Baca EPUB: Musim Hitam dan Terbakar

13 bagian · 0.0 detik

Versi OCR mungkin terdapat kesalahan eja, ketik, tata letak, atau hal terkait tipografi. Untuk ketepatan hasil, silakan merujuk pada dokumen asli.

Daftar isi
  1. Farhan M.
  2. Musim Hitam dan Terbakar
  3. Juni/2025
  4. Pengantar
  5. GEJALA KEHANCURAN KIAMAT API
  6. DUNIA KEMBANG TERBAKAR
  7. DENDAM DAN PENGULANGAN
  8. MUSIM HITAM
  9. HIKAYAT RAJA GENI
  10. YANG PURBA DAN KEHENDAK
  11. KAN JELANG TIADA AKHIR
  12. NOKTAH HITAM KEMATIAN
  13. WAKTU DAN KEKACAUAN YANG LAIN
  14. KIAMAT PEMBEBASAN
  15. tentang penulis

Farhan M.

Musim Hitam dan Terbakar

Juni/2025


Pengantar

Apa yang kau genggam sekarang bukan sekadar kumpulan puisi prosa. Musim Hitam dan Terbakar adalah pecahan meteorit dari laboratorium jagad yang terbengkalai. Juga sisa-sisa percobaan Tuhan yang lupa akan dirinya sendiri. Hanlelono Ijauparang tidak menulis setiap puisi untuk dirayakan. Ia meracik setiap prosa dari residu entropi, dari percikan anti-materi yang menolak stabil.

Setiap kata, setiap baris di Musim Hitam dan Terbakar adalah sabda pembohong: bukan untuk menjemput juru selamat atau membangun kerajaan baru ditengah kehancuran yang dahsyat, tetapi untuk menegaskan satu hal: “kita ada karena kita terbakar dan terbakar.” Tak ada yang suci dan menyucikannya adalah lelucon terbaru. Sebab, dalam kumpulan puisi ini, Tuhan hanyalah molekul yang lumpuh dalam labu pecah.Surga adalah gas ringan yang menguap sebelum sempat mengendap. Dan moralitas? Sekedar kerak karbon di dinding reaktor dunia yang cacat.

Ijauparang tidak mengajak kita untuk memahami dan mempercayai setiap kata, tetapi sekali lagi—untuk meledak dan terbakar bersama—menolak gravitasi dunia dan mengoyak piranti hukum-hukum lelah yang mengurung diri Anda dalam kehancuran. Saat saya membaca kumpulan tulisan ini, hampir tidak ada sedikitpun celah kosa kata tentang “Keselamatan”. Dan jika kalian menyelami buku ini dengan harapan akan 'selamat' dari kekalahan dan babak belur akhir pekan, maka lempar dan buang!

Jika kalian mencari hukum indah tentang utopia dunia, tutup halaman ini. Tetapi jika kalian memiliki hasrat untuk menari dalam badai atom terakhir, maka masuklah dan selami. Selamat membaca, selamat datang di Musim Hitam dan Terbakar.

Tirto Danu


GEJALA KEHANCURAN KIAMAT API
biar dunia terbakar, biar api menyala setiap janji—biarkan

seluruh langit runtuh menjadi abu, dan tak akan ada yang peduli.
apa arti semua di tengah kehancuran yang terabaikan, bergulir

seperti debug dalam badai tak berujung?
apa yang tersisa dari dunia yang busuk ini, biarkan dunia

tenggelam dalam amarah, dan membiarkan semua yang terbelenggu

di dalamnya terbakar dalam api kebencian yang tak bisa

dipadamkan.
karena aku tidak menghendaki penyelamat—aku menghendaki

kehancuran, agar dunia ini bisa mengakhiri penderitaannya,

dan aku bisa mati dalam kesunyian yang pasti.
aku, yang mengerti kebenaran pahit ini, tertawa di dalam kelam,

menyeru kematian yang lama ku rindukan.
apa yang ditunggu dari dunia yang rapuh ini?

harapan hanyalah pengkhianatan yang dibungkus dengan janji

kosong—mereka menyebutnya "kehidupan",
tapi apa yang bisa dijalani selain mimpi yang gagal?

