you can't t rus t
5ULM:5:
ZINE
juli282日
-TIDAK SPESIAL-
jangan terlalu banyak berharap
hidup tidak begitu istimewa
apalagi isi zine ini
-EDISI JULI 2020-
A A
sebuah media ala kadarnya yang bersedia menampung segala keluh kesah dan menanggung beban isi kepala
Msemua kontributor yang berada di sini.M
isi dalam zine ini sepenuhnya adalah opini pribadi para kontributor. simpan saja opinimu sendiri, atau kirimkan pada kami.
kirim karya gambar, tulisan, puisi, ocehan, A A resensi musik, film, dan lain sebagainya ke email: [email protected] tegur sapa bisa dialamatkan ke twitter: @submisi_zine atau instagram: @submisi
penyunting: kusmartono aji R R penata letak dan perancang sampul: @joeyaholic kontributor: terlampir di setiap submisi
anda dapat menyalin, menyebarluaskan kembali, menggubah, dan membuat turunan dari materi ini untuk kepentingan apapun, selama anda mencantumkan identitas kontributor yang
Asesuai, dan menyatakan bahwa ada perubahan yang dilakukanA
(jika ada).
H H
kami kembali meniadakan
lembar daftar isi di zine ini
dengan sengaja agar kalian
dapat menjelajahi rimba halaman
hingga tersesat dan membiarkan
tiap-tiap dari kalian menikmati
ketidakteraturan di dalamnya
Yanka Instagram: @bertolakbelakang Twitter: moraldilemma_
Tunduklah Rakyat, Tunduklah Rakyat, Jangan Mengeluh, Jangan Mengeluh, Jangan Melawan! Jangan Melawan!
Tunduklah Rakyat, langan Mengeluh, Jangan Melawan!
Pernahkah kita berpikir tentang eksistensi kontrol kebutuhan individu? Kita hidup, tapi tidak mengontrol secara otonom kebutuhan masing-masing. Secara naif kita menyerahkan seluruh kontrol kebutuhan kepada perwakilan. Dan saat perwakilan itu berbuat cabul dan sewenang-wenang, kita berang, kita marah, kita kutuk mereka. Lalu, mengapa tidak sejak awal saja kita ambil alih sendiri kontrol kebutuhan kita? Bukan malah hanya mengerang ketika perwakilan itu berbuat cabul dan sewenang-wenang.
Suara yang kita berikan kepada partai-partai kenamaan itu adalah fana. Kita bahkan tidak mengerti apa keinginan kita, apa kebutuhan kita. Dengan polosnya kita meng-iya-kan pidato-pidato partai yang serba kepalsuan. Kebutuhan kita seakan didikte oleh partai. Sedangkan kebutuhan fundamental kita terlupakan, seolah hilang ditelan narasi konyol partai. Narasi yang menggebu-gebu membuat kita terlena akan kepalsuan mereka. Bertahun-tahun mereka berjanji, bertahun-tahun pula mereka mengingkari. Tak ada yang sadar, atau tak ada yang mau tersadar. Kebutuhan dan keinginan kita didikte oleh partai, bukan menurut hati nurani atau pemikiran sendiri. Kita tidak merdeka, kita didikte, kita diarahkan, kita diplonco, kita ditipu, tetapi kita diam, seolah semua itu adalah kelaziman.
Tunduklah Rakyat, Jangan Mengeluh, Jangan Melawan!
Lalu semua partai tadi tiba-tiba menjelma menjadi penguasa. Penguasa yang mengatur seluruh aspek kehidupan kita, mulai makan hingga bercinta, mulai bangun tidur hingga tertidur kembali. Janji-janji mereka terus saja beterbangan bagai celana dalam tertiup topan.
Tak ada yang tersadar mereka sedang membual ketika menunjukkan hasil kerja mereka. Semua data diolah sedemikian rupa sehingga membius seluruh pembacanya. Bukan sulap bukan sihir. Lalu rakyat dipaksa diam. Ketika mereka sedikit mengeluh tentang keadaan, mereka dicerca, dibunuh karakternya, dibantai pemikirannya, dipaksa untuk tunduk terhadap penguasa. Keluhannya dianggap sebagai kelemahan diri yang dilarang untuk ditunjukkan.
Penguasa dengan sombongnya memotivasi bahwa masih banyak yang hidup lebih sengsara daripada kita. Tapi kita lupa, penguasa duduk dengan kursi empuk, tidur bersanding gunung harta, dan makan hingga keluar semua isi perutnya. Mereka tak akan pernah tahu penderitaan kita, karena mereka memang tak pernah menderita. Sekalipun mereka pernah menderita, kehidupan sekarang yang bergelimang harta akan membuat mereka lupa. Penderitaan mereka hanya akan dijadikan bahan promosi untuk pemilihan selanjutnya. Sedang kita ditidurkan dengan janji, motivasi, dan bualan mereka. Kita tertidur nyenyak di antara kesusahan rakyat. Kita tertidur, dan tak pernah bangun.
Tunduklah Rakyat, Jangan Mengeluh, Jangan Melawan!
Penguasa bahkan dengan sombongnya menggunakan agama untuk menenangkan rakyat. Dalil-dalih agar rakyat tunduk kepada pemerintah dan tidak memberontak dikoar-koarkan. Pekiknya: Demi stabilitas publik! Demi stabilitas publik! Tapi semua itu fana. Tak pernah ada stabilitas publik jika kesenjangan terus saja disuburkan. Kestabilan tak akan pernah ada jika yang kaya terus memakan harta si miskin.
Bagi para penguasa, kehidupan kita hanya main-main. Dipermainkan bagai bendera yang digoyang angin. Diangkat, dijatuhkan, diangkat, dijatuhkan, terus-menerus hingga kita menganggap itu sebuah kelaziman. Sialnya kita diam, termenung meratapi nasib, tapi tak pernah sedikitpun kita bergerak, sial!
Hal yang paling aku benci adalah ketika penguasa itu berkata pada kita untuk mempercayainya, berkata untuk tidak memberontak, diperintah diam dan jangan mengurus hidup bernegara. Bertingkah sok profesional adalah senjata ampuh untuk meredam rakyat.
Tunduklah Rakyat, Jangan Mengeluh, Jangan Melawan!
Lalu para akademisi dan tokoh agama bayaran memaksa kita untuk diam, menuruti kemauan penguasa, sambil kita mengais sisa-sisa makanan si kaya untuk makan hari ini hingga esok, hingga lusa, hingga kita lupa bahwa penguasa itu kekenyangan. Sialnya sedikit sekali yang bergerak, atau paling tidak bersuara. Mereka hanyut dalam sebuah kelaziman palsu, zona nyaman palsu. Apa kalian berpikir hidup dengan mengkhawatirkan hari esok itu lazim? Apakah itu zona nyaman? Biar kutampar mulut kalian yang berkata itu lazim, berkata itu nyaman.
Tak ada kelaziman dari perut buncit penguasa. Tak ada kenyamanan di tengah kesenjangan. Sadarlah kawan, sadar! Tunduk pada sesuatu yang perlu ditunduki. Tetapi kepada penguasa saat ini, dengan buncit perut busuknya, janganlah kau tunduk! Desak mereka dengan pertanyaan-pertanyaan. Biar mereka sadar, kesengsaraan kita benar adanya. Mereka tak akan pernah sadar jika tidak kita seret mereka ke bawah.
Sesuai ujaran Wiji Thukul;
“aku akan memburumu seperti kutukan!”
Basijul Instagram/Twitter: @basijul Lahir di malang dan sedang berkuliah di Surabaya. Sedang berumur dua puluh tahun. Hobi menulis juga kadang camping. Sedang dalam perjalanannya mencari arti hidup.
When a person dies, brings "Invisible lies" as they are said to have the right of heaven, they reject it as they reject themselves, shit hypocritic has happened here!.
@sendapriyadi
Perempuan Dengan Api di Matanya
Siapa tak geram bila pujaan hati mulai dirayu oleh orang lain. Lebih sialnya lagi bila sang kekasih malah termakan oleh bujuk rayu tersebut.
Cemburu benar benar menguasai kepala Ratih malam itu. Selepas belanja tadi sore di Warung Mak Ijah, angkara murka bertengger di kepalanya tak mau beranjak. Sesuai dengan kesimpulan kongres sore ibu-ibu. Baron, suami Ratih telah terbukti main gila dengan Sumirah, perempuan janda satu dari kampung sebelah. Riset-riset yang dilakukan para ibu-ibu telah sangat meyakinkan, mulai dari Bu Ella yang melihat Baron dan Sumirah berboncengan ke arah pasar malam di kota. Belum lagi Bu Minah yang pernah melihat Sumirah diam diam mengantarkan rantang kepada Baron di sawah untuk kemudian mereka memadu asmara di pondokan sawah. “Hai sayang, makan apa kita malam ini?”
Baron baru pulang dari sawah dan bersiap untuk membasuh diri. Ratih diam saja dengan sungguh kesal, namun Baron belum menangkap hal yang aneh. Baron masih menganggap semuanya biasa, tak ia tangkap api cemburu berkelebatan di mata istrinya.
Selesai mandi, Baron sesegera mungkin melompat ke meja makan. Namun, tak ia temui istrinya. Tak ambil pusing dengan semua itu, Baron langsung menyambar apa yang ada di hadapannya. Palingan Ratih sedang gosip di rumah tetangga. Simpulan itu melancarkan makanan masuk dengan cepat ke mulut Baron.
Perempuan Dengan Api di Matanya
Api cemburu yang sudah membakar Ratih tak mampu lagi ditahannya. Kali ini bukan cuma mata tapi seluruh tubuhnya adalah cemburu. Ia bergegas kali ini dengan langkah tergesa menuju pinggiran kampung yang cukup kelam. Langkah yang teratur dan cepat akhirnya berhenti di sebuah gubuk kelam yang berada di pinggiran desa tersebut.
Empu Doyok adalah seorang dukun yang cukup terkenal di kampung tersebut. Bukan hanya terkenal kesaktian mantranya, namun ia juga dikenal sebagai seorang dukun yang mesum dan cabul. Sudah menjadi rahasia umum bagi orang orang kampung perihal otak mesum Empu Doyok ini. Bahkan semua juga tahu kalau Empu Doyok bisa dibayar dengan menawarkan seorang pelacur. Tapi bagi para pelanggannya itu tak masalah karena kesaktian mantra Empu Doyok yang luar biasa.
