb
naaougtsqib aney isdmua-ysdmue yare naded-nsdea éme eba damd zae iea eaoe aoaom lotnu
amalde aansgalloneq doo deib neol say odmua abnue aq an ued groy admoedme übee avns
avor hab anab nmomed tehad amaahat ini meauns9 oa lenoiziber aah de au 2 nabedo2 neh nabbne smoa aahuds2 labast
eea sot acoi acagmet sbeq debe mi lutn
DAFTAR ISI
Halaman Sambutan Direktur Jenderal Kebudayaan i n Pengantar v Pengantar v ij Daftar Isi i x Bab I Pendahuluan 1
1.1 Lata r dan Masalah 1
1.2 Samudera, Pasai, dan Samudera-Pasai 3
1.3 Metod e Penelitian 4
1.4 Sistematika Penulisan 4 Bab II Letak Geografis dan Keadaan Alam 6 Bab III Pasai Dalam Jaringan Antarbangsa 1 5
3.1 Pasa i Dalam Jaringan Perdagangan Internasional ' ~
3.2 Pasa i dan Persebaran Agama Islam di Asia Teng- gara 2 5 Bab IV Pasai Bandar Perdagangan 3 4 Bab V Kesimpulan 4 5 Bibliografi 4 9 Lampiran 5 3
ix
Peta 1. KEDUDUKA N SAMUDERA PASAI
x
BAB I PENDAHU LUA N
1.1 Latar dan Masalah Penelitian ini membahas tentang Kerajaan Pasai dalam jaringan antarbangsa, dalam periode akhir abad ke-13 sampai awal abad ke-16. Jaringan antarbangsa yang dimaksudkan di sini mencakup jaringan perdagangan maupun politik dan pengembangan agama Islam pada kawasan Selat Malaka. Akhir abad ke-13 sebagai awal pembahasan didasarkan pada kenyataan awal perkembangan Kerajaan Pasai yaitu sejak runtuhnya imperium Sriwijaya.1 B a tas akhir pembahasan yang mengambil awal abad ke-16, ditandai oleh berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam dan Pasai dimaksudkan ke dalam wilayah kerajaan yang baru muncul itu.2 Sultan Ali Mughayat Syah yang mendirikan Kerajaan Aceh Darussalam menaklukkan Kerajaan Pasai pada tahun 1524. Sejak itu Kerajaan Pasai dianggap telah habis riwayatnya sebagai suatu kerajaan. Dalam tulisan ini perkembangan Kerajaan Pasai ditinjau dalam kaitannya dengan perkembangan dunia sekitarnya, khususnya perkembangan di kawasan Selat Malaka. Dengan cara ini perkembangan yang terjadi di Kerajaan Pasai dipandang sebagai salah satu bagian dari perkembangan yang lebih kom- pleks di sekitarnya. Karena Pasai dianggap sebagai bagian dari kesatuan yang lebih besar, maka implikasinya ialah bahwa perubahan-perubahan yang melanda kesatuan itu akan ber- pengaruh terhadap bagian Pasai, karena itu analisis terhadap
perkembangan Kerajaan Pasai lebih mudah dimengerti bila ditempatkan dalam perkembangan yang lebih luas. Daerah di sekitar kawasan Selat Malaka dianggap sebagai suatu kesatuan wilayah yang dipersatukan lalu-lintas melalui air. Pengambilan zona semacam ini ditunjukkan oleh AB. Lapian, dengan pendekatan sejarah maritim Indonesia. la melihat seluruh wilayah perairannya sebagai pemersatu yang mengintegrasikan ribuan pulau yang terpisah-pisah.3 Dalam tulisan ini kawasan Selat Malaka dijadikan satu unit analisis tersendiri. yang di dalam kesatuan itu terletak Kerajaan Pasai sebagai fokus.
Dengan cara kerja seperti ini kawasan Selat Malaka dipandang sebagai satu kesatuan wilayah yang saling berhubungan dalam arti ekonomi, politik, dan budaya. dengan demikian dalam tulisan ini pertumbuhan dan perkembangan di Kerajaan Pasai amat dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yang ber- asal dari luar wilayah kerajaan tetapi faktor-faktor internal seperti geografis dan ekologi tidak dapat diperkecil artinya.
Dalam hal ini berarti bahwa pembicaraan tentang ke- dudukan Kerajaan Pasai dalam jaringan antarbangsa dimulai dengan menjelaskan kondisi-kondisi alam secara fisik wilayah Pasai yang memungkinkan dapat terlibat dalam jaringan antarbangsa. Pada kondisi yang demikian, pengaruh-pengaruh dari luar yang dimungkinkan oleh hubungan melalui laut itu, di satu pihak menumbuhkembangkan Kerajaan Pasai sebagai salah satu pusat politik di kawasan Selat Malaka, sebaliknya, pengaruh-pengaruh itu pula yang menyebabkan kemunduran. Karena Kerajaan Pasai dipandang dalam satu kesatuan yang lebih luas, maka di sisi lain Kerajaan Pasai menerima berbagai pengaruh dari kesatuan yang luas itu', namun pada gilirannya pula Kerajaan Pasai memberikan pengaruhnya ter- hadap kesatuan. Pengaruh ini dapat dilihat pada aspek ekonomi perdagangan, politik dan persebaran agama Islam dalam kawasan yang dibicarakan.
1.2 Samudera, Pasai, dan Samudera Pasai Berbicara tentang Kerajaan Pasai. terlebih dahulu perlu dijelaskan tentang penyebutan Kerajaan Pasai dalam seluruh tulisan ini. Persoalannya ialah. karena terdapat kekaburan dan kesimpangsiuran dalam penyebutan kerajaan tersebut. Dalam catatan catatan sejarah amat sering dihadapkan pada penyebutan kerajaan tersebut dengan Samudera, Pasai. dan kadang-kadang Samudera-Pasai. Hikayat Raja-raja Pasai, pada permulaan pembahasannya menyebutkan tentang adanya sebuah kerajaan yang mula-mula menerima agama Islam, yaitu Kerajaan Pasai. "... Al-kesah peri mengatakan cerita raja yang pertama masuk agama Islam ini Pasai; maka ada dicerita- kan oleh orang yang empunya cerita ini. Negeri yang di bawah angin ini Pasai-lah yang pertama membawa iman alcan Allah dan akan rasul Allah".4 Pada bagian lain hikayat tersebut menceritakan tentang Kerajaan Samudera sebagai suatu kerajaan yang diperintah oleh Malikus Saleh. Sementara Kerajaan Pasai adalah sebuaii kerajaan baru setelah Samudera yang dibuka Malikus Saleh untuk puteranya yang bernama Malikus Zahir.5 Dalam pemberitaan-pemberitaan selanjutnya juga sering kali kedua nama ini digabungkan untuk menyebut kerajaan itu dengan nama Samudera-Pasai. Catatan yang berasal dari kalangan Cina menyebutkan tentang terdapatnya sebuah kerajaan di Sumatera yang bernama Samudera pada abad ke-14.6 Dalam sumber Cina tahun 1385 disebutkan bahwa Kerajaan Samudera diperintah oleh rajanya yang bernama Sultan Malik Ghadhanfar, yang mengirim utusannya ke Cina. Melihat kepada letak dua kerajaan yang disebutkan itu, Samudera dan Pasai yang saling berdekatan. dan juga kenyataan tentang sering sekali disebut-sebutkan terdapat dua penguasa yang memimpin kerajaan itu, dapatlah disimpulkan bahwa Samudera-Pasai adalah nama yang diberikan untuk wilayah kerajaan yang mencakup Samudera dan Pasai. Dalam tulisan
ini wilayah kedua kerajaan itu, yang dipersatukan digunakan istilah Kerajaan Pasai.
1.3 Metode Penelitian Tulisan ini diwujudkan dengan mempergunakan. Metode Sejarah Kritis, yang di dalamnya mencakup empat kegiatan utama, yaitu mencari sumber-sumber yang relevan baik primer maupun sekunder. Dalam kenyataannya sumber-sumber yang banyak dipergunakan sebagai dasar penulisan ini adalah sumber-sumber sekunder. Hal ini tidak lain disebabkan amat langkanya sumber-sumber primer yang dapat dijangkau. Selanjutnya pada tahap kedua, sumber-sumber yang diperlukan itu dilakukan kritik, untuk menguji otentisitas dan kredibilitasnya. Langkah ketiga yaitu memunculkan fakta dari sumber yang telah diuji, dan langkah keempat yaitu dilakukan penulisan.
1.4 Sistematika Penulisan Tulisan ini dibagi menjadi lima bagian. Pertama ialah bab pendahuluan. Bab kedua membicarakan tentang letak geografis dan keadaan ekologi Pasai. Bab ketiga berupa kedudukan Pasai dalam jaringan antarbangsa, ditinjau dari sudut perdagangan internasional dan sebagai pusat persebaran agama Islam di kawasan Selat Malaka. Bab empat dikhususkan tentang per- kembangan Pasai secara tersendiri. Bab lima merupakan catatan penutup. Sebagai lampiran tulisan ini dimuat Hikayat Raja-raja Pasai yang diedit oleh CA. Gibson-Hills dan pemah diterbitkan dalam majalali JMBRSA 33 (1960) 2. Teks naskah itu terlebih dahulu disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurna- kan. Pemuatan kembali episode-episode yang dianggap penting dari isi naskah tersebut. Selain itu pemuatan naskah tersebut juga didasari oleh pertimbangan bahwa naskah serupa itu amat sulit diperoleh para pembaca sebagai bahan pembanding.
CATATAN
1 CA. Gibson-Hills, "Hidayat Raja-raja Pasai: A. Revised Romanisation and English Translation", JMBRAS 3 3 (1960) 2. Halaman 7 2 Anthony Reid, "Sixteenth Century Turkish Influence in western Indonesia". JSEAH 10 (1969) 3. Halaman 100: lihat juga CR. Boxer, "A Note on Portuguese Reactions to the Revival of the Red Sea Spice Trade and Rise of Atjeh, 1540 1600", JSEAH 1 0 (1969) 3 halaman 115. 3 A.B. Lapian, "Sejarah Nusantara Sejarah Bahari". Pidato pengukuhan diucapkan Pada Upacara Penerimaan Jabatan Guru Besar Luar Biasa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Pada tanggal 4 Maret 1992, halaman 5 6. 4 CA. Gibson-Hills. op. cit, halaman 56. 5 Ibid., halaman 62. 6 Gustave Schlegel, dan Henry Cordier, Toung Pao Archives. Sevre 2. Vol. II. Leiden: E J. Brill, 1901, halaman 337.
BAB II LETAK GEOGRAFIS DAN KEADAAN ALA M
Dilihat dari administrasi pemerintahan, pusat Kerajaan Samudera-Pasai yang muncul pada akhir abad ke-13, sekarang ini letaknya termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Samudera, dalam Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Utara. Wilayah kekuasaan Kesultanan Pasai pada masa kejayaan- nya, sekitar abad ke-14 terletak pada daerah yang diapit oleh dua sungai besar di Pantai Utara Aceh, yaitu Sungai Peusangan dan Sungai Pasai. Sementara itu ada pula orang yang ber- pendapat bahwa wilayah kerajaan itu lebih luas lagi ke sebelah selatan yaitu sampai dengan muara Sungai Jambu Ayer. Yang jelas bahwa kerajaan itu adalah daerah aliran sungai, yang hulu- hulunya berasal jauh di pedalaman Dataran Tinggi Gayo (Aceh Tengah).
Letak wilayah kerajaan itu sedemikian rupa, berarti merupa- kan bagian dari Kepulauan Nusantara yang memiliki ciri-ciri tersendiri bila dilihat dari sifat-sifat geografisnya. Letak Kepulauan Indonesia pada posisi silang di sekitar khatulistiwa (lintang 0°), mengakibatkan kedudukan matahari selalu relatif tegak lurus di atasnya. karena itu suhu udara di permukaan laut Nusantara tergolong tinggi dibandingkan dengan wilayah-wilayah yang berada di sebelah utara dan sebelah selatannya.1
Daerah dataran rendah yang membujur memanjang sejajar dengan garis pantai di Selat Malaka ini, termasuk daerah yang subur karena mendapat pengaruh dari gunung berapi Peut Sagoe.2
Di samping berada dalam lingkungan alam yang bersuhu tinggi. wilayah Kerajaan Samudera-Pasai juga termasuk ke dalam daerah yang amat dipengaruhi oleh angin muson. Angin muson ini tampaknya juga membawa pengaruh yang cukup besar bagi perkembangan kerajaan ini pada awal pertumbuhan- nya. Perdagangan internasional yang dijalankan dengan perahu- perahu layar amat berkaitan erat dengan arah angin yang ber- tiup pada musim-musim tertentu.
Pada wilayah ini dikenal dua musim angin muson. Pertama ialah yang berhembus dari India ke jurusan Afrika selama bulan Oktober sampai bulan April, sedangkan angin musim kedua berhembus dengan arah yang berlawanan.3
Angin muson tersebut muncul sebagai akibat dari letak lintang dan letak geografis sementara itu di dalam perairan laut terjadi gerakan air laut yang dikenal sebagai arus laut, semua gejala ini dimanfaatkan oleh berbagai bangsa untuk bennigrasi dan melakukan pelayaran niaga sejak dahulu.4
Angin muson barat yang melalui Indonesia pada umumnya berasal dari angin timur laut yang berhembus di sebelah utara khatulistiwa, dan menjadi angin utara ketika menyeberahgi garis khatulistiwa, dan selanjutnya menjadi angin barat daya di sebelah selatan khatulistiwa. Ketiga angin secara berurutan itu, itulah yang dikenal sebagai angin muson barat. Angin-angin yang disebut itu terutama berhembus antara bulan De- sember-Februari.
Selama bulan Juni-Agustus, angin tenggara berhembus di selatan khatulistiwa, lalu berubah menjadi angin selatan ketika melewati garis khatulistiwa dan menjadi angin barat daya yang berurutan di Kepulauan Nusantara selama bulan Juni-Agustus dan dinyatakan sebagai angin muson timur.5
Wilayah Kerajaan Pasai yang terletak pada aliran lembah sungai-sungai adalah tanah pertanian yang subur. Padi yang ditanam penduduk di daerah dataran rendah pada abad ke-14 dapat dipanen sebanyak dua kali setahun.6
Dalam abad berikutnya daerah ini bertambah makmur lagi dengan dimasukkannya tanaman lada dari Malabar.7 Selain hasil pertanian yang ditanam di dataran rendah, dataran tinggi di daerah pedalaman juga menghasilkan berbagai hasil hutan yang dapat diangkut ke daerah pantai dengan melalui sungai-sungai yang lebar dan panjang. Hubungan melalui sungai antara daerah pesisir pantai dengan daerah pedalaman membawa pengaruh yang cukup besar bagi perkembangan kesultanan ini. Berbagai barang hasil hutan yang dihasilkan daerah dataran tinggi dapat di- jadikan komoditi ekspor oleh pusat kesultanan yang terletak di tepi pantai. Sebaliknya barang-barang yang dibutuhkan daerah pedalaman yang berasal dari dunia luar dapat diper- dagangkan kepada penduduk pedalaman. Suatu hal yang perlu diperjelas bahwa memang tidak terdapat sumber keterangan yang jelas tentang pola hubungan antara pusat kesultanan di tepi pantai dengan penduduk pedalaman. Apa lagi pola hubungan itu dilihat dari segi politik. Tidak ada sumber keterangan yang menyebutkan adanya penguasaan langsung secara politik terhadap penduduk pedalaman. Hanya saja dapat diperkirakan bahwa hubungan dalam bidang perdagangan dengan sistem barter sudah pasti telah terjadi. Hasil beras yang dihasilkan penduduk Pasai tampaknya belum lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri penduduk setempat. karena dapat dilihat dengan adanya pemasuk- an besar yang berasal dari Jawa Timur. Berbeda halnya dengan produksi lada di daerah itu, semua produksinya menjadi komoditi ekspor yang sangat diminati oleh pedagang-pedagang dari Arab maupun Tiongkok. Nichlas Tarling menyebutkan bahwa faktor kesuburan tanah amat penting bagi munculnya pusat-pusat pemukiman penduduk di kawasan Asia Tenggara. Pada daerah-daerah subur, sejak awal abad Masehi muncul pusat-pusat pemukiman penduduk, namun pusat-pusat serupa itu kurang bisa berkembang sebagai pusat-pusat politik karena hambatan keadaan alam secara fisik. Pusat-pusat politik pada lembah-lembah sungai
,02 10 1401
GOCt
00 243648 010
→0S→SL001
1001.001
1218 6mi/har
MUR).
25→88
Pl () PTIL.
408 0
Ketngancmeeik
243640
1001 o 6mi/ari
RAT)
PEGL I A PBA.
.06
80
Ketancmetik
sulit mengadakan komunikasi dengan wilayah lain karena di- batasi oleh pegunungan, karena itu pusat-pusat politik itu menjadi terisolasi.8 Mereka hanya dapat berhubungan dengan daerah pedalamannya saja yang dihubungkan oleh sungai-sungai;9 karena itu dalam perkembangan Kerajaan Pasai dapat dilihat bahwa terjadi pemusatan kekuasaan pada muara sungai di mana menjadi pusat kekuasaannya tanpa berhasil memper- luas wilayahnya ke luar wilayah inti itu.
Tentang munculnya kekuasaan politik pada muara sungai itu di sepanjang garis Selat Malaka sebenarnya adalah suatu kontinyuitas yang berasal dari masa masa sebelumnya. Uka Tjandrasasmita menyebutkan bahwa berdasarkan peninggalan bekas-bekas bukit kerang (kjokenmodding) dari masa meso- lithik.di Seruwei dekat Langsa dan temuan-temuan dari masa neolithik pada beberapa tempat di pesisir timur Sumatera. mungkin dapat dikaitkan dengan adanya hubungan satu daerah dengan daerah lain.10 Dari temuan itu pula dapat disimpulkan bahwa pada wilayah kekuasaan Samudera-Pasai yang berkembang lebih ke.nudian, pada masa-masa sebelumnya telah di- huni manusia, kemudian berkembang menjadi pusat-pusat pemukiman dan selanjutnya berhasil mengembangkan kekuasaan politik, sebagai salah satu kerajaan Islam Pasai.
Faktor letak geografis pada tepi sebelah barat Selat Malaka juga amat penting artinya bagi muncu] dan berkembangnya Pasai sebagai salah satu bandar perdagangan di Asia Tenggara selama abad ke-14.
Hubungan perdagangan jarak jauh antara Laut Merah dengan India dan Cina telah berlangsung sejak awal abad Ma- sehi.11 Penduduk di Pulau Sumatera telah ikut terlibat dalam perdagangan jarak jauh antara India dan Cina sejak abad ke-5 dan ke-6. Barang-barang produksi daerah ini seperti benzoin dan kapur barus amat digemari oleh pedagang-pedagang Arab, Persia, dan Cina.12
Ketika Sriwijaya mengembangkan kekuasaannya pada sekitar abad ke-7 dan ke-8, Selat Malaka telah dilayari oleh pedagang-pedagang Arab yang menuju Asia Tenggara dan Asia
Timur. Berkembangnya pelayaran dan perdagangan inter- nasional antara negeri-negeri di Asia Barat dan Timur termasuk Asia Tenggara ke dalamnya, kemungkinan besar disebabkan oleh kegiatan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di bawah Banu Umayah di bagian barat, maupun kegiatan di Kerajaan Cina di bawah Dinasti T'ang dan kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara.1 3
CATATAN
1 Mc. Suprapti, "Bandar Samudera Pasai Ditinjau dari Situs dan Situasi", Paper disampaikan pada Diskusi Ilmiah ten- tang Samudera Pasai, Cisarua, 25- 27 September, halaman ï. 2 Di seluruh Aceh memang hanya terdapat lima gunung berapi yang amat berpengaruh bagi tingkat kesuburan tanah. Gunung-gunung berapi tersebut adalah Seulawah Agam, Seulawah Inong di Aceh Besar Peut Sagoe di Aceh Utara: Gunung Geureudong dan Burni Tellong di Aceh Tengah; dan Gunung Leuser di Aceh Tenggara Selatan. Sampai dengan awal abad ke-20, Gunung Peut Sagoe yang disebut- kan, masih aktif. E.C Jul Mohr De Bodem der Tropen in het Algemeen, en die van Nederlandsch-Indie in liet bij- zonder, jilid II, Amsterdam g.H. de Bussy, 1937, halaman
367.
3 Auguste Toussaint, (translated b y June Guichrraud). History of the fndian Ocean London: Routledge & Kegan Paul, 1966, halaman 9. 4 Mc. Suprapti, loc. cit. 5 /bid. halaman 2. 6 Gustave Schlegel, dan Henry Cordier, Toung Pao Archives. Sevre 2, vol. II. Leiden: E.J. Brill, 1901, hal. 337. Lihat juga. William Marsden, The History of Sumatra, edisi ke-4. Singapore: Oxford University Press, 1988, halaman 7. 7 J.H. Heyl. De Pepercultuur in Atjeh en Onderhoorig heden. Koetaradja, Atjeh Drukkerijen en Boekhandel, halaman 1.
8 Nicholas Tarling, A. Concise History of Southeast Asia. New York: Frederick A. Praeger 1966, halaman 7. 9 Eleanor Selling, The Evolution of Trading States in Southeast Asia before the 17th century. Ph.D. thesis: Columbia University, 1981. halaman 16. 10 Uka Tjandrasasmita "Peranan Samudera Pasai Dalam Per- kembangan Islam di beberapa Daerah Asia Tenggara". Dalam. Hasan Muarif Ambary dan Bachtiar Ali, Retrospeksi dan Refleksi Budaya Nusantara. Jakarta: Taman Iskandar Muda, 1988, halaman 67. 11 J.A.E. Morley, "The Arabs and the Eastern Trade", JMBRAS. Vol. II. bagian L 1949, halaman 143. Lihatjuga:
G.R. Tibbets, Arab Navigation in the Indian Ocean before the coming of the Portuguese. London: Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland. 1971, halaman 472.
12 Eleanor Selling, loc. cit., halaman 58. 13 Uka Tjandrasasmita, op. cit., halaman 68.
BAB III PASAI DALA M JARINGA N ANTARBANGS A
Pembahasan dalam bab ini difokuskan kepada kedudukan Pasai dalam jaringan antarbangsa. Kedudukan itu dapat dilihat pada -tiga aspek. Pertama. yaitu kedudukan Pasai dalam perkembangan lalu lintas perdagangan di Selat Malaka. Dalam bagian pertama ini dibahas tentang muncul dan berkembang- nya Pasai sebagai salah satu pusat politik di Selat Malaka sebagai akibat dari perkembangan perdagangan internasional di kawasan ini. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya yaitu dilihat pada kedudukan pusat-pusat politik lainnya di kawasan itu yang amat mempengaruhi pertumbuhan dan juga kemun- duran Pasai sebagai salah satu pusat politik di kawasan itu. Dalam kedudukan pusat-pusat politik yang dimaksudkan ialah bagaimana pengaruh dari munculnya pusat-pusat politik lain di luar Pasai di kawasan Pulau Sumatera, Pulau Jawa, dan Semenanjung Melayu yang membawa pengaruh bagi Pasai.
Aspek kedua yang dibahas dalam bab ini adalah hubungan diplomatik yang terjadi antara Pasai dengan kerajaan-kerajaan lain di kawasan Asia Tenggara serta kedudukan dan petanan Pasai dalam persebaran dakwah Islamiah ke negeri-negeri lain di Nusantara maupun Asia Tenggara.
3.1 Pasai Dalam Jaringan Perdagangan Internasional
Berbicara tentang kedudukan Pasai dalam jaringan perdagangan antarbangsa akan lebih mudah dimengerti apabila
mulai bertolak dari kedudukan Pasai yang strategis pada jalur lalu lintas perdagangan internasional di Selat Malaka. Selat Malaka sebagai jalur perdagangan yang dipergunakan oleh lalu lintas pelayaran internasional telah dimulai sejak awal abad Masehi. Bukti-bukti arkheologis malah memperki- rakan bahwa hubungan perdagangan antara kawasan pantai timur Pulau Sumatera itu telah ada sejak masa-masa jauh sebelumnya. Uk a Tjandrasasmita misalnya, menyebutkan bahwa Selat Malaka dengan pemukiman-pemukiman masya- rakatnya baik yang ada di pesisir timur Sumatera maupun di pesisir barat Semenanjung Melayu, sejak masa pra-sejarah sudah mempunyai peranan penting sebagai jalur pelayaran dan perdagangan. Kedudukan yang demikian strategis. oleh Meilink Roelofsz, disebutkan, mengakibatkan Indonesia me- lainkan peranan penting jauh sebelum masa sejarah (Meilink Roelofsz, halaman 12). Adanya temuan-temuan bekas kulit kerang (kjokenmodding) dari masa mesolithik di Seruwei dekat Langsa dan temuan-temuan masa neolithik dari beberapa tempat di pesisir Sumatera, mungkin dapat dikaitkan dengan adanya hubungan satu daerah dengan daerah lain. Hal itu dapat pula kita hubungan dengan kemungkinan-kemungkinan pelayaran dan perdagangan yang menurut para ahli pra-sejarah sudah ada antara daerah-daerah di bagian Asia Tenggara sejak masa neolithik, sekalipun masih bersifat barter. Perahu-perahu yang dipergunakan umumnya perahu bentuk cadik yang dikaitkan pula dengan penyebaran kebudayaan neolithik jenis beliung persegi di mana temuannya hampir meliputi tempat-tempat di seluruh Indonesia.1 Pelayaran orangorang Arab ke India telah berlangsung sebelum berkembangnya Agama Islam. Pada tahun 114 pelayaran Arab berhasil sampai ke India, meskipun dalam per- jalanan pulangnya ke Aleksandriah mereka dihantam badai besar di pantai Afrika.2 Ke dalam pelayaran ini kemudian juga termasuk hubungan antara Semenanjung Melayu dengan Arab. Pada abad ke-5, pada waktu berkembangnya peradaban di Arab Selatan, Ke-
pulauan Indonesia menjadi tempat singgahan yang tetap dari perahu-perahu Arab dalam perjalanannya ke Cina. JC. Van Leur menyebutkan bahwa pelayaran-pelayaran Arab ini mem- pergunakan perahu-perahu yang bahan pembuatan sepenuhnya terdiri atas kayu-layu belaka;3 karena itu abad ke-5 dapat di- pandang sebagai awal dari hubungan antara pedagang-pedagang Arab dengan pedagang-pedagang Cina, seperti dinyatakan oleh Hamzah Isfahani, seorang sejarahwan Islam sebagaimana dikutip oleh GR. Tibbets. Pelabuhan-pelabuhan antara Teluk Persia dan Cina adalah pelabuhan-pelabuhan yang disinggahi pedagang-pedagang Arab dalam pelayarannya ke Cina, karena itu pula GR. Tibbets menyebutkan bahwa Kepulauan Indonesia di sebelah barat dan Semenanjung Melayu, lebih dahulu dari abad ke-5 telah dicapai oleh orang Arab.4
Sumber lain yang menyebutkan tentang adanya hubungan serupa pada masa yang sama. berasal dari Hourani. yang di- ambil dari Baladhuri dan Tabhari. Ia mengatakan bahwa di Semenanjung Melayu terdapat sebuah pelabuhan yang dijadikan tempat persinggahan pedagang-pedagang Arab dalam perjalanan ke Cina.5 Informasi yang berasal dari I-tsing, peziarah Cina yang berkunjung ke India pada periode waktu 672 -- 692, melaporkan bahwa hubungan pelayaran antara India dan Cina telah ramai dihubungkan oleh perahu-perahu yang melakukan perjalanan melalui Malaysia. Sumber-sumber resmi di istana Ke- maharajaan Cina melaporkan tentang meningkatnya jumlah utusan dari Indonesia yang menghadap Kaisar Cina.6
Menurut laporannya pula diketahui bahwa di Pulau Suma- tera terdapat Kerajaan Melayu di Jambi dan Sriwijaya yang berada di sebelah selatannya dengan ibukotanya di sekitar Palembang. Dari sumber-sumber keterangan Cina diketahui pula bahwa Melayu berada di bawah kekuasaan Sriwijaya. di samping juga berkuasa atas beberapa pelabuhan lainnya di Indonesia dan Semenanjung Melayu.7 Menurut sumber informasi yang I-tsing yang singgah di Palembang pada tahun 674, disebutkan bahwa Kerajaan Sriwijaya telah mengalami perkembangan sebagai suatu pusat pelayaran.
Bandar Palembang yang telah berkembang pesat sejak abad ke-7 dalam abad-abad berikutnya terus saja mengalami kemajuan. Pada abad ke-10, menurut informasi yang berasal dari penulis-penulis Arab, dijelaskan bahwa masyarakat yang mendiami bandar Palembang sudah kosmopolitan sifatnya. Penduduk yang mendiami bandar tersebut telah dapat menik- mati keamanan. Mengenai bahasa yang dipakai menurut sumber informasi terdapat beberapa macam bahasa, namun demikian dari penggunaan bahasa tersebut penggunaan bahasa Cina masih sangat kurang. Kenyataan ini menunjukkan bahwa sampai abad ke-10, pengaruh Cina di Palembang masih sangat kurang. Tampaknya para pedagang Cina masih sedikit yang menjadi pemukim di bandar tersebut.
Perkembangan yang terjadi di bandar Palembang pada abad ke-10 mempunyai kaitan erat dengan terjadinya peralihan kekuasaan di Cina. Pada pertengahan abad itu peralihan kekuasaan yaitu jatuhnya Dinasti T'ang dan berkembangnya Dinasti Sung. Mulai berkembangnya kekuasaan dinasti yang baru itu membawa perubahan besar dalam perdagangan Cina dengan Asia Tenggara atau perdagangan internasional. Palembang berhasil memanfaatkan aktivitas perdagangan yang meningkat terutama pada awal kebangkitan Dinasti Sung.
Pada masa Kerajaan Sriwijaya berhasil mengembangkan hegemoninya di Selat Malaka pada sekitar abad ke-7 dan ke-8, pedagang-pedagang Arab telah banyak yang berlayar dan ber- dagang ke Asia Timur dan Asia Tenggara. Berita yang berasal dari Cina. dinasti T'ang menyebutkan tentang telah terbentuk- nya pusat-pusat pemukiman orang Islam di Kanton dan juga di salah satu pesisir Pulau Sumatera. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa Pulau Sumatera, terutama pantai barat Selat Malaka, dalam abad-abad itu telah ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang Islam yang berasal dari Asia Barat dalam perjalanannya pulang-pergi ke Asia Timur, karena itu dapat pula dikatakan bahwa penduduk di Pulau Sumatera telah terkait dalam perdagangan internasional jarak jauh sejak abad-abad tersebut.
Dalam tahun 724 suatu misi Arab datang ke Cina dengan membawa kapur barus yang diambil mereka dari Sumatera. Pada tahun 758 pedagang-pedagang Arab dalam jumlah yang besar ikut dalam perdagangan dengan Cina dan sebagian mereka bertempat tinggal di Kanton.
Beberapa sejarawan dan ahli geografi Arab memberikan deskripsi tentang pelayaran pedagang-pedagang Arab ke Cina dalam pertengahan abad ke-8 dan ke-9. Penulis-penulis ini menyebutkan pelabuhan-pelabuhan yang ada dalam route pelayaran tersebut.8 Ibn Syahriar pada awal abad ke-10 me- nerangkan tentang meluasnya perdagangan orang-orang Islam ke Asia Tenggara. Ia menyebutkan antara lain Fansur dan Lambri- dengan demikian Aceh pada abad ke-10 itu telah termas.uk ke dalam jaringan perdagangan internasional.9
Menurut Idrisi. yang menulis pada abad ke-12, yang di- perkirakan bahwa penulis ini mempergunakan sumber-sumber informasi dari masa-masa sebelumnya. menyebutkan bahwa telah terdapat perutusan yang dikirimkan Palembang dengan mempergunakan perahu-perahu besar ke Cina. Kenyataan ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara Palembang dengan Cina.
Para penguasa Cina menganggap bahwa kekuasaan mereka diakui secara resmi oleh para penguasa di kawasan Asia Tenggara yang mengirimkan perutusan dengan membawa upeti tertentu. Penguasa yang mengirimkan upeti tersebut diakui secara resmi oleh penguasa Cina sebagai penguasa yang sah pada masing-masing kerajaan.
Ketika kekuasaan Cina menjadi besar dan perdagangan dengan Cina menjadi berkembang, maharaja Cina memiliki kewajiban moral untuk menjaga keamanan pelayaran perdagangan di laut. Satu-satunya inisiatif yang diambil untuk maksud tersebut ialah untuk menghukum pelaut-pelaut Champa yang mengganggu pelayaran perdagangan. Kebijaksanaan ini diambil oleh penguasa Dinasti T'ang dan berlanjut sampai dengan permulaan Dinasti Sung. Masa perkembangan Dinasti Sung yang berpusat di Selatan Cina, 1127 - 1279, melahirkan suatu periode ekspansi perdagangan pedagang-pedagang Cina.
Pada Tahun 1178 kapal-kapal dari Canton berdagang dengan pelabuhan-pelabuhan Lamuri di Sumatera. Kapal-kapal itu juga berlayar ke Siam dan Jawa. Pada abad ke-12 itu, pusat-pusat produksi pertanian di Indonesia bagian barat tidak saja dikunjungi oleh para pedagang Cina, tetapi juga oleh pedagang Tamil dan Yahudi dari Kairo. Mereka terutama mengangkut kapur barus dari daerah tersebut. Kebijaksanaan perdagangan yang dijalankan oleh Dinasti Sung dengan memperlakukan perdagangan langsung dengan daerah-daerah d i Asia Tenggara dan dengan meninggalkan sistem berkembangnya perdagangan internasional, di dalam mana para pedagang Cina mengambil peran aktif sebagai pedagang. Kebijaksanaan inilah yang telah dimanfaatkan Sri- wijaya untuk keuntungannya dalam bidang perdagangan, namun kebijaksanaan ini tidak dapat dipertahankan terus oleh Dinasti Mongol yang menggantikan Dinasti Sung selama periode 1279 -
- Para pedagang Cina tetap berusaha untuk ambil bagian aktif dalam perdagangan meskipun kebijaksanaan penguasanya telah mengalami perubahan. Para pedagang ini terus saja berdagang dengan luar Cina. Pada tahun 1330 dua pelabuhan yang mereka singgahi adalah Palembang dan Jambi. Di Pulau Sumatera sendiri terjadi perubahan politik. Pusat kekuasaan Palembang mengalami perpindahan ke Jambi antara periode 1079- 1082. Konflik-konflik yang berkepanjangan antara Jambi dan Palembang yang telah ada sejak abad ke-7 muncul lagi ke permukaan. Dengan adanya kegiatan perdagangan di sepanjang Selat Malaka tersebut dapat diperkirakan bahwa pusat-pusat pe- mukiman pada muara sungai di pantai utara dan timur Aceh telah disinggahi oleh para pedagang Arab tersebut. Hal ini amatlah mungkin bila dihubungkan dengan pengaruh angin muson yang berlaku untuk kawasan itu: dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa kerajaan-kerajaan Islam di pantai Selat Malaka seperti Perlak. Samudra Pasai. dan Lambri telah dikunjungi oleh pedagang-pedagang ini jauh sebelum kerajaan-
kerajaan itu dapat tumbuh dan berkembang sebagai pusat-pusat politik di kawasan tersebut.