Keletihan, memuaskan akan kesia-siaan, dan di akhir semua ini,

yang menunggu hanya mengecewakan.
karena di sini, dalam kehancuran, aku menemukan

kebebasanku, bukan di dalam pelukan "kehidupan" yang

mengikat, namun di dalam kehancuran yang sejati— yang

menanti dengan tangan terbuka.
aku berani membayangkan—aku tak takut pada kematian, aku mencari

kematian, karena dalam kehancuran, aku menemukan diriku

yang sejati.

DUNIA KEMBANG TERBAKAR
di sini, aku berdiri dengan tangan terangkat—tidak berdoa

atau menyembah, tapi untuk mengutukmu, dunia yang hina!
aku tidak butuh surga palsu yang kau janjikan! aku lebih suka

menjadi pembakar, menyalakan api dengan kata-kata yang

memberangus hati-hati bebal!
dan mereka yang takut pada kehancuran—biarkan terjebak

dalam jeruji ketakutan,
aku lebih suka merobek langit dengan kebencian!
Persetan! dunia ini hanya layak dihancurkan lebih lanjut, dan

hanya ada satu yang tersisa: keberanian untuk hidup dalam

kebenaran yang penuh darah.
tidak ada ampun untuk dunia yang mati! tidak ada

kerajaan untuk para malaikat bodoh yang masih menyembah!
aku adalah api yang membakar dalam kegelapan ini, dan aku

akan membiarkan semuanya terbakar, karena dunia ini tak berdaya

layak diselamatkan.

DENDAM DAN PENGULANGAN
seperti tahun-tahun yang hilang,

aku menyimpan kenangan

ke dalam dendam.
janji-janji yang gagal ditepati, musim bunga

yang gugur belaka, keniscayaan berulang

yang habis entah kemana.
maka disinilah kita, kabar terakhir

dari dasar botol, menuang penyesalan

dan pungkas teguk pesakitan.

MUSIM HITAM
sampailah kita pada musim hitam.
orang-orang membaca cuaca, kita peduli setan—

hanya patah—seperti seharusnya.
ketiadaan berulang kesekian, kita ke dalam kekecewaan

masing-masing, hidup memang diperuntukkan

bagi pesakitan yang telah ditetapkan

sejak mulanya.
adalah saat ini: diantara kau dan ingatan,

aku memilih kehilangan; menjadi penghabisan,

badai, dan kematian.
tak ada kebangkitan api atau balas dendam,

yang berjejak hanya bayang kita sendiri, berjalan

perlahan melewati diri kita yang lain, yang diam

lelap di laju jalan.
"kenangan terakumulasi dalam rentetan

waktu acak tiada henti melawan hukum

ruang dan keberlangsungan".

HIKAYAT RAJA GENI
suatu hari yang api—

ketika mataku membara

& tak ada lagi yang kubaca selain kematian,

berdirilah pedang pemberontakan.
menjerumuskan ku pada hantu

solidaritas, bakar habis jasad dengan

omongan kosong, yang dibawa oleh imam pembawa

keyakinan semu—sebuah lawakan delusi.
bahwa api dapat dilawan dengan bunga

bahwa kejahatan dapat dilawan

dengan perasaan—kebodohan yang lain.
api hanya dapat melawan dengan api.
tapi namun, aku

terlampau jauh pada pengrusakan batin,

aku terlanjur cinta pada pemberontakan.
sebab hatiku tipu daya tuhan 1000 mimpi;

tempat paling racun atas semua harapan,

namun aku rela mati karenanya.