Ratih sebenarnya memiliki rasa takut untuk menemui Empu Doyok, namun api cemburu kadung membakar habis rasa takutnya. Kemudian Ratih mengetuk pintu gubuk tersebut.
Perempuan Dengan Api di Matanya
“Halo Kek, Selamat Malam”, sembari Ratih terus mengetuk pintu gubuk dengan tangannya yang gelisah. Tak lama kemudian seorang kakek tua membukakan pintu dan mempersilahkan Ratih untuk masuk ke gubuk tersebut. Suasana yang agak gelap dan cukup kelam tentu akan dijumpai di gubuk Empu Doyok. Wangi minyak kemenyan yang bertebaran di seluruh ruangan gubuk bukanlah hal yang aneh. Beberapa boneka dari jerami juga akan tampak ketika memasuki gubuk. Ada satu meja kecil di ruangan tersebut. Meja yang penuh dengan ramuan-ramuan. Di situlah biasanya Empu Doyok menjamu para tamu atau langganannya.
“Silahkan duduk, nak!”, suara lembut Empu Doyok mempersilahkan Ratih. “Iya kek, Terima kasih”
“Ada keperluan apa anak yang cantik jelita menemui kakek yang kesepian ini?” “Saya mau seseorang celaka, Kek”
“Waduh, wajah jelitamu ternyata hanya topeng dari jiwamu yang mengerikan itu ya, nak” “Sudahlah kek, tak perlu kau menghakimi ku”
“Hehe. Maaf nak. Jadi siapa yang hendak kau celakai ini “ “Namanya Sumirah, dia perempuan dari kampung sebelah. Dia ada main gila dengan suamiku”
“Ya, tapi kau tahu kan...”
Perempuan Dengan Api di Matanya
“Sudahlah kek. Aku paham betul. Tak perlu kau lanjutkan. Aku siap semalam berbagi ranjang denganmu asalkan untuk malam malam selanjutnya aku bisa dengan nyaman kembali meranjang dengan suamiku”
“Baiklah, besok akan kau dengar dari kampung sebelah, bahwa Sumirah akan celaka. Kau tenang saja, suamimu akan kembali padamu”
Kemudian malam menjadi sangat tenang. Seorang kakek dan perempuan cantik dengan buah dada yang masih ranum pula bersenggama dengan tentram. Keesokan harinya Ratih agak berlama-lama di warung Mak Ijah. Warung Mak Ijah merupakan tempat yang menjadi pusat informasi di kampung tersebut. Lama sekali sudah Ratih di warung tersebut, namun kabar yang selalu dibicarakan bukanlah hal yang ingin didengarkannya.
Seminggu sudah kini, hingga Ratih tak sabar. Ratih bergegas ke kampung sebelah dan di sana ia menemui seorang perempuan bernama Sumirah masih sangat sehat. Ia pulang setelah melemparkan senyum kepada lelaki kampung sebelah yang menyiulinya.
Melewati sebuah hutan yang tak luas, untuk kemudian sampai di pinggiran desa. Tak pikir panjang Ratih langsung menuju gubuk Empu Doyok dengan langkah tergesa masih dengan api di matanya. Kali ini bukan hanya api cemburu namun ada api lain yang tak kalah besarnya. Digedornya pintu gubuk dengan tangannya yang murka.
Perempuan Dengan Api di Matanya
“Eh, nak Ratih. Silahkan masuk, nak.” “Kenapa Sumirah belum celaka? Mana kesaktian mantramu? Hanya bualan belaka. Dasar bajingan!”
“Jangan kau sangsikan kekuatan mantraku Nak Ratih“ “Mantramu itu gagal. Kau dukun cabul penipu!”
“Ah, kau takkan paham” “Paham apa? Paham bahwa kau adalah penipu yang mesum?”
“Kau takkan mengerti betapa aku menikmati malam itu. Buah dadamu yang ranum. Bibirmu yang merah dan indah itu, serta caramu mengulum bibirku. Pahamu yang putih dan bersinar. Betapa kehangatan dari sebuah kelembutan yang tiada tara” “Aku sudah paham otakmu mesum, bajingan”
Perempuan Dengan Api di Matanya
“Sejak malam itu aku memikirkanmu terus. Hingga kubulatkan tekadku, biarlah si Baron itu dengan Sumirah, mungkin saja kau bisa jadi milikku” “Dasar sinting!” Tiga tusukan ke arah perut, membuat Empu Doyok mati lemas dengan darah yang bercucuran memenuhi gubuknya.
Kemudian Ratih pulang ke rumahnya. Didapatinya Baron sedang makan. Empat tambah satu tusukan penuh amarah menghujam punggung Baron. Baron juga mati lemas dengan darah yang membanjiri rumah mereka. Sumirah kemudian pergi ke belakang dan membasuh diri.
Andreas Hutauruk | Stirneria Instagram: @stirneria | Twitter: @Larva98036517 Individu yang biasa saja, tak istimewa, sederhana Suka mabuk bila punya uang Malas kuliah tapi dipaksa orang tua
alibasdaysar / @alibasdaysar cek website aja sabilarasyad.com biar naik trafficnya
| Illustration: Lau Ka-kuen (www.scmp.com) | |
|---|---|
| Di Tengah Wabah, Kami Marah! | |
| Indonesia sedang mengalami masa pandemi COVID-19. | |
| Di tengah pandemi, masyarakat diimbau untuk tidak | |
| melakukan segala aktivitas dan berdiam diri di rumah. | |
| Sekolah dan kampus diliburkan, beberapa kantor pun | |
| turut diliburkan. Mengisi waktu libur sehari-hari yang | |
| selalu ditemani dengan rokok dan lagu dari berbagai | |
| genre nampaknya akan dirasa lebih produktif jika diiringi | |
| dengan menulis berbagai hal yang cukup memenuhi dan | |
| mengganggu isi kepala. |
Bagian 1 : Lelucon dan Akumulasi Kapital yang
Berlumur Darah
Kita semua mengetahui pada awal corona mewabah di China, beberapa pejabat kita memberikan pernyataan bodoh dan terkesan menyepelekan bencana ini. Saya masih ingat betul ketika di suatu hari menonton sebuah berita dengan headline “Ayo Berlibur, Jangan Takut Corona” di sebuah televisi swasta. Selain itu, kita juga mengetahui bahwa pemerintah mengucurkan insentif puluhan miliar demi memulihkan sektor pariwisata. Kebijakan seperti ini tentu tidak mengherankan bagi saya karena pemerintah Indonesia sedang menggenjot investasi di berbagai lini demi akumulasi kapital. Namun, dengan berbagai orang pintar dari sarjana hingga profesor, apakah tidak ada yang memikirkan akibat dari kebijakan tersebut? Oh iya, di bawah kapitalisme tentu uang adalah tuhan. Tidak ada yang lebih penting dibanding uang! Di tangan para pejabat, berlumur darah para korban, keringat para petugas medis, dan kecemasan kita semua.
Bagian 2 : Enak ya punya privilege.
Kepanikan terjadi di masyarakat ketika pemerintah mengumumkan ada satu kasus positif corona. Supermarket mendadak disesaki orang-orang yang melakukan panic buying. Tapi tidak semua orang bisa melakukannya. Tentu hanya mereka dengan privilege ekonominya yang bisa melakukan itu, lalu bagaimana dengan mereka yang hidup pas-pasan dan hanya mengandalkan penghasilan harian untuk menyambung hidup?
Di Tengah Wabah, Kami Marah!
Selain panic buying, kesenjangan bisa kita lihat ketika Pemprov DKI Jakarta mulai membatasi armada Transjakarta dengan tujuan mengurangi kontak antar penumpang. Namun, yang terjadi adalah membludaknya antrian panjang di halte Transjakarta. Membludaknya antrian membuka mata kita bahwa masih banyak orang yang tidak bisa pergi bekerja menggunakan kendaraan pribadi dan masih mengandalkan angkutan umum untuk bekerja menyambung hidup.
Kecemasan berlanjut di masyarakat yang masih harus beraktivitas seperti biasa. Mereka, khususnya para kelas pekerja, dari pekerja kantoran berkerah hingga buruh dan ojek online yang masih bekerja dan tentunya banyak melakukan kontak dengan orang lain, sehingga rentan terpapar virus corona yang mengharuskan mereka untuk melakukan tes sebagai bentuk keselamatan kerja dan tindakan pencegahan agar tidak mewabah di lingkungannya. Namun, biaya tes yang mahal dan tidak ditanggung oleh perusahaan kembali membuat para pekerja berpikir dua kali. Tentu, membeli kebutuhan pangan jadi pilihan utama mereka.
Ironi lainnya adalah ketika para pekerja dan pelajar bisa melakukan pekerjaan dan belajar dari rumah, di sisi lain banyak orang yang bahkan untuk mencari tempat berteduh saja harus berpindah-pindah dari emperan ruko ke emperan lain. Saya sangat mengapresiasi kawan-kawan dari P.S.T.O Betlehem yang mengokupasi dan menduduki gedung tidak berpenghuni milik UKSW walaupun akhirnya diusir oleh para anjing pelindung -
Di Tengah Wabah, Kami Marah!
pemilik modal di tengah wabah yang terjadi, dan itu sungguh tidak etis. Oh ya, satu lagi yang lebih lucu dari bagaimana kesenjangan ini terlihat adalah ketika para borjuis lebih memilih pergi ke Singapura, sebuah hiburan sekaligus ironi yang memperlihatkan kesenjangan sosial yang terjadi di Indonesia.
Bagian 3 : Penghidupan, Kepastian dan Masa Depan
Bagian ini adalah bagian terakhir. Ditemani lagu Ironi dari Kelompok Penerbang Roket dengan liriknya “Dunia ini penuh kegilaan”. Ya, di bawah kehidupan yang segala sesuatunya bisa dijadikan komoditi tentu bisa membuat orang gila memikirkan ketidakpastian akan penghidupan dan masa depan. Akibat pandemi, belakangan ini terjadi penutupan beberapa mall, tempat kerja, sekolah, dan kampus demi menghindari pandemi corona. Penutupan beberapa tempat kerja menghasilkan sebuah ketidakpastian upah bagi para pekerja. Menteri Ketenagakerjaan telah mengeluarkan surat edaran bagi perusahaan terkait ini. Di dalamnya menyinggung permasalahan keselamatan kerja dan upah. Namun itu cacat hukum dan perusahaan tidak berkewajiban menjalankan instruksi dalam surat edaran tersebut karena surat edaran tidak dikenal dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia.
