Baca EPUB: Sisa Api di Balik Bendera

2 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Fido
  2. Sisa Api di Balik Bendera
  3. Catatan Muram dari Puing Romantika dan Revolusi
  4. 4 Juni 2025

Fido

Sisa Api di Balik Bendera

Catatan Muram dari Puing Romantika dan Revolusi

4 Juni 2025


Sisa Api di Balik Bendera.
Di sebuah desa yang tak lagi masuk peta,

Seorang perempuan menjahit pagi,

Menambal robek pada langit-langit doa

Yang menganga sejak suaminya pamit

Pada dini hari berselimut takbir.
Aminah, namanya.

Tangannya kurus, tapi tak gemetar.

Ia ingat betul bagaimana suaminya, Umar,

Menyalakan semangatnya bukan dengan cinta,

Tapi dengan kabar-kabar gelap dari radio tua:

Tentang kamp pengasingan,

Tentang anak-anak yang ditangkapi karena melukis bendera,

Tentang mayat-mayat yang dibuang ke sungai

Karena berani membaca puisi lantang.
Umar pergi membawa sepucuk senapan warisan

Dan sebait ayat yang dihafalnya sejak kecil.

Bukan untuk membunuh, katanya,

Tapi untuk menagih harga diri

Yang telah dicuri jenderal-jenderal botak

Di balik podium kaca anti peluru.
Aminah menunggunya tujuh bulan.

Setiap malam menanak rindu

Seperti menanak nasi yang tak pernah cukup

Untuk satu kampung yang sama-sama lapar akan kabar.
Lalu malam itu datang,

Tanpa salam, tanpa langkah.

Hanya ketukan di pintu,

Dan seorang lelaki yang membawa potongan syal merah

Dengan darah yang sudah mengering seperti tanah.
“Dia syahid di utara,” katanya.

“Tersenyum. Tidak ada peluru yang bisa membungkukkan tubuhnya.”
Aminah tak menangis.

Hanya membuka jendela,

Membiarkan angin menampar pipinya,

Dan berkata:

“Kalau negera ini masih tidur,

Biarlah kematiannya yang jadi lonceng.”
Sejak malam itu,

Aminah tak lagi menjahit.

Ia menulis.

Dengan darah Umar yang ia campur air hujan,

Di tembok-tembok sekolah yang dibakar,

Di daun pintu kantor pemerintah,

Di dada-dada rakyat yang diam.
“Syahid bukan akhir,” katanya,

“tapi pintu. Dan aku mengetuknya.”