Pusat-pusat kekuasaan politik itu, pada masa sebelumnya lebih berupa kampung-kampung nelayan dan berkembang menjadi pelabuhan-pelabuhan sesuai dengan perkembangan masyarakat itu sendiri, sampai ke tingkat sebagai pusat kekuasaan politik di daerah pantai.10
Sriwijaya sebagai pusat perdagangan menduduki posisi penting di Selat Malaka sejak abad ke-8. Sementara pada abad ke-9, daerah delta Sungai Berantas di Jawa Timur mengalami aktivitas perdagangan yang cukup menonjol.
Komoditi perdagangan utama daerah delta Berantas ini terutama adalah hasil berasnya. yang diperdagangkan secara barter. Ketika Bandar Malaka muncul pada abad ke-14. beras dari daerah ini dikirim ke sana. Ketika terjadi peningkatan perdagangan di Selat Malaka pada abad ke-10. yaitu sebagai akibat dari meningkatnya volume perdagangan Cina pada masa dinasti Sung. kegiatan perdagangan juga melibatkan daerah Jawa Timur tersebut.11
Pertentangan antara Jawa dan Sriwijaya dalam abad ke-10 itu adalah kompetisi antara dua kekuatan untuk menguasai perdagangan dengan Cina. Dalam abad ke-1 1, Jawa menjual beras kepada Sriwijaya dan produk-produk pertanian, dan juga barang-barang industri kerajinan lainnya kepada para pedagang Cina.12
Pada saat kekuatan perdagangan yang digerakkan Dinasti Sung mengalami kehancuran pada abad ke-12. pedagang-pedagang Cina secara individual bertambah banyak yang berda- gang ke luar Cina. Pedagang-pedagang ini berlayar ke Sumatera. Malaysia, dan Jawa. Pada masa keruntuhan perdagangan Dinasti Sung ini, di Indonesia terjadi perkembangan yang menarik yaitu terjadinya peningkatan aktivitas perdagangan. Maluku dipan- dang dari segi politik maupun ekonomi mulai menduduki posisi penting.
Pada saat pedagang Cina berkurang mengunjungi India dan Indonesia, pedagang-pedagang Arab mengisi kekosongan itu baik yang berlayar langsung dari Arab maupun dari India. Pada akhir abad ke-7 me man g orang-orang Arab telah berlayar secara lebih teratur di kawasan Asia Tenggara, terutama mencari rempah-rempah dan bahan obat-obatan.13 Orang-orang India dari Pulicat, Nagapatnam, dan Masulipatnam dari pantai Coro- mandel bergabung dengan mereka. Pasai dan Pidie di pantai utara Pulau Sumatera menjadi tempat persinggahan mereka, sementara di pantai barat, bandar-bandar perdagangan yang disinggahi ialah Barus, Indrapura, Tiku, dan Pariaman.14
Pedagang-pedagang Arab ini bahkan semakin mendesak masuk ke sebelah selatan Cina. Mereka juga melakukan perdagangan secara meluas ke seluruh wilayah Indonesia. Barang-barang yang mereka cari yaitu lada, rempah-rempah lainnya dan kayu wangi. Kebanyakan mereka datang dari India dengan barang-barang dagangan mereka.15 Seperti telah disebutkan bahwa jauh sebelum orang-orang Eropa melakukan ekspansi pelayaran ke timur. orang-orang Arab telah memegang peranan penting dalam perdagangan di kawasan ini. Pelayaran di laut bagi orang-orang Arab setelah zaman Islam memegang kedudukan sangat penting. Pelayaran mereka menjadi bertambah ramai setelah begitu banyak orang-orang Alawwivin (kerabat Rasulullah) menyelamatkan diri terhadap politik pemerintahan Mu'awiyah. Mereka berlayar ke India, Tiongkok, dan Indonesia.16 Perdagangan antarpulau di Indonesia menjadi termasuk ke dalam jaringan perdagangan internasional. Dilihat dari aspek pertumbuhan, perdagangan ini membawa pengaruh besar bagi perkembangan Kerajaan Kediri dan Singosari (1222-1292) di Jawa Timur.
Produksi pertanian dari Sumatera menyebabkan para pedagang Arab yang mencari barang-barang itu memusatkan kegiatan perdagangannya ke sana. Pasai yang terletak pada jalur perdagangan antara India dan Cina menjadi tempat persinggahan para pedagang tersebut. Hal ini ditambah lagi oleh
pengaruh angin muson yang seringkali menyebabkan para pedagang tersebut harus tinggal dalam waktu yang cukup lama di sana guna menunggu arah angin yang sesuai di ngan maksud pelayaran mereka. Kedua faktor yang disebutkan itu sekurang- kurangnya menjadi faktor yang menyebabkan terlibatnya Pasai dalam perdagangan internasional.
Faktor lain yang sangat menentukan bagi terlibatnya Pasai dalam perdagangan internasional ini ialah runtuhnya kekuasaan Sriwijaya sebagai pengontrol lalu-lintas perdagangan di Selat Malaka. Kevakuman kekuasaan yang mengontrol perdagangan di kawasan itu telah memungkinkan Pasai berkembang menjadi bandar perdagangan yang penting di kawasan Selat Malaka.
Pada waktu Pasai akan mulai bangkit. pada abad ke-12 dan ke-13-di Sumatera bagian utara memang terjadi perdagangan yang ramai. Kerajaan Kampai yang pada masa sebelumnya ada- lah vasal dari Sriwijaya, dengan melemahnya kekuasaan pengua- sa Sriwijaya, berhasil meiepaskan diri dan menjadi kerajaan yang merdeka. Banyak perahu dagang yang berdagang dengan bandar itu. Di samping itu disebutkan pula bahwa perahu-perahu dagang milik pedagang setempat berlayar sampai' ke India Selatan.17
Di samping Kampai, di kawasan itu juga muncul Haru dan Tamiang yang dikenal sumber-sumber Cina pada akhir abad ke-13. Dalam ekspansi Ku Bilai Khan tahun 1282, Kerajaan Haru diminta untuk mengakui kekuasaan Cina, demikian pula halnya dengan Kerajaan Tamiang. Kedua kerajaan ini mengirim- kan utusannya ke Cina pada tahun 1295.18
Ekspansi bangsa Mongol melalui laut (1279 - 1308) meng- akibatkan berdirinya Kerajaan Majapahit di Pulau Jawa. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350 -- 1389) kekuasaannya dikembangkan ke Sumatera untuk menguasai Jambi. Masa per- kembangan ini, Kerajaan Sriwija,ya telah lama mengalami ke- munduran, namun Jambi dan Palembang tidak hapus seluruh- nya. Mereka masih berdiri sebagai pusat-pusat perdagangan dan politik sampai pertengahan abad ke-14, meskipun kekuasaannya sudah amat terbatas.
Catatan pada awal Dinasti Mongol di Cina menunjukkan beberapa kerajaan di Sumatera seperti Samudera, Lamuri, Perlak, Tamiang, dan Haru. Tamiang dan Haru memang dipaksa oleh Mongol untuk mengirimkan upetinya. Kerajaan Samudera mulai mengadakan hubungan dengan Dinasti Mongol pada tahun 1282.
Pada tahun itu penguasa Pasai menjalin hubungan dengan Cina melalui perutusan Cina yang kembali dari India Selatan dan singgah di Samudera.19 Peristiwa ini dianggap sebagai permulaan kontak antara Samudera (Pasai) dengan Cina. Mengingat pada praktek pengembangan kekuasaan Cina di Asia Tenggara, tindakan Pasai ini dapat dipandang sebagai upaya diplomatik dalam rangka penyerahannya sebagai kekuasaan baru di Selat Malaka. Langkah ini perlu diambil untuk menjaga keberadaannya di kawasan Asia Tenggara.
Mengingat perkembangan daerah Maluku pada waktu itu yang menarik para pedagang, pengembangan kekuasaan Majapahit itu adalah dalam upaya menjaga hegemoni perdagangan- nya dengan Maluku. Sebenarnya dengan perkembangan di Maluku itu. pedagang Arab dan Cina dapat berlayar langsung ke daerah itu, naman selama abad ke-14 bajak laut cukup meraja- lela di Selat Malaka. Majapahit tidak berhasil menjaga keamanan di Selat Malaka, demikian juga halnya dengan Pasai yang cukup kuat dan kaya.19 Perluasan kekuasaan Majapahit ke Jambi dan juga ke Pasai yang dilakukan secara berulangkali, tidak lain adalah dalam rangka penguasaan perdagangan di Selat Malaka. Meskipun se- telah serangan-serangan Majapahit, Kerajaan Pasai masih dapat berdiri tegak, namun dengan membesarnya kekuasaan Majapahit di Selat Malaka, peranan Pasai mulai menurun. Peranan Pasai yang begitu penting dalam perdagangan antarbangsa menjadi amat merosot sekali dengan mulai tumbuhnya bandar perdagangan Malaka di Semenanjung Melayu pada abad ke-15.
Para penguasa Malaka mengambil keuntungan dari perdagangan antarpulau dan perdagangan internasional. Munculnya Bandar Malaka memang sebagai pengaruh dari meningkatnya
perdagangan dengan Cina, juga faktor letaknya yang strategis di Selat Malaka, pelabuhannya yang relatif baik dan tersedianya air tawar adalah faktor-faktor yang memungkinkan bandar pelabuhan itu berkembang pesat.20
Pada masa pemerintahan Muhammad Syah, 1424 - 1445 (cucu pendiri Kerajaan Malaka), Angkatan Laut Cina yang biasanya mengunjungi Malaka dihentikan; karena itu penguasa tersebut berusaha keras untuk menarik pedagang-pedagang Islam sebanyak mungkin ke Malaka dari Pasai, Aru, India, dan Arab.21
Perkawinannya dengan putri raja Rokan juga membawa pengaruh besar bagi perkembangan perdagangan di Malaka, karena Rokan adalah pelabuhan pengirim lada dan emas yang berada di bawah kekuasaan Minangkabau.
Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 1511 membuat perubahan baru di kawasan ini. Para pedagang Islam berpindah ke Aceh, dan sejak tahun 1520 Kerajaan Aceh mulai dikembangkan, dengan demikian suatu bandar perdagangan baru yang didukung oleh pedagang-pedagang Islam mulai muncul di kawasan ini
Pasai yang telah mengalami kemunduran pada tahun 1520 ditaklukkan oleh Sultan Ali Mughayat Syah (pendiri Kerajaan Aceh) dan daerah Pasai dijadikan daerah taklukkan Kerajaan Aceh mulai dikembangkan. Dengan demikian suatu bandar perdagangan baru yang didukung oleh pedagang-pedagang Islam mulai muncul di kawasan ini. Pasai yang telah mengalami kemunduran pada tahun 1520 ditaklukkan oleh Sultan Ali Mughayat Syah dan daerah Pasai dijadikan daerah taklukkan Kerajaan Aceh.
3.2 Pasai dan Persebaran Islam di Asia Tenggara
Kapan waktu yang pasti Islam masuk ke Pasai, belum di- ketahui secara pasti, apa lagi jika masuknya Islam itu didasarkan kepada mulai adanya masyarakat Islam di sana. Apabila kriteria yang dipakai didasarkan pada terbentuknya sistem po-
litik, berupa lembaga kerajaan yang Islam, dapat dikatakan bahwa Kerajaan Islam Pasai terbentuk pada abad ke-13. Tentang masuknya Islam ke Pasai, Hikayat Raja-raja Pasai menyebutkan bahwa, "Alkisah peri mengatakan cerita yang pertama masuk agama Islam ini Pasai: maka ada diceritakan oleh orang yang empunya cerita ini negeri yang di bawah angin ini Pasailah yang pertama membawa iman akan Allah dan akan rasul Allah.22 Sumber informasi ini berasal dari abad ke-15. Sementara itu, sumber informasi dari dinasti Yuan menyebutkan, bahwa pada tahun 1282, dua utusan dari Su—mu—ta (Sa- mudra) tiba di istana Cina. Berita ini oleh de Jong dipakai sebagai dasar menetapkan bahwa Kerajaan Pasai merupakan suatu kerajaan Islam di pantai utara Pulau Sumatera yang telah muncul kira-kira sebelum pengiriman utusan tersebut.23
Berdasarkan uraian pada bagian terdahulu, yaitu tentang kedudukan Pasai dalam jaringan perdagangan internasional, jelas pula bahwa muncul dan berkembangnya Pasai sebagai pe- labuhan dagang dan pusat kekuasaan politik, berkaitan erat dengan perdagangan, yang juga berkaitan dengan datangnya pedagang-pedagang Arab Islam ke daerah itu.
Peninggalan arkeologis menunjukkan bahwa raja pertama, yang disebut dalam tradisi seperti yang terdapat dalam Hikayat Raja-raja Pasai, bernama Merah Silu atau Sultan Malikus Saleh, mangkat pada bulan Ramadhan tahun 696 Hijriah atau 1297 M₂₄, dengan demikian ia disebut sebagai raja Islam pertama di Kerajaan Pasai. Sejarah Melayu menyebutkan bahwa Malikus Saleh, raja Pasai itu, yang sebelum memeluk agama Islam bernama Merah Silu, memakai nama Malikus Saleh setelah ia menjadi penganut agama Islam. Ia menikahi puteri Perlak dan memperoleh dua orang putera, yakni Malik Al-Zahir dan Malik Al-Mansur.25
Peranan penting yang dimainkan Pasai dalam persebaran Islam ke seluruh Nusantara dan bahkan ke kawasan Asia Tengara, dimungkinan karena hubungan itu berkaitan erat dengan kegiatan perdagangan kegiatan perdagangan, yang di dalamnya juga terdapat kegiatan para pedagang yang sekaligus
bertindak sebagai pendakwah. Pasai yang terkait dengan kegiatan perdagangan dengan berbagai kerajaan lain di kawasan ini, dengan mudah menggunakan jaringan itu untuk tujuan pengembangan agama Islam. Sumber informasi dari Dinasti Yuan menyebutkan. bahwa pada tahun 1282 Kerajaan Pasai mengirimkan dua orang utusan- nya yang bernama Sulaiman dan Samsuddin ke istana kaisar Cina. Informasi ini menunjukkan bahwa orang-orang Islam telah menduduki posisi penting dalam pemerintahan di Kerajaan Pasai yang dipimpin Malik al-Saleh. Kedua orang ini dapat diperkirakan sebagai pedagang-pedagang Islam yang bermukim atau menduduki posisi penting dalam pemerintahan.
Pada pusat pemerintahan sendiri di Pasai, kegiatan keagamaan cukup semarak. Hal ini terutama dapat diperlihatkan dengan melihat kehidupan keagamaan di istana. Contoh kongkrit tentang hal ini, ialah pada masa pemerintahan Malik al-Zahir. Ibnu Batulah menyebutkan, bahwa pada saat kunjungannya ke sana pada Tahun 1345, sultan yang memerintah negeri itu ialah Sultan Malik al-Zakhir, seorang raja yang taat kepada ajar- an Nabi Muhammad saw, dan baginda senantiasa dikelilingi oleh para ahli agama teologi Islam, yang salah satu di antaranya ialah Qadi Syarif Amir Sayyid dari Shiraz, dan Tajal-Din dari Isfahan.27
Ditinjau dari sudut perkembangan agama Islam, Pasai dapat kita katakan sebagai pusat penyiaran agama Islam di Nusantara dan kawasan Asia Tenggara.
Salaltussalihin atau Sejarah Melayu (edisi Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi) menceritakan bahwa di Tanah Arab ada seorang alim bernama Maulana Abu Ishak yang sangat paham akan ilmu tasawuf. Ia mengarang kitab Durru'l—manzum dan mengajarkan isi kitab ini kepada muridnya Abu Bakar. Kemudian muridnya itu dikirimkannya ke Malaka untuk mengajarkan isi kitab ini kepada muridnya Abu Bakar. Kemudian muridnya itu dikirimkannya ke Malaka untuk mengajarkan isi kitabnya itu. Sultan Malaka Mansyur Syah sangat memulia- kan Maulana Abu Bakar dan baginda berguru kepada maulana
itu. Kemudian Sultan Mansyur Syah mengirim kitab itu ke Pasai dan oleh sultan Pasai disuruhartikan kepada Mahkdum Petakan, salah seorang alim di Kerajaan Pasai. Setelah selesai, hasilnya diantarkan kembali ke Malaka, dan Sultan Mansyur Syah terlalu suka-cita melihat kitab itu sudah bermakna. Ba- ginda menunjukkan kitab Durru'l-manzum yang dikirim dari Pasai itu kepada Maulana Abu Bakar, dan Maulana Abu Bakar itu berkenan di hati serta dipujinya ulama Pasai itu. Kisah tentang penerjemahan kitab Darru'l-manzum yang disebutkan di atas, dikutip dari Teuku Ibrahim Alfian.28, yang selanjutnya juga melukiskan sebuah riwayat yang lain yang di- ambil dari sejarah Melayu. Sejarah Melayu juga mencerminkan bahwa ketika timbul masalah mengenai, "apakah segala isi syurga itu, kekalkah ia dalam syurga dan segala isi neraka itu, kekalkah ia di dalam neraka", Sultan Mansyur Syah, mengutus Tun Bija Wangsa untuk bertanya akan masalah itu ke Pasai.
Sultan Pasai bertitah kepada Makhdum Muda untuk me- nyiapkan jawaban terhadap masalah itu, lalu dibawakan kepada Maulanda Abu Bakar. Sultan Malaka memuji Makhdum Muda dan kepadanya diberikan anugerah emas urai tujuh tahil dan dua orang sahaya perempuan peranakan Makasar bérnama Daeng Bunga dan Daeng Bibah.29
Hubungan antara Pasai dengan Malaka dan juga dengan daerah-daerah lain di kawasan Asia Tenggara telah terjalin sejak adanya hubungan perdagangan melalui jalur perdagangan yang melintasi pesisir Selat Malaka. Agama Islam pun mulai dianut di beberapa tempat di Asia Tenggara, terutama di Semenanjung Melayu dan di pesisir utara Pulau Jawa.30
Hubungan pelayaran dan perdagangan antara Samudera Pasai dengan Semenanjung Melayu lambat-laun menyebabkan terbentuknya masyarakat muslim di sana, antara lain di Treng- ganu yang dibuktikan oleh temuan batu bersurat dengan huruf Arab yang berbahasa Melayu. Batu itu bertanggal Jum'at 21 Rajab 702 H, atau Jum'at 22 Februari 1303 M.31
Munculnya Malaka sebagai bandar perdagangan baru dan pusat kekuasaan Islam yang besar pengaruhnya di kawasan
Selat Malaka, amat dipengaruhi oleh Samudera Pasai. Hubungan pelayaran dan perdagangan antara Samudera Pasai dan Malaka jauh sebelum abad ke-15, lambat-laun menyebabkan pula tim- bulnya masyarakat muslim di Malaka, bahkan juga di kalangan bangsawan atau raja-raja. Raja Malaka yang dikenal sebagai Paramisora mengambil puteri dari Pasai sebagai istrinya, kira- kira pada tahun 1414. Hubungan perdagangan amat dimajukan antara dua kerajaan tersebut. Pada waktu itu pun mata uang emas (dirham) yang sudah dikenal di Samudera Pasai, dikenal- kan pula kepada raja dan masyarakat Malaka.32
Kejayaan pertama agama Islam di Malaka amat besar pengaruh dari masuknya Paramisora ke dalam agama Islam. Setelah memperistrikan puteri dari Pasai, ia juga mengubah namanya menjadi Sultan Muhammad Iskandar.33
Terdapatnya pengaruh yang besar dari Pasai dalam peng- islaman Malaka juga dibuktikan bahwa pada waktu Bandar Malaka mulai bangkit dan Pasai mengalami kemunduran, para pedagang Islam, baik orang-orang Arab maupun India pindah dari Pasai ke Malaka.34
Bukti lain tentang pengaruh Pasai terhadap Malaka, ialah dari kisah Sultan Malaka yang selalu menanyakan soal-soal yang pelik dalam agama kepada raja Pasai, seperti telah disebutkan.
Pangaruh Pasai juga berlangsung atas Kedah, meskipun Kedah juga berada di bawah kekuasaan Siam. Melalui Kedah muballiq-muballiq Islam dari Pasai menyebarkan agama Islam ke daerah-daerah lain di Semenanjung Melayu, yang terletak lebih ke pedalaman sampai ke Trengganu. Pengaruh Pasai yang telah ada di sebelah utara Semenanjung Melayu juga meng- akibatkan besarnya pengaruh terhadap raja-raja Malaka yang pertama, yang mengawini puteri Pasai.35
Hubungan antara Pasai dengan daerah-daerah lain di Indo- nesia seperti Pulau Jawa, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan. Lombok, dan Sumbawa dibuktikan oleh adanya kesamaan bentuk nisan kubur yang terdapat di Pasai dengan daerah-daerah yang disebutkan. Makam Maulana Malik Ibrahim di Jawa Timur misalnya, menunjukkan persamaan dengan makam Nahrasiyah
di Pasai dan dengan makam yang ada di Cambay. Pembuktian melalui bentuk makam kuburan seperti yang dijelaskan Hasan Muarif Ambary berhasil memperkuat sumber-sumber keterang- an yang telah diberikan melalui sumber-sumber hikayat dan berita-berita asing sebelumnya.
Pemberitaan dari jenis hikayat itu, misalnya seperti yang dijelaskan Uka Tjandrasasmita mengenai pengaruh Pasai ter- hadap Jawa Barat berdasarkan Babad Cirebon dan Purwaka Caruban Nagari. Dari sumber itu tergambar bahwa tokoh yang mengislamkan Jayakarta dari Banten adalah Fadilahkhan yang berasal dari Pasai.36 Berdasarkan sumber-sumber informasi itulah Uka Tjandrasasmita berkesimpulan bahwa Pasai berperan besar dalam proses pengembangan Islam di pesisir utara Jawa, Jawa Timur sampai Jawa Barat.
CATATAN
- Uka Tjandrasasmita, "Peranan Samudra Pasai dalam per- kembangan Islam di beberapa daerah Asia Tenggara". Dalam Hasan Muarif Ambari dan Bachtiar Ali. Restrospcksi dan Refleksi Budaya Nusantara. Jakarta; Taman Iskandar Muda, 1988. halaman 67.
- Auguste Toussaint, (Translated by June Guicharraud), History of the Indian Ocean. London : Routledge and Kegan Paul, 1966, halaman 33.
- JC. Van Leur, Indonesian Trade and Society.
- GR. Tibbets, "Pre-Islamic Arabia and Southeast Asia", JMBRAS, 29. pt. 3 (1956) halaman 207.
- GF. Hourani, Arab Seafaring. New Jersey; Princeton University, 1951, halaman 46 - 48.
- Bernard H.M. Vlekke, Nusantara A History of Indonesia. The Hague : dan Bandung : W. van Hoeve, 1959. halaman
28. - Ibid.
- Ismail Hamid, The Malay Islamic Hikayat. Kuala Lumpur : Penerbit University Kebangsaan Malaysia, 1983, halaman
13. - Uka Tjandrasasmita, op. cit. halaman 68.
MAP., Meilink-Roelofsz, loc. cit.
Jan Wisseman, "Markets and Trade in Pre-Islamic Java", paper presented at the Conference on Trade in Ancient Asia, 1976, halaman 9.
- Paul Wheatley, "Geographical Notes on Some Commodities Invüved in Sung Maritime Trade", JMBRAS, 32, (2), 1959, halaman 1—140.
- G.R. Tibbets, Arab Navigation in the Indian Ocean before the Coming of the Portuguese. London: Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland, 1971, halaman 10.
- Eleanor Selling, The Evolution of trading states in Southeast Asia before the 17th Century. P.Hd. Thesis: Columbia University, 1981, halaman 65.
- D.G.E. Hall, A History of South East Asia. London :Mac- .Millan, halaman 71.
- Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkem- bangannya di Indonesia. Bandung PT. Al-Ma'arif, 1979, halaman 195.
- O.W. Wolters, Th e Fafl Op. Cit. hal. 44.
- Md.
- Kathiritamby-Wells, "Achenese Control over West Sumatera iip to the Treaty of Painan in 1663", JSEAH. 10 (13), 1969, halaman 454.
- M.A.P. Meilink-Roelofsz. Asian Trade and European Influence in the Indonesian Archipelago between 1500 and about 1630. The Hague: Martinus Nijhoff, 1962, halaman
37. - Wolters. op. cit. halaman 160 ;Eleannor Selling, op. cit., halaman 81-82.
- Hikayat Raja-raja Pasai. A. Revised romanisation and English Translation by CA. Gibson-Hill. JMBRAS, 33 (1960), halaman 46.
S.Q. Fatimi, Islam Comes to Malaysia. Singapore: Malaysian Sociological Research Institute, 1963, halaman 10.
Teuku Ibrahim Alfian, "Pasai dan Islam". Paper disampaikan pada Seminar tentang Pasai sebagai bandar perdagangan dalam jalur perdagangan, Cisarua, 25—27 September 1992.
- Ismail Hamid, The Malay Islamic Hikayat. Kuala Lumpur. Penerbit University Kebangsaan Malaysia, 1983. halaman
19. - S.Q Fatimi, Op Cit halaman 10.
- Hasan Muarif Ambary, Tinggalan Arkeologi Samudera Pasai. Paper disampaikan pada Seminar tentang Pasai, Cisarua 25-27 September 1992, halaman 13.
- T. Ibrahim Alfian, Pasai dan Islam. Paper disampaikan pada Seminar tentang Pasai. Cisarua 25—27 September 1992.
- Ibid. Halaman 4.
- Uka Tjandrasasmita, "Peranan Samudera Pasai dalam per- kembangan Islam di beberapa Daerah Asia Tenggara". halaman 70.
- Ibid. Halaman 71.
- Ibid.
- N.J. Ryan, Sejarah Semenanjung Tanah Melayu. Kuala Lumpur : Oxford University Press, 1962, halaman 20.
- Ibid. halaman 21, lihat juga : Zakaria Ahmad, Sekitar Ke- radjaan Atjeh dalam tahun 1520-1675, Medan : Monora. 972, halaman 22.
- Richard Windstedt, Malaya and lts History. London : Hutchinson University Library, edisi VII, 1972, halaman
32. - Uka Tjandrasasmita, op cit. halaman 74.
BAB IV PASAI BANDA R PERDAGANGA N
Apabila dalam bab terdahulu pembicaraan difokuskan pada kedudukan dan peranan Pasai dalam jaringan antar bangsa, dalam bab ini pembicaraan hanya difokuskan pada Pasai sebagai suatu pusat perdagangan dan politik, dengan demikian yang dibicarakan ialah tentang perkembangan internasional Pasai. Munculnya Pasai sebagai suatu pusat kekuasaan di Selat Malaka, diperkirakan pada akhir abad ke-13. Kota ini terletak di daerah pesisir pada aliran Sungai Pasai. Penentuan masa ber- kembangnya sebagai suatu pusat kekuasaan politik didasarkan kenyataan pada tahun 1282, penguasa Pasai mengirimkan dua orang utusannya ke Cina. Mereka itu adalah Sulaiman dan Shamsuddin.1
Meskipun pada akhir abad ke-13 kota itu telah berkeduduk- an sebagaimana disebutkan yaitu pada daerah pesisir, namun dari perkembangan awalnya, terutama dengan mengikuti Hika- yat Raja-raja Pasai, dengan jelas diceritakan tentang beberapa kali terjadinya perpindahan pusat kota tersebut.
Kenneth R. Hall berpendapat bahwa pusat kerajaan yang lebih kemudian, pada mulanya adalah pusat Kerajaan Pasai, yang berbeda dengan pusat Kerajaan Samudera. Kota Pasai yang disebut sebagai bandar perdagangan adalah perpindahan dari Samudera yang letaknya agak ke dalam, perpindahan ini diperkirakan karena adanya serangan dari laut.2
Sebelum Malikus Saleh menjadi raja Pasai, menurut Hikayat Raja-raja Pasai, terjadi beberapa kali perpindahan pusat kerajaan. Pada mulanya negeri dibuka di daerah Semerlanga (Samalanga). Apabila itu benar, maka pusat kerajaan itu per- tama kali dibentuk di daerah sebelah barat dari kedudukan Pasai yang lebih kemudian. Setelah itu. pusat kerajaan dipindahkan lagi ke sebelah barat di Beruana. Dari tempat ini pusat kerajaan masih dipindahkan lagi ke daerah pedalaman di hulu Peusangan, di Bul oh Telang.3 Tempat ini tidak lain adalah di daerah pedalaman Gayo, karena Buloh Telongitu mesti terletak di daerah Gunung Burni Telong di daerah pedalaman Gayo. Dengan de- mikian pusat Kerajaan Pasai yang lebih ke daerah pesisir yang menjadi pusat pemerintahan di masa kejayaan kerajaan ini, dibentuk setelah mereka pindah dari pedalaman Gayo tersebut.
Membicarakan Pasai sebagai sebuah kota atau bandar perdagangan dalam jalur pelayaran dan perdagangan internasional pada abad k e 13 — 16 bukanlah hal yang mudah dan dapat diterangkan dengan jelas.
Tawalinuddin Haris menyebutkan bahwa sumber-sumber tertulis seperti hikayat, babad maupun catatan perjalanan dan berita-berita asing, memberikan gambaran yang serba sedikit mengenai kota-kota kuno di Indonesia. Berdasarkan pengamat- an selama ini dapat diketahui bahwa di antara kota-kota tersebut ada yang mengalami perubahan, baik fisik maupun non- fisik sebagai akibat proses perkembangan sejarah dari masa ke masa. Kecuali itu ada pula bekas-bekas ibukota kerajaan masa lampau yang kini telah berubah fungsi menjadi desa atau kam- pung seperti Banten, Plered, Buton, dan Samudera Pasai.
Meskipun kota-kota semacam itu masih dapat dikenal me- lalui tinggalan-tinggalan arkeologi dan data toponiminya, namun sukar untuk menggambarkan situasi kota tersebut, baik fisik maupun sosialnya secara lengkap. Hal ini terjadi karena tinggalan-tinggalan arkeologi yang ada amat terbatas, bahkan di atas reruntuhan kota-kota kuno itu sekarang telah dibangun rumah- rumah baru, sehingga menambah kesulitan untuk memperolah gambaran yang sebenarnya tentang kota yang bersangkutan.4
Ibukota Kerajaan Pasai yang oleh sumber-sumber Cina disebut Kota Samudera, tidak memiliki dinding yang dibangun sebagai benteng kota. Hanya saja terdapat dinding batu karang yang besar menjorok ke arah laut.5 Tampaknya keadaan ini sudah dipergunakan sebagai benteng pertahanan dari serangan- serangan yang berasal dari arah laut. Keadaan Kota Samudera Pasai yang demikian tampaknya berbeda dari ciri-ciri fisik kota pantai pada umumnya. Biasa- nya, pada kota-kota pantai ditemukan tembok keliling kota yang dibangun dari kayu, bambu atau bata. Keadaan sebaliknya terjadi untuk kota-kota pedalaman terutama di Pulau Jawa, terdapat parit-parit yang mengelilingi tembok keliling keraton. Adanya tembok atau pagar keliling pada kota-kota pantai lebih terbuka dari laut, sehingga diperlukan perlindungan kota dari ancaman musuh. Dengan demikian pagar atau tembok se- keliling kota berfungsi sebagai batas wilayah kota yang me- misahkan kehidupan penduduk di dalam dan di luarnya, yang sekaligus sebagai benteng pertahanan kota.6 Melihat pada keadaan Kota Pasai dengan adanya batu karang yang menjorok ke laut itu, memberikan penjelasan bahwa karena itu kota ini tidak perlu membangun benteng pertahanan sendiri dari kay.u atau batubata. Kondisi kota yang sedemikian secara alamiah telah memiliki benteng pertahanan tersendiri. Tomes Pires menyebutkan bahwa Kota Pasai adalah kota terpenting pada masanya untuk seluruh pulau Sumatera, karena tidak ada tempat lain yang penting di pulau itu kecuali Pasai, sehingga nama kota itu, yang oleh sebagian penduduk lain juga disebut Samudera, dijadikan nama untuk pulau itu. Kota itu sendiri ditaksir berpenduduk tidak kurang dari 20.000 orang.
Ibnu Batutah yang berkunjung ke kota tersebut pada pertengahan abad ke-14, memberikan gambaran tentang kota tersebut. Ia mencatat bahwa ia harus berjalan sekitar empat mil dengan naik kuda dari pelabuhan yang disebutnya Sahra untuk sampai ke kota pusat pemerintahan itu cukup besar dan indah serta dilengkapi dengan menara -menara yang ter- buat dari kayu. Pada pusat kota ini terdapat tempat tinggal para penguasa dan bangsawan lainnya. Bangunan terpenting ialah istana sultan dan mesjid.
Gambaran yang diberikan Ibnu Batutah ini berbeda dengan yang diberikan oleh Tomes Pires terutama dalam soal benteng atau pagar kota. Apabila dalam laporan Tomes Pires disebutkan bahwa Kota Pasai tidak memiliki benteng atau pagar, sebalik- nya Ibnu Batutah mengatakan bahwa kota tersebut dilengkapi dengan pagar-pagar kayu. Jika uraian Ibnu Batutah ini benar maka Tawalinuddin Haris menyebutkan bahwa morpologi Kota Pasai hampir sama dengan kota-kota pantai lainnya seperti Ban ten, Jayakarta, dan lain-lain.
Tampaknya terdapat perbedaan pendapat antara Tomes Pires dengan Ibnu Batutah disebabkan gambaran-gambaran yang mereka berikan terhadap kota yang berbeda. Ini adalah alter- natif pertama, bahwa Kota Pasai yang dimaksudkan oleh Tomes Pires adalah bandar Sahra yang disebut Ibnu Batutah. Kenyataan ini diperkuat lagi dengan catatan Tomes Pires bahwa Kota Pasai langsung dibatasi oleh batu karang yang menjorok ke laut. Hal ini berarti ia menceritakan tentang kota yang benar-benar berada di tepi pantai. Pada hal apa yang diceritakan Ibmu Batutah bahwa kota yang terletak di tepi pantai ialah bandar pelabuhan yang disebut Sahra. Dengan demikian Kota Pasai menurut Ibu Batutah adalah kota di mana istana sultan didirikan.
Menurut catatan Ibnu Batutah pula, disebutkan bahwa di dalam pagar keliling kota terdapat tempat tinggal para penguasa dan bangsawan lainnya yang dilindungi oleh rakyat di luar pagar. Semua kehidupan komersial kota, para pendatang baru
dari desa, orang-orang asing, para pengrajin dan segala aktivitas urban lainnya ditempatkan di luar pagar keliling kota. Orang-orang asing seringkali tidak diizinkan menetap dalam ja- rak tertentu dari istana raja, bahkan adakalanya mereka harus tinggal di luar kota. 1 Apabila penjelasan Ibnu Batutah dianggap benar, maka dapatlah dikatakan bahwa Kota Pasai sebagai pusat peme- rintahan raja-raja Pasai, pada tengah-tengah areal terdapat suatu daerah inti yang ditempati oleh istana raja. Istana ini dipagar sebagai batas yang membedakan kawasan istana sul- tan dengan kawasan pasar di mana aktivitas perdagangan dan kegiatan lainnya berlangsung. Berdasarkan kenyataan ini disebutkan bahwa Pasai yang memiliki kota besar itu dihuni oleh penduduk yang tersebar hingga ke pedalaman. Penduduk pedalaman sering terlibat peperangan dengan penguasa Pasai. Meskipun penduduk pesisir pantai telah memeluk agama Islam, namun mereka tidak ber- hasil dalam mengislamkan penduduk pedalaman. Pada awal proses islamisasi di Pasai pesisir itu sendiri, kelompok penduduk yang menolak untuk masuk agama Islam melarikan diri dan berdiam di daerah pedalaman Gayo, dengan demikian penduduk ini dan juga orang-orang yang disebut dengan orang-orang Batak pada dua-tiga abad berikutnya adalah kelompok-kelompok penduduk pedalaman yang selalu terlibat peperangan dengan penguasa Pasai.
Komposisi masyarakat yang menjadi penduduk kota ini menunjukkan sifatnya yang berlapis-lapis. Menurut pendapat Ayatrohaedi, lapisan itu terdiri atas raja dan orang-orang besar kerajaan pada lapisan atas sampai dengan hamba sahaya pada lapisan yang paling bawah.8
Pada lapisan kelompok birokrasi terlihat adanya kelompok orang-orang besar, perdana menteri, menteri, tentara, pegawai, dan lain-lain. Secara langsung juga disebutkan adanya orang-orang yang bergerak di bidang perdagangan, misalnya disebutkannya orang-orang yang berniaga, orang berlayar, orang pekan, nahkoda, dan lain-lain.9
Meskipun orang-orang Arab tidak sebanyak orang-orang yang berasal dari India yang berdiam di Pasai, namun kelompok ini amat berpengaruh pada tingkat pemerintahan, atau atas kekuasaan raja. Keadaan ini diperlihatkan sejak awal terbentuk- nya kesultanan Pasai.
Pada masa pemerintahan Malikus Saleh, sebagai raja perta- ma di kerajaan itu, terdapat sejumlah orang-orang besar dalam negeri itu. Seorang bernama Tun Sri Kaya dan seorang lagi Tun Baba Kaya. Nama-nama itu jelas menunjukkan kedudukan orang-orang besar itu dalam kerajaan Pasai. Hal ini sesuai dengan penyebutan orang-orang besar kerajaan di Semenanjung Melayu dan Kerajaan Aceh Darussalam sebagai Orang Kaya. Kedua orang besar di Kerajaan Pasai tersebut masing-masing bernama Sayid Ali Ghitauddin dan Sayid Asmayuddin.10
Hikayat Raja-raja Pasai bahkan dengan jelas menyebutkan mereka masing-masing sebagai perdana menteri. seorang untuk Samudera dan seorang lagi untuk Pasai. Kedudukan mereka yang begitu penting di sana berlangsung sejak masa pemerintahan Malikus Saleh sampai masa cucunya yaitu Malikus Mahmud dan Malikus Mansur.1 1
Tokoh-tokoh ini amat berpengaruh terhadap para penguasa di Pasai. Hal ini juga terungkap dalam Hikayat Raja-raja Pasai ketika Malikus Mahmud bersengketa dengan Malikus Mansur. Malikus Mahmud menyebutkan bahwa sekiranya ia tidak menghormati Sayid Asmayuddin, niscaya telah dibunuhnya Malikus Mansur.12
Selain dua orang besar dari kelompok orang-orang Arab yang disebutkan, selanjutnya juga terdapat dua orang utusan Kerajaan Pasai yang dikirim ke istana Cina pada tahun 1282. Kedua utusan ini adalah Sulaiman dan Samsuddin.13
Pada waktu Ibnu Batutah mengunjungi kerajaan itu pada masa pemerintahan Malikus Zahir (putera Malikus Saleh), ia juga melihat adanya dua orang besar di Istana Pasai dari kelompok orang-orang Arab. Mereka itu adalah Qadi Sharif Amir Sayyid dari Shiraz dan Tajuddin dari Isfahan.14
Dari beberapa pemberitaan itu menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang Arab penyebar agama Islam ke Pasai itu, terutama dari kelompok ahli agama Islam menduduki posisi penting sebagai orang besar Kerajaan Pasai. Jabatan orang besar itu selalu ditempati oleh dua orang pejabat. Di samping itu diversitas etnis yang menghuni Pasai pada masa jayanya menunjukkan bahwa kota itu menjadi ajang lintas bukan saja barang dan jasa, tetapi juga sekaligus orang sebagai pelaku ekonominya. Suatu kota antara lain dapat dilihat diversitas etnisnya, di mana para warga kota bukan semata-mata terdiri atas warga yang berasal seketurunan.
Ibukota kerajaan ini banyak dikunjungi oleh perahu-perahu dan perdagangan menjadi amat penting. Penduduk ini sudah menggunakan uang logam yang terbuat dari emas dan timah. Mata uang emas itu disebut dinar dan berisi 7/10 emas murni.15
Menurut Hasan Muarif Ambary, khusus mengenai mata uang yang berhasil ditemukan dari ekskavasi di Kecamatan Samudera, diperoleh catatan analisis, antara lain bahwa Kerajaan Pasai adalah Kerajaan Islam Nusantara pertama yang mengeluarkan mata uang emas sebagai alat tukar resmi/sah.16 Mata uang tersebut dikeluarkan pertama kali pada masa pemerintahan Sultan Malik Az-Zahir (1297 - 1326). Mata uang tersebut oleh Ibrahim Alfian dianggap sebagai derham tertua di Nusantara. Mata uang sebagai alat tukar resmi selanjutnya juga berkembang ke Malaka berdasarkan penempaan mata uang di Pasai.17 Mata uang di Pasai yang disebut dirham/derham/deureuham dibuat dari emas 17 - 18 karat. denga diameter satu centimeter dengan berat 0.57 gram. Selain derham emas juga dipergunakan derham dari timah. yang menurut Kusmiati dipergunakan sebagai alat tukar langsung di pasar.18 Perahu-perahu dagang yang berlayar ke sana dapat men- jalankan perdagangannya dengan bebas karena begitu baiknya pengaturan perdagangan yang ditetapkan oleh pengusaha tersebut.19 Meskipun bandar perdagangan ini cukup ramai dalam aktivitas perdagangan, namun Pasai, sama halnya dengan Kera-
jaan Pidie, tidak memiliki satupun jung. Alat angkutan yang dimiliki Pasai hanyalah berupa lanchera yang diperkirakan tidak lebih dari empat buah. Lanchera ini pun tidak dibuat di Pasai, tetapi dibeli di Malaka. Tidak dapat dibuatnya jung atau lanchera di Pasai disebabkan tidak tersedianya kayu jati di Pasai sebagai kayu yang dapat dipakai untuk membangun alat angkutan tersebut.20
Pada masa kejayaan Kerajaan Pasai, ibukota kerajaan itu dihuni oleh kurang lebih 20.000 penduduk. Dari jumlah itu diperkirakan 65% di antaranya adalah orang-orang Keling. Suatu perbandingan yang menarik bahwa yang disebut dengan kota-kota besar pada waktu itu penduduknya berkisar antara
5.000 sampai 50.000 penduduk; dengan demikian ibukota Kerajaan Pasai pada waktu itu sudah dapat digolongkan ke dalam kelompok kota besar di dunia pada zamannya. Rumah-rumah penduduk didirikan di atas tiang-tiang dari pohon pinang atau kelapa yang tinggi, dan dipergunakan rotan sebagai pengikatnya. Kebanyakan rumah-rumah ini didirikan pada tepi pantai dengan mata pencaharian menangkap ikan dan menanam padi. Bandar Malaka pada awal perkembang- annya mengimpor budak yang berasal dari Pasai.21 Barang-barang yang diangkut para pedagang itu, baik lada maupun barang-barang lainnya dikenakan pajak satu maze untuk setiap bahar ialah menangkap ikan di laut. Pada daerah ini penduduk dapat menanam padi yang dapat dipanen selama dua kali setahun.22 Selain itu, penduduk juga memelihara sapi yang susunya dapat dijual. Ibukota Kerajaan Pasai sebagai bandar perdagangan, di samping dihuni oleh penduduk setempat. juga didatangi oleh berbagai kelompok pedagang dari luar. Pedagang-pedagang yang datang ke Pasai dengan berbagai jenis barang-barang dagangannya adalah orang-orang muslim dari berbagai negeri dan orang Keling. Di antara mereka yang paling penting adalah pedagang-pedagang dari Bengal. Kelompok pedagang lainnya adalah orang-orang Rum, Turki, Arab Persia. Gujarat, Keling, Melayu, Jawa, dan Siam.
Kelompok pedagang ini selain berdiam di Pasai, sebagian juga bermukim di Pidie, dan kemudian setelah munculnya Malaka. sebagian juga berdiam di bandar itu. Para pedagang ini tidak pernah melakukan perdagangan dengan Pasai melalui arah timur. kecuali dengan Malaka. Besarnya pajak yang dipungut penguasa Pasai di ibukota kerajaan tersebut adalah sebesar 1 maze atau 16 tael uang Malaka terhadap setiap bahar barang yang diekspor. Penetapan itu juga tergantung dari kapal atau jung. Makanan tidak dikenakan cukai, melainkan cukup dengan memberi hadiah saja kepada raja. Untuk barang-barang dagangan yang berasal dari Barat dikenakan pajak sebesar 6%. Budak dijual dengan harga lima maze emas. Bandar Malaka pada awal perkembangannya mengimpor budak yang berasal dari Pasai.23 Sebagai bandar perdagangan, Pasai menghasilkan komoditi ekspor tersendiri. Yang cukup banyak dihasilkan ialah lada. Setiap tahunnya Pasai dapat mengekspor 8.000 sampai dengan
10.000 bahar.24 Harga per bahar lada sekitar 20 potong perak, masing-masing berat enam tael. Selain itu, Pasai juga mengekspor sutera dan benzoin.25 Benzoin adalah hasil daerah itu sendiri, demikian juga halnya dengan beras yang dihasilkan penduduk setempat. Berhubung dengan penanaman lada yang cukup luas dihasilkan penduduk dilihat dari nilai ekspor setiap tahunnya, kebutuhan bahan makanan itu tidak dapat memenuhi kebutuhan penduduknya, karena itu bahan makanan beras terpaksa diimpor dari Jawa Timur. Dari Jawa Timur itu pula- lah kemudian pada waktu perkembangan Bandar Malaka, beras dimasukkan. Dalam soal pengaturan beras impor dari Jawa Timur guna memenuhi kebutuhan penduduk Pasai dapat dilihat betapa bijaksananya penguasa di Pasai. Berhubung kebutuhan beras amat tergantung dari impor dari luar Pasai, terutamma dari Jawa Timur, untuk memastikan terpenuhinya cadangan bahan makanan itu, penguasa Pasai membebaskan pajak masuk atas beras-beras impor tersebut.
Selain bahan makanan. barang-barang impor lain yang dimasukkan ke Pasai yaitu sutera berwarna yang berasal dari Cina. Selain itu diimpor pula barang-barang tembikar. tembaga. besi. dan kain yang berasal dari Cina.26
Sebagai bandar perdagangan internasional di kawasan Asia Tenggara, pada masa kejayaannya. bandar Pasai dapat berfungsi dengan baik terutama karena letaknya yang strategis pada pertengahan jalan perdagangan antara Arab dengan Cina. Menurut Abu Dulaf. Pasai dapat menjadi tempat singgahan utama para pedagang Arab yang menuju ke Cina. Pada masa tertentu para pedagang Arab yang membutuhkan barang-barang dari Cina, hanya cukup berlayar sampai ke Pasai saja. Keadaan ini disebabkan jauhnya jarak antara Arab dengan Cina dan juga adanya perbedaan agama.
CATATAN
- Rita R. di Meglio, "Arabs trade with Indonesia and Malay Peninsula from tehe 8 th to 16 th Century", dalam: D.S. Richards (ed), Islam and the Trade of Asia. (A Cologium) Bruno Carsires Oxford and University of California Press, 1970, halaman 1 16.
- Kenneth R.Hall, Maritime Trade and State Development in Early Southeast Asia. Honolulu: University of Hawai Press, 1985, hal. 214.
- CA. Gibson-Hills, "Hikayat Raja-raja Pasai", JMBRAS 33 (1960), halaman 46-55.
- Tawalinuddin Haris, Bentuk dan Morfologi kota Samudera Pasai, Cisarua 25-27 September 1992, hal. 3
- W.P. Groenevelt, Historical Notes on Indonesia andMalaya: Compiled from Chinese Sources. Jakarta: CV. Bhatara, halaman 85. 6- Tawalinuddin Haris, op. cit, hal. 8
- Anthiny Reid, "The Structure of Cities in Southeast Asia, Fifteenth to Seventeenth Centuries", JSAH. II (2), 1980 hal. 240-241.
- Ayatrohaedi, "Struktur Masyarakat Pasai", Makalah disam- paikan pada diskusi mengenai Pasai dalam Sejarah. Cisarua 25-28 September 1992.
Ibid.
CA. Gibson-Hill, op. cit., halaman 58.
- Ibid, halaman 64.
- Ibid, halaman 69.
- Rita R. di Meglio, op. cit, halaman 1 16
- Ibid., halaman 117.
- WP. Groenevelt. op. cit., halaman 87.
- Hasan Muarif Ambary, "Tinggalan Arkeologi Samudera Pasai". Makalah disampaikan pada Diskusi Umiah tentang Pasai. Cisarua, 25 - 27 September 1992, halaman 7.
- T. Ibrahim Alfian. "Mata Uang Emas Kerajaan-kerajaan di Aceh", Seri Penerbïtan Museum Negeri Aceh, No. 3. Banda Aceh : Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum
- halaman 8.
- Tjut Nya' Kusmiati. "Catatan tentang mata uang Samudera Pasai". Pertemuan Umiah Arkeologi 1-1977. Jakarta : Depdikbud, 1980. halaman 477.
- WP. Groenevelt, op. cit., halaman 92
- Tomes Pires. hal. 145. 2 1. Ibid.
- Eleanor Selling. The Evolution of Trading States in Southeast Asia Before the 17'th Century. P.Hd. Thesis • Columbia University. 1981, halaman 97.
- Satu bahar adalah 350 kati. WP. Croenevelt, op cit halaman 87.
- Uka Tjandrasasmita. "Peranan Samudera Pasai Dalam perkembangan Islam di beberapa Daerah Asia Tenggara". dalam; Hasan Muarif Anbary dan Bachtiar Ali (ed.). Retrospeksi dan Refleksi Budaya Nusantara. Jakarta : Taman Iskandar Muda. 1988. halaman 87.
- WP. Groenevelt. Op. cit., halaman 87.
- Manuel Godinho de Eradia, "Description of Malacca and Meridional India and Cathay", Terjemahan dan diberi catatan oleh JV. Mills. JMBRAS VIII (1930) 1. halaman 26.
BAB V KESIMPULAN
Kerajaan Pasai muncul pada akhir abad ke-13, ketika he- gemoni Sriwijaya menjadi hancur. Perkembangan pusat-pusat politik di kawasan Selat Malaka berkaitan erat dengan faktor-faktor internal dan eksternal. Kondisi alam dan letak geografis memberikan andil besar dalam menentukan perkembangan sesuatu pusat politik itu. Di samping itu, faktor eksternal be- rupa kegiatan perdagangan yang berskala internasional dan keadaan pusat-pusat politik yang ada di sekitar kawasan Selat Malaka juga menentukan perkembangan sesuatu pusat politik.
Dilihat pada faktor internal, Pasai memiliki potensi dasar bagi perkembangannya sebagai bandar perdagangan, pusat politik, dan pusat dakwah Islam di kawasan Asia Tenggara.
Pasai yang berlokasi pada daerah subur di pesisir utara Pulau Sumatera, di lembah sungai merupakan pusat pemukim- an penduduk yang cocok. Tanah yang subur memberikan hasil bahan makanan yang cukup. Hubungan ke pedalaman yang di- mungkinkan oleh adanya sungai-sungai memberikan dinamika tersendiri dalam arti perdagangan dengan daerah pedalaman. Dalam keadaan demikian, Pasai yang berada pada muara sungai mempunyai potensi besar untuk berkembang sebagai bandar perdagangan.
Faktor internal yang disebutkan ditambah lagi oleh faktor eksternal yang berasal dari luar Pasai menyebabkan bandar itu dapat berkembang secara lebih luas. Ke dalam faktor eksternal
ini, arus kedatangan para pedagang yang terlibat dalam perdagangan jarak jauh antara Arab dan Cina memberikan stimulus besar bagi perkembangan bandar itu selanjutnya.
Terdapat dua alasan Pasai terlibat dalam jaringan perdagangan antarbangsa. Pertama, karena letaknya pada jalur perdagangan internasional antara Arab dan Cina. Jarak pelayaran yang begitu jauh antara kedua tempat itu menjadikan Pasai sebagai tempat singgahan, apa lagi karena pengaruh angin musim yang mengharuskan mereka berdiam di Pasai untuk menunggu angin yang cocok untuk arah pelayaran.
Alasan kedua ialah karena Pasai menghasilkan komoditi yang dibutuhkan oleh permintaan pasar internasional pada waktu itu, terutama hasil lada. Selain hasil daerah itu sendiri beberapa jenis barang lainnya yang berasal dari Cina juga dapat dibeli oleh pedagang asing di bandar ini.
Dari kegiatan perdagangan yang melibatkan Pasai dalam jaringan antarbangsa, menyebabkan bandar ini muncul sebagai pusat kekuasaan dan dakwah Islam di kawasan Asia Tenggara. Selat Malaka yang menjadi jalur perdagangan menjadi penting dikuasai oleh penguasa-penguasa yang tumbuh di kawasan itu, baik yang berada di pesisir sebelah barat maupun yang berada di pesisir timur selat itu. Jatuh-bangunnya pusat-pusat kekuasaan itu amat dipengaruhi oleh keberhasilan dominasi mereka terhadap lalu-lintas perdagangan. Keadaan ini juga mengakibatkan munculnya konflik yang berkepanjangan antara kekuatan-kekuatan itu.
Kekuasaan dominasi politik di kawasan Selat Malaka pada akhir abad ke-13 karena runtuhnya kekuasaan Sriwijaya, memberikan peluang yang besar bagi Pasai untuk mengembang- kan diri. Munculnya pusat politik dan perdagangan baru yaitu Malaka pada abad ke-15, adalah faktor yang menyebabkan Pasai mengalami kemunduran. Hancur dan hilangnya peranan Pasai dalam jaringan antarbangsa, ialah ketika suatu pusat kekuasaan baru muncul di ujung barat Sumatera yakni Kerajaan Aceh Darussalam pada awal abad ke-16. Pasai ditaklukkan dan di-
masukkan ke dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Aceh Darus- salam oleh Sultan Ali Mughayat Syah.
Selama masa kejayaannya, Kerajaan Pasai selain berfungsi sebagai bandar perdagangan, juga menjadi pusat dakwah Islam. Fungsi yang demikian juga berkaitan erat dengan kedudukan Pasai dalam jaringan antarbangsa. Dari kegiatan perdagangan, Kerajaan Islam menjadi kerajaan Islam di Indonesia, dan dari kegiatan perdagangan pula Kerajaan Pasai mengembangkan fungsinya sebagai pusat penyiaran agama Islam. Dengan cara ini ditambah juga dengan ikatan perkawinan, Pasai berpengaruh besar dalam proses islamisasi kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara.
Kedudukan Pasai dalam suatu kesatuan di kawasan Selat Malaka menyebabkan pengaruh-pengaruh yang melanda kesatuan Selat Malaka juga berpengaruh terhadap bagian Kerajaan Pasai. Dari perjalanan sejarah Pasai antara akhir abad ke-13 sampai awal abad ke-16, memang menunjukkan bahwa muncul, berkembang, dan runtuhnya kekuatan Pasai amat berkaitan dengan perkembangan yang terjadi di luar Pasai, tetapi dalam kesatuan zona kawasan Selat Malaka.
BIBLIOGRAFI
Ahamad, Zakaria, Sekitar Kerajaan Atjeh dalam tahun 1520-1675, Medan : Monora, 1972.
Alfian, Teuku Ibrahim, "Pasai dan Islam". Paper disampaikan pada Seminar tentang Pasai sebagai bandar perdagangan dalam jalur perdagangan, Cisarua, 25-27 September
1992., "Mata Uang Emas Kerajaan-kerajaan d i Aceh", Seri Penerbitan Museum Negeri Aceh. No. 3, Banda Aceh : Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum, 1979.
Ambary, Hasan Muarif, "Tinggalan Arkeologi Samudera Pasai", Paper disampaikan pada Seminar tentang Pasai, Cisarua 25-27 September 1992.
Boxer, C.R., "A Note on Pertuguese Reactions to the Revival of the Red Sea Spice Trade and Rise of Atjeh, 1540- 1600", JSEAH 10(1969) 3.
Eradia, Manuel Godinho de, "Description of Malacca and Meridional India and Cathay", Terjemahan dan diberi catatan oleh J.V. Mills, JMBRAS VIII (1930) 1.
Fatimi, S.Q., Islam Comes to Malaysia. Singapore : Malaysian Sociological Research Institute, 1963.
Gibson-Hills, C.A., "Hikayat Raja-raja Pasai : A Revised Romanisation and English Translation", JMBRAS 3 (1960) 2.
Groenevelt, W.P., Historica! Notes on Indonesia and Malaya : Compiled from Chinese Sources. Jakarta : CV. Bharatara.
Hall, D.G.E., A History of South East Asia. London : MacMilla. Hamid, Ismail, The Malay Islamic hikayat. Kuala Lumpur : Penerbit University Kebangsaan Malaysia. 1983. Heyl, J.H., De Pepercultuur in Atjeh en Onderhoorigheden. Koetaradja : Atjeh Drukkerij en Boekhandel. Hourani, G.F., Arab Seafaring. New Jersey : Princeton University, 1951. Kathiritamby-wells, 'Achenese Control over West Sumatra up to the Treaty of Painan in 1663". JSEAH 10 (1969 3. Kusmiati, Tjut Nya', "Catatan tentang Mata Uang Samudra Pasai" Pertemuan Umiah Arkeologi 1—1977, Jakarta : Depdikbud, 1980. Lapisan, A.B., "Sejarah Nusantara Sejarah Bahari". Padato pengukuhan diucapkan pada upacara Penerimaan Jabat- an Guru Besar Luar Biasa Fakultas Sastra Universitas Indonesia, pada tanggal 4 Maret 1992. Marsden, William, The History of Sumatra, edisi ke-4, Singapore : Oxford University Press, 1988. Meglio, Rita R. di, "Arabs Trade with Indonesia and Malay Peninsula from the 8 th Century", dalam : D.S. Richards (ed.), Islam and the Trade of Asia. (A Colo- qium) Bruno carsires Oxford and University of Califor- nia Press, 1970.
Meilink-Roelofsz, M.A.P., Asian Trade anda European In- fluence in the Indonesian Archipelago between 1500 and about 1630. The Hague : Martinus Nijhoff, 1962. Mohr, E.C Jul, De Bodem der Tropen in het Algemeen en die van Nederlandsch-Indie in het Bijzonder. Jilid II, Ams- terdam H.J de Bussy, 1937.
Morley, J.A.E., "The Arabs and the tastern Trade". JMBRAS 2 (1949) 1.
Reid, Anthony, "Sicteenth Century Turkish Influence in Wes- tern Indonesia", JSEAH 10 (1969) 3.
Ryan, N.J., Sejarah Semenanjung tanah Melayu. Kuala Lumpur: Oxford University Press. 1962.
Schlegel, Gustave, dan Henry Cordier. T'oung Fao Archives, sevre 2. Jilid II. Leiden : E.J. Brill, 1901.
Selling, Eleanor, The Evolution of Trading States in Southeast Asia before the 17 th Century. Ph. D. thesis Columbia University, 1981.
Suprapti, Mc., "Bandar Samudra Pasai Ditinjau dari Situs dan Situasi". Paper disampaikan pada Diskusi Umiah ten- tang Samudra Pasai, Ciasarua, 25-27 September 1992.
Tarling, Nicholas, A Concise History of Southeast Asia, New York : Frederick A Praeger, 1966.
Tibbets, G.R., Arab Navigation in the Indian Ocean before the Coming of the Portuguese. London : Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland, 1971.
, "Pre-Islamic Arabia and Southeast Asia "JMBRAS 29 (1956).
Tjandrasasmita, Uka, "Peranan Samudra Pasai Dalam Perkem- bangan Islam di beberapa daerah Asia Tenggara". Dalam: Hasan Muarif Ambary dan Bachtiar Ali, Retrospeksi dan Refleksi Budaya Nusantara. Jakarta : Taman Iskan dar Muda, 1988.
Toussaint, Auguste, (Translated by June Guichrraud), History of the Indian Ocean. London : Routledge & Kegan Paul,
1966.
Vlekke, Bernard H.M., Nusantara A History of Indonesia. The Haque : dan Bandung : W. van Hoeve, 1959.
Wheatley, Paul, "Geographical Notes on Some Commodities Invilved in Sung Maritime Trade", JMBRAS, 32, (2),
1959.
Windstedt, Richard, Malaya and lts History, London : Hutchin- son University Library, edisi VII, 1972.
Wisseman, Jan, "Markets and Trade in Pre-Islamic Java", Paper present at the Conference on Trade in Ancient Asia, 1976. Zuhri, Saifuddin, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembang- annya di Indonesia. Bandung : PT. Al-Ma'arif, 1979.
Peta 4 LOKASI SAMUDERA PASAI
Peta 5 LOKASI DAERA H EMA S DI PULAU SUMATER A
JALAN SUTERA (LAUT DAN DARATAN) SEBAGAI ALUR PERDAGANGAN
Peta 6 HUBUNGA N MARITIM D I ASIA TENGGAR A ANTARA TAHU N 430 - 610 (WOLTERS 1967)
Peta 7 ARA H PERJALANAN MARC O POLO (OBDEYN,
1941)
Peta 8 PELAYARA N DA N PERDAGANGA N PADA AWA L TARIKH MASEHI
IIIAX ABAD PADA
PERDAN
JAURMASI) INAL(
Pet9
9 uein A
- 以.…
:
DNA PSI DA
Aemnean PERADGAN 1219204 ABA-17 Pt0UTE a5: epoduopu B
V5T00N
3t
A NE
é
lepu 1 NENTTCA JIOCA SA
INDA PDA
DD
1417
PERGAN
AB-15
PeUTE
CA 37
ALON pnmes
TSHIN N4
TEN A D ARARN-1S
s
PEA S ASIA
PKA 4eul nel
LAMPIRAN
HIKAYAT RAJA -RAJA PASAI
Part I
Alkisah peri mengatakan cerita raja yang pertama masuk agama Islam ini Pasai; maka ada diceritakan oleh orang yang punya cerita ini. Negeri yang di bawah angin ini Pasailah yang pertama membawa iman akan Allah dan akan rasul Allah. Maka ada raja dua bersaudara Raja Ahmad dan Raja Muhammad. Adapun yang tua Raja Ahmad. Maka baginda kedua bersaudara itu hendak berbuat negeri di Samalanga.
Maka Raja Muhammad itu pergilah ia dengan segala rakyat- nya menembus rimba itu. Maka ada di tengah rimba itu se- rumpun betong yang amat tebalnya betong itu. Maka ditebas oleh segala rakyat itu tiada habis ditebasnya, habis-habis tum- buh pula. Maka berangkat raja sendiri menebas betong itu, maka habislah betong itu. Maka dilihat oleh Raja Muhammad pada tengah betong itu ada rebungnya seperti batang besarnya; maka hendak diparang oleh Raja Muhammad rebung itu, maka ke luarlah seorang anak perempuan yang baik parasnya; maka dibuanglah gedubangnya, lalu segera diambil anak itu, maka segera didapatkan oleh isteri baginda disambutnya. Maka duduklah baginda dua laki-isteri itu. Maka dilihat oleh isteri baginda budak-budak perempuan. Maka terlalu suka cita baginda laki-isteri itu. Maka baginda pun berkabarlah kepada adinda itu dari pertama hingga sesudahnya peri baginda mendapat anak-anak itu di dalam rebung betong. Maka dinamai oleh baginda Puteri Betong. Maka dipeliharakan oleh baginda seperti anak-anak raja dengan inang pengasuhnya serta dengan dayang-dayangnya lengkap dengan pakaiannya. Maka terlalu kasih baginda akan ananda itu. makin sehari makin besar dan rupanya pun makin jelas.
Maka terdengarlah kabar itu kepada kakanda baginda Raja Ahmad akan adinda itu mendapat anak anak di dalam rebung
betong itu. Maka baginda pun berangkatlah dua laki-isteri pergi melihat anak anak yang didapat oleh adinda itu. Setelah baginda sampai lalu masuk ke dalam rumah adinda itu. Maka adinda pun memberi hormat akan kakanda itu dipersilakan duduk. Maka baginda pun duduklah dua laki isteri dan adinda pun duduklah menghadap dua laki-isteri. Maka sirih pada jorong emas pun dipersembahkan orang kepada kakanda baginda. Setelah itu, maka sabda baginda, "Hai, adinda Raja .Muhammad manakah anak tuan itu, kakanda hendak melihat." Maka kata Raja Muhammad, "Hai inang pengasuh bawalah anakku itu kemari." Maka segeralah dibawa ke hadapan Raja Ahmad, maka baginda melihat terlalu suka cita lagi dengan parasnya. Maka baginda laki-isteri pun memohon kepada adinda laki-isteri lalu kembali. Setelah negeri itu diusahakan oleh semua rakyat dengan kota paritnya serta dengan istana balairongnya. Maka baginda pun duduklah dalam negeri itu dengan bersuka-sukaan makan-minum menjamu segala menteri dan hulubalang rakyat sekalian.
Alkisah maka tersebutlah perkataan Raja Ahmad selang beberapa lamanya, maka baginda pun berbuat pula sebuah negeri di balik rimba itu, ada kira-kira sehari perjalanan dari negeri adinda itu. Itu pun lengkap juga dengan kota paritnya serta dengan istana balairongnya. Maka baginda pun duduklah dalam negeri itu bersuka-sukaan dengan segala bala tentaranya makan-minum.
Setelah itu, maka beberapa lamanya baginda pun pergi ber- buru ke dalam rimba belantara, maka seekor perburuan tiada diperolehnya. Maka baginda pun bertemu dengan sebuah surau di tengah rimba belantara itu. Maka ada seorang orang tua dalam surau itu. Maka Raja Ahmad memberi salam kepada orang tua itu maka segera disahutinya salam Raja Ahmad itu. Maka Raja Ahmad pun bercerita kepada orang tua itu akan hal saudaranya mendapat puteri di dalam rebung betong itu. Maka ujar orang tua itu. "Hai, anakku jikalau tuan hendak akan anak baiklah aku tunjukkan dia akan tuan nantilah tuan hamba di sini barang sesaat". Maka dinantinya oleh Raja Ahmad itu. Maka pada saat itu juga datanglah seekor gajah terlalu besar.
Maka ada seorang anak-anak duduk di atas kepalanya maka dimandikannya ia ke sungai. Setelah dimandikannya, maka diantarkannya pula ke tebing sungai itu. Maka pergilah ia pula memandikan dirinya. Setelah ia mandi, maka dimuatkannya akan anak-anak itu atas kepalanya. Maka dibawanya berjalan ke rimba. Demikianlah halnya itu. Maka segala kelakuan gajah itu dilihatnya oleh Raja Ahmad itu. Maka ujar orang tua itu, "Hai bapak orang muda, hendaklah engkau muslihatkan dengan daya upaya akan anak-anak itu, supaya kita peroleh akan dia." Maka ujar Raja Ahmad, 'Hai bapakku, jikalau emas dan ma- nikam ditunjuk akan hamba atau ada diberi akan hamba tiada- lah hamba sukacita behina seperti hamba melihat anak-anak ini." Maka ujar Raja Ahmad "Hamba hendak memohon kepada tuanku kembali dahulu ke negeri hamba. mana jalan ke luar?" Maka ditunjuklah orang tua itu jalan raya.
Maka ke luarlah dari sana Raja Ahmad itu. Tiba-tiba sampai- lah ia ke negeri. Setelah datanglah ia ke istana, maka tuan puteri pun berdiri di depan pintu istana mengelu-elukan Raja Ahmad datang. Maka ujar Raja Ahmad akan Tuan Puteri," Ayohaip Adinda Tuan Puteri, pergi hamba berburu itu, seekor perburuan pun tiada hamba peroleh, melihat perburuan pun hamba tiada, melainkan hamba bertemu dengan sebuah surau di tengah rimba belantara, maka ada seorang orang tua dalam surau itu, maka hamba memberi salam kepada orang tua itu maka disahutinya salam hamba itu. Maka hamba ceritakan kepadanya akan hal saudara hamba mendapat Puteri dalam rebung betong itu." Maka ujar orang tua itu, "jikalau hendak akan anak, baiklah beri hamba tunjukkan dia akan tuan. Nanti- lah tuan hamba di sini barang sesaat." Maka hamba nanti, maka kepada sesaat itu juga datanglah seekor gajah terlalu amat besar. Maka ada seorang anak-anak duduk di atas kepalanya. Maka dimandikannya ia ke sungai, setelah sudah dimandikannya, maka dihantarkannya ke tebing sungai itu. Maka pergilah ia pula memandikan dirinya. Setelah sudah ia mandi maka dimuatkannya pula akan anak-anak itu di atas kepalanya, maka dibawanya berjalan ke rimba,"' demikianlah penglihat hamba." Maka ujar tuan puteri. "Ya tuanku, muslihatkan apalah kiranya
akan anak-anak itu. ' Maka Raja Ahmad pun ke luarlah dari istananya menghimpunkan segala laskarnya. Apabila sudah ber- himpun sekaliannya datang menghadap Raja Alimad, maka di- ceritakannya perihal anak anak itu yang di kepalanya gajah itu pada segala laskarnya hendak berupakan anak-anak itu di kepala gajah itu. Maka pada hari yang baik. pergilah baginda dengan segala laskarnya ke rimba pada tempat gajah memandikan anak-anak itu. Shahadan maka orang tua yang pada surau itu pun ghaiblah dengan suraunya. Tiadajah dilihatnya di sana lagi. Maka hari Kamis pula masing-masing mengorek tanah akan tempat ber- sembunyi akan mengambil anak-anak itu. Shahadan maka datanglah kepada hari Jum'at. Maka ke luarlah gajah itu dari dalam rimba membawa anak-anak itu memandikannya ke sungai pada tempat dimandikannya dahulu itu. Setelah sudah dimandikannya di tebing sungai, maka gajah itu pun memandikan dirinya. Maka segeralah Raja Ahmad mengambil anak-anak itu. Maka lalu dibawanya berjalan. Maka dilihat oleh gajah itu lalu diikutinya akan Raja Ahmad itu. Maka sekalian laskarnya menghalau gajah itu dan sengah melontar ia. Maka berpalinglah gajah itu. Adapun gajah itu, bernama Bujang Sakalis lagi gajah itu tunggal tiada dapat lama hidupnya dalam benua.
Maka Raja Ahmad pun berjalanlah ke negerinya dengan segala laskarnya. Hatta maka sampailah ke istananya maka tuan puteri pun berdiri di pintu istananya mengelu-elukan Raja Ahmad itu. Maka Tuan Puteri pun melihat kepada anak-anak itu maka sekali segeralah didapatkannya, lalu disambut- nya daripada Raja Ahmad itu. Maka terlalulah amat baik parasnya. Maka dinamainya Merah Gajah. Maka mashurlah dalam negeri itu Raja Ahmad beroleh anak dan terdengarlah pada saudaranya Raja Muhammad akan Raja Ahmad beroleh anak-anak itu. Maka datanglah saudaranya Raja Muhammad pergi melihat Merah Gajah itu. maka ia pun amat suka cita melihat anak-anak itu terlalu amat baik parasnya itu. Maka Raja Ahmad pun berceritalah kepada saudaranya Raja Muhammad peri segala kelakuannya ia berburu itu dan ia bertemu dengan se- buah surau itu di tengah rimba belantara dan bertemu dengan
seorang orang tua dalam surau itu dan perihal ia mendapat anak-anak itu. Maka Raja Muhammad pun bermohon me- nyembah kakanda dua laki-isteri lalu ia kembali ke negerinya. Maka beberapa lama antaranya maka besarlah anak-anak itu keduanya. Maka didudukkannyalah Merah Gajah itu dengan Puteri Betong. Maka berbesanlah ia kedua bersaudara senantiasa ia dalam kesukaannya
Alkisah peri mengatakan hikayat Puteri Betong dengan Merah Gajah diceritakan oleh orang yang empunya cerita. Hatta maka beberapa lamanya duduk Merah Gajah dengan Puteri Betong dua laki-isteri itu, shahadan maka dengan taqdir Allah taala maka Puteri Betong pun hamillah, maka telah genaplah bulannya, maka Puteri Betong pun beranak laki-laki. Maka dinamai anaknya itu Merah Silu. Maka kemudian dari-pada itu, Hatta beberapa lamanya, maka Puteri Betong pun hamil pula. Telah genap bulannya. maka ia pun beranaklah. Maka anaknya itu pun laki-laki juga Maka dinamainya Merah Hasum.
Hatta maka Puteri Betong bahagianya sehelai rambutnya di tengah kepalanya seperti warna emas rupanya tidak kelihatan hingga ia berminyak maka kelihatan rambutnya itu. Pada suatu hari puteri itu berminyak maka kelihatan oleh Merah Gajah rambut puteri itu. Maka ujar Merah Gajah kepada tuan puteri Sehelai itu, "Wali adinda, mari hamba bantukan rambut tuan puteri sehelai itu. ' Maka ujar tuan puteri, "jika rambut hamba sehelai itu dibantu oleh tuan hamba alamat perceraian hamba dengan hamba." Maka beberapa kali diminta oleh Merah Gajah itu, tiada juga diberikan oleh tuan puteri. Maka suatu hari tuan puteri itu tertidur. Maka dibantu oleh Merah Gajah rambut isterinya itu, pada pembicaraannya tiada akan kenapa tuan puteri itu. Maka ke luarlah darah dari liang rambut sehelai yang di tengah kepala Puteri Betong itu. Maka berhentilah darahnya itu, maka tuan puteri pun hilanglah. Maka segala hamba sahaya- nya pun segeralah berlari memberi tahu kepada ayahanda Raja Muhammad. Maka ujarnya, "Ya tuanku, dibantunya oleh Merah Gajah sehelai rambutnya di tengah kepalanya." Setelah Raja Muhammad mendengar kabar inangnya itu menghempas-
kan dirinya dan membelah-belah bajunya dan merobek-robek kainnya, maka ia pun terlalu marah, maka ia pun menghimpunkan segala laskarnya, maka didatanginya Merah Gajah itu lalu dibunuhnya. Telah matilah Merah Gajah itu, maka bersegeralah orang membawa kabar kepada Ayahanda Raja Ahmad, demikian katanya, 'Wah, tuanku paduka ananda Merah Gajah itu telah matilah dibunuh oleh mertuanya sebab karena ia membantukan rambut sehelai yang di tengah kepala Puteri Betong itu. Maka pikir ananda Merah Gajah itu tiada akan mati." Telah sudah mendengar ayah bundanya dan sembah orang itu, maka ia pun menghempaskan dirinya dan membelah-belah bajunya dan fnerobek-robek kainnya. Maka Raja Ahmad pun terlalu sangat marah serta ia menghimpunkan segala laskarnya lengkap dengan segala senjatanya. Maka tatkala telah berhimpun segala laskarnya. Maka pada ketika yang baik, maka berangkatlah Raja Ahmad itu pergi mendatangi saudaranya Raja Muhammad. Maka apabila berhadapanlah kedua pihak laskar itu, maka peranglah mereka itu terlalu ramai kelam kabut. Maka duli pun berbangkit lalu kedua tiadalah berkenalan lagi seorang dengan seorang jua pun. Maka tempik segala hulubalang dan segala rakyat juga yang kedengaran dan gemerencing bunyi segala senjata dan penahan segala pahlawan juga kedengaran. Maka bahananya datang ke tepi rimba belantara. Maka daripada kedua pihak laskar itu banyaklah mati dan luka sebab ber- amuk-amukan sama sendirinya dan berbunuh-bunuhan mereka itu hingga matilah kedua raja itu
Maka tinggallah Merah Silu dan Merah Hasum kedua ber- saudara itu dan segala orang yang hidup daripada perang itu berhimpunlah ia menyembah kedua anak raja itu bersama- sama dalam negeri itu. Maka beberapa lama antaranya, maka kata Merah Silu kepada saudaranya Merah Hasum itu, "Hai saudaraku betapa bicara kita karena kita ini hanya dua ber- saudara juga tinggal karena nenek dan ibu bapak kita telah hilang dalam Negeri Samalanga ini jikalau kita diam dalam negeri ini sekali-kali tiada memberi manfaat akan kita, baiklah kita pindah dari negeri ini mencari tempat yang baik yang lain
supaya kita diam di sana. ' Setelah sudah ia berbicara dua bersaudara demikian itu, maka pada ketika yang baik, maka ke luarlah ia dari dalam negeri itu mengikut jalan ke matahari terbenam, daripada suatu perhentian datang kepada suatu perhentian. Maka dengan taqdir Allah taala maka sampailah ia di sana, seorang sebelah sungai dalam negeri itu kedua bersaudara.
Alikisah peri mengatakan cerita Merah Silu dan Merah Hasum diceritakan oleh orang yang empunya cerita, tatkala ia diam di dalarn Negeri Bireuen itu, Hatta beberapa lamanya pada suatu hari Merah Silu itu pergi bermain ke sungai. Maka dilihatnya ikan terlalu banyak di dalam sungai itu. Maka tatkala ia pulang ke rumahnya, maka disuruhnya orangnya berbuat bubu. Telah sudah bubu itu diperbuat orang. Maka pergilah Merah Silu itu ke hulu sungai itu menahan bubunya itu. Maka pada keesokan harinya Merah Silu itu pergi melihat bubunya. Maka dilihatnya penuh dalam bubu itu gelang-gelang, maka dibuangnya gelang-gelang dalam bubunya itu. Maka ditahannya pula. Pada esok harinya ia pergi pula, demikian juga penuh dengan gelang-gelang Maka dibuangkannya juga. Maka ditahannya pula bubu itu. Maka esok harinya pergi pula ia melihat penuh juga dengan gelang-gelang. Maka Merah Silu pun berpikir dalam hatinya, "Bahwa gelang-gelang ini kurnia taqdir Allah taala akan aku rupanya." Maka gelang gelang itu pun dibawanya pulang ke rumahnya lalu dibubuhnya dalam kawah, maka disuruhnya rebus semuanya gelang-gelang itu. Maka dengan taqdir Allah taala gelang-gelang itu pun menjadi emas dan buihnya menjadi perak.
Maka menjadi kayalah Merah Silu itu. Maka diceritakan oranglah kepada saudaranya Merah Hasum perihal dikaruniai taqdir Allah taala akan Merah Silu itu, demikian katanya, "Bahwa kakanda Merah Silu kami lihat dibawanya gelang-gelang ke rumahnya masuk dalam bubunya, maka pada hati kami dimakannya juga gelang-gelang itu." Setelah sudah men- dengar kabar saudaranya itu maka Merah Hasum pun diamlah.
Maka kata Merah Silu pada segala laskarnya, "marilah kita muslihatkan kerbau jalang yang tiada berguna kepada tuan-tuan
sekalian itu hamba hendak perkenankan dia." Maka diupahnya oleh Merah Silu akan mereka itu dengan emas dan perak. Maka disuruhnya perbuat, yakn i kelaburan sekedar lulus kerbau dua tiga ratus. Setelah sudah anderak itu, maka disuruhnya gemparkan pada segala laskarnya kerbau jalang itu yang di sisi liang itu. Maka kerbau itu pun terkejut lalu masuk ke dalam liang itu, maka tersungkurlah tanduknya pada pintu liang itu tiadalah dapat masuk dan ke luar. Maka disuruhnya sebukan pintu liang itu dengan tanah seorang segumpal. Hatta maka tersebutlah pintu itu, maka lalu matilah kerbau kampung itu, maka disuruh Merah Silu buka kerbau banyak itu ke dalam
OV *^ l it u lal u i a Jinak-Mak a disuru h ole h Mera h Sil u cucu k hidung kerbau itu. Maka terdengarlah kabar kepada saudaranya Merah Hasum tentang Merah Silu karena bermain dengan binatang yang me- rugikan orang banyak itu. Maka dinamainya tempat itu dengan nama Kerbau Kampung. Maka Merah Hasum marah kepada saudaranya Merah Silu itu. Maka dipanggilnya sahayanya seorang, "Pergi engkau katakan, kataku ini kepada saudaraku Merah Silu kenapa gunanya bermain dengan binatang yang tidak berguna kepada orang banyak itu. Maka ia memberi aku malu juga tiada didengarnya kataku ini pergilah ia dari negeri ini, janganlah ia duduk-duduk bersamaku." Setelah Merah Silu mendengar kata saudaranya demikian itu, maka ia pun pikir dalam hatinya, "baiklah jikalau Merah Hasum berkata demikian kepadaku, aku pun hendak mencari tempat tinggal."
Maka datanglah kepada hari yang baik maka Merah Silu pun berjalanlah dibawanya segala hartanya dan segala kerbaunya dan orang membawa senawatnya kira-kira tujuh orang yang membawa senawatnya itu. Maka pada tempat Merah Silu berjalan itu, maka putus bukit sebuah bekas kerbaunya berjalan itu. Hatta maka beberapa lamanya ia berjalan Merah Silu itu sampailah ke hulu Sungai Peusangan, maka datanglah ia ke negeri itu. Maka beberapa lamanya ia tinggal dalam negeri itu maka kerbau itu pun habis memakan padi orang dan menerkap pisang orang sekalian. Maka semua orang dalam negeri itu dengaranlah akan Merah Silu itu. Maka kata semua orang
dalam negeri itu. "Binatang apa dibawa ke negeri ini; habislah tanam-tanaman kami binasa dimakannya oleh binatang ini, jikalau demikian janganlah tuan-tuan tinggal bersama dengan kami." Setelah Merah Silu mendengar kata mereka itu sekalian, maka kata Merah Silu, "Hai segalaa tuan-tuan dalam negeri ini, sabarlah tuan-tuan dahulu sementara hamba mencari tempat tinggal."
Kemudian maka Merah Silu pergilah mencari tempat tinggal, lalu ia berjalan mudik ke hulu Semenda. Maka sampailah kepada sebuah negeri bernama Buloh Telong, maka di sanalah ia bertemu dengan Megat Iskandar, maka disinggahkannya oleh Megat Iskandar Merah Silu itu diperjamunya makan mi- num. Setelah sudah diperjamunya, maka ujar Megat Iskandar Iskandar kepada Merah Silu, "'Apa kehendak tuan hamba kepada hamba ini." Maka ujar Merah Silu, "Adapun hamba datang kepada tuan hamba ini, hamba hendak minta tempat tinggal, karena hamba tiada bertempat tinggal." Maka kata Megat Iskandar, "Jikalau demikian baiklah anakanda tinggal di sini bersama hamba jikalau perhumaan pun luas, dan jikalau kerbau pun baik, banyak tempatnya makan." Maka ujar Merah Silu, "Jikalau ada kasih tuan apalah salahnya, tuanlah akan bapa hamba." Maka Merah Silu pun bermohon kepada Megat Iskandar, lalu ia pergi mengambil segala hartanya dan segala laskarnya dan segala kerbaunya, maka dibawanyalah sekalian ke Buloh Telong itu. Maka di sanalah Merah Silu itu tinggal.
Hatta kelakian maka beberapa lamanya Merah Silu tinggal di sana, sehari-hari kerjanya bermain-main adu ayam. Maka datanglah segala juara bermain adu ayam kepada Merah Silu itu dan jika Merah Silu kalah maka dibayarnya taruhannya dan jika orang itu kalah maka tiada dimintanya taruhan orang itu. Maka terdengarlah kepada segala orang besar-besar dan segala orang tua-tua yang ada dalam negeri itu. Maka mereka itu pun datang bermain-main adu ayam kepada Merah Silu itu. Maka apabila mereka kembali, maka diberikannya mereka itu seekor kerbau seorang. Maka suka citalah segala orang yang datang itu yang bermain dengan Merah Silu itu. Semula segala
yang datang melihat dia semuanya diberinya kerbau seekor seorang, demikianlah halnya Merah Silu.
Semula Megat Iskandar dan Megat Kedah itu keduanya kakanda kepada Sultan Maliku'l-Nasar di Rimba / (? jeran) dan segala rakyat pun kasihlah ia akan Merah Silu. Shahadan maka disuruh oleh Megat Iskandar pada segala rakyat membawa beras seorang sekampit dan seorang seekor akan membawa pekerjaan itu. Maka datang kepada suatu hari mua- fakatlah Megat Iskandar, 'Hai, segala tuan-tuan, apa bicara kita akan Merah Silu ini maka pada bicara hamba baiklah kita rayakan karena ia pun sedia raja, lagi ia hartawan; dapat kita bersuka kepadanya." Maka pada antara mereka itu sekalian ada seorang bernama Tun Aria Benong tiada mau ia merayakan Merah Silu itu. Maka ujar Megat Kedah, "Jikalau ia kita rayakan, niscaya anak cucu kita diperintahnya." Maka muafa- katlah Megat Iskandar dengan segala orang banyak serta dengan dia hendak merayakan Merah Silu itu.
Setelah sudah ia jadi Raja maka didatangilali Sultan Malikul Nasar ke rimba jeram. Maka ia dengan Sultan Malikul Nasar. Hatta maka Perang Merah Silu, maka pecahlah Perang Sultan Malikul Nasar. Maka surutlah ia pada suatu negeri Benua nama- nya di sanalah ia bertahan dengan berbuat istana. Maka beberapa lamanya ia duduk dalam negeri itu maka pada suatu hari, maka didatanginya pula oleh Merah Silu akan Sultan Malikul Nasar dengan diperanginya, itu pun surut juga ia ke rimba raya. Maka dinamai Merah Silu rimba itu Pertama Terjun disebut orang datang sekarang Adapun akan Sultan Malikul Nasar sampailah ia pada suatu negeri maka ia duduk dalam negeri itu berbuat istana. Hatta maka beberapa lamanya duduk dalam negeri itu, maka diwartakan orang kepada Merah Silu akan Sultan Malikul Nasar berhenti kepada suatu tempat dengan segala hulubalang serta dengan segala rakyatnya sekalian. Maka kemudian didatangi pula oleh Merah Silu akan Sultan Malikul Nasar itu.
Maka peranglah ia terlalu ramai, maka banyaklah orang yang mati dan luka. Maka Sultan Malikul Nasar itu pun pecah-
lah perangnya lalu ia terlepas dirinya ke belakang Gunung Selawah; maka di kubunya oleh Merah Silu akan Sultan itu. Lepas juga ia daripada kubunya itu. Maka dinamai oleh Merah Silu tempat itu Kubu, disebut orang sekarang. Maka Sultan itu pun berlepas dirinya kepada suatu negeri. Maka sampailah kepada suatu jurang yang puncak lagi dalam, maka terkersang seorang hulubalangnya sultan itu. Maka dinamai jurang dan negeri itu Pekersang. Maka Sultan Malikul Nasar pun lalu dari sana sampai ke Kumat.
Maka beberapa lamanya ia duduk di Kumatitu dengan segala hulubalangnya serta segala rakyatnya, maka mufakatlah sekalian mereka itu berbuat kota. Setelah sudah ia berbuat kota, maka terdengarlah kepada Megat Iskandar. Maka di- datanginya oleh Megat Iskandar itu ke Kumat akan Sultan itu pun peranglah, maka berapa lamanya perang sekalian mereka itu, maka banyaklah segala hulubalang itu mati: maka Sultan pun pecahlah perangnya segala rakyat laskarnya pun cerai- berai tiada berketalman perginya. Maka dalam antara itu ada seorang hulubalangnya bernama Tun Aria Benung lalu ia membawa dirinya ke negeri Barus. Maka apabila datang ia ke Barus. maka diambil oleh Raja Barus Tun Aria Benung itu akan me- nangkapnya. Maka dari karena sebab itulah Raja Barus itu. Jikalau tua sekali pun berkirim sembah juga ia kepada Raja Pasai dan jikalau muda sekali pun Raja Pasai berkirim salam juga ia kepada Raja Barus. Hatta maka Merah Silu itu pun di-Rajakan oleh Megat Iskandar di Rimba itu.
Maka dicerita oleh yang empunya cerita, sekali persetua pada zaman Nabi Muhammad rasulullahi sallallahu alaihi was- sallam hayat hasrat yang maha mulia itu, maka bersabda ia kepada sahabat baginda di Mekkah. demikian sabda baginda, "Bahwa ada sepeninggalku wafat itu, ada sebuah negeri di bawah angin, Samudera namanya, apabila ada didengar kabar negeri itu, maka bawahi orang suruh sebuah kapal membawa perkakas alat kerajaan dan kamu bawahi orang dalam negeri itu masuk agama Islam serta mengucap dua kalimat Al Shahada. Shahadan lagi akan dijadikan Allahu subhanahu w a ta'ala dalam negeri itu terbanyak daripada segala wali Allah jadi
dalam negeri itu. Ada pun pertama ada seorang fakir di negeri Ma'arabi namanya ia itulah kamu bawa serta kamu ke negeri Samudera itu."
Maka tersebutlah perkataan Merah Silu di Rimba itu, Sekiali persetua pada suatu hari merah Silu pergi berburu. Maka ada seekor anjing di bawanya akan perburuan Merah Silu itu bernama Si Pasai. Maka dilepaskannya anjing itu lalu ia menyalak di atas tanah tinggi itu. Maka dilihatnya ada seekor semut besarnya seperti kucing. Maka ditangkapnya oleh Merah Silu semut itu, maka lalu dimakannya, maka tanahtinggi itu pun di süruh Merah Silu tebas pada segala orang yang sertanya itu. Maka setelah itu diperbuatnya akan istananya, setelah makan Merah Silu pun duduklah ia di sana, segala hulubalang- nya dan segala rakyatnya diam ia di sana. Maka dinamai oleh merah Silu negeri itu Samudera artinya semut yang amat besar; di sanalah ia diam raja itu. Hatta berapa lamanya kemudian daripada hadzrat nabi sallaTlahu 'alai wa' sallam wafat, maka terdengarlah khabar kepada sharif yang di Mekkah ada suatu negeri di bawah angin bernama Samudera, maka oleh Khalifah Sharif, maka ia me- nyuruh sebuah kapal akan membawa segala perkakas alat ke- rajaan ke negeri samudera. Setelah sudah kapal itu lengkap, maka di suruh Sharif Shaikh Ismail itu singgah ke negeri Ma'abri. Setelah maka berapa lamanya berlayar, maka sampailah ia ke negeri Ma'bri itu, maka berlabuhlah ia di teluk Ma'bri, ada pun Raja dalam negeri itu Sultan Muhammad namanya, maka terlihatlah oleh orang Ma'bri sebuah kapal berlabuh di teluk itu, maka segera ia masuk menghadap raja serta ia ber- datang sembah demikian sembahnya. Daulat dirgahaya, shah alam ada sebuah kapal berlabuh di teluk kita ini, maka Sultan Muhammad pun bersabda kepada perdana menteri, demikian sabda baginda, Hai perdana menteri suruh lihat kapal itu. Maka perdana menteri pun segera ke luar menyuruhkan orang sebuah perahu melihat kapal itu, setelah sudah sampailah perahu itu ke kapal, maka iapun lalu bertanya. Maka ujarnya, 'Dari mana kapal ini datang dan siapa nama nakhodanya dan
kemana ia hendak pergi?' maka sahut orang kapal itu, Ada pun kapal ini dari Mekkah dan nama nakhodanya Shaikh Ismail di suruhkan oleh Khalifah Sharif di Mekkah ke negeri yang bernama Samudera, setelah sudah ia mendengar khabar orang dalam kapal itu maka ia pun kembalilah ke darat, maka ia pun pergi kepada perdana menteri. Maka dikatakannya seperti kata orang dalam kapal itu. Maka perdana menteri pun masuklah menghadap raja serta berdatang sembah. 'Ya tuan ku Shah Alam, adapun kapal itu dari Mekkah, nama nakhodanya Shaikh Ismail, hendak pergi ke negeri Samudera.
Adapun Sultan Muhammad itu daripada anak cucu Abu Bakar al-siddiq hayyahu ïlah. Maka Sultan menyuruh antarkan segala makan-makanan dan segala nikmat akan Shaikh Ismail. Setelah sudah sampai segala makan-makanan itu, maka Sultan pun m'erajakan eorang anaknya yang tua di negeri Ma'abri itu akan gantinya kerajaan. Maka baginda dua anak dengan anaknya muda itu memakai pakaian faqir meninggalkan kerajaannya, turun dari istananya lalu naik ke kapal itu, maka katanya kepada orang dalam kapal itu, "Kamu bawa hamba kenegeri Samudera itu". Maka pada hati orang yang dalam kapal itu, "Bahwa inilah faqir yang seperti sabda rasulullahi salla'llahu alaihi wa'sallam itu". Maka faqir itupun dibawanya naik ke kapal itu lalu berlayar.
Hatta maka berapa lamanya di laut. Semula bermimpilah Merah Silu dilihatnya dalam mimpinya itu ada seorang penam- pong dagunya dengan segala jarinya dan matanya pun ditutup- nya dengan empat jarinya, demikian katanya "Hai Merah Silu, ucap olehmu *dua kalimat al-shahadah,* mak a sahut Merah "Silu, "Tiada hamba tahu mengucap akan dia", maka ujarnya "Bukakan mulutmu". Maka dibukakannya oleh Merah Silu. Maka diludahinya mulut Merah Silu, rasanya lemak manis. Maka ujarnya akan Merah Silu, "Hai Merah Silu, engkaulah Sultan Malik Al Shaleh namamu sekarang Islamlah engkau dengan mengucap du'a kalimat al-shahadah itu dan segala bintang yang hidup lagi, halal engkau sembelih kau makan dan yang tidak engkau sembelih jangan kau makan. Semula dalam empat puluh hari lagi ada sebuah kapal datang dari Makah, barang
segala katanya dan segala perbuatannya yang berpatutan dengan segala pekerjaan agama Islam orang, yang dalam kapal itu ja- nganlah engkau lalui, dan hendaklah engkau turut barang pe- ngajarnya. Maka ujar Merah Silu "Siapakah tuan hamba ini". Maka sahut suara dalam mimpi itu "Aku-lah nabi Muhammad rasu- luUahi salla'llahu'alaihi wa salam yang di Mekah itu". Maka ditanggalkannya tangannya dari dagunya itu. Maka sabda rasulu'llahi sallallahu alaihi wa sallam akan Merah Silu itu. "Tunduklah engkau ke bawah". Maka tunduklah Merah Silu ke bawah, serta jaga ia daripada tidurnya, maka dilihatnya yang di bawah sucilah. Maka katanya, "ashadu an la ilaha Ma 'llah wahdahu la sharika lahu, wa ashadu anna Muhammadar 'abduhu wa rasuluhu'. Maka setelah sudah ia mengucap du'a kalimat itu, maka ia membaca qur'an tiga puluh juz khatam dengan lafath- nya ia tiada dengan dipelajarinya lagi pada seorang jua pun, maka ujar orang banyak dan segala hulubalang akan Merah Silu itu, "Ada-pun raja kita ini keluar katanya itu tiada kita tahu akan barang katanya itu".
Adapun diceriterakan oleh orang yang empunya ceritera hatta berapa lamanya kapal Shaikh Ismail itu pun sampailah ke Teluk Teria, maka kapal itu pun bertemu dengan seorang penjala ikan di Samudera. Maka kata faqir itu "Apa nama negeri ini?" Maka sahut orang itu "Adapun nama negeri ini Samudera". Maka kata faqir itu "Siapa nama penghuluhya?" Maka sa- hutlah orang itu. "namanya Raja dalam negeri ini Merah Silu dan bergelar Sultan Maliku'1-Saleh". Setelah sudah ia berkata- kata, maka orang menjala itu pun kembalilah ia, maka faqir itupun naiklah ia ke kapalnya. Shahadan maka pada keesokan harinya, maka Shaikh Ismail pun turunlah ia ke darat pergi ke negeri kepada Sultan Maliku'1 Saleh. Serta ia datang kepada Sultan Maliku'1 Saleh. Maka ujar Shaikh Ismail, "Hai, Sultan, ucaplah oleh tuan hamba du'a kalimat shahadah". Maka Sultan, pun mengucap ashadu an la ÜlaTlahu wa rasuluhu. Setelah sudah maka Shaikh Ismail pun menyapu janggutnya, maka pada keesokan harinya datang-
lah faqir itu membawa qur'an tiga puluh juz itu kepada Sultan Maliku'l Saleh, maka diunjukkannya oleh faqir itu qur'an kepada Sultan Maliku'l Saleh; maka disambutinya dengan taaz- zim lalu dijunjungnya serta dibukanya lalu dibacanya, tiadalah ia minta ajari lagi, tahulah ia membaca ia sendirinya maka faqir dan Shaikh. Ismail pun keduanya mengucap "alhamdulillahi rabbi'1 Alamin".
Setelah sudah, maka disuruh oleh Shaikh Ismail menghim- punkan segala hulubalang dan segala rakyat besar kecil dan tua muda laki-laki dan perempuan. Maka apabila sudah terhimpun sekaliannya, maka diajari oleh Shaikh Ismail mengucapkan al shahada itu akan mereka sekaliannya. Maka segala mereka itu pun relalah mengucap dua kalimat al shahada dengan tulus ikhlas vakin hatinva Sebab itulah maka dinamai Darul Islam, karena tiada sekaliannya orang itu dengan digagahi dan tiada mashaqqakannya dan tidak dengan diperlelahkannya pada me- ngerjakan kerja masuk agama Islam. Maka Shaikh pun menyu- ruh ke Samudra darul Islam. Setelah datang segala perkakas alat kerajaan, maka pada ketika yang baik, maka berhimpunlah segala hulubalang dan segala rakyat menghadap. Maka Sultan pun memakai selengkap pakaian anugerah dari Mekkah, karena akan ditabalkan. Maka segala hulubalang pun sekaliannya ber saf-saf duduk menghadap nobat Ibrahim Khalil; bentara pun berdiri menjabat salih, dan segala pegawai pun masing-masing membawa jabatannya. Maka genderang tebal itu pun di palu orang dan segala bunyi-bunyian pun berbunyilah. Maka bedil nobat itu pun dipasang oranglah dan segala hulubalang dan segala hulubalang dan segala rakyat sekalian menjunjung dulu me- nyembah mengatakan, "Daulat dirgahayu shah alam zillu 'llahi fi'1 'alam". Setelah Sultan sudah tebal. maka segala hulubalang pun masing-masing duduklah dengan martabatnya menghadap baginda itu. Ada pun orang besar-besar dalam negeri itu dua orang. seorang bernama Tun Seri Kaya dan seorang bernama Tun Baba Kaya, dan Tun Seri Kaya itu digelar Sayit Ali Ghia- tuddin dan Baba Kayaitu dinamai Sayid Asmayuddin.
Setelah berapa lamanya Shaikh Ismail di Samudera darul Islam, maka ia pun berdatang sembah kepada Sultan Malikul
Saleh mohon kembali, maka Sultan pun menghimpunkan hadiah akan Khalifah Sharif seperti ambar dan kapur barus dan gaharu cendana dan kemenyan dan kelembar dan cengkeh pala sekaliannya itu ada kira-kira seratus bahara. maka sekaliannya itu dipersembahkan kepada Shaikh Ismail. Maka sabda Sultan, "ya Shaikh, inilah hadiah yang diperhambakan khalifa sharif Mekkah yang dipermohonkan berupa doa dahulu Allah dan beraka shafa at al nabi Muhammad rasul Allah dan beraka khalifa Sharif. "Setelah sudah, maka Shaikh Ismail pun naiklah ia ke kapal lalu berlayarlah. Maka faqir itu pun tinggallah di Samudera akan menetapkan agama Islam dalam negeri Samudera.
Adapun diceritakan oleh orang yang punya cerita. Ada suatu kaum orang dalam negeri itu tiada ia mau masuk agama Islam. Maka ia lari ke hulu Sungai Pesangan, maka karena itulah di namai orang dalam negeri itu gayo hingga datang sekarang ini. Adapun akan Sultan, belum lagi ia beristeri. Sakali persetua pada suatu hari. maka berdatang sembah segala menteri dan segala hulubalang demikian sembahnya, "Daulat dirgahayu shah alam, baik kiranya tuan ku kawin supaya jangan putus mualat kerajaan shali alam supaya turun temurun datang kepada anak cucu shah alam juga. Demi Sultan mndengar sembah segala menteri dan segala hulubalang itu. maka memberi titah Sultan itu, "Jikalau demikian sembah kamu kepada aku, diperkenan- kanlah. Maka carilah siapa orang yang berkenan baik pada hati tuan-tuan sekalian. Maka berdatang sembah pula mereka itu sekalian, "ya tuanku Shah Alam, ada kami diperhamba men- dengar warta seorang raja di negeri Perlak itu ada baginya tiga orang perempuan terlalu amat baik parasnya; baiklah tuanku menyuruh ke sana; ia pun raja-raja besar lagi gagah.
Maka Sultan memberi titah kepada seorang menterinya, disuruhkannya bertemu kepada raja itu serta dengan segala perempuan yang tua-tua lagi tahu berkata-kata akan segala pekerjaan selankai itu. Setelah sudah lengkaplah, maka pada ketika yang baik, maka segala menteri itu pun naiklah ia ke
kapal. lalulah ia berlayar menuju negeri Perlak itu. Maka berapa lamanya antaranya, maka sampailah menteri itu ke Perlak. Maka berlabuhlah diteluk Perlak itu. Maka dipersembahkan oranglah kepada raja Perlak. sembahnya, "Y a tuanku Shah Alam. ada sebuah kapal berlabuh di teluk kita ini." Maka titah raja Perlak, "Pergilah engkau lihati kapal itu." Maka pergilah orang yang melihat itu sebuah perahu, maka apabila sampailah ia ke kapal itu, maka bertanyalah ia. "Dari mana datang kapal ini dan pekerjaan (apa) datang tuan hamba kemari?. Maka sahut orang kapal itu "Kami ini dari negeri Samudra darul Islam mem- bawa warta yang baik dan kami datang ini hendak menjunjung duli Sultan Perlak." Maka orang yang melihati itu pun segeralah ia kembali berpersembahkan segala kata menteri itu kepada Sultan Perlak.
Maka titah Sultan Perlak, "Pergilah kamu sambut menteri itu". Setelah pergilah ia memanggil menteri itu. maka menteri itupun turunlah dengan segala pegawainya menghadap Sultan Perlak; serta, datang lalu ia menyembah sekaliannya. Maka sab- da raja "Hai menteri". "Ya tuanku Shah Alam, akan hal patik ini dititahkan paduka anakanda Sultan Samudera Maliku'1- Saleh raja di negeri Samudera darul Islam hendak menjunjung duli Shah Alam". Maka dipersembahkannyalah segala keleng- kapan dan segala perhiasan yang dibawanya itu dan memper- sembahkan kata yang baik-baik lagi sempurna daripada yang memberi nasehat pada membersihkan muka segala manusia dan menerangkan segala hati yang karatan akan pekerjaan me- minang tuan puteri itu.
Demi di dengar Raja Perlak segala sembah menteri itu, maka bagindapun sukacitalah dengan segala hulubalangnya. Maka orangpun mengangkat sirih pada jurung suasana dan jurung perak pada segala menteri itu masing-masing pada martabat- nya. Maka Sultanpun memberi titah, demikian bunyinya "Hai segala menteri Samudera seharusnyalah kita perkenankan ke- hendak anak kita Sultan Maliku'l Saleh itu, karena ia pun daripada bangsa kita juga".
Maka pada keesokan harinya, maka disuruh baginda perhias istananya dan anakanda tuan puteri dua orang itu dengan pakai- an yang keemasan bertatahkan ratna mutu manikam, dan seorang lagi anak gundik baginda bernama tuan puteri Ganggang itu dirinya memakai kain sutera cengkurai dan berbaju warna bunga jambu dan memakai cncin bepermata dan bersubang berjentera. Maka duduklah ia pada tempat yang tinggi meng- hadap orang membuat segala makanan perjamuannya akan segala menteri dan segala perempuan yang datang dari negeri Samudera yang telangkai itu. Maka tatkala dilihat oleh orang banyak akan tuan puteri itu yang tiga bersaudara itu, maka segala manusiapun lekatlah hatinya pada tuan puteri Ganggang ku, oleh karena baik parasnya dan amat manis barang laku- nya pada segala manusia. Maka sahut orang itu, "Inipun anak Raja kami juga, tetapi ia itu anak gundik". Setelah sudah di- perjamunya sekalian mereka itu, maka sekaliannyapun ber- mohon kembali sekalian mereka itu ke Samudera kepada Sultan Maliku'l Saleh. Maka apabila sampailah ke Samudera dipersembahkan orang kepada baginda, demikian bunyinya, "Ya tuanku Shah Alam sungguhnya ada anak Raja Perlak itu tiga bersaudara, ada yang seorang itu anak gundik baginda tetapi pada patik sekalian lihat yang diperhamba itu yang terbaik rupanya juga amat manis segala kelakuannya lagi dengan muhtashimnya hadapan kedu- dukannya pun tertinggi rupa martabatnya daripada saudara- nya yang dua orang itu". Maka setelah sudah habis dipersembahkan oleh orang yang melihat itu, maka disuruh Sultan Maliku'l Saleh panggil ahlu'u nujum. Maka datanglah segala ahlu'u nujum itu. Maka titah Sultan, "Hai ahlu'u nujum lihat apalah oleh tuan-tuan sekalian dalam nujum kamu akan anak Raja Perlak itu. yang mana baik kita ambil". Maka segala ahlu'u nujum pun melihat nujumnya dan membilang-bilang ramalnya lalu ia menggerakkan kepala lalu ia berdatang sembah segala ahlu'u nujum itu, maka sembahnya "Ya tuanku Shah Alam, jikalau tuan puteri yang duduk tinggi pada martabatnya itu ambil Shah Alam, niscaya datang kepada anak cucu Shah Alam kerajaan tiada lagi berkepütusan terlalu sekali berbahagia".
Maka dititahkan Sultan pergi mengambil tuan puteri Ganggang itu. Setelah itu, maka pergi berlengkaplah menteri itu juga akan menjemput tuan puteri itu ke benua Perlak. Hatta berapa lamanya dalam pelayaran itu, maka sampailah ia ke dalam negeri Perlak; maka masuklah ia menteri itu serta segala inangda- nya menghadap Sultan Perlak, serta ia berdatang sembah "Ya tuanku Shah Alam, akan sembah paduka anakanda Sultan Maliku'l Saleh empunya sembah serta toodzim ke bawah duli Shah Alam paduka anakanda memohonkan tuan patik tuan puteri Ganggang itu". Maka titah Raja Perlak, "Baiklah kami anugerahkanlah anak kami itu". Maka bagindapun menyuruh lengkap seratus perahu akan hendak paduka anakanda itu Tun Perpatih Pandak akan pengtuanya menghantarkan tuan puteri Ganggang itu ke negeri Samudera daru'1 Islam dan baginda menyuruhkan berbuat istananya sekalian untuk tempat tuan puteri tinggal, serta dengan segala dayang-dayangnya beti-beti perwaranya dan segala alat kerajaan. Setelah sudah mustaedlah, maka pada ketika hari yang baik maka Sultan Perlakpun berangkatlah baginda menghantarkan naik anakanda tuan puteri itu ke kuala dengan segala bunyi-bunyian. Setelah sudah sampai ke kuala, maka tuan puteri Ganggang pun menyembah ayahanda dan bundanya dan saudaranya kedua serta bertangis-tangisan. Maka dipeluk dicium oleh ayahanda dan bundanya dan saudaranya kedua. Maka tuan puteri Ganggang pun naiklah ke perahu lalu berlayarlah. Maka Sultan Perlak pun kembalilah ke istananya dengan percintaannya.
Setelah beberapa lamanya berlayar di laut itu, maka sampailah ia ke Jambu Ayer, singgahlah Tun Perpatih Pandak mem- bawa tuan puteri kepada istananya itu. Maka berhiaslah tuan puteri itu. Maka Sultan Maliku'l Saleh pun berangkatlah meng- alu-alukan tuan puteri itu, lalu dibawanya masuk ke dalam istana negeri Daru'1 Islam di permulianya dengan beberapa kemuliaan, setelah itu datanglah ia ke istananya, maka baginda pun menyuruh memulai berjaga-jaga akan kerja kawin itu. Hatta berapa lamanya berjaga-jaga itu, maka baginda pun kawinlah dengan tuan puteri Ganggang itu. Setelah sudah kawin-, maka
baginda pun memberi anugerah persalin akan segala hulubalang dan memberi derma akan seluruh faqir dan miskin dalam negeri itu daripada emas dan perak, dan akan Tan Perpatih Pandak pun dianugerahi beberapa pakaian yang indah-indah dan segala orang yang datang sertanya sekalian itupun dianugerahi baginda daripada emas dan perak. Setelah sudah baginda memberi anugerah, maka Tun Perpatih Pandak pun bermohon kepada baginda hen- dak kembali ke Perlak. Setelah sudah, maka baginda laki isteri pun berkirim sembah kepada ayahanda dan bunda dan kepada saudara baginda yang dua orang serta dengan pakaian yang mulia-mulia. Maka Tun Perpatih Pandak pun kembalilah ia ke Perlak. Bermula istananya yang disuruh perbuat akan tempat-tempat tuan puteri I-J^is^—» itu. Maka disuruh Sultan Maliku'l Saleh pula perbaik dan dinamai negeri itu^ ^-^r" ' ^disebut orang datang sekarang ini.
Hatta beberapa lamanya Sultan Maliku'l Saleh dalam negeri itu kerajaan, maka datang sebuah kapal dari benua Keling berniaga, dan ada seorang dalam kapal itu tahu ia me- lihat as fa' emas. Maka katanya, 'Dalam negeri ini ada tujuh tempat as fa' emas ke luar tiada diketahui oleh orang dalam negeri ini'. Maka ada seorang Sultan ia mendengar kata orang kapal itu, maka lalu dipersembahkannya kepada Sultan Maliku'l Saleh. Maka disuruh baginda panggil Keling itu yang berkata demikian, maka Keling itu pun datang menghadap Sultan. Maka sabda baginda kepada Keling itu, 'Sungguhkah seperti katamu dalam negeri ini ada asfa' emas'. Maka berdatang sembah keling itu, 'Ya tuanku Shah alam, jikalau di negeri kami yang diperhamba yang seperti penglihat hamba ini tiada lagi bersalahan'. Setelah didengar oleh Sultan sembah Keling itu, maka dianugerah oleh Sultan akan Keling itu persalin selengkapnya selengkapnya adat pakaian. Maka sabda Sultan, 'Jikalau sungguh seperti katamu itu, pergilah engkau mengam- bil dia kepada tempat asfa' emas itu'. Maka Keling itupun menyembah, lalu ia pergi dengan lashkar Sultan itu. Setelah ia sampai kepada tempat itu, maka disuruhnya korek tanah
itu. Maka adalah emas itu diperolehnya terlalu banyak. Se- kira-kira lima ma'din maka dibawanyalah emas itu kehadap- an Sultan, maka Sultan pun terlalu amat sukacita, karena beroleh emas itu.
Hatta beberapa lamanya Sultan Maliku'1 Saleh di dalam kerajaan, maka tuan puteri pun hamillah. Setelah genap bulan- nya, maka tuan puteri-pun melahirkan anak laki-laki terlalu amat baik parasnya. Maka Sultan pun amat sukacita melihat anak-anak baginda itu, maka disuruhnya peliharakan kepada inangdanya dan pengasuhnya yang tua-tua. maka dititahkan baginda orang memalu genderang dan segala bunyi-bunyian berjaga-jaga seperti adat segala raja-raja bersuka-sukaan makan minum masing-masing membawa kesukaannya, maka pada hari berjijak tanah dan beraqiqa maka segala rakyat dan menteri dan hulubalang pun berhimpunlah makan minum. Setelah sudah, maka baginda memberi derma kurnia akan segala menteri dan hulubalang dan rakyat besar dan kecil dan segala faqir miskin sekaliannya. Setelah sudah, maka Sultan menamai anakanda baginda itu Sultan Maliku'l Tahir. Setelah sampai umur baginda akil baligh, maka ia dirajakan dalam negeri Samudera itu.
Kata sahibu'l hikayat. Maka pada suatu hari Sultan Maliku'l Saleh pergi bermain-main berburu dengan segala lashkar- nya ke tepi laut, maka dibawanya seekor anjing perburuan bernama si Pasai itu. Maka tatkala sampailah baginda ke tepi laut, maka disuruhnya lepaskan anjing perburuan itu, lalu ia masuk ke dalam hutan yang di tepi laut itu. Maka bertemu ia dengan seekor pelanduk duduk di atas pada suatu tanah yang tinggi. Maka disalaknya oleh anjing itu hendak ditangkapnya, maka tatkala pelanduk anjing itu mendapat dia, maka disalaknya anjing itu oleh pelanduk; maka anjing itupun mundur. Maka tatkala dilihat pelanduk anjing itu mundur, maka lalu pelanduk kembali pada tempatnya. Maka dilihat oleh anjing pelanduk itu kembali ke tempatnya-, maka didapatkannya pelanduk itu oleh anjing, lalu ia berdekap-dekapan kira-kira tujuh kali, maka heranlah baginda melihat kelakuan anjing dengan pelanduk itu; maka masuklah baginda sendiri hendak
menangkap pelanduk itu ke atas tanah tinggi itu. Maka pe- landukpun lari; maka didapatkan kembali oleh anjing itu. Maka sabda baginda kepada semua orang yang ada bersama-sama dengan dia itu, 'adakah pernah kalian lihat pelanduk yang gagah seperti ini? Maka pada bicaraku sebab karena ia diam pada tempat ini, itulah rupanya maka pelanduk ini menjadi gagah. 'Maka sembah mereka itu sekalian, 'Sebenarnyalah seperti sabda yang maha mulia itu'. Maka fiqir lah baginda itu, 'Baik tempat ini kuperbuat negeri anakku Sultan Maliku'l Tahir kerajaan'. Maka Sultan Maliku'l Saleh pun kembalilah ke istananya. Maka pada keesokan harinya, baginda memberi titah kepada segala menteri dan hulubalang rayat gala tentara sekalian menyuruh menebas tanah akan tempat negeri, masing- masing pada kuasanya dan disuruh baginda perbuat istana pada tempat tanah tinggi itu. Setelah sudah jadi negeri itu, maka anjing perburuan yang bernama si Pasai itupun mati pada tempat itu. Maka disuruh Sultan tanam akan dia di tempat itu juga. Maka dinamai baginda akan nama anjing sebagai nama negeri itu; maka dititah- kannyalah anakanda baginda Sultan Maliku'l Tahir kerajaan dalam negeri itu dan ayahanda Sultan Maliku'l Saleh tetap di Samudera Darul Islam. Hatta berapa lama Sultan Maliku'l Tahir dalam negeri Pasai itu, maka dianugerahkan Allah Ta'ala akan baginda anak dua orang laki-laki, yang tua bernama Sultan Malikul Mahmud dan yang muda bernama Sultan Malikul Mansur. Kemudian Sultan Maliku'l Tahir sakit hingga datang hukum Allah atasnya, maka matilah ia, maka ditanamkan oranglah seperti adat raja-raja yang telah kembali ke Rahmatullah. Karena anakanda baginda keduanya masih kecil, maka kerajaan negeri Pasai itu nenda-lah yang menyelenggarakan se- mentara menunggu kedua cucu baginda besar, supaya dapat menyelenggarakan kerajaan itu dalam negeri Pasai. Adapun anak raja yang bernama Sultan Malikum Mahmud itu diserahkan nenda baginda kepada Syaid Ali Ghiatuddin disuruhkan baginda memacu kuda. Maka yang bernama Sultan Malikul Mansur itu diserahkan nenda baginda kepada Syahid Asmayu'd- din".
Hatta beberapa lamanya, maka Sultan Malikul Mahmud pun besarlah ia. maka ialah dirajakan oleh ninda baginda kerajaan di negeri Pasai itu. Maka Sayid Ghiatuddin akan perdana menterinya. Maka oleh baginda segala rakyat dan dari pada segala harta dan segala perkakas daripada segala arah kerajaan daripada gajah dan kuda dan segala senjata sekalian itu. di- bahagian ninda baginda dua sebahagian diberikan kepada chunda baginda Sultan Malikul Mahmud sebahagian dan yang sebahagian lagi itu ditaruhnya akan chunda Sultan Malikul Mansur, karena Sultan Malikul Mansur lagi anak-anak. Maka tinggallah Sultan Malikul Mahmud dikerajaan di negeri Pasai. Maka Sultan Malikul Saleh pun kembali serta membawa chunda baginda Sultan Malikul Mansur ke negeri Samudera Darul Islam.
Hatta maka berapa lamanya antaranya maka Sultan Malikul Saleh pun sakit'lah maka baginda menghimpunkan segala menteri hulubalang dan segala orang besar-besar dalam negeri itu dan segala rakyat besar kecil akan menabalkan Sultan Malikul Mansur; maka berhimpunlah sekalian mereka itu menghadap Sultan; maka titah Sultan, 'Hai segala kamu sekalian menteri dan hulubalang ku dan segala rakyat bala tentara ku. aku hampirlah rasanya akan meninggalkan negeri yang fana ini kembali ke negeri yang baqa itu, Apa bicara kamu sekalian sukakah atau tidakkah? Maka berdatang sembahlah sekalian mereka itu, 'Ya tuanku Shah Alam, sebenarnyalah seperti sabda Shah Alam yang mulia itu, karena Sultan Malikul Mansur pun besarlah sahaja seharusnyalah kami sekalian menyembah cunda Sultan Malikul Mansur'. Maka titah baginda, 'Jika demi- kian tabalkanlah oleh segala menteri dan hulubalang dan segala orang besar-besar akan baginda itu dalam negeri Samudera ini.
Maka ada sekira-kira tiga hari sudah, maka Sultan Malikul Sleh pun berwasiat kepada Sayid Amayuddin dan Sayid Ghiatuddin. 'Hai perdana menteri kedua baik-baik kamu kedua ini memeliharakan cucuku kedua ini Insya Allah Ta'ala jangan kamu beri kesalahan ia dua bersaudara serta kamu kedua ajari- hendaklah jangan kamu kedua mengubahkan setia kamu
akan cucuku kedua dan jangan kamu menyembah segala raja-raja yang lain daripada cucuku supaya-supaya jangan kamu beri teraniaya daripada segala hamba Allah dan jangan kamu mengerjakan segala pekerjaan yang bersalahan dengan hukmullah, karena firman Allah Taala di dalam Qur'an demikian artinya; barang siapa tiada menghukumkan dengan barang hukum yang diturunkan Allah, maka bahwasanya mereka itu jadi kafir.
Maka kedua menteri itu pun sujud menundukkan kepala- nya seraya ia menangis berdatang sembah keduanya menteri iti. 'Ya tuanku Shah alam zillu Tlahi fi'1 alam, demi allah ta'ala tuhan seru alam sekalian Insya Allah ta'ala bahwa kedua kami yang diperhamba tiadalah dapat melalui seperti sabda Shah Alam yang maha mulia itu dan tiadalah kami menyembah segala raja-raja yang lain daripada anak cucuk Shah Alam yang di atas batu kepala kami kedua ini'.
Maka disuruh oleh Sultan panggil kedua cunda baginda itu. Setelah datanglah kedua raja itu, maka Paduka Sri Sultan pun bersabdalah kepada cunda kedua itu dan kepada segala menteri dan kepada segala orang besar-besar sekalian, demikian sabda baginda, 'Hai cucuku kedualah ket-ahui oleh kamu kedua, karena aku ini sakit sangat rasanya hampirlah hukmullah ta'ala akan daku berpindah dari negeri yang fana ke negeri yang baqa itu : adapun peninggalku ini baik-baik kamu kedua memeliharakan pekerjaan al-amru bi'lma'rufi wal'lnahyu 'anil munkar. Sebermula jangan kamu banyak tama' akan harta dunia, karena dunia ini tempat segala yang makruh dan sangat kamu ingin akan segala yang tiada memberi manfaat akan kamu di akhirat, dan jangan kamu tiada muwafaqa dua bersaudara daripada segala pekerjaan kamu; jangan sekali-kali persalahan antara kamu kedua bersaudara supaya dikararkan Allah ta'ala engkau kedua dalam kerajaan dan supaya diperkenankan Allah segala pinta kamu daripada segala yang kebajikan dan jangan kamu melalui seperti berang yang dititahkan Allah akan kamu dan jangan kamu taksir pada mengerjakan pekerjaan yang kebajikan dan meninggalkan pekerjaan yang kejahatan dan
menyuruhkan segala orang berbuat kebajikan dan melarangkan segala orang berbuat kebajikan dan melarangkan segala orang berbuat kejahatan serta dengan adil kamu kedua bersaudara akan segala rakyat kamu itu. Supaya-supaya jangan tiada kamu turut wasiatku ini, hai cucuku kedua'. Maka cunda kedua pun sujudlah serta dengan tangisnya. Maka sembahnya kedua, 'Daulat ya tuanku Shah Alam bertambah-tambah kurnia atas batu kepala patek kedua dengan berkat tuanku mengajar patek'. Setelah sudah baginda mengajar cunda kedua itu demikian, maka dengan taqdir Allah ta'ala selang tiga hari maka Sultan pun memeluk mencium cunda kedua lalu baginda kembalilah ke rahmatullah ta'ala. Maka ditanamkan oranglah seperti adat segala raja-raja yang telah pulang ke rahmatullah itu. Maka dari karena itulah disebut orang datang sekarang Paduka (al) Sayid Al-Marhum Samudera. Setelah itu, maka Sultan Malikul Mahmud itulah kerajaan di Pasai dan Sultan Malikum Mansur itulah kerajaan Samudera itu. Maka negeri yang kedua itu pun terlalu ramai dan memberi segala rakyat dalam negeri itu dan beberapa daripada gajah dan kuda j.n.h.l.m. makannya dan beberapa daripada segala
r.r.k. yang lain tiada terhisabkan banyaknya kepada zaman baginda kedua bersaudara itu. Maka Sultan Malikul Mahmud pun bertambah-tambah ke- besarannya dan kemuliaannya. Maka terdengarlah warta (pada) masa itu kepada Raja Siam. Maka Raja Siam pun menyuruh melengkap perahu sekira-kira seratus buah banyaknya besar kecil akan mendatangi negeri Pasai itu. Setelah lengkaplah segala kelengkapan itu, maka disuruhkannya seorang hulubalang yang terbesar akan panglimanya yang bernama Talak sejang itu, setelah sudah, maka berlayarlah segala kelengkapan itu menuju negeri Pasai. Hatta beberapa lamanya maka sampailah ke orang negeri itu perahu terlalu amat banyak berubah dalam teluk itu, maka dipersembahkannya kepada Sultan Malikul Mahmud, sembahnya, 'Ya tuan Shah Alam, ada hambamu lihat itu perahu angkatan rupanya terlalu banyak berlabuh dalam teluk itu, siapa tahu dari mana gerahgan datangnya dan gerangan pekerjaannya'. Maka titah Sultan kepada seorang
hulubalangnya bernama Barang Laksamana, 'Hai Barang Laksamana pergilah engkau melihat perahu itu'. Maka Barang Laksamana pun menyembah lalu ia segera pergi; Maka sampai- lah Barang Laksamana itu kepada perahu-perahu itu, maka kata Barang Laksamana, 'Darimana datang perahu ini dan hendak ke mana kamu ini dan apa maksud kamu ini?' Maka sahutnya orang perahu itu, 'Adapun perahu kami datangnya dari Benua Siam dan akan maksud kami disuruhkan oleh Raja Siam maksud kami ini, niscaya kembalilah kami membawa upeti itu dan jikalau tiada ada seperti demikian itu, niscaya kami perangilah negeri kamu ini dan Talak Sembang kami panglimanya". Maka segeralah Barang Laksamana kembali menghadap raja. maka berdatanglah sembah ia, 'Ya tuanku Shah Alam. ada pun perahu itu datangnya dari Benua Siam, Talak Sembang nama Panglimanya, datangnya disuruhkan Raja Benua Siam hendak meminta upeti negeri kita ini, jikalau ada sampai seperti maksudnya, maka kembalilah ia dan tiada sampai seperti ke- hendaknya niscaya diperanginyalah akan negeri kita ini, ya Shah Alam'. Demi didengar Sultan kata itu, maka baginda pun marah terlalu amat sangat, mukanya pun taram truman dan segala romanya pun berdiri serta baginda bersabda kepada mamanda sayid Ali Ghiatuddin menyuruh menghimpunkan segala menteri hulubalang pahlawan dan segala rakyat masing- masing hadir dengan segala senjatanya menbantikan musuhnya itu naik ke darat. Setelah sudah musta'idd, maka sabda Sultan demikian, 'Demi kemuliaan dan kebesaran tuhan yang men- jadikan seru alam sekalian jangankan upeti negeri ini 'ku hingga sehelai roma rambut yang luruh tiada berguna pun tiada ku beri'. Maka terdengarlah segala kata Sultan itu pada Talak Sembang, maka ia pun menyuruhkan naik segala rakyatnya ke darat bernuat kota. Maka naiklah segala hulubalangnya dan segala rakyatnya berkota di tepi laut itu. Hatta selang tiga hari lamanya, maka disuruh Sultan keluari, maka keluarlah orang itu sekalian; maka bertemulah kedua pihak itu, maka peranglah sekalian mereka itu kedua pihak. Maka pada hari
itu Barang Laksamana akan panglima perang, maka daripada kedua pihak lashkar itu banyaklah mati dan luka; maka masing-masing kedua (pihak) lashkar itu pun surutlah ke dalam kotanya. Maka pada keesokan harinya Tun Rawang Pematang akan panglimanya membawa segala rakyat dan gajah yang bernama Dola Laut dan Muda Besi. Maka peranglah kedua pihak lashkar itu ramai lagi 'azama. Maka daripada kedua pihak lashkar itu banyaklah mati dan luka. maka masing-masing kembalilah. demikianlah perang itu pada sehari-hari tiada berhenti kira-kira dua bulan lamanya perang itu, dan Tuan Rawan Pematang pun luka dan Barang Laksamana pun luka.
Maka pada keesokan harinya Tun Aria Jong pula akan panglimanya, maka peranglah kedua' pihak lashkar itu, maka patahlah perang Tun Aria Jong lalu masuklah ke dalam kotanya, maka pada keesokan harinya, maka Sultan Malikul Mah- mud terlalu marah melihat hal yang demikian itu. Maka Sultan pun menyuruh menghimpunkan segala rakyat besar kecil hingga dapat memegang senjata masing-masing dengan senjatanya. Maka Sultan pun keluarlah sendirinya pergi mendatangi Talak Sembang, maka ia pun keluarlah dari dalam kotanya berdiri di medan bersaf-saf, maka berhadapanlah kedua pihak lashkar itu. Maka peranglah mereka itu terlalu ramai gegak gempita kelam kabut duli berterbangan ke udara. tiadalah berkenalan segala manusia dan bunyi tempik segala hulubalang dan segala rakyat juga yang kedengaran dan gemerencang bunyi segala senjata bahananya datang ke tengah rimba. Maka daripada sangat dari perang itu jadi gempitalah, maka daripada kedua pihak lashkar itu banyaklah mati dan luka.
Bermula panglimanya yang bernama Talak Sembang kena panah dadanya terus ke belakangnya lalu matilah ia. Maka sorak orang Pasai pun gemuruh seperti tegar, kemudian dari itu, maka patahlah perang rakyat Siam itu lalu lari membuang belakang cerai-berai tiada berketahuan, yang lari ke darat habis dibunuh oleh orang Pasai dan yang lepas ke laut itu lalu naik ia ke perahunya lalu ia berlayar pulang menuju Negeri Siam.
Maka sultan pun kembalilah ke istananva dengan kemenang- annya dan dengan sukacitanya. Kemudian daripada itu Negeri Pasai terlalu ramainya dengan makmurnya dalam negeri itu. Bermula maka sultan pun senantiasa dengan bersuka-sukaan maka minum dengan segala menteri hulubalang dan segala orang besar-besarnya, maka anak seorang segala manusia dalam negeri itu. Hatta berapa lamanya Sultan Malikul Mahmud dalam kerajaan, maka dianugerah Allah baginya anak seorang laki-laki dan dua orang perempuan dan laki itu dinamai baginda akan dia Sultan Ahmad Perumadal Perumal.
Maka pada suatu hari Sultan Malikul Mahmud bersabda kepada segala hulubalangnya dan menterinya, "Adapun se- karang aku hendak pergi bermain-main ke hulu sungai hendak melihat segala negeri dan segala dusun serta kita menjerat gajah dan berburu hingga sampailah kita ke benua melihat segala negeri dan dusun". Maka pada ketika yang baik Sultan Malikul Mahmud pun berangkatlah dengan segala menteri hulubalang dengan segala tentaranya. Maka lalu baginda berjalan kepada segala negeri dan dusun bermain-main berjamu-jamuan, dengan segala menteri hulubalang makan minum bersuka-sukaan. Berapa lama antaranya, maka diceritakan ofeh orang yang empunya cerita, tatkala Sultan Malikul Mahmud berangkat itu, maka Sultan Malikul Mansur pun hendak pergi beramai-ramai akan berjamu-jamuan dengan segala menteri hulubalangnya dan segala rakyat makan minum bersuka-sukaan. Maka Sultan Malikul Mansur pun menyuruhkan orang berlengkap akan mengirimkan sultan itu. Maka Sayid Asmayuddin pun ber- datang sembah, demikian sembahnya. "ya tuanku Shah Alam betapa perinya duli tuanku pergi beramai-ramai ke tepi laut, karena paduka kakanda Sultan Malikul Mahmud tiada ada dalam Negeri Pasai, karena jalan dan sana daripada sisi kakanda itu. takut siapa tahu ke luar datang fitnah setan kepada hati seorang manusia, jika kedengaran kepada paduka kakanda tak dapat tiada jadi perseteruan akibatnya".
Maka tiada juga didengarkan oleh Sultan Malikul Mansur sembah Sayid Asmayuddinitu. Maka Sultan Malikul Mansvir
pun berangkatlah berjalan ke tepi laut pergi bermain-main serta berjamu segala menteri hulubalang makan minum ber- suka-sukaan. Maka tatkala ia kembali sampailah berjalan kepada hampir kota Sultan Malikul Mahmud itu, maka terlihatlah oleh Sultan Malikul Mansur seorang perempuan ke luar dari dalam istana terlalu sekali baik parasnya. Maka Sultan Malikul Mansur pun berahilah akan dia; maka disuruh oleh baginda ambil perempuan itu lalu dibawanya kembali ke istananya dengan segala hulubalangnya. Hatta maka beberapa lamanya Sultan Malikul Mansur dalam kerajaan itu. Maka dianugerahkan Allahu subhanahu wata'ala baginya anak tiga orang, dua orang perempuan seorang laki-laki. Hatta, maka beberapa lamanya kedengaranlah wartanya itu kepada Sultan Malikul Mahmud akan hal Sultan Malikul Mansur mengambil perempuan yang ke luar dari istana itu. Maka demi Sultan Malikul Mahmud mendengar warta itu, maka baginda pun terlalu marah akan Sultan Malikul Mansur dengan Sayid Asmayuddin itu, karena ia perdana menteri yang tua meng- hadap, maka ia tiada mau menengahkan dia segala pekerjaan kelakuannya itu, "Karena itulah jikalau tiada Sayid Asmayuddin itu 'ku bunuh tiada puas rasa hati ku". Maka Sultan Malikul Mahmud pun kembalilah ke istananya, maka berdam- damlah dalam hatinya akan Sayid Asmayuddin.
Bermula akan Sayid Chiatuddin pun tualah maka ada seorang mertuanya bernama Tulus Agung Tukang Sukera ia itu akan gantinya perdana menteri. Maka sabdi Sultan Malikul Mahmud, "Hai Tulus Agung Tukang sukera, apa bicara kita akan Asmayuddin itu, takut akan Sultan Malikul Mansur itu berbahaya kalau-kalau ia melawan kita". Maka Tulus Agung Tukang Sukera pun berdatang sembah, "Ya tuanku shah alam. jikalau dengan kita maslahatkan seorang pun tiada berbahaya, ia pun dengan sejahteranya hamba tangkap". Maka sabda sultan, "Betapa maslahatkan kita akan dia". Maka sembahnya, "Ya tuanku shah alam, karena ananda Sultan Ahmad Perumadal Perumal itu belum khitan, baiklah kita mendudukkan pekerjaan, maka kita panggil paduka adinda Sultan Malikul Mansur
itu ke mari, setelah ia datang, maka di sanalah barang bicara kita akan dia terlalu amat mudah pekerjaan itu".
Maka pada hati baginda pun berkenanlah akan sembah Tulus Agung Tukang Sukera itu. Maka pada suatu hari yang baik, maka disuruh Sultan Malikul Mahmud memulai men- dudukan pekerjaan berjaga-jaga akan mengkhitankan paduka ananda Sultan Ahmad Perumadal Perumal itu, maka disuruh panggil saudaranya Sultan Malikul Mansur ke negeri Samudera Darul Islam. Maka pergilah orang memanggil itu. Maka apabila sampailah ia kepada Sultan Malikul Mansur itu, maka sembah- nya, "Ya tuanku shah alam, tuanku dipersilahkan paduka kekanda ke Pasai, karena paduka kakanda hendak mengkhitankan paduka ananda". Maka Sultan Malikul mansur pun be- rangkatlah lalu berjalan ke Pasai.
Setelah sampai lalu masuklah baginda menghadap paduka kakanda Sultan Malikul Mahmud itu. Bermula segala hulubalangnya tinggalah di luar. Demi datanglah ia ke hadapan Sultan Malikul Mahmud, maka Sultan Malikul Mahmud pun memberi isyarat menyuruh tangkap Sultan Malikul Mansur dengan segala hulubalangnya, dan Sayid Asmatuddin tertang- kaplah. Maka Sultan Malikul Mansur di suruh penjarakan dengan segala hulubalangnya dan Sayid Asmayuddin pun dalam penjara juga maka pikir Sultan Malikul Mahmud itu sendirinya, lalu ia bersabda kepada Tuan Perpateh Tulus Agung Tukang Sukera. Apa bicara kita akan Sultan Malikul Mansyur ini; baiklah ia kita jauhkan daripada negeri ini, atau kita suruh ia kembali ke negerinya". Maka Tun Perpateh Tulus Agung tukang Sukera pun berdatang sembah. "Ya tuanku shah alam jikalau tuanku mendengarkan sembah pateh baiklah baginda ini kita jauhkan dari negeri ini seperti kata orang tua-tua, apabila jauh dari mata, jauh dari hati, jikalau baginda itu ham- pir, niscaya tercatat juga shah alam akan pekerjaan paduka adinda itu, terdapat tiada juga bertambah hati shah alam sakit juga. Jikalau demikian baiklah baginda kita hantarkan kepada suatu negeri yang jauh dari sini".
Maka disuruh sultan lengkap perahu barang empat lima buah akan menghantar Sultan malikul Mansur ke negeri akan
memeliharakannya Tun Jaya Pangliran. Setelah itu, maka Sultan Malikul Mansur-pun dibawa oranglah baginda ke perahu dengan segala hartanya dan segela hamba sahayanya. Maka lalu ia berlayar. Shahadan maka Menteri Asmayuddin di suruh sultan keluarkan dari dalam penjara; maka dibawa oranglah ia ke hadapan Sultan. Maka sabda Sultan, "Hai Asmayuddin, mahukah engkau di sini tinggal bersamaku atau tidak". Maka ia berdatang sembah, "Ya tuanku shah alam, jika patik dicerai- kan dengan tuan patik baiklah shah alam ceraikan badan patik dengan kepala patik". Maka disuruh sultan penggallah lehernya; maka dipenggal oranglah lehernya. Maka disuruh oleh sultan kepalanya buangkan ke laut dan badannya disuruh sulakan di kuala Pasai.
Maka dengan takdir Allah ta'ala kepada Sayid Asmayuddin itu pun mengikut perahu Sultan Malikul Mansur dalam ayer itu. Maka sultan pun sampailah ke labuhan Jambu Ayer. Maka lalu ia berlabuh, maka didengarnya oleh pawang perahu itu kemudinya terketak-ketak maka ia melihat ke air; maka dilihatnya suatu kepala manusia tersangkut kepada kemudinya itu, maka dipersembahkan kepada sultan Malikul Mansur; maka disuruh sultan ambil kepala itu, maka dilihatnya kepada Sayid Asmayuddin. Maka kata baginda itu, "wah inilah kepala nenekku Asmayuddin, wah betapa kutahu perimu datang ke- mari ini dan di mana kutahu badannya sekarang. Maka disuruh- lah sultan untuk mencari badannya itu, maka pergi sebuah perahu mencari dia, maka dilihatnya ada badannya tersula di Kuala Pasai, maka segera ia pergi memberi tahu Sultan Malikul Mansur; maka disuruh baginda pohonkan kepada Sultan Malikul Mahmud. Maka titah disuruh baginda ambillah mayyit-nya. itu. Maka dibawa oranglah kepada Sultan Malikul Mansur. Setelah sampai kepada baginda, maka dilihat oleh sultan mayyit itu. maka baginda-pun terlalulah menangis.
Maka dipertemukannya kepala itu dengan badannya maka dimandikannya dan dikafaninya lalu disembahyangkan baginda setelah itu, maka baginda pun naiklah ke darat menanamkan mayyit itu. Maka sabda baginda menamai tempat itu Padang
maya, maka tiada berketahuan dari karena mayyit itu disebut orang Padang Maya juga namanya datang sekarang. Maka Sultan Malikul Mansur pun menanamkan mayyit Sayid semayam al Din itu. Setelah sudah ditanamkan dan ditalqonkan dan dibacakan baginda arwah. Maka sultan pun naiklah ke perahunya, lalu berlayar menuju Negeri Tamiang. Setelah sampai ia ke dalam negeri itu.
Hatta beberapa lamanya di sana, maka pada suatu hari, maka Sultan Malikul Mahmud semayam dihadap segala hulu balang dan menteri dan segala rakyatnya, maka kata- nya, "Wah terlalu sekali ahmaq budi-ku! Karena perempuan seorang saudaraku turunkan dari atas kerajaannya dan men- terinya pun 'kubunuh',. Maka baginda pun menyesallah, lalu ia menangis, maka baginda pun bertitah pada segala hulu- balangnya, "Pergilah kamu segera mengambil saudaraku". Setelah sudah baginda bertitah, maka pergilah Tun Perpatih Tulus Agung Tukang Sukara dengan beberapa buah perahu. Setelah ia sampai kepada Malikul Mansur itu, maka ia ber- datang sembah, "Ya tuanku shah alam, paduka kakanda amat rindu dendam akan shah alam, adapun patik ini disuruhkan paduka kakanda menjemput tuanku". Maka baginda pun berkata, "Baiklah". Maka sembah Tun Perpatik, "Baiklah tuanku, silakan naik perahu". Maka baginda pun turun lalu berlayar ke negeri Pasai.
Sehingga sampailah ke Padang Maya pada kubur Asmayud- din itu, maka Sultan Malikul Mansur pun singgahlah pada kubumya semayan Aldin itu, hendak membaca (Al-) fatihah dan mengaji doa. Setelah sudah baginda membaca fatihah, maka baginda pun bangkitlah lalu memberi salam pada kubur itu; demikian bunyinya salam baginda itu, "Al Salamualaikum ya qaumal mu'minina wa inna Insha Allahu Biqumulahiqun".
Maka sabda baginda, "Tinggal nenek hamba, hamba pun pergilah". Maka menyahut suara dalam kubur itu. "Walaikum al salam, hai cucuku tuan, kemana pula pergi? baiklah baginda di sini bertempat diam".
Sultan mendengar suara itu, maka baginda mengambil air sembahyang, lalu sembahyanglah ia dua raka'at salam. Belum sudah baginda memberi salam, maka datanglah wa'dullah atas baginda diambil malaikat maut nyawa baginda, maka kembali- lah ia ke rahmatullah ta'ala dan pada suatu kaul pada qual sujudnya baginda berlaku. Maka heranlah semua manusia me lihat baginda itu. Maka Tun Perpatih Tulus Agung tukang Sakura pun segeralah menyuruh pergi ke Pasai berpersembahkan kepada paduka kakanda Sultan Malikul Mahmud membawa kabar akan hal baginda demikian itu. Maka sampailah orang membawa kabar itu, maka dipersembahkannya dari permula- annya datang kepada kesudahannya seperti hal baginda itu. Setelah sudah di dengar oleh baginda, kabar adinda itu, maka baginda pun menghempaskan dirinya ke bumi dan membelah belah bajunya lalu ia pingsan, tiada ia sadarkan dirinya sekira- kira sejam lamanya, maka disuruh baginda ambil mayyit saudaranya itu, maka lalu pergilah orang mengambil mayyit itu. Haata beberapa lamanya datanglah mayyit itu ke Pasai, maka dikuburkan kakanda baginda seperti adat segala raja-raja yang kembali kerahmatullah hampir dengan kubur ayahanda baginda.
Maka Sultan Malikul Mahmud pun sangatlah dukacitanya lagi dengan percintaannya dan sesalnya pun tiada berkesudah an. Setelah beberapa lamanya demikian itu, maka baginda pun turunlah dari atas kerajaannya, maka Sultan Ahmad-lah diraja- kan sakit hampir akan pulang dari negeri fana' ke negeri yang baqa'. maka Sultan Malikul Mahmud berwasiya kepada Sultan Ahmad, demikian bunyinya. "Hai anakku, cahaya mataku dan buah hatiku, baik-baik engkau memeliharakan dalam kerajan mu ini akan segela pekerjaan amrullah dan amru rasulillah dan menegakkan segala larangan keduanya dan janganlah lalai seperti firrnan Allah ta'ala dan sperti sabda nabi Muhammad rasulullah sallallahu alaihi wa sallam, hai anakku jangan tiada engkau turut seperti pesanku ini. dan jika pada suatu pekerjaan hingga baiklah mashwara dengan segala menterimu yang tua- tua dan jangan segera engkau berbuat sesuatu pekerjaan hingga baiklah mashwara dengan segala menteri hulubalangmu, maka
engkau kerjakan, dan perbanyak olehmu shar' pada segala pekerjaan yang tiada patut pada shar' dan jangan engkau meng- aniaya dan membinasakan segala hamba Allah ta'ala tiada dengan sebenarnya dan jangan engkau melalui al-amru bilma'rufi wal nahyu'anü mungkar. hai anakku, karena dunia ini negeri yang fanak tiada akan kekal adanya, dan akhirat juga negeri yang baqa. hai anakku hubaya jangan tiada engkau turut wa- siatku ini".
Maka Sultan Ahmad pun tunduk lalu sujud seraya ia me- nyembah lalu menangis terlalu sangat. Hatta beberapa lamanya Sultan Malikul Mahmud pun sangatlah sakitnya, lalu baginda pulang ke rahmatullah, maka baginda pun ditanamkan oleh anakanda baginda dengan segala raja-raja yang sudah pulang ke rahmatullah seperti yang dulu-dulu itu, maka Sultan Ahmadlah naik atas tahta kerajaan.
Part 2
Hatta maka beberapa lamanya dalam kerajaan, maka pada suatu masa datang sebuah kapal Keling dari benuanya. Maka ada seorang jogi dibawanya dalam kapal Keling itu, terlalu amat sakit jogi itu maka naiklah segala orang kapal itu, serta membawa jogi itu menghadap Sultan Ahmad dan dibawanya oleh jogi itu suatu tongkat, maka dihujankannya tongkat itu dihadapan pengadapan Sultan Ahmad, maka disangkutkannya dagunya pada tongkat itu, maka ke empat kaki tongkat itu mengelak. Setelah itu, maka dihujankannya pula sahutnya pada suatu papan, maka ia pun mengelok juga berkisar-kisar dan berpusing-pusing. Maka jogi itu pun jatuh ke tanah lalu ia pingsan sebab daripada keramat sultan itu. Maka sultan pun heran melihat dia, karena daripada sebab sangat ia tahu berma- in-main sihirnya, maka kemudian dari itu jogi itu pun lalu ma- suk ia agama Islam. Maka ia manggil Sultan Ahmad Permadala Permala itu.
Hatta berapa lamanya baginda dalam kerajaan, maka dianu- gerahkan Allah Subhanau wata'ala akan sultan itu tiga puluh
anaknya dalam pada itu yang seibu sebapa lima orang, tiga orang laki-laki, yang pertama namanya Tun Beraim Bapa, kedua bernama Tun Abdul Jalil ketiga bernama Tun Abul fazil dan dua orang perempuan seorang bernama Tun M.d.m. Peria dan seorang bernama Tun Takiah Dara. Al kisah maka tersebut- lah perkataan Tub Beraim Bapa diceritakan oleh orang yang empunyai cerita, ada pun akan Beraim Bapa terlalu amat perkasanya lagi pahlawan tiada berbagai pada akhir zaman itu; tujuh hasta tingginya dan dua hasta bidang dadanya, maka jikalau tuhuh depa tebal kota tanah dilontarnya dengan batang kelembar luloh lantak, maka mashur-lah nama wartanya ke benua Keling.
Adapun akan Tun Abdul Jalil itu baik rupanya dan parasnya tiada berbagai pada masa itu, jikalau ia berdiri di pintu maka berserilah pintu itu dan jikalau ia berdiri di lepau yang bernama itu, maka berserilah lepau itu dan jikalau ia berdiri di pekan niscaya bercahayalah segala pekan itu daripada amat elok rupanya dan jikalau ia memakai cara Jawa serupa Jawa dan jika ia memakai cara Siam serupa Siam, dan jika ia memakai cara Arab serupa Arab. Maka mashurilah wartanya ke benua Jawa kepada tuan puteri Gemerencang anak Ratu Majapahit.
Adapun akan Tun Abul Fazil itu terlalu sekali alim lagi baginda tahu pada segala ilmu pandita dan beberapa pandita yang datang dari atas angin hendak bersual dengan baginda itu tiada sangkal daripada terlalu sangat bijaksananya. maka mashurlah wartanya ke benua Semerkendi.
Adapun anak Sultan Ahmad Perumadal Perumal yang bernama Tun M.d.m Peria dan Tun Takiah Dara itu terlalu amat baik sangat parasnya. tiada ada samanya pada zamannya itu, adapun akan Sultan Ahmad itu ada perdana menterinya yang besar empat orang seorang bernama Tulus Agung Tukang Sukara dan kedua bernama Baba Mentuah dan ketiga bernama Sulaiman Dendang Anyer dan keempat bernama Tun Shah Alam Kota tetapi akan sultan itu terlalu ia berahi akan anaknya yang bernama Tun M.d.m Peria dan Tun Tekiah Dara itu. maka pada suatu hari, sultan Ahmad semayam dihadapan segala menteri dan segala hulubalangnya maka baginda bersabda ke-
pada segala hulubalangnya demikian katanya. "Jika seorang ber- da segala hulubalangnya demikian katanya. "Jika seorang bertanam-tanaman, siapa yang harus dahulu makan dia." Maka Tun Tulus Agung Tukang Sukara pun berdatang sembah,." Ya tuanku shah alam, jikalau kami yang diperhamba ini bertanam-tanaman orang yang lain juga harus dahulu maka dia, lagi terlalu besar pahalanya mendahulukan jamu itu." karena Tun Perpateh Tulus, Agung Tukang Sukara tahu ia akan kias kata raja itu. Maka Baba Mentuah pun berdatang sembah, "Ya tuanku shah alam, jikalau kami yang diperhamba bertanam-tanaman kami juga makan dia dahulu " karena Baba Mentuah itu tiada ia tahu akan arti sabda raja itu.
Demi sultan mendengar Baba Mentuah itu, maka baginda pun murka akan Tun Perpateh Tulus Agung Tukang Sukarsa itu. Maka dalam suatu Tun Perpateh pun menyuruhkan seorang pe- rempuan memberi tahu Tun M.d.m Peria dan Tun Tekiali Dara akan perkataan sultan bersabda itu kepada segala hulubalang itu, maka Tun M.d.M Peria pun menyuruh memberi tahu saudaranya Tun Beraim ka Tukas karena Tun Beraim Bapa itu duduk di tukas. Tatkala kedengarannya khabar itu kepada Tun Bapa, maka ia pun pergilah dengan segeranya ke Pasai lalu masuklah ke dalam istana Sultan Ahmad. Maka dirawatnya oleh tun Beraim Bapa kedua saudaranya lalu dibawanya ke Tukas. Maka Seri Sultan pun marah berdendamkan Tun Beraim Bapa, sebab membawanya kedua saudaranya ke Tukas itu.
Setelah beberapa lama antaranya, maka datanglah sebuah kapal dari Benua Keling terlalu amat besar. Shahadan dalam kapal itu ada empat orang pendekar yang tiada berlawan dalam negerinya itu, dan ada seorang pendekar terlalu amat pandai lagi dengan perkasanya daripada sekalian temannya yang laiin itu. Bermula datangnya itu hendak mencari lawan ke Negeri Pasai. Setelah sampailah kapal itu ke labuhan Pasai, maka berlabuhlah ia di Teluk Teria itu, dan setelah itu, maka naik- lah ia ke darat, maka bertemulah ia dengan orang dalam negeri itu, maka bertanyalah ia pada orang Teluk Teria itu, katanya, "Apa-apa larangan Raja dalam negeri ini?.. Maka jawab orang Teluk Teria itu, "Adapun segala yang dilarangkanraja dalam negeri ini duduk di palai panjang pada medan raja dan kakinya,
itulah dilarangnya dalam negeri ini." Setelah didengar oleh segala pendekar itu, maka katanya "Baiklah, segala larangan itu beta kerjakan." Maka segala pendekar itu pun berjalanlah ke Pasai, lalu ia ke medan. Maka duduklah ia dibalai panjang penuh dengan balai itu. dan duduk ia dijambar panjang, sarat sejambar panjang, serta menguraikan rambutnya dan berjuntai mengayun-ayun kakinya. Maka tatkala dilihat orang akan peker- jaannya yang demikian itu, maka pergilah orang memberi tahu Tun Perpateh Tulus Agung Tukang sukara. Maka disuruh Tun Perpatah persembahkan kepada Bermamat P.nti dan Maidena P.nti. Maka bersegeralah kedua sida-sida itu memberi tahu Bujangga Baja Raya. Maka oleh Bujangga Baja Raya lalu dipersembahkannya ke bawah duli shah alam, maka sembahnya. "Ya tuanku shah alam, bahwa kita ini kedatangan jamu orang helat asing, tandilnya lashkar pendekar Keling datangnya hen- dak mencari lawan, karena ia tiada berlawan dalam negerinya. Maka dan mengayun-ayun kakinya. ' Maka duduk di balai Panjang dan duduk dijambar panjang serta menguraikan rambutnya.
Maka Sultan Ahmad pun bersabda pada Bermamat P. nti dan Maidena P. nti.,"Pergilah kami kedua Tukas, beri tahu anak- ku Tun Beraim Bapa." Maka pergilah kedua sida-sida ke Tukas kepada Tun Beraim Bapa serta bedatang semban kepada bagin- da, demikian sembahnya. "Ya tuanku, paduka ayahanda kedatangan jamu orang helat asing tandilnya lashkar pendekar Keling, datangnya mencari lawan karena itu tiada berlawan dalam negeri dengan dan duduk ia dibalai panjang penuh seba- lai panjang, duduk ia dijambar panjang sarat dengan se jambar panjang serta dengan menguraikan rambutnya dan mengayun-ayun kakinya. karena itulah maka paduka ayahanda menyuruh memberi tahu tuanku. Maka sahut Tun beraim Bapa. "Persem- bahkanlah sembah hamba ke bawah duli shah alam esok harilah hamba menghadap." Maka kedua mereka itupun kembalilah dipersembahkan seperti sembah ananda itu.
Maka Tun Beraim Bapa pun bersabda kepada Perman Isap dua dengan orang Tikar, "Pergilah kamu kedua ke paduka Barah
Bukit panggilkan aku mamak-ku pendikar Pulau Kukur, maka lalu engkau pergi ke Kampung Bangka panggilkan aku akan mamakku pendekar kampung Bangka dan lalu kami ke tanah Langgar panggilkan aku mamakku pahlawan Kampong Langgar, dan panggilkan aku abangku Malik Akasan, dan abangku Ali pendekar Kampong China, dan Tun Bijaya Pangeran dan Permatang dengan lashkarnya serta kamu juga datanya." Maka pergilah Perman Isap dengan orang Tikar memanggil segala pahlawan dan segala pendekar itu. Setelah datanglah sekalian mereka itu, "Ya tuangku berapa lamanya kami ini yang diper- hama tiada penuh dipanggil seperti sekali ini, Jikalau orang hendak dibunuh sekalipun, dapat juga ia bertungguh adanya".
Maka sahut Tun Beraim bapa. "Ayoh sekalian mamakku dan sekalian abangku, adapun maka hamba menyuruh memanggil mamak dan abangku sekalian ini dari karena sebab shah alam kedatangan jamu orang helat asing, tandilnya laskar pendekar Keling, datangnya itu hendak mencari lawan karena ia tiada berlawan di negerinya dan berbagoraknya dengan mekar kanjarnya duduk di balai panjang penuh sebalai pan- jangnya duduk ia jambar panjang penuh dengan sejambar panjang dengan menguraikan rambutnya dan mengayun-ayun- kan kakinya. Setelah di dengar sekalian mereka itu kata Tun Beraim Bapa demikian pula, maka sembah sekalian mereka itu kepada Tun Beraim Bapa, "Ya tuanku, jikalau ada tolong tuhan serusekalian alam insha Allah ta'ala kamilah sekalian melawan tandilnya laskar pendekar Keling itu".
Setelah itu maka Tun Beraim Bapa pub bersabda pada Perman Isap dan Orang Tikar, 'Hai mamakku pergilah kamu kedua ambil akan aku kersek barang sekunca seorang kamu", maka pergilah ia mengambil kersek, jangankan sekunca seorang. lima naleh pun tiada dapat dibawanya. Maka Tun Beraim bapa perghilah kendirinya k e pantai mengambil kersek itu, serta mengambilnya kersek itu, lalu ditimbang-timbangkannya sekunca dari kirinya qasd-nya hendak membuang baranya jangankan ia kejang berpeluhpun tidak.
Maka Tun Beraim Bapa bersabda kepada Perman Isap dengan Orang Tikar, "Hai mamakku panggilkan aku Wasat Makam dan Wasat Perak". Maka dengan seketika itu juga ia datang. Maka Tun Beraim Bapa pun bersabda kepada kedua mereka itu, "Hai Wasat Makam dan Wasat Perak palukan daku genderang perang, tiupkan daku serunai perang, bahwa aku hendak ber- main-main dengan segala guru-ku dan mamak-ku". Maka dipa- lukan oranglah genderang perang dan ditiupkannya serunai perang oleh kedua orang itu. Maka Tun Beraim Bapa berserama di hadapan gurunya itu kesad-nyn hendak membuang baranya jangankan ia kejang berpeluh pun tiada.
Maka kedua Seri Sultan pun terkejut daripada peraduannya sebab mendengar bunyi genderang perang itu, serta baginda meruah Dara Zulaikha Tingkap, demikian baginda bersabda, "Ayohai dara Zulaikha Tingkap! Bangun apalah engkau! Asalmu orang terjunan pangliran! Karena engkau penghulu gundikku, BergelarTun Derma dikara. Bangun apalah engkau! Tiadalah engkau dengar bunyi Genderang perang di Tukas Palu taboh-tabohan Hari dinihari, bulan pun terang?
Semalam ini musuh darimana kutaha datang? Betapa kutaha banyaknya? dan siapa pertahunya?" Maka Dara Zulaikha Tingkap pun terkejut daripada tidurnya gegak gopohan, kain- pun tiada terselindang lagi berpintal-pintal bercampur dengan bunga anyer mawar, serta ia berdatang sembah, "Ya tuanku shah alam, mengapa, hambamu dipanggil pada ketika dinihari bulannya terang semalam itu pada ketika selatan? Pada ketika (Ini) tidur nyedar." Maka paduka shah alampun bersabda, "Ayohai Dara Zulaikha Tingkap Bergelar Tun Darma dikara Tiadakah kami dengar (bunyi)
Genderang (perang) di Tukas Palunya taboh tabohan Hari ini dinihari bulannya terang? Semalam ini musuh mana kutaha datangnya? Berapa kutaha banyaknya? siapa kutaha pertuhanya? Suruh lihat apalah kepada segala orang yang di bawah istana ini siapa ada, tiada."
Maka Tun Derma dikara Tingkap pun lalu bangkit serta bertanya kepada orang yang di bawah istana itu. Maka sahut bermamat P.nti dan Maidana p.nti, 'Sekalian kami ada yang diperhamba marhum d i bawah. istana ini, pertama Bujangga Buja Raya dan Malik Sulaiman dan Shah Alam Kota pun ada sekalian di bawah istana ini." Maka kata Dara Zulaikha Tingkap akan sekalian mereka itu "Tiadakah kamu dengar genderang perang di tukas itu palu tabuh-tabuhan hari ini di ni hari bulannya terang? Semalam ini musuh darimana kutaha datang? Berapa kutaha banyaknya? Dan siapa pertuhanya? Lihat apalah oleh kamu."
Maka Bermamat P.nti pun pergilah ia berjalan ke Tukas melihat dia. Maka dilihat oleh kedua mereka itu Tun Beraim Bapa bermain-main dengan gurunya dan dengan segala hulubalangnya. Maka Bermamat P.nti dan Maidana P.nti pun kedua- nya segera kembali dari Tukas. Setelah sudah ia datang, maka katanya, "Hai Derma Dikara Tingkat datanglah kami kedua ini dari Tukas. Suatu musuh pun tiada, melainkan Tun Beraim Bapa bermain-main bersenda gurau dengan hulubalangnya dan segala gurunya." Maka dipersembahkan oleh Dara Zulaikha Tingkap kepada shah alam," Suatu pun tiada ada musuh melainkan paduka ananda Tun Beraim Bapa bersenda-senda bergurau dengan segala hulubalangnya." Maka Sultan Ahmad Perumudal Perumal pun bersabda kepada Dara Zulaikha Tingkap itu, maka kata baginda, "Ayoh Dara Zulaikha Tingkap bergelar Derma dikara! Rahasia ku ini jangan engkau katakan kepada seseorang jua pun, jikalau si Beraim Bapa tiada ku bunuh, kerajaan ku jangan kekal dan bau shurga pun jangan ku chium."
Setelah hari pun sianglah, maka Tun Beraim Bapa pun bersabda kepada bendaharinya bernama Dara Sipir, "Hai Dara
Sipir pipiskan aku oleh mu bedak dan ramaskan limau. Aku hendak mandi dengan segala mamak ku dan guruku." Maka Dara Sipir pun membuka peti pemipis bedak dan meramas limau dan dicampurinya dengan kejamas. Maka Tun Beraim Bapa pun berbedak dan berlimau dengan segala hulubalangnya dan segala gurunya. Maka lalulah segala mereka itu ke su- ngai sempang. Setelah sudah baginda mandi, lalu kekmbali ke istananya, maka Tun Beraim Bapa pun menyuruh membukakan sebuah peti mengeluarkan segala pakaian akan menganugerahi persalin kain yang indah-indah akan mamaknya dan abangnya dan segala hulubalangnya
Maka Tun Beraim Bapa pun memakailah ia, pertama berkain sutera tipis kuning berpuncha waran murup bertepi emas dipahat bersiratkan emas berambu berdani bergiring-giring dipunchanya dan berbaju sinar matahari, berkanching berpermata podi merah. mata bersirat berambukan mutiara, dan berkamar berkilat bahu, dan berpontoh bernaga tujuh belit, dan dengan manikan bersarungkan emas, dan menyandang pedang halilintar dan mengenakan berpermata dan menyangkut- kan busar yang keemasan pada bahunya kiri.
Maka terlalu sekali hebat lakunya dengan perkasanya, amat manis perkataannya, seolah-olah rimau yang tiada ber- lawan lakunya. Lalu baginda bejalan diiringkan segala hulu- balang dan segala gurunya di hadapannya berjalan akan menga- lahkan segala pendekar. Tiada bertara rupa busarnya, gilang- gemilang warna bahunya kilau kilauan, gemerenchang bunyi candanya, bertatah rupa pendahannya. Mak a penganjurannya pun sampailah ke pintu tani lalu masuk ia ke dalam pagar. Demi sultan melihat orang banyak masuk itu, maka sabda sultan pun terkejut serta memanggil Dara Zulaikha Tingkap, "Ayohai Dara Zulaikha Tingkap! Lihat apalah oleh mu orang banyak masuk itu." Maka Dara Zulaikha Tinkap pun menyuruh melihat ke pintu tani, maka dilihatnya penganjurnya Tun Beraim Bapa. Maka dipersembahkannya kepada baginda, "Ya tuanku shah alam, suatu pun tiada ada melainkan penganjurnya paduka ananda Tun Beraim Bapa. jua ada masuk."
Maka Tun Beraim Bapa datanglah ke pintu tani lalu bagin- da bersabda kepada Perman Isap dua dengan orang Tikar, "Hai mamakku kedua pergilah kedua kepada inang ku Dara Zulaikha Tingkap yang bergelar Derman Dikara suruh pohon- kan akan daku kuda yang bergelar kuda semberani anak kuda Parsi itu " Maka anak kuda semberani pergilah kedua mereka itu kepada Dara Zulaikha Tingkap katanya, "Hai Tun derma dikara persembahkan sembah paduka ananda Tun Beraim Bapa ke bawah duli shah alam ananda mohonkan kuda semberani Parsi". Maka Dara Zulaikha Tingkap pun pergilah menghadap Sultan, seraya ia berdatang sembah, "Ya tuanku shah alam, bahwa paduka ananda Tun Beraim Bapa memohonkan kuda semberani k-Lk- kelabu semberani ana k kuda semberani itu. Maka Sultan pun bersabda, "Ayolah Dara Zulaikha Tingkap bukan kuda itu kutahani karena kuta itu tiada pernah di kenda- rai manusia, sebab kuda itu gila. Jikalau anakku Beraim Bapa hendak menaik kuda itu berikanlah akan dia dengan kekangnya dan pelananya?" Maka Dara Zulaikha Tingkap pun menyuruh keluarkan kuda itu dan berikan dengan kekangnya dan pelananya. Maka Perman Isap dua dengan Orang Tikar itu, maka kedua mereka itu pun bersegeralah ke luar membawa kuda itu kepada Tun Beraim Bapa, maka sultan pun berangkatkah ke luar ke medan akan melihat Tun Beraim bermain-main itu. Maka dilihat oleh Tun Beraim Bapa sultan ke luar itu. Maka Tun Beraim Bapa pun berdiri dengan khidmatnya di hadapan sultan itu lalu ia sujut. Maka sultan pun bersabda kepada Bermamat P.nti dan Maidana
P.nti, "Katakanlah kepada anakku si Beraim Bapa, aku menyu- ruhkan ia menaik kuda itu di hadapan jamu helat asing, tanilnya laskar pendikar Keling itu, suruh pacu kudanya itu ke Tukas." Maka Bermamat P.nti dan Maidana P.nti pun menjunjungkan sabda yang maha mulia itu kepada Tun Beraim Bapa. "Ya Tuanku Tun Beraim Bapa, sabda paduka ayahanda naiklah tuanku ke atas kuda itu di hadapan jamu orang helat asing laskar pendikar Keling itu."
Maka Tun Beraim Bapa pun menyembah sultan, lalu baginda naik ke atas kudanya. Maka dipacunya lalu dtariknya di medan. Maka ia pun khidana kepada sultan, tatkala akan naik kuda itu, maka dipacunya pula. Maka (kuda) itu pun bangkit lalu ke udara. Maka dipacunya pula lalu dihalakannya pula ke Tukas. Maka dengan seketika itu juga lenyaplah daripada mata sultan. Maka sultan pun berbiji sabak, katanya, "Wah anakku lenyaplah ia, di mana kutaha engkau kucari, kataku tiada diturutnya, karena kuda itu gila tiada pernah dikendarai orang." Maka Tun Beraim Bapa pun tiba-tiba dengan as-saat itu juga Raiba ia di hadapan sultan itu serta bermain-mainkan kudanya, seperti merak mengigal lakunya. Maka sultan pun haibat melihat dia seperti gajah meta lakunya.
Maka sultan bersabda kepada Bermamat P.nti dan Maidana
P.nti, "katakan kepada anakku si Beraim Bapa suruh ia berserama bermain-main di hadapan jamu orang helat asing (tandil- nya) laskar pendekar Keling itu da suruh mengapuskan kemalu- anku." Maka Bermamat P.nti pun pergilah menjunjung sabda yang maha mulia itu kepada Tun Beraim Bapa. Maka kata orang kedua itu, "Sabda shah alam tuanku bermain-main dan berserama di hadapan jamu orang helat asing laskar pendekar Keling itu." Maka sabda Tun Beraim Bapa, "Jikalau demikian sabda shah alam kita pohonkanlah sebilah pedang dan sebuah perisai." Maka pergilah mereka itu berdua berdatang sembah. "Ya tuan ku shah alam, bahwa sembah paduka ananda memo- honkan sebilah pedang dan sebuah perisai." Maka sabda sultan Ahmad kepada kedua mereka itu, "Pergilah kamu kedua ambil segala pedang dan segala perisai bawa kemari yang mana berke- nan pada hati anakku, diambilnya sebilah pedang dan sebilah perisai." Maka kedua mereka itu pun segeralah pergi mengambil sekalian pedang dan sekalian perisai, lalu di bawanya kehadapan sultan. Maka Tun Beraim Bapa pun menyembah sultan lalu ia memilih segala pdang dan segala perisai itu. Maka diambilnya sebilah pedang yang terbesar daripada lainnya dan sebuah perisai yang terbesar daripada lainnya. Maka Tun Beraim Bapa pun sujud kepada sultan lalu baginda turun ke tanah serta menye
lenggarakan kainnya serta memegang ulu pedangnya dengan tangannya kanan dan menyalak perisainya dengan tangannya kiri. Maka lalu genderang serama pun dipalu orang dengan serunai serama terlalu gemuruh bunyinya, maka baginda dengan seorang gurunya pahlawan Kampong Bedil, nama seramnya. Maka baginda bebahasa pula ia dengan seorang gurunya pendekar Ali Pulau Kukur seraya baginda berserama Puspa Ragam nama seramanya kemanis-manisan. Maka Baginda berbahasa pula kepada seorang gurunya pahlawan Kampong Bangka. Maka dilontarkannya kelambir kotai lalu diparangnya oleh Tun Beraim Bapa penggal dua kelambir itu sebelah gaib tiada kelihatan, dan sebelah terhantar di bumi penuh dengan airnya. Maka berbahasa pula baginda dengan gurunya pahlawan Kampong Langgar, maka dilontarkannya sebuah pinang kotai. Maka diparangnya oleh Tun Beraim Bapa penggal dua sebelah ghaib tiada kelihatan dan sebelah terhantar di bumi. Maka berbahasa pula baginda dengan gurunya pendekar Ali Kampong China. Maka dihujamkannya sepohon pinang, maka lalu dipancongnya oleh Tun Beraim Bapa dari atas pucuknya lalu ke bawah tiada rebah. Maka tatkala ditiup angin, maka rebahlah pinang itu penggal empat.
Maka Tun Beraim Bapa pun melompat ke kanan sekali dan ke kiri sekali serta perisai itu, lalu ghaib tiada kelihatan kiam.nya pada tangannya kiri. Maka pedang itu pun diketar- kannya lalu ghaib matanya tinggal ulunya pada tangannya kanan. Maka Tun Beraim Bapa pun lalu sujud menyembah sultan Ahmad dan segala gurunya pun sujud menyembah sultan Ahmad. Setelah dilihat oleh segala pendekar Keling perkasanya Tun Beraim Bapa itu semuanya amat dahaga dan hairan dan gemetar dagunya seperti ayam takutan helang, demikianlah lakunya. Maka segala pendekar Keling itu berkata sama sendiri- nya. "Se umur kita ini kita melihat sikap manusia seperti kelakuan Tun Beraim Bapa ini, jangankan kita melawan dia, memandang matanya pun takut rasanya." Maka sabda sultan, "Hai segala kamu pendekar Keling lawanlah oleh mu hulubalangku ini dan pendekarku ini." Maka segala pendekar Keling itu pun berdiam dirinya, lalulah ia
kembali ke kapalnya dengan malunya menunduk kepalanya, lalulah ia berlayar. Maka sultan pun bersabda kepada Tuan Beraim Bapa, "Hai nyawa bapa dan cahaya mata bapa. Bawalah olehmu orang dahulu sungai itu serta mu." Maka sultan pun berangkatlah ke istananya. Maka Tun Beraim pun kembalilah membawa orang ulu sungai itu dengan segala gurunya dan mamaknya dan segala abangnya itu ke Tukas dengan senda guraunya dan diperjamunya makan minum sekalian mereka itu. Setelah itu, maka sekalian mereka itu pun bermohonlah me- nyembah kepada Tun Beraim Bapa masing-masing kembali kepada tempatnya.
Hatta beberapa lamanya antaranya, maka pada suatu hari Jumat, maka Tun Beraim pun pergi bermain-main ke Pasai, lalu masuk ia ke dalam pagar sultan, maka naiklah ia ke lepau yaani selasar isfana, maka dilihatnya Tun Fatimah Lempau ber- gelar Temian Layergan duduk ia mengarang bunga. dengan Dara Zulaikha. Bahwa ia gundek Sultan Ahmad, maka Tun 'Beraim Bapa bertanya, "hai ibuku itu Tun Fatimah Lempau, bunga akan siapa dikarang ibuku itu." Maka sahutnya akan Tun Beraim Bapa, "Ke masjjid." Setelah Tun Beraim Bapa mendengar katanya demikian itu, maka Tun Beraim Bapa pun duduklah bersandar pada tiang d.lkh.na itu. Setelah sudah dikarangnya, maka Tun Fatimah pun lalu berdiri serta ia rae- lompat melarikan bunga itu ke dalam istana. Maka Tun Beraim Bapa pun marah lalu diikutinya hendak di tangkapnya lalu tertangkap punca kainnya. Maka terdempok nahu Tun Beraim Bapa pada pintu istana itu, maka Tun Beraim Bapa pun undur- lah.
Maka Sultan pun terkejut daripada tidur pada peraduannya (Ada pun besar istana itu sembilan belas ruang dan besar tiang- nya se pendakap) bergerak seperti gerak gempa, maka sultan pun memanggil Dara Zulaikha Tingkap, "Ayohai Dara Zulaikha Tingkap, apa mulanya maka bergerak istana ini, gempa kah siapa tahu ini?" Maka Zulaikha pun ke luar maka dilihatnya Tun Beraim Bapa hendak menangkap Tun Fatimah Lempau, maka Dara Zulaikha Tingkap pun masuklah menghadap serta ia berdatang sembah, "Ya tuangku shah alam, suatu pun tiada
ada melainkan paduka ananda Tun Beraim Bapa bersenda gurau dengan Tun Fatimah Lempau, maka Tun Beraim terdem- pok bahu padaka ananda pada pintu istana ini. Maka sultan pun terlalu marah serta bersabda kepada Dara Zulaikha Tingkap. "Ayohi Dara Zulaikha Tingkap Bergelar Tun Derma Dikara Asal ju orang terjunan Nasab mu daripada pangliran, jana bejana dari sungai Rahat! Karna engkau penghulu gundek ku dalam istana. Ini rahasiaku kepadamu jangan engkau katakan kepada seorang jua pun. Jikalau si Beraim Bapa jika tiada ku bunuh kerjaan ku jangan kekal, bau shurga pun jangan ku cium." Maka Sultan Ahmad pun fikirlah ia seketika itu, "Betapa perilaku bicara hendak membunuh ia ini? Baiklah ia kubawa ke ulu sungai, ketika itulah kusuruh bunuh." Setelah sudah, maka sultan pun bersabda kepada Bermamat P.nti dan Maidana
P.nti," Pergilah kamu kedua panggilkan aku Tun Perpateh Tulus Agung Sukara dan Bapa Mentuah dan segala hulubalang- ku." Maka Bermamat P.nti dan Maidana P.nti pun pergilah memang gil segala mereka itu. setelah datanglah sekalian mereka itu ke hadapan Sultan Ahmad, maka sabda sultan kepada segala hulubalang dan segala menteri, "Hai segala kau tuan-tuan marilah kita pergi bermain-main ke hulu sungai, hendak bera- mai-ramaian memakan rama-rama dan memakan ketam ber- dayung dan hendak makan udang bersanggul dan makan me- ngidam dan makan patin bertelur." Makan disuruh sultan ber- lengkap sekalian mereka itu akan mengiring itu. Maka sultan pun bersabda kepada segala hulubalangnya, "Siapa baik kita tinggalkan mengawan Pasai ini." Maka sem- bah Baba Mentuah, "Ya tuanku shah alam, yang baik bicara yang di perhamba di tinggalkan, baiklah paduka ananda Tun Beraim Bapa karena ia pahlawan." Maka demi sultan men- dengar sembahnya itu, maka sultan pun bersabda, "Karena si Beraim Bapa tiada 'dapat kita tinggalkan siapa kutaha mencari-
kan kita ikan dan menjala." Maka sembah Malik Sulaiman Dendang Ayer, "Ya tuanku shah alam, jikalau sembah yang diperhamba diperkenankan baiklah tun Abul—Fazil di tinggalkan mengawani pasai ini." Maka bersabda pula baginda. "Karena Abul-Fazil tiada dapat bercerai dengan kita." Maka Tun Perpateh Tulus Agung Tukang Sukara pun berdatang sembah. "Ya tuanku shah alam, baiklah pada bicara yang diperhamba Tun Abdul Jalil ditinggalkan, karena paduka ananda itu ter- amat baik rupanya. Jika ia memakai cara Jawa serupa Jawa dan jika ia memakai cara China serupa China dan jika ia memakai cara serupa Siam serupa Siam dan jika ia memakai Arab serupa Arab." Maka Sultan Ahmad pun bersabda, "Baiklah si Abdul Jalil kita tinggalkan." Maka sabda sultan kepada Bermamat P.nti dan Maidana
P.nti, "Pergilah kamu kedua ke Tukas beri tahu si Beraim Bapa, bahwa aku hendak makan rama-rama dan memakan ketam berdayung dan hendak memakan udang bersanggul dan makan mengidam dan makan patin bertelur. Maka pergilah kamu kedua ke Tukas kepada Tun Beraim Bapa.." Maka tatkala sampailah ia ke Tukas, maka katanya, "Ya Tuanku shah alam, karena paduka ayahanda sultan hendak pergi bermain-main bersil dan memakan ketam berdayung dan hendak memakan udang bersanggul dan makan l.mb.d.k mengidam dan makan patin bertelur, segeralah tuanku mengiringkan paduka ayahanda ke ulu sungai.' Maka bermamat P.nti dan Maidana
P.nti bermohon menyembah baginda, lau ia kembali meng- hadap sultan serta bepersembahkan sembah Tuan Beraim Bapa itu. Maka Tun Beraim Bapa itu pun bersabda kepada Perman Is.p dan Orang Tikar itu, "Ayolah mamakku kedua, pergilah kamu kedua kepada tuan-tuan yang di ulu sungai itu, suruh- kah sekalian mereka itu menebas segala jalan dan hutan yang di tepi sungai itu, karena paduka sultan itu hendak berangkat ke ulu sungai bermain-main ke Lubok Tura dan lalu kamu ke Belatap kepada Malim Zainal belatap dan Malim Pagar Sesah, dan lalu ke Kapung kepada Si Ali Kecil Pahat Putar dan kepada si Bintang Timur dan kepada si Akap Gagah Mengangkat.
Suruhlah ia menanti daku di pantai Manggang itu." Maka Perman Is.p dan Orang Tikar itu menyembah lalu ia pergi keduanya ke ulu sungai kepada segala mereka itu memberi tahu akan sultan berangkat bermain-main itu. Maka Tun Beraim Bapa pun naiklah baginda bertangis-tangisan dengan segala isi rumahnya. Setelah itu, maka lalulah ia ke pekan, maka baginda berdiri-diri di pekan. maka kata Tun Beraim Bapa, "Ayohai segala kamu orang pekan tiadalah siapa meruah kamu lagi dan bersabda bergurau dengan tuan-tuan sekalian karena aku ini hendak mengiringkan sultan ke ulu sungai, lalu ke bukit Fadlu'llah entah kembali entah tiada." Maka sembah segala orang penan itu, "Ya tuanku Tun Beraim Bapa musuh dari mana dan seteru dari mana akan tuanku, maka tuanku bersabda demikian? Jikalau patahlah tulang kami sekalian hamba tuanku yang dalam negeri Tukas ini, maka dapat orang buat sekehendaknya."Maka kata Tun Beraim Bapa. "Diamlah tuan-tuan sekalian, karena Tun Beraim Bapa sekali-kali tiada ia mau durhaka, jika Beraim Bapa mau durhaka jika Pasai se Pasainya, jika Jawa se Jawanya, jika China se China- nya, jika Siam se Siamnya, jika Keling se Kelingnya, tiada-tiada dapat melawan si Beraim Bapa. Jika tiada aku kerajaan di dunia ini, di akhirat pun aku peroleh juga.
Maka baginda bertemu dengan Malik Sulaiman Dendang Ayer, maka berkata Tun Beraim Bapa, "Ayoh mamakku Malik Sulaiman Dendang Ayer, tiadalah siapa bersenda bergurau dengan tuan hamba, karena hamba hendak ke ulu sungai ke Bukit Fadlu'llah entah kembali entah tiada." Maka Malik Sulaiman pun lalu bertangis-tangisan keduanya. Maka Tun Beraim Bapa pun lalu kembali pula ke rumahnya bertangis-tangisan dan segala isi rumahnya dan hamba sahayanya. Maka Paduka Sultan pun berangkatlah seperti adat segala raja-raja bermain-main. Maka sabda baginda kepada Bermamat
P.nti dan Maidana P.nti, "Pergilah engkau kedua kepada Si-Beraim Bapa katakan aku sudah mudek." Maka baginda pun mudek membawa segala perempuannya dan segala gundeknya dan segala dayang-dayangnya. Maka Bermamat P.nti dan
Maidana P.nti pun pergilah kepada Tun Beraim Bapa itu. Setelah itu, maka Tun Beraim Bapa pun turunlah serta membawa kedua saudaranya itu, lalu ia berjalanlah dari pekan. Maka sabda Tun Beraim Bapa, "Ayohai segala tuan-tuan orang pekan, tinggallah tuan-tuan sekalian. Bahwa aku mudeklah mengiringkan sultan ke ulu sungai ke butir Fadlu'llah entah kembali entah tiada." Maka sekalian orang pekan pun menangis berhamburan ayer matanya sekalian mereka itu, serta ia minta doa akan Tun Beraim Bapa. Maka Tun Beraim Bapa sampailah ke samping, maka naiklah ia atas perahu. alu duduk baginda di buritan menarik pengayuhnya yang lebarnya tiga hasta dan besar batangnya tiga jengkal, lilit dan panjangnya tujuh hasta. Maka sekali dikayuhnya serantau lajunya. Maka ada seorang hulubalangnya membawa payungnya, berjalan ia di dalam ayer tiada ia tinggal demikianlah perkasanya.
Maka paduka Sultan pun sampailah ke Lubuk Sanggung. Maka Sultan Ahmad pun bersabda kepada Bermamat P.nti dan Maidana P.nti, "Suruhlah mereka itu kedua menyuruhkan Tun Beraim Bapa menjala, maka baginda pun menjalalah dalam Lubuk Sanggung itu, maka tatkala sudah dihamburnya jalanya, maka Tun Beraim Bapa lalu menyelam ia. Maka tatkala dilihat Paduka Sultan ia menyelam itu, maka baginda pun memberi isyarat kepada segala hulubalangnya menantikan ia timbul. serta sekalian mereka itu menghunus segala pedangnya dan segala pendahannya daripada sarungnya hendak menetak dan menikam Tun Beraim Bapa itu. Maka ia berjalan di dalam ayer itu sekira-kira serantau jauhnya. maka Tun Beraim Bapa pun bangkit ia, lalu naik ia ke darat.
Maka tatkala dilihat sultan dan hulubalangnya hal yang demikian itu, maka sekalian mereka itu pun dahsha ketakutan serta dengan pucat mukanya masing-masing menyarungkan pedangnya dan pendahannya. Maka Tun Beraim Bapa menjala pula ia. maka diperolehnya ikan terlalu banyak dan rama-rama bersil dan ketam berdayong dan udang bersanggul dan l.mb.d.k. mengidam dan patin bertelur. Maka disuruhnya. persembahkan kepada Sultan Ahmad.
Maka Tun' Beraim Bapa pun mudeklah, maka sampailah ia ke pantai Manggang. Maka segala hulubalang Beraim Bapa pun hadirlah ia menantikan Tun Beraim Bapa ia di pantai itu. Maka Tun Beraim Bapa pun duduklah ia haluan perahunya mengurai jalanya. Maka bagindapun bersabda kepada sekalian hulubalangnya. "Ayohai segala tuan-tuan dengan siapa lagi tuan-tuan bergurau, karena hamba hendak ke hulu sungai ini ke Bukit Fadlu'llah entah kembali entah tiada hamba lagi." Maka sekalian mereka itu pun berdatang sembah, "Ya tuanku, mengapakah tuanku bertitah yan demikin, hingga patahlah tulang bahu patek sekalian ini, maka dapatlah orang berbuat sekehendaknya ke atas tuanku." Maka sabda Tun Beraim, "Ayuhai segala handai taulanku, diamlah kamu sekalian, karena hamba tiada mau durhaka, jika Pasai se Pasainya, jika Siam se Siamnya, jika China se Chinanya, jika Jawa se Jawanya, jika Keling se Kelingnya tiada dapat melawan aku.
Maka berdatanglah sembah si Pahat Putar si Bintang Timur dan Si Akap Gagah Mengangkat dan Malim Zainal dan Malim Pasar Sesah, "Ya uanku mengapa kata tuanku demikian itu." Maka baginda bersabda pula, "Diamlah kaum, jika tiada aku kerajaan di dunia insya Allah ta'ala aku kerajaan di akhirat niscaya aku peroleh juga." Maka Tun Beraim Bapa menyuruh si Ali Kecil Pahat Putar dengan Malim Belatap, "Hyai mamakku kedua berpanching apalah mamakku kedua kulihat seketika." Maka kedua mereka itu pun samalah berjabat tangan lalu mereka itu tangkap, ber- hela-hela keduanya, maka tertanam hingga lututnya kedua mereka itu. Maka kata Tun Beraim Bapa, sama juga kuat kedua mamakku ini. Maka sembah si Pahat Putar, jika hamba tiada takut akan nama durhaka tuanku pun dapat hamba lawan. Maka baginda pun tersenyum mendengar kata si Ali Kecil Pahat Putar itu, maka Tun Beraim Bapa pun mengantarkan jalanya diletakkannya, lalu baginda turun ke pantai itu. Maka duduk baginda berlunjur maka disuruhnya si Pahat Putar mengangkat- kan kaki Tun Beraim Bapa, maka diangkatkan kaki Tun Beraim Bapa itu, jangankan ierangkat bergerak pun tiada, maka di
sungguh-sungguhi dengan sekuat-kuatnya di angkatnya dan daripada sepuluh anak jarinya titik darah sepuluh titik. Maka digeraknya oleh Tun Beraim Bapa kakinya, maka terpelanting- lah Pahat Putar itu seperti daun kayu ditiupkan angin pulang- paling, maka Tun Beraim Bapa pun tersenyum lalu baginda naik ke atas perahu.
Maka Sultan Ahmad pun sampailah ke Tanjung Ara, maka terlanggarlah perahu baginda itu dan perahu segala hulubalangnya atas batang yang di Tanjung Ara itu. Maka disuruh baginda bongkar pada segala hulubalangnya dan segala rakyat- nya, maka tiadalah dapat dibongkar. Maka disuruh baginda pada gajah yang bergelar Dola Laut dan Chermin China dan Raja Beruang dan Raja Tangkas Biram Pasai dan Sampurna Derma Utama dan Seri Negeri dan Arak Api dan lain daripada itu pun semuanya itu tiada jua ia patah.
Maka Sultan Ahmad pun bersabda kepada bermamat
P.nti dan Maidana P.nti, "Pergilah kamu kedua panggilkan anakku Tun Beraim Bapa." Maka pergilah kedua mereka itu, setelah sampai keduanya serta ia berdatang sembah, "Ya tuanku Tun Beraim Bapa Paduka Sultan menyuruh memanggil tuanku karena perahu paduka Sultan terlanggar ke atas batang di Tanjung Ara itu. Maka disuruh bongkar pada segala hulubalang dan segala gajah yang bergelar-gelar tiada jua ia terbongkar melainkan segeralah tuanku pergi" Maka Tun Beraim Papa pun hendak pergi ke Tanjung Ara, maka si Ali Kecil Pahat Putar dan si Bintang Timur dan si Akap Gagah Mengangkat dan Malim Zainal Belatap dan Malim Pagar Sesah berdatang sembah sekalian mereka itu, "Ya tuanku Tun Beraim Bapa karena nasi hambamu sudah termasak dan segala ayam hambamu sudah tersembelih singgah apalah seke- tika juga." Maka sahutnya Tun Beraim Bapa, "Hai tuan hamba handai taulanku, melainkan maaf tuan-tuan sekalianlah akan hamba karena nasi gulai tuan-tuan itu serasa sudah di dalam pe- rut hamba, karena hamba ini segera dipanggil Paduka Sultan." Maka ia pun lalulah berjalan. Setelah sampai ke Tanjung Ara, maka demi dilihat oleh Sultan Ahmad akan ananda datang,
maka sabda baginda, "Hai anakku lihatlah olehmu perahuku dan perahu segala hulubalang terlanggar di atas batang ini, apa bicara anakku akan batang ini?" Maka Tun Beraim Bapa sujud serta menyembah, maka lalu pergi ia kepada batang itu, serta ia meraba daripada pohonnya lalu ke ujungnya. Maka digerak-gerakknya serta baginda berkata," Hai kamu hulubalang ku jabatkan olehmu perahu paduka sultan itu." Maka baginda pun lalu menyelam batang itu, maka diraba-raba dari pohonnya lalu ke ujungnya, maka dihgunusnya khanjarnya, maka batang itu pun penggal dua, sepenggal terpelanting ke ulu sekira-kira dua rantau jauhnya, maka hanyutlah sekalian perahu itu timpa menimpa ada yang karam ada yang berdempok ada yang termasuk ke dalam hutan, oleh karena patah batang itu di timpa ayer deras lagi dengan berkeping, maka perahu sultan pun hanyut sekira-kira se rantau jauhnya.
Maka Tun Beraim Bapa pun menyelam pula sekali lagi, lama ia dalam ayer. Maka sultan pun pura-pura menangis demikian bunyi tangisnya, "Wah anakku Tun Beraim Bapa lenyaplaah kutaha engkau atau ditimpa batangkah kutaha engkau? Wah cahaya mataku dan buah hatiku di mana kutaha engkau sekarang dan apa kutaha hal mu?" Maka Tun Beraim Bapa pun seraya baginda menyelam itu, lalu ia mudek ke ulu serta membawa batang yang sekarat itu kira-kira lima rantau jauhnya, maka naiklah ia ke darat serta ia memegang batang itu, lalu dihujamkannya di pantai itu, termasuk ke dalam tanah kira-kira empat depa. Maka baginda pun duduk di atas batang itu dengan mengurai-ngurai rambutnya dan memetik- metik changgainya.
Maka sultan pun hilirlah, maka segala dayang-dayang dan inandanya dan kakandanya embuai tuan Tun Beraim Bapa pun menangis serta menarek-narek rambutnya dan berbiji sabak, demikian bunyinya, "Wah tuanku Tun Beraim Bapa lenyaplah kutaha tuanku". Maka ada seorang orang berjalan dari ulu sungai itu, maka dilihatnya Tun Beraim Bapak duduk di atas batang itu, maka tatkala sampailah ia ketempat segala orang menangis itu, maka katanya. "Mengapa maka tuan-tuan
menangis ini". Maka (kata) mereka itu. "Tuan kami Tun Beraim Bapa lenyap atau mati tiada kami ketahui". Maka kata orang itu "Ada pun Tun Beraim Bapa ada hamba lihat duduk ia pada suatu pantai di ulu sungai mengurai-ngurai rambutnya dan memetik-metik changgainya. Maka sekalian mereka itu pun berlarianlah ke ulu sungai mendapatkan baginda.
Maka dipersembahkan oranglah kepada sultan akan Tun Beraim Bapa itu ada lagi hidup. Maka sultan pun bersabda kepada Bermamat P. nti dan Maidana P. nti, "Pergilah kamu kedua panggil orang seri". Maka pergilah kedua mereka itu memanggil orang seri; maka ia pun datang. Maka sabda sultan kepada mereka itu, "Hai kamu orang seri perbuatkan aku ubat hangat karena anakku si Beraim Bapa ia menyelam kalau-kalau ia dingin. Maka orang seri pun berbuat peniaram. Maka di- bubuhnya dalam peniaran itu racun. Setelah sudah diperbuat- nya, maka dipersembahkan kepada sultan. Maka di suruh sultan bawa kepada Bermamat P. nti dan Maidana P. nti. Maka sabda baginda, "Pergilah kamu hantarkan ubat hangat ini kepada anakku karena ia dingin bekas menyelam itu". Maka pergilah kedua mereka itu menghantarkan ubat hangat itu. Apabila sampailah kedua mereka itu kepada Tun Beraim Bapa serta katanya, "Inilah ayapan daripada paduka ayahanda ubat hangat karena tuanku dingin bekas menyelam".
Maka Tun Beraim pun tahulah akan racun itu, maka diambilnya peniaram itu sebiji. dibelahnya dua sebelah dilontar- kannya kepada anjing. Maka dimakannya oleh anjing itu; maka se ketika itu jua ia mati; dan yang sebelah itu dilontarkan pula kepada ayam, maka ayam itu pun mati jua. Maka Tun Beraim Bapa pun berpikir di dalam hatinya, "Jikalau kumakan makan- an ini, niscaya aku jikalau tiada kumakan niscaya durhakalah aku, tetapi baiklah aku mati daripada derhaka". Maka diambilnya peniaran itu sebiji lagi, maka hendak dimakannya, maka tatkala itu dilihat oleh Tun M.d.m Peria hal yang demikian itu; maka diperebutnya daripada tangan saudaranya lalu dimakannya. Maka iapun lalu matilah, maka diambilnya sebiji lagi, maka diperebut oleh saudaranya bernama Tun Takiah Dara lalu dimakannya, maka ia pun lalu mati, maka di suruh
Tun Beraim Bapa ke Bukit Fadlu 'llah di suruhnya tanamkan di sana. Maka Tun Beraim Bapa pun mengambil peniaram itu, lalu dimakannya yang tinggal daripada dimakan oleh saudaranya itu. Setelah itu maka bius racun itu pun menyelap-nyelap. Maka segala tubuhnya itu pun gatallah, maka disuruh baginda guru kepada mamaknya Perman Isap dengan (Orang) Tikar. Maka digaru mereka itu belakang Tun Beraim Bapa. Maka sakalian kaku mereka itu habislah tinggal, maka keduanya pun lalu matilah ia. maka Tun Beraim Bapa pun tiadalah lagi men- derita daripada kesangatnya gatal (itu). Maka pergi ia kepada sepohon kular. Maka disentalkannya belakangnya kepada pohon kular itu. Maka pohon kular itu pun habis tanggal segala kulit- nya dan habis luruh segala daunnya. Maka pohon kular itu pun dengan seketika itu juga mati.
Maka ia bersabda kepada Malik Akasan, "Hai mamakku Malik Akasan, di mana ada lubuk yang dalam?" Maka sembah, "Ya tuanku ada hamba mendengar khabar segala orang tua-tua ada suatu lubuk, Tura namanya, terlalu amat dalam dan luasnya sekira-kira sekunca benih". Maka sabda Tun beraim Bapa, "Hai mamakku bawalah hamba pergi ke sana". Maka Tun Beraim Bapa pun berjalanlah ke lubuk Tura itu; setelah baginda sampai ke sana, maka katanya, "Hai mamak ku Malik Akasan hambur- lah oleh hamba jala itu". Maka Malik Akasan pun menghambur jala itu maka jala itu pun berpintal-pintal masuk ke dalam lubuk Tura itu. Maka kata Tun Beraim Bapa, "Betapa peri mamakku mengambil jala itu? tiada dapat dihelanya karena jala itu sudah tertangkap pada tanduk ularl. mb". Maka Malik Akasan pun hendak menyelam jala itu, maka dilihatnya dalam lubuk itu merah seperti api yang nyala, maka segera ia timbul lalu ke darat. Maka katanya, "Ya tuanku adalah dalam lubuk ini merah seperti api bernyala-nyala, katanya itu.
Maka lembing itu pun jatuhlah ke Bukit Fadlu'llah. Maka barang segalang". Setelah itu, maka ia pun bersikap berjawat tangkal dan rotan itu pun dikaitkannya pada pinggangnya, lalulah ia menyelam. maka ditangkapnyalah ikan yang di lubuk itu yang kena jala itu, terlalu banyak diperolehnya. Maka
Tun Beraim Bapa pun timbul, serta melontarkan segala ikan itu, dengan cucoknya ke darat, maka baginda menyelam pula ia, maka bertemulah ia dengan ular 1, mb. itu lalu ditangkap- nya akan Tun Beraim Bapa lalu baginda bergomol-gomol dengan ular 1. mb. itu, maka ayer dalam lubuk itu pun ber- ombak-rombak seperti ombak di lautan demikianlah halnya. Maka dilihat oleh mangdanya dan kakandanya dan embuai tuannya akan Tun Beraim Bapa halnya yang demikian itu, katanya, "Wah tuanku Tun Beraim Bapa matilah kutaha di makan ular 1. mb. itu".
Maka Tun Beraim Bapa menghunus khanjarnya; lalu di sembelihnya ular 1. mb. itu. Setelah matilah ular 1. mb. itu, maka dibelahnya perutnya. Maka segala perutnya dan hatinya dan lempanya sekalian habis timbullah ia. Maka dikerat-kerat- nya ular 1. mb. itu dicucoknya dengan rotan, lalu timbullah baginda serta dilontarkannya segala daging ular 1. mb. itu ke darat, maka baginda pun naiklah, maka disuruhnya tunu daging ular 1. mb. itu. Maka segala manusia yang mencium bau asapnya itu sekalian habis mati daripada tersengatan bisanya ular l.mb. itu. Maka segala daging ular itu dimakannya oleh Tun Beraim Bapa.
Maka Tun Beraim Bapa daiflah rasanya. Maka segala ikan itu sekalian disuruhnya persembahkan kepada Sultan Ahmad dan disuruhnya tanyakan di mana baginda ditananmkan oleh orang akan dia. Maka pergilah orang yang disuruhnya dengan membawa ikan itu. Setelah sampailah orang itu kepada sultan, maka dipersembahkannyalah itu. Maka sembahnya, "Ya tuanku sembahnya Tun Beraim Bapa, jika ia mati di mana ditanamkan akan dia". Maka sabda Sultan, "Di sanalah ia kamu tanamkan, karna di Pasai pun Bumi Allah jua". Maka ia menyembah lalu ia pergi kembali kepada Tun Beraim Bapa. Maka apabila sampailah ia, maka sabda sultan semuanya disampaikannya kepada Tun Beraim Bapa. (Maka kata Tun Beraim Bapa) kepada Malik Akasan", Ayohai mamak ku bawalah aku ke Bukit Fadlu Tlah".
Maka Tun Beraim Bapa pun berjalanlah serta mamakku dengan segala keluarganya. Maka apabila sampailah baginda
kepada simpang jalan, maka kata Malik Akasan, "Ya tuanku, bahwa jalan ini dua simpangnya suatu simpang ini dua hari perjalanan, dan suatu simpang ini sehari perjalanan sampailah kita ke Bukit Fadlu 'llah. Tetapi ada pohon sabasani, seperti rupa ular, barang siapa melihat dia terkejut terketar-ketar rebah lalu mati. Lepas dari sana, maka bertemu pula dengan se- pohon beluru rupanya seperti rupa sag. bersi. k". Maka kata Tun Beraim Bapa, "Hai mamak ku bawalah hamba ke sana pada jalan yang hampir itu".
Maka Tun Beraim Bapa pun lalulah ke sana, maka ia bertemulah dengan pohon sabasini itu. Demi terlihat oleh Tun Beraim Bapa, maka ia pun terkejut serta ia menghunus khanjar- nya, lalu diletaknya pohon sabas ini itu. Maka ia pun mengerip seperti suara manusia dan mengalir darahnya seperti darah manusia. Maka lalulah ia berjalan dari sana maka bertemulah pula dengan akar beluru. Demi terlihat oleh Tun Beraim Bapa lalu baginda terkejut serta ia mengambil pendahannya lalu di- tikamnya akar beluru itu. Maka akar pohon beluru pun meng- herip seperti gajah menderum dan mengalir darahnya seperti darah manusia.
Maka Tun Beraim Bapa itu pun lalulah dari sana makin sangatlah daifnya. Maka kata Tun Beraim Bapa, "Hai mamakku Malik Akasan dukunglah hamba tiadalah lagi dapat hamba berjalan. Maka Tun Beraim Bapa pun didukung oleh Malik Akasan. Maka apabila sampailah suatu tempat, maka ia pun tiadalah menderita lagi, maka disuruhnya hantarkan dirinya ke tanah. Maka diambilnya lembingnya, lalu dilontarkannya. Maka katanya, "Hai mamakku Malik Akasan, jika si Beraim Bapa mahu derhaka, jika Pasai se Pasainya, jika Siam se Siam- nya, jika Keling se Kelingnya, tiada mahu melawan si Beraim Bapa karena sekali-kali Beraim Bapa tiada mau derhaka. Hai mamakku Malik Akasan di mana tempat lembing hamba itu jatuh di sanalah hamba tananmkan".
Maka lembing itu pun jatuhlah ke Bukit Fadlu'llah. Maka seketika lagi Tun Beraim Bapa pun kembalilah ke rahmatullah taala. Maka Malik Akasanlah membawa mayat baginda dengan
segala handai taulannya ke Bukit Fadhlu 'llah itu, seperti membawa mayat seorang faqir juga. Maka tatkala sampailah ke Bukti Fadlu "llah itu, maka dilihat orang lembing itu terhunjam antara selang saudaranya yang kedua itu. Maka lembing itu ter- masuk ke dalam tanah kira-kira sehasta yang kelihatan. Adapun besar batang lembing itu dua jangkat lilit dan lebar matanya sehasta dan panjangnya sembilan hasta. Adapun jauhnya tempat menikamkan lembing itu kira-kira se tengah hari perjalanan. Setelah itu, maka ditanamkan oleh Malik Akasan dengan se- kalian orang yang besertanya itu pada tempat jatuhnya lembing itu. Maka tatkala itu sampailah berita bahwa baginda sudah mati. Maka Sultan Ahmad pun berbahagia dan puaslah hatinya. Maka baginda pun kembali ke Pasai, hingga sampailah ia ke istananya.
Kata yang empunya cerita, ada pun Tun Abdul Jalil tatkala ia tinggal menunggui Negeri Pasai itu, maka disuruh baginda-baginda persik negeri dan segala pekan dan medan hingga disuruh baginda tanbak segala tanah yang lembang-lembang hingga ratalah segala medan itu.
Part 3
Alkisah, maka tersebutlah perkataan Tuan Puteri Gemeren- cang itu tiada bersuami, sebab ia bersuamikan daripada segala anak raja yang bijaksana dan perkasa. Maka Tuan Puteri itu menyuruhkan hulubalangnya yang bernama Tun Perpateh kepada segala negeri akan menuliskan rupa segala anak raja-raja yang pada segala negeri serta membawa kertas seperti dan dawat
s.kuchi dan dalam seberkas. Maka Tun Perpateh Jena pun ber- lengkaplah ia dengan sebuah perahu, lalulah ia berlayar daripada suatu negeri kepada suatu negeri serta ia menuliskan rupa anak raja-raja yang di dalam negeri itu. Sebermula yang sudah tertulis itu ada kira-kira sembilan puluh sembilan orang yang sudah tertuliskan oleh Tun Perpateh Jena itu, hingga masuklah ia kenegeri Pasai. Demi terlihat oleh- nya akan rupa Tun Abdul Jalil lalu dituliskannya rupa Tun Abdul Jalil. Maka jadi genaplah seratus orang dengan rupa Tun
Abdul Jalil itu. Setelah itu, maka keluarlah ia dari Pasai, lalu ia berlayar ke negerinya. Hatta beberapa lama antaranya, maka sampailah ia ke benua Jawa lalu ia masuk menghadap Tuan puteri Gemerencang serta membawa tulis rupa segala anak raja-raja itu; maka dilihat oleh Tuan Puteri Gemerencang rupa segala anak raja-raja yang sembilan puluh sembilan itu. tiada pun seorang yang sembilan puluh sembilan itu, tiada pun seorang yang berkenan pada hatinya; maka demi terlihat kepada tulis rupa Tun Abdul Jalil itu, maka Tuan Puteri itu pun heran ia melihat dia seraya ia bersabda kepada Tun Perpateh Jena, "Rupa siapa ini dan apa namanya dan di mana benuanya? Maka Tun Perpateh Jena pun berdatang sembah, Ya tuanku inilah rupa Tun Abdul Jalil namanya anak raja di Benua Pasai." Maka Tuan Puteri Gemerencang pun ter- lalu amat ia berahi akan dia, daripada sebab ia melihat rupa gambarnya itu. Maka Radin Galoh Gemerencang pun tiada lagi tertahan hatinya, seperti orang gilalah lakunya, maka minum pun tiada ia kenyang dan tiada puas dahaganya. Maka dipersembahkan oleh segala inangnya dan embuai tuannya kepada ayahanda dan bundanya tentang hal ahualnya Tuan Puteri gila itu sebab melihat tulis rupa Tun Abdul Jalil itu. Maka demi didengar oleh Sang Nata Majapahit dan Permaisuri akan hal anaknya yang demikian itu, maka heranlah itu bundanya serta dengan mashgulnya. Maka ayah bundanya pun panggil anaknya Tuan Puteri Gemerencang itu, serta katanya, "Hai anakku apa jua mashgul dalam hatimu". Maka Tuan Puteri Gemerencang pun berdatang sembah, "Ya tuanku shah alam, ada pun mashgul yang didatangkan Allah taala ke atas hati patek itu mashgul yang amat sangat tiadalah tersipatkan lagi adanya, karena rupa Tun Abdul Jalil anak raja benua Pasai itu pada hati hambamu tiadalah dapat patek kelupai barang seketika jua pun dan ka- ramlah rasa patek dalamnya seperti kata shaer". Artinya telah didatangkan atasku percintaan jikalau percintaan didatangkan atasku segala hari ini seperti umpama semalam jua adanya.
Demi Sang Nata mendengar sembah paduka ananda baginda Tuan Puteri Gemerencang demikian itu, maka bertambah-tam- bah mashgulnya serta membicarakan dalam hatinya, jikalau tiada kuperkenankan seperti kehendaknya anakku ini, niscaya gilalah ia dalam percintaannya. Maka titah sang Nata. "Hai anakku sabarlah engkau dahulu insya Allah taala akulah membicarakan segala pekerjaanmu itu". Maka Tuan Puteri pun berdatang sembah demikian bunyinya, "Ya tuanku shah alam, tiadalah kuasa patek menahan sabar. Jikalau ada syang shafaa duli shah alam akan patek, baiklah hambamu disuruh hantar- kan ke Negeri Pasai itu dengan segeranya. Jika tiada demikian itu, niscaya matilah patek dalam percintaan yang diperhamba".
Maka tatkala didengar ayahanda dan bunda baginda sembah Radin Galoh demikian itu, maka pada ketika itu jua baginda bertitah menyuruh memuata 'idkan segala kelengkapan itu daripada ghur.b dan kelulus dan daripada jong. Setelah sudah musta 'iddlah segala, kelengkapan itu, maka di suruh baginda hias sebuah ghur.b yang besar akan kenaikan paduka ananda Radin Galoh Gemerencang itu. Maka daripada perhiasan yang indah-indah dan dianugerahi baginda akan Tuan Puteri itu daripada beberapa perkakas alat kerajaan daripada segala pakaian yang indah-indah dan daripada segala hulubalang dan menteri dan rakyat dan daripada beberapa emas dan perak dan permata yang indah-indah dan daripada pakaian yang berbagai rupanya.
Maka pada hari yang baik, maka Sang Nata pun berangkat- lah dengan segala hulubalangnya dan segala bala tentaranya akan menghantarkan paduka ananda Tuan Puteri itu ke tepi laut. Setelah itu sampailah baginda ke tepi laut. maka Tuan Puteri pun sujud menyembah bermohon kepada ayah bundanya, maka oleh Sang Nata dan Permaisuri dipeluknya dan di- ciumnya lalu baginda bertangis-tangislah. Maka Tuan Puteri pun naiklah ke atas ghur.b yang dihias itu serta dengan inangda- nya dan bundanya dan embuai tuannya. Maka segala hulubalang pun masing-masing naiklah keperahunya, lalulah Tuan Puteri dan segala mereka itu berlayarlah ke Negeri Pasai itu pada siang dan malam.
Adapun diceritakan oleh orang yang empunya cerita. Maka tatkala terdengarlah warta angkatan Radin Galoh Gemerencang anak ratu Majapahit datang dari Jawa itu hendak ke benua Pasai, daripada sebab berahi akan Tun Abdul Jalil itu, setelah didengar oleh Sultan Ahmad, maka sultan pun tiadalah lagi karar hatinya daripada hendak membicarakan daya upaya membunuh Tun Abdul Jalil itu jua pada siang dan malam. Maka pada suatu hari Sultan Ahmad bersabda kepada Dara Zulaikha Tingkat," Ayohai Dara Zulaikha Tingkap! Amanaku padamu hubaya-hubaya jangan engkau katakan pada seorang jua pun, jikalau Si Abdul Jalil tiada kubunuh kerajaanku jangan kekal dan Puteri Gemerencang pun jangan kuperoleh. Setelah itu, maka dicarinya daya upaya hendak membunuh Tun Abdul Jalil. Pada suatu ketika, maka Tun Abdul Jalil disuruhnya bu- nuh. Maka dibunuh oranglah ia. Maka Tun Abdul Jalil pun pulanglah kerahmatullah taala maka disuruh sultan buangkan mayat baginda itu ke laut ke Jambu Ayer.
Hatta beberapa lamanya antaranya, maka kelengkapan Radin Galoh Gemerencang pun datanglah ke laut Jambu Ayer itu. Maka berlabuhlah sekalian angkatan itu di labuhan Jambu Ayer itu, maka keluarlah sebuah perahu orang mengail dari kuala Jambu Ayer itu. Maka dilihat oleh orang dalam jong itu sebuah perahu itu, maka tatkala hampir perahu itu kepada segala jong itu, maka segala orang di dalam jong itu pun ber- tanya, katanya, "Apa nama negeri ini?" Maka sahut orang mengail itu, "Adapun nama negeri itu Pasai". Maka kata orang dalam jong itu, "Apa ada khabar dalam negeri ini". Maka sahut orang mengail itu, "Adapun khabar dalam negeri ini badak makan anaknya". Maka kata orang dalam jong itu, "Tiada kami tahu artinya katamu itu". Maka sahutnya, "Adapun artinya, Paduka Sultan yang dalam Negeri Pasai ini membunuh anaknya dua orang, seorang bernama Tun Beraim Bapa, dari karena sultan itu berahikan anaknya perempuan seorang bernama Tun
M.d.m Peria dan seorang bernama Tun Takiah Dara dan anaknya Tun Abdul Jalil pun dibunuhnya dibuangkannya dalam laut Jambu Ayer ini, sebab ia mendengar khabar Tuan Puteri Gemerencang datang dari benua Jawa terlalu amat ia berahi akan Tun Abdul Jalil itu dan mayat Tun Abdul Jalil itu pun
disuruhnya buangkan dalam laut Jambu Ayer ini, itulah arti kata kami badak makan anaknya".
Maka dipersembahkannya oranglah kepada Tun Puteri Gemerencang segala kata orang pengail itu. Demi di dengarnya oleh Tuan Puteri khabar orang itu, maka ia pun menumbuk- numbuk dadanya, serta dengan tangisnya. Maka kata Tuan Puteri", (Hai) segala kamu tuan-tuan hulubalangku, dan segala rakyat ku, kembalilah kamu sekalian ke benua Jawa kepada ayah-bundaku dan jikalau ada salah bebalku melainkan minta ampunlah aku ke bawah qadam ayah-bundaku beribu-ribu am- pun dan kamu ceritakanlah kepada ayahbundaku seperti yang kamu dengar dan yang kamu lihat. Maka Tuan Puteri pun ber- kata kepada segala orang isi perahu itu", Hai segala kamu yang di daiam ghur.b ini siapa kamu mahu kembali turunlah kamu kepada perahu lain kartena maksud kepada Tun Abdul Jalil yang kuberahikan itu dalam laut ini, aku pun di sinilah akan tempat ku."
Maka Tuan Puteri pun minta doalah kepada Allahu subhana- hu wa taala demikian bunyinya, "Ya ilahi ya rabbi matikanlah kiranya hambamu dan tenggelamkan ghur.b hambamu dalam laut Jambu Ayer ini dan kupertemukan kiranya hambamu dengan Tun Abdul Jalil itu". Hatta maka dengan taqdir Allah taala maka ghur.b itu pun tenggelamlah dalam laut itu dan segala angkatan itu pun kembalilah ke benua Jawa. Setelah sudah sampailah sekalian angkatan itu.
Maka diceritakan oleh orang yang punya cerita. Maka tat- kala kedengaran khabar Tuan Puteri Gemerencang sudah teng- gelam itu kepada Sultan Ahmad, maka Sultan Ahmad pun mematah-matah jarinya serta dengan sesalnya tiada berkesudah- an sebab membunuh anaknya Tun Beraim Bapa dan Tun Abdul Jalil dengan sesalnya yang amat sangat. Maka sabda sultan kepada segala hulubalangnya, "Hai segala kamu hulubalangku tegah apalah akan daku membunuh anakku itu". Maka Tun Perpateh Tulus Agung Tukang Sukara pun berdatang sembah demikian sembahnya," Ya tuanku shah alam
Lada siapa di bangsalkan? Ran. s.jan. k.r.t. Pada siapa di sesalkan? Tuan juga empunya pekerti".
Setelah itu maka sampailah segala angkatan Tuan Puteri Gemerencang itu ke benua Jawa, maka masuklah sekalian me- reka itu mengadap Sang Nata itu serta dipersembahkannya segala hal ahualnya Tuan Puteri Gemerencang sudah tenggelam itu dan dikhabarkannya khabar sultan yang di dalam Negeri Pasai membunuh anaknya itu. Maka tatkala didengar Sang Nata Majapahit khabar yang demikian itu, maka baginda dua laki- isteri menangis terlalu amat sangat dan menghempas-hempaskan kendirinya keduanya lalu pingsan tiadalah khabarkan dirinya.
Maka tatkala sembuhlah ia daripada pingsan itu, Sang Nata memberi titah kepada Pateh menyuruh menghimpunkan segala menteri dan segala penggawa yang kuasa-kuasa dan segala rakyat dan bala tentaranya. Setelah itu, maka disuruh baginda mus- taedkan segala kelengkapan dan segala alat senjata peperangan akan mendatangi Negeri Pasai itu, sekira-kira empat ratus jong yang besar-besar dan lain daripada itu banyak lagi daripada dan kelulus. Setelah sudah lengkaplah segala kelengkapan itu, maka segala menteri dan pegawai dan segala rakyat pun masing- masing naiklah ke perahunya serta dengan alat senjatanya dan bekalnya. Maka dititahkan baginda penggawa yang besar ber- nama Senpati Ing Alaga dan beberapa ratus para menteri dan para penggawa. Maka pada hari yang baik berlayarlah segala angkatan itu ke Negeri Pasai. Maka tatkala sampailah ia ke labohan Pasai, maka naiklah ia ke darat, lalu ia mendirikan kota sepanjang pantai. Setelah sudah, maka masuklah ia ke dalam kotanya itu. Maka Tulus Agung Tukang Sukara pun menghadap Sultan Ahmad, seraya berdatang sembah akan hal musuh Majapahit itu sudah ia berkota. Sultan pun terlalu sukacita mendengar itu; maka titah baginda, kepada esok harilah kita suruh keluar musuh itu. Maka sabda Baginda Tun Bijaya Pangiran akan pangli- manya membawa rakyat yang amat banyak. Pada keesokan
harinya, maka berbunyilah genderang perang daripada kedua pihak dan segala laskar berdirilah di medan, maka kedua pihak pun sama menempuh. Maka berperanglah daripada kedua pihak, laskar pun banyaklah mati dan luka. Maka genderang kembali pun dipalu oranglah. Maka kedua pihak laskar pun kembalilah masing-masing pada tempatnya. Demikianlah perang itu pada tiap-tiap hari, kira-kira tiga bulan lamanya perang itu, tiada juga beralasannya, karena Jawa itu sebagai datang juga bantunya dari benua asing.
Maka tatkala dilihat oleh senapati akan hal perang itu tiadalah juga beralasannya, maka ia pun terlalu sangat marahnya akan segala penggawanya yang bersama-sama dengan dia itu, maka ia pun naiklah sendirinya ke darat serta dengan segala pahlawannya kira-kira seribu, serta dengan menyuruh segala rakyatnya turun dari ghur.b danjongnya masing-masing dengan senjatanya. Maka Sultan Ahmad pun menghimpunkan segala hulubalangnya dan segala pahlawannya yang mashhur seperti pendekar Pulau Kukur dan Kampong Bangka dan pahlawan Kampong Langgar dan pendekar Kampong China dan Si Ali Kecil Kecil Pahat Potor dan Malik Akasan, dan Tun Ruwana Permatang, serta menghimpunkan segala gajah dan kuda segala rakyatnya yang tiada tepermenai.
Maka pada dinihari berbunyilah genderang perang daripada kedua pihak laskar itu, masing-masing keluarlah sekalian mereka itu dari dalam kotanya. Maka berhadapanlah di medan. Maka berperanglah mereka itu sekalian, tiadalah berketahuan lakunya perang itu campur-baurlah kedua pihak laskar itu dan bunyi senjata pun gemerencanglah dan bunyi tempek segala hulubalang dan segala manusia pun seperti tegar di langit dan darah segala manusia pun mengalirlah seperti anak sungai. Adapun rakyat Majapahit itu, sebagian turun dari jongnya tiada ber- keputusan akan membantu temannya dan beberapa yang datang dari negeri yang lain membantu Ratu Majapahit. Maka adalah lama perang yang demikian itu tiga hari tiga malam lamanya tiada berhenti; maka segala pahlawan dan segala hulubalang dan segala rakyat pun banyaklah mati tiada terhisabkan lagi.
Maka dipersembahkan orang kepada sultan, "ya tuanku shah alam bahwa segala hulubalang dan segala pahlawan dan segala rakyat kita banyaklah mati tiada terhisabkan lagi banyak- nya". Maka sabda Sultan, "Wah anakku Beraim Bapa, jikalau ada ia jika"Jawa sejawanya, jika Cina secinanya, jika Keling sekelingnya tiada mau melawan si Beraim Bapa. Maka Tun Per- pateh Tulus Agung Sukara berdatang sembah seraya ia ber- pantun,
"Lada siapa di bangsalkan Selama lada se kerati? Pada siapa disesalkan? Tuan juga empunya pekerti".
Setelah itu, maka Sultan Ahmad pun keluarlah dari dalam istananya dengan segala isi istananya dan segala perkakasnya alat kerajaannya barang yang terbawa. Maka Sultan Ahmad pun lalu berangkat pindah pada suatu tempat bernama Mendaga di sanalah tempat baginda diam kira-kira lima belas hari perjalan- an dari Negeri Pasai.
Maka diceritakan oleh orang yang empunya cerita. Maka tatkala sampailah kepada tiga hari tiga malam, maka rakyat Pasai pun pecahlah perangnya sekalian mereka itu lalu lari ce- rai-berai tiada berketahuan lagi perginya. Maka sekalian laskar Majapahit pun masuklah ke dalam Kota Pasai lalu ke dalam istananya Sultan Ahmad itu. Maka terlalulah banyak mereka itu beroleh rampasan dan tawanan, tiada terkira-kira lagi banyak- nya.
Hatta beberapa lamanya ia berhenti di Negeri Pasai, maka segala laskarnya pun dan segala rakyat pun bersuka-sukaan makan-minum dalam negeri itu. Maka ada sepohon pauh di medan Pasai itu, di sanalah sekalian laskar itu menyandarkan tombaknya. Maka pohon pauh itu pun bengkok daripada ke- banyakan tombak sekalian mereka itu. Maka dinamai oleh orang datang sekarang tempat itu Padang Pauh Bengkok.
Setelah itu, maka segala Jawa pun beberapa lama ia di Pasai, maka senapati pun mengerahkan segala menteri penggawa
dengan segala rakyat naik ke bahteranya masing-masing bermuat segala harta rampasan dan orang tawanan terlalu banyak di- muatkannya, hingga saratlah segala kelengkapan itu seperti itek berenang di ayer, demikianlah rupanya segala kelengkapan. Maka sekaliannya pun berlayarlah kembali ke negerinya dengan kemenangannya, sepanjang laut dengan tempek-soraknya. Hatta beberapa lamanya ia di laut, maka sampailah ia ke Jambi dan ke Palembang. Maka singgahlah ia di Jambi dan di Palembang; maka kedua buah negeri itu pun menunggal dan berserah sen- jata, maka takluklah kedua buah negeri itu ke Majapahit.
Lalu naiklah sekalian menghadap Sang Nata dan Permaisuri. Maka Senapati pun berpesembahkan segala harta dan tawanan itu kepada Sang Nata, lalulah ia berkabarkan perang itu dari- pada permulaan datang kepada kekesudahannya akan hal Negeri Pasai itu sudah kalah dan rajanya pun sudah lari entah ke mana-mana perginya. Maka titah Sang Nata suruh bagi tiga segala harta itu, sebahagi akan Sang Nata dan sebahagi akan Senapati dengan segala menteri penggawa dan yang sebahagi lagi akan segala rakyat bala tentaranya.
Sebagai pula Senapati berpesembahkan peninggal Negeri Jambi dan Palembang dengan segala senjatanya dan akan hal negeri yang dua buah itu takluklah ia kepada Sang Nata. Maka titah Sang Nata akan segala tawanan orang Pasai itu, suruhlah ia duduk di tanah Jawa ini mana kesukaan hatinya. Itulah sebabnya, maka banyak keramat di tanah Jawa itu tatkala zaman Pasaikanlah oleh Majapahit itu. Demikianlah ceritanya diceritakan oleh orang yang empunya cerita ini. Alkisah, tersebutlah perkataan selang beberapa lamanya maka Sang Nata memberi titah kepada Pateh Gajah Mada dan Temenggung Macan Negara dan Demang Singa Perkasa dan Senapati ing Alaga. Maka titah Sang Nata, "Hai segala kamu menteri penggawaku apa bicara kamu sekalian akan negeri teluk rantau dan tukang pulau sekalian yang belum takluk itu, baiklah tuan-tuan sekalian datangi." Maka sembah segala menteri dan penggawa itu, "Patek sekalian junjung seperti titah Ingkang sinuhan itu." Maka Pateh Gajah Mada pun berkerahlah akan segala hulubalang dan segala rakyat bala tentara dan segala
kelengkapan pun sudahlah mustaidd dengan segala alat senjata- nya dan tunggul pawainya dan setelah sudah, maka Pateh Gajah Mada dan segala menteri penggawa pun masuklah ke peseban agung menghadap Sang Nata, lalu sekalian menyembah serta duduk. Maka Pateh Gajah Mada pun berdatang sembah, "Ya tuanku adapun titah duli, tuanku itu sudahlah mustaed, adapun segala kelengkapan itu enam ratus dan segala penggawa yang besar tiga orang tuanku pertama temenggung Macan Negara dan Demang Singa Perkasa dan Senapati ing Alaga itulah tuanku. Lain pula daripada itu segala penggawa yang kecil, seperti ngabehi dan lurah, petinggi, adapun rakyat bala tentara itu banyaknya tiga keti, tuanku."
Maka titah sang Nata, "Sabarlah dahulu kita menanti ke- tika yang baik." Maka baginda pun menjamu segala menteri penggawa dan segala rakyat makan minum tujuh hari tujuh malam bersuka-sukaan dengan segala bunyi-bunyian. Setelah sudah, maka Sang Nata pun memberi persalinan akan segala menteri penggawa dan segala hulubalang dan rakyat sekalian masing-masing pada qadarnya. Setelah sudah Sang Nata meng- anugerahi dadar itu. Maka titah Sang Nata, "Hai segala kamu menteri penggawaku hendaklah kamu taklukkan dahulu jajahan Raja Ujung Tanah." Maka segala menteri penggawa dan segala hulubalangnya itu pun pamit menyembah Sang Nata, lalu ia naik kelengkapan- nya masing-masing lalu ia berlayar menuju Negeri Ujung Tanah. Setelah sudah sampai kepada sekalian pulau itu dan tokong, maka sekaliannya habislah takluk dan memberi upeti: Tambelan dan Siantan dan Jemala dan B.ngur.an dan Serasan dan Subi dan Pulau Laut dan Tioman dan Pulau Tinggi dan Pemanggil, kemudian seperti K.rimat. dan Belitung dan Bangka dan Lingga dan Riau dan Bintan dan Bulang sekaliannya itu takluk ke Majapahit.
Setelah itu, maka lalulah kelengkapan itu ke tanah darat menaklukkan Negeri Sambas dan Mempauh dan Sukadana. Maka lalulah ia ke Kota Waringin kemudian lalulah ia ke Banjar- masin. Kemudian pula lalulah ia Pasir dan Kutai dan ke
ke B.ru.m.k. Maka sekalian negeri itu pun habislah takluk kepada zaman itu, takluklah ia Majapahit, sekalian negeri itu memberi upeti kepada Ratu Majapahit. Maka ada kira-kira dua musim angin setelah itu maka sekalian kelengkapan itu pun berlayar pula ia ke timur menuju Pulau Bandan dan Siran dan Kerantok dan... Maka sekalian tanah timur itu pun takluklah ia kepada Ratu Majapahit kepada zaman dahulu kala, dicerita- kan oleh orang yang empunya cerita sekaliannya itu memberi upeti kepada Ratu Majapahit. Setelah itu, maka kembalilah segala kelengkapan itu berlayar menyusur tanah Bima, Sum- bawa dan Sileparang dan Bali, Balambangan sekaliannya itu pun habislah takluk.
Setelah berapa lamanya, maka sekalian kelengkapan itu pun sampailah ke Majapahit dengan kemenangannya. Maka segala menteri penggawa itu pun naiklah ia menghadap Sang Nata berpersembahkan segala kemenangannya seperti penunggul dan upeti dan persembah sekalian negeri dan pulau dan tokong itu, terlalu sekali banyaknya tiada terhisabkan perbagai jenis
warna beberapa daripada emas dan perak dan .... dan senjata
dan perbagai warna kain dan orang dan lilin dan sarang burung dan tikar, rotan dan kajang, tiada lagi terpenuhi banyaknya sekaliannya itu. Maka titah Sang Nata disuruh bagi tiga, juga sebagi akan Sang Nata dan sebagi akan segala rakyat dan bala tentaranya.
Maka terlalulah maskhur adil baginda serta dengan makmur- nya negeri itu terlalu sekali ramainya, gagap gempita dalam negeri serta segala makanan pun terlalu makmur pada zaman itu dan orang datang pun tiada lagi berkeputusan kepada tiap- tiap negeri yang takluk kepada baginda itu segala jajahan yang di seberang lautan, jangan dikata lagi yang di dalam sekalian tanah Jawa yang di pasir dari kulun-sekulunnya dan dari wetan sewetannya dan yang di darat sampai ke segara kidul sekaliannya datang menghadap Sang Nata dengan upetinya dan persembahnya dan yang dari timur pun datang dari Bandan dari... dan... masing-masing dengan persembahnya ada lilin ada cen- dana ada... ada kayu manis ada pala dan "cengkeh terlalu
banyak bertimbun dan lagi beberapa daripada ambar dan kesturi. Maka terlalulah ramainya Negeri Majapaliit itu, senantiasa dengan gong gendang dan joget dengan perbagai warna per- mainan seperti wayang wong dan wayang kulit dan topeng dan joget tandak bedaya dan jentera beksan terlalulah sekali ramainya malam siang Negeri Majapahit itu dengan kesukaannya juga dan sehala makanan pun terlalu makmur dalam negeri itu, karena orang datang sana-sini pun, tiada lagi terpermenai lagi banyaknya.
Setelah beberapa lamanya maka pikir Sang Nata. Semuanya negeri habis habis takluk melainkan Pulau Percha juga yang belum lagi takluk, baiklah aku menyuruh Pulau Percha dengan sesuatu hikmah kusuruh mengadu kerbau. Maka ada seekor kerbau Sang Nata itu besarnya seperti gajah tunggal dan tanduknya sebelah-sebelah panjang enam hasta dan pangkat tanduknya besarnya empat jengkal lilit dan matanya merah seperti saga.
Alkisah, maka tersebutlah perkataan Sang Nata menyuruh warga dalam memanggil Pateh Gajah Mada. Maka Warga Dalam pun menyembah lalu berjalan ke rumah pateh. Setelah maka ia menyampaikan titah Sang Nata katanya, "Hai, Kiai Pateh di- panggil Sang Nata." Maka Pateh pun turun lalu berjalan. Setelah sampai ke peseban agung, maka Pateh pun menunduk menyembah Sang Nata lalu ia duduk. Maka sireh pada jorong perak pun diangkat orang ke hadapan. Setelah sudah ia makan sireh, maka titah Sang Nata, "Hai Pateh, apa bicaramu, baiklah taklukkan Negeri Pulau Percha, karena ia belum takluk, se- kalian negeri habis takluk." Maka sembah Pateh, Anuhun ka- wula seking karsa duli tuanku. Maka titah Sang Nata, "Bawalah suatu hikmah kerbauku yang besar itu adu dengan kerbau Pateh Suatang, apabila ia kalah, maka takluk kalah olehmu sekali. Apabila kita kalah, maka kembali engkau segera-segera."
Maka Pateh Gajah Mada pun menyembah, lalu ke luar mengerahkan segala menteri dan penggawa dan segala rakyat bala tentaranya berlengkap. Setelah sudah lengkap maka sekali- annya pun naiklah ke atas kelengkapannya dengan segala alat
senjatanya. Adapun banyaknya segala kelengkapan itu lima ratus dan penggawa yang pergi itu penggawa yang tiga itu juga dan beberapa penggawa yang kecil kecil seperti ngabehi dan Aria (dan) Lurah dan b.b.k.1. (dan) petinggi dan gebayan dan segala rakyat dua keti. Maka Sang Nata pun memberi persalin segala penggawa dan memberi dadar akan segala rakyat, serta diperjamunya makan-minum tiga hari tiga malam.
Setelah datanglah pada ketika yang baik, maka segala penggawa menteri pun menyembah Sang Nata dan berm oh on kepada Pateh Gajah Mada, lalu ia naik kelengkapannya masing-masing lalu berlayar menuju negeri Jambi. Setelah itu lalu ia mudek ke ulu Jambi, setelah sampai ia ke hulu Jambi lalu ia naik ke darat ke Periangan.
Maka terdengarlah kabar ia kepada Pateh Suatang. Maka Pateh Suatang pun menghimpunkan segala hulubalang dan rakyat akan mengalu-ngalukan orang Jawa itu. Maka segala penggawa itu pun sampailah ia ke Periangan. Maka ia berhenti- lah di sana berbuat pesanggerahan. Setelah sudah, maka ia menyuruh kepada Pateh Suatang seorang penggawa memberi tahu ia hendak mengadu kerbau. Maka sampailah penggawa itu kepada Pateh Suatang, maka Pateh Suatang pun segeralah memberi hormat akan penggawa itu menyuruh duduk. Maka penggawa itupun duduklah dengan takzimnya, lalu ia menyampaikan pesan penggawa yang besar itu, hendak mengadu kerbau Sang Nata itu. Maka jawab Pateh Suatang, "Baiklah hamba minta janji tujuh hari, karena hamba lagi mencari kerbau akan me- lawan kerbau Sang Nata itu." Maka penggawa itu pun kembali- lah ia menyampaikan kata Pateh Suatang itu kepada menteri yang tiga itu.
Setelah itu, maka tersebutlah perkataan Pateh Suatang dengan Pateh Ketemenggungan mengambil anak kerbau yang baik, lagi sasan rupanya. Setelah sampai pada lima hari, maka medan Periangan pun diperbaiki orang; maka anak kerbau itu pun dikurungnya, tiada diberinya menyusu. Setelah genap tujuh hari, maka segala rakyat pun bersaf-saflah di medan daripada kedua pihak itu, maka penggawa yang tiga itu pun berjanjilah ia dengan Pateh Suatang dan Pateh Ketenggungan. Adapun
janjinya jikalau kerbau Sang Nata Majapahit kalah, kami sekalian orang Jawa memakai kain cara perempuan sampai ke mata kaki dan jikalau kerbau tuan-tuan kalah hendaklah tuan-tuan takluk kepada Sang Nata Majapahit. Maka sahut Pateh Suatang, "Baiklah."
Maka dilepaskannyalah kerbaunya oleh orang Majapahit. Maka kerbau itu pun seperti singa mencari lawannya. Maka kerbau itu pun bermainlah di medan. Maka anak kerbau itu pun dilepaskan oleh Pateh Suatang. Maka ia sangatlah lapar dahaga, lalu ia menyerbu seperti kilat menyusup kerampang kerbau besar itu mengisap buah peler kerbau besar itu tiada lagi dilepas- kannya. Maka kerbau besar itu pun terpusing-pusing tiada lagi ia berdaya hendak menanduk sukar karena di bawah keram- pangnya. Maka ia lari ke sana ke mari itu pun tiada juga di- lepaskannya buah pelernya oleh anak kerbau itu. Maka kerbau besar itu pun menjerit-jerit mengguling-gulingkan dirinya. Maka kalahlah kerbau Ratu Majapahit itu, maka sorak orang pun gemuruh seperti tegar. Maka penggawa yang tiga orang itu pun kemalu-maluan, lalu ia hendak kembali. Maka kata Pateh Suatang dan Pateh Ketemenggungan, "Ya, saudara hamba penggawa Sang Nata berhenti apalah apa tuan hamba dahulu barang dua hari, karena hamba hendak bersuka-sukaan dengan tuan-tuan hamba, tanda kita mufakat, hamba hendak makan minum dengan tuan-tuan sekalian." Maka kata penggawa itu, "Baiklah jikalau tuan suka hamba berhenti."
Maka Pateh Suatang pun membunuh beberapa ratus kerbau lembu kambing itek ayam akan tambul. Maka makan-minum itu dengan beberapa ratus tapaian kilang dan beram tapai. Maka diisinya kepada buluh telang segala minuman itu seruas-ruas buluh serta dipancungnya tajam-tajam ujungnya adalah banyak- nya itu beribu-ribu minum-minuman itu.
Setelah sudah lengkap, maka kata Pateh Suatang pada segala hulubalangnya dan segala rakyatnya, "Hai tuan-tuan sekalian, setelah sudah jemu kita makan, maka tuan-tuan tatang minuman pada buluh telang itu suatu seorang, lalu tuan-tuan tuangkan pada mulutnya sama-sama seorang-seorang. Setelah ia bernganga
lalu tuan-tuan sama-sama meradakkan alamatnya apabila tabuh berbunyi hendaklah sama-sama meradakkan supaya habis mereka itu mati."
Setelah sudah ia berwa'd itu, maka Pateh Suatang itu pun seorang hulubalangnya disuruhnya memberi tahu segala penggawa Jawa itu, suruh duduk bersaf saf di padang hampir Negeri Periangan itu. Setelah sudah ia duduk beratur, maka segala ayer dan hidangan pun ia angkat oranglah ke hadapan segala penggawa itu dan segala menteri dan segala rakyat. Maka kata Pateh Suatang, "Santaplah segala kiai-kiai akan jamu hamba orang Pulau Percha tiada dengan sepertinya." Maka kata segala penggawa itu, "Menerima kasehlah hamba sekalian akan kaseh tuan-tuan sekalian. Maka makanlah sekalian mereka itu masing- masing pada hidangnya."
Setelah sudah ia makan. maka berdirilah segala hulubalang dan rakyat membawa minuman itu seruas seorang buluh telang itu lalu ia hampirlah pada seorang. Maka hendak disambutnya oleh orang Jawa itu tiada diberinya oleh segala rakyat Pulau Percha itu katanya, "Tiada demikian adat kami, melainkan kami juga menuangkan dia kepada mulut tuan-tuan akan memberi hormat jamu kami itu." Maka sekaliannya pun benganga- lah, maka tabuh pun berbunyi, maka sekaliannya pun menuang lalu meradakkan ke kerenkungannya.
Maka setengah mereka itu habislah mati, dan setengah mereka itu lari, maka dalam padang itu beberapa banyaknya pohon-pohon mengkudu habis condong ke timur daripada dilanggar oleh segala rakyat itu lari, sampai sekarang condong juga mengkudu itu semuanya, jikalau tumbuh anaknya condong juga ia ke timur. Maka mayat segala Jawa itu pun busuklah pada padang itu, maka didiaminya tempat itu padang si busuk datang sekarang, dan tempat mengadu kerbau itu dinamainya negeri itu Minangkabau datang sekarang.
Maka segala rakyat yang lari itu pun pulanglah ke Majapahit dengan mashghulnya dan percintaannya, maka ke luarlah ia dari Jambi lalu ia berlayar menuju negeri itu, beberapa lama- nya ia di laut, maka sampailah ia ke Majapahit lalu naik ke
darat sekaliannya menghadap Sang Nata, serta berpesembahkan perihalnya daripada permulaannya kepada kesudahannya, (kata- nya). Demikianlah tuanku akan hal itu. Maka Sang Nata pun tiada berkata-kata lagi, terlalu amat sangat mashghulnya akan segala penggawanya dan menteri baginda yang besar-besar itu yang diharapnya. Demikianlah diceritakan oleh orang yang em- punya cerita ini.
Tamat Hikayat Raja-raja Pasai selamat sempurna yang mem- baca dia dan segala yang mendengarkan dia, istimewa yang me- nyuratkan dia dipeliharakan Allahu subhanahu wa ta'ala apalah kiranya dari dunia datang ke akhirat baqa shafa'a Nabi Muhammad al mustafa sallallahu alaihi wa sallam. Tamat hari ithnain kepada hari duapuluh satu kepada bulan Muharram sanat tujuh hijratul nhabi sangking kiai (hyayi) Suradimangga, bupati sapuh pu negeri Denmak Negeri Bogor, warsa 1742.
Bahwa ini negeri yang tersebut kepada Hikayat Pasai sekaliannya,
- Negeri Pasai, raja-raja Ahmad.
- Negeri di Balek Rimba.
- Negeri Samalanga.
- Negeri Bireuen.
- Negeri Simpang di Ulu Sungai.
- Negeri Buluh Telang Ratu Megat Iskandar.
- Negeri Benua, raja namanya Sultan Malikul Nasar.
- Negeri Barus.
- Negeri Samudera Raja Silu.
- Negeri Ma'abri raja bernama Sultan Muhammad.
- Negeri Perlak raja bernama Sultan.
- Negeri Jambu Ayer.
- Negeri Rama Gandi.
- Negeri Tukas.
- Negeri Pekan ratunya bernama Tun Beraim (Bapa). Bahwa ini negeri yang takluk kepada ratu Negeri Majapahit kepada zaman pecahnya Negeri Pasai, ratunya bernama Ahmad.
- Negeri Tambelan.
Negeri Siontan.
Negeri Jemaja.
- Negeri
- Negeri Serasan.
- Negeri Subi.
- Negeri Pulau Laut.
- Negeri Tioman.
- Negeri Pulau Tinggi.
- Negeri Pemanggil K.rimat.
- Negeri Belitang.
- Negeri Bangka.
- Negeri Lingga.
- Negeri Riau.
- Negeri Bintan.
- Negeri Bulong.
- Negeri Sambas.
- Negeri Mempauh.
- Negeri Sukadana.
- Negeri Kota Waringin.
- Negeri Banjar Masin.
- Negeri Pasir.
- Negeri Kutai.
- Negeri Berau.
- Negeri Jambi.
- Negeri Palembang.
- Negeri Ujung Tanah. Bahwa ini negeri bawah timur.
- Negeri Banda
- Negeri Bima
- Negeri Sembawa
- Negeri Silaparang
- Negeri Asiran
- Negeri K.r.ntok.
- Negeri Ba li
- Negeri Balembangan.
rat sckallannya monghadap Sang Nata, serta beipuekhasokint perlnya darfpada pemuiaannya kepada kesudahanny oe nyal. Demikianlah tuanku akan hal im. Maka-oago8isaęidad
sgla penaya dan er bnda yu
yang diharapnya. Demikianlah dicentakan olchoseiTyuogake8 igaT ualudhsgok.e punya conta ini.
mad al mosta sao al a sal Tama
kepeda ha dpul s kepada ba Muha
egmoM s.81
R agut a
.nignitaW sto.X hsgok4 .0S 2 1ias9 hog94.CS jetu X hogsk4.ES 98 hogV4 .45 Neger Bireuen. .idmal riogsk4.25
- Negeri Simpang sdi Uu Sungsi.
Negen Buluh Tehang Ratu Megat lk andanedmoiey nsasé .a Neged Benua, raja nanahya Sultan MeaneTeneiU iegs S
.aumil fewed inogsn ini awds8Nezea Samudea Raja Siu sbas8 hagel.l
0.N Mba bma S Ma
sadmo2. iegsl gtequli2 hsgs nszizA hogsM2
Negeri Tukas
o1.1.X 7g Bshwa ini negeri yong takluk kepadasgdedheies Hogspahis kepada zaman pecaheya Negori Pasei, ratunya bemana Ahmad.Negori Tanabelan.
- Negeri Stontan