Dengan begitu, kepastian upah dan keselamatan kerja tentu tidak terjamin. Ketidakpastian upah tentu menimbulkan kekhawatiran untuk penghidupan dan masa depan. Dalam hal penghidupan, ketika upah menjadi tidak pasti tentu berdampak pada kepastian pangan -
Di Tengah Wabah, Kami Marah!
(makanan). Masa depan anak-anak dari para pekerja juga terancam karena tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Seperti kita ketahui, makanan dan pendidikan adalah hak bagi semua orang. Namun di era dimana semua itu dikapitalisasi, tentu tidak ada jaminan bagi setiap orang untuk mendapatkan hak tersebut.
Dengan begitu, untuk saat ini mari kita luapkan kemarahan, tidak perlu memikirkan alasan bagi kita untuk marah. Petakan dan alamatkan kemarahan kita kepada para bajingan di istana sana. Bahwa tidak semua orang bisa diam di rumah, sebab untuk berlindung dari hujan dan panas matahari saja mereka harus berpindah-pindah, tak semua orang bisa diam di rumah sebab untuk penghidupan mereka harus memungutnya dari jalan, pasir, dan tanah di bawah terik matahari.
Enyahlah kemarahan kami! Sebab ketika kami lapar, mereka tidak memberi kami makanan, ketika kami haus, mereka tidak memberi kami minum, saat kami berusaha memastikan kecukupan pangan, mereka malah menggusur dan membunuh kami. Kami marah pada mereka yang seharusnya bertanggung jawab, tetapi malah berguyon sambil menikmati privilege dan fasilitas mewah, kami menuntut kepastian pangan, pendidikan, dan tempat tinggal dengan gratis, sebab itu semua adalah hak kami. Mereka telah mencurinya dari kami dan mengkapitalisasinya.
Kafila Raudya Twitter: @bobigoodboy Seorang mahasiswa Ilmu Politik yang menulis untuk mengisi kegabutan, senang ternak lele dan menanam sayuran.
BOM WAKTU
Terkadang ada suatu peristiwa atau tekanan yang membuat pikiran kita menjadi bercabang bagai memori yang terpotong, bahkan ia menghasilkan suara yang amat bising memekakkan. Ada saatnya bagian dalam dirinya sudah tidak kuat lagi menahan tekanan emosional yang begitu mengikat. Kebanyakan dari mereka tidak akan menunjukkan kesuramannya keluar, apalagi bercerita. Ia akan menangis, berteriak sekencang-kencangnya dalam kurungan raganya. Ini semua akan menjadi bom waktu di saat yang tepat atau bahkan tidak tepat. Ia akan hancur atau bahkan menghancurkan.
Momol Ciao Twitter: @momolciao
- Illustrator in content creator and make free artwork • Collage Art Enthusiast. Malang
Kritik Harari untuk Indonesia: Review "The World After Coronavirus"
Harari tentu saja tidak menyinggung tentang Indonesia. Harari juga tidak secara eksplisit membahas bagaimana sepak terjang pemerintah Indonesia melawan pandemi. Namun aku pikir, pesan-pesan yang diberikan Harari dalam tulisan berjudul “The World After Coronavirus” bersifat universal. Terlebih merupakan pelajaran bagi siapa saja yang cukup berani melakukan otokritik. Indonesia dalam menyikapi pandemi tidak berbeda dengan anak di bawah umur; sembrono, dan cenderung menganggap segala hal sepele.
Sejak awal, narasi yang dibangun oleh pemerintah dalam menyikapi pandemi menurutku sangat tidak profesional. Beberapa tentunya, tidak seluruh figur publik, sibuk bermain lidah dan membuat ketenangan artifisial. Bahkan sampai saat ini, saya merasa bingung, sebenarnya, siapa yang membuat kacau, virus itu sendiri, atau cara kita menghadapinya?
Pemerintah beropini nyeleneh bahwa doa qunut dapat menyembuhkan pandemi, Covid-19 adalah flu biasa, serta lip service lain. Harari berkata bahwa public authority yang tidak bertanggung jawab dan anti-sains merupakan satu masalah. Kebohongan yang terus bergulir di awal, membuat rakyat menganggap remeh pandemi, lalu berakhir jadi momok. Kebohongan juga berdampak pada hilangnya kepercayaan dari rakyat atas negara.
Agar kebijakan publik dapat terlaksana, diperlukan dukungan publik, dan dukungan publik dapat terwujud jika kepercayaan dari pemangku kebijakan serta rakyat saling bertemu. Tidak heran meski telah diberlakukan PSBB kala itu, masih saja terdapat tempat ramai. Kelaziman baru, bahkan, terasa seperti bentuk paksaan terselubung oleh negara untuk rakyat.
Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura menjadi bukti bahwa tindakan represif serta PSBB (kebijakan pembatasan aktivitas sejenis) tidak diperlukan jika trust telah dibangun. Kepercayaan membuat rakyat terinformasi dengan baik, sukarela, dan termotivasi menghadapi pandemi bersama.
Kepercayaan mencipta satu persepsi yang sama baik dari rakyat dan juga pemerintah. Kunci melawan pandemi, lebih didasarkan pada sistem kolektif, membutuhkan kontribusi dari tiap individu yang memiliki edukasi, dan mengerti apa yang sedang terjadi. Tidak akan pernah muncul diksi new-normal jika negara sigap dan punya “gudang senjata” yang masif.
Hal lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah, jika Harari menganggap dikotomi antara privasi dan kesehatan merupakan akar masalah dalam pendekatan untuk menyelesaikan pandemi, kasus berbeda dialami oleh Indonesia. Rakyat entah bagaimana memandang serta mempersepsikan, terdapat suatu trade-off dalam upaya penyelamatan; ekonomi atau kesehatan, dan yang paling buruk, rakyat percaya bahwa trade-off semacam ini mutlak.
Aku, menempatkan diri sebagai rakyat, mengingatkan bahwa kita tidak boleh berada dalam kondisi yang secara nyata harus memilih satu, hanya satu di antara dua pilihan. Jika benar, maka pemerintah telah gagal mengurus rakyat yang dalam konstitusi, dan itu adalah sebuah tanggung jawab.
Distingsi yang dipermasalahkan Harari; privasi dan kesehatan, dan distingsi yang terjadi pada kasus di Indonesia; ekonomi dan kesehatan, tidak dapat dibiarkan berlanjut. Keselamatan manusia tidak hanya bergantung pada sehat atau tidak, tapi juga bergantung pada kesempatan untuk mengakses, membeli, dan mengonsumsi bahan pangan. Kita tidak bisa memisahkan dua kebutuhan vital manusia. Ekonomi dan kesehatan adalah dua titik yang saling tumpang-tindih. Dua bentuk kebutuhan yang saling berkelindan. Ekonomi tidak berguna jika masyarakat sakit dan kesehatan juga tidak akan berfungsi dengan baik tanpa ekonomi untuk dijalankan.
Pemerintah Indonesia perlu belajar, perlu banyak belajar. Trust adalah pondasi, kebijakan publik adalah rumah yang dibangun di atasnya. Aku muak dengan kebodohan negara yang bangga digaungkan. Aku rasa kita harus menjadi video bagi negara yang berperilaku seperti radio star.
(Tulisan Yuval Noah Harari: the world after coronavirus bisa dibaca di bit.ly/kritikharari)
a c r o s a n c t Twitter: @bgspn Aku adalah teman dekat Kim Min Joo.
TEXT INTERVIEW
Julius Aryo Verdijantoro
Perbincangan super singkat dengan tokoh masyarakat legenda dunia twitter, kurator video random, dan kolektor respon absurd dari para warga. Julius Aryo Verdijantoro A.K.A Otong Koil A.K.A the one and only: @midiahn
1. Mangotz, terima kasih atas waktunya. Pertanyaan pertama, sejauh mana mengikuti berita konspirasi corona ini? Sudah cukup muak atau masih bodo amat aja?
“ga pernah tau ada berita apa”
2. Apakah ada pengaruh si pandemi ini dalam kehidupan Mangotz?
“ada”
3. Kalo diliat-liat ke belakang, mangotz teh kan hidupnya dikelilingi selalu oleh hal-hal klenik bin mistis. Sejak kapan sih itu? Gimana awalnya bisa tau?
“sejak 20 taun lalu sejak sakit tanpa sebab”
4. Ceritain dong hal ghaib atau klenik yang paling bikin marah sepanjang hidup Mangotz?
“titit membesar segede tangan tapi tak fungsi”
5. Percaya reinkarnasi ga, Mangotz? Kalo iya, kira-kira dulu di kehidupan sebelumnya Mangotz teh siapa?
“ngga”
6. Kalo bisa dikasih kesempatan untuk ngulang hidup, hidup seperti apa yang Mangotz mau?
“sama kaya sekarang dengan duit trilyunan”
7. Kenapa sama sekali ga mengeluarkan persona rockstar di akun twitter @midiahn? Malah seringnya sharing video-video absurd dan komentar-komentar ajaib?
“gak tau harusnya gimana”
8. Ngomongin Koil sedikit, kira-kira mau ngeband sampe kapan? Sama pernah kepikiran buat bikin proyek musik lain di luar Koil ga?
“gak tau”
9. Ada pesan-pesan ga buat orang-orang di luar sana yang bakal baca wawancara ini? Pesan moral ataupun tidak bermoral dipersilakan.
“gakada”
[ Joey]
3/4 Inch Ukuran Pipa Kamar Mandi, Jika Kita Mengintipnya
Lama-lama Kita Akan Menemukannya
Dosa berkilau, hangat. berasap, gurih, kaya gula, dan
smells like teen spirit
Ambil dan bagikanlah
Ini adalah tubuhmu, ini adalah darahmu
Pada suatu hari yang tidak biasa, seorang anak bertanya
“untuk apa dosa itu?”
Ia bertanya tidak pada sesiapa, tidak juga pada dirinya sendiri
Ia melamuni bungkus biskuit sambil mengemut kakinya
Beberapa orang menari di sana, menyaksi orang lain terjejal lumpur
Lainnya, tenggelamkan diri untuk rasa selamat
Caesar Giovanni @csrgvn12 tidak apa-apa, bukan sesiapa
Bukan begitu. Bagi orang seperti kau dan aku. Tidak pernah ada yang namanya jalan pintas.
Tidak pernah ada robot musang tanpa kelamin yang akan memberikanmu berbagai akses kemudahan tanpa batas.
Tidak pernah ada bahtera besar nuh yang akan menyelamatkanmu dari derasnya banjir bandang dengan visi konyolnya mengenai hidup berkelanjutan.
Tidak akan pernah hadir seorang mesias yang dinyanyikan dengan sumringah dalam tiap-tiap oratorio borjuis feodal mereka sembari melempar tepukan.
Tidak akan ada masa depan indah. Cahaya matahari esok pagi bukan bersinar untukmu. Rintik hujan di penghujung hari sama sekali tidak pernah bertujuan membuat malammu menjadi lebih sendu.
Pun begitu dengan narasi heroisme porno petinggi organisasi yang diteriakkan dengan berapi-api di tiap konsolidasi yang senyatanya hanyalah manifestasi dari libido seksual mereka untuk
Tentang Sesuatu yang Tidak Terlalu Patut untuk Diperhitungkan
mencabulimu.
Bualan para pemuka yang disampaikan 5 tahun sekali di tiap stasiun tivi hanyalah evolusi dari sabda pemimpin tribal di tiap-tiap lokus barbar untuk menumbalkanmu.
Mereka hanya sedang merekonstruksi tontonan mengenai betapa brutalnya kedongkolan sebuah dalih kemajuan peradaban. Tidak pernahkah kau berpikir demikian, kawan?
Kau bukanlah bagian dari ini. Kau hanyalah sisa dari peradaban hari ini. Kalian tidak pernah dikehendaki. Neraka itu sekarang dan di sini.
Bagi kau dan aku. Sudah tidak ada opsi lagi. Setelah kau selesai membaca omong kosong ini. Cobalah untuk meledak dengan lebih indah!
kholish Twitter: @perishperal
Ia ingin memiliki kepingan kunci jawaban tuhan tuan itu sendiri, teka-teki masing-masing. Mungkin agar ada satu legam padam malam yang ujung jari kakinya tidak membeku menyentuh ubin; karena di dalamnya ada mereka berdua.
"Kamu wanitaku, memenuhi segala syarat dan serba cukup untuk siapapun," dijeda kosong sampai semua wajar di era kemanusiaan pun aerotaksis dirasa menjijikan di kerongkongan kami. Konspirasi endemi berlebihan ini menjebak sebagian besar umat sosial menjadi penderita dromomania alias kekurangan alkohol dan pesta urban sepanjang pekan. Menuju murung pagi pun semua masih sama, mengangkat tagar #NoLivesMatter karna misantropis yang menggelayutinya beberapa tahun terakhir.
TANTRUM
"Berhenti mengulang narasi tentang kemunafikan dan pengkhianatan kalau aku masih tidak kompeten untuk melihat lengkap rapuhmu, Aku–" ia kembali tercekat. Untuknya, tidak ada yang benar-benar selesai termasuk pemikiran tentang tidak ada yang benar-benar selesai itu sendiri. Memasuki siang, semuanya masih sama hitam. Belum tepat dua belas jam hari berlalu, pandangannya sudah buyar dan semua aliran musik begitu sempurna untuk mengantarkan siapapun ke manapun.
Petang datang, menyambut dengan kesialan dalam bentuk dilah yang kehabisan minyak dan tak bisa menyala, kesunyian setelah suara katak berkuak dan derik jangkrik mengganggu sampai akhirnya mati dan tidak benar-benar menyusul nenek, lalu memecahkan botol kaca dan menumpahkan jatah air bersih terakhir untuk beberapa belas hari ke depan, serta ingatan tentang usaha bertujuannya yang pailit hanya dalam kurun waktu 2 bulan, bagaimana mungkin semangat untuk tetap bertahan dan ketidak-layakan untuk menghancurkan diri masih diagungkan sekelompok manusia? Menjijikan. Ia mengamini eksistensinya dengan lelaki itu; yang tak pernah benar-benar nyata lebih dari sekian puluh jam, sisanya? Hyper reality, intens berhubungan dengan sosok dalam singularitasnya.
TANTRUM
Malam pulang dan menimangnya dengan segala dongeng inspiratif pengantar tidurnya, melepas anak-anaknya kopat-kapit lamban di pelupuk mata. Ia menjaga matanya, tak menurunkan surat izin tertangkap mata untuk siapapun selain tuannya; karena hanya dalam pejamnya ia bisa mengontrol fokus segala sesuatu. "aku memang tak mengenal sesiapa, tak berubrik di semua tempat, bagaimana kalau aku tetap terbangun?" semenjak itu kesemuanya samar, kami meredup dalam sesak dan tantrum masing-masing. Menghidupi katastropi dengan makian dan mengutuk satu sama lain dalam diam seperti biasa dan lalu memudar di penghujung. Mungkin satu klip penenang lagi bisa menyelesaikan kengerian yang menghantui dan menghalang selama ini.
Bacul Instagram/Twitter: @dilaharapmuram beberapa kali diselamatkan kucing, sarung, signature dan kapal api mix
SUFFERSUFFER
Suffer menggambarkan penderitaan dari setiap orang yang merasa tiada oleh orang lain ataupun diri sendirinya. Masih terjebak dalam labirin yang entah ada dan tidak jalan keluarnya, berkecimpung dalam pikiran-pikiran liar serta delusi jiwa karena sejatinya senyuman abadi adalah ketiadaan. maka, apakah penderitaan itu nyata?
Doomy Junkie Instagram: @doomyjunkie
Kungkungan Kalbu
Gimana sih rasanya marah hampir 24/7? Gak enak. GAK. ENAK. Jadi misalnya Anda biasanya adem ayem, kalem, sejuk, tenang, aman, damai, tenteram, maka selamat! Saya iri. Kenapa?
Jadi begini, bangun tidur marah, gosok gigi marah, berangkat kerja marah (tergantung kerja atau tidak), di kantor marah, di jalan pulang marah, lalu sampai rumah marah, sampai mau tidurpun marah, itu rasanya pahit sih.
Kenapa bisa begitu? Sayapun tidak tahu… Tapi yang jelas, ada sesuatu di dalam batin yang senantiasa mendidih. Gak bisa dijelaskan, tapi intinya seram dan tidak baik. Coba deh, bayangkan rasanya menjalani hari-hari dengan kemarahan yang meluap-luap, tapi harus ditahan.
Ya, harus ditahan biar bisa terlihat normal dan bisa berinteraksi dengan manusia lainnya. Gak kebayang? Nyiksa, beneran deh.
Seringkali pikiran-pikiran jahat muncul di benak, pikiran jahat yang bisa saja mencelakai atau melukai orang lain, nah yang begitu harus langsung dikubur, karena bisa bahaya kalau dibiarkan.
Saya curiganya, ya itu semua hasil kumulatif dari penderitaan dan rasa sakit serta kecewa yang menumpuk selama bertahun-tahun dan gak ada jalan keluarnya. Sayangnya, saya nggak pernah luwes dalam berinteraksi maupun berkomunikasi, jadinya susah juga buat orang lain yang mau coba buat ngertiin.
Cuma, ya.. Mungkin gak akan bisa, sih. Terima nasib aja.
Kungkungan Kalbu
Goddammit is it hard to write in Indonesian. Fuck it. I’ll finish the rest of this writing in English so that you’ll be spared the atrocity that is my train(wreck) of thought. Now, why would I forever be mad at myself? Because there’s this feeling that eats away at me. Constantly.
I'm mad at the fact that I'm not good enough for everybody. The people I love? Man, I'm no good to them. I'll break my back a million times and still, I won't be good enough. That leaves me with nothing. I've lost myself over and over I barely recognize the person I look in the mirror these days.
I understand this is only a matter of self-control and willpower. However, if you're anything like me, it's likely that you can't even contain it sometimes. Best believe me, it's no good for everybody. It's a lifetime of struggle to even try to gain control.
Maybe, just maybe, I'll get on top of it, or die trying.
At least I'm trying, right?
Yeah, right. Take your misplaced faith elsewhere.
N.B. buka lowongan berantem. Minat? Japri aja.
Sobersherlock Too numb to think, too dumb to feel; too alive to kill myself, too dead to carry on
Kungkungan Kalbu
Lembah Hitam
Aku telah ditinggal semua bunga Selalu putih merah dan hitam Aku ingin menyerah Tapi sisi lainku merasa kebenaran akan datang Penyesalan hanya di sisi mereka Tapi ada yang sombong dengan kebenaran pun kelemahan itu Ada bunga yang mekar sengaja kulayukan Ku takut mereka memiliki hati dengki pula munafik Saling meluka dan berbalas dendam Kelak mereka tak terlihat lagi di mata Semoga itu yang terakhir Semoga hilang pula di perasaan Qey Qashmal Instagram: @qeykashmir Twitter: @karasumarue
Amarah Akhir Tahun
Lembah Hitam
Mengaduk-aduk teh hangat hingga merembes dari tepian menuju dasar gelasnya. Terus saya aduk dengan kasar sampai tumpas setengah gelas. Meskipun ada lepek yang menampung dan saya minum juga pada akhirnya. Pada seruput pertama saya pejamkan mata sampai terasa kerutan terlalu dalam saya pejamkan, ngilu dan memerah sedikit. Sama halnya dengan sukma saya, merintih dan ada amarah, kendati sedikit, sedikit saja.
Sedikit yang bisa saja jadi bukit, menjelma gunung, dan menjelma lagi seperti pegunungan Himalaya. Banyak dan panjang, bertumpuk-tumpuk. Pegunungan yang tidak lagi putih akan salju dan hijau gunung hutan atau hijau ilalang-ilalang yang dibuai semilir angin. Berubah menjadi merah matang, bukan lagi merah delima. Merah yang menyala, menyala dan terus menyala terbakar oleh realitas hidup, aksara kerennya konstruk sosial khalayak umat.
Ramai-ramai ujaran dan konsep. Narasi menuju narasi, maki kepada maki, juga kritik berkedok kebebasan berpendapat. Asumsi manusia pada manusia yang lain. Ejawantah keagungan diri mereka. Kebanggaan atas betapa banyak buku yang telah dibaca. Tentang seberapa banyak zona konflik yang sudah ditapaki oleh sandal-sandal progresif. Tak ayal juga tendensi keakuan diri oleh seberapa banyak manusia lain yang sudah mereka lunasi kepalanya, mentransfer ilmunya, cekoki pikirannya. Rekonstruksi macam rumah deret, bersusun-susun mematuh, tunduk dan patuh.
Ini sudah kelewatan. Saya ataupun manusia di luar sana. Saya kelewatan sampai benar-benar harus tumpahkan amarah ini, serta manusia kelewatan sebab terlalu abai oleh kebijaksanaan, dimana seyogyanya digunakan. Mereka menganggap kepala manusia total kosong melompong. Hingga berhak menyuntikkan hal yang dirasa mereka perlu, dirasa layak, dirasa cocok, merasa pemilik privilege akan hidup orang lain. Privilege of critics pada kepala manusia lain, gerak orang lain, latar belakang orang lain, bacaan orang lain, juga kemampuan orang lain.
Semua saya rangkum, benar-benar saya aglomerasikan pada kepala saya. Sampai-sampai mungkin saja bertepatan dengan duduknya saya di depan teh hangat juga pada momentum akhir tahun ini. Jujur, saya ingin defisitkan sedikit, separuh dari tumpukan rangkuman yang sudah terlampau menahun dan meriak ubannya karena menua, hingga berlumut berwarna merah -
Amarah Akhir Tahun
Dimulai dari lobang-lobang paving parkiran. Gedung putih lebih memilih mengecat aspal yang apik warna hitamnya dengan ditapali warna biru dan merah. Hilang fundamental. Pelarangan ini itu, pengekangan sana sini. Kecondongan pihak satu dengan pihak lain. Manusia di dalamnya terbuai dengan berbagai nikmat yang dinikmatinya, bukan tentang mengapa bapak tahu goreng dan penjual buah yang dilarang menjual dagangannya. Bukan mengapa rambut lebih penting daripada penutup kepala. Terbuai dengan panasnya ruangan, rusaknya layar tancap, dan mahalnya memasuki hotel sendiri.
Warna-warni menghardik teman sendiri, riuh suara sial-siul perempuan yang terliriki. Apa karena belum pernah dicubit bibirnya, walau hanya mencicipi bagian kukunya. Perpustakaan berdebu pada tiap keramiknya, menguning tiap lembar kertasnya. Makin tertutup dana administrasi pun tidak jadi soal baginya. Narasi tertahan pada tiap bangku kelas, pertanyaan sebatas memenuhi indeks kualitas angka. Semua terbuai.
Toa sudah tidak lagi jujur jalannya. Sialnya unjuk gigi sahaja urgensinya. Bangsa berlobang dagu dan kepala, dibalas kepal belaka. Mati bukan perkara, manusia hanya pikirkan cara menghindari lara. Gaya bahasa, kilau lencana, dan kopi di meja. Belum ada saya temukan pikiran bahwa di luar sana lebih bercahaya, gedung sudah menggelap. Menutupi awan-awan. Semua ini adalah sunyi dalam ramai, atau saya saja yang merasa ramai bunyi namun hilang isi. Mematikan hati.
Amarah Akhir Tahun
Tidak lupa juga akhir tahun ini saya ingin memberi amarah pada diri sendiri. Kesalahan yang bertubi-tubi. Pilihan dan keputusan yang tanpa didasari kebijaksanaan juga empati. Bacaan belum lagi dipertanggung jawabkan. Tulisan yang terhapus karena belum terselesaikan. Kebohongan yang selalu ditimpakan atas nama pilihan. Teman-teman terpaksa ditinggalkan, hati pun harus sampai ditanggalkan. Gerakan yang lunglai padahal harapan bisa sebesar badai. Andai, andai, dan andai. Abai, abai, dan abai. Saya harus bangun, pun yang lain perlu tertegun. Meratapi panasnya kota ini sudah layaknya gurun.
Kepala saya mengatakan bahwa saya serta hidup ini benar-benar brengsek dan saya dipaksa menikmatinya. Perkataan-perkataan itu omong kosong dan saya dipaksa mendengarkannya. Saya dan hati ini sungguh tidak adil dan saya dipaksa berdamai dengannya. Dogma dan dusta beramai-ramai mengotori kepala dan saya diharuskan mengunyahnya. Juga saya sudah kehilangan segalanya. Semua karena diri, diri saya sendiri.
Maferanren Twitter: @maferanren Manusia dengan angka dua puluh pada jantung dan kantung matanya.
HidupBerdampingan denganLimbahdiKotaDelta
Semenjak saya berkenalan dengan istri saya 7 tahun yang lalu, saya sering pergi ke Sidoarjo. Selama 45 menit perjalanan deretan tembok-tembok pabrik di kanan dan kiri jalan terlihat begitu kokoh. Kebetulan rumah istri saya ini dikelilingi oleh beberapa pabrik sehingga wilayahnya begitu padat dan dipenuhi dengan kos-kosan.
Namun, hal yang mengusik saya baru saya rasakan ketika saya dan istri saya memutuskan untuk pergi ke Sidoarjo ‘Kota’ (daerah sekitar pusat pemerintahan), tepatnya di Alun-Alun Kota Sidoarjo.
Ada dua jalur yang bisa saya tempuh untuk pergi ke Sidoarjo “Kota” dari rumah istri saya, bisa melewati jalan layang (lewat atas) atau memilih melintas dari bawah menyeberang jalur kereta api. Di awal-awal berpacaran, saya suka sekali melintas dari bawah menyeberang jalur kereta api. Di jalur ini banyak sekali orang berjualan di bahu-bahu jalanan sehingga saya merasa tertarik untuk mencoba salah satunya.
Di jalur bawah ini juga terdapat “komplek” sekolah, berjejer mulai dari SMKN 1 Buduran, SMKN 2 Buduran, SMKN 3 Buduran (Perkapalan), SMAN 1 Sidoarjo, MAN Sidoarjo. Serta terdapat sebuah stadion sepakbola bernama Jenggolo di ujung persimpangan jalan.
Di kawasan inilah saya berkali-kali mencium bau busuk. Bau busuk tersebut berasal dari sungai yang berada di dekat komplek sekolah tersebut. Kata istri saya, yang dulu mengenyam pendidikan di MAN Sidoarjo, bau busuk itu sudah ada sejak lama. Bahkan, dulu sempat ada demo warga sebagai bentuk protes atas bau tersebut.
Bau itu akan semakin menyelinap dan menusuk pada malam hari. Apabila terjadi hujan sebelumnya, saya harus siap-siap menahan mual karena baunya semakin menyengat. Tidak lain dan tidak bukan, bau busuk ini tentu saja merupakan bau dari limbah yang dibuang ke sungai oleh sebuah pabrik. Namun pabrik apa? Saya selalu bertanya-tanya, penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Hidup Berdampingan dengan Limbah di Kota Delta
Menelusuri Pencemaran Limbah di Sidoarjo
Dari penelusuran pribadi, saya menemukan dokumen-dokumen yang cukup menarik dan membuka wawasan saya tentang pengelolaan limbah yang menjadi persoalan krusial di Sidoarjo.
Melalui Peraturan Bupati Sidoarjo Nomor 14 Tahun 2016, Bupati mencoba mengatur tentang tata kelola limbah yang dihasilkan oleh industri. Peraturan ini melingkupi perizinan pengelolaan limbah (aktivitas penyimpanan dan pengumpulan), pembinaan, dan pengawasan.
Jauh sebelum Perbup ini keluar, sejarah panjang kasus polusi dan sumber polutan menjadi kajian yang cukup menarik untuk melihat bagaimana pengelolaan limbah di Sidoarjo.
Sebagai mana yang termuat dalam jurnal Lembaran Sejarah berjudul Doom to Disaster? Industrial Pollution in Sidoarjo 1975–2006 yang disusun oleh Ronal Ridho’I, sejak 1970-an polusi industri di Sidoarjo masih berlangsung hingga sekarang.
Dari jurnal tersebut, terdapat nama PT. Sekar Laut yang berdiri sejak tahun 1976 dan berlokasi di seberang “komplek” sekolahan yang saya paparkan di awal tadi. Jenis polusi dan pelanggaran yang dilakukan oleh PT. Sekar Laut meliputi:
- Polusi air dan udara
Limbah cair berbau busuk
Hidup Berdampingan dengan Limbah di Kota DeltaPabrik membuang cairan limbah ke sungai Kemambang dan drainase di Desa Pucang
- Pabrik tidak punya sistem pembuangan limbah
- Tidak ada cairan pemeriksaan limbah di laboratorium Data yang dipaparkan oleh Ronal melengkapi dan membuktikan hipotesis saya bahwa polusi pencemaran pada air sungai Kemambang tidak hanya melalui air sungai namun juga melalui udara. Di samping itu, pada tahun 2017 ratusan warga yang tergabung dalam Gerakan Anak Sidoarjo Setia (Ganass) melakukan aksi protes atas pencemaran limbah yang dibuang ke sungai Kemambang, oleh PT. Sekar Laut. Aksi yang berlangsung di depan Pendopo Wibawa Delta Sidoarjo, Jalan Cokronegoro, ini juga memprotes bau kurang sedap di lokasi tersebut.
Hidup Berdampingan dengan Limbah di Kota Delta
Mereka berjalan bersama kurang lebih sejauh 1,5 km menuju pabrik PT. Sekar Laut di Jalan Jenggolo. Mereka juga menutup saluran dengan semen menggunakan satu unit truk molen. Beberapa warga yang melakukan aksi juga sempat ditangkap.
Menurut penuturan warga Desa Kemiri yang juga menjadi koordinator aksi Chamim Putra Ghafoer, bau ini sudah berlangsung puluhan tahun. Mereka khawatir bisa mengganggu kesehatan anak-anaknya.
Namun, pernyataan ini dibantah oleh Wiliam Cung yang menjabat sebagai General Manager PT. Sekar Laut pada saat itu. Berdasarkan penuturannya, pihaknya sudah melakukan pemeriksaan terkait baku mutu air limbah yang dibuang ke sungai. Jika ada masyarakat yang menganggap ada pencemaran limbah, itu pernyataan yang tidak benar.
Tidak hanya terjadi di sungai Kemambang
Pada 20 Januari 2020 pencemaran juga terjadi di sepanjang sungai Desa Sumput Sidoarjo, permukaan sungai dipenuhi oleh busa. Pengambilan sampel air pun dilakukan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Sidoarjo, Sigit Setyawan. Penelusuran pun dilakukan muali dari DAM (bendungan) Desa Sumput hingga DAM Dasa Karya Desa Jimbaran Wonoayu, Sidoarjo. Terdapat beberapa industri di sepanjang sungai tersebut.
Hidup Berdampingan dengan Limbah di Kota Delta
Pemerintah memberikan ultimatum bila terbukti adanya pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah. Pihaknya tidak segan-segan akan memberikan sangsi bagi industrinya.
Belum lagi dampak akibat bencana lumpur lapindo yang disebabkan oleh PT. Lapindo Brantas. Dalam jurnal Pembangungan Wilayah dan Kota dengan judul The Impact of Secondary
Hazards Risk In Surrounding Mud Disaster Area to The Environment, setidaknya ada beberapa desa yang mendapatkan bahaya sekunder luapan lumpur lapindo. Desa Glagaharum, Mindi, dan Ketapang mengalami dampak yang cukup signifikan. Perubahan warna, bau, dan rasa air terjadi di sana, bahkan air sumur pun tidak bisa digunakan langsung oleh masyarakat yang tinggal di sana sebagai kebutuhan air bersih.
Sedangkan di Desa Gempolsari dan Pejarakan, dampak terhadap lingkungan pemukiman tidak begitu signifikan dibandingkan tiga desa di atas. Namun, dampak terhadap perekonomian warga begitu terasa.
Karena mayoritas sektor mata pencaharian lama warga terdiri dari buruh, petani, dan petambak, mereka tertimpa dampak tidak langsung. Pertama, hilangnya beberapa pabrik dan industri di daerah tersebut. Kedua, perubahan kualitas air sawah dan tambak yang mempengaruhi hasil produksi mereka. Kondisi inilah yang memaksa mereka untuk mencari mata pencaharian baru.
Hidup Berdampingan dengan Limbah di Kota Delta
Padahal dalam dokumen Perbup Nomor 14 Tahun 2016 yang dikeluarkan oleh Bupati Sidoarjo pada pasal 11, Bupati bisa dengan memberikan sangsi pencabutan izin bila ditemukan pelanggaran terhadap pelaksanaan pengelolaan limbah B3 sebagaimana tercantum dalam izin.
Belum lagi kebijakan Program Penilaian Kinerja Perusahaan (PROPER) yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten Sidoarjo sebagai bentuk kontrol pemerintah dan masyarakat terhadap aktivitas industri, di mana ada beberapa kelompok perusahaan. Penjabarannya sebagai berikut:
• Emas, perusahaan yang mempunyai potensi pencemaran tetapi sudah berhasil menangani limbahnya sampai pada tingkat ‘pembuangan nol’ dan patut dijadikan contoh bagi perusahaan lainnya.
• Hijau, perusahaan yang sudah dapat mengelola limbahnya lebih dari minimum ambang batas berdasarkan peraturan yang ada.
• Biru, perusahaan yang sudah cukup memenuhi persyaratan pembuangan limbah.
• Merah, perusahaan yang sudah berusaha mengolah limbahnya, tetapi belum berhasil memenuhi persyaratan pembuangan limbah.
• Hitam, perusahaan yang tidak mengolah limbahnya dan menimbulkan pencemaran.
- Jika peraturan ini bisa dilaksanakan dengan baik, maka kejadian-kejadian pencemaran limbah tidak akan terulang di kemudian hari.
Hidup Berdampingan dengan Limbah di Kota Delta
Namun, macetnya penegakan hukum ini bisa jadi diakibatkan oleh hubungan politik-ekonomi antara industrialis, pemerintah daerah, dan pusat, sehingga penyelesaian kasus pencemaran limbah di Sidoarjo tidak jelas dan terkatung-katung hingga saat ini. Hubungan tersebut juga memungkinkan terjadinya kesepakatan di bawah meja antara industri dan pemerintah agar mereka terhindar dari sangsi penegakan hukum.
Disadari atau tidak, selama ini masyarakat Sidoarjo dipaksa untuk menikmati udara kotor, berdebu, dan busuk akibat sisa hasil produksi pabrik, merasakan kebisingan mesin-mesin industri, dan — yang paling parah — menggunakan air sungai yang mengandung zat berbahaya bagi kehidupan mereka sehari-hari.
Sidoarjo sendiri secara geografis terletak di antara dua sungai besar pecahan Kali Brantas, yakni Kali Mas dan Kali Porong. Dengan kondisi ini Sidoarjo mendapatkan julukan Kota Delta, di mana sumber kehidupannya disokong oleh aliran sungai.
Jika sungai yang menjadi identitas Sidoarjo tidak dijaga dengan baik demi kesejahteraan masyarakat. Maka usul saya, jangan lagi Sidoarjo menggunakan istilah Kota Delta sebagai identitasnya.
Rizky Rautra Instagram: @rizkyrautra Penulis adalah seorang buruh biasa yang senang belajar coding website, desain, dan menulis.
Hidup Berdampingan dengan Limbah di Kota Delta
“Anak bangsat!”, pekik lelaki itu pada seorang perempuan yang saat ini hanya tertunduk dengan badan gemetar. Ia tidak berani melihat lelaki yang kesetanan di depannya. ‘Plak!’, bunyi gagang sapu beradu dengan kulit betis si perempuan. Tepat di atas bekas memar yang belum sembuh akibat pukulan yang kemarin ia terima. Perempuan itu meringis kesakitan hampir tak bersuara. “Seharian keluar, pulang ga bawa uang, anak goblok” lanjut si lelaki. ‘Plak!’, bunyi pukulan sekali lagi. Si perempuan sempurna menangis.
Sejak istrinya meninggal, lelaki itu tak terkendali. Setiap malam ia berjudi. Bila menang, ia akan mabuk sampai pagi kemudian tertidur hingga malam lagi. Bila kalah, ia akan pulang, lalu menunggu anaknya yang berjualan di stasiun pulang untuk meminta uang dan kembali berjudi.
Ini sudah hari ketiga si perempuan pulang tidak membawa uang. Jualannya tidak laku. Uang yang ia dapat hari itu digunakannya untuk membayar hutang beras dan tempe ke toko, sekaligus berhutang beras dan tempe lagi. Tidak ada uang lebih, apalagi untuk berjudi. Walhasil, gagang sapu harus mendarat di betisnya lagi hari ini.
Usai memaki, lelaki itu masuk ke kamarnya sambil membanting pintu. Si perempuan masih mematung di ruang tengah, belum berani beranjak. Baru saat ia benar-benar yakin lelaki yang marah itu tidak keluar lagi, ia akan menyeka air matanya dan pergi ke dapur.
Merencanakan Pembunuhan
Ia mulai mengeluarkan isi dari plastik yang ia bawa. Ada satu hal yang ia dapat hari ini, yang berbeda dengan kemarin. Dengan penuh pertimbangan, demi kebaikan dirinya sendiri, hari ini si perempuan pulang membawa sebungkus kecil asam sianida yang entah ia dapat dari mana.
Saat itu pukul satu dini hari. Si perempuan sudah berbaring di kamarnya namun tidak bisa tidur. Ia membayangkan rencananya nanti pagi. Beras dan tempe ia simpan di dapur, namun bungkusan asam sianida itu ia genggam erat. Di atas kasur, ia memikirkan tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nanti pagi. ‘Bagaimana jika ketahuan?’, ‘Bagaimana jika tidak mati?’, ‘Bagaimana jika tidak berhasil?’, dan berbagai kemungkinan lain yang berputar-putar tanpa henti di kepalanya.
Matahari menembus kisi-kisi jendela kamar saat akhirnya perempuan yang tidak tidur semalaman itu beranjak dari kasurnya dan menuju dapur. Sianida yang ia genggam ia masukkan ke dalam saku celananya dan ia tusuk dalam-dalam dengan keempat jarinya karena takut ketahuan. Ia mulai menanak nasi, menggoreng tempe, dan merebus air.
Si lelaki bangun saat mendengar suara berisik minyak panas yang kemasukan tempe. Ia ke dapur dan menyuruh si perempuan menyeduh kopi, seperti biasa.
Merencanakan Pembunuhan
Selesai menggoreng, perempuan itu mengambil nasi dan memasukkannya ke dalam bakul, lalu menyeduh minuman untuknya dan si lelaki. Siap sudah makanan di meja makan. Sebakul nasi, sepiring tempe goreng, segelas teh dan segelas kopi.
Perempuan itu lalu masuk ke kamar si lelaki dan memberitahu bahwa kopi sudah jadi. Si lelaki beranjak menuju meja makan, dan bergabung bersama si perempuan untuk sarapan. Tepat saat lelaki itu meminum kopinya, dan perempuan itu meminum tehnya, si perempuan tercekat dan seketika tubuhnya terhempas ke lantai. Mati.
Maka begitulah kejadiannya hingga akhirnya polisi datang dan menangkap lelaki itu dengan tuduhan pembunuhan, dengan barang bukti berupa sebungkus kecil sianida yang ditemukan terselip di bawah pintu kamarnya. Butuh waktu lama untuk menyelidiki, atau bahkan tidak diselidiki lebih lanjut, bahwa perempuan itu berhasil merencanakan pembunuhan atas dirinya sendiri.
Pii Twitter: @bacadarikiri mahasiswa biasa yang mencoba segera lulus
1 dari 100 Fiksi/Satire
BANGSAT!
Seperti biasa, setiap paginya Angga terbangun dari tidurnya. Ya mungkin tidak sepagi petugas PPSU yang harus membersihkan jalan raya pada jam 5 pagi. “BRENGSEK!” teriak Angga dari kamarnya setelah melihat jam dari ponsel seri terbaru miliknya. Serentak dia bergegas menuju kamar mandi. Tidak sampai 5 menit kemudian ia keluar dari kamar mandi dengan sisa sabun muka di wajahnya. Ah, itu bisa dibersihkan dengan handuk, pikirnya. Segera ia membawa peralatan kerjanya dan berpakaian seadanya, kemudian lekas berangkat.
Angga memacu motor matic keluaran 2 tahun lalu. Kamu akan melihat Angga sebagai pengemudi yang sembrono. Trotoar dilibas, lampu merah diterobos. Persetan kepada pengendara lain, mereka tidak panting, Angga sudah terlambat untuk bekerja. Tak ada waktu untuk melihat sekitarnya. Angga tidak akan melihat petugas PPSU yang sedari subuh sudah menyapu jalanan yang ia lewati. Begitu juga dengan tukang nasi uduk yang sudah dari jam 3 pagi terjaga untuk memasak untuk berjualan. Yang penting terobos saja!
BANGSAT!
Sesampainya di kantor, seperti biasa ia dimarahi oleh atasannya. Dalam kepalanya berpikir, “BANGSAT, kalau saja si brengsek ini yang telat, tidak ada yang memarahinya.” Belum selesai dari kekesalannya, ia sudah diterpa kerjaan yang menumpuk dan deadline yang mulai mencekik lehernya. Tiada waktu untuk berpikir, kerjakan saja! Angga adalah pekerja biasa, tidak andal, tapi tidak juga bodoh. Namun terkadang Angga hanya lupa etika dan norma yang terkadang diperlukan untuk seorang manusia.
Jam makan siang pun tiba. Ia pun menyuruh office boy di kantornya untuk membelikannya makanan. Alasannya tidak ada waktu untuk beli sendiri karena kerjaan yang menumpuk. Ia juga tidak pernah memberikan tips, karena itu adalah bagian dari pekerjaan office boy itu. Selain datang lebih dulu dari pegawai lain, kemudian menyapu, mengepel, mengelap jendela, membuatkan kopi dan membelikan makanan adalah SOP dari seorang office boy menurutnya.
BANGSAT!
Angga lebih suka menyendiri saat makan siang, agar dia bisa tenggelam dalam lamunannya setelah makan siang. Sambil merokok Angga asik surfing di Instagram melihat foto liburan seorang public figure atau memiliki gitar seharga puluhan juta yang sulit untuk dimiliki Angga sekarang.
Ya, dia hanya bisa menghela napas dan berkhayal memiliki itu semua suatu saat. Jangan salah, gaji Angga tidaklah kecil, hmm tidak sekecil petugas PPSU, office boy, apalagi pedagang nasi uduk. Gajinya cukup untuk membuat dirinya dibilang kelas menengah. Tetapi bangsatnya dia tidak bisa memiliki kemewahan seperti yang ia lihat di Instagram.
Angga biasa pulang kantor pukul 7 atau 8 malam. Saat itu jalanan kota besar tidak sepadat itu, tetapi tubuh Angga sudah terlalu lelah menghadapi jalanan. Sesaat berhenti di lampu merah ia didatangi manusia silver yang belakangan menjadi ramai. Entah karena gencetan ekonomi atau hanya malas untuk mencari pekerjaan yang lebih layak.
BANGSAT!
Angga bergumam, “Bangsat, mereka ini hanya bermodalkan cat dan muka tebal kemudian mengemis uang kepada orang-orang sepertiku. Aku tidak rela uangku ini kuberi secara percuma kepada mereka. Jika ingin uang bekerjalah, pemalas!” Angga mengacuhkan manusia-manusia silver yang menghampirinya.
Sesampainya di rumah Angga tidak pernah langsung tidur. Ia memerlukan hiburan untuk melepaskan penat setelah bekerja seharian. Sudah saja ia membuka Netflix, katanya ada season baru dari series favoritnya. Angga mengambil makan malam yang tadi sempat ia beli di jalan. Sambil menikmati makan malam di kamar yang dingin karena AC, ia menikmati Netflix.
Tak tersadar ia sudah menonton 6 episode dari serial itu. Jam sudah menunjukan jam 4 pagi kurang 15 menit. Ia mengeluh, “BANGSAT, INI MASIH HARI SELASA!”
PemadatDistorsi @pemadatdistorsi Mengembalikandistorsiyangditerimamelaluitulisan, musik,MVdansemacamnya.
Waktunya Tidur
Tidak semua cerita punya awal yang spektakuler, tapi itu bukan jaminan bahwa ia tidak menyajikan penutup yang luar biasa.
“Saya adalah anak yang terlahir dari keluarga yang bahagia. Ibu saya periang dan Ayah sangat mencintai Ibu. Saya juga punya kakak yang tegas namun tetap sayang keluarga. Tapi, mengapa saat ini saya tidak bahagia?”
Bukan. Itu bukan cerita saya. Itu cuma kalimat pembuka dari pesan panjang yang lewat di linimasa media sosial. Jawaban dari pertanyaan mengapa dia tidak bahagia, ya cuma dia yang bisa jawab.
Barangkali ada di salah satu paragraf dari tulisan panjangnya itu. Sayang, saya tidak diberi kekuatan super agar rajin membaca. Lebih baik tidur.
Saat cerita ini berlangsung, saya tidak dapat menemukan tahun yang cocok sebagai latar waktunya, sebab di semua tahun pasti ada bencana. Jadi pilih saja bulan dan tanggal yang cukup baik menurutmu untuk kisah ini. Tapi jamnya, harus tepat jam 11 malam.
Jam milik kakek yang dibawa dari rumahnya yang sudah dijual dan hasilnya jadi rebutan satu keluarga besar, berdentang sebelas kali. Siapa coba yang punya ide bikin jam bisa mengeluarkan bunyi pengganggu tidur begitu? Siapa pun itu, sudah tentu ia orang cerdas, karena telah membuat tuas di bawah angka 12 yang bisa digeser ke kiri untuk menghilangkan bunyinya.
Yang jadi masalah, nyamuk tidak punya tuas yang bisa digeser ke kiri untuk menghilangkan dengungnya. Kalaupun punya, pasti ukurannya sangat kecil dan gampang rusak. Beruntunglah banyak orang cerdas di dunia ini, salah satunya adalah Ueyama yang menemukan obat nyamuk bakar.
Menurut orang lain yang tak kalah cerdas, emisi formaldehida dalam pembakaran satu obat nyamuk bakar sama dengan pembakaran 52 batang rokok yang dapat menimbulkan kanker paru- paru jika terpapar dalam jangka panjang. Ueyama lahir lebih dulu, orang cerdas yang satu ini lahir belakangan. Tak ada kewajiban mempercayainya. Saya hendak tidur tanpa degung dan gigit nyamuk.
Waktunya Tidur
Vivaldi, pemuda asal Ngawi yang setiap malam main gitar dan bernyanyi di ujung gang, tidak punya kuas yang bisa digeser ke kiri. Sepertinya orang-orang cerdas juga belum menemukan obat bakar yang tepat buat menghentikan nyanyiannya. Urutan lagu yang dimainkan olehnya selalu sama. Setelah Ujung Aspal Pondok Gede milik Iwan Fals maka selanjutnya pasti Le Quoattro Stagiononi. Padahal, Pak Mansyur sudah memberikan satu lusin tabloid Mumu, tetap saja tak ada peningkatan.
Genjrengan gitar asal-asalan itu menggeser tuas jam kembali ke kanan, membuatnya kembali berdentang. Membangkitkan nyamuk yang terkena asap obat nyamuk bakar, membuatnya kembali berdengung. Genjreng, dentang, dan dengung memenuhi kepala saya. Semakin penuh, semakin penuh. Benar bahwa tidak semua cerita yang punya awal biasa, memiliki penutup yang biasa pula. Namun kalau kamu mengharapkan akhir cerita dengan adegan saya memecahkan kepala atau lari ke ujung gang untuk menikam Vivaldi, maaf teman, cerita ini bukan tempatnya.
Besok saya harus berangkat kerja, agar di awal bulan bisa terima gaji yang bakal ludes untuk beli makan, minum dan bayar hutang. Jadi meski kepala sudah penuh sampai mau meledak pun, saya harus tetap tidur. Hendak marah semarah apapun, saya harus tetap tidur. Dengan segala dentang, dengung serta genjreng, tidur tetap harus dilaksanakan. Karena sekarang, memang sudah waktunya tidur.
Ardi Eka Instagram: @ardyep Mahasiswa yang ingin memanfaatkan fasilitas kampus sebaik-baiknya. Tulisan ini dikirim via alamat email yang diberikan oleh Universitas.
Panadol Saja Tidak Cukup
Melakukan ini, itu, dan ini, dan itu Sembari berharap aku adalah sesuatu Supaya pikiran ini tidak tumpul
Tapi melakukan ini dan itu Tidak selalu menghasilkan sesuatu Karena hanya untuk obsesi semu Alhasil aku hanyalah hantu Berkelindan di alam raya yang telah lama hancur
Menjadi hantu pun aku bersyukur Setidaknya aku ada dan bebas merayu Tapi ekspektasi dan realita tak selalu bertemu Asu!
Makan tai sajalah kau, aku Hidupmu cuma luntang-lantung Mengobrak-abrik ini dan itu, dan ini, dan itu Terserah apa maumu Karena konsep utopiamu telah hancur lebur Dasar aku!
Prokopton Twitter: @prokoptonnn kadang merapal umpatan, kadang merangkai gambar. Serabutan hehe
Lihatlah Bunga
Lihatlah bunga Mati lampu di sana Mulut tak mengeluarkan kata Berat napas berganti dentuman senjata
Mereka percaya kau mulai membaca Walau hanya sekadar mengeja Buku-buku mereka sita Mereka menutup cahaya
Lihatlah bunga Mati lampu lagi di sana Lidah tak mau lagi merasa Pandangan mata tertutup oleh ludah
Mereka percaya api mulai menyala Dari helai lambut yang mereka coba patah Mereka berlari dari kota ke kota, hingga desa ke desa
LihatlahBunga
Menggembalakanparamanusia Meratakanyangberbeda Menutuptiaplembaryangada Laludibakarnya
hinggadebuiaganti Arangdiabumbui Baradiatutupi
Namun,lihatlahbunga Baraengganuntukpadam Tidakkemarin,jugalagi,hari-hariyanglain
Nanti,akandatangangin Menggalakkanlagiapi
Dankau Akanmerebakkankobarannya Lagi,menyalakancahayanya
Kittenbunny -sayatidakmengerti-
Sarang Kutu Busuk
Sepulang sekolah, kulihat: Ayah di kamar tertegun memandangi foto profil whatsapp seorang perempuan yang bukan Ibu. Ibu di dapur baru selesai memasak mimpi-mimpiku jadi bubur kayu bakar masih gemeretak seperti gigi Ibu setiap kali Ayah pergi lalu pulang pagi Kakak di ruang makan melahap jatah makan siangku— bubur kepiting yang capitnya merobek urat nadi mengosongkan hidupnya yang memang telah sepi sejak melihat Ayah dan Ibu tidur saling memunggungi
ini rumah atau sarang kutu? isinya bangsat semua.
Chandra Wulan Instagram: @chandrawulannn ingin menjadi peri tapi malah terjebak di tubuh ini.
Sepertinvaan tbak daa pernah yadanr
AMARAH
perSetan bagt vang menganggap ini perihar DE DA
i n ae qil
lebih dari itu !
tentang seoyang anak vang tak lagı bertemn bengan apahnpa tentang ororang lbu vang tak kenal lelah menunggu kepulangan änaknna
lebih dari itu!
ada suata suare pang selama rm ceod esbungkant banttimggan sumbang ata watah majah pang san persarn leban Lrn menghtang
lebih dari itu!
TANAH INI DIJUAL
978M² dan 1309M² mi adałah tentang amuk HUB.9A081241258) keberanian atas semua bentuk KETIDAKAOTLAN
bukan sekevar tentang dendam tetayt apt kbearan ing tak akan perab pad Q4t tnm
àuuoobuvnY : B
RADAR NOTASI
Prolog: mungkin sudah terlalu lama pandemi ini yang bernamakan Corona atau biasanya media menyebutnya Covid19 menggerogoti berbagai Negara termasuk Bumi Pertiwi yang juga menjadi satu yang tergerogoti. Media massa banyak yang memberitakan bahwa ganasnya virus ini serta banyaknya korban yang berjatuhan dikarenakan bertindak bebal karena tidak mentaati protokol atas anjuran menteri kesehatan. Terdengar membosankan bukan? Hari demi hari angka korban berjatuhan, dan blablablabla tetap sama inti benang merah beritanya.
Haaaa! Sudahlah, daripada panjang lebar membahas wabah yang tak berkesudahan, mendingan membaca sedikit informasi tentang kabar musik selama pandemi ini.
“Nafasku terasa sesak, gelisah dan amarah, Suaraku tak terdengar, lenyap ditelan Lara.. .”
Seperti itulah bait pertama lagu unit Metal/Hardcore yang berasal dari kota Solo, Down For Life yang telah bergerilya di kancah musik keras sejak tahun 90-an yang bisa mewakili tema #SubmisiZine kali ini; AMARAH!!
Dari komposisi distorsi dan ketukan drum saat intro mengingatkan pada Darah Hitam Kebencian, salah satu lagu milik Burgerkill yang termaktub dalam album Beyond Coma and Despair.
Ini adalah materi baru yang kedua setelah mereka merilis Mantra Bentala bulan Desember tahun lalu. Jeda yang cukup lama semenjak album terakhir mereka “Himne Perang Akhir Pekan”
Kalau tidak salah, single yang dirilis ini akan menjadi jembatan menuju album ke-4 di bawah bendera label Blackandje Records. Untuk melihat audio visual dari materi terbaru tersebut silahkan lihat di YouTube Official channel Blackandje Records.
Radar Notasi
ada rencana rilis album terbaru).
Penasaran dengan lagu baru mereka? Cek saja di YouTube Official BL TV.
“Dari Singosari ke mana – mana. Dari gang sempit
| mana. | Dari | gang | sempit |
|---|---|---|---|
| kuasai kota. Jelajahi Negara | |||
| dan lintas Negara. Kami lahir | |||
| dan hadir Untuk kacaukan | |||
| semuanya..... .” | |||
| Seperti itulah lagu baru dan | |||
| apa | jadinya | bila | unit Punk |
| Rock kota Malang, Singosari, asal dari Begundal Lowokwaru (BL) tetap muda, tetap berkarya, dan menolak tua. Mungkin itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan persona tiap lagu BL yang identik dengan “You and Me, Singin’ Drunk Together” | ternama | bagian | utara |
| Single eksistensi mereka di kancah permusikan | ini | sebagai bahwa | penanda mereka |
| tetap Mari wejangan–wejangan apa saja | nakal | dan kita | berbahaya. tunggu |
| yang Ustard Cipeng dkk (semoga - | akan | diberikan | oleh |
Setelah hibernasi yang cukup lama, akhirnya unit Alternative/ Grunge yang berasal dari kota Malang, ‘Whitenoir’ memberi sinyal dengan mengeluarkan salah satu single baru ‘Finding Yourself’ yang akan termaktub dalam debut album pertama mereka.
Radar Notasi
| Lagu | tersebut | sudah | dapat |
|---|---|---|---|
| dinikmati streaming music favorit kalian. Kira–kira butuh jeda 2 tahun | melalui | aplikasi | |
| setelah | mereka | merilis | E.P |
| pertama dirilis perayaan Record Store Day. | “Feed bertepatan | Me” | yang dengan |
| Kabarnya mereka bekerjasama dengan salah satu record label asal | ini | pertama | kali |
| Jakarta, dan untuk dalam kota Malang dan sekitarnya dibantu Haum Entertainment. | Guerrilla | Records | |
| Menariknya | debut | album | |
| mereka bentuk kaset pita yang dapat dipesan pre-order merchandise. | akan dengan sepaket | dirilis Penasaran? | dalam sistem dengan |
| Langsung saja kepoin akun | |||
| social @whitenoirband. | media | ||
| * * * |
| Lagu | tersebut | sudah | dapat |
|---|---|---|---|
| dinikmati streaming music favorit kalian. Kira–kira butuh jeda 2 tahun | melalui | aplikasi | |
| setelah | mereka | merilis | E.P |
| pertama dirilis perayaan Record Store Day. Setelah merilis 2 album penuh: Talking Days dan Dari Jauh, baru – baru ini musisi / pianis | “Feed bertepatan | Me” | yang dengan |
| asal bernama Christabel Annora merilis E.P bernafaskan music instrumental berisikan 4 track lagu yang masing – masing mempunyai cerita tersendiri dalam proses pembuatannya. | kota “Sudut Kamar” | Malang | yang |
| * * * |
Pop
| Pentolan | Indie | yang |
|---|---|---|
| pernah tergabung dalam band | ||
| C’mon bernama Harlan Boer | Lennon’ | yang |
Radar Notasi
beberapa minggu lalu merilis Double Album Fidelitas Cinta.
Setelah pernah merilis album,
| lagu | yang | menceritakan | |
|---|---|---|---|
| tentang drama yang ada di kehidupan bahkan yang sering ada kita temui di social media. | berbagai | macam | |
| Lagu tersebut bisa dinikmati | |||
| melalui musik favorit kalian. | layanan | streaming | |
| Cukup | sekian | informasi | |
| tentang yang tertangkap radar saya. | kabar | musik | terkini |
| Semoga hari–hari yang membosankan | bisa | menemani | |
| karena menggerogoti dan dirasa tak mau pergi, hihihi!!! Maaf jika ada yang kurang dan | pandemi | yang | |
| belum Tetap sehat dan tetap waras!!! | sempat | disebutkan. |
antara lain: Kopi Kaleng, Operasi Kecil, & Bila Lapar Melukis, kini Harlan Boer merilis album yang bercerita tentang jarak dan pertemuan, pekerjaan yang hilang, siasat bertahan hidup, hiburan masa pandemi.
Singkatnya tentang segala adaptasi sebagai manusia, individu dan bersama – sama.
PS: Double Album ”Fidelitas Cinta” dirilis secara daring oleh VJPlay dari Visual Jalanan, sebuah wadah daring bertajuk ‘DIY Sound Lab Media’ yang bertempat di Jakarta. untuk lengkapnya silahkan lihat di YouTube Visual Jalanan.
Solois kawakan yang pernah tergabung dalam band Plastik dan BIP beberapa hari lalu merilis single berjudul ‘Drama’ lagu yang menceritakan
Yoan Pratama Twitter: @yoan_freax The Boy Late Summer
Radar Notasi
Hitam
kalam maut yang terkoyak darah di balik punggungmu.
gading merah yang mencuat dari tengkorak kepalamu.
trisula berkarat kokoh tertanam di selangkamu.
undangan menuju neraka.
Instagram: @joeyaholic
Putih
sajak sayap bertabur pudi di balik punggungmu.
lingkar cahaya berkilau di atas kepalamu.
tongkat bintang mengayun lembut dari tanganmu.
undangan menuju surga.
Twitter: @joeyaholic
“kau tidak mau berdoa meminta sesuatu?
kudengar doa anak yatim lebih cepat terkabul.”
“tapi ayahku masih hidup.”
“tenang, barusan sudah kutikam.
aku cukup yakin dia sudah mati kok.”
“hey, lama tak berjumpa, apa kabarmu? anak sudah berapa?”
“yang masih hidup atau sudah mati?”
“oh, maaf. turut berduka cita.”
“tidak apa-apa, aku memang tidak terlalu suka
anak-anak, mereka terlalu lemah. padahal cuma kutembak sekali.”
DIARANG
JANGAN LIHAT AKU
HANYA SAAT TERLIHAT
SEHAT DAN MENARIK MEMBUANG&-MENYIKSA
KUCING/ANJING
HANYA KARENA KAMU ANGGAP MENGGANGGU DAN MENGAMBIL MAKANAN MU
SAMPAI JUMPA DI EDISI LAINNYA
0 SAMPAI LUMPA DYEUISI CAMNYA