YANG PURBA DAN KEHENDAK
dari dan ke manusia

kita panik badai api balas dendam purba

seribu masa
kekalahan-kekalahan hidup

dan segala makna hampa

yang menjadi dogma
ialah racun diantara remuk-redam

bencana harapan
kesakitan menjadi kesaksian

sinyal marabahaya bagi hati

yang mendamba tiada
begitu pula kebahagiaan

adalah raut semu yang kau

tampakkan belaka
amarah dan tangis adalah

perasaan tanpa nama yang

tak ada tahu benar sampai

sekarang atau sejak mulanya
maka dengan segala kekosongan ini

hidup adalah kekasih kematian

paling purna tanpa hitungan purnama

KAN JELANG TIADA AKHIR
ingin kujejalkan langit

ke dalam sumur hampa,

palung hatimu yang batu.

seraya gugus bintang serupa pasir

yang bagaikan bulir,

menyebar ke seluruh aliran darahmu.
biar jadi rasi dan kerlip sihir,

mata angin dari mangu jiwamu yang

selalu malam dan hening.
lalu akan kulelapkan juga mimpi

ke dalam kepalamu,

tidur yang mati dan luhur.
di sanalah muara

lautan luas diarungi bahtera

peristirahatan lalu-lalang kota

dan segala macam jenisnya
namun, jikalau sampai sana

tak kau temukan apa-apa,

segera menerjanglah melesat

dengan sepenuh daya.
menembus perasaan-perasaan tanpa

nama, bumi tanpa dasar, langit tanpa batas.

menghancurkan ruang dan waktu

melebihi kecepatan cahaya.

NOKTAH HITAM KEMATIAN
akan tiba hari itu,

ketika langit diselimuti api.

bumi mendekam,

cinta menjadi marah,

di atas liang lahat kita.

WAKTU DAN KEKACAUAN YANG LAIN
waktu yang tak kasat mata, memejam malam, memahat terang,

menyalakan genderang perang.
dalam tiap nasib, dalam tiap detik, semua mesti terkoyak dan

mati, menyisakan debu di antara ribuan debu di langit yang tak

pasti.
ialah berhenti, rintihan purba yang telah lama berbisik dalam

lorong-lorong sunyi yang terlupakan, dan ia ku persilakan.
aku—sekuntum mawar yang mengering dalam diam, melawan

hukum-hukum waktu dan ruang, mempercayai segala sesuatu

abadi hanyalah gambaran, segala yang hidup adalah

mengajukan pada maut.
Petrus yang ragu di ambang pintu surga, mendapati dirinya

sendiri sebagai tuhan yang terlupa. berkeliling dalam kabut

menerima, menerima bahwa di akhir dunia, kita semua

adalah dewa yang terlantar.
waktu menggerogoti kita tanpa ampun, namun, berhenti selalu

menawarkan kebebasan yang tak terduga. Sepertinya tidak ada

langit yang abadi, dan bumi layak dibakar.
dan kita para pembebas, menjadi jiwa orang-orang yang mati

sebelum mati, menunggu berhenti yang seharusnya datang jauh

sebelum dunia ini lahir.
untuk apa menunggu waktu jika waktu itu sendiri adalah ilusi?

kita adalah api yang tak padam. menentang semua sejarah, dan

menerima penghargaan sebagai senyuman pertama dari kehidupan

yang sejati.

KIAMAT PEMBEBASAN
langit yang patah, dunia terbakar.

semua jadi abu, dan api bertabrakan dalam gemuruh.

menerjang, menelan, tanpa sisa.

seluruh ratapan hilang dalam angin.
seperti bintang yang jatuh ke dalam lautan malam, kita jatuh

dalam pelukan maut, tanpa belas kasih.
setiap kali nafas terhenti, dan tubuh runtuh, adalah tarian baru

di atas api yang membakar jiwa kita sendiri, menyerahkan segala sesuatu pada rahasia yang kita ciptakan.
lalu apa yang tersisa dari kehancuran ini, adalah kesenangan,

langkah dalam kegelapan yang tak terperi, menuju kebenaran.
tanpa surga dan penebusan,

hanya api dan abu.

tentang penulis

Farhan M., biasa disapa Farhan. Senang membayangkan puisi sebagai alternatif dunia yang kapan hari ia yakini akan terjadi, termasuk pada Musim Hitam dan Terbakar yang merupakan rilisan puisinya yang kesekian.

"kiamat adalah cinta yang muncul tanpa kata,

api yang menyala di dada langit, ribuan kali membakarku dengan lantang,

dan aku akan selalu rela jatuh di dalam kobarannya."

(Farhan M./